Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Gadis Oriental

Gadis Oriental

Itong Rahmat Hariadi

Sebuah sedan mewah meluncur mulus, memasuki jalan raya

perumahan elite di kawasan Bukit Kencana, Bandar

Lampung. Yang duduk di belakang kemudi adalah Mirah

Delima. Wanita cantik bermata besar, berwajah manis

dengan tahi lalat kecil di pipi kirinya. Baru menikah

satu tahun.

Di sebelah Mirah, Devina Sari Dewi, masih lajang.

Kecantikannya sedikit lebih menonjol dibanding Mirah.

Selain memiliki hidung bangir, Devina punya bentuk bibir

sangat bagus, sepasang mata indah.

Dua sahabat ini tampak sibuk dalam perbincangan akrab,

sampai akhirnya mobil yang mereka tumpangi tiba di depan

pintu gerbang sebuah rumah besar bertingkat. Rumah besar

dan mewah itu dijaga seorang petugas keamanan, yang

duduk di pos kecil dekat pintu gerbang.

Mirah membunyikan klakson mobilnya, membuat petugas

keamanan itu menoleh. Ketika mengenali Mirah, si petugas

keamanan segera berlari menghampiri, sambil menekan

tombol remote control pembuka gerbang. Gerbang pun

terbuka secara otomatis. “Mobilnya mau dimasukkan ke

garasi, Non?” petugas keamanan bernama Parman itu

bertanya.

“Tidak usah,” Mirah menggeleng. “Kami cuma sebentar.”

Mirah memarkir mobilnya tepat di depan pintu garasi.

Setelah mematikan mesin, ia mengajak Devina masuk.

“Sepi sekali,” gumam Mirah, seakan bicara pada diri

sendiri. “Jangan-jangan Mami dan Sultan sedang keluar.”

“Tidak, Non,” Parman menyahut. “Ibu Fatimah ada di

dalam.”

Bu Fatimah ibu kandung Mirah, yang ditinggal meninggal

ayahnya 10 tahun lalu, sedangkan Sultan satu-satunya

kakak Mirah.

“Non Vivian juga ada di dalam, Non. Bersama Pak Romeo.”

“Dia lagi?” Mirah membelalak sebal, mendengar nama

Vivian disebut. Ia tidak pernah menyukai Vivian, kekasih

Sultan.

“Iya, Non. Mereka semua sedang berada di taman

belakang,” Parman jadi agak gugup, melihat wajah Mirah

berubah kecut.

“Rumahmu ini terlalu besar, Mir. Biarpun sedang

kedatangan beberapa orang tamu sekaligus, tetap saja

akan kelihatan sepi.” Devina sengaja memberi komentar,

agar Mirah tidak terlalu cemberut. Padahal, ia sendiri

sebenarnya agak berdebar, bercampur cemburu, mendengar

nama Vivian Chung disebut.

“Harusnya, setelah menikah, kamu jangan pindah rumah,”

kata Devina, lagi. “Kasihan mamimu. Pasti kesepian.”

“Aku, sih, maunya begitu,” Mirah berkata dengan nada

setengah menyesal. “Tapi, kamu tahu sendiri adat

suamiku. Dia tidak mau tinggal bareng Mami dan Sultan.

Takut dikira mendompleng mertua. Makanya, Dev, cepat

kamu gaet Sultan. Biar mamiku punya teman ngobrol,”

Mirah menggoda.

Sepasang pipi halus Devina merona merah.

“Sejak dulu aku sudah berusaha menjodohkanmu dengan

Sultan. Tapi, kamu terlalu pemalu, sih,” kata Mirah,

kesal.

Devina menghela napas panjang. Ia mengerti, Mirah dan

Nyonya Fatimah selalu berusaha menjodohkan dirinya

dengan Sultan, setiap kali ia bertandang ke rumah megah

milik Mirah ini. Sultan memang sempat memperlihatkan

rasa suka terhadap dirinya. Kalau saja Devina tidak

terlalu malu untuk menyambut perhatian Sultan....

Kini, segalanya sudah terlambat. Sejak setahun lalu,

Sultan berpacaran dengan Vivian Chung, gadis keturunan

Tionghoa, pu tri pengusaha kayu kaya. Vivian merupakan

teman sekolah Romeo Indrajaya Kusuma, mitra usaha

Sultan.

“Aku cari Mami dulu,” kata Mirah, sambil mempersilakan

Devina duduk, lalu berlari ke ruang dalam untuk menemui

ibunya.

“Mami!” Mirah berseru, saat ibunya keluar dari ruang

dalam.

“Mirah! Kamu, kok, tidak datang selama satu bulan ini?”

Nyonya Fatimah melotot sayang, sambil mencubit pipi

putri bungsunya.

“Sibuk, Mi,” Mirah menjawab, sambil menggelayut manja di

bahu ibunya. Sesekali, ia mencium pipi ibunya, yang

masih tetap terlihat cantik, meski telah berusia lebih

dari setengah abad.

Devina kadang-kadang iri terhadap Mirah. Nasib Devina

memang tidak seberuntung Mirah. Walau Devina juga

merupakan keturunan dari keluarga intelek, orang tuanya

tidak semapan orang tua Mirah. Ayah Devina pada mulanya

pengusaha timah cukup berhasil. Tapi, usahanya bangkrut,

ketika Devina lahir. Celakanya, kebangkrutan itu membuat

ayah Devina jadi seperti orang linglung, yang tak lagi

mau bekerja. Mau tak mau, ibu Devina yang kemudian

membanting tulang untuk mencari nafkah. Beliau berdagang

ketoprak untuk menghidupi suami dan ketiga anaknya.

Beruntung, adik laki-laki ibu Devina memiliki kehidupan

cukup mapan. Paman Devina itu bersedia menyekolahkan

Devina dan kakaknya sampai tamat SMA. Kini, Devina dan

kakaknya sudah bekerja dan dapat memberikan bantuan

materi pada orang tua mereka. Namun, tetap saja

kehidupan masih terasa keras dan harus dipenuhi oleh

perjuangan, jika dibandingkan kehidupan Mirah yang serba

nyaman dan terjamin.

Mendiang ayah Mirah adalah pengusaha barang antik cukup

sukses. Selain memperjualbelikan barang antik asli

dengan harga sangat tinggi, beliau juga memiliki pabrik,

yang memproduksi replika barang-barang antik tersebut.

Ketika beliau meninggal, Nyonya Fatimahlah yang

meneruskan usaha suaminya. Setelah Sultan dewasa, Sultan

pun ikut membantu.

Hal itu membuat Mirah tak pernah harus merasa khawatir

akan hidup kekurangan. Bahkan, gadis itu tidak

mempersoalkan kuliahnya, yang terpaksa putus di tengah

jalan karena keburu menikah. Hanya, ia kini tinggal

bersama suaminya, yang tidak memiliki rumah semewah

miliknya. Meski begitu, pasangan pengantin baru itu tak

kekurangan, karena bisnis barang pecah belah milik David

cukup berhasil dan mampu menyokong hidup mereka.

“Ah... kamu kan tidak kuliah, tidak kerja, sibuk apa?”

Nyonya Fatimah berpura-pura mengomel.

“Aduh, Mami, kok, nggak percaya! Mirah memang sibuk, Mi.

Sekarang Mirah ambil kursus masak, bikin kue, kursus

menata rumah, macam-macam, deh, Mi. Mirah kan sudah jadi

ibu rumah tangga.”

Devina tersenyum melihat perdebatan itu Ia baru berdiri

dari kursinya, mengangguk sopan, saat Nyonya Fatimah

melihatnya.

“Eh, Devina. Apa kabar? Duh, kok, tambah kurus?” Nyonya

Fatimah menyentuh lengan Devina yang sedikit kurus.

“Jangan-jangan, pekerjaanmu terlalu memeras energi, ya?”

“Nggak juga, Tante. Ini kurus dengan sendirinya, kok.

Saya juga nggak tahu jelas penyebabnya,” Devina menjawab

pelan.

“Dia mikirin Sultan, Mi. Soalnya, Sultan nggak buru-buru

melamar, sih!” cetus Mirah, dengan suara nyaring. Wajah

Devina merah padam.

“Ah, itu bisa-bisanya Mirah saja, kok,” bantah Devina.

“Mi, suruh Sultan melamar Devina, deh. Kalau Devina

keburu dilamar orang, Mami bakal susah cari menantu

sebaik Devina!”

Biasanya, Nyonya Fatimah akan menanggapi dengan

bersema ngat, jika Mirah menjodoh-jodohkan Devina dengan

Sultan. Tapi, kali ini ia terduduk lesu. Ada kemurungan

terlukis di wajahnya. Devina dan Mirah bertukar pandang.

“Kenapa, Mi?” tanya Mirah, bingung.

Nyonya Fatimah menghela napas panjang. Ia menatap Devina

dengan tatapan penyesalan dan kasih sayang. “Dari dulu

Tante sela lu berharap kamu yang jadi menantu Tante.

Tapi, sekarang....”

Jantung Devina berdebar. Hatinya meraba-raba maksud

ucap an ibu Mirah. Apakah kata-kata itu merupakan

pertanda bahwa peluangnya untuk jadi kekasih Sultan

telah berakhir? Ataukah…?

“Sekarang kenapa, Tante?” Devina akhirnya tak dapat

menahan diri. Sesaat ia sadar bahwa pertanyaannya itu

telah mengungkapkan perasaannya secara tak langsung.

Tapi, ia tak peduli lagi. Ucapan Nyonya Fatimah yang

terpotong itu, entah kenapa, dirasakannya seperti vonis

yang menyatakan bahwa ia tak memiliki harapan lagi untuk

menjadi istri Sultan.

“Sekarang semua sudah terlambat.” kata Nyonya Fatimah,

dengan suara sesak. “Sebentar lagi Sultan akan menikah

dengan Vivian.”

Sepasang mata Mirah membelalak. Nyonya Fatimah

mengangkat alis, sambil membuang napas. Ia tampak enggan

menganggukkan kepalanya dan membenarkan pertanyaan

putrinya.

“Kapan rencana ini pertama kali tercetus, Mi?”

“Dua minggu lalu,” jawab Nyonya Fatimah. “Sepertinya,

Sultan sudah merencanakan ini jauh-jauh hari, tanpa

memberi tahu Mami. Tahu-tahu, dia sudah pesan tempat di

hotel dan sekarang sibuk menyiapkan undangan.”

Devina terenyak lemas di kursi. Dugaannya tadi sangat

tepat. Harap annya untuk bersanding dengan Sultan di

pelaminan sirna sudah.

“Sekarang Sultan di mana, Mi?” tanya Mirah.

“Kamu mau apa?” Nyonya Fatimah yang sudah kenal betul

sifat putrinya itu, tak segera memberitahukan. Ia tidak

ingin terjadi keributan di antara kedua anaknya.

“Ah, dia pasti di kebun belakang! Awas, akan kumaki-maki

anak bodoh itu! Masa mau nikah dengan perempuan yang

genitnya minta ampun! Coba Mami bayangkan, setiap hari

dia ke sini, nyam perin Sultan, tapi nggak segan-segan

gelendotan sama Romeo!”

“Mirah, tunggu!” Nyonya Fatimah berusaha mencegah

putrinya yang hendak melabrak Sultan. Tapi, Mirah sudah

keburu ke ruang dalam, yang menembus ke taman belakang.

“Aduh, anak itu selalu saja bikin ribut!” Nyonya Fatimah

panik. Dia menarik tangan Devina untuk mengejar Mirah.

“Ayo, Devina. Jangan biarkan dia membuat keributan

dengan abangnya!”

“Sultan!” Mirah berkacak pinggang di beranda belakang

rumahnya. Ia melotot galak melihat Sultan, yang tengah

duduk santai bersama Vivian dan Romeo di patio (tempat

bersantai, lengkap dengan meja dan kursi), yang dipagari

oleh tanaman.

Sultan menoleh, terkejut. Tapi, ketika melihat sosok

Mirah, ia tersenyum lebar. Vivian yang menggelayut manja

di pundak Sultan juga ikut menoleh. Tapi, gadis cantik

bermata sipit itu segera dihadiahi tatapan galak oleh

Mirah.

“Halo, Mirah, sapa Romeo, sambil melemparkan senyum

ramah. Tapi, Mirah malah melengos. Bagi Mirah, senyum

Romeo lebih mirip seringai lapar seekor serigala rakus.

Romeo memang mata keranjang. Gonta-ganti kekasih,

seperti membalikkan telapak tangan. Pernah, ia

terang-terangan mendekati Mirah, padahal saat itu Mirah

punya kekasih. Setelah Mirah menikah, Romeo ganti

mengejar Devina, sampai Devina sebal.

“Kita harus bicara, Tan.” Mirah mendekati patio, menatap

abangnya dengan pandangan tajam. Meski enam tahun lebih

muda dari Sultan, ia terbiasa memanggil abangnya dengan

sebutan nama.

Vivian melirik Sultan. Gadis berwajah oriental itu

seakan sudah dapat menerka apa yang hendak dibicarakan

Mirah.

“Kamu mau bicara apa, Sayang?” Sultan bertanya, sambil

menatap adiknya dengan sinar mata menggoda.

“Tentang pikiranmu yang nggak beres,” jawab Mirah,

galak.

“Nggak beres?” Sultan pura-pura mengerutkan kening.

“Jangan main-main, Tan! Aku betul-betul mau bicara!”

Sultan tertawa melihat Mirah mengentakkan kakinya. Ia

menoleh ke arah Romeo. “Coba kamu lihat adikku ini, Rom.

Sudah menikah, tapi manjanya nggak ketulungan. Untung

bukan kamu yang mendapatkan dia. Kalau kamu menikah

dengannya, pasti kamu akan kerepotan menjinakkannya.”

Romeo tertawa lebar.

“Sssh! Jangan diganggu terus,” Vivian menempelkan ujung

jari telunjuknya di depan bibir Sultan. “Nanti dia

marah!”

“Kalau marah kenapa?” Sultan meraih jari Vivian dan

menciumnya dengan lembut.

“Nanti situasinya jadi nggak enak…,” jawab Vivian,

manja. Wanita itu menyandarkan dagu runcingnya ke dahi

Sultan, sambil matanya melirik Mirah. Meski ia melarang

Sultan menggoda Mirah, sikapnya itu seakan diperlihatkan

untuk membuat Mirah bertambah kesal. Sejak dulu memang

begitu. Makin Mirah memperlihatkan rasa tidak sukanya,

makin atraktif pula Vivian memperlihatkan kemesraannya

dengan Sultan.

Devina yang baru tiba bersama Nyonya Fatimah, tertegun

melihat kemanjaan Vivian. Hati Devina serasa

dicabik-cabik melihat lengan kokoh Sultan melingkar

nyaman di pinggang Vivian, yang duduk berpangku kaki di

atas paha kiri Sultan.

“Halo, Devina,” sapa Romeo, genit.

Devina melengos melihat mata Romeo mengerlingnya dengan

tatapa n penuh arti. Sudah kesal melihat kemanjaan

Vivian terhadap Sul tan, kini ia bertambah kesal melihat

ulah Romeo yang menggodanya.

“Apa kabar, Dev?” Sultan menyapa Devina ramah. “Hari ini

kamu kelihatan cantik sekali.”

Devina tersenyum kikuk menanggapi sapaan Sultan. Dadanya

sempat berdebar saat Sultan melontarkan pujian. Tapi,

debar itu lenyap, ketika menyadari bahwa pujian Sultan

hanyalah basa-basi.

Sultan tersenyum pada Davina, yang di matanya memang

terlihat cantik. Blus sutra berwarna hijau lembut

membuat Devina tampak anggun. Tanpa sadar, Sultan

memandangi Davina.

“Sultan!” jerit Mirah, kesal. “Aku mau bicara!”

“Kamu mau bicara apa, sih?” Sultan menatap Mirah dengan

mimik wajah mulai tak sabar. “Kamu kan sudah menikah.

Kalau mau bermanja-manja, temui David saja.”

“Baik,” kata Mirah, sambil mendengus kesal. “Karena kamu

nggak bisa diajak bicara baik-baik, aku akan

mengutarakan maksudku di sini saja. Di depan kedua

temanmu!”

“Silakan,” Sultan menjawab, enteng.

Mirah menggeretakkan gigi, menarik napas dalam-dalam,

sambil matanya menatap Vivian dengan pandangan sangat

tajam. “Aku nggak setuju kamu menikah dengan dia!”

Vivian terkejut bukan main. Wajahnya merah padam.

“Jaga mulut kamu, Mirah!” Sultan membentak marah. Pria

itu lalu menepuk pinggang Vivian dengan lembut. Memberi

tanda agar gadis itu bangkit dari pangkuannya.

“Aku sudah berusaha menjaga mulutku,” kata Mirah, ketus.

“Kamu yang tidak pernah berusaha menjaga sikap.”

“Maksudmu apa?” suara Sultan tak terdengar main-main.

Tampaknya, dia tidak suka melihat Mirah mempermalukan

Vivian.

“Sudahlah, Mirah…,” Nyonya Fatimah menarik tangan Mirah.

“Kamu tidak boleh bersikap kurang ajar terhadap

abangmu.”

“Tapi, Sultan sudah bersikap kurang ajar pada Mami!”

“Jangan begitu, Mirah. Abangmu tak pernah kurang ajar

pada Mami,” kata Nyonya Fatimah, mendinginkan hati

Mirah.

“Dulu memang tidak pernah. Tapi, sekarang?

Menyelenggarakan pernikahan tanpa minta izin Mami lebih

dulu, apa itu bukan kurang ajar namanya? Kalau ia sampai

menikah dengan wanita ini, nantinya Sultan pasti akan

kurang ajar pada Mami. Belum menikah saja Sultan sudah

melangkahi wibawa Mami, hanya karena ingin menikahi

gadis pujaannya ini!”

Plak! Tamparan keras tangan Sultan mendarat di pipi

Mirah!

Mirah mengaduh, sambil memegang pipinya yang merah.

Sepa sang mata besarnya menatap Sultan dengan pandangan

berapi-api.

Sultan terkejut, menyadari dirinya telah memukul adik

kesa yangannya. Ia menatap Mirah dengan menye sal. Tapi,

sebelum ia mengutarakan permintaan maafnya, tangan Mirah

melayang.

Plak! Ganti Sultan yang ditampar oleh Mirah!

“Aku tidak sudi jadi korban telapak tanganmu!” bentak

Mirah, galak. Ia sama sekali tidak terlihat takut,

apalagi menangis. Ia terlalu galak, dan terlalu periang

untuk bersikap cengeng di hadap an orang lain. Tapi,

hatinya hancur karena tidak mengira abang kesayangannya

akan memukulnya seperti itu.

“Ini semua gara-gara kamu!” desis Mirah, sambil matanya

menusuk Vivian dengan pandangan tajam. Setelah itu, ia

membalikkan tubuhnya untuk kembali masuk ke dalam rumah.

“Ayo, Dev, tidak ada gunanya kita di sini!” kata Mirah,

sembari memberi tanda agar Devina mengikutinya. “Mirah

pulang dulu, Mi!”

Devina bimbang sesaat. Matanya menatap Sultan, berharap

agar Sultan mengejar Mirah, menyudahi pertengkaran

mereka dengan permintaan maaf. Ia merasa tidak enak

melihat pertengkaran kakak-beradik itu, yang baru kali

ini terjadi. Tapi, sikap Sultan sama sekali tidak

menunjukkan untuk mengejar Mirah. Dengan kecewa, Devina

membalikkan tubuh, mengikuti Mirah keluar.

“Mirah…,” panggil Nyonya Fatimah, bingung. Di satu sisi,

ia ingin mengejar Mirah dan mencegahnya pergi. Di sisi

lain, ia ingin membujuk Sultan supaya jangan terlalu

marah terhadap adiknya. Ia menghela napas kesal, lalu

mengejar Mirah dan Devina. Namun, sesampainya di beranda

depan rumah, bayangan Mirah dan Devina sudah tak

kelihatan lagi. Ia hanya melihat Parman di posnya,

tengah menutup gerbang dengan remote control.

Sepeninggal Nyonya Fatimah, Vivian segera memeluk lengan

kokoh Sultan, menyandarkan kepalanya di bahu Sultan.

“Tampaknya, adikmu masih tidak menyukai aku,” katanya,

setengah mengeluh.

“Tidak, dia bukannya tidak menyukaimu. Hanya, dia memang

agak sulit dimengerti,” Sultan mengelus kepala Vivian,

mencium rambutnya dengan lembut. “Tidak ada yang perlu

dikhawatirkan, Sayang. Tidak akan ada yang bisa

menghalangi pernikahan kita.”

“Sungguh?” tanya Vivian, sambil menatap Sultan.

“Kamu tidak percaya padaku?”

“Tentu saja, aku percaya. Hanya, aku agak takut jika

setelah menikah nanti, Mami dan adikmu akan memusuhi

aku.”

“Mereka tidak akan melakukan itu padamu. Percayalah.”

Romeo melirik sepasang kekasih itu sekilas. Ada kilatan

iri di bola matanya, tapi ia menyembunyikannya dengan

baik, lalu buru-buru meneguk minumannya untuk

menghilangkan perasaan canggung.

Seakan tidak peduli akan keberadaan Romeo, Sultan

memeluk tubuh Vivian lembut. Tubuhnya terasa bergetar

diguncang oleh perasaan yang luar biasa setiap kali ia

mencium keharuman tubuh kekasihnya. Vivian pun

menyandarkan kepalanya ke dada bidang Sultan dengan

bibir tersenyum. Ia pun merasakan kenyamanan setiap kali

berada di dalam rengkuhan Sultan.

“Ehm!” suara deheman Romeo menyadarkan mereka. Secara

otomatis Sultan dan Vivian sama-sama melepaskan

pe lukan. “Kita mau jalan jam berapa, Vi?” tanya Romeo.

“Kalian mau ke mana?” Sultan bertanya, bingung.

“Ada reuni SMA nanti malam. Kami akan pergi bareng.”

“Wah, jangan bikin aku cemburu, ya,” kata Sultan,

setengah berkelakar. Sebenarnya, ia sama sekali tidak

cemburu pada Romeo. Ia percaya pada Vivian. Kekasihnya

itu telah mengenal Romeo sebelum mengenal dirinya. Jika

Vivian menyukai Romeo, ia pasti sudah menjalin hubungan

asmara dengan Romeo sejak dulu. Lagi pula, Sultan tidak

mudah cemburu gelap mata.

“Kalau terlalu sore, nanti kita terlambat,” kata Romeo.

Sultan tertawa dan meraih pinggang kekasihnya.

“Tampaknya, kamu harus segera pergi, Sayang. Tuan Romeo

sudah tidak sabar lagi ingin bertemu kekasih lamanya di

reuni nanti.”

Vivian tersenyum kecil. “Okay, kita berangkat sekarang.”

Vivian melepaskan pelukannya pada Sultan, mengecup

pipinya sekilas.

“Kuantar kalian sampai ke gerbang,” kata Sultan, bangkit

berdiri.

“Sampai nanti, Sayang!” Vivian melambaikan tangannya.

Romeo langsung menginjak gas, dan meluncur pergi.

“Kamu keterlaluan, Rom,” Vivian menggerutu, setelah

mobil mereka berbaur dengan kepadatan lalu lintas.

“Seharusnya, kamu tidak mengajakku pulang secara

mencolok di depan Sultan!”

“Mencolok bagaimana? Kukira, wajar saja kalau aku

mengajakmu pulang buru-buru. Tidak salah kan kalau aku

mengingatkanmu, supaya kita tidak sampai terlambat?”

“Tapi, aku tidak ingin Sultan tahu kalau kita pergi

bersama!”

“Itu salahmu sendiri. Tadi aku kan cuma mengajakmu

pulang. Sedikit pun aku tidak menyinggung soal reuni.

Kamu sendiri yang mengatakan bahwa kita akan pergi ke

pesta reuni berdua.”

“Itu sudah kepalang basah!” sergah Vivian, kesal.

“Ya, sudah. Yang penting dia tidak cemburu,” kata Romeo,

tak ingin memperpanjang debat kecilnya dengan Vivian.

“Hmm… harum,” Vivian mencium kartu undangan pernikahan,

yang baru selesai dicetak. ”Siapa yang pertama kali kita

undang?”

“Yang pasti, aku akan mengundang Romeo terlebih dahulu.

Soalnya, dia yang mempertemukan kita berdua,” jawab

Sultan, menjawab kalem. “Tanpa dia, undangan ini nggak

akan pernah ada.”

Vivian tertawa kecil. “Kasihan Romeo. Dia mirip anak

kucing yang mengangsurkan ayam goreng miliknya ke

moncong harimau.”

Sultan melirik curiga. “Maksudmu, dia menaruh hati

padamu?”

Vivian tersadar bahwa ia telah salah bicara. “Aku hanya

asal membuat perumpamaan saja, kok,” Vivian buru-buru

membantah. “Jangan diambil hati, ya….”

“Kalau aku tahu dia naksir padamu, dia tidak akan kuberi

kesempatan pergi denganmu. Kenapa baru bilang bahwa dia

mendekati kamu? Apa kamu berencana menggaetnya jadi

kekasih kedua?”

“Siapa bilang dia berusaha mendekati aku? Aku cuma

membuat perumpamaan saja, kok. Memang, dia menaruh hati

padaku. Tapi, sejak aku menjalin hubungan denganmu, dia

tidak pernah coba-coba main gila denganku,” Vivian

berbohong, takut Sultan marah. Ia lalu mengubah sikap

duduknya, sambil mendaratkan ciuman-ciuman kecil di

wajah Sultan.

Hati Sultan luluh. “Sudah, dong. Bahaya, nih!”

Tapi, Vivian malah menggelitik leher Sultan dengan ujung

jarinya. Sultan kaget, bercampur geli. Mobil yang

dibawanya melenceng dari jalur. Dari tikungan curam di

depan mereka, muncul sebuah bus antarkota berukuran

besar dengan kecepatan tinggi.

Refleks, Sultan membuang setirnya ke kiri, hingga

mengeluarkan suara decit di aspal. Dan… braaak! Lolos

dari bus, moncong mobil Sultan tak mampu menghindari

pohon besar. Mobil itu rusak parah di bagian kanan.

Sultan pingsan dengan dada menekan kemudi. Vivian, yang

tak sempat menjerit, tak sadarkan diri.

“Apa? Sultan akan lumpuh?” Nyonya Fatimah terpekik

dengan wajah pucat. Devina dan Mirah berpegangan tangan.

“Tidak, Sultan tidak akan lumpuh,” Dokter Harun

menggeleng, sambil tersenyum. “Dia hanya harus

menggunakan kursi roda, karena kakinya terjepit. Tapi,

tidak akan permanen. Dengan terapi, dalam waktu singkat,

Sultan sudah akan berjalan seperti biasa.”

Semua menarik napas lega. Diam-diam, Devina melirik

tubuh Sultan yang terbaring di atas tempat tidur. Wajah

pemuda itu tampak tampan, jika matanya terpejam seperti

itu. Penuh kasih sayang, digenggamnya jemari Sultan.

Devina memejamkan mata. Getaran kasih sayang yang

mengisi relung hatinya seolah disalurkan melalui

genggaman tangannya pada jemari Sultan. Setelah beberapa

menit, Devina membuka mata, mengamati wajah Sultan.

Sepasang mata Sultan terpejam tak berdaya. Namun, garis

keras di wajah itu masih memperlihatkan kecerdasan dan

keteguhan tekad si empunya wajah.

Perlahan, dilepaskannya jemari Sultan. Dengan ujung

jemarinya, ia membelai kulit lengan Sultan dari bahu

hingga ke pergelangan tangan, lembut. Kulit pria itu

halus, tapi berkesan jantan, karena ditumbuhi rambut

halus. Dada Devina bergetar saat membayangkan dirinya

dalam rengkuhan tangan itu.

Tapi, kemudian ia mendesah, kecewa. Ia sadar, impiannya

itu tidak mungkin jadi kenyataan. Dalam waktu beberapa

minggu, Sultan akan bersanding dengan wanita lain.

“Dev,” suara Mirah mengejutkan Devina. “Sebaiknya, kita

keluar saja, cari angin. Biar Mami yang jaga Sultan di

sini.”

Devina ragu sejenak. Matanya melirik Sultan yang

terbaring diam.

“Kamu nggak usah khawatir. Sultan akan baik-baik saja.”

“Mirah benar, Devina. Kamu berada di sini sejak semalam.

Lebih baik kamu pulang untuk istirahat. Sore nanti baru

kembali lagi,” kata Nyonya Fatimah, sambil menepuk bahu

Devina dengan lembut.

“Baiklah, Tante. Saya mungkin pulang untuk mandi dan

mengisi perut saja,” kata Devina, tersenyum tipis. Ia

mengikuti langkah Mirah yang keluar dari kamar rawat

Sultan setelah berpamitan dengan Nyonya Fatimah. Dalam

diam, mereka berjalan beriringan. Keduanya menunduk,

menekuni kotak-kotak ubin di bangsal rumah sakit, sambil

sesekali menghela napas panjang.

Mirah mendesis. “Sultan kecelakaan pasti karena dia.

Sultan sa ngat disiplin. Saat menyetir, ia pasti

berhati-hati. Tidak mungkin ia mengalami kecelakaan

begitu saja. Pasti ini karena ulahnya.”

“Bisa saja ada faktor lain yang membuat Sultan lengah.”

Mirah menggeleng, sambil menghela napas panjang. Tak mau

percaya pada teori yang dikemukakan Devina. Ia tetap

ngotot.

“Jangan menuduh sembarangan, Mir.”

“Kamu ini memang aneh. Kenapa kau membelanya?”

“Tidak adil rasanya kita menuduh orang secara sepihak.”

Mendadak, Mirah menyenggol lengan Devina, menghentikan

langkahnya dengan tiba-tiba, memonyongkan mulutnya,

menunjuk ke depan koridor yang mereka lalui. “Lihat,

tuh!”

Dari arah yang ditunjuk Mirah, Vivian dan Romeo berjalan

mendatangi. Di tangan Vivian ada seikat mawar merah

cantik.

“Sayang sekali, dia cuma memar.” Tiba-tiba Mirah

menangis.

Vivian dan Romeo yang sudah tiba di hadapan mereka,

berhenti dan menatap Mirah dengan heran. “Selamat

siang,” Romeo menyapa dengan senyumnya yang khas.

“Kenapa, Mir? Apa… Sultan baik-baik saja?”

“Baik-baik apanya?” Mirah menyentak. Air matanya

merebak. Devina heran, bagaimana Mirah yang tadinya

bersikap biasa-biasa saja, tiba-tiba menangis sedih

seperti itu.

“Dia lumpuh seumur hidup!” suara Mirah menyentak.

Vivian dan Romeo kaget. Devina juga.

“Tapi…,” Devina hendak membantah, tapi Mirah menginjak

kaki gadis itu dengan cepat. Hampir saja Devina

menjerit,.

“Untung kamu datang,” Mirah menggenggam tangan Vivian.

Tapi, dengan cepat Vivian menarik tangannya kembali.

“Sultan seharian menanyakanmu. Sultan ingin bertanya

padamu, apakah kamu masih tetap mau menikah dengannya

setelah ia lumpuh?”

Wajah Vivian yang agak pucat, bertambah pucat. Ia

kelihatan gugup dan terkejut. Tapi kemudian, dengan

galak ia membantah ucapan Mirah. “Omong kosong!”

katanya, ketus. “Semalam Sultan baik-baik saja.

Bagaimana mungkin ia bisa mendadak lumpuh?”

“Kamu boleh melihatnya, kalau tidak percaya,” Mirah

menarik tangan Vivian. “Ayo, dia sudah menunggumu di

atas kursi roda.”

Vivian menepiskan tangan Mirah, melangkah mundur. “Dulu

kamu terang-terangan menentang aku. Sekarang, setelah

Sultan lumpuh, kamu malah menjodohkan aku dengannya.”

“Sultan hanya mencintaimu, Vi. Tolonglah… dia

membutuhkan kehadiranmu…,” Mirah memohon dengan wajah

memelas.

Sejenak Vivian berdiri bimbang. Entah apa yang ada di

pikirannya. Tapi, ia tampak ragu memenuhi ajakan Mirah.

Mendadak, ia membalikkan tubuh. Kaki jenjangnya

melangkah terburu-buru. Bunga di tangannya dilempar ke

tempat sampah di sisi bangsal. .

“Nah, kamu lihat sendiri, ‘kan…,” kata Mirah, dengan

senyum kemenangan. “Dia bukan gadis yang tepat untuk

Sultan.”

Ketika tiba di rumahnya, Vivian segera keluar dari mobil

dan berlari masuk ke dalam rumah. Panggilan Romeo sama

sekali tidak digubris olehnya. Tapi, dengan langkah kaki

yang panjang, Romeo berhasil menangkap Vivian.

“Pulanglah, Rom!” Vivian melepaskan tangan Romeo. “Aku

butuh waktu untuk menyendiri.”

Romeo menggeleng. “Aku akan di sini menemanimu. Aku bisa

jadi teman bicaramu. Aku tahu bagaimana perasaanmu saat

ini.”

“Kamu tahu?” Vivian mengangkat alis. “Kamu tidak

memiliki kekasih yang mendadak lumpuh, bagaimana mungkin

kamu bisa tahu perasaanku? Sudahlah, kamu jangan

macam-macam. Aku sedang tidak ingin berdebat!”

“Aku bukan mau berdebat, Vi. Malah, aku menyediakan

diriku untuk menjadi tempat berkeluh kesah bagimu.”

“Aku tidak perlu tempat untuk berkeluh kesah!”

Romeo meraih tubuh Vivian. Ia memegang kedua bahu gadis

itu, hingga mereka berdua berdiri berhadapan dan saling

tatap.

“Pandang aku, Vi,” Romeo berkata lembut. “Perhatikan

diriku baik-baik.” Sejenak Romeo merasa bergetar. Dalam

keadaan terguncang pun, Vivian terlihat cantik. Semua

yang ada pada diri gadis itu membuat jantung Romeo

melonjak-lonjak tak keruan.

“Aku ini teman baikmu,” kata Romeo, setengah berbisik.

“Apa pun yang kamu rasakan, aku turut merasakannya.

Jangan kamu sembunyikan kesedihanmu. Aku tahu kamu

kecewa. Tapi, izinkan aku menghiburmu. Izinkan aku

menjadi curahan hatimu.”

Vivian mendesah. Mata indahnya mengerjap lesu.

Kebimbangan dan kesedihan yang menggayuti hatinya

terlukis jelas di wajahnya. Beberapa detik lamanya, ia

tak sanggup berkata apa-apa. Tapi, kemudian, ia

menjatuhkan kepalanya ke dada Romeo. Tangisnya pecah

seketika. Dadanya turun-naik karena sesak. Beberapa

tetes air matanya membasahi baju Romeo.

“Aku tidak mengerti, kenapa Sultan harus lumpuh?”

Romeo membelai punggung Vivian untuk memberikan

kekuat an. “Tidak ada yang menduga akan terjadinya

bencana ini.”

“Tapi… aku tidak mungkin memiliki suami berkaki lumpuh.

Tidak mungkin, Romeo…,” keluh Vivian.

Seulas senyum tipis mengembang di bibir Romeo. Senyum

yang tidak mungkin dapat dilihat oleh Vivian. Inilah

yang diharapkan Romeo sejak dulu. Ini kesempatannya

merebut cinta Vivian! Tapi, tentu saja, kegembiraan ini

tidak diperlihatkan pada gadis yang tengah menangis di

bahunya.

“Kenapa kamu berkata seperti itu?” kata Romeo,

berpura-pura lembut. “Bukankah kamu mencintai Sultan?”

“Ya, tapi bukan berarti aku mau menikah dengan orang

lumpuh!” sentak Vivian, kesal. Gadis itu melepaskan

dirinya dari pelukan Romeo. “Sudahlah, lebih baik kamu

pulang saja, Rom. Kamu tidak akan mengerti perasaanku!”

“Siapa bilang aku tidak mengerti? Kamu ingin membatalkan

pernikahanmu dengannya. Iya, ’kan?”

“Bukan begitu, aku cuma…,” Vivian menggantung

kalimatnya. Ia mendesah beberapa kali dengan wajah

bimbang.

“Kenapa bingung? Kalau tidak mau menikah dengannya,

katakan saja dengan jujur. Toh, tidak ada yang berhak

memaksamu.”

Vivian menatap wajah Romeo. Ia lalu tercenung. Rasanya,

sulit membayangkan ada pria lain yang lebih baik

daripada Sultan. Vivian tidak dapat melupakan, betapa

lembutnya Sultan memperlakukan dirinya. Betapa indah

masa-masa bahagianya. Tapi, sekarang Sultan lumpuh.

Vivian tidak dapat membayangkan dirinya bersanding di

pelaminan bersama pria lumpuh. Ia bergidik, membayangkan

harus mendorong kursi roda seumur hidup.

Vivian memejamkan matanya beberapa saat. Sentuhan tangan

Romeo di bahu Vivian membuatnya membuka mata. “Kalau

kamu tidak berani membatalkan pernikahanmu dengan

Sultan, biar aku yang menyampaikannya kepada Sultan.

Bagaimana?”

Vivian ingin menyetujui usul Romeo itu. Tapi, sebagian

dari dirinya berat untuk mengucapkan selamat tinggal

pada Sultan.

Setengah terisak, ia menjatuhkan dirinya ke pelukan

Romeo. “Katakan padanya dengan lembut, Romeo. Katakan

bahwa aku hanya manusia biasa. Aku tidak sanggup

menerimanya, kalau… kalau… ia duduk di kursi roda.”

Romeo tersenyum puas. Ia memeluk tubuh Vivian, sambil

meng hela napas lega. Dengan lembut, ia membelai rambut

Vivian. Bau harum yang keluar dari rambut gadis itu

menggetarkan seluruh pembuluh nadinya. Darahnya

berdesir, jantungnya berpacu cepat. Ia menundukkan

kepalanya, mengecup kepala Vivian. Tangan kokohnya

mempererat pelukannya.

Sepulang dari rumah sakit, Sultan hanya tersenyum kecil

ketika disambut oleh para pembantu rumah itu. Ia

memegang tangan Mirah dan Nyonya Fatimah, yang

membantunya memindahkan tubuhnya dari mobil ke kursi

roda.

“Bagaimana pabrik dan galeri kita, Mi? Semuanya lancar?”

“Baru kembali dari rumah sakit, kok, sudah bertanya soal

pekerjaan. Nggak ada soal lain yang lebih menarik?”

celetuk Mirah.

Sultan meringis. Tentu saja ia ingin bertanya soal lain.

Terutama, soal Vivian yang tidak pernah menjenguknya.

Tapi, apa ibu dan adiknya mau menjawab pertanyaannya

itu? Rasanya, tidak. Ada sedikit kecurigaan di benak

Sultan. Jangan-jangan, ibu dan adiknya menghalangi

Vivian datang. Tapi, rasanya, kecurigaan itu sangat tak

beralasan. Lagi pula, Vivian keras kepala. Kalaupun

kedatangannya dihalangi, ia pasti akan tetap bisa

menjenguknya.

“Kamu tahu nggak, selama kamu pingsan, ada seseorang

yang sangat setia menunggumu?” bisik Mirah, di telinga

abangnya.

“Siapa? Vivian?” tanya Sultan, bersemangat.

Mirah cemberut. “Aku nggak pernah lihat Vivian

menjengukmu, apalagi menungguimu. Yang selalu di sisimu

justru Devina!”

Sultan mengerutkan alis lebatnya. Di mata Sultan, Devina

memang gadis yang menarik. Wajahnya cantik, tutur

katanya sopan dan lembut, sangat cerdas, dan memiliki

kesabaran luar biasa. Tak bisa dipungkiri bahwa ia

sempat jatuh hati padanya. Tapi, sejak bertemu

Vivian.... Bagi Sultan, dia sangat istimewa. Bahkan,

pesona yang dipancarkan Vivian mampu memupus daya tarik

Devina, yang nyaris berhasil menjerat cinta Sultan.

“Halo…,” sebuah suara menyapa lembut. Devina. “Apa

kabar? Senang, ya, bisa kembali ke rumah?”

“Tentu,” jawab Sultan, ramah. Ia tidak melihat ibu dan

adiknya di belakang kursi rodanya. Entah sudah kabur ke

mana mereka.

Sultan menatap Devina dengan mata tajamnya. Tatapan yang

penuh selidik, membuat rikuh yang ditatap. Pria itu

heran mendengar Devina membuat puding cokelat untuknya.

Rupanya, hubungan gadis itu dengan Nyonya Fatimah sudah

sedemikian dekatnya, hingga ia bisa bebas memakai

dapurnya.

“Mamimu mengizinkan aku meminjam dapurnya,” kata Devina,

seakan bisa menerka pertanyaan di benak Sultan. “Mirah

mengatakan bahwa kamu sangat suka puding cokelat.”

Lagi-lagi mereka, keluh Sultan dalam hati. Entah apa

lagi yang akan dilakukan mereka untuk menjodohkan ia dan

Devina.

“Kamu mau kan mencicipi puding buatanku?” tanya Devina.

Sultan mengembangkan senyumnya. Meski ia tidak setuju

pada rencana ‘perjodohan’ ibu dan adiknya, ia merasa

harus tetap bersikap ramah terhadap Devina. Tidak adil

jika memperlakukan Devina dengan sikap dingin, hanya

karena ingin menjaga jarak. Apalagi, sikap Devina selalu

penuh perhatian.

“Boleh aku bantu mendorong kursi rodamu?” tanya Devina.

“Tidak usah,” kata Sultan, mencegah Devina yang sudah

hendak mendorong kursi rodanya. “Ini otomatis. Aku cukup

menekan satu tombol, kursi ini bisa berjalan sendiri.

Bisa kukendalikan ke mana saja aku mau,” kata Sultan,

sambil mempraktikkan kata-katanya. Sultan sengaja

berputar-putar di ruang tamu, hingga Devina tertawa

terpingkal-pingkal.

Mirah dan Nyonya Fatimah mengintip dari dapur, sambil

tersenyum. “Sebaiknya, jangan kamu beri tahu Sultan

tentang telepon Romeo tadi. Nanti dia kaget mendengar

pembatalan sepihak dari Vivian. Kamu tahu, abangmu

tergila-gila padanya. Biar saja Sultan lebih dekat pada

Devina, melupakan Vivian sedikit demi sedikit.”

“Mudah-mudahan saja Devina bisa menggunakan peluang ini

untuk merebut perhatian Sultan,” gumam Mirah.

“Kamu mau menolongku, Dev?” tanya Sultan. “Tolong

panggilkan Parman dan Kemis untuk membantuku naik.”

“Baiklah. Kamu tunggu saja di ruang tengah. Dekat

tangga.”

Devina segera mencari Parman di pos jaga, lalu memanggil

Kemis yang masih asyik dengan rumput liarnya. Mereka

lalu membantu Sultan naik ke lantai dua untuk masuk ke

kamar barunya. Sebenarnya, ketika mengetahui bahwa

Sultan akan memakai kursi roda selama beberapa lama,

Nyonya Fatimah ingin memindahkan kamarnya ke lantai

bawah, tapi Sultan menolak. Ia merasa sudah sangat

nyaman dengan kamar barunya.

Kamar baru Sultan adalah dua kamar tidur yang digabung

menjadi satu. Tadinya, kamar itu merupakan kamar tidur

tamu. Tembok pemisah dua kamar itu lalu dibongkar

menjadi satu kamar besar. Di kamar itu telah terdapat

beberapa ’penghuni’ baru, seperti ranjang, meja rias

untuk wanita, dan beberapa benda lain, yang baru dibeli

Sultan untuk Vivian. Rencananya, setelah menikah, ia dan

Vivian akan menempati kamar baru itu. Dekorasi di dalam

kamar juga merupakan dekorasi pilihan Vivian, dengan

dominasi warna jingga, warna kesukaan Vivian.

Setelah Parman dan Kemis me nutup pintu kamar dari luar,

Sultan merebahkan diri. Pikirannya menerawang dan jadi

kacau karena selalu teringat pada Vivian. Seharusnya,

pernikahan mereka akan berlangsung dua minggu lalu.

Tapi, hingga kini, Sultan tidak dapat menghubungi

Vivian. Selama di rumah sakit, Sultan beberapa kali

berusaha meng hubungi Vivian melalui ponselnya.

Sepasang mata Sultan tertumbuk pada setumpuk kartu

undang an pernikahannya di sudut meja kerja. Dari sekian

banyak kartu undangan, belum ada satu pun yang disebar.

Padahal, tempat pesta sudah dipesan. Sultan menarik

kakinya ke atas tempat tidur, lalu meraih pesawat

telepon di meja kecil dekat ranjang.

Sampai beberapa kali Sultan menelepon rumah Vivian, tapi

tidak ada yang mengangkat pesawat telepon di seberang

sana. Sultan menghubungi telepon di kamar Vivian. Juga

tak ada yang mengangkat. Lesu, Sultan menutup

teleponnya, kembali membanting kepalanya ke permukaan

ranjang.

“Vivian?” suara Romeo terdengar, ketika pintu kamar

Vivian terbuka. Isak tangisnya terhenti. Vivian

mengangkat wajahnya dan memandang ke pintu dengan

terkejut. Ia buru-buru menghapus air matanya, ketika

wajah Romeo muncul dari balik pintu.

“Kenapa di sini?” Kesedihannya yang terpotong membuat

Vivian marah. Tapi, Romeo tidak tersinggung. Ia kasihan

melihat Vivian memakai gaun pengantin yang terkoyak,

bersimbah air mata?

“Pergi! Aku benci melihatmu!” Vivian berteriak.

Romeo berdecak. Ia agak bingung melihat Vivian yang

tampak seperti orang kehilangan akal itu. Tapi, ia tetap

tidak pergi.

“Aku mencoba menghubungimu beberapa hari terakhir ini.

Tapi, kamu tidak pernah mau mengangkat telepon dariku.

Jadi, aku ingin menengokmu.”

Romeo memandang wajah Vivian, yang pucat seperti orang

sakit. Mata gadis itu tidak bersinar tajam seperti

biasa. Malah, kelopaknya sedikit bengkak, karena terlalu

sering menangis. Rambutnya acak-acakan.

“Aku dengar dari pembantumu, kamu selalu mengurung

diri,” kata Romeo, tanpa memedulikan bentakan Vivian.

“Kupikir, kamu sedih karena rencana pernikahanmu gagal.

Aku coba menghubungi ayah mu. Tapi, beliau sedang ke

Malaysia mengurus bisnis. Jadi, aku memberanikan diri

masuk ke sini. Mudah-mudahan kamu tidak keberatan.”

“Aku tidak butuh perhatianmu. Pergi!” Vivian berusaha

mendorong Romeo, tapi Romeo menangkap tangannya dengan

sigap.

“Kamu panik, Sayang,” kata Romeo, lembut. “Kamu merasa

tertekan karena situasi ini.”

Vivian berusaha melepaskan diri dari genggaman Romeo.

Tapi, Romeo mencengkeram le ngan nya keras, hingga ia

kesakitan. Vivian mendengus. Ia sangat marah karena

keadaan telah membuat Sultan lumpuh dan tidak mungkin

jadi suaminya. Ia juga marah pada dirinya karena tidak

bisa melupakan Sultan.

Romeo menarik Vivian ke dalam pelukannya. Dengan lembut

ia membelai punggung Vivian. Ketika tangannya menyentuh

kulit yang halus dan lembut, darahnya berdesir.

Jantungnya berdebar keras. Bulu kuduknya meremang.

Vivian menjatuhkan diri ke pelukan Romeo.

“Aku bingung, Romeo…,” keluh Vivian. “Aku sangat

mencintainya.”

Romeo gemas, merasa marah bercampur cemburu. “Kamu harus

melupakan dia!” kata Romeo, dengan mata berapi-api.

“Sesulit apa pun, kamu harus tetap berusaha melupakan

dia!”

“Tapi, bagaimana aku bisa hidup tanpa dia?”

Vivian sama sekali tidak curiga bahwa belaian Romeo

bukan lagi belaian simpati seorang sahabat. “Kamu

memiliki aku, Vi….”

Vivian mengangguk. “Jangan tinggalkan aku sendirian.”

“Aku tidak akan meninggalkanmu, Vi,” bisik Romeo, seraya

mempererat pelukannya. “Karena, aku mencintaimu.”

Vivian terperanjat. Ia melepaskan dirinya dari pelukan

Romeo dan mundur beberapa langkah. “Tapi, bukan itu

maksudku,” kata Vivian “Aku hanya menginginkan kamu

sebagai teman.”

“Kenapa hanya sebagai teman?”

Vivian diam. Romeo tidak berlama-lama membiarkan Vivian

bimbang. Ia mendaratkan sebuah ciuman.

“Vivian?” suara Romeo terdengar, ketika pintu kamar

Vivian terbuka. Isak tangisnya terhenti. Vivian

mengangkat wajahnya dan memandang ke pintu dengan

terkejut. Ia buru-buru menghapus air matanya, ketika

wajah Romeo muncul dari balik pintu.

“Kenapa di sini?” Kesedihannya yang terpotong membuat

Vivian marah. Tapi, Romeo tidak tersinggung. Ia malah

kasihan melihat Vivian memakai gaun pengantin yang

terkoyak, sambil bersimbah air mata.

“Pergi! Aku benci melihatmu!” Vivian berteriak.

Romeo berdecak. Ia agak bingung melihat Vivian yang

tampak seperti orang kehilangan akal. Tapi, ia tetap

tidak keluar dari kamarnya.

“Aku mencoba menghubungimu beberapa hari terakhir ini.

Tapi, kamu tidak pernah mau mengangkat telepon dariku.

Jadi, aku ingin menengokmu.”

Romeo memandang wajah Vivian, yang pucat seperti orang

sakit. Mata gadis itu tidak bersinar seperti biasa.

Malah, kelopaknya sedikit bengkak, karena terlalu sering

menangis. Rambutnya pun acak-acakan.

“Aku dengar dari pembantumu, kamu selalu mengurung

diri,” kata Romeo, tanpa memedulikan bentakan Vivian.

“Kupikir, kamu sedih karena rencana pernikahanmu gagal.

Aku mencoba meng hubungi ayahmu. Tapi, beliau sedang ke

Malaysia mengurus bisnis. Jadi, aku memberanikan diri

masuk ke sini. Mudah-mudahan kamu tidak keberatan.”

“Aku tidak butuh perhatianmu. Pergi!” Vivian berusaha

mendorong Romeo, tapi Romeo menangkap tangannya dengan

sigap.

“Kamu panik, Sayang,” kata Romeo, lembut. “Kamu merasa

tertekan karena situasi ini.”

Vivian berusaha melepaskan dirinya dari genggaman Romeo.

Tapi, Romeo mencengkeram lengannya keras, hingga ia

merasa kesakitan. Vivian mendengus. Ia sangat marah,

karena keadaan telah membuat Sultan lumpuh dan tidak

mungkin jadi suaminya. Ia juga marah pada dirinya karena

tidak bisa melupakan Sultan.

Romeo menarik tubuh Vivian ke dalam pelukannya. Dengan

lembut ia membelai punggung Vivian. Ketika tangannya

me nyen tuh kulit yang halus dan lembut, darahnya

berdesir. Jantungnya berdebar keras. Bulu kuduknya

meremang. Vivian menjatuhkan diri ke pelukan Romeo.

“Aku bingung, Romeo…,” keluh Vivian. “Aku mencintainya.”

Romeo gemas, merasa marah bercampur cemburu. “Kamu harus

melupakan dia!” kata Romeo, dengan mata berapi-api.

“Sesulit apa pun, kamu harus tetap berusaha melupakan

dia!”

“Tapi, bagaimana aku bisa hidup tanpa dia?”

Vivian sama sekali tidak curiga bahwa belaian Romeo di

tubuhnya bukan lagi belaian simpati seorang sahabat.

“Kamu memiliki aku, Vi….”

Vivian mengangguk. “Jangan tinggalkan aku sendiri.”

“Aku tidak akan meninggalkanmu, Vi,” bisik Romeo, seraya

mempererat pelukannya. “Karena, aku mencintaimu.”

Vivian terperanjat. Ia melepaskan dirinya dari pelukan

Romeo dan mundur beberapa langkah. “Tapi, bukan itu

maksudku,” kata Vivian, tergagap. “Aku hanya

menginginkan kamu sebagai teman.”

“Kenapa hanya sebagai teman?”

Vivian terdiam. Romeo tidak berlama-lama membiarkan

Vivian bimbang. Tiba-tiba ia mendaratkan sebuah ciuman.

Sultan menutup telepon dengan gelisah. Entah sudah

berapa kali ia menghubungi Vivian, tapi tak juga

berhasil. Kalau saja punya sayap, mau rasanya Sultan

terbang tinggi dan pergi menemui Vivian. Namun, kakinya

yang lumpuh tak lagi bisa membuatnya ’terbang’ sesuka

hati.

Pernah terpikir oleh Sultan untuk meminta bantuan Nyonya

Fatimah atau Mirah, untuk mencarikan kabar tentang

Vivian. Tapi, ia sadar bahwa ibu dan adiknya itu tidak

menyukai Vivian. Kalaupun mereka mau membantunya,

pastilah karena terpaksa, hanya agar bisa menyenangkan

pria yang duduk di kursi roda. Ia tidak ingin itu

terjadi.

Sultan duduk tercenung di atas kursi roda, sambil

menatap pesawat telepon dengan pandangan nanar.

Pikirannya galau, dipenuhi rasa bingung dan khawatir

atas sikap Vivian yang tidak pernah menemuinya lagi.

Ragu-ragu, Sultan kembali mengangkat gagang teleponnya,

dan memutar nomor telepon rumah Romeo. Terdengar jawaban

dari seberang sana.

“Rom!” seru Sultan. “Ini aku, Sultan! Aku mencoba

menghubungimu dua hari terakhir ini, tapi kamu tidak

pernah ada. Ke mana saja? Sibuk?”

“Begitulah,” jawab Romeo, sumbang. “Aku sedang mengurus

beberapa paket barang yang baru tiba dari Rusia.”

“Wah, sedang panen order, ya?”

Romeo tertawa. “Bisa saja kamu, Tan.”

Sultan ikut tertawa. Tapi, ia merasakan kejanggalan pada

percakap annya dengan Romeo. Sepertinya, Romeo agak

kaku, seakan ada sesuatu yang disembunyikan olehnya.

“Rom, aku ada perlu denganmu,” Sultan memutuskan untuk

tak berpanjang lebar lagi. “Aku mau tanya soal Vivian.”

Diam sejenak. Tak terdengar jawaban apa-apa dari Romeo.

Ini aneh, sebab biasanya Romeo selalu tertawa, bila

Sultan menanyakan kabar Vivian padanya. Malah, terkadang

Romeo melemparkan lelucon spontan untuk menggoda Sultan

yang tergila-gila pada Vivian.

“Romeo?” Sultan memanggil namanya. Sayang, saat itu

Sultan tidak bisa melihat reaksi Romeo. Kalau saja ia

berhadapan dengan Romeo, ia pasti akan dapat melihat

wajah Romeo yang mendadak pucat dan agak gugup.

“Apa yang mau kamu tanyakan?” beberapa detik kemudian,

barulah suara Romeo terdengar. Kaku.

“Sudah lama aku tidak bertemu dengannya. Aku benar-benar

khawatir dengan keadaannya, Rom. Aku dengar, keadaannya

baik-baik saja dan hanya menderita sedikit memar saat

kecelakaan. Tapi, aku belum puas kalau belum melihatnya

sendiri.”

“Kamu tidak perlu khawatir. Memang dia agak memar, tapi

sekarang sudah sembuh. Lebih baik kamu pikirkan saja

kesehat anmu sendiri.”

“Aku belum merasa sehat, kalau belum bertemu Vivian,”

kata Sultan, setengah bergurau.

“Tapi, seharusnya kamu tahu, kalau kamu bertemu lagi

dengan Vivian, segalanya akan kacau. Ia bisa sedih dan

merasa canggung.”

“Maksudmu?” Sultan mengerutkan alis, tak mengerti.

“Maksudku jelas. Vivian tak mau bertemu denganmu lagi.”

“Jangan bercanda, Rom. Situasiku saat ini sedang tidak

dalam suasana yang bisa diajak berkelakar seperti itu.”

“Aku tidak bercanda. Vivian memang tidak bisa menemuimu

sementara ini. Mungkin juga dia tidak akan mau bertemu

denganmu selamanya.”

“Aku tidak mengerti maksudmu,” Sultan jadi panik.

“Pernikah anku dengan Vivian hanya tinggal beberapa hari

lagi. Banyak persiapan yang belum kami lakukan. Karena

itu, aku harus segera bertemu dengannya!”

“Pernikahan? Kamu belum diberi tahu ibumu?”

“Diberi tahu apa?” Sultan jadi tegang.

“Vivian telah membatalkan rencana pernikahan kalian.”

Sultan terdiam, tak bisa berkata-kata.

“Sebaiknya, kamu tanyakan pada ibumu atau adikmu. Aku

telah menyampaikan niat Vivian itu kepada mereka.” Suara

Romeo terdengar tenang. Padahal, keringat dingin

membanjiri tubuhnya. Ia lebih suka jika Sultan

mengetahui pembatalan ini dari Nyonya Fatimah atau

Mirah. Meski ia senang pernikahan itu dibatalkan, ia

merasa janggal menyampaikannya kepada Sultan.

“Vivian membatalkan pernikahan?” Sultan bergumam seperti

orang linglung. Antara percaya dan tidak. “Tapi… apa

alasannya?”

“Aku tidak dapat mengatakannya padamu.”

Klik! Romeo memutuskan sambungan telepon. Suara dengung

dari pesawat telepon segera memenuhi ruang di telinga

Sultan. Berkali-kali Sultan mencoba lagi menghubungi

Romeo, tapi gagal.

Lemas, Sultan bersandar di kursi. Napasnya sesak. Dia

kaget, panik, tak mengerti maksud Romeo tentang

pembatalan pernikahan secara sepihak itu.

“Mamiii!” Sultan berseru keras, sambil memutar kursi

rodanya. Ia ingin mencari ibunya untuk meminta

penjelasan, tentang hal yang baru didengarnya dari

Romeo. Tapi, ia terpaku melihat Devina berdiri di

depannya.

“Hai,” Devina menyapa Sultan, lembut.

Tanpa membalas senyum gadis itu, Sultan kembali memacu

kursi rodanya. “Mamiii!” panggil Sultan sekali lagi.

Tapi, ia tidak mene mukan ibunya di rumah mewah itu.

Ruang tamu, ruang baca, kamar tidur, semua kosong.

“Sultan?” suara Devina mengejutkan Sultan. “Ini jam

kerja,” kata Devina. “Ibumu sedang di kantor.”

Sultan tersenyum kecut. Ia tidak ingat bahwa ibunya

tengah berada di kantor perusahaan mereka. Wanita itu

menggantikan posisinya di kantor, sementara ia sibuk

menjalani terapi untuk penyem buhan kakinya.

“Kamu bisa meneleponnya, kalau kamu mau bicara dengan

beliau,” kata Devina lagi. “Mau kusambungkan?”

“Tidak. Tidak usah, terima kasih,” Sultan buru-buru

menggeleng. Ia tidak ingin Devina mendengarkan

pembicaraan dengan ibunya nanti. Terutama, karena yang

ingin dibicarakan adalah tentang Vivian. Sebuah

pembicaraan yang sangat pribadi.

Devina juga mengerti, mengapa Sultan menolak tawarannya.

Ia sudah menduga apa yang akan dibicarakan Sultan dengan

Nyonya Fatimah, karena ia mendengar pembicaraan Sultan

dengan Romeo di telepon tadi. Apalagi, ia juga sudah

diceritakan Mirah tentang niat Vivian membatalkan

pernikahan.

Rasa iba muncul di benak Devina melihat kekecewaan

Sultan. Ia baru menyadari bahwa Sultan sangat mencintai

Vivian. Tapi, di lain sisi, gadis itu juga senang,

karena mendapat peluang merebut cinta Sultan.

“Kamu datang dengan siapa?” tanya Sultan.

“Sendiri,” sahut Devina.

“Tidak bersama Mirah?” pertanyaan Sultan bernada tajam.

Tatapan matanya juga menusuk tepat di jantung Devina,

membuat gadis itu merasa sedih dan tidak enak hati.

“Kamu tahu, Mirah tidak ada di sini. Mami juga berada di

kantor setiap jam kerja seperti ini. Lalu, mengapa kamu

datang sendirian ke sini?” tanya Sultan. Nada suaranya

lebih mirip tuduhan ketimbang pertanyaan.

“Aku datang ke sini atas permintaan ibumu,” Devina

berusaha bersikap setenang mungkin, meski ia gugup

mendengar pertanyaan Sultan yang bernada menusuk.

“Beliau memintaku untuk menemanimu ke tempat

fisioterapi.”

“Mengantarku pergi terapi?” Sultan mengerutkan kening.

“Apa kamu tidak punya kegiatan lain sehingga mau

mengantarkan aku pergi terapi? Atau… apa kamu sengaja

bolos kerja untuk meme nuhi permintaan mamiku?”

Lagi-lagi pertanyaan yang bernada pedas. Devina mengeluh

dalam hati. Tapi, ia memahami perasaan Sultan yang

sedang kacau.

“Kebetulan, aku sedang cuti selama 2 minggu. Mirah juga

sedang menghadiri suatu acara bersama suaminya. Karena

itu, aku bisa memenuhi permintaan ibumu.”

Sultan mendehem. Matanya tidak lagi bersorot tajam. Ia

tidak berniat terus mencecar Devina dengan

pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan. Apalagi, ia tahu

bahwa Devina tidak dapat disalahkan hanya karena memberi

perhatian padanya. Malah seharusnya ia berterima kasih

pada gadis itu atas perhatian yang diterimanya.

“Jadi, kamu benar mau mengantarkanku?” tanya Sultan.

Devina mengangguk. Sultan tersenyum. Sebuah pikiran baru

menyelinap, pikiran yang membuatnya bisa bertemu Vivian.

“Kamu baik sekali mau mengantar aku. Tentu kamu tidak

keberatan jika aku meminta satu pertolongan lagi darimu.

Pertolongan kecil saja,” kata Sultan, penuh taktik.

“Pertolongan apa?”

“Tolong temani aku ke rumah Vivian, sebelum ke rumah

sakit.”

Mata Devina terbelalak. Mengantar Sultan ke rumah Vivian

adalah hal yang tak pernah diinginkan Devina sepanjang

hidupnya. Bagaimana mungkin ia sanggup mengabulkan

permintaan Sultan?

“Kamu mau, ‘kan?” tanya Sultan, setengah membujuk.

Devina tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Ia

menatap Sultan dengan pandangan setengah tak percaya.

Mestinya, Sultan tahu bahwa ia menaruh hati padanya dan

tidak dengan kejam menyuruhnya mengantar ke rumah

Vivian.

“Aku tidak bisa.” Suara Devina terdengar datar. “Mami

dan adikmu pasti marah jika mengetahui bahwa aku

mengantarmu ke rumah Vivian.”

“Mereka tidak akan tahu, kalau tidak diberi tahu. Hanya

kita berdua yang tahu soal ini. Yang jelas, aku tidak

akan membocorkannya pada mereka.”

Devina diam. Perasaannya terluka. Ia benar-benar tak

mengerti, mengapa Sultan melakukan ini padanya.

“Tolonglah....” Sultan menyentuh tangan Devina,

mengejutkan gadis yang sedang bimbang, sekaligus kecewa.

Sultan bukannya tidak tahu tentang perasaan Devina.

Tapi, tak ada jalan lain baginya, selain melakukan itu.

“Kamu mau kan menolongku?” desak Sultan lagi.

Devina menggeleng. “Maaf, kali ini aku tidak bisa

menolongmu.”

“Memangnya kenapa, Dev?” Sultan kecewa. “Bukankah

permintaanku ini tidak sulit dipenuhi?”

Tidak sulit dipenuhi? Devina tersenyum pahit dalam

hatinya. Permintaan Sultan kali ini bukan hanya dirasa

sulit, tetapi juga sangat menyakitkan.

Sultan menghela napas panjang. Meski Devina tidak

menjawab pertanyaannya, sikap diam gadis itu sudah cukup

jadi jawaban. Devina tak mungkin mau membantunya kali

ini. Itu berarti, pupus sudah harapannya untuk dapat

bertemu Vivian.

Kursi kurang ajar! Braaak! Dengan gemas, Sultan

memukulkan tinjunya ke sandaran tangan kursi rodanya.

Gara-gara kursi itu ia tak dapat menemui kekasih

hatinya. Suara itu mengejutkan Devina. Sepasang mata

indahnya mengerjap, menatap Sultan. Kekecewaan yang

dalam tergambar jelas di wajah Sultan. Agaknya, pria itu

betul-betul mengharapkannya.

Devina tak tahan melihat gurat kekecewaan di wajah

tampan itu. Ia tak tahan melihat perasaan menderita di

wajah Sultan. Sungguh, apa pun akan dilakukannya agar

dapat menghapus kekecewaan dan kesedihan itu. Apa pun.

”Baiklah,” Devina akhirnya mendesah, “aku akan

mengantarmu.”

Sultan menatapnya. Ia tidak mengira Devina akan berubah

pikiran. Ia memandang wajah Devina beberapa saat, agar

ia merasa yakin pada apa yang didengarnya. Ia melihat

ketulusan di mata Devina. Ketulusan yang disertai cinta

dan kasih sayang.

“Terima kasih, Devina,” suara Sultan jadi serak karena

terharu.

Mata Devina mengerjap sesaat, ketika melihat kegembiraan

di wajah Sultan. Biarlah, gumam gadis itu dalam hati.

Biarlah ia mendapatkan sebuah kekecewaan, asalkan Sultan

dapat merasa berbahagia.

Devina mengendarai mobil Sultan, memasuki Nusa Indah

Permai, kawasan perumahan elite yang memiliki jalur

pejalan kaki yang teratur. Pepohonan pun diatur

sedemikian apik. Beberapa pohon perdu yang menyejukkan,

diselingi beraneka pohon bunga yang terpangkas rapi,

tampak menyejukkan mata.

Sultan duduk di sisi Devina dengan tenang. Kadang-kadang

ia memberi tahu Devina, jalan mana saja yang harus

dilalui. Tak berapa lama, mobil Sultan tiba di depan

sebuah rumah besar berarsitektur modern.

“Ini rumah Vivian?” Devina bertanya, setengah takjub.

Sultan mengangguk, bangga. Ia selalu membanggakan apa

pun yang dimiliki Vivian. Sementara mulut Devina terasa

pahit seketika. Sekarang ia mengerti mengapa Sultan

selalu memandang sebelah mata padanya. Ternyata, jika

dibandingkan dengan Vivian yang hidup bak putri raja di

negeri dongeng, ia memang bukan siapa-siapa.

“Aku harus membunyikan klakson, atau menekan bel pintu?”

tanya Devina, dengan suara lemah.

“Kamu tidak usah melakukan keduanya,” kata Sultan,

sambil tersenyum. “Kamera itu sudah merekam kedatangan

kita. Sebentar lagi petugas keamanan akan membukakan

pintu gerbang.”

Devina menoleh ke arah yang ditunjuk Sultan. Ia melihat

kamera monitor yang dipasang tepat di sebelah kanan

depan mereka. Kamera itu bisa merekam semua kendaraan

yang berada di depan gerbang. Jadi, tanpa harus

membunyikan bel, kedatangan tamu sudah diketahui penjaga

rumah.

Benar saja, baru selesai Sultan berucap, gerbang rumah

itu terbuka sendiri secara otomatis. “Mereka langsung

membukakan pintu? Apa mereka tidak takut kedatangan

perampok di dalam mobil ini?” tanya Devina, heran.

“Tentu tidak. Mereka tidak sembarangan membukakan pintu

untuk tamu yang datang. Hanya, seluruh petugas keamanan

Vivian, yang menangani kamera monitor dan pintu

otomatis, sudah mengenali mobilku,” jawab Sultan.

Lagi-lagi dengan nada bangga.

“Sekarang, apa kita langsung membawa mobil ini masuk?”

tanya Devina, ragu-ragu. Kali ini Sultan tidak sempat

menjawab, karena sebuah mobil sedan biru metalik datang

menghampiri dan berhenti tepat di samping mobilnya

dengan posisi menyerong.

Pengemudi mobil itu adalah seorang gadis cantik berambut

lurus melebihi bahu, mengenakan kacamata hitam. Gadis

itu membuka kaca jendela mobilnya, melongokkan kepalanya

ke luar jendela.

“Itu dia Vivian!” Sultan begitu gembira melihat Vivian,

hingga lupa pada kelumpuhannya.

“HALO, VI,” SULTAN MENYAPA KEKASIHNYA.

Vivian terperangah. Ia mengenali mobil Sultan sejak

tadi. Tapi, ia tak yakin bahwa memang Sultan yang

datang. Ia mengira, Sultan masih berada di rumah sakit.

Sultan pun tampak banyak berubah dibanding saat terakhir

mereka bertemu sebelum kecelakaan. Kali ini Sultan

kelihatan agak kurus dan pucat. Rambutnya sedikit kusut,

karena belum dipotong dan tidak disisir rapi.

“Kamu mau memrotes sikapku yang hendak membatalkan

pernikahan kita?” tanya Vivian, tanpa tedeng

aling-aling.

Kegembiraan di wajah Sultan lenyap seketika.

“Jangan bikin sulit aku, Sultan,” kata Vivian, dingin.

Tapi, suaranya bergetar.

Pertanda isi hatinya tidak sama dinginnya dengan nada

suaranya.

“Aku tidak mungkin mengubah keputusanku,” kata Vivian,

sambil kembali mengenakan kacamatanya, sambil melirik

sekilas pada Devina.

“Tapi, kenapa kamu melakukannya?” Sultan bingung.

Devina menatap Vivian tajam. Ingin rasanya ia

meneriakkan dengan kencang bahwa Sultan tidak lumpuh

selamanya, agar Vivian tidak membatalkan pernikahannya.

Tapi, jika hal itu ia lakukan, Sultan pasti akan kembali

ke pelukan Vivian. Ia kehilangan kesempatan merebut

cintanya.

Segala macam pikiran berkecamuk di dalam benak Devina.

Ia ingin Sultan bahagia, duduk di pelaminan bersama

Vivian. Tapi, di sisi lain, ia tak ingin kehilangan

Sultan.

“Aku akan menikah dengan Romeo,” kata Vivian,

mengejutkan Devina dan Sultan. “Karenanya, kuminta kamu

jangan menganggu aku lagi!” Lalu, dengan cepat Vivian

memundurkan mobil, lalu memutar mobil itu kembali ke

jalan raya, melesat meninggalkan Sultan.

“Vivian!” Sultan seperti orang hilang akal, berusaha

mengejar.

“Vivian…,” suara Sultan terdengar parau dan putus asa.

“Kamu mau aku mengejarnya?” tanya Devina. Ia tak tega

melihat Sultan seperti orang kehilangan separuh

nyawanya. Diam-diam Devina mengutuk Vivian, yang tega

menghancurkan perasaan Sultan.

Sultan menggeleng. “Tidak. Tidak usah dikejar,” kata

Sultan.

“Meskipun kamu harus membantuku masuk ke dalam mobil

dulu baru mengejarnya, mana mungkin bisa terkejar? Kita

langsung saja ke tempat terapi.”

Devina menarik napas lega. Bukan hanya karena ia tidak

harus mengejar Vivian, tapi juga karena melihat Sultan

tetap punya semangat untuk sembuh. Sultan sebenarnya

sangat terkejut, kecewa, melihat sikap Vivian yang

sangat dingin. Juga tak mengerti mengapa Vivian akan

menikah dengan Romeo. Tapi, karena itu, ia makin

bertekad untuk sembuh.

Satu-satunya jalan yang masuk akal bagi Sultan adalah

menyembuhkan kakinya secepat mungkin. Setelah itu, ia

akan bicara pada Romeo dan Vivian untuk mengetahui yang

sebenarnya terjadi.

“KAMI TIDAK INGIN KAMU KECEWA,” kata Nyonya Fatimah.

“Mami, aku lebih terpukul ketika mendengar semua ini

dari Romeo dan Vivian.

Kenapa hal penting ini harus disembunyikan?”

“Kamu tidak bisa menyalahkan aku dan Mami, Sultan! Kami

merahasiakan ini justru untuk melindungi kamu!”

“Melindungi bagaimana?” sergah Sultan.

“Kamu kan baru keluar dari rumah sakit. Masa aku sampai

hati menjejalimu dengan berita buruk? Lagipula, alasan

Vivian membatalkan pernikahan itu sangat memuakkan!”

“Jadi, kamu tahu alasannya?”

“Tentu saja aku tahu. Romeo mengatakannya dengan cukup

jelas di telingaku melalui telepon! Vivian tidak mau

menikah denganmu, karena dia tidak mau punya suami

lumpuh!” kata Mirah, ketus.

Sultan menatap adiknya dengan tajam. “Pasti telah

terjadi salah paham.” Sultan mengarahkan kursi rodanya

ke meja telepon. “Aku harus menjelaskan bahwa aku tidak

selamanya lumpuh.”

Namun, Nyonya Fatimah telah lebih dulu meletakkan

tangannya di pesawat telepon.

“Lupakan saja niatmu. Vivian bukan wanita yang tepat

untukmu. Ia tega memutuskan hubungan, saat kamu sedang

dalam kesulitan. Wanita seperti itukah yang akan kamu

jadikan teman seumur hidupmu?”

“Aku akan meneleponnya dari kamarku,” Sultan tak

menggubris ucapan ibunya. Tapi, sebelum Sultan memanggil

Parman dan Kemis untuk membantunya naik ke kamarnya,

telepon berdering keras.

Nyonya Fatimah mengangkat gagang teleponnya, lalu diam

dengan wajah serius. “Romeo ingin bicara denganmu,”

katanya, singkat.

Sultan dengan cepat menerima pesawat telepon itu.

“Sultan, ada sesuatu yang ingin kusampaikan padamu.

Vivian ingin kamu tahu bahwa kami telah menikah di

Catatan Sipil pagi tadi.”

Sultan terdiam. Jantungnya serasa berhenti berdetak

seketika.

Kenapa Vivian tega melakukan semua ini?

SEGALA PERUBAHAN DIALAMI OLEH SULTAN. Kini ia mulai

dapat berjalan, tidak bergantung pada kursi roda lagi,

meski masih harus menggunakan tongkat. Lalu, atas

desakan ibunya, Sultan akhirnya memperistri Devina yang

selama ini tidak pernah lelah memperlihatkan cinta dan

perhatiannya. Ia menerima desakan ibunya, bukan karena

cinta pada Devina, tapi didorong oleh rasa kecewa pada

Vivian. Ia lalu bertekad menyelenggarakan pesta

pernikahannya, sebelum Vivian menggelar resepsi

pernikahannya dengan Romeo.

Pesta pernikahan Sultan dan Devina dirancang sangat

mewah. Tak lupa ia mengundang Romeo dan Vivian, yang

kaget karena melihat Sultan tampak gagah dalam setelan

jas pernikahannya. Tidak terlihat lumpuh sama sekali.

“Kamu tampak tidak senang, Sayang. Kenapa?” tanya Romeo.

“Bagaimana mungkin aku senang. Pesta ini seharusnya jadi

pesta pernikahanku,” sentak Vivian.

Romeo tercekat. “Bukankah kamu yang membatalkan?”

“Memang. Tapi, aku sudah dijebak, hingga mengambil

keputusan itu. Mirah telah membohongiku! Aku mau pulang

sekarang,” kata Vivian, sambil berjalan keluar.

Sultan, yang mengamati raut wajah Vivian, tersenyum

simpul. Pemandangan itu sudah cukup untuk jadi satu

angka kemenangan untuknya. Ketika pesta usai, langkah

Sultan menuju kamar pengantin terasa sangat ringan,

tanpa beban.

Ia baru selesai mandi, saat melihat pengantin wanitanya

duduk di tepi ranjang dengan wajah tertunduk. Kecantikan

Devina yang mengagumkan dan luar biasa membuat Sultan

tergoda untuk menyentuhnya.

Sentuhan Sultan pada tubuh Devina begitu lembut dan

menghanyutkan. Mereka tenggelam dalam keindahan yang

menghanyutkan. Mereka terbuai oleh kemesraan yang hampir

mencapai puncaknya. Tapi, semua itu terputus saat sebuah

bayangan menyeruak tirai ingatan di benak Sultan.

Bayangan Vivian!

Mendadak Sultan kehilangan gairah. Bayangan itu

membuatnya mati rasa seketika. Sepertinya, Vivian tengah

berada di kamar pengan tin itu dan mengamati semua yang

tengah dilakukan Sultan.

Ini membuat Sultan tak berdaya. Ia menggelosor jatuh di

sisi Devina dengan wajah pucat pasi. Badannya basah

karena keringat. Sultan marah. Marah sekali, karena ia

belum dapat melupakan Vivian. Ia marah, karena ternyata

masih menyimpan cinta untuk Vivian!

SEJAK MALAM PENGANTIN yang gagal itu, Sultan tak pernah

lagi memberikan kemesraan terhadap Devina. Ia tetap

tidur satu ranjang dengan istrinya. Di bawah selimut

yang sama. Tapi, sedikit pun ia tak menyentuhnya. Malah,

untuk menghindari pertemuan dengan Devina, Sultan lebih

banyak bekerja lembur di perusahaannya. Ia pergi ke

kantor pagi-pagi sekali.Baru pulang setelah malam

menyelimuti permukaan bumi.

Sultan seperti mesin, yang hanya mampu menjalankan tugas

di kantornya saja. Ia mati rasa terhadap wanita. Ia tak

lagi mampu untuk mencintai. Selama bertahun-tahun

menikah, hanya pekerjaan yang ada dalam pikirannya.

Devina hanya seperti boneka cantik yang jadi penghias

kamarnya.

Hingga suatu malam di sebuah club, tanpa sengaja Sultan

bertemu kembali dengan Vivian. “Apa kabar? Boleh aku

gabung di sini? Sendiri?”

“Romeo sibuk mengurusi pekerjaannya. Aku juga terlalu

sibuk untuk membujuknya menemuiku ke tempat ini,” jawab

Vivian, kalem.

Sultan tersenyum. Rupanya, pernikahan mereka juga tak

berjalan dengan baik. “Tampaknya kamu tidak mendapatkan

apa yang kamu harapkan.” Vivian tersenyum kecut. “Kamu

sendiri? Apakah kamu mendapat kebahagiaan yang kamu

harapkan?”

“Kebahagiaan tidak akan mudah diperoleh dari sebuah

perkawinan yang dipaksakan oleh keadaan,” Sultan

menjawab dengan taktis. ”Aku masih tak mengerti, kenapa

kamu membatalkan pernikahan kita.”

Vivian mendesah. “Kenapa kamu masih mempertanyakan hal

itu? Apakah kamu masih mencintaiku aku?”

Sulit bagi Sultan menjawab yang sebenarnya sangat

sederhana itu. Barangkali, karena terlalu tenggelam

dalam pekerjaan, Sultan jadi tidak yakin lagi akan

perasaannya sendiri. Ia juga tidak yakin lagi akan mampu

mencintai wanita, seperti waktu-waktu yang lalu. Ia

memang merasa sangat kehilangan Vivian, tapi ia tidak

yakin masih mencintai gadis itu seperti dulu.

“Kebahagiaan itu masih bisa kita raih, Sultan,” lanjut

Vivian, sambil menggenggam tangan Sultan. “Kita

dipertemukan kembali untuk meraih kesempatan yang dulu

terlepas dari tangan kita. Kamu masih dapat menikahiku,

kalau memang masih mencintaiku.”

Sultan tercengang. Dulu ia memang sangat ingin menikahi

Vivian. Tapi, sekarang? Sekarang ia telah memiliki

Devina sebagai istrinya. Meski ia tidak pernah

menyentuhnya, sedikit pun tak pernah melintas untuk

menceraikan Devina dan menikahi Vivian.

“Aku masih mencintaimu. Menginginkanmu jadi suamiku.”

Sultan mengangkat alisnya. “Aku mungkin masih memiliki

harapan yang sama denganmu. Tapi, keadaan sudah tidak

memungkinkan lagi.”

“Tapi, kamu tidak mencintai istrimu, seperti kamu

mencintai aku, Tan. Aku tahu itu!”

Sultan mendesah. “Kamu benar. Aku memang tidak

mencintainya seperti aku mencintaimu dulu. Tapi, banyak

sekali hal yang membuatku tidak dapat menceraikannya

begitu saja. Ia selalu setia mencintaiku, meski aku

duduk di kursi roda. Satu hal yang tidak kudapatkan

darimu. Jadi, bagaimana mungkin aku tega meninggalkannya

untuk menikahimu?”

Wajah Vivian merah padam seketika. Ia merasakan kalimat

Sultan sebagai suatu sindiran pedas untuknya.

“Vivian, perasaanku padamu sudah tidak sama seperti dulu

lagi. Sikapmu membuatku terluka. Luka itu masih

kurasakan, meski kerap tertutup oleh perasaan rinduku.

Lalu, sekarang kamu dengan mudah mengatakan hendak

meninggalkan suamimu untuk menikah denganku. Bagaimana

aku yakin kalau kamu tidak akan meninggalkan aku kelak?”

Vivian terperangah.

“Kurasa, sampai di sini saja perbincangan kita. Aku

senang sekali bertemu denganmu, Vi. Tapi, aku harus

segera pulang, karena istriku sudah menungguku di

rumah.”

Lalu, Sultan beranjak pergi. Suara panggilan Vivian tak

dihiraukannya. Entah kenapa, langkah Sultan terasa

ringan. Hatinya terasa lapang. Sultan juga tidak

mengerti, mengapa tiba-tiba ia merasa lega, setelah

menolak Vivian sedemikian rupa. Entahlah, sulit baginya

untuk mendefi nisikan perasaannya sendiri terhadap

Vivian. Yang jelas, ia merasa menjadi Sultan yang baru,

setelah menyadari bahwa dirinya tidak terobsesi lagi

pada Vivian.

“BARU PULANG?” SUARA LEMBUT Devina mengejutkan Sultan

yang berjingkat-jingkat memasuki kamar tidurnya.

“Maaf. Aku membangunkanmu, ya?” tanya Sultan, rikuh.

“Aku bukan terbangun karena suaramu. Aku memang masih

terjaga sejak sore tadi.” Devina bangkit dari tempat

tidur.

“Mau kubuatkan kopi susu?” tanya Devina, sambil mengikat

rambutnya.

Sultan menggeleng cepat. Ia lalu berjalan menuju meja

kerjanya, mencoba menekuni beberapa sketsa barang antik

yang berserakan. Tapi, konsentrasi Sultan benar tidak

dapat tertuju pada pekerjaan. Ia mendekap wajahnya.

Tiba-tiba saja ia merasa berdosa terhadap Devina, yang

selalu memperlakukannya dengan lembut. Alangkah tidak

adilnya ia selama ini.

Ia berdiri, menuju kamarnya. Ia merasa harus bicara pada

istrinya dan meminta maaf atas sikapnya yang tidak

bijaksana. Tapi, baru saja ia bangkit dari tempat duduk,

wajah Devina muncul. “Sultan, kamu sudah makan?” Suara

Devina lirih. Tapi, terdengar menggetarkan di telinga

Sultan.

Sultan tertegun di tempatnya. Pertanyaan istrinya yang

demikian sederhana itu terasa sangat menyentuh.

Terbukti, meski ia tidak pernah memerhatikan Devina,

istrinya tidak pernah lalai memerhatikan kebutuhannya.

“Kamu sendiri, apakah sudah makan?” Sultan balik

bertanya.

Devina menggeleng lemah. “Aku tidak bisa tidur. Jadi,

aku menunggumu pulang supaya kita bisa makan malam

bersama.”

“Kalau begitu, apa lagi yang kita tunggu?” Sultan

menepukkan kedua tangannya. Lantas, dengan bersemangat,

ia meraih pinggang Devina, dan membimbingnya menuju

ruang makan.

Devina tersentak. Sentuhan tangan Sultan serasa

mengaliri tubuhnya dengan getaran yang sangat aneh. Ia

tambah tertegun ketika Sultan menyalakan beberapa batang

lilin di atas meja makan. Menarikkan kursi untuk

istrinya. Memutar lagu romantis untuk jadi musik

pengiring makan malam.

Meski merasa heran atas sikap suaminya, Devina diam

saja. Ia duduk di samping Sultan, menikmati makan

malamnya. Ia biarkan tangan kokoh Sultan melingkari

pinggangnya. Membiarkan desah napas Sultan mengembus di

pipinya. Ia biarkan Sultan memeluknya.

DEVINA TERJAGA DI SAAT MATAHARI belum muncul dari ufuk

timur. Wanita lemah lembut itu merasakan sebuah

kesegaran yang aneh menyirami tubuhnya. Kesegaran yang

diberikan oleh suaminya melalui sebuah kemesraan yang

sakral. Perlahan, ia memalingkan wajahnya, tersenyum

melihat tubuh suaminya terbaring di sisinya dengan

sebuah kebahagiaan terukir di wajah tampannya. Dengan

penuh cinta, ia mengecup suaminya.

Ia mendesah. Teringat pada malam yang baru saja

dilaluinya. Masih terasa di tubuhnya pelukan hangat,

sentuhan lembut Sultan. Tapi, tiba-tiba muncul sebuah

tanda tanya di benak Devina. Ia mereka- reka, hal apa

yang menyebabkan suaminya bersikap mesra.

Yang pertama melintas di benaknya adalah Vivian. Ia

tiba-tiba merasa getir, saat membayangkan sebuah

kemungkinan yang menghubungkan perlakuan mesra Sultan

dengan Vivian. Devina menangis. Ia sudah cukup termakan

perasaannya sendiri dengan membiarkan Sultan tetap

mencintai Vivian. Kini haruskah ia menerima kenyataan

bahwa Sultan bercinta dengannya sambil membayangkan

bercinta dengan Vivian? Tidak!

Devina tidak mau membiarkan dirinya jadi jelmaan Vivian

di mata Sultan. Sudah cukup lama dia hidup di bawah

bayang-bayang wanita itu. Kini segalanya harus diakhiri!

Dengan hati pedih, Devina bangkit. Ia mengemasi pakaian

dan barang-barangnya dalam dua buah koper. Sebelum ia

meninggalkan rumah mewah suaminya, ia meletakkan surat

di atas bantalnya. Matahari masih mengintip malu, saat

Devina melangkah pergi.

“DEVINA…,” DENGAN MATA MASIH TERTUTUP, Sultan

meraba-raba sisi tempat tidur yang biasa ditiduri

Devina. Tapi, tidak ditemukannya wanita yang telah setia

mendampinginya selama 4 tahun itu. Tak disengaja

tangannya menyentuh selembar kertas terlipat di atas

bantal istrinya.

Mata Sultan langsung terbuka lebar, terkejut. Ia segera

bangkit dan membuka lipatan kertas itu dengan

terburu-buru. Matanya terbeliak membaca kata demi kata.

Ketika seluruh isi surat telah selesai dibaca, Sultan

tertawa. Lalu, ia mandi dengan santai. Sesudahnya, ia

menemui ibunya yang sudah menunggu di ruang makan.

“Hmm… tumben bangun agak siang,” sapa Nyonya Fatimah.

Sultan hanya tersenyum.

“Mami tidak melihat Devina. Ke mana dia?” tanya ibunya

lagi.

“Dia pulang, Mi,” kata Sultan. “Dia pulang ke rumahnya

sendiri.”

“Apa?! Kalian bertengkar atau bagaimana?”

“Tidak, kok.” Sultan tersenyum.

“Tapi, kenapa Devina pulang ke rumahnya, Sultan? Kamu

harus bicara yang jelas. Mami tidak ingin kamu

memperlakukannya dengan semena-mena.”

Sultan tersenyum, sambil melahap sepotong roti isi selai

stroberi ke dalam mulutnya. “Aku berniat menyusul ke

rumahnya, setelah selesai sarapan. Ada kesalahpahaman

antara aku dengan Devina.”

”Sekarang saja kamu susul dia,” kata Nyonya Fatimah

tegas, sambil menggeret Sultan, agar bangkit dari tempat

duduk.

SAAT SULTAN TIBA DI RUMAH DEVINA, ia melihat istrinya

itu tengah membantu ibunya, melayani seorang pembeli

ketoprak. Ia terkejut sekali melihat kedatangan suaminya

yang tak terduga itu. Devina mengerutkan alisnya. Ia tak

mengerti mengapa Sultan menyusulnya ke tempat ini.

Padahal, lewat surat, ia telah mengutarakan semuanya,

termasuk permintaan agar suaminya tidak mencarinya lagi.

“Devina…,” Sultan memanggil dengan lembut.

Devina sampai terkejut mendengar kelembutan suaranya.

Apalagi, saat melihat tatapan mata yang begitu

menyejukkan dari Sultan.

“Seharusnya, kamu jangan datang ke sini, Sultan…,”

ujarnya lirih.

“Kamu lebih baik mencari Vivian, yang lebih pantas untuk

jadi istrimu. Dia pasti akan menerimamu kembali, kalau

tahu kamu tidak lum….”

“Sssh!” Sultan meletakkan telunjuknya di depan bibir

Devina.

Tanpa berkata apa-apa, ia meraih wanita itu dalam

pelukannya.

“Jangan sebut orang lain lagi, Devina. Aku hanya

mencintaimu…,” bisik Sultan di telinga istrinya.

Devina terperangah. Rasanya, ia tengah berada dalam

mimpi mendengar penyataan cinta dari suaminya itu.

Selama bertahun-tahun suaminya mabuk oleh pesona Vivian.

Ia hampir tak percaya apa yang didengarnya.

“Benarkah?” tanya Devina.

Sultan tak menjawab. Ia hanya mempererat pelukannya.

Sebutir kristal bening turun di pipi Devina. Ia bahagia

mendengar penyataan suaminya. Tak peduli bahwa adegan

pelukan yang cukup hangat itu menjadi tontonan beberapa

pembeli ketoprak ibunya….

Tamat

0 Response to "Gadis Oriental"

Post a Comment