Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Ketika Flamboyan Berbunga

MARIA A.Sardjono

KETlKA FLAMBOYAN BERBUNGA

Mohon doa untuk kesembuhan adik saya M fatkhu Rozak yang terkena kan ker,dan di kuatkan hati nya dalam menghadapi cobaan ini

KOTA Jakarta pada jam setengah enam pagi di hari Minggu itu masih belum bangun. Setidaknya, di sekitar rumah orangtuaku ini. Rumah-rumah di depan dan kiri-kanan tempat tinggal kami, sepi. Bahkan kulihat beberapa di antaranya masih belum mematikan lampu teras.

Meskipun sebenarnya hari libur itu bisa kuper¬gunakan untuk bermalas-malasan dan tetap berge¬lung di atas tempat tidur tanpa harus terburu-buru menyiapkan diri untuk: berangkat ke kantor seperti biasanya, ak:u toh lebih memilih mengerjakan sesua¬to di taman depan rumah kami bersama Ibu. Ham¬pir setiap hari Minggu, kami berdua merawat tanaman-tanaman yang tersebar di halaman depan itu, Aku paling suka memangkas tanaman hias yang daunnya bisa dibcntuk dalam berbagai rupa . Ada yang berbentuk bulat seperti bola besar. Ada yang kupangkas seperti bentuk jamur dan seperti bentuk payung. Dan ada pula yang kupangka ber¬bentuk kerucut. Dan semakin lama, ak:u semakin ahli saja, sampai-sampai adikku, Tina, sering meng¬godaku.

"Pasang iklan sebagai abli pembentuk tanaman, Mbak!" katanya suatu ketika. "Siapa tabu pengha¬silanmu sebagai pemangkas pohon lebih besar da¬ripada sebagai pegawai bank!"

Digoda seperti itu aku hanya tersenyum saja.

Adikku yang barn saja lulus SMU itu memang jail dan senang rnenggoda. Wajahnya cantik, imut¬imut, dan pembawaannya lincab. Dan manja, tentu saja. Khususnya kepadaku. Jarak usia karni cukup jauh. Aku berumur dua puluh tujuh, sementara Tina baru delapan belas. Di antara karni berdua terdapat seorang saudara lelaki yang baru saja me¬nyelesaikan kuliahnya dan sedang mencari-cari lowongan kerja, antara lain dengan membeli setum¬puk: surat kabar setiap harinya.

Pagi itu, kedua adikku melakukan bal sama se¬perti yang banyak dilakukan oleb orang-orang eli ekitarku, Tidurl

"Sudab saatnya tanaman-tanaman ini diberi pu¬puk lagi, Bu!" kataku sambil asyik mengguntingi dedaunan yang kering dan yang geripis dirnakan ulat.

"Ya. Ibu udab rnemesan kepada Pak Pot Bunga untuk membawakan dna karung pupuk kandang!" sahutnya. Ibu lebih suka mencabuti rumput liar di sekitar tanaman-tanaman bias kami.

Pak Pot Bunga yang disebut ibuku itu adalah tukang jualan bunga dorong langganan karol. Kami tak tabu namanya, dan tak pernab sekali pun ter¬lintas dalam pikiran karni untuk menanyakannya. Begitupun sebaliknya, tukang tanaman itu tak pernah sekali pun menanyakan nama kami, Padahal kami sering bertegur sapa.

Percakapan terhenti. Di j alan depan rumah kami, melintas dua lelaki muda yang sedang berlari-lari santai. Aku maupun Ibu menatap mereka sampai keduanya hilang dati pandangan mata.

"Pemuda-pemuda ganteng!" gumam ibuku. "Dan menarik. "

Aku menoleh ke arab wanita yang melahirkanku ini dengan perasaan heran. Tak biasanya ibuku memuji seorang laki-laki sembarangan. Apalagi yang belum dikenalnya.

"Tumben Ibu memuji orang!" gumamku. Sekarang Ibu yang menoleh ke arahku.

"Mereka memang patut dipuji!" sahutnya. "Sejak awal mula berkenalan, aku dan ayahmu sudab me¬nilai mereka berdua cukup tinggi."

"Kapan Ibu berkenalan dengan mereka?" Aku mcrasa heran. Wajah kedua pemuda itu memang tak terlalu asing bagiku. Sudah beberapa kali aku melibat mereka lari pagi di sekitar rurnah kami. Dan pernah juga mereka melernparkan enyum ke¬padaku ketika berpapasan. Aku membalas senyum rnereka ala kadarnya. Meskipun aku tidak kenal keduanya dan tak tahu yang mana rumah mereka, aku yakin mereka pasti tetangga kami.

"Lho, kamu bagaimana sih?' ibuku menjawab perkataanku tadi. "Keduanya kan pernah berkun¬jung ke rumah kita!"

"Kapan, Bu?" tanyaku lagi, "Saya tidak ingat." "Sebulan yang lalu ketika mereka baru saja pindah kemari!" Ibuku terus saja mencabuti rumput tanpa mengurangi kecepatannya kendati sambil bercakap-cakap.

"Kok saya tidak melihat kedatangan mereka." Sekarang Ibu ingat. "Kau sedang pergi, entah ke mana Ibu lupa. Tetapi kedua adikmu ada dan mereka langsung akrab. Beberapa kali Ibu melihat mereka asyik mengobrol."

"Tetapi apa yang menyebabkan Ibu rnenilai me¬reka dengan tinggi?" .

"Yah, di zaman sekarang yang penuh dengan segaIa macam urusan ini manusia tidak terlaIu ba¬nyak lagi menyisibkan waktu bagi orang "lain. An¬tara tetangga yang satu dengan yang lain tidak sa¬ling kenal. Kalaupun kenaI, ya asal kenal begitu saja. Apalagi anak-anak mudanya, Mereka terlalu larut dalam hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan mereka. Tetapi kedua pernuda tadi, memerlukan datang berkunjung ke tetangga untuk berkenalan dan bersilaturahmi. Dengan cara yang simpatik pula."

"Rumah mereka di mana sih, Bu?"

Ibu menatapku lagi dengan pandangan setengah jengkeL

"Kamu ini bagaimana sih, Ambar?" katanya lama kemudian. "Kedua pemuda itu tinggal di e¬belab kiri rumah kita!"

"Oh, saya tak tabu .... " Aku agak tersipu. Harus kuakui sejujurnya, tahun-tahun terakhir ini aku tak banyak melebarkan ayapku dalarn pergaulan. Ter¬masuk dengan para tetanggaku. Meskipun aku sadar

bahwa menarik diri dari pergaulan itu keliru, namun sulit sekali mengatasinya. Sejak Mas Bram meng¬khianatiku dengan memacari temanku sendiri, aku enggan bergaul dengan orang banyak.

"Kan mereka itu yang membeli rumah Pak Ahmad di sebelah rumah kita ini!" ibuku menje¬laskan lebih lanjut. "Kamu ini memang agak ke¬terlaluan kok, Ambar. Sedikit memperhatikan ling¬kunganlah. Kita bidup di dunia ini tidak sendirian. Kita makhluk sosial yang mau atau tidak, senang atau sebaliknya, harus bergaul dengan orang lain. Sebab ada saatnya kita membutuhkan mereka. Dan ada saatnya pula mereka yang membutuhkan kita!"

"Iya, Bu!" aku memotong perkataan Ibu sambi1 tertawa. "Ibu ini senang sekali menguliahi orang. Hanya perkara tetangga sebelah yang belum saya kenal saja, tanggapan Ibu panjang sekali!"

Ibuku juga tertawa mendengar komentarku. Ke¬mudian dengan tangannya yang lineah, ia mem¬balik-balik tanah di sekitar tanaman bunga kesa¬yangannya dengan sekop kecil. Aku memperhatikan perbuatannya sejenak. Tetapi pikiranku masih belum terlepas dari kedua pemuda yang disebut-sebutnya tadi.

"Mereka kakak-beradik, Bu?" tanyaku kemudian. "Bukan. Mereka saudara sepupu!"

"Orangtua mereka di mana?" tanyaku lagi. "Ke¬napa waktu itu rnereka tidak ikut datang berkunjung kemari?"

"Orangtua mereka tinggal di Jawa Tengah. Nak Gatot dan sepupunya yang lebih muda itu tinggal di Jakarta sudah sejak kuliah. Sesudah bekerja le¬bib dari lima tahun, mereka memutuskan untuk membeli rumah. Sebab kata mereka, sudah capek pindah-pindah kos dan mengontrak rumah."

"Semuda itu sudah mempunyai rumah yang luma¬yan.bagus, pasti keluarganya kaya!' komentarku.

"Tidak persis begitu," sahut ibuku. "Ayahnya memang seorang dokter. Tetapi rumah sebelah itu dibeli oleh N ak Gatot sendiri dengan cara mencicil. Ia meminjam uang dari kantomya."

"Wah, cukup banyak juga yang Ibu ketahui ten¬tang kedua anak muda itu!" Aku tertawa lagi.

o

'Kalau Ibu jadi wartawan, pasti sukses."

Ibuku tersenyum.

"Soalnya sudah beberapa kali kami mengobrol, Ambar!" sahutnya kemudian. "Sejak kunjungan pertamanya sebulan lalu, sudah beberapa kali me¬reka mampir di depan rumah kita. Pemah juga Ibu berjumpa dengan N ak Gatot ketika kami sama-

ama sedang berbelanja di toko Aceng dan kami berhandai-handai cukup lama. Malah Ibu diantar dengan mobilnya sampai ke .rumah. Lalu, pernah juga Ibu dan ayahmu mengobrol di sepanjang ja¬Ian depan rumah kita waktu kerja bakti menjelang Hari Kernerdekaan kemarin. Pendek kata, kecuali dirimu, kami udah cukup kenal dengan kedua anak muda itu. Lebih-Iebih dengan Nak Gatot. Orangnya ramah dan tampaknya pandai bergaul dengan siapa saja."

"Juga dengan TIna dan Didik?"

"Ya. Kedua adikmu juga sudah beberapa kali

10

mengobrol dengan mereka.: Kan sudah Ibu ceritakan tadi."

"Memang beberapa kali saya pernah mendengar Tina menyinggung soal tetangga barn kita. Tetapi saya kira bukan tetangga dekat. Malah saya tidak menyangka rumah Pale Ahmad sudah lakul" kataku lagi. "Sebab selama ini kan ada saja keluarga Pak Ahmad yang datang ke sebelah untuk membersih¬bersihkan rumah."

"Jadi, seperti yang telah Ibu katakan tadi, se¬baiknya mulai 'sekarang kau memperhatikan ling¬kungan sekitarmu!" komentar Ibu sambil menatap rnataku. Tetapi sebelurn kornentarnya menjadi lebih panjang, lekas-lekas aku memotong kata-katanya sambil tertawa.

"Baik, Bu!' kataku. Kuangguk-anggukkan ke¬palaku dengan takzim sebingga Ibu tersenyum mes¬kipun merasa kesal melihat kedegilanku. Aku yakin, beliau tahu betul bahwa kepatuhanku itu cuma di permukaan saja. Karenanya cepat-cepat aku menga¬lihkan pembicaraan. "Wah, pagi cepat sekal i men¬jadi terang. Waktu kita keluar tad! had masih agak remang."

Ibu menengadahkan wajahnya ke alas, menatap langit yang hari itu tampak bersih. Sinar cahaya matahari yang lembut mulai mewarnai kaki langit "Kelihatannya hari ini akan cerah ... ," gumamnya kemudian.

"Dan panas!" selaku.

"Ya. Belakangan ini udara kota Jakarta semakin panas saja rasanya."

"Tetapi meskipun begitu seharnsnya Bapak tidak boleh menelantarkan olahraganya!" sahutku me¬nanggapi perkataan Ibu. "Kalau enggan kena pan~s matahari, ya lari pagi saja seperti kedua tetangga kita tadi!"

"Yah, memang seharnsnya demikian. Tak usah jauh-jauhlah. Keliling kompleks kita ini saja ... " Suara Ibu terhenti. Kedua pemuda yang dipuji oleh ibuku tadi melintas lagi di depan rumah. Kali ini salah seorang di an tara keduanya melayangkan matanya ke arah kami dan melihat keberadaan Ibu.

"Selamat pagi, Bu!" sapanya kepada ibuku.

Langkah kakinya terhenti.

"Selamat pagi, Nak Hari."

Pemuda satunya yang tampaknya lebih tua dari pemuda yang meJontarkan sapaan tadi juga meng¬hentikan langkah kakinya ketika melihat Ibu.

"Selarnat pagi, Bu Joko!" sapanya sambi1 ter¬senyum. "Wah, rajin betul merawat tanaman pagi¬pagi begini."

Ibu rnenghentikan pekerjaannya, lalu berdiri. "Ini kan olahraga juga, Nak!" sahutnya tertawa.

"Mau lari pagi seperti kalian, Ibu sudah tidak be¬gitu kuat lagi."

"Jalan santai sambil melatih pernapasan di se¬keliling kompleks ini kan bisa, Bu. Tak usah lari¬lari," pemuda pertama yang beroama Hari tadi rnenanggapi perkataan Ibu.

"Tetapi mernang bertanam atau berkebun bisa juga dianggap sebagai olahraga ya, Bu!" sela pe¬muda satunya yang pasti bemama Gatot.

"Ya." Ibuku tersenyum. "Mencuci, memasak, bersih-bersih rumah juga bisa dianggap olahraga. Ya, kan?"

"Ya, Bu .... " Gatot juga tersenyum. Pandangan matanya mulai melayang ke arahku, kemudian se¬nyumnya melebar sambil menganggukkan kepalanya.

Melihat perbuatan Gatot, Ibu melirikku, teringat bahwa aku belum mengenal keduanya. .

"Kalian berdua belum berkenalan dengan putri sulungku ini, kan?" katanya kemudian, "Kemarilah, masuk sebentar. Atau kalian mau melanjutkan lari pagi?"

"Tidak, Bu, sudah satu jam lebih kami berlari- 1ari," Gatot menjawab sambil membuka pintu pagar rumah.

"Barn sekali ini Ibu melihat kalian lari pagi di

sekitar sinil" .

"Kalau sedang malas pergi ke Monas atau ke Se¬nayan, kami sering memilih lari pagi di dekat-dekat sini saja kok, Bu!" sahut Gatot sambi! melangkah masuk. Saudara sepupunya mengekor di belakangnya, "Tetapi lari pagi di mana pun sama menyenangkannya kalau kita melakukannya dengan suka hati."

Sementara ibuku dan kedua lelaki muda itu ber¬cakap-cakap, aku masih tetap rnemainkan gun¬tingku. Tetapi ketika kedua tetangga baruku itu udah berada di dekatku, aku menghentikan pe¬kerjaanku demi sopan santun.

"Halo." Sambil tersenyum ramah, 1e1OO bemama Gatot itu mengulurkan tangannya ke arahku. "Ke¬naLkan, aku Gatot. Dan ini sepupuku, Hari."

Kuusapkan telapak tanganku yang kotor ke ce¬lana pendekku, barn kusambut uluran tangan Gatot. Setelah itu aku menyalami Hari. Tetapi tidak seperti kedua orang itu, aku tidak menyebutkan namaku. Babkan tersenyum pun aku enggan.

"Siapa namamu? Maaf, telingaku kurang jelas menangkap suaramu." Gatot menelengkan kepala¬nya ke arabku. Rasanya, aku menangkap godaan dari pandangan matanya, sebab aku yakin sekali dia tahu betul mulutku tidak bersuara apa pun. Apalagi menyebutkan namaku.

Sial an. Baru beberapa saat berkenalan saja lelaki itu sudah berani menggodaku, padahaJ sikapku jelas-jelas tidak menyiratkan keinginan untuk ber¬handai-handai atau beramah-tamah dengannya mau¬pun dengan saudara sepupunya itu.

"Ambar ... " Dengan perasaan apa boleh buat ka¬rena ada Ibu yang sedang memperhatikanku, aku terpaksa menyebut namaku.

"Hm, Mbak Ambar." Hari menanggapiku sambil tersenyum manis. Kulihat warna persahabatan tersi¬rat dalam senyumnya itu. "Terus terang kami sudah sering mendengar namamu disebut-sebut oleh Tina

dan Didik." ,

Kubalas senyum anak muda itu tanpa rnenang¬gapi kata-katanya.

"Kami juga sudah beberapa kali melihatmu, Mbak," dia meneruskan,

"Ya, apa yang dikatakan oleh Hari itu betuI," Gatot menyambung perkataan sepupunya. "Tetapi terus terang saja kami takut menegurmu."

Kusambar Gatot lewat pandangan mataku dengan perasaan kesal. Aku tabu, di dalam hatinya dia mau mengatakan bahwa sikapku tidak: ramah. Entah Ibu merasakan hal itu atau tidak, tetapi dia menyela pembicaraan.

"Anak Ibu yang satu ini memang agak pendiam dibandingkan kedua saudaranya, Nak," katanya sambil tersenyum. Huh, bisa-bisanya Ibu mengata¬kan aku pendiam hanya demi menenggang perasaan kedua tetangga barn itu. "Nah, bagaimana kalau kalian berdua duduk di teras dan beristirahat dulu. Kalian mau minum apa?"

"Wah, seperti tamu saja," kata Hari kepada lbu.

"Tidak usah, Bu. Tadi di warung ujung jalan sana kami sudah minum. Terima kasih." .

"Betul? Tidak bohong?" Ibu tertawa. "Atau malu?"

"Betul kok, Bu," jawab Gatot. "Terhadap Ibu yang selalu ramah, saya pasti tidak akan malu minta minum kalau memang merasa haus."

"Ya udah kalau begitu." Ibu mulai mencabuti rumput lagi. Melihatnya seperti itu aku juga mulai melanjutkan pekerjaanku mengguntingi tanaman. 'Minggu-minggu begini kalian berdua tidak jalan-

jalan?"

"Nanti siang, Bu. Ada ternan sekantor saya yang akan menikah hari ini," Gatot yang menjawab. "Tetapi pagi ini tidak ada acara apa-apa. Kalau Ibu rnembutuhkan bantuan untuk menanam sesuatu atau memindahkan pot, jangan sungkan- ungkan lho. Kami siap membantu." .

';Ya, Bu," Hari menyambung. "Seperti kata Ibu tadi, olahraga pagi kan tidak selalu harus lari-lari, Jadi, kami siap melanjutkan olahraga di sini. "

Ibu tertawa. Tetapi aku tidak. Tersenyum pun tidak. Bahkan aku pura-pura tidak mendengar per¬cakapan mereka. Ak:u lebih suka mencurahkan perhatianku kepada pekerjaanku mengguntingi ta¬naman. Tetapi diam-diam aku harus mengakui kebe¬naran penilaian Ibu tadi. Kedua anak muda itu memang termasuk laki-laki yang ganteng. Dan juga menarik. Ganteng saja belum tentu menarik. Terutama yang bemama Gatot itu. Postur tubuhnya tinggi dan gagah. Dadanya bidang berisi, mem¬buktikan bahwa kesukaannya berolahraga telah membuahkan hasil, Sudah begitu, ratnbut dan alis¬nya tebal. Bahkan bulu matanya pun sama tebalnya. Namun sedikit pun tidak terkesan adanya ciri fisik perempuan meskipun biasanya bulu mata tebal dan Ientik seperti itu lebih banyak dimiliki oleh kaum perempuan.

Tetapi ah, buat apa aku memikirkan kedua lelaki ganteng itu? Biar sebagus Dewa Kamajaya sekali pun, apa peduliku? Seperti biasanya, aku-harus te¬tap bersikap mengambil jarak dengan kaum laki¬laki. Sernakin menarik rnereka, semakin aku harus mengabaikannya. Sejak disingkirkan oleh Bram, aku berpendapat akan lebih baik bagiku kalau aku bersikap mengabaikan laki-laki dan tetap mengam¬bil jarak dengan mereka. Daripada diabaikan nan¬tinya, lebih baik aku yang rnengabaikan keber¬adaan mereka. Dan cmakin menarik mereka, semakin aku harus menjauhinya. Terutama lagi semakin ramah mereka, aku harus semakin meng¬ambil sikap yang sebaliknya. Sebab kurang apa baik, manis, hang at, dan ramahnya Bram dulu, bu¬kan?

Mengingat itu aku mulai merasa risi melihat keberadaan kedua lelaki muda yang tampaknya te¬rus saja betah mengoceh bersama Ibu sambil mem¬bantu mencabuti rumput-rumput liar. Kalau tidak ingat sopan santun, maulah aku melemparkan gun¬tingku ke tanah dan pergi meninggalkan mereka. Tetapi untunglah tak berapa lama kemudian mereka pamit pulang, katanya mau mandi. Mendengar itu, bukan main leganya hatiku.

"Setelah itu mencuci mobil dulu sebelum pergi ke undangan perkawinan nanti," kata Gatot sambil bangkit berdiri.

"Silakan, Nak. Selamat berhari Minggu, ya?" "Terima kasih, Bu." Kemudian lelaki itu menoleh ke arahku. "Ayo, Ambar, kami pulang dulu."

Aku menganggukkan kepalaku tanpa membalas tatapan matanya.

Begitu kedua laki-Iaki itu menghilang dari pandangan kami, Ibu langsung menatapku dengan pandangan mencela.

"Ambar, kau benar-benar tidak menunjukkan kerarnahan kepada mereka," katanya kemudian.

"Kan baru kenal, Bu!" dalihku sambil terus memangkas tanaman tanpa menoleh ke arah Ibu.

"Mereka itu tetangga paling dekat, Ambar. Tinggalnya di sebelah rumah kita persis!" Ibu berkata lagi tanpa memedulikan pembelaan diriku tadi "Kata orang, tetangga terdekat adalab saudara kita. Sebab kalau ada apa-apa, kita pasti akan berlari meneari bantuan atau minta tolong kepada mereka. Dan bukannya kepada sanak-keluarga atau saudara kita yang temp at tinggalnya jauh dari rumah kital"

"Iya Bu. Saya tahu itu." Aku menyeringai. "Tetapi sudahlah, jangan kita berbicara terus mengenai kedua pemuda tadi. Masa sejak tadi yang Ibu bicarakan hanya mereka. Seperti tidak ada pembicaraan lain saja."

Mendengar keluhanku, Ibu tersenyum. Dan pembicaraan pun berganti arah. Sampai kami berdua masuk ke rumah setelah matahari mulai muneul dan menyiramkan cahayanya ke permukaan bumi, Gatot dan sepupunya yang bernama Hari itu tak lagi menjadi bahan pembicaraan. Maka aku pun segera melupakan keduanya.

Tiga hari kemudian ketika aku sedang menunggu kendaraan umum di Iuar kompleks perumahan kami, sebuah jip berwarna putih yang semula berjalan kencang mulai memperlambat kecepatannya, bergerak pelan mendekati tempatku berdiri. Aku sudah kenal mobil itu kemarin. Mobil Gatot.

Begitu berada di depanku, kaca jendela mobil itu bergerak turun dan wajah ganteng pemiliknya muncul.

"Tidak dijemput?" tanyanya.

Jadi rupanya lelaki itu sudah mengetahui kalau biasanya aku pergi dan pulang kantor dengan mobil antar-jemput. Memang, aku dan beberapa teman

sekantorku menyewa mobil antar-jemput yang dibayar secara bulanan. Tetapi hari ini sopirnya sakit dan sopir cadangannya sedang tidak ada di tempat sehingga pagi ini kami terpaksa berangkat ke kantor dengan cara masing-masing. Dan karena aku tidak bisa ikut mobil Bapak, karena tujuan kami bertolak belakang, aku memilih naik kendaraan umum. Rupanya, Gatot melihat itu.

"Sopirnya sakit," sahutku pendek.

Ini adalah pertemuan karni yang kedua. Aku masih belum tahu harus bersikap bagaimana ter¬hadap pemuda ini, Aku harus tabu jelas lebih dulu, keramahannya itu hanya sekadar keramahan antara tetangga sajakah atau ada sesuatu yang lain. Hal itu penting bagiku sebab menurut penga¬lamanku selama ini, bergaul dengan laki-laki acap kali memunculkan persoalan yang tak menyenang¬kan. Bahkan eli kantorku pun demikian. Setelah banyak yang mengetahui bahwa hubunganku de¬ngan Brarn putus, selalu saja ada ternan sekantorku yang mencoba-coba mendekatiku. Padahal aku su¬dah memutuskan untuk tidak lagi meneoba hubung¬an baru dengan siapa pun. Setidaknya untuk bebe¬rapa tahun mendatang ini. Aku ingin memusatkan pikiranku kepada karier dan pekerjaanku dulu.

Akan halnya Gatot, laki-laki itu pasti akan tinggal lama bersebelahan dengan rumah orangtuaku. Jadi kami pasti akan sering bertemu dan berhu¬bungan. Kalau mulai sekarang sikapku tidak ber¬hati-hati hanya karen a memikirkan karni bertetang¬ga, bisa saja terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Sebab aku sudah berniat untuk bergaul dengan ukuran biasa saja dengan Gatot maupun Hari. Tidak dalam ukuran yang akrab, tetapi juga tidak sangat menjauh, yang bisa menimbulkan antipati mereka terhadap keluargaku.

"Mau ikut mobilku?" kudengar Gatot berkata lagi.

"Terima kasih," sahutku. "Aku naik kendaraan umum saja."

"Ikut aku sajalah," Gatot menawariku lagi. "Nan¬ti kau kuturunkan di tempat yang terdekat dengan kantormu. Setelah itu kau bisa melanjutkan dengan kendaraan lain. Mau naik taksi atau bajaj, terserah."

"Aku tak mau merepotkan orang."

"Aku tidak merasa direpotkan. Kau kerja di Bank Indonesia, kan?"

"Ya." Wah, ini pasti warta berita dari Tina.

Aku yakin sekali. Adikku yang satu itu memang ceriwis, senang bercerita.

"Nah, karena itulah ak:u menawarimu. Kantorku juga berada d.i sekitar sana. Jadi ayolah, naik mo¬b.ilku saja." Untuk kesekian kalinya Gatot membu¬juk. "Jangan sungkan-sungkan kepadaku, Ambar."

Aku menarik napas panjang. Mulai bimbang.

Tetapi ketika sekali lagi Gatot menawarkan jasanya sementara kulihat bus-bus yang lewat di depanku begitu penuh sesak, akhirnya aku menerima juga ajakannya.

"Kok Hari tidak bersamamu?" tanyaku begitu aku sudah berada di dalam jip putih itu.

"Sudah berangkat sejak pagi tadi. Dia lebih

suka naik motornya. .Katanya lebih praktis dan. mudah menghindari kemacetan lalu lintas yang belakangan ini semakin sering terjadi di mana¬mana di Jakarta ini."

"Ya, memang," sahutku mengambang. Aku tidak ingin mengomentarinya lebih panjang, takut terlibat pembicaraan yang akan menebarkan keakraban yang tak kuinginkan, apa pun warna keakraban itu.

"Sudah lama kau bekerja di bank itu?" Gatot mulai mengalihkan pembicaraan.

Suaranya terdengar empuk dan menyenangkan.

Tanpa sadar aku meliriknya. All, bukan main mena¬riknya lelaki itu. Caranya mengemudi sungguh pe¬nub gaya. Enak sekali melihat bagaimana ia me¬mindahkan persneling. Begitu juga caranya mengin¬tip ke arah belakang melalui kaca spion di atas kepalanya. Matanya yang agak menyipit dan se¬belah dahinya yang dikerutkannya itu sungguh sa¬ngat menarik. Tetapi ah, betulkah dia memang se¬menarik itu? Atau jangan-jangan aku saja yang terlalu tinggi menilainya?

Pikiran yang baru saja melintasi benakku itu menimbulkan kesadaran baru bagiku sebab rasanya sudah lama sekali aku tidak pernah menilai lelaki. Apalagi menilai dengan begitu tinggi. Apalagi laki¬laki yang baru saja .kuk.enal. Entahlah, apa yang sedang terjadi padaku? Kenapa aku jadi begini?

Wah, aku harus mulai bersikap ekstra waspada. sungguh, tidak biasanya aku seperti ini.

Aku sudah bertekad tidak akan melakukan perbuatan bodoh untuk kedua kalinya. Cukup satu kali saja aku dikhianati laki-laki yang semula begitu kucintai. Untuk selanjutnya aku hams melangkah hati-hati eli jalan kehidupanku yang masih panjang ini. Khususnya jika itu berkaitan dengan kaum Iaki-laki.

Dengan pikiran seperti itu lekas-lekas aku men¬jawab pertanyaan Gatot tadi dengan sikap dingin dan mulai mengambil jarak Iagi. Terlebih karena aku tadi sempat mengagumi penampilannya, pa¬dahal sebelum ini aku tak pernah memikirkan hal¬hal seperti itu.

"Sudah," jawabku dengan singkat.

"Selain bekerja di Bank Indonesia, apakah kau mempunyai pengalaman bekerja di tempat lain?"

"Tidak." Lagi-lagi aku menjawab pendek.

"Jadi berarti, begitu menyelesaikan kuliahmu kau langsung bekerja di tempatmu yang sekarang ini?"

"Ya."

"Kau senang bekerja di tempatmu itu?" "Ya."

"Tidak ingin mencari pengalaman lain?" Gatot melirik sejenak ke arahku. "Mungkin di tempat yang lebih banyak tantangannya?"

"Tidak." Aku masih menjawab singkat dan se¬kenaku. Padahal sesungguhnya aku ingin juga men¬cad pengalaman bekerja di tempat lain yang lebih menan tang. Aku menyukai kemajuan dan tantangan yang memacu kemampuan dan otakku.

"Hm, rupanya kau termasuk orang yang tidak menyukai tantangan, ' Gator mengomentari jawabanku.

Komentar yang, sangat keliru. Tetapi aku tak ingin menanggapi komentarnya. Bukan urusannya. Biar saja dia berpikir keliru tentang diriku. Aku tak peduli. Tetapi rupanya Gatot tidak puas. Ia ingin mengetahui pendapatku.

"Betulkab ucapanku tadi?" Laki-laki itu berkata lagi dengan nada memancing. Tetapi, aku tak se¬mudah itu tetpancing olehnya.

"Yah, mungkin saja ... ," sahutku sambil melem¬parkan pandangan ke luar jendela dengan sikap acuh tak acuh yang kusengaja. Laki-laki itu tak perlu mendengar komentar yang keluar dad lubuk hatiku.

Aku merasa Gatot melirikku begitu mendengar jawabanku tadi. Tetapi aku berhasil menyembunyi¬kan apa pun perasaan yang sedang melintasi hatiku, Bahkan sekarang kuangkat daguku dan mataku lu¬rus menatap ke depan, ke lalu lintas kota Jakarta yang rasanya semakin hari semakin padat itu.

Selama beberapa saat tidak ada suara manusia di dalam mobil yang kuuimpangi itu. Yang terde¬ngar hanyalah suara musik instrumentalia yang menyajikan lagu-lagu manis. Tetapi kira-kira lima menit kemudian, Gatot bersuara lagi. Dia tak laban berdiam diri terlalu lama, rupanya.

"Kau sungguh berbeda dengan kedua adikmu.

Terutama dengan .Tina," katanya dengan nada suara mengambang. "Betul kan kataku ini?"

Aku tabu apa yang dimaksud olehnya. Kedua aclikku memang termasuk ramah kepada siapa pun, . e. uai dengan ajaran orangtuaku. Terutama Tina, yang pembawaannya memang lincah dan mudah akrab dengan siapa pun. Temannya banyak sekali. Laki-laki maupun perempuan.

Tetapi ah, rasanya dulu pun aku mirip dengan dia dalam banyak hal dan juga dalarn pergaulanku dengan ternan-ternan. Seperti Tina, aku juga punya banyak ternan. Baik ternan-ternan lama semasa masih sekolah maupun teman-temanku di rnasa dewasa. Dalarn hal pergaulan, kedua orangtuaku selalu menekankan satu hubungan yang baik dan penuh rasa persahabatan. Seluruh ajaran rnereka tentang nilai-nilai keindahan dalam kaitannya hidup bersama orang lain di dunia ini sudah terbatinkan dalarn diri kami bertiga. Dan apa yang sudah terinternalisasikan dalam diriku itu telah menjadi bagian serat tubuhku. Tetapi justru karena itulah ketika dengan mata kepalaku aku melihat Bram sedang berkasih mesra dengan sahabatku sendiri di karnar kosnya, aku benar-benar merasa eperti ditampar dengan amat keras eli dasar hatiku. Pikirku saat itu, di manakah nilai-nilai kasih sayang dan kesetiaan yang sesungguhnya? Di manakah nilai¬nilai persahabatan antarmanusia seperti yang selama ini menjadi prin ip hidupku? Kenapa dua orang yang katanya menyayangiku dan merupakan orang¬orang terdekatku justru tega rnengkhianatiku hanya karena kebutuhan biologis semata? Sungguh, am¬pai sekarang ini sulit rasanya bagiku untuk tetap menempatkan nilai-nilai kasih sayang dan kesetiaan agar tetap berada di atas kepalaku dan menjadi pegangan yang paling penting bagi hidupku.

Jadi salahkah aku kalau kemantapan sikapku terhadap laki-laki dan rasa persahabatanku yang kuat sekarang ini mulai bergeser? Salah pulakah kalau aku tidak lagi memiliki keramahan dan kemanisan sikap seperti yang masih dimiliki oleh TIna, si burung kenari tersayang dalam keluargaku itu?

"Hei, kok malah diam saja?" Tiba-tiba terdengar lagi suara Gatot menyadarkan diriku bahwa saat ini aku masih semobil dengannya.

Maka kukembalikan perhatianku.

"Memangnya apa yang harus kukatakan?" tanyaku kemudian.

"Tentu saja menjawab pertanyaanku tadi, Yaitu, apakah betul pendapatku mengenai dirimu itu?"

"Pendapatmu yang mana?" Aku pura-pura tak tahu.

"Bahwa kau berbeda sekali dengan kedua saudaramu!" Gatot melirikku lagi. Ada rasa jengkel di matanya. "Terutama dengan Tina!"

"Tentu saja aku berbeda. Biarpun kami bertiga

sedarah dan sedaging, tetapi aku bukan mereka.

Aku seorang individu tersendiri. Jadi, jangan suka menyama-nyamakan orang. Apalagi membanding¬bandingkannya. ltu kurang etis. Paham?"

Mendengar sahutanku, Gatot melirikku lagi. Te¬tapi aku pura-pura tidak tahu meskipun aku adar betul bahwa laki-laki itu sudah mulai merasa jeng¬kel terhadapku. Sejujurnya harus kuakui, aku memang bukan seorang ternan yang enak diajak bicara. Dan terlebih lagi, aku juga bukan seorang ternan seperjalanan yang menyenangkan.

"Tetapi boleh kan kalau aku memberi penilaian mengenai dirimu?'

"Tidak, karena aku sudah tabu seberapa besar nilai diriku sendiri!" Aku meruncingkan bibirku dengan mengedikkan kepala.

"Tetapi pasti itu sifatnya subyektif. Beda dengan penilaian obyektifku. Bahwa kau adalah seorang gadis yang dingin, yang takut menebarkan rasa persahabatan, yang di mana pun atau ke mana pun kau pergi dan bertemu orang selalu kaubatasi dengan jurang-jurang galianmu sendiri."

"Kau boleh menilaiku apa saja, Gatot. Aku tak peduli." Kedengarannya memang tidak sopan, tetapi biarlah. Sebab pikirku, semakin negatif Gatot menilaiku akan semakin amanlah diriku. Dan semakin aman diriku, akan semakin damailah batinku. Suatu kedamaian yang bukan saja mahal harganya, tetapi juga didapat melalui jalan yang amat panjang. Sebab setelah berbulan-bulan : lamanya aku sering menumpahkan air mata di bantalku atau di kamar maneli dengan diam-diam, dan juga sesudah aku sering merasa kaget setiap dering telepon berbunyi karena takut Bram mencariku untuk mendapatkan maafku lagi, barulah kepasrahan itu kudapatkan. Barulah pula kuraih kesadaran untuk menerima kenyataan pahit itu sebagai bagian dari kehidupan yang harus dijalani oleh setiap manusia.

Sekarang, aku tidak ingin ketenangan dan kedamaian yang sudah berhasil kudapatkan itu tercemar oleh seorang tetangga baru. Apalagi kalau tetangga baru itu bernama Gatot, yang tadi sempat membangkitkan pujian dalam batinku. Oleh karena itu sebelum pujian itu menjadi berlarut dan berkembang lebih Ianjut, meskipun kemungkinan untuk itu kecil mengingat luka yang ditinggalkan oleh Bram masih belum sembuh betul, aku harus cepat¬cepat mengamankan diriku. Apalagi firasatku membisikkan bahwa laki-laki bernama Gatot itu bisa membahayakan diriku. Maka sega1a risiko sekecil apa pun, harus kupikirkan dan kuwaspadai mulai sekarang juga. Aku juga tidak boleh menempatkan Gatot di hatiku. Baik bersifat positif maupun bersifat negatif.

Jadi, kuputuskan aku harus tetap mengambil jarak dengan tetangga baruku itu! http:ebukita.wordpress.com http:ebukita.wordpress.comDua http:ebukita.wordpress.comCUACA sore hari itu tampak begitu cerah. Meskipun matahari telah condong ke barat namun cahayanya yang keemasan masih terus menyepuh pucuk-pucuk tanaman di halaman depan rumahku sehingga tampak begitu indah. Sementara itu angin semilir yang lembut bertiup ke segala penjuru eli sekitarku.

Aku duduk di teras menikmati kesendirianku, Di pangkuanku tergeletak majalah kesayanganku yang sejak aku duduk di tempat itu belum sekali pun sempat kubaca. Mataku lebih banyak melayang ke sekelilingku. Ke halaman yang selalu rapi karena terawat dengan baik sekali. Lalu ke langit yang cerah penuh warna keemasan, dan juga ke jalan raya dan ke mana pun mataku berlabuh. Damai rasanya.

Kompleks tempat kami tinggal termasuk daerah yang tenang karena jumlah rumahnya tidak terlalu banyak. Hanya sekitar tiga ratusan rumab saja. Di jalan depan rumahku yang bukan jalan utama, hanya sesekali mobil atau motor pribadi yang lewat. Yang sering melintas di jalan itu adalah anak-anak

tanggung dengan sepeda mereka yang canggih, atau dengan bersepatu roda. Mereka meluncur di jalan sekelompok demi sekelompok. Terkadang pula, lewat pengasuh berseragam warna putih atau merah jambu sambil mendorong kereta dengan anak asuhan mereka di dalamnya.

Sementara itu di kejauhan kudengar teriakan-teriakan gembira anak-anak kecil yang pasti sedang bermain di taman, tak jauh dari ujung jalan rumah kami ini. Kegembiraan anak-anak seperti itu mengingatkanku pada masa kecilku dulu. Seperti mereka, dulu aku juga selalu merasa gembira setiap malam Minggu tiba. Sebab, tak ada PR yang harus kami kerjakan. Tak ada pelajaran yang harus diulang apalagi karena keinginan melihat acara kesayangan di televisi. Sudah begitu, 'di malam Minggu kami juga boleh tidur lebih malam dari hari biasa.

Di awal-awal masa dewasaku, kegembiraan malam Minggu mempunyai warna yang lain lagi. Selalu saja ada acara menarik yang kulalui bersama reman-temanku di malam panjang itu. entah nonton film, entah makan di luar, entah jalan-jalan ke suatu tempat, atau cuma mengobrol ramai-ramai di rumah teman secara bergantian. Dan bisa dipastikan, selalu ada makanan enak: yang tersaji di atas meja. Kalaupun tidak, kami bisa membuatnya beramai-ramai dalam acara "bakar-bakaran". Ikan bakar, singkong, jagung, dan ubi bakar. Pokoknya, menyenangkan.

Kemudian ketika aku mulai berpacaran, malam Minggu menjadi lain lagi maknanya, Kalau sebelumnya acara-acara nonton film atau hura-hura itu kulakukan bersama teman-temanku, baik laki-laki maupun perempuan, keberadaan Bram dalam kehidupanku mengubah kebiasaan-kebiasaan semacam itu. Menonton film, makan di luar, jalan-jalan, atau hanya mengobrol di teras rumahku jarang sekali kulakukan bersama teman-temanku. Tetapi lebih banyak bersama Bram. Dan itu terus berlanjut sampai akhirnya Bram mengkhianatiku setelah permintaannya yang tidak pantas kutolak mentah¬mentah.

Kini sesudah aku tidak lag] mempunyai kekasih, malam Minggu banya kunikmati sendirian saja. Kuisi malam-malam Minggu yang datang dalam kehidupan di masa kini ini dengan membaca, menonton televisi, jalan-jalan sendiri ke toko buku, atau duduk melamun sambil menikmati suasana damai seperti yang sekarang sedang kulakukan di teras depan ini.

Tentu saja kedamaian sebagaimana yang kura¬sakan sore hari menjelang malam minggu itu bukan datang dengan begitu saja, melainkan melalui per¬juangan .batin yang tidak mudah. Sebelum aku berhasil menghadapi realita kehidupan dengan kepasrahan seperti ini, hampir setiap malam Minggu kubabiskan di dalam kamar dengan deraian air mata. Malam-malam Minggu yang manis bersama Bram telah berakhir dengan cara yang sangat menyakitkan. Rasanya, luka hati itu tak kunjung sembuh, sampai-sampai aku nyaris putus asa. Tetapi toh akhirnya waktu juga yang mengusap luka-luka itu dan juga menyembuhkannya meskipun caraku menatap dunia pergaulan bersama kaum laki-laki kini berubah.

Tetapi bagaimanapun juga, senang rasanya bahwa pada akhirnya aku mampu menghadapi malam Minggu dengan hati yang lebih damai, seperti sore ini. Kesendirian itu kunikmati seperti apa adanya meski tak seorang pun menemaniku. Ibu dan Bapak sedang bepergian ke rumah kenalan mereka. Didik baru saja berangkat ke rumah pacarnya. Dan di dalam rumah, Tina sedang mengobrol melalui teIepon entah dengan teman yang mana, saking banyaknya. Kata Ibu, adik perempuanku inilah yang paling banyak mempergunakan telepon di rumah kami. Kalau tidak dia yang menelepon temannya, tentu teman-temannya yang menelepon dia. Adik bungsuku itu memang luas sekali pergaulannya, Dan dia termasuk gadis yang menyenangkan.

Setelah puas melamun, niatku membaca muncul kembali. Majalah yang sejak tadi berada atas pangkuanku, kuambil. Tetapi sebelum tanganku sempat membuka-buka halamannya, tanpa aku sengaja tatapanku melayang ke arah pohon flamboyan di tepi jalan depan rumahku. Lalu tiba-tiba saja aku sadar bahwa sudah lama sekali rasanya aku tidak melihat pobon itu berbunga. Entah karena memang belum musimnya berbunga atau entah karena kurang pupuk atau pula karena sebab-sebab lainnya, aku tidak tahu. Tetapi yang pasti tatkala melihat kehijauan daun-daunnya yang tak dihiasi bunga yang berwarna jingga dan indah itu, tiba-tiba saja aku merasakan adanya persamaan nasib. Sama seperti flamboyan di depan rumah itu, hatiku juga tak lagi menyimpan bunga-bunga kehidupan yang indah dan berseri.

Di luar kehendakku, aku menarik napas panjang sekali. Dan sebelum aku tenggelam lagi ke dalam kesedihan, cepat-cepat tanganku mulai membukai halaman-halaman majalah. Tetapi ketika aku sedang membalik-balik halaman majalah itu, suara seseorang terdengar menyapa diriku.

"Halo, Ambar .... "

Kuangkat wajahku. Di tangga menuju ke teras rumah, aku melihat Gatot berdiri tegak. Sebuah pot berisi tanam an hias berada dalam pelukannya. Entah kapan lelaki itu memasuki halaman rumah,. aku tak tahu. Mendengar suara pintu pagar dibuka orang pun, tidak. Tahu-tahu saja dia sudah ada di dekatku. Pikirku, itulah kalau kubiarkan diriku terseret kenangan masa lalu.

Karena aka diam saja, lelaki itu menegurku lagi.

"Hai,' sapanya lagi, sambil meletakkan pot yang semula berada di dalam pelukannya itu ke lantai teras dekat kakinya.

"Hai," aku terpaksa membalas sapaannya. Tetapi di dalam hati, aku merasa kesal melihat kedatangannya yang tidak pada waktu yang tepat. Sebab ketenangan, kedamaian, dan kebebasanku di tempat ini jadi ternoda.

"Bu Joko ada di rumah?" lelaki itu bertanya

sambil melangkah mendekati tempatku duduk. Kemudian setelah menarik salah satu kursi teras di dekatku, dia langsung duduk dengan sikap santai yang tampak manis dan menyenangkan. Kentara sekali dia sudah terbiasa duduk di tempat itu. Tetapi ah, masa bodohlah. Aku tak ingin memikirkan apakah dia sudah terbiasa duduk di situ atau belum. Bukan urusanku.

"Ibu pergi," sahutku kemudian. Pendek saja dan tak ada niatku untuk meletakkan majalah yang terbuka di pangkuanku itu ke atas meja di depanku demi menunjukkan sikap sopan santun. Buat apa? Aku toh tidak mengharapkan seorang tamu di saat

sedang ingin sendirian begini.

"Jadi, Bu Joko pergi, ya?" kudengar Gatot berkata lagi. "Padahal aku membawakan tanaman hias yang telah kujanjikan kepada beliau kemarin."

Mendengar perkataannya itu mataku melayang ke arah pot bunga yang dibawanya tadi. Memang Itu tanaman yang unik, Daunnya berbintik-bintik dan bergerombol lebat dengan kombinasi warna hijau dan putih yang indah. Aku yang juga menyukai jenis-jenis tanaman hias, tak tahan untuk tidak mengomentarinya. Baik sekali Gatot membawakan tanaman seindah itu untuk Ibu.

"Dari mana tanaman hias yang indah itu?" tanyaku kemudian,

"Kubeli di pameran tanaman di Lapangan Banteng kemarin."

"Berapa Ibu harus mengganti harga tanaman itu?" aku bertanya seenaknya. Pertanyaan tak sopan itu memang sengaja kulontarkan untuk menutupi rasa senangku atas tanaman itu. Padahal aku yakin sekali, Gatot datang mencari Ibu bukan untuk menagih uang yang telah dikeluarkannya untuk membeli tanaman itu. Bahkan aku juga yakin, dia pasti tidak mau menerima uang itu kalau Ibu menggantinya.

"Tidak usah." Seperti yang kuduga, Gatot memang tidak mau diganti uangnya. "Ini oleh-oleh dariku untuk Bu Joko. Beliau pernah berkata bahwa kalau kebetulan aku melihat tanaman hias yang unik, tolong belikan dulu. Tetapi untuk kali ini, uangnya tak usah diganti."

"Nanti akan kukatakan kepada Ibu. Dan terima kasih atas nama beliau!"

"Mudah-mudahan saatnya tepat. Besok hari Minggu. Biasanya kau dan Bu Joko suka berkebun, kan?'

"Ya."

Ah, laki-laki itu tetap saja duduk dengan santai¬nya. Padahal aku tidak suka diganggu olehnya. Aku enggan sekali mengobrol dengannya. Pertama, karena aku tak ingin kehadiran orang lain saat ini. Kedua, kedatangannya toh bukan untuk menjum¬paiku, melainkan Ibu. Ketiga, aku tidak ingin me¬natap wajab ganteng yang memiliki daya tarik yang luar biasa ini. Dan keempat, mekipun Gatot sudah sering datang kemari dan mengobrol bersama keluargaku, tetapi aku tak pernah mau bergabung dengan mereka. Biasanya aku lebih suka berada di dalam, entah untuk membaca atau untuk menonton televisi. Dan kebiasaan seperti itu tidak akan kuubah meski hanya demi basa-basi dengan tamu yang tak diundang mi.

Tetapi demi aturan sopan santun bertetangga, aku tidak boleh langsung berdiri dan meninggalkannya sendiri. Dan itu membuat perasaanku jadi amat tertekan. Tetapi untunglah tiba-tiba aku teringat pada Tina yang sedang di dalam dan mungkin sudah selesai menelepon. Akan kualihkan beban keharusan duduk di muka Gatot itu kepada adikku yang pasti lebib menyenangkan kalau diajak mengobrol.

"Mau mengobrol dengan Tina?" tanyaku tanpa memedulikan apakah pertanyaanku itu sopan atau tidak. Aku tidak ingin bersikap munafik.

Mendengar pertanyaanku, Gatot agak tertegun.

Aku yakin laki-laki itu telah menangkap keinginanku untuk menghindarinya. Tetapi agaknya dia berhasil menetralisir situasi yang menyudutkannya pada posisi sebagai "orang yang tak diinginkan". Hanya dalam waktu sekejap saja air mukanya kembali cerah dan matanya berseri-seri, Entah Itu pura-pura, atau memang senang akan bertemu dengan Tina, aku tak tahu.

"Jadi Tina ada di rumah? Kusangka dia pergi," katanya kemudian. "Kalau memang dia ada di rumah, suruhlah keluar untuk mengobrol di sini bersamaku. Aku paling suka bercakap-cakap dengan adikmu yang selalu celia dan lincah itu."

"Oke," sahutku. "Akan kusuruh dia keluar. Tunggu, ya?"

Di dalam, aku melihat adik bungsuku itu sedang

mengambil kue sambil menyanyi-nyanyi. Kue itu pasti buatan Bik Imas. Kemarin petang ketika aku pulang dari bepergian, aku melihat pembantu rumah tangga kami itu sedang. memanggang adonan yang sekarang sudah menjadi kue lezat dan sedang di¬potong oleh Tina. Begitu melihat kehadiranku, gadis itu langsung bertanya.

"Kau tadi bercakap-cakap dengan siapa, Mbak?"

Dimasukkannya sepotong besar kue ke mulutnya.

"Dengan Gatot. Dia datang untuk mengobrol denganmu!" sahutku sambil menatap wajah cantik yang sedang kerepotan dengan kue yang memenuhi mulut mungilnya itu. Sungguh seperti anak kecil saja. "Bersikaplah sedikit dewasa, Tina. Masa kue sebesar itu kaumasukkan sekaligus ke dalam mulut. Tidak sopan dan tidak: manis dilihat orang. Ingat, Sayang, sebentar lagi kau sudah menjadi mahasiwa, lho!"

Mendengar tcguranku, mulut Tina menyeringai.

Kemudian dengan . cepat dikunyahnya kue yang ada di dalam mulutnya itu. Lalu didorongnya de¬ngan seteguk air putih. Matanya yang bagus agak mendelik ketika menelan kue itu.

"Aduh, Mbak, sikapmu melebihi sikap Ibu kalau menegurku!" gerutunya kemudian. "Padahal aku mau makan dengan cara apa pun tadi toh tidak ada siapa-siapa di dekatku. Malahan mau menelan dua potong sekaligus juga tidak ada yang melihat."

"Jangan suka berpikir seperti itu, Tina. Nanti jadi kebiasaan, Iho. Anggap saja di mana-mana ada mata yang sedang mcngawasimu,"

''Termasuk matamu kan, Mbak?"

"Jangan selalu membela diri, Non. Nanti kau jadi tampak nyinyir. Jadilah orang yang tabu menempatkan diri di mana pun. Jangan memandang segala sesuatu dari sudut pandang sendiri, Lihat juga cara pandang orang lain."

"Iya, Eyang." Tina menyeringai lagi. "Sekarang sikapmu bukan lagi seperti Ibu, tetapi sudah seperti sikap Eyang kalau menasihati kita. Panjaaaaaang, berkilo-kilo. "

Aku tertawa.

"Itu karena aku sangat menyayangimu, tahu!" kataku kemudian.

"Tentu saja aku tahu. Sampai-sampai kalau saja itu mungkin, Mbak ingin menggendongku ke mana¬mana seperti menggendong bayi .... " Lagi-lagi gadis bandel itu menyeringai dengan mulutnya yang bagus. Kecantikannya tidak jadi berkurang karenanya. Bahkan bagiku, tampak lucu dan menggemaskan.

"Sudahlah, lekaslah kau keluar menemui tetanggamu yang baik itu," sahutku tersenyum gemas. , Dia sudah tidak sabar menunggumu."

"Mbak, dia sudah sering kali datang kemari.

Tetapi dia datang bukan untuk menjumpai aku atau siapa pun dari keluarga kita secara khusus. Dia cuma ingin memperlihatkan keakraban dan kedekatannya dengan keluarga kita. Semuanya, tanpa terkecuali. Maka, kita semua di rumab ini ada¬lab tuan atau nyonya rumah buatnya. Artinya, dia itu tetangga terdekat keluarga kita. Jadi, juga tetangga terdekatmu. Itu harus digarisbawahi dengan tinta tebal. Paham?"

"Apa maksud bicaramu itu?"

"Maksudku jelas sekali, Mbak." Tina mengerucutkan bibirnya yang indah itu. "Kau pun harus duduk mengobrol bersamanya dan menemani kehadirannya. Selain sebagai tetangga kita yang paling dekat, dia itu juga baik sekali, lho. Jadi bersikap ramahlah kepadanya. Kita ini tidak hidup sendirian di sini dan rumah kita juga tidak terpeneil dari rumah-rumah lainnya. Jangan suka mengambil jarak dengan para tetangga. Tidak baik dan menyalahi kodrat, sebab kita ini makhluk sosial yang tidak bisa hidup seorang diri tanpa kehadiran orang lain."

"Nah, kau sekarang yang seperti Eyang!" aku memotong perkataan Tina dengan jengkel. Dia telah menyentuh tepat kelemahanku. "Kecil-kecil sudah berani menguLiahi orang tua. Sudah sana, temani tetanggamu yang paling dekat dan paling baik itu, Aku tidak punya waktu untuk omong kosong dengannya. Lebih baik aku membaca-baca di dalam, karena itu jauh lebih bermanfaat. Oke?"

"Tetapi, Mbak, dia datang bukan melulu mencariku. Dia pasti juga ingin mengobrol dengan yang lain. Denganmu atau dengan siapa pun di rumah ini. Dan karena saat ini di rumah hanya ada aku dan kau, maka kita berdualah yang harus menemaninya bersama-sama. Bukan hanya aku saja."

"Itu kan katamu. Aku lebih suka sendirian kok," sahutku dengan suara tegas. "Lagi pula, dia kan lebih akrab denganmu atau dengan yang lain daripada denganku. Jadi pasti dia akan lebih suka mengobrol bersamamu daripada denganku. Aku yakin dia tidak akan suka berada di dekat seorang gadis yang malas bicara dengannya. Nah, jelaskan alasanku ini?"

''Tetapi, Mbak, yang bertetangga dengan Mas Gatot itu kan bukan hanya aku atau Mas Didik atau kedua orangtua kita saja. Tetapi kau juga tetangga dekatnya!" Tina masih juga belum mau mengalah. "Bahwa pada kenyataannya aku dan yang lain lebih akrab dengan Mas Gatot maupun dengan Mas Hari, itu karena kami sudah sering bertemu dan mengobrol bersama-sama. Jadi menurutku, sekarang inilah kesempatanmu untuk lebih kenal dengannya dan menjadi akrab seperti kami dengan mereka berdua .... Bayangkan, Bik Imas saja pun sudah akrab dengan dia maupun dengan Mas Hari."

"Biar saja kalau kalian suka berakrab-ria dengan dia. Aku malas kok. Terlalu akrab dengan tetangga bikin capek orang saja. Manggut sana, manggut ini, berbasa-basi ini dan itu di sana. Bersopan santun, berhandai-handai, padahal di dalam hatinya lain. Itu kan munafik. Jadi, Tina, kau sajalah yang

menemani tetangga baikmu itu. Aku tidak tertarik untuk menjalin keakraban dengannya."

"Apa sih yang sebenarnya terjadi padamu, Mbak?' Tina menempatkan kedua belah tangannya di atas pinggulnya. "Apakah hanya karena peng¬khianatan Mas Bram kau lalu menganggap semua orang tidak menyenangkan? Iya?"

"Jangan menganalisa yang bukan-bukan, Tina." "Aku cuma mau mengatakan bahwa Mbak keliru kalau masih saja memandang dunia yang sebetulnya indah ini dengan kacamata burammu itu. Lagi pula ... "

"Tina', aku tidak ingin berdebat denganmu!" aku mermotong perkataan Tina. Dan sebelum gadis itu berpanjang-panjang kata lagi, aku lekas-Iekas menyelinap masuk ke kamar tidurku. Biar saja Tina merasa jengkel kepadaku, aku tak peduli. Dan biar saja Gatot menganggapku sebagai nyonya rumah

yang tidak ramah, masa bodoh. Memangnya kenapa

memikirkannya?

Kira-kira setengah jam kemudian tatkala aku sudah tenggelam dalam bacaanku. Tina menyusul masuk ke kamarku. Blus longgar dan celana pendek yang dikenakannya tadi telah ditukarnya dengan

celana jeans dan kemeja berpotongan feminin. Jahitan di bagian pinggang kemeja yang dikenakan Tina itu menyebabkan lekuk. tubuhnya yang indah jadi kentara. Sementara itu di bahunya tergantung tas kesayangannya.

'Kau mau ke mana?" aku bertanya, ingin tahu. "Aku mau pergi, Mbak!" begitu dia berkata kepadaku. "Kalau Ibu dan Bapak sudah pulang nanti dan aku belum kembali, tolong katakan kepada mereka bahwa aku diajak jalan-jalan oleh Ma Gatot.'

"Jalan-jalan ke mana?" tanyaku acuh tak acuh.

"Apa yang akan kukatakan kepada Ibu kalau beliau menanyakanmu ?"

"Aku sendiri tidak tahu mau diajak ke mana oleh Mas Gatot. Pokoknya dia ingin mengajakku pergi. Mungkin non ton film karena kebetulan ada film bagus di Planet Hollywood. Pokoknya, kami mau bersenang-senang mencari hiburan. Katakan saja begitu kepada mereka."

"Mau menonton yang jam berapa?"

"Entahlah. Tergantung yang mengajak dan tentu saja juga tergantung keadaan."

Sambil berkata seperti 'itu Tina mengibaskan rambutnya. Sungguh, cantik sekali adikku itu. Meskipun banyak orang mengatakan aku berwajah jelita tetapi rasanya aku tidaklah sejelita gadis itu. Semua kecantikan Ibu dan garis wajah Bapak yang tampan menurun dan diwariskan kepada si bungsu itu.

Melihatku diam, Tina berkata lagi,

"Ikut ya, Mbak? Daripada di kamar sendirian kan lebih menyenangkan melihat dunia luar. Malam nanti pasti tampak indah karena kulihat rembulan udah mulai muneul menghiasi langit yang bersih.

Mau ya menyaksikan itu semua?"

"Tidak. Aku lebih suka di rumah!"

"Yang menawarimu supaya kau mau ikut itu Mas Gatot lbo, Mbak. Bukan cuma aku," kala Tina lagi.

"Idih, apa bedanya? Kau kan tahu Tina, aku tidak akan pergi kalau hatiku bilang tidak." Aku mendengus. "Apalagi kalau itu cuma mau rneneng¬gang perasaan orang."

;'Mas Gatot tadi juga udah menyangka kalau kau tidak akan mau diajak pergi."

"Baguslah kalau dia sudah tahu itu."

"Kau sungguh tidak ramah terhadapnya, Padahal dia baik kepadamu," Tina berkata lagi sambil membetulkan letak tali tasnya. "Tetapi sudahlah, kalau kau tak mau ikut bersama kami ya sudah. Nah, aku berangkat sekarang."

"Bilang pada Bik Imas Tho, Tin!" seruku. "Dan suruh dia mengunci pintu depan maupun pintu samping rumah."

"Beres!" Tina menutup kembali pintu kamarku, menghilang dari pandangan, dan meninggalkanku sendirian.

"Dan jangan terlalu malam, Tina," seruku lagi. 'Tergantung keadaan." Suara adikku terdengar

emakin jauh. Lalu samar-samar aku mendengar suaranya, berbieara dengan Bik Imas. Hatiku lega, terbebas dari keharusan untuk menemani tamu yang tak kuharapkan itu.

Seandainya aku tabu bahwa mal am itu aku te-lah melakukan suatu keteledoran, karen a sebagai se¬orang kakak, aku telah membiarkan adikku dibawa pergi oleh laki-laki berpengalaman, pasti tak akan kuizinkan itu terjadi. Sebab, sesudah kepergian mereka yang pertama itu, keduanya jadi sering pergi berduaan ke mana-mana. Bahkan pernah terjadi, mereka baru pulang sesudah jam dua belas malam. Entah ke mana mcreka, aku tak tahu. Tetapi yang jelas, sekarang aku benar-benar menyesali ketele¬doranku malam itu. Hanya gara-gara aku ingin terbebas dari tamu tidak diundang itu, kubiarkan adikku menjalin hubungan yang lebih akrab dengan Gatot. Ah, betapa egoisnya aku, sampai-sampai tak masuk ke dalam pikiranku apa akibatnya.

Tetapi sekarang menyesal pun sudah terlambat, " sebab belakangan ini aku telah melihat adanya " tanda-tanda adikku itu sedang jatuh einta. Dar! kamarnya, selalu saja terdengar lagu-lagu einta yang manis dan romantis. Dan juga, aku selalu mencium aroma wangi yang menguar dari tubuhnya kalau kami kebetulan berpapasan. Padahal, hal-hal semacam itu tak pernah terjadi sebelumnya.

Terus terang saja aku benar-benar merasa sangat khawatir kalau-kalau adikku sedang jatuh cinta kepada Gatot dan lalu mereka berdua mulai menjalin hubungan asmara yang terus berkelanjutan. Ke¬khawatiran itu bukan disebabkan karena Gatot orang yang tidak bisa dipercaya atau semacam itu. Tetapi karen a sebab yang lain. Antara lain karena jarak usia mereka yang terlalu besar. Kudengar dari Ibu, Gatot berusia tiga puluh dua tahun sementara Tina baru sebulan yang lalu menginjak usia delapan belas tahun. Jarak usia mereka empat belas tahun. Sudah begitu, Tina termasuk gadis yang polos, lugu, dan belum berpengalaman dalam bercinta. Sedangkan Gatot, aku yakin lelaki itu sudah banyak pengalamannya. Dia ganteng, punya uang, anak dokter yang sukses pula. Aku berani memastikan, banyak gadis pernah tergila-gila padanya.

Melihat keakraban yang terjalin di antara Gatot dan Tina, aku benar-benar merasa sangat tertekan. Semakin derajat keakraban itu meningkat, semakin meningkat pula kekhawaliranku. Dan nyaris memuncak sewaktu aku mendengar Ibu mengizinkan Gatot membawa Tina pergi ke luar kota. Begitu sepasang insan itu pergi, aku langsung mendekati Ibu.

"Kenapa Ibu membiarkan Gatot membawa Tina pergi ke sana kemari," kataku kesal. "Padahal, anak itu masih harus mengikuti tes ini dan itu untuk melanjutkan studinya yang masih belum jelas akan diterima di universitas mana."

"Ibu mempercayai Gatot, Ambar."

"Jadi Ibu setuju kalau mereka berdua saling jatuh cinta dan menjalin hubungan?" Aku menjinjitkan alis mataku tinggi-tinggi.

"Yah, apa salahnya? Mereka berdua sama-sama masih bebas dan tidak mempunyai keterikatan dengan seseorang secara kbusus," sahut Ibu tenang.

"Bu, Gatot itu empat belas tahun lebih tua daripada Tina. Jarak umur sekian itu terlalu jauh," kataku lagi. "Apalagi Tina masih begitu polos dan lugu."

Ibu menatap wajahku selama beberapa saat sebelum kemudian menanggapi perkataanku tadi.

"Memang benar, jarak usia mereka berdua cukup jauh," sahutnya kemudian dengan suara bergumarn. "Jadi semestinya, kaulah yang lebih cocok dengan dia dibanding Tina yang masih bijau itu."

"Kita sedang membicarakan Tina, Bu," aku memenggal perkataan Ibu. "Bukan membicarakan diriku."

"Baiklah. Tetapi kalau Tina dan Gatot saling jatuh cinta, apa yang haru Ibu katakan? Cinta itu kan tidak bisa dipaksa datangnya tetapi juga tidak

bisa diusir kepergiannya. Jadi bagaimana mungkin Ibu menjauhkan sepasang kekasih yang sedang jatuh cinta itu, Ambar?"

"Tetapi Ibu kan bisa menasihati Tina!" Aku masih ngotot. Hatiku tidak rela melihat Tina yang cantik dan masih belia itu menjadi kekasih Gatot. Barangkali saja di masa mendatang mereka akan mengalami kesulitan akibat perbedaan usia yang cukup jauh itu.

"Menasihati apa? Jatuh cinta itu bukan suatu keadaan yang membahayakan jiwa, kan?'

"Betul, Bu. Tetapi ada bahaya lain yang menyangkut kebahagiaannya di masa depan. Oleh karena itu harus ada orang yang bisa membuka mata Tina, bahwa nantinya jarak usia di antara rnereka berdua akan menjadi hambatan dalam komunikasi. Sebab akan ada banyak hal yang berbeda di antara mereka. Entah itu menyangkut kesenangan, .selera, pandangan hidup, dan lain sebagainya. Dan ita pasti akan mengurangi keakraban, kernesraan, dan rasa kebersarnaan di antara mereka berdua."

"Yah, apa yang kaukatakan itu memang ada benarnya, Ambar!" Ibu menganggukkan kepalanya. "Tetapi itu masih terlalu jauh untuk dipikirkan saat ini, Pertama, dalarn perjaJanan waktu bisa aja mcreka akan sama-sarna saling menimbuni jurang-jurang yang ada di antara mereka berdua sehingga perbedaan seperti yang kaukatakan tadi akan mcnipis secara bertahap. Kedua, hubungan percintaan di antara mereka berdua itu kan belum tentu mengarah pada ikatan perkawinan mengingat Tina masih muda dan masih ingin melanjutkan studinya."

"Tetapi Gatot sudah tidak muda lagi, Bu. Me¬nilik umumya, dia pasti sudah memikirkan untuk hidup beruroah tangga. Sebab, apa lagi yang di¬tunggu? Umur, cukup. Rumah dan kendaraan, ada. Pekerjaan, bagus, Itulah, Bu, yang kucemaskan. Kalau Gatot meminta Tina menjadi istrinya, maka gadis itu akan kehilangan mas a roudanya. Seko¬lahnya terhambat. Dan masa depannya bisa terhenti. Padahal, Ibu kan tabu bahwa Tina mempunyai otak yang sangat eneer. Sayang, kan?"

Mendengar perkataanku Ibu menepuk lembut bahuku kemudian tersenyum manis sekali, "Sudahlah, Nduk, Jangan terlalu mengkhawatir¬kan adikmu itu," katanya beberapa saat kemudian, "Ibu akan mencoba menasihatinya."

Aku merasa lega mendengar janji Ibu. Kutunggu saja bagaimana hasilnya. Tetapi alangkah sedih dan cemasnya hatiku ketika kemudian kusaksikan bagaimana hubungan Tina dengan Gatot bukannya merenggang, bahkan semakin hari tampak sernakin erat saja. Benar-benar membuat kekhawatiranku bertambah sehingga muneul dalam pikiranku bahwa kalau usaha Ibu tak berbasil maka harus ada orang lain yang bisa menyadarkan dan membuka mata Tina sehingga dia tidak semakin tenggelam dalam cinta butanya terhadap Gatot. Jadi kalau memang Ibu tidak sanggup melakukannya, akulah . ebagai anak tertua yang harus menyelamatkan adikku. Semakin cepat itu kukerjakan akan semakin baik jadinya.

Dengan pikiran seperti itu aku mulai mencari kesempatan untuk berbieara empat mata dengan Tina. Oleh karena itu ketika di suatu malam Ming¬gu aku melihat dia pergi lagi dengan Gatot, aku sengaja menunggu kepulangan mereka. Selama me¬nunggu itu entah .sudah berapa film dan acara te¬levisi yang kutonton, aku tidak begitu memperha¬tikan. Bahkan sadar apa yang kutonton saja pun tidak, Pikiranku terus melayang-layang rnemba-

yangkan apa saja yang dilakukan oleh Gatot terha¬dap adikku yang masih polos itu. lsi dadaku sampai terasa bergolak menahan amarah.

Ketika akhirnya kudengar suara mobil berhenti di muka halaman rumah pada jam setengah satu kurang sepuluh menit, kemarahan yang kutahan¬tahan sejak tadi pun nyaris meledak dan menyen¬tak-nyentak kepalaku. Gatot sungguh keterlaluan, membawa gadis ingusan itu pergi sampai selarut ini. Entah ke mana pikiran warasnya.

Untuk mendinginkan kemarahanku, kubiarkan Tina masuk ke rumah dengan cara mencurahkan perhatianku ke televisi. Pura-pura sedang terlarut oleh cerita yang tersaji di layar kaca itu. Tetapi dari sudut mata kulihat Tina berdiri di tengah ruang, sedang mernperhatikan keasyikanku.

"Kok belum tidur sih, Mbak?" tak berapa lama kemudian gadis itu menyapaku. Kernudian dengan ikap manis dia menyusulku duduk, Dari tangannya, ia meletakkan sebuah bungkusan berarorna martabak yang khas baunya. "Ini, kubawakan martabak istimewa. Mas Gatot yang membelikan. Masih ha¬ngat, lho."

Mendengar nama Gatot disebut, seketika itu juga . aroma yang tadi sempat menggelitik perutku, lenyap tak berbekas. Tawaran Tina kuabaikan. Bahkan me¬lirik ke arah martabak pun aku tak sudi. Jadi kusahuti perkataan Tina dengan sesuatu yang tak ada kaitannya dengan martabak yang masih hangat itu.

"Dari mana saja kalian tadi?" tanyaku. Kuken¬dalikan nada suaraku agar tidak sampai terdengar mengandung amarah.

"Nonton film, lalu pergi ke Ancel," Tina menjawab kalem.

Tetapi dadaku bergemuruh. Dengan eepat kepalaku menoleh ke arab gadis yang duduk di dekatku itu. Namun tampaknya dia tidak tahu kalau aku kaget mendengar jawabannya tadi. Dia duduk. de¬ngan manis dan santai sekali. Kalau saja aku tidak sedang kaget, barangkali akan kukagumi adikku malam itu. Dia tampak luwes dan menarik dengan celana jins dan kemeja berikut rompinya yang ter¬buat dari bahan jins juga.

"Ke Ancol?' Aku melotot tanpa bisa mengendalikannya. "Kalian ke Ancol berduaan saja?"

"Ya," Tina menjawab sekalem caranya duduk.

Dan dengan gerakan kalem juga, dia mulai mem¬buka bungkus martabak dan mcngambil sepotong, lalu dimasukkannya ke dalam mulutnya yang rnu¬ngil itu. Air mukaoya seperti bayi yang belum kenal dosa.

Ah, alangkah naifnya gadis itu. Tidak mengertikah dia betapa berbahayanya pergi ke Ancol hanya dengan seorang lelaki, apalagi lelaki yang sudah matang seperti Gatot? Tidak tahu pulakah dia bahwa tempat itu, terutama di sepanjang pantainya, banyak orang berpacaran di dalam mobil yang kaca hitam jendelaoya tertutup rapat. Apalagi pada malam-malam begini ini.

"Kau tahu itu temp at apa, Tina?" tanyaku ke¬mudian. Tak tahan aku untuk tidak bertanya seperti itu. Dengan sekuat tenaga aku berusaba untuk ti¬dak memperlihatkan kemarahanku. Bisa kaeau kalau aku tidak pandai-pandai mengendalikan emosiku.

"Tabu." Masih saja Tina tampak kalem dan san tai , Bahkan sambil mengunyah martabak dengan nikmat.

"Tahu apa?" aku bertanya lagi.

"Yah, di tempat itu ada bermaeam hiburan, ada banyak pula temp at untuk jalan-jalan, untuk makan, untuk rnelihat barang-barang seni, dan sebagainya."

"Dan sebagainya itu apa konkretnya, Tina?" aku bertanya lagi,

Kali ini sulit bagiku untuk menyembunyikan

uaraku yang terdengar ketus.. Akibatnya, Tina rnenghentikan gerak rahangnya yang sedang me¬ngunyah martabak tam dan menatapku dengan pan¬dangan heran.

"Sebenarnya apa sih yang ingin kaukatakan ke¬padaku Mbak?" ia ganti bertanya. "Apakah ada perbuatanku yang salah?"

Caranya menatapku dan pertanyaan yang dilon

tarkannya kepadaku itu menyiratkan kehijauan pe¬ngalaman yang menyentuh telak hatiku. Melihat ito kemarahanku surut dengan seketika. Ah, apakah aku terlalu rnencemaskannya dengan cara yang berlebihan? Atau apakah aku saja yang terlalu mengkhawatirkan sesuatu yang tak perlu dicemas¬kan? Tetapi ah, kalau aku teringat tatapan Gatot yang bisa memukau orang itu malah seharusnyalah aku mencemaskan Tina karen a kepolosannya.

"Keliru sih tidak, Tina. Cuma saja ak:u meng¬kbawatirkan dirimu," sahutku kemudian dengan suara berubah lembut. "Aku bertanya seperti tadi ito karena aku sangat menyayangimu. Aku tak ingin melihatmu mengalarni sesuatu yang kurang menyenangkan di kemudian hari."

"Memangnya kenapa, Mbak? Apa sih yang kau¬khawatirkan?"

'Yah, ada beberapa hal yang membuatku merasa khawatir Tina. Antara lain karena kau pergi ke Ancol dengan Gatot rnalam-malam begini," jawab¬ku terus terang. "Kau pasti sudah pernah mende¬ngar bahwa pantai Ancol di waktu malam penuh dengan orang-orang yang berpacaran ell dalam mobil-mobil yang tertutup rap at. Nah, terus terang saja aku khawatir kalau-kalau kau bersama Gatot

juga ada di sana dan dan ... menjadi salah satu

di antara mereka, 1a1u "

"Idih!" Tina memotong pcrkataanku dengan pipi merona merah. "Memangnya aku ini apa, Mbak? Aku dan Mas Gatot tadi cuma putar-putar keliling Ancol Ialu jalan-jalan eli Pasar Seni sambil menonton Ienong. Kemudian makan malam di tempat itu juga. Setelah itu melihat-lihat lukisan dan ben¬da-benda seni yang dijual di sana. Dan pulangnya, karni mampir beli martabak untuk oleh-oleh buatmu atau buat Mas Didik, Bukan sesuatu yang salah kan, Mbak?;'

"Meroang bukan. Aku percaya kepadamu," sa¬hutku. Hatiku lega mendengar penuturannya itu. 'Tetapi bagaimana halnya dengan Gator? Terus te¬rang aku kurang mempercayainya. Dia sudah cukup umur untuk berpacaran secara serius. Semestinya dia tidak membawamu pergi sampai larut malam begini. Ak:u cemas kalau-kalau dia akan membuat¬mu lupa diri."

"Mbak, kau tidak mengenal Mas Gatot seba¬gaimana aku mengenalnya!" Tina menyerobot per¬kataanku. "Dia tidak mungkin melakukan sesuatu yang akan menyusahkan orang. Apalagi terhadapku maupun terhadap keluarga kita sebagai tetangganya yang paling dekat. Dia itu laki-laki yang sangat baikdan penuh rasa tanggung jawab lho, Mbak!"

"Mudah-mudahan memang seperti itu kenyataan¬nya," aku bergurnam perlahan.

Tina menelan martabaknya kemudian rnenatap mataku selama beberapa saat lamanya. Entah apa yang ada di dalam pikirannya, aku tak dapat me¬oebaknya. Tetapi tak berapa lama kemudian dia memuntahkan apa yang dirasakannya.

"Rasa-fa anya, Mbak Ambar tidak suka melihat bubunganku dengan Mas Gatot. Betu1, kan?" begitu ia bertanya terus terang.

Aku tertegun mendengar keterusterangannya. Ke¬mudian lekas-lekas aku menjawab pertanyaannya . itu.

"Kalau saja umurnya sepuluh tabun lebih muda daripada umumya sekarang, atau kalau saja kau lebih tua sepuluh tabun daripada urnurmu sekarang, aku tidak akan mempersoalkannya."

"Tetapi tidakkab terpikirkan olehmu, Mbak, bah¬wa dengan jarak usia yang banyak begini justru Mas Gatot telah memperlakukanku dengan lembut dan penuh pengertian? Ia juga memanjakanku . dan sangat sabar menghadapiku," kata Tina menjelas¬kan. "Sungguh lho, Mbak, kalau aku bergaul dan berpacaran dengan pemuda sebayaku, belum tentu aku bisa merasa sebabagia seperLi yang kurasakan bersama Mas Gatot saat ini."

Ah, adikku ini benar-benar sedang tenggelam dalam asmara. Apa pun mengenai Gatot, selalu bagus dan sempurna baginya. Untuk menyisihkan nama itu, aku mulai mengalihkan pembicaraan.

"Tina, terlepas dari apa yang telah kita biearakan tadi, aku ingin tabu apakah kau tidak ingin me¬lanjutkan studimu dan kemudian merealisasikan cita-citamu untuk menjadi notaris seperti yang kau¬ceritakan waktu itu. Ataukah sudah ada cita-cita lain yang muneul belakangan? Menjadi p ikolog, barangkali ?"

"Aku masih tetap ingin menjadi notaris seperti Oorn Iskandar, Mbak .... Tetapi kalau Mas Gatot tidak setuju, aku akan rnenurutinya dengan rela, Bagiku, apa yang diinginkan oleh Mas Gatot adalah

sesuatu yang. paling penting," jawab Tina dengan penuh keyakinan.

Mendengar perkataan Tina, aku menarik napas ..

Panjang sekali. Juga sedih sekali. Sebab apa yang kuhadapi itu bukanlah apa yang biasanya kulihat pada diri Tina. Semangatnya yang selalu berkobar setiap membicarakan tentang cita-cita dan masa de¬pannya, tak lagi ada. Padabal gadis itu termasuk ga¬dis yang cemerlang otaknya. Dan juga kemauannya untuk maju sangat keras. Cita-citanya pun tinggi. Cukup sering dia mengutarakan apa yang ada di. ha¬tinya mengenai jauhnya jangkauan. yang hendak di¬capainya. Ia menyukai kemajuan. Ia senang mem¬pelajari hal-hal baru. La sangat haus pengetabuan. Mengenai hal itu beberapa kali Tina pernah menga¬takan kepadaku bahwa dia tidak pernah merasa ren¬dab diri berhadapan dengan orang yang secantik dan

emenarik apa pun. Dia juga tidak akan merasa kecil berdekatan dengan pejabat tinggi, pengusaha hebat, ataupun dengan orang terkaya sedunia. Tetapi jika berada di dekat ilmuwan atau orang-orang pintar yang luas pengetabuan dan wawasannya, ia akan merasa dirinya tak berarti. Hal itulah antara lain yang menyebabkannya ingin belajar dan belajar 'Ileneari ilmu, menjadi orang pandai yang tabu ba-

yak hal. Tetapi sekarang, apa yang baru saja ku¬dengar dari rnulut mungilnya itu? Kalau bukan men-

engar dengan telingaku sendiri, pasti aku tak akan :"ercaya Tina akan berkata begitu. Rasanya, aku - dang berhadapan dengan orang lain. Bukan dengan Tina. Asing rasanya.

Tetapi, aku masih tak mau menyerah. Aku harus bisa mengembalikan semangat dan gairah belajar¬nya.

"Tina, umurmu baru saja delapan belas dan baru akan menginjak bangku kuliah," kataku. "Ti¬dakkah kau merasa sayaug telah menyia-nyiakan kesempatan untuk maju dan merealisasikan potensi yang ada padamu? Tidak sayangkah itu, Tina? Kau seorang gadis yang pandai dan tingkat kecer¬dasanmu tinggi sekali!"

"Memang. Tetapi itu semua' tidak ada artinya jika dibanding dengan kebahagiaanku bersama Mas Gatot, Mbak."

"Tina, jangan biarkan dirimu tenggelam dalam as mara buta seperti itu .... Pikirkanlah lebih jauh. Jangan surutkan langkahmu dan tetaplah kau men¬eari sekolah dan ikut tes masuk. Soal Gatot, selarna belum ada kepastian yang menyangkut rnasa depan¬mu, jalanilah itu ebagaimana reneanamu semula,"

aranku penuh harap, dengan suara lembut. Padahal di dalam hatiku, aku memaki Gatot yang telah menebarkan raeun di kepala adik tersayangku.

"Mbak, aku memang akan rnencari sekolah dan mengikuti tes masuk, Tetapi kalau nantinya Mas Gatot menginginkan diriku agar sepenuhnya men¬jadi ibu rumah tangga, aku akan menomorduakan studiku."

Sekali lagi aku menarik napas panjang. Semakin kusadari sekarang betapa adikku ini sedang jatuh cinta berat kepada Gatot, mabuk kepayang, sc¬hingga yang ada di dalam pikirannya hanyalah

Gatot _ dan 'Gatot saja. Hal-hal lainnya, bahkan yang dulu merupakan sesuatu yang paling penting sekali pun, kini tersingkirkan olehnya.

"Kalau kau tetap saja ingin meninggalkan cita¬citamu, Tina, suatu saat nanti kau pasti akan me¬nyesalinya," kataku kemudian. Aku masih tetap berusaha menginsafkannya. "Sebab pernikahan bu¬kan tempat orang mengubur cita-cita semula. Ka¬laupun seseorang ingin sepenuhnya menjadi ibu rumah tangga, akan bagus jadinya kalau dia me¬miliki pengetahuan Iuas, pandai, dan bisa diajak bicara suami atau kenalan-kenalannya. Dan pasti juga bisa menjadi ternpat bertanya bagi anak-anak¬nya."

Tetapi ternyata usahaku menginsafkan Tina itu ia-sia belaka. Biearaku tidak didengarkan. Malahan gadis itu menertawakan aku.

"Mbak, aku yakin kalau kau mcndapat seorang kekasih seperti Mas Gatot, hal-hal lainnya di dunia ini. tak lagi penting bagimu," katanya sambil ter¬tawa. "Pereayalah padaku. Dan kau akan rnelihat dunia ini dengan kacamata lain yang lebih indah dan 1ebih berpera aan. Bukan euma melulu di¬warnai rasio belaka. Mas Gatot telah mengubah pandangan-pandangan hidupku dan mernberi warna baru yang sangat indah sehingga apa yang ernula kuanggap indah, benar dan baik, jadi kurang kua¬litasnya. Pendek kala, bagiku tak ada Jagi yang le¬bib indah daripada einta kami berdua."

Mendengar perkataannya aku benar-benar merasa putus asa.. Tina sudah tidak bisa lagi diajak bicara

dari hati ke hati. Dia euma melihat dunia dan se¬gala sesuatunya dari satu sudut pandang saja. Ya¬itu cinta butanya terhadap Gatot.

. "Kau benar-benar sedang mabuk cinta kelewat berat. Kau sedang tergila-gila pada Gatot," keluhku dengan hati sedih. Tak heran aku sekarang kenapa usaba Ibu untuk menginsafkan Tina tidak ada ha¬silnya.

Meskipun demildan, mendengar perkataanku yang terakhir tadi pipi Tina yang halus itu mulai merona merab kembali. Pandang matanya menyirat¬kan rasa malu yang sangat kental. Tetapi aku ti¬dak memedulikannya, Apalagi pikiranku sedang tertuju kepada Gatot. Dialah sesungguhnya biang keladinya. Maka kalau usabaku menyadarkan Tina tidak berbasil, aku harus menyadarkan pihak satu¬nya, yaitu Gatot. Laki-laki itu harus diperingatkan. Jika dia ingin menjadikan Tina sebagai calon ternan bidupnya, maka ada beberapa bal yang harus di¬pertimbangkan. Antara lain perbedaan usianya de¬ngan Tina. Dan juga menyadarkannya, babwa de¬ngan mengakrabi adikku itu, dia telah menyia¬nyiakan mutiara yang sebenarnya bisa rnenjadi no¬taris andal atau apa pun cita-cita Tina lainnya. Negara ini masih banyak membutuhkan orang¬orang pandai. http:ebukita.wordpress.com

Tiga http:ebukita.wordpress.comTERNYATA, mencari kesempatan untuk berbieara empat mata saja dengan Gatot tidaklah mudah, walaupun kami bertetangga dekat. Sebab selalu saja ada telinga-telinga lain di sekitar kami. Jadi akbirnya aku mencari akal bagaimana caranya agar dapat menghubunginya tanpa diketabui orang. Ter¬utama oleh keluargaku. Maka diam-diam alcu men¬cari tahu nomor telepon kantornya. Ketika sudah kuperoleb begitu aku sendirian di ruang kerjaku di kantor, kutelepon dia.

Sebagaimana sudab kuduga, Gatot merasa heran menerima teleponku.

"Wah, ini benar-benar kejutan, Ambar!" ko¬mentarnya begitu ia mengetahui telepon itu dari aku. "Talc sekilas lintas pun aku pernab menyangka akan menerima telepon darimu."

"Kalau tidak suka, tutup saja pembicaraan kita!" kataku dingin.

"E-eh," Gatot buru-buru menjawab. "Justru aku merasa senang. Suaramu sungguh terdengar merdu. Segar rasanya setelah hampir separo hari aku ber¬kutat dengan pekerjaan. Nab, apa yang bisa kubantu?"

Aku men get atkan gerahamku. Gatot' memang pandai memperlakukan seorang perempuan dengan cara seolah dia sangat istimewa baginya. Tak heran kalau Tina bisa tergila-gila kepadanya.

"Aku ingin bicara denganmu!" sahutku, masih nada dingin.

"Wah, ini benar-benar suatu kehormatan bagiku.

Biasanya, kau tak suka mengobrol denganku. Bah¬kan berdekatan denganku saja kau tak sudi."

Dia benar, Jangankan meneleponnya, berhandai¬handai sepatah atau dua patah kata saja pun tak pernah. Kecuali, kalau aku sudah telanjur berha¬dapan muka dengannya, sebab tak rnungkin aku lari terbirit-birit hanya karena ada tamu. Dan kini, tiba-tiba saja aku yang ingin bicara padanya. Jadi memang perlu ada penjelasan sedikit untuknya.

"Aku menghubungimu karen a ada sesuatu yang ingin kubicarakan secara empat mata saja, ' sahutku menjelaskan, "Apa yang akan kita bicarakan itu penting. Dan aku tidak ingin ada telinga lain ikut mendengarnya, "

"Di mana kita akan bicara?" ,

'ITer erah. Asal jauh dari jangkauan telinga orang lain!"

"Bagaimana kalau kita bicara sambil rnakan siang di rumah makan dekat kantormu itu?"

'Oke."

"Aku akan menjemputmu sekarang. Bersiap¬siaplah!"

"Sekarang? Ini baru setengah dua belas!" kataku sambil melirik arlojiku. "Malah masih kurang!"

"Sekali-sekali korupsi waktu tak apalah!" Gatot tertawa lembut. "Kantorku masih utang kepadaku. Aku sering pulang lambat untuk menyelesaikan pekerjaanku di saat ternan-reman sekantorku sudah kembali di tengah keluarga mereka."

"Oke, kalau begitu. Supaya kita mempunyai waktu yang Iebih longgar, kau tak usah meroarkir mobilmu untuk mencariku ke atas. Aku akan me¬nunggumu di bawah. Kau memakai jip putihmu, kan?"

"Ya. Aku belum mampu mengganti mobilku de¬ngan BMW!" kudengar lagi suara tawanya. Entah kenapa, aku menyukai tawanya yang lembut itu. Tetapi tentu saja aku cepat-cepat mengibaskan pe¬rasaan itu.

"Berapa lama perjalanan dari kantormu ke kan¬torku?"

"Paling lama sekitar dua puluh menit, Tetapi barangkali bisa lebih cepat lagi, sebab kulihat dari kaca jendela ruang kerjaku lalu lint as di bawah . ana oke-oke saja. Termasuk lancar meskipun padat

eperti biasanya."

"Oke. Aku pasti sudah ada di depan kantorku kalau kau sampai nanti!"

'Sudah talc sabar bertemu aku rupanyal" Usai berkata seperti itu kudengar lagi tawanya yang lembut. "Sampai nanti, Mbak Ambarl"

Sial an. Entah kenapa, atau mungkin juga karena ikap Gatot yang sering agak ugal-ugalan kepadaku, penilaianku terhadapnya kurang baik:. Menurutku, dia bukan laki-laki alim yang bisa dipercaya ke-

setiaannya. Firasatkulah yang bilang begitu. Terha¬dapku yang belum begitu dikenalnya saja pun si¬kapnya agak-agak kurang ajar. Sering kali dari si¬kap atau pandangan matanya, aku menangkap ke¬inginannya untuk menggoda dan sedikit main-main denganku. Untungnya aku selalu bersikap tegas dan mengambil jarak. Aku talc mau dikurangajari meskipun euma untuk main-main atau bereanda saja.

Begitulah, jam dua belas kurang seperempat aku sudah melihat jip putih itu berjalan pelan¬pelan eli muka pintu kantorku. Aku segera meloneat dari tempatku duduk dan langsung masuk ke dalam mobilnya. Rumah makan yang kami tuju talc jauh, dan berada dalam deret yang sarna dengan kan¬torku. Tak sarnpai sepuluh menit perjalanan kami sudah tiba eli tempat. Saat itu lalu lintas memang dalam keadaan normal. Tidak maeet tetapi juga ti¬dak lengang. Me kipun padat. tetapi tidak terjadi kemaeetan.

"Apa yang iagin kaubiearakan denganku?" tanya Gatot sesudah kami selesai memesan makanan.

. "Ini tentang Tina ... ," sahutku.

"Tentang Tina? Kenapa ilia?" Dahi Gatot mulai berkerut. Tampaknya ia sudah menduga-duga arah pembiearaan yang akan kutuju.

, Kau telah membuatnya jatuh einta dan mabuk berat dalam pusaran asmara, sampai-sampai dia seperti tak berpijak lagi pada bumi. Kelakuannya seperti sedang melayang di awang-awang!"

Mendengar perkataanku, Gatot tertawa keras se-

hingga aku melotot ke arahnya. Namun tetap saja dia tidak menghentikan tawanya. Rupanya dia geli sekali mendengar kalimat yang kupakai untuk menggambarkan keadaan Tina itu. Tetapi, aku jadi jengkel. Ditertawakan seperti itu, memangnya aku ini seorang pelawak? Apalagi karena aku masih saja beranggapan tawanya itu enak didengar. Pa¬dahal, suara yang kuanggap enak itu muncul karena dia menganggapku lueu.

Menyadari hal itu aku tertegun dengan tiba-tiba.

Hei, jangan-jangan aku juga tidak berpijak pada bumi sebagaimana halnya Tina. Sebab, apa sih ke¬lebihan taw a Gatot dibanding dengan tawa orang lain? Bukankah eli sepanjang sejarah manusia, ra¬sanya belum pernah ada suara tawa sekeras itu di¬anggap atau elinilai merdu dan ernpuk bagaikan suara nyanyian. Ah, entahlah di mana letak kewa¬rasan otakku saat ini.

Merasa marah kepada diri.ku sendiri yang telah meJantur tak keruan, cepat-cepat kualihkan pernbi¬caraan kepada pokok persoalannya.

"Kenapa kau tertawa?" tanyaku ketus. "Siapa yang kautertawakan dan apanya yang lucu?"

"Kau yang lucu," sahut Gatot dengan sikap

antai, "Pertama, earamu mengungkapkan keadaan Tina tadi. Kedua, earamu berkata itu seperti mau menyalahkan aku. Padahal, Tina sedang jatuh einta kepadaku atau kepada siapa pun orangnya, itu kan urusan pribadinya. Apalagi dia sudah dewasa untuk menentukan dirinya sendiri dan juga rnenggunakan bak asasinya sebagai seorang individu lentang apa

yang benar-benar diinginkaonya. Termasuk urusan jatuh cinta."

"Secara fisik, umur delapan belas tahnn memang sudah dewasa, Tetapi untuk jatul:i. cinta, apalagi jatuh cinta kepada seorang lelaki yang empat belas tabun lebih tua dari umumya, dia masih terlalu hi¬jau."

"Delapan belas tahun sudab cukup umur untuk jatuh cinta dan menjalin hubungan serius dengan laki-laki Ambar. Dan itu wajar."

"Ya, jatuh cinta di usia deJapan belas tahun me¬mang wajar terjadi. Tetapi, kalau ito terjadi dengan pemuda yang sebaya dengan umurnya. Atau paling banter, terpaut tiga atau empat tahun. Bukan dengan seorang laki-laki yang sudah terlalu matang bagi¬nya, Apalagi dengan pengalamanmu yang pasti jauh lebih banyak itu kau bisa dengan mudah membuat Tina yang masih sangat polos dan hijau ito terbuai oleh rayuan-rayuanmu. Menurutku, ka¬Iian berdua itu merupakan pasangan yang kurang pa . Bahkan timpang," ahutku.

Gatot tidak segera menanggapi perkataanku. Te¬tapi sebagai gantinya, ia menatapku dengan tajam. Dari bola matanya, kutangkap adanya penolakan atau ketidaksetujuannya ala perkataanku tadi. Me¬nyadari itu, pcrasaanku mulai tak enak. Aku sudah terlalu dalam mcncampuri urusan pribadi orang. Tetapi yah, apa boleh buat. Aku ingin menyela¬matkan adikku meskipun kusadari caraku menilai Gatot tadi memang kurang adil.

Apa yang baru saja melintasi pikiranku itu tidak

salah. Aku toh belum kena1 betul siapa Gatot yang sesunggubnya. Kami berdua jarang sekali bertemu. Apalagi bercakap-cakap berdua dengan sengaja atau terencana. Bolch dikata, baru dua kal i inilah aku berbicara empat rnata lebih dari dua atau tiga kali¬mat. Dan baru sekali inilah pertemuan kami berdua direncanakan, Atas keinginanku pula.

Karena merasa tak cnak, lekas-lekas aku men¬cairkan suasana yang kaku ini.

"Bukannya memberi tanggapan atas perkataanku tadi, kau malab menatapku seperti sedang melihat hantu," kataku tak sabar. Sungguh tidak enak dipan¬dang dengan tatapan tajam seperti itu, sementara hatiku mulai menyadari ketidakadilan yang sedang kulakukan terhadapnya.

"Aku sedang mencerna apa yang tadi kauucap¬kan. Jadi begitu rupanya penilaianmu tcrhadapku maupun terhadap hubunganku dengan Tina," akhir¬nya kudengar Iaki-Iaki itu bersuara lagi.

"Ya."

"Tetapi itu kan rnenurutmu."

"Tentu saja. Memangnya menurut siapa lagi?

Aku toh bclum melaporkan perkara ini sarnpai kc DPR?"

Mendengar tajarnnya lidahku ito, aku menangkap getar ra a geli di dalam bola rnata Gatot. Tetapi cuma e aat lamanya. Sesudah itu ilia tampak le-

bih serius. .

"Kedengarannya kau begitu yakin bahwa Tina bcnar-bcnar rna ih sehijau dan sepolo seperti sang¬kamu itu!" Suara Gatot bernada tantangan.

Mendengar perkataan Gatot, aku terkejut. Ada sesuatu yang tiba-tiba menghantam kesadaranku. Selama ini, aku memang telah menganggap dan memperlakukan Tina sebagai gadis kecil yang rna¬sib polos dan kekanakan, Secara jujur harus kuakui bahwa terkadang aku melupakan bahwa adikku itu

. terus tumbuh dan berkembang menjadi gadis de¬wasa yang semakin lama semakin kehilangan sifat kekanakannya Aku terlalu menyayanginya dan menganggap gadis itu masih membutuhkan perlin¬dunganku sebagai kakak tertua. Maka begitu men¬dengar ucapan Gatot itu aku kehilangan kata-kata, tak marnpu membalas. Timbul pertanyaan dalam pikiranku, benarkah Tina masih sepolos dan sehijau sebagaimana yang kubayangkan selama bertahun¬tahun ini? Bukankah sebagairnana dunia ini, Tina juga terus turnbuh berkembang? Gadis itu bukan benda mati. Dia bisa melihat, mendengar, membaca, rnernpclajari, dan mengadaptasi semua yang masuk ke dalarn pikiran dan hatinya. Apalagi dia juga cerdas. Rasanya, memang terlalu naif kalau aku menganggap gadi itu rnasih saja hijau dan polos. Tetapi kalau sekarang dia sudah berubah, apa pe¬nyebab utamanya? Jangan-jangan Gatot-lah penye¬babnya.

Pertanyaan . tu mcnggugahku dari ketertegunan tadi. Maka kutatap mata Gatot dengan tajam pula.

"Kalau dia sudah berubah dan tidak lagi polos, aku yakin sekali engkaulah penyebabnya," tuduhku dengan suara mengandung ancaman. "Dan kau ha¬rus mempertanggungjawabkannya padaku. Aku tidak rela kalan adikku sampai menjadi matang se¬belum waktunya!"

"Tahukah, Ambar, kau itu terlalu berlebihan me¬lindungi adikmu. Bisa-bisa dia akan tumbuh men¬jadi pribadi yang tak IJ.1ampu mandiri, yang tergan¬tung kepada orang lain, selalu ragu, dan kalau meng¬hadapi kesulitan tak mampu mengatasinya!" Gatot berkomentar sarnbil menatapku lekat-lekat,

"Yang kita bicarakan tadi adalah tentang kepo¬losan dan kehijauan Tina. Bukan tentang sikapku yang terlalu melindunginya," sahutku ketus. "Dan itulah an tara lain kenapa siang ini aku ingin bicara denganrnu. Aku ingin supaya kau tahu pendirianku dalam hal ini. Bahwa aku tidak rela kalau adikku

ampai tiba-tiba berubah menjadi mataag hanya gara-gara mabuk cinta kepadamu. Mengerti?"

"Kurasa, scjauh kematangan itu merupakan pro¬es perkembangan yang memang harus dilalui oleh etiap manusia, itu wajar-wajar saja," Gatot men¬jawab perkataanku tadi dengan sikap yang tenang ekali. "Kau jangan berlebihan mencemaskan sesua¬tu yang tak perlu dikhawatirkan!"

"Adikku dipacari lelaki yang jauh lebih tua dan jauh lebih berpengalaman kok tidak boleh cemas!" aku menggerutu kesal. "Sekarang, seandainya kau berada pada tcmpatku, dan adikmu berpacaran de¬ngan lelaki yang umurnya empat belas tahun lebih tua darinya, bagaimana perasaanmu?"

"Setidaknya, aku akan berusaha mengambil ikap yang lebih bijaksana dari sikapmu." Gatot menger¬lingku sesaat lamanya. "Bahwa masalah selisih

umur bukanlah merupakan persoalan besar bagi se¬pasang insan yang saling mencinta dan sama-sama berusaba membangun pengertian yang bisa menjem¬batani perbedaan-perbedaan yang ada. Jadi seandai¬nya adikku jatuh cinta kepada pria yang empat belas tahun lebih tua, aku akan mengarahkannya untuk belajar berpikir lebih luas dan lebih dewasa."

"Ab, bicara sib gampang." Aku mendengus.

"Aku tak yakin kau akan mampu bersikap seperti katamu itu kalau benar-benar rnengalaminya."

"Ambar, sebelum kita lanjutkan pembicaraan ini, aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu lebih dulu. Boleh, kan?' Tiba-tiba dengan sikap yang lebih serius, Gatot mengalihkan pembicaraan.

"Apa?"

"Cuma satu hal saja. Mengapa kau tidak me¬nyukaiku, Ambar?"

Aku tertegun. Yah, kenapa aku tidak menyukai¬nya? Pasti tidak hanya karena dia telah menyebab¬kan adikku jatuh cinta. Maka kalau aku mau jujur, pertanyaan itu harus kujawab bahwa alasanku tidak menyukainya itu tak ada sangkut-pautnya dengan dirinya sebagai seorang individu bernama Gatot. Apalagi sebelumnya aku tak pernah kenal dia dan tak tahu pula bagaimana sifatnya. Bahwa aku ti¬dak rnenyukainya, itu semata-mata karena dia me« rniliki daya tarik kuat yang bisa membahayakan diriku. Sebab aku tidak ingin tertarik kepada laki¬laki mana pun yang eganteng Raden Arjuna sekali pun. Berdasarkan pemikiran bahwa laki-laki yang biasa-biasa saja seperti Bram bisa digoda dan menggoda perempuan lain sampai-sampai kehilang¬an rasa tanggung jawabnya sebagai seorang keka¬sih, apalagi Gatot yang sangat menarik itu. Pasti akan ada banyak perempuan yang jatuh hati kepa¬danya. Dan pasti pula dia menyadari hal itu. Jadi, aku tidak ingin bergaul akrab dengannya. Apalagi aku mulai merasakan• tanda-tanda suasana hatiku yang tidak beres. Sebab bukankah aku pernah ter¬pukau olehnya? Dan bukan hanya satu kali saja, Waktu aku ikut mobilnya beberapa waktu yang lalu, aku pernah terpukau oleh gerak tangannya saat memindah persneling dan caranya mengintip ke belakang lewat kaca spion di atasnya. Lalu baru saja tadi, ketika telingaku mendengar suara tawanya yang lembut. Maka, aku harus .mernbenci¬nya kalau ingin tetap hidup tenang dan arnan.

Yah, kalau kejujuran itu ada padaku semestinya kujawab saja pertanyaan Gatot tadi seperti apa adanya. Bahwa masa laluku yang pahit bersama Bram telah ikut mewarnai perasaanku terhadapnya. Bahwa secara pribadi dia tidak mernpunyai kesa¬lahan kepadaku. Kalaupun ada, itu hanya sikap dan cara bicaranya yang eenaknya sendiri dan menyebalkan itu. Dengan kata lain, kebencianku kepadanya itu berasal dari diriku sendiri.

"Hei, kenapa pertanyaanku tadi tidak kaujawab?"

Kudengar suara Gatot membeba kanku dari lamun¬an. "Tidak bisa menjawab karen a memang aku ti¬dak punya kesalahan yang menyebabkanmu jadi membenciku, kan?"

"Bukannya tidak bisa menjawab, tetapi karena

aku memang tidak ingin menjawab. pertanyaanmu!" Aku membuang pandanganku. Apa yang- dikatakan¬nya itu tale jauh dari kenyataan yang tak mau aku alami.

"Kenapa ?"

"Karena pertanyaanmu tadi tak ada relevansinya

dengan pembicaraan kita," jawabku mengelak.

"Ada, Ambar."

"Tidak ada. Jangan ngawur!"

"AIm tidak ngawur. Penilaian ini berdasarkan pengamatanku. Aku tahu bahwa kat] sudah tidak menyukaiku sejak awal mula kita berkenalan se¬hingga ketika aku dan adikmu mulai menjalin sua¬tu hubungan khusus, rasa tak suka itu semakin membubung tinggi. Maka beda usia sebanyak em¬pat belas tahun itu kaujadikan alasan. Padahal, ba¬nyak terjadi perkawinan dengan beda usia yang sangat mcncolok tanpa timbul masalah besar di antara mereka. Bahkan kehidupan perkawinan pa¬sangan itu tetap bahagia sampai salah seorang di¬panggil Tuhan.'t

Merasa tak enak karena apa yang dikatakan Gatot itu ada benarnya, aku cepat-cepat mencari alasan lain yang lebih berpijak pada kenyataan se¬benamya.

"Yah, esungguhnya ketidaksukaanku at as hu¬bunganmu dengan Tina itu memang bukan melulu disebabkan karen a perbedaan usia saja," sahutku kemudian. "Tetapi juga karen a hal-hal lainnya."

"Apa misalnya?"

"Pertama, karena usiamu yang sudah cukup pantas . untuk memasuki kebidupan berumah tangga. Sehingga kalau kau mempunyai hubungan cinta dengan seorang gadis, maka hubungan itu akan segera berakhir dengan pernikahan. Tentu saja lain halnya kalau hubungan itu tidale serius dan cuma untuk main-main saja. Atau mungkin juga hanya

. untuk selingan bid up yang ... "

"Aku bukan lelaki yang suka iseng-iseng saja

Ambar!" Gatot memotong perkataanku. '

Aku menggigit bibirku sendiri, sadar bahwa aku telah berbicara tanpa menenggang perasaan Gatot.

"Oke aku percaya. Nah, sekarang akan kulan¬jutkan alasan-alasanku tadi," .sahutku membetulkan kesalahan bicaraku itu. "Alasanku kedua, apabila kau benar-benar mau menikah dengan Tina, maka adikku itu akan kehilangan masa remajanya. Ketiga, dengan pernikahan itu maka kesempatannya untuk melanjutkan studinya akan terhambat. Dan alasanku yang keempat, kalau rnemang benar Tina tidak akan melanjutkan studinya, itu artinya dia telah mencampakkan cita-citanya sernula. Maka eli suatu saat nand, alean muneul masalah-masalah lain yang akan mengganggu hubungan kalian berdua ... "

"Gangguan macam apa misalnya?" Gatot me¬motong lagi perkataanku.

"Penyesalan, misalnya. Sebab Tina itu merniliki otak yang cernerlang. Cita-citanya tinggi dan dia selalu haus pengetahuan. Maka kalau suasana bulan madu kalian usai, entah itu setahun entah lima ta¬hun kemudian, Tina akan merasa tak puas lagi dengan keadaannya." .

"Gangguan lainnya?"

"Yah, perbedaan usia di antara kalian itu pasti juga diwarnai oleh perbedaan minat, perbedaan selera, dan perbedaan lainnya. Apalagi kau sudah jadi sarjana strata dua sementara kalau Tina tidak jadi melanjutkan studinya kan berarti dia cuma mendapat pengetahuan dari bangku SMU saja. Ba¬gaimana dia bisa mengikuti kiprahmu mengenai hal-hal di Iuar jangkauan wawasannya? Jangan¬jangan di suatu ketika nanti kau akan lebih betah berlama-lama mengobrol dengan sekretarismu atau dengan rekan sekantormu daripada dengan istri¬mul"

Mendengar alasan-alasan keberatanku atas hu¬bungannya dengan Tina itu, Gatot terdiam. Dan dengan datangnya pelayan rumah makan yang mernbawakan makanan pesanan karni, laki-laki itu semakin diam. Entah dia sedang meresapi kebe¬naran perkataanku tadi, entah pula sedang menyu¬sun pembelaan diri, aku tak bisa menebak apa yang scdang berkecamuk di dalam kepalanya.

Kutunggu sampai pelayan rumah makan itu me¬letakkan pesanan kami masing-masing.

"Kau tak bisa menanggapi perkataanku tadi, kan?" begitu aku berkata sesudah pelayan rumah rnakan itu pcrgi, "Kau juga adar bahwa dengan rnenikahi Tina maka kau juga telah mengurangi satu calon mutiara bang a yang semestinya bisa menyumbangkan tenaga, pikiran, dan keahliannya untuk negara ini."

"Aku tidak menanggapi perkataanrnu itu karen a

aku merasa tak perlu menanggapinya," sahut Gatot kalem.

"Kenapa? Karena sulit membantah kebenarannya, kan?" sindirku.

"Aku cuma tidak ingin rnerusak selera makanku, Apalagi tadi pagi aku belum sempat sarapan. Jadi tundalah dulu peinbicaraan ten tang hal ini sampai kita selesai makan," sahut Gatot sambil mengambil sendok dan garpu yang ada di dalam tempatnya. Dan masih dengan sikap kalemnya itu. "Setuju?"

Karena usulannya masuk akal, aku terpaksa mengangguk dan ikut mengambil sendok dan garpu. Kami berdua pun mulai makan. Dan pembicaraan bergeser pada hal-hal lain yang tak ada kaitannya dengan Tina ataupun dengan hubungan mereka.

Kuikuti kemauan Gatot untuk tidak menyinggung pernbicaraan kami tadi. Tetapi tiba-tiba kusadari bahwa mengobrol dengan Gatot apabila tidak di¬warnai oleh suasana tegang, rasa jengkel, atau yang semacam itu, ternyata cukup menyenangkan, Tampaknya, dia bukan hanya punya daya tarik fi-

ik saja, tetapi juga mempunyai banyak bahan pcmbicaraan rnenarik yang rnengasyikkan. Analisa politiknya boleh juga. Pendapatnya tentang masalah osial juga tajam. Dan caranya rnengemukakan pendapat, enak didengar.

Tetapi aku tak mau terlarut dalam situasi baru yang semula tak kusadari itu. Oleh sebab itu, be¬gitu makanan kami habis aku lekas-lekas rnengem¬balikan pembicaraan yang tertunda tadi,

"Sekarang kita lanjutkan pernbicaraan tentang

Tina yang tertunda tadi," kataku sambil melihat. arlojiku.

"Oke. Tetapi sebaiknya langsung saja katakan apa yang kauinginkan dariku," Gatot menjawab sambil meniru perbuatanku melihat arloji.

"Sederhana saja. Aku ingin supaya kau yang le¬bih dewasa dati dia, mulai memikirkan segala se¬suatu yang ada di antara kalian berdua dengan pi¬kiran yang lebih jernih dan obyektif."

"Konkretnya ?"

"Konkretnya, kalau benar kalian berdua akan menjalin suatu hubungan serius yang mengarah pada perkawinan, pertimbangkanlah balk dan bu¬ruknya secara sungguh-sungguh. Camkanlah keem¬pat keberatan yang kukemukakan tadi!"

"Seperti yang kukatakan tadi kekhawatiranmu itu terlalu berlebihan, Ambar. Aku dan Tina saja belurn berbicara tentang mas a depan seperti apa yang akan kami jalani. Tetapi asal kau tabu saja bahwa aku cukup kenal Tina dengan semangat belajarnya yang tinggi itu. Dan karenanya aku tidak pernah memintanya untuk menghentikan studi¬nya."

"Mudah-rnudahan perkataanmu bisa kupegang.

Tetapi bagaimana mengenai rencana pernikahan? Benarkah dugaanku bahwa mengingat usiamu maka perkawinan merupakan tujuan hubungan cintarnu dengan Tina atau entah dengan siapa pun?"

"Benar. Aku sudah ingin mengakhiri masa la¬jangku. Jadi kalau Tina sudah siap untuk itu, esok atau lusa tak jadi rna alah bagiku. Pokoknya, me-

nikah!" Sambil berkata seperti itu Gatot menatap tajam mataku.

"Menurutmu tak jadi rnasalah. Tetapi menurutku, itu masalah."

"Kenapa kau bilang begitu?"

"Kok bertanya kenapa? Kan sudah kukatakan tadi, sedikitnya ada empat keberatanku. Bahkan akan kutambah lagi. Yaitu, karena kau tidak melihat pernikahan itu dati sisi kebutuhan Tina. Dia itu masih muda belia, Ia belum puas menikmati masa¬mas a remaja yang datangnya cuma sebentar dalam kehidnpan seorang manusia!" aku menjawab ketus, Kedarnaian dan keasyikan rnengobrol saat karni sedang makan tadi, luruh seketika.

"Ambar, aku tidak akan mengurangi keceriaan masa remajanya. Ia boleh melakukan apa saja yang disenanginya sebagai seorang remaja. Jangan menilaiku sebagai laki-laki yang egois. "

"Itu kan bicaramu sekarang. Esok kalau dia su¬dab jadi istrimu dan laiu mengandung, pasti akan lain lagi bicararnu!"

'Gatot rnenatapku lagi dengan tatapan tajam. "Sebenarnya apa sih yang kauinginkan dariku?" tanyanya kemudian dengan suara mendesak, "Ja¬wab1ah!"

"Aduh, kan sudah beberapa kali kusinggung tadi, bahwa aku merasa keberatan atas hubungan kalian berdua. Dan kenapa demikian, ada lima ala an yang sudah kaudengar secara panjang-Iebar tadi. Apakah itu kurang jelas?"

"Itu demi Tina, kan?"

"Tentu saja demi Tina. Memangnya apa urusanku denganmu?" Ah, alangkah tajamnya lidahku. Untuk membela adik tersayangku, aku sampai tidak meme¬dulikan sopan santun lagi.

"Tetapi yang terus kauserang itu cuma aku, dan kau seperti mengabaikan Tina dalam hubungan kami. Seolah pula Tina jatuh cinta kepadaku itu karena kesalahanku. Rasa-rasanya kau memang su¬dah agak berlebihan dalam hal ini, Ambar. Jangan¬jangan dugaan yang melintas di kepalaku ini benar."

"Dugaan apa?" Aku melotot, sadar Gatot akan ganti menyerangku. Entah apa pun bentuk serang¬annya itu.

"Aku meJihat suatu celah yang berkaitan dengan kepentingan dirimu." Benar, Gatot mulai membalas perkataan-perkataanku yang sejak tadi memang me¬mojokkan dirinya itu.

"Jangan mengada-ada!"

"lui bukan rnengada-ada. Tetapi aku melihat hal itu berdasarkan pengaJaman hidup dan pengamatan¬ku selama ini," sahut Gatot dengan suara yang pe¬nuh keyakinan diri. "Nab, bukankah kau takut di¬dahului kawin oleh adik bung umu yang selama ini kauperlakukan seperti anak kecil yang manja dan yang kauanggap masih perlu perlindunganmu? Jika ia mcndahuluimu mcnikah, kau jadi seperti diingatkan bahwa umurmu terus merayap tetapi belum juga menemukan jodoh yang ... "

"Cukup, Gatot!" bentakku. Dan kaget sendiri ketika ku adari ada beberapa kepala yang menoleh ke arah kami. Cepat-cepat kupelankan suaraku dan

kulanjutkan bicaraku. "Kau benar-benar tukang me¬ngarang isapan jempol yang tak bermutu. Pikiranmu tidak lurus."

"Lho, kok marah?" Gatot menyeringai, membuat¬ku merasa sebal sekali. Tarnpaknya dia merasa ya¬kin sekali pada penilaiannya itu. Tentu saja aku marah. Selintas pun aku tidak mempunyai pikiran seperti itu.

"Siapa yang tidak marah mendengar penilaian yang sarna sekali ngawur itu!" semburku jengkel. 'Aku tidak serendah itu. Soal jodoh ada di tangan Tuhan. Siapa saja yang sudah siap menikah lebih dulu di antara kami bertiga, bukan masalah bagiku. Aku tidak keberatan dilangkahi adik-adikku.'

"Kalau begitu biarkanlah aku dan Tina melan¬jutkan hubungan karni. Dan ... restuilah itul"

Aku tersenyum pahit, Kemudian kuraih tasku dan kudorong tempat dudukku. Suc1ah saatnya karni kembali ke kantor masing-masing.

"Merestui hubungan kaJian adalah sesuatu yang masih teramat jauh bagiku," gumamku sambil ber¬diri. "Sebab aku masih hams melihat lebih dulu perkembangannya. Dan terus terang, aku tak yakin pada tekadmu itu!"

'Terserahlah apa penilaianrnu tentang diriku."

Gatot menyusul berdiri. "Tetapi ingat, apa pun ke¬beratanmu dan apa pun yang akan kaulakukan un¬uk menghambat hubunganku dengan Tina, aku akan melawanmu!"

'Keluargaku berada di pihakku, Gatot," desisku, 'Aku tidak endirian."

"Kau yakin?" Ada sinar penentangan di dalarn. matanya. Bahkan aku menangkap besarnya rasa percaya diri di dalamnya. Mungkin, itu karena dia tidak melihat keberatan yang diperlihatkan kedua orangtuaku maupun Didik atas hubungannya de-

ngan Tina. .

"Aku yakin sekali," sahutku. Padahal di dalam hati, aku meragukannya. Sepanjang ingatanku, kedua orangtuaku memang sangat baik terhadap-

nya. _ .

"Oke, kita lihat saja nanti. Keyakinanmu yang benar ataukah keyakinanku yang jadi kenyataan!" Gatot berkata lagi.

Ak:u tidak mau menjawab perkataannya. Ketika melihat Gatot mengeluarkan dompet, kualihkan pi¬kiranku dengan cepat-cepat mengeluarkan uang dari tasku. Aku tidak ingin dibayari olehnya.

"Biarkan aku yang membayar," kataku menyela.

"Akulah yang mengajakmu makan siang."

"Tidak. Akulah yang membayar!" Gatot berkata dengan suara tegas yang sulit dibantah. Apalagi ada nada perintah di dalam suaranya itu. "Seorang caion adik ipar harus menunjukkan rasa hormat dan penghargaan kepada calon kakak iparnya. J adi, akulah yang rnentraktirmul"

"Gomball" tanpa sadar aku mengumpat. Ter¬nyata, di balik daya tarik dan kegantengannya, Gator juga seorang lelaki keras kepala dan men¬jengkelkan.

Sengitnya lagi, laki-Iaki itu seperti mengan~g~p umpatanku itu sebagai angin lalu. Dengan gesit ia

memanggil pelayan dan langsung rnenyerahkan sej umlah uang.

"Iolong dibitung ya, Dik," katanya kepada orang itu.

Kalau saja di tempat itu tidak ada orang lain, sudah pasti aku akan merebut uang itu dan me¬masukkannya ke dalam saku kemejanya. Aku tak sudi ditraktir olehnya. Lebih-lebih alasannya ada¬lab karena aku calon kakak iparnya. Sungguh gombal dia. Siapa yang sudi menjadi kakak ipar¬nya?

Di sepanjang perjalanan pulang ke kantorku, aku memilih diam. Rasa tak puas memenuhi hatiku. Perjumpaanku dengan lelaki yang sedang duduk di

ampingku itu sia-sia saja. Sudah berbusa-busa rnulutku, Gatot tetap saja menganggapku sebagai calon kakak iparnya. Dia mulai menang di atas angin sementara aku tidak mernpunyai senjata lain yang dapat mengalahkannya. Bahkan laki-laki itu menganggap kekhawatiranku atas hubungannya de¬ngan Tina itu karena aku takut dilangkahi adikku. Kurang ajar betul dia.

Memang benar, ada kepercayaan yang mengata¬kan bahwa seorang gadis akan jadi berat jodohnya kalau acliknya menikah Iebih dulu, Tetapi aku ti¬dak mempercayai hal-hal semacam itu. Dan ka¬laupun percaya, aku toh tidak akan menikah. Seti¬daknya sampai detik ini. Maka entah Didik entah Tina yang akan lebih dulu rnenikah, bagiku tidak masalah. Sebab yang kupennasalahkan adalah usia Tina yang masih terlalu muda untuk merencanakan

pernikahan. Apalagi menikah dengan laki-laki yang jauh lebih tua.

Melihatku diam saja, Gatot menanggapinya de¬ngan sikap serupa. Dia juga membisu di sepanjang perjalanan. Tak ada lagi yang dikatakannya. Tetapi sebelum menurunkan aku kembali di halaman kan¬torku, tiba-tiba ia mengucapkan sesuatu yang cukup mengganggu perasaanku.

"Terima kasih atas ajakanmu untuk berbincang¬bincang tadi," katanya.

"Aku yang perlu, jadi kau tak perlu berterima kasih kepadaku!' kujawab dengan sikap kaku. "Lagi pula yang membayar makanan tadi bukan aku!'

"Tetapi kau tadi telah' memberi kesempatan emas

padaku," kata .Gatot lagi. .

"Kesempatan emas apa?" Kukerutkan dahiku. "Makan siang bersama seorang gadis matang yang sangat cantik, menarik, dan yang rasa-rasanya kesempatan seperti itu sulit didapat oleh lelaki mana pun. Sebab sepanjang aku mengenalmu, aku tak pernah melihatmu pergi dengan laki-laki."

Untuk sesaat lamanya aku tertegun, tak mampu berkata apa pun. Scjak putus dari Bram, memang talc pernah sekali pun aku pergi keluar dengan laki-laki. Apalagi pergi bcrduaan. Dan baru seka¬rang irulah aku melakukannya lagi meski ada ala '¬annya. Tetapi tentu saja ucapan Gatot tadi tak

perlu kutanggapi. .

"Kau terlalu berlebihan," aku menggerutu. "Tidak. Aku mengatakan yang sesungguhnya.

Terns terang, aku merasa tersanjung pergi bersama¬mu." Gatot tersenyum manis, semanis madu. "Dan terus terang pula aku tadi sempat melirik ke sekitar ruang rurnah makan. Temyata, cukup banyak mata pengunjung yang berulang kali rnenatap ke arah kita. Mungkin kautidak menyadarinya, tetapi perlu kukatakan padarnu bahwa hari ini kau tampak sa¬ngat luar biasa dengan gaun kuning gading yang kaukenakan itu. Kulitmu yang kuning langsat sema¬kin menonjol dan tampak halus mulus.Pepatah kuno mengatakan, lalat pun akan tergelincir kalau hinggap di lengan atau di pipimu."

"Kau ... kau gombal I" aku tergagap, tak mengira akan mendengar perkataannya itu. Belum pernah aku dipuji terang-terangan oleh lelaki mana pun seperti ini. Bram saja tak. pernah memujiku derni¬kian.

"Lho apanya yang gombal, Ambar?" Gatot me¬natapku dengan pandangan bersungguh-sungguh. "Aku mengatakan yang sebenarnya dan itu sama sekali bukan rayuan gombal!"

"Kau mernang seorang perayu lihai!" Masih saja aku tergagap, "Sekarang aku tak lagi terlalu heran kenapa gadis sehijau Tina bisa tergila-gila padamu. Untung saja aku bukan Tina yang masih ingusan!"

Usai berkata seperti itu lekas-lekas aku turun dari mobilnya dan pintunya kubanting. Kemudian, ter¬birit-birit aku meninggalkannya. Namun, telingaku masih sempat menangkap suara tawanya yang lem¬but, yang begitu menggoda di belakangku. Sialanl

Sejujurnya, perasaanku jadi terganggu oleh cara dan lsi bicaranya, bahkan juga oleh tatapan mata¬nya yang tajam menghunjamku. Aku betul-betul ingin marah karenanya. Laki-laki itu benar-benar telah membuatku kehilangan rasa damai dan kete¬nangan batin. Lelaki itu juga telah membuat jan¬tungku bergoyang dengan cara-caranya rnemperla¬kukan diriku. Padahal yang seperti itu tak pemah terjadi sebelumnya. Ketika di awal-awal hubungan¬ku dengan Bram bertahun-tahun yang lalu, pera¬saanku tak pemah terganggu seperti ini. Bayangkan saja, berbagai macam perasaancampur aduk di hatiku. Marah, jengkel, gemas, mendongkol, serba salah, dan bahkan juga ada perasaan senang dipuji sedemikian itu. Ya, perasaan senang. Rupanya, aku benar-benar sudah gila.

Namun apa pun itu, setelah peristiwa siang tadi niatku untuk melepaskan Tina dan daya tarik Gatot jadi semakin kuat. Laki-Jaki itu memang memiliki daya takluk yang bisa membuat gadis-gadis yang masih hijau rna uk ke dalarn pesonanya. Apalagi Tina rnernang sudah tergila-gila padanya. Akal e¬hatnya pasti tak mampu berfungsi dengan baik. Maka sebagai kakaknya dan orang yang masih mampu berpikir lcbih panjang, aku harus segera menyelarnatkannya. Sernakin cepat akan sernakin baik.

Mernang, aku sadar itu tidak mudah. Saat ini Tina edang hanyut-hanyutnya ke dalam pusaran cinta dan mabuk kepayang karenanya. Memintanya untuk menjauhi Gatot sarna saja dengan menyuruhnya lari .ke dalam pelukan Iaki-laki itu. Aku kenal tabiat adikku itu. Semakin dilarang, semakin ter¬goda dia untuk melanggarnya. Jadi. aku harus ber¬tindak hati-hati, Dan harus pula ada seseorang yang membantuku. Ibuku tak bisa diharapkan. Bu¬kan saj a karena beliau terlalu lemah terhadap anak bungsunya itu, tetapi juga karena dia sendiri pun terpukau oleh daya tarik Gatot yang memang mam¬pu mengambil hati siapa pun di rumah kami. Aku tabu betul, ada saja yang dilakukan oleh Gatot un¬tuk menyenangkan hati Ibu. Entah itu didasari oleh ketulusan hatinya atau entah ada maksud¬maksud lainnya, yang jelas Ibu merasa senang di¬perlakukan demikian. Dan memang, ibu mana yang tidak ingin mempunyai cal on menantu yang selalu mengistimewakannya, bukan?

Karena merasa tak mungkin mendapat bala ban¬tuan dari Ibu, aku lari kepada Bapak. Terutama karena belakangan ini aku semakin kesal saja ter¬hadap Gatot. Bahkan pemah kepalaku seperti mau meledak saja rasanya melihat gayanya yang kunilai kurang ajar itu. Sejak ia merasa sebagai calon

uami Tina, kelakuannya di rumah kami tampak emakin menyebalkan. Seolah-olah, dia sudah men¬jadi bagian di dalam keluarga kami. Keluar dan masuk rumah kami seenaknya sendiri. Tidak jarang terjadi tiba-tiba saja dia sudah ada di ruang tengah atau di ruang tamu. Dan bahkan juga muncul di ruang makan.

Yang membuatku sernakin seperti cacing kepa¬na an adalah tak: seorang pun di keluargaku yang

merasa keberatan atas kelakuan Gatot yang sebebas itu. Padahal kalau aku melihatnya muneul tiba-tiba di rumah. kami, ingin sekali aku langsung meng-

, usimya. Apalagi kalau Ibu lalu mengajaknya makan bersama, seperti ketika Ibu membeli pepes ikan emas. yang durinya empuk . dan rasanya enak itu. Melihat Gatot ikut makan, aku merasa tak rela. Rasa-rasanya, kepala Gatot semakin besar saja di mataku.

Sore itu ketika di rumah hanya aku sendiri se¬mentara Bik Imas pun sedang belanja ke pasar, lagi-lagi Gatot muncul dengan tiba-tiba di rumah kami. Tahu-tahu saja dia sudah .ada di dapur tern-

. pat aku sedang membuat jus wortel yang kueampur dengan apel. Konon kata orang, kedua bahan ma¬kanan itu bagus untuk kesehatan badan dan juga untuk kulit

"Hai," begitu lelaki itu menyapaku, hampir di sisi telingaku.

Aku tersentak kaget, tidak menyangka ada orang di dekatku. Pasti dia masuk Iewat pintu samping, sebab pintu depan kututup dan kukunci,

"Hrnm ... ," aku bergumam dengan sikap acuh tak acuh.

"Sedang apa?" dia bertanya Iagi tanpa merneduli¬kan sikapku yang dingin.

Aku meliriknya. Ah, bukan main gantengnya dia sore ini. Ia memakai eel ana jins abu-abu dan kaus merah yang barangkali terlalu terang warna¬nya, tetapi ternyata begitu pantas dikenakan oleh¬nya.

82

"Kaupikir aku sedang apa?" jawabku ketus. Lalu kulanjutkan pekerjaanku tanpa memedulikan keber¬adaannya. Takut terpukau oIeh pesonanya.

''Wah, di manakah keramahtamahanmu, Ambar?"

Sambil menegur begitu Gatot meraih sebuah gelas dan menyorongkannya di dekatku. "Minta jusnya sedikit saja. Aku juga ingin sehat!"

Mendengar permintaannya, kukertakkan geraham¬ku. Lelaki itu benar-benar mampu membuat orang menjadi gila karen a earanya mengganggu. Dengan perasaan dongkol, kuhentikan pekerjaanku ..

"Jus ini hanya pas untukku!" aku menjawab pendek.

"Sedikit sajalah. Cuma ingin mencicipi seperti apa jus buatan tanganmu."

Aku melotot ke arahnya.

"Kau ke sini mao mencari Tina, kan?" aku mu¬laimenyemburkan rasa dongkolku. "Dia tidak ada di rumah. Datang saja nanti petang kalau kau su¬dah kangen padanya."

"Oh, tidak ada Tina tidak jadi masalah buatku."

Gatot menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak bisa memandang keindahan bunga lili toh aku bisa me¬natap bunga mawar merah yang bam mekar, mes¬kipun berduri."

"Kau mau mulai Iagi bcrgombal-gornbal di ha¬dapanku?" hardikku.

Gatot menyeringai, kemudian mencubit daguku ecara tak terduga.

"Kenapa sill kau selalu mernbuatku gemas, ma¬war cantik?" katanya dengan suara lembut. "Kalau

saja kau ini kekasihku, sudah habis kau kulumat- . lumat."

Ucapannya kujawab dengan sebuah tamparan yang mengarah ke pipinya. Tetapi meleset. Lelaki itu bergerak dengan -amat gesit untuk rnenghindari tanganku yang melayang ke arah wajabnya. Dan dengan gerakan segesit itu pula tanganku ditang¬kapnya tepat pada pergelanganku sehingga talc bisa bergerak lagi.

"Lepaskan!" aku membentaknya. "Kau... kau ... sungguh kurang ajar. Betul-betul aku sangat menye¬sal kenapa Tina hari ini pergi. Betapa bahagia aku seandainya dia bisa melihat seperti apa hebatnya laki-laki yang ia cintai itu. Bisa-bisanya dia ber¬sikap kurang aj ar terhadap kakak pcrempuan gadis yang katanya ia cintai."

"Begini saja kok kurang ajar." Gatot tersenyum¬senyum menatapku dengan mata nakal.

"Oh, dasar kau laki-laki yang sudah tidak tahu lagi mana yang baik dan mana yang buruk" aku menyembur lagi. "Nab, sekarang lepaskan tanganku. Jangan berlaku tidak sopan di rumah orang. Har¬gailah tuan dan nyonya rU;IDaQ di sini!"

"Baiklah .... " Gatot menganggukkan kepalanya dengan tubuh setengah mernbungkuk, seperti cara orang rnemberi hormat di panggung. Tetapi ta¬nganku tidak juga dilepaskannya.

"Lepaskan, Gatot!" aku mulai membentak lagi.

"Cepat!"

Gatot menjawab permintaanku dengan cara yang tak kusangka-sangka. Dia menarik tanganku ke

84

arab bibirnya, Dan kemudian sebelum aku sempat berpikir apa yang akan dilakukannya, tiba-tiba saja jemariku sudah dikecupinya dengan 'mesra semen¬tara matanya yang berkilauan menatapku tanpa

berkedip. .

Aku tersentak kaget. Kurasakan betapa bibirnya yang hangat itu mengecupi jemariku yang sebagian temoda oleh eipratan jus yang sedang kukerjakan. Bencinya aku, perbuatan laki-laki itu sempat mern¬buat jantungku berdebar-debar sehingga aku men¬jadi marah kepada diriku sendiri. Dengan perasaan panik sebelum jantungku lebih bertalu-talu Iagi, cepat-cepat kusentakkan tanganku kuat-kuat sehing¬ga akhirnya terlepas juga dati genggaman lelaki itu.

"Kau ... kau. .. benar-benar laki-laki hidung be¬lang!" bentakku dengan terengah-engah. "Sekarang, keluar kau dati ramah ini!"

"Oke... oke ... " Gatot mundur dati hadapanku.

Tetapi bibirnya masih tersenyum-senyum. "Aku akan pergi. Tetapi izinkanlab aku mengucapkan te¬rima kasih. Jus yang kucicipi dati tanganmu yang indah itu teras a jauh lebih manis, lebih nikrnat, daripada jus mana pun yang pemah aku minum. Sekali lagi, terima kasih."

"Keluar kau, bawa kata-kata gombalmu itu!" aku mulai berteriak, semakin panik. Panik karena

adar kemarahan yang kutumpahkan itu sebenarnya tertuju kepada diriku sendiri. Aku cema sekali kalau-kalau Gatot dapat merasakan perasaanku yang sebenarnya. Bahwa, aku sempat takjub diperlakukan semesra itu olehnya. "Keluar!"

"Oke, oke. Aku akan keluar .. .," Dengan gerak terbirit-birit yang sengaja ia perlihatkan kepadaku, Gatot meninggalkanku sendirian.

Kupejamkan mataku, merasa diriku kacau-balau dan frustrasi karen a hatiku mengkhianati diriku sendiri tadi. Kenapa lelaki kurang ajar yang tak tabu malu itu marnpu membuat dadaku berguncang waktu bibirnya mengecupi jemari tanganku? Kena¬pa bukannya kemuakan atau rasa jijik yang muncul di sana?

Ya Tuhan, sudah gilakah aku sehingga tak lagi mampu melihat dan berpikir secara jernih, obyektif, dengan kepantasan yang seharusnya?

Ah, sial an kau, Gatot. AIm benar-benar bend padamu yang telah membuatku begini. http:ebukita.wordpress.comhttp:ebukita.wordpress.comEmpat http:ebukita.wordpress.comSUDAH sejak awal aku tidak menyetujui hubungan Tina dan Gatot. Dan kemudian semakin aku me¬ngenal Gatot, rasa tidak setuju itu semakin mening¬kat derajatnya. Selama ini berulang kali aku ingin merenggut Tina dati cengkeraman pesona laki-laki itu. Tetapi sekarang, perasaan tidak setuju, perasaan khawatir tatkala rnenyaksikan hubungan mereka yang semakin hari semakin akrab itu sudah men¬capai puncaknya. Sernenjak peristiwa yang kualami dengan Gatot di dapur beberapa hari yang lalu, hatiku menjadi amat gelisah dan takut kalau-kalau Tina menjadi lupa diri kemudian masuk perangkap laki-laki kurang ajar itu. Dia bukan orang baik¬baik. Dia kurang ajar dan kesetiaannya patut diper¬tan y aka 11. Bahkan menurut pendapatku, laki-laki itu juga patut diragukan kebagu an budi dan kesa¬daran moralnya. Bayangkan, terhadapku, kakak ke¬kasihnya, dia pun berani ber ikap kurang ajar dan menggoda. Rasanya kalau orang normal, eli mana pun eIi dunia ini tak ada scorang laki-laki baik yang berani menciumi jemari tangan eaton kakak iparnya dengan semesra itu.

Setelah beberapa bari lamanya aku berada dalam keadaan: bimbang, resah, dan tertekan, akhimya kuputuskan unuk mengadukan kelakuan Gatot itu kepada Bapak. Hanya kepada beliaulah aku meng¬barapkan bantuan untuk menginsafkan Tina dan membuka mata adikku itu bahwa laki-laki bemama Gatot itu bukan seorang calon suami yang baik dan cocok untuknya.

"Pak, ada sesuatu yang .saya ingin bicarakan de¬ngan Bapak," begitu kataku di suatu kesempatan berduaan dengan ayahku.

"Tentang?"

"Tentang Tina dan Gatot." Aku langsung menga¬takan apa yang selama ini kukhawatirkan. Dan akhirnya meskipun dengan perasaan malu, kuceri¬takan apa yang terjadi di dapur beberapa hari lalu. "Jadi Bapak harus melakukan sesuatu agar Tina tidak sampai jatuh ke tangan lelaki seperti itu, Hanya Bapak saja yang bisa kuharapkan. Ibu tak berhasil menginsatkan Tina, bahkan sepertinya me¬restui hubungan rnereka!"

Seperti yang sudah kuduga, setelah mendengar penuturanku, ayahku yang sangat memperhatikan dan menyayangi keluarga itu bangkit amarahnya.

"Apakah hal itu sudah kauceritakan kepada ibu¬mu?" tanyanya dengan alis bertaut dan wajah me¬rona merah menahan amarah.

"Belum, Pak. Sebab rasanya akan sia-sia saja.

Ibu begitu mempercayainya. Dan kelihatannya juga sudah berharap banyak pada laki-laki yang diang¬gapnya sebagai calon menantu paling hebat itu.

Ibu tidak melihat bahwa Gatot adalah serigala ber¬bulu domba!" aku menjawab sengit.

"Aneh sekali. Biasanya ibumu tidak seperti itu," gumam Bapak. "Ingatkah kau, Ambar, bagaimana sikap ibumu itu terhadap Bram di awal-awal hu¬bungan kalian beberapa tahun yang lalu?"

"Ya .... "

Apa yang dikatakan, oleh Bapak memang perlu kugarisbawahi. Dulu di awal-awal hubungan cintaku dengan Bram, Ibu sangat cermat mengikuti perkem¬bangan hubungan karni. Kalau Bram datang ke ru¬mah, Ibu sering kali menanyakan ini dan itu yang tujuannya adalah mengorek seluruh latar belakang pemuda itu. Perlu waktu cukup lama sampai Ibu bisa bersikap manis dan menaruh rasa percaya ke¬padanya.

Tetapi tidak demikian sikap Ibu terhadap Gatot.

Daya tarik laki-Iaki itu telah mempengaruhinya dan membuatnya kehilangan kewaspadaan. Sesuatu yang

ebenarnya bisa kumengerti, ebab sesungguhnya, kalau aku mau jujur, diriku pun tidak terlaLu berbeda jauh dengan Ibu. Tidak biasanya aku bisa kehi¬langan akal sehat. Sampai-sampai aku tidak tabu ba¬gaimana seharusnya menunjukkan kernarahanku atas perlakuan Gatot yang terang-terangan telah mele-

ebkan diriku itu. Padahal biasanya jangankan tangan laki-Iaki sampai bisa mengusap atau mencubit pipiku, baru mengucapkan kata-kata yang bersifat "miring¬miring" sedikit saja aku sudah memperlihatkan keti¬daksetujuanku. Baik dengan perkataan maupun de¬ngan sikap atau mimik muka yang pasti membuat seseorang yang bermaksud menggangguku akan mundur teratur. Dan sarna seperti ibuku, man atau tidak aku telah dipengaruhi pula oleh daya tariknya yang rnernang bisa dikatakan luar bias a itu. Sunggub, betapa berbahayanya lelaki seperti Gatot itu. Khu¬susnya bagi Tina. Ibuku yang sudah banyak rnakan asam garam kehidupan saja bisa kebilangan kewas¬padaannya. Terutama yang berkaitan dengan diriku rnaupun dengan Tina.

"Pak, justru karena sikap lunak Ibu-lah saya ce¬ritakan apa yang terjadi itu kepada Bapak dan bu¬kan kepada Ibu. Bapak barus segera turun tangan sebelum segalanya terlambat," kataku Jagi.

"Baik, Bapak akan segera rnenyelesaikan per¬soalan ini seeepatnya. Ibumu harus bisa bersikap tegas terhadap Gatot dan melindungi Tina dari hal-hal yang tidak kita inginkan," jawab Bapak, rnasih dengan suaranya yang mengandung amarah. "Kita . tidak usah merasa sungkan banya karena Gatot bertetangga baik dengan keluarga kita!"

"Betul, Pak. Bapak harus bisa menginsafkan Tina dan mernbuka mata Ibu!" kusarnbut jan:ji Ba¬pak dengan penuh harapan.

"Ya. Untuk tahap permulaan, Bapak akan bicara lebih dulu dengan ibumu, lalu dengan Tina. Sesu¬dah itu barn dengan Gatot," kata ayahku lagi. "Tetapi ini memang bukan sesuatu yang mudah, karen a selarna ini Bapak pun terkeeoh oleh pe¬nampilan Gatot. Bapak benar-bcnar tidak menyang¬ka bahwa laki-laki itu rnempunyai watak buruk se¬perti yang kaututurkan tadi!"

"Yah, itulah bukti bagaimana jenis manusia se¬maeam ini merupakan makhluk yang paling sulit dimengerti karena penuh dengan kepura-puraan dan kemunafikan!"

"Betul. Berbulan-bulan lamanya Bapak dan Gatot bergauJ dengan baik, mengobrol berjam-jam lama¬nya daJarn suasana yang enak dan akrab pula. Se¬jujurnya, selain rnerasa coeok dengannya, Bapak juga menyukainya. Pengetahuannya luas. Biearanya menyenangkan. Dan sepengetahuan Bapak selama ini, sifatnya juga baik. Kalau bukan kau yang rneneeritakan len tang peristiwa di dapur itu, pasti Bapak tidak akan mempercayainya. Itu benar-henar di luar pengenalan Bapak atas dirinya selama

ini .... "

"Itulah yang saya katakan tadi bahwa dia itu eperti serigala berbulu domba, Pak. Jadi Bapak harus segera bertindak untuk menyelarnatkan Tina!"

"Ya, baiklah."

Percakapanku dengan Bapak bari itu memberi rasa lega dalam hatiku. Aku kenal betul cara ber¬pikir Bapak. Aku banyak menuruni sifat dan alam pikirannya. Jadi aku juga yakin, Bapak akan me¬nyeJesaikan masalah itu dengan caranya yang seJalu pas ebagaimana biasanya kalau beliau menangani

uatu persoalan. Mudah-rnudahan saja Ibu bisa lc¬bih terbuka pikirannya dan mudah-mudahan pula Tina tidak lagi terjerat cinta buta, cinta yang me¬nutupi segala sesuatu yang seharusnya patut dilihat dan diperhatikannya.

Harapan besar itu membuatku agak terIena selama beberapa saat lamanya.P,fkiranku tidak lagi banyak tersita oleh hal-hal yang menyangkut diri Gatot dan Tina. Dengan demikian, akn dapat be¬kerja dengan Iebih tenang di kantor, dan membiar¬kan kesibukan yang menjadi tugasku sehari-hari menyerap tenaga dan pikiranku seperti semula se¬belum peristiwa gonjang-ganjing hatiku itu terjadi.

Namun sesudab satu minggu berlalu dan tidak ada• tanda-tanda perubahan apa pun dalam kehi¬dupan kami sehari-hari, pikiranku mulai lagi tertuju kepada Tina dan kekasihnya yang kurang ajar itu. Sebab hampir setiap petang aku rnelihat mereka berdua duduk dengan manis dan mesra di teras depan atau di depan televisi, seolah Gatot sudab menjadi bagian keluarga kami. Sering kali aku ha¬rus menahan perasaanku kuat-kuat agar tidak me¬nuding hidungnya dan mengusir dia dari rumah ini. Dan sering kali pula aku harus menahan did mati-marian agar tidak memperlihat-kan rasa muak dan kebencianku terhadap laki-laki itu.

Ah, apakah Bapak. belum sempat mengatakan apa yang kami bicarakan minggu lalu itu kepada Ibu dan Tina? Kalau sudah, mengapa sikap Ibu kepada Gatot tetap saja sehangat semul~? Muak sekali aku melihat bagaimana Ibu dengan manisnya mengeluarkan apa saja yang ada di atas meja sudut ruang makan, tern¬pal beberapa stoples berisi rnakanan kecil ditempat¬lean. Rasanya aku tidak. rela melihat Gatot mengarnbil penganan atau kue-kue kesayanganku itu. Bahkan juga aku sempat memergoki sikap Bapak yang rna¬sib saja akrab terhadap laki-laki itu, seolah aku tak pemah menceritakan apa pun mengenai kelakuannya terhadapku, putri kesayangannya ini. Atau apakah jangan-jangan Bapak tidak mempercayai, apa yang kukatakan itu?

Pada suatu malam ketika dari kamarku aku mendengar Bapak mengizinkan Tina pergi jalan¬jalan lagi bersama Gatot, aku tak mampu menahan diriku lebih lama lagi. Aku juga tak bisa lagi membiarkan dadaku bergejolak oleh api amarah dan berdiam diri di batik kaca jendela kamarku, menyaksikan kepergian mereka. Rasanya aku seperti melihat Gatot membawa pergi Tina ke tepi jurang yang berbabaya sementara kulihat pula Bapak dan Ibu malah membiarkannya.

Maka begitu melihat jip putih itu menghilang dari pandangan mata, aku langsung keluar menemui

Bapak. .

"Bapak sudah berbicara dengan Ibu?' tanyaku kepadanya.

"Ya, sudah."

"Dan kenapa Bapak dan Ibu masih saja mem¬biarkan Tina dibawa pergi oleh serigala berbulu

domba itu?" .

Bapak menatapku beberapa saat lamanya. Air mukanya tampak tenang dan menyejukkan. Matanya ber orot lembut, seolah hendak memintaku bersikap abar dan penuh pengertian, Tentu saja, aku merasa jengkel karenanya,

) Kenapa begitu, Pak?" aku bertanya lagi dengan pera aan tak sabar.

"Karena ternyata penilaianmu dan juga penilaian

Bapak ketika barn mendengar ceritamu ten tang peristiwa di dapur itu, terlalu subyektif dan agak berlebihan. Kurang melihat sisi lain yang juga perlu diperhitungkan," sahut Bapak kemudian.

Aku tertegun. Mulutku nyaris temganga, 'tidak menyangka akan mendengar jawaban seperti itu dari mulut laki-laki yang paling kuhormati karena kearifannya yang dalam itu.

"Apa, Pak? Penilaian kita bersifat subyektif?" akhirnya aku mampu bersuara lagi. Namun sulit bagiku menyembunyikan nada kecewa yang ada dalam suaraku. "Ataukab Bapak tidak mempercayai cerita saya waktu itu?"

"Bapak mempercayai ceritamu itu, Nduk." Se¬raya tersenyum lembut, Bapak menepuk pundakku. "Tetapi harus kita akui babwa emosi sering kali menyebabkan kita tidak bisa bersikap obyektif Jadi, terus terang saja Bapak meragukan penilaian¬mu terhadap Gatot. Apalagi karen a Bapak sendiri sudah berbicara empat mata dengannya sewaktu ibumu tidak menyetujui saran Bapak agar men¬jauhkan Tina dari pemuda itu. Lebih dari satu jam lamanya Bapak berbincang-bincang dengannya."

"Di mana? Saya kok tidak tahu!" . "Di rumahnya."

"Dan ... ?" Bapak pasti tahu apa yang tersirat dari satu suku kata yang kulontarkan dengan pan¬dangan bertanya itu.

"Waktu itu Bapak langsung menegur kelakuannya yang tak pantas terhadapmu. Kemudian Bapak juga mengatakan bahwa sebaiknya ia mundur saja

dari keinginannya untuk menjadikan Tina sebagai kekasihnya dengan pelbagai rnacam alasan yang masuk akal. Antara lain masalah perbedaan usia mereka yang cukup besar. Dan lebih dari itu ada¬lab karena perbuatannya terhadapmu yang tak pan¬tas dilakukan oleh seorang Ielaki baik-baik."

"Lalu apa katanya?"

"Yah, dia lalu memberi banyak alasan yang cu¬kup masuk aka! dan bisa Bapak terima ... " Perkataan Bapak terhenti karen a kusela.

"Tetapi, Pale .. "

Ingin sekali aku rnernuntahkan rasa tak puas dan frustrasiku. Tak bisa kumengerti kenapa Ba¬pak bisa berkata seperti itu seolah Gatot cuma melakukan kesalahan kecil yang tak berarti. Pada¬hal dia telah melanggar prinsip hidupku, Seka¬rang, mengertilah aku kenapa sampai saat ini Iaki¬laki itu masih saja bebas berkeliaran di rumab kamL

Tetapi sebelum rasa tak pua itu kumuntahkan, Bapak ganti memo tong perkataanku dengan mele¬takkan jari telunjuknya pada bibirku sarnbil terse¬nyurn menyabarkan.

"Iunggu dulu," katanya kemudian. "Bapak belum elesai berbicara."

"Baiklah, lanjutkan, Pak," sahutku dengan pe¬rasaan apa boleh buat. Bukankah aku ingin tahu eluruh kejadiannya? Kalau Bapak tak kuberi kesempatan, bagaimana mungkin aku dapat rnenge¬tahui apa hasil pembicaraannya dengan Gatot?

"Pokoknya waktu itu Bapak terang-terangan mengatakan padanya tentang semua keberatan kita terhadap hubungannya dengan Tina," Bapak me¬lanjutkan. "Alasan yang Bapak paparkan juga kuat, jelas dan masuk akal. Bukan mengada-ada. Tetapi sesudah berbicara panjang-lebar dari bati ke hati, akhirnya Bapak mengetahui bahwa kekbawatiran dan penilaian negatif kita terhadapnya itu agak berlebihan. Dia tidaklah seburuk apa yang kelihatan di permukaan. Lagi pula ... "

"Apa maksud Bapak dengan mengatakan bahwa penilaian kita itu agak berlebihan?" aku memotong lagi perkataan Bapak. Tak tahan hatiku hanya te¬tap diam mendengarkan sesuatu yang berlawanan dengan keyakinanku itu.

"Setelah mendengarkan alasan-alasan yang di¬kernukakannya, yaitu mengenai perasaan-perasaan¬nya, reneana hidupnya, dan juga penuturan-penu¬turan, serta hal-hal lain yang berkaitan dengan dirinya, Bapak mulai melihat sisi lain dirinya."

"Apa misalnya? Apakah itu dari hatinya yang terdalam?" aku bertanya dengan sengit. "Bapak ja¬ngan mempereayainya begitu saja."

Mendengar kata-kataku, Bapak tersenyum penuh pengertian.

"Bapak mengerti perasaanrnu, Ambar. Tetapi Ba¬pak juga memaharni ilia setelah kami bicara tentang bermacam hal mengenai dirinya," katanya kemu¬dian. "Mernang, dia itu sembrono. Dan itu diakui¬nya. Keinginannya untuk menjalin keakraban dan rasa persaudaraan dengan kita itu kurang pas cara¬nya. Bahkan agak berIebihan dan bisa menimbulkan

salah tafsir atau kekeliruan pengertian bagi orang yang diakrabinya. Maka rnelalui Bapak, dia menga¬takan penyesalannya telah membuarmu merasa ter¬singgung. Katanya, dia tidak bermaksud kurang ajar. Dia hanya ingin berakrab-akrab denganmu sebagai seseorang yang diharapkannya menjadi ca¬Ion kakak iparnya. Meskipun kau lebih muda empat tahun lebih, tetapi dia ingin menjadikanmu sebagai seorang kakak yang akrab dengannya. Dan apa yang terjadi di dapur itu hanyalah salah satu cara dia memperlihatkan keakrabannya."

"Dan Bapak mempercayainya?" aku mernotong lagi. Kali ini dengan suara meninggi dan dengan amarah yang mulai menggurnpal di dada.

"Setidaknya, Bapak mempercayai ketulusan ha¬tinya. Kedua belah matanya seperti jendela yang bisa Bapak singkap untuk menjcnguk isi dadanya. Bapak menangkap kejujuran dalam dirinya. Dia n:emang tidak bermaksud kurang ajar terhadapmu. Sikap akrab seperti .yang diperlihatkannya kepada¬mu itu belum pernah sekali pun ditujukan kepada orang lain. Dia hanya rnau menunjukkan ra a peraudaraan denganmu karena kau kakak kandung Tina. Itu saja.

"Tetapi pak apa yang dilakukannya sungguh kurang aJar!".

"Memang caranya memperlihatkan keakraban itu rurang pas, Nduk. Dia juga mengakui itu. Bahkan dia juga berjanji untuk tidak mengulanginya lagi,"

ahut Bapak. "Katanya, tidak ada mak ud lain ke¬uali ingin akrab denganmu. Sebab di rumah ini hanya kau saja yang tidak pernah menunjukkan si¬kap manis terhadapnya. Percayalah."

Aku terdiam. Kutatap wajah Bapak dengan se¬luruh kecermatan mataku. Kalau aku tidak men¬dengar sendiri perkataan Bapak, pasti aku tidak akan percaya Bapak bisa berkata seperti itu tentang Iaki-laki yang pernah kurang ajar kepadaku.

"Sudahlah, Sayang, jangan memperbesar masa¬lab." Bapak rnenepuk lagi bahuku dengan lembut dan penuh kasih. "Ya?"

Aku diam saja. Air muka Bapak begitu tenang.

Begitu santai. Bahkan sikapnya menunjukkan keyakinan pada apa yang telah dikatakan kepadaku tadi. Aku benar-benar takjub bahwa ternyata ayahku yang biasanya selalu teliti, cermat, dan hati-hati dalam banyak hal bisa semudah itu terkecoh oleh Gatot. Bahkan Bapak juga tidak bisa menangkap bahwa alasan-alasan yang dikemukakan oleh laki¬laki itu cuma gornbal belaka. Mana ada sih ingin menjalin keakraban dengan kakak kekasihnya kok dengan mencubit pipi, menowel dagu, memuji¬muji dengan cara khusus, dan menciumi jemarinya dengan sedemikian me fa. Meski pengalamanku berpacaran tidak banyak, aku masih bisa menang¬kap apa yang tersirat di mata Gatot di dapur wak¬tu itu. Bola matanya begitu berkilauan, mengandung entah itu kernesraan, entah pula godaan atau malah nafsu, tetapi jela sekali memperlihatkan kenakalan seorang lelaki yang banya ditujukan kepada perempuan. Sama sekali bukan keakraban yang bersifat persaudaraan.

Ya Tuhan, betapa besamya kekuatan daya tarik dan daya pikat Gatot, sampai-sampai ayahku yang padat pengalaman hidup itu bisa berubah pendapat dan mengganti kemarahannya dengan maaf dan penerimaan yang menurutku sudah melewati takaran yang semestinya.

Merasa kecewa berat atas kenyataan itu, aku tak sanggup berkata apa-apa lagi. Jadi kuputuskan untuk tidak memperpanjang masalah itu. Biarlah ayahku tak lagi berusaha melepaskan Tina dari Gatot dan biarlah pula ibuku membiarkan saja anak gadisnya yang cantik itu tergila-gila kepada seorang lelaki yang lebih pantas berpacaran dengan perempuan yang cukup gila, yang bisa tetap cuek bila suatu saat dikhianati demi perempuan idaman lain. Pokoknya, aku sebagai kakak tertua dan juga anak tertua dalam keluarga ini akan terus berjuang rnenyelamatkan Tina dengan kekuatan tangan dan kakiku endiri.

Hanya ayangnya, aku belum mempunyai kesempatan untuk berbicara berdua saja dengan Gatot Memintanya lagi untuk menemuiku seperti waktu itu, aku tak sudi. Pasti akan besar kepala dia, menganggap aku membutuhkannya dan merasa diri¬nya penting. Tidak, aku tak mau menernuinya de¬ngan cara itu. Kecuali tentu saja kalau itu meru¬pakan suatu kebetulan.

Untungnya, kesempatan yang kutunggu-tunggu itu datang juga tanpa aku harus memintanya untuk datang menjumpaiku seperti waktu itu. Sebab tiba¬tiba saja sore itu dia datang menrmuiku. Ketika itu jam kantor baru saja bubar, Rupanya dia sudah

lama menunggu di bawab dan duduk di ,dekat meja penerima tamu, karena tiba-tiba saja =. su¬dab berdiri di depanku begitu aku keluar dan lift.

"Hai," sapanya,

Karena aku turon bersama beberapa orang te¬manku dan mereka masih berada di dekatku, sapaan Gatot terpaksa kubalas.

"Hai." Tetapi suaraku terdengar dingin dan wa¬jahku sengaja kubuat kaku agar dia tabu aku ti~~ suka melihatnya. Bahkan kuangkat daguku sedikit dengan sikap angkuh yang kusengaja.

"Kau tidak membawa mobil, kan?"

Sialan. Tabu saja dia bahwa aku tidak membawa mobil dan juga tidak menumpang mobil salab se¬orang temanku. Memang sudah dua bulan ini mobil antar-jemput yang kusewa bersarna teman-~mank~ itu tidak kami lanjutkan lagi, Sebab senng kali pada sore bari, ada saja di. ant:rra kami yan~ tidak bisa ikut pulang. Ada saja di antara kami yang mempunyai acara lain setelab jam kantor. Atau terpaksa barns tinggal karena lembur. Dengan de¬mikian kami semua merasa rugi jika langganan mobil antar-jemput itu diteruskan. Kami hams membayar penuh tetapi pemakaiannya sering sepa¬ro-separo. Dan masih pula mengeluarkan ,uang ekstra buat taksi atau kendaraan umum lainnya untuk pulang ke rumah kembali.

"Aku tabu kau tidak naik mobil hari ini," ku¬dengar Gatot berkata lagi.

Aku meliriknya dengan perasaan jengkel yang tak kusembunyikan.

"Memangnya kalau aku tidak membawa mobil,' kenapa?"

Rupanya, dia juga tahu kalau belakangan ini aku sering membawa mobil orangtuaku. Mobil kami ada dua. Yang satu dipakai Bapak ke kantor dan yang lain milik bersama. Siapa pun boleh me¬makainya. Karena saat ini aku yang paling mem¬butuhkan, prioritas utama ada padaku. Dan sesuai dengan perjanjian, siapa yang paling banyak mema¬kai mobil, maka biaya perawatan harus dia yang menanggungnya. Terroasuk beli bensin. Kecuali Tina tentu saja, yang beluro mempunyai pengbasil¬an sendiri.

Hari ini mobil itu dipakai oleh Didik ke luar kota. Dia sudah bekerja sekarang. Dan kantomya menugaskan dia ke Bogor untuk suatu urusan. Pe¬muda itu memilih naik mobil pribadi daripada mobil kantor. Entab apa alasannya aku tak tabu. Yang jelas, hari ini aku pergi ke kantor dengan kendaraan uroum. Tetapi heran, dari mana Gatot mengetabui hal itu.

"Karena kebetulan aku tabu kau tidak membawa mobil, aku ingin mengajakmu pulang sama-sama," Gatot menjawab pertanyaanku tadi. "Bagaimana?"

"Aku tidak mau," sahutku ketus. "Di depan ana ada banyak angkutan umum yang bisa kutum¬pangi."

"Jangan jual mahal, Ambar." Gatot mengulurkan tangannya dan melingkari lenganku dengan telapak tangannya. "Untuk apa naik kendaraan umum kalau ada tetangga dekat yang bisa pulang bersama-sarna."

"Lepaskan tanganrnu!" aku mendesis pelan. Sungguh tidak enak kalau ada temanku yang memergoki kedekatan fisikku dengan lelaki segan¬teng Gatot. Sebab besok pasti akan ada saja perta¬nyaan danpandangan spekulasi yang ditujukan ke¬padaku. Dan itu bukan hal yang mengherankan karena selama ini di mana-mana aku dikenal se¬bagai gadis yang dingin dan tak ramah terhadap kaum laki-laki. Bahkan untuk berteman dekat saja pun aku tak mau.

"Tidak, aku tak akan melepaskan tanganku. Ke¬cuali, kalau kau mau ikut mobilku!" Gatot menja¬wab tegas, seolab rnengetahui kekhawatiranku atas kedekatan fisik kami. Dia mengancam tepat pada titik kelemahanku.

Semula aku ingin menolak ajakan Gatot dan se¬kaligus juga menghindari kedekatan fisikku dengan dia, tetapi tiba-tiba aku teringat kembali kepada ren¬canaku untuk bicara empat rnata lagi bersamanya. Bukankah selama beberapa rninggu ini keinginanku untuk berbicara dengannya tak pernah kcsampaian? Sekaranglah kesempatan itu. Dan ditawarkan oleh Gatot sendiri pula. Kenapa barus kuto1ak?

"Baiklah," sahutku cepat-cepat. "Sckarang, le¬paskan tangarunu itu. Aku tidak uka dinilai mu¬rahan oleh ternan-temanku."

Mendengar persetujuanku, Gatot segera melepas¬kan tangannya dari lenganku. Tetapi sambil meng¬ancarnku lagi.

"Awa , kalau kau tidak menepati janjimul" dia meniru caraku mendesis tadi. "Aku bukan saja akan mencengkeram lenganmu lagi, tetapi juga akan memeluk tubuhmu yang indah itu. Dan jangan pernah lagi menyebut sentuhan tanganku sebagai sesuatu yang murahan. Tangan ini tangan calon adik iparmu lho. Bukan tang an sembaranganl"

Aku melernparkan lirikan tajam yang mengan¬dung kemarahan yang tak terlampiaskan. Tetapi ilia membalas lirikan mataku itu dengan senyum kurang ajamya. Aduh, luar biasa menggemaskan dia. Sebarusnya kutampar atau kupukul. Sebab aku tabu betu1 dia sengaja mengungkit kemarahan¬ku karena tabu aku tidak mungkin melampiaskan¬nya di depan umum, Apalagi ada banyak ternan-

u di tempat itu.

"Hm, tidak bisa bicara apa pun, kan?" kudengar aki-laki itu berkata lagi. Masih dengan senyum kurang ajarnya yang menyebalkan itu. "Jadi ayolah edikit bersikap manis padaku. Ikuti aku sarnpai . e ternpat parkir."

Dengan bati dongkol aku terpaksa mengekor di elakang Gatot, menuju ke ternpat parkir, Tetapi ernudian kuhibur hatiku ketika sadar bahwa ke¬.nginanku untuk berbica:ra dengan laki-laki itu akhirnya terlaksana juga dengan cara yang tidak -nernbuatnya jadi besar kepala. Bukan aku yang 'l1emiutanya datang, kan?

Dengan pikiran itu aku bisa berjalan dengan 1e¬ih tenang di sampingnya ampai aku tertcgun ka¬na dia tidak membawaku pada jip pu tibny a, me¬inkan ke sebuah edan baru yang pintunya lang-

ung ia bukakan untukku.

"Silakan masuk," katanya dengan tubuh dibung¬kukkannya ke arahku. Aku tahu, dia masih ingin mengungkit kemarahanku.

"Mobil siapa?" tanyaku. "Jangan macam-macam terhadapku !"

"lni mobilku. Jipku sudab kujual. Hasilnya, di¬tambah tabunganku, kubelikan mobil ini. Tak percu¬rna aku mengumpulkan sen demi sen setiap bulannya. Nab, silakan masuk ke mobil baruku ini!" Dengan suara mengandung rasa bangga, dia membungkuk¬kan tububnya lagi tepat di bawah hidungku.

Dengan menahan perasaan sebal dan dongkol, agar tidak membuat Gatot merasa menang karena berhasil mengungkit kemarahanku,• aku langsung rnasuk ke mobil barunya. Aroma wewangian yang diletakkan di bagian dcpan rnasih kalah oleh bau antikarat mobil. Mobil ini memang benar-benar masih gres.

Gatot menyusulku naik sesudah menutup pintu di sisi kiri tubuhku. Dari tubuhnya aku mulai mencium aroma wewangian maskulin kesukaannya. Semestinya, aroma campur ad uk di dalarn mobil itu membuatku mual. Tetapi tidak. Entahlah, ba¬rangkali saja aku memang sudah gila sekarang ini.

- Sebab temyata aku senang menghirup aroma segar semacam itu.

"Hei, kau tidak tanya kapan aku membeli mobil ini?" tanya Gatot begitu mobi1nya bergerak me-• ninggalkan balaman kantorku, Sekali lagi aku me¬nyaksikan kernbali gerakan-gerakan tangan deogan gaya yang enak dipandang sewaktu laki-laki itu si-

104

buk dengan kemudi dan persneling. Ah, kenapa masih saja aku memperhatikan hal-hal sernacam itu pada did Gatot, padahal jelas-jelas lelaki itu

sangat kurang ajar terhadapku. .

Mendengar perkataannya itu, kubuang pandang¬anku ke luar jendela. Lebih balk aku melihat pe¬mandangan lalu 1intas petang yang sedang padat¬padatnya itu daripada menyaksikan gaya Gatot yang meraih perhatianku itu. Aku tak ingin terpi¬kat olehnya.

"Kok malah mengalihkan pandanganmu ?" Gatot berkata lagi. "Tidak ingin tahukah kau kapan aku membeli mobil ini?"

"Tidak, Untuk apa?" Aku mendengus.

"Tidak bisakah kau memberi rasa senaog sedikit saja untuk orang lain?" Gatot menggerutu kesal. "Padahal aku iogin membanggakan padamu bahwa mobil ini baru kubeli kemarin. Mobil ini memang bukan tennasuk mobil mewah, tetapi ini kubeli deogan basil keringatku sendiri, selagi aku masih belum punya keluarga yang harus kubiayai. Nab, perlu diketahui pula bahwa kau kuberi kehormatan

ebagai yang pertama duduk di sisiku di mobil ini. Padahal Tina saja pun belum sernpat duduk di sini dan ... "

"Memangnya apa istimewanya?" aku memotong perkataannya. "Mau duduk di sini sebagai orang pertama atau ebagai orang yang keseribu, alcu ti¬dak peduli. Kok repot-repot amat sih menghitung¬hitung yang tak perlu."

"Lidahmu memang tajam, Ambar!" Gatot menggerutu lagi. "Sungguh, semakin terbukti sekarang betapa berbedanya kau dengan Tina."

"Terserah kau mau bilang apa ten tang diriku, itu juga bukan masalah buatku. Memangnya kupi¬kirkan?" Aku mendengus ketns. "Asal kau sadar saja bahwa dunia ini menjadi begitu kaya dan be¬ragam justru karena tidak ada orang yang persis sama. Jadi bersikap kompromislah terhadap realita yang ada."

Aku tahu Gator sedang melirikku seraya me¬nelengkan kepalanyake arahku. Tetapi aku pura¬pura tak tabu, seolah begitu asyik melihat peman¬dang an di luar jendela, Padahal pemandangan kota Jakarta saat jam kantor bubar itu benar-benar sa¬ngat tidak menyenangkan. Di depan, di kiri dan kanan, di belakang, penuh dengan mobil yang su¬lit bergerak. Dan motor-motor menyelip kc kiri dan kanan di antara tubuh bus besar-besar yang sepanjang pengalamanku menyetir sendiri, acapkali setangnya menyenggol kaca pion bagian arnping mobil, Bapak malah pernah adu otot gara-gara kaca spionnya pccah di enggol motor yang tiba¬tiba rnenyalip dati ebelab kiri. Selain melihat ba¬nyaknya motor yang bergerak gesit, dan terkadang tanpa perhitungan, di si i kanan dan kiri mobil, aku juga menyaksikan halte-halte bus penub dengan orang yang menunggu. Padahal bus yang mereka tunggu udah begitu sarat penumpang ampai¬sampai badan mobil miring, tidak tegak lagi.

Menyaksikan itu aku menarik napas panjang.

Letih rasanya terjebak kepadatan lalu lintas seperti

106

ini. Hidup di kota sepadat Jakarta memang penuh dengan perjuangan. Pagi hari terpaksa harus berebut kendaraan dan berpacu dengan waktu agar tidak terlambat tiba di kantor .. Di tempat kerja atau di kampus, orang harus berjuang mendapatkan posisi, kesempatan, dengan masing-masing kekhasan yang harus mereka perjuangkan. Dan sore harinya, saat pulang dari tempat tug as menuju ke rumah pun, orang masih harus berjuang mendapatkan kendaraan yang bisa mengangkut mereka. Belum soal copet yang ada di mana-mana. Semakin padat orang, se¬makin itu merupakan sasaran empuk operasi para pemilik "tangan panjang" itu.

Aku menarik napas panjang lagi. Berjuang hidup di Jakarta yang keras ini memang memerlukan se¬gudang kekuatan mental, keuletan, dan daya tahan untuk berjuang derni sesuap nasi. Bahkan haws berani malu. Bayangkan saja, siapa yang perasa¬annya tak ngilu melihat laki-laki tulen seratus per¬sen yang punya istri dan anak, tetapi berdandan sebagai perempuan, berpura-pura menjadi waria dan menyanyi di perempatan jalan dengan modal

ebuah rcbana, hanya demi ekeping atau dua keping uang receh. Ped ih hatiku melihat penam¬pilan mereka. Pakaiannya ketat, sernentara riasan wajah mereka sangat berlebihan sehingga tampak aneh. Bedak yang digunakau tcrlalu putih, menem¬pel di wajah kehitarnan bekas sengatan matahari, lalu pipi dan bibir kemerahan dengan kelopak mata seperti pclangi di kaki langit. Merah, kuning, hijau ....

Sekali aku merasa iba kepada orang-orang seperti itu, yang rela rnencuil harga dirinya sendiri h~y~ untuk memperpanjang hidup. Tetapi sering kali Juga aku merasa kesal melibat ulah mereka menengadahkan tangan dan kadang-kadang juga dengan setengah memaksa, kendati kita sudah mengatakan "maaf". Padahal di dekat mereka ada anak-anak kecil yang memilih menjual koran atau ~ajalah .daripada mengemis. Ironis memang. Begitu Juga sedih perasaanku kalau melihat para pengamen yang baru melantunkan dua atau tiga patah lagu dengan suara sumbang sudah menengadabkan ta¬ngan, m~nganggap hak merekalah untuk mendapat uang dan orang-orang yang mendengar suara me¬reka.

"Hei, bagairnana dengan mobilku?" sekali lagi Gatot bertanya dan rnerebutku dari jeratan larnunan. "Kok diarn saja sih?"

"Apanya?" aku ganti bertanya dengan aeuh tak acuh.

"Semuanya, Kenyamanannya, interiornya, atau apanya sajalah. Pokoknya ada komentar darimu!"

"Kurasa. sarna seperti mobil-mobil lainnya," sa¬hutku masih dengan sikap acuh tak acuh yang se¬ngaja kuperlihatkan.

"Tidak bisakah kau berbasa-basi sedikit saja un¬tuk menyenangkan hati orang?"

"Tidak."

"Kau sungguh mampu membuat seluruh isi dunia ini merasa dongkol," untuk kesekian kaIinya pula Gatot rnenggerutu lagi.

108

Kali itu aku tak mau memberi tanggapan atas perkataan yang diucapkan dengan rasa jengkel yang tampaknya sudah mulai bergejolak. Aku tak boleh membuatnya marah dan menggagalkan ren¬canaku untuk berbicara dari hati ke hati dengannya. Sebab kalau belum-belum sudah membuatnya ma¬rah, bagaimana aku bisa bieara dengan runtut dan bagaimana pula Gatot bisa menerima perkataanku dengan kaeamata jernih.

Karena aku diam saja Gatot juga tidak berkata apa-apa lagi. Perhatian kami mulai 'terarah ke tern¬pat lain selama beberapa saat lamanya. Kulirik ja¬Ian tol di sebelahku, juga macet. Babkan nyaris tak bergerak. Bisa kubayangkan betapa orang-orang di dalam mobil itu merasa dongkol. Masuk t01 dan mengulurkan uang ke 10keL dengan maksud agar bisa sampai lebih cepat ke tujuan, tetapi pada kenyataannya jalan tol yang katanya merupa¬kan jalan bebas hambatan itu justru lebih maeet daripada jalan biasa. Dan tragisnya, kalau sudah ada di jalan tol, mobil tidak bisa ke mana-mana lagi. Mau menyelinap ke jalan tikus, mana mung¬kin? Mau berhenti dulu di rumah makan, jelas mustahil. Memangnya mau meloneat turun? Atau mau meloncat pagar? Tidak ada alternatif lain.

"Kok diam saja?" lagi-lagi Gatot menarikku dari lamunan. ''Ngantuk?''

"Tidak."

"Kusangka kenyamanan mobilku telah membuat¬mu mengantuk sampai kau lupa ada di mana seka¬rang ini," Gatot mulai lagi mencari gara-gara.

Tetapi kali ini aku tal< mau terpancing. Jadi aku diam saja. Seperti tadi, aku berusaha menjaga sua¬sana agar Gatot tidak marah. Rencanaku untuk mengajaknya bicara empat mata masih belum surut. Dan semakin cepat itu dilaksanakan akan semakin baik jadinya.

Tetapi tampaknya lelaki itu tak rnau menyerah.

Ia berkata lagi sambil membetulkan Ietak duduknya.

"Tetapi kalau kau memang tidak sedang me¬ngantuk, kenapa kok diam saja seperti patung?" begitu dia rnengusik perasaanku lagi.

"Apakah itu mengganggumu?" sekarang aku yang mulai mencari gara-gara. Aku mau diarn se¬perti patung atau aku mau berteriak-teriak seperti orang mabuk, itu kan bukan urusannya.

"Tentu saja menggangguku. Di mana ada orang bisa duduk dengan enak dan senang kalau ternan seperjalanan satu-satunya cuma diam saja seperti area betapapun indahnya area itu!"

Aku ingin menanggapi perkataan Gatot dengan peda , tetapi Iagi-lagi aku teringat pada rencanaku untuk bicara baik-baik padanya demi menyelamat¬kan Tina. Jadi kujawab perkataannya dengan kenya¬taan yang ada di sekelilingku saat ini.

"Aku diarn saja karen a sedang memikirkan ke¬macetan lalu lintas," sahutku kemudian. "Kulihat, jalan tol saja pun bisa rnacet total seperti itu."

"Itulah kota Jakarta dcngan lalu lintasnya yang selalu ruwet." Tampaknya Gatot bisa menerima alasanku. Tatapannya langsung melayang ke arah tol di sam ping jalan yang kami lalui ini. "Dan sekaligus juga membuktikan bahwa kehidupan di Ja¬karta ini penuh dengan kesulitan. Tidak bisa dira¬malkan pula. Menyangka di sana atau di situ tidak macer, ternyata macet juga. Dan yang disangka akan mengalami kemacetan, jalannya malah agak longgar, Persis kehidupan manusia yang tidak bisa diramal."

"Ya.'~

"Kau merasa terganggu dengan kemacetan ini?" Hampir saja aku menjawab dengan perkataan• yang bisa membuatnya merasa dongkol. Tapi lagi¬lagi kuingat geneatan senjata sementara ini,

"Ya," akhirnya pertanyaannya tadi kujawab de¬ngan sikap yang lebih manis.

"Bagaimana kalau kita berhenti di suatu tempat untuk minum sesuatu yang segar. Dan kalau kau mau, kita juga bisa makan sesuatu meskipun belum waktunya makan malam. Setuju?"

"Di mana kita bisa duduk rninum atau makan?" sahutku sambil menatap ke arah kepadatan lalu lintas di sekitar kami. "Dengan menerbangkan mo¬bilmu?"

"Jangan sinis. Di depan itu ada gang kecil yang menembus ke arab jalan raya Cikini. Kita makan di Taman I mail Marzuki saja. Di sana ada ikan bakar Menado yang lurnayan enak. Bagaimana?"

"Oke." Lagi-lagi aku terpaksa ber ikap manis demi tugasku menyelamatkan Tina dari cengkerarn¬an lelaki itu.

Tetapi ternyata tidak mudah mencapai gang yang di ebut Gatot tadi. Kendaraan lain tak mau di alip.

Kendaraan lain tak ada yang mau mengalah sedikit pun untuk memberi kesempatan kami berbelok ke kiri. Memang, kami sudah telanjur berada di de¬retan agak tengah. Apa susahnya sih mereka mem¬biarkan kami lew at, sebab tak banyak waktu yang

. kami euri dari mereka. Tetapi yah, itu memang ciri manusia kota Jakarta yang tidak begitu me¬medulikan kebutuhan orang lain. Maka, dengan. apa boleh buat, mobil kami pun tergiring terus ke depan tanpa bisa berbelok ke kiri. Bahkan berbelok ke kanan pun sulit sebingga akhirnya Gatot meng¬usulkan reneana lain.

"Bagaimana kalau kita makan di Pasar Seni saja?"

"Pasar Seni di Ancel?" tanyaku menegaskan.

"Ya."

Aku tertegun. Aneol sering kali mendapat ju¬lukan sebagai tempat orang berpaearan. Tetapi mengapa Gatot mengusulkan makan di tempat itu padahaJ ada banyak tempat lain yang lebih netral.

"Bagairnana? Setuju?" kudengar Gatot bertanya lagi.

Semula aku bermaksud mengatakan keberatanku, tetapi tiba-tiba aku sadar bahwa tidak semua tempat di Ancol adalah temp at untuk berpaearan. Dunia Fantasi, rnisalnya. Atau Pasar Seni. Jadi kenapa aku harus menolak usulnya itu? Apalagi sambil makan di Pasar Seni dalam udara terbuka, aku bisa berbieara empat mata dengan lebih bebas. Jauh pula dari pendengaran orang lain. Jadi sean-• dainya emosiku terkait atau meledak-Iedak, di sana suaraku tidak akan terlalu banyak menarik perhatian orang.

"Hai, kau belum juga menjawab usulku tadi," kudengar Gatot berkata lagi. Kini dengan nada tak sabar,

"Hmm, apakah tidak ada tempat lain yang lebih baik dan lebih dekat?" Aku masih meneoba meng¬ulur waktu untuk berpikir lebih jauh.

"Ada. Dan ban yak. Tetapi di Aneol kita bisa makan sambil menikmati udara laut yang segar. Coba kaulihat di sana itu, rembulan sedang bulat¬bulatnya. Pasti nanti akan indah sekali pemandang¬annya."

Sekarang baru jam setengah enam petang, tetapi di kaki langit nun jauh di sana aku sempat melihat samar-samar rembulan mengiritip di an tara awan¬awan setipis tirai sutra. Bentuknya yang bulat itu pasti akan tampak indah bereahaya malam nanti. Dipandang dari tepi Jaut pasti keindahannya akan

ernakin bertambah. Dan juga romantis. Tetapi bi¬jaksanakah kalau kubiarkan Gatot membawaku ke ana?

"Tetapi, kita ini mau rninum sambil menikmati cemilan ringan," sahutku kemudian. "Bukan mau menikmati pemandangan indah, kan?'

"Memang. Tetapi tidakkah kau merasa sayang menyia-nyiakan kesempatan untuk sedikit bersantai ambil memandang bulan pumama di tepi laut?"

Gatot menelengkan kepalanya. "Kurasa itu adalah uatu pilihan yang baik daripada terjebak kema¬eetan lalu lintas. Kalau kau setuju, aku akan berusaha putar balik lalu rnasuk tol yang ke arab Priok. Lalu lintasnya tidak sepadat yang lain."

"Oke kalau rnemang begitu alasannya." Aku mengalah demi mendapatkan kesempatan berbicara dengan Gatot, "Asal jangan terlalu lama eli sana. Aku suclab ingin mandi, kemudian istirahat. Hari ini pckerjaanku di kantor bertumpuk."

"Kalau begitu kita akan langsung ke sana. Cepat pergi dan eepat pula puJang"

"Setuju sekali."

Lalu lintas ke arah utara mernang tidak sepadat yang lain. Lalu lintas arab sebaliknyalab yang ma¬cet. Mereka yang bekerja eli sekitar Tanjung Priok sedang pulang kcmbali kc kota. Hampir-hampir deretan kendaraan yang panjangnya berkilo-kilo meter ito tak bergerak, Maka di arab arus batik ini mcskipun bukan berarti sangat mudah lalu lin¬tasnya, mobil Gatot dapat rncnembus keramaian jalan raya dan kami pun semakin mendekati tujuan

Hampir setengah tu juh kctika kami berdua duduk berhadapan di, alah atu rumah makan eli dalam Pasar Seni. Kami memilih duduk di luar, Orang yang lalu lalang di depan rumah makan tidak ba¬nyak. Malam baru mulai turun dan hari ini bukan. hari libur. Di rumah makan itu hanya dua mcja

aja yang terisi tamu.

"Mall minum apa?" Gatot bertanya ambil me¬nyerahkan daftar menu kepadaku.

Aim memilih minum e kelapa yang disediakan lang ung dalam batoknya. Gatot meniru pilihanku itu,

"Makan sekalian, ya?" tanyanya ketika dia sudah menulis nama minuman yang kami pilih tadi. "Ka¬lau masakannya matang kan sudah jam tujuh. Kita bisa menghemat waktu dan tenaga. Pulang ke ru¬mah, mandi, dan langsung bisa beristirahat. Ba¬gaimana?"

"Terserah. Tetapi perutku belum begitu lapar." "Sate lontong saja ya, tidak begitu mengenyang¬kan. Mau?" Gatot bertanya lagi. "Atau mau yang lain? Mi bakso, misalnya."

"Aku mau sale lontong." "Kambing atau ayam?" "Ayam."

"Dua puluh tusuk?" Gatot menatap mataku. En¬tah kenapa, ak:u merasa melihat perasaan senang di matanya karena ia berhasil mengajakku makan malam. Atau, akukah yang terlalu ge-er?

"Sepuluh tusuk saja."

Setelah menycrahkan kertas pesanannya kepada pelayan rumah makan, Gatot menyandarkan pung¬gungnya. Matanya rnenatap langii.

"Lihat itu, bulannya cantik sekali, ' katanya.

Aku mendongakkan kepalaku. Di balik kerimbun¬an pohon aku melihat cahaya rembulan yang ke¬emasan. Mcmang cantik. Bulat penuh. Bulan puma¬rna menunjuk tanggal lima bela pada penanggalan Jawa.

Tctapi aku tidak berniat untuk mcrnbcri komentar apa pun lagi karena mulai malas bicara. Pikiranku sedang berjalan, mencari dan menyu un strategi agar apa yang akan kukatakan kepada Gatot nanti bisa mengenai sasarannya secara tepat. Dia hams bisa mendengarkan perkataanku dan menerima se¬mua alasan yang kukemukakan mengenai keberat¬anku atas hubungannya dengan Tina Dia hams memberiku penjelasan mengapa alasan-alasan kebe¬ratan yang kukatakan kepadanya waktu itu dia abaikan begitu saja, seolah kami tak pemah bicara apa pun. Oleh sebab ito, aku ingin agar ~sah~ yang kedua ini jangan sampai mengalann .naslb yang sama. Mungkin saja aku perlu memakai per¬kataan yang lebih halus dan bisa menyentuh pera- . ' saannya. Tidak dengan kata-kata pedas seperti wak-

to itu. Sedapat-dapatnya aku juga hams mampu mengendalikan ernosiku.

Kuakui, pasti ito tidak akan mudah kulakukan.

Sebab jika berhadapan dengan Gatot, selalu saja aku ingin marah-marah kepadanya. Selalu saja aku ingin menyindirnya. Dan selalu saja pu1a aku ber¬sikap mengambil jarak dan rnenolak keramahta¬mahannya. Bahkan beberapa kali aku ingin me¬nampar wajahnya. Terlebih setiap aku teringat pad a perbuatannya di dapur yang menurutku sangat ku¬rang ajar, namun yang menurut Bapak curna seba¬gai caranya mengakrabi calon kakak iparnya ini. Sulit rasanya menghapus ingatan bagaimana se¬nyum kurang ajar yang mengandung nada keme¬nangan ito menghia i bibirnya tatkala menatapku.

"Tumben!" tiba-tiba kudengar suara Gatot se¬hingga pikiranku kukembalikan pada realita yang ada di hadapaanku.

"Apanya yang tumben?" Aku mulai waspada,

"Kau yang tumben, Biasanya, ada saja celaanmu terhadapku. Yang aku beginilah, Yang aku begitulah!"

"Aku sedang menyusun kata-kata," sahutku terns

terang.

"Untuk ... T'

"Untuk bicara dari hati ke hati denganmu." "Kenapa hams susah-susah disusun?" Gatot me-

natap mataku dengan pandangan menggoda. Tatap¬annya ito begitu tajam seolah menebus bola ma¬taku. Aku yakin, ia sudah mempersiapkan diri un¬tuk menangkis apa pun perkataan atau pertanyaan yang akan kulontarkan padanya.

"Oke, kalau begitu." Kuhentikan perkataanku sejenak karena pelayan datang membawa buah ke¬lapa besar dan langsung meletakkannya di hadapan kami. Untuk menata hatiku, aku langsung mengisap aimya dengan sedotan. "Nah, seperti yang sudah kuminta kepadamu beberapa bulan yang lalu, to¬longlah kaulepaskan Tina. Aku sama sekali tak menyetujui hubunganmu dengan adikku ito. Dia tidak cocok untukmu. Mengenai apa alasan-alasan¬nya, kau pasti tahu, sebab aku sudah memapar¬kannya secara panjang-lebar waktu ito."

"Karena perbedaan usia yang banyak ito, kan?"

Gatot masih saja menatapku dengan tatapannya yang tajarn. "Dan juga karena kau mengkhawatir¬kan studi adikmu, sebab dia seorang gadis yang cerdas dan berkemauan keras. Begitu, kan?"

"Syukurlah kalau masih ingat," kataku sambil menganggukkan kepala. "Bagus ito. Tetapi seka¬rang, ada alasan lain yang akan melengkapi alasan-alasan yang sudah kukatakan padamu itu, Alasan yang ini juga sangat penting!"

"Apa itu?" Gatot menelengkan kepalanya sambil memicingkan mata, menatapku dengan cara yang sa¬ngat kurang ajar. Tetapi aku tetap waspada. Sebab kelihatannya dia sengaja ingin membuat emosiku teraduk sehingga tak lagi mampu menyusun siasat untuk mengenyahkannya dad kehidupan adikku.

"Apakah kau tidak bisa menebaknya?" Kukem¬balikan pertanyaannya dengan sikap tenang yang berhasil kuperlihatkan. Dan kukendalikan pula ke¬marahan yang semula nyaris naik ke kepalaku. Aku tidak mau gagal lagi hanya karena emosiku yang meledak-ledak kalau berhadapan dcngannya.

"Tentu saja tidak. Memangnya aku bisa mera¬mal?" Pandang mata Gator yang berbinar-binar itu jelas ekali menunjukkan bahwa sesungguhnya dia udah tahu apa yang kumaksud.

"Kalan kau memang tidak tahu, baiklah aku yang akan membuka matamu," kataku sarnbil men¬jaga nada suaraku. "Alasan baru tentang kenapa aku tidak rnerelakan Tina menjadi kekasihmu, apa¬lagi sampai menjadi istrimu, karena aku sudah sc¬makin mengenalmu Icbih jauh"

'011 ya? Wah aku jadi tersanjung karena ter¬nyata kau sudah mcngcnalku dengan baik sekali." Gatot tersenyum-scnyum kurang ajar.

Lagi-lagi aku tidak ingin mcmbiarkan Gatot menguasai ernosiku. Jadi kuabaikan kekurang¬ajarannya itu.

"Ya, aku memang sudah semakin mengenalmu.

Bahwa temyata kau adalah seorang lelaki yang ti¬dak mampu membedakan mana yang baik dan mana yang sebaliknya. Juga tidak tahu mana-mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak. Bahkan juga tidak tahu memilah perkataan apa yang boleh diucapkan dan mana yang sebaiknya tak perlu di¬ungkapkan !"

"Apakah pcrkataanmu itu ada kaitannya dengan perisLiwa di dapur waktu itu?" Laki-laki itu mena¬tapku lagi dengan tatapannya yang sangat meng¬ganggu dan yang bisa membuatku kehilangan kete¬nangan itu.

"Ya," terpaksa aku menjawab dengan sebenarnya, meskipun aku merasa malu. Bukankab waktu dia menciumi jemariku, ada ekian detik lamanya ku¬biarkan diriku terhanyut oleh pcrbuatannya itu?

"Ah, ill! kan cuma canda biasa antara seorang calon adik ipar dengan calon kakak ipamya," sahut Gatot dengan santai "Hanya suatu tanda untuk mcmperlihatkan keakraban saja."

"Menurutku, itu bukan hal yang biasa. Ada ba¬nyak cara lain untuk rnernperlihatkan keakraban yang lebih baik: dan lebih santun," aku memotong kata-katanya. "Sedangkan apa yang kaulakukan ter¬hadapku itu sudah masuk dalam kategori kurang ajar. Bahkan seperti kelakuan laki-laki bidung be¬lang!"

"Kau terlalu berlebihan menilaiku, Ambar!"

Gatot menelengkan kepalanya dengan -cara yang sangat menyebalkan. "Bcgitu saja kok dibilang hi¬dung belang?"

"Jadi benarlah apa yang kukatakan tadi, bahwa kau tidak bisa memilah mana yang baik dan mana yang buruk." Kali ini emosiku mulai tertarik. Aku nyaris tak mampu menahan diri. "Nyatanya, kau sering mengucapkan perkataan tak sopan yang biasa diucapkan oleh laki-laki mata keranjang. Tadi sore di kantorku misalnya, kau juga mengucapkan per¬'kataan yang tak senonoh."

"Yang mana itu?"

"Bukankah kau tadi mengancam akan memeluk tubuhku yang katamu... indah kalau aku tidak mau ikut pulang bersamamu. Itu kan melecehkan?"

"Wah, cara pandang kita dalam hal ini berbeda.

Memuji dan melecehkan itu kan sangat berbeda maknanya. Aku memang mengagumi bentuk tu¬buhmu yang indah itu. Apakah orang bersalah ka¬lau memuji apa yang dikaguminya?" Gatot terse¬nyum manis dibuat-buat. "Tidak, kan?"

"Kau sungguh tak tahu malu!" suaraku mulai meninggi.

"Ssshhh ... ," Gatot memperingatkanku, Matanya melirik ke mana-mana sehingga aku mengikuti ke¬lakuannya. Dan memang, ada dua kepala yang menoleh ke arahku sehingga cepat-cepat kusedot es kelapa mudaku lagi.

Melihatku tak berkutik lagi, Gatot melanjutkan bicaranya.

, "Tahukah kau, Ambar, kalau kau marah begitu pipimu tampak kemerahan dan matamu berkilauan. Keduanya membentuk wajah yang luar biasa can¬tiknya," katanya. Aku melotot tanpa berani membentaknya. Takut kalau-kalau ada kepala yang menoleh lagi ke arah¬ku, Tetapi tiba-tiba Gatot mengulurkan tangannya dan menggenggam lembut telapak tanganku.

"Sudahlah, jangan kita lanjutkan pembicaraan yang tak menyenangkan ini,'" katanya. "Tub, ma¬kanannya sudah datang. Jangan sampai selera kita jadi rusak karenanya. Aku juga tidak ingin merusak malam yang indah ini."

"Tetapi aku harus mengatakan pendirianku dan kau harus mendengarkan perkataanku dengan 'pi¬kiran terbuka," aku menyela dengan tegas dan me¬maksa.

Mendengar itu Gatot menatapku sesaat lamanya.

Kemudian kepalanya mengangguk lembut.

"Baiklah, kalau begitu. Tetapi tidak sekarang karena kita akan makan dulu," katanya kemudian sambil melepaskan tanganku dari genggaman ta¬ngannya.

Karena ucapannya beralasan, aku menurut, Maka kami segera menyantap makanan yang terhidang dengan membisu. Usai makan, Gatot langsung me¬manggil pelayan dan membayar apa yang telah kami pesan tadi. Kemudian dia berdiri, Tentu saja aku lang sung protes.

"Katamu tadi kita akan berbicara setelah makan,"

kataku.

"Tetapi tidak di sini, Ambar!" "Di mana?"

"Oi mana sajalah asal tidak ada kepala yang menoleh berulang kali ke arah kita. Kau sangat emosional sehingga menarik perhatian orang," sahut Gatot. "Ayo, kita pergi."

Dalam hatiku aku membenarkan perkataan Gatot lagi. Jadi aku terpaksa ikut berdiri dan mengekor ke mana pun dia pergi asalkan kami bisa bicara dengan bebas. Kulirik, arlojiku menunjuk pukul setengah delapan kurang beberapa men it.

Sementara itu, kulihat pengunjung Pasar Seni sudah tampak lebih banyak daripada ketika kami bam datang tadi. Malam ini acara panggung ter¬buka di tengah Pasar Seni itu akan menyajikan musik rock yang banyak disukai oleh anak-anak muda. Tak heran kalau temp at itu mulai dipenuhi pengunjung.

'Ke mana kita?" tanyaku. Ketika 'itu karni berdua sudah berada di dalam mobilnya kembali.

"Tunggu saja dan bersabarlah," kata Gatot sambil membawa mobilnya keluar dari tempat parkir. "Pa.¬ti kau akan senang mel ihatnya schingga emosimu yang mudah meledak-ledak itu bisa berkurang ka¬renanya."

Aku meliriknya den gao pcrasaan seba1. Tetapi laki-Iaki itu mernbalas Iirikanku dengan senyum rnani dan dengan gerakan kepala yang enak c1i¬pandang. Ah, jangan-jangan laki-laki itu tabu kalau dirinya menarik. Dan jangan-jangan pula dia tahu kalau aku terpe ona oleh daya tariknya itu ..

Sialan. Sungguh ialan, Kcnapa sih aku harus bertemu dengan makhlnk cperti ini? Kenapa ella harus jadi tetanggaku iehingga adikku jatuh cinta kepadanya. Ah, bikin masalah saja. http:ebukita.wordpress.com

Lima http:ebukita.wordpress.comTtBA-TLBA GatOl membelokkan mobilnya ke arab pantai dan. mernarkimya eli bawah pohon ketapang yang Iebat daunnya.

"Kenapa kauhentikan mobilmu eli tempat ini?" aku membentak. Aku tahu betul, di sepanjang pe¬sisir pantai di daerah Ancol ini terkenal sebagai tcmpat anak-anak muda atau pasangan-pasangan yang sedang bercinta, mcmadu kasih mereka.

"Memangnya kenapa kalau kita berada eli sini?"

Gatot memancing.

"Seperti kau tidak tahu saja ini temp at apa!" bentakku lagi.

"Aku tabu. Tctapi kau juga perlu tabu bahwa tempat ini bukan melulu hanya untuk bcrcinta¬cintaan saja. Ada banyak orang yang datang kemari untuk menikmati pcmandangan. Dan juga ada ba¬nyak pasangan yang datang kernari untuk rnenyc¬lesaikan persoalan mereka dengan lebih tenang ka¬rena tidak ada mala dan tclinga lain yang ikut mendengar! "

Apa yang dikatakan oleh Gatot juga kuketahui.

Dia benar. Tetapi aku tak mau mengakui itu.

"Tetapi bagimu pasti tempat ini hanya untuk pacaran," semburku. "Dan pasti pula kau pernah mengajak adikku yang masih polos itu ke sini. Akuilah!"

"Kau salah. Aku tak pernah membawa gadis¬gadis terhormat kemari!"

Pasti Gatot menyangka jawaban itu akan mele¬gakan hatiku. Tetapi dia keliru, Justru sebaliknya, dari jawaban itu terkandung pengertian bahwa dia sering datang kemari dengan perempuan-perempuan lain yang tidak tergolong "terhormat" seperti yang dikatakannya itu. Tentu saja aku tersinggung.

"Dengan kata lain, aku ini bukan gadis terhormat maka kau bawa kemari!" untuk ketiga kalinya aku membentaknya. "Dan berarti pula, kau sudah sering kemari bersama gadis lain. Dan itu membuktikan bahwa kau memang laki-laki yang tak bisa diper¬caya. Mata keranjang dan tak setia!"

"Wah, keliru bicara sedikit saja sudah panjang betul penilalan negatifmu!" Gatot mengeluh. "Apa yang kukatakan tadi sarna sekali berbeda maksud¬nya dari apa yang kaukatakan barusan. Percaya¬lah."

"Bohong kalau kau belum pernah ke sini!" "Aku tadi tidak mengatakan bahwa aku belum pernah ke sini, lho. Sebab sebenarnya aku memang pernah sekali atau dua kali datang ke sini bersama pacarku dulu. Itu pun bukan untuk berpacaran, te¬tapi untuk membicarakan persoalan yang mere¬'takkan hubungan kami. Dan bahkan akhirnya juga menelorkan perpisahan kami karena tidak ada titik temu," Gatot menjawab perkataanku dengan suara yang meyakinkan. "Percayalah, aku tidak mengada¬ada."

Mendengar kesungguhan bicaranya, aku mulai mempercayainya. Memang tempat ini cocok untuk berpacaran maupun untuk membicarakan masalah¬masalah pribadi tanpa terganggu orang. Juga tidak

mengganggu orang lain pula. ,

"Balklah kalau begitu," akhirnya aku marnpu juga melihat kenyataan. "Kita akan bicara empat mata dl sini. Tetapi tolong turunkan kaca jendela mobilmu ini."

"Oke." Gatot menurut. Tangannya meraba tombol di 'sampingnya dan kaca jendela di sebelah kiriku, maupun di sebelah kanan, turun. Dengan seketika angin laut yang segar rnenyerbu masuk. Maka per¬hatianku pun terseret keluar. Dan baru saat itu ku¬sadari betapa indahnya malarn itu. Langit bersih tanpa sepotong awan pun. Dan rembulan yang tampak bulat penuh dengan segala kemegahaunya itu menyiramkan cahayanya yang keperakan ke se¬luruh permukaan bumi, membangkitkan suasana yang menyentuh perasaan.

Sementara itu kulihat air 1aut yang sedang pa¬ang, bergelora pelan dan berkilauan memantulkan inar rembulan, seolah menyiratkan perasaan para pasangan kekasih yang berpelukan di atas bangku beton nun di sebelah sana itu. Motor mereka ikut menjadi saksi bisu, apa pun yang sedang rnereka bicarakan atau ikrarkan.

Barangkali Gatot juga merasakan keindahan yang sama. Ia bergumam lembut sambil menatap ke arab rembulan yang sedang cantik-cantiknya itu.

"Indab sekali ciptaan Tuhan itu," gumamnya.

"Meskipun keindahan seperti itu tersaji setiap bulan pumama, aku tak pernah bosan mengaguminya."

A.ku diam saja, tak ingin memberi komentar.

Tetapi ia pasti tabu babwa aku membenarkan per-

kataannya. .

Tiba-tiba Gatot memindabkan tatapannya ke arahku.

'Dari ucapanmu tadi tentang tempat ini, aku berkesimpulan bahwa kau pernah datang kemari bersama seseorang," katanya kemudian.

"Pemah atau tidak, itu bukan urusanmu!" aku rnernotong kata-kata Gatot. "Dan aku barap perka¬taan seperti itu tidak pcrnab lagi kauucapkan di badapanku. Aku akan marab sekali dan kau tak akan kumaafkan karenanya."

"Kenapa? Apakah pertanyaanku tadi telah meng¬ingatkan kernbali kenangan indahmu bersarna si dia?" Gatot bertanya lagi. Wajahnya menampilkan air muka tak berdosa yang rnembuatku ingin me¬namparnya.

Sungguh keterlaluan lelaki itu. Berani-beraninya dia membicarakan se uatu yang paling menyakitkan dalam hidupku. Sebab sesungguhnya ketika melihat kilau air laut yang bergelora di depanku itu, ingat¬anku sempat singgah ke masa Ialuku yang pahit.

Sebelum bubunganku dengan Bram putus, pc¬muda itu mengajakku ke Aneol untuk mcngagumi bulan purnama.

"Di sana, bulan purnama tampak lebih indab karena tidak terhalang benda-benda lain seperti ru¬rnah dan pepohonan. Juga tidak terganggu suara¬suara lainnya. Yang ada hanyalab nyanyian angin laut clan gemerisiknya cledaunan di sekitar kita yang seolah mendendangkan lagu malam yang misterius letapi indah dan manis dieecap," begitu Bram berkata waktu itu.

Maka kami pun pergi ke Ancol berduaan. Dan di situlah, kira-kira sepelemparan batu dari tempat¬ku duduk bersama Gatot ini, Bram menciumku berulang kali dengan mesra. Aku membiarkannya karena saat itu aku merasa kami berdua saling mencintai. Tetapi ketika ia rnulai berani dan rneraba pahaku dan dadaku, tangannya kutepis kuat-kuat.

"Apa-apaan sib, Brarn!" bentakku. "Jangan biar¬kan nafsu menguasairnu!" .

"Ini bukan nafsu, Sayang. Ini cinta," desab Bram dengan suara menggeletar. "Cinta membutuh¬kan perealisasian sccara konkret, Ambar. Ayolah, untuk kali ini saja."

Lelaki itu terus saja mendesakkan tubuhnya sam¬pai aku terpojok ke pintu mobiL Dan tangannya mulai lagi menyingkap gaunku. Tetapi seperti tadi.

egera kutepis kuat-kuat. Aku Lidak uka perlaku¬annya yang sudah melewati batas itu. Sejak awal remajaku aku dibekali nilai-uilai mengenai kcutama¬an yang menyangkut bubungan antara laki-laki dan pcrempuan oleh orangtuaku.

"Sayang, hargailah dirimu dan hargai pula tu¬buhmu cndiril" begitu Ibu dan Bapak bcrulang kali menasihati semua anak. "Maka orang lain pun akan mengbargaimu."

Perkataan-perkataan semacam itu yang kemudian terinternalisasi dalam diriku dan menyebabkan aku menjaga makna keluhuran cinta di atas kebutuhan¬kebutuhan biologis. Orang yang tak mampu me¬ngendalikan diri biasanya tak bisa dipercaya.

Ketika permintaan Bram kutolak, lelaki itu marah-rnarah.

"Cintarnu kepadaku cuma ada di bibir saja," ka¬tanya. "Kau juga tidak menarub rasa percaya ke¬pada kekasihmu sendiri."

"Caramu menilai cinta tidak tepat, Bram. Apa jadinya para muda-mudi kita kalau menganggap hubungan intim sebagai bagian dari percintaan," sahutku dengan perasaan sedih. Kenapa Bram ber¬pikir sependek itu? "Bram, perealisasian cinta yang tepat hanya bisa terjadi dalarn suatu pernikahan. Sedangkan kita berdua, bertunangan saja belum. Jaw hindarilah perbuatan yang bisa menurunkan kesucian cinta..kita."

"Kau itu puritan, idealis!" Bram memuntahkan kekecewaannya dengan menghinaku. "Sok jual ma¬hal. Tinggi bati. Padahal aku ini kekasihmu, pa¬carmu yang sangat mencintaimu. Masa aku ingin menunjukkan cinta saja kau tolak sib!"

Aku diam saja, tetapi air mata menetes membasahi pipiku. Untung angin laut cepat mengering-

kannya. Sambil menatap rembulan aku bertanya endiri, apakah seperti itu yang namanya einta.

"Ambar, kenapa kau menolakku?" Kudengar suara Bram yang masih saja menuntut. "Tidak cinta lagikah kau padaku?"

"Aku mencintaimu. Bahwa aku menolakmu, itu tak ada kaitannya dengan perasaan cinta. Aku rna¬sib perawan, Bram. Justru karen a aku menghargai¬mulah maka aku ingin kau tidak bertindak terlalu jauh, Sebab keperawanan itulah yang akan kuberi¬kan padarnu di malam pertama perkawinan kita kelak. Maka begitu juga yang kuinginkan darimu. Kauberikan keperjakaanmu padaku eli saat yang tepat."

"Ah, gombal cinta idealismu itu!"

Karena pcrcuma saja bicara dengan Bram tentang prinsip hidup yang kuanut, aku scgera memintanya untuk mengantarkanku kembali ke rumah. Aku ti¬dak ingin berlarna-Iama di Ancol betapapun indah¬nya pemandangan alam waktu itu. Tetapi seminggu

esudah itu, aku datang ke tempat kosnya. Tujuan¬ku, ingin menjelaskan sekali lagi tentang pendiri¬anku sarnbil berharap kemarahannya Lelah surut dan kemudian dia bisa mernahamiku. Sebab sung¬guh tidak enak membiarkan hubungan kami terka¬tung-katung. Selama satu rninggu itu satu kali pun dia tidak pernah meneleponku. Padahal biasanya paling sedikit satu kali dia menelepon rneski hanya untuk menyapaku aja.

Di tempat ko nya itulah aku rnelihat Bram te¬ngah berkasih rnesra dengan Nina, ahabatku sen¬did. Saat menyaksikan pemandangan itu aku merasa langit eperti sedang runtuh menimpaku. Dua orang terdekatku Lelah mengkhianatiku hanya karena aku telah menolak hubungan badan yang dibutuhkan Bram. Sakit sekali rasanya. Maka apa pun alasan mereka mengenai kejadian itu, telingaku kututup rap at-rap at. Mereka telah melanggar bukan saja kepercayaan yang kuberikan tetapi juga telah meng¬injak-injak prinsip hidupku. Tak ada maafku bagi mereka. Hubungan kami harus putus.

N amun dalam keadaan patah hati, aku masih sempat mensyukuri keteguhan hatiku karena tidak membiarkan diriku terlena oleh cinta nafsu Bram. Tak ada kenangan kotor yang terjadi di antara kami berdua. Aku masih bisa berjalan dengan ke¬pala tegak bahwa Bram tak berhasil merenggut sa¬lah satu milikk:u yang berharga.

Sesudah kejadian itu, lama sekali aku tenggelam di dalam kepahitan dan keputusasaan. Acapkali aku menyesali perkenalanku dengan Bram. Kusesali pula masa laluku bersamanya. Acapkali pula aku bertanya-tanya sendiri kenapa aku bisa jatuh cinta setengah mati kepada lelaki seperti Bram. Kenapa aku begitu mempercayai Nina, sababat baikku itu. Dan kenapa pula aku tidak tabu sebelumnya tentang tipisnya arti kesetiaan bagi kedua orang itu. Ter¬utama, kusesali diriku kenapa aku pernah mem¬biarkan Bram memeluk dan mengotori bibirku de¬ngan ciumannya yang penuh nafsu. Kalau saja aku tabu siapa Bram dan siapa Nina, pasti tidak akan begini jalan cerita hidupku. Setelah itu, aku tak lagi mau bergaul akrab dengan laki-Iaki. Aku juga tak berani lagi menjalin keakraban dengan ternan-ternan perempuanku. Di dalam pergaulan

aku harus bersikap hati-hati,. sebab sangat menya¬kitkan dikhianati kekasih dan sahabat sendiri.

Karena teringat kembali kepahitan-kepahitan yang pernah' kutelan itulah maka aku jadi marah sekali sewaktu Gatot menyinggung ten tang masa laluku itu.

"Kau jangan menggangguku," semburku padanya.

"Kita kemari tidak untuk menyinggung masalah pribadiku !"

"Kenapa sib kau mudah sekali tersinggung?"

Gatot memandangku dengan dahi berkerut., "Apa itu ada kaitannya dengan perasaan tak suka meli¬hatku berpacaran dengan Tina?"

'Itu jelas!"

"Kau berpikir seolah Tina akan menderita kalau hidup bersamaku."

"Itu juga jelas karena mudah sekali ditebak!"

Aku mengerucutkan bibirku."Tina pasti akan men¬derita hidup bersamamu."

"Kau terlalu mernandang rendah cinta kami." "Cintamu kepadanya memang rendah. Karenanya patut dipertanyakan. Aku bicara kasar begini karena aku memiliki suatu keyakinan yang kudapat bukan saja dari pengenalanku atas dirirnu, tetapi juga dari firasatku yang tajam!"

"Dan dengan alasan-alasan yang pemah kauka¬takan padaku itu, kan?"

"Ya. Aku bahkan ingin membuat spanduk deogan tulisan be ar-besar berisi kelima alasanku itu untuk dipasang di 'kamarrnu agar setiap kau membacanya

seketika itu pula muneul kesadaranmu bahwa kau dan Tina tidak cocok!"

"Kalau melihat bagaimana kau ngotot ingin me¬misahkan aku dengan Tina, rasanya aku menang¬kap ada alasan lain yang belum kaukatakan ... "

"Menurutmu, karena aku takut dilangkahi adikku, kan?' aku memo tong perkataan Gatot yang belum selesai. "Kau salah kalau mengira begitu. Kau be¬lum kenal siapa aku. Bagiku hal-hal kecil seperti itu bukan masalah."

"Kau juga salah. Bukan itu yang kumaksud!" "Lalu apa kalau begitu. Kau jangan mengada¬ada!" Aku berbasil memasukkan nada ancaman ke dalam suaraku.

"Lho, justru akulah yang ingin mengetahui apa yang masih ter embunyi di dalam hatimu. Kenapa kau begitu getol menghalangi percintaanku dengan Tina sampai-sampai Pak Joko sengaja datang ke rumahku untuk membicarakan kejadian rnemalukan yang katanya dialarni oleh putri sulung kesayangan¬nya di dapur rumahnya sendiri."

"Jangan menyebut peristiwa itu lagi," gerutuku.

"Dan jangan mengira aku telah menyembunyikan sesuatu darimu, Sebab yang paling pokok adalah aku tidak menyetujui hubunganmu dengan Tina. Pereayalah, kalau hubungan kalian tetap dilanjutkan tak akan baik jadinya. Ia terlalu muda untuk mam¬pu menerima seorang suami yang mara keranjaog dan tak kenal apa ani kesetiaan serta ... "

Sebelum perkataanku selesai, lenganku disentak

oleb Gatot sehingga tubuhku oleng dan nyaris membentur bahunya.

"Jangan menghinaku, Ambar!" ia mendesis eli sisi kepalaku.

"Apa yang kukatakan itu bukan penghinaan," aku juga mendesis. "Ini suatu kenyataan. Kau me¬mang tidak bisa bersikap santun terhadap perem¬puan. Buktinya, enak saja kaurenggut tanganku. Bukankah itu kelakuan yang kasar.. tidak sopan, dan bahkan juga kurang ajar?"

Gatot menanggapi perkataanku dengan menarik Iebih dekat lenganku seblngga kepalaku terantuk lubuhnya. Sebagian pada pangkal bahunya dan se¬bagian ke bagian dadanya yang bidang. Sedemikian dekatnya tubuh karni sehingga hidungku langsung saja menyentuh aroma yang dipercayai rna. yarakat umum sebagai aroma segar maskulin. Tetapi yang membuatku merasa sangat tak enak adalah karena aku tak menduga debur darah di jantungku bisa bergerak lebib cepat hanya karena kedekatan fisikku dengan Gatot. Aku sampai ketakutan pada diriku sendiri karena apa yang kualami ini benar-benar di luar kebiasaan,

"Lepaskan tanganmu," gumamku dengan pcra¬saan bingung. Sungguh mati, aku tak menyangka diriku bisa terpengaruh sedemikian rupa oleh ke¬dckatan fisikku dengan laki-laki yang kubenci itu.

"Baik, akan kulepaskan. Tetapi katakan lebih dulu bahwa penilaianmu terhadapku itu keliru. Bahwa sesunggubnya aku pantas menjadi calon adik iparmul"

"Memangnya ak.u ini apa?" Ak:u melotot "Aku bukan orang yang mudah dibujuk, Sekali ak.u me¬nilaimu kurang ajar atau mata keranjang, untuk selanjutnya penilaian itu tidak akan berubah. Sebab aku menilai bukan hanya dari apa yang kulihat dan kudengar saja, tetapi juga dari apa yang ku¬alami sendiri. Paham?"

"Kalau memang begitu penilaianmu, ada baiknya kalau kulakukan saja. Kau tahu kan peribahasa lama 'kepalang basah, mandi sekalian'. Jadi ka¬laupun aku mengalami kerugian, masih ada sisanya yang berharga," sahut Gatot menanggapi perkata¬anku tadi.

"Apa maksudmu?" Aku melotot lagi. "Ini maksudku!"

Sebelum ak.u tabu apa maksud kata-katanya dan sebelum otakku bekerja untuk menebak maksud ucapannya, tiba-tiba saja Gatot sudah merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya. Dan sebelum bilang rasa kagetku alas perbuatannya yang tidak ak.u sangka-sangka itu, bibirnya telah mengecup bibirku dengan penuh nafsu.

Ak:u tersentak seperti tersengat listrik. Seandainya bumi tiba-tiba kiamat, barangkali rasa kagetku ti¬daklah seperti ketika tiba-tiba kusadari aku Lelah membiarkan diriku berada di dalam pelukan le¬ngannya yang erat dan kecupan bibimya yang se¬demikian hangat. Sedemikian kagetnya sampai aku tak mampu berpikir apa pun lagi kecuali merasakan betapa ciuman-ciumannya itu penuh penguasaan dan sangat mesra.

Aku sering berciuman 'dengan Bram. Tetapi tidak pernah sekali pun ak.u terseret arus pera~aan se¬demikian rupa seperti yang sedang kurasakan. Lelaki itu memeluk erat tubuhku seolah ak.u - ini miliknya yang paling berharga. Lelaki itu mengelusi bahu, rambut, dan punggungku seolah aku ini ke¬kasih yang amat dicintainya. Tubuhku sampai menggigil karenanya. Jantungku bertalu-talu sampai kepalaku mau pecah rasanya.

Yang lebih gila dari itu, Gatot bukan saja menge¬Iusi punggung dan rambutku saja, tetapi dia juga menaikkan daguku dengan jemarinya agar wajahku tertengadah menghadap ke arahnya. Dan kemudian dengan bibimya yang hangat itu ia mengecupi le¬her di bawah daguku ehingga gigilan tubuhku se¬rnakin menjadi-jadi. Belum pernah aku diperlaku¬kan seintim itu tapi tanpa kekurangajaran. Aku jadi teringat lagi pada Bram, sesudah dia men¬ciumiku dengan penuh nafsu, tangannya langsung saja menyusup ke dada dan ke permukaan pahaku sehingga saat itu juga ia kutepis karena merasa jijik.

Tidak dernikian halnya dengan Gatot. Meskipun kunilai dia ebagai laki-laki kurang ajar, tetapi ke¬tika aku sudah berada di dalam pengua aannya ta¬ngannya tidak bergerak nakal seperti Bram. Me¬mang Gatot menciumi bibirku dengan agresif, juga pipi, rambut, dagu, dan leherku. Tetapi tangannya hanya mengelusi kuduk dan bahu eli bagian bela¬kang tubuhku. Dan terlepas dari masalah itu, aku benar-benar heran pada diriku sendiri karena perlakuan rnesra itu kubiarkan begitu saja. Tidak ada rasa jijik apa pun. Padahal sebenarnya kalau me¬nuruti otakku, aku harus merenggutkan tubuhku dari pelukan Gatot dan kemudian menampar wa¬jahnya kuat-kuat.

Tetapi tidak. Aku diam saja dan menikmati sen¬sasi-sensasi yang ditimbulkan oleh perlakuan Gatot saat itu. Babkan ketika berulang kali Gator menge¬ratkan pelukannya dan membualku begitu dekat dalam dekapannya, tanganku begitu saja terulur dan melingkar di lehernya.

Entah berapa lama kami berpagut dan berciuman seperti itu, aku tidak tahu. Aku benar-benar terlena. Aku sadar ketika kemudian telingaku mendengar suara motor di sebelah depan sana. Saat itulah aku tersentak dan menyadari kenyataan yang sedang kualami.

Kudorong dada Gatot dan kurenggutkan tubuhku dari pelukan lengannya sehingga tubuh kami berdua merenggang. Sctelah itu cepat-eepat pula aku meng¬gcser tubuhku menjauhi laki-laki itu sampai rnera¬pat ke pintu mobil. Kutenangkan debur jantungku yang masih saja bergerak tak beraturan. Kube¬uahikan pakaianku yang kUSUl dan kurapikan rambutku dengan jemari. tanganku yang gemetar. Kemudian cepat-cepat kulemparkan pandang mata¬ku ke arah rembulan yang kelihatannya semakin cantik dan ke arah laut yang semakin bergelora seperti perasaanku saat ini.

Sungguh mati, aku merasa sangat malu. Bukan saja malu kepada Gatot, tetapi terutama kepada diriku sendiri dan kepada alam semesta yang telah menyaksikan perbuatanku dengan Gatot barusan. Kenapa aku bisa sampai Iupa diri, lupa tempat, dan lupa pada sopan santun yang selama ini men¬jadi pakaianku sehari-hari, seolah aku tidak kenal nilai-nilai moral. Betul-betul sangat keterlaluan. Dan betul-betul tak kusangka sarna sekali. Padahal ketika Bram menciumiku dan memintaku untuk melakukan sesuatu di tempat ini hampir dua tahun yang lalu, kepalaku rnasih begitu sehat dan mampu menolak kemauannya dengan sikap yang amat te¬gas. Bahkan sarnpai-sampai menyebabkan hubungan kami putus karenanya. Padahal pula, aku mencintai laki-laki itu. Tetapi Gatot?

Sakit dadaku rnemikirkan kenyataan yang baru saja terjadi itu. Apalagi tatkala kuingat lelaki yang baru saja memesraiku itu adalah kekasih adilcku sendiri. Sungguh, betapa menyesalnya aku. Ke manakah ajaran-ajaran moral yang sering kali di¬masukkan ibuku agar aku menjadi orang yang ber¬akhlak dan berkepribadian tinggi? Padahal, aku paling setia memegang ajaran-ajaran budi pekerti yang diberikan orangtuaku. Padahal pula aku sen¬diri Lelah menentang mati-matian hubungan Gatot dengan Tina karena menurutku ilia bukan laki-laki

yang baik. Dia juga dia bukan laki-laki yang bisa dipcrcaya. Tetapi ternyata sckarang aku sendiri malahan mernbiarkan diriku dipeluk, diciurn, dan dibelai-belai dengan rnesra oleh Iaki-laki yang me¬nurut otakku tidak perlu dipcrhitungkan itu.

Mcrasa putus asa, kulampiaskan frustrasiku kepada Ielaki yang telah membuatku terbuai dan tenggelam dalam suasana yang mernalukan tadi.

"Kau ... •kau telah menghinaku,' akhirnya dengan suara serak dan bergelombang aku mampu berkata¬kata.

"Tidak. Sarna sekali aku tidak menghinamu!" kudengar suara Gatot begitu pelan dan lembut. Entah apa yang ada di kepalanya, aku tidak bisa menebaknya.

"Ya. Kau telah menghinaku. Kauperlakukan di¬riku seperti perempuan murahan yang kauambil dari pinggir jalan .... " Suaraku yang semula begitu keras, semakin pelan dan bergelombang. "Aku benci kepadarnu .... "

"Sudah kukatakan padamu tarn, sarna sekali aku tidak menghinamu!" Suaranya yang tadi begitu lembut dan pelan, berubah menjadi keras.

"Kalan rnemang begitu, kenapa kaucium aku .... dengan cara seolah ... aku ini kekasibmu. Itu sung¬guh sangat keterlaluan dan seharusnya tidak boleh terjadi." Setetes air mata meluncur turun ke pipiku dan kuhapus dengan diam-diarn agar Gatot tidak mclihatnya. "Bukankah kau kekasih adikku dan aku menentang hubungan itu? Rasanya ... rasanya ... aku begitu murah. Menentang hubungan kalian, tetapi kubiarkan kau menciumku. Aku ... aku se-

makin bend padarnu!" .

"Ambar, aku benar-benar khilaf tadi. Suasana rnalam yang indah dan romantis itu rnempengaruhi diriku. Meliharmu dan merasakan betapa dekatnya dirimu dan betapa pula cantik dan menawannya wajahmu yang tersirami cahaya rernbulan itu, aku ... aku talc mampu lagi menahan diriku. Lupa sarna sekali siapa dirimu."

"Itu karena pada dasarnya kau memang mata keranjang!" A.ku melampiaskan kemarahanku lagi dengan membentak-bentaknya. "Dan hidung belang. Sekarang, semakin yakin saja aku pada penilaianku itu."

"Aku bukan ... "

"Diam!" aku membentak lagi. "Kau harus me¬nebus kesalahanmu malam ini dengan suatu keha¬rusan. Yaitu, segera putuskan hubunganmu dengan Tina."

"Aku tidak akan melepaskan dia," Gatot menja¬wab dengan suara pasti yang terasa menyakitkan telingaku.

"Kau harus!"

"Tidak, Ambar. Aku tak akan melepaskannya," ''Tidak malukah kau kepada dirimu sendiri?"

Suaraku semakin meninggi. Dan kupelototi dia de¬ngan mataku yang rnasih basah. "Tidak berbunyikah suara hati nuranimu itu?"

''Tidak. Kenapa mesti malu pada diriku sendiri?" "Kau benar-benar sudah rusak parah!" Aku megap-megap menahan perasaan putus asa yang semakin menjadi-jadi. "Aku membencimu, Gatot. Aku akan mengadukan peristiwa tadi kepada Tina. Semakin cepat dia mengetahui siapa dirimu, sema¬kin baik buat dial"

Gator menoleh ke arahku dan menatapku dengan pandangan meuyelidik.

"Kau sanggup mengatakan bal itu kepadanya?" tanyanya dengan suara rnengandung rasa ingin

tabu yang pekat. .

Aku tertegun. Tina seorang gadis yang lincab, periang, dan selalu memandang dunia ini dengan dua warna .. Hitam dan putih. Bagaimanakah pera¬saannya kalau aku menceritakan kelakuan kekasih¬nya terhadap diriku? Tidakkah hatinya akan terlu¬ka? Tidakkab hatinyaakan tercabik-cabik dan kelin¬cahannya menghilang? Ab, aku tidak tega mengu¬rangi keceriaan masa remajanya.

"Bcranikab kau mengalakan apa yang terjadi taeli kcpadanya? ' Gatot mengulangi pertanyaannya.

'Kenapa tidak berani?" aku berdusta. "Kurasa justru akan baik jadinya kalau mulai sekarang dia bisa melihat dirimu dengan kacamata lain, kaca¬mata transparan yang tidak tertutup oleh hal-hal lain."

"Akan kita lihat nanti." Gatot menyandarkan punggungnya ke jok mobil. "Aku ingin tahu apa reaksinya!"

"Kau betul-betul laki-laki yang tidak tabu malu dan menjijikkan!" aku menyembur rnarah. i'Nab, sekarang nyalakan rnesin mobilmu dan segeralah pergi dari ternpat ini. Aku muak.!"

"Jadi pembicaraan kita telah selesai?"

"Untuk apa lagi dibicarakan?" Aku mendengus.

"Sudah jelas, aku dan pasti juga keluargaku akan melarangmu masuk ke rumah kami kalau peristiwa malam ini kuccritakan kepada mereka!"

Gatot tidak menjawab. Tetapi tubulmya juga tidak bergerak barang sedikit pun sehingga untuk kesekian ka1.inya aku rnembentak dia lagi.

"Jangan diam begitu saja," teriakku. "Cepat nya¬lakan mesin mobilmu, lalu segera bawa ak:u pu¬lang!"

Gatot melirikku sesaat lamanya, kemudian ta¬ngannya memutar kunci mobil dan menuruti per¬mintaanku. Tanpa berkata apa pun, dia membawa mobilnya menjauh dan pantai, Dan tak lama ke¬mudian ia telah mengarahkan mobil barunya itu ke arab pintu gerbang, keluar dari daerah Ancol.

Di. sepanjang perjalanan, ak:u diam saja. Begi¬tupun Gatot, sebingga ingin sekali aku cepat-cepat tiba di rumah untuk rnelupakan semua hal yang baru saja terjadi tadi. Tak akan kubiarkan pcristiwa itu masuk ke dalam kenanganku. Dan tak akan kubiarkan peristiwa semacarn itu terjadi lagi.

Selama berhari-hari sesudah malam itu aku amat sibuk dengan pikiranku scndiri sebab keadaan se¬perti ini tak boleh dibiarkan berlarut-larut, Aku harus menjauhkan diriku dari Gatot. Dan aku juga harus bisa menjauhkan Tina dad laki-Iaki itu. Daya tariknya terlalu kuat. Malahan sampai-sampai aku pernah mernpunyai pikiran tak waras dan tak rnasuk akal, yaitu bahwa Gator pasti mcrnpunyai ilrnu pelet. Ilmu yang mampu meraih pcrhatian kaurn perempuan dan membuat mereka bertekuk lutut, rnenyerah dalam pesonanya.

Tetapi yang paling membuat diriku rcsah adalah konflik batin yang kurasakan terhadap Tina bela¬kangan ini, Di satu pihak, aku merasa telah mengkhianatinya karena telah membiarkan Gatot me¬mesraiku. Di lain pihak aku ingin menceritakan peristiwa memalukan di Ancol waktu itu, untuk menjauhkannya dari laki-laki yang tak kenal arti kesetiaan itu. Tetapi aku tidak tahu bagaimana eara yang paling tepat untuk membuka mata Tina agar adikku itu tidak kaget ketika mengetahui se¬perti apa sebenarnya 1elaki yang katanya ia cintai setengah mati itu.

Ketika pada suatu malam Tina masuk ke dalam kamarku untuk meminjam salah satu blusku, knpa¬kai kesempatan itu untuk sedikit berbicara dengan¬nya. Siapa tahu aku mempunyai kesempatan juga untuk menjauhkannya dari Gatot. http:ebukita.wordpress.comhttp:ebukita.wordpress.comhttp:ebukita.wordpress.comnorahttp:ebukita.wordpress.comhttp:ebukita.wordpress.com"Tina, bolehkah aku mengetahui sesuatu tentang dirimu?" tanyaku membuka pembicaraan.

Aku benar-benar ingin tahu seperti apa hubungan mereka berdua saat ini. Sebab menurut pikiranku, kalau Gatot seorang laki-laki yang baik pastilah dia mempunyai rasa bersalah atau sedikitnya merasa malu kepada dirinya sendiri atas apa yang terjadi di Ancol waktu itu. Dan pasti pula ada sesuatu yang ia lakukan untuk mengurangi beban rasa bersalah itu lerhadap Tina. Lebih memanjakan gadis itu, misalnya.

"Kenapa tidak?" si lincah itu menjawab sambil mematut-matut blusku ke atas dadanya. "Tentang apa sih?"

"Tentang dirimu dengan Gatot," jawabku dengan sikap hati-hati, "Bagaimana hubungan kalian belakangan ini?"

Seperti yang sudah kuduga, pertanyaan itu menimbulkan rasa heran pada Tina. Ia menatapku penuh rasa ingin tahu.

"tumben pertanyaan ito kaulontarkan kepadaku, Mbak.. Ada alasan tertentu?" ia balik bertanya.

"Lho, memangnya aku tidak boleh bertanya seperti itu?" Aku pura-pura tak acuh dengan cara menyibukkan diri mencarikan blus yang kira-kira pantas dipakai olehnya.

"Boleh sih, tetapi kok tumben kau menunjukkan kepedulianmu terhadap hubungan kami. Biasanya kalau bukan sikap acuh tak acuh dan masa bodoh yang kauperlihatkan, sikapmu menunjukkan penentangan atas hubungan karni berdua," sahut Tina dengan pandangan bertanya. "Ada kemajuan?"

"Terus terang, tidak. Pendirianku tetap seperti semula, tidak setuju kau menikah dengan laki-laki yang empat belas tahun lebih tua. Dan itu berkaitan dengan masa depanmu, Tina. Aku tidak ingin melihatmu menyesal di kemudian hari. Makanya aku ingin tahu perkembangan hubunganmu dengan Gatot belakangan ini."

"Mbak, sudah kukatakan berkali-kali bahwa kau terlalu berlebihan mencemaskan diriku. Aku sudah bukan anak kecil lagi, lho. Aku ini gadis yang sudah dewasa!"

"Aku tabu, Tina. Tetapi umur delapan bela msih terlalu muda untuk memikirkan kehidupan rumah tangga. Jangan sia-siakan masa mudamu, Aku sangat menyayangimu, Tina."

"Menyia-nyiakan masa muda dalam hal apa, Mbak?"

"Dalam hal kehidupan pribadimu sebagai seorang individu. Saat ini kalau kau ditanya siapa dirimu, pasti kaukaitkan eksistensimu pada keluarga dan pada statusmu di dalam masyarakat. Maka selain menyebut nama, pasti kau akan menjawab bahwa dirimu adalah anak ketiga keluarga Joko Pribadi. Bahwa kau baru lulus SMU dan sekitar itulah."

"Apa sih maksudmu, Mbak?" Tina memotong perkataanku.

"Maksudku, kalau kau menikah muda maka kau akan kehilangan kesempatan untuk mengaktualisasikan dirimu sebagai seorang individu atau seorang subyek otonom yang tidak terkait dengan status atau peranmu di masyarakat. Artinya, kau bukan hanya sekadar sebagai seorang istri, pendamping suami, atau ibu dad anak-anakmu saja. Dan kau bukan hanya milik mereka saja, tetapi juga milik dirimu sendiri yang tahu apa maumu, mampu mengambil sikap dan pilihan-pilihan yang tidak serba didikte oleh masyarakat, oleh individu mana pun. atau oleh keharusan ini-itu yang dibuat oleh budaya atau lainnya. Di sini yang bermain adalah kehendak bebasmu dengan seluruh tanggungjawabnya."

Mendengar perkataanku, Tina tercenung beberapa saat lamanya. Aku tahu, dia sedang mencerna apa yang keluar dari mulutku.

"Bagaimana kalau pilihanku memang ingin menikah?" tanyanya lama kemudian.

"Asalkan itu benar keluar dari hatimu yang murni, yah, aku mau bilang apa? Tetapi kalau pilihan itu kauambil karena membayangkan akan hidup berdua saja dengan kekasih, atau apa sajalah yang serba manis dan indah dalam lautan madu cinta, aku merasa wajib untuk menyadarkanmu agar tak mabuk kepayang .... "

Suaraku terhenti oleh tawa Tina yang renyah.

Gadis itu merasa geli mendengar kata-kataku.

"Bisa-bisanya kau memilih kata-kata antik," komentarnya.

"Hush." Aku tersenyum. "Aku cuma mau mengatakan padamu, bahwa menjadi seseorang adalah menjadi pribadi yang mandiri. Yang mempunyai cita-cita ke masa depan yang mampu menentukan dirinya sendiri, yang mampu memberi makna hidupnya, yang tidak membiarkan diri tenggelam dalam suatu perasaan semusim belaka. Kenapa semua ini kukatakan, adalah karena aku ingin menyadarkanmu pada kelebihan-kelebihan yang dianugerahkan Tuhan kepadamu. Seperti kecemerlangan otak yang tidak dimiliki setiap orang. Juga kemampuan orangtuamu untuk memberi kesempatan belajar setinggi mungkin, yang tidak dimiliki setiap orang. Dan juga semangat belajar yang tinggi. Kau pasti tahu ada banyak orang memiliki otak yang encer, kesempatan, tetapi malah belajar, dan tak punya daya juang."

"Mbak, kalau tentang itu jangan khawatir, Aku akan melanjutkan studiku seperti niatku sernula kok. Masa kau tidak. tahu itu. Tanya saja pada Bapak atau Ibu." ,

"Tetapi itu hanya untuk mengisi waktu atau menunggu perkembangan hubunganmu dengan Gatot saja, kan?" Aku menebak-nebak,

"Ya. Tetapi itu sesuatu yang baik kan, Mbak?

Sambil menunggu menikah, aku menambah ilmu pengetahuan. Daripada menganggur, kan?"

"Berarti kalau menikah nanti, kuliahmu akan

kautinggalkan begitu saja?" .

"Itu mungkin saja. Tergantung kemauan Mas Gatot!"

"Tetapi tidakkah kaupikirkan berapa banyak biaya yang telah telanjur dikeluarkan oleh orangtua kitaT'

"Mengenai hal itu aku sudah pernah membicarakannya dengan Mas Gatot," sahut Tina dengan enteng. Caranya berbicara memperlihatkan sifatnya yang masih kekanak-kanakan. "Dan dia mengatakan akan mengembalikan uang yang telah dikeluarkan oleh Bapak dan Ibu untuk membiayai pendidikanku selama ini."

"Wah, hebatnya si Gatot itu. Mentang-mentang anak orang kaya dan dia sendiri pun sudah berpenghasilan besar!" aku menyindir,

"Tetapi, Mbak, kita tidak sedang mendiskusikan Mas Gatot, kan?" Tina menjinjitkan alis matanya yang berbentuk indah asli itu. 'Kalan tidak salah, kau tadi menanyakan bagaimana hubunganku dengan Mas Gatot saat ini. Ya, kan?"

"Ya ... "

"Nah, aku akan menjawab pertanyaanmu tadi, Hubungan kami berdua saat ini baik-baik saja.

Aku dan dia tetap saling mencintai. Bahkan belakangan ini Mas Gatot sering memberiku hadiah¬hadiah kecil tetapi sarat bermakna cinta."

Aku menarik napas panjang. Kutatap wajah Tina yang cantik tetapi masih begitu muda dan hijau pengalaman itu. Kentara sekali dari air mukanya yang polos. Aku jadi semakin kuatir memikirkannya. Gadis itu benar-benar tidak tahu apa-apa mengenai kenakalan kekasihnya. Bagaimana kalau kelak dia menyadarinya? Tidak akan patah hatikah dia?

"Apakah kau sudah kenal betul bagaimana sifatnya, kebiasaan-kebiasaannya, kepribadiannya, dan lain sebagainya?" tanyaku lama kemudian.

"Tentu saja sudah."

"Seperti apa, Tina?" tanyaku lagi. "Coba tolong kau jelaskan."

"Mas Gatot itu seorang lelaki yang baik budi, sabar, murah hati terhadap siapa pun, mudah memaafkan, memiliki rasa tanggung jawab dan kesetiaan yang tinggi," jawab Tina dengan fasihnya, seperti sedang menyebutkan hafalannya.

"Ah, alangkah sempurnanya kekasihmu itu, Tina!" aku menyindir.

Tina menyadari sindiranku. Kepalanya berputar menoleh ke arahku. Ada teguran dalam pandang matanya.

"Mbak, kau tidak mengenalnya sebagaimana aku mengenalnya," katanya kemudian. "Jadi tolong, jangan menilainya secara negatif dulu. "

"Dengan kata lain, dia benar-benar sempurna kan menurutmu?" aku tetap menyindir kekasihnya dengan perasaan sebal dan muak. Entah ilmu pelet apa yang dipakainya untuk mengelabui adikku itu.

Kalau saja tidak ingat apa akibatnya, ingin sekali aku mengatakan kepada Tina bahwa Gatot yang katanya kesetiaannya tinggi dan tanggung jawabnya besar itu belum lama ini telah menciumi, membelai, dan memesrai calon kakak iparnya. Dan tanpa mengucapkan penyesalan atau permintaan maaf sama sekali.

"Wah, ya bukan begitu, Mbak!" kudengar suara Tina menanggapi sindiranku tadi. Bibirnya tersenyum miring. "Mas Gatot itu manusia biasa. Dan yang namanya manusia, tidak seorang pun yang sempuma. Jadi, Mas Gatot juga tidak sempurna. Pasti seperti manusia lainnya, dia juga mempunyai kekurangan di samping kelebihan-kelebihannya itu. Sama seperti aku dan juga kau, Mbak. '

"Tetapi yang kurang itu belum kaulihat, kan?' lagi-lagi aku menyindir kekasih tercintanya itu. "Tetapi yah bagaimana bisa kaulihat kalau yang tampak hanya kebaikan-kebaikannya, kemanisannya dan pernyataan cintanya yang menggebu-gebu"

Tina menghentikan tangannya yang semula sibuk memantas-mantas beberapa helai blus ke tubuhnya di depan cermin meja rias ku. Badannya berputar ke arahku.

"Sebenarnya apa sih yang Mbak Ambar mau katakan kepadaku?" tanyanya kemudian. "Berterus¬teranglah padaku. Jangan menyindir-nyindir saja.

Aku tidak bisa menebak-nebak apa yang ada di dalam pikiranmu itu!"

Mendengar perkataannya, aku merasa bimbang.

Haruskah aku berterus terang dengan risiko hati adik tersayangku itu akan terluka? Ataukah tetap menyembunyikan kenyataan dan membiarkan adikku terperosok semakin dalam di telaga cintanya itu?

Melihatku terdiam, Tina mengerutkan dahinya.

. "Ada apa sib, Mbak? Katakan sajalah," katanya lagi. Kini dengan nada suara mendesak.

"Aku. .. aku cuma ingin kau tidak membiarkan dirimu terlalu tenggelam dalam perasaanmu saja," akhirnya aku mencoba menjawab juga meskipun dengan agak gugup. "Hendaknya kau juga tetap menjaga kewaspadaanmu. Tidak mudah mempercayai orang dan mampu berpikir secara rasional."

"Ah, kau belum juga mengatakan apa yang sebenarnya ada di dalam pikiranmu itu, Mbak." Tina meneliti air mukaku. "Ada apa sih sebenarnya?"

Aku menarik napas panjang. Bingung.

"Begini," kataku sambil mencari kata-kata yang netral. "Mengingat umur Gatot yang sudah tiga puluh dua, aku yakin dia sudah pernah menjalin cinta dengan gadis lain sebelum denganmu .... "

"Ya, itu pasti!" Tina memenggal perkataanku.

"Aku saja sudah pernah jatuh cinta kepada teman . sekelasku meski itu cuma cinta monyet. Waktu itu beraninya cuma tulis-tulisan surat dan jalan ramai¬ramai dengan yang lain. Jadi, apalagi Mas Gatot yang sudah seumur itu. Dan dia menceritakannya sendiri secara terns terang. Yang pertama dengan teman kuliahnya. Gagal karena pacarnya jatuh cinta kepada dosen mereka. Yang kedua juga gagal karena sang kekasih terlalu banyak menuntut perhatiannya. Mas Gatot tidak tahan dan memilih berpisah sebelum hubungan mereka berubah jadi saling membenci!" .

"Wah, tahu betul kau tentang masa lalunya!" "Tentu saja. Mas Gatot seorang lelaki yang jujur. Ia juga meneeritakan pertemuan tak sengajanya dengan Rini, pacar terakhirnya itu. Katanya, tampaknya bekas pacarnya itu menunjukkan keinginan untuk kembali, "

"Kau tidak cemburu waktu Gatot menceritakan hal itu kepadamu, Tina?" tanyaku ingin tahu.

"Aku akan lebih merasa cemburu kalau Mas Gatot menyembunyikan hal itu dariku!" Tina menjelingkan matanya kepadaku, membuat dadaku berdesir, Apakah Gatot te1ah menceritakan peristiwa malam purnama di Ancol waktu itu? Tetapi ah, itu tak mungkin. Aku yakin Gatot tak akan berani bercerita.

"Tina, yakinkah kau bahwa Gatot akan., akan setia kepadamu?" aku bertanya dengan hati-hati.

Mendengar apa yang kutanyakan, kulihat ada rasa geli dalam mata Tina. Dan dia menatapku berlama-Iama.

"Kenapa sih kautanyakan itu padaku, Mbak?" tanyanya kemudian. "Apakah menurutmu, Mas Gatot itu tidak bisa menjadi seorang kekasih yang setia?"

"Menurutmu bagaimana?" Karena tak bisa menjawab, aku balik bertanya.

"Aku tidak tahu," sahut Tina. "Terus terang aku kan baru sekali ini berpacaran dengan sungguh¬sungguh. Bukankah kau lebih berpengalaman dariku, setidaknya pengalaman yang kaudapatkan ketika masih menjadi kekasih Mas Bram!"

"Kalau begitu, bisa kukatakan bahwa kita kaum perempuan ini hendaknya jangan terlalu mudah mempercayai kesetiaan seorang kekasih, Sebab menurut pengalamanku, baik dengan Bram ... maupun dengan ... dengan Orang lain ... " Ah, hampir saja kusebut nama Gatot tanpa kusadari. "Lelaki lebih mudah tergoda lawan jenisnya sehingga tentu saja juga lebih mudah melanggar kesetiaan."

"Wah, apa yang kaukatakan itu merupakan ketidakadilan jender, Mbak. Stereotip tentang laki¬laki bahwa mereka itu mata keranjang, mudah tergoda, dan seterusnya!" Tina tertawa-tawa. Kedua belah bola matanya masih saja bergelimang rasa geli. "Padahal lelaki yang setia juga banyak. Sebaliknya, perempuan yang mata keranjang dan tidak setia juga cukup banyak."

"Tetapi apa yang kualami secara langsung, membuktikan hal itu, Tina. Laki-laki tidak bisa mempertahankan kesetiaan!'

"Mudah-mudahan Mas Gatot termasuk yang sebaliknya," kata Tina sambil menatap mataku. Rasa geli masih berbinar-binar dari kedua belah bola matanya.

Entah apa yang membuatnya merasa geli, aku tak tahu. Pikiranku lebih terserap pada penilaian buta Tina terhadap Gatot. Padahal, aku menjadi saksi bagaimana laki-laki itu telah melanggar nilai kesetiaan, Sungguh, betapa kesal perasaanku karena tak sanggup mengatakan terus terang kepada gadis yang sedang mabuk kepayang itu bahwa kekasih yang dianggapnya sangat setia itu pernah menciumiku dengan penuh gairah.

"Tina, sebaiknya kau jangan hanya, bisa mengatakan mudah-mudahan saja " tegurku sambil menahan perasaan kesalku itu. "Tetapi sebaiknya pasang jugalah mata dan telingamu. Sebab siapa tabu kekasihmu yang hebat itu tidak tahu. apa arti kesetiaan!"

"Tetapi, Mbak ... "

Cepat-cepat perkataan Tina kuhentikan sebelum dia menyelesaikan kalimatnya.

"Sudahlah, Tina, aku tak man berdebat denganmu. Pokoknya, jangan pemah mempercayai laki¬laki," kataku menyela. "Nah, sekarang aku ingin menonton film seri kesayanganku. Kau boleh memilih blus mana saja yang kauinginkan. Asal jangan yang warna hitam bunga-bunga merah dan ungu itu. Akan kupakai besok!"

Tanpa menunggu jawaban, lekas-lekas aku keluar kamar dan meninggalkan Tina sendirian di sana. Maka pcmbicaraan tentang Gatot pun terhenti dengan meninggalkan perasaan tak puas karen a aku belum juga berani berterus terang kepadanya mengenai kekurangajaran kekasihnya itu. Tetapi bagaimana mungkin aka berani? Bukankah di dalam peristiwa itu, aku sama sekali tidak menolak ciumannya yang menggebu-gebu?

Sekarang ini yang masih bisa kulakukan hanyalah berdoa kepada Tuhan agar mata Tina terbuka untuk melihat sisi gelap yang ada pada diri Gatot dan mau memikirkan kembali masa depannya bersama laki-laki itu. Dan bagi diriku, aku juga berdoa agar jangan sampai ada kesempatan yang menyebabkan aku dan Gatot bertemu lagi. Aku tak ingin berada di dekatnya. Berbicara dengannya saja pun aku tak mau lagi.

Tetapi . apalab kekuatan manusia ini dibanding dengan kehendak Tuhan Yang Mahakuasa. Seribu kali kita berdoa kalau Tuhan tidak menghendaki, bagaimana mungkin itu bisa terjadi. Kita yang tak mempunyai kekuatan apa-apa ini bisanya hanya menyerah dan pasrah pada kehendak-Nya, Dan pikiran kita yang hanya mampu termuati segela air ini pasti tak akan mampu memahami apa yang telah direncanakan oleh samudra raya milik Tuhan yang menciptakan seluruh air di dunia ini. Jadi tatkala di sebuah pertokoan tiba-tiba saja aku sudah berhadapan muka dengan Gatot sendirian aja, aku juga tak mampu mengelak. Sebab selama ini aku sudah berhasil menghindari laki-laki itu, walaupun rumah kami bersebelahan, dan hanya dibatasi pagar tembok rendah. Tetapi sekarang di tempat yang belasan kilometer jauhnya dari rumah, kami berdua malah bertemu muka dengan muka di depan kasir, seolah dunia begitu sempit. Padahal kota Jakarta ini padat penduduknya dan luas sekali

areanya. Padahal pula, kota Jakarta ini mempunyai ratusan ribu toko yang tersebar di mana-mana. Tetapi anehnya aku dan Gatot berada di toko yang sama, bahkan di depan kasir yang sama pula, masing-masing mau membayar belanjaan kami. Siapa tidak frustrasi berat karenanya, . bukan?

"Hai," sapanya.

"Hmm ... ," gumamku tak jelas. Aku tak berani menatap wajahnya. Apalagi di antara orang-orang yang juga sedang antre di samping kasir.

"Belanja kok jauh-jauh dari rumah," Gatot berkata lagi.

"He-eh," sahutnya acuh tak acuh. "Sendirian?" tanyanya lagi.

"Ya ... ," aku terpaksa menjawab bukan dengan gumaman tak jelas seperti sebelumnya. Bagaimanapun frustrasinya diriku, aku masih harus menenggang perasaannya di hadapan orang banyak. Jangan sampai ia kupermalukan dengan sikapku yang meremehkannya. Padahal kalau mengingat kelakuannya di Ancol waktu itu, sikap dingin yang kuperlihatkan itu masih terlalu baik. Orang seperti Gatot harus dikerasi dan diperlakukan dengan tega .

"Kau masih mau belanja apa lagi?" untuk kesekian kalinya dia bertanya.

Ah, alangkah inginnya aku membentaknya agar ia segera menyingkir dari dekatku. Dan ingin kukatakan keras-keras padanya bahwa dia tidak perlu bertanya atau bicara apa pun denganku. Tak ada urusan antara dirinya dengan aku. Tetapi sayang, itu tak mungkin kulakukan di depan orang banyak. Jadi aku terpaksa menjawab dengan lebih sopan ..

"Ti ... tidak," aku terpaksa menjawab juga pertanyaannya tadi.

"Kalau begitu kau sudah mau pulang?"

Aduh, nyinyirnya lelaki satu ini. Benar-benar sulit sekali aku mau menjawab apa dalam situasi seperti ini. Menegurnya bahwa ia tak berhak bertanya tentang apa yang akan kulakukan, itu pasti bukan perbuatan yang sopan. Mau menjawab bahwa aku sudah mau pulang, aku khawatir kalau-kalau dia menawariku pulang bersama. Sebab ia pasti tabu bahwa mobil "umum" di rumah kami sedang dicat ulang setelah diserempet mikrolet ketika sedang dipakai Tina. Sedangkan mobil Bapak jarang sekali dipinjam oleh anak-anaknya kalau tidak sangat perlu. Pendek kata, kebiasaan-kebiasaan yang ada di rumah kami, Gatot sudah tahu. Dan apa yang sedang terjadi di rumah kami, lelaki itu juga cepat sekali mengetahuinya. Tina yang tukang cerita itu telah menjadi sumber berita yang paling terpercaya bagi Gatot. Jadi laki-laki itu pasti bisa menduga kalau aku jalan-jalan kemari dengan kendaraan umum. Jadi, aku bingung mau menjawab apa atas pertanyaannya tadi. Kalau kukatakan masih ada yang akan kubeli, aku khawatir dia menawariku jasa untuk menemaniku. Sungguh jawaban apa pun yang akan kuberikan padanya mengandung fisiko keberadaanoya di dekatku. Serba salah jadinya.

"Bagaimana? Kau sudah mau pulang, atau ... ?"

Gatot bertanya lagi.

"Aku masih pikir-pikir dulu ... ," akhirnya aku 'hanya bisa berkata begitu. Setidaknya, aku berharap agar Gatot juga bingung mau melakukan apa mendengar jawabanku itu.

"Kok pikir-pikir dulu ... ?" Ah, masih saja lelaki tak tahu malu itu mendesakku.

"Ya, karena aku masih berpikir-pikir apakah jadi membeli sesuatu atau tidak," sahutku dengan perasaan apa boleh buat, Padahal ingin sekali aku membentaknya dan menyuruhnya pergi dari dekatku.

Betapa lega hatiku tatkala akhirnya aku sudah berada tepat di muka kasir dan dapat mengalihkan perhatian dengan mengeluarkan uang dari dompetku, Dan kemudian tanpa pamit kepada Gatot sesudah menerima uang kembaliannya, dengan gesit aku segera meloloskan diri. Dia masih terhalang dua orang lagi sebelum tiba di depan kasir satunya.

Bukan main lega hatiku ketika menoleh ke belakang, aku tidak melihat Gatot menyusulku. Maka dengan kecepatan dan kegesitan yang kumiliki aku lekas-lekas naik ke atas, ke bagian penjualan sepatu. Pikirku, Gatot pasti mengira aku sudah keluar pertokoan dan sedang mencari kendaraan untuk pulang.

Pikiran itu melegakan hatiku sehingga aku bisa melihat-lihat jajaran sepatu yang dipajang di ternpat itu dengan lebih leluasa. Bahkan kubiarkan diriku untuk mernuaskan keinginan menambah sepatu untuk kekantor. Aku memang membutuhkan sepatu yang tak terlalu tinggi dan enak dipakai untuk

mondar-mandir di kantor, Sepatu tinggi membuatku merasa cepat lelah. Dan juga tak bisa bergerak dengan enak dan bebas.

Ketika aku melihat sepatu dengan model yang kuinginkan, langsung saja aku tertarik. Modelnya cantik tetapi sekaligus juga sportif. Lekas-lekas tanganku terulur untuk mengambil sepatu itu. Tetapi karena kurang hati-hati, tanganku menyenggol sepatu lain yang dipajang di dekat sepatu itu. Maka tanpa sempat kutahan, sepatu itu jatuh. Untung lantainya dialasi dengan karpet sebingga kulit sepatu itu tidak tergores.

Cepat-cepat aku berjongkok dan mengulurkan tangan untuk mengambil sepatu tersebut. Tetapi belum lagi aku menyentuh benda itu, ada tangan lain yang lebih dulu meraihnya. Kepalaku yang tertunduk langsung menengadah, ingin melihat pemilik tangan itu dan mengucapkan terima kasih padanya. Maka kulihatlah, tepat di depan wajahku karena dia juga sedang berjongkok di dekatku, wajah pemilik tangan itu Wajah Gatot yang sedang tersenyum Lebar kepadaku.

Aku tersentak. Tersentak bukan hanya karena tidak menyangka akan bertemu dengannya lagi karena mengira dia sudah pergi, tetapi juga kaget atas reaksiku sendiri, Sebab begitu aku melihat wajah yang dekat dengan wajahku itu, jantungku langsung meloncat-loncat dan darah di tubuhku mengalir dengan deras sekali. Sungguh mati, aku membenci diriku sendiri karenanya!

http:ebukita.wordpress.comEnam http:ebukita.wordpress.com"KENAPA kau ada di sini?" aku mendesis sambil melotot ke arahnya. Kemudian kurebut sepatu yang ada di dalam tangannya itu.

Dengan cepat dan sambil berusaha keras untuk menenangkan deburan jantungku yang sangat tak beraturan, sepatu itu kukembalikan ke sandarannya di atas rak pajang. Aku benar-benar membenci laki¬laki yang selalu saja membuat emosiku teraduk¬aduk dan aku jadi kehilangan kontrol diri ini.

"Kenapa aku ada di sini, jawabannya sederhana saja. Yaitu sama seperti alasanmu kenapa kau ada di tempat ini," Gatot menjawab kalem. "Mencari sepatu, kan?"

Aku terdiarn beberapa saat larnanya, tak tahu harus berkata apa. Sebab memang tempat ini tempat urnum dan dia boleh-boleh saja hilir-mudik di sini semaunya. Tak ada hakku rnelarangnya. Lagi pula belum tentu dia sengaja membuntutiku. Mungkin saja dia memang ingin membeli sepatu.

"Sepatu sepcrti apa yang kaucari?" Karena aku tidak mernberi tanggapan atas perkataannya tadi, dia melanjutkan bicaranya, "Ayo, kita sarna-sama

rnencarinya, Jadi kita bisa saling memberi pendapat atau saran tentang .pilihan kita masing-masing!"

"Aku sudah biasa memilih sendiri sepatu yang kuinginkan," sahutku ,dengan suara ketus. "Pendapat orang lain hanya akan membuatku bingung menen¬tukan pilihan. Jadi silakan jalan sendiri. Aku juga mau jalan sendiri!"

"Wah, kau masih saja tidak pernah memperlihatkan keramahanmu terhadap seorang tetangga yang paling dekat dan paling baik. Apalagi tetangga yang akan menjadi adik iparmu!" Gatot berkata lagi.

Aku melotot lagi. Tak peduli aku seandainya ada orang yang melihatku seperti itu. Biar saja.

"Adik ipar apa?" Aku mendengus. "Tak akan kubiarkan Tina menjadi istri seorang lelaki hidung belang macam dirimu!"

"Lelaki hidung belang? Wah, jangan memberi cap seburuk itu padaku, kakak ipar!" Gatot membelalakkan matanya yang bagus itu. "Sebuah ciuman mesra dari seorang calon adik ipar adalah sesuatu yang wajar terjadi dan itu tidak perlu dipermasalahkan."

"Oh, dasar lelaki mata keranjang yang tak tahu nilai-nilai moral!" Aku megap-megap menahan marah yang berbaur dengan perasaan malu karena diingatkan pada peristiwa memalukan malam itu. "Aku sungguh muak melihatmu. Sekarang menyingkirlah dari depanku!"

"Waduh, bukan main galaknya calon kakak iparku yang jelita ini!" Gatot menatapku dengan bola mata berbinar-binar.Aku tak sudi memperpanjang waktu untuk ber¬debat dan adu kata dengan lelaki hidung belang itu. Oleh sebab itu tanpa berniat untuk membalas perkataannya tadi, dengan langkah lebar-Iebar kutinggalkan tempat itu tanpa pamit padanya. Menoleh sedikit pun, tidak. Keinginanku untuk membeli sepatu hilang lenyap tanpa bekas.

Kini selagi Gatot masih ada di belakangku aku melangkah cepat-cepat, berniat segera meninggalkan pertokoan itu. Pikirku, seandainya Gatot akan menyusulku, ia pasti akan memakai eskalator yang tak jauh dari dekat kami berdiri tadi. Dia pasti akan mengira aku mempergunakan tangga jalan itu untuk turun. Dengan pikiran itu cepat-cepat aku menyelinap ke arah lift. Aku berharap dia tidak berpikir aku akan turun dengan sarana itu.

Sayangnya, tanda panah di atas kedua lift itu menunjuk arah panah ke atas. Berarti aku tidak bisa segera turun dan menghilang dari pertokoan ini. Karenanya, kucegat salah satu lift yang saat itu masih berada di lantai tiga agar berhenti di lantai lima tempat aku sedang berdiri ini. Pikirku aku bisa ikut naik dulu entah sampai ke tingkat mana nanti, dan baru sesudah penumpang lift lainnya keluar aku bisa memijit tombol ke arah turun. Yang penting, aku tidak bertemu Gatot lagi.

Dengan perasaan tak sabar, mataku terus-menerus menatap angka-angka di alas pintu lift dan berharap benda itu' segera tiba di lantai tempatku berdiri. Waktu melihat lift yang kupijit berhenti lama di lantai empat, kesabaranku nyaris menguap. Pasti

ada banyak penumpang lift yang keluar di tempat penjualan pakaian anak -anak dan perlengkapan bayi. Sedang ada obral di sana. Ketika akhirnya lift bergerak lagi aku mulai bersiap-siap. Begitu pintunya terbuka, tak sabar aku langsung masuk dan membiarkan saja tubuhku bersenggolan dengan penumpang yang akan keluar.

Tetapi dasar memang sedang sial, aku jadi kehilangan kewaspadaanku karena tadi terus menengadah memandangi angka-angka yang menyala di atas pintu lift. Maka sebagai akibatnya, ketika kakiku sudah menapak memasuki lift dan di belakangku menyusul masuk orang yang justru sedang kuhindari, nyaris saja aku memekik. Tetapi

udah terlambat kalau aku ingin keluar kembali.

Pintu lift segera tertutup dan di dekatku berdiri dengan sopan seorang pria berkulit putih. Apa nanti kata bangsa asing itu kalau melihat dua orang yang baru masuk ke dalam lift bertengkar di dekatnya.

Bukan main dongkolnya hatiku. Sia-sia saja usahaku melarikan diri dari dekat Gatot. Aku ingin menangis karena frustrasi berat. Dengan menahan perasaan seperti itu aku terpaksa membiarkan lift bergerak naik. Di tingkat tujuh baru lift itu berhenti dan laki-laki berkulit putih itu keluar sesudah melemparkan senyum ke arah kami berdua,

Berada hanya berduaan aja dengan satu-satunya orang yang justru ingin kuhindari itu merupakan siksaan berat bagiku. Air mataku mulai merebak memenuhi kelopak mata saat tanganku memijit tombol lift kembali ke lantai dasar. Tetapi lekas¬lekas kusembunyikan wajahku agar Gatot tidak melihat air mata yang meluncur di pipiku. Aku bermaksud menghapusnya dengan diam-diam. Tetapi rupanya laki-laki itu memperhatikan air mukaku dari cermin yang ada di dinding lift. Sebab tiba-tiba saja tangannya terulur, menyentub lembut pipiku yang basah dengan jemarinya.

"Ah, begitu saja kok menangis," bisiknya dengan suara yang selembut elusan jemarinya.

Aku tak mau terpengaruh oleh kelembutan sikapnya. Tangan Gatot segera kutepis. Dan meskipun aku ingin menangis sekeras-kerasnya, kemarahanku harus kusalurkan sebagai pengobat frustrasiku tadi.

"Apakah kau ... kau ... tak merasa telah menggangguku dan melenyapkan semua kegembiraanku berbelanja di hari liburku ini?" bentakku. Tetapi suaraku tak bisa sekeras yang kuinginkan karena bergetar menahan tangis.

"Jangan membesar-besarkan hal yang tak perlu dipermasalahkan," sahut Gatot dengan tenang. "Sebab semestinya hari ini bisa kita isi dengan berbelanja dan memilih barang bersama-sama sambil mengobrol dengan tenang dan santai. Dan setelah capek, kita bisa makan di basement. Ada es cincau hijau dan es doger di bawah sana."

"ldih, siapa yang sudi jalan berduaan dengan lelaki hidung belang macam dirimu!" aku membentak lagi. Tetapi kali itu air mata yang belum tuntas keluar tadi, meluncur lagi ke pipiku. Menyebalkan juga air mataku itu, Kenapa harus keluar di saat yang tidak tepat?

Gatot tidak menanggapi perkataanku. Kelihatannya, perhatian laki-laki itu lebih tercurah pada air mataku. Tangannya terulur lagi, dan dia mengusap¬usap pipiku dengan gerakan lembut.

Tidak seperti tadi, tangan Gatot tak kutepiskan.

Dan gilanya, hatiku bahkan tersentuh oleh perbuatannya itu. Usapan tangannya yang menyentuh pipiku yang lembap dan gerakan jemarinya yang lembut membuatku tak lagi mampu berpikir sehat. Untungnya kejadian itu hanya berlangsung selama beberapa saat saja.

"Lepaskan tanganmu yang kurang ajar itu," kataku kemudian. "Jangan pura-pura baik hati terhadapku!"

Gatot menuruti perkataanku. Tangannya yang berada di pipiku dilepaskannya. Tetapi sebagai gantinya, tangan yang baru lepas dari pipiku itu dilingkarkannya ke bahuku. Lengannya yang kokoh, yang terbentuk oleh kesukaannya berolahraga, memelukku dengan sikap melindungi. Dan telapak tangannya menepuk-nepuk pangkal bahuku, persis

seperti orang sedang membujuk anak kecil yang sedang menangis. Tetapi aku tak mau jatuh ke dalam rayuannya itu,

"Lepaskan!" sentakku lagi.

"Tidak sebelum kau mau memaafkanku karena telah membuat air matamu tumpah!" dia berbisik di sisi telingaku. "Percayalah, Ambar, aku benar¬benar tidak bermaksud membuatmu marah, Dan percayalah pula bahwa aku benar-benar ingin jalan¬jalan bersamamu di pertokoan ini. Pasti banyak orang akan merasa iri melihatku berjalan bersama seorang gadis jelita, yang matang dan semenarik dirimu.' ,

Aku tahu betul, apa yang dikatakannya itu hanyalah rayuan gombal belaka. Rayuan yang entah sudah diobralnya ke mana saja. Sebab meskipun aku sadar bahwa diriku memang cantik, tetapi kalau sampai membuat banyak orang merasa iri kepada Gatot, rasanya itu sangat berlebihan. Lelaki itu cuma ingin mengobral rayuan gombalnya saja. Kota Jakarta ini gudangnya perempuan cantik. Pasti yang lebih cantik dari aku banyak sekali.

Namun yang membuatku merasa aneh adalah perasaanku ketika mendengar rayuan gombal itu. Tak ada amarah dalam hatiku. Tak ada rasa kesal padaku. Yang ada justru sentuhan perasaan yang agak-agak manis. Padahal kalau rayuan gombal itu diucapkan oleh laki-laki lain, barangkali aku akan merasa muak mendengarnya. Bukankah itu aneh? Apalagi kalau diingat betapa bencinya aku kepadanya.

Tetapi yah kalau aku mau bersikap jujur, memang cara Gatot mendekatiku sejak tadi patut kuhargai. Dia telah mengejarku di pertokoan ini hanya untuk menemaniku berbelanja, Sikapnya mengatakan bahwa bagi dirinya, aku ini orang yang penting. Tak peduli apakah itu merupakan bagian dari sifat mata keranjangnya, tetapi aku merasa dia tidaklah main-main dengan ucapannya itu. Artinya, meskipun yang diucapkannya itu sangat berlebihan kalau ditangkap dengan rasio, tetapi bagi Gatot itulah penilaian subyektifnya, penilaian yang diambil dari sudut pandangnya sendiri. Dan itulah yang menyentuh perasaanku.

Sentuhan perasaan itu membuatku jadi .agak terlena, sehingga kubiarkan diriku dipeluk olehnya. Untungnya, sampai kami mencapai lantai dasar, tak ada orang yang mencegat lift. Jadi, ketika pintunya terbuka barulah Gatot melepaskan bahuku dari pelukannya. Tetapi tetap saja sebagian orang yang menunggu di muka pintu lift sempat melihat kemesraan itu. Terus terang, aku agak malu dipergoki seperti itu. Jangan-jangan mereka mengira aku dan Gatot baru saja mencuri kesempatan untuk bermesraan di dalam lift tertutup itu.

Beberapa pengalamanku menunjukkan bahwa entah kebetulan entah tidak, jika seseorang sedang mendapat sial, ada kemungkinan dia akan menerima kesialan berikutnya. Dan itulah rupanya yang kualami pada siang hari itu. Hari libur yang sebenarnya merupakan hari santaiku itu, menjadi hari yang tak menyenangkan. Sebab waktu pintu lift terbuka dan lengan Gatot masih melingkari bahuku, salah satu dari orang-orang yang menyaksikan adegan itu tiba-tiba menegur Gatot. Dia wanita muda berwajah manis.

"Mas Gatot?"

Mendengar sapaan itu, Gatot menghentikan langkahnya. Begitupun aku. Kami lalu mencari asal suara. Dan kulihat seorang perempuan muda yang

sebaya denganku. Rupanya, begitu melihat Gatot dia tidak jadi masuk ke dalam lift. Dia menunggu kami keluar, lalu mendekat. Wajahnya bercahaya oleh senyum manisnya.

"Mas Gatot!" dia menyebut nama Gatot lagi. "Rini," kudengar Gatot membalas sapaannya, namun berbeda dengan wanita itu, tak ada senyum di wajahnya. .

Sedangkan aku begitu mendengar nama itu disebut, perhatianku langsung tercurah kepada perempuan itu. Aku teringat cerita Tina bahwa Gatot pernah berpacaran dengan gadis bernama Rini. Inikah gadis yang diceritakannya itu ataukah hanya namanya saja yang kebetulan sama?

Dalam waktu singkat aku dan Gatot sudah ber¬diri berhadapan dengan gadis itu. Entah dia bekas pacar Gatot entah bukan, tanpa mauku aku mulai memperhatikan wajah dan keseluruhan dirinya un¬tuk kubanclingkan dengan Tina.

Wajahnya memang manis sekali. Lesung pipinya menambah daya tariknya. Bentuk tubuhnya juga termasuk indah. Tetapi kalau dibanding Tina, gadis itu masih kalah. Yang menang hanya caranya merias diri dan memantas pakaian. Dan kelihatannya, apa yang dikenakannya itu merupakan barang¬barang pilihan. Termasuk tas yang di bahunya yang bermerek terkenal buatan Prancis. Sama seperti sepatunya. Belum Iagi arloji dan perhiasan yang dipakainya. Aku yakin, dia pasti anak orang kaya.

Tetapi meskipun serba "wah", kulihat apa yang

menempel pada gadis itu tidak tampak berlebihan. Semua serba pas berada di tempatnya. Dan tampak modis .. Dia tahu betul barang-barang yang berkelas dan bagaimana mengenakannya dengan tepat.

Sebaliknya Tina, sebagaimana juga dengan diriku, mempunyai selera yang sama. Tidak pernah memedulikan merek. Tidak pemah memperhatikan mahal atau murahnya barang yang menempel pada kami. Juga tidak peduli apakah atribut itu akan menaikkan gengsi atau tidak. Pola pikir seperti itu bukan saja karena kami terbiasa hidup apa adanya, tetapi juga karena orangtua kami bukan orang yang berkelebihan. Dan lebih dari itu, mereka tak pernah memberi contoh apalagi mendidik kami untuk menggarisbawahi harga diri atau gengsi dengan mengaitkan diri pada materi. Mereka mengajarkan kami hal-hal yang lebih bernilai, yang tidak bisa dicuri dati kami, yaitu budi pekerti, pengetahuan, dan hal-hal yang bersifat substansial.

"Dengan siapa, Mas?" Rini menegur Gatot lagi, tetapi pandang matanya menghunjam ke arahku.

Karena tidak ditanya, aku diam saja meskipun keberadaanku di dekat Gatot disinggungnya. Namun aku sadar, gadis itu dipenuhi oLeh rasa ingin tahu yang begitu pekat. Matanya menelusuri tubuhku sehingga aku sadar dia merasa tersaingi olehku. Siang itu aku memang memakai setelan celana panjang dan blus pendek berwarna oranye muda dengan sepatu dan tas senada yang membuat kecantikanku tambah menonjol. Memang bukan barang mahal, tetapi tampak serasi dan pantas membalut tubuhku. Cermin di kamarku tadi telah mengatakannya padaku.

"Dengan ... dengan ... seseorang yang akrab denganku," kudengar Gatot agak kerepotan menjawab pertanyaan Rini. Aku tahu, Iaki-laki itu takut aku akan membantah perkataannya di depan Rini, dan membuatnya merasa malu.

"Apakah gadis ini yang kauceritakan padaku waktu itu, Mas?" Rini bertanya lagi. Pandang matanya menusuk ke arahku.

Entah apa yang pernah dibicarakan oleh kedua orang itu, aku tidak mengerti. Dan gadis mana yang disinggung oleh Rini, aku juga tak tahu. Tetapi yang pasti, aku melihat kepala Gatot mengangguk, membenarkan pertanyaan Rini.

Kalau saja aku tidak ingat bahwa kami bertiga berada di tempat umum dan kalau saja aku tidak mau menenggang perasaan Gatot, sudah pasti aku akan menuntut penjelasan tentang apa yang dimaksud dengan "gadis" yang diceritakan Gatot kepada Rini dan apa pula makna "ya" yang diperlihatkan olehnya tadi. Sebab tampaknya, aku terkait di dalam pembicaraan mereka.

"Cantik sekali. Dan sangat menawan," kudengar Rini bergumam sambil terus meneliti wajah dan penampilanku. Namun aku menangkap tatapan tak tulus di matanya.

"Kau jalan dengan siapa, Rin?" kudengar Gatot mengubah pembicaraan tentang diriku. Tahu diri juga dia, pikirku. "Kaupikir aku akan jalan dengan siapa?" Rini malah membalikkan pertanyaan kepada Gatot.

"Mana aku tahu, Rin," Gatot menjawab sabar.

"Sudah lama sekali kita tidak bersama-sama."

Mendengar tanya-jawab itu dugaanku semakin kuat. Gadis di hadapanku ini adalah Rini, bekas pacar Gatot. Maka perasaan sedang sial itu pun melanda hatiku. Sebab pikiranku 1angsung saja melayang kepada hal-hal yang semestinya bukan urusanku dan tidak perlu pula kupikirkan. Misalnya, ketika aku melihat bibir Rini yang mungil, serta¬merta aku bertanya-tanya, sudah berapa puluh kalikah bibir itu dikecupi oleh Gatot dengan cara seperti yang pernah dilakukannya padaku malam itu? Jadi, bukankah hari ini hari yang sial buatku?

"Kaupikir mudah ya mencari kekasih baru yang cocok?" Rini menjawab pertanyaan Gatot tadi dengan gumaman. Matanya melirik tajam ke arah Gatot.

Mendengar pembicaraan kedua orang, aku 'memilih diam. Caraku bersikap jadi seperti patung. Tetapi kesadaranku tetap penuh sehingga aku tahu betul bagaimana Gatot menjadi risi oleh perkataan Rini barusan. Kentara dari pandangan mata, sikap dan ketidakmampuannya menanggapi perkataan Rini itu.

Barangkali Rini merasa juga bahwa kehadirannya membuat perasaan Gatot jadi tidak nyaman. Ia melirik arlojinya yang mahal.

"Silakan lho kalau mau melanjutkan belanja," katanya. "Kapan-kapan aku akan mampir ke kantormu untuk melanjutkan obrolan kita. Boleh kan, Mas?"

"Boleh saja."

"Nah, sampai di sini dulu ya," kata Rini lagi.

Kemudian dia menyapaku, sapaan pertama yang ditujukan khusus kepadaku. "Ayo, Mbak."

"Silakan," aku membalas sapaannya. Sampai gadis itu pergi, sepatah kata pun tidak ada tanda¬tanda dari pihak Gatot untuk memperkenalkan aku dengan Rini, Entah lupa entah disengaja, aku tak tahu. Tetapi ah, untuk apa aku repot-repot memikirkannya.

"Ayo, Ambar ... ," begitu Rini menghilang di antara orang banyak, kudengar Gatot berkata di dekat telingaku. Tangannya menggamit lenganku

Sekarang karena tidak ada orang lain, aku bisa melampiaskan apa yang ada di hatiku dengan lebih leluasa. Lenganku kurenggut dari pegangan Gatot.

"Ayo ke mana?" bentakku kemudian. "Aku masih belum mau pergi dari tempat ini. Apalagi bersamamu!"

"Lho kok marah?" Gatot memicingkan matanya ke arahku. "Kalau kau belum mau pulang sekarang atau masih ada keperluan lain, ya silakan saja. Aku akan menemanimu sampai urusanmu selesai!"

"Aku tidak memintamu untuk menemaniku. Aku juga tidak suka kautemani. Jadi tolong tinggalkan aku sendiri!" Aku membentak lagi.

"Tetapi, Ambar, rumah kita kan bersebelahan.

Aku membawa mobil dan kau tidak. Aku juga tidak punya acara lain. Jadi, berjalan-jalan bersamamu begini merupakan sesuatu yang pasti akan menyenangkan. Sebab mana enak sih jalan-jalan sendirian?" Sekali lagi Gatot memicingkan matanya, "Lagi pula kalau Bu Joko tahu kita ketemu di sini dan aku tidak mengajakmu pulang bersama, pasti aku akan dianggapnya tak punya perasaan."

Merasa apa yang dikatakannya tidak salah, aku terpaksa mengakhiri acara jalan-jalan itu dengan membeli sebuah lipstik warna baru yang dijual di salah satu pojok tempat penjualan kosmetik dan perhiasan imitasi. Aku tidak suka ada yang orang yang mengekor di belakangku. Membeli sepatu seperti yang kuinginkan tadi, bisa kulakukan kapan¬kapan saja.

"Nah, ke mana lagi?" Gatot bertanya dengan sabar sesudah aku membayar dan menyimpan benda yang baru saja kubeli itu ke dalam tasku.

"Tidak ke mana-mana lagi," aku menjawab ketus.

" Jadi, sudah ... ?" "Ya."

"Tetapi bagaimana kalau sebelum pulang kita mengisi perut lebih dulu?" usul laki-laki itu sambil melirik ke arahku. "Perjalanan dari sini ke rumah jauh lho. Aku tak mau mati kelaparan di jalan."

Karena perutku sudah lapar dan karena memang sudah waktunya makan siang, aku terpaksa mengiyakan.

"Terserah," sahutku menerima ajakannya, Gatot tersenyum manis.

"Enak kan suasananya kalau kau tidak lagi terus-menerus membantah, membentak-bentak, dan melarikan diri dariku," katanya kemudian. "Apalagi aku ini 'benar-benar sehat lho, jadi kalau melihatku jangan lari terbirit-birit lagi seperti melihat orang yang berpenyakit menular menyeramkan!"

Aku tidak menanggapi perkataan Gatot. Tetapi langkah kakinya kuikuti ketika dia turun ke lantai bawah dengan mempergunakan eskalator. Di basement banyak kios yang menjajakan pelbagai macam makanan dan minuman, berjajar-jajar, dengan foto-foto makanan dan minuman yang ditawarkan berikut harganya. Tetapi karena sedemikian banyaknya tawaran, aku jadi bingung mau memilih apa.

"Mau makan apa?" tanya Gatot.

Aku memilih yang mudah dan cepat tersaji supaya bisa cepat pulang ke rumah. Maka aku memilih masakan Padang. Nasinya separo saja, tetapi Jauknya macam-macam. Kupilih rendang hati sapi, gulai otak, sayur daun singkong, dan dendeng balado yang tipis renyah itu. Kulihat, Gatot juga memilih makanan Padang. Memang praktis dan cepat tersaji. Tinggal memilih yang sudah terpajang saja. Tidak usah menunggu dimasak dulu. Dan yang penting, lezat rasanya.

"Karena yang kupilih mahal-mahal, aku akan membayar sendiri apa yang akan kumakan ini," kataku kepadanya.

"Aku yang mengajakmu makan, maka aku yang akan membayar," Gatot menjawab dengan tegas.

"Kau sudah beberapa kali membayariku makan.

Aku tidak enak."

"Kalau begitu, kesempatan mendatang kau yang

membayari. Oke?" ,

"Tidak akan ada lagi kesempatan untuk itu.

Camkanlah!" aku menjawab perkataannya dengan suara tajam.

Aku tidak ingin bersitegang otot leher lagi. Jadi dari situ aku segera memesan es cincau hijau. Tetapi lagi-lagi Gatot meniru pilihanku. Dan juga membiarkan aku yang memilih meja. Di atas meja itulah kuletakkan tanda bertuliskan nomor kios tempat penjualan minuman es cincau hijau tadi.

Tetapi sungguh, kesialanku rupanya belum habis.

Baru saja aku duduk, mataku menangkap Rini yang sedang duduk sendirian di sudut, menanti pesanannya. Ada nomor di mejanya. Sialnya, dia melihat kehadiran kami. Dan lebih sial lagi, ia langsung berdiri sambil membawa nomor pesanannya, dan langsung ia letakkan di atas meja kami.

"Boleh aku ikut bergabung, kan?" katanya sambil duduk. "Tidak enak makan sendirian!"

"Silakan." Karena Gatot diam aja aku terpaksa menjawab pertanyaan Rini walaupun perasaanku tak suka. Sebab bagaimana mungkin menolak permintaannya karena dia sudah langsung duduk di tempat kami. Mana mungkin aku mengatakan "jangan" meskipun hatiku ingin mengusirnya.

Gatot tetap tidak memberi tanggapan apa pun.

Hanya saja dari pandang matanya aku melihat ketidakpedulian dan ketidaksukaan yang amat kentara. Ah, laki-laki itu memang pandai membuat orang merasa jengkel. Aku yakin Rini pasti juga merasakan hal yang sama. Kehadirannya di meja kami ditanggapi oleh Gatot dengan sikap dingin dan acuh tak acuh. Kalau mata lelaki itu bisa bicara pasti mereka sudah menyuruh Rini kembali ke tempat duduknya semula.

Suasana menjadi kurang enak sampai akhirnya es cincau pesanan kami datang, hampir bersamaan dengan datangnya makanan yang dipesan Rini. Untuk mencairkan suasana, es cincau itu langsung kuminum dan kusendok.

"Mm, ini rasanya lebih enak daripada di tempat lain," komentarku, entah kutujukan kepada siapa. "Ada wangi daun jeruk."

Belum ada tanggapan sampai akbirnya Gatot yang juga memesan minuman yang sama memberi komentarnya.

"Ya, ini memang lebih enak, Rasa daun jeruk purut ini berasal dari santannya," katanya kemudian.

Karena Rini memesan minuman di tempat lain, Ia tidak bisa ikut memberi komentar. Tetapi meskipun demikian suasana tegang yang ada di sekitar kami jadi mulai terasa agak mencair. Kulihat Rini menyesap es jeruknya pelan-pelan. Kemudian dengan sikap wajar yang berhasil ditampilkannya dia mulai bicara lagi.

'Waktu kita berjumpa tempo hari, kau bilang rumahmu sudah pindah," katanya kepada Gatot.

"Memang."

"Menyewa kamar saja atau mengontrak rumah lagi?"

"Aku membelinya."

"Wah, hebat. Sukses rupanya kan sekarang ya, Mas?"

"Untuk membelinya aku meminjam uang orang¬tuaku kok," sabut Gatot tanpa menoleh barang sekilas pun kepada Rini.

"Belum juga mampu mandiri?"

. "Hampir," Gatot menjawab pelan. "Uang yang kupinjam dari orangtuaku sudah hampir lunas."

"Jadi benar kan kalau kukatakan tadi bahwa kau sudah sukses sekarang. Kariermu sudah maju begitu kok."

"Hidup ini perjuangan, kan?" lagi-lagi Gatot menjawab dengan kalem. "Tujuh tahun bekerja masa iya tidak ada kemajuan."

"Bolehkah kapan-kapan aku main ke rumahmu?

Hari masih tinggalbersamamu?" Rini bertanya lagi.

"Ya, Hari masih tinggal bersamaku," Gatot menjawab tanpa menyinggung permintaan Rini yang ingin berkunjung ke rumahnya.

Dari Tina, aku pernah 'mendengar bahwa Gatot memutuskan hubungannya dengan Rini karena gadis itu terlalu banyak menuntut perhatian. Aku tidak tahu begitu banyak karena Tina pun tidak begitu banyak memberiku informasi. Yang jelas, kedua insan itu merasa tidak cocok satu sama lainnya. Tetapi entah kenapa, aku melihat seperti apa yang juga pernah diceritakan oleb Tina, bahwa Rini tampaknya gagal menjalin bubungan cinta dengan laki-laki lain dan sekarang mulai menyesali putusnya dia dengan Gatot.

"Mas, apakah kau masih suka membaca, berolahraga dan mengikuti kursus ini-itu daripada menemani kekasih jalan-jalan?" Rini bertanya lagi. Dan kemudian tiba-tiba ia mengalihkan pertanyaannya kepadaku, "Dan bagaimana denganmu, Mbak? Apakah sebagai kekasih Gatot, kau juga sering dinomorduakan olehnya?"

Aku tertegun. Rupanya, Rini mengira aku kekasih Gatot. Dan itu baru kusadari sekarang, karena dari tadi pikiranku terkait kepada Tina sebagai kekasih lelaki itu. Akibatnya, aku sama sekali tidak siap menjawab pertanyaan Rini tadi. Lagi pula aku masih belum tahu harus berdiri di mana. Membela Gatot atau membela Rini. Dan aku juga tidak tahu apa yang akan dikatakan oleh Tina seandainya dia yang mendapat pertanyaan dad bekas kekasih Gatot itu.

Untungnya Gatot menyadari kesulitanku. Dengan cepat ia mengoper pembicaraan demi melihatku tertegun-tegun seperti itu.

"Pengalaman lalu telah mengajar aku untuk belajar menjadi orang yang lebih baik dan lebih peka menangkap kebutuhan orang lain," katanya. "Nah, sebelum kita melanjutkan acara makan ini ada sesuatu yang telah kita lupakan. Sejak bertemu tadi kalian berdua belum berkenalan, kan?"

Hm, Gatot mulai lagi melepaskan diri dari percakapan yang menjurus ke masalah pribadinya.

"Ya, kami memang belum berkenalan." Rini menjawab sambil mendorong gelas es jeruknya ke samping. Kemudian tangannya terulur ke arahku. "Namaku Rini. Astarini, lengkapnya."

Uluran tangannya kusambut. Mata kami bertemu.

Dan aku pun merinding. Ada sinar kebencian dan bahkan seperti dendam yang tersiar dari kedua bola matanya. Rupanya apa yang Tina ceritakan padaku ada benarnya. Sebenarnya Rini masih ingin kembali kepada Gatot

"Aku, Ambar!" Kusingkirkan perasaan tak enak tadi dari hatiku. Aku toh bukan saingannya. Gatot bukan apa-apaku. "Lengkapnya Niken Ambarwiyati."

"Nama Jawa banget."

"Aku memang orang Jawa meskipun sejak kecil sudah tinggal di Jakarta dan tidak pernah tinggal lama di Jawa Tengah atau pun di Jawa Timur."

"Aku pernab rnembaca tentang kebudayaan Jawa.

Babwa orang Jawa itu menyukai dan mengusabakan harmoni atau keselarasan yang dituangkan dalam sikap rukun dan hormat. Kedua sikap ter ebut menjadi kaidah yang paling menentukan pola per¬gaulan dalam masyarakat Jawa. Selain itu juga mereka rnenekankan rasa isin, atau rasa malu. Jadi jangan bikin malu keluarga atau kelompok, haru punya rasa tak enak, dan seterusnya. Nah, apakah juga demikian sikap hidup yang kaupegang, Mbak?"

Sekali lagi aku tertegun. Aku orang Jawa, memang, Tetapi tentang dua kaidah itu aku tak tahu benar. Kedua orangtuaku dan bahkan kakek-nenekku tak pernah mengajariku demikian, Namun demikian setiap aku menginap di Solo tempat kakek-nenekku tinggal, aku selalu memperhatikan cara orang Jawa bercakap-cakap. Bahasa yang mereka pergunakan mempunyai tingkat kehalusan yang berbeda-beda dengan penggunaan yang berbeda¬beda pula, tergantung kepada lawan bicaranya. Dengan orang yang lebih tuakah, atau dengan atasankah, dengan orang yang harus dihormatikah, atau dengan orang yang baru dikenal dan seterusnya. Atau sebaliknya, dengan mereka yang lebih mudakah, dengan bawahankah, atau pula dengan yang setara, yang sebaya, dan dengan saudara atau teman akrab. Pendek kata, meskipun aku orang Jawa tetapi masih saja sering merasa heran menyaksikan bagaimana mereka bisa mempergunakan tingkat bahasa yang tepat dengan sendirinya. Tetapi sekarang sesudah Rini mengatakan ada kaidah yang menentukan pola hubungan antar manusia, yaitu sikap rukun dan hormat, tiba-tiba saja mataku mulai terbuka. Bahwa karena adanya pemakaian tingkatan bahasa itulah maka muncul perasaan sungkan, rasa segan, hormat, dan menenggang perasaan orang lain yang dengan sendirinya membentuk situasi yang harmoni. Sedangkan nilai kerukunan sudah pasti membawa rasa damai. Dan otomatis pasti harmonis.

Berpikir seperti itulah baru aku bisa menjawab perLanyaan Rini tadi.

"Memang harmoni merupakan sesuatu yang harus dicapai oleh orang Jawa meskipun itu tidak diucapkan secara jelas atau secara terang-terangan dalam didikan keluarga. Babkan juga mungkin tanpa yang bersangkutan menyadari. Misalnya, bagaimana hidup ini harus mengalir seperti air. Menghanyutkan diri tanpa harus terhanyut, dan semacam itu. Dengan kata lain, hidup ini tidak untuk dipersoalkan tetapi untuk dijalani. Kalau dalam aliran kehidupan ini kita tersandung sesuatu, maka dicarilah sikap-sikap kompromis demi menghindari gesekan-gesekan yang mengganggu harmoni." Begitu aku menjawab sekenaku. "Sedangkan sikap hormat, sikap rukun, dijabarkan dalam rasa sungkan, tahu menenggang rasa, menjaga rasa malu, menghindari konflik, termasuk konflik batin. Meskipun tidak diucapkan secara nyata oleh para pendidik, kami selalu diarahkan untuk tidak melanggar hal itu."

"Aku akan menambahi apa yang dikatakan oleh Ambar," Gatot menyela bicaraku sambil memandang ke arah Rini. "Orang Jawa mendidik anak tidak secara khusus bahwa kami harus begini atau begitu, kecuali kalau memang itu perlu. Tetapi dengan peragaan konkret yang mereka perlihatkan dalam hidup keseharian. Nah, kurasa mengenai budaya Jawa itu dicukupkan sampai di sini saja. Lagi pula kenapa sih kau tiba-tiba saja membahas paham Jawa?"

Rini tersenyum manis. Lesung pipi dan giginya yang sehat tertata rapi itu tampak menawan. Dan secara tak kusangka-sangka aku merasa tidak nyaman. Aku ingin sekali Gatot tidak melihat keindahan di hadapannya itu. Entahlah mengapa timbul perasaan seperti itu. Dan entah pula perasaan itu muncul demi Tina atau demi diriku sendiri, masih baur. Dan yang tidak baur hanyalah perasaan marah terhadap diriku sendiri. Kenapa aku harus merasa terganggu hanya karena melihat senyum Rini, yang memesona, yang mungkin pemah membuat Gatot tergila-gila,

Dengan perasaan tertekan, aku mencoba untuk duduk dengan tenang sambil tetap berusaha menikmati nasi Padang di hadapanku.

"Belakangan ini aku memang amat tertarik pada segala sesuatu mengenai Jawa. Mungkin karena kau orang Jawa ya, Mas." kudengar Rini menjawab pertanyaan Gatot. Dan kulihat dia tersenyum lagi dengan pesona lesung di pipinya itu. "Sayangnya sudah terlambat. Kenapa itu tidak kupelajari dulu¬dulu sewaktu kita masih bersama. Maaf lho, Ambar. Aku ini suka berterus terang dan berkata apa adanya."

"Terkadang keterusterangan lebih baik daripada apa-apa yang disembunyikan walau dengan dalih yang sangat beralasan sekali pun," sahutku mencoba bersikap bijak sambil meletakkan sendok. lsi piringku sudah nyaris habis. Cuma tersisa beberapa sendok nasi, tapi perutku sudab tidak muat lagi. "Tetapi orang Jawa terbiasa diarahkan untuk pandai-pandai menutupi perasaan sebenarnya demi menjaga keselarasan atau harmoni, Namun menurutku, di zaman sekarang, di mana kita hidup bersama masyarakat yang semakin majemuk, untuk kasus-kasus tertentu atau untuk situasi tertentu, hal itu sudah tidak cocok lagi. Keterusterangan juga mempunyai nilai positif. terutama kalau itu bertujuan menghindari konflik yang malah bisa membahayakan keselarasan."

"Syukurlah kalau kau bisa mengerti itu, Ambar."

Rini menganggukkan kepalanya Makanan di dalam piringnya juga sudah babis. "Itulah mengapa aku selalu bicara secara spontan dan mencetuskan apa saja yang kurasakan agar orang yang kuajak bicara dapat menentukan sikap karena sudah mengetahui pijakan atau letak pendirianku."

Gatot yang sudah sejak tadi menghabiskan isi piringnya tampaknya merasa jemu mendengar percakapan Rini denganku. Dia melihat ke arah arlojinya.

"Sudah siang," katanya. "Sore nanti akan ada acara dengan teman-teman sekantorku."

,Aku juga sudah ingin pulang," sahutku, ikut¬ikutan melirik arloji, Memang sudah jam dua siang.

Setelah menghabiskan minuman masing-masing, aku mulai berdiri. Disusul oleh Gatot.

"Nah, sampai ketemu lagi ya?" kataku kepada Rini.

"Ya." Rini meraih tasnya dan menggantungkannya kembali ke bahunya. "Eh, kalian naik apa?"

"Naik mobilku," Gatot yang menjawab.

"Boleh aku ikut sampai di tempat yang paling dekat dengan arah jalan ke rumahku?" tanya Rini. Kemudian dia menoleh ke arahku. "Boleh kan, Mbak?"

"Tanyakan kepada yang mempunyai mobil.

Jangan kepadaku."

"Ayolah," akhirnya Gatot berkata. Kudengar nada terpaksa dalam suaranya. Mungkin Rini juga merasakannya, tetapi tampaknya gadis itu tidak peduli.

Dengan perasaan tak enak, aku terpaksa jalan beriringan bertiga menuju tempat parkir. Ah, alangkah enaknya kalau aku bisa pulang dengan bus Patas seperti ketika berangkat tadi. Lebih bebas dan perasaanku tidak tertekan seperti saat ini. Sebab sungguh tak enak rasanya berada di antara dua orang yang dulu pernah menjadi sepasang kekasih itu.

Waktu Rini melihat mobil Gatot yang masih baru dan tampak mengilat itu, dia mendecakkan mulutnya.

"Wah, kau memang benar-benar sudah menunjukkan kemajuan lho, Mas!" begitu dia memberi komentar sambil mengelus-elus bodi mobil Gatot selama beberapa saat lamanya. "Selamat ya? Dan kau, Mbak Ambar, sungguh beruntung mengenal Mas Gatot sudah seperti sekarang. Dulu, dia itu keras kepala. Orangtuanya kaya tetapi tidak mau memakai fasilitas yang ada. Ke mana-mana naik motor yang sudah butut, sampai kami berdua dulu pernah basah kuyup ketika hujan turun tiba-tiba.;'

Aku tak tahu harus memberi sahutan apa atas komentarnya itu. Karenanya aku hanya tersenyum saja meskipun sebenarnya aku tidak ingin tersenyum. Tetapi untungnya Gatot segera mengambil alih pembicaraan.

"Berani hidup ya harus berani berjuang," katanya tanpa senyum. "Masa iya hanya karena punya orangtua kaya lalu mau enak-enakan saja. Kekayaan kan tidak abadi. Nah, sudahlah, ayo kita segera naik."

Sambil berkata seperti itu, diam-diam aku merasa Gatot mendorong tubuhku agar aku duduk di depan, di samping pengemudi. Semula aku ingin mernbantahnya. Tetapi kubatalkan ketika ingatanku lari kepada Tina. Pikirku, meskipun aku ingin memisahkannya dari Gatot, tetapi itu bukan karena kehadiran orang ketiga. Apalagi kalau orang ketiga itu bekas pacar Gatot. Jadi, aku harus duduk di depan, di samping Gatot.

Karena berpikir seperti itu akhirnya aku menuruti keinginan lelaki itu. Tetapi di sepanjang perjalanan aku tidak lagi banyak bicara karena Gatot juga lebih banyak berdiam diri. Kelihatan sekali kalau dia tidak menyukai kehadiran Rini,

Ketika akhirnya Rini minta diturunkan di suatu tempat, Gatot langsung menurutinya. Sama sekali tidak ada basa-basi padanya. Misalnya menawari Rini untuk mengantarkan sampai ke rumahnya. Atau apa ajalah asal tidak bersikap sekaku itu. Aku jadi merasa kasihan pada gadis itu.

"Dari sini naik apa?" tanyaku untuk menunjukkan perhatianku padanya.

"Akan kuteruskan dengan taksi."

"Mobilmu yang bagus itu di mana?" Gatot menyela. Rupanya ada juga rasa ingin tahu yang muncul di hatinya.

"Dipakai ibuku."

"Mobil di rumahmu kan banyak. Yang lain dikemanakan ?"

"Sudah dijual untuk tambahan modal usaha ayahku. "

"Kok bisa ... ?"

"Tentu saja bisa. Memangnya orang itu harus sukses terus?" Suara Rini terdengar kaku. Kemudian dengan terburu-buru dia membuka pintu mobil dan segera keluar. Kelihatan sekali dia tak mau berbicara tentang keadaan keluarganya. Tetapi begitu berada di luar dia mendekati jendela di samping kanan Gatot sehingga laki-laki itu menurunkan kacanya. "Aku minta kartu namamu dong. "

Tanpa berkata apa pun Gatot segera mengeluarkan kartu namanya dari dompetnya dan mengulurkannya ke arah Rini yang langsung menyimpannya dengan hati-hati. Kemudian, gadis itu menoleh ke arahku.

"Aku juga minta kartu namamu," katanya kepadaku. "Supaya perkenalan kita tidak berhenti di sini saja. Kecuali kalau kau tak suka berteman denganku."

Karena kata-kata terakhirnya itu aku terpaksa memberi kartu namaku juga meskipun tadinya aku ingin berkata tidak membawanya andai dia memintanya. Tetapi hati nuraniku tak mengizinkan aku berdusta.

"Oke, kutinggal ya Rin!" Gatot menyela tak sabar. "Aku harus cepat tiba di rumah."

"Baiklah. Kapan-kapan kita lanjutkan lagi obrolan kita, Nah, terima kasih ya, Mas," sahut Rini sambil melambaikan tangannya. Tetapi ketika mobil mulai bergerak maju, tiba-tiba gadis itu berteriak lagi. "Hei, ternyata rumah kalian bersebelahan, ya?"

Baik aku maupun Gatot tidak mau memberi komentar atas penemuan Rini sewaktu dia membaca kartu nama kami. Tetapi begitu kecepatan mobil sudah memasuki kecepatan yang normal, aku menoleh ke arah Gatot.

"Lain kali jangan kauikutsertakan aku ke dalam obrolan kalian," semburku. "Dan jangan pernah lagi membiarkan kesan pada siapa pun, terutama kepada Rini, seolah aku ini kekasihmu. Lebih¬lebih kalau tujuannya untuk membangkitkan perasaan cemburu kepada bekas kekasihmu tadi!"

"Wah, begitu saja marah," sahut Gatot kalem.

"Kenapa sih kau jadi pemarah begini? Padahal kata Tina, kau bukan seorang pemarah, bahkan sabar dan penuh pengertian."

"Berada di dekat orang yang tak punya perasaan seperti dirimu siapa pun akan jadi pemarah!"

"Tak punya perasaan bagaimana sih? Aku justru sejak tadi terlalu dipenuhi oleh perasaan bangga. Tidakkah kau mempunyai sedikit saja kerelaan untuk membiarkan rasa bangga itu bermegah-megah di hatiku?"

"Bangga apanya?" Kukerutkan dahiku.

"Bangga bahwa Rini dapat melihat dengan mata kepala sendiri bahwa sekarang aku telah mendapatkan banyak kemajuan dalam hidupku. Terutama seorang kekasih yang lebih baik segalanya," masih saja Gatot berkata dengan kalem. Seolah sedang membicarakan acara teve yang membosankan. Padahal dia telah menyangkutkan nama baikku.

Tentu saja aku jadi marah. Apalagi dia memperlakukan diriku sebagai kekasihnya di hadapan Rini.

"Sudah kukatakan tadi, jangan memperlakukan diriku sebagai kekasih barumu di hadapan bekas kekasihmu itu!" aku mulai menyemburkan kemarahanku.

"Sejak tadi kau menyinggung tentang bekas kekasihku. Memangnya siapa yang mengatakan bahwa Rini itu bekas kekasihku?"

Aku tertegun mendengar pertanyaan itu. Bukankah dugaan itu awalnya dari ingatan tentang percakapanku dengan Tina beberapa waktu yang lalu?

"Tidak ada yang memberitahu aku," sahutku kemudian dengan terburu-buru. Aku tidak ingin Gatot mengetahui bahwa aku dan Tina pernah membicarakan dirinya. "Aku hanya menduga-duga saja. Apalagi Rini sendiri telah memberi kesan seperti itu di dalam pembicaraan tadi. Apakah aku salah?"

"Tidak. Rini memang bekas kekasihku." Gatot melemparkan pandang matanya ke arahku beberapa detik lamanya.

"Dan kau masih menaruh perhatian khusus terhadapnya, kan?"

"Itu urusanku, Ambar."

"Itu juga urusanku!" aku memberuak, "Kau akan menerima balasan dariku kalau sampai menyakiti perasaan adikku. Aku memang ingin memisahkan hubungan kalian berdua. Tetapi dengan caraku. Bukan karena hadirnya orang ketiga!"

"Tina sudah tahu mengenai Rini!"

"Tetapi pasti tidak tahu bahwa kau masih memperhatikan bekas kekasihmu.itu dengan cara membuatnya cemburu!" aku menyembur lagi.

"Kalau memang begitu, seharusnya kau merasa senang, kan?" Gatot melemparkan lagi lirikan matanya.

"Itu betul. Tetapi seperti sudah kukatakan tadi, aku punya cara lain tanpa menyakiti perasaannya. Yaitu dengan cara membuka matanya agar dia melihat seperti apa kau sebenarnya."

"Jadi artinya, kau masih belum menceritakan kepadanya mengenai peristiwa di Ancol itu, kan?" Sekali lagi Gatot melemparkan lirikan matanya kepadaku. Ada godaan dalam suaranya.

Aku tak bisa menjawab perkataannya dengan seketika. Tetapi pipiku jadi panas rasanya begitu mendengar perkataan yang mengandung godaan itu. Melihat pipiku yang pasti berwarna kemerahan itu, Gatot tersenyum,

"Kenapa peristiwa indah malam itu belum juga kaukatakan kepada Tina agar adikmu itu tahu bahwa aku ini seorang laki-laki yang mudah tergiur oleh kecantikan seseorang?" Gatot menggangguku lagi dengan suaranya yang menggoda itu.

"Pasti di suatu ketika nanti aku akan mengatakannya," sahutku jengkel sekali.

"Kenapa tidak sekarang saja? Bukankah semakin cepat Tina mengetahuinya akan semakin baik jadinya. Sebab apa yang akan diketahuinya itu bisa memisahkan dia dariku." Lagi-lagi Gatot memperdengarkan suaranya yang mengandung godaan, membuat rasa jengkelku semakin menjadi-jadi. "Ataukah karena kau merasa malu?"

"Kenapa aku hams merasa malu?" aku membentak.

"Ya, . siapa tahu, kan?' Gatot menjinjitkan alis matanya, menampilkan wajah seperti orang yang tak berdosa. "Sebab kalau kuingat-ingat apa yang kita alami itu, sebenarnya kau juga ... "

"Cukup!" terburu-buru aku memotong perkataan Gatot. Wajahku seperti terbakar rasanya. Panas sekali. Aku sudah tahu apa yang kira-kira akan dikatakan oleh Gatot tadi. Bahwa sebenarnya kesalahan itu tidak seluruhnya ada pada dirinya. Sebab ketika peristiwa itu terjadi, selama beberapa waktu lamanya aku telah membiarkannya menciumi dan membelai diriku. Bahkan aku sempat pula membalas pelukan dan kemesraannya.

Mendengar aku memotong perkataannya, Gatot menggumamkan suara tawa yang enak didengar dan mengusap alat pendengaranku. Lembut, dalam dan mes ra, ataukah aku saja yang sudah semakin gila? Sebab mana ada sih suara tawa yang menguap lembut telinga orang?

"Jangan tertawa!" Hanya itu yang masih bisa keluar dad mulutku dengan wajah yang terasa semakin panas itu. Rasanya aku seperti tersudut, sadar bahwa Gatot tahu aku telah mcnikmati ciuman dan elusan tangannya. Sungguh memalukan.

"Lho, kok tidak boleh tertawa sih? Aku sedang merasa senang sekali," sahut Gatot masih dengan tawa yang terdengar empuk.

"Apanya sih yang membuatmu merasa senang?"

Aku mendengus kesal. "Apakah karena aku tidak berani berterus terang kepada Tina? Kau salah kalau mengira aku masih menyembunyikan itu karena hal-hal lain seperti yang kausangka. Aku belum menceritakannya karena aku takut melukai hatinya. Sudah kukatakan tadi, kan? Saat ini aku sedang mencari kesempatan yang pas untuk mengatakan padanya dan sekaligus juga menyelamatkannya dari bahaya berdekatan denganmu. Jadi jangan senang dulu!"

"Yang membuatku senang bukan itu kok!" "Lalu apa kalau begitu?"

"Pipimu yang memerah seperti tomat matang itu, lho," sahut Gatot. "Kulihat wajahmu yang begitu putih dan halus dengan rona merah seperti itu jadi bertambah cantik. Sekaligus juga membuatku merasa kagum. Di zaman sekarang ini tidak mudah menemukan pipi seorang gadis yang menjadi kemerahan karena diingatkan pernah dicium seseorang. Apalagi, gadis itu sudah pernah berpacaran sebelumnya dan toh pipinya bisa semerah itu oleh godaanku tadi. ltu tandanya, kau seorang gadis yang masih kuat menyimpan perasaan malu. Padahal zaman sekarang ini banyak orang yang sudah tidak lagi punya rasa malu. Nah, hal itulah yang membuatku merasa gembira. Aku semakin bangga saja terhadapmu."

"Idih, memangnya aku ini apamu, kok hatimu bangga karena diriku!" seruku dengan perasaan amat kesal. Padahal bentakan itu untuk menutupi perasaanku yang sebenarnya. Betapapun juga harus kuakui bahwa apa barusan yang dikatakannya telah menyentuh perasaanku yang terdalam.

Tiba di rumah, sesudah mengganti pakaianku dengan sehelai daster batik yang enak dipakai, aku langsung mengempaskan tubuhku ke atas tempat tidur. Hatiku menjadi sedih sekali. Sedih karen a pikiran warasku tidak sejalan lagi dengan perasaanku. Sedih pula karena keinginanku juga tidak lagi beriringan dengan kenyataan yang kuhadapi hari ini.

Otakku mengatakan supaya aku bersikap tegas kepada Gatot dan lalu dengan sekuat tenaga segera menjauhkannya dari Tina. Tetapi perasaanku membiarkan daya tarik laki-laki itu mempengaruhi diriku dan menghambat ketegasan yang seharusnya kulakukan.

Sementara itu keinginanku untuk menjauhi Gatot agar pikiranku dapat lebih tertata demi kebaikan diriku sendiri dan juga derni keselamatan Tina, mulai tampak berlawanan dengan kenyataan yang terjadi. Seperti apa yang terjadi hari ini, misalnya. Aku ingin menjauhi Gatot, tetapi aku malah bertemu dengan dia di tempat yang rasanya mustahil bisa bertemu dengan tetanggaku itu. Dan di sana kami malah berbelanja, makan, dan pulang bersama-sama pula. Seolah bukan Tina yang kekasih Gatot tetapi aku. Sungguh, memikirkan semua itu hatiku sangat sedih rasanya.

Dan yang lebih tragis lagi, dalam kesedihan yang begitu mendalam itu aku tak mampu berbuat apa-apa. Bahkan berpikir saja pun aku tak bisa. Dan karenanya aku hanya bisa menyesali apa yang telah terjadi. Semuanya. Mulai dari pertanyaan batin tentang kenapa rumah kosong di sebelah itu bukannya dibeli orang lain, dan kenapa pula harus Gatot dan sepupunya yang tinggal di situ. Dan juga kenapa harus terjalin keakraban di antara mereka dengan keluargaku ini sampai-sampai hati perawan adikku bisa terkuak oleh lelaki yang tak pantas untuknya itu?

Masih dengan perasaan sedih yang tak terhingga, mataku menembus tirai jendela kamarku yang bergerak-gerak tertiup angin menjelang sore had. KuIihat pucuk-pucuk pohon flamboyan di tepi jalan di muka rumahku itu masih saja seperti kemarin dan kemarinnya lagi. Hanya kehijauan saja yang kulihat. Pohon itu tak pernah berbunga lagi. Sama seperti hatiku yang juga cuma punya satu warna. Kesepian, dan sekarang ditambah rasa pilu yang mendalam.

http:ebukita.wordpress.comTujuh

DARI jendela ruang kerjaku di tingkat enam, kulihat cahaya petir yang mengerikan sambar-menyambar mengoyak langit, sementara hujan lebat tumpah mengguyur Ibukota tercinta ini. Sedemikian derasnya sampai pandang mataku tak mampu menembus bentuk gedung-gedung bertingkat di lingkungan ini. Tetapi samar-samar aku masih bisa melihat pohon angsana dan beringin putih di halaman kantorku meliuk-liuk diterpa angin dan air, Jayaknya dua penari yang sedang menyajikan atraksi yang rnemukau.

Saat itu hari masih pagi. Bartl jam sepuluh kurang beberapa menit. Tetapi cuaca buruk di luar sana telah mempengaruhi semangat kerjaku. Kalau saja aku sedang ada di rumah, sudah pa ti satu¬satunya hal yang akan kulakukan adalah bergelung di atas tempat tidur, berselimut, sambil menonton televisi di kamarku yang tenang.

"Hai, apa sih yang sedang kaulamunkan?" Tiwi, teman sekantorku, menyapa. Entah sejak kapan gadis langsing yang selalu tampak anggun dan keren itu berdiri di muka meja kerjaku. Tangannya yang memegang kantong plastik berisi kue itu diulurkannya kepadaku. "Daripada melamun kan lebih enak mencicipi makanan enak ini. Ayo, Mbar."

Aku mengembalikan perhatian dan pikiranku ke dalam ruangan ini.Kemudian sambil tersenyum kuraih sepotong kue. Kuperhatikan kue yang sudah pindah ke tanganku itu dengan cermat. Kue ito berbentuk bintang tetapi membulat. Tidak pipih.

"Ini kue apa?" tanyaku kemudian.

"Mana aku tahu, Non?" Tiwi menyeringai sambil mengangkat bahunya. "Ah, kau kan tahu aku tak pandai dalam hal perkuean, kok bertanya juga. Tanyakan saja bagaimana rasanya, itu aku tahu persis!"

"Rasanya bagaimana?" Senyumku berubah menjadi tawa.

"Rasanya, wow. Renyah, gurih, manis, dan ada rasa jahenya. Ayo, gigit. Dan resapi bagaimana rasanya."

"Mestinya kau tidak bekerja di kantor ini, Wi!"

Aku tertawa lagi. "Kau lebih pantas jadi bintang iklan makanan, Begitu meyakinkan!"

Tiwi juga tertawa.

"Sudahlah, jangan menggoda," katanya. "Rasakan, dan berikan komentarmu!"

Kugigit kue yang ada di tanganku itu pelan¬pelan. Ra anya memang enak. Begitu kue itu ber¬temu dengan lid ahku , langsung menjadi lembek dan mencair eli mulut.

"Mm, memang enak," komentarku.

"Ambillah lagi." Tiwi mengulurkan lagi bungkusan plastiknya kepadaku. "Makan kue seperti ini dalarn cuaca buruk sungguh nikmat. Dan jelas sekali ini jauh bennanfaat daripada melamun. Heh, apa sih yang kaulamunkan tadi?"

Aku mencoba mengukir senyum di bibirku. "Aku tidak melamun," aku berdalih. "Aku hanya menatap cuaca buruk di 1uar sana. Dan terus te¬rang saja, suasana muram di luar sana telah mem¬buat semangat kerjaku jadi luntur!"

Tiwi melemparkan pandangannya ke luar jendela kaca di samping meja kerjaku. Jendela kaca itu telanjang karena tirainya kusatukan ke tepi. Aku tidak suka tirai yang menghalangi pandangan rna¬taku ke luar sana.

"Deras sekali ya hujannya. Mudah-mudahan ja¬ngan terlalu lama. Kasihan mereka yang tinggal di daerah-daerah rawan banjir," gumam Tiwi kemu¬dian.

"Ya, mudah-rnudahan begitu," aku juga bergu¬mam. "Jakarta sangat tidak menyenangkan kalau jalan-jalannya digenangi air."

"Ya. Dan mudah-rnudahan pula semangat kerjaku tidak surut sepertimu!" Sekali lagi Tiwi menyeri¬ngai. "Sebab aku sudah telanjur janji bertemu de¬ngan seorang nasabah yang mengajak dua temannya mengambil kredit untuk usaha mereka."

"Kelas ka ap atau teri?"

"Bandeng. Tetapi bandeng besar." Tiwi menye¬ringai lagi untuk ketiga kalinya. "Nah, aku mau turun. Kue ini kusimpan di lad mejaku. Kalau masih kepingin ambil aja."

"Thanks. "

Sepeninggal Tiwi aku mencoba untuk mengembalikan perhatianku kepada pekerjaan yang terletak di bawah hidungku. Tetapi temyata tidak mudali. Sama tidak mudahnya bagiku untuk tetap bersikap tenang dan mantap seperti biasanya. Sebab sudah beberapa hari ini pikiranku sangat resah. Ada se¬suatu yang mengganggu batinku. Sesuatu yang ter¬amat sangat berat dan nyaris tak tertahankan oleh¬ku.

Sesuatu itu adalah kesadaran yang memasuki pikiranku tentang beberapa perubahan yang mulai terjadi pada diriku. Sebab sudah beberapa waktu belakangan ini aku mulai sadar bahwa setiap kali aku melangkah ke luar rumah, kepalaku begitu saja menoleh ke arah rumah Gatot. Dan sudah be¬berapa waktu lamanya ini pula, jantung di dadaku

elalu meloncat liar kalau telingaku mendengar uara Gatot di sekitar rumahku.

Aku benar-benar merasa benci kepada diriku

endiri. Aku tahu betul, itu suatu malapetaka besar bagiku. Sebab tanpa kukehendaki, laki-laki itu telah rna uk begitu saja ke dalam hatiku. Dan tanpa ku¬waspadai sebelumnya, laki-laki itu telah menyerbu masuk ke dalam pikiranku. Rupanya, kebencian dan kemarahan yang kurasakan padanya selama ini menyebabkan seluruh pikiranku terserap pada¬nya, Dan tanpa kusadari, besarnya keinginanku untuk memisahkan dia dari Tina telah pula menye¬babkan namanya mera uki pikiran dan hatiku. Ru¬panya pula dalam perjalanan waktu selama berbulan-bulan ini, dengan tidak kusangka-sangka barang secuil pun, tiba-tiba saja Iaki-laki itu telah mengua-• sai diriku.

Bagaimana aku tidak putus asa karenanya? Sung¬guh tak bisa kupahami kenapa jadi begini akhirnya, Entah ke mana saja perginya pilciran warasku, menghadapi laki-laki tak berbarga seperti itu saja kok aku bisa kalab.

Demikianlah sesudab datangnya kesadaran itu, acap kali aku duduk tercenung dan kadang-kadang juga berbicara sendirian seperti orang gila. Sedih sekali rasanya. Bayangkan saja, usahaku untuk menyelamatkan Tina dari cengkeraman daya tarik Gatot belum lagi berhasil, sekarang malah aku sendiri tergelincir ke dalam perangkap yang sama. Rasanya seperti si buta menuntun orang buta dan keduanya jatuh tertelungkup di tepi jurang,

Semestinya, aku lebih merasakan marah kepada diriku sendiri daripada kepada Gatot atas apa yang kualami belakangan ini. Tetapi kenyataannya, aku sangat membenci Gatot. Sebab, menurut pikiranku, seandainya dia tidak terus-menerus menggangguku atau andaikata dia tidak berusaha mengambil hatiku yang menurutnya adalah calon kakak iparnya, pasti sampai detik ini hatiku masih dalam keadaan darnai dan tenang. Dan tak akan kurasakan betapa resab, gelisah, dan kacaunya batinku seperti saat ini.

Merasa sulit untuk mengkonsentrasikan pikiran kepada layar monitor eli hadapanku, kuhentikan pekerjaanku dan kulayangkan kembali mataku ke luar jendela. Hujan masih saja lebat. Dan pucuk-pucuk pepohonan di halaman kantorku masih saja meliuk-liuk genit, bereanda dengan angin dan hujan. Tetapi di tengah-tengah pemandangan menyedihkan di luar jendela itu, aku teringat pada apa yang kuobrolkan bersama teman-temanku beberapa waktu lalu saat jam istirahat makan siang. Ketika itu kami sedang rarnai-ramai menasihati Hastuti yang sangat membenei atasannya yang masih bu¬jangan tetapi sok mengatur.

"Tut, sebaiknya kau Iebih bersikap bijaksana dan tetap berpegang pada rasiomu. Jangan erno¬sional begitu!" salab seorang ternan kami menasi¬hati gadis itu. "Sebab kalau tidak, kau akan ter¬jungkal sendiri."

"Bagaimana caranya?" tanya Hastuti. waktu itu. "Cara yang paling penting adalah jangan terlalu membenci Pak Irwan seperti itu," sabut yang dita¬nya. "Kena batunya kau nanti. Sebab ketabuilah babwa batas antara perasaan benci dan yang se¬baliknya itu sangat tipis. Setipis benang!"

"Itu benar," kata teman kami yang lain sambil tertawa. "Sebab begitulab yang kerap terjadi pada sebagian orang. Mulanya dia benci kepada sese¬orang, tetapi akhirnya dia terperangkap ke dalam perasaan cinta, dan buntut-buntutnya kalau berpisah sebentar saja dia merasa rindu setengab mati ke¬pada orang itu. Gawat k.an jadinya?"

Aku tertawa mendengar celoteh teman-temanku saat kami sedang makan siang. Tetapi hari ini aku tertegun-tegun sendiri begitu percakapan yang pernah kudengar itu memasuki ingatanku. Mengingat

perkembangan yang terjadi akhir-akhir ini, ada rasa cemas luar biasa yang mulai menggenggam jantung kalbuku. Aku tidak ingin mengalami apa yang diceritakan oleh teman-temanku sewaktu mereka menasihati Hastuti. Kebencianku kepada Gatot jangan sampai berubah menjadi rasa rindu setengah mati.

Sedang aku tertegun-tegun seperti itu, telepon di ruanganku berbunyi. Seperti biasanya, ~ Sabat Sitompul yang duduknya tak jauh dari temp at te¬lepon me'tgangkatnya sehingga deringnya yang sempat menyela lamunanku tadi terhenti. Perhatian¬ku kukembalikan ke luar jendela lagi. Tetapi se¬belum aku terseret kembali ke dalam lamunan, Sabat memanggil namaku.

"Telepon untukmu, Ambar!" "Dari .. ?"

"Mana aku tabu, Non. Terimalah sendiri." Aku bangkit dari kursiku.

"Lelaki atau perempuan, Sabat?" tanyaku sambil berjalan ke arahnya.

"Lelaki dengan suara bariton!" Sabat memicingkan sebelah matanya. "Empuk dan enak didengar!"

Aku tertegun sesaat lamanya ketika mendengar jawaban Sabat. Jangan-jangan Gatot yang meneleponku. Tetapi ah, memangnya suara empuk hanya milik dia seorang? Aduh, kenapa aku jadi begini? Sedikit-sedikit mengaitkan sesuatu kepada Gatot.

Dengan penuh rasa ingin tahu kuangkat gagang telepon dan kutempelkan erat-erat di telingaku.

"Halo ... ?"

"Ya halo, kaukah itu, Ambar?"

"Ya," sabutku. Suara empuk diseberang itu membuat jantungku mulai bergerak tak teratur. Kukenali betul suara itu. Suara Bram. Rasanya sudah berabad-abad lamanya aku tak pernah lagi mendengar suaranya. Kenapa tiba-tiba dia meneleponku? Akan mengabariku bahwa dia akan menikab dengan Nina yang pernah menjadi teman. dekatku itu?

"Masih ingat suaraku?" tanya suara di seberang

sana.

"Siapa, ya?" Aku pura-pura tidak ingat. Pertama,

belum tentu telingaku benar. Si penelepon itu bukan Bram. Mungkin saja itu suara seseorang yang mirip dengan suara Bram. Kedua, aku tidak ingin Bram jadi besar kepala karena aku masih ingat pada suaranya.

"Masa lupa sih?"

"Maaf, aku benar-benar tidak mengenali suara Anda. Semula kusangka suara Gatot, tetapi kok agak beda," sabutku. Pikirku, kalau itu memang suara Bram, aku ingin memberinya kesan bahwa aku sudah mempunyai teman laki-laki.

"Siapa itu Gatot?" Kudengar suara itu lagi. "ini

aku, Ambar, Bram" .

"Bram?" Aku masih tetap berpura-pura tak ingat.

"Bram, Bram yang dulu itu?"

"Ya, Ambar. Masa kau tak mengenali suaraku?" "Aduh, maaf. Aku pangling," sahutku berusaha tenang. "Sudah terlalu lama aku tidak mendengar

- suaramu, mana mungkin. aku bisa segera mengenali¬nya?"

"Benar-benar sudah tidak ada lagikah aku dalam kenanganmu, Ambar? Tidak tersisa sedikit pun?"

"Tentu saja masih ada yang kukenang, Mas.

Masa iya kulupakan begitu saja."

"Wah, kejutan kalau begitu. Ak:u tak menyangka kau masih mau mengingat diriku!" Kudengar nada suara hangat dari seberang sana. "Terima kasih, Ambar. Tetapi bolehkah aku tabu kenangan mana yang masih ada padamu itu? Samakah seperti yang kukenang selama ini?"

"Itu Tho, Mas, kenangan sewaktu aku terburu¬buru ke temp at kosmu untuk mengatakan sesuatu, tetapi di sana aku menemukan dirimu sedang ber¬mesraan penuh gairah dengan Nina!" aku menjawab dengan kalem.

"Ah, Ambarl" Suara Bram di seberang sana mulai hilang kegernbiraannya.

Tetapi memang itulah kenangan tentang dia yang masih tersisa padaku. Sesuatu yang justru memacu dirik:u untuk bersikap lebih waspada dan lebih arif dalam menjalani kehidupan selanjutnya. Khususnya yang berkaitan dengan pergaulan. Kenangan pahit dengan Bram telah kuambil hikmahnya. Bahwa be¬tapapun sakitnya diriku saat itu, pengalaman itu te¬lab membuka wawasan baru dalam diriku. Misal¬nya mengenai betapa tipisnya batas an tara cinta dan nafsu. Jadi, bagaimana mungkin aku bisa melu¬pakan kenangan pahit saat aku menyaksikan sebuah kesetiaan cinta tercabik hanya oleh nafsu badaniah?

"Kusangka kau masih mengenangku dalam hal lainnya." Kudengar lagi suara Bram. Ada nada merajuk dalam suaranya.

"Kalau yang Iainnya, terns terang saja aku talc pernah mengingatnya lagi. Lagi pula semua itu kan gombal belaka, masa harus dikenang?" sa¬hutku. Laiu dengan gesit aku mengalihkan pembi¬caraan. "Apa kabar, Mas? Tumben meneleponku. Jangan-jangan mau menyarnpaikan kabar gembira tentang kau dan Nina. Kalau ya, jangan lupa kartu undangannya lho, Aku pasti akan datang untuk mengucapkan selamat pad a kalian berdua."

"Wah, bukan main tangkasnya bicaramu sampai aku tak bisa menyelamu."

"Maaf," aku bergumam pelan. "Nab, kalau begitu katakanlah segera, kapan hari babagiamu akan di¬langsungkan ?"

"Tidak ada kabar gembira seperti yang kau¬sangka itu kok, Ambar, Hubunganku dengan Nina sudah putus sejak kemarin-kemarin."

"Oh, maaf. Aku ikut prihatin mendengarnya."

Aku kaget mendengar berita itu. "Lalu kenapa kau meneleponku'?"

. "Tidak boleh, ya?"

"Bukannya tidak boleh. Tetapi untuk apa?" "Kok untuk apa?" Kudengar Bram menggerutu.

"Hubungan cinta di antara kita berdua mernang sudah berakhir. Tetapi itu kan karena kau yang memutuskannya. Seribu kali aku minta maaf kepa¬damu, tetapi seribu kali pula kautolak permintaan maafku itu. Telepon dari Nina pun tak pernah kauterima. Tetapi aku ingat betul tentang persetujuanku tatkala aku memintamu agar kita tetap berteman meskipun sudah tidak menjadi sepasang kekasih lagi."

"Lalu sekarang apa maumu?"

"Menagih janjimu, yaitukita tetap berteman.

Maka hari ini aku ingin menyaparnu. Sapaan per¬tamaku adalah ingin tahu apa kabarmu."

"Kabarku? Aku baik-baik saja. Terima kasih!" Ah, seharusnya kuakhiri saja pembicaraanku de¬ngan Bram itu. Aku agak curiga mengapa dia tiba¬tiba menghubungiku lagi. Jangan-jangan itu dise¬babkan karena hubungannya dengan Nina putus lalu ia mulai merasa kesepian. Aku tak berminat jadi ban serep baginya. Memangnya aku ini siapa?

"Kedua, aku ingin tahu apakah sesekali aka masih boleh datang berkunjung ke rumahmu. Sebab menurut janjimu waktu itu, kita kan masih berte¬man. Dan yang namanya berteman, tentunya ada saat di mana saling berkunjung atau sedikitnya sa¬ling berkabar di antara ternan. Bagaimana Ambar, boleh?"

"Terserah. " "Kok terserah?"

"Habis aku harus mengatakan apa? Kalau aku mengatakan tidak seperti yang ada di dalam hatiku, tentu itu tidak pantas diucapkan oleh seorang te¬man. Mau mengatakan boleh, aku tak bisa menja¬min apakah aku ada di rumah atau tidak saat kau datang berkunjung. Sekarang ini aku sibuk sekali dan sering bepergian."

"Kalau saat aka datang ke rumahmu kau tidak ada di rumah, itu risiko yang harus kuterima. Yang penting, asal kau memberiku izin berkunjung ke rumahmu."

Aku diam saja sehingga Bram mengisi kediam¬anku dengan suaranya lagi.

"Ambar, tidakkah kau ingin tahu kenapa hu¬bunganku dengan Nina putus?"

"Terus terang, tidak. Untuk apa sih? Lagi pula itu kan bukan urusankulagi, Mas Bram." jawabku tegas.

"Tetapi aka ingin menceritakannya padamu, Ambar. Setidaknya aku bisa mengeluarkan ganjalan perasaanku sebagai seseorang yang pemah dekat dengarunu!" kala Bram. "Terutama aku ingin me¬ngatakan kepadamu betapa pedihnya perasaanku setiap aka teringat bagaimana kau memergoki peng¬khianatanku waktu itu. Apalagi yang mengkhia¬natimu itu bukan hanya kekasihmu saja, tetapi juga sahabatmu .... "

. "Peristiwa itu sudah lama kulupakan. Untuk apa dibicarakan lagi sib, Mas!" aku memotong perka¬taan Bram yang belurn selesai itu,

"Aku cuma mau mengatakan betapa besar pe¬nyesalanku karena pernah menikamkan penderitaan ke jantungmu, dan sekarang ini aku rnengalami hal yang sarna. Rasanya aku seperti kena kutuk. Nina mengkhianatiku dengan ternan sekantorku sen¬diri dan kemudian ... "

"Aduh, Mas, jangan menyangkut-pautkan apa yang kaualami sekarang ini dengan peristiwa lama

yang sudah terkubur," aku memotong lagi perkataan Brarn dengan perasaan muak.

Rupanya masih saja dia tidak memahami bahwa rasa sakit yang menghunjarn kalbuku itu lebih ba¬nyak disebabkan oleh kekecewaanku atas pengkhia¬natan terhadap kesetiaan, persahabatan, rasa hormat, dan keteguhan memegang prinsip moral, daripada kehilangan seorang kekasih dan sahabat baik. Dan bahwa yang tidak bisa kuterima adalah kenapa pengkhianatan yang meneabik prinsip hidup uta¬maku itu justru dilakukan oleh dua orang yang paling dekat dengan diriku. Sarna sekali dia tidak mengerti di mana sakit yang kurasakan itu berasal.

"Tetapi, Ambar ... "

"Tunggu, aku belum selesai bieara!" selaku lagi.

"Peristiwa lama itu jangan kauungkit-ungkit lagi, Mas. Buat apa? Aku benar-benar sudah melupa¬kannya. Kalaupun ada kaitannya, itu adalah hikmab yang kudapat dari pengalaman pahit itu. Antara lain bahwa dalarn kehidupan manusia, ada banyak rene ana, cita-cita, keinginan, dan lain sebagainya yang bisa mengalami kegagalan sebelum kita dapat meraihnya. Tentu saja itu menimbulkan kekece¬waan, ked! maupun besar porsi kekecewaannya. Tetapi suatu ketika nanti, cepat atau lambat, kita bahkan bisa berterima kasih kepada Tuhan atas atas kegagalan itu. Sebab kemudian terbukti, ada hal lain yang jauh lebih baik dari rencana kita. Dan itulah yang kualarni."

"Alangkah bijaknya kau sekarang, Ambar. Men¬dengar perkataanmu itu tiba-tiba saja aku mulai melihat sisi baik dari pengkhianatan Nina dengan temanku itu. Pertarna, sekarang aku jadi lebih mampu memahami bagaimana perasaan orangyang dikhianati. Kedua, pengkhianatan itu untungnya terjadi sekarang, sebelum Nina menjadi istriku. Ketiga, dengan keadaanku yang bebas begini, aku jadi tidak takut lagi menghubungimu. Sebab se¬belum ini Nina sangat eemburu terhadapmu. Men¬dengar namainu kusebut saja dia sudah marah¬marah Dan yang keempat, sekarang aku bisa lebih meresapi makna maafk:u terhadapmn atas perbuatan¬ku di masa lalu."

Aku terdiam, berusaha mencema apa yang baru saja diceritakan Brarn. Jadi begitulah rupanya akhir hubungan cinta mereka berdua. Nina bermain api lagi. Aku ingat, gadis itu memang agak nakal. Dulu semasa kami masih duduk di SMA saja pun, dia sering main mata dengan pemuda-pemuda yang barn dikenal. Pacamya berganti-ganti. Kalau ku¬nasihati, dia marah. Katanya, perbuatannya itu cuma iseng saja. Bukan sesuatu yang serius. Tetapi temyata di masa dewasanya, keisengan itu masih saja dipertahankannya. Bahkan tanpa menenggang perasaan orang.

Karena aku tidak memberi komentar apa pun atas perkataannya tadi, Bram melanjutkan kata¬katanya.

"Sungguh, Ambar, aku merasa lega karena akhir¬nya keinginanku untuk menghubungimu kembali terwujud," katanya. Entah apa maksud ueapannya itu. Tetapi sedikit pun aku tak berrninat untuk mengetahuinya. Sudah terlalu banyak yang kupikirkan saat ini. Aku tidak ingin menambahinya lagi.

"Maaf, Mas, aku sedang banyak pekerjaan," akbirnya kuputuskan untuk menghentikan pembica¬raan yang tak ada manfaatnya itu. "Kapan-kapan saja kita mengobrol lagi, ya? Tidak enak melihat teman-temanku bekerja dan kita mengobrol di te¬lepon."

"Tuggu dulu, Ambar. Aku masih beluin selesai mengeluarkan isi hatiku. Sebentar saja." Ternyata tidak mudah menghindari Bram.

"Baiklah. Tetapi cepat, ya?"

"Oke. Begini, Ambar, setelah kupikir-pikir lagi temyata dikhianati kekasih itu tidak selalu menye¬dihkan ... "

"Mas, hari ini sudah cukup banyak aku mende¬ngar kisahmu dengan Nina," kataku menyela. Ah, temyata ya cuma itu-itu saja yang ia katakan pa¬daku. Sungguh menyebalkan, "Bicara yang lainnya

ajalah. Saat ini aku benar-benar sedang repot!"

"Oke. Tetapi berikanlah padaku pandangan¬pandanganmu yang mungkin bisa menjadi bahan refleksi buatku."

"Aku hanya bisa mengatakan bahwa aku ikut prihatin ata gagalnya hubunganmu dengan Nina. Sudah kukatakan tadi, kan? Tetapi mudah-mudahan itu menjadi pelajaran bagimu di mas a depan. Kalau kau akan menjalin hubungan baru dengan gadis lain, sebaiknya kau lebih berhati-bati dan lebih arif. Jangan biarkan nafsu kotor mernbauri cinta. Sebab pasti tidak akan bagus akhirnya, Oke?"

"Aku ... aku ... mengerti," kudengar suara Bram mengandung rasa malu. "Tetapi hanya itu sajakah . yang kaukatakan padaku sesudah sekian lamanya kita tidak pemah saling berkabar?"

"Lho, aku hams mengatakan apa lagi?" sahutku dengan suara agak meninggi. "Bahwa aku merasa senang karena kau juga mengalami apa yang pemah kurasakan waktu itu? Wah, kau keliru kalau ber¬. pikir seperti itu. Sebab bagiku, akan lebih menye¬nangkan kalau aku mendengar kau sudah menikah dengan Nina dan hidup berbahagia bersamanya. Sebab dengan demikian, kau tidak lagi punya ke¬sempatan untuk meneleponku. Apalagi pada saat jam kantor sedang sibuk-sibuknya. Maaf aku ter¬paksa mengatakan apa adanya. Dalam hal yang penting begini aku tak mau berbasa-basi. Ini me¬nyangkut tanggung jawabku sebagai karyawan."

"Tetapi, Ambar, percayalah bahwa aku tidak akan berani meneleponmu seandainya aku tidak mengetahui banyak hal tentang dirimu. Kata me¬reka, kau ... "

"Banyak bal seperti apa dan siapa yang menga¬takannya?" aku memotong lagi perkataan Bram dengan tidak sabar. Ah, apa saja yang orang-orang bicarakan di belakangku?

"Bahwa di kantor dan di antara teman-temanmu di Iuar kantor, kau dijuluki dengan sebutan 'si gu¬nung es'. Ya, kan?"

"Si gunung es?" Kukerutkan dahiku. "Aku belum pernah mendengar julukan itu, Lagi pula apa alas¬annya?"

"Wah, rupanya kau tidak rnenyadari keadaan di¬rimu sendiri, Ambar, Orang-orang itu bilang bahwa sejak kau putus hubungan denganku, sikapmu ber¬ubah rnenjadi dingin, kaku, dan rnengambil jarak dalam pergaulan. Terutama terhadap laki-laki. Me¬reka juga rnengatakan padaku bahwa sampai saat ini kau masih belurn rnempunyai seorang kekasih. Karena itulah, Ambar, aku berani meneleponmu."

Aku tahu ada banyak ternan yang menganggap¬ku kapok berpacaran lagi ketika mereka rnelihat perubahan sikapku setelah putus dengan Bram. Tetapi aku tidak pemah menyangka diriku telah menjadi bahan pembicaraan mereka dan bahkan mendapat julukan sebagai gunung es, kaku, meng¬ambil jarak, dan seterusnya.

"Hmm, begitu," sabutku kemudian. "Lalu ba¬gaimana rnenurutrnu endiri?"

"Terus terang aku merasa edih. Akibat per¬buatankulah kau jadi dingin terhadap laki-laki. Sungguh, aku sangat menyesal."

"Tak perlu sedih begitu. Itu cuma cerita lama.

Sekarang aku sudah tidak seperti apa yang dikata¬kan orang-orang itu di belakangku. Kan tadi sudab kukatakan padamu bahwa aku telah mendapat hik¬mahnya," sahutku. "Saar ini aku sedang giat-giatnya menyusun masa depan yang lebih gemilang. Jadi, Ma , kurasa sudah tidak rel evan lagi kalau kau rnasih membicarakan hal-hal yang telah lewat. Nah, kita cukupkan pembicaraan kita sarnpai sekian ... "

"Tunggu dulu Ambar!"

"Sudahlah, Mas, aku tak punya waktu lagi untuk

berlama-lama denganmu. Aka hanya berharap kau bisa segera mendapat kekasih baru yang lebih baik segalanya. Maaf, aku harus rnengingatkanmu bahwa saat ini aku masih di kantor."

"Baiklah kalau begitu. Tetapi boleh kan kalau kapan-kapan aku datang untuk menjurnpaimu di rumah atau mungkin di kantor?"

"Terserah. Sudah kukatakan tadi, kan? Juga de¬ngan segala alasannya?"

Kudengar helaan napas Bram di seberang sana. "Baiklah, Ambar, kita sudahi dulu pernbicaraan kita. Tetapi rasanya ingin sekali aku segera meli¬hatmu kernbali. Seperti apa kau sekarang?"

Perkataan Bram kupotong dengan cepat. "Sela¬mat siang, Mas!"

Dan sebelum kudengar apa pun dari seberang sana, kuletakkan kembali gagang telepon ke tern¬patnya. Aku benar-benar merasa kesal ditelepon oleh Brarn. Sudah begitu bicaranya lama dan ber¬tele-tele seperti kantor ini milik ayahku saja. Ba¬giku, dia itu sekarang tak berarti apa-apa lagi. Dan aku sudah tidak mempunyai perasaan apa pun terhadapnya. Entah itu cinta, entah itu rindu, entah 'itu benci atau apa pun. Dia hanyalah salah satu perjumpaan dalam hidupku. Sarna seperti per¬jumpaan-perjumpaanku dengan orang lain. Berpa¬pasan sekali atau dua kali, bertegur sapa untuk kemudian terlupakan seiring dengan jalannya waktu.

Sahat yang duduk tak jauh dari meja telepon melirikku. Aku yakin, ilia cukup banyak mendengar suaraku dan menarik kesimpulan dari perkataan-perkataan yang kuucapkan tadi. Ah, apa peduliku? Bukan utusannya. Tempi, seorang ternan yang ke¬betulan lewat di muka meja kerjaku setelah ak:u kembali duduk di situ, menegurku.

"Hei, kenapa kau seperti orang sedang sakit gigi, sih?"

Kuangkat wajahku. Linda, si burung nuri di kantor kami, sedang menghentikan langkah kakinya sejenak dan berdiri ke arahku dengan penuh gaya. Ada beberapa lembar kertas di tangannya.

Bisik-bisik ternan di kantor mengatakan bahwa Linda pernah menjadi model dan peragawati. Tetapi tidak diteruskan karena kekasibnya tidak menyetujui profesi yang mas a kejayaannya tidak panjang itu. Maka Linda pun melanjutkan studinya sampai S2 dan berkarier di bidang perbankan. Kini sang ke¬kasih telah menjadi suami yang sangat mencintai¬nya. Mereka hidup berbahagia. Dan gaya Linda yang aduhai bisa ditatap secara langsung di mana¬mana. Tidak perlu melalui foto dan tidak usah di atas cat walk.

"Kenapa kau bilang begitu, Lin?" Aku pura¬pura tak tahu. Padahal aku sadar, sejak Bram me¬neleponku tadi, ak:u jadi uring-uringan sendiri.

"Biasanya meskipun tidak banyak bicara, wa¬jahmu selalu tampak cerah dan memancarkan ke¬manisan hatimu." Linda tersenyum. "Apakah kau sedang kedatangan itu tuh, si rembulan?"

Mau tak mau aku tertawa. Linda selalu saja menghubungkan emosi ternan-ternan perempuannya dengan siklus haid.

"Jangan kaitkan aku ke situ, Nyonya," sahutku kemudian. "Aku tak pemah terpengaruh o1eh hal¬hal semacam itu. Dan kalaupun ada pengaruh semacam itu, percayalah aku pasti bisa menga¬tasinya. Manusia kan dianugerahi akal budi oleh Tuhan. Dan nianusia mempunyai martabat yang tinggi. Maka kalau kita menyerah pada hal-hal yang bersifat biologis, lha apa bedanya kita de¬ngan . makhluk lainnya, bukan? Dan ke mana martabat kita sebagai makhluk tertinggi ciptaan Tuhan ini?"

Linda ganti tertawa.

"Kau semestinya tidak bekerja di sini, Ambar.

Tetapi menjadi dosen!" perempuan muda itu ber¬komentar. "Nab, kembali ke soal semula, kenapa bibirmu meruncing begitu sih?"

"Kalan kau memang ingin tabu, katakanlab pa¬daku dengari terus terang ten tang satu hal yang ingin kuketahui."

"Apa itu?"

"Apakab benar teman-teman kita pernah men-

julukiku si gunung es di belakangku?"

Linda tertawa lagi.

"Kok kau tahu sih?" dia rnalah balik bertanya. "Ya tahu dong. Ada yang bilang!" aku meng-

gerutu. "Sialan. Begini kok dijuluki i gunung es!"

Untuk ketiga kalinya Linda tertawa.

"Makanya, Non, jangan selalu bersikap dingin seperti e dan menganggap ternan-ternan pria kita seperti angin lalu. Mereka takut mendekatimu," katanya kemudian sambil melenggang pergi. "Jadi sebaiknya kauubah sikapmu dan jangan uring-uringan kalau dijuluki .gunung es lagi."

Aku terdiam. Kutatap punggung Linda yang nyaris 1enyap di ba1ik pintu. Harus kuakui, dia be¬nar. Aku memang terlalu banyak mengambil jarak terbadap teman-ternan pria di kantor ini. Kalau ada di antara rnereka tampak mulai ramah sedikit saja, aku langsung menutup diri. Memang kupikir¬pikir, orang-orang itu pasti merasa seperti mem¬bentur gunung es yang menju1ang tinggi .kalau berhadapan denganku.

Mungkin memang aku harus mulai mengubab sikap demi sopan santun pergaulan, pikirku sambi1 berusaha berkonsentrasi untuk melanjutkan peker¬jaanku kembali. Tetapi menjelang jam dua belas, konsentrasiku dibuyarkan lagi oleh suara dering telepon. Kali itu telepon dari bawah. Bukan dari luar kantor. Namun temyata juga untukku.

"Ada yang mencarimu, Ambar, Kusuruh dia du¬duk di ruang tunggu," kata seorang ternan yang bertugas di bawah.

Hatiku berdebar. Bram-kah yang datang? Atau

siapa?

"Laki-laki atau perempuan?" tanyaku kemudian. "Perempuan. "

Entah siapa lagi yang mengganggu ketenanganku itu, tanyaku dalam hati, Kulirik arloji yang me¬lingkari tanganku. Jam dua belas kurang enam rnenit. Sebentar lagi jam istirabat makan siang. Maka kusambar dompet dari dalam tas yang kugantungkan di punggung kursiku. Aku ingin makan soto mi. Hujan-hujan begini pasti enak -makan yang panas-panas tetapi menyegarkan seperti itu.

Tetapi temyata han ini nasibku memang sedang sial. Tamu yang mencariku itu temyata RinJ., bekas kekasih Gatot. Entah mau apa dia mencariku sam¬pai kemari. Tetapi radar dalam kepalaku memintaku agar aku waspada. Dengan pikiran itulah kuajak dia masuk ke ruang tamu yang tak terlalu ramai. Aku tak ingin ada orang yang mendengar pembi¬caraan kami.

"Ada yang perlu kubantu?" tanyaku begitu karni

telah duduk berhadapan.

"Ya. Bantulah aku!" "Dalam hal?"

"Menyadarkan Mas Gatot, bahwa dia masih mencintaiku !"

Aku nyaris temganga mendengar perkataan tak terduga itu. Rupanya radar di dalam kepalaku tadi cukup peka menangkap ge1agat yang tak menye¬nangkan.

"Kau itu bicara apa sib, Rin?" kataku sesudah mampu mengua ai diri. "Memangnya Mas Gatot itu anak kecil yang masih bisa didikte dan diarah¬kan begitu saja semau gue?"

"Kalan begitu jauhkanlah dirimu dari dia," Rini meralat.

Wah, bukan main beraninya gadis ini. lnikah yang disebut kemajuan zaman?

"Alasannya?" aku bertanya dengan sikap sabar yang berhasil kuperlihatkan. Aku tak mau jadi perhatian ternan-ternan yang ada dl sekitar tempat kami duduk.

"Alasannya, aku ingin dia kembali kepadaku!"

Rini menjawab langsung. "Sebab putusnya hu¬bungan kami waktu itu tidak disebabkan oleh hal¬hal besar. Juga bukan karena orang ketiga. Jadi

Aku tertegun lagi. Ingatanku melayang kepada Tina. Seandainya dia yang didatangi Rim, entahlah apa yang terjadi. Adikku itu masih sangat rnuda. Kalau Rini rnenekan dan mernojokkannya, maka kemungkinan besar dia akan kalah. Jadi, untunglah

. Rini tidak tahu bahwa kekasih Gatot yang sebe¬narnya bukanlah orang yang ada di hadapannya ini.

"Lalu kau mau apa, RiD?"

"Sudah kukatakan tadi, membuka mata Mas Gatot bahwa sesungguhnya dia rnasih mencintaiku dan bahwa hubungannya dengan gadis lain, siapa pun dia, hanyalah pelarian belaka. Dalam hal ini perlu kauketahui, Am bar, bahwa kami dulu betul¬betul saling mencintai. Kekurangan kami, sama¬sama belum matang secara mental. Waktu itu aku terlalu banyak menuntut darinya. Ya waktunya, ya

214

perhatiannya, ya daya juangnya. Antara lain, aku ingin agar dia bisa seperti ayahku yang sukses. Tetapi kemudian ... "

"Tunggu dulu, Rin," aku memotong perkataan¬nya. "Sebenarnya apa sih tujuanmu menceritakan semua ini padaku?"

Rini tertegun beberapa saat lamanya. Mungkin dia sadar, dirinya terlalu banyak bercerita, se¬dangkan apa tujuannya menjumpaiku belum diuta¬rakannya secara jelas. Kalaupun dia memintaku agar menjauhinya, bagaimana caranya dan apakah Gatot bisa semudah itu diatur olehku ataupun olehnya?

"Begini," sahutnya beberapa saat kemudian. "Seperti yang sudah pernah kukatakan kepada Gatot waktu kita bertiga makan bersama 1tu, dia sekarang benar-benar sudah maju. Bahkan bolehlah disebut sukses. Tetapi dalam hal ini mungkin kau tidak tahu, Ambar, bahwa kesuksesan itu berkat diriku . Aku punya andil besar di dalamnya. Akulah yang rnemacu dirinya sebingga bisa seperti sekarang ini."

"Lalu?"

"Lho, tidakkah kau melihat sesuatu di balik itu?"

"Terns terang saja, tidak, Aku tidak mengerti apa ebenarnya yang ingin kaukatakan!"

"Ambar, sebenarnya Mas Gatot masih mencintaiku. Kemajuan yang dicapainya sekarang itu sebenarnya untuk menunjukkan keberhasilannya padaku. Lalu berpacaran dengan gadis lain pun sebenarnya

juga untuk pelarian belaka. Bahkan juga untuk membuatku cemburu. Apakah kau tidak merasakan haI itu kemarin?" sahut Rini sambil menatapku. "Dia pura-pura bersikap dingin padaku, kau tahu apa sebabnya?"

"Tidak," aku memancing jawaban darinya.

"Itu karena dia ingin menyakiti hatiku, Ambar.

Aku kenal betul siapa Mas Gatot. Keberadaanmu merupakan cara dia menunjukkan egonya untuk melampiaskan kemarahannya padaku. Baginya, kau adalah alat untuk membuatku merasa kehilangan dirinya. Padahal di dalam hati, dia masih sangat mencintaiku. Sekali lagi Ambar, aku kenal siapa Mas Gatotl"

Aku ingin marah kepada Rini sebenarnya. Entah sadar entah tidak, dia telah menghinaku. Seolah aku hanya semacam mainan sementara saja bagi Gatot. Jadi yang hendak dikatakannya adalah kaIau tujuan sesunguhnya sudah tercapai, maka mainan itu akan dicampakkan oleh Gatot. Ingin sekali aku menampar mulut gadis itu. Tetapi kemudian aku sadar, apa yang dikatakan oleh Rini itu bukanlah diriku. Melainkan kekasih Gatot yang sekarang. Dan dia adalah Tina.

Di luar hal-hal yang tampak oleh mataku, aku tak pernah menilai Gatot setinggi itu. Bahkan kuanggap dia itu kurang ajar, hidung belang, mata keranjang. Dan karenanya, aku ingin menjauhkan dia dari Tina. Semakin cepat itu terjadi akan semakin selamatlah Tina.

Sekarang, ada seorang gadis yang katanya sangat

mengenal Gatot dan mengatakan bahwa keberadaan gadis lain hanyalah merupakan pelarian lelaki itu belaka. Bahkan gadis itu dipakai oleh Gatot sebagai alat untuk memuaskan egonya dan untuk melampiaskan kemarahannya kepada gadis yang merupakan cinta sejatinya. Dengan kata lain, Gatot tidak mencintai Tina. Gadis itu cuma ban serep dan untuk membangkitkan kecemburuan Rini.

Aku tidak sepenuhnya mempercayai apa yang dikatakan oleh Rini. Tetapi toh ada sesuatu yang masuk akaI dan bisa kusimpulkan dati perkataannya. Terutama kalau itu dikaitkan dengan apa yang pernah diperbuat oleh Gatot terhadapku. Maka sekarang tahulah aku kenapa laki-laki itu tidak kenal kesetiaan. Sekarang tahu pulalah aku kenapa laki-laki yang katanya kekasih Tina itu bisa menciumiku dengan penuh gairah dan tidak merasa bersalah karenanya.

Teringat itu, darahku mulai mendidih. Gatot memang sepadan dengan Rini. Keduanya tidak terlalu memikirkan perasaan. Apalagi menenggang hati orang. Tetapi aku tak boleh memperlihatkan kemarahanku. Jadi aku berusaha untuk. tetap tenang dan terkendali. Aku juga ingin tetap bersikap anggun.

"Jadi, Rin, apa yang harus kulakukan?" Hebat juga aku. Suaraku bisa terdengar begitu tenang dan sabar.

"Lepaskan Mas Gatot, Ambar."

"Jadi singkatnya, kau ingin supaya aku dan Gatot putus hubungan?" tanyaku kemudian.

"Ya."

"Kau bicara seolah Gatot itu sebuah benda yang bisa dilepas atau diambil semau kita. Tetapi kalau itu yang kaukehendaki, silakan saja. Kuserahkan Gatot ke tanganmu kembali," kataku. Barangkali saja inilah kesempatanku untuk mengenyahkan Gatot dari kehidupan Tina dan tentu saja juga dari kehidupanku. Mumpung belum berlarut-larut. .

Rini terpana, tak menyangka aku akan berkata seperti itu. Dengan sikap yang tenang pula, bagaikan seseorang yang sedang mengembalikan buku yang dipinjamnya.

"Kau... kau... bersungguh-sungguh, Ambar?' akhirnya gadis itu bertanya dengan tergagap-gagap. Pasti, sama sekali dia tidak menyangka akan semudah itu usahanya menjauhkan aku dari Gatot. Aku juga berani memastikan, sebelum berangkat ke sini tadi di dalam batinnya ada sepasukan tentara yang sudah bersiap-siap rnenjadi pasukan berani mati untuknya. Dengan pandangan melecehkan yang sulit kutahan agar jangan memancar di mataku, aku menjawab pertanyaannya tadi.

"Untuk urusan besar aku tak pernah main-main, Rin. Jadi apa yang kukatakan tadi itu benar," aku menjawab mantap.

"Tetapi ... kau sendiri bagaimana?" Kelihatannya gadis yang semula datang dengan genderang perang itu mulai digugat oleh hati nuraninya sendiri. Bingung tidak tahu harus bagaimana menempatkan pasukan berani matinya tadi.

"Rin, aku seorang perempuan mandiri dan memiliki kepercayaan diri yang kuat. Aku adalah aku. Dan aku tidak pernah mau menggantungkan diriku baik secara fisik maupun secara mental kepada siapa pun, termasuk kepada kekasih atau suami, kelak kalau aku sudah menikah. Jadi kapan dan di mana saja, aku selalu siap sewaktu-waktu untuk berpisah dengan kekasihku. ltu alasanku yang pertama. Yang kedua, itu menyangkut keberadaanku sebagai seorang individu yang kebetulan berjenis kelamin perempuan. Selama ini masyarakat hampir seluruhnya mempunyai pandangan¬pandangan tentang keberadaan perempuan dengan kacamata buram yang salah kaprah."

"Salah kaprah bagaimana? Jelaskan maksudmu itu, Ambar!" Rini menyela. Suaranya yang berapi¬api tadi terdengar melembut.

"Kesalahkaprahan itu menyangkut suatu sudut pandang, penilaian, anggapan, dan bahkan juga norma-norma yang diwarnai oleh sistem nilai milik kaum lelaki akibat budaya patriarkat. Namun dalam hal ini aku memiliki kesadaran untuk tidak terlarut dalam situasi seperti itu. Aku seorang individu otonom, subyek utuh yang tahu apa yang kumaui, tahu apa pilihan-pilihan dalam hidupku. Jadi, aku tak mau dipinggirkan, dinomorduakan atau dijadikan obyek karena jenisku yang perempuan. Karenanya, Rin, aku juga tak mau melecehkan diriku sendiri, berebut laki-laki seolah kebahagiaanku hanya bertumpu pada dia. Dilandasi kedua alasan itulah ku¬putuskan uutuk melepaskan Gatot untukmu. Oke?"

Aku tidak bermaksud menyindir Rini, tetapi kata-kataku tadi rupanya menyentuh perasaannya. Kulihat semburat rona merah melintasi kedua belah pipinya,

"Oke," sahutnya dengan suara pelan.

"Kalau begitu, sudah tidak. ada lagi hal-hal yang perlu kita bicarakan lagi, kan?"

Rini menganggukkan kepalanya sambil melirik arlojinya, kemudian bangkit. Kuperhatikan wajahnya yang manis dan rambutnya yang agak basah di bagian depannya itu. Lalu kulayangkan pandang mataku ke luar gedung. Hujan masih belum juga berhenti meskipun tidak sederas tadi.

"Kau naik apa, Rin?" tanyaku dengan suara lembut. Tak enak juga kalau aku tidak bersikap ramah kepada tamuku.

"Naik mobil."

"Jauh parkirnya?" tanyaku untuk menunjukkan

perhatianku padanya.

"Tidak Tetapi aku tidak membawa payung." "Mau kupinjami?"

"Tak usahlah, Ambar. Aku akan lari sebentar.

Tasku yang lebar bisa menjadi tudung kepala."

"Baiklah kalau begitu. Hati-hati di jalan lho.

Licin."

Rini menganggukkan kepalanya. Matanya mengawasiku beberapa saat lamanya.

"Maafkanlah aku ya, Ambar," katanya kemudian. Mendengar itu kejengkelanku, rasa direndahkan dan semacamnya yang semula mengusik hatiku, luruh. Sebenarnya, Rini gadis yang baik. Hanya saja egoisme telah menguasai dirinya. Dan cintanya kepada Gatot, entah itu cinta sejati entah karena alasan lainnya, telah mengaburkan akal sehatnya, menyingkirkan pula harga dirinya. Kasihan.

"Tak apa, Rin. Barangkali saja Gatot memang bukan jodohku," sahutku. Dan di dalam hati kutambahi, mudah-mudahan saja juga bukan jodoh Tina.

Rini masih juga belum bergerak. Matanya juga masih mengawasiku.

"Sebenarnya masih ada satu hal lagi yang ingin kukatakan kepadamu,Ambar!" ia berkata lagi, Kini dengan sikap agak malu-malu. "Apa yang akan kukatakan ini mudah-mudahan bisa menambah maafmu kepadaku. Ini hanya untukmu saja, Ambar. Terus terang saja saat ini usaha ayahku mengalami kemunduran. Semula, bolehlah keluarga kami disebut kaya-raya, Dan kebetulan pula, kakak dan adik perempuanku menikah dengan laki-laki kaya yang juga datang dari keluarga kaya pula. Sedangkan waktu itu, meskipun orangtua Gatot juga cukup kaya, tetapi dia sendiri termasuk orang yang sederhana. Tidak mau memakai fasilitas dari orangtuanya. Tentu saja aku sering merasa malu kepada keluargaku. Maka kudorong dia agar bisa sehebat ipar-iparku. Tetapi rupanya laki-laki itu keras kepala dan terlalu besar kepercayaau dirinya. Katanya, harga diri seseorang tidaklah terletak pada harta dan kesuksesan ... "

"Tetapi dia benar, kan?" aku memotong. "Kekayaan, pangkat, kebagusan fisik, adalah atribut belaka. Bukan sesuatu yang bersifat substansial, bukan

yang hakiki. Semua itu bisa lenyap kalau Tuhan menghendaki. "

"Aku tahu. Tetapi tidak semua orang berpendapat begitu, kan? Nah, kembali ke soal semula, perbedaan pandangan di antara kami berdua itu pun menjadi salah satu penyebab retaknya hubungan kami. Maka akhinya kami pun putus. Tetapi setelah aku berpacaran dengan orang lain, kusadari bahwa Gatot benar. Aku jadi sering menyesali putusnya hubungan kami. Apalagi sesudah keadaan ekonomi keluarga kami semakin surut begini. Maka ketika hubunganku dengan pacar baruku putus, aku selalu mencoba menghubunginya kembali. Bagiku, sekarang ini dia menjadi satu-satunya harapanku di masa depan. Dan juga gengsinya dimata keluargaku pasti naik karena kulihat dia telah berhasil menjadi orang. Rupanya, berkat dorongan-dorongankulah akhirnya Gatot mengalami kemajuan. ltulah kenapa aku yakin, sesungguhnya dia masih mencintaiku ... "

Kuhentikan perkataan Rini dengan menepuk bahunya.

"Aku mengerti," kataku kemudian. "Semoga kau bisa meraih hati Gatot kembali, Rin!"

"Terima kasih. Tetapi kau tidak marah padaku, kan?"

"Tadi, ya. Sekarang tidak lagi. Sebab sebenarnya aku tidak mencintainya!"

"Jadi apa yang kulihat itu benar rupanya. Sikapmu kepadanya tidak tampak mesra." Rini menatap mataku.

"Sudahlah. Aku tak mau membicarakannya lagi." "Oke. Aku akan pergi sekarang. Sekali lagi terima kasih ya, Ambar." Sambil berkata seperti itu Rini mulai melangkah pergi dari hadapanku.

Aku termangu-mangu sendirian. Meskipun Rini merasa senang mendengar aku mau melepaskan Gatot . tetapi aku masih menangkap perasaan bimbang di matanya. Barangkali dia merasa tak yakin apakah Gatot mau kembali padanya.

Tetapi apa pun itu, hatiku tiba-tiba saja menjadi kosong. Seolah aku tak mempunyai perasaan apa pun lagi. Kalaupun ada yang tersisa, itu berkaitan dengan Tina adikku. Bagaimana perasaannya kalau dia mengetahui ada gadis lain yang siap menerima Gatot kembali ke dalam pelukannya?

Ah, kasihan Tina. Dia sama sekali tidak tahu apa yang terjadi. http:ebukita.wordpress.com http:ebukita.wordpress.comDelapan http:ebukita.wordpress.comAKU duduk bergelung di sudut sofa ruang keluarga, menonton televisi sendirian dan menikmati sejuknya udara di sekelilingku. Hari itu hari Minggu dan senja baru saja turun. Di luar, gerimis masih belum berhenti sesudah sebelumnya hujan lebat mengguyur bumi ini berjam-jam lamanya.

Sudah satu minggu ini Jakarta sering hujan bukan dalam musimnya. Ibuku mengatakan itu sebagai udan salah mongso, hujan salah musim. Namun meskipun membuat jalan-jalan di Ibukota jadi banjir, datangnya bujan di saat kemarau sedang berada di puncaknya ini di sambut cukup hangat oleh sebagian penduduk. Kota yang berdebu, dicuci air hujan. Air sumur yang mulai kering, terisi kembali. Dan udara yang pengap menjadi sejuk. Sementara itu jalan di depan rumah kami, sepi. Nyaris tak ada kendaraan yang lewat. Kalau tidak ada keperluan penting, orang-orang pasti lebih suka berada di dalam rumahnya yang hangat. Dan di kejauhan aku mendengar suara nyanyian katak yang membuatku jadi mengantuk.

Dalam cuaca seperti itu aku memilih tinggal di

rumah dan menikmati kesendirianku. Bapak, Ibu, dan kedua adikku baru saja berangkat ke resepsi perkawinan seorang kerabat. Windarti pasti tidak merasa kehilangan aku. Kemarin dalam upacara siraman, malam midodareni, dan tadi pagi dalam upacara pernikahan yang sesungguhnya, aku selalu berada di sampingnya dan membantu apa saja yang bisa kubantu. Sekarang aku ingin beristirahat. Kakiku yang terus-menerus berpijak pada selop tinggi terasa pegal semua.

"Hai!" Suara Gatot yang khas memasuki lingkup pendengaranku dan menghilangkan seluruh kenikmatanku untuk menyendiri.

Karena merasa jengkel pada kehadirannya yang tak kuharapkan itu, sapaannya tak kusahuti. Aku hanya meliriknya sekilas untuk kemudian kulabuhkan kembali mataku ke layar kaca di depanku, Tetapi sempat kulihat pakaiannya yang santai dan rambutnya yang agak basah karena gerimis.

"Hai!" Gatot mengulangi sapaannya.

Sapaan itu tetap tak kusahuti. Tetapi tanpa sadar aku meliriknya lagi. Kulihat ada seringai nakal di wajahnya yang sangat menarik itu. Karenanya cepat-cepat aku mengalihkan lagi mataku ke acara televisi.

'Hai," untuk ketiga kalinya laki-laki itu menyapaku. Merasa kesal akhirnya kujawab juga sapaan itu.

"Hai-mu itu untuk Tina, kan? Dia tidak ada di rumah," kataku ketus. "Sedang pergi dan baru pulang malam nanti. "

"Aku tahu, Tina tidak ada di rumah," Gatot menjawab kalem dan santai. "Aku juga tahu dia pergi bersama Bapak dan Bu Joko dan Didik. Mereka baru saja berangkat, kan?"

"Nah, sudah tahu begitu kok kemari sih!" aku menggerutu. Tanpa sadar aku menoleh ke arahnya.

Melihatnya begitu santai, rasa jengkelku semakin meningkat, Ia memang sudah terbiasa keluar-masuk rumah ini lewat pintu mana pun yang ia suka. Dan juga memilih duduk di mana pun yang ia inginkan. Seperti rumahnya sendiri saja. Menyebalkan!

"Lho, justru karena tahu kau sedang sendirian maka aku sengaja datang kemari untuk menemanimu," sahutnya sambil tersenyum manis. Tetapi mata dan lekuk bibirnya mencerminkan godaan yang membuat aku semakin jengkel.

"Apakah kau tidak pernah mengerti bahwa aku merasa jauh lebih senang berada sendirian saja tanpa teman daripada mengobrol bersamamu dan melihat tampangmu yang tengil itu. "

"Wah, kau memang tak pernah mau bersikap manis terhadap tetangga dekatmu ini," Gatot menggerutu sambil mengempaskan tubuhnya ke kursi di dekat sofa yang kududuki ini.

"Itu penting untuk menghindari bibit penyakitl" lagi-lagi aku berkata dengan ketus. "Berdekatan denganmu membuat orang jadi sial!"

"Lho, kok begitu sih penilaianmu? Memangnya kenapa?" Bukan main kalemnya lelaki itu, seolah tak pernah berbuat salah. Padahal ... ?

"Apakah Rini tidak mengatakan apa-apa kepadamu?"

"Rini?"

"Ya, Rini-mu. Masa kau tidak tahu kalau dia datang ke kantorku?'

"Aku tidak tahu," sahutnya masih dengan sikap kalem yang membuatku jadi yakin bahwa sesungguhnya dia sudah tahu kalau Rini menemuiku. Di kantor "Iseng betul dia menemuimu. Memberimu oleh-oleh apa, dia?"

Aku tak mau menanggapi godaannya itu.

"Dia memintaku untuk melepaskanmu," kataku.

"Idih, memangnya aku ini apamu kok disuruh melepaskan dirimu, Jangankan menjadi pacarmu, menjadi temanmu pun aku ogah. Enak saja dia menyuruhku begitu!"

"Tetapi kau tidak bilang begitu kepadanya. Ya, kan?'

Aku menoleh ke arahnya. Keyakinanku semakin bertambah, Gatot pasti sudah bertemu dengan Rini.

"Kau sudah bertemu lagi dengannya?" tanyaku menyelidik,

"Kalaupun ya, itu tidak penting. Dan jangan menilai apa yang terjadi hanya dari sudut pandangmu saja atau dari apa yang cuma sedikit kauketahui," sahut Gatot. 'Bisa-bisa kau keliru menentukan langkah nanti. Aku kenal Rini cukup baik."

"Apa maksudmu?"

"Aku tak ingin menjelaskannya padamu. Itu tidak penting. Tetapi ada sedikit yang ingin kusampaikan kepadamu, bahwa kau terlalu serius menghadapi Rini. Itu saja." Gatot menyeringai. "Ah, sudahlah. Ada hal yang lebih penting daripada soal Rini. Kau tadi bilang bahwa kau tak sudi menjadi pacarku, bahkan menjadi temanku pun tidak. Itu bisa kumengerti. Sebab yang jelas kau adalah calon kakak iparku!"

Aku melotot ke arahnya begitu mendengar perkataannya. Tetapi aku segera menyesal telah memelototinya. Sebab dengan mata membesar begitu aku jadi melihat wajahnya yang ganteng, senyumnya yang menggoda, dan tubuhnya 'yang gagah. Baju kausnya yang ketat mencetak tonjolan otot¬otot di bahu dan dadanya, serta lengannya yang kokoh menjelaskan padaku bahwa Gatot memang benar-benar pecinta olahraga. Sedikitnya setiap pagi dia lari di sekeliling kompleks perumahan ini. Tetapi aku tak mau terpengaruh oleh apa yang kusaksikan itu. Jadi lekas-lekas aku membentaknya sambil membuang pandang ke tempat lain.

"Siapa yang sudi menjadi calon kakak iparmu!" "Tetapi itu pasti akan terjadi. Cepat atau lambat!" Gatot berkata yakin.

"Tidak, Gatot, Tidakl" Aku melotot lagi. Tetapi kali ini daya tariknya tak sempat masuk ke dalam pikiranku karena aku amat marah melihatnya begitu yakin pada dirinya itu. "Rasanya itu sudah ratusan kali kukatakan kepadamu. Tolonglah, jangan kauhancurkan masa depannya. Dia masih polos dan suci. Sebaiknya kau kembali sajalah kepada Rini. Dia lebih panta untukmu daripada Tina. Percayalah!"

"Menurutku, Tina tidak akan sependapat denganmu," sahut Gatot kalem. "Kecuali kalau kau sudah menceritakan kepadanya tentang bagaimana panas dan bergairahnya ciuman kita di malam purnama waktu itu!"

Diingatkan pada peristiwa malam itu, pipiku menjadi panas dengan seketika. Gatot pasti melihat betapa merahnya pipiku saat itu. Tetapi aku tak mau menyenangkan hati lelaki kurang ajar itu. Karenanya cepat-cepat aku berkata lagi.

"ilmu pelet apa yang kaupakai untuk memikat Tina sampai-sampai dia belum juga bisa melihat seperti apa dirimu yang sesungguhnya dan pikiran kotor macam apa yang ada di kepalamu," kataku kesal sekali. "Mudah-muadahan kau masih mempunyai sedikit saja hati nurani untuk tidak menciumi Tina seperti... seperti yang pernah kaulakukan kepadaku."

"Kalau ya, apakah itu menganggu pikiranmu?" "Tentu saja!" seruku marah. "Pertama, aku tidak rela kalau kauperlakukan gadis sepolos dia dengan cara ... cara ... sebrutal itu. Kedua, kalau yang seperti itu juga kaulakukan kepada Tina, aku benar¬benar akan semakin membencimu. Sebab berarti kau telah membenamkan diriku ke lumpur yang busuk. Bayangkan saja, bisa-bisanya aku kau buat jadi orang yang paling goblok dan tak tahu malu di dunia ini karena telah memberimu kesempatan untuk menciumiku dengan cara sepanas itu. Padahal, aku ini kakak kandung Tina .... "

"Tetapi kau tidak akan merasa begitu kalau yang kucium dengan penuh gairah itu Rini, kan?" Gatot memotong bicaraku. Nada bicaranya mengandung godaan.

"Kau ... kau seperti beruang busuk!" Aku nyaris berteriak. "Mata keranjang, hidung belang. Aku sangat membencimu, Gatot."

"Waduh, reaksimu kok bisa begitu berlebihan sih. Kan aku tadi mengatakan, kalau .... " Gatot menanggapi sikap marahku dengan kalem sekali. "Lagi pula aku 'tidak punya niat sedikit pun untuk menciumi Rini."

Aku terdiam. Aku yakin sekarang, Gatot tidak pura-pura dingin terhadap Rini waktu kami bertemu di pertokoan waktu itu. Baginya Rini hanyalah masa lalu, sebagaimana sikap yang diperlihatkannya di pertokoan waktu itu. Berarti usaha Rini untuk mendekatinya lagi sia-sia saja, walaupun aku sudah mengatakan padanya bahwa dia bebas meraih hati Gatot kembali. Mungkin itulab yang dimaksud Gatot ketika mengatakan padaku tadi bahwa aku bisa keliru langkah kalau melihat masalah Rini hanya dari sudut pandangku aja. Entahlah benar atau tidak dugaanku itu. Tetapi ah, buat apa kupikirkan. Bukan urusanku.

"Kok diam?" Gatot bertanya ambil memicingkan matanya.

"Aku sedang berpikir," dalihku. "Tentang?"

"Cara bagaimana supaya kau itu sadar bahwa Tina bukanlah orang yang tepat untukmu. Masa semua alasan yang kuberikan kepadamu tidak kau dengar sama sekali. Padahal kalian berdua betul¬betul tidak cocok. Carilah gadis lain yang lebih pantas untukmu!"

"Bagus juga pikiranmu itu, Ambar. Aku jadi punya pikiran baru."

"Pikiran baru bagaimana?"

"Bahwa kalau Tina memang tidak cocok untukku, maka yang lebih pas untuk kujadikan istriku adalah kau!" Gatot menjawab pertanyaanku dengan sangat tenang.

"Gombal!" aku berteriak sambil melemparkan bantalan kursi ke wajahnya. "Siapa yang sudi!"

"Aku yang sudi, Ambar. Jadi kalau aku tidak jadi dengan Tina dan seandainya aku disuruh memilih antara dirimu atau Rini, maka seribu kali aku akan lebih memilihmu!" Gatot menangkap bantalan kursi yang kulempar tadi sambil menjawab perkataanku. Dan dengan sikap yang masih itu-itu juga. Tenang. Seolah dia sedang berbicara tentang bagaimana memilih burung peliharaan. Sialan.

"Dasar tak punya perasaan, ya begitu itu yang diomongkan!" Aku melotot lagi,

Gatot menanggapi pelototan mataku dengan sikap yang kurang ajar sekali. Tangannya menopang dagu dan matanya mengawasiku dengan geli sementara bibirnya tersenyum-senyum. Benar-benar membuatku kalang kabut, Ingin sekali aku menampar wajab gantengnya yang kurang ajar itu. Tanganku sudah gatal.

Dering bel pintu depan yang tiba-tiba memecah suasana yang menegangkan perasaanku itu menyelamatkanku dari perbuatan tak sopan yang hampir saja kulakukan. Apalagi bik Imas muncul di ambang pintu, bermaksud untuk membuka pintu depan ..

"Biar aku saja yang membukakan pintu, Bik," kataku kepadanya.

"Kalau begitu, saya buatkan minumnya saja ya, Non."

"Jangan dulu, Bik. Belum tentu itu tamu untukku. Kalau mencari Bapak atau yang lain, pasti dia akan segera pulang."

"Pak Gatot sajalah, kalau begitu. Mau minum apa?" Bik Imas ganti menoleh ke arah Gatot.

"Nanti saja, Bik Lagi pula aku kan bukan tamu. Cal0n menantu di rumah ini bisa mengambil apa saja yang kumaui, kan? Betul tidak, Bik?"

Bik Imas tertawa sambil menganggukkan kepalanya. Kemudian dia masuk ke belakang kembali. Tepat pada saat itu bel pintu berdering lagi. Dengan perasaan kesal karena tak sempat menumpahkan kejengkelanku kepada Gatot, aku terpaksa pergi ke depan. Kulihat Gatot mengekor di belakangku. Hatiku semakin kesal saja jadinya. Memangnya dia yang punya rumah?

Namun tatkala aku melihat siapa yang datang, kedongkolanku kepada Gatot berubah menjadi rasa syukur. Untunglah dia mengekor di belakangku. Bahkan kehadirannya telah memberiku kekuatan ekstra. Sebab yang datang adalah Bram.

Laki-laki muda yang tampak gagah dan rapi itu berdiri di muka pintu dengan sikap percaya diri.

Penampilannya sangat menarik, jauh lebih menarik daripada yang bisa kuingat tentang dirinya. Dan dia tersenyum manis sekali kepadaku, Sedangkan aku masih berdiri bingung karena sedikit pun tak singgah dalam pikiranku bahwa dia akan datang petang ini. Di saat cuaca kurang bagus pula. .

"Halo?" ia menyapaku. Tangannya terulur kepadaku.

"Halo ... " Kusambut tangannya. Tetapi karena aku merasakan remasan tangannya, cepat-cepat aku menariknya kembali. Lalu dengan perasaan masih bingung kupersilakan dia masuk.

Bram lalu melangkah masuk dan langsung duduk di sudut dekat jendela. Persis seperti yang dulu sering ia lakukan. Padahal di ruang tamu itu sudah ada beberapa perubahan barang maupun letak pengaturannya.

"Hm ... rasanya seperti pulang kandang ... ," kata Bram sambil melayangkan pandangannya ke sekeliling.

"Hampir-hampir tak ada yang berubah di tempat ini. 'termasuk flamboyan di tepi jalan itu, masih tetap pohon yang dulu juga. Kecuali, saat ini sedang tak berbunga.'

Aku tidak ingin memberi komentar apa pun.

Perasaanku tak tenang. Aku belum siap menghadapi Bram kendati waktu itu kami sudah bercakap¬cakap melalui telepon dan sudah sekian tahun lamanya tak pernah saling berkabar maupun bertemu. Tetapi meskipun demikian aku masih ingat satu hal. Yaitu jangan sampai lelaki itu menyangka masih ada sela di hatiku untuk menguakkan kembali pintu-pintu hubungan kami yang lama. Jam pikiranku bergerak cepat. Kulirik Gatot masih berdiri agak canggung di belakangku. Bram pasti k¬rang memperhatikannya sebab Gatot hanya mengenakan ce1ana pendek sebatas lutut dan sandal jepit. Mungkin dikiranya, Gatot termasuk kerabatku.

"Mas, ikut duduk di sini dong!" dengan manis kupanggil Gatot agar ia mau bergabung.

Kulihat Gatot tertegun mendengar sebutan "mas" dari mulutku. Tetapi itu tak lama. Bibirnya segera membentuk senyum manis. Rupanya, sudah ada lintasan dugaan di kepalanya bahwa aku membutuhkan kehadirannya untuk menghadapi tamu tak diundang ini. Dengan cepat ia maju mendekati Bram.

"Tetapi sebelumnya ada baiknya kalau aku berkenalan dengan tamumu ini, Dik Ambarl" kata lelaki itu. Dalam keadaan biasa, meskipun aku membenci Gatot, sebutan "dik" yang diucapkannya dengan fasih itu pasti akan membuatku tertawa.

Mendengar pembicaraanku dengan Gatot, barulah Bram memperhatikan keberadaan lelaki yang belum dikenalnya itu. Apalagi Gatot sudah mengulurkan tangan lebih dulu.

"Gatot." begitu lelaki itu mengenalkan dirinya. "Bramanto!" Bram berdiri sebentar, menyambut uluran tangan Gatot, lalu duduk kembali."Masih keluarga Ambar?"

"Hampir, Ya kan, Mas?" aku yang menjawab, menyambar lebih dulu dengan penekanan pada kata "hampir" itu secara khusus.

Gatot sungguh pandai melihat gelagat. Jawaban¬ku yang gesit itu .diranggapinya dengan baik sekali. . "Ya," ia menjawab sambil memilih duduk di kursi yang pas untuk dua orang.

Aku menyusul duduk. Sengaja kupilih tempat di samping Gatot. Lalu aku bertanya pada Bram untuk menunjukkan bahwa aku nyonya rumah yang baik,

"Tidak kehujanan tadi? Di luar masih gerimis." "Mobilku kuparkir dekat teras ... ," jawabnya. Dari pandangan matanya yang sudah kukenal itu, aku melihat keingintahuannya mengenai keberadaan Gatot di rumah ini. Jawabanku yang mengatakan bahwa Gatot hampir menjadi keluargaku pasti menimbulkan teka-teki dalam dirinya.

"Wah, aku kok tidak mendengar suara mobil masuk," kataku lagi. "Mungkin karena kita berdua sibuk mengobrol tadi ya, Mas."

"Ya." Gatot menganggukkan. kepalanya, kemudian tersenyum.

"Dingin-dingin begini kau pasti membatuhkan minuman hangat ya, Mas Bram. Mau kopi, teh, atau cokelat?"

"Apa sajalah .... "

Aku menoleh kepada Gatot dan tersenyum manis . . "Kau pasti ingin cokelat susukan seperti biasanya?" tanyaku.

"Tentu!" Gatot juga membalas senyumku. Manis

sekali senyumnya itu. Ah, pandainya dia menanggapi sandiwaraku.

"Kalau begitu akan kubuatkan minuman untuk kalian." Aku berdiri dan langsung meninggalkan kedua lelaki itu di ruang tamu. Dan kupanggil pembantu kami untuk membuatkan tiga cangkir minuman hangat.

"Cokelat susu semua sajalah, Bik!" kataku kepadanya. Kemudian dengan langkah cepat aku berjalan ke ruang tamu kembali.

"Tak jadi bikin sendiri, Dik?" Gatot menatapku dengan pandangan geli. Ia pasti tabu alasanku cepat kembali ke ruang tamu itu. Dia pasti tahu, aku tidak ingin dia sendirian saja bersama Bram. Takut keliru bicara.

"Tidak, Mas. Diminta Bibik!" sahutku. Kesal aku karena Gatot merasa geli dan tampaknya ingin menertawakan kelakuanku. Karenanya cepat-cepat aku mengalihkan pembicaraan kepada Bram. "Tumben, Mas. Memang sengaja datang kemari atau karena kebetulan lewat di dekat sini?"

"Keduanya, Maksudku, aku memang bermaksud untuk berkunjung kemari dalam waktu dekat ini. Dan kebetulan, aku lewat tak jauh dari rumahmu. Jadi kupikir, apa salahnya aku menjengukmu. Tetapi kalau kau keberatan... atau kalau aku mengganggumu, aku akan pergi...."

"Lho, jangan berkata begitu, Mas!" Gatot yang mewakili bicaraku. "Dik Ambar pasti senang dikunjungi teman. Apalagi di luar, hujan belum berhenti. Kan Iebih enak mengobrol di sini."

"Tidak kesasar tadi. .. ?"tanyaku, berbasa-basi. "Bagaimana mungkin bisa kesasar?" Bram menatapku dengan dahi agak berkerut. Mungkin pertanyaanku tadi telah menyinggung perasaannya. Entahlah. "Apakah kau tidak ingat betapa seringnya aku dulu datang kemari?"

"Oh ya, aku lupa .... " Aku tersipu agak malu.

"Maklum ... sudah lama sekali."

"Dulu Mas sering datang kemari?" Gatot menimpali.

"Ya."

"Dik Ambar tidak pernah menceritakannya padaku. Padahal hampir semua teman dekatnya sudah kukenal dan kuketahui ceritanya. Dia itu kalau sudah bercerita mengenai teman-temannya, wah, bisa. berjilid-jilid kalau dibukukan. Tetapi mengenai Mas Bram, tidak pernah dia bercerita. Terlalu!" Gatot tertawa.

"Maaf, aku lupa." Aku pura-pura tertawa. Sialan sekali si Gatot ini. Tampaknya dia sangat menikmati sandiwaraku

"Bisa-bisanya lupa sih?" Gatot mencubit pipiku dengan gemas tanpa malu dilihat oleh Bram. "Belakangan ini kau sering lupa ini dan itu. Terlalu banyak pekerjaan di leantor ya? Kasihan."

"Ah, namanya juga manusia. Lupa itu manusiawi kan, Mas!" Aku mengimbangi caranya bersandiwara dengan tersenyum manis dan sedikit manja. Tetapi begitu Bram melayangkan matanya ke luar jendela, kucubit kera-keras lengan Gatot sampai laki-Iaki itu meringis kesakitan. Rasakan, pikirku. Enak saja dia mencubit-cubit pipi orang di depan tamu.

Tetapi apa pun yang terjadi saat itu, aku lang¬sung tabu bahwa perasaan Bram mulai resah. Rupanya kemesraan yang berhasil kuperlihatkan bersama Gatot tadi menyadarkan dirinya bahwa laki¬laki yang dikiranya masih keluargaku itu mempunyai hubungan khusus dengan diriku. Dengan kata lain, keinginannya untuk mengakrabiku kembali sudah tidak mungkin lagi terjadi.

Aku yakin laki-laki itu sudah ingin keluar dari rumah ini. Tetapi demi sopan santun ia masib mencoba bertahan untuk tetap berada di tempat, Hal seperti itu juga kurasakan. Sebenarnya aku sudah tidak tahan duduk lebih lama lagi di dekat kedua lelaki itu. Terhadap Bram aku sudah tidak punya perasaan apa pun. Dan meskipun waktu baru melihatnya tadi aku sempat memujinya di dalam hati, itu sama saja seperti kalau aku mengagumi lelaki lain yang gagah. Berteman dengannya saja pun aku sudah tidak mau.

Bahwa aku bersikap mesra terhadap Gatot di muka Bram, itu adalah caraku untuk memberitahu bahwa aku sudah mempunyai kekasih. Dan bahwa aku sudah menutup masa laluku bersama dia. Tak ada niatku membuat dia jadi cemburu karena memang tidak ada relevansinya dengan perasaanku dan juga tidak ada gunanya. Untuk apa membuatnya cemburu kalau seujung kuku pun aku sudah tidak peduli padanya?

Namun sebagai tuan rumah yang tahu sopan santun aku tetap mengajak Bram mengobrol tentang ini dan itu yang tak ada kaitannya dengan masalah¬masalah pribadi. Gatot juga kuikutsertakan dalam obrolan itu. Padahal aku benar-benar sudah ingin mengusirnya pergi. Bukan hanya karena aku sudah tidak menyukainya saja, tetapi terutama karena kekurangajaran Gatot yang bersikap seolah aku ini kekasih tersayangnya. Sebentar-sebentar ia menyebutku "Sayang". Sebentar-sebentar pula ia menggenggam telapak tanganku atau melingkarkan lengannya ke bahuku. Padahal dua kali aku mencubit lengannya keras-keras sambil melototkan mata ke arahnya pada waktu Bram sedang tidak melihatnya.

Untunglah akhirnya Bram minta diri sesudah cokelat susunya babis dan gerimis di luar berhenti. Dan seperti tadi, untuk menunjukkan diriku sebagai tuan rumah yang baik, aku terpaksa sedikit berbasa¬basi juga agar Bram tidak terlalu merasa kecewa karena kedatangannya sia-sia saja.

"Terima kasih atas kunjunganmu lho, Mas Bram," kataku setelah kami berada di teras, sebelum Bram turun ke halaman.

Dan ketika laki-laki itu sudah masuk ke mobilnya aku masih menambahkan basa-basi pergaulan lainnya,

"Salam ya untuk kedua orangtuamu dan juga saudara-saudaramu. "

"Terima kasih. Ayo, Ambar, Mas Gatot.. .. " Bram menganggukkan kepalanya, menutup kaca jendeJa mobilnya, dan dalam waktu yang singkat menghiLang dari pandanganku.

Kututup dulu pintu pagar, baru aku masuk ke rumah. Tetapi karena Gatot masih mengekor di belakangku, niatku untuk mengunci pintu depan kutunda.

"Kau tidak pulang sekalian?" tegurku. Lebih sebagai usulan daripada pertanyaan.

Gatot tidak menjawab pertanyaanku. Tetapi dengan tangannya yang berotot dan kokoh itu ia mengunci pintu depan rumahku. Sedemikian tenangnya cara dia melakukan itu sampai aku jadi jengkel sekali.

"Kok malah dikunci?" semburku. "Kau kan masih ada di sini!"

"Memangnya pintu rumah di sini cuma ini satu¬satunya?" dia balik bertanya.

"Oke, Jadi kau mau pulang lewat pintu samping?

Ayolah, kalau begitu, Kuantar kau keluar sekarang. Akan kukunci sekalian." Kuharap Gatot tahu bahwa apa yang kukatakan itu merupakan caraku mengusir dia dari rumah ini secara halus.

"Aku belum 'mau pulang. Jam delapan belumlah terlalu malam untuk ukuran kota besar seperti Jakarta," Gatot menanggapi perkataanku sambil tersenyum manis yang dibuat-buat. "Jadi, aku masih tetap setia pada tujuanku kemari tadi, yaitu menemanimu sampai keluargamu pulang."

"Aku bukan anak kcil yang masih membutuhkan pengasuh. Jadi, Gatot, pulanglah. Aku lebih suka sendirian. Mau menonton televisi dengan kaki ke atas meja, atau kepalaku kuletakkan di bawah dan kakiku ke atas, tak ada yang melihat. Bebas. Sudah begitu ... "

Suaraku terhenti oleh sentakan tangan Gatot pada lenganku. Dan tidak segera dilepaskannya.

"Jangan mengusirku sesudah tadi kaupakai aku

dengan sesuka hatimu!" ia mendesis di samping wajahku.

''Memakaimu untuk apa?"

"Untuk membuat bekas kekasihmu itu cemburu!"

Gatot mendesis lagi. Lenganku yang terjepit tangannya terasa sakit. "Jadi, Ambar, jangan pernah lagi memperalat diriku untuk memberi kesan bahwa aku ini kekasihmu. Apalagi dengan tujuan membuatnya gelisah karena cemburu!"

Kalau tidak dalam keadaan seperti itu, aku pasti tertawa. Sebab perkataannya mengingatkanku pada perkataan senada yang pemah kulontarkan padanya ketika kami baru saja berpisah dengan Rini sesudah makan siang bertiga, beberapa waktu yang lalu. Kalau ini sebuah pcrtandingan, maka hasilnya seri Satu lawan satu.

"ldih," sahutku mengusir rasa geli yang melintasi perasaanku itu. "Buat apa membuatnya cemburu dan siapa bilang dia itu bekas kekasihku?"

"Dari sikap kalian berdua dan dari pembicaraan kalian, sangat mudah bagiku untuk menangkap adanya hubungan khusus yang pernah terjalin di antara dirimu dan dia!" Gatot menatapku dengan bengis. "Jadi jangan mengikutsertakan aku dalam urusan kalian berdua!"

Lagi-Iagi aku ingin tertawa. Sebab perkataan seperti itu juga pernah kukatakan kepadanya waktu dia melakukan hal sama kepadaku di hadapan Rini Tetapi tentu saja rasa geli itu kutindas kuat¬kuat.

"Aku tidak bermaksud membuat Bram cemburu,"

sahutku. " Buat apa? 'Sudah tak ada kaitannya dengan kehidupanku sekarang ini. Apalagi ke masa depan."

"Kalau begitu, kenapa tadi kau begitu bersemangat membuat kesan seolah ada hubungan cinta yang mesra di antara kita berdua?"

"Aku hanya mau menunjukkan padanya bahwa di antara kami berdua sudah tidak ada apa-apa lagi yang bisa dilanjutkan kembali. Aku ingin memperlihatkan padanya babwa saat ini aku sudah mempunyai kekasih ... " Suaraku terhenti mendadak, sadar bahwa tanpa sengaja aku telah mengakui sandiwara yang mengikutsertakan Gatot tanpa minta persetujuannya lebih dulu. Maka tanpa aku mampu menahannya, wajahku langsung saja seperti terbakar.

"Teruskan!" Gatot mendesis lagi. Tetapi aku melihat ada rasa geli di bola matanya yang berkilat¬kilat itu.

"Apanya?" Aku tak mau kalah. Kupelototi dia

dengan mataku.

"Pengakuanmu tadi?"

"Tetapi, .. lepaskan dulu tanganmu. Sakit, tahu!" "Tidak, sebelum kau mengakui kesalahanmu." "Oke, Aku tadi memang telah memperalat dirimu seolah kau kekasihku. Untuk itu, aku minta maaf!" Aku memang mengakui kesalahanku, tetapi tentu saja air mukaku tidak sejalan dengan apa yang kuucapkan itu. "Nah, sekarang kau puas kan men¬dengar pengakuan itu?"

"Tidak. Sama sekali tidak puas!" Gatot menggeleng-gelengkan kepalanya dengan mata menyipit menatapku. "Pengakuanmu itu tidak tulus keluar dari hatimu. Jadi aku tak mau melepaskan lenganmu!"

"Jangan main-main denganku, Gatot. Apa sih maumu?Apakah aku harus menyembah kakimu?" Aku mulai jengkel.

"Jangan sebut namaku begitu saja. Aku lima tahun lebih tua darimu. Sebutlah seperti di hadapan Bram tadi, Mas Gatot. Manis sekali terdengar di telinga. Maka aku akan menyebutmu Dik Ambar. Nah, manis juga, kan?'

"Tak sudi!"

"Harus sudi. Kau telah membangunkan macan tidur dalam diriku. Senang sekali aku menerima sikap mesramu tadi. Dan kemanjaan yang kauperlihatkan tadi membuatku mengira apa yang terjadi itu bukan bagian dan sandiwaramu. Aku sampai terlarut di dalamnya dan ... "

"Membangunkan macan tidur bagaimana?" aku memotong perkataannya dengan pipi yang semakin terasa panas. "Jangan mengada-ada. Dan cepat, lepaskan tanganmu dari lenganku!"

Bukannya melepaskan lenganku, Gatot malah menarikku ke arah tubuhnya sehingga aku yang tidak memperhitungkan perbuatannya itu terjerembap masuk ke pelukannya. Dan tak diberinya pula aku kesempatan untuk mendapatkan keseimbangan tubuhku agar bisa tegak kembali. Tangan laki-laki itu langsung saja mengunci tubuhku dengan cara memelukku crat-erat, Dan kemudian dengan gesit didorongnya aku ke pintu sehingga aku tersandar di sana dan terperangkap di dalam kekerasaan pelukannya.

"Lepaskan, Tot." Aku mulai panik. Suaraku mulai bergetar.

Tetapi Gatot tidak mau mendengarkan permintaanku. Dia sibuk dengan perasaannya sendiri.

"Sekarang ini aku masih mabuk: kesenangan karena sikap mesramu kepadaku tadi," katanya, "Rasanya, aku ini benar-benar seperti kekasihmu."

Kemudian didekatkannya wajahnya ke wajabku.

Ketika kurasakan embusan napasnya yang hangat pada dahiku, aku jadi semakin panik, Tetapi bukan dia, yang kutakuti, melainkan diriku sendiri.

"Lepas ... ," pintaku. Tetapi ucapanku selesai. Sebab tiba-tiba saja bibirku telah dilumat oleh bibirnya. Seperti yang pernah terjadi di Ancol beberapa waktu yang lalu, sekarang aku juga tak mampu berpikir apa pun kecuali merasakan penguasaan bibirnya atas bibirku. Maka kalau berpikir saja pun tak sanggup, bagaimana pula aku bisa menolaknya? Aku bahkan langsung saja terseret ke dalam pesonanya. Laki-laki ito menciumiku dengan penuh gairah. Tubuhnya yang kokoh mengimpit tubuhku. Dadanya yang bidang dan kenyal itu merapat ke dadaku sehingga paha kami saling menempel. Dan kemudian tangannya yang semula melingkari lenganku dilepaskannya. Tetapi sebagai gantinya, dengan tangan itu ia mulai membelaiku. Belum pernah aku diperlakukan seintim itu. Bahkan oleh Bram sekali pun. Tubuhku dikunci dengan tangan kirinya dan rambut serta bagian-bagian wajahku dibelai dan ditelusuri oleh jemari tangan kanannya dengan cara seorang pemilik. Babkan bagai seorang pemenang. Sementara itu tububnya menekan tubuhku.

Aneh sungguh diriku ini. Dengan Bram, aku selalu mampu menahan gairahnya dengan ucapan maupun dengan sikapku yang tegas sebingga lelaki itu tak pernah berani berbuat lebih dari sekadar menciumku. Membelai sedikit turun saja dari rambutku, aku sudah menegurnya.

Tetapi berada dalam pelukan Gatot, aku kehilangan segalanya. Kesadaranku, akal sehatku, sikap tegasku, penolakanku. Bahkan tanpa mauku, badanku menggigil oleh usapan-usapan tangannya pada kuduk, lengan, dan punggungku. Dan ketika bibir Gatot mulai menciumi sisi leherku dan menggigit lembut daguku aku merasa kakiku seperti kehilangan tulang penyangga. Seluruh tubuhku menjadi lemah lunglai. Barangkali Gatot merasakan hal itu. Ia merengkuh tubuhku yang setengah bergayut pada bahu dan lehernya itu.

Meskipun sudab sedemikian jauhnya kami bercumbu, otak warasku masih saja belum bisa bekerja secara normal. Yang terjadi justru aku pasrah dan bahkan menikmati kemesraan yang diselubungkan lelaki itu padaku. Selain itu aku malah membalas pelukan dan ciumannya dengan sepenuh gelora. Merasakan balasanku, tubuh Gator juga gemetar.

"Ambar ... ," kudengar lelaki itu membisikkan namaku berulang-ulang dengan sangat mesra, menyebabkan darahku mengaIir deras dan jantungku berpacu demikian cepat. Tubuhku terasa panas dan dingin bergantian.

Tiba-tiba Gatot menarik tanganku dari lehernya, lalu menuntunnya dan meletakkannya, menyusup melalui lubang baju kausnya. Aku menggelinjang dan bergetar tatkala kurasakan kulit dadanya yang hangat dan bulu dadanya yang halus.

Aku mengeluh tanpa sadar, Perbuatan itu sudah terlalu intim untuk dilakukan oleh insan yang belum terikat sebagai suami-istri. Lebih-lebih bagi kami berdua. Tak ada hubungan percintaan di antara diriku dan Gatot. Tetapi toh dalam kemacetan otakku itu aku telah membiarkan kermsraan itu terjadi. Kalau saja aku tidak mendengar gumaman yang Iebih mirip seperti erangan seekor kucing yang menikmati elusan tangan tuannya, barangkali kami berdua akan terus melekat satu sama lain seperti lintah.

Maka begitu aku tersadar dari amukan gairah yang dibangkitkan oleh lelaki itu, kudorong dadanya agar menjauhi tubuhku. Kemudian kurenggut tubuhku dari rengkuhan tangan kekarnya.

"Hentikan," aku mengeluh dengan suara serak.

Bahkan seperti suara orang tercekik, Padahal aku ingin sekali berteriak dan membentaknya. Sampai¬sampai aku tak mengenali suaraku sendiri.

Untungnya Gatot juga menyadari bahwa perbuatan kami sudah berlebihan. Dilepaskannya pelukannya atas tubuhku yang lemas itu, sementara aku segera berlari ke arah sofa agar tidak terpuruk di tempat. Kututupi wajahku dengan kedua telapak tanganku.

"Pu. .. pulanglah," kataku dengan suara serak, Padahal seperti tadi, aku juga ingin berteriak dan membentaknya untuk mengusir Ielaki itu.

Tetapi bukannya pergi, Gatot malah menyusul duduk di sampingku. Tangannya terulur menggenggam telapak tanganku. Tetapi aku segera menarik tanganku sehingga terlepas.

"Pergilah ... ," aku mengeluh pelan dengan suara menggeletar menahan tangis.

"Ambar ... "

"Jangan mengucapkan kata-kata apa pun!" aku memotong kata-katanya. "tetapi pulanglah. Aku ... aku tidak ingin melihatmu lagi .... "

Oh Tuhan, ingin sekali aku menangis menggerung-gerung. Dadaku terasa penuh dan perasaanku kacau-balau. Tetapi aku tak mau menangis di hadapan Gatot.

"Ambar .... ' Gatot tidak memperdulikan sikapku yang tak mau didekati.. Ia tetap duduk di sisiku. "Ambar, jangan marah kepadaku. Sama sekali aku tak bermaksud melecehkanmu. Bahkan aku sendiri pun dalam keadaan mabuk. Begitu bibirku menyentuh bibirmu, diriku seperti melayang. Lupa tempat, Lupa waktu. Lupa segalanya. Sama sekali aku tidak menyangka ciuman yang semula hanya kumaksudkan untuk sedikt melanjutkan permainan sandiwaramu tadi telah berubah menjadi ledakan gairah, Aku ... aku .. ."

"Sudah, sudah!" kupotong perkataan Gatot yang belum selesai itu. Tetapi kini air mata yang sejak tadi kutahan-tahan itu mulai mengaliri pipiku. "Aku tak mau mendengarkan pidatomu. Cepat pulanglah sebelum aku mengamuk!"

Gatot terdiam. Ia menatapku lama sebingga darah yang mengaliri urat-urat tubuhku mengalir lebih cepat dan pipiku teras a hangat. Dengan gerakan kasar kuseka pipiku kuat-kuat oleh frustrasi yang melanda diriku.

Rupanya Gatot memahami keadaanku. Ia terse¬nyum kemudian mengusap lembut pipiku tanpa sempat kucegah. Lalu, dengan gesit dan sigap tu¬buhnya melesat berdiri.

"Selamat malam, Sayang," katanya dengan suara lembut. Kemudian dengan cepat tubuhnya menghi¬lang. Tak berapa lama, kudengar suara pintu sam¬ping rumah dibuka dan ditutup kembali. Laki-laki itu sudah pergi.

Sendirian, aku termangu dengan pandangan bu¬ram oleh air mala. Pelan-pelan otakku bisa kuper¬gunakan dengan lebih baik meskipun masih agak baur. Seluruh pengalamanku sejak awal perkenalan kami sampai apa yang baru saja terjadi tadi, ber¬harnburan menyerbu rna uk ke dalam ingatanku. Kuingat betapa kacau-balaunya pcrasaanku terha¬dapnya. Aku pernah mengagurni wawa annya yang lua , daya tarik fisiknya, kegantengannya dan ga¬yanya yang enak dipandang. Tetapi aku juga pemah begitu mernbencinya, begitu marah, begitu ke al, dan begitu rendah menilainya.

Dengan pelbagai macam perasaan itu, aku juga

. menginginkan Gatot pergi dari kehidupan kami se¬keluarga. Namun belakangan ini, sernenjak ku¬biarkan lelaki itu menciumku di Ancol waktu itu, aku merasa sudah seperti orang yang tak waras saja jika berhadapan dengan dia. Sulit merumuskan bagaimana perasaanku terhadapnya sehingga aku ingin sekali mengusir dia keluar dari rumah ini setiap kudengar suaranya atau kulihat sosok tu¬buhnya. Aku benar-benar tidak tahan melihatnya.

Tetapi malam ini, ketika kusadari betapa mu¬dahnya aku terbenam dalam cumbuannya sampai melupakan realitas di mana aku berada, kekacauan perasaan yang belakangan ini kurasakan terhadap¬nya mulai meledak. Maka selurub frustrasi yang kurasakan, kebingungan atas tanggapan fisikku ke¬tika dia memeluk dan menciumku, sensasi-sensasi yang dibangkitkannya pada tubuhku yang selama ini tertidur nyenyak dan bahkan tak pernah kuke¬tahui ada padaku ini, tumpah ruah ke dalam satu perasaan yang membuncah. Yaitu perasaan putus asa yang luar bia a.

Sungguh mati, aku tak bi a mengerti kenapa aku jadi begini? Kenapa aku bisa kehilangan pe¬gangan? Di manakah tolok ukur yang kupakai un¬tuk menilai baik dan buruknya suatu perbuatan. Di manakah kemampuan dan kesadaran moral yang

eJama ini menjadi pakaianku? Kenapa pula otakku yang sebetulnya masih cukup waras itu . tidak mcng¬ingatkan diriku bahwa laki-laki yang memeluk dan menoiumi secara begitu intim itu adalah kekasih

adik kandungku sendiri. Semestinya dan seharus¬nyalah kutampar dia, kumaki-maki dia, dan ku¬usir dia secepatnya dati rumah ini. Bukannya mem¬biarkan diriku meresapi kemesraannya seperti perempuan murahan, perempuan yang tak tahu malu,

Kututup wajahku dengan tangan gemetar, Dalam hidupku, eli selumbperjalanannya dan d.i se1uruh •pengalaman yang pemah kutemui, baru sekali inilah aku rnengalami perasaan yang sedemikian menya¬kitkan ill. Begitu sakitnya sampai melanjutkan ta¬ngis pun aku tak sanggup lagi. Begitu pedih dan perihnya jiwaku sampai berpikir apa pun aku tak mampu lagi. Ini benar-benar suatu tragedi, bahkan malapetaka, bagi diriku. Sesuatu yang merusak seluruh prinsip hidupku. Sesuatu yang menghancur¬kan seluruh kebanggaan diriku selama ini. Sebab sejak Bramanto mengkhianatiku aku berhasil me¬miliki kemampuan untuk bersikap : mandiri, khu¬susnya secara mental, eli mana hatiku tetap utuh tanpa pemah dipengaruhi oleh keberadaan seorang 1e1aki dalam bentuk ketergantungan apa pun. Tetapi kini, rasanya nilai scpcrti itu sudah tak ada lagi padaku. Bahkan tak tersisa edikit pun.

Ya Tuhan. Kenapa bcgini jadinya? Aku terus mengeluh endirian dengan perasaan yang semakin lama semakin tercabik-cabik, Sebab semakin semua yang terjadi di antara diriku dan Gatot kurenung¬kan, semakin aku mera a . eperti sedang berdiri ill muka layar film yang edang rnemutar seluruh kisah paling mcmalukan dalam hidupku. Dan seluruh hati nurani sampai yang paling tersemburr menggugatku keras-keras.

Aku kenal diriku. Aku bukanlah terrnasuk gadis yang mudah tergiur oleh hebatnya seorang lelaki dan betapa pun besarnya daya pikatnya. Bahkan kalau ada lelaki yang terus-menerus mengganggu ketenanganku entah melalui te1epon, entah melalui surat, entah pula rnelalui pendekatan secara lang-. sung, aku bisa menjadi muak karenanya. Dengan tegas pula aku mampu mengatakan secara terus terang bahwa aku tak suka didckati kalau mereka ingin menjalin hubungan yang lebih dari sckadar ternan biasa. Dan itu bukan hanya sekali atau dua kali terjadi. Aku tahu ada beberapa orang yang mencoba untung-untungan karena merasa gemas melihat sikap dinginku selama ini. Tetapi toh aku mampu mengatasi itu semua dengan baik sekali.

Aku harus mengakui pada diriku sendiri bahwa keberhasilanku menjaubkan diriku dari lelaki-lelaki sernacam itu telah membuatku sombong meski pun kesombongan itu hanya kusimpan sendiri. Justru karena itulah kini sesudah aku sadar bahwa ada seorang lelaki yang dengan begitu mudahnya mam¬pu menyentuh bibirku, bahkan juga rambut, leher, kuduk dan punggungku dengan eara yang sede¬mikian rnesranya, aku bampir tak mcmpercayai kenapa ini semua bisa terjadi. Malangnya, lelaki yang telah menghancurkan seluruh prinsip hidup dan kebanggaan diriku itu adalah seorang mata keranjang, seorang yang tak puny a tcnggang rasa, lebih jauh lagi kekasih adik kandungku sendiri yang sedang kuusahakan agar menjauhi keluargaku. B ukankah ini semacam malapetaka yang menimpa diriku? Tragis dan sangat ironis.

Dengan tangan yang masih tetap menggigil ka¬rena perasaan-perasaan yang bercampur aduk itu akhirnya aku berdiri dari tempat dudukku. Lalu dengan langkah terseok-seok seperti prajurit kalah perang yang terluka, kubawa tubuhku masuk ke kamar. Di sanalah kuempaskan tubuhku. Di sanalah aku harus mengakui satu hal lagi yang jauh lebih menyakitkan dan jauh lebih dalam menusuk hatiku. Bahwa sebagai gadis baik-baik dan telah menyerap seluruh ajaran, baik yang terucapkan maupun yang mclalui contoh kongkret kehidupan ini, aku tabu betul bahwa kepasrahanku dipeluk dan dicium oleh Gatot adalah suatu bukti bahwa lelaki itu secara tak kusadari tclah mernasuki hatiku dan bertengger di tempat yang istimewa. Atau dengan kata lain yang lebih jelas, bahwa secara tak kusadari dan datangnya tak kuramalkan sebelumnya, sesungguh¬nya aku ini telah jatuh cinta kepada Gatot.

Jclasnya, aku tclah jatuh cinta kepada kekasih adikku sendiri. Jelasnya lagi, aku telah jatuh cinta kepada seorang lelaki yang tak pantas. Bahkan pada orang yang salah!

Itulah mengapa tadi kukatakan bahwa ini adalah uatu tragedi. Bahwa ini adalah suatu malapetaka .

. Malapetaka yang sulit kuhindari. Maka kalau itu sulit dihindari, satu-satunya cara yang masih bisa kulakukan adalah menjauhkan diriku dad si sumber malapetaka. Semakin cepat, semakin baik. Dan

langkah pertama yang bisa kulakukan saat ini ada¬lah mengajukan cuti. Cuti tahunanku belum ku¬ambil. Aku harus pergi sejauh mungkin dari Jakarta.

http:ebukita.wordpress.comSembilan http:ebukita.wordpress.comDIAM-DIAM seJama beberapa waktu belakangan ini aku mengurus cutiku. Sudah kuputuskan, aku akan mengbabiskan cutiku ke rumah budeku yang tinggal di Solo, Kepada beliau aku sudah meminta kerelaannya untuk menerima kehadiranku selama kurang¬lebih dua minggu. Budeku yang sudah janda itu malahan merasa gembira mendengar kabar tersebut.

"Bude juga akan berlibur bersamamu, kalau begitu. Kita bisa menyewa sebuah pondok di Tawang mangu. Ada teman Bude yang mempunyai beberapa tempat untuk disewakan. Kalau bukan pada hari libur, tempat-tempat itu kosong. ia pasti senang kalau kita sewa. Sebab, ita berarti pemasukan tambahan buatnya!" begitu budeku menyambut berita kedatanganku itu dengan antusias melalui telepon. "Tempatnya enak, dekat pasar dan pemandangannya indah!"

Bude mempunyai tiga anak lelaki dan seorang anak perempuan yang sernuanya sudah berumah tangga. Ia tinggal bersama salah seorang dari ketiga anak lelakinya. Hidup bersama menantu dan cucu¬cucu yang edang banyak-banyaknya rnenyita perhatian pastilah sangat merepotkan Bude, Sesekali beliau pastilah membutuhkan suasana yang sama sekali lain. Bahkan membutuhkan istirahat guna menghimpun kekuatan untuk tugas-tugas di hari selanjutnya.

Aku menyukai ide budeku untuk berlibur di Tawang mangu, yaitu kota kecil tempat peristirahatan yang terletak di kaki Gunung Lawu. Sekarang bukan musim liburan. Suasananya pasti Iebih tenang dan juga Iebih lengang dengan kehidupan sehari-hari masyarakat setempat yang berada dalam keadaan "normal". Tarif sewa penginapan, makanan, dan barang-barang lain saat ini bukanlah harga katrolan seperti kalau sedang ada banyak pengunjung dari kota-kota sekitarnya. Bisa sampai dua atau tiga kali lipat daripada harga normal. Apalagi kalau ada mobil-mobil yang datang dari Jakarta. Terutama di hari-hari libur.

Sementara menunggu hari cutiku tiba, aku benar¬benar berusaha mati-matian, lebih dari yang sudah¬sudah, agar tidak bertemu muka dengan Gatot. Penemuan diriku babwa hatiku telah terpanah asmara olehnya menyebabkan aku harus keras pada diriku sendiri untuk tidak membiarkan kelemahan hatiku menguasai otakku juga. Jadi apa pun yang berkaitan dengan lelaki itu, kuhindari sama sekali. Bahkan usahaku untuk menjauhkan Gatot dan Tina seperti yang selama ini kulakukan, sekarang kuhentikan sama sekali. Setidaknya untuk sementara, sampai perasaanku lebih tertata, meskipun aku tak tahu kapan itu terjadi.

Tentu saja perubahan yang terjadi padaku itu tak luput dari perhatian Tina. Apalagi karena sebelumnya aku terus-menerus mendesaknya agar dia mau membuka matanya dan jangan membiarkan ia menjadi buta karena cinta. Hal itu dikatakannya secara terus terang di suatu malam sesudah kami sekeluarga makan.

"Sudah kalah ya, Mbak?" begitu dia mengusik ketenanganku.

"Apanya yang kalah?"

"Kau sudah menyerah dan sekarang merelakan diriku tetap menjalin hubungan dengan Mas Gatot. Kalau benar begitu, wah, aku benar-benar merasa amat berterima kasih padamu!" lagi-lagi gadis itu mengusik batinku.

"Tidak, Tina. Aku masib belum kalah. Dan tidak boleh kalah demi kebaikanmu dan demi masa depanmu agar tetap gemilang." Kugelengkan kepalaku keras-keras. "Tetapi terus terang, aku memang belum tahu bagaimana caranya merenggutkan diri¬mu dari dia. Jadi satu-satunya harapanku hanyalah agar kau segera sadar untuk tidak selalu menempatkan Gatot sebagai orang yang serba sempurna."

"Kenapa kau berkata seperti itu, Mbak.?"

"Yah ... karena ... karena ... aku mempunyai firasat bahwa Rini bekas kekasihnya itu, masih terus¬menerus berusaha agar hubungan mereka dulu terjalin kembali." Hanya dalih itu yang bisa kukatakan kepada Tina. Sebab tak mungkin aku mengatakan bahwa Gatot telah menciumiku seperti orang kelaparan, bukan?

"Mas Gatot pernah mengatakan padaku bahwa dia sudah lama sekali tidak Iagi mencintai Rini. Dan aku percaya itu!"

"Tina, jangan mudah percaya kepada seorang laki-laki. Rini itu sangat menarik dan Gatot itu seorang manusia biasa, berdarah dan berdaging. Sudah begitu, Rini juga cukup mempunyai pengalaman untuk melenturkan hati Gatot. Mereka kan pernah berpacaran. Yakinkah kau bahwa Gatot bisa tetap setia padamu?"

"Kau bicara seolah sudah kenal baik dengan Rini sih, Mbak!" Tina menjawab perkataanku sambil menatapku dengan pandangan menyelidik.

"Belum, aku belum pernah bertemu dengannya," sahutku, nyaris gugup karena apa yang kurahasiakan tentang pertemuanku dengan Rini hampir saja terloncat dari mulutku. "Aku cuma menduga-duga saja.'

"Kalau begitu kau terlalu berlebihan membayangkan yang bukan-bukan. Aku percaya kok kepada kesetiaan Mas Gatot!"

"Bagairnana kalau suatu saat apa yang kukhawatirkan itu terjadi? Sekali lagi, Tina sadarilah bahwa Gatot itu bukan malaikat!"

"Ah, aku tak mau memikirkan sesuatu yang belum tentu Mbak!" Adik tersayangku yang keras kepala itu mengakhiri pembicaraan kami dengan meninggalkanku sendirian.

Sedemikian beratnya rasa putus asa membebani batinku sementara aku tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk menyadarkan Tina, membuatku malah jadi apatis. Perhatian dan pikiranku pun tercurah pada urusan pribadiku. Semakin dekat hari cutiku semakin aku mencoba menyingkirkan masalah-masalah lain yang bisa mengurangi harapan untuk mendapatkan kembali ketenangan batinku. Aku juga tidak ingin kegembiraan di hari-hari cutiku pudar hanya karena memikirkan adikku yang terlalu percaya diri dan terlalu mempercayai kekasihnya yang tak kenal kesetiaan itu.

Begitulah sehari sebelum aku berangkat ke Solo, barulah keluargaku kuberitahu. Itu pun pada waktu makan malam. Besok, aku masih bekerja dan jam sembilan malam harinya baru aku meninggalkan Jakarta menuju ke Solo dengan kereta api Argo Lawu. Sebab akan terdengar aneh kalau aku baru mengatakannya saat aku pamit kepada mereka besok. Meskipun demikian, seperti yang sudah kuperkirakan sebelumnya, berita kepergianku ltu menimbulkan reaksi juga pada keluargaku.

"Kenapa begitu mendadak, Ambar?' ibuku bertanya dengan kerut dalam di dahinya.

"Ini tidak mendadak kok, Bu. Cuti ini kan memang hak saya dan ke mana saya akan pergi sudah terencana jauh-jauh hari sebelumnya. Karcis kereta juga sudah ada di tangan saya sejak beberapa hari yang lalu."

"Tetapi menurut Bapak keberangkatanmu ke Solo besok malam itu termasuk mendadak, Nduk," Bapak menyela pembicaraanku dengan ibu. "Sebab kemarin-kemarin ini kau tidak menceritakan apa pun mengenai hal itu kepada kami. Kok seperti orang yang mau melarikan diri saja!"

"Iya, Pak, Mbak Ambar ini seperti lari menghindari seseorang!" Tina ikut bicara.

"Memangnya mau menghindari siapa, Tina? Perkataanmu ini kok macam-macam saja." Aku berlagak tenang. Sebab meskipun dadaku sedikit berdebar ketika mendengar apa yang diucapkan oleh Bapak maupun oleh Tina tadi, tetapi aku harus tetap menjaga rahasia batinku. Mereka tidak boleh tahu babwa aku memang melarikan diri dari seseorang.

"Yah, siapa tahu perkataanku itu ada benarnya kan, Mbak?" sabut Tina dengan sikap acuh tak acuh yang menggemaskan. "Apalagi Bik Imas telab menceritakan sesuatu kepadaku dan juga kepada Ibu, Ya kan, Bu? Lalu ... "

"Tina!" Ibu menegur putri bungsunya itu sehingga si gadis lincah menghentikan ucapannya dengan mendadak. Tetapi masih sempat kulihat Tbu mengedipkan mata kepadanya.

Karena udah telanjur mengarah ke pembicaraan yang menyangkut diriku sehingga jantungku mulai lagi berpacu kencang, aku ingin mendapatkan kejelasan mengenai apa yang telah diceritakan oleh Bik Imas kepada mereka. Aduh jangan-jangan pembantu rumah tangga itu memergoki aku dan Gatot sedang berciuman?

"Sebenarnya apa sih yang ada dalam pikiran Bapak, Ibu, dan Tina sampai-sampai mengira aku mau melarikan diri dari eseorang?" tanyaku merasa tak enak. Kuletakkan sendok dan garpuku ke arah piringku yang masih penuh. Selera makanku mulai lenyap.http:ebukita.wordpress.comMelihat keadaanku, Didik, adikku yang sejak tadi haoya menjadi pendengar dan hanya sibuk . memindahkan isi piringnya ke perut, mulai meng¬ambil bagian dalam pembicaraan kami.

"Katakan saja secara terns terang, Tina!" begitu dia berkata sambil menggigit kerupuk. "Kasihan Mbak Ambar tuh. Selera makannya jadi hilang."

"Ah, begitu saja kok sampai kehilangan sclera makan sih, Mbak. Bik Imas cerita ... " Tina terdiam sebentar dan memandangku dengan tatapan tajam. Tampaknya dia sengaja hendak mengusik ketenang¬auku dengan cara mengulur-ulur waktu. Sialan ga¬dis itu. Jantungku jadi scmakin cepat berpacu. Ba¬rangkali, seperli itulah yang dirasakao oleh pencuri ayam yang ketahuan sedang beroperasi. "Bik Irnas bercerita, bahwa ... bahwa ... ketika aku dan Mas Didik ikut Bapak-Ibu ke pcrkawinan Mbak Windarti, Mas Bram dataog ke sini. Mm, begitulah sebagian cerita Bik Imas!"

Meskipun jantungku masih berdegup kencang tctapi demi mendengar nama Bram yang disebut dan bukannya Gatot, perasaanku terasa agak lega. Maka aku mulai lagi mcnyuap nasiku.

"Apa betul Brarn datang kemari, Ambar?" Bapak menyela. Matanya menatap tajam ke arahku.

"Ya."

"Kenapa hal itu tidak kauceritakan kepada kami?" kala Bapak lagi.

"Kalau bukan karena cerita Bik Imas, mana kaml tabu peri tiwa itu!" Tina menyambung lagi.

, Kejadian itu tidak kuccritakan karena bagiku http:ebukita.wordpress.comitu bukan perisliwa penting. Bahkan J . ~-

penting," sahutku berdalih. "J adi kalau kepergiank ke Solo besok dianggap sebagai usaha menghindari¬nya, itu keliru besar. Bram hanya sejarah. Dan bisa dipastikan, kedatangannya kemari waktu itu adalah kedatanganoya yang terakhir di rumah ini!"

"Betul begitu?" "Pasti betul!"

"Tetapi kalau kau memang tidak menghindari seseorang, kenapa kepcrgianmu ke Solo itu begitu mendadak, Mbak?" Tina bertanya lagi. Dan lagi¬lagi juga aku menangkap pandangan tajarn dari kedua bola matanya. "Dan mengapa pula barn se¬karang rencanamu pergi itu kaukatakan kepada kami. Ini kutanyakan karena tak biasanya kau ber¬buat seperti ini, lucu jadinya."

"Apanya yang lucu?" Setelah tahu yang diceri¬takan oleh Bik Imas itu bukan adegan mcsraku dengan Gatot, rasa laparku mulai muncul lagi.

"Kau yang lucu, Mbak. Caramu memberitahu ten tang kepergianmu ke Solo tadi, padahal sebe¬lumnya sarna sekali kau tak pernah menyinggung¬nya, dan lalu juga dari slkapmu yang belakangan ini sering mcnghindari kami semua, menunjukkan Mbak tidak seperti yang kami kenal, Mbak benar¬benar tampak lain. Seperlinya ... "

"Tina!" Ibu menegur adik bungsuku itu Iagi.

Entah mengapa aku merasa masih ada sesuatu yang disembunyikan mereka semua dariku. Apalagi Tina lang sung menghentikan perkataannya begitu ditegur Ibu.

http:ebukita.wordpress.com http:ebukita.wordpress.com." "

"Kau terlalu banyak berkhayal, Tina!" aku meng¬gerutu. "Tahu akan dipojokkan begini, aku baru akan pamit besok kalau mau berangkat."

"Nah, itu kan juga lucu!" Tina mencibir dengan bibir mungilnya. "Jangan Jagi sudah mau berangkat, biasanya baru punya rencana saja kau sudah ber¬eerita ke sana dan kemari kepada kami semua. Ya kan, Bu?"

"Memang begitu." Ibu tersenyum sambil meli¬rikku. Ada siratan pandang mata mcngandung pe¬mahaman yang aku tak tahu apa artinya. Namun apa pun itu, jelas telah mengusik hatiku. Tahukah Ibn kenapa mendadak saja aku mengambiI cutiku?

"Nah!" Tina meneibir lagi dengan gaya seperti pemcnang lomba. "Aku saja merasa kau itu aneh, apalagi Ibu yang melahirkanrnu, Mbak. Beliau pasti sudah scjak kemarin-kemarin menangkap perubahan sikap dan kebiasaanmu. Sedangkan Mas Didik yang biasanya uka tidak pedulian saja pun bisa mengatakan bahwa belakangan ini kau tampak lain. Ya kan, Ma ?"

"Mungkin." Didik menyeringai. 'Ya kan, Pak?" "Mungkin." Bapak melirik u. Kulihat, ada se¬nyum samar yang engaja di embunyikannya.

'Ah, sernua orang cuma menduga yang bukan¬bukan saja" aku mcnggcrutu untuk ke ekian kali¬nya. "Padahal tak ada yang berubah pad a diriku. Jadi scbaiknya jangan terlalu jauh mengartikan perubahan ikapku belakangan ini .. Itu pun kalau ada yang berubah."

"Mungkin saja karni memang terlalu berlebihan,

j

262

Mbak!" Didik mulai bieara lagi. "Tetapi sejak Mas Bram muncul kembali di rumah ini, kulihat kau lebih suka berkurung sendirian di kamar dari¬pada mengobrol bersama yang lain."

Kupejamkan mataku sesaat lamanya. Perasaanku mulai baur Iagi. Di satu pihak aku merasa agak lega karena Didik, dan mungkin juga yang lain¬lain, menganggap perubahan sikapku itu ada kait¬annya dengan kedatangan Bram. Tetapi di lain pi¬hak - perasaanku yang digayuti siiara hati nurani, rnenggugatku agar aku tidak membiarkan mereka tetap mengira demikian. Sebab aku tahu betu1 se¬mua yang dikatakan mereka itu bersumber dari kekhawatiran dan rasa sayang mereka alas diriku. Sesuatu yang tidak mengherankan, sebenamya. Me¬reka semua tahu betul betapa hancurnya diriku ke¬tika barn rnengetahui pengkhianatan Bram. Harnpir satu tahun lamanya aku bid up seperti robot dan menarik diri dari pergaulan. Simpati dati ternan¬temanku bukan saja tak ada gunanya, tetapi bahkan kuanggap seperti acara belas kasihan yang menying¬gung harga diriku. Ketika itu, selutuh keluargaku ikut berbe1a rasa dengan eara mereka masing¬rna ing. Tak heran kaJau kedatangan Bram beberapa waktu yang lalu itu membuat kcluargaku mera a khawatir,

Berpikir scpcrti itu aku mera a haru memberi semacarn pcnjelasan yang sekiranya bi a s dikit menenangkan mereka. Kalau perlu dengan berdusta, Tidak semua dusta itu buruk, kan?

"Begini, Dik," kataku kemudian. Kusahakan agar

263

http:ebukita.wordpress.comsuaraku terdengar meyakinkan. "Kuakui bahwa ke¬datangan Bram yang tiba-tiba itu eukup rnernbuatku kaget. Sebab bayangkanlah, sekian tahun lamanya rnendengar natnanya clisebut orang saja pun tak pemah, kok sekarang tiba-tiba muneul begitu saja. Tetapi pereayalah, kekagetanku itu tak ada kaitan¬nya sarna sekali dengan perasaan yang pemah ku¬rasakan terhadapnya dulu. Baik yang sifatnya me¬ngandung. kasih maupun yang mengandung kebenci¬an dan kernarahan. Dengan perkataan yang 1ebih jelas, kedatangannya yang tiba-tiba itu sedikit pun tidak berpcngaruh pada diriku. Bagiku sekarang ini, dia tak lebih hanya sebagai Leman lama yang tak perlu cliperhitungkan keberadaannya. Paham?"

"Tetapi kenapa tiba-tiba dia datang lagi ke rumah ini?" Didik bertanya lagi. "Aku ini seorang lelaki juga, Mbak. Sarna seperti Mas Bram. Kalau aku datang ke rumah seorang gadis sendirian saja dan tidak ada suatu keperluan khusus seperti misalnya mau meminjam diktat atau berkaitan dengan urusan lainnya, berarti aku sedang berusaha mendekati hati gadis itu!"

"Apalagi Mbak Nina tidak diajak serta!" Tina menyambung bicara Didik,

"Oke, akan kuceritakan persoalan sesungguhnya!"

Aku menarik napas panjang. "Terus tcrang saja sebelum Bram datang ke sini dia mencleponku di kantor, berccrita bahwa Nina baru saja selingkuh dcngan temannya ehingga dia mulai memahami bagaimana perasaanku waktu memergokinya berka¬sih mesra dengan sahabatku sendiri. Lalu dia berta-

264

.nya apakah dia boleh berkunjung ke rumah. Kuja¬wab saja silakan. Masa aku bilang tidak boleh, se¬perti anak kecil saja, Maka beberapa hari kemudian datanglah dia ke sini .... "

"Dia ingin mendckatimu lagi barangkali, Mbak?" "Mungkin. Tetapi akn sama sekali 'tak berminat.

Berteman lagi pun aku tak mau!" aku menjawab sebenarnya. "Kurasa dia akhirnya mengerti itu!"

"Tetapi kau rnelarikan cliri dari kola ini untuk menghindari kedatangannya lagi, kan?" Tina menu¬kikkan pandang matanya. "Sebab kau takut jatuh einta lagi kepadanya."

"Tina, tolonglah aku dengan eara melepaskan Bram dari pembicaraan kita. Dia itu sudah tidak ada kaitannya lagi denganku. Sedikit pun tidak. Jadi jangan kaitkan dia dengan kepergianku ke Solo. Oke?"

"Sudahlah," Bapak yang sejak tadi tak banyak bieara mulai ikut ambil bagian dalam pembicaraan kami, "Apa pun yang dirasakan atau dial ami oleh Ambar, itu adalah urusan pribadinya. Jadi scbaiknya kita akhiri sampai sekian saja pembicaraan menge¬nai Bramanto!"

Aku senang ditengahi oleh Bapak, Selesai makan ccpat-cepat aku mengatur pakaian dan barang-ba¬rangku yang akan kubawa ke Solo. Tak ada waktu Jain bagiku. Besok aku masih harus ke kantor. Dan malamnya aku akan berangkat,

Dalam kerepotan seperti itu Tina masuk ke ka¬marku dan duduk eli tcpi tempat tidur, Dia me¬mandangi kesibukanku.

265

http:ebukita.wordpress.com"Banyak juga bawaanmu, Mbakl" komentarnya. "Dua minggu itu lama, Tina."

"Selama dua minggu itu kau hanya akan ada di rumah Bude Yanti saja?"

"Mungkin. Aku masih belum tahu apa rencana selanj utn ya. "

"Sayang sekali kau tidak ada ill rumah kalau nanti keluarga 'Mas Gatot datang kemari, Mbak .... " Tanganku yang sedang melipat blusku yang anti¬kusut terhenti demi mendengar perkataan Tina.

"Memangnya mereka itu mau apa?" tanyaku de¬ngan perasaan yang mendadak jadi tak enak.

"Untuk berkenalan dan menyusun langkah se- 1 anjutnya .... "

''Langkah bcrikut apa?" selaku. Tanpa kusadari aku telah berbicara dengan cepat dan keras.

Tina menatapku beberapa saat lamanya. Entah apa yang ada dalam pikirannya, tetapi perasaanku semakin tak enak saja rasanya.

"Tentu saja melamar, Mbak! '

Kini kedua tanganku betul-betul telah berhenti dari kesibukanku semula. Seluruh pikiran dan pe¬rasaanku terserap kepada apa yang baru saja di¬katakan oleh Tina.

"Tina, apakah itu tidak terlalu cepat. .. ?" tanyaku.

Suaraku terdengar agak rnenggcletar. Mudah¬mudahan Tina tidak mcndengarnya.

Aku tak mampu membayangkan seorang lelaki yang kurang ajar, yang tak tahu arti kesctiaan akan hadir di rumah ini sebagai uami adik kandungku. Lelaki yang tak pantas rnenjadi suami Tina, yang

266

kubenci kelakuannya tetapi yang ternyata kucintai dengan cara yang khusus itu, akan hadir untuk: men¬jadi bagian dari keluarga kami. Betapa sulitnya aku menerima kenyataan seperti itu.

"Tetapi itu kemauan Mas Gatot kok, Mbak!" kudengar Tina menjawab pertanyaanku tadi.

"Katakan kepadanya untuk menunda niat itu sampai sedikitnya kau menyelesaikan ku1iahmu le¬bih dulu .... "

Tina tertawa mendengar perkataanku. Aku sung¬guh merasa jengkel mel ihat cara tertawanya yang jelas-jelas menunjukkan kctidakpeduliannya terha¬dap kata-kataku. Bahkan seperti menyepelekannya,

"Kok tertawa?" aku membentak.

"Habis kau lucu sih, Mbak," Tina menjawab secna1cnya. "Mana bisa sib orang mcmbendung aliran sungai yang deras dalam waktu sehari?' "Apa maksudmu?" aku mernbentak Jagi.

"Ya, gamblang sekali kan rnaksudku. Percuma aja menahan kemauan Mas Gatot. Jam, Mbak, tenang-tenang sajalah. Kalau tidak, kau sendiri yang akan babak-belur mcmbentur batu karang!"

Aku menarik napas panjang. Menilik gejalanya, rnemang hanya sia-sia sajalah usahaku untuk me¬nyelamatkan adik tersayangku ini. Betapa polo dan tak bcrpengalamannya adikku ini, Gatot me¬mang sangat kurang ajar. Dia menginginkan seorang istri yang masih suci dan polos, yang beJum bcr¬pengalaman dalam seluk-beluk percintaan, tetapi di luar perkawinan, Gatot mcncari seseorang yang bisa menyalakan api gairalmya.

267

http:ebukita.wordpress.com• <

"Tina ... " aku mulai merasa putus asa. Suaraku terdengar lcmah, sedikit pun tak ada sisa-sisa ben¬takanku tadi. "Kau tahu bahwa aku sangat menya¬yangimu dan ingin sekali melihatmu bahagia, kan?"

"Tahu sekali, Mbak!" Ada pandangan lembut dalam mata Tina tatkala menatapku.

"Kalau begitu kau pasti tabu mengapa aku tidak menyetujui Gatot menjadi kekasihmu, kan? Apalagi sampai menjadi suamimu!"

"Itu aim juga memabaminya, Mbak."

"Tetapi keoapa ... ?" Belum selesai bicaraku, Tina sudah menyambar perkataanku itu dengan jawaban yang membuatku tersudut.

"Karena kau belum kenal betul siapa Mas Gatot sebagaimana aku mengenalnya. Kau hanya melihat sisi buruknya saja, Mbak. Kau hanya kenal seba¬gian dari dirinya saja, yang kau nilai jelek. Padahal manusia mana pun di dunia ini tak ada yang sem¬puma. Padahal pula, sisi baik Mas Gatot yang cu¬kup banyak. itu belum kaulihat. Jadi, Mbak, jangan¬lah terlalu mcncemaskan diriku. Aku tidaklah sebo¬doh yang kausangka. AIm sudah eukup dewasa untuk melihat-lihat dan mcmpunyai wawa an lebih mendalaml" katanya dengan suara bersungguh¬sungguh.

Aku masih belum rnarnpu berkata apa pun.

Rasa seperti dipojokkan itu masih rnengharu-biru hatiku. Bahkan kemudian timbul suatu pemikiran baru. Selarna ini aim menganggap Tina pasti akan menderita atau sedikitnya tak akan berbahagia jika ia tetap melanjutkan rencananya menikah dengan

"

1

268

Gatot. Tetapi baru sekarang rnuncul pikiran lain, yang menentang semua anggapanku selama ini. Yaitu, apakah Tina pasti berbahagia jika tidak me¬nikah dengan Gatot?

Sungguh mati aku tak mampu menjawab perta¬nyaan yang baru muncul di kcpalaku itu. Bahkan terbayang olehku keadaan Tina yang pasti akan seperti bunga layu dan kering seandainya terenggut dari Gatot.

"Sudahlah, Tina... aku menyerab ... ," sahutku lama kemudian. "Mudah-mudahan saja kekhawatir¬anku agak bcrlcbihan."

Meli.hatku scperti tawanan pcrang, Tina bangkit dari duduknya dan dengan spontan ia memeluk dan mencium pipiku.

"Maaf, aku telah membuatmu sedih, Mbak," ka¬tanya dengan penuh perasaan. "Aku sungguh sa¬ngat berbahagia mernpunyai kakak perempuan yang begitu menyayangi dan memperhatikan diriku."

Air mataku menitik. Kernelut apa pun yang rna¬sib tinggal dan bermegah-rnegah dalam hatiku, ku¬singkirkan sejenak. Tanpa kata-kata, kubalas peluk dan cium kasih Tina itu. Dan kemudian tanpa kata pula, kuselesaikan pekerjaanku mengatur barang¬barang yang akan kubawa ke Solo besok malam.

Tetapi meskipun demikian, selama pcrjalananku ke Solo hari berikutnya, aku tak pemah bi a me ... ngikis ingatanku pada kata-kata Tina da.n pelukan kasihnya atas kepasrahanku terhadap pilihan hidup¬nya. Setiap ingatan itu rncnyusup pikiranku, air mataku menitik lagi. Dan scgcra kuhapu diam-

269

http:ebukita.wordpress.com

diam agar tidak terlihat oleh sesama penumpang kereta api yang kunaiki ini.

Seandainya saja perasaanku terhadap Gatot tidak ikut ambil bagian dalam persoalan ini, mungkin akan lebih mudah bagiku untuk menghadapi Tina dan mengatakan kebenarannya. Kebenaran ten tang kelakuan Gatot yang terang-terangan memperli¬hatkan kekurangajaran dan kenakalannya terhadap¬ku.

Adub, Tina, Tina, aku menangis da1am hati.

Kalau saja kau tahu bagaimana aku membenci Gatot yang telah berhasil membuka pintu hatiku yang selama ini tertutup. Dan kalau saja kau tabu bagaimana aku rnembenci diriku sendiri yang telah mernbiarkan Gatot masuk ke hatiku dan berhasil menyalakan kcmbali api yang mati dalam diriku. Sungguh mati, Tina, aku ingin melepaskan seluruh ingatan, seluruh kejadian yang pernah kualarni bersama Gatot. Semua itu membuat diriku menjadi kotor oleh noda-noda bcrbau busuk yang tak mung¬kin bisa dicuci bersih .

Aduh, Tina, Tina, .aku rncnangis terus dalam batin. Kenapa perubahan yang tcrjadi di dalam hatiku ini disebabkan olch eorang lelaki yang kaucintai, yang kauharapkan akan menjadi pendam¬ping hidupmu? Bagairnana rnungkin aku sanggup mcnghadapi kcnyataan yang ada di hadapanku? Bayangkanlah, aku pernah mcngalami sentakan¬sentakan sensasi melalui sentuhan tubuh dengan suami adikku sendiri, Bayangkanlah pula bagaimana malunya aku terhadap diriku sendiri karena men-

...

270

cintai lelaki yang dicintai mati-matian oleh adik yang kusayangi dengan sepenuh hatiku itu.

Sedernikian tenggelamnya aku ke dalam pikiran yang tyrus membuntuti diriku di sepanjang perja¬lanan dari Jakarta ke Solo sampai-sampai tak ku¬perhatikan penumpang-penumpang lain di sekitarku yang akan menjadi ternan seperjalananku selama kira-kira tujuh sampai delapan jam ini, Padahal di samping, di belakang, dan di depanku sudah terja¬lin tanya-jawab dan perkenalan di antara penum¬pang dengan teman sebelahnya. Tak jarang perke¬nalan itu akan berlanjut sampai di luar kereta api. Salah satu sahabat keluarga temanku juga berawal . dari perkenalan di kercta api. Ayah temanku keco¬pctan dalam perjalanan di kereta api, Sesama pe¬numpang rnerninjami uang. Dan akhirnya kedua : keluarga mereka rnenjadi sahabat sampai sekarang. Bahkan katanya sudah seperti saudara saja.

Di stasi un Circbon, kereta api berhenli sekitar tiga menit lamanya. Kusentuhkan dahiku ke kaca jendela. Dan kulayangkan pandanganku ke peron, menyak ikan kesibukan orang-orang yang lalu la¬lang di tempat itu. Meskipun hari sudah larut ma¬lam, masih aja banyak penjual makanan hilir-mu¬dik menjajakan dagangannya. Bahkan kalau ada kereta api berhenti, mcreka egera rna uk ke ger¬bong-gerbong kelas ekonomi yang pintunya selalu terbuka.

"Duniaini memang milik orang yang berduit...," kudengar gumam uara. di sampingku. Suara e¬orang laki-laki rnuda.

271

http:ebukita.wordpress.com

"Ya," aku menjawab tanpa menoleh. Meskipun tak begitu pasti apa yang dimaksud oleh lelaki itu aku mengiyakan saja.

"Mereka, para penjual itu tidak berani masuk ke kereta api kita. Maka eli sini terasa tenang, nyaman, dan tetap sejuk oleh alat pendingin. Di gerbong kelas ekonomi yang panas, sesak, berisik, dan terkadang juga pengap, bahkan pemah lam¬punya mati, penjual-penjual itu masuk dan me¬nambah penuh serta berisiknya tempat yang kurang nyaman itu," kudengar laki-laki itu berkata lagi. Lebih panjang dad perkataan sebelumnya

Aku ingin mengatakan "ya" saja seperti tadi, tetapi kuurungkan. Sebab rasanya tak pantas kalau aku diramahi orang yang duduk -di sampingku te¬tapi aku tak membalasnya dcngan sikap yang sarna.

"Memang benar," sahutku berbasa-basi. "Dan itulah mengapa semakin dalam saja jurang perbe¬daan antara si orang berduit dan yang tidak."

. "Dan orang-orang seperti saya adalah orang¬orang yang terjepit di antara c1ua duma itu," ko¬rnentar laki-laki itu lagi.

Kini aku memalingkan wajahku dari arah luar jendela kereta api, masuk ke dalam. Dan kupan¬dangi wajah si sumber suara. Tiba-tiba hatiku ber¬dctak keras untuk beberapa saat lamanya. Wajah lelaki muda eli sarnpingku itu mirip wajah Gatotl

Untuk seketika larnanya aku marah kepada diriku sendiri. Kenapa kubiarkan wajah lelaki itu muncul di dalam pikiranku sampai-sampai aku menilai wajah orang yang duduk .di isiku itu mirip dengan

1

272

wajahnya. Tetapi setelah kupandangi lebih lama dan lebih teliti, kemarahan pada diriku sendiri ter¬urai. Wajah orang itu memang benar mirip Gatot. Sial bukan nasibku ini? Mau menjauhi Gatot, di sini malah ada seorang lelaki yang wajahnya mirip dia.

"Terjepit bagaimana?" tanyaku sambil mencoba mengusir pikiranku.

"Yah, saya mernilih naik kereta api yang tiketnya lebih mahal ini dengan tujuan supaya lebih cepat sampai dan dapat duduk dengan nyaman. Saya bu¬tuh beristirahat setelah menyelesaikan tugas-tugas saya. Tetapi mau membeli makanan dan minuman yang ditawarkan pramugari kereta api tadi ngeri. Harganya mahal-mahal, Padahal makan malam yang

. dihidangkan sebagai bagian dari layanan kereta ini tadi •tidak cocok dengan mulut saya. Mau mem¬beli dari luar, tak ada penjaja yang masuk sampai kemari. Inilah yang saya katakan terjepit tadi. Dan itu bukan hanya di kcreta api saja, tetapi di mana¬mana dan di pclbagai ektor kehidupan, Celaka¬nya, kaurn yang di ala sering menatap dcngan pandangan mcrcmehkan, sedangkan yang di bawah, menatap dengan pandangan macam-rnacarn yang semuanya bisa dikatakan keliru!"

Kutanggapi perkataan tetanggaku ini dengan se¬nyum. Kupahami sungguh apa yang ia maksudkan. Sebab seperti itu jugalah yang sering kualami meskipun tak kupedulikan.

"Kedengarannya Anda memancLang dunia dengan edikit pesirnis," kataku kernudian.

273

http:ebukita.wordpress.com, \

"Mungkin," lelaki itu mengakui sambil terse¬nyum. "Tetapi setidaknya saya masih peduli terha¬dap Iingkungan sekitar. Sedangkan Anda, sejak: kereta api yang kita tumpangi ini meuinggalkan Stasiun Gambir hanya duduk membisu saja dengan wajab murung dan sedih. Sedikit pun Anda tidak merneduIikan sekitar Anda. Maaf, saya mernang

suka bicara apa adanya." .

Ak:u tertegun, Cara lelaki .itu bicara juga meng¬ingatkanku pada Gatot yang suka bicara ceplas¬ceplos dan blak-blakan.

"Saya tidak sedang murung dan tidak sedang sedih," dustaku. Persi kalau aku sedang memban¬tab apa yang dikatakan oleh Gatot. Kemiripan wa¬jab dan eara bicara Iaki-laki yang mirip Gatot itu rnenyebabkan aku bersikap sarna juga tanpa -kusa¬dari.

"Mudah-rnudahan memang Mbak tidak sedang sedih seperti yang terlihat oleh saya ladi." Laki¬laki itu tersenyum penuh pengertian, dan itu yang mernbedakan ilia dengan GaloL "Maaf kalau saya keliru."

"Tak apa. Mungkin rnemang wajah saya tampak seperti orang yang sedang bersedih, Saya tidak menyadari itu." Karena sikapnya yang lebih sim¬patik daripada sikap Gator terhadapku, aku mulai memperlihatkan kerarnahanku.

"Kalau saya boleh berkata dengan jujur, saya memang menangkap kesedihan dari wajah Mbak," laki-laki it'll bcrkata lagi. Suaranya terdengar me¬ngandung simpati. "Maaf, saya tadi empat melihat

. ,

',..

1

274

Mbak menitikkan air mata, yang mungkin juga ti¬dak Mbak sadari."

Aku tertegun. Bukan hanya karen a dia telah melihat air mataku, tetapi juga karena earanya berbicara, Meskipun sarna-sama suka bieara blak¬blakan seperti Gatot, tctapi laki-laki itu mempu¬nyai keinginan untuk menenggang perasaan orang. Ada kesan yang ia ingin katakan bahwa bersedih dan menangis adalah bagian dari ekspresi manu¬sia yang wajar dan karenanya tak perlu dipersoal¬kan.

Melihatku terdiam, laki-laki itu berkata lagi de-

ngan terburu-buru.

"Maafkanlah kalau perkataan saya tadi menying¬gung perasaan Mbak. Lupakanlah," katanya. "Mari kita ganti pokok pernbicaraan. Mbak nanti akan turon di Purwokerto, Yogya, atau •Solo?"

"Solo. Dan Anda, Dik?" Kereta Argo Lawu mernang hanya berhenti di tiga tempat saja sebelurn mengakhiri pcrjalanannya di kota Solo. Itu pun hanya tiga menit.

"Saya juga turon eli Solo. Pulang ke rumah." "Anda orang Solo rupanya," aku menanggapi perkataan lelaki itu dan mulai rnelupakan ejenak kcsedihan yang kubawa dari Jakarta tadi,

"Ya, saya memang orang Solo. Saya di Jakarta hanya dua hari, ada urusan yang harus saya selc¬saikan."

"Berarti tidak sempat melihat-lihat kota Jakarta, kalau bcgitu. Sayang sekali.. .. "

"Apa boleh buat. Mau mampir ke rumah sepupu

275

http:ebukita.wordpress.comsaja pun tidak sempat" Laki-laki itu tersenyum lagi. "Mbak sendiri pasti bukan orang Solo:"

"Bukan. Saya orang Jakarta meskipun nenek¬moyang saya asli orang Solo."

"Ke Solo menjenguk saudara, barangkali?" "Bisa dikatakan• begitu," sahutku. "Pokoknya menghabiskan cuti."

''Tetapi jangan lupa mencicipi nasi liwet Solo dan tengkleng-nya."

"Apa itu tengkleng'l"

"Tengkleng itu gule kambing tetapi tidak merna¬kai santan. Rasanya lezat, segar, gurih, pedas, dan ab, pokoknya enak." Laki-laki itu tertawa. "Solo itu gudangnya makanan cnak lho. Apalagi kalau kita rnau keluyuran dan nongkrong di pasar tradi¬sional. Jajan pasarnya juga enak."

"Belum termasuk ayam bakar dan soto ayamnya, kan? Bude saya juga mcngatakan begitu." Aku juga tertawa. "Konon orang Solo itu terkenal suka rnenikrnati hidup, termasuk makan enak."

Begitulah di sepanjang perjalanan kami mengo¬brol diseling tidur-tidur ayam. Mengobrol macam¬macam hal tentang kota Solo dengan seseorang yang lahir di kota itu cukup menyenangkan juga. Dan yang jelas, bisa mengurangi kesedihan dan kejemuanku mengarungi kola demi kota lewat sta¬siunnya.

Kami tiba di Solo pada pagi hari tatkala cuaca rnasih gelap. Namun tampaknya Stasiun Balapan dan juga kota Solo tidak pemah tidur. Sepagi itu sudah terlihat kesibukannya, Di luar sana dalam

276

keremangan pagi, kulihat becak kota Solo yang gemuk-gemuk sedang membawa perempuan dengan barang dagangan yang menumpuk di atasnya, lewat di jalan yang masih sepi sambil mengobrol keras dengan pengemudinya. Ada bermacam dagangan yang sempat singgah pada penglihatanku. Kelapa, sayur-mayur, buah-buahan, dan entah apa lagi. Tampaknya., rnereka semua menuju ke pasar.

Sering kali aku menyaksikan bagaimana pe¬rempuan Jawa lebih banyak ikut ambil bagian di bidang ~konomi di pasar dibanding perempuan¬perempuan suku lainnya. Secara kecil-kecilan aku pemah melakukan penelitian pribadi mengenai hal itu. Di pasar tradisional Jakarta misalnya, keba¬nyakan perempuan yang berdagang di sana adalah orang Jawa. Jarang sekali aku melihat perempuan Betawi berdagang di pasar. Dan sekarang ku-sak¬sikan dengan mata kcpalaku sendiri bagaimana perempuan-perernpuan Solo naik becak sambil du¬duk eli atas tumpukan dagangannya, rnenuju ke pasar.

"Ada yang menjemput, Mbak?" Ternan eperja¬lananku sudah berada di sisiku deugan bawaannya yang cuma satu tas kecil. Beda dengan yang ku¬bawa. Satu kopor beroda dan satu tas besar yang beri i bermacam keperluanku, Aku tabu, seandainya kukatakan tidak ada yang mcnjcmputku, ia pasti akan mcnawarkan diri untuk mengantarku.

"Ada." Aku menganggukkan kepalaku. "Saya sudah mengabari saudara saya, barinya apa, nama kereta apinya apa, dan sampainya jam berapa."

277

http:ebukita.wordpress.com

"Wah; komplet plet," Laki-laki itu tertawa, ke¬mudian mengulurkan tangannya. "Kalau begitu sampai eli sini perjumpaan kita. Selamat bersenang¬senang eli kota Solo dan lupakan apa pun kesedihan Anda!"

Setelah uluran tangannya kusambut, laki-laki itu pergi. Karena bawaannya tidak banyak, sebentar 'saja dia sudah lcnyap di balik punggung penum¬pang-penumpang lain yang juga baru turon dari kereta api. Selain kereta yang kutumpangi, ada satu kereta lagi yang baru berhenti, menumpahkan pcnurnpangnya, yang lalu memenuhi peron Stasiun Balapan. Tetapi aku sempat tertegun agak lama mendengar ucapannya tadi sehingga rneskipun rna¬taku sudah tidak melihatnya lagi, perkataannya rnasih tetap tcrngiang-ngiang di tclingaku.

Pikiranku tentang lelaki itu lenyap oleh mun¬culnya Mas Tonti dari batik pilar. Putra budeku itu melarnbai-larnbaikan tangannya ke arabku.

"Ambar!" Dengan langkah lebar ia berjalan ke arahku. Rupanya Mas Tomi yang disuruh Bude Yanti untuk menjemputku.

Begitu bcrdekatan, kami bcrpelukan sesaat la¬manya. Bagiku, dia adalah kakak lelaki yang tak pcrnah kumiliki.

"Aku membuatmu repot ya, Mas," kataku. "Pagi¬pagi buta begini harus bangun menjemputku."

"Belum tentu etahun sekali kok!" Mas Tom tertawa sarnbil mcngarnbil tasku. Sementara aku tetap rnenarik kopor. "Ayo, ikuti aku ke tempa: parkir."

278

"Bagaimana kabar Mbak Tri, Mas?" tanyaku¬sambil mengekor di belakangnya.

"Baik. Dia senang sekali mendengar kau datang.' "Aku juga rindu kepadanya. Apakah kalian sudah tambah momongan lagi?"

"Ah, dua orang anak saja sudah repot setengah mati, Mbar." Mas Tomi tertawa. Tetapi tiba-tiba dia memutuskan bicaranya. Tangannya melambai¬larnbai ke arah seseorang dan meneriaki namanya. "Hai, Anto! Anto!"

Yang dipanggil menoleh, tertawa, dan langsung berjalan ke arah kami dengan tergesa. Aku tcrkejul. Orang yang dipanggil oleh Mas Tomi itu adalah laki-laki yang tadi duduk di sebelahku dan mengo¬brol dcnganku. Terkadang, bumi ini memang sernpit.

, Tomi!" Laki-laki bernama Anto itu langsung menepuk pundak kakak sepupuku begitu berada di dekatnya. "Kau sekereta api denganku atau men¬jernput sescorang?"

"Menjernput adik sepupuku!" Mas Tomi me¬nunjuk aku.

Melihat siapa yang ditunjuk o1eh Mas Tomi, Anto tertawa lebar,

"Aku sudah kcnal meskipu n bel um tahu siapa namanya," katanya kcmudian. "Kebetulan kami duduk bersebelahan di kcreta."

"Namanya Arnbar," Mas Tomi menyebutkan na¬maku.

"Kalau begitu aku juga akan mcmanggilrnu Ambar," sahut Anto samL il mcnatapku. "Dan kau boleh rnernanggilku Anto, begitu saja. Sctuju?"

279

http:ebukita.wordpress.com

Kuanggukkan kepalaku. Mas Tomi tersenyum. "Dunia temyata sempit, yaT' katanya kemudian.

"Nab, bagaimana? Kita bisa meninggalkan temp at ini sekarang, Ambar?"

"Ayolah," aku menjawab ..

"Kau naik apa, To?" Mas Tomi bertanya kepada Anto.

"Garopang. Ada becak, ada andong."

"Ikut kami sajalah, To. Sarna ternan sendiri kok sungkan."

"Terima kasih kalau begitu."

Begitulah yang terjadi di hari pertama aku tiba di kola Solo, kota yang berbeda dad kota Jakarta ini. Kulihat tcmpat-tempat yang berbeda di sini. Kutemui pula orang-orang yang barn kukenal. Ha¬rapanku, aku akan segera rnelupakan Gator dan

ernua yang berkaitan dengan dirinya sehingga ka¬lau pulang ke Jakarta nanti aku sudah sernbuh dari penyakit gilaku inil

280

Sepuluh

SORE hari di kota Solo. Udara begitu cerah, langit bersih dan angin sepoi-sepoi mengembus lembut ke atas tanaman mas di sekitar teras temp at aku dan Bude Yanti sedang duduk. Dedaunan dan bunga-bunga yang mekar di halaman tampak indah tersirami cahaya mentari sore yang keemasan. Se¬muanya terangguk-angguk clibuai oleh embusan mesra angiu sore kota Solo.

Di luar pagar rumah, jalan raya tarnpak lengang, dibandingkan kota Jakarta. Becak, sepeda, clan andong masih bisa berjalan dcngan tenang dan tak sedikit pun terkesan buru-buru seperti semua ken¬daraan yang melaju di Jakarta.

Sungguh, hidup di kota Solo, dan juga kota¬kota kecil lain di daerah, sangat tcnang dan daroai. Irama hidup penduduknya tak banyak mengandung keragaman yang terkadang mengurangi ketenangan batin. Memang di bagian-bagian tertcntu, orang¬orangnya terkesan hidup dalam kerutinan dan nyaris tanpa variasi. Tetapi keadaan semacam itu jarang

ckali timbul kebosanan karen a di dalarn hidup keseharian yang itu-itu . aja terdapat kemantapan

281

http:ebukita.wordpress.com

dan kekuatan luar biasa terhadap makna kemapan¬an. Di dalamnya juga terdapat kemampuan untuk melakukan kompromi dengan realitas yang dihadapi sehinggamemuneulkan sikap nrimo ing pandum. Suatu penerimaan yang berbeda dengan sikap apa¬tis, yang mementingkan kedamaian dan bahkan keselarasan dengan ketiga hal utama dalam bidup manusia. Selaras dengan Sang Pencipta, selaras dengan dunia termasuk sesama, dan sclaras dengan diri sendiri.

Barangkali saja orang Jakarta akan merasa kesal mcngbadapi kelambanan mereka. Tetapi barangkali pula orang Solo pun akan mengerutkan kening melihat betapa orang Jakarta selalu terkesan penuh dcngan ketergesaan dan sering kali kehilangan kesa¬baran. Kata mereka, hidup seperti itu apakah bisa dinikmati untuk mencapai kebahagiaan? Dan bi¬sakah orang Jakarta, yang tak pernah santai dan di mana-mana harus selalu sikut-sikutan dulu untuk mendapatkan sesuaiu, mencapai usia tinggi?

"Kau tadi bisa tidur nyenyak, Mbar?" tanya Budc Yanti, mengeluarkan diriku dari larnunan.

"Bisa, Bude. Habis sarapan tadi saya tidur ekitar tiga jam. Lalu sesudah menonton Iilrn dan kemu¬dian makan siang, saya tidur lagi kurang-lebih dua jam. Enak sekali. Maklum, semalam di kereta api, saya hampir-hampir tidak tidur,"

"Apakah karena diajak Anto mengobrol?" suara Mbak Tri yang baru muncul dari dalam sambil menggendong bayinya ikut arnbil bagian dalam obrolan karni.

'of

.r

282

"Antara lain memang begitu, Mbak'" senyum ke arah istri Mas Tomi itu. .. An eantik-cantik sekali lho, Mbak, seperti ibunya .. •

"Ah, masa!" Mbak Tri berusaha membantah pu¬jianku untuk menunjukkan basa-basi pergaulan. Tc¬tapi tampak dari air mukanya, ia merasa bangga atas .kelebihan kcdua anaknya itu. Yang besar, ber¬umur dua tahun, sangat lueu. Matanya bundar dan rambutnya ikal. Seperti boneka. Cantik sekali.

Kupandangi Mbak Tri yang asyik menyusui ba¬yinya yang berumur empat bulan itu. Bagiku, ke¬mesraan seperti itu sungguh sedap dipandang mata. Rupanya Bude Yanti mernperhatikan earaku mena¬tap menantu dan eucunya.

"Mempunyai anak itu sungguh membahagiakan, Ambar ... ," komentarnya. "Apakah kau masih belum juga memikirkan untuk berkeluarga? Umurmu su¬dah eukup Iho. Jangan biarkan dirimu terlarut oleh ketakutan dikbianati scorang kekasih. Masih cukup banyak pemuda-pemuda yang baik di dunia ini.'

"Misalnya Anto!" Mbak Tri menimpali. "Dia juga barn saja putus hubungan dengan kckasihnya. Aku heran pada Dik Asih. Kurang apa ih Anto itu, kok malah memilih Hari!"

"Cinta kan tidak bisa dipak a-pak a. Lagi pula kaJau dipikir-pikir, lcbih baik Auto dan Asih putus, Ibu sudah sejak lama kurang mcnyukai Asih. Gadi itu agak nakal." Bude Yanti menjawab.

"Kasihan Ante!" komentar Mbak Tri, "Kcdengarannya, hubungan Anto dcngan keluar¬ga ini cukup akrab!" komentarku.

283

http:ebukita.wordpress.coml

I

"Memang. Anto adalah adik sahabat Mas Tomi."

Mbak Tri yang menjawab perkataanku. "Keluarga mereka akrab dengan keluarga kami."

"Mereka, Anto dan Fajar, kakaknya, orang-orang yang baik sekali. Keduanya berhasil dalarn studi mereka dan kini keduanya telah bekerja!" Bude Yanti menyambung. "Tak sia-sia parnan keduanya merawat dan membesarkan mereka."

"Kenapa orangtua mereka? Kurang mampu?' tanyaku ingin tahu.

"Sudah meninggal ketika mereka masih kecil¬kecil. Kecelakaan lalu-lintas."

"Kasihan ... "

"Memang. Tetapi mereka tak mau dikasihani, Keduanya mempunyai kemauan besar untuk menja¬di orang dan berhasil mencapainya. Fajar menjadi dokter seperti parnannya. Dan Anto, begitu lulus langsung mendapat pekerjaan di tempat yang men¬janjikan masa depan cerah."

"Umur bcrapa sib Anto itu?"

Mbak Tri melirikku demi mendengar pertanyaan¬ku. Lalu tersenyum kecil,

"Ada minat untuk mcngenal lebih jauh?" goda¬nya.

"Tidak." Godaannya kujawab dengan scrius.

"Aku masih belurn rnau rncmikirkan hal-hal sema¬cam itu. Tetapi kalau bersahabat saja sih aku ti¬dak keberaian. Selama bercakap-cakap dengannya di kcreta api semalam, aku memang menaruh res¬pek padanya. Wawasannya luas dan tampaknya kepribadiannya baik."

• •

284

"Bukan hanya tampaknya saja, Arubar. Dia me¬mang baik!" bude Yanti menyela lagi, "Mengenai umurnya, kami tidak: tahu persis berapa. Tetapi Fajar sebaya dengan Tomi, kira-kira tiga puluh satu tahun. Sedangkan Anto, mungkin sekitar dua puluh lima atau dua puluh enam. Sebab Bude rna¬sih ingat, waktu kakak:mu Tomi dan Fajar sama¬sama diwisuda beberapa tahun lalu, Anto baru saja masuk ke perguruan tinggi."

Berarti, aku lebih tua dari Anto, pikirku. Berarti pula, pemuda itu lebih matang daripada umumya. Jadi memang benarlah, Anto seorang lelaki yang baik. Tiba-tiba saja aku teringat kepada Tina. An¬daikata adikku itu berkenalan dengan Anto yang baik dan menyenangkan itu, apakah ia bisa mclu¬pakan si mata keranjang? Ah, alangkah inginnya aku mengenalkan keduanya.

"Kelihatannya kau menaruh perhatian kepadanya, Nduk!" kata Bude Yanti ketika melihat air mukaku.

Aku ter enyum dan menganggukkan kepalaku. ."Saya sedang berpikir, alangkah senangnya kalau Tina bisa saya temukan dengan dia," ahutku terus terang.

"Dia belum punya kekasih?" Bude Yanti ikut menaruh perhatian pada keinginanku itu. "Dan tcntunya ia sudah besar dan tambah cantik. Sejak kecil anak itu sudah menunjukkan tanda-tanda akan menjadi gadis jelita."

"Dia memang sudah tumbuh menjadi gadis yang jelita!" sahutku bangga. "Dan udah mempunyai kekasih. Tctapi sayang sekali, kekasihnya jauh le-

285

http:ebukita.wordpress.com. .

bih tua dan menurut penilaian saya, pemuda itu kurang pantas untuk Tina."

"Kurang pantas bagaimana?" tanya Bude Yanti

lagi. .

"Saya tidak mau menceritakannya, Bude. Karena, itu adalah penemuan saya pribadi yang mungkin saja bersifat subyektif!" sahutku hati-hati, Ak:u tak: mau menjelek-jelekkan orang eli depan orang-orang yang tak mempunyai kaitan dengan pcrsoalan Gatot "Yang jelas, jarak usia yang cmpat belas tahun le¬bih itu menjaeli pokok perhatian saya. Lelaki itu sudah ingin menikab sedangkan Tina barn saja mulai kuliab. Kan sayang sekali kalau Tina me¬ninggalkan bangku kuliahnya padahal anak itu pan¬dai sekali!"

"Jadi dengan kata lain, kau akan merasa 1ebih sonang kalau Tina menjadi kekasih Anto?"

"Ya. Jarak usia mereka tidak terlalu jauh dan pasti Anto juga bclum akan menikah dalam waktu dekat ini. Umur dua puluh lima atau dua puluh enam di zaman sckarang ini masih terlalu muda bagi seorang lelaki untuk menikah."

"Ya, kura a kau benar, Nduk."

"Tetapi bagaimana caranya mengenalkan mere¬ka?" Mbak Tri ikut bicara. "Apalagi setelah dikhia¬nati Dik A ih, Anto mulai mcngambil jarak terha¬dap para gadis."

Aku terdiam, Apa yang dikatakan oleh Mbak Tri benar. Semalam, karni banyak bicara tentang ini-itu dalam suasana yang enak dan menyenang¬kan. Baik aku maupun Anto pasti merasakan ada-

286

nya kecocokan dalam pergaulan. Dalam kondisi normal, aku yakin Anto akan menyebutkan nama¬nya dan kemudian menanyakan namaku. Lalu akan dilanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan lain se¬bagai usaha menjembatani keakraban lebih Ian jut. Menanyakan alamat rumah, misalnya, atau mena¬nyakan latar belakang masing-masing. Tetapi pada kenyataannya, Anto ticlak melakukan hal itu. Dan aku karena kondisi dan situasi batinku, juga tidak mempunyai niat sedikit pun untuk bcrkenalan lebih jauh. Bagiku, dia adalah teman sepcrjalanan yang baik, hanya itu saja. Babwa ternyata lelaki itu ke¬nal baik dengan keluarga Bude Yanti, itu tak per¬nab karni sangka. Yang jelas, aku memang rnera¬sakan babwa Anto tidak ingin membuka diri un¬tuk berkenalan dengan gadis yang barn dikenalnya. Rupanya, itu ada kaitannya dengan pengalaman pahit dikhianati kekasihnya, Dan aku sangat mema¬baminya sebab aku juga mengalarni dan merasakan pahit-getirnya,

Melihatku terdiam, Bude Yanti tertawa kecil, "Kita kok malah memikirkan yang bukan-bukan saja!" katanya kemudian. "Sebab kenyataannya kan Tina sudah mcmpunyai kekasih dan Anto scdang tidak uka memikirkan hal-hal yang berkaitan de¬ngan urusan asmara. Lebih baik kita mernbicara¬kan rencana kita untuk ke Tawangmangu. Betul kan, Ambar?"

Aku jadi tertawa juga. Sejak tadi kami banya bicara tentang hal-hal yang jauh dari kenyataan sebenarnya.

287

http:ebukita.wordpress.com

"Bude benar," sahutku. "Nab, bagaimana usaha Bude untuk mendapat tempat penyewaan di Ta¬wangmangu? Apakah sudah berhasil menghubungi kenalan Bude yang mempunyai pondok-pondok penginapan di sana?"

"Kalau Bude yang mengurus, pasti beres!" kata Bude Yanti. "Tampaknya enak dan sewanya murah. Kenalan Bude tidak mau memakai tarif seperti biasanya. Apalagi sekarang ini bukan musim libur¬an. Katanya, daripada kosong kan lebih baik ditem¬patio Selain lebih terawat karena ada penghuninya, juga ada pcmasukan ekstra. Soal jumJah, dia tidak terlalu mcmentingkann ya."

"Wah, menyenangkan sekalil" sahutku gembira.

"Laiu kapan kita bisa berangkat ke sana, Bude? Dan dengan apa?"

"Nanti diantar Mas Tom!" Mbak Tri yang men¬jawab. "Yang peniing, Dik Ambar mau berangkal kapan, segcra saja katakan kepadanya supaya dia bisa mengatur waktunya. Dari Solo ke Tawang¬mangu tidak lama kok. Sebelum Ma Tomi praktek, bisa saja dia mengantarmu dan Ibu lebih dulu."

Aku jadi rnerepotkan kalian semua!"

"Sekali-sckali tak apa. Suatu ketika kalau kami libur ke Jakarta, kau yang ganti kami repotkan!' Mbak Tri ter cnyurn manis.

"AIm akan enang sekali, Jadi bisa rnembala budi !"

"Dengan keluarga endiri kok balas-bala an budi!" Mbak Tri bergumam, "Pokoknya, santai sa¬jalah. Jangan sungkan-sungkan. Ya kan, Bu?"

288

"Benar sekali!"

Begitulah keesokan harinya, sebelum Mas Tomi praktek, aku dan Bude Yanti diantar olehnya sam¬pai ke ternpat kami men gin ap. Ternpatnya enak sebagaimana yang dikatakan oleh Bude Yanti. Pe¬mandangannya juga indah dan dekat saran a olah¬raga. Ada kolam renang, lapangan bulu tangkis, tenis, dan meja pingpong. Pasar juga tidak terlalu jauh dari tern pal itu.

Agar tidak repot, aku dan' B ude rantangan selama tinggal di tempat itu. Untuk mencuci pakaian, ada seorang tenaga upahan yang ditunjuk oleh pemilik penginapan.

Harus kuakui, di Jakarta dan sekitarnya kemu¬dahan-kemudahan sernacam itu belum tentu akan kami dapatkan. Di sana, hanya dcngan uang dan kekuasaan sajalab scgala scsuatu dapat berjalan dengan lancar dan mudah. Beda dengan di Tawang¬mangu ini.

Pada hari Sabtu siang ketika aku pulang dari belanja kue-kue di toko dekat pas ar, kulihat ebuah mobil bergambar tongkat diliJit ular tcrparkir di muka penginapan karni. Itu pa ti bukan mobil Ma Tomi, jadi aku rnasuk ke penginapan kami mclalui pintu belakang. Tetapi karena pondok peng¬inapan itu kccil, kchadiranku cepat diketahui. Demi¬kian juga cbaliknya. Aku juga segera tahu bahwa tarnu yang datang dcngan mobil milik dokter itu adalah Auto. Di dckatnya duduk sepasang in an. Yang perempuan manis sekali dan yang leJaki ga¬gab. Wajal1 lelaki itu mirip Ante.

289

http:ebukita.wordpress.com.' ",

"Ini elia Ambar .sudah datang!" Bude Yanti me¬nyambut kehadiranku dengan riang. "KemariIah, Nduk. Ayo berkenalan dengan Fajar dan istrinya. Mereka datang untuk menginap juga di tempat ini. Kebetulan pondok eli sebelah kita itu juga boleh disewa untuk beberapa hari dengan tarif khusus."

Sambil tersenyum aku memperkenalkan diri ke¬pada kakak Anto dan istrinya itu. Jadi rupanya mobil eli depan itu milik mereka.

"Akan menginap berapa lama?" tanyaku kepada mereka.

"Hanya dua malam saja. Senin pagi kami sudah akan turun. Anto akan langsung ke kantor dan saya harus ke rumah sakitl" Fajar yang menjawab. "Sudah agak lama kami tidak berlibur. Kebetulan Bu Yanti menginap eli sini dan katanya ada be¬berapa pondok kenalan beliau yang .bi a disewa dengan harga miring. Jadi, apa alahnya kalau kami bergabung kemari. Cuma sayangnya, Tomi tidak bisa ikut ya?"

"Wah, kalau Tomi ikut, hanya akan mcmbuat dia dan istrinya capek!" kata Bude menanggapi perkataan Fajar. "Menginap dua rnalam bukan akan membuatnya santai tetapi malah sebaliknya. Sebab,

eperti orang pindahan. Dan belum tentu kedua anaknya akan senang. Itu pernah terjadi sih. Kedua¬nya rewel teru karena merasa asing di tempat yang belum mcreka kenai."

Kami semua tertawa membayangkan apa yang diceritakan oleh Bude. Bagaimana bisa bel'. enang¬senang dan beristirahat kalau anak-anak mereka

290

rewel terus, bukan? Jangankan bersantai, tidur saja pun barangkali kurang.

"Kalau Tomi dan keluarganya ikut, B u Yanti pasti tidak bisa beristirahat," istri Fajar menyela. "Ya kan, Bu?"

"Benar, Nak!" Bude tertawa. "Jadi mungkin saja Tomi memang sengaja tidak mau ikut kemari karena ingin memberiku kesempatan berlibur penuh. Lha di rumah itu, kalau saya sedang berbaring un¬tuk istirahat siang misalnya, tahu-tahu saja anaknya minta dikeloni eyangnya. Tetapi ternyata itu cuma akal-akalan anak itu saja untuk mencari perhatian. Semua barang yang ada eli kamar dikacau-balau. Maka jangankan bisa tidur siang, duduk saja pun tidak bisa.'

Sekali lagi karni tertawa. Seraya mengobrol ta¬nganku sibuk rnenempatkan kue-kue yang baru saja kubeli dari pasar, Kemudian kuhidangkan di depan tamu-tarnu itu."

'Silakan elicicipi," kata Bude.

"Terima kasih. Kami juga mernbawa banyak makanan, nanti kami antar kemari," kata Fajar, "Ma ih ada di mobil ya, Jeng?"

"Ya," sahut istrinya, "Nanti kalau pondok di se¬belah sudah dirapikan, akan kukeluarkan."

"Biar aku nanti yang mengurusnya!" Anto yang sejak tadi tak banyak bicara, menyela perkataan kakak iparnya.

"Asal jangan kaukorup lho!" sang kakak ipar menggodanya. "Ingat tidak waktu kita kedatangan

291

http:ebukita.wordpress.com

tamu dan kusuruh kau membeli kue sus sepuluh biji T"

"Tentu saja aku .ingat. Bentuknya menggiurkan, ya aku ambil saja satu potong dan diam-diam ku¬masukkan mulut sebelum disajikan ke ruang tamu!' Anto tcrtawa. "Tetapi kenapa kau bisa tahu kalau susnya kurang sepotong, Mbak?"

"Sebab di depan tamu, aku menghitungnya diam¬diam. Soalnya, piringnya kok tidak sepenuh biasa¬nya." Istri mas Fajar tertawa geli. "Padahal kalau aku rnengbidangkan scpuluh buah sus atau kroket di pi¬ring Itu, dilihatnya pas. Sejak itu aku harus hati-hati kalau berurusan denganmu dalarn soal perkuean."

Kami gembira saling bercanda. Aku rnerasa se¬nang merasakan kekel uargaan di an tara mereka, Aku juga senang ada Anto yang usianya tak banyak berbeda dcnganku. Dengan ternan sebaya, pasti akan ada banyak bal yang bisa kami lakukan ber¬sarna. Mungkin berkuda. Mungkin main bulu tang¬kis atau tcnis di sebelah sana. Kata Bude Yanti, kami bi a menyewa lapangan berikut pcralatannya. Atau mungkin juga kami cuma sekadar jalan-jalan

aja di Gerojogan Sewu atau di tempat Iainnya, Harus kuakui, di tcmpat yang berudara sejuk de¬ngan pemandangan yang indah itu, semangal hi¬dupku mulai tumbuh.

"Anto bagaimana kalau sore nanti kita main pirigpong?" usulku kepadanya. "Kulihat di aula ana ada mcja pingpong."

"Oke, Aku . etuju sckali. Belakangan ini aku kurang gerak."

292 .

Ternyata, bergaul dengan Anto sangat menye¬nangkan. Orangnya baik dan suka humor. Dan le¬bib dari itu, kami berdua mempunyai latar belakang pemikiran yang sarna dan sejalan. Tak ada pikiran lain apa pun kecuali berteman dan mencari suasana gembira bersama-sama. Kami isi sore itu dengan . bermain pingpong, berkaraoke, dan mencari makan¬an panas di dekat pasar. Dan bahkan sesudah tabu usiaku Iebih tua darinya, langsung saja dia mcnjadi lebih akrab dan mencmpatkan diriku sebagai kakak perempuan. Tentu saja aku senang.

"Bagaimana kalau besok kita berkuda, Mbak?"

Sebelum kami masuk ke pondok masing-masing, dia memberiku usul yang menarik.

"Oke. Kau yang mencarikan kudanya, ya?' "Tetapi tidak dcngan dituntun pemiliknya lho.

Berani?"

"Tidak. Aku tidak berani," sahutku tertawa. "Di Puncak atau di Lernbang, aku memang sering ber¬kuda. Tetapi selalu dituntun. Bukan aku yang me¬megang kendall."

"Mas a takut sib? Kan ada aku." Anto tersenyum.

"Mudah kok, Mbak, nanti kuajari. Akan kupilihkan kuda yang jinak .dan penurut."

"Dan yang agak. pendck Iho, ya. Supaya kalau jatuh tidak terIalu sakit!"

"Kau tidak akan tcrjatuh. Percayalah!" Anto tertawa,

. Esok paginya jam enam kurang sepuluh, Anto sudah mengetuk pondok kami. Untungnya aku su¬dab siap. Bude Yanti yang be1um lama bangun e-

293

http:ebukita.wordpress.com

dang menyeduh teh untuk kami. Melihatku meraih topi lebar yang mernang sengaja kubawa dari Ja¬karta, perempuan itu menegurku.

"Tidak sarapan dulu, Ambar? Itu ada roti isi ayam."

"Nanti saja, Bude. Masih terlalu.pagi untuk sa¬rapan. Lagi pula Anto rnenyewa kuda cuma dua jam saja. Jam de lap an nanti kami sudah kembali," aku menjawab dengan tergesa. SUdah kudengar ringkik kuda eli halaman. "Kalan Bude mau sa¬rapan, jangan rnenungguku."

"Kalau begitu rninumlah dulu." "Panas!"

"Tidak. Cuma hang at saja karena udah kucam¬pur dcngan air dingin. Minurnlah, Sayang."

Kali itu aku menurut. Temyata teh hangat itu enak dan menyegarkan• sehingga aku tidak menyesal telah mengurangi waktu persiapanku,

"Terima kasih, Bude." Kuletakkan cangkir ke atas meja kernbali. "Nanti pulang berkuda akan kucuci!"

"Cuma atu cangkir kotor saja apa usahnya ih."

Bude Yanti tertawa. "Nah, berangkatlah dan berse¬nang-scnanglah. Jangan kaupikirkan soal-soal yang tidak penting. Biarkan Bude yang mengurusinya."

AIm tel' enyum. Setclah mendapat sedikit pel a¬jaran dad Anto tentang bagairnana menunggang kuda, aku naik ke alas punggung binatang itu, di¬bantu olehnya. Bude Yanti yang bcrdiri di ambang pintu tertawa melihat cara dudukku yang ma ill kaku itu, kernudian tangannya mclambai ke arahku.

294

Aku segera membalasnya. Tetapi baru saja kudaku melangkah, perempuan setengah baya itu memang-

gilku.

"Ya, Bude ... ?"

Bude Yanti tersenyum, menatapku dengan penuh kasih, bam kemudian berkata lagi dengan suara tertahan-tahan.

"Kau tampak cantik sekali pagi ini," katanya. "Ah, Bude!" Aku tersipu.

Tetapi hams kuakui, pagi ini aku mernang tam¬pak sangat cantik. Cermin eli karnar tadi telah memberitahu aku. Kukenakan blus dengan dasar warna putih berbunga-bunga kecil warna merah dan hiram. Di bagian bawah aku memakai eel ana jins ketat yang panjangnya tiga perempat lutut. Kukenakan sepatu kulit bersol rendah yang enak dipakai. Ringan, ulet, dan kuat. Sernentara di atas .kcpalaku bertengger topi lebar, Agar topi itu tidak terbang, kuikat dcngan scary: Iebar polo berwarna merah yang kemudian kulilitkan eli bawah daguku. Sing kat kata, aku sadar betul apa yang dikatakan olch Bude Yanti tadi benar, Pagi ini aku rnemang tampak sang at cantik dan menarik. Setidaknya, itulah yang kurasakan.

Bagiku yang tidak biasa berkuda duduk di alas punggung binatang itu dcngan berjalan di lereng¬lereng bukit yang tidak rata, membuatku mcrasa cepat lelah. Baru setengah jam berkuda aja aku sudah minta beri tiharat.

"I tirahat sebentar ya?" pintaku kepada Anto.

"Punggungku pegal rasanya."

295

http:ebukita.wordpress.com"Capek, ya?" Anto tampak luwes dan menarik eli atas punggung kuda berbulu hitam yang gagab itu.

"Ya."

"Kita beristirahat di dangau itu saja yuk." Anto menunjuk sebuah gubuk kecil beratap rumbia yang nyaris tanpa dinding. Tetapi di dalarnnya ada tern¬pat duduk yang terbuat dari bambu.

Aku setuju beristirahat eli tempat itu. Setelab mengikat kuda-kuda kami, aku dan Anto duduk eli tempat itu. Entah milik siapa, kami tidak tahu, Te¬tapi sunggub menyenangkan duduk di situ. Atapnya yang lebar dan menjorok melewati liang penyang¬ganya menudungi kami dari siraman matahari pegu¬nungan yang men yen gat. Kubiarkan angin Gunung Lawu membelai wajahku. Perhatianku lebih ter¬curah pada pemandangan indah di bawab sana. Kulihat kebun-kebun yang tertata rapi dan jalan setapak yang berliku melingkar-lingkar itu tampak

eperti ular. Aku juga melihat hutan-hutan kecil yang penuh dengan pelbagai mac am pepohonan, sungai kecil yang berkelok-kelok, dan sawah yang bertingkat-tingkat.

. 'Tanah air kita ini sungguh indah ebenarnya.

Sayang tidak banyak orang yang menyadari itu. Enak saja rnereka meru aknya, menebang semaunya dan mengeruk kekayaannya!" aku mulai bicara. Menyuarakan keprihatinanku.

"Ya. Duma ini pa ti akan bina a kalau manu ia lupa menjaga apa yang dinarnakan keseimbangan, keselarasan, atau harmoni di alarn emesta ini.

296

Bahwa jika ada laut harus ada gunung, rnisalnya. Sedangkan gunung pasti ada hutannya.'

"Ya." Kulayangkan pandang mataku ke kejauhan.

"Eh, sudah seberapa jauh kita berkuda tadi?"

"Tidak begitu jauh. Perasaanmu saja yang me¬ngira kita sudah berjalan jauh. Padahal kita ha¬nya berputar-putar saja kok tadi." Sambil menjawab pertanyaanku itu, Auto mengeluarkan dua gelas plastik berisi air mineral dari saku jaketnya. Satu diulurkannya kepadaku.

"Mungkin karena jalannya naik-turun itu aku mengira kita sudah berjalan jaub sekali," sahutku sambil menerima Aqua gelas itu. Kemudian kutu¬suk tutup gelas dengan i1.u batang sedotannya.

"Ya." Anto menyedot isi gelasnya. Tetapi tiba¬tiba dia menoleh ke arahku dan menanyakan se¬suatu yang sama sekali tak kusangka. "Nab, bagai¬mana, Mbak, sudab tidak sedih lagi, kan?"

Aku tertegun.

"Apa yang kauketahui tentang diriku?" Aku mulai curiga.

Jangan-jangan Bude atau Mas Tomi telah men¬ceritakan kehidupan pribadiku kepada pemuda itu. Atau kalaupun tidak, mereka bercerita kcpada Mas Fajar dan Ma Fajar menccritakannya kcpada Auto, Itu bisa saja terjadi. Mungkin maksud Bude atau Mas Torni agar mereka, Mas Fajar dan istrinya

erta Anto, bisa menenggang perasaanku.

Rupanya Auto rnengerti apa yang sedang ber¬kecamuk di dalam pikiranku. Dia tcrsenyum sambil III lernpar gclas plastilcnya yang sudah kosong kc

297

http:ebukita.wordpress.com

dalam lubang sampah. Lubang yang tampaknya sering dipakai .untuk membakar sampah itu .kini tampak kosong.

"Terns terang kemarin dulu eli rumah kami, aku mendengar percakapan Mas Fajar dengan Mas Torni," sahutnya kemudian. "Tanpa sengaja lbo. Mereka tidak tahu kalau aku ada di bawah jendela ruang tempat mereka mengobrol. Kata Mas Tomi, kau sudah putus dengan pacarmu. Kau memergoki kekasihmu sedang bermesraan dengan sahabatmu sendiri. Dan saat ini kau sedang menenangkan diri di tempat budemu. Maaf, kalau kau tidak suka membicarakan ini, aku akan berhenti. Jangan sung¬kan untuk mengatakannya. Percayalah, aku bisa memahami itu dengan baik sekali. Aku juga pernah dikhianati kekasih, justru di saat cintaku kepadanya sedang mekar-rnekarnya."

Ak:u rnenyukai Anto. Laki-Iaki itu jujur dan memiliki keterbukaan yang manis sehingga berbi¬cara dengan dia sungguh enak. Tidak perlu harus ada basa-basi atau rasa takut kalau-kalau akan me¬nyinggung perasaan. Aku juga mclihat rasa sirnpati yang tidak ada kaitannya dengan rasa kasihan, melainkan karen a pengalaman dan perasaan sama yang pernah dialaminya. Karcnanya tidak seharus¬nya kalau aku mernpertahankan pikirannya yang keliru ten tang hubunganku dengan Bram sekarang. Kalau dengan manisnya Anto tclah membuka diri bagiku, kcnapa aku tidak?

"Anto, kau keliru kalau mengira aku lari ke sin; karena pengalarnan pahit itu,' kataku kemudian.

298

Kutengadahkan wajahku menatap langit Tawang¬mangu yang bersih kebiruan itu. "Aku sudah tidak mempunyai perasaan apa pun lagi pada bekas pa¬carku itu. Tidak cinta. Tidak benci. Dan seterus¬nya."

"Tetapi kudengar dari pembicaraan mereka, kau j adi rnenarik diri dari pergaulan."

"Mungkin memang begitu. Sebab sesudah dikhia¬nati oleh kekasih dan sahabatku itu, selama bebe¬rapa waktu larnanya pikiranku terhadap makna persahabatan agak ngatif, Tetapi pelan-pelan pikir¬anku mulai terbuka lagi, seiring dengan waktu yang menyembuhkan luka-luka batinku itu."

"Tetapi malam iru di kereta api, aku sempat rnelihat air matamu menitik meskipun kausembunyi¬kan dari penglihatan orang.'

Aku menarik napas panjang. Sekali lagi kutatap

langit biru di atasku.

"Anto, sebenarnya air mata itu tidak ada kaitan¬nya lagi dengan bckas pacarku itu. Kan sudah ku¬katakan tadi, bagiku dia sudah bukan apa-apa lagi," kataku lama kernudian. "Saat ini aku sedang mengalami pcrsoalan yang jauh lebih berat daripada ketika cintaku dikhianati. '

"Dan itu yang menycbabkanmu lad ke sini, be¬gitu?"

"Kalan kau mernang mempercayaiku, ceritakan¬lab itu. Siapa tahu aku bisa scclikit mengurangi bcbanmu dengan pandangan-pandangan yang ba¬rangkali tidak kaulihat. Sebab konon kala orang,

299

http:ebukita.wordpress.com1

biasanya seseorang yang tenggelam dalam persoal¬an, tidak bisa melihat langit yang ada di atasnya."

"Terima kasih, To. Ak.u menghargai simpatimu," sahutku. "Mungkin ada gunanya kalau aku memun¬tabkan apa yang selama berbulan-bulan ini menye¬sakkan dadaku. Begini, setelah sekian tahun lama¬nya hatiku tertutup, tiba-tiba saja aku rnulai mera¬sakan jatuh cinta lagi. Namun sayang seribu sa¬yang, cinta itu jatuh pada laki-laki yang salah."

"Salahnya bagaimana?"

Aku terdiarn, Kutundukkan wajahku. Mataku mulai terasa panas.

"Salahnya karena Iaki-laki itu adalah kekasih adikku sendiri," sahutku dengan suara muJai berge¬tar. "Bukankah aku ini perempuan yang tak bermo¬ral?"

"Mbak, cinta itu datangnya tidak bisa dihindari.

Jangan salahkan dirimu."

Kuangkat wajabku dan kutatap Anto dengan pan dang mataku yang buram.

''Masalahnya tidak sesedcrhana itu, Anto," kataku kemudian. "Baiklah aku akan menceritakan padamu scmuanya supaya kau bisa memahami perasaanku. Sebab sampai detik ini ak.u tidak tabu harus berbuat apa."

"lni kehormatan bagiku karen a kau Lelah mem¬percayaiku, Mbak. Tcrima kasib ata kepercayaan

itu. "

"Aku yang harus berterima kasih padamu karena kau mau mendengarkan keluhanku."

Begitulah untuk pertarna kalinya aku memper-

300

cayakan seluruh pengalaman dan perasaanku kepada Anto. Ya, seluruhnya. Tetapi tentu saja mengenai detail saat Gatot menciumiku, aku tidak mencerita¬kannya. Tetapi air mata yang selama ini kutahan¬tahan akbimya tumpah juga sesudah scmuanya ku¬ceritakan kepada Anto.

"Oh, Mbak, pantaslah kau tampak begitu sedih."

Dengan penuh rasa simpati, Anto mengulurkan ta¬ngannya dan menggenggam telapak tanganku de¬ngan lembut. Ada semangat persaudaraan dan pe¬ngertian yang mengalir dari tangannya itu sehingga aku merasa agak terhibur.

Pelan-pelan dengan scbeJah tanganku yang bebas, kubapus pipiku yang basah. Kemudian kuangkat wajahku yang ernula tcrtunduk untuk mengucapkan terima kasih kepada Anto yang telah bcgitu sabar mendengarkan isi hatiku. Tctapi begitu kepalaku terangkat, aku kaget sekali. Belum pernah aku mengalami rasa kagct . eperti saat itu. Tubuhku sampai tersentak, seperti dipagut seeker ular berbi¬sa. Sebab di sana, di bawah pohon pctai, kira-kira sepuluh meter dari tcmpatku duduk bcrsarna Anto, aku rnelihat seseorang yang sarna sekali tak pernah kuduga akan ada di tcrnpat ini.

Kulihat orang itu, Gatot, scdang mengawasiku dengan pandangan mala yang sulit kutebak apa maknanya. Ya Tuhan, ya Tuhan, benarkah apa yang kulihat itu? Ataukah itu hanya halusina iku saja karcna baru saja aku mernbicarakan dirinya?

Untuk meyakinkan diriku, ccpat-cepat kupcjarn¬kan mataku yang masih basah itu. Lalu kubuka

301

http:ebukita.wordpress.comlagi dengan harapan sosok tubuh yang baru saja kulihat tadi menghilang. Dengan demikian, aku ti¬dak lagi diganggu halusinasiku sendiri. Tetapi ya Tuhan, sosok tubuh itu benar-benar hidup. Gatot masih berdiri di sana. Dan bahkan mulai bergerak, melangkah mendekati tempat aku dan Anto sedang duduk.

Melihat itu kulepaskan tanganku dari genggaman tangan Anto• dengan tubuh yang tiba-tiba mulai menggeletar. Dengan mata nanar tanpa berkedip, kupandangi sosok tubuh yang sedang menyeberangi rerumputan itu. Dalarn hatiku aku masih berharap, apa yang kulihat itu cuma khayalanku belaka. Te¬tapi tidak. Apa yang kulihat itu tetap bergerak, berjalan ke arahku. Maka tubuhku bergetar semakin hebat. .

Melihat tubuhku bergetar, Anto menatapku heran.

Kemudian pandang matanya mengikuti arah apa yang sedang kutatap tanpa berkedip itu. Saat itu aku benar-benar tidak bisa berpikir apa pun. Tu¬buhku yang masih saja bergctar, mematung di tcmpatku duduk. Rasanya seperti orang kena te¬nung.

Belum lagi rasa kagetku surut, tiba-tiba saja Anto bcrsoru mcmanggil orang yang baru dilihatnya

itu.

"Ma Gatot!" .

Menghadapi realita yang ada di hadapanku itu, lengkaplah suclah penderitaan batinku saat itu. Bu¬kan saja karena orang yang kulihat itt! memang benar Gatot, tetapi juga karena ternyata Anto me-

302

ngenal Iaki-laki itu. Padahal aku baru saja men¬ceritakan rahasiaku kepadanya. Rahasia yang me¬nyangkut Gatot. Menghadapi kenyataan itu, kekuat¬an yang masih tersisa padaku itu pun luruh dengan seketika. Mataku berkunang-kunang sementara se¬mua benda di sekitarku seperti berputar-putar, se¬makin lama semakin pudar, hingga akhirnya aku tenggelam dalam satu warna saja. Hitam dan gelap. Dan pertahanan diriku pun lenyap. Aku pingsan.

Aku tidak tahu apa-apa lagi, Dan entah berapa lama aku kehilangan kesadaranku itu. Aku juga ti¬dak tahu apa yang terjadi sesudah itu. Aku hanya tahu ketika kesadaranku pulih kernbali dan mataku bisa kubuka lagi, orang yang pertama kali kulihat adalah Tina. Ya, Tina adikku yang menurut pikiran¬ku saat ini ada di Jakarta.

"Hai, Mbak ... ," Tina menyambut kesadaranku kembali dengan senyurn manis yang luar biasa.

Aku masih tidak mernpercayai penglihatanku.

Kukerjap-kerjapkan mataku. Kukumpulkan ingatan¬ku yang berserakan. Lalu kupandangi sekelilingku. Ternyata aku berada di kamar penginapan yang kami sewa. Dan di dalam kamar itu hanya ada Tina. Oh, tidak. Di ampingnya ada seorang lelaki yang sudah berkenalan dcnganku kemarin. Mas Fajar. Di lehernya terkalung stetoskop yang meng¬ingatkan diriku bahwa dia seorang dokter. Dan ke¬tika pan dang rnataku berlabuh padanya, Mas Fajar tersenyum.

"Halo, Dik Ambar?"

Kedua sapaan manis, yang satu dari Tina dan

303

http:ebukita.wordpress.comyang lain dari Mas Fajar, tak kusambut dengan semestinya. Aku diam saja dan kupejamkan kemba¬li rnataku. Tetapi sempat kurasakan tangan Mas Pajar meraba pergelangan tanganku untuk merasa¬kan denyut nadinya.

"Masih pusing?" tanyanya dengan suara lembut. "Se. .. sedikit."

"Nanti akan hilang. Denyut naclimu sudah mulai normal. Coba kuukur dulu tekanan darahmu." Sam¬bil bcrkata seperti itu Mas Pajar meraih alat peng¬ukur tekanan darah dati atas meja, kemudian diu¬kurnya tekanan darahku. Lalu katanya, "Tekanan darahmu juga sudah mulai mendekati angka normal. Sarapan sedikit, ya?"

"Aku tidak lapar ... .'

"Tctapi Dik Ambar harus makan biarpun cuma sedikit. Sejak pagi tadi belum sarapan, kan? Pa¬dahal baru bclajar berkuda 1a1u ... lalu rnengalarni kejutan itu."

Aku diam saja. Kupejamkan mataku lagi. Apa tadi kala Mas Fajar? Aku mengalami kejutan? Itu bukan kejutan, Mas. Tetapi kiamat.

"Bagaimana perasaanmu, Dik Ambar? Ra anya bagai mana?"

"Lernas .... "

"Kalau bcgitu, cobalah untuk makan. Sedikit saja .... "

"Aku tidak lapar," sahutku. Ya Tuhan, ra anya aku bcgitu lemah dan kehilangan scluruh kekuatan tubuhku. Kenapa Tina ada di sini? Ke mana pula Gatot tacLi?

1

304

"Minum susu saja ya, Mbak?" Kudengar lagi suara Tina. "Nanti kuarnbilkan. Bude Yanti sudah menyiapkan untukmu."

"Ya, Dik Ambar, minumlah. Kau tidak ingin terbaring sakit di sini, kan?" Mas Fajar ikut mem¬bujukku.

Menyadari tak enaknya sakit di tempat orang, aku terpaksa membuka mataku lagi. Melihat itu Tina mulai membujukku lagi.

"Minum susu ya, Mbak?"

Akhirnya kuanggukkan kepalaku. Melihat itu wajah Tina tampak gembira. Dia bangkit dati tem¬pat duduknya.

"Diberi gula ya, Dik Tina!" kata Mas Fajar. "Baik, Mas."

Ternyata susu manis mampu menambah kekuat¬anku yang kusangka sudah lenyap sarna sekali itu. Sesudah menghabiskan segelas susu, sedikit demi sedikit aku mulai mampu menata pikiranku sampai akhirnya Mas Fajar menganggap aku tak lagi perlu diawasi olehnya. Sesudah memeriksaku sekali lagi, dia pamit kembali ke pondok sebelah, tempatnya rnenginap.

Begitu Mas Fajar telah pergi, Tina mendekati temp at tidurku dan mengecup selintas pipiku.

"Maafkan aku ya, Mbak, aku telah rnernbuatmu begini menderita," katanya dengan penuh pera aan.

"Jangan berkata eperti itu, Tina kau tidak ber¬alah kepadaku." Ah, aku tel all membuat gadis itu jadi merasa bersalah. "Tetapi kenapa kau tiba-tiba menyusulku kemari?"

305

http:ebukita.wordpress.com

"Itu ide Mas Gatot, Mbak. Begitu tahu kau per¬gi ke Solo, Mas Gatot langsung menginterlokal ke sana. Yang menerima Mbak Tria. Dia berkata bah¬wa kau dan Bude Yanti sedang berada di Tawang¬mangu. Maka Mas Gatot mengajakku ke Solo. Dan begitu pagi tadi sampai, kami lang sung menyu¬sulmu kemari setelah diberi ancer-ancer tempatnya oleh Mbak Tri."

"Untuk apa kalian menyusulku?" Aku benar¬benar tidak mengerti kenapa Tina dan Gatot me¬nyusulku.

"Untuk minta ampun, Mbak. Kami berdua ingin minta ampun kepadamu!"

. "Kenapa?" J anurngku teras a dingin. Apakah me¬reka berdua mau meminta kerelaanku untuk meng¬izinkan mereka menikah?

"Karena kami telah mempermainkanmu. Melalui diriku, Ibu dan Bapak di Jakarta juga ingin agar kau memberi maaf kepada mereka."

J adi mereka berdua bukan meminta izinku untuk menikah. Lalu kenapa mereka ingin meminta maaf padaku? Ah, membingungkan saja mereka itu.

"Mempermainkan aku dalam hal apa? Dan minta maaf untuk apa ... ?" Kukerutkan dahiku. Apa salah Tina padaku? Dan apa salah Bapak dan Ibu ter¬hadapku? Aku tidak mengerti apa yang dikatakan Tina tadi.

"Begini, Mbak, sesungguhnya antara aku dan Mas Gatot tidak ada hubungan apa pun ebagai¬mana yang selama ini kaupikirkan .... "

"Apa?!" Tanpa sadar aku terduduk, nyaris tak

306

mempercayai apa yang barn saja kudengar itu, i, Apa katarnu, Tina?"

"Maafkan karni semua, Mbak. Ketahuilah sejak pertama melihatmu, Mas Gatot sudah tertarik kepa¬damu. Sedikit pun dia tidak pemah tertarik padaku. Dia selalu menganggapku seperti anak kecil!" Tina tertawa menyeringai. "Begitupun sebalik1lya. Mana mungkin sill aku jatuh cinta kepadanya? Sayangnya, sikapmu terhadaphya sangat dingin dan selalu saja mengarnbil jarak. Setiap kali langkahnya baru me¬masuki balaman rumah kita, kau langsung meng¬hindar masuk ke kamar. Maka Mas Gatot bertanya kepadaku apakah sikap seperti itu juga ditujukan kepada orang lain .... "

"Lalu apa jawabmu?" aku memotong. Dadaku mulai berdebar tak beraturan. Seluruh perhatianku tertarik kepada apa saja yang akan keluar dari mulut Tina.

"Kujawab apa adanya. Bahwa kau memang sangat dingin terhadap semua laki-laki. Tetapi kukatakan kepadanya juga bahwa sikap dingin yang berlebihan itu memang baru kauperlihatkan kepadanya saja"

"Lalu ... ?"

"Lalu Mas Gatot meminta bantuanku untuk mencairkan hatimu. Tetapi karena aku juga tidak tahu bagaimana caranya, kuminta bantuan lbu. Ternyata Ibu juga bingung, tidak tahu bagaimana meLenturkan hatimu yang keras itu. Maka akhimya dibuatlah sandiwara seolah Mas Gatot dan aku menjalin hubungan cinta, Tujuannya agar dia bisa lebih leluasa datang dan pergi ke rumah kita. Dan yang kedua, agar kau marah dan melabrak Mas Gatot. Pikir kami bertiga, kalau secara manis Mas Gatot tidak bisa mendekatimu maka rasanya sah¬sah saja kalau kami memakai cara lain dengan membangkitkan kemarahanmu. Ternyata, kedua tujuan itu berhasil baik."

"Bertiga? Jadi Bapak dan Didik tidak ikut-ikutan?" aku menyela tak sabar.

"Semula Bapak dan Mas Didik tidak tahu-menahu, agar sandiwara kami dapat berjalan mulus. Sebab kata orang, semakin sedikit orang yang mengetahui suatu rahasia, akan semakin baik jadinya. Tetapi ketika Bapak marah kepada Ibu karena telah memberi hati kepada Mas Gatot dan kemudian beliau juga datang ke rumahnya untuk meminta supaya Mas Gatot menjauhiku, terpaksalah kami menceritakan rahasia itu. Rupanya kau mengadu kepada beliau atas perbuatan Mas Gatot menciumi tanganmu di dapur itu ya .... "

"Ya, aku mernang mengadu kepadanya .... " Aku tersipu. "Dia kurang ajar sih!"

"Itu karena dia mencintaimu." Tina tertawa.

"Nah, setelah peristiwa itu, akhirnya Bapak dan juga Mas Didik mulai ikut ambil bagian dalam sandiwara kami. Maka kami semua terus mengikuti dengan saksama perkembangan yang terjadi di antara dirimu dengan Mas Gatot. Kau pasti tidak menyangka bagaimana kami semua bersorak gembira ketika Mas Gatot menceritakan bagaimana dia telah berhasil membangunkan macan tidur ketika kalian berdua menyaksikan bulan purnama di Ancol. ..

"Tina .. " aku memotong perkataan Tina dengan wajah yang terasa panas. Terbayang dalam pikiranku tentang segala hal yang terjadi di antara diriku dan Gatot. Dan mereka semua mengikuti perkembangannya dan bahkan menikmati permainan itu di belakang punggungku. Sialan. "Kalian ... kalian semua keterlaluan!"

"Sudah kukatakan tadi, Mbak, karni semua ingin minta ampun padamu." Suara Tina mulai mengiba, "Terutama aku, Mbak, betapa aku telah menyusahkan hatimu. Tetapi percayalah, tidak ada maksud kami untuk menyakiti hatimu. Justru kami ingin membuka hatimu kembali dan menyadarkan dirimu bahwa tidak semua laki-laki jahat."

Aku terdiam. Seluruh peristiwa yang terjadi semenjak Gatot pindah di sebelah rumah kami, terbayang kembali. Semuanya. Tetapi dengan cara pandang yang berbeda sama sekali. Maka akhirnya muncullah perasaan lega dalam hatiku. Sebab ternyata Tina bukanlah kekasih Gatot. Semua yang dikatakannya kepadaku, dan yang pernah membuatku jengkel dan marah, bahkan juga kecewa dan sedih, ternyata hanya sandiwara belaka.

Tetapi perasaan lega yang paling menguap seluruh luka-luka batinku selama ini adalah kenyataan bahwa Gatot bukanlah laki-laki mata keranjang. Ia menggodaku, ia merayu dan menciumku bukan untuk iseng-iseng belaka, tetapi karcna dia mencintaiku.

"Aduh, Mbak, jangan diam saja." Tina memeluk dan menciumi pipiku. "Maafkan kami, ya? Jangan marah dan jangan membuatku takut. Wajahmu merah padam bergantian pucat.. .membuatku takut saja .... "

Aku masih tetap diam. Sungguh, tidak mudah bagiku mengubah suatu pandangan atau anggapan yang selama berbulan-bulan ini telah begitu melekat dalam diriku. Dan juga tidak mudah mencerna kenyataan sebenarnya, yang telah menjungkir-balikkan seluruh pikiran, gambaran, penilaian, dan bahkan kepedihan yang kubawa lari sampai ke temp at ini.

"Mbak, ketika kami semua melihatmu terluka dan lari meninggalkan rumah, hati kami sangat gelisah. Meskipun kau mengatakan ingin menghabiskan cutimu di Solo dan tidak mau mengakui apa penyebab kepergianmu itu, kami justru melihat apa yang sebenarnya ada di dalam hatimu. Bahkan Bapak mulai menyadari bahwa sesungguhnya kau mencintai Mas Gatot sebagaimana dia mencintaimu. Kata beliau, tidak mungkin kau membiarkan Mas Gatot merayumu kalau hatimu tidak ada padanya. Dan tidak mungkin kau merasa sedemikian takutnya melihatku menjadi kekasih Mas Gatot kalau kau tidak tahu pcrsis bagaimana Mas Gatot telah memesraimu seperti laki-laki yang tak tahu arti kesetiaan. Dia bukan hidung belang seperti katamu .itu lho .... "

"Diam kau, Tinal"

"Tunggu, masih ada sedikit lagi yang harus kukatakan padamu." Tina menyeringai lagi. Wajahnya

tampak lucu. "Nah, karena itulah maka Bapak dan juga Mas Gatot memutuskan untnk menyusulmu ke Solo dan menghentikan sandiwara ini. Sebab Mas Gatot sudah ingin memelukmu lagi .... "

"Diam kau, Tina!"

"Baik, aku akan diam!" Tina menyeringai sekali lagi. "Tetapi perlu kukatakan kepadamu Mbak, bahwa aku dan Mas Gatot tadi sempat merasa ketakutan bahkan luar biasa menyesal ketika melihatmu pingsan sampai lama. Untung ada Mas Fa¬ar. Tetapi, Mbak, kau harus tahu. Mas Gatot sangat cemas melihat keadaanmu. Di luar kamar dia terus-menerus mondar-mandir seperti orang gila. Bagaimana, kusuruh dia masuk ke sini ya, Mbak?"

"Jangan!" aku membentak. Kurasakan, jantungku mulai bergoyang tak teratur.

Tetapi si gadis lincah itu Lelah melesat pergi tanpa mendengarkan perintahku. Maka Gatot pun menggantikan tempatnya di kamar ini. Melibat itu aku cepat-cepat bangkit, bermaksud lari keluar, Tetapi lelaki itu bergerak lebih cepat lagi. Bahuku didorongnya dengan lembut agar aku menyandar kembali ke tumpukan bantal yang tadi diatur Tina di belakang punggungku.

"Tenanglah," katanya sambil duduk di tepi tempat tidurku. "Kendalikan emosimu, Sayang."

"Sayang, sayang, gomball" aku membentaknya. Mendengar bentakanku, Gatot tersenyum manis. 'Aku seribu kali 1ebih suka melihatmu membentak-bentak daripada melihatmu pingsan sampai selama itu. Aku benar-benar ketakutan tadi .... "

"Gombal. "

Gatot tersenyum lagi. Tetapi kini tangannya terulurkepadaku untuk membelai rambut dan pipiku dengan jemarinya yang terasa lembut.

"Seandainya kau tadi tidak pingsan, aku pasti merasa cemburu kepada Anto ... ," katanya. "Tetapi untunglah sepupuku itu begitu lugu dan polos. Ia menceritakan kesedihanmu yang baru saja kauceritakan kepadanya tadi. Harap jangan marah kepadanya. Ia menceritakan hal itu tanpa tahu bahwa lelaki yang kaumaksud itu adalah aku. Sebab tujuannya menceritakan hal itu di depan Mas Fajar adalah untuk mernberi informasi kalau-kalau pingsanmu itu berkaitan dengan kesedihan yang luar biasa."

Aku terdiam, mulai memahami segala sesuatu¬nya. Tetapi tak akan kukatakan bahwa aku pingsan tadi akibat perasaanku yang kacau-balau. Dan ditambah rasa sesal karena telah menccritakan rahasia hatiku kepada Anto yang ternyata kenal lelaki di depanku ini. Ah, andaikata saja aku tahu mereka berdua masih sepupu, pasti akan kukunci rapat¬rapat mulutku.

"Jadi kalian sepupu ... ?" tanyaku ingin tahu kepastiannya.

"Ya. Kedua orangtuanya telah meninggal sewaktu ia masih kecil. Ayahkulah yang merawat dan membesarkannya bersama kakaknya, Mas Fajar, dan menyekolahkan keduanya sampai selesai. Bahkan Bapak merasa bangga karena Mas Fajar mengikuti jejaknya menjadi dokter, padahal tak seorang pun

di antara anak-anaknya sendiri yang berminat jadi dokter."

Aku . terdiam. Pelan-pelan aku mulai mampu menguak segala sesuatunya. Bahwa Mas Fajar dan Anto, pemuda-pemuda yang baik dan keduanya dibesarkan oleh paman mereka sebagaimana diceritakan oleh Bude Yanti dan Mbak Tri, temyata ada kaaitannya dengan Gatot. Paman keduanya adalah ayah Gatot.

Jadi rupanya itu pulalah jawaban mengapa wajah Anto ada kemiripan dengan Gatot. Sebab keduanya bersaudara sepupu, mempunyai kakek dan nenek yang sama.

"Lalu, Dik Hari itu juga bcrsaudara dengan Anto dan Mas Fajar kalau begitu?" gumamku kemudian.

"Kalau dikatakan sebagai saudara sedarah, tidak.

Sebab, Hari adalah sepupuku dari pihak ibuku. Sedang Anto dari pihak bapak."

"Dia tidak ikut kemari?"

"Untuk apa? Tak ada urusan dengannya. Lagi pula, dia masih mempunyai banyak urusan di Jakarta."

Aku terdiam Iagi. Setelah bercakap-cakap dengan emosi yang mulai tertata kembali, setahap demi setahap aku mampu berpikir lebih jernih dan bahkan mulai mampu melihat segi-segi positif dari seluruh kejadian yang kualami ejak aku berkenalan dengan Gatot. Semua tergambar kembali seperti rekaman film yang sedang diputar dan kutonton dengan memakai kacamata transparan. Tetapi kemudian sosok Rini, ikut mewarnai rekaman itu.

"Bagaimana kabar Rini?" tanyaku kemudian. "Rini? Untuk apa ia kita bicarakan?"

"Terakhir kali kami bertemu, ia mengatakan ... " Bicaraku terhenti karena Gatot merebut pembicaraan.

"Aku tahu itu!" katanya. "Ia juga datang menemuiku di kantor dan minta diantar pulang. Kukabulkan permintaannya itu karena kupikir kurang pantas kalau aku menolak keinginan seorang gadis dalam keadaan seperti itu. Tetapi rupanya pendapat seperti itu keliru kalau kuterapkan untuk Rini. Lebih-lebih karena ia mempunyai pikiran bahwa sedikit-banyak, aku masih menaruh perasaan khusus terhadapnya. Mungkin pikirnya karena putusnya hubungan kami itu tidak disebabkan karena orang ketiga. Di sepanjang perjalanan ia berulang kali mernancing-mancing hatiku sampai akhirnya aku mernutuskan untuk bicara terus terang untuk menghentikan angan-angannya. Maka dengan tegas kukatakan bahwa kami tak mungkin bisa bersatu lagi karena aku sudah mempunyai seorang kekasih yang dalam waktu dekat ini akan dilamar oleh orangtuaku .... "

"Tina ... ?" tanyaku mengajuk. Aku ingat 'kepada cerita Tina ketika memanas-manasi hatiku agar aku memperlihatkan isi hatiku sebenarnya tetapi gagal, Dan aku tetap meneruskan niatku untuk lari ke Solo.

"Masa Tina. sih!" Gatot tersenyum. "Kan sudah sejak awal kukatakan kepada Rini bahwa kekasihku itu kau. Bukan Tina. '

"Kenapa bukan Tina seperti yang kalian semua

kesankan kepadaku?" sindirku. .

"Itu kan hanya sandiwaraku dengan Tina. Pada kenyataannya, gadis yang kucintai kan bukan Tina." Gatot tersenyum manis.

Aku merasa malu oleh perkataannya itu, dan tak tahu harus mengatakan apa. Maka kamar tempat aku setengah terbaring itu menjadi hening. Akibatpya, suara tawa Tina yang disusul oleh Anto menyusup jelas ke tempat itu. Apa yang beberapa sore lalu menjadi pembicaraanku dengan Bude Yanti dan Mbak Tri, memenuhi kepalaku kembali. Alangkah senangnya hatiku seandainya Tina dan Anto bisa saling jatuh cinta.

"Kurasa Tina memang tiak pantas untukmu!" aku mulai mengganggu Gatot,

"Hal itu sudah puluhan kali kaukatakan kepadaku!" Gatot tersenyum. 'Dan aku setuju sekali meskipun waktu sandiwara itu belum terbuka, aku membantahnya demi membangkitkan kemarahanmu!"

"Dia lebih pantas menjadi kekasih Anto!" cetusku. Kini dengan sungguh-sungguh.

"Cocok!" Gatot tersenyum riang. "Itu juga yang ada dalam kepalakul"

Senyum riangnya menulariku. Tanpa sadar aku tersenyum juga. Dan ini adalah pcrtama kalinya aku tersenyum manis kepada Gatot di sepanjang pengalaman kami berdua. Biasanya, apa yang terbentuk di bibirku adalah cibiran, cemberut, dan desis kemarahan. Dan yang keluar dari bibir itu cuma sindiran, kata-kata ketus, dan bentakan¬bentakan.

Melihat senyumku, Gatot menatapku dengan pandangan yang amat mesra dan berhenti lama di bibirku. Akibatnya, pelan-pelan kurasakan betapa pipiku dirambati hawa panas yang menjalar sampai ke telinga dan sisi leherku.

Senyum Gatot melebar. Kemudian tangannya terulur lagi untuk menyentuh pipiku yang panas itu dengan jemarinya. Gerakannya begitu lembut.

"Ambar, kau sungguh amat cantik...," bisiknya, semesra tatapan matanya yang penuh arti itu. "Tetapi ketahuilah, seandainya kau tidak cantik pun, aku pasti juga akan tergila-gila padamu. Kau mempunyai banyak hal yang dapat mcmbuatku jatuh cinta setengah mati!"

"Kau gombal!" Aku tersipu-sipu.

"Heh, masih saja mengumpat meskipun sudab tahu aku bukan kekasih adik tersayangmu!"

"Aku mau mengumpat atau memaki-maki, itu hakku!" desisku untuk menghilangkan rasa malu. "Kau mau apa?"

"Kau ingin tabu aku mau apa untuk menghentikan bibirmu yang mengeluarkan bentakan-bentakan itu?" tanyanya dengan nada mengancam. "Begitu?"

Selintas aku mulai didatangi dugaan yang membuat jantungku berdenyut lebih kencang. Tetapi tentu saja aku pura-pura tidak tahu.

"Mau apa?" aku membentak lagi. "Jadi kau betul-betul ingin tahu?"

"Tentu saja ... " Ah, sialan. Kenapa pipiku jadi seperti terbakar begini?

Rupanya Gatot mengerti babwa aku sudab tahu apa yang ia mau. Dengan tersenyum diraihnya tubuhku dan dibawanya aku masuk ke pelukannya. Kemudian bibirnya mengecup, bibirku. Kini baru sekarang kurasakan betapa besar cinta lelaki itu padaku sehingga aku larut ke dalam ciuman dan belaian tangannya. Maka dengan seluruh perasaan yang telah terbebas dari hal-hal negatif yang selama ini menguasaiku, kubalas pelukan dan ciumannya dengan sepenuh kasih.

Seperti yang sudah kuduga, bara api yang ada di hati kami pun menyala begitu tubuh kami merapat. Kami saling mencium, berpagut, membelai, dan lupa segala-galanya dan baru mcnyadari keadaan ketika telinga kami mendengar langkah¬langkah kaki mendekat. Cepat-cepat kurenggutkan tubuhku dari pelukan Gatot. Dan cepat-cepat pula kusurutkan darahku yang mulai bergejolak.

Tina dan Anto muncul hanya beberapa detik sesudah aku dan Gatot berhasil menenangkan diri. Adik tersayangku itu tersenyum-senyum nakal.

"Halo, Mbak Ambar? Sudah mendarat ke bumi?" Aku tidak mau menanggapi perkataannya yang nakal itu. Perhatianku kutujukan kepada Anto yang langsung menyapaku dengan hangat.

"Sudah merasa lebih sehat, Mbak?"

"Lumayan ... ," aku menjawab malu-malu. Sebab, dia tahu betul apa yang kualami. Aku telah mengisahkannya. Dan sekarang dia pasti juga tahu

betul bagaimana perasaanku sesudah seluruh sandiwara itu tamat ceritanya.

"Kalau begitu, sudah siap berkuda lagi?" Anto menggodaku.

"Sekarang?" kutanggapi gurauan Anto sambil tersenyum.

Tetapi Tina yang tidak sabaran menghentikan basa-basi kami dengan pertanyaannya.

"Bolehkah aku menanyakan sesuatu kepadamu, Mbak?"

"Tentang apa?"

"Apakah selama kutinggal tadi, kalian berdua sudah bisa menyelesaikan benang kusut yang kami buat?"

"Menurut penglihatanmu bagaimana, Tina?"

Gatot mengambil alih jawaban. Wajahnya tampak berseri -seri.

"Aku melihat wajahmu berseri-seri dan pipi Mbak Ambar kernerah-merahan seperti tomat segar," Tina menjawab dengan serius. Tetapi matanya berkilat-kilat mengandung godaan. Gatot menyukai itu dan menimpalinya dengan gembira.

"Kira-kira merahnya karena apa ya, Tin? bisa kaujelaskan?" tanyanya. "Demam, kepanasan, kedinginan, atau karena apa?'

Tina mengamat-amati wajahku dengan mendekatkan wajahnya ke arahku. Tetapi kulempar dia dengan ban tal.

"Jangan kurang ajar Tina!" aku mendesis dengan wajah semakin terasa panas.

Tetapi Tina menangkap bantal itu dan meletakkannya kembali ke pangkuanku. Dan matanya yang nakal masih saja berkilauan.

"Oh Mas Gatot, merahnya pipi .itu karena dia ingin ditinggal sendirian bersamamu!" ia masih saja menggodaku,

"Tina!" aku membentaknya,

"Sudahlah, Dik Tina, jangan kauganggu terus kakakmu itu," Anto menyela. Pemuda yang halus perasaannya itu menarik tangan Tina dengan lembut. "Ayo kita keluar. Biarkan dia beristirahat."

"Beristirahat? Mana bisa. Ada Mas Gatot begitu kok!" Tina menaikkan alis matanya tinggi-tinggi. Wajahnya tampak sangat cantik. Aku berharap Anto akan terpesona olehnya.

Anto tertawa. Tetapi pandang matanya tertancap ke wajah cantik di dekatnya itu. Ah, mudah-mudahan ada sesuatu di antara kedua orang muda itu.

"Ayo kita keluar," katanya lagi.

Kali itu Tina menurut. Dia membiarkan tangannya digandeng Anto keluar dari kamarku. Sikapnya yang polos dan lugu kentara dari caranya dia membiarkan Anto membimbingnya keluar, Aku berharap Anto melihat hal itu. Di zaman sekarang ini, di mana pergaulan muda-mudi begitu bebas, kepolosan yang dimiliki Tina adalah sesuatu yang langka.

Sepeninggal adikku yang nakal itu kamarku berubah menjadi hening. Namun di dalam keheningan itu termuat semacam aliran listrik tegangan tinggi. Aku tertunduk tak berani menatap mata Gatot yang masih duduk di tepi tempat tidurku.

"Ambar," dia menyebut namaku.

"Hmm ... ?"

"Kau sudah tahu bahwa aku mencintaimu, Tetapi sepatah kata pun aku belum mendengar bagaimana perasaanmu terhadapku, Cintakah kau padaku?"

Aku diam saja. Kepalaku semakin tertunduk sehingga Gatot mengulangi pertanyaannya dengan cara lain.

"Ambar, apakah menurutku aku ini mata keranjang dan hidung belang?"

Aku tersipu. "Tidak."

"Jadi kau mempercayai perasaanku kepadamu?"

"ya .... "

"Kauterimakah itu, Ambar?"

Sekarang aku diam saja. Malu. Akibatnya Gatot merasa tak sabar. Diangkatnya daguku agar wajahku menghadap ke arahnya. Maka tampaklah olehku betapa gantengnya wajah lelaki itu.

'Ayolah, Ambar, katakan sesuatu kepadaku agar

hatiku lega," katanya.

"Mengatakan apa?"

"Apakah kau juga mencintaiku?"

Aku terdiam lagi. dan kepalaku mulai tertunduk lagi. Tetapi tangan Gatot mcngangkat daguku kembali.

"Jawablah, Ambar. Aku menunggu," bisiknya. Terpaksalah aku meugeluarkan perkataanku, 'Ya ... .'

'Ya apa?"

"Ya, aku juga mencintaimu."

Gatot tersenyum manis. Dari air muka dan caranya menatapku aku tahu bahwa ia ingin menciumku lagi. Tetapi tiba-tiba Tina muncul kembali.

"Oh ya, Mbak, tadi aku lupa mengatakan sesuatu yang penting padamu," katanya. "Beberapa bulan yang lalu kau kan pernah mengatakan kepadaku kenapa flamboyan di depan rumah kita tak pernah lagi berbunga. Katamu, barangkali saja pohon itu kena penyakit. Ingat?"

"Ya. Lalu kenapa, Tina?"

"Kemarin waktu aku dan Mas Gatot berangkat ke stasiun, tanpa sengaja aku memandang pucuk-pucuk flamboyan itu. Aku merasa heran. Sebab kulihat pohon itu mulai dipenuhi kuncup-kuncup bunga berwarna jingga kemerahan yang selama beberapa waktu ini tidak kita perhatikan. Kurasa, kalau kita pulang nanti, pasti kita semua akan disambut meriah oleh bunga kesayanganmu itu, Mbak."

Aku terpana. Pikirku, mudah-mudahan ini adalah pertanda baik bagi diriku. Tatkala batinku dibebani kesedihan, tatkala hatiku sakit flamboyan itu seperti hendak bela rasa denganku. Tak mau berbunga. Dan kini flamboyan itu telah mulai berbunga lagi, di saat hatiku juga sedang bersemi kembali. Sungguh, aku yakin betapa indahnya itu nanti.

Berpikir seperti itu, aku tersenyum bahagia. Dan tanpa malu-malu lagi kuraih lengan Gatot agar ia memelukku dengan kehangatarmya. Biarlah Tina

menjadi saksinya.

**the end**

0 Response to "Ketika Flamboyan Berbunga"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified