Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Malam Terakhir

Kumpulan Cerpen


Malam Terakhir

Cerpen Donny Anggoro

Sinar matahari memanggang di atas aspal. Dua lelaki di seberang jalan depan stasiun. Si Kurus mendesis. Temannya, Si Pendek tertawa. Sebelumnya Si Pendek menolak perintah Si Kurus agar ia berjalan agak lambat. Perintah baru dituruti setelah Si Kurus memberikannya sebatang rokok kretek sisa semalam.

Panas matahari semakin garang. Sinarnya menembus batok kepala Si Kurus. Berkali-kali ditelannya ludah. Ditahannya rasa pening menusuk ubun-ubun.

“Panas, Mas?”

“Sekarang mau nggak kamu belikan es ?”

Si Pendek mengerti Si Kurus sudah tak tahan lagi berdiri lebih lama di bawah terik matahari. Berhentilah mereka di sebuah halte bis. Si Pendek membantu Si Kurus duduk. Si Pendek kemudian menyeberang. Dia berhenti dekat tukang minuman. Si Kurus duduk menunggu temannya sembari menghabiskan sebatang rokok. Di depannya beterbangan debu-debu jalanan, asap kendaraan hitam pekat bergumpal-gumpal. Perlahan angan Si Kurus mengalir.

“Posternya memang dilihat orang. Tapi apakah nanti orang-orang akan menonton masih tanda tanya,” sahut Jawinul lesu.

Dia baru saja memasang poster pertunjukan ketoprak di alun-alun. Alun-alun adalah pusat segalanya di kabupaten itu. Lelaki bertubuh pendek dan gempal itu segera menuju ke gedung pertunjukan tempatnya menginap. Sukri, laki-laki pemimpin ketoprak yang sudah puluhan tahun menggauli dunia panggung itu diam saja, melamun. Melamunkan Surti.

“Sudahlah Mas. Jaman sekarang orang-orang sudah tidak suka lagi nonton ketoprak! Mereka sekarang senangnya ndangdutan, nonton pilem atau nonton tipi saja sambil keleleran di rumah!” kata Surti.

“O, o, o jadi kamu kecewa?”

Surti tidak menjawab.

“Lantas maumu apa? Apa mau bikin grup dangdut saja?”

“Kita sudah habis, Mas. Orang sekarang sudah tidak butuh apa-apa. Semuanya sudah datang sendiri. Ada tipi, ada kaset buat didenger sendiri di rumah. Kita sudah tidak diperlukan lagi! Semuanya sudah berakhir, Mas!”

“Kamu nyesel, Ti?”

“Bukannya nyesel. Kenyataannya memang begini ya mau ngomong apa to Mas?”

“Sudahlah jangan dipikir. Kalau Gusti Allah nanti memberi jalan ya pasti jalannya terang....”

Sukri terdiam. Sekarang Surti sudah pergi. Pergi tanpa pamit. Kata orang kepincut sama Ngatiman, makelar tanah. Mungkin jenuh dengan dunia panggung. Dunia yang serba tak pasti. Mungkin jenuh dengan ketoprak. Bosan dengan kemurungan. Mungkin juga kemiskinan. Sukri terpaksa menerima. Apalagi Ngatiman bukan orang sembarangan. Mobilnya saja dua biji. Tinggal istri saja yang belum. Begitu kenal Surti jadi tambah satu. Ya, Surti. Surti bekas istri Sukri, bos ketoprak.

Bagi Sukri dunia panggung bukan lagi dunia pura-pura. Sukri lahir dan besar di panggung. Bapaknya pemilik kelompok Wayang Orang Bedoyo Utomo. Semula dia jadi anak panggung. Semua peran pernah dimainkannya. Dari Buta Cakil sampai Gatutkaca. Dari Petruk sampai Dursasana. Sukri bahkan pernah mempunyai penggemar. Salah satunya ya Surti, sinden ayu kesayangan dalang Ki Marto. Hmh...

Tapi itu dulu. Dulu sekali. Meskipun ia sekarang sudah mempunyai kelompok hiburan sendiri kini segalanya telah pergi. Ya, penonton, ya, teman-teman, juga Surti. Surti? Ya, Surti. Teman-teman lain pun punya hak pergi. Ikut wayang orang, ketoprak, grup lawak atau ndangdutan. Hidup dengan sisa keemasan masa lalu memang terasa pahit. Oalah, susah sekali menarik garis pemisah antara dunia panggung dengan kehidupan nyata. Biar di atas panggung jadi raja atawa ksatria toh dalam kehidupan sehari-hari tak lebih jadi wong cilik. Seperti bumi dan langit. Seperti sorga dan neraka. Seperti air dan api. Seperti air tuak dan comberan.

Dalam setiap pementasan Sukri selalu mencari bentuk baru. Dengan ketoprak Sukri bisa mengembangkan cerita bikinannya sendiri tak terbatas. Tentu saja masih berpijak dengan cara-cara yang dia tahu. Sukri paling puas jika mementaskan lakon karangannya.

“Minum, Mas!”

Lamunan Si Kurus terhenti. Heh, secepat itukah aku berkelana? Es teh manis segera diminumnya. Bergantian dengan Si Pendek.

“Hari ini dapat berapa?” tanya Si Kurus. Agak lumayan rasa peningnya hilang seiring dengan segarnya kembali kerongkongannya.

“Lima ribu.”

Cuma lima ribu? Tolol! Sudah berapa lama jadi penuntunku?” bentak Si Kurus.

Si Pendek menunduk, diam. Perasaannya langsung ciut. Habis gimana memang dapatnya cuma segini, bisiknya dalam hati. Si Kurus, jika sudah membentak begitu pertanda dia murka.

“Goblok! Tolol! Kamu kan yang punya mata? Seharusnya kamu dong yang bisa lihat orang kasih recehan! Masak cuma segini? Sontoloyo! Dasar telo!”

“Sabar, to Mas. Lha, dapetnya cuma segitu?”

“He, kamu yang masih punya mata, masih bisa lihat, lari-lari dan jalan-jalan dengan gesit harusnya bisa lebih banyak!”

“Jadi kita jalan lagi?”

Si Kurus terdiam. Dia baru sadar mereka baru saja istirahat.

“Jadi kita jalan lagi, Mas?”

Tapi kaki Si Kurus pegal-pegal. Napasnya megap-megap. Tak sanggup lagi dia berjalan. Tidak ada gunanya marah-marah. Tiba-tiba dia merasa bersalah setelah membentak Si Pendek, satu-satunya temannya yang tersisa. Yang paling setia. Dari dulu sampai sekarang. Sampai jadi kere dan picek....Oalah, maafkan aku yang baru saja terbang. Pikiran ngelambrang ke sana ke mari. Lari-lari tidak keruan. Perlahan air mata Si Kurus mengalir.

***

Sukri bersiap-siap. Malam ini adalah malam terakhir grup ketopraknya manggung. Besok gamelan-gamelan itu harus segera diangkut. Sukri terpaksa menjualnya. Bukankah seluruh anak buahnya harus makan? Gedung pertunjukannya harus dirobohkan. Sebab sebentar lagi akan diadakan acara perayaan pembangunan. Lengkap dengan pasar malam dan acara dangdutan segala. Mereka harus segera menyingkir. Menyingkir? Ya, menyingkir. Ke mana? He-eh, kemana ya? Entahlah....

Waktu mengalir seperti mimpi. Ingin rasanya Sukri jadi tokoh wayang saja. Sakti mandraguna. Bagaimanapun hebatnya pasti bisa melawan. Melawan keadaan. Berontak! Ya, berontak! Menyumpal mulut-mulut pegawai negeri bidang kebudayaan itu dan kemudian membakarnya seperti Hanoman membumi hanguskan Alengka.

“Mas,”

Suara Gito, petugas penarik layar panggung mengejutkannya.

“Kita tetap main?”

Sukri tidak menjawab. Ia hanya mengangguk lesu. Sebentar lagi maghrib. Pertunjukan malam terakhir akan segera dimulai. Apa boleh buat, the show must go on. Tidak ada kata “tidak jadi manggung”. Bukankah sudah ratusan kali mereka memainkan lakon ini? Sepi tidak ada penonton bukan halangan. Meski besok mereka harus segera menyingkir. Tersingkir, menyingkir dan disingkir. Tersingkir dari peradaban. Peradaban yang telah melupakan manusia-manusianya.

Tepat jam tujuh malam. Lampu-lampu sudah dinyalakan. Petugas karcis sudah mulai menyiapkan dagangannya. Yang lain, para pemain sudah mulai memoles wajah-wajah mereka dengan warna-warni. Sukri bangkit berdiri menuju layar bergambar candi yang merupakan layar utama.

Tapi betapa terkejutnya Sukri. Matanya tak percaya apa yang dilihatnya. Ketika dia melirik di balik ruangan gelap gulita dilihatnya tempat penonton di depan nyaris penuh. Sukri terbelalak tidak percaya. Diliriknya jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan. Astagafirullah, bukankah sekarang masih pukul tujuh? Bukankah pertunjukan baru akan dimulai satu jam lagi?

Dilihatnya deretan penonton yang duduk paling depan. Mereka tengah bercakap-cakap diselingi canda dan tawa. Sukri heran dari mana datangnya penonton sebanyak ini. Memang inilah malam yang selalu diharapkannya. Tidak, tidak mungkin. Dari mana datangnya penonton sebanyak ini? Bukankah mereka akan segera menyingkir? Bukankah seperti kata Surti orang-orang sekarang sudah malas nonton ketoprak? Bukankah sekarang orang lebih suka ndangdutan saja sambil kepalanya gela-gelo?

“Mas...”

Suara Gito lagi. Mengejutkannya. Wajahnya tampak senang.

“Ramai juga ya. Kayak dulu lagi,” katanya lirih.

Sekilas dilihatnya kedua mata Gito berair. Terharu. Memang inilah yang diharapkannya. Penonton datang, duduk dan menonton. Tapi dari mana datangnya? Apakah ini yang namanya keajaiban? Akh, ini pasti mimpi, batin Sukri. Dicubitnya lengannya. Sakit. Benar. Penonton-penonton memang datang. Sulit dipercaya.

Tepat jam delapan. Layar diangkat. Suara gamelan menyentak. Pertunjukan dimulai. Tepuk tangan dan sorak sorai sepanjang pertunjukan terdengar. Di balik panggung Sukri merasakan benar simpati penonton. Apalagi setiap ucapan dan gerakan pemainnya yang bagus selalu mendapat tepukan.

Malam itu benar-benar malamnya Sukri. Mungkin dia memang sudah ditadirkan tidak mengerti apa yang baru saja disaksikannya. Malam ini dia dan anak-anak buahnya bisa tersenyum lebar. Meski keesokan harinya mereka harus segera menyingkir.

“Gusti Allah, tundalah terbitnya mentari esok pagi.” bisik Sukri. Ia ingin malam terus berlanjut seperti sekarang ini. Seperti sekarang ini. Ya, seperti sekarang ini.

***

Bunyi kruyuk-kruyuk. Si Pendek menelan ludah. Rasa lapar dengan sigap menyerangnya. Mereka berhenti dan duduk di bangku stasiun.

“Dapat berapa?”

“Lumayan, Mas.”

“Ya, berapa?”

“Anu....”

“Anu, anu apa? Ngomong yang jelas!”

Diserahkannya hasil hari itu. Mata Si Kurus memang sudah tidak bisa melihat lagi. Bukan berarti Si Kurus tak bisa menghitung. Begitu jelinya dia sampai dengan hanya mendengar bunyi-bunyi gemerincing duit logam saja pun ia tahu berapa nilainya. Kondisi seperti ini telah membuatnya terbiasa. Kadang ia bangga tak bisa melihat. Baginya melihat dunia adalah melihat kemurungan dan kekecewaan. Mending buta saja daripada melihat.

“Wuah, hari ini kita bisa makan enak, Nul. Makan besar! Hahahahaha!”

Si Pendek tersenyum. Sudah lama tak dilihatnya Si Kurus tertawa.

“Sana! Beli nasi!”

Si Pendek meninggalkan Si Kurus. Si Kurus menyalakan rokoknya. Asap rokok bergumpal-gumpal menyesakkan dadanya. Si Kurus terbatuk-batuk. Tapi ia tak peduli. Ia tetap merokok. Pikirannya kembali mengembara.

Hari ini mereka harus segera menyingkir. Gamelan sudah dijual. Gedung pertunjukan ditinggalkan. Anak buah Sukri satu dua pamit. Ya, mereka berhak pergi. Hidup dari ketoprak mau jadi apa? Ya, ya, ya biarkan mereka pergi. Beberapa sisa anak buahnya masih kelihatan. Bercanda ria, main catur, gaple...

“Penonton pertunjukan semalam kau tahu dari mana?” tanya Sukri kepada Jawinul. Yang ditanya mengangkat bahu.

“Tak tahulah, Mas. Pokoknya teman-teman main bagus, penonton ramai, karcis ludes. Ah, coba kayak begini terus ya Mas?”

Sukri termenung. Kreteknya diisap, kemretek suaranya. Di sampingnya suara cempreng radio transistor butut pemilik warung sibuk berdangdut. Berkaok-kaok tak peduli seolah-olah dari dunia yang lain. Trak-trak-trak-duk-duk-duk-dut-dut! Cintaku terbagi dua...

“Mas Sukri! Mas Sukri!”

Tergopoh-gopoh Gito menghampiri juragannya.

“Gedung kita! Ged.....ged....gedung kita!” katanya terengah-engah.

“Kenapa?”

“Kebakaran!”

Sukri berlari. Jadi inilah akhirnya, batinnya sambil menghela nafas. Anak-anak buahnya tergopoh-gopoh mengambil air, mencoba memadamkan. Yang lain lari kocar kacir tak keruan. Api semakin ganas. Jerit dan tangis campur aduk bersama raungan. Layar-layar bergambar kraton, gunung dan hutan menghitam dalam sekejab.

“Tolonnggg!”

Jeritan Yati, anaknya semata wayang. Sukri langsung menyelip lincah di tengah kekacauan. Seseorang menabraknya.

“Mas, tunggu! Kamu akan terkurung api di sana!”

“Lepaskan!”

Sukri memasuki sela-sela keruntuhan. Suara gemeretak bambu dan dinding roboh satu per satu. Yati, Yati di mana kamu? Brakkk!!! Balok kayu roboh menghantam kepalanya. Sukri terjatuh tak sadarkan diri. Terkurung di tengah-tengah bara api.

***

Sukri terbangun. Dibukanya kedua matanya. Tapi kenapa semuanya gelap? Sayup-sayup terdengar suara disampingnya. Jawinul!

“Nul....”

“Semua sudah habis, Mas...habis....”

“Apakah kamu mematikan lampu?”

“Tidak, Mas. Mas...”

“He, Nul! Nyalakan lampunya!”

Semuanya tetap saja gelap. Seperti teringat sesuatu Sukri menjerit, lirih. Yati, Yati dimana kamu? Dicoba sisa-sisa tenaganya untuk bangkit. Sia-sia. Kepala dan lehernya terasa berat. Berat sekali. Malam semakin merambat. Si Pendek telah kembali. Dengan dua bungkus nasi, dua kantong plastik es teh manis dan sebungkus Gudang Garam. Dihampirinya Si Kurus. Dia tertidur. Mungkin terlalu lama menunggu.

“Mas, bangun...”

Digoncang-goncangkan tubuhnya. Si Kurus tetap tak bergeming.

“Mas, ayo bangun. Kita makan besar Mas....”

Dipandangnya Si Kurus. Bibirnya tersungging senyum. Dia coba lagi membangunkannya. Sia-sia. Si Kurus sudah tidak membutuhkannya lagi. Selamanya.

P E N S I U N

Cerpen Budi Hutasuhut

BURHAN memutuskan mengundurkan diri dari jabatannya sebagai kepala desa. Sudah tigapuluh tahun ia memegang jabatan itu. Selain disebabkan usianya sudah tua dan seharusnya memang sudah pensiun, pengunduran diri itu juga lantaran unjuk rasa masyarakat di Balai Desa yang menuntut agar ia mundur. Ia tahu mereka melakukan itu karena dibayar Maryono, ketua LKMD, meskipun tidak pernah mengetahui secara pasti apakah dirinya benar-benar telah menyalahgunakan jabatan seperti yang mereka tuduhkan. Tapi ia justru bersyukur, lantaran ada yang unjuk rasa, ia jadi punya alasan kuat untuk mengundurkan diri.

Sudah sejak lama Burhan ingin berhenti sebagai kepala desa. Namun, setiap kali masa jabatannya habis dan harus dilakukan pemilihan kepala desa baru, selalu saja Maryono memintanya agar kembali menjabat dengan alasan masyrakat menghendakinya. Karena sudah terlanjur berjanji kepada dirinya sendiri bahwa seluruh tenaga dan pikirannya akan diserahkan bagi kepentingan masyarakat desa, ia tidak bisa menolak bujukan Maryono itu.

Begitulah dua bulan lalu, ketika masa jabatannya usai, Maryono mendatanginya dan minta agar bersedia menjabat kepala desa lagi. Alasan Maryono selalu sama, dan ia tidak bisa membantahnya, tapi ia tidak pernah berpikir Maryono ternyata punya niat licik. Hamidah, istrinya, sudah mengingatkan tentang niat licik yang ada di balik kebaikan Maryono. Bahkan, perempuan yang sudah dinikahinya selama tigapuluh dua tahun itu, melarang dan menyuruhnya agar pensiun saja karena usianya yang sudah enampuluh tahunan dan tidak memungkinkan lagi untuk bekerja keras. Tapi, tanpa sikap seolah-olah ia sangat ambisius dengan jabatan kepala desa itu, dijelaskannya kepada Hamidah bahwa masyarakat desa memang masih membutuhkan tenaga dan pikirannya.

"Sebelum jabatan kepala desa saya pegang, desa kita ini termasuk desa tertinggal yang terisolir. Tapi sekarang, jalan-jalan sudah dibangun meskipun tidak sebagus jalan di kecamatan, dan banyak kendaraan yang masuk membeli hasil pertanian. Semua itu telah membuat kesejahteraan masyarakat meningkat sedikit demi sedikit," katanya.

Tapi setelah Burhan mengundurkan diri, Hamidah senang bukan main. Ia merasa sisa usianya bisa dihabiskan bersama suaminya dengan tentram, tanpa kedatangan siapa pun untuk mengeluhkan permasalahan-permasalahan yang mereka hadapi. Tentu saja Hamidah masih kurang yakin ketentraman itu akan didapat mengingat pengunduran diri suaminya berkaitan dengan unjuk rasa warga. Sebuah kesan yang tidak baik, seolah-olah selama menjabat kepala desa, suaminya telah melakukan penyelewengan yang tidak bisa ditolelir. Meskipun Hamidah tahu semua itu bohong dan hasil rekayasa Maryono, tapi susah meyakinkan masyarakat yang terlanjur gampang mencibir dan menggunjingkan semua harta yang dimilikinya sebagai hasil korupsi.

Hamidah minta kepada Burhan agar mereka meninggalkan desa itu. Burhan pun memboyong keluarganya meninggalkan hiruk-pikuk desa yang terletak di balik bukit itu. Mereka tinggal di sebuah rumah bergaya khas tradisi Lampung yang dibangun di atas sebidang tanah warisan almarhum ayahnya. Kebun kopi itu diberikan kepada Husin selama ini untuk dirawat diambil hasilnya. Burhan memutuskan menghabiskan waktu dengan mengurusi kebun kopi dan lada di atas tanah itu. Menurut cerita orangtuanya, rumah itu berusia puluhan tahun, bahkan lebih tua dari usia Burhan. Konon, rumah itu sudah ada di zaman Radin Intan II. Bahkan, Radin Intan II pernah menginap di sana dalam pelarian dari kejaraan tentara Hindia Belanda. Cuma rumah itu agak kurang terurus karena Burhan sebagai satu-satunya ahli waris terlalu sibuk dengan urusan sebagai kepala desa. Tapi kebun kopi dan lada itu tetap dirawat, itu pun karena dikontrakkan kepada Husin.

Tidak sulit bagi Burhan memboyong keluarganya pindah dalam waktu singkat. Sejak anak-anak mereka sudah berumah tangga dan tinggal di kota lain, otomatis cuma Burhan dan Hamidah di dalam rumah. Sedangkan untuk menyelesaikan pekerjaan sehari-hari seperti memasak dan mencuci, ditangani oleh Maysaroh. Anak gadis usia sembilan belas tahun ini sudah seperti anak sendiri bagi mereka, karena sudah ikut dengan mereka sejak bayi bersama Jubaidah, ibunya. Jubaidah mereka angkat menjadi pembantu karena suaminya, Tarman, yang pemabuk meninggalkannya entah kemana dalam keadaan hamil tua. Tapi Jubaidah sudah lama mati dengan cara meminum racun karena tidak ingin kembali kepada bekas suaminya yang datang tiba-tiba dan mengeluarkannya dari rumah Burhan dengan paksa. Sejak itu Maysaroh mereka asuh karena Tarman sendiri menghilang setelah mengetahui Jubaidah bunuh diri.

Sedangkan untuk urusan kebun, Burhan membayar buruh harian. Kesibukannya cuma ketika musim panen tiba, membayar upah buruh tiap hari, dan membeli kebutuhan pupuk ke pasar kecamatan. Sehari-harinya, Burhan mengurusi tanam-tanaman di halaman rumah, kemudian duduk-duduk di serambi sambil menikmati kicau burung kepodang di kejauhan hutan, atau mencandai perkututnya agar berkicau. Ada kesenangan tersendiri baginya mendengar kicau burung itu setiap kali ia memainkan jemarinya.

Sejak Burhan pindah, otomatis Husin harus menyingkir. Sejak itu Husin menganggur. Setiap kali ia berada di rumah, istrinya yang cerewet, Rayani, menyuruhnya agar mencari kerja. Bahkan, Rayani mengancam akan mengajukan gugatan cerai bila dalam waktu dekat Husin tidak mendapat pekerjaan tetap. Karena diancam seperti itu, Husin menemui Maryono yang pernah berjanji akan mempekerjakannya di kilang padi miliknya bila bersedia mengadakan unjuk rasa di Balai Desa. Begitu keinginan tersebut dibicarakannya, Maryono tertawa ngakak. Katanya kepada Husin: "Tidak ada lowongan lagi. Saya malah berencana mau mengurangi karyawan."

Maryono juga menambahkan, bahwa usaha kilang padinya mengalami kebangkrutan dalam dua bulan terakhir. Pasalnya, sulit mendapatkan gabah yang rendemannya 60 persen dengan harga yang murah, karena kualitas hasil pertanian cenderung menurun setelah pemerintah mencabut subsidi pupuk. Selain itu, pedagang pemborong dari luar daerah berdatangan setelah pemerintah mengeluarkan kebijakan perdagangan hasil bumi yang bisa lintas sektoral, sehingga petani cenderung menjual hasil panennya kepada mereka karena berani membeli gabah sesuai hraga dasar gabah (HDG) yang ditetapkan pemerintah. "Harga yang saya tetapkan selalu di bawah harga mereka, sehingga saya tidak pernah kebagian gabah yang bagus," katanya.

Tampaknya Maryono masih ingin melanjutkan kalimatnya ketika Husin mohon diri dengan wajah yang kecewa. Dalam perjalanan pulang ia teringat omongan istrinya dan membatalkan ke rumah. Ia bertekad harus mendapat pekerjaan yang pasti hari ini juga, lalu terpikir olehnya untuk menemui Kong Alui. Siapa tahu pabrik pengolahan tepung tapiokanya masih membutuhkan tenaga kerja tambahan, setelah industri skala menengah itu kabarnya mendapat bantuan dana dari pemerintah.

Ia utarakan keinginannya itu kepada Kong Alui yang sedang bermain dengan seekor anjing pudel kesayangannya di halaman rumahnya yang luas. Anjing kecil berbulu lembut itu menggonggong ke arahnya sebelum Kong Alui bicara.

"Sungguh, Kong. Cuma Kong Alui yang bisa membantu saya. Saya bersedia bekerja apa saja, bahkan di bagian tukang kuras bak limbah pun saya mau," katanya. Kong Alui menolak dengan nada bicara yang teramat santun. Katanya, lowongan pekerjaan sudah tidak ada lagi, karena pabriknya sedang kolap akibat harga tepung tapioka yang menurun. Pasalnya, berbagai jenis industri skala besar yang memanfaatkan tepung tapioka sebagai bahan baku makin menurun kinerjanya karena kebijakan ekonomi kerakyatan yang dibuat pemerintah. Bahkan Kong Alui menambahkan, dia berencana mau menutup usahanya dan mengembangkan usaha peternakan burung walet. Kemudian Kong Alui bercerita tentang potensi usaha peternakan burung walet karena harga sarangnya jutaan rupiah, disamping merupakan barang produksi ekspor yang dibutuhkan sekian banyak dunia industri. "Bayangkan kalau semua burung walet yang ada di Lampung ini bersarang di tempat saya, berapa ton sarang burung walet yang akan saya panen setiap bulannya," kata Kong Alui.

Kong Alui terus bercerita tentang potensi usaha yang akan dikembangkannya itu, bahkan ia berencana mau merakit mesin pencetak sarang burung walet untuk diekspor. Dengan mesin pencetak itu, kata Kong Alui, sarang burung walet habis dipanen dan masih kotor, bisa dibersihkan sehingga cocok untuk komoditi ekspor. Tapi, sebelum Kong Alui menyelesaikan omongan tentang mesin pencetak sarang burung walet itu, Husin buru-buru pamit. Kong Alui menyuruhnya agar bersabar sebentar karena ia belum selesai bercerita, tapi Husin menggeleng. Anjing pudel itu menggonggong mengikuti langkah Husin keluar pagar rumah dari besi setinggi satu setengah meter itu.

Untuk apa mempekerjakan penduduk asli. Mereka lebih banyak menuntut upah daripada bekerja. Bekerja pun sering serampangan dan merugikan perusahan. Ya nggak, Beti," kata Kong Alui kepada anjing pudelnya. Anjing berbulu warna kuning itu mengonggong, dan Kong Alui tersenyum. "Memang jauh lebih memuaskan memelihara anjing."

Husin sangat kecewa karena tidak mendapatkan pekerjaan itu. Tiba-tiba ia berpikir untuk mendatangi Burhan ke kebunnya. Siapa tahu Burhan mau mengangkatnya jadi pengurus kopi atau lada, karena selama ini ia sudah berpengalaman mengurusinya. Ketika bertemu dengan Burhan, ia utarakan keinginannya itu. Tidak lupa ia minta maaf telah ikut-ikutan unjuk rasa, kemudian menceritakan rahasi tentang Maryono yang membayar orang untuk mengdakan unjuk rasa itu.

"Saya sudah tahu soal itu. Tapi, yang saya tidak ketahui, kenapa kau bocorkan rahasia itu kepada saya. Kau pikir dengan begitu saya akan memberimu pekerjaan? Saya akan memberimu kalau pekerjaan itu ada, tapi di sini tak ada pekerjaan di sini," kata Burhan. "Kalau mau pekerjaan, di kilang padi Maryono kan masih banyak lowongan. Kalau tidak di pabrik tepung tapioka Kong Alui," tambahnya.

Husin menunduk. Tanpa melanjutkan kalimatnya, Husin memohon diri. Tapi Burhan menahannya, kemudian mengingatkan Husin agar melunasi kekurangan sewa kontrak lahan yang baru setengah dibayarnya. Husin mengangguk dan melangkah lesu. Kekecewaan jelas tampak pada warna wajahnya yang memucat. Hamidah muncul setelah Husin pergi. Sejak Husin muncul di gerbang, Hamidah mengintip dari jendela. Begitu duduk, Hamidah merutuki Husin yang tidak tahu berterima kasih. Tapi Burhan menyuruhnya agar jangan memendam dendam terhadap orang lain, karena perasaan seperti itu membuat hati tidak tentram. "Bukankah kita pindah ke mari supaya bisa hidup tentram," katanya.

"Tapi Bapak tadi dendam kepada Husin."

"Saya cuma memberi pelajaran supaya dia tahu membedakan siapa orang yang harus didekatinya. Nanti saya akan panggil dia untuk bekerja di kebun kita."

"Setelah apa yang dilakukannya."

"Peristiwa itu bisa membuatnya menyadari kesalahannya di masa lalu."

Burhan tersenyum kepada istrinya yang mengangguk tidak mengerti.

Tata

Cerpen Bonari Nabonenar

Tata. Demikianlah orang-orang menyapanya. Sebenarnya, namanya Sinta. Lengkapnya, Rara Ayu Sintawati. Dia sangat rupawan. Kecantikannya hampir sempurna. Di manapun berada, dia selalu menebarkan pesona. Kecantikannya seperti selalu memancarkan cahaya. Setiap memandangnya, aku selalu teringat kepada Shinta, isteri Prabu Rama dalam kisah Ramayana yang terkenal itu.

Dewi Shinta bukan sembarang wanita, karena dia titisan bidadari, Dewi Widowati. Kecantikannya sanggup membakar dan meluluhlantakkan negeri Alengka. Rahwana, raja Alengka itu, kasmaran berat terhadap Dewi Shinta. Maka diculiklah Dewi Shinta yang pada saat itu jelas-jelas telah menjadi isteri Rama. Itulah pemicu perang besar yang meluluhlantakkan negeri Alengka. Nah, Dewi Widowati --dalam kehidupan generasi wayang yang lebih baru-- ternyata juga menitis kepada Dewi Wara Subadra, isteri satria sejati yang juga dijuluki lelananging jagad, Raden Arjuna.

Konon, Rahwana yang sesunggguhnya telah jadi arwah gentayangan, masih juga mengejar-ngejar Dewi Wara Subadra, yang di matanya tentu sama menggairahkannya dengan Dewi Shinta, karena sama-sama titisan Dewi Widowati. Dan aku suka meledek logikaku sendiri dengan kalimat ini: “Jangan-jangan Dewi Widowati itu telah menitis pula kepada Tata ini.

Siang itu begitu panas, setelah hampir sepekan hujan terus-menerus. Dan lihatlah, wajah ayu itu ditimpa terik matahari tanpa ampun. Tata berjalan gontai, seperti seorang musafir yang telah menempuh jalan berliku, naik-turun, ribuan kilometer. Ekspresi kelelahannya memantul di aspal, di rumput dan dedaunan. Tetapi cahaya kecantikannya tak sedikitpun memudar. Malah seperti semakin menyala-nyala. Itulah kehebatan perempuan bernama Rara Ayu Sintawati, isteri Romy yang biasa disapa dengan: Tata, ini.

Sendirian. Tata berjalan sendirian. Banyak orang lain berjalan, tetapi mereka tidak bersama Tata. Paling mereka hanya memandang saja, memandang lurus-lurus ke arah wanita penuh pesona itu dengan pandangan kagum yang teramat aneh.

Tata sendiri sebenarnya merasa risi dengan tatapan semacam itu. Tetapi sudah tak ada lagi energi pada dirinya untuk mempedulikannya. Tambah lagi, suasana seperti yang dia alami sekarang ini telah menderanya sejak dua bulan yang lalu. Tatapan aneh, kasak-kusuk, gosip miring, sudah menjadi rutinitas, hantu yang tak bosan-bosannya membayang-bayanginya.

Kadang juga, bahkan, Tata merasakannya bagaikan sebuah tantangan dalam sebuah petualangan penuh sensasi. Pada saat memandang dari sisi ini, Tata seperti terlempar ke tengah belantara yang penuh misteri. Dan dia hanya seorang diri di dalam rimba mahaluas itu. Romy, suaminya, entah ke mana. Padahal dia tidak meminta sesuatu, seperti Shinta yang harus terpisah dari Rama saat dia meminta Kijang Kencana dalam lakon Ramayana. Tidak. Dia tak pernah minta apa-apa kepada suaminya, sebab selalu saja Romy memberikan sebelum bibirnya mengucapkan keinginannya. Apalagi yang berupa benda, barang-barang kasat mata. Senyum Romy yang sangat mempesona itu sudah cukup bikin Tata mabuk, melayang-layang bagaikan di swargaloka! Dia merasa jadi wanita paling beruntung di muka bumi, karena telah berhasil merebut cinta Romy yang sangat diyakininya sebagai titisan Prabu Rama itu.

Lihatlah! Baju Tata basah oleh keringat. Pipinya basah. Dadanya basah. Sepertinya dia sedang bercakap-cakap, tanpa sedikitpun menggerakkan bibirnya yang bagaikan kuncup mawar itu. Ah, barangkali memang aku terlalu terpesona. Boleh jadi memang Tata sedang tidak bercakap-cakap dengan siapa-siapa, pun dengan dirinya sendiri. Entahlah! Entah karena terlalu beruntung atau terlalu mabuk, aku berhasil merekam percakapan itu: percakapanku dengan Tata!

“Mau ke mana, sih, Mbak?”

“Oh!

“Cari Mas Romy, ya?”

“Entahlah!”

“Lho!”

“Mungkin aku sedang mencari diriku sendiri.”

“Maksud sampeyan?”

“Mungkin ada bagian diriku yang hilang. Di sini, di hutan ini. Seharusnya seperti Rama dan Shinta, dulu Mas Romy mengajakku ke sini, sebelum memasuki istana kerajaannya. Sayang, Mas Romy telanjur memilih sebaliknya.”

“Oh! Anda juga pengagum Rama rupanya!”

“Karena itulah aku relakan diriku tenggelam di dalam pelukan Mas Romy.”

“Jangan-jangan sampeyan ini memang titisan Dewi Shinta, titisan Dewi Widowati!”

“Jangan-jangan kamu ini penjelmaan Rahwana!”

“Jangan, Mbak! Jangaaaaannnnn…..!! Aku hanya seorang bocah yang terlalu sering dininabobokkan dengan cerita-cerita wayang. Ayahku seorang dalang hebat, yang, celakanya, hanya aku sendiri yang menyaksikan kehebatannya. Ia tak pernah menggelar pakelirannya. Dia tidak pernah mendalang dalam arti yang sesungguhnya, karena pemerintah melarangnya. Ayah dinilai tidak bersih lingkungan, dan dikhawatirkan akan menyelundupkan ajaran sesat di dalam pakelirannya. Karena itulah ayah dilarang mendalang. Tetapi tak seorangpun, tak sebuah lembagapun, atau bahkan pemerintah yang paling bangsatpun bisa memaksa ayah untuk bernhenti bercerita. Dan setiap hasrat untuk bercerita itu timbul, tak lain dan tak bukan, akulah sasarannya.”

“Nah, jadi kini kamu telah kenyang dengan ajaran sesat itu!”

“Mmm….. menurut sampeyan?”

“Bertemupun baru sekarang. Aku tak tahu siapa namamu. Sedang kalimat-kalimat yang barusan kamu ucapkanpun tak mungkin aku percayai. Sebab, jika benar kamu memang anak seorang dalang –sekalipun dalang yang tak pernah sungguh-sungguh jadi dalang— tentu kamu bisa saja hanya mengarang-ngarang kalimat-kalimat itu. Yang aku tahu hanyalah, kamu tidak seperti orang-orang pada umumnya. Kamu aneh. Mungkin juga setengah gila! Kamu terlalu mabuk, terlepas dari persoalan apakah cerita-cerita ayahmu bermuatan ajaran sesat atau tidak.”

“Nah!”

“Apa?”

“Itulah yang dikatakan isteriku!”

“Jadi, kamu sudah beristeri?”

“Sudah. Memang, kenapa?”

“Di mana dia sekarang?”

“Siapa?”

“Isterimu!”

“Aku sedang mencarinya!”

“Kamu jangan menyindirku.”

“Nah, kan? Mbak Tata sedang mencari Mas Romy, kan?”

“Tidak. Aku sedang mencari diriku sendiri!”

Lihatlah! Betapa kecantikannya tambah menyala-nyala ketika dia sedang sewot begitu. Bibirnya, o, bibirnya! Bagaikan kembang mawar menguncup ketika kupinjam mata kumbang. Sebuah kemewahan, yang tampak semakin mewah ketika di salah satu bilik batinnya dia sembunyikan kepedihan itu. Kepedihan, yang, aku yakin, akan sempurna jika saja tak jadi kutarik kalimat-kalimat yang nyaris saja kutembakkan kepadanya tanpa ampun itu.

Tadi, ketika dia bilang bahwa aku telah kenyang dengan ajaran sesat yang dibayangkannya telah aku terima dari ayah, sesungguhnya aku sudah ingin menyerangnya balik dengan menyemprot bahwa dia tak lebih celaka, tak lebih konyol, karena lelaki yang selalu dibayangkannya sebagai titisan Rama itu tak lain dan tak bukan adalah Rahwana dalam penyamarannya yang rupawan dan gagah perkasa!*

Sekian

0 Response to "Malam Terakhir"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified