Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Kupu Kupu Pelangi

Gola Gong

Kupu - Kupu Pelangi

Bab Satu

MENDUNG KELABU

Saya persembahkan untuk orang-orang yang pernah disia-siakan dalam hidupnya, tapi tetap tabah dan tawaqal menjalani hidup.

Matahari di ujung tahun lepas dari puncaknya. Menggelincir turun ke petang. Sang iblis terus tertawa menjulurkan lidah apinya. Dia menebarkan hawa panas; menjilat-jilat apa saja yang ada di muka bumi. Tapi musim panas yang membikin sawah-sawah keras, kering, dan pada retak sudah waktunya mesti pergi. Malaikat sebetulnya sudah sejak tadi mengipas-ngipaskan jubah putihnya ke bumi; mencoba membentuk angin agar bumi tidak semakin panas.

Kini hawa dingin yang sejak di awal bulan muncul, makin meranggas mencari-cari pasangannya; sang angin!

Air di bumi menguap menyerbu awan.

Awan hitam menyergap dengan cepat.

Bergulung-gulung.

Mendung.

Sang angin menyebarkannya.

Ada yang sampai ke rumah megah itu.

Mendung kelabu di sana.

Duka dan luka terlukis di dinding-dindingnya.

Taman di halaman depannya bermuram durja. Kusam. Bunga-bunga indahnya kuncup namun tak mekar. Beberapa kelopaknya terbuka, tapi tak ada semerbak mewangi. Beberapa bahkan ada yang layu sebelum berkembang.

Ada yang luruh ke tanah.

Ada yang mati.

Ada yang sia-sia.

Ada yang meratap nestapa.

Malaikat di langit merasakan hal yang sama.

Awan hitam bergulung-gulung semakin mengentalkan suasana ratapan.

Seperti tak ada kehidupan di dalam rumah megah itu.

Seperti kuburan saja.

Sunyi dan senyap.

Hening.

Tiba-tiba angin berkesiur makin kencang.

Pertanda hari akan hujan.

Petir menggelegar.

Tak lama rintiknya rontok ke pangkuan bumi. Memecahkan gelas kebisuan.

Dahan-dahan pun menadahkan kuncup daunnya.

Semua melepas dahaga sepanjang kemarau.

Gerimis rapat kini turun.

……….

BRAK!

Dengan sekali sentakan, pintu rumah kelabu itu terbuka lebar! Dari dalamnya muncul seorang lelaki perlente yang gelisah, menyeret seorang gadis belia yang layu sebelum berkembang! Di belakang mereka seorang wanita cantik mengejar dan mencoba meraih lengan si gadis belia!

“Papa! Jangan, Papa!” wanita cantik yang pucat itu berusaha mencegah.

“Ini urusan Papa!” Lelaki perlente itu menghentakkan tubuh istrinya.

Wanita cantik yang pucat itu terjengkang. “Bram!” teriaknya gusar dan mulai berisi perlawanan.

Tuan Bram menoleh dan menatap istrinya dengan perasaan tidak senang. Tapi, dia kembali menyeret si gadis belia; putri sematawayangnya. Dia tak peduli dengan gerimis. Tak peduli dengan hawa dingin yang aneh. Tak peduli dengan ratapan anak dan istrinya. Tak. Yang dia peduli, adalah mengusir mendung kelabu yang menggayuti rumahnya. Dia sangat ingin rumahnya kembali cerah seperti matahari yang muncul setelah hujan reda. Dia ingin warna cat rumahnya, yang setiap tahun selalu diganti, kembali memantulkan keindahan pelangi sehabis hujan.

“Cindy!” teriak wanita cantik itu.

“Mama, tolong Cindy!” gadis belia itu meronta-ronta

Kamu tidak akan bisa sembunyi lagi dari Papa! Tidak akan bisa kabur-kaburan lagi! Bikin malu Papa saja!”

“Lepasin, Papa! Lepasin!”

“Lihat, perutmu makin membesar! Apa kata orang-orang nanti!”

“Cindy nggak peduli apa kata orang!”

“Tapi kau anak dari Raden Tumenggung Bramantio Brotodiningrat!”

“Cindy nggak peduli anak siapa!”

“Kamu harus turuti apa kata Papa!”

“Cindy nggak mau!” gadis remaja yang perutnya buncit itu menahan tarikan ayahnya.

Wajah Cindy yang pucat pasi tertimpa gerimis hujan. Rambutnya yang kusut basah jadi lengket. Tubuhnya menggigil ngeri dan perih akibat luka di hatinya.

Lelaki itu sudah berhasil menarik putrinya ke dekat sedan mewah.

Di belakang mereka Ny. Bram bangkit. Dia bergegas mengejar. “Papa! Hati-hati!” dia mengingatkan dan tampak sangat khawatir dengan keadaan perut putri manjanya yang besar.

“Sana! Mama masuk saja! Habiskan itu botol-botol minuman!” hardik Tuan Bram kesal.

Ny. Bram terkesiap dihardik begitu oleh suaminya. “Hujan, Papa! Hujan! Kasihan Cindy! Kasihan bayinya!” jalannya berjinjit, takut lantai yang diinjaknya licin, karena air hujan mulai menggenang.

“Peduli setan dengan bayi jadah itu!” hardik suaminya. “Papa lebih suka bayi haram itu mati saja! Habis perkara!”

Cindy meraung-raung. Tangannya menggapai-gapai; meminta pertolongan pada ibunya. “Mama! Mama!” ratapnya putus asa.

Ny. Bram mencoba lagi meraih ujung jari putrinya. Tapi tak sampai! Tak sampai!

“Mama!” Tuan Bram menepis lengan istrinya dengan beringas. “Sudah Papa bilang, Mama jangan ikut campur!”

“Cindy anakku juga, Bram!” nada suara istrinya tiba-tiba meninggi.

Mata Tuan Bram merah menyala. Air hujan yang jatuh dari dahinya diusapnya dengan gusar. Tapi, dia memasang kupingnya kuat-kuat, ketika tiba-tiba saja bunyi mesin motor yang meraung-raung marah, terdengar sayup dari arah sebelah kanan mereka.

Hm! Pasti si brandalan itu!” umpat Tuan Bram gusar.

Cindy terjaga dari kesedihannya. Dia juga menaikkan cuping telinganya. Dia menantikan sesuatu terjadi dengan hati berdebar.

Ny. Bram gelisah.

Bunyi mesin motor makin meraung-raung.

Cindy mendengarnya. Dia hapal dengan bunyi mesin itu. Dia tahu siapa pemilik motor itu. Matanya yang terhalang oleh air hujan bergerak ke sana ke mari; mencari-cari ke luar pagar rumah dengan penuh semangat.

Lalu menyusul suara gemuruh mesin mobil.

Suara-suara itu saling bergegasan. Saling kejar-kejaran.

Bunyi rem kendaraan bermotor itu mencicit-cicit seperti tikus got Jakarta.

“Ayo!” Tuan Bram menghentakkan tubuh Cindy. Dia makin gusar dan tidak suka.

“Leo!” teriak Cindy berharap. Matanya tertuju ke pintu gerbang. Dia yakin seseorang akan muncul di sana.

“Cindy!” terdengar jawaban.

Tuan Bram jadi berang. Dia terus menyeret Cindy ke mobil sambil kedua matanya tak lepas memandangi pintu gerbang. Air hujan yang mengalangi pandangannya berusaha diusirnya.

“Cindy!”

“Leo!”

Motor trail itu sengaja dirubuhkan Leo di depan pintu gerbang. Akibatnya genangan air bercipratan. Leo melompat turun dan menyerbu ke pintu gerbang. Kedua tangannya mengguncang-guncangkan pintu gerbang; BRAK, BRAAAK, BRAAAAK! Bunyinya mencoba menyamai suara kaki hujan.

“Buka pintunya! Buka!” teriak Leo kesetanan.

“Leo!” Cindy tiba-tiba merasa cemas. Dia menunjuk ke arah belakang Leo. “Pergi, Leo! Pergi!” suruhnya ketakutan. “Mereka mau ngebunuh lo!”

Leo menoleh. Dia melihat Jeep merah mengerem mendadak dan hampir saja roda-rodanya melindas motor trail milik Leo. Dari dalam Jeep menghambur dua lelaki berbadan kekar! Mereka memburu Leo dengan wajah beringas!

Leo tidak gentar sedikitpun. Dia kembali menatap kekasihnya. “Gua nggak takut, Cindy! Gue rela mati demi lo!”

“Leo! Pergi, Leo! Pergi!” Cindy menangis.

Tuan Bram marah. Dia menuding kedua kaki tangannya. “Kalian tidak becus mengurus anak tengik ini!” suaranya menggelegar menandingi gemuruh hujan. “Bawa dia!”

Kedua lelaki kekar itu mengangguk-angguk menyimpan rasa salah. Mereka langsung menyergap Leo.

“Leo!” Cindy meronta-ronta; mencoba bebas dari cengkraman ayahnya. Dia berusaha lari ke pintu gerbang.

“Cindy!” Leo berteriak di pintu gerbang. Nadanya sangat putus asa dan pasrah dengan apa yang akan terjadi. Air hujan menyelinap masuk ke dalam mulutnya. Dia tersedak dan terbatuk, ketika kedua tukang pukul menggepitnya dari arah belakang. Lehernya tercekik. Dia .

“Leo!” Cindy berusaha melambaikan tangannya.

“Dasar anak tak tahu diri!” Tuan Bram terus menyeretnya ke dalam mobil.

“Papa kejam! Papa kejam!”

“Dia tidak sepadan dengan kau, Cindy! Kau berdarah biru!”

“Cindy sangat mencintai Leo…….”

“Sudah! Jangan bicara soal cinta sama Papa! Sekarang, kita urus bayi jadah di perutmu!”

“Cindy nggak mau! Nggak mau!” dia berusaha melepaskan diri dari cengkraman ayahnya.

“Papa tidak mau bayi haram itu lama-lama di dalam perut kamu!”

“Nggak, Papa! Nggaaaaak!” protesnya. “Cindy mau ngurus bayi ini!”

“Hah! Bullshit!” Tuan Bram mencaci. “Ayo, cepat masuk!”

“Cindy nggak mau! Nggak mau!”

“Bayi dalam perutmu harus dimusnahkan! Papa tidak mau punya cucu perempuan! Nanti bisa mendatangkan malapetaka bagi keluarga kita!” Tuan Bram melemparkan tubuh putrinya ke dalam mobil.

“Papa kejaaaaam!” teriak Cindy membabi-buta. “Mama! Tolong Cindy!” dia meratap pada ibunya

Ny. Bram hanya menatapnya dengan air mata berlinang. “Maafkan Mama, Cindy….,” isaknya dalam ketakberdayaan.

Di pintu gerbang terjadi keributan lagi. Leo mengamuk. Kedua tukang pukul itu hampir saja kewalahan.

“Tunggu, Om! Tunggu!” Leo panik dan berusaha meloloskan diri. Tapi lilitan kedua tukang pukul Tuan Bram makin kuat saja.

“Cindy nggak mau, Papa! Nggak mauuuu!” Cindy menahan tubuhnya di pintu mobil. “Leo! Tolong Cindy, Leo!”

“Papa sudah memberikan segala apa saja yang kamu mau. Tapi, ternyata balasan yang Papa terima adalah bayi haram dalam perutmu!” Tuan Bram mendorong tubuh anaknya dengan keras. Dia tidak peduli dengan perut anaknya semata wayang yang sedang hamil tua.

“Leoooo….!” Cindy berteriak lagi. Dia berharap ayah dari anak yang bersemayam di perutnya akan menolongnya.

Tuan Bram menutup pintu mobil dengan membantingnya: BUM!

Kilat menggelegar lagi di langit.

Cindy terkurung seperti binatang dalam sangkar emas.

Kini bukan gerimis lagi yang turun. Tapi langit memuntahkan segala isinya.

Tubuh Tuan Bram basah kuyup.

Ny. Bram menggigil dalam hujan kesedihan.

“Cindy! Cindy!” Leo melepaskan diri dari lilitan kedua tukang pukul Tuan Bram. Tapi belum juga berhasil meraih pintu gerbang, salah seorang tukang pukul menjambret krah belakang jaket jeansnya.

Wajah Tuan Bram menoleh ke pintu gerbang. Sorot matanya menyala merah ibarat Banteng terluka. Hidungnya mengendus-endus seperti anjing kelaparan. “Kau! Dasar anak brandalan! Anak brengsek!” dia menuding Leo dengan suara menggelegar; mencoba mengalahkan gemuruh hujan. “Mulai sekarang, enyah dari hadapanku! Tak kuperbolehkan lagi kau mendekati Cindy!”

Kedua tukang pukulnya dengan enteng memborbardir tubuh Leo dengan pukulan dan tendangan. Tuan Bram tampak menyeringai puas ibarat srigala, yang sedang mengunyah daging mangsanya. Leo mengerang. Tubuhnya terkulai bagai serdadu kalah perang. Tak berdaya apa-apa ketika dilemparkan ke dalam jeep. Tubuhnya seperti sekarung beras murahan! Seperti seonggok rongsokan.

Lalu Jeep tancap gas! Keempat ban radialnya melindas genangan air hujan. Bercipratan ke mana-mana; mengirimkan kegundahan.

“Leo, Leo!” Cindy memukuli kaca jendela mobil belakang. Suaranya kalah oleh amarah hujan. Air matanya tumpah ke seluruh tubuhnya. Bahkan ke jok mobil. Dia menangis putus asa; memandangi kepergian jeep, yang membawa lelaki bagian dari jiwanya. Kuku jari-jarinya mencakari jok mobil sampai berlubang-lubang. Bola matanya yang tadi beringas, tiba-tiba ibarat nyala lilin yang makin mengecil…. Lalu redup… dan mati tak ada cahaya!

***

Hujan masih mengguyuri bumi. Mendung kelabu tetap menggayuti rumah Tuan Bram. Lelaki perkasa yang tak pernah ingat Tuhan itu menatap ke Cindy, yang duduk mematung seperti hilang ingatan di dalam mobil dengan sorot mata aneh. Air mengucur dari kepalanya dan mengenai seluruh wajahnya. Dia mengigil dalam amarah yang tak terhingga. Dia merasa reputasinya sebagai seorang pengusaha ternama, terhormat, dan sukses terancam roboh gara-gara ulah putri semata wayangnya!

“Bram…….,” terdengar suara bergetar karena kedinginan; mencoba menenangkan amarahnya.

Bram menoleh.

“Kamu mesti bijaksana sama Cindy…”

“Kau tidak usah ikut campur!” suara Bram bergetar.

“Jangan mengulangi dosa lagi, Bram…”

“Kau tidak perlu mengungkit-ungkit masa lalu kita.”

“Tapi itu adalah bagian yang tidak akan pernah bisa kita lupakan.”

“Aku bilang, kau tidak usah ikut campur.”

“Ini memang karma, Bram…..”

“Aku tidak percaya karma!”

“Kita sudah sangat jauh dengan Tuhan, Bram….”

“Jangan bicara Tuhan!”

“Seharusnya kita bergembira, karena akan menjadi seorang kakek dan nenek…..”

“Itu tidak akan pernah terjadi!”

“Sudah terjadi, Bram!” nadanya mulai menaik

Bram bertolak pinggang, “Kalau kau mengikuti apa kataku, hal ini tidak akan pernah terjadi!”

“Aku selalu mengikuti apa kata kamu, Bram!”

“Awasi si Cindy!” mulut Bram penuh dengan air hujan.

“Aku sudah mengawasi Cindy!” nadanya penuh protes. “Seperti apa kata kamu!”

“Tapi lihat perutnya!”

“Dia mencontoh apa yang pernah kita perbuat, Bram!”

“Cindy tidak mungkin tahu hal itu!”

“Dia tahu dari tantenya!”

“Hah! Amarta!” Bram marah.

“Dia menceritakan semuanya!”

“Brengsek! Mulutnya memang racun!”

“Cindy berhak tahu. Mestinya kita yang memberitahukan dia.”

“Tapi itu bukan karma! Itu lebih pada kau, yang tidak pernah mengawasi dia!”

“Aku tidak mungkin mengawasi Cindy di luar rumah. Malah kamu sendiri yang selalu bilang, biarkan saja. Biarkan Cindy ikut pergaulan, agar tidak ketinggalan zaman. Cindy sudah dewasa. Bukan anak kecil lagi.”

“Mestinya jangan terlalu dimanja!”

“Aku tidak pernah memanjakan Cindy!”

“Ini semua salah kau!”

“Salahku?”

“Siapa lagi?”

“Kamu juga!”

“Aku kan cari uang! Kau yang di rumah!”

“Cindy tidak hanya butuh aku saja. Tapi, kamu! Papanya juga!”

“Kamu kan bisa minta bantuan Mbok Sitimu itu!” katanya sinis.

Mbok Siti? Bukankah kamu melarang keras Mbok Siti ikut campur mengurusi Cindy?”

“Heh! Sejak kapan kamu membantah omonganku!?” Bram menghardik istrinya dengan perasaan tidak percaya.

Ny. Bram bukannya mengkerut – seperti kebiasaannya selama ini yang selalu manut. Tapi dia kini berdiri menentang suaminya. Tubuhnya yang menggigil tersiram hujan tak dirasakannya.

Hujan mengguyur hati mereka.

“Arum!” hardik Tuan Bram.

Arum malah dengan berani menatap bola mata suaminya. Katanya dengan bibir gemetar, “Sejak Cindy hamil, Bram…. Aku tahu…., bahwa selama ini…., kitalah yang jadi penyebab kekacauan di rumah ini….”

“Hah! Kita? Tak mungkin itu!”

“Kamu yang terlalu sibuk dengan bisnis!”

“Ya!”

“Demi uang, demi uang!”

“Bukankah dengan uang hidup kita serba kecukupan? Orang-orang pun menghormati kita?!”

“Kamu memang gila hormat!” Arum tersenyum sinis.

Bram tidak suka mendengar istrinya berbicara seperti itu.

“Dan aku hanya menjadi kerbau dicocok hidungnya; menjalankan semua perintah yang kamu berikan!”

“Itu tak bisa ditawar-tawar lagi!” Tuan Bram tercengang.

“Lihat! Lihat anak kita!” Arum menunjuk ke mobil.

Di sana Cindy duduk diam seperti patung. Wajahnya lurus ke depan; entah sedang menatap apa.

“Dia adalah jelmaan kita, Bram! Ketika kita masih muda dulu!”

Tuan Bram terjengkang ke masa 20 tahun yang lalu. Saat dia masih jadi mahasiswa. Saat dimana dia bergelimang kehormatan dan limpahan harta orangtuanya. Begitu juga dengan adiknya, Amarta. Mereka hidup dengan sangat bebas; mengadopsi budaya hedonis. Jauh dari agama dan Tuhan. Sejak dulu dia hanya menghamba pada kenikmatn duniawi semata. Tuhan baginya adalah sekedar kata dengan huruf “t” kecil dan bisa di lihat di mana-mana. Bersama teman-temannya, dia hanya menghabiskan hari dari satu pesta ke pesta lainya. Dari pelukan perempuan ke perempuan lainnya. Bahkan adiknya, yang dia tahu, sudah melakukan pernah aborsi. Pacarnya banyak. Untuk membuktikan siapa ayah yang dikandung adiknya, dia sendiri tidak tahu. Apakah Bobi, Albert, atau bahkan sahabat Bram sendiri; Toni!

Ayah mereka yang pengusaha garmen dan anggota dewan terhormat di Jakarta, yang lebih sibuk tur ke desa-desa miskin, menyuarakan kepentingan partainya. Atau rapat-rapat komisi membahas rancangan undang-undang. Ibunya juga lebih asyik keliling dunia bersama ibu-ibu pejabat lainnya; studi banding dalam hal pariwisata! Orangtua mereka tidak pernah peduli dengan apa yang mereka perbuat. Yang penting pendidikan mereka tidaklah terbengkalai Tuhan memang masih sayang pada kakak beradik itu; dengan menyisakan saja satu kebesaran-Nya, yaitu otak-otak yang cerdas! Jadi, walaupun kehidupan moral mereka centang-perentang, mereka bisa menghadiahkan gelar kesarjanaan pada orangtua mereka sesuai target!

Setelah menyandang gelar sarjana, Amartha memilih meneruskan sekolah disain ke London. Sedangkan Bram tetap di negeri ini. Ayahnya langsung mempercayainya menyerahkan perusahaan padanya. Dengan penuh semangat Bram menerima tongkat estafet itu. Tapi, kisah petualangan cintanya belumlah berakhir. Kali ini dengan embel-embel ingin memperbesar perusahaannya.

Bram melirik Arum, putri semata wayang pengusaha garmen juga! Teman sekampus Amarta. Segala cara dia lakukan, agar Arum jatuh ke pelukannya. Dia berencana, Arum harus jadi istrinya kelak! Dengan begitu, dia juga akan memiliki seluruh harta warisan orang tua Arum. Dia tahu, orangtua Arum tidak begitu setuju dengan rencananya meminang Arum. Walau pun orangtua Bram sederajat dengan mereka, ayah Arum tidak menginginkan Bram jadi menantunya. Ayah Arum memang tidak menyukai ayah Bram, yang pejabat korup!

Rencana pun disusun. Bram meminta bantuan Amarta. Bram menghalalkan segala cara. Dengan bantuan adiknya, Arum berhasil dirayu untuk menghadiri pesta perpisahan Amarta sebelum berangkat ke London. Pesta terbatas. Tempatnya di Parangtritis. Arum tidak menyadari, kalau semua makanan dan minuman yang tersaji sudah diberi obat laknat yang memabukkan. Arum tak berdaya. Bram merenggut kegadisannya!

***

Mendung kelabu masih belum mau beranjak di langit rumah Tuan Bram. Hujan terus tercurah; memukuli tubuh mereka. Hati mereka yang sedang membara tak lantas jadi dingin. Suhu hujan tak membawa perubahan apa-apa bagi mereka. Terlebih-lebih Tuan Bram yang tak bertuhan.

“Bram!” Arum menegur dengan bibir gemetar.

Bram tersadar. Gambar-gambar masa lalunya kabur ditimpa kaki hujan. Hilang lenyap. Nyap!

“Aku mau bicara!”

Bram menatap istrinya, yang selama ini tak pernah dia cintai dengan sepenuh hati. Yang selama ini selalu dia bohongi dengan “betapa pentingnya arti sebuah kesetiaan di dalam sebuah rumah tangga”. Yang selama ini hanya sekedar aset bisnisnya. Yang selama ini sekedar investasi bisnis; untung dan rugi!

“Kamu tahu, apa yang selama ini Cindy lakukan sama aku?” tanyanya mendesak.

“Maksud kau?” Bram makin tajam menatapnya.

“Aku tak ubahnya seperti pembantu bagi Cindy!”

Bram mendengarkan dengan wajah keras dan sinis.

“Jika aku salah sedikit, Cindy selalu mengancam akan melaporkan aku sama kamu.”

“Dengar, Arum! Kau harus tahu, Cindy sedang dalam masa transisi! Kau harus maklum itu!”

“Dan kamu tentu ingat, apa yang selalu aku dapat dari kamu?”

Bram mengatupkan gerahamnya; keras!

“Kamu selalu memarahi aku di depan Cindy!”

Rahang Bram gemeretak.

“Kamu tidak pernah menganggap aku sebagai seorang ibu, yang patut dihormati oleh anaknya!”

“Nanti kita bicarakan lagi soal ini!”

“Tak ada yang perlu kita bicarakan lagi….,” Arum sengaja berhenti; menunggu reaksi suaminya.

“Kau ngomong apa?” Bram menyelidik istrinya.

“Semuanya sudah usai!”

Bram melihat bola mata istrinya, yang biasanya redup kini menggelora. Lelaki gagah ini kelihatan gelisah. Itu tampak pada bola matanya yang tak mau diam. Lalu dia melihat pada wajah istrinya yang pucat pasi, tapi kini tersapu warna merah membara. Entah siapa yang menyapukan warna menyala itu di wajah istrinya! Tuhan? Bram tertawa dalam hatinya. Pada tubuh istrinya yang rentan, kini seperti sebongkah karang yang siap mengalahkan terjangan ombak! Aneh! Siapa yang memahat batu karang menjadi patung kokoh ini? Tuhan? Lagi-lagi dia mentertawakan kegelisahannya sendiri. Sejak kapan aku membawa-bawa Tuhan ke dalam segala persoalan? Hatinya berguncang dahsat terhantam kepohangahannya sendiri! Tapi, hanya sebentar! Karena jubah iblis langsung menutup matanya!

Sudah usai, Bram!” nada istrinya menggelegar berbarengan dengan bunyi petir di langit.

GEBLAAAAR!!!

Langit bercahaya sesaat!

Blitz raksasa menyala terang tadi.

Bram tergoncang hatinya.

“Usai, Bram!”

“Apa maksud kau?”

“Aku sudah tidak tahan lagi!”

“Ah! Omong kosong!” Bram tertawa sinis.

“Aku sudah memikirkannya!”

“Jadi, mau kau begitu?” tantang Bram.

“Iya!”

“Kenapa? Apa kau tidak merasa bahagia dengan apa yang sudah aku berikan?”

“Itu karena kamu, yang selalu merasa paling benar!” dia menambahi dengan kalimat yang menusuk. “Semua kamu anggap salah! Bahkan aku, istrimu sendiri!”

“Kok, jadi ruwet ngomong sama kau sekarang!” Bram gelisah.

Arum hanya menatapnya. Juga dengan tajam; bagai mata pedang yang tajam membelah.

“Kalau sudah begini, coba…., siapa yang akan bertanggung jawab!” terasa nada Bram mengendor.

“Bertanggung jawab pada siapa?”

“Cindy!”

“Dari awal, Leo siap bertanggung jawab…”

“Bertanggung jawab, apa?”

“Menikahi Cindy…”

“Leo anak brandalan itu!?” Tuan Bram menunjuk ke pintu gerbang. Tak ada siapa-siapa di sana. “Hah! Sekarang mungkin dia sudah mati!”

Arum menatap mata suaminya dengan penuh tantangan. “Leo tak ubahnya seperti kamu dulu. Menghamili Cindy. Lalu menikahinya dengan maksud, bisa menikmati harta warisan yang akan Cindy dapat kelak!”

“Heh! Aku berbeda dengan Leo. Aku sama kayanya dengan kau. Aku juga dapat warisan sama banyaknya dengan kau! Tapi, Leo! Dia cuma anak pegawai negeri, yang tinggal di gang sempit! Miskin pula! Mau ngasih makan apa dia sama anak kita?! Kerjaannya cuma ngamen pula!”

“Bukan ngamen, Bram! Tapi, nge-band. Sebentar lagi dia masuk dapur rekaman.”

“Nge-band sama ngamen, apa bedanya!” Bram sudah membuka pintu mobil depan.

“CD albumnya akan segera dilaunching! Pikirkan lagi!”

“Tidak ada yang perlu dipikirkan lagi. Aku sudah bulat! Bayi itu harus dikeluarkan lebih cepat! Cesar yang terbaik!” Bram hendak masuk ke dalam mobil.

“Kandungannya masih delapan bulan.”

“Aku tidak peduli!”

“ Tidak baik dipaksakan keluar.”

“Baahkan bayinya mati pun, itu lebih baik!”

“Terkutuklah kamu, Bram!”

“Aku memang terkutuk. Tapi, aku tidak mau jadi cemoohan orang-orang gara-gara bayi jadah ini!”

“Kita memang sudah dicemoohkan orang. Hanya saja mereka tidak berani mengatakannya!”

Bram menatap bola mata Arum; mencoba mencari kebenaran di dalamnya. Di sana, dia banyak menemukan perjalanan hidupnya, yang menyimpang jauh dari agama dan tuhannya. Para wanita yang hanya singgah semalam di kamar hotelnya, jika sedang ada perjalanan bisnis, tiba-tiba bermunculan. Tender-tender yang selaku dimenangkannya dengan cara menyuap. Arum tidak pernah tahu tentang kebobrokannya selama ini. Atau dia pura-pura tidak tahu? Tiba-tiba batinnya bertanya gundah.

“Bram!” Arum merasakan kegundahan suaminya.

“Huh! Kalau saja anak jadah itu laki-laki! Tentu aku masih mau mengurusnya!” Bram melotot gusar pada istrinya.

“Apa bedanya dengan bayi perempuan?”

Jelas beda!”

Arum menunggu kelanjutannya. Andai saja mereka berdua tahu, bahwa anak perempuan itu jika dirawat dan diasuh dengan baik, maka akan jadi perisai bagi mreeka berdua dari api neraka. Sayang, mereka tidak mengetahui hal itu. Yang mereka ributkan hanyalah tentang materi. Tentang harta warisan. Urusan duniawi semata.

Dengar apa kata Bram! “Kalau bayinya perempuan, dia akan seperti Cindy. Kelak pacarnya atau bahkan suaminya, akan mengerogoti harta kita! Seperti si Leo itu!”

“Leo tidak menggerogoti harta kita!” Arum menegaskan. Sorot matanya menghujam ke dada Bram.

“Belum! Belum!”

“Jangan berburuk sangka dulu!”

“Lihat nanti! Itu akan terjadi kalau dia sudah jadi suami Cindy! Pasti! Sebentar-sebentar dia akan butuh uang untuk biaya bandnya! Untuk biaya rekamannya! Untuk inilah-itulah!”

“Leo masuk dapur rekaman, karena perusahaan rekaman itu tertarik dengan lagu-lagunya. Dengan bandnya. Dengan dirinya. Dia tidak mengeluarkan uang sepeserpun!”

“Ah! Sudah, sudah!”

“Bram!”

Bram menutup pintu mobil dengan keras: BUM!

Cindy tidak bereaksi melihat ayahnya duduk di depannya. Tuan Bram terhenyak sesaat, ketika menyadari tak ada cahaya di bola mata anaknya. Ya sesaat, karena setelah itu dia hanya memikirkan kepentingannya saja. Kehormatannya saja. Seorang pengusaha sukses dan terpandang seperti dirinya, tidak pantas memperoleh seorang cucu dengan cara tidak terhormat seperti ini. Cukup sekali saja dia mengalaminya; ketika menghamili Arum dulu!

Kaca jendela turun perlahan. “Kau tunggu di rumah!” Bram memerintah.

Arum tidak menggangguk seperti kebiasaannya selama ini, jika mendapat perintah dari suaminya. Dia diam membisu. Wajahnya yang pucat dan cekung mengeras bagai batu menhir dari zaman prasejarah.

“Ayo, jalan!” Tuan Bram menyuruh supirnya.

Pak Rahmat tanpa banyak bicara menyalakan mesin mobil. Wajahnya tegang. Tubuhnya gemetar. Kakinya menginjak kopling. Berbarengan dengan itu, tangan kirinya memindahkan perseneling.

“Lama amat! Ayo! Cepat, jalan!” Tuan Bram tidak sabar lagi.

“Nggih, Ndoro.,” Pak Rahmat degnan takut menginjak pedal gas dan mengangkat kaki kirinya perlahan.

Mobil pun meluncur meninggalkan halaman rumah besar itu, menuju kebisingan jalanan Jakarta yang basah.

“Ingat! Ini adalah hari terakhir kamu di Jakarta! Setelah persalinan ini, kamu harus pergi ke London! Ikut tante Amartha! Kuliah di sana! Tak ada tawar menawar lagi!” Tuan Bram membuka kemejanya yang kuyup. Dilemparkannya kemejanya ke jok belakang. Lalu dia mencari-cari apa saja di dash board; barangkali ada lap atau handuk kecil untuk mengeringkan rambut dan wajahnya.

“Maaf, Ndoro,” Pak Rahmat membuka laci dash board. “Ada handuk kecil, Ndoro,” dia menyodorkan dengan ragu-ragu. “Punya saya. Masih bersih. Belum dipakai, Ndoro….”

Tuan Bram tanpa banyak bicara mengambil handuk kecil itu. Dipakainya untuk mengeringkan kepalanya.

Sedangkan Cindy hanya bisa menangisi nasibnya. Berpisah dengan Leo, tak pernah terpikirkan sebelumnya. Jauh dari pacar yang dicintainya dalam rentang jarak ribuan mil, siapa mau membayangkannya. Berpisah satu hari saja sudah resah gelisah. Oh kekasih pujaan, cinta kita jauh terpisah benua dan samudra!

“Dan anak haram di perutmu itu, anggap saja tak pernah ada!”

Air mata Cindy tak menetes lagi. Sudah kering kerontang. Hanya saja di dasar hatinya, mata air itu terus mengaliri tubuhnya….

Diam-diam Tuan Bram menatap ke luar jendela. Tubuhnya menggigil dalam dingin. Dia melihat mendung kelabu menggayuti rumahnya. Betapa kusam tempat tinggalnya. Betapa muram. Jubah iblis seolah melilit. Tak ada sinar setitikpun. Dia merasa terguncang. Selama ini dirinya hidup dalam kegelapan? Hatinya bertanya-tanya.

Bram juga melihat tubuh istrinya yang kuyup diguyur hujan. Tubuh yang rentan itu baginya kini seperti tiang layar yang kokoh menjulang; seolah siap menghadapi badai! Seolah siap menghadap mendung kelabu di belakangnya, yang memayungi rumah mereka.

Kini Bram kembali terusik dengan Cindy, yang duduk seperti hilang ingatan di jok belakang. Dia hanya sanggup menarik napas dan melontarkannya. Tapi, dia merasa dadanya tetap saja sesak; seolah ada batu yang menghimpit.

Hujan masih saja tumpah. Air menggenang di mana-mana. Oh, mendung kelabu belum juga beranjak. Arum menggigil di halaman depannya. Bibirnya biru dan gemetar dalam dingin. Wajahnya pucat. Kulit jari-jarinya mengeriput.

Tubuh Arum kuyup.

Hatinya menggigil sedih.

Terasa lukanya menganga disiram hujan.

Perih seperti diiris-iris sembilu.

Tapi tiba-tiba dalam warna-warni kaki hujan yang tertimpa lampu taman, Arum melihat seberkas cahaya bergerak ke sana ke mari. Dia merasa aneh. Kunang-kunangkah? Malam hari sedang hujan pula? Betapa indah warna sayapnya! Berwarna-warni seperti pelangi! Arum berusaha membuka lebih lebar lagi bola matanya. Ternyata cahaya yang berlompatan itu adalah kupu-kupu. Ya, kupu-kupu pelangi! Aneh. Kenapa kedua sayapnya memantulkan cahaya?

Kupu-kupu bersayap pelangi itu terbang rendah; persis di atas kepalanya. Arum mencoba meraihnya. Tapi kupu-kupu pelangi itu terbang selangkah lebih maju darinya. Arum mencoba menggapainya. Tak sampai. Binatang itu terus terbang tinggi. Cahayanya menyebar, berpendar, dan menyelubungi tubuhnya.

Arum ketakutan. Dia tahu, bahwa dirinya adalah manusia yang penuh dosa. Jika ingat masa kecil yang penuh kedamaian; mengaji, sholat, dan berpuasa, hatinya merintih pedih. Sekarang, jangankan menjalankan perintah Gusti Allah, mengurusi putri sematawayangnya saja tak becus.

“Maafkan Mama, Cindy,” tangisnya tenggelam oleh gemuruh hujan. Dia mencoba menambal lukanya dengan sisa-sisa harapannya. Dia berharap bisa mengatasinya. Tapi, matanya tetap saja memandangi kepergian sedan mewah, yang membawa suami dan putri semata wayangnya.

Mobil itu terus meluncur pergi menembus kaki-kaki hujan. Tiba-tiba Arum seperti melihat masa lalunya. Saat dia meninggalkan Yogya menuju Jakarta. Cindy yang masih menyusui di pangkuannya. Usia Cindy sekitar 2 tahun saat itu. Bram memutuskan, bahwa menjalankan roda perusahaan di Jakarta lebih menjanjikan ketimbang berdiam terus di Yogya. Perusahaan harus dikembangkan. Target marketnya harus diterbangkan ke mancanegara.

Hanya yang berada di mobil sekarang bukanlah dirinya, tapi Bram dan Cindy. Kini Cindy berusia 18 tahun dan sudah mengandung; cucunya! Dan Bram hendak memusnahkan bayi di dalam perut Cindy; cucu mereka! Bram hendak memusnahkan darah dagingnya juga. Bram merasa malu dengan kehadiran cucu mereka sendiri! Tetesan darah mereka sendiri. Bahkan jiwa raga mereka!

Jika memikirkan hal itu, air matanya kontan tumpah dan larut bercampur dengan hujan. Air matanya melukiskan perasaan seorang ibu, yang kehilangan darah dagingnya. Air matanya tak tergantikan oleh apa pun. Kalau tertampung di dulan, mungkin air mataya bisa mejadi danau kesedihan. Terasa sesak dadanya. Ada yang menyumbat di sana. Menghimpitnya.

Arum tengadah; seolah mengadu pada penghuninya di sana. Ya, Gusti Allah, kenapa Kau timpakan ujian maha berat ini padaku? Bermula dari berpulangnya Ibu setelah melahirkanku, lalu aku hamil di luar nikah, lalu Romo Kau panggil jua karena menahan malu….. Aku pikir setelah itu usai sudah cobaan-Mu. Tapi, bahtera hidupku bersama Bram terus Kau gempur dengan kuasa-Mu. Aku tak pernah menemukan seberkas pun cahaya kebahagiaan-Mu! Begitu juga ketika Kau karuniakan aku putri yang cantik; Cindy! Tak sedikitpun Kau breikan kebanggaan padaku sebagaimanalayaknya seorang Ibu!

GEBLAAAAR!

Petir di langit menggelegar dahsat!

Langit yang pekat tiba-tiba gemerlap sesaat.

Wajah petir menggurart seperti cakaran tangan raksasa.

Arum terguncang. Tiba-tiba saja dia merasa kerdil. Dia luruh ke bumi. Menangis dalam penuh penyesalan. Oh Gusti Allah, ampunilah hamba-Mu ini, yang telah lancang menggugat-Mu!

“Den Ayu!” tiba-tiba Mbok Siti sudah berdiri di belakangnya dengan sebuah payung, yang melindungi tubuh mereka dari curahan hujan.

“Mbok…,” Arum makin menjadi tangisnya. Dia terlempar lagi ke kenyataannya sekarang yang sangat pahit untuk dikecap.

Si Mbok memeluknya dengan rapat, berharap semoga dapat mengalirkan kehatan tubuhnya pada Arum. “Ayo, masuk. Ndak baik berdiri di bawah hujan. Bisa masuk angin.”

“Tapi…., Mbok lihat kupu-kupu pelangi tadi?”

“Kupu-kupu pelangi?”

“Ya! Sayapnya indah sekali, Mbok. Seperti pelangi!” Arum seperti memimpikan sesuatu; tepatnya mengatakan sebuah harapan.

“Ayo, Den Ayu… Masuk… Tubuh Den Ayu sudah membiru begini,” Si Mbok makin cemas melihat kondisinya.

“Sayapnya juga memantulkan cahaya, Mbok,” Arum mencari-cari.

“Bercahaya?” si Mbok mengelus dadanya dengan penuh nelangsa. Dalam hatinya dia berbisik, duh Gusti Allah, apa salah hamba-Mu ini? Janganlah Kau timpakan beban yang maha berat pada Den Ayu!

Iya, Mbok! Tadi dia ada di sini. Terbang ke sana!” Arum menunjuk ke atas.

“Den Ayu, sudahlah. Kita masuk saja. Tubuh Den Ayu dingin sekali,” Mbok Siti mengajaknya masuk. Kali ini agak memaksa.

Arum tiba-tiba tertegun. “Cindy, Mbok,” dia teringat lagi dengan Cindy.

“Serahkan saja semuanya sama Gusti Allah…”

“Aku sudah bilang sama Cindy, Mbok…., supaya jangan pulang dulu sebelum melahirkan. Tapi, rupaya dia sedang kesulitan uang, Mbok. Dia datang padaku meminta uang. Untuk biaya persalinan dan bayar sewa kontrakan rumah.”

“Sudahlah. Cindy sudah diurus sama Tuan.”

“Tapi Tuan mau memusnahkan cucuku, Mbok…”

“Sekarang Den Ayu harus banyak-banyak berdoa sama Gusti Allah…”

“Aku sudah ndak kuat lagi, Mbok” Arum memasrahkan tubuhnya dipapah si ‘Mbok ke dalam rumah.

“Sabar. Gusti Pangeran sedang menguji Den Ayu.”

“Aku mau pulang saja ke Yogya, Mbok….”

Mbok Siti, wanita tua yang sejak kecil merawat Arum, memapah Arum ke dalam rumah. Dia merasakan juga dua matanya hangat. Hatinya seperti diiris-iris mata pisau. Perih dan nyeri. Dia merasa bersalah pada Gusti Allah. Duh, Gusti, ampuni hamba, yang tidak bisa memberi penerangan di rumah ini! Dia juga merasa berdosa pada ayah Arum, yang sebelum meninggal wanti-wanti padanya, untuk merawat dan menjagai Arum. Duh, ampuni hamba, Ndoro Kakung, yang lalai menjagai Den Ayu!

Mbok Siti terus memapah Arum ke dalam rumah. Dengan cekatan dia mengurusi Arum. Menyiapkan pakaian kering dan menghandukinya, supaya tubuh suhu badan Arum kembali hangat.

“Sekarang Den Ayu istirahat dulu,” Mbok Siti mendudukkan Arum di tempat tidur.

“Mbok…, tolong ambilkan minumannya…”

“Den Ayu…,” Mbok Siti keberatan.

“Sedikit saja, Mbok. Supaya ndak kedinginan,” Arum beralasan.

Si Mbok dengan lunglai berjalan ke luar kamar. Dia mengambil sebootl minuman unutk Arum. Hatinya sangat sedih ketika menyodorkan botol minuman keras dan gelas kecil kepada Arum.

“Makasih, Mbok,” Arum menggenggam gelas dan botol air api itu. Dengan bergegas dia menuangkannya. Lalu meneguknya.

Mbok Siti menatapnya dengan prihatin. Kelopak matanya terasa hangat dan mulai digenangi air.

Wajah Arum langsung memerah. Dia menuangkan lagi minumannya. Meneguknya dengan tegas. Kedua rahangnya mengadu.

“Jangan banyak-banyak, Den Ayu. Nanti mabuk lagi. Ingat apa kata dokter. Sekedar untuk menghangatkan saja,” Mbok Siti menarik selimut tebal di tempat tidur. Mempersiapkannya untuk Arum agar nyaman.

Arum terbatuk. Tapi dia menurut. Dia meletakkan gelas dan botol minuman di meja kecil dekat tempat tidur. Dia memang merasakan tubuhnya hangat.

“Sudah, sekarang jangan bnayak pikiran. Tidur.”

“Aku mau minta cerai saja, Mbok,” Arum malah duduk di tempat tidurnya; menyender di dinding kamarnya. Sorot matanya menerawang jauh.

“Cerai?”

“Iya, Mbok..”

“Jangan, Den Ayu…”

“Aku betul-betul sudah ndak kuat, Mbok…”

“Kasihan Den Ajeng Cindy. Dia butuh Den Ayu. Sebaiknya, Den Ayu susul dia ke klinik,” Mbok Siti menyelubungi setengah tubuh Arum dengan selimut tebal.

“Cindy,” Arum bergumam. “Maafkan Mama, Nak,” dia menangis.

Mbok Siti memeluknya.

Arum menumpahkan segala kesedihannya. “Arum sudah lupa sama Gusti Allah, Mbok,” katanya penuh penyesalan.

“Mbok ngerti itu. Apa yang Den Ayu dan Tuan lakukan, semuanya sudah ada di Al - Qur’an. Mbok membacanya di surat At Takaatsur, bahwa kenikmatan duniawi sudah menjauhkan Den Ayu dan Tuan dari Gusti Allah.”

Arum merasa malu. Ya, kenikmatan duniawi memang sudah menjauhkannya dari agama. Materi memang membutakannya. Seperti halnya iblis, yang mempermasalahkan jenis materi Adam yang hanya terbuat dari sekepal tanah, sedangkan dirinya terbuat dari api! Iblis merasa, api lebih mulia dari tanah. Iblis memilih hengkang dari taman firdaus, ketimbang harus lebih rendah martabatnya dari Adam. Begitulah juga Arum! Dia merasa segala kekayaan dan kehormatan yang dia miliki bersama Bram sudah melebihi semuanya. Bram dan linkungan bisnisnya yang glamour, memang, yang membuatnya lupa akan agama. Arum juga memilih hengkang dari kedamaian yang selama itu pernah dia kecap. Bram memang yang memaksanya. Tapi, dirinya tidak bisa menumpahkan segala kekacauan hidupnya ini hanya semata pada Bram. Tidak. Dirinya juga berperan serta dalam keporakporandaan hidupnya.

Arum melirik ke meja kecil; di sana sebotol minuman yang isinya tinggal sepertiganya menantangnya lagi. Jenis materil ini juga sudah menjerumuskannya ke dalam kekacauan hidupnya. Dia tak bisa ingat lagi, kapan menyentuh air api laknat ini. Pada suatu pesta seorang pengusaha ternama? Mungkin! Yang hanya bisa dia ingat, saat itu seorang istri pengusaha mendekatinya dengan membawakan segelas minuman.

“Minumlah,” kata istri pengusaha itu. “Dengan minum, selain status kita terangkat, juga segala masalah yang ditimbulkan oleh para suami akan hilang. Percayalah. Aku sudah menjadi sahabat minuman ini bertahun-tahun. Tak ada resiko apa-apa.”

Tangan Arum bergerak sendiri menerima gelas yang disodorkan si istri pengusaha. Dia belum berani mendekatkan bibirnya ke ujung gelas. Baru sebatasa menghirup aromanya saja.

“Ciciplah. Seteguk saja dulu,” si istri pengusaha mendorong gelas di genggaman Arum. “Ini anggur termahal dan terlangka di dunia. Suamiku membelinya ketika berbulan madu dengan Dona di Paris!” tawanya terdengar. Tepatnya, si istri mentertawakan kegetirannya sendiri.

“Dona?” Arum mengernyitkan dahi.

“Ya! Istri kedua suamiku!” katanya santai saja waktu itu.

“Kok, bisa?” Arum merasa heran.

“Anggur made in Paris inilah, yang membuatku tetap nyaman hidup. Percayalah!”

Kalimat terakhir inilah yang menerjang masuk ke dalam dada Arum. Bahkan menembus hati nuraninya. Hidupnya sendiri bersama Bram dan Cindy sudah sangat rumit. Siapa tahu segelas anggur bisa membuat hidupnya tetap nyaman! Betapa mudah! Ternyata iblis tak tinggal diam; ikut menyelusup ke urat-urat nadinya. Ke seluruh aliran darahnya. Dan itulah awal dari kehancurannya! Mabuk bersama segelas anggur.

Tapi tiba-tiba saja Arum merasa muak melihatnya botol minuman laknat itu! Kamu pikir, aku rela dibelenggu terus oleh racunmu! Tanpa diduga, tangan kirinya bergerak cepat. Telapak tangannya membentur botol itu hingga terbang dan terguling ke lantai.

PRAANG! Pecah berkeping-keping.

Telapak tangannya berdarah. Arum menangis tersedu-sedan. Mbok Siti juga ikut menangis. Air mata mereka menyatu dan larut dalam lautan kesedihan. Tak terkirakan.

“Sabar, Den Ayu………,” Mbok Siti panik dan mencari-cari lap bersih untuk mengelap darah di telapak tangan Arum. “Aduh, Den Ayu…, ke rumah sakit saja, ya….,” katanya panik.

“Ndak usah, Mbok. Cuma lecet saja. Ambilkan obat merah di di kotak obat.”

Mbok Siti berlari ke luar dari kamar.

Arum tertegun sendiri. Dia melihat darah menetes ke sprei kasurnya. Di lantai pecahan botol berserakan. Air api itu tumpah membasahi lantai kamarnya. Air api laknat, yang sudah menjajah hidupnya. Tubuhnya jadi kurus, karena digerogoti air api itu! Selama dia tinggal seatap dengan Bram, pelariannya yang sempurna memang ke minuman beralkohol. Setahun yang lalu, Arum kena lever. Dokter menyarankan, agar Arum berhenti minum. Arum menyanggupi dengan cara mengurangi dosis.

Mbok Siti muncul lagi membawa obat merah sekaligus sapu dan singkuk.

“Aku merasa tak ada gunanya hidup ini, Mbok,” Arum terisak sambil mengobati telapak tangannya yang berdarah dengan obat merah. “Tak ada artinya menjadi seorang istri, menjadi ibu bagi Cindy….”

“Sekarang, bertobatlah. Tak ada kata terlambat untuk bertobat,” Mbok Siti membersihkan pecahan botol di lantai.

“Tobat?” Arum tak percaya dengan satu kata itu.

“Den Ayu ingat, apa kata almarhum Romo sebelum mangkat?”

Arum tertegun. Hatinya makin nyeri. Di memang anak durhaka. Ketika hamil, Arum tahu ayahnya sangat terpukul. Arum sudah menyakiti ayahnya untuk yang kedua kali. Yang pertama, ibunya mangkat gara-gara melahirkan dia! Sampai kapan pun, jika mengingat almarhum ibunya, dia merasa orang yang paling bersalah. Lantas kesalahan kedua, dia merengek agatr diijinkan pergi ke pesta Amartha! Akibatnya, Bram merenggut kesuciannya! Lalu hamil! Oh Romo, ampuni anakmu ini! Dia ingat beberapa saat sebelum mangkat, Romo mengingatkannya agar banyak-banyak bertobat. Namun Arum merasa sudah kotor. Sudah tidak layak lagi bersimpuh di atas sajadah.

“Arum ndak pantas hidup di dunia ini, Mbok,” air matanya terus mengalir.

“Siapa yang bilang begitu? Ayo, Den Ayu sebaiknya sholat saja. Minta petunjuk sama Gusti Pangeran. Insya Allah, Den Ayu akan mendapatkan ketenangan batin.”

Arum mengusap pipinya yang basah kena tumpahan air matanya. “Arum malu sama Mbok. Arum sudah lama ndak sholat, Mbok.”

“Den Ayu ndak usah malu sama si Mbok. Malulah sama Gusti Allah.”

“Apa Gusti Allah masih mau nerima Arum, yang kotor begini?”

“Gusti Allah Maha Penyayang pada seiap hambanya yang mau bertobat.”

“Wudhunya aja Arum udah ndak ingat, Mbok” katanya terisak-isak.

“Nanti si Mbok ajarin lagi,” dia mengusap rambut Arum yang hitam sebahu. Ketika megusap itu, dia melihat Arum kecil, yang sebelum tidur selalu minta didongengi cerita rakyat Timun Emas, Joko Tingkir, dan Roro Mendut. Atau minta ditembangi Lir-ilir, Jamuran, dan Soyang.

Oh, gerangan sang waktu! Betapa kau menggelinding sangat cepat. Tak terasa bagi wanita tua itu. Dia sudah ikut keluarga RMT Susatyo Suryodiningrat sejak Arum masih dalam kandungan ibunya. Dia masih gadis desa waktu itu. Sekitar 15 tahun usianya. Dia disekolahkan di madrasah. Ayahnya pembatik di perusahaan Menggung Susatyo. Ketika istri Menggung wafat beberapa saat setelah melahirkan Arum, Siti resmi jadi pengasuh Arum. Pada umur 20 tahun, dia sempat menikah dan manut suami ke Jakarta. Suaminya jadi buruh bangunan. Tapi, nasib menimpanya. Suaminya tewas tertimpa balok besi penyangga bangunan yang roboh.

Siti kembali ke Yogya membawa duka nestapa. Tak ada lagi cinta tersisa di hatinya. Semuanya sudah diberikan buat almarhum suaminya tercinta. Setahun menjadi janda di desa. Berpuluh-puluh pemuda desa melamarnya; dengan mas kawin sawah dan kerbau. Tapi selalu ditolaknya. Lalu ayahnya mengajaknya lagi bekerja di rumah Menggung Susatyo, yang tetap menduda.

Melihat Arum, Siti serasa mempunyai seorang anak. Gairah hidupnya bangkit lagi. Dulu di usia setahun perkawinannya, dia pernah mengandung. Tapi, karena beban pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta yang berat, membuat kandungannya tak aman. Di bulan ketiga, dia keguguran. Kini mengalirlah kehidupan Siti dengan Arum yang masih balita. Dengan telaten dia merawat bayi cantik itu. Perasaan sedih karena kehilangan bayi di rahimnya terobati. Selain merawat, dia juga mengajari Arum sholat dan mengaji. Menggung Susatyo merasa senang melihat pekrjaan Siti.

“Siti, anggap saja Arum itu anakmu juga. Aku senang melihatnya,” begitu Menggung Zsusatyo berpesan.

Hanya sayang, beranjak dewasa Arum salah memilih teman. Akhirnya dia terjerumus. Hamil di luar nikah. Jika memikirkan itu, Mbok Siti merasakan kesedihan yang amat sangat dan seperti kehilangan sesuatu, seperti dulu pernah dia rasakan saat keguguran.

***

Arum bangkit dan berjalan ke meja rias. Di atas meja rias ada foto dirinya bersama Bram dan Cindy dengan latar belakang Menara Pisa, saat mereka berlibur keliling Eropa. Saat itu usia Cindy baru 5 tahun. Itu termasuk masa-masa yang sangat luar biasa dalam kehidupan rumah tangganya. Cindy yang lucu dan selalu membuatnya gemas. Saat itulah dia merasa menjadi seorang Ibu. Tapi ketika Cindy beranjak besar dan seperti sekarang ini, dia mulai merasakan bahwa kehadiran Cindy hanya untuk Bram saja. Pelan-pelan Bram mulai mnyingkirkannya. Mulai membangun imej di depan Cindy, bahwa dirinya bukanlah seorang ibu yang patut dihormati. Tak patut digugu dan ditiru.

Maafkan Mama, Cindy,” kalimat itu berulang-ulang meluncur dari mulutnya. Ya, kalimat apalagi yang lebih pantas selain itu? Sepanjang hidupnya, dia memang merasa sudah gagal menjadi seorang ibu bagi Cindy.

Lalu Arum merubuhkan foto itu. Tak ada gunanya melihat foto itu. Biarlah sejarah menyimpannya. Jika foto itu tetap di sana, akan makin sakit hatinya ketika melihat kebersamaan itu.

Arum melihat ke cermin. Dia tertegun dan kaget melihat wajahnya yang pucat dan cekung. Rambutnya yang basah dan tak bercahaya. Tak ada gairah kehidupan di sana. Oh, andai saja ada kupu-kupu pelangi yang bercahaya seperti tadi. Aku akan meminta seberkas cahayanya untuk kupoleskan di wajahku! Arum berandai-andai dengan lara.

“Den Ayu……, mintalah ampun pada Gusti Allah”

“Arum sudah lupa sama Gusti Allah, Mbok….”

“Dia Maha Pemberi Ampun. Maha Pemurah,” ajak si Mbok memegangi kadua bahunya; mengajaknya berdiri.

Arum mau saja dituntun Mbok Siti ke kamar mandi. Di sana Mbok Siti mengajarinya cara berwudhu dengan sabar.

Arum dengan kikuk mengikuti. Membasuh kedua lengan sampai ke pergelangan tangan. Ke mulut. Ke hidung. Mengusap wajah. Membasuh tangan kanan dan kiri rata sampat ke sikut. Dahi terus ke telinga. Terasa segar tubuhnya. Terasa sejuk hatinya. Jauh berbeda dengan saat dia mandi dengan air susu. Atau mandi madu. Bahkan mandi sauna di kamar-kamar di puncak gunung. Semua hal itu dikarenakan perasaan ketakutan akan tua atau ingin mencari kedamaian sesaat. Ongkosnya sangat mahal. Tapi ternyata dalam berwudhu, hanya dengan beberapa gayung air, tubuhnya terasa menjadi lebih segar. Pikirannya terasa menjadi lebih jernih. Hatinya terasa menjadi lebih damai. Aneh. Apakah ini karena dirinya punya tujuan yang jelas, akan menghadap Allah? Akan merendahkan dirinya dalam sujud di hadapan Sang Khalik? Oh Gusti Allah, terasa betul rasa tentram itu! Rasa damai yang sudah lama hamba dambakan!

“Kita sholatnya berjamaah saja,” ajak Mbok Siti menggelar sajadah di ruang tengah.

Arum mengangguk sambil mengusap butiran air matanya, yang tak terasa bergulir. Lalu dia celingak-celinguk; mengitari seluruh sudut-sudut ruangan rumahnya yang besar. Dia baru sadar, bahwa di rumahnya yang besar ini tak ada ruangan untuk sholat. Tak ada mushola. Di rumah ayahnya di Yogya, mushola itu dibangun di halaman belakang rumah. Dengan arsitektur joglo. Setiap menjelang Mahgrib, Mbok Situ selalu mengajarinya mengaji. Duh Gusti Pangeran, ampuni hamba, yang telah lalai menegakkan tiang agama!

Ayo,” Mbok Siti mengingatkan. “Kita sholat Isya, ya. Empat rakaat. Den Ayu tinggal mengikuti Mbok saja, kalau lupa bacaannya.”

Arum mengangguk. Betul. Dia memang sudah lupa segala bacaan yang dulu pernah dihapalnya. Bahkan gerakan sholat yang pernah dilakukannya. Ya, dirinya sudah lupa segala-galanya. Mulai dari rukun iman yang enam dan Islam yang lima. Jangankan pergi ke haji, sholat yang utama saja tak pernah lagi dia lakukan. Puasa dan zakat apalagi. Tapi tak apa, bisik malaikat lembut. Sang Khalik Maha Pengampun. Pintu tobat selalu terbuka. Huh! Tak perlu bertobat! Kali ini iblis menyemburkan api neraka padanya. Untuk apa? Semua orang menimpakan kesalahan padamu atas kematian ibumu! Lantas kamu yang taat pada perintah-Nya, harus menyerahkan kegadisanmu kepada Bram! Lalu kamu hamil! Apakah itu pertanda kamu disayang oleh-Nya? Bohong! Kamu adalah tak lebih dari mahkluk yang tak diinginkan kehadiranya di muka bumi ini! Maka, bersenang-senanglah! Nikmati hidup ini! Suamimu itu benar! Dia menikmati segala kemewahan ini! Dia sudah bekerja keras. Dia berhak menikmati semuanya!

Arum berguncang. Terasa betul jilatan api si iblis membakar hatinya. Dia beristighfar, mohon ampun dan perlindungan-Nya. Hatinya sudah bulat, bahwa selama ini dia sudah salah melankah. Apalagi jika dia mengingat peristiwa di bawh kaki hujan tadi! Kupu-kupu pelangi yang memancarkan seberkas cahaya! Dia mersa sedang diperingatkan oleh-Nya!

“Allahu Akbar,” Mbok Siti melakukan takbirathul ikhram.

Arum mengikuti dengan kikuk. Gemetar tubuhnya. Dia tak bisa berkonsentrasi. Pikirannya melayang-layang ke mana saja. Bahkan saat Mbok Siti membaca Al Fatihah, gambar-gambar masa lalunya berlarian menyerbunya! Menyergapnya! Itu karena dia sudah teramat lama lupa pada selembar sajadah. Tak ingat pada Allah. Juga pada Islam. Itu sudah lama sekali.

Bermula ketika Amartha, kawan sekampusnya, mengundangnya ke pesta perpisahannya di sebuah hotel di kawasan pantai Parangtritis. Amarta hendak meneruskan sekolah ke London. Mengambil jurusan disain grafis. Pestanya terbatas. Amarta bilang, kakaknya yang ganteng ingin berkenalan dengan Arum. Dia sendiri sudah mendengar reputasi kakak Amartha, yang populer di Yogya.

Ayah Arum awalnya melarang pergi. Ayahnya tahu sekali, bahwa orangtua Amartha adalah tipe pejabat yang korup. Ayahnya sangat tidak suka Arum pregi ke pesta Amartha. Tapi, Arum terus merengek. Alasan Arum, dia belum pernah sekali pun membntah ayahnya. Dia selalu menurut apa yang dikatakannya.

“Arum pergi ke pesta Amartha juga bukan untuk melakukan hal yang neko-neko, Romo. Itu lebih pada pertemanan saja. Arum akan melepas Amartha, yang hendak sekolah ke London,” begitu Arum memberi alasan.

Ayah Arum gelisah. Amartha tidak tinggal diam. Amartha meyakinkan ayah Arum, bahwa dia akan menjaga Arum. Akhirnya dengan berat hati, ayah Arum mengijinkan.

Di pesta, kehadiran Arum memang membikin geger. Arum merasakan hal itu. Terutama kaum lelakinya. Tapi, yang berani menghampirinya hanyalah Bram.

“Raden Tumenggung Bramantio Brotodiningrat,” kata lelaki ganteng itu memperkenalkan diri. Tanpa rasa canggung. “Panggil saja aku ‘Bram’,” tambahnya menebar jala dengan senyumnya yang mempesona.

Arum terpikat dengan ketampanan Bram. Dia yakin, semua wanita pasti akan seperti dirinya. Saat itu dia baru saja hendak mengatakan namanya, tapi Bram langsung memotong.

“Aku sudah tahu nama kau. ‘Raden Ajeng Arum Ambarwati’. Putri semata wayang Raden Mas Tumenggung Susatyo Suryodingrat. Pengusaha batik terkenal di Yogya.”

Arum tersipu malu saat itu.

“Kupanggil kau ‘Arum’ saja. Boleh?” Bram tersenyum lagi.

Arum betul-betul terperosok. Dia menyadarinya sekarang, bahwa dia memang sangat hijau dengan pergaulan anak-anak muda. Ini akibat didikan ayahnya yang feodal dan mengedepankan agama. Dia sudah terbiasa hidup dengan jadwal yang ketat dari ayahnya Dia hanya mengenal dunia sebatas rumah, sekolah, tempat kursus, perpustakaan, dan pertemuan arisan keluarga besar di setiap awal bulan. Ke mana-mana pun harus diantar jemput oleh supir keluarga. Arum menganggap, bahwa ayahnya melakukan itu untuk melindunginya. Dia menerima saja dengan pasrah dan hati ikhlas. Kalau diibaratkan lagu, dia adalah “burung dalam sangkar emas”.

Terutama ayahnya, sangat alergi sekali dengan tamu-tamu lelaki yang mengunjunginya di rumah. Ayahnya akan menginterogasi setiap tamu lelaki yang datang ke rumah; menanyai mereka tentang asal dan usul, visi dan misi, kuliah di jurusan apa, target ke depan, cita-cita, wanita ideal untuk dijadikan calon pendamping, dan kapan akan menikah.

Kadang malah Arum merasa kasihan kepada ayahnya, yang masih menduda. Itulah kenapa dia selalu manut saja apa kata ayahnya. Dia ikhlas. Dia tidak ingin membebani pikiran ayahnya setelah dia tahu, bahwa ibunya mangkat akibat pendarahan yang hebat sesaat setelah melahirkannya. Setelah mengerti hal itu, dia merasa berdosa dan beranggapan, karena dialah ibunya wafat. Perasaan bersalah itulah, yang menyebabkan dia jadi anak yang penurut.

Tapi, akibatnya adalah dalam pergaulan. Dia sangat bau kencur dengan perangkap lelaki seperti Bram. Itu terbukti. “Kamu cantik seperti putri raja,” puji Bram tanpa tedeng aling-aling. Tangan Bram menggenggam kuat tangannya.

Arum seperti terbang ke langit. Belum pernah dia mendapat pujian seterbuka seperti yang diucapkan Bram. Dia tahu, itu gombal. Tapi, tetap saja sebagai seorang gadis hatinya berbunga-bunga. Hanya saja semuanya harus dibayar mahal. Dia tak menyangka jika pesta perpisahan Amarta itu disediakan untuk menjebak dirinya.

Arum masih ingat saat dia merasa mengantuk setelah beberapa saat menyantap hidangan. Keadaan di sekelilingnya tiba-tiba meredup. Kelopak matanya seolah ada yang menggayuti.

“Kenapa, Arum?” tanya Amarta.

“’Ndak tau. Tiba-tiba, kok rasanya lemes banget. Ngantuk,” katanya menguap saat itu. Dia juga merasakan suhu tubuhnya tidak karuan. Ada hawa panas yang ingin melompat keluar dari tubuhnya. Ada magma yang ingin dimuntahkan.

“Istirahat d kamar aja, ya,” Amarta memapahnya ke dalam sebuah kamar hotel.

Arum tak sanggup bicara apa-apa lagi. Dia langsung rebah dan terlelap. Dia merasa sedang terbang ke alam mimpi; penuh warna-warni. Sorgawi. Tapi, ketia terbangun, dia kaget karena mendapati dirinya dalam keadaan tak berbusana. Dan di sampingnya Bram tertidur pulas.

Arum menangis. Berteriak-teriak. Histeris. Bram terbangun dan dengan sopan menenangkannya. Arum makin histeris. Tapi, tak seorang pun yang mendengar teriakannya. Arum panik dan bingung. Mau marah, marah kepada siapa. Mau melaporkan peristiwa ini, dengan delik apa? Diperkosa? Bagaimana kalau aparat menanyakan buktinya? Bisa-bisa bumi Yogya geger! Oh, Gusti Allah! Bagaimana kala Romo tahu hal ini? Bagaimana kalau masyarakat tahu juga?

“Arum, maafkan aku,” kata Bram penuh penyesalan. “Aku khilaf,” tambahnya. “Aku dalam keadaan mabuk ketika masuk kesini. Aku pikir, kamu Cinthya, pacarku.”

“Kamu laki-laki bajingan!”

“Aku memang bajingan.”

Arum menangis dan mencari-cari pakaiannya.

“Aku minta maaf. Aku salah.”

Arum tak mampu mengeluarkan kata-kata lagi. Habis sudah segala suara. Ketika Amartha datang, Arum hanya bisa mengadu di pelukannya. Amartha meminta maaf padanya dan memarahi kakanya.

“Aku siap bertanggung jawab, jika itu yang kau inginkan,” kata Bram pada Arum.

Arum tak bisa menjawab. Tak pernah terpikirkan dalam benaknya untuk menikah di usia muda. Dia baru saja lulus jadi sarjana. Dia ingin sekali mengamalkan ilmunya diperusahaan ayahnya. Tapi, Bram merenggut kehormatannya tanpa sengaja! Dan dia siap bertanggung jawab! Oh Gusti Allah, dosa apa yang sudah aku perbuat!

Bab Dua

MATAHARI MENGGELINCIR

Matahari menggelincir turun ke batas cakrawala. Hujan tinggal gerimis. Lampu-lampu di sekitar rumah tua menyala; mencoba mengimbangi warna langit yang mulai abu-abu. Tidak pekat lagi. Awan hitam yang bergulung-gulung sejak sore tadi berangsur-angsur hilang. Bulan separo muncul di sebelah timur. Wajahnya masih pucat dan belum leluasa menyebarkan cahayanya ke seluruh permukaan bumi.

Sedan mewah itu terus meluncur membelah senja di Jakarta yang basah dan dingin. Para penumpangnya diam dalam gigil yang menggelisahkan. Tak ada kata-kata meluncur dari bibir mereka yang kelu. Tak ada suara. Tapi, iblis laknat terus menggempur penumpang yang duduk di sebelah supir; Tuan Bram yang perkasa! Jangan kau bergeming lagi! Musnahkan bayi haram di dalam perut anakmu! Walaupun itu cucumu sendiri! Darah dagingmu juga! Jika kau membiarkan bayi jadah itu terlahir ke bumi, kau akan kena malu. Semua karyawanmu, relasi bisnismu, media massa, pacar-pacar gelapmu, semua akan mencibirmu! Hah! Ternyata putri cantik sematawayangmu, yang kamu bangga-banggakan, tak lebih dari wanita sundal! Pelacur! Tak sepadan dengan darah biru yang menetes dari tubuhmu!

Bram mengatupkan gerahamnya.

KRETAAAK……!

Bunyi kedua rahangnya yang beradu gemeretak.

Geram bukan kepalang hatinya, jika mengingat Cindy sudah masuk perangkap anak-anak band pimpinan Leo!

“Leo bangsat!” gerutu Tuan Bram tak sadar.

Pak Rahmat yang sedang membelokkan mobilnya ke sebuah rumah tua, tak urung melirik diam-diam. Dia melihat wajah tuannya mengeras bagai sang iblis! Diam-diam pula dia melihat ke kaca spion tengah. Dia melihat sesuatu yang berlawanan di wajah gadis belia itu. Betapa putus asa. Tak ada cahaya kehidupan. Ibarat sebuah hari, gadis belia itu berada pada suatu senja. Matahari menggelincir turun di matanya. Menyedihkan bagi gadis seperti dia. Frustasi di usia delapan belas tahun!

Pak Rahmat mengerem mobil; berhenti di depan pintu gebang. Tak lama pintu gerbang di rumah tua itu terbuka lebar; seolah siap menerkam kedatangan sebuah sedan mewah. Dia memindahkan perseneleng. Mobil perlahan masuk. Hatinya sangat risau. Sejak tadi bibirnya tak lepas dari dzikir; subhanallah, subhanallah….. Tiba-tiba saja beberapa binatang aneh, yang memantulkan seberkas cahaya di kedua sayapnya; berterbangan seolah menghalangi laju mobil itu.

“Astaghfirullah!” Pak Rahmat merasa takut. “Dosa apa yang sudah hamba lakukan ya Allah!”

“Ada apa, Pak?!” Tuan Bram terbangun dari lamunannya.

Itu, Tuan! Pak Rahmat menunjuk ke depan mobil. “Banyak kunang-kunang, Tuan!”

“Kunang-kunang?” Tuan Bram melihat ke depan. Matanya silau. “Tidak mungkin ada kunang-kunang di sini! Mestinya mereka di kuburan sana!”

Pak Rahmat mencoba menubrukkan moncong mobilnya ke kerumunan binatang bercahaya itu. Dia berharap kerumunan binatang itu pecah dan pergi. Tapi yang terjadi adalah, binatang bercahaya itu hinggap di kaca mobil!

TIN, TIIIN, TIIIIN!

Dengan reflek Pak Rahmat membunyikan klakson.

“Itu kupu-kupu! Bukan kunang-kunang!” Tuan Bram makin heran.. “Warna sayapnya berwarna-warni seperti pelangi!”

“Kupu-kupu pelangi! Subhanallah! Allahu Akbar!” Pak Rahmat berdebar-debar jantungnya.

“Ngomong apa kamu!” Tuan Bram merasa heran.

“Saya memohon ampun dan perlindungan hanya pada Allah, Tuan!”

“Allah!” Tuan Bram melecehkan. “Lihat ini!” dia berinisiatif menggeser tombol wiper.

TEK TEEK, TEK TEEK, TEK TEEK….!

Kedua tangan wiper itu menyapu jendela. Kupu-kpuu pelangi berterbangan.

“Tak perlu Allah kalau Cuma ngusir kupu-kupu!”

Pak Rahmat kali ini beristighfar dalam hatinya. Dia juga memohon ampunan bagi ketakaburan tuannya. Bahkan memohon, agar dibukakan hati tuannya pada kebesaran Allah. Dia sudah lama ikutnya. Sejak Cindy berusia lima tahun. Dia sudah hapal karakter tuannya, yang memang tak mempedulikan Tuhan dan agama. Bagi tuanya tuhan ada di birokrat-birokrat, yang menentukan tender-tender yang sedang diikutinya. Tanpa rtuhan-tuhan itu, tuannya tak mungkin bisa kaya dan sesukses seperti sekarang ini. Sedangkan agama bagi tuannya, adalah bneda-benda mewah made in luar negeri. Kepada benda-benda iutlah tuannya menghamba.

“Ayo, cepat!” Tuan Bram memerintah dengan perasaan jumawa. Dia menoleh; melihat ke putrinya. “Kita sudah sampai, Cindy! Sebentar lagi bayi haram itu akan musnah!”

Cindy tak bereaksi pada omongan ayahnya. Ternyata dia lebih tertarik mengelus-elus kaca jendela mobil. Di sana hinggap seeekor kupu-kupu pelangi yang memantulkan seberkas cahaya. Dia merasa matahari sedang terbit di ufuk timur. Akankah dalam waktu lama?

Pak Rahmat menginjak pedal gas. Seperti siput yang keberatan dibebani rumahnya sendiri di punggungnya, sedan mewah itu memasuki jalanan yang membentuk huruf “U” di halamannya yang luas. Ya Allah, ampuni hamba-Mu yang hina ini. Yang tak bedaya ini. Hamba hanyalah seorang supir, yang menggantungkan hidup demi anak dan istri di rumah.

Pak Rahmat ingin segalanya cepat berlalu. Malam yang menggelisahkan. Malam yang menakutkan. Berlumuran dosa. Dia sadar, bahwa dirinya sudah berenang di lautan penuh dosa. Semoga Allah mengampuni hamba!

“Ke sana!” Tuan Bram menunjuk ke lobi.

Di sana beberapa orang berwajah aneh dan asing menunggu. Mereka tampak bersiap-siap menyambut. Wajah mereka sangat gembira; seolah tidak sabar menanti mobil itu berhenti di depan mereka.

Saat yang dinantikan pun tiba.

Sedan mewah itu berhenti di depan mereka.

Salah seorang yang berkaca mata minus bermaksud membuka pintu mobil. Tapi, dia kalah cepat. Pintu itu terbuka lebih dahulu.

“Malam, dokter Gala!” sapa Tuan Bram kedinginan.

“Malam, Tuan Bram,” dokter muda itu mengulurkan lengan kanannya. Sementara lengan kirinya membetulkan ketak kaca matanya.

Tuan Bram menyalami. Dia menoleh sejenak ke jok belakang mobil. Katanya serius, “Saya ingin semuanya berjalan lancar. Saya tidak peduli, apakah bayinya selamat atau tidak. Yang penting, anak saya yang selamat.”

“Semuanya sudah diatur, Tuan Bram. Sesuai dengan standard operation procedure kedokteran,” katanya dengan senyum lebar.

“Bagus!”

“Sekarang, Tuan sebaiknya berganti pakaian dulu. Semuanya sudah kami sediakan. Putri Tuan akan langsung kami urus.”

Tuan Bram mengangguk-angguk. Dia tampak gelisah ketika beberapa orang datang membawa brankar.

Para perawat wanita menuju pintu belakang mobil, dimana Cindy masih duduk seperti orang hilang ingatan. Seperti sebuah hari, di mana matahari sedang menggelincir turun ke batas cakrawala.

Pintu belakang mobil terbuka.

Hati Tuan Bram tidak karuan.

Cindy ditarik keluar.

Tak ada keributan.

Cindy duduk di brankar.

Seorang perawat wanita mencoba merebahkannya.

Cindy menurut.

Brankar itu didorong.

Menggelinding mengikuti detak waktu.

Brankar itu melintasi Tuan Bram. Persis ketika brankar itu melewati kepala Tuan Bram, tiba-tiba saja sesuatu yang aneh terjadi! Bola matanya bertubrukan dengan bola mata Cindy. Dia merasa ada satu tarikan yang maha dahsat di sana! Bergejolak. Penuh dengan butiran-butiran emosi, yang mengaliri darah dan menuju jantung mereka berdua!

Sorot mata Cindy menyala merah! Matahari yang tadi menggelincir, tiba-tiba muncul sekejap saja. Cahaya senjanya meronta-ronta dan ingin menerangi jagat raya! Penuh amarah! Seperti bara; sangat membara!

Tuan Bram merasa di depan matanya, seolah sedang melihat Cindy menghunuskan sebilah pedang ke dadanya! Dia merasa, belahan jiwanya sedang mendorongnya masuk ke jurang, dimana di dasarnya ada kayu bakar yang menyala api! Dia merasa tubuhnya siap hangus dibakar amarah putrinya!

“Tuan jangan terlalu risau!” dokter Gala mengalihkan suasana. “Perasaan seperti yang sedang Tuan rasakan ini wajar-wajar saja. Saya sudah ratusan kali menyaksikannya. Tapi, yakinlah pada saya! Semuanya akan kembali seperti semula! Tak bersisa!”

Tuan Bram masih terguncang. Di benaknya tergambar masa-masa indah bersama Cindy kecil. Belahan hatinya, yang disemai lewat cara nafsu duniawi bersama Arum. Tapi, bagaimanapun cara membuatnya, Cindy adalah darah dagingnya. Dengan cara apapun mereka memperolehnya, Cindy tetap jiwanya. Di dalamnya ada mimpi dan harapannya. Dia sadar, kesalahan sebetulnya terletak padanya. Cintanya pada arum semata hanya pada harta ayah Arum. Pad darah biru merkea. Pada kehormatan mereka.

Itulah sebabnya kenapa Tuan Bram ingin memusnahkan byai haram di perut Cindy, supaya dia diberi kesempatan untuk memperbaikinya dari titik nol lagi. Supaya dia bisa mempersiapkan masa depan Cindy, yang terlanjur tergerus pergaulan anak muda zaman sekarang! Ya, Tuan Bram mempunyai rencana sendiri, yang seorang pun tidak boleh membantahnya. Tidak juga istrinya. Dia menyusunnya sendirian. Ini proyek mercu suarnya. Reputasinya dipertaruhkan di sini. Kehamilan Cindy mau tak mau sudah mencorengnya! Betul apa kata istrinya, bahwa sebetulnya orang-orang tak berani menyuarakannya. Mereka hanya berani menggunjingkannya di belakangnya saja.

Tuan Bram berencana, setelah bayi haram itu dimusnahkan, dia akan mengirim Cindy ke Amerika. Dia akan menitipkan Cindy ke sahabatnya, yang sudah menetap di sana. Dia akan mengawasi putrinya itu dengan ketat. Termasuk pergaulannya.. Juga dia akan mempersiapkan calon suami Cindy kelak! Calon suami yang tentu kaya, berpendidikan, dan terhormat seperti dirinya! Bukan seperti si brandalan Leo, yang tak punya masa depan! Leo yang hanya mengandalkan penghasilannya dari honor mengamen di cafe-cafe! Tak akan rela dia menyerahkan Cindy pada lelaki seperti Leo!

“Bagaimana, Tuan?” dokter Gala menyentuh pundaknya.

Tuan Bram menarik napas dan melontarkannya. Dia melihat brankar yang membawa Cindy sudah masuk ke dalam bangunan rumah. Lenyap ditelan pintu utama. Tuan Bram tidak berkedip sedetikpun. Dia sadar, bahwa Cindy belahan jiwanya, sedang menghadapi suatu peristiwa yang maha penting.

“Mari, Tuan. Terlalu lama memakai pakaian basah, bisa berakibat tidak baik,” dokter Gala mempersilahkannya masuk ke dalam.

Tuan Bram mengangguk dan mengikuti dokter muda itu. Dia merasa sedang memasuki mulut srigala. Dia merasa sedang tersedot ke dalam suasana hari, dimana matahari sudah menggelincir. Di mana seluruh ruangan sangat gelap.

***

Di sebuah ruangan utama rumah tua itu, jarum jam berdetak pelan sekali. Malam terus merembet. Dingin makin menyergap. Tapi tidak bagi Tuan Bram . Kopi sedang menghangatkan tubuhnya. Pakaiannya sudah berganti dengan yang kering. Rambutnya tersisir rapih.

“Oke, sekarang kita bicara soal urusan kita!” Tuan Bram meletakkan cangkir keramik dengan sembarangan di samping asbak. Sebatang rokok menyala di sana. Di depannya duduk dokter Gala, memegangi sebuah map.

“Silahkan dibaca dulu, Tuan,” kata dokter muda itu menyerahkan map. Senyum seekor srigala terlukis di sana.

Tuan Bram menghisap rokoknya. Lalu map itu diterimanya. Dibukanya. Dibaca dengan seksama kata demi kata. Angka demi angka. Keningnya berkerut-kerut. Matanya menatap penuh selidik ke dokter Gala, yang selalu mengumbar senyum seekor srigala.

“Bagaimana, Tuan?” dokter Gala melepaskan kaca matanya. Membersihkan kacanya dengan ujung kemejanya. “Apa ada masalah dengan angka-angka itu?’ seringainya seolah sedang mengancam.

Tuan Bram meneliti lagi berkas-berkas di map itu. Dadanya bergemuruh bagai ombak selatan. Gelisah.

“Angka-angka di sana, buat Tuan Bram, pasti tidak ada artinya dibandingkan dengan keselamatan putri Tuan. Juga reputasi Tuan sebagai pengusaha yang sukses dan terhormat,” dokter Gala mengingatkan. Bahkan nadanya cenderung seperti memojokkan.

Geraham Tuan Bram mengadu.

KRETAK!

Tuang Bram sadar, bahwa dia sedang diperas. Ini diluar dugaannya. Angka 1Milyar Rupiah tidaklah sedikit!

“Saya harus menyumpal mulut semua karyawan di sini, Tuan.”

“Kalau tidak?”

“Saya tidak bisa menjamin, kalau seorang karyawan yang tidak kebagian, bisa tutup mulut untuk tidak membocorkannya pada media massa.”

“Begitu?”

“Bulan lalu pernah ada kejadian seperti itu. Anak seorang oknum pejabat, datang ke saya minta dikuret. Waktu itu saya masih praktek di tempat yang dulu. Bukan di sini. Yah, berpindah-pindah tempat praktek, bagi saya sangatlah penting. Untuk menghilangkan jejak!”

“Hm!”

“Kandungan putri oknum pejabat yang suka korup itu baru berusia 3 bulan. Dia menawar sepertiga dari harga yang saya tawarkan. Saya menolak. Eh, dia mengancam akan melaporkan praktek ilegal saya ke aparat. Yah, akhirnya saya terima saja. Bahkan akhirnya dia minta gratis. Saya tak punya pilihan lain. Daripada praktek saya ditutup, bisa-bisa semua karyawan di sini tidak bisa makan,” ceritanya sangat manusiawi.

Tuan Bram menatapnya; mencoba menyelami lautan hatinya.

“Keesokannya, berita putrinya hamil di luar nikah dan dikuret ada di koran gosip!” dokter muda ini tertawa. “Lengkap dengan fotonya segala. Oknum pejabat brengsek itu tidak tahu, kalau semua peristiwa di sini didokumentasikan lewat peralatan canggih!”

Tuan Bram menatapnya dengan tidak suka.

“Intinya, karyawan saya punya solidaritas yang tinggi pada saya. Jika saya diancam, mereka tanpa saya suruh akan membalas ancaman itu,” dokter Gala tertawa. “Jadi, cash and carry, Tuan! Mereka jual, kami beli. Mereka beli, kami jual. Kalau mau bartre, oke-oke saja! Bagaimana, mengerti ‘kan?”

Tuan Bram merasa dadanya bergolak.

“Tapi, kalau semua orang tua pasien kami sangat kooperatif dan tidak mempermasalahkan harga, anak buah saya pasti akan bertingkah laku dengan baik. Semua rahasia Tuan pasti aman. Saya jamin.”

Tuan Bram merasa seluruh tubuhnya bergetar. Rokok yang digepit jari-jari tangannya hampir saja terlepas jatuh. Bahkan ujung baranya menyentuh kulit jarinya. Dia menahan pedihnya.

“Putri Tuan dalam keadaan yang tidak stabil jiwanya. Perlu ditenangkan dulu semalam. Tidak bisa sekarang. Paling cepat, besok sore.”

“Saya harus berangkat ke Singapura!”

Dokter Gala tersenyum seperti srigala. “Sebagai orangtua, kalau disuruh memilih, anak kita lahir cacat atau lebih baik anak kita mati saja, pasti kita memilih yang terakhir; mati saja. Dan begitu juga kalau anak kita hilang ingatan, lebih baik anak kita mati saja. Tak akan mampu kita mengatasi gunjingan masrakat, bahwa anak kita cacat atau gila!”

“Cindy gila?”

“Kalau terburu-buru!”

“Saya belum paham!”

“Saya tidak bisa melakukannya malam ini. Saya harus mengurusi psikisnya dulu. Atau Tuan kehilangan putri Tuan.”

“Bayinya?”

“Tuan tidak usah memikirkan hal itu!”

“Maksudnya?”

“Kalau mau, saya bisa menyalurkannya ke sebuah lembaga.”

“Lembaga apa?”

“Lembaga yang menampung bayi-bayi, yang tidak dikehendaki oleh orangtuanya. Atau oleh kakek-neneknya seperti Tuan!”

Tuan Bram mengangguk-angguk.

“Bagaimana, Tuan? Tentang angka-angka itu?” dokter Gala mengambil pulpen dari kantong kemejanya. Menyodorkannya.

Tuan Bram mengambil pulpen yang disodorkan dokter Gala.

“Satu milyar masih tak sebanding, Tuan!”

“Lakukan semuanya besok sore! Nanti nak buah saya yang akan mengurus, akan dibagaimanakan bayinya!”

“Baik!”

“Jangan pernah menghubungi saya. Semuanya sudah diurus oleh orang kepercayaan saya!”

“Baik!”

Tuan Bram menandatangani surat perjanjian.

Dokter Gala menyeringai seperti srigala.

“Besok siang, uangnya langsung saya transfer ke rekening dokter!”

“Saya hargai itu!”

Tuan Bram berdiri. “Awas, jangan sampai sesuatu yang buruk, trejadi pada anak saya. Atau dokter tidak pernah bisa melihat matahari lagi!”

Dokter Gala juga berdiri. “Saya jamin, Tuan, putri Tuan, dan saya, masih akan melihat matahari terbit di ufuk timur dan terbenam di cakrawala!” katanya tak kalah gertak.

“Terima kasih!”

“Senang bekerja sama dengan Tuan!”

Tuan Bram melangkah keluar ruangan. Tapi dia membalik ketika hendak membuka pintu. “Saya akan menyuruh orang untuk mengembalikan pakaian saya yang saya pakai ini. Lumayan. Ukurannya pas dan enak dipakai.”

“Tidak usah, Tuan. Itu bonus buat Tuan. Di sini, semuanya sudah dengan matang dipikirkan. Musim hujan begini, semua hal pasti terjadi. Saya membelinya di tempat yang biasa Tuan beli. Jadi, saya tinggal menanyakan ukurannya saja. Yah, sedia payung sebelum hujan….”

Tuan Bram mengangguk dan membuka pintu.

Dokter Gala menyeringai seperti srigala, ketika tubuh Tuan Bram hilang di balik pintu! Dia merasa sudah menerkamnya! Bahkan mengunyahnya!

***

Gerimis merembet ke jalanan pinggiran kota.

Basah dan licin.

Matahari sudah menggelinciir turun sejak tadi.

Senja pun terlewat.

Lampu-lampu merkuri menyala dan menjadi sahabat para laron untuk menghangatkan suhu tubuh. Sebagian orang ada yang memilih meringkuk di dalam rumah dan ada yang berkeliaran mengais rezeki; baik yang halal dan haram. Itu urusan iblis dan malaikat. Siapa yang berhasil mempengaruhi si haram, berarti iblis sebagai pemenang. Jika si halal, malaikatlah yang bersyukur nikmat. Tapi tak usah khawatir, Sang Pencipta sudah mengaturnya. Baik dan buruk, memang sudah diciptakan-Nya secara berdampingan. Begitulah juga siang dan malam. Sorga dan neraka. Matahari terbit dan matahari menggelincir. Tinggal kita hendak memilih yang mana. Itu terletak pada rasa taqwa dan iman kita.

Seperti juga beberapa kendaraan yang memilih bergegas pulang; tak peduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Lampu mobil mereka menyorot jalanan; memastikan apakah ada rasa aman di depan mereka. Tapi kadang juga lampu-lampu mobil itu saling bertabrakan dengan lampu mobil dari arah berlawanan. Pengemudinya tak ada yang mau mengalah. Mereka tak peduli, jika mata silau bisa berakibat fatal. Begitulah manusia; selalu merasa dirinya paling benar. Jika sudah begitu, biasanya rasa iri dan dengki merajalela. Oh andaikan rasa damai selalu di hati manusia, akankah hidup ini terasa aman dan tentram? Tak akan ada yang mampu menjawabnya, karena Allah sudah menciptakan segalanya berpasangan. Itu juga pilihan.

Terus pilihan jatuh ke pinggiran kota.

Ke jalanan tanah berlobang dan berbatu.

Gerimis makin rapat….

TIK, TIIK, TIIIK…

Sebuah Jeep membelok dari jalanan utama; masuk ke jalan tanah berbatu. Lampu mobilnya sengaja dipadamkan. Tubuh mobil itu berguncang-guncang ketika keempat rodanya melewati lubang-lubang mirip kubangan kerbau. Air coklat bercipratan ke mana-mana.

“Aman nggak di sini?” tanya si pengemudi.

“Sana, sana!” rekannya menunjuk ke arah semak belukar.

Si Pengemudi mengarahkan mobil ke sana.

Gelap dan pekat.

Dan mobil berhenti di depan semak belukar.

Sunyi.

Hanya bunyi air memukuli atap mobil.

Pintu terbuka.

Tiba-tiba…

Sebuah tubuh terlempar ke luar. Disusul oleh penumpangnya yang lain. Lalu bayangan tubuh itu bergerak-gerak ibarat pedang. Kakinya, tangannya. Terdengar suara-suara; buk, buk, buk, aduh, aaah….!

Gerimis makin rapat saja.

Terdengar erangan lagi.

BUK!

Mengaduh…..

“Dasar sialan!”

BUK, BUK!

BUUK!

Tendangan dari sepatu lars bertubi-tubi mengenai tubuh.

“Aaah….”

“Mampus lo! Gua jadiin perkedel lo!”

Pengemudi Jeep bergegas keluar. Dia memegangi tubuh temannya. “Frank, udah!” dia merasa iba melihat si korban.

“Apaan sih, lo!” Franky meronta-ronta; melepaskan diri dari pelukan si pengemudi.

“Nggak tega gua ngelihatnya!” dia teus mempererat pelukannya.

“Lepasin, Fred! Lepasin!” Franky marah.

“Inget, Frank! Kata boss, jangan dibikin mampus!”

“Alaah, bikin mampus aja!”

“Jangan, Frank!”

“Lo lihat sendiri, Fred! Sok banget dia! Apa ngerasa udah kebal?! Dia nggak minta ampun ama gua!”

Mana sempet dia minta ampun ama lo, Frank!”

“Pokoknya, gua mau brenti kalau dia nyembah-nyembah minta ampun ama gua!”

“Biarin aja, Frank! Kita cepet pergi dari sini! Hujan makin gede, nih!”

“Nggak bisa, Fred!”

BUK!

Satu tendangan dihempaskan lagi.

“Frank! Ntar ada yang lihat, repot kita!”

“Heh! Denger, ya!” Franky mencengkram krah baju korbannya.

Erangan mulai melemah. Tubuh si korban lunglai seperti pelepah daun pisang yang sudah tua. Tak berdaya.

“Mulai detik ini, lo gak boleh ngedeketin si Cindy!”

Tapi ketika mendengar nama “Cndy” disebut, tanpa diduga, erangan si korban menguat lagi, “Aaaah!”.

“Kalo masih, lo jangan mikir bisa ngelihat dunia lagi! Ngerti lo!”

“Kenapa gua gak boleh….,” kini bukan erangan yang terdengar. Tapi sepotong kalimat.

“Heh! Lo ngelawan, ya! Bangsat!”

Tubuh yang ibarat sansak hidup itu tak mengerang lagi ketika dihajar kepalan dan tendangan. Tak terasa lagi rasa sakit. Si korban itu malah tertawa; tepatnya mentertawakan mereka. “Bunuh aja gua! Bunuh!” teriaknya sambil menyemburkan darah segar dari mulutnya. Bahkan bercipratan ke jaket si Franky.

“Anjing! Jaket kulit gua!” Franky berang melihat jaket mahalnya kotor kena percikan darah si korban. “Lo mau mampus, ya!” hardiknya sambil mencengkram leher tubuh tak berdaya itu.

“Lo boleh bikin gua mampus! Tapi lo gak bisa misahin hati gua dari Cindy!” kalimatnya bergelora. Sorot matanya menyala.

“Anjing lo!” dia mencekik.

“Lo yang anjing!”

“Bangsat!”

PUIH!”

“Lo ludahin muka gua!”

“Muka lo bau kayak sampah!”

“Anjing!”

“Aaah!”

Tak ada yang bisa membendung Franky. Fredy berlalu dan masuk kembali ke dalam Jeep. Wajah Fredy sangat kesal melihat kebengisan Franky. Tapi dia tak bisa membantu meringankan penderitaan si korban.

Amarah Franky memang membuncah-buncah. Kedua ujung sepatunya sampai robek, karena terlalu sering menghantam tubuh si korban. Dia terus membabi buta melampiaskan amarahnya.

Tak ada erang kesakitan

Tubuh itu tak bergerak.

Gerimis berubah jadi deras; menghantam tubuh diam itu.

Tuan Bram membuka pintu kamarnya. Dia tertegun di mulut pintu. Tak berani kakinya melangkah masuk. Ada seberkas cahaya menyelubungi tubuh istrinya, yang sedang duduk bersimpuh di lantai. Tubuh istrinya tertutup oleh kain putih. Dia tahu istrinya sedang memakai mukena.

Tiba-tiba dia jadi teringat masa sekolah di SMA dulu. Jika kemping di Parangtritis atau Kaliurang, dia suka menakut-nakuti cewek-cewek dengan memakai mukena, yang memang sengaja dibawa. Mukena itu milik pembantu di rumahnya. Dia berpura-pura jadi setan pocong saat itu.

Kini istrinya memakai mukena untuk sholat. Dia tidak melihat istrinya seperti setan pocong. Tapi malah bercahaya dan membuat hatinya berdebar-debar tak keruan.

Di kantornya, Tuan Bram juga suka melihat karyawan wanitanya menggepit bungkusan koran atau menenteng tas plastik. “Kalian bawa apa itu?’ tanyanya ingin tahu waktu itu.

“Mukena, Pak…”

“Mukena? Coba lihat!”

Seorang karyawan wanita – tentu dengan perasaan heran, membuka tas plastiknya. Isinya sebuah mukena putih berenda. Tuan Bram meneliti dan mengangguk-angguk. Bahkan dengan tak terduga memasukkan mukena itu hanya ke kepalanya saja. Para karyawannya; baik yang lelaki dan yang wanita, tertegun melihat kelakuannya.

“Weeeew!” katanya menakut-nakuti.

Tapi tak ada yang ketakutan. Yang ada hanya senyum yang ditahan-tahan di bibir para karyawannya.

“Waktu muda saya suka jadi pocong!” Tuan Bram sadar akan hal itu. Dia langsung membuka mukena dan menyerahkannya pada pemiliknya.

Para karyawannya hanya membuka mulutnya dan membentuk huruf “Oooo!”

“Mau pada ke mana ini?” tanya Tuan Bram.

“Mau sholat dzuhur dulu.”

“Sholat dzuhur?” Tuan Bram merasa aneh. “Bukankah sekarang saatnya jam makan siang?”

“Setelah sholat, nanti makan siang, Pak!”

“Keburu, nggak? Awas, ya! Jangan sampai terlambat masuk ke kantor!”

“Keburu, Pak…”

Iya, Pak. Insya Allah!”

“Mari, Pak!”

Tuan Bram mengangguk. Dia melihat beberapa karyawannya berduyun-duyun mendatangi tempat sholat yang kecil di dekat tempat parkir kantornya. Sedangkan setiap siang, dia selalu bergegas meluncur ke hotel berbintang untuk sex after lunch bersama pacar gelapnya. Begitulah setiap hari yang dia menyakiti Arum. Jika Arum menanyakan; sapu tangan siapa yang tertinggal di mobil, dia tak akan sungkan menghardiknya! Jika Arum meributkan; bau parfum siapa yang menempel di kemejanya, tak akan ragu lagi tangannya mendarat di wajah istrinya!

Kini istrinya bersimpuh di selembar sajadah!

“Assalamu’alaikum warahmatullah…..,” Arum mengucapkan salam.

Bram yang sedari tadi berdiri mematung di mulut pintu kamar terjaga dari lamunannya. Dia perlahan-lahan masuk ke kamar. Dia berdiri persis di belakang tubuh istrinya, yang masih duduk bersimpuh di sajadah.

“Tumben kau sholat!” sindirnya tak suka.

“Subhanallah, subhanallah, subhanallah….,” Arum berdzikir, tak memepedulikan kehadiran suaminya.

“Aku ke Singapura besok. Tentang Cindy, untuk yang terakhir kali, aku percayakan semuanya sama kau!” Bram melemparkan tubuhnya ke tempat tidur.

Arum merasa seperti melihart seberkas cahaya di atas kepalanya. Aku menangani Cindy? Ya Allah, terima kasih! Kau kabulkan permintaannku!

“Cindy akan dicesar besok sore. Aku ingin urusan Cindy dan bayi jadah itu selesai. Kau tinggal nyuruh si Fredy sama Franky untuk memusnahkan bayi jadah itu!”

“Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar…..,” bibir Arum bergetar.

“Kau mendengar apa yang aku bicarakan!”

Arum terus saja berdzikir, “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar…”

Bram jengkel sekali dengan perubahan istrinya yang tiba-tiba ini. Aneh. Ini pasti ulah Mbok Siti! Dia bangkit dan mendekati istrinya. Tangannya terangkat dan hendak menjambret kepala istrinya yang tertutup mukena. Tapi tiba-tiba saja tangannya terasa berat untuk digerakkan. Kedua lututnya gemetar. Dia tidak mempercayai apa yang dilihatnya! Lagi-lagi ada cahaya yang menyelubungi tubuh istrinya! Mukena yang serba putih itu memantulkan seberkas cahaya! Dia tak kuasa untuk menjangkaunya!

Kubangan air di sekitar tubuhnya kecipratan warna merah darah, yang mengalir dari mulutnya.

Tak ada suara.

Hujan mereda.

Tiba-tiba jari-jari tangannya bergerak-gerak meremas tanah merah. Tubuhnya menggeliat mencoba bangkit. “Cindy…..,” dari mulutnya keluar igauan.

Dia berusaha bangkit. Wajahnya tengadah; membiarkan air hujan menyeka seluruh tanah yang menempel di tubuhnya. Bahkan mulutnya terbuka; mencoba menampung air langit untuk diminumnya.

Mbok Sitiiiiii!” dia berteriak ke luar dari kamarnya. “Mbooooook!” triaknya lagi; menggelegar menembus seluruh dinding rumah.

Mbok Siti datang tergopoh-gopoh. “Nggig, Tuan,” katanya terbungkuk-bungkuk.

“Heh, tua bangka! Kau apakan si Arum!” dia menunjuk ke dalam kamarnya.

“Den Ayu, Tuan?” Mbok Siti melongok ke dalam kamar utama. Dia melihat Arum sedang khusu berdoa. “Den Ayu ndak Mbok apa-apa kan, Tuan.”

“Hah! Tidak kau apa-apakan!” Tuan Bram berang. Dia menghentakkan pintu kamarnya, sehingga terbuka lebih lebar lagi. “Lihat, lihat dengan mata kau yang sudah rabun itu, tua bangka! Lihat! Sedang apa dia!”

Si Mbok mengelus dadanya; mengucap istighfar. “Mbok lihat, Den Ayu sedang berdoa, Tuan. Dia baru saja sholat Isya,” katanya dengan hati yang sabar.

“Ya, sholat! Kau apakan dia, sampai mau sholat segala?”

“Mbok ndak apa-apa kan, Tuan. Mbok hanya mengingatkan, agar Den Ayu eling sama Gusti Pangeran.”

“Nah, itu! Itu! Dasar tua bangka! Harusnya kau tidak usah ikut campur urusan rumah tangga kami. Biasanya kan kalau ada apa-apa, dia lari ke minuman! Mabuk! Kenapa tiba-tiba dia sholat! Ini kan aneh! Dan ternyata benar kan dugaanku, kau biang keladinya!”

“Istighfar, Tuan, istighfar…”

“Apa itu istighfar!”

“Mohon ampun pada Gusti Allah, Tuan….”

“Ah, peduli setan dengan Tuhan!”

“Bram…,” tiba-tiba terdengar suara Arum yang bening nadanya.

Bram terpaku. Dia yang biasanya emosional mendengar suara istrinya, kali ini sangat takjub. Dia menoleh dengan sangat hati-hati. Dilihatnya wajah istrinya masih menyisakan cahaya.

“Jangan menyalahkan si Mbok. Dia tak bersalah apa-apa,” kata Arum membela Mbok Siti. “Ayo, Mbok. Siapkan makan malam buat Tuan.”

“Nggih, Den Ayu,” Mbok Siti tergopoh-gopoh ke dapur.

“Tidak usah, Mbok! Saya sudah makan tadi!”

“Ya sudah, ‘Mbok. Tidak usah. Mbok istirahat saja.”

Mbok Siti mengangguk dan menghilang ke dalam kamarnya di belakang.

Kini tinggal Arum dan Bram berhadap-hadapan di ruang tengah. Arum tampak lebih tenang dari yang sore tadi. Dari yang saat matahari menggelincir tadi.

Bram menatapnya dengan perasaan was-was. Istrinya tampak makin kuat saja. Aneh! Bagaimana bisa secepat ini? Apakah Tuhannya memberi dia kekuatan?

“Kamu berangkat saja ke Singapura, Bram!”

“Hmm! Kau mendengar apa yang aku katakan tadi!”

“Aku akan menangani Cindy, seperti apa yang kamu katakan tadi.”

“Awas! Jangan sampai berantakan!”

“Saat kamu pulang nanti, bisa kamu tanyakan sama Fredy dan Franky!”

“Bagus! Sekarang aku mau tidur!”

“Mulai malam ini, kamu tidak boleh tidur di kamar utama. Mbok Siti sudah membereskan kamar paviliun. Kamu tidur di sana sampai semua urusan perceraian kita selesai!”

“Apa?!” Bram terbelalak.

“Semuanya sudah aku serahkan kepada pengacaraku.”

“Brengsek kau!”

“Selamat malam, Bram!” Arum berlalu dan masuk ke kamar utama.

“Arum!”

Pintu ditutup.

Bram tercengang di depan pintu utama. Dia belum mau bergeming. Cerai! Hah! Istriku minta cerai! Setan apa yang tiba-tiba merasuki istriku, sampai-sampai dia meminta cerai dariku! Sialan! Hati Bram masih belum mau mempercayai apa yang barusan dia dengar dari mulut istrinya!

Tiba-tiba dari balik pintu kamar, Bram mendengar suara merdu istrinya yang sedang mengaji. Selama ini dia pernah mendengar istrinya mengaji pada 3 kali kesempatan. Pada malam setelah resepsi pernikahan mereka, beberapa hari setelah melahirkan Cindy, dan pada malam pertama mereka menempati rumah baru di Jakarta! Setelah itu dia tidak pernah lagi mendengar istrinya mengaji!

***

Bab Tiga

SELUBUNG CAHAYA

Dokter Gala hampir saja melempar bayi merah yang bercahaya itu, andai saja suster Laru tidak mencegahnya. Kedua tangannya gemetar ketika menyerahkan si bayi kepada susternya.

“Suster…,” katanya ketakutan.

‘Iya,dok?”

Aneh! Baru kali ini saya mengalami hal seperti ini!” dokter muda itu seperti sudah melihat hantu saja. Wajahnya berkeringat di ruang dingin ber-AC.

“Kenapa, dok?” suster Laru memperhatikannya sambil meletakkan bayi di timbangan.

“Apa kamu nggak lihat, kalau bayi ini diselubungi cahaya?”

“Diselubungi cahaya?”

“Iya!” bibirnya gemetar. Dia melihat tubuh ibunya, yang tergeletak dalam pengaruh obat bius. Dia sengaja membius total pasiennya, agar tidak terjadi interaksi antara si ibu dan bayinya. Nanti bisa bahaya. Sesuai dengan pesanan Tuan Bram, beberapa saat setelah terlahir, si bayi harus langsung dimusnahkan! Si ibu tak boleh dibiarkan sedetikpun melihat anaknya!

Suster Laru menggeleng. “Mungkin dokter terlalu capek. Pasien yang ini memang banyak maunya!” dia membersihkan si bayi, yang masih berlumuran darah. Lalu mengukur panjang tubuhnya.

“Saya memang capek. Tapi, bayi ini lain!” dokter Gala menunjuk ke si bayi. “Lihat, Sus! Cahaya itu masih di sana! Cahaya itu!”

Suster Laru makin merasa aneh. Dia meneliti tubuh si bayi, yang mulai bersih dari darah. Cahaya? Mana cahaya itu? “Saya nggak melihat cahaya itu, dok?” dia kebingungan.

“Saya bisa gila, sus! Cepat enyahkan bayi itu dari sini! Cepat!”

Suster Laru mengikuti perintah dokter Gala. Dia bergegas membungkus tubuh si bayi.

“Cepat! Cepat!” butiran-butiran keringat yang mengumpul di keningnya berjatuhan. Dokter berkacamata tebal itu menyekanya dengan panik.

“Baik, baik, dok!” Suster Laru memangku si bayi.

“Kalau dua orang suruhan itu datang, langsung saja berikan. Nggak usah ertele-tele. Suruh mereka secepatnya pergi membawa bayi sialan ini! Mengerti?”

Iya, dok!” suster Laru bergegas ke luar dari ruang bedah. Sudah lima tahun dia ikut dokter Gala. Tapi, baru kali ini dia melihat wajah si dokter begitu tegang dan ketakutan. Aneh. Tidak seperti biasanya. Tadi si dokter mengatakan soal “bayi dalam selubung cahaya” pula! Makin aneh. Ada apa dengan dokter? Ada apa pula dengan si pasien bernama Cindy? Yang dia tahu dari status si pasien; bahwa setelah bayi lahir akan ada dua orang suruhan yang mengurusi nasib si bayi selanjutnya!

Suster Laru memangku si bayi menuju ruang bayi. Meletakkan si bayi di boks. Di umurnya yang baru delapan bulan, bayi ini tampak sehat. Segalanya berjalan normal. Berat badan, tinggi, dan suhu badan semuanya normal. Dia tak perlu bercapek-capek mengurusi si bayi. Apalagi nanti akan ada dua orang suruhan, yang mengurusi si bayi.

Betul saja. Ketika suster Laru baru saja menutup pintu ruangan dan hendak kembali ke ruang bedah, dua orang lelaki berbadan kekar menemuinya. Mereka meminta ijin untuk masuk ke dalam ruangan.

“Kalian ini, siapa?”

“Kami orang suruhan Tuan Bram!” jawab Franky singkat.

“Oh!”

“Bisa kami ambil bayinya sekarang?” Franky to the point.

“Silahkan! Lebih cepat malah lebih baik!” suster Laru menatap Franky dengan tidak suka.

“Terima kasih, Suster!” Fredy tersenyum.

Suster Laru membalas senyuman Fredy. Dia lebih suka pada sikap Fredy, yang santun. Lalu suster Laru membukakan pintu urang bayi. Franky bergegas masuk. Fredy menyusul kemudian.

Suster Laru memutuskan untuk tidak ikut campur. Peduli amat. Dia berjalan menyusuri koridor belakang. Dia ingin menghirup udara sore yang tiba-tiba saja terasa panas. Perasaan aneh masih menggayuti pikirannya. Terbayang lagi wajah dokter Gala, yang sangat ketakutan ketika melihat bayi merah itu.

“Selamat sore, Sus,” tiba-tiba seorang wanita sudah berdiri di depannya.

“Sore, Bu,” suster Laru membalas.

“Saya ibu dari Cindy.”

“Ibu…. istrinya Tuan Bram?”

“Iya.”

“Oh!”

Suster tahu perkembangan terakhir anak saya?”

“Selamat! Ibu sudah menjadi seorang nenek.”

“Alhamdulillah!” dia mengucap syukur. “Saya jadi ‘nenek’, Mbok,” katanya pada seorang wanita tua di sebelahnya.

“Alhamdulillah, Den Ayu. Puji syukur sama Gusti Allah1” si Mbok menadahkan kedua tangannya ke atas.

Suster Laru menyaksikan peristiwa ini. Aneh juga. Sementara tadi di ruang bersalin, dokter Gala sangat ketakutan, kini ada dua orang wanita yang sangat gembira menyambut kelahiran si bayi.

“Boleh kami melihat bayinya, Sus?”

“Boleh. Mari!”

Arum dan Mbok Siti mengikuti suster Laru. Mereka menyusuri koridor; menuju ruangan bayi. Tapi tiba-tiba saja. Mereka melihat Franky an Fredy keluar dari ruangan bayi dengan wajah ketakutan.

“Franky! Fredy!” tegur Arum.

“Oh, Nyonya!” Fredy mengangguk sopan, walaupun tubuhnya gemetar.

“Kenapa, kalian?” Arum meneliti.

“Bayinya, Nyonya! Bayinya!” Franky yang biasanya kasar, kini seperti anak kecil yang baru melihat hantu menakutkan.

“Ada apa dengan bayinya?” suster Laru penasaran. Dia bergegas masuk ke dalam ruang bayi.

“Bisa kalian jelaskan?” Arum melihat ke sekeliling. Dia melihat ada beberapa kursi di beranda.

Franky dan Fredy saling pandang.

“Ayo, ikut saya!” Arum berjalan ke beranda.

Mbok Siti berjalan menjejeri langkah Arum sambil berdzikir. Kedua pria berbadan tgap itu mengekor di belakang si Mbok. Dada mereka tidak keruan. Wajah mereka mencerminkan rasa takut yang luar biasa.

“Kenapa dengan kalian?’ Arum sudah duduk di kursi.

“Nngg, begini, Nyonya….,” Fredy bingung harus memulai.

Tentang bayi itu?”

“Iya, Nyonya!” kali ini Franky. “Kami….,” dia masih ketakutan.

“Tuan Bram sudah mempercayakannya pada saya untuk mengurusi si bayi!”

“Saya, saya mengikuti saja apa yang akan Nyonya lakukan!”

“Iya, iya, Nyonya!” Franky sependapat dengan Fredy.

“Maksud kalian?”

“Bayinya, Nyonya, bayinya….”

“Mengeluarkan cahaya!” Franky gemetar.

“Cahaya?” Arum tidak percaya.

“Masya Allah!” Mbok Siti merasa takjub.

“Bagaimana, Nyonya?” Fredy sangat berharap.

“Maksudnya?” Arum balik bertanya.

“Nyonya punya rencana?” Franky juga berharap.

“Bukannya Tuan sudah punya rencana bersama kalian?”

“Tapi, bayinya bercahaya, Nyonya!”

“Kalau bercahaya, kenapa?”

“Itu pertanda buruk bagi kami!”

“Kalian takut?”

“Iya, Nyonya!”

“Kalian tidak mau melaksanakan perintah Tuan?”

“Tolong, Nyonya, jangan laporkan ini pada Tuan!” Fredy menunduk.

“Iya, Nyonya!”

“Sebaliknya, apakah kalian akan melaporkan apa yang nanti saya lakukan pada si bayi?”

Fredy dan Franky saling pandang.

Begini saja! Kalian terima ini!” Arum mengeluarkan dua amplop tebal; berisi lembaran kertas uang. “Ini dari saya! Kalian sudah bekerja dengan baik. Sekarang, pulanglah! Bersenang-senanglah!”

“Bagaimana dengan bayinya?” Fredy minta kejelasan.

“Bukankah kalian tadi takut denan cahaya yang keluar dari si bayi?”

“Apa yang mesti saya katakan pada Tuan Bram?”

“Katakan saja, kalian sudah melakukan apa yang Tuan perintahkan! Mudah ‘kan!”

Fredy dan Franky masih saling pandang. Lalu mereka mengangguk dan mengambil amplop itu. Sebetulnya mereka sangat senang, ketika tahu harus menyerahkan segala urusan membuang bayi pada Ny. Bram. Apalagi diberi uang segala. Baginya, bayi merah dari perut Cindy sangat menakutkan. Mereka ketakutan dan tidak ingin hidup mereka jadi sengsara, gara-gara membuang bayi merah yang diselubungi cahaya!

Arum tersenyum bahagia kepada si Mbok. Langkah pertama dari rencananya berhasil dengan mulus. Dia sudah berhasil mengatasi kakitangan suaminya. Dia merasa yakin, bahwa ini semua berkat ridho Allah. Berkat pertolongan-Nya!

***

Arum menunggui Cindy, yang baru saja siuman. Dia menggenggam tangan anaknya. Saat ini, Arum merasa menjadi seorang ibu karena Cindy membalas genggaman tangannya. Arum makin yakin, bahwa Allah menjadi dalang dari segala macam peristiwa ini. Bermula dari seberkas cahaya yang menempel di kedua sayap pelangi kupu-kupu, yang dilihatnya saat hujan deras di rumahnya. Lalu ke cerita Pak Rahmat, yang juga mengalami peristiwa sama saat mengantar Tuan Bram dan Cindy ke klinik dokter Gala. Supirnya itu melihat banyak kupu-kupu yang memancarkan seberkas cahaya dan menempel di kaca mobilnya. Yang terhangat adalah Fredy dan Franky, yang meributkan tentang cahaya yang menyelubungi tubuh cucunya. Bahkan ke dokter Gala, yang cepat-cepat mengusir Aryum, Cindy, dan bayinya agar pergi dari kliniknya, karena ketakutan melihat tubuh si bayi yang dibalut cahaya. Semuanya karena “cahaya”!

Arum yakin “cahaya” adalah sebuah pertanda dari kebesaran-Nya. Dia merasa beruntung karena sudah diberi kesempatan melihat “cahaya-Nya”. Cahaya Illahi. Dia yakin, Allah sedang memperingatkan dirinya yang lupa akan perintah dan larangan-Nya. Bahkan juga Allah sedang mengingatkan yang lainnya; Bram, Cindy, Fredy, Franky, Pak Rahmat, suster Laru, dan dokter Gala! Apa yang akan dibanya oleh kita kelak setelah mati? Harta, status, dan kehormatan yang selama ini kita miliki? Tidak itu semua. Yang kelak akan kita bawa hanyalah iman dan taqwanya. Amal ibadah dan perbuatan baiknya terhadap sesama manusia. Tangan, hati, kaki, mata, mulut, telinga, hidung, dan semua organ tubuh kita akan memberikan kesaksian di hadapan-Nya kelak. Mulut dengan apa yang sudah dibicarakannya. Kaki ke mana saja dia melangkah. Tangan pada apa saja dia memegang. Hati untuk siapa saja dia bersuara. Telinga untuk jenis apa saja dia mendengar. Hidung untuk aroma apa saja dia menghirup. Mata untuk hal apa saja dia melihat. Semua akan berbicara. Tak akan bisa kita lari bersembunyi dari-Nya.

Mama,” tiba-tiba Cindy bersuara.

Arum makin erat menggenggam tangan anaknya.

“Ada di mana Cindy?”

“Di kamarmu, Sayang…”

“Mana anak Cindy, Mama?”

“Cindy mau lihat?” Arum mengangkat kepala anaknya. Dia mengganjal lagi kepala anaknya dengan bantal. “Mbok, bawa anaknya sini.”

Mbok Siti yang sedari tadi menjagai si bayi, mendorong boks bayi lebih dekat ke tempat tidur. “Cantik seperti ibunya,” puji si Mbok.

Cindy mencoba untuk duduk. Tapi dia merasa perutnya sakit. Arum merasa ada sembilu yang mengiris hatinya. Sakitnya tak tertahankan. Dia harus melakukan ini; tidak mendekatkan si bayi pada ibunya, karena itu akan tambah mneyakitkan.

“Papa, mana?” nada Cindy penuh kebencian.

“Masih di Singapura.”

“Kenapa bayi jadah ini nggak cepat dimusnahkan?”

“Cindy mau?”

Cindy menangis. “Andai Leo tahu. Dia pasti bahagia, Mama,” isaknya. Bantalnya basah oleh air matanya. “Di mana Leo sekarang, Mama? Papa pasti sudah membunuhnya!”

“Serahkan semuanya pada Allah, Cindy…”

“Allah?”

“Iya. Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Berdoalah pada-Nya, agar Leo diberi keselamatan. Diberi perlindungan oleh-Nya.”

“Mama nggak pernah ngebicarain ini sebelumnya…”

“Iya. Mama khilaf. Selama ini Mama menelantarkanmu. Maafkan Mama, yang sudah membiarkan kamu dalam kegelapan.”

“Apakah Allah akan melindungi bayi Cindy juga, Mama?”

Mamalah yang akan mengurus bayinya. Itu salah satu cara dari Allah, Cindy.”

“Dia cucu Mama juga…”

“Iya. Dia cucu Mama. Darah daging Mama.”

“Mama nggak malu?”

“Tidak….”

“Mbok?”

“Ndak, Den Ayu… Mbok malah bahagia.”

“Cindy kepingin mengurus bayinya, Mama…”

“Insya Allah. Suatu saat nanti, kamu akan jadi ibu yang baik, Cindy…”

“Apa yang akan Mama lakukan?”

“Cindy harus percaya sama Mama, ya. Semuanya sudah Mama pikirkan matang-matang. Dengan cara Mama. Pokoknya, Papa cuma tahu kalau bayimu sudah dimusnahkan. Tapi sesungguhnya, Mama menyembunyikan bayimu di tempat yang aman.”

“Menyembunyikan anak Cindy? Maksud Mama?”

“Mama sudah memilih teman kuliahmu untuk menintipkan bayimu di sebuah panti asuhan. Mama sudah memilih tempatnya. Nanti kapan-kapan, setelah semuanya aman, kamu bisa mengambilnya lagi.”

“Semudah itu, Mama?”

“Insya Allah.”

“Siapa yang Mama pilih?”

“Susi!”

“Susi…”

“Ya.”

“Berapa Mama akan membayar Susi? Setahu Cindy, Susi itu matre anget. Dan dia pasti nggak akan mau sedirian. Dia akan ngajak Anton, pacarnya yang seorang demonstran itu!”

“Tidak jadi soal.”

“Yang Cindy tahu, pacarnya lagi kesulitan uang!”

Uang nggak masalah!”

“Berapa Mama akan membayar mereka?”

“Seratus juta!”

“Seratus juta!”

“Harga yang pantas untuk keselamatan anakmu. Cucu Mama.”

Cindy tak bisa mengeluarkan kata-kata lagi. Dia hanya menggapai-gapai boks bayi, dimana darah dagingnya tergeletak di sana. “Maafkan Mama,” katanya larut dalam tangis.

Arum bangkit. Dia berjalan mendekati cucunya. Dipandanginya dengan perasaan sedih. Lalu dia mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sesuatu yang sudah dipersiapkannya. Sebuah kalung dengan bandul bertuliskan huruf “C”. Kalung itu diikatkan dileher si bayi.

Bayi merah itu tiba-tiba mengeluarkan seberkas cahaya dari tubuhnya!

***

Anton, mahasiswa yang dijuluki “demonstran” itu dengan tubuh lunglai keluar dari kantor polisi. Dia tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Diputuskan secara sepihak oleh mereka, bahwa majalah kampus yang dikelolanya harus ditutup! Dengan kata lain: DIBREIDEL! Pasal yang dialamatkan padanya menjurus ke tindak SUBVERSIV! Menghujat rezim orde baru. Dia salah satu edisi majalahnya, dia menurunkan laporan utama tentang angket; azas tunggal Pancasila dan multi partai! Dari lembar jawaban yang masuk ke redaksi, hampir 60% mahasiswa menjawab; TIDAK SETUJU dengan azas tunggal Pancasila. 20% menginginkan multi partai dan membiarkan banyak partai Islam berdiri. Tidak perlu dilebur hanya di satu partai saja. Begitu juga dengan partai nasionalis. Biarkan juga bertumbuhan! Sisanya terbagi dengan yang memilih TIDAK TAHU dan SETUJU dengan asas tunggal!

Pihak aparat masih memberikan toleransi, yaitu hanya menutup majalahnya saja. Jika Anton membandel, penjara akan menjadi alamat kosnya terakhir. Pihak kampus juga menskorsing. Dia merasa patah hati dengan idealisme. Ternyata semua takut dengan yang namanya kekuasaan orde baru. Rekan-rekannya di kampus, ternyata hanya ikut-ikutan saja menggelorakan semangat kebebasan dalam mengemukakan pendapat. Tapi, ketika mesti berhadap-hadapan dengan yang namanya sepatu lars, mereka kocar-kacir! Ketika dirinya selaku pemimpin redaksi majalah kampus diinterogasi aparat, tak ada satu pun yang berdiri berbaris untuk melindunginya! Memang sudah jadi rahasia umum, banyak aktivis kampus yang radikal atau lawan-lawan politik orde baru, raib entah ke mana! Tragedi Tanjung Priuk adalah satu contoh! Empat tahun berselang, tragedi berdrah di Jakarta Utara itu masih belum jelas kejadian sesungguhnya. Tapi sebagai mahasiswa kritis, dia tahu kalau itu adalah salah satu cara penggembosan rezim orde baru terhadap tokoh-tokoh Islam, yang menurut mereka akan mengganggu kestabilan jalannya roda pemerintahan. Siapa yang berkuasa, dialah yang berkehendak. Yang lain jika tak sepaham, harap minggir. Kalau tetap berdiri di tengah jalan, siap-siap saja kelindes tank panser!

Uang nggak masalah!”

“Berapa Mama akan membayar mereka?”

“Seratus juta!”

“Seratus juta!”

“Harga yang pantas untuk keselamatan anakmu. Cucu Mama.”

Cindy tak bisa mengeluarkan kata-kata lagi. Dia hanya menggapai-gapai boks bayi, dimana darah dagingnya tergeletak di sana. “Maafkan Mama,” katanya larut dalam tangis.

Arum bangkit. Dia berjalan mendekati cucunya. Dipandanginya dengan perasaan sedih. Lalu dia mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sesuatu yang sudah dipersiapkannya. Sebuah kalung dengan bandul bertuliskan huruf “C”. Kalung itu diikatkan dileher si bayi.

Bayi merah itu tiba-tiba mengeluarkan seberkas cahaya dari tubuhnya!

***

Anton, mahasiswa yang dijuluki “demonstran” itu dengan tubuh lunglai keluar dari kantor polisi. Dia tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Diputuskan secara sepihak oleh mereka, bahwa majalah kampus yang dikelolanya harus ditutup! Dengan kata lain: DIBREIDEL! Pasal yang dialamatkan padanya menjurus ke tindak SUBVERSIV! Menghujat rezim orde baru. Dia salah satu edisi majalahnya, dia menurunkan laporan utama tentang angket; azas tunggal Pancasila dan multi partai! Dari lembar jawaban yang masuk ke redaksi, hampir 60% mahasiswa menjawab; TIDAK SETUJU dengan azas tunggal Pancasila. 20% menginginkan multi partai dan membiarkan banyak partai Islam berdiri. Tidak perlu dilebur hanya di satu partai saja. Begitu juga dengan partai nasionalis. Biarkan juga bertumbuhan! Sisanya terbagi dengan yang memilih TIDAK TAHU dan SETUJU dengan asas tunggal!

Pihak aparat masih memberikan toleransi, yaitu hanya menutup majalahnya saja. Jika Anton membandel, penjara akan menjadi alamat kosnya terakhir. Pihak kampus juga menskorsing. Dia merasa patah hati dengan idealisme. Ternyata semua takut dengan yang namanya kekuasaan orde baru. Rekan-rekannya di kampus, ternyata hanya ikut-ikutan saja menggelorakan semangat kebebasan dalam mengemukakan pendapat. Tapi, ketika mesti berhadap-hadapan dengan yang namanya sepatu lars, mereka kocar-kacir! Ketika dirinya selaku pemimpin redaksi majalah kampus diinterogasi aparat, tak ada satu pun yang berdiri berbaris untuk melindunginya! Memang sudah jadi rahasia umum, banyak aktivis kampus yang radikal atau lawan-lawan politik orde baru, raib entah ke mana! Tragedi Tanjung Priuk adalah satu contoh! Empat tahun berselang, tragedi berdrah di Jakarta Utara itu masih belum jelas kejadian sesungguhnya. Tapi sebagai mahasiswa kritis, dia tahu kalau itu adalah salah satu cara penggembosan rezim orde baru terhadap tokoh-tokoh Islam, yang menurut mereka akan mengganggu kestabilan jalannya roda pemerintahan. Siapa yang berkuasa, dialah yang berkehendak. Yang lain jika tak sepaham, harap minggir. Kalau tetap berdiri di tengah jalan, siap-siap saja kelindes tank panser!

Anton betul-betul merasa jadi prajurit yang baru kalah perang. Di kamar kosnya yang berantakan, dia merasakan hal itu makin berat saja. Ibu kos yang tadinya sangat baik dan selalu menyodor-nyodorkan anaknya untuk dijadikan istri, kini berbalik galak dan hendak mengusirnya! Dia memang nunggak uang kos selama 3 bulan! Belum lagi hutang-hutangnya ke warung bang Adil. Orangtuanya di pulau seberang, tak sanggup lagi menopang biaya hidup dan kuliahnya selama di Jakarta.

Saat ini Anton sangat mengharapkan sekali pertolongan entah dari siapa. Dia ibarat sedang menunggu godot! Sajadah lapuk yang menyampir di kursi kayu, seolah tak bisa lagi dijadikan harapan. Berdoa saja kini tak cukup. Mesti bekerja! Tapi, apa? Kawan-kawan sekampungnya suka meledeknya, agar bisa bertahan hidup di Jakarta jangan jadi seorang demonstran, tapi jadilah pedagang kaki lima di pinggiran jalan! Nanti digusur aparat, tapi pasti akan mendapat jatah kios di pasar penampungan!

Anton hanya nyengir kuda jika mengingat hal itu. Dia datang ke Jakarta memang melawan arus. Kebanyakan para tetangganya di kampung lebih memilih berdagang ketimbang jadi mahasiswa. Itu sudah fitrah kita! Begitu kata kawan-kawannya! Atau membuka restoran dan warung makan! Dengan peristiwa ini, akankah dia menolak fitrah yang sudah sering diucapkan kawan-kawannya? Mestikan dia berdagang? Tak sulit untuk mencari modal baginya. Tinggal datang ke Tanah Abang, Pasar Kramat Jati, Jatinegara, atau Pasar Baru saja! Ratusan kawan-kawan sekampungnya akan dengan sukarela mengumpulkan modal baginya! Cukuplah untuk menggelar dagangan di trotoar jalanan! Tapi, mestikah begitu? Tinggal dua semester lagi, aku akan pulang dengan menegakkan kepala dan membusungkan dada! Toga bertengger di kepala dan selembar ijazah di tangan! Sarjana ekonomi! Nah, setelah jadi sarjanalah, aku boleh berencana berdagang! Tapi bukan di kaki lima! Tempatku di perusahaan-perusahaan multinasional, yang memperjualbelikan kekayaan alam negeri gemah ripah loh jinawi ini! Begitulah rencana manusia, tapi Allah selalu brkehendak lain untuk menguji hamba-hamba-Nya!

“Anybody home! Spadaaaaa!” tiba-tiba terdengar teriakan manja pacarnya.

Oh Susiku sayang! Kau datang tepat pada waktunya! Anton bersemangat lagi. Dia bangkit sambil mengenakan kaos kutungnya. Pasti Susi selalu punya jalan keluar bagiku, yang selalu dalam kesulitan! “Oh Susiku, oh Susiku, I love the way you walk I love the way you talk, my Susiku!” Anton menyanyikan bait lagi Mick Jagger dari group band The Rolling Stones.

“Cepetan buka pintunya, darling!” Susi sudah tidak sabar.

“Hallo, Sayang!” Anton membuka pintu kamar.

“Hallo lagi!” Susi mengecup pipi Anton. “Uh! Pengap banget!” dia langsung membuka jendela kamar dan gordennya. Angin pagi menyerbu masuk; mengusir hawa panas dari dalam kamar. “Nah, terasa segaran sekarang!”

“Paling bisa deh kamu!”

“Nih, gua bawain oleh-oleh!” Susi membuka tasnya. Dia mengeluarkan beberapa bungkus rokok, minuman kaleng, dan tentu roti made in luar negeri.

“Tau aja lo, kalau pacar lagi susah!”

Selagi Anton asik menyantap menu sarapan junk food, Susi dengan cekatan menggelar sprei kusut yang belum disetrika. Beberapa barang yang berserakan di lantai; seperti majalah, jurnal, kaset, dan buku biografi para pemberontak di daerah bergolak, langsung ditumpuk dan dibuntel dengan sprei. Lalu sprei berisi “harta karun” itu diletakkan di sudut kamar. Kini suasana kamar agak rapihan. Susi bisa duduk denan nyaman. Anton hanya tersenyum melihat kepedulian pacarnya dengan kondisi kamarnya, yang memang selalu seperti kapal pecah.

“Jadi, majalah kampusnya dibreidel, ya!”

“Yap!”

“Diskorsing juga?”

“Yap!”

“Terus?”

“Sekalian aja gua cuti satu semester!” Anton membuka minuman kaleng. Di mulutnya penuh dengan roti. “Mau cari kerja, buat bayar hutang! Lo tau kan, utang gua bertumpuk-tumpuk! Gali lobang tutup lobang! Lo juga kadang suka ikut nutup lobang itu. Tapi, gua malah ngegali lobang yang lain!” Anton tertawa getir.

“Kerja apa lo?”

“Jadi pedagang kaki lima!”

“Hah! Gila lo! Dari seorang demonstran ke kaki lima! Malu-maluin Soe Hok Gie aja lo! Mendingan mati di gunung, deh! Kerenan dikit! Ogah gua! Kalo lo beneran jadi pe ka el, kita bubaran!”

“Baru rencana, Sus!” Anton menjawil pipi pacarnya. “Atau, lo punya ide hebat buat gua? Biar gua nggak stress, nih!”

“Gua nggak yakin lo bakalan mau!”

“Apaan? Ngeruntuhin orde baru? Gak sanggup gua!”

“Ini pasti bertentangan sama nurani lo!”

“Iya! Tapi, apa?”

“Ngebuang bayi!”

Alamaaaak! Lo ini gila, apa!”

“Seratus juta ongkosnya!”

“Hah! Duit semua itu?!”

“Terserah lo! Bisa cash, atau sebagian dalam bentuk barang!”

“Mobil, bisa?” Anton tertawa penuh semangat.

“Bisa! Apalgai? Rumah di Perumnas?”

Anton tertawa lagi. Betapa pahit hidupnya jika dirasa-rasa. “Ngebuang bayi!” Anton masih tidak percaya.

“Bayinya Cindy!”

“Pantesan! Gua percaya sekarang! Seratus juta, tetep nggak sebanding dengan aib yang mesti dikenakan ke wajah bapaknya!”

“Jadi, lo percaya sekarang?”

“Seratus juta!”

“Cuma kejaan semalam!”

“Kapan?”

“Ntar malam! Kita mesti ngebuang bayi Cindy di panti asuhan, yang udah ditentuin sama Tante Arum! Tepatnya –menurut gua, bukan ngebuang sih. Tapi, nyimpen si bayi di depan pintu pemilik panti asuhan itu. Malah, Tante Cindy naro duit segala di balik selimut si bayi. Itung-itung buat modal beli susu dan perlenkapan bayi!”

“Iya! Itu sih bukan ngenuang. Tapi, nitipin bayi diem-diem. Mereka nggak mau ketahuan, kalau bayi itu cucu mereka. Bisa mampus itu Tuan Bram, kalau ketahuan anaknya hamil di luar nikah!”

“Poor Cindy!” Susi tertawa sinis.

Anton menyulut rokok untuk yang kedua kalinya. Dia duduk di kusen jendela. Menghisap rokoknya dalam-dalam dan melontarkan asapnya dengan gelisah. Membuang bayi! Hal yang sebenarnya bertentangan dengan nuraninya! Bagaimana nanti kata guru ngajinya di surau kampung, jika tahu aku membuang bayi? Dia berpikir keras tentang hidupnya seagai mahasiswa di Jakarta. Selama ini cap sebagai “seorang demonstran” melekat erat. Kadang dia suka dihubung-hubungkan denan Soe Hok Gie. Selama ini dia selalu menggelorakan pergerakan moral; baik itu lewat tulisan di koran, sajak-sajak, cerpen, atau bahkan orasi-orasinya. Dia sering diundang sebagai pembicara mewakili kampusnya. Majalah kampus yang dikelolanya juga termasuk paling berani menentang rezim orde baru. Kalau Soe Hok Gie tewas di gunung, hidupnya malah jadi sengsara!

Sebetulnya ada tawaran menarik, yang masih berdengung-dengung di telinganya. Dia hanya perlu jadi mahasiwa yang baik dan penurut. Menulis hal-hal yang kondusif di majalah kampus sambil menyelesaikan skripsi dan lulus jadi sarjana. Otaknya memang di atas rata-rata! Pihak kampus akan siap menampungnya sebagai tenaga pengajar selululus jadi sarjana nanti. Bahkan beberapa instansi pemerintah sudah siap mempekerjakannya. Itu hal biasa dan lumrah terjadi di kalangan para demonstran. Hari ini berpanas-panas di jalanan; meneriakkan yel-yel ketidakadilan. Tapi besok lusa sudah berjas dasi, bermobil mewah, dan berkantor di kawasan Sudirman! Pengecualian dengan Soe Hok Gie, yang memilih menghadiahi rekan-rekan seperjuangan yang beralamat di Senayan, dengan cermin dan bedak, serta pergi ke gunung dan tewas menghisap racun di sana! Sedangkan dirinya sebelum cuti, mendatangi sekretariat BEM dan menghadiahi kawan-kawannya seekor ayam betina!

Jakarta tengah malam.

Orang-orang menguap, karena lelah mengais rezeki.

Orang-orang mengantuk, karena ingin memeluk mimpi dan harapan.

Orang-orang hendak pulang ke rumah, karena rindu gelak tawa anak dan istri. Karena di sana ada cinta dan kehangatan

Jakarta tengah malam; terbias oleh cahaya lampu merkuri.

Tak pernah gelap gulita. Selalu beraneka warni, walau menyembunyikan kegetiran dan kepahitan hidup kaum urban yang menjejalinya.

Lorong-lorong kotanya tak pernah sepi.

Selalu ada yang memanfaatkan untuk menitipkan hidupnya. Tidur meringkuk beralaskan kardus dan berselimutkan mimpi serta harapan indah untuk hidup lebih baik. Sangat kontras dengan kehidupan di dalam tembok beton apartemen atau perumahan real estate yang kini menjamur.

Satu dua mobil mewah melintasi jalanan sentra bisnis yang lengang.

Beberapa bus kota berhenti di halte.

Beberapa penumpang turun dengan tertib. Tak berebut seperti layaknya pada jam sibuk di siang hari. Di dalam bus masih tersisa beberapa penumpang lagi. Ada sekitar empat sampai enam orang menggantikan yang turun. Mereka naik dengan tertib; tampak seperti tak bertenaga lagi. Mereka memang kelelahan setelah seharian bekerja plus jam lembur.

“Rambutan, Rambutan!” suara kenek bus terdengar parau. Berbeda dengan suaranya seharian tadi, yang lantang menyaingi pekaknya kebisingan kota Jakarta. “Rambutan, Rambutan! Terakhir, terakhir!” dia berteriak lagi.

Tak ada lagi penumpang.

“Tarik!” kenek bus melompat naik.

Si supir yang terkantuk-kantuk menginjak pedal gas, membawa para penumpang ke tujuan akhir.

TIIIIN!

TIN, TIIIIIIIIIIIIIIIN……!

TIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIN…..!

Tiba-tiba terdengar bunyi klakson memecah keheningan.

Supir bus kota dengan sigap memutar stir agak ke kiri. Tadi dia lupa menyalakan lampu sen sebelah kanannya. Kelopak matanya yang tadi hampir menutup, kini melek lagi. Dia berpikir, tengah malam begini volume kendaraan tak begitu padat. Dan dia langsung melongokkan kepalanya ke luar jendela sambil memaki, “Setan lu ye!”.

Sebuah sedan berwarna hitam, yang hampir saja kena serudukan bus kota, meluncur di samping. Kaca jendelanya terbuka terbuka. “Lu yang setan!” pengendara sedan itu balas memaki dengan kesal.

“Ton…., udah, dong…” wanita belia, yang duduk di sebelahnya mengingatkan. Dia menguap.

“Hah! Beginilah nasibnya kalau mobil dibeli dari uang haram! Nggak akan jauh dari bahaya!” Anton tersenyum getir. Hatinya merintih pedih. Hal yang berat harus dilakukannya sekarang. Maafkan aku ya, Allah! Aku gelap mata! Aku tak sabar menanti rezeki-Mu terlalu lama! Kuambil jalan pintas ini, karna aku kecewa dengan keadaan! Semuanya serba munafik! Sementara mereka enak-enakan bergeliman harta dan nafsu, aku merintih kelaparan! Begitulah dia beralasan. Iblislah yang meniupkan dalih itu kepadanya untuk diajukan pada Allah!

“Supir bus kota, lo ladenin! Nggak level, tau!”

Akhirnya Anton memilih mengalah. Ya, betul kata Susi! Percuma melayani supir bus kota di Jakarta! Cuma bikin pening kepala. Lalu dia membiarkan bus kota melaju di depannya. Dia tidak tergesa-gesa. Dia membiarkan keempat roda sedannya berputar berirama; berada sekitar 10 meteran di belakang bus kota.

“Bikin kaget aja!” Susi masih menguap.

“Lo tidur tadi?” Anton melirik.

“Kalo tidur, mana bisa gua ngomong,” Susi menguap lagi. Lalu dia menoleh ke jok belakang. Di sana teronggok sebuah keranjang dari plastik.

“Kok, nggak bangun ya?” Anton merasa cemas.

“Tidur pules dia!”

“Jangan-jangan…”

“Lo tenang deh….”

“Tenang gimana! Dia udah tidur lima jaman!”

“Kalo pun mati, apa peduli kita! Tante Arum aja nggak peduli!”

Lo ini gimana, sih! Katanya, Tante Arum pingin nyelamatin cucunya dari suaminya yan brengsek! Lo sekarang bilang, tante Arum nggak peduli lagi ama cucunya! Gimana, sih!”

“Alah, munafik dia! Kalao emang dia itu sayang ama cucunya, gimana pun dia nggak akan ngebuang cucunya!”

“Udah, udah! Gua males debat ama lo! Dasar anak kencur!”

“Makanya, dengerin dulu kalo gua ngomong! Tadi kan gua bilang, kalo pun bayi ini mati, apa peduli kita! Iya ‘kan! Bayi bayinya si Cindy ini! Gila juga tuh anak! Nggak pake pengaman! Nafsu si Leo diturutin! Kena, deh!”

“Tapi, Sus! Kalo bayinya mati, larinya udah ke pembunuhan! Ada yang mergokin, mampus kita!”

“Heh, Ton! Lo nggak percaya ama gua, apa!”

“Bukannya nggak percaya, Sus! Jangan-jangan lo kebanyakan ngasih obat tidurnya tadi!” Anton membetulkan letak kaca tengah di depannya; mencoba melihat keranjang plastik itu.

“Tadi gua campur sama susu…,” Susi mengingat-ingat. “Paling setetes doang…..”

“Tapi, masih hidup nggak bayinya?”

“Ntar. Gua lihat dulu,” Susi langsung melompati kursi. Dia sudah duduk di jok belakang. Dibukanya penutup keranjang plastik itu. Mulutnya langsung terbuka. Kedua matanya terbelalak. Lidahya kelu. Tiba-tiba saja dia melihat seberkas cahaya menerangi wajah bayi tak berdosa itu. Dadanya berdebar-debar. Bibirnya gemetar. Betapa bersihnya wajah bayi tak berdosa ini.

Beberapa saat tak ada suara. “Susi…..,” Anton memanggil.

Tanpa disadarinya, Susi mengibas-ngibaskan lenannya di depan wajah mungil si bayi. Dia berusaha mengusir seberkas cahaya yang mmeancar dari wajah si bayi! Pergi, pergi kau, cahaya! Dia sangat ketakutan sekali. Tapi cahaya itu tak mau pergi!

“Sus!” teriak Anton memanggil.

“Oh, eh, iya, iya!” Susi tersadar dan langsung menutup keranjang itu dengan selimut. Seberkas cahaya tadi kini tersembunyi di dalamnya.

“Gimana? Masih hidup, nggak?”

“Dia tidur nyenyak, Ton…..,” suaranya bergetar.

“Kenapa sih lo?”

“Gua….,” nadanya ketakutan.

Wah! Kok, lo jadi ragu-ragu gini!”

“Gimana, ya…”

“Gimana, apanya?

“Nggak tau gua, Ton…”

“Nggak tau, gimana!”

“Kok, gua ngerasa…, apa yang kita lakuin ini salah…

“Hah!” Anton tertawa. “Lo ini ngomong apa, Sus?!”

“Gua emang bejat. Tapi, ngebuang bayi, Ton…..”

“Udah, udah! Gue nggak mau ngomongin soal itu!” Anton kini mulai gelisah. Dia menginjak pedal gas agak dalam.

Mobil mulai meluncur melewati angka 40….

Susi terdiam. Kedua tangannya begerak. Hatinya terpanggil lagi untuk melihat si bayi. Tangan kanannya bergetar menyingkap sedikit selimut yang menutupi keranjang. Dia kembali melihat seberkas cahaya memancar dari wajah si bayi. Betapa damai. Betapa tak ada dosa. Putih bersih tak bernoda. Putih suci seharum melati. Aku merindukan hal seperti ini. Oh, seberkas cahaya itu tak mau pergi. Malah kini menyelubungi tubuh makhluk kecil tak berdosa. Oh, bayi dalam selubung cahaya!

“Susi!” Anton melihat ke kaca spion. Tiba-tiba dia juga melihat seberkas cahaya itu sekelebat. “Apa itu, Sus?”

Susi langsung menutupi lagi keranjangnya dengan cahaya.

“Tadi, kayaknya gua lihat ada cahaya?” Anton menengok dan melihat ke keranjang.

“Nggak, nggak ada. Lampu dari mobil yang lewat kali!”

“Oh!” Anton melihat lagi ke depan.

Susi tergugu memandangi keranjang. Seluruh persendiannya bergetar. Terasa ngilu. Pertanda apakah ini? Dia jadi ingat kisah nabi Musa dulu. Ibunya sering mendongengi dia sebelum tidur, bahwa ada seorang raja yang mempertuhankan dirinya. Dia menyuruh bala tentaranya untuk membunuhi semua bayi lelaki di seluruh pelosok negerinya, karena si bayi akan menjadi musuh utama yang menghancurkannya kelak. Lalu sepasang suami-istri menghanyutkan bainya di sungai, agar terhindar dari si raja yang dzolim. Mereka yakin, kelak si bayi akan menjadi orang yang mashur lagi bijaksana memimpin negeri. Terbukti memang enar. Si bayi itu menjadi nabi Musa!

“Sus! Kenapa lo diem aja?”

“Iya….”

“Kita udah terlanjur teken kontrak, Sus! Elo sendiri yang nyuruh gua nandatangan. Lo bilang, duitnya gede.”

“Iya. Gua yang nyuruh elo, Ton,” nadanya penuh penyesalan.

“Lumayan buat nutupin hutang-hutang gua. Buat beli mobil ini. Buat modal kita kawin juga.”

Susi merasa dadanya berdebar kencang ketika mendengar kata “kawin”. Belum terpikirkan oleh dirinya mengikat janji di pelamina bersama Anton. Selulus SMA dan ketika dia serta Cindy diterima sebagai mahasiswi di perguruan tinggi ternama ini, yang ada di benak mereka hanyalah bagaimana caranya menggaet cowok-cowok terbaik di kampus sebagai pacar mereka. Dia mau menjadi pacar Anton yang sebetulnya miskin, hanya karena melihat Cindy yang sudah berhasil menggaet Leo si anak band. Dia tentu tidak mau kalah dengan Cindy. Perangkap dia pun mengena pada tokoh demonstran di kampus, Anton!

“Gua nggak mau! Kita batalin aja!”

“Apa? Lo ngomong apa, Sus? Mana bisa kita batalin!:

Susi diam saja.

“Sus!”

Susi tetap tidak bersuara.

“Lo nggak berubah pikiran ‘kan?”

“Lo aja yang naro itu bayi!”

CIIIIIIITTT……!

Rem mobil berderit.

Susi terlonjak ke depan. Tubuhnya membentur punggung jok.

“Gimana sih, lo!” Anton sangat kesal.

Susi kini menangis.

“Pokoknya, lo yang mesti naro di depan panti asuhan!” Anton memaki marah. Dia membuka jenddela mobil. AC mobil dimatikan. Dia tiba-tiba saja merasa pengap di dalam mobil. Dia membiarkan angin malam yang lembut mengelus-elus pipinya.

Tapi tangis Susi makin menjadi. Suaranya keluar terbawa angin. Beberapa orang yang sedang bergerombol di depan pertokoan melirik ke mobil mereka.

Sus! Diem lo!” Anton makin marah. Tapi, dia buru-buru menutup jendela mobil dan menyalakan AC lagi, karena beberapa orang lelaki sudah mendekati mobil.

“Heh! Ada apa, nih?” yang bertopi berusaha membuka pintu mobil.

“Nggak-nggak ada apa-apa!” Anton memasukkan perseneling.

“Heh! Buka, buka!” si Brewok menggebrak-gebrak bodi mobil.

“Elo, sih!” Anton menghardik Susi sambil tancap gas! Mobilnya hampir saja menabrak mereka!

“Anjing lu!” maki mereka.

“Lu yang anjing!” Anton balas memaki.

Mobilnya melesat bagai anak panah.

Susi kini terisak-isak.

“Pindah ke depan lo!” suruhnya kesal sambil memelankan laju mobilnya.

Susi menurut. Dia merunduk dan pindah ke depan. Dia menarik tisu. Dia menyeka air matanya. Anton menyodorkan sebotol minuman mineral. Susi meminumnya.

“Gimana? Udah tenangan lo?” Anton mencoba berbaikan.

Susi tidak menjawab. Matanya menatap ke depan, tapi persisnya seperti menerawang entah ke mana.

“Sus! Udah deket, nih! Lo siap ‘kan?”

Tiba-tiba saja, Susi mencoba membuka pintu mobil. Anton kaget. Dengan reflek Anton meraih tubuh Susi, yang hendak melompat. Jalan mobil jadi oleng. Tak ada cara lain. Anton mengerem secara mendadak. Tubuh mereka terlonjak ke depan. Menyadari mobil sudah berhenti, Susi mencakar wajah Anton. Diserang begitu, Andon mendoyongkan kepalanya ke belakang. Kesempatan itu dipergunakan Susi untuk membuka pintu mobil dan berlari keluar!

“Sus! Susi!” tangan Anton berusaha meraih tubuh Susi.

Tapi terlambat. Susi sudah berlari menuju trotoar dan hilang di kegelapan lorong-lorong pertokoan.

Anton ternganga.

Susi hilang ditelan kegelapan malam!

Semuanya terjadi begitu cepat.

Dia membuka pintu mobil; bermaksud mengejar Susi. Kaki kanannya sudah menginjak aspal, yang terasa di telapak kakinya panas. Aneh! Padahal jalanan basah. Tapi, dia menguurngkan niatnya mengejar Susi ketika dilihatnya beberapa orang yang tidur di emperan toko bermaksud mendatangi mobilnya.

“Nyari siapa?!” seorang gelandangan terganggu tidurnya.

“Ada, apa?!” tanya yang lain.

“Punya rokok, ndak?”

“Bagi duitnya, dong!”

“Iya! Saya juga! Belum maka dari kemarin!”

Anton langsung menyambar sebungkus rokok di dash board mobil. Dia lempar ke kerumunan tuna wisma itu. Mereka berebut. Kesmpatan itu dia pergunakan untuk kembali masuk ke dalam mobil dan mengunci semua pintu. Sejenak dia melihat ke keranjang plastik yang tergolek di jok belakang. Ketika dirasakannya bayi itu masih tidur, dia memutuskan untuk menjalankan mobil.

Beberapa tuna wisma mengejar mobil Anton sambil mengacung-acungkan tangannya.

“Bang! Bagi duit, Bang!”

“Rokoknya lagi, Bang! Nggak kebagian saya!”

Anton tidak peduli. Dia tancap gas dari tempat itu. Susi pun terlupakan Dia kini merasakan keempat ban mobilnya mulai tidak nyaman lagi menggelinding di aspal jalanan. Terasa seperti melintasi bara api. Panas. Menggelisahkan. Tiba-tiba saja dia melihat seberkas cahaya memantul di kaca spion tengah mobilnya.

“Kenapa lo ninggalin gua, Sus! Dasar anak kencur lo!” gerutunya sambil melihat ke kaca spion. “Hah? Cahaya itu lagi!” dia sangat kaget. Secara reflek dia menoleh. Ternyata selimutnya tersingkap. Dari sana muncul seberkas cahaya! Keranjang plastik berisi bayi itu diselubungi cahaya. “Gila! Kayak di film-film science fictions aja!” dia tertawa untuk menutupi ketakutannya.

Ketika ada belokan ke kiri, Anton langsung membelokan mobil. “Lu emang sialan, Sus!” Anton gelisah sambil memandangi kiri-kanan jalan. “Lu bilang tadi cuma cahaya dari lampu mobil!” geurutnya bercampur kecemasan. Dia mencoba mencari-cari di keremangan lampu jalanan; siapa tahu Susi ada di sana! Tapi dia tidak bisa menemukan Susi! Dia langsung memukulkan lengannya ke stir! Dia berada di kegamangan. Dia menjalankan mobilnya tanpa tentu arah. Dia sedang menimbang-nimbang, akan dikemanakan bayi merah dalam selubung cahaya ini.

Tetap ke rencana semula, membuang bayi sialan ini ke panti asuhan! Tiba-tiba saja iblis jahanam membisikinya!

Anton langsung tancap gas! Ya, panti asuhan! Tak ada pikiran lain lagi kecuali ke sana! Apalagi ketika dilihatnya seberkas cahaya itu tidak hanya menyelubungi keranjang plastik saja, tapi sudah mulai membias ke seluruh jok belakang. Kesannya seperti menjadi lampu penerang. Kekhawatiran mulai tergambar di wajahnya, ketika setiap mobilnya melewati daerah keramaian seperti pasar tradisional atau halte bus yang mulai ramai, orang-orang selalu menyempatkan melihat ke mobilnya. Seolah-olah mobilnya adalah benda yang sangat langka!

“Masya Allah! Kunang-kunang, apa?!” teriak seorang pedagang sayur.

“Kunang-kunang kok ada bannya!” timpal pembeli sambil tertawa.

“Piring terbang kali!” pembeli yang lain memberi komentar.

“Piring terbang kok kayak mobil!”

“Terus apa, dong?”

“Ya, mana tahu!”

“Kok, mobil bisa ngeluarin cahaya kayak gitu!”

“Di Jakarta, apa aja bisa terjadi!”

“Udah-udah, berapa nih cabe sekilo, Bang!”

“Kok, sawinya banyak yang kuning!”

“Tomatnya sekilo breapa, Bang?”

“Yah, naik melulu! Kapan turunnya!”

“Kan semuanya ngikutin harga minyak dunia!”

Semua tertawa saja menyikapi harga-harga yang membumbung. Pedagang gerobak sayur kembali sibuk melayani para pembeli. Rakyat kecil memang begitu caranya saat menyikapi kenaikan hraga; dengan ketawa. Saking terbiasanya menderita, sampai-sampai mereka tak tahu lagi bagaimana rasanya perut lapar. Dengan ketawa, semua penderitaan terbang sudah ke langit ke tujuh!

Mobil yang diselubungi cahaya itu mereka lupakan. Ada yang lebih penting dari sekedar membicarakan hal yang tak jelas di Jakarta; dapur mereka sendiri. Suami yang harus berangkat kerja dan anak-anak yang hendak pergi sekolah. Mereka semua butuh sarapan yang sehat, murah, meriah, dan bikin kenyang.

Sedangkan pengendara mobil dalam selubung cahaya itu, makin merasa ketakutan. Dia merasa tubuhnya pun akan dilumat oleh cahaya yang entah datang dari mana. Cahaya yang membuat jantungnya berpacu cepat dengan mesin mobil!

Tiba-tiba sebuah jembatan terbentang di depannya! Jembatan yang di bawahnya mengalir kali Ciliwung!

Anton mengangkat kaki kanannya sedikit. Mobil melaju perlahan. Dia melihat ke sekeliling. Sepi. Tanpa banyak bicara dia meminggirkan mobilnya dan berhenti di tepian sungai. Di bawah sana kali Ciliwung menderas kehitaman. Dia langsung turun. Sontak dadanya berguncang. Dia melihat mobilnya sudah diselubungi cahaya!

Buru-buru dia membuka pintu belakang. Keranjang bayi yang dianggapnya sebagai sumber masalah, itu diangkatnya. Seberkas cahaya itu mulai menyelubungi tubuhnya pula. Dia berlari dengan panik ke bantaran sungai. Dia hampir terpeleset. Untuk keranjang plastik tidak terpental. Dia masih bisa memeganginya. Dia sudah sampai di tepian sungai. Ketika kerjanjang plastik itu diletakkan di permukaan air kali Ciliwung, dalam hitungan detik seberkas cahaya yang sejak tadi menyelubungi tubuhnya langsung membias ke seluruh permukaan air. Dalam sekejap air Ciliwung yang kehitaman berubaha jadi bercahaya keperakan!

Anton ketakutan. Dia tidak mau ada orang yang memergokinya. Dia langsung berlari ke jalanan di mana mobilnya diparkir. Dia melontarkan napas lega, karena cahaya yang menyelubungi mobilnya sudah sirna! Dia langsung tancap gas. Dia tidak ingin lagi menengok; melihat ke kali Ciliwung! Baginya, tugas membuang bayi itu sudah selesai!

Andai saja Anton tahu, seberkas sinar yang menyelubungi keranjang plastik itu seperti cahaya yang menetes pada pemukaan air Ciliwung. Lalu tetesan itu menimbulkan riak, sehingga membias ke seluruh permukaan air Ciliwung! Jadi bercahaya sungai Ciliwung di puncak malam itu! Seolah melindungi keranjang plastik yang terapung-apung dari benturan batu-batu atau gunungan sampah. Bahkan ribuan ikan membentuk lingkaran, seperti pasukan yang dikirim dari langit!

***

Sementara itu Susi terus berlari.

Berlari.

Wajah-wajah iblis jahaman yang menjulurkan lidah api neraka terus menjilatinya!

Terasa panas!

Terasa panas!

Bahkan suara tawa mereka menusuki gendang telinganya!

Sakit!

Sakit!

Dia terus berlari, melewati lorong-lorong pertokoan yang gelap!

Beberapa kali kakinya hampir saja menginjak tubuh-tubuh yang berselimutkan plastik! Bahkan kali ini kakinya tersandung sebuah tubuh anak kecil. Dia tersungkur.

Anak kecil itu menangis.

Ibunya terbangun. “Ngapain, lu!?” si Ibu merasa terganggu.

“Maaf-maaf, Bu,” Susi membungkuk-bungkuk, memohon maaf. “Saya nggak sengaja…”

“Mau nyuri, ya?” mata si Ibu menyelidikinya.

Anak kecil berumur 4 tahunan itu menangis lagi.

Susi gelisah.

Beberapa gelandangan lainnya terbangun.

Tanpa pikir panjang, Susi mengambil jurus langkah seribu. Bahkan berlari!

“Maling, maliiing!” beberapa orang meneriakinya.

Susi lari pontang-panting. Percuma memberi penjelasan pada mereka. Malah bisa-bisa kena hukum rimba. Tapi beberapa orang yang berbaju compang-camping mencegatnya.

Susi membelokkan arah.

Sebuah tempat sampah kena langgar tubuhnya. Dia terus berlari. Sesekali dia menoleh. Mereka terus mengejarnya sambil meneriakinya: Maliiiiing! Ada yang membawa pentungan, bahkan clurit.

Susi bergidik.

Di depannya ada dua orang satpam pertokoan, yang berusaha menahan laju larinya.

“Stop, stop, stop!” seorang satpam memegangi tangannya.

“Tolong, Pak, tolong!” Susi panik. “Biarkan saya lari!”

“Maling, maliing!” massa mulai mendekat.

“Kamu maling?” satpam yang kedua meneliti tidak percaya.

“Bapak percaya?” Susi mencoba melepaskan pegangan si satpam

Tapi….,” satpam yang pertama melihat dengan cemas ke arah massa.

“Saya cuma kesasar aja, Pak!” Susi menjelaskan. “Tolong, lepaskan, Pak… sebelum semuanya berantakan….”

“Ayo, cepat lari!” satpam yang kedua mendorong tubuh Susi. “Bisa mati dia!” katanya pada temannya.

Satpam pertama tanpa banyak kata melepaskan pegangannya. Susi berlari dengan sekuat tenaga. Kedua satpam pertokoan itu berusaha mencegah massa, agar tidak lagi mengejar buruannya.

“Stop, stop!” satpam pertama mengacungkan kedua lengannya.

“Awas, Pak! Minggir, minggir!” mereka berusaha menerobos.

“Iya, Pak! Ada maling! Tuh, lari ke sana!”

“Tadi, bukannya dipegangin Bapak!”

“Heh!Kalian ini jangan sesenaknya main tuduh, ya!”

“Coba tanya, siapa yang kemalingan!”

“Ayo! Ada yang ngerasa kemalingan nggak?”

“Ayo, jawab!”

Mereka saling pandang. Saling bisik. Saling menanyakan. Mereka tak ada yang mengaku kemalingan. Mereka saling tuding, saling menyalahkan. Lalu mereka merasa, bahwa sebetulnya tidak ada yang kecopetan.

“Ya, sudah!” satpam pertama kesal. “Bubar, bubar sana!” tangannya dikibas-kibaskan.

“Kalian ini dasar goblok! Asal bunyi aja! Untung nggak kejadian!” satpam kedua memaki-maki.

Massa pun bubar.

Saat itu Susi sudah sampai di sebuah halte bus. Napasnya tersengal-sengal. Dia melirik arlojinya. Sudah menjelang pukul tiga pagi. Ada beberapa orang yang hendak berangkat entah ke mana; mungkin ke pasar atau ke pabrik-pabrik. Bisa jadi. Itu terlihat dari tampang mereka yang seperti buruh pabrik. Mungkin mau menjemput harapan. Terselip juga dua orang wanita yang hendak berangkat ke pasar. Itu terlukis dari sepatu boot plastik, keranjang belanjaan, dan kepalanya yang dililit kerudung sampir.

Mereka menatap Susi dengan tatapan penuh selidik. Susi mencoba untuk tenang, walaupun dia gelisah. Di matanya, seberkas cahaya itu masih menempel, tak mau pergi. Berkali-kali dia mengerdipkan matanya, agar cahaya yang menempel di kedua matanya itu hilang. Tapi tetap saja tidak. Orang-orang di halte bus itu malah menatapnya dengan senyum dikulum.

Sebuah mikrolet berhenti. Mereka naik. Kenek mikrolet memperhatikannya; seolah minta ketegasan sikapnya, apakah mau naik atau tidak. Susi akhirnya naik juga, karena tidak tahan dipelototi begitu. Dia duduk di jok bagian dalam, mepet ke dinding kaca belakang mikrolet. Dia kini terselip di antara mereka yang hendak pergi menjemput harapan. Tak ada niat darinya untuk menatap mereka satu persatu. Tak ada. Yang ada hanya rasa penyesalan yang amat sangat, karena sudah terlibat dalam perbuatan dosa yang maha sangat; membuang bayi tak berdosa. Dia merasa yakin, bahwa seberkas cahaya yang menyelubungi bayi tak berdosa itu, adalah pertanda kebesaran Tuhan. Tuhan Maha Pelindung! Susi pernah mendengar kalimat itu dari kawan-kawan di kampusnya, yang aktif di mesjid kampus.

Susi duduk seperti orang yang hilang ingatan. Matanya tak berkedip; menatap ke luar jendela. Jalanan Jakarta yang basah berembun berlarian mneinggalkannya. Dia tiba-tiba seperti melihat jalanan aspal itu berubah jadi pita seluloid, yang memuat peristiwa-peristiwa kehidupannya….

Orang tua Susi, yang sudah bercerai tidak pernah membekali dirinya dengan pelajaran agama Islam. Ayah-ibunya terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan. Ayahnya bekerja di perusahaan securitas dan ibunya di sebuah bank swasta. Dia hidup sendirian. Orangtuanya termasuk kelompok yang tidak ingin hidupnya direcokin oleh anak. Malah khabar terakhir yang dia dengar, kelahirannya sebetulnya tidak diharapkan. Ibunya hamil di luar nikah, ketika masih di usia sekolah. Lelaki yang menghamili ibunya sedang mempersiapkan ujian akhir; skripsi. Mereka menikah, karena tidak ingin mencoreng nama baik keluarga mereka.

Setelah dia lahir, ibunya sibuk menyelesaikan sekolahnya. Sedangkan ayahnya menghadapi sidang skripsi. Dia ditinggal sendiri di rumah bersama bik Warsih, pembantu keluarga. Kakek-nenek dari kedua belah pihak, hanya sesekali saja menengok; memberinya oleh-oleh dan santunan bagi biaya hidup mereka. Tak ada setetes pun kasih sayang dari mereka, kecuali dari bik Warsih yang merawat, membesarkan, dan mendidiknya. Orangtuanya tidak peduli padanya. Bahkan dia lebih menganggap bik Warsih sebagai ibunya.

Ketika bik Warsih meninggal – usianya saat itu 10 tahun, dia lebih dari sekedar kehilangan seorang pembantu. Dia sakit selama seminggu. Ibunya sampai merasa heran. Enam bulan setelah bik Warsih pergi, orangtuanya bercerai. Tanpa ada perang mulut atau gelas berterbang. Semuanya berjalan dengan baik.

“Sejak kamu lahir, kami sebetulnya tidak pernah saling mencintai,” kata ibunya. “Tapi, kami menunggu kamu sampai dewasa untuk bisa mengerti persoalan kami.”

“Kami memang melakukan kesalahan waktu itu. Maklum, masih diusia muda. Penuh gejolak. Yang dipikir selalu yang enaknya saja. Tapi, kami sudah berusaha memberi yang terbaik sama kamu; sandang, pangan, dan pendidikan. Semoga kamu tidak membenci kami,” ini ayahnya yang berbicara.

Susi memang tidak membenci mereka. Untuk apa? Setelah orangtuanya bercerai, dia secara bergantian tinggal di rumah mereka. Semua tergantung mood saja. Sebulan tinggal bersama ayahnya. Sebulan kemudian bersama ibunya. Ayahnya sudah mempunyai keluarga yang baru; happy family! Sedangkan ibunya, lebih memilih sendiri. Hidupnya tampak lebih nelangsa ketimbang ayahnya. Kadangkala dia suka kasihan jika sedang menginap di rumah ibunya. Pagi-pagi sudah harus pergi kerja dan pulangnya kadang larut malam. Di akhir pekan, ibunya lebih sering menghabiskan waktunya di cafe-cafe. Umur ibunya sekarang mendekati 40 tahun. Sesekali dia suka mergokin ibunya menangis sendirian. Ibunya memang kesepian. Dia bisa merasakannya, walau pun ibunya selalu tertawa di depannya.

Tapi, setelah kuliah, Susi memilih kost saja. Dia tidak ingin kehidupan pribadinya dikontrol oleh ibunya, yang pasti ingin memperbaiki kesalahan masa lalunya lewat dirinya. Dia tidak ingin jadi pelampiasan dari masa lalu ibunya. Dia ingin menghirup kebebasannya sendiri.

“Tanah Abang, Tanah Abang!” teriakan kenek mikrolet menyadarkan lamunannya.

Mikrolet melewati jembatan.

“Kiri, kiri, Bang!” tiba-tiba saja dia minta berhenti.

Mikrolet langsung meminggir.

Susi bergegas turun. Dia merogoh sakunya. Selembar ribuan berpindah tangan. Kenek mikrolet menyodorkan kembalian. Susi menolak dan memilih berjalan ke pagar pembatas jembatan.

“Tarik!” kenek berteriak. Ekspresi wajahnya biasa-biasa saja. Baginya kembalian 500 perak bukanlah sesuatu hal yang istimewa.

Kini Susi sudah berdiri di bibir jembatan. Kedua tangannya menggenggam besi pembatas. Kali Ciliwung yang kehitaman menderas; seolah-olah memanggil-mangil tubuhnya untuk bersatu. Kedua kakinya sudah menaiki bibir pembatas. Dadanya terasa kosong. Pikirannya melayang jauh. Di kelopak matanya menggelayut seberkas cahaya!

Hatinya berguncang!

Air kali Ciliwung yang menderas kehitaman, tiba-tiba saja dalam sekejap berubah warnanya jadi putih bercahaya. Seperti pepatah “nila setitik rusak susu sebelanga”. Yang ada sekarang, karena seberkas cahaya, air sesungai bercahaya!

Ada apakah gerangan!

Susi mencoba menajamkan matanya!

Tapi, Susi merasakan keanehan! Dia melihat orang-orang yang berjalan kaki seperti tidak terpengaruh oleh perubahan permukaan sungai itu. Apakah hanya dirinya saja yang melihat? Halusinasi akibat rasa bersalahnya yang membebani jiwanyakah?

Astaghfirullahaladzim….,” tiba-tiba mulutnya begetar. Kalimat ini dia dapat dari bik Warsih. Kata bik Warsih, jika kita sedang dalam kesulitan, lafalkanlah kalimat ini. Dia mengulang-ulang kalimat ini.

Sekali lagi dia menajamkan penglihatannya. Permukaan kali Ciliwung itu betul-betul bercahaya. Apa itu? Dia melihat ada kerumunan di bantaran timur kali Ciliwung! Telinganya juga mendengar suara ribut-ribut! Dia mencoba mendoyongkan tubuhnya lagi; lebih menjorok ke sungai! Telinganya dipasang kuat-kuat.

“Ada bayi, ada bayi!” terdengar teriakan di bawah sana.

“Gila! Tega banget ngebuang bayi!”

“Udah, udah! Jangan ribut! Biar saya aja yang urus!”

“Lo sinting apa! Udah punya anak satu juga! Apa nggak semaput lo ngurusinnya ntar!”

“Biar aja! Soal rezeki, itu urusan yang di atas!”

“Kasihkan aja ama si Lela! Dia kan belon punya anak!”

“Lela! Bisa-bisa bayi ini jadi pelacur nanti!”

Susi bergidik mendengar percakapan di bawah sana. Saking bergidiknya, tumpuan kedua kakinya goyah. Tanganya menggapai-gapai meraih pegangan yang terlepas! Tubuhnya oleng dan terlempar ke udara. Tapi, sebuah lengan menjambret bahunya! Tubuhnya tertarik ke belakang! Dia terlempar ke aspal!

“Istighfar kamu!” terdengar suara yang berat dan berwibawa.

Susi melihat seorang lelaki berjenggot dan bersorban berdiri di dahapannya. Tubuhnya yang tinggi besar tertutup oleh pakaian gamis.

“Bunuh diri bukan jalan yang terbaik untuk menyelesaikan masalah. Itu cara yang dibenci oleh Allah….”

Susi bangkit dan merasa malu. “Terima kasih, Pak Haji,” katanya menunduk. “Saya tadi terpeleset,” tambahnya. Percuma dia menjelaskan semuanya. Bisa-bisa kedoknya, yang hendak membuang bayi tadi terbongkar oleh Pak Haji.

“Terpeleset? Sedang apa kamu, di sini?” lelaki bersorban itu meneliti.

“Cari udara segar, Pak Haji,” Susi menyembunyikan permasalahannya.

“Cari udara segar di sini? Sepagi ini?”

Susi terdiam.

Astaghfirullahaladzim….,” tiba-tiba mulutnya begetar. Kalimat ini dia dapat dari bik Warsih. Kata bik Warsih, jika kita sedang dalam kesulitan, lafalkanlah kalimat ini. Dia mengulang-ulang kalimat ini.

Sekali lagi dia menajamkan penglihatannya. Permukaan kali Ciliwung itu betul-betul bercahaya. Apa itu? Dia melihat ada kerumunan di bantaran timur kali Ciliwung! Telinganya juga mendengar suara ribut-ribut! Dia mencoba mendoyongkan tubuhnya lagi; lebih menjorok ke sungai! Telinganya dipasang kuat-kuat.

“Ada bayi, ada bayi!” terdengar teriakan di bawah sana.

“Gila! Tega banget ngebuang bayi!”

“Udah, udah! Jangan ribut! Biar saya aja yang urus!”

“Lo sinting apa! Udah punya anak satu juga! Apa nggak semaput lo ngurusinnya ntar!”

“Biar aja! Soal rezeki, itu urusan yang di atas!”

“Kasihkan aja ama si Lela! Dia kan belon punya anak!”

“Lela! Bisa-bisa bayi ini jadi pelacur nanti!”

Susi bergidik mendengar percakapan di bawah sana. Saking bergidiknya, tumpuan kedua kakinya goyah. Tanganya menggapai-gapai meraih pegangan yang terlepas! Tubuhnya oleng dan terlempar ke udara. Tapi, sebuah lengan menjambret bahunya! Tubuhnya tertarik ke belakang! Dia terlempar ke aspal!

“Istighfar kamu!” terdengar suara yang berat dan berwibawa.

Susi melihat seorang lelaki berjenggot dan bersorban berdiri di dahapannya. Tubuhnya yang tinggi besar tertutup oleh pakaian gamis.

“Bunuh diri bukan jalan yang terbaik untuk menyelesaikan masalah. Itu cara yang dibenci oleh Allah….”

Susi bangkit dan merasa malu. “Terima kasih, Pak Haji,” katanya menunduk. “Saya tadi terpeleset,” tambahnya. Percuma dia menjelaskan semuanya. Bisa-bisa kedoknya, yang hendak membuang bayi tadi terbongkar oleh Pak Haji.

“Terpeleset? Sedang apa kamu, di sini?” lelaki bersorban itu meneliti.

“Cari udara segar, Pak Haji,” Susi menyembunyikan permasalahannya.

“Cari udara segar di sini? Sepagi ini?”

Susi terdiam.

Hati-hati. Daerah ini tidak aman untuk wanita seperti kamu,” katanya mengingatkan. “Assalamu’alaikum…..,” dia berlalu.

Susi menatap kepergian lelaki bersorban itu. Kedua kakinya bergerak mengikutinya.

Di saat bersamaan, suara adzan Shubuh menggema, mengiringi suara tangis bayi di bawah jembatan sana!

***

TING TONG!

TING TONG, TING TONG!

Arum sedang menata tanaman hias di halaman belakang urmahnya, ketika lonceng rumah berbunyi. Tak lama Mbok Siti muncul tergopoh-gopoh. Wajah si Mbok gelisah dan gusar. Arum mencopot kedua sarung tangannya dan celemeknya.

“Siapa, Mbok?”

“Nak Anton!”

“Anton?” Arum begegas ke dalam rumah.

“Sendirian, Den Ayu.”

“Sendirian? Aneh!”

“Mbok tanyakan,’Susinya ke mana’, eh…, dia marah-marah!”

“Yo, wis! Mbok siapkan minumannya saja. Biar Arum yang nemuin! Tolong Cindy dilihat, Mbok. Sudah bangun belum. Jangan lupa obatnya buat Cindy, ya.”

“Nggih, nggih!”

Arum mencuci kedua tangannya di wastafel. Merapihkan penampilannya. Terutama wajahnya yang berkeringat, karena tertimpa matahari pagi tadi. Dalam dua hari belakangan ini, wajahnya berangsur-angsur menampakkan kehidupan. Tak pucat seperti kurang darah lagi. Tatapan matanya pun tak hampa, tapi menggelorakan semangat untuk bertahan hidup.

“Assalamu’alaikum,” Arum menyapa Anton, yang mondar-mandir tak karuan di ruang tamu.

“Waalaikumsalam!” jawabnya. “Singkat saja, Tante!” Anton betul-betul gusar. Wajahnya kusut. Peristiwa bayi dalam selubung cahaya semalam, mmebuatnya tak bisa tidur. Membuatnya terus dikejar perasaan bersalah. Gelisah.

Duduk dulu,” Arum tersenyum menyejukkan.

“Saya tak punya waktu banyak. Lagi pula, jangan sampai kedatangan saya ketahuan Tuan!”

“Tuan baru besok pulang.”

“Saya hanya mengambil sisa uangnya, Tante!”

“Bagaimana saya bisa tahu, kalau cucu saya aman dan selamat di panti asuhan itu?”

“Tante harus percaya!”

“Bagaimana bisa? Sedangkan Susi, orang yang saya percayai tidak hadir di sini!”

“Susi! Nggak layak Tante mempercayai dia!”

“Maksudnya?”

“Dia lari, Tante! Dia mengkhianati saya! Dia biarkan saya dengan bayi itu!”

“Susi mengkhianati kamu?”

“Bayi itu, Tante!” Anton ngeri membayangkan kejadian semalam.

“Kenapa dengan cucu saya?”

Anton gelisah. “Ah! Sudahlah! Percuma saja! Tante pasti akan menganggap saya gila! Omong kosong!”

“Anton,” tiba-tiba Arum memegangi pundaknya. “Duduklah dulu,” ajaknya.

Anton menurut saja.

“Tante ingin mendengar ceritanya.”

Mbok Siti muncul membawa minuman. Dia meghidangkan minumannya di meja. Dia mendekap baki dan duduk di lantai, seperti kebanyakan wanita Jawa pada umumnya, yang sangat setia pada majikannya.

“Ayo, minum dulu. Biar kamu tenang.”

Anton meminum seteguk.

Arum menengok ke Mbok Siti. Bahasa matanya mengisyaratkan, agar Mbok Siti membiarkan mereka berdua saja. Si Mbok paham dan bankit. Dia kembali ke dapur.

“Percayalah, sisa uangnya akan kamu terima hari ini juga.”

Anton mengangguk. Dia menarik napas dan mengeluarkan bungkusan rokok dari saku kemejanya. “Ini gila, Tante. Saya tahu ini nggak masuk akal!” katanya sambil menyalakan rokok. “Tapi nyatanya emang terjadi! Saya ngelihatnya dengan mata kepala saya sendiri! Demi Allah!”

Arum serius mendengarkan sambil bibirnya bergerak-gerak menyuarakan asma Allah.

“Susi ketakutan, Tante! Susi lari ninggalin saya!”

“Kenapa dengan dia? Pasti ada alasannya ‘kan?”

“Bayi itu, Tante! Bayi itu…., mengeluarkan cahaya!”

“Allahu Akbar!”

“Ya, mengeluarkan cahaya! Tadinya saya pikir…, itu cahaya dari lampu mobil di belakang saya! Kenyataannya, memang betul! Bayi itu diselubungi cahaya! Di selubungi cahaya!

“Allah Maha Besar!”

“Ini pasti pertanda dari Allah. Saya takut, Tante! Tapi, saya sudah teken kontrak sama Tante. Saya tetap membawa bayi itu. Saya sudah melakukan pekerjaan yang telah kita sepakati, Tante!”

“Apa saya harus percaya sama kamu? Bagaimana caranya?”

Anton tertawa. “Tante! Saya ini orang miskin. Saya sedang banyak kesulitan. Sisa uang itu sangat berharga buat saya. Jangan paksa saya lagi untuk berbuat kejahatan.”

“Kamu mengancam?”

“Tante! Saya tidak punya waktu banyak! Saya sangat membutuhkan sisa uang itu! Jika tidak segera dilunasi, saya akan membocorkannya pada media massa.. Reputasi suami Tante sebagai pengusaha kaya, terhormat, dan terpandang pasti tidak mau rusak, karena bayi haram ini ‘kan!”

Dada Arum berguncang. Ini ibarat sedang menghadapi buah simalakama. Dimakan beracun, tidak makan sama saja. “Tapi, di panti asuhan mana cucuku kamu buang?” tanya Ny. Bram.

“Itu nggak penting. Yang paling penting, bayi itu sudah tidak ada di rumah ini!” jawab Anton.

“Mama!” tiba-tiba Cindy berjalan tertatih-tatih.

“Cindy!” Arum terpekik kaget dan menyerbu Cindy. “Kamu belum boleh jalan-jalan! Kamu mesi bed rest!” Arum bermaksud membawanya lagi ke kamar.

Cindy mmeaksa untuk duduk. Dia menggeser kakinya; dipapah ibunya. Anton berdiri kikuk. Dia mmbalikkan badan, tak tega melihat ibu dari bayi yang dibuangnya di sungai. Ada perang badai di dadanya. Iblis dan malaikat sedang berdarah-darah di hatinya.

“Lo apain anak gua, Ton? Mana Susi?” Cindy duduk di sofa. Kedua kakinya diluruskan.

“Gua nggak apa-apain. Gua udah lakuin sepeti yang lo mau. Soal Susi, lupain dia!”

“Lo nggak bisa ngomong seenaknya, Ton. Susi temen gua. Kalo ada apa-apa sama Susi, urusannya ama gua1”

“Lo, Susi, mamamu lo, sama aja! Sok suci!”

“Jangan asal ngomong, Ton!”

“Heh! Kita semua ini, sama aja! Bejat! Bobrok! Mau ngomong apa lagi? Cepet, bayar sisanya! Atau, gua bener-bener ngomong ke media massa!”

“Tapi, gua ama nyokap berhak tahu, di mana bayinya lo taro1”

Anton mengingatkan Cindy, “Heh! Jika bayianak lo ketahuan gua buang di mana, suatu saat kelak, anak lo bakal datang ke sini, nemuin bokap lo! Nuntut segala hak-haknya. Harta warisannya! Bukannya itu yang gak dimauin bokap lo?!”

Cindy merasakan perutnya sakit. Bekas jahitan di perutnya belum rapat benar. Dia merintih perih; hatinya terluka. Tapi, dia tak sanggup lagi bicara apa0-apa. Air matanya kering. Dia hanya bisa menatap Anton dengan tatapan penuh dendam dan prasangka. Dendam seorang ibu yang kehilangan anaknya!

***

Bab Empat

TRANSISI

Hari berganti hari.

Sebuah transisi dalam kehidupan yang mesti dijalani.

Hujan dan kemarau. Kekeringan dan kebanjiran. Yang meratap yang tertawa. Yang kelaparan dan kekenyangan. Yang mencuri dan korupsi. Semuanya menggelinding bersama detak sang waktu. Di tengah-tengahnya selalu ada transisi yang menggembirakan atau kadang menyedihkan. Bisa panen yang sukses atau panen yang musnah akibat wereng. Begitulah jika Tuhan berkehendak; kun fayakun, jadilah maka terjadilah!

Begitu juga dengan Anton. Dia bergegasan mengejar sang waktu. Dia tak ingin kehilangan sedetikpun kesempatan untuk bertahan hidup, karena selalu merasa dihantui peristiwa “bayi dalam selubung cahaya” itu. Akibatnya hidupnya seperti dikejar-kesar setan. Dia seolah berlari. Padahal sang waktu tidak ke mana-mana. Dia seperti di kejar-kejar suara tangis si bayi, padahal si bayi tak pernah mengejarnya ke mana-mana!

Langkah yang ditempuh Anton setelah peristiwa “bayi dalam selubung cahaya”, dia memilih keluar dari kampusnya! Jiwanya tersiksa jika dia masih menyandang predika “mahasiswa”. Dia kecewa pada dirinya sendiri, yang mengaku sebagai mahasiswa aktivis dan menjunjung tinggi moral, tapi mencemari moralnya yang putih dengan perbuatannya sendiri; mem-bu-ang ba-yi! Dia “patah hati” dengan idealismenya. Dia merasa sudah menjadi orang yang munafik.

Keputusasaannya terasa makin pahit dan getir, jika dia mengingat akan Susi, pacarnya. Ke manakah kamu, Susi? Kenapa kamu tega membiarkan aku terbebani oleh peristiwa “bayi dalam selubung cahaya”? Kenapa kamu tak mau kujadikan sebagai tempat berbagi?Kenapa kamu seperti lempar batu sembunyi tangan? Kamu biarkan aku kena getah dari pohon yang kau tebang! Begitulah Anton meratap-ratap. Huh! Beginikah yang namanya kekecewaan; tersa pahit seperti empedu!

Anton merasa dirinya sudah kotor. Merasa jiwanya terbang melayang tak tentu arah. Dia tak mampu menahan ujian-Nya ini. Dia merasa tak pantas lagi untuk bersimpuh di selembar sajadah. Dia tak percaya lagi pada kesucian hatinya, jika hendak masuk ke sebuah mesjid. Dia merasa semua orang mentertawakannya sambil menudingnya; Heh, orang munafik! Pergi kau dari sini! Ini bukan tempat yang pantas untukmu! Tempatmu di kegelapan sana!

Akhirnya Anton meninggalkan dunia yang benderang. Saat dia berada di jalanan yang tak dikenalnya, sang iblis mendekatinya; menawarkan pada dia suatu kehidupan yang selama ini dia dambakan; kekayaan dan kehormatan! Dia menyambit tawaran sang iblis dengan hati gembira. Padahal malaikat mencoba-coba mengingatkannya, agar jangan menerima tawaran si iblis. Bahkan malaikat mengingatkan tentang lidah api neraka, yang alan membakar hangus tubuhnya.

Aku sudah kepalang terbakar! Sekalian hanguskan saja!” Anton terbahak-bahak tak sadarkan diri.

Sang iblis menyambutnya dengan kalungan bunga. Si laknat itu mengiming-imingi, bahwa neraka itu belum tentu ada. Yagn ada hanyalah surga. Bukankah tuhanmu itu maha penyayang? Bukankah tuhanmu itu maha pengampun? Jadi, jangan kau dengarkan malaikat. Dari sejak dulu, malaikat sudah iri padaku yang terbuat dari api!

Anton terbujuk rayu sanga iblis. Dia lebih memilih iblis ketimbang malaikat. Dia lebih nyaman berada di kegelapan ketimbang benderang. Untuk melupakan kegelisahannya akan bayangan “bayi dalam selubung cahaya”, dia memutuskan untuk tenggelam dalam dunia hitam! Sudah kepalang basah! Uang dari Ny. Bram dipakainya untuk modal usaha. Bisnis yang dilakoninya pun menghalalkan segala cara. Machieveli jadi guru sejatinya! Sang iblis jadi penasehatnya. Wejangan-wejangan guru ngajinya sewaktu kecil di surau kampung, dia simpan dalam peti! Biarkan saja jadi bulukan di sana!

Anton memulai bisnisnya dari bawah; dari barang-barang curian sampai ke narkoba! Suap sana suap sini demi melancarkan dan melegalkan bisnis kotornya. Di dunia hitam, kemudian dia dikenal dengan julukan “Belut Dermawan”. Untuk menutupi kebobrokannya, dia rajin berderma; menyantuni panti-panti asuhan, korban banjir, dan kegiatan sosial lainnya!

Omongan sang iblis terbukti ampuh. Dalam sekejap Anton hidup dalam limpahan harta, kehormatan, dan kemashuran. Dia menikahi putri seorang pengusaha Cina, yang dikalahkannya lewat cara berjudi. Saat itu lawannya sudah kehabisan modal.

“Harta lo sudah habis! Mau taruhan apa lagi?” Anton tertawa di meja judi. Kartu domino di genggamannya. Permainan kiyu-kiyu baginya adalah kesenangan. Dia tak peduli mau menang atau kalah, karena uangnya berlimpah.

“Owe masih punya! Itu si Ling Ling!”

“Hah! Lo mau maen lagi! Lo pasangin juga itu si Ling Ling! Lo udah gila, apa!” Anton tergelak-gelak.

“Owe emang udah gila! Lo juga! Kita semua yagn ada di sini juga!”

“Anak lo masih perawan, Koh?”

“Haiya…, lo jangan ngomong sembalangan ama owe!”

Anton meringis sambil mengocok kartu. “Gua mesti pasang apa, supaya seharga sama Ling Ling!”

“Kapal pesiar lo!”

“Hah! Ling Ling seharga kapal pesiar gua!”

Para penonton berdecak tegang. Bagi mereka Ling Ling adalah gadis Cina yang antik dan masih perawan ting ting. Umurnya saja masih usia 18 tahun. Ling Ling baru lulus sekolah lanjutan atas.

Anton meletakkan kartu domino di tengah meja. Lawan judinya membagi kartu itu jadi dua bagian. Wajahnya tegang. Butiran keringat berjatuhan ke permukaan meja judi. Asap rokok menyembur dari mulutnya. Anton mengipas-ngipaskan lengannya; mengusir kepulan asap yang mengarah ke wajahnya.

Enam kartu dibagi di antara mereka.

Jari-jari mempirit tiga kartu.

Empat pasang mata beradu.

Puluhan pasang mata mengawasi.

Di tempat lain Ling Ling meratapi nasibnya.

“Tambah ama bini lo sekalian?” tantang Anton tersenyum meledek.

“Kartu!” si Koh menghardik.

Anton membagikan lagi dua kartu; satu untuk dirinya dan satu untuk si Koh.

Beberapa detik tanpa suara.

Sang iblis berbisik pada Anton, bahwa kemenangan berada di pihaknya.

Anton tertawa jumawa.

“Kiyu…,” Koh membuka kartunya, “delapan!”

Anton mendelik.

“Haiya! Mulut lo emang gede!”

“Kiyu delapan….,”

“Cepet kartu lo!”

Anton mengangguk. Dia menggeletakkan keempat kartunya.di meja. Semua mata terbelalak; seperti hendak melompat ke luar dari tempatnya! Desahan tertahan pun melepas!

“Kiyu-kiyuuuu!”

“Ling Ling!” Si Koh terjengkang dan jatuh pingsan.

Anton tertawa1 Wajahnya menyeringai seperti iblis!

Anton tinggal di sebuah istana di kawasan pantai Jakarta Utara. Dia menjadi seorang suami yang baik di rumah, bagi Ling Ling dan anaknya; Jasmine. Tapi, dia bukan suami yang setia. Perempuan-perempuan cantik kadang hinggap semalam dan menjadi pemuas nafsu belaka! Di sisi lain, cinta sejatinya tetap pada Susi. Di saat sendiri, dia masih suka memandangi potret Susi. Istrinya sering memergoki dia sedang memandangi lama-lama foto Susi. Tapi “wanita taruhan” itu tak bisa berbuat apa-apa.

Tanpa sepengetahuan Anton, Susi memilih pindah kota ke Surabaya. Dia tinggal bersama tantenya di sana. Dia kuliah di perguruan tinggi swasta dan menjadi mahasiswi yang pendiam. Kehidupannya berubah drastis. Dari mahasiswi yang doyan hura-hura menjadi wanita muslimah dan sangat religius. Dia juga mulai berjilbab. Dia sangat aktif di pengajian-pengajian kampus.

Setelah lulus jadi sarjana hukum, dia mengabdikan dirinya ke LSM, yang membela hak-hak perempuan. Tak ada hari tanpa kegiatan sosial baginya. Sesekali, jika dia sedang menyendiri, peristiwa “bayi dalam selubung cahaya” itu muncul dan membuat hatinya sedih dan merasa berdosa. Jika sudah begitu, dia hanya bisa bersimpuh di sajadah mengharap bisa mendapatkan seberkas cahaya ampunan-Nya!

Susi juga tahu, kalau Anton sekarang menjadi pengusaha muda yang sukses. Dia sering melihat Anton di televisi dan koran! Kadang bersanding dengan artis sinetron ternama atau sedang main golf bersama putra sang presiden. Tapi, dia tidak mempunyai keberanian untuk menghubungi Anton! Apalagi setelah tahu Anton menikah dan mempunyai seorang anak, Susi makin pendiam. Dia tetap membujang. Sebetulnya banyak lelaki yang hendak meminangnya; tapi cintanya hanya untuk Anton.

Anton sering muncul di media massa sebagai “Si Muda Dermawan”. Disebut begitu, karena diusianya yang ke 32 sudah berhasil merengkuh dunia. Perusahaannya berlayar ke 5 benua. Dari mulai hulu ke hilir. Relasinya dari berbagai kalangan. Para selebritis selalu berlomba hadir di acara-acara sosial yang diselenggarakannya. Namanya diabadikan di mana-mana; di nama yayasan, di prasasti-prasati, bahkan di nama sebuah mushola.

“Semuanya saya persembahkan buat bayi-bayi yang disia-siakan oleh kedua orangtuanya!” begitu Anton mengakhiri kata sambutannya, ketika meresmikan panti asuhan di sebuah kampung di pinggiran kota. Begitulah cara dia menebus dosa pada peristiwa “bayi dalam selubung cahaya”.

Kamera TV swasta, dan media cetak mengarah padanya. Peristiwa ini disiarkan ke seluruh pelosok Nusantara dalam acara berita pagi. Anton tersenyum lebar kepada kamera.

“Itu Papa! Papa!” Jasmine melonjak gembira. Bahkan dia berlari mendekati TV berukuran besar itu dan memegangi layarnya.

Iya. Itu Papa,” ibunya merangkul Jasmine dengan perasaan pedih. Tentu perasaan itu disimpannya sendiri. Jangan sampai ada yang tahu.

“Kapan Papa pulang?”

“Papa sibuk, Sayang. Papa lagi kerja.”

Jasmine menangis. Bocah berusia 3 tahun itu kangen pada ayahnya. Ibunya memangkunya dengan perasaan sedih. Dia juga diam-diam menitikkan air mata.

Yang menangis bukan hanya Jasmine dan ibunya, tapi di sebuah rumah kecil di pinggiran Jakarta, Arum juga menangis di depan TV. “Cindy, maafkan Mama,” isak wanita setengah baya itu. Dia menengadahkan kepalanya ke atas seraya menadahkan tangannya, “Ampuni hamba ya, Allah. Hamba sudah mencari ke mana-mana, tapi hamba belum behasil menemukan cucu hamba. Atas riidho-Mu, hamba akan terus mencari….”

***

Tak terasa sembilan tahun berlalu sejak Arum bercerai dari Tuan Bram. Wanita priyayi itu memilih hidup sendiri bersama Mbok Siti. Setiap hari dia menjelajahi sudut ibukota; mencari cucunya sendiri. Di panti asuhan, dia tak menemukannya. Di tempat-tempat penampungan, juga tak ada.

Beberpa kali dia sudah berusaha mencari Anton untuk meminta pertanggungjawabannya di kantornya. Tapi, tapi tetap tak berhasil bertemu dengannya! Anton tak pernah berada di kantornya atau mungkin sengaja menghindar darinya! Untuk mencapainya ternyata harus melewati ring 1 dan ring 2. Terlalu banyak prosedur yang harus ditempuh. Alasan mereka, demi keamanan Anton! Terlalu banyak orang yang ingin bertemu dengan Anton dengan beragam kepentingan!

Arum menyadari bahwa Allah sedang mengujinya. Dia tidak ingin meratap-ratap lagi. Dia sudah berjanji akan terus mencari cucunya sampai ketemu, seperti janjinya pada almarhumah Cindy, anaknya. Jika teringat Cindy, dia hanya bisa menyalahkaan dirinya yang sudah gagal menjadi seorang ibu! Kegagalan yang paling tragis dialaminya adalah peristiwa 2 tahun yang lalu!

KRIIIIING!

Bunyi telepon itu mengusik kekhusyuan sholat malamnya. Tasbehnya terjatuh ke atas sajadah. Jari-jarinya gemetar. Ada angin yang mengabarkan sesuatu padanya. Kabar yang akan mengguncang jiwanya. Firasat seorang ibu mengatakan begitu.

“Den Ayu…,” Mbok Siti muncul di pintu kamar. Suaranya tercampur dengan isakan seperti seorang nenek yang kehilangan cucunya.

“Saya sudah tahu, Mbok….,” jawabnya dengan perasaan hancur. “Innalillahi wainnailaihi raji’un……”

Allah masih terus mengujinya. Cindy kedapatan tewas di apartemennya dalam keadaan over dosis! Cindy yang malang. Setelah peristiwa pembuangan bayinya, Tuan Bram mengirimnya sekolah di Amerika. Di sana Cindy hanya tahan 1 tahun saja. Dia lebih banyak hura-hura daripada belajar. Lalu Cindy kembali ke Jakarta ketika tahu Leo ternyata masih hidup dan sukses berkarir di dunia musik. Malang nasib Cindy! Leo tak mencintainya lagi seperti dulu. Cindy kecewa dan patah hati. Cindy makin terpuruk dan akhirnya memilih tenggelam bersama tablet-tablet berwarna!

Allah memang sedang mengujinya.

Arum pasrah dan ikhlas. Siapa tahu dengan cara seperti itu, bisa megnhapus segala dosa-dosa masa lalunya. Kini yagn tersisa baginya adlah semangat untuk tak pernah berhenti mencari cucunya. Dia yakin suatu saat akan dipertemukan dengan darah dagingnya sendiri. Dia yakin “seberkas cahaya” yang hinggap di kupu-kupu pelangi akan muncul lagi; membimbingnya menuju ke sana….

Arum yakin itu, jika dirinya rajin meminta pertolongan pada Allah! Itu dibuktikan lewat perubahan yang terjadi dalam dirinya. Ketika pertama kali dia melihat kupu-kupu pelangi yang memancarkan seberkas cahaya, dia merasa sedang diperingatkan oleh-Nya. Seolah sedang ditunjukan jalan menuju ke cahaya yang benderang. Sejak saat itulah, dia kembali ke jalan yang pernah dilaluinya; Islam.

Kini dia merasa sudah melewati proses metamorphosa; dari yang gelap ke yang terang. Dari yang bathil ke yang benar. Cukup sudah segala dosa yang diperbuatnya. Cukup sudah segala penderitaan yang dialaminya. Kini dia merasa menjadi manusia baru; mencoba kembali ke fitrah. Tinggal bagaimana nanti dia mengisi lembaran-lembaran putihnya. Sekali sudah dia mengisinya dengan berangkat naik haji bersama Mbok Siti setahun yang lalu. Di depan Ka’bah, dia tak henti-hentinya memohon ampunan dan minta untuk bisa dipertemukan dengan cucunya!

Sekarang waktu dan pikirannya dicurahkan untuk menyusuri jejak-jejak cucunya. Seperti pagi ini. Setelah berita pagi menyiarkan seremoni Anton “Si Muda Dermawan”, yang menyumbang ke sebuah panti asuhan, Arum bangkit dari tempat duduknya. Dia matikan TV dan merapihkan pakaian muslimahnya. Terutama jilbab yang menutupi wajahnya.

“Mbok Siti,” panggilnya.

Mbok Siti yang makin tua tapi makin bercahaya wajahnya, muncul dari kamarnya. Jalannya makin membungkuk dan sesekali terdengar suara batuk.

“Saya pergi dulu, Mbok,” katanya.

“Sabar, Den Ayu…”

“Insya Allah, Mbok.”

“Jika Gusti Allah berkehendak, Insya Allah, Den Ayu pasti ketemu sama Den Ayu!”

“Harusnya bayi itu saya beri nama dulu, Mbok, sebelum menyerahkannya kepada Anton dan Susi untuk dibuang.”

“Mbok sering manggil ‘Den Ajeng Larasati’,” si Mbok menerawang.

“Larasati,” Arum tersenyum getir. “Nama yang indah, Mbok…”

“Pergilah. Mumpung masih pagi. Nanti makan siang di rumah, ya. Mbok masakin nasi gudek kesukaan Den Ayu.”

“Iya, Mbok. Assalamu’alaikum!”

“Waalaikumsalam!”

Arum melangkahkan kaki ke luar rumah; mencoba menyibak misteri Jakarta di pagi hari. Pak Rahmat, supir setianya, sudah menunggu di depan mobil. Sopirnya lebih memilih ikut dengannya daripada dengan Tuan Bram.

“Asalamua’laikum, Nyonya!”

“Waalaikumsalam, Pak Rahmat! Pagi ini kita ke Tanjuk Priuk, ya! Kita cari di sana.”

“Baik, Nyonya!” Pak Rahmat membukakan pintu mobil.

Arum masuk dan duduk di jok belakang. Tangan kanannya memegang tasbeh. Dia tak pernah berhenti berdzikir seiring dengan putaran keempat roda mobilnya….

Dia tahu semuanya butuh waktu dan kesabaran.

***

Manusia berencana, tapi hanya Allah jualah yang menentukan serta berkehendak. Terbukti nasib Arum masih belum menentu dalam mencari jejak-jejak cucunya. Belum juga selesai pencariannya, terjadilah pergolakan dalam perpolitikan dan pemerintahan. Begitulah adanya transisi; akan memangsa siapa saja…..

Berawal dengan demo-demo mahasiswa, yang menginginkan Soeharto lengser sebagai presiden RI. Lalu suatu hari, pada 12 Mei 1998, Jakarta rusuh. Mahasiswa dan aparat keamanan bentrok! Beberapa mahasiswa Trisakti tewas! Soeharto akhirnya lengser.

Berlanjut ke amuk massa! Mal-mal dijarah. Mal-mal dibakar. Orang-orang miskin tewas terjebak di mal-mal secara mengenaskan; terpanggang oleh api angkara murka, demi mendapatkan sandang dan pangan! Juga wanita-wanita Cina dibunuh, dirampok, dan bahkan diperkosa. Rumah-rumah mewah di pantai utara Jakarta dijarah, dirampok, dan penghuni perempuannya juga diperkosa dan dibunuh!

Termasuk istri dan anak Anton “Si Muda Dermawan”!

“Ling Ling! Jasmine!” Anton menggenggam tanah merah tempat anak dan istrinya dimakamkan. Dia hanya bisa meradang ke langit! Dia memaki Tuhannya, yang sudah berlaku tidak adil padanya. Dia merasa Tuhan pilih kasih. Walau pun dia sendiri sering mengkhianati Allah; melangar aturan-Nya! Lalu dia tidak menganggap ini sebagai ujian dari-Nya, tapi terlebih karena Tuhan membencinya. Sang iblis terus mengipasinya dengan api neraka, agar dia tersengat dan makin meradang pada tuhannya.

Penderitaan Anton belum berhenti sampai disitu! Tuhan yang dimakinya makin memperlihatkan kekuasaan-Nya! Akibat peristiwa Mei kelabu, rupiah anjlok di mata dunia! Dampaknya bisnis Anton di negeri ini pada anjlok ke titik nol! Dia terpaksa mem-PHK ratusan karyawannya. Akibatnya dia diprotes karyawannya. Kredit macet perusahaannya di beberapa bank mencekik lehernya. Perusahaanya masuk ke dalam daftar yang mesti direkap di BPPN!

Anton bangkrut!

Anton stress!

Anton dirawat di rumah sakit jiwa!

Hal itu pun terjadi pada Tuan Bram! Setali tiga uang dengan Anton, dia juga dirawat di rumah sakit. Bram stress! Bahkan terancam menjadi gila! Jika kita pergi menjenguk Bram; tampak oleh kita seorang lelaki setengah baya yang selalu menganggap dirinya sedang mengejar-ngejar kupu-kupu pelangi, yang memantulkan seberkas cahaya.

Itu, itu kupu-kupu pelangi! Di sayapnya memantul seberkas cahaya!” begitu Bram berlari-lari mengitari rumah sakit. Saat itu dia sedang mengejar kupu-kupu pelangi, yang katanya terbang selangkah lebih maju di atas kepalanya!

Para perawat hanya bisa mengelus dadanya. Para pasien yang lain hanya tersenyum-senyum; menganggap itu adalah hiburan rutin yang menyenangkan ketimbang menonton televisi, yang isinya tentang carut-marut negeri khatulistiwa dengan perpecahan yang bermuatan SARA.

Arum pagi ini juga datang menengok bekas suaminya. Dia berdiri mematung di koridor. Di lapangan kecil di depan kamar-kamar, Bram berlarian ke sana ke mari. Kedua tangannya terjulur ke depan, seolah hendak meraih sesuatu. Hatinya terguncang. Dia melihat kupu-kupu kecil berwarna putih dengan bercak hitam berlompatan di udara!

“Begitulah, Bu, yang dilakukan Pak Bram tiap hari. Dia mengangap semua kupu-kupu yang berterbanan di sini memantulkan seberkas cahaya. Dia rupanya terobsesi pada sesuatu,” dokter Pras menjelaskan. “Mungkin dia pernah melakukan kesalahan besar semasa hidupnya.”

Arum merasa kedua lututnya gemetar. Saya juga pernah melihat kupu-kupu itu, dokter! Tapi dia tak sanggup mengatakan hal itu pada dokter. Percuma saja. Jangan-jangan nanti dia pun dianggap sakit!

“Bagimana, Bu? Masih mau bertemu dengan Pak Bram?”

Arum mengangguk. Dia tahu nasib buruk Bram dari media cetak dan televisi. Dia terketuk dan merasa iba dengan peristiwa yang menimpa Bram. Padahal kepahitan masa lalu bersama Bram terbentang di pelupuknya. Dia tahu tak mudah melupakan masa-masa gelap bersama Bram. Ketika menginjakkan kaki di rumah sakit tadi, serta merta para iblis mempertontonkan wajah murtadnya di sana. Mereka mentertawakan dirinya, yang sudah bodoh memutuskan menjenguk Bram di rumah sakit. Heh! Untuk apa menegok Bram! Dia patut menerima hukuman ini! Dialah yang menyebabkan kamu hidup bergelimanng dosa! Dialah yang menyebabkan kamu kehilangan Cindy dan cucumu! Begitulah para iblis menyayat-nyayat hati putihnya!

“Astaghfirullah!” Arum mengusir para iblis yang mengotori hatinya. Pergi kau, pergi! Tempatmu bukan di hatiku! Pergi sana, pergi ke neraka! Buatku, menjenguk orang yang sakit adalah kewajibaban sesama muslim.

Para iblis kocar-kacir.

“Saya ada urusan yang lain, Bu. Hati-hati,” si dokter memperingatkan dan ngeloyor pergi.

“Terima kasih, dokter,” Arum mengangguk dan mendekati Bram, yang berdiri di bawah pohon delima.

“Hmm, sebentar, Bu!” dokter Pras behenti. “Ngomong-ngomong, Ibu ini apanya Pak Bram?”

Arum melontarkan napas dengan berat. “Saya dulu istrinya, dok,” katanya berterus terang.

“Oh!” dokter Pras mengangguk-angguk dan meninggalkannya berdua dengan Bram.

Arum kini hanya berjarak beberapa langkah saja dari Bram. Betapa sang waktu berkuasa atas segala yang ada di muka bumi ini. Wajah Bram kini pucat dan tubuhnya sangat kurus tak terurus. Segala kemegahan yang melekat di tubuhnya tak nampak lagi. Arum kini makin merasa yakin, bahwa sifat keduniawian tak pernah kekal. Semu semata.

“Wahai, kupu-kupu pelangi yang memantulkan seberkas cahaya!” teriak Bram. “Mendekatlah padaku!”

Arum merasa kelopak matanya hangat.

“Kemari, kemarilah! Mendekatlah!” Bram terus meratap.

Arum makin terguncang hatinya. Dia membuka lebar-lebar matanya. Di pohon delima itu seekor kupu-kupu hinggap di bunga delima. Sayapnya berwarna biasa saja dan tidak memantulkan seberkas cahaya!

“Bawalah daku terbang ke langit! Bawalah daku terbang ke langit!” Bram menangkap kupu-kupu itu. Tapi binatang bersayap itu terbang! Tangkapannya luput. Dia memandang ke langit dan menggapai-gapaikan lengannya; mencoba meraih binatang itu. “Jangan pergi! Jangan pergi!” teriaknya histeris.

Kedua kelopak mata Arum tergenang air. Hatinya penuh oleh gelegak ombak rasa haru.

“Kembali ke sini! Aku butuh cahayamu!” Bram makin histeris. Bahkan mencoba mencabut pohon delima dari akarnya.

Dua orang perawat lelaki berlarian mendekatinya. Mereka memegangi Bram dan merayunya untuk tidak mencabut pohon delima. Bram masih berusaha melakukannya.

“Pak Bram! Kalau pohon delimanya dirusak, ntar kupu-kupunya nggak akan dateng lagi ke sini!”

Iya! Lihat itu bunganya! Banyak ‘kan! Kupu-kupu kan paling seneng sama bunga!

Bram menatap kedua perawat itu. “Bunga delima?’ tanyanya tertarik.

“Iya! Di bunga itu kan ada madunya. Kupu-kupu kan seneng madu!”

Barm mengangguk-angguk; pertanda mengerti. Lalu dia mulai melepaskan pegangan tangannya pada batang pohon. “Iya, iya! Kupu-kupu kan seneng sama madu. Iya, iya! Biar saja pohon delimanya di sini!” Bram setuju dengan kedua perawat itu, yang membawanya masuk ke dalam kamarnya.

Arum masih berdiri di situ. Dia tak sanggup bicara apa-apa. Terlebih ketika dia menyadari, bahwa Bram pun pernah melihat kupu-kupu pelangi yang memancarkan seberkas cahaya. Ya, Allah! Berilah dia kesembuhan, agar bisa mengenal-Mu lebih dekat lagi! Agar bisa berada di jalan-Mu! Berilah dia ampunan-Mu!

Tiba-tiba saja langit membuka gerbang-Nya. Dari atas sana meluncur sebuah benda yang sangat indah. Arum melihat kupu-kupu pelangi memantulkan seberkas cahaya terbang ke arahnya!

”Allahu Akbar!” pekiknya kegirangan.

Binatang itu berada selangkah di depannya.

“Kupu-kupu pelangui!” Arum langsung teringat Bram. Bekas suaminya itu harus melihatnya sekarang!

Arum berlari ke dalam kamar Bram. “Bram, Bram!” teriaknya antusias.

Dua perawat itu muncul dari dalam kamar dan menutup pintu. Mereka menatap aneh kepadanya.

“Bram! Bram!” teriaknya lagi.

“Ada apa, Bu?”

“Saya mau bertemu dengan Bram!”

“Dia tidak bisa diganggu. Mentalnya sedang tidak stabil.”

“Apa ibu istrinya?”

“Hus! Tuan Bram sudah lama becerai!”

“Ibu barangkali istri keduanya?”

“Sok tau kamu!”

Arum hanya bisa beristighfar ketika mendengar omongan kedua perawat ini, yang tampaknya sengaja memancing perasaannya.

Saya dulu istri Pak Bram.”

“Oh, bekas istrinya!”

“Mantan!”

“Bisa saya bertemu dengan Pak Bram?”

“Mau apa?”

“Mau bernostalgia kali!”

Kedua perawat itu tertawa.

Arum tetap bersabar. “Saya ingin mengajak Bram melihat kupu-kupu yang sedang dicari-carinya itu.”

“Kupu-kupu?” dia melihat ke temannya sambil tertawa.

“Pasti kupu-kupu pelangi!”

“Yang memantulkan seberkas cahaya itu?”

“Iya, iya. Kupu-kupu pelangi yang memantulkan seberkas cahaya.”

“Wah, Ibu rupanya sudah mulai gila!”

“”Iya! Ibu gila!”

Mereka terbawa terbahak-bahak meninggalkan Arum.

“Lihat, lihat! Itu kupu-kupunya!” Arum terlonjak kegirangan menunjuk ke udara.

Kedua perawat itu makin santer ketawanya.

“Ibu memang gila!”

“Ya, ibu gila! Seratus persen!”

Arum akhirnya tidak mempedulikan kedua perawat itu. Dia mengikuti ke mana kupu-kupu itu terbang. Dia terus bergegas mengejarnya; yang terbang selangkah lebih maju di depannya.

Kira-kira dua ratus meter jauhnya dari tempat Bram, kupu-kupu pelangi itu membelok. Arum terus mengejar. Di sana ada taman yang indah. Penuh dengan bunga. Kupu-kupu pelangi yang memantulkan seberkas cahaya itu hinggap di lengan seorang pasien, yang duduk di kursi taman.

Arum tertegun!

Pasien itu tersenyum membelai-belai kedua sayap kupu-kupu pelangi. “Apa khabar, Kupu-kupu pelangi?” tanyanya dengan wajah bahagia.

“Anton!” Arum berseru.

Pasien itu mencari-cari asal suara.

“Kamu ‘Anton’ kan?”

Pasien itu mengangguk dengan perasaan heran. Dia meneliti wanita setengah baya, yang sedang berdiri mengenakan busana muslimah.

“Kamu…,” Arum ragu. “Kamu melihat kupu-kupu pelangi?”

“Iya,” Anton membelai-belai lagi kedua sayapnya.

“Memantulkan seberkas cahaya?”

“Iya. Ibu melihatnya juga?’ tanya Anton tersenyum.

“Ya! Saya melihatnya!”

“Berarti Ibu tidak gila! Pak Bram juga!”

“Pak Bram?”

“Iya.”

“Kamu bertemu dengan Pak Bram?”

“Iya. Dialah yang pertamakali menunjukkan kupu-kupu pelangi ini.”

“Pak Bram melihatnya juga?”

“Iya.”

“Tapi, semua orang di sini tidak mempercayai kalian?”

“Tidak apa-apa.”

“Kamu tahu siapa Pak Bram?”

Anton mengangguk dengan sedih.

“Kamu tidak mengenal saya?”

Anton menatap wanita berjilbab di depannya. Dia berusaha mengingat-ingat, tapi tetap kesulitan untuk mendapatkan gambaran wajahnya.

Lupa?”

“Mungkin karena ibu memakai jilbab.”

“Saya bekas istri Pak Bram.”

Anton kaget. Dia menajamkannya matanya. “Cindy?” tanyanya.

“Ya! Saya mamanya Cindy!”

Anton ternganga. Tubuhnya gemetar. Kupu-kupu yang hinggap di tangannya terbang. “Tante Arum!” pekiknya girang penuh keharuan. “Ya, Allah! Terima kasih ya, Allah!” dia melihat ke langit dan menadahkan kedua tangannya. “Akhirnya doaku Kau kabulkan!”

Arum terpesona dengan peristiwa ini.

“Saya sudah lama mencari Tante!” tanpa diduga Anton memeluknya.

Arum merasa kikuk.

Anton makin erat memeluk Arum. “Maafkan saya, Tante! Saya tidak bermaksud membuang cucu Tante ke sungai!” suaranya parau dan diselingi isakan.

“Ke sungai?” Arum sepreti disambar petir. “Kamu buang cucuku ke sungai?”

“Maafkan saya, Tante…,” isaknya penuh penyesalan.

Tante sebetulnya tidak bisa menerima kenyataan ini. Cucunya dibuang ke sungai! Dulu dia menyuruh Anton untuk meletakkan cucunya di depan pintu sebuah panti asuhan. Tapi Anton membuangnya ke sungai!

“Saya khilaf, Tante….”

Arum merasa iba. Manusia memang tak pernah lepas dari kesalahan. “Iya, nton, iya. Tante juga khilaf waktu itu,” katanya terisak.

“Ibu mengenalnya juga?” dokter Pras tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya.

“Iya, dokter,” Arum mengusap air matanya.

“Dua hari lagi dia boleh pulang.”

“Terima kasih,” Arum memeluk Anton dengan bahagia. Dia mencoba menyalurkan kehangatannya sebagai seorang ibu. Tangannya membelai rambut Anto. “Nanti kita sama-sama mencarinya, ya!”

Anton menangis sesenggukan.

***

Bab Lima

METAMORPHOSA

Arum berjalan menuju mobilnya. Pak Rahmat sudah membukakan pintu belakang.

“Assalamu’alaikum, Pak Rahmat!”

“Waalaikumsalam, Bu!”

Arum masuk ke dalam mobil. Dia duduk di jok belakang. “Asalamu’alaikum, Anton!” sapanya pada lelaki yang duduk di jok depan.

“Wa’alaikumsala, Tante,” balasnya dengan suara gemetar.

Arum merasa heran. “Kamu baik-baik saja, Ton?” dia meneliti.

“Baik, baik, Tante,” dia sangat gugup sekali.

“Kita berangkat sekarang?”

Anton mengangguk.

“Ayo, Pak. Kita berangkat.”

Pak Rahmat masuk ke mobil. Dia duduk di belakang stir dan melirik ke Anton. Di dalam hatinya ada smacam harapan, bahwa hari ini segala urusan tentang bayi yang dibuang di sungai terpecahkan. Sepanjang hidupnya, dia terbebani oleh rasa bersalah. Dia pun terlibat di dalamnya.


0 Response to "Kupu Kupu Pelangi"

Post a Comment