Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Kumpulan Cerpen Isbedy Stiawan ZS II

Perempuan yang Berenang Saat Bah
Post : 04/13/2005 Disimak: 398 kali
Cerpen : Isbedy Stiawan ZS
Sumber : Republika, Edisi 04/10/2005
Entah dari mana ia tahu kalau aku berada di kota ini. Pagi-pagi sekali, ia
menelepon dan mengharap aku menemuinya. Aku sempat kaget ketika penelepon itu
menyebut namanya: Shinta Larasati. Kemudian kudengar ucapan syukur bahwa ia
selamat saat gempa dan tsunami beberapa hari lalu. "Nta selamat. Juga anak kembarku,"
lanjutnya dengan tetap menyebut dirinya Nta sebagai sapaan dari namanya. "Meski si
kembar masih harus dirawat. Ia banyak meminum air."
"Suamimu?" segera kutanya nasib suaminya, Teuku Nurgani, orang Aceh. Dan
karena Nurgani, dia dibawa ke kota ini setelah menikah tiga tahun lalu. Shinta tak
langsung menjawab. Beberapa kejap terdiam. Aku yakin, gagang teleponnya masih
menempel di telinganya. Aku menanti cemas apa yang akan dikatakannya. "Abang tak
bisa diselematkan. Ia digulung gelombang besar, dan sampai kini Nta belum
menemukannya. Tapi Nta yakin, abang sudah meninggal," jelasnya beberapa kejap
kemudian. Terdengar isaknya.
"Lalu, kau di mana sekarang?" secepatnya kutanyakan posisinya. Aku tak lagi
berpikir apalagi bertanya dari mana ia dapat informasi kalau aku ada di Banda Aceh.
Bahkan aku juga tak menceritakan mengapa dan untuk urusan apa aku datang ke kota
yang nyaris punah dari peta bumi ini. Kukira, dan ini selalu kukatakan kepada temantemanku,
ini tidaklah begitu penting. Aku datang bukan mengataskan namakan relawan
yang acap ditulis secara resmi, juga tak menggunakan suatu lembaga apa pun.
Ia menyebut suatu tempat di sekitaran Bandara Blang Bintang. Tak kutanya
apakah ia di penampungan para pengungsi ataukah di suatu rumah. Sebab kemudian ia
menceritakan detik-detik ia melawan maut. Katanya, ketika semburan gelombang
berkekuatan dahsyat, ia berlari kencang menghindar kejaran air. Si kembar didekapnya
erat-erat. "Nta tak mau melepaskan salah satu si kembar. Dalam pikiran Nta lebih baik
mati bersama, atau kami selamat bertiga," katanya.
130
Shinta bercerita bahwa saat itu yang terpikir hanyalah tempat berlindung. Tetapi,
sampai lebih 50 meter ia berlari tak satu pun tempat yang dianggapnya dapat
menyelematkannya. Ia terus lari. Sekencangnya. Kedua anaknya-Ranti dan Santiterguncang-
guncang dalam dekapan tangannya. Ia kalah dengan kekuatan lari air.
Shinta, demikian ceritanya, sempat tergulung dan berenang dalam air bah sampai ia
tertolong tembok yang ternyata adalah dinding sebuah Masjid.
Shinta berkata, "Nta naiki tembok masjid itu. Tak berpikir apa-apa, selain ingin
selamat. Ingin selamat. Nta memohon diselamatkan Tuhan. Ketika air mulai surut, Nta
langsung sujud syukur..."
"Suamimu di mana saat itu?"
"Abang sedang jalan pagi...," lalu suaranya tersekat. Isaknya kembali kudengar.
"Nta tak punya siapa-siapa lagi di sini. Nta takut," ujarnya lagi.
Ah! Shinta Larasati. Nama itu kembali akrab di benakku. Padahal sejak Teuku
Nurgani menikahinya tiga tahun silam, aku sudah melupakannya. Namanya sudah
kuhapus dari memoriku, bahkan seluruh nomor telepon dan alamatnya sudah kubuang
dari notesku. Aku tak ingin mengganggu kebahagiaannya. Tak hendak mengusik
kehangatan rumah tangganya. Betapa pun ia pernah singgah-bahkan sulit terpisahkan,
dari hatiku. Tuhan telah menentukan lain. Cuma tiga bulan perkenalannya dengan
Teuku Nurgani, ia pun dilamar. Setelah menikah dibawa ke kampung kelahiran sang
suami: menetap hingga bencana itu datang pada Ahad, 26 Desember 2004.
Aku sempat putus asa ketika ia mengutarakan hendak menikah. Tetapi, aku tak
dapat berbuat apa-apa. Tersebab waktu itu aku memang belum mau berumah tangga.
Padahal ia sangat menunggu aku melamarnya. "Nta tak mau persahabatan kita dinodai.
Segeralah melamarku, Sat!" "Dengan apa aku melamarmu, Shinta? Modalku belum ada
untuk membawamu..." kataku. Meski aku berjanji tetap akan menikahinya. "Aku juga
ingin kau menjadi ibu dari anak-anakku." 1)
Aku serbasalah. Ia memang terbawa emosi. Gamang ketika banyak temannya
sudah berkeluarga. Selain itu, sebagai anak sulung kedua orang tuanya seakan
menumpukan harapan padanya. Itu sebabnya, aku relakan ketika Nurgani melamarnya.
Aku juga tak datang sewaktu resepsi pernikahannya. Tak sedap membiarkan hatiku
yang luka semakin koyak. Undangan dari Shinta kubiarkan tergantung di dinding
kamarku, bahkan hingga kini masih ada di sana. Foto Shinta Larasati dan Teuku
Nurgani terpajang di halaman muka undangannya.
131
Dan, kalau sampai hari ini aku belum berkeluarga bukan lantaran frustrasi.
Hanya aku tak punya semangat berteman khusus dengan lain perempuan. Meski di
kantorku banyak yang menggoda. Aku tetap dingin dan hatiku sekeras batu sehingga tak
seorang pun dapat memecahkannya. Daniel kerap mencoba untuk mencairkan kebekuan
hatiku dengan menewarkan beberapa nama perempuan, namun selalu gagal.
"Kau harus realistis, Sat! Usiamu terus bertambah. Apa kau menginginkan
perempuan seperti Shinta, mana mungkin kaudapatkan dua orang yang sama persis!"
tandas Daniel. "Kalau aku mau, Shinta sudah jadi istriku. Hanya waktu itu aku belum
mau berumah tangga," jelasku. Aku tersinggung ketika ia mengira kalau aku memilih
hidup seperti ini karena Shinta tidak menikah denganku. Padahal Shinta menikah
dengan Teuku Nurgani lantaran aku belum siap melamarnya. "Sekarang modalmu sudah
cukup, bukan? Kenapa tidak mencari perempuan lain? Di kantor ini saja kukira banyak
yang bisa kaujadikan istrimu, kalau saja kau benar-benar tidak frustrasi pada
perempuan," timpal Daniel.
Aku tak tergoda oleh ocehannya. Teman-teman perempuan di kantorku hanya
kujadikan mitra kerjaku. Pada waktu yang lain kutempatkan mereka sebagai kawan
diskusi, ataupun lawan saing demi menyemangati pekerjaan. Awalnya Daniel mengira
hatiku mulai mencair, dan suatu saat nanti akan memilih salah satu dari mereka.
Perkiraannya meleset. Sampai aku dipromosikan jabatan yang bagus dan pindah ke kota
Jk, aku tak juga jatuh hati dengan salah satu dari teman sekantorku.
Aku mengemasi barang-barang yang ada di ruang kerjaku, lalu memasukkan ke
dalam kotak-kotak kardus yang telah disiapkan. Setelah itu kunaiki ke mobil. Tak
banyak cakap. Aku juga jarang menyambut godaan Daniel, terutama soal perempuan.
Bahkan ketika ia memberiku setangkup roti yang katanya dari Endah, tanpa kusahut
langsung kumasukkan ke dalam mulut. "Ternyata kau hanya lapar makanan, bukan
perempuan," Daniel berbisik. Setelah itu aku pamit. Pada Daniel, sahabatku yang sangat
dekat di kantorku, juga seluruh karyawan lainnya. Tak ada tangis. Tak perlu
mengumbar kesedihan.
Aku pikir tak perlu bersedih dalam hidup ini. Meski aku tetap punya rasa haru,
begitu menyaksikan orang bersedih. Maka itu, ketika kusaksikan berita gempa dan
stunami menewaskan puluhan ribu orang dan menghancurkan Aceh, segera kuputuskan
ke kota ini. Aku harus menolong sebisa apa yang ada pada diriku. Setidaknya, dengan
keahlian sebagai dokter, aku akan menolong banyak korban yang cedera.
132
Itulah mengapa sore tadi aku sudah tiba di kota ini. Kota yang telah penuh oleh
sampah puing dan lumpur hitam, sebuah kota yang nyaris lenyap dari peta. Kota yang
kini berserakan mayat di setiap sudut tanahnya. Mayat yang mulai meruap amis. Dan,
sejak sore tadi begitu kakiku menjejak Tanah Rencong ini, berkali-kali aku bersitatap
dengan orang-orang yang pandangannya kosong. Atau seorang inong2) yang duduk
bengong di tengah runtuhan bekas rumahnya. Mungkin ia juga kehilangan keluarganya
atau suaminya?
Pagi ini seharusnya aku bergabung dengan para relawan yang lain, kalau saja
Shinta Larasati tidak meneleponku subuh tadi. Ia berharap sekali aku menemuinya di
sekitaran Blang Bintang. Tetapi, aku lupa menanyakan di mana ia menetap. Di
penampungan pengungsi ataukah menetap di rumah warga?
Aku berjanji menemuinya agak siang. Sebab pagi ini aku harus ke tenda
pengungsian dekatku menginap untuk menolong anak-anak yang terserang diare. Shinta
merajuk. Ia berharap menemuinya lebih dulu. Akhirnya aku ke Blang Bintang
menumpang mobil Palang Merah Indonesia. Kudapati Shinta yang sedang menunggui
anak kembarnya. Katanya, "Terima kasih Sat, terima kasih mau melihat Nta."
Aku tersenyum. Menatap wajah masai itu. Kedua matanya sembab. Barangkali
karena kebanyakan menangis. Aku berkata kemudian, "Sudahlah, sedihnya jangan
berlarut-larut. Ikhlaskan yang telah pergi. Suamimu mati syahid, pasti dia telah
menantimu di surga."
Shinta kembali terisak. Lalu ucapku lagi, "Aku sudah datang kan? Jadi, kau
jangan bersedih lagi. Aku segera menolong anakmu."
Lalu kubuka tasku. Kuambil obat dan kuserahkan padanya. Kuperiksa tubuh
Ranti dan Santi. "Kau tak apa-apa kan? Tak perlu kuperiksa kan?"
Ia menggeleng. "Nta sehat. Hanya...."
"Jangan berpikir macam-macam, malah nanti kesehatanmu terganggu.
Tenanglah. Yang perlu kauperhatikan kesehatan kedua anakmu," aku menasihatinya.
Ketika ingin pamit, Shinta seperti keberatan kutinggalkan.
"Aku harus menolong yang lain. Kedatanganku ke sini untuk memberi
pertolongan, bukan."
"Ya Nta maklum. Nta memang tak perlu ditolong. Terima kasih, Sat."
"Bukan itu maksudku, Shinta. Sebagai dokter aku harus menolong orang lain
juga. Masih banyak korban yang menderita, yang membutuhkan perawatanku. Maafkan
133
aku. Dan sore nanti, setelah tugasku selesai, aku pasti ke sini lagi. Menemuimu.
Menemani Ranti dan Santi," janjiku. Segera kutinggalkan Shinta yang memandangku
tak berkedip.
"Nta mengerti. Kalau banyak tugas, kau tak kemari pun tak apa-apa. Nta bisa
mengurus sendiri."
"Aduh Shinta... kau marah ya?" kataku. Dan, aku tak mengharapkan reaksinya.
Sore ini kutepati janji. Mengunjungi Shinta. Memeriksa keadaan si kembar dan
memberinya obat. Ia menerimaku riang. Wajahnya benderang. Seperti ada bintang di
paras yang manis itu. Keadaan Ranti dan Santi mulai membaik. Sejak itu aku sering
menemuinya setiap sore atau malam.
"Nta mau pergi dari sini. Di sini Nta sudah tak punya famili lagi," katanya
setelah tiga hari pertemuan kami. "Nta tidak sanggup menetap lama di sini, traumatik.
Setiap mendengar suara, seperti suara gemuruh air."
"Ke mana?"
"Ke rumah Tante Alin di Jakarta. Semalam Nta nelepon, dan tante akan
menjemput Nta."
"Bagaimana kalau ke rumahku?"
Entah kekuatan apa yang membuat kata-kata itu meluncur dari bibirku.
Entah mengapa aku begitu lancang (atau malah itu wajar?) mengajaknya ke
rumahku, padahal ia belumlah menjadi istriku? Mungkin itu sebagai tanda, cinta kami
yang tertunda akan berpaut kembali? Entahlah.
Aku cemas. Tertunduk. Aku seperti tengah menanti ia mendampratku karena
ucapanku barusan. Menyesal. Aku sudah berbuat kurang ajar pada Shinta, perempuan
yang sejak dulu sangat kuhormati. Segera ingin kuralat, meminta maaf kalau aku
lancang dan bukan karena sengaja. Namun belum lagi ucapanku keluar, Shinta
mendahului dengan ujaran: "Kalau Abang menikahi Nta, bolehlah."
Lampung, 17 Januari-4 Februari 2004
1) ucapan Rendra dalam satu puisinya.
2) perempuan (bahasa Aceh).
134
Hanya untuk Satu Nama
Post : 04/05/2005 Disimak: 253 kali
Cerpen : Isbedy Stiawan ZS
Sumber : Kompas, Edisi 04/03/2005
HANYA untuk satu nama: Demi.
Kalimat itu terukir rapi di atas foto Mas Zen berlatar belakang bunga tulip yang
tengah mekar. Tentunya foto itu diabadikan saat musim bunga sedang berlangsung di
Belanda. Aku menerima kiriman itu dari Mas Zen tiga tahun lalu. Saat Zen kuliah di
negeri Kincir Angin itu.
Di bawah kalimat itu tertulis dengan tipografi puisi: "Rademi Pratiwi,/bila
musim salju tiba seperti sekarang ini,/aku makin rindu padamu./Ingin
mendekapmu/sepanjang tidurku/di balik selimut tebal.//Atau dalam mantel tebal
menembus salju/sepanjang jalan di Amsterdam ini/kita saling melingkarkan tangan/di
pinggang.//Kau tahu,/aku selalu bayangkan/kau ada di dekatku,/dalam dekapanku…"
Dan hingga kini kenang-kenangan dari Zen masih dipajang di tembok rumahku.
Kalimat indah itu, "Hanya untuk satu nama: Demi", seperti ingin mengekalkan waktu.
Tetap tidak luntur karena usia. Dan, saban hari aku selalu menatap kenangan itu.
Membaca kalimat-kalimat puitik yang diukir rapi itu.
Aku menerimanya dengan bahagia sekali saat itu. Rasanya aku ingin segera
terbang. Segera mendekapnya. Berlari-lari menembus salju. Dan jika gigil menyergap
akan kupeluk Mas Zen. Maklum waktu itu kami baru enam bulan menikah. Kata orang,
perkawinan kami masih masa bulan madu. Karena itu, masih dipenuhi oleh fantasia dan
imajinasi yang indah-indah.
Sesungguhnya aku berat membiarkan Zen meninggalkanku sendiri. Kalau saja
bukan karena tugas dari tempatnya bekerja dan kesempatan disekolahkan oleh
perusahaan amatlah langka-tidak akan terulang oleh orang yang sama, akan kukatakan
padanya: "Jangan tinggalkan aku, Mas Zen. Aku tak berani didera rindu…"
Waktu itu Zen membujukku, "Tiga tahun tidak lama, sayang. Hanya sekedip
mata jika hati kita sama-sama terpaut. Kau bisa meneleponku setiap malam jika rindu.
135
Aku pasti akan menghubungimu bila aku kangen. Kesempatan baik seperti ini tidak
akan datang dua kali…"
Lalu kujawab, dengan perasaan cemburu, "Gadis-gadis Nederland pasti cantikcantik
ya, Mas? Aku khawatir kau akan jatuh cinta di sana."
"Kau lebih cantik dari mereka, kau adalah segala-galanya bagiku. Lagi pula aku
ke sana ingin sekolah, tak ada soal lain," tegas Zen. "Marilah kita menjaga cinta kita
dengan saling percaya dan jujur."
Itulah percakapan saat-saat jelang keberangkatan Zen ke Belanda. Sehari
sebelum Zen meninggalkan Indonesia, kami habiskan waktu berdua di sebuah kafe
termewah di Kota BL ini. Aku memandangi wajah Zen. Ia pun seakan menembus ke
dalam kedua mataku. Kupegang erat kedua tangannya. Ia meremas jari-jemariku.
Menyusuri telapak tanganku, hingga mendekati siku tangan kananku. Kubiarkan
jemarinya menari-nari di tanganku. Seperti kunikmati gerakan penari di panggung.
Tiga tahun bagi orang lain memang hanya sekejap. Tetapi tidak untukku yang
kala itu tengah menikmati indahnya awal berumah tangga. Aku ingin menemani Zen,
cuma perusahaan tempatnya bekerja tidak membolehkan. Alasannya, karyawan yang
disekolahkan tidak boleh diganggu sehingga ia bisa kembali dengan sukses. Selain itu,
perusahaan tidak menanggung di luar yang mendapat beasiswa. Artinya, jika aku
menyertai Zen aku harus menanggung seluruh biaya transportasi dan segala keperluan
selama di Belanda. Bagaimana mungkin bisa? Biaya hidup di sana sangat tinggi
dibanding di Indonesia. Selain itu, kalau Zen gagal maka kami harus mengganti seluruh
biaya yang telah dikeluarkan. Ini jelas sangatlah berat.
MAKA aku menanti Zen dengan rindu yang mendalam. Deru kangen karena
kesepian bagai ribuan lebah yang mendengung. Meski Zen tak pernah alpa
meneleponku setiap malam, jelang aku ke peraduan. Hanya telepon dan suara penuh
kerinduan dari Zen itu, seakan dapat menenteramkan hatiku. Aku pun bisa terlelap
hingga esok pagi terbangun. Tiga bulan di Belanda, kiriman foto Zen dengan latar
belakang bunga tulip yang lagi mekar kuterima. Di foto yang terbingkai rapi itu terukir
tulisan Zen: "Hanya untuk satu nama: Demi".
Ya. Aku tahu dan sekaligus aku percaya. Hanya satu nama-namaku, yang terukir
di hatinya. Nama perempuan yang sejak lama mencintainya. Perempuan-dan aku
136
tentunya-yang setia menanti, dan kini telah resmi menjadi istrinya dengan setia pula
akan menanti ia kembali.
Bila rindu memendam, kupandangi foto kiriman Zen itu. Kubayangkan seindah
apakah bunga-bunga tulip sesungguhnya? Kuangankan Zen menyusuri taman bunga itu.
Atau melintas di bawah kincir angin. Sendiri. Gigil. Sebab salju turun tak kenal waktu.
Seandainya, ya seandainya, aku ada di sisinya tak kubiarkan salju menyentuh kulitnya.
Aku akan segera menepis agar dia tak merasa kedinginan.
"Ah, kau terlalu obsesif. Dingin memang jika salju sedang turun, namun tidak
seperti kita bayangkan. Buktinya tak ada orang yang mati di sini tertimbun salju kan?
Aku sudah siapkan mantel tebal, dan selalu kubawa jika musim salju…" kata Zen ketika
meneleponku suatu malam.
"Bener Mas, enggak kedinginan. Demi mengkhawatirkan Mas Zen," kataku
manja.
"Benar, sayang. Kalau aku kedinginan, akan kubayangkan kau ada di dalam
mantelku. Atau mendekapmu di balik selimut tebalku. Agar gigil hilang, kehangatan
datang."
"Aih Mas, bercanda terus!" aku merajuk. "Jangan-jangan sudah ada yang
menggantikan aku ya di situ?"
"Tu kan cemburu?"
Aku malu. Lalu, kujawab, "Tidak kok. Aku tidak cemburu…"
"Lalu, apa?"
"Kangen…"
"Sama."
Kemudian kami tertawa. Aku membayangkan Zen memelukku. Erat sekali. Lalu
menggiringku ke kamar. Ah, sedang apa Zen di sana malam ini? Tiba-tiba aku
disadarkan oleh dering telepon lagi. Mungkinkah Zen yang meneleponku? Ia memang
baru saja lupa mengucapkan selamat tidur, seperti malam-malam sebelumnya. Segera
kuraih gagang telepon.
"Belum tidur, Tiwi?"
Ah! Ternyata Mama yang meneleponku. Keluargaku memang biasa
memanggilku Tiwi. Sedangkan teman-temanku acap menyapaku dengan Demi, bahkan
kadang ditambah dengan Moore di belakang namaku. Mengingatkan aku pada selebriti
dunia.
137
"Belum, Ma. Ada perlu penting Ma?" jawabku segera. Tidak seperti biasa Mama
menelepon pada malam hari seperti sekarang: pukul 23.57.
"Enggak. Hanya ingin tahu keadaanmu."
"Tiwi sehat-sehat saja, baik-baik saja kok. Mama juga baik-baik saja kan? Papa
juga? Rio sudah pulang, Ma?"
"Syukurlah," ujar Mama kemudian. "Zen sudah meneleponmu? Beberapa menit
lalu dia menelepon Mama, menanyakan kabar keluarga kita. Katanya, dia sehat-sehat
saja di Belanda. Hanya sebentar menelepon Mama, katanya mau meneleponmu…."
"Kok, Mas Zen tak bilang kalau habis menelepon Mama? Ya Ma, dia baru
meneleponku. Hampir dua jam dia ngobrol dengan Tiwi. Cerita macam-macam deh…."
"Mungkin, menurut dia, tak begitu penting," jawab Mama pendek. Lalu
lanjutnya, "Mama sehat, Papa juga baik-baik. Tapi sudah empat hari ini belum pulang.
Kau tahu sendirilah kelakuan Papamu. Rio menginap di rumah kawannya…."
"Jadi, Mama sendirian sekarang?"
"Kan ada Bik Sumi?"
"Ya. Tapi, Mama tetap sendirian!" kataku menegaskan. Dalam hati aku
membenci Papa yang selalu meninggalkan Mama sendirian di rumah. Menelantarkan
Mama di rumah. Sementara dia asyik berjudi sambil ditemani perempuan-perempuan
anjing. Jangan-jangan papaku yang sesungguhnya anjing?
"Jangan mengkhawatirkan Mama, Tiwi. Mama baik-baik saja kok.…" Mama
membuyarkan lamunanku.
"Kalau begitu, besok pagi Tiwi pulang. Tiwi mau tidur dengan Mama, menemani
Mama.…"
"Tak usah Tiwi. Jangan tinggalkan rumah selagi suamimu tidak ada. Apalagi kau
belum izin dengan Zen, tidak baik."
"Aku akan menelepon Zen, minta izinnya. Sekarang. Besok pagi aku ke rumah.
…"
Setelah kumatikan hubungan telepon ke Mama, segera kutelepon Zen. Berkalikali
kuhubungi nomor tempat Zen menginap tak diangkat-angkat. Aku berpikir,
mungkinkah Zen tidur lagi setelah meneleponku karena hari libur? Atau, pikiran lainku
menyergap, jangan-jangan ia sedang keluar bersama perempuan bule? Aku cemas.
Membuatku sulit sekali memejamkan mataku.
138
Pada pukul 02.01 kembali kutelepon. Seorang lelaki, tentulah teman Zen di
tempat kosnya itu, yang menyambut. Ia katakan kalau Zen sedang keluar. "Katanya mau
cari buku," jelasnya. Lalu aku menitip pesan: jika Zen pulang segera telepon aku.
SUDAH lama aku tidak mengunjungi Mama. Kini kurasakan tubuh Mama makin
menyusut. Pandangannya tidak seperti dulu lagi, bercahaya. Tersadar bahwa aku sudah
lama meninggalkan Mama. Tepatnya sejak aku menikah, Zen memboyongku ke lain
kota. Sejak aku jarang menjenguk Mama, selain meneleponnya untuk tahu kabar
keluargaku.
Aku akan menetap di rumah Mama untuk beberapa hari. Mungkin juga sepekan
atau lebih. Zen sudah mengizinkan. "Itu bagus, Demi. Daripada kau kesepian di rumah,
lebih baik temani Mama. Kasihan Mama juga sendirian…," kata Zen.
Dan, memang Mama selalu sendirian. Papa tak pernah pulang. Kalaupun pulang
hanya mengganti pakaian atau seperti menumpang tidur, lalu pergi lagi untuk beberapa
hari kemudian. Tanpa percakapan. Tiada lagi sapa dan menyapa antara Mama dan Papa.
Keduanya pun tampak tak bersitatap. Bila Papa mau makan segera ia ke meja makan,
dan Bik Sumi sudah menyiapkan hidangan.
Aku tahu Mama amat kecewa pada Papa. Mama telah dikhianati. Diam-diam
Papa main perempuan saat di luar rumah. Bahkan, ini menurut Mama, Papa sudah
menikah. Selain itu, Papa penjudi berat. Hampir ludes harta di rumahku dibawa Papa ke
meja judi. Padahal, kekayaan itu ditabung Mama bertahun-tahun dari hasil kerja Papa.
Untunglah perusahaan Papa tidak ambruk. Untung pula Mama segera mengambil alih
kemudi perusahaan tersebut, kemudian dijalani oleh Om Firman-adik bungsu Mama
hingga kini. Om Firman S2 ekonomi lulusan Amerika. Kalau tidak, entah apa jadinya
dengan nasib perusahaan Papa. Kini Papa tak lagi diperkenankan menjalani roda
perusahaan. Hanya mendapat bagi keuntungan setiap tahunnya.
Papa juga tak punya hak atas saham perusahaan tersebut. Kata Mama, sejak
ketahuan Papa beristri lagi, Mama langsung menggugat. Tidak tanggung-tanggung,
Mama menggugat cerai dan sekaligus menyoal gono-gini. Papa keberatan digugat cerai.
Lalu Mama kasih solusi. "Baik kalau kau tak mau menceraikan aku. Cuma aku minta
syarat, serahkan saham dan perusahaan itu padaku."
"Untuk apa? Apakah kau sudah tak percaya lagi dengan kemampuanku
menjalani perusahaan?"
139
"Dulu aku percaya," jawab Mama ketus. "Kalau kau masih pegang perusahaan,
bisa-bisa kekayaan kita kauhabisi di meja judi dan untuk perempuanmu itu. Aku akan
menggaji Firman untuk memajukan kembali perusahaan itu. Sementara soal saham, itu
ganti dari pengkhianatanmu padaku."
Papa tak berkutik. Akhirnya Papa keluar dari perusahaan miliknya itu. Meski
begitu, Mama tetap menaruh kasihan pada Papa. Mama selalu membuka pintu bagi
Papa untuk pulang. Menyilakan Bik Sumi menghidangkan makanan buat Papa.
Membelikan pakaian beberapa bulan sekali untuk Papa. Mama juga menyediakan satu
kamar tidur buat Papa jika pulang. Dan seterusnya dan seterusnya. Kecuali satu: Mama
tak lagi memberikan cintanya. Mama juga tak hendak dicumbui….
Mama senang sekali ditemani aku. Waktu-waktu senggang, kami isi dengan
berdialog. Bahkan jelang tidur (kebetulan aku meminta tidur bersama Mama di
kamarnya), kami masih mengobrol. Sampai mata kami mengatup sendiri. Begitu pula di
meja makan saat sarapan pagi, kami pun mengobrol. Intensitas percakapan kami
melebihi ketika aku belum berkeluarga. Entah mengapa tiba-tiba aku merasakan
keakraban yang berlebihan justru ketika kami sudah sering tak berjumpa. Mungkin
benar, kata orang, sebuah pertemuan akan menjadi indah dan bermakna apabila
intensitas pertemuan sebelumnya amat kurang. Kini kurasakan itu. Baik aku atau Mama
seperti tak ingin melewatkan waktu tanpa berdua-dua dan berdialog. Suasana itu juga
dibarengi dengan tertawa atau tersenyum.
Akhirnya aku lupa pada Mas Zen. Lupa kalau sesungguhnya aku sedang
kehilangan suasana bulan maduku. Bila di rumah aku selalu menunggu Zen menelepon,
namun bersama Mama aku tak begitu lagi berharap-harap. Mungkinkah aku sudah
kehilangan rindu? Adakah Zen juga sudah kehabisan kangen, disebabkan
kesibukannya? Ah! Aku tak yakin lantaran kesibukan, ia bisa abai meneleponku.
Jangan-jangan sudah ada perempuan lain yang merebut kerinduannya padaku? Janganjangan
karena aku mendapatkan kebahagiaan dan keriangan bersama Mama,
membuatku tak berharap lagi perhatian Zen?
Teringat ucapan Zen bahwa saling percaya dan jujur akan menjaga cinta,
belakangan ini sudah tidak begitu kuyakini. Mama adalah contoh paling dekat bagiku.
Betapa tingginya kepercayaan Mama, betapa jujur dan setianya Mama pada Papa.
Tetapi, sekali lagi tetapi, Mama terlempar ke tepi paling sepi oleh ketidakjujuran Papa.
Terbukti akhirnya Papa mencampakkan kepercayaan Mama dengan bermain perempuan
140
lagi. "Papamu buktinya tidak jujur, diam-diam dia mengkhianati kesetiaan Mama…,"
kata Mama yang tampak benci sekali.
Kata Mama lagi, "Semua lelaki sama. Bajingan! Pengkhianat. Tidak jujur.
Merobek-robek kepercayaan yang diberikan perempuan!" Entah mengapa, Mama
berulang mengutuk Papa di depanku. Mungkinkah di balik itu semua, ia ingin
mengingatkan aku bahwa jangan terlalu percaya pada bahasa dan janji lelaki. Berkalikali
kubela Zen bahwa suamiku bukan tipe lelaki seperti Papa, tetapi berkali pula Mama
membongkar kebejatan Papa. Supaya tak terjadi perdebatan yang berakibat retaknya
kebahagiaan kami, aku tak lagi mengimbangi dialog Mama. Aku diam. Mendengarkan
keluh kesah Mama.
ZEN menelepon pada malam kedelapan aku menginap di rumah Mama. Aku
santai saja mengambil gagang telepon ketika Mama memanggilku bahwa Zen ingin
bicara padaku. Tidak seperti ketika aku di rumahku: mendengar dering telepon sekali
saja aku segera menyambar dengan hati berbunga-bunga.
"Halo…"
"Kau sehat Demi?"
"Ya. Mas Zen sendiri, juga sehat kan? Bagaimana dengan pelajaranmu, tak ada
masalah kan?"
"Aku sehat. Tentang studiku juga sampai hari ini aman- aman saja. Tak ada
masalah," jawab Zen. Entah mengapa aku mendengar suaranya tidak berapi-api seperti
dulu, tidak hangat karena penuh oleh kerinduan. Kini dingin. Datar. Bahkan terdengar
sumbang dan sember.
"Syukurlah. Kalau kau bahagia di sana, aku di sini tentu bahagia juga."
"Ya."
"Kau sudah makan?"
"Baru saja. Kebetulan ada teman yang mengajakku makan di luar. Aku
ditraktirnya, karena dia berulang tahun," ujar Zen kemudian. Ketika Zen menyebut
"dia", tiba-tiba kedengarannya terasa asing. Aku ingin sekali tahu siapa "dia" yang
disebut Zen.
"Siapa temanmu, Mas? Lelakikah?"
"Oh, maaf Demi. Aku belum mengenalkan temanku yang mentraktir makan. Dia
perempuan, asli dari Leiden. Namanya Juliana Derks. Satu kampus denganku di sini."
141
"O ya? Aku yakin dia pasti cantik…."
"Ya sejujurnya, Juliana memang cantik," jawab Zen pendek.
"Dia menyenangkan, bukan?"
"Ya. Orangnya ramah. Mungkin karena ia pernah tinggal beberapa lama di
Indonesia. Aku akan kenalkan Juliana padamu, nanti kalau dia ke Indonesia."
"Tak usah Mas. Terima kasih…," jawabku. Aku seperti enggan melanjutkan
dialog soal perempuan Leiden itu. Entah mengapa.
"Orangnya familiar, Demi. Kau pasti suka kalau sudah mengobrol dengannya."
"Mudah-mudahan.…"
Setelah itu, Zen mengutarakan rencananya ingin berlibur ke beberapa kota:
Berlin, Napoli, dan entah kota apa lagi di Eropa. Aku sudah malas mendengarnya. Zen
juga mengatakan semua transportasi ditanggung Juliana.
"Ini kesempatan yang tak akan datang dua kali. Sayang kan Demi, kalau tak
kuambil? Tanpa mengeluarkan uang berapa pun, kita bisa mengelilingi kota-kota besar
di Eropa. Daripada di rumah saja waktu liburan bisa-bisa aku bosan, kan lebih baik
kuisi dengan jalan-jalan?"
Aku sudah kehabisan kalimat lagi, karena selalu kata-kata "langka dan
kesempatan yang tak akan datang dua kali" akan meluncur dari mulut Zen. Akhirnya
aku hanya berpesan, "Hati-hati di jalan. Ingat orang Eropa berbeda dengan bangsa
Timur."
Zen tersenyum. Ia juga mengakui sejujurnya kalau sebenarnya Juliana Derks
menyukainya. Tetapi, ia tak mungkin terjebak untuk jatuh cinta. "Cintaku hanya untuk
satu nama: kau, Demi…."
Cuma aku tak lagi merasa tersanjung dengan pujian seperti itu. Aku bahkan ingin
segera menyudahi percakapan ini. Dengan alasan mau tidur karena sudah larut dan aku
juga sudah mengantuk, aku meminta Zen menutup gagang telepon.
AKU sangat kaget, nyaris tak sadarkan diri ketika teman kos Zen mengabarkan
kalau suamiku mengalami kecelakaan di Jerman. Pesawat mereka tak bisa landas
dengan baik karena pacuan bandara licin. Akhirnya pesawat itu menabrak pagar
pembatas bandara dan terganjal di pemakaman. Sekitar 50 penumpang, termasuk Zen
dan Juliana Derks, tewas di tempat kecelakaan.
142
Dibiayai oleh perusahaan tempat Zen bekerja, aku menjemput mayat Zen di
Jerman. Lalu membawanya ke Amsterdam terlebih dulu untuk sekalian membawa
barang-barang Zen, kemudian terbang ke Tanah Air. Di sepanjang jalan, baik sewaktu
di rumah sakit di Jerman, ataupun saat di tempat kos Zen di Amsterdam, tak hentihentinya
aku menangis. Rasanya sudah habis persediaan air mataku.
Aku sungguh-sungguh sedih. Entah karena kematian Zen, nasibku yang kini
harus menjadi janda tak beranak, atau karena kejujuran dan kepercayaanku pada Zen
yang dikhianati. Sebab, seperti kata Ronald Rijkad, perempuan Leiden itu sering
mengajak jalan Zen. Bahkan beberapa hari tidak pulang ke kos. "Juliana amat menyukai
Zen," kata Ronald, orang Belanda itu. Dan aku yakin, Zen pasti menyambut. Kalau
tidak, bagaimana mungkin terjadi suara jika bertepuk sebelah tangan?
Aku kasihan pada Zen, sekaligus membencinya!
HANYA untuk satu nama: Demi.
Kalimat itu terukir rapi di atas foto Mas Zen berlatar belakang bunga tulip yang
tengah mekar. Foto itu masih tetap terpajang di dinding rumahku. Di ruang tamu. Aku
akan memandangnya, setiap aku merasa benar-benar rindu pada Zen. Aku belum ingin
menurunkannya dari tembok itu untuk kusimpan di lemari atau gudang.
"Phuihh!"
Aku seperti hendak muntah setiap membaca baris-baris kalimat yang ditulis rapi
dengan tangan Zen itu. Cuma sampai kini belum menghasutku untuk menurunkan atau
membakarnya….*
Lampung, Februari 2005
143
Kupu-kupu di Jendela
Post: 03/14/2005 Disimak: 334 kali
Cerpen: Isbedy Stiawan ZS
Sumber: Suara Pembaruan, Edisi 03/13/2005
--empatiku untuk cerpenis azhari--
KUPU-KUPU itu, dulu, selalu singgah di jendela kamarku. Setiap pagi. Kala
embun belum pula kering. Matahari lamban bersijingkat. Jendela barulah mengembang.
Menanti siang menjemput. Bunga-bunga membuka kelopaknya.
Dan, pada saat itu aku akan memandang ke taman. Alangkah indah: penuh warna
hijau dan merah. Kupu-kupu bersayap warna-warni. Binar. Cahaya. Pandanglah selalu
ke taman. Angin tenang. Belai. Aku melihatmu di kejauhan. Seperti tertelan semak.
Kutarik tubuhku ke paling tepi jendela. Matahari masih seperti pagi kemarin.
Tiada berubah. Aku mendesah. Kau makin lari ke dalam semak. Ingin menghindar dari
terik matahari.
Tapi, aku tahu pagi ini ada yang sangat lain. Kau menjelma kupu-kupu. Bukan
singgah di jendela itu. Sebab tiada lagi jendela di rumahku. Aku, maksudku kami di
rumah ini, tak perlu lagi membuka terlebih dulu jendela jika ingin memandang ke
taman. Rumahku sudah terbuka. Dari mana pun kami dapat, jika ingin melihat ke luar
(ke taman). Karena itu, setiap waktu kami bisa melihat ke luar, menikmati sesuatu yang
lain dari biasanya. Di luar sana.
Kini taman telah berwarna cokelat. Daun-daun kehilangan hijaunya. Pohon
tumbang di sembarang tempat. Awan menyemburat merah. Bau amis ribuan jasad
menyengat. Aku memandang, memandangnya dengan penuh kecemasan.
Di sini tak kulihat lagi kupu-kupu itu. Tiada taman hijau tempat biasa kupu-kupu
itu hinggap, juga jendela telah tenggelam oleh gelombang besar itu. Sesungguhnya, hari
ini dunia seperti mati. Ditinggal penghuninya--ratusan ribu, bahkan yang kini masih
berserak di setiap sudut kota tertimbun lumpur. Hilang tanda.
144
Ladang-ladang larangan telah tumbang, bahkan tertimbun lumpur kini. Lumpur
dari laut. Hitam. Dan, ah, orang-orang menjadi kaku. Di balik bangunan. Di dalam
kubangan air menghitam. Atau hanyut entah di mana.
"Di kota yang telah porakporanda ini, tak akan lagi kaulihat kupu-kupu. Apalagi
hinggap di jendela. Rumahmu telah roboh oleh bah itu," katamu malam kemarin.
Sayang, kuingin sekali melihat kupu-kupu bersayap warna-warni itu. Cuma di
kota yang telah hancur ini, seperti katamu, bagaimana mungkin dikunjungi kupu-kupu.
Tak mungkin, sayang. Kupu-kupu hanya ingin hinggap di pucuk bunga, di taman indah.
Seperti mereka merindukan firdaus. Bukan di atas kubangan lumpur seperti ini. Tidak di
atas tubuh manusia yang telah membeku itu. Juga bukan melepas lelah di puing-puing
bekas tiang rumah yang hancur. Bukan, sayang.
Lalu berhari-hari, bahkan berganti tahun, aku tak lagi melihat kupu-kupu yang
terbang. Sebab tak ada taman untuknya hinggap. Begitu pula jendela biasa ia hinggap,
sejak hancur bersama ratusan ribu rumah oleh bah, membuat kupu-kupu terbang entah
ke mana.
HANYA awan memutih. Bagai wajahmu yang pasi. Bertumpuk antara serakan
tubuh. Aku masih mencari kupu-kupu itu. Kini. Kupu-kupu yang pernah hinggap di
bibir jendela kamarku. Dulu sekali.
Di sini, seperti tak lagi kutemukan kupu-kupu yang entah sudah terbang ke
mana. Tak akan mungkin. Juga wajah cantikmu, sayangku, melembar di dalam serakan
awan itu. Antara yang masih kukenal atau asing. Inginku menyudahi pencarian ini. Aku
sudah jenuh. Tetapi, mayat-mayat itu wajiblah dimakam-kan, meski tak perlu kain
kafan dan disembahyangkan.
Ah, aku tak berani mengenangmu kembali. Di angkasa ini aku hanya
menyaksikan serakan awan; diam. Atau berjalan pelan. Bagai timbunan tanah yang
mengubur tubuhku, juga tubuhmu sayang.
Sebuah kecemasan datang.
Sebuah kesedihan yang harus dikatup.
Enyahlah segala lara, tangis berkepanjangan, kesedihan yang melebar, putus asa
yang hendak berpinak. Aku tak akan lagi memburu kupu-kupu itu. Biarlah ia tak akan
pernah hinggap di jendela kamarku. Warnanya telah berganti putih, sebagaimana awan
145
yang kulirik dari jendela pesawat ini. Tanpa terlihat kota-kota itu. Seakan mengajakku
ingin bermain dalam kelembutannya.
Kau memang lembut, sayangku. Cuma jangan sekarang mengajakku bermain.
Beri aku sekejap saja melupakan kematian dari ketinggian ini. Juga mengingat tubuhtubuh
kaku tertimbun lumpur atau sampah itu.
Lalu kau merajuk. Seperti seorang kekasih yang tidak mendapatkan ciuman.
Diam. Ingin berlari dan memasuki awan putih itu. Dan, itu malah akan membuatku
kesepian. Dari jendela pesawat yang amat kecil ini, aku cuma menunggu bakal datang
kesepian yang lain. Kesepian tanpa ayah dan bunda, juga adik-adikku yang mati ditelan
bah maha besar itu. Bahkan, seluruh album keluarga lenyap. Seakan ingin mengubur
kenangan dan silsilah.
Aku tak punya lagi kenangan di kota kelahiranku ini. Silsilahku sudah habis,
hanya oleh bencana maha dahsyat yang tak pernah kami impikan. Rumah hancur. Kursi,
meja, lemari, dan bahkan pakaianku hanyut. Komputer, perabot, ranjang, dan sepatu
hilang. Pergi bersama ayah, ibu, dan adik-adikku. Hanya selembar kain ibu yang telah
koyak, kutemukan di antara puing-puing rumahku.
Ya! Kalau kutahu akan begini nasib keluargaku, tiada mungkin kutinggalkan
mereka berlama-lama di tempat lain. Aku akan memilih mati bersama mereka. Biar
segala silsilah tak lagi koyak seperti ini. Kini aku menjadi sebatangkara. Sendiri di
kampung kelahiran. Ataukah aku harus melunta di lain kota, hanya untuk mengubur
luka dan kenangan pahit? Tetapi, apakah aku mampu merajut kenangan lain?
Melupakan peristiwa tragik dan telah menjadi sejarah kelabu di kota ini?
Biar pun beratus ribu kilogram senyuman yang kaukirim ke mari, tetap akan sulit
menghapus lukaku. Biar pun aku bangun kembali rumah di tanah bekas rumahku yang
kini telah menjadi puing, tak akan dapat mengganti kenangan lama yang telah hancur.
Tersebab tak selembar album pun bersisa.
"Bukankah kau telah temukan kain Ibu, meski cabik? Maka jadikan cabikan itu
sebagai kenanganmu?" bisikmu pelan. Memandang puing-puing rumahku, lumpur
hitam, amis mayat, bangkai binatang penuh lalat...
"Seperti cabikan masa laluku," sergahku. Masa lalu kami, di kota ini, yang
menghitam dan luka oleh aniaya berkepanjangan. "Seperti cabikan masa depan.
Hitam..."
"Jangan putus asa seperti itu. Masih ada masa depan bagimu. Bagi kalian..."
146
Tak menyahut. Kupungut cabikan kain ibu. Kurapatkan muka telapak tanganku
ke lantai bekas rumahku. Kuusap seluruh wajahku. Barangkali hanya inilah yang dapat
kulakukan. Membasuh mukaku dari lumpur di bekas lantai rumahku. Lumpur yang
telah menghanyutkan dan menenggelam ibu, ayah, dan adik-adikku. Mungkin juga
keluarga yang lain, yang sampai waktu ini belum kutemukan.
Gelombang pasang yang diempas laut ke kampung kelahiranku, akhirnya
menyisakan keperihan. Pedih yang mungkin tak pernah terhapuskan. Bah yang datang
di pagi ahad itu, telah meluluhkan harapanku. Ya! Aku pulang tanpa melihat lagi ibu,
ayah, dan adik-adikku. Tiada lagi rumah yang dulu telah setia menerima tumpahan
darah dan tuba bunda sewaktu melahirkanku. Rumah yang pertam kali mendengar
tangisku yang awal.
"Jangan larut bersedih. Ambillah cabikan kain Bunda, dan simpanlah dalam
benakmu. Jadikan kenangan, jika itu sebagai kenangan dan ingin kau jadikan kenangan.
Setelah itu kau boleh tinggalkan bekas rumahmu..."
Ya! Aku akan pergi. Tetapi, ke mana aku bawa kepedihan ini? Aku ingin
melunta, sebatang kara di kota lain. Kota ini, kampung kelahiranku ini, tak akan mampu
menampung kepedihan hatiku. Luka jiwaku. Kenangan pahitku bertahun-tahun. Orangorang
yang amat kukasihi telah meninggalkanku. Selamanya. Bah yang dahsyat itu telah
menghanyutkan mereka. Menenggelamkan mereka di lumpur hitam. Tak bersisa. Selain
yang kuyrasa kini amisnya. Bau yang menyergap. Bahkan, lalat pun tak lagi kulihat...
AH! Aku pun tak lagi menyaksikan indahnya warna kupu-kupu. Kupu-kupu
yang dulu kerap hinggap di jendela kamarku. Setiap pagi atau pun senja. Meski jinak
namun tak pernah tertangkap. Kukejar kupu-kupu itu yang terbang ke taman, ladang,
kebun, dan menghilang di hutan. Tersaput pekat.
Aku merajuk. Menemui Bunda. Kataku, "Tangkap kupu-kupu itu, Bunda. Aku
suka warnanya. Indah sekali. Aku ingin memasukkannya ke dalam toples kaca ini. Akan
kupelihara hingga besar..."
"Bagaimana Ibu menangkapnya? Kupu-kupu itu telah terbang ke dalam hutan..."
"Kejar ke sana. Aku akan menemani Bunda."
Hustst! Bunda mendelikkan mata beloknya. Aku mengerti ia marah sekali. Ujar
Bunda, "Itu hutan larangan. Selain rimbunan pohon ganja, hutan itu adalah tempat
147
pelarian orang-orang yang diburu tentara. Kita bisa mati ditembak. Disangka
pengacau..."
"Bukankah mati bisa di mana saja, Bunda?"
"Jangan omong begitu. Kata-katamu adalah doa," Bunda merem ucapanku.
Kataku tersekat. Kupandangi wajahnya. Lalu menunduk. Ketika Bunda tersenyum,
barulah aku mengangkat tatapanku.
"Tapi, Bunda, aku ingin kupu-kupu itu..."
"Ia telah pergi jauh. Mungkin tak akan kembali," ujar Bunda kemudian. Lalu ia
kembali ke dapur, meninggalkan aku seorang di depan pintu rumah.
"Jangan omong begitu. Itu doa Bunda. Apakah ibu tak menginginkan kupu-kupu
itu datang lagi dan hinggap di jendela kamarku?"
"Oh, maaf, anak lelakiku..." Bunda meralat. "Suatu hari kelak, kupu-kupu itu
akan kembali. Ia akan hinggap lagi di jendela kamarmu. Saat itulah Bunda akan
menangkapnya dan memberikan kepadamu," ucap Bunda kemudian.
Kata Bunda lagi, "Sekarang kau mandilah. Hari sudah petang. Sebentar lagi
ayahmu akan melaut..."
Aku pun ke kamar mandi. Ayah pamit hendak ke laut. Seperti hari-hari
sebelumnya, ia akan menangkap ikan. Dari hasil melaut itulah kami hidup. Dan
kepergian ayah itu yang terakhir. Seperti kupu-kupu yang pergi. Tak kembali. Tak akan
ada lagi jendela yang terbuka menghadap laut. Tiada lagi kupu-kupu yang hinggap di
sana. Seperti aku sekarang yang telah melupakan rumah, kampung kelahiran, dan kota
penuh kenangan masa kanak-kanak. Aku kehilangan bunda, ayah, dan adik-adikku.
Juga kekasihku yang terkasih.
Mungkin kau tak percaya, siapa pun tak akan percaya, air pasang yang datang
tiba-tiba dan hanya sekejap itu telah menghapus segala kenangan. Kini menyisakan
duka...
***
Lampung 26/11, 30/12-2004
148
Seandainya Kau Jadi Ikan
Post : 01/28/2005 Disimak: 279 kali
Cerpen : Isbedy Stiawan ZS
Sumber : Suara Karya, Edisi 01/27/2005
"SUNGGUH, aku ingin jadi ikan. Begitu kota-kota jadi laut, aku akan berenangrenang
di atasnya," suatu kesempatan kau mengatakan keinginanmu itu. Aku cuma
tersenyum, setelahnya menggeleng.
Keinginanmu yang gila itu, waktu itu kuanggap begitu, berkali-kali kaukatakan.
Di setiap pertemuan, di setiap percakapan. Tak mengenal tempat: kamar kosku, rumah
kontrakanmu, kantin pabrik tempat kita bekerja, KFC, mall, bahkan saat kita menonton
film.
"Keinginanmu itu benar-benar gila!" sergahku. Betapa tidak? Ketika banyak
orang menghendaki jadi sebenar-benar manusia, justru kauingin jadi ikan-hewan air.
Padahal, Putri Duyung dalam sinetron yang dimainkan Ayu Azhari selalu merindukan
dirinya berubah jadi manusia. "Tidak masuk akalku. Absurd!" tekanku kemudian.
Tetapi, ya tetapi, justru kudengar kau tertawa. Berderai. Membuat tubuhmu
berguncang. Aku emosi. Marah. Tadinya, kuingin mencengkeram lehermu lalu
mencekik hingga mampus. Tetapi urung. Aku tak ingin menodai tanganku dengan
kematian orang, apalagi kau adalah temanku. Apa yang akan kujawab jika polisi
menginterogasiku? Jawaban apa jika Tuhan menghisabku kelak di lain tempat?
Maka itu, kubatalkan keinginanku mencekik lehermu. Tapi tak urung, kutinju
dadamu-tentu tidak dengan tenaga maksimal. Sedikit merintih, lalu kau tertawa lagi.
Makin berderai. "Kaupikir keinginanku menjadi ikan, gila? Tak masuk akal? Absurd?"
ujarmu.
Aku mengangguk. Makin kesal.
"Seperti Nuh sewaktu membikin perahu, waktu itu tidak musim penghujan dan
jauh dari tepi laut. Kaum Nuh mengolok dan meneriaki Nuh sebagai orang gila. Bahkan
putra kandungnya menganggap ayahnya itu sudah gila. Tetapi, apa yang terjadi
kemudian?" lanjutmu. "Perahu yang tak begitu besar itu telah menyelamatkan orangorang
beriman, yang percaya pada risalah yang dibawa Nuh. Dan putra Nuh terseret
bah, tenggelam, dan mati entah di mana."
149
Aku ingin membantah: sesungguhnya kau bukan Nuh. Karena itu, mukjizat apa
yang akan kauterima jika keinginanmu menjadi ikan tercapai? Adakah setelah kaujadi
ikan, bah akan datang, kota ini kemudian menjadi lautan mahaluas dan mahadalam?
"Tidak kan? Tidak akan kota ini menjadi lautan. Tak akan airlaut tumpahnya sampai ke
kota ini. Lantas, untuk apa kau memimpikan jadi ikan?" kataku. Memberondongnya
dengan pertanyaan.
Kau menjawab, bahwa sebenarnya kau sudah bosan hidup sebagai manusia.
Terlalu banyak manusia yang sejatinya bukan manusia. Mereka punya otak tapi tak
pernah digunakan untuk berpikir tentang kebesaran Tuhan. Mereka punya hati tapi tak
pernah untuk berzikir. Manusia punya mata, tapi apa yang selalu dilihatnya? Mereka
punya tangan hanya digunakan untuk mengambil bukan miliknya. Zakar mereka
ditancapkan ke sembarang orang. Vagina mereka dibiarkan terbuka untuk semua orang.
Kedua kaki yang diberikan Tuhan, dilangkahkan ke tempat-tempat asing dan gelap.
"Aku merasakan bahwa dosaku sebagai manusia, sudah begitu menggunung. Tak
dapat dihapus saking banyaknya. Oleh karenanya, untuk apa kupertahankan diri sebagai
manusia. Bukankah hanya hewan dan benda-benda di bumi ini yang bebas dari
pertanyaan Tuhan pada hari akbar nanti? Aku tak mampu membayangkan ketika kakiku
melangkahi titian rambut yang dibelah tujuh itu, dan di bawahnya kobaran api yang
amat panas. Aku tak akan sanggup, apalagi membayangkan!" katamu.
Aku sudah malas berbantahan. Kau terlalu ngotot mempertahankan
keinginanmu. Daripada aku makin kesal lalu berang dan keinginan mencekik lehermu
jadi kenyataan, persoalan akan rumit. Apa alasanku membunuh sahabat, ketika polisi
bertanya? Tetapi ya tetapi, toh kau tak akan pernah menjadi ikan. Tuhan tak juga
mengubahmu dari manusia ke ikan. Ini bukan zaman sihir nenek jahat?
Hanya saja sejak berbantahan yang nyaris berkelahi itu, kau tak lagi
mengunjungi kamar kosku. Aku tahu kau pasti marah. Tapi, aku tahu juga kau sengaja
tak menemuiku karena hendak menghindar agar tidak beradu fisik denganku.
* * *
KAU tetap tak jadi ikan. Itu kutahu, suatu malam, kau meneleponku. Entah dari
kota mana. Sejak kau keluar dari pekerjaan empat tahun lalu, praktis komunikasi kita
150
pun terputus. Tahu-tahu kau menelepon malam ini. Membuat aku terkejut. Suaramu
parau, bahkan lebih tepatnya kukatakan lirih sekali. Ada apa sebenarnya, kawan?
"Aku kecewa. Amat kecewa" tekanmu. "Sampai kini tak juga berubah jadi ikan.
Masih manusia."
"Syukurlah. Tuhan mendengar permintaanku."
"Maksudmu?" kau menyela. Penasaran. Suaramu meninggi.
"Aku meminta, tepatnya berharap atau berdoa, agar Tuhan tak mengabulkan
keinginanmu. Kubayangkan apa jadinya kalau doamu itu dikabulkan, dan kau menjadi
seekor ikan?"
"Bagus itu. Aku bisa berenang, bahkan sampai lautan maha besar. Sekiranya
terjadi banjir atau bah, aku berenang dan bisa menyelematkan diri."
"Ngaco kau!" teriakku dari telepon ini. "Kau pikir semudah itu mahluk bisa
menyelamatkan diri pada saat banjir? Baru dikirim gemuruh gelombang saja, mahlukmahluk
yang ada di bumi ini sudah panik. Lari pontan-panting mencari perlindungan.
Berteriak ketakutan. Ikan pun tak akan bisa menyelematkan diri, kalau banjir itu
berbentuk bah amat dahsyat!" kataku lagi.
"Tapi, setidaknya kepanikan seekor ikan tidak sama dibanding kepanikan yang
dialami manusia. Ikan panik karena aneh saja melihat air tiba-tiba menjadi bah. Sedang
manusia karena ingin menyelamatkan diri, tak mau segera mati, mungkin karena
banyaknya dosa!" katamu membuka perdebatan lagi.
"Sudahlah, aku malas berdebat. Aku tak ingin berbantahan denganmu, nanti
darah tinggiku naik lagi," kataku bergurau. "Sekarang kau mau apa meneleponku
malam-malam ini? Kau di mana kini? Sudah dapat pekerjaan lagi?"
"Ah, dari dulu kau memang malas diajak dialog, aku sudah dapat pekerjaan lagi,
jadi satpam. Itu sebabnya aku teleponmu, mau mengabarkan bahwa aku sudah bekerja
lagi"
"Sudah punya istri?"
"Dari dulu aku sudah janji kan? Tak mau berumah tangga. Perempuan dilahirkan
untuk merepotkan lelaki, dan aku tak mau repot-repot mengurus istri. Lebih santai
sebagai lajang," jawabmu tertawa. Berderai.
"Husstt! Kalau bicara tu pakai otak ya?" selaku. "Kau pikir perempuan hanya
merepotkan kita? Justru karena dia, sebenarnya lelaki terbantu."
"Siapa bilang? Apa dalilnya?" potongmu segera.
151
"Aku malas gunakan dalil. Aku yang bilang!" aku menegaskan. "Tapi, ngomongngomong,
kau di mana sekarang?"
"Di Aceh!" jawabmu cepat. Lalu, kudengar tawamu. Keras sekali. Aku yakin
tubuhmu pasti berguncang, seperti kebiasaanmu saat tertawa seperti itu. Meski aku ikut
tertawa (tapi tidak sekeras temanku itu), entah mengapa kepalaku menggeleng. Aku
seperti tak bisa memercayai kalau temanku itu, kini sudah berada di provinsi paling
ujung Pulau Sumatera. Sejak kapan ia pindah ke sana, dengan apa dia bisa sampai di
sana, siapa yang mengajak? Bukankah di Kota J ini ia mampu cari pekerjaan lain,
asalkan sungguh-sungguh? Untuk apa sampai ke Aceh kalau cuma jadi satpam? Aku
membatin.
"Kenapa kau?" kau membuyarkan lamunanku. "Aneh ya, aku sudah di Aceh?
Para tenaga kerja kita sampai ke luar negeri, kau merasa tak aneh. Kau tak acuh. Aceh
kan masih Indonesia kawan?"
"Aku tahu. Aceh memang masih Indonesia! Tapi, di sana itu belum aman. Kau
bisa tewas, entah oleh tentara RI atau diberondong gerilyawan GAM. Jangan-jangan
kau nyambi pengirim ganja ke J ya?" ucapku beberapa kejap terdiam.
"Aku malah tak pernah melihat ganja di sini. Aku tak tahu mana yang ganja itu.
Kalau soal GAM, aku memang pernah jumpa. Tapi, GAM yang pernah mengobrol
denganku sangat baik dan santun. Bukan pembunuh seperti yang kita baca selalu di
media massa. Sungguh, aku bukan berpihak pada GAM lo"
Lalu hubungan telepon putus. Seperti sengaja ada yang memutuskan. Aku tak
tahu apakah ia menggunakan pesawat telepon kantornya lalu ketahuan pimpinannya,
maka ia segera memutuskan hubungan. Atau barangkali ia menggunakan warung
telepon, dan merasa tagihan sudah besar maka ia putuskan percakapan segera. Janganjangan
di sebelahnya ada intel dari tentara atau GAM? Segala kemungkinan bisa terjadi.
* * *
SUDAH sepekan aku menunggunya menelepon. Setiap aku tiba di kantor, selalu
kutanyakan ke bagian penerima telepon apakah temanku dari Aceh telah meneleponku.
Petugas telepon selalu menggeleng.
Aku mulai dimabuk perasaan rindu padanya. Kalau saja aku memiliki nomor
telepon atau handphone-nya, sudah sejak sepekan lalu kutelepon. Sayangnya, aku lupa
152
menanyakan nomor telepon atau handphone dia sewaktu menelepon dulu. Inilah
kebodohanku yang pertama dan nyata!
Tak pernah kubayangkan kalau kemudian aku benar-benar kehilangan informasi
tentangnya. Komunikasi dengan temanku yang dulu amat ingin menjadi ikan, benarbenar
terputus. Padahal saat sekarang ini, aku benar-benar ingin tahu nasibnya, sesudah
gempa tektonik dan tsunami menghajar Aceh yang menewaskan lebih dari 100 ribu jiwa
dan puluhan ribua lainnya dinyatakan hilang. Aku tak tahu apakah temanku itu
termasuk yang tewas ataukah yang dinyatakan hilang (sebenarnya keduanya nasibnya
sama)?
Dari layar televisi, kusaksikan puluhan ribu mayat bergelimpangan. Dilempar
dan diseret air hitam yang sangat deras setinggi 8 meter. Lalu membusuk. Tumpukan
barang, puing bangunan, rongsokan kenderaan, timbunan sampah. Lalat. Ulat. Bangkai
ikan, anjing, ayam. Bau busuk menyengat. Tangisan. Wajah duka dan pilu karena
ditinggal sanak keluarga. Wajah-wajah yang muram dan putus asa yang mengais ingin
menemukan mayat sanak keluarganya.
Seandainya kau jadi ikan-artinya keinginanmu terwujud, tentu tak akan
berdebar-debar perasaanku setiap menyaksikan penayanagan berita di televisi atau saat
membaca koran. Dan, sungguh! Aku tak mau mengira-ngira. Sekarang aku hanya
menanti kabar bahwa ia selamat. Karena semua orang tak akan mau mati seperti itu:
digulung oleh air bah yang sangat dahsyat. Kalau Anda mengetahui keadaan temanku
itu, aku mohon kabarilah aku. ***
(persembahan bagi maskirbi dan teman-teman seniman Aceh
yang tewas ataupun dinyatakan hilang)
* Lampung, 31 Desember 2004-02 Januari 2005
153
Terompet
Post 01/17/2005 Disimak: 258 kali
Cerpen Isbedy Stiawan ZS
Sumber Kompas, Edisi 01/16/2005
TIDAK seperti biasa, Sisi yang meneleponku. Ia memintaku-tentu amat
mengharap-agar menemaninya jalan di malam Tahun Baru. Bukan semata karena ia
kalau segera kusanggupi, tapi disebabkan Nina. Aku ingin menghiburnya, aku sudah
amat rindu berjalan dengannya.
"NINA menyuruhku meneleponmu. Ia mengharap sekali kau mau menemani
kami. Yang terpenting ia ingin kau ada di sisinya saat ia merayakan ulang tahun…,"
ujar Sisi. Nina lahir pada 31 Desember pukul 19.00 dan kini di usia ke-13 ia minta
dirayakan bersamaku. "Katanya, ia telah mengundang teman-teman sekolah."
Aku pikir apa salahnya membahagiakan putriku yang tengah masuki usia
remaja? Selama ini, sejak aku berpisah dengan Sisi, aku cuma mengucapkan ulang
tahun melalui telepon. Atau menyuruh office boy mengantarkan kue ulang tahun buat
Nina. Dan, sesekali membawanya ke pantai atau tempat bermain di mal.
Tetapi, apakah mungkin Rosa mengizinkan aku menemani Nina dan Sisi? Di
malam Tahun Baru lagi? Bukankah ia tahu, karena aku selalu terbuka dan bercerita,
kalau malam Tahun Baru punya kenangan tersendiri bagi aku, Sisi, dan Nina? Meski
sekarang Sisi bukan lagi istriku. Kami bercerai sewaktu Nina berusia 7 tahun.
Nina memang butuh figur seorang ayah. Dan itu tentu hanya ada pada diriku.
Sayangnya, aku begitu sibuk dengan tugas di kantor. Ditambah lagi kini aku sudah
berkeluarga. Rosa yang dulu anak buahku di kantor kini menjadi istriku. Dari Rosa, aku
memang belum memperoleh anak, padahal usia perkawinan kami sudah 3 tahun.
Meskipun tanpa anak, rumah tanggaku tetap bahagia. Aku sangat mencintai Rosa,
begitu sebaliknya. Bagi Rosa, demikian selalu ia utarakan, perkawinan tak harus
membuahkan anak. "Rumah tangga adalah soal cinta dan kasih sayang," katanya suatu
kesempatan.
Aku mengangguk. Memeluknya dan berbisik, "Rumah ini sudah terasa indah dan
nyaman karena setiap hari cinta dan kasih sayang selalu bertunas." Apalagi Rosa tetap
154
bekerja, menjadi wanita karier di lain perusahaan. Kesibukan itulah yang kemudian
seperti mengubur impian kami untuk memiliki anak.
Lalu, apakah itu cukup bagi Rosa mengizinkan aku jalan bersama Sisi? Meski di
antara kami ada Nina sebagai pembatas? Perempuan mana yang bakal mengikhlaskan
suaminya pergi dengan mantan istri atau kekasihnya? Aku harus ekstra hati-hati, mesti
menjaga perasaan Rosa sehingga ia tidak tersinggung. Cemburu. Betapa pun aku tak
akan mungkin kembali kepada Sisi. Tetapi, jalan bersama orang yang pernah hidup di
hati tentu amat rentan.
"Apa? Kau mau jalan bersama Sisi?" Rosa mendelikkan kedua matanya. Aku
amat paham, itu pertanda ia amat tidak suka. Padahal, aku sudah sangat hati-hati
mengutarakan maksudku. Aku juga sengaja mengajaknya makan malam di sebuah
restoran kesukaannya. Itu pun didahului dengan mengajaknya mengelilingi kota.
Bahkan, semula aku hendak masuk ke Bioskop 21, tetapi Rosa mengaku malas
menonton film Indonesia yang dirasa rendah kualitasnya.
"Jujur saja kalau mau bernostalgia!" suaranya meninggi. "Sudah pergilah, aku
bisa pulang sendiri!"
"Jangan cepat marah begitu, Rosa. Dengar aku dulu, aku belum selesai bicara,"
kataku menenangkan istriku. "Kalau bukan karena permintaan Nina, sumpah aku tak
akan mau. Untuk apa aku jujur dan minta padamu kalau aku sengaja ingin jalan dengan
dia," lanjutku. Sengaja aku menyebut Sisi dengan "dia" supaya Rosa memaklumi kalau
aku dengan mantan istriku sekarang sudah tak ada lagi yang harus dicurigai.
"Ya, sekalian nostalgia kan?" potong Rosa. "Siapa pun tahu kalian berkenalan di
malam Tahun Baru. Lalu sewaktu belum bercerai, kau sering mengajaknya jalan-jalan
pada malam Tahun Baru. Alasannya, mengenang malam pertama perkenalan. Iya kan?"
"Ya. Apa yang kau katakan benar. Tapi, itu dulu sebelum kau menjadi
istriku…."
"Kau sendiri tak pernah mengajakku, aku ini kan istrimu?" Rosa makin protes.
"Kalau begitu kau ikut bersama kami," ujarku segera. Aku mulai digayuti
perasaan emosi. Kenapa tiba-tiba Rosa demikian sentimentil? Kutahu ia perempuan
tegar selama ini. Lalu, ada apa sekarang ia cemburu, justru pada Sisi yang semua orang
tahu kalau sudah kuceraikan. "Kau terlalu cemburu, Rosa!" imbuhku tanpa dapat
kutahan kata itu meluncur.
155
"Jelas aku cemburu! Karena aku tahu ia bekas istrimu. Karena kau sengaja ingin
mendekatinya kembali lewat Nina. Aku tahu malam Tahun Baru amat spesial bagi
kalian dulu. Ditambah Sisi masih belum menikah lagi…," suara Rosa memberondong.
"Terus apa lagi. Apa lagi yang akan kaukatakan? Ayo keluarkan, ucapkan.
Sampai kau puas," kata-kataku meninggi. "Tapi, perlu kau ketahui, aku paling tak suka
mengenang-ngenang masa silam. Dan, sejak kau jadi istriku, aku sangat mencintaimu,
aku menyayangimu. Itu sebabnya aku selalu terbuka, sekecil apa pun, walau harus
berisiko…."
"Pokoknya, aku tak mengizinkan kau jalan bersama dia! Aku juga tak sudi
menemani kalian!" kata Rosa setelah beberapa jenak terdiam.
"Aku tak jalan dengan dia. Tapi karena Nina, ia amat mengharapkan aku
menemaninya merayakan ulang tahunnya. Bagaimanapun Nina tak bisa dipisahkan
dariku. Ia anakku…."
"Aku tahu. Aku juga tidak lupa kalau kau sudah punya anak sewaktu
menikahiku," ia memotong.
"Apa maksudmu, Rosa?" aku tersinggung. "Kenapa kau begitu kasar?"
Ia diam. Aku segera mengajaknya meninggalkan restoran kesukaannya ini.
Membayar apa yang kami makan pada kasir. Suasana makan malam kami kali ini koyak
moyak. Sepanjang jalan pulang benar-benar hening. Wajah Rosa selalu berpaling ke
kiri. Berkali-kali aku ingin memulai percakapan, tapi selalu saja gagal. Rosa sengaja tak
memberi ruang untuk sebuah percakapan.
Kota BL terasa lengang. Mobil kupacu kencang. Rosa menentang, "Aku belum
ingin mati. Tapi, kalaupun mati tak ada yang menangisi kematianku. Lain kau, ada yang
menangis dan menyesali…."
"Siapa yang mau mati?"
"Kalau begitu, pelankan sedikit mobil ini…."
Kembali ia memandang ke samping. Tiang listrik yang bercat hitam bagai tubuh
lelaki legam yang tengah berpacu ke belakang. Aku menatap ke depan. Habis sudah
harapanku agar Rosa mengizinkan aku menemani Nina merayakan ulang tahun di
malam Tahun Baru.
SISI kembali meneleponku. Ia ingin mendapat kepastian apakah aku bisa
menemani Nina pada malam Tahun Baru dua hari mendatang? "Nina selalu bertanya
156
kepadaku. Kalau kau ingin berbicara padanya, Nina di sebelahku," kata Sisi siang ini ke
telepon kantorku.
"Ya, biar aku bicara pada Nina," ujarku cepat. "Hallo sayang… kamu sehat kan?
Bagaimana ulangan, pasti nilaimu bagus-bagus kan. Anak papa…."
"Papa mau kan nemenin Nina, sekali-sekali Pa," ia merajuk. "Nina kangen jalan
ama papa dan mama di malam Tahun Baru. Nina pengin sekali ulang tahun Nina
dirayain bersama papa dan mama. Papa bisa kan? Papa mau kan?" Nina
memberondong, yang intinya mendesakku agar menemaninya di malam Tahun Baru.
"Ya, ya! Tentu, sayang! Papa akan usahakan…."
"Yang pasti dong, Pa?" desak putriku.
"Ya! Papa janji, pasti!" jawabku. Tetapi, setelah ucapanku itu meluncur, aku
kembali teringat Rosa yang sudah jelas-jelas tak memberi izinku. Aku mendesah.
Mengenyakkan punggungku ke kursi setelah meletakkan gagang telepon. Kuputar
kursiku….
Dulu aku biasa mengajak jalan Nina berkeliling kota di malam Tahan Baru.
Sejak ia berusia setahun. Tentu bersama mamanya, Sisi, yang kala itu masih menjadi
istriku. Aku sendiri yang menyetir mobil, Sisi duduk di sebelah kiriku sambil
menggendong Nina yang kadang terlelap.
Sebenarnya bukan kami ingin menghibur Nina, tapi setiap malam Tahun Baru
kami punya kerinduan bernostalgia. "Bukankah kita berkenalan di malam Tahun Baru?"
kenangan itu selalu diungkapkan Sisi setiap menjelang pergantian tahun setelah kami
berkeluarga. "Waktu itu kau bersama teman-temanmu dengan mengendarai mobil,
sedang aku dengan teman-temanku juga dengan kendaraan. Kita bertemu di tepi pantai.
Kau menggangguku dengan terompetmu yang diteriakkan dekat di telingaku…."
"Tapi, waktu itu kau bukannya marah. Malah tersenyum. Amat menggodaku,"
selaku. "Padahal aku sudah siap dimarahimu, waktu itu."
"Soalnya kau gan…"
"Kau juga cantik, itu sebabnya aku menggodamu."
Lalu kami tertawa. Bahagia sekali. Mengelilingi Kota BL ini, kota yang pernah
mendapatkan Adipura. Kami ulang mengelilingi kota di malam Tahun Baru setelah
berumah tangga. Aku melamar Sisi setelah tiga tahun kami berpacaran. Dua tahun
berumah tangga kami dikaruniai anak yang kami beri nama Nina Sekarningrum. Saat
Nina berusia setahun, aku dan Sisi nekat membawanya keluar pada malam Tahun Baru.
157
Bahagianya kala itu. Nina yang belum mengerti apa-apa tetap kubelikan
terompet. Tentu saja tak lama kuberikan ke Nina, terompet itu sudah lecek dan kucel.
Sisi hanya tersenyum-senyum dengan terompetnya. "Ada-ada saja kau, anak sekecil ini
ngerti apa?" Lalu meneriakkan terompetnya dekat telingaku, seperti hendak balas
dendam. Melihatku kaget, segera berderai tawanya.
"Ya ngerti. Buktinya terompet itu dirusaknya," jawabku sekenanya.
Ah, entah mengapa kenangan-kenangan itu tiba-tiba datang. Padahal, aku tidak
mengundangnya. Seperti selalu sering kukatakan, aku selalu melupakan masa lalu-juga
di dalamnya kenangan-kenangan. Aku tak punya masa lalu dan aku selalu optimis pada
masa depan. Begitu rumah tanggaku dengan Sisi hancur, aku tak pernah mengingatnya.
Kalaupun harus menganggapnya, tak lebih ia hanyalah ibu dari anakku. Tiada kenangan
yang mesti kutiti lagi, tiada angan yang dapat kuurai….
"Sisi sudah meneleponmu tadi siang?" Rosa membuyarkan lamunanku. Aku tak
segera menyahut. Kutatap wajahnya. Kini ingin sekali kumasuki seluruh tubuhnya.
Mencari apa yang tersembunyi dari ucapannya. Tetapi gagal. Ternyata aku belum tahu
banyak tentangnya, aku seperti masih berjarak justru dengan istriku sendiri. Beginikah
hidup rumah tangga: sebuah rumah yang dihuni oleh dua manusia dari sejarah yang
berbeda, tetapi hidup di bawah satu atap? Terkadang, ada banyak yang tak terselami.
"Sebelumnya ia meneleponku. Minta izinku…."
"Apa jawabmu?"
"Aku diam. Segera kututup telepon," jawab Rosa ringan. "Aku yakin setelah itu
dia meneleponmu. Benar kan?"
Aku mengangguk. "Tapi dia tak bilang kalau baru saja menghubungimu, tapi kau
tak mau menerimanya," jawabku. Aku masih memandang wajah Rosa.
"Kukira ia mengadu…."
"Dugaanmu meleset kali ini," kataku segera. Terdengar ketus.
"Dia masih mengharapmu menemaninya?"
"Aku diminta menemani Nina yang berulang tahun. Kebetulan malam Tahun
Baru. Aku bicara dengan Nina…."
"Tapi, yang menghubungimu Sisi kan?"
Aku kembali mengangguk. "Cuma menghubungi dan ia bilang, ’Nina selalu
bertanya padaku. Kalau kau ingin bicara padanya, Nina di sebelahku.’ Lalu kujawab,
biar aku bicara pada Nina. Hanya itu, tidak lebih."
158
"Hanya itu? Bohong!"
"Kau masih tak percaya? Kamu seperti mengenalku baru kemarin saja!" aku
membentak. "Aku tak pernah berlebihan bicara padanya, aku tahu batas. Masih juga kau
tak paham?"
"Aku tetap tak mengizinkan kau pergi esok malam. Pokoknya, tidak!" ucap
Rosa. Kemudian meninggalkan aku di ruang tengah sendirian. Ia masuk ke kamar tidur.
Mengunci dari dalam.
Kuketuk pintu kamar. Sekali dengan pelan, dua kali sedikit keras. Ketika tak ada
tanda Rosa akan membuka, kuketuk pintu kamar dengan punggung tanganku. Cukup
keras. Namun, Rosa tetap tak membuka.
"Kau memberi izin atau tidak, aku tetap akan pergi. Aku bukan berurusan
dengan dia, tapi ingin menemani Nina sebab sebagai papanya aku berkewajiban
membahagiakannya!" kataku keras. Aku yakin, Rosa mendengar suaraku.
Benar. Ia membuka pintu. Melempar bantal dan guling.
"Tidurlah kau di kursi!" lalu kembali menutup pintu kamar.
AKU tak pulang ke rumah. Dari kantor aku makan malam dulu di restoran
kesukaan Rosa. Setelah itu menuju rumah Sisi. Nina sudah menantiku di depan rumah
dan menyambut kedatangan. Kulihat ia bahagia sekali begitu melihatku turun dari
mobil. Kupeluk anakku yang kini sudah remaja itu. Kucium kedua pipinya dan
keningnya. Ia juga balas menciumku: pipi dan keningku.
"Sudah siap, sayang?"
Nina mengangguk riang. "Papa belum mandi?"
"Kenapa, bau?"
Kembali Nina mengangguk. "Papa mandi dulu ya. Nina siapin handuk, sabun,
sikat gigi."
Nina segera menarikku ke kamar mandi yang ada di dalam kamar tidurnya.
Setelah itu kuganti pakaian yang sengaja kubawa dari dalam tas. Sisi sudah menunggu
di ruang tengah, begitu aku keluar dari kamar Nina.
"Maaf aku numpang mandi di kamar Nina. Aku tadi tidak sempat pulang dulu,
dari kantor langsung ke sini," kataku pada Sisi.
"Istrimu tak mengizinkan? Kalau belum makan, baiknya makan dulu. Sudah
kusiapkan. Ajak Nina…."
159
Tiga pertanyaan Sisi itu kujawab dengan menggelengkan kepala.
"Kalau begitu kita pergi sekarang," Nina mencairkan suasana.
"Cemburu itu penting, itulah tanda cinta. Jadi aku tak menyalahi istrimu…," kata
Sisi yang duduk di kursi belakang setelah mobilku berada di jalan utama. "Dan itu yang
kulakukan dulu…."
"Sudahlah, tak usah bicara soal masa silam," ujarku agar suasana romantis dan
sentimentil tidak terjadi malam ini. Lalu kualihkan pada Nina, "Ke mana kita malam ini
sayang? Mau dirayakan di mana acara ulang tahunmu? Papa siap ke mana pun Nina
minta…."
Nina menunjuk sebuah kafe di Hotel Indra Puri. Aku segera menyetujui meski
Sisi setengah mencegah. "Kenapa harus di sana, Nina? Pasti mahal. Lagi pula, kamu
kan sudah janji sama mama tak mau membebani papa. Tempat itu juga tidak pas buat
kita…."
"Ah, mama sekali-sekali. Lagian papa tidak keberatan. Iya kan, Pa?" Nina protes
pada Sisi.
"Ya, enggak apa sekali-sekali. Tetapi, janji ya, kita hanya sebentar di sana?"
"Oke deh, Pa," jawab Nina sambil mencium pipiku. Ternyata Nina sudah
memesan tempat. Terbukti begitu kami sampai, sekitar sepuluh orang teman sekolahnya
sudah lebih dulu tiba. Duduk di beberapa meja yang di atasnya menyala 13 lilin. Nina
disambut dengan nyanyian "Selamat Ulang Tahun" dari teman-temannya. Sejurus
kemudian, ia meniup lilin-lilin itu. Prosesnya cepat sekali. Tak lama keluar makanan
yang juga telah dipesan Nina.
"Uang dari mana Nina bisa bayar tempat ini?"
Ia pun tertawa. "Hiii… papa mau tahu aja!"
"Jelas dong! Dari mana sayang?" aku berbisik di telinganya.
"Tabungan Nina. Kemarin Nina ambil di ATM…."
"Kalau begitu, papa ganti."
"Enggak usah Pa… Papa sudah bisa datang saja Nina senang sekali." Dalam hati
aku tetap akan mentransfer uang ke tabungannya.
Setelah selesai, kami tinggalkan tempat itu. Kukira seusai perayaan ulang tahun,
aku bisa segera pulang, tapi Nina mengajakku menemaninya menghabisi malam Tahun
Baru. Aku tak dapat menolak. Aku memang sangat menyayanginya. Ingin
menghiburnya.
160
Dan, mobil pun melaju di jalan utama Kota BL ini. Di simping Tugu Gajah
kubeli tiga terompet. Satu untuk Nina, yang lain untukku dan Sisi. Tak dapat kuelak,
kenangan masa silam pun kembali kutiti-bahkan dengan sendiri kenangan itu mengurai.
Suara terompet dari dalam mobilku saling bersahutan. Nina meniup, aku
menyambut, dan Sisi membalas. Begitu sebaliknya. Terus-menerus. Hingga aku lupa
ternyata aku tak mampu mencegah masa lalu agar tak masuk dalam kenanganku. Aku
larut ke dalam kenangan yang indah sewaktu aku masih bersama Sisi dan Nina….
Ah! Mengapa roda kehidupan ini seperti berulang dan datang? Aku berkeras
hendak mengubur kenangan itu, tapi sekeras itu pula kenangan itu mendesakku.
Kupandangi Nina yang duduk di sebelahku. Ia tampak sekali bahagia. Tak henti-henti,
sejak di Hotel Indra Puri tadi, ia mengumbar senyum. Nina memang manis. Cantik.
Dan, sesekali kucuri pandang ke Sisi yang duduk di belakang lewat spion. Ia pun
tak kurang riangnya. Terompet selalu berada di antara bibirnya yang dipoles lipstik
warna ungu. Dalam hati aku mengagumi kecantikannya yang belum pudar. Cuma aku
tak sampai hati bertanya, kenapa ia belum juga menikah lagi? Mungkin ia sudah
bertekad hendak membesarkan Nina seorang diri sambil tetap menjadi wanita karier.
Oleh karena itu, kembali kulirik Nina. Ia membalasku sambil meniup kencang-kencang
terompetnya ke dekat telingaku. Aku pun tak mau kalah. Kuarahkan corong terompetku
ke wajah anakku itu dan segera kutiup keras-keras. Dan Sisi membalas, mengarahkan
terompetnya ke Nina.
Nina protes. "Ih curang. Nina dikeroyok. Nina dikeroyok. Kalau berani sendirisendiri
dong…." Ia terus protes. Kami tertawa. Berderai.
Malam sudah meninggi. Konvoi kendaraan makin menambah. Suara terompet
terdengar di mana-mana dan dari arah mana-mana. Saling bersahut. Balas-membalas.
Kami larut, aku terlena. Kami seperti menarik kembali waktu yang telah lenyap di masa
silam. Seperti ingin kembali memeluknya. Itu sebabnya, ketika Nina memintaku
mengarahkan mobil ke arah timur-ke tepi pantai-aku segera mengangguk. Aku lupa
kalau Rosa sekarang mungkin tak bisa tidur di rumah, memainkan perasaan
perempuannya. Atau mungkin sudah terlelap di luar kamar?
Aku tak bisa bayangkan, aku tak mampu mengangankan. Hidup memang sulit
diduga. Karena itu, aku tak mau menyesali kenapa aku mau menemani anakku dan Sisi
kalau sudah dapat kutahu akan berakhir di rumah sakit ini. Kami harus menjalani rawat
inap beberapa hari. Aku cuma ingat mobilku tergelincir lantaran ingin menghindari
161
tabrakan dengan bis luar kota. Aku hanya luka-luka di kedua lenganku, keningku karena
terkena pecahan kaca. Sementara Sisi, tangannya patah, kepalanya bocor karena
benturan atap mobil. Sedang Nina paling parah: kedua kakinya patah dan aku pesimis ia
bisa berjalan tanpa kursi roda.
Aku menangis, memeluk tubuh Nina. Berkali-kali aku pingsan di sisi ranjang
Nina. Aku baru terbangun ketika Rosa membelai kepalaku. "Kau tak apa-apa? Aku tahu
kalian di sini, tadi aku ditelepon dokter…."
Aku memandang Rosa. Aku mengharap sekali ia mau memaafkan aku. Rosa
mengangguk, tersenyum. Kemudian kembali membelai kepalaku. Setelah itu, ia
berbalik ke Nina. Mencium anakku (tentu anaknya pula bukan?) dengan segenap kasih
sayang. Ia leburkan tangannya ke tubuh Nina. "Kau anak baik, Nak. Mama juga
mencintaimu…."
Dalam keadaan terisak, kudengar Rosa membisikkan sesuatu ke telingaku.
Kudengar jelas sekali: "Kalau kau masih mencintaiku dan demi Nina… aku ikhlas jadi
istri pertamamu.
"***
Lampung, Desember 2004
162
Gelombang Besar di Kota Itu
Post 01/03/2005 Disimak: 328 kali
Cerpen Isbedy Stiawan ZS
Sumber Jawa Pos, Edisi 01/02/2005
MUNGKIN akan banyak yang menaiki perahu itu, kalau saja Khidir tak
melubangi lambungnya. Dan perahu akan meluncur saat gelombang besar di kota itu.
Ibu memulai kisah malam ini.
Ibu memang juru cerita yang baik, tidak saja aku sebagai anaknya yang
mengatakan itu tapi semua orang di kampungku mengakuinya. Sebagai bekas pemain
sandiwara rakyat, ibu dikenal sangat piawai saat menarasikan kisah. Banyak orang
mengaguminya. Tak sedikit pendengarnya yang terharu (bahkan pernah ada penonton
yang menangis histeris) kala ibu membawakan cerita. Keahlian menjadi juru cerita tetap
dijaga ibu, bahkan sampai dia beranak lima dan memiliki 15 cucu. Kini usia ibu sudah
80 tahun. Suaranya terdengar lirih jika sedang berkisah.
Ibu lalu mengisahkan tentang perahu yang tertambat di tepi pantai, ketika Khidir
membawa "murid"-nya menimba ilmu dari kehidupan ini. Berkali-kali "sang guru"
mengajarkan kebijakan, namun terasa janggal dan tak masuk akal bagi si murid. Tetapi,
setiap kali sang murid hendak bertanya (mungkin menggugat), setiap kali itu pula
Khidir menyatakan: "Jangan banyak bertanya. Lihat saja apa yang kulakukan, kelak kau
akan memahami dengan cara arif lagi bijaksana. Hidup ini perlu dilakoni dengan
bijaksana!"
Maka karena itu pula, anak-anak dianggap tabu apabila banyak bertanya pada
orang dewasa. Entahlah, kata ibu, terkadang pikiran orang dewasa sering sulit dicermati
oleh kanak-kanak. "Setelah lambung perahu itu dilubangi, guru dan murid itu membuat
perahu lain dari batang pohon. Kayu itu dilubangi hanya pas untuk kedua tubuh itu
dalam keadaan berdiri, setelah itu berlayarlah. Sungguh menyiksa!"
Ibu sudah lama tak berkisah. Yang aku ingat terakhir ibu bercerita soal
gelombang besar di (sebuah) kota. Kisah ibu, mungkin ini yang terakhir karena sejak itu
sudah beberapa tahun ini ibu tak lagi memanggil cucu-cucunya untuk mendengar
kisahnya, konon di masa mendatang akan sampai ke kota ini sebuah gelombang amat
besar dan dahsyat. Gelombang setinggi lebih dari lima meter itu seperti dimuntahkan
163
oleh lautan mahaluas. Air bah itu akan menghancurkan ribuan bangunan, pohon, kapal,
perahu, dan puluhan ribu manusia. Saat itu kota seperti kiamat.
Orang-orang berlarian ketakutan mencari perlindungan. Lebih dari 30 ribu mayat
terhampar di setiap sudut kota. Kota menjadi gelap. Alat penerang rusak. Mereka sulit
menghubungi saudaranya di lain kota karena alat bicara juga rusak total. Di mana-mana
mayat membusuk. Tanah bercampur lumpur menggenangi kota. Pohon tumbang
menutupi kota yang dulu amat indah. Ladang tak lagi bertanda. Bahkan kapal besar pun
terdampar di jantung kota.
Ke mana para pelaut yang terkenal jagoan itu? Mati. Mereka dihempas
gelombang besar hingga beratus-ratus meter terhanyut. Anak-anak nelayan bertelanjang
dada di tepi pantai menanti para bapak membawa tangkapan ikan, juga lenyap ditelan
gelombang mahadahsyat. Tanah di kota itu retak. Seperti dibalikkan sebagaimana kaum
Luth dulu. Kota tak lagi bertanda. Mesti bertahun-tahun untuk dibangun kembali.
Menjadi kota baru. Dihuni oleh kaum baru.
***
KOTA itu telah lama menanggung duka. Tak terbilang tahun. Penuh luka.
Padahal, sumber daya alamnya amat kaya. Hanya saja hasilnya tak dinikmati oleh
warga, tapi diangkut ke lain kota. Kehidupan di sana memprihatinkan. Lapar
ditumpukan alam nan kaya. Bagai tikus mati di lumbung padi. Ladang ganja
diberangus. Sumur minyak diisap dan dialirkan ke kerajaan. Atau dikorupsi oleh
gubernur.
Beberapa kali raja diganti. Nasib rakyat di sana tetap miskin. Rakyat bergolak.
Lalu serdadu datang dan memberondong. Bertahun-tahun masyarakat dicekam
ketakutan. Tiada berani memandang bintang. Tak lagi ketemu kunang-kunang. Langit
pekat setiap saat. Anak-anak tak berani main gobaksodor di bawah bulan. Bahkan untuk
sebuah percintaan. Maka bila malam menjelang, rumah-rumah terkunci rapat. Penerang
hanya dihidupkan seperlunya. Di ruang tengah atau di kamar tidur. Jika para orang tua
hendak bercinta, lebih dalam pelukan gelap. Khawatir diintip, takut diberondong para
serdadu.
"Tidak boleh ada keriangan di kota itu," kisah ibu, mungkin inilah cerita terakhir
ibu yang kudengar, sebab setelah itu ia tak lagi mengumpulkan kami dan cucu-cucunya.
164
"Warga mesti hidup dalam ketakutan dan kecemasan. Maka itu harus selalu disebar
teror, wabah, dan segala macam suara dentuman…"
Bertahun-tahun. Ya, warga kota itu tak dapat berbuat banyak demi membangun
kota mereka. Ladang-ladang yang terbuka ditutup seketika tanpa batas waktu. Para
orang tua tiada boleh keluar rumah di malam hari. Mereka juga dikenakan sanksi jika
bercinta. Anak-anak harus dalam awasan para orang tua, setiap waktu. Apabila ketahuan
para anak lari dari rumah menuju belantara, maka para orang tua diseret untuk diadili.
Anak-anak yang lari dan bersembuyi ke hutan-hutan, pastilah begitu keluar sebagai
gerilyawan. Dan, itu akan mengancam pemerintah yang berkuasa.
Oleh sebab itu, kisah ibu, sebelum anak-anak lelaki lari ke hutan-hutan maka
para orang tua dibebani untuk mengawasi setiap anaknya. Barangkali lantaran dibebani
tugas itulah, para orang tua tidak sempat bercinta lagi. Mereka takut mendapat sanksi,
masuk bui jika aparat serdadu memergoki anak-anak lari ke hutan. Setiap anak yang lari
dari rumah dan bersembunyi di hutan, begitu keluar akan membawa senjata: kepala
diikat selembar sobekan kain, atau wajahnya tertutup hingga yang tampak hanya kedua
matanya. Mereka kemudian menyerbu sarang serdadu, menjarah amunisi, atau membuat
teror tandingan. Maka kota akan menjadi makin mencekam.
Sebelum atau mencegah kota bergolak, para serdadu mengawasi warga amat
ketat. Bergantian dikirim ke kota itu. Tetapi, tidak sedikit para serdadu menghamili
perawan, perempuan janda, dan ibu-ibu yang masih keluyuran dekat hutan. Anak-anak
jadah pun berlahiran. Perempuan-perempuan di kota itu trauma, bahkan ada yang
sampai lupa ingatan. Tawa tak karuan bergema di setiap sudut rumah.
Pusat kota dipenuhi rumah-rumah bordil di mana perempuannya dikirim dari
seberang. Untuk mengacaukan kota, melupakan warga pada Tuhannya. Bau alkohol
menguar di mana-mana. Asap ganja menyembul dari orang-orang. Ladang ganja
sengaja dijaga supaya tidak dihanguskan oleh warga.
Raja berkali-kali berkunjung ke kota itu, tapi hanya mengumbar janji. Bahwa
kota dijanjikan akan kembali tenang, keadilan akan diberikan, kesejahteraan akan
menjadi kenyataan. Sampai kapan? Tak satu pun warga yang berani menagih kepastian.
Selebihnya, hanya dirundung harapan demi harapan. Sia-sia…
Maka para warga frustrasi. Sehingga, jangan disalahkan kalau penghuni asli kota
enggan bekerja. Kota dibiarkan tak beraturan. Rumah-rumah ibadah tak selamanya
ramai, hanya sesekali waktu didatangi jamaah --tapi cuma beberapa shaf atau kursi.
165
Sungguh, kota itu seperti tidak digubris lagi oleh Tuhan. Ke mana Tuhan berpaling?
Mengapa Tuhan tak pernah mengubah nasib warga itu? Adakah janji Tuhan bahwa Ia
tak akan mengubah suatu kaum jika kaum itu tak berusaha mengubahnya sendiri, adalah
keniscayaan? Pikiranku selalu menolak, tapi hatiku sebaliknya. Hanya saja, sampai kini
tetap tak terpahami.
Aku ingin mengurai isi kisah ibu yang sudah lama kudengar. Ingin mencari
makna di balik cerita-cerita ibu. Mencocokkan antara kisah dengan kenyataan.
Terutama apa yang baru saja terjadi menimpa kota ini. Kota yang dulu dipenuhi orangorang
suci dan pahlawan. Kota yang masa silam sulit dicengkeram oleh penjajah, meski
akhirnya terjajah juga setelah seorang kafir mempelajari kitab Tuhan milik orang-orang
suci. Kota itu pun ditaburi tinja, alkohol, anggur, dan perempuan-perempuan cantik nan
menantang syahwat.
Sampai suatu ketika, kota itu pun dijamuri oleh rumah-rumah bordil dan
perjudian. Hanya untuk mengubur impian sebagian orang-orang suci di sana yang
hendak menegakkan syariat-Nya. Kesucian dan kekotoran saling mempengaruhi. Dan,
selalu saja, batil ingin menguasai. Demikian pula di kota itu, begitu ibu berkisah yang
masih terngiang di telingaku.
Anak-anak kampung sudah menjauhi surau. Sehabis maghrib, surau sepi oleh
suara anak-anak mengaji. Para orang tua lebih memilih salat di rumah (padahal
Rasulullah amat membenci orang yang tidak salat berjamaah di masjid, sehingga beliau
pernah mengamsalkan akan membakar rumah muslim yang tidak berjamaah) daripada
memakmurkan masjid. Surau pun lebih sering kosong, isinya melompong. Bahkan ada
surau yang tak lagi terurus. Dipenuhi oleh sarang laba-laba. Apek. Tikar pandan sobek
dimakan tikus, atau dibawa ke hutan-hutan.
Kota , demikianlah, telah kehilangan nur Ilahi. Orang-orang kota tak lagi
bersorban. Para perempuan menanggalkan kerudungnya dan diganti pakaian yang amat
minim. Rumah-rumah memang benderang dan dipenuhi suara televisi dan dering
telepon, tapi apa artinya kalau tiada cahaya Tuhan di sana ?
Seperti kaum Luth yang meninggalkan rumah dan istrinya ataupun istri yang
meninggalkan lelakinya, lalu bercinta di bawah gemerlap lelampu dan kelindan asap
rokok.
Seperti kaum Nuh yang membangkang. Anak yang mengangkangi nasihat para
orang tua. Istri yang berkhianat pada lelakinya sambil menghujat Tuhan. Masyarakat
166
yang menganggap gila bagi orang-orang yang membawa kesucian. Apatah lagi melihat
orang yang tengah membikin perahu di tengah kota?
Barangkali, kalau saja Khidir tak melubangi lambung perahu itu, tentulah banyak
orang yang akan naik dan selamat berlayar. Tetapi, masa itu sudah lama meninggalkan
kita. Kini bukan lagi zamannya. Maka tatkala gelombang amat besar datang ke kota itu,
puluhan ribu orang tak mampu diselamatkan. Ribuan mayat bergelimpangan di setiap
sudut kota, bahkan sampai membusuk. Pertolongan sulit memasuki kota itu. Bahan
makanan dan pakaian yang datang terhambat, karena kota masih dipenuhi sisa air.
Bangunan dan pohon yang tumbang menghadang. Adakah kau bisa membayangkan
suatu kelak kota itu musnah, tak bernama, dan tak bertanda? Ibu mengakhiri kisahnya
dengan pertanyaan.
Pertanyaan itu hingga kini dan mungkin sampai kapan pun, mengusikku. Aku
benar-benar kesulitan memahaminya: memaknainya. Saudara, di mana kota yang telah
musnah itu? Mereka adalah saudara kita yang tenggelam dan mati oleh gelombang
mahadahsyat. Sebuah kota yang bertahun-tahun menderita. Kota yang sesungguhnya
amat kita cintai dan kagumi, karena di sana dulu lahir banyak orang suci dan
pahlawan…***
(kenangan pilu bagi Aceh, juga Diana Roswita yang menjadi korban dalam
musibah itu --dan Azhari yang tentu kini merasa luka: maskirbi, din saja, dan lain-lain)
Lampung, 31 Desember 2004
167
Keluarga Ed
Post 12/06/2004 Disimak: 187 kali
Cerpen Isbedy Stiawan ZS
Sumber Suara Pembaruan, Edisi 12/05/2004
SETIAP pagi, tak lama setelah tuan rumah pergi kerja dengan mobilnya,
perempuan muda masuk ke rumah besar itu. Mobil sedan honda putih langsung
meluncur ke garasi, dan sejurus kemudian pintunya tertutup. Seperti tak terjadi apa-apa.
Tetanggaku itu memang aneh. Baik suaminya atau istrinya sangat tertutup
dengan warga. Kami tak kenal akrab, namanya pun hanya kami ketahui amat singkat:
Ed. Karena tak pernah bergaul itulah, kami juga tak tahu apa pekerjaanya. Apakah
istrinya juga karir atau cuma ibu rumah tangga. Usia mereka terbilang muda, palingpaling
33-an tahun.
Jika aku berpapasan, Ed akan tersenyum lalu menyapaku "Abang..." sambil
memperlambat mobilnya, dan aku selalu menjawab "Ngantor?". Ia hanya tersenyum.
Aku tak tahu jam berapa Ed pulang. Entah apakah aku yang kebetulan tak ada di
rumah atau memang Ed pulang dari kantor pada tengah malam, sehingga ku tak pernah
melihat kepulangannya. Garasinya selalu tertutup rapat seharian sehingga aku tak tahu
di balik tirai garasi itu sudah terparkir mobil Ed atau kenderaan tamu-seorang
perempuan muda-yang datang setiap pagi begitu Ed meninggalkan rumahnya.
Aku hanya tahu, ini pun dari tetangga lain, kalau Ed belum punya anak padahal
usia perkawinan mereka sudah 9 tahun. Anak lelaki berusia 3 tahun yang sering kulihat
di rumahnya, konon anak angkat mereka. "Katanya untuk mancing biar istrinya hamil,"
kata istriku menirukan mbak Tituk, tetangga sebelah kiri Ed.
*
ED selalu mengenakan pakaian berwarna putih, pakai dasi biru atau hitam. Licin
dan necis. Rambutnya rapi, dicukur pendek walau tak dihabiskan. Dapat kubayangkan,
Ed bekerja di perusahaan bonafide. Dan Ed tentu memegang jabatan. Kalau hanya staf
biasa, tak mungkin dia mendapat kendaraan dan selalu berdasi. Meski soal dasi ini bisa
saja seorang staf memakainya, jika itu memang peraturan kantor. Seperti tetatanggaku
lainnya, ia hanyalah wartawan di penerbitan media kecil, tapi ke kantor selalu pakai
168
dasi. Kadang yang membuatku lucu, wartawan berdasi itu ke kantor masih pakai motor
dan membawa tas yang kukira sudah sangat buruk.
Ed berbeda. Dia menyetir sendiri mobilnya. Kijang panther berwarna biru itu
juga selalu bersih mengkilap. Sepertinya Ed rajin merawat dan mencuci. Meski aku tak
tahu di mana dan kapan dia mencuci mobilnya.
Ed tidaklah begitu familiar dengan tetatangga, meski ia juga tak lampau angkuh.
Ed jarang mengobrol, bertandang ke rumah tetangga atau santai di gardu ronda. Hanya
ia tak pernah lupa menyapa warga setiap berpapasan. Meski Ed tak pernah menawari
kami-walau sekadar basa-basi-untuk menumpang mobilnya. Namun ia segera memberi
bantuan jika ada warga terkena musibah.
Itu sebabnya kami tak tahu banyak tentang pribadi Ed, misal soal keluarganya:
istrinya. Berapa anaknya, dan siapa perempuan muda yang datang setiap pagi setelah
beberapa menit Ed meninggalkan garasi mobil, termasuk berapa pembantunya.
Aku hanya faham sekitar jam 7.00 Ed keluar dari rumah, lalu seroang perempuan
memasuki garasinya begitu mobil Ed menghilang di ujung jalan. Setelah itu pintu garasi
kembali ditutup. Dan seperti hari-hari lalu aku pun ditelikung keanehan.
Aku bukanlah tipe warga yang mau tahu urusan rumah tangga orang lain. Aku
juga bukan ingin ikut campur rumah tangga orang. Hanya, sebagai ketua RT, aku ingin
tahu dengan keanehan yang kurasakan dari keluarga Ed. Aku mencium keanehan, tapi
apa itu?
*
ISTRI Ed, ia biasa dipanggil dik Lebi oleh ibu-ibu di sini, terbilang cantik.
Perawakannya mungil, kulit putih, rambut sebahu, dan selalu tak acuh pada lelaki. Siapa
pun pria di sini tentu punya perasaan lain jika melihatnya. Namun, sejauh itu, Leni
biasa-biasa saja.
Kalau aku menangkap keganjilan dari keluarga Ed, karena aku tak pernah
melihat kedua suami istir itu jalan bersama. Misalnya pada malam atau pagi Minggu.
Cuma keanehanku itu dibantah istriku. "Apa yang aneh, keganjilan apa? Memangnya
aneh kalau kau tak melihat mereka berjalan berdua? Apa kau sering membawaku
jalan?" istriku malah balik menudingku. "Aku pernah melihat mereka keluar dnegan
mobilnya. Kau saja yang bangun tidur kesiangan," lanjut istriku.
"Kapan kau lihat?"
169
"Sebulan lalu. Jam setengah 7 mereka kulihat keluar dengan mobil. Pak Ed
sempat tersenyum padaku, melambai..."
Darah dalam tubuhku bergelegak. Kumatikan perasaan itu.
"Juga dengan anak angkatnya?' tanyaku selanjutnya.
Istriku mengangguk.
"Memangnya kenapa? Sepertinya kau ingin tahu benar dengan tetangga kita itu.
Apa karena Leni, istri Ed cantik?" ucap istriku beberapa jenak kemudian. Kurasakan
nadanya tak senang.
"Ya tak apa-apa. Aku kan tak masuki urusan rumah tangga mereka, cuma ingin
tahu saja karena aku merasakan ada keanehan di sana. Lagipula, wajar kan aku sebagai
ketua RT ingin tahu warganya?"
"Kau hanya seorang ketua RT, jangan terlalu jauh masuki rumah tangga orang,"
potong istriku. Tak senang. "Lagi pula mau aneh atau tidak. Mau jungkirbalik atau
runtuh, apa urusannya dengan kita. Kau juga tak punya hak mencampuri," sergahnya
lagi. Ia melanjutkan, kali ini lebih panjang. "Mereka kan tak mengganggu rumah tangga
kita. Sebagai warga dia sudah melapor padamu sebagai ketua RT. Mas Ed juga
tampaknya baik dengan tetangga, seperti katamu, tak lupa menyapa kalau kebetulan
berpapasan. Dia cepat membantu kalau ada tetangga di sini yang terkena musibah. Lalu
apa yang ganjil dengan mereka? Kukira masih wajar-wajar saja."
"Itu menurutmu. Kenapa sih kau amat membela keluar Ed?" kini aku yang tak
senang, tepatnya cemburu.
"Lo, apa tidak boleh aku beda pendapat dan cara pandang tentang tetangga kita
itu? Ketika banyak warga di sini mencurigainya, mengendus keanehan di rumah tangga
Ed, seperti kau?"
Aku tak langsung merespon. Menarik napas. Menggerakkan letak duduk. "Kau
tak merasakan keganjilan? Apa yang ada dalam pikiranmu, setiap hari perempuan muda
itu masuki garasi rumah Ed begitu mobilnya membelok di ujung jalan sana? Kenapa
hanya dia yang menjadi tamu Leni, apalagi setiap hari? Apa kau masih tak merasa
keanehan?!"
"Aku benar-benar tak melihat, aku tak merasakan itu. Kukira wajar orang
bertamu mau tiap hari atau setahun sekali. Lagipula apa urusannya buat kita? Apa
untungnya memikirkan urusan keluarga orang?" istriku kembali mengingatkan. "Sudah
170
deh mas, kau tak usah ngurusin orang lain. Masalah keluarga sendiri aja banyak dan
belum beres."
Sejak itu, aku tak lagi mengajak istriku dialog soal keluarga Ed. Keganjilan
rumah tangga Ed kunikmati sendiri. Ternyata ini lebih mengasyikkan. Mendebarkan.
Tapi tak harus ada perdebatan. Ada pertengkaran...
Sampai suatu hari, satu jam setelah Ed keluar dari rumahnya kala ini tidak
seperti biasa. Ia pulang tanpa dengan mobilnya. Ketika kutanya mana kendaraanya, Ed
mengatakan di bengkel. "Servise ringan Bang, sudah lama tak ke bengkel. Tidak ada
waktu."
Kemudian ia bergegas masuk dari pintu samping kiri rumahnya. Sejurus
kudengar pertengkaran di dalam rumah Ed.
"Pantas kau selalu dingin berhubungan denganku!" kudengar bentakan Ed.
"Kau juga tak pernah bergairah!"
"Karena kau tak mampu bangkitkan..."
"Aku sudah muak, kau bukan..."
"Kau... dasar lesbi!" kudengar bentakan yang lebih tinggi. "Hei kau, pelacur!
Keluar dari rumahku kalau tak ingin kuteriaki maling. Ayo, anjing, pergi kau!"
"Aku ke sini karena istrimu meneleponku. Tanya saja, bukan aku yang mau.
Lagipula aku ke sini karena dagang..." kudengar suara perempuan, tapi bukan Leni.
"Dagang... Persetan, aku tak mau tahu! Pokoknya kau keluar sekarang dari
rumahku. Anjing!"
"Istrimu..."
"Pergi kataku, atau mau kubakar mobilmu!" suara Ed makin menggelegar.
"Perempuan murahan, tak laku. Ganggu keluarga orang..."
"Istrimu..."
Tak lama, sedan keluar dari garasi rumah itu. Kulihat permepuan muda itu di
depan stir. Belok kiri dan melaju.
Ed mengunci garasi, juga pintu samping. Hanya sebentar mereka melanjutkan
pertengkaran. Saling memaki, berlomba mencaci. Sayup-sayup kudengar kata mandul,
lesbian, anjing bergantian. Setelah itu, rumah Ed senyap...
Bandar Lampung, Agustus-September 2004
171
Perempuan Sunyi
Post 12/21/2004 Disimak: 179 kali
Cerpen Isbedy Stiawan ZS
Sumber Nova, Tabloid, Edisi 10/03/2004
waktu semalam bung
aku bermimpi
bertemu ular bung
besar sekali
AKU merasa didatangi ular. Besar dan panjang sekali. Beberapa malam terakhir
ini. Seperti dalam nyata. Tetapi aku tetap yakin bahwa aku bermimpi. Karena itu aku
percaya kalau itu cuma kembang tidur.
Aku memang sangat letih. Seharian bekerja tak hanya tenaga yang dikeluarkan,
namun juga pikiran. Maka begitu sampai di rumah usai kerja, aku langsung menuju
pembaringan. Mula-mula aku hanya menelentangkan tubuh, lalu pikiranku melayang
dan itu kunikmati. Setelah benar-benar letih dan mataku seakan perih karena menahan
kantuk, barulah aku terlelap. Tak lama dengkurku bertaruh cepat ingin mengalahkan
pacunya waktu.
Saat itulah aku mimpi bertemu ular panjang dan besar sekali. Dalam mimpi itu,
ular membujukku memasuki taman dan menawari buah yang rasanya tiada bandingan.
Awalnya kutolak tawaran itu. Namun karena ia mendesak dan memberi keyakinan
padaku bahwa buah tersebut hanya didapat di taman itu, aku pun tergiur.
Aku mengambil sebiji. Hendak memasukkan ke mulutku. Kubayangkan
senikmat makanan eskpor yang sulit diperoleh di sini. Buah yang, kata ular itu, jika
dimakan akan membawa kita terbang. Benarkah itu?
Maka itu kaucicipi buah ini. Ini buah hanya tumbuh di firdaus. Ular itu makin
meyakiniku. Aku mulai tergiur. Percaya sekali dengan rayuannya. Buah - entah apa
namanya - tampak warna-warni, dan aromanya seperti wangi tubuhmu yang tak pernah
alpa selalu kucium. Aku benar-benar tergiur, dan ingin sekali mencicipinya.
172
Ayolah, kapan lagi? Aku makin terpana. Pesona warna ular dan aroma tubuh itu
menggiurkan jakunku. Ingin kuambil, tapi tak tergapai sebab tiba badai. Taman ini jadi
pikuk. Aku menepi cari perlindungan, dan ular itu kembali ke dalam semak.
Ia datang lagi ketika hujan berhenti. Masih menawarkan buah tadi, dan
membuatku terasa kian lapar. Kuambil. Kumasukkan ke mulutku. Betapa nikmat
rasanya. Namun, kemudian pandanganku jadi nanar. Aku tak lagi dapat melihat ular itu
dengan jelas. Apakah ia berlalu dan lesap ke dalam semak, ataukah menjelma jadi
perempuan? Di ranjang sejuk dan beraroma. Menguar sepanjang malam.
Aku khawatir kalau ia menyulap diri jadi perempuan, lalu membawa lari
lelakiku. Aku pun disergap cemburu. Ular itu mungkin yang telah merayu dan
membawa lari lelakiku. Atau barangkali saja telah mematuknya hingga mati.
Aku perempuan sunyi kini. Kenangan-kenangan hilang. Taman tak lagi
menawarkan ketenteraman. Penuh dengan dusta, orang-orang selingkuh. Aku tak lagi
ingin mengenang bahwa di taman ini mula bertemu aku dengan lelakiku. Berabad silam.
Sebelum kau tiba-tiba hilang dan kami pun dipisahkan oleh waktu.
Lelakiku mendesis. Melata sebagaimana seekor ular. Memburu rawa dan
belukar. Kini ia jarang menemaniku sekadar membunuh kesunyianku. Apakah aku di
rumah tertawa dan menangis, ia tak peduli lagi.
Aku perempuan sunyi kini, akan mati ditikam sepi!
* * *
SEJAK ular itu datang dalam mimpiku, aku menanam cemburu. Kata orang,
mimpi adalah kembangnya tidur, tapi ia merupakan pecahan realitas. Hampir persis
dengan peristiwa hidup ini. Maka aku mulai percaya. Lelakiku tak kembali. Pergi tanpa
kutahu ke belukar mana. Dililit oleh ular apa.
“Ke mana saja kau setiap hari pulang larut?” kataku begitu kubuka pintu saat
lelakiku pulang dini hari. Ia tak terusik dengan pertanyaanku. Masuk menuju kamar
tidur. “Dari mana kau? Tak ada orang lembur atau rapat sampai pagi. Kecuali kau...”
lanjutku dengan suara agak keras.
“Diam!” Lelakiku membentak. Aku capek dan perlu istirahat. Kalau mau
bertengkar besok saja setelah aku bangun tidur.”
173
Aku menahan geram. Ingin kulempar asbak ke wajah lelakiku. Ia telah banyak
mengecewakan aku. Apakah macam begini nasib perempuan, terpenjara di dalam istana
rumah tangga? Menjadi penunggu ranjang. Menyusuri sepi saban waktu.
Kupandang foto perkawinanku di dinding kamar. Di sana kami menebar senyum.
Kebahagiaan menguar. Ingin rasanya kukembalikan putaran waktu ke masa lalu. Saat
itu lelakiku selalu mengumbar senyum, mengutarakan cintanya. “Cintaku padamu tak
akan lapuk oleh musim. Kalau warnanya putih, ia tetap putih selamanya. Tak akan
berubah jadi hitam,” kata lelakiku sepuluh menit jelang pernikahan. Kala itu aku
bahagia mendengarnya. Serasa aku terbang.
Tapi apa kenyataannya? Waktu membuktikan, lelakiku berdusta. Kata-katanya
menjelang nikah, cuma kaset yang dapat diputar di sembarang waktu. Menjadi tak
bermakna.
O lelakiku. Kini aku benar-benar sepi. Aku perempuan sunyi. Dan, benar kata
teman-teman di kantor, mimpi tak harus ditafsir sebagai kembangnya orang tidur.
Mimpi dapat jadi layar dari kehidupan. “Karena itu, tak musykil kenyataannya begitu.
Sebagai isyarat, dan itu tak setiap orang diberi kemampuan menafsir mimpi,” Suci,
teman kantorku berujar.
“Kau beruntung Ri diberi kemampuan itu. Bukan apa-apa, aku memang pernah
melihat suamimu jalan berdua. Masuk restoran...” Marta ikut bersuara. Ia
menambahkan, “Maaf bukan maksudku mau merusak rumah tanggamu, Ri. Sungguh
aku menyayangimu dan aku prihatin pada rumah tanggamu.”
Aku mengangguk. Tersenyum. Aku ingin menunjukkan pada mereka kalau aku
dapat tegar dan senang menerima masukan. “Tak apa-apa kok. Aku malah berterima
kasih, kalian masih berkenan memperhatikan aku,” kataku kemudian. “Kalian
bersyukur, perkawinan kalian harmonis. Suami kalian sangat mencintai.”
“Nasib orang memang berbeda, Ri. Untuk menunjukkan Maha Adilnya Tuhan,”
ucap Suci lagi.
Lagi-lagi aku cuma mengangguk. Tersenyum. Walau hatiku sesungguhnya
teriris, perasaanku perih. Akan tetapi, dalam hati, aku bertanya mengapa Tuhan
mencipta kesunyian? Yang kurindukan di dalam perkawinan ini ialah keriangan,
cengkerama penuh hiruk. Tertawa sepanjang malam. Bukan seperti ini.
Setiap malam, di tempat ridur, anganku pesiar. Aku membayangkan lelakiku
tengah bercengkerama dengan perempuannya yang lain. Memasuki mal, diskotek,
174
mungkin pula bungalow. Sedangkan aku terlelap hanya karena lelah seharian di kantor
ditambah lagi menyiapkan makan malam. Meski terlalu sering makanan bersisa dan
esok pagi dibuang di bak sampah.
Wahai lelakiku, kau dengar jeritku? Perempuan sunyi. Akan kaumainkan apa
bagi dunia perempuan? Bagi sebuah perkawinan? Aku kini berani mengutuk sepi.
Protes pada ketakadilan lelaki .
Aku perempuan sunyi. Rindu campur benci tentang mimpi. Kembang tidur yang
acap membuat terlena.
* * *
waktu semalam bung
aku bermimpi
bertemu ular bung
besar sekali
Pada mimpi berikutnya ular itu mematukku. Aku pingsan. Lelakiku tak datang
menolong. Aku merangkak, menaiki ngarai. Di puncak tebing, kupergoki lelakiku
bergumul dengan ular. Apakah ia bertarung, ataukah sedang bercinta? Lelakiku
bergumul. Berguling-guling. Ular itu panjang dan besar sekali. Seperti yang kerap
muncul dalam mimpiku.
Aku menyaksikan dengan pandangan berkabut. Malam masih pekat. Belum
beranjak...
* * *
AKU berkemas diri, ini kebiasaanku, menjelang ke peraduan. Lima belas menit
aku mematut-matut wajahku di depan cermin. Dari memoles alat pelembap ke wajahku,
mengenakan lipstik, alis mata, dan pengharum tubuh. Setelah itu aku menuju ranjang.
Jika belum terserang kantuk, aku akan membaca-baca majalah dan tabloid perempuan
sampai mataku terpejam. Hampir enam tahun ini aku tertidur tak diantar dengan cerita
dan canda menarik dari lelakiku.
175
Aku akan terbangun jika bel pintu yang kupasang di dalam kamar berdering. Itu
pertanda lelakiku datang. Aku sudah hafal saat itu pagi akan menjelang. Kalau tiada
dering bel, aku terbangun subuh. Memandang ke sisi kiriku, tempat lelakiku terbujur
lelap. Kini sering tak terisi. Bantal dan guling selalu kutemukan tetap rapi.
Di rumah ini aku sering sendiri. Tak pernah kudengar suara anak: suara yang
amat kurindu sepanjang perkawinanku. Perutku selalu kempis. Entah siapa yang
bermasalah. Siapa yang tak mampu membuahkan janin. Kami tak berani konsultasi ke
dokter.
Pernah aku hendak mengambil anak. Tetapi lelakiku berkeras melarangku.
Untuk apa adopsi anak, akan menyusahkanmu saja. Ia mewanti-wanti jika aku
mengambil anak, ia akan pergi dari rumah ini. Kemudian lelakiku menghibur, suatu
kelak kami akan dikaruniai anak. Dari benihnya. Tetapi, sudah sepuluh tahun usia
perkawinanku, anak yang didamba tak juga bersemayam di rahimku. Lelakiku bahkan
membiarkan aku selalu sunyi. Hidup dalam mendamba.
Lampung, 14-15 Agustus 2004
176
Meniti Sepi, Menanti yang Pergi
Pos : 12/17/2004 Disimak: 217 kali
Cerpen : Isbedy Stiawan ZS
Sumber : Kompas, Edisi 08/22/2004
KAU tidak juga tersenyum, padahal sudah berulang kubikin lelucon di
hadapanmu. Ada apa sebenarnya denganmu? Berbagai cerita bernuansa humoris yang
kuingat telah kukisahkan semenarik mungkin. Tapi, kau tetap tak tertawa. Apa yang
telah terjadi padamu?
MALAM telah berganti beberapa kali. Siang berulang melepas mantel
benderangnya: kembali ke pekat. Tinggal kita di rumah ini. Sepi terasa. Waktu seperti
merangkak pergi dan singgah. Sesungguhnya, apa yang kau pikirkan? Tentang anakanak
yang meninggalkan rumah ini dan menetap di kota lain? Kawin dan beranak?
Hanya surat-suratnya yang kemudian menjumpai kita, katanya, melepas kangen?
Kita sekarang dipanggil Opa dan Oma. Sungguh, panggilan yang dulu amat kita
khawatirkan jika datang amat cepat. Dan, ternyata dugaanku benar. Anak perempuan
kita yang kedua dipinang, menikah, setelah itu dibawa ke lain kota. Kau menangis
waktu itu, tatkala Selvi melambai di depan gerbang. Menaiki mobil yang sekejap
kemudian berpacu. Kau sedih. Aku maklum, kau amat terpukul. Tetapi, hukum hidup
harus begitu.
Dan, setahun lalu anak lelaki kita diterima bekerja di kota M. Cukup jauh dari
rumah ini. Amat melelahkan apabila dengan kendaraan mobil jika ingin menemuinya.
Hanya dengan pesawat, itu pun ditempuh dengan perjalanan tiga jam lebih di udara
ditambah tak kurang tujuh jam menempuh darat dan selat. Pasti melelahkan. Kau
mendesis. Sepertinya, itulah penyebab mengapa kau sedih sekali waktu itu. Berturutturut
anak kita ke luar dari rumah ini, menggores kesepian di hati.
Sebenarnya kita berharap mereka bekerja dan berjodoh di kota ini saja, kota
kelahirannya. Biar selalu dekat, selalu dengan mudah dapat diawasi. Cuma kita tak bisa
menentukan rezeki dan jodoh, juga (jangan lupa!) maut. Sama seperti kenapa aku
mengawinimu, mengapa kau mau menjadi istriku. Apa lagi yang menarik dariku? Apa
177
pula yang amat berkesan pada tubuhmu yang membuatku tergila-gila waktu jejaka
dulu?
Sudahlah, tak perlu nelangsa. Tersenyumlah untuk segala kesunyian. Tertawalah
buat kesedihan dan kesepian. Kau dan aku, bersyukurlah, masih ada. Cinta dan kasih
sayang tak akan (pernah) pergi. Lukisan Picasso dan Jeihan masih bisa membunuh lara
kita. Perempuan-perempuan Jeihan dengan kedua matanya yang selalu gelap, pelajaran
bagus buat kita yang terasa kian menua.
Ah, tidak! Usia kita belum 50 tahun. Kau masih sintal bagiku. Aku "si Kuku
Bima" dalam berbagai pertarungan. Terbukti dalam berbagai pergumulan, tak ada yang
kalah ataupun menang di antara kita. Selalu saja kita bisa menyelesaikan pertarungan
dengan keringat di tubuh layaknya danau. Saat itulah kau mau tersenyum untuk
pertarungan kita. Dan, aku terpuasi. Setelahnya, sepi kembali menyergap. Kepiluan
bertandang. Kerinduan pada anak-anak (kita hanya punya dua anak dari perkawinan
sepanjang 23 tahun) membuat kita tak lagi berkata-kata. Bisu. Ruang tamu diam. Ruang
makan berkabut. Kamar tidur berselimut sunyi. Suara televisi yang malam-malam
terakhir ini menayangkan diskusi dan debat calon presiden, tak pernah menarik kita agar
terhibur. Malah kita dibuat bebal. Janji-janji yang verbal.
"Kenapa? Apa yang terjadi denganmu?" aku tak tahu pertanyaan tersebut sudah
berapa kali kuajukan padamu. Kau tak juga bersuara. Hanya meremas-remas jarimu.
Atau menutup wajah dengan selimut. Selalu kubayangkan, di balik selimut itu aku
seperti menyaksikan tarian maut.
Jangankan tersenyum, bersuara pun kau tak. Apakah kini tanpa anak-anak di sisi
kita, kau benar-benar merasa sepi? Bukankah aku bisa menggantikan mereka? Aku
senantiasa menghiburmu dengan kisah-kisah humor. Dengan lelucon-leluconku yang
saat berpacaran kau bisa senyum, bahkan tak jarang kau terkekeh? Adakah leluconku
sekarang tak mampu lagi menarikmu untuk sekadar menyunggingkan bibirmu yang
(masih terlihat) ranum?
Kau tidak juga tersenyum, padahal sudah berkali-kali kurangkai lelucon. Kau
bahkan berang. Tak mau dekat denganku. Tidur di kamar Selvi. Kau merajuk. Aku
selalu membujuk. Tetapi, kau tetap ingin tidur sendiri di kamar sebelah. Bersama
boneka dan mainan Selvi yang ditinggalkannya setelah ia dibawa suaminya. Lalu, siapa
yang benar-benar merasa sepi semalaman? Akukah? Kaukah itu?
178
Tiada jawaban yang membuat aku puas. Kenapa di masa senja perkawinan kita,
yang kita rangkai adalah pertikaian? Saat cinta di paruh ujung kebersamaan kita dalam
satu biduk rumah tangga, perilaku kita menjadi aneh. Kita mengutuk kesepian yang tak
mendasar. Perkawinan yang terlalu cepat merebut Selvi dari dekapan kita, itukah yang
senantiasa kau sesalkan? Bukankah suatu kelak, waktu akan memisahkan kita dari
mereka? Juga perkawinan kita, betapapun sudah sedapat kita untuk
mempertahankannya.
Pandanglah lukisan Jeihan di sudut ruang tamu. Sekali-sekali kau amati lagi
karya Picasso yang indah itu. Tafsirkan menurut hatimu apa yang ada di balik mata
gelap dari perempuan Jeihan tersebut. Tak perlu sungkan salah menafsirkan. Karena
demikianlah karya seni: ia menjadi kaya karena ragam pemaknaan tafsir. Kuharap
dengan begitu, kau akan mendapati keriangan. Sepimu akan hilang, berganti keramaian.
Seperti warna-warna dalam kanvas Picasso. Sebagaimana lorong pekat penuh
pengharapan dalam mata perempuan-perempuan Jeihan. Seperti diriku yang selalu
mendapatkan itu, setiap kali aku memandangi karya lukis dari seniman besar itu.
Matamu nanar. Penuh basah. Selalu kuinginkan leluconku atau kisah-kisah
humorku akan membunuh kesepian yang terpantul dari wajahmu. Biar hari-hari kita,
mungkin hanya sisa dari langkah perkawinan kita ini, kembali mendapati matahari. Pagi
hari. Saat kedua telapak kakimu membelai sisa embun di pucuk rumput taman di depan
rumah. Kau memang suka sekali menyepuh kaki dan betismu dengan sisa embun itu.
Sejak muda dulu.
Kau pernah bilang, sisa embun banyak manfaat bagi kulit dan tulang. Namun,
menjadi petaka apabila embun yang luruh terkena kepala. Itu sebabnya, katamu, para
pelancong malam dan centeng selalu bertopi. Menutup kepalanya dari embun malam.
"Itu sebabnya, mengapa anak-anak balita yang belum juga berjalan pada usia
yang mestinya sudah bisa melangkah, orangtuanya akan mengusap kaki anaknya ke
rumput berembun." Waktu itu, memang Selvi belum dapat berjalan pada usia hampir
dua tahun. Dan benar, mungkin karena memang sudah waktunya, anak kita bisa
melangkah dan kemudian jalan. Perasaan kita senang tidak terkira.
Kemudian kau kabarkan pada kedua orangtuamu tentang khasiat embun yang
membuat Selvi bisa berjalan. Kau puji ibumu, karena saran dialah agar Selvi dibawa
setiap pagi ke rumput yang menyisakan embun supaya cepat jalan. Aku tak bisa
menyembunyikan kegiranganku. Meski aku tak terlalu percaya kalau embun dapat
179
mempercepat anak yang lambat berjalan. Tetapi, aku tak hendak menunjukkan
ketidakpercayaan itu. Aku tidak ingin melihatmu kecewa. Seperti hari-hari belakangan
ini.
Karena itulah, kalau kau mau tahu, supaya kau mau tersenyum aku sering
mengobrol dengan tetangga atau teman-temanku di kantor untuk mencari kisah lelucon
dan cerita humor. Bahkan aku masuki toko-toko buku, mencari bunga rampai kisah
humor dan membacanya di sana. Tentu secara diam-diam, karena pelayan toko akan
memamerkan wajah tak sukanya kalau bukunya dibaca atau plastik pembungkusnya
disobek. Setelah kudapat, aku akan menuturkan padamu. Tak lain supaya kau terkekeh,
setidaknya tersenyum untuk hari-hari kita yang memang terasa sepi. Hanya kau tak
pernah terpancing, kau tak juga terpingkal ataupun tersenyum. Ada apa dengamu?
"Aku kangen sekali dengan Selvi…," suaramu lirih. Pelan. Hampir tak kudengar.
Aku nyaris tak percaya ketika kuyakini kau bersuara. Benarkah itu?
"Apa?" Sebenarnya aku ingin kau mengulang ucapanmu. Ya. Aku ingin sekali
lagi mendengar suaramu. Kau sudah lama pelit pada kata-kata. Padahal, semasa muda
dulu kau paling tangkas berbicara. Itu sebabnya kau menyukai diskusi. Ada saja
bahanmu untuk membuka dialog. Di rumah ini, denganku, atau dengan anak-anak kita.
Setelah itu, kau kuasai pembicaraan. Mengagumkan.
"Aku rindu Selvi. Ingin ketemu cucu. Lagi apa ya mereka?" kau ngulang, tapi
dengan kata-kata yang lain. "Apa Selvi juga kangen dengan kita? Bagaimana dengan
Yanto, kenapa dia tak menelepon atau mengirim surat?"
"Benar kau rindu?" aku bertanya. Kuingin sekali lagi kau mau bersuara. Namun,
beberapa menit setelah kunanti ternyata kau hanya diam. Membisu? Ah, aku
mengkhawatirkan kau akan menutup mulut lagi. Tak bicara. Merajuk. Tidur di kamar
sebelah. Mendekap mainan dan boneka Selvi. Seperti biasa.
"Aku yakin Selvi pasti kangen sama kita. Cuma mungkin dia belum punya waktu
kemari," lanjutku kemudian setelah tak kutemukan isyarat kau mau berkata. "Mungkin
Yanto sangat sibuk dengan pekerjaan di kantornya, makanya tak sempat menelepon
ataupun berkirim surat. Tetapi, yakinlah, mereka sehat."
Diam. Kau menunduk. Seperti sedang menyusun kata-kata, sebelum
kauucapkan. Kutunggu. Sekejap, dua kejap. Tak juga keluar. Aku kembali gundah.
Tentu kau akan mengakhiri percakapan ini. Malam ini. Sebelum kemudian kita lelap.
Tidak dilalui dulu dengan bercinta….
180
KAU tidak juga tersenyum, meski aku sudah berkali-kali membikin lelucon.
Sebenarnya ada apa denganmu? Kugali-gali lagi cerita humor dan kukemas semenarik
mungkin. Tapi, tetap saja kau tak terpancing. Pikiran apa yang mengganggu benakmu?
Aku mulai kehabisan sabar untuk segera mungkin melihatmu tersenyum. Ayo
sayang, senyumlah untuk usia senja kita. Jangan kau genapkan sepi ini dengan ulah
anehmu. Bayangkan bahwa kita baru menikah, bahwa kita sedang menikmati bulan
madu. Jadilah merpati, yang muda dan aduhai, demi warnai kembali semangat kuku
bimaku. Kepakkan sayapmu untuk perkawinan kita yang mulai masuk ambang.
Lalu kuajak kau memandang perempuan Jeihan. Kuingin kau seperti perempuan
dalam lukisan itu, tapi tidak untuk kedua matanya. Bola matamu lebih indah, itu salah
satu asalan mengapa dulu aku kesengsem padamu. Ayolah ke ruang depan, sudah lama
kita tak menikmati perempuan Jeihan. Aku mengajakmu. Hendak menggandeng
tanganmu, seperti dulu kupegang tanganmu tatkala menuju pelaminan seusai akad
nikah. Tetapi, kenapa tak juga beranjak dari ranjang itu?
"Aku tak lagi muda, tidak seperti perawan di kanvas itu," katamu. "Sejak Selvi
menikah aku merasa bukan lagi muda, dan begitu ia melahirkan aku merasa makin tua.
Aku pun menyandang sebutan oma…."
"Ya. Setiap orang pasti akan menuju tua, itu alami. Seperti siang berubah malam,
itulah bukti bahwa hidup ini fana-berjalan. Lalu, mengapa kau gundah dengan
perubahan?"
Aku tak gundah. Katamu-tepatnya membantah pendapatku. "Aku cuma
menyesali mengapa Selvi begitu cepat meninggalkan kita. Andainya dulu kau, sebagai
bapaknya, mau menunda pernikahannya tentu tidak seperti ini jadinya. Aku tak begitu
cepat menghadapi kesepian seperti ini," lanjutmu.
"Aku tak bisa menolak jodoh, seperti kita tak mungkin mengingkari usia. Jodoh
bagi Selvi sudah datang pada kita, dan aku sebagai bapaknya hanya merestui. Cuma
merestui. Dengan begitu, kuharap ia akan bahagia hidup bersama suami dan anakanaknya,"
jawabku lembut. Aku tak ingin kau tersinggung, kalau aku ikut bersuara
keras.
"Kenyataannya?"
"Selvi bahagia sekarang dengan suami dan anaknya. Aku yakin itu…."
"Kenapa ia tak mengabarkan kebahagiaannya, kalau dia benar bahagia?"
"Apa kau lupa, ia sering meneleponmu? Dua malam sekali?"
181
"Tapi, hati seorang ibu tak bisa dibohongi. Batinku berkata lain: ia tak bahagia
hidup di perantauan. Ia tak pernah jauh dariku…."
"Sekarang ia harus mulai belajar hidup mandiri. Saatnya dia lepas dari ketiak
ibunya. Dan, kau juga mestinya menerima kenyataan ini, seperti busur melepaskan anak
panah. Jangan dia kau bebani dengan kekhawatiran-kekhawatiranmu, yang mungkin
saja tak begitu benar," kataku kemudian. "Jangan perasaan yang ada dalam dirimu untuk
mengukur kebahagiaan orang lain. Aku kok sangat yakin Teuku Ashar Pasa tak menyianyiakan
anak kita."
Kau seperti ragu untuk mengangguk. Diam. Kembali menunduk. Ah, sudah lama
memang rumah ini sepi. Seakan tiada penghuni. Tak ada tawa dan pertengkaran kakakberadik.
Rumah yang kini benar-benar sunyi. Sepi yang memagut setiap waktu.
"Besok pagi aku mau menemui Selvi. Aku sudah benar-benar rindu." Tiba-tiba,
seperti lontaran peluru, kau berujar.
Apa? Aku kaget mendengarnya. "Kau pikir, rumah Selvi hanya dua atau tiga
kilometer? Kita mesti butuh waktu sekurangnya 12 jam!"
"Tak soal. Yang penting aku bisa temu dia. Juga cucuku."
Kalau kau sudah meminta, sulit aku membujukmu agar menunda. Maka
kutelepon Selvi. Malam ini juga. Kuutarakan keinginan ibunya.
"Biar Selvi saja yang pulang. Ibu tunggu saja di rumah, aku yang pergi yang
akan pulang. Aceh bukan dekat…."
"Tapi, ibumu berkeras. Dia yang mau menemuimu."
"Jangan ayah. Biar Selvi yang pulang. Aceh belum bisa menjamin nyawa orang.
Di sini kematian sama dekatnya dengan urat leher kita…," kata Selvi.
"Tapi…."
"Lagi pula, aku sekalian pulang memboyong Upita. Aku tidak tahan hidup di
kota yang tak bisa menjamin keselamatan. Teuku Ashar tak mau meninggalkan
kampung kelahirannya, meski perang di Aceh belum berhenti. Kata dia, kalau harus
memilih ia lebih memilih merawat ibunya daripada bersamaku dan Upita. Ya, itu
pilihan dia. Dan, Selvi juga punya pilihan…."
"Jadi, maksudmu…."
"Ya. Selvi mau tinggal bersama ibu dan ayah lagi," potongnya. "O iya, mana ibu.
Biar Selvi bicara langsung."
182
"Jangan, Nak. Malah ibu nanti sakit kalau mendengar ceritamu. Ayah saja yang
menyampaikan kalau ibu tak usah berangkat, karena kau akan pulang besok dengan
pesawat pagi. Kami akan menjemputmu di Bandara Radin Inten. Telepon saja kalau kau
sudah sampai di Cengkareng." Lalu pesawat telepon kumatikan.
Sebelum tidur, kusampaikan maksud Selvi. Tapi, tak kuberi tahu kalau ia akan
kembali dan tinggal bersama kami seperti dulu. Cukuplah aku dan Selvi yang tahu,
bahwa ia akan hidup menjanda. Barangkali juga hingga membesarkan Upita. Entahlah.
Dan, istriku merasa senang mendengar kabar Selvi akan pulang besok. Berulang
kali ia tersenyum, tak henti-henti kulihat wajahnya sumringah. Malam ini ia mau
menemaniku tidur. Kuharap ia tak lagi menyesali sepi. Perubahan itu yang membuatku
sangat berbahagia. Aku seperti kembali muda. Menancapkan kuku bima di bulan limau.
Lampung, 12 Juli 2004; 00.35
183
Ibu Peri Selalu Datang
Post : 06/02/2004 Disimak: 239 kali
Cerpen : Isbedy Stiawan ZS
Sumber : Riau Pos, Edisi 05/30/2004
IBU Peri itu datang lagi. Bocah perempuan berusia 7 tahun itu mengadu.
Mendengar cerita Sisi itu lagi, Mama Linda seakan tersengat hewan pengantup.
Badannya menggigil.
Dadanya bergoncang, amarahnya mengembang. Lagi-lagi Ibu Peri itu yang
dikatakan, gumam Mama Linda. Tetapi, tak urung hatinya berujar, benarkah ada Ibu
Peri, benarkah Ibu Peri sering bertandang ke rumah ini?
Kalau benar Ibu Peri sering datang dan selalu ada di rumah ini, alamat apa yang
bakal diterima Mama Linda? Akankah posisinya sebagai Ibu Sisi tergeser oleh Ibu Peri?
Jangan-jangan semua itu permainan Sisi untuk menyingkirkannya? Ia pandangi dengan
amat dalam bocah perempuan yang kini berada di hadapannya. Tetapi, Sisi seakan ingin
meyakinkan dirinya, kalau ia baru saja berjumpa Ibu Peri. Hati Mama Linda pun gusar,
matanya kian nanar.
Ibu Peri berwajah cantik namun terlihat bengis memang selalu datang untuk
menemui Sisi. Seperti kemarin lalu, kemarin malam, atau siang tadi sewaktu ia tidur.
Hanya, setiap kali ia ceritakan soal kedatangan Ibu Peri pada Mama Linda, selalu
ditepis bahwa Ibu Peri itu tidak ada dan tokoh itu hanya ada di dalam cerita-cerita
misteri. Berkali ia yakinkan Mama Linda, setiap kali itu pula ia menuai kecewa.
Setiap datang Ibu Peri selalu berubah-ubah wajah. Sesekali merupai Ibu Anita,
guru sekolah yang baik hati. Pada kali lain mirip Fra, sekretaris papa yang cantik namun
tampak seram. Dan kesempatan berikutnya, serupa Mama Linda yang cantik dan baik
hati. Atau Ibu Peri datang seperti Ida yang manis tapi perangainya menyerupai Nenek
Lampir.
"Jadi, kamu jangan percaya ada Ibu Peri di dunia ini," Mama Linda menegaskan.
"Kamu masih percaya kalau Ibu Peri yang datang dan selalu datang?" lagi Mama Linda
berujar. Ia tak ingin Sisi diracuni cerita-cerita misteri seperti itu.
Bocah perempuan itu seperti hendak mengatakan sejelas-jelasnya bahwa ia
selalu didatangi Ibu Peri. Sisi ingin mengatakan kalau ia tidak berbohong atau teracun
184
oleh cerita-cerita misteri dan hantu. Ibu nan cantik namun bengis beberapa kali
mendatanginya. Ibu yang secara lihatan lembut dan penyayang, namun seperti hendak
mengisap darah waktu ia terlelap.
Dalam hati ia ingin mengatakan, "Sayang Mama Linda enggak bisa lihat Ibu
Peri. Ibu Peri juga tak mau dilihat orang dewasa. Padahal, ia selalu datang ke rumah ini.
Makan di meja itu. Masuk ke kamar Sisi dan sesekali tidur. Ia sayang sama Sisi, Ibu
Peri sering bawakan Sisi permen. Tapi kalau lagi marah Ibu Peri lebih bengis dari ibu
tiri..."
Ibi tiri? Bibir Mama Linda bergetar mengulang itu. Cuma segera ia mengontrol
dirinya. "Sudah, kamu tidur lagi. Sore bangun dan belajar. Mama Linda mau ke rumah
Tante Lis ada pertemuan arisan. Dan, menjelang Magrib Mama Linda baru pulang.
Kalau papa datang lebih dulu, katakan saja Mama Linda pergi. Kamu mengerti?"
Sisi mengangguk. Pelan. Sebetulnya ia ingin protes: Mama Linda egois. Tak
mau mendengar cerita Sisi. Mama Linda tidak seperti teman-teman Sisi di sekolah.
Mira, Rum, Imas, Hesti, Anggi, atau pun Rhe yang selalu mau mendengar cerita Sisi.
Bahkan mereka percaya kalau Ibu Peri itu memang ada. Dan, mereka selalu
mengingatkan: "Hati-hati sama Ibu Peri, kelihatannya baik tapi sebenarnya jahat!"
Hampir bersamaan.
Sisi diam. Ia selalu menyimpan setiap pesan teman-temannya itu. Itu sebabnya,
ia tetap curiga dan waspada setiap Ibu Peri mendatanginya saat ia tidur. Sisi tak pernah
lengah sekejap pun. Sampai-sampai Ibu Peri heran, lalu membujuknya agar jangan
takut.
"Sisi termakan hasutan teman-teman ya? Atau Mama Linda yang cerita kalau Ibu
Peri jahat? Percayalah nak, Ibu Peri baik sekali. Bukankah sudah ibu buktikan setiap
datang membawa oleh-oleh?" suara Ibu Peri lembut. Aroma yang keluar dari mulutnya
harum bagai kesturi. Angin pun di dalam kamar tidurnya menjadi wangi dan sejuk.
Ibu peri menawarkan diri memasakkan untuk Sisi. Makanan yang lezat-lezat.
Sisi senang dan lahap memakannya. Ibu Peri juga bawa es krim. Setelah kenyang, Sisi
tertidur di paha Ibu Peri. "Kok, Ibu Peri enggak jahat?" Itulah pertanyaan Sisi setiap kali
didatangi Ibu Peri.
Terbukti sampai kini Sisi masih baik-baik. Itulah yang membuat temantemannya
percaya kalau Ibu Peri tidak jahat seperti dalam cerita-cerita yang mereka
185
dengar. Karena itu, mereka ingin bertemu Ibu Peri yang mendatangi Sisi. Mereka ingin
dibuatkan makanan lezat-lezat, es krim yang enak, chiken, Mc Donald, dan sebagainya.
***
"MAMA, kenapa Ibu Peri enggak datang-datang?" tanya Anggi, suatu malam,
menjelang tidur. Ini malam sudah sepekan ia berharap didatangi Ibu Peri. Ia ingin dalam
tidur bertemu ibu cantik yang baik itu seraya bercengkerama, juga dimasaki, makan
bersama, dibawakan es krim seperti Sisi. Ah, betapa indahnya. Ya! betapa senangnya
ditemani Ibu Peri ketika mama sibuk arisan dan pertemuan-pertemuan lain dengan ibuibu
di kantor papa?
"Mama dengar enggak sih?" bocah itu kembali menegaskan. Kesal.
"Husst... Anggi ini omong apa?!" suara mama meninggi tiba-tiba. Anggi kaget.
Wajahnya segera menunduk. Mengkerut. Takut. "Ibu Peri hanya akan datang pada
anak-anak yang diasuh Ibu Tiri. Apa Anggi mau punya ibu tiri, ha?!" masih dengan
nada tinggi.
Anggi mau protes. Mama pasti tak suka dengan Ibu Peri, takut disaingi kalau
sering menemui Anggi. Memang ia sering nonton serial Bidadari di televisi yang ada
tokoh Ibu Peri, di sana Ibu Peri amat sayang pada anak yang tak lagi punya ibu namun
selalu dijahati ibu tiri. Tapi, Ibu Peri yang ini lain. Hanya ia tak berani mengatakan itu
pada mama. Melihat wajah mama yang tak bersahabat, ia urungkan niat protesnya.
Ia kembali memejamkan mata. Mama membelai rambut Anggi. Menarik selimut
hingga ke bagian atas tubuhnya. Lalu mama keluar dan tidur di kamar sebelah. Setelah
suara pintu ditutup, Anggi melepas selimutnya. Duduk menghadap lemari rias.
Menghujamkan wajahnya ke cermin. Ia berharap dari wajahnya yang ada di di dalam
cermin itu muncul Ibu Peri. Seperti Ibu Peri yang datang pada Sisi. Akan tetapi, sudah
beberapa menit ia melangut menghadap cermin itu tak juga Ibu Peri datang.
"Jangan-jangan Ibu Peri sekarang lagi ke rumah Sisi?" ia membatin. "Mungkin
mama benar, Ibu Peri tak akan mau datang pada anak yang masih punya ibu kandung."
"Kamu masih percaya kalau Ibu Peri pasti datang?" suara mama yang tiba-tiba
sudah berada di ambang pintu kamar. Menggeleng. Menatap Anggi dengan pandangan
iba. "Jangan berharap ia tak akan pernah datang."
186
"Tapi, ma, Sisi kawan Anggi sering didatangi Ibu Peri? Kata dia, Ibu Peri itu
baik suka bawa oleh-oleh, suka masakin makanan yang enak, bikin es krim, dan"
"Bohong!" mama setengah berteriak. Anggi tercekat. "Kawanmu itu mengarang.
Ibu peri itu rekaan, hanya ada dalam dongeng. Supaya anak-anak takut."
"Kok Sisi bilang benar? Dia juga bilang Ibu Peri itu tidak menakutkan?"
"Ingat Anggi, sekali lagi kamu cerita Ibu Peri, akan mama bawa kamu tidur
dengan bik Inah di belakang. Mau?!" mam mengancam. Anggi makin ketakutan. Ia
rebahkan tubuhnya ke ranjang, menarik selimut hingga menutupi seluruh badannya.
Ibu peri tak pernah lagi ia impikan. Mungkin Sisi sering didatangi Ibu Peri
karena ia anak tiri. Angin yang diantarkan alat pendingin ruangan ini makin cepat
membawanya lelap.
"Aku tidak bohong kalau Ibu Peri benar-benar datang," Sisi selalu meyakinkan
teman-temannya agar ceritanya bukan karangan.
***
IBU Peri datang lagi. Kali ini tidak seperti biasa, wajahnya tak ceria. Ada apa
gerangan, wahai Ibu Peri? Ia juga tak membawakan oleh-oleh makanan lezat untuk Sisi.
Padahal, Sisi amat mengharapkan Ibu Peri membawakan makanan. Soalnya, sejak siang
tadi ia tak diberi makan oleh Mama Linda sebagai hukuman, karena ia tetap cerita kalau
Ibu Peri selalu datang.
Mama Linda benar-benar marah. Ia sudah menghukum Sisi tidak boleh ke
sekolah kalau masih cerita soal Ibu Peri, namun Sisi tetap menceritakan. Ia juga telah
dihukum di dalam kamar mandi selama dua jam siang kemarin, tetap saja ia cerita setiap
didatangi Ibu Peri. "Hukuman apa lagi buatmu ha?!" Mama Linda mengancam. Lalu ia
diancam tidak diberi makan seharian kalau masih cerita soal Ibu Peri.
"Mama Linda selalu enggak percaya sih? Sisi tidak bohong, Ma. Sumpah!" ia
memelas agar Mama Linda mau memercayai ceritanya.
"Pokoknya Mama Linda tidak percaya. Titik. Kamu jangan ngarang soal Ibu
Peri. Tak ada Ibu Peri itu, hanya dongeng!" tegas Mama Linda. "Awas kamu, kalau
papamu pulang akan Mama Linda adukan. Kamu sudah melawan." Ancaman itu tak
membuatnya gamang.
187
Saat mendengar Mama Linda menyebut papa, tiba-tiba ia amat merindukan
lelaki berusia 46-an tahun itu yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya di luar kota.
Hanya dua atau tiga bulan sekali pulang dan itu pun hanya sehari. Setelah itu kembali
suntuk dengan pekerjaannya di pabrik gula.
"Ibu peri juga tanya papa. Ia ingin melihat papa. Tapi, setiap papa pulang malah
Ibu Peri tak pernah datang," ujar Sisi lagi.
"Karena Ibu Peri itu bohong. Sudah berkali-kali Mama Linda katakan, kalau
benar Ibu Peri ada kenapa tak datang pada saat papa ada. Kenapa Mama Linda tidak
pernah melihatnya?"
Karena Sisi terus-terusan mendesak agar Mama Linda memercayai ceritanya,
akhirnya ia dihukum tidak diberi makan hari itu. Ia sekolah tanpa sarapan pagi. Begitu
pulang tiada makanan tersaji di meja. Bik Iyah diancam pecat kalau ketahuan mengasih
makan Sisi. Perutnya mulai keroncongan. Perih. Ia tak berani mencuri makan, sebab
Mama Linda selalu siaga di ruang tengah. Wajahnya pucat.
"Ibu Peri jahat! Tak bawa makanan buatku. Kenapa tak bawa, Ibu Peri? Aku
lapar sekali..." Sisi mengiba. "Kenapa wajah Ibu Peri tak ceria, kenapa?"
Ia mulai percaya omongan Mama Linda, kalau Ibu Peri memang jahat. Hanya
tampak luar saja yang manis, lembut, dan cantik. Kini ia membuktikan wajah Ibu Peri
bengis; jahat. Sisi hendak menghindar ketika Ibu Peri ingin mendekati dan hendak
membelainya. Ia juga tak mau diajak mengobrol kala Ibu Peri mau menggerakkan
bibirnya. Ia kian mengingsut ke tepi ranjang. Menepis tubuh Ibu Peri begitu ingin rebah
di sisinya.
Sisi meracau. Ia terus-terusan menghardik dan mencaci Ibu Peri. Besok pagi di
sekolah, ia berjanji tak akan bercerita tentang pertemuannya dengan Ibu Peri. Tak akan
dia katakan bahwa Ibu Peri baik hati. Teman-temannya yang mulai terpengaruh karena
ceritanya dan membuat ulah yang sama di rumahnya masing-masing, esok akan ia
ceritakan kejahatan Ibu Peri.
Kini tubuh Sisi amat panas. Terdengar meracaunya. Ia mengusir Ibu Peri.
Suaranya sampai ke kamar sebelah, kamar tidur Mama Linda. Segera Mama Linda
menemui Sisi. Dari ambang pintu Mama Linda menyaksikan Sisi menggerak-gerakkan
tangannya, seakan mengusir dan menolak. Tapi, Mama Linda tak melihat sesuatu pun di
sana.
188
"Jangan-jangan ia bermimpi lagi didatangi Ibu Peri," batinnya. Pelan-pelan
Mama Linda mendekati Sisi. Memegangi tubuhnya. Anak itu terasa panas. Pucat. Ia
segera teringat kalau seharian Sisi belum makan.
"Sisi, bangun. Bangun, nak!" kata Mama Linda. "Bik Iyah, sini cepat ambil
sekalian makan di meja!" imbuhnya memanggil pembantu Bik Iyah.
Bik Iyah datang dengan sepiring nasi, ayam goreng, dan sop semangkuk.
"Kasihan Sisi, dia lapar..."
Mama Linda cuma mengangguk.
"Seharian tak makan. Untung tidak pingsan," lanjut Bik Iyah.
Mama Linda kembali mengangguk. Pelan. Ia menyesal telah menghukum Sisi
seperti itu. Anak itu pasti tak tahan kelaparan. Tapi, apa boleh buat, hukuman sudah
dijatuhkan. "Sudah bik jangan bicara terus. Saya menyesal. Tak akan lagi menghukum
Sisi. Saya amat sayang padanya," ucap Mama Linda pada bik Iyah. "Habisnya Sisi
macam-macam ceritanya. Sudah saya bilang jangan cerita soal Ibu Peri, tak ada itu.
Hanya dalam cerita, tapi Sisi selalu ngomong kalau ia baru didatangi Ibu Peri. Kan
jadinya saya kesal..."
Kini Bik Iyah giliran mengangguk. Segera ia menyerahkan makanan ke Mama
Linda. Setelah itu menyodorkan air putih ke mulut Sisi.
Sisi memang mesti dihukum agar ia melupakan Ibu Peri yang katanya selalu
mendatanginya. Kalau tidak, kasih sayang yang selama ini ia curahkan pada Sisi akan
tersaingi oleh kehadiran Ibu Peri di dalam benak anak itu. Tidak. Mama Linda
membatin. Biar pun Sisi bukan anak kandungnya, tapi sangat menyayanginya. Meski
pun perkawinannya telah memasuki 4 tahun dengan papa Sisi dan ia belum juga
dikaruniai anak, namun ketika ia memutuskan menikah dengan Hendrik-papa Sisi yang
waktu itu duda-ia siap menerima Sisi sebagai anak sendiri. Ia juga siap dengan resiko
apa pun tentang Sisi. Tidak terbersit sedikit pun niat dia untuk melukai hati maupun
tubuh Sisi. Sampai menjelang tidur pun ia tak abai mendongeng. Apa saja. Dongeng
kancil yang cerdik, raja hutan yang senantiasa dibohongi kancil, hewan berbelalai
panjang yang bodoh, atau kisah lembu yang sombong akhirnya perutnya pecah. Juga
dongeng Ibu Peri yang jahat.
"Tak benar, kalau ibu tiri selalu jahat. Anak tiri malah ada yang jahat sama
ibunya. Anak yang baik tak boleh berbuat dosa pada ibunya, meski ia ibu tiri..." nasihat
Mama Linda suatu kesempatan untuk menutup dongengnya.
189
Dongeng-dongeng yang diberikan Mama Linda itu, boleh jadi, yang terus
membekas di benak Sisi. Lalu menjelma jadi keinginan, impian, dan kehendak bahwa
Ibu Peri telah dan selalu datang. Setiap dia tidur. Suatu jelmaan Mama Linda? Entahlah.
"Mulai sekarang kamu harus melupakan Ibu Peri. Kau pasti bisa, asalkan punya
kemauan" pesan Mama Linda.
"Tapi, Mama Linda" suara itu tercekat. Ia tak mampu melanjutkan ucapannya,
karena bila ia teruskan bukan tak mungkin Mama Linda akan marah lagi. Memberi
hukuman lebih berat lagi. Dihukum seharian tak diberi makan saja, ia sudah tak mampu.
Dan hukuman itu sangat berat, karena ia belum pernah dihukum Mama Linda seberat
itu. Dimarahi pun tidak.
Sebenarnya Sisi ingin mengatakan terus terang, kalau beberapa menit lalu ia
kembali didatangi Ibu Peri. Tetapi, tidak seperti hari-hari sebelumnya, kehadiran Ibu
Peri kali ini tak bersahabat. Wajahnya tampak bengis, rambutnya acak-acakan,
pandangannya menyeramkan. Ibu peri juga tak lagi membawa oleh-oleh. Ia pun
kecewa. Itulah yang membuatnya meracau, memaki, dan mengusir Ibu Peri. Suara
caciannya sampai terdengar ke kamar tidur Mama Linda. Sayangnya, Ibu Peri yang
datang kali ini, mirip Mama Linda. Itu sebabnya, Sisi tak mampu membencinya. Mama
Linda, meski ibu tiri, amat sayang padanya.
"Kalau Ibu Peri datang lagi dengan wajah cantik. Dan, bawa oleh-oleh,
Mama...?"
Entah apa yang ada di benak Mama Linda. Ia menepis jawaban yang hampir
meluncur dari bibirnya. Bagaimana pun ia tetaplah ibu tiri bagi Sisi. Sulit menghapus
kesan jahat dari dalam hati gadis bocah itu...***
190
Pembunuh
Post : 03/25/2004 Disimak: 239 kali
Cerpen : Isbedy Stiawan ZS
Sumber : Padang Ekspres, Edisi 03/21/2004
AKU baru saja membunuh. Seorang lelaki kekar penuh tato di kedua tangannya
hingga pergelangan, kini tak tak bernapas lagi. Ini pertama kali dalam hidupku jadi
pembunuh. Kini mayatnya tengah kubawa. Aku belum berpikir apakah jasad lelaki yang
kubopong ini akan kuserahkan sekaligus aku menyerahkan diri di Kepolisian. Atau
kuserahkan ke petugas UGD rumah sakit di kota ini, dengan alasan korban kutemukan
di ilalang dalam genangan lumpur.
Aku melangkah payah menyibak ilalang. Berat mengangkat kakiku dari
kubangan lumpur. Ditambah beban tubuh lelaki yang telah menjadi mayat yang
kubopong. Langkahku lambat. Keringat mengucur deras di seluruh tubuhku. Dadaku
berdegup. Masih kugenggam belati yang penuh darahku dan darah dari korban ini.
Matahari baru menyembul dari balik rimbunan pohon pisang di sebelah Timur.
Sebentar lagi orang akan banyak meliwati tempat ini. Aku tak ingin ditanya ini dan itu
perihal mayat yang kini ada dalam gendonganku. Orang hanya bisa bertanya, tak pernah
memberikan solusi. Malah karena pertanyaan mereka bisa-bisa aku menjadi emosi, lalu
membunuh lagi: satu atau dua orang. Hukuman buatku akan menjadi berat.
Pakaianku sudah bercampur darah dan lumpur. Wajahku berpupur tanah becek
dan sedikit percikan darah. Sebilah pisau yang kini membeku dalam genggamanku
seakan ingin berkata: "Lunas sudah apa yang ditakdirkan padaku, titah tugas kepadaku.
Kini tinggal kalian yang menentukan makna sebilah pisau...."
Sekonyong-konyong aku membenci belati di tanganku ini. Kupandangi kilatan
tajam di tubuh pisau itu. Pisau yang tanpa mata dan bibir ini telah sukses
memengaruhiku, menggodaku untuk menusukkan matanya yang tajam ke perut orang!
Mengapa kau diciptakan untuk melukai dan menghabisi nyawa orang? Tidakkah cukup
tugasmu hanya untuk mengiris bawang, tomat, kentang, wortel, atau kue ulang tahun?
Kini kau telah memerangkapku.
Karena kebencianku, baru saja pisau itu hendak kulempar ke kubangan lumpur.
Kemudian kutenggelamkan hingga tak ada yang bisa melihatnya. Terbayang aku pada
191
kelicikkan Ken Arok yang membunuh Tunggul Ametung untuk memperistri Ken Dedes
yang cantik. Keris yang tak saja memakan tuannya tetapi juga merebut istri Tunggul
Ametung itu, kini menjadi sejarah liciknya Ken Arok.
Mungkin ada kemiripan peristiwa Ken Arok—Tunggul Ametung dengan
peristiwaku kini. Pisau yang telah menyelesaikan hidup lelaki kekar ini adalah miliknya.
Dalam perkelahian seru di pagi buta tadi, aku mampu merebut belati dari tangannya
kemudian kuhunjamkan berkali-kali ke perut, dada kiri, leher, dan tepat di kelaminnya.
Setelah pisau itu membuat satu lubang di tanganku. Aku bagai banteng ketaton.
Tak hanya menyeruduk dengan berbagai tinju ke tubuh lelaki itu, tapi menendang,
ginkang, dan sekali sambar aku berhasil merebut pisau dari tangannya. Lalu bagai elang
menyambar ikan di tengah laut, kuhunjamkan belati itu berkali-kali ke tubuhnya. Ia
mengerang. Mundur beberapa langkah. Setelah itu rebah. Aku belum puas.
Kutancapkan sekali lagi ke batang penisnya.
"Akulah Ken Arok...." aku seperti berteriak. Wajah lelaki licik dalam sejarah
kerajaan di Tanah Jawa itu tiba-tiba membayang dekat dalam ingatanku. Aku tak
mampu menghapus sejarah yang sudah begitu melekat di otakku sejak aku di bangku
sekolah.
Inilah sejarah yang membuat banyak manusia melakukan pengkhianatan kepada
raja. Sejarah perebutan tahta dan wanita, yang berakhir dengan kematian dan tercela.
Sejarah turun-temurun sejak Kabil dan Habil, manusia pertama yang melakukan
pertumpahan darah di muka bumi ini. Dan, sejarah akan terus berulang. Terus
berulang....
Teringatlah aku pada Muso, Aidit, dan seterusnya. Para pemberontak, ah
tepatnya pengkhianat pada negara itu, telah menghabisi para jenderal dan mayatnya
dilempar ke sumur di Lubang Buaya. Lalu masih banyak lagi. Seperti Ken Arok yang
menjelma dalam diri orang-orang, hambasahaya, karyawan, atau pun pejabat sendiri.
Wahai Ken Arok, telah masuk ruhmu
ke dalam tubuhku di pagi buta ini
Ia telah tertanam lama
sejak sejarah mengajarkan kelicikkan
dan pengkhianan
*
192
TAPI aku bukan Ken Arok. Aku tak membunuh lelaki kekar ini, hanya karena
menginginkan isterinya. Tetapi kami memang pernah melakukan perselingkuhan.
Hanya sekali. Setahun lalu. Itu pun tak kusengaja. Istrinya yang mulai menggodaku,
ketika kami berpapasan di sebuah mal yang baru dibangun di kota kami.
Lalu berkenalan. Saling memberi nomor kontak. Ternyata aku lupa menulis
nomor untuk menghubunginya itu di bekas nota pembelian. Sesampai di motor, nota itu
kulipat-lkipat dan kubuang bersamaan karcis parkir. Aku tak bisa menghubunginya.
Otakku yang tak begitu baik, tak mungkin mudah mengingat nomor yang panjang itu.
Perempuan itu menguap bersamaan pikiran-pikiran dan kesibukanku yang lain.
Pada hari keenam, perempuan itu menelepon ke hand phone-ku. Pertama-tama,
tentu saja, menanyai kabarku dan memintaku kembali mengingatnya. Aku katakan
kabar baikku dan masih ingat saat pertemuan kami di mal. Kemudian ia mengajakku
jalan. Makan di sebuah kafe yang biasa dikunjungi para remaja. Kukatakan risih, seperti
remaja begitu. Dia bilang ada tempat khusus bagi orang dewasa di kafe itu. ya, kupikir
apa salahnya, cuma makan.
Ternya bukan hanya makan. Dia kemudian mengajakku jalan-jalan, sampai sore
dan bahkan menjelang malam. Aku khawatir kemalaman, ia akan didamprat suaminya.
Tetapi ia tenang menjawab: "Suamiku lagi di luar kota...." Aku serbasalah.
Itulah petaka bagiku. Suaminya tahu entah dari mana, lalu memburuku berharihari
hingga berminggu dan berbulan-bulan. Sampailah lelaki kekar itu menemuiku di
jalan dan menarikku naik ke mobilnya. Aku dibawa ke pematang ilalang berlumpur ini.
Mengajak duel. Mulanya aku menolak. Ingin menyelesaikan masalah ini secara baikbaik
dan kekeluargaan. Ia tetap mengajakku duel. Tangan kosong.
Kulayani tantangannya. Kami duel habis-habisan. Di pagi buta itu. Ia terdesak.
Dadanya sesak setelah tendanganku mendarat di dadanya. Dia oleng. Segera ia
mencabut belati dari balik bajunya. Mengacung-acungkan ke wajahku. Secepatnya aku
mengelak. Tak ayal, tanganku terkena. Tertancap ujung pisau yang tajam itu. Aku
mengerang. Mulailah banteng ketaton keluar dari kandang. Meradang. Menerjang.
Menyambar pisau miliknya, dan sekali bergerak dua tiga hunjaman pisau mengenai
tubuhnya. Kini giliran dia yang mengerang. Hingga ia rebah bersimbah darah. Mati di
tempat. Baru sadar setelah melihat lelaki itu tak bernyawa lagi, bahwa aku telah menjadi
pembunuh. Di pagi buta ini.
193
Aku diserbu kegusaran. Pikiranku kacau. Suaraku parau. Mataku mulai nanar
menatap sekelilingku menjadi samar. Berselimut kabut. Bagai kapas luruh memenuhi
pematang berlumpur ini. Segalanya serbaputih. Akan tetapi, hatiku kelam. Semula akan
kubiarkan tubuh tak bernyawa lagi itu. Di lumpur itu. Langkahku mulai bergerak. Tibatiba
rasa kemanusiaanku timbul. Kuangkat tubuhnya. Kuambil pisau yang tadi telah
kutenggelamkan ke dalam lumpur. Ini sejarah, pikirku.
Begitulah, seperti yang telah kuceritakan sebelum ini. Aku membopong tubuh
kaku itu. Entah mau ke mana. Belum terpikir. Kantor Polisi masih jauh. Juga rumah
sakit terlalu jauh dari tempat ini. Belum ada orang yang mengetahui peristiwa ini. Aku
melangkah dengan payah keluar dari kubangan ini, dari ilalang yang menghadang.
Langkahku gontai. Pikiranku sangsai.
Cukup lama aku bertarung untuk sampai ke tepi jalan. Jatuh bangun aku supaya
bisa keluar dari kubangan lumpur dan jeratan ilalang, untuk sampai ke tepi jalan.
Kunaikkan tubuh yang sudah kaku itu ke atas mobil. Kubawa mengeliling kota. Tidak
menuju pos kepolisian atau rumah sakit. Tidak pula menuju rumah istrinya. Tiada pula
mampir ke rumahku. Sudah bermil-mil perjalananku. Bensin sudah beberapa kali kuisi
kembali.
Kubawa tubuh tak bernyawa itu berhari-hari, berminggu-minggu, berbulanbulan.
Aku kehilangan ingatan bagaimana cara mengubur manusia. Habil dan Kabil
lesap dari benakku. Dalam buku sejarah pun, tidak dikisahkan bagaimana Ken Arok
mengubur Tunggul Ametung dan mengawini Kan Dedes. Sejarah hanya menulis
pembunuhan itu dari keris bikinan Empu Sendok. Hanya itu. Guru tak banyak
membumbui sejarah itu agar lebih sedap didengar. Para pendidik terlalu takut
berakrobatik mengisahkan kembali sejarah dengan cara dan gayanya. Aku maklum.
Para guru memang mengajarkan apa yang pernah diajarkan dan diterimanya. Tak berani
memberi fantasi baru sejarah yang telah didapatnya.
Aku ingin mengarang kisah pembunuhan ini. Aku harus membuatnya semenarik
dan sesedap mungkin. Sehingga kepolisian akan berdecak-decak kagum saat mendengar
penuturanku. Pihak rumah sakit pun akan terbata-bata saat aku menuturkan kisah ini,
sampai tak terasa dia sudah selesai mengaotopsi mayat lelaki kekar ini.
Aku harus mulai dari mana? Aku mulai mereka-reka bangunan cerita. Membuat
anatomi kisah. Apakah dimulai dari pembunuhan, kemudian plashback ke pertemuan
awalku dengan perempuan yang kuketahui kemudian adalah istri dari lelaki ini. Atau
194
kumulai dari kehidupan rumah tangga mereka, lalu ke pertemuan dan perselingkuhan
kami di sebuah kafe? Ah, aku jadi bingung.
Pengalaman mengarangku di sekolah amat buruk. Nilai pelajaran bahasa
Indonesiaku tidak bisa membanggakanku. Aku juga tak terbiasa membaca karya-karya
prosa. Bahkan aku tak menyukai karya sastra. Kupikir para sastrawan hanya merangkai
kebohongan-kebohongan. Dusta yang diklaim menjadi kebenaran. Bagaimana mungkin
airmata bisa jadi menenggelamkan banyak orang? Bagaimana bisa soal kalung yang
ditelan pencopet lalu disuruh mengeluarkan dengan memaksa harus berak. Lalu kalung
itu keluar dan dengan penuh tahi ditelan kebali. Bukankah itu memamerkan hal-hal
yang menjijikkan. Apa mungkin manusia bisa ditanam di tengah hujan, atau lembu ada
di dasar laut? Terlalu mengada-ada. Tak bisa diterima oleh pikiranku yang hanya
berpikir konvensional ini?
Akhirnya aku gagal membuat karangan, semenarik dan sesedap yang
kubayangkan. Berlembar-lembar kertas—bahkan sudah tiga rim—habis kubuang di
sembarang, namun tak juga ada kalimat di sana. Kecuali barisan huruf yang baru
menjadi satu kalimat. Selebihnya putih atau coret-coretan.
Kujalani mobil. Entah ke mana. Kutembus malam buta penuh kabut, di lereng
puncak yang berliku-liku. Kuikuti arah kehendak perasaan. Lebih dari 100 kelokan
sudah kulalui. Seperti tiada batas akhir. Terus mendaki dan mendaki, tapi tak juga
kulihat tanda-tanda akhir perjalananku.
Kutengok tubuh tak bernyawa yang sudah sangat kaku, yang kuletakkan di kursi
belakang. Seperti orang tertidur karena lelah. Aku berpikir. Lelaki itu sudah jadi
pecundang. Wajahnya yang seram, tubuh kekar, penuh tato yang membuat orang
ketakutan, kini tak lagi bisa berbuat apa-apa. Akan kubuang di mana pun ia tak bisa lagi
menolak. Akan kulempar ke jurang, dia akan pasrah mengikutinya. Kucincang tubuhnya
menjadi potongan 13 atau 100, tak juga akan meradang. Dia telah diam. Diam untuk
selamanya.
Aku memacu mobil milik lelaki kekar ini. Menyusuri lereng berliku entah berapa
kelokan. Sudah sulit kuhitung dengan jari-jariku yang cuma ada 10. Aku hanya bisa
menghapal sampai 100 kelokan, setelah itu lupa. Kupegang erat setir agar tak tergelincir
masuk jurang yang kedalamannya sangat curam. Kupacu gas mobil ini sekencang
mungkin. Aku ingin sampai di batas puncak dari jalan ini. Kuyakini setiap langkah ada
ujung, setiap jalan ada batas akhir.
195
Cuma sampai sejauh ini aku belum menemui rambu-rambu. Mobilku seperti
terbang di ketinggian paling tinggi. Melebih puncak Ciloto di Jabar atau kelok 50
menuju Bukittinggi. Ah, aku jadi bimbang. Hatiku gamang. Jangan-jangan aku tak
pernah menemui akhir perjalananku ini. Tak memeroleh puncak dari segala puncak
yang kulalui ini. Dan, aku terus mendaki. Dengan mobil yang kini mulai menunjukkan
bensin yang nyaris habis. Aku menepi untuk mengisi bensin terakhir dari derijen satusatunya
yang kubawa. Sehabis ini, dan perjalanan belum sampai, tamatlah
pengembaraanku bersama mayat lelaki kekar itu.
Aku kembali memacu mobil biar secepatnya sampai di batas puncak, akhir dari
perjalananku berwaktu-waktu. Setelah itu, mungkin akan kulempar mayat lelaki ini ke
bawah, ke dalam jurang yang sangat curam itu. Kubayangkan tubuh tak bernyawa itu
akan melayang. Seperti gantole atau olahragawan yang terjun ke jurang dengan kedua
kakinya terikat. Ia akan melayang-layang hingga kemudian menyentuh air. Ia akan
terbang bagai kupu-kupu untuk kemudian singgah dan menyentuh tanah.
Tetapi kapan waktu itu bisa kumulai? Aku masih terus mendaki. Berliku dan
entah sudah berapa kelokan lagi telah kutempuh sesudah kuisi bensin tadi. Tak ada
kenderaan lain. Tiada kampung di pinggir jalan. Tiada orang yang akan meladang atau
pulang. Tiada kutemui satu manusia pun. Juga hewan baik yang melata maupun yang
buas. Aku mulai mengantuk. Kubunuh dengan bersiul. Menyenandungkan syair
sembarang. Tak juga melenyapkan rasa kantukku. Aku mulai menguap. Berkali-kali.
Mataku sudah sulit kubuka. Selalu ingin mengatup setiap kali kulebarkan kelopaknya.
Aku bimbang.
Hatiku gamang.
Kesadaranku terbang.
Kemudiku oleng. Ke kiri. Ke kanan. Pandanganku gelap. Kabut tebal di depanku
makin menutup penglihatanku. Aku ingin makan. Tiba-tiba perutku terasa amat lapar.
Mana nasi, ikan, atau sekadar daun-daunan untuk mengganjal perut. Tak ada. Aku lupa
membawa makanan. Lupa membeli di kota tadi.
Jalan kian menyempit, makin banyak kelokannya. Sudah berapa kaki aku berada
di atas ketinggian ini. Aku tak tahu. Aku benar-benar tidak tahu. Tak bisa menghitung,
sebab tiada alat penanda di mobil yang kubawa karena tanpa persiapan apa-apa. Kecuali
ketakutan. Ketakutan seorang pembunuh.
196
Keberanianku tiba-tiba juga lenyap. Awalnya kuingin menguburkan mayat ini di
lereng bukit tadi, tapi batal karena khawatir dilihat atau dicium orang. Lalu polisi
menyidik dan akhirnya tahu kalau pembunuhnya adalah aku. Maka kudaki puncak ini.
Siapa tahu di atas ada tempat lebih baik untuk memakamkan mayat ini. Sialnya, aku tak
menemu rambu-rambu berapa mil lagi aku akan sampai? Jangan-jangan tiada batas.
Mungkinkah, sesungguhnya aku telah sampai di awan? Di langit ke tujuh?
Aku tak bisa memastikan. Hujan deras membuat pandanganku kian terbatas.
Kemudi makin oleng. Aku tak mampu lagi mengendalikannya. Mobil menabrak
pembatas jalan dari pohon ranggas yang tumbuh di bagian kiri.
Aku tersenyum. Aku seperti menaiki pesawat terbang yang baru hendak
mengangkasa. Kulihat semesta di bawah sana bagai terowongan besar yang siap
menelan tubuhku. Aku telah sampai membawa mayat ini ke hadapanmu. Juga
menyerahkan segala kekhilafanku. ***
Lampung, 2003
197
Perangkap
Post : 03/10/2004 Disimak: 191 kali
Cerpen : Isbedy Stiawan ZS
Sumber : Suara Karya, Edisi 03/05/2004
Ia menyebut percintaannya dengan berpuluh lelaki bagai memasukkan mereka ke
dalam perangkap. Dari lelaki pertama hingga yang keduapuluh kemarin, seperti dia
membangun perangkap demi perangkap.
"Para lelaki memang begitu maunya. Paling suka terlelap dan lupa di dalam
perangkap, istana yang sesungguhnya membuat mereka mati dengan sendirinya." Ia
memberi alasan kenapa ia membangun percintaan, tepatnya perangkap, dengan para
lelaki. Selama ini. Beberapa tahun terakhir ini.
Ia tak begitu cantik, tapi manis. Beraora. Matanya yang bagai mata elang, tajam
dan bercahaya, membuat para lelaki langsung tergila-gila setelah tatapan pertama.
Bahkan Dadan yang kutahu pejabat di sebuah departemen di pusat dan tampan,
mengaku tergila-gila pada perempuan berusia 21 tahun ini. Aku seperti terhipnotis.
Sakit. Gila. Ia bangun perangkap untukku. Aku sulit keluar. Dadan berterus terang. Aku
tersenyum-senyum.
Aku berpikir, bukan benar perempuan ini membuat perangkap. Tapi, para lelaki
yang suka masuk atau coba-coba memasuki perangkap perempuan. Tak ada perempuan
di dunia ini yang mampu memerangkap lelaki, kecuali lelaki yang menghendaki.
Sebaliknya, perempuanlah yang acap masuk ke dalam perangkap lelaki.
"Tapi, kalau kau tak percaya boleh coba-coba menggodaku. Kau akan masuk
dalam godaanku. Kau akan kuperangkap." Perempuan itu berujar, sedikit mengancam.
Jangan-jangan ia menakut-nakuti?
II
Perempuan ini seorang seniman. Ia penulis cerita pendek yang andal. Beberapa
karya sastranya dipublikasi di sejumlah media massa: koran, tabloid, jurnal, ataupun
diterbitkan dalam sejumlah buku antologi. Karya-karya sastranya selalu diselesaikan
198
dengan kematian atau percintaan habis-habisan. Atau keduanya, bahkan, bersama-sama
dimunculkan dalam satu karyanya.
Aku pernah membaca karya cerita pendeknya. Di sebuah tabloid wanita. Di
bawah tulisan ada persembahan kepada seseorang. Aku meyakinkan penujuan itu
pastilah nama lelaki yang telah bercinta dengannya. Sialan. Tak sungkan ia
mengangguk. Aku tak pernah absen menulis persembahan pada setiap karya. Karena
merekalah karya-karyaku lahir. Dia menambahkan.
"Karya-karyaku lahir selalu sehabis bercinta. Sumber inspirasiku para lelaki itu.
Mereka memang kerap ingin menjadi objek." Dia tertawa. Sebatang rokok putih
kembali ia hidupkan.
Aku terheran-heran. Tapi ia segera mengingatkanku jangan menatapnya dengan
keheranan seperti itu. Ia menegaskan, jika aku berada pada posisi sepertinya, tentu tak
ada yang harus dirisaukan. Setiap profesi jelas ada pengorbanan dan risiko. Betapa
sekecil apa pun.
Sayang aku bukan seniman. Dia mendesis untukku. Lalu apakah karena dia
seniman, ia membebaskan segala pandangan, norma, dan segalanya? Aku tak percaya
itu. Kalau pun dia ingin bercinta dan selalu berahi, bukan karena dorongan naluri
seniman.
"Kau benar. Kuakui itu. Tapi apakah aku salah kalau percintaanku selama ini
untuk mendorong kehendak inspirasiku?" Matanya nyalang. Pandangannya terang.
"Kau akan menyesal nanti." Aku menekankan kata-kata itu. "Misalnya,
bagaimana karena permainan bercintamu itu, kau hamil?"
"Makanya harus ada aturan. Kesepakatan harus disudahi sebelum orgasme!" Ia
lalu tertawa. Kali ini sangat lepas dan lama. Gila. Aku berpikir. Perempuan yang ada di
depanku ini benar-benar sakit.
"Kau sakit!" kataku keras. Gigi-gigiku gemeretak. Ingin kujambak rambut
perempuan di hadapanku ini. Ia telah menempatkan perempuan sebagai pemuas nafsu.,
sebagai perangkap bagi para lelaki. Sebagai perempuan aku tersinggung. Sungguh
tersinggung.
Ia kembali terbahak. Ia mengajakku bercinta. Lesbian, entakku. Ia tertawa lagi.
Biseks. Berbisik di telingaku. Hemm embusan napasnya membuat rambut halusku di
sekitar leherku berdiri. Geremang.
199
Sialan! Perempuan ini keterlaluan. Sudah keliwat batas. Usianya saja baru 21
tahun, tapi permainan bercintanya sangat pengalaman. Aku yang berada enam tahun
usia di atasnya, dibuat tak berkutik. Aku mengakui kedahsyatan bercintanya.
Pernah kudengar ia mampu memerangkap sang gurunya di kelas sastra. Lelaki
yang sudah beristri, duapuluh tahunan usianya di atas dia, bisa tak berkutik. Sang guru
bisa dia perintah dengan cukup melalui kontrol remote. Awalnya sang guru tak mampu
menolak setiap ia mengajak bercinta. Lama-kelamaan perempuan ini ketagihan. Ia jatuh
cinta, padahal perasaan itu selalu ia tepis dari dalam hatinya. Ia bilang, tiada cinta lagi
dalam diriku kecuali ingin senggama. Habis-habisan bercinta.
"Tapi kau pernah jatuh cinta berat kan dengan sang gurumu?"
"Bahkan aku sempat sakit!" Dia menegaskan. "Aku pernah mendesak sang guru
untuk menikahiku, tapi ia tak mau. Dia tak berdaya. Punya anak dan istri. Punya jabatan
yang bagus di departemennya. Takut akan berdampak pada karier dan keluarganya. Ia,
ternyata pengecut!" Gigi-giginya gemeretak. Perempuan di depanku ini menitikkan air
matanya.
Aku kasihan padanya. Prihatin. Ia sakit. Punya kesepian akut. Ia senantiasa rindu
pelukan lelaki. Maka itu ia menggerayangi jalan demi jalan, kampus demi kampus,
tempat pertemuan dan seminar di berbagai kota. Untuk menemukan permainan baru,
percintaan yang lain. Ia hendak membikin kelamin lain.
III
Entah mengapa aku begitu kesepian. Hanya kesepianku yang mampu membunuh
ketegaranku. Bukan badai. Tak kutukan. Aku mampu menggandeng satu lelaki. Aku
bisa setia. Hanya aku tak ingin itu. Pernah aku mencintai seseorang lelaki. Kala itu aku
baru menginjak kelas dua SMU. Lelaki itu sudah sangat akrab dengan orang tuaku, dan
keluargaku sangat menyetujui. Sayangnya ia pergi tak berkabar. Kecewa.
Akhirnya kuputuskan untuk pergi dari kota kelahiranku, setelah aku menamatkan
SLTA. Aku tak pernah mendapatkan apa-apa di situ. Kesepianku makin menjadi-jadi.
Orang tuaku terlalu sibuk urusan sendiri. Aku diberi apa saja. Yang penting tidak
mengusiknya, tidak mengganggunya. Aku kehilangan kasih sayang. Pelukan seorang
lelaki. Papa terlalu jauh. Tangan dan belaiannya tak pernah mencapai tubuhku.
200
Sebagai perempuan kedua di keluarga, aku malah menjadi pelindung kakak
perempuanku. Ia penyakitan. Harus diperhatikan. Dilindungi. Itu sebabnya, terkadang
aku berperan sebagai kakak bagi dia. Sungguh menyiksa. Siapa yang akan menjadi
pelindungku. Kesepianku membutuhkan pelabuhan. Tak papa. Tiada mama. Kedua
kakak lelaki asyik dengan keperluannya di lain kota.
Alangkah berat beban psikologiku. Aku kerap melamun. Hasilnya kutuangkan ke
dalam berpuluh-puluh lembar kertas polio. Berjam-jam aku menatapi layar komputerku.
Berjam pula kuhabisi halaman layarnya dengan kata-kataku. Kisah-kisah bercintaku.
Mautku. Persetubuhanku. Cahaya maha cahaya kesepian dan kesedihanku. Tapi kau tak
pernah mau tahu diriku. Kau hanya bisa mencibirku. Menertawaiku. Melakukan jarak
dariku.
Di kamar sewaanku ini, entah sudah berapa tumpukan kertas kucabik. Di ruang
tidurku ini, aku tak bisa membunuh kesepianku dengan rokok. Bersih dari asap rokok.
Kalau aku hendak merokok aku harus keluar. Mencari tempat aman. Di pantai. Di
tempat-tempat seminar. Di kamar hotel. Dalam pelukan para lelakiku. Lelakiku yang
tak pernah sampai mengendap dan berkesan di hatiku. Mereka kuanggap seperti burung.
Hinggap sekejap dan kulupakan kemudian bila ia terbang. Kubangun sangkar baru.
Kuciptakan perangkap lain. Seterusnya.
Sialan. Aku tak pernah puas. Selalu saja aku gagal membunuh kesepianku.
Mungkin sudah dua puluh lelakiku terperangkap. Tapi tak satupun membekas. Tak
meninggalkan jejak tanda di tubuhku. Kecewa. Aku sudah habis-habisan bercinta.
Habis-habisan menyiapkan diriku di hadapan para lelakiku. Nama-nama para lelakiku
selalu kuabadikan di dalam karya-karyaku. Kububuhi di setiap penghabisan kisah.
Sekadar mengenangnya. Untuk persembahan bagi lelakiku.
Tak boleh di antara para lelakiku cemburu. Tak setuju. Ah, soal ini pernah terjadi
dalam sejarah karya cerita pendekku. Seorang lelakiku menolak nama lelaki lain
dibubuhi dalam karyaku. Ia cemburu. Dihapus nama lelaki itu. Aku tak setuju. Marah.
Kukatakan padanya, tak satu pun lelaki yang pernah terperangkapku menolak nama
lelaki lain dalam karyaku.
"Kalau namamu belum kuabadikan, bukan karena kau tak berkesan bagiku dan
bercintaku. Karena belum ada suasana. Inspirasi untuk menuliskannya." Dia diam
setelah kujelaskan itu.
201
Aku tak pernah ambil pusing penilaian para kritikus soal karya-karyaku. Seorang
kritikus ternama malah mengaitkan karya cerpenku dengan kenyataan. Dalam kritiknya,
kritikus itu mengatakan, kalau karya-karyaku lahir dari perselingkuhan fisik dan psikis
dengan sang guruku, lelakiku.
Aku cuma tersenyum. Kritikus murahan. Tak bisa membedakan antara fiksi dan
realitas. Kalau benar aku berselingkuh-tepatnya bercinta-dengan sang guruku, apa
peduli kritikus itu menarik karya fiksiku ke dalam realitas? "Aku jadi tak percaya
dengan kritikus. Sering menempatkan diri sebagai dokter, sementara karya dan
pengarangnya adalah pasien. Si pesakit," aku membela dalam sebuah wawancara.
Dendamku. Suatu saat aku akan memerangkap kritikus itu ke dalam inspirasiku.
Akan kububuhi namanya di bawah tulisanku. Aku ingin tahu reaksinya. Bagaimana ia
memandang karya sastraku. Adakah kritikus itu tetap melihat karyaku sebagaai bagian
dari dunia nyataku, percintaanku dengan dia?
Pada sebuah seminar sastra, aku bisa memerangkap kritikus. Ia masuk dalam
inspirasi bercintaku. Sepekan kemudian karyaku dimuat sebuah tabloid wanita.
Kritikusku meneleponku. Emosi. Memaki-makiku sebagai perempuan sundal,
penggoda, sampai mengucapkan pelacur.
Kalau aku pelacur, para lekakiku sudah kukuras isi dompetnya. Tapi tak pernah
aku meminta imbalan dari mereka. Cukup mereka bilang menanti di kota anu atau di
hotel anu ada seminar, aku akan datang dengan biaya dari sakuku.
Kritikusku tak pernah membicarakan karyaku itu. Ia malah mendudukkan
karyaku hasil dari inspirasi dengannya sebagai karya bermutu rendah. "Tak bernilai
sastra," tulis dia.
Para pembaca pun menyetujui. Kecewa. Sebab, sejak itu karya-karya sastraku
yang kukirim ke tabloid wanita itu ditolak redaksi. Bermacam alasan, yang intinya
penolakan. Sebuah tulisanku direkomendasi sang redaktur: "Maaf kami kesulitan ruang
untuk karya Saudari berjudul 'Malam Kelambu' maka kami kembalikan karya Anda."
Atau begini: "Karya Saudari berjudul 'Ranjang Pengantin yang Membeku' tak bisa kami
muat, karena halaman yang terbatas."
Tapi aku tak kehabisan akal. Kukumpulkan karya-karyaku yang ditolak dan yang
dikatakan tak bermutu itu. Aku mencari penerbit. Kutawarkan. Lebih dari empat
penerbit menolak. Aku tak habis daya. Kuhubungi teman lelakiku yang dekat dengan
pimpinan lembaga swadaya masyarakat (LSM) perempuan. Kutawarkan karyaku.
202
Untung pun kuraih. Bukuku diterbitkan 10 ribu eksemplar. Peluncuran dilaksanakana di
hotel mewah. Di kota J. Pusatnya negara ini.
Ruang acara padat. Kritikusku diundang sebagai pembicara. Pembanding dari
aktivis perempuan. Perdebatan tak terhindari. Seru. Situasi itu menguntungkan aku.
Bukuku berjudul Perangkap Lelaki-Lelakiku terjual lebih dari separuh. Sisa bukuku itu
kutitipkan di sejumlah toko buku. Tak terbayangkan, kiranya buku pertamaku itu
meledak. Beberapa penerbit buku yang tadinya menolak, mengirimkan surat permintaan
agar bukuku dicetak ulang oleh penerbitnya. Sebuah penerbit berjanji akan menerbitkan
dalam dua bahasa.
"Maaf, saya tak berminat menerbitkan buku saya oleh penerbit yang telah punya
kredibel seperti penerbit Anda" Surat itu kukirim ke sejumlah penerbit yang
menawarkan padaku.
Bukuku dicetak ulang oleh LSM yang sama. Dicetak sepuluh ribu eksemplar
lagi. Royalti dinaikkan menjadi 30 persen. Aku mengeruk keuntungan. Kritikusku
makin menjadi-jadi berangnya. Ia buat jumpa pers. Ia galang para pembaca sastra,
seniman, dan akademisi. Ia sebut karya-karyaku sebagai penghancuran bagi dunia
sastra.
Penghancuran? Aku tak paham dengan jalan pikiran kritikusku. Sang guru juga
lelakiku, entah ke mana. Ia, kuduga, pasti takut dengan meledaknya bukuku. Nama dia
juga terbubuhi dalam buku itu. Aku dihujani berbagai pertanyaan. Para pembacaku
terbelah dua: setuju dan satunya lagi mengutuk.
Aku tetap jalan. Tetap berkarya. Mereka, para pembaca sastraku sudah termakan
opini kritikusku. Padahal, banyak ujaran dan pelajaran yang disarankan oleh karyakaryaku.
"Cobalah teliti sebelum memaki," kataku mengingatkan. Di sebuah seminar
yang digelar sebuah LSM Advokasi Perempuan Anti-Kekerasan.
Kupikir karya-karyaku berimbang. Tak hanya aku membela kaum perempuan.
Aku juga mengkritiknya. Aku juga tetap membela kaum lelaki. Meski ada pula
mengkritiknya. Sebagai penulis aku masih menjaga kenetralan. Sebab, karya-karyaku
bukan tulisan pidato, khotbah agama, slogan, mau pun jargon-jargon.
"Yang salah darimu dan itu tak pernah kausadari, selalu menulis persembahan di
setiap tulisanmu. Itu yang membuat karyamu menjadi sempit, sangat spesifik. Sehingga
makna menjadi sempit, kehilangan keuniversalan dan misteri," kata sang guruku. Ia
meneleponku semalam. Menjelang subuh, sambil beronani
203
Aku membela diri. Tepatnya mengajukan alasan. "Kuingin nama-nama lelakiku
abadi. Kukenang. Setidaknya supaya bisa membunuh kesepianku. Karena kesepianku
itu yang merusak ketegaranku untuk hidup!"
Lalu kudengar desahan sang guru. "Ahhhh..."
IV
Ini lelaki kedua puluh. Perempuan di hadapanku berujar. Aku menggeleng
sambil berdecak. Apakah aku kagum ataukah melecehkannya. Perempuan itu tak
merespon. Terus saja meracau. Desah napasnya kembali mengelus telingaku. Ia ingin
bercinta denganku.
Gila. Aku berteriak.
Ia tersenyum. Berbisik. Mendesah.
"Sekali saja."
"Tak sudi. Disentuhmu pun aku tak hendak."
"Aku ingin permainan baru. Please. Biar karyaku makin mengalir."
"Kau pikir kehidupan gilamu itu." Kerongkonganku tercekat. Tangan perempuan
di hadapanku sudah merangkulku. Menggumuliku. Menciumi leher dan belakang
telingaku. Aku meronta. Kutendang tubuhnya. Perutnya. Payudaranya. Terjerembab dia.
Kutinggalkan dia, si pengarang itu, di kamar sewaanku. Kututup pintu kamar
sewaanku. Aku tak tahu apakah perempuan pengarang itu tak bisa lagi bangun dan
menulis tentang peristiwa barusan? Tak mau tahu. Aku pindah dari tempat itu.
Mungkin Anda tahu di mana dia sekarang. Apakah masih menulis. Bercinta
dengan para lelakinya? Ataukah mati kehabisan daya. Suatu waktu aku mohon dikabari
tentang perempuan pengarang aneh itu. Sakit. Gila.
204
Abang Yun
Post : 01/27/2004 Disimak: 418 kali
Cerpen : Isbedy Stiawan ZS
Sumber : Kompas, Edisi 01/25/2004
KEHADIRAN Abang Yun setelah puluhan tahun tidak pulang begitu cepat
tersiar. Bahkan sampai kampung tetangga berita kedatangan Abang Yun menjadi
perbincangan. Seakan bisa mengalahkan berita kunjungan pejabat dari kota saja. Kabar
yang begitu cepat menyebar itu boleh jadi karena Abang Yun sudah dianggap
meninggal hanya tak ada kuburannya.
SANGKAAN itu wajar saja. Di kampung kami sangat meyakini bahwa orang
yang pergi meninggalkan aib dianggap mati. Orang itu tak akan berani pulang, ia akan
lenyap selama-lamanya. Jika ia berjumpa dengan orang kampung di perantauan, kalau
tidak dia yang mengingatkan maka sebaliknya yang menemuinya tidak akan bercerita
tentang perjumpaannya. Jangan coba-coba melanggar keyakinan ini, kalau tak hendak
terkena cemooh orang sekampung.
Sudah sering terjadi yang meninggalkan kampung karena membawa aib tidak
kembali-kembali lagi. Padahal di antara mereka justru sukses di perantauan, seperti
pengusaha atau pejabat. Kalaupun menjadi penjahat, ah ini hanya pengecualian yang
justru paling banyak, maka bukan sembarang penjahat melainkan sebagai pemimpinnya.
Kebanyakan penjahat di luar negeri seperti Singapura, Malaysia, Hongkong, atau di
Filipina.
Ketika Abang Yun pulang ke kampung saat Idul Fitri kemarin, sekali lagi, wajar
kalau berita itu cepat menyebar. Cuma tidak terjadi seperti yang dikhawatirkan bahwa
kepulangan orang yang meninggalkan kampung karena aib pasti dibunuh di tangan
warga lalu jenazahnya saat itu juga dimakamkan. Ini tidak terjadi. Sungguh suatu
keajaiban bagi Abang Yun. Sebagai adik satu-satunya, tentunya aku sangat gembira.
Kini rumahku dipenuhi tetangga, membuat ibu sangat sibuk menyiapkan makanan dan
minuman.
205
Abang Yun datang bersama perempuan cantik, yang kuketahui kemudian adalah
istrinya. Juga seorang anak perempuan berusia 10 tahun, pun tak kalah cantiknya
dengan ibunya. Sementara mobil merek Escudo yang dibawa sendiri oleh Abang Yun
kini diparkir di halaman rumah kami. Kucuri pandang dari jendela rumah panggung
kami, anak-anak kampung mengerubungi mobil berwarna putih metalik itu. Ada yang
naik di depan, di dekat pintu, ada yang sekadar mengelus-elus dinding mobil.
Abang Yun juga tidak menampakkan wajah ketakutan tatkala menerima
kunjungan tetangga yang bertanya ini dan itu. Lazimnya pemudik lainnya, ia banyak
bercerita tentang suksesnya di perantauan sejak ia meninggalkan kampung 15 tahun
lalu. Istrinya yang sangat cantik tak beranjak dari sisinya, setia menemani Abang Yun.
Mbak Mita, istri Abang Yun, ramah pada keluarga kami. Ia juga ikut terlibat mengobrol
dengan para tetangga. Kulihat banyak dari kami di kampung ini, terutama para
perempuan, merasa iri dengan kecantikan Mbak Mita.
Masa muda Abang Yun penuh oleh noda hitam. Berulang kali ia masuk penjara
karena merampok dan mabuk. Terakhir, sampai ia harus lari dari kampung kami
membawa aib, Abang Yun diburu-buru pihak keamanan karena bandar narkoba.
Kesalahan yang membuat aib besar Abang Yun di mata orang kampung, beberapa jam
sebelum minggat ia membawa lari istri Pak Lurah yang memang tergila-gila dengan
Abang Yun. Namun beberapa hari dibawa ke kota, ia tinggalkan perempuan itu di
kamar hotel. Abang Yun lari ke Medan, sedangkan istri Pak Lurah kembali ke
kampung.
Peristiwa itu membuat berang Pak Lurah. Rumah kami nyaris dibakar oleh
orang-orang suruhan Pak Lurah. Untunglah tetangga kami mencegah, dan berjanji akan
mendapatkan segera Abang Yun untuk diadili di depan masyarakat. Memang Abang
Yun tidak bisa ditemui lagi, namun kemarahan Pak Lurah akhirnya reda. Apalagi, pada
pemilihan Lurah enam bulan kemudian, ia tidak terpilih kembali.
"Jadi, bagaimana caranya kau bisa kaya seperti ini? Dapat istri cantik lagi? Wah,
wah, kau pasti memiliki ilmu ya? Belajar di mana? Kiai dari Banten ya?" tanya Wak
Herman, orang tua yang sangat disegani di kampung kami. Kalau dia saja suka dengan
kehadiran Abang Yun, otomatis yang lain akan ikut. Diam-diam aku mengagumi Abang
Yun yang mampu menarik hati Wak Herman.
"Gampang Wak, yang penting mau kerja keras," jawab Abang Yun yakin. "Soal
istri cantik, saya tak bisa jelaskan. Nanti Wak mau lagi he-he-he…. Ah, enggak Wak,
206
saya enggak punya ilmu kok, apalagi ilmu pelet ataupun ilmu kebal. Kalau Wak enggak
percaya sentuh saja kulit saya dengan pisau, pasti berdarah."
Aku tahu Abang Yun bergurau. Aku tak percaya kalau ia tidak memiliki ilmu
penangkal, kulihat cincin yang melingkar di beberapa jari tangannya batunya besarbesar.
Sore tadi juga, tak sengaja, aku mendapatkan kain hitam kecil di kamar. Aku
yakin itu jimat milik Abang Yun.
"Kalau kau kembali ke kota, bisa sekalian bawa anak Wak. Si Iful itu nganggur
di sini, lama-lama bisa nyusahin," kata Wak Herman lagi sambil senyum-senyum.
"Bagaimanapun dia kan termasuk adikmu juga, apa kau tega melihatnya susah di
kampung? Iya, kan, Mar?" ujar Wak Herman lagi. Ia meminta dukunganku.
Aku hanya tersenyum. Dalam hati aku berkata, daripada membantu anak Wak
Herman akan lebih baik suamiku yang dibawa Abang Yun untuk bekerja di kota.
Tetapi, itu tak mungkin terucapkan. Kulihat Abang Yun hanya mengangguk-angguk,
tiada terucap "ya" atau "tidak".
"Bagaimana, Yun?" Wak Herman kembali bertanya. "Kalau kau setuju, bolehlah
Wak panggil si Iful sekarang."
"Kan masih ada hari lain, Wak. Sekarang kita ngobrol yang lain saja, soal
kampung kita ini yang saya lihat mulai menampakkan kemajuan. Listrik sudah masuk
sampai ke pelosok, orang kampung hampir semuanya sudah punya televisi. Bahkan
waktu saya masuk pagi tadi, warga di bagian depan kampung sudah ada yang
mempunyai parabola. Berarti sudah makmur," ujar Abang Yun untuk mengalihkan
percakapan. "Benar ya, panen di sini bagus-bagus? Syukurlah kalau demikian."
"Yang makmur, ya makmur. Tetapi, banyak warga di sini masih melarat. Kau
lihat sendiri, masjid kita itu tidak selesai-selesai. Kadang kami malu, shalat di masjid
seperti itu. Untunglah kau mau membantu pembangunan masjid itu sampai selesai.
Jangan lupa kalau kembali ke kota, uang bantuanmu itu titipkan ke ibumu atau ke Mar."
"Ya, Wak, saya tak akan lupa. Jangan khawatir."
“Bukan khawatir, Yun, cuma mengingatkan. Wak percaya, kau memang
dermawan. Kau telah mencatat sejarah di kampung kita ini, kalau masjid itu bagus. Iya,
kan, Fat?" kata Wak Herman kepada ibuku. Ibu tersenyum.
Sampai pukul 21.00, tak ada tanda kalau tamu di rumah kami bakal beranjak,
sebaliknya justru bertambah. Kasihan Abang Yun dan keluarganya sampai harus telat
207
makan. Ibu mulai gelisah. Ia panggil Mbak Mita ke dalam, maksudnya menyuruhnya
makan. Istri Abang Yun tahu kode ibu, ia segera ke belakang.
"Mestinya mereka tahu kalau Abang Yun belum makan," ucap Mbak Mita
kepadaku di dapur.
"Begitulah orang kampung, Mbak, berbeda dengan di kota," jawabku pelan.
"Kehadiran perantau seperti aneh bagi mereka, apalagi kalau sukses."
"Tapi, yang mudik, kan, bukan hanya Abang Yun?"
Aku mengangguk. "Iya sih. Tapi… entahlah," kataku singkat. Aku khawatir
kebanyakan cakap akan membeberkan peristiwa masa lalu Abang Yun, peristiwa yang
dianggap aib oleh warga sekampung.
"Mungkin karena Abang sudah bertahun-tahun tidak pulang? Mungkin itu ya,
Mar?" Mbak Mita kembali berujar seakan menjawab sendiri pertanyaannya.
Aku segera mengangguk. "Ya… ya, mungkin itu sebabnya."
Sehabis makan, Mbak Mita kembali ke ruang tengah. Kali ini ia beranikan diri
mengajak Abang Yun untuk makan. "Sekalian ajak yang lain, kalau ada yang belum
makan," kata Mbak Mita.
"Wah kebetulan, kalau sudah disiapkan," kata Wak Herman segera mengikuti
langkah Abang Yun. "Wak belum makan," imbuhnya. Diikuti tiga tamu lainnya.
"Kau beruntung punya abang kaya di perantauan seperti Abang Yun," bisik
Nurhajijah, teman sepermainan kecilku, yang kini menjanda beranak satu ditinggal
suaminya menjadi TKI di Arab Saudi.
"Ah, kau seperti tahu banyak abangku saja," kataku dengan maksud tak suka
dengan pujian seperti itu. Aku sebagai adiknya saja belum banyak tahu kekayaan Abang
Yun. Lagi pula, benarkah abangku di kota sudah kaya, Mbak Mita adalah istri sahnya,
dan Maya adalah benar anak mereka? Siapa bisa memastikan kalau Abang Yun sukses
di perantauan, sedangkan belasan tahun kami tidak tahu rimbanya? Setiap orang bisa
saja bersandiwara, bukankah begitu? Batinku.
"Aku memang tak tahu, tapi kulihat penampilan abangmu memang kaya.
Mobilnya pun bermerek mahal," kata Nur berkomentar lagi.
"Syukurlah kalau itu benar…"
"Sepertinya, kau tak bangga melihat abangmu sukses, kaya? Ada apa dengan
kau, Mar?" sela Nur.
208
"Siapa yang tak senang. Aku bangga sekali," jawabku malas. Kutinggalkan
Nurhajijah yang hendak berucap. Aku ke belakang, merapikan meja makan sehabis
ditinggal Abang Yun dan tamu.
Aku kembali ke ruang tengah dengan membawa teko berisi kopi dan puluhan
gelas kosong. Kemudian kukeluarkan beberapa toples kue dan sepiring bolu.
Kuletakkan di atas meja. "Silakan yang mau ngopi. Kuenya juga dimakan," ujarku
menawarkan.
Abang Yun memanggilku dan menyerahkan uang Rp 100.000 untuk membeli
beberapa bungkus rokok. Aku segera ke warung sebelah. Kubelikan 10 bungkus rokok
filter, 7 bungkus kretek 234, dan sepuluh rokok Jamboe Bol. "Sisanya kau simpan," kata
Abang Yun begitu kembalian akan kuserahkan. Wak Herman tertawa dan mengedipkan
mata padaku seperti berkata: "Asyik, dapat untung…."
ABANG Yun harus kembali ke kota, tiga hari setelah Idul Fitri. Ia tak mengajak
serta anak Wak Herman, alasannya ke Medan dulu mau ke rumah orangtua Mbak Mita.
Pesan Abang Yun kepada Wak Herman, nanti orang suruhannya akan menjemput Iful
begitu ia sampai di kota. Wak Herman manggut-manggut, tampak sangat berharap janji
Abang Yun jadi kenyataan. Uang bantuan sebesar Rp 2 juta untuk pembangunan masjid
diserahkan kepada Wak Herman, sementara Rp 2 juta lagi untuk ibu, ia titipkan
kepadaku.
"Saya berharap uang Rp 2 juta itu bisa menambah penyelesaian pembangunan
masjid kita, Wak. Doain saya dapat rezeki banyak, biar bisa membantu lagi," kata
Abang Yun sebelum menghidupkan mesin mobil subuh tadi.
"Tentu… tentu. Kami selalu mendoakan kau sukses. Selama ini juga kami
berdoa agar kau selamat. Betul Yun, padahal kepada warga yang lain kami tak
lakukan…" jelas Wak Herman. Dalam hati, aku berkata, "Pasti itu basa-basi, cuma
untuk menyenangkan hati Abang Yun."
Sepergi Abang Yun, Wak Herman meminta restu dariku sebagai adik Abang
Yun, jika uang bantuan masjid itu berlebih, maka kelebihannya untuk kantong Wak
Herman. Ia juga berpesan jangan diberi tahu orang lain kalau Abang Yun memberi
bantuan Rp 2 juta untuk pembangunan masjid.
"Biar Wak saja yang menjelaskan pada mereka," kata Wak meminta
pengertianku.
209
Mendengar itu, hatiku bergolak. "Tidak bisa Wak. Besar bantuan Abang Yun
harus dijelaskan kepada jemaah masjid lainnya. Bukan kami mau dibesar-besarkan dari
corong masjid, tapi supaya diketahui yang lain. Biar Wak juga tidak disangka mencari
untung," kataku kemudian.
Wak Herman merasa tersindir dengan ucapanku. "Kalau bukan Wak yang
meminta langsung padanya, mana mungkin abangmu mau membantu masjid!"
"Betul, Wak, tapi uang itu untuk pembangunan masjid. Wak kan sendiri dengar
tadi," jawabku tak mau kalah.
Wak Herman bersungut-sungut meninggalkan pekarangan rumahku. Kepada
ibuku juga tidak pamit. Sambil berjalan ia meracau, "Wak seperti tidak tahu saja
pekerjaan abangmu. Ini uang panas." Meski pelan, aku masih bisa mendengar.
Karena aku tak ingin bertengkar, tak kutanggapi meracaunya. Aku naiki tangga
rumah, menemui ibu dan menjelaskan kalau uang ibu dari Abang Yun biar aku yang
menyimpan. Ibu mengangguk. Kutuntun ibu kemudian masuk. Kami seperti sedang
bermimpi, 15 tahun lebih merasa Abang Yun sudah tiada lagi di dunia karena tak ada
sesobek kabar pun, kini pulang dalam keadaan sehat. Tuhan juga masih melindungi
Abang Yun, kepulangannya tidak untuk menyerahkan jasad di depan warga kampung
seperti yang dialami warga lain senasib Abang Yun.
"Tuhan mengabulkan doa ibu, yang ibu minta setiap malam," bisik ibu.
Aku mengangguk. Kupeluk erat tubuh ibu. Aku menangis dan juga tersenyum.
Tak lama kami berpelukan, tiba-tiba terdengar pintu diketuk. Segera aku membukakan
pintu.
"Maaf, Bu, ini rumah orangtua Yun Kampak?" tanya salah seorang dari dua
tamu yang berdiri di ambang.
"Bukan. Ini rumah orangtua Yunizar Salim," kataku meralat. Kupikir tamu itu
pasti salah alamat.
"Ya… ya, itu. Benar. Yunizar Salim nama aslinya," jelas yang satu lagi. "Apa
benar, dia bersembunyi di rumah ini?"
"Abang saya mudik. Memangnya, kalau boleh saya tahu kenapa dengan abang
saya, Pak. Dan, bapak-bapak ini dari mana dan mau apa?" tanyaku ingin secepatnya
tahu.
"Kami dari kepolisian."
Detak jantungku seperti hendak berhenti.
210
"Yunizar orang yang kami cari selama ini. Dia pen… "
"Ah, sudahlah kami permisi. Ke mana dia pergi?" kata temannya.
Aku tak menjawab. Tubuhku lemas seketika, sekejap kemudian melorot di lantai.
Dalam benakku, aku menerjemahkan sendiri ucapan petugas kepolisian yang terpotong
itu: "Dia pen…"
Mungkinkah Abang Yun penjahat? Benarkah Wak Herman tahu banyak soal
abangku di perantauan? Mungkin Wak Herman tidak memfitnah, kalau subuh tadi ia
mengingatkan, "Ini uang panas." Entahlah. Kuharap ibu tak bertanya tentang
kedatangan tamu itu. (*)
Lampung, 2 Syawal 1424 H/26-11-2003
211
Aku Mamamu, Lara...
Post : 11/19/2003 Disimak: 220 kali
Cerpen : Isbedy Stiawan ZS
Sumber : Padang Ekspres, Edisi 11/16/2003
Balam, PostHH, anggota Dewan dari Fraksi ACDB tertangkap basah
mengonsumsi ineks di ruang karaoke YY, kemarin malam. Polisi menyita 20 butir pil
jenis pink lady dari saku celana. HH digerebek saat berkaraoke di tempat hiburanitu
bersama dua rekannya dan teman kencannya.
BERITA di sebuah koran harian lokal itu benar-benar mengejutkan. Ica,
perempuan bersuai 27 tahun, hampir saja pingsan kalau tak cepat menyadari ia sedang
berada di pasar. Ia lipat koran itu sampai empat bagian, kemudian ia masukkan ke
dalam tas. Segera ia menuju taksi yang telah menunggu di bawah tangga swalayan.
"Ke Ratulangi…"
"Enggak pakek argo ya Nyonya… 20 puluh ribu…" kata supir taksi.
"Ya sudah, cepat. Antarkan saya ke Ratulangi…" jawab Ica. Ia tak ingin lamalama
berdebat dengan supir taksi itu. Sudah lama taksi di sini mematikan mesin
penghitung jarak. Main tembak: 20 ribu rupiah. Masyarakat sempat protes, bikin surat
pembaca di koran, tapi para supir taksi tetap tak menghidupkan argonya.
Ica yakin inisial HH itu adalah nama anggota Dewan yang amat akrab dalam
hidupnya. Seorang pria yang dikenalnya di sebuah ruangan karaoke lalu menjalin kasih
hingga membuahkan anak perempuan yang diberi nama Larasati Hikmat Hadi. Kini
berusia tiga tahun.
Pria itu seorang politisi dari partai ABC, seorang ayah dari tiga anak dari
perkawinan dengan istri pertama. Sejak menjadi anggota Dewan kerap berkunjung ke
tempat-tempat hiburan malam. Suatu malam yang menawan, Ica berkenalan dengan
lelaki itu. Sejak itu ia sering menjemput Ica untuk berkaraoke.
"Entah kenapa akhirnya saya jatuh cinta dengannya," kata Ica suatu hari.
"Padahal ia tidak tampan… Saya juga tahu kalau Hikmat sering gonta-ganti perempuan
untuk menemaninya ke tempat hiburan. Bahkan saya tak bisa mengelak ketika ia
mengharapkan anak dari rahim saya…"
212
Pengakuan itu meluncur deras dari mulut Ica saat Hikmat tertangkap karena
kedapatan menyimpan ineks di bawah jok mobilnya. Ia katakan itu karena kesal.
Hikmat ingkar janji padanya. Suaminya, ah tepatnya suami selingkuhnya, pernah
berjanji setelah mendapatkan anak darinya tak akan bersenang-senang lagi di tempat
hiburan dan mengonsumsi narkoba.
Kenyataannya, ia berbohong. Desis Ica. Baru dua bulan usia Larasati, Hikmat
terkena razia aparat keamanan di kamar hotel bersama wanita. Sialnya, petugas
menemukan barang bukti dua butir ekstasi di bawah bantal tidurnya. Ia pun digiring ke
Kantor Polisi, tapi kemudian dilepas malam itu juga setelah menyerahkan jaminan uang
Rp 2 juta.
Enam bulan kemudian, lagi-lagi Hikmat tertangkap. Inilah saat kekesalannya
memuncak. Saat itu ia meminta cerai—tepatnya berpisah karena ia dinikahi di bawah
tangan setelah kehamilannya berumur tiga bulan—dengan catatan Hikmat tetap
memberikan uang untuk Larasati.
"Banyak ketidakcocokan di antara kita. Ternyata kau tetap bergelantung dengan
perempuan-perempuan lain. Sekarang saya minta kau jangan menggangu saya, biarkan
saya hidup sendiri. Tapi, kau harus tetap membantu uang untuk Larasati…" kata Ica
mantap. Lalu meninggalkan ruang pemeriksaan.
Hikmat mengangguk. Kemudian menunduk. Sebatang rokok yang masih panjang
di tangannya ia lepaskan di lantai. Setelah itu sepatu kanannya menginjak rokok itu
sampai lumat.
Penangkapan yang baru dia baca dari koran, adalah yang kelima kali. Benarbenar
bakat. Ica bergumam. Hampir menyamai prestasi Jidan, anggota DPRD Kota
yang telah enam kali terkena razia saat mengonsumsi ineks.
***
KINI koran Bandar Post tergeletak di tempat tidurnya. Wajah HH, suaminya (ah,
lagi-lagi tak pantas ia klaim lelaki itu sebagai suaminya, sebab laki-laki itu sudah
mempunyai istri sah!), jelas dalam koran itu. Digelandang petugas keluar dari ruang
karaoke. Tiba-tiba dua tetes air jatuh dari bola mata Ica.
213
Kenapa aku menangis? Ragu pertanyaan itu meluncur. Segera ia menghapus
airmatanya. Tak urung tetes air berikutnya jatuh lagi. "Bajingan tak boleh ditangisi!" ia
mengutuk dalam hati.
Larasati masuk. Segera ia melap air mata. Koran yang masih di atas ranjang,
cepat-cepat ia lipat dan masukkan ke balik bantal.
"Ada apa Lara? Kalau masuk ketuk pintu dulu dong…"
"Kakak dipanggil Ibu. Maafin Lala ya…?"
Ah. Setiap kali bocah itu menyapanya dengan sebutan kakak, rasanya hatinya
teriris-iris. Perasaan sebagai ibu terusik. Seperti dicampakkan. Ingin ia pegang pipi
anaknya lalu mengguncang-guncangkan tubuhnya sambil mengingatkan, "Ini ibumu.
Aku ibumu, Lara…"
Tapi, apakah bocah itu akan percaya? Apa lantas akan berubah secepat itu? Ica
tak yakin itu. Peranan ibunya amat kuat dalam diri Lara. Menancapkan ajaran dan
ujaran tentang hidup ini. Ibunya pula yang tahu segala rahasia ihwal Lara, bahkan
sampai kini ayahnya tak tahu kalau Lara sesungguhnya anak Ica. Keluarganya hanya
tahu: Lara adopsi dari anak teman Ica.
"Kasihan, ayah, orang tuanya tak mampu. Lagian ibu ingin menggendong
anak…" kata ibu. Ayah yang pensiunan pegawai pemerintah itu memaklumi Larasati
adalah bagian dari keluarganya.
Sejak itu ibu merekayasa Larasati sebagai anaknya. Adik Ica. Karena itu,
Larasati harus memanggilnya dengan sapaan kakak dan Ica selalu menganggap Lara
sebagai adik. Oh, betapa pedihnya. Ia membatin. Padahal kerinduan seorang perempuan
yang telah melahirkan, ketika anaknya memanggilnya, "Mama… mama…"
Sandiwara itu berjalan baik. Ayahnya sampai kini tak pernah tahu kalau Lara
adalah cucunya. Ibu memang piawai sekali menyembunyikannya. Karena memang, di
rumah ini, ibu justru yang menjadi motor. Ayah tak bisa berbuat apa-apa, jika ibu sudah
menginginkan A, B, atau C. Anak-anak jadi dekat sekaligus takut pada ibu, ketimbang
ayah.
Ibu pula yang menyewakan rumah bagi Ica tatkala ia tengah hamil. Ketika ayah
bertanya, ibu cuma menjawab: "Sengaja ibu sewakan rumah di sana biar dekat dengan
tempat kerjanya." Sampai beberapa bulan setelah melahirkan, barulah Ica kembali ke
rumah. Menggendong si bayi Lara sebagai adik angkatnya.
"Kakak, ibu panggil…"
214
Ica terkaget. Ia menatap Lara yang masih berdiri dekat pintu. Memainkan kunci
hingga menimbulkan suara.
"Kakak nangis? Kenapa? Ibu yang malah ya?" tanya Lara lagi.
Ica segera memegang matanya, menghapus air mata yang tengah mengalir.
"Enggak. Mata kakak masuk kotoran."
Ica bangkit dari tempat tidurnya. Menuntut Lara menemui ibunya. Pasti ibu juga
sudah membaca koran hari ini. Tenryata itulah yang ditanyakan ibu padanya. Ibu juga
mengkhawatirkan dengan kejadian itu, Lara tak lagi mendapat bantuan. Itu berarti, Ica
harus bekerja keras mencari uang untuk membeli susu dan keperluan Lara.
Terkadang Ica merasa ibu tak adil. Lara tak pernah disuruh memanggilnya
mama. Namun untuk seluruh keperluan Lara, dibebankan padanya. Jangankan untuk
membelikan susu, membelikan permen saja ibu tak pernah. Ibu juga tak pernah
memperhatikan apakah Lara sudah mandi. Semua diserahkan pada Ica, atau kepada
adiknya. Kecuali malam, Lara harus tidur bersama ibu. Ica juga kerap merindukan tidur
bersama Lara. Memeluknya jika dingin, merapikan selimut agar tetap hangat. Ia juga
ingin diam-diam menciumi Lara dengan kasih sayang seorang ibu. Atau membawa Lara
ke laut atau ke tempat bermain anak-anak di hari Minggu. Hanya sampai kini tak
pernah. Ibu selalu melarang. Ibu menginginkan Lara tetap tak boleh tahu kalau Ica
adalah mamanya. Para tetangga pun tak boleh tahu. Permainan ini tak boleh berakhir
dibaca orang. Demikian sautu hari ibu berujar. Rekayasa ini terus berjalan.
"Toh kau tetap bisa menyayangi Lara?"
***
ICA tak bergairah ketika seorang lelaki separuh baya mengajaknya masuk ke
bilik karaoke. Malam ini ia malas bekerja. Tak ada gairah untuk menembangkan sebuah
lagu pun. Boleh jadi, inilah malam terakhir Ica berada di tempat hiburan karaoke itu
sebagai teman menyanyi para tamu.
Esok malam dan esok malam hingga malam-malam seterusnya, Ica berpindahpindah
tempat hiburan. Ibu selalu menyindir, "Kalau tak menghasilkan, buat apa setiap
malam keluar rumah. Lihat tuh Yuni, penghasilannya gede meskipun jarang pulang."
215
Ica paham apa yang ada dalam benak ibu. Yuni yang dijadikan contoh itu
memang mampu menghidupi dua anaknya dengan berkecukupan. Ica juga tahu siapa
Yuni. Ia sering melihatnya keluar dari kamar hotel…
Lampung, 2003-09-24
216
Orang Kaya yang Selalu Berderma
Post : 10/27/2003 Disimak: 254 kali
Cerpen : Isbedy Stiawan ZS
Sumber : Riau Pos, Edisi 10/26/2003
SEJAK seorang kaya itu menempati rumah mewah bertingkat dua dan satusatunya
termewah di jalan ini, kami seperti kedatangan seorang penyelamat. Belum lagi
genap sepekan menjadi warga baru di kompleks perumahan Type 21 ini, ia sudah
menyumbang tian lampu penerang jalan. ‘’Kalau seragam, kan enak dipandang,’’
katanya. Ia juga menyumbang 30 tong sampah di depan rumah masing-masing warga.
Sejak itu orang kaya itu seperti menjadi wara nomor satu di RT Kami. Setiap
pulang atau hendak keluar rumah, warga selalu menyambut setidaknya dengan
senyuman atau anggukan kepala. Tetapi ia tetap seperti pertama kali kami kenal, tidak
sombong. Selain itu ia akan menjalani mobil blazer-nya amat pelan, sebagai ujud
menghormati kami yang rata-rata hanya mempunyai kendaraan roda dua.
Sudah tujuh bulan orang kaya itu tinggal bersama kami, tapi satu pun warga tahu
dengan tepat siapa namanya. Pak RT sendiri hanya tahu; Zon. Cuma itu, ia
memperkenalkan diri saat melapor sebagai warga baru. ‘’Ya, saya juga enggak tanya
banyak. Habis beliau sendiri hanya menyebutkan namanya segitu...’’kata Pak RT.
Terkesan kalau warga baru yang kaya itu dihormati, pak RT selalu menyebutnya
dengan beliau. Misalnya, kalau ada perayaan Agustusan, pak RT menyuruh para
pemuda untuk meminta bantuan kepadanya. ‘’Jangan lupa ke rumahnya, beliau pasti
membantu dan tak kecil,’’ begitu pak RT selalu mengingatkan.
Anehnya dia tak keberatan, bahkan mengaku senang. Alasannya apa yang bisa
dia bantu sesuai kemampuan akan dibantu. ‘’Tolong menolong adalah kewajiban kita
bermasyarakat,’’ kata pak Zon, suatu kesempatan mengobrol malam hari ketika bulan
berparasa penuh di langit.
Pak Zon, orang kaya yang selalu sederhana, tak cuma dikenal di jalan Eks ini
saja, melainkan sudah ke jalan sebelah dan dibawah. Itu sebabnya, kadang mereka kerap
mengedarkan list untuk meminta bantuan kepadanya setiap Agustusan atau acara
lainnya. Pengurus Risma dari beberapa masjid di kompleks perumahan ini, juga
217
mengharap bantuan pak Zon. Singkatnya, pak Zon benar-benar sebagai penyelamat dan
penderma di kompleks perumahan ini.
tahu pasti. Hanya kami menduga, ini dari suaranya, kalau Pak Zon adalah suku
Minang. Benar atau tidak dugaan kami ini, tak bisa dibuktikan. Soalnya yang
bersangkutan tak pernah memberi keterangan. Kami juga tak pernah bertanya sampai
sejauh itu, apalagi sampai ingin melihat KTP-nya. Memangnya kami intel, informan,
detektif?
Kadang aku memperhatikan rumah Pak Zon dengan perasaan kagum. Rumahnya
bertingkat dua, megah, dan meski halaman depannya kecil namun ada kolam ikan dan
taman yang menurutku asri. Istri pak Zon yang selalu memandangi taman itu, setiap
pagi dan menjelang senja. Istri pak Zon yang usianya 24 tahun dibawah usia suaminya,
seperti bahagia. Aku rasakan itu dari senyumnya. Ya, perempuan mana yang tidak
senang menjadi isteri orang kaya? Pikirku.
Istri pak Zon memang cantik. Penilaian seperti itu hampir diakui semua warga di
sini. Ia juga masih muda, paling-paling baru berusia 12 tahun. Itu sebabnya, terkadang
perempuan itu lebih terkesan masih remaja ketimbang sebagai istri. Kalau saja ia jalan
sendiri, tentu anak muda iseng banyak yang menggodanya
Tetapi, kami menghormatinya, terutama karena ia adalah istri Pak Zon. Seperti
juga suaminya, perempuan itu kerap menolong ibu-ibu. Ia juga murah tangan, suka
membagi-bagi uang seribuan kepada anak-anak seperti juga dilakukan Pak Zon.
Sejak kehadiran keluarga Pak Zon, tentu saja yang paling diuntungkan
keluargaku. Sebagai tetangga di sebelah kiri dari rumahnya, Pak Zon suka berkunjung
ke rumahku. Istrinya juga suka memberi sepotong atau dua potong ikan, katanya kepada
istriku. ‘’Saya beli ikan kebanyakan, di rumah cuma yang makan dua orang. ‘’Lalu, istri
ku mengambil dan mengucapkan terimakasih.
Ibu Zon, demikian kami memanggil istri pak Zon, memang jarang mengobrol
dengan ibu-ibu. Maklum ia selalu perg, setelah beberapa menit Pak Zon meninggalkan
rumah. Kepergian istri Zon kadang diantar oleh supir pribadi, namun lebih banyak
dijemput taksi. Kami tak tahu pekerjaan ibu Zon sehingga sering meninggalkan rumah.
Istriku yang sering mengobrol dengannya tak tahu, kecuali hanya sedikit. ‘’Kayaknya
dia bisnis perhiasan dan pakaian mahal,’’ kata istriku suatu malam.
Meski aku penasaran dengan keluarga Pak Zon, tapi aku beruntung tidak
menjadikan misteri keluarga ini sedap untuk digosip. Persetan dengan pekerjaan orang
218
lain, selagi tak mengganggu ketentraman kita. Itulah yang selalu ditekankan istriku.
Tetapi, berbeda dengan tetanggaku di depan. Ibu Tutik itu memang penggosip ulung,
suka ngerumpi dan nomor wahid berkelahi dengan tetangga.
Dengarlah apa yang digosipkan Ibu Tutik kepada istriku. Ibu Zon itu madu, istri
simpanan. Perempuan enggak beres,’’ katanya sih Pak Zon temu istrinya itu di tempat
hiburan. Ini kata seseorang kepadaku, bukan kataku. Jangan sebarkan kepada ibu-ibu
lain ya? Nanti saya dikira penyebar gosip, kalau tidak benar...’’ kata Ibu Tutik, selain
kepada istriku juga kepada Ibu Desi, ibu Rinas dan ibu Seta.
Ibu Tutik itu aneh, komentarku. Katanya jangan disebarkan, tapi dia cerita
dengan beberapa ibu. Apa dia bisa jamin para ibu disini tak menyebarkan gosip itu
sambil berpesan. ‘’Jangan sebarkan ya, aku enggak sama Ibu Tutik...’’ dan seterusnya.
Selain itu, ini masih kata isteriku, keesokan harinya, Ibu Tutik cerita lagi yang sama
kepada ibu-ibu lain.
‘’Mudah-mudahan gosip itu tak sampai terdengar keluarga Zon,’’ kataku.
‘’Ya, enggak enak kalau sampai ia dengar. Mereka terlalu baik pada warga,’’
sambut istriku. ‘’Tapi pa...’’istriku hendak melanjutkan, tapi tak jadi.
‘’Tapi, apa?’’ aku mengejar.
‘’Kayaknya apa yang dikatakan Ibu Tutik itu benara.’’
‘’Kalau benar kenapa? Kalau tidak, juga apa untungnya buat kita?’’
‘’Ya, enggak apa-apa sih, pa...’’jawab istriku hati-hati. Lalu terdiam.
Untuk beberapa hari lamanya kami tak membicarakan keluarga Zon. Mungkin
karena kesibukan masing-masing. Tetapi yang namanya kompleks perumahan yang
dindingnya saling dempet, jarum jatuh di rumah sebelah pun terdengar. Karena itu, aku
mulai merasakan kalau Pak Zon jarang pulang. Istrinya pergi setiap pagi dan kembali
malam harinya. Tak pernah diantar oleh supir pribadinya. Kemana? Bisnis?
Ketika ‘penemuan’ ini ingin kuceritakan pada istriku ingin tahu apakah ia juga
mendengar gosip dari ibu-ibu lain, justru istriku menyoalku yang selalu di rumah.
‘’Tugas papa di rumah hanya mau urusan orang lain, ya?
‘’Lo, maksudmu, Ma?
‘’Buktinya, kok yang diurus tetangga sebelah?’’ lanjut istriku seperti tak
menyukai pembicaraanku. ‘’Kalau benar kenapa? Kalau tidak, juga apa untungnya buat
kita? katanya mengutip ucapanku sepekan lalu.
219
‘’Memang sih tak ada untung dan rugi buat kita,’’ kata merendahkan suara.
‘’Tapi, kayaknya keluarga sebelah kita ini unik dan menarik. Setidaknya....’’
‘’Dasar pengarang?’’gerutu istriku. ‘’Selalu menjadikan sesuatu sebagai
inspirasi. Eh, pa, tak baik setiap persoalan dipandang sebagai cerita.’’
Aku tersenyum.
Istriku menambahkan, tapi terkesan bagiku mengancam. ‘’Makanya pa, punya
kantor. Biar papa pergi pagi ke kantor, dan pulang sore hari. Seperti dulu, sebelum
dipecat karena Papa protes pada pimpinan!’’
Kini wajahku masam. Kutinggalkan istriku yang melanjutkan membersihkan
halaman depan. Aku masuk ke kamar. Menghidupkan komputer. Aku harus
merampungkan makalah untuk seminar sastra di Universitas Anu. Aku pun melupakan
persoalan keluarga Pak Zon.
PAK ZON datang ke rumahku, malam ini. Ia mengantar lima buah durian.
Katanya, baru ia belu di kota Agung. Anakku tertua mengambil dan mengucapkan
terimakasih pada Pak Zon. Aku menyilakan dia duduk.
‘’Dari dinias luar, Pak, kayaknya pulang malam terus?’’ kataku memulai. Hatihati.
Sengaja aku menggunakan kata dinas luar dan pulang malam terus, padahal aku
tahu kalau sepekan ini Pak Zon tak pulang.
Pak Zon mengangguk. ‘’Habis melihat rumah makan saya di Kota Agung,’’
jawabnya. Pak Zon mengambil sebatang rokok filter, meletakkan di bibir kemudian
menyulutkannya. ‘’Sekarang ini, para pekerja tak bisa dipercaya seratus persen. Kalau
tak sering dilihat, bisa-bisa habis uang tak disetor ke kita...’’
‘’Oooo...’’aku mengangguk-angguk.
Kemudian, tanpa kuminta, Pak Zon menjelaskan biasa mengontrol sebulan dua
kali atau kadang setiap pekan. Katanya bisnis yang dikelola oleh orang lain kadang
mengkhawatirkan. Bisa-bisa perputaran uang tidak jelas. Itu sebabnya, ia sering
mengontrol langsung.
Aku mengangguk-angguk lagi. Pantas kalau Pak Zon sering meninggalkan
istrinya di rumah, acap untuk beberapa hari lamanya. Memang beberapa hari
belakangan ini, aku sering memergoki istri Pak Zon duduk sendiri di teras pada malam
hari; seperti melamun. Untunglah istriku suka menemaninya, dan ia sangat senang.
Karena ini, Pak Zon merasakan kalau kami sangat dekat dengan keluarganya.
220
Meskipun, ia tak pernah menitip pesan kalau harus meninggalkan istrinya beberapa hari.
Ya, soal sikap. Mungkin juga menyangkut privasi dia. Aku menganalisa.
‘’Tapi, aman-aman saja kan pak di sini?’’ Pak Zon memecah kesunyian.
Aku segera mengangguk. ‘’Bapak-bapak disini masih suka begadang, biasa
berdomino. Apalagi kalau disediakan organ, wah bisa joget sampai pagi!’’ kataku
sambil tertawa. Pak Zon ikut tersenyum.
‘’Kalau begitu, saya siap menyediakan organ tunggal, Agustusan nanti?
‘’Senang sekali! Pak RT pasti menyambut. Soalnya dia paling getol dengan
dandut, juga si Abdilah...Wah, itu orang, bisa-bisa lupa sama istri....’’sambutku
bersemangat.
‘’Ah, bisa saja pak Is ini, Masak iya??’’
Aku cuma tersenyum. Lalu menyilakan Pak Zon untuk meminum kopi yang
disediakan istriku. Obrolan yang ngalor-ngidul malam itu benar-benar cair. Tertawa.
Diam sejenak. Ngobrol lagi. Apalagi sejam kemudian, muncul Suratin dan Pak RT.
Untung Idong sedang ke luar rumah, sebab tetanggaku yang satu itu hobinya domino
dan nenggak vigour!
Jam 12 malam, Pak Zon permisi pulang. Itu diikuti Suratin dan Pak RT. Kata
Pak Zon ia harus bangun pagi-pagi karena mau mengontrol bisnis bengkel mobilnya di
Krui, Lambar. Memang pagi-pagi sekali, suara mobil Pak Zon sudah menderu. Aku
lihat jam dinding di kamarku jam 04. Sepagi ini ia meninggalkan istrinya?
Menggumam.
Setelah itu, aku kembali terlelap. Terbangun pukul 07 pagi, ketika terdengar
teriak-teriak dari rumah Pak Zon. Istriku sudah pergi ke kantor. Aku enggan ke luar
rumah untuk melihat apa penyebab keributan itu. Dari sela-sela jendela ruang tamu, aku
masih mendengar dengan jelas. Sambil menikmati segelas kopi dan sebatang rokok
filter, aku bagai mendengar drama radio.
‘’Dasar perempuan sundel, biasanya ngerebut suami orang!’’
‘’Eh, siapa yang rebut suami orang? Suami kamu itu yang ngejar-ngejar saya!
Makanya, kasih yang enak, biar suami enggak cari lain! Dasar...’’
‘’Kamu aja yang genit. Sudah tahu lelaki orang, kenapa masih juga disamber?!
‘’Eh, ngaca!’’ teriak istri Pak Zon, tetanggaku, tak mau kalah. ‘’Lihat tuh diri
kamu, masih gairah enggak?’’
221
‘’Memang saya bukan seperti kamu, perempuan pel...’’ Kata-kata yang seronok
dan ktoro itu terhenti karena istri Pak Zon- tetanggaku menampar mulut perempuan
yang satunya, yang kutahu dari omongannya adalah istri pertama Pak Zon. Setelah itu,
keduanya berkelahi, saling menjambak rambut, bergumul di halaman rumput rumah Pak
Zon. Tak ada yang berani melerai. Pak RT pasti masih di kantor. Hanya anak-anak
berusia belum sekolah yang menonton dari jalan.
Istriku pasti rugi tidak melihat setelah didamprat istir pertama Pak Zon. Selain
itu ia akan memintaku bercerita. Ah, tiba-tiba saja aku merasa bangga sebagai
pengarang!***
222
Bulan Rebah Di Meja Diggers
Post : 09/26/2003 Disimak: 215 kali
Cerpen : Isbedy Stiawan ZS
Sumber : Suara Karya, Edisi 09/21/2003
"seorang merpati mengepak
di cakrawala ingatan menuju bulan..."
MALAM menggayut. Bulan tersenyum menggantung di langit. Angin berulangulang
mengelus tubuh Vivi. Meja besi. Kursi besi. Makanan tersaji di atas. Segelas juice
pokat, seporsi pisang bakar, sepiring kentang goreng.
Mengambil tempat paling sisi. Menghadap kota, di bawah sana Telukbetung
bagai dikerubungi kunang-kunang. Ah, tidak. Seperti jutaan bintang yang jatuh lalu
menyelimuti kota tua itu. Nun di bawah sana, tampak laut ditaburi lampion dari kapal
atau perahu.
Waktu merambat. Tak lama lagi Kafe Diggers di atas bukit Pahoman yang juga
kerap disebut kafe Hollywood ini akan tutup. Ia tak mungkin menambah waktu lagi
sementara kafe akan menghabisi jam bukanya. Tak mungkin pekerja di tempat itu mau
dibayar lebih hanya menunggu sampai ia beranjak. Tak mungkin.
Jam 12 malam harus tutup. Ya, tak mungkin ditawar-tawar lagi. Seorang
perempuan tambun, mungkin pemilik kafe, mulai memerintah anak buahnya untuk
merapikan gelas dan piring yang masih tersisa di atas meja tamu. Tinggal beberapa
pengunjung, termasuk dia, sepertinya masih betah di kursinya.
Di meja lain, di bagian atas kafe ini, tampak masih asyik mengobrol. Sekitar 10
orang, barangkali rombongan, asyik berdiskusi. Kadang suasanya sampai ke telinga
Vivi. Sayup-sayup ia mendengar, mereka membicarakan politik, budaya, dan kesenian.
Ah, rombongan itu mungkin para seniman.
Tak salah, Vivi membatin. Ia mengenali salah seorang di antaranya. Itu Rendra.
Cuma ia enggan memperkenalkan diri, bersalaman, atau sekadar mengucapkan selamat
datang di Kota BL ini. Apa pentingnya? "Aku bukanlah seniman," gumamnya.
223
Sejak ia biasa mengunjungi tempat ini beberapa bulan lalu, beberapa kali
memergoki seniman dari J, Y, atau B. Sekali waktu ia pernah melihat Agus Noor,
Jamal, Cecep, Slamet, juga Hae yang kemudian menulis puisi.1
Vivi melentikkan rokok mild-nya ke tepi jurang. Mencomot bungkus rokok dan
menarik sebatang lagi. Sekejap saja rokok bernikotin 1,0 MG itu menyala terjepit di
kedua bibirnya. Mungkin sudah 10 batang ia ludeskan di tempat itu. Ataukah lebih?
Peduli apa ia menghitung berapa batang atau berapa bungkus rokok telah ia
habiskan dalam beberapa jam. Sebab, selama ini Vivi tak pernah menghitung batang
perbatang. Kalau habis, tinggal panggil pedagang rokok. Dua bungkus kadang ia beli
sekaligus.
Ini kali sudah tujuh kali Vivi ke kafe ini. Seperti, pertama kali tak sengaja ke
tempat ini, langsunt ketagihan keesokan dan keesokan malamnya ingin ke sini. Dan,
setiap kali pulang dari kafe ini, di rumah ia merasa segar kembali. Pikiran-pikiran kusut
karena persoalan rumah tangga, seperti lenyap.
Terlalu mendesak beban dalam dirinya. Soal putri satu-satunya yang diambil
paksa oleh mertuanya hingga kini tak mampu ia rebut kembali. Tentang suaminya, Mas
Amran, yang diam-diam mencintai teman sekantornya. Bahkan sudah merencanakan
untuk menikah, demikian suatu kesempatan ia menemukan surat dari Lia - kekasih
suaminya, di saku celana Amran.
Tatkala membaca surat itu, hatinya terasa teriris-iris. Indin sekali ia berteriak dan
mencambak rambut suaminya. Sayangnya Amran sudah berangkat ke kantor, justru
ketika ia masih tidur. Kalau masih ada dirumah, bakal perang baratajudha meletus pagi
itu. Vivi ingin memburu Amran di kantor, pun menyambangi Lia./ Perempuan sundal
itu mesti dilabrak, didamprat, dijambak rambutnya, dan kalau perlu anunya dan anunya
dirobek-robek!
Dasar sundal! Apa dia pikir Amran adalah laki-laki yang belum punya istri? Apa
dia kira, Amran sudah duda? Dia mestinya tahu kalau Amran masih punya tanggungan:
isteri dan seorang anak di rumah? Uh! Perempuan tak tahu malu, biasanya hanya
merebut suami orang. Mengingat-ingat kejadian itu, dadanya kembali menyesak.Ia
ambil sebatang rokok yang ke-12. Sekejab kemudian telah menyala lagi. asapnya
mengepul dan terbang ke udara jadi gumpalan menyatu dengan embun yang mulai
luruh. Meja sudah mulai basah.
224
Tak ia pikirkan kalau di rumah kini suaminya tengah menanti. Duduk diruang
tengah sambil menonton televisi atau membaca koran yang belum habis dibacanya di
kantor. Mungkin pula sudah tertidur sambil menunggunya pulang. Ah, masabodo,
maunya apa dia di rumah atau di luar rumah!
Kalau rumah tangganya diibaratkan sebuah kapal, maka kapal itu sekarang sudah
bocor oleh gesekan batu karang tajam. Air laut mulai merembes ke dalamkapal. Dan, ia
yakin, lambat- laun kapal itu akan dipenuhi air. Lalu karam. Lesap ke dalam air.
Alangkah bodoh nakhoda jika membiarkan kapalnya karam secara pelan-pelan.
Alangkah dungunya penumpang, jika tak segera ikut menyelamatkan kapal itu sebelum
benar-benar karam. Karena apabila kapal karam, penumpang akan ikut tenggelam. Di
tengah lautan seperti ini, sangat sulit mencari tempat untuk menyelamatkan diri. Kecuali
ikut tenggelam bersama karamnya kapal.
Membayangkan itu, Vivi teringat kisah kapal zaman nabi Nuh. alangkah
sombong dan bodohnya putra Nuh yang atak mau menaiki kapal, padahal ayahandanya
berkali-kali memerintahkan agar ikut, sementara banjir tak bisa lagi dibendung.
Akhirnya anak Nuh terseret banjir dan mati. Kapal Nuh terdampar di puncak bukit, di
sebuah batu besar.
Tetapi, tak mungkin akan sebanding menyamakan peristiwa rumah tangganya
yang kini telah dilanda badai dengan sejarah banjir di zaman nabi Nuh. Itu sebabnya,
Vivi selalu menanam ke paling dalam tanah apa-apa yang terjadi dalam rumah
tangganya. Betapa pun itu terasa perih dan menyakitkan!
Ia seperti memanggul perahu. Sebuah perahu tua besar dari atas bukit untuk
kemudian diarungkan di payau atau kuala. Biarlah perahu mendedah lautan biru.
Biarlah perahu yang telah tua itu terdampar - kalau memang harus terdampar - kembali
di bukit yang juga telah tua itu, tetapi jangan terdampar di dasar lautan. Kalau demikian,
ia akan menenggelamkan para penumpangnya. Tak.
Itu jangan terjadi. Cuma sudah tak terhitung lagi oleh bilangan atau hitungan,
pasangan keluarga berantakan di dasar lautan. Mereka karam sebelum terlihat pulau
tujuan. Mereka tenggelam, justru pantai masih jauh dari tatapan mata.
Vivi tak menutup mata. Ia pernah menjadi pendengar setia ketika temannya,
Erma, sebagai pendongeng mengisahkan dengan menarik tentang rumah tangganya
yang nyaris kandas. Kata Erma, baru empat tahun perkawinannya, ketahuan kalau
suaminya bermain cinta lagi dengan perempuan sekantor.
225
Semula Erma sabar. Ia menerima suaminya setiap pulang kerja. Ia tetap
memasak untuk suaminya, menyiapkan sarapan pagi jika suaminya hendak ke kantor,
dan menyiapkan makan malam apabila suaminya pulang menjelang tidur. Meski pun
makanan yang dimasaknya sendiri itu tak pernah lagi disentuh suaminya, sejak ia biasa
makan di restoran bersama kekasih barunya.
"Saya tetap sabar, Mbak," kata Erma suatu siang. "Perempuan diciptakan Tuhan
memang dibekali dengan kesabaran tak berbatas. Ia tak boleh menuntut macam-macam,
dilarang menangis, meski hatinya terluka dan berdarah-darah. Tak boleh. Bahkan, kalau
pun ia harus menjadi istri pertama, kedua, atau istri simpanan sekali pun..."
Tidak adil? "Mana ada laki-laki yang adil terhadap perempuan di dunia ini,
Mbak. Laki-laki sepertinya ditakdirkan lahir dengan membawa kebohongankebohongan
bagi perempuan. Ia bahkan berdusta ketika mengatakan perempuan terbuat
dari tulang iganya yang diambil, hanya untuk mengatakan kalau ia diperbolehkan untuk
mencari dan merebut kembali iganya yang hilang itu!"
Ah, terlalu dramatis. Ia kemudian malas mendengar dongeng yang sudah
didramatiskan itu. Erma, suatu ketika, kemudian diusir dari rumahnya. Ia katakan
jangan menjadi pendongeng, kalau kisah itu justru akan melukai hati perempuan sendiri.
Menurut Vivi waktu itu. Perempuan mesti tegar. Harus berani melawan kalau
dizalimi laki-laki. Tidak boleh pasrah, jangan menyerah. Kalau laki-laki
memperlakukan ketakadilan, perempuan harus membalasnya dengan bentuk yang sama.
Dan, benar. Ketika mas Amran ketahuan ada main cinta lagi dengan perempuan
sekantornya, Vivi mulai berulah. Ia langsung memverbal suaminya. Ia introgasi habishabisan.
Sampai suaminya tak punya kata-kata untuk membela. Tak berkutik dan
akhirnya mengaku: "Maafkan aku. Sepertinya aku diguna-gunai, sampai aku tak bisa
menghindar..."
"Taik kucing! Dasar laki-laki!" hardiknya.
Vivi tahu sesungguhnya mas Amran yang mengejar-ngejar perempuan itu.
Karena sememangnya ia menyadari, orang tua Amran tak menyetujui kehadirannya di
keluarga besar Raden Mas Sastrohadibroto Yasirpranyoto Bulaksono, yang semua
orang tahu adalah berdarah biru.
Tapi, apakah cinta hanya dimiliki oleh seorang? Apakah orang semacam Lia,
Yuli, Susi, Sri, dan entah siapa lagi, tak punya hak yang sama untuk menikmati cinta
226
dan dicintai? Cinta, sejatinya, suci dan tidak berpihak pada seseorang atau dua orang. Ia
netral untuk singgah ataupun menetap tinggal di hati setiap orang.
Ah! Layaknya Shakespeare yang tengah menafsir cinta dan maut dalam sejumlah
karya-karya sastranya. Membuat Vivi menjadi sentimentil dan melankolis.
Dan, sejak itu Vivi menjadi frustrasi menjalani hari-harinya sebagai istri. Bangun
pada saat matahari di atas kepala. Menuju pesawat telepon. Menghubungi berbagai
relasi. Janjian bertemu di suatu tempat, di suatu jam yang ditentukan. Kemudian mandi.
Berpakaian. Meninggalkan pesan pada Bik Inah jika suaminya bertanya katakan: ke
tempat anu, ke rumah si anu, jalan bersama anu, dan pulang malam nanti. "Paling cepat
jam delapan malam sudah di rumah..."
Begitulah. Tapi, sekarang sudah jam berapa? Vivi tinggal seorang diri di kursi
besi meja besi Kafe Diggers ini. Angin menampar tubuhnya. Ia terbatuk-batuk. Orang
yang ditunggu, kali ini tak menepati janji.
Ia meninggalkan tempat duduknya, begitu pelayan kafe mengingatkan: "Maaf,
Mbak, sudah jam satu, kafe sudah ditutup sejak tadi. Sudah tinggal Mbak seorang..."
Ya, ampun. Ia menggeser tubuhnya. Berdiri lalu beranjak dari sana, setelah
memberi tip selembar Rp 50 ribu kepada bujangan kafe itu.
Malam telah benar-benar singgah ke dalam tubuhnya. Bulan berkabut rebah di
meja. Ke mana langkah kaki ia akan arahkan? Kompas telah tenggelam bersama
karamnya kapal. Sedari tadi, sejak ia membunuh keinginan setiap kali ini pulang. Kata
itu, belakangan ini, demikian menyiksanya!
Beringinraya, 2003-15-10, 20.30
227
Si Pendongeng
Post : 06/15/2003 Disimak: 220 kali
Cerpen : Isbedy Stiawan ZS
Sumber : Jawa Pos, Edisi 06/15/2003
Cerpen ini juga dimuat di Harian Riau Pos, 15 Juni 2003.
SI PENDONGENG itu datang lagi. Seperti waktu-waktu sebelumnya, ia pasti
telah menyiapkan banyak dongeng tentang keluarganya: suaminya, anak-anaknya,
mertuanya, atau perempuan muda yang kini menjadi kekasih gelap suaminya. Tetapi,
kali ini aku sedang malas mendengarnya. Haruskah aku menolak kedatangannya?
Menutup pintu dan berpura-pura pergi atau tidur?
Si Pendongeng itu sudah berdiri di depan pintu. Tangan kirinya meraba sesuatu
di tiang dekat pintu. Menekan. Terdengar suara "Assalamu’alaikum…" dari bel. Aku
tegerap. Gelisah. Aku diamkan dia untuk beberapa jenak.
Suara bel terdengar lagi setelah tangan kirinya memencet tombol yang kupasang
dekat pintu. Ini bel yang kedua. Aku gelisah. Antara ingin membuka dan pura-pura tak
ada di rumah. Terdengar suara tetangga depan rumah yang mengatakan pemilik rumah
ada di dalam. Si Pendongeng itu kembali memencet tombol bel. Aku hendak keluar dan
membuka pintu baginya. Tetapi, untuk apa? Bukankah saat ini aku malas menjadi
pendengar setia si pendongeng itu?
Aku duduk lagi sofa ruang tengah. Membuka-buka tabloid wanita. Tak membaca
beritanya. Hatiku tidak ke halaman tabloid itu. Bel kembali bersuara. Itu karena
tetangga yang meminta Si Pendongeng untuk kembali menekan tombol bel. Ah!
Sekiranya tak ada pendongeng, apakah dunia ini dijamin sepi? Pendongeng sudah dari
dulu ada. Bayangkan jika tak ada para pendongeng, mana mungkin cerita "Malin
Kundang" atau "Siti Nurbaya" di ranah Minang bisa seperti benar-benar ada dan
terkenal sampai sekarang?
Kesimpulanku: pendongeng diperlukan kalau menginginkan dunia tidak sepi dari
cerita atau legenda. Maka aku bukakan pintu bagi Si Pendongeng itu. "Maaf ketiduran,
jadi tak terdengar ada tamu…"
"Oh, enggak apa-apa, Dik Atik…"
228
Aku yakin ucapan itu basa-basi. Si Pendongeng itu tentu sudah mengetahui kalau
aku memang tak suka menerima kedatangannya, hari ini. Cuma karena ia sudah
kepalang berada di depan rumahku, enggan kembali pulang. Apalagi, ini kemungkinan,
ia sudah membawa banyak dongeng mengenai rumah tangganya. Harus dikabarkan,
mesti diberitakan. Orang lain perlu tahu. Jangan disimpan sendiri, apalagi menyangkut
kesedihan. Itu pikirku mengenai Si Pendongeng itu. Maka aku tak boleh mencegah
orang untuk berbagi kesedihan. Benarkah ia ingin membagi kesedihan? Benarkah aku
pasti menerima bagian dari kesedihan orang lain? Aku tak yakin aku punya perasaan
seperti itu.
"Masuk, Mbak. Masuk…," kataku (sebenarnya basa-basi). "Maklum ndak ada
pembantu, kerja sendiri, jadi capeknya tak bisa ditahan. Terpaksa harus istirahat,
maksud saya, tidur… Nanti pukul 11.00 bangun, masak, kerja rumah tangga. Kan Mas
Arman sampai di rumah dari kerjanya pukul 14.00, kebiasaannya langsung menuju meja
makan."
"Wah, istri yang baik itu. Mestinya memang begitu seorang istri," kata Si
Pendongeng. "Kalau ada lomba istri teladan, mestinya Dik Atik yang jadi juaranya…"
Aku tak merespon. Aku masuk ke dalam diikuti Si Pendongeng. Menyiapkan
segelas air putih --bukan teh manis-- seperti pertama ia datang ke rumahku. "Cukup air
putih saja Dik Atik," katanya seperti tahu kalau aku memang ingin mememberinya air
putih.
Aku tersenyum. Seperti hendak meminta pengertiannya kalau di rumahku tak
ada pembantu, sehingga aku harus bekerja sendiri. "Ada cerita yang lebih baru lagi?"
kataku sambil meletakkan segelas air putih ke meja.
Dia tak langsung menyahut. Matanya tajam. Bening. Ada air mata di sana yang
masih tersimpan, dan mungkin sebentar lagi akan membobol bendungannya. Seperti
selama ini. Si Pendongeng memang mudah mengurai air mata. Mungkin ia penyedih,
tak tahan menyimpan haru.
"Kalau tak ada cerita, ya sebaiknya memang tak ada cerita, bagaimana kalau kita
main halma saja? Atau, Mbak bisa main catur? Saya ambil dulu punya anak…"
"Oh… ndak usah. Lagian aku memang tak suka main halma apalagi catur,"
selanya. Ia mengambil gelas dan meminum isinya. Masih tersisa sepertiga air putih di
gelas itu. Lalu, ia memulai dongengnya.
229
Kali ini tentang pengakuan suaminya yang jatuh cinta pada seorang perempuan
di kantornya. Sebuah keterusterangan, kejujuran. Tetapi, perlukah kejujuran kalau
kemudian mesti menyakiti hati perempuan? Ia mulai terisak.
Memang, kata dia lagi, ia dan suaminya sejak mengikrarkan diri menjadi suami
dan istri, harus mengutamakan kejujuran. Apa pun yang diterima dan dirasakan harus
diberi tahu. Tetapi, katanya, "Bukan lantas ia jatuh cinta dan berselingkuh, aku sebagai
istrinya harus tahu? Itu kan sama saja melukai perasaanku…"
"Nah, Mbak sendiri sudah sepakat. Sekarang suami Mbak jujur malah kecewa!"
aku memotong. Kupikir rumah tangga Si Pendongeng ini benar-benar aneh.
"Itu bukan jujur, Dik! Yang kumau, misalnya, suamiku menolak cinta seorang
perempuan lalu ia mengatakannya dengan jujur padaku. Kan tidak melukai perasaan
perempuan, tidak seperti ini."
"Itulah resikonya kalau semuanya harus jujur, semua yang dilakukan suami
harus diketahui istri. Apa yang dialami suami di kantor, istri harus tahu dan diberi tahu.
Suami tak boleh bohong. Suami harus jujur mengungkapkan sesuatu yang terbenam di
dalam hatinya. Jadinya ya begitu, makin runyam," kataku. Kini aku lebih agresif
menasihati Si Pendongeng.
"Nanti dulu, Dik Atik. Saya belum selesai ceritanya," ia memotong. "Karena
kejujurannya itu, meski hatiku luka, diam-diam aku salut pada suamiku. Kok ia berani
jujur dengan istrinya? Pasti sebenarnya suamiku itu adalah tipe lelaki yang baik, yang
jujur, yang tak mau melukai hati istrinya…"
"Kalau begitu, Mbak jangan kecewa. Jangan marah…"
"Ini soal lain, Dik Atik. Soal perasaan perempuan, seorang istri…"
Aku tersenyum. Dalam hati aku mengutuk Si Pendongeng ini. Katanya ia
menginginkan suaminya jujur, bangga dengan kejujuran sang suami, tetapi malah marah
dan terluka ketika kejujuran itu ia terima.
Ia diam. Seperti sedang memikirkan sesuatu. Aku senang ia berbuat begitu.
Setidaknya aku tak mendengar dongengnya, yang menurutku, tak lagi menarik.
Sebaiknya memang begitu, istri tak harus mendongengkan tentang rumah tangganya.
Apalagi soal privacy suami, baik di luar rumah apalagi di ranjang. Tabu. Pamali.
Demikian kata orang tua. Istri, demikian aku diajarkan dalam agama, harus bisa
menjaga harta yang dititipkan oleh suami. Harta bisa berarti banyak, misalnya
kehormatan dan lain sebagainya.
230
Untuk beberapa lamanya kami membisu. Hening. Pandanganku kuarahkan ke
layar kaca televisi. Masih berita Patroli. Banyak kasus di sana: kriminal, pemerkosaan,
perampokan, sampai para pelacur yang digaruk aparat keamanan. Juga berita seorang
ibu beranak lima tewas karena bunuh diri. Mengikat lehernya dengan kain panjang di
atas kaso tiang rumah.
***
MENDONGENG memang gampang. Tak perlu keahlian khusus, misalnya
tamatan dari perguruan tinggi seni khusus mendongeng. Sebab yang terpenting bagi
pendongeng, ia mesti punya bahan dongengan. Cukuplah itu. Paling-paling kalau mau
ditambah, ya bagaimana ia bisa mempengaruhi para pendengar. Dan, Si Pendongeng ini
sudah cukup ilmunya. Terbukti aku bisa keasyikan mendengar ceritanya. Betapa pun
yang diceritakannya masalah rumah tangganya: masalah suami.
Tetapi, kalau kali ini aku malas mendengar ceritanya. Bukan lantaran ceritanya
yang membosankan. Hanya, maaf aku berterus terang di sini, suamiku berpesan:
"Jangan sering-sering mendengar kebobrokan rumah tangga orang. Itu sama saja kita
sedang menonton keaiban orang lain. Tak baik…"
Suamiku juga berpesan, sekarang kita yang mendengar keburukan rumah tangga
orang. Besok-besok lagi, bisa-bisa kita yang akan mendongengkan keburukan rumah
tangga kita kepada orang lain. "Seburuk-buruk rumah tangga kita, tak boleh orang lain
mengetahui. Sebisa mungkin kita tutupi keburukan itu, dan sebisa mungkin pula kita
memperbaikinya," suamiku berpesan.
Itu sebabnya ketika Si Pendongeng itu datang, ingin rasanya aku mengunci rapat
pintu rumahku. Sayang keburu tetangga depan memberi tahu kalau aku berada di dalam.
Jadilah ia kupersilakan masuk. Jadilah Si Pendongeng kini duduk di dekatku. Mungkin
sebentar lagi akan mendongeng. Akan bercerita, barangkali, masalah rumah tangganya
yang belakangan ini memang tampak rapuh.
"Rumah tangga kami baru berjalan lima tahun. Ibarat perahu yang hendak
melayar ke lautan, baru melampaui batas pantai. Kata orang ombak di dekat pantai
justru lebih besar. Itulah yang saya rasakan: goyangannya membuat perahu kami seperti
hendak oleng," kata Si Pendongeng. "O iya, kalau Dik Atik sendiri sudah berapa
tahun?"
231
"Baru sepuluh tahun!"
"Wow, sudah lebih tua dari rumah tangga saya, ya?" kata Si Pendongeng agak
terkejut. "Bagaimana Dik, pernah mengalami hal serupa?"
Aku menggeleng.
"Enggak pernah bertengkar?"
"Tentu pernah. Namanya juga rumah tangga. La wong piring yang tak serumah
dengan gelas bisa berbenturan?"
"Pertengkarannya sampai membahayakan?"
Aku menggeleng.
"Wah, kalau saya pernah bertengkar besar. Sampai-sampai saya pulang ke rumah
orang tua. Tetapi, untungnya, saya dijemput lagi oleh suami. Kalau tidak mana mau
saya kembali. Gengsi. Harga diri ini mau dikemanakan. Iya kan Dik? Perempuan harus
menjaga harga diri kalau tak ingin diinjak-injak lelaki!"
"Itu salah kaprah," selaku. "Harga diri atau gengsi apa dan bentuknya bagaimana
yang mati-matian harus kita jaga? Apalagi di hadapan suami. Yang mesti kita jaga itu
keutuhan, bukan gengsi," aku menambahkan. Kini giliran aku yang menasihati Si
Pendongeng. Tentu saja untuk tidak memberi ruang baginya mendongeng. Ya,
mendongengkan rumah tangganya.
"Tetapi, Dik…," katanya lagi. "Kalau Adik seperti saya, pasti juga akan
melakukan seperti saya. Suami saya memang sangat lain. Keras kepala. Mau menang
sendiri, tak bisa dijelaskan," dia melanjutkan.
Lalu ia menceritakan bagaimana keras kepalanya suaminya. Pernah suatu
kesempatan, Si Pendongeng memergoki suaminya sedang jalan bersisihan dengan
seorang perempuan. Kata suaminya, teman sekantor. Lalu, ia berondong dengan
berbagai pertanyaan, seperti ke mana perginya, di mana ketemu perempuan itu, berapa
kali jalan bersama, dan seterusnya.
Suaminya jujur. Sampai-sampai, saking jujurnya, diceritakan kalau suaminya
pernah menonton film bareng. Sudah beberapa kali. Juga makan bareng di McDonald
dan rumah makan lainnya. Ke kafe juga? Ya. Sudah tiga kali, kata suaminya ingin jujur.
"Bayangkan, Dik, bagaimana tidak sakit hati saya diperlakukan begitu. Jujur sih
jujur, tapi itu kan keterlaluan. Sengaja lagi, sudah biasa lagi. Itu namanya berselingkuh
yang minta dilegalitaskan. Keterlaluan. Ya, lelaki memang keterlaluan. Sepertinya
232
diciptakan khusus untuk menyakiti perasaan perempuan!" Si Pendongeng
memberondong. Ia tampak kecewa sekali.
Lalu, untuk apa kekecewaan? Untuk apa ia mendongengkan rumah tangganya,
suaminya, kalau pada hakikatnya ia sebenarnya sangat kecewa dan membenci apa yang
diceritakan pada orang lain?
Sungguh, aku tak bisa memahami jalan pikirannya. Bahkan ketika ia harus
menyeka air matanya. Aku hanya merasakan, sama-sama perempuan, ia benar-benar
kecewa. Hatinya sakit. Hanya saja, yang lebih kurasakan sakit, sebenarnya suami Si
Pendongeng. Untuk apa dan manfaatnya apa ia jujur, kalau toh sesungguhnya perasaan
istrinya sakit? Lebih baik tak usah jujur. Diam-diam. Main belakang…
"Saya lebih tak setuju kalau suami saya main belakang, selingkuh. Toh saya
masih ada. Saya juga tak rela dibohongi. Itu malah lebih sakit," katanya kemudian.
"Memangnya Dik Atik mau dibohongi suami? Tidak kan?"
"Suami saya tidak pernah berdusta, tetapi juga tak terlalu jujur. Biasa-biasa saja.
Ada yang mesti diketahui oleh istri dan ada pula yang hanya diketahui oleh dirinya
sendiri. Dengan begitu, rumah tangga jadi aman. Tak goyah…"
Ternyata pandanganku dengan Si Pendongeng soal kejujuran berbeda. Juga
melihat persoalan di rumah tangga. Wajar kalau kami sering berdebat. Dan, sialnya, Si
Pendongeng benar-benar sudah kehilangan perasaan. Buktinya ia tak bosan-bosan
datang ke rumahku, apalagi kalau bukan ingin mendongeng. Meskipun beberapa hari
belakangan ini bahan dongengnya bukan soal suaminya. Melainkan soal diri Si
Pendongeng: "Saya tak bisa menyembunyikan perasan saya. Saya jatuh cinta. Justru
dengan teman suami saya!"
"Apakah Anda harus jujur pada suami?" tanya saya. Kini sangat hati-hati. Saya
benar-benar diterpa keanehan.
"Saya bukan tipe istri yang jujur. Apa boleh buat, apalagi ini demi keutuhan
rumah tangga. Suami saya pencemburu, Dik. Bagaimana kalau saya katakan apa adanya
dengan dia? Bisa-bisa…"
"Baiknya Anda tutup cerita ini. Mbak harus meninggalkan kebiasaan
mendongeng…," kataku. Lalu izin alasan ke warung membeli sayur. Sebentar lagi aku
harus ke dapur. Masak. Jam dinding menunjukkan pukul 11.35. Sudah terlambat 35
menit. (*)
Bandar Lampung 2003
233
Menuju Laut
Post : 03/02/2003 Disimak: 207 kali
Cerpen : Isbedy Stiawan ZS
Sumber : Suara Karya, Edisi 02/08/2003
Maka berlarilah aku menuju laut. Seperti Khidir yang menyusuri pantai berpasir,
aku mencari seorang atau dua nelayan. Sungguh di zaman yang tak henti oleh gaduh,
kenapa aku kesulitan menemukan nelayan dan perahu?Apakah nelayan telah
meninggalkan laut dan pantai? Apakah perahu-perahu sudah menuju kota-kota? Aku
benar-benar kesepian. Aku terlambat sampai di sini. Ternyata, mungkin, para nelayan
telah pula urban mengikuti jejak para petani yang memilih menjadi abang-abang becak
dan bajaj di kota.Ah, jangan-jangan mereka akan bernasib sama dengan abang-abang
becak. Para pedagang kakilima, asongan, warung-warung kecil yang menyesakkan
trotoar di kota. Lalu petugas ketertiban umum menggebahnya, menyangkut barangbarang
mereka ke atas truk. Atau memukul para urban itu dengan pentungan kayu, jika
mereka melawan.Aku terpaku. Bola mataku menusuk ke lautan maha luas itu.
Kubiarkan lidah ombak menjilati kakiku. Kuberikan dadaku yang terbuka disentuh oleh
pecahan ombak."Wahai laut, wahai ombak, inilah aku. Kuingin kau tak cuma menjilat
dan memuncratkan airmu. Empaskan aku ke dalam gelombang besarmu. Di sisnitiada
lagi perahu, maka itu pahatlah kesepianku sebagai jung, *)biar kularungi lautanmu!"
Kota-kota telah membuatku bosan. aku kian kesepian di tengah-tengah kebodohan para
anggota dewan. Mereka hanya mementingkan diri sendiri, mereka lupa pada rakyat
banyak. Para pejabat hanya asyik memeluk para wakil rakyat, para anggota dewan asyik
berangkulan dengan para pejabat. Lalu, setiap waktu, berlangsung unjukrasa.Maka
berlarilah aku ke laut ini. Barmandi terik, bersimbah pasir. Sebagaimana Khidir, aku
susuri pantai ini dan mencari nelayan dan perahu. Tetapi, perahu tiada lagi di sini,
nelayan telah urban ke kota-kota impian. Meski di kota mereka juga tak bisa berbuat
apa-apa. Sebab pasar-pasar tradisional telah pula digusur. Jalan-jalan tikus tertutup bagi
abang-abang becak. Trotoar mesti steril dari pedagang makanan dan asongan.Wahai
laut, aku kini menjelma Khidir. Kubocorkan perahu yang cuma satu-satunya tertambat
di pohon bakau itu. Sebab, jika kubiarkan perahu itu berlarung maka ia akan pula
tenggelam. Wahai laut, kau empaskan ke mana perahu-perahu di sisni? Wahai laut kau
234
tenggelamkan di mana perahu-perahu berlayar di lautmu? Badai, bila waktumu akan
ramah pada para nelayan?Apa pulamaksudmu membocorkan satu-satunya perahu ini,
wahai Khidir? "Hatiku mengatakan jika pun perahu itu dibiarkan berlarung, ia tak akan
sampaike pulau seberang. Bila pun tidak kubocorkan, ia akan tenggelam pula dan itu
akanmenyengsarakan rakyat di sini? Apa kau tak punya rasa haru lagi, membiarkan
rakyat berlayar denganperahu yang rapuh?" ujar Khidir.Dan akulah Khidir itu kini. Aku
telah membunuh kanak-kanak yang kurus kering karena kelaparan yang ditinggal para
oarang tuanya urban. Akulah yang telagh membunuh seorang bapak yang menjual anak
gadisnya di rumah-rumah bordil.Kenapa kau lakukan semua itu? Kanak-kanak yang
kubunuh itu karena ia akan sia-sia hidup, ia tak akan pernahmencapai dewasa. Ia tak
punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Apa kau yakin ia akan menjadi tanggung jawab
negara? Itulah kenapa kubunuh saja kanak-kanak yang tak lagi punya impian dan citacita
itu. Sedang orang tua yang kucekik lehernya, karena ia tak lagi punya rasa haru dan
kemanusiaan. Terbukti, ia dengan tega menjual anak gadisnya. Anak gadisnya
...Apakah karena kemiskinan membuat ia kufur? alangkah nistanya jika itu benar-benar
terjadi. Lalu, apakah pantas kita membiarkan orang-orang kufur tetap hidup dan
berkeliaran di muka bumi? Di mana ia simpan nurani dan iman yang dulu ia
pertahankan dengan amat bangga?Mungkin aku salah. Mungkin pula aku benar.
Kesalahanku adalah mendahului kodrat Tuhan. Aku telah mengambil hak Dia atas
ciptaan-Nya dengan mengambil haknya hidup di bumi ini. Padahal, masa datang adalah
masa yang hanya diketahui oleh Dia. Tak seorang hamba pun dapat memastikannya.
Namun, kebenaranku karena aku telah memutuskan dengan tepat. Setidaknya, aku telah
memutuskan kesengsaraan dan kemiskinannya yang jika dibiarkan sama artinya aku
telah melakukan kezaliman. Ketepatanku membunuh orang tua yang menjual anak,
dengan begitu aku telah memerdekakan anak gadisnya dari dosa zina yang berlaratlarat.
Maka berlarilah aku ke tempat ini. Ke tepi pantaidi mana aku bisa mandi matahari
dan simbah pasir. Aku menanti perahu Nuh yang pernah terdampar di bukit itu berabadabad
lalu. Mungkin perahu Nuh masih baik, karena ia akan abadi oleh waktu dan
bilangan tahun. Ia tak akan rapuh. Aku percaya itu. Perahu Huh telah tersimpan dari
sejarah kitab-kitab. Aku telah membacanya itu ...Tapi, di mana harus kucari perahu
Nuh? Di bukit-bukit yang telah kudaki dan kulerengi, tak pula kulihat perahu yang
tertambat atau terlempar. Di pasir-pasir pantai, di semak-semak bakau, juga
tiada.Wahai, pemilik semesta yang telah merestui Nuh membuat perahu ketika bah
235
datang, mohon arungkan perahu itu ke hadapanku ... Wahai Nuh, nabi yang dicap gila
oleh umatnya yang kufur dan jahiliyah, wariskan perahumu yang pernah
menyelamatkan pengikutmu. Kuingin mengevakuasi seluruh rakyat di sini, para
nelayan, istri-istrinya, anak-anaknya, bayi-bayinya, ternaknya, sayur-mayurnya, entah
ke tanah yang mana. Di sini, di tanah yang kata tetuaku makmur dan gemah ripah loh
jinawi namun beratus-ribu rakyat diterjang kemiskinan bertahun-tahun, tak bisa lagi
memberi mereka harapan dan impinan untuk hidup.Kau lihatlah, betapa rakyat di sini
nelangsa, kurus kering, makan tiwul, minum dari air sungai yang penuh limbah,
menanam di tanah yang kerontang. Mereka akan mati satu persatu. Sementara untuk
protes kepada penguasa, tiada lagi keberanian. Karena penguasa senantiasa
mengintimidasi. Menghadapi rakyat bukan dengan otak yang jernih atau hati yang
punya haru, tetapi dengan tangan besi. Sedangkan anggota dewan telah meninggalkan
mereka, begitu mereka mendapatkan kursi. Sungguh, apakah kamu tak punya
perikemanusiaan membiarkan mereka begitu?Aku, sebagaimana para rakyat, sudah tak
percaya pada penguasa dan wakilnya di gedung Dewan. Pemimpin mereka sudah sama
persis Firaun. Ketika berkuasa mengaku diri Tuhan, tapi kemudian terjepit oleh dua laut
yang semula terbelah saat dilalui Musa. Firaun tak sanggup menyelamatkan dirinya.
Apakah itu Tuhan?Lalu, Firaun Firaun yang ada kini masih dengan bangganya
mengenakan baju kebeasran Tuhan. Tanpa pedang, tapi firmannya bisa membuat laut
yang etnang berubah badai. Membuat rakyatnya tiba-tiba mati, sekali "kun"!Kau
lihatlah, tak terhitung lagi para aktivis mati dalam tahanan, mati beku di kasur balok es,
ataupun mati dengan kabel listrik melilit di tubuh dan dimasukkan di lubang duburnya!
Ingin kuceritakan padamu, sesungguhnya Firaun kini sudah menua. Tetapi, sabdanya
masih didengar bekas orang-orangnya. Cakar-cakar ideologinya, linggis senyum
khasnya, telah menancap di seluruh gedung eksekutif dan legislatif: dari kota hingga ke
pelosok kampung. Maka sebagaimana aku di tepi laut ini. Aku hendak membelah lautan
menjadi dua, sebagaimana pernah dilakukan Muda. Aku akan menyeberanginya. Aku
adalah Khidir itu. Membawamu untuk mencari tempat baru. Tanah baru. Penghidupan
baru. Tetapi, kau jangan banyak bertanya kecuali aku memintanya. Kau jangan banyak
cakap, sebelum aku memulai. Kamu berjanji?Sebab pertanyaan akan melahirkan
perdebatan. Pernyataan akan membuat pembenaran berkuasa.
Lampung, 23-24 Januari 2002*) perahu (bahasa Lampung)
236
Rumah Segalanya
Post : 11/15/2002 Disimak: 236 kali
Cerpen : Isbedy Stiawan ZS
Sumber : Pikiran Rakyat, Edisi 11/14/2002
AKU harus pulang. Petualangan ini layaknya Ahasveros, tak pernah akan
mencapai rumah. Jalan yang dulu kulalui saat meninggalkan rumah dan segala isinya,
kini telah tertutup belantara. Sampai-sampai aku tak bisa lagi mengenali. Sebuah sungai
memanjang yang muaranya di puncak bukit dan hulunya di kuala, sekarang sudah tiada
lagi. Kecuali tanda bahwa di sekitar ini pernah ada induk sungai.Bagaimana kalau jalan
saja sudah tak bisa kutandai, sungai saja sudah kehilangan tanda, belantara tak juga
meninggalkan kenangan? Bayangkan! Apakah aku akan bisa pulang, menemui rumahku
yang menyimpan segalanya?Rumahku menghadap lautan. Tidak begitu dekat dengan
pantai. Tetapi, angin laut, suara ombak, nyanyian para nelayan setiap kali mendapatkan
ikan banyak, akan sampai ke rumahku. Aku saat kanak-kanak yang tertawa riang ketika
memperoleh banyak kerangakan pula sampai. Orang-orang tentu mengira penghuni
rumah yakni aku adalah nelayan, setidaknya pemilik banyak perahu atau juragan
ikan.Sangkaan itu jelas keliru. Aku cuma orang yang memilih membangun rumah di
tempat ini. Kebetulan dekat pantai menghadap lautan, sementara di belakang dan
samping rumah berderet bukit. Tak banyak yang kutahu tentang alam sekitar rumahku,
kecuali seperti yang kugambarkan. Ah, tidak! Aku bukan seorang penggambar. Aku
hanya manusia biasa, dari komunitas kebanyakan dan umum. Tidak lebih dari itu.Pada
suatu malam aku harus berulang. Pengembaraan yang kupikir terlalu jauh dan tak
berbatas. Aku heran, kenapa aku mau saja ketika diperintah untuk menjadi petualang
(maaf, lebih tepatnya bukan diperintah melainkan entah kenapa ketika ada seruan untuk
meninggalkan rumah, aku mau). Malam itu aku keluar dari kamar, melepaskan selimut
sembarangan, membiarkan bantal terlelap sendiri. Aku buka pintu depan dan kemudian
membiarkan mengembangkan. Sejak itu, bertahun-tahun aku tak mengenal rumah. Tak
mengenal ranjang, kasur, selimut, dan bantal. Tak juga mengenal makan dan berak.Aku
pun bertualang. Mengembara dari satu tepi pantai ke ujung pulau lainnya. Mendaki
pegunungan dan menuruni lereng. Dari jalan berumput, berbatu hingga jalan hotmik
kulalui. Anehnya, telapak kakiku tak luka. Tiada darah yang mengucur dari sana. Ini
237
benar-benar sebuah keajaiban. Ajaib? Entahlah. Gaib? Aku juga tak paham. Mungkin
juga suatu kebetulan, mungkin pula lantaran mukjizat. Ah, tahu apa aku tentang
mukjizat? Bukankah mukjizat hanya diterima para orang suci seperti nabi atau rasul
atau sufi? Aku tak begitulah kotor, tapi masih jauh dari kesucian!Malam separas legam.
Hanya sedikit bintang yang menghiasai langit yang terlihat menghitam. Sesekali
terdengar gemuruh kilat. Laut pasang. Debur ombak bertalu-talu saat menampar bibir
pantai. Pohon bakau menari dielus oleh angin. Para nelayan terombang-ambing di
lautan. Lampu yang ada di atas perahu bergoyang-goyang, layaknya seekor kunangkunang
yang sedang terbang. Untuk beberapa jenak aku terkulai duduk di pinggir laut,
memandang kefanaan.Hidup ini sesungguhnya fana! Tergoda aku pada suara ombak
yang menjilat kakiku. Ombak akan selalu sampai di pantai melepas rindu, setelah itu ia
tinggalkan bekas kecupannya. Dan, ombak akan datang lagi beberapa jenak kemudian.
Rutin sekali. Tetapi, adakah ombak pernah mengucapkan bosan menjalani tugas
melunasi rindu pada pantai? Tak. Setiap ia ingin menolak kehendak mencium pantai,
setiap itu pula kekuatan alam mendorongnya. Lalu ia mencium, mengecup, menjilatjilat
pantai. Setelah itu, ya setelah itu, ia kembali ke tengah. Bergumul dengan laitan dan
ombak yang lebih besar lagi. Memain-mainkan perahu kecil milik para nelayan, bahkan
menendangnya sampai jauh. Atau, ia akan mendatangi lagi pantai dan mengucapkan
salam rindunya: karena pantai menabung rindu-rinduombak akan datang menyerahkan
hatimengecup dan melumat bibirnyadengan rahasia percintaan abadi lalu, waktu akan
melontarkan ombakke perut lautan, menggulung sisa kecupanke dalam kenangan paling
rahasia... karena pantai menawarkan selalu rinduombak akan tiba lebih duludari angin
dan salamsebelum dan sesudah lembaran ulu YA! Kaulah ombak yang setiap waktu
menemui pantai. Menyerahkan kecupan, melupakan kabar. Lautlah kau yang tak pernah
resah berjalan mencapai tepi dan kembali dengan keriangan. Anginlah kau yang selalu
melontarkan ombak ke pinggir dan mengirimnya lagi ke lautan. Perahulah kau yang tak
pernah jemu menyusuri lautan dan kembali ke pantai ketika penat atau isi telah penuh.
Nelayanlah kau yang ingin berumah di lautan dan lelap di daratan.Maka seperti ombak,
aku bangun lautan dalam diri. Aku melanglang dan bertualang mencapai benua demi
benua. Aku kehidupan perahu di tanganku. Aku tinggalkan rumah. Melupakan
kenangan-kenangan bahwa aku pernah terlelap dengan nyenyak di sebuah ranjang,
meski bantalnya amat kerempeng. Aku melangkah meninggalkan tepi pantai, pohon
bakau, batu karang, pasir-pasir, dan umang-umang yang melata di dekat kakiku.Selamat
238
tinggal pantai. Selamat tinggal debur ombak, gemuruh laut, siul angin, syair-syair
Slauerhoff, dan pikiran aneh Khidir saat membocorkan perahu. Aku akan memulai
bertualang. Lalu, aku pun mengembara dan memasuki rumah-rumah yang tak pernah
kukenal sebelumnya. Kumasuki rumah para orang suci, kumasuki meunasah, surau,
langgar, masjid hingga gereja dan pura. Kujelajahi rumah-rumah mewah sampai ke
rumah paling kumuh di tengah kota, tak lupa kujilati rumah bordil dan rumah perjudian
dan hiburan. Alangkah tak sebanding jalan menuju surga dengan jalan kesesatan?
Pantaslah kalau para nabi takbosan-bosan mendakwahkan kebenaran dan jalan lurus.
Pantaslah para ustaz dan orang-orang suci mengajak menempuh jalan kebaikan. Lalu,
apakah jalan yang Engkau sediakan selalu dua arah berlainan? Tetapi, kenapa arah yang
satu lebih banyak dan lengkap menawarkan kesesatan dan kebejatan? Aku sampai
begitu gamang mesti memilih karena jalan yang satu ini begitu banyak dan
menggiurkan. Alangkah...Terlalu banyak bertanya, aku seperti seorang pendamping
Khidir yang ditakdirkan untuk terus-terusan bertanya. Seperti si dungu yang selalu tak
puas atas jawaban lalu merasa bodoh jika tak mengajukan pertanyaan. Padahal, apakah
pertanyaan kemudian datang jawaban, orang akan menjadi berarti? Banyak pertanyaan
yang muntah di meja-meja rapat dan hanya sedikit jawaban yang diberikan, sama saja
dengan tak adanya pertanyaan. Camkanlah ketika berapa banyak rakyat kecil yang
mengajukan banyak pertanyaan kepada raja atau wakilnya di parlemen, lalu tak pernah
ada realisasinya bersamaan jawaban.Jadi, benarlah kalau Khidir sangat marah ketika
"sang murid" selalu mengajukan pertanyaan dalam pengembangan tempo hari. Ibrahim
tak pernah bertanya kepada raja tentang ratusan patung, kecuali ia merenung apa
manfaatnya dari pemberhalaan terhadap patung-patung itu, "Apakah patung itu bisa
memberi rezeki dan menyelamatkan manusia?" Maka tanpa bertanya, Ibrahim diamdiam
memenggal seluruh kepala patung dan menggantungkan kapaknya di leher berhala
itu. Baru keesokan harinya, sang raja sangat murka. Tanpa bertanya, ia langsung
menuding, "Ulah ini semua pastilah Ibrahim!"Itulah kenapa akhirnya aku enggan
bertanya, bahkan ketika aku kesasap entah di mana. Apalagi orang yang ingin kutanya
tak ada lagi yang dapat kupercaya. Akhirnya aku merasa bahwa dalam pengembaraan di
planet ini hanya seorang diri. Aku tak pernah melontarkan pertanyaan kepada lain
makhluk. Itu sebabnya, aku lebih suka mendapat jawaban dari perasaanku ketimbang
mengajukan pertanyaan yang menurutku seperti kesia-siaan.Boleh jadi itu sebabnya
mengapa Sysyphus tak pernah bertanya pada dewa ketika ia harus berulang-ulang
239
memanggul batu ke atas bukit lalu dewa mendorongnya lagi ke bawah. Berulang-ulang
Sisyphus melakukan itu, memanggul batu itu ke bukit dan tak pernah bertanya apalagi
protes tatkala dewa mendepak batu itu menuruni bukit. Ah, "Sisyphus yang dungu! Tak
kau tolak juga titah itu, sebelum uban menyemai di usiamu."Seperti orang-orang yang
terkenal dalam kisah legenda itu, aku sedapat mungkin meniadakan pertanyaan selama
pengembaraan. Aku lumuri pikiranku dengan penegasan demi penegasan, jawabanjawaban
tidak untuk sebuah petanyaan yang bagus sekalipun. Betapa nikmatnya sebuah
pengembaraan tanpa dikacaukan oleh berbagai pertanyaan. Betapa indahnya perjalanan
yang di setiap rambu-rambu pikiran hanya tertera jawaban-jawaban. Betapapun ini tak
mungkin, tapi kenyataannya demikian.Aku mendapatkan jawaban dari seorang bocah
yang dibunuh sebelum menaiki perahunya yang juga dibocorkan, aku memperoleh
jawaban dari orang tua yang dibunuh dan sang anaknya dibiarkan hidup di belantara tak
bertuan. Aku dikirimkan jawaban mengapa Adam dan Hawa dilempar ke planet bumi
ini, setelah keduanya melakukan kesalahan yang prinsipil. Dan, masih banyak lagi
jawaban yang tiba-tiba mengepungku, menenggelamkanku, melumatku, melemparku,
tanpa pernah kuawali dengan pertanyaan.Berapa nikmatnya. Betapa indahnya! KALAU
kini aku harus pulang, bukan karena aku kehabisan jawaban. Soalnya adalah, ini yang
paling penting, tiba-tiba aku digoda oleh pertanyaan besar, "Untuk apa aku
mengembara, apa pula manfaat yang kudapat dari petualangan ini?" Ombak saja akan
pulang ke lautan setelah melepas rindunya pada pantai. Nelayan juga merindukan lelap
di daratan setelah berwaktu-waktu berada di rumah lautnya. Sitok tiba-tiba punya
pikiran hendak membangun rumah di pulau, setelah mungkin merasa bosan berumah
dalam kepungan lampu-lampu kota dan asap kendaraan."Bagaimana caranya aku bisa
punya rumah di pulau, menghadapi laut lepas, memandang biru laut, menatap bintang di
langit biru?" ujar Sitok, si penyair dari kota besar itu, suatu malam di rumah pangggung
milik si An. Sesungguhnya ini bukan ujaran, melainkan pertanyaan Sitok yang tiba-tiba
memimpikan tinggal di sebuah pulau lalu menulis puisi ditemani seorang istri. Masih
akta Sitok lagi untuk mempertegas impiannya. "GM saja tak punya villa di pulau..."Aku
harus pulang sekarang. Petualangan ini tak pernah akan mencapai rumah, kalau
sekiranya aku tak punya keinginan untuk pulang. Betapapun jalan yang dulu kulalui saat
meninggalkan rumah dan segala isinya, kini telah tertutup belantara. Kukumpulkan
seluruh ingatanku, tanda-tanda lambang-lmbang, rambu-rambu, dan seribuan tera.Ini
sungi yang dulu pernah kusinggahi. Ini tepi pantai yang dulu aku pernah duduk berjam-
240
jam memandang perahu nelayan yang pergi dan datang. Dan, itu bukit yang serahuku
mengitari sepertiga rumahku. Itulah kanak-kanak yang dulu kutinggalkan masih
mencari lokan, kerang, dan membangun rumah-rumahan dengan pasir pantai. Juga para
nelayan yang saat kutinggalkan dulu sedang menarik jala yang ditebar menjaring ikan di
lautan.Ya, ya, Pulau kembali sepi, setelah kau menarik perahumu dari sana. Bekas
jejakmu kini yang akan kujadikan tanda untuk menuju rumahku. Rontokan rambutmu di
pasir membuatku terkenang kembali pada tahun-tahun tak terbilang dulu. Aku jadikan
rambu dan tera bagi langkahku.Aku hampir sampai rumahku. Masih seperti dulu,
hening. Pintunya yang kubiarkan terbuka tetap tak berubah. Tentu tak ada pencuri yang
masuk. Tak ada binatang yang hanya untuk membuang kotoran. Tak ada, begitu bersih,
apik, dan asri.Aku mengambil air membasuh tubuh seluruh. Aku gelar selembar kain di
lantai, kukenakan kain sarung dan kopiah. Aku berdiri tegak, menghadap lurus arah
matahari terbit. Tiba-tiba, seperti rindu ombak pada laut, aku pun merindukan ihwal
seperti ini. Aku juga ingin memulangkan rindku pada-Mu. Aku ingin mengecup-Mu.
Ingin terdampar di pantai-Mu. Terlelap di rumah-Mu. Memakan dari pohon di halaman-
Mu. Menjadikan rumahku segalanya.Seperti Imran, seperti Mariyam... ***
241
Banjir
Post : 10/15/2002 Disimak: 264 kali
Cerpen : Isbedy Stiawan ZS
Sumber : Lampung post, Edisi 04/03/2002
Lenni, aku ingin menjelma jadi seorang pahlawan. Tetapi, tidak untuk
menolongmu... "TEMPAT kos Lenni kebanjiran, tolong telepon ke kantor!" Kabar yang
dikirim melalui SMS kuterima pagi ini. Ah! Pasti dia memanfaatkan banjir, kemudian
mengatakan bahwa barang-barangnya hanyut, dan lalu "aku butuh uang, tolong
kirimkan aku dong..."Apakah aku harus percaya begitu saja apa yang dikatakan Lenni?
Sejak ia meninggalkanku beberapa tahun lalu, hanya dua kali kami berjumpa. Pertama,
ketika ia bekerja sebagai waiters di sebuah pub di Jalan Gatot Subroto di kota J. Yang
kedua, ketika aku bertugas sementara di kotanya. Ia mememberiku alamat dan nomor
telepon tempat kosnya. Tetapi, aku sengaja tak mengabari kedatanganku. Aku ingin
surprise, pikirku. Aku ingin tiba-tiba muncul di ambang pintu kosnya.Pagi yang ceria
aku sudah berada di tempat kosnya. Aku menanyakan pada pemilik kos, karena kulihat
kamar Lenni terkunci. Aku mendapat jawaban bahwa perempuan yang pernah ada di
hatiku itu, kini sedang keluar. Dengan siapa?"Kekasihnya. Entah ke mana. Ia tak
meninggalkan pesan..." kata pemilik kos itu ringan. Ia ingin segera kembali ke dalam.
Tetapi, segera kucegah."Kalau boleh saya tahu... apa mereka biasa pergi?""Kekasihnya
malah sering tidur di kamarnya..."Ah! Dadaku tiba-tiba saja seperti hendak berhenti
berdegup. Kuraih segera sapu tangan di saku celanaku dan kuelap wajahku yang tampak
berkeringat dingin. Sungguh, tak kukira kalau Lenni sudah memiliki kekasih baru,
setelah kami tak lagi sekota.Hubunganku dengan Lenni sudah amat dekat. Walau aku
sudah beristri namun tidak memengaruhi hubungan kami. Ia bahkan pernah berjanji siap
menjadi istri kedua. Ia juga telah pindah ke agamaku. Sampai suatu kesempatan kami
berikrar sebagai suami istri... *** ITU masa lalu kami. Hubungan kami yang hanya
bertahan dua tahun, akhirnya tak hanya dipisahkan oleh prinsip, keyakinan, dan jarak.
Tetapi juga oleh kekecewaan. Ia kecewa karena dari hubungan kami tak juga
membuahkan anak. Padahal, dari Santi, aku kembali dikaruniai seorang anak lelaki
sebagai anak ketiga. Dan, yang paling membahagiakan aku, Santi tak mengetahui
hubunganku dengan Lenni. Bahkan sampai kini!Itu masa lalu kami. Ya! Masa lalu yang
242
sebenarnya sudah lama kukubur dan tak akan kuingat lagi. Aku kecewa? Itu jelas. Siapa
pun orangnya akan kecewa manakala orang yang dipercayainya berdampingan dengan
orang lain. Apalagi, aku masih sering mengirimkan uang sebagai tanggung jawabku
sebagai lelaki. Terakhir ia kukirim kipas angin, karena kamar kosnya gerah. Ternyata
barang kirimanku itu dimanfaatkan Lenni bersama kekasihnya.Walau aku kecewa,
namun aku memaafkannya. Itu sebabnya, setiap kali ia menelepon aku terima dengan
riang. Hanya tidak untuk meminta bantuan, misalnya, ia memintaku mengirimkan uang
untuk membayar sewa kos. "Tidak untuk yang satu itu!" aku membatin. Aku pikir apa
guna kekasihnya, toh kini ia bisa meminta darinya?Begitulah ketika ia memintaku
menelepon di kantornya karena tempat kosnya banjir, segera aku menelepon. Setelah
diterima Lenni, aku tanyakan apa kabarnya, bagaimana keadaannya kini, dan apakah ia
sudah bersuami? Jawaban Lenni stereotipe seperti yang ada di benakku: "Lenni
berduka, pakaian Lenni hanya tinggal dua helai. Sampai sekarang belum terpikir untuk
bersuami. Tolong kirimi aku uang dong untuk beli pakaian??"Aku tak bisa menjawab
"ya" atau menolak. Aku kembali mempertanyakan keadaannya, pacar baru atau bahkan
suami. Lagi-lagi ia menegaskan bahwa ia masih hidup sendiri dan merasa enjoy tanpa
dikekang lelaki. Bahkan, sebenarnya, begitu katanya: ia sering meneleponku, baik ke
kantor ataupun ke handphone. "Tetapi HP-mu selalu off. Di kantor tak menyambung,
memangnya kau sudah tak lagi bekerja di situ?"Benarkah Lenni masih sering
menghubungiku? Setahuku, HP-ku tak pernah kumatikan, kecuali pada malam hari.
Selama Idul Fitri lalu, handphone selalu kuaktifkan. Entahlah, apakah ia sekadar ingin
menunjukkan sebenarnya ia masih memperhatikanku atau cara dia agar aku mau
menolongnya dalam setiap kesulitan? Lalu, apa ia kira aku dari badan sosial?"Kau
sombong, mau melupakan Lenni ya?""Tidak. Malah aku juga ingin meneleponmu, tapi
aku khawatir kau tak bisa diganggu karena sudah punya...""Aku masih sendiri, dan
belum berpikir untuk menikah!" ia menegaskan.Aku terdiam. Oke. Kukatakan bahwa
dua hari lagi aku akan ke kota J. Aku berjanji akan menghubunginya. Dan, jika ada
waktu aku akan menemuinya atau bertemu di suatu tempat yang telah disepakati.
Tetapi, dia kemudian berpesan: "Soal uang tolong kirimkan sekarang, aku benar-benar
memerlukan. Kau masih menyimpan nomor rekeningku kan?"Aku jawab "ya". Tetapi,
dalam hati aku bimbang: apakah aku akan segera mengirimkan uang ke rekeningnya?
Jangan-jangan aku diperdaya. Tepatnya, ia memanfaatkan musim banjir yang kini
tengah melanda hampir seluruh kota J, agar aku iba. Ah! Apa peduliku? Toh, Lenni
243
bukan istriku, bukan kekasihnya. Ia sama dengan warga kota J lainnya. Ia bisa
mendapatkan bantuan dari pemerintah, dari organisasi kemasyarakatan, atau dari LSM?
Tiba-tiba aku diingatkan bahwa dalam hidup ini mesti saling membantu. Marilah
menempatkan dia sebagai warga lain yang juga tengah tertimpa musibah banjir, dan kini
membutuhkan pertolongan. Siapa saja bertanggung jawab atas orang-orang terkena
musibah. Apalagi, aku adalah orang yang pernah dekat dengannya. Kenapa tak segera
menolong?Soalnya, aku kini tak punya uang. Kantongku benar-benar cekak. Lalu,
dengan apa aku mengirimkan uang kepadanya? Bisa saja aku pinjam dengan sahabatku,
misalnya, Heru, Joni, atau Sapto. Lalu kukirimkan uang seratus atau lima ratus ribu
rupiah ke rekening Lenni. Ternyata kemudian, uang itu bukan untuk membeli pakaian
yang katanya rusak karena banjir. Melainkan digunakan untuk bersenang-senang
dengan teman kencannya? Bagaimana perasaanku kalau ternyata itu benar? Aku tak
hendak dua kali dikhianati. ***
AKU kini sudah dewasa, Lenni. Kau tak akan bisa mengkhianatiku lagi. Bahkan
aku akan tertawa melihatmu dilumat banjir, mati kedinginan tanpa sehelai pakaian. Kau
akan mengkeret seperti seekor tikus yang kedinginan di balik tempayan di dapur.Maka
aku memutuskan untuk tidak mengirimkan uang. Aku juga tak menghubunginya ketika
aku berada di kota J untuk beberapa hari. Aku juga membakar kartu namanya yang
selama ini tersimpan di dompetku. Aku tenang, seperti aku tenang-tenang saja manakala
menyaksikan berita di televisi tentang banjir atau membacanya di koran-koran
harian.Aku tak tergugah oleh berbagai musibah yang memorak-porandakan sebagian
warga kota J itu. Aku juga tak tersentuh oleh tayangan iklan peduli di hampir semua
media televisi dan koran. Hatiku sudah seperti tertutup untuk membantu meringankan
nasib mereka yang rumahnya terendam air, yang terancam berbagai penyakit, yang
mengungsi ke tempat penampungan karena rumahnya tak bisa lagi dihuni. Aku sudah
traumatik bila mengingat selama ini banyak bantuan bencana yang diselewengkan oleh
petugas atau oknum tertentu. Petugas dan oknum pejabat makin kaya, sementara warga
yang tertimpa musibah tetap saja nelangsa. Apa yang dilakukan Lenni, jangan-jangan
bagian dari skenario untuk mencari uang!Aku kemudian benar-benar melupakan Lenni.
Aku seperti meniadakan peristiwa bahwa suatu hari Lenni pernah mengirim SMS
kepadaku, meminta bantuan, dan mengharap aku menghubunginya ketika aku berada di
kota J. Aku benar-benar melupakan wajahnya, senyumnya, tawanya yang renyah,
goyangnya di atas ranjang, jari-jarinya yang mungil ketika membelai wajahku dan
244
mengelap bibirku seusai aku makan seperti hendak membuang bekas makanan yang
menempel.Pikiranku hanya satu: Santi, istriku. Juga ketiga anakku yang kini sudah
beranjak remaja. Kutumpahkan perhatian dan kasih sayangku kepada mereka. Aku
selalu memperbarui suasana pertemuan dan kencanku dengan keluargaku. Perhatianku
pada Santi makin kugandakan. Setiap menjelang tidur, aku lebih dulu memijit punggung
Santi hingga ia terlelap. Kemudian aku mencium pipinya dengan amat lembut. Lalu aku
mencium pipi anakku yang ketiga.Aku melihat wajah Santi sumringah. Ia bagai kupukupu
yang penuh warna-warna. Ia tampak begitu bahagia. Hal yang sama kulihat pada
wajah Doni, anakku yang ketiga yang kini baru berusia 2 tahun. Doni bagai
memberikan seluruh tubuhnya untuk kudekap, kupeluk, dan kuciumi sehabis-habisnya.
Sesempurna mungkin.Mungkin inilah saat yang paling bahagia dalam seluruh hidupku.
Aku benar-benar menjadi suami dan bapak yang berhasil. Tidak seperti Afrizal Malna,
sahabatku, yang mengaku telah gagal menjadi bapak. Atau Agus yang sebentar lagi
mengaku kalah sebagai suami, karena perkawinannya yang pecah. Aku juga bukan
seperti Radhar yang pada masa mudanya harus menulis sejarah luka dalam diri istri dan
keluarganya, karena komplikasi dan gagal ginjal. Tidak! Aku adalah suami dan bapak
yang kini telah merengkuh sukses di jagat rumah tanggaku. Betapa pun keberhasilanku
itu sangat sulit jika diukur berdasar materi.Masa diam-diam berkhianat pada istri, mesti
kukubur dalam-dalam. Aku lupakan Lenni yang pernah sempat singgah di sebagian
hatiku. Kulupakan Arum, perempuan belia namun sudah kehilangan perawannya
semasa SMP, yang juga sempat beberapa bulan singgah di hatiku. Juga untuk Donik,
Yuni, dan Astuti...Wahai hati, kau singkirkan nama-nama yang pernah menggangguku.
Tapi, untuk nama Santi dan nama-nama anakku, tolong makin kau tancapkan ke dalam
nuraniku. Bila nama-nama yang kucinta itu benar-benar tertancap, aku akan
menyuburkannya dengan pupuk kasih sayangku, hingga ia akan tumbuh subur menjadi
pohon bagi kemanusiaanku berlindung.PADA suatu hari, di suatu tempat yang tak
kuduga, Lenni berada di hadapanku. Wajahnya kuyu, tubuhnya pipih-kurus kering,
kulitnya agak legam. Ia memandangku pana. Aku membalasnya penuh keraguan.
Kucubit dagingku, aku kesakitan. Ya, aku masih hidup. Tetapi, dari mana Lenni tibatiba
berada di hadapanku? Padahal, semenit tadi aku tak melihat siapa-siapa. Aku hanya
sendiri di tempat ini. Mungkinkah yang kini berada di depanku adalah hantu Lenni?
Aku memang pernah mendengar kabar sejak musibah banjir itu, Lenni raib dari tempat
kosnya. Tak ada yang berani memastikan kepergiannya. Apakah ia mencari kos lain
245
yang terbebas dari banjir ataukah kecewa kemudian bunuh diri karena tak juga datang
bantuanku? Tak satu pun kabar yang bisa memastikan, media massa pun tak ada yang
menuliskan tentang raibnya.Boleh jadi, raibnya Lenni tak begitu penting bagi
pemberitaan media massa. Ia bukan pemimpin negara meski ia pernah bercita-cita ingin
menjadi presiden wanita. Ia juga bukan seorang menteri ataupun pejabat, yang setiap
gerak mendapat perhatian masyarakat. Ia hanyalah seorang kasir di tempat hiburan di
kota J, tak lebih dari itu. Karenanya, ia bisa saja raib kemudian dilupakan begitu saja. Di
negeri ini, apa peduli bagi seorang rakyat? Bahkan untuk ratusan rakyat yang kelaparan,
yang terjangkit penyakit, yang tewas oleh kebringasan militer maupun karena
kemiskinan. Mereka tak akan pernah terhitung dalam statistik pemerintah dan media
massa.Kurasakan Lenni masih duduk di hadapanku. Menatap sinis. Wajahnya mengiba.
Tanganya menengadah. Kucubit sekali lagi kulitku. Aku merasakan kesakitan. Artinya
aku tidak sedang bermimpi. Aku penasaran, Lenni kuajak berdialog. Tetapi, ia hanya
diam. Mematung. Bergeming. Aku mendekat, ia tak beranjak. Kusentuh tubuhnya
dengan tanganku. Aku meraba hampa. Pukimak! Ia mempermainkan aku. Ia tak
tersentuh, tapi tetap ada. Aku teringat David Coperfield yang bisa melakukan apa saja,
bahkan yang musykil sekalipun dengan sulapnya. Boleh jadi, Lenni telah banyak belajar
dari pesulap kesohor yang bisa menghilangkan patung Liberty itu."Kau jangan
mempermainkan aku, Lenni. Apa yang kau ingini dariku? Kau mau apa? Uang untuk
beli pakaian, sewa kos yang lain yang bebas dari banjir? Aku akan menolongmu
sekarang...." kataku. Kini aku yang mengiba. "Tapi, kau jangan permainkan aku seperti
ini. Maafkan kalau dulu aku tak bisa mengirimkan uang ke rekeningmu. Soalnya...
soalnya... waktu itu aku benar-benar tak punya uang. Nomor rekeningmu juga aku lupa,
telepon kantormu juga hilang bersama kartu namamu. Maafkan kelalaianku,
keteledoranku... Percayalah, sekarang aku akan membantumu. Berapa kau perlukan.
Lima ratus, sejuta, dua juta. Atau berapa? Katakanlah terus terang..."Lenni diam.
Pandangannya tak berubah. Rona wajahnya dingin dan putih laksana kapas yang
tersiram air. Aku kian penasaran. Ingin rasanya kupeluk tubuhnya serapat-rapatnya,
kugoncang-goncangkan, kemudian aku menangis sejadinya. Ya! Kini aku menyesal,
kenapa dulu aku tak segera mengirimkan uang ketika ia benar-benar amat memerlukan
uluran dariku. Kenapa aku dicekam keraguan, digoda oleh keuntungan dan kerugian.
Kenapa aku begitu materialistis, tidak sosialistis. Apakah ada ajaran agama
membolehkan kita mengabaikan orang lain yang sesungguhnya sedang benar-benar
246
memerlukan bantuan? Kalau ada, agama yang mana?"Lenni beri aku waktu untuk
menyesali kekhilafanku. Bukalah pintu maafmu dengan menerima bantuanku. Ini aku
berikan uang untukmu mencari tempat kos yang lebih baik, lebih bagus, dan bebas dari
banjir. Uang ini juga cukup untuk kau belikan beberapa helai pakaian. Aku benar-benar
kasihan, kau kedinginan..."Lenni bergeming. Wajahnya kulihat semakin mengapas dan
mengeriput. Kulitnya yang tampak legam, bagai kulit sang mayat: anyep dan seakanakan
tinggal belulang. Bahkan di antara pori-porinya, kulihat ulat bergerak-gerak. Aku
tak tahu apakah binatang kecil itu adalah belatung ataukah cacing yang tengah
menggerogoti dagingnya.Ah! Sungguh aku tak lagi melihat kecantikan, keayuan, dan
sejenis itu pada dirinya yang dulu membuatku tergila-gila!Karena penasaran, karena
ingin segera mendapatkan kepastian membuatku tak sabar. Aku segera melompat dari
tempat dudukku dan secepatnya mendekap Lenni. Tapi, seperti kali pertama, aku hanya
mendekap hampa. Kukucek-kucek kelopak mataku untuk meyakinkan pandanganku tak
rabun. Ya! Tak ada masalah bagi mataku, aku juga belum berkacamata minus ataupun
plus-bahkan cacat selinder.Sialnya, begitu kubuka mataku, aku tak lagi melihat Lenni
duduk di depanku. Ia raib. Seperti ia raib seusai musibah banjir dulu. Yang kupeluk
hanyalah kursi tinggi seperti yang biasa kulihat di sebuah pub. Aku malu, karena
pengunjung yang tiba-tiba ramai menertawakan aku. Kulihat sebagian mereka
menelentangkan jari telunjuknya di kening masing-masing, dan berdesis: "Kok, kursi
dipeluk. Di sini kan banyak cewek yang tak sekadar bisa dipeluk. Takut??"Kulupakan
peristiwa, kalau ini benar-benar sebuah peristiwa, pertemuanku dengan Lenni. Aku tak
akan mencatatnya menjadi sebuah sejarah. Di mana pun sejarah tak berarti apa-apa.
Aku, bahkan, kini hidup di luar sejarah. Aku sudah kehilangan rasa haru itu.BANJIR
kiriman dari kota B diperkirakan akan pula merendam kota L, demikian kata sebuah
berita. Aku membayangkan diriku akan megap-megap mencari perlindungan agar tak
terbawa arus hingga ke laut lepas. Sebab, aku tak bisa berenang, dan itu berarti dua
pertiga dari nyawaku telah hilang.Ah! Tiba-tiba aku membayangkan wajah Lenni yang
mengiba pertolonganku. Tangannya yang melambai mengharap uluran bantuanku.
Namun, tak pernah kululuskan. Dan, kini giliranku yang berteriak-teriak minta
pertolongan, minta perahu atau ban yang bisa mengangkutku dari bencana banjir.
Tetapi, tak seorang pun peduli. Karena orang-orang juga sibuk menyelamatkan diri
masing-masing.Aku pun megap-megap. Lebih dari empat ember air yang datang entah
dari comberan mana telah kuminum, hingga membuatku kehabisan daya. Entah di laut
247
mana atau tersangkut di jembatan mana, aku berjumpa dengan Lenni. Atau barangkali
tidak sama sekali.Tapi tunggu dulu. Yang jelas, lambat-laun aku akan jadi bangkai.
Membusuk. Dikelimuni lalat dan ulat. Menunggu kedatangan seseorang yang kemudian
menguburkan jasadku, atau setidaknya memberikan harapan baru. Betapa pun
penantianku sia-sia.*)Banjir telah membuat kami kehilangan segala...
Lampung, 7-12 Februari 2002*)
Reinterpretasi dari dialog Estragon dan Vladimir dalam "Menunggu Godot"
karya Samuel Becket dan dipentaskan Teater Satu (Lampung) di TUK Jakarta, 8-9
Februari 2002
248
Mawar
Post : 10/15/2002 Disimak: 298 kali
Cerpen : Isbedy Stiawan ZS
Sumber : Lampung post, Edisi 03/18/2002
MAWAR. Seperti namanya, lelaki mana yang tak akan mimpi pada aroma
tubuhnya. Mawar tumbuh di antara ilalang di kampung kumuh itu. Tetapi, pusat kota
mana yang tidak mengenal namanya. Mawar dapat menghidupkan ruang pub atau
diskotek yang semula lengang dan kelam. Mawar bisa menggairahkan suasana rapat
yang semula mati.Setiap kali ia berjalan, lelaki mana yang tidak meliriknya?
Senyumnya. Jalannya, lenggak-lenggoknya. Tubuhnya, aduhai sensual! Bibirnya yang
dipoles warna merah, membuat matahari saja iri kepadanya. Mawar tumbuh bak bunga
di taman itu. Penuh warna-warni. Riuh lebah.Mawar dibawa ke kota. Ia ada di papanpapan
iklan. Di ruang pub atau diskotek. Gambarnya menghiasi ruang remang yang
hanya sesekali spotlight menembak. Mungkin kau tak merasakan kalau engkau sedang
mencuri perhatian Mawar. Tidak. Bukan mencuri. Tetapi, ingin meraba Mawar.
Mengajaknya duduk di sebelahmu. Lalu, "Kamu ingin minum apa? Bir, cocacola, atau
ini..." kau menawar.Mawar tersenyum. Ia bukan perempuan perokok. Bibirnya tak
tampak kebiruan layaknya para perempuan pecandu nikoten. Bahkan, lisptik selalu saja
tetap di bibirnya. Tidak luntur. Padahal, kau pun tahu setiap lelaki ingin sekali menyapu
lisptik di bibir Mawar dengan bibirnya. Seperti seorang kanak-kanak yang keranjingan
mengenyut permen bipbop.Biarkan Mawar tetap dengan aromanya. Ia telah jauh-jauh
datang dari kampung kumuh. Dari sebuah keluarga yang bertarung dengan mesin-mesin
motor. Tetapi, televisi, film-film yang ditayangkan di bioskop-bioskop 21, budaya
metropolis, dan juga para artis, sudah memasuki kamar Mawar.Kadang Mawar ingin
sekali seperti artis. Berpakaian yang di bagian perutnya terbuka. Atau pakai celana
panjang ketat warna hitam, yang bagian bawahnya seperti dirobek beberapa sentimeter.
Juga berkacamata seperti Atiek CB. Atau seperti para model yang tengah
bergaya."Tapi, aku tak mungkin bisa seperti itu. Perlu biaya besar. Dan, aku tak punya
uang," Mawar mengigau. Bahkan, sampai bumi ini berubah kiamat pun, Mawar tak
akan bisa seperti para artis di film-film itu.Bila kau banyak uang di saku, tentu kau bisa
mengajak Mawar duduk di sebelahmu. Ia kemudian akan mengajakmu berdansa chacha
249
atau berjoget ala-kesetanan. Kau juga bisa mengajaknya naik ke mobilmu dengan
alasan: "Hari sudah sangat malam, bagaimana kalau kau berjumpa lelaki jahat di jalan?
Kau akan ditarik ke semak-semak lalu diperkosa!Mawar akan ketakutan. Ia akan
menawarkan diri untuk diantar pulang, Tetapi, tidak sampai ke ambang pintu rumahnya.
Ia pasti malu memperlihatkan rumahnya yang berdinding bambu dan pintu dari kayu
dicampur seng. Maka ia akan meminta kau menurunkan di depan gang.Dari sini saya
berani pulang, tak ada penjahat. Saya cukup dikenal di daerah ini...Tentu itu bagian dari
rencanamu. Kau tak akan langsung mengantarnya. Kau akan mengajak, kalau mungkin
merayunya, agar jalan-jalan dulu menghabisi malam. Sayang kalau malam yang indah
ini kita biarkan berlalu. Bagaimana kalau kita menikmati gemintang dan cahaya bulan
nan menawan itu dari pinggir laut?Mawar pasti akan mengangguk. Ia berharap setelah
dari pantai kau memberinya uang. Ia menerimanya dengan suka-cita. Lalu baru kau
antar pulang. Pulang? Setelah aku memberinya uang? Lelaki mana yang tanpa pamrih
pada perempuan?Apa maksudmu? O iya! Kau akan mengajak Mawar ke hotel, begitu?
Lalu, pulang pada pagi hari ketika matahari mulai menampakkan wajahnya? "Kamu
terlalu banyak minum, kau mabuk. Bagaimana kalau kita istirahat dulu?Di mana?"Aku
kasihan kamu. Kalau aku biarkan kamu pulang sekarang, bagaimana kalau kau
terjerembab? Kamu mabuk berat. Harus istirahat... Nah, betul kan kamu ingin muntah...
katamu."Ya, aku harus istirahat. Tapi, di mana?"Bagaimana... eee, bagaimana kalau kita
ke hotel? Subuh kita chekout dan kuantar sampai rumah?"Jangan sampai rumah. Cukup
di depan gang saja."Baiklah." Kau bawa Mawar mencari hotel kelas melati. Kau papah
tubuh Mawar agar tak jatuh, dan kau bawa ke dalam kamar. Kau rebahkan di ranjang.
Kau buka sepatunya. Kau kipas-kipas badan Mawar yang berkeringatan. Kau buka
jaketnya. Kau buka baju yang melapisi kaus dalamnya. Kau buka kaus tipis yang
menutupi tubuhnya. Kau buka...***KAU baru tahu Mawar sangat pintar bercinta. Ia
juga lihai menundukkan lelaki. Sudah lebih sepuluh lelaki yang pernah menjadi
kekasihnya. Sejak SLTP, bahkan. Bayangkan baru kelas 2 SLTP, Mawar sudah pernah
keluar-masuk hotel. Ia juga hafal benar tarif-tarif hotel.Kau tak menyangka? Kau sendiri
tak begitu hafal hotel-hotel mana yang bisa dijadikan tempat bercinta? Mawar berkisah.
Pertama kali ia mengenal lelaki ketika ia baru sebulan menginjak kelas 2 SLTP. Pacaran
selama empat bulan. Kemudian kekasihnya, sepulang sekolah, menjemput Mawar di
depan gang ke sekolahnya. Ia naik motor yang dibawa kekasihnya. Tak ada janji mau
pergi ke mana. Tiba-tiba motor masuk gerbang hotel. Mawar sempat bengong. "Mau
250
apa kita ke sini?Ardi, kekasih Mawar, memberikan alasan bahwa ia ingin mengatakan
sesuatu yang penting. Hanya di dalam hotel, pertemuan tak terganggu. Ia mencontohkan
saat keduanya asyik mengobrol di pantai. Banyak sekali anak-anak yang mengganggu.
Dari pedagang minuman dan makanan ringan sampai pengamen. Kapan kita bisa
menikmati pertemuan ini? Guman.Benar juga, pikir Mawar. Maka ia biarkan tangannya
digamit Ardi masuk ke hotel. Meninggalkan KTP dan bayar, setelah itu ia ditarik ke
dalam kamar. Amboi! Itulah hari pertama Mawar layaknya menjadi istri! Aku tak
menyesal karena kami lakukan atas suka sama suka. Meski aku kehilangan...Sejak itu,
Mawar berganti-ganti ranting dan taman. Ia kadang ditanam di pot bunga, di taman di
dekat jendela rumah, atau dipajang di pintu masuk ruang bos, diskotek, pub, dan juga di
kamar hotel.Mawar yang kau temukan kemarin, Mawar yang sudah dewasa dari usianya
yang semestinya. Sebelum kau, ia pernah bercinta dengan lelaki 40 tahunan. Lelaki
yang usianya sama dengan bapak Mawar. Lelaki itulah yang memperkenalkan kota
Jakarta kepada Mawar, ketika kekasih gelapnya itu diundang suatu seminar. Betapa
senangnya Mawar tatkala diperkenalkan Om Edy kepada peserta seminar. Itu tampak
dari wajahnya, dari cara jalan Mawar yang tiba-tiba lincah. Apalagi pakaian yang
dikenakannya berharga mahal, membuat Mawar makin percaya diri. Di tengah
perbincangan dengan teman-teman Om Edy, Mawar sesekali menyelingi menerima
kabar dari handphone-nya.Kini percintaan Mawar dengan Om Edy pupus. Setelah
mengumpulkan banyak pakaian dan Om Edy membelikan pula handphone, Mawar
menjauh. Tetapi Om Edy tak kecewa, ia sudah mengabadikan wangi Mawar. Dia telah
mencatat tahilalat di kelopak-kelopak Mawar.Kini giliran kau berada di samping
Mawar. Menimati sisa-sisa aroma yang masih terasa manakala angin membelainya. Kau
kini giliran yang merasakan diam-diam dompetmu menipis. Dan, kau giliran yang
mengantar dan menjemput setiap pagi serta petang. Di depan gang itu. Di jalan yang
itu-itu juga. Sampai suatu ketika Mawar menoreh lipstik ke wajahmu. Jadi tanda.
Seperti tahilalat yang bisa dilihat oleh siapa saja. Istrimu...Mawar akan menerormu,
setelah itu ia mencari sasaran lain!
Lampung, Februari 2002
251
Selembut Angin Setajam Ranting
Post : 10/15/2002 Disimak: 278 kali
Cerpen : Isbedy Stiawan ZS
Sumber : Lampung post, Edisi 03/18/2002
KAU tak pernah menyesal bercinta dengan istri orang?"Agus menggeleng.
Tersenyum. Bagai Don Quixot ia menenggak minuman yang nyaris kemarau itu. Aroma
alkohol benar-benar menyengat."Kau tak takut ketahuan suaminya?"Agus menggeleng
lagi. Ia malah menyalakan korek api tinggi-tinggi. Seorang perempuan, Anti yang
berparas sensual, mendekatnya. Mencium pipi Agus. Lelaki yang ada di depanku
menyambut ciuman Anti dengan bangga. Aku keki.Aku tendang kaki Agus dengan kaki
kiriku. Ia pikir dengan cara begitu ia bisa membuat emosiku naik, lalu ikut seperti
dia.Terus terang, aku berada di ruang pengap ini tak sengaja. Pulang kantor tadi, aku
bertemu Agus. Dia mendekatiku. Aku memang suntuk, letih, bahkan wajahku kuyu
karena tiga hari ini memang aku selalu lembur. Koran tempatku bekerja banyak order
iklan warna. Karena di kota B ini belum ada percetakan berwarna terpaksa dikirim ke J.
Itu sebabnya, halaman yang kebagian jatah iklan warna harus dikirim sehari sebelum
beredar. Dan, kebetulan aku yang diberi tanggung jawab.Aku tak bisa mengelak ketika
Agus mengajakku ke tempat hiburan diskotek ini. Dia merayu dengan mengatakan
untuk menghilangkan kejenuhan, diperlukan waktu santai. Santai yang paling bagus
menikmati musik dan memandang perempuan-perempuan cantik."Itu hanya di diskotek.
Bukan di swalayan atau di supermarket!" kata Agus sambil tertawa.Aku tersenyum.
Bimbang. Aku sudah kadung janji pada istriku akan membawakan martabak Bangka.
Dia pasti amat menanti makanan kesukaannya itu. "Ayolah, sekali-kali pulang
terlambat. Istrimu tak akan marah...""Tapi, aku sudah janji akan membelikan martabak
Bangka buat istriku...""Ah, bilang saja tidak jual atau sudah tutup. Kau jangan mau jadi
suami DKI.""Apa itu DKI, aku tak mengerti," potongku. Aku tersinggung, meski aku
sendiri tak tahu maksud DKI yang dikatakan Agus."Itu lo, suami Di bawah Ketiak
Istri!" Agus kembali tertawa. Kali ini benar-benar lepas.Aku cuma tersenyum. Pahit.
Kesal. Dan, sesungguhnya dalam hati aku marah. Tetapi, aku tahan. Agus adalah
sahabatku sejak kuliah. Ia kini pengusaha. Ketua organisasi para bisnisman di kotaku.
Tentu soal uang, ia tak pernah kehabisan. Teman-temannya pun pejabat, anggota
252
legislatif, aktivis politik, dan para preman.Aku tak bisa menolak manakala ia
membukakan pintu mobilnya. Aku masuk setelah menitipkan motorku dengan satpam
kantor. "Tapi, jangan lebih jam dua ya!" harapku.Agus mengangguk. Aku pikir ini
hanya sekali saja pulang terlambat. Lagi pula, aku ke luar kantor sudah pukul 11.30.
Masak iya, baru masuk diskotek sudah minta pulang.Agus masih seperti di kampus.
Don Quixot. Banyak kekasih. Bahkan, gonta-ganti. Aku pernah melihatnya, beberpaa
jam di kampus bisa tiga kali menggandeng cewek. Sialnya, tak satu pun cewek-cewek
itu berkelahi karena dia. Pandai sekali dia menyembunyikan kecurangannya!Dina,
kembang kampus, kemudian dipilihnya menjadi istrinya. Kini ia telah dikaruniai dua
anak: perempuan dan lelaki. Menurut cerita Agus, anak tertuanya kini sudah kelas dua
SMU, sedang yang bungsu kelas tiga SLTP."Kau tak pernah risau dengan anakmu yang
sudah remaja. Kapan kau akan berubah?" kataku di dalam mobil tadi."Anakku kan
tahunya kalau aku sibuk mengurusi bisnisku. Lagipula, mereka tahunya aku pulang
bawa uang. Ongkos ke sekolah tidak seret, dan kebutuhannya selalu kupenuhi. Itu
saja...""Istrimu?""Sebelum kami menikah pun, dia sudah tahu kelakuanku. Jadi, tak ada
masalah," jawab Agus santai. Tampak sekali ia mengucapkan itu dengan bangga.Tak
ada masalah? Bagaimana mungkin seorang istri rela dan pasrah padahal ia tahu
suaminya bersenang-senang di tempat hiburan. Istri mana pun akan terpukul begitu tahu
suaminya bercinta dengan perempuan lain. Jelas, bagi istri yang normal, akan menjadi
masalah jika tahu suaminya sering bersenang-senang di diskotek.Karena itu, aku tak
percaya kalau tak ada masah. Hanya saja, Dina yang kutahu sejak kuliah selalu ingin
menghindari pertengkaran. Dengan siapa pun. Itu sebabnya, ia disenangi banyak teman
perempuan dan pria. Tapi, itu bukan kepasrahan. Bukan pula karena Dina takut pada
Agus."Ayo minum, jangan kau pandangi saja. Sudahlah, Is, sekali-kali kau berontak
pada nuranimu. Hidup itu jangan monoton, misalnya alim terus. Sekali-kalilah keluar
dari aturan dan norma. Maka kau akan banyak mengetahui persoalan hidup," Agus
berbisik. Aku mencium aroma alkohol dari mulutnya."Kau memang gila!" aku
mendesis."Is, kau tahu, angin saja tak selalu meniup dengan lembut. Ia bisa berubah
sebagai topan, angin puyuh, atau pun bahorok. Nah, kenapa kita tidak seperti itu,"
katanya lagi. "Kita tak akan pernah tahu perasaan seorang penjahat, kalau kita tidak
menjadi penjahat. Kita tak tahu bagaimana rasanya mabuk, kalau kita sendiri tak pernah
minum alkohol. Kita juga tak bisa merasakan menjadi suami yang baik, kalau kita selalu
menurut dan tak pernah selingkuh.""Hidup ini bukan mesin percobaan, sobat! Rumah
253
tangga juga bukan arena akrobatik dan meja permainan. Hidup adalah amanah dan kita
wajib menjaganya. Rumah tangga adalah sunnah, maka bagi kita yang bisa menata dan
menghidupinya sama artinya kita telah menjadi pengikut Rasulullah!" jawabku tak mau
kalah."Ah teori...." kata Agus. Ringan. "Sudahlah, kita lupakan perdebatan ini. Toh kita
datang ke sini ingin hiburan?" kali ini kulihat Agus seperti hendak mengoreksi
pendapatnya.Jam 02.00. "Gus, sudah waktunya aku harus pulang," kataku kemudian,
mengingatkan. "Kasihan istriku, pasti dia was-was menungguku pulang...""Kau bahagia
punya istri yang setia menunggumu pulang. Aku iri padmu, sobat!""Apa maksudmu,
Gus?" aku bertanya. Sungguh aku tak mengerti maksud kenapa ia mengucapkan katakata
itu. "Bukankah kau sendiri juga bahagia? Punya Dina yang selalu tak punya
masalah?""Justru itu masalah! Karena ia tak pernah memasalahkan apakah aku pulang
cepat ataukah pagi, justru itu jadi soal buatku. Jangan-jangan istriku tak punya
kekhawatiran terhadapku. Jangan-jangan ia tak setia, tak..." Agus berhenti. "Oke kita
pulang, perasaanku tiba-tiba tak enak. Aku ingin memarahi Dina kemudian ia
menentangku, lalu kami bertengkar, ribut... Aku ingin sekali-kali ada kegaduhan di
rumahku, ada yang menentangku. Dina harus menanyaiku kenapa sering pulang larut
malam, mendampratku, bahkan aku ingin sekali ia melempar benda ke tubuhku. Rumah
tangga yang adem-ayem saja perlu diragukan keharmonisannya. Istri yang diam meski
membukakan pintu bagi suaminya yang pulang larut malam, perlu dipertanyakan
kasihsayangnya.""Aku setuju itu, Gus! Aku ingin kalian cakar-cakaran, seperti aku
dengan istriku. Setelah itu baikan, bercintaan, dan pasti kalian akan harmonis. Dalam
hidup ini, kita tak hanya merindukan lembutnya angin. Tetapi, kita harus pula
menikmati tajamnya ranting. Itu baru hidup!" ucapku. Aku menggamit tangan Agus
yang agak sempoyongan."Ke mana, kok cepet sekali?" Anti menyongsong tiba-tiba,
membuatku terusik. "Anterin aku dulu dong. Iya sayang??" pintanya pada Agus."Sorry.
Aku harus buru-buru, enggak punya waktu. Maaf.""Apa? Kau gila apa, Gus? Kau
tinggalkan aku di sini sendirian? Aku ke sini karena kau mengajakku. Tidak bisa, kau
harus mengantarku pulang dulu. Setelah itu kau boleh ke mana kau suka!" Anti
mengancam. Suaranya agak keras. Agus menatap wajah wanita cantik itu."Maaf sayang,
aku ada keperluan lain. Amat mendesak...""Tidak bisa!! Atau..." Anti memecahkan
botol. Ia mengancam Agus dengan botol yang sudah belah dua dan tentu tajam itu.
"Aku tak segan-segan melukaimu, kalau kau nekat keluar dari ruangan ini
sendirian!""Persetan!" bentak Agus. "Aku tak takut ancamanmu. Pergi kau perempuan
254
sundal, kau tak pantas menjadi istri.""Kau juga!. Aku yang istri orang saja, masih mau.
Kau yang setan!" Anti tak mau kalah. Ia kalap. Botol itu ia tancapkan ke tubuh Agus.
Untung aku awas, segera kudorong tubuh sahabatku. Tapi tak ayal, pecahan botol itu
menggores punggungku. Lebih perih rasanya daripada tergores tajamnya ranting. Istriku
pasti menanyakan ihwal lukaku, lalu kuceritakan. Pada akhirnya, istriku tahu kalau aku
ke diskotek. Aku rindu bertengkar dengan istri.
Lampung, Februari 2002
255

0 Response to "Kumpulan Cerpen Isbedy Stiawan ZS II"

Post a Comment