Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Mallory Towers

ENID BLYTON

SEMESTER PERTAMA DI MALORY TOWERS



1. BERANGKAT
DARRELL RIVERS memperhatikan dirinya di kaca. Sudah tiba saatnya
untuk berangkat ke stasiun. Tetapi masih ada sedikit waktu untuk sekali lagi
melihat bagaimana rupa dirinya dalam pakaian seragam sekolahnya.
"Cukup manis," kata Darrell, memutar dirinya. "Jas cokelat, topi cokelat,
pita merah muda, blus putih, rok cokelat, dan ikat pinggang merah muda. Aku
suka warna-warna ini......
Ibunya menjenguk ke dalam kamar itu dan tersenyum. "Mengagumi
dirimu sendiri, ya?" tanyanya. "Terus terang aku juga sangat menyukai seragam
itu. Memang seragam Malory Towers sungguh indah. Ayolah, Darrell. Jangan
sampai kita ketinggalan kereta. Apalagi ini adalah semester pertamamu."
Perasaan hati Darrell tak terkirakan. Untuk pertama kalinya ia akan pergi
ke sekolah berasrama. Sekolah Malory Towers hanya menerima murid yang
sudah berumur lebih dari dua belas tahun. Jadi Darrell mungkin akan menjadi
salah satu murid yang termuda di sekolah itu. Ia membayangkan masa-masa
sekolahnya nanti pastilah penuh dengan suasana gembira, persahabatan, belajar
giat, dan bermain riang.
"Bagaimana ya rasanya nanti?" selalu pertanyaan itu muncul di hatinya.
"Sudah begitu banyak aku membaca cerita tentang sekolah-sekolah berasrama,
tetapi mungkin Malory Towers akan berbeda dari sekolah-sekolah itu. Ya, setiap
sekolah pasti punya sesuatu yang khas. Mudah-mudahan aku akan punya banyak
teman akrab nanti."
Darrell sedih juga meninggalkan sahabat-sahabatnya selama ini. Tak
seorang pun di antara mereka yang melanjutkan sekolah ke Malory Towers.
Sebagian di antara mereka meneruskan pelajaran di sekolah yang sekarang,
sebagian lagi pergi ke sekolah-sekolah berasrama yang lain.
Kopor besarnya telah penuh sesak. Pada sisinya tertulis dengan hurufhuruf
hitam besar: DARRELL RIVERS. Juga tertempel tulisan-tulisan besar:
M.T. - singkatan dari Malory Towers. Darrell tinggal membawa raket tenisnya
saja serta sebuah tas kecil berisi barang-barang yang akan diperlukannya pada
malam pertama di asrama.
"Kopor besarmu tak akan dibuka pada malam pertama itu," kata ibunya.
"Jadi tiap murid baru akan terpaksa memakai barang-barang yang dibawanya di
tas kecilnya. Seperti pakaian tidur, sikat gigi, dan semacamnya. Ini uang sakumu,
sepuluh shilling. Uang itu untuk sepanjang semester ini, jadi hati-hatilah
membelanjakannya. Murid-murid di kelasmu tak diperkenankan memiliki uang
saku lebih dari itu."
"Aku akan berhemat," kata Darrell, memasukkan lembaran uang kertas itu
ke dalam dompetnya. "Lagi pula takkan banyak yang bisa dibeli di sekolah itu. Itu
taksi kita datang, Ibu. Ayo berangkat."
Darrell telah berpamitan pada ayahnya, yang kini berada di kantor. Tadi
ayahnya menjabat tangannya erat-erat dan berkata, "Selamat jalan dan semoga
kau menyukai sekolah barumu, Darrell. Malory Towers adalah sekolah yang
sangat bagus. Banyak yang bisa kau dapat di sana. Berusahalah untuk
menyumbangkan sesuatu pada sekolah itu sebagai imbalannya."
Akhirnya mereka berangkat. Kopor besar Darrell berada di tempat duduk
di sebelah sopir. Darrell menjulurkan kepalanya ke luar mobil dan berseru pada
kucing hitam yang sedang membasuh diri di cahaya matahari di atas tembok,
"Aku akan segera kembali! Aku akan merindukan kalian semua.
Terutama pada awal-awal masa sekolah ini. Tetapi kemudian aku pasti
akan merasa kerasan di sana bukan, Bu?"
"Tentu," kata ibunya, "kau pasti senang di sana. Begitu senang sehingga
kukira kau akan segan untuk pulang dalam liburan musim panas nanti.”
Mereka harus pergi ke London. Dari sana Darrell akan naik kereta api
jurusan Cornwall, tempat Malory Towers berada. "Selalu ada kereta api khusus ke
Malory Towers," kata Nyonya Rivers.
"Lihat pengumuman itu. Malory Towers. Sepur Tujuh. Ayo. Masih banyak
waktu. Aku akan menungguimu sampai kau berkenalan dengan kepala asramamu,
dan kawan-kawan barumu. Setelah itu kau akan kutinggal."
Keduanya pergi ke Sepur Tujuh. Di situ sudah terlihat sebuah rangkaian
panjang kereta api, bertuliskan Malory Towers. Semua gerbongnya khusus
diperuntukkan para murid yang akan menuju sekolah itu. Setiap gerbong
ditempeli tulisan yang berbunyi, Menara Utara, Menara Selatan, Menara Barat,
atau Menara Timur.
"Kau di Menara Utara," kata Nyonya Rivers. "Malory Towers memiliki
empat buah asrama. Masing-masing asrama memiliki sebuah menara, dan
menurut tempat menara itulah asrama-asrama tadi diberi nama. Kata kepala
sekolah, kau akan ditempatkan di Menara Utara. Dan kepala asramamu adalah
Nona Potts. Mari kita cari beliau."
Darrell melihat-lihat ke sekitarnya. Tempat itu hampir penuh oleh muridmurid
yang akan pergi ke Malory Towers - ya, agaknya mereka memang hanya
murid-murid Malory Towers kalau melihat seragam sekolah mereka. Semuanya
murid wanita. Memang Malory Towers sekolah khusus untuk murid-murid
wanita. Dan semuanya agaknya saling kenal. Ramai sekali mereka saling sapa,
tertawa, atau berteriak-teriak gembira Tiba-tiba saja Darrell merasa malu.
"Rasanya takkan mungkin aku mengenal mereka semua,” pikirnya. “Ya
ampun! Banyak yang besar-besar lagi! Hampir dewasa! Beranikah aku berteman
dengan mereka?"
Memang, murid-murid di kelas tertinggi tampaknya begitu besar bagi
Darrell. Dan mereka agaknya sama sekali tak memperhatikan murid-murid yang
lebih kecil dari mereka. Murid-murid kelas rendah dengan penuh hormat menepi
bila mereka lewat, dan dengan anggun mereka memasuki gerbong-gerbong yang
telah tersedia.
"Halo, Lottie! Halo, Mary! Hei, itu Penelope! Penny! Kemarilah! Kau
jahat sekali, Hilda, tak menulis surat sepucuk pun padaku liburan ini! Jean, ayo
naik, cepat!"
Suara begitu ribut, riuh rendah. Darrell mencari-cari ibunya di antara
begitu banyak anak-anak itu. Ah, itu dia! Nyonya Rivers tampak sedang
bercakap-cakap dengan seorang guru yang berwajah bersungguh-sungguh. Itu
pasti Nona Potts. Darrell memperhatikan calon kepala asramanya itu dari
kejauhan. Ya, rasanya ia akan menyukai guru itu. Darrell menyukai matanya yang
cemerlang ria, walaupun mulutnya menunjukkan ia berkemauan keras. Ia harus
hati-hati menghadapi guru ini. Jangan sampai berbuat sesuatu yang tak
disukainya.
Nona Potts menghampirinya, tersenyum. "Wah, anak baru, ya?" katanya.
"Kau akan berada satu gerbong denganku. Lihat, di gerbong sana itu! Anak-anak
baru selalu satu gerbong denganku."
"Oh, apakah ada anak baru lainnya kecuali aku? Maksudku, yang sekelas
dengan aku?" tanya Darrell.
"Oh, ya, tentu. Ada dua lagi. Mereka belum tiba. Nyonya Rivers, ini
adalah murid yang sekelas dengan Darrell. Namanya Alicia Johns. Ia akan
menemani Darrell bila Anda akan meninggalkannya."
"Halo!" sapa Alicia, dengan mata bersinar ceria pada Darrell. "Aku sekelas
denganmu. Kau sudah dapat tempat di sudut? Lebih enak duduk di sudut. Ayo,
cari tempat sekarang yuk! Bisa kehabisan nanti."
"Kalau begitu, lebih baik aku pergi sekarang saja." Nyonya Rivers
tersenyum. Dipeluk dan diciumnya Darrell. "Aku akan menulis surat segera
setelah kuterima suratmu. Semoga kau kerasan di sana."
"Pasti! Ibu jangan kuatir!" kata Darrell. Nyonya Rivers segera
meninggalkan putrinya. Darrell mengikuti ibunya dengan pandangan mata. Ia tak
sempat merasa sedih oleh perpisahan itu, sebab Alicia langsung mengambil alih
dirinya, mendorongnya ke arah gerbong Nona Potts.
"Taruh tasmu di sudut itu,” kata Alicia. "Dan punyaku akan kutaruh di
sini. Itu berarti kedua tempat ini sudah jadi milik kita. Nah, ayo sekarang ke pintu.
Kita lihat-lihat apa yang terjadi. Lihat di sana itu - itulah contoh 'Cara Terburuk
Untuk Berpamitan Pada Putri Tersayang'!"
Darrell berpaling ke arah mana Alicia mengangguk Ia melihat seorang
anak yang seumur dengannya, berpakaian seragam Malory Towers, tetapi dengan
rambut panjang mengurai di punggung. Anak itu memeluk ibunya rapat-rapat dan
tampak menangis.
"Si ibu mestinya menanggapi hal seperti itu dengan hanya tersenyum,
memberinya sebatang cokelat, dan meninggalkannya," kata Alicia. "Kalau orang
punya anak seperti itu, hanya cara itulah yang terbaik Dasar anak manja!"
Memang. Si ibu berlaku seburuk putrinya. Di pipinya juga terlihat air
mata. Dengan langkah mantap Nona Potts mendekati ibu dan anak itu.
"Lihat apa yang akan dilakukan Potty," bisik Alicia. Darrell terkejut juga
oleh julukan yang diberikan Alicia pada kepala asrama mereka. Potty memang
bisa jadi kependekan atau panggilan untuk Potts, tetapi kata itu juga berarti
'sedikit sinting'! Padahal Nona Potts sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda
kesintingan sedikit pun. Ia seratus persen waras. Dan tegas.
"Biarlah Gwendoline ikut denganku," kata Nona Potts pada sang ibu.
"Sudah saatnya ia masuk ke gerbong. Dan di sana ia akan merasa tenang Nyonya
Lacey."
Gwendoline agaknya sudah siap untuk mengikuti Nona Potts. Tetapi
Nyonya Lacey masih memeluk putrinya itu. Alicia mendengus. "Kaulihat apa
yang menyebabkan Gwendoline begitu cengeng?" katanya. "Ibunya! Aku gembira
bahwa ibuku cukup sehat cara berpikirnya. Ibumu pun tampaknya sangat
menyenangkan. Periang dan menyenangkan."
Darrell gembira ibunya. mendapat pujian seperti itu. Ia kini melihat betapa
dengan tegas Nona Potts melepaskan rangkulan Gwendoline pada ibunya dan
menuntunnya ke gerbong.
"Alicia, ini satu lagi,” kata Nona Potts. Alicia menarik Gwendoline naik.
Ibu Gwendoline juga ikut mendekat dan menjenguk ke dalam gerbong itu.
"Ambillah tempat duduk di sudut, Sayang," katanya. "Dan jangan duduk
membelakangi lokomotif. Bisa mual nanti kalau kau duduk mundur begitu.
Dan..."
Seorang anak lain datang mendekat. Kecil namun tampaknya kokoh.
Berwajah sederhana dengan rambut dikepang rapi. "Apakah ini gerbong Nona
Potts?" ia bertanya.
"Benar," jawab Alicia. "Kau murid baru? Menara Utara?" .
"Ya. Namaku Sally Hope.”
"Di mana ibumu?" tanya Alicia. "Mestinya beliau mengantarkanmu dan
menyerahkanmu pada Nona Potts agar kau bisa dicoret dalam daftarnya.”
"Oh, Ibu merasa tak perlu mengantarkan aku " kata Sally. "Aku datang
sendiri"
"Ya ampun!" seru Alicia. "Ternyata banyak juga macam ibu-ibu itu. Ada
yang datang dan berpisah dengan putrinya sambil tersenyum. Ada yang menangis
meraung-raung. Dan ada pula yang tak datang sama sekali!"
"Alicia, jangan ngoceh tak keruan!" tukas Nona Potts tandas. Ia sudah tahu
akan sifat Alicia yang berlidah begitu tajam. Dan Nyonya Lacey yang mendengar
kata-kata Alicia tadi tampak berang juga, hingga lupa akan nasihat apa lagi yang
akan dikatakannya pada Gwendoline. Dengan pandang marah ia menatap Alicia.
Untunglah saat itu terdengar peluit kondektur dan serentak terjadi keributan saat
anak-anak bergegas berebut naik.
Nona Potts ikut berebut naik bersama dua atau tiga murid lagi. Ibu
Gwendoline mencoba menjenguk ke dalam, tetapi sayang saat itu Gwendoline
sedang membungkuk ke lantai, mencari sesuatu yang agaknya terjatuh.
"Di mana Gwendoline!" seru Nyonya Lacey. "Aku harus mengucapkan
selamat jalan padanya. Mana... "
Saat itu kereta mulai bergerak meninggalkannya. Gwendoline baru sadar
akan hal itu. Ia cepat berdiri dan menangis. "Ibu!" teriaknya. "Ah, aku belum
pamitan padanya!"
"Berapa kali kau ingin berpamitan?" tukas Alicia. "Paling sedikit sudah
dua puluh kali tadi kuhitung...."
Nona Potts memperhatikan Gwendoline. Tampaknya anak ini anak
tunggal yang terlalu dimanja dan terlalu mementingkan diri sendiri. Pastilah sulit
untuk mengajarnya nanti.
Kemudian diperhatikannya si Kecil Sally Hope. Gadis cilik yang lucu,
dengan kepangan rambutnya yang rapi ketat dan mukanya yang mungil. Ia tak
diantar ibunya. Tetapi apakah Sally peduli akan hal itu? Sulit untuk diterka.
Lalu, Darrell. Rasanya mudah sekali membaca pikiran Darrell. Anak itu
agaknya takkan bisa menyembunyikan perasaan hatinya. Anak itu akan suka
berkata terus terang tentang apa yang dirasanya. Tetapi sudah pasti ia takkan
setajam Alicia dalam berbicara.
"Seorang anak yang manis, jujur, dan bisa dipercaya," pikir Nona Potts.
"Tapi mungkin nakal juga. Tampaknya otaknya cukup encer. Mudah-mudahan ia
tahu menggunakan otak tersebut. Aku memerlukan seseorang yang bisa
dibanggakan dari Menara Utara."
Anak-anak itu mulai bercakap-cakap. "Bagaimana sih rupa Malory Towers
itu?" tanya Darrell. "Aku sudah melihat potretnya. Begitu besar tampaknya.
Tetapi bagaimana sebenarnya?"
"Memang besar," kata Alicia. "Dan pemandangan lautnya indah sekali.
Untung kau ditempatkan di Menara Utara. Pemandangannya terbaik dari asrama
lainnya."
"Apakah setiap asrama memiliki ruang kelas tersendiri?" tanya Darrell.
Alicia menggelengkan kepala.
"Oh, tidak Semua murid dari keempat asrama itu bersekolah di gedung
sekolah yang sama. Tiap asrama memiliki sekitar enam puluh orang murid.
Tiap asrama memiliki seorang kepala murid. Untuk Menara Utara, kepala
muridnya adalah Pamela , yang duduk di sana itu."
Pamela seorang gadis jangkung, pendiam. Ia duduk dengan seorang gadis
sebayanya, dan mereka agaknya sangat bersahabat dengan Nona Potts. Mereka
asyik memperbincangkan rencana mereka dalam semester ini.
Alicia, Sally, Darrell, dan seorang gadis lagi bernama Tessie tak lama
sudah asyik bercakap-cakap pula. Hanya Gwendoline yang duduk muram dan
diam di sudutnya. Tak ada yang memperhatikan dirinya, dan ini sesuatu yang
jarang terjadi baginya!
Ia mengeluarkan suara tersedu, dan dari sudut matanya ia melirik anakanak
itu. Alicia yang bermata tajam menangkap lirikan sembunyi-sembunyi itu.
Ia menyeringai dan berbisik pada Darrell, "Dia hanya pura-pura menangis! Orang
yang benar-benar bersedih cenderung untuk menyembunyikan kesedihannya, dan
tidak malah memamerkannya. Jangan ada yang memperhatikan Gwendoline
tersayang itu!"
Kasihan Gwendoline! Sesungguhnya sikap Alicia yang tak mengacuhkan
dirinya adalah suatu obat yang sangat mujarab bagi kecengengannya.
Ia harus segera sadar bahwa kehidupan di sekolah nanti sangat berbeda
dengan kehidupannya di rumah.
"Tak usah bersedih, Gwendoline!" seru Nona Potts dengan suaranya yang
riang. Tetapi hanya itu saja yang diucapkannya untuk Gwendoline. Ia langsung
berbicara asyik dengan Pamela dan kawannya.
"Aku ingin muntah!" kata Gwendoline akhirnya, dalam usaha terakhirnya
untuk menarik perhatian dan rasa iba anak lain.
"Tapi tampaknya tidak begitu," tukas Alicia. "Mukaku selalu tampak hijau
bila mau muntah. Tapi kau tidak. Ia tak apa-apa, bukan, Nona Potts?"
Rasanya Gwendoline ingin sekali bisa muntah-muntah agar Alicia yang
sok tahu itu tahu rasa. Lemas ia menyandarkan diri di tempat duduknya, dan
bergumam perlahan, "Aku ingin muntah... mual sekali! Oh, apa yang harus
kulakukan?"
"Tunggu, aku punya kantung kertas!" Alicia mengeluarkan selembar
kantung kertas besar dari tasnya. "Saudaraku juga seperti kau, selalu mabuk bila
berkendaraan, selalu ingin muntah. Karenanya Ibu selalu membawa kantung
kertas bila Sam ikut pergi dengannya. Tampaknya lucu juga kalau Sam muntah
ke dalam kantung kertas itu. Persis seperti seekor kuda yang sedang makan dari
kantung yang dikaitkan di lehernya!"
Semua tertawa. Kecuali Gwendoline, tentu. Ia bahkan tampak gusar.
Kurang ajar, Alicia itu! Ia takkan mau berkawan dengan anak itu! Tetapi setelah
serangan lidah tajam Alicia tadi, Gwendoline jadi sangat pendiam. Ia duduk tak
bergerak. Tak lagi berusaha untuk memikat perhatian anak-anak lainnya. Ia takut
pada apa yang pasti dikatakan Alicia nanti.
Darrell memandang Alicia dengan sedikit kagum. Sungguh menyenangkan
anak ini. Alangkah senangnya bila mereka bisa bersahabat baik!

2. MALORYTOWERS
LAMA juga perjalanan ke Malory Towers. Tetapi rangkaian kereta api
yang panjang itu juga membawa sebuah gerbong tempat makan. Murid-murid
bergantian makan siang. Dan bahkan saat minum teh juga mereka lewatkan dalam
perjalanan itu. Pada awal perjalanan semua memang riang, ramai bercanda.
Namun lama kelamaan mereka serasa tak punya nafsu untuk berbicara. Beberapa
bahkan sudah tertidur. Sungguh suatu perjalanan yang terlalu panjang!
Tapi akhirnya sampai juga mereka ke stasiun tujuan. Dari stasiun tersebut,
sekolah Malory Towers masih sekitar tiga kilometer lagi. Beberapa bis besar
menunggu di depan stasiun untuk mengangkut anak-anak itu ke sana.
"Ayo, cepat!" kata Alicia mencengkeram tangan Darrell. "Kalau kita
cepat-cepat, kita mungkin akan bisa memperoleh tempat duduk di depan, dekat
sopir. Ayolah! Mana tasmu?"
"Aku ikut!" seru Gwendoline. Tetapi semua sudah berangkat sebelum
Gwendoline bisa mengumpulkan semua barangnya.
Alicia dan Darrell berhasil mendapat tempat duduk terdepan. Sementara
itu anak-anak ribut naik ke bis tersebut. Stasiun kecil itu hanya mempunyai
seorang kuli yang kini begitu sibuk memindahkan kopor-kopor besar dari kereta
api ke bis. .
"Apakah Malory Towers terlihat dari sini?" tanya Darrell melihat
berkeliling.
"Tidak. Tapi nanti terlihat. Nanti jalan ini menikung dan tiba-tiba saja
Malory Towers muncul di hadapan kita," kata Alicia.
"Ya, begitu indah munculnya yang tiba-tiba itu," Pamela ikut berbicara.
Gadis pendiam yang menjadi kepala murid asrama Menara Utara itu duduk di
belakang Alicia dan Darrell. Matanya bersinar saat ia berkata lagi, "Kukira
pemandangan paling indah atas sekolah kita adalah dari sudut jalan itu. Apalagi
bila matahari berada di belakangnya!"
Darrell bisa merasakan kehangatan di suara Pamela saat ia berbicara
tentang sekolah yang begitu dicintainya itu. Ia memperhatikan gadis besar itu dan
seketika menyukainya.
Pamela melihat pandangan mata Darrell dan ia tertawa. "Kau beruntung,
Darrell," katanya. "Kau anak baru, dan akan mengalami banyak hal di sekolah
kita. Waktumu masih sangat lama di Malory Towers. Sedang aku... pelajaranku
hampir berakhir Satu-dua semester lagi aku akan terpaksa meninggalkan sekolah
ini Kuharap kau menggunakan waktumu sebaik-baiknya di Malory Towers. Kau
pasti akan menyukainya."
"Ya, pasti!" Angguk Darrell mantap. Kemudian ia berpaling ke depan,
menunggu penampilan pertama sekolah barunya itu, sekolah yang akan
didiaminya untuk waktu paling cepat enam tahun.
Mereka menikung. Alicia cepat memberinya isyarat dengan sikunya.
"Lihat itu, lihat! Di sana itu, di bukit! Laut berada di baliknya, jauh di bawah
tebing, tak terlihat"
Darrell melihat ke arah yang ditunjuk Alicia.
Terlihat olehnya sebuah gedung besar berdiri tinggi di puncak bukit.
Gedung itu berbentuk segi empat, dan tiap sudutnya dihiasi sebuah menara bulat
tinggi. Dua di depan, dan dua di belakang.
Menara-menara utara, selatan, barat, dan timur. Pada lereng yang
menghadap ke laut, bukit itu begitu terjal dan akhirnya membentuk tebing batu
karang yang hampir tegak lurus.
Malory Towers.
Dindingnya berwarna batu, lembut kelabu. Sebagian besar dinding itu
dirambati oleh sulur-suluran, begitu rapat menghijau sampai ke atap. Bagaikan
sebuah puri di zaman lampau! Dan jendela-jendela di gedung itu bersinar
cemerlang.
"Sekolahku!" pikir Darrell. Suatu kehangatan mengisi hatinya. "Indah
sekali. Aku benar-benar beruntung bisa mempunyai sekolah seperti itu sebagai
rumahku untuk beberapa tahun ini. Aku pasti akan menyukainya."
"Apakah kau menyukainya?" tanya Alicia tak sabar.
"Ya, sangat!" kata Darrell. "Tapi rasanya aku takkan pernah bisa
mengenali tempat-tempatnya.... Rasanya sekolah itu begitu besar!"
"Oh, kau nanti akan kuantar berkeliling," kata Alicia. "Cukup
mengherankan, tapi kau pasti dengan cepat akan mengenali semua tempat di
sana." .
Bis mereka menikung, dan Malory Towers lenyap. Tetapi gedung megah
itu muncul lagi di tikungan berikutnya, semakin dekat. Tak berapa lama bis-bis itu
pun sudah menderu berhenti, di depan telundakan lebar yang menuju sebuah pintu
besar.
"Oh! Seperti pintu masuk ke sebuah istana!" seru Darrell.
"Ya." Tiba-tiba Gwendoline mendekat di belakang mereka. "Dan aku akan
merasa bagaikan seorang putri bila melangkah di telundakan itu," katanya pula
sambil mengibaskan rambutnya yang terurai keemasan.
"Pasti," dengus Alicia. "Tapi buang jauh-jauh pikiran semacam itu bila
Potty ada di dekatmu!"
Darrell turun dari bis dan langsung tenggelam dalam arus anak-anak yang
bergegas menaiki telundakan. Ia mencari-cari Alicia, tapi entah ke mana anak itu.
Terpaksa Darrell menaiki telundakan itu sendiri, menenteng tas serta raketnya. Ia
merasa kesepian di antara ributnya anak-anak itu.
Takut juga ia sedikit, tanpa Alicia yang selalu berceloteh di sampingnya.
Segalanya terasa kabur. Darrell tak tahu harus pergi ke mana atau harus berbuat
apa. Sia-sia ia mencari Alicia atau Pamela , kepala murid.
Keduanya tak tampak di tengah begitu banyak murid-murid itu. Apakah ia
harus langsung pergi ke Menara Utara? Anak-anak lain tampak begitu yakin apa
yang harus mereka lakukan, kecuali Darrell.
Ah, untung. Itu Nona Potts! Cepat-cepat ia mendekati kepala asrama itu.
Nona Potts tersenyum padanya. "Halo! Bingung, ya? Di mana si Nakal Alicia itu?
Mestinya ia mengurusmu. Semua murid dari Menara Utara harus langsung ke
tempat tersebut dan merapikan diri Ibu Asrama sudah menunggu kalian!"
Darrell tak tahu arah menuju Menara Utara. Maka ia sendiri saja di dekat
Nona Potts, menunggu. Alicia muncul kembali bersama serombongan anak-anak.
"Hai!" ia menyapa Darrell. "Aku kehilangan kau. 1m semua kawan-kawan
sekelas kita. Tetapi tak usah tahu nama-nama mereka dulu bisa bingung kau.
Beberapa di antaranya dari Menara Utara, beberapa dari menara lainnya. Ayo!
Kita ke Menara Utara untuk bertemu dengan Ibu Asrama. Mana Gwendoline
sayang?"
"Alicia!" kata Nona Potts tajam, tetapi matanya tersenyum. "Jangan
ganggu Gwendoline terus. Beri kesempatan padanya untuk menyesuaikan diri."
"Sally... di mana dia? Oh, itu. Ayo, Sally! Baiklah, Nona Potts. Aku akan
mengantar mereka ke Menara Utara dan mengasuh mereka sedikit," kata Alicia.
Sally, Gwendoline. dan Darrell mengikuti Alicia. Mereka berada di sebuah
ruangan yang sangat besar, dengan pintu-pintu besar di sisinya serta sebuah
tangga lebar melengkung ke atas.
"Ini ruang pertemuan," kata Alicia. "Itu laboratorium, ruang senam, ruang
kesenian, dan ruang menjahil Ayo, kita harus menyeberangi Taman Dalam untuk
pergi ke asrama kita."
Darrell tak tahu apa yang disebut Taman Dalam itu. Tetapi ia segera
mengetahuinya. Malory Towers dibangun mengelilingi sebuah tempat terbuka,
dan inilah yang disebut Taman Dalam oleh Alicia.
Tempat ini berbentuk persegi empat, dengan gedung Malory Towers
sebagai keempat sisinya. Alicia membawa anak-anak baru itu keluar dari ruang
pertemuan, dan di depan mereka terhampar Taman Dalam itu.
"Indah sekali!" seru Darrell. "Tempat apa yang terbenam di tengah itu?"
Ia menunjuk pada sebuah tempat dengan rumput hijau dan berbentuk
lingkaran serta seakan 'terbenam' agak- dalam dari permukaan tanah. Di sisi
lingkaran yang cukup besar itu terdapat telundakan-telundakan batu, melingkar
dan tampaknya untuk tempat duduk. Mirip lingkaran pertunjukan sirkus dengan
tempat pertunjukannya di bawah permukaan tanah.
"Itu tempat kita bermain drama di musim panas," kata Alicia. "Para
pemain di lapangan rumput di bawah itu, para penonton duduk di tempat duduk
yang melingkarinya. Sangat menyenangkan!"
Di permukaan tanah, mengelilingi lapangan rumput yang tenggelam itu,
terdapat taman yang sangat indah oleh bunga mawar dan berbagai bunga lainnya.
Di antara petak-petak bunga itu terdapat pula petak-petak rumput yang menghijau.
"Di sini agaknya hangat dan terlindung," kata Darrell.
"Tetapi di musim panas hawanya terlalu panas," kata Alicia, terus
membawa mereka ke seberang.
"Tetapi pemandangannya sungguh mempesonakan di semester Paskah.
Saat kita meninggalkan rumah kita pada bulan Januari, di tengah hawa beku dan
salju, maka kita dapati di Taman Dalam ini bunga-bunga berkembang ceria dalam
lindungan gedung yang mengelilinginya. Lihat, bunga-bunga tulip sudah keluar.
Padahal ini baru bulan April."
Di setiap sudut rangkaian bangunan yang membentuk segi empat itu
terdapat sebuah menara. Alicia menunjukkan Menara Utara, sebab keempat
menara tadi serupa benar satu dengan yang lain. Darrell memperhatikan menara
itu. Tingginya empat tingkal Dan Alicia berhenti sebentar di depan Menara Utara
tersebut untuk memberi penjelasan.
"Di lantai bawah ada ruang makan dan ruang rekreasi, serta dapur. Di
lantai dua terdapat kamar-kamar tempat kita tidur. Begitu juga di lantai tiga. Di
lantai empat kamar tidur untuk karyawan serta gudang tempat barang-barang
kita."
"Dan setiap menara susunannya sama?" tanya Darrell, memperhatikan
menaranya. "Alangkah senangnya kalau tempat tidurku di puncak menara ini.
Pasti pemandangannya sangat indah!"
Ramai sekali anak-anak keluar-masuk di pintu bawah menara itu. "Ayo,
cepatlah!" beberapa di antara mereka berseru pada Alicia. "Sebentar lagi makan
malam terhidang. Dan baunya, mmmh, sungguh sedap!"
"Pada awal semester biasanya masakan yang dihidangkan memang luar
biasa," kata Alicia. "Setelah itu - tak begitu hebat. Coklat, biskuit, dan
sebangsanya. Ayo, mari kita temui Ibu Asrama."
Setiap menara punya Ibu Asrama sendiri, yang bertanggung jawab atas
anak-anak yang ada di asramanya. Ibu Asrama Menara Utara ternyata seorang
wanita yang agak gemuk, tapi tampak gesit. Berpakaian sangat rapi dan sangat
bersih.
Alicia membawa ketiga murid baru itu ke hadapannya. "Ini tambah tiga
orang anak lagi, untuk sasaran amukan Anda," katanya.
Darrell memperhatikan Ibu Asrama itu, yang sedang mengerutkan kening
membaca daftar di tangannya. Rambutnya rapi, tersisir dan tersembunyi di topi
kain yang indah dan terikat rapi di bawah dagu. Segalanya pada dirinya begitu
bersih sehingga Darrell merasa dirinya sendiri sangatlah kotor. Ia sedikit merasa
takut juga pada Ibu Asrama yang tampaknya akan bersikap keras ini. Tetapi
ketika wanita ini mengangkat muka dan tersenyum padanya, semua rasa takut
Darreil lenyap. Senyum itu begitu ceria dan sepenuh hati - seolah-olah mata,
mulut, dan hidungnya juga ikut tersenyum.
"Tunggu... kau pasti Darrell Rivers," kata Ibu Asrama, mencoret sebuah
nama di daftarnya. "Kau bawa surat dokter? Berikan padaku. Dan kau pasti Sally
Hope."
"Bukan, aku Gwendeline Mary Lacey,” kata Gwendoline.
"Jangan lupa Mary-nya," tambah Alicia. "Gwendeline Mary tersayang."
"Cukup, Alicia," tukas Ibu Asrama, mencoret nama Gwendoline "Kau
nakal sekali. Seperti ibumu dulu. Tapi kurasa kau jauh lebih nakal darinya. "
Alicia menyeringai. "Ibuku dulu juga bersekolah di sini," katanya pada
Darrell. "Dan beliau juga tinggal di Menara Utara ini. Dan selama bertahun-tahun
beliau berada di bawah pengawasan Ibu Asrama kita ini. Ibu titip salam untuk
Anda." Ia berpaling pada Ibu Asrama. "Kata beliau, sungguh sayang saudarasaudara
lelakiku tak bisa dikirimnya kemari. Rasanya hanya Andalah yang akan
bisa mendidik mereka."
"Kalau mereka seperti kau, maka aku bersyukur bahwa mereka tak bisa
dikirim kemari" kata Ibu Asrama. "Satu saja dari keluarga Johns sudah lebih dari
cukup bagiku. Ibumulah yang membuat rambutku begitu cepat memutih. Dan kau
agaknya mau membuat seluruh rambutku jadi putih, ya?"
Ia tersenyum lagi. Wajahnya sabar dan bijaksana. Setiap anak yang merasa
sakit pasti akan tenang dalam rawatan Ibu Asrama ini. Tetapi hati-hati bagi
mereka yang malas dan suka pura-pura sakit atau tak berhati-hati dalam bekerja!
Senyum ramah itu pasti akan lenyap dan wajah itu akan berubah menakutkan!
Suara gong menggema di Menara Utara itu.
"Makan malam," kata Ibu Asrama. "Biarlah kalian membereskan barangbarang
nanti saja. Kereta api kalian terlambat, pastilah kalian merasa lelah. Semua
anak kelas satu langsung pergi tidur segera setelah selesai makan malam"
"Oh, Ibu!" keluh Alicia. "Masa kami tak diberi waktu untuk bercakapcakap
sepuluh menit saja....”
"Aku katakan tadi, langsung pergi tidur, Alicia," kata Ibu Asrama. "Ayo,
pergilah! Cuci tangan kalian cepat-cepat dan segera turun ke ruang makan.
Cepat!"
Lima menit kemudian Alicia dan kawan-kawannya telah duduk di ruang
makan, menikmati makan malam yang lezat. Mereka merasa sangat lapar, jadi
enak sekali makan. Darrell melihat berkeliling. Begitu banyak anggota
asramanya! Mana mungkin ia mengenal mereka semua? Dan rasanya tak mungkin
ia punya keberanian untuk ikut serta bercanda dan tertawa dengan mereka. Tetapi
hal itu tentu saja tidak benar. Ia akan segera menjadi bagian dari semua ini!

3. MALAM DAN PAGI PERTAMA
SELESAI makan, sesuai dengan perintah Ibu Asrama, anak-anak kelas
satu langsung pergi tidur. Darrell menyukai kamarnya. Kamar tersebut panjang,
dan di sepanjang dindingnya terdapat jendela-jendela menghadap ke laut, lagi!
Sesaat Darrell berdiri di depan salah satu jendela, memperhatikan laut biru yang
bergulung tenang serta suara ombak berdebur sayup-sayup. Betapa indahnya
tempat ini.
"Jangan melamun saja!" suara Alicia membuyarkan pikirannya. "Ibu
Asrama akan segera datang meninjau!"
Darrell berpaling dari jendela. Kamar tidur itu memiliki sepuluh tempat
tidur. Masing-masing tempat tidur dipisahkan oleh tirai-tirai yang bisa ditarik ke
tepi. Setiap tempat tidur berseprai putih bersih dan masing-masing mendapat
selembar selimut tebal berisi bulu yang dilipat pada tempat tidur itu. Selimutselimut
itu berbeda-beda warnanya, sehingga ceria bila dilihat dari tempatnya
berdiri: barisan tempat tidur putih dengan aneka warna selimut terlipat rapi. Tiraitirai
tadi membentuk semacam bilik, dan pada tiap bilik terdapat sebuah lemari,
sebuah peti tempat pakaian dengan cermin hias di atasnya. Di kedua ujung kamar
terdapat tempat cuci muka dengan air dingin dan panas.
Anak-anak sibuk membuka tas serta mengeluarkan barang-barang mereka.
Darrell mengeluarkan pakaian tidurnya, lap muka, sikat gigi, dan pasta giginya.
Selembar handuk bersih tergantung di rak dekat lemari.
"Sungguh menyenangkan tidur berteman begini banyak," pikir Darrell.
"Pasti kita bisa bercakap-cakap dan bermain-main sampai malam."
Semua anak baru tidur di kamar itu. Sally, Gwendoline, dan Darrell. Alicia
juga di situ, ditambah enam orang anak lagi. Anak-anak lama ini memperhatikan
ketiga anak baru tersebut berlari ke tempat membasuh muka, mencuci muka dan
menggosok gigi, kemudian kembali ke tempat-tempat tidur mereka.
Salah seorang di antara anak lama ini melihat arloji di tangannya dan
berkata tegas, "Semua naik ke tempat tidur!" Anak ini bertubuh tinggi, berambut
hitam, dan agaknya pendiam. Semua langsung naik ke tempat tidur, kecuali
Gwendoline. Gwendoline sibuk menyikat rambutnya yang indah keemasan sambil
menghitung, "Lima puluh empat, lima puluh lima, lima puluh enam..."
"Hei, kau, Anak baru! Siapa namamu? Cepat naik ke tempat tidur!" kata
anak berambut hitam tadi.
"Aku harus menyikat rambutku seratus kali setiap malam," kata
Gwendoline. "Nah... aku jadi lupa sudah sampai hitungan berapa aku tadi."
"Tutup mulut dan cepat naik ke tempat tidur, Gwendoline Mary!" kata
Alicia yang tempat tidurnya berdampingan dengan tempat tidur Gwendoline.
"Katherine adalah ketua kamar ini. Kau harus melakukan apa yang
diperintahkannya."
"Tetapi aku sudah berjanji pada Ib... Ib..." Gwendoline mulai terisak-isak.
"Aku sudah berjanji pada Ibu untuk menyikat ram-ram-rambutku seratus kali
tttiap malam...."
"Kau bisa meneruskan menyikat rambutmu besok malam," suara ketua
kamar itu terdengar dingin dan tajam. "Kini naiklah ke tempat tidur."
"Oh, biarlah kuselesaikan sekarang saja," kata Gwendoline, tergopohgopoh
meneruskan menyikat rambut. "Lima puluh tujuh... lima puluh..."
"Apakah aku harus memukul pantatnya dengan sikatku, Katherine?" tanya
Alicia, bangkit berdiri dan bersiap dengan sikat rambutnya. Gwendoline menjerit
dan melompat ke atas tempat tidur.
Semua tertawa. Mereka tahu bahwa sesungguhnya Alicia tidak bermaksud
akan memukul Gwendoline benar-benar.
Gwendoline berbaring, marah. Ingin sekali rasanya menangis.
Dipikirkannya ibunya yang kini begitu jauh dari dirinya, dan ia mulai terisak-isak.
"Buang ingusmu, Gwendoline!" kata Alicia setengah mengantuk.
"Jangan ada yang berbicara lagi," kata Katherine. Sunyi kemudian kamar
itu. Sally Hope terdengar melepas napas panjang. Darrell mengira-ngira apakah
anak itu sudah tidur ataukah belum. Tirai antara tempatnya dan tempat Sally tidak
tertutup. Tidak. Sally belum tidur. Ia berbaring dengan mata terbuka. Tak terlihat
air mata, tetapi wajah itu tampak bersedih hati.
"Mungkin ia rindu akan rumahnya,” pikir Darrell.
Ebook by CLU5TER 18
Ia pun berpikir akan rumahnya sendiri. Tetapi ia mengerti tak ada perlunya
ia bersedih hati. Lagi pula banyak yang diharapkannya dari sekolah ini, hingga ia
takkan sempat bersedih. Ia telah bertekad dari semula untuk bersenang-senang di
sekolah ini, untuk menyukai apa saja yang ada.
Ibu Asrama masuk. Ia memeriksa setiap tempat tidur. Beberapa orang
anak sudah tertidur, kelelahan. Ibu Asrama terus memeriksa seluruh kamar itu.
Membetulkan letak selimut di sini. Mematikan air yang masih menetes di keran.
Menutup tirai-tirai di jendela-jendela sebab saat itu di luar langit masih terang.
"Selamat malam," katanya akhirnya. "Selamat tidur. Tak boleh ada yang
bersuara lagi."
"Selamat malam, Ibu!" beberapa orang anak yang belum tidur membalas.
Darrell mengintai dari balik tirainya, ingin melihat apakah Ibu Asrama itu
tersenyum. Ternyata Ibu Asrama melihat wajah Darrell di tirai dan tersenyum.
"Tidurlah dengan nyenyak,” katanya, dan ia pun keluarlah tanpa bersuara lagi.
Semuanya berusaha untuk segera tidur. Kecuali Gwendoline. Ia malah
berusaha untuk tetap bangun. Apa kata ibunya tadi? "Kau pasti akan merasa sedih
malam ini, Sayang. Aku tahu. Tapi kuatkanlah hatimu...."
Karena ibunya berkata begitu, maka Gwendoline memutuskan untuk
bersedih hati. Tetapi matanya rasanya tak bisa dibuka terus. Tak lama Gwendoline
juga tertidur nyenyak seperti yang lain. Di rumahnya, ibu Gwendoline mengusap
air mata dan berkata, "Kasihan sekali si Gwen. Mestinya ia tak usah kukirim
begitu jauh dariku. Aku yakin saat ini ia tak bisa tidur dan menangis terus
sepanjang malam."
Nyatanya Gwendoline tidur tenang, malah tersenyum saat ia bermimpi
menjadi ratu dari semua anak-anak di sekolah ini, menjadi juara kelas, dan
menjadi juara dalam segala cabang olahraga yang ada.
Pagi harinya, suara lonceng yang keras membangunkan semua isi asrama.
Sesaat Darrell tak tahu ia berada di mana. Kemudian didengarnya suara Alicia
berseru, "Bangun! Bangun! Pemalas! Kalian harus merapikan tempat tidur
sebelum sarapan!"
Darrell melompat turun dari tempat tidurnya. Sinar matahari memasuki
kamar, sebab Katherine sudah membuka tirai jendela. Anak-anak mulai ramai
berbicara. Bergantian mereka menggunakan tempat cuci muka. Darrell bergegas
memakai seragam yang disukainya itu, blus putih dan rok cokelat dengan ikat
pinggang merah muda, seperti juga kawan-kawannya. Disikatnya rambutnya ke
belakang, dan dipasangnya dua buah jepit rambut agar rambut tersebut tetap rapi.
Gwendoline membiarkan rambutnya terurai lepas di bahunya.
"Kau tak boleh mengatur rambutmu seperti itu,” kata Alicia. "Paling tidak
di sekolah ini kau tak boleh."
"Tetapi aku selalu mengaturnya seperti ini," kata Gwendoline. Wajahnya
yang cantik itu tampak menunjukkan kekeraskepalaan.
"Mukamu jadi tak keruan karenanya,” kata Alicia.
"Tidak!" tukas Gwendoline. "Kau berkata begitu karena rambutmu pendek
dan kasar!"
Alicia mengejapkan mata pada Katherine yang mendatangi mereka.
"Biarkan Gwendoline sayang memamerkan rambutnya yang panjang dan lembut
bagai sutra itu," katanya. "Nona Potts akan sangat gembira melihatnya nanti."
"Guru pribadiku. Nona Winters, suka sekali melihat rambutku begini,"
kata Gwendoline tampak gembira.
"Oh, jadi kau tak pernah bersekolah sebelum ini?" tanya Alicia. "Hanya
guru pribadi yang mengajarmu? Pantas!"
"Pantas apa?" tanya Gwendoline ketus.
"Tak apa. Bisa kauketahui sendiri nanti," kata Alicia. "Siap, Darrell? Itu
gong sarapan. Rapikan sepraimu. Gwendoline, lipat baju tidurmu. Lihat Sally itu -
anak baru tapi begitu rapi tanpa harus diberi tahu lagi."
Sally tersenyum kecil. Ia hampir tak pernah berkata-kata. Bukan karena
malu, tetapi memang pendiam dan agaknya sudah banyak mengerti akan tugas
yang harus dilakukannya walaupun ia anak baru. Darrell heran juga melihat hal
itu. Mereka semua pergi ke ruang makan. Meja panjang di situ sudah siap.
Beberapa anak telah duduk dan menyapa Kepala Asrama dengan sopan. Ibu
Asrama juga sudah ada di situ. Dan tampak pula seorang dewasa yang belum
dikenal Darrell.
"Itu Mam'zelle Dupont," bisik Alicia. Mam'zelle adalah singkatan dari
kata Prancis untuk 'nona'. "Di Malory Towers ini ada dua orang guru bahasa
Prancis. Yang satu gendut dan periang, yang satu kurus dan selalu bermuka
masam. Untuk semester ini kita memperoleh yang gendut dan periang. Tapi kedua
guru itu sangat pemarah. Mudah-mudahan saja bahasa Prancismu cukup bagus."
"Wah, bahasa Prancisku tak begitu baik," kata Darrell kuatir.
"Mam'zelle Dupont membenci Mam'zelle Rougier. Dan Mam'zelle
Rougier membenci Mam'zelle Dupont," Alicia berbisik lagi. "Kadang-kadang
mereka bertengkar ramai. Sering Ibu Asrama terpaksa dipanggil untuk meleraikan
mereka."
Mata Darrell terbelalak heran. Katherine yang duduk di seberang meja
darinya tertawa. "Jangan percaya semua kata-kata Alicia," katanya. "Lidahnya
kadang-kadang tak bisa diatur. Sampai saat ini kami belum pernah menyaksikan
kedua Mam'zelle itu bertarung."
"Ah, suatu saat itu pasti terjadi," kata Alicia. "Dan aku ingin
menyaksikannya."
Mam'zelle Dupont bertubuh pendek, gemuk, dan bundar. Rambutnya
digelung tinggi di puncak kepalanya. Matanya yang hitam kecil tak pernah
berhenti bergerak Ia memakai gaun hitam yang sangat pas untuk dirinya. dan
sepatu hitam di kakinya yang kecil.
Ia rabun dekat tetapi tak mau memakai kaca mata biasa. Untuk melihat, ia
memakai sebangsa kaca mata yang tidak diselipkan di telinga, tetapi bergagang
panjang dan harus dipegang dengan tangan. Benda ini dinamakan lorgnette, dan
bila tak digunakan tergantung dengan pita hitam di lehernya.
Alicia pandai sekali menirukan gerak-gerik orang. Anak-anak di
sekitarnya tertawa tergelak-gelak melihat ia menirukan gaya Mam 'zelle Dupont
melihat sesuatu dari dekat dengan mempergunakan lorgnette-nya. Tetapi seperti
anak lain. Alicia juga takut dan segan pada Mam'zelle Dupont dan berusaha untuk
tidak membuatnya marah.
"Anak-anak baru harus menghadap Kepala Sekolah setelah makan pagi,"
Nona Potts mengumumkan. "Ada tiga orang di kelas satu, dua orang di kelas dua.
dan seorang di kelas empat. Semuanya boleh menghadap bersama-sama,
kemudian bergabung dengan murid-murid lain di ruang pertemuan untuk acara
Doa Bersama. Pamela , kau bertugas mengantarkan anak-anak baru itu ke Kepala
Sekolah."
Pamela . ketua murid dari Menara Utara. bangkit. Anak-anak baru juga
berdiri. di antaranya Darrell. Mereka mengikuti Pamela . Pamela membawa
mereka ke pintu yang menuju Taman Dalam kemudian memasuki sebuah pintu di
bagian gedung yang menghubungkan Menara Utara dengan Menara Timur. Di
tempat itulah kantor Kepala Sekolah dan san. - singkatan dari sanatorium, tempat
anak-anak yang sakit beristirahat.
Mereka sampai ke sebuah pintu yang bercat krem tua. Pamela mengetuk
pintu itu Sebuah suara rendah terdengar dari dalam. "Masuklah."
Pamela membuka pintu. "Saya mengantarkan anak-anak baru, Nona
Grayling." katanya.
“Terima kasih, Pamela,” kata suara rendah itu.
Dan kini Darrell melihat wanita berambut putih sedang menghadap meja,
menulis. Wajahnya tenang, tanpa keriput sedikit pun. Matanya biru jernih, dan
bibirnya membayangkan kekerasan hati. Darrell merasa takut juga menghadapi
Kepala Sekolah dengan suara rendah ini. Mudah-mudahan ia takkan pernah harus
ditegur langsung olehnya!
Anak-anak baru itu berdiri berbaris di depan Kepala Sekolah. Nona
Grayling memperhatikan mereka satu per satu. Darrell merasa wajahnya
memerah, entah kenapa. Kakinya terasa lemas juga. Mudah-mudahan Nona
Grayling tidak mengajukan suatu pertanyaan pun padanya. Pasti ia takkan mampu
menjawab pertanyaan tersebut.
Nona Grayling bertanya nama-nama mereka, serta berbicara beberapa
kalimat dengan setiap anak yang ditanyainya. Kemudian dengan nada
bersungguh-sungguh, ia berbicara pada mereka semua,
"Suatu hari nanti, kalian akan meninggalkan sekolah ini, memasuki
kehidupan sebagai seorang wanita muda. Kalian harus membekali diri dengan
kecerdasan otak, kelembutan hati, dan kemauan untuk membantu sesamamu.
Kalian harus membekali diri dengan pengertian yang mendalam tentang banyak
hal, dengan kemauan untuk menerima tanggung jawab, serta menampilkan diri
sebagai wanita yang patut dicintai dan dipercaya. Semua ini bisa kalian pelajari di
Malory Towers - kalau saja kalian memang bertekad untuk mempelajarinya. Kami
sama sekali tidak menganggap kemampuan murid-murid untuk memenangkan bea
siswa, gelar, atau lulus berbagai ujian sebagai tanda keberhasilan kami. Yang
kami anggap berhasil adalah bila bekas murid kami tampil sebagai wanita yang
lembut hati, cerdas, dipercaya, berpikiran matang... seseorang yang bisa jadi
andalan orang-orang di sekelilingnya. Aku menganggap sekolah kita gagal bila
ada seseorang yang tak mempelajari sifat-sifat baik itu di sini."
Semua ini diucapkan dengan begitu bersungguh-sungguh sehingga Darrell
tak berani bernapas. Saat itu ia juga bertekad untuk menjadi salah satu lulusan
Malory Towers yang betul-betul berhasil.
"Ada di antara kalian yang dengan mudah bisa menguasai hal-hal yang
kusebutkan tadi, ada juga yang harus belajar keras untuk menguasainya. Mudah
ataupun sulit, kalian wajib mempelajarinya. Sebab hanya dengan begitulah kalian
bisa bahagia kelak bila meninggalkan sekolah ini, dan bisa menularkan
kebahagiaan itu pada orang-orang di sekitar kalian."
Nona Grayling berhenti sejenak. Kemudian ia berbicara lagi dengan nada
lebih ringan, "Kalian akan memperoleh banyak sekali dengan tinggal di Malory
Towers ini. Bertekadlah untuk memberikan banyak pula pada sekolah ini, dalam
arti membuat diri kalian berhasil seperti yang kukatakan tadi."
"Oh!" tak sadar Darrell berseru, lupa bahwa tadi ia yakin ia takkan berani
bersuara. "Tepat seperti itulah kata Ayah padaku saat aku akan berangkat kemari,
Nona Grayling."
"Betulkah ?" Nona Grayling tersenyum dengan mata cemerlang pada gadis
cilik ini. "Nah, kalau orang tuamu sudah berpikiran seperti itu, maka kukira kau
pastilah salah satu yang beruntung akan bisa belajar apa saja di sini dengan lebih
mudah. Mungkin suatu hari Malory Towers bisa berbangga karena mempunyai
murid engkau.”
Ia berbicara beberapa lama lagi. kemudian anak-anak itu diperkenankan
pergi. Sangat terkesan akan kata-kata tadi, mereka tanpa bersuara meninggalkan
kamar itu. Bahkan Gwendoline juga tak mengucapkan sepatah kata pun. Apa pun
yang kelak akan terjadi, saat itu masing-masing berjanji dalam hati untuk
berusaha sebaik mungkin belajar di Malory Towers. Apakah janji itu terbukti atau
tidak, itu sangat tergantung pada masing-masing anak.
Mereka kemudian pergi ke ruang pertemuan, bergabung dengan seluruh
murid sekolah itu untuk acara Doa Bersama. Mereka semua menunggu
kedatangan Nona Grayling di panggung.
Tak lama suara lagu pujian terdengar di ruang itu. Hari pertama semester
itu mulai. Darrell bernyanyi dengan sepenuh hati, hati yang riang dan bahagia.
Betapa banyaknya yang bisa diceritakannya pada ibunya nanti.

4. KELAS NONA POTTS
SELURUH murid Malory Towers tiap pagi berkumpul di ruang pertemuan
untuk berdoa bersama. Murid-murid itu berkumpul menurut kelasnya. bukan
menurut asramanya.
Darrell memperhatikan anak-anak yang sekelas dengannya. Betapa
banyaknya! Mungkin dua puluh lima atau tiga puluh orang. Nona Potts, kepala
asramanya, ternyata adalah juga wali kelas satu. Di situ juga tampak Mam'zelle
Dupont, bernyanyi dengan penuh semangat. Dan guru di sebelahnya itu pastilah
Mam 'zelle satunya. Sama-sama guru Prancis, tetapi alangkah berbedanya!
Yang ini tinggi, jangkung, kurus. Rambutnya juga digelung, tetapi bukan
di atas kepala, melainkan di belakang kepala. Menurut pandangan Darrell, guru
ini memang pemarah.
Alicia bercerita siapa guru-guru lainnya. "Itu guru sejarah, Nona Carton -
yang di sana itu, yang memakai leher baju tinggi dan kaca mata dengan penjepit
hidung. Ia sangat pandai, tetapi suka menyindir kalau ada yang lemah dalam
sejarah. Dan itu guru kesenian, Nona Linnie. Ia sangat baik, sangat ramah."
Darrell berharap akan banyak berjumpa dengan Nona Linnie nanti, kalau
ia betul-betul seramah seperti kata Alicia. Memang guru kesenian itu tampak
menyenangkan. Wajahnya manis, muda, rambutnya merah ikal.
"Dan itu guru musik, Pak Young. Kau lihat dia? Dia aneh. Kalau sedang
baik, baik sekali. Kalau sedang jahat, jahat sekali. Kami selalu bingung
menentukan sedang bagaimana dia bila mengajar kami."
Ibu-ibu Asrama juga ikut dalam acara Doa Bersama Darrell melihat Ibu
Asrama, seperti biasa mengerutkan kening seolah-olah sedang memikirkan
sesuatu. Alicia mulai berbisik lagi.
"Dan itu..."
Mata Nona Potts melirik ke arahnya. Alicia langsung tutup mulut dan
menekuni buku nyanyian pujaannya. Nona Potts sama sekali tak menyukai anakanak
yang suka berbisik-bisik, terutama saat berdoa bersama.
Pembacaan doa selesai, murid-murid pergi ke kelas masing-masing. Kelaskelas
ini berada di bagian gedung yang berada di sisi sebelah barat. Gedung ini
segera terisi oleh suara hiruk-pikuk tawa riang anak-anak itu. Jika sedang berada
di gang-gang yang menuju kelas-kelas tersebut, memang tak ada yang
mengharuskan anak-anak itu untuk berdiam diri.
Anak-anak kelas satu menempati ruangan yang jendelanya menghadap ke
laut. Sebuah ruang besar, dengan meja guru di bagian depan dan beberapa lemari
di bagian belakang. Meja dan kursi untuk murid-murid diatur dengan rapi.
"Cup! Ini mejaku!" Seorang anak bertubuh gemuk langsung duduk di meja
yang dipilihnya, dekat jendela.
"Aku cup yang ini!" Gwendoline ikut-ikut, menduduki meja dekat jendela
lainnya. Anak gemuk tadi mengawasi Gwendoline dengan rasa heran.
"Kau anak baru, kan?" tanyanya kemudian. "Nah, kau tak berhak memilih
tempat dudukmu. Anak baru tinggal menduduki kursi yang tersisa setelah dipilih
oleh anak-anak lama."
Muka Gwendoline merah padam. Dikibaskannya rambut keemasannya dan
ia merengut berdiri. Ia tetap berdiri di samping meja yang dipilihnya. Tak berani
duduk, tetapi malu untuk meninggalkannya. Seorang anak bertubuh kecil tetapi
kuat mendorongnya ke pinggir, langsung duduk di meja itu.
"Aku ambil meja ini!" kata anak itu. "Hai, Rita, bagaimana liburanmu?
Nggak enak ya berada di kelas Potty lagi?"
Darrell berdiri menunggu sampai dilihatnya semua anak - kecuali dirinya,
Sally, dan Gwendoline, serta dua atau tiga orang anak baru lainnya - sudah duduk.
Kemudian ia menyelinap di antara kursi dan meja, untuk duduk di tempat duduk
di samping Alicia. Sungguh untung tempat tersebut masih kosong. Alicia sedang
asyik berbicara dengan anak di meja sebelahnya. Mereka tampaknya sangat akrab.
Kemudian ia berpaling pada Darrell. "Darrell, ini sahabatku, Betty Hills.
Kami selalu duduk berdampingan. Sayang sekali ia tinggal di Menara Barat."
Darrell tersenyum pada Betty. Betty anak yang lincah, dengan mata
cokelat yang nakal dan rambut yang sebagian terjurai menutupi dahi. Darrell
menyukai anak ini, tetapi sayang sekali Alicia telah bersahabat dengan Betty.
Tadinya Darrell berharap Alicia mau jadi sahabat akrabnya. Darrell tak begitu
berminat untuk bersahabat dengan Sally ataupun Gwendoline.
"Sssh!" kata anak yang duduk dekat pintu. "Potty datang!"
Langsung sunyi di kelas itu. Semua berdiri tegap, menghadap lurus ke
depan. Terdengar langkah ringan - tapi cepat - wali kelas mereka itu. Nona Potts
masuk ke dalam ruangan, mengangguk pada semua anak dan berkata, "Kalian
boleh duduk."
Semua duduk. Menunggu dalam sunyi. Nona Potts mengeluarkan daftar
nama, mengabsen mereka, dan mencatat adanya anak-anak baru dari asrama lain.
Kemudian ia berdiri menghadap murid-murid kelasnya yang sunyi menunggu.
"Semester musim panas selalu merupakan semester yang paling
menyenangkan," katanya. "Kalian akan bisa berenang, main tenis, piknik, dan
jalan-jalan. Tetapi jangan keliru menyimpulkan bahwa semester musim panas itu
hanya untuk bersenang-senang. Sama sekali bukan. Dalam semester ini kalian
juga harus kerja keras. Di antara kalian ada yang harus menempuh ujian pada
semester berikut. Kalau di semester ini kalian kerja keras, maka ujian itu akan
terasa ringan. Kalau tidak, yah aku yakin akan banyak yang mengeluh dan
mengaduh!"
Ia berhenti sejenak. Kemudian menatap tajam pada dua-tiga orang anak.
"Semester yang lalu ada satu-dua orang anak yang agaknya cukup kerasan di
urutan terbawah setiap minggu," katanya. "Aku harap pada semester ini anak-anak
tersebut mau merelakan tempat itu pada anak-anak baru, dan berusaha keras untuk
naik tingkat. Terus terang aku tak begitu mengharapkan anak-anak baru untuk
langsung menempati tempat yang lumayan. Tapi kalau anak lama sampai tetap
berada di tingkat terbawah... yah, itu namanya keterlaluan!"
Beberapa orang anak merah padam mukanya.
Nona Potts melanjutkan pembicaraannya, "Aku yakin di semester ini
semua punya otak cukup cerdas," katanya, "walaupun aku masih ragu tentang
anak-anak baru. Kalau ada yang tak punya otak dan berada di tingkat terendah, itu
wajar. Tetapi kalau kalian punya otak dan berada di tempat itu, nah, terpaksa
kalian harus berhadapan dengan aku. Dan kalian tahu apa itu artinya, bukan ?"
"Ya!" beberapa orang anak menjawab penuh semangat. Nona Potts
tersenyum. Wajahnya sesaat berseri. "Nah, setelah kuucapkan ancaman-ancaman
itu, kini mari kita lanjutkan. Ini adalah daftar apa saja yang harus kalian miliki.
Kalau ada di antara kalian yang ternyata tak memiliki barang-barang yang ditulis
di sini, maka pergilah ke Katherine. Mintalah barang itu di akhir pelajaran nanti.
Aku akan memberi waktu sepuluh menit untuk itu."
Pelajaran pun berlangsung. Matematika. Nona Potts membagikan kertas
ulangan untuk melihat sampai tingkat mana pelajaran anak-anak baru, dan untuk
melihat apakah isi kelas itu bisa dianggap satu tingkat. Darrell merasa soal yang
harus dibuatnya cukup mudah, tetapi terdengar Gwendoline berkeluh kesah.
Rambut panjangnya terurai sampai ke meja.
"Kenapa, Gwendoline?" tanya Nona Potts tajam.
"Guru pribadiku, Nona Winters, belum pernah mengajariku menyelesaikan
soal seperti ini." rengek Gwendoline. "Caranya menulis soal juga berbeda."
"Kau harus belajar untuk menerima caraku,” kata Nona Potts. "Dan
Gwendoline, mengapa rambutmu tak kaurapikan pagi ini?"
"Sudah!" kata Gwendoline heran, mengangkat muka. "Aku telah
menyikatnya baik-baik, sampai hitungan... "
"Aku tak ingin mengetahui sampai hitungan berapa," tukas Nona Potts.
"Kau tak boleh masuk ke kelas dengan rambut terurai seperti itu. Kepanglah nanti
waktu istirahat!"
"Dikepang!" seru Gwendoline ngeri, sehingga semua tertawa. "Tetapi aku
tak pernah..."
"Cukup," kata Nona Potts. "Kalau kau tak tahu cara mengepang
rambutmu, mungkin ibumu harus memotongnya pendek-pendek nanti."
Gwendoline begitu ketakutan, hingga susah bagi Darrell untuk menahan
tawanya.
"Puas kau!" bisik Alicia, begitu Nona Potts membelakangi mereka untuk
menulis sesuatu di papan tulis. Gwendoline dengan marah mencibir padanya. Tak
mungkin ibunya mau memotong rambutnya yang begitu indah. Bahkan beliau
pasti takkan mengizinkannya mengepang rambut itu. rapi kini ia harus! Padahal ia
tak tahu cara mengepang rambut. Gwendoline begitu merana rasa hatinya, hingga
hampir semua pertanyaan yang diajukan padanya tak bisa dijawabnya.
Pelajaran berlangsung terus. Waktu istirahat tiba, anak-anak berhamburan
keluar untuk bermain di mana pun yang mereka sukai. Ada yang bermain tenis di
salah satu dari sekian banyak lapangan tenis yang ada. Ada yang berjalan-jalan
saja. Ada yang duduk-duduk di Taman Dalam. Darrell sesungguhnya ingin
bermain dengan Alicia, tetapi Alicia agaknya sedang asyik bermain dengan Betty.
Mereka pasti takkan senang bila ia ikut. Terpaksa Darrell mencari-cari siapa yang
bisa diajaknya bermain. Dua di antara anak-anak baru agaknya telah bersahabat.
Seorang anak baru lagi punya saudara sepupu, dan mereka pergi bermain berdua.
Gwendoline entah pergi ke mana, mungkin mengepang rambutnya. Tinggal Sally
Hope. Di mana dia?
Ternyata Sally duduk sendiri di rumput. Wajahnya tak membayangkan
perasaan apa pun. Darrell mendekatinya. "Bagaimana pendapatmu tentang Malory
Towers?" tanyanya. "Aku menyukai keadaan di sini."
"Lumayan," jawab Sally singkat.
"Apakah kau menyesal meninggalkan sekolahmu yang dulu?" tanya
Darrell lagi. "Aku memang ingin kemari, tetapi sedih juga meninggalkan kawankawanku
yang dulu. Kau pasti juga berat meninggalkan kawan-kawanmu, kan?"
"Aku tak punya kawan," kata Sally. Aneh sekali anak ini, pikir Darrell.
Rasanya sulit untuk diajak berbicara. Ia selalu dengan sopan menjawab setiap
pertanyaan, tetapi tidak balas bertanya, sehingga percakapan terpaksa berhenti.
"Mudah-mudahan aku tak terpaksa bersahabat dengannya,” pikir Darrell.
"Wah, itu Gwendoline. Apakah itu yang dikiranya mengepang rambut?
Tampaknya rambutnya telah berubah."
"Apakah rambutku sudah rapi?" tanya Gwendoline dengan lagu mohon
dikasihani. "Telah kucoba mengepangnya. Sungguh jahat Nona Potts memaksaku
mengepang rambutku ini. Aku selalu membiarkannya terurai. Kurasa aku takkan
menyukai guru yang satu itu."
"Mari kutolong mengepang rambutmu," kata Darrell berdiri. "Agaknya
kau tak tahu cara mengepang rambut, Gwendoline."
Ebook by CLU5TER 29
Dengan cekatan Darrell mengepang rambut keemasan itu. Cepat sekali
selesai. Membentuk kepangan yang panjang dan ujungnya diikatnya dengan
seutas pita kecil.
"Selesai sudah," kata Darrell, memutar Gwendoline untuk melihatnya dari
depan. "Kau tampak lebih manis.”
Gwendoline cemberut dan lupa untuk berterima kasih pada Darrell.
Sesungguhnya ia memang lebih manis kini. "Betapa manjanya dia," pikir Darrell.
"Aku tak ingin bersahabat dengan Sally, apalagi dengan Gwendoline. Sepatutnya
dia kutampar saja untuk kecongkakannya ini!"
Lonceng berbunyi. Anak-anak berlarian ke kelas masing-masing. Darrell
juga berlari. Ia sudah tahu di mana kelasnya, dan ia sudah kenal beberapa orang
teman sekelasnya. Tak lama ia akan merasa kerasan di Malory Towers ini.

5. MINGGU PERTAMA BERLALU
DARRELL memang segera merasa mapan di Malory Towers. Ia telah
mengenal nama-nama tidak saja murid-murid kelas satu di Menara Utara, tetapi
bahkan seluruh murid yang ada di asrama itu. Dari ketua murid, Pamela , sampai
murid termuda nomor dua, Mary-Lou. Yang termuda di Menara Utara ternyata
Darrell sendiri. Tetapi sering ia merasa bahwa si Kecil Mary-Lou jauh lebih muda
dari dirinya.
Mary-Lou sangat penakut. Ia takut pada tikus kumbang, petir, suara-suara
di malam hari, kegelapan, dan ratusan hal lainnya lagi. Kasihan sekali Mary-Lou.
Tak heran matanya begitu besar karena terbiasa membelalak ketakutan. Darrell
yang jarang takut pada apa pun, sering tertawa melihat tingkah Mary-Lou. Seekor
kumbang kecil saja bisa membuat Mary-Lou lari tunggang-langgang.
Ada sepuluh anak di asrama kelas satu di Menara Utara. Katherine, kepala
kamar merangkap ketua kelas. Alicia yang berlidah tajam dan bertabiat amat
kocak Kemudian Darrell, Gwendoline, dan Sally. Ketiganya anak baru. Setelah itu
Mary-Lou dengan matanya yang besar ketakutan. serta siap untuk melompat
mundur kapan saja.
Lalu Irene, seorang anak yang sangat pandai, terutama dalam matematika
dan musik. Ia selalu berada di urutan pertama dalam pelajaran - tetapi, oh, betapa
tololnya ia untuk hal-hal di luar pelajaran! Kalau ada yang bukunya hilang, pasti
Irene. Kalau ada yang salah masuk kelas, pastilah Irene. Sekali pernah ia
memasuki ruang kesenian, mengira akan ada pelajaran melukis. Setengah jam ia
sendirian menunggu di tempat itu. Tak ada yang mengerti, mengapa Irene tidak
merasa heran bahwa kawan-kawan sekelasnya tak muncul di ruangan itu.
"Bagaimana kau bisa enak-enak duduk sendirian di sana, tanpa berpikir
mengapa anak lain tak ada yang datang?" tanya Katherine heran. "Apa yang
sedang kaupikirkan, Irene?"
"Oh, aku sedang memikirkan suatu soal matematika yang baru saja
diberikan Nona Potts pada kita," kata Irene, dengan mata bersinar dari balik kaca
matanya yang besar. "Soal yang sangat menarik. dan ada dua atau tiga cara untuk
menyelesaikannya. Pertama..."
"Oh, jangan bercerita tentang matematika lagi di luar kelas!" keluh Alicia.
"Irene, kau betul-betul sinting!"
Tetapi Irene sama sekali waras. Ia hanya sangat pandai dan rajin. Otaknya
selalu mengerjakan suatu persoalan rumit, sehingga lupa akan persoalan kecil
yang sedan9 dihadapinya. Dan dia juga sangat suka lelucon. Jika ia merasa ada
sesuatu yang lucu, maka tawanya akan meledak begitu keras dan tiba-tiba,
sehingga seisi kelas terkejut. Bahkan Nona Potts pernah terlompat karena tawa
Irene yang begitu mendadak dan keras itu. Alicia-lah yang paling suka membuat
Irene tertawa, mengacaukan seluruh kelas.
Ketiga orang anak lainnya adalah: Jean, seorang anak periang, cerdik dan
cerdas, paling pandai memegang uang untuk keperluan sekolah; Emily, seorang
anak. pendiam dan rajin, pandai merajut, dan karenanya disukai Mam'zelle;
Violet. pemalu, pendiam sering tidak diajak dalam berbagai hal, karena memang
tak tertarik untuk melakukan apa saja, dan sering anak-anak tak pernah sadar
apakah Violet ada bersama mereka atau tidak.
Itulah kesepuluh anak yang ada di kamar itu. Darrell merasa ia telah
mengenal teman-temannya itu bertahun-tahun - padahal sesungguhnya baru
beberapa hari saja. Ia sudah tahu benar bahwa kaus kaki Irene selalu turun. Ia tahu
cara Jean berbicara dengan aksen Skotsnya yang khas, pendek dan tajam. Ia tahu
mengapa Mam'zelle tidak suka pada Jean, yaitu karena Jean tidak suka pada orang
yang terlalu menunjukkan perasaan hatinya. Jean sendiri tak pernah menunjukkan
kegembiraan yang berlebihan pada apa saja.
Darrell sudah hafal akan kebiasaan Gwendoline untuk selalu berkeluh
kesah, kebiasaan Mary-Lou untuk langsung menjerit ketakutan. Ia menyukai suara
Katherine yang tegas mantap, serta kemampuannya untuk bisa menanggulangi apa
saja. Ia tahu banyak tentang Alicia. tetapi itu tidak aneh sebab Alicia tak pernah
berhenti berbicara tentang apa saja - saudaranya, ibunya, ayahnya, anjingnya,
pekerjaannya. pendapatnya tentang berbagai hal dan siapa saja.
Alicia sama sekali tak suka pada basa-basi sopan santun palsu, keluhan,
atau pujian yang tak perlu. Ia selalu berterus terang seperti Darrell Tetapi kalau
Darrell masih berlembut hati, maka Alicia tak tanggung-tanggung pedas katakatanya.
Ketajaman lidahnya membuat anak seperti Gwendoline benci padanya,
sementara yang penakut seperti Mary-Lou sangat takut padanya. Tapi Darrell
sangat suka pada Alicia.
"Ia begitu lincah," kata Darrell dalam hati "Rasanya tak pernah bosan
dengan Alicia berada di dekat kita. Kalau saja pribadiku bisa menari seperti dia!
Semua mendengarkan apa yang dikatakannya, bahkan bila ia mengatakan sesuat
yang kejam. Sebaliknya, tak ada yang memperhatikan kata-kataku. Aku menyukai
Alicia. Sayang ia sudah bersahabat akrab dengan Betty. Aku sesungguhnya akan
memilihnya sebagai sahabat akrab."
Darrell agak lama berkenalan dengan kawan-kawan sekelasnya yang
tinggal di asrama lain. Ia hanya bertemu dengan mereka di kelas atau waktu
bermain. Tetapi tidak di ruang rekreasi atau asrama, sebab mereka punya ruang
rekreasi sendiri di asrama mereka - padahal di ruang ini atau di kamarlah
perkenalan mereka bisa lebih akrab. Tetapi untuk permulaan, rasanya cukup bila
mengenal baik-baik kawan-kawan seasrama dulu pikir Darrell. '
Ia tak begitu mengenal murid-murid yang kelasnya lebih tinggi darinya,
sebab mereka tak dijumpainya di kelas. Mereka hanya dilihatnya saat Doa
Bersama. Atau bila Pak Young, guru musik, mengadakan latihan nyanyi bersama
yang melibatkan beberapa kelas. Atau bila ia bertemu dengan mereka di lapangan
tenis, atau kolam renang.
Tentu saja banyak yang didengarnya tentang anak-anak yang lebih besar
itu. Di antara mereka yang tinggal di Menara Utara, ia mengenal sedikit tentang
Marilyn, ketua seksi olahraga sekolah itu. MarilYn sangat disukai murid-murid
lain. "Ia selalu berlaku adil dan mau membuang waktu untuk mengajari anakanak
lain, bahkan anak-anak kelas satu,” kata Alicia. "Ia sama pandainya dengan
Remmington, guru olahraga itu, tetapi jauh lebih pandai mengajar kukira.
Remmington selalu tak sabaran bila mengajar pemula. Marilyn tidak. Bahkan
anak yang paling tolol sekalipun diperhatikannya benar-benar."
Tentang Pamela , tentu saja semua anak kenai dan menghormatinya. Ia
begitu berwibawa, pandai, dan bahkan menurut kabar ia telah menulis sebuah
buku. Ini membuat anak-anak kelas satu begitu kagum! Membuat karangan
pendek saja sudah begitu sukar, apalagi menulis buku!
Ada dua orang lagi yang terkenal karena tak disukai - Doris dan Fany.
"Mereka sudah keterlaluan, tak bisa diomongkan lagi," kata Alicia yang selalu
siap menyatakan pendapat tentang siapa saja, dari Winston Churchill sampai ke
anak tukang masak di asrama. "Mereka terlalu fan."
"Apa maksudmu... fan itu?" tanya Gwendoline yang agaknya tak pernah
mendengar kata, itu.
"Wah, sungguh ketinggalan zaman kau!” kata Alicia ketus. "Fan, artinya
fanatik. Keterlaluan taat pada agama hingga malahan kelewat batas. Mereka
mengira hanya mereka sendiri yang baik, orang lain tidak. Mereka selalu
menghalang-halangi orang lain bersenang-senang. Sungguh memuakkan pasangan
itu. Selalu menunggu sampai ada orang yang berbuat salah! Mereka tak segansegan
membuntuti dan mengintai. Pernah suatu malam aku menyelinap ke luar
dan pergi menyeberangi Taman Dalam untuk menemui Betty di Menara Barat
yang sedang mengadakan pesta tengah malam. Doris melihatku' keluar, dan
jendelanya, dan ia bersembunyi di bilik tempat sepatu untuk menungguku
pulang."
"Apakah ia berhasil menangkapmu?" tanya Mary-Lou dengan mata
membesar ketakutan.
"Tentu saja tidak! Kaupikir apa aku ini?" kata Alicia dengan nada
mengejek. "Aku menduga ia bersembunyi di dalam bilik sepatu itu... dan kukunci
pintu bilik itu dari luar!"
Irene tiba-tiba tertawa dengan tawanya yang begitu khas, meledak,
membuat anak-anak lain terlompat terkejut. "Jalan pikiranmu selalu tak bisa
kuikuti, Alicia," katanya. "Tak heran kedua orang itu selalu melotot padamu
setiap bertemu pada acara Doa Bersama. Aku yakin mereka selalu mengawasimu
kini, menunggu sampai kau lengah dan berbuat suatu kesalahan."
"Aku pasti bisa mengatasi mereka," kata Alicia tegas. "Kalau mereka
menjebakku, maka aku akan membalas dengan jebakan yang lebih kejam lagi!"
"Oh, ayolah sekali-sekali jebak mereka!" pinta Darrell yang sangat gemar
akan lelucon dan muslihat Ia sendiri tak berani memasang muslihat pada siapa
pun, tetapi ia selalu bersedia membantu kalau ada orang ingin menjebak orang
lain.
Darrell kini juga telah mengenal kelas-kelas yang harus dikunjunginya.
Ruang kesenian yang begitu terang dengan cahaya dari luar. Laboratorium yang
belum pernah dimasukinya, tapi sedikit menakutkan dirinya. Ruang senam dengan
berbagai peralatannya - ayunan, tali untuk memanjat, balok 10m pat, kasur untuk
alas berguling. Darrell sangat menyukai senam dan selalu memperoleh angka
cukup bagus dalam olahraga. Seperti Alicia juga, yang lincah bagaikan monyet
dan kuat bagai kuda. Lain dari Mary-Lou yang takut berbuat apa saja, kecuali bila
dipaksa.
Rasanya menyenangkan. Tidur bersama di satu kamar, kemudian
bersekolah di gedung yang sangat dekat dengan tempat mereka tinggal, juga
bersama-sama. Darrell kini tahu di mana guru-guru tinggal yaitu di bagian gedung
yang menghadap ke selatan, kecuali beberapa guru yang tinggal di asrama untuk
mengawasi murid-murid itu, seperti Nona Potts dan Mam'zelle. Aneh kini bila ia
memikirkan betapa bingungnya waktu ia pertama kali tiba di sekolah ini. Kini ia
merasa dirinya bukan murid baru lagi.
Salah satu yang paling disukai Darrell adalah kolam renang besar yang
terletak di pinggir pantai. Kolam tersebut di gali di batu-batu karang tepi pantai
dan dasarnya dibiarkan tetap berbatu-batu karang tidak rata. Juga tepinya
berlumut, bahkan kadang-kadang bagian dasarnya licin pula oleh lumut Tapi tiap
hari bila air pasang, air laut menyerbu masuk ke dalam kolam tersebut, membuat
air kolam bergelombang. Sungguh menyenangkan berenang-renang di tempat itu.
Pantai lautnya sendiri terlalu berbahaya untuk tempat mandi. Ombaknya
terlalu besar dan kuat Anak-anak dilarang berenang di laut ini. Di dalam kolam
semua aman. Salah satu ujung kolam dibuat cukup dalam hingga bisa untuk terjun
dari papan loncat yang tinggi. Di situ juga ada tempat luncur serta papan loncat
yang lebih rendah.
Mary-Lou dan Gwendoline takut pada kolam renang ini. Mary-Lou karena
takut pada air, Gwendoline karena takut pada rasa dingin yang langsung
menggigit bila ia masuk air untuk pertama kalinya. Mata Alicia selalu bersinar
nakal setiap melihat Gwendoline berdiri menggeletar kedinginan. Dan anak manja
ini kerap sekali tiba-tiba mendapat suatu dorongan, hingga mau tak mau ia harus
masuk kolam. Karena itu kini setiap kali dilihatnya Betty atau Alicia datang,
cepat-cepat ia memaksa diri untuk masuk ke kolam.
Minggu pertama terasa berlalu begitu lambat Banyak sekali yang harus
dipelajari dan diketahui. Segalanya begitu asing dan menyenangkan. Tetapi
Darrell merasa gembira mempelajari itu semua dan segera bisa menyesuaikan diri
dengan keadaan barunya itu. Tak lama ia sudah menyatu dengan kehidupan di
sekolah tersebut, dan kawan-kawannya menerima kehadirannya dengan suka hati.
Tidak demikian dengan Gwendoline. Keangkuhannya membuat anak lain
tak suka padanya. Sedang Sally Hope lain lagi keadaannya. Ia tidak angkuh, tapi
tidak pula terlalu ramah. Anak-anak mencoba untuk bersahabat dengannya. Tetapi
Sally begitu tertutup, tak pernah bercerita banyak tentang dirinya sendiri atau
keluarganya. Akhirnya anak-anak membiarkannya saja menyendiri, walaupun
tidak membencinya.
"Seminggu telah lewat!" seru Alicia beberapa hari kemudian. "Minggu
pertama rasanya memang merayap lambat. Setelah itu hari-hari akan terasa
terbang, dan tahu-tahu libur tengah semester akan tiba. Setelah itu kita akan
mengharap-harap kedatangan libur panjang. Kau sudah merasa kerasan tinggal di
sini kan, Darrell?"
"Oh, tentu saja!" kata Darrell. “Aku senang tinggal di sini. Kalau setiap
semester sama seperti ini, aku akan merasa bahagia sekali."
“Ah, tunggu saja nanti," kata Alicia. "Mula-mula semuanya memang
menyenangkan. Tetapi tunggu sampai kau mendapat satu-dua hukuman dari
Mam'zelle, mendapat semprotan dari Ibu Asrama, dipanggil oleh Potty, dicatat
dalam daftar hitam Nona Remmington, diancam oleh murid-murid kelas atas..."
Ebook by CLU5TER 36
"Oh, sudahlah!" seru Darrell. "Aku yakin itu semua takkan terjadi padaku,
Alicia. Jangan kautakut-takuti aku!"
Tetapi dalam beberapa hal Alicia benar. Kehidupan di Malory Towers
tidaklah selalu seindah seperti yang diharapkan Darrell.

6. LELUCON KECIL ALICIA
OTAK Darrell cemerlang dan ia sudah dilatih untuk menggunakannya
dengan baik. Segera ternyata bahwa ia bisa mengikuti pelajaran dengan baik pula.
Bahkan dalam beberapa hal, misalnya mengarang, ia termasuk yang terbaik.
Darrell puas akan hasil yang dicapainya. Segalanya terasa begitu mudah.
"Tadinya kukira aku harus bekerja lebih keras di sini," pikirnya. "Tetapi
ternyata tidak. Hanya matematika yang agak sulit. Kalau saja aku bisa sebaik
Irene dalam matematika! Dia sungguh hebat, bisa mengerjakan segala soal di luar
kepala, sementara aku yang mengerjakannya di kertas saja sudah kewalahan."
Maka setelah satu-dua minggu pertama, Darrell tak merasa tegang lagi. Ia
tak begitu kuatir lagi utuk pelajarannya. Ia mulai mencari hal-hal yang bisa
menggembirakan kelasnya, seperti yang biasa dilakukan oleh Alicia. Dan Alicia
merasa senang mendapat bantuan seorang lagi untuk kenakalannya. Betty kini
bahkan lebih berani dari Alicia.
Darrell sampai heran, anak itu tampaknya tak mengenal rasa takut Ada dua
orang guru yang biasanya jadi sasaran kenakalan Betty dan Alicia.
Yang pertama adalah Mam'zelle Dupont. Yang kedua adalah seorang guru
yang lembut pendiam, Nona Davies, yang mengajar jahit-menjahit dan sering
bertugas menjaga anak-anak bila mereka sedang . mengerjakan pekerjaan rumah.
Nona Davies seolah-olah tak pernah punya prasangka bahwa Alicia dan Betty
akan membuat berbagai gangguan untuknya. Kalau Mam'zelle lain. Ia memang
mencurigai kedua anak itu, tetapi masih sering juga ia terjebak.
"Pernah kaudengar tidak, bagaimana suatu hari Betty menaruh tikus putih
di laci meja Mam'zelle?" tanya Alicia. "Binatang itu tak bisa keluar, karenanya
cari jalan lain. Ia nekat mendorong tempat tinta yang diletakkan di lubang meja.
Dan begitu moncongnya muncul di lubang meja, Mam 'zelie kaget setengah
mati!"
"Apa yang dilakukannya?" tanya Darrell penuh perhatian.
"Ia langsung lari ke luar kelas seolah-olah dikejar ratusan ekor anjing!"
kata Alicia. "Waktu dia di luar kelas, kami ambil tikus itu, dan Betty
Ebook by CLU5TER 38
menyembunyikannya di punggungnya. Akhirnya Mam'zelle cukup berani untuk
kembali ke kelas. Ia memerintahkan kami untuk mencari tikus itu di mejanya.
Tentu saja tikus tersebut tak bisa ditemukan. Dan Mam'zelle mengira matanyalah
yang salah!"
"Oh, kalau saja waktu itu aku ada, alangkah senangnya!" keluh Darrell.
"Alicia, coba lakukan lagi sesuatu yang lucu seperti itu. Coba lakukan di kelas
matematika. Aku yakin Nona Potts akan memarahiku karena pekerjaan rumahku.
Kalau saja bisa kita alihkan perhatiannya, mungkin ia akan lupa padaku."
"Apa? Mempermainkan Potty?" dengus Alicia. "Gila apa! Potty tahu
semua akal bulus murid-muridnya. Ia tak bisa dibuat mainan!"
"Kalau begitu, di kelas Mam'zelle saja,” pinta Darrell. "Aku suka pada
Mam'zelle, tetapi aku ingin melihat bagaimana tingkahnya kalau sedang marah.
Ayolah, Alicia, lakukan sesuatu untuknya."
Darrell tampak begitu kagum akan Alicia, sehingga Alicia merasa bangga
sekali. Ia berpikir keras, mencari siasat.
Betty ikut mendesak. "Ayolah, Alicia! Kau pasti punya cara untuk
mempermainkannya. Atau bisa kautiru apa yang dilakukan Sam, Roger, atau Dick
di sekolahnya." Betty kemudian berpaling pada Darrell. "Ketiga kakak Alicia itu
bersekolah di satu sekolah," ia bercerita. "Dan di sana ada seorang guru yang
mereka juluki si Dogol. Guru itu begitu mudah dipermainkan. Berbagai muslihat
kena padanya, dan anak-anak tak pernah terhukum."
Darrell berpikir pastilah sangat senang punya kakak laki-Ia ki seperti Sam,
Roger, dan Dick itu. Sayang ia tak punya kakak lelaki. Ia hanya punya seorang
adik perempuan.
"Ada sesuatu yang dilakukan Roger semester lalu, sungguh lucu," kata
Alicia tiba-tiba. "Mungkin bisa kita lakukan di sini. Tapi kau dan Betty harus
membantuku, Darrell."
"Oh, tentu, tentu aku bersedia!" kata Darrell bersemangat.
"Waktu itu Roger pura-pura tuli,” kata Alicia. "Dan apa saja yang
dikatakan Pak Dogol pura-pura tak bisa didengarnya dengan jelas. Misalnya saat
Pak Dogol berkata, 'Johns, jangan banyak bergerak!', Roger menyahut, 'Aku harus
bersorak, Pak? Untuk apa? Tapi baiklah... Hip, hip, horeeeeee!'"
Darrell tertawa geli. "Oh, Alicia, pasti itu sangat lucu. Ayolah, purapuralah
tuli. Kami akan membantumu sepenuh hati! Jangan kuatir! Lakukan itu di
kelas Mam'zelle!"
Anak-anak kelas satu segera tahu apa rencana Alicia. Mereka berdebardebar
menunggu rencana itu dilaksanakan. Bagi murid-murid lama daya tarik
kembali bersekolah sudah mulai luntur, dan mereka mulai mencari-cari sesuatu
yang bisa membuat suasana meriah. Mereka menyatakan sanggup untuk
membantu Alicia mempermainkan Mam'zelle.
"Begini," kata Alicia. "Aku akan pura-pura salah mengartikan setiap katakata
Mam'zelle. Lalu kau harus mengulang kata-kata itu keras-keras untukku,
Darrell, kemudian Betty juga. Setelah itu, seluruh kelas ikut mengulangi kata-kata
tersebut keras-keras. Mengerti? Pasti asyik!"
Keesokan harinya Mam'zelle memasuki ruang kelas satu dengan
tersenyum cerah, sama sekali tak menduga akan adanya rencana matang untuk
mempermainkannya itu. Hari itu hari yang cerah, di musim panas yang indah.
Mam'zelle baru saja rnendapat dua pucuk surat dari Prancis. Keduanya memberi
kabar bahwa seorang keponakan telah lahir. Ia juga mengenakan sebuah bros
baru. rambutnya baru saja dicuci malam sebelumnya. Segalanya embuat hatinya
senang!
Dengan berseri ia menghadapi murid-muridnya.
"Ah, Murid-muridku tersayang," katanya tersenyum, "hari ini kita akan
belajar bahasa Prancis dalam suasana yang sangat menyenangkan, n 'est ce pas?*
Kita akan membuktikan bahwa kelas ini lauh lebih baik dari kelas dua. Bahkan
Gwendoline pasti bisa menghapalkan kata-kata kerja tanpa membuat kesalahan
sedikit pun! Benar, bukan?"
Gwendoline merasa tak yakin tentang itu. Sejak ia berada di Malory
Towers, penilaiannya pada guru pribadinya dulu makin hari makin turun. Nona
Winters ternyata tidak mengajarkan apa saja yang mestinya diketahuinya saat ini!
Pelajaran apa saja ia ketinggalan. Yang masih disukainya tentang Nona Winters
hanyalah kegemaran guru pribadi itu untuk memuji-muji keindahan rambutnya,
keayuan tingkah lakunya, kecantikan dandanannya. Hal-hal seperti itu memang
sangat menyenangkan bagi anak seperti Gwendoline. Tetapi itu semua tak
didapatinya di Malory Towers. Ia malahan harus bekerja keras untuk mengejar
ketinggalannya - tanpa ada orang yang merasa iba padanya!
Alangkah baiknya kalau dahulu ia belajar cukup banyak bahasa Prancis.
Mam 'zelle selalu menyatakan keheranannya akan begitu sedikitnya yang
diketahui oleh Gwendoline. Sering Mam'zelle mengusulkan agar Gwendoline
menyediakan diri untuk menerima pelajaran tambahan, supaya paling tidak
sampai ke tingkat yang sama dengan anak-anak lain. Tetapi dengan berbagai
alasan Gwendoline selalu menghindari pelajaran tambahan itu. Baginya pelajaran
bahasa Prancis lima kali seminggu sudah begitu berat, apalagi kalau diberi
pelajaran tambahan!
Ia tersenyum ragu pada Mam'zelle, sambil dalam hati berharap agar Alicia
segera beraksi. Ia berharap dengan gangguan dari Alicia, maka Mam'zelle tak
akan memperhatikan dirinya.
Mam'zelle memandang berkeliling. Dia makin gembira melihat bahwa
pagi ini tampakriya anak-anak penuh semangat, berseri-seri seakan ingin segera
mereguk semua pelajaran tentang bahasa Prancis itu. Ah, manis-manis sekali
murid-murid pagi ini, pikir Mam'zelle. Lebih baik ia bercerita saja pada mereka,
tentang keponakannya yang baru lahir. Anak-anak itu pasti merasa senang.
Mam'zelle tak pernah bisa berhenti lagi kalau sudah berbicara tentang
keluarga yang dicintainya di Prancis, setiap ada kabar baru dari rumah. Dan sering
anak-anak malah mendesaknya bercerita tentang mereka. Sebab makin banyak
Mam 'zelle bercerita tentang La mignonne Vvonne, La chere Josephine, dan La
mechante Louise, * makin sedikit mereka harus mendengar tentang kata kerja
serta gender. Maka anak-anak itu merasa gembira waktu Mam'zelle memberi tahu
tentang lahirnya keponakannya itu.
"I est appeLe Jean - ia diberi nama John. II est tout petit, oh, tout petit!"
Mam'zelle memberi gambaran betapa kecilnya bayi itu dengan kedua belah
tangannya. "Nah, apa artinya itu tadi 11- est - tout - petit. Siapa tahu?" .
Alicia duduk dengan sikap sangat memperhatikan. Badannya condong ke
depan dengan salah satu tangannya di belakang telinga, seolah-olah ingin
mendengarkan lebih jelas. Mam'zelle melihatnya.
"Ah, Alicia. Kau tak begitu jelas mendengarkanku? Baiklah, aku ulangi. Il
- est - tout - petit. Coba ulangi!"
"Maaf, bagaimana?" tanya Alicia sopan, kini menangkupkan kedua
telapak tangannya di belakang telinga.
Darrell hampir tak bisa menahan tawa. Ditahannya agar mukanya tetap
serius.
"Alicia, kau ini kenapa?" seru Mam'zelle. "Kau tak bisa mendengar?"
"Apa yang membuatku gentar? Wah, kurasa tak ada ada, Mam'zelle," kata
Alicia tampak sangat heran.
Seorang anak hampir tertawa terkikik.
"Mam'zelle berkata: Kau tak bisa mendengar?" Betty mengulang kata-kata
Mam 'zelle keras-kera.
"Melempar?" tanya Alicia, tampak semakin terkejut, heran.
"KAU TAK BISA MENDENGAR?" Darrel berteriak, ikut dalam
permainan itu. Dan seluruh kelas juga berteriak serentak, "KAU TAK BISA
MENDENGAR?"
Mam 'zelle mengetuk mejanya. "Anak-anak! Diam semua! Kalian ribut
sekali!"
"Mam 'zelle, mungkin Alicia TULI!" kata Darrell keras-keras seolah-olah
Mam'zelle juga tak bisa mendengar. "Mungkin ia sakit telinga."
"Ah, kasihan! La pauvre petite!" kata Mam'zelle yang kadang-kadang
menderita sakit telinga juga, karenanya selalu merasa kasihan pada orang yang
punya penderitaan serupa. Ia berseru keras pada Alicia, "Kau sakit telinga?"
"Bunga? Oh, maaf, hari ini bukan giliranku membawa bunga, Mam 'zelle,”
kata Alicia. "Entah giliran siapa."
Irene sudah tak tahan lagi. Tiba-tiba tawanya meletus begitu keras dan
mendadak. Anak-anak di dekatnya sampai terkejut
"Tiens!" seru Mam'zelle, terkejut juga. "Apa itu? Oh, kau itu, Irene? Untuk
apa kau bersuara begitu aneh? Jangan diulang!"
"Kadang-kadang aku terpaksa bersin, Mam 'zelle," kata Irene
membenamkan hidungnya ke sapu tangannya seolah-olah akan bersin. Tapi ia
kembali menahan tawanya, sehingga keluar suara-suara aneh darinya.
"Alicia." Mam'zelle kembali berpaling pada si Nakal, yang langsung
menaruh telapak tangannya di belakang telinga lagi. "Jangan bicara padaku
tentang bunga. Apakah kau sakit selesma?"
“Tidak, aku tidak membawa duit dua puluh lima, Mam 'zelle," jawab
Alicia, membuat Mam 'zelle tercengang.
"Mam'zelle berkata SAKIT SELESMA bukan DUIT DUA PULUH
LIMA!" teriak Darrell.
"SAKIT SELESMA!" bantu Betty. "Itu tuh, SAKIT PILEK!"
"KAU SAKIT SELESMA?" seisi kelas berteriak bersama-sama, seolaholah
latihan paduan suara.
"Oh, sakit selesma! Mengapa Anda tidak berkata dengan jelas tadi," kata
Alicia. "Ya, aku sakit selesma.”
"Ah, kalau begitu memang ada pengaruhnya pada telingamu," kata Mam
'zelle. "Sudah berapa lama kau sakit?"
Darrell mengulangi pertanyaan itu. Kemudian Betty juga.
"Oh, berapa lama? Mungkin sudah dua tahun," jawab Alicia tenang. Irene
kembali membenamkan mukanya ke sapu tangannya. Mam 'zelle jadi
kebingungan.
"Rasanya anak ini takkan bisa mengikuti pelajaran, kasihan sekali dia,"
kata Mam'zelle.
"Alicia, duduk saja di cahaya matahari, dekat jendeIa itu. Dan baca saja
buku bahasa Prancismu. Belajarlah sendiri, toh kau tak bisa mendengar kami."
Alicia memandang pada Darrell, seolah-olah ingin tahu apa yang baru
dikatakan Mam'zelle. Darrel dengan senang hat! mengulang kata-kata Mam'zelle
tadi sekuat suaranya: Sayang Betty begitu ingin tertawa, sehingga tak sempat
mengulangi kata-kata tadi. Tetapi anak-anak lain serentak berseru bersama, "KAU
TAK BISA MENDENGAR KAMI!"
Tapi saat itu tiba-tiba pintu terbuka dan Nona Potts muncul dengan wajah
sangat marah. Ia sedang mengajar di kelas dua, yang berdampingan dengan kelas
satu. Dan ia tak mengerti mengapa di kelas satu terdengar teriakan-teriakan yang
begitu gemuruh.
"Mam'zelle, maaf bila aku mengganggu," katanya pada Mam 'zelle.
"Tetapi perlukah anak-anak mengulangi kalimat-kalimat bahasa Prancis begitu
keras?"
"Ah, Nona Potts, maaf. Tidak untukku anak-anak ini mengulangi kalimatkalimat
tadi begitu keras. Tetapi untuk Alicia. Kasihan dia," Mam'zelle
menerangkan.
Nona Potts tercengang. Diperhatikannya Alicia. Alicia jadi gelisah Ia
mencoba bersikap seolah-olah ia tak tahu apa-apa. Tetapi Nona Potts selalu malah
curiga kalau Alicia atau Betty bersikap tak bersalah begitu.
"Apa maksud Anda, Mam'zelle?" Nona Potts berpaling lagi pada
Mam'zelle. "Apakah Alicia tiba-tiba tuli? Pagi tadi dia tak apa-apa."
"Tetapi sekarang ia betul-betul tuli," kata Mam'zelle. Nona Potts
memandang tajam pada Alicia.
"Datanglah padaku nanti waktu istirahat, Alicia,” katanya kemudian. "Ada
yang ingin kukatakan padamu. "
Tak ada yang berani berteriak mengulangi kata-kata ini. Tetapi ternyata
Mam 'zelle dengan suka rela melakukannya. Dengan suara keras ia berteriak,
"Alicia! Nona Potts berkata..."
"Tak usah mengulang kata-kataku, Mam'zelle," kata Nona Potts. "Alicia
pasti datang nanti. Kutunggu kau jam sebelas, Alicia. Dan harap berdiri bila aku
berbicara padamu!"
Tak terasa Alicia berdiri, dengan muka merah padam. Nona Potts keluar
meninggalkan kelas itu, Dan ia menutup pintu tidak terlalu perlahan. Mam'zelle
benci pada orang yang suka membanling pintu.
"Ah, pintu itu! Suaranya menembus kepalaku!" katanya. "Nona Potts
sangat baik dan pandai, tetapi ia tak tahu kalau membanting pintu bisa membuat
sakit kepala...."
“Atau sakit telinga," Darrell mencoba melucu. tetapi tak seorang pun
tertawa. Munculnya Nona Potts dan kemarahannya membuat kelucuan yang ada
lenyap seketika.
Alicia tak lagi berbicara tentang sakit telinganya. Diambilnya sebuah buku
dan ia pindah duduk ke dekat jendela, di kehangatan cahaya matahari. Biar sedikit
ia harus mengambil keuntungan dari hasil ulahnya! Mam 'zelle tak lagi
memperhatikan dirinya. Dengan giat ia mencari siapa di antara murid-murid kelas
satu ini yang dapat mengucapkan perubahan kata kerja bahasa Prancis dengan
benar. Tetapi ternyata usahanya sia-sia, dan keramahannya tadi sewaktu masuk
kini jadi kemarahan. Hampir semua anak kelas satu jadi sasaran kemarahannya
itu.
Dengan gemas ia meninggalkan kelas itu waktu lonceng istirahat berbunyi.
Anak-anak berkerumun di sekeliling Alicia. "Oh, Alicia, aku hampir mati karena
menahan tawa!" - "Sayang sekali Potty muncul secara tiba-tiba!" - "Apakah ia
akan menghukummu, Alicia?"
"Darrell berteriak begitu keras sehingga langit-langit hampir runtuh!" kata
Irene. "Mau meletus badanku karena menahan tawa tadi."
"Nah, kini aku harus menghadap Potty," kata Alicia. "Sayang sekali aku
lupa bahwa ia mengajar di kelas tetangga kita. Sudahlah. Sampai nanti, Kawankawan!"

7. DARREL TAK BISA MENGUASAI DIRI
ALICIA dimarahi dan diberi tugas tambahan. Ia keluar dari kantor Nona
Potts, dan bertemu dengan Mam'zelle di jalan. "Kau sudah menghadap Nona
Potts?" tanya Mam'zelle, masih mengira bahwa mungkin Alicia tidak mendengar
perintah Nona Potts tadi.
"Oh, ya, terima kasih, Mam'zelle," jawab Alicia, dan pergi meninggalkan
Mam 'zelle yang ternganga. Aneh sekali. Bagaimana Alicia bisa begitu cepat
sembuh? Lama juga Mam'zelle termenung di itu sampai Nona Potts melihat dan
mendekatinya.
"Kalau Alicia memperlihatkan tanda-tanda bahwa ia akan tuli lagi, suruh
dia menghadapku," kata Nona Potts. "Aku bisa menyembuhkan penyakit seperti
itu dengan cepat."
Nona Potts meninggalkan Mam'zelle. Barulah kini Mam 'zelle tahu bahwa
ia telah dipermainkan Alicia. "0, anak nakal itu!" dengusnya geram. "Dia telah
menipuku! Dia telah mengelabuiku! Nakal 5ekali! Tak akan aku percaya lagi
padanya!"
Darrell sangat menikmati peristiwa lucu itu. Betapa cerdiknya Alicia!
Dengan rasa kagum ia memandang anak itu. Dan Alicia bangga merasa dikagumi
orang lain. Ini selalu mendorongnya untuk berbuat lebih nakal lagi. Mary-Lou
juga memandang Alicia seolah-olah ia seseorang yang sangat luar biasa. Alicia
menggandeng tangan Darrell.
"Kita akan merancang sesuatu lagi nanti," katanya. "Kau, aku, dan Betty.
Kita akan bergabung dengan julukan Trio Teror. Hebat, kan?"
"Oh, yar Darrell begitu gembira bisa satu komplotan dengan Betty dan
Alicia. "Ayo, kita cari suatu muslihat baru! Mungkin aku bisa mengusulkan
sesuatu...."
Tetapi mereka memutuskan untuk tidak tergesa-gesa berbuat nakal lagi.
Mereka akan menunggu beberapa lama. Kemudian mungkin mereka bisa
menggoda Nona Linnie.
Gwendoline merasa sangat iri melihat betapa Alicia dan Betty - yang
dianggap sebagai jagoan dari kelas satu - bersahabat dengan Darrell. Padahal
Darrell hanyalah seorang anak baru seperti dirinya. Padahal ia lebih cantik dan, ia
yakin, lebih menarik untuk dijadikan sahabat.
Dibicarakannya hal ini dengan Sally Hope. "Aku tak suka melihat betapa
Darrell selalu ingin menonjlkan dirinya. Dia pikir dia sudah paling hebat!
Berkomplot dengan Alicia dan Betty... huh! Mereka lebih baik berkawan
denganku daripada dengan anak itu. Tapi belum tentu aku mau berkawan dengan
mereka!"
Sally tak tertarik pada kata-katanya. Tetapi Gwendoline tak peduli.Ia
melanjutkan menggerutu tenang Darrell. "Darrell itu... dikiranya dia yang paling
pandai! Dikiranya dia pandai main tenis pandai berenang... Kalau aku mau, akan
kutunjuk kan padanya bahwa aku dua kali lebih baik dari dia.”
"Lalu kenapa tak kaulakukan itu?" akhirnya Sally tak tahan lagi. "Selama
ini yang kautunjukkan adalah bahwa kau dua kali lebih buruk dari dia."
Gwendoline terperangah, tersinggung. Sally Hope yang pendiam itu berani
berkata begitu padanya! Dipandangnya Sally dengan pandang gusar, seolah-olah
ingin menelan anak itu.
"Baiklah," kata Gwendoline kemudian, "akan kutunjukkan padamu, Sally.
Selama ini aku tak berusaha sebab kurasa memang tak ada gunanya bagiku. Aku
sesungguhnya tak ingin bersekolah di sini. Ibu juga sesungguhnya tak ingin
mengirimku ke sini. Ayahlah yang memaksaku. Waktu aku diasuh Nona Winters,
hasil pelajaranku selalu cemerlang. Aku bisa berbuat serupa di sini, kalau saja aku
mau!"
Kebetulan Alicia saat itu datang, dan mendengar pidato yang aneh itu.
Alicia tertawa keras-keras.
"Kau tak bisa main tenis, kau tak bisa renang, kau menjerit kedinginan bila
jari kakimu tersentuh air, kau bahkan tak tahu semua perkalian dua belas, Nak!"
katanya mengejek. "Dan kini kau merasa tak ada gunanya kautunjukkan
kepandaianmu di sini! Kau tak akan bisa berbuat apa pun bila kau punya penilaian
terlalu tinggi bagi dirimu sendiri seperti ini!"
Sally ikut tertawa. Ini membuat Gwendoline sangat marah. Ingin sekalj ia
menampar keduanya! Tetapi Nona Winters selalu berkata bahwa seorang wanita
yang tahu sopan santun tak pernah keliru menggunakan tangannya. Lagi pula
pastilah sangat berbahaya untuk menampar Alicia.
Gwendoline meninggalkan tempat itu sambil mengangkat muka.
"Gwendoline Mary Sayang,” kata Alicia. "Anak emas Ibu, kekasih Ayah, murid
cemerlang Nona Winters! Tapi mengerjakan soal pecahan saja tak bisa!"
Sore itu anak-anak kelas satu mendapat giliran menggunakan kolam
renang. Gembira sekali mereka, riuh rendah bermain di air. Alicia menyelam dan
berenang di bawah air dari ujung ke ujung kolam renang itu. Dilakukannya pergipulang,
dan semua bertepuk tangan melihat ketangguhannya tersebut.
"Hebat sekali!" seru Darrell. "Bagaimana kau bisa tahan tak bernapas
begitu lama? Ingin sekali aku bisa melakukannya. Lakukan sekali lagi, Alicia,
kalau kau sudah siap lagi!"
"Kupingku kemasukan air," kata Alicia, mengguncangkan kepalanya.
"Rasanya telingaku tertutup. Harus kutunggu sampai telingaku bebas dari air. Aku
akan terjun saja, ah."
Alicia seorang peloncat indah yang pandai, sepandai ia berenang dan
menyelam. Gwendoline sungguh iri padanya. Ia tentu merasa yakin dirinya bisa
berenang dan terjun lebih baik dari Alicia - kalau saja ia bisa mengatasi hal-hal
yang ditakutkannya pada permulaan terjun atau berenang itu. Ia takut pada awal
terjun. Ia tak suka pada rasa dingin bila tercebur di air. Ia tak senang berada di
dalam air, selalu merasa seolah-olah akan terbenam. Jadi karena itulah ia tak mau
menunjukkan bahwa ia bisa terjun lebih baik dari Alicia.
Hanya ada seorang yang lebih buruk darinya dalam hal berenang. Mary-
Lou. Tapi tak seorang pun mengejek Mary-Lou. Menggoda Mary-Lou hanya
seperti menggoda seekor anak kucing yang ketakutan. Gwendoline kini melihat
Mary-Lou berkecimpung tak jauh darinya. Dan karena Gwendoline tahu bahwa
Mary-Lou lebih takut pada air darinya, maka Gwendoline merasa ia punya
kekuasaan lebih besar.
Gwendoline berjalan dalam air ke tempat Mary-Lou, dan tiba-tiba
ditubruknya anak itu, dibenamkannya kuat-kuat. Mary-Lou tak punya kesempatan
untuk menjerit. Ia membuka mulut dan air menderas masuk. Ia meronta-ronta tak
berdaya. Gwendoline yang merasakan betapa Mary-Lou meronta, malah merasa
bahwa ia jauh lebih kuat, dan terus menahan Mary-Lou dalam air lebih lama dari
yang dimauinya. Ia baru melepaskan Mary-Lou saat tiba-tiba punggungnya
dicengkeram seseorang.
Ia berpaling, dan berhadapan dengan Darrell yang susah payah menahan
marah, sampai menggeletar seluruh tubuhnya, bukan karena dingin tapi karena
rasa gusar yang amat sangat.
"Binatang kau!" teriak Darrell. "Kulihat kau membenamkan Mary-Lou
dengan sengaja! Dan kau tahu Mary-Lou takut air! Kau ingin dia mati lemas?"
Darrell menarik Mary-Lou, membantunya berdiri. Mary-Lou terengahengah,
menyembur-nyembur. Mukanya biru, dan agaknya ia ingin muntah karena
terlalu banyak air asin yang masuk ke dalam perutnya.
Anak-anak mulai banyak yang berenang mendekat. Darrell dengan suara
gemetar marah berkata pada Gwendoline, "Tunggu saja di situ. Akan kubenamkan
kau, Gwendoline, agar kau tahu bagaimana rasanya terbenam!"
Mary-Lou mendekap Darrell erat-erat. Gwendoline takut juga akan
ancaman Darrell, dan ia melangkah ke arah tepi kolam, takut kalau-kalau ada anak
lain yang melaksanakan ancaman Darrell, sementara Darrell belum sempat
bertindak.
Tapi saat ia menaiki tangga di tepi kolam, Darrell yang telah memberikan
Mary-Lou yang menangis pada Alicia telah menyusulnya, memegang bahunya.
"Aku tak akan membenamkanmu, Pengecut!" kata Darrell. "Tapi akan
kutunjukkan padamu apa yang terjadi pada orang sekeji engkau ini!"
Dan tangan Darrell cepat sekali melecut keras. Empat buah tamparan keras
terdengar, hampir sama kerasnya dengan jerit kesakitan Gwendoline.
Tangan Darrell sangat keras, dan ia menampar dengan sepenuh kekuatan,
dilambari oleh rasa marah yang hebat. Ke mana pun Gwendoline mencoba
menghindar, tamparan Darrell tepat mengenai sasaran. Suara tamparan itu
bagaikan tembakan pistol.
"Hei, Darrell!" teriak Katherine, ketua kelasnya. "Hentikan! Apa yang
kaulakukan? Lepaskan Gwendoline! "
Masih sangat marah, Darrell berpaling pada Katherine. "Harus ada yang
menghajar si Pengecut Gwendoline ini!"
"Ya, tapi bukan kau!" kata Katherine tajam. "Kau berada di pihak yang
salah bila kau menampar dia seperti itu. Sungguh memalukan, bagaimana kau tak
bisa menahan diri!"
"Dan kau juga sungguh memalukan!" jerit Darrell membuat semua anak
tercengang. "Kalau saja aku ketua kelas, aku akan mengharuskan anak-anak.
seperti Gwendoline ini untuk belajar berenang dengan baik, sehingga tak punya
waktu untuk menggoda anak-anak yang lebih lemah darinya, seperti Mary-Lou!"
Belum pernah anak-anak itu melihat Darrell marah. Beberapa saat mereka
tercengang. Kemudian suara dingin Katherine terdengar lagi, "Cepat tinggalkan
kolam ini! Ayo, cepat! Untung tak ada guru yang melihatmu."
Darrell keluar dari kolam. Masih gemetar marah. Diambilnya handuk
lebarnya, dan dengan berselimut handuk itu ia mendaki telundakan di tebing yang
menuju ke sekolah mereka di atas sana. Dadanya masih ingin meledak karena
kemarahannya.
Gwendoline yang keji! Katherine yang mengesalkan! Malory Towers yang
menjemukan! Tetapi sebelum ia sampai ke puncak telundakan itu, sebelum
sampai ke pintu pagar yang membatasi daerah sekolah, kemarahan Darrell telah
lenyap. Ia kecewa pada dirinya sendiri. Mengapa tadi ia bertindak seperti itu? Ia
harus bisa menguasai diri lebih baik lagi. Ia tak boleh membiarkan kemarahannya
meledak seperti saat ia masih kecil.
Dengan kemarahan yang semakin lama semakin surut lenyap, Darrell
memasuki halaman sekolah, ke tempat ganti pakaian. Ia telah ditegur di depan
anak banyak oleh Katherine. Tak ada yang membelanya. Bahkan Alicia pun tidak.
Ia telah membentak-bentak ketua kelasnya. Kelakuannya pada Gwendoline sama
buruknya dengan kelakuan Gwendoline terhadap Mary-Lou. Bedanya hanyalah
Gwendoline bertindak hanya karena memang dia berhati kejam, sementara dirinya
terdorong oleh rasa marah. Tapi rasa marah ataukah hati kejam, rasanya kini
sama-sama buruknya.
Ia menyesal kini telah menampar Gwendoline. Itulah hasil yang terburuk
dari memiliki sifat pemarah. Banyak hal dilakukannya dengan tanpa berpikir
panjang akan akibatnya. Tanpa berpikir bahwa nanti bila marahnya hilang ia akan
malu akan perbuatannya. Dan ia takkan merasa damai di hatinya sebelum ia
menyatakan penyesalannya pada orang yang disakitinya walaupun orang itu
masih sangat dibencinya.
Darrell mendengar seseorang terisak-isak di kamar ganti pakaian. Ia
menjenguk ke dalam. Dilihatnya Gwendoline dengan muram sedang
memperhatikan bekas-bekas jari merah cemerelang di pahanya, tempat Darrell
tadi menamparnya keras-keras. Kalau tadi ia tak cepat naik tangga kolam,
mungkin pipinyalah yang ditampar Darrell. Gwendoline terisak keras.
"Aku akan menulis surat pada Ibu,” pikirnya. "Kalau saja ia bisa melihat
garis-garis merah ini... wah, bahkan di sini terpeta semua jari Darrell!"
Darrell muncul di belakangnya, membuatnya terlompat terkejut.
"Gwendoline, maafkan aku. Aku menyesal telah menamparmu tadi. Aku sungguhsungguh
menyesal. Aku tadi begitu marah sehingga tak terpikir olehku apa yang
kulakukan."
Sayangnya Gwendoline tak cukup murah hati ataupun cukup sopan untuk
menerima permintaan maaf yang begitu wajar.Ia memandang angkuh pada
Darrell.
"Kuharap saja kau betul-betul menyesal," katanya. "Aku akan menulis ke
ibuku. Kalau saja beliau tahu murid-murid Malory Towers itu seperti kau, pasti
beliau takkan memperkenankan aku datang kemari!"


8. DARRELL - DAN GWENDOLINE
DI KOLAM renang anak-anak merundingkan kejadian yang begitu
mengguncangkan hati mereka itu.
"Sungguh tak kuduga Darrell yang tenang itu bisa meledak seperti itu!"
"Ia tak boleh kurang ajar pada Katherine! Sungguh kasar dia pada sea rang
ketua kelas."
"Katherine, apa yang akan kaulakukan?"
Katherine kini sudah keluar dari kolam. Wajahnya yang biasa tenang
tampak merah dan gusar. Ia suka pada Darrell - tetapi kini tiba-tiba saja
pendapatnya tentang anak itu berubah. Alicia Juga merasa sangat heran. Ia keluar
dari air, meneleng-nelengkan kepalanya, mencoba mengeluarkan air dari
telinganya. Siapa mengira Darrell bisa marah seperti itu?
"Ayo, semua ke ruang rekreasi, Anak-anak Menara Utara, segera setelah
kalian berganti pakaian," kata Katherine akhirnya, dengan suaranya yang tenang
seperti biasa. Anak-anak itu saling pandang. Rapat anak-anak kelas satu! Tentu
tentang Gwendoline dan Darrell. Mereka menghambur berlari menaiki tebing,
berebut masuk ke kamar ganti pakaian sambil berbicara riuh rendah.
Baik Gwendoline maupun Darrell tak tampak. Gwendoline telah pulang
ke- kamarnya, untuk membubuhkan krim dingin pada pahanya. Sesungguhnya
bekas tamparan Darrell itu tak perlu diobati, tetapi ia bertekad untuk membuat hal
ini sebuah perkara besar! Ia selalu merasa iri pada Darrell dan kini ia merasa
mempunyai suatu hal untuk menjatuhkannya. Masa habis menampar langsung
minta maaf, pikir Gwendoline. Pasti permintaan maaf itu hanya untuk
mempermainkannya saja.
Sementara itu kedelapan murid kelas satu lainnya dari Menara Utara telah
berkumpul di ruang rekreasi. Katherine duduk di sebuah meja dan memandang
berkeliling.
"Aku yakin kalian semua sependapat bahwa walaupun kita sangat
menyukai Darrell, kita tak boleh membiarkan kelakuannya barusan begitu saja,"
katanya mulai.
"Oh, Katherine, jangan marahi dia," pinta Mary-Lou dengan suaranya
yang lemah. "Ia telah menolongku dari bahaya terbenam. Ia betul-betul
menyelamatkanku. "
"Tidak," kata Katherine. "Gwendoline tentulah tidak begitu tolol untuk
mencelakakan seseorang. Aku kira ia tiba-tiba merasa mengkal karena selalu
diejek oleh semua anak. karena ia tak bisa berenang dengan baik."
Mary-Lou sangat yakin bahwa Darrell adalah seorang pahlawan. Ia begitu
menderita sewaktu berada di bawah tekanan Gwendoline di bawah air, dan ia
sangat yakin setiap saat ia bisa pingsan terbenam. Kemudian datanglah Darrell
yang begitu kuat dan cepat menyelamatkannya. Bagaimana Katherine bisa punya
pendapat lain?
Mary-Lou tentu saja tak berani berbicara tentang apa yang dipikirkannya,
tetapi ia duduk saja dengan wajah gelisah dan kuatir. Ingin sekali ia angkat bicara
membela Darrell, tetapi ia tak berani.
"Kupikir Darrell harus minta maaf pada Katherine karena telah bersikap
begitu kurang ajar," kata Irene. "Dan kalau ia tak mau melakukannya, kita semua
mendiamkannya saja, tak akan berbicara dengannya selama seminggu. Sungguh
kelakuannya di luar dugaan."
"Kupikir, dia juga harus minta maaf pada Gwendoline," kata Katherine.
"Kudengar tamparannya dari ujung kolam renang. Minta maaf pada Gwendoline
kurasa lebih penting daripada minta maaf padaku."
"Tetapi jauh lebih berat!" kata Alicia. "Betapa tidak menyenangkan bagiku
untuk minta maaf, tentang apa saja, pada Gwendoline Mary sayang itu."
"Apakah kau tidak akan menegur Gwendoline juga?" tanya Jean.
"Ya," kata Katherine, "tentu saja. Entah di mana Darrell kini. Mudahmudahan
saja ia tidak mengamuk karena kita haruskan minta maaf pada
Gwendoline. Kalau ia masih marah, pastilah sulit untuk menyuruhnya melakukan
hal itu Aku sesungguhnya tak ingin melaporkannya ataupun mendiamkannya. Tak
pernah kuduga ia begitu pemarah."
Tepat saat ia selesai berbicara pintu terbuka dan Darrell masuk. Ia tampak
heran melihat teman-temannya berkumpul di situ, diam tak bersuara dan agak
tegang memandang padanya. Katherine tertegun melihat betapa tenangnya wajah
Darrell kini. Dan sebelum ia sempat membuka mulut, Darrell telah mendekatinya
dan berkata, "Katherine, aku sangat menyesal telah berbicara seperti tadi padamu.
Entah bagaimana aku bisa melakukannya. Saat itu aku begitu marah, mungkin,
sehingga tak bisa mengendalikan diriku."
Kembali Katherine terperangah. Apa yang akan diucapkannya langsung
lenyap dari otaknya dan ia pun sesaat tak tahu harus berkata apa. Tetapi ia cepat
menguasai diri. Pandangan matanya yang tadi marah cepat meredup menjadi
senyum saat ia berkata, "Tak apa, Darrell. Aku memang tahu kau sedang marah.
Tapi..."
"Itulah kesalahanku yang terbesar," kata Darrell, mengucap-usap ujung
hidungnya seperti biasanya bila ia merasa malu akan dirinya sendiri. "Sifatku
yang pemarah itu, maksudku. Aku mewarisinya dari ayahku. Tetapi Ayah selalu
bisa menguasai diri dan hanya meledak pada hal-hal yang sangat perlu saja.
Maksudku, pernah juga ia marah besar, tetapi selalu karena ada alasan besar juga
untuk itu. Lain dengan aku. Sering aku marah besar untuk hal-hal yang tak berarti.
Sungguh jelek sifatku itu, Katherine. Tetapi percayalah, dulu sewaktu aku akan
berangkat ke Malory Towers ini, aku telah bertekad untuk menghilangkan
kebiasaan buruk itu."
Anak-anak yang tadi memandang dingin pada Darrell saat ia baru masuk,
kini memandangnya dengan perasaan ramah dan hangat. Ternyata Darrell seorang
anak yang berani mengakui kesalahannya. Berani minta maaf untuk kesalahan itu
dan tidak mencari-cari alasan untuk kesalahan tersebut. Tentu saja dengan sikap
seperti ini semua orang mau tak mau terpaksa merasa suka padanya!
"Ya, kukira kau memang tak bisa mengendalikan dirimu tadi," kata
Katherine. "Kupikir Gwendoline memang sudah sewajarnya memperoleh
hukuman, Darrell, tetapi bukan kau yang harus menghukumnya. Akulah yang
punya hak untuk menegurnya, atau Pamela, atau bahkan Nona Potts. Bukan kau.
Bisa kaubayangkan, betapa kacaunya suasana kalau setiap anak di sekolah ini
diperbolehkan menampari anak lain sesuanya!"
"Aku tahu, hal itu juga terpikir olehku," kata Darrell. "Aku juga sangat
malu pada perbuatanku tadi, Katherine. Sudah pantas bila kau menggusariku. Aku
harap kau percaya padaku."
"Aku percaya," kata Katherine. "Tetapi kurasa ada sesuatu hal yang harus
kaulakukan. Sesuatu yang mungkin sangat tidak menyenangkan hatimu, sebelum
perkara ini bisa kita anggap selesai."
"Oh, apa itu?" tanya Darrell, tampak sangat takut.
"Begini. Kau harus minta maaf pada Gwendoline," kata Katherine hatihati,
mengira setiap saat Darrell akan meledak marah lagi.
"Minta maaf pada Gwendoline? Oh, itu sudah kulakukan," kata Darrell
dengan perasaan lega. "Kukira kau akan menyuruh aku melakukan sesuatu yang
tak menyenangkan. Aku selalu menyesal segera setelah marahku reda, seperti
kataku tadi. Dan karenanya aku selalu langsung minta maaf!"
Anak-anak makin tercengang. Mereka memperhatikan Darrell yang
mengibaskan rambut hitamnya serta menatap Katherine dengan mata jernih jujur.
Kalau begitu... sesungguhnya mereka tak perlu mengadaan rapat ini! Mereka tak
perlu bersepakat untuk mengadili Darrell dan menyuruhnya minta maaf. Agaknya
Darrell bisa mengadili dirinya sendiri, serta bisa memperbaiki tingkahnya yang
salah. Semua memandang Darrell dengan rasa kagum. Mary-Lou tak bisa diam di
tempat duduknya. Betapa hebatnya Darrell!
"Tentu saja aku masih berpendapat bahwa Gwendoline telah berbuat keji
kepada Mary-Lou. Dan aku berpendapat sungguh patut disayangkan bahwa Mary-
Lou tidak berusaha membela diri sehingga anak berhati keji seperti Gwendoline
tidak kapok-kapoknya menggoda dia," kata Darrell.
Mary-Lou melemas di kursinya. Oh, Darrell ternyata menganggapnya
anak lemah tak punya daya dan tak punya keberanian. Dan itu memang benar Ia
tahu tentang dirinya sendiri. Ia tahu bahwa seorang anak yang kuat dan
mengagumkan seperti Darrell takkan pernah betul-betul menyukai seorang anak
lemah seperti Mary-Lou. Alangkah senangnya kalau ia bisa membuat Darrell
bersahabat dengannya!
Gwendoline membuka pintu dan masuk, membuat wajahnya sesedih
mungkin. Rambutnya telah dibuatnya berurai ke punggungnya dan ia
membayangkan dirinya seorang malaikat yang baru saja disiksa oleh sesuatu
kekuatan jahat - atau begitulah kira-kira.
Didengarnya kalimat terakhir Darrell- "... anak berhati keji seperti
Gwendoline tidak kapok-kapoknya menggoda dia." ltulah yang didengarnya.
"Oh, Gwendoline," Katherine menyambutnya dengan suara yang agak
tajam. "Lain kali kalau kau ingin membuat anak lain terkejut, carilah seseorang
yang bisa membela diri. Dan kuharap kau minta maaf pada Mary-Lou. Kau telah
membuatnya sangat ketakutan. Darrell telah minta maaf padamu, maka sekarang
giliranmu untuk minta maaf."
"Oh - jadi Darrell berkata bahwa dia telah minta maaf padaku, ya?" tanya
Gwendoline. "Aku tak menganggapnya sebagai permintaan maaf!"
"Apa?" seru Darrell heran. Ia berpaling pada anak-anak lain "Pokoknya
aku sudah minta maaf padanya! Kalian boleh percaya padaku, atau percaya pada
Gwendoline. Pokoknya aku telah minta maaf padanya, secara langsung pula!"
Katherine berpaling dari muka Darrell yang merah padam ke muka
Gwendoline yang tersenyum mengejek. "Kami percaya padamu, Darrell," katanya
dengan suara tenang. Kemudian suaranya menjadi tajam lagi saat ia berkata pada
Gwendoline, "Dan kini, Gwendoline, di depan kita semua, agar kami semua bisa
mendengar, kuharap kau mau minta maaf pada Mary-Lou."
Gwendoline terpaksa mengatakan ia menyesal. Suaranya gemetar,
tergagap-gagap. Sebetulnya ia tak sudi mendapat hinaan seperti itu, tetapi mata
kawan-kawannya yang menatapnya tajam membuatnya tak bisa menghindar.
Belum pernah sepanjang hidupnya ia menyatakan menyesal atas sesuatu yang
dilakukannya. Ia jadi benci sekali pada Darrell yang dianggapnya sebagai biang
keladi ini semua. Ya, ia juga benci pada si Tolol Mary-Lou itu!
Hampir menangis ia meninggalkan ruangan itu. Semuanya bernapas lega
begitu Gwendoline keluar. "Untunglah semuanya sudah selesai," kata Irene yang
tak suka melihat pertengkaran. "Aku akan pergi ke ruang berlatih. Kurasa dengan
mendengarkan musik maka kejadian ini bisa kulupakan. "
Ia pergi ke salah satu ruang berlatih. Ia pasti akan segera melupakan apa
yang telah terjadi, tenggelam dalam indahnya lagu yang dimainkannya di piano.
Tetapi anak-anak lain tak begitu mudah melupakan kejadian itu. Mereka mengerti
bahwa tak baik bagi Darrell untuk begitu ringan tangan, tetapi mereka juga
mengerti bahwa Gwendoline memang patut menerima tamparan itu.
Mereka membandingkan cara Darrell meminta maaf - sangat wajar, tak
mencari-cari alasan, sepenuh hati. Sementara Gwendoline tampak berat sekali
menyatakan penyesalannya kepada Mary-Lou yang kemalu-maluan. Agaknya
Gwendoline boleh dikata kalah dalam peristiwa ini. Dan ia sendiri mengetahui hal
ini. Ia merasa terhina. Ah, untuk apa begitu ribut hanya karena ia ingin bercanda
sedikit! Toh anak-anak lain juga sering bermain saling membenamkan!
Betapapun, ia akan menulis surat tentang hal ini pada ibunya. Ya, akan
dikatakannya betapa kejinya Darrell menamparinya! Biar tahu rasa anak-anak lain
yang ikut menyalahkan dirinya itu.
Ia kembali ke ruang rekreasi, membuka lacinya. Kertas suratnya ada di
situ. DiambiInya selembar dan ia duduk untuk menulis surat seperti yang
direncanakannya. Biasanya ia tak suka menulis. surat pada ibunya. Rasanya
membosankan! Ia bahkan tak pernah menulis surat pada Nona Winters semenjak
ia berada di Malory Towers, walaupun guru pribadinya itu telah menulis surat
padanya tiga kali dalam seminggu. Gwendoline memang cenderung untuk
meremehkan orang-orang yang menyukainya, serta membenci orang-orang yang
tak menyukainya.
"Aku akan menulis surat pada ibuku,” ia berkata pada anak-anak di
sekelilingnya. Beberapa orang sedang menjahit, beberapa membaca. Saat itu
memang jam bebas sebelum waktu makan malam. Tak ada yang memperhatikan
kata-kata Gwendoline tadi, kecuali Jean.
"Bukan hari yang biasa untuk menulis surat, kan?" tanyanya pada
Gwendoline. "Kenapa kau, Gwendoline, menulis surat di pertengahan minggu?
Padahal setiap hari Minggu kau selalu membuat kami menutup telinga karena
keluh kesahmu menulis surat, yang katamu merupakan pekerjaan paling
membosankan di dunia."
"Aku akan menulis surat pada Ibu tentang bagaimana Darrell menampar
aku!" kata Gwendoline dengan suara keras agar semua mendengarnya. "Aku tak
mau tinggal diam diperlakukan seperti itu. Dan Ibu juga pasti tak akan tinggal
diam. "
Katherine bangkit. "Aku gembira kau mengatakan pada kami semua
tentang maksudmu itu," atanya. "Aku akan menulis surat juga kalau begitu. Aku
yakin kau tak akan bercerita pada ibumu tentang apa yang menyebabkan Darrell
menamparmu. Nah, akulah yang akan menceritakan hal itu pada ibumu."
Gwendolie membanting penanya dengan marah. Diremasnya kertas surat
yang baru saja ditulisnya. "Baiklah,” katanya. "Aku tak akan menulis surat itu.
Aku tak mau kau memutarbalikkan keadaan tentang diriku pada keluargaku!
Sungguh sekolah jahanam sekolah ini! Tak heran Ibu sesungguhnya tak mau
mengirimkan aku kemari."
"Gwendoline sayang,” kata Alicia saat Gwendoline dengan marah lari ke
luar, "ia sama sekali tak bisa melakukan apa saja yang diingininya! Aku yakin,
justru Malory Towers inilah yang akan menyembuhkan dirinya dari sifat-sifat
buruknya itu." Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan keras, untuk kesekian
kalinya. Darrell heran memandangnya.
"Kenapa kau ini?" tanya Darrell.
"Kukira telingaku kemasukan air," kata Alicia. "Rasanya buntu. Wah -
jangan-jangan besok aku jadi tuli. Memang pernah aku jadi tuli dulu, setelah
menyelam lama sekali."
"Oh, Alicia, betapa lucunya besok kalau kau betul-betul tuli dalam
pelajaran Mam'zelle!" kata Darrell tertawa geli. "Oh, ya ampun! Aku tak bisa
membayangkan apa yang terjadi bila itu terjadi!"
"Aku bisa membayangkan apa yang akan terjadi," gumam Alicia, kecut.
"Mudah-mudahan telingaku besok sembuh!"

9. ALICIA DAlAM KESULITAN
PERISTIWA kolam renang membawa berbagai akibat. Pertama, peristiwa
itu membuat Mary-Lou mengikuti ke mana pun Darrell pergi, seperti kesetiaan
seekor anjing pada tuannya.Ia selalu siap mengambilkan atau membawakan
barang-barang Darrell. Ia selalu membersihkan meja Darrell. Ia merapikan peti
pakaian Darrell, dan bahkan menawarkan diri untuk merapikan tempat tidurnya
setiap pagi.
Tetapi Darrell tak mau diperlakukan seperti itu.
"Jangan!" katanya selalu pada Mary-Lou. "Aku bisa melakukan apa saja
sendiri. Untuk apa kau merapikan tempat tidurku? Kau tahu, kita masing-masing
memang harus merapikan tempat tidur sendiri-sendiri. Jangan begitu tolol, Mary-
Lou!"
"Aku tidak tolol," kata Mary-Lou, memandang Darrell dengan matanya
yang bulat besar. "Aku hanya ingin melakukan sesuatu untukmu... untuk
membalas budimu... menyelamatkan diriku dari bahaya terbenam.”
"Itu tidak benar. Sesungguhnya tak kutolong pun kau tak akan apa-apa.
Aku kini tahu itu. Lagi pula, aku hanya menampar Gwendoline Jadi tak ada
hubungan apa-apa denganmu."
Tetapi tak peduli apa yang dikatakan Darrell, Mary-Lou tetap saja
memujanya dan selalu siap membantunya, atau membuatnya senang. Darrell
mulai sering sekali menemukan permen cokelat di lad mejanya. Dan tiap pagi
terdapat satu vas bunga di meja hiasnya. Ini bahkan membuatnya guar.Ia tak sadar
bahwa Mary-Lou sedang mencoba keluar dari dirinya sendiri yang selalu tertutup
selama ini. Ia merindukan suatu persahabatan yang mungkin akan
menyembuhkannya dari rasa takutnya.
Mary-Lou begitu lemah. Ia memerlukan seseorang yang dianggapnya kuat
sebagai sahabat. Baginya, Darrell-lah orang yang diperlukannya, anak terbaik
yang pernah dikenalnya.
Anak-anak yang lain selalu menggoda Darrell tentang hal ini. "Apakah
anjing kecilmu sudah mengibaskan ekor untukmu hari ini?" Alicia sering
bertanya.
"Alangkah senangnya bisa mendapat bunga cantik-cantik di meja hiasku
selalu," kata Irene.
"Dasar Darrell! Pasti dialah yang minta dilayani seperti itu oleh Mary-
Lou!" dengus Gwendoline yang sangat iri atas perhatian Mary-Lou pada Darrell.
"Jangan berkata begitu," tukas Katherine. "Darrell sendiri tak suka
diperlakukan seperti itu oleh Mary-Lou."
Akibat kedua dari peristiwa kolam renang itu adalah bahwa kini
Gwendoline betul-betul sangat benci pada Darrell. Selama hidupnya ia belum
pernah dipukul oleh siapa pun. Jadi ia tak pernah melupakan pukulan Darrell itu.
Sesungguhnya akan baik bagi Gwendoline kalau sewaktu kecil ia dipukul sekali
dua kali. Tetapi ia sangat dimanja. Tak ada yang berani memukulnya di rumah.
Jadi kini pukulan Darrell tidak bisa dianggap sebagai ledakan suatu kemarahan
baginya, melainkan suatu penghinaan yang harus dibalas dan tak boleh dilupakan.
"Suatu hari aku pasti membalasnya," geram Gwendoline dalam hati. "Tak
peduli kapan, tapi pasti kubalas."
Akibat ketiga adalah: Alicia betul-betul jadi tuli karena menyelam terlalu
lama waktu itu. Bukan tuli selamanya, dan tidak untuk waktu yang lama. Kadangkadang
telinganya terasa 'plong' dan ia bisa mendengar dengan jelas. Tetapi lebih
sering ia hampir tak bisa mendengar apa-apa - dan celakanya ini terjadi sehabis
dia berpura-pura tuli di kelas Mam'zelle! Apakah Mam'zelle akan percaya
padanya?
Sialnya, Alicia duduk di bangku nomor dua dari belakang. Dengan
pendengaran normal, maka dari tempat itu bisa terdengar jelas apa kata guru.
Tetapi pada saat-saat telinga Alicia 'buntu', maka sangat sulit baginya untuk bisa
mendengar dengan jelas.
Lebih sial lagi, ternyata di hari berikutnya yang mengajar bahasa Prancis
bukanlah Mam'zelle Dupont, tetapi Mam'zelle Rougier, yang kurus tinggi.
jangkung. Ia jarang sekali bersikap ramah seperti yang ditunjukkan oleh kedua
bibirnya yang tipis dan selalu terkatup keras itu. Sungguh aneh, pikir Alicia, orang
pemarah biasanya berbibir tipis.
Mam 'zelle Rougier suaranya lembut, tetapi bila ia marah suara tersebut
jadi serak dan keras sekali. Anak-anak sangat membenci suara serak itu.
Hari itu ia mulai mengajarkan permulaan suatu sandiwara berbahasa
Prancis. Tiap semester memang selalu ada sebuah sandiwara Prancis yang
dimainkan oleh anak-anak Malory Towers dan tiap anak mendapat bagian
peranan. Kadang-kadang beberapa kelas memainkannya cukup bagus sehingga
dipertunjukkan pada pertunjukan sekolah. Tetapi lebih sering permainan mereka
dianggap hanya cukup baik di depan kelas saja.
"Kini," kata Mam'zelle Rougier. "kita akan memperbincangkan sandiwara
itu. Dan mungkin akan kita tentukan siapa-siapa yang akan memerankan tokohtokoh
dalam sandiwara tersebut. Mungkin satu-dua murid baru cukup baik bahasa
Prancisnya. hingga bisa memainkan peran-peran utama. Itu akan baik sekali. Aku
kira, anak-anak lama tak akan keberatan.”
Tentu saja mereka takkan keberatan! Makin kecil peranan yang mereka
peroleh. makin sedikit yang harus dihapalkan. Anak-anak baru terpaksa
tersenyum gelisah. Mereka berpendapat kata-kata Mam'zelle Rougier ini terlalu
menyudutkan mereka.
"Kini coba kita lihat. siapa-siapa yang memegang peran utama di
sandiwara semester yang lalu," kata Mam'zelle. "Kau. Alicia, peran apa yang
kaupegang?"
Alicia tak mendengar, karenanya ia tak menjawab. Betty menggamitnya
dan bertanya keras.
"Peran apa yang kaupegang di sandiwara semester lalu?"
"Oh, maaf. Mam'zelle. aku tak mendengar apa yang Anda katakan," kata
Alicia. "Aku menjadi gembala."
"Kukira itu di semester yang sebelumnya lagi,” kata Mam'zelle. Alicia tak
mendengar lagi kata-katanya. Betty mengulangi keras-keras. "KATA
MAm'ZELLE. ITU SEMESTER YANG SEBElUMNYA!"
Mam'zelle tercengang. Mengapa Betty harus mengulang setiap
perkataannya seperti itu? Kemudian tiba-tiba ia teringat akan cerita Mam'zelle
Dupont tentang Alicia - ah, ya. ia seorang anak yang sangat nakal! Ia telah
berpura-pura tuli, bukan? Dan kini agaknya ia akan menjalankan muslihat yang
sama padanya!
"Ah. Tidak, tidak, tidak!" kata Mam'zelle Rougier pada dirinya sendiri
dengan marah. "Ini sudah keterlaluan! Aku tak mau dipermainkan!"
"Alicia," katanya sambil mengusap gelung kecil di bagian belakang
kepalanya. "Kau memang lucu dan banyak berbuat kelucuan. Tetapi kadangkadang
aku juga lucu dan berbuat kelucuan pula. Kau tak keberatan. bukan? Nah,
aku ingin kau menulis dengan tulisanmu yang terbaik dan dalam bahasa Prncis
yang terbaik, lima puluh kali. 'Aku tak boleh tuli pada jam pelajaran Mam'zelle
Rougier."
"Anda berkata apa. Mam'zelle?" tanya Alicia yang hanya mendengar
namanya disebut di awal kalimat itu tadi. "Aku tak begitu jelas mendengar Anda."
"Ah. cette mechante cille!*" seru Mam'zelle Rougier tiba-tiba marah
seperti biasanya. "Alicia, ecoutez bien! Dengar baik-baik! Kau harus menulis.
'Aku tak boleh tuli pada jam pelajaran Mam'zelle Rougier' SERATUS KALI!"
"Tetapi baru saja Anda berkata lima puluh kali!" tukas Betty.
"Dan kau,” kata Mam'zelle pada Betty. "kau harus menulis seratus kali
'Aku tak boleh menyela pembicaraan guru'!" Kelas itu hening seketika.
Mereka tahu benar tabiat Mam'zelle bila sedang marah. Ia akan
menghambur-hamburkan hukuman pada siapa saja! Sungguh ia guru yang paling
mengesalkan bagi anak-anak.
Betty berbisik pada Alicia begitu Mam'zelle berpaling ke papan tulis untuk
menuliskan sesuatu. Tetapi karena Alicia tak bisa mendengar apa-apa. ia
menuliskan pesan pada secarik kertas. "Kau harus menulis seratus kali untuknya.
Lebih baikkau jangan berkata kau tak bisa mendengar apa pun. Bisa-bisa
hukutnanmu dinaikkan menjadi seribu. Ia sedang sangat marah!"
Alicia mengangguk. Dan bila mana Mam'zelle bertanya padanya apakah ia
mendengar apa yang dikatakannya. ia menjawab dengan sopan. "Ya. terima kasih,
Mam'zelle," dengan harapan hukumannya akan diperingan atau diampuni.
Pada pelajaran berikutnya Nona Potts masuk. Dan di pintu Mam'zelle
menyempatkan diri untuk berkata pada wali kelas itu dengan pandang masih
murka. "Wah, Nona Potts, salah satu murid Anda. Alicia. tuli lagi telinganya.
Sungguh sayang, bukan? Padahal ia begitu sehat!"
Nona Potts tercengang. Beberapa saat tertegun di pintu sampai Mam'zelle
hilang. Ia kemudian berpaling pada Alicia.
"Alicia. kukira kau tak begitu tolol untuk melakukan muslihat yang sama
dua kali." katanya dengan nada dingin. Alicia yang malang. Ia tak mendengar apa
pun yang dikatakan Nona Potts!
Dengan pandang bertanya ia memperhatikan Nona Potts.
"Tinggalkan bangkumu. dan pindah ke salah satu meja di depan,” perintah
Nona Potts. "Jean, tukar tempat dengan Alicia. Nanti waktu istirahat kalian harus
memindahkan isi meja kalian!"
Jean berdiri. sangat gembira bisa meninggalkan tempatnya di depan. di
mana ia selalu jadi sasaran pandangan mata Nona Potts. Gembira sekali ia bisa
pindah ke barisan belakang, tempat yang
memang diinginkan oleh hampir setiap murid. Di belakang mudah
berbisik-bisik, tukar-menukar catatan atau bercanda. Sementara itu Alicia tak
bergerak karena ia memang tak bisa mendengar apa pun
"Kau harus pindah. Tolol!" bisik Betty keras-keras. "Ayo! Ke bangku
Jean!"
Alicia sadar apa yang terjadi. Dia sungguh kecewa. Apa, meninggalkan
tempat yang paling disukainya itu? Meninggalkan Betty? Pindah ke tempat yang
tepat berada di bawah mata guru? Semua tahu. tak enak duduk di depan.
"Oh, Nona Potts,” katanya kecewa. "aku betul-betul tuli! Aku tuli karena
terlalu lama menyelam!"
"Beberapa hari yang lalu kau mengira atau berpura-pura dirimu tuli,” kata
Nona Potts tanpa ampun. "Bagaimana aku bisa mengetahui kapan kau tuli dan
kapan kau tidak tuli. Alicia?"
"Tetapi kali ini aku betul-betul tuli. Nona Potts!" kata Alicia,
mengharapkan agar telinganya tiba-tiba 'plong'. "Biarlah aku tinggal di sini terus."
"Alicia, dengarkan aku!" kata Nona Potts dengan suara keras dan terang.
"Dengarkan dan katakan kau setuju tidak. Kalau kau sesungguhnya tidak tuli tapi
hanya in gin mengganggu pelajaran, sungguh tepatlah bila kau kududukkan di
mana aku bisa mengawasimu dengan baik. Kalau kau tuli dan karenanya tak bisa
mendengar di bangku belakang, maka masuk akal bila kau duduk di bangku
paling depan ini agar kau bisa mendengarkan kata-kataku. Nah. bagaimana
pendapatmu?"
Tentu saja mau tak mau Alicia harus setuju. Dengan agak cemberut ia
duduk di bekas tempat duduk Jean. Dan memang di tempat itu ia bisa mendengar
lebih jelas. Dan kemudian sesuatu terjadi, salah satu kupingnya terasa berbunyi
'plong'. disusul oleh telinga satunya. Bagus! Kini kedua telinganya bisa
mendengar dengan baik!
Ia begitu gembira sehingga ia langsung berbisik pada Mary-Lou di bangku
sebelahnya. "Telingaku telah plong! Aku bisa mendengar lagi."
Nona Potts pendengarannya sangat tajam. Ia mendengar bisikan tadi dan
cepat berpaling dari papan tulis. "Sudikah kau mengatakan kembali apa yang baru
kaukatakan pada Mary-Lou?"
"Aku berkata. 'Telingaku telah plong! Aku bisa mendengar lagi'"
"Bagus." kata Nona Potts. "Sudah kukira dari tadi, bahwa begitu kau
pindah tempat duduk, pastilah pendengaranmu beres."
"Tetapi, Nona Potts, aku...,” kata Alicia.
"Cukup,” kata Nona Potts. "Mari kita mulai pelajaran ini tanpa
membuang-buang waktu dengan memperbincangkan telingamu. apakah tuli atau
tidak."
Alicia gusar karena Jean dan dia harus saling tukar isi laci meja di waktu
istirahat nanti. Ia juga gusar karena harus duduk di depan. Sebaliknya Jean sangat
gembira sekali karena perubahan itu
“Aku memang sudah berharap dengan sangat semoga dipindahkan ke
belakang," kata Jean. "Dan harapanku itu terkabul."
"Ini tidak adil." gerutu Alicia. "Aku memang tuli pagi tadi. Dan tiba-tiba
telingaku 'plong'. Nona Potts seharusnya percaya padaku!"
Darrell yang membantu Alicia memindahkan barang-barangnya tertawa
terpingkal. Alicia yang sedang gusar itu jadi makin cemberut karena ditertawakan.
"Oh. Alicia, aku tahu sungguh kelewatan aku menertawakan kesialanmu
ini," kata Darrell. "Tetapi ini betul-betul lucu! Pertama. kau pura- tuli dan berhasil
menipu Mam'zelle. Kemudian kau betul-betul tuli, dan tak ada yang percaya
padamu! Ini seperti dongeng tentang anak gembala yang berteriak 'Sergala!
Serigala!' pada saat tak ada serigala, sehingga orang-orang yang datang padanya
menjadi kesal. Dan ketika ada serigala betulan. kemudian ia berteriak minta
tolong, tak seorang pun yang mau datang, mengkal karena sebelumnya mereka
tertipu."
"Kukira kau sahabatku. tak kusangka kau tega berkhotbah seperti ini
padaku!" kata Alicia kaku.
"Oh, aku tak berkhotbah padamu," kata Darrell. "Begini saja, Alicia. Aku
tahu kau paling benci menulis. Biarlah kubantu kau menuliskan hukumanmu
separuhnya, lima puluh baris. Aku kan suka menulis!"
"Baiklah. terima kasih banyak!" kata Alicia menjadi sedikit gembira.
Begitulah. Mam'zelle Rougier menerima hukuman Alicia malam itu - lima
puluh baris ditulis dengan halus dan indah, lima puluh lagi tak keruan rupanya.
"Sungguh aneh, anak ini menulis indah di satu sisi, dan tulisan buruk di sisi
lainnya. Bagaimana ia bisa melakukannya?" gumam
Mam 'zelle heran. Untunglah rasa heran Mam 'zelle hanya sampai di situ,
tidak diteruskan dengan pemeriksaan yang mendalam.

10. PERSAHABATAN YANG ANEH
UDARA terasa selalu panas. Anak-anak Malory Towers boleh dikata
menghabiskan seagian besar waktu mereka di kolam renang. Mereka berkeluh
kesah bila pasang surut. yang berarti air di kolam renang juga ikut surut dan
mereka tak bisa mandi. Untunglah koram renang itu besar sekali sehingga bisa
dipakai bersama-sama oleh seluruh isi sekolah itu bila perlu.
Darrell paling suka main tenis, kemudian berlari menuruni tebing langsung
terjun ke dalam kesejukan kolam renang. Oh. betapa nikmatnya rasa sejuk itu! Ia
sama sekali tak bisa mengerti, mengapa Gwendoline atau Mary-Lou tak suka
mandi di kolam renang itu. Mereka berdua bersikeras bahwa makin panas udara
makin dingin air terasa.
"Tetapi itulah enaknya berenang," kata Darrell. "Merasakan rasa yang
begitu dingin setelah rasa yang begitu panas Kalau saja kau bisa memberanikan
diri untuk langsung terjun dan tidak masuk ke kolam sedikit demi sedikit. kau
pasti akan menyukainya. Kalian berdua ini sungguh keterlaluan penakutnya."
Baik Mary-Lou maupun Gwendoline tidak suka dikatakan pengecut.
Terutama Mary-Lou. ia sangat tersinggung bila Darrell menganggapnya satu
golongan dengan Gwendoline, apalagi kalau terang-terangan mengatakannya
penakut. Ia berusaha keras untuk membuat Darrell senang dengan semakin giat
melakukan segala hal yang sesungguhnya akan dikerjakan Darrell. Bahkan kini ia
malah ikut-ikut membersihkan lemari kecil milik Darrell di ruang rekreasi. Ini
justru membuat Darrell kesal, sebab Mary-Lou mengubah susunan barang-barang
di lemari itu, sehingga ia tak bisa dengan cepat menemukan barang-barang yang
dikehendakinya.
"Di mana permenku?" sering Darrell harus berseru gusar. "Aku yakin aku
telah maruhnya di depan sini. Dan mana kertas suratku? Sialan! Padhal aku
sedang tergesa-gesa nih!"
Dengan geram dibongkarnya isi lacinya. dilemparkannya ke sana kemari.
Mary-Lou dengan sedih memandang semua itu.
"Oh, padahal tadi sudah kuatur begitu rapi," katanya.
"Tak usah kausentuh barang-barangku!" geram Darrell. "Mengapa tak
kauganggu punya orang lain saja? Selalu milikku saja yang kauganggu. Kau
agaknya tergila-gila untuk merapikan barang dan menyimpannya. Mengapa tak
kaucoba merapikan lemari Alicia? Lemarinya jauh tak keruan daripada punyaku!"
"Aku melakukannya hanya untuk membantumu." gumam Mary-Lou.
Sungguh sedih untuk memuja seseorang dan ternyata orang itu malah merasa
kesal karenanya. Mungkin Darrell memang ingin agar ia merapikan lemari Alicia!
Ya, terpikir hal itu oleh Mary-Lou. Darrell tampaknya sangat menyukai Alicia.
Mungkin sekali Darrell benar-benar ingin agar ia membantu Alicia merapikan
barang-barangnya!
Tetapi sama seperti Darrell. Alicia juga tak mau dicampuri urusan
merapikan meja dan lemarinya. Ia bahkan sangat marah karena Mary-Lou
menjatuhkan potret ibunya. hingga kaca bingkai potret itu pecah berantakan.
"Jangan ganggu aku lagi." bentak Alicia. "Tak tahukah kau bahwa kami
tak ingin anak bayi macam kau berkeliaran terus di sekitar kami? Lihat potret
,ibuku itu! Hancur berantakan karena ulahmu!"
Mary-Lou menangis. Ia selalu ketakutan bila ada orang memarahinya. Ia
keluar dari ruang rekreasi, dan hampir bertubrukan dengan Gwendoline.
"Halo! Menangis lagi? Ada apa kini?" tanya Gwendoline yang selalu
tertarik akan pertengkaran orang lain, walaupun tak pernah berminat untuk
mendamaikan mereka.
"Tak apa-apa. hanya... Alicia dan Darrell selalu bersikap keras padaku.
padahal aku ingin membantu mereka," tangis Mary-Lou. tersedu-sedu terharu
akan dirinya sendiri.
"Oh. tentu saja! Apa yang kau bisa harapkan dari anak seperti Alicia.
Darrell. dan... ya, Betty juga!" kata Gwendoline. begitu gembira bisa mengatangatai
musuh-musuhnya itu. "Mereka sangat angkuh, lidah mereka tajam. Aku tak
mengerti. mengapa kau ingin berteman dengan mereka."
"Aku baru memecahkan potret ibu Alicia." kata Mary-Lou. mengusap
matanya. "Itulah yang jadi gara-gra. "
"Yah. tentu saja. Mary-Lou. Alicia pasti tak akan mau memaafkan kau!"
sahut Gwendoline membakar. "Ia pasti akan membalas dendam. Ia begitu
memuja ibunya. Tak ada seorang anak pun yang boleh memegang Potret itu. Kau
pasti tak akan diampuninya, Mary-Lou!"
Tiba-tiba ia mendapat suatu ilham hebat. Tertegun sesaat Gwendoline
memikirkan pikiran yang tiba-tiba muncul itu. Saat itu juga ia mendapat cara yang
tepat untuk membalas den dam pada Alicia dan Darrell. Ya. bahkan ia bisa
menghantam Mary-Lo yang tolol ini juga! Mary-Lou memandang heran padanya
"Ada apa. Gwendoline?" tanyanya.
"Tak apa. Hanya tiba-tiba saja timbul suatu pikiran padaku,” jawab
Gwendoline. Dan Mary-Lou semakin heran sewaktu anak itu menggandeng
tangannya dengan ramah sekali.
"Jadilah sahabatku,” kata Gwendoline dengan suara sangat merdu. "Aku
takkan memperlakukanmu seperti yang dilakukan oleh Darrell atau Alicia. Aku
toh tak pernah memarahimu. seperti yang dilakukan Alicia. Aku tak akan melotot
padamu seperti Darrell. Mengapa kau tak bersahabat denganku saja? Aku takkan
pernah mengejekmu karena kau mau membantuku, misalnya. Pasti itu!"
Mary-Lou ragu-ragu memandang Gwendoline. Ia tak suka pada anak ini,
tetapi Gwendoline tersenyum begitu inanis padanya. Mau tak mau Mary-Lou
merasa cukup lega masih ada yang mau bermuka man is padanya. Memang
Darrell dan Alicia malah masam mukanya bila ia berusaha membantu mereka.
Tapi tiba-tiba ia teringat bahwa Gwendoline pernah mencoba untuk
membenamkan dirinya.
Dilepaskannya tangannya dari tangan Gwendoline. "Tidak, aku tak bisa
bersahabat denganmu, Gwendoline,” katanya. "Kau begitu jahat padaku. hari itu
di kolam renang. Aku sampai sering bermimpi buruk tentang itu."
Dalam hati Gwendoline begitu marah mengetahui bahwa bahkan si Lemah
Mary-Lou ini menolak untuk bersahabat dengannya. Tetapi dipaksanya untuk
tersenyum terus, dan dipegangnya tangan Mary-Lou lagi.
"Kau tahu, waktu itu aku hanya bercanda,” katanya. "Hanya bergurau. Toh
anak-anak lain juga banyak yang main benam-benaman. Aku menyesal telah
membenamkan kau. Aku tak tahu bahwa kau bisa begitu ketakutan."
Gwendoline bisa berkeras hati bila ia sudah bertekad untuk mencapai
sesuatu. Mary-Lou merasa tak punya alasan untuk menghindarinya. Dan seperti
biasa ia menyerah saja akhirnya.
"Ya...," katanya ragu-ragu, "kalau kau memang tak bermaksud untuk
mencelakakanku waktu itu Gwendoline, baiklah. Aku mau bersahabat denganmu.
Tetapi aku takkan mau kauajak memusuhi Darrell atau Alicia."
Gwendoline meremas lembut tangan Mary-Lou dan tersenyum manis lagi.
Ia pun meninggalkan anak kecil itu kebingungan, sementara ia sendiri merasa
begitu gembira berhasil menemukan suatu siasat yang sangat cemerlang.
"Hebat sekali!" pikirnya. "Semua anak tahu betapa muaknya Darrell pada
Mary-Lou, karena dnak itu selalu mengikutinya. Semua juga pasti akan tahu
bahwa Alicia sangat marah pada Mary-Lou karena Mary-Lou memecahkan potret
ibunya. Jadi, kalau aku mempermainkan Mary-Lou, semua akan mengira bahwa
itu perbuatan Darrell atau Alicia. Dan oh, betapa untung bagiku bahwa kini Alicia
terpaksa harus duduk sebangku dengan Mary-Lou!"
Ia duduk di Taman Dalam untuk menyempurnakan rencananya. Ia
bermaksud membalas dendam pada tiga orang ana yang paling tidak disukainya.
Ia akan membuat Mary-Lou ketakutan setengah mati dengan cara sedemikian rupa
sehingga semua orang akan menyalahkan Darrel dan Alicia! Ia akan membuat
kedua anak itu dimarahi. kemudian dihukum! Baru tahu rasa mereka.
"Dan sementara itu akan kutunjukkan pada semua orang bahwa aku dan
Mary-Lou bersahabat akrab,” pikir Gwendoline. "Dengan begitu tak seorang pun
akan menduga bahwa akulah yang menjebak dia. Wah, sesungguhnya aku ini
berotak cemerlang! Tak akan ada seorang pun di kelas satu yang bisa
merencanakan sesuatu secerdik ini!"
Ia benar. Tak akan ada anak lain sampai memikirkan rencana seperti itu.
Bukan karena mereka tak mampu. tetapi karena mereka tak cukup berhati keji
untuk rencana tersebut!
Gwendoline tak mengerti tentang itu. Ia bahkan tak tahu bahwa yang
direncanakan itu suatu perbuatan keji. Ia hanya tertarik pada satu hal: membalas
dendam pada Darrell!
Diaturnya rencananya hati-hati sekali. Ia akan menunggu sampai Alicia
dan Darrell mendapat giliran piket - membersihkan kelas serta mengisi vas-vas
kembang dengan air. Dengan begitu semua akan tahu bahwa hanya kedua orang
anak tersebutlah yang berada di dalam kelas sebelum anak lain masuk, bahwa
hanya kedua anak itulah punya kesempatan untuk memasukkdn atau mengambil
sesuatu dari atau ke dalam laci seseorang.
Ya, ia akan memasukkan seekor kumbang hitam ke laci Mary-Lou. Atau
beberapa ekor cacing. Atau bahkan seekor tikus kalau ia bisa menangkapnya.
Tetapi tidak. Ia sendiri takut pada tikus. Juga kumbang hitam rasanya terlalu
menjijikkan. Apa lagi cacing. Kalau saja ia bisa menangkap mereka dengan
bantuan sebuah kotak, mungkin ia takkan begitu jijik.
Ya, ia akan menangkap kumbang atau cacing dengan sebuah kotak korek
api. Kemudian memasukkannya ke laci Mary-Lou. Atau ia bisa mengambil pinsilpinsil
kesayangan Mary-Lou dan menaruhnya di laci Alicia. Wah, itu pikiran
cerdik!
Mungkin ia bisa menyembunyikan beberapa buku Mary-Lou di laci
Darrell. Dan ia akan bersikap sangat menghibur serta membeIa Mary-Lou bila
rencananya itu mulai jalan.
Gwendoline pergi ke kebun, mengaduk-aduk tanah untuk melihat serangga
apa yang bisa dipakainya. Jean. yang sangat senang dan ahli berkebun, serta
paling. senang bekerja di kebun sekolah. merasa sangat heran melihat Gwendoline
berada di kebun itu. Dan Gwendoline mengaduk-dduk tanah dengan sekop kecil!
"Hei. apa yang kaulakukan?" Jean bertanya. "Mencari tulang yang
kausembunyikan?"
"Jangan tolol!" geram Gwendoline. marah sekali bahwa ternyata Jean
memergokinya. "Aku hanya berkebun. Masa hanya kau yang boleh berkebun."
"Berkebun apa kau?" Jean biasa selalu mengejar bila bertanya, ingin
mengetahui sampai ke persoalan yang paling kecil dari peristiwa apa pun yang
membangkitkan rasa ingin tahunya.
"Menggali-gali saja,” jawab Gwendoline. "Membuat gembur tanah. Di sini
tanah begitu kering."
Jean mendengus. Ia mempunyai kumpulan berbagai macam dengusan.
Semuanya khusus untuk Gwendoline, Mary-Lou dan Sally. Dengan geram
Gwendoline menggali tanah. Alangkah senangnya kalau ia bisa memperoleh
beberapa ekor cacing untuk dimasukkan ke punggung Jean. Tetapi Jean mungkin
tak akan merasa jijik sedikit pun.
Gwendoline akhirnya tak jadi mencari cacing. Ia memutuskan untuk
mencari labah-labah saja. Tetapi ketika ia menemukan seekor labah-labah di
gudang kayu. hampir saja ia lari tunggang langgang. Labah-labah itu besar sekali
sungguh menakutkan! Tapi tunggu. Bukankah ia memang mencari labah-labah
yang menakutkan? Ini tepat sekali untuk dimasukkan ke dalam laci Mary-Lou.
Pasti labah-labah tersebut bisa berlarian di dalam laci dan membuat Mary-Lou tak
berhenti-hentinya menjerit -jerit.
Entah bagaimana. Gwendoline akhirnya berhasil menangkap labah-labah
itu dengan menangkup kan sebuah pot bunga di atasnya. Gemetar juga ia, dan
dengan susah payah akhirnya dapat memasukkan labah-labah tersebut ke dalam
sebuah kotak karton. Dan dengan rasa bangga ia masuk kembali ke ruang rekreasi.
dengan maksud menyembunyikan kotak berisi labah-labah tadi dalam lemarinya
sampai saat yang tepat.
Malam itu di ruang rekreasi Gwendoline, mengalihkan pembicaraan pada
labah-labah.
"Tanganku terperangkap jaring labah-labah di gudang hari ini,” ia berkata.
"Oh, jijik sekali rasanya. Aku sangat benci pada labah-labah"
"Adikku, si Sam, pernah punya seekor labah-labah jinak,” kata Alicia yang
tak pernah kekurangan cerita tentang apa saja. "Binatang itu tinggal di bawah
pakis di kebun kami. Setiap sore ia keluar bila Ibu menyirami pakis itu. Dan ia
minum dirnya!"
"Oooh! Pasti pingsan aku melihatnya!" kata Mary-Lou gemetar. "Aku tak
pernah tahan melihat labah-labah."
"Dasar anak tolol," kata Alicia yang masih marah karena Mary-Lou
memecahkan potret ibunya. "Takut ini, takut itu... sungguh merana hidupmu,
Mary-Lou. Tunggu saja. kapan-kapan akan kutangkapkan seekor labah-labah dan
kumasukkan ke dalam bajumu!"
Mary-Lou pucat pasi seketika. Memikirkan tentang ancaman Alicia saja
membuat ia begitu ketakutan. "Oh, pasti aku mati ketakutan kalau itu
kaulakukan!" katanya lemas.
"Pengecut!" kata Alicia. "Baiklah. kalau begitu aku pasti akan mencari
labah-labah untukmu."
Gwendoline tak berkata apa-apa. Tetapi dalam hati ia bersorak gembira!
Segalanya berjalan jauh lebih lancar dari rencananya! Alicia telah mengucapkan
sesuatu yang pasti akan diingat oleh semua anak kelas satu yang hadir di situ -
sebuah ancaman untuk memberi Mary-Lou seekor labah-labah! Bagus sekali!
"Aku akan menunggu sampai Senin. saat Alicia dan Darrell piket di
kelas," pikirnya. "Dan akan kumasukkan labah-labah itu ke dalam laci Mary-Lou.
Mereka patut mendapat pelajaran!"
Maka ketika hari Senin tiba, Gwendoline mencari-cari kesempatan yang
baik. Ia dan Mary-Lou selalu bersama-sama, membuat heran semua teman
mereka. Terutama Darrell, Alicia, dan Betty. Bagaimana Mary-Lou bisa
bersahabat dengan Gwendoline yang keji itu? Lupakah ia akan peristiwa di kolam
renang itu? Dan mengapa Gwendoline begitu manis terhadap Mary-Lou?
Sungguh sebuah persahabatan yang aneh.
Gwendoline memperoleh kesempatan yang ditunggunya. Ia diperintahkan
untuk mengambil sesuatu dari ruang rekreasi di asramanya, sepuluh menit
sebelum masa sekolah sore. Ia berlari ke asrama, mengambil barang yang harus
diambilnya, dan juga kotak karton tempat labah-labah itu.
Ia masuk ke kelas yang pada saat itu kosong. Dibukanya kotak karton tadi
di dalam laci Mary-Lou. Dengan langkah cepat labah-labah besar itu berlari ke
luar. langsung bersembunyi di sudut tergelap di dalam laci tersebut.
Gwendoline bergegas keluar. Ia yakin tak seorang pun melihatnya masuk
tadi. Dua menit kemudian Alicia. dan Darrell tiba untuk mengisi vas-vas bunga
dengan air. Ah. agaknya Gwendoline kali ini beruntung!

11. PERISTIWA LABAH-LABAH
PELAJARAN pertama sore itu adalah mencongak. Semuanya berkeluh
kesah memeras otak, kecuali beberapa anak - misalnya Irene, yang bisa menjawab
dengan cepat dan tepat, seolah-olah tanpa berusaha sama sekali. Tetapi itu berarti
tak dda yang membuka laci. sebab semuanya dilakukan secara lisan.
Untung Nona Potts agak lunak pada anak-anak kelas satu, sebab udara saat
itu terasa sangat panas. Darrell cukup bersyukur karena Nona Potts tidak begitu
teliti. Berhitung mencongak bukanlah pelajaran di mana ia cukup kuat.
Pelajaran berikutnya adalah pelajaran bahasa Prancis. Kali ini Mam'zelle
Dupont lagi, dan anak-anak akan diharuskan menjawab pertanyaan-pertanyaan
,Mam'zelle itu. Mam'zelle Dupont menggantikan Nona Potts, dengan wajah agak
muram. Tidak cerah seperti biasanya, sebab ia begitu gemuk hingga tak bisa
menikmati hangatnya udara. Keringat menitik dan bersinar di dahinya saat ia
duduk di meja besar menghadap murid-muridnya di kelas itu.
"Asseyez-vous, "* katanya, dan anak-anak dengan lega duduk kembali.
Mereka merasa bahwa pada saat seperti itu pelajaran yang mereka sukai hanyalah
pelajaran berenang.
Pelajaran bahasa Prancis berlangsung begitu lamban dan tersendat-sendat.
Arus pembicaraan dalam bahasa Prancis sama sekali tidak lancar. Dan anak-anak
yang ditanyai oleh Mam 'zelle begitu lama berpikir, sehingga akhirnya Mam'zelle
sangat marah.
"Ah, sudahlah!" ia berseru. "Agaknya hari ini terlalu panas untuk
bercakap-cakap dengan anak-anak tolol seperti kalian ini. Keluarkan buku tata
bahasa, dan akan kuterangkan beberapa hal yang bisa membantu kalian bercakapcakap,
kalau saja kalian bisa memasukkannya ke dalam kepala kalian yang begitu
bodoh!"
Semua membuka laci untuk mengeluarkan buku tata bahasa. Gwendoline
menunggu dengan berdebar-debar, bagaimana kalau Mary-Lou membuka lacinya.
Tetapi ternyata tak apa-apa.
Mary-Lou tak melihat labah-labah itu, dan labah-labah tersebut juga masih
bersembunyi diam di sudutnya. Mary-Lou menutup kembali lacinya dengan
aman.
Semua membuka buku tata bahasa pada halaman yang ditunjukkan oleh
Mam'zelle. Ternyata Mary-Lou telah mengeluarkan buku tata bahasa Inggris,
bukannya Prancis! Maka ia terpaksa membuka kembali lacinya untuk mengambil
buku yang benar.
"Que {aUes vous, Mary-Lou?" tanya Mam'zelle yang tak suka mendengar
laci dibuka dan ditutup begitu sering. "Apa yang kaulakukan?"
Mary-Lou melemparkan buku tata bahasa Inggrisnya ke dalam lad dan
menarik ke luar buku tata bahsa Prancis. Si labah-labah, yang hampir terlempar
oleh buku Mary-Lou, ketakutan lari dari persembunyiannya. Dan tiba-tiba saja
begitu dekat lengan Mary-Lou! Terkejut Mary-Lou melepaskan tutup laci meja
hingga berdebam keras sambil menjerit dengn sekuat suaranya!
Semua terlompat terkejut. Mam'zelle begitu terkejut, sehingga setumpukan
buku di mejanya terlempar jatuh. Ia melotot pada Mary-Lou.
“lens! Suara apa itu? Mary-Lou sudah gila kah kau?"
Mary-Lou tak bisa berbicara. Teringat olehnya betapa labah-labah besar
itu hampir merambati lengannya! Ia mundur dari kursinya. Matanya terus
membelalak, seolah-olah labah-labah itu bisa meloncat menembus tutup mejanya.
"Mary-Lou! Katakan kau ini kenapa!" bentak mam'zelle. "Harus
kaukatakan padaku!"
“Oh, Mam'zelle... ada... ada labah-labah besar ... Ia bah-Ia bah raksasa...
di dalam laci mejaku! Mary-Lou menjawab tergagap-gagap. Wajahnya pucat pasi.
"Labah-labah?" tanya Mam'zelle. "Hanya labah-labah dan kau melompat?
Kau menjerit? Kau membuat semua terkejut? Mary-Lou, kau harus malu! Aku
marah padamu! Duduk!"
"Oh... aku... aku tak berani...,” Mary-Lou gemetar. "Labah-labah itu bisa
keluar.... Labah labah itu besar sekalil"
Mam'zelle tak bisa memutuskan, apakah ia percaya pada kata-kata Mary-
Lou atau tidak. Kalau mengingat Alicia yang pura-pura tuli itu, lalu ini..
Irene tertawa terkikik. Mam'zelle melotot pada nya. "Baiklah," katanya
kemudian, "kita lihat apakah labah-labah ini ada atau tidak. Dan kuperingatkan
padamu, Mary-Lou, kalau ini hanya tipuan lagi, kau langsung harus menghadap
pada Nona Potts. Aku cuci tangan darimu!"
Mam'zelle mendekati meja Mary-Lou. Dengan penuh gaya dibukanya
tutup laci meja itu Mary-Lou melompat mundur, mencoba melihat ke dalam laci.
Tetapi tak ada seekor labah-labah pun keluar Labah-labah tersebut telah
bersembunyi di sudut yang tergelap. Mam'zelle memeriksa meja itu sesaat dan
berpaling pada Mary-Lou yang malang itu.
"Anak nakal!" ia berkata menghentakkan kaki. "Kau tampaknya saja
pendiam dan baik. Tapi ternyata kaujuga berani menipuku! Aku Mam'zell yang
malang ini! Aku tak mau terima ini!"
"Mam'zelle, percayalah!" pinta Mary-Lou, putus asa. Ia takut sekali
dimarahi guru. "Tadi ada labah-labah di situ. Besar sekali.”
Mam 'zelle memasukkan tangannya ke dalam laci Mary-Lou dan
mengaduk-aduk isinya. "Tak ada labah-labah! Tak ada satu pun! Lihatlah! Apa
labah-labah itu sudah pergi? Ayo, katakanlah!"
Labah-labah itu jadi ketakutan oleh gerakan tangan Mam'zelle. Tiba-tiba ia
lari dari sudut, dan langsung merayapi tangan Mam'zelle!
Sesaat Mam'zelle ternganga. Matanya melotot seolah tak percaya.
Kemudian ia menjeril, jauh lebih keras dari jeritan Mary-Lou tadi. Ia juga sangat
takut pada labah-labah, dan yang lari merayapi tangannya adalah seekor labahlabah
raksasa!
Tawa Irene bagaikan meledak. Ini seakan suatu isyarat bagi anak-anak lain
untuk ikut serta ramai-ramai. Hampir serentak mereka berlompat-lompatan
mengerumuni Mam'zelle.
“Ah, di mana makhluk jahat itu? Anak-anak, cepat cari! Cepat cari!" seru
Mam'zelle.
"Ini.. ini!" seru Alicia yang nakal. Jari-jarinya berlari di punggung
Mam'zelle. Mam'zelle menjerit lagi keras-keras, mengira jari-jari Alicia itu labahlabah.
"Cepat ambil! Cepat ambil, Alicia! cepat!"
"Wah, lari masuk ke punggung Anda, Mam'zelle!" teriak Betty, membuat
Mam'zelle bagaikan gila.
Mam’zelle merasa labah-labah itu berlarian di dalam gaunnya! Mam'zelle
gemetar tak keruan. Alicia menggelitik tengkuknya, dan Mam'zelle meloncat
tinggi. "Oh la la! Oh, la la! Keterlaluan makhluk ini menyiksaku! Mana dia,
Anak-anak? mana dia?"
Ribut tak keruan di kelas itu. Nona Potts yang saat itu sekali lagi sedang
mengajar di kelas dua merasa sangat heran. Apa lagi yang terjadi di kelas yang
menjadi tanggung jawabnya itu? Apakah mereka ditinggalkan Matn'zelle dan
kelas belajar sendiri? Ataukah semuanya telah gila?
"Teruskan dengan peta kalian," katanya pada murid-murid kelas dua yang
saling pandang keheranan. Nona Potts meninggalkan kelas itu dan cepat-cepat
pergi ke kelas satu.
Dibukanya pintu kelas satu. Suara ribut menyambutnya bagaikan suatu
tamparan keras. Lebih ribut dari seluruh sekolah saat beristirahat Mula-mula ia tak
melihat ada guru di situ. Kemudian terlihat olehnya kepala Mam 'zelle di antara
kerumunan anak-anak. Apa yang terjadi?
"Anak-anak!" katanya. Tapi tak seorang pun mendengar suaranya.
"ANAK-ANAK!"
Irene tiba-tiba melihatnya. Ia cepat menggamit kawan-kawannya dan
berbisik, "Ssst! Ada Potty!"
Anak-anak itu langsung bubar meninggalkan Mam'zelle. Sekejap saja
semua sudah kembali ke tempat duduk masing-masing. Mam'zelle berdiri sendiri,
diam, gemetar, heran karena tiba-tiba semua anak meninggalkannya. Di mana
labah-labah raksasa itu?
"Mam'zelle!" kata Nona Potts ketus, hampir saja lupa pada peraturan
bahwa guru-guru tak boleh saling memberi teguran peringatan di depan anakanak.
"Aku sama sekali tak mengerti, Apa yang terjadi di kelas ini setiap Anda
mengajar.”
Mam'zelle mengerdip-ngerdipkan matanya tertegun. "Oh, anu, ada labahlabah!"
katanya akhirnya. "Besar sekali. Raksasa. Lari di lenganku, dan hilang.
Ahhhh... rasanya masuk ke dalam bajuku!"
"Labah-labah tak akan menyakiti Anda," kata Nona Potts. "Apakah Anda
ingin keluar sebentar untuk menenangkan diri, Mam'zelle, sementara aku menegur
kelas satu ini?"
"Ah, tidak, tidak usah," kata Mam 'zelle. "Kelas ini baik. Anak-anak
membantuku untuk mengusir labah-labah itu. Begitu besar, Nona Potts!"
Nona Potts memandang tak percaya pada lengan Mam'zelle yang diangkat
untuk menggambarkan betapa besarnya labah-labah itu. Kalau melihat tangan
Mam'zelle tersebut, pastilah labah-labah itu sebesar dua buah tinju orang dewasa
dijadikan satu.
Anak-anak begitu gembira mendapat selingan ini. Hebat sekali pelajaran
bahasa Prancis kali ini. Gwendoline juga merasa gembira karena dialah yang
menjadi penyebabnya, walaupun tak ada yang mengetahui hal itu. Ia pura-pura
bersikap tenang, memperhatikan kedua guru itu.
Dan tiba-tiba ia merasa ada sesuatu yang merambati kakinya. Ia melihat ke
bawah. Labah-labah itu! Ternyata binatang tersebut telah meninggalkan tubuh
Mam'zelle dan bersembunyi di bawah meja, takut terinjak kaki yang begitu
banyak. Kini, saat keadaan mulai tenang, labah-labah tersebut meninggalkan
tempat itu untuk mencari tempat sembunyi yang lebih baik. Ia berlari, merayapi
sepatu Gwendoline, merambat ke atas lewat kaus kakinya, dan merayapi lututnya!
Tak tertahan lagi Gwendoline menjerit melengking keras sekali. Semua
terperanjat, dan Nona Potts dengan marah berpaling padanya.
"Gwendoline, keluar kau!" katanya gusar. "Berani betul kau menjerit
seperti itu! Tidak! Jangan katakan padaku bahwa kau juga melihat seekor labahlabah!
Aku bosan mendengar labah-labah saja yang jadi alasan. Kalian sungguh
memalukan!"
Gwendoline gemetar, tak berani menjerit. Tetapi ia merasa sangat
ketakutan, kalau-kalau labah-labah itu merayapi tubuhnya!
"Labah-labah itu... labah-labah itu...," suaranya begitu lemah.
"GWENDOLlNE!'" bentak Nona Potts. "Kau-dengar kataku? Aku tak
ingin mendengar kata labah-labah lagi! Ayo, keluar! Seluruh isi kelas ini akan
menerima hukuman tidur satu jam lebih awal. Dan Gwendoline, khusus untukmu:
dua-jam lebih awal!"
Sambil menangis Gwendoline lari ke luar. Ternyata labah-labah itu
sungguh menjengkelkan. Mengapa ia tidak memilih anak lain saja! Dengan
gemetar Gwendoline memeriksa seluruh badannya. kalau-kalau labah-labah itu
masih ikut dengannya. Ia sungguh bersyukur ketika dilihatnya labah-labah itu
melarikan diri ke lantai, meninggalkannya.
Gwendoline bersandar di tembok di luar kelasnya. Sialan! Kini ia malah
mendapat hukuman ganda! Tapi tak apa, nanti ia akan mengalihkan persoalan
sehingga semua anak dan guru akan menyalahkan Darrell dan Alicia, menuduh
merekalah yang memasukkan labah-labah itu ke laci Mary-Lou. Keterlaluan Nona
Potts itu, seenaknya memberikan hukuman. Toh ia tak bisa melarang labah-labah
itu mendekatinya!
Tetapi bisa juga suatu hal yang menguntungkan bahwa Nona Potts ikut
campur. Beliau dengan begitu tahu apa yang terjadi. Mungkin nanti Gwendoline
bisa memberi kesan bahwa yang berbuat nakal adalah Alicia dan Darrell!
Nona Potts keluar dari ruang kelas, melirik tajam pada Gwendoline.
"Nona Potts, labah-labah itu lari ke arah sana." Gwendoline menuding,
bersikap manis sekali agar Nona Potts mau memaafkannya.
Tetapi Nona Potts tak memperhatikannya. Ia bergegas memasuki kelas dua
dan menutup pintunya. Gwendoline kebingungan Apa yang akan dilakukannya
kini? Berdiri saja di sini atau menyelinap masuk ke dalam kelas? Kalau berdiri
terus di sini, bisa-bisa ia terpergok oleh Nona Grayling yang pasti akan
memarahinya lagi. Lebih baik nekat saja masuk. Dibukanya pintu dan ia
menyelinap masuk.
"Ha! Kau kembali lagi!" kata Mam 'zelle, kini malu akan apa yang
dilakukannya tadi. "Siapa yang menyuruhmu masuk?" ia membentak lagi untuk
menyalurkan perasaan mengkalnya. "Kau menjerit dan membuat Nona Potts
sangat marah!"
"Tapi, Mam'zelle, Anda pun menjerit tadi," kata Gwendline dengan
perasaan tersinggung. "Bahkan jeritan Anda jauh lebih keras dari jeritanku!"
Mam'zelle berdiri. Dan walaupun tubuhnya kecil, bila sedang marah
tubuhnya serasa raksasa yang akan menelan Gwendoline.
"Kau berani kurang ajar padaku, Mam'zelle Dupont! Kau berani
menentang kata-kataku, ya? Aku yang sudah lebih dari dua puluh tahun mengajar
di sini! Kau... kau....”
Gwendoline berpaling dan lari ke luar. Lebih baik berdiri di depan ruang
kelas sepanjang hari daripada menghadapi Mam'zelle pada saat kemarahannya
seperti itu!

12. KATA-KATA TAJAM
SEBELUM hari itu lewat, peristiwa labah-labah sudah didengar oleh
seluruh isi sekolah itu, dan selalu membuat semua pendengarnya tertawa
terpingkal-pingkal. Ketika Mam'zelle Rougier mendengarnya, ia mencibirkan
bibirnya dan berkata dengan nada mengejek, "Keterlaluan! Masa seorang wanita
Prancis begitu tolol! Kalau aku, aku takkan takut pada binatang apa pun! Labahlabah,
serangga, bahkan ular! Mestinya Mam 'zelle Dupont harus malu telah
bertingkah seperti itu!"
Anak-anak kelas satu tak bosan-bosannya membicarakan peristiwa itu.
Tiap kali mereka tertawa tergelak-gelak lagi bila mengingat betapa Mary-Lou,
Gwendoline, dan Mam'zelle Dupont menjadi korban labah-labah tersebut.
"Sungguh pandai labah-labah itu," kata Irene. "Ia bisa memilih tiga orang
yang sangat takut padanya di dalam kelas. Betul-betul luar biasa!"
"Aku tak tahu mengapa binatang itu memilih mejaku," kata Mary-Lou.
"Ya, alangkah anehnya," kata Gwendoline.
"Kasihan kau, Mary-Lou. Pastilah kau sangat terkejut saat pertama kau
melihatnya. Entah siapa yang begitu keji menaruhnya di lacimu."
Seketika semua diam. Untuk pertama kalinya anak-anak kelas satu itu
sadar bahwa labah-labah tadi tak bisa begitu saja masuk ke laci Mary-Lou.
Mungkin ada yang memasukkannya. Mereka saling pandang.
"Sungguh keji orang yang menaruhnya di laci Mary-Lou,” kata Jean.
"Semua kan tahu bahwa ia sangat penakut. Bisa pingsan ia kalau terkejut lagi
seperti tadi itu. Kukira semua anak di kelas kita cukup tahu diri, dan kalaupun ada
yang ingin bermain takut-takutan dengan labah-labah, mestinya masukkan saja ke
laci Alicia."
"Kecuali kalau yang bawa labah-labah itu Alicia sendiri,” sebuah suara
licik terdengar. "Kau kan suka mengganggu orang, Alicia? Kau dan Darrell
berada di dalam kelas sebelum pelajaran sore dimulai. Dan kukira semua ingat
kau pernah berkata ingin memasukkan seekor labah-labah ke dalam gaun Mary-
Lou."
Yang berbicara itu adalah Gwendoline. Alicia melirik tajam padanya.
"Pokoknya bukan aku yang melakukannya," katanya. "Dan Darrell juga tidak.
Maaf untuk mengecewakanmu, Gwendoline sayang, tetapi kami tidak tahumenahu
tentang labah-labah tersebut. Kalau ada orang sekeji itu, maka aku yakin
orang itu adalah kau!"
"Mary-Lou adalah sahabatku," bantah Gwendoline. "Tak mungkin aku
melakukan hal itu.”
"Wah, kalau sekali kau mampu membenamkan dirinya, kukira tak sulit
bagimu untuk menaruh labah-labah di lacinya,” kata Darrell.
"Sungguh aneh bahwa hanya kau dan Alicia yang berada di dalam kelas
sebelum pelajaran sore," Gwendoline mengejar terus, merasa gusar karena
ternyata tak seorang pun mendukung gagasannya.
"Sudahlah!" tukas Katherine. "Kita semua tahu bahwa yang melakukan hal
itu bukannya Alicia ataupun Darrell, sebab mereka mengatakan hal itu dan katakata
mereka bisa dipercaya. Kita anggap saja labah-labah itu secara kebetulan
memasuki laci Mary-Lou."
"Tapi kupikir..." Gwendoline akan mulai lagi, tetapi anak-anak sekelas
langsung memutuskan pembicaraannya dengan berseru-seru berlagu,
"Diam Gwendoline, Gwendoline diam! Diam Gwendoline, Gwendoline
diam! Diam Gwendoline, Gwendoline diam.”
Terpaksa Gwendoline diam. Gwendoline sangat marah dalam hati.
Rencananya berjalan begitu baik, tetapi ternyata dialah yang mendapat hukuman!
Dikeluarkan dari kelas, dimarahi, dan tak ada yang berhasil diyakinkannya bahwa
Alicia dan Darrell-Iah yang bertanggung jawab! Ia juga dihukum dua jam lebih
awal harus tidur! Yang lain memang dihukum tidur satu jam lebih awal, tetapi
mereka melakukannya tanpa perasaan mengkal. Mereka bahkan sepakat, hukuman
tersebut cukup sesuai dengan kegembiraan yang telah mereka rasakan.
Gwendoline begitu mendendam oleh kegagalannya. Ia memutuskan untuk
tidak putus asa oleh kegagalan pertama ini. Ia akan terus mengganggu Mary-Lou
secara diam-diam, hingga akhirnya yang lain yakin Alicia dan Darrell-lah yang
berbuat.
Ia juga bermaksud untuk memberi kesan pada Nona Potts, bahwa Alicia
dan Darrell menjadi biang keladi peristiwa labah-labah itu. Tetapi ternyata
rencananya yang terakhir itu tak memberi hasil sesuai dengan harapannya.
Kesempatan melakukan rencananya tadi diperolehnya saat ia harus menghadap
Nona Potts untuk menunjukkan pembetulan pekerjaan rumahnya, di kamar yang
ditempati Nona Potts bersama Mam'zelle Dupont Sambil menunggu Nona Potts
memeriksa pekerjaannya, Gwendoline berkata, "Nona Potts, aku sangat menyesal
akan peristiwa labah-labah waktu itu. Aku tak tahu siapa yang berbuat. Tetapi hari
itu adalah hari piket Alicia dan Darrell. Mereka berada di dalam ruang kelas
sebelum pelajaran sore. Mungkin mereka tahu esuatu. Dan Alicia perna
berkata....”
Nona Potts mengangkat muka. "Apakah kau bermaksud memfitnah?"
tanyanya dingin. "Atau dengan kata yang lebih halus - menggunjingkan
seseorang? Jangan coba-coba padaku. Di sekolahku dulu, Gwendoline, ada
hukuman khusus bagi dnak yang suka memfitnah. Semua anak yang satu asrama
dengan anak itu diharuskan memukulnya sekali pada pantatnya, dengan
menggunakan bagian belakang sikat rambut. Entah apa hukuman untuk kesalahan
serupa itu di sini. Aku akan menanyakannya pada anak-anak di sini.”
Merah padam muka Gwendoline. Memfitnah! Keterlaluan Nona Potts
menjulukinya. Masa memberi suatu petunjuk kecil saja memfitnah! Gwendoline
tak tahu harus berbuat apa. Mau rasanya ia menangis, tetapi Nona Potts selalu
sangat galak terhadap seorang anak yang terlalu cengeng. Ia meninggalkan kamar
Nona Potts dengan keinginan untuk membanting pintu keras-keras seperti biasa
dilakukannya di rumah.
Tentu saja ia tak berani melakukannya di sini. Ia merasa iba pada dirinya
sendiri. Kalau saja ibunya tahu betapa sekolah ini begitu kejam padanya, pasti
beliau segera mengambilnya kembali. Nona Winters pasti juga sangat gusar atas
perlakuan anak-anak pada murid kesayangannya itu. Tetapi Gwendoline tak
begitu yakin tentang ayahnya. Kadang-kadang ayahnya mengucapkan kata-kata
seperti yang sering diucapkan Nona Pot padanya.
Minggu itu pun berlalu. Minggu yang cukup menyenangkan. Udara panas,
namun sering bertiup angin sejuk yang membuat berolahraga, terutama berenang,
lebih menyenangkan dan biasanya. Alicia dan Betty berlatih keras untuk
pertandingan-pertandingan sekolah nanti. Kedua nya merupakan perenang pilihan
serta peloncat indah unggulan. Darrell selalu mencoba mengejar keduanya. Hasil
yang dicapainya cukup lumayan, tetapi belum sebaik hasil Alicia dan Betty.
Kelebihan Darrell adalah keberaniannya. Ia berani terjun dari menara loncat
tertinggi, berani meluncur dengan gaya yang aneh-aneh.
Yang pling sedih minggu itu adalah Mary-Lou. Berkali-kali ia mendapat
kesulitan karena beberapa peristiwa kecil. Misalnya, baju-bajunya di kamar ganti
telah dibuang oleh seseorang ke air sehingga basah semua. Ia terpaksa
membawanya ke Ibu Asrama untuk dikeringkan.
Ibu Asrama sangat marah. "Mary-Lou! Tak dapatkah kau
menggantungkan pakaianmu dengan baik? Kau tahu, di kamar ganti selalu saja
ada air tergenang karena anak-anak yang baru berenang selalu basah kuyup."
"Aku telah menggantungnya dengan baik, Ibu," kata Mary-Lou lemah.
"Aku yakin itu."
Kemudian raket tenis Mary-Lou ternyata kedapatan putus senarnya, tiga
helai. Jelas putus karena dipotong oleh seseorang. Mary-Lou kesal sekali.
"Raket baruku!" katanya. "Lihat, Gwendoline, masa raket baru begitu
mudah putus senarnya!"
"Tak mungkin," kata Gwendoline, pura-pura mengamat-amati raket
tersebut. "Senar ini telah dipotong oleh seseorang, Mary-Lou. Seseorang telah
mempermainkanmu dengan keterlaluan!"
Mary-Lou bingung. Ia tak percaya dirinya punya musuh. Tetapi ketika
didapatinya pakaiannya yang terbaik hilang beberapa kancingnya, ia terpaksa
yakin bahwa seseorang memang telah berlaku kejam padanya. Gwendoline
menghiburnya.
"Tak apa, Mary-Lou, akan kujahitkan untukmu. Aku tak suka menjahit,
tetapi untukmu tak apalah!"
Dan dengan berusaha agar semua anak melihat, suatu malam Gwendoline
menjahitkan keenam kancing pakaian Mary-Lou itu. Anak-anak melihatnya
dengan heran. Mereka tahu Gwendoline tak pernah dengan suka rela menjahit
sesuatu.
"Bagaimana kancing-kancing itu bisa copot?" tanya Jean.
"Itulah yang ingin kuketahui," kata Gwendoline penuh arti. "Enam buah,
dan semuanya copot! Aku menjahitkannya untuk Mary-Lou sebab aku merasa
kasihan padanya. Sungguh keji anak yang mengganggunya seperti ini. Aku juga
ingin tahu, siapa yang telah memutuskan senar raketnya."
Anak-anak saling pandang. Memang aneh hal-hal yang terjadi pada Mary-
Lou. Bahkan buku doanya hilang. Begitu juga beberapa batang pensilnya.
Memang betul pensil-pensil itu diketemukannya kembali di laci Alicia, tetapi
semua mengira hal itu hanyalah suatu kebetulan. Kini anak-anak mulai berpikir
bahwa memang ada seseorang yang mempermainkan Mary-Lou. Pasti bukan
Alicia. Alicia tidak akan sekeji itu. Pasti ada orang lain.
Tengah semester makin dekat Banyak anak yang menantikan saat itu
dengan penuh harapan. Menurut rencana, orang-orang tua mereka akan datang
berkunjung. Memang orang-orang tua yang tinggal tak terlalu jauh dari sekolah
biasanya datang pada tengah semester. Tetapi Darreil luar biasa gembiranya
mengetahui bahwa bahkan ayah-ibunya akan datang, walaupun mereka tanggal di
tempat yang sangat jauh. Keduanya memastikan untuk berlibur di Cornwall, agar
berada dekat dengan Malory Towers pada saat tengah semester.
Anak-anak mulai sering membicarakan keluarga mereka. "Wah, alangkah
senangnya kalau ketiga kakakku bisa datang," kata Alicia. "Mereka sungguh
menyenangkan!"
"Aku ingin adik perempuanku datang kemari, akan kupamerkan padanya
Malory Towers ini," kata Jean.
"Apakah ibumu akan datang, Sally?" tanya Mary-Lou.
"Tidak, ia tinggal terlalu jauh dari sekolah ini,” kata Sally.
Darrell teringat sesuatu yang disebutkan ibunya di surat kira-kira
seminggu yang lalu. Ibunya telah bertemu dengan ibu Sally Hope, Nyonya Hope.
Menurut surat itu, ibu Darrell menyukai Nyonya Hope. Ia bahkn telah melihat
bayi Nyonya Hope, adik Sally, yang baru berumur tiga bulan. Tadinya Darrell
ingin mengatakan berita ini pada Sally tetapi lupa. Kini ia ingat.
"Oh, Sally, mungkin ibumu tak bisa datang karena harus mengurus
bayinya," katanya.
Sally seketika tampak tegang. Ia memperhatikan Darrell, seolah-olah tak
mengerti apa yang dikatakannya. Wajahnya jadi pucat, suaranya gemetar, "Apa
katamu? Bayi apa? Kami tak punya bayi! Ibuku tidak dapat datang karena
rumahnya terlalu jauh!"
Darrell heran. "Tetapi Sally... ibuku berkata dalam suratnya bahwa ia telah
melihat adikmu yang masih bayi! Tiga bulan!"
"Aku tak punya adik!" desis Sally dengan suara aneh. "Aku anak tunggal.
Aku dan ibuku begitu saling menyayang, dan sering kami tinggal berdua di
rumah, sebab Ayah sering harus pergi untuk beberapa lama. Aku tak punya adik!"
Anak-anak memperhatikan Sally dengan rasa heran. Sungguh aneh katakatanya.
Kenapa anak ini?
"Baiklah," kata Darrell akhirnya, "tentu saja kau lebih tahu. Lagi pula, kau
pasti menyayangi adikmu kalau kau memang punya adik. Jadi kau tak usah begitu
ngotot membantahnya kalau sesungguhnya kau punya adik. Senang lho punya
adik!"
"Aku tak mau punya adik!" kata Sally. "Aku tak ingin ibu membagi kasih
sayangnya pada anak lain."
Sally cepat keluar dari ruangan itu, dengan wajah tetap kaku. Anak-anak
saling pandang dengan heran. "Aneh sekali dia," kata Irene. "Biasanya tak pernah
berbicara sepatah kata pun! Selalu tertutup. Tetapi orang-orang yang tertutup
seperti itu sering kali tiba-tiba meledak. Dan kalau itu terjadi - hati-hatilah!"
"Aku akan menulis surat pada Ibu bahwa beliau telah keliru tentang adik
Sally itu," kata Darrell. Dan saat itu juga ia melakukannya. Ketika kemudian ia
bertemu Sally, ia mengatakan hal tersebut pada Sally.
"Maaf tentang kekeliruanku mengatakan kau punya adik,” kata Darrell.
"Aku telah menulis surat pada Ibu bahwa kau sesungguhnya tak punya adik.
Mungkin ia keliru menerima kata-kata ibumu."
Sally terpaku dan tampak marah. "Kenapa sih kau selalu ikut campur
urusan orang lain?" katanya ketus. "Jangan urus keluargaku!"
Darrell jadi gusar juga. "Aku tak mau ikut campur urusan keluarga orang,
tapi jangan terlalu kasar berbicara, Sally! Apa sih yang kau ributkan? Kau punya
adik atau tidak sesungguhnya aku tak peduli!"
"Dan katakan pada ibumu tak usah dia ikut campur urusan keluargaku!"
kata Sally pula. "Untuk apa menulis surat tentang ibuku segala?"
"Oh, sialan!" Darrell jadi marah, ibunya diikut sertakan dalam kegusaran
Sally. "Rahasia apa sih yang disembunyikan keluargamu? Sudahlah. Kita tunggu
saja balasan suratku nanti, dan akan kukatakan padamu apa yang ditulis ibuku."
"Aku tak ingin mengetahuinya! Aku tak mau!" kata Sally hampir
berteriak. "Aku benci padamu, Darrell Rivers! Kau dan ibumu yang membuatmu
congkak karena dia mengantarkanmu ke stasiun, mengirimkan berbagai benda,
mengirimkan surat panjang-panjang, dan akan menjengukmu di tengah semester...
aku benci padamu! Kau memamerkan itu semua untuk menyakiti hatiku! Kau
sungguh keji! Sungguh kejam!"
Darrell terperangah. Apa maksud Sally? Dengan heran diperhatikannya
Sally yang dengan gusar sekali meninggalkan ruang kelas. Kebingungan Darrell
duduk di sebuah kursi.

13. TENGAH SEMESTER
MURID-MURID Malory Towers begitu gembira di awal minggu tengah
semester. Di hari Sabtunya banyak yang akan bertemu dengan orang tua mereka -
dan Nona Remmington, guru olahraga, muncul dengan gagasan mengadakan
beberapa perlombaan di air. Untuk dipamerkan pada orang tua murid. Dan
memang setiap orang yang berkunjung ke Malory Towers biasanya kagum akan
kolam renang mereka.
"Kukira tambahan acara itu sangat tepat," kata Nona Remmington. "Udara
begini panas, dan di sekitar kolam bertiup angin sejuk. Para tamu tidak saja akan
melihat keindahan kolam renang kita, tetapi mereka juga akan bisa menyaksikan
ketangkasan putri-putri mereka berenang atau loncat indah. Setelah pertandingan,
semua akan dijamu dengan strawberry dan teh krim, dengan es.”
Hebat sekali! Darrell tak sabar menanti saat itu tiba. Ia kini sudah pandai
dalam berenang dan loncat indah. Ia yakin ayah-ibunya akan bangga padanya.
Dan setelah itu, es krim! Alangkah nikmatnya!
Tetapi ia tertegun kecewa di hari Rabu, saat urutan tingkatan angka rapor
dibacakan. Tadinya ia menduga ia akan menempati urutan ketiga atau keempat
Tetapi ternyata ia berada pada urutan kesepuluh dari bawah! Ia hampir tak
percaya akan telinganya. Di puncak urutan, Katherine. Alicia pada urutan kelima.
Betty keempat belas. Gwendoline paling bawah. Mary-Lou enam tingkat di atas
Gwendoline. Tak begitu jauh di bawah Darrell!
Darrell tak berani bergerak sedikit pun karena kecewanya. Kelas satu
terdiri dari sekitar tiga puluh anak. Jadi sedikitnya ada dua puluh anak yang
nilainya jauh lebih baik darinya! Pastilah ada kekeliruan!
Sehabis jam pelajaran, ia menemui Nona Potts untuk menanyakan hal itu.
"Nona Potts," katanya agak takut, sebab Nona Potts tampak sedang sibuk
memeriksa pekerjaan murid-muridnya. "Nona Potts, maaf aku mengganggu.
Bolehkah aku menanyakan sesuatu?"
"Ada apa?" tanya Nona Potts sementara pensil birunya menelusuri sebaris
kata-kata di kertas yang diperiksanya.
"Tentang urutan di kelas," kata Darrell. "Apakah aku memang begitu
rendah?"
"Tunggu, kau di tingkat berapa? Ya, begitu rendah" kata Nona Potts
memeriksa daftarnya.
"Benar. Aku juga heran. Dan kecewa. Dua minggu pertama nilaimu begitu
bagus."
"Tetapi, Nona Potts..." Darrell akan berkata lagi, tetapi tertegun tak tahu
bagaimana ia harus bertanya. Ia ingin berkata bahwa ia merasa lebih pandai
daripada hampir separuh teman-temannya sekelas. Lalu mengapa ia begitu
rendah? Tapi rasanya kalau ia bertanya begitu, kedengarannya ia sombong.
Tetapi ternyata Nona Potts yang tanggap itu agaknya mengerti apa yang
dipikirkannya. "Kau ingin bertanya mengapa kau begitu dekat dengan kedudukan
terbawah, padahal kau merasa bisa berada di antara mereka yang berada di
tingkat-tingkat teratas?" tanyanya. "Begini, Darrell. Ada orang yang seperti
Alicia. Dia nakal, suka mengganggu anak lain, suka menghabiskan waktunya
dengan bercanda, tetapi masih tetap bisa bekerja dengan baik dan dengan hasil
cukup baik. Dan ada pula orang yang seperti kau, yang juga suka bergurau,
bermain, membuang-buang waktu - tetapi tak bisa menjaga hasil kerjanya. Hasil
kerjamu terpengaruh karena kurang belajar dan kau melorot ke bawah. Kau
mengerti?"
Pipi Darrell merah padam. Malu sekali dia, dan mau rasanya terbenam di
lantai. Ia mengangguk.
"Ya, terima kasih," katanya lemah. Dipandangnya Nona Potts dengan
matanya yang cokelat bening. "Kalau aku tahu bahwa perbuatanku itu akan
mempengaruhi pekerjaanku hingga aku begitu rendah, tentulah aku takkan
melakukannya," katanya. "Kupikir... kupikir aku cukup cerdas dan daya ingatku
cukup kuat hingga aku merasa bermain-main sedikit takkan apa-apa. Ayah dan
Ibu pastilah sangat kecewa nanti."
"Tentu," kata Nona Potts, mengambil pensil birunya lagi. "Kalau aku
engkau, maka aku takkan terlalu meniru tingkah laku Alicia dan Betty. Kau akan
lebih berhasil kalau kau tidak meniru siapa-siapa. Sebab sifatmu adalah
melakukan apa saja yang ingin kaulakukan dengan sepenuh hati Kau tak bisa
membagi perhatianmu. Kalau kau sedang senang bercanda, maka bercanda saja
yang kaupikirkan, tak bisa memikirkan pekerjaan mu. Karena itu pekerjaanmu
jadi menurun. Alici lain. Alicia bisa melakukan satu, dua, atau tiga hal sekaligus,
dalam waktu yang bersamaan dan dengan hasil yang baik semuanya. Itu memang
suatu kelebihan. Tetapi orang-orang terbaik di dunia ini kebanyakan adalah orangorang
yang biasa melakukan sesuatu dengan sepenuh hatinya, tanpa pikiran yang
bercabang. Mereka menjadi sangat berhasil bila dapat memilih satu saja hal yang
paling tepat untuk mereka."
"Yah, kukira begitulah," gumam Darrell. "Seperti ayahku. Ia selalu tekun
akan suatu hal. Ia seorang ahli bedah. Dan ia hanya punya satu tujuan
mengembalikan kesepatan dan kebahagiaan orang yang dirawatnya. Dan ternyata
ia kini termasuk salah seorang ahli bedah yang terbaik!"
"Tepat!" kata Nona Potts. "Itu takkan terjadi kalau ia membagi dirinya -
misalnya berusaha untuk menjadi baik dalam dua belas hal sekaligus. Ia mungkin
takkan bisa menjadi ahli bedah yang begitu cemerlang. Seperti beliau, lebih baik
kau memilih salah satu hal saja yang kausukai - apakah itu menjadi dokter, guru,
penulis, pelukis, atau apa saja, kemudian kau tekuni bidang yang kaupilih itu.
Dengan cara itu kau akan lebih berhasil. Beda dengan orang-orang yang
katakanlah bisa dianggap kelas dua atau tiga. Orang-orang macam itu bisa
berhasil baik dalam beberapa hal sekaligus, tetapi tidak akan menonjol sama
sekali. Orang yang punya bakat untuk menjadi orang kelas satu haruslah memilih
salah satu saja suatu pekerjaan yang diutamakan, mempelajarinya dengan tekun
dan sepenuh hati, dan dengan begitu ia akan menonjol dan cemerlang."
Darrell tak berani bertanya, apakah ia termasuk mereka yang berbakat
untuk menjadi orang kelas satu. Dalam hati ia hanya bisa berharap, dan dengan
murung ia meninggalkan ruang kerja Nona Potts. Sayang sekali dahulu ia tak
mencurahkan seluruh perhatiannya pada pelajarannya. Sayang sekali ia malahan
begitu tekun untuk bersenang-senang saja bersama Alicia dan Betty. Ia merasa
mampu untuk berada di antara yang teratas, dan bukannya meluncur ke bawah
seperti saat ini.
Gwendoline menurut rencana akan dikunjungi oleh ibunya dan guru
pribadinya, Nona Winters. Ia begitu menantikan kedatangan kedua orang tersebut,
ingin memamerkan apa saja yang ada di sekolahnya serta apa saja yang
dicapainya - walaupun sebagian besar hanyalah khayalannya sendiri. Ia pasti akan
bisa menunjukkan pada Nona Winters, bahwa mungkin ia telah jauh lebih pintar
daripada guru pribadinya itu.
Ayah-ibu Mary-Lou tak bisa datang. Ia begitu kecewa. Gwendoline
menghiburnya dengan berkata, "Tak apalah, Mary-Lou. Kau boleh ikut dengan
aku, ibuku, dan Nona Winters. Aku takkan membuatmu kesepian di hari besar
ini."
Sesungguhnya Mary-Lou tak ingin berdua saja dengan Gwendoline. Ia
bosan selalu dibelai-belai oleh anak itu, bosan selalu harus mendengar berbagai
kisah tentang keluarga Gwendoline di mana Gwendoline selalu tampil begitu
cemerlang, selalu melakukan berbagai perbuatan yang luar biasa.
Tetapi Gwendoline sangat menyukai seorang pendengar yang begitu
pendiam, walaupun dalam hati ia memandang rendah pada Mary-Lou yang lemah
itu.
Ketika Darrell mendengar bahwa ayah-ibu Mary-Lou tak bisa datang, ia
segera menemuinya.
"Maukah kau bersama aku dan ayah-ibuku selama sehari itu?" tanyanya.
"Mereka akan membawaku makan siang di luar. Pasti sangat menyenangkan!"
Hati Mary-Lou melonjak. Dipandangnya Darrell dengan pandang penuh
terima kasih. Bayangkan - diajak oleh Darrell untuk bersama dalam hari libur
tengah semester! Apa lagi yang lebih hebat dari itu? Akhir-akhir ini Darrell begitu
sering gusar padanya, tetapi agaknya kini ia ingin mengubah kelakuannya itu dan
berbaik padanya.
Tetapi kemudian Mary-Lou teringat akan undangan Gwe!ldoline untuk
bersamanya di hari tersebut. Rasa gembiranya lenyap. "Oh, tetapi Gwendoline
telah memintaku untuk menemaninya," katanya. "Dan aku telah menyatakan
setuju."
"Kalau begitu bilang padanya bahwa aku memintamu menemaniku, dan
ayah serta ibuku sangat ingin bertemu denganmu," kata Darrell. "Kukira, ia tak
akan keberatan melepaskanmu."
"Entahlah... aku tak berani mengatakan hal itu pada Gwendoline," kata
Mary-Lou. "Mungkin ia malah marah. Kau tahu, ia tak suka padamu."
"Jadi itu berarti kau lebih suka pergi dengan Gwendoline daripada
denganku," kata Darrell tajam. Ia selalu gusar bila Mary-Lou menunjukkan air
muka ketakutan seperti itu. "Kalau begitu, ya sudah. "
“Darrell! Jangan begitu! Sesungguhnya aku... aku... aku lebih suka pergi
denganmu!" Mary-Lou hampir menangis.
"Kalau memang begitu, berterus teranglah pada Gwendoline," kata
Darrell. "Kau harus berani menentukan apa yang kausukai apa yang tidak. Betulbetul
pengecut kau."
"Aku mengerti, tapi jangan selalu berkata begitu padaku." Mary-Lou
kebingungan. "Kalau kau selalu menggusariku, aku akan jadi semakin takut.
Tolong kaulah yang mengatakan pada Gwendoline, Darrell."
"Enaknya!" dengus Darrell "Aku tak mau melakukan apa yang kau sendiri
tak mau melakukannya. Lagi pula, kupikir-pikir takkan menyenangkan bagiku
untuk berdua bersama seorang penakut seperti kau di hari gembira itu."
Dengan gemas ia meninggalkan Mary-Lou. Jean yang kebetulan
mendengarkan percakapannya tadi merasa kasihan pada Mary-Lou dan ia segera
menyusul Darrell.
"Darrell, kukira kau terlalu keras padanya," katanya dengan suara Skotsnya
yang begitu nyata.
"Tapi itu untuk kebaikannya," kata Darrell. "Kalau ia bisa kupaksa agar
menjadi sedikit berani, pastilah kelak ia berterima kasih padaku. Sengaja aku
berkata begitu kejam padanya, agar ia merasa malu dan berani menentang
Gwendoline."
"Kau memang telah membuatnya merasa malu, tetapi dengan akibat yang
jauh dari dugaanmu. Ia begitu malu hingga malahan tak berani berbuat apa-apa!
Kau memberinya malu yang membuat orang putus asa!"
Jean benar. Mary-Lou bahkan merasa putus asa. Semakin ia
merancangkan untuk berkata pada Gwendoline bahwa ia akan pergi dengan
Darrell, semakin ketakutan ia. Memang akhirnya ia pergi menemui Gwendoline,
tetapi ia tak berani berkata apa-apa. Ini membuat ia dalam hati semakin putus asa.
Kasihan sekali Mary-Lou.
Gwendoline mendengar juga entah dari siapa bahwa Darrell telah meminta
Mary-Lou untuk menemaninya. Ia begitu gembira karena ternyata Mary-Lou
masih tetap ingin pergi dengannya.
"Keterlaluan betul Darrell itu, ya?" ia berkata pada Mary-Lou. "Ia kan
sudah tahu bahwa aku telah memintamu menemaniku. Aku gembira kau berani
menolak ajakannya, Mary-Lou. Aku mengerti. Kau pasti takkan mau pergi dengan
seorang anak seperti itu, yang selalu menganggapmu sebagai seekor cacing saja."
Mary-Lou tak bisa berkata apa-apa. Kalau saja ia bisa mengumpulkan
keberanian untuk mengatakan sesuatu yang menentang Gwendoline, mungkin
segalanya akan beres!
Hari besar yang begitu dinantikan telah tiba. Fajar menyingsing
menjanjikan hari yang cerah dan cemerlang. Laut berseri-seri di bawah cahaya
matahari, tenang bagaikan cermin. Jam dua siang nanti pasang akan naik hingga
kolam renang akan menyenangkan airnya. Untung sekali!
Anak-anak mengangkut kursi-kursi lipat ke tepi kolam renang,
menempatkannya di batu-batu karang yang tidak tercapai oleh air laut sekitar
kolam renang itu. Di tempat itulah para penonton bisa duduk dengan nyaman.
Darrell tak henti-hentinya bernyanyi gembir. Ia akan bertemu ayah-ibunya! Mary-
Lou tak ikut bernyanyi. Tampak murung wajahnya. Sally Hope tampak murung
juga. Wajahnya lebih tertutup dari biasanya, pikir Darrell.
Alicia sebaliknya, tampak riang gembira. Ayah-ibunya beserta salah satu
saudaranya akan datang.
Ayah-ibu Betty tIdak datang, maka Betty akan menyertai Alicia.
Darrell melihat Sally Hope menunduk mendaki tebing setelah membawa
kursi-kursi lipat ke kolam renang. Melihat betapa sedih air muka anak itu, Darrell
langsung memanggilnya, "Hai, Sally! Sally Hope! Ayah-ibumu tidak datang, kan?
Bagaimana kalau kau menyertaiku dengan ayah-ibu-ku?"
"Terima kasih, tidak saja," kata Sally agak kaku dan bergegas
meninggalkan Darrell.
"Wah, aneh sekali dia," pikir Darrell. Ia sedikit gusar sebab dua kali ia
mengajak temannya, dan dua kali tak berhasil. Ia harus mencari seseorang untuk
menemaninya, sebab ibunya telah menulis bahwa beliau ingin diperkenalkan
dengan seseorang yang menjadi sahabat akrabnya, kalau dapat.
Tetapi Darrell belum punya sahabat akrab. Ia ingin memilih Alicia, tetapi
Alicia sudah punya Betty. Ia menyukai Irene, tetapi Irene agaknya tidak
memerlukan seorang sahabat. Baginya musik adalah segala-galanya.
"Oh, ya sudah... Bagaimana kalau Emily?" pikirnya. Sesungguhnya ia tak
tertarik sama sekali pada Emily yang begitu pendiam dan terlalu rajin itu, yang tak
pernah lupa mengerjakan jahitan setiap malam. Tetapi ayah-ibu Emily tidak akan
datang dan belum ada yang mengajak Emily untuk bersama-sama di hari besar itu.
Tak ada pilihan lain. Darrell menyampaikan permintaannya pada Emily.
Emily tentu saja sangat girang hatinya dan langsung setuju. Ia juga tampak heran,
mengapa justru dirinyalah yang diminta Darrell. Mary-Lou mau menangis rasanya
melihat Darrell dan Emily bersiap-siap menunggu kedatangan ayah-ibu Darrell.Ia
tak tahan melihat Emily memperoleh kesempatan yang begitu diinginkannya itu.
Tetapi ia memang tak punya keberanian untuk meraih kesempatan itu.

14. SUATU HARt YANG INDAH
HALAMAN besar Malory Towers mulai ramai oleh kedatangan berbagai
jenis mobil. Orang-orang tua murid muncul dari mobil-mobil itu dan langsung
disambut oleh teriakan-teriakan di sana-sini.
"Ibu Ayah! Senang sekali aku, Ayah dan Ibu datang begini awal!"
"Ayah! Ibu! Oh, senang sekali aku'"
Riuh rendah suara mobil dan teriakan anak-anak itu. Darrell berdebardebar
menunggu kedatangan ayah-ibunya. Dan akhirnya muncul juga mobil hitam
milik keluarganya, yang dikemudikan sendiri oleh ayahnya. Dan itu ibunya!
Betapa cantiknya beliau, dalam pakaian baru, duduk di samping ayahnya, dan
tampaknya tak sabar untuk bisa segera bertemu Darrell!
Darrell meleset turun ke halaman, berlari begitu cepat hingga hampir
membuat Gwendoline jatuh terjungkal tertubruk olehnya. Ia langsung menubruk
dan memeluk ibunya. "Ibu! Aku sudah menunggu dari tadi! Oh, senang sekali
bertemu Ibu lagi! Halo, Ayah! Ayah mengemudikan mobil ini langsung dari
rumah?"
"Halo, Sayang,” kata Nyonya Rivers, memperhatikan putrinya. Kulit
Darrell kecoklatan kini, sehat berseri. Matanya cemerlang tampak bahagla. Kedua
orang tuanya sangat gembira melihat keadaan putri mereka ini.
Darrell menuntun mereka memasuki gedung sekolahnya, tak hentihentinya
berbicara dengan suara keras sekali. "Ibu harus melihat tempat tidurku.
Ibu harus melihat kamarku! Dan lihat nanti pemandangan di luar jendelaku.
Begitu indah!"
Dalam kegembiraannya ia sampai lupa pada Emily yang dengan sabar
berdiri menunggu di sampingnya. Tetapi tiba-tiba Darrell melihatnya dan
menghentikan celotehnya.
"Oh, Emily! Ibu, Ibu bilang aku boleh mengajak seorang temanku untuk
menyertai kita. Dan ini Emily Lake, dia sekelas denganku."
Nyonya Rivers berjabat tangan dengan Emily. Ia heran juga. Sama sekali
tak dikiranya Darrell akan memilih teman yang tampaknya begitu pendiam. Ia tak
tahu bahwa Darrell memang belum punya teman yang tetap dan akrab.
Setelah berbicara sebentar dengan Nyonya Rivers, Emily terpaksa diam
saja mendengar bicara Darrell yang tak pernah putus-putusnya, serta jawaban atau
tanggapan orang tuanya yang sering kali cukup lucu terdengar. Emily menyukai
kedua orang tua Darrell ini. Ibunya cantik, menyenangkan, dan tampaknya pandai.
Sedangkan ayahnya, ya, begitu mantap dan terpercaya, pikir Emily Wajahnya
tampan, pandang matanya jemih tajam, dengan alis dan mata berwarna hitam
gelap seperti Darrell.
Darrell begitu bangga akan kedua orang tuanya. Ingin ia memamerkan
mereka pada siapa saja. Dilihatnya Gwendoline berbicara dengan dua orang
wanita - seorang pastilah ibunya, dengan rambut emas seperti Gwendoline, dan
wajah yang agak kekanak-kanakan serta kosong seperti Gwendoline pula. Yang
satu lagi agaknya Nona Winters, guru pribadinya, pikir Darrell. Nona Winters tak
begitu menyenangkan tampaknya. Nona Winters wajahnya dan penampilannya
terlalu sederhana, dan agaknya ingin selalu menyenangkan orang lain. Ia sangat
memuja Gwendoline yang cantik dan anggun, dan ia tak bisa melihat betapa di
balik kecantikan itu anak tersebut terlalu manja, mementingkan diri sendiri, dan
tak begitu cerdas.
Mary-Lou berada bersama mereka, berusaha untuk tersenyum selalu tetapi
sesungguhnya merasa begitu tertekan. Ia tak menyukai Nyonya Lacey maupun
Nona Winters. Dan ia mulai muak akan bualan Gwendoline.
"Boleh dibilang akulah juara tenis di kelasku,” kata Gwendoline, "dan
Mungkin sekali aku akan dimasukkan menjadi anggota regu tenis sekolah."
"Oh, Sayangku, kau begitu pandai," kata Nyonya Lacey kagum. Mary-Lou
ternganga memandang Gwendoline. Wah! Padahal semua anak tahu bahwa
Gwendoline tak bisa berbuat apa-apa di permainan apa pun!
"Dan Mam'zelle begitu senang akan bahasa Prancisku,” kata Gwendoline
lagi. "Aku yakin aku akan bisa mencapai nilai tertinggi nanti. Kata Mam'zelle,
lagu bahasaku sungguh bagus."
Nona Winters berseri-seri. "Oh, Gwen sayang, bagus sekali kau. Kuharap
itu semua karena dasar yang telah kuberikan, walaupun aku takut karena rasanya
tak banyak yang telah kuberikan padamu, sebab aku belum pernah pergi ke
Prancis."
Mary-Lou ingin sekali berkata bahwa Gwendoline selalu memperoleh
angka terendah dalam bahasa Prancis. Tetapi ia tak berani! Bagaimana
Gwendoline bisa seenaknya saja mengatakan dusta itu? Dan bag aim ana ibunya
percaya padanya?
"Apakah kau akan ikut berenang sore ini?" tanya Nyonya Lacey dengan
pandang menyayang pada Gwendoline yang sore ini membiarkan rambutnya yang
lembut mengkilap terjurai di punggungnya, sangat mirip seorang bidadari.
"Rasanya tidak, Ibu. Kurasa lebih baik bila aku memberi kesempatan pada
anak lain untuk menang,” kata Gwendoline. "Terlalu sering aku mengalahkan
anak-anak lain dalam berbagai pertandingan. Biarlah di renang ini mereka dapat
giliran!"
"Oh, Gwendoline, sungguh baik hatimu," puji Nyonya Lacey. Mary-Lou
tak tahu harus berbuat apa.
Kemudian Darrell mengacaukan suasana manis itu. Ia melintas di dekat
mereka dengan ayah dan ibunya. Nyonya Lacey begitu tertarik akan wajah Darrell
yang begitu manis dan bahagia itu.
"Oh, lihat, manis sekali anak itu!" kata Nyonya Lacey pada Gwendoline.
"Apakah dia teman sekelasmu? Aku ingin bicara dengannya."
"Oh, dia tak terlalu akrab denganku," kata Gwendoline. Tetapi Mary-Lou
yang begitu gembira karena Darrell dipuji, segera berseru memanggil
"Darrell! Darrell! Nyonya Lacey ingin berbicara denganmu!"
Darrell segera mendekat dan dengan agak cemberut diperkenalkan oleh
Gwendoline. "Apakah kau akan ikut bertanding dalam olahraga renang nanti?"
tanya Nyonya Lacey. "Kudengar Gwendoline dengan murah hati memberi
kesempatan pada kalian untuk menang, dengan tidak ikut bertanding."
"Gwendoline? Oh, mengayunkan tangan saja ia tak bisa," kata Darrell.
"Tiap kali pelajaran berenang, dia paling takut air. Untuk masuk ke air saja ia
memerlukan waktu lima menit dan kami harus meneriakinya dulu. Bukankah
begitu, Gwendoline ?"
Semua ini diucapkan Darrell dengan nada gembira dan bercanda. Tetapi
Gwendoline mau rasanya saat itu mendorong Darrell sampai jatuh ke laut.
Mukanya langsung merah malu.
Nyonya Lacey mengira Darrell hanyalah bergurau. Maka ia tertawa
terkikik-kikik, cara tertawa yang dianggapnya sangat manis terdengar. "Ah, tapi
Gwendoline sudah sering mengalahkan yang lain, bukan?" tanyanya lagi. "Seperti
di tenis misalnya."
Darrell tercengang memandang Gwendoline yang sebaliknya menatap
padanya dengan wajah merah. "Wah, aku yakin Gwendoline telah banyak
membual tentang dirinya kepada Anda!" kata Darrell tertawa kemudian menyusul
ayah dan Ibunya.
"Betapa terus terangnya anak itu berbicara!" kata Nona Winters dengan
wajah kuatir dan heran. Gwendoline cepat menguasai dirinya kembali.
"Oh, dia termasuk anak-anak yang agak tertinggal di kelas," katanya.
"Nakal, dan tak banyak yang menyukainya. Ia bahkan tak punya kawan yang
betul-betul kawan akrab. Terang saja, sifatnya begitu... suka menjatuhkan anak
lain dengan berbicara yang tidak-tidak. Mungkin karena iri. Tak usah perhatikan
kata-katanya, Ibu. Tanya saja Mary-Lou ini. Ia akan mengatakan pada ibu bahwa
aku betul-betul juara dalam tenis dan olahraga lainnya."
Tetapi Mary-Lou tak sanggup mengatakan hal itu. Ia tampak semakin
ketakutan, dan dengan suara lemah ia menggumamkan sesuatu tentang Mam zelle
- Ia berkata bahwa ia harus menemui guru bahasa Prancis itu. Tanpa menunggu
jawaban Nyonya Lacey, Mary-Lou bergegas meninggalkan Gwendoline dan
ibunya.
Setelah menunjukkan semua sudut sekolahnya pada ayah-Ibunya, Darrell
mengajak mereka kembali ke mobil. Dan saat itulah Nyonya Rivers melihat Sally
Hope.
"Hei, bukankah itu Sally Hope?" tanyanya. "Aku yakin dia Sally Hope.
Aku pernah melihat potretnya di ruang tamu keluarganya waktu aku mengunjungi
Nyonya Hope."
"Ya, memang itu Sally," kata Darrell. "Ibu ingin bicara dengannya?"
"Ya, ada pesan dari ibunya," kata Nyonya Rivers.
Maka Darrell berteriak dengan suara lantang dan nyaring, "Sally! Sally
Hope! Datanglah kemari sebentar!"
Sally pastilah mendengar teriakan itu. Beberapa orang anak yang lebih
jauh dari Sally juga menoleh. Tetapi Sally tak mau berpaling pada Darrell. Ia
malah memasuki semak-semak bunga di taman dan lenyap.
"Sial!" seru Darrell. "Mestinya ia dapat mendengar teriakanku tadi. Aku
juga telah mengajaknya ikut dengan kita, Ibu, tetapi ia menolak."
"Ayo masuk." Ayah Darrell membukakan pintu mobil. "Kita akan
mengikuti jalan yang menyusuri tebing ini, kemudian kita akan masuk ke sebuah
jalan kecil yang kuketemukan, yang menuju ke sebuah teluk kecil. Di sana nanti
kita makan siang."
Darrell dan Emily masuk. Emily senang sekali. Nyonya Rivers begitu
manis dan ramah, menanyainya tentang berbagai hal tentang dirinya. Biasanya
Emily tak begitu bisa berbicara dan tak banyak yang mau mengajaknya berbicara.
Tetapi karena Nyonya Rivers menyangka ia sahabat akrab Darrell, maka tak
henti-hentinya ia mengajaknya bercakap-cakap.
Nyonya Rivers segera mengetahui bahwa Emily sangat suka jahitmenjahit.
Darrell sampai heran melihat Emily begitu lancar berbicara. Ia sampai
tidak dapat kesempatan! Dengarkan, betapa pandainya Emily menerangkan
tentang sarung bantal yang sedang dikerjakannya - warnanya, jenis jahitannya,
apa saja!
"Aku selalu kecewa bahwa Darrell tak begitu suka jahit-menjahit,
menyulam, dan merenda,” kata Nyonya Rivers. "Padahal aku sangat menyukai
pekerjaan itu. Semua tempat duduk di kursi-kursi di rumahku kukerjakan sendiri,
kusulam sendiri!"
"Oh, betulkah?" Emily berseru kagum. "Aku juga mencoba membuat
sarung tempat duduk kursi. Tetapi sampai sekarang baru bisa membuat dua buah.
Aku suka sekali menyulam."
"Mungkin kau bisa membuat Darrell tertarik pada jahit-menjahit," kata
Nyonya Rivers, tertawa.
"Kalau tidak terpaksa sekali, takkan sudi dia memegang jarum!"
"Kalau Darrell mau, bisa kuajar dia menjahit, menyulam, dan merenda,"
kata Emily yang ingin membuat senang hati Nyonya Rivers.
Darrell terkejut. Wah! Ia tak menyangka bahwa Emily akan seberani itu
menjanjikan sesuatu pada ibunya! Cepat-cepat ia mengalihkan pembicaraan
sebelum ibunya menyuruhnya menerima tawaran Emily tadi. Ia berbicara tentang
Gwendoline dan betapa anak itu telah berdusta pada ibunya tentang dirinya
sendiri.
Tak lama mereka telah sampai di tempat yang dikatakan ayah Darrell tadi.
Mereka makan makanan yang luar biasa lezatnya - terutama bagi Darrell yang
sudah sekian lama harus puas dengan hidangan asramanya - ayam dingin dan
acar... acar! Belum pernah acar dihidangkan di asrama. Ditambah puladengan
selada segar serta saus mayonais. Sedap! Kue selai, dan es krim cokelat juga!
Sungguh hebat makanan mereka saat itu.
"Dan bir jahe sebagai minumnya,” kata Nyonya Rivers, mengisi gelasgelas
mereka. "Ayam lagi, Darrell? Masih banyak.”
Selesai makan mereka kembali ke sekolah untuk menonton pertandingan.
Emily tidak ikut bertanding, karena itu ia terus menemani ayah-ibu Darrell,
mencari tempat duduk, dan menonton pertandingan yang berlangsung. Darrell
meninggalkan mereka untuk berganti pakaian.
Sungguh menyenangkan hari itu. Semua orang tampak gembira, tertawa,
saling sapa, bergurau ria. Bahkan kedua Mam 'zelle yang biasa bermusuhan itu,
hari itu bergandengan tangan dengan penuh persahabatan.
Pertandingan olahraga air begitu mengasyikkan. Nyonya Rivers begitu
bangga melihat gerakan renang Darrell yang kuat tetapi anggun itu. Darrell juga
begitu berani dalam nomor-nomor terjun. Ia termasuk yang terbaik di antara
peserta-peserta kelas satu. Di kelas yang lebih tinggi terdapat peloncat-peloncat
indah yang begitu mengagumkan, terutama Marilyn, anak kelas enam yang
menjadi ketua seksi olahraga Malory Towers. Semua bersorak ramai saat Marilyn
meloncat dengan anggun dari papan loncat yang tertinggi.
"Apakah kau bisa melakukan itu semua, Sayangku?" Darrell mendengar
Nyonya Lacey bertanya pada Gwendoline. Gwendoline yang duduk dekat Darrell
dan beberapa orang anak lainnya terpaksa tak berani segera menjawab. Ia melihat
berkeliling, dan dengan hati-hati akhirnya berkata, "Bisa sih bisa, tetapi tidak
semua."
"Ah, kau selalu rendah hati, Gwen sayang,” puji Nona Winters, menepuk
punggung Gwendoline.
Hampir saja Darrell tertawa mendengar Gwendoline dikatakan rendah
hati. Dan ia jadi benci pada Mary-Lou yang kini telah duduk di samping
Gwendoline. Bagaimana anak itu bisa mendengarkan bualan anak yang lebih
besar darinya itu tanpa membantah sekali pun?
Pada acara minum teh, Darrell dan Emily mengisi penuh-penuh piringpirng
kedua orang tua Darrell dengan strawberry, krim, dan es krim berlimpah.
Untuk mereka sendiri sudah tentu hampir sama banyaknya. Betapa nikmatnya
makanan mereka - ditambah dengan berbagai kue, roti, dan biskuit berbagai
macam. Malory Towers memang tahu bagaimana cara menjamu anak-anak dan
orang tua mereka itu.
"Ibu, itu Sally Hope lagi,”" seru Darrell tiba-tiba, di kejauhan ia melihat
kepala Sally. "Akan kukejar dia. Oh, ya, Ibu belum bercerita padaku, bagaimana
Ibu mengira bayi di rumah Sally itu adiknya. Sally tak punya adik."
"Tetapi, Darrell - percayalah! Sally punya adik! Aku sendiri telah
melihatnya!" Ibunya heran.
“Wah, entahlah apa sesungguhnya maksud Sally," kata Darrell. "Aku akan
menemuinya dan membicarakan hal ini."

15. PERTENGKARAN
TETAPI Sally tak mudah diketemukan. Entah pergi ke mana, tak ada
yang tahu. Timbul juga pertanyaan di hati Darrell, apakah Sally menghindarinya.
Tidak. Untuk apa? Sama sekali tak ada alasan untuk itu.
Dicarinya ke mana-mana. Tak ada yang bisa memberinya penjelasan
tentang Sally. Sungguh aneh. Darrell kembali ke ayah-ibunya, karena ingin
selama mungkin berada bersama mereka selama waktu masih memungkinkan hal
itu.
"Entah Sally ke mana," katanya. "Lenyap. Tapi tak apalah. Akan
kusampaikan pesan ibunya. Apa sih pesan itu?"
"Oh, ibunya sedikit kuatir tentang Sally. Sebab ini adalah pertama kali ia
berada di sekolah berasrama. Dan surat-surat Sally begitu kaku!" kata Nyonya
Rivers. "Kutunjukkan pada Nyonya Hope beberapa suratmu, Sayang. Aku tahu
kau tak akan keberatan. Nyonya Hope berkata surat-surat Sally tidak seceria
suratmu, penuh berita dan menggambarkan kegembiraan. Ia merasa ia tak punya
hubungan lagi dengan Sally. Suratnya begitu dingin! Ia jadi sangat kuatir. Ia ingin
aku berbicara dengan Sally dan menyampaikan salam sayang serta minta maaf
karena ia tak bisa datang. Ia juga berkata adik Sally mengirimkan cium mesra!"
"Akan kukatakan padanya," kata Darrell agak bingung. "Tetapi, Ibu, Sally
agaknya aneh. Ia bersikeras mengatakan padaku bahwa ia tak punya adik. Ia
marah karena aku berbicara tentang ibunya. Ia bilang aku sok tahu dan suka ikut
campur urusan keluarganya."
"Mungkin ia bergurau saja," kata Nyonya Rivers, juga heran. "Sally tahu
bahwa ia punya adik. Itulah salah satu sebab mengapa ia harus bersekolah yang
berasrama seperti ini. Adiknya agak lemah dan harus mendapat perhatian penuh
dari Nyonya Hope. Kasihan sekali bayi itu."
"Bagaimana, marahmu sudah pernah meledak?" tanya ayah Darrell dengan
mengerjapkan mata. Darrell merah mukanya.
"Yah... sekali," katanya. "Padahal aku sudah berjanji untuk selalu bisa
mengendalikan diriku!"
"Oh, Darrell! Kuharap saja kau tak berlaku keterlaluan!" kata ibunya
kuatir.
Emily yang menjawab untuk Darrell. "Oh, ia hanya menampar seorang
anak yang keterlaluan sikapnya. Di kolam renang! Dan tamparan itu begitu keras
sampai terdengar di menara sekolah".
"Darrell!" Nyonya Rivers sangat terkejut. Darrell menyeringai.
"Aku tahu! Aku memang tak bisa diatur, bukan?" katanya. "Aku tak akan
melakukannya lagi. Aku kini bisa mengendalikan amarahku."
"Sesungguhnya hampir semua anak ingin menampar anak yang ditampar
Darrell itu," kata Emily. "Karenanya dalam hati kami girang juga Darrell
melakukan hal itu untuk kami."
Mereka tertawa. Darrell begitu bahagia sehingga ia yakin ia tak akan
kelepasan tangan lagi. Sayang sekali hari yang begitu menggembirakan itu
akhirnya harus berakhir.
Sekitar jam enam sore satu demi satu mobil-mobil mulai meninggalkan
halaman sekolah. Anak-anak melambaikan tangan, dan suara-suara ramai makin
lama makin reda. Anak-anak kembali ke asrama masing-masing untuk
membicarakan hari yang baru saja mereka nikmati itu. Setelah beberapa saat
Darrell teringat akan pesan yang harus disampaikannya pada Saliy Hope. Ia
melihat berkeliling ruang rekreasi itu. Sally tak ada. Di mana dia? Kenapa ia
selalu lenyap?
"Di mana Sally Hope?" tanya Darrell.
"Mungkin ia di kamar musik," kata Katherine. "Entah kenapa hari seperti
ini Ia berlatih. Padahal semua diliburkan!"
"Akan kucari dia," kata Darrell, dan ia keluar ruangan. Ia pergi ke ruang
musik, serangkaian kamar-kamar kecil yang masing-masing berisi sebuah piano,
kursi piano, dan sebuah kursi biasa. Di kamar-kamar inilah anak-anak berlatih.
Dua di antara kamar-kamar tersebut memancarkan musik. Darrell
mengintip kamar yang pertama. Irene bermain di dalamnya, memainkan sebuah
lagu lembut dengan penuh perhatian, hingga tak melihat atau mendengar pintu
kamarnya dibuka oleh Darrell. Darrell tersenyum dan menutup pintu itu. Irene
memang gila musik.
Ia mengintip ke kamar di mana terdengar musik yang satu lagi. Di sini
yang terdengar bukanlah lagu merdu seperti permainan Irene tadi. Yang terdengar
adalah latihan lima jari yang dimainkan berulang-ulang, berulang-ulang, hampir
dalam nada kemarahan.
Darrell membuka pintu. Ya, yang main itu Sally. Bagus. Darrell masuk
dan menutup pintu. Sally berpaling, cemberut.
"Aku sedang berlatih," katanya. "Keluarlah!"
"Kenapa sih kau ini?" tanya Darrell, langsung merasa tersinggung. "Kau
tak usah membentakku seperti itu. Aku telah mencarimu sehari ini. Ibuku ingin
bicara denganmu."
"Aku tak ingin bicara dengan ibumu!" tukas Sally dan mulai menghantam
tuts piano keras-keras, berulang-ulang naik-turun tangga nada.
"Mengapa kau tak ingin bicara dengan ibuku?" teriak Darrell marah. "Ada
pesan dari ibumu!"
Sally tidak menjawab. Tangannya semakin keras menghantam tuts piano
dengan lagu yang bukan lagu itu, makin lama makin keras. Darrell tak bisa
menguasai diri lagi.
"Berhentilah bermain!" ia berteriak. "Kau ini kenapa sih?"
Sally menekan pedal pengeras suara dan suara pianonya kini semakin
memekakkan telinga. Agaknya ia memang tak ingin mendengar sepatah kata pun
dari Darrell.
Darrell mendekatinya, dan menjerit di telinganya,
"Mengapa kau bilang tak punya adik? Padahal kau punya, bukan? Dan
itulah sebabnya ibumu tak bisa datang, karenanya ia hanya bisa berkirim salam
sayang padamu dan..."
Sally memutar tubuhnya, menghadapinya dengan wajah sangat pucat dan
aneh. "Tutup mulutmu!" ia berteriak. "Kau sok tahu, sok ikut campur urusan
orang... pergi! Hanya karena kau begitu dimanjakan ibumu, jangan kaupikir kau
bisa mengejekku seperti ini. Pergi! Aku benci padamu!"
"Kau gila!" tangan Darrell menghempas ke tuts piano, membuat suara
ganjil dan keras. "Kau tak mau mendengarkan bila kukatakan sesuatu padamu!
Tetapi kau harus mendengarkan kini! Ibumu berkata pada ibuku bahwa suratsuratmu
begitu dingin, dan beliau..."
"Aku tak mau mendengarkanmu!" jerit Sally dengan suara tertahan serak,
bangkit dari kursinya. Dengan gusar ia mendorong Darrell ke pinggir.
Tetapi Darrell selalu tak bisa tinggal diam bila disentuh pada saat ia
marah. Tanpa berpikir lagi ia membalas mendorong Sally keras-keras. Sally -
terpelanting menubruk kursi dan terjatuh di situ.
Beberapa sa at ia terdiam di sana. Kemudian ia memegang perutnya,
mengaduh-aduh. "Aduh! Sakit sekali! Kau sungguh jahat, Darrell!"
Darrell masih gemetar karena marah saat Sally terhuyung keluar dari
kamar itu. Tetapi rasa marah Darrell segera lenyap, berganti rasa takut dan
kecewa. Bagaimana ia bisa bertindak begitu kasar?
Sally memang aneh sikapnya, tetapi itu tak berarti ia boleh menggunakan
seluruh kekuatannya untuk menyakiti anak itu! Wah! Ia tak bisa mengendalikan
dirinya lagi, padahal ia baru saja berjanji pada kedua orang tuanya bahwa hal itu
tak akan terjadi!
Ia lari ke pintu, ingin mengejar Sally dan minta maaf padanya. Tetapi
Sally telah lenyap. Darrell berlari ke ruang rekreasi. Sally tak ada di sana. Darrell
duduk lemas, menggosok dahinya yang penuh keringat. Betapa memalukan
kelakuannya tadi! Mengapa ia tak bisa menguasai diri?
"Kenapa?" tanya Alicia.
"Oh, tak apa-apa. Sally aneh sekali kelakuannya. Dan aku tiba-tiba
marah," kata Darrell.
"Tolol sekali!" kata Alicia. "Lalu kauapakan dia? Tampar? Atau kaupijitpijit
saja?"
Darrell tak bisa tersenyum. Ia bahkan ingin sekali menangis. Betapa
buruknya akhir hari yang indah ini! Setelah begitu penuh semangat bergembira
ria, dan kemudian bertengkar ini, ia merasa lemas, lelah. Ia tak begitu gembira
saat Emily datang dengan membawa jahitannya.
"Ayah-ibumu sungguh menyenangkan," kata Emily dan mulai berbicara
tak putus-putus. Suatu hal yang jarang dilakukannya. Betapa membosankan!
Darrell ingin sekali menyuruh Emily tutup mulut. Kalau saja ia Alicia, pasti hal
itu dilakukannya. Tetapi dalam hati ia tak pernah merasa tega, takkan bisa berbuat
seperti Alicia yang berlidah tajam itu. Ia tak mau melukai perasaan hati seseorang.
Terpaksa ia melayani pembicaraan Emily dengan menahan diri.
Dari seberang ruangan Mary-Lou memperhatikannya. Ingin sekali ia
bergabung dengan Emily dan Darrell. Tetapi di sampingnya Gwendoline sedang
mencurahkan sejarah keluarganya yang tak kunjung habis padanya. Ia terpaksa
diam mendengarkan. Dan lagi, mungkin saja Darrell tak mau menerimanya bila ia
mendekatinya.
Darrell menunggu kemunculan Sally. Kalau Sally datang mungkin ia bisa
mendekat dan mengatakan penyesalannya. Ia sungguh malu akan kelakuannya. Ia
ingin memperbaiki kesalahannya itu. Sial sungguh punya sifat pemarah seperti
ini! Apakah ia kelak bisa menguasainya? Sally tak juga muncul.
Tak lama lonceng makan malam berbunyi. Anak-anak pergi ke ruang
makan. Darrell mencari-cari Sally. Tetapi Sally tak ada. Sungguh aneh.
Nona Potts melihat ada kursi yang kosong.
"Siapa tidak datang?" tanyanya.
"Sally Hope," kata Darrell. "Tadi kulihat dia di ruang latihan. Satu jam
yang lalu"
"Kalau begitu, jemput dia,” kata Nona Potts tak sabar.
"Oh, dia telah meninggalkan ruang latihan itu waktu aku di sana,” kata
Darrell. "Aku tak tahu ia pergi ke mana."
"Kalau begitu dia harus kita tinggal," kata Nona Potts. "Aku yakin dia bisa
mendengar lonceng makan kita."
Anak-anak itu masih ramai membicarakan hari besar yang baru saja
mereka nikmati. Hanya Darrell yang diam saja. Apakah Sally masih sangat marah
padanya? Kenapa dia? Mengapa ia begitu aneh? Apakah ia sedih karena sesuatu
hal?
Mary-Lou mendengus keras karena sedikit pilek kini. "Di mana sapu
tanganmu?" tanya Nona Potts. "Kau tak bawa? Oh, Mary-Lou, kau tahu semua
anak harus membawa sapu tangan. Pergi ke asramamu, cepat, dan ambil sapu
tanganmu. Aku tak tahan mendengar suara dengusan seperti itu."
Mary-Lou menyelinap keluar dari ruang makan dan berlari menaiki
tangga. Lama juga ia pergi sehingga Nona Potts jadi tak sabar.
"Masa mengambil sapu tangan saja semalaman, si Mary-Lou itu!" katanya.
Terdengar suara kaki berlari menuruni tangga. Dan pintu ruang makan
terbuka dengan keras. Mary-Lou berlari masuk dengan wajah lebih ketakutan dari
biasanya.
"Nona Potts! Oh, Nona Potts! Aku menemukan Sally. Ia terbaring di
tempat tidurnya, di kamar. Ia mengeluarkan suara yang sangat mengerikan!"
"Suara apa?" Nona Potts tergesa bangkit.
"Suara seperti mengerang, dan ia memegang terus perutnya sambil
mengaduh ‘Perutku, perutku!'," Mary-Lou tak tertahan lagi, menangis. "Oh, Nona
Potts! Cepat lihat dial Dia bahkan tak mau berbicara denganku!"
"Anak-anak, teruskan makan kalian," kata Nona Potts tegas. "Agaknya
Sally terlalu banyak makan strawberry dan es krim. Katherine, panggil Ibu
Asrama, minta beliau datang ke kamar kalian di atas. "
Nona Potts bergegas keluar. Anak-anak itu langsung ramai berbicara,
semua menanyai Mary-Lou. Hanya Darrell yang terdiam. Rasa takut mulai
merayapi hatinya.
Ia telah mendorong Sally hingga terjatuh. Mungkin perutnya terbentur
kursi. Pasti sakit! Ia ingat apa kata Sally waktu itu, "Aduh! Sakit sekali!"
Tidak. Pasti sakit Sally bukan karena strawberry dan es krim. Kemarahan
Darrell-lah yang membuatnya sakit!
Darrell tak bisa meneruskan makanannya. Ia menyelinap ke luar, ke ruang
rekreasi. Apakah Sally sangat kesakitan? Mungkin tergores kursi. Mudahmudahan
Nona Potts segera masuk dan berkata bahwa semuanya beres.
"Oh, semoga Sally lekas sembuh!" pikir Darrell yang malang itu. Tak
sabar ia menunggu suara sepatu Nona Potts mendatangi.

16. DARRELL MERASA WAS-WAS
ANAK-ANAK itu memasuki ruang rekreasi setelah selesai makan malam.
Masih ada waktu setengah jam lagi sebelum waktu tidur. Mereka begitu lelah
setelah hari yang penuh kegembiraan tersebut. Beberapa di antara mereka bahkan
sudah mengantuk.
Alicia memperhatikan Darrell sesaat dan bertanya, "Mengapa kau begitu
muram?"
"Mmm... aku sedang memikirkan Sally," kata Darrell. "Mudah-mudahan
saja sakitnya tidak terlalu keras."
"Memang tak mungkin," kata Alicia. "Paling-paling karena terlalu banyak
makan strawberry. Ada orang yang tak tahan buah itu. Kakakku juga begitu."
Alicia langsung bercerita tentang satu segi dari keluarganya. Darrell
dengan rasa bersyukur mendengarkan cerita Alicia itu. Cerita Alicia selalu
terdengar segar, tak pernah menjago-jagokan dirinya sendiri seperti yang biasa
dilakukan Gwendoline. Cerita Alicia selalu lucu - tentang kehidupannya dengan
kakak-kakak lelakinya di rumah. Nakal sekali mereka, dan kalau memang cerita
Alicia benar-benar terjadi, pastilah ibu mereka sudah penuh uban memikirkan
kenakalan anak-anak itu. Tetapi ibu Alicia tampak tak beruban waktu Darrel
melihatnya di hari itu.
Jam tidur tiba untuk anak-anak kelas satu dan dua. Anak-anak itu segera
menyimpan barang-barang mereka. Ibu Asrama biasanya tak sabaran pada anakanak
yang tidak begitu cepat merapikan barang-barang mereka. Dan memang
begitu banyak anak-anak yang harus diburu-buru untuk pergi tidur!
Nona Potts tidak kembali ke ruang rekreasi itu. Darrell jadi was-was lagi.
Mungkin Ibu Asrama tahu apa yang terjadi. Ia akan segera bertanya nanti bila ibu
Asrama memeriksa kamar-kamar mandi.
Tetapi ternyata Ibu Asrama tidak datang. Yang datang ternyata Mam'zelle,
yang wajahnya berseri-seri, masih gembira merasakan kebahagiaan di hari itu.
"Halo, Mam'zelle!" seru Alicia heran. "Di mana Ibu Asrama?"
"Merawat Sally Hope,” kata Mam'zelle. "Ah, kasihan sekali anak itu. Ia
sangat kesakitan!"
Runtuh harapan Darrell. "Apakah... apakah ia dirawat di sana?" tanyanya.
Anak-anak yang sakit dirawat di sanatorium, alias san., beberapa kamar yang
menyenangkan di atas kamar Kepala Sekolah. Di san. terdapat seorang jururawat
khusus, selalu ramah tetapi selalu tegas menghadapi berbagai macam penyakit
atau kecelakaan serta berbagai macam tingkah anak-anak.
"Ya, tentu saja ia di san. Ia sangat sakit," kata Mam'zelle. Kemudian
dengan kesukaannya untuk menambah-nambah, ia berkata lagi. "Perutnya... ya,
perutnya. Sangat, sangat sakit di tempat itu."
Darrell semakin cemas.
"Oh! Apakah... apakah jururawat tahu apa penyakitnya, Mam'zelle?" tanya
Darrell. "Apa penyebabnya?"
Mam'zelle "tak tahu. "Aku hanya tahu bahwa penyakit itu bukan karena
banyak makan strawberry dan es krim," katanya. "Sebab ternyata Sally tak makan
apa-apa. Ia mengatakan hal itu pada Ibu Asrama."
Darrell makin yakin. Pastilah karena dorongannya tadi Sally jadi begitu sa
kit! Lenyap sudah harapan Darrell. Ia begitu tampak lemas dan lesu sehingga
Mam'zelle juga melihatnya. Mam'zelle jadi ketakutan kalau-kalau ada lagi anak
yang akan sakit.
"Kau tak apa-apa, Darrell kecilku?" tanyanya merayu.
"Oh, aku sehat, terima kasih!" Darrell tergagap. "Aku hanya... hanya
merasa lelah."
Malam itu Darrell sukar sekali tidur. Ia ketakutan. Bagaimana ia bisa
begitu marah dan mendorong Sally, hingga Sally terjatuh dengan kera? Oh, betapa
kejamnya dirinya! Memang betul tingkah Sally aneh, tetapi itu toh bukan alasan
bagi Darrell untuk berbuat begitu kasar!
Kini Sally sakit. Apakah Sally mengatakan pada Ibu Asrama tentang
tindakannya? Tak terasa dingin kaki Darrell. Kalau sampai Kepala Sekolah tahu
bahwa dialah penyebab sakttnya Sally...
"Dan Nona Grayling pasti akan tahu, bagaimana aku telah menampar
Gwendoline!" pikirnya. "Aku pasti akan dikeluarkan dari sekolah ini! Oh, Sally!
Sally! Cepatlah sembuh! Aku akan mengatakan padamu betapa menyesalnya aku.
Aku akan melakukan apa saja untuk menebus kesalahanku itu!"
Akhirnya ia pun tertidur. Tetapi sewaktu lonceng bangun terdengar ia
merasa betapa lelah dirinya. Yang pertama terpikir olehnya adalah Sally.
Dilihatnya tempat tidur Sally kosong, dan ia menggeletar ketakutan. Betapa
senangnya kalau ternyata malam tadi Sally boleh tidur ditempatnya!
Ia berlari ke bawah mendahului kawan-kawannya. Dilihatnya Nona Potts
dan ia bertanya, "Maaf, Nona Potts, bagaimana keadaan Sally?"
Nona Potts berpikir betapa baiknya hati Darrell, lemperhatikan kawannya.
"Sayang sekali sakitnya tidak berkurang," katanya. "Dokter masih ragu tentang
penyebab sakitnya. Tetapi terlihat sekali anak itu kesakitan. Begitu tiba-tiba lagi -
kemarin dia toh masih sehat!"
Darrell berpaling. Tak keruan rasa hatinya. Ya, Sally masih sehat sewaktu
ia belum mendorongnya jatuh. Ia kini tahu, apa penyebab sakitnya tetapi orang
lain tak tahu! Sally pasti juga tahu, tetapi agaknya ia tak memberi tahu siapa pun
tentang pertengkarannya dengan Darrell waktu itu!
Hari itu hari Minggu. Darrell berdoa sepenuh hati untuk kesehatan Sally di
gereja. Ia merasa berdosa dan malu. Ia juga merasa sangat ketakutan. Ia merasa ia
harus mengaku pada Nona Potts atau Ibu Asrama tentang pertengkarannya serta
tentang bagaimana Sally didorong olehnya. Tetapi ia begitu ketakutan!
Ia sendiri merasa aneh bahwa dirinya bisa merasa takut. Ia betul-betul
takut. Ia takut kalau-kalau Sally sakit keras sehingga takkan bisa sembuh lagi, dan
bahwa itu semua hanya karena dirinya yang tak bisa mengendalikan
kemarahannya!
Ia tak berani mengatakan pada siapa pun tentang kesalahannya. Semua
orang akan menuduhnya berhati jahat. Ia akan membuat malu ayah dan ibunya.
Orang-orang akan menunjuknya sebagai anak yang dikeluarkan dari Malory
Towers karena membuat anak lain sakit keras!
Akan sangat memalukan untuk dikeluarkan secara tidak hormat dari
Malory Towers. Ia takkan bisa menanggung rasa malu itu. Ia tak tahan berdiam
diri, tetapi ia juga merasa yakin Nona Grayling langsung akan mengeluarkannya
bila beliau tahu ialah yang menyebabkan rasa sakit Sally.
"Aku tak bisa mengatakan pada siapa pun," pikir Darrell. "Jika ada yang
tahu, aku pasti dikeluarkan. Ayah dan Ibu pasti malu. Aku pengecut! Belum
pernah aku sadar bahwa sesungguhnya aku pengecut!"
Tiba-tiba ia teringat Mary-Lou yang sering disebutnya pengecut. Kasihan
Mary-Lou. Kini Darrell bisa merasakan, bagaimana rasa takut itu sebenarnya.
Sungguh perasaan yang sangat tidak menyenangkan. Kita tak bisa lari dari
perasaan itu. Bagaimana ia bisa mengejek Mary-Lou? Merasa takut saja sudah
tidak enak, apa lagi bila ada seseorang yang mengejeknya!
Darrell merasa amat lelah dan tak berdaya. Ia memulai bersekolah di sini
dengan harapan dan semangat yang tinggi. Ia merasa bahwa ia pasti jadi nomor
satu. Ia merasa ia akan cemerlang di berbagai pelajaran dan membuat kedua orang
tuanya bangga. Ia bertekad akan mempunyai seorang sahabat akrab. Tetapi tidak
satu pun dari tekadnya itu dipenuhinya.
Tingkatannya di kelas begitu rendah. Ia tak punya sahabat. Ia keji pada
Mary-Lou yang dengan ketakutan telah mencoba bersahabat dengannya. Dan kini
ia telah berbuat sesuatu yang begitu kejam, sehingga ia tak berani
menceritakannya pada orang lain!
Darrell begitu murung hari itu. Tak ada yang bisa membuatnya gembira.
Nona Potts yang bermata tajam melihat hal ini dan kuatir kalau-kalau Darrell juga
sedang sakit. Mary-Lou juga melihat kemurungan Darrell. Ia berusaha berada di
dekat Darrell untuk bisa segera membantunya bila dibutuhkan.
Dan sekali ini Darrell tidak begitu peduli, tidak mengusir Mary-Lou dari
dekatnya seperti biasa. Kali ini ia merasa bersyukur karena Mary-Lou tampak
ingin menghiburnya.
Hari itu dua orang dokter datang untuk memeriksa Sally. Berita buruk
tersebar di Menara Utara. "Sally sakit keras! Bukan suatu penyakit yang menular
sehingga kita tak usah di karantina. Kasihan Sally. Tessie tadi pagi menemui
Kepala Sekolah. Dan katanya dari kantor Kepala Sekolah rintihan Sally terdengar
jelas."
Darrell ingin sekali ibunya ada di dekatnya. Ia tak tahu dimana ayahibunya
tinggal saat itu. Mereka telah mengatakan suatu tempat tetapi karena
begitu gembira kemarin Darrell lupa tempat tersebut. Kini lenyap sudah kenangan
gembira hari Sabtu kemarin. Darrell menyendiri di pantai, duduk di batu karang,
melamun.
Ia tak boleh terus-menerus menjadi pengecut. Makin lama makin tersiksa
ia berada di Malory Towers. Rasanya lebih baik rnengaku dan diusir dari Malory
Towers daripada tetap di Malory Towers dengan kesadaran bahwa dirinya
pengecut. Tetapi kepada siapa ia akan mengaku?
"Lebih baik kalau aku menulis surat pada ibu Sally tentang semua ini,"
pikir Darrell akhirnya "Beliau orang yang paling dekat dengan Sally. Aku akan
menulis tentang pertengkaranku, dan bagaimana hal itu sampai terjadi. Aku akan
menceritakan semuanya. Aku akan mengatakan padanya bahwa Sally selalu
berkata ia tak punya adik Semua tingkah Sally sangat aneh, dan mudah mudahan
Nyonya Hope mengerti sesuatu tentang itu. Kemudian terserah Nyonya Hope, apa
yang akan dilakukannya. Mungkin ia akan lapor pada Kepala Sekolah. Ya ampun!
Alangkah senangnya bila nanti kukirimkan surat itu."
Ia meninggalkan tempat duduknya di pantai itu dan bergegas ke Menara
Utara. Diambilnya kertas uratnya, dan ia mulai menulis. Tak begitu mudah
menulis surat itu, tetapi Darrell sudah terbiasa menulis sural. Tak lama ia telah
dengan lancar menuliskan semuanya - tentang pertengkarannya, tentang penyebab
pertengkaran itu, bagaimana Sally tak ingin berbicara dengan Nyonya Rivers,
bagaimana Sally begitu muram selalu, bagaimana Sally tak mengakui punya adik
bayi. Sungguh mengherankan betapa banyak yang diketahuinya tentang Sally!
Ia segera merasa lega setelah surat itu selesai. Tanpa dibacanya lagi, surat
tersebut dimasukkannya ke pos. Nyonya Hope akan menerimanya besok pagi,
tentu.
Berita baru menjalar di Menara Utara. "Sakit Sally semakin berat! Seorang
dokter ahli telah didatangkan. Keluarganya telah ditelegram untuk segera datang,
dan besok mereka akan datang!"
Darrell tak bisa makan apa pun hari itu. Rasanya hari itu adalah hari
terpanjang dalam hidupnya. Mary-Lou begitu ketakutan melihat wajah Darrell
yang semakin murung itu. Ia tak pernah meninggalkan sisi Darrell lagi - dan kali
ini Darrell tidak merasa muak oleh kehadirannya, malah merasa sedikit lega.
Mary-Lou tak tahu mengapa Darrell murung. Dan dia pun tak berani bertanya. Ia
telah lupa betapa Darrell begitu sering mengejek dan mengata-ngatainya. Ia hanya
ingin membantu Darrell.
Anak-anak lain tak begitu memperhatikan Darrell. Mereka berjalan-jalan,
berenang, atau berjemur diri di hari Minggu yang tenang itu. Nona Potts masih
terus memperhatikan Darrell. Kenapa anak itu? Apakah sakit Sally yang
membuatnya tampak begitu cemas? Rasanya tak mungkin Darrell bukanlah
sahabat akrab Sally. Dan memang Sally tak pernah punya sahabat.
Akhirnya waktu tidur tiba. Ibu Asrama tidak membawa berita apa pun
tentang Sally, kecuali mengatakan bahwa anak itu belum membaik. Tak seorang
pun diizinkan menjenguknya. Ibu Asrama merasa heran karena Darrell telah
memohon agar ia diperbolehkan menjenguk Sally.
Darrell tak bisa tidur, berbaring di tempat tidurnya. Didengarnya waktu
tidur untuk kelas tiga dan empat. Kemudian untuk kelas lima dan akhirnya untuk
kelas enam. Setelah itu Ibu Asrama, Mam'zelle, dan Nona Potts juga pergi ke
kamar masing-masing. Darrell mendengar lampu-lampu di padamkan. Hari telah
larut malam di luar gelap.
Semua orang sudah tidur. Kecuali Darrell.
"Aku tak bisa berbaring terus di sini, hanya berpikir, hanya merenung,
hanya melamun!" pikir Darrell. Gemas ia bangkit, membuang selimutnya. "Aku
bisa gila kalau diam saja di sini. Aku akan berjalan-jalan saja di Taman Dalam.
Bunga-bunga mawar semerbak di tempat itu. Mungkin aku bisa merasa sejuk dan
mengantuk nanti."
Tanpa bersuara dipakainya gaun kamarnya, dan hati-hati ia ke luar kamar.
Tak seorang pun mendengar gerakannya. Ia merambat menuruni tangga dan
keluar ke Taman Dalam. Kemudian, dalam kesunyian malam itu, didengarnya
suara sebuah mobil mendaki bukit ke arah Malory Towers. Memasuki halaman
sekolah! Siapa yang datang pada larut malam begini?
Darrell menengadah menoleh ke arah jendela san. Cahaya cemerlang
tampak di sana, lebih terang dari biasanya. Pasti Sally tidak sedang tidur. Kalau
dia tidur, tentu lampu tidur yang suram yang dinyalakan. Apa yang sedang
terjadi? Oh, kalau saja ia bisa mengetahuinya!
Darrell menyelinap ke gapura yang menghubungkan Taman Dalam
dengan halaman depan.
Ya, ada sebuah mobil di sana. di dalam bayang-bayang gedung sekolah.
Kosong. Tentu isinya telah masuk ke dalam gedung. Darrell bergegas menuju
gedung tempat Kepala Sekolah.
Ternyata pintu masuk gedung itu terbuka, tak terkunci seperti biasanya.
Darrell masuk. Kini ia bisa mengetahui apa yang sedang terjadi.

17. KEJUTAN YANG MENGGEMBlRAKAN
DI lorong antara kamar-kamar masih ada lampu menyala. Tapi kamar
tempat tinggal Kepala Sekolah gelap. Agaknya Kepala Sekolah telah pergi ke san.
Hati-hati Darrell naik. Di lantai dua lampu menyala semua, terang benderang. Dan
agak ada suatu kesibukan luar biasa. Apa yang terjadl dengan Sally?
Darrell tak bisa mengerti. Pastilah Sally sakit parah sehingga begitu
banyak orang harus turun tangan untuk menolongnya. Di tengah malam, lagi.
Darrell amat kecut hatinya. Ia tak berani melangkah lebih jauh. Tapi ia juga tak
mau kembali setelah sejauh ini ia menyelidik. Tak mungkin ia kembali dengan
pikiran damai tanpa tahu apa yang terjadi. Kalau saja ia bisa membantu!
Ia duduk di bingkai jendela. Ditutupinya dirinya dengan tirai jendeIa yang
tebal dan berat itu. Ia takkan terlihat di situ, sementara telinganya bisa
mendengarkan betapa orang-orang bergegas dari satu kamar ke kamar lain di san.
itu. Dan suara orang berbicara. Itu suara Ibu Asrama. Itu suara jururawat. Tegas,
mantap, memberi perintah. Dan terdengar pula suara seorang lelaki. Darrell
menahan napas untuk bisa mendengarkan lebih jelas. Tetapi ia tak bisa
mengartikan apa pun yang idengarnya.
Oh, apa yang terjadi kalau ia ketahuan berada di tempat itu? Apalagi kalau
orang tahu bahwa Darrell-lah yang menjadi penyebab keributan ini! Darrell
semakin merapatkan tirai jendeIa tebal itu menyelimuti dirinya, dan tanpa
bersuara ia menangis menumpahkan air mata ke tirai sutra tebal itu.
Ia duduk di situ sekitar setengah jam. Dan tanpa terasa tiba-tiba ia tertidur
nyenyak. Terbungkus dalam tirai tebal hangat, begitu lelah, ia tak bisa menguasai
rasa kantuknya.
Ia tak tahu berapa lama ia tidur. Tahu-tahu ia mendengar beberapa suara.
Ia tersentak bangun. Bingung sesaat ia berada di mana. Kemudian ia ingat. Tentu
saja, ia berada di dekat san. Ia sedang lencari tahu apa yang terjadi dengan Sally.
Dan segera semua kecemasan dan ketakutan datang lagi. Ia merasa begitu
sendiri, sunyi. Dan ia teringat ibunya. Dipeluknya tirai yang menyelimutinya saat
terdengar beberapa suara datang mendekat Suara dokterkah? Jururawat? Atau
mungkin Kepala Sekolah?
Kemudian jantung Darrell seakan berhenti berdetak. Seseorang berjalan
melewati tempatnya bersembunyi, dan orang itu berbicara dengan suara yang
begitu dikenalnya dan dicintainya.
"Ia pasti sembuh,” kata suara itu. "Untung aku datang tepat pada
waktunya. Kini..."
Darrell ternganga. Suara itu... rasanya tak mungkin! Rasanya tak mungkin!
Suara ayahnya!
Tiba-tiba ia merasa bahwa dirinya bisa bergerak. Disingkirkannya tirainya,
dan ia menjenguk ke balik tirai itu. Ia melihat ayahnya berjalan bersama juru
rawat, membicarakan sesuatu dengan sangat bersungguh-sungguh. Ya, itu
ayahnya!
"AYAH!" teriak Darrell, lupa segalanya kecuali bahwa ia telah melihat
ayahnya, yang tadinya dikiranya telah berada di tempat yang begitu jauh darinya.
Ayahnya berjalan di gang di hadapannya!
"Ayah! Oh, Ayah! Tunggu! Ini Darrell!"
Ayah berhenti bagaikan tertembak. Ia tak bisa mempercayai telinganya.
Darrell berlari kepadanya, melompat menubruknya bagaikan kilat, memelukOya
erat-erat, dan menangis tersedu-sedu.
"Kenapa kau, Darrell?" tanya ayahnya heran. "Mengapa kau ada di sini?"
Nona Grayling muncul, heran, dan agak gusar menegur Darrell. "Darrell!
Untuk apa kau kemari? Pak Rivers, silakan datang ke kamarku, di bawah."
Sambil memondong Darrell, Pak Rivers mengikuti Kepala Sekolah ke
lantai bawah. Jururawat mengikuti dari belakang, tak putusnya terheran-heran.
Darrell memeluk ayahnya erat-erat, seolah-olah tak akan mau melepaskannya
lagi. Apakah ia bermimpi? Mungkinkah ini benar-benar ayahnya, di tengah
malam ini? Darrell tak bisa membayangkan mengapa ayahnya berada di
sekolahnya. Tapi tak apa. Yang penting ayahnya ada.
Pak Rivers duduk di kursi panjang di kamar Kepala Sekolah, dengan
Darrell di pangkuannya. Jururawat telah lenyap. Hanya Nona Grayling yang ada
Ebook by CLU5TER 116
di situ, memandang heran pada Darrell dan ayahnya. Ada sesuatu yang tak bisa
dimengertinya.
"Menangislah sepuas hatimu, dan kemudian ceritakan apa yang terjadi,"
kata ayah Darrell. "Baru kemarin aku melihatmu begitu bahagia. Dan sekarang...
tapi tak apa. Aku akan membereskan persoalanmu, apa pun yang kauhadapi."
"Tak mungkin," kata Darrell. "Aku telah begitu jahat. Aku telah marah
lagi! Ayah, salahkulah maka Sally sakit!"
"Anakku sayang, apa maksudmu?" Ayahnya semakin heran. Darrell
merapatkan dirinya pada dada ayahnya, dan rasa kuatirnya mulai lenyap. Ya,
Ayah selalu bisa membuat segalanya beres. Seperti juga Ibu. Sungguh suatu
berkat Tuhan maka Ayah ada di sini malam ini.
Tetapi tiba-tiba Darrell mengangkat kepala, bertanya heran. "Tapi, Ayah,
mengapa Ayah ada di sini? Bukankah Ayah berada jauh dari sini?"
"Memang, aku dan ibumu menginap di kota Tetapi Nona Grayling
meneleponku bahwa Sally mendapat serangan radang usus buntu. Ahli bedah
yang biasa menangani pembedahan di daerah ini sedang sakit. Maka aku diminta
untuk segera datang dan melakukan operasi. Tentu saja aku datang. Aku tinggal
naik mobil, pergi kemari, dan kulihat segalanya sudah dipersiapkan dengan baik.
Jadi kulakukan operasi kecil itu, dan selesai sudah! Sally akan sembuh dan sehat
walafiat lagi dalam dua minggu ini.”
Suatu beban berat lenyap dari pikiran Darrell. Usus buntu! Itu sesuatu
yang memang bisa saja diderita oleh semua orang. Ayahnya begitu sering
mengoperasi usus buntu. Tapi dengan cemas ia bertanya, "Ayah... usus buntu
tidak bisa disebabkan oleh karena.... didorong, bukan? Atau jatuh?"
"Tentu saja tidak!" kata ayahnya. "Sesungguhnya sudah lama Sally
merasakannya. Aku yakin itu. Bahkan sebelum masuk kemari, ia telah menderita
radang usus buntu tersebut. Mengapa kau bertanya seperti itu?"
Dan segalanya meluncur keluar - betapa anehya kelakuan Sally, betapa
kasarnya Sally, bagaimana Darrell kehilangan kesabarannya, bagaimana dengan
marah Darrell mendorong Sally sampai jatuh... semuanya!
"Dan aku begitu kuatir dan berkuatir terus,” isak Darrell. "Aku pikir kalau
Nona Grayling tahu, aku pasti dikeluarkannya dari Malory Towers. Ayah dan Ibu
pasti malu sekali. Aku tak bisa tidur, keluar dari kamar dan..."
"Alangkah tololnya kau," kata ayahnya, mencium kepala Darrell.
"Mungkin lebih baik bila sekarang saja kau kubawa pulang, Darrell, kalau kau
masih punya pikiran setolol itu."
"Oh. tidak, jangan! Aku sangat senang berada di sini, Ayah!" seru Darrell.
"Oh, Ayah! Kalau saja Ayah tahu betapa leganya hatiku kini setelah tahu bahwa
sesungguhnya Sally memang telah sakit sebelum bertengkar denganku. Tetapi, ya
ampun, aku telah menceritakan semuanya pada Nyonya Hope dalam suratku! Apa
jadinya nanti?"
Kemudian ia terpaksa bercerita tentang suratnya, tentang bagaimana ia
menceritakan keanehan tingkah Sally. Ayahnya dan Nona Grayling tampak sangat
heran, mengapa Sally tak mau mengaku punya adik.
"Ada sesuatu yang aneh yang harus segera dibereskan,” kata Pak Rivers
pada Nona Grayling "Ini mungkin bisa menghalangi penyembuhan cepat yang
kita inginkan pada Sally. Kapankah ayah dan ibu Sally datang?"
"Besok," jawab Nona Grayling. "Aku akan memberi keterangan
seperlunya pada mereka. Nah, Pak Rivers, apakah Anda akan menginap di sini?
Rasanya sudah terlalu malam bagi Anda untuk pulang ke penginapan Anda."
"Oh, tidak," kata Pak Rivers. "Aku sudah terbiasa mengemudikan mobil di
malam hari. Terima kasih. Dan Darrell harus pergi tidur. Tak usah kuatir, Sayang.
Segalanya akan beres. Bukan doronganmu yang membuat usus buntu Sally
kambuh, walaupun mungkin sekali telah membuatnya lebih merasakan sakitnya.
Pastilah anak itu telah kesakitan sepanjang hari."
"Aku mendorongnya keras sekali," kata Darrell malu.
"Sungguh sedih aku memikirkan bahwa sifat pemarahku menurun
padamu,” kata ayahnya.
Darrell mempererat pelukannya.
"Tak usah kuatir. Ayah. Aku pasti bisa menguasai diriku,” kata Darrell.
"Aku akan berusaha untuk seperti Ayah, menyalurkan semangat marahku untuk
hal-hal yang lebih perlu."
"Baiklah. Selamat malam, Sayang." Ayahnya menciumnya. "Dan temuilah
Sally segera setelah kau diizinkan. Dengan begitu kau akan lebih merasa tenang."
"Aku lebih lega sekarang," kata Darrell, meluncur turun dari pangkuan
ayahnya. Matanya merah, tetapi ia kini tersenyum. Betapa berbeda perasaannya
kini. Semua kecemasannya lenyap.
Ayahnya masuk ke dalam kegelapan, ke mobilnya. Nona Grayling sendiri
yang mengantar Darrel ke tempat tidur, menyelimutinya dengan rapi. Darrell
sudah tertidur sebelum Kepala Sekolah keluar dari kamarnya.
Dan di san. Sally juga tertidur lelap. Rasa sakitnya lenyap. Juru rawat
memperhatikannya terus, lega melihat pernapasan Sally yang teratur kini. Betapa
tangkasnya ayah Darrell bekerja - hanya tiga belas menit untuk operasi usus
buntu! Sungguh beruntung mereka bisa memperoleh ahli bedah yang begitu ahli.
Fajar menyingsing dengan cerah. Darrell terbangun oleh suara lonceng
pagi. Ia merasa lelah, tetapi sangat bahagia. Sesaat ia berbaring dan berpikir-pikir.
Hatinya penuh dengan rasa syukur. Sally pasti akan sembuh. Ayahnya sendiri
yang mengatakan hal itu. Dan ayahnya telah berkata bahwa sakit Sally bukan
karena ulah Darrell. Jadi semua kecemasannya selama ini sesungguhnya tak ada
perlunya. Tetapi ada juga perlunya. Akibat dari ia tidak bisa menahan marah ini
begitu berkesan, tak terlupakan. Rasanya kelak ia pasti akan teringat peristiwa ini
bila hampir kehabisan kesabaran. Ia mendapat pelajaran yang sangat berharga.
"Ingin aku mengerjakan sesuatu untuk menunjukkan betapa bersyukurnya
aku bahwa segalanya telah beres kini," pikir Darrell melompat turun dari tempat
tidur. "Tetapi tak ada yang bisa kulakukan. Entah bagaimana keadaan Sally hari
ini."
Sally telah membaik. Ketika ia mendengar bahwa ayah dan ibunya akan
datang ia hampir tak percaya.
"Betulkah Ibu akan datang?" tanyanya berulang kali. "Apakah Anda yakin
Ibu akan datang? Tetapi Sabtu kemarin ia toh tak bisa datang. Mengapa sekarang
datang?"
Nona Grayling menyambut kedatangan Pak dan Nyonya Hope di ruang
tamunya yang besar. Pak Hope seorang yang bertubuh kokoh besar, terlihat sangat
kuatir. Nyonya Hope bertubuh kecil, berwajah manis.
"Sally belum siap untuk menerima Anda berdua sekarang,” kata Nona
Grayling. "Aku hanya bisa merasa sangat bersyukur bahwa operasi atas dirinya
telah berlangsung dengan hasil gemilang. Dan keadaan Sally membaik dengan
cepat. Pak Rivers, seorang ahli bedah yang sangat berpengalaman, kebetulan
menginap di hotel di kota. Dan kami berhasil memintanya untuk datang kemari. Ia
adalah ayah dari salah seorang murid kami di sini. Darrell Rivers."
"Oh, Darrell Rivers,” kata Nyonya Hope, mengeluarkan selembar surat
dari tasnya. "Aku menerima sepucuk surat yang sangat aneh darinya, Nona
Grayling. Kuterima pagi tadi. Coba bacalah. Agaknya ia berpendapat bahwa
dialah yang menyebabkan Sally sakit. Tetapi tentu saja kami tak percaya hal itu.
Tetapi hal-hal lain yang ditulisnya sungguh membuat kami cemas. Bisakah kami
berbicara dengan Darrell sebelum kami menemui Sally?"
Nona Grayling membaca surat Darrell dengan wajah bersungguh-sungguh.
"Memang ada yang sangat aneh di sini," katanya kemudian. "Mengapa Sally
selalu mengatakan bahwa ia tak punya adik. Padahal ia tahu bahwa ia punya adik,
bukan?"
"Ya, kami tak mengerti sikap Sally itu," kata Nyonya Hope, sedih. "Dia
bersikap aneh sejak lahirnya Daphne. Ia tak mau melihat atau berbicara dengan
adiknya itu. Dan sekali, ketika ia tak tahu bahwa aku melihat, ia telah mencubit si
bayi. Padahal Sally tak pernah berlaku kejam sebelumnya."
"Apakah Anda punya putra lain?" tanya Nona Grayling. Nyonya Hope
menggelengkan kepala.
"Tidak," katanya. "Sally berumur dua belas tahun saat Daphne lahir.
Sebelum itu ia anak tunggal. Kukira tadinya ia akan gembira punya adik. Kami
tak pernah memanjakannya, tetapi agaknya ia tak mau membagi kami dengan
anak lain. Kadang-kadang aku berpikir mungkin sekali ia... ia iri. "
"Kukira memang begitulah,” kata Nona Grayling. "Menurut pendapatku,
Nyonya Hope, Sally sangat rapat dengan Anda. Ia memang tak mau Anda
membagi cinta Anda dengan anak lain. walaupun itu adiknya sendiri. Dan ia tak
berani mengatakan perasaannya ini, takut kalau Anda mengiranya bertabiat
buruk."
"Ya, ia tak pernah berkata apa pun," kata Nyonya Hope. "Tiba-tiba saja
sikapnya berubah. Ia tidak lagi periang dan lincah. Ia tak lagi mendekat pada kami
untuk disayang. Dan tampak ia membenci si bayi. . Tadinya kukira ini semua akan
berakhir. Tetapi ketika ternyata tak habis-habis juga, kami memutuskan untuk
mengirimnya ke sekolah berasrama ini, sebab saat itu aku tak begitu sehat
sehingga aku tak bisa dengan baik membagi perhatian antara Sally dan adiknya.
Kami berusaha keras agar Sally merasa bahagia."
"Ya, kukira begitu," kata Nona Grayling. "Tetapi bagi Sally itu bisa
diartikan bahwa Anda tak lagi memerlukannya. Baginya, ia dikirim kemari agar si
bayi bisa mendapat tempat yang lebih luas di rumah, agar ia bisa memperoleh
semua kasih sayang serta rawatan Anda, Nyonya Hope. rasa iri terhadap adik
yang baru lahir seperti ini memang sudah biasa terjadi dan wajar. Anda tak usah
menyalahkan Sally. Tetapi Anda juga tak boleh tinggal diam. Kalau saja Anda
bisa membuat Sally percaya bahwa Anda masih tetap mencintainya seperti
dahulu, pastilah ia bisa mengerti. Nah bagaimana kalau kita panggil Darrell?"
Darrell dipanggil di tengah pelajaran matematika. Ia masuk ke ruang itu
dengan agak gugup, takut akan apa yang hendak dikatakan oleh Nyonya Hope.
Tetapi ketika pembicaraan berlangsung, ia jadi tenang, dan menjawab semua
pertanyaan dengan jelas.
Nona Grayling kemudian berpaling pada Nyonya Hope. "Kukira lebih baik
bila Darrell menemui Sally lebih dahulu beberapa menit sebelum Anda berdua
masuk," katanya. "Biarlah Darrell mengatakan pada Sally bahwa Anda berdua
telah datang, dan bahwa Anda, Nyonya Hope, begitu tergesa-gesa dan ingin
segera menemui Sally sehingga Anda meninggalkan si bayi. Hanya untuk bisa
menemui Sally! Bisakah kau mengatakan hal itu pada Sally?"
Darrell mengangguk. Tiba-tiba ia mengerti persoalan yang dihadapi Sally.
Ternyata Sally iri pada adiknya yang masih bayi! Begitu iri sehingga tak mau
mengaku bahwa ia punya adik! Alangkah lucunya, Sally! Tidakkah ia tahu bahwa
sungguh menyenangkan punya adik kecil. Sally tak tahu, betapa beruntung dia
sebenarnya!
"Baiklah, akan kukatakan pada Sally," kata Darrell. "Dan nanti aku akan
berusaha untuk meyakinkan Sally bahwa sungguh senang punya adik. Aku
memang ingin melakukan sesuatu untuk Sally, jadi aku akan melakukan hal itu
dengan sangat senang hati."

18. DARRELL DAN SALLY
DARRELL pergi ke san. di tingkat atas. Ia membawa sepucuk surat kecil
dari Kepala Sekolah untuk diberikan pada jururawat. Surat tersebut berbunyi;
'Harap Darrell diperbolehkan berkunjung pada Sally beberapa menit
sebelum ibu Sally datang.'
Jururawat sangat heran membaca surat tersebut. Dan tampaknya ia tak
setuju. Tetapi pesan Kepala Sekolah harus ditaatinya. Dibukakannya pintu untuk
Darrell. Darrell berjingkat-jingkat masuk. Kamar di situ sangat menyenangkan.
Luas, dengan tiga buah tempat tidur putih, dan jendela-jendela lebar. Warna yang
ada hanyalah warna krem dan putih. Dan semuanya bersih rapi.
Di tempat tidur paling ujung, berbaring Sally. Mukanya pucat. namun
matanya cemerlang.
"Hallo, Sally, aku begitu kuatir akan dirimu," kata Darrell. "Bagaimana
keadaanmu? Apakah ayahku membuatmu lebih baik?"
"Ya. aku senang pada beliau," jawab Sally. "Ia sangat baik hati. Perutku
sakit sekali hari Sabtu itu, Darrell. Tetapi aku tak berani mengatakannya pada
siapa pun, sebab semua orang sedang bersenang-senang. Aku tak ingin
mengganggu suasana."
"Wah, kau sungguh tabah,” kata Darrell. "Coba terka... siapa yang akan
mengunjungimu hari ini?"
"Apakah... apakah Ibu?" tanya Sally harap-harap cemas, dengan mata
bersinar-sinar. Darrell mengangguk. "Ya. Juga ayahmu. Dan tahukah kau, Sally,
ibumu telah meninggalkan adikmu yang bayi khusus untuk mengunjungimu
kemari. Bayangkan! Padahal biasanya ibu-ibu tak bisa berpisah dengan bayinya.
Pastilah ibumu sangat mencintaimu, Sally!"
Sally agaknya telah lupa bahwa ia pernah mengatakan tak punya adik pada
Darrell. Ia segera meraih tangan Darrell. "Betulkah Ibu tidak membawa Adik
kemari?" bisiknya. "Betulkah Ibu meninggalkan Adik di rumah?"
"Ya. Kasihan betul kan adikmu itu?" kata Darrell. "Pasti ia merasa
kesepian sendiri di rumah. Aku juga punya adik. Senang kan punya adik? Adikku
selalu bangga pada diriku, dikiranya aku bisa segala macam hal! Pasti adikmu
kelak begitu juga."
Gambaran Sally tentang adik tampak segera berubah. Ia jadi sadar akan
hubungannya dengan adik dan ibunya.Ia tersenyum berterima kasih pada Darrell.
"Kau mau menjengukku kapan saja kau sempat, kan?" katanya. "Dan jangan
katakan apa pun tentang ketololanku dulu itu... maksudku ke teman-teman kita
yang lain."
"Tentu saja. Dan sesungguhnya itu bukan ketololan. Hanya kau keliru
mengerti saja," kata Darrell. "Sekali lihat saja semua orang tahu bahwa ibumu
sungguh seorang yang penuh kasih. Dia pasti akan tetap mencintaimu, tak peduli
berapa pun putranya, atau apa pun yang kaulakukan. Ibumu betul-betul manis,
kulihat."
"Memang," kata Sally menghembuskan napas panjang. "Aku menyesal
telah berlaku buruk padamu, Darrell".
"Dan aku sangat menyesal telah mendorongmu sampai jatuh, Sally,
padahal kau sedang sakit seperti itu," kata Darrell.
"Apakah kau mendorongku?" tanya Sally. "Aku sudah tak ingat. Lihat,
jururawat itu mau berkata apa?"
Ternyata jururawat memberi isyarat agar Darrell keluar. Ayah dan ibu
Sally agaknya telah datang. Darrell segera berpamitan pada Sally dan berjingkatjingkat
ia meninggalkan anak itu.
Kedua orang tua Sally masuk. Darrell mendengar Sally berseru gembira
menyambut keduanya.
Darrell merasa bagaikan bisa terbang. Begitu gembira ia berlari menuruni
tangga dan menyeberangi Taman Dalam untuk kembali ke kelasnya. Ia masuk
tepat saat lonceng ganti pelajaran berbunyi. Darrell menyelinap duduk di
bangkunya. Teman-teman sekelasnya semua memandangnya.
"Kau dari mana? Lama sekali! Kau bisa bebas hampir separuh pelajaran
matematika! Enak benar!"
"Aku mengunjungi Sally," kata Darrell dengan nada penting.
"Bohong! Tak mungkin! Tak ada yang boleh mengunjunginya!" kata
Irene.
"Betul! Dan Sally berkata bahwa ayahku telah membuatnya sembuh!" kata
Darrell dengan bangga. "Tadi malam beliau datang. Aku melihatnya!"
"Darrell Rivers! Kau pasti hanya berkhayal!" kata Alicia sangat heran.
"Tidak. Betul seperti yang kukatakan!" kata Darrell. "Aku juga bertemu
dengan ayah dan ibu Sally. Kini mereka menemui Sally. Mereka akan tinggal
bersama Nona Grayling sampai besok."
"Apakah Sally tercinta sudah mengetahui dia punya adik atau tidak?"
tanya Gwendoline mengejek.
Hampir saja meledak marah Darrell. Tetapi ia cepat menahan diri. "Itu
bukan urusanmu. Sesungguhnya sayang sekali kau tak punya enam orang kakak
yang akan menindasmu begitu rupa sehingga kau bisa bersikap sedikit lebih baik.
Tapi aku yakin mereka hanya akan bisa mengajarkan sedikit saja kesopanan
padamu."
"Sssh! Mam'zelle datang!" bisik anak yang berada di dekat pintu.
Mam'zelle masuk. Pagi ini ia berwajah muram karena ternyata anak kelas tiga bisa
juga menjadi luar biasa bodohnya. Darrell tak peduli akan kemarahan Mam'zelle
ataupun Nona Potts hari itu. Ia terus memikirkan kebahagiaan Sally, dan ingin
segera tahu perkembangan selanjutnya.
Sally, ayah, dan ibunya berbahagia bisa berkumpul bersama-sama.
Dinding aneh yang selama ini dirasakan Sally ada di antara dia dan ibunya telah
lenyap, sebab tiba-tiba rasa irinya lenyap. Ibunya telah meninggalkan si bayi
untuk menemuinya! Sally merasa lega. Bukannya ia ingin agar adiknya itu,
Daphne, ditinggalkan dengan orang-orang lain, tetapi itu berarti bahwa ibunya
masih mencintainya! Sungguh aneh Sally ini.
"Kami akan mengunjungimu lagi besok, sebelum kami pulang," kata
Nyonya Hope saat jururawat mengatakan sudah waktunya Sally ditinggal sendiri.
"Tetapi bila kau memang ingin ditunggui juga, maka biarlah Ayah pulang lebih
dahulu, dan aku akan terus di sini sampai kau betul-betul sembuh."
"Tak usah," kata Sally dengan lega kini. "Janganlah Adik ditinggal terlalu
lama. Dan kau tahu, pastilah Ayah ingin agar Ibu ikut pulang bersamanya. Aku
sudah sangat membaik, Ibu. Aku akan segera sembuh - dan akan mengubah
sikapku."
Nyonya Hope kini betul-betul yakin bahwa Sally akan kembali seperti
Sally yang dulu, sebelum punya adik. Dan ia pun gembira karenanya. Sungguh
untung sekali Darrell Rivers berkirim surat padanya. Kini segala perkara telah
beres.
Darrell diizinkan mengunjungi Sally dua kali sehari, jauh sebelum anakanak
lain boleh berkunjung. Dan Sally selalu menerima kedatangan Darrell
dengan gembira. Sally kini sangat berubah. Tidak lagi pendiam dan tertutup. Ia
kini dengan gembira mau berbicara tentang rumahnya, keluarganya, anjingnya,
kebunnya, dan ia pun banyak bertanya tentang pelajaran-pelajaran yang terpaksa
tak bisa diikutinya. Ia bertanya tentang tingkah laku Mam'zelle, tentang apa yang
dikatakan Nona Potts, dan tentang apakah Mary-Lou dan Gwendoline masih
bersahabat.
"Tahukah Sally, bahwa ketika aku merasa begitu takut karena mengira
bahwa akulah penyebab penyakitmu, aku tiba-tiba bisa merasakan bagaimana
rasanya menjadi seorang anak seperti Mary-Lou, yang selalu merasa ketakutan
terhadap segala hal yang terjadi di sekeIilingnya. Aku jadi begitu menyesal karena
sering menggodanya.”
"Benar, lebih baik bila mulai sekarang kita berlaku baik kepada Mary-
Lou,” kata Sally. Dengan makin bertambahnya kekuatan dan kesehatan Sally,
maka Sally merasa bahwa ia harus berbuat baik pada siapa pun - bahkan kalau
perlu terhadap Gwendoline. "Katakanlah bahwa aku ingin ia mengunjungiku."
Mary-Lou tak terkira gembiranya oleh pesan dari Sally ini. Bayangkan,
Sally telah memilihnya sebagai salah satu yang boleh mengunjunginya lebih awal!
Dengan mempersenjatai diri dengan permen satu toples besar, Mary-Lou pergi ke
san.
Sally tampak masih pucat, tetapi terlihat telah berbeda sikapnya Matanya
bersinar dan ia tersenyum. Ia menyambut kedatangan Mary-Lou dengan hangat.
Mereka berbicara akrab. Mary-Lou sedikit terbuka, lupa akan sifat
penakutnya. Ia tak takut pada Sally. Diceritakannya semua yang diketahuinya.
Kemudian ia tampak sedikit kuatir.
"Begini, Sally. Aku merasa bahwa tak pada tempatnya Gwendoline selalu
mengatakan hal-hal yang tak baik tentang Darrell. Ia selalu berusaha meyakinkan
aku bahwa Darrell-lah yang melakukan berbagai muslihat untuk mencelakakan
atau merugikan aku. Atau kadang-kadang ia juga mengatakan mungkin Alicia
yang berbuat. Kemarin, misalnya, tinta tumpah di atlasku. Gwendoline berkata,
pastilah itu Darrell yang berbuat. Ia berkata hari itu ia melihat jari-jari Darrell
penuh tinta."
"Tapi siapa yang akan percaya Darrell melakukan hal seperti itu?" tanya
Sally. "Bagaimana kau mau saja mendengarkan ocehan seperti itu dari
Gwendoline, Mary-Lou?"
"Aku tak bisa menghentikannya," kata Mary-Lou. Wajah ketakutannya
muncul kembali. "Sebab, ia selalu berkata bahwa ia sahabatku dan aku
sahabatnya, jadi ia bisa mengatakan apa saja padaku. "
"Apakah kau sahabatnya?" tanya Sally mendesak.
"Tidak... ya, sesungguhnya tidak. Tetapi aku tak berani mengatakan
padanya bahwa aku tak mau menjadi sahabatnya. Jangan katakan aku penakut.
Memang aku penakut, tetapi aku tak bisa mengubah hal itu, bukan?"
"Waktumu habis, Mary-Lou," kata jururawat, menjenguk masuk. "Katakan
pada Darrell setengah jam lagi ia boleh berkunjung. Tetapi ia tak boleh membawa
permainan yang menyebabkan keributan. Bawa saja kartu."
Setengah jam kemudian Darrell datang membawa kartu kwartet. Tetapi
ternyata ia dan Sally tak jadi main kartu. Keduanya membicarakan Mary-Lou dan
Gwendoline.
"Gwendoline sungguh jahat," kata Sally. "Ia selalu memfitnah kau dan
Alicia, seolah-olah kalianlah yang menggoda Mary-Lou dengan berbagai cara
itu."
"Tapi, siapa sesungguhnya yang berbuat?" tanya Darrell. "Mungkinkah
anak dari menara lain? Bagaimana dengan Evelyn dari Menara Barat? Ia selalu
melakukan berbagai kenakalan."
"Tidak. Aku punya perasaan Gwendoline sendirilah yang berbuat," kata
Sally, merenungi kartu di tangannya.
Darrell heran. "Oh, rasanya tak mungkin!" katanya. "Gwendoline dan
Mary-Lou kan bersahabat!"
"Begitulah kata Gwendoline. Tetapi kata Mary-Lou tidak begitu."
"Memang, tetapi... wah, rasanya tak mungkin ada anak yang berhati begitu
jahat. Pura-pura bersahabat, tetapi terus mengganggu sahabatnya itu dengan caracara
yang keji. Sungguh memuakkan!"
"Dan aku pikir Gwendoline memang memuakkan," kata Sally. "Aku tak
pernah bisa tahan mendengarkan kata-katanya dan melihat tingkah lakunya.
Seorang yang betul-betul bermuka dua, yang hanya mementingkan dirinya
sendiri!"
Darrell menatap Sally "Kau sungguh cerdas. Kau tahu begitu banyak
tentang orang lain, bisa mengetahui isi hati mereka. Aku yakin kau juga mengerti
tentang pribadi Mary-Lou, lebih baik dari apa yang kuketahui."
"Aku suka pada Mary-Lou," kata Sally. "Kalau saja ia bisa kita bantu
meninggalkan sifat penakutnya, ia pasti menjadi anak yang sangat
menyenangkan."
"Tetapi bagaimana caranya?" tanya Darrell sambil tanpa berpikir
mengocok kartu di tangannya. "Ya ampun! Lihat, kartuku telah kucampur lagi!
Tapi tak apalah. Kurasa lebih menyenangkan berbincang-bincang daripada main
kartu. Bagaimana kita bisa menyembuhkan Mary-Lou? Aku pernah mencoba
menyakiti hatinya agar ia tergugah untuk melawan, tetapi kurasa malah
kebalikannya yang terjadi. Tak ada gunanya membuatnya malu pada sifatnya itu."
"Tak tahukah kau bahwa sebenarnya ia sudah malu sendiri karena sifatnya
itu?" tukas Sally.
"Tetapi karena malu saja ia takkan bisa mengumpulkan keberaniannya.
Tak akan ada yang bisa membuatnya berani kecuali dirinya sendiri."
"Yah, kalau begitu carilah cara agar ia bisa memberikan keberanian pada
dirinya sendiri," kata Darrell. "Aku yakin kau takkan mampu berbuat itu."
"Akan kupikirkan malam ini sebelum tidur," kata Sally. "Dan bila kau
menjengukku besok pagi, akan kuterangkan padamu. Aku yakin aku bisa mencari
jalannya.

19. RENCANA SALLY
SEPERTI biasanya, pada waktu istirahat pertama pagi hari, Darrell
mengunjungi Sally. Sally menyambutnya dengan gembira. "Aku telah
memikirkan sesuatu. Sebuah rencana yang sangat bagus. Ya, tidak terlalu sangat,
tetapi kukira cukup bagus."
"Bagaimana rencanamu itu?" tanya Darrell, sementara dalam hati ia
melihat betapa cantiknya Sally yang biasanya sederhana itu di pagi tersebut,
dengan pipinya yang memerah dan mata yang bersinar.
"Dengarkan. Bagaimana kalau kau berpura-pura mendapat kesulitan di
kolam renang? Pada kesempatan pertama untuk itu, kau pura-pura menjerit dan
minta tolong pada Mary-Lou untuk mengambil ban penolong serta
melemparkannya padamu,” kata Sally. "Jika ia melakukan hal itu, maka ia akan
merasa telah berjasa besar menolong kau dari bahaya tenggelam. Ia akan merasa
dapat dorongan besar, merasa bahwa sesungguhnya ia berani bertindak. Kita
semua sudah diajari cara melempar ban penyelamat, jadi ia pasti juga bisa
melakukannya."
“Ya, suatu usul yang bagus," kata Darrell. "Akan kucoba besok. Akan
kuberi tahu anak-anak lain untuk tidak membantuku, dan memberi kesempatan
pada Mary-Lou sendiri untuk bertindak. Hanya anak-anak yang kupercaya saja
yang akan kuberi tahu. Tentu saja Gwendoline sayang tidak. Apakah kau yakin
rencanamu itu bisa membantu Mary-Lou untuk tidak merasa takut lagi?"
"Menurut pendapatku, Mary-Lou takkan punya keberanian untuk
menghadapi sesuatu kalau ia tak punya pikiran bahwa ia masih punya sedikit
keberanian dan kecerdasan untuk melakukannya!" kata Sally bersungguhsungguh.
"Kau takkan bisa melakukan apa pun kalau kau sendiri tak yakin kau
bisa melakukannya."
"Bagaimana kau tahu hal-hal seperti itu?" tanya Darrell dengan kagum.
"Aku sama sekali tak pernah memikirkannya."
"Oh, sesungguhnya hal seperti itu tak begitu sulit," kata Sally. "Yang
diperlukan hanyalah membayangkan dirimu sebagai orang yang ingin kaupelajari.
Kau harus bisa ikut merasakan perasaannya, ketakutannya, dan bagaimana caramu
untuk menyembuhkan hal itu kalau kau jadi orang itu. Kedengarannya memang
membingungkan. Aku tak bisa mengatakan dengan tepat apa yang ingin
kukatakan."
"Oh, aku tahu apa yang kaumaksud," kata Darrell. "Kau mengatakan
dengan tepat sekali apa yang dikatakan ibuku. Cobalah masuki diri orang lain, dan
rasakan apa yang dirasakannya. Tetapi sering aku tak punya kesabaran untuk
melakukan hal itu. Aku telah sibuk dengan diriku sendiri. Kukira kau sangat
cerdas, Sally."
Muka Sally merah. Tetapi ia tampak senang, walaupun tampak malu.
"Aku tidak cerdas, dan kalau tahu aku juga tidak baik hati, seperti yang terlihat
pada kelakuanku terhadap adikku. Tetapi terima kasih kau telah memujiku seperti
itu. Bagaimana? Dapatkah kau melakukan rencanaku tadi?"
"Oh, ya, tentu saja," kata Darrell. "Akan kucoba besok di kolam renang.
Mary-Lou sedikit pilek dan tidak diperkenankan ikut berenang. Tetapi ia toh harus
berada di kolam renang itu. Dengan mudah ia bisa mengambil dan melemparkan
ban penyelamat itu padaku. Oh, ia pasti heran oleh keberaniannya sendiri."
"Aku yakin ia merasa gembira terkena pilek minggu ini," kata Sally,
tertawa kecil. "Ia begitu benci air. Aku yakin ia takkan pernah bisa belajar
berenang. "
"Sungguh lucu saat jururawat memutuskan bahwa Mary-Lou terkena pilek
dan tak boleh masuk ke kolam renang," kata Darrell, "segera saja Gwendoline
sayang sebentar-sebentar terisak-isak seolah-olah pilek juga, agar terdengar oleh
Nona Potts, agar Nona Potts kemudian melaporkannya pada jururawat, agar
kemudian ia juga tidak diperkenankan berenang. Ia kan jauh lebih takut air
daripada Mary-Lou!"
"Lalu apa yang terjadi?" tanya Sally tertarik. "Oh, alangkah senangnya
kalau aku bisa masuk sekolah lagi. Di sini begitu membosankan berdiam diri
terus. Kalau kau tak datang serta bercerita, bisa lari aku dari sini...."
"Nona Potts ternyata malah marah oleh suara isakan Gwendoline, dan
Gwendoline dimarahinya habis-habisan," kata Darrell. "Gwendoline nekat, ia
berkata mungkin ia ketularan pilek Mary-Lou. Maka Nona Potts mengirimkannya
ke jururawat. Dan ternyata jururawat tidak memberinya kesempatan seperti Mary-
Lou untuk tidak menyentuh air, tetapi malahan memberinya obat yang sangat
tidak enak rasanya! Jururawat begitu tegas padanya. Ia bahkan menyuruh
Gwendoline berenang, sebab garam di air kolam renang itu bisa membuatnya
lebih sehat. Dan kudengar jururawat berkat pada Nona Potts bahwa Gwendoline
suka membumbui ceritanya. Dan rasanya sudah tepatlah bahwa ia menelan sedikit
garam di kolam renang."
Sally tertawa terpingkal-pingkal. Ia bisa membayangkan betapa gusarnya
Gwendoline harus makan obat tidak enak padahal sesungguhnya ia tidak sakit
apa-apa. Darrell berdiri.
"Itu lonceng masuk," katanya. "Sehabis makan siang nanti aku akan
kembali lagi dengan cerita-cerita lain Aku belum bercerita padamu bagaimana
Alicia dan Betty mengikatkan benang pada buku-buku Mam'zelle di mejanya dan
di depan hidung Mam'zelle buku-buku tersebut seolah-olah langsung meloncat
sendiri! Irene setengah mati tertawa geli. Kau tahu betapa ia selalu meledak bila
tertawa."
"Oh, ya. Datanglah lagi dan ceritakan semuanya," kata Sally, semakin
ingin sering dikunjungi Darrell. "Aku senang mendengar kau berbicara."
Sungguh mengherankan perubahan yang terjadi pada diri Sally. Rasanya
sulit untuk membayangkan bahwa Sally yang penuh tawa, bersemangat, dan
bermata ceria ini adalah Sally yang dikenal Darrell dulu. Pemalu, pendiam, dan
tertutup. Kini ia begitu riang dan menyenangkan.
"Memang ia tidak terlalu menyenangkan seperti Alicia," pikir Darrell,
"tetapi kurasa ia lebih bisa dipercaya. Lidahnya tidak tajam, walaupun ia lebih
cerdas dalam hal menelaah pribadi seseorang."
Darrell dengan teliti merencanakan untuk menjebak Mary-Lou agar sadar
bahwa ia punya keberanian dan mampu bertindak. Tampaknya mudah saja. Ia
akan minta agar Alicia dan Betty membawa semua perenang lain ke ujung lain
kolam renang itu. Dengan demikian Darrell akan berada di ujung yang terdalam
seorang diri. Kemudian ia akan berbuat seolah-olah mendapat kejang kaki,
berteriak minta tolong.
"Aku akan berteriak pada Mary-Lou 'Cepat! Cepat! Lemparkan ban
pengaman!" pikirnya. "Aku yakin Mary-Lou akan melakukannya. Kemudian aku
akan berkata padanya, 'Oh, Mary-Lou, kau telah menyelamatkan jiwaku.' Dengan
begitu Mary-Lou akan punya pandangan lain tentang dirinya. Kalau tidak, maka
itu betul-betul aneh. Sekali ia mengerti bahwa ia bisa melakukan sesuatu seperti
itu, maka ia bisa meyakinkan diri untuk menghadapi hal-hal yang selama ini
membuatnya takut."
Rasanya siasat Sally itu sangatlah baik. Darrell menceritakannya pada
Alicia dan Betty. "Bagaimana pikiran kalian? Rencana Sally itu sangat bagus,
kan?" tanyanya kemudian.
"Mmm... tetapi untuk apa kau memperhatikan si Bayi Mary-Lou itu?"
tanya Alicia heran. "Kau takkan bisa memperbaikinya. Ia sudah keterlaluan."
"Tetapi toh ada kemungkinan untuk membuatnya lebih baik dari
sekarang," kata Darrell, agak kecewa karena ternyata Alicia tampaknya tak terlalu
bersemangat menerima rencana itu.
"Rasanya tak mungkin,” kata Alicia. "Aku yakin yang akan terjadi adalah
bahwa Mary-Lou begitu ketakutan sehingga ia hanya terpaku diam di tepi kolam
dan berteriak-teriak ketakutan. Dan orang lain yang akan melemparkan ban
penyelamat itu padamu. Dan ini akan membuatnya semakin malu, sehingga
tanggapannya atas dirinya sendiri akan lebih buruk dari sekarang ini. Ia akan
merasa semua orang memandang rendah padanya."
"Oh," Darrell patah semangat. "Jika itu terjadi, sungguh berbahaya!" Aku
belum pernah memikirkan hal itu."
Darrell mengatakan pada Sally apa yang dikatakan Alicia. "Aku mengerti
apa maksudnya,” katanya. "Dan memanq itu akan membuat Mary-Lou lebih
buruk lagi keadaannya sebab semua orang akan menertawakannya. Alicia sangat
cermat bukan, Sally? Kita tak pernah memikirkan kemungkinan itu."
"Ya, Alicia memang cermat. Tetapi ia melupakan suatu hal," kata Sally.
"Apa?" tanya Darrell.
"Ia melupakan kenyataan bahwa kaulah yang akan berteriak-teriak minta
tolong. Semua orang tahu bahwa Mary-Lou sangat memujamu. Mary-Lou akan
melakukan apa saja yang kauperintahkan, kalau kau mengizinkannya. Dan ini
adalah sesuatu yang bisa dilakukannya untuk menolongmu! Dan ia pasti akan
melakukannya. Buktikan saja nanti. Berilah Mary-Lou kesempatan ini, Darrell.
Alicia memandangnya hanya sebagai seorang bayi yang lemah dan cengeng.
Tetapi aku yakin ia bisa melakukan sesuatu yang luar biasa untuk orang yang
disukainya.."
"Baiklah, Sally, akan kuberi dia kesempatan. Tetapi aku masih merasa
bahwa Alicia benar. Aku yakin dia memang bisa mengukur kemampuan orang
lain. Alangkah senangnya kalau dia mau bersahabat denganku, dan bukannya
dengan Betty. Dia begitu cerdas!"
Sally tidak berkata apa-apa lagi. Mereka bermain domino dan Sally sedikit
pendiam. Kemudian jururawat datang dan menyuruh Darrell pergi.
"Aku akan mencoba rencana Sally pada Mary-Lou," kata Darrell pada
Alicia. "Kuharap kau dan Betty mengajak teman-teman ke daerah yang dangkal
jika Mary-Lou terlihat di tepi daerah yang dalam. Kemudian aku akan menjerit
dan akan kita lihat, apakah Mary-Lou punya keberanian untuk melemparkan ban
penyelamat padaku."
"Bahkan pekerjaan sekecil itu akan terlalu berat baginya," kata Alicia,
agak kesal karena Darrell terus ingin melakukan rencana itu walaupun ia telah
menyatakan tidak setuju. "Tapi baiklah, akan kita lihat nanti."
Sore hari berikutnya, rencana itu dilaksanakan. Pada saatnya, anak-anak
kelas satu mulai menuruni tebing, berbicara ramai dengan berpakaian renang dan
gaun pantai. Gwendoline juga ikut, bermuka cemberut karena semua temannya
menggodanya terus tentang siasatnya berpura-pura sakit.
Mary-Lou tidak memakai pakaian renang, dan ia tarnpak gembira. Ia
begitu benci akan air! darrell berkata padanya, "Kau boleh melemparkan kepingkeping
uang padaku, Mary-Lou. Dan aku akan menyelam untuk mencarinya di
tempat yang dalam."
Ebook by CLU5TER 134
"Baiklah," kata Mary-Lou gembira. Ia menyiapkan uang-uang logam di
sakunya. Pileknya hampir sembuh. Sayang sekali. Padahal ia merasa senang bisa
lolos dari pelajaran renang.
Tak lama anak-anak itu sudah ramai di kolam renang. Hanya Gwendoline
yang masih ragu-ragu, duduk di tangga di tepi kolam. Tapi ia pun segera masuk
ke air sebab tiba-tiba seseorang mendorongnya dari belakang. Menyemburnyembur,
terengah-engah ia muncul ke permukaan air.
Tetapi tak ada anak di sekitarnya, hingga rasa marahnya tak dapat
disalurkannya. Ia hanya bisa punya dugaan bahwa yang mendorongnya tadi
adalah Darrell atau Alicia. Kurang ajar!
Mary-Lou berada di tepi daerah yang terdalam, memperhatikan temanteman
sekelasnya berenang. Paling tidak ia memperhatikan Darrell, mengagurni
cara anak itu berenang dengan begitu kuat, cepat, dan indah. Mary-Lou
menggenggam uang-uang logam yang telah disiapkannya. Ia sangat gembira
bahwa Darrell telah memintanya melakukan sesuatu. Memang ia selalu senang
berbuat sesuatu untuk Darrell, walaupun itu suatu tugas yang sangat kedl dan tak
ada artinya.
"Ayo, pergi ke ujung sana, dan mari berlomba!" seru Alicia tiba-tiba.
"Ayo, Kawan-kawan... semuanya saja.”
"Sebentar, aku akan tinggal di sini saja untuk mencari uang Mary-Lou,"
teriak Darrell. "Aku juga sudah kehabisan napas untuk berlomba. Mulailah dulu.
Aku akan menyingkir bila kalian sudah kemari. Mary-Lou, uangmu siap?"
Alicia dan Betty saja yang tahu tentang rencana Darrell. Mereka
menunggu dengan berdebar-debar apa yang akan terjadi. Keduanya yakin bahwa
Mary-Lou hanya akan menangis tak bergerak bila Darrell berteriak minta tolong.
Ia tak akan punya keberanian untuk berlari mengambil ban penyelamat!
Anak-anak lain mulai berkumpul di ujung kolam, di daerah yang dangkal,
siap untuk berlomba. Di tepi ujung yang dalam Mary-Lou asyik melemparkan
uang logam dan melihat Darrell dengan gerakan anggun menyelam dan
menangkap uang logam itu.
Darrell muncul sambil berseru bangga, menunjukkan sekeping uang
logam. "Dapat! Lempar lagi, Mary-Lou!" teriaknya. Plung! Sekeping uang logam
masuk lagi ke air. Darrell terjun dan langsung menyelam. Ia merasa kinilah
saatnya untuk berpura-pura mendapat kesulitan. Ia muncul ke permukaan air,
terengah-engah.
"Tolong! Tolong!" teriaknya. "Aku kejang! Cepat, Mary-Lou! Ban
penyelamat! Talong! Cepat!"
Darrell tampak meronta-ronta, tangannya menggelepar tak keruan, dan ia
mulai terbenam. Mary-Lou tertegun, terpaku. Alicia menggamit Betty di
kejauhan. "Tepat seperti yang kuduga," bisiknya. "Ia begitu lemah hingga
memutuskan untuk mengambil ban saja tak bisa."
"TOLONG!" teriak Darrell. Dua-tiga anak dari ujung kolam bergegas
berenang mendekat, mengira bahwa Darrell betul-betul mendapat kesulitan.
Tetapi seseorang telah mencapai Darrell lebih dahulu!
Terdengar suara mencebur keras, dan Mary-Lou, masih berpakaian
lengkap, telah masukke air. Dengan dibayangi ketakutan, anak itu mencoba
mengingat-ingat gerakan renang yang diketahuinya, berusaha keras untuk
mencapai Darrell, dan berhasil. Dipeluknya Darrell, ketakutan dan kebingungan
dicobanya untuk menariknya ke tepi.
Darrell saat itu sudah berada di bawah air. Merasa ada yang memegang
dirinya, ia muncul ke permukaan. Alangkah terkejutnya ia melihat kepala Mary-
Lou di sampingnya! Beberapa saat ia ternganga.
"Peganglah aku, Darrell!" teriak Mary-Lou, terengah-engah. "Akan
kutolong kau!"

20. BAGUS SEKALI, MARY-LOU!
KEMUDIAN dua atau tiga perenang datang mendekat. berseru, "Darrell!
Kenapa kau? Minggir, Mary-Lou!"
Tetapi Mary-Lou tak dapat minggir. Ia telah mengerahkan semua kekuatan
dan keberanian yang ada padanya untuk terjun dan berenang mendapatkan
Darrell. Kini ia lemas, dan bajunya yang basah kuyup terasa begitu berat. Salah
seorang teman membawanya berenang ke pinggir.
Di pinggir kolam Mary-Lou berpegangan pada pagar kolam, terengahengah
memperhatikan Darrell dari tempat itu. Agaknya Darrell telah sembuh,
sebab kini ia telah bisa berenang lagi dengan ayunan tangan yang kuat dan cepat,
mendekati Mary-Lou.
"Mary-Lou! Kau terjun begitu saja ke air, padahal berenang saja kau
hampir tak bisa! Sungguh tolol! Tapi terus terang kau orang tolol yang paling
berani yang pernah kukenal!" teriak Darrell.
Seseorang membantu Mary-Lou yang menggeletar kedinginan itu keluar
dari kolam. Saat itu Nona Potts sedang menuruni tebing untuk menuju kolam. Ia
terkejut sekali melihat Mary-Lou basah kuyup dengan berpakaian lengkap,
dikerumuni anak-anak lain yang malahan hampir semua menepuk-nepuk
punggungnya serta memuji-mujinya.
"Apa yang terjadi?" tanya Nona Potts. "Mary-Lou tercebur?"
Berebut anak-anak itu bercerita. "Ia terjun ke air untuk menolong Darrell!
Darrell kejang, dan berteriak minta tolong, minta ban pengaman. Mary-Lou
melompat langsung ke air dan menolongnya, padahal ia tak begitu bisa berenang!"
Nona Potts sama herannya seperti anak-anak itu. Mary-Lou! Betulkah?
Mary-Lou yang melihat kumbang saja begitu ketakutan? Sungguh mengherankan!
"Tetapi mengapa kau tidak melemparkan saja ban penyelamat?" tanya -
licia.
"Ban itu ttt... tiidak ada...," jawab Mary-Lou dengan gigi gemertak karena
kedinginan dan guncangan ketakutan. "Bbban... ittttu kkkan sedddang
dippperbaikkki... kkkau ttak tahhhu?"
Tidak. Tak seorang pun mengetahui bahwa memang tak ada ban
penyelamat di situ. Tak ada cara lain untuk menolong Darrell bagi Mary-Lou,
kecuali terjun sendiri ke air. Siapa yang mengira Mary-Lou punya keberanian
seperti itu?
Nona Potts mengantar Mary-Lou yang menggeletar kedinginan itu
menaiki tebing. Darrell berkeling pada Alicia, matanya bersinar-sinar.
"Nah, siapa yang benar? Kau atau Sally? Mary-Lou begitu berani! Tak ada
soal baginya apakah ia tak suka pada air ataukah ia tidak bisa berenang. Ia sama
beraninya, oh, mungkin lebih berani dari kita-kita ini, sebab sebelum bertindak itu
pastilah ia juga merasa sangat ketakutan."
Alicia selalu berani mengaku kalah bila ia memang kalah. Ia mengangguk.
"Ya, ia memang sangat berani. Tak pernah kuduga ia akan seberani itu. Tetapi aku
yakin ia bertindak begitu karena yang ditolongnya adalah kau! Kalau orang lain
mungkin lain pula kejadiannya."
Darrell hampir tak sabaran menunggu waktu untuk bisa berkunjung ke
Sally dan menceritakan apa yang terjadi. Begitu diizinkan, ia bergegas menemui
Sally dengan wajah berseri-seri. "Sally! Ternyata siasatmu berhasil cemerlang!
Sungguh hebat! Kau tahu tidak, di kolam renang sore tadi ternyata tak ada ban
penyelamat. Dan apa yang terjadi? Mary-Lou sendiri terjun ke air, lengkap
dengan pakaiannya, untuk menolong aku!"
"Astaga!" Sally terkejut, tetapi wajahnya juga berseri-seri. "Aku tak
peroah berpikir sampai seperti itu! Heran! Tapi, Darrell, inilah kesempatan terbaik
kita untuk menangani Mary-Lou."
"Apa maksudmu?" tanya Darrell.
"Katakan padanya betapa beraninya dia, jauh di luar dugaan semua orang.
Dan ia akan tahu bahwa ia mampu berbuat sesuatu, bahwa sesungguhnya Ia punya
keberanian," kata Sally. "Mudah sekali. Sekali kautanamkan pada seseorang
bahwa ia mampu, maka segalanya akan beres."
"Kau sungguh bijaksana," kata Darrell kagum. "Aku tak akan pernah
berpikir sampai sejauh itu. Baiklah, aku akan berusaha sebaik mungkin. Dan bila
Mary-Lou menjengukmu, kau juga berusaha untuk menanamkan keberaniannya
itu padanya."
Begitulah, Mary-Lou tiba-tiba saja menjadi pahlawan sekolah itu. Semua
anak mengetahui apa yang telah dilakukannya. Ia tanpa mengenal takut terjun ke
air untuk menolong Darrell.
Mary-Lou sangat heran akan pujian yang terus-menerus datang dari
berbagai orang itu. Tapi ia juga merasa senang.
"Sekarang tak ada gunanya kau pura-pura merasa takut lagi," kata Darrell.
"Semua tahu bahwa kau sesungguhnya punya keberanian. Jadi semua
mengharapkan kau bertindak lebih berani dari biasanya."
"Oh, ya, tentu," kata Mary-Lou berseri-seri. "Akan kucoba. Kini aku tahu
bahwa aku bisa bertindak berani. Dan semuanya jadi berbeda, kurasa. Hanya
kalau kita merasa tak bisa melakukan sesuatu, itulah yang menyebabkan kita
merasa begitu tertekan. Aku takkan pernah berpikir untuk terjun begitu saja ke
tempat yang dalam. Dan ternyata hal itu kulakukan! Tanpa berpikir! Tetapi kurasa
itu bukan keberanian, sebab kurasa aku tak akan bisa mengumpulkan keberanian
untuk apa pun."
Satu-satunya yang tak memuji Mary-Lou adalah Gwendoline. Pertama, ia
iri karena semua orang memuji Mary-Lou. Bahkan guru-guru pun tak mau
ketinggalan, sebab mereka semua melihat ini satu-satunya kesempatan untuk
memulihkan rasa percaya diri Mary-Lou. Mereka juga mengerti bahwa sekali
Mary-Lou sadar ia bisa berbuat sesuatu yang membutuhkan keberanian, maka ia
bisa melakukan apa saja tanpa ragu-ragu lagi.
Gwendoline benci sekali pada begitu banyak perhatian yang dicurahkan
pada Mary-Lou. Dan penyebab rasa irinya yang kedua adalah bahwa Mary-Lou
melakukan hal luar biasa itu untuk Darrell!
"Heran juga ada orang yang mau membantu seseorang seperti Darrell itu,"
gerutu Gwendoline, mengingat betapa kerasnya tamparan Darrell dulu. "Kalau
aku, kubiarkan saja ia meronta-ronta di air. Sungguh tolol Mary-Lou. Pasti kini ia
jadi sombong karena begitu banyak dipuji orang."
Tetapi Mary-Lou tidak menjadi sombong. Ia tetap agak pemalu, pendiam,
walaupun kini telah tampak bahwa ia punya keyakinan diri. Ia telah membuktikan
bahwa dirinya punya keberanian. Ia gembira dan bangga walaupun tak
dipamerkannya perasaannya itu seperti yang mungkin akan dilakukan oleh
seseorang seperti Gwendoline.
Dan ini semakin membuat Gwendoline kesal, sebab kini Mary-Lou tidak
begitu saja menuruti kehendaknya. Apalagi ketika Sally sudah bisa bersekolah
lagi, ternyata Sally juga tak mau ikut-ikut saja dengan kemauan Gwendoline.
Sally bahkan terang-terangan membela Mary-Lou dan menegur Gwendoline
dengan cara yang hampir saja membuat Gwendoline menjerit-jerit karena marah.
Waktu kini terasa lewat dengan begitu cepat. Tinggal tiga minggu lagi dan
semester itu akan berakhir. Darrell sampai heran, betapa waktu semakin terasa
sempit baginya.
Ia kini belajar lebih tekun, dan mencapai hasil-hasil yang cukup
memuaskan. Sekali ia bahkan berhasil mencapai tingkat kelima dalam nilai
mingguan. Gwendoline adalah satu-satunya yang tak beranjak dari tempat
terbawah. Bahkan Mary-Lou mulai merayap ke atas. Darrell tak mengerti,
bagaimana Gwendoline nanti menghadapi ayah-ibunya bila rapor semester itu
dibaca mereka. Selama ini Gwendoline selalu bercerita bahwa ia cemerlang dalam
semua pelajaran, tetapi rapor itu pasti mengatakan hal yang sebenarnya. Suatu
hari Darrell mengatakan hal itu pada Gwendoline.
"Gwendoline, apa yang akan dikatakan oleh ayah-ibumu bila mereka
melihat laporan hasil pelajaranmu?" tanya Darrell.
"Laporan... laporan apa? Apa maksudmu?" Gwendoline tampak heran
"Wah, apakah kau tak pernah tahu apa yang dinamakan rapor?" tanya
Darreillebih heran lagi. "Tunggu, akan kutunjukkan buku raporku yang lama, dari
sekolahku dulu. Aku harus membawa buku rapor itu untuk Nona Potts."
Darrell mengambil buku rapornya dan menunjukkannya pada Gwendoline.
Gwendoline ternganga ketakutan. Di situ tertulis mata-mata pelajaran, nilai-nilai
yang dicapai untuk setiap mata pelajaran, tingkat kedudukannya di kelas, dan
bahkan catatan guru tentang pekerjaan-pekerjaan murid yang. bersangkutan!
Gwendoline bisa membayangkan apa yang tertulis di rapornya....
'Bahasa Prancis, sangat ketinggalan dan malas, Matematika. Tak berusaha
sama sekali. Harus mengambil pelajaran tambahan selama liburan. 'Olahraga.
Sangat buruk. Tak punya keahlian dan kerja sama yang bagus.'
Dan seterusnya. Kasihan Gwendoline. Tak pernah ia menduga bahwa
semua hasil buruk yang dicapainya akan dilaporkan ke ayah-ibunya dengan cara
ini. Lemas ia duduk di kursi, menatap Darrell.
"Apakah kau belum pernah menerima rapor sebelumnya?" tanya Darrell
heran.
"Belum pernah," kata Gwendoline lemas.
"Sudah kukatakan, aku belum pernah bersekolah. Aku selalu diajar guru
pribadiku, Nona Winters. Dan ia tak pernah membuat laporan. Ia hanya
mengatakan pada Ibu bagaimana hasil pelajaranku. Dan Ibu percaya padanya.
Nona Winters selalu berkata bahwa hasil pelajaranku selalu hebat. Tak tahunya di
sini aku banyak tertinggal."
"Aku yakin kedua orang tuamu akan sangat terkejut menerima rapormu,"
kata Darrell terus terang. "Aku yakin rapormu akan menjadi rapor yang terburuk
di sekolah ini. Kau akan menyesal telah membual tentang hasil-hasil gemilang
yang pernah kaucapai, seperti yang kauceritakan pada ibumu dan Nona Winters di
tengah semester lalu."
"Aku akan merobek raporku hingga ibuku takkan membacanya," kata
Gwendoline marah.
"Tak kan mungkin bisa" Darrell tertawa. "Rapor itu dikirim dengan pos!
Ha ha ha. Aku senang sekali kau akan dimarahi ibumu di rumah. Mary-Lou
berkata padaku tentang apa saja yang kaukatakan di hari tengah semester yang
lalu. Lucu sekali, membual seperti itu sementara kau tahu otakmu tak lebih
banyak dari otak tikus dan itu pun tak pernah kaugunakan seluruhnya!"
Gwendoline sampai tak bisa berkata apa-apa. Kurang ajar benar Darrell,
berani berbicara seperti itu padanya. Dan kurang ajar benar Mary-Lou, berani
mengatakan hal-hal yang dikatakannya di tengah semester dulu itu pada anak-
anak lain. Sungguh anak yang dengki dan jahat! Ia harus dihajar! Gwendoline
merasa ia harus membalas dendam untuk kelancangan Mary-Lou itu. Misalnya
dengan menginjak hancur pulpen anak itu... ya, apa saja akan dilakukannya untuk
menghajar Mary-Lou!
"Pada hal selama ini ia aku anggap sebagai sahabatku," pikir Gwendoline
marah. "Sungguh tidak punya rasa setial Aku benci padanya!"
Kemudian ia mulai memikirkan rapornya. Ia merasa takut bila
membayangkan betapa marah ayahnya nanti membaca rapornya. Sebab
sesungguhnya itulah yang membuat ayahnya memutuskan untuk mengirimkannya
ke sekolah berasrama ini - ayahnya menganggapnya terlalu malas dan terlalu
bangga akan dirinya. Ayahnya telah sering kali memarahinya. Gwendoline
berusaha untuk melupakan kata-kata ayahnya itu, tetapi kata-kata itu berulangulang
muncul lagi dalam ingatannya.
Ia bisa saja membual, mengatakan apa saja yang dikarangnya sendiri.
Tetapi rapornya akan mengatakan lain - malas, tak bisa diandalkan, tak
bertanggung jawab, angkuh, bodoh - mungkin kata-kata itulah yang akan masuk
ke dalam rapornya. Dan ia tahu, sesungguhnya ia memang patut memperoleh
kata-kata tersebut.
"Tinggal dua atau tiga minggu lagi," pikir Gwendoline dengan gugup.
"Bisakah aku membuat raporku bagus dalam waktu dua minggu? Aku harus
berusaha keras. Mengapa tidak dari dulu aku mengetahui tentang rapor itu? Kalau
tahu dari dulu, aku bisa berusaha lebih keras. Kini aku harus bekerja bagaikan
budak!"
Dan semua orang jadi sangat heran akan perubahan pada Gwendoline.
Terutama Nona Potts dan Mam'zelle. Gwendoline mulai menunjukkan
perhatiannya pada pelajaran! Dan berusaha keras sekali! Ia tak segan-segan
menulis berkali-kali hingga mendapat hasil yang bagus dalam mengarang. Ia
selalu penuh perhatian di dalam kelas.
"Apa yang terjadi pada Gwendoline?" tanya Nona Potts pada Mam'zelle.
"Aku jadi berpendapat bahwa sesungguhnya ia punya otak juga, walaupun sangat
sedikit."
"Ya, aku pun berpendapat begitu," kata Mam'zelle. "Lihat ulangan bahasa
Prancis ini? Hanya salah satu! Belum pernah ini terjadi pada Gwendoline."
"Ya, hal-hal aneh terjadi di sini," kata Nona Potts. "Lihat saja Darrell. Kini
ia juga bekerja lebih keras. Dan Sally Hope sikapnya berbeda. Dan Mary-Lou, ia
berkembang menjadi anak yang penuh keyakinan kini, sejak ia terjun ke kolam
renang dulu itu. Tetapi Gwendoline paling mengesankan perubahannya. Kemarin
ia menulis karangan, cukup bagus, dan hanya salah eja enam buah. Biasanya
salahnya dua puluh. Aku kini bisa menulis 'Bisa menggunakan otaknya' di
rapornya, dan tidak lagi 'Tak pernah menggunakan otak'."
Gwendoline sesungguhnya tak suka bekerja begitu keras. Darrell selalu
menertawakan dirinya. Darrell juga telah mengatakan pada anak-anak lain
mengapa Gwendoline begitu berubah.
"Ia tak ingin ayah-ibunya mengetahui bahwa selama ini ia berdusta pada
mereka," kata Darrell. "Betul kan, Mary-Lou? ltulah akibat dari membual,
Gwendoline. Suatu saat pasti kau terpaksa menanggung akibatnya."
Mary-Lou ikut tertawa. Ia makin berani kini walaupun biasanya itu
dilakukan bila ada Darrell dan Sally di dekatnya. Gwendoline melotot pada anak
itu. Pengkhianat!
Tapi hari berikutnya Gwendoline mendapat kesempatan untuk membalas
Mary-Lou.Ia memasuki ruang rekreasi, dan ternyata di situ tak ada orang. Dan di
meja Mary-Lou tergeletak pulpen yang begitu dibanggakannya! Gwendoline
langsung membantingnya ke lantai.
"Tahu rasa kau!" geram sekali Gwendoline meremukkan pulpen tersebut
dengan sepatunya. Pulpen itu hancur, tintanya menebar di lantai.

21. SUATU KEJUTAN BAGI DARRELL
JEAN yang pertama kali melihat pulpen yang hancur itu. Ia memasuki
ruang rekreasi untuk mengambil buku dan tertegun ketika melihat tinta di lantai
serta hancuran pulpen berantakan di sekitarnya.
"Ya ampun!" Jean berseru. "Siapa yang melakukan ini? Sungguh keji!"
Emily dan Katherine masuk. Jean menunjukkan pulpen tadi pada mereka.
"Lihat," katanya. "Ini betul-betul suatu tindakan keji seseorang!"
"Ini pulpen Mary-Lou," kata Katherine, terkejut. 'Wah, berantakan
begini... siapa yang melakukannya? Ini pasti disengaja."
Mary-Lou datang dengan Violet yang pendiam. Ketika ia melihat
pulpennya, ia menjerit dan menangis, "Ya ampun! Siapa yang melakukan itu? Ini
hadiah dari ibuku. Dan kini hancur!"
Anak-anak lain datang berkerumun. Darrell dan Sally heran melihat
kerumunan ini ketika mereka juga datang. Dan mereka tak heran melihat Mary-
Lou menangis setelah tahu penyebabnya.
"Apa kata ibuku nanti? Ia telah menyuruhku hati-hati merawat pulpen itu!"
Alicia masuk sambil bersiul-siul. Ia tertegun ketika melihat pulpen yang
hancur serta anak-anak yang terdiam itu, dan Mary-Lou yang menangis. Betapa
kejinya anak yang melakukan perbuatan tersebut.
"Siapa yang melakukannya?" tanya Alicia marah. "Ini harus dilaporkan
pada Potty. Aku yakin ini ulah Gwendoline - hanya dia yang sanggup berbuat
sekeji ini!"
"Di mana Gwendoline?" tanya Katherine. Tak ada yang tahu. Tetapi
sesungguhnya Gwendoline ada di luar kamar. Ia hampir saja masuk, tetapi
terhenti ketika mendengar nada marah anak-anak di dalam. Tadinya ia akan
masuk dan berpura-pura terkejut, namun kini ia ragu-ragu, mendengarkan apa
yang sedang dibicarakan di dalam.
"Aku tahu, ada cara yang paling tepat untuk mencari siapa yang
melakukan perbuatan ini," kata Alicia.
"Bagaimana?" tanya Katherine.
"Begini. Siapa pun yang menginjak pulpen ini sampai hancur pastilah
sepatunya terkena tinta ungu seperti ini," Alicia berkata geram.
"Oh, ya, tentu saja,” kata anak-anak itu.
"Kau benar, Alicia," kata Katherine. "Kita akan memeriksa semua sepatu
yang ada di Menara Utara ini. BiIa kita lihat ada yang terkena tinta ungu, pasti
pemiliknya yang menginjak pulpen Mary-Lou sampai hancur."
"Aku bisa tahu tanpa harus pakai cara itu," kata Darrell gemas. "Pasti
Gwendoline Di sini tak ada anak yang mampu berbuat sekeji ini kecuali dia."
Di luar Gwendoline gemetar marah dan takut. Tergesa-gesa ia melihat
bagian bawah sepatunya. Ya, memang sepatunya itu terkena tinta ungu! Cepatcepat
ia berlari meninggalkan tempat tersebut ke ujung gang, ke sebuah gudang
kecil.
Dari dalam gudang kecil tersebut diambilnya sebotol tinta ungu.
Kemudian ia berlari ke kamar tempat menyimpan pakaian luar, di mana terdapat
juga lemari-Iemari kecil untuk menyimpan sepatu. Ia harus bisa melaksanakan
rencananya sebelum terlambat!
Waktu yang ada baginya ternyata cukup banyak. Sebab anak-anak lain
sibuk membersihkan lantai tempat pulpen Mary-Lou itu pecah. Gwendoline
mengoleskan sedikit tinta ungu ke bagian bawah sepatu Darrell dl lemari
perbekalan Darrell.
Kemudian dibuangnya botol berisi tinta itu ke sebuah lemari barangbarang
di dekatnya. Sepatunya sendiri, yang terkena tinta, dimasukkannya pula ke
dalam lemari yang berisi berbagai macam barang itu. Di tempat itu pastilah sepatu
tadi tak akan diketemukan orang. Dan ia pun memakai sandal sebelum berlari ke
luar, ke Taman Dalam dan muncul di pintu ruang rekreai seolah-olah baru saja
bermain-main di taman. Ia muncul dengan sikap tenang dan seolah tak mengerti
apa-apa. Gwendoline memang pandai bersandiwara untuk keperluan dirinya
sendiri.
‘Ini dia Gwendoline! seru Alicia. "Gwendoline, kau tahu tentang pulpen
Mary-Lou?"
"Pulpen Mary-Lou? Kenapa?" tanya Gwendoline seolah-olah tanpa dosa.
"Ada orang yang telah menginjaknya sampai hancur," kata Sally.
"Sungguh kejam!" kata Gwendoline, memperlihatkan muka gusar. "Siapa
yang melakukannya?"
"Itulah yang ingin kita ketahui," kata Darrell yang gemas melihat wajah
kemenangan Gwendoline, "dan kita pasti akan menemukannya!"
"Kuharap begitulah," kata Gwendoline tersenyum mengejek. "Jangan
melotot padaku seperti itu, Darrell. Bukan aku yang berbuat. Malah aku kira
pastilah kau! Kuperhatikan akhir-akhir ini kau begitu iri, karena hanya Mary-Lou
yang dipuji-puji atas jasanya menolong kau dari kolam renang.”
Semua tertegun. Bagaimana Gwendoline bisa menuduh Darrell seperti itu?
Hampir saja meledak amarah Darrell. Dirasanya darah menderas ke mukanya.
Tapi untunglah Sally melihat warna merah mulai membara di muka sahabatnja
itu. Ia segera memegang lengannya. "Sabarlah, Sobat," katanya lembul Dan marah
Darrell mereda. Hampir tak bisa bernapas ia menahan amarah itu.
"Gwendoline," kata Katherine, sambil terus menatap wajah anak itu, "kami
berpikir bahwa siapa pun yang menginjak hancur pulpen ini, sepatunya pastilah
terkena tinta ungu. Dan kini kami akan memeriksa sepatu-sepatu yang ada di sini
Dengan begitu kami akan bisa menemukan siapa yang telah berbuat."
Wajah Gwendoline tak memperlihatkan perubahan sedikit pun. "Itu suatu
cara yang bagus sekali," katanya dengan besemangat. "Sungguh cerdik. Aku yakin
dengan cara itu anak yang tak punya hati itu bisa ditemukan."
Semua tercengang mendengar perkataan Gwendoline. Anak-anak jadi
sedikit ragu. Kalau memang Gwendoline yang berbuat, apakah ia juga begitu
bersemangat mendukung pencarian siapa yang menginjak pulpen itu?
Mungkinkah memang ia tak berbuat?
"Kalau kalian suka, boleh memeriksa sepatuku terlebih dahulu. Atau
sandal ini," kata Gwendoline, dan ia benar-benar menunjukkan telapak sandalnya.
Tentu saja bersih.
"Kami akan memeriksa sepatu-sepatu yang ada di lemari sepatu,” kata
Katherine. "Tetapi baiklah, mula-mula kita periksa sepatu yang ada di sini. Coba
kalian satu per satu mengangkat kaki."
Semua sepatu diperiksa. Tak ada yang terlihat bertanda tinta ungu.
Kemudian tanpa banyak berbicara, anak-anak kelas satu Menara Utara itu pergi
ke ruang penyimpanan pakaian luar, di mana terdapat lemari-lemari sepatu.
Lemari sepatu Gwendoline diperiksa pertama kali, sebab Katherine,
seperti juga anak-anak lain, mempunyai dugaan bahwa kemungkinan besar salah
satu sepatunya akan berbekas tinta. Tetapi ternyata semuanya bersih.
Malah salah satu sepatu Darrell-lah yang elapaknya bertinta. Katherine
yang mengambilnya dari lemari tercengang tak bisa berbicara. Dan tanpa bersuara
ia menunjukkannya pada yang lain.
"Sepatumu!" kata Katherine akhirnya. "Oh, Darrell!"
Darrell ternganga. Dan ia melihat ke semua wajah anak yang
mengelilinginya. Beberapa di antaranya segera membuang muka. Alicia
menatapnya dengan pandangan marah.
"Wah, wah, wah! Siapa mengira bahwa yang berbuat Darrell kita yang
suka terus terang ini?" desis Alicia dengan nada mengejek. "Aku sama sekaIi tak
mengira, Darrell!"
Dengan wajah jijik ia berpaling. Darrell segera memegang lengannya.
"Alicia! Masa kau percaya aku yang menghancurkan pulpen Mary-Lou?"
katanya gugup. "Percayalah! Bukan aku yang melakukannya! Aku takkan sudi
melakukan perbuatan sekeji itu. Oh, Alicia, bagaimana kau bisa punya pikiran
seperti itu terhadapku?"
"Pokoknya sepatumu yang berbekas tinta," kata Alicia. "Kau pastilah tak
bisa menguasai dirimu lagi, Darrell. Dan dalam marahmu kau menghempaskan
dan menginjak pulpen itu! Jangan tanya padaku, apa kau mampu berbuat sekeji
itu atau tidak. Sebab aku bukannya kau!"
"Tetapi Alicia... lalu apa alasanku berbuat itu?" seru Darrell. "Dan lagi aku
bukanlah seorang pendendam! Alicia, kukira kau sahabatku. Kau dan Betty selalu
mengajakku bersama. Masa kau tega menuduhku seperti ini?"
"Kau bukan sahabatkul" kata Alicia tegas, dan meninggalkan ruang itu.
"Ini pasti suatu kekeliruan!" kata Darrell putus asa. "Oh, jangan kalian
percaya bahwa aku yang melakukannya. Jangan percaya!"
"Aku tidak percaya kau yang melakukannya, Darrell!" kata Mary-Lou
dengan air mata mengalir di pipinya. Digandengnya tangan Darrell. "Aku yakin
bukan kau. Aku akan tetap bersahabat denganmu!"
"Dan aku juga," kata Sally dengan suara lembutnya. "Aku tak percaya kau
yang melakukannya, Darrell."
Darrell gembira bahwa di antara anak-anak yang memandangnya dengan
pandang dingin membenci, masih ada dua pasang mata yang begitu hangat
memandangnya. Ia sangat terharu dan hampir menangis. Sally menuntunnya
keluar dari kamar itu. Katherine memandang pada teman-teman di sekelilingnya.
Wajahnya bingung. Dan kecewa.
"Aku juga tak percaya bahwa Darrell yang berbuat," katanya akhirnya.
"Tetapi... itu juga harus dibuktikan terlebih dahulu. Dan sebelum terbukti tidak
bersalah, kita terpaksa menganggapnya si pelaku perbuatan keji itu. Sayang
sekali. Aku tahu bahwa kita semua menyukai Darrell."
"Aku tak pernah menyukainya," kata Gwendoline dengan nada
kemenangan. "Aku selalu berpendapat bahwa ia mampu berbuat apa saja. Apalagi
dengan sifat pemarah seperti itu."
"Tutup mulut!" tukas Jean agak kasar. Gwendoline tutup mulut. Tetapi ia
puas akan apa yang telah dikatakannya dan apa yang dilakukannya.
Sally dan Mary-Lou membuktikan kata-kata mereka. Mereka berdua tetap
bersahabat dengan Darrell, menemaninya, membantunya, membelanya dengan
sikap teguh. Mary-Lou malahan terang-terangan menentang Gwendoline. Tetapi
suasana tetap saja terasa sangat tidak menyenangkan bagi Darrell. Walaupun tak
ada yang mengusulkan hukuman apa yang harus dijatuhkan pada Darrell, tetapi
Darrell merasa begitu tertekan melihat ia seolah-olah dikucilkan oleh semua
temannya - kecuali Sally dan Mary-Lou.
Mary-Lou sangat kuatir akan keadaan ini. Baginya, karena pulpennyalah
Darrell jadi begitu menderita. Ia yakin Darrell tak bersalah. Seperti Sally, ia yakin
akan sifat alami Darrell yang senang akan kejujuran dan penuh kebaikan.
Keduanya yakin, tak mungkin Darrell sampai hati berbuat seperti itu.
Tapi... lalu siapa yang berbuat? Pastilah seseorang yang mendendam baik
pada Mary-Lou dan Darrell. Dan orang itu - pastilah Gwendoline. Jadi, pasti
Gwendoline yang memberi tinta ungu pada sepatu Darrell.
Itu berarti sepatu Gwendoline haruslah berbekas tinta pula. Padahal
sewaktu diperiksa, semua sepatunya bersih!
Suatu malam Mary-Lou memikirkan semua ini. Ia tak bisa tidur karena
begitu kasihan pada Darrell. Bagaimana Gwendoline bisa melakukan siasat sekeji
itu? Bagaimana Gwendoline bisa tahu bahwa mereka akan memeriksa semua
sepatu? Apakah Gwendoline ada sewaktu mereka merundingkan hal itu? Tidak.
Tetapi mungkin saja ia berada di luar kamar dan mendengar pembicaraan
tentang itu! Dan pastilah ia kemudian bergegas ke lemari sepatu, mengolesi sepatu
Darrell dengan tinta, menyembunyikan sepatunya sendiri, kemudian kembali ke
ruang rekrasi dengan tenang dan aman.
Mary-Lou bangkit duduk. Dadanya berdebar keras. Tiba-tiba ia merasa
mengerti apa yang telah terjadi. Ia mulai gemetar sedikit seperti biasanya bila
merasa tegang atau ketakutan. Di mana kira-kira Gwendoline menyembunyikan
sepatunya? Pastilah de kat lemari-lemari sepatu itu. Apakah sudah dipindahkan
dan disembunyikan di tempat yang lebih aman, ataukah masih ada di tempat itu?
Malam telah larut. Di luar sangat gelap. Semua sudah tidur lelap. Mary-
Lou berpikir-pikir, beranikah ia pergi ke ruang penyimpanan pakaian luar dan
menyelidikinya? Ia sangat ingin agar perkara ini segera bisa diselesaikan dan
dijernihkan. Tetapi ia sangat takut akan kegelapan! Namun... dia dulu toh juga
sangat takut akan air, dan ternyata setelah terjun ke tempat dalam untuk menolong
Darrell kini ia tak begitu takut lagi. Mungkin ia juga tak akan merasa takut pada
kegelapan, kalau untuk menolong Darrell. Paling tidak ia aka mencoba dulu.
Mary-Lou merayap turun dari tempat tidur. Ia tak memakai gaun
kamarnya. Tak terpikirkan olehnya hal itu. Dengan berpakaian tidur, ia merabaraba
ke pintu, keluar. Untung di gang ada sebuah lampu. Remang-remang
cahayanya.
Menyeberangi gang, turun tangga, ke kamar-kamar di bawah.
Ditemukannya ruang penyimpanan pakaian luar . Ya ampun. Gelap sekali. Mary-
Lou merasa sesuatu seolah merambati punggungnya. Ia begitu ketakutan. Sesaat
ia hampir saja menjerit. Ya, ia akan menjerit!
"Ini untuk Darrell!" ia berpikir dan memantapkan hati. "Aku melakukan
ini untuk orang lain, dan sangat penting, harus kulakukan. Aku tak akan menjerit.
Oh, tetapi di mana tombol lampu?"
Ditemukannya tombol tersebut. Dinyalakannya lampu. Kamar itu jadi
terang. Mary-Lou bernapas lega. Kini ia takkan merasa takut Ia tidak lagi di
dalam kegelapan. Ia merasa bangga bahwa ia tadi tidak menjerit padahal sudah
hampir saja dilakukannya.
Diperhatikannya lemari-lemari sepatu. Itu punya Gwendoline. Dibukanya,
dikeluarkannya semua sepatunya. Tidak, tak ada yang berbekas tinta. Lalu... di
mana sepatu yang bertinta itu di sembunyikan?

22. AKHIR SEMESTER
MARY-LOU melihat lemari kecil di dekatnya. Ia tahu apa isinya. Bola,
raket, sepatu rusak.... pokoknya benda-benda yang sudah tak dipakai tapi
pemiliknya merasa sayang untuk membuangnya. Mungkin sepatu Gwendoline ada
di situ! Hati-hati ia membuka pintu lemari kecil tersebut: takut kalau-kalau ada
labah-labah atau binatang kecil lain keluar.
Diperiksanya berbagai benda rongsokan di dalamnya. Dengan takut ia
memindah-mindahkan barang-barang itu satu per satu. Ditariknya sebuah raket,
dan sebuah benda terjatuh dengan suara keras. Mary-Lou membeku seketika.
Adakah orang yang mendengar suara itu? Ia menahan napas dengan badan
gemetar. Tidak, agaknya tak ada. Ia mulai mencari-cari lagi.
Dan ditemukannya sepatu Gwendoline! Ditemukannya botol dengan tinta
ungu. Itulah yang jatuh dengan suara keras tadi. Mary-Lou memperhatikan botol
tinta itu, dan ia tahu digunakan untuk apa benda tersebut oleh Gwendoline.
Diperhatikannya sepatunya - dan di sepatu yang sebelah kanan terlihat bekas tinta
ungu. Nyata sekali! Dengan tangan gemetar Mary-Lou melihat nama yang tertulis
di dalam sepatu itu. Untuk meyakinkan diri. Ya, di situ tertulis dengan tulisan rapi
Nona Winters: Gwendoline Lacey.
"Jadi betul-betul Gwendoline!" pikir Mary-Lou. "Aku memang telah yakin
bahwa bukan Darrell yang berbuat. Aku akan segera membangunkan anak-anak...
akan kuceritakan sekarang juga. Ah, lebih baik jangan. Mungkin Katherine akan
marah aku keluyuran malam-malam begini."
Mary-Lou mengambil botol dan sepatu itu. Dipadamkannya lampu kamar.
Ia berdiri dalam kegelapan. Tetapi apakah dia takut? Sedikit pun tidak. Tak sekali
pun ia memikirkan kegelapan di sekelilingnya. Pikirannya dipenuhi oleh
penemuannya yang begitu berarti. Ia telah membuktikan bahwa bukan Darrell
yang melakukan perbuatan itu. Darrell tidak bersalah!
Mary-Lou bangun paling pagi. Ia langsung pergi ke tempat tidur
Katherine. Diguncangnya ketua kelasnya itu sehingga terbangun. "Bangun!"
serunya. "Ada sesuatu yang sangat penting yang harus kukatakan padamu.
Bangunkan yang lain!"
Yang lain terbangun juga oleh keributan Mary-Lou. Mereka duduk di
tempat tidur, mengusap-usap mata masing-masing. Mary-Lou berdiri menghadap
semua tempat tidur, dan ia mengangkat sepatu Gwendoline dengan gaya penuh
arti.
"Lihat! Telah kutemukan sepatu yang betul-betul terkena tinta. Dan
kutemukan pula satu botol tinta ungu. Lihat ini? Anak yang telah menghancurkan
pulpenku menyembunyikan sepatunya dan mengoles sepatu Darrell dengan tinta
ungu ini. Dengan demikian kalian semua menuduh Darrell yang berbuat."
"Tetapi sepatu siapa itu?" tanya Katherine heran. "Dan kau temukan di
mana?"
"Malam tadi aku pergi ke bawah, dan menyelidiki di tempat penyimpanan
barang-barang yang tak terpakai," kata Mary-Lou bangga. Semua semakin heran.
Mary-Lou berani turun dalam kegelapan? Semua tahu bahwa Mary-Lou sangat
takut di kegelapan.
"Kutemukan sepatu dan botol tinta ini di dalam lemari kecil di tempat itu,”
kata Mary-Lou. "Dan apakah kalian ingin mengetahui sepatu siapakah ini? Aku
tak akan mengatakannya pada kalian. Tidak. Lihat saja ke seisi kamar ini. Dan
kalian bisa melihat dari gerak-gerik mukanya, nama siapa yang tertulis di dalam
sepatu ini!"
Memang benar. Muka Gwendoline merah padam oleh rasa marah dan rasa
ketakutan. Dengan gusar dipelototinya Mary-Lou. Wah, jadinya dirinya
tertangkap juga. Mengapa tidak dibuangnya saja botol dan sepatu itu ke laut!
"Gwendoline!" bisik anak-anak itu. Mereka memandang dengan rasa
marah dan jijik pada anak yang kini wajahnya merah padam itu. Dan kali ini
Gwendoline tidak berusaha untuk menyangkal.
Ia merebahkan badan kembali ke tempat tidur, menyembunyikan mukanya
di bantal.
Katherine memeriksa sepatu dan botol itu. Kemudian ia mendekati
Darrell, mengulurkan tangan minta maaf.
"Darrell, aku minta maaf karena telah berpikir bahwa kaulah yang
berbuat," katanya. "Sesungguhnya aku tak meragukan kejujuranmu, tapi aku harus
mempunyai bukti nyata untuk itu."
"Oh, tak apa. Lupakanlah,” kata Darrell dengan wajah berseri-seri.
"Memang aku sangat menderita karena sikap kalian, tetapi aku ternyata dapat
mengandalkan dua orang sahabat yang tak pernah meragukan aku... Sally dan
Mary-Lou. Aku masih beruntung. Gwendoline tak akan punya sahabat seperti
keduanya itu."
Satu per satu anak-anak di kamar itu minta maaf pada Darrell. Alicia agak
kaku sikapnya, sebab ia betul-betul malu akan kata-kata keras yang diucapkannya
dulu itu. Namun memang begitulah sifat Alicia. Selalu keras dan tajam. Ia harus
mendapat banyak pelajaran sebelum bisa menguasai sifat kekerasannya itu dan
memperoleh pengertian dari orang-orang di dekatnya.
"Aku ingin bersahabat denganmu lagi,” kata Alicia kikuk. "Bergabunglah
dengan Betty dan aku seperti dulu."
"Terima kasih," kata Darrell, dan ia menoleh pada wajah kecil penuh rasa
setia, Sally, di sampingnya. "Tapi kalau kau tak keberatan aku lebih suka
bersahabat dengan Mary-Lou dan Sally saja. Aku sering memperlakukan mereka
dengan buruk, tetapi ternyata mereka malah membelaku pada saat aku mendapat
kesulitan. Kukira merekalah sahabat-sahabat sejatiku."
"Oh, terima kasih, Darrell!" kata Mary-Lou dengan wajah bahagia.
Sally tak berkata apa-apa. Tetapi Darrell merasakan sebuah cubitan lembut
di lengannya. Darrell berpaling pada Sally dan tersenyum. Ia juga merasa sangat
bahagia kini. Segalanya telah selesai dan keadaan pasti akan baik terus sampai
akhir semester. Sagus.
Ia melihat Gwendoline tengkurap di tempat tidurnya, menangis. Dalam
kebahagiaannya, Darrell bahkan tak bisa melihat musuhnya bersedih. Didekatinya
Gwendoline, dan diguncangkannya punggung anak itu perlahan.
"Gwendoline," katanya, "aku tak akan mengatakan peristiwa ini pada siapa
pun. Dan teman-teman di kamar ini juga akan berbuat yang sama, bila kuminta.
Tapi kau harus membelikan pulpen baru bagi Mary-Lou. Pulp en yang sama
indahnya, sama bagusnya dengan pulpen yang kauhancurkan. Bagaimana?"
"Baiklah," kata Gwendoline lemas, hampir tak terdengar. "Aku akan
membelikannya."
Hanya itulah yang bisa dikatakan Gwendoline. Ia bahkan tak bisa berkata
bahwa ia menyesal. Ia bahkan tak bisa berkata minta maaf ketika akhirnya ia
memberi Mary-Lou sebuah pulpen baru dan sangat bagus. Ia lebih lemah dari
Mary-Lou, sebab ia tak punya kekuatan untuk mengalahkan dirinya sendiri.
"Ia tak akan bisa jadi baik kan, Katherine,” tanya Darrell suatu hari pada
Katherine. Katherine tersenyum.
"Itu tergantung pada berapa lama ia berseolah di Malory Towers ini,”
jawabnya. “Aneh juga, betapa semakin lama kita tinggal di sini, semakin baik
pribadi kita. Begitulah kata ibuku. Ia bersekolah di sini juga, dan banyak ceritanya
tentang anak-anak yang bertabiat buruk yang akhirnya menjadi baik karena
kehidupan di sini.”
"Tetapi kukira Gwendoline sudah tak bisa diperbaiki lagi," kata Darrell.
"Kukira lebih baik bila ia meninggalkan saja sekolah ini.”
Gwendoline sendiri merasa bahwa ia lebih baik meninggalkan sekolah itu.
Dua minggu terkhir semester itu sangat tak menyenangkan baginya. Memang tak
seorang pun berbicara tentang peristiwa pulpen Mary-Lou itu, tetapi setiap anak
selalu memikirkan peristiwa itu dan memandang Gwendoline. Karenanya mereka
selalu menghindarinya, dan bicara dengannya hanya bila sangat perlu saja.
Mereka juga jadi yakin bahwa Gwendoline-lah yang melakukan perbuatan lainnya
yang merugikan Mary-Lou sebelum itu.
Kasihan Gwendoline. Di samping menghadapi perasaan benci anak-anak
di sekitarnya, ia harus bekerja keras untuk mengejar ketinggalann. Tetapi ini
semua adalah akibat dari ulahnya sendiri. Jadi ia tak bisa mengeluh terlalu dalam.
Toh yang salah adalah dirinya sendiri.
Selama akhir semester itu Darrell merasa sangat bahagia. Ia, Sally, dan
Mary-Lou selalu bersama-sama kini. Darrell tak lagi ingin menjadi sahabat erat
Alicia. Sally sudah menjadi sahabat yang sangat memuaskan hatinya. Sebab Sally
yang berhati sabar dan cerdas itu bisa membuatnya menahan diri. Dengan Sally di
dekatnya, rasanya tak mungkin Darrell akan kehilangan kesabarannya.
Ujian datang dan pergi. Darrell mencapai hasil-hasil yang sangat baik.
Sally tak begitu baik angkanya, karena ia pernah tak masuk selama dua atau tiga
minggu saat ia harus dirawat di san. dan lagi demi kesehatannya ia tak
diperkenankan mengambil seluruh pelajaran sepenuhnya.
Gwendoline cukup maju, di luar dugaan semua orang. "Itulah bukti bahwa
kau sesungguhnya bisa kalau kau mau mencobanya," kata Nona Potts padanya.
"Aku tak bisa mengerti mengapa kau baru mau menggunakan otakmu dua-tiga
minggu sebelum semester berakhir. Mungkin semester berikutnya kau sudi untuk
sepenuhnya mencoba dari awal semester?"
Gwendoline tak mengatakan pada Nona Potts apa yang membuatnya
bekerja begitu keras di minggu-minggu terakhir. Ia sangat berharap agar hasil
kerjanya yang ditulis di rapor cukup menyenangkan ayah-ibunya! Sungguh
mengesalkan semester ini. Mudah-mudahan ia tak usah kembali ke sekolah ini.
Sebab semester yang akan datang ia akan terpaksa berjuang agar anak-anak
melupakan apa yang pernah dilakukannya di semester ini.
Sebaliknya, Darrell merasa bahwa semester yang dijalaninya itu sungguh
indah - kecuali saat-saat Sally sakit dan dua-tiga hari saat anak-anak
memusuhinya karena perkara pulpen Mary-Lou. Tetapi Darrell jarang
memikirkan hal itu.
Sifatnya bagaikan matahari, hanya melihat hal-hal yang terbaik saja dan
melupakan hal-hal yang kurang menyenangkan. Ia agak menyesal bahwa akhirnya
semester itu harus berakhir - tapi waktu liburan bisa juga menyenangkan.
Sally akan tinggal di rumahnya selama liburan ini, selama satu minggu.
Kemudian Darrell akan tinggal di rumah Sally selama satu minggu pula.
"Kau pasti akan menyukai adikku" kata Darrell. "Ia sungguh lincah!"
"Dan kau akan melihat adikku," kata Sally setengah malu. "Aku akan
mengajarnya agar suka berolahraga. suka bergerak, jujur dan menyenangkan
seperti... kau."
Sayang Mary-Lou tidak tinggal di dekat rumah Sally atau Darrell.
Sesungguhnya ia juga ingin berlibur dengan mereka. Tapi tak apa. Toh mereka
akan bertemu lagi semester yang akan datang. Dan semester yang akan datang
lagi. Dan semester yang akan datang lagi... Mary-Lou sadar bahwa sesungguhnya
sahabat akrab Darrell adalah Sally, dan bukannya dirinya. Tetapi ia tak terlalu -
memikirkan hal itu. Toh Darrell jelas juga suka padanya dan malahan
mengaguminya juga. Itulah yang penting bagi Mary-Lou. Betapa herannya nanti
ibunya melihat Mary-Lou yang kini tak takut pada kegelapan itu!
Hari terakhir tiba. Ramai sekali, ribut dengan berbagai persiapan untuk
berangkat Bagaikan pasar malam saja. Hiruk-pikuk dan anak-anak dari keempat
menara campur aduk tak keruan.
"Selalu hari terakhir penuh dengan kegilaan,” kata Mam'zelle terengahengah
mencari jalan di antara begitu banyak anak. “Darrell! Sally! Tolong beri
jalan! Aku mau lewat! Ah, anak-anak Inggris ini sungguh gila semua!"
Nona Potts tampak tenang dan pasti di antara keributan itu memberikan
tas-tas kecil pada beberapa orang murid serta mencatat siapa-siapa yang sudah
dijemput oleh orang tua mereka, mengumpulkan barang-barang yang terjatuh atau
terlupa oleh pemiliknya. Biasanya memang hanya Nona Potts yang tampak waras
di hari-hari seperti itu. Bahkan Ibu Asrama juga tampak kebingungan mencari
daftar pakaian yang sebenarnya terselip di ikat pinggangnya.
Bis-bis datang. anak-anak semakin ribut. "Ayo, Darrell!" teriak Sally.
"Ayo, cari tempat duduk di depan! Di mana Mary-Lou?"
"Ia naik mobil!" teriak Darrell. "Hai, Mary-Lou! Selamat jalan! Kirim
surat. ya! Selamat jalan!"
"Ayo, cepat! Cepat!" seru Nona Potts menggiring anak-anak masuk ke
dalam bis. "Di mana Alicia? Kalau dia hilang lagi bisa gila aku. Alicia! Cepat naik
dan jangan turun lagi! Selamat jalan. Anak-anak. Baik-baiklah selama liburan!
Dan jangan lupa bawa surat dokter kalau kembali kemari lagi!"
"Selamat tinggal Potty! Selamat tinggal, Potty!" teriak anak-anak dari bisbis
yang sudah mulai berjalan. "Selamat tinggal. Potty!"
"Ya ampun!" seru Darrell terkejut. Belum pernah Nona Potts dipanggil
'Potty' secara langsung begitu. "Berani benar mereka!"
"Inilah satu-satunya saat kita berani memanggilnya begitu," kata Alicia
menyeringai. "Di saat kita meninggalkannya. Dan biasanya dia tak marah. Lihat
saja itu, ia malah tersenyum."
Darrell menjulurkan badannya ke luar bis dan berteriak. "Selamat tinggal.
Potty! Selamat tinggal Malory Towers!" Dalam hati ia menambahkan.
"Sampai jumpa nanti di semester baru!"
Selamat jalan! Selamat tinggal! Selamat berpisah, Darrell, Sally, dan lainlainnya!
Sampai jumpa lagi segera. Selamat jalan!


TAMAT

0 Response to "Mallory Towers"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified