Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Kumpula Cerpen Cinta Part II

Cinta Dan Senja Di Pantai

Lidah ombak terus menjilat pasir putih, ketika kita berdua menatap senja yang kian memerah. Matahari tenggelam ke dasar tepat di ujung laut sebelah barat. Lalu kita beranjak, di bawah lambaian nyiur menyusuri pantai sambil menjinjing sandal. Di tepi laut ini kita berjalan mengejar buih putih yang di damparkan ombak di antara pasir putih dan kita samasekali tidak menghiraukan burung camar yang meliuk-liuk diantara mega yang kini bersemburat merah. Sesekali memekikkan telingga dengan suara yang nyaring. “Kamu merasa senang di pantai,” kataku mencoba mencairkan suasana. Suaraku berhasil memecah kesunyiannya atau lebih tepat di katakan dia kaget mendengar suaraku yang serak. “Ya, senang sekali,” jawabmu singkat. Sesingkat cerita ini. Walaupun tidak terdengar seriang nada suaramu yang menandakan kegembiraan. Tapi aku tahu di antara nadda suaramu terdengar sumbang dan aku tahu di antara semuanya itu kamu menyelipkan suatu rahasia di setiap kata yang kamu ucapkan. Kita pun mulai lagi terbawa ke alam bawah sadar kita masing-masing. Menghayalkan dan memikirkan sesuatu yang bakal terjadi atau sama sekali tidak akan pernah terjadi. Sambil terus melangkahkan kaki menjauhi keramaian. Keramaian yang penuh dengan suara bising dan hingar bingar. Aku tidak peduli lagi dengan langkahku yang semakin jauh. Setapak demi setapak yang meninggalkan bekas dan kemudian di sapu oleh ombak yang kian mendekati bibir pantai. Kamu tahu aku pasti gundah, gelisah sama seperti aku memahami isi hatimu yang berisi kegundahan dan kegelisahan. Kita memang di rundung kegundahan dan kegelisahan. Kita terbalut dalam suatu kesedihan yang amat mendalam. Lalu kita pun mendekap semua apa yang akan kita lepaskan secara tidak rela, yang di redupaksa oleh cinta para tetua dan para leluhurmu. Semburat merah senja telah memenuhi jagad semesta, walaupun tanpa pelangi yang tidak pernah memudar di sini di senja pantai ini. Dan bersama pasir putih yang di jamah oleh lidah-lidah ombak dan membawanya menuruni bibir pantai. “Lia, masih ingat di mana kita pertama kali bertemu,” aku memancing kenangan dengan mengingatkan sejarah penting antara aku dan Lia. Mengingatkan kejadian satu tahun yang lalu yang membuatku mengenal Lia lebih dalam lagi. Yang menyiratkan butiran-butiran cinta sejak perkenalan pertama itu. Dan yang membawaku kembali kesini sore ini atas nama cinta. Aku berusaha mengidupkan kembali kenangan yang telah lalu yang menurutku sangat manis dan kenangan yang teramat manis di memori cintaku dan juga cinta Lia. “Ya,.. kita pertama kali bertemu di sini, di pantai ini persis seperti ini. Saat langit bermandikan semburat merah keemasan. Itulah awal dari semuanya ini awal dari pertemuan kita,” jawab Lia. Dan menghentikan langkah dan menatap jauh ketengah deburan ombak di tengah laut yang sangat jauh. Jauh sekali. Sampai aku tidak mengerti seberapa jauh pandangan mata memandang. Memang itulah pertemuan kita batinku membenarkan ucapannya. Saat semburat merah memenuhi jagat dan lidah ombak yang menghiasi laut serta nyanyian camar yang tidak pernah kami hiraukan menyempurnakan alam. Lalu aku mencoba mensejajarkan diri dengan berdiri di sampingmu. Sebenarnya aku tidak ingin mengingatkan masa silam yang penuh dengan kenangan itu, masa lalu yang sudah terpatri dengan damai laksana arca di puncak dewata. Namun aku hanya ingin memecah keheningan yang menghinggapi kita. Karena ketakutanku terhadap sepi sehingga aku mencoba mengingatkanmu. Aku juga tidak ingin melihat matamu sembab dan dengan pandangan nanar kamu menatap semua kenangan yang telah bergelimpangan dan terseok-seok manghinggapi mulut kita untuk berujar. Namun mulutku akan selalu terbuka setiap aku menatap indahnya wajahmu. Aku juga tidak pernah mengerti mengapa ini harus di mulai waktu itu steahun yang lewat jika akan berkesudahan seperti saat ini. Saat yang tidak akan pernah di harapkan oleh setiap insan yang bercinta. “Tapi Rik, nggak baik mengungkit masa lalu, biarlah itu menjadi puing-puing kenangan,” jawaban yang kemudian mengingatkanku akan suatu kehancuran istana cintaku. “Maaf , aku hanya terkenang,” jawabku. Aku memang membenarkan semuanya. Semakin lama aku memikirkan apa yang terjadi ini maka semakin lama pula aku akan berdiri di antara ketidak pastian ini, yang akan mengombang-ambingkanku dalam ada dan tiadanya cintamu. Aku melirik, melihat wajahmu menatap lekat-lekat. Di sana aku menemui kesedihan dan kegelisah. Yang tersembul di barik urat-urat di atas retina matamu. Yang terlalu sering di usap dengan mengerdipkan mata menahan gejolak jiwa dan juga menutup mata air air matamu. Di matamu yang dalam aku menemui suatu derita yang tidak terperi dan seolah menemui suatu kegagalan. Kami memang akan menemui suatu kebuntuan. Aku juga akan menemui suatu kegagalan yang memang telah terdampar di depanku seperti permadani yang mau tidak mau aku haru menginjakkan kakiku dan mengentikan langkahku dalam permadani kegagalan itu. Aku tahu kegagalan ini akan menghadirkan kesepian setidaknya bagiku. Kesepian yang selalu kutakuti. Dan hanya kesepian ini yang kutakuti. Lia apakah kamu juga merasa takut akan kesepian yang akan mendera ? Seandainyalah hidup seperti jejak kaki yang di tinggalkan di tepi pantai yang akan di hapus oleh lidah ombak dan tidak akan tersisa sedikitpun maka aku juga tidak akan terkenang oleh jejak-jejak kenangan yang telah ku ukir bersamamu. Dan tidak akan ada kenangan yang akan menderaku dalam kesepian tanpamu kini. “Rik kamu tahukan ini bukan kehendakku, bukan inginku, aku bahkan tidak menginginkan sama sekali dan aku juga tidak menduga sama sekali keadaannya akan begini. Kamu memang benar Rik orang tuaku konservatif, kolot dalam pemikiran walaupun mereka berada di realita yang sulit mereka terima. Tapi aku harus menghargai mereka. Karena mereka orang tuaku. Perkataan mereka merupakan titah dan perintah bagiku,” Lia memberi alasan. “Aku bisa mengerti Lia, aku juga tahu ini pasti bukanlah keinginan kamu. Memang sulit. Sudahlah tidak usah bersedih. Anggaplah ini memang suatu jalan yang terbaik untuk kita. Lagi pula aku yakin kalau orang tua kamu pasti memikirkan apa yang terbaik bagi anaknya. Ah…..sudahlah,” ujarku menghibur. Suaraku memang bisa membohongi diriku sendiri. Tapi aku memang tidak akan pernah untuk memaksa. Aku masih terus saja menatap ke laut lepas.

**** Sore beranjak dari peraduan dan malam Pun mulai bergayut ketika aku meninggalkan karang di tepi pantai ini. Setahun kini telah berlalu. Aku tidak tahu apa yang terjadi selama setahun ini di tempat ini. Setelah setahun yang lalu aku meninggalkan senja di pantai ini, di pantai yang pelanginya tidak pernah memudar. Di sini aku menemui banyak kegagalan. Kini, di tepi pantai kala malam yang dingin membalut tubuhku dan nocturno membeku di jaketku, aku mulai terkenang akan semua yang pernah kualami di sini. Menatap ke arah teluk dimana berdiri mercusuar yang tidak menarik perhatianku dua tahun yang lalu, ketika aku bertemu dengan Angelia di sini sehingga aku tidak sempat menjadikan mercusuar itu sebagai saksi cintaku dengan gadisku waktu itu. Dan aku juga tidak sempat menjadikan mercusuar sebagai saksi perpisahan kami setahun yang lalu. Bagiku pantai ini tetap sama seperti dahulu. Buih putih dan lidah ombak yang terus menjilati bibir pantai dan suara camar yang tidak pernah menjadi perhatianku. Dan pantai ini juga yang menyimpan banyak kenagan bagiku. Dan pantai ini juga lah saksinya berserta senja yang semburat merah. Dalam keheningan ini aku yang terkenang masa silamku selalu menyempatkan mengucapkan namamu Angelia. Aku selalu menghidupkan namamu beserta semua kenangan bersamamu di memoriku. Tidak seperti kataku setahun yang lalu di sini kepadamu. Tidak juga seperti janjiku kepadamu setahun yang lalu, saat senja semburat merah di pantai ini. Saat kita akan berpisah di pantai ini aku memang berjanji akan membuang semua kenangan ini. Tapi Lia aku mengingkari janjiku. Kenangan itu pula yang menghantarkanku kembali ke sini di mana kamu tidak hadir. Walaupun sebenarnya kau sangat mengendaki kehadiran kamu, tapi bagiku itu suatu kemustahilan untuk dapat menghadirkanmu di sini kecuali bayangmu. Aku juga masih dapat melihat kamu melangkahkan kakimu dengan gontai menyusuri bibir laut ketika kamu usai membuat putusan yang sangat memberatkan bagiku dan bagimu juga. “Kita memang harus berpisah Rik,” itulah katamu mengakhiri semua ini. Setelah itu kamu meninggalkanku sendiri di sini di tepi pantai jauh dari karang yang ada di bibir pantai. Kamu meninggalkanku di sini bersama berjuta kenangan bersamamu yang di redupaksa oleh cinta tetua dan leluhurmu. Malam yang telah mendaki ke puncak kejayaan malam tidak merubah dudukku. Aku menyadari nocturno itu menyapu dan membeku di jaketku. Nocturno yang selalu menghadiri malam-malamku. Malam yang penuh dengan kesunyian dan kesendirian. Kesunyian yang selalu ku takuti. Aku sangat mengharapkan agar suatu ketika nanti kita mampu membalut nocturno ini bersama di dalam keheningan jiwa. Samar kulihat nun jauh di sana, engkau kembali melangkahkan kaki-kaki mungilmu menghindari lidah ombak yang semakin ganas menyapu pasir putih di bibir pantai ini. Terkadang kamu melompat dan tertawa riang. Lalu kamu berlari di bibir pantai menjauhiku dengan tetap tersenyum dan tetap dengan suara riang yang menggaum ke seluruh sendi hidupku. Samar nun jauh di sana kala aku menatap jauh ke sana ke tengah laut lepas aku mendengar suaramu menggodaku untuk mendekatimu. Lalu mendekapmu dalam cinta seperti apa yang selalu ku janjikan dulu.

**Aku masih mencintaimu Lia. Bandarlampung, 24 Juni 2002

Belahan Hati

Oleh Yahya Rifandaru Penulis adalah mahasiswa ITS She’s my soulmate. Itulah yang selalu ada dalam pikiranku akhir-akhir ini. Semenjak aku tidak berhubungan lagi dengannya, aku merasakan rindu yang mendalam.

Aku seorang mahasiswa sebuah perguruan tinggi terkenal di kota ini. Teman-teman memanggilku dengan julukan "marmud". Entah apa maksudnya. Tapi nggak masalah, yang penting keakraban.

Musim panen telah tiba. Ujian yang diselenggarakan oleh setiap kampus menelurkan bibit mahasiswa baru. Seperti biasa, calon mahasiswa harus meminta izin pada para penghuni lama. Mereka harus kenal dengan seniornya. Mereka berusaha mendapatkan tanda tangan. Itulah tradisi yang biasa kami jalankan setiap tahun.

Wow, pandanganku terpaku pada seseorang yang berdiri di tengah kerumunan calon mahasiswa.

"Yud, kamu tahu cewek rambut panjang yang pakai kacamata itu? Kayaknya aku pernah bertemu sebelumnya. Tapi di mana ya?" Yudi menjawab, "Ah, itu mah dejavu! Aku juga sering mengalami hal seperti itu," katanya.

"Iya, tapi yang ini lain!" timpalku. "Hei Mud, udah deh, nggak usah ngayal melulu. Entar juga kan dia nyamperin kita buat minta tanda tangan. Kalau kamu memang udah kenal dia, kita lihat aja nanti," kata Yudi.

Hingga masa perkenalan selesai, aku belum kenal sama dia. Nggak terasa satu semester aku lalui dengan hasil yang cukup memuaskan. Semester genap sudah berjalan dua minggu, tugas-tugas kuliah menumpuk.

"Permisi Mas, selamat malam." Di saat aku lagi sibuk dengan tugas-tugas kuliah, seseorang berdiri di balik pintu dan tersenyum.

"Lagi ngapain? Serius amat sih?" Aku nggak tahu harus ngomong apa.

"Kok nggak dipersilakan masuk?" Setengah sadar setengah nggak, aku mempersilakan tamuku masuk. Aku sungguh nggak menyangka. Saat itu, aku hampir melupakannya. Eh, malah dia muncul di depan pintu kamarku.

"Tahu alamatku dari mana?" "Dari teman-teman," jawabnya.

Lalu kami berkenalan. Dia biasa dipanggil Nyaa oleh teman-temannya. Kami ngobrol panjang lebar. Dia seperti sudah kukenal sebelumnya, obrolan kami nyambung.

Ternyata, tujuan utamanya datang ke tempat kosku adalah untuk pinjam gunting. Katanya untuk mengerjakan tugasnya. Yang aku nggak habis pikir, kenapa nggak pinjam ke teman lain. Ah, tapi itu nggak penting. Yang penting aku bisa kenalan dengannya. Sungguh, bergulirnya roda nasib memang nggak bisa diprediksi.

Sejak saat itu, hubungan kami semakin dekat. Satu semesterpun berlalu. Ujian akhir semester juga sudah selesai. Hasilnya cukup memuaskan meski agak berat. Ini semua tak lepas dari bantuannya. Kami saling membantu dalam hal apa pun. Hubungan kami sudah seperti kakak adik saja. *** Sudah setengah tahun. Sekarang dia tinggal di luar kota. Kami masih berhubungan via telepon atau SMS.

Suatu hari ketika aku meneleponnya. "Mas, main ke rumah dong!" Nada bicaranya penuh harapan.

Aku menjawab, "Aduuh, Nyaa. Sekarang aku nggak bisa. Kamu tahu sendiri kan, liburan ini aku kerja."

"Sudah kuduga, pasti nggak mau main ke rumah," balasnya lalu menutup telepon. Aduh, gawat. Akhirnya tekadku bulat. Akhir bulan aku gajian dan berangkatlah aku naik kereta api.

Aku sampai di rumahnya meski harus mencari-cari dulu alamatnya. Benar-benar nggak aku duga. Keluarganya baik, ramah, aku merasa seperti keluargaku sendiri. Sayang aku hanya menginap dua hari di rumahnya. Setelah aku pulang, aku tetap menelepon dia. Bahkan bisa beberapa kali sehari. *** Hubunganku dengan Nyaa sudah berlangsung satu tahun. Aku benar-benar merasa yakin bahwa dialah pasanganku.

Malam Valentine, aku membuatkan film animasi yang bercerita mengenai kisahku dan dia selama ini. Kukemas film itu dalam sebuah CD yang imut.

Kami sudah janjian untuk bertemu di tempat kosnya jam sembilan malam. Waktu itu turun hujan gerimis. Dengan pakaian agak basah kutekan bel. Ting tong!

Di dekat tempat kos Nyaa, sebuah mobil terparkir. Aku nyaris pingsan, dua orang keluar dari mobil sambil mengenakan jaket. Nyaa dan seorang cowok yang pernah aku lihat di kampus tetangga.

Melihatku, Nyaa berlari menghampiri. Dengan agak gugup dia berkata, "Maaf." Aku nggak banyak berkata-kata. Kuberikan bingkisan kecilku. Aku nggak jadi mengungkapkan isi hatiku.

Malam itu begitu dingin. Hujan pun semakin deras. Aku pamit pulang. Tengah malamnya, dia meneleponku sambil mengucapkan terima kasih. Dia memberitahuku bahwa cowok yang tadi bersamanya adalah pacarnya. *** Hari demi hari kulalui dengan biasa-biasa saja. Aku sudah jarang berhubungan dengan Nyaa. Paling-paling SMS. Tapi kadang-kadang aku masih percaya kalau dia itu pasangan jiwaku. Entah benar atau nggak. Karena, dia sulit untuk dilupakan meski kini sudah dua tahun berlalu.

Aku Dan Ve

Oleh Destri Wihartanti, Penulis adalah mahasiswi Univ. Jember

Cuaca mendung pagi ini sama sekali tidak mematahkan semangatku untuk pergi ke sekolah. Mobil dan mang Kardi sudah siap di depan pintu sambil membawa payung.

Sedangkan mama siap dengan bekal makan siangku. Asyiknya jadi anak tunggal. Segala sesuatu siap di depan mata. Minta apa saja ada dan tak perlu susah. Tiap hari antar-jemput pakai mobil pribadi, tak perlu takut terlambat. Maklum, papa adalah seorang kepala cabang sebuah bank swasta di kotaku ini.

Mobil BMW keluaran terbaru tiba di depan pintu gerbang sekolahku tepat jam tujuh. Semua mata memandang ke arahku yang keluar dari mobil. Mereka seakan takjub padaku. Bagaimana tidak, aku termasuk anak paling kaya di sekolah ini, cantik, pintar, dan pacarku adalah pebasket paling cakep andalan sekolah.

Aku melangkah ke kelas dengan langkah pasti. Rambutku yang panjang tergerai menyibak sebagian wajahku. Sahabat-sahabatku pasti sudah menungguku. Mereka menunggu ceritaku dengan Riko, pacarku itu.

"Halo," sapaku sambil melempar tas ke atas meja dan duduk di antara sahabat-sahabatku. "Duh, yang habis kencan, senengnya," sahut Riri.

"Cerita dong!" pinta Dani dengan semangat. "Pokoknya, malam minggu pertama yang sangat berkesan buatku. Dia kasih aku sebuket bunga mawar merah dan Teddy Bear. Trus ada cokelat. Seru banget deh!" ucapku berapi-api memamerkan pacarku. Ya, pacarku yang baru seminggu jadian.

"Eh tuh, sang pangeran datang. Nggak disambut?" ledek Riri sambil mengerling padaku. Sehera kuhampiri Riko dan bergelayut mesra di pundaknya.

"Aku ngumpul lagi ya sama mereka," ucapku sambil menunjuk Riri dan dani. Riko tersenyum manis. Pantas saja sebutannya cowok sejuta senyum maut. Segera kuhampiri Riri dan Dani yang bengong menikmati senyuman Riko.

"Udah dong ngeliatnya. Dia kan udah ada yang punya," ujarku dan segera beralih ke mejaku karena pak Tikno sudah ada di depan. Rasanya puas sekali bisa membuat semua orang iri padaku. Menurutku, apa yang kupunya ini adalah sebuah kebanggaan tersendiri. Di antara sahabat-sahabatku, akulah yang paling beruntung. Mempunyai orang tua yang berpikiran modern, sangat berkecukupan, dan semua mata memandangku. Apa lagi yang kurang? *** Siang ini Riri dan Dani mendapatkan undangan spesial dariku. Nonton film sambil menikmati oleh-oleh papaku dari Singapura. Ketika masuk ke halaman rumahku, mereka sangat terheran-heran.

"Jangan heran dulu," pikirku. Mereka belum melihat seluruhnya. Naik mobil mewah saja mungkin baru kali ini. Biasanya sih mereka naik angkot, kepanasan, kehujanan, berebutan. Duh, tak terbayang susahnya.

"Ayo masuk!" ajakku. Riri dan Dani mengikutiku dari belakang. "Siang Ma, ini teman-teman Ve. Yang ini namanya Dani, yang ini Riri."

"Sudah, cuci tangan dulu. Makan siangnya sudah mama siapin," kata mama. Ayam goreng, sup, telur, cumi-cumi kesukaanku sudah tersaji di meja makan. Kurasa air liur mereka sudah tak tertahankan lagi. Lihat saja ketangkasan mereka mengambil sepotong ayam goreng. Seperti tak pernah makan ayam goreng saja. Mama sampai tersenyum melihatnya.

Selesai makan siang aku mengajak mereka ke ruang sebelah. Kurasa ini pun pertama kalinya mereka melihat home theatre. *** Tak terasa sudah jam empat sore. Badanku terasa capek sekali. Kulihat emak sedang mengupas bawang merah di depan dan menyiapkan bahan-bahan masakan yang akan dijual besok di warung dekat stasiun.

Melihatku, emak hanya geleng-geleng kepala. Tak biasanya aku pulang terlambat. Apalagi meninggalkan tugasku membantu emak.

"Dari mana saja kamu Dan? Emak sudah menunggu dari tadi. Kamu kok nggak pulang-pulang?" tanya emak. "Dari perpustakaan Mak, baca-baca," jawabku kemudian menggantikannya mengupas bawang merah.

"Ke perpustakaan kok sampai sore? Apa nggak ada hari lain?" lanjutnya. "Hm," desahku.

Hari yang melelahkan bagiku. Hampir seharian berada di perpustakaan daerah. Bukan untuk mencari buku, tapi melamun. Melamun yang berlebihan dan mengagumi rumah Ve yang sangat megah.

Bayangan yang sangat jauh dari kehidupanku. Belum puas aku membayangkannya, perpustakaan sudah mau tutup. Dan aku harus segera pulang, teringat emak yang sudah tua memasak sendirian di dapur. Hilang sudah bayanganku jadi Ve. Jadi orang kaya, cantik, punya mobil mewah, punya pacar cakep.

Sambil mengupas bawang merah aku terus berpikir seandainya aku jadi Ve, pasti aku sudah sombong seperti bayanganku tadi siang. Lagipula bagaimana mungkin aku bisa menggantikan Ve yang sangat cantik, sederhana walaupun memiliki segalanya, pintar, dan pendiam. Seandainya aku menjadi Ve, aku pasti menjadi Ve yang lain. Sombong, angkuh, dan sok kaya.

Untunglah aku bukan Ve. Aku tetap Dani yang harus naik angkot setiap berangkat sekolah. Aku hanya salah satu sahabat Ve.

Tuhan memang adil. Menciptakan makhluknya berbeda-beda dan saling melengkapi seperti aku dan Ve. Dialah yang menopang biaya sekolahku. Dia sahabat terbaik yang pernah kumiliki. "Maafkan aku Ve, aku telah membayangkan diriku menjadi dirimu.

Apakah Cinta Masih Menggelegar

“Cinta adalah pengabdian,” ujarmu satu hari. Dan aku hanya tertawa-tawa mendengarnya. “Ah, kau seorang penyair,” jawabku. “Iya mas, kaubuat aku mengabdikan diri pada cinta ini. Tahu nggak, aku kehabisan energi untuk melakukannya?” “Mengapa semuanya menjadi sulit?” “Entahlah. Aku cemburu padamu yang bisa memaknai cinta—dan pasti juga kebencian—sebagai sesuatu yang remeh temeh,” ujarmu, seperti menyesal, seperti hendak pergi namun tak kuasa. Ah, mungkin juga tebakanku salah. “Ya sudah, apapun itu, aku sayang kamu. Kaulihat kunang-kunang di tepian pucuk cemara itu?” Engkau mendongak. Mencari-cari, lalu tersenyum oleh sebuah kenangan. “Bukan, itu pinus. Dan pinus adalah penanda usia kita, yang hidup dua ratus juta tahun untuk menemani cinta yang membuat kita abadi.” “Hahaha, kau ternyata masih ingat. Seperti sebuah film ya?” <<<

Aku musti melarikan diri. Bukan dari engkau, tapi hari-hari yang kulalui terasa semakin berat di dekatmu. Ya, sebab hidup bukan hanya impian-impian di taman inderaloka, tapi juga adalah realitas. Yang menusuk-nusuk. Seperti ketika orang-orang, keluarga dan entah siapa lagi menanyaimu, pacarmu itu pengangguran ya? Lalu, (akutak tahu pasti, tapi kubayangan) engkau dengan jengah menjawabi semua, “Nggak kok, ia seorang pelukis.” Tapi jawabmu gamang. Dan jika demikian, engkau tidak salah suatu apa. Mungkin aku adalah orang yang muncul pada ruang dan waktu yang alpa. Seperti sebuah garis tebal yang nemplok di lukisan monalisa. Dan maafkan aku kasihku, jikalau aku bagai lupa hitungan waktu. Suratmu yang datang setiap minggu, menumpuk dalam kardus berdebu. Aku tak kuasa membuka satupun di antaranya, tak sanggup menanggungkan kerinduanmu. Dan tahukah jika bermalam-malam di sini menggedorku dengan kenangan akan hari-hari bersamamu, hari-hari sepasang merpati dengan cinta yang membara-bara, dan maafkan kasihku, birahi, dengan cumbuan-cumbuan, bibirmu yang manis. Ah, kutanggungkan semua dosa ini. Cengeng ya? I wanna be tough enough, seperti selalu kukatakan, tapi maafmu? >>>

Dan kau menjawab permohonan maafku dengan ucapan terimakasih yang menyayat. “Mas, kautelah memporak porandakan hatiku hingga hancur lebur bagai reruntuhan perbukitan yang disapu kilatan petir menyambar-nyambar membelah angkasa. Tapi aku sangat menghargai apa yang kaulakukan,” ujarmu di malam pekat itu. “Mengapa?” “Diamlah, jangan kau ucap apapun jua, karena itu hanya akan membuatku terpaksa menitikkan air mata penahan pilu. Membangkitkan dendam-dendam kerdil yang siap melonjak-lonjak sesukanya.” Aku kebingungan dengan semua ini. Mengapakah engkau tak menangis saja, biar airmata itu meruntuhkan seluruh bebanmu, dan aku bisa menyalahkan diri sendiri dengan lega? Atau, tolong katakan mesti dengan apa aku menghukum diri? Aku masih bertanya-tanya. Dan kertap hujan semakin berisik di ujung jalan. Pelahan bayangmu menghilang, dan kurasa percakapan-percakapan itu hanya imajinasi murahanku saja. Kau pasti tidak akan berkata-kata demikian. Atau, aku memang tak berani untuk mendengar suaramu, meski dalam hujan yang suwung ini, bau tubuhmu pun begitu kurindui? Rinduku beku, seperti juga ricik air di talang. Aku menyepi, melarikan diri dari engkau, cintaku, meski kutahu semua ini akan lebih sakit. Tapi biarlah waktu yang menjawabnya. Tapi, benarkah engkau yang berkata “terimakasih untuk segalanya” di malam yang semakin pekat ini, meski tercampuri segala gelora kepedihan?

Yogyakarta, Monday, May 27, 2002, 8:49 AM

Belahan Hati

Oleh Yahya Rifandaru Penulis adalah mahasiswa ITS She’s my soulmate. Itulah yang selalu ada dalam pikiranku akhir-akhir ini. Semenjak aku tidak berhubungan lagi dengannya, aku merasakan rindu yang mendalam.

Aku seorang mahasiswa sebuah perguruan tinggi terkenal di kota ini. Teman-teman memanggilku dengan julukan "marmud". Entah apa maksudnya. Tapi nggak masalah, yang penting keakraban.

Musim panen telah tiba. Ujian yang diselenggarakan oleh setiap kampus menelurkan bibit mahasiswa baru. Seperti biasa, calon mahasiswa harus meminta izin pada para penghuni lama. Mereka harus kenal dengan seniornya. Mereka berusaha mendapatkan tanda tangan. Itulah tradisi yang biasa kami jalankan setiap tahun.

Wow, pandanganku terpaku pada seseorang yang berdiri di tengah kerumunan calon mahasiswa.

"Yud, kamu tahu cewek rambut panjang yang pakai kacamata itu? Kayaknya aku pernah bertemu sebelumnya. Tapi di mana ya?" Yudi menjawab, "Ah, itu mah dejavu! Aku juga sering mengalami hal seperti itu," katanya.

"Iya, tapi yang ini lain!" timpalku. "Hei Mud, udah deh, nggak usah ngayal melulu. Entar juga kan dia nyamperin kita buat minta tanda tangan. Kalau kamu memang udah kenal dia, kita lihat aja nanti," kata Yudi.

Hingga masa perkenalan selesai, aku belum kenal sama dia. Nggak terasa satu semester aku lalui dengan hasil yang cukup memuaskan. Semester genap sudah berjalan dua minggu, tugas-tugas kuliah menumpuk.

"Permisi Mas, selamat malam." Di saat aku lagi sibuk dengan tugas-tugas kuliah, seseorang berdiri di balik pintu dan tersenyum.

"Lagi ngapain? Serius amat sih?" Aku nggak tahu harus ngomong apa.

"Kok nggak dipersilakan masuk?" Setengah sadar setengah nggak, aku mempersilakan tamuku masuk. Aku sungguh nggak menyangka. Saat itu, aku hampir melupakannya. Eh, malah dia muncul di depan pintu kamarku.

"Tahu alamatku dari mana?" "Dari teman-teman," jawabnya.

Lalu kami berkenalan. Dia biasa dipanggil Nyaa oleh teman-temannya. Kami ngobrol panjang lebar. Dia seperti sudah kukenal sebelumnya, obrolan kami nyambung.

Ternyata, tujuan utamanya datang ke tempat kosku adalah untuk pinjam gunting. Katanya untuk mengerjakan tugasnya. Yang aku nggak habis pikir, kenapa nggak pinjam ke teman lain. Ah, tapi itu nggak penting. Yang penting aku bisa kenalan dengannya. Sungguh, bergulirnya roda nasib memang nggak bisa diprediksi.

Sejak saat itu, hubungan kami semakin dekat. Satu semesterpun berlalu. Ujian akhir semester juga sudah selesai. Hasilnya cukup memuaskan meski agak berat. Ini semua tak lepas dari bantuannya. Kami saling membantu dalam hal apa pun. Hubungan kami sudah seperti kakak adik saja. *** Sudah setengah tahun. Sekarang dia tinggal di luar kota. Kami masih berhubungan via telepon atau SMS.

Suatu hari ketika aku meneleponnya. "Mas, main ke rumah dong!" Nada bicaranya penuh harapan.

Aku menjawab, "Aduuh, Nyaa. Sekarang aku nggak bisa. Kamu tahu sendiri kan, liburan ini aku kerja."

"Sudah kuduga, pasti nggak mau main ke rumah," balasnya lalu menutup telepon. Aduh, gawat. Akhirnya tekadku bulat. Akhir bulan aku gajian dan berangkatlah aku naik kereta api.

Aku sampai di rumahnya meski harus mencari-cari dulu alamatnya. Benar-benar nggak aku duga. Keluarganya baik, ramah, aku merasa seperti keluargaku sendiri. Sayang aku hanya menginap dua hari di rumahnya. Setelah aku pulang, aku tetap menelepon dia. Bahkan bisa beberapa kali sehari. *** Hubunganku dengan Nyaa sudah berlangsung satu tahun. Aku benar-benar merasa yakin bahwa dialah pasanganku.

Malam Valentine, aku membuatkan film animasi yang bercerita mengenai kisahku dan dia selama ini. Kukemas film itu dalam sebuah CD yang imut.

Kami sudah janjian untuk bertemu di tempat kosnya jam sembilan malam. Waktu itu turun hujan gerimis. Dengan pakaian agak basah kutekan bel. Ting tong!

Di dekat tempat kos Nyaa, sebuah mobil terparkir. Aku nyaris pingsan, dua orang keluar dari mobil sambil mengenakan jaket. Nyaa dan seorang cowok yang pernah aku lihat di kampus tetangga.

Melihatku, Nyaa berlari menghampiri. Dengan agak gugup dia berkata, "Maaf." Aku nggak banyak berkata-kata. Kuberikan bingkisan kecilku. Aku nggak jadi mengungkapkan isi hatiku.

Malam itu begitu dingin. Hujan pun semakin deras. Aku pamit pulang. Tengah malamnya, dia meneleponku sambil mengucapkan terima kasih. Dia memberitahuku bahwa cowok yang tadi bersamanya adalah pacarnya. *** Hari demi hari kulalui dengan biasa-biasa saja. Aku sudah jarang berhubungan dengan Nyaa. Paling-paling SMS. Tapi kadang-kadang aku masih percaya kalau dia itu pasangan jiwaku. Entah benar atau nggak. Karena, dia sulit untuk dilupakan meski kini sudah dua tahun berlalu.

Andai Dia Tahu

Di dalam lift menuju lantai tujuh, Lobo berkeringat. Tentu saja bukan karena gerah. Lobo gemetaran karena takut. Ini kali pertama Lobo naik lift. Rara ikut panik. Ia khawatir, jangan-jangan saudaranya ini mengidap acxrofobia, ganguan mental karena takut pada ketinggian atau tempat yang tinggi. Bisa gawat, kan?

Rara memegang tangan Lobo kuat-kuat dan bernyanyi-nyanyi kecil. Ia berusaha menentramkan hati Lobo. Lobo ikut bernyanyi, membuat Rara jadi lega.

Di lantai tujuh , pintu terbuka. Saat keduanya keluar dari lift. Tiba-tiba Lobo berseru: "Sandalku dimana?"

Rara melotot. "Emang elo lepas di mana sandal butut elo?"

"Tadi waktu masuk kamar ini. kita harus jaga kebersihan, Ra? Sandalku kotor, jadi harus aku lepas di luar, supaya tidak bikin kotor lantai kamar. Kok sekarang tidak ada?"

Sebelum jadi tontonan, Rara buru-buru menyeret Lobo masuk ke dalam lift lagi. Rara membawa Lobo turun. Bukan untuk mencari sandalnya, melainkan mengajak Lobo pulang dan melupakan rencana membeli CD-nya U2.

Bukan sekali itu Rara dibikin tengsin oleh ulah Lobo yang sangat norak. Sudah udik, kuper, ngeselin lagi!

Beberapa hari sebelumnya Rara mengajak Lobo makan di resto Jepang. Tapi Lobo ngotot ingin memesan tahu goreng. Mana ada tahu goreng di restoran Jepang? Lobo memang ngeselin. Ia tetap tidak mau tempura, sushi maupun menu-menu lain yang menggoda. Pokoknya harus makan tahu goreng. Terpaksalah Rara mengajak Lobo ke warteg dan membiarkan Lobo memghabiskan sepiring tahu goreng seorang diri. Benar-benar tahu mania!

"Aku suka pusing-pusing kalau sehari tidak makan tahu," kata Lobo dengan wajah tanpa dosa.

Baru lima hari tinggal serumah dengan Lobo, Rara sudah merasa eneg bener. Mau rasanya jika ia disuruh membunuh cowok itu. Mendorongnya masuk jurang atau memberinya racun tikus. Kampungannya minta ampun. Lobo itu seperti orang dari masa lalu yang dikirim ke masa kini dengan mesin waktu. Sepertinya ia punya peradaban yang berbeda dengan peradaban yang Rara kenal. Semua yang dilakukannya terlihat nyeleneh dan bahkan malu-maluin.

Kupernya itu, minta ampun!

Tapi papa dan mama memaksa Rara untuk membuat Lobo betah dan bisa secepatnya beradaptasi dengan Jakarta. Papa punya rencana memanfaatkan tenaga Lobo. Kelak ia bisa jadi sopir pribadi. Bahkan kata mama, tahun ajaran baru besok, Lobo boleh mencoba ikut test masuk perguruan tinggi. Papa dan mama akan membiayai kuliah Lobo.

"Kamu jangan semena-mena sama Lobo, Ra. Dia itu masih saudara kamu juga. Kamu jangan lupa, Lobo itu cucu dari anaknya kakak kandung kakek papa!"

Aduh ! Pusing kepala Rara membayangkan silsilah.

Papa menghendaki Lobo diajak kemana-mana, sekalian menemani Rara. Diperlihatkan tempat-tempat penting di Jakarta. Sebagai orang yang seumur hidupnya tinggal di kaki gunung dan belum pernah sekali pun menghirup udara Jakarta. Lobo butuh pemandu untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan metropolitan.

"Rara! Kamu dapat telpon dari Sania. Suaranya bagus, ya? Seperti penyiar radio." Suatu sore Lobo memberi tahu Rara.

Rara buru-buru menghampiri telepon. Tapi alangkah dongkolnya ia ketika melihat telepon itu telah diletakkan di tempatnya. Ditutup!

"Loboooo! Lain kali telponnya jangan ditaruh di…..di……. pokoknya elo nggak boleh ngangkat telpon lagi! Nggak boleh!!!" teriak Rara jengkel. Di benaknya muncul gambar racun tikus.

Rara terpaksa menelpon balik Sania.

"Eh, ra? Diem-diem elo punya simpanan , ya?"

Sebersit pikiran nakal hinggap di kepala Rara. "Bukan, sih. Sepupu gue, San. Baru dateng dari kampung. doi keren abis. Cool, kayak kulkas. Elo mau gue kenalin?"

"Elo jangan becanda, Ra. Biasanya elo sosot sendiri kalo ada cowok keren."

Rara tertawa. "Yang ini jelas enggak , San. Yang satu ini masih saudara gue sendiri. Elo mau kenalan nggak?"

"Siapa?"

"Sepupu gue, Namanya Lobo. Antik, kan?"

"Wah, feeling gue langsung masuk, Ra. Elo bawa saja doi ke sini sekarang, bisa kan?"

"Sekarang? Di mana?"

"Pikun! Tentu aja di lapangan basket! Gue tadi nelpon elo buat ngingetin sore ini kita ada latihan basket!"

"Sori, San. Gue memang lupa!"

Rara menutup telpon dan tertawa sendirian. Sudah lama ingin ngerjain Sania.

Tumben Lobo belagu. Rara harus memaksanya ikut. Biasanya tanpa diminta. Lobo langsung ikut saja.

"Nanti gue traktir elo tahu goreng sepuluh biji. Mau , kan?"

Lobo menggeleng. Rupanya ia masih sakit hati karena kemarin Rara mengguyurnya dengan air sabun ketika mencuci mobil. Rara kesal waktu itu. Lobo mencuci mobil dengan deterjen biasa yang bisa membuat cat mobilnya jadi kusam.

"Elo harus kenalan dengan teman-teman gue, supaya elo segera punya teman di sini. Ayo! Temen-temen gue orangnya asyik-asyik!"

"Sama yang suaranya kayak penyiar radio tadi?" wajah Lobo yang semula kusut jadi licin.

"Pasti. Tapi jangan norak, ya? Elo kudu sopan baik-baik sama dia. Orangnya galak. Judes."

"Beres, Ra! Tapi tahu gorengnya?"

"Udah , pokoknya beres juga deh!"

Di lapangan basket, suasana sudah ramai. Rara berlari-lari kecil menuju ke lapangan untuk melemaskan otot-otot kakinya, sementara Lobo dengan cueknya makan tahu sambil berjalan.

Belum lagi dekat dengan lapangan, Sania yang seksi itu sudah memburu Rara. Ketika dekat, ia melirik ke arah Lobo.

"Itu saudara elo? Bisik Sania setelah menyeret Rara agak menjauh dari Lobo.

"Iya. Jangan liat penampilan luarnya , San."

"Tapi…."

"Anaknya memang gitu. Coba kamu ajak kenalan. Elo sedikit agresif, kayak biasanya. Maklum anaknya pemalu. Dia suka elo, San. Eh, maksud gue, suara elo di telpon tadi. Udah deh, elo samperin doi, daripada keduluan yang lain."

Rara berlari-lari kecil mengitari lapangan basket. Sesekali ia menoleh, melihat Sania dan Lobo berdiri berhadapan di bawah pohon palem. Rara tertawa geli.

Di dalam mobil, dalam perjalanan pulang setelah selesai main basket, Rara jadi curiga. Lobo nampak riang gembira dan bersiul-siul menirukan lagu yang diputar Rara.

"Elo naksir Sania, ya?"

Lobo menggeleng.

"Tapi dia cantik dan seksi, kan?"

"Menurut gue sih biasa-biasa saja."

Rara gondok bukan main. Pertama karena Lobo mulai latah bergue-gue. Kedua karena ia mendadak jadi sombong.

"Sok lo! Paling besok elo ngemis-ngemis ke gue minta ketemu Sania lagi. Ke laut aje!"

"Salah! Justru Sania yang nangis-nangis minta ketemu gue. Lihat saja nanti."

Lobo bersiul-siul lagi. Duduk bersandar dengan nyamannya sambil memejamkan mata. Rara makin dongkol dicuekin cowok udik itu.

Pas istirahat pertama, Rara menjumpai Sania di kantin sedang melahap tahu goreng dengan bumbu saus tomat. Ia makan dengan lahap dan terlihat nikmat sekali.

"Sejak kapan elo jadi suka tahu goreng, San?"

Rara terkejut melihat rona merah di pipi Sania. Gawat!

"Elo naksir Lobo?"

"Kok elo kaget, Ra? Bukannya elo yang kemarin nawar-nawarin sepupu elo itu?"

Rara terpana. "Tapi….. tapi….kenapa secepat ini? Elo kayak amatiran aja, San. Biasanya elo perlu pedekate lama baru bilang suka sama cowok."

"Andai ia tahu…" kata Sania sambil mencomot sepotong tahu lagi. "Andai ia tahu goreng, udah gue lahap kayak ini! Tapi Lobo berotot. Nggak lembek kayak tahu."

Rara menatap ngeri ke arah sohibnya yang seksi itu. Sania begitu rakusnya makan tahu. Mulutnya berlepotan minyak.

"Thanks, Ra. Elo akhirnya nyomblangin gue sama orang yang tepat. Sueer, elo nggak bakalan rugi jika kelak akhirnya sodaraan sama gue. Kita bakal makin dekat. Iya, kan?"

Rara ternganga.

"Kemarin mata gue bener-bener terbuka. Bener kata lo. Gue nggak boleh terkecoh penampilan fisik. Gue ngerasa cowok polos kayak Lobo itu yang pas buat ngedampingin hidup gue. Gue udah bosan sama cowok-cowok yang gaul, yang semau gue dan urakan. Gue ternyata ngedambain cowok yang kalem kayak Lobo itu. Bener-bener jatuh cinta, Ra. Sejuta persen!" kata Sania bersemangat.

"Elo bener, Ra. Waktu mau kenalan, gue nyaris ketipu. Baru setelah gue pelototin, gue sadar Lobo emang keren dan cool abis. Coba elo perhatiin lagi. Bentuk wajahnya itu bagus. Alisnya lebat kayak Primus. Kulitnya yang agak gelap justru memberi kesan lebih macho. Bodinya, Ra! Cowok sejati memang kudu berotot, nggak junkies kayak pemakai narkoba. Bener, kan?"

Rara hanya bisa mengangguk-angguk.

Bunyi semprotan air mengusik Rara. Ia cepat-cepat lari ke halaman, menjumpai Lobo tengah mencuci mobil.

"Jangan khawatir, Ra. Gue nggak bakalan ngecewain elo lagi. Gue janji!"

Lobo melepaskan selang air dan memutar tubuhnya sambil mengacungkan dua buah jarinya. Rara menjerit kecil dan buru-buru mendekap mulutnya. Lobo berdiri dengan tubuh setengan basah. Ia hanya mengenakan celana pendek dan membiarkan tubuh bagian atasnya terbuka. Lobo bertelanjang dada, memperlihatkan dadanya yang bidang, otot lengannya yang menyembul sempurna, dan perutnya yang datar.

Rara baru tau, Lobo telah memotong rambutnya menjadi lebih pendek dan rapi. Bulu-bulu kasar di atas bibir dan di dagunya juga telah dicukur rapi. Wajah Lobo terlihat mulus dan bersih.

Ia terlihat amat tampan.

Dada Rara berdegup lebih kencang. Mukanya terasa panas karena jengah. Tanpa berkata apa-apa, Rara membalik tubuhnya dan berlari masuk ke rumah.

Di kamarnya Rara melamun. Terbukti sekali lagi, dan harus ia akui, Sania memang jauh lebih jeli dalam hal menilai seorang cowok. Ia sudah sepekan lebih tinggal serumah dengan Lobo, bertemu dengannya setiap hari, tapi nyatanya baru sekarang matanya terbuka.

Tiba-tiba Rara menyesal karena Lobo masih punya ikatan darah dengannya. Sungguh!

(AnekaYess: Edisi ke-6 Tahun 2003, 14 - 27 Maret 2003)

0 Response to "Kumpula Cerpen Cinta Part II"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified