Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Kupu Kupu Pelangi II

“Kita ke kali Ciliwung,” kata Anton. Kedua matanya terus menatap ke depan. Dia sudah seminggu keluar dari rumah sakit.

Pagi ini Pak Rahmat menjemput Anton di sebuah hotel kecil di selatan Jakarta. Setelah bangkrut dan anak-istrinya menjadi korban kerusuhan Mei, Anton tak punya apa-apa da siapa-siapa lagi. Dia hanya mengandalkan sedikit uang tabungan untuk menopang hidupnya. Pagi ini Anton berjanji akan membawa Arum ke jembatan di atas kali Ciliwung, dimana dia pernah membuang bayi yang masih merah itu!

Keempat roda mobil menggelinding di Sabtu pagi yang cerah.

Lalu-lintas Jakarta di saat week end tak parah. Cenderung lengang. Begitulah orang-orang kaya di Jakarta. Tak pernah diam di Senin – Jumat; mereka bersesakan mencari uang sehingga kemacetan merajalela! Sedangkan di Sabtu-Minggu, mereka memindahkan kemacetan di kawasan Puncak, tol Cikampek, atau Anyer di Banten.

Terasa hening di dalam mobil itu. Semua dengan pikirannya masing-masing; tentang keterlibatan mereka pada bayi merah yang entah kini berada di mana. Pak Rahmat menyetir mobilnya dengan perasaan was-was. Peristiwa saat dia bersama Tuan Bram membawa Cindy terbayang lagi. Peristiwa yang terus mendatangi mimpi-mimpi buruknya di tengah malam. Dia ingat betul, bagaimana wajah Cindy dengan sorot matanya yang hampa sebelum bayi di dalam perutnya dikeluarkan dengan cara cesar. Sedangkan Anton merasa seperti disedot lagi ke dalam sebuah peristiwa yang menakutkan: bayi dalam selubung cahaya!

“Masih jauh, Ton?” Arum memecah kebisuan.

“Jembatannya di belokan sana,” katanya gugup.

Pak rahmat menginjak pedal gas lebih dalam lagi. Dia ingin segera sampai ke sana. Dia tak ingin tersiksa lebih lama lagi.

“Saya, saya……,” tiba-tiba Anton panik sekali.

“Kenapa kamu?” Arum merasa iba.

“Tolong, tolong, Tante!” Anton berusaha membuka pintu mobil.

“Itu jembatannya ‘kan?”

“Saya, saya turun di sini saja, Tante!” Anton memaksa membuka pintu mobil.

“Stop dulu, Pak!”

Pak Rahmat meminggirkan mobil.

“Itu, itu jembatannya, Tante!” Anton ketakutan ketika menunjuk ke jembatan kecil.

Arum dan Pak Rahmat melihat ke depan. Kira-kira 200 meter di depan mereka, tampak jembatan kecil yang melintasi kali Ciliwung.

“Maafkan saya, Tante. Saya belum bisa membantu itu lebih jauh lagi. Saya masih takut,” Anton menangis.

“Takut, kenapa?”

“Bayi yang saya buang itu…, cucu Tante…,” wajah Anton ketakutan, “diselubungi cahaya….”

“Diselubungi cahaya?”

“Iya. Bayi dalam selubung cahaya, Tante….”

Pak Rahmat yang menyetir menguping percakapan mereka. Mulutnya ternganga. Bayi itu memang membawa keajaiban, batinnya.

Itulah yang menyebabkan Susi lari meninggalkan saya, Tante. Dia ketakutan melihat bayinya yang diselubungi cahaya….”

“Allahu Akbar,” Arum setengah tidak percaya.

“Tolong, Pak. Buka pintunya,” Anton memelas pada Pak Rahmat.

Pak Rahmat meminta persetujan Arum.

Arum mengangguk. “Terima kasih, Anton. Kalau Tante membutuhkan pertolongan kamu lagi, Pak Rahmat akan menjemput kamu.”

Pak Rahmat memencet tombol central lock.

Begitu melihat tungkai pintu terangkat, Anton langsung membuka pintu. Dia tak menjawab permintaan Arum. Dia bergegas keluar dari mobil dan berlari mencari-cari taksi.

“Anton!” Arum memencet power window. “Tunggu!”

Sebuah taksi berhenti. Anton langsung masuk dan hilang dari pandangan.

“Ya, Allah…., kenapa jadi begini?” Arum tidak percaya.

“Bagaimana, Bu?”

“Kita ke jembatan itu, Pak.”

“Iya, Bu!”

Mobil meluncur lagi; mencoba menyibak misteri belantara beton kota Jakarta. Mencoba mengaduk-aduk isinya.

Ya, sudah selama sembilan tahun Arum mencari-cari cucunya sendiri, yang dulu dibuang oleh Anton. Pertemuannya dengan Anton di rumah sakit, membawanya ke setitik terang, bahwa bayi itu dulu dihanyutkan di sungai Ciliwung. Anton hanya mampu membawanya ke jembatan saja. Berhari-hari Arum dan Pak Rahmat menyusuri sungai vital itu; singgah di setiap kampung di bantaran kali, bertanya pada orang-orang tentang peristiwa suatu shubuh sembilan tahun yang lalu! Masih saja nihil. Pernah Arum menyuruh Pak Rahmat menjemput Anton lagi, agar pencarian cucunya bisa lebih cepat selesai. Arum berharap Anton bisa membantunya lagi. Tapi ternyata Anton sudah check out dari hotel itu. Anton pun raib ditelan bumi!

Arum tidak patah semangat. Pak Rahmat juga masih dengan setia mendampinginya. Mereka tak kenal menyerah. Kampung-kampung yang kumuh di bantaran kali mereka aduk-aduk. Bau pesing dan sampahnya sudah jadi bagian mereka. Semuanya demi bayi dalam selubung cahaya! Orang-orang mereka tanyai satu persatu.

“Bayi dibuang?” seorang ibu, yang sedang mencuci di bantaran sungai, merasa heran dengan pertanyaan Arum.

Tepatnya dihanyutkan, Bu,” Arum agak was-was.

“Sama aja! Dihanyutin juga dibuang!” ketus suara si ibu. Matanya menatap tidak suka.

Arum memakluminya, “Iya, sama saja.”

“Situ yang buang?”

“Apa yang dibuang?” ibu yang lain nimbrung.

“Bayi!”

“Bayi?”

“Bayi siapa!”

“Mana orangnya?”

Kalau kondisinya sudah “panas” seperti itu, biasanya Pak Rahmat tergopoh-gopoh membawa Atum meninggalkan bantaran sungai. Tapi akhirnya dalam waktu seminggu, mereka berhasil mengumpulkan jejak tentang cucunya! Semuanya mengarah ke Cengkareng! Alamat persisnya, tak ada yang tahu. Beberapa orang mengatakan, bahwa pernah ada sebuah keluarga menemukan bayi yang hanyut di sungai Ciliwung. Bayi itu sekarang tentu sudah dewasa.

Arum pun memutuskan untuk mencari ke sana. Tak peduli itu ibarat mencari jarum di tumpukan jerami. Asal ada niat, usaha, dan doa, dia yakin Allah akan memberi petunjuk!

Kini Arum duduk di dalam mobil. Dia mengamati semua anak kecil yang berkeliaran di jalanan. Di telitinya satu persatu. Dia masih ingat, bahwa dulu pernah melingkarkan sebuah kalung di leher si bayi dengan bandul huruf “C”! Dia berharap, semoga kalung itu masih dipakai sampai sekarang!

“Tolong pelan ya, Pak,” Arum membuka matanya lebar-lebar.

Mobil menyusuri jalanan sepanjang Roxy. Di perempatan jalan anak-anak kecil mendekati mobil-mobil yang menunggu lampu hijau menyala sambil menadahkan tangan.

“Kasihan saya melihat mereka. Jangan-jangan cucu saya seperti mereka juga,” Arum merasa iba melihat anak-anak jalanan itu. Dia merogoh dompetnya. Beberapa lembar ribuan di tangannya.

“Tapi mereka ada yang mengkoordinir, Bu. Tidak murni lagi.”

“Terlepas dari benar atau tidaknya mereka mengemis, yang jelas mereka memang miskin. Memang bebar kata Pak Rahmat tadi. Mereka ada yang mengkoordinir,” Arum memencet tombol power windownya. Beberapa anak berebut mengambil uang kertas ribuan dari jendela mobil.

Hati-hati, Bu! Nanti semua anak jalanan di sini menyerbu ke Ibu.”

Arum memahami maksud Pak Rahmat. Dia menutup jendela mobilnya. Anak-anak terus berdatangan sambil menadahkan tangannya. Arum berusaha meneliti setiap anak perempuan; barangkali ada yang memakai kalung berbandul “C”. Tapi, tak seorang pun.

Lampu menyala hijau.

Pak Rahmat memindahkan perseneling; mobil meluncur menyeberangi perempatan Grogol, menuju Cengkareng. Anak-anak jalanan dengan kecewa menatap kepergiaan mobil yang ditumpangi Arum. Tadinya mereka berharap akan kecipratan rezeki untuk makan.

***

Sementara itu di sebuah kawasan padat dan kumuh di Cengkareng, seorang anak perempuan mengendap-endap ke luar dari kamar petaknya. Dia tahu kalau Mbaknya sedang mandi, karena terdengar bunyi air di kamar mandi. Kesempatan itu dipakainya untuk keluar dari rumah! Dia merasa tertekan sekali berada di dalam rumah. Dia ingin menceritakan beban yang menghimpitnya hari ini. Tapi, entah pada siapa. Mungkin pada Udin, temannya mengamen!

Ketika sampai di ruang depan, Watik melihat tumpukan hadiah dari para tetangga di meja plastik, meja satu-satunya di ruangan ini. Hadiah-hadiah itu untuknya. Tiba-tiba saja dia merasa sedih. Lalu dia memutar kunci depan; bergegas meninggalkan rumah kontrakannya.

Watik berjalan menuju reruntuhan gedung bekas kerusuhan Mei berdarah. Beberapa orang yang menyapanya dengan senyum menggoda, tak digubrisnya. Dia yakin, beritanya pasti makin menyebar. Huh! Bang Jupri memang brengsek! Dia biang keroknya! Semua orang sekampung, bahkan seterminal jadi tahu tentang kondisinya!

Sepanjang perjalanan menyusuri gang-gang, dia merasakan ada yang aneh di tubuhnya. Sesuatu yang mengganjal dan sangat tidak nyaman. Perutnya juga terasa sakit. Dia berlari! Terus berlari! Dia ingin menyembunyikan dirinya dari mbaknya, tetangga-tetangganya, Pak Wahid, bahkan si Udin.

Ketika Watik melewati pohon sirsak, yang tumbuh sendiri di tempat sampah, dia sangat kaget mendapati kepompong yang menggantung di rantingnya sudah kosong melompong. Dia dulu menemukannya sejak masih ulat hijau, yang rakus melahap daun-daun sirsak. Dia menceritakan penemuannya itu pada mbak Nunik. Kata mbaknya, suatu hari ulat itu akan jadi kepompong. Lalu terbang jadi kupu-kupu dengan warna sayapnya yang indah.

“Waktu Mbak sekolah dulu, kata pak guru, namanya… hmm… metamorphosa,” kata Nunik suatu hari, dengan memberi penekanan pada suku kata “pho”nya.

Apa, Mbak?”

“Metamorphosa!”

“Meta….. metamorposa…?” Watik tidak mengerti.

“Pokoknya, dari ulat, makan daun yang banyak, lalu jadi kepompong. Nah, yang terakhir, jadi kupu-kupu! Begitu itu… namanya metamorphosa… ‘pe’nya pake ‘peha’….” Nunik nyerocos sambil mencuci wajahnya dengan cairan pembersih.

“Dari ulat… lalu jadi kupu-kupu? Masya Allah!” Watik takjub.

“Ya, kayak kamu juga nantinya!”

“Watik jadi kupu-kupu?”

“Ya, nggak!” Nunik tertawa. “Tapi, kamu yang tadinya bayi, jadi anak jalanan, lalu ngamen di perempatan jalan… Itu juga metamorphosa…. Itu Mbak dikasih tahu sama temen Mbak yang seniman… Itu lho…, yang suka nulis-nulis puisi di koran…..”

“Oh…,” mulut Watik membentuk bulatan.

“ Terus masih ada lagi….”

“Apa, Mbak?”

“Kamu itu masih bisa bermetamorphosa lagi… Itu lho… Nantinya setelah kamu…. Hmm….., kedapatan…..,” Nunik tidak meneruskan kalimatnya. Dia tersenyum penuh arti sambil membetulkan letak roll di rambutnya yang panjang.

“Setelah apa, ‘Mbak?” Watik penasaran.

“Kayak mbakmu inilah!”

Watik menatap mbaknya dengan perasaan sedih.

“Aduh…, pokoknya nanti kamu tau sendiri, deh!” Nunik mengucek-ucek rambut Watik.

Kayak mbakmu inilah! Kalimat itu tidak membuat Watik gembira. Dia tahu, ketika mbaknya kedapatan menstruasi pertama, hidup mbaknya langsung berubah. Dari penyanyi jalanan yang dekil, berubah jadi perempuan cantik yang pintar berdandan. Jadi itu yang disebut metamorphosa? Kalau betul, betapa menakutkan!

Beberapa hari sebelum peristiwa tadi pagi, bawaan Watik marah-marah melulu. Si Udin, kawannya mengamen dengan minus one, sering kena sasaran kemarahannya. Bahkan kalau ada penumpang bus kota yang menatapnya dengan tidak sopan, Watik balas melotot! Kalau perlu Watik menghardiknya, “Apa lo liat-liat! Emangnya gue boneka, apa!”

Biasanya Si Udin mengingatkan, kalau penumpang itu raja. “Lo jangan gitu, Tik! ‘Ntar nggak ada yang ngasih recehan sama kita, gimana? Bisa nggak makan kita!”

“Bodo amat! Be te gue!”

“Kenapa sih lo? Jadi sering marah kayak gitu?”

“Tauk ah, gelap!”

Bukan hanya di bus kota si Udin kena marah. Saat mereka istirahat di mesjid untuk sholat, Watik menolak diajak. Dia hanya duduk-duduk di halaman mesjid. Alasannya males!

“Tumben lo kagak mau sholat!”

“Udah, cepetan sholat! Bentar lagi bubaran kantor!”

“Jadi, lo tunggu di luar?”

“Iya! Cerewet amat sih lo!”

Remaja 17 tahun lulusan STM itu menatap Watik dengan penuh tanda tanya. Tapi, dia bergegas masuk ke mesjid. Panggilan sholat lebih penting baginya, ketimbang memikirkan kenapa Watik jadi uring-uringan begitu.

Semuanya terjawab, kenapa Watik selalu marah-marah belakangan ini. Tadi pagi, ketika mandi, Watik mendapati ada darah tumpah di lantai kamar mandi. Dengan perasaan takut, Watik bercerita ke Nunik. Dia merasa heran, karena mbaknya bukannya cemas atau khawatir, tapi malah tertawa senang.

“Kok, Mbak seneng?”

“Ya, seneng!

“Kenapa?”

“Inget nggak, dulu Mbak pernah ngomong soal metamorphosa?”

“Ngg…, iya, inget….”

“Nah, yang ini nih… metamorphosa kamu… dari anak-anak ke dewasa… Begitu lho… Ngerti, nggak?”

“Watik udah dewasa, Mbak?”

“Iya! Udah dewasa!”

Watik tidak mempercayai dengan apa yang didengarnya

Sudah! Beli pembalut, sana!” Nunik memberinya uang lima ribu rupiah.

Watik pergi ke warung Bang Jupri. Dia berdiri gugup di depan warung Bang Jupri. Dia celingak-celinguk; khawatir ada orang yang melihat kalau dia ternyata membeli pembalut. Sebetulnya Watik ingin sekali menyembunyikannya. Dia tidak mau seorang pun tahu, kalau dirinya mens. Yang kali pertama lagi. Tapi, dia tidak tahu cara untuk mengatasinya. Apalagi ketika darah yang keluar makin banyak saja. Dia jadi panik!

Bang Jupri yang sedang membereskan dagangannya melihat kedatangannya. “Mau ngapain, Tik?” tanyanya mendekati Watik. Matanya melotot menelusuri tubuh Watik. Dia menelan ludahnya sendiri, karena membayangkan bisa memiliki tubuh segar itu.

Watik merasa risih. Dia tahu reputasi Bang Jupri kalau sudah urusan wanita. Mbak Nunik pacarnya. Bahkan Mbak Sri yang di ujung gang juga pacarnya. Wah, pacarnya banyak juga kalau dihitung. Belum lagi yang di sberang jalan!

“Heh! Lo nggak denger omongan Abang, ya?”

“Oh, anu, Bang…..”

“Anu, apa!”

“Mau beli…., pembalut……..”

Bang Jupri ternganga. “ Pembalut?” tanyanya tidak percaya.

“Iya….”

“Buat siapa, Tik? Si Nunik?”

Watik menggelengkan kepalanya dengan perasaan takut.

“Terus, buat siapa?” bang Jupri memelototi tubuhnya.

Watik diam saja.

“Makin montok aja lo!”

Watik gemetar.

“Hah?! Jangan-jangan… elo udah…..?”

Watik tertunduk; ada perasaan takut!

“Buat elo pembalutnya?”

“Iya, Bang….”

Bang Jupri tertawa senang sambil menjawil pantat Watik.

Watik ketakutan dan mundur beberapa langkah.

“Nih! Bawa, bawa, deh!” bang Jupri mengambil sebungkus pembalut wanita dari kiosnya. “Elo nggak usah beli! Ini hadiah dari abang!” Bang Jupri menghadiahinya pembalut wanita. Dan uang dari mbak Nunik dikembalikan lagi padanya.

“Makasih, Bang…”

“Wah, mami Santi pasti seneng banget denger lo udah dapet! ‘Ntar abang yang nganter ke sana, deh!”

Mendengar nama mami Santi, Watik makin takut. Dia bergegas pergi. Bang Jupri menatapnya dengan tatapan seekor harimau yang sedang mengincar buruannya!

Sepulang dari warung bang Jupri, Nunik menyuruh Watik mandi. Bahkan shampo mahal dan sabun wanginya dihadiahkan padanya. Setelah mandi, mbaknya mendandaninya!

“Coba, pake baju Mbak! Belum lama, lho!” Nunik memakaikan bajunya sendiri ke tubuh Watik, yang suka dipakainya setiap malam Minggu di perempatan Cengkareng.

Watik sangat senang. Baju mbaknya ternyata pas!

“Wah, badan kamu emang bongsor, ya!” Nunik sangat puas. “Sebentar lagi Mbak kesusul sama kamu!”

“Baju Mbak buat Watik?” dia tidak percaya ketika melihat dirinya di cermin ukuran 40 kali 20 cm, yang menempel di dinding triplek kamar.

“Iya, buat kamu!” Nunik mengangguk senang sambil memolesi wajah Watik dengan bedak mahal. Lalu memolesi bibir Watik dengan lip stick yang warnanya tak luntur.

Watik diam saja. Dia membiarkan dirinya didandani mbaknya. Dia merasa dirinya menjadi boneka. Setiap hari, dia selalu bermain dengan boneka Barbie yang ditemukannya di tempat sampah di belakang terminal. Boneka yang tidak utuh lagi. Hanya ada satu tangan dan satu kaki saja. Tapi, dia cukup bahagia mendapatkannya. Dia cukup senang bisa menimang-nimang boneka barbie.

Sekarang Watik merasa dirinya menjadi boneka Barbie. Watik yang anak jalanan, yang suka mengamen dengan ecek-ecek di perempatan Grogol atau bus kota jalur Kalideres - Gambir, sudah tak ada lagi di cermin itu. Yang tampak di matanya adalah, Watik yang bukan anak-anak lagi. Kini dirinya sudah dewasa. Sudah jadi wanita. Padahal umurnya masih 12 tahun.

“Lihat! Lihat kamu, Watik!” Nunik merasa bangga dengan hasil karyanya. “Inilah metamorphosa! Kamu cantik sekali!”

Watik melihat ke cermin. Dia meraba dadanya, yang kelihatan. Kalung dari kulit lusuh dengan bandul huruf “C” makin menyolok di antara belahan dadanya yang sudah besar. Kulit dadanya yang tidak kena matahari ternyata putih semakin membuat kontras keberadaan kalung itu.

Tiba-tiba saja Watik merasa seperti ada yang menampar. Terutama hati nuraninya! Oh, dia kini merasa asing dan malu mendapati dirinya seperti itu. Di cermin, dia melihat dirinya menjadi barang aneh. Baju mbak Nunik ini bahannya serba sedikit. Bagian atasnya terbuka. Bagian bawahnya hanya sampai pangkal paha. Watik makin malu.

***

Beginikah metamorphosa itu?

Apa nanti kata si Udin, yang suka wanti-wanti ngingetin sholat? Apa juga kata Pak Wahid, guru ngajinya? Pasti dia marah besar! Watik ingat, hampir setiap saat, Pak Wahid selalu mengingatkan anak-anak yang ikut mengaji di mushola kampung, bahwa mempertontonkan tubuh itu haram hukumnya. Dosa. Allah akan menyiksa kita di neraka nanti! Watik suka takut membayangkannya!

“Kenapa, kamu?”

“Itu Watik, Mbak?” dia pangling melihat dirinya di cermin.

“Iya! Itu kamu! Cantik, ya! Kayak Iis Dahlia!”

“Tapi, Mbak…..”

“Tapi, apa….?”

“Watik malu….”

“Malu, kenapa? Baju ini kan Mbak beli. Bukan nyuri…”

“Ini, Mbak… Kelihatan…..”

Nunik tertawa. “Oh…., itu…. Nggak apa-apa. Nanti juga biasa. Malah kamu kelihatan seksi, lho!”

“Watik takut….”

“Takut sama siapa?”

Watik menunduk.

“Pak Wahid?”

“Iya….”

“Biar nanti Mbak yang ngomong!” katanya kesal. “Pokoknya, mulai sekarang, kamu nggak usah pergi ngaji lagi!” nadanya mulai marah.

Watik menunduk. “Tapi, ada yang lebih Watik takutkan, Mbak….,” suaranya mulai tersedak di tenggorokan.

“Siapa lagi? Si Udin?”Nunik mulai kesal.

Watik menangis, “Allah, Mbak…..”

“Hah? Allah? Kamu ini! Sok suci amat!”

Watik menangis.

“Udah, diem! Jangan cengeng!”

Watik menahan tangisnya.

“Tadi Bang Jupri… udah kamu kasih tau kalau kamu itu udah dapet?”

Watik mengangguk dengan perasaan takut.

“Nanti ‘Mbak ngomong sama Bang Jupri! Kapan Mbak bisa bawa kamu ketemu mami Santi. Lebih cepet lebih baik! Supaya kamu bisa ikut kerja ama ‘Mbak!”

“Kerja ama Mbak?”

“Iya!” Nunik melotot. “Pokoknya, mulai sekarang ikut aja apa kata ‘Mbak! Ngerti kamu!”

Watik mengangguk.

“Udah, buka bajunya!”

Watik menurut. Dia jadi takut kalau melihat mbaknya marah. Dia juga suka kasihan, melihat mbaknya pulang shubuh sehabis kerja. Jalan mbaknya sempoyongan, wajahnya pucat, bedak dan lip sticknya belepotan pula. Mbaknya banting tulang untuk biaya hidup mereka sehari-hari.

Khabar Watik kedapatan menstruasi pertama dengan cepat menyebar di lingkungan tempatnya tinggal, sebuah perkampungan di gang kecil yang padat dan kumuh. Pasti bang Jupri yang jadi pengeras suaranya. Akibatnya, Watik mendapat banyak berkah. Begitulah setidak-tidaknya versi Nunik. Tapi versi Watik, malah menstruasi pertamanya ini ibarat mendapatkan petaka!

“Asalamualaikum!” Prapti yang asal Yogya masuk.

“Waalaikumsalam!” Nunik membalasnya.

“Halo, nuhun sewu!” kali ini Titik yang asli Surabaya nyelonong.

“Endere langkung!” suara Rini, wong Madiun.

“Punteeeeeeen!” Lilis dari Ciamis juga ikut nimbrung.

Tetangga-tetangga sekontrakan, segang, bahkan sekampung berdatangan menjenguk Watik. Semua berlomba-lomba ingin menjadi orang yang paling peduli akan nasib Watik. Ada yang membawa jeruk, pepaya, apel, pembalut, bedak, lipstik, dan jamu! Nunik menerima oleh-oleh itu, tapi Watik memilih diam di kamar merenungi peristiwa ini.

“Lihat, Watik! Lihat! Metamorphosamu membawa berkah!” mbaknya tertawa senang memegangi kedua bahunya.

Watik diam saja.

Nunik menatapnya dengan kesal.

Para tetangganya berjejer melontarkan senyum pada Watik. Senyum maut; senyum yang menawarkan kemudahan dalam memperoleh uang. Kerja enak, mudah, tak perlu banting tulang, tapi uangnya banyak!

Watik tidak membalas senyum mereka. Dia hanya melihat di meja plastik di ruang depan, penuh dengan oleh-oleh dari mereka. Tapi dia tidak bersemangat dengan hadiah-hadiah itu. Baginya, tidak lama lagi……… menstruasi pertama ini akan membawa dirinya ke sebuah malapetaka berkepanjangan.

“Piye, toh! Kok, malah sedih?” Prapti menjawil pipi Watik yang seperti buah tomat.

Watik merasa jengah.

“Kalian bisa maklum ‘kan… Dulu, aku malah lebih parah!” Nunik mengingatkan para tetangganya.

“Nggak po-po, ‘Mbak…Biasalah itu,” Titik tersenyum.

“Iya! Nggak apa-apa!” Rini menimpali.

“Watik, sini, sini! Ikut sama aku aja. Kerja di restoran pasti lebih enak, lho!” ajak Prapti, yang bekerja jadi pelayan di restoran Jepang. “Tempatnya dingin lagi! Pake a ce! Bisa cuci mata, lho. Siapa tau, ada lelaki Jepang nyasar? Kamu bisa jadi piaraannya! Syukur-syukur diajak ke Jepang!”

“Atau ikut gue kerja di panti pijat aja! Cewek montok kayak lu, pasti lumayan gede tipnya!” Titik merayu, sambil telunjuk dan jempol tangannya digesek-gesekan.

“Kalo gue lihat-lihat, bodi lu pas banget buat jadi penari strip tease!” Leni menaksir-naksir. “Gimana? Lu mau kan kerja ama gue? ‘Ntar gue ajarin, deh! Pokoknya, serahin aja ama gue!”

“Mending sama saya saja atuh. Kerja di hotel. Lumayan juga. Semuanya udah disediain. Kita mah tinggal datang saja. Nemenin tamu yang minta ditemenin. Kamu pasti cepet laris, kayak pisang goreng!” Lilis tertawa cekikikan.

Nunik tersenyum. Lalu dia menggeleng. “Aku bisa digorok mami Santi, kalau ngijinin Watik kerja ama kalian! Jauh-jauh hari, dia ini udah dipesen mami Santi!” katanya tegas.

Watik lagi-lagi diam saja. Dia hanya ingin pergi!

Ya, pergi!

Jauh sekali!

***

Bab Enam

KUPU-KUPU PELANGI

Watik menatap lagi kepompong yang menggantung di ranting pohon sirsak. Persis di daunnya yang sudah kering. Kepompong itu kosong melompong. Dia mencari-cari ke udara. Dia ingat perkataan mbaknya. Dari ulat, makan daun, kepompong, lalu jadi….. Saat itu juga seekor kupu-kupu yang sayapnya berwarna-warni seperti pelangi, terbang rendah di atas kepalanya! Bahkan hampir menyerempet kepalanya. Tangannya bergerak ke atas; hendak menjamahnya.

Watik tiba-tiba tertegun. Dia merasa melihat ada seberkas cahaya menempel di sayap kupu-kupu! Sinar yang memberi penerangan pada dirinya, bahwa di sana ada sebuah jalan benderang yang harus dilewatinya. Jalan lurus menuju tempat-Nya.

Kupu-kupu pelangi seolah menyapanya, “Selamat pagi, Watik!” Juga seperti mengajaknya terbang untuk melihat isi dunia! Untuk bebas lepas menghirup udara!

“Selamat pagi, kupu-kupu!” jawab Watik bersedih.

“Kenapa kamu bersedih, Watik?”

“Aku iri sama kamu. Aku nggak punya sayap. Aku ingin terbang menjemput seberkas cahaya sepertimu! Ayo, bawalah aku terbang!”

Tapi kupu-kupu pelangi tak berdaya. Dia hanya bisa hinggap di pohon sirsak, tempat di mana dia berasal. Watik mendekatinya. Mencoba meneliti warna sayapnya. Kupu-kupu pelangi diam saja; seolah memberi kesempatan pada anak jalanan itu untuk menikmati keindahan kedua sayapnya yang mirip warna pelangi.

“Warna sayapmu indah. Seperti pelangi!”

Kupu-kupu pelangi tersenyum sambil mengepakkan sayapnya. Lalu terbang terbawa angin. Seberkas cahaya yang menempel di kedua sayapnya berpendaran dan hilang.

“Kenapa cahayamu hilang, wahai kupu-kupu?” Watik mengejar.

Kupu-kupu tak mengerti apa-apa.

Watik terus mengejar kupu-kupu pelangi; berlarian di lapangan di reruntuhan gedung, bekas huru-hara Mei 1998 yang sudah dipenuhi alang-alang. Tapi dia terjerembab menimpa alang-alang. Tubuhnya yang bongsor tenggelam di alang-alang. Dia memutar; tidur terlentang. Sebatang ilalang dicabutnya. Dipilin-pilinnya di jemarinya yang lentik. Matahari pagi menyapa kulitnya yang kecoklatan.

Kupu-kupu pelangi hinggap di puncak alang-alang. Tubuhnya bergoyang-goyang mengikuti irama ilalang yang tertiup angin pagi. Tubuhnya dekat dengan Watik, yang menatapnya dengan perasaan sedih. Watik iri dengan kebebasannya. Dia mencoba meraihnya. Tapi, hanya ujung jarinya saja, yang hampir menyetuh sayap kupu-kupu pelangi.

Watik mengadu padanya. “Wahai, Kupu-kupu pelangi,” katanya. “Watik takut sekali. Watik tahu yang ada di pikiran ‘Mbak Nunik dan Bang Jupri. Malam Minggu kemarin, si Sadiah dibawa sama mbak Nunik dan bang jupri ke mami Santi. Sadiah disuruhnya kerja di perempatan Cengkareng. Pulangnya, Sadiah nangis. Katanya, dia dibawa pergi ke hotel sama om-om gendut.”

Kupu-kupu pelangi gelisah di pucuk alang-alang. Dia terbang rendah dan hinggap lagi.

“Apa yang harus Watik lakukan, Kupu-kupu?” Watik merasa takut.

Kupu-kupu pelangi mengepak-ngepakan sayapnya lagi.

“Watik nggak mau kayak Sadiah!” Watik menangis. “Watik takut sama si Udin. Sama pak Wahid. Takut sama Allah. Takut sama api neraka.”

Kupu-kupu pelangi terbang tinggi.

“Tunjukkan sama Watik seberkas cahaya-Nya!” katanya terisak.

Kupu-kupu pelangi terbang makin tinggi.

Angin berhembus kencang.

Alang-alang merunduk.

Kupu-kupu pelangi tak hinggap lagi.

Watik memilin-milin batang alang-alang. Dia menunggu kupu-kupu pelangi hinggap di pucuk alang-alang. Tapi tak kunjung tiba. Watik mengitari pandang; mencari-cari kupu-kupu pelangi. “Kupu-kupu pelangi? Di mana kamu?” dia bangkit. Dia duduk dan bersedih.

Watik merindukan kupu-kupu pelangi. Kedua matanya yang digenangi air mata memicing; mencoba mencari-cari seberkas cahaya di langit sana. Tapi, dia tak bisa melihatnya, karena sudah terbias oleh cahaya matahari yang mulai terik.

Angin makin kencang.

Alang-alang kini bersujud.

Watik berdiri. Dia berjalan di sela alang-alang yang hampir rebah tertiup angin. Rambutnya tergerai. Dia masih mencari kupu-kupu pelangi.

Hari makin siang.

Watik dirundung sedih.

Dia kehilangan kupu-kupu pelangi.

Kehilangan seberkas cahaya-Nya.

***

Watik bergegas menuju rumahnya di perkampungan padat di daerah Kalideres. Si Udin pasti mencarinya untuk pergi mengamen dengan minus onenya ke perempatan Grogol. Tapi yang dia dapati di depan rumahnya adalah mbak Nunik, yang sedang menyisiri rambut panjangnya yang basah.

“Ke mana aja kamu?” Nunik menyelidik.

“Abis main di lapangan, Mbak….”

“Sama siapa?”

“Sendirian…”

“Pasti sama si Udin!” hardiknya.

“Nggak, Mbak…..”

“Dia udah tau, kalau kamu dapet?”

Watik menggeleng.

“Mulai sekarang, kamu nggak usah ngamen lagi!”

“Sama Si Udin?”

“Sama siapa aja! Terutama Si Udin! Kalau dia tahu kamu udah dapet, bisa bahaya kamu maen sama dia!”

“Bahaya maen sama Si Udin?”

“Iya! Dia kan udah gede! Udah tujuhbelas tahun tahun sekarang! Pasti dia udah pernah nonton vi si di porno! Yang iklan sabun itu!”

“Terus, Watik kerja apaan?”

“Bawel! Udah! Ganti baju, sana!”

“Kan, yang ini masih bersih?”

“Cerewet kamu!”

Watik jadi takut kalau mbaknya sudah marah.

“Bajunya udah Mbak siapin di dipan!”

Watik mengangguk.

Jam sepuluh, kita ke rumah mami Santi! Bang Jupri tadi ke sini! Dia udah nilpon ke mami Santi! Kita ditunggu jam setengah duabelas!”

Mendengar nama mami Santi dan Bang Jupri, Watik berjalan dengan sedih ke dalam rumahnya. Rumah mereka. Rumah petak berdinding bata dan triplek.

Di dalam kamar mbaknya- Watik tidur di ruang tamu, baju yang harus dipakainya teronggok di dipan. Baju yang bagus. Watik ingat, mbaknya membeli baju itu sebulan yang lalu. Kata mbaknya, yang membelikan baju itu Mas Wawan, buruh pabrik di Tangerang. Watik bisa menilai, sebetulnya Mas Wawan lelaki yang baik dan bermaksud jadi pacar mbaknya. Atau kalau perlu menikahi mbaknya. Mas Wawan pernah mengutarakan maksudnya kepada Watik. Tapi mbaknya kelihatan acuh tak acuh. Hari ini mas Sunar, besok Om Ramdan, besoknya lagi Kang Wawan! Buat mbaknya, semua laki-laki diperlakukan sama saja. Yang penting bagi mbaknya, laki-laki itu berduit!

Watik mendekati dipan. Dirabanya baju mbaknya. Tangannya gemetar. Tiba-tiba saja berkelebatan masa lalunya. Hidupnya empat tahun yang lalu. Dia dan mbaknya masih tinggal bersama bapak dan ibu mereka di daerah Tanah Abang, di bantaran sungai Ciliwung. Rumah mereka terbuat dari papan. Atapnya kadang tak mampu menahan curahan hujan. Kalau banjir, rumah mereka pasti terbawa hanyut! Bapak mereka mati terbakar di mall saat kerusuhan Mei 1998 bersama bapak-bapak kawan mereka juga. Saat itu banyak orang bodoh dan miskin seperti bapak mereka, yang menjarah sembako di mall untuk makan. Tapi, bapak mereka kena kualat; mati terpanggang api!

“Bapak mati karena dibakar! Mbak lihat, kok! Ibu sebetulnya udah ngelarang Bapak masuk ke mol!” mbaknya pernah dengan marah nyeritain peristiwa kebakaran itu. “Tapi, Bapak tetep pergi!”

“Siapa yang yang ngebakar, Mbak?” Watik penasaran.

“Ssst…, kamu nggak perlu tau. Kalau pun tahu, kamu mau apa?”

Watik mengangguk, menuruti apa kata mbaknya.

“Kuburan Bapak juga nggak ada. Semua yang mati kebakar di mol-mol, pada diangkutin ke suatu tempat. Nggak tau di mana!” kata Nunik lagi masih dengan marah.

Ya, Bapak mereka kuburannya tidak ada. Kalau berziarah, mereka bersama ibu pergi ke mall, yang kini sudah dibangun lagi dan makin bagus saja.

Sepeninggal bapak, ibu banting tulang membiayai sekolah mereka. Pagi jadi kuli angkut di pasar Tanah Abang, siang jadi pengemis di stasiun kereta, dan malam keluyuran di Bongkaran, berharap ada lelaki nyasar yang mau memanfaatkan tubuhnya demi beberapa lembar ribuan! Tapi, ibu tak kuat lagi. Dua tahun lalu, ibu mati terkena penyakit miskin dan kelamin

Sejak kematian ibu, mbaknya mengajak Watik pergi dari Tanah Abang. Rumah mereka digusur untuk jalur hijau. Mereka hanya membawa tas sekolah dan beberapa lembar baju. Di antaranya ada seragam SD mereka; merah dan putih! Padahal mbaknya sudah kelas 6 SD dan Watik 2 tahun di bawahnya. Untuk makan, mereka jadi pengamen ecek-ecek di perempatan Grogol atau di perempatan Cengkareng. Mereka tidur di sembarang tempat. Kadang di bawah jembatan layang Grogol, di pasar Cengkareng, di emperan toko, atau di terminal Kalideres.

Setahun lalu, mbaknya kedapatan menstruasi. Hidup mereka berubah. Mbaknya tidak ngamen ecek-ecek lagi, tapi bekerja dengan mami Santi. Baru sebulan bekerja, mbaknya sudah sanggup menyewa kamar petak ukuran 6 kali 3 meter. Dengan ruang depan untuk menerima tamu plus tempat tidurnya beralaskan kaur busa tipis, satu kamar tidur untuk mbaknya, dan dapur kecil. Kamar mandi ramai-ramai dengan penghuni kamar petak lainnya. Pemilik kamar-kamar petak ini mami Santi. Walaupun sempit dan pengap, Watik bangga menjadi penghuninya ketimbang tidur di jalanan, yang sangat tidak aman, karena suka ada yang iseng nyingkapin roknya!

Mbaknya menyuruh Watik berhenti sekolah. Alasan mbaknya, selain tidak ada biaya, juga tak ada gunanya sekolah bagi mereka. Toh, ujung-ujungnya tetap kembali ke jalanan. Watik kecewa, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Kini yang berkuasa atas dirinya adalah kakaknya.

Lalu Watik menenggelamkan kepedihannya dengan mengamen ecek-ecek di perempatan jalan atau di bus kota. Atau sesekali ikut belajar di sekolah tempat penampungan anak-anak jalanan di pasar Cengkareng. Gratis. Yang ngajar kakak-kakak mahasiswa.

Dua bulan yang lalu, Watik berkenalan dengan si Udin, yang ngamen memakai minus one. Mereka bertemu secara tidak sengaja di atas bus. Watik yang hendak ngamen dengan ecek-ecek awalnya takut. Biasanya kalau di dalam bus ada pengamen seperti Si Udin, Watik memilih turun. Kalau tidak, dia bisa didamprat. Tapi, si Udin malah mempersilahkannya untuk ngamen. Ketika bus berhenti di perempatan Grogol, si Udin mengajaknya turun.

“Gue sering lihat lo!” kata Si Udin.

Watik tersenyum malu-malu.

“Rumah gue sama rumah lo cuma beda gang doang!”

Watik mengangguk-angguk, pertanda senang.

“Biasanya yang nyanyi si Ida. Tapi, dia balik kampung! Hamil!”

Watik mendelik.

“Bukan gue yang ngehamilin! Enak aja lo!”

Watik tersenyum lucu.

Lo mau gantiin si Ida?”

“Apa?”

“Lo ngamen ama gue!”

“Saya? Nyanyi pake gituan?” Watik menunjuk kotak yang diteteng si Udin.

“Iya! Gampang banget, kok! Ntar gue ajarin! Yang penting lo mau dulu. Ntar duitnya kita bagi. Lo dapet sepertiganya!”

Watik mengangguk mau.

“Tapi, ada syaratnya!”

“Kok, pake syarat segala?”

“Lo mesti rajin sholat!”

“Itu doang?”

“Lo mesti ikut pengajian di mesjid terminal sama Ustadz Wahid!”

Watik berpikir.

“Gimana? Mau, nggak?”

“Saya mesti bilang sama mbak Nunik.”

“Bilang sama mbak lo! Gue anaknya babe Romli!”

Dikabari begitu oleh Watik, mbak Nunik manggut-manggut. Siapa yang tidak kenal sama babe Romli, jagoan terminal Kalideres!

***

Tapi sekarang mbak Nunik melarangnya pergi mengamen bersama Si Udin. Bahkan mengaji di mesjid terminal Kalideres! Semua gara-gara dia menstruasi. Gara-gara dia bermetamorphosa; dari anak ke dewasa. Dia jadi wanita sekarang, karena sudah datang pada masa haid.

Watik betul-betul menyesal, karena mengalami menstruasi!

Tiba-tiba, “Heh! Kok, ngelamun!” hardik Nunik.

Watik kaget dan takut.

Lamunan masa lalunya buyar.

“Cepet, pake bajunya!” Nunik menarik ujung pakaiannya.

Nggak mau, Mbak,” Watik mundur.

Nunik kaget. Dia menatap Watik dengan tidak percaya. Matanya terbelalak. “Sejak kapan kamu nggak nurut sama Mbak?!” bentaknya marah.

Watik menunduk. Dia selalu tidak berani jika melihat mata mbaknya terbelalak.

“Ayo, pake!” Nunik melemparkan bajunya.

Baju itu membentur tubuh Watik. Sebelum jatuh, buru-buru kedua tangan Watik menahannya. Dipeganginya lama-lama baju itu.

“Cepet! Udah jam sepuluh, tau! Ntar macet lagi!”

“Tapi,Mbak….,” Watik menggeraikan baju mbaknya.

Nuniek tidak banyak bicara lagi. Dengan kasar dia menarik tubuh Watik. Dia menurunkan resleting di punggung Watik. Mempreteli pakaiannya. Sekilas dia melihat tubuh Watik, yang memang dambaan para lelaki hidung belang! Tapi kadang-kadang dia iri, kenapa Watik diberi wajah yang lebih cantik darinya. Diberi kulit yang lebih putih darinya. Diberi tubuh yang lebih indah darinya. Tapi, kalau dia ingat apa yang dikatakan almarhum ibunya tentang Watik, rasa iri itu berubah jadi benci! Ya, aku benci sama Watik! Kecantikan dan kemolekan tubuhnya, harus mendatangkan uang buatku! Terbayang sudah komisi dari mami Santi, yang akan masuk ke kantongnya. Aku capek jadi orang miskin! gerutu batinnya. Begitu setan membisiki kedengkian ke dalam diri Nunik.

“Ayo, pake baju ‘Mbak!” hardiknya kesal.

Watik menurut saja, ketika mbaknya memakaikan baju ke tubuhnya. Tapi dia merasa kelopak matanya hangat. Apalagi ketika dia melihat ke cermin! Dia melihat dirinya menjadi orang lain. Baju sack dress, baju terusan yang ketat dengan bagian atasnya yang terbuka. Ampuni aku, ya Allah! Dia merasa air mata hangat mengaliri pipinya.

“Lihat! Lihat, Watik!” Nunik dengan kasa mencengkram bagian belakang leher Watik. Juga mendorong tubuhnya, agar semakin mendekati cermin. “Kamu lebih cantik dari Mbak! Lebih seksi! Semua orang pasti menginginkan kamu! Dan kita akan kaya!” Nunik menyeringai seperti setan jahanam.

Watik kini terisak-isak! Di dalam hatinya, ada terselip perasaan aneh, kenapa tiba-tiba ada tanduk di kepala mbaknya! Kenapa dua gigi taring mbaknya menjulur ke luar dari mulutnya. Kenapa juga bola mata mbaknya merah menyala. Lidahnya terjulur bagai lidah api! Mengerikan! Dia jadi tidak mengenal mbaknya. Pada saat-saat seperti inilah, dia sangat membutuhkan seberkas cahaya dari langit. Tapi, kupu-kupu pelangi pemmbawa seberkas cahaya itu terbang entah ke mana. Oh, seberkas cahaya, datanglah pada kami! Terangi hati mbak Nunik!

Gimana? Udah pada siap?” tiba-tiba terdengar suara berat.

Watik seperti dipaku ke bumi. Dia makin membutuhkan seberkas cahaya itu untuk menerangi jalan hidupnya.

“Udah!” Nunik menyeret Watik.

Watik hampir saja terjatuh diseret Nunik. Dia hapal suara di pintu kamar itu. Dia melihat bang Jupri menyeringai! Wajah preman ini lebih mengerikan dari mbaknya.

“Lo kayak mangga mateng, Tik!” bang Jupri meremas pantat Watik.

Nunik melotot kesal. “Awas! Kalo lo macem-macem sama si Watik! Gue laporin sama mami Santi, tau rasa lu!”

Bang Jupri tertawa.

Tiba-tiba, tanpa mereka duga, sebuah benda berkelebat menghantam kepala bang Jupri! Preman yang sehari-hari buka warung sembako itu roboh ke lantai. Tak bangun lagi!

Nunik menjerit-jerit minta tolong.

Terdengar suara ribut di luar.

Watik tak mampu berkata-kata ketika lengan si Udin menyeretnya keluar!

“Ayo! Ikut gue!” Si Udin melindunginya seperti seorang pahlawan.

Tak ada seorang pun yang berani menolong, begitu si Udin keluar menarik Watik. Mereka hanya bisa melihat ke dalam rumah; dimana Nunik sedang membangunkan si Jupri. Darang mengucur dari kepala preman perempatan Cengkareng itu.

“Brengsek lu, Din!” Nunik memaki dengan panik. “Bang Jupri! Bangun, Bang!” dia membangunkan lagi.

Watik pasrah. Dia mengikuti saja ke mana si Udin membawanya lari. Dia merasakan udara kebebasan mampir ke rongga dadanya. Dia menghirup sekehendak hatinya.

Tiba-tiba Watik dan Udin melihat kupu-kupu pelangi menyembul dari rimbunnya alang-alang. Kupu-kupu pelangi itu memancarkan seberkas cahaya! Dia terbang rendah di atas kepala mereka. Watik berusaha menjangkaunya! Lengannya menggapai-gapai! Kupu-kupu pelangi itu terbang selangkah lebih maju; seolah jadi penunjuk jalan buat mereka! Seolah menjadi seberkas cahaya, yang menerangi jalan mereka!

Jalan lurus itu kini seperti terbentang di depan mereka! Benderang diterangi seberkas cahaya.

***

Angin sore menampar dengan keras.

Angin amarah.

Debu-debu yang dilewatinya berterbangan membentuk lingkaran yang makin lama makin membesar ke atas. Sepreti angin puting beliung. Segala macam sampah terbawa masuk ke pusarannya.

Hembusannya menyusuri gang-gang sempit labirin di perkampungan dekat terminal. Semua orang yang lalu-lalang di gang sempit meminggir, karena tidak mau tergulung oleh angin amarah! Mereka memilih cari selamat.

“Minggir, minggir!” hardik seorang kurcaci.

Orang-orang menurut; meminggir dengan wajah pucat pasi. Bikin ulah sedikit saja, mereka yakin hidup tak akan selamat. Mereka sudah hapal siapa yang datang bersama angin amarah di sore yang panas.

Jupri berdiri di tengah-tengah angin amarah. Perban membebat kepalanya. Wajahnya garang. Kedua matanya merah membara. Setan sudah merasuki jiwanya. Setiap dia melangkah, permukaan tanah yang diinjaknya seperti membekas oleh jejaknya! Tampak sekali setiap ayunan langkahnya sudah dikendalikan oleh iblis jahanam.

“Mana rumah babeh Romli! Mana!” hardik kurcaci yang lain.

“Biar mampus tuh orang!”

“Heh! Mau lari ke mana lo?” seorang kurcaci mencekal lengan seorang anak kencur.

“Ampun, Bang……,” anak kencur ini ketakutan. “Gue nggak tahu apa-apa!”

“Lo pingin selamat?” Bang Jupri mencekik rahangnya.

“Aah….,” si Kencur tidak bisa berbicara.

“Lo tunjukin rumah babeh Romli! Cepet!” Jupri melepaskannya.

“Sana, sana, Bang!” si Kencur menunjuk ke ujung gang. “Belok kanan. Yang banyak taneman hiasnya!”

“Sana, pergi lo!” seorang kurcaci menendang pantatnya.

Si Kencur lari terkencing-kencing.

Jupri kembali melangkahkan kakinya. Para kurcacinya membentengi. Akibat dari gerakan kedua kaki dan ayunan kedua tangannya mengakibatkan angin kemarahan yang luar biasa. Semua orang yang berpapasan langsung mengkerut nyalinya.

Bang Jupri sudah sampai di depan rumah yang banyak tanaman hiasnya. Rumah kecil yang cukup asri di tngah pengapnya perkampungan kumuh di belakang terminal.

Gimana, Bang?”

Jupri mengangguk dengan senyuman kejam terlukis di ujung bibirnya.

Lalu : braaaaak!

Pintu rumah babe Romli terbelah dua!

Para kurcaci menyerbu masuk.

“Apa-apaan lo! Masuk ke rumah orang main rusak!” babe Romli terlonjak dari dipannya. Dia sedang rebah-rebahan melepas rasa penat. “Kagak permisi lagi! Udah ngerasa jagoan lo!” dia tersinggung.

Jupri melompat masuk.

Babe Romli menghalangi tubuh si Jupri dengan mata merah menyala.

“Mana anak lo!” si Jupri bukan preman kemarin sore. Walau pun umurnya terpaut 10 tahun, dengan nyali besar dia mendorong tubuh babe Romli hingga terpental!

“Ngapain lo nyari anak gue?!” Babe Romli bangkit dan menatap tajam ke Jupri. Darahnya sudah sampai ke ubun-ubun.

“Lo liat perban ini, Be!” dia menunjukkan ke kepalanya yang diperban. “Anak lo punya kerjaan! Apa nggak bangsat dia!”

Babe Romli menatap Jupri dengan tajam. “Jadi, kepala lo bocor sama anak gue?” Dia tidak percaya, jika anaknya yang menyebabkan kepala preman perempatan Cengkareng itu diperban. Ada senyum kebanggaan muncul di bibirnya.

“Hm! Lu ngetawain gue, ya?!” Jupri tersinggung.

Babe Romli kini betul-betul tertawa.

“Anjing lo!”

“Heh! Lo ini kagak ada hormatnya ama yang tua, ya!”

“Babe kayak lo nggak perlu gue hormatin!”

“Mulut lo dasar kaleng rombeng!”

“Mana anak lo! Gue mesti kasih dia pelajaran!” Jupri meradang dan mengobrak-abrik kursi plastik di ruang depan.

Babe Romli tidak terima diperlakukan begitu. “Heh! Kalo pun anak gue yang bikin pala lo bocor, bukan berarti gue bakalan nyerahin anak gue sama lo!” Dia menjambret bagian belakang leher kemeja Jupri.

Tapi tanpa diduga, Jupri memutar lehernya dengan gesit. Tangan kanannya kini balik mencengkram lengan babe Romli. “Heh! Lo pikir gue takut ama, lo? Tua bangkotan! Udah bau tanah, lo!”

Babe Romli mengatupkan gerahamnya. Dia sedang menghimpun tenaganya untuk menahan plintiran tangan Jupri. Dia sadar kalau dirinya tidak muda lagi. Dia juga tahu kalau Jupri cukup ditakuti di kalangan preman. Khabar yang dia dengar, Jupri memiliki ilmu hitam! Tapi, untuk melindungi anaknya, dia rela mengorbankan apapun!

Akhirnya perkelahian antara babe Romli - si preman terminal, dengan si Jupri - preman perempatan Cengkareng, tak terhindarkan lagi. Jagoan tua versus jagoan muda. Pengalaman berbenturan dengan gelora muda.

Ternyata ilmu si Jupri lebih unggul dari babe Romli.

Kepalan tangan Jupri membentur rahang bawah babe Romli!

Bum!

Babe Romli terjengkang dan terkapar.

Bang Jupri berdiri sambil bertolak pinggang di atas tubuh babe Romli. Kaki kananya menginjak kepala babe Romli. Istri babe Romli yang baru datang dari pasar kaget dan shock! Dia memohon, agar Jupri mengampuni suaminya. Orang-orang tak bisa berbuat apa-apa, karena kroco-kroco si Jupri bersiaga di teras rumah babe Romli.

“Lo pilih mampus, ya?!” hardik Jupri.

Babe Romli masih punya nyali. Dia meludahi wajah Jupri dengan mata merah menyala. Jupri mengusap wajahnya yang basah. Dia menyeringai. Kaki kanannya berayun. Buk! Persis di ulu hati! Tulang rusuk babe Romli yang rentan tak mampu menahan tendangan jagoan muda itu. Babe Romli tersedak! Darah segar muncrat dari mulutnya.

“Astaghfirullah….,” nyak Romli menubruk kaki Jupri. “Ampuni Babe, Pri… Ampuni… Lo bukan lawan sebanding ama Babe….,” tangis nyak Romli merebak, bercampur dengan ratapan.

Jupri menghentakan kakinya. Tubuh wanita itu terpental. Babe Romli tidak bisa menerima istrinya diperlakukan demikian. Tapi, untuk berdiri saja dia tak sanggup.

“Gue tau, lo dalangnya! Lo yang nyuruh si Udin nyulik si Watik!” Jupri menarik tubuh babe Romli dan memepetkannya ke tembok. Sikut kanannya mengunci leher babe Romli.

Babe Romli merasa napasnya tersumbat. Matanya nyalang menatap Jupri. Terlukis di bola matanya yang kerus perasaan dendam.

Buk, buk, buk!

Kepalan tangan Jupri bersarang berkali-kali di tubuh tua itu.

“Lepasin babe, Jupri…. Lepasin…..”

Jupri tidak mempedulikan rintihan nyak Romli. Dia malah terus memborbardir tubuh babe Romli dengan tinjunya.

“Bang…, bilang sama si Jupri, kenapa….”

“Diem lo….”

Jupri menatap nyak Romlil. “Hm! Jadi Nyak tau di mana si Udin!” Kini Jupri beralih mangsa. “Bukannya lo ngomong dari tadi!” Tanpa mengenal belas kasihan, wanita malang itu dihajarnya.

“Allahu Akbar….!” wanita itu terjerembab.

“Bangsat lo, Jupri!” babe Romli seperti mendapat angin segar. Dia berhasil bangkit dan merangsek. Dia berhasil menghajar bagian belakang kepala Jupri. Tapi, karena tenaganya sudah habis, pukulannya tak berarti apa-apa.

Jupri membalik. Secepat kilat dan seperti petir menggelegar, tendangan kakinya menghantam rahang babe Romli. Tak puas dengan itu, Jupri menyergap lawannya yang sudah terlentang. Kepalan tangan kanannya teracung bagai godam!

“Jupri….., jangan…..,” nyak Romli merangkak penuh kesakitan.

“Awas…. Lo jangan bilang…….”

Nyak Romli menatap suaminya dengan perasaan pasrah. “Jupri… lepasin babeh, ya…..”

“Asal nyak mau ngomong, di mana si Udin sembunyi!”

“Iya, iya……”

Babe Romli menatap tajam pada istrinya.

Nyak Romli menghindar. Dengan hati pedih, dia memberi tahu di mana anaknya berada. “Tadi sih nyak liat……, Si Udin ke gedung bekas kebakaran Mei, yang di belakang terminal itu…. ”

“Sama si Watik?”

“Iya…...”

Babe Romli terbatuk-batuk dan berusaha melepaskan diri dari Jupri. Tapi, preman muda itu menghentakkan tubuhnya! Babe Romli terpental. Preman generasi tua itu mencoba bangkit. Tapi, Jupri menendang rusuknya.

“Mampus lo!” Jupri meninggalkan mereka dengan langkah pongah.

Nyak Romli memburu suaminya.

“Ahhhh,” babe Romli mengerang kesakitan.

Nyak Romli memeriksa tubuh suaminya sambil menangis. “Beh…, lo gak pa-pa kan……,” ratapnya.

Babe Romli menatapnya dengan marah.

“Maapin aye, Bang. Aye kagak mau Abang kenapa-napa….”

“Udin……, Udin…..,” babe Romli mencoba bangkit.

“Ikhlasin, Bang…..”

“Jupri!” teriak Babe Romli terluka. “Kalo anak gue kenapa-kenapa, lo urusannya ama gue!” dia mengingatkan Jupri.

Tapi Jupri hanya menoleh sambil meludah, “Puih!”

Lalu Jupri hilang, diiringi para kurcacinya.

***

Angin senjakala bertiup lirih; seolah mengabarkan duka nestapa ke dalam reruntuhan bangunan akibat Mei berdarah. Diam-diam terselip angin amarh di dalamnya. Akibatnya terasa sekali ketakutan menyelubungi bangunan itu. Gelap dan memilukan. Mencekam hati nurani dua anak bani Adam, yang bersembunyi di dalamnya.

“Gimana, Bang?” Watik ketakutan.

“Kita tetep ke rumah kakek gue di Pandeglang.”

“Sekarang aja, Bang….”

“Bentar lagi. Tanggung. Nunggu mahgrib dulu.”

“Watik takut, Bang…..”

“Kan ada gue.”

“Watik takut kehilangan Abang…”

Udin tertegun. Umurnya masih muda. Dia lulusan STM. Karena tidak ada biaya, tak bisa meneruskan kuliah. Akhirnya dia memilih jadi pengamen; denan harapan siapa tahu nanti uangnya bisa digunakan untuk kuliah.

“Bang…”

“Iya, Tik…”

Lalu bisu.

Angin bertiup kencang. Alang-alang merunduk. Pucuk-pucuknya bersentuhan; menimbulkan bisikan setan. Gelisah menerjang mereka.

“Bang….”

“Iya…..”

“Watik punya firasat jelek….”

“Kita berdoa sama Allah.”

Lalu hening. Mereka larut dalam doa keselamatan. Pada Allahlah mereka minta perlindungan.

“Harusnya tadi kita langsung ke terminal. Jangan mampir dulu ke rumah.”

“Gue mesti bilang sama nyak-babe. Gue nggak mau mereka kenapa-kenapa,”

“Tapi, akibatnya jadi gini. Kita nggak bisa ke mana-mana. Watik takut sama bang Jupri. Kalau bang Jupri nggak mati, dia pasti ngejar ke sini.”

“Bang Jupri nggak bakalan mati. Gue mukul kepalanya nggak keras-keras amat, kok!”

Watik tertegun.

“Membunuh kan dosa….”

Watik lebih tertegun lagi, ketika terdengar suara Bang Jupri menggelegar bagai petir.

“Udiiiin! Keluar lo!”

Udin langsung memepet ke tembok. Dia mencoba melihat keluar lewat lobang di tembok. Bang Jupri ditemani tiga orang kurcacinya! Bang Jupri sedang menyuruh mereka masuk ke gedung untuk mengepungnya.

“Gimana, Bang?” Watik gelisah.

Udin melihat ke Watik dengan wajah cemas.

Udah, nyerah aja, Bang!”

Udin terduduk. Dia menyender. Kedua matanya terpejam. Ya Allah, lindungi hambamu ini! Dia memohon petunjuk.

“Lo nyerah aja, Din! Lo udah dikepung! Lo nggak bakalan bisa ke mana-mana.”

Watik menangis. Suara hatinya menerobos reruntuhan ini; terus ke langit. Dia berharap, semoga ada seberkas cahaya yang membimbing dirinya dan Udin agar lepas dari kepungan Bang Jupri.

“Kalau lo nggak nyerah, gue bisa bikin mampu nyak sama babe lo! Tadi, mereka masih gue beri ampun!”

Udin marah ketika kedua orangtuanya dibawa-bawa. Dia langsung bangkit. “Lo apaain mereka, Bang!?” teriaknya marah.

Jupri tertawa, “Cuman gue kasih hadiah bogem aja!”

“Kalo ada apa-apa sama mereka, gue nggak segen-segen ngebunuh elo!”

“Nyali lo boleh juga!” telunjuknya menuding Udin.

Udin mendengar suara-suara. Dia melihat beberapa bayangan berkelebat dari arah belakang gedung. Dia tahu kalau dirinya sudah terkepung. Dengan berbesar hati, dia meraih lengan Watik. “Maapin gue, Tik. Gue nggak bisa ngapa-ngapain. Gue nggak bisa nyelamatin elo!”

Watik memeluk Udin. “Nggak apa-apa, Bang. Watik ikhlas, kok. Abang udah berusaha,” katanya paasrah.

“Cuma Allah yang bisa nolong kamu sekarang.”

Bebeberapa bayangan itu menyerbu Udin!

Watik hanya bisa menjerit.

Semuanya berlangsung dengan cepat. Para kurcaci itu memborbardir Udin. Awalnya Udin bisa berkelit, bahkan melontarkan serangan. Tapi, para kurcaci juga bukan anak kemarin sore. Di serang dari berbagai arah mata angin, Udin keteter.

Udin mengrang, merintih, dan darah segar menciprati bumi.

Watik menangis dan mengadu pada Allah.

Tiba-tiba Watik melihat kupu-kupu pelangi hinggap di jendela. Cahaya matahari senja memantul di sayapnya. Berkilauan. Oh kupu-kupu pelangi, bawalah kami terbang! Tolonglah kami!

“Ayo, ikut Abang!” Jupri menyeret Watik.

Watik tidak melawan. Dia pasrah. Dia melihat ke kupu-kupu pelangi, yang kini mengepakkan sayapnya dan terbang. Kedua bola matanya mengikuti ke mana serangga indah itu terbang. Ternyata dia hinggap di tubuh Udin yang tergeletak tak berdaya. Sekejap tubuh Udin diselubungi cahaya!

Ketika tubuh Watik diseret Bang Jupri ke luar dari reruntuhan gedung, kupu-kupu pelangi itu terbang mengikuti. Di pandangan matanya, tampak cahaya langsung membias dari kepakkan sayap kupu-kupu, sehingga kegelapan malam yang tadi runtuh menimpa dalam sekejap sirna sudah. Dia merasa terhibur. Dia merasa tentram. Dia merasa alam di depannya terbentang terang benderang. Tak ada rasa takut lagi di hatinya.

“Cepet, jalan lo! Lembek amat, sih!” bang Jupri makin keras menyeretnya.

Watik menengok; melihat tubuh Udin tergeletak tak berdaya di reruntuhan gedung. Di matanya, dia melihat tubuh Udin bergerak-gerak.

Sementara itu di dalam mobil, Arum tetap mengaduk-aduk jalanan di sepanjang Daan Mogot. Dia berharap bisa menemukan cucunya! Darah dagingnya. Dan dia juga berharap, akan muncul kupu-kupu pelangi yang memantulkan seberkas cahaya; terbang satu langkah lebih maju darinya! Nanti dia akan mengikuti ke mana saja kupu-kupu itu terbang. Dia yakin, kupu-kupu itu akan membawanya ke tempat yang dituju!

***

Bab Tujuh

GADIS PEREMPATAN JALAN

Watik merasa pedih hatinya, ketika Nunik memoleskan lip stick ke bibirnya. Selain sedih karena memikirkan nasib Udin, yang tergeletak tak berdaya di reruntuhan gedung itu, juga dia merasa menjadi sesuatu yang aneh. Ketika bibirnya seinci demi seinci mulai disapu pemerah itu, dia seperti sedang memasuki suatu wilayah yang panas membara. Suatu wilayah yang sering dikatakan Pak Wahid – guru ngajinya, penuh dengan iblis, hawa nafsu, uang panas, alkohol, serta sebutan sampah masyarakat. Suatu tempat yang penuh dengan noda dan dosa. Orang-orang yang berada di sana; ganjarannya pasti api neraka! Bahkan mereka adalah kayu bakarnya!

Tubuh Watik mengggil; kedinginan dan kepanasan. Oh, Udin! Mestinya kau di sini menolongku! Wajahnya kini bermake up tebal. Berbedak, berlip stick, dan alisnya digores dengan warna hitam pekat. Dia merasa seperti boneka badut. Dia jijik melihat wajahnya sendiri. Perutnya langsung terasa mual dan ingin muntah. Dia ingin sekali berlari ke kamar mandi dan mencuci wajhnya dengan sabun cuci, supaya terbebas dari tangan-tangan setan.

“Lihat, tuh!” Nunik menyeretnya untuk dekat berdiri di depan cermin.

Watik membuang muka. Perih, periiiih! Hatinya merintih. Dia tidak ingin wajahnya bermake up tebal. Dia hanya ingin melihat kulit wajahnya yang asli. Yang kata Udin “segar seperti buah tomat”! Tapi kini kulit wajahnya dipoles make up tebal oleh mbaknya. Tak ada lagi dirinya di sana. Yang tampak hanyalah kepalsuan dan kemunafikan. Dia sangat takut melihat dirinya seperti itu.

“Kenapa, kamu?!” Nunik mencengkram kepala Watik dengan kasar. Didorongnya kepala Watik lebih dekat lagi ke depan cermin. “Lihat! Lihat! Semua orang kepingin punya wajah kayak kamu! Kepingin punya buah dada yang besar kayak kamu! Badan seksi kayak kamu!”

Watik masih belum berani melihat ke cermin. Dia betul-betul takut cermin itu memantulkan bayangan wajahnya yang mengerikan. Tiba-tiba tangannya terkepal. Dia ingin sekali memukul cermin itu! Ingin menghancurkan bayangan setan yang menyeringai di sajna! Tapi, tangan Nunik mencekal kepalannya dengan keras.

“Heh, kenapa sih?!”

Watik tetap menunduk.

Nunik menjambak rambut di bagian belakang kepala Watik dengan kasar. “Kalau si Udin ngelihat, hah! Dia pasti bakalan nafsu banget! Disangkanya lo bintang film porno kali!” nada Nunik sinis.

Watik kini menatap mbaknya dengan penuh harap. Tentang cermin dimana dirinya tampak aneh lupakan dulu saja. Yang ada di benaknya adalah si Udin. “Mbak…, gimana Udin? Mbak pasti tau kan?” dia memohon.

Si Udin aja kamu pikirin! Biar dia mampus sekalian! Bang Jupri dilawan!” kata Nunik sewot. “Tau rasa dia!”

“Udin masih hidup ‘kan, ‘Mbak?”

“Masih hidup apa nggak, emang gue pikirin!” umpatnya kesal. “Udah, lupain tukang ngamen itu!”

“Tapi, Mbak…”

“Heh! Inget, ya! Kalau kamu macem-macem lagi, Bang Jupri nggak akan ngasih ampun! Ngerti kamu!”

Watik merasa kalah.

“Kamu harus nurut sekarang! Kamu harus jadi pabrik uang! Mbak bosen jadi orang miskin, tau!” katanya sadis.

Watik menutup kedua matanya. Dia terisak-isak. Air matanya mengalir, membentuk sungai di pipinya. Bedak yang menutupi wajahnya jadi kacau-balau. Topeng yang menutupi wajah aslinya jadi berantakan.

“Heh! Nangis lagi! Lihat, tuh! Jadi hancur bedaknya!” Watik membedaki lagi wajah Watik dengan kesal. “Dasar nggak tau diuntung!”

“Kenapa Mbak tega nyuruh Watik jadi pelacur?” tanyanya bergetar. Kedua matanya yang basah terbuka lagi.

“Heh! Denger, ya! Mulai saat ini, kamu nggak usah manggil ‘mbak’ lagi!”

Watik menoleh; melihat ke mbaknya. Dia merasa aneh ketika mendengar mbaknya berbicara seperti tadi. Nggak usah manggil ‘mbak’ lagi! Apa maksudnya ini?

“Apa kamu nggak ngerasa, kalau kita ini beda?” Nunik merasa kesal. Dia mencengkram bagian belakang kepala Watik dan mendorongnya lagi ke cermin. “Lihat! Lihat! Apa kita ini sama?”

“Mbak….”

“Jangan pura-pura bego kamu!”

Watik akhirnya melihat ke cermin. Dia menatap wajahnya. Lalu ke wajah mbaknya. Di sana tampak dengan jelas, bahwa dirinya lebih cantik dari mbaknya. Kulitnya juga lebih putih. Hidungnya juga mancung, berbeda dengan hidung mbaknya yang kecil dan mancung ke dalam.

“Lihat, lihat! Beda kan!”

“Mbak…..”

Aku ini bukan mbakmu!”

“Mbak…, kenapa Mbak ngomong begitu? Watik ini adik Mbak….”

“Heh! Apa selama ini Ibu nggak pernah ngomong sama kamu?”

“Maksud Mbak?”

“Dasar anak tolol!”

Watik memberanikan diri lagi menatap ke cermin. Dia meraba-raba wajahnya. Berbedakah aku dengan Mbak? Tiba-tiba dia melihat wajah mbaknya berubah jadi menyeramkan. Di kepala mbaknya muncul tanduk berwarna merah menyala; seperti besi panas! Bola matanya bahkan lebih seram; merah membara seperti bara api! Mulutnya basah dengan jilat menjulur meneteskan air liur kehijauan!

“Mbak………..,” Watik menggigil.

“Nih!” Nunik memegang bandul kalung “C” di leher Watik. “Baca, baca ama lo!” katanya dengan kasar menghentakkan bandul kalung itu hingga membentur dada Watik. Dia sudah mulai berbicara memakai bahasa jalanan.

Watik meraih bandul itu dan melihatnya. Dia tak pernah tahu apa-apa dengan kalung berbandul huruf “C” itu. Sejak dia lahir dan besar, kalung itu sudah ada di sana. Beberapa kali dia hanya pernah mengganti talinya saja. Bahkan terakhir kali, Udinlah yang mengganti tali kalung itu dengan kulit tanpa pernah menyinggung-nyinggung ada makna apa di balik bandul berhuruf “C” itu.

Tapi Nunik memberikan khabar yang mengejutkan sekaligus menyakitkan tentang bandul kalung itu. “Mungkin huruf ‘ce’ itu nama ibumu!”

“Mbak…, ibu Watik ya ibu mbak juga….”

“Nyokap nemuin lo hanyut di sungai! Lo masih bayi waktu itu! Pasti lo anak haram!”

Petir menggelegar mencambuk hati Watik!

“Nanti kita bicarain soal itu!” bentak Nunik kesal. “Sekarang, ayo jalan!” Nunik menyeretnya. “Udah jam tujuh, nih!”

Watik seperti kerbau dungu. Tak sanggup melawan. Cengkraman tangan Nunik seperti lilitan tangan-tangan raksasa bermata merah dan berlidah api; erat dan menyakiti kulit tangannya. Hatinya patah. Bahkan remuk redam. Aku dibuang ke sungai sewaktu masih bayi? Hati Watik merintih pedih. Anak haramkah aku? Watik berusaha membuah jauh pikiran-pikiran buruk di hatinya. Siapa tahu mbaknya asal bunyi saja.

“Loyo banget sih lo! Ayo, cepetan!” Nunik menariknya.

Watik terhuyung-huyung dan hampir saja terjatuh. “Mbak, betul Watik anak haram?” dia bertanya juga. Tak tahan dia memendam kegalauannya.

“Kalo lo bukan anak haram, kenapa lo dibuang ke sungai? Gila apa ortu kayak gitu! Maen buang anak!”

“Tapi, Mbak…”

“Jangan panggil lagi gue ‘mbak’!” potong Nunik berang.

Watik menangis pedih.

Di pintu rumah Jupri muncul. Dia langsung melotot; seperti hendak memangsa tubuh Watik. “Gile! Lo kayak bintang film, Tik! Asoy banget!” pujinya sambil menjilati air liurnya sendiri.

“Dasar!” Nunik memaki Jupri.

Jupri nyengir seperti kuda yang sedang penuh birahi. “Kenapa sih lo lindungin dia? Bukannya dia anak pungut nyokap lo?”

“Heh! Lo jangan samain die ama gue, ya!” Nunik menuding wajah Jupri. “Dulu, lo boleh merawanin gue, sebelum gue dilempar ke lampu merah! Tapi die!” Nunik menunjuk ke Watik. “Mami Santi udah wanti-wanti! Lo sentuh dia, urusannya bukan ama gue! Tapi ama bang Oten! Berani lo lawan dia?”

Bang Jupri menelan ludah, pertanda keder. Bang Oten sangat kondang di kalangan preman. Dia punya nyawa delapan. Pernah diberitakan tewas saat tawuran antar preman di Tanah Abang, ternyata muncul di Kali Jodoh. Lalu dikabarkan tewas dalam kerusuhan Ketapang, malah nongol jadi orang kesayangan Mami Santi.

“Heh, kok diem? Takut lo sama Bang Oten?” Nunik memanas-manasi.

Bang Jupri Cuma nyengir seperti kuda. Tapi sekedar untuk pelampiasan, tanpa ragu-ragu, dia memegang pantat Watik. “Makin seksi aja lo!” katanya kasar. Bahkan meremas pantat Watik,.

Tentu saja Watik bereaksi. Dia menepiskan lengan bang Jupri.

“Lepasin tangan lo!” hardik Nunik. “Dasar buaya lo!”

Jupri melepaskan pegangannya. Tapi matanya masih menyiratkan hasrat primitifnya kepada Watik.

***

Matahari jatuh di langit barat Jakarta. Jatuh sejatuh-jatuhnya. Tak ada yang mampu menahan bola api raksasa itu. Seperti juga lampu merah yang harus menggantikan lampu hijau. Saat itu tak ada yang mampu menahannya.

Ya, lampu merah menyala.

Semua kendaraan harus berhenti. Tak peduli itu kendaraan dengan merek apa dan harga berapa. Semua harus berhenti mematuhi aturan itu; jika lampu merah di perempatan jalan menyala. Yang melanggar, bunyi pluit Pak Polisi di sudut jalan sudah siap menghadang. Atau kata makian dari kendaraan lain. Atau lagi kalau sial, resiko tabrakan akan muncul. Kini yang harus dipikirkan, ketika nanti lampu berganti hijau, kita akan mengambil arah ke mana? Belok kiri, belok kanan? Atau terus saja? Atau tak punya tujuan? Hati-hati juga, tengok kiri-kanan, karena kejahatan akibat kemiskinan kadang memunculkan gigi-gigi taringnya!

Di Jakarta, perempatan jalan dan lampu merah bukanlah perhentian yang menyenangkan. Kadang orang-orang berharap di Jakarta tak perlu lagi ada perempatan dan lampu merah, sehingga tak akan ada lagi kecemasan. Begitu juga dengan matahari yang jatuh di langit barat. Jika sudah begitu, di beberapa sudut Jakarta akan tersapu oleh kegelapan atau bayang-bayang hitam. Lampu merkuri tak mampu menjangkau sampai sejauh itu. Di sanalah kejahatan bermukim dan sedang mengasah ketajamannya. Beberapa saat kemudian, mereka akan menyebarkannya dalam bentuk teror!

Tapi matahari jatuh di langit barat dan lampu merah menyala di perempatan jalan tak akan ada yang sanggup menahannya. Itu sudah aturannya. Seperti halnya siang dan malam. Hanya orang yang berani dan terdesak saja, yang mengisi hidup di antara kegelapan dan kegelisahan akibat teror kemiskinan. Mereka bergentayangan di antara gedung-gedung pencakar langit dan lampu jalanan, yang langsung berhias dengan lampu-lampu merkuri. Pilihan yang diambil mereka untuk menyambung hidup beragam; dengan cara putih atau hitam. Dengan cara yang diharamkan atau dihalalkan.

Seperti juga para wanita yang menais rezeki di perempatan jalan. Mereka memcoba memanfaatkan lampu merah yang menyala untuk menjebak para mangsanya; dengan bau parfum, senyum gincu, dan lekuk tubuh mereka yang dibalut busana super ketat serta serba minim.

Sekarang pun lampu merah menyala.

Mobil-mobil yang bermerek dan keluaran terbaru, serta tak bermerek dan keluaran lama berhenti. Berjejer. Para wanita perempatan jalan berlenggak-lengok di trotoar. Tubuh mereka yang diumbar diciprati lampu merkuri, berwarna-warna dan mengundang lidah untuk mencicipinya.

Arum berada di dalam mobil. Dia duduk di jok belakang mobilnya; mencoba menguliti keremangan lampu merkuri di setiap perempatan jalan. Dia berharap kedua bola matanya berhasil menyibak misteri belantara Jakarta. Di mana kau, cucuku! Batinnya hanya bisa berteriak. Tapi, tak ada yang bisa mendengarnya kecuali Tuhan. Teriakannya terpental lagi ke tubuhnya. Dinding dan kaca mobilnya tak mampu melemparkannya ke jalanan. Dunia di luar mobilnya sangat gemuruh dan bergegasan; siap melindas apa dan siapa saja yang lemah.

Pak Rahmat yang setia menemaninya hanya bisa menghitung uban di kepalanya, yang bertambah terus. Entah sudah berapa perempatan jalan mereka lewati. Sudah berapa lampu merah mereka rasakan. Sudah berapa puluh ribu jam terbuang di kubangan-kubangan kemacetan lalu lintas. Kedua kakinya hampir tak bisa membedakan lagi mana pedal gas dan kopling. Semuanya sudah secara reflek menginjak; menjadi suatu keharusan berdasarkan naluri.

“Sudah berpuluh kali kita melewati perempatan jalan di Daan Mogot,” Arum melontarkan napasnya.

“Nggak apa-apa, Bu. Namanya juga kita sedang berusaha.”

“Atau mungkin ratusan kali ya, Pak…..”

“Iya, Bu…”

“Tapi, saya tak pernah melihat anak perempuan, yang memakai kalung berbandul ce, Pak…”

“Kalau saja Anton masih bersama kita, Bu.”

“Iya. Mungkin Anton bisa memastikan, apakah kalung itu masih menempel di leher si bayi apa tidak, ” Arum mengeluh. “Apa di hotel tempat Anton menginap, nggak ada orang yang tahu ke mana Anton pergi? Siapa tahu dia pernah bilang sama office boy? Atau sama front officenya?”

“Saya sudah tanyain semua orang di hotel, Bu. Hotelnya juga kecil. Jadi, pegawainya nggak banyak. Mereka tahu kapan Anton check out. Tapi, mereka nggak tahu ke mana Anton pergi.”

“Ya, kayaknya kkita harus sabar, Pak. Itulah kuncinya. Saya yakin, Allah pasti berpihak pada orang-orang yang sabar.”

“Insya Allah, semuanya akan berakhir dengan baik, Bu.”

“Ya, insya Allah….”

“Allah ‘kan sudah menjanjikannya, Bu.”

“Pak Rahmat mungkin sudah bosan saya ajak keliling-keliling terus.”

“Tidak, Bu.”

“Betul?”

Lampu hijau menyala.

Pak Rahmat termenung sambil menjalankan mobilnya. Dia masih ingat peristiwa di saat hujan deras itu. Dari dalam mobilnya dia melihat Tuan Bram menyeret Cindy, yang sedang hamil 8 bulan. Lalu dia membawa Tuan Bram dan Cindy ke klinik. Di klinik itu dia melihat kupu-kupu pelangi yang memantulkan seberkas cahaya. Dia tahu, bahwa Tuhan sedang memberi peringatan kepadanya.

“Pak Rahmat?”

“Saya justru yang paling merasa berdosa, Bu.”

“Saat itu kita memang sedang khilaf, Pak. Itulah kenapa kita melihat kupu-kupu pelangi, yang memancarkan seberkas cahaya. Alhamdulillah, kita termasuk yang disayang oleh Allah dengan diberi peringatan oleh-Nya.”

“Ya, kupu-kupu pelangi yang memantulkan seberkas cahaya. Saya ketika melihatnya pertamakali, Bu…, sangat takut sekali.”

“Saya juga, Pak.”

“Itu pengalaman yang sulit saya lupakan. Mungkin nggak akan bisa saya, Bu.”

“Yah. Tidak semua orang bisa mengalami peristiwa itu, Pa. Tapi, sudahlah, Pak, jangan membicarakan masa lalu lagi…”

CIIIIT!

Tiba-tiba saja Pak Rahmat mengerem dengan mendadak. Mobil belum lagi jauh dari perempatan jalan.

“Allahu Akbar!” tubuh Arum terlonjak ke depan.

“Maaf, Bu, maaf…”

“Ada apa tho, Pak?”

“Itu, ada mobil berhenti mendadak.”

Arum merendahkan kepalanya; mencoba melihat lewat jendela depan. Sebuah mobil berhenti melintang menghalangi jalan. Beberapa gadis perempatan jalan yang berdandan menor merubung mobil itu.

“Astagfirullahaladzim….”

“Coba diteliti, Bu…..”

“Diteliti?”

Pak Rahmat tak meneruskan lagi usulannya. Dia merasa tidak enak. Tapi, Arum tak urung terpengaruh juga.

“Maafkan saya, Bu….”

“Iya, saya mengerti. Ada betulnya juga, Pak.”

“Yang saya dengar, anak-anak perempuan yang siang harinya ngamen, malamnya ganti profesi jadi wanita nakal. Saya membacanya di koran, Bu….”

“Ya Allah…, berilah perlindungan pada cucuku,” Arum memohon pada-Nya. “Jangan sampai dia seperti mereka…”

Pak Rahmat ikut mendoakan juga dalam hatinya.

“Coba, pinggirkan mobilnya, Pak…”

“Baik, Bu….”

Baru saja Pak Rahmat meminggirkan mobilnya, tiga orang gadis perempatan jalan menyerbu. Mereka mengetuki kaca mobil dan mencoba melihat ke dalam; memeriksa apakah penumpangnya bisa mereka rayu atau tidak. Pak Rahmat mencoba menyuruh mereka pergi dengan mengibas-ngibaskan tangannya.

“Biarkan saja, Pak,” kata Arum. “Biarkan mereka mendekat. Dengan begitu, saya bisa lebih leluasa melihat, apakah cucu saya salah seorang di antara mereka.”

“Oh, baik, baik, Bu….”

Arum meneliti para gadis perempatan jalan dari dalam mobilnya. Dia tak menurunkan kaca jendekanya. Dia hanya mengelus dada melihat cara berpakaian mereka yang cenderung mengobral tubuhnya. Dia berdebar-debar melihat tingkah laku mereka yang seronok dan sengaja mempertontonkan lekak-lekuk tubuhnya.

“Buka dong, Mas….,” yang berambut sebahu mengetuki kaca jendela.

Gadis berrok mini mendekatkan wajahnya ke kaca mobil. Dia berusaha melihat ke dalam. “Aduh, ternyata te ge!” teriaknya genit.

“Es te we kali!” timpal temannya, yang memakai t-shirt ketat sebatas dada, sehingga bagian perutnya kelihatan.

“Nggak apa-apalah! Yang penting ‘kan duitnya!”

“Kita juga terima kok, Tante! Dua warna!”

“Kita bisa kok a ce de ce, Tante!”

“Asal bayarannya oke, Tante!”

Tawa cekikikan mereka mewarnai perempatan jalan. Bau mulut dan tubuh mereka menyengat ke mana-mana.

Pak Rahmat gelisah. Dia merasa tak nyaman lagi duduk berlama-lama di mobilnya. Suasana perempatan jalan sangat meresahkannya. “Bagaimana, Bu?” dia memberanikan diri bertanya.

“Tidak ada, Pak,” katanya antara sedih dan haru. Sedih hatinya, karena dia tak menemukan cucunya di sana. Merasa penuh haru, karena cucunya tak berada di antara para wanita penjaja diri itu!

“Ibu masih mau di sini?”

“Tidak, Pak. Jalan saja…..”

Pak Rahmat menekan pedal gas lagi dan memindahkan perseneleng ke depan. Mobil pun menluncur pergi. Para gadis perempatan jalanan meminggir memberi jalan sambil menggerutu.

“Mas, Mas! Tunggu!”

“Wah! Tak kasih diskon, deh!”

“Yaah! Alamat sepi deh malam ini!”

Tiba-tiba dari warung kaki lima, ada pengamen jalanan yang duduk menghadapi siternya. Pengamen itu sudah tua. Dia memakai blankon. Dia memetik siter dan bernyanyi. Suara seraknya melagukan tembang Jawa:

Yen ing tawang ana lintang, cah ayu

aku ngenteni sliramu

marang mega ing angkoso

sun takoke pawartamu

janji-janji aku eling, nimas

rungo kna tangis ing ati

lintang-lintang ngiwi-iwi

ngenteni bulan dadari

……………………………………….

(di langit ada bintah, anak cantik

aku menunggu kamu

kepada awan di angkasa

aku tanyakan beritamu

janji-janji aku ingat, Sayang

dengarkan tangisan di hati

bingtang-bintang menggoda

menunggu bulan purnama)

………………………………………

Para gadis perempatan jalan itu saling pandang dan memasang wajah kesal. Mereka serentak menoleh dan berteriak, “Pak Marto, bisa diem ngaaaaak? Lagi sepi, niiiiih!”

***

Suara siter Pak Marto di warung kaki lima terdengar merdu; mengiringi beberapa gadis, yang berlenggak-lenggok di seputaran perempatan jalan. Mereka seolah para peragawati yang sedang memperagakan busana pantai. Pakaian yang dikenakan sangat ketat dan bahannya serba sedikit, sehingga lekuk tubuh mereka mencolok mata..Warna-warna pakaiannya mencerminkan kebebasan dan sangat mencolok di bawah siraman lampu merkuri. Satu dua ada yang memanfaatkan cat walk dengan berdiri persis di bawah lampu merah. Bibir mereka rata-rata bergincu tebal. Mereka tidak segan-segan mengerling atau melontarkan wangi parfum tubuhnya ke para pengendara motor atau pun mobil. Mereka seolah menawarkan jalan keluar dari kepenatan hidup. Itu sebagai cara mereka untuk menjebak para korban. Mereka harus mendapatkan mangsa malam ini. Jika tidak, berarti masalah keuangan akan mampir ke dapur mereka

“Jalan-jalan, Mas…..,” terdengar suara renyah manja

“Iya, nih!” si hidung belang mengerling penuh nafsu.

“Mau ditemenin?” si manja membelai wajahnya.

“Mau banget!” si hidung belang sudah tak tahan lagi.

Si manja tanpa banyak bicara menggandengnya. Si hidung belang membiarkan dirinya diseret ke gang-gang sempit dan berakhir di kamar-kamar sumpek dengan dipan dan tikar bau. Mereka mencipratkan bercak-bercak moral purba, yang hanya seharga sepotong baju atau sepiring makan siang di franchise.

“Mampir sini, Mas….,” kali ini yang memakai kaos sedada mengobral jaringnya; berharap akan ada yang terjerat.

Para pengendara ada yang meminggirkan motor dan mobilnya dan ada yang hanya melambaikan tangannya saja pada para penjual surga dunia itu. Mungkin saja mereka takut pada istri, pada dosa, pada Tuhan, pada penyakit kelamin, atau hanya karena mereka sedang tak punya uang saja.

Kehidupan malam di perempatan jalan itu menusuki hati Watik. Dia terpaksa haus jadi penghuninya, karena ancaman Bang Jupri.

“Lo masih perawan, Tik!” Bang Jupri menjilat air liurnya. “Harga lo bisa mahal!”

Watik merintih pedih.

“Kalau dulu, mbak lo itu gue yang merawanin. Mestinya lo juga gue yang merawanin. Tapi, Mami Santi pinginnya perawan lo dijual ama boss-boss berduit! Gue bisa jual lo punya perawan jutaan! Gue bakal dapet komisi banyak!” tawanya meledak.

“Watik nggak mau, Bang…..”

Percuma lo nangis juga! Nggak ada gunanya! Mbak lo aja nggak peduli, karena lo emang bukan adik kandungnya! Ternyata lo anak pungut, ya! Gue baru tahu kemaren malam! Pantesan lo beda banget sama si Nunik.”

Watik hanya bisa merintih sedih.

“Wah, kalau si Udin, pacar lo yang sok jagoan itu tau lo anak pungut! Bisa-bisa lo dikejain dia kali! Atau, jangan-jangan lo udah dikerjain die, ya? Wah, brengsek juga tu anak! Udah mampus kali tuh anak!”

Watik terisak-isak. Dia tak sanggup membayangkan kelanjutan hidupnya tanpa si Udin. Dia tak bisa memungkiri perasaan hatinya, bahwa ada perasaan sayang menyelinap ke dalam hatinya. Rasa cinta. Rasa sayang. Di sisi Udin, dia memang merasakan kedamaian. Merasa terlindungi.

Udin, di mana kamu sekarang? Semoga kupu-kupu pelangi membimbingmu ke tempat yang terang dan aman. Aku tahu kamu masih hidup. Aku tahu sekarang kamu berada di tempat yang aman. Pergi, pergilah kamu, Udin! Aku yakin, suatu saat kelak, kamu akan datang padaku atas seijin-Nya! Aku tahu, jika setiap saat aku meminta pada-Nya, pertolongan itu akan datang!

“Heh! Bengong lagi lo!” Bang Jupri membentaknya. “Lo tungguin di sini, ya!” dia menyuruhnya agar tak tampil mencolok dulu. Untuk transaksi pertama, Bang Juprilah yang mengatur. Preman itu berlari ke arah perempatan. Dia kini sedang berbicara dengan seseorang yang mengemudikan sedan mewah.

Watik masih memikirkan perjalanan hidupnya. Jika malam ini ada seorang lelaki hidung belang membawanya ke suatu tempat dan harus melayani nafsu bejatnya, dia tak penah bisa membayangkan kelanjutannya! Ya Allah, berilah hamba pertunjuk-Mu! Lindungilah hamba! Kirimkanlah kuasa-Mu padaku!

Kini Watik hanya bisa pasrah saja. Dia berdiri di dekat sebuah ruko yang sudah tutup. Di bawah lampu neon; menunggu pertolongan dari Tuhan. Tubuhnya berwarna keperakan karena dipayungi cahaya lampu neon. Dia tak pernah menyadari jika beratus pasang mata dari dalam mobil menatapnya; menguliti tubuhnya. Ada yang hanya bisa menelan air liurnya, ada yang beristighfar sambil menyayangkan kenapa harus ada di situ, dan ada yang mengumpatnya sebagai sampah masyarakat.

Watik tak menyadari itu semua. Juga orang-orang pun tak pernah menyadari, kalau di hati kecilnya ada rintihan panjang. Dia ingin berlari dari tempat itu. Berlari menjauh. Berlari entah ke mana. Mungkin mencari-cari seberkas cahaya, yang bisa membawanya pergi. Oh kupu-kupu pelangi, di manakah kau? Bawalah aku ke tempat-Nya!

“Watik! Tik!” bang Jupri memanggilnya.

Watik terkesiap. Darahnya seolah membeku. Dia menengadah, berharap langit tidak runtuh menimpanya.

Lo udah dapet pembeli!” serunya menjawil pipi Wtik. “Boss!” jempol tangannya diacungkan. “Dia nawar lo gede banget! Dua malem!” dia berjingkrak-jingkrak mengelilingi Watik. “Lo bakal dibawa die ke Anyer! Ke villanya!”

Watik diam saja.

“Tadi itu supirnya. Dia disuruh bossnya nyari perawan ting ting kayak lo!”

Watik merasa nasibnya terlepas dari genggamannya. Jatuh menggelinding ke jalanan dan hancur dilindas roda-roda kendaraan.

“Lo nunggu di warung, sana!” Bang Jupri menunjuk ke sebuah warung kaki lima di mana Pak Marto sedang memetik siternya.

Watik menurut saja. Dia melangkah dengan gontai. Petikan siter Pak Marto mengiringinya dengan sendu. Lelaki tua itu seolah mengerti perasaannya. Beberapa gadis sepertinya berpapasan. Mereka menatap sinis pada Watik. Hal itu biasa terjadi di antara mereka. Jika ada yang baru, yang lama pasti merasa tersisihkan. Jika datang yang lebih muda dan segar, yang tua dan keriput merasa dibuang.

Watik duduk di bangku warung kaki lima. Mak Encup tersenyum ramah menyambut kedatangannya. Watik juga teresnyum pada Mak Encup. Juga pada Pak Marto, yang duduk di atas selembar potongan kardus. Jari-jari pengamen tua itu dengan lincah menari-nari di atas dawai siter. Di depannya tergeletak peci hitamnya yang sudah lusuh. Beberapa logam seratusan menggunduk di sana. Ada juga selembar uang kertas lima ratusan.

“Ngopi, Neng?” Mak Encup menawarkan dagangannya. Warung ini hanya ada pada malam hari saja. Sebuah meja kecil dan 1 bangku panjang. Di atas meja ada beberapa gelas, mangkok, kopi, mie rebus, toples berisi gula dan kopi, dan termos, serta beberapa slop rokok yang ditumpuk. Kompor kecil teronggok di tanah.

Watik menggeleng lemah. Wajahnya menunduk. Setetes butiran air mata jatuh ke pangkuannya; persis di telapak tangannya. Dia menggenggam lengannya, mencoba merasakan hangat air matanya. Dia merasa berada di ujung tebing; sekali saja angin menerpa, dia akan terjun bebas ke dasarnya! Api neraka akan menunggunya di sana! Ya Allah, kuatkanlah iman hamba!

“Neng nangis, ya?’ Mak Encup menebak. “Biasa itu, Neng.”

“Pasti masih baru, ya?” Pak Marto nimbrung sambil terus memetik siternya.

Watik mengangguk sedih.

Mak Encup menyodorkan minuman mineral gelas. “Ntar juga biasa, Neng. Ayo, minum. Nggak usah bayar dulu. Ntar-ntar kalau udah dapat pelanggan, baru bayar.”

Watik mengambil minuman gelas itu. Dia membuka plastiknya yang erat melekat. Meneguknya sedikit.

Dulu Mak juga kayak Eneng.Wah, udah lama sekali. Emak ke sini dibawa sama pacar Emak. Janjinya sih mau diajak kerja di kantor. Taunya, Mak dimasukin di Kramat Tunggak… Di sana itu… deket Tanjung Priok. Sekarang sih udah digusur. Mau dijadiin Mesjid katanya.

“Mestinya kowe jangan mau!” Pak Marto tertawa meledek.

“Lha, nggak mau gimana coba! Pacar Emak udah merawanin Emak, Neng! Ya udah, Emak nggak bisa ngapa-ngapain. Mau pulang kampung juga malu. Udah terlanjur selametan segala, mau kerja di kota.”

Watik meneguk lagi minuman mineralnya. Dia mendengar cerita pemilik warung kaki lima ini dengan perasaan campur aduk.

“Neng…..,” Mak Encup tidak meneruskan kalimatnya.

Watik mendongak.

“Mak pesen, kalau mau ‘maen’, pake kondom. Sekarang kan banyak penyakitnya. Apa itu namanya…. Di ti pi Emak sering lihat, tuh!”

“Eid’esss, Mak!” tiba-tiba bang Jupri muncul sambil memonyongkan bibirnya. “Tulisannya ‘A – I – De – Es’. Singkatannya, nggak tau! Emang gue pikirin!”

Watik kembali gelisah ketika melihat Bang Jupri sudah berdiri di belakangnya.

“Heh, lo tau nggak! Emak baca di koran…”

Jupri memotong sambil tertawa, “Emang Mak bisa baca koran!”

“Heh! Jelek-jelek juga Emak lulusan SMP! Bisa baca! Matematik Emak tujuh! Makanya Emak pinter dagang!”

Pak Marto tertawa juga. “Terusin ceritanya, Mak! Penyakit serem itu!” lanjutnya.

“Nih, dengerin ya, Neng! Orang Jakarta yang kena ha i ve, itu...., virus penyakitnya eids yang mematikan itu… udah seribuan lebih. Sampai tahun kemarin nih, ada sembilan puluhan orang yang meninggal! Serem nggak, tuh!”

Watik gelisah dan ngeri mendengarnya.

“Lo nggak usah khawatir, Tik! Boss yang mau ngebawa lo ke Anyer ini bersih! Kopi, Mak! Pahit!”

Mak Encup dengan sigap mengambil gelas dan menyendok kopi.

“Orangnya kaya, Mak! Tau sendiri! Nggak pernah jajan sembarangan. Belon vitaminnya!” Bang Jupri sangat gembira. “Pak Marto! Ayo! Nyanyiin Bengawan Solo!” pintanya sambil merogoh saku celananya. “Nih! Bonus dari gue!” selembar lima ribuan dilempar ke peci.

Pak Marto merogoh pecinya. Uang kertas itu dikecupnya berkali-kali. “Matur nuwun, matur nuwun, Bang Jupri! Baik sekali kowe malam ini.”

“Gue bakal dapet bonus gede malem ini!”

“Wah, bonus gede, ya. Kalo gitu, tambahin dong.”

“Enak aja! Udah, cepet nyanyiin!”

“Iya, iya,” Pak Marto tertawa terkekeh-kekeh. Lalu dia dengan penuh semangat memetik siternya. Dari mulutnya keluar nyanyian “Bengawan Solo”.

Bang Jupri tampak sangat menikmati lagu kenangan itu.

“Eh, Jupri!” Mak Encup nyerobot sambil menyeduh kopi. “Lo mestinya ngerawatin dan ngejagain cewek-cewek lo. Kan nyegah itu lebih bagus daripada ntarnya kena!”

“Iya, iya, Mak! Tapi, boss ini pasti nggak bakalan mau!”

“Ya lo omongin, dong!”

“Lagian kalo pake gituan, ntarnya nggak sip!”

“Nggak sip, nggak sip! Kalo udah kena, tau rasa lo!”

“Udah, Mak! Nggak usah nyampurin urusan gue, deh. Mendingan Emak ngurusin kopi aja, deh! Cepet, udah jadi belon! Yang pahit!”

“Dasar lo! Susah diomonginnya! Nih!” Mak Encup nyodorin segelas kopi.

Bang Jupri menyeruput kopinya dengan nikmat. Bahkan kedua matanya terpejam.

“Lo tahu ‘kan si Tina? Dia tuh kena! Sekarang, siapa yang repot? Lo juga ‘kan!”

“Alah, biarin aja! Lagian si Tina itu udah tua! Sekalian mampus aja, dah!”

“Mana bisa lo jadi ‘papih’ kayak si Hartono itu, kalo lagak lo kayak gini. Amatiran tau nggak lo! ‘Mbentar lagi juga, pelanggan-pelanggan lo bakal kabur. Soalnya, cewek-cewek bawaan lo penyakitan semua!”

“Bawel amat sih Emak kita ini!”

Watik bergidik juga mendengar percakapan Emak Encup dan Bang Jupri. Ketika dia masih ngamen sama si Udin, dia sering juga numpang baca di kios koran milik Bang Ipin. Dia pernah membaca tentang penyakit AIDS yang membahayakan itu. Bahkan dia juga membaca, beberapa artis Indonesia dan mancanegara yang suka gonta-ganti pasangan terkena penyakit mematikan itu

Lagu “Bengawan Solo” masih terus berkumandang dari mulut renta Pak Marto. Jari-jarinya yang hitam kurus dengan lincah menari-nari di dawai siter.

“Mak, Mak! Ada Kamtib, Mak! Cepet beresin dagangannya, Mak!” tiba-tiba seorang tukang ojek berteriak-teriak dari motornya.

***

“Pamong Praja?” Mak Encup, Bang Jupri, dan Pak Marto secara berbarengan saling pandang.

Tukang ojek itu berhenti. “Bawa yang penting-penting aja, Mak!” perintahnya. “Cepetan, Mak!”

“Gawat! Ada razia! Bisa batal bonus gue!” Jupri panik.

Watik hanya bisa menatap mereka dengan penuh tanda tanya.

“Waduh! Kok, ada pembersihan, ya! Biasanya lo tahu, Pri!” Mak Encup seperti sudah mengerti apa yang harus dilakukannya. Slop-slop berisi rokok, toples gula dan kopi dimasukan secara acak ke dalam dus-dus. Semuanya dia lakukan dengan sangat cepat.

“Aneh juga! Kok, nggak ada yang ngebocorin ama gue! Sialan!“ Jupri makin panik. “Heh, Jali! Yang bener lo ngomong?!” teriaknya menuding si Ojek; antara percaya dan tidak.

“Yee! Dibilangin ada operasi! Nooooh! Mereka lagi ngangkutin yang di Pesing sono!” teriak Jali. “Ayo, Mak! Cepet!”

“Die si Jali! Anak Emak yang nomer satu. Belon kawin!” Mak Encup mempromosikan anaknya pada Watik sambil mengangkut dus-dus ke motor anaknya. “Ntar-ntar Emak kenalin, ya!”

Watik mengangguk dan bangkit. Dia melihat ke sekeliling. Kini suasananya sudah tidak tenang lagi. Beberapa gadis perempatan jalan tampak panik dan berlarian seperti anak ayam kehilangan induk. Pak Marto pun mulai membenahi diri. Peci lusuhnya – setelah uangnya dia raup dan dimasukkan ke saku celananya, dipakai di kepalanya. Kardusnya dilipat. Siternya dijinjing. Tanpa banyak bicara, pengamen tradisional itu melenggang pergi. Bonus dari si Jupri sudah lebih dari cukup untuk bekal sarapan pagi besok.

“Ayo, Mak! Cepetan!” si Jali membereskan dua tumpuk dus di sela-sela dua kakinya.

“Iya, iya!” teriaknya. “Nama Neng, siapa?”

“Watik, Mak….”

“Ya, udah! Sampai ketemu lagi! Mak pergi dulu!” Mak Encup menumpuk satu dus lagi di bagian depan motor anaknya. Lalu tas plastik besar berisi kompor dicantelkan di stang motor. Setelah itu dia langsung membonceng. Di pangkuannya masih ada satu tas besar berisi termos, beberapa mangkuk, gelas dan sendok..

Udah ya, Mak!” Jali langsung tancap gas.

“Udah!” kata Mak Encup. “Jupri! Cepet lo selametin si Neng ini!” teriaknya lagi dengan penuh semangat. “

Jupri makin panik. “Wah, kayaknya bener omongan si Jali!” Dia melihat ke Watik. “Ayo, Tik! Kita lari aja!” dia mencekal lengan Watik.

Tapi tanpa diduga, Watik berontak! Dia melawan! Dia mendorong tubuh Bang Jupri. Dia berlari ke persimpangan jalan. Sementara itu dari arah timur dua buah mobil aparat keamanan muncul! Di atas mobil itu sudah banyak mengangkut wanita penjaja seks perempatan jalan.

Jupri berang! Dia mengejar Watik. Dicekalnya lengan Watik. Untung beberapa wanita nakal lainnya berlarian dengan panik dan menabrak Bang Jupri. Mereka terpental. Bang Jupri terlentang di trotoar. Ketika Bang Jupri hendak bagun, Watik menendang perutnya.

“Sialan lo!” Jupri mengerang.

Kesempatan ini dipergunakan Watik untuk melarikan diri.

“Watik!” teriak Bang Jupri.

Dua mobil Satpol Pamong Praja itu makin mendekat. Di belakangnya ada satu mobil dari divisi pemberitaan sebuah televisi swasta. Peristiwa penggarukan para pekerja seks komersial ini dalam beberapa saat pasti akan tersebar ke seluruh lapisan masyarkat di Indonesia lewat layar kaca.

“Brengsek lo!” Jupri menatap Watik dengan panik dan bingung. Watik berlari ke jalan. Bang Jupri merasa kecut jika harus kena garuk aparat. Dia tidak mau cuma gara-gara Watik harus merelakan dirinya sendiri kena garuk. Dia memilih pergi saja. Persetan dengan komisi! Persetan dengan Watik.

“Bang! Bang Jupri!” tiba-tiba seseorang memangggilnya.

Jupri menoleh. Dia melihat Nunik muncul dari balik tembok ruko-ruko yang sudah tutup. Dia berlari mendekati Nunik. Dadanya naik-turun dengan cepat, karena dibakar amarah.

“Mana Watik?” Nunik mencari-cari dengan gelisah.

“Tuh! Adik lo emang sialan!” Jupri menunjuk ke persimpangan jalan.

“Dia bukan adik gue, tau!” Nunik melihat ke jalan raya. “Sialan si Watik! Bikin masalah aja tuh anak!” gerutunya. “Lagian, lo biarin aja!”

Heh, lo mau kena garuk juga, apa!”

“Watiiiiik!” Nunik memangil dengan kesal.

Tak ada reaksi.

“Udah, kita pergi aja!”

“Mami Santi bisa marah, Bang!”

“’Ntar gue yang ngomong!”

“Lo mau digebuk Bang Oten?”

Jupri tertegun. Tapi dia tak punya pilihan lain sekarang. Dia bergegas lari sambil menyeret Nunik. Mereka dalam sekejap hilang di kegelapan pasar.

Sementara itu Watik berdiri di bawah lampu lalu-lintas Dia berada di antara persimpangan jalan. Dia mencari-cari penunjuk: Mesti ke mana aku lari? Dia melihat beberapa aparat Satpol Pamong Praja sudah berlompatan turun. Mereka membawa pentungan dan tak segan-segan menggunakannya jika ada yang melawan. Di atas truk beberapa pekerja seks komersial menonton rekan-rekannya senasib digaruk. Juga crew TV swasta yang mulai sibuk; sang kameramannya langsung memotret peristiwa jalanan ini.

Para aparat keamanan itu seperti sadar sedang dibidik kamera. Mereka mulai menganggap dirinya jadi bagian dari sebuah sinetron kehidupan yang sesungguhnya. Orang tua, istri dan anak tersayang, serta kerabat dan handai taulan pasti akan menonton breaking news atau buletin malan di rumah. Lalu mereka pasang aksi saat kamera mengarah. Mereka semangat sekali dan menganggap sedang memberantas borok-borok sosial di jalanan. Kadangkala merea main pukul rata saja; tak mempedulikan lagi mana yang ibu rumah tangga atau yang wanita penjaja betulan. Sedangkan para gadis perempatan jalan itu menutup wajah mereka dengan koran atau kedua tangan mereka. Tentu mereka tidak ingin suami, anak, orangtua, kerabat, serta tetangga di kampung mengetahui pekerjaan mereka sesungguhnya. Setiap bulan mereka sudah terlanjur mengirimi uang ke kampung dengan embel-embel “ini adalah gaji pertama sebagai karyawan di pabrik” atau “bonus dari perusahaan”. Bisa hancur nama baik keluaga mereka. Bisa jatungan orangtua mereka.

“Watiiiiik!” terdengar teriakan lagi.

Watik masih sempat mendengar teriakan yang memanggil namanya. Dia tahu itu Nunik, yang ternyata bukan kakak kandungnya. Tapi dia tidak mempedulikan teriakan Nunik. Bahkan menoleh pun tidak. Ya, dia memilih untuk tidak pergi ke Nunik, karena dia tahu di sana ada Bang Jupri! Percuma saja. Tapi, ke mana aku harus lari?

Tiba-tiba kedua tangannya bergerak dan meraih bandul kalung berhuruf “C”. Dia mencoba menemukan jawabannya di sana. Apakah “C” ini ibu kandungku? Batinnya bertanya lirih dan mengharapkan ada jawaban yang datang. Tapi dia tak bisa mendengar apa-apa, karena kegaduhan merebak. Para gadis perempatan jalan lari pontang-panting sambil berteriak-teriak, karena dikejar-kejar aparat. Beberapa berhasil ditangkap dan dinaikkan ke atas truk.

“Ampun, Pak, ampun. Saya bukan cewek nakal, Pak. Bukan. Saya kebetulan lewat sini, Pak. Mau beli obat nyamuk!” seseorang merengek minta dilepaskan.

“Kebetulan gimana kamu! Dandanan menor kayak gini, masak mau beli obat nyamuk! Sana, naik!” aparat itu membentak sambil memukul pantatnya dengan pentungan.

“Saya baru pulang dari Bogor, Pak. Abis nengok Ibu. Kalau nggak percaya, ini ka te pe saya!”

“Udah, jangan banyak alasan! Sana, naik!”

“Pak, tolong, Pak! Jangan bawa saya!” teriak yang lainnya lagi. “Saya masih baru, Pak. Belon ngerti peraturan di sini1”

“Hah! Barunya di sini! Tapi, kamu lama di lokalisasi! Sama saja! Naik!” petugas yang lain menghardik sambil menepuk pantatnya dengan jahil.

“Pak, Pak! Tolongin saya, Pak! Kalau saya digaruk, anak saya makan apa nanti!”

“Kan ada bapaknya!”

“Nggak ada, Pak! Saya udah cerai!”

“Bawel! Naik!”

“Nanti Bapak saya servis,” bisiknya.

“Hah! Emangnya saya radiator, diservis!”

“Semalaman, Pak!”

“Naik!”

Watik masih berdiri di bawah lampu lalu-lintas. Masih memegangi bandul kalung berhuruf “C”. Sudah beberapa kali lampu berganti; dari merah, kuning, hijau….. ke merah lagi…..

Pada saat itu, tanpa diduga……. muncul kupu-kupu pelangi yang berada selangkah lebih maju di depannya. Di kedua sayapnya memancar cahaya! Watik tertegun. Dia mengucek-ucek matanya; seolah tak percaya! Tangannya menggapai-gapai hendak meraih kupu-kupu itu. Tapi tak sampai. Tak pernah bisa dia raih! Kupu-kupu itu terbang rendah; seolah membimbingnya untuk berjalan menuju mobil aparat keamanan!

Watik berjalan ke sana; ke mobil Pamong Praja. Dia berjalan di antara kebisingan orang-orang yang berlarian. Tak ada yang sempat memperhatikannya. Tak ada yang bisa melihat peristiwa sebenarnya, bahwa Watik berjalan mengikuti ke mana kupu-kupu pelangi yang memancarkan seberkas cahaya itu terbang……….

Tanpa diketahui semua orang, di balik kegelapan, seorang anak remaja menyaksikan semuanya. Dia adalah Udin!

***

Bab Delapan

DI PENAMPUNGAN

Arum sedari tadi terpaku di kursi. Matanya tertuju ke sebuah pesawat TV berlayar besar dan datar. Acara berita malam membuatnya terhenyak. Diberitakan dan disiarkan dengan jelas penggarukan para wanita penjaja seks komersial oleh Satpol Pamong Praja kota. Mereka diangkuti ke atas truk. Mereka berjejalan di sana seperti kerbau atau sapi, yang hendak dijual pada saat-saat menjelang lebaran. Penuh sesak.

Arum membesarkan volume TV. Suara mereka yang minta diturunkan , karena bukan termasuk wanita PSK memenuhi ruangan tengah rumahnya. Gambar-gambar memilukan itu mengepung hatinya. Begitu lirih terdengar. Begitu ironis dengan kehidupan gemerlap Jakarta.

“Lepasin, Pak! Lepasin!”

“Saya bukan pelacur, Pak! Bukan! Saya ibu rumahtangga, Pak!”

“Jangan, Pak, jangan! Kasihanilah saya, Pak!”

“Anak saya masih kecil di rumah. Dia butuh susu, Pak!”

Kemudian seorang korban berhasil diwawancara oleh reporter TV. Wajahnya menyimpan kesedihan dan “Saya baru pulang dari Bogor, Mas, Abis minjem duit sama Ibu. Anak saya yang baru umur 3 tahun kena cacar. Mau saya bawa ke rumah sakit. Kasihan bapaknya sekarang. Dia pasti nunggu- nunggu. Padahal saya udah nunjukin ka te pe, Mas. Tolonglkah saya, Mas. Moga-moga suami saya nonton ya, Mas. Biar dia bisa nyusul saya ke tempat penampungan.”

Lalu ada wawancara yang lain. Kali ini seorang wanita bergincu tebal. “Kenapa kami diperlakukan seperti binatang? Diangkuti ke atas truk dan ditumpuk kayak ikan sarden! Apa salah kami? Kami kan cari uang. Kami kan ada di sini, karena ada yang mencari kami. Karena ada yang butuh sama kami. Tapi, kenapa hanya kami yang ditangkapi? Kenapa yang di hotel-hotel berbintang nggak ditangkapi juga? Apa bedanya mereka?”

“Iya, Mas! Ini kan nggak adil!” yang lainnya nimbrung dengan nada protes. “Katanya jaman reformasi! Mana hidup udah susah begini! Harga-harga naik melulu! Janjinya mau merhatiin rakyat kecil! Tapi, para koruptor malah dibiarkan bebas! Ini nggal adil! Kita kan nggak ngerugiin siapa-siapa. Kita cari duit kayak gini karena nggak ada jalan lain aja.”

Beberapa orang aparat Pamong Praja mendekati mereka. Wawancara itu dibubarkan. Beberapa telapak tangan menghalangi lensa kamera. Gambar bergoyang-goyang. Orang berlarian. Kepanikan yang ada.

Ayo, cepet naik!” seorang aparat memaksa.

“Lepasin, Pak! Lepasin!”

Seorang aparat menutupi lensa kamera.

Gambar kembali bergoyang-goyang. Tapi tak lama. Kini muncul lagi gambar tentang sebuah perempatan jalan. Lampu lalu lintas dari hijau ke merah. Lampu merkuri menghamburkan sinar violetnya. Berkerlap-kerlip dan menyelimuti para wanita jalanan, yang lari pontang-panting menghindari kejaran para aparat Kamtib.

“Masya Allah!” Arum terpekik. “Tadi saya dari sana!” Dia hapal betul dengan persimpangan jalan dimana penertiban itu terjadi. Sudah puluhan bahkan ratusan kali dia melewati tempat itu. Bahkan tadi dia berhenti di sana dengan Pak Rahmat; mencari-cari cucunya.

Tiba-tiba kedua bola matanya tak berkedip. Ada peristiwa yang menarik buat Arum, ketika gambar-gambar penggarukan itu ditampilkan di layar kaca. Dia melihat di antara kepanikan para wanita yang diangkuti ke atas truk, ada seorang yang masih anak-anak di matanya. Anak itu luput atau seolah tidak menarik perhatian orang-orang di sana. Anak itu berjalan seorang diri saja. Yang membuatnya aneh, anak itu berjalan di antara kepanikan menuju truk dengan sangat tenang. Anak itu seolah sedang mengikuti “sesuatu”. Seolah sedang tersihir oleh “sesuatu”. Seolah dibimbing oleh “sesuatu” untuk naik ke atas truk dan bersedia digaruk aparat.

“Ayo, ayo ambil gambarnya dari depan!” Arum merasa gemas, karena anak itu membelakangi lensa kamera. Arum merasa menyesal tak bisa melihat wajah anak itu. Ah! Mungkin kameramannya tak jeli menemukan peristiwa ini!

“Mbok! Bangun, Mbok!” Arum menggoncang-goncangkan tubuh Mbok Siti, yang tertidur di sofa.

Mbok Siti terbangun dengan kaget, “Iya, Den Ayu?”

“Lihat, Mbok! Lihat itu!” Arum menunjuk ke TV.

Mbok Siti mengucek-ucek kedua matanya yang mulai rabun. “Ada apa di televisi, Den Ayu?” dia merasa tak bisa mencerna apa-apa ketika melihat ke TV.

Arum bangkit dan berlari mendekati TV. Telunjuknya menyentuh layar TV. “Anak ini, Mbok! Anak ini!”

“Kenapa anak itu?”

“Mbok ‘ndak ngerti, ya?”

Mbok Siti menggeleng. Tubuhnya yang sudah renta itu tampak rapuh. Arum tersadar kini. Dia merasa berdosa, karena masih melibatkan Mbok sziti dalam pencarian cucunya. Seharusnya Mbok Siti diberi kesempatan untuk hidup tenang di hari tuanya. Tapi, itu pernah dikatakannya pada Mbok Siti. Yang terjadi adalah, Mbok Siti tetap akan menemaninya sampai kapan pun. Di antara mereka memang sudah terjalin ikatan batin yang kuat; seolah antara ibu dan anak.

“Tadi yang di televisi itu, Mbok…, mereka para wanita nakal.”

“Astaghfirullah…..”

“Mereka diamankan pihak yang berwajib.”

“Anak itu?”

“Anak itu….,” Arum kebingungan mencari kata-kata yang tepat. “Anak itu bagian dari mereka, Mbok…”

“Anak sekecil itu?”

“Iya, Mbok…….”

“Ya, Allah! Zaman wis edan, tho!”

“Saya mau mencari tahu anak itu, Mbok…”

“Kenapa?”

“Saya, saya takut…..”

“Takut?”

“Iya, Mbok. Saya takut cucu saya seperti mereka.”

“Ya, ‘ndak mungkin tho, Den Ayu! Masak Den Ajeng Larasati seperti itu?” Si Mbok sudah lama membahasakan bayi yang dibuang itu dengan nama “Den Ajeng Larasati”. Dia merasa bayi itu hadir dan ada di antara mereka.

“Saya juga berharapnya begitu, Mbok.”

“Insya Allah, Gusti Pangeran akan melindungi Den Ajeng.”

“Besok saya mau dateng ke stasiun televisinya, Mbok. Mau nanyain tentang anak itu. Siapa tahu, Mbok……”

“Yo, wis. Mbok akan ngasih tahu Pak Rahmat besok. Sekarang Den Ayu tidur saja. Istirahat.”

“Iya, Mbok,” Arum mengangguk. Dia mengambil remote controle dan mematikan televisi. Dia bergegas berjalan ke dalam kamarnya. Tidak mungkin cucu saya melakukan itu. Tidak mungkin. Kecuali kalau dia dipaksa oleh keadaan!

***

Watik duduk menyendiri di sebuah bangku menghadap ke taman yang tak terurus. Rumput liar meranggas bersaing dengan alang-alang. Pohon bambu merumpun dan memagari sekeliling tembok batako, yang memisahkan tempat penampungan ini dengan perkampungan masyarakat. Bangunannya lebih mirip sekolahan. Barak-barak yang diisi sepuluh dipan susun. Berarti ada dua puluh orang mengisi ruangan berukuran 5 x 8 meter.

Beberapa wanita yang semalam diangkut ke sini ada yang mengisi waktunya dengan bergerombol dan kadang meladeni godaan-godaan nakal dari para pekerja di rumah penampungan. Itu terjadi sejak semalam. Tak pernah bisa dia memejamkan matanya dengan nyaman, karena selalu saja terdengar cekikikan suara di balik tembok. Atau suara-suara aneh, yang dulu sering didengarnya dari kamar mbak Nunik. Seperti juga semalam, Watik selalu tak bisa tidur jika mbak Nunik membawa pacarnya menginap di kamar petak kontrakan mereka. Biasanya di pagi hari, saat pacar mbaknya hendak pulang dan mbaknya masih asyik mendengkur atau mandi, dirinya sering jadi santapan godaan mereka.

“Wah, ternyata lo lebih seksi dari kakak lo,” suatu ketika Kang Wawan, buruh pabrik di Tangerang, menggodanya. Suaranya sengaja di pelankan sambil matanya melirik ke kamar mbak Nunik. Mungkin Kang Wawan takut mbak Nunik memergokinya sedang menggoda Watik.

Mas Sunar, pacar ‘mbak Nunik yang kesekian, malah lebih kasar lagi. Beberapa kali dia pernah bermaksud mengajaknya pacaran dengan iming-iming semua biaya hidupnya ditanggung. “Kalau perlu, lo gue kawinin deh! Gue jadiin bini muda!” kata Mas Sunar waktu itu sambil menjawil bokongnya. Dia karyawan di sebuah pabrik dengan posisi lumayan enak.

Semua itu Watik pendam saja di hati. Tidak pernah dia utarakan pada mbak Nunik, yang sudah berlelah-lelah bekerja untuk hidup mereka berdua. Kasihan mbaknya jika tahu kalau pacar-pacar dia sering menggodanya. Bisa-bisa terjadi perang mulut. Tapi yang terpenting baginya, adalah menjaga perasaan mbaknya.

“Hallo!” tiba-tiba ada yang menyapanya.

Watik menoleh. Seorang lelaki berpakaian dinas menghampirinya. Ada codet melintang di pipinya. Lelaki itu berdiri di depannya. Watik merasa tidak enak duduk sementara petugas itu berdiri. Watik pun berdiri.

Gimana keadaannya?”

“Alhamdulillah, baik, Pak.”

“Nama kamu, siapa?”

“Watik.”

“Watik apa?”

Watik menggeleng sambil menunduk. Dia sadar kalau sepasang mata lelaki itu sedang menelusuri tubuhnya. Dia hanya sanggup memainkan kuku-kuku jarinya. Semua lelaki sama saja. Hanya memperlakukannya esbagai benda pmuas nafsu belaka. Kecuali Udin, yang sangat santun memperlakukannya. Di depan Udin, Watik merasa dihargai sebagai gadis yang sedang mekar.

“Cuma ‘Watik’?”

Watik mengangguk lagi.

“Ini apa?’ tiba-tiba saja lelaki berpakaian dinas dan bercodet itu meraih bandul kalung di dada Watik

Keruan saja Watik mundur. Dia merasa kedua mata petugas itu tertuju tidak hanya pada bandul kalung. Tapi pada bagian tubuhnya yang lain. Akibatnya ketika dia mundur, tali kalungnya tertarik dan mengencang, serta menekan punggung leher Watik...

“Huruf ‘ce’! Apa itu?” petugas bercodet itu melepaskannya.

Watik menggeleng dan makin mundur..

“Alah, nggak penting itu!”

Watik mengangguk.

“Kamu nggak ada yang ngejenguk?”

Watik masih menggeleng.

“Lo nggak bisa ngomong, apa?” dia mulai kesal dan bicara sesenaknya.

Watik tergagap dan gemetar.

“Lo pingin keluar dari sini, nggak?”

Watik ternganga.

“Mau nggak lo?”

Watik segera mengangguk. Hatinya menggelembung plus rasa cemas, karena ditawari menghirup udara kebebasan.

Lo mesti punya duit sepuluh juta!”

“Sepuluh juta?’ Watik tidak percaya. Bola matanya hampir melompat ke luar. Uang segitu hanya ada di dalam angan-angannya saja. Seumur hidupnya, uang pecahan yang paling besar pernah dipegangnya adalah dengan nominal sepuluh ribuan. Ini sepuluh juta perak? Dengan cara apa harus mencarinya?

“Lo ‘kan bisa bilang ke babe lo!”

“Saya sudah nggak punya orangtua lagi, Pak…”

“Hm! Begitu, ya!” lelaki ini mengelus-elus codetnya. Tapi, tak lama dia tersenyum. “Atau pake cara lain aja!” sambil mengerling dan menjawil pantat Watik.

“Cara lain?” Watik mundur menjaga jarak. Dia merasa gemetar ketika melihat sepasang mata petugas itu menyala merah. Dia hapal gelagat orang seperti itu: sedang dalam birahi.

“Saya dengar, kamu masih perawan, ya?” nada lelaki ini kembali sopan; tidak bergua-elo lagi.

Watik menggeleng dan pergi menjauh. Dia merasa takut. Tapi petugas itu mengejarnya dan menariknya ke sudut yang sepi. Beberapa orang yang melihat cenderung tidak mau tahu. Watik mencoba meronta, tapi orang itu mencekiknya ke dinding.

“Heh, denger, ya!” dia kasar lagi. “Lo mau selamat apa, nggak?”

Watik ketakutan.

“Gue nggak bakalan nyakitin lo! Gue Cuma pingin nolong lo!” katanya melepaskan cekikannya. Wajahnya sangat kesal.

Watik terisak-isak.

“Udah, jangan nangis!”

Watik mengusap air matanya.

“Gue cuma minta sama lo, kalau kepingin keluar dari sini mesti bisa diajak kerja sama. Begitu!”

Watik menunduk.

“Mau pergi dari sini nggak lo?”

“Mau, mau, Bang…”

Nah, kalau lo mau keluar dari sini, lo mesti ikutin apa kata gue!”

“Saya mesti bagaimana, Bang?”

“Pokoknya, gue jamin lo nggak ngeluarin duit seperak pun!”

Watik menatapnya tidak percaya, “Gratis, Bang?”

“Udah! Sekarang lo gabung aja sama yang lain. Ntar gue yang ngatur. Tapi, awas! Kalo lo macem-macem, gue jamin, seumur hidup lo bakal tinggal di sini terus!” ancamnya sambil pergi.

Watik mengangguk ketakutan. Dia mengusap butiran air matanya. Tiba-tiba dia merasa sebuah tangan singgah di bahunya. Dia menoleh. Seorang ibu berparas cantik berdiri di belakangnya. Ibu itu menatap kepergian petugas tadi dengan wajah penuh kebencian.

“Brengsek dia!” umpat si Ibu. “Jangan percaya sama omongan dia!” tambahnya geram.

Watik ternganga. Bola matanya yang jernih dan bundar mencoba menguliti tubuh perempuan di hadapannya. Mencoba memahami apa yang sedang terjadi.

“Saya ini sebetulnya bukan pelacur seperti mereka. Saya ini cuma sial saja. Pada waktu malam pembersihan, saya sedang beli obat nyamuk. Saya termasuk yang digaruk. Waktu itu saya nggak bawa dompet. Wong cuma beli obat nyamuk aja. Nggak akan ke mana-mana lagi. Eh, dasar sial. Di jalan ada penggarukan.”

“Innalillahi wainnailaihi razi’un….”

Wanita ini mendelik. “Kok, ngomongnya kayak gitu, sih? Emangnya saya ini meninggal, apa?!”

Watik merasa bersalah. “Maaf, Bu… Kata guru ngaji saya, jika kita mendengar ada orang yang sedang kena musibah, kita boleh ngucapin ‘innalillahi wainnailaihi raji’un. Jadi, uka buat orang yang meninggal saja,” katanya menjelaskan.

“Wah, pinter ngaji juga kamu!” si Ibu menatap habis tubuh Watik; dari kepala sampai ke kaki. “Kayaknya kamu anak baik, ya!”

Watik hanya menggigit bibirnya; pertanda luka perih di hatinya terasa.

“Eh, balik lagi ke soal saya tadi. Mereka tetep aja nggak percaya kalau saya ini ibu rumah tangga, sudah bersuami dan punya anak satu.”

Watik makin serius mendengarkan ceritanya. Ekspresi wajahnya kelihatan sekali kalau dia menaruh simpati atas kejadian yang menimpanya.

“Padahal suami saya udah dateng ke sini. Nunjukin ka te pe saya. Bahkan surat nikah segala. Dasar zaman wis edan. Mereka minta duit sepuluh juta kalau saya kepingin keluar dari sini. Edan, edan!

“Astaghfirullahaladzim. Kasihan Ibu.”

“Suami saya sekarang sedang ngelapor ke el es em yang ngurusin perempuan. Urusannya bisa jadi besar, nih. Biarin! Biar semua orang tahu, kalau di sini itu banyak yang nggak benernya. Pada mata keranjang! Hobinya meres wong cilik kayak kita.”

“Meres?”

“Iya. Kayak kamu ini,” dia mengupasi lagi tubuh Watik dengan seksama. “Bisa jadi kamu ini bakal dikerjain sama mereka. Masih muda, cantik, montok lagi. Masih perawan kamu?”

Watik menunduk.

Si Ibu tersenyum menggoda. “Wah, mereka pasti nafsu banget lihat barang bagus kayak kami. Orang tadi itu, pasti ngerayu kamu ‘kan? Iya ‘kan?” desaknya.

Watik mengangguk-angguk.

“Ditawar berapa kamu?”

“Katanya, kalau saya mau keluar dari sini, saya mesti ngikuin apa kata dia.”

“Ngikutin apa?”

“Nggak tau, Bu. Katanya sih, saya nggak usah keluar uang. Pokoknya, dia yang akan ngatur semuanya.”

“Huh! Pasti begitu! Wong saya juga pernah ditawarin begitu. Orang di sini itu brengsek-brengsek. Nggak sama yang muda kayak kamu atau sama yang mateng kayak saya ini. Mereka itu bawaannya nafsu terus. Emang gitu kali bawaannya kerja di sini. Tiap hari lihat cewek nakal melulu.”

“Tapi, saya ingin pergi dari sini, Bu…,” Watik terisak.

“Kamu ini, kenapa bisa terseret ke sini?”

Watik mengusap air matanya. Dia merasakan napasnya tersengal-sengal, terganjal oleh ledakan emosi.

***

Nunik memeluk Watik sambil menangis. Watik juga. Mereka seperti baru bertemu saja setelah sekian tahun berpisah. Padahal hanya satu malam. Air mata Nunik tumpah ke pundak Watik. Begitu juga sebaliknya. Beberapa wanita lainnya juga dijenguk keluarganya. Mereka saling larut dalam isak tangis, yang terdengar seperti paduan suara. Ruangan tempat menerima tamu yang kecil terasa gaduh dan kurang nyaman. Mereka berserakan tak beraturan, seperti sedang berada di pasar pagi saja.

“Maapin ‘Mbak, ya,” isak Nunik.

“Maapin Watik juga, Mbak…”

“Mbak nyesel banget. Mestinya Mbak nggak ngomong kayak gitu sama kamu. Mbak khilaf. Kamu tetep adik Mbak, walaupun Emak nemuin kamu di kali Ciliwung.”

Watik mengucap “Alhamdulillah” dalam hatinya. Wajahnya pelan-pelan dihiasi warna cerah. Muncul lagi tanda semangat hidup dalam tubuhnya. Dia makin erat memeluk mbaknya; tak peduli kalau mbaknya itu bukan sedarah daging.

“Tapi, Mbak belum tahu bagaimana caranya ngeluarin kamu dari sini, Tik. Denger-denger, harus nebus dengan uang. Berapa jumlahnya, Mbak nggak tahu pasti. Kecuali kalau kamu mau di sini saja. Katanya nanti kamu diberi kursus-kursus gratis. Ada kursus salon, menjahit, bikin kue, dan kerajinan tangan. Itu yang Mbak denger.”

“Berapa lama, Mbak?”

“Mbak nggak tahu. Bisa tiga bulan, setahun, atau bahkan lebih. Dulu si Indri pernah kena garuk. Setahun dia di sini Cuma buat nungguin kursusnya. Katanya sih nunggu dana dari pemerintah turun dulu. Selama tinggal di sini, dia sering disuruh ngelayanin mereka. Kan nggak semua petugas di sini baik. Ada juga yang doyan sama kita. Pingin begituan, tapi minta gratis. Biasanya, mereka ngejanjiin mau ngeluarin kita dari sini. Tapi setelah si Indri keluar dari sini, eh, dia balik lagi ke jalan sama Mbak.”

Omongan Nunik mempengaruhi pikiran Watik.

“Saar dulu ya, Tik. Ntar Mbak mikirin jalan keluarnya deh,” dia mengelus rambut Watik.

“Ntar gue yang ngatur!” Jupri bersuara. Dia sejak tadi berdiri menyender di tembok. Sambil merokok kretek, dia mengawasi setiap gerak-gerik Nunik dan Watik.

Watik terperanjat. Dia baru sadar kalau Bang Jupri ada di antara mereka.

“Pokoknya, kalo lo mau keluar, lo ikutin aja apa kata gue. ‘Ntar gue mau cari orang dalem yang bisa diajak kerjasama.”

Tuh, Bang Jupri jelek-jelek juga masih mikirin kamu, Tik.”

“Tadi pagi, ada petugas sini yang nawarin sama Watik.”

“Nawarin apa?” Nunik tertarik.

“Kalo Watik mau ke luar dari sini, mesti ngikutin apa kata dia.”

“Nggak perlu bayar?”

“Nggak.”

“Wah, hati-hati, deh. Mbak nggak percaya. Pasti ada udang di balik batu. Jaman sekarang, mana ada yang gratis?”

“Iya! Bener kata mbak lo! Pasti ada apa-apanya. Nggak mungkin gratis.”

“Kamu terima apa kamu tolak tawarannya, Tik?”

“Watik diancam. Watik takut, Mbak.”

“Diancam? Wah, mesti kita laporin!”

“Gila lo, Nik! Lo mau laporin ama siapa? Mana percaya mereka sama orang kayak kita? Bisa-bisa malah ngebahayain jiwa si Watik!”

“Iya, Mbak. Ntar Watiknya diancam lagi.”

“Terus, gimana dong, Bang?”

“Gini aja, deh. Serahin ama gue. Ntar gue mau cari informasi tentang orang itu. Pasti bisa gue atasin! Percaya deh ama gue!”

“Bener , Bang?”

“Iya!”

“Tapi, kalu Watik keluar dari sini, Watik nggak mau krja di perempatn jalan lagi….”

Nunik dan Bang Jupri saling pandang. Mereka berbicara dalam bahasa mata. Wajah mereka seolah sedang menjelaskan maksud hati dan pikiran mereka.

“Watik mau jadi pengamen lagi aja…”

“Iya, iya. Kalo emang itu mau kamu, Tik. Mbak nggak apa-apa.”

“Yang penting sekarang, Abang usahain supaya lo ke luar dulu dari sarang macan ini.”

Iya. Makasih, Bang,” Watik mengucapkannya dengan tulus.

“Lo masih inget orang yang nawarin lo kerjasaa itu?”

Watik mengangguk. “Ada codet di pipi kanannya, Bang,” katanya sambil mencari-cari ke luar jendela.

“Lo-lo tunggu di sini aja! Gue cari tuh orang.” Jupri pergi

Mbak Nunik dan Watik memandangi kepergian Bang Jupri. Mereka diam. Mereka duduk memperhatikan orang-orang yang keluar masuk ruangan. Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh seorang wanita berteriak-teriak dalam isak tangisnya.

“Keluarin saya dari sini, Pak! Keluarin! Sungguh, saya wanita baik-baik, Pak. Kasihan anak saya yang lagi sakit cacar di rumah, Pak. Saya harus pulang. Saya harus beli obat buat dia, Pak.

Dua orang petugas berusaha menenangkannya.

“Kalau nggak percaya, Bapak bisa cek ke alamat saya di ka te pe. Suami saya ada di sana. Bapak bisa tanyakan sama suami saya di sana!” raungnya.

Watik meremas-remas sapu tangannya. Pikirannya melayang-layang tak karuan. Nunik juga diam. Wajah mereka tampak tegang. Semua yang berada di dalam ruangan terdiam; menunggu babak-babak selanjutnya.

“Pokoknya, saya minta dipulangin, Pak!”

“Ayo, kita ke ruangan Pak Kepala saja!” seorang petugas menyeretnya.

“Saya bukan pelacur, Pak! Bukan! Saya punya anak dua! Punya suami sah!” Wanita itu terus menjerit-jerit.

Si petugas kewalahan menyeretnya. Mereka melintasi Watik dan Nunik, yang hanya bisa diam seribu basa. Peristiwa itu menusuki perasaan Watik. Sedangkan Nunik gelisah tak tentu arah.

“Watik takut, Mbak….”

“Mbak juga.”

“Watik pingin keluar dari sini.”

“Tungguin khabar dari Bang Jupri dulu.”

“Kalau Watik keluar, Watik nggak mau kayak gini.”

“Tapi, Mbak mesti ngomong dulu sama Mami Santi.”

“Kalau nggak boleh ngamen, Watik mau kerja apa saja. Jadi pembantu juga boleh.”

Nunik makin gelisah.

***

Bab Sembilan

DI SEBUAH HOTEL

Watik meneliti jalan-jalan yang dilaluinya. Dia tidak mengenal daerahnya. Dia melirik ke petugas bercodet itu, yang sedang menyetir mobilnya. Dia mencoba memahami isi pikirannya. Dia mencoba menenangkan perasaannya, bahwa malam ini dia akan bebas dan kembali. Tak perlu pulang ke tempat penampungan lagi. Dia tidak ingin menjadi bagian dari mereka; wanita yang menjual tubuhnya sendiri dengan alasan apa pun. Dia merasa masih mampu mencari uang dengan jalan yang halal.

“Kok, nggak langsung ke arah Cengkareng?” Watik merasa cemas, karena mobil dari arah Monas terus meluncur ke Gajah Mada, tidak membelok ke Tomang.

“Saya ada perlu dulu di daerah Kota. Nanti kita lewat Grogol saja.”

“Kan lebih baik ngantar saya pulang dulu, Pak? Mbak Nunik sama Bang Jupri pasti udah nungguin.”

“Bagi mereka, yang penting kamu pulang dengan selamat!” nadanya terdengar memaksa dan menekan.

Watik terdiam. Dia melemparkan pandangan ke luar. Jalanan berwarna keemasan, karena tertimpa lampu merkuri. Sedangkan bangunan-bangunan di pinggir jalannya berwarna-warni dihiasi lampu. Dia pernah mendengar dari teman-temannya sesama anak jalanan, bahwa di sinilah daerah hiburan yang paling banyak dikunjungi orang-orang. Ada hiburan karaoke, disko, sampai ke tarian telanjang segala. Bahkan yang membuat tubuhnya gemetar, para wanita yang bekerja di tempat-tempat hiburan ini bisa diajak berhubungan seperti layaknya suami istri dengan imbalan uang. Tak ubahnya pekerjaan itu seperti Mbak Nunik dan teman-temannya juga. Bedanya mereka beroperasi di dalam gedung yang mewah, sedangkan mbak dan teman-temannya menjual tubuhnya di jalanan.

“Beruntung sekali kamu! Punya mbak Nunik sama bang Jupri. Mereka sangat peduli sama kamu. Kalau saja saya nggak ketemu bang Jupri, nasib kamu nggak akan seperti ini. Kamu bakalan terus jadi penghuni di penampungan.”

“Iya. Mbak Nunik memang baik.”

“Bang Jupri juga!”

“Iya.”

“Tau nggak, berapa Mbak Santi nebus kamu? Nggak sepuluh juta, sih. Itu karena kebaikan saya juga! Jadi, tarifnya bisa turun!”

Iya, makasih, Pak.”

“Mestinya yang merawanin kamu itu saya!”

Watik menunduk. Tubuhnya gemetar.

“Ya, sudah. Nasib kamu memang bagus. Kamu memang nggak ditakdirkan jadi pelacur kayak mereka. Memang sayang juga orang kayak kamu harus jadi pelacur. Mestinya kamu sekolah dan jadi anak rumahan yang baik.”

“Iya, Pak. Saya inginnya juga sekolah. Tapi, nggak punya biaya.”

“Itulah susahnya negara ini. Jangankan buat pendidikan. Buat makan aja susah. Uangnya dimakanan para penggede aja. Orang seperti saya, paling hanya kebagian sisanya saja. Di rumah, saya punya anak tiga. Yang paling besar seumuran kamu. Bisa kamu bayangkan, betapa pusingnya saya nyari uang untuk biaya sekolah mereka,” kali ini nada dalam kalimat Pak Codet itu terdengar seperti suara keluhan yang panjang. Suara nafasnya juga mendesah; seolah ada beban yang berat. Ada perubahan yang aneh di sini.

“Iya, pak.”

“Maafkan Bapak, ya. Bapak cuma butuh uang buat orang di rumah. Gajih Bapak nggak cukup.”

“Watik mengerti, Pak.”

Pak Codet itu memarkir mobilnya di depan sebuah hotel. Wajahnya tegang. Dia melirik ke Watik, yang sedang melihat ke luar.

“Ke hotel, Pak?” Watik cemas.

“Kalau kamu mau di mobil saja, nggak apa-apa. Tapi, Bapak justru khawatir. Nggak baik wanita seperti kamu sendirian di sini. Takut ada orang yang menyangka kamu wanita panggilan. Kan bisa repot.”

Watik gugup dan bingung.

“Bagaimana?Mau ikut Bapak ke dalam sebentar? Atau di mobil saja?”

“Tidak lama ‘kan?”

Pak Codet menggeleng.

Watik mengangguk.

Pak Codet memijit central lock. Dia keluar. Watik juga. Pak Codet memencet central lock dari kuncinya. Bunyinya seperti kucing yang terinjak ekornya: CUIW!

Ayo!” Pak Codet menjajari langkah Watik.

Watik yang masih berumur 14 tahun, berjalan dengan canggung memasuki lobi. Sepanjang hidupnya belum pernah dia masuk kedalam hotel berbintang seperti ini. Ada perasaan kagum sekaligus takut. Tempat ini bukan tempart yang cocok baginya. Dari pakaian yang dikenakannya saja, sudah tak pantas. Belum lagi asesoris murahan yang menempel di lehernya; kalung bertali kulit dan berbandul “C”, bukan berantai intan berlian.

“Kamu jangan acuhkan mereka,” bisik Pak Codet. “Ikuti Bapak saja. Mereka memang begitu kalau melihat perempuan. Dianggapnya sama saja, bisa dibeli dengan uang.”

Watik mengangguk dengan perasaan takut. Dia menunduk saja, mengikuti ayunan langkah Pak Codet menuju meja resepsionis. Dia berdiri beberapa langkah di belakang Pak Vodet.

“Nomor tiga puluh,” kata Pak Codet.

Resepsionis mengangguk dan menyerahkan kunci kamar. “Itu orangnya?” selidiknya. “Boleh juga. Tapi, pakaiannya itu, norak!”

“Diem lo! Dia anak gue!”

“Oh! Sori, Pak!”

Pak Codet berlalu dari situ sambil memegangi bahu Watik. “Kamu harus Bapak anggap sebagai anak Bapak. Supaya mereka nggak macem-macem.”

“Iya, iya, Pak…”

Pak Codet berjalan menaiki anak tangga. Watik melangkah di sampingnya. Jika ada orang yang turun, Watik memilih mundur dan berada di belakang Pak Codet. Dia tahu, puluhan pasang mata menghujam tubuhnya saat ini. Mereka terus menaiki anak tangga sampai ke lantai tiga. Nafas Pak Codet teresngal-sengal. Watik juga.

“Kamu percaya sama Bapak, ya,” Pak Codet membuka pintu kamar bernomor 30.

Watik termangu.

“Ayo, masuk. Bapak sedang menunggu seseorang. Ada janji bisnis, yang nggak bisa ditunda lagi. Kamu akan aman di dekat Bapak.” Pak Codet masuk.

Watik akhirnya masuk dengan ragu-ragu.

“Pintunya nggak usah dikunci. Biar terbuka saja.”

Watik mendorong pintu biar terbuka lebih lebar lagi. Llu dia berjalan ke dalam kamar. Pak Codet sedang duduk sambil mengangkat gagang telepon. Ewatik hnya berdiri saja. Dia merasa canggung berada di dalam kamar bersama orang yang belum dikenalnya betul.

“Kamu mau minum apa?”

“Air putih saja, Pak.”

“Air mineral, ya.”

“Iya.”

“Nggak lapar?”

“Nanti saja di rumah, sama Mbak Nunik.”

Pak Codet mengangguk-angguk dan meletakkan lagi gagang telepon. “Kamu bisa buka lemari es itu. Di sana ada air mineral, kalau haus.”

Watik mengangguk.

“Ayo, duduklah.”

Watik duduk.

Kaku.

Kikuk.

Jam berdetak.

Pak Codet mondar-mandir.

Watik mempermainkan kuku-kuku jari tangannya.

Pintu kamar tetap terbuka.

KRIIIIING!

Pak Codet langsung menyambar gagang telepon. “Ya, hallo! Saya sendiri. Ya, ya! Baik, baik!”

Klik.

Pak Codet memutar badannya. Dia melihat ke Watik dengan tatapan aneh. “Bapak mesti menemui seseorang di lobi. Kamu tunggu di sini saja. Jangan ke mana-mana sebelum Bapak kembali!”

Watik belum sempat menjawab, karena Pak Codet bergegas ke luar kamar. Watik langsung bangkit dan mengejar. Tapi pintu tertutup: bum! Dan anak kunci bergerak: ketrek. Watik membukanya, tapi tetap tak terbuka. Watik bengong. Dia menggedor-gedor pintu kamar. Tak ada jawaban. Dia memeriksa seluruh sudut pintu. Mencoba mempelajari bentuk kuncinya. Pintu ini ternyata dikunci dari luar.

***

Watik panik. Dia meneliti seisi kamar. Dia tidak melihat ada pintu lain untuk ke luar selain pintu kamar mandi. Dia mendekati telepon. Mengangkat gagangnya. Yang terdengar hanya bunyi: tuuuuuuuttttt! Dia belum pernah menggunakan telepon. Dia juga tidak tahu harus menelepon ke siapa. Dia hanya bisa pasrah. Dia duduk di kursi dan menangis tersedu-sedu. Dia tak berani melihat ke kasur yang spreinya bermotiv aneka bunga. Apalagi menggunakannya untuk tidur. Padahal dia sangat lelah sekali. Dia sangat mengantuk.

Ke manakah Pak Codet? Sampai kapan dia pergi? Akankah kembali? Ya, Allah, lindungilah hamba-Mu yang hina ini. Aku berserah diri hanya pada-Mu. Kedua tangannya menengadah ke langit-langit kamar. Air matanya menetes dan merembesi lantai berkarpet. Dia bersujud luruh. Dia berusaha mempercayai Pak Codet, yang dia belum tahu siapa namanya, dengan cara pasrah pada Sang Pencipta. Tak ada lagi yang bisa dia kerjakan selain itu.

Penyejuk ruangan meninabobokannya.

Anak kecil yang cantik tapi malang itu terlena di atas karpet

“Haiya! Kayaknya dia udah tidul,” terdengar suara puas di kamar sebelah. “Owe bisa masuk sekalang!” lelaki gendut itu masih berdiri di depan tembok pembatas kamar. Matanya yang sipit menatap ke cermin tembus, yang bisa melihat ke kamar sebelah. Di dalam cermin itu tampak dengan jelas Watik tertidur meringkuk di lantai.

“Ayo, cepet bayarannya!”

“Hiaya, Codet! Owe mesti mastiin dulu, apa dia masih pelawan apa kagak! Soal lo punya bayalan, jangan khawatil! Owe kagak pelnah bohong.”

“Koh! Gue nggak mau lama-lama di sini! Gue pingin cepat-cepat pergi dari sini!”

“Sabal, sabal, Codet!”

“Koh! Gue nggak main-main, nih!”

Lelaki gendut bermata sipit itu melirik ke arah pintu kamar. Di sana dua tukang pukulnya mengangguk.

Si Codet yang melihat gelagat yang kurang beres, langsung merogoh saku jaketnya. “Gue nggak mau cari masalah, Koh!” Codet langsung menyergap si Gendut dan menekan ujung pisau ke lehernya. “Gue cuma minta hak gue. Koh ngejanjiin, kalo barang udah di tempat, langsung dilunasin.”

Si Gendut berusaha tenang. “Haiya, Codet. Tenang, tenang. Lo ama Owe kan bukan balu sekali dua kali belbisnis. Haiya. Lo jangan maen kasal kayak gini.”

“Koh mau bayar, nggak? Atau leher Koh bolong sama gue punya pisau!”

Kedua tukang pukul si Gendut merangsek.

“Heh, lo-lo pingin boss lo mati!” tudingnya ke dua cecunguk itu. Lalu si Codet tak mau membuang-buang waktu lagi. Dia membeset sedikit leher si Gendut sampai mengeluarkan darah. Matanya tajam menatap mereka. “Lihay! Gue nggak maen-maen!”

Si Gendut mengerang kesakitan, “Gila lo!” Tangan kirinya meraba lehernya. Ada darah segar melekat di jari-jarinya.

“Heh, Koh! Mau lebih dari ini?” Si Codet menempelkan lagi ujung pisaunya ke leher si Gendut. Bahkan lebih dalam.

“Oke, oke!” si Gendut menurut sambil menepiskan tangannya ke para kroconya agar mundur. “Owe bayal lo punya hak!”

“Nah, kenapa nggak dari tadi aja, Koh! ‘Kan biasanya kita punya bisnis selalu lancar!” Si Codet menarik pisaunya.

Si Gendut bernapas lega. “Iya, iya! Tapi owe punya filasat, kalau yang ini owe mesti hati-hati!” si Gendut mengeluarkan segepok uang dari saku celananya. “Bang Jupli yang bilang!”

“Lagian, si Jupri Koh denger!” Si Codet menjambret uang itu. Menciumnya. “Koh! Si Jupri itu ngebet banget pingin nyicipin anak itu! Mau Koh dapetin sisanya dia!”

“Blengsek si Jupli!”

Si Codet tertawa dan mendorong tubuh si Gendut hingga menimpa ke tubuh para cecunguknya. Kesempatan itu digunakan si Codet untuk kabur. Tapi ketika hendak menutup pintu, dia sempat melihat ke cermin pembatas dinding kamar. Di cermin tembus pandang searah itu, dia melihat Watik masih terlelap di lantai! Betapa nyenyak tidurnya. Tiba-tiba bayangan wajah anaknya berkelebat. Hanya saja, jubah hitam milik iblis langsung menutupi matanya. Maafkan saya, Nak, hatinya berbisik pedih. Tapi, dia langsung menepis bayangan anaknya dan kembali ke realitas hidupnya, yang carut marut mesti gali lubang tutup lubang. Dapur ngebul, itu lebih penting! Sisi lain hatinya memekik.

“Hati-hati! Anak itu beda dari yang udah-udah!” si Codet menutup pintu.

“Lo juga blengsek, Codet!” si Gendut berusaha bangun.

Kedua tukang permaknya buru-buru membantu menopang tubuh si Gendut yang hendak bangkit.

“Lo-lo juga blengsek!” dia melotot pada kedua kroconya. “Kagak bisa ngatasin tu olang!” Dia berjalan ke kamar mandi. Membersihkan luka di lehernya. “Cepet! Lo pada ke lual! Lihat situasinya. Aman apa kagak!” teriaknya dari kamar mandi.

Kedua cecunguk itu mengangguk-angguk dan membuka pintu kamar. Dia melongok ke koridor. Si Gendut sudah ke luar dari kamar mandi. Begitu melihat tanda-tanda aman dari mereka, dia ke luar dari kamar dan menuju kamar nomor 30. Mengeluarkan anak kunci. Wajahnya tampak sudah memerah. Napasnya mengendus dari kedua lubang hidungnya yang kecil.

Klik!

Pintu dibuka dengan perlahan.

Si Gendut masuk ke dalam kamar. Kedua lututnya gemetar, ketika melihat anak ingusan itu masih tertidur pulas. Dadanya berdebar-debar. Napasnya tersengal-sengal. Aneh. Dia bukan sekali dua melakukan ini. Sudah teramat sering. Tenyata betul apa kata si Codet. Anak ini bebeda. Lain dari yang pernah dia alami. Dari tubuh anak itu terpancar suatu cahaya aneh. Seolah-olah tubuh yang subur dan membuat dia mesti menelan air liurnya sendiri, itu diselubungi cahaya. Matanya yang sipit makin dibukanya lebar-lebar. Cahaya itu betul-betul tampak ada. Tak berani dia menyentuh. Tubuhnya sendiri bergetar dan seperti hendak jatuh.

“Siapa anak ini?” si Gendut meraba-raba seisi kamar dengan matanya.

Cahaya dari tubuh Watik terus membias dan memenuhi kamar. Si Gendut masih terpaku dengan lutut gemetar di tempatnya. Mulutnya ternganga hendak mengucapkan sesuatu. Tapi, tak ada bunyi.

“Boss, boss!” tiba-tiba seorang tukang pukulnya masuk ke kamar. “Ada razia, Boss!”

Si Gendut terkesiap. Dia kembali berpijak pada bumi. Kesadarannya pulih. “Apa? Razia?” dia tak percaya.

“Iya, razia!”

“Blengsek! Owe lugi! Lugi!”

“Kita lari saja, Boss!”

“Iya, Boss! Lupaian aja anak itu!”

Si Gendut mengangguk-angguk. Tapi, “Heh! Lo-lo, lihat ada cahaya di kamal ini, kagak?”

Cahaya?”

“Cepet, Boss!”

“Iya! Anak itu mengelualkan cahaya! Badannya belcahaya!” dia menengok ke Watik yang meringkuk pulas di karpet. Selubung cahaya itu masih ada melindunginya. Huh!

“Ayo, cepat, Boss! ‘Ntar masuk ti vi, berabe ‘kan!” tukang pukulnya menarik tangannya.

“Maaf! Nggak ada waktu ngebicarain cahaya, Boss! Yang seorang lagi melindunginya dari belakang.

Si Gendut mengikuti apa kata kedua tukang pukulnya. Wajahnya ditutup oleh kain berwarna hitam, agar orang-orang tak menenal wajahnya. Beberpa pintu kamar juga terbuka dan penghuninya berlarian. Kedua tukang pukulnya membawanya lewat pintu rahasia, yang memang disediakan bagi tamu VIP seperti dirinya, jika dalam keadaaan darurat. Sedangkan Watik tetap pulas meringkuk di karpet. Anak itu seperti tak terganggu oleh suara-suara ribut di luar kamar. Cahaya itu terus menyelubunginya; seolah menjadi selimut hangat di kamar ber-AC ini.

***

DUG, DUG, DUG!

Suara pintu setiap kamar digedor dari luar. Orang-orang muda berpakaian serba putih bersliweran di koridor hotel.

“Assalamualaikum!”

“DUG, DUG, DUG!”

“Buka pintunya!”

Para penghuni kamar hotel berhamburan. Ada yang hanya mengenakan pakaian dalam, berbalut handuk, bahkan selimut. Wajah mereka pucat pasi ketika melihat orang-orang bersorban putih berdiri di depan mereka.

“Jangan, jangan bunuh kami!”

“Ao, silahkan ambil uang saya! Jam saya! Ha pe saya! Ayo, apa saja! Itu, ada di dalam kamar. Yang penting nyawa saya selamat!”

“Waduh! Pasti ada kamera televisi! Hancur, hancur deh saya!”

“Iya! Saya juga! Semua orang di rumah pasti tahu!”

“Jangan takut, jangan takut! Kalian aman!”

Iya, iya! Kami nggak akan menyakiti kalian!”

“Kami tidak akan membunuh Mas-mas dan ‘Mbak-mbak.”

“Kami bukan perampok!”

“Dan tidak ada kamera televisi!”

“Peristiwa ini tidak dipublikasikan!”

Operasi kami ini diam-diam!”

“Kami tidak disokong oleh partai politik manapun! Ini murni gerakan moral!”

“Bagi yang sudah berpakaian, ayo, dipersilahkan untuk ke luar hotel. Bagi yang belum, silahkan kembali ke kamar. Berpakaianlah dulu!”

Beberapa orang yang tak berpakaian pantas kembali ke kamar dengan perasaan aneh dan tidak percaya. Yang sudah merasa dirinya rapih, berbondong-bondong menuju lift dengan rasa takut campur gembira. Beberapa pemuda berpakaian serba putih pun membimbing para penghuni kamar agar keluar dari hotel tanpa perlu rasa takut. Sebagian lagi terus menyisir kamar-kamar yang lain.

“Kenapa kami dirazia!” terdengar suara protes.

“Karena yang ‘Mbak-mbak lakukan adalah perbuatan maksiat.”

“Dosa besar di muka Allah!”

“Lho! Yang berdosa ‘kan saya! Bukan situ!”

“Tapi ini sudah kewajiban saya sebagai orang muslim, ‘Mbak. Mengingatkan ‘Mbak agar tidak berbuat dosa. Bahkan di agama lain pun, hal ini dilarang,” anak muda berpakaian serba putih itu dengan senyum lebar menjelaskan. “Mari, ‘Mbak. Sebaiknya ‘Mbak pulang saja!”

“Bagaimana nanti saya mencari uang?” yang lain mengutarakan kesulitannya.

“Insya Allah, rezeki itu pasti datang kepada ‘Mbak. Asal ‘Mbak mau mencarinya di jalan Allah.”

“Saya nggak bisa apa-apa lagi selain bekerja begini!”

“Itu karena ‘Mbak malas saja. Maunya kerja yang enak dan dapat uang yang banyak!”

“Iya. ‘Mbaknya nggak mau menggali potensinya, sih!”

Percakapan itu memenuhi koridor hotel. Para wanita yang tadinya marah, karena terampas ladang uangnya, akhirnya mau juga memasuki lift. Tapi Watik tetap terlena dengan mimpi kanak-kanaknya.

“Astaghfirullah,” sebuah kepala nongol di pintu kamar nomor 30 yang terbuka. Dia melangkah masuk dengan sangat hati-hati. Dia khawatir bunyi kakinya akan membangunkan anak yang tertidur pulas itu. “Subhanallah,” lelaki muda bersorban itu menengadah. Dengan gemetar dia memanggku tubuh yang diselubungi cahaya itu.

“Siapa anak itu?”

“Saya menemukan dia sedang tidur di kamar nomor tiga puluh.”

“Subhanallah!”

“Kamu lihat dia diselubungi cahaya?”

“Iya.”

“Allahu Akbar.”

“Ssst, jangan keras-keras.”

Tapi Watik terbangun juga. Dia merasa seperti sedang terbang ke angkasa raya. Dia melihat cahaya puith ada di mana-mana. Orang-orang bersorban dan berpakaian serba putih lalu-lalang saling menyuarakan gema takbir.

“Allahu Akbar!”

“Allahu Akbar!”

Watik merasakan kedamaian menyelusup ke dalam hatinya. Dia tidak mempedulikan lagi Pak Codet yang membawanya ke sini.

“Mau dibawa kemana Watik, Kak?”

“Kakak mau membawa kamu pulang,’ katanya menurunkan Watik.

“Siapa Kakak?”

“Kita sesama saudara.”

“Alhamdulillah, terima kasih, ya Allah,” Watik melihat ke atas.

Lagi-lagi Allah membuktikan kebesaran-Nya! Saat itu ada razia dari sebuah ormas Islam! Semua penghuni hotel di razia. Di jalanan, orang-orang pada berlarian menyelamatkan diri. Watik melihat di tempat parkir, ratusan botol minuman keras dan meja-meja tempat berjudi ditumpuk.

Pemuda bersorban dan berpakaian serba putih itu membawa Watik ke luar dari hotel. Dia mengntarkan Watik sampai di pinggiran jalan.

“Pulanglah. Tempat ini tidak cocok buat kamu.”

“Terima kasih, Kak.”

“Kamu tahu ‘kan, harus naik apa?

Watik mengangguk.

“Allahu Akbar!”

Allahu Akbar!” balas si Kakak sambil terus bergabung dengan rombongan yang lain.

“Allahu Akbar!” gema itu memenuhi malam. Penuh seluruh.

Watik sebetulnya kebingungan harus pergi ke mana. Pada saat itulah, muncul kupu-kupu pelangi; seolah dijatuhkan dari langit. Binatang indang itu untuk terus melangkah….

**

Bab Sepuluh

DI RUMAH PETAK

Watik berdiri di depan kamar-kamar petak itu. Sudah hampir tengah malam. Tadi dia pulang naik Bajay. Kata Pak Wahid – guru ngajinya di mesid terminal, masih ada orang baik di Jakarta yang kaca balau ini. Jangan khawatir dengan itu. Tuhan sudah mengaturnya. Yang terpenting harus kita lakukan adalah; banyak-banyak berdoa pada-Nya, memohon perlindungan dan pertolongan-Nya.

Ya, berdo’a pada Tuhan sudah sangat jarang dilakukan. Orang lebih melihat pada hasil kerja kerasnya saja, bukan pada kehendak Tuhan. Jika seseorang berhasil mencapai target, itu lebih dikarenakan usahanya yang tak kenal menyerah. Dari sanalah awal kesombongan muncul. Dan jika sudah begitu, Tuhan sudah tak diperlukan. Tapi Watik tidak ingin masuk ke dalam golongan seperti itu, karena dia sudah sudah sering membuktikan hal itu. Dia beberapa kali lolos dari sergapan iblis dan kesuciannya masih tetap terjaga sampai sekarang, karena pertolongan Tuhan. Doanya betul-betul dikabulkan oleh-Nya. Yang pertama, ketika dia dipaksa menjajakan dirinya di perempatan jalan oleh Bang Jupri, ada pembersihan dari Satpol Pamong Praja. Lalu dia kena garuk dan dikirim ke penampungan. Tangan Tuhan pasti berperan di situ. Kemudian Watik dibawa ke hotel oleh Pak Codet. Watik tak menyadari, kalau Pak Codet bermaksud menjual kegadisannya ke si Gendut. Lagi-lagi ada razia dari sebuah ormas Islam. Selamatlah dia. Jadi, kenapa harus melupakan Tuhan?

“Elo, Tik?” seseorang menegurnya dengan heran.

Watik mengangguk.

Beberapa tetangganya yang masih terjaga merubung. Juga yang baru pulang bekerja. Ada yang menghampiri dan menyatakan keprihatinan mereka. Ada juga yang merasa aneh melihat kehadiranya. Tapi, dari ekspresi wajah mereka, Watik tahu mereka bersimpati pada dirinya..

“Nggak apa-apa lo?”

“Gue denger, lo kena garuk?”

“Si Jupri emang brengsek!”

“Sabar ya, Tik. Hidup emang keras!”

“Mendingan lo ikut kerja ama gue aja. Jadi pembantu juga, nggak apa-apa. Itu juga kalo lo mau. Duitnya emang nggak gede. Tapi ‘kan halal!”

“Anak sekarang, mana mau jadi pembantu. Mau haram kek, yang penting banyak duitnya!”

Teganya juga si Nunik! Adik sendiri dikorbanin. Kalau saya, mendingan saya yang hancur, banting tulang cari uang. Yang pnting, adik sya bisa maju. Buat apa sih hidup ini? Kalaucuma sekedar nyari uang saja, nggak akan ada habis-habisnya!”

“Udah, kalau mau ceramah di mushola, sana!”

“Lagian, yang gue denger, si watik itu ternyata bukan adik kandung si Nunik!”

“Iya, iya! Katanya si Watik itu ditemuin hanyut di sungai.”

“Bener lo waktu bayi dibuang di kali Ciliwung, Tik?”

“Tega banget orang tua lo, ya!”

“Udah, lo ikut Mpok Fatimeh aja, ya! Lo bantuin Mpok jagain warung. Gimana? Ntar Mpok bilang deh sama si Nunik! Asal lonye mau, ye!”

Semua kalimat itu menyerbu Watik. Dia tak mampu menanggapinya satu persatu. Semuanya dibiarkan berlompatan saja; mengangkasa dan menguap bersama pengapnya udara malam Jakarta.

Watik terus berjalan menuju pintu kamar petak. Dia ingin pulang ke rumahnya. Dia mendambakan tempat yang damai, dimana dia bisa bermain-main dengan ayah dan ibunya. Dengan mbaknya. Dia sangat mendambakan sebuah keluarga utuh, seperti yang sering dilihatnya di iklan pasta gigi atau susu. Tapi dia tahu itu hanya mimpi di siang bolong. Tak akan pernah terwujud.

Watik mengetuk pintu.

Belum terdengar jawaban.

Diketuknya lagi. “Assalamualakum,” kali ini dia mengucapkan salam.

Samar-samar terdengar suara kaki diseret.

Watik menunggu dengan was-was.

Anak kunci diputar. Terdengar suara pintu terbuka. “Siapa sih malem-malem gini! Ganggu orang aja!” kepala Nunik nongol di pintu. Dia hanya melilitkan kain batik sampai ke atas dadanya.

“Watik, ‘Mbak…..”

Tapi saat itu juga ada perubahan di wajahnya begitu melihat Watik berdiri di depannya. “Watik!”

Iya, Mbak…”

“Mbak kira kamu nggak jadi keluar!” Nunik langsung memeluknya. “’Mbak nungguin kamu dari tadi.”

Watik menangis.

“Gimana kamu bisa sampai ke sini? Nggak diantar sama Pak Codet?”

Watik menggeleng.

“Kenapa, Tik?”

Wtik sesenggukan.

Beberapa orang yang sejak tadi merubung di pintu pagar berangsur-angsur pergi. Tinggal ‘Mpok Fatimah saja yang masih bertahan Wajahnya tampak serius memperhatikan Watik dan Nunik yang sedang berpelukan.

“Kamu nggak apa-apa ‘kan?” Nunik mengencangkan ikatan kain batik di tubuhnya.

Watik menggeleng.

“Bener?’ Nunik memeriksa tubuh Watik dengan seksama.

Watik mengangguk.

“Heh, Nunik! ‘Mpok tadi udah ngomong sama Watik! Biarin dia kerja ama ‘Mpok di warung! Kagak usah deh lo paksa-paksa dia kerja kayak lo!” teriak ‘Mpok Fatimah.

“Iya, iya, ‘Mpok!” Nunik menatapnya dengan tidak suka.

“Besok si Watik, Mpok tungguin di warung, ye! Ba’da dzuhur! Jangan nggak, ya!”

“Iya, iya! ‘Ntar saya antar ke sana, ‘Mpok!”

“Bener, ye!”

“Bener, bener!”

“Ya, udah! ‘Mpok balik dulu! Assalamualaikum!”

“Waalaikumsallam!”

Mpok Fatimah pergi.

“Ayo, masuk, Tik,” Nunik membimbing Watik masuk ke dalam rumahnya.

Watik menurut saja. Dia mengusap air matanya. Tapi, ketika dia mengangkat wajahnya, jantungnya seperti hendak copot. Bang Jupri berdiri menyender di kusen pintu kamar Nunik. Dia hanya mengenakan sarung dan bertelanjang dada. Preman jalanan itu menatapnya dengan tajam.

“Kiran nggak jadi pulang lo!” Jupri sinis nadanya. “Kok, bisa lama gitu!?”

Watik duduk di kursi plastik di ruang tengah. Jupri dan Nunik saling pandang. Wajah Jupri tegang dan tampak ada yang mengganjal di pikiranya. Hal itu langsung dibalas dengan pelototan oleh Nunik. Jupri pun tersenyum, walaupun agak dipaksakan

Watik mencoba menaikkan bibir atasnya; melukis senyum di sana. Dan Matanya menerawang jauh. Gambar-gambar saat dia bersama Pak Codet bermunculan lagi…..

***

Nunik ke luar dari kamarnya sambil menyisiri rambutnya yang basah setelah dikeramas dengan shampo sehitam rambutnya. Dia memakai daster bermotif batik jumputan dan matanya merah menyisakan rasa kantuk semalam. Dia terpaku ketika melihat Watik sedang bersujud di selembar sajadah lusuh. Nunik iri melihat Watik, yang begitu percaya dengan adanya Tuhan. Yang begitu yakin, jika kita berdoa pada-Nya, pasti pertolongan itu akan turun. Ya, Nunik iri pada keyakinan Watik itu. Iri pada semua yang ada di tubuh Watik. Pada kecantikan Watik. Pada apa yang pernah dimiliki Watik saat Bapak dan ibunya masih hidup. Pada segala yang diperoleh Watik di saat mereka masih kecil dulu. Nunik ingat betul, betapa orang-orang yang tinggal di bantaran kali Ciliwung, Tanah Abang, sangat memanjakan Watik .

“Bonekanya buat Mbak aja!”

“Ini ‘kan hadiah ulangtahun Watik yang kelima dari Bu Darto, Mbak..”

“Nggak. Ini buat Mbak!”

Watik menjerit-jerit, karena boneka plastik hadiah ulangtahunnya direbut Nunik. Suara jeritannya terdengar ke mana-mana. Beberapa tetangganya melongok di jendela rumh dan menatap Nunik dengan tatapan menyalahkan.

“Nunik!” Ibu muncul dari dapur dan memarahi Nunik. “Ibu ‘kan sudah bilang, kalau yang ulang tahun itu adikmu! Bukan kamu!” ibunya mengambil boneka dari tangan Nunik dan memberikannya pada Watik.

“Tapi, waktu ulang tahun Nunik yang ketujuh kemaren, nggak ada yang ngasih hadiah boneka sama Nunik.”

“Kamu ‘kan sudah besar!”

“Waktu Nunik kecil, Ibu pilih kasih juga! Lebih sayang sama Watik!”

Kamu ini!” ibunya melotot. “Sudah berani melawan, ya!”

“Ibu pilih kasih!”

“Nunik, berisik kamu! Ibu sedang banyak kerjaan!” ibunya menyusun sayur bayam jadi seikat-seikat. Tanaman sayur itu ditanam suaminya di sedikit lahan kosong di bantaran Ciliwung.

“Emang Ibu pilih kasih! Semua cuma buat Watik! Nunik nggak pernah dibeliin apa-apa! Bapak” Nunik berlari ke luar mencari ayahnya. Ya, jika sudah begitu, dia hanya bisa berlindung di pelukan ayahnya. Kepada ayahnyalah dia mengadu. Biasanya ayahnya berjanji akan membelikan dia es krim secara diam-diam, agar Watik tidak minta dibelikan. Nunik juga akan sembunyi-sembunyi memakan es krimnya di stasiun kereta api supaya tidak direcokin Watik.

Nunik tersenyum sinis jika mengingat peristiwa menyebalkan itu. Nunik saat itu belum diberi tahu oleh ayah dan ibunya, jika Watik bukanlah adik kandungnya. Jika Watik adalah bayi merah yang ditemukan ibunya di kali Ciliwung. Huh! Andai saja saat itu sudah tahu, dia tidak akan mengembalikan boneka mainan itu. Sungguh.

Watik mengucapkan salam tetrakhir, “Assalamualaikum warrahmatullah hiwabarokatuh……” Lalu menoleh ke kanan dan ke kiri.

Nunik masih memandanginya. Harus diakui, Watik memang lebih unggul segala-galanya darinya. Ayah ibunya pasti bukan orang sembarangan. Dari kecantikan wajah Watik, pasti ibunya juga cantik. Rasanya Watik tak pantas jadi orang miskin. Tapi, kenapa mereka membuang watik? Apakah Watik hasil dari hubungan gelap sepasang kekasih? Perselingkuhan? Ah, masa bodoh!

“Sholat apa kamu?”

“Sholat Duha.”

“Untuk apa?”

“Biar dimudahkan rezeki kita, ‘Mbak.”

“‘Kan yang lima waktu juga udah cukup!”

“Ini bonusnya.”

“Bonus?”

“Kata Pak Wahid, kita ini sholat jangan cuma yang lima waktunya aja kalau pingin dapat bonus. Yang sunah-sunahnya juga kita ambil. Kayak orang sekolah aja ‘kan, ‘Mbak. Kalau pingin pinter, mesti banyak ikut kursus.”

Pak Wahid! Udin! Mbak sebenernya benci kalau kamu udah ngomongin mereka. Ya! Mereka itulah yang ngeracunin kamu kayak gini! Kamu jai sok alim kayak gini! Buat ‘Mbak, hidup ini ya untuk harii ini.

“Sudah siap, Mbak?” Watik melipat mukenanya.

Nunik menepiskan segala lamunan tentang Watik. Dia berusaha tampak ramah. Sambil menyisir rambut dia bicara, “Kamu yakin mau kerja di warung ‘Mpok Fatimah?”

“Iya, Mbak. Watik milih kerja sama Mpok Fatimah.”

“Paling berapa gajinya!”

“Nggak apa-apa, yang penting halal.”

“Kalau kamu nggak mau praktek di perempatan jalan, Mbak bisa nyariin kamu kerja di diskotik.”

Watik menggeleng.

“Atau di restoran Jepang.”

“Nggak, Mbak.”

“Kerja di Batam aja. Duitnya gede.”

“Batam? Jadi apa?”

“Pembantu. Mau?”

Watik termenung. Pembantu rumah tangga? Dia pernah mendengar dari si Udin, bahwa di Batam lowongan pekerjaan terbuka lebar bagi lelaki seperti dirinya. Juga bagi wanita seperti Watik. Tapi, harus hati-hati bagi wanita seperti Watik. Kadang pekerjaan yang ditawarkan semula, ketika datang di Batang tidak sesuai. Banyak gadis-gadis belia dari tanah Jawa yang dijanjikan bekerja sebagai pembnatu atau pelayan di restoran asing, ternyata dipekerjakan sebagai wanita penghibur di pub-pub atau bahkan di lokalisasi!

“Bagaimana? Mau kerja ke Batam?”

Watik menggeleng.

“Jadi te ka we di Malaysia?”

“Nggak, Mbak. Watik mau kerja sama Mpok Fatimah aja.”

Mbak ini bukannya ngelarang. Tapi, kamu itu nggak pantas kerja di warung kayak gitu. Ngelayanin orang. Badanmu ‘ntar jadi bau. Tanganmu ‘ntar jadi kasar. Kamu itu cantik. Apa kamu nggak sadar, bahwa orang-orang itu iri sama kecantikan kamu?”

Watik kini mulai merasa cemas.

“Dengan kecantikan yang kamu miliki, sebetulnya kamu bisa memperoleh apa saja.”

“Kalau ‘Mbak ngelarang saya kerja sama Mpok Fatimah, Watik nggak apa-apa. Tapi, Watik tetep nggak mau kerja sama Mami Santi.”

“Lalu, kamu mau kerja apa?”

“Ngamen lagi sama si Udin.”

“Udin lagi, Udin lagi! Apa kamu yakin si Udin masih hidup?”

Watik mengangguk.

“Tau dari siapa kamu?”

“Perasaan saja, ‘Mbak.”

“Itulah lemahnya kita sebagai perempuan. Selalu ngandelin perasaan.”

“Terus, kalo nggak sama Udin, Watik masih boleh jadi pengamen?”

“Nggak, Mbak nggak ngijinin. ‘Ntar banyak cowok yang iseng sama kamu. Apa kamu nggak sadar, kalau anak-anak jalanan itu banyak yang ngincer sama kamu? Itu udah terjadi dari dulu, waktu ‘Mbak ngamen juga!”

Watik menunduk. Dia pasrah saja.

“Ya, udah! Kamu siap-siap aja. Cepet! Kita ke ‘Mpok Fatimah sekarang!”

Watik mengangguk dan berjalan menuju kamar mandi.

***

Nunik berjalan satu langkah di depan Watik. Dia tampak kikuk sekali, karena semua orang berdiri di teras rumah petaknya. Mereka seolah ingin tahu, ada apakah gerangan. Apakah Watik akan mengikuti keinginan Nunik, kembali bekerja dengan Mami Santi? Atau bekerja di warung Mpok Fatimah?

“Ke mana siang-siang gini, Nik?” Bu Ati mengambil sapu lidi dan membersihkan jalanan gang di depan rumah petaknya.

Ini, mau ke terminal.”

“Mau pergi ke mana? Ke Jawa?”

Nunik pura-pura tidak mendengar. Dia terus berjalaan sambil meraih tangan Watik.

“Watik? Lo nggak apa-apa?”

Watik membalasnya dengan senyuman.

“Kalo lo mau, laki gue lagi nyari orang, tuh. Katanya, dipabriknya lagi butuh orang. Lo dateng aja ke mari ‘ntar malem. Mau, ye?”

Sebuah gerobak bakso datang dari arah depan. Nunik meminggir. Watik juga. Tubuh mereka terhalang gerobak bakso.

“Mau ke mana, Tik?” tanya Mas Paijo.

“Mau ke warung Mpok Fatimah.

Nunik menarik tangan Watik lebih keras dari yang tadi. Watik mengerti, bahwa dirinya dilarang berbicara banyak dengan orang lain saat ini.

Lelaki berumur 35 tahunan itu bergegas mendorong gerobaknya. Ketika ada seorang ibu yang memanggil pun, dia tak mempedulikannya. Dia malah membelokkan gerobaknya dah hilang. Dia seperti dikejar-kejar sesuatu.

“Dasar mas bakso geblek! Dipanggilin malah kabur! Gendeng!” si ibu teriak-teriak. “Awas, yok! Kalau lewat sini lagi, aku tak pindah langganan!”

“Udah, jangan didengerin!” Nunik memperingatkan Watik. “Ayo, cepetan jalannya!”

Watik mengejar mbaknya, yang berjalan seperti dikejar setan. Mereka membelok ke kiri dan ke kanan, menyusuri gang-gang perkampungan. Anak-anak yang bersliwean dan para pedagang gerobak serta pikulan jadi penghias di siang yang panas ini. Watik terus menjejeri langkah Nunik sambil bertanya-tanya.

“Kita ke rumah temen dulu, ya! Mbak mau nagih hutang!”

Watik mengangguk.

Nunik membelok dan memasuki gang yang lebih sempit lagi. Letaknya persis di belakang tembok sebuah gudang yang sudah tak terpakai. Watik berjalan selangkah di belakang Nunik. Di sana ada sebuah rumah di tengah-tengah halaman, yang penuh ditumbuhi alang-alang.

Ayo!” Nunik menarik Watik.

Watik hampir saja tersungkur. Dia terhuyung-huyung menyeimbangkan tubuhnya.

“Kalau nggak mbak datengin, orang itu nggak pernah mau bayar! Ngomongnya besok, besok, besok! Ketemu di jalan, ya besok! Ketemu di terminal, ya besok! Besok endasmu!” Nunik bersungut-sungut.

Watik tak bisa berkonsentrasi dengan sungutan Nunik. Dia justru lebih memilih mengitari pandang. Dia baru sadar kalau posisi rumah ini nyempil dan jauh dari pemukiman penduduk. Terhalang oleh tembok-tembok pabrik dan berada di seberang kali. Orang cenderung akan tidak mempedulikan keberadaan rumah ini. Bisa saja orang menebak rumah ini tak berpenghuni.

TOK, TOK, TOK!

Nunik berkacak pinggang di depan pintu rumah yang tadi diketuknya. “Spada!” teriaknya kesal.

Watik agak membungkuk; mencoba mengintip ke dalam rumah lewat tirai jendela yang tersingkap.

“Spada!”

Suara sandal diseret.

Wajah Nunik tak bisa diam; menoleh ke kanan dan ke kiri. Jari-jari tangannya bergerak-gerak. Kedua kakinya juga.

Suara anak kunci diputar.

Suara pintu berderit.

Dan dalam sekejap saja, Nunik mencengkeram tangan Watik dan menariknya. Saat itu juga pintu terbuka. Watik tertarik ke mulut pintu. Watik tak sempat berbuat apa-apa.

BUM, pintu dibanting!

Watik kini berada di dalam rumah. Tepatnya rumah kosong yang tak terurus. Suasana penerangan remang-remang. Tubuhnya kini didorong. Seorang lelaki membekapnya dari belakang. Watik meronta-ronta. Dia terus didorong ke dalam kamar. Tubuhnya didorong dan terlempar ke dalam kamar. Dia tersungkur. Lantai kamar itu berdebu. Ada tikar yang tampaknya sudah dipersiapkan untuk menyambut keatangannya.

“Sekarang lo nggak bakalan bisa sembunyi lagi dari gue!”

Watik terkesiap. Dia langsung membalikkan tubuhnya. Dengan masih terlentang, dia melihat tubuh Bang Jupri terbang ke arahnya dan menindihnya. Watik meronta-ronta. Tapi Jupri sudah kerasukan setan.

Mbak! Tolong, ‘Mbak!”

Nuni menyeringai. “Lo pikir gue peduli sama nasib lo?” dia melontarkan kebenciannya pada Watik. “Gue lebih suka lo mampus! Gue lebih suka masuk ke neraka!”

Watik terus melawan “Jangan, Bang! Jangan! ‘Ntar dosa, Bang!

“Dasar tolol! Di sini lo ngomongin dosa ama gue!” Nunik tertawa puas. “Makan tuh dosa!” Dia membalik; bermaksud meninggalkan kamar terkutuk itu. Tapi pada saat yang bersamaan, sesosok bayangan berkelebat dan menghantamnya.

BUK!

Tubuh Nunik terjengkang dan membentur tembok, serta tergeletak tak bangun lagi.

Lalu bayangan itu terus menyerbu ke dalam kamar.

“Nik, kenapa lo!” Jupri berteriak dari dalam kamar.

“Dasar bajingan!” teriak si Bayangan.

“Lepasin, Bang! Lepasin!” Watik terus memberikan perlawanan.

Jupri kesal. Dia hendak menampar Watik, tapi karena mersa ada sebuah gelombang besar datang dari arah belakang, dia langsung membalikkan tubuhnya sambil melompat. Tapi, sebuah pisau langsung tertuju pada dadanya. Dengan sekuat tenaga dia berkelit. Tapi, pinggangnya terserempet pisau itu. Darah menghambur ke lantai.

“Bangsat lo! Belon kapok juga, ya!”

“Lo mesti mampus sekarang!”

“Bang Udin!” mata Watik berkaca-kaca.

“Ayo!” Udin menyambar lengan Watik dan membawanya pergi.

“Anjing lo!” Jupri meradang dan mencoba menggapai tubuh Watik.

Tapi Udin lebih cepat. Watik digepitnya dan dibawanya terbang! Tanpa mereka duga, kupu-kupu pelangi muncul lagi; selangkah lebih maju dari mereka, seolah membimbing mereka. Dan cahaya yang memancar dari kedua sayapnya memenuhi seluruh ruangan, menyilaukan mata Jupri yang terperangah tak mempercayai penglihatannya!

“Cahaya apa ini!” teriaknya keheranan campur ketakutan. Dan dia kehilangan Udin serta Watik.

***

Jupri bukanlah preman bau kencur. Dia bangkit dengan tubuh bersimbah darah. Dia mengejar Udin dan Watik bersama anak buahnya! Dia seperti anjing pengendus; yang tahu ke mana harus mencari korbannya.

“Pokoknya, gue mau anak setan itu mampus!” Jupri terengah-engah sambil memegangi pinggangnya yang dibebat perban. Lima belas jahitan merapatkan lagi luka yang menganga di pinggangnya!

“Abang istirahat aja! Soal si Udin, biar kita-kita aja yang ngeberesin!”

“Nggak, nggak apa-apa gue! Lukanya nggak dalam!” wajah Jupri mengeras dan memerah. “Jadi, bener si Udin sembunyi di rumah tukang bakso? Siapa itu namanya?”

“Paijo!”

“Yakin lo?”

“Ada yang ngeliat mereka jalan ke sana!”

“Huh! Paijo sialan! Berani-beraninya dia ikut campur urusan gue! Belon tau dia siapa gue!”

Jupri terus ngedumel sepanjang perjalanannya. Bibirnya sampai kering, karena air ludahnya bermuncratan seiring dengan kalimat makiannya kepada Udin, Watik, dan Paijo si tukang bakso. Anak buahnya pun mengamini. Mereka menggelinding bagai angin puyuh di gang-gang. Tak ada yang berani menghalangi jalan mereka. Semua penghuni di pemukiman sempit ini menghindar dan bersembunyi di rumah-rumah pengap mereka. Lewat tirai di balik jendela, mereka mencoba menyaksikan apa gerangan yang akan diperbuat oleh Jupri dan kawan-kawannya terhadap Udin, Watik, dan Paijo!

Sementara itu di rumah petak di tengah kebun singkong yang tak begitu luas, Paijo sedang membersihkan gerobak baksonya. Hari di ambang petang. Cakrawala di langit barat sudah tersepuh semburat merah. Sesekali dia melihat ke jalanan tanah di depannya. Tampak sekali dia waspada.

Adzan mahrib mengumandang.

Bayangan gelap mulai menyambangi bumi.

Sambil meneliti keadaan di sekitarnya, Paijo masuk ke dalam rumah kontrakannya, yang cuma dari bata dan bilik bambu. Dari jauh rumah ini kelihatan seperti gubuk tempat mengaso orang yang telah berkebun seharian. Baginya, pemilik rumah ini sudah sangat berbaik hati. Di Jakarta yang sumpek ini, di mana lagi bisa “memiliki” halaman seluas ini? Soal rumah yang suka bocor saat hujan, tak jadi persoalan. Atau hawa dingin yang menyelusup masuk lewat kisi-kisi dinding bambu. Yang penting udara di sini tidak sepengap di perkampungan di belakang terminal sana.

Paijo menutup pintu. Dia melihat Udin sedang mengimami Watik. Dia merasa trenyuh dan simpati melihat pasangan muda-mudi ini. Jupri memang keterlaluan! Anak sebaik mereka harusnya dilindungi dan diberi semangat agar terus bersekolah. Dia sendiri punya dua anak di Wonogiri. Anak pertama – perempuan - baru di kelas 1 SD. Yang kedua – lelaki - masih di taman kanak-kanak. Dia jungkir-balik di Jakarta mencari uang untuk menghidupi istri dan kedua anaknya. Dia hanya pulang saat menjelang lebaran saja. Sudah dua tahun dia di Jakarta. Saat lebaran tahun lalu, dia melihat istrinya sudah bisa membuka usaha warung sembako di depan rumah. Jika usaha warunnya tambah maju, dia lebih memilih kembali ke kampung untuk memajukan warungnya dan berkumpul bersama mereka.

Sudah lama Paijo memperhatikan tindak-tanduk Udin dan Watik. Dia mengenalnya ketika mereka membeli bakso di depan mesjid terminal. Saat itu mereka baru saja selesai menunaikan sholat Ashar. Jarang sekali dia melihat anak-anak yang suka mengamen menyempatkan diri sholat. Biasanya mereka memilih nongkrong sambil minum-minum atau main kartu sambil judi. Tapi dua anak ini sangat lain. Ketika berbincang-bincang, ternyata mereka mengamen bukan sekedar untuk bersenang-senang. Kalau Udin sedang mengumpulkan modal untuk berdagang. Sedangkan Watik untuk sekolah lagi. Bermula dari sanalah Paijo bersahabat dengan Udin dan Watik. Kadangkala kalau mereka sedang tidak punya uang, Paijo suka memberi bakso gratis. Baginya itu sedekah juga.

Suatu hari Paijo kedatangan beberapa preman, yang memintanya uang. Paijo menolak. Capek-capek dia bekerja seharian, uangnya diberikan begitu saja kepada mereka! Enak amat! Para preman itu memintanya dengan cara paksa. Ketika suasana makin genting, babeh Romli muncul.

“Heh, daerah lo di perempatan jalan sana! Bukan di sini!” babeh Romli mengingatkan dengan baik-baik. “Bilang sama si Jupri, jangan cari gara-gara!”

Para preman itu tanpa banyak bicara lagi pergi.

Belakangan Paijo baru tahu, kalau babeh Romli adalah penguasa di terminal dan ayah Udin.

“Mas, kami akan melanjutkan perjalanan lagi,” terdengar suara Udin.

Paijo tidak menduga Udin akan secepat itu mengambil keputusan.

“Saya nggak mau merepotkan Mas. Saya tahu, kehadiran kami di sini pasti akan membahayakan Mas.”

Kenapa harus takut? Kalau sama-sama kita lawan, mereka pasti takut juga. Preman-preman itu harus kita basmi. Kalau kita tidak memulai, siapa lagi?” Ya, kenapa harus takut. Dengan reputasi Jupri yang preman jalanan, Paijo tak gentar sedikitpun melindungi Udin dan Watik. Dia tahu nyawa adalah taruhannya. Bisa-bisa malah dia tak pernah bisa bertemu lagi dengan istri dan kedua anaknya. Tapi dia tak peduli. Dia yakin bahwa apa yang dilakukannya adalah di jalan Allah. Dan dia yakin, pertolongan Allah akan datang jika kita memintanya.

Udin menatap Watik, yang sejak tadi diam saja.

“Mas tahu apa yang dilakukan Jupri pada ayahmu. Untung ayahmu orang yang kuat. Tapi, itu tetap harus dibalas. Kalau perlu kita sama-sama melawannya. Bukankah kalau sama-sama kita akan bertambah kuat?”

“Biar saya saja yang membalasnya. Mas nggak usah terlibat. Bisa membahayakan Mas. Bukankah Mas lebaran nanti harus pulang ke Jawa? Pasti Mbak dan kedua anak Mas nungguin. Jangan sampai terjadi apa-apa, Mas.”

Paijo bergetar hatinya. “Asyahmu sering nolong Mas. Sudah kewajiban Mas juga nolong kamu. Lagian, sudah terlambat, Din,” katanya sambil menoleh ke arah pintu.

Terdengar suara-suara kasar.

Udin juga waspada. Watik bersembunyi di balik lemari plastik.

“Hey! Paijo, brengsek! Keluar lo!”

“Gue mampusin lo!”

“Kalo mau tetep hidup, lo mesti serahin tuh si Udin!”

“Si Watiknya juga!”

“Bang Jupri!” Udin menatap Paijo.

“Mata-matanya ada di mana-mana, Din.” Paijo tenang saja.

“Bagaimana, Mas?”

“Kamu lari saja lewat belakang. Bawa Watik. Lindungi dia. Biar Mas yang menghadapi Jupri,” Paijo dengan gagah berani berjalan ke pintu. Dia menoleh. “Cepat, pergi dari sini!”

“Makasih, Mas

Iya, Mas,” kata Watik.

Paijo mengangguk saja.

Tanpa banyak bicara Udin berlari ke belakang. Watik mengikuti. Paijo masih menunggu apakah mereka aman sampai di belakang. Udin membuka pintu dan meneliti halaman yang banyak ditumbuhi pohon singkong. Kegelapan makin mengental, karena tak ada lampu penerangan. Pohon-pohon singkong yang rapat makin membuat gelap. Udin berjongkok dan mengendap-endap. Watik mengikuti selangkah di belakangnya.

Paijo belum lagi membuka pintu, beberapa anak buah Jupri mendobraknya. Pintu yang terbuat dari triplek dan bambu pun jebol. Paijo terjengkang. Mereka langsung menyerbu dan menghujani Paijo dengan pukulan. Paijo menangis serangan mereka dan bahkan membalas mereka dengan beberapa pukulan. Para preman cecurut itu terjengkang. Jupri yang masih merasakan perih di lukanya hanya bisa bengong melihat kehebatan Paijo.

“Jago silat juga lo!” teriak Jupri pongah.

Paijo tersenyum dan tetap menjaga jarak dengan waspada.

“Heh, Paijo!” Jupri menuding.. “Lo pasti nyembunyiin si Udin sama Watik di sini! Anak buah gue ada yang ngelihat. Mana mereka?”

“Mereka sudah pergi dari sini. Sebaiknya kau pun pergi!”

“Hah! Belagak jagoan lu!”

“Bang, bang! Mereka ada di sini!” anak buahnya berteriak dari arah belakang rumah.

Jupri mendengar teriakan itu. Dia memerintahkan anak buahnya untuk mengejar ke belakang rumah. Tapi Paijo dengan cekatan mencegat mereka. Satu-dua orang berhasil dirubuhkannya dengan mudah dengan sekali gebukan. Jupri meradang. Preman yang sedang terluka itu menyerang Paijo. Tapi justru dia yang terhuyung-huyung kena tendangan Paijo. Beberapa anak buahnya yang lain berhasil mengejar Udin dan Watik. Paijo mengejar mereka, berusaha memperlambat. Kesempatan ini dipakai Jupri untuk menerobos lewat dapur.

“Pokoknya si Udin jangan sampai lepas!”

“Din, lari, Din!” Paijo berteriak sekeras-kerasnya.

Udin yang sedang bersembunyi di antara rapatnya pohon singkong mendengar teriakan Paijo. “Kamu lari arah jalan raya sana,” kata Udin pada Watik.

“Abang?” Watik cemas.

Jangan dipikirin! Cepet!” selesai bicara Udin sengaja berlari tanpa perlu membungkuk. Dia dengan sengaja memunculkan dirinya agar dilihat oleh Jupri dan anak buahnya. Dia juga menggoyang-goyangkan batang pohon singkong sehingga menarik perhatian.

“Tuh! Sebelah sini, sebelah sini!”

“Udah, hajar aja!”

“Bikin mampus!”

Jupri dan anak buahnya mengepung Udin. Tapi Udin terus berlari membongkar kerumunan mereka sambil mengibas-ngibaskan lengannya. Dua orang preman terkena sambaran tangan Udin dan terjengkang. Paijo juga tidak tinggal diam. Mas bakso itu menceburkan diri ke dalam peperangan.

Kesempatan ini tidak disia-siakan Watik. Dia lari ke arah yang lain.

Tapi beberapa anak buah bang Jupri melihatnya.

“Bang! Si Watik, tuh!”

“Dia lari ke jalan raya!”

Brengsek lo!” Jupri menghajar Udin. Tapi, pukulannya meleset.

“Lo kagak nipu gue, Din! Lo pikir Watik bakalan lepas dari tangan gue? Nggak bakalan bisa!” Jupri menyeringai sinis. “Abisin mereka!” Jupri memilih mengejar Watik

Empat anak buahnya sengaja membuat sibuk Udin dan Paijo. Perkelahian sudah tidak dengan tangan kosong lagi, tapi kini memakai pisau. Paijo merapat ke Udin; seolah melindunginya dari mata pisau yang tajam.

“Kamu kejar Watik, sana! Lindungi dia! Orang-orang ini, biar Mas yang ngurus!”

Udin setuju. Dia langsung kabur. Seorang preman bermaksud mengejar Udin, tapi Paijo menjegalnya hingga tersungkur. Udin terus berlari mencari Watik.

Sementara itu Watik sampai di jalan raya.

CIIIIIT!

Sebuah mobil boks hampir saja menabrak Watik. Tapi tubuhnya membentur bagian pinggir bodi mobil. Dia memandang pengendara mobil, yang sejak tadi hanya terkesima. Dia juga melihat ke belakangnya. Di mulut gang tampak Bang Jupri dan tiga cecunguknya sedang berlari menujunya!

“Heh, Watik! Balik sini lo!” teriak Jupri.

Mesin mobil masih menyala.

Watik kembali menatap pengendara mobil, yang masih belum bergeming menatapnya. Watik merasa heran, karena kedua bola mata pengendara mobil boks itu seperti sedang melihat sesuatu yang aneh pada dirinya. Dan tak mau berkedip sejak tadi.

“Tolong saya, Pak,” Watik memohon.

Wajah pengendara mobil itu makin tegang.

“Saya tidak mau mereka menangkap saya…”

Bibir si Pengendara bergetar tak bisa bicara.

Jupri dan pengikutnya terus mendekati Watik. Mereka makin bernafsu saja. Beberapa orang penduduk kampung ada yang menyaksikan dan mulai gelisah melihat peristiwa ini. Tapi mereka memilih pergi saja tanpa bisa melakukan apa-apa.

“Pak, tolong saya, Pak,” tanpa diduga Watik membuka pintu mobil dan naik. “Mereka mau membunuh saya, Pak…”

Si Pengendara makin terbelalak ketika melihat perempuan ingusan ini sudah duduk di sebelahnya. Dia melihat tubuh si perempuan cilik diselimuti cahaya. Dia teringat dengan peristiwa “bayi dalam selubung cahaya”, yang pernah dibuangnya di sungai Ciliwung, 14 tahun yang lalu……..

“Turun, lo! Turun!” Jupri mempercepat larinya.

Pengendara itu sangat gugup dan dengan reflek menginjak gas.

Mobil pun melonjak-lonjak dan lari seperti kuda liar!

Tapi diam-diam, Udin berhasil mengingat nama sebuah warung makan beserta alamatnya di bodi mobil boks itu!

***

Alhamdulillah, ya Allah,” Watik mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Lalu dia menoleh. “Terima kasih, Pak,” katanya tulus.

Si Pengendara masih seperti diliputi ketakutan, karena sudah melihat cahaya menyelimuti tubuh Watik. Dia masih terus saja melihat ke jalanan di depannya. Watik menoleh ke belakang. Jupri dan para kecoanya berusaha mengejar, tapi mobil makin cepat saja jalannya.

“Untung ada Bapak.”

Si Pengendara menoleh dengan takut-takut. “Allahu Akbar,” katanya. “Masya Allah,” dia kembali melihat ke depan. Cahaya itu masih menyelimuti anak ingusan itu. Siapa dia?

“Bapak, kenapa?”

Si Pengendara menggelengkan kepalanya. “Ya Allah, ampunilah hamba-Mu ini,” suaranya bergumam.

“Bapak tidak salah apa-apa,” ternyata Watik mendengar gumamannya. “Justru Bapak sudah menolong saya.”

Dia mencuri pandang dengan ekor matanya. Cahaya itu sudah hilang! Kini dia mulai berani menatap Watik. “Siapa kamu? Kenapa dengan orang-orang kasar tadi?” tanyanya mulai merasa enakan.

“Saya ‘Watik’, Pak. Orang-orang tadi preman di perempatan jalan besar tadi. Mereka ingin saya ikut mereka untuk bekerja dengan mami Santi.”

“Preman? Mami Santi?”

“Bahkan saya mau diperkosa oleh salah seorang dari mereka. Bang Jupri, namanya. Untung Bang Udin dan Mas Paijo menyelamatkan saya. Mereka mendatangi tempat persembunyian saya di rumah Mas Paijo. Saya lari. Untuk ada Bapak tadi. Ini atas ridho Allah juga, Pak,” Watik menceritakan kish hidupnya dengan suara terbata-bata bercampur dengan perasaan haru.

“Bang Udin? Mas Paijo?”

“Mereka orang baik seperti Bapak.”

“Kamu tinggal di mana?”

“Di perkampungan belakang terminal, Pak.”

“Tinggal sama siapa?”

Sama mbak Nunik. Dia yang cari uang buat bayar kontrakan kamar petak. Tapi kata Mbak, saya bukan adik kandung Mbak. Ibu menemukan saya terapung-apung di pinggir kali Ciliwung.”

Si Pengendara ternganga. Wajahnya pucat pasi.

Watik menunduk dan menitikkan air mata.

“Kamu sekarang mau pulang ke mana?”

“Nggak tahu, Pak.”

“Tidak ada saudara lain?”

Watik menggeleng.”

“Teman, barangkali.”

“Saya sebatangkara. Hanya Mbak Nunik saudara saya selama ini. Kembali ke Bang Udin atau Mas Paijo, itu tidak mungkin. Bang Jupri pasti akan menangkap saya.”

“Kamu kan bisa lapor ke polisi.”

“Tidak ada gunanya, Pak. Bang Jupri itu sudah berkali-kali ditangkap, tapi keluar juga.”

Si Pengendara mempelankan laju mobilnya. Dia kini sudah bisa berpikir jernih. Dia menatap jalanan di depannya lagi. Tiba-tiba kaca mobilnya berubah jadi layar TV raksasa. Di sana tergambar dengan jelas saat dia bersama Susi, pacarnya yang enatah berada di mana sekarang. Saat itu mereka hendak menyimpan bayi di depan sebuah panti asuhan. Bayi itu milik Cindy. Tapi Susi lari meninggalkannya, karena ketakutan melihart tubuh si bayi merah yang diselubungi cahaya. Tak ada pilihan lain baginya, bayi merah itu dihannyutkannya di sungai Ciliwung. Itu sudah lama sekali; 14 tahun yang lalu.

Lantas dia menoleh. Dia ingin memastikan, apakah perempuan belia ini ada hubungannya dengan bayi yang dihanyutkannya di kali Ciliwung. Dengan sangat hati-hati dia meneliti bagian samping wajahnya. Tapi dia merasa kesulitan untuk mengenalinya.

“Stop, stop di depan saja!”

Si Pengendara meminggirkan mobilnya. Dia meneliti keadaan di sekelilingnya. Di depannya ada jembatan yang melengkung melewati jalan tol Jakarta – Merak. Dia memang hendak menyebrangi jalan tol, menuju pinggiran Jakarta di sebelah barat.

“Terima kasih, Pak,” Watik bermaksud membuka pintu mobil.

“Kamu mau ke mana?”

“Saya sudah terbiasa hidup di jalanan, Pak. Bagi saya yang penting sekarang, bisa terlepas dari Bang Jupri dan Mbak Nunik. Sekali lagi terima kasih.” Watik turun. Dia menutup pintu mobil dengan pelan. Lalu berjalan ke pinggiran dan berdiri di sana. Dia membalik dan tersenyum.

Ketika gadis kecil ini menghadap langsung ke arahnya, dalam siraman lampu penerang jalan, dia bisa melihat sebuah kalung dengan bandul huruf “C” bertengger di dadanya. Si Pengendara seperti dihantam oleh balok beton. Tepat mengenai kepalanya. Hatinya roboh!

***

Bab Sebelas

DI STASIUN TELEVISI

Pak Rahmat memarkir mobilnya di antara deretan mobil-mobil lainnya. Arum bergegas membuka pintu. Udara AC langsung berganti dengan angin lembut. Daun-daun angsana yang kering berjatuhan menimpa rambutnya, yang sudah banyak uban. Arum merasakan pipinya ditampar-tampar dengan halus oleh angin menjelng siang. Betapa sejuk arena perparkiran stasiun televisi swasta ini. Pohon-pohon angsana berjejer rapih menjadi payung hidup.

“Pak Rahmat mau ikut ke dalam?”

“Saya di sini saja, Bu. Sekalian nerusin tidur. Semalam nonton piala Champions sampai pagi.”

“Ya, sudah. Saya pergi dulu. Kalau ada apa-apa, nanti Ibu panggil lewat pengeras suara.”

“Iya. Bu. Semoga Ibu bisa mendapatkan khabar yang baik tentang anak kecil di berita televisi itu.”

“Amin.” Rum tersenyum dan berjalan menyusuri jalan. Dia mengitari pandang dan membacdai smua petunjuk arah di areal yang luas iin. Tadi dipintu gerbang utama, seorang petugas menunjukkan arah, bahwa redaksi pemberitaan televisi ini berada di gedung C. Dia kini sudah melihatnya. Ada di sayap sebelah kanan gedung utama, A. Dia berjalan ke sana. Di samping kanan gedung A ada kesibukan yang luar biasa. Sebuah mobil generator menyala keras. Kael-kabel beresrakan. Beberapa orang sedang mejmasang lampu di atas tiang penyangga. Kamera sedang di setel. VTR diletakkan di tempat yang teduh.

“Setengah jam lagi kita take, ya!” seseorang berteriak.

“Kayaknya nggak bakalan bisa!”

“Kenapa?”

“Pemain utamanya kejebak macet di Bintaro!”

“Cuma nunggu si Ferry?”

“Iya!”

“Pemain lainna udah kumpul semua?”

“Udah!”

“Telepon penulisnya. Minta dialog-dialog si Ferry dipindah ke Tata. Atau Wahyu. Entah gimana alasannya, pokoknya di scene ini tanpa si Ferry!”

Ceritanya jadi bergeser!”

“Ah, lo tau apa soal cerita! Biar itu urusannya penulis. Dia lebih tahu dari kamu!”

“Satu jam diundur, nggak bisa?”

“Lo yakin macetnya cuma sejam? Bintaro itu war zone jam segini! Bisa dua-tiga jaman macetnya!” dia bersungut-sunut. “Lihat, tuh!” dia menunjuk ke langit. “Kalau hujan, malah kita nggak akan dapat apa-apa!”

“Oke, oke!”

Arum tersenyum mendengar percakapan antara sutradara dan asistennya itu. Ternyata tidak gampang membuat sinetron. Dia hanya tinggal duduk dik ursi dan menonton hasilnya saja. Kalau bagus dia memuji, kalau jelek pindah ke saluran yang lain. Andai saja kisah hidupku disinetronkan! Dia jadi tersenyum sendiri membayangkan hal itu.

Arum mendorong pintu lobi gedung C. Hawa AC menyergapnya lagi. Dia merapatkan ujung kerudung di lehernya. Dia berjalan ke resepsionis.

“Assalamualaikum.”

“Pagi, Bu,” jawab si wanita resepsionis.

Arum tersenyum. “Saya ada janji dengan Pemimpin Redaksi Pemberitaan.”

“Sebentar, Bu,” petugas wanita itu mengambil sebuah buku. “Ibu sudah bikin janji.”

“Sudah. Saya ‘Nyonya Arum’.”

“Nyonya Arum,” dia mencari-cari didaftar. Lalu dia menutup buku itu dan mengangkat gagang telepon. “Pagi, Pak. Mereka sudah datang,” dia menatap ke belakang Arum. “Bagaimana? Mereka disuruh naik? Baik, baik.” Dia meletakkan gagang telepon. “Ibu silahkan duduk dulu. Lima menit lagi beliau akan turun.”

“Terima kasih.” Arum membalik dan berjalan ke ruang tunggu. Dia melihat ada seorang wanita berjilbab sedang tekun membaca sebuah buku. Arum duduk di depannya.

Wanita itu mengangkat wajahnya. Tersenyum. Arum juga tersenyum. Wanita kembali membaca buku. Arum mencari-cari sesuatu di dalam tasnya. Wanita itu tampak tidak melanjutkan bacaannya. Dia pelan-pelan mengangkat wajahnya. Dia memperhatikan wanita separuh baya, yang sedang mencari-cari sesuatu di dalam tasnya. Dia merasa kenal dengannya.

“Tante Arum?” tapi dia masih merasa kurang yakin.

Ya, saya sendiri,” Arum mengangkat wajahnya. Dia tersenyum pada wanita di depannya. Dia sedang menebak-nebak siapa gerangan lawan bicaranya itu.

“Tante tidak mengenali saya?”

“Maaf, Tante sudah tua. Suka lupa sekarang,” sebuah buku kecil tentang kumpulan doa-doa kini di genggaman tangannya.

“Tuan Bram, ‘kan?”

Arum tersenyum lagi, walaupun muncul rasa kaget ditangannya. Bahkan buku kecil itu dimasukkannya lagi ke dalam tasnya, pertanda bahwa dia mulai serius . “Itu sudah berlalu, dik. Siapa, ya?” Arum penasaran menatap wajah lawan bicaranya.

“Sudah lama, Tante,” wanita berjilbab ini menerawang. “Saya membacanya di koran. Cindy yang bernasib malang. Tuan Bram yang harus menebus dosa-dosanya di rumah sakit. Juga saya, Tante. Yang selalu dibayangi rasa bersalah, karena sudah membuang cucu Tante,” tiba-tiba matanya berkaca-kaca.

“Kamu?”

Wanita ini langsung bangkit dan menubruk Arum. Dia menggenggam lengan Arum kuat-kuat sambil berurai air mata. “Maafkan susi, Tante. Seharusnya Susi tidak meninggalkan Anton sendirian dengan bayi Cindi. Tapi Cindy takut melihat bayi itu diselubungi cahaya. Cindy sangat takut.”

“Subhanallah,” Arum mendekap kepala Susi. Membelai rambutnya. “Ternyata kita masih diberi umur panjang untuk bertemu lagi.”

“Tante kelihatannya baik-baik saja.”

“Itu semua berkat pertolongan Allah.”

“Alhamdulillah…”

“Tante berkali-kali menghubungi keluargamu. Kata mereka, kamu tidak pernah memberikan alamat yang jelas. Kamu seperti hilang ditelan bumi. Padahal Tante sangat membutuhkan pertolongan kamu.”

“Ehem!”

Arum dan Susi tersentak. Mereka lupa bahwa sedang berada di lobi sebuah gedung. Lelaki yang berdehem itu mencoba bersikap simpati, karena dua wanita itu sedang bersimbah air mata. “Apa butuh ruangan khusus? Barangkali masih ada yang perlu dibicarakan?” dia menawarkan jasa.

Arum menyeka air matanya. Susi juga. Mereka menggeleng cepat.

Maafkan kami, Pak,” Arum kini sudah bisa tersenyum. “Kami sudah lama tidak bertemu.”

“Jadi, kalian datang ke sini tidak bersama-sama?”

Arum dan Susi menggeleng..

“Tapi, kalian datang ke sini dengan alasan yang sama, ingin melihat kaset rekaman operasi pembersihan perempuan penjaja seks komersial! Menarik sekali!” seru si Lelaki.

Arum dan Susi kaget dan saling pandang. “Anak kecil itu?” mereka saling melemparkan pertanyaaan.

***

Pak Yanto menyuruh seorang operator menyiapkan perangkat video player. Sebuah TV dengan inci besar berada di tengah-tngah. Di ruangan rapat ini mereka duduk membicarakan tentang operasi yang digelar Satpol Pamong Praja beberapa malam yang lalu.

“Wartawn dan kameraman yang meliput peristiwa ini sedang menuju ke sini. Mereka mungkin bisa menjelaskan lebih rinci lagi. Menurut kameramannya, masih ada satu kaset lagi yang bisa berbicara banyak tentang peristiwa malam penggarukan itu.”

Arum dan Susi mengangguk-angguk. Seorang office boy masuk, menyuguhkan minuman air putih.

“Kejadian ini sangat menarik. Sangat menyentuh nilai-nilai kemanusiaan kita. Cucu Bu Arum dibuang oleh dik Susi bersama pacarnya, Anton, yang sekarang entah berada di mana.”

“Setelah sembuh dari perawatan, Anton menghilang,” Arum menjelaskan.

“Tapi mantan suami Ibu, Tuan Bram yang mantan pegnusaha terkenal itu, masih dirawat di sana. Bahkan disinyalir sulit untuk sembuh seperti sedia kala.”

“Iya.”

“Kembali ke soal bayi yang dibuang tadi. Itu empat belas tahun yang lalu. Dik Susi sendiri tidak tahu, di mana Anton membuangnya. Tapi, menurut Bu Arum, saat bertemu di rumah sakit, Anton bercerita baha bayinya dihanyutkan di sungai Ciliwung.”

“Dihanyutkan di Ciliwung,” Susi masih tidak bisa mempercayainya kalau Anton membuangnya di sungai. “Seharusnya saya tidak meninggalkan Anton. Seharusnya cucu Tante ada di panti asuhan sekarang,” rasa bersalah itu tetap ada.

Sudahlah. Jangan terlalu menyalahkan diri kamu. Justru sumber masalah ada pada diri Tanten. Coba, kalau misalnya Tante sndiri yang meletakkan cucu Tnte di depan pintu panti asuhan, kamu sama Anton ‘kan tidak perlu terlibat.”

“Yang paling menarik di sini, bahwa bayi itu diselubungi cahaya. Itu yang menjadi alasan kenapa dik Susi lari meninggalkan Anton.”

“Juga kupu-kupu pelangi yang memantulkan cahaya,” Arum mengingatkan.

“Soal kupu-kupu pelangi ini, kira-kira ada hubungannya tidak dengan bayi, yang entah kini ada di mana?”

“Pasti ada. Yang melihat kupu-kupu pelangi itu ‘kan bukan hanya saya. Tapi, Bram, Pak Rahmat, Anton, serta fredy dan Franky, kedua tukang pukul Bram.”

“Ya, ya, ya!”

“Pak Rahmat dan Bram, melihat kupu-kupu pelangi itu saat mereka hendak membawa Cindy ke klinik untuk operasi cesar!”

“Ya, ya, ya!”

“Bahkan Cindy juga pernah melihat nya. Sekali saja. Saat dia dibawa ayahnya dari rumah ke klinik.”

“Hanya saja, Bu Arum tetap keberatan menyebutkan, siapa ayah dari anak Cindy.”

“Tidak perlu itu. Orangnya masih hidup. Saya tidak berhak merusak kebahagiaannya sekarang.”

TOK, TOK, TOK!

“Masuk!”

Dua orang lelaki masuk.

“Ini wartawan kami, Teguh. Dan yang agak gemuk ini, kameraman, Triono!” Pak Yanto memperkenalkan.

Arum dan Susi bangkit dan saling berjabatan tangan. Di tangan Teguh ada sebuah VHS.

“Oke, sudah ngumpul semua. Bagaimana video playernya? Sudah bisa diputar?” tanya Pak yanto pada seorang pegawai, yang sedari tadi masih mengotak-atik peralatan video player.

Silahkan, Pak!” petugas itu sudah selesai mengerjakan tugasnya. Dia pun pergi dari ruangan.

“Oke! Kita lihat dulu versi yang sudah ditayangkannya, ya!” Pak Yanto memencet remote controle.

Arum dan Susi tak pernah mengedipkan matanya. Dia tidak mau melewatkan gambar-gambar di televisi itu……..

“Lepasin, Pak! Lepasin!”

“Saya bukan pelacur, Pak! Bukan! Saya ibu rumahtangga, Pak!”

“Jangan, Pak, jangan! Kasihanilah saya, Pak!”

“Anak saya masih kecil di rumah. Dia butuh susu, Pak!”

Kemudian seorang korban berhasil diwawancara oleh reporter TV. Wajahnya menyimpan kesedihan dan “Saya baru pulang dari Bogor, Mas, Abis minjem duit sama Ibu. Anak saya yang baru umur 3 tahun kena cacar. Mau saya bawa ke rumah sakit. Kasihan bapaknya sekarang. Dia pasti nunggu- nunggu. Padahal saya udah nunjukin ka te pe, Mas. Tolonglkah saya, Mas. Moga-moga suami saya nonton ya, Mas. Biar dia bisa nyusul saya ke tempat penampungan.”

Lalu ada wawancara yang lain. Kali ini seorang wanita bergincu tebal. “Kenapa kami diperlakukan seperti binatang? Diangkuti ke atas truk dan ditumpuk kayak ikan sarden! Apa salah kami? Kami kan cari uang. Kami kan ada di sini, karena ada yang mencari kami. Karena ada yang butuh sama kami. Tapi, kenapa hanya kami yang ditangkapi? Kenapa yang di hotel-hotel berbintang nggak ditangkapi juga? Apa bedanya mereka?”

“Iya, Mas! Ini kan nggak adil!” yang lainnya nimbrung dengan nada protes. “Katanya jaman reformasi! Mana hidup udah susah begini! Harga-harga naik melulu! Janjinya mau merhatiin rakyat kecil! Tapi, para koruptor malah dibiarkan bebas! Ini nggal adil! Kita kan nggak ngerugiin siapa-siapa. Kita cari duit kayak gini karena nggak ada jalan lain aja.”

Beberapa orang aparat Pamong Praja mendekati mereka. Wawancara itu dibubarkan. Beberapa telapak tangan menghalangi lensa kamera. Gambar bergoyang-goyang. Orang berlarian. Kepanikan yang ada.

“Ayo, cepet naik!” seorang aparat memaksa.

“Lepasin, Pak! Lepasin!”

Seorang aparat menutupi lensa kamera.

Gambar kembali bergoyang-goyang. Tapi tak lama. Kini muncul lagi gambar tentang sebuah perempatan jalan. Lampu lalu lintas dari hijau ke merah. Lampu merkuri menghamburkan sinar violetnya. Berkerlap-kerlip dan menyelimuti para wanita jalanan, yang lari pontang-panting menghindari kejaran para aparat Kamtib.

“Nah, yang ini!” Arum sudah tidak sabar lagi.

“Dia masih kecil. Dia pasti dipaksa untuk jadi pelacur jalanan!” Susi menimpali.

Seorang yang masih anak-anak berjalan seorang diri saja. Anak itu berjalan di antara kepanikan menuju truk dengan sangat tenang. Anak itu seolah sedang mengikuti “sesuatu”. Seolah sedang tersihir oleh “sesuatu”. Seolah dibimbing oleh “sesuatu” untuk naik ke atas truk dan bersedia digaruk aparat.

Gambar-gambar pun selesai.

Semua menghela napas.

“Jadi, anak kecil itu yang membuat Bu Arum dan dik Susi ke sini. Hikmahnya bagus juga. Kalian yang sudah lama berpisah, bertemu di sini.”

“Apa ada pengambilan gambar dari arah depan, ya? Saya ingin sekali melihat anak kecil itu dari depan.”

“Triono? Bagaimana?”

Triono mengangguk dan bangkit. Dia berjalan ke video player. Memijit eject, mencabut VHS yang lama dan memasukkan VHS yang sedari tadi dipegangnya. “Semoga Ibu dan ‘Mbak bisa mengenali anak itu.”

Play!

Arum dan Susi berdebar-debar menunggu peristiwa yang direkam kamera muncul di layar TV.

***

Ruang tunggu itu terasa pengap. Tak ada udara pendingin. Hanya ada kipas angin kecil, yang berputar-putar di langit-langit ruangan. Tak terasa apa-apa, karena hembusan panas siang hari dari arah luar lebih kuat. Arum duduk gelisah sabil mengipas-ngipas tubuhnya. Sedangkan Susi mondar-mandir.

“Lama sekali!” Susi tidak sabar lagi.

“Sabar, Sus.”

Sepertinya ada yang ditutup-tutupi!”

“Jangan berprasangka buruk dulu.”

“Sebaiknya kita tunggu di luar saja, Tante. Sekalian lihat-lihat. Lumayan banyak anginnya,” Susi keluar juga.

Arum bangkit dan mengikuti Susi. Mereka sudah berada di koridor. Beberapa wanita lalu-lalang sambil tertawa genit. Mereka seolah tidak merasa terbebani dengan status dan posisinya di tempat penampungan ini.

“Besok gue udah ditebus Mami!”

“Berapa lo bayar?”

“Ada aja!”

“Alah! Lo bayar ama goyangan lo ‘kan!”

“Emangnya gue Inul!”

Mereka menggoyang-goyangkan pinggulnya seperti sedang ngebor saja! Tawa mereka pun meledak. Orang-orang yang melihat tingkah polah mereka sebagai Inul si ratu “ngebor” ikut tertawa. Lumayanlah untuk melupakan keruwetan hidup sejenak.

Tapi Susi masih saja gelisah mondar-mandir di koridor. Sedangkan Arum lebih memilih berjalan ke tengah taman.

“Kemana, Tante?”

Arum menunjuk ke pohon beringin itu. Di sana ada beberapa bangku yang melingkari sebuah pohon beringin yang besar. Mungkin di sana udaranya lebih sejuk, pikirnya. Susi akhirnya mengikuti.

Ketika baru saja duduk, Arum mendengar suara isak tangis. Dia menoleh. Tak jauh darinya, dia melihat seorang wanita sedang tersedu-sedan. Susi yang hanya berdiri sambil melihat-lihat ke ruangan kantor itu, juga tertarik dengan suara isak tangis itu. Arum dan Susi mendekati wanita itu.

“Kenapa, dik?”

Wanita itu menatapnya. Air matanya tak tampak, tapi matanya sembab. Bibirnya kering. Wajahnya pucat.

“Sakit?” Susi meneliti.

Dia menggeleng.

apa, Dik?”

“Ibu bisa menolong saya?”

“Menolong, bagaimana?”

“Ada yang ngancam kamu? Ayo, ceritakan. Kebetulan saya dari lembaga yang peduli pada kasus-kasus kekerasan perempuan.”

Wanita itu menatapnya. Sorot matanya yang tadi kelabu kini dibercaki cahaya seperti lilin. Dari nyala kecil menjadi terang.

“Betul, Bu?”

“Iya, betul,” Susi mengangguk dan duduk di sebelahnya.

Wanita ini mengusap kedua matanya. Dia mengumpulkan napasnya. “Saya bukan pelacur, Bu. Saya seorang Ibu dengan dua orang anak. Malam itu saya baru pulang dari rumah Ibu. Saya pinjam sama Ibu untuk biaya anak saya yang kena cacar. Suami saya menjgai kedua anak kami. Saya pulang kemalaman. Tiba-tiba, saya kena garuk, Bu. Padahal saya sudah nunjukin ka te pe sama petugas. Tapi, mereka tidak peduli.”

“Ya, ya, ya, saya mengerti!”

“Keluarkan saya dari sini, Bu! Keluarkan! Saya harus pulang. Saya harus beli obat buat anak saya! Kasihan suami saya. Dia sudah kesini, tapi harus minta surat keterangan dari walikota dulu, Bu. Suami saya sudah abis-abisan buat ngeluarin saya.”.

Dua orang petugas datang menghampirinya. Mereka memegangi tangannya dan mengajaknya pergi. Tapi dia menolak. Terjadilah adegan tarik menarik; seperti orang sedang berlomba tarik tambang.

“Saya mau dibawa ke mana, Pak?”

“Ikut kami ke kantor!”

“Memang kenapa dia?” Susi memprotes.

“Urusannya makin rumit. Dia terlalu banyak bicara, sehingga masalah ini dimuat di koran-koran.”

“Lho, apa salahnya?” Arum tidak bisa terima begitu saja.

“Ibu ini siapa?”

Saya mencari cucu saya di sini, Pak! Tadi, kami sudah menunggu hampir satu jam, tapi belum juga ada jawaban.”

“Namanya siapa?”

Arum melihat ke Susi. Mereka bingung. Mereka memang belum tahu siapa namanya.

“Cucu sendiri kok nggak tahu namanya!”

“Tapi, sebentar, Pak,” Arum mencari-cari sesuatu di tas kecilnya. Tadi di stasiun televisi swasta, dia dibekali sebuah foto hasil print out lewat komputerisasi. Foto ini pun sudah dia perbanyak dan dibagi-bagikan kepada semua orang di tempat penampungan. “Ini, ini fotonya, Pak!”

Seorang petugas meneliti foto hitam putih itu. Kedua alisnya teragnkat. Keningnya berkerut. “Nggak jelas! Bukan foto asli, sih!” suaranya bergetar berat. Dia menyerahkan lagi foto kopian itu ke Arum. “Ayo! Ikut kami! Dia kembali menarik wanita malang tadi.

“Bu, tolong keluarkan saya,” tangisnya lagi.

“Ikut dulu saja, Bu. Jangan khawatir, nanti saya akan datang ke sini lagi mengurus Ibu. Insya Allah, Ibu akan pulang bertemu dengan anak-anak dan suami Ibu.”

“Pokoknya, saya minta dipulangin secepatnya. Kasihan anak saya…”

“Iya, iya, Bu…”

Akhirnya si Ibu mengikuti kedua petugas itu ke kantor.

Arum dan Susi terhenyak di kursinya. Mereka mulai putus asa. Tak ada seorang pun yang mengenali gadis kecil, yang dimaksud mereka.

“Belon ketemu?” tiba-tiba seorang wanita berdiri di depan mereka. Tangannya memegagni foto yagn tadi disebarkan oleh Arum dan Susi. Dia meneliti lagi fotonya dan mengingat-ingat,

“Belum,” jawab Arum sedih.

“Ibu kenal?”

“Rasa-rasanya iya. Saya pernah ketemu dia di sini. Masih kecil. Cantik. Kayaknya dia anak baik-baik.”

“Kok, Ibu ada di sini?” Arum menelitinya.

Saya lagi sial aja. Saya bukan pelacur, kok. Pada waktu peristiwa penggarukan itu, saya beli obat nyamuk. Eh, mereka ngegaruk saya.. Saya nggak bawa dompet. Wong cuma beli obat nyamuk, kok. Ya, nggak bakalan ke mana-mana. Tapi, suami saya udah ngomong ke koran-koran. Biar rame sekalian..”

“Jadi, Ibu ngelihat anak ini?”

“Iya.”

“Tahu namanya?”

Dia menggeleng.

Arum kecewa.

“Mungkin….,” Susi memancing.

“Ya, alamat rumahnya anak itu pernah ngomong. Di daerah Cengkareng. Atau mungkin deket terminal Kalideres. Tepatnya saya nggak tahu persis. Tapi, coba aja cari petugas di sini yang di pipinya ada codet. Saya lihat, pada waktu malam dia dipulangkan, dialah yang membawa anak itu.”

“Yang bercodet?”

“Iya.”

“Yang tadi itu? Yang bawa perempuan itu?”

“Iya. Yang tadi ibu kasih lihat fotonya.”

“Astaghfirullah! Dia membohongi kita, Tante!”

“Sabar, Sus. Sabar.”

Susi menggeleng-gelengkan kepalanya pertanda kesal dan marah.

***

Anton seperti tersengat listrik. Dia meraba-raba kursi sofanya; mencari-cari remote controle. TV 21 inchi berada persis di depannya. Dia membesarkan volume TV. Kedua matanya dibuka lebar-lebar. Susikah itu? Tante Arumkah? Dia berpindah tempat duduk, agar lebih dekat dengan TV. Di sebuah acara entertainment TV swasta, dimana segmentnya adalah berisi tentang para pemirsa yang kehilangan sanak saudaranya, Arum dan Susi muncul sebagai nara sumber. Susi yang dulu pernah menjadi pelabuhan hatinya. Tante Arum yang dulu menjadi orang pertama meneteskan tinta hitam ke dalam idealisme putihnya.

Mbok Siti, orang yang sudah merawat saya sejak kecil, memberi nama cucu saya dengan ‘Raden Ajeng Larasati’. Saya sendiri belum memberinya nama. Apalagi Cindy, ibu si bayi. Tapi, orangtua angkatnya memberinya nama ‘Watik’. Begitu kata orang-orang yang kami temui di daerah Kalideres,” suara Arum di televisi bergetar dan diselimuti keharuan.

“Bagaimana bisa yakin, kalau dia adalah cucu Ibu?” si Pewawancara kurang yakin.

“Dia memakai kalung berbandul ‘ce’,” mata Arum berkaca-kaca.

“Bandul dengan huruf ‘ce’?” si Pewawancara tertarik dengan kalung. “Maksudnya?”

“Sebelum saya menyuruh Susi…,” melihat ke Susi, yang duduk gelisah di sebelahnya, “…. Untuk meletakkan cucu saya di depan pintu sebuah panti asuhan, saya dan ibu Cindy, berinisiatif melingkarkan kalung itu. Huruf ‘ce’ itu maksudnya adalah ‘Cindy’. Nama anak saya. Ibu dari si bayi. Kami berharap, suatu saat kelak bisa mengenalinya lagi jika melihat bandul kalung itu. Semoga saja dia masih memakainya.”

“Ibu tidak tahu di mana cucu Ibu sekarang?”

“Ketika kami mendatangi panti rehabilitasi, ada seorang penghuni yang mengenali cucu saya.”

“Termasuk melihat kalung dengan bandul ‘ce’ itu?”

“Iya. Saya yakin, cucu saya termasuk yang terkena pembersihan pekerja seks komersial beberapa waktu yang lalu. Preman Jupri dan Nunik, dalam berkas acara pemeriksaan menguatkan itu. Mereka malam itu membawa Watik ke perempatan jalan untuk beroperasi. Juga petugas yang.. maaf… bercodet itu… Dia juga mengaku membawa Watik untuk ditawarkan ke Om-om di sebuah hotel. Konon, Watik masih gadis…”

Susi melihat Arum tak mampu lagi meneruskan kalimatnya. Dia melengkapinya, “Terutama juga atas bantuan dan keberanian Udin dan Paijo. Mereka berdualah yang melawan kesewenang-wenangan preman Jupri. Atas partisipasi mereka, preman Jupri tak mampu mencegah Watik lari.”

“Saya percaya, kalau cucu saya bukan pelacur, kecuali karena dipaksa. Kita ‘kan semua tahu, bagaimana kerasnya hidup di jalanan.”

“Mbak Susi juga melihat peristiwa itu di televisi?”

Susi mengangguk. Dia ingat sekali malam itu, ketika masih disibukkan oleh berkas-berkas yang menumpuk di mejanya. Seharian itu dia tak beranjak dari ruang kerjanya. Makan siang dan malam pun dia lakukan di meja kerjanya. Berita malam di TV itu mengusiknya hatinya. “Operasi Bersih Jaya” di seluruh jalanan kota Jakarta membangunkannya dari kelelahan membacai hasil wawancara dari banyak korban kekerasan perempuan di Jakarta. Di televisi dia melihat ada seorang anak yang berjalan seperti dibimbing “sesuatu” ke atas truk. Sementara itu di sekelilingnya kepanikan sedang terjadi. Dia langsung bangkit dari duduknya saat itu. Dia berjalan ke kursi tamu di ruang kerjanya, yang berukuran 4 kali 4 meter. Dia membesarkan volume TV. Matanya tak pernah lepas dari setiap gambar yang ditampilkan. Seorang anak terselip di antara keriuhan penggarukan wanita penjaja seks komersial, yang sering juga disebut penyakit sosial.

“Siapakah anak kecil itu?” Susi melemparkan pertanyaan pada pemirsa di rumah dengan nada bergetar. Kedua matanya berkaca-kaca. Di sana terlukis perasaan bersalah yang membayangi sepanjang hidupnya. “Saya seperti pernah melihatnya,” gumamnya.

“Baik, Pemirsa di rumah. Kita lihat saja peristiwa pembersihan para pekerja seks komersial oleh Satuan Polisi Pamong Praja beberapa waktu yang lalu.”

Lalu muncul di layar televisi, bagaimana peristiwa pembersihan pekerja seks komersial itu berlangsun. Di sanalah pemirsa dengan sangat jelas bisa melihat seorang gadis di bawah umur sedang berjalan menuju mobil aparat. Adegan itu sengaja di perlambat dan tampak sekali kalau si gadis tidak mempedulikan kejadian hiruk pikuk di sekelilingnya. Anak itu seperti sedang megnikuti “sesuatu” yang entah apa. “Sesuatu” yang membimbingnya……

“Subhanallah,” Arum tersedu-sedu.

“Jadi, Ibu dan ‘Mbak yakin, kalau anak itu ada kaitannya dengan bayi, yang sudah….”

“Dihanyutkan di kali Ciliwung oleh Anton,” Arum memperjelas.

Ya, dihanyutkan. Oleh…. Anton, ya? Mantan pengusaha yang disinyalir punya bisnis gelap itu. Entah di mana dia sekarang. Ibu bertemu dengan Anton saat di rumah sakit, ya?”

“Iya. Saat kerusuhan massal Mei berdarah itu, Anton kehilangan segala-galanya.”

“Yakin Watik akan diketemukan?”

“Udin, sahabat Watik mengamen, berhasil mengingat nomor polisi mobil boks yang membawa Watik malam itu. Kini pihak aparat kepolisian sedang melacak pemiliknya. ”

Si Pewawancara melihat ke Susi. “Ketika di kampus, Anton pernah dekat dengan Anda, ya?”

Susi mengangguk dan matanya berkilauan oleh permukaan air. “Anton kekasih saya saat itu. Dan sayalah yang menjerumuskan Anton untuk menerima pekerjaan terkutuk itu. Membuang bayi yang tak berdosa. Dia sebetulnya orang yang baik. Mahasiswa idealis. Semoga saja dia menonton tayangan ini. Saya meminta maaf, karena sudah meninggalkan kamu saat itu, Anton,” Susi melihat ke kamera dan menangis.

Mata Anton terasa hangat. Dadanya dihantam ombak.

“Kabar terakhir, mantan suami Ibu, Raden Tumenggung Bramantio Brotodiningrat, masih dirawat di rumah sakit.”

“Iya. Tinggal perawatan akhir. Mungkin setelah Watik kami temukan, Pak Bram akan sembuh. Menurut diagnosa dokter, yang sakit adalah jiwanya. Saya yakin, sepeti juga halnya kami, Pak Bram juga dihantui perasaan bersalah atas bayi tak berdosa itu. Awalnya yang dia tahu, dia sudah membunuh Cindy dan bayinya. Tapi, ketika kami beritahu, bahwa si bayi itu masih hidup, dia merasa bersyukur. Kami bisa melihat dari sorot matanya yang bersinar.”

“Jadi, Ibu akan membawa Watik bertemu dengan Pak Bram?”

“Insya Allah, itu sudah kewajiban kami.”

“Bagaimana dengan ayah Watik?”

Arum terdiam.

Susi tampak tegang.

“Belum saatnya saya bicarakan di sini. Tapi, saya akan membawa cucu saya pada ayahnya nanti. Saya yakin, mereka pasti akan berbahagia ketika bertemu.”

Si pembawa acara merasa maklum. Dia menatap kamera dan berbicara, “Kami menghimbau, jika ada yang pernah melihat Watik, jangan sungkan-sungkan untuk mengbungi kami di….”

Anton mematikan TV. Pikirannya mengembara dengan sangat liarnya. Selepas dari perawatan rumah sakit, waktu telah membawanya ke pinggiran kota Jakarta ini, sebagai pengusaha rumah makan untuk para pelajar dan mahasiswa. Daerah tempatnya tinggal berdekatan dengan sebuah kampus dan kompkleks sebuah lembaga pendidikan pesantren. Dengan bantuan teman-temannya dan sedikit sisa tabungan, Anton membeli sebuah rumah di pinggiran barat Jakarta. Lalu dia membuka usaha warung makan. Kesehariannya selain dihabiskan di rumah makan, juga di pengajian-pengajian mesjid. Saat hampir menabrak Watik malam itu, dia baru saja menghadiri sebuah pengajian.

Awalnya Anton sangat ketakutan ketika melihat cahaya muncul di tubuh Watik. Dia mendengar Watik meminta tolong dan bebreapa orang mengejarnya. Akhirnya dia membiarkan Watik naik ke mobilnya. Dia yakin, bahwa peristiwa malam itu adalah jawaban dari setiap doanya, agar bisa dipertemukan dengan bayi yang pernah dihanyutkannya di kali Ciliwung. Kini dia mempekerjakan Watik di rumah makannya.

Perjalanan panjang ini akan berakhir sekarang, batin Anton bernapas lega. Terima kasih ya Allah. Dia menengadah dan mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Lalu dia melangkahkan kakinya ke bagian belakang rumah makannya.

Tapi, dia termangu. Di depannya seorang gadis sedang berjalan ke arahnya. Dia tahu itu Watik. Ketika lampu penerangan menimpa wajah Watik, Anton melihat kedua mata Watik sembab. Tangan Watik sedang memegangi kalung berbandul ‘Ce’ itu.

“Pak Anton, antar saya ketemu sama mereka…..”

Anton gemetar bibirnya.

T A M A T

0 Response to "Kupu Kupu Pelangi II"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified