Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Kumpulan Cerpen Isbedy Stiawan ZS

1.000 Kutu di Kepala Anakku
Post : 01/09/2007 Disimak: 169 kali
Cerpen : Isbedy Stiawan ZS
Sumber : Suara Karya, Edisi 01/06/2007
SOAL gizi buruk ataupun polio bagiku sudah tidak lagi menarik sebagai berita.
Karena itu, tak perlu diceritakan maupun dikabarkan. Bahkan flu burung yang sempat
merebak di seluruh kota di negeri ini, kini tak lagi membuat bulu tengkukku berdiri.
Aku tak takut lagi terkena flu burung. Apalagi sudah ada jaminan pemerintah kalau
hewan-hewan sejenis itu sudah bebas dari rabies flu burung. Jadi, tak ada keraguan aku
mengonsumsi daging ayam.
Kalau kini aku cemas, sebabnya kutu yang menyerbu rambut di kepala anakku.
Tidak tanggung-tanggung. Kalau mampu kuhitung, mungkin ada 1.000 (seribu) kutuatau,
boleh jadi lebih. Jujur kukatakan, aku belum sempat memastikannya. Setidaknya,
apakah aku mampu menghitung seribuan kutu yang bersemayam di kepala anakku?
Ditambah lagi anakku tak bisa diam kalau aku sedang memunguti kutu di kepalanya.
Sebab itu, aku hanya sanggup mengumpulkan 30 ekor-terkadang bisa lebih-kutu setiap
harinya. Itu pun diselingi dengan ogah-ogahan dan merajuknya.
Entah mengapa ia sangat enggan kalau aku mau menangkapi kutu di kepalanya.
Padahal kerap kulihat ia menggaruk-garuk rambutnya saat tidur. Mungkin karena kutukutu
yang menghisap darah di kepalanya saat ia tidur, sering membuatnya terjaga.
Jemari kedua tangannya bergerak kian ke mari, bagai penari yang selangkah majumundur
dan bergerak ke kiri-kanan. Kubayangkan seorang penari cantik yang lincah
bergerak, begitulah jari-jari kedua tangan anakku di kepalanya. Rambutnya pun
kemudian acak-acakan. Pelan-pelan sekali agar ia tak terbangtun kurapikan kembali
rambutnya.
Pernah rambutnya kubasuh minyak tanah. Konon, kata para orang tua dulu,
minyak tanah dapat membuat kutu mabuk lalu mati. Sebelumnya, aku juga pernah
membilasnya dengan shampo anti-ketombe dan kutu. Cuma tidak lama berselang, telurtelur
kutu yang berwarna putih muncul lagi. Telur-telur kutu itu sulit dibuang karena
sangat lengket di helai-helai rambut. Kecuali dicukur gundul. Dan, itu juga pernah
1
kulakukan meski anakku yang masih duduk di kelas satu SD itu awalnya menolak
dicukur gundul.
"Gak mau botak. Obi malu, Pa" rajuknya. Aku tetap membujuknya kalau tak
lama rambutnya akan tumbuh kembali. Jika rambutnya digunduli, maka kutu-kutu itu
tak akan datang lagi.
Tetapi, itu hanya sementara. Sebab, tatkala rambutnya kembali tumbuh justru
makin banyak kutu bersemayam. Sungguh, aku dibuat pusing. Tak habis pikir,
bagaimana bisa dan dari mana telur kutu itu menghiasi rambut anakku, lalu menetas
kutu yang amat banyak. Mungkin sekitar seribu, atau jangan-jangan lebih?
Karena kutu-kutu itu, aku dapat pekerjaan tambahan. Setiap hari aku mendekati
anakku dengan sebuah sisir penjaring kutu (orang menyebutnya sisir serit). Sehabis
pulang dari kantor aku mengambil sisir serit kemudian mendekati anakku yang tengah
menonton teve. Sambil menikmati tayangan televisi, aku menyerit rambut anakku.
Terjaringlah kutu-kutu itu di diselipan serit. Satu, dua, hingga 10 atau kadang-kadang
mencapai 48 kutu terjaring. Kemudian kumatikan dengan ujung kuku jempolku. Tentu
saja dengan gemas.
Mematikan kutu lama-lama menjadi pekerjaan menyenangkan. Jadi keriangan.
Setiap ada waktu kosong dan anakku mau, maka kutangkapi kutu-kutu di kepalanya
untuk kutindas di ujung kuku jempolku. Karena kebanyakan acap kuku jempolku penuh
cairan berwarna merah. Darah. Darah dari kepala anakku.
"Kalau tak mau, lama-lama darah Obi habis dihisap kutu," kataku. Maksudku
ingin menakut-nakuti anakku. Biasanya setelah itu ia akan menurut, mendekati
kepalanya. Aku pun dengan leluasa menyerpihi kutu-kutu itu.
Meski sering kutakut-takuti, tidak selalu ampuh. Misalnya kalau sedang asyik
bermain, ia akan menolak. Obi akan lari keluar rumah bersama teman-temannya, dan
akan pulang tiga jam atau lebih. Kalau sudah begitu aku tak bisa marah. Aku akan
mencari waktu atau hari yang lain.
* * *
SERIBU kutu di kepala anakku seperti tak mau pergi. Meskipun sudah setiap
hari kutuai, telurnya tak henti menetas. Sepertinya percaya benar dengan pribahasa yang
bermakna satu dimatikan maka seribu lagi akan lahir. Sehingga kerjaku mematikan
2
kutu-kutu itu layaknya sang Syshipus yang memangul batu ke puncak bukit lalu setelah
sampai digelindingkan lagi oleh Dewa. Barangkali demikianlah pekerjaanku: kumatikan
satu, esok lahir seribu kutu lagi.
Aku bingung. Entah dengan cara apa lagi aku membasmi kutu di kepala anakku.
Entah dengan siasat yang mana lagi agar kutu-kutu itu tak lagi mau datang. Sudah
banyak jurus dan taktik kulakukan, tetap saja kutu itu ada di kepala anakku. Kalaupun
kurasa habis karena kumatikan ternyata tak lama: anakku kembali menggaruk-garuk
kepalanya. Dan, ketika kuserit, aku dapatkan lebih dari 20 kutu! Cukuplah itu sebagai
bukti bahwa di rambut kepala anakku banyak dihuni kutu.
Dari mana kutu itu datang? Mungkinkah terbang dari kepala anak tetangga? Atau
karena tertular dari teman sekolahnya? Soalnya, baik istriku dan anak-anakku yang lain
tidak berkutuan. Karena itu, beda sekali dengan anak bungsuku ini. Rambutnya seperti
sebuah ladang yang ditumbuhi ilalang: ditebang dan tumbuh lagi. Kutu-kutu itu seperti
pergi lalu datang lagi. Walaupun habis, namun beberapa hari kemudian kutu-kutu itu
muncul lagi. Kutu itu benar-benar hilang kalau rambut anakku gundul, tapi begitu
rambutnya tumbuh bersamaan itu pula kutu datang. Seperti sebelumnya, banyak sekali.
Mungkin sekitar 1.000 kutu di sana.
Sungguh aku dibuat pusing oleh kutu di kepala anakku. Pekerjaan kini
bertambah lagi setiba di rumah: menyerit rambut anakku. Menilik baris-baris serit,
mencongkel jika kuyakini ada kutu yang terjaring. Setelah itu, di atas kertas putih atau
di lantai marmer rumahku yang berwarna putih itu, kutu itu pun kutindas dengan ujung
kuku jempolku. Aku puas kalau dari kutu itu muncrat darah. Aku tersenyum.
Dan, sialnya aku menjadi ketagihan. Seperti orang yang ketagihan pada narkoba.
Jika aku sedang sakau-istilah para pemadat itu-aku akan marah sekiranya anakku
enggan mendekatkan kepalanya padaku. Pernah sisir serit kulempar ke kakinya, ia
terkaing-kaing. Lari makin menjauhiku. Terdampar di pangkuan ibunya.
Kalau sudah begitu aku tak bisa berbuat apa-apa. Diam. Tentu saja dengan
menahan gemas tak alang. Anak bungsuku itu memang keterlaluan. Tidak tahu
diuntung. Padahal, hanya sedikit seorang ayah-dan aku di antara yang sedikit itu-yang
mau mengurusi hal-hal yang temeh seperti itu: menangkapi kutu untuk selanjutnya
dimatikan. Tak banyak seorang ayah yang masih mau peduli pada urusan kutu di kepala
anaknya. Biasanya itu pekerjaan para ibu, para perempuan, urusan istri. Aku pernah
melihat sebuah karya foto entah di media massa mana, tentang para perempuan Jawa
3
berbaris duduk di depan rumah sedang mencari kutu. Kalau tak salah ada tujuh
perempuan saling mencari kutu, sementara seekor kera mencari kutu di kepala
perempuan paling belakang. Pikirku, foto itu tak hanya artistik, melainkan juga
memiliki sense of social.
Seribu kutu di kepala anakku sungguh membuatku pusing. Menjadi pekerjaan
tambahan seusai aku pulang kantor. Akhirnya aku sudah terbiasa tidur siang. Aku
memandangi kutu-kutu yang ada di rambut anakku. Kutu-kutu itu merayap dan
berkeliaran di antara helai-helai rambut anakku. "Lihat Obi, kutu di kepalamu itu
banyak sekali. Dekatkan kepalamu, papa mau ambil," teriakku.
Obi menggeleng. Menutup kepalanya dengan bantal. Tetapi, matanya tetap ke
layar televisi. Aku jadi gemas. Lalu, hanya kupandangi bagaimana kutu-kutu itu
merayap dengan sangat lincah di helai-helai rambutnya. Ataupun terdiam di kulit
kepalanya. Aku membayangkan kutu-kutu layaknya percikan api, dan helai-helai
rambut anakku bagaikan belantara di Kalimantan, Riau, Sumatera, dan entah mana lagi.
Percikan api yang kemudian membakar hutan-hutan di Indonesia. Tak ada yang dapat
memastikan muasal api, penyebab apa, dan sesiapa yang melempar percikan api
tersebut. Kiranya yang kami ketahui cumalah hutan-hutan terbakar. Asapnya
membumbung hingga menyelimuti daerah sekitar. Jalan-jalan tak bebas pandang. Udara
pengap. Dan, orang-orang pun diwajibkan mengenakan masker. Di mana-mana
dijajakan penutup hidung dan mulut itu, banyak yang membelinya. Demi menjaga
kesehatan, kata pejabat dari Dinas Kesehatan.
Anakku menggeliat. Ke sepuluh jari tangannya layaknya penari yang
melenggak-lenggok di lantai nan lincih. Rambutnya pun acak-acakan. Aku memelas
melihatnya. Namun, ia tak jugaberkenan menyerahkan kepalanya padaku.
"Obi, lama-lama darahmu habis dihisap kutu. Tahu?!" aku berang. Hendak
menjambak rambutnya. Istriku melerai. Ia bilang, jangan kasar menghadapi anak-anak.
Tak baik pada perkembangan jiwanya. Bagaimana kalau ia sudah besar nanti kalau
perkembangan jiwanya terganggu.
Aku urung. Cuma, sayangnya, Obi tak mau mengerti. Ia tetap menjauh.
Rambutnya tak mau kuserit. Padahal, kulihat barusan, kutu-kutu yang hidup di
rambutnya merayap ke sana ke mari. Seperti pesakitan yang baru saja bebas dari
penjara. Bayangkanlah suatu saat kita melihat seorang penjahat yang baru saja
menghirup uadara bebas, memandang semesta tak terbatas. Ia akan menengadahkan
4
kedua tangannya ke langit, dengan kepala yang mendongak ke atas pula. Lalu,
terdengarlah teriakan yang sangat keras: "Aku beeebbbaaassss,"
Demikian, kutu-kutu di kepala anakku itu bagai pesakitan-sang penjahat-yang
melihat kebebasan sesuatu yang amat mahal. Seribu kutu yang merayap itu selayaknya
percikan api yang membakar berhektar-hektar hutan di Indonesia. Ah, tidak. Aku
teringat puluhan kuda berlari kencang di padang Sumba, sebagaimana dikatakan Taufiq
Ismail dalam sebuah puisinya. Seribuan kutu itu berlari dan melompat dari satu helai
rambut ke helai rambut lainnya. Ia amat lincah. Aku kesulitan menangkapnya dengan
jemariku. Itu sebabnya, di rumahku selalu siap sisir serit. Kini sudah ada tiga sisir yang
kubeli di Pasar Rajawali, kiriman dari saudaraku di Jawa, dan oleh-oleh kakakku
sewaktu ke Malaysia .
Kalau saja anakku tak selalu menolak kucarikan kutu di kepalanya, aku sudah
lama ikhlas menyerit walaupun harus berlama-lama. Sebab, aku sangat suka membunuh
binatang kecil penghuni kepala itu. Aku semakin gemas tatkala memandangi muncratan
darah dari tubuhnya; darah yang dihisap dari kepala anakku.
Darah. Warnanya seperti mengingatkan aku pada warna api. Membara.
Menghanguskan hutan-hutan di Tanah Air. Tetapi, tak satu pun orang yang dapat
memastikan siapa yang membakarnya atau penyebabnya apa. Hutan-hutan Indonesia
yang tak hanya kekayannya diringkus dan dijarah. Juga dibakar. Belantara pun menjadi
gundul mengelam. Tanah mengoreng. Pohon-pohon roboh sebagai arang. Hitam. "Obi,
sini dong, papa tak mau, darahmu habis bagai hutan. Papa mau ambil kutu-kutu di
kepalamu. Sini dong," bujukku. Hatiku kesal.
Obi tetap saja menjauh. Kutu-kutu itu-seribuan barangkali-yang merayap
berjatuhan. Terbang ke mana-mana. Ada yang hinggap di rambutku. Lalu berbiak di
kepalaku. Rambutku penuh oleh kutu. Dari kepala anakku. Aku makin gemas. Kecewa.
Ingin kusambit kaki anakku dengan sisir serit yang paling keras di antara sisir yang lain.
Tersebeb tak mau kutu di kepalanya kutangkapi, kini malah kutu-kutu itu pindah ke
rambutku. Segera kupanggil istriku, dengan sekali teriakan: "Anti, sini kau, bawa
gunting dan gunduli kepalaku!"
Istriku ternganga. Ia belum mengerti maksudku.
"Cepat kepalaku gunduli saja!" perintahku lagi. "Kutu-kutu itu kini sudah
berpindah ke rambutku. Kepalaku gatal."
"Ah, itu perasaanmu saja, Pa. Rambutmu kan sudah lama tidak disampo!"
5
"Tidak! Ini pasti ulah kutu yang pindah dari rambut Obi!" kataku memastikan.
"Gunduli kepalaku. Nanti kau bisa lihat kutu-kutu yang menempel di rambutku."
"Tapi."
"Nggak usah pakai tapi. Cepat gunting rambutku. Kau akan lihat kutu-kutu itu
berjatuhan. Aku sudah kesal."
Dengan amat terpaksa sekaligus kecewa, lalu gunting di tangan istriku membabat
rambutku hingga habis. Seperti penebang pohon di belantara terlarang. Rambutku pun
berjatuhan, layaknya hutan yang tumbang setelah digergaji mesin. Kusakisikan
tumpukan rambutku berserakan di lantai. Kulihat pula ratusan ekor kutu dari kepalaku,
kini merayap-rayap di lantai. Secepatnya kutindas dengan kedua ujung kuku jempolku.
Aku tak ingin seekor kutu pun dapat selamat.
Kini kepalaku benar-benar gundul. Tak sehelai rambutmu masih tersisa. Habis
hingga ke kulit rambutku. Seperti lahan kosong tanpa pepohonan. Bagaimana jadinya,
beberapa jenak nanti, ketika memandangi kepalaku di cermin. Pastilah amat buruk.
Soalnya, seumur hidup aku tak pernah berkepala plontos. Bentuk kepalaku memang tak
indah tanpa rambut. Karena itulah, aku selalu berpenampilan gondrong walau usiaku tak
lagi muda.
Entahlah, apa jawabanku esok saat teman-teman di kantorku bertanya soal
kepalaku yang botak ini. Soal tak bersisa lagi rambuku. Tentang kepalaku yang sangat
sangat licin, tetapi makin tak indah dinikmati. Sungguh aku pusing. Seperti aku
mengingat nasib hutan-hutan di Indonesia. Gundul.***
Lampung, 13-21 Maret 2006
6
Kadal
Post : 01/16/2007 Disimak: 84 kali
Cerpen : Isbedy Stiawan ZS
Sumber : Radar Lampung, Edisi 01/14/2007
ADALAH malam kesekian dari sekian malam sejak pertama pertemuan?ia
memberi nama malam pertama kali bertemu. Ia duduk bersandar di dinding kursi beton,
di sudut taman satu-satunya di kota itu. Tak ada pengunjung lain, barangkali karena
malam sudah larut. Secangkir kopi di gelas plastik yang dipesannya di warung malam
(maksudnya warung kopi itu hanya berjualan pada malam hari) baru sedikit ia seruput,
namun dua batang rokok filter sebagai teman di waktu dingin telah tuntas.
Ia kesepian. Ia merasa benar-benar sunyi. Tiada manusia lain yang
menemaninya, kecuali serangga malam dan hewan melata di rumput. Tak seperti
malam-malam sebelumnya. Saat ia berjumpa Nesa?perempuan yang tanpa sengaja
apatah lagi diundang?berkunjung ke taman itu. Dengan membawa perasaan yang sama
dengannya: sunyi dan caci. Lalu keduanya saling tukar cakap, memberi dan menerima
segala yang terkandung dalam hatinya.
"Persis! Kita memang senasib! Karena nasib pula kita dipertemukan di sini
malam ini?." kata dia seperti bersorak, seakan hendak menertawakan nasib. "Ini malam
apa?" ia tambahkan.
Perempuan itu menyeringai, "Pentingkah soal malam? Apa peduli malam pada
makhluk seperti kita? Gelandangan yang tak pernah mengenal pulang? Rumah yang tak
akan membuka pintunya bagi seseorang yang keletihan?"
"Tentu penting, karena ia menyimpan makna yang amat dalam bagi perjalanan
hidup kita. Kalau tak ada malam apakah taman seperti ini dapat bermakna karena sangat
pentingnya bagi pengembara," ia mengajukan alasan. Lantas katanya lagi ingin
melupakan, "tapi tak apa kalau kau menganggap tak penting. Penting tak penting, toh
nasib, malam, dan taman ini tetap mempertemukan kita?"
"Persis. Yang bermakna sejatinya adalah pertemuan, bukan lain-lainnya. Bukan
pula nasib ataupun malam."
7
Keduanya lalu mengatupkan kelopak matanya. Mendekat. Menyeruput embun
yang jatuh di bibir, sisa dari perjalanan malam. Ah, sebuah kecupan yang indah dan
berkesan. Betapa pun rasa asin dan lebih tepatnya hambar tetap menguar. Malam
remang. Waktu gamang. Di langit tiada sebiji pun bintang. Juga senyum bulan.
Taman menggeremang. Embun berlomba luruh. Kursi terbuat dari beton anyep,
seakan ikut merasakan senyap. Pasangan lain di taman itu rapat dan mendekap.
"Mengapa kita tak meniru mereka?" ia memecah kesunyian. Rindu ingin mendekap kini
memuncak.
"Kau mau?" perempuan itu menyeringai. "Tak usah ragu. Sebab gamang akan
membuat kita salah bertindak?"
Tetapi, ia kini justru ragu. Apakah ia hanya untuk bertemu lalu berpisah? Apa
artinya pertemuan kalau esok sudah melupa? Terlalu banyak orang yang semangat
bercinta lalu diakhiri dengan saling membenci. Perkawinan lalu perceraian. Bertemu
untuk kemudian membatu.
"Kenapa? Kau masih ragu?" pasangannya menggoda. Tak ada ular sebagai
jelmaan di taman ini yang akan melontarkan keduanya ke luar sana. Betapa pun hati
mereka perih.
Malam sepi.
Satu-satu tamu taman di kota itu meninggalkan tempat duduknya. Melangkah
gontai. Menuju gerbang dan menghilang di tikungan. Ada yang menyetop taksi untuk
melanjutkan pengembaraannya entah di mana. Atau masuk ke kenderannya dan ikut
pula ditelan malam. Atau, seperti menghitung detak jantung, setiap kaki mereka
mengayun di trotoar jalan.
?
"Tinggal kita lagi di sini," ia berujar. "Fajar sejenak lagi datang?"
"Kau ingin mandi matahari di sini? Aku akan menemanimu," kata perempuan
itu.
Perempuan itu sering menyaksikan turis bule berjemur di tepi pantai, ataupun
berjogging di taman tengah kota pada pagi hari. Mereka suka bermandi matahari.
Keringat mengucur dari setiap pori-porinya bagai minyak zaitun yang membuat
tubuhnya mengilap dan licin. Ia kerap menyukai warna tubuh para bule itu. Ketika
berlumur keringat seperti bercahaya. Ia ingin sekali memasuki cahaya itu, bermandi,
dan kembali dengan perasaan segar. Cuma selalu tak kesampaian?
8
Perempuan itu hanya memandang dari kejauhan. Bahkan tak jarang cuma dari
ketinggian tebing, dari balik pohon palem.
Ia tak habis mengerti kenapa para turis suka berjemur-jemur. Apakah di
tempatnya tiada matahari? Benarkah matahari hanya terbit dan terbenam di daerah
tropis. Bukankah Tuhan dengan kekuasaannya bisa saja membagi arah jalan matahari ke
seluruh wilayah, sehingga musim bisa dirasakan oleh setiap makhluk di bumi ini.
Tetapi, kalau itu terjadi, tak mungkin ada warna kulit dan ras bukan?
Karena ada musim maka waktu bisa berganti. Karena matahari memiliki
jalannya sendiri, maka orang menciptakan pengembaraan. Itulah sebabnya, setiap senja
perempuan itu senantiasa menyaksikan para turis bule yang berjemur dan mandi
matahari di tepi pantai. Cuma dilapisi celana dalam, mereka berjemur sambil tiduran di
pasir. Tak sedikit pula sambil meniikmati jemari yang menari di seluruh tubuhnya. Para
perempuan setempat tiba-tiba menjadi ahli memijat begitu pantai itu banyak dikunjungi
turis.
Perempuan itu sering terbetik keinginan menjadi pemijat juga. Cumja ia tak
pandai?apatah lagi ahli. Padahal, seperti ia sering dengar pengakuan para pemijat itu,
memijat tak perlu punya keahlian khusus. Kebiasaan dan kehendak ekonimilah yang
membuat para perempuan itu memilih profesi memijat. "Daripada menjaja kemaluan?"
kata salah satu pemijat, meski ia tetap menambahkan: "kalau ada yang mau membeli, ya
kenapa ditolak?"
Perempuan itu tersenyum. Ia tak mau mengkhianati cintanya. Cukuplah menjadi
perempuan rumahan: mengabdi pada suami, berbakti pada anak. "Anak adalah panah
yang akan menancap di masa datang. Anak adalah harapan keluarga dan bangsa!" ia
meyakini nasihat para orang tua, meski peribahasa tersebut sudah tak lagi menyihir
banyak orang.
Sebab, kata orang lain yang baru datang dari kota bekerja, keuletan dan tak
mengenal sungkan adalah modal mendapatkan uang. Bekerja keras tanpa letih adalah
gerbang mencapai kesejahteraan. Tapi benarkah itu? Ia menyangsikan. Suaminya yang
merantau ke kota lalu menjadi tekana kerja di luar negeri, nyatanya tak membawa
kemakmuran. Begitu pulang ke desa kembali menggarap sawah atau bekerja serabutan.
Akhirnya miskin, akhirnya ia dijual kepada lelaki lain.
9
"Kalau kau menolak, anak semata wayang kita yang kita kasihi akan tak lagi
bersama kita selamanya. Ia perlu dioperasi, dan itu membutuhkan uang tak sedikit. Apa
kau tega membiarkan Nina sekarat lalu mati tanpa disentuh dokter?" bujuk lelakinya.
"Kau sendiri, apa usahamu?"
"Usahaku mencarikan lelaki yang mau membayarmu."
"Cukup!" ia berontak. Protes. Ia hendak menolak pekerjaan tak masuk akal yang
ditawarkan lelakinya.
"Tak cukup dengan berteriak atau protes," suara suaminya tenang. Pelan. "Yang
dibutuhkan sekarang adalah kerja dan hasil? dan itu hanya sekali."
Malam benar-benar berubah jadi pekat. Amat kelam. Angin mati. Jalan seperti
sepadat batu, sedingin es. Serupa belantara yang diliputi butiran salju. Salju? Ah, di
mana pula ia pernah merasakan? Membayangkan pun tak mampu.
Sekali. Kiranya berkali-kali. Berulang terus berulang, dan semacam ketagihan.
Sebab nasibnya seperti menghendaki itu. Oleh sebab itu, jangan salahkan ia kalau
kemudian ia menjelma jadi kadal. Setiap malam ia melata di rumputan, di taman, dan
sesekali merasakan nikmat terlelap di kasur empuk sebuah hotel melati dan bintang.
Kadal itu?bukan ular seperti terkisah dalam kitab yang mendatangi sepasang
manusia sewaktu di firdaus?selalu datang di taman satu-satunya di kota itu. Ia muncul
dari semak atau pekat taman. Melata untuk menemui?ah, tepatnya mendatangi?setiap
lelaki pengunjung taman. Ia datang terlebih dulu menjelma sebagai perempuan yang
berbedak medok dan bergincu norak dengan tubuh dilapisi pakaian minimalis dan tipis.
Atau berdandan ala perenang jika ia muncul di pantai dan kolam renang. Tak sedikit
pula ia tetap sebagai kadal: menjilati jempol dan tumit para lelaki.
Di taman ini aku menjelma jadi kadal. Ia selalu mendesis begitu. Tak tahulah
ihwalnya mengapa perempuan itu menjadi kadal. Atau kadal sebagai perempuan. Di
kota itu tak ada penyihir yang ahli sebagaimana yang hidup di zaman Musa dan
Muhammad. Penyihir di era kini adalah para penyair, hanya itu yang dia ketahui, yang
mengumbar dusta dan lamunan. Betapa pun ia pernah menolaknya. Sebab, bagi kadal
itu, penyair adalah pekerja moral karena itu sangatlah mulia di mata manusia. Mereka
mengabarkan kebenaran lain; suara yang lain, demikian Oktavio Pazz pernah berujar.
Dan, kadal itu tetaplah kadal di taman tengah kota itu. Akan selalu melata dan
menggoda?
10
DI TAMAN ini aku jadi kadal. Ia mendesis. Lidahnya menjulur ke luar.
Ludahnya menyembur dan menyihir. Tak ada lelaki yang sanggup bertahan tanpa
pingsan di hadapannya. Tiada rerumputan yang tak tertidur malu setiap kali dilaluinya.
Ia laksana Ratu Balqis. Ia serupa Yusuf yang tampan membuat tangan istri raja teriris.
Maka setiap kali ia berkunjung, para lelaki akan memendam kerinduan yang
dalam seusai ia berlalu. Setiap selesai bercengkerama akan berujung pada tangis
berkepanjangan. Orang-orang akan menunggu dan menunggu kedatangannya. Tetapi ia
akan makin menjauh, sebab kadal itu tak suka pada sesuatu yang telah dinikmatinya. Ia
akan mencari yang lain. Akan menjilati tubuh yang lain. Mendesis dan menyihir
makhluk lainnya.
Dan, kadal itu adalah perempuan yang datang beberapa malam lalu dan bertemu
dengan lelaki yang singgah sendiri ke taman itu. Lelaki itu amatlah kesepian, setelah
bininya lari dari rumah. Ia sudah mencari ke mana-mana, tetap tak ada kabar
keberadaan bininya. Ia coba kunjungi lokalisasi pelacuran kalau-kalau bininya
terdampar di sana, namun justru ia tertidur di salah satu kamar pelacur sampai matahari
persis di atas ubun-ubun genting. Sia-sialah ia mendatangi lokalisasi itu, kendati ia telah
mendapati kenikmatan tubuh lain.
Sepuluh bulan berlalu, sejak ia menganggap telah bercerai dengan bininya, ia
peroleh berita kalau istrinya telah menjadi kadal. Seorang temannya sewaktu SMA yang
pernah punya hasart mengawini "bunga SMA" itu, mengabarkan kalau ia pernah
berjumpa dan bahkan mengajaknya ke sebuah hotel murah di pinggir kali. "Aku mau
melakukan itu karena ia katakan kalian sudah bercerai, dan ia tak mau mati karena
miskin akhirnya memilih jadi pelacur!
Pukimak! Darah dalam tubuh lelaki itu bergolak. Bagai air yang mendidih di atas
kompor. Kedua tangannya mengepal. Ingin ia lontarkan ke wajah sahabatnya itu. Ia
bayangkan sbeuah sasak yang tergantung. Tetapi urung. Ia sadar, bukan kesalahan
seharusnya dilimpahkan kepada sahabatnya. Lelaki, seperti petani, yang menunggu
buah jatuh. Kalau saja posisinya seperti sahabatnya, ia pun akan melakukan yang sama.
Apatah lagi sahabatnya pernah mencintai perempuan itu meski bertepuk sebelah tangan.
"Setelah kau bertemu dengannya, maksudku berkencan, ke mana istriku pergi?
Apa kau sempat tanya di mana ia tinggal?"
11
"Seperti katanya, ia bukan lagi binimu," sahabatnya kembali menegaskan apa
yang pernah ia dengar dari perempuan itu.
"Kali belum bercerai, ia hanya pergi dari rumah. Dan aku menceraikannya, jadi
ia masih istriku," lelaki itu juga mempertegas. "Di mana alamat rumahnya?"
"Aku tak sempat bertanya karena aku kadung tersihir olehnya. Ia juga tak
memberi kartu nama," jawab sahabatnya santai. Ia lalu tertawa, batinnya berujar:
"Apakah pelacur sangat penting memiliki kartu nama?"
Kedua tangan yang kadung mengepal, lalu ia tumpahkan ke tembok. Lelaki itu
mengaduh, tangannya memar dan membiru.
SEJAK itu ia lupakan bininya yang minggat. Ia bahkan berharap suatu hari kelak
istrinya ditemukan dalam keadaan bugil tersayat-sayat. Ia juga sudah melupakan
sahabatnya yang ternyata sudah merasakan tubuh istrinya. Sungguh petaka! Ia merutuk.
Kalau kini ia memilih taman kota, karena ia masih berharap bertemu perempuan
yantg dijumpai beberapa malam terlewati. Setelah ia mengencani dan perempuan itu
berjanji akan menemuinya lagi di tempat itu pula, semenjak itu setiap malam ia setia
berkunjung ke taman itu. Dengan secangkir plastik berisi kopi dan sebungkus rokok
filter, tak lupa pula sebungkus ubu atau pisang goreng. Sampai fajar, hingga matahari
mengguyur seluruh badannya.
Bermalam-malam lelaki itu menunggu. Kadal itu tak juga berkunjung. Ia benarbenar
dendam, amatlah membenci. Berulang ia mencaci-maki. Pukimak! Tokek! Dasar
kadal!
"Kalau kau datang akan aku kuluti tubuhmu," ia membatin.
Tetapi, suara gaduh datang dari sudut taman di pinggir kali. Orang-orang
berkelimun, suaranya mendengung bagai lebah.
"Ada mayat perempuan!"
"Terpotong-potong."
"Sudah tak jelas lagi bentuknya."
"Siapa pula yang begitu tega mengutilnya??"
Lelaki itu tak bernafsu ikut dalam kelimunan itu. Ia berpikir hanya sensasi
murahan dari orang-orang yang tak punya pekerjaan. Ia tetap menanti datangnya fajar,
lalu matahari mengguyur badannya. Tetapi fajar tak datang ke taman itu apatah lagi ia
12
akan bermandi matahari, sebab lelaki itu diseret petugas keamanan dan dijebloskan ke
dalam tahanan.
Untuk sementara ia disangka sebagai pengutil perempuan yang ditemukan warga
di semak dalam kali, di sudut taman tengah kota yang setiap malam ia datangi.
Walaupun ia tak pernah tahu siapa sebenarnya perempuan itu: apakah kadal yang
pernah ia jumpai ataukah bininya?
***
Lampung, 19 September 2006
13
Mudik
Post : 11/01/2006 Disimak: 402 kali
Cerpen : Isbedy Stiawan ZS
Sumber : Sumatera Ekspres, Edisi 10/22/2006
TERMINAL Rajakering, salah satu terminal terbesar, terasa lengang dini hari.
Para penumpang, tepatnya pemudik, masih dapat dihitung dengan jari tangan dan kaki.
Salah seorang penumpang yang terdampar di terminal bus antarprovinsi itu seorang
perempuan muda usia.
Perempuan itu tak henti-henti menahan kantuk. Beberapa kali ia coba
membentangkan koran pagi tadi yang kini nyaris basi yang dipegangnya. Namun, hurufhurufnya
makin tak terbaca. Ia tak mampu lagi membacanya karena kantuk dan lelah
setelah selama hampir 18 jam diombang-ambing dalam perjalanan tadi. Perempuan itu
memutuskan mudik setelah tiga tahun tak pulang kampung. Ia mengambil cuti lebih
cepat sebagai pembantu rumah tangga di kawasan Menteng Jakarta. Sang majikan
setuju karena ia bekerja baik selama empat tahun terakhir. Bahkan selain gaji bulanan,
ia mendapat tambahan saku sebagai tunjangan hari raya (THR).
Ia sudah merinci uang yang dibawanya untuk beli baju dan kain buat emak;
sarung, koko, dan peci untuk abah; serta pakaian untuk kedua adiknya. Tak lupa pula
untuk beli kue, daging, ketupat, dan sedikit oleh-oleh nenek dan keponakan. Ia
tersenyum. Wajahnya sumringah. Ia bayangkan betapa bahagia keluarga menyambut
kedatangannya. Emak pasti akan menyambutnya dengan air mata haru lantaran rindu
yang terpendam.
Emak merasa berat tatkala ia pamit mencari pekerjaan di Jakarta. Sedangkan
abah, walau dengan cemas, mengantar kepergiannya hingga ke halaman depan. Sambil
mengusap rambut dan mengelus wajah putri sulungnya yang masih berusia 15 tahun
kala itu, abah berpesan, ’’Bekerjalah di tempat orang dengan baik dan jujur. Jangan lalai
beribadah...,’’
Perempuan itu mengangguk, mengambil lengan abah dan mencium. Setetes air
mata jatuh basahi lengan abah. ’’Pergilah dengan meninggalkan air mata dan pulang
nanti dengan senyum keberhasilan,’’ ucap abah lagi. Semacam doa, sebagai harapan.
14
Setelah itu, perempuan itu, namanya Lastri, menaiki kendaraan untuk
meninggalkan kampung kelahirannya di pelosok Desa Sumberringin. Desa yang bila
musim kemarau panjang seperti tahun ini, sawah dan ladang akan mati. Tanah retak di
mana-mana. Belantara menguning sehingga mudah sekali terbakar. Penduduk yang
cuma berharap hidup dari bertani itu benar-benar nelangsa menghadapi kemarau
semacam ini. Tak ada lagi harapan selain menunggu keluarganya yang merantau bekerja
di kota. Atau berharap-harap ada tetangga yang memberi bantuan untuk sekadar
mencicipi hari kemenangan: Idul Fitri, sekiranya keluarganya tak ada yang bekerja di
kota.
Lastri kerap memirip-miripkan nasib tetangganya dengan penduduk yang kini
dilanda lumpur Lapindo. Tak ada bayangan kegembiraan menjelang Lebaran yang
tinggal hitungan hari. Bahkan, nasib penduduk yang dikepung lumpur panas itu lebih
menyedihkan. Rumah mereka sudah terendam. Mereka pun dikepung oleh lumpur
panas yang terus membukit sehingga sulit sekali bergerak. Sementara itu, harapan
memperoleh ganti rugi dari pihak perusahaan yang telah menyengsarakan hidup mereka
belum juga kunjung terwujud.
’’Kalau saja aku di sana, sulit sekali menjawab apakah aku bisa pasrah?’’ ia
mendesis. Foto besar di halaman pertama koran yang dipegangnya menunjukkan
lumpur panas yang telah mencapai atap rumah penduduk. Ia letakkan koran yang tak
sempat dibacanya itu, yang beli siang tadi dibeli sekadar untuk membunuh kantuk dan
bisa digunakan pula sebagai kipas, di sebelahnya. Ia mulai tak tahan membiarkan kedua
matanya terbuka.
Tapi, apakah ia bisa terlelap di terminal yang setiap saat akan mengancam
ketenteramannya? Konon, dari cerita dan berita di media massa, terminal yang kini
tengah disinggahinya itu terkenal paling seram. Orang lebih baik memilih bermalam di
pelabuhan Bakauheni ketimbang istirahat di terminal ini. Penumpang lebih baik turun di
luar terminal dan menyetop bis di perempatan jika ingin melanjutkan perjalanan,
daripada turun di terminal ini.
Ia sempat membaca berita di media masa yang mengiris-iris nuraninya. Seorang
penumpang, cacat pula kedua kakinya, diseret-seret calo terminal lalu diperas setelah
naik taksi. Tak sampai di situ, di atas taksi seluruh miliknya dipereteli oleh supir yang
merangkap sebagai penjahat. Ia lalu diturunkan di jalan setelah ludes miliknya, kecuali
pakaian yang dikenakannya. Sang korban kemudian mengadukan kepada petuas
15
keamanan. Meski ia diberi transpor sekadarnya, akan tetapi harta dan penjahatnya tak
bisa lagi ditemui.
Membayangkan peristiwa itu, Lastri kerap bergeremang bulu kuduknya. Tetapi
kengerian itu mengalahkan semangatnya untuk cepat tiba di rumah dan memeluk emak.
Itu sebabnya, meski acap tegang dan bulu kuduknya bergeremang setiap bus mulai
masuk terminal, ia berupaya hidupkan semangat agar tetap tegar. Supaya terlihat bahwa
ia memang pemberani. Dengan begitu ia berharap para preman di sana enggan
mengganggunya. Setidaknya beberapa kali ia singgah di terminal tersebut.
Bus yang dinaikinya dari Bakauheni tiba beberapa jam lalu. Tak ada bus menuju
desanya pada jam segini. Ia harus istirahat hingga pukul 06.50 kelak. Dan bus pertama
yang keluar dari terminal itulah yang akan membawanya ke kampung halaman. Jam
pertama dilaluinya dengan aman. Apalagi, tiada gerakan mencurigakan yang
membuatnya takut. Sesekali ia raba saku celananya, ia masih rasakan sesuatu yang
tersembunyi rapi di sana. Itulah uang yang didapatnya dari perantauan.
Berkali-kali ia bersyukur setiap merasakan bahwa uangnya masih utuh di saku.
Ia bertekad untuk terus menjaganya, berupaya untuk tidak terlelap sekejap pun. Ia tak
hendak penjahat terminal merogoh sakunya. Sebab ia tak ingin pulang bertangan
hampa.
Ya! Lastri kerap mendengar kabar banyak para tenaga kerja wanita yang pulang
hampa karena ditipu, dicopet, atau diperas oleh penjahat di perjalanan. Bahkan ia
pernah baca berita di koran tahun lalu, seorang TKW di luar negeri yang baru
menginjakkan kaki di bandara Soekarno Hatta lalu habis bawaannya dipereteli penjahat.
Tidak saja barang dan uang yang dibawanya dikuras, bahkan ditambah dengan
pemerkosaan.
’’Kejam!’’ rutuk Lastri saat itu. Ia menampik anggapan bahwa di negeri yang
ramah seperti Indonesia, kekejaman tidak akan ada. Sepertinya, setiap musim mudik
seperti saat ini justru kejahatan semakin meningkat. Tidak bisa bulan Ramadan menjadi
ukuran membuat orang sabar dan penolong. Jelang Lebaran malah dijadikan peluang
menguntungkan bagi para penjahat. Sasarannya jelas, para pemudik.
Lastri mulai cemas setiap mengingat peristiwa-peristiwa seperti itu. Ketakutan
mengaliri tubuhnya, seakan mengikuti aliran darahnya. Ia coba membaca ayat kursi, ia
berupaya mengingat dan membacakan setiap doa yang dihafalnya demi keselamatan
dirinya.
16
’’Ah, sekiranya pagi-pagi aku sudah di terminal dan kapal laut tak terlambat
merapat, sejak sore tadi aku tiba di terminal laknat ini. Mungkin aku sekarang sudah
sampai di rumah, sudah bersahur bersama emak, abah, dan adikku,’’ ia bergumam.
Tetapi ia tepis berandai-andai itu. Tak baik berandai-andai, pesan abah. Jangan
menyesali apa yang sudah terjadi, karena manusia tak akan mungkin terbebas dari
takdir.
Perempuan itu mengembangkan senyum. Ia mulai mengira-ngira bagaimanakah
wajah emak dan abah, apakah mereka sudah berubah setelah tiga tahun tak bertemu?
Bagaimana kedua adiknya, tetap seperti dulu sebelum berpisah dengannya? Kemudian
tak terasa ia pun lelap: Lastri memang sangat lelah.
PARMAN, supir Tuan Hendra majikan Lastri, sebenarnya sangat ingin
mengantar. Parman mencemaskan keselamatan kekasihnya itu. Namun, dengan halus
Lastri menolak. Katanya, ’’Aku berani kok pulang. Di jalan juga aku tak sendiri. Pasti
ketemu teman…,’’ Kenyataannya ia tak mendapat teman perjalanan, bahkan untuk
sekadar mengobrol.
’’Bukan soal berani atau tak berani. Biasanya, musim mudik ini banyak penjahat
di perjalanan. Nanti kamu…,” ucap Parman berharap sekali ia mendapatkan kesempatan
mengantar kekasihnya itu pulang, sekalian berkenalan dengan keluarga Lastri. ’’Setiba
kamu di kampungmu, aku langsung pulang.’’
’’Tak usah, Mas. Bukan aku menolak kebaikanmu. Kau pasti capai. Kampungku
jauh di pelosok,’’ tukas Lastri. ‘’’Lagipula, menghabiskan ongkos saja. Nanti Mas tak
bisa Lebaran di kampung. Nanti saja kalau uang kita sudah banyak, aku akan ajak Mas
ke kampungku sekalian menikah.’’
Mendengar kata ’’menikah’’ seperti memperoleh harapan yang membuat wajah
lelaki Kudus itu berbinar. Rasanya, jika Tuhan menjatuhkan rezeki uang sekarung pada
saat itu tak akan ia tolak, dan uang itulah yang akan membawanya ke kampung halaman
Lastri. Segera khayalan itu ia tepis, tak mungkin ada keajaiban yang menimpa dirinya.
’’Jangan marah ya, Mas Parman...,’’ Lastri menyadarkan kekasihnya.
’’Kamu juga enggak marah kan, aku tak bisa ngantar?’’ Parman balik bertanya.
Kemudian keduanya menguar senyum. Tentu cuma keduanya yang bisa memaknai.
Kini bayangan wajah Parman bermain-main. Seperti sedang membelai
rambutnya, lalu turun ke leher jenjangnya, dan turun lagi, makin menurun lagi. Lastri
17
membiarkan jemari kekar namun penuh perasaan milik kekasihnya itu menari-nari di
tubuhnya. Getaran-getaran cinta yang menggerakkan dan membangkitkan sukma
kehangatan di pagi buta itu.
Lelaki itu makin rapat, tangan kekarnya kian mencengkeram tubuh Lastri. Lalu
sebuah benda terasa dingin saat menyentuh kulit lehernya. Itulah yang menyadarkan
Lastri bahwa ia sedang terancam. Bencana tengah mengancamnya. Ia bergidik. Sangat
cemas.
’’Jangan berteriak! Bisa kubunuh kamu!’’ ancam lelaki bertangan kekar dan
penuh tato. Rambutnya pendek, berkumis tipis, beralis tebal. Berbaju dan celana merek
Levi’s berwarna biru laut. Suaranya berat, terkesan serak. Pastilah lelaki itu bukan
Parman, kekasih perempuan tersebut.
’’Kamu ikut saya sekarang. Jangan macam-macam kalau kamu mau selamat!’’
lelaki itu kembali mengancam sambil menyeret Lastri ke mobil angkot yang terparkir di
kegelapan. Hanya sekejap, angkutan kota itu berubah gaduh. Namun suara minta tolong
Lastri tak keluar, atau tidak ada yang mendengar?
Terminal Rajakering subuh itu memang benar-benar lengang. Arus mudik belum
lagi mencapai puncak.
PEREMPUAN itu merapikan pakaiannya yang kusut dan semrawut. Rambutnya
yang paling disukai Parman karena lurus dan selalu rapi, kini acak-acakan. Kedua
pelupuk matanya memerah, ada sedikit kebiruan di sekitar pelipis: tentulah itu karena
benturan benda (bekas tinju?). Ia tak ingat apa-apa lagi, ia mengira Parman yang telah
mencumbuinya.
Ah, tidak. Taklah mungkin Parman akan berlaku kasar. Lelaki asal Kudus itu, ia
tahu, romantis dan penyayang. Parman juga tak suka minum alkohol, kecuali bau rokok
dari mulutnya. Tetapi, lelaki yang mengancamnya subuh tadi adalah lelaki kekar dan
kasar, mulutnya berbau alkohol, dan suaranya keras menggetarkan. Lastri hafal betul
dengan logat suara lelaki yang mencampakkan dirinya, cuma ia tak mau gegabah
menuduh suatu etnis. Bukan soal suku, tapi ini kelakuan individu.
Maka ketika ia melaporkan peristiwa nahasnya subuh tadi pada pihak kemanan,
ia tak menyebut suku. Hanya memberikan keterangan kronologis dan sedikit ciri-ciri
18
yang dapat ia kenali dalam remang-remang. Meski ia meragukan, dari keterangannya itu
petugas dapat meringkus pelaku!
Lastri tertunduk. Matanya benar-benar bengkak kini. Pipinya memerah. Rasa
perih yang berasal dari selangkangannya seperti tak bisa ia tahan. Pedih, dan sangat
sakit!
Perempuan itu ngelangut di kursi belakang bus yang tengah melaju ke kampung
halamannya. Ia tak lagi bercerita pada siapa pun, setelah kepada petugas keamanan di
terminal tadi. Biarlah semua itu jadi cerita amat laknat dalam batinnya.
Ia akan serahkan seluruh uang yang tak ikut digasak. Ia bersyukur. Untunglah
Parman menyarankan agar celana panjangnya dibuat kantung khusus di dalam untuk
menyimpan uang, sehingga tak terjamah penjahat. Namun tas berisi pakaian dan alat
perhiasan raib di kursi terminal ketika ia diseret ke mobil.
Lastri tak membuka mulut ketika seorang tetangga membawa koran yang
dibelinya di Pasar Kecamatan. Di koran lokal itu ada berita pemerkosaan di Terminal
Rajakering, dan korbannya—disebut bernama Bunga—berasal dari Desa Sumberringin.
’’Bukan, mungkin salah tulis…,’’ Lastri mengelak. Meski, tak urung, batinnya
kembali remuk! ***
Lampung, 9-10 Oktober 2006
19
Penghargaan Gubernur
Post : 07/31/2006 Disimak: 219 kali
Cerpen : Isbedy Stiawan ZS
Sumber : Suara Karya, Edisi 07/30/2006
JANGAN pula bertemu lurah maupun camat, apalagi akan bersalaman dengan
Gubernur. Tidak pernah terbayangkan. Itu sebabnya ketika ia menerima undangan
untuk mendapatkan penghargaan dari Gubernur, hatinya berbunga tak alang-kepalang.
Ia segera bersujud syukur. Diikuti istrinya, Asih, yang ia nikahi puluhan tahun dan telah
dikaruniai tiga anak lelaki.
Undangan yang dibubuhi tanda tangan Gubernur itu ia pamerkan ke tetangga. Ia
tunjukkan pula kepada seluruh keluarga. Asih tak henti-henti sumringah. Di wajahnya
bagai tumbuh bunga. Mereka hendak sedikit membuat masakan enak sebagai rasa
syukur. Disuruhnya Asih ke warung langganan mengutang untuk mengambil beras
sepuluh kilo, seperempat kilo teri kering, lima potong tempe, kacang tanah setengah
kilo, sepuluh butir telur, cabai, rampai, serta bumbu masak lainnya.
"Kita buat nasi uduk, Asih. Suruh Yus, Adi, dan Yuda untuk membagikan ke
tetangga," kata Bargo, kemarin sore. Asih tersenyum. "Kita wajib membagi-bagi
kebahagiaan kita ini pada tetangga."
Asih kembali mengangguk.
"Kalau Bapak Gubernur yang kasih penghargaan, pasti ada uangnya ya, Pakne?"
Asih bertanya. Antara keyakinan bercampur cemas.
"O, tentu Asih. Tentu!" jawab Bargo bersemangat. "Tak mungkin penghargaan
tanpa uang. Apalagi, yang memberi penghargaan ini adalah Pak Gubernur. Malah kita
akan dijamu makan dulu sebelum acara pemberian penghargaan."
"Kok, Pakne tahu?"
"Biasanya kan begitu. Kalau pejabat mengundang orang pasti makan-makan
dulu. Aku pernah di televisi."
Lalu Bargo membayangkan saat menerima penghargaan. Ia akan membawa serta
Asih dan anak bungsunya, Yuda, yang masih berusia 7 tahun. Rambutnya yang sedikit
panjang akan ia sisir rapih. Sebuah topi pet yang dipakainya pada waktu-waktu tertentu
20
akan dikeluarkan dari lemari, dan akan ia kenakan saat menerima penghargaan nanti.
Baju batik, celana jin dilapisi jaket butut. Ah, ia tak bisa membayangkan bagaimana
para wartawan foto dan fotografer anak buah gubernur menjepretkan kamera ke
wajahnya. Kilatan cahaya berkali-kali menampar wajahnya. Wartawan tulis tak lupa
mewawancarinya. Esok lusa wajahnya terpampang di sejumlah koran lokal. Nama,
kisah seninya, dan nama keluarganya terhias di koran-koran itu. Ia juga berharap satu di
antaranya ada fotonya berdampingan dengan Pak Gubernur.
Semalaman ia tak tidur. Bargo menguras iamjinasinya untuk melahirkan suatu
ide bagi sebuah lukisan yang akan dipersembahkan kepada Pak Gubernur. Cukuplah
dua hari ia rampungkan karya lukisnya, dimulai esok subuh. Hanya saja sampai
menjelang subuh, sekelebat imajinasi pun tak tertangkap.
Ia bepikir, jangan-jangan imajinasi yang selama ini mudah ditangkapnya kini
enggan datang, penyebabnya karena ia sedang berbahagia. Ia percaya sekali, ide akan
datang pada saat orang amat membutuhkan dan perlu dibantu. Selama ini memang
begitu, meski karya-karya lukisnya kemudian dibeli amat murah. Hanya cukup membeli
beras beberapa kilo. Tetapi, terlalu sering tidak terjual akhirnya menumpuk dan
dipenuhi sarang laba-laba. Ia memaklumi karena di kota ini tak ada kolektor. Juga
masih sedikit pengusaha yang punya kesenangan menikmati karya lukis. Mungkin
rumah-rumah pengusaha dan pejabat hanya berhiasan louhan ataupun arwana.
Barangkali pula, kalaupun lukisan, dibeli dari pelukis ternama atau didapat dari luar
negeri.
Sedang aku? Ia membatin. Bargo adalah pelukis yang namanya lumayan terkenal
di kota ini. Ia sering memamerkan karya-karyanya di pusat kesenian, tetapi belum
pernah berpameran tunggal lantaran biaya yang tidak sedikit. Di kota lain ia juga pernah
diundang pameran. Sejak berusia 12 tahun bakat melukis yang didapat dari orang
tuanya terus dipupuknya. Dari lukisannya itulah, semasa lajang, ia bisa menghidupi
dirinya. Ia juga mampu membiayai pernikahannya dengan Asih.
Hanya sekali dalam hidupnya, ia mendapat keberuntungan yang tak bisa
dilupakan. Pada saat ia sangat memerlukan uang untuk melamar dan biaya resepsi
pernikahan, sebuah lukisannya saat dipamerkan dibeli Rp 15 juta oleh pengusaha dari
Jakarta. Dari uang itulah ia melamar Asih, ia ramaikan respsi perkawinan, dan sisanya
ia belikan rumah - lebih tepatnya gubuk - di perkampungan. Setahun kemudian lahirlah
21
Yusman, kemudian berturut-turut adiknya hadir. Kini, tiga anak lelaki meramaikan
rumah kecilnya itu.
Bargo hidup sangat sederhana. Penghasilan dari melukis kerap tidak memenuhi
kebutuhan hidupnya. Namun ia tak pernah mau menanggalkan kesenimanannya yang
sudah mengakar-berdaging di aliran darahnya. Betapa pun ia menyambi berkebun
singkong di lahan kosong di belakang rumahnya. Ia selalu berdoa agar tanah kosong itu
tidak diambil empunya atau dijual kepada orang lain. Kalau terjadi, itu pertanda ia harus
mencari pekerjaan lain. Cuma apa?
"Aku tak ahli berdagang, Asih. Aku juga tak bisa bekerja yang lain," ujar Bargo
ketika Asih memintanya mencoba pekerjaan lain yang dapat menghasilkan uang yang
lumayan.
"Ya, mesti dicoba, Pakne. Apa saja. Jadi kuli bangunan pun tak apa, yang
penting dapat uang. Anak-anak butuh uang sekolah, makanan yang agak bergizi," ucap
Asih hati-hati.
Bargo diam. Menghela nafasnya. Ia merapatkan punggungnya di kursi bambu,
sementara kakinya berselonjor ke kursi kayu di depannya. Rokok daun nipah
dihisapnya, dan asap pun mengepul setelah keluar dari mulutnya.
Ketika ia tak lagi mampu membeli kain untuk melukis, ia punya ide
memanfaatkan kulit kayu yang diperolehnya di sekitar kampungnya. Ia mencoretkan di
permukaan kulit kayu itu dengan ujung paku maupun pisau. Hasilnya tak kalah dengan
seorang pelukis yang menggambar di kanvas. Sejak itulah ia banyak bereksperimen
dengan kulit-kulit kayu itu. Ia percaya sekali seniman harus tak kehabisan kreasi.
Seniman yang banyak kreasi akan melahirkan karya yang kreatif pula. Produktivitasnya
tak terbendung. Kreativitasnya tak tanggung.
Kalau Bargo belum menikmati hasilnya dengan baik hingga kini, itu soal
keberuntungan saja. Sekali lagi, ya sekali lagi, keberuntungan hanya diperolehnya
hanya sekali dalam hidupnya. Ketika ia hendak melamar Asih. Setelah itu sampai hari
ini, karyanya belum terbeli seharga Rp 15 juta atau lebih. Bahkan ia tak pernah lagi
menggenggam uang Rp 10 juta dari hasil penjualan sebuah lukisan. Karena itu, untuk
menutupi kebutuhan sehari-hari, ia tak sungkan menjual karyanya dengan puluhan ribu
rupiah.
Jika saja bukan karena setiap aliran darahnya berwarna nilai-nilai seni, tentulah
sudah lama ia bunuh keinginan untuk berkesenian. Seperti selalu Asih katakan, kesenian
22
di negeri ini belum dapat memakmurkan senimannya. "Hanya berapa seniman di negeri
ini yang makmur hidupnya dari kesenian. Bisa dihitung dengan jari sepuluh ini kan?"
kata Asih sembari menunjukkan kedua tangannya.
Bargo pikir Asih berlebihan. Lebih dari seratus seniman di negeri ini hidup
berkecukupan. Ia contohkan beberapa seniman, seperti Taufik Ikram, Hamsad, Cak
Kandar, Putu, Taufiq, Goenawan, dan lain-lain. Kalau Bargo tak masuk dalam deretan
itu, karena Tuhan belum berkenan memberi.
"Tetapi, tetap saja tak akan sampai seratus, Pakne." Asih tetap bersikukuh pada
pendapatnya. Bargo mengalah. Ia segera ke belakang rumahnya. Berkesenian.
* * *
SAAT berada di belakang rumahnya itulah, ia menerima undangan dari
Gubernur yang dibawa oleh pegawai kelurahan. Saat matahari tepat di puncak
kepalanya. Ketika peluh melumuri kulit pekatnya sehingga seperti berminyak. Sewaktu
ia sedang asyik berkesenian di situ, pegawai kelurahan menyerahkan undangan pada
Bargo, dan berujar: "Pak Bargo, undangan dari Bapak Gubernur. Bapak akan mendapat
penghargaan."
"Penghargaan apa, Pak? Pak Gubernur mau kasih saya penghargaan?" Bargo
heran. Ia tak mengerti. Tatapannya tajam meski terasa kosong.
Pembawa undangan itu berulang mengangguk. Kemudian ia menjelaskan kalau
Bargo diundang Gubernur untuk menerima penghargaan bersama para seniman dan
tokoh lain yang berprestasi. Pegawai kelurahan itu juga mengingatkan Bargo supaya
jangan tidak hadir, sebab pemberian penghargaan itu sangat penting.
Katanya, "Bapak Gubernur berharap sekali para penerima penghargaan hadir
semua. Karena beliau ingin mengucapkan sesuatu, memberi kenangan, dan bertatap
muka dengan tokoh-tokoh berprestasi."
"Saya berprestasi?" Bargo bertanya.
"Ya! Kalau tidak, mana mungkin Bapak Gubernur memberi undangan ini pada
Pak Bargo!"
"Dari mana Bapak Gubernur tahu?"
"Sudahlah Pak Bargo jangan banyak tanya. Dari mana Bapak Gubernur tahu itu
urusan beliau, dan kita tak perlu mencari tahu. Yang penting, seperti pesan Bapak
23
Lurah, jangan sampai Pak Bargo tidak hadir di Kantor Gubernur saat penerimaan
penghargaan. Ingat ya Pak?" tekan pembawa undangan itu. Tampaknya ia kesal
mendengar celoteh Bargo.
Ia mengangguk. Meski benaknya berhitung. Untuk datang saat menerima
penghargaan tersebut, ia harus punya uang untuk ongkos mobil dari rumah ke Kantor
Gubernur. Kalau mau cepat ia bisa naik ojek dengan ongkos Rp 10 ribu untuk dua
motor.
"Ini uang sekedarnya dari Bapak Lurah," kata pegawai kelurahan itu setelah
beberapa jenak terdiam, sebelum ia pamit. Bargo membuka amplop pemberian Bapak
Lurah. Di dalam amplop itu ada dua lembar Rp 10 ribu dan selembar Rp 5 ribu.
Ia berpikir. Bapak Lurah tak hendak didamprat atasannya kalau ia tak bisa
datang saat menerima penghargaan dari Gubernur lantaran tidak ada ongkos. Karena
itulah, dengan uang Rp 50 ribu, Bargo merasa terikat janji: ia harus datang. "Meski Pak
Lurah tak ngasih, aku harus hadir biarpun mengutang dulu!" Ia membatin.
Ia amat yakin, penghargaan Gubernur pastilah dibarengi uang. Istilah yang suka
dipakai pemerintah, uang pembinaan atau pengikat tali-kasih. Dan, setiap kali ia
bayangkan isi amplop yang akan diterima dari Gubernur, wajahnya sumringah.
"Pastilah tak kurang dari Ro 10 juta!" batinnya.
Karena itu, ia tulis dalam buku catatannya: "Ini saat keberuntungan kedua dalam
hidupku. Aku (akan) mendapatkan penghargaan dan uang Rp 10 juta (minimal) atau
lebih. Pada hari ini, 18 Maret 2006 pukul 19.00 di Aula Kantor Gubernur Anuland."
Kemudian Bargo menutup kembali bukunya, dan meletakkan di tempat semula.
Senja mulai mengelam.
* * *
BARGO sudah berpakaian rapih. Baju batik lengan pendek, celana blue jins
belel, topi pet hitam, dan berlapis jaket. Sedangkan istrinya tak kalah rapih, begitu pula
anak bungsunya. Tukang ojek sudah menanti di halaman rumah.
Sengaja mereka mengosongkan perutnya lantaran yakin akan mendapat jamuan
makan malam dari Bapak Gubernur. Bahkan Asih menjanjikan kedua anaknya di
rumah, akan membawa sepotong atau dua potong ayam goreng, rendang, dan kue.
24
"Lihat ini Bukne sudah siapin serbet untuk membungkus makanan," kata Asih
pada kedua anaknya yang tinggal. Tersenyum. Memasukkan kembali sapu tangan itu ke
dalam tasnya.
Bargo tersenyum. Pikirnya, kapan lagi istrinya bisa berbakti pada anaknya. Inilah
saatnya. Aji mumpung pun mesti dimanfaatkan. Bargo juga mengingatkan Yuda supaya
jangan sungkan mengambil makanan di meja. "Nggak ada yang peduli di sana. Jangan
malu-malu ya." Yuda mengangguk.
Asih tampak gemetar ketika memasuki Aula Gubernur. Bargo segera berbisik,
memberi semangat Asih supaya jangan grogi. Katanya, "Bukne santai aja. Jangan
tegang. Mereka juga sama dengan kita: manusia."
Asih mengangguk. Lalu ia melangkah tegar. Menerima selamat dan jabat tangan
dari beberapa orang, ketika melihat Bargo. Suaminya tak kalah semangat menerima
ucapan selamat dan jabat tangan. Menerima sambutan hangat dari beberapa tamu -
terutama beberapa pejabat - Bargo menjadi yakin kalau penghargaan yang diterima dari
Gubernur pastilah uang. Dan, tidak sedikit. Minimal Rp 10 juta.
Bayangkan. Sepuluh juta rupiah. Berarti 10 kebet jika lembaran Rp 100 ribu.
Dan, ia makin tak terbayang betapa besar tumpukan uang itu, jika sepuluh juta itu berisi
lembaran Rp 50 ribu. "Dengan apa ya Pakne dibungkus uangnya? Bagaimana kita
bawanya?" Asih membuyarkan lamunannya.
"Ya, tentu amplop besar, Bukne," jawab Bargo berbisik. "Makanya aku bawa
jaket ini, uangnya kuamasukkan ke dalam jaket ini."
Asih mengangguk. Lambungnya mulai berbunyi. "Kapan ya Pakne makannya,
saya sudah lapar."
Bargo menggeleng. "Sama Bukne." Berbisik. Ia tak melihat hidangan makanan
di meja, kecuali air mineral dan kue di dalam kota yang kini masih di tangannya. Ia
berpikir kue di dalam kotak itu akan dibawa pulang untuk dimakan bersama di rumah,
karena akan dijamu makan malam. Tetapi, tak juga ada tanda. Acara baru dimulai.
Ketua panitia tengah memberi sambutan, sesudah itu laporan tim penyeleksi pemberian
penghargaan. Ada 15 orang yang bakal menerima penghargaan, dan Bargo seorang dari
seniman yang akan menerima penghargaan.
Pada pukul 21.40 Bapak Gubernur dipersilakan naik ke panggung. Hampir satu
jam Gubernur memberikan sambutan dan pesan-pesan kepada warganya yang direlay
oleh RRI lokal. Lambung Bargo semakin keras bersuara. Ia pun bekerja keras menahan
25
agar angin tidak keluar dari duburnya. Bagaimana pun sopan santun di tempat umum
apalagi saat berada di antara para pejabat seperti itu haruslah diutamakan.
Setelah Bapak Gubernur memberi sambutan yang amat melelahkan, satu per satu
penerima penghargaan maju ke depan. Bargo pada urutan kedua setelah seorang
anggota dewan yang dipilih sebagai wakil rakyat teladan. Bargo mendapat salam dari
wakil rakyat tersebut, Bargo menyambutnya dengan mengembangkan senyum.
Sungguh senang hati Bargo tatkala menerima selembar piagam dari Gubernur
lalu mendapat ucapan selamat dan jabat tangan. Rasanya ia tak ingin melepas jabatan
tangan Bapak Gubernur. Ia ingin mengabadikan jabatan tangan Bapak Gubernur itu.
Namun jelas itu tidak mungkin. Sebab, Bapak Gubernur hanya sekejap menjabat tangan
Bargo, kemudian pindah ke yang lain.
Ia menunggu amplop berisi uang yang sangat diharapkannya sejak di rumah.
Mungkin Bapak Gubernur akan kembali mendatanginya dan memberikan uang sebagai
tali-kasih, setelah orang ke-15 menerima penghargaan. Mungkin piagam yang diberikan
Gubernur lebih dulu. Ia membatin. Tetapi, setelah penerima ke-15 mendapatkan
penghargaan, Gubernur berdiri di hadapan mereka. Bapak Gubernur berujar, "Saya atas
nama pribadi dan Kepala Daerah menyampaikan selamat kepada Saudara-saudara yang
kali ini menerima penghargaan. Saudara-saudara adalah teladan bagi warga lain di
provinsi ini. Prestasi memang bukan didapat begitu saja, bukan turun dari langit.
Melainkan harus diperjuangkan, ada proses untuk mencapai prestasi tersebut. Dan,
proses itulah yang berharga dan harus dihargai. Selamat buat Saudara-saudara.
Pemerintah tak bisa memberi lebih dari yang Anda terima, tetapi bukan berarti
pemerintah tak mempunyai apresiasi. Selamat, selamat."
Bargo tertunduk. Ia melangkah lunglai. Asih segera memegang suaminya.
Khawatir terjatuh. Ia pegang erat tangan Bargo. Meninggalkan aula yang megah dan
besar itu. Pulang.
"Coba Pakne, saya mau lihat penghargaan apa yang dikasih Bapak Gubernur?"
Bargo membuka map yang dilipat dua di tangan kirinya.
"O, cuma selembar piagam." Seorang tamu yang berjalan di sisi Bargo
berkomentar.
"Jadi?"
Bargo tak menyahut. Tepat di depan pintu keluar, sesuatu yang sejak tadi ia
tahan demi kesopanan tak bisa lagi diajak kompromi. Persis ketika piagam dari
26
Gubernur tersebut berada di pantatnya, terdengar suara amat besar dari lubang
duburnya.
Orang-orang pun tertawa. Bargo meringis.
***
27
Mata Ibu
Post : 06/19/2006 Disimak: 390 kali
Cerpen : Isbedy Stiawan ZS
Sumber : Kompas, Edisi 06/18/2006
Sungguh, aku tak dapat menolak—bahkan secara halus—ketika Linda
memintaku agar mengantarnya ke rumah ibuku. Tetapi, aku tetap mengulur-ulur
waktu….
Aku hanya mau silaturahmi," ujarnya kemudian. Ringan.
Aku bimbang. Sulit sekali untuk menyatakan tidak atau ya. Justru yang
terbayang adalah wajah ibuku. Meskipun ibuku sudah tak lagi dapat melihat sejak lima
tahun karena diabetes, ibu pasti tahu kalau yang kubawa bukan Mirna, istriku.
Kemudian ia akan bertanya macam-macam tentang Linda. Perasaan seorang ibu yang
sudah 60 tahun lebih hidup pastilah akan berkata lain. Setidaknya, dia akan berkata
dalam hatinya bahwa aku sudah berani bermain api. Atau kebiasaan ibu yang selalu
berterus terang akan bertanya: "Kamu sudah beristri lagi, ya? Jangan lukai hati
perempuan. Jangan sekali-kali menipu istri, Rud."
Kata Linda hanya mau silaturahmi. Benarkah tanpa maksud lain di baliknya?
Aku ragu. Soalnya, Linda belum kenal dengan ibuku. Ibu juga tak mengenal perempuan
lain bahkan sebagai temanku sekalipun, kecuali Mirna yang sudah menjadi istriku
selama 23 tahun. Ibu juga amat tahu dengan pribadiku selama ini yang tak suka
bermain-main api, tak pernah berkhianat. Bahkan sewaktu aku berpacaran dengan
Mirna, aku tak pernah membawa perempuan lain ke rumah. Selalu Mirna yang kuajak.
Senantiasa Mirna yang datang dan menemui ibu.
Kalau kini aku membawa Linda? Apa kata ibu? Kepercayaan ibu selama ini
padaku pastilah segera tercoreng. Ia tak akan mempercayaiku lagi untuk selamalamanya.
Ibu akau menudingku sudah berkhianat pada Mirna, pada kaum perempuan.
Dan, aku yakin, ibu pun akan terluka hatinya. Sebagai sesama perempuan, hati ibu akan
sama seperti yang dirasakan Mirna. Apalagi, aku tahu benar, ayah selama hidup
perkawinannya dengan ibu tidak kudengar berselingkuh. Secuil pun tak melukai hati
ibu. Tidak juga bermain mata dengan perempuan lain. Maka bukan mustahil ibu akan
28
berang kalau tahu yang kubawa ke hadapannya adalah perempuan lain, meski hanya
teman biasa.
Kalau tidak berbisik, ia akan terang-terangan berujar: "Jangan bawa perempuan
lain ke sini, apa jadinya kalau Mirna tahu? Ibu tak enak, dikiranya ibu menyetujui
hubungan kalian!" Atau dengan cara lain: ibu menunjukkan sikap tak sukanya.
Ada hubungan? Benarkah aku memiliki hubungan khusus dengan Linda?
Sungguh, sulit aku menjawabnya. Linda adalah perempuan yang kukenal enam bulan
lalu pada malam pembacaan puisi di Gedung Kesenian. Ia menemuiku sesudah acara,
dan seperti dia katakan bahwa ia kerap membaca tulisanku di berbagai media massa
nasional. Terutama cerpen-cerpenku yang dimuat tabloid wanita dan di sebuah harian
terbesar di Jakarta . "Tapi, saya juga menyukai puisi-puisi Mas Rudi. Bahkan saya amat
menyukai puisi Mas yang untuk ibu, saya hafal di luar kepala. Puisi itu sungguhsungguh
menggugah saya, membuat saya teringat pada ibu saya yang sudah meninggal.
Kapan-kapan boleh saya bertemu dengan ibu Mas Rudi?"
Waktu itu aku hanya mengangguk. Mungkin basa-basi. Karena pikirku, tak
mungkin Linda akan datang ke kotaku. Lagi pula pertemuan di suatu tempat seperti di
Gedung Kesenian, seperti sebuah perjumpaan yang terjadi di halte, terminal, pelabuhan,
ataupun di dalam perjalanan. Hanya saling “"hello" untuk kemudian berjalan masingmasing
atau dilupakan.
Tapi, meleset. Ternyata tidak setiap pertemuan yang tak sengaja dan sekejap lalu
tak berkesan. Sebab, bagi Linda, perjumpaan yang sekejap itu amat berkesan. Ia datang
ke kotaku. Sepertinya hendak menagih janjiku untuk mempertemukannya dengan ibuku
yang terabadi dalam puisiku: "Kembali Ziarah". Ia bahkan memujiku. Aku dinilainya
sebagai anak yang berbakti pada ibu, yang memiliki kesejarahan yang sangat dekat dan
kuat pada ibu.
"Dari puisi Mas Rudi itu, saya bisa merasakan bahwa pengarangnya memiliki
kedekatan amat khusus dengan ibu. Padahal banyak pengarang yang menulis tentang
ibu, tapi tak sedalam makna yang ada dalam puisi Mas Rudi. Itulah sebabnya, aku ingin
sekali bertemu dengan ibu. Bagaimana sih sesungguhnya perempuan yang ada dalam
puisi mas Rudi itu?" katanya memberi alasan saat kutanya mengapa ia ingin sekali
bertemu dengan ibuku, sehingga jauh-jauh datang ke kotaku.
Linda kujemput di Bandara Radin Intan dengan pesawat pertama. Ia sempat
kaget ketika ia kugiring ke motorku begitu keluar dari pintu bandara. Mungkin dalam
29
benaknya, aku akan menjemputnya dengan mobil pribadi. Namun kekagetan itu hanya
sesaat, wajahnya segera berganti ceria. "Wah, asyik sekali berkendaraan motor. Saya
bisa leluasa melihat keindahan kotamu," ucapnya segera melompat ke jok motor.
"Kamu benar-benar heroik!" pujiku.
"Aneh?"
"Tidak sih. Cuma aku benar-benar tak memperkirakan kalau kau akan datang.
Kukira malam itu, kau hanya basa-basi…."
"Saya tak pernah main-main dengan ucapanku. Aku tak suka kepura-puraan,"
katanya tegas. "Apa kau melihat wajahku seperti yang orang yang selalu pura-pura?"
"Tidak juga!"
"Nah, buang jauh-jauh kalau begitu pikiran negatifmu sejak sekarang tentang
diriku…."
"Oke. Maafkan aku," kataku kemudian. "Sekarang kita mampir dulu ke rumah
makan. Aku yakin kau pasti sudah lapar. Iya kan?"
"Wah, tawaran yang bagus itu."
Ini sudah hari ketiga Linda berada di kotaku. Ia sudah bertekad akan menetap
agak lama, itu sebabnya, siang tadi ia memintaku mencarikan sewaan rumah. Ia tertarik
dengan rumah itu, tinggal lagi kesepakatan harga. Sebenarnya aku sudah berulang
menasihatinya agar segera pulang ke suaminya, tetap ia bersikukuh. Keputusannya
sudah bulat: meninggalkan suaminya. Ia sudah mengajukan mutasi kerja ke bank
cabang di kotaku.
"Tak ada yang bisa memengaruhi untuk kembali padanya. Aku sudah bosan
dengan janji-janji palsunya!" tegasnya. Yang jelas, menurut Linda, akhirnya ini sejak
suaminya pengangguran memang kerap ringan tangan. Padahal yang menutupi
kebutuhan rumah tangganya dari gajinya.
Lalu ia meminta masukan perihal tata cara perceraian. Sekadarnya kujelaskan
sejauh yang kutahu, tanpa ingin aku masuk ke persoalan rumah tangganya. Aku selalu
berada di antara keduanya. Aku katakan padanya, biasanya yang menggugat perceraian
bukan dari pihak istri. Oleh sebab itu, sulit jika pihak laki tak mau menceraikan.
"Kalau begitu masalahnya, ya sudah aku tak mau mengurus perceraian kami.
Tapi juga aku tak ingin kembali menemuinya! Titik. Beres kan?"
30
"Jelas tak semudah itu," kataku. "Kalau, misalnya, nasib menentukan kau
mencintai seseorang dan lelaki itu juga ingin menikahimu. Bagaimana kalau suamimu
tahu dan karena merasa kalian belum bercerai, ia pun menuntut?"
"Ah, itu urusan nanti. Sebuah masalah yang belum terbayang dalam benakku!"
Linda menepis kemungkinan itu. Dan, ia memang tipe orang yang selalu realistis. Ia
lakoni apa yang ada pada hari ini dan yang di hadapannya.
Setelah itu diam. Beberapa lama. Motorku melaju menembus kilapan cahaya
lampu sepanjang Jalan Diponegoro—menuju Kota Telukbetung. Ketika melintasi
perempatan Jalan Dr Susilo, Linda menunjuk sepasang patung—Muli dan Menganai—
yang masih berselimut kain putih.
"Mengapa patung itu diselimuti. Patung apa itu?" ia bertanya. Deru motor
membuat suaranya sayup-sayup sampai ke telingaku.
"Itu patung Muli-Menganai. Bahasa Lampung artinya ’gadis dan bujang’.
Karena belum sesuai adat dan kalau tak salah banyak yang protes, akhirnya patung yang
baru dibuat oleh Wali Kota yang baru dilantik terpaksa ditunda peresmiannya," aku
menjelaskan.
Linda tak lagi bertanya. Aku memacu motorku menuruni Jalan Diponegoro.
Berhenti di sebuah warung khusus penjual pempek. Aku yakin Linda pasti ingin
mencicipi pempek Palembang yang banyak disediakan di kawasan ini. Benar, ia
bersemangat. Apalagi, setelah tahu harganya pun jauh lebih murah jika dibanding di
Jakarta. Entah berapa puluh pempek disantapnya. Aku khawatir akan mengganggu
perutnya.
"Kau keberatan mengantarku ke rumah ibu?" Linda kembali mengajukan
pertanyaan, seusai pempek ke 15 dimakannya. Aku menghidupkan sebatang rokok. "Ya
sudah kalau kau tak ingin, aku maklum. Berarti kau menganggapku hanya sebatas
teman, tidak lebih dari itu," lanjutnya.
"Maksudmu, Linda?" Aku tak mengerti. "Bukan karena aku keberatan, cuma
belum saatnya."
Linda tak menyahut. Ia kesampingkan pandangannya.
"Maafkan aku, Linda. Bukan aku tak ingin mengenalkanmu dengan ibu. Hanya
tidak sekarang," kataku membuka percakapan sambil memasukkan makanan ke mulut.
Hening. Kutatap wajah Linda dalam-dalam. Aku menginginkan pengertiannya,
sekali lagi, agar ia membatalkan untuk bertemu ibu. Aku hendak menjaga perasaan ibu
31
yang selama hidupnya mendampingi ayah tanpa dikhianati. Aku juga mau menenggang
rasa Mirna. Tetapi, bukankah Linda juga perempuan? Ia juga punya perasaan,
setidaknya memiliki kerinduan pada figur ibu sejak orangtuanya meninggalkan empat
tahun lalu.
"Katamu kemarin, mau mengantarku sekarang?"
"Tapi, sudah malam, Linda?"
"Sudahlah, tak usah beralasan. Kau memang tak ingin menemukan aku dengan
ibumu. Aku jadi meragukan tentang puisimu itu…"
"Oke, oke. Ayo, malam ini aku antar kau menemui ibuku," kataku sudah
kehabisan cara untuk menolak keinginannya.
"Tapi, sepertinya kau terpaksa? Aku tak mau kau merasa dipaksa olehku, lalu
mengantarku pun karena terpaksa. Aku tak suka itu…"
"Tidak, tidak. Aku mau mengantarmu sekarang, ayo…"
Ibu ternyata belum tidur. Kulihat mukena belum dilipatnya. Pastilah ibu baru
selesai shalat sunah usai Isa menjelang tidur. Aku mengambil tangan ibu dan mencium
sedalam-dalamnya.
"Ada apa Rud, malam-malam datang?"
Adikku yang sudah berkeluarga dan menemani ibu mendekati telinga ibu dan
berbisik: "Rudi datang membawa teman perempuan. Katanya ingin bertemu ibu…"
"Siapa?" ibu bertanya. Entah lantaran tak mendengar atau pertanyaan yang
menyimpan kecurigaan. Adikku mengulang. Ia menuntun ibu ke luar kamar.
Linda segera menghampiri dan mengambil tangan ibuku untuk kemudian
menciumnya. "Saya Linda Bu dari Jakarta. Saya tertarik dengan puisi Mas Rudi yang
sangat menyanjung dan memuji Ibu. Karena itu, saya ingin sekali bertemu Ibu, hendak
bersilaturahmi."
Ibu hanya diam. Rona wajah ibu tak sedikit pun berubah. Ia mencari kursi di
tempat biasa ibu duduk. Linda mendekat. Menyerahkan kue ke tangan ibu. Setelah itu
merogoh isi tas dan mengeluarkan sesuatu.
"Siang tadi saya membeli kacamata, saya pikir Ibu tak bisa melihat hanya karena
tak punya kacamata. Tapi…" ujar Linda sambil menyerahkan kacamata yang aku yakin
harganya amat mahal.
"Maaf, Nak. Mata Ibu sudah tak butuh kacamata lagi. Sudah tak berfungsi
lagi…."
32
"Bagaimana kalau dioperasi saja, Bu? Biar saya yang menanggung semua
biayanya."
"Ah, tak perlu repot-repot, Nak. Biarlah, toh Ibu juga sudah tua. Umur Ibu sudah
tak lama lagi."
"Jangan berkata begitu, Bu…," aku mencegah ucapan ibu yang menjurus
pesimistis dan pasrah.
"Ya, Bu. Soal usia manusia, hanya Tuhan yang lebih tahu. Bagaimana, Bu, kalau
mau dioperasi segera besok dibawa ke rumah sakit," lanjut Linda.
"Tak usah, Nak, tak usah repot-repot," kata ibu lembut. "Mata Ibu juga sudah tak
mungkin bisa kembali, sudah lima tahun. Lagi pula, Ibu juga sudah diberi kesempatan
oleh Allah melihat dunia cukup lama. Ibu juga tak jalan ke mana-mana lagi, hanya di
rumah…"
"Tapi, Bu…," sosor Linda.
"Jangan sampai Ibu merepotkan Anak."
"Tidak, Bu…"
"Jangan. Ibu berterima kasih dengan niat Nak Linda. Ibu juga berterima kasih
Anak mau menjenguk Ibu, hanya karena membaca puisi Rudi. Ah, Ibu sendiri tak tahu
apa puisinya itu, Rudi tak pernah membacakannya di depan Ibu…"
"Bacakan…." Linda berbisik.
Aku segera membacakan puisi "Kembali Ziarah", tentu tidak seperti ketika aku
membacakannya di panggung kesenian. Namun dengan interpretasi yang dalam,
suaraku pelan dan bergetar. Kulihat tetesan yang menjelma anak sungai yang keluar dari
sumber mata ibu membasahi kedua pipinya.
"Walau Ibu tak mengerti, puisimu menyentuh…," komentar ibu, usai kubacakan
seluruh larik puisiku itu. "Sebagaimana meskipun mata Ibu sudah tak berfungsi, tapi Ibu
tetap merasakan melihat dunia. Ibu bisa merasakan getar yang ada di dalam dirimu
Rudi, juga yang ada padamu Nak Linda…"
Kuperhatikan Linda serba salah mendengar ucapan ibu. Mata ibu lebih tajam.
Perasaan ibu sangatlah dalam. Betapa dalam sehingga mampu menembus segala
rahasia.
"Jangan khianati istri dan anakmu. Menantu Ibu masih tetap Mirna…" bisik ibu
sesampai di tempat tidur. Suaranya terbata dan pelan, tapi terdengar amat bergetar.
33
Lampung, April-Mei 2006
34
Lelaki itu Suamiku
Post : 06/19/2006 Disimak: 320 kali
Cerpen : Isbedy Stiawan ZS
Sumber : Media Indonesia, Edisi 06/18/2006
MALAM kelam selebat hutan. Udara dingin selapis kain tipis. Jalan yang cuma
setapak bersisa basah. Lumpur. Rumputan lembab.
Tiada pilihan. Harus melangkah mengikuti kemauan kaki. Dan, gerbang
kompleks perumahan sudah tertinggal. Mungkin akan kulupakan selamanya. Tak sudi
kuingat lagi waktu terkutuk ini. Perempuan tertutup sehelai kain. Telentang di
ranjangku. Juga lelaki di sebelahnya, terlelap bagai bonggol jagung. Lelaki itu suamiku.
Keduanya masih bermandi keringat. Meski dengkurnya keras sekali pertanda ia
benar-benar lelap. Aku tidak berkeinginan membangunkan Mas Tarman, atau menyeret
perempuan itu yang sudah berani tidur di ranjangku. Biarlah keduanya lelap, bahkan
kalau mungkin mati di tempat tidur.
***
Sebelum kuniatkan pergi dari rumahku, memang sudah kukemas pakaianku.
Segera kumasukkan ke dalam tas besar, sebelum kedua hewan itu terjaga. Biarlah waktu
dan kamar yang menjadi saksi. Biarlah iblis-iblis yang menyaksikannya sembari
tertawa-kekeh. Bukan lantaran mereka menjebakku tengah menonton sambil menggigit
lidahku lantaran terluka hati ini.
Diam-diam kutinggalkan rumah. Aku hanya pamit pada pintu, jendela, dan
seluruh isi rumahku yang telah membuatku kerasan menetap hampir 10 tahun bersama
Mas Tarman. Di rumah tersebut aku menyulam cinta sambil berharap-harap dari cinta
kami akan berbuah momongan. Betapa pun harapan itu sampai saat ini belum terpenuhi.
Barangkali belum saatnya. Mungkin....
Tetapi, tanpa membuahkan anak dapat menyebabkan perkawinan menuju
ambang rawan. Walau hingga memasuki tahun ke tujuh perkawinan kami belum tanda.
Meski Mas Tarman masih sering menciumku dengan perasaan sayang dan cinta. Ia
35
kerap mengajakku bercumbu hingga jelang subuh. Aku suka. Kusambut dengan
keriangan pula. Berkali-kali.
Hanya saja, benarkah Mas Tarman sungguh-sungguh mencintaiku? Masihkan ia
menyayangiku sepenuh tulus? Tidak tergiur oleh aroma keringat lain perempuan?
Setiap kali batinku merintih seperti itu, Mas Tarman selalu menghiburku: "Kalau harus
kulintasi benua demi benua, maka aku akan selalu berpulang ke pelukanmu. Percayalah,
Asih."
Hati siapa yang tak akan berbunga mendengar ucapan itu? Apalagi kata itu
keluar dari bibir lelaki yang sangat dicintai. Aku memang sangat mengagumi Mas
Tarman. Sejak lajang. Itu sebabnya, membuatku menerima ketika dia dilamar.
Lelaki itu kemudian jadi suamiku. Tarman namanya. Posturnya kekar. Selalu
tegap jika berjalan. Dadanya melebar. Pandangnya tak pernah ke bawah. Suaranya
berat. Sedikit bicara, padat katanya. Bila kami sedang berdekatan, sangatlah
menggairahkan. Begitulah lelaki itu, namanya Tarman, sudah tidur bersamaku 10 tahun
lamanya. Akan tetapi, tak juga berbuah janin di rahimku. Sebagai calon anak kami.
Seorang saja.
Meski belum dikaruniai anak, tidak mengurangi percintaan kami. Mas Tarman
tetap bergairah bila di ranjang. Aku tak kurang pula menerima dan melawan
cumbuannya. Sepuluh tahun bukti cinta kami. Sepuluh tahun cukuplah untuk kukatakan
bahwa perjalanan rumah tanggaku tiada aral-rintang. Tiada percikan api yang bakal
membakar rumah tanggaku.
***
AKU telanjur menggantungkan kepercayaanku pada cinta. Hawa yang selalu
keluar dari mulut Mas Tarman setiap mendekapku, telah menyihir perasaanku hanya
untuk mengingatnya. Betapa aroma peluhnya itulah yang membuatku tersengsem untuk
selalu ingin didekapnya. Di mataku ia adalah Arjuna: begitu sulit kulikis
ketampanannya. Sedang di hatiku, ia layaknya sang Romeo: lelaki yang memiliki cinta
tiada banding di jagat ini.
Karena itu, biarpun ibu pernah memintaku berpikir dulu sebelum menjatuhkan
keputusan menerima lamaran Mas Tarman, aku menepis dengan satu helaan saja: "Aku
lebih tahu tentang Mas Tarman!"
36
Ibu tersungut. Tak berani lagi melontarkan nasihat apa pun mengenai
hubunganku dengan Tarman. Aku yakin ibu kecewa, tapi lebih kecewa lagi aku kalau
ibu menolak lelaki yang kukagumi itu menjadi suamiku.
Pernikahan sederhana. Kukira paling sederhana dibanding saat ibu mengawinkan
kakak-adikku. Ibu menyelenggarakannya dengan sangat meriah, disambut sukacita.
Walaupun sederhana, itu semua terhapus juga tatkala Mas Tarman mengucap:
"Kuterima nikah Asih binti Sugardo dengan emas kawin...."
Lalu, selayaknya seorang ratu kunaiki pelaminan. Aku seperti terbang dengan
sayap yang terbuat dari cinta yang dianyam oleh tangan Mas Tarman. Sayap itu sangat
putih. Tangan yang menyulam pun amatlah penuh oleh kasih sayang.
Sayap yang kemudian melindungi rumah tanggaku bersama Tarman. Sayap itu
pula selalu kujaga agar tidak menguncup atau rusak termakan waktu. Sayap yang dapat
berfungsi ganda. Sebagai selimut kami.
***
MAKA aku benar-benar tidak percaya menyaksikan sepasang tubuh yang hanya
ditutup sehelai kain di ranjangku. Terlelap. Dengkurnya bagai harimau bersuara. Karena
lelah mungkin, membuat keduanya bagai bonggol jagung. Telentang.
Aku gemas. Amarahku membara. Darahku meluap-luap. Seperti buncahan laut
pada saat terempas badai. Gelombangnya tinggi, melebih tepi pantai. Memasuki kota.
Ah! Kini aku sudah melewati gerbang perumahan. Malam makin pekat selebat
hutan. Udara dingin selapis kain tipis menusuk poriku. Ingin aku bergegas, tapi
langkahku terasa lambat sekali kuseret. Tidak seperti ketika aku melepas kenangan
selama bersama Mas Tarman. Semisal kubalikan telapak tanganku, sekali hup!
Rontoklah seluruhnya bagai daun-daun kering luruh dari ranting.
Aku tak percaya kata orang, kenangan-terutama yang manis dan indah-dalam
bercinta, sungguh sulit dilupakan. Ternyata aku dapat dengan cepat melupakannya.
Buktinya, dengan sekali tebas gugurlah segala kenangan dan masa lalu itu.
Bahkan aku pun mampu untuk tidak mengingat lagi perempuan yang lelap di
ranjangku. Perempuan terkutuk. Dalam keadaan bugil. Di sebelahnya, yang sedang
mendengkur--juga dalam keadaan tanpa penutup badan--seorang lelaki yang selama 10
tahun dekat di hatiku, sudah pula kulupakan kini. Lelaki itu, ya lelaki yang tidur
37
bersama perempuan lain, pernah menjadi suamiku. Namun semenjak satu jam yang lalu
dan seterusnya sudah kuanggap orang lain. Tak mungkin akan kukenal lagi.
Biarlah segalanya lesap dari ingatanku. Biarkan lelaki itu bukan lagi menjadi
bagian dari kenanganku. Bukan pula sebagai masa lalu. Sekarang ini aku tengah menuju
masa datang. Sebuah waktu yang membuka, yang membentang. Aku, walau tak
diizinkan, pastilah kumasiku. Tentulah akan kulampaui.
Aku susuri setiap lekuk waktu dan segala kemungkinan. Sebagai perempuan
yang sendiri. Selayaknya Mariam yang mencari-cari tempat persinggahan saat
mengandung putra Isa. Perempuan Mariam nan suci. Aku ingin sekali seperti dia.
Cuma nasibku lain. Persinggahanku berubah-ubah. Aku berganti-ganti di dalam
dekapan lelaki. Untuk semua itu--untuk sekali atau dua kali persinggahan--aku dibayar.
Dekapan yang hambar dan ringan, tentu saja. Lelaki-lelaki itu, bolehlah kuakui
suamiku. Suami dalam waktu yang sejenak. Tiada ikatan di dalam buku catatan
perkawinan.
Ah! Aku sudah tak percaya lagi pada pengikat kesetiaan. Tiada lagi di benakku
perlembagaan tersebut. Kiranya aku kini merasa bahagia terbang tanpa perlu membikin
sayap lebih dulu. Aku dapat hinggap di mana pun yang kusuka, setelah itu boleh
terbang lagi tanpa harus mengucap "salam".
Begitulah aku. Perempuan burung yang tak mesti lebih dulu menganyam sayap
untuk terbang, tak harus membangun sarang jika lelah dan butuh rebahan. Sebab, aku
dapat berbaring di ranjang mana saja. Bahkan, di selembar tikar. Boleh pula di kamar
pengap. Jika itu mengharuskan.
Aku terbang. Dari satu ranting ke lain ranting. Hinggap sekejap atau beberapa
kejap, lalu kembali terbang. Bagai buruh sungguhan, aku tiada pernah lelah meski
kukapakkan sayap melintasi berbagai pulau. Walau berpuluh atau beratus lelaki sebagai
ranting, kusinggahi sudah.
Sekarang aku benar-benar menjelma jadi burung. Perkasa. Kedua sayapku
kukuh. Mengepak, mengepak. Terbang menggaris cakrawala. Singgah dari satu ranting
ke lain ranting. Dari lelaki satu ke lelaki kedua, ketiga, dan seterusnya.
Semua lelaki itu, para lelaki, setiap sedang berkencan denganku mengaku dirinya
suamiku. Dan, aku tak pernah lupa menyapa mereka, "Papa...."
****
38
ENTAH pada ke berapa persinggahan, seorang lelaki meneleponku untuk
bertemu. Pukul sembilan malam, ia menungguku di sebuah kamar hotel bintang lima.
Sebagai burung yang bebas, aku segera terbang menghampirinya. Setelah izin pada
resepsionis, aku menuju kamar yang tampaknya sengaja tak dikunci.
Aku terperangah. Dan, tampak ia lebih kaget lagi. Seorang lelaki duduk di
ranjang bersandar dinding. Kami beradu pandang. Seakan saling menguliti. Mata kami
adu cepat menyilet. Seperti hendak mencari tanda. Hanya saja, sulit sekali menandai.
Aku seperti belum pernah berjumpa sebelumnya. Lelaki itu juga merasa tak
mengenalku.
Kusebut namaku. Ia jawab, terlalu banyak nama Asih di kota ini. Ia mengenalkan
diri bernama Tarman. Kukatakan, "Kau adalah kenalan baruku. Karena itu, kucatat lebih
dulu dalam barisan nama-nama lelaki."
Ia bercerita tentang rumah tangganya. Juga seorang perempuan yang telah
meninggalkannya ketika ia sedang terlelap. Lelaki itu, yang kini di hadapanku, adalah
seorang pejabat di Kota Anu. Ia sedang mengikuti seminar tentang kota bersih di Kota
Ini.
Tetapi sayangnya, aku tak memiliki gairah menemaninya bermalam. Entah
mengapa, walau sebenarnya aku dapat saja menerima bayaran mahal. Aku merasa saat
ini lebih suci darinya. Sebab tak mungkin lelaki masa lalu yang sudah kuhapus
kenangannya, akan kembali?
Lampung, 17-23 Maret 2006; 23.30
39
Kuda
Post : 05/29/2006 Disimak: 147 kali
Cerpen : Isbedy Stiawan ZS
Sumber : Lampung post, Edisi 05/21/2006
ENTAH karena bagaimana dan tersebab apa, kuda tanpa majikan itu menyeruak
dari belantara dan nyaris saja menyerudukku. Segera aku menghindar, menggerakkan
badanku empat langkah ke kiri. Aku percaya tak selamanya kiri adalah buruk. Buktinya
aku selamat dari serudukan kuda itu yang, mungkin, sedang mabuk…
Kuda tanpa majikan—kami, orang kampung, biasa menyebutnya kuda liar—
memang tidak banyak dan tak terlalu sering memasuki kampung seperti ini. Berbeda
dengan sekawanan gajah, misalnya yang terjadi di pedusunan Lampung yang kerap
merusak kebun dan rumah penduduk, bahkan sampai menewaskan warga. Sedangkan
kuda yang menyeruak dari hutan dan nyaris menyerudukku tidak begitu menakutkan,
meski tetap membuat kami was-was. Kami tak dapat membayangkan, misalnya suatu
saat kuda itu menjadi kalap dan bukan tidak mungkin akan menelan korban.
Kaum perempuan paling besar tingkat kekhawatirannya. Istriku sudah berkalikali
mengajak mencari tempat hunian baru. "Kalau bisa kita cari rumah di desa yang
lebih ramai. Tidak seperti di sini. Aku takut, Mas…" katanya. Ia mengkhawatirkan,
bukan tak mungkin suatu kelak akan datang kuda yang lebih liar dan buas lalu merusak
ladang, rumah, dan membunuh warga. "Coba bagaimana kalau keluarga kita yang…."
"Di mana pun dan karena apa pun orang bisa saja mati. Jadi, bukan hanya karena
kuda. Jangan cemas berlebihan seperti itu, Ati…" ujarku sekadar memberi semangat.
Malam pekat. Bintang hanya sedikit tampak di langit. Aku duduk di beranda
menikmati segelas kopi dan sepiring singkong goreng. Ditemani istriku yang belum
luntur perasaan cemasnya. Ia memgaku masih sulit melupakan kejadian senja tadi, saat
aku nyaris diseruduk kuda. Peristiwa sore tadi adalah yang kesebelas kali menimpa
warga. Setahun lalu seorang warga harus dilarikan ke rumah sakit kota karena dadanya
diinjak-injak kuda. Ia harus di opname lima hari di rumah sakit provinsi, walaupun
akhirnya ia meninggal. Dan, kuda yang membuat warga mati itu lalu dibantai beramairamai.
Setelah meregang nyawa, kuda itu dibakar.
40
Aku menolak cara warga melampiaskan dendamnya pada seekor kuda. Aku
katakan pada orang kampung, perlakukanlah secara manusiawi meskipun hanya dengan
seekor cacing. Tetapi, orang-orang kampung bergeming. Bagai singa lapar, kuda yang
sudah terkepung dibantai lalu dimandikan dengan bensin dan dibakar. Bau sangit
daging yang terbakar itu menyebar terbawa angin. Banyak di antara kami yang
kemudian tak mampu menelan makanan.
Mungkin karena itu pula, sepekan kemudian tiga ekor kuda liar bertamu ke
kampung kami. Setiap warga keluar rumah, ketiga ekor kuda itu mengejar tapi tak
sampai mencelakakan. Meski begitu, kami dibuatnya cemas. Tak satu pun warga yang
berani ke ladang. Lebih dari sepekan kami mengurung diri di rumah. Konon, ketiga
ekor kuda itu kembali ke hutan…
ENTAH dari mana kuda itu datang. Sebab apa pula ia bertamu ke kampung kami
layaknya membawa dendam amat besar. Ia selalu datang seperti pemabuk: matanya
merah, sorotannya menyala, larinya kesetanan, menyeruduk apa yang dilihatnya.
Berbeda dengan kuda lain yang biasa kami jumpai: santun dan selalu berkarib dengan
manusia.
Senja tadi membuat seluruh warga kembali tersentak. Entah karena bagaimana
dan tersebab apa, kuda tanpa majikan itu menyeruak dari belantara dan nyaris saja
menyerudukku. Segera aku menghindar, menggerakkan badanku empat langkah ke kiri.
Aku percaya tak selamanya kiri adalah buruk. Aku selamat dari amukan kuda.
Namun tak urung Ati cemas juga. Ia yang berdiri di bibir tangga rumah
panggungku berteriak histeri, kemudian tak sadar. Mungkin ia mengira kuda itu sudah
menginjak-injak tubuhku, dijadikan bulan-bulanan sebagaimana dialami Rohmat
ataupun Mujid. Kecuali kaki kiriku terkilir, tak ada cedera lain yang membahayakan
hidupku. Aku dipapah Totok, anak sulungku, menaiki tangga. Didudukkan di kursi
kayu. Ia mengambil segelas air putih dan menyodorkan ke bibirku. Aku tersenyum
menyaksikan perlakuan anakku itu, sebab aku tak pingsan. Tetapi kuminum juga air
yang disorong ke mulutku, setidaknya untuk melancarkan nafasku yang masih tak
beraturan.
Ketika siuman Ati langsung mendekapku. Menciumi wajahku, membelai-belai
rambutku. Tentu maish dengan isaknya. Ia tampak sekali mencemaskan diriku.
"Kau tak apa-apa kan, Mas? Kau tak apa-apa?"
41
Aku tertawa. Mengelus pundaknya.
"Aku tak apa-apa, hanya kaget karena tak mengira sama sekali kuda liar akan
datang lagi ke kampung kita…."
Ati mengangguk. "Padahal sudah lama kampung kita aman dari serbuan, kuda
kuda itu lama menghilang. Tapi…"
"Artinya kita harus selalu waspada…."
"Makanya kita pindah saja dari sini, Mas. Aku khawatir kita jadi korban sisa-sia
kalau datang kuda yang lebih buas lagi," ucap Ati.
"Sudah bertahun-tahun menetap di sini, Ati. Kita lebih lama menetap di
kampung ini dibanding hewan itu, mengapa kita harus pindah? Dengan binatang yang
lebih buas lagi saja kita tak pernah takut, kenapa takut hanya dengan kuda?"
"Tapi kuda yang masuk kampung kita ini lain, bukan sembarang kuda. Mereka
tak jinak melainkan amat liar…." jawab Ati dengan amat cemas.
Seekor kuda bukan lagi sebagai kuda, kalau sifatnya serupa hewan buas yang
lain: harimau, badak, ataupun gajah. Ati mengingatkan. Ia menduga, kuda yang
mendatangi kampung kami dan kadang nyaris mencelakakan itu bukan kuda sembarang
kuda. Tetapi, kuda yang seakan telah dirasuki setan atau ruh dari seorang pemabuk.
Bagaimana tidak, pernah seekor kuda memasuki rumah tetanggaku yang bangunannya
tidak panggung. Kuda itu menyeruak ke dalam rumah dan menyerujuk pintu kamar
tidur hingga terbelah, lalu menaiki ranjang. Di sana, ia kencing pula. Istri Darmono
yang kebetulan sendirian di rumah lari ketakutan, sebab kuda itu seperti ingin
memperkosanya!
"Kalau bukan sembarang kuda, tak mungkin ia berprilaku seperti itu," kata Ati
lagi.
"Tapi, bisa saja tingkahnya berubah. Manusia saja bisa berubah…." tukasku
seakan ahli mengenai sifat kuda. Padahal, seperti yang pernah kudapati dalam pelajaran
di sekolah bahwa hewan hanya diberi insting sedangkan perubahan dalam makhluk
selain hewan dan jin adalah akalnya.
"Aku tak percaya itu, Mas. Pastilah kuda yang masuk kampung kita dan
mengganggu, kerasukan roh jahat. Kita harus minta bantuan dukun yang dapat mengusir
roh jahat yang mengusai kuda kuda itu. "Siapa tahu dengan begitu, kuda kuda itu bisa
jinak dan bisa dijadikan hewan peliharaan?"
"Ah, pikiranmu malah melebar…."
42
"Siapa tahu kan, Mas? Apa aku salah?"
Aku menggeleng. Aku tak hendak berbalas-bantah, tapi tak juga membenarkan
pendapatnya. Apalagi ia sudah menyinggung-nyinggung roh jahat dan dukun. Itu sama
artinya setipis lagi ia akan masuk ke jurang syirik. Kami sedang membincangkan soal
kuda yang tiba-tiba memasuki kampung seperti manusia kalap. Meski baru satu korban
mati, namun siapa bisa memastikan korban itu hanya yang terakhir?
Hal ini juga banyak dipercayai warga lain. Kami mulai dirundung waswas.
Cemas. Kami seperti sedang menanti bencana yang datang tak kenal waktu. Entah aku,
istriku, anakku, atau tetanggaku yang bakal terancam. Kepala dusun pernah mengajak
kami untuk mencari tahu sarang kuda untuk diusir dari kawasan kampung kami. Cuma
tak pernah kami dapati. Kami juga tak tahu berapa persisnya jumlah kuda yang sering
memasuki kampung ini. Habitat kuda itu pun sulit kami ketahui.
"Kalau kita tahu di mana habitatnya dan berapa jumlahnya, kita bisa memikirkan
bagaimana cara menjebaknya," kata Darmo, kepala dusun. Ia mulai psimis dengan nasib
warga kampung ini.
Salah seorang warga mengusulkan agar kami melapor ke BKSDA (Badan
Konservasi Sumber Daya Alam) provinsi, mungkin di asana ada ahli yang dapat
mengetahui sarang kuda lalu menjinakkannya. Kami berjanji tak akan mengambil
keuntungan sekiranya ada yang bisa menjinakkan, misalnya mengambil seekor atau dua
ekor kuda untuk kami pelihara atau dijual. Tetapi, setelah tiga bulan lebih kami melapor
tak ada yang datang ke kampung kami.
"Kalau begitu kita harus tingkatkan kewaspadaan," kata Darmo. "Setiap kita
yang melihat kuda masuk ke kampung ini harus segera melaporkan kepada warga
lainnya. Kita kepung kuda itu untuk ditangkap atau dibunuh!" kepala dusun seakan
bersabda.
Sejak perintah itu disabdakan sampai kini kuda kuda itu tak juga muncul. Entah
karena memang mereka mendengar ancaman warga, atau tersebab lain. Sebab sudah
setahun ini, kampung kami tak didatangi kuda kuda liar itu.
PAGI cemerlang. Warga tumpah di tanah lapang. Hari ini kami benar-benar
riang. Pejabat dari provinsi bersama rombongan dari DPRD dan kabupaten
mengunjungi kampung kami. Kata kepala dusun, para pejabat itu datang ingin melihat
langsung seberapa besar pembangunan yang telah dilakukan di kampung ini. Selain itu,
43
mau mendata keluarga miskin. Kenapa tidak dari dulu para pejabat itu datang, di
kampung kami yang miskin masih sangat banyak? Aku protes pada Darmo. Kepala
dusun hanya tersenyum, "Bapak Gubernur sekarang ini lagi digoyang oleh lawan-lawan
politiknya."
Aku benar-benar tak tahu maksud Darmo, maka kupilih diam.
Salah seorang pejabat dari provinsi naik panggung. Ia pegang mikrofon dengan
tangan kirinya, menguar senyum. Tentulah untuk menarik simpati. Kami bertepuk
menyambut. Pejabat itu hendak berpidato, ia ucapkan salam. Kami kembali menyambut
tepukan ketika kalimat pertama pidatonya, ia memuji kampung kami yang aman, sejuk,
ramah, dan indah. "Kampung ini dapat dijadikan contoh sebagai kampung yang
tenteram dan aman. Inilah kampung yang baru saya lihat di provinsi ini!"
Aku berbisik pada Ati, "Apa pejabat itu tak dapat laporan dari pak Darmo, kalau
kita ingin meminta bantuan agar kapung ini aman?"
"Dengar dulu mas, pak pejabat itu kan baru mulai pidato," Ati berbisik.
Belum lagi kukomentari ucapan Ati, tiba-tiba dua ekor kuda yang berlari bagai
kesetanan masuk ke tanah lapang. Kami yang memang tengah diliputi kecemasan,
makin ketakutan. Para Hansip kampung yang mengelilingi panggung kehormatan
berlarian tunggang-langgang. Pihak keamanan mengacung-acung pistol dan
memuntahkan peluru ke udara. Ke dua ekor kuda itu tak terusik. Mereka tetap
merangsek, menyeruduk, dan menandang. Kursi-kursi yang diduduki para pejabat sudah
tak karuan letaknya. Salah seorang pejabat—bukan gubernur—yang baru hendak
memulai pidato, segera diselamatkan aparat keamanan. Ia dilarikan dengan mobil ke
tempat aman.
Ke dua ekor kuda itu—pastilah itu sepasang, setelah puas beraksi, kemudian naik
panggung kehormatan. Di sana mereka meringkik. Kencang sekali. Dekat mikrofon.
Bayangkan, suara kedua ekor kuda itu menyebar ke mana-mana sebab alat pengeras
suara itu.
Kami tak tahu siapa yang mengendalikan, sepasang kuda itu berbaring di
panggung. Layaknya manusia yang berleha-leha di ranjang. Berpelukan. Saling
berangkulan. Bercanda. Saling berpagut. Bercinta….
Kali ini kami sudah tak lagi takut, sebaliknya melihat aksi kedua kuda jantan dan
betina itu kami jadikan tontonan. Sebagai hiburan. Karena sudah lama kami, sebagai
44
warga di republik ini, ingin mendapatkan hiburan seperti yang didapat oleh orang-orang
kota, seperti para pejabat itu. Betapa pun hiburan kami, tetap mencemaskan.
Sesungguhnya kami sudah benar-benar haus hiburan. Senyum kami pun sudah
kemarau. Ke lima kuda itu yang layaknya berbaring di ranjang, cukupkah sebagai
hiburan? Apalagi sepasang kuda itu lalu menunjukkan kelaminnya.
"Binatang!" terdengar teriakan. Menggelegar. Membungkam keriuhan. Setelah
itu, suara letusan berkali-kali.
Lampung, 08 Februari 2006
45
Hujan Akhir November
Post : 05/08/2006 Disimak: 352 kali
Cerpen : Isbedy Stiawan ZS
Sumber : Jawa Pos, Edisi 05/07/2006
HUJAN baru tumpah. Deras. Sungai Siak berwarna pekat kecoklatan
membuncah. Di bawah jembatan, di seberang sana, anak-anak bergantungan dengan
seutas tali lalu terjun ke arus sungai. Ini hari tepat akhir November…
Dengan kamera mungil, kau seperti tak ingin kehilangan momen. Pandangmu
berulang pindah dari sekelompok anak yang bertelanjang atau terfokus ke kameramu.
Kau lupa (mungkin sengaja melupakan?) kalau aku berdiri di sisi kirimu. Mencuri
pandang ke pipimu yang ranum, bibirmu yang merah delima.
Salah! Katamu protes, tentu saja membatin. Sebenarnya aku juga sedang
mencuri pandang padaku. Aku tak sungguh-sungguh mengabadikan anak-anak yang
terguyur hujan sambil bergelantung di seutas tali sebelum terjun ke sungai.
Demikianlah, sebenarnya sejak tadi aku selalu memandangimu. Bahkan sejak di dalam
ruangan diskusi tadi, aku...
Ah, aku mendesah. Menatap sebiji tahilalat di pipi kirimu. Seperti memberi
tanda bahwa aku pernah hinggap di sana. Tapi, kapan? Aku sudah lupa, alih-alih dengan
hari yang telah membawaku ke kota ini kemudian mempertemukan lagi aku denganmu.
Karena itu, ini bukan kota pertama. Di kota yang lain kita pernah bertemu,
bersapa, dan berkenalan sambil menyebut nama masing-masing. Setelah kusebut
namaku, aku pun bertanya tentang namamu.
"Rina," sambutmu, dan nama itu yang sulit kulupakan lagi. Entah kenapa.
Apakah karena namamu yang singkat atau terdengar aneh di telingaku?
Tetapi, apa anehnya dengan namamu yang cuma empat kata: r-i-n-a. Karena
simpel sehingga gampang diucap dan tertancap di ingatan. Ingatan apa yang lalu dapat
dengan mudah hilang. Aku bukan seorang pelupa. Ingatanku sangat tajam.
Ah, apalah arti sebuah nama. Shakespeare pernah mengingatkan betapa tak
begitu pentingnya nama. Sebab, menurut sastrawan Inggris itu, mungkin nama hanya
tempelan dalam diri manusia. Karena itu, nama tak abadi.
46
Boleh jadi. Meski ia lupa bahwa nama sangat penting ketika situasi kota sedang
genting ataupun chaos. Orang akan memanggil-manggil nama, bukan tubuh atau ruh.
Ya! Sebab itu, untuk sementara lupakan saja Shakespeare yang boleh jadi memang
keliru.
Sejak itu yang kucatat dalam ingatanku adalah namamu. Bukan wajahmu. Tidak
juga tanda di pipimu: tahilalat yang membuatmu makin tampak manis. Bukan
rambutmu yang sebahu.
Aku tak hendak mencatat tahilalat, sebab terlalu banyak orang bertahilalat di
tempat yang sama. Begitu pula rambut karena akan berubah dan memiliki kemiripan.
Rambut akan memanjang bila dipelihara dan malah pendek seperi potongan rambut
Putri Diana jika dipangkas. Rambut juga bisa berubah-ubah potongan atau gaya, bisa
diwarnai sesuka hati.
Maka yang kucatat adalah namamu. Nama yang mengingatkan aku pada kekasih
lamaku, hanya pada huruf "R" yang membedakan. Jika kekasihku dulu bernama Lina,
sedang kau Rina. Ketika kuberikan alasan ini untuk sekadar agar aku tak lupa pada
namamu, kau protes. Katamu, "Jangan bandingkan namaku dengan kekasih lamamu.
Aku adalah Rina, tak bisa disamakan atau dibanding-banding dengan Lina. Ingat itu,
jangan kau ulangi!"
Aku tak merespons. Aku memang salah. Mengapa nama orang lain --bekas
kekasih lagi-- yang kujadikan sebagai pembanding pada dirimu. Meski kau bukan
kekasihku atau bakal menjadi kekasihku, tetap akan tersinggung. Entahlah, mungkin
saja ia cemburu?
"Penting apa aku mencemburui dia? Kau bukan kekasihku, dan aku bukan
pacarmu. Kita hanya sahabat yang baru dua kali berjumpa, dan aku hanya menyukai
berteman denganmu," katamu selepas makan siang.
Kemudian kau membisikkan sesuatu dekat di telingaku. Aku mengangguk.
Maklum. Aku sudah sejak pertemuan pertama tahu kalau kau sudah bersuami dan
memiliki dua anak. Aku juga sudah merasakan sesungguhnya kau adalah perempuan
yang selalu merasa sepi. Entah disebabkan persoalan rumah tangga, misalnya suamimu
yang dingin, atau sebab lain.
Ah, aku tak sangup menerka lebih jauh. Aku tak mampu memasuki lorong lebih
dalam hatimu. Kubiarkan kau tetap hadir dengan selaksa misteri. Apalagi aku tak
pernah tahu tentang rumah tanggamu, suamimu, anak-anakmu.
47
Kau kujumpai sewaktu di Jakarta. Di sebuah ruang diskusi kita saling beradu
pandang. Tatapan kita penuh makna saat saling bertemu. Kau tersenyum dengan
bibirmu berhias lipstik merah. Kacamata yang menutupi bola matamu yang cahaya
makin terasa harmoni. Aku balas senyum, dan... kedipan mata.
Kau menujahku dengan tanda. Rahasia yang sulit teraba, tapi getarnya terasa.
Hanya saja, waktu di Jakarta dulu kita tak sempat bercakap-cakap. Mungkin disebabkan
tiada kesempatan saja, atau karena seorang lelaki muda yang selalu berada di sisimu
membuatku enggan mengganggu?
"Lelaki muda itu memang menginginkan aku jadi kekasihnya. Ia menampik
ketika kukatakan dengan jujur bahwa aku sudah bersuami dan punya anak. Ia tetap
bersikeras hendak merebutku dari suami dan anakku. Kukakatan saja pada dia, kau gila
apa, mau di kemanakan suami dan anakku? Kau mau mengajakku memulai rumah
tangga dari nol dengan menghancurkan keluargaku yang sudah berjalan lebih dari angka
dua...? Tapi, ia malah mengancam akan datang ke kotaku lalu ingin bertamu ke
rumahku, dan berterus terang pada suamiku kalau ia mencintaiku."
Aku sempat merasakan pula kalau lelaki muda itu bukan saudaramu. Aku seperti
tahu kalau ia teman amat dekatmu. Lihat saja matanya yang selalu curiga dan cemburu
setiap lelaki yang kau sapa atau mendekatimu. Sungguh, sangat anak-anak ia. Belum
belajar bagaimana bergaul.
Tetapi, sudahlah, lupakan lelaki muda itu. Ia bukan bagian dari ceritaku saat ini.
Apalagi kini kau sudah berada (bahkan selalu) di sampingku. Ke mana pergi, di atas bus
ini, di tepi sungai tadi, sambil menikmati sekawan anak bermain di bawah guyuran
hujan.
Hujan masih menderu di luar bus. Kau mengetatkan jaketmu. Aku melirik,
"Dingin?" aku tanya. Tersenyum.
Katamu berbisik, "Tentu. Kecuali kau makin merapat..."
Ah! Kugeser badanku.
"Sssstt... banyak yang lihat."
Aku kembali merenggang. Seandainya di bus ini hanya aku dan kau, entah
apakah aku akan lebih berani mendekatimu? Jangan-jangan aku malah ketakutan.
Sebab, aku tak berpengalaman mengkhianati cinta. Aku...
"Kau pikir aku juga bakal nekad, kalau hanya berdua? Aku malah ragu, tak akan
berani. Aku masih...."
48
"Kita memang ditakdirkan bukan untuk jadi pengkhianat. Aku hormati
kesucianmu."
"Aku juga menghormati kejujuranmu."
Lalu diam. Suara kaki hujan yang melangkah di atap bus terdengar makin gaduh.
Air mulai menggenangi separuh jalan. Bus merambat. Kota Pekanbaru terasa lembab
dan berkabut.
Nanti malam, hari terakhir. Esok siang aku menuju Batam kemudian
melanjutkan ke Tanjungpinang. Sedang kau ke Jakarta dengan pesawat pukul 10.00.
Seperti katamu kemarin, kau akan meneruskan perjalanan ke Yogya dan dua hari di
sana. Setelah itu, kau pulang ke Makassar. "Ya, kalau rencanaku tak berubah. Kalau
suamiku tak menelepon lantaran kangen," ujarmu. Tertawa.
Aku menggoda, "Bukan sebaliknya, kau yang rindu..."
"Sama."
***
RUANG karaoke temaram. Kau memilih lagu-lagu dengan remote mendekat di
layar teve berukuran besar itu. "Maaf, aku tak bisa baca kalau dari tempat duduk,"
katamu sambil merapikan letak kacamata minus dua di wajahmu.
Setelah 10 lagu dipilih, kau kembali ke tempat duduk. Menggamit lenganku,
sementara kepalamu rebah di dada kananku. Ah, betapa malam ini di ruang karaoke
yang layaknya di dalam akuarium, kita bagai sepasang ikan yang siap bercumbu.
Sepasang pengantin baru?
Dan, kau kian merapat manja. Kau lupa, kita sudah berada di ambang petang.
Sebentar lagi malam bergelayut. Anak-anak, anakmu dan anakku di rumah, yang tengah
lelap kini mungkin lagi bermimpi menjemput kita pulang membawa oleh-oleh.
"Akan kubawakan sisa lipstikku ini," jawabmu saat kutanya kau akan bawa oleholeh
apa untuk kedua anakmu. "Kau sendiri untuk si bungsu?"
"Segelas bibir," kataku pendek.
"Dasar, para orang tua edan!"
Aku diam. Karena aku menyadari bahwa sejak beberapa jam lalu aku memang
sudah menjadi gila. Aku lupa pada asal aku datang. Kau juga sudah tak ingat dari mana
kau berangkat. Kita lupa pada rumah.
49
Di sini aku jadi gelandangan yang tak punya kembali. Kau adalah pelunta yang
lupa rumah asal. Sebagaimana mungkin ketika Adam diturunkan di bumi dengan
padang pasir sebatas pandang, tiada sesiapa. Lalu Hawa pun dilontarkan di padang pasir
yang lain. Keduanya melunta-lunta sampai akhirnya bertemu di suatu tempat. Bernama
padang pasir pula.
"Seperti itulah kita sekarang. Bertemu di kota ini, setelah dulu kita pernah jumpa
dan berkenalan di lain kota," kataku sewaktu jeda lagu kelima.
Tetapi kemudian, yang keluar dari bibirmu bukan lagi kata-kata, bukan ratusan
puisi dan prosa. Bukan pula kenangan-kenangan ataupun selampir lukisan. Sungguh aku
kaget dan dibuat sangat ketakutan. Tiba-tiba yang meluncur laksana muntahan tsunami,
buncahan gelombang laut yang sangat dahsyat: jadi banjir besar setinggi 3 meter
menggulung apa saja yang disangka penghalang.
Aku tergulung. Kau bergulingan. Tanganmu melambai. Sementara jemarijemariku
menggapai. Hendak menangkap tanganmu dan menarik tubuhmu agar merapat
padaku. Aku coba jadi penyelamat, sebagai pahlawan di saat-saat genting. Tak ingin
aku melihatmu terseret banjir besar itu, seperti perempuan Nuh yang kemudian tak tahu
di mana dia terdampar. Cuma, Nuh saja tak mampu menyelamatkan istrinya, apatah aku
yang berlumur-lumpur?
***
HUJAN masih turun. Bagai kaki tajam melangkah di luar ruangan. Suaranya
gaduh terdengar sayup-sayup. Aku mengetatkan pelukan, kau makin merapat ke dalam
dekapanku. Segelas tequila dicampur es batu terasa semakin mendinginkan tubuh.
Tetapi berahi kita terus bergolak. Memanas. Seperti buncahan larva. Bibirmu
bibirku menganga. Sejenak kemudian mengatup dan memagut.
Kau lihat di sana ada maut?
Tak ada. Sehalaman rumput. Terbentang. Layaknya selembar karpet, dan kita
berpacu di atasnya. Ah, tidak. Kenapa tak jadikan perahu saja, dan kita berlayar samasama.
Menembus hujan, menyisir banjir.
Jangan! Aku tak mau kau mati tenggelam, dengan siapa aku tidur nanti?
Hust! Kita tak bisa kembali ke hotel. Di luar hujan sangat deras. Banjir sudah
mengepung kota ini. Tak mungkin mobil dapat melewati genangan air itu. Aku ragu
50
mobil pun tak dapat jalan, bahkan akan hanyut. Ketinggian air sudah mencapai tiga
meter lebih.
"Fah, maafkan kalau mobilmu yang kupinjam tak akan bisa pulang. Maafkan
aku, kau akan kehilangan mobil dan aku tak mungkin dapat mengganti," kataku
membatin. "Sory Fah, Sory... aku sudah menyulitkanmu..."
Sory, sory... Maaf ya Fah, mobilmu raib. Hanyut.
"Bahkan, kami pun tak bisa lari ke mana-mana. Terkurung di dalam ruangan
ini."
Air mulai naik. Tadi sudah mencapai satu meter, kini bertambah 25 centimeter.
"Bukan. Tetapi air sudah mencapai satu setengah meter."
"Apa?" Fah melalui telepon genggam dari rumahnya seperti tak percaya.
"Mobilku... mobilku...??"
"Banjir sudah setinggi 150 centi, dan air terus naik mungkin akan mencapai tiga
meter sebagaimana di seberang dari bangunan kami. Sedang mobilmu, maaf, sudah tak
terlihat. Mungkin hanyut, mungkin tenggelam di dalam air," jawabku.
"Apa?" Fah masih tak percaya. "Mobiku...."
"Sory Fah, sory..."
***
AH. Jangankan kami bisa menyelamatkan mobil Fah, nasib kami saja tak jelas.
Apakah kami --berdua dengan Yanti-- akan tenggelam bersama-sama: mati di dalam
ruang karaoke ini. Atau mungkin pula terseret air dan juga mati tersangkut entah di
mana. Tetapi, kami berharap, bisa selamat dari banjir sangat dahsyat ini.
Tetapi, mungkinkah?
"Jangan psimistis. Kita mesti mencoba. Sedapat mungkin," katamu. "Yanti akan
berdoa, dan kamu cari pertolongan."
"Pertolongan? Ke mana kita cari pertolongan? Kau tahu Yanti, sudah tak ada lagi
manusia di dalam bangunan ini. Mereka sudah menyelamatkan diri, mati karena tak bisa
berenang, tak bisa lagi bernafas, atau hanyut."
"Sungguhkah kau?" tanyamu dengan wajah pasi. Kau menampakkan wajah
ketakutan. Baru saat ini aku melihatmu amat ketakutan. Ternyata kau juga takut mati,
takut menghadapi maut.
51
"Kau takut mati?"
"Kau pikir aku ini malaikat ha?!" suaramu tinggi. "Kalau aku mati, dengan siapa
kau tidur malam ini? Kalau malam ini aku mati, kapan lagi aku punya waktu bertobat?
Dosaku sudah banyak sekali."
"Seperti dosaku. Kita sama berdosa. Si pendosa yang karena kebanyakan, sulit
hilang hanya sekali bertobat..."
Lalu?
Air terus naik. Senti demi sesenti. Hanya lambaian tanganmu yang tampak di
permukaan air. Yanti sudah tak tampak, hilang di dalam air. Kucari-cari kau. Di dekat
layar kaca teve besar. Tak juga kutemu. Kubuka pintu kamar kecil, di sana pun kau tak
ada. Aku berenang-renang di dalam ruangan ini. Dari sudut ruang ke sudut ruang
lainnya.
"Di mana kau? Yanti, di mana kamu?" setengah menjerit dengan harapan kau
mendengar suaraku.
Tiada jawaban.
Aku seperti berhadapan dengan maut. Bermain dengan arus air. Dihanyutkan.
***
KITA tersangkut di tiang listrik. Tanpa lagi pakaian. Seperti lampu, dari tubuh
kita bercahaya kemerahan....
***
Lampung, 2005-2006
52
Perahu yang Hampir Karam, Kini Mengayuh Kembali
Post : 04/19/2006 Disimak: 352 kali
Cerpen : Isbedy Stiawan ZS
Sumber : Nova, Tabloid, Edisi 04/17/2006
Kartini, nama yang selalu mengingatkan aku
pada seorang perempuan anak Bupati Rembang
BUKAN karena aku sangat mengagumi pejuang emansipasi perempuan dari
Jepara itu, kemudian aku memilih istri bernama Kartini. Tetapi, selain memang lantaran
aku menyukai pribadi kekasihku ini juga disebabkan campur tangan Tuhan: Kartini
yang kupacari selama 4 tahun sewaktu kuliah akhirnya mau menerimaku menjadi
suaminya. Akhirnya rumah tangga tak terelakkan. Bahtera lalu kami kayuh bersama.
Ketika kuungkapkan bahwa aku mencintainya, Kartini hanya tersenyum. Setelah
itu, ia berujar: "Kita lihat saja nanti. Mengungkapkan cinta sama mudahnya menulis
diary, bukan? Tetapi, menjaga cinta lebih sulit daripada menulis diary."
Aku hanya mengangguk kala itu. Meski sebenarnya aku tidak begitu tergoda
untuk memahami makna di balik ucapannya. Dan Kartini, tetap menyambut ajakanku—
misalnya, makan di kantin kampus, ke mal, atau jalan-jalan ke KFC—juga menerimaku
dengan riang apabila aku bertandang di malam minggu.
Yang paling kusukai dari Kartini—kini istriku—ialah aktivitasnya di kampus
dan di luar kampus. Aku membayangkan ia bakal menjadi perempuan karier kemudian
hari. Meski kutahu, kesibukannya itu dapat menyita banyak waktunya. Tetapi,
untungnya, hatinya masih memberi tempat bagi kehadiranku. Ia masih butuh cinta,
kasih sayang, dan ini yang paling kusuka: amat romantis.
"Kesibukan tak harus mematikan cinta toh? Setiap orang merindukan kasih
sayang, cinta, dan romantis," katanya. Aku tersenyum. Ia menunjuk Raden Ajeng
Kartini. Meski ia memperjuangkan emansipasi demi kesetaraan antara perempuan
dengan pria, dia tetap bersuami, mengurus suami, ingin dicintai dan mencintai. "Artinya
sesibuk apa pun perempuan, kodrat dan hakikat hidup itu tak dapat diabaikan."
Lalu, Kartini Pratiwi lebih jauh mengatakan—tepatnya berharap—lelaki yang
akan dijadikan suaminya kelak mestilah memahami apa yang hendak dilakukannya.
53
Tidak semena-mena membunuh cita-citanya sebagai perempuan. Jangan sampai rumah
tangga kemudian membelenggu untuk maju. "Aku tak menginginkan pria yang terlalu
banyak mencampuri perempuan, apalagi sampai ringan tangan," katanya kemudian.
Entah mengapa aku menyetuji. Bahkan, tak jarang aku memberi support agar ia
tetap beraktivitas. Terkadang aku menungguinya sampai ia menyelesaikan tugasnya,
setelah itu kami jalan atau aku mengantarnya pulang. Aku tak pernah iri pada setumpuk
aktivitasnya, meski aku juga aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di kampusku.
Karena itu, aku tak pernah memintanya untuk mempertimbangkan betapa
sepinya rumah tangga kami nanti jika ia banyak sibuk di luar rumah. Aku biarkan pada
waktu saja yang mengubah atau menetapkan jalan hidup kami kelak. Aku berpikir,
sekiranya kelak Kartini Pratiwi diutus Tuhan menjadi istriku sementara ia tetap ingin
menjadi perempuan karier, toh perannya di rumah dapat dikerjakan seorang pembantu.
"Kenapa tidak?" aku membela Kartini sewaktu Daniel—temanku sekampus,
mintaku mempertimbangkan cita-citaku memilih Kartini sebagai istriku.
"Ya, ini saranku. Kau bisa pertimbangkan di rumah, tak harus sekarang
keputusanmu," kata Daniel lagi. "Kau akan merasa kesepian di rumah, sementara
istrimu sibuk di luar. Cukup banyak keluarga berantakan karena istri hanya sedikit
waktunya berada di rumah," ia menambahkan sekejap jeda.
"Aku sudah pertimbangkan dengan matang. Sekali perahu kukayuh, pantang
surut ke pantai…." Tandasku. "Bukan kuantitas pertemuan dan dialog satu-satunya yang
bisa mempertahankan rumah tangga, kualitas juga amat menentukan. Untuk apa sering
bertemu kalau isinya cuma pertengkaran? Lagi pula masih banyak juga keluarga yang
tetap utuh, meski keduanya berkarier. Jangan lupa itu, Bung!"
"Ya, sudah, aku kan hanya memberi saran. Kau mau menerima atau tidak, itu
soal lain."
* * *
BULAN-BULAN pertama perkawinan kami, memang aku sempat merasa
kesepian menanti setiap menanti kedatangan Kartini. Sebagai pegawai negeri aku
sampai di rumah pukul 15.00, sementara istriku yang memegang jabatan di sebuah
perusahaan besar baru tiba sekitar pukul 18.00—bahkan tak jarang pukul tujuh malam.
54
Namun, tak pernah kuutarakan perasaanku itu pada Kartini. Apalagi setiap
pulang dari bekerja, senyumnya tak pernah layu. Wajahnya selalu ceria. Dan, kata salam
tak pernah alpa, ditambah beberapa kalimat mesra: "Enggak bosen kan menunggu aku,
Mas? Nanti kubuatkan teh hangat ya, sebentar aku ganti pakaian." Aku menyambutnya
dengan senyum. Tak lama istriku keluar dari kamar dengan daster amat tipis.
Pandanganku tembus…
"Liburan besok kita ke pantai ya, yang? Refreshing… mau kan?" Kartini
menawarkan. Aku mengangguk. Memang setiap liburan, kami selalu menghabiskan
waktu di luar rumah. Berdua. Setelah itu bertiga dengan anak kami, kemudian berempat
ketika kami dikaruniai lagi seorang putra.
Kesibukan Kartini sebagai perempuan karier, kiranya tidak mengganggu rumah
tangga kami. Antara karier dan rumah tangga, antara pekerjaan dan tugas pada keluarga
sama-sama berjalan semestinya. Jadi, kekhawatiran Daniel yang kunilai berlebihan
benar-benar meleset. Lalu pentingkah kuingat-ingat bagaimana Daniel menerorku,
meski terornya itu tak pernah kuanggap sebagai ancaman?
Ah, entah di mana sahabatku itu kini? Aku hanya pernah dapat informasi kalau
rumah tangganya kandas hanya tempo dua tahun. Padahal ia baru menikah selepas
usianya 36 tahun, lantaran kebanyakan menimbang dan memilah-milih. Shinta, istri
Daniel yang kemudian bercerai, adalah perempuan keempat yang menjadi kekasihnya.
Istrinya itu adalah perempuan rumahan, tetapi tak bisa mengurus keluarga. Konon, dari
informasi yang dapat kupercaya, Shinta sering keluyuran begitu suaminya
melangkahkan kaki ke kantor. Dan, ia kembali menjelang Daniel pulang. Kemudian ia
menyuruh suaminya membeli nasi di warung.
Setiap kuceritakan nasib rumah tangga Daniel pada Kartini, istriku tak pernah
merespons. Ia hanya tersenyum, kemudian berlalu.
* * *
KALAU ada kekhawatiran yang sulit sekali kuredam, inilah yang pertama
selama aku berumah tangga! Betapa tidak? Hampir 12 tahun Kartini menjadi istriku tak
pernah membuatku cemas (tepatnya perasaan cemburu) mengganggu pikiranku. Hal itu
berdampak pada pekerjaanku dan juga rumah tanggaku.
55
Sebulan terakhir ini, Kartini sering pulang melampaui waktu kebiasannya. Ia
pernah sampai di rumah ketika aku dan kedua anakku sudah terlelap: pukul 01.02.
Dengan wajah yang tampak letih dan tanpa ganti pakaian lebih dulu, ia langsung rebah
di ranjang. Sekejap kemudian terdengar dengkurnya. Ia juga sering ke luar kota untuk
beberapa hari lamanya. Aku tak dapat menahan untuk tidak melanggar kesepakatan
antara kami, untuk tidak menanyakan hal-hal yang bukan prinsip dan urusan pekerjaan.
Tetapi, suami mana yang mampu memendamnya?
Pada kesempatan yang kurasa tepat, kutanyakan perubahan yang terjadi padanya
belakangan ini? Sungguh, aku tak menyangka jawaban Kartini amat melukai
perasaanku. Telingaku tak mendengar suaranya yang syahdu, mataku tak melihat
wajahnya yang ceria, rambutnya yang bergoyang manja. Adakah orang—maksudnya
lelaki—lain telah menggoda dan bersemayam di hatinya? Mungkinkah aku sudah tak
lagi menarik baginya, karena ada lain pria yang serba lebih?
"Maafkan aku Kar, kalau pertanyaanku ini menyinggungmu," ujarku pelan.
"Tetapi, apa aku salah sebagai suami, menanyakan ini padamu?"
Ia menggeleng. "Tapi, aku tak kusuka kau sudah mencurigaiku yang tidak-tidak.
Kau menuduhku."
"Aku tak menuduhmu. Aku hanya bertanya. Apa pertanyaanku salah?"
"Sudahlah, jangan diperuncing. Aku capek, mau istirahat…"
"Kau belum jawab pertanyaanku. Kenapa kau sering terlambat pulang akhirakhir
ini?" aku segera memotong. Aku mulai tersinggung. Sepertinya, Kartini sudah
tidak lagi menghargaiku.
"Pekerjaanku menumpuk di kantor. Atasanku sering mengumpulkan pegawainya
untuk rapat atau meeting secara tiba-tiba. Juga…."
"Kenapa kau tidak menelepon? Kan itu mudah buatmu, sehingga kami di rumah
tak waswas dan menungguimu dengan khawatir," ujarku.
"Tak sempat."
"Bohong!" tandasku.
"Kau sudah tak percaya lagi denganku?"
Aku diam. Ingin aku menjawab "ya", tetapi itu akan memperparah suasana.
Akhirnya aku cuma diam. Ikut merebahkan tubuhku di ranjang. Menghadap ke kiri,
ketika ia sudah lebih dulu memiringkan badannya ke kanan. Sebelum ia benar-benar
terlelap, ia berujar: "Besok aku ke Medan, ada rapat holding."
56
Aku tak menjawab.
* * *
SUDAH tiga hari Kartini di Medan. Aku benar-benar dihantam kesepian yang
sangat. Aku mengurus keperluan kedua anakku, sebab pembantu untuk sementara
kusuruh pulang ke kampung. Aku tak ingin ada perempuan lain di rumahku selagi aku
sendirian. Akibatnya aku sangat sibuk. Itu sebabnya, aku izin tak masuk ke kantor.
Alasannya, kurang sehat.
Tiba-tiba aku teringat Daniel. Kutelepon dia. Kepadanya, kukatakan kalau siang
nanti aku akan ke rumahnya. Daniel menyambut rencanaku dengan tertawa
(sesungguhnya tawanya itu telah menyinggung perasaanku, namun tak kuhiraukan), dan
aku mengulang ucapanku dengan serius.
* * *
SEKARANG kau membenarkan ucapanku dulu, kan?" Daniel menyambutku
dengan pertanyaan yang langsung menusuk. Aku terpana. Sebuah pertanyaan yang tidak
kuduga. Tergagap aku. "Kartini sering banyak di luar rumah ya? Sudah banyak
kesibukan, sehingga tugas-tugas keluarga jadi terganggu?" Daniel melanjutkan.
Aku hanya mengangguk. "Tidak itu saja, dia sering tak beri tahuku dulu.
Padahal, mudah saja bagi dia untuk meneleponku. Aku jadi…."
"Lalu, kau datang ke sini, mau apa?"
"Minta saranmu…"
"Aku bukan ‘orang pintar’, kau akan syirik," jawab Daniel enteng. "Rumah
tanggaku saja berantakan, bagaimana mungkin bisa memberi saran padamu?"
Suaraku tercekat. Aku baru saja disadarkan bahwa Daniel bukan tempat yang
tepat untuk dimintai saran atau nasihat. Segera aku pamit pada Daniel. Ia kini balik
terlongo. Kubiarkan ia terbengong, menatapku dengan pandangan kosong.
Di kendaraan menuju rumah, kutelepon Kartini. Ia menyambut dengan mesra.
Kudengar suara riuh—seperti orang sedang rapat—masuk ke handphoneku. "Ada apa,
Mas? Apakah Nisa dan Obi sakit?"
"Tidak, tidak. Aku hanya…"
57
"Kangen?" potong Kartini. "Besok pagi aku pulang kok, dengan pesawat
pertama. Sudah ya sayang, masih rapat nih…"
"Ya… ya…" Aku benar-benar bahagia. Di hatiku, perahu yang hampir karam
kini mengayuh kembali….
Lampung, 28 April-1 Mei 2005
58
Perempuan Taman
Post : 04/04/2006 Disimak: 233 kali
Cerpen : Isbedy Stiawan ZS
Sumber : Kedaulatan Rakyat, Edisi 04/02/2006
Kau kenal perempuan itu? Tertarik?
Aku sering melihatnya di sini, cuma sampai saat ini saya belum mengenalnya
secara dekat. Ia bagaikan burung dan dengan sayapnya akan segera terbang setiap aku
ingin menangkapnya. Boleh jadi ia tak menyenangi kedatanganku, barangkali saja
wajahku tak menarik baginya. Lain dengan laki-laki yang selalu disebutnya, sekitar
delapan pada dua bulan lalu…
**
JIKA kau datang ke taman itu waktu senja atau di batas malam, kau akan melihat
seorang perempuan duduk di bawah pohon di kafe itu. Atau kau akan dapati dia sedang
berjalan mencangking sebuah tas kecil. Kadang sendiri ia berjalan, tapi sering pula
didampingi lelaki.
Ia menjadi begitu penting. Karena ia disenangi banyak lelaki—terutama telah
berusia, maka sepertinya ia menjadi penting. Berbeda di mata para istri, ia diabaikan
bahkan mungkin dikucilkan.
Padahal ia tak cantik, tak pula manis. Namun setiap kali ia mengunjungi taman
itu, selalu para lelaki di situ mencoba menggodanya. Ia akan tersenyum. Entah siapa
pula di antara lelaki itu yang akan mengajaknya pergi. Ah, tepatnya, lelaki mana yang
akan diajaknya menyelinap.
Sekali lagi, ia tak cantik. Tak pula manis. Tapi mengapa para lelaki ingin sekali
mendekatinya. Dari yang berusia muda sampai yang mendekati kubur. Dan, ia amat
menyukai lelaki yang berusia jauh di atas usianya. Katanya, banyak pengalaman. Para
lelaki bau kubur ternyata menyukai hal-hal yang bisa membuatnya riang. Keriangan itu
59
cuma ada pada perempuan belia. Dan, itu kiranya ada pada diri perempuan yang kita
bicarakan ini.
Kau tahu, ia kerap meracau. Setiap duduk di kursi yang ada di pojok kafe tepat di
bawah pohon, sering kudengar ia meracau. Sambil memainkan ujung-ujung rambutnya
yang hitam dan tak begitu panjang, ia sering menyebut-nyebut nama lelaki. Beberapa
bulan lalu sekitar enam nama lelaki disebutnya. Dan, ketika kujumpai dia lagi lima hari
yang lampau, kudengar sembilan nama lelaki meluncur dari bibirnya. Karena demi
keamanan dan privasi tak kusebutkan di sini kesembilan nama itu.
"Orang yang meracau tak bisa dimintakan pertanggungjawaban," Amran
mengomentari. Aku tahu nama sahabatku ini sempat disebut perempuan itu. "Sama saja
kita meminta orang yang tidur atau gila untuk bertanggung jawab atas kematian
seseorang, padahal jelas dia yang membunuh."
"Meskipun dia benar…"
"Tak ada yang menjamin ucapannya itu benar. Dia meracau. Dia…"
"Kau ingin katakan kalau dia gila?" aku menyanggah. "Kalau ia gila, mengapa
banyak lelaki—dia menyebut kemarin ada sembilan—yang menggodanya lalu
mengajakknya jalan, entah ke mana. Kenapa bisa begitu?"
"Mungkin karena ingin pengalaman lain. Pengalaman yang baru…."
"Dengan perempuan itu?"
"Kenapa pula perempuan itu?"
"Lo? Kau sendiri bilang ia sering meracau. Tak bisa dipercaya, tak bisa diminta
pertanggung jawabannya."
"Maksudku, mengapa kita bicarakan perempuan itu. Memangnya tak ada lagi
perempuan lain yang layak dibicarakan?"
"Dari awal kita memang membicarakan dia. Perempuan yang duduk di bawah
pohon itu. Masih juga kau tak paham?" nadaku meninggi. Perempuan itu menoleh.
Tentulah suaraku sampai ke telinganya, sehingga ia terusik.
Aku tersenyum ketika ia memandangku aneh. Lalu menatap teman bicaraku. Ia
tersenyum. Kali ini aku menafsir di balik senyumnya: ia menggoda. "Lihat dia
memandangmu aneh. Menggoda sekali," aku menggoda temanku.
Amran menggeleng. Lalu ia katakan, kalau sasaran perempuan itu adalah aku.
Kutampik. "Aku bukan lelaki yang masuk hitungan dia. Ia menyukai sekali orang
seperti kau; energik meski sudah berumur!"
60
Amran membantah. "Kita seusia kawan. Hanya selisih bulan aku lebih tua."
Aku tak menyahut. Memandangi perempuan itu lebih menggoda ketimbang
berdebat soal perempuan dan usia. Aku menerka-nerka kesembilan lelaki yang disebut
dia. Apakah nama-nama itu bukan fiktif? Adakah nama-nama lelaki yang disebutnya itu
yang sering ke mari dan mampir untuk minum ataupun makan di kafe ini? Orang-orang
yang selalu datang setiap senja dan meninggalkan taman ini saat malam di ambang
batas?
Suatu kesempatan, perempuan itu meracau. Ia pernah dibonceng motor seorang
lelaki. Pada malam lain ia masuk ke dalam mobil dan menuju arah Barat. Lain malam,
ketika ia tak berani pulang karena kemalaman, ia diselematkan lelaki tua ke sebuah
hotel. Pada lain waktu, ia belajar tentang hidup pada seorang lelaki tua yang sudah bau
kubur.
"Tetapi, mereka tak memperlakukan aku seperti pelacur," kata perempuan itu.
Pastilah setiap yang dikatakan selalu dianggap meracau oleh orang lain. Kecuali aku
yang tetap mempercayai bahwa ia jujur. "Para orang tua itu amat menyayangi aku. Dan
aku merasa terlindungi setiap kali bersama mereka…"
Ingin sekali aku mendengar setiap kata yang diucapkannya. Aku hendak
merekam dalam benakku setiap kalimat yang meluncur dari bibirnya. Karena itu, aku
mendekatkan kursiku dengan tempatnya duduk.
"Kau mau tahu, hanya saja para lelaki tua itu suka meminta lebih dariku. Mereka
memang melindungiku, tapi juga ingin mencicipi tubuhku. Tentu aku menolaknya,"
perempuan itu melanjutkan. "Berbeda dengan yang lebih muda. Sepertinya aku tak
menggiurkan mereka. Para lelaki muda itu hanya ingin mendengar ceritaku. Ihwal
perjalananku hingga berada di taman ini…"
"Oh, begitukah?" aku bertanya.
Aku berani mengajukan pertanyaan itu, karena merasa aku sudah mengenalnya.
Ia juga seperti merasa sudah dekat denganku. Setelah 100 malam dari pertama kali
perkenalan kami, di kafe ini—di taman yang tak pernah sepi saban malam.
Perempuan itu mengaku, meski Amran mengingatkan jangan mempercayai
perempuan itu sebab ia suka membuat cerita tak benar, pada suatu malam yang
membuatnya kemalaman sehingga tak mungkin pulang datanglah seorang lelaki
berumur kepadanya. Lelaki yang berdarah Timur itu menawarkan bantuan.
61
"Jangan pulang, ini sudah malam. Akan membahayakan keselamatanmu.
Perjalanan menuju rumahmu sangat berisiko bagi seorang perempuan sepertimu," kata
lelaki tua itu.
"Aku tahu itu. Aku memang tak mungkin akan pulang. Lagipula tak akan ada
kendaraan lagi ke arah rumahku. Kereta juga tak ada. Tetapi…."
"Kau ikut aku saja."
"Ke rumah bapak?" tanyanya bergetar.
"Tentu saja tidak. Bisa perang dengan istriku," lelaki itu tersenyum. "Bagaimana
kalau kita…." lelaki itu membisikkan sesuatu ke telinga perempuan itu. Ia lalu
tersenyum. Melentikkan ujung rambutnya yang hampir menutupi wajahnya.
Kemudian pergi dari kafe itu. Meninggalkan taman itu yang pelan-pelan sepi…
**
JIKA kau datang ke taman itu waktu senja atau malam hari, seorang perempuan
akan kau lihat duduk di kafe itu. Kursi di bawah pohon itu selalu ia duduki. Kalau tidak
di situ, akan kau dapati ia sedang berjalan mencangking tas kecil. Dalam kesendirian,
namun tak jarang bersama seorang lelaki.
Jangan heran kalau lelaki bersamanya selalu berganti. Tetapi, percayalah, ia
bukan perempuan yang bisa kaudapati di rumah bordil, pub, ataupun diskotek. Sebab ia
bukan pelacur maupun berjenis kupu-kupu malam. Ia cuma serupa laron, tapi sayapsayapnya
tak bisa luruh lantaran cahaya lampu. Meskipun ia dengan mudah dapat larut
oleh sembarang lelaki.
Kau tahu, sudah sembilan lelaki tercatat di benaknya. Aku mengetahuinya ketika
ia menyebut nama-nama lelaki, kemudian kuhitung ada sembilan. Banyak sekali. Ya,
begitulah ia telah membawa dan dibawa oleh sembilan lelaki. Tentu saja lelaki-lelaki itu
tak akan bisa mencicipi tubuhnya. Konon ia begitu perkasa untuk mudah diperdaya.
Konon pula ia akan teliti sebelum bersedia. Atau hati-hati memilih lelaki…
Hanya, seperti diakuinya, ia menyenangi lelaki yang usianya setara bapaknya.
Selain sudah dewasa, ia rindu sekali diperlakukan sebagai anak. Maklum, bapaknya
meninggal ketika ia berumur tujuh tahun. Keperempuanannya dirampas oleh berandal di
terminal saat usianya belum 11 tahun atau setelah menerima haid yang kedua. Cerita ini
bukan dia buat-buat. "Bukan karena ingin dikasihani, cerita getir ini saya kabarkan ke
62
setiap lelaki," katanya. Kisah ini kutahu dari Amran yang sempat menemaninya suatu
malam.
Perempuan itu tidak cantik, tak pula buruk. Wajahnya juga tak begitu manis.
Tetapi, ia disenangi. Karena itu ia menjadi penting. Setidaknya oleh para lelaki yang
sering berkunjung ke taman itu, di kafe yang akan tutup menjelang pukul 01.00. Ia tiba
di taman itu menjelang sore. Lalu menuju kursi yang seakan menunggunya sudah lama.
Tempat tinggalnya amat jauh dari taman itu. Barangkali berkilo-kilo meter.
Beberapa kali naik turun bis, atau bila menggunakan kereta ditambah sekali lagi naik
angkutan kota. Kemudian membelah tanah lapang sebelum menyeberangi sungai. Di
dekat pohon waru besar, di situlah rumahnya. Ia tinggal bersama ibu dan seorang adik.
Taman itu sangat disukainya. Selain pengunjungnya ramai, acap banyak
kegiatan: film layar tancap, komidi puter, pentas teater, pembacaan puisi, sirkus jalanan,
pertunjukan musik, diskusi dan perdebatan berbagai bidang. Meski ia suka taman itu,
tak saban malam ia datang. Namun setiapkali kedatangannya, bagaikan malam menjadi
benderang. Kalau di langit ada bulan tentu tumbuhan dan pungguk merasa riang.
Bahkan jika langit berselimut pekat, gemiris seperti sungkan segera mengguyur.
Kehadiran perempuan itu seperti dinanti-nanti. Ia menjadi penting di taman itu.
Di kursi yang ada di kafe itu. Orang-orang akan bersenandung. Para lelaki yang tak lagi
muda akan bersiul-siul, sambil mencabuti ubannya. Seperti membenci setiap helai
warna putih yang menghiasi kepalanya.
"Mereka tak ingin disapa bapak. Tak mau dikatakan tua. Makanya mereka
mencabuti setiap helai rambutnya yang putih. Padahal, kita tahu, setiap helai uban
adalah seribu rahmat dari Tuhan," kata perempuan itu.
Seperti biasa, ia akan menyebut nama-nama lelaki. Dan, setiap nama lelaki yang
disebutnya, aku sangat mengenalnya. Mereka tidak asing karena sering berkunjung ke
taman ini. Tak jarang semeja. Berdendang bersama.
Begitulah, sampai sekarang ia tak tertandingi. Perempuan itu menjadi begitu
penting. Siapa pun lelaki pastilah menyenanginya. Sedang para istri akan mencurigai
dan membencinya. Perempuan itu tetap acuh setiapkali para istri mencemburuinya. Ia
juga seperti kebal hal-ihwal gosip.
Para lelaki akan datang dan pergi dari sisinya. Setiap kali ia setia menanti di
kursi itu, atau saat menyusuri luas taman itu. Lalu, namanya akan tercatat dan disebutsebut
setiap ada kesempatan. Orang-orang yang ada di situ akan mendengarnya,
63
mengingat setiap nama yang dijejerkan satu persatu melalui bibirnya. Para lelaki yang
pernah membawa atau dibawanya selalu berharap namanya tak terdata, tapi perempuan
itu tak akan pernah lupa dan alpa untuk menyebut—sekadar nama awal.
Sebab itu, para lelaki akan menjauh dan berusaha seolah-olah tak mengenalnya
lagi setelah membawa atau dibawanya, supaya tak sering namanya disebut. Namanya
tak masuk sebagai salah satu tokoh setiap kali perempuan itu bercerita. Meski dijauhi
dan diasingi, ia akan tetap menyebut setiap nama lelaki yang pernah akrab dengannya.
Betapapun keakraban itu sebatas mengenal, jalan bersama, makan bareng, atau duduk
berdekatan saat menonton sirkus jalanan. Tak jadi soal baginya. Ia akan menyebut
nama, dan lelaki yang disebut akan risih. Malu berkelamaan. Orang-orang kemudian
akan membubuhi agar makin menarik jika diceritakan ulang.
Kau tahu, kemarin malam ia menyebut namaku sebagai lelaki ketiga belas. Ia
berujar, "Bomar adalah lelaki terakhir yang pernah singgah. Permainannya di panggung
sangat bagus. Aku dan ratusan penonton terkesan, ia bermain mengesankan."
Seperti biasanya, ia mengulang nama-nama: Jang, Man, Ran, Za, Ham, War, Sut,
Jon, Am, Ed, Dan, Seh, Mar, dan seterusnya sampai yang ketiga belas: Bom. Sungguh,
aku benar-benar tak mengerti. Alasan apa ia mencatat lalu menyebutnya dalam berbagai
kesempatan ia meracau?
"Ia sudah lama sakit. Ada kebanggaan jika sudah menyebut nama-nama lelaki
yang telah dikenalnya. Semakin banyak deretan nama yang diingatnya, makin
terpuaskan hatinya. Bagi perempuan yang tak secantik selebritis, apalagi kalau tak
menceritakan perkenalannya dengan banyak lelaki? Itulah kebanggaan paling tinggi
untuknya," ucap Amran mengutip psikolog
Kau tahu, aku lelaki ketiga belas. Namaku paling akhir disebutnya, tapi katanya
paling mengesankan. Aku sendiri tidak tahu, apa yang telah kulakukan sehingga ia
begitu berkesan? Jika suatu hari kau berkenalan dengannya, mintalah ia bercerita
tentang diriku. Aku yakin ia akan bangga menceritakannya. Seperti pernah dia lakukan
untuk lelaki lain….
**
Kau mengenal perempuan itu?
64
Aku tak pernah dekat dengannya, kecuali selalu kulihat perempuan itu ada di
taman ini. Seperti burung yang amat merindukan taman. Selain itu, aku tak tahu
namanya sehingga aku tak pernah memanggilnya.
Lampung, Juli-September 2005
65
Desember Hujan, Aku pun Gegas
Post : 04/04/2006 Disimak: 218 kali
Cerpen : Isbedy Stiawan ZS
Sumber : Horison, Edisi 04/01/2006
Desember hujan, aku pun gegas
merapikan sisa jejak yang tanggal
lalu menyusunnya jengkal-sejengkal
MALAM merambat amat letih. Langit bertabur hitam. Jalan basah, dan aku
harus bergegas memacu mobil dalam guyuran hujan yang masih menampakkan runcing
pisau.
Desember, seperti tahun-tahun lalu, memang akrab sekali dengan hujan, Jalan
basah, dan gigil. Terutama sejak sore hingga malam.
Aku siapkan payung dan mantel, meski tak yakin apakah alat itu berguna untuk
menghindar dari air yang muntah dari langit? Tetapi, setidaknya, aku sudah menyiapkan
jika suatu waktu diperlukan. Kupacu mobil dengan ukuran sedang. Tape mengalunkan
musik lembut. Di sisi kiriku, Shinta—istriku, tak mengerjap: tetap menatap ke depan.
Seperti masuk ke dalam selimut hujan.
Hari ini, 30 Desember 1985. Tepatnya tiga tahun setelah kami mengucap sumpah
setia sebagai suami istri baik dalam suka maupun duka. Sebagai sepasang merpati yang
bersumpah selalu setia mengarungi kehidupan ini dalam pekat maupun benderang.
Karena itu, kami tetap tegar menembus walau hujan sejak sore tadi tiada tanda akan
berhenti. Langit pekat sejak senja.
Shinta masih diam, walau berkali-kali siulku menjerit-jerit seperti hendak
mengalahkan musik klasik nan lembut dari tape mungil di mobil. Entahlah, apa pula
yang bersarang di benaknya. Adakah ia tengah menikmati senandung hujan yang begitu
mengasyikkan, tatkala bersentuhan dengan atap mobil? Ataukah ia sedang memandangi
jejak air yang luruh setelah dihapus wiper? Sekali lagi, ya sekali lagi, entahlah.
Dan, aku tak hendak mengusiknya. Biarlah ia bermain dengan kupu-kupu yang
bersarang di benaknya. Atau sekawanan burung kenangan yang memainkan ingatannya.
Hidup memang selalu dipenuhi oleh metafora dan ingatan, begitu kata para seniman,
66
walau aku tak pernah bisa menafsir makna itu semua. Aku hanyalah pebisnis, seorang
yang senantiasa hidup dalam khasanah praktis. Karena itu pula segala yang terasa indah
—seperti musik klasik yang sebetulnya aku yang menghidupkan—tak sampai sebagai
keindahan. Atau kaki hujan yang melangkah di atap mobil—juga tetesan air yang
merangkak di kaca setelah dileburkan wiper—tiada juga sanggup mengusikku. Bukan
tersebab aku tak menyenangi sesuatu yang indah dan mengasyikkan.
Aku selalu menyukai perjalanan seperti ini, saat hujan mengguyur Desember dan
malam bertabur kelam. Dan, aku selalu merindukan susanasa semacam ini. Jadi tak
beralasan kalau aku tak menyenangi sesuatu yang asyik dan menyenangkan, meski aku
tak tahu adakah itu bagian dari keindahan?
Yang pasti aku menyukai pantai dengan lautnya yang biru, bebukitan dengan
rerumputan hijau, bungalow menghadap ngarai, dan kehijauan ladang di perdesaan.
Dan, Shinta, tetaplah membisu. Hening…
Malam merangkak amat lamban. Langit bertabur kelam. Tak berbintang. Aku
telah mengambil payung dan mantel dari dalam mobil. Duduk di teras bungalow. Di
dekatku setumpuk kembang api yang sebentar lagi akan kunyalakan, lalu pecah di langit
hening. Tapi mungkinkah kembang api akan terbang dan menaburkan cahayanya di
pekat malam, saat hujan seperti ini? Udara lembab dan amat basah.
Aku pandang Shinta. Ia mengerjapkan bola matanya.
"Apa yang kau pikirkan?" aku membuka suara. "Maksudku, kau…."
"Aku tak apa-apa."
"Kau pasti ada apa-apa. Aku mampu menyelam ke dalam perasaanmu,
Shinta…."
"Aku hanya kurang sehat."
"Kenapa kau tak katakan tadi sewaktu di rumah? Kita bisa batalkan ke sini. Kita
habisi malam Tahun Baru di rumah saja," kataku kemudian. Aku menyesal mengapa tak
kutahu perasaan Shinta saat di rumah tadi? Kalau benar ia kurang sehat, lebih baik
urung ke tempat ini. Aku terlalu yakin bahwa Shinta akan senang kuajak ke tempat ini,
seperti tahun-tahun sebelumnya, ia selalu beriang. Sampai kami kembali ke rumah, dan
esok lusa ia akan bercerita kepada teman-temannya di kantor ihwal keindahan
bermalam Tahun Baru di bungalow.
Ah! Kini ia tak akan bisa bercerita tentang keriangannya. Shinta tak
mendapatkan keceriaan itu, lalu bagaimana ia mampu mengungkapkannya? Kisah akan
67
menarik didengar, apabila si pencerita mengetahui dan menguasai apa yang ingin
diceritakan. Dan itu, ini kesempatan, tak didapatnya.
"Tak apa. Mungkin sebentar lagi juga akan membaik," katanya setelah hening.
Aku mengangguk. Menanti dia mengusir kabut dari wajahnya. Kuhidupkan
sebatang rokok filter lagi, ini sudah batang kesembilan. Sekadar mengusir gelisah yang
kian merambat di dalam diriku. Ah. benarkah aku gelisah? Kukira tidak. Sebenarnya
sepi tengah menyergap kami. Ya! Tiga tahun malam Tahun Baru kami habisi di
bungalow ini tanpa suara kanak-kanak, tiada keriangan anak-anak yang bermain di
bawah hujan bertabur kembang api.
Ya! Sekali Shinta hamil namun gugur, setelah itu kandungannya selalu kempis.
Aku—tentu saja Shinta lebih dari itu—amatlah merindukan seorang anak di antara
kami. Shinta, beberapa kali, mengharap (tepatnya meminta) kandungannya berisi janin
dari benihku. Hanya saja, harapan itu tinggal harapan. Kandungannya tak berbuah janin.
Padahal, beberapa dokter kandungan telah kami sambangi untuk meminta "petunjuk"
dan obat paling khasiat mendapatkan anak. Bahkan, aku tahu kemudian, diam-diam
Shinta pernah pula mencari pengobatan alternatif kepada orang yang diyakini pintar.
Tapi, sekali lagi—ya sekali lagi, Tuhan belum merestui kami.
Dan, kini pada tahun ke tujuh dari perkawinan kami: Desember 1989, kami pilih
kembali bungalow ini untuk menghabisi malam Tahun Baru. Tapi tidak dengan berisik
anak-anak. Kami kembali mendekap sepi. Dan, Shinta tetap tidak bisa riang.
Sebagaimana langit yang kini kutatap dari bebukitan ini: kelam. Hanya wajah istriku
masih membiaskan sinar. Itulah bintang cinta yang terbit dari hatinya. Dari kerlip
bintang itu, aku seperti memasuki dunia jauh.
"Kadang aku rindu ke mari ditemani anak-anak," tiba-tiba Shinta bersuara.
Malam terasa sunyi. Merambat amat lamban, layaknya siput yang berjalan.
Aku terjaga. Ya, beberapa detik lalu kiranya aku pun digayuti kerinduan yang
sama. Aku sangat ingin menggendong, digelayuti oleh tangan mungil, dan ingin sekali
bermain dengan anak-anakku. Di sini. Saat kami merayakan malam Tahun Baru, seperti
juga jutaan orang lain melakukannya. Entah di jalan raya, tepi pantai, kafe, bioskop,
hotel, vila, ataupun bungalow.
Ah ya! Di bungalow lain, aku memang mendengar tawa sebagai tanda riang
ketika kembang api meluncur dan pecah bersama taburan cahaya di cakrawala pekat.
Lalu, anak-anak mereka berlarian seakan ingin mengejar pecahan bintang.
68
"Kau lihat mereka, betapa bahagianya?"
Aku mengangguk.
"Mungkin suatu ketika, entah tahun muka, kita pun akan seperti mereka."
Shinta tertunduk. Ingin menyembunyikan kabut yang meruap di wajahnya….
HARI ini, 30 Desember 2005. Tepatnya dua puluh tiga tahun setelah kami
mengucap sumpah setia sebagai suami istri baik dalam suka maupun duka. Sebagai
sepasang kekasih yang bersumpah setia mengarungi hidup ini dalam pekat maupun
benderang. Karena itu, dengan tegar kami tetap menembus walau hujan sejak sore tadi
tiada tanda akan reda. Sejak senja langit begitu pekat.
Shinta masih tertunduk. Membiarkan helai-helai rambutnya yang tampak
memutih menutupi separuh wajahnya. Sementara bola mata kirinya di balik kacamata
plus menatap lantai. Tak bergerak. Tak berkerjap.
"Kamu seperti masih menyesali hidup, kau kecewa dengan perkawinan kita?"
aku bertanya amat hati-hati, tak ingin hatinya terluka. "Sudahlah jangan terlalu berharap
lagi. Mungkin Tuhan belum mengizinkan kita punya anak. Tuhan lebih tahu mana
hambanya yang sanggup diuji dengan anak dan mana yang tidak. Barangkali, kita
termasuk hamba-Nya belum bisa diuji…."
"Kenapa?" ia mengangkat wajahnya. Menatapku lekat. "Apakah aku tak mampu
mengasuh dan membesarkan anak?"
"Bukan cuma itu yang dimaksud ujian Tuhan itu, tapi…."
"Karena kau pikir aku tak bisa jadi ibu?" Shinta kini menudingku. Aku tergagap,
kini aku merasa bersalah. "Kalau saja aku diberi hamil dan punya anak, aku juga bisa
menjadi ibu. Setiap perempuan pasti bisa jadi ibu dan mampu mengasuh atau
membesarkan anaknya. Cuma…."
"Jangan menyesali hidup Shinta, jangan kecewa kalau saat ini kau belum
hamil…." ujarku tersekat sebab ia segera memotong.
"Mungkin tahun depan, tahun depannya lagi. Begitu yang akan kau katakan?"
Aku tediam. Malam berselubung pekat merangkak amat lamban. Udara basah.
Bungalow-bungalow di perbukitan ini berselimut kabut, layaknya si tua janggut
berbungkus kain putih. Kupandangi wajah Shinta yang kembali menunduk kini. Jemari
kakinya bergoyang pelan. Lalu, ia mendesah. Panjang.
"Lupakan duka. Mari kita beriang. Mari Shinta…." ucapku mengharap sembari
mengembangkan kedua tanganku. Seperti sayap burung yang hendak terbang. "Kalau
69
kau tahu dengan perasaanku kini, dengan suara hatiku saat ini, sesungguhnya aku juga
berduka. Tetapi, apakah hanya karena duka segalanya akan berubah? Hidup ada yang
menentukan, dan kita sudah ada dalam ketentuan-Nya," lanjutku di dalam hati.
"Mari Shinta, mari kita beriang," kataku lagi. "Kalau kehadiran anak-anak di
tengah kita saat ini akan membuat malam tahun Baru ini menjadi sempurna, marilah
kita angankan mereka ada di dekat kita sekarang. Mereka, anak-anak kita, ikut bermain
dan mengejar pecahan kembang api. Ikut beriang dan tertawa. Lihatlah…."
"Aku melihatnya. Ya melihat mereka, Kanda. Anak-anak kita. Mereka berlarian
dan saling berkejaran. Memburu pecahan kembang api. Seperti serpihan bintang pecah."
"Ya," kataku turut memberi semangat. Lalu aku berlari kian ke mari, seperti
sedang berkejaran dengan anak-anakku. Shinta juga mengikuti langkahku. Menguntit
jejakku.
"Jangan cepet-cepat, Kanda…." harap Shinta.
"Larimu lebih cepat lagi, supaya tak tertinggal jauh," seruku. Aku seperti
menunjuk ke depan, ke anak-anak kami. "Jangan sampai kita kalah dengan mereka."
"Tapi aku sudah letih."
"Kau harus bergegas. Kuatkan dirimu. Jauhkan lagi langkahmu," kataku
bersemangat. Meski begitu, aku maklum usis Shinta kini 48 tahun dan aku berumur 50
tahun.
"Aku tak bisa."
"Harus bisa!"
"Tak bisa."
"Kau bisa!"
Ah, lalu Shinta terkulai. Rebah di rerumputan basah. Aku memburu dan rebah
pula di sisinya. Malam ini kulihat wajah Shinta makin cantik, sebagaimana kulihat kali
pertama pada 24 tahun lalu.
Ketika hendak kukecup pipi dan bibirnya, ia bergegas bangun. Kemudian lari ke
sebelah bungalow. Hendak bersembunyi, seperti mengajakku main umpetan. Aku
mengejarnya. Namun Shinta menghindar dari sana, mencari persembunyian di sebatang
pohon di tepi bebukitan. Kuburu ia segera. Tiba-tiba aku benar-benar khawatir karena ia
berada di tepi tanah yang curam.
"Awas Shinta, nanti…."
70
Aku terpana. Geming. Bersitatap dengan kelam. Malam begitu lamban
merangkak. Saatnya kini Desember sungguh-sungguh tanggal dari kalender. Berhujan.
Kelam berselimut kabut. Pekat amat.
Entahlah, apakah aku sanggup mengumpulkan jejak demi jejakku yang patah.
Sisa dari serpihan harapan.
Pandangku buram. Harapku kelam ….
Lampung, 17-18 Desember 2005
71
Melepas Burung
Post : 03/21/2006 Disimak: 192 kali
Cerpen : Isbedy Stiawan ZS
Sumber : Pikiran Rakyat, Edisi 03/18/2006
SETIAP pagi Mat Kribo melepas burung. Keempat jantan burung dara
piaraannya itu lalu akan membelah pagi beku. Setelah itu ia akan mengambil si betina
dari sangkarnya: satu di kiri dan satunya lagi di tangan kanan. Sementara dua lainnya
dilepas di tanah. Tak lama berselang kedua tangannya akan berkibar-kibar,
mengepakkan sayap kedua merpati itu.
Kesukaan melepas burung ke udara sudah dilakoni Mat Kribo sejak lajang. Tapi
ketika ia berkeluarga dan waktunya habis untuk bekerja di pabrik, hobi itu sementara
dia lupakan. Ketika tempat bekerjanya mem-PHK Mat Kribo, tiba-tiba saja
kesukaannya kambuh lagi. Padahal, Mirah-istrinya, berkali-kali menyuruhnya mencari
pekerjaan lain, dan Mat Kribo tak peduli.
"Mau kerja apa? Cari pekerjaan di mana?" Mat Kribo balik tanya. Ketus.
Pesimistis. "Tak ada pabrik yang mau menerima pegawai yang sudah di-PHK seperti
aku!"
"Siapa yang bilang?" Mirah tak mau kalah. "Pabrik mana yang sempatsempatnya
tanya soal PHK atau tidak di-PHK pada pelamar. Kalau memang ia butuh
pegawai, ya diterima saja. Tak ada tanya-tanya masa lalu!" lanjut Mirah sewot.
Mat Kribo hanya tersenyum. Ia lepaskan keempat jantan merpati di tangannya ke
udara. Pagi beku. Pohonan memutih. Bukit Sukmahilang ditutupi kabut. Dari lereng dan
rerumputan yang melebat, segerombol perempuan menggendong bakul membelah tanah
lapang. Di antara para perempuan yang setiap pagi menebus pagi beku ada yang
membawa payung. Mereka bergegas seperti setengah berlari....
Perempuan-perempuan perkasa, demikian Hartoyo Andangjaya, mau ke mana
mereka? Sepagi yang beku, sudah harus meninggalkan rumah, anak, dan suami yang
berada di ladang. Di dalam bakul mereka ada sayur-sayuran, buah pisang, pepaya,
mentimun, dan sebagainya. Mereka akan menjajakan hasil tanamnya itu di kompleks
perumahan. Pulang bila matahari berada tepat di atas ubun-ubun.
72
Mat Kribo masih menanti keempat merpatinya kembali ke tangan. Ia menoleh
kesana-kemari. Tapi tak gusar. Dalam penantian itu, ia bisa menghidupkan sebatang
rokok yang biasa diselipkan di antara telinganya. Kini rokok terakhir dari sebelah kiri
telinganya yang dinyalakannya. Hisapan pertama amat dalam, lalu ia tumpahkan ke
udara kosong. Asap rokok berupa bundaran pun terbang untuk lalu buyar.
"Sampai kapan kau bermain dengan burung-burung itu?" Mirah berteriak dari
dapur.
"Jangan openi aku Mirah. Perempuan itu kerjanya di dapur. Istri itu tugasnya
memasak buat suaminya, bukan ngopeni suami!" Mat Kribo tak kalah berteriak.
"Pamali ngeributin suami, tahu!"
"Aku tahu!" Mirah membentak. "Tapi kalau suaminya tak tahu diri, apa istri
boleh membiarkan? Memangnya yang mau dimasak tak perlu dibeli dulu? Dengan uang
dari mana kalau suaminya menganggur seperti kau!"
"Sudah diam, jangan banyak bicara!" Mat Kribo berkeras. Empat merpatinya
belum juga tampak. "Kamu masak saja Mirah kalau masih ada yang bisa dimasak.
Kalau sudah tidak ada lagi, kau ambil batu di kali itu!"
"Baik! Tapi kau yang memakannya ya! Kami tak sudi!"
"Diam kau Mirah!" ia naik pitam. Semula Mat Kribo hendak mengambil sebilah
kayu dan urung melempar ke dinding rumahnya karena ia keburu melihat anak
sulungnya, Yanto (Mat Kribo punya dua putra yang satu lagi baru berusia 5 tahun),
berlalu di dekatnya.
"Saya ke sekolah, Abah. Assalamu'alaikum...," Yanto pamit sembari menggamit
lengan Mat Kribo dan mencium.
"Ya. Waalaikumsalam. Hati-hati. Belajar yang benar biar besarnya jadi pintar.
Kalau kau pandai, bisa jadi pemimpin...."
Yanto tersenyum. Memutar wajahnya, melengos dari tatapan Mat Kribo. Ia tak
berkedip memandang anak sulungnya yang baru kelas 3 SD itu menjauh. Mat Kribo
memang berharap besar kepada anak lelaki pertamanya itu, kelak jika sudah besar.
Harapannya Yanto tidak bernasib seperti dia. Yanto mesti mendapatkan ijazah SMA,
dan kalau memungkinkan dapat meneruskan ke bangku kuliah. Selesai sebagai sarjana.
Seperti anak tetangga yang baru diwisuda sebagai sarjana teknik kimia. Atau anak dari
kakaknya yang lulus menyandang sarjana pertanian.
73
Mat Kribo tak pernah membeda-bedakan sarjana. Apa pun bidang atau jurusan
yang dipilih Yanto kelak, yang terpenting bagi Mat Kribo adalah sarjana. Setiap lulusan
pasti tersedia peluangnya, sebab terpenting adalah kemauan.
KEMAUAN? Mat Kribo gelisah. Ia merasa kini ia sudah tak lagi punya
kemauan, itu sebabnya ia tak bersemangat mencari pekerjaan. Padahal, sudah berulangulang
Mirah menyuruhnya bekerja atau mencari kerja. "Tapi kalau pun aku masih punya
kemauan, kalau lowongan kerja tidak ada juga aku tetap menganggur!" batin Mat Kribo.
"Jadi, jangan salahkan aku Mirah kalau aku tak mau bekerja. Soalnya di zaman
yang serbasulit ini, mana ada perusahaan yang membuka lowongan?" ujar Mat Kribo
suatu kesempatan. Sejatinya ia hendak membela diri, bahwa ia bukan tak mau bekerja.
Dan, mendengar suaminya itu Mirah makin nyerocos, "Alasan! Kau pikir aku tak
tahu kalau kau memang pemalas. Makanya kau dulu dipecat! Kamu hanya ingin
numpang makan sama istri. Aku yang kerja, cari cucian sana sini...."
"Siapa bilang aku tidak dipecat! Pabrikku bangkrut. Apa kau tak ngerti juga: aku
dipecat, mengerti kau?!"
"Tapi kalau kau punya kemauan, 'kan bisa cari kerjaan yang lain. Banyak mas
kalau kau mau. Kau bisa jadi buruh, bisa jadi kenek bangunan rumah, atau apa saja. Kau
juga bisa mbecak, yang penting bawa pulang uang halal," masih kata Mirah.
Mat Kribo diam. Ia pandangi kedua merpati betina di tangannya. Burung saja
yang cuma punya dua kaki dan dua sayap bisa mencari makan. Lalu mengapa ia hanya
mengandalkan hidup dari istri? Kenapa ia yang dianugerahi Tuhan dengan dua kaki, dua
tangan, satu mulut untuk bicara, dikasih dua mata untuk melihat, dan yang terpenting
adalah otak untuk berpikir dan menimbang serta otot-ototnya yang bertenaga, mengapa
pula tidak didayagunakannya? Mat Kribo menimbang. Ia pun bimbang.
Bukan soal tak mau bekerja, bukan pula karena ia malas mencari lowongan
pekerjaan. Terlalu sering ia mendapat kabar kalau teman-temannya yang dulu sesama
buruh di pabrik sepatu, sampai kini masih menganggur. Mereka sudah berkali-kali
mengganti surat lamaran, sudah berpuluh melemparnya ke berbagai perusahaan.
Teman-temannya kemudian mendapat jawaban serupa hingga terdengar klise, "Maaf
perusahaan kami, untuk sementara, belum menerima karyawan. Barangkali lain waktu
Anda bisa bergabung dengan kami di perusahaan ini...." Yang ditandatangani oleh
kepala bagian personalia.
74
Ia tak hendak dipermainkan bagian personalia seperti itu. Tak pernah ikhlas
kalau dirinya menjadi bulanan dan pembohongan yang dibungkus basa-basi yang sudah
basi itu, hanya untuk menolak lamarannya! Keberuntungan dan kegagalan hanya selapis
kue lapis. Ia membatin.
"Kalau kau terus-terusan nganggur, mau makan apa kita, Mas?" Mirah kembali
menggelegar.
Mat Kribo tersadar. Sekejap memandang istrinya, lalu melengos ke udara seperti
mencari sesuatu. "Kenapa belum kembali?"
Mirah seperti tahu apa yang dipikirkan suaminya, lalu berujar, "Burung saja bisa
minggat kalau tak diberi makan!"
"Apa?" tersentak. Mat Kribo menujah tatapnya ke wajah Mirah.
"Kalau burung saja tak diumpani makan bisa minggat, apalagi...," Mirah sengaja
mengulang.
"Hei, kalau ngomong dengan suami jangan sembarangan, bisa kualat! Tahu!"
sentak Mat Kribo.
Istrinya tertunduk. "Itu kalau suaminya menafkahi istri dan anak-anaknya, selalu
setia dan sayang pada keluarga. Nah, kalau tak memperhatikan keluarga?" ucap Mirah
lembut.
Mat Kribo makin membuka lebar matanya. Wajahnya merah. Dan, Mirah berlalu
dari hadapan suaminya. Ke kamar mandi dan mencuci pakaian.
**
MAT KRIBO --ia disapa begitu karena rambutnya kribo kalau sedang
gondrong-- kembali mengepakkan kedua merpati di tangannya. Ke udara kosong.
Namun, ke empat burung yang dilepasnya beberapa menit lalu tak juga tampak. Ia
mulai gelisah. "Jangan-jangan benar minggat," gumamnya.
Menuju ke belakang rumah. Pandangnya mendongak ke bubungan rumah, di
sana tak ada keempat merpatinya bertengger. Ke dahan pohon mangga di samping
rumah tetangganya, juga tak terlihat. Lalu ia mencoba melihat ke dalam sangkar yang
terbuat dari papan, ia makin kecewa. Tiada pula merpati kesayangannya di situ.
75
Ia segera memanggil istrinya. Mirah keluar. Ia mendamprat Mirah, menuding
istrinya yang membuat empat ekor merpatinya kini benar-benar minggat. "Karena
doamu tadi, sekarang burung-burungku hilang!" teriaknya.
Mirah protes. Ia tidak mendoakan agar piaraan suaminya hilang. Mirah hanya
mengatakan, burung pun akan minggat kalau tidak pernah diumpanin. Cuma itu. "Kalau
burungmu hilang, ya bukan lantaran ucapanku. Sudah takdir!" Mirah dengan enteng
menjawab, lalu kembali ke kamar mandi.
Mendengar itu, Mat Kribo semakin berang. Mirah tak kalah marah. Ia kecam
suaminya yang hanya memikirkan burung ketimbang keluarga. Lebih sayang kepada
piaraannya daripada mengurus dan mencari nafkah buat keluarga. Mat Kribo tak tahan
mendengar kecaman istrinya, kemudian ia diam dan pergi. Mencari keempat merpatinya
yang belum kembali.
**
NIAT Mirah sudah bulat. Tak bisa hanya bertahan sebagai pencuci pakaian
tetangga untuk menambal kebutuhan keluarga. Yanto harus bisa menyelesaikan
sekolahnya, setidaknya, sampai SMA. Adiknya, Manto, juga tidak bisa tidak tahun ini
harus disekolahkan. Mirah tak dapat membayangkan, apa jadinya Manto kalau tidak di
sekolahkan: sepanjang hayat akan menanggung sesal.
"Aku tak mau batalkan, Mas," Mirah kembali menegaskan. Pekan depan ia
sudah berangkat ke Arab, menjadi tenaga kerja wanita (TKW): sebagai pembantu
rumah tangga. Segala sesuatu untuk urusan keberangkatannya sudah beres. Orang tua
Mirah --mertua Mat Kribo-- yang memberi modal. "Apa kata orang tuaku, kalau ini
kubatalkan. Mereka telah membantu mengurusku," lanjut Mirah.
"Arab itu tidak dekat, apalagi kontrakmu itu tiga tahun?" Mat Kribo memelas. Ia
berupaya menggagalkan kepergian istrinya menjadi TKW. "Cobalah kau berpikir lagi
sebelum berangkat, Mirah? Bagaimana Yanto dan Manto, mereka pasti sangat
kehilanganmu...."
"Tapi, apa yang kulakukan ini juga untuk mereka. Aku bekerja demi
membahagiakannya. Aku akan mengirim upahku setiap bulan. Hanya tiga tahun aku
dikontrak, setelah itu aku pulang dan tak lagi ke sana," jawab Mirah. Sebenarnya ia
berat juga meninggalkan kedua anaknya, tapi bertahan hanya mengandalkan
76
penghasilan dari mencuci pakaian tentulah tidak akan pernah cukup. Ditambah lagi
suaminya yang menganggur dan malas mencari pekerjaan. Hanya asyik dengan burungburungnya.
Ya, ibarat seekor burung, sekarang Mat Kribo benar-benar akan melepas Mirah.
Terbang melintasi negara. Teramat-sangat jauh. Ia tak dapat memastikan apakah burung
yang dilepas itu akan kembali atau tersasar di rimba yang asing. Seperti banyak nasib
para pekerja lain di luar negeri.
Dan, burung itu kini benar-benar sudah ia lepas. Hanya lambaian, cuma
kepakkan sebagai harapan agar merpati pulang ke tangan. Ini kali Mat Kribo merasa
benar-benar kehilangan. Rasanya lebih menyedihkan dibanding keempat merpatinya
yang tak kembali lagi beberapa hari lalu setelah ia lepas ke udara.
Pagi yang lalu, pagi kini. Sangat besar jurang bedanya.
***
Lampung, 21-23 Desember 2005
77
Batas Rencana
Post : 02/27/2006 Disimak: 227 kali
Cerpen : Isbedy Stiawan ZS
Sumber : Suara Pembaruan, Edisi 02/26/2006
/1/
"AKU selalu berencana. Entah itu awal bangun tidur pagi hari atau malam
menjelang mengatupkan mata. Rencanaku selalu yang besar-besar. Sebab aku meyakini
bahwa dengan rencana yang besar, maka peluang kegagalan dalam hidup makin kecil."
"Kalau aku lebih percaya dengan rencana-rencana kecil, yang sederhana.
Ingatlah dengan penyanyi Ebiet G Ade, ia punya renana yang selalu sederhana.
Kehidupannya pun sederhana. Tetapi, kini dia sukses-setidaknya sebagai penyanyi..."
"Aku tak sependapat denganmu. Aku percaya dengan falsafah orang-orang
besar: berpikirlah besar, berencanalah yang besa-bersar. Karena apa yang kaupikirkan,
apa yang kau rencanakan niscaya itulah yang didapat."
/2/
"ABANG aman-aman saja, selamat. Tapi keluarganya tak bisa tertolong,
hilang..." katamu.
Waktu itu tampak sekali kau terpukul. Pandangmu kosong. Kau sakit? Stres.
Bencana itu telah merontokkan rencana-rencana yang telah dibuat.
Kau sadar kini. Betapa pun teliti dan besarnya rencana, dapat saja sekejap
berantakan karena kekuatan lain di luar kemampuan manusia. Kau pernah
membanggakan segala rencanmu yang besar itu. Segala urusan untuk penyambutan
abang dan keluarganya sudah disiapkan.
Katamu, "Untuk Ibu dan Ayah sudah kusiapkan kamar di depan. Spresi, selimut,
bantal, guling... Semuanya baru kubeli dan sudah rapi kusimpan di lemari. Sedang
untuk Abang sudah pula kusiapkan kamar di tengah. Kami di kamar belakang. Ayam
78
kampung sudah kubeli dan kini masih kupelihara di kandangnya. Aku ingin setiap hari,
keluarga abang makan daging ayam..."
Kemudian kau lisankan rencana-rencana besar lainnya. Misalnya, soal prosesi
perkenalan antara keluarga Abang dengan keluargamu. Kau mau mengundang seluruh
tetangga dekatmu untuk menyambut keluarga Abang. Meski hanya lamaran, kau tak
menghendaki kesan dipersiapkan sekadarnya. "Aku ingin tetap meriah, riuh, dan ramai,"
katamu berencana.
"Bukankah yang penting diramaikan saat menikah?" tanyaku. Aku menyarankan
daripada prosesi lamaran dimeriahkan, lebih baik biaya tersebut disimpan saja untuk
pernikahan atau untuk modal memulai rumah tangga.
Kau berang. Tidak menerima saranku. Kau bilang, "Ini hanya sekali dalam
hidup. Kenapa tidak dimanfaatkan? Lamaran dan resepsi pernikahan sama bernilainya
bagi seseorang!"
Menurutmu, untuk apa bekerja kalau bukan untuk mendapatkan uang? Untuk apa
uang kalau tidak digunakan hal-hal yang bahagia? Dan, paling bahagia dalam hidup
perempuan adalah saat dilamar dan dinikahi. "Aku ingin saat-saat berbahagia itu tidak
aku sia-siakan. Aku senang uang simpananku habis, asal hari bahagiaku terlaksana
dengan sukses," ujarmu.
Kau berencana, setelah menikah akan kau boyong Abang ke rumah yang dibeli
dari tabunganmu bertahun-tahun. Bukan sebaliknya, kau yang diboyong Abang ke
tempat tinggalnya. Tegasnya, kau menolak tinggal di rumah orangtuamu atau
menumpang di rumah orangtua Abang setelah menikah. "Seindah-indah tinggal di
rumah orangtua, lebih indah dan bahagia menyewa rumah. Di rumah sendiri, kita
diajarkan hidup mandiri. Tidak cuma menyusu dari orangtua..."
Aku tak setuju pada pendapatmu. Banyak pengalaman orang yang baru beurmah
tangga tidak bisa hidup mandiri, karena pasangan itu belum dewasa. Tetapi, banyak
pasangan muda yang justru sukses tinggal bersama orangtuanya. Jadi, semua itu
tergantung dari orangnya. Bukan tempat atau rumah di mana ia menetap. "Kalau
dasarnya memang pemalas, ya di mana pun tak akan sukses," kataku.
Benar. Kau menyetujui pendapatku. Hanya saja, katamu, orang yang tidak
berakallah yang akan menelantarkan rumah tangganya. Kalau menumpang di rumah
orangtua, sebab dasarnya pemalas maka dia akan makin pemalas. Sebab dia selalu
mengandalkan kekayaan orangtuanya.
79
"Berbeda kalau tidak menumpang di rumah orangtua. Kita akan berpikir
bagaimana hari ini atau besok harus makan. Bagaimana mengisi perabot rumah
tangganya. Kita juga dituntut untuk membeli pakaian, ranjang, kasur, bantal," katamu.
"Kalau genting bocor, kita berpikir untuk menutup atau menambalnya supaya tidak
kebanjiran..."
Rencana-rencana itu selalu kau kibarkan. Rencana-rencana besarmu yang kau
yakini bakal terwujud. Tetapi, bencana besar itu kini telah menghancurkan rencanamu.
Mengoyak hingga tak ada lagi kepingannya.
/3/
SUDAH kuingatkan, bahkan berkali-kali, jangan terlampau besar berencana.
Tidak setiap rencana menghantar kita menjadi sukses. Sebab banyak pula orang yang
malah tak memiliki rencana-rencana, kemudian menjadi orang sukses? Ada orang yang
sejak kecil tak bercita-cita-juga rencana-menjadi presiden, nasib lain menghantarnya ke
kursi kepresidenan.
Itu sebabnya, aku menaruh simpati dan salut pada anak-anak yang menggeleng
jika ditanya oleh orangtuanya, "Apa cita-citamu kalau sudah besar?"
Aku mencurigai adanya campurtangan orangtua atau orang-orang dewasa untuk
menentukan cita-cita seorang anak. Karena itu, anak-anak dengan fasih dan angkuhnya
saat menyebut cita-citanya saat besar kelak. Misalnya, ingin jadi dokter, menteri,
presiden, gubernur, walikota, bupati, peragawati, artis, perawat, guru, hakim, pengacara.
Pernahkah anak-anak bercita-cita menjadi seniman, preman, ustad, ataupun pendeta?
Bahkan, belum pernah kudengar anak-anak melontarkan cita-citanya kelak menjadi diri
sendiri. Sungguh, aku punya dugaan yang besar bahwa peran dan campur tangan orang
dewasa telah memengaruhi rencana anak-anak. Aku tak menyukai cara orang dewasa
mencekoki jiwa anak-anak!
Batas itu terbukti dari rencana-rencana yang dicapai. Sebab itu, aku tak bosan
dan segan mengingatkanmu, akan batas rencana itu. "Semakin besar rencanamu, kian
besar pula lubang kekecewaanmu jika tak tercapai. Jadi, rencana itu sederhanasederhana
saja. Yang kau yakin pasti dapat tercapai. Sehingga kalau pun tak tercapai,
sederhana pula kekecewaanmu," kataku, suatu kesempatan.
80
Tetapi kemudian, kau melengos. Pergi untuk meninggalkan aku sendiri di kursi
ini. Minuman yang belum kau sentuh, kau tinggalkan. Sungguh mengecewakan. Hanya
aku suka pada sikapmu. Ketegasanmu. Dan, hingga kapan pun, kau tetap
mempertahankan rencana-rencana besarmu. Maksudku menyampaikan rencana-rencana
besarmu, seraya kau meyakini bahwa rencana-rencanamu itu pasti kesampaian. Tak
berbatas. Seperti pepatah, gantungkan cita-citamu setinggi langit. Apakah dan di
manakah batas langit itu? Tak terbilang bukan?
Maka aku hanya diam ketika kau berencana ingin membangun rumah mewah,
begitu kau telah menikah kelak. Di lantai dua rumahmu akan dibuatkan sebuah kolam
renang. Di sanalah, jika penat dan pikiran kacau maka kau akan menceburkan dirimu.
Berenang hinga sepuas-puasanya. Sampai badanmu dingin. Hingga pikiranmu kembali
segar. Lalu kau naik dari kolam renang itu, menggandeng suamimu ke kamar. Handuk
masih melilit tubuhmu ketika kau mengajak suamimu bercengkerama...
"Bukankah itu indah? Siapa pun akan menyukai suasana seperti itu. Entah itu
pengantin baru atau suami istri yang telah beruban!" tegasmu.
Aku diam. Sebab, tiba-tiba gelombang besar yang dimuntahkan oleh laut
meluluh-lantakkan segala renacamu. Seluruh impianmu. Rumahmu hancur hingga rata
dengan tanah. Buku tabunganmu. Buku cek yang menyimpan uangmu di bank hanyut.
Juga bank beserta uang di teller lenyap.
"Takdir menentukan lain. Tetapi, aku tetap punya rencana. Rencana yang sangat
besar. Aku tak akan pernah mati berencana. Orang hidup harus berencana, jika tak ingin
dikatakan dia telah mati," ujarmu lagi.
/4/
AKU perempuan. Lalu, salahkah aku mencatat segala rencanaku? Rencanarencana
yang besar? Apakah hanya lelaki yang boleh dan dihalalkan berencana,
sementara perempuan cukup punya rencana sebagai ibu rumah tangga, hanya bercita
menjadi istri yang baik yang tak pernah abai mengurus suami, memasak yang enak buat
suami dan anak-anaknya? Melahirkan, menyusui, mengasuh anak-anak? Jadi ibu rumah
tangga di rumah, tak perlu menjadi wanita karier, sebab karier seorang perempuan
sebatas dapur-sumur-kasur?
81
Sungguh tidak adil! Itu peraturan-peraturan yang sengaja dibuat kaum lelaki.
Koridor-koridor itu, petuah-petuah itu, sengaja dibuat lelaki agar para perempuan
membunuh rencana-rencananya. Perempuan tak boleh memiliki rencana!
Karena itukah Tuhan tak mengutus nabi dari kalangan perempuan? Politik selalu
menutup pintunya bagi perempuan. Parlemen hanya sedikit dimasuki perempuan.
Jabatan-jabatan empuk dan strategi bukan diserahkan pada perempuan. Karena
perempuan dianggap tabu memiliki rencana. Sejak kecil perempuan hanya dibelikan
boneka dan perabot masakan oleh para orangtua. Berbeda dengan anak-anak lelaki.
Mereka dibelikan pistol-pistolan, mobil-mobilan, pesawat terbang, helikopter, panser,
dan kursi.
Kursi? Ya sengaja kursi dibelikan oleh para orangtua untuk anak lelaki. Karena
kursi itu simbol bagi kedudukan. Dan, itu kemudian yang selalu dikejar oleh para lelaki.
Meninggalkan perempuan yang memang kodratnya lamban bergerak, karena sejak kecil
hanya dijejali dengan mainan boneka dan masak-masakan. Mainan-mainan itu cukup
dimainkan sambil duduk-duduk. Tidak seperti mainan para lelaki: selalu membutuhkan
energi. Bergerak.
Bayangkanlah. Bukankah itu tidak adil?
/5/
KINI kau tak lagi dapat merebut kembali rencana-rencana besarmu yang tersapu
air besar itu yang datang tiba-tiba. Calon mertuamu-juga bakal adik iparmu-menjadi
korban atas bencana itu. Semua mati. Ketika abangmu (kau selalu menyebut kekasihmu
seperti itu) sampai di rumah dari kepergiannya ke luar kota, hanya mendapatkan lantai
bekas rumah dan secarik kain sobek milik Ibu.
Kau menangis. Airmatamu mengalir deras. Ketika Abang mengabarkan nelelui
telepon genggam dini hari, kau tak mampu menahan untuk tidak menangis. Kemudian
berulang-ulang kau ingatkan abang harus tegar menerima kenyataan itu. Pasrah.
Manusia datang dari Allah dan akan dipanggil-Nya kembali. Segala yang bernyawa
pasti akan mengalami kematian. Hanya kematian bisa di mana saja dan pada saat apa
saja. Orang bisa mati di lautan, di air yang menghitam, di kasur saat tidur atau sedang
bercinta, di rumah sakit, di kenderaan, di pesawat terbang, juga di semak-semak, hotel,
82
kompleks pelacuran... ("Tapi aku ingin mati saat beribadah, dalam keadaan tunduk
pada-Nya," kataku tegas. Kau mengangguk).
Lalu bayangan kedua orang dan adik abang seperti berkelebat di benakmu.
Mereka datang dengan pesawat terbang-karena memang kotanya sangat jauh dan harus
ditempuh oleh pesawat terbang-membawakan oleh-oleh untuk lamaran. Kau
menerimanya dengan sukacita. Kau sumringah. Meski airmatamu mengalir, tapi itu
tangisan bahagia. Aku merasakan itu.
Kau menerima lamaran keluarga abang. Ditetapkan tanggal, bulan, dan pada
tahun ini berlangsung pernikahanmu. Sudah terbayang rumah mewah dengan kolam
renang di lantai dua. Kau menggandeng abang yang menyambutmu di tepi kolam
sambil menyerahkan handuk. Kemudian kau menggandeng abang memasuki kamar.
Entah mengapa secepat itu kau menangis. Tersedu-sedu. Kaututup kedua
wajahmu. Mungkin malu, mungkin tak sanggup menerima kenyataan. Keluarga abang
tak pernah datang. Mati ditelan bencana. Hari perkenalan dan lamaran batal
dilangsungkan. Entah pula, apakah pernikahan bakal dibatalkan?
Abang pergi setelah air bah menyusut. Mengembara tanpa arah yang pasti,
karena tak ada lagi kenangan dan harapan di kota kelahirannya ini. Salahkah abang?
Kau menggeleng. Rabiah al-Adawiyah saja ikhlas melajang sampai mati.
Aku tak begitu yakin, itu sebuah jawaban yang telah kaupertimbangkan secara
masak. Seperti juga rencana-rencana besarmu. Begitu cepat menderas. Seperti hujan.
Seperti tiada batas...
Lampung, Desember 2004-Januari/
Februari 2005
83
Penyanyi Kafe
Post : 11/16/2005 Disimak: 288 kali
Cerpen : Isbedy Stiawan ZS
Sumber : Suara Karya, Edisi 11/13/2005
SEBAGAI
Di kompleks perumahan ini ia mengontrak selama dua tahun, dan ia menempati
rumah yang terletak di paling kiri jalan itu baru 6 bulan. Di rumah itu ia sendirian.
Hanya sesekali, ada perempuan yang menemaninya. Mungkin temannya sesama
penyanyi kafe.
Meski jarang berkunjung ke rumah tetangga atau sekadar mengobrol di halaman
depan, ia masih murah senyum dan sapa. Meski hanya sesekali menghadiri pertemuan
arisan ibu-ibu, ia paling rajin mengirim uang setiap minggu pertama bulan yang
berjalan. Ibu-ibu di kompleks ini memakluminya, sebab sedikit sekali waktu siang yang
dimilikinya. Bagi Linda, kecuali bukan hari libur, siang adalah malam yang harus
dimanfaatkannya untuk tidur.
Ia tak pernah diantar atau dijemput oleh lelaki. Karena itu, aku orang yang
pertama membantah jika ada tetangga lain mengatakan Linda datang atau pergi dengan
seorang lelaki. Linda juga tak berpakaian sebagaimana lazimnya penyanyi kafe. Pakaian
yang dikenakannya tak seronok, apalagi sampai mengundang berahi lelaki yang
memandangnya. Pilihan warna pakaiannya juga tak mencolok. Bahkan warna gelap dan
putih seakan menguasai seluruh pakaiannya.
Pernah seorang tetangga menyebar isu penyanyi kafe itu diantar seorang lelaki,
masih pula ditambah bumbu-bumbu: "Sepertinya yang mengantar sampai masuk ke
dalam rumahnya," katanya.
Aku segera membantah, mengingatkan tetangga itu jangan menyebar isu yang
belum pasti kebenarannya. Awalnya ia hendak mengucapkan sumpah, tapi segera
kusela: "Apa? Mau bersumpah ‘demi Tuhan’ kalau kau benar-benar melihatnya? Jangan
cepat-cepat main sumpah, nanti kau dimakan sumpah…."
Setelah itu kutahu kalau tetangga itu pernah kecewa pada Linda, karena tak
diacuhi ketika ia menggoda. Tetanggaku yang membujang-lajang tua-tertarik pada
84
penyanyi kafe itu, namun seperti kata tetangga lainnya hanya bermodal cekak. Wajah
pas-pasan, isi dompet sering kosong.
"Mana mau perempuan dengan pengangguran!"
"Sama saja pungguk merindukan bulan," kata yang lain.
"Maman… Maman, mestinya dia berkaca dong. Siapa diri awak, siapa pula si
Linda…."
"Maksud hati ingin jadi Romeo, apa daya Juliet tak mau meminum racun…"
"Ah, tak nyambung kau! Hebat kali Maman disamakan dengan Romeo…"
sanggah tetangga lain.
Aku hanya tersenyum. Percakapan sewaktu ronda memang mengasyikkan.
Setidaknya, dapat melupakan dingin dan kantuk.
**
LINDA adalah penyanyi kafe. Hanya ia tidak seperti kebanyakan penyanyi kafe.
Ia tampak ramah dan sopan, setidaknya di kompleks perumahan ini. Ia tak pernah
berpakaian seronok dan menyala sehingga mengundang mata para suami yang kesepian.
Pakaiannya sederhana. Sering menyapa dan tersenyum, terutama kepada ibu-ibu. Ia
biasa membeli di warung yang cuma satu-satunya di blok kami. Tetapi, ia mengurangi
canda.
"Aku suka dengannya. Meski penyanyi kafe, sehari-harinya sederhana," kata
istriku suatu pagi sehabis bertemu Linda di warung Nenek Ali. "Waktu ibu Tituk
nyerempet-nyerempet bicara porno, dia hanya diam."
"Pasti mama kan malah ikut nimbrung?" potongku.
"Kok nuduhku begitu?"
"Bukan menuduh, siapa tahu. Kalau tidak, ya baguslah…"
"Tapi, aku meragukan apa benar dia tak seperti penyanyi-penyanyi kafe?"
"Maksudmu?" aku seolah-olah tak mengerti maksud istriku itu. "Ah, baiknya
jangan berprasangka buruk pada orang lain."
"Aku tak berburuk sangka," potong istriku. "Siapa tahu ia berperilaku ramah dan
sopan itu, hanya untuk menutupi perilaku ia sesungguhnya."
85
"Itu sama saja berburuk sangka, Leha…" kataku sambil menggeleng dan
tersenyum.
Istriku juga tersenyum. Meski terasa hambar.
**
PADA suatu malam Linda diantar seorang lelaki. Aku yakin pengantar itu bukan
kekasihnya, karena menakar-nakar usia keduanya berselisih sangat besar. Lelaki itu
lebih cocok sebagai bapaknya atau pamannya, ketimbang calon ataupun suaminya.
Lelaki itu tak turun dari sedan Toyota Camry ketika Linda membuka pintu
sebelah kiri dan membiarkan Linda masuk ke rumahnya. Hanya sekejap Linda menoleh
dan tersenyum kepada pengantar yang masih duduk di belakang stir, kemudian menutup
pintu.
Para peronda, kecuali aku, memandang adegan itu dengan cemas. Mereka
berharap lelaki pengantar Linda itu turun lalu masuk ke dalam rumah untuk beberapa
waktu lamanya. Mungkin mereka ingin memergoki atau menggerebek sebagaimana
sering diberitakan di koran-koran lokal. Apalagi malam itu, Maman dapat giliran ronda.
Ia paling bersemangat untuk menggerebek.
"Perempuan itu sudah mengotori kampung. Harus diberi pelajaran…" kata
Maman memanasi peronda lainnya.
Aku tertawa mendengar ocehannya.
"Kalaum pak Yono tidak berani, serahkan saja kepada warga!" kata Maman lagi.
"Harus pak Yono, sebagai ketua RT di sini, memberi semangat kami dong untuk
berbuat baik bagi kampung kita. Jangan…."
Aku makin mengumbar tawa.
"Kau ini aneh, Man. Jangan soal pribadi dicampuraduk begitu dong!" kataku
santai. "Siapa yang telah berbuat kotor? Apakah perempuan itu sudah kau lihat dengan
mata kepalamu mengotori kampung kita? Tidak kan?"
"Apakah dengan memasukkan lelaki lain yang bukan suaminya belum dianggap
mengotori?"
"Lalu, apa kau pikir salah, kalau Linda diantar pulang oleh lelaki? Lagi pula ia
tak turun, apalagi sampai masuk rumah?"
86
"Sekarang memang tidak. Besok, lusa, atau pada hari lainnya, apakah tidak
mungkin? Boleh jadi mereka pernah tidur serumah, hanya kita saja yang tidak tahu?"
"Jangan menduga-duga, Man," sergahku tak suka karena ia mulai ingin
memvonis orang lain. "Caramu itu sudah memfitnah, bukan lagi berniat baik…"
"Seharusnya ini tugas ketua RT, bukan…" Maman tetap bersikukuh.
"Saya tahu apa yang harus saya kerjakan sebagai ketua RT. Tapi, bukan dengan
cara emosi dan apalagi karena dengki!" kataku meninggi.
"Siapa yang dengki?"
"Sudahlah, tak perlu kau tutup-tutupi kalau kau tertarik dengan Linda. Siapa pun
orangnya di RT ini tahu…"
"Bapak jangan mengungkit-ungkit soal pribadi saya. Ini soal ketenteraman
kampung kita."
"Ketenteraman?" tanyaku sambil tertawa. Dalam hati aku mengumpatnya dengan
licik: membalas kedengkiannya karena keinginannya tak terjawab ia menghalalkan
segala cara. "Sudah. Saya tak mau melihat warga kita berbuat semeberono dan sia-sia.
Menghukum orang tanpa ada kesalahan yang pasti."
Setelah itu Maman terdiam. Peronda lain kembali ke pos. Aku meminta dua atau
tiga orang berkeling untuk mengontrol. Maman duduk termenung di pos ronda. Aku
pun pulang, setelah berpesan: "Saya siap dibangunkan kalau ada apa-apa."
**
LINDA bertamu ke rumahku, sebelum aku ke kantor. Tentu saja aku terkejut,
karena ia tak biasa sudah keluar rumah pada pukul 06.30. Selama ia mengontrak rumah
itu, aku tak pernah sekali pun melihatnya terbangun dan keluar rumah sepagi ini.
"Maaf pak, saya mengganggu. Saya khawatir bapak sudah pergi ke kantor…"
katanya tak lupa menguar senyumnya. Ramah.
Istriku segera menyambut. Aku tahu Leha tak ingin kami berlama-lama di depan
pintu. "Masuk Linda, masuk…. Ada apa ini, seperti penting sekali."
Ia mengangguk. Lalu, ia utarakan maksud kedatangannya kepada istriku. Aneh
juga, sebagai ketua RT, aku malah menjadi pendengar yang baik percakapan istruku
dengan penyanyi kafe itu. Maksud kedatangannya pagi ini, meminta bantuanku
membuat surat pengantar ke Kantor Kelurahan.
87
"Insya Allah bulan depan, saya menikah," katanya setelah beberapa lama ia
bercerita ke sana ke mari, juga soal lelaki yang mengantarnya semalam. "Mungkin
bapak melihat saya semalam diantar, itulah lelaki calon suami saya. Usianya memang
lebih pantas menjadi bapak atau paman saya…" lanjutnya tanpa ada rasa sungkan.
"Calon suami Linda sudah bekerja?"
"Dia pengusaha, ibu. Ia sudah sepuluh tahun menduda karena istrinya
meninggal. Mas Jon banyak berjasa dengan saya. Dialah yang membiayai kuliah
saya…"
"Kamu masih kuliah?"
"Saya kuliah ekstension, sore hari. Dari kampus saya langsung bekerja sebagai
penyanyi kafe."
"O," hanya itu yang keluar dari bibirku dan istriku. Kami, sungguh-sungguh,
terlongo.
"Alhamdulillah, bulan lalu saya diwisuda. Setelah menikah nanti, saya akan
pindah dari sini dan akan bekerja di anak perusahaan milik suami saya," katanya
kemudian.
Sungguh, aku tak mampu lagi berucap. Leha tampak sesekali tertunduk,
mungkin ia merasa malu karena pernah berburuk sangka pada penyanyi kafe itu. Setelah
kuberikan selembar pengantar ke Kantor Kelurahan, Linda pun pergi.
"Aku meragukan keramahannya, mungkin hanya basa-basi…"
"Kau menyindirku ya?" Leha tersenyum. Malu. Ia kemudian beryukur Maman
tak melakukan keonaran pada Linda. Ya, aku tak bisa bayangkan kalau semalam warga
terpengaruh lalu menggerebek Linda. Yang malu bukan saja Maman dan warga lainnya,
melainkan aku yang bertanggung jawab!
Lampung, 23 September 2005
penyanyi kafe di sebuah tempat hiburan malam, Linda selalu pulang menjelang
fajar. Tak jarang ketika ia membuka pintu rumahnya, adzan subuh terdengar dari
specker kubah masjid. Setelah itu, rumahnya akan kembali terbuka seusai zuhur.
88
Kalaupun Mati, Aku Mau dalam Dekapan Ibu
Post : 10/31/2005 Disimak: 296 kali
Cerpen : Isbedy Stiawan ZS
Sumber : Media Indonesia, Edisi 10/30/2005
BUKAN karena Ayah aku mau mudik, melainkan tersebab Ibu yang telah
berkali-kali meneleponku dan mengharap sekali agar aku berlebaran di rumah. Katanya,
"Ibu sudah sangat rindu, Nak. Mungkin kesempatan berkumpul hanya sekali ini, entah
Idul Fitri tahun depan apakah Ibu masih ada atau..."
Aku sempat menitikkan air mata mendengar suara Ibu. Aku tak bisa menjawab
apa-apa, bahkan sepatah kata. Tubuhku gemetar seperti Ibu mengirimkan arus litrik.
Telepon selulerku seakan pula bergetar meski tak kuaktifkan vibrasinya. Tanpa
jawaban, aku sempat mengangguk.
Karena Ibu, ya karena Ibu, aku mau mudik setelah enam tahun tak menjalani
ritual tahunan semenjak aku menarik kakiku dari rumah berukuran besar itu. Aku
bertekad (mungkin bersumpah?), tak akan pulang selagi Ayah masih hidup atau aku
belum berhasil di perantauan.
Keberhasilan yang kumaksud di sini ialah aku sukses di karier dan berhasil
membangun keluargaku. Kalau belum, demikian janjiku dalam hati waktu itu, tak akan
pulang meski harus berkalang tanah di perantauan. Dan sejak itu pula, entah kenapa,
aku begitu benci kepada Ayah. Aku ingin membuang jauh kenangan dan wajah Ayah
dari dalam batinku. Tetapi, setiap kali itu juga wajahnya membayang-bayang.
Sepertinya melekat, mengikat, dan mengikuti ke mana aku melangkah.
**
Ayah bukan tipe ideal di hatiku. Ia sangat keras, kaku, dan pendoktrin ulung.
Sehingga Ibu dan anak-anaknya (aku hanya dua bersaudara) bagai berada di dalam
cengkeramannya. Seperti robot yang dikendalikan oleh sebuah remote yang berada di
tangan Ayah. Jika sedikit saja keluar dari sistem yang diinginkannya, Ayah akan murka.
Benar juga gurauan, "Surga di telapak kaki Ibu, lalu neraka di kaki Bapak!"
89
Itu sebabnya, tiada jarang tubuh kami menjadi sansak bagi kaki atau tangan
Ayah. Terlalu sering Ibu ditendang dan ditampar Ayah, hanya lantaran kesalahan kecil
dan sangat sepele. Kami sering memergoki Ibu sedang menangis di kamar ataupun di
meja makan sesudah menerima kekerasan dari Ayah. Sebagai anak lelaki--adikku yang
perempuan cuma bisa ikut tersedu kalau Ibu menangis--pernah ingin membela Ibu,
tetapi apa yang terjadi? Apa yang dilakukan Ayah kepadaku? Ia melempar kursi makan
ke tubuhku hingga aku harus diurut. Sejak itu, aku yang masih berumur 11 tahun tak
berani lagi menjadi pahlawan bagi ibuku. Kami menyembunyikan wajah jika Ibu
sedang menerima kekerasan dari Ayah.
Sampai suatu peristiwa tidak terduga, aku merasa telah dewasa karena aku dapat
menahan kursi yang dilempar Ayah ke tubuh Ibu. Ayah benar-benar berang. Ia tampak
sekali murka. Aku sudah tak tahan melihat Ibu dianiaya. Lalu aku berteriak sembari
berdiri di depan Ibu, "Berhenti, Ayah! Lebih baik bunuh aku daripada Ibu sakit!"
Hanya sekali bentak, lalu Ayah melemparkan kursi lain yang telah diangkatnya.
Kursi itu kembali ditujukan ke Ibu, tapi karena masih membentengi Ibu aku yang
menahan laju kursi itu. Segera kukembalikan kursi itu dan mengenai tepat tubuh Ayah.
Ia meringis kesakitan, beberapa langkah mundur. Ibu segera menghampiri Ayah hendak
menolongnya yang nyaris terjerembap. Ibu balik memarahiku karena ulahku yang
dianggapnya berlebihan. Aku serbasalah. Diam. Masuk kamar dan mengunci pintu.
Tetapi, aku tak kecewa dimarahi Ibu.
Kukira Ibu benar aku memang berlebihan. Mengapa tidak kutahan saja laju kursi
itu agar tidak mengenai tubuh Ibu, tanpa harus melempar kembali ke arah Ayah. Cuma
aku sudah tak tahan menyaksikan penganiayaan Ayah terhadap Ibu. Kupikir Ayah juga
sudah kelewat batas. Sudah tak berperikemanusiaan. Sadistis. Maka, apakah aku salah
kalau memberi pelajaran? Ayah memang harus dikasih pelajaran. Mesti dilawan. Untuk
menyudahi kekerasan, kadang diperlukan kekerasan pula. Aku pernah mendengar
peribahasa seperti itu, kendati aku tak tahu apakah itu benar ataukah salah.
Cuma pada waktu itu aku memang telah menghentikan kekerasan Ayah terhadap
Ibu. Ia meringis kesakitan meninggalkan kami, lalu mengunci kamarnya. Baru malam
harinya ia mendekatiku, serta mengeluarkan satu perintah: "Pergi kamu dari rumahku
ini, dan jangan pulang lagi!"
***
90
Aku hidup dalam keluarga yang tak sepi dari kekerasan. Aku ditempa oleh sikap
seperti itu. Ayah yang selalu menganiaya Ibu. Kami yang senantiasa ditampar,
ditendang, dan dimaki oleh Ayah. Ibu yang selalu tersedu tanpa terlihat lagi air
matanya. Sepertinya tangis Ibu sudah terkuras. Kekerasan (kalau boleh kukatakan
sadistis) seperti itulah yang menempa kehidupanku. Aku terdidik dan hidup dari
peristiwa kekerasan demi kekerasan. Di dalam rumah.
Karena itu wajar jika kemudian aku pun menjalani hidup di perantauan dengan
cara-cara yang amat keras. Aku jadi perampok yang tak jarang mengakhiri para
korbanku dengan membunuh. Aku juga sudah kehilangan kasih sayang--apalagi cinta.
Para perempuan yang kujadikan korban perampokan tak kuberi kesempatan selamat.
Akan kutinggalkan ia setelah kuperkosa. Aku lebih kejam daripada bandit sekelas Kusni
Kasdut atau Joni Indo maupun para bandit kelas paus lainnya.
Pada suatu peristiwa di sebuah petang yang tenang, aku beroperasi di pasar yang
ramai. Tanpa teman kumasuki sebuah toko emas. Kuberondong pelayan dan pemilik
toko dengan pistol kecil. Darah membuncah di lantai toko itu. Layaknya air berwarna
merah siap membanjiri toko itu. Menggenang dan muncrat di mana-mana. Setelah
kuyakini pemilik toko dan pelayan itu mati di tempat, aku pun menguras emas di balik
kaca. Hanya sekali pukulan, kaca itu berantakan. Kusambar emas dalam bentuk cincin,
gelang, dan anting-anting. Juga, tak lupa, emas batangan. Kumasukkan ke ransel yang
sudah kusiapkan. Sebelum meninggalkan toko emas itu, aku masih sempat mengembat
istri pemilik toko.
Persetan dengan tangis dan permohonan encik itu. Kutelanjangi perempuan
berparas putih dan bermata sipit itu di hadapan suaminya yang sudah tak bernapas lagi.
Setelah puas melampiaskan syahwat binatangku, lalu kutinggalkan toko emas itu.
Menghilang di dalam keramaian pasar. Keesokan harinya, seluruh media memberitakan
peristiwa perampokan itu. Tak satu pun berita yang memihak kepadaku, bahkan
cenderung bertendensi: aku sebagai perampok sadis yang tak berperikemanusiaan.
Aku hanya tersenyum membaca berita-berita itu. Aku sudah terbiasa hidup
dengan kekerasan. Sejak kecil aku saksikan kekerasan dengan mata kepala dan hatiku.
Aku tumbuh oleh peristiwa-peristiwa seperti itu. Hidupku jauh dari cinta kasih. Lalu,
apakah aku salah kalau kini aku mewujudkannya dalam kehidupanku? Anak akan
belajar dari pengalaman yang amat dekat dengannya. Manusia belajar dari peristiwa dan
apa-apa yang mendidiknya. Pendidikan yang telah membuat seseorang dari tidak tahu
91
menjadi mengerti. Karena Ayah mendidikku dengan perlakuan keras, itulah yang
kupahami dan kujalani kini.
Sebagai penjahat, penjara adalah hotel gratis. Bui adalah kamarku untuk istirahat
dari perbuatan jahatku. Di dalam penjara aku seperti sedang jeda untuk merampok,
membunuh, dan memerkosa. Sebab, begitu aku bebas akan kulakukan lagi pekerjaan
yang sudah kuanggap profesi itu. Ya. Profesiku memang perampok dengan cara
membunuh dan memerkosa para korban. Rasanya tubuhku akan terasa ngilu kalau aku
merampok tanpa menganiaya. Seakan merampok dan menganiaya dua sisi mata uang.
Tak bisa dipisahkan. Betapa pun korban tak melawan.
Mira adalah korban kesekian. Sebelum kujadikan istri, ia adalah mangsaku.
Karyawati sebuah bank yang kujarah sewaktu membawa uang itu lalu kularikan ke
dalam mobilku. Di suatu tempat pengasingan ia kuperkosa. Entah mengapa tiba-tiba
timbul rasa cintaku kepadanya. Akhirnya kutawan di bawah ancaman akan kubunuh
jika ia berani lari dariku. Ia amat ketakutan sehingga tak berani melarikan diri. Di
bawah ancaman pula, Mira terpaksa hidup serumah denganku. Sampai suatu
kesempatan ia memintaku untuk menikahinya. "Aku rela menjadi istrimu, tapi nikahi
aku dulu. Aku tak mau hidup sebagai pezina!"
Aku tersenyum sinis. Meski tak urung aku pun menikahi Mira hanya di hadapan
seorang kiai. Kuikrarkan janji setiaku dan berjanji tak ingin menyakiti hati dan
tubuhnya di hadapan kiai. Sejak itu Mira sah menjadi istriku. Entah mengapa semenjak
saat itu, aku tak pernah berbuat kasar kepada istriku. Tetapi, aku tak bisa meninggalkan
sikap itu kepada korban-korbanku. Alasannya, seperti sudah kukatakan, ini profesiku.
Selain itu, yang sulit kuingkari, setiap menatap Mira seakan aku sedang
berhadapan dengan ibuku. Bagaimana mungkin aku menyakiti hati dan tubuh Ibu?
Bagaimana berani aku berlaku kasar kepada seorang ibu? Ibu amat kukasihi, sangat
kucintai. Itu sebabnya Ibu sangat kubela habis-habisan setiap Ayah menganiayanya.
Biarlah aku mati daripada ibu menderita. Demikianlah sikapku kepada Mira.
***
Peristiwa nahas kuterima. Saat aku merampok sebuah bank aku pun melakukan
kesalahan fatal sehingga aku tertangkap. Habis tubuhku dihabisi massa. Hampir setiap
senti dari tubuhku penuh luka. Bahkan, aku nyaris dibakar jika pihak keamanan tak
92
cepat tiba di tempat kejadian. Aku pun digelandang ke kantor polisi. Seorang intel lalu
menyarangkan sebutir timah panas, setelah ia memverbalku. Setelah menembak kakiku,
ia keluar ruangan menjumpai para wartawan. Aku tahu dari berita media massa
keesokan harinya, polisi itu menyatakan telah menembakku karena aku mau melawan
untuk lari.
Benarkah aku melawan? Mungkinkah aku bisa melarikan diri? Sedangkan aku
digelandang ke kantor polisi dalam keadaan tak bertenaga dan hampir mampus? Polisi
paling pintar membohongi publik, aku bergumam. Kakiku ditembak di ruang
pemeriksaan tanpa bisa bergerak, ia katakan aku mau melawan dan melarikan diri.
Sungguh, suatu kebohongan yang tak bisa kuterima. Cuma aku tak bisa membantah.
Aku dalam keadaan teraniaya dan tak berdaya. Para wartawan itu juga tak berani
menanyakan langsung kepadaku tentang kejadiaan sebenarnya. Wartawan acap takut
membongkar kebohongan para polisi.
Sebiji melinjo besi yang bersarang di kaki kananku membuatku pincang seumur
hidup. Sebiji mata kiriku juga tak bisa berfungsi. Aku keluar setelah tiga tahun dalam
penjara. Aku pulang tanpa lagi menjumpai Mira. Menurut tetanggaku, istriku
meninggalkan rumah setelah sebulan aku tak pulang. Mereka terheran-heran dengan
kelainan di tubuhku. Ketika para tetangga bertanya dari mana saja aku menghilang dan
pulang dalam keadaan cacat, kujawab pendek: "Kecelakaan sewaktu bekerja di
pelabuhan kapal."
Mereka tak lagi bertanya. Para tetangga itu seperti melupakan. Seperti tiada
kejadian apa-apa padaku. Meski kemudian aku hidup menyendiri untuk beberapa hari.
Sampai pada suatu malam, kutinggalkan rumahku itu. Aku mencari kontrakan baru.
Aku hidup dengan sisa uangku yang masih ada.
Aku kesepian. Aku amat kangen kepada Ibu.
"Ibu, kurindu kabarmu..." batinku.
Pada keadaan seperti ini, Ibu seakan menjadi sangat berarti. Mengapa dulu tak
kubawa serta saja Ibu? Mungkinkah Ayah masih tetap berlaku kasar kepadanya?
Menganiaya Ibu dan adik perempuanku? Apakah Ayah maish hidup, atau jangan-jangan
sudah mampus karena keberatan dosa? Seperti diriku yang sekarang sakit-sakitan.
Badanku kian kurus, wajahku pucat dan terlihat pipih.
Hanya karena semangat hidupku yang lebih besar, akhirnya bisa menunda maut
untuk menghampiriku. Aku selalu berharap, kalau kumati, sebaiknya ambillah nyawaku
93
ketika aku berada di depan Ibu. Aku tak menginginkan mati di perantauan, nisanku jauh
dari kampung kelahiranku. Hanya itu harapanku. Aku tak lagi punya harapan atau citacita
lain. Juga tak memiliki kekuatan--apalagi keberanian--untuk hidup sebagai
perampok, pembunuh, dan pemerkosa!
Entah dari mana Ibu mengetahui nomor telepon selulerku. Mungkin karena hati
Ibu yang tulus dan ikhlas, Ibu lebih tahu keadaan anaknya betapa pun tidak dekat
dengannya. Itu sebabnya, ia meneleponku--juga dengan pengharapan yang besar--agar
aku pulang pada Idul Fitri ini.
"Ibu sudah sangat rindu, Nak. Mungkin kesempatan berkumpul hanya sekali ini,
entah Idul Fitri tahun depan apakah Ibu masih ada atau..." katanya di telepon selulerku,
tapi suaranya seperti sangat dekat.
Aku seperti melihat dengan jelas maut membayang dari wajah Ibu. Ya kalaupun
maut menjemputku, biarlah aku mati di dalam dekapan Ibu. Atau setidaknya, dalam
pengawasan mata Ibu. Atau saat tangannya membelai rambutku sembari melafazkan
takbir. Ah, aku seperti memimpikan kanak-kanak lagi. Meski saat ini usiaku 37 tahun!
Mudik ini layaknya perjalanan tobat seorang hamba...
Lampung, Oktober 2005
94
Karena Rambut Mira
Post : 10/31/2005 Disimak: 284 kali
Cerpen : Isbedy Stiawan ZS
Sumber : Pikiran Rakyat, Edisi 10/29/2005
MUDIK dan Idulfitri seperti dua sisi mata uang yang sulit dipisahkan.
Sebagaimana penggalan dari sebuah cerita, keduanya saling melengkapi. Karena itulah,
setiap Idulfitri selalu diikuti tradisi mudik, seperti kewajiban. Meski dengan mudik ia
berarti harus berdesak-desakan, kelelahan, menguras tabungan, dan entah apa lagi.
Cuma untuk silaturahim? Tidak semata. Mudik tidak cuma perjalanan ritual,
tetapi juga pengharapan maaf dan mengharap pujian....
Inilah sepenggal dari banyak cerita mengenai mudik di hari lebaran Idulfitri.
/satu/
Mira pulang dengan penampilan yang berbeda. Dino memandang istrinya
dengan tatapan aneh. Ia hendak mengajukan pertanyaan, tetapi Mira sudah lebih dulu
mengatakan kalau ia dari salon kecantikan.
"Maaf, aku tidak izin dulu. Habis tak tahan, rambutku sudah kelewat panjang,"
Mira menjelaskan dan meminta pengertian Dino. "Bagaimana Mas, bagus tidak
rambutku seperti ini?"
Dino tak menyahut. Ia masih kesal. Tanpa menoleh lagi pada Mira, ia
melanjutkan membaca koran yang masih terbuka di tangannya. Meskipun sebenarnya ia
tak lagi konsentrasi menyimak berita-berita yang ada di harian itu. Misalnya, soal antre
BBM yang setiap harinya semakin memanjang. Berita penyanderaan mobil tangki BBM
oleh pendemo di beberapa kota, pun soal penyegelan SPBU. Berita-berita seperti itu
rasanya sudah tak menarik lagi bagi Dino, bahkan tentang kenaikan harga BBM hingga
lebih 50 persen. Berita-berita seperti itu, ia menggumam, makin menunjukkan
pemerintah tak sanggup menyejahterakan rakyat. Hanya omong kosong janji sewaktu
kampanye dulu.
95
"Bagaimana potongan rambutku, Mas?" Mira kembali mengusik begitu keluar
dari kamar, lalu duduk di depan suaminya. "Kok diam aja sih, marah, ya?"
Dino bergeming. Ia tenggelamkan wajahnya ke halaman koran di depannya,
meski sebenarnya ia tak membacanya serius. Ia kecewa karena sudah sering meminta
Mira agar tidak memotong rambutnya, apalagi sependek itu. Bagi Dino, penampilan
Mira dengan rambut sebahu sangat dia sukai. Setiap kali membelai rambut istrinya,
selalu timbul hasrat mengencaninya. Nah, kalau sekarang sudah pendek seperti itu,
adakah hasrat lagi akan muncul?
"Aku lebih menyukai rambutmu sebelum dipotong," kata Dino setelah beberapa
lama terdiam. Ternyata ia tak sampai hati juga tak mengacuhkan Mira. "Aku 'kan sudah
berkali-kali melarangmu memotong rambutmu, karena aku menyukai istri yang
berambut panjang. Setidaknya...."
"Kau bisa membelai rambutku, begitu maksudmu? Egois!" Mira mengentak.
Dino terperanjat. "Tetapi, kau tak mau tahu keadaanku. Kau tahu mas, aku sudah gerah
dengan rambutku yang panjang. Sudah menggangguku sewaktu di kantor," kata Mira
kemudian.
"Mengganggu?" Dino heran. "Memangnya kau bekerja di bagian mesin?"
suaranya meninggi dengan tekanan sinis.
"Memangnya hanya pekerja di bagian mesin yang wajib berambut pendek?
Memangnya sesekali tak boleh ganti mode rambut?" ujarnya tak mau kalah. "Lagipula
musim kemarau dengan rambut pendek kepala tak gerah."
"Ah, alasan yang dicari-cari!" Dino membantah.
"Ya sudah, kalau kau ingin menyalahkan aku saja karena rambutku ini," Mira
mulai kesal. "Suka atau tidak suka dengan mode rambutku ini, bagaimana lagi sudah
kupotong. Terserah...."
Diam. Memang benar, rambut Mira tak bisa dikembalikan seperti semula. Tak
mungkin Dino menyambung kembali rambut yang sudah terpotong. Suka tak suka harus
diterimanya mode rambut istrinya yang dilihatnya saat ini. Pendek sekali.
Mengamati rambut Mira, Dino teringat mode rambut Kak Ubiet. Ya. Penyanyi
yang beberapa waktu lalu menjadi pengajar di AFI. Tetapi potongan rambut seperti itu
bagi Mira tak cocok, malah kelihatan nganeh untuk ukuran wajahnya. Mira sangat pas
dengan mode rambut sebahu, atau lebih. Itu ihwalnya mengapa Dino tak menyetujui
rambut istrinya dipotong sependek itu....
96
/dua/
SEJAK istrinya berpenampilan lain, Dino malah makin khawatir. Tak cuma
khawatir sebenarnya, diam-diam ia mencurigai keinginan Mira yang tiba-tiba
memotong rambut sependek itu. Dengan mode seperti itu, yang tak pernah dilakukan
istrinya selama ini. Ya, kalaupun ke salon, paling-paling istrinya hanya memotong
rambutnya beberapa sentimeter saja. Atau merapikan ujung rambut yang kelihatan
bercabang. Selebihnya, creambath.
Tetapi, kalau kini memotong pendek rambut? Sungguh ada sesuatu yang lain,
sesuatu perubahan yang semestinya diwaspadai. Waspada? Dino memang harus
meragukan istrinya yang belakangan ini suka berdandan aneh. Mira suka mengecat
sekilas rambutnya dengan warna cokelat atau merah-pirang.
Jangan-jangan Mira.... Ah, ia tak mau membayangkan hal-hal yang aneh. Dino
tak mau disergap oleh pikiran aneh, apalagi terhadap Mira --istrinya yang dikawininya
sudah 10 tahun. Bagaimana pun ia masih merasakan getar cinta yang dialirkan oleh
Mira ke hatinya. Lalu, untuk apa Mira mengubah mode rambutnya? Hanya karena gerah
dengan rambut panjang? Itu alasan yang dibuat-buat. Bukankah selama ini, bahkan
semenjak Mira remaja, ia terbiasa berambut sebahu?
Tetapi, sudahlah, ibarat nasi sudah menjadi bubur. Begitu pikir Dino. Ia juga tak
hendak bertengkar yang membuat perjalanan mudik esok ke kampung istrinya menjadi
tak senyaman dan seindah yang dia bayangkan. Lebaran tahun ini memang giliran
mudik ke kampung Mira, sebab tahun lalu mereka berlebaran di kampungnya di
Sungailimau, Pariaman.
"Apa salahnya aku menyenangkan hatinya?" Dino berpikir. "Toh, tak lama
rambut Mira akan panjang lagi, akan sebahu lagi. Dan, ia akan kembali membelainya
setiap ingin bercengkerama?"
"Sepertinya kau kecewa dengan rambutku, ya?" Mira kembali membuka
percakapan ihwal rambutnya yang sudah dipotong pendek bak Kak Ubiet itu. Ia merasa
kalau Dino masih kecewa atas rambutnya.
"Sudahlah, tak perlu dibahas lagi," elak Dino.
"Tapi, kau seperti tak menerima sih?"
97
Dino menarik napas sekejap. Ia isap rokok yang tinggal sedikit itu, kemudian
asapnya ia muntahkan ke udara.
"Aku sudah menerima kok."
"Belum sepenuh hati...."
"Sepenuh hati. Aku ikhlas...," jawab Dino kemudian. Lalu, ia meminta Mira
untuk tidak lagi membicarakan soal rambutnya. Ia mengajak Mira untuk memberesi
pakaian yang akan dibawanya mudik esok. "Jangan sampai lupa baju baru milik Obi
dimasukkan ke dalam tas," imbuh dia. Obi adalah putranya yang kini berusia 8 tahun.
Mira mengangguk. Tersenyum. Tanpa disadari jemari tangan kirinya membelai
rambutnya. Kini Dino berganti tertawa.
"Kau kira rambutmu masih panjang?"
"Hehehe..."
/tiga/
MIRA tampak tak merasa gerah, tidak sepereti ketika rambutnya masih panjang.
Sepanjang perjalanan mudik, meski antre, berdesakan, dan udara yang panas, Mira tak
merasa kepanasan. Bahkan, layaknya perempuan tomboy, ia amat sigap.
Dalam hati Dino merasa beruntung. Tahun-tahun lalu, Mira sangat cerewet
sepanjang perjalanan. Panaslah. Gerahlah. Terganggu oleh rambutnya yang panjanglah.
Kini? Sepertinya Mira enjoy sekali.
"Kau sepertinya happy dengan rambutmu itu, ya?"
Mira menatap suaminya. Kemudian tersenyum.
"Jadi, tak salah 'kan aku memotong seperti ini?" Mira balik bertanya. Ia ingin
Dino mengakui bahwa apa yang dilakukannya atas rambutnya adalah benar, bukan
karena terpaksa.
Dino mengangguk. "Ya, tak salah. Cuma...."
"Maksudmu?"
"Kamu tak lagi tampak kewanitaannya...."
"Seperti lelaki? Tomboy?"
"Aku tak mengatakan itu," jawab Dino pendek. "Ah, tapi aku suka dengan mode
rambutmu itu. Kau kelihatan lincah, dan yang terpenting tak lagi gerah...."
"Makanya...."
98
"Ya."
/empat/
Selepas Isya sampai. Mereka disambut kedua orang tua dan keluarga Mira.
Rumah panggung di Kampung Tulungbuyut itu penuh, bahkan hingga larut. Dino tak
sempat istirahat lagi karena harus melayani. Sudah beberapa kali ayah mertuanya
memberi isyarat agar tamu pulang, sehingga Dino bisa masuk ke kamar.
"Tak apa Ayah, saya belum letih benar. Hanya sesekali," bisik Dino sambil
menyerahkan uang Rp 200 ribu kepada salah seorang pemuda untuk membeli rokok.
"Ya, belikan semua...."
Lalu mengobrol lagi. Dino sudah beberapa kali menguap. Orang tua Mira
kembali menyuruhnya ke kamar. "Kau istirahatlah dulu Dino. Kau letih dan sudah
mengantuk sekali," kata ayah mertuanya.
Dino mengangguk kecil. Mira sudah masuk ke kamar tidur. Mungkin sudah
mendengkur. Ia hendak menyusul, tapi seorang pria seusianya datang. Menyalami Dino,
lalu bertanya, "Mana Mira, apa dia ikut?"
Dino mengangguk. Ingin tersenyum menyambut senyuman lelaki itu, namun
urung ketika mendengar mertuanya berujar....
"Oh, kau Taufik."
Dino mengenal sekali nama itu. Sebuah nama yang rasanya tak mungkin akan
hilang dari benaknya sepanjang hidupnya. Ya, Taufik. Mira pernah bercerita tentang
lelaki itu. Sebelas tahun lalu. Tersebab lelaki itu, Mira akhirnya meninggalkan kampung
kelahirannya di Tanggamus ini. Lelaki itu menikah diam-diam, meninggalkan Mira
yang waktu itu kadung mencintainya. Mira kecewa. Ia pergi dari kampungnya agar
melupakan penggalan kisah cintanya.
Di Bandung kami berjumpa. Di kota ini pula aku menikahi Mira, setelah
beberapa bulan aku bersabar menanti ia menerima cintaku. Aku paham perempuan yang
pernah kecewa pada lelaki, tak semudah pria ketika putus cinta. Dari Mira aku tahu
kalau Taufik (lelaki yang kini duduk di depanku) telah mengkhianati cintanya. Mira
kemudian frustrasi dan meninggalkan kampung halamannya. Sampai cukup lama aku
membujuknya untuk mau menjenguk kedua orang tuanya pada hari lebaran Idulfitri.
99
"Kita mudik bukan karena Taufik, tapi karena ingin bersilaturahmi pada orang
tua," kataku pada suatu kesempatan. Waktu itu, Mira tetap bersikeras tak akan lagi
menginjakkan kakinya ke kampungnya. Maka beberapa kali kedua orang tuanya
bertandang ke rumah kami waktu lebaran.
Sampailah pada lebaran tahun ini, hati Mira mencair. Ia mau mudik.
"Aku ingin tahu, bagaimana kampungku kini? Mungkin sudah berubah?"
Ternyata bukan hanya kampung kelahirannya yang kini sudah benar-benar
berubah. Tetapi, perubahan juga terjadi pada Taufik. Ia kini menduda. Istrinya
meninggal setelah tiga tahun mengidap kanker payudara. Ini kutahu dari ayah mertuaku,
setelah kepergian Taufik seraya ia berjanji akan datang lagi besok selepas salat
Idulfitri....
"Apakah karena Taufik duda, Mira memotong rambutnya? Biar kelihatan muda
dan cantik?" aku membatin.
Cuma segera kubuang jauh-jauh pikiran itu. Aku tak ingin mudik dan lebaran di
kampung ini kehilangan makna. Bagaimana pun, kuyakini mudik adalah bagian dari
ritual-sakral, perjalanan untuk mendapatkan ampunan-Nya. Bukan dengki, puji, apalagi
cemburu....
***
Lampung, 22-25 Oktober 2
100
Aku Betina Kau Perempuan
Post : 10/25/2005 Disimak: 321 kali
Cerpen : Isbedy Stiawan ZS
Sumber : Koran Tempo, Edisi 10/23/2005
di taman ini
kau kelihatan makin indah
sayapmu cepat sekali tumbuh
untuk membawaku terbang….
*
KAU memang indah, tubuhmu berwarna-warni. Cantik nian. Manisnya aduhai.
Tetapi, pada waktu yang lain kau terlihat anggun dan gagah. Di taman ini kau adalah
pusat perhatian itu.
Aku memandangmu sangat lama. Ekor mataku berkeliaran sejak dari ujung
sepatu sampai ujung rambutmu yang tumbuh di ubun-ubun. Mataku tak berkedip tapi
tubuhku beringsut sedikit ke belakang, ketika kusaksikan kedua tanganmu menjelma
sayap. Tumbuh menyerupai sayap.
"Sudah waktunya. Kita harus tinggalkan taman ini."
"Terbang?" aku tak mengerti.
Kau mengangguk. Tersenyum. Kedua sayapmu, tapi aku masih ragu
menyebutnya sayap sebab aku yakin itu adalah tanganmu, mengembang seakan ingin
menarik tubuhku lalu melindungiku di dalam selimut sayapmu. Seperti para burung
sewaktu mendekap anaknya dari rasa dingin, lapar, dan kantuk.
"Ke mana kita menuju? Segala tempat yang nyaman sudah tiada. Seluruh gedung
sudah penuh karena itu tak ada lagi kamar untuk di isi," aku mengimbuh ketika kau tak
berkata.
Sejak kau begitu indah di taman ini, dan kedua tanganmu menjelma jadi sayap
sesungguhnya ada pula yang berubah dari kebiasaanmu. Kau amat lain. Kau asing
sekali. Hanya beberapa kata yang kaugunakan setiap berucap. Kalau tidak, cuma
101
mengangguk atau tersenyum. Selebihnya adalah gerakan tubuhmu yang penuh rahasia
itu.
Maka aku menjadi ragu, ketika kau ingin sekali mengajakku terbang. Untuk
menolak ajakanmu-ah tepatnya, rayuanmu-aku ajukan alasan-alasan. Seperti kota ini
yang tak lagi punya tempat untuk dua orang yang bercanda, atau setiap gedung yang tak
lagi menyediakan ruang pertemuan, dan kamar yang sudah terisi.
"Mau ke mana lagi kita, kalau kamar pun tak menerima kehadiran kita?"
"Apakah pertemuan harus memiliki tempat? Kamar atau ruang pertemuan,
misalnya?"
"Lantas kalau tidak di sini, di mana kita bisa mengurai percakapan?"
"Bumi ini begitu luas. Di mana pun kita singgah, di situ tersedia tempat bagi
orang-orang yang ingin bercakap. Mungkin juga bercinta…."
"Bercinta?" aku terpana.
Bercinta. Ini kata yang sudah sangat lama kulupakan dari kamus di kepalaku
sehingga aku tak lagi mengenalnya. Tapi sekarang kata itu menggodaku. Ya. Sejak
orang yang kucintai habis-habisan, telah pergi entah ke mana dan tanpa tanda pula. Aku
juga pernah kecewa lantaran kata itu yang sering dimaknai secara tak beradab. Aku
ditinggalkan lalu aku kembali sendiri mengembara di bumi ini. Bertahun-tahun aku tak
bersentuhan dengan perempuan dan lelaki.
"Kau sediakan cintamu untukku, walau hanya sekejap? Hanya semalam, meski
harus berkurang beberapa jam oleh perjalanan?"
"Akan kusediakan," jawabmu lirih. "Kemarilah, aku memang sudah amat
kesepian."
"Benarkah begitu, Sunyi?"
"Ya, aku sangat sunyi."
Sekali lagi kaukembangkan sayapmu, menyilakan aku masuk ke dalam dekapan
sayapmu yang kuangankan sebagai selimut itu. Ah tidak. Aku seperti kanak-kanak yang
membayangkan sebuah kain ayunan jika matanya terasa berat mengantuk. Sang ibu
kemudian akan menyanyikan nina bobo hingga ia terlelap.
Aku ingin sekali seperti itu. Di dalam dekapan sayapmu.
*
102
di taman ini
kau terasa amat lain
dari kedua tanganmu
tumbuh sayap amat luas
hingga dapat menenggelamkan tubuhku
dan membawaku terbang….
MALAM mulai berembun. Di taman ini, kau rasakankah, ada kabut luruh.
Tubuhmu memutih di bawah cahaya lampu yang tampak meredup. Tetapi, aku masih
dapat melihat senyummu. Anggukanmu. Dan, aku juga masih mampu menciumi aroma
tubuhmu.
"Aku hanya singgah sebentar. Kalau engkau mau, pergilah bersamaku. Sekarang
juga!"
"Tapi, aku masih ingin menatapmu lama, Sunyi," erangku. "Berilah aku waktu
sedikit lagi untuk menikmati indahnya pertemuan ini."
Ingin tanganku memegang kedua sayapmu. Aku mau kau tetap di sini, di taman
ini. Jangan cepat berlalu atau pun pergi. Seperti para peri yang melangkah dengan
kakinya yang ringan. Datang dan pergi. Seperti para kekasih dan pecinta yang
menggandeng sekarung cinta. Menonton film di gedung itu. Memainkan satu reportoar
di panggung pertunjukan itu. Seperti para seniman yang menghujankan karya
adiluhungnya. Seperti Adam yang setia mengembara mencari Hawa. Seperti Hawa yang
harus kehilangan buah cintanya lalu ikut pula melata di padang-padang. Seperti
Zulaikha yang membiarkan jarinya terluka di hadapan Yusuf.
*
KALAU kini aku betina maka kau si perempuan.
"Sunyi, bawakan aku sepi paling sunyi dari hari-harimu. Akan kukecap seluruh
aromanya," bisikku merapat di telingamu. Tersenyum. Kedip matamu menggoda. "Aku
akan mencintainya setuntas malam dan siang."
"Baik, Riuh. Sedari tadi aku sudah siapkan tubuhku untukmu," jawabmu dengan
pelan pula. "Ke mana kita cari persinggahan?"
103
"Kota ini tak lagi menyediakan tempat. Sudah kukatakan sejak tadi, gedunggedung
tak lagi memberi ruang pertemuan, kamar-kamarnya sudah tak ada lagi yang
kosong."
"Lalu apakah kita di sini saja? Sayapku sudah ngaceng untuk terbang!"
sontakmu. Suaramu mengguntur. Aku merapat di sebatang pohon. Kepalaku terbentur.
Tangan kananku mencecap cairan merah yang keluar dari belakang kepalaku.
Aku haus. Maka kuminum cairan darah segar di tanganku ini. Warnanya merah,
Sunyi. Dan kautahu, tiada darah berwarna biru di bumi ini? Selumur darah telah
mengusir hausku. Aku menjadi segar kembali. Bisakah kau bayangkan, sesungguhnya
orang-orang akan merasa segar dan kembali menjadi segar setelah mengeluarkan darah
dari dalam tubuh orang lain? Itukah sebabnya, orang menjadi menjadi pembunuh?.
"Jangan kau ucapkan itu di depanku, Riuh. Perutku mual setiap kali
mendengarnya. Jangan sampai ceritamu menghilangkan seleraku untuk
bercengkerama," pesanmu.
"Tapi Sunyi, tidakkah kau mengubah dulu dirimu menjadi jantan? Biar
pertemuan kita makin indah."
"Kenapa tidak kau saja melepas kebetinaanmu?"
Tiada jawaban. Isa, si lelaki yang pandai membuat burung dari tanah, sudah lama
sekali menghilang dari taman ini. Padahal orang-orang amat membutuhkan
keahliannya: membuat patung-patung burung, burung-burung yang bisa terbang, taman
yang dipenuhi burung-burungan.
"Tak mungkin aku berganti kelamin!"
"Aku pun sudah ditakdirkan bukan jantan," sungutku.
Lalu, apakah mungkin betina bertemu betina dalam sebuah pertemuan amat
indah? Atau jantan mencari cinta dalam tubuh si jantan? Percakapan purba ketika Adam
pertama kali bertatapan dengan Hawa selepas Tuhan meniupkan napas ke dalam tubuh
manusia itu, ialah "apakah kau perempuan?" Lalu Hawa berujar, "Tuhan berjanji akan
menghadiahiku seorang lelaki."
Sebagaimana kutahu pula dari kitab lama bahwa sejak pertemuan yang pertama
dan purba itu, keduanya memilih tempat lain di luar taman penuh pesona itu. Alasannya
saru apabila diintip penghuni taman, juga Tuhan yang sangat suci hanya untuk
menyaksikan sebuah percintaan. Kalau kini kau menginginkan aku menjadi jantan,
104
adakah aku menyalahi keputusan? Ihwal, bagaimana juga tak berani kutentang dan
kutantang.
"Kecuali kau yang berkenan, Sunyi?"
Kau menggeleng.
"Aku tak pernah bayangkan sebagai jantan. Jadi, bagaimana mungkin aku
meminta ganti kelamin? Aku paling membenci jantan dan kejantanan. Mereka yang
berjenis itu seolah segala-galanya dan selalu ingin berkuasa. Tengoklah alam ini rusak
oleh tangan-tangan mereka…"
"Betina juga bisa melakukan yang sama, Sunyi. Para perempuan melahirkan
bayi-bayi yang hanya akan merusak semesta ini. Memanipulasi, menumpahkan darah,
meracik peradaban. Menanam penjahat di mana-mana. Membuka ladang ganja dan
membangun pabrik minuman dan obat," aku membantah. "Lalu anak-anak yang
dilahirkan dari rahim betina itu, menyebarkan racun ke sembarang makhluk."
"Cuma tak separah apa yang dilakukan jantan, Riuh. Para jantan hanya
menabung spermanya ke betina, kemudian mereka pergi. Meranalah betina. Melatalah
para betina…."
Melankolis. "Kau terlalu romantis."
"Tidak juga, Riuh. Aku hanya bicara fakta."
Hening. Taman ini mulai ditinggalkan cahaya. Satu persatu lampu dimatikan.
Hanya lampu yang dianggap vital tetap dihidupkan. Tubuh kita mulai mengelam. Aku
mencuri pandang ke wajahmu. Kau juga mencari-cari cahaya di dalam wajahku. Lalu
saling meraba. Tanganmu lekat di dadaku. Jariku meremas dadamu.
Sebentar lagi sayapmu terbentang. Kau akan ajakku terbang. Kita akan
meninggalkan landasan.
"Ke mana?" tanyamu mengingatkan, ketika kita mulai meninggalkan pucuk
pohon di taman ini.
"Entahlah. Kota sudah kehilangan tempat singgah. Gedung-gedung tak lagi
menyediakan ruang bagi pertemuan. Dan kamar akan terisi hingga beberapa hari lagi.
Apakah kau mempunyai usul?"
Kau kembali menggeleng.
"Kita bisa cari benua lain," tiba-tiba kau bersuara, selepas hening beberapa lama.
"Setahuku sudah tak ada lagi benua di semesta ini. Semuanya telah terhapus oleh
beberapa kali bah sejak Nuh dulu…"
105
"Jangan meracau!" kau mengancam. Tanganmu mencengkeram leherku. Gigimu
sudah dekat mendarat di leherku. Bertaring dan laksana ulu pisau.
"Gigimu bisa birahi?"
"Bahkan mampu melumatmu," katamu ringkas. "Kau tahu aku sudah bernafsu."
"Aku juga."
"Di mana kita singgah?"
"Maumu?"
"Kau ganti kelamin dulu," kau kembali tersadar kalau kita sama-sama betina.
"Tak mungkin," sergahku. "Tapi biarlah, betina bercinta dnegan betina."
"Asyikah itu?"
Malam yang semakin larut membuat kita malas bercakap. Kau terus membawaku
terbang kian meninggi. Entah sudah berapa kota kita lalui. Sungai-sungai memanjang.
Waktu yang tak lagi berbilang.
Kau makin rapatkan pelukanmu. Aku semakin masuk ke dalam sayapmu.*
Lampung, 20 September 2005
106
Parang
Pos : 09/05/2005 Disimak: 226 kali
Cerpen : Isbedy Stiawan ZS
Sumber : Sinar Harapan, Edisi 09/03/2005
SUNGGUH! Jangankan melihat parang (tajam dan mengkilat lagi), melihat
pisau silet saja aku amat takut. Pernah aku menyaksikan ayahku terluka oleh silet saat
mencukur kumis dan jambangnya. Mungkin karena abai atau melamun, pipi ayah
terkelupas oleh silet itu. Darah pun mengaliri pipi ayah. Aku segera menutup mata, tak
berani melihat warna darah.
Tetapi, justru ayah cuma tersenyum. Ia mengambil kapas kemudian mengelap
darah yang ada di pipinya. Ayah berkata, “Luka adalah hal biasa. Setiap orang pasti
akan mengalami, lalu mengapa kau takut?”
Bagi ayah memang hal biasa. Aku membatin. Tetapi, tidak bagiku. Luka dan
darah sangat menakutkan. Kekerasan amat kuhindari. Itu sebabnya, aku bersyukur
bahwa aku hidup dalam lindungan keluarga yang selalu damai. Ayah selalu bertutur
lembut, dan ibu tak pernah lepas dari senyum.
Tetapi, nasihat ayah tidak mengubah ketakutan pada benda yang dapat melukai.
Sampai kini aku masih trauma. Kalau tidak karena terpaksa, aku tak ingin mengiris
bawang atau sayuran dengan pisau. Lebih fatal lagi, setiap kali melihat darah tubuhku
segera gemetar. Lemas. Bahkan aku pernah pingsan manakala anak lelakiku satusatunya
bocor di kepalanya karena jatuh. Untunglah, tetangga sebelah membawa Rio ke
puskemas terdekat. Aku siuman setelah Rio pulang dengan perban menempel di
kepalanya.
Traumatikku yang akut itu, membuatku tak berani menonton film-film keras:
perkelahian atau pertikaian yang menggunakan senjata tajam—juga pistol. Aku juga
akan menghindar jika di jalan kusaksikan terjadi kecelakaan.
Itu sebabnya, semasa remaja dulu aku pernah membayangkan ingin
mendapatkan suami seperti ayah. Selalu kutepis khayalku pada lelaki yang kejam pada
perempuan, kubuang jauh-jauh begitu anganku tertuju pada suami yang selalu
menganiaya istrinya. Seperti tetanggaku sebelah dulu, yang setiap hari menindas dan
menindak istrinya.
107
Pernah kukatakan pada ibu, kalau aku berada pada posisi seperti perempuan
tetangga sebelah tentu secepatnya aku angkat kaki dari rumah. Apakah cuma lelaki itu
seorang di dunia dapat dijadikan suami? Memangnya perempuan tak boleh melawan?
“Lebih baik aku hidup menjanda, daripada dianiaya terus!” aku menggerutu.
“Setiap orang tak sama nasibnya. Mungkin perempuan itu bernasib seperti itu,
punya suami yang suka menindas…” ujar ibu lembut. Membelai rambutku. Nasihat ibu
merasuki batinku.
Hanya saja aku tetap tak sepakat dengan pendapat ibu. Nasib dapat kita ubah,
kalau kita mau keluar dari sana. Cuma hal itu tak sanggup kuucapkan. Aku bahagia
melihat rumah tangga ibu. “Aku ingin suamiku seperti ayah. Aku ingin punya suami,
selembut ayah,” ujarku pelan. Ibu tersenyum. Katanya kemudian, “Amin.”
Pada kesempatan lain kukatakan pada ayah, mengapa lelaki sering menindas
istri? Ayah tertawa, setelah itu membantah. Ia tak sependapat pada anggapan bahwa
lelaki identik superior dan suka menindas perempuan. “Kamu hanya melihat satu kasus.
Padahal banyak lelaki atau suami yang sangat menyayangi perempuan…”
“Maksudnya, seperti ayah?”
Ayah mengangguk. Tersenyum.
“Ayah pengecualian. Jangankan menganiaya ibu, berkata kasar pun tidak pernah.
Ayah malah selalu mengalah…”
“Tapi, bukan berarti ayah kalah kan?”
Kini aku yang tersenyum. Aku mengangguk. Tentu ayah, tentu. Ayah tidak akan
pernah kalah di hadapan ibu. Ayah hanya menempatkan diri sebagai suami yang
menyayangi dan menjaga cinta. Aku menggumam. Ayah memang lelaki idolaku.
Membuatku selalu ingin dekat dan rindu pelukannya.
“Suamiku kelak, kuharap seperti ayah…” desisku.
“Kau sudah berpikir rumah tangga?” ayah mendelik.
Wajahku menunduk. Aku enggan menatap mata ayah.
“Maafkan Niken, ayah…”
Tiba-tiba ayah terbahak. “Ooo tak apa-apa, ayah tidak marah,” ujar ayah
kemudian. “Itu artinya, kau sudah besar. Jika seseorang sudah berbicara soal rumah
tangga, pertanda ia sudah layak dikatakan dewasa…”
Dan memang dua tahun kemudian, setamat SMA aku dijodohkan dengan lelaki
yang tak jauh dari rumahku. Bahkan, jika diurut masih ada pertalian saudara.
108
Keluargaku dengan keluarganya boleh dikata masih bersaudara, meski sudah amat jauh.
Kala itu aku berpikir, kini atau kelak aku akan tetap berumah tangga. Lelaki ini atau
lelaki lain, tetaplah aku akan menjadi istri. Tak mungkin berubah aku jadi suami, jika
perjodohan ini kutunda…
***
PARANG sepanjang 30 sentimeter kini menari di depan mataku. Bagai tangan
seorang penari, ia meliuk sekaligus mengancam. Aku benar-benar dicekam ketakuan
yang sangat. Ini bukan yang pertama kali—mungkin sudah berpuluh kali. Barangkali
hanya karena takdir, aku belum mati di ujung parang itu. Dan, karena takdir pula,
kiranya aku tak mampu keluar dari jeratan setan ini.
Pernah aku lari ke rumah orang tuaku. Beberapa minggu lamanya. Tetapi,
lelakiku menjemput, dan orang tuaku tak sanggup mencegah. Ibu berkata padaku,
bagaimana pun kini kau sudah menjadi milik suamimu. “Ibu dan juga ayahmu, hanya
dapat berdoa kalian bisa rukun, saling menyayangi dan mencintai…”
Ah! Ibu tak mengerti bagaimana pedihnya hatiku sebagai perempuan. Ibu tak
pernah merasakan menjadi istri yang setiap waktu terancam jiwanya. Ibu biasa
terlindung oleh kelembutan dan kasih sayang ayah. Tidak seperti aku, anakmu yang
malang ini. Ayah juga tak mampu menyelami lautan hatiku yang dalam. Hanya dapat
berenang di permukaan. Sebab ayah tak pernah memperlakukan ibu sekasar yang
kualami kini. Ayah yang periang mengisi hari-harinya selalu dengan riang. Ayah dan
ibu, sekali lagi kuakui, adalah pasangan ideal. Impian setiap orang. Meski, kata ibu dulu
sekali, “Setiap orang tak sama nasibnya.”
Mungkin nasibku harus seperti ini, ibu? Begitu ibu, kutafsir ucapanmu dulu kala
aku remaja. Entahlah. Aku memang bukan juru tafsir suatu kata menjadi peristiwa
nyata. Aku bukan ahli dalam hal menujum nasib orang, apalagi untuk diriku sendiri.
Entah mengapa, yang pasti, aku dapatkan suami yang dingin dan keras. Hanya
karena Rio seorang—anak lelakiku, membuat rumah tanggaku masih dapat
kupertahankan. Tetapi kelak, bila Rio sudah agak besar dan kedua orang tua kami sudah
tiada, tentu akan kutinggalkan perahu ini. Aku akan melompat ke bahtera dan
merenanginya bersama Rio. Di pulau mana pun aku bisa singgah, walau lelah. Di kanal
mana pun aku bisa sejenak istirahat, meski hatiku penat.
109
Bahwa sampai kini Isman masih jadi suamiku, semata demi keutuhan hubungan
kedua orang tua kami. Padahal sudah beberapa tahun ini kami tak lagi tidur seranjang.
Bahkan Isman acap tidak tidur rumah ini. Suatu kesempatan aku pernah meminta cerai,
tetapi Isman berkeras tak ingin melepas.
“Kita berpisah, kalau di antara kita ada yang mati,” tandasnya. “Kalau belum ada
yang mati, sampai kapan pun kau tetap istriku. Jadi kau jangan macam-macam!”
“Aku istrimu? Apa buktinya kau adalah suamiku, secara badani dan batiniah kita
sudah tak menyatu lagi?” bantahku.
Ia berang. Mendorongku ke ranjang, melempar asbak yang hampir mengenai
wajahku. Aku terisak karena tak ingin terdengar oleh tetangga. Rio mendekat dan
memeluk erat tubuhku. Isman menarik lengan Rio, menyuruhnya keluar kamar. Setelah
itu kembali ia menghampiriku dengan parang. Parang yang mengkilat dan tajam itu
yang selalu dipakainya untuk mengancamku. Tubuhku gemetar. Aku benar-benar
ketakutan.
Jangankan parang, diancam dengan pisau silet saja aku tak berani. Aku tak
sanggup membayangkan parang itu mengenai tubuhku, menyayat kulitku lalu darah
mengucur dari badanku. Jangankan darah manusia, ayam yang terpotong pun aku tak
berani melihat darahnya. Sekarang, akankah aku harus melihat kucuran darah, darahku
sendiri?
O tidak! Cuma saat tengah malam ini, bagaimana aku dapat keluar dari rumah
ini? Rumahku sendiri, rumah yang kubangun dari seluruh gajiku sebagai pegawai
negeri. Meski belakangan ini tak lagi kurasakan kenyamanan, selain seperti berada di
kawah neraka paling bawah.
Isman masih mengancam. Parang sepanjang 30 sentimeter tergenggam erat di
tanganya. Aku tak berkutik. Tetapi aku juga tetap bergeming. Pikiranku, kalau memang
harus mati kapan pun bisa: sekarang atau kelak sama saja. Sama persis kala aku harus
memutuskan bahwa sekarang atau nanti, aku akan kawin. Pilih Isman ataukah lelaki
lain, tetaplah aku sebagai istri. Tak akan pernah berubah, misalnya aku menjadi suami.
Jadi, bahwa aku siap dan pasrah pada kematian, semata karena aku tak lagi berpikir soal
waktu.
Kalau pun harus menimbang, tiada lain hanyalah soal Rio. Kalau kumati, siapa
perempuan yang berkenan menjadi ibu bagi Rio? Ia akan kehilangan perhatian dan
kasih sayang, sebagaimana anak ayam kehilangan induk. Kutepis segera bayangan
110
kematian dari benakku. Segera kubangkit dari ranjang. Aku harus melawan, harus bisa
keluar dari kamar yang seakan dipenuhi oleh maut.
Parang sepanjang 30 sentimeter itu masih di depan mataku. Hanya tak lagi
mengayun-ayun selayaknya jemari seorang penari. Mata Isman kini tertuju ke
selengkanganku yang terbuka. Segera ingin kututup pakaianku yang tadi melindungi
kedua pahaku. Namun, Isman segera mendekat. Kembali kuberingsut ke tengah ranjang.
“Kau masih cantik, Niken…”
Aku membuang wajah.
“Kenapa kau selalu menjauh dariku. Bukankah aku belum menceraimu, jadi kau
masih tetap istriku?” Isman mendekat.
“Jangan, Isman. Aku kasihan dengan Rio, kalau kau membunuhku…” Aku
benar-benar ketakutan. Khawatir sekali, jika ia mengayunkan parangnya ke tubuhku.
Aku mengiba, terus beraharap agar suamiku tidak berlaku bodoh. Membunuhku.
Bagaimana Rio kelak? Kusebut-sebut nama Rio. Anakku memanggil-manggilku. Kami
terpisah oleh pintu kamar yang terkunci.
“Perilakumu menyakitkan,” kembali kudengar suara Isman, di antara suara
gemeretak giginya. “Untuk apa kau berhubungan dengan lelaki itu, kau selalu mengirim
pesan dari ponselmu. Aku tahu, sudah kubaca semuanya…”
Mendengar itu jantungku berpacu kencang. Bukan tak mungkin, kemarahannya
makin memuncak. Aku lupa menghapus semua pesan singkat di telepon genggamku,
aku benar-benar abai tidak segera menyembunyikan ponselku. Kini sudah tak ada lagi
alasan, mengapa aku mengirim pesan singkat tentang rumah tanggaku. Aku teringat
pesan pertama yang kukirm pada Hary: “Dia ada di sini, dekat denganku. Tapi,
menurutku, terasa amat jauh. Meski dia selalu bilang hanya soal jarak.”
Pesan singkat itu kukirim pada sepotong malam. Setelah itu, beberapa pesan lain
antara kami saling bersahut. Hanya dengan pesan-pesan singkat itu, aku merasa
terhibur. Hanya dengan “mengobrol” lewat pesan singkat di ponsel, kesepianku terobati.
Dan, Hary—lelaki pengusaha yang kukenal ketika ia menjadi rekanan dalam proyek di
kantorku, membalas setiap pesan singkat yang kulayangkan padanya.
Hary sering menasihatiku supaya aku tetap tabah. Kadang pesan singkatnya
penuh dengan semangat hidup. Katanya dalam pesan singkat, “Kuharap suatu kelak,
jarak itu dapat kembali merapat…”
111
Tetapi, aku tak yakin kami bisa kembali menyatu. Cintaku sudah layu.
Kasihsayangku sudah menguning oleh musim garing. “Hidup saja ada mendaki dan ada
lurah, begitu pula cinta?” Hary memberiku semangat. Dan, sejak itu aku semakin akrab
dengan Hary. Pada hari-hari tertentu, kami janji bertemu. Mengelilingi kota dengan
mobil yang dibawa sendiri oleh Hary. Kami mampir di swalayan dan makan siang.
Sebatas itu. Kemudian aku diturunkan di tempat kami biasa bertemu. Hubunganku
dengan Hary, membuat hariku terasa hidup. Aku bisa melupakan kekalutan dan
kekusutan rumah tanggaku. Aku bisa lupa sejenak pada kesepianku…
“Untuk apa kaukirim pesan seperti itu? Itu sama saja kautelanjangi rumah
tangga kita ini…” Isman kembali berucap. Suaranya menggelegar, hatiku berdebardebar.
Ingin kucoba jelaskan bahwa dengan mengirim pesan singkat itu kepada Hary,
setidaknya aku telah melepas sumbat di dadaku. Sumbat itulah, entah apa namanya,
yang selama ini membuatku sesak. Lalu, salahkah aku mencabut barang sedikit sumbat
yang ada itu sehingga dengan begitu aku bisa bernafas?
“Tidak untuk apa-apa,” jawabku memberanikan diri. “Sebab kalau aku bisa
mengadu padamu, tak mungkin aku kirim pada lain orang?”
Suamiku, entah mengapa, kini menatapku dengan mata setengah layu. Ia
mendekatiku pelan-pelan. Kedua bola matanya terus tertuju ke pahaku yang setengah
terbuka. Tangannya menempel di pahaku. Meraba. Membelai. Aku terpejam…
***
SUNGGUH! Sudah dua tahun ini aku tak mencium aroma keringat dan mulut
suamiku. Wajar kalau kini aku sangat merindukan. Kubiarkan ia makin mendekat,
meraba, dan membelai kulitku. Kupejamkan mataku. Kunikmati setiap inci jemarinya
bermain di tubuhku. Sampai dia terlelap di atas perutku, dengan parang yang
tergenggam di tangan kirinya tampak terkulai di sisi ranjang. Parang itu tak lagi
menari…
Lampung, 21 Desember 2004; 13.22
112
Lelana di Tepi Pantai dan Risalah Silam
Post : 08/15/2005 Disimak: 178 kali
Cerpen : Isbedy Stiawan ZS
Sumber : Riau Pos, Edisi 08/14/2005
BAIKLAH, akan kukisahkan seorang lelaki yang saban malam termangu di tepi
pantai ini. Tentu kau mengira lelaki itu tak waras. Gila. Sebab, mungkin kau
beranggapan bahwa orang waras tak akan membiarkan dirinya dilumuri embun dan
angin laut. Saban malam lagi. Tetapi, sebelum kulanjutkan cerita ini, aku tegaskan dulu
bahwa ia waras. Tidak gila. Itu kutahu ketika suatu malam kulihat ia sedang bercakapcakap
dengan seseorang —barangkali petugas kemanan di sana atau mungkin
pengunjung biasa— entah apa yang dibicarakan, sebab tak bisa menyimak. Lagi pula
malam demikian dingin waktu itu...
Ia, lelaki itu, belumlah tua. Bisa kutaksir sekitar 47 tahun. Badannya berotot,
kulitnya pekat dan seperti selalu dilumuri minyak. Rumahnya tak jauh dari pantai.
Sebenarnya cukup berjalan kaki bisa ia lakukan. Ia lebih banyak diam daripada
bercakap atau bersama orang lain. Cuma sekali itu aku melihatnya bercakap, lalu
selebihnya menyendiri: duduk tertunduk, termangu, dan sambil membiarkan seluruh
tubuhnya berlumur embun dan angin laut. Tetapi, tak jarang pula mulutnya berkomatkamit.
Pernah ingin kutanya kenapa setiap malam ia selalu menuju tepi laut. Adakah
seseorang —atau atau apalah itu— yang tengah dinanti? Mungkinkah ia menunggu
orang yang amat dikenalnya pulang dari melaut? Atau angin, atau debur ombak, atau
(Ah! Aku tak memiliki banyak perbendaharaan pengetahuan tentang laut, pantai, bakau,
ataupun yang berurusan dengan tepi laut!) ia tidak sedang menunggu apa-apa? Sebab,
setiap aku ingin mendekatinya setelah menyapa atau tersenyum ketika berpapasan, ia
kemudian menjauh. Ia langkahkan kakinya menyusuri gundukan tanah yang menjorok
ke air. Di ujung sana, ya di paling tepi pantai itu, ia akan duduk: tertunduk, termangu
sambil membiarkan tubuhnya disantap embun dan angin laut. Seperti tak berasa. Seakan
kebal tubuhnya. Kau dapat rasakan betapa dinginnya berada di tepi pantai pada malam
hari?
113
Demikian. Lelaki itu kukuh. Ia seperti tak merasakan gigil, meski kulitnya tak
dibaluti kain atau baju penghangat. Mungkin anak pelaut. Hanya anak pantai yang
sudah terbiasa dengan suasana dingin seperti itu.
Aku dapat mengetahui ihwal lelaki itu dari seseorang. Dialah yang bercerita
padaku. Dan, kini aku mengisahkan kepadamu...
***
JAM 01.00 dia tiba di pantai itu. Sendiri. Lalu meletakkan sembarang
sepedannya hingga terdengar gaduh. Setelah itu ia menuju paling tepi pantai itu.
Setiap malam ia selalu ke tempat itu. Dengan sepeda yang boleh dibilang sudah
tua usianya, tetapi masih tampak kukuh. Buktinya tak ada lecet ataupun rusak, padahal
setiap sampai di tempat itu ia lepaskan sepedanya begitu saja. Di tepi pantai itu ia akan
termangu berjam-jam, bahkan hingga siang menjelang.
Sudah lebih sepuluh tahun ini kebiasaannya menepi pantai: duduk, tertunduk,
dan termangu sambil membiarkan tubuhnya dilumuri embun dan angin laut. Setiap
malam. Pada waktu yang sama, seakan ia tahu sekali dengan waktu (padahal ia tak
memakai arloji tangan) lelaki itu akan menuju tepi pantai itu. Setelah melepaskan
sepedanya dengan sembarang, ia melangkah ke paling tepi. Ketika siang mengembang
ia akan kembali mendapati sepedanya. Lalu mengayuh. Mungkin ke rumahnya atau
menuju mana.
Lelaki itu, menurut sahibul kisah, bernama Lelana. Anak pantai yang dilahirkan
oleh bapak seorang pelaut dari ibu penjual ikan di Pusat Pelelangan Ikan sekitar 3
kilometer dari pantai ini. Meski anak pantai dari keluarga pelaut, toh ia tak bisa
menembus biru lautan. Ia hanya menanti bapaknya di tepi pantai, menarik temali perahu
untuk menyeret perahu ke pantai. Lalu mengikat di akar bakau. Jika laut pasang, ia tak
pernah abai menurunkan bandul dari besi sebagai jangkar ke dasar air.
Tak perlu lagi disuruh. Tak mesti diperintah dulu. Sebab pekerjaan sepereti itu
sudah seperti menjadi sebuah prosesi: ritual baginya. Bahkan, begitu melihat perahu
Bapak dari kejauhan (kadang masih samar karena tersaput kabut pagi), Lelana sudah
berteriak dari pinggir pantai: "Oooiiiii...."
Dan, bapak (sesama pelaut memanggilnya: Kelana) akan menyambut pula
sahutan anaknya itu dengan ucapan yang sama. Keduanya saling bersahutan, untuk
114
saling memberi tahu hasil tangkapan ikan hari itu dan keadaan Ibu dan dirinya selama
Bapak di lautan...
"Banyakkkkk...."
"Ada di rumahhhh. Lagi masak buat makan bapakkk..."
Lelana lalu turun ke air. Memburu perahu bapak. Ia akan menanti ketika air
sampai di dadanya, dan perahu yang dikayuh bapak mendekat. Ia lepaskan temali. Ia
seret perahu tersebut ke pantai. Seperti orang yang tengah menarik seekor sapi. Bapak
turun ke air kemudian meninggalkan Lelana yang memberesi hasil melaut. Lelana akan
memanggul ikan-ikan itu di pundaknya. Mengikuti jejak bapak yang pulang lebih dulu.
Selalu dan selalu, begitu ia sampai di rumah bapak sedang makan di balai-balai.
Kehidupan seperti itu berjalan seperti biasa. Artinya, bapak akan pulang selepas
subuh. Ibu memasak menjelang subuh, dan Lelana akan datang ke pantai itu seusai
subuh ketika matahari belum lagi muncul. Lalu ia akan berteriak begitu melihat perahu
Kelana seakan menyambut kehadiran bapaknya. Dan Kelana akan menjawab teriakan
Lelana. Setelah itu, Lelana menceburkan dirinya ke laut menyongsong perahu bapak
untuk selanjutnya menyeret ke pantai. Bapak akan turun dan melangkah lebih dulu ke
rumah, selagi Lelana memberesi ikan-ikan di perahu. Sesampai di rumah, bapak sedang
menyantap. Setelah itu, ibu akan membawa ikan-ikan itu ke pelelangan. Lelana akan
menemani bapak makan pagi.
Bertahun-tahun seperti itu. Bertahun-tahun pula rutinitas itu berlangsung.
Sebagaimana roda yang berputar pada porosnya. Sebuah siklus yang akan berhenti
begitu bumi ini mati: tiada.
Laut dan pantai. Ah, sudah demikian akrab bagi Kelana dan Lelana. Bagi seluruh
nelayan yang hidup di sekitar pantai itu. Meski mereka tahu kapan musim badai, musim
ikan atau tiada ikan. Tetapi, melaut adalah wajib dilakukan setiap hari. Tiada hari tanpa
mendedah laut. Apalah arti badai, demikian para pelaut itu selalu berujar, jika ikan-ikan
di lautan menggiurkan untuk ditangkapi. Maka, meski hujan deras atau pun rinai,
mereka akan melepas perahu ke laut. Bahkan, sedingin apa pun angin, tiada kamus
untuk tak menembus pekat di lautan luas. Lelana tahu itu. Dia juga akan tetap ke tepi
pantai menyambut bapak, meski subuh berhujan atau angin laut sedang tak bersahabat.
Kau mungkin tak percaya, Lelana pernah —bahkan terlalu sering— ke tepi
pantai itu bertelanjang dada. Hanya celana kolor amat pendek. Ia menunggu Bapak di
tepi pantai. Lalu turun ke air dan menyongsong perahu bapak. Jika saja kau yang
115
melakukan itu, tentu akan segera masuk angin. Tidak bagi Lelana. Tidak pula buat
Bapak.
Sepertinya, tubuh Lelana itu tak bisa lagi dimasuki angin. Mungkin pori-pori
kulitnya sudah terlalu rapat, sehingga angin tak mampu menyusup. Dengan kata lain,
boleh jadi, angin enggan bersarang di tubuh kokoh itu? Dapat juga, angin dan Lelana
adalah sebagaimana dua orang yang bersahabat: yang satu tidak akan menista yang lain.
Karena sudah bersepakat, tak boleh saling menyakiti. Seperti laut terhadap nelayan.
Sebagaimana ombak dengan gubuk-gubuk yang berdiri di tepi pantai.
Lelana sudah bertahun-tahun menggantung hidup dari laut. Karena itu, ia tak
abai untuk datang ke tepi pantai. Bahkan, sejak bocah ia sudah menjadi anak pantai.
Dengan rambut gimbal kemerah-merahan, Lelana bersama bocah-bocah lain seusianya,
akan bermain di tepi pantai menjelang subuh sambil menanti para orang tua kembali
dari laut. Jika dilihat serombongan perahu mulai mendekat, para bocah itu akan
berteriak-teriak, "Horreee. Horeeee....!"
"Itu bapakku paling depan!"
"Bukan! Bapakku yang lebih dulu!"
"Itu perahu bapakku di kiri. Yang melambai!"
"Bapakku mana ya?" tanya bocah yang lain.
"Ditelan hantu laut!" sergah bocah yang satu.
"Gundulmu!"
Lalu bocah-bocah itu terbahak. Tangannya melambai-lambai. Ingatkah kau
bagaimana tangan-tangan para bocah itu, seperti pemain burung merpati agar si jantan
turun dari terbangnya? Para bocah itu melambaikan tangannya, terkadang dengan baju
atau kain sarungnya. Sementara para bapak yang masih di laut laksana merpati jantan.
Lelana senang sekali setiap mengenang masa bocah seperti itu. Kesenangan dan
keriangan yang tidak mungkin akan terulang dan tak akan terlupakan sepanjang
usianya. Kenangan-kenangan seperti itu, barangkali sudah tidak dijumpai lagi dalam
diri bocah yang hidup kini. Anak-anak pantai seperti hilang, bersama rusaknya alam
pantai untuk bermain para bocah.
Maka kadang ia protes pada musim, mengapa alam dirusak? Kadang ia alihkan
kutukan itu pada orang-orang berduit yang senang menimbun pantai untuk membangun
gedung-gedung bertingkat: hotel, bar, kafe, panti pijat, dan pusat perjudian. Sebab,
karena itu, anak-anak pantai tersingkir. Sejak itu para nelayan pulang tanpa disongsong
116
oleh anak-anaknya—anak-anak pantai berambut bajang ataupun gimbal kemerehmerahan.
Protes dan kutuk Lelana itu kemudian menyebar. Bapak dan Ibu amat khawatir
pada nasib anaknya. Ia disingkirkan ke rumah keluarganya di kampung seberang.
Lelana dipekerjakan sebagai petani. Ke sawah saat matahari pertama menyembul di
Timur, dan ia akan pulang saat sunset. Sungguh, dari anak pantai menjadi anak sawah,
membuatnya tak nyaman. Lelana jemu. Akhirnya kabur dari rumah keluarganya itu. Ke
pelabuhan kapal-kapal besar. Berkawan dengan para siping*) dan hidup menjarah
barang-barang dari kapal-kapal yang bersandar—entah itu di pelabuhan atau di luar
pelabuhan. Sebagai anak laut, berenang dan menaiki kapal sandar di dekat pelabuhan
bukan sulit bagi Lelana dan para siping lain. Pernah ketahuan anak buah kapal, tapi para
siping itu sigap melompat ke laut. Tak bisa diburu.
Tetapi dan tetapi, sepandai-pandai tupai melompat suatu saat akan terpeleset.
Pepatah itu berlaku bagi Lelana. Selihai-lihai ia lompat ke laut dari kapal dan lalu
berenang, ia pun tertangkap polisi laut. Lelana kemudian dijebloskan ke dalam bui, ia
dikurung 3 tahun. Kedua kakinya sempat lumpuh terserang beri-beri kering selama
setahun. Setelah sembuh ia pulang ke orang tuanya. Dan, bapak masih tetap melaut.
Menjadi nelayan yang pergi melaut menjelang magrib dan pulang ke pantai sesudah
subuh. Ia kembali mendapati kegembiraan yang sewaktu bocah ia kecap setiap hari.
Lelana menjadi penyambut bapak saban pulang dari laut...
***
HANYA kegembiraan itu tak lama. Suatu pagi gelombang besar yang
dimuntahkan laut menerjang kampungnya. Dan, bapak yang saat itu tak pulang dari
lautan (tidak seperti biasanya Kelana tidak pulang seusai subuh. Sebab, sebelum
berangkat ke laut Bapak berpesan agar Lelana tak menyambutnya esok pagi, karena
keberangkatannya kali ini akan beberapa hari. Kata Bapak menjelang pergi pada magrib
itu, "Sekarang sedang tidak musim ikan. Bapak mesti beberapa hari di laut biar pulang
membawa banyak ikan. Jadi, kau tak usah menjemput Bapak besok subuh. Tiga hari
lagi barulah kau ke pantai..." Karena itu pula, Lelana ke kota —sekadar bertemu temantemannya
dulu) tak lagi mendapatkan Bapak kembali dengan perahunya.
117
Ia pulang setelah mendapat kabar kalau kampungnya luluh. Ribuan orang mati
terempas dan terseret gelombang dan gempa. Ia hanya dapati bekas rumahnya yang
luluh. Tiada ibu, jasadnya pun tak ditemui...
Lelana menangis sejadinya. Mengutuki alam, mengutui manusia, juga
mengumbar protes pada Tuhan. "Kau ganas. Mangsa kami...."**)
Ia lari ke pantai. Berdiri di paling tepi. Menghadap lautan luas. Tiada perahu
milik Bapak. Tak ada ditemukan jasad Bapak. Mungkin Bapak terlempar ke lain pulau
tak bernama. Barangkali juga tenggelam ke dasar lautan. Mati dan dagingnya menjadi
santapan ikan-ikan besar.
"Bapak kalah... Kini bapak tak mampu menaklukan gelombang yang dulu
dibanggakan sebagai sahabatnya," Lelana merintih.
Pantai itu kini menjadi hitam. Sampah di mana-mana. Bakau tumbang. Perahuperahu
yang semula tertambat, kini dilihatnya terdampar di sembarang: menyangkut di
pohon, di jembatan, di payau, atau di tengah jalan. Tetapi, dari perahu-perahu yang ada
itu, tak ada perahu bapaknya.
Lelana menjerit. Sekuatnya. Kedua tangannya mengembang ke udara, sementara
kedua lututnya bertumpu di pasir pantai itu. Entah apa pula yang ia katakan dan siapa
pula yang dia cerca. Ia terus meracau...
***
KISAH ini masih berkembang di perkampungan nelayan itu. Tak seorang pun
dapat membayangkan, kelak menjadi legenda: dan lebih kesohor dari legenda Si Malin
Kundang ataupun Siti Nurbaya...
Saban malam, sejak pukul 01.00 sampai matahari mengembang, di tepi pantai itu
kau akan menemui seorang lelaki yang berdiri di paling tepi pantai. Duduk tertunduk
atau termangu. Mulutnya komat-kamit seperti melafalkan jejampi. Kadang pula kedua
lututnya bertumpu di pasir sementara kedua tangannya mengembang ke udara. Kedua
tangannya bergerak-gerak. Seperti layangan. Tetapi, ia tak pernah terbang. Lelaki itu,
diakui banyak orang, tidak gila.
Dan, di bawah bakau, sepeda tuanya tergeletak...
118
Suatu ketika, jika ada juru cerita paling mahir, tentu akan menjadikan risalah
Lelana itu akan lebih menarik. Kau dan aku adalah orang-orang yang (akan) setia
mendengarnya. Jadi pendengar!***
Lampung, 01-02 Maret 2005
*) sebutan para penjarah (pencuri) di kapal-kapal muat barang di pelabuhan.
**) Salah satu larik puisi Amir Hamzah.
119
Domino di Bawah Meja
Post : 07/05/2005 Disimak: 195 kali
Cerpen : Isbedy Stiawan ZS
Sumber : Suara Pembaruan, Edisi 07/03/2005
Hanya satu jalan ke rumahku. Selalu jalan itu yang kulalui setiap aku pulang dari
kerja pada larut malam. Di warung rokok depan gang aku menghentikan motor, tirin
untuk membeli sebungkus rokok dan sekotak obat anti-nyamuk jika di rumah sudah
habis.
Warung itu satu-satunya di perumahan ini yang masih buka sampai dini hari.
Penunggunya lelaki muda, kami biasa memanggilnya Ali. Karena itu pula, boleh jadi
alasan mengapa warung itu bernai buka hingga larut. Sejak ada warung Ali, aku tak lagi
khawatir kehabisan rokok pada malam hari-kebiasaanku menjelang tidur. Juga tidak
cemas lagi tak ada obat anti-nyamuk di rumah.
"Biasa bang Is," ucap Ali begitu aku menyerahkan uang Rp20 ribu.
Aku mengangguk. "Belum ngantuk, Li," kataku selanjutnya. Basa-basi.
Aku melirik ke beberapa orang yang asyik bermain kartu. Sejak adanya warung
Ali, warga di perumahan ini biasa main domino. Mulanya, konon, hanya iseng mengisi
waktu panjang pada malam minggu. Tetapi, perekmbangan kemudian kulihat mereka
sudah berani main dengan taruhan uang-dari lima ratus kini sudah seribuan-dan bahkan
setiap malam. Akhirnya, tempat itu jadi arena judi. Selama ini aman-aman saja, artinya
tak pernah digerebek oleh aparat keamanan.
"Mau ikut main bang Is, mumpung ada satu kaki yang patah," tawar pak Sap,
tetanggaku bersebelahan jalan.
Sapto dulunya bekerja sebagai tukang ojek, tapi setelah motornya dijual untuk
membayar sewa rumah kini pengangguran. Lalu mata pencariannya bertumpu dari
permainan domino itu. Sebab itu, setiap malam kulihat Sapto-juga Ujang, Deri, Edo,
Bambang, dan lainnya-ada di tempat itu.
Aku tersenyum. Menggeleng. "Maaf, saya tidak bisa main kartu, tak biasa..."
"Kami juga tak ahli kok. Main-main saja daripada bengong," kata Sapto lagi.
"Maaf, saya benar-benar tak bisa," jawabku. Kemudian mengambil rokok, obat
anti-nyamuk, dan uang kembalian dari Ali.
120
Aku hendak pamit ketika Ujang meminta rokok, membuatku menghentikan
mesti motor. Kurobek bungkus rokokku, dan menyilakan dia mengambil sebatang.
Tetapi, Ujang malah mencomot dua batang, diikuti Sapto, Deri, Edo, dan Bambang
yang masing-masing mengambil sebatang. Berarti enam batang rokokku hilang di
tempat itu. Insiden seperti ini sudah sering kualami. Cuma aku tak berani untuk tidak
memberi. Sedapat mungkin aku menghindari keributan dengan mereka. Apalagi hanya
beberapa batang rokok, walau hatiku kesal. Sebab selama ini aku sudah jadi langganan
dipajak.
Belum lagi aku beranjak, Manto meminta uangku dari kembalian Ali. "Untuk
modal lagi bang, saya barusan kalah."
Aku menatapnya. Memamerkan wajah tak suka. "Utang deh bang, besok saya
bayar. Besok kan abang lewat sini lagi," katanya berharap. Tak urung, kuserahkan juga
lima ribu pada Manto, lalu segera ia kembali ke tempat duduk. Tersenyum. Riang.
Aku seperti selalu kalah di hadapan para penjudi kampungan itu. Bukan aku tak
berani jika harus berkelahi, tapi aku tak ingin bermasalah. Akhirnya aku menghidupkan
kembali motorku. Pulang.
Esok malam, dua malam berikutnya jika obat anti-nyamuk di rumahku habis, aku
akan kembali mampir ke warung Ali. Dan, aku menyaksikan pemandangan yang
menyebalkan. Mereka, lagi-lagi, selalu mengajakku bermain domino. Alhamdulillah,
sampai detik ini aku tidak pula terpengaruh. Aku selalu menolak secara halus, "aku tak
bisa, tak biasa main kartu..."
*
SUDAH dua pekan aku tak pulang malam sehabis bekerja. Tepatnya sejak aku
mendapat giliran shif bekerja siang hari, di bagian gundang. Sehingga aku masuk
bekerja pada pukul 07.15 dan pulang pada pukul 17.30. Karena itu, aku tak lagi
menyaksikan para penjudi itu. Apalagi aku tak pernah membeli obat anti-nyamuk atau
rokok di warung Ali. Cukup ke warung Kiki yang dekat dengan rumahku sehabis
maghrib.
Aku memang bukan seperti warga lain di perumahan ini, apalagi sebagaimana
dilakukan Sapto dan kawan-kawannya di warung Ali. Aku tak terbiasa mengobrol
dengan tetangga di depan rumah sampai begadang. Kecuali ada pertemuan perkumpulan
121
suka duka atau ada warga yang meninggal, barulah aku ke luar rumah. Sekaligus
menganggap acara itu sebagai silaturahmi. Selebihnya aku bersama keluarga di rumah.
Kalau tidak membaca buku-buku agama, aku menemani anakku menonton televisi.
Karena itu, sejak aku bekerja siang aku tak lagi mampir ke warung Ali dan
melihat mereka berjudi. Selain itu, aku bebas dari pajak sebatang atau tiga batang
rokok. Aku pun telah melupakan Manto yang pernah meminjam uangku.
Anakku yang tertua, masih sekolah di SMU kelas 3, jika kebetulan disuruh
ibunya membeli mie goreng dekat warung Ali, selalu bercerita tentang mereka yang
biasa kusebut sebagai "orang-orang malam" itu. Dari Rio aku tahu kalau kini sudah
menambah satu lapak*) lagi, sebelumnya dua meja. Berarti kalau satu lapak yang
bermain 4 orang, maka tiga lapak berarti 12 orang. Belum lagi mereka yang datang
sebagai penonton atau yang cuma meramaikan.
Ali, suatu kesempatan berjumpa denganku di Pasar Tradisional, mengaku sejak
tempatnya sebagai arena domino, masukkan agak lumayan. Ia bisa menjual sebungkus
rokok lebih mahal lima ratus rupiah dibanding warung lain. Meski begitu, ia juga
mengeluh, banyak dagangannya yang diutang oleh penjudi itu dan seret membayarnya.
"Ayah, kok polisi tidak menggerebek penjudi itu ya? Kan lama-mama bisa
meresahkan?" tanya Rio, suatu malam.
"Belum sial aja. Suatu saat juga polisi akan tahu..."
"Tapi, pak polisi yang rumahnya di ujung jalan itu seering di sana. Bukannya
melarang, tapi malah asyik bergurau..."
"Mungkin dia tak enak karena tetangga. Yang menggerebek nanti, tentunya
kawan-kawannya..."
Lalu Rio diam. Ia menyerahkan mie goreng kepada istriku. Sekembali dari
menyerahkan mie goreng, ia berujar lagi, "Apa mereka tak sadar ya pak, kan di
sebelahnya masjid?"
"Hati mereka sudah tertutup," jawabku pendek. "Jadi suara muadzin dan orang
salat pun tidak masuk ke telainganya. Apalagi sampai mengusik..."
"Coba digerebek ya, Yah? Diangkut ke mobil, kan keluarganya malu. Apalagi
masuk teve..."
"Husst.. tak boleh begitu, Rio. Meski kita tidak suka..."
"Habis kesal, Yah." Lalu ia kembali ke ruang tengah. Belajar.
122
Aku kembali menemani Obi yang sedang menonton salah satu sinetron di teve
yang disukai anak-anak. Tentu sambil membaca buku agama yang ada di tanganku.
*
RIO datang dari membeli nasi goreng dekat warung Ali, membawa kabar terkini.
Manto bersimbah darah dari sekujur tubuhnya, dan segera dibawa lari ke rumah sakit.
Menurut Rio, Manto berkelahi dengan Edo. Keduanya bersenjata tajam. Hanya Edo
luka di lengan kanan, dan kini sudah menyerahkan diri ke kantor polisi.
Warung Ali segera ditutup aparat kepolisian. Pemilik warung itu juga
digelandang ke kantor polisi sebagai saksi, di samping beberapa orang lainnya. Aku
keluar rumah, ingin tahu penyebab apa hingga terjadi pekerlahian berdarah itu.
Beberapa orang yang kutanyai, memastikan Manto tak dapat tertolong
nyawanya. Perut, dada kiri, dan lehernya tersabet celurit. Tetapi, dalam hati, aku berdoa
semoga ia selamat. Kalau pun tidak tertolong lagi nyawanya, aku sudah mengikhlaskan
pinjaman uang Rp5 ribu kepadaku. Sejak ia meminjam dulu, aku menganggap tak
mungkin uangku itu bakal kembali. Karena itu sudah kuihlaskan.
Tak lama kami menerima kabar dari orang-orang yang mengantar Manto ke
rumah sakit. "Manto mengembuskan nyawa begitu diturunkan dari mobil," kata Arif,
pak RT.
"Manto tak bisa tertolong lagi..." ucap yang lain.
Istrinya meraung-raung. Menimpuki warung Ali. Dia menganggap karena
warung itulah, suaminya kerap keluar rumah dan berjudi. Ternyata tak saja istri Manto
yang menumpahkan emosinya kepada warung Ali, tapi istri Deri dan Sapto. Setelah
puas menimpuki warung Ali, istri Manto dibawa Ketua RT ke rumah sakit untuk
membawa pulang jenazah suaminya. Pak Zainail, orang terkaya di jalan Ester segera
mengeluarkan mobilnya dan menyilakan kami naik.
Ujang yang malam itu kebetulan tidak ikut main, tak dibawa ke kantor polisi
sebagai saksi. Dari dia kutahu kenapa perkelahian berdarah itu bisa terjadi.
"Manto curang. Sementara Edo lagi kesal karena kalah..."
"Maksudmu, Jang?" kataku ingin tahu. Kupikir dalam berjudi-di meja judibermain
curang adalah hal biasa. Seperti dalam dunia politik, tak ada pliitisi yang fair.
Para politisi tahu benar istilah "tak ada kawan abadi, tak ada lawan abadi. yang ada
123
adalah kepentingan." Kukira demikian pula di arena judi, bermain curang pun halal.
"Kenapa harus sampai berkelahi, kan dalam berjudi melakukan kecurangan biasa?"
"Itulah penyebabnya. Edo tak terima dicurangi Manto," jawab Ujang lagi.
"Curangnya bagaimana?"
"Manto menyembunyikan satu domino di bawah meja. Dikiranya Edo tak
melihat ketika ia mengambil kartu di bawah meja dan membuang ke tanah domoni di
tangannya. Lalu, Edo menegur Manto. Rupanya Manto tak terima ditegur begitu,
langsung meninju Edo. Lalu keduanya berkelahi. Bambang melerai. Kami kira sudah
selesai, eh diam-diam Edo pulang membawa celurit. Manto tak mau kalah ia mengambil
pisau dari warung Ali, keduanya pun berkelahi lagi dengan senjata tajam," cerita Ujang.
"Kenapa tidak segera dipisah?"
"Siapa berani bang memisah orang yang berkelahi dengan senjata, apalagi
keduanya sedang mabuk. Bisa-bisa kena sabetan pisau..."
Aku terdiam. Dalam hatui, sungguh, aku tertawa. Tak perlu arena perjudian itu
diberhentikan oleh aparat kepolisian. Perkelahian itu-walau harus ada korban nyawatelah
menghentikan seluruh aktivitas perjudian di depan gang komplek perumahan
kami. Bahkan Ali, sejak itu, tak diperkenankan oleh warga membuka kembali
warungnya. Warung Ali dirobohkan para istri penjudi, dan isinya dibakar.
Tak lama kemudian, sepasukan aparat kepolisian datang ke tempat kejadian.
Mencari informasi sebanyak mungkin dari sejumlah orang. Aparat kepolisian juga
berjaga-jaga di depan warung Ali, jangan sampai warung itu jadi amukan massa:
dibakar. Kalau itu terjadi, bukan tak mungkin, bangunan lain akan termakan si jago
merah.
Ketika aku kembali bekerja malam, aku tak lagi melihat sekelompok "orangorang
malam" yang bermain domino di tempat itu. Tak lagi kudengar suara kartu yang
dibanting di atas meja. Tempat itu sepi dan gelap.
Lampung, 25 Agustus-3 September 2004
*) istilah lain dari meja judi, biasanya dipakai untuk istilah koprok dadu.
124
Batu itu tak Terbang ke Langit
Post : 06/27/2005 Disimak: 242 kali
Cerpen : Isbedy Stiawan ZS
Sumber : Media Indonesia, Edisi 06/27/2005
SELEPAS zuhur jenazah selesai dimakamkan. Para pelayat pulang setelah doa
ditutup dan taburan kembang menghiasi gundukan tanah merah yang masih basah.
Kudekati anak almarhum. Kugamit tangan kanannya kemudian kubisikkan kalimat
nasihat, "Ikhlaskan yang telah pergi. Semoga kau tetap tabah."
Ia mengangguk. Tersenyum. Aku berharap ia tak mendendam pada orang-orang
kampung yang telah menghabisi nyawa bapaknya. Kami menuruni perbukitan sebagian
ladang miliknya di belakang rumah (katanya akan dijadikan perkuburan keluarga).
Menyeberangi balong pelihara ikan, meniti jalan setapak dan kemudian menanjak.
Anak almarhum adalah temanku di kota. Kami sama-sama bekerja di sebuah
pabrik sepatu. Kalau aku di bagian mesin, sedang ia pada pengepakan barang. Meski
lain bagian, tapi kami bersahabat. Sebab kami tinggal sekamar di bedeng milik pabrik.
Ia pernah bercerita tentang bapaknya. Katanya, sampai usia 50 tahun bapaknya
tak juga meninggalkan kebiasaan buruknya. "Siapa pun di kampungku tahu kalau
bapakku suka berjudi. Bapak juga sering meminta jatah keamanan di pasar," ia
menjelaskan. Sudah tak terhitung lagi ia meminta agar bapaknya meninggalkan
perbuatan buruk itu. Orang yang sudah tua seharusnya tobat dan ingat pada kematian.
Tetapi, bapaknya malah tersinggung. Ia didamprat dan diusir oleh bapaknya, bahkan
diharamkan menginjak rumahnya. Sejak itu sahabatku itu tak pulang, apalagi ia tak lagi
punya Ibu. Dan, kebiasaan buruk bapaknya makin menjadi-jadi. Sudah tak ada lagi yang
mengontrol bapaknya. Tak ada yang mengingatkannya. Kelakuan buruk bapak kian
berkibar. Tak cuma berjudi, mabuk, dan memalak pedagang di pasar. Bahkan, ia kerap
mengganggu janda dan istri orang!
Sebagai anak, ia mengaku, sudah cukup mengingatkan bapaknya. Ia kirim surat
yang isinya menasihati agar bapaknya bertobat, kalau tidak menitip pesan kepada
saudara ataupun pamannya. Cuma sejauh itu bapaknya tak terpengaruh. Begitulah,
sampai ia mendapat kabar kalau bapaknya tewas di tempat karena dikeroyok.
Rumahnya dihancurkan. Konon orang kampung sudah habis kesabaran. Bapak ketahuan
125
mengganggu istri orang. Dan, para pedagang di pasar ikut menghakimi, lantaran sudah
bosan diperas. Semula sahabatku enggan pulang lantaran malu mendapati bapaknya
mati karena dihakimi massa. Cuma aku terus memaksanya agar ia mau menjenguk dan
menguburkan bapak. Aku bilang padanya, “Anjing saja kalau mati wajib kita kuburkan.
Apalagi yang mati itu bapakmu…”
Ia pun menyerah. Ia mengajakku untuk menemaninya.
Kami berboncengan dengan sepeda motor. Kampung sahabatku itu di balik Bukit
Barisan. Tepatnya di Desa Waiheni. Untuk mencapai desa itu dengan waktu yang tak
begitu lama, harus menembus taman nasional. Udara pagi berselimut kabut kutembus.
Tubuhku dingin. Sepanjang jalan yang menanjak, menurun, dan berliku yang terhampar
hanya belantara: hutan penghijauan, hewan yang dilindungi.
Aku tak hendak membayangkan jika motor kami ngadat di tengah belantara ini.
Aku juga tak ingin sering bertanya kapan kami sampai di kampung sahabatku. Meski
perjalanan kami sudah dua jam, dihitung pertama kami menaiki Bukit Barisan. Kami
tiba di rumah, jenazah masih di pembaringan. Pekuburan sedang digali. Air untuk
mandi jenazah sudah disiapkan. Kain kafan pun sudah disediakan.
"Tentulah adik bapak yang menyiapkan semua ini," bisik temanku. Ia tahu kalau
aku hendak bertanya tentang semua itu. "Bapakku hanya punya adik satu, perempuan.
Rumahnya setikungan dari sini...."
***
SELEPAS asar temanku mengajak mandi di Way Bambang. Tiga kilometer dari
rumahnya. Aku setuju. Dengan riang kuterima ajakannya. Kalau mandi dengan air
sumur sudah biasa, pikirku. Sudah lama aku tak mencecapi air sungai. Di kota, sungai
penuh oleh sampah dan limbah pabrik ataupun rumah tangga.
Aku bawa handuk dan sabun. Temanku juga. Namun aku heran ketika melihat ia
membawa dua lembar karung bekas beras. Dan aku makin terheran-heran, sesampai di
sungai ia memunguti batu-batu di pinggir sungai lalu dimasukkan ke dalam karung.
Ketika kutanya untuk apa batu-batu itu, ia jawab dengan enteng, bahwa batu-batu itu --
mereka menyebutnya sebagai "batu amal"--digunakan untuk menghitung berapa banyak
amal para takziah malam nanti selama tujuh malam. "Satu batu berarti sembilan kulhu.
Jadi kalau sebelas batu, berarti 99," katanya. Ia pun mencontohkan, aku menyimaknya.
126
Setiap malam seusai takziah, batu-batu yang terpakai akan dikumpulkan dan
dimasukkan ke dalam karung khusus. Anak-anak muda akan telaten menghitung dan
mencatat di buku. Semakin banyak batu yang terpakai, makin menggembirakan
keluarga yang ditinggalkan. Seperti juga ketika jenazah disalatkan, banyak orang yang
menyembahyangkan menunjukkan kalau yang mati itu disenangi masyarakat semasa
hidupnya. Setelah nujuh hari, batu-batu amal itu akan diletakkan di atas gundukan
tanah. Batu-batu di atas makam itulah sebagai simbol berapa banyak amal orang yang
berada di dalam kubur.
Aku benar-benar heran. Tapi, ia seperti tahu apa yang ada dalam benakku. Ia
segera menjelaskan, kalau itu sudah menjadi tradisi di kampungnya. Sudah bertahuntahun
dan turun-temurun diyakini dari generasi ke generasi. Orang kampung percaya
betul dengan tradisi itu. Mereka yakin sebagai batu amal, batu-batu itu akan terbang ke
langit. Lalu meringankan dosa yang mati. Batu-batu amal itu juga akan menjaga si
mayat di dalam kubur. Jika makamnya disemen, maka batu-batu itu akan ditabur di
tengah-tengahnya.
"Kau bantu aku malam nanti...."
"Maksudmu?" aku tak mengerti.
"Kau ikut membaca alfatihah, kulhu, yaasin, dan zikir. Berapa banyak amal yang
kau baca, terlihat dari batu yang kau kumpulkan. Semoga dengan amalmu, dosa
bapakku bisa berkurang," katanya kemudian.
Terdiam. Aku ingin membantah. Bahwa amal seseorang bukan ditentukan oleh
batu-batu itu, bukan oleh amal dan kebaikan orang lain. Melainkan oleh perbuatan
baiknya sendiri. Tak akan batu-batu itu terbang ke langit. Meminta Tuhan mengurangi
barang secuil pun dosa orang yang telah mati. Amal seseorang terputus begitu ia mati,
kecuali sedekah ilmu dan doa dari anak-anak yang saleh. Batu-batu itu tetap sebagai
bilangan jumlah, berat dalam timbangan. Tetapi, bukan hitungan amal. Bukan pula sakti
karena ayat-ayat yang dibacakan untuk menjaga kuburan. Tak.
Tak kurang 75 petakziah duduk bersila di tikar pandan, di pekarangan rumah di
bawah langit hitam. Sekitar sepuluh lampu stromking menerangi halaman rumah. Orang
kampung yang bertakziah berebut mengambil batu-batu dari karung. Mungkin ada yang
50 kerikil, 25, dan tentu ada yang melebihi 100 batu. Lalu sunyi. Amat hening. Masingmasing
bibir petakziah berkomat-kamit, kemudian memisahkan satu batu, dan
seterusnya.
127
Untuk menjaga perasaan temanku, aku pun ikut memisahkan batu-batu yang
diberikan di depanku. Aku seakan ikut larut mendoakan almarhum. Aku tersenyum
ketika sahabatku menunjukkan tatapan senang yang dikiranya mengikuti tradisi itu.
Tetapi, aku amat percaya, orang yang membaca Alquran walau hanya seayat akan
mendapat pahala. Dicatat Tuhan sebagai kebaikan.
Malam pertama takziah terkumpul batu amal dua ember. Malam berikutnya
hanya satu setengah bakul kerendon. Pada malam ketiga hanya satu berunang, dan
malam berikutnya terkumpul hampir dua ember. Malam ketujuh terhimpun dua
setengah ember. Total selama nujuh hari takziah, batu-batu amal terkumpul sepuluh
ember. Batu-batu amal itu pada hari ke delapan diletakkan di atas makam almarhum.
***
SELEPAS zuhur kami pamit dengan orang kampung untuk kembali ke kota.
"Terima kasih, kau telah banyak membantuku. Entah dengan apa aku bisa balas
kebaikanmu," kata temanku, ketika kami menuruni Bukit Barisan. Meninggalkan
rumahnya.
Beberapa kali ia pandangi rumahnya yang nyaris punah karena dirusak massa.
Ada genangan air yang masih tersisa di pipinya. Ia memendam kesedihan.
"Sudahlah," kataku. "Tak baik lama-lama bersedih. Kita dilarang meratapi
kematian," lanjutku di atas motor. Sebentar lagi kami akan masuki hutan lindung.
"Aku tidak bersedih karena bapakku mati," jawabnya dengan suara tersendat.
"Aku hanya kecewa, kematian bapakku tak bisa mengundang lebih banyak lagi orang
yang bertakziah. Apakah karena bapakku penjahat? Apa karena kami bukan keluarga
terhormat ataupun kaya?"
"Apa maksudmu?"
"Di kampungku, keluarga terhormat dan kaya akan dihormati. Bahkan sampai
mati pun, orang akan berduyun-duyun melayat dan bertakziah. Sehingga makin banyak
batu amal yang bisa terkumpul. Tetapi, bapakku? Kau sudah melihat sendiri bukan?
Hanya sepuluh ember selama nujuh hari! Keterlaluan. Aku benar-benar kecewa," dia
melanjutkan. "Sekiranya aku punya duit akan kubayar orang kampung untuk datang
bertakziah...."
"Untuk apa?"
128
"Untuk mengumpulkan batu-batu amal," jawabnya singkat. "Aku malu kalau ada
yang melihat makam bapakku, dan mendapati batu-batu amal hanya sedikit. Aib bagi
keluargaku jika ia bercerita kepada orang lain..."
"Jadi..."
"Makanya aku menambah dengan batu-batu yang tak terpakai, tetapi kukira
masih sedikit," katanya. Sepertinya ia khawatir terdengar orang lain atau karena ia sedih
dan kecewa sehingga suaranya sangat pelan.
Temanku tak akan pernah tahu, kalau aku di depannya kini tersenyum-senyum.
Sebab setiap malam aku mencomot tiga sampai empat tumpukan batu, kemudian kuakui
sebagai jumlah amalku. Ditambah lagi sebelum ke makam bapaknya pagi tadi, aku telah
mencuri setengah karung batu tak terpakai para takziah, lalu kucampur dengan batu
amal lain. Dan sepuluh ember batu itulah yang kemudian ditabur di atas gundukan
kuburan almarhum. Batu-batu yang tak akan terbang ke langit....
Wayheni Lambar 13 Juni--Bandar Lampung 21 Juni 2005
Catatan: Way Bambang (Sungai Bambang) ada di Dewa Wayheni, Bengkunat
Krui, Lampung Barat. Dinamakan sungai Bambang karena ada cerita di zaman dulu
bahwa sungai itu kerap membambangi atau menghanyutkan orang dan benda lainnya.
Ingat sebambang yang berarti melarikan.
Nujuh hari, tradisi ini masih berkembang di sebagian muslim. Namun dalam
konteks cerita ini, tradisi menggunakan batu kecil yang diambil dari pinggir kali (batu
kali) saat membaca ayat dan doa pada malam takziah untuk menghitung jumlah amal
maka disebut "batu amal", sudah berlangsung turun-temurun--terutama di Desa
Wayheni, Bengkunat, Lampung Barat.***

0 Response to "Kumpulan Cerpen Isbedy Stiawan ZS"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified