Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

The Fourth Protocol IIII Tamat

Orang yang mengenakan jas hujan coklat muda itu lalu mengantongi alat pencukur itu, mengacungkan lima jarinya untuk memberi isyarat supaya Wosniak tinggal di situ lima menit lagi, lalu dia pergi dari situ.

Satu jam kemudian, Pelrofsky dan sepeda motornya tiba di daerah pemukiman di pinggiran kola di mana kawasan timur laut London bertemu dengan Distrik Essex. Jalan raya M12 terbentang lebar di depannya. Saat itu jam sembilan.

Pada jam itu ferry Tor Britannia milik perusahaan pelayaran DFDS dari Gothenburg sedang meluncur pelan menyusuri Dermaga Parkstone, di Harwich, seratus dua puluh kilometer jauhnya di pantai Essex. Para penumpangnya, ketika turun dari ferry, adalah rombongan biasa terdiri dari turis, mahasiswa, dan pedagang. Di antara kelompok yang terakhir ini terdapat Mr. Slig Lundqvisl, yang mengendarai sedan Saab-nya yang besar.

Surat-suratnya menunjukkan bahwa ia seorang pengusaha Swedia dan surat-surat itu asli. Dia memang orang Swedia, dan selama hidupnya begitu. Cuma surat-surat itu tidak menyatakan bahwa ia juga seorang agen Komunis kawakan yang bekerja—seperti Herr Helmut Dorn—untuk Jcn—

182

derai Marcus Wolf yang galak, orang Yahudi kepala operasi luar negeri dinas intelijen HVA Jerman Timur.

Lundqvisl diminta untuk turun dari mobilnya dan membawa koper-kopernya ke bangku pemeriksaan. Itu dilakukannya dengan senyum yang simpatik. Seorang petugas pabean mengangkat kap mesin mobil Saab dan menjenguk ke dalam mesinnya. Ia sedang mencari sesuatu yang berbentuk bola sebesar bola kaki kecil atau sebuah silinder batangan yang bisa saja disembunyikan di situ. Tapi tidak diketemukannya barang yang seperti itu. Ia memeriksa bagian bawah mobil dan akhirnya ke dalam bagasinya. Ia menarik napas. Permintaan dari London ini benar-benar menjengkelkan. Bagasi itu tidak berisi apa-apa kecuali peralatan mobil yang umum, sebuah dongkrak yang diikat di satu sudut, dan sebuah pemadam kebakaran yang ditempelkan ke sudut yang lain. Orang Swedia itu berdiri di sebelahnya dengan koper-koper di tangannya*

“Bagaimana,” kata orang Swedia itu, “beres?”

“Ya, terima kasih, sir. Setamat berlibur.”

Satu jam kemudian, jam sebelas kurang sedikit, mobil Saab itu meluncur memasuki tempat parkir Kings Ford Park Hotel di desa Layer de la Haye, persis di sebelah selatan Colchester. Lundqvisl keluar dari mobilnya dan melemaskan otot-ototnya yang kaku. Saat itu jam minum kopi tengah pagi dan nampak banyak mobil diparkir di tempat itu.

183

semuanya tidak dijaga. Ia melihat ke arlojinya— lima menit dari saat rendezvous yang ditetapkan. Sudah dekat, tapi ia tahu ia masih punya waktu satu jam lagi untuk menunggu kalau terjadi keterlambatan, setelah itu barulah digunakan rendezvous cadangan di tempat lain. Ia tidak tahu apakah agen itu akan muncul dan kapan. Tidak ada orang di sekitar tempat itu kecuali seorang pria muda yang sedang mengutak-atik mesin sepeda motor BMW. Lundqvisl sama sekali tidak mempunyai gambaran agen yang akan ditemuinya itu seperti apa. Ia menyalakan sebatang rokok, kembali ke mobilnya, dan duduk di situ.

Pada jam sebelas, ada ketukan di jendelanya. Si penunggang sepeda motor berdiri di luar. Lundqvist menekan kenop dan kaca jendela itu turun dengan mengeluarkan bunyi desis. “Ya?”

“Apakah huruf S di pelat nomor mobil Anda berarti Swedia atau Swiss?” tanya orang Inggris itu. Lundqvist tersenyum lega. Tadi dia berhenti sebenlar di tengah jalan dan melepaskan pemadam kebakaran itu dan kini telah dipindahkan di sebuah tas rami di jok penumpang.

“Itu singkatan untuk Swedia,” katanya. “Saya baru saja tiba dari Gothenburg.”

“Belum pernah ke sana,” kata pria itu. Lalu, tanpa perubahan nada, ia menambahkan, “Bawa barang buat saya?”

“Ya,” kata orang Swedia itu, “ada di tas di sebelah saya ini.”

184

“Banyak jendela menghadap ke tempat parkir ini,” kala si pengendara sepeda motor. “Anda jalankan mobil memutari tempat parkir ini, lewati sepeda motor itu, dan jatuhkan tas itu kepada saya lewat jendela pengemudi. Usahakan supaya mobil berada di antara saya dan jendela-jendela itu. Lima menit dari sekarang.”

Ia lalu berjalan dengan santai menuju sepeda motornya dan melanjutkan mengutak-atik mesinnya. Lima menit kemudian mobil Saab itu meluncur melewatinya, tasnya dijatuhkan ke tanah; Pelrofsky segera memungutnya dan memasukkan ke dalam kantong sadel yang terbuka, sebelum Saab itu menampakkan jendela-jendela hotel kembali. Ia tidak pernah melihat Saab itu lagi, dan tidak ingin.

Satu jam kemudian ia sudah berada di garasinya yang di Thetford, menukar sepeda motornya dengan sedan keluarga dan meletakkan kedua barang kiriman itu ke dalam bagasinya. Dia tidak tahu apa isinya. Itu bukan urusannya.

Ketika hari mulai berganti sore, ia sudah tiba di rumahnya di Ipswich dan menyimpan kedua barang kiriman itu di dalam kamar tidurnya. Kurir Sepuluh dan Kurir Tujuh telah mengirimkan barangnya.

John Preston sudah waktunya mulai bekerja lagi di Gordon Street pada tanggal 13 Mei.

“Aku tahu memang mengecewakan, tapi aku ingin kau melanjutkannya,” kata Sir Nigel Irvine pada salah satu kunjungannya. “Kau sebaiknya

185

menelepon kantor dan bilang kau sedang flu berat. Kalau kau perlu surat dokter, katakan padaku. Aku tahu dokter yang mau membuatkan itu.”

Pada tanggal enam belas, Preston tahu bahwa ia sedang menuju ke sebuah jalan buntu. Tanpa meningkatkan kewaspadaan nasional secara besar-besaran, sebenarnya pabean dan imigrasi telah melakukan apa saja yang bisa dilakukan. Cuma volume lalu lintas manusia yang tak terhingga padanya itu tidak memungkinkan untuk pemeriksaan terhadap setiap pengunjung. Sudah lima minggu sejak terjadinya pengeroyokan terhadap pelaut Rusia di Glasgow, dan Preston merasa yakin bahwa ia telah kehilangan semua kurir yang lain. Barangkali mereka semua sudah masuk ke negerinya sebelum Semyonov, dan petugas dek itu malahan yang terakhir. Mungkin….

Dengan rasa cemas yang semakin mencekam, ia sadar bahwa ia tidak tahu apakah ada deadline-nya, atau seandainya dia tahu—kapankah deadline itu.

Pada hari Kamis tanggal 21 Mei, ferry yang berasal dari Ostende berlabuh di Folkestone dan menurunkan isinya yang seperti biasa terdiri dari turis-turis yang berjalan kaki, naik mobil, dan arus truk yang mengangkut muatan untuk Masyarakat Ekonomi Eropa dari satu tempat ke tempat lain di benua itu.

Tujuh dari truk-truk itu memiliki surat-surat registrasi Jerman, Ostende merupakan kota pilihan di

186

kepulauan Inggris untuk perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Jerman utara. Truk gandeng Hanomag yang besar dengan muatan container di trailer-nya yang tersambung di belakangnya itu tidak nampak berbeda dengan truk-truk lain. Setumpuk tebal surat-surat yang menghabiskan waktu satu jam untuk diloloskan itu ternyata beres semuanya dan tak ada alasan untuk curiga bahwa pengemudi truk itu bekerja untuk orang lain selain kontraktor angkutan yang namanya dituliskan di sisi kabin truk. Juga tidak ada alasan untuk curiga bahwa container itu memuat barang lain selain yang dicantumkan, yaitu alat pembuat kopi buatan Jerman untuk sampan pagi orang Inggris.

Di belakang kabinnya, dua pipa asap menjulang ke langit mengeluarkan asap yang dihasilkan mesin diesel itu dan menyalurkannya keluar supaya tidak mengganggu pemakai jalan lain. Saat itu hari sudah petang, hari yang melelahkan sudah hampir usai, dan truk itu dipersilakan meluncur ke jalan yang menuju Ashford dan London.

Tidak ada orang di Folkestone akan bisa tahu bahwa salah satu pipa exhaust vertikal itu, yang menyemburkan asap hitam saat meninggalkan pos pemeriksaan pabean, mempunyai pipa bypass di dalamnya untuk menyalurkan asap itu, atau, di tengah deru mesin truk itu, bahwa alat peredam bunyinya telah dilepas untuk merekayasa sebuah ruangan ekstra.

Saat malam semakin larut, di tempat parkir sebuah

187

losmen di pinggir jalan dekat Lenham, di Kent, si pengemudi memanjat ke alap kabinnya, membuka sekrup-sekrup pipa exhaust itu, dan mengeluarkan dari pipa itu sebuah bingkisan yang panjangnya empat puluh lima sentimeter dan dibungkus dengan bahan anti panas, la tidak membukanya; ia hanya memberikan benda itu pada seorang pengendara sepeda motor yang berpakaian hitam yang lalu meluncur dengan cepat menuju kegelapan. Kurir Delapan telah mengirimkan barang.

“Payah, Sir Nigel,” kata John Preston kepada kepala SIS itu pada hari Jumat pelang. “Saya tidak tahu apa yang sedang berlangsung saat ini. Saya memikirkan akibat yang terburuk, tapi saya tidak dapat membuktikannya. Saya mencoba mencari satu kurir lagi yang saya yakin telah masuk ke negeri ini, tapi saya gagal. Saya kira saya harus balik ke Gordon hari Senin nanti.”

“Aku tahu bagaimana perasaanmu, John,” kala Sir Nigel. “Aku juga merasa begitu. Tolong beri aku satu minggu lagi.”

“Saya tidak melihat apa manfaatnya,” kata Preston. “Apa lagi yang bisa kita lakukan?”

“Berdoa, kurasa,” kata C dengan lembut.

“Salu petunjuk saja,” kata Preston dengan marah. “Yang saya butuhkan cuma satu petunjuk kecil.”

OBI

Dilarang nieii^ komi-rsil-kaii alau kesialan menimpa anda w t am any a

188

18

JOHN PRESTON memperoleh petunjuk itu hari Senin sore berikutnya, tanggal 25 Mei.

Pada jam empat lewat sedikit, sebuah flight Austrian Airlines mendarat di Heathrow dari Wina. Salah satu penumpangnya, yang di pemeriksaan paspor menyalakan dirinya bukan warga Inggris dan bukan warga MEE, memberikan sebuah paspor Austria yang nampak sangat asli, yang mencantumkan bahwa pemiliknya bernama Franz Winkler.

Petugas imigrasi memeriksa Reisepass (paspor) hijau bersampul plastik yang tidak asing itu, yang bertanda lambang elang emas di bagian depannya, dengan sikap acuh tak acuh seperti biasa karena profesinya sehari-hari memang memeriksa paspor. Paspor itu baru saja dikeluarkan, dan dicap dengan setengah lusin stempel masuk dan keluar dari negara-negara Eropa lain, serta memiliki visa Inggris yang absah.

Di bawah mejanya tangan kiri petugas itu men—

189

catat nomor yang tercantum di paspor dengan perforasi pada semua halamannya. Ia lalu melihat ke arah layar komputernya, menutup paspor, dan mengembalikannya dengan senyum singkat “Terima kasih, sir. Mari selanjutnya.”

Saat Herr Winkler mengangkat kopernya yang kecil dan berlalu dari situ, petugas itu menaikkan alisnya ke arah sebuah jendela kecil yang berada enam meter dari situ. Pada saat yang sama, kaki kanannya menekan kenop “waspada” dekat lantai. Dari jendela kantor itu, salah satu agen Cabang Khusus yang bertugas di situ menangkap isyarat matanya tadi. Petugas imigrasi itu menatap ke arah punggung Herr Winkler dan mengangguk. Wajah detektif Cabang Khusus menghilang dari jendela itu dan beberapa detik kemudian ia dan satu rekannya sudah membuntuti orang Austria itu tanpa suara. Seorang agen Cabang Khusus yang lain dengan susah payah menempatkan mobil di depan pintu keluar utama bandara itu.

Winkler tidak membawa koper berat, jadi dia tidak perlu mengambil koper di ban berjalan. Ia langsung saja melewati kawasan hijau tempat pemeriksaan pabean. Di ruang utama bandara ia agak lama pergi ke Midland Bank, menukarkan traveler’s cheek-nya dengan mata uang poundster-lingy pada saat mana salah satu agen Cabang Khusus itu berhasil mengambil fotonya dengan baik dari sebuah balkon di lantai atas.

Ketika orang Austria tersebut naik taksi di de—

190

pan Bangunan Nomor Dua, para agen Cabang Khusus itu masuk ke dalam mobil yang tidak beridentitas dan berada tepat di belakang dia. Pengemudinya berkonsentrasi untuk terus mengikuti taksi itu; detektif senior Cabang Khusus itu menggunakan radio untuk memberitahu Scotland Yard, yang menurut prosedur juga harus disampaikan ke Charles Street Ada suatu instruksi yang menyatakan bahwa Enam juga menaruh minat terhadap semua pengunjung yang membawa paspor yang “tidak benar”—jadi informasi itu juga disampaikan oleh Charles Street ke Sentinel House.

Winkler naik taksi sampai Bayswater dan membayar sopirnya di persimpangan antara Edgware Road dan Sussex Gardens. Ia lalu berjalan kaki, tasnya dijinjing, menyusuri Sussex Gardens, yang salah satu sisinya hampir sepenuhnya ditempati oleh penginapan-penginapan dengan fasilitas amat sederhana, yang disukai para pedagang dan para pengunjung yang dating larut malam dengan dompet yang tidak terlalu, tebal melalui Stasiun Paddington yang tak jauh dari situ.

Para agen Cabang Khusus yang menyaksikan dari mobil merasa bahwa Winkler tidak memesan tempat terlebih dahulu, karena ia menyusuri jalan itu sampai tiba di sebuah penginapan yang ber-tuliskan VACANCIES—ADA KAMAR—di jendelanya dan masuklah dia ke situ. Dia pasti telah memperoleh kamar karena ia tidak muncul lagi.

Satu jam setelah taksi Winkler meninggalkan

191

Heathrow, telepon berdering di flat Preston di Chelsea. Yang berbicara adalah agen penghubungnya di Sentinel, yang diperintahkan Sir Nigel untuk tetap berhubungan dengan Preston.

“Si Joe baru saja tiba di Heathrow,” kata agen MI-6. “Mungkin tidak ada apa-apanya, tapi nomor paspornya menyebabkan timbulnya nyala-nyala merah di komputer. Namanya Franz Winkler, warga Austria, naik pesawat dari Wina.”

“Kuharap mereka tidak menangkap dia,” kata Preston. Ia sedang berpikir bahwa Austria sangat dekat dengan Cekoslovakia dan Hungaria. Karena negara itu netral, maka ia merupakan batu loncatan yang bagus bagi para ilegal Soviet

“Tidak,” kata agen yang di Sentinel itu. “Berdasarkan permintaan kami mereka menguntitnya…. Sebentar….” Ia kembali ke telepon beberapa detik kemudian. “Mereka baru saja ‘merumahkan’ dia di sebuah hotel kecil bernama B-and-B di Paddington.”

“Bisakah kauhubungkan aku dengan C?” tanya Preston.

Sir Nigel sedang rapat, yang ditinggalkannya untuk kembali ke kantor pribadinya. “Ya, John.”

Ketika Preston telah menyampaikan fakta-fakta baru itu kepada Kepala SIS, Sir Nigel bertanya, “Menurut kau diakah orang yang kautunggu selama ini?”

“Ia bisa saja seorang kurir,” kala Preston.

192

“Dialah hasil maksimal yang bisa kita peroleh selama enam minggu terakhir ini.”

“Apa yang kauinginkan, John?”

“Saya ingin Enam meminta pengawasan diambil alih oleh para agen pelacak. Semua laporan yang masuk ke pengendali pelacak di Cork dipantau oleh salah satu anak buah Anda dan kalau ada yang masuk, harus langsung diteruskan ke Sentinel dan kemudian kepada saya. Kalau dia melakukan pertemuan, saya menginginkan keduanya dibuntuti.”

“Baik,” kata Sir Nigel. “Aku akan minta pelacak. Barry Banks akan berjaga di ruang radio Cork dan menyampaikan perkembangan-perkembangannya langsung saat masuk.”

Sang Kepala sendiri yang menelepon Direktur Cabang K dan mengajukan permintaannya. Kepala Cabang K menghubungi rekan-rekannya di Cabang A dan sebuah tim pelacak dikirimkan ke Sussex Gardens. Kebetulan mereka dipimpin oleh Harry Burkinshaw.

Preston berjalan mondar-mandir di apartemen kecil itu dan merasa amat frustrasi. Ia sangat ingin berada di jalanan, atau paling tidak di tengah-tengah operasi itu, dan bukan dikucilkan seperti agen yang disamarkan di negerinya sendiri, bagai sebuah bidak catur dalam sebuah permainan kekuasaan yang sedang berlangsung jauh di atas sana.

Pada jam tujuh petang itu, anak buah Burkinshaw sudah mulai bergerak, mengambil alih peng—

193

awasan dari agen-agen Cabang Khusus, yang bcr-sukacita karena bebas dari tugas. Petang itu terasa hangat dan menyenangkan; empat agen pelacak yang membentuk “box” mengambil posisi-posisi yang tidak mencolok di sekitar hotel itu—satu di ujung atas jalan, satu di ujung bawah, satu di seberang, dan satu di belakang. Dua mobil menempatkan diri di tengah banyak mobil lain yang diparkir di sepanjang Sussex Gardens, yang siap meluncur begitu nampak si “Chummy” akan kabur. Enam agen ini selalu saling berhubungan dengan pesawat radio mereka masing-masing, dan Burkinshaw dengan kantor pusat, yaitu ruang radio di basement Cork. Barry Banks juga berada di Cork, sebab ini adalah operasi yang diminta oleh Enam, dan mereka semua menunggu Winkler membuat kontak.

Masalahnya yaitu, ia tidak membuat kontak. Ia tidak melakukan apa-apa. Ia hanya duduk di kamar hotelnya di balik tirai tembus pandang dan diam saja. Pada jam delapan tiga puluh dia keluar, berjalan ke sebuah restoran di Edgware Road, makan malam sederhana, dan berjalan balik ke tempatnya semula. Dia tidak melakukan antaran barang, menerima perintah, tidak meninggalkan apa-apa di atas mejanya, tidak berbicara kepada siapa pun di jalan.

Tapi dia melakukan dua hal menarik. Ia berhenti dengan mendadak di Edgware Road dalam perjalanan menuju restoran itu, menatap ke sebuah

194

etalase toko selama beberapa detik, lalu kembali ke arah dia datang tadi. Ini adalah salah satu tipuan paling kuno untuk mendeteksi orang yang menguntit di belakang, tapi bukan cara yang terlalu bagus. Ketika meninggalkan restoran ia berhenti di pinggiran trotoar, menunggu sampai ada celah dalam arus lalu lintas di jalan itu, lalu berlari menyeberang. Di seberang ia berhenti lagi dan mengamati jalan untuk mengetahui apakah ada orang yang bergegas menyeberang menguntit dia. Tidak ada. Ulah Winkler ini malahan menyebabkan dia berada dekat dengan agen pelacak Burkinshaw yang keempat, yang memang sejak tadi sudah berada di sisi seberang Edgware Road. Saat Winkler mengamati arus lalu lintas untuk melihat apa ada orang yang bertaruh nyawa untuk mengejar dia, agen pelacak itu berada pada jarak beberapa langkah, pura-pura memanggil taksi.

“Dia memang ‘tidak benar’,” Burkinshaw melapor ke Cork. “Ia nampak takut sekali diawasi, tapi kelakuannya kurang cermat”

Pendapat Burkinshaw sampai ke Preston di tempat persembunyiannya di Chelsea. Ia mengangguk dengan lega. Situasi mulai membaik.

Setelah selesai dengan ulahnya yang tak menentu di Edgware Road, Winkler kembali ke kamar pondokannya dan menghabiskan sisa malam itu di dalam kamarnya.

Sementara itu, sebuah operasi kecil yang lain

195

sedang berlangsung di basement Sentinel House. Foto-foto Winkler yang diambil oleh agen-agen Cabang Khusus di Heathrow Airport, bersama dengan foto-foto lainnya yang diambil di jalan di Bayswater, telah dicuci dan sedang berada di bawah pengamatan Miss Blodwyn yang sangat terkenal.

Identifikasi atas agen-agen asing, atau orang-orang asing yang mungkin berperan sebagai agen, merupakan suatu aspek yang amat penting semua organisasi intelijen. Dalam rangka menopang tugas ini, setiap tahun ratusan ribu foto dibuat oleh semua dinas intelijen atas orang-orang yang mungkin bekerja, alau mungkin tidak, bekerja untuk pihak lawan. Bahkan warga dari negara sekutu pun tidak dikecualikan dari album-album foto ini. Diplomat-diplomat asing, anggota delegasi perdagangan, ilmiah, dan kebudayaan: semua difoto sebagai suatu rutinitas—khususnya, lapi tidak selalu, kalau mereka berasal dari negara komunis atau negara simpatisannya. Arsipnya semakin lama semakin membengkak. Satu orang yang sama kadang-kadang difoto sampai dua puluh kali, yang dilakukan di saat dan di tempat yang berbeda-beda. Foto-foto itu tidak pernah dibuang. Foto-foto itu dipakai untuk memperoleh suatu “make”.

Seandainya seorang Rusia bernama Ivanov muncul bersama suatu delegasi perdagangan Soviet ke Canada, foto wajahnya hampir bisa dipastikan akan diberikan oleh Royal Canadian Mounted Po—

1%

lice kepada rekan-rekannya di Washington, London, dan ibu kota negara-negara NATO lainnya. Mungkin saja wajah yang sama itu, yang menyebut dirinya Kozlov, telah pernah diambil fotonya lima tahun sebelumnya sebagai seorang jurnalis tamu yang meliput perayaan kemerdekaan sebuah republik Afrika. Jika memang profesi Ivanov yang sebenarnya diragukan, maka “make*’ seperti itu akan menghapuskan semua keraguan. Ia akan langsung dideteksi sebagai agen KGB full-titne.

Pertukaran foto-foto seperti itu di antara dinas-dinas intelijen yang bersekutu—dan ini termasuk Mossad Israel yang cemerlang itu—sifatnya berkesinambungan dan menyeluruh. Sedikit sekali warga Blok Soviet yang berkunjung ke Barat yang wajahnya tidak muncul di album foto di sekurang-kurangnya dua puluh ibu kota negara demokrasi. Tentu saja, tak seorang pun masuk ke Uni Soviet tanpa wajahnya masuk arsip foto Pusat (Parlai Komunis Soviet).

Ini memang sebuah fakta yang luar biasa, tapi sangat benar, bahwa sementara “saudara-saudara sepupu” CIA menggunakan bank-bank komputer di mana disimpan jutaan aspek wajah manusia untuk dipakai mencocokkan foto-foto yang mengalir masuk setiap harinya, Inggris menggunakan Blodwyn.

Seorang wanita tua yang sering dimanfaatkan dengan keterlaluan, dan yang selalu dipaksa oleh rekan-rekannya yang lebih muda untuk melakukan

197

identifikasi foto, Blodwyn sudah empat puluh tahun bertugas di bidang ini di bawah bangunan Sentinel House, dia adalah tuan dari arsip foto yang teramat besar itu, yang membentuk “buku foto kriminal” milik MI-6. Padahal itu sama sekali bukan buku, tapi sebuah ruangan yang mirip gua tempat disimpan berderet-deret album foto, dan hanya Blodwyn sendiri yang memiliki pengetahuan bagai sebuah ensiklopedi.

Otaknya mirip sebuah bank komputer CIA, bahkan kadang-kadang mengalahkan bank komputer. Dalam benaknya tersimpan bukan rincian Perang Tiga Puluh Tahun atau harga saham di Wall Street; benaknya menyimpan wajah-wajah. Bentuk-bentuk hidung, garis-garis rahang, sorot-sorot mata; pipi yang menggayut ke bawah, lengkung bibir, cara seseorang memegang gelas atau rokok, kilatan gigi berlapis emas dari seseorang yang tersenyum yang fotonya diambil di sebuah pub di Australia dan yang kemudian muncul kembali di sebuah supermarket di London—semua itu merupakan bahan bagi pabrik ingatannya yang luar biasa.

Malam itu, saat Bayswater tidur dan anak buah Burkinshaw sedang memeluk bayangan, Blodwyn duduk dan menatap foto wajah Franz Winkler. Dua pria muda dari Enam menunggu dengan diam. Satu jam kemudian ia hanya berkata, “Timur Jauh,” dan ia berjalan di sepanjang deretan album

198

fotonya. Ia berhasil mencocokkan make-nya dini hari Selasa tanggal 26 Mei.

Fotonya kurang jelas dan sudah lima tahun umurnya. Saat itu rambutnya nampak lebih hitam dan pinggangnya lebih ramping. Laki-laki itu sedang menghadiri sebuah resepsi di Kedutaan India dan berdiri di samping duta besarnya sendiri dan sedang tersenyum dengan sopan.

Salah satu dari kedua pria muda itu menatap kedua foto itu dengan ragu. “Kau yakin, Blodwyn?”

Seandainya sorot mata bisa melumpuhkan, maka ia pasti sudah membutuhkan sebuah kursi roda. Pria muda itu mundur dengan bergegas dan menghampiri telepon. “Ada make,” katanya. “Dia orang Ceko. Lima tahun yang lalu ia seorang agen kelas rendah di Kedutaan Ceko di Tokyo. Nama: Jiri Hayek.”

Preston dibangunkan dering telepon pada jam tiga pagi. Ia mendengarkan, mengucapkan terima kasih kepada si penelepon, dan meletakkan telepon itu. Ia tersenyum gembira. “Ketahuan kau,” katanya.

Pada jam sepuluh pagi, Winkler masih berada di dalam hotelnya. Kendali operasi di Cork Street telah diambil alih oleh Simon Margery, dari K2(B), desk (Operasi) Satelit Soviet/Cekoslovakia. Kenyataannya, memang masalahnya menyangkut warga Ceko. Barry Banks, yang tidur di kantor,

199

ada bersamanya, menyampaikan berita perkembangan ke Sentinel House.

Pada jam yang sama, John Preston menelepon penasihat hukum di Kedutaan Amerika, yang adalah kontak pribadinya. Penasihat hukum di Gros-venor Square senantiasa merupakan wakil FBI untuk London. Preston mengajukan permintaannya dan diberitahu bahwa ia akan ditelepon segera setelah jawaban datang dari Washington, barangkali dalam waktu lima sampai enam jam, dengan mengingat perbedaan waktu.

Pada jam sebelas, Winkler muncul dari tempat penginapan, la berjalan ke Edgware Road lagi, memanggil taksi, dan bertolak menuju Park Lane. Di Hyde Park Corner, taksi itu, yang diikuti oleh dua mobil berisi tim pelacak, meluncur menuju Piccadily. Winkler turun dari taksi itu di Piccadilly, dekat dengan tempat Circus berada, dan mencoba melakukan manuver-manuver dasar untuk menggagalkan penguntitan yang sama sekali tidak bisa dibuktikan keberadaannya.

“Lagi-lagi dia begitu,” Len Stewart bergumam ke alat yang disembunyikan di kerah bajunya, la telah membaca laporan Burkinshaw dan mengantisipasi bahwa hal seperti itu akan terjadi lagi. Tiba-tiba Winkler berjalan cepat—hampir-hampir lari—di sepanjang sebuah arcade (lorong beratap), seakan melarikan diri, muncul di ujung yang lain, berjalan menyusuri trotoar, dan menoleh untuk mengamati mulut arcade yang tadi dilaluinya. Tak

200

ada yang keluar dari situ. Tak ada yang perlu keluar dari situ. Karena sudah ada pelacak lain di mulut arcade sebelah selatan.

Para pelacak mengenal kota London lebih baik dari polisi atau sopir taksi. Mereka tahu berapa banyak pintu keluar yang dipunyai setiap gedung besar, ke mana lorong-lorong dan jalan-jalan bawah tanah menuju, di mana gang-gang sempit berada dan menuju ke mana. Ke mana pun seorang “Joc” berlari cepat, selalu ada seorang pelacak yang telah berada di depannya, satu lagi menguntit perlahan di belakangnya, dan dua orang mengapit. Box nya tidak pernah akan terlepas, dan hanya seorang Joe yang sangat pintar yang bisa mendeteksinya.

Merasa puas bahwa dia tidak dikuntit, Winkler memasuki Pusat Perjalanan Kereta Api Inggris (The British Rail Travel Center) di Lower Regent Street. Di sana ia menanyakan tentang jadwal perjalanan kereta api ke Sheffield. Penggemar sepak bola Skotlandia yang mengenakan syal dan berdiri beberapa langkah dari situ dan seakan-akan sedang menunggu kereta untuk pulang ke Motherwell adalah salah satu pelacak. Winkler membayar tunai untuk satu tiket pp. kelas dua ke Sheffield, mencatat bahwa kereta terakhir untuk malam itu meninggalkan Stasiun SL Pancras pada jam sembilan dua puluh lima, mengucapkan terima kasih kepada petugas, dan berlalu dari tempat itu. Ia makan siang di sebuah cafe di dekat situ, kembali ke

201

Sussex Gardens, dan tinggal di sana sepanjang sore itu.

Preston menerima berita tentang tiket kereta api ke Sheffield itu pada jam satu lebih sedikit. Ia memergoki Sir Nigel Irvine tepat pada saat C baru saja akan pergi ke klubnya untuk makan siang.

“Mungkin saja ini suatu tipuan, tapi kelihatannya ia akan pergi ke luar kota,” Preston melapor. “Mungkin dia menuju tempat rendezvous-nya. Bisa saja itu di atas kereta api atau di Sheffield. Barangkali dia menunda begitu lama karena dia datang terlalu dini. Masalahnya, sir, kalau dia meninggalkan London, kita akan memerlukan seorang pengendali lapangan untuk pergi bersama dengan tim pelacak itu. Saya ingin menjadi pengendali itu.”

“Ya, aku tahu apa maksudmu. Tidak mudah. Tapi, aku akan lihat apa yang bisa kulakukan.”

Sir Nigel menghela napas. Gagal sudah makan siangku, pikirnya. Ia memanggil seorang ajudannya. “Batalkan makan siangku di White’s. Siapkan mobilku. Dan buat sebuah telegram. Dalam urutan itu.”

Sementara ajudan itu mengurus dua tugas yang pertama, C menelepon Sir Bernard Hemmings di rumahnya dekat Farnham, di Surrey. “Maafkan aku mengganggumu, Bernard. Ada hal yang muncul yang membutuhkan nasihatmu…. Tidak, sebaiknya kita bertemu muka. Kau keberatan kalau aku datang? Harinya cerah…. Ya, baik, sekitar jam tiga, kalau begitu.”

202

“Telegramnya?” tanya ajudannya, ketika memasuki ruangan. “Ya.”

“Kepada siapa?” “Kepada aku sendiri.” “Baik. Dari?”

“Kepala Perwakilan, Wina.”

“Apakah sebaiknya saya hubungi dia, sir?”

“Tidak perlu merepotkan dia. Atur saja untukku supaya ruang morse itu menerima telegram dari dia tiga menit lagi.”

“Baiklah. Dan teksnya?”

Sir Nigel mendiktekannya. Mengirim kepada dirinya sendiri sebuah pesan penting, sebagai pembenaran atas apa yang ingin dilakukannya, adalah sebuah tipuan kuno yang dipelajarinya dari gurunya dulu, almarhum Sir Maurice Oldfield. Setelah ruang morse memberikan kepadanya sebuah telegram dalam bentuk yang sama dengan yang seandainya akan diterimanya dari Wina, bangsawan tua itu memasukkannya ke dalam sakunya dan berjalan menuju mobilnya.

Ia menemukan Sir Bernard sedang berada di kebunnya, menikmati matahari bulan Mei yang hangat, dengan selimut membungkus lututnya.

“Seharusnya sudah masuk hari ini,” kata Direktur Jenderal Lima sambil berusaha keras agar nampak riang. “Besok pasti masuk.”

“Tentu, tentu.”

203

“Nah, apa yang bisa kubantu?”

“Rumit,” kata Sir Nigel. “Seseorang baru saja terbang ke London dari Wina. Nampak seperti pengusaha Austria. Tapi ternyata palsu. Kami telah memperoleh identitasnya semalam. Seorang agen Ceko, salah satu anak buah StB. Kelas rendah. Kami berpendapat bahwa dia itu kurir.”

Sir Bernard mengangguk. “Ya, aku selalu memantau, meskipun aku berada di sini. Sudah mendengar semuanya. Anak buahku bisa mengatasinya, bukan?”

“Nampaknya begitu. Masalahnya sekarang, kelihatannya dia akan meninggalkan London malam ini. Ke arah utara. Lima akan memerlukan seorang pengendali lapangan untuk pergi bersama tim pelacak itu.”

“Tentu. Kita akan memperoleh itu. Brian bisa menangani itu.”

“Ya. Tentu saja ini adalah operasimu. Tapi…. Kau masih ingat peristiwa Berenson itu? Kita tidak pernah menemukan dua hal. Apakah Marais berkomunikasi melalui kontaknya di Kedutaan Rusia di sini, di London, atau dia memakai kurir-kurir yang dikirim ke dalam dari luar? Dan apakah Berenson satu-satunya orang dalam program yang dikendalikan Marais, atau ada orang-orang lain lagi?”

“Aku ingat. Kita bersepakat untuk memeti-eskan dulu pertanyaan-pertanyaan itu sampai kita bisa mengorek sejumlah keterangan dulu dari Marais.”

204

“Benar. Dan hari ini aku memperoleh pesan ini dari kepala perwakilanku di Wina.”

Ia menunjukkan telegram itu. Sir Bernard membacanya dan alisnya terangkat. “Terkait? Apa bisa begitu?”

“Mungkin saja. Winkler, alias Hayek, kelihatannya sejenis kurir. Wina menegaskan bahwa ia berasal dari StB tapi sebenarnya bekerja untuk KGB sendiri. Kita tahu bahwa Marais pergi ke Wina dua kali dalam dua tahun terakhir ini, ketika dia mengendalikan Berenson. Setiap kali dalam rangka kunjungan pesiar, akan tetapi….”

“Missing iink-nystf”

Sir Nigel mengangkat bahu. Jangan berlebih-lebihan.

“Apa yang akan dilakukannya di Sheffield?”

“Siapa yang tahu, Bernard? Apa ada program lain di sana di Yorkshire? Mungkinkah Winkler ini kurir untuk lebih dari satu program?”

“Apa yang kauinginkan dari Lima? Tambahan pelacak?”

“Bukan, John Preston. Kau pasti ingat bagaimana dia melacak Berenson, kemudian Marais. Aku suka sfy/e-nya. Dia cuti beberapa waktu. Lalu dia kena flu, begitu kata mereka padaku. Tapi ia sudah waktunya masuk kerja besok pagi. Ia sudah begitu lama tidak masuk kerja, jadi dia barangkali tidak punya kasus-kasus yang baru. Secara teknis dia memang membawahi pelabuhan dan bandara, C5(C). Tapi kau tahu bagaimana anak-anak di K

205

itu dipekerjakan. Kalau dia bisa diperbantukan sementara ke K2(B), kau bisa menunjuk dia sebagai pengendali lapangan untuk operasi ini.”

“Well, aku tidak tahu, Nigel. Ini terserah Brian….”

“Aku akan sangat berterima kasih, Bernard. Kita akui saja, Preston itu sudah aktif dalam pelacakan Berenson sejak pertama kali. Jika Winkler ternyata merupakan bagian dari semua itu, Preston bahkan mungkin akan bisa berjumpa dengan wajah yang sudah pernah dijumpainya sebelumnya.”

“Baiklah,” kata Sir Bernard. “Kauperoleh keinginanmu. Aku akan mengeluarkan instruksi itu dari sini.”

“Aku bisa membawanya balik ke sana kalau kau mau,” kata C. “Kau tak perlu repot Aku akan mengirim sopirku ke Charles Street dengan surat perintah itu….”

Sir Nigel berlalu dari situ dengan membawa surat perintah yang diperlukannya, yang ditulis oleh Sir Bernard Hcmmings, menyatakan bahwa John Preston ditugaskan sementara ke Cabang Khusus dan diangkat sebagai pengendali lapangan operasi Winkler, yaitu apabila operasi itu berlangsung di luar ibu kota.

Sir Nigel menyuruh membuat dua copy, satu untuk dia dan satu untuk John Preston. Aslinya dikirim ke Charles Street. Brian Harcourt-Smith saat itu sedang keluar kantor, jadi surat perintah itu ditinggalkan di atas meja tulisnya.

Pada jam 7.00 petang John Preston meninggal—

206

kan apartemen Chelsea-nya untuk yang terakhir kali. Ia berada di luar di udara bebas lagi, dan ia suka itu.

Di Sussex Gardens dia menyelinap di belakang Harry Burkinshaw. “Hello, Harry.”

“Good Lord. John Preston. Apa yang kaulakukan di sini?”

“Menghirup udara segar.”

“Well, jangan membuat dirimu kelihatan. Ada ‘Joe* yang sudah kami jebak di sana di seberang jalan.”

“Aku tahu. Aku diberitahu bahwa ia akan berangkat ke Sheffield dengan kereta jam sembilan dua puluh lima.”

“Kau tahu dari mana?”

Preston mengeluarkan surat perintah Sir Bernard. Burkinshaw mengamatinya. “Wow. Dari DJ-nya sendiri. Selamat bergabung, kalau begitu. Jaga jangan sampai kau terlihat”

“Punya radio ekstra?”

Burkinshaw mengangguk ke jalan. “Di belokan jalan itu di Radnor Place. Cortina coklat. Ada satu yang tak dipakai di kolak sarung tangan.”

“Aku akan menunggu di dalam mobil itu,” kata Preston.

Burkinshaw bingung. Tidak ada yang memberita h u dia bahwa Preston bergabung dengan mereka sebagai pengendali lapangan. Ia bahkan tidak tahu bahwa Preston berdinas di Seksi Ceko. Akan tetapi, tanda tangan DJ sungguh sangat berpengaruh.

207

Baginya sendiri, ia hanya akan melanjutkan tugasnya. Ia mengangkat bahu, memasukkan satu permen mint lagi ke dalam mulutnya, dan melanjutkan pengawasannya.

Pada jam 8.30 Winkler meninggalkan hotel. Ia membawa kopernya. Ia memanggil taksi yang lewat di situ dan memberikan instruksinya kepada pengemudi.

Saat Winkler melangkah keluar dari mulut pintu, Burkinshaw mengontak timnya dan kedua mobil pengawas lewat radio, la melompat masuk ke dalam mobil yang pertama dan mereka berada seratus meter di belakang taksi itu melintasi Edgware Road. Preston berada dalam mobil yang kedua. Sepuluh menit kemudian mereka tahu bahwa mereka sedang menuju ke timur, ke arah stasiun kereta api. Burkinshaw melaporkan hal ini.

Suara Simon Margery menanggapi dari Cork. “Okay, Harry, pengendali lapangan kita sedang menuju ke sana.”

“Kami sudah mempunyai pengendali lapangan,” kata Burkinshaw. “la di sini bersama kami.”

Ini berita mengherankan untuk Margery. Ia menanyakan nama pengendali itu. Ketika mendengarnya, ia berpikir telah terjadi suatu kekeliruan. “Ia bahkan bukan anggota K2(B),” ia memprotes.

“Sekarang iya,” kata Burkinshaw, tanpa terpengaruh. “Aku sudah melihat surat perintahnya. Ditandatangani oleh DJ.”

Margery lalu menghubungi Charles Street. Keli—

208

ka iring-iringan itu bergerak ke timur menembus senja, di Charles Street terjadi sedikit gejolak. Instruksi dari Sir Bernard dilacak dan dikonfirmasikan. Margery mengangkat bahu dengan sikap jengkel. “Mengapa orang-orang di Charles tidak pernah busa bersikap tegas?” ia bertanya tanpa ada yang menanggapi, la membatalkan penugasan seorang rekan yang telah ditunjuknya untuk mengambil alih di Stasiun St. Pancras. Lalu dia mencoba menghubungi Brian Harcourt-Smith untuk mengajukan keluhannya.

Winkler membayar taksinya, berjalan melewati gerbang lengkung masuk ke dalam bangunan berkubah stasiun kereta api bergaya Victoria itu, dan mengecek papan Keberangkatan. Di sekitarnya keempat pelacak dan Preston lenyap dalam kerumunan penumpang di dalam bangunan yang terbuat dari bata dan besi itu.

Kereta jam 9.25, yang singgah di Leicester, Derby, Chesterfield, dan Sheffield, berada di jalur dua. Setelah menemukan keretanya, Winkler berjalan di samping kereta itu, melewati tiga gerbong kelas satu yang pertama dan kereta makan, dan terus ke tiga gerbong kelas dua berjok biru dekat dengan ujung depan. Ia memilih yang tengah, meletakkan kopernya ke atas rak, dan duduk diam menunggu kereta berangkat.

Beberapa menit kemudian, seorang pria muda berkulit hiu m dengan earphone melingkari kepalanya dan sebuah Walkman yang terpasang pada

209

ikat pinggangnya masuk dan duduk tiga baris dari situ. Begitu* duduk, pria muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya mengikuti irama yang nampak seperti irama reggae yang menggelegar di telinganya, memejamkan mata, dan menikmati musiknya. Ia adalah salah satu anak buah Burkinshaw; carphone-nya tidak menyuarakan musik reggae, lapi berfungsi sebagai penerima instruksi Harry.

Salah satu anak buah Burkinshaw mengambil posisi di gerbong depan, dan Harry sendiri bersama John Preston di gerbong ketiga, sehingga Winkler berada dalam posisi di “box”. Agen keempat mengambil kursi kelas salu di gerbong terakhir, kalau-kalau Winkler melakukan “lest lari” di kereta itu untuk menggagalkan kuntilan yang disangkanya dilakukan terhadap dirinya.

Pada jam 9.25, kereta InlerCity 125 itu mendesis dan bergerak keluar dari St Pancras, ke utara. Pada jam 9.30 Brian Harcourt-Smith dilacak sampai ke ruang makan klubnya dan diminta datang ke tempat telepon. Simon Margery yang berbicara. Apa yang didengarnya membual Wakil Direktur Jenderal bergegas keluar, memanggil taksi, dan berpacu menempuh jarak tiga kilometer melintasi West End menuju Charles Street Di mejanya ia menemukan surat perinlah yang ditulis sore itu oleh Sir Bernard Hemmings. Wajahnya menjadi pucat karena marah.

Ia adalah orang yang sangat disiplin. Setelah

210

memikirkan masalah itu selama beberapa menit, ia mengambil telepon dan dengan sikapnya yang ramah seperti biasa, ia meminta operator untuk menghubungkannya dengan penasihat hukum kantor tempatnya berdinas, di rumahnya. Penasihat hukum itu adalah orang yang melakukan sebagian besar tugas-tugas perantaraan antara dinas itu dengan Cabang Khusus. Sementara hubungan itu sedang diupayakan, Harcourt-Smith meneliti jadwal kereta api yang menuju Sheffield. Penasihat hukum ilu dipaksa bangkit dari kursinya di depan pesawat televisi di Camberley dan menghampiri telepon.

“Saya perlu Cabang Khusus untuk melakukan penangkapan,” kata Harcourt-Smith. “Saya mempunyai alasan untuk yakin bahwa seorang imigran gelap yang dicurigai sebagai agen Soviet mungkin lolos dari pengawasan. Nama: Franz Winkler; mengaku sebagai warga Austria. Tuduhan: dicurigai memegang paspor palsu. Ia akan tiba dengan kereta dari London di Sheffield pada jam sebelas lima puluh sembilan. Ya, saya tahu ini pemberitahuan mendadak. Karena itulah ini penting. Ya, harap hubungi Komandan Cabang Khusus di Yard dan minta dia meluncurkan operasi Sheffield untuk melakukan penangkapan saat kereta tiba di Sheffield.”

Ia meletakkan telepon itu dengan murung. John Preston boleh saja memojokkan dia dengan berperan sebagai pengendali lapangan tim pengawas—

211

an itu, tapi Ťpenangkapan terhadap seseorang yang dicurigai merupakan masalah kebijakan, dan itu termasuk dalam wewenang departemennya.

Kereta itu sudah hampir kosong. Dua gerbong, dan bukan enam, sebenarnya sudah cukup untuk memuat keenam puluh penumpangnya. Barney, pelacak di gerbong depan itu, berada di gerbong itu bersama sepuluh penumpang lain, semuanya benar-benar penumpang, la menghadap ke arah belakang supaya ia bisa melihat ujung kepala Winkler melalui jendela pada pintu antargerbong.

Ginger, pemuda kulit hitam dengan headphone itu yang berada bersama Winkler di gerbong kedua, duduk bersama lima penumpang lain di gerbong itu. Ada selusin penumpang yang mengisi gerbong berkapasitas enam puluh tempat duduk itu selain Preston dan Burkinshaw di gerbong ketiga. Selama satu seperempat jam lamanya Winkler tidak melakukan apa-apa. Ia tidak membawa bacaan; ia hanya menatap ke luar jendela ke lingkungan pedesaan yang gelap.

Pada jam 10.45, ketika kereta mengurangi kecepatan untuk berhenti di Leicester, ia bergerak. Ia mengambil kopernya dari atas rak, berjalan di dalam kereta ke arah haluan, keluar menuju kamar kecil, dan menarik turun jendela dari pintu yang menghadap ke arah peron. Ginger memberitakan ini kepada yang lain, yang bersiap-siap untuk bergerak dalam waktu cepat jika diminta.

212

Seorang penumpang lain mendesak melewati Winkler ketika kereta berhenti. “Maaf, permisi, apakah ini Sheffield?” Winkler bertanya.

“Bukan, ini Leicester,” kata orang itu sambil terus turun ke peron.

“Ah, so. Terima kasih,” kata Winkler. Ia meletakkan kopernya, tapi tetap berdiri dekat jendela yang terbuka, memandangi peron itu dari satu ujung ke ujung lainnya selama persinggahan yang singkat itu. Saat kereta bertolak lagi, ia kembali ke tempat duduknya dan meletakkan kopernya ke atas rak kembali.

Pada jam 11.12 ia melakukan hal yang sama di Derby. Kali ini ia bertanya pada seorang penjaga pintu di peron di bangunan beton yang berbentuk gua yang menjadi bagian dari Stasiun Derby.

“Derby,” kala penjaga pintu itu. “Sheffield nanti setelah satu persinggahan lagi.”

Lagi-lagi, Winkler menghabiskan waktu persinggahan itu dengan memandang ke luar jendela yang terbuka, lalu kembali ke tempat duduknya dan melemparkan tasnya ke atas rak. Preston mengawasi dia melalui pintu antargerbong.

Pada jam 11.43 mereka tiba di Chesterfield, sebuah stasiun gaya Victoria yang dirawat dengan baik, dihiasi lukisan-lukisan cerah dan keranjang-keranjang bunga yang bergantungan. Kali ini Winkler meninggalkan kopernya di tempatnya semula, lapi kemudian pergi ke jendela dan menjulurkan badannya ke luar ketika dua atau tiga

213

penumpang meninggalkan ketela dan bergegas lari melalui penghalang pemeriksaan tiket Peron sudah kosong sebelum kereta itu bergerak maju. Saat itulah Winkler membuka pintu, melompat ke lantai beton, dan menutup pintu dengan gerakan ke belakang dengan umpannya.

Burkinshaw jarang sekali terperangah oleh ulah seorang “Joe”, tapi kelak diakuinya bahwa Winkler benar-benar telah membuatnya kelu karena terkejut. Empat pelacak itu semuanya seharusnya dengan gampang bisa turun ke peron, tapi tidak ada sedikit pun tempat untuk berlindung di situ di lantai beton yang gundul. Winkler akan bisa melihat mereka dan membatalkan rcndezvous-nya, di mana pun itu tadinya dijadwalkan.

Preston dan Burkinshaw berlari ke depan, ke peron tempat penumpang naik ke kereta, di mana Ginger lalu bergabung dengan mereka dari gerbong di depannya. Jendela itu masih terbuka. Preston mcnongolkan kepalanya ke luar dan melihat ke belakang. Winkler yang akhirnya merasa puas karena tidak dikuntit, sedang berjalan dengan cepat menyusuri peron dengan punggung menghadap ke kereta api.

“Harry, cepat kembali ke sini membawa tim dengan mobil,” teriak Preston. “Hubungi aku dengan radio kalau kau berada dalam jarak tangkap. Ginger, tutup pintu di belakangku ini.” Lalu ia mendorong pintu itu terbuka, menjejakkan kakinya

214

ke papan injakan, mengambil sikap mendarat penerjun payung, dan melompat

Penerjun payung biasanya menyentuh tanah pada kecepatan sekitar enam belas kilometer per jam; kecepatan gerak ke samping tergantung pada angin. Kereta itu sedang melaju dalam kecepatan empat puluh lima kilometer per jam saat Preston membentur tanggul rel kereta sambil berdoa semoga ia tidak menghantam tiang beton atau batu besar. Dja beruntung. Rumput bulan Mei yang tebal menyerap sebagian benturan itu; lalu dia berguling, lutut merapat, siku terlipat ke dalam, kepala menunduk. Kelak Harry mengatakan padanya bahwa ia tidak tega menyaksikan itu. Ginger mengatakan bahwa ia mental seperti mainan anak-anak di tanggul itu dan berguling ke arah roda-roda kereta yang berputar cepat Ketika akhirnya ia berhenti berguling, ia terbaring di parit di antara rerumputan dan badan jalan. Ia mencoba bangkit dengan susah payah, membalikkan badan, dan mulai berlari kembali ke arah cahaya yang terpancar dari stisiun.

Ketika ia muncul di tempat penghalang pemeriksaan tiket, si penjaga sedang menutup tempat itu dan mengakhiri tugasnya. Ia tertegun melihat laki-laki yang babak-belur dengan jas yang koyak itu.

“Orang terakhir yang lewat pintu ini tadi,” Preston terengah-engah, “pendek, kekar, dengan jas hujan abu-abu. Ke mana dia?”

215

Penjaga itu mengangguk ke arah bagian depan stasiun, dan Preston berlari ke sana. Terlambat, penjaga itu sadar dia belum meminta tiket orang ini. Di saat yang sama, Preston sedang memandang lampu-lampu belakang sebuah taksi yang meluncur dengan cepat keluar dari stasiun dan menuju ke arah kota. Itu adalah taksi yang terakhir. Dia tahu dia bisa saja meminta polisi setempat melacak pengemudinya dan menanyakan ke mana dia membawa penumpangnya tadi, tapi ia tahu pasti bahwa Winkler akan turun dari taksi itu sebelum dia tiba di tempat tujuan yang sebenarnya dan kemudian menempuh sisa perjalanannya dengan berjalan kaki. Beberapa langkah dari situ seorang portir stasiun sedang menstarter sepeda motornya.

“Saya perlu meminjam sepeda motor Anda,” kata Preston.

“Enak saja,” kata portir itu. Tidak ada waktu lagi untuk pembuktian diri atau perdebatan; lampu-lampu taksi itu berkelebat di bawah ring road yang baru dibangun dan menghilang di kegelapan. Jadi Preston terpaksa memukul dia—sekali saja— di rahangnya. Portir itu langsung rubuh. Preston menangkap sepeda motor yang akan rubuh itu, melepaskannya dari kaki orang itu, menghidupkan mesinnya dan mengendarainya.

Lampu lalu lintas berpihak kepadanya. Taksi itu sudah sampai di Corporation Street, dan Preston tidak akan pernah bisa mengejarnya dengan sepeda motor kecilnya yang bermesin lemah, tetapi un—

216

tung lampu lalu lintas di depan perpustakaan pusat kebetulan sekali sedang tidak merah. Ketika taksi itu meluncur di Holywell Street dan masuk ke Saltergate, ia berada seratus meter di belakangnya, dan kemudian ia semakin kehilangan jejak ketika mesin taksi yang besar itu menderu meninggalkannya sejauh delapan ratus meter di jalan raya yang lurus. Seandainya Winkler dibawa menuju ke arah pedesaan ke arah sebelah barat Chesterfield, Preston tidak akan pernah bisa mengejarnya.

Untungnya lampu rem taksi itu berbinar saat ia sudah nampak bagaikan titik di kejauhan. Winkler membayar pengemudi taksi itu di tempat Saltergate menyambung dengan Ashgatc Road. Ketika Preston sudah berhasil menyusulnya, dia bisa melihat Winkler di samping taksi itu, mengamati jalan itu dari ujung ke ujung bawah. Tidak ada kendaraan lain di situ; Preston menyadari bahwa ia tidak punya pilihan selain terus maju. Ia melaju melewati taksi yang berhenti itu seperti seseorang yang terlambat pulang, menyimpang ke arah Foljambe Road, dan berhenti di situ.

Winkler menyeberangi jalan itu dengan berjalan kaki; Preston mengikutinya. Winkler tidak pernah lagi menoleh ke belakang. Ia terus berjalan mengitari tembok pemagar stadion sepakbola Chesterfield dan masuk ke Compton Street Di sini dia menghampiri sebuah rumah dan mengetuk pintunya. Bergerak dengan hati-hati di antara bercak-bercak bayang bayang, Preston tiba di sudut jalan

217

dan bersembunyi di balik semak-semak di halaman rumah yang’di sudut itu.

Di ujung sana jalan dia melihat cahaya memancar dari sebuah rumah yang diliputi kegelapan. Pintunya membuka dan terjadi pembicaraan singkat di undakan di depan pintu, lalu Winkler masuk ke dalam. Preston menghela napas dan mendekam di ba|ik semak-semak, bersiap-siap untuk mengawasi rumah itu semalam suntuk. Ia tidak bisa membaca nomor rumah yang dimasuki Winkler, dan ia juga tidak bisa melihat bagian belakangnya, lapi ia bisa melihat tembok stadion sepakbola yang menjulang tinggi di belakang rumah itu, jadi barangkali di belakang situ tidak ada jalan keluar.

Pada jam dua pagi ia mendengar suara lemah yang berasal dari radionya dan ternyata itu Burkinshaw. Ia menyebutkan identitasnya dan memberitahukan posisinya. Pada jam setengah tiga ia mendengar suara langkah kaki dan ia berbisik memberitahukan lokasinya. Burkinshaw bergabung dengan dia di balik semak-semak.

“Kau baik-baik, John?”

“Ya. Ia masuk ke dalam rumah itu, yang kedua setelah pohon ilu, yang ada cahayanya di balik gorden.”

“Aku mengerti. John, ada tim penyambutan di Sheffield. Dua agen dari Cabang Khusus dan tiga petugas berseragam. Dikirim dari London. Apa kau menghendaki penangkapan?”

“Tentu saja tidak. Winkler adalah seorang kurir.

218

Aku menginginkan ikan besarnya. Mungkin ia yang berada di dalam rumah ilu. Apa yang terjadi dengan tim Sheffield ilu?”

Burkinshaw tertawa. “Syukur kepada Tuhan atas sistem kepolisian Inggris. Sheffield termasuk Yorkshire; padahal ini sudah masuk wilayah Derbyshire. Mereka harus menyelesaikannya dulu di antara kepala-kepala polisinya esok pagi. Itu memberimu cukup waktu.”

mYeah. Mana yang lain-lain?”

“Di jalanan sana. Kami tadi kembali ke sini naik taksi dan kami sudah menyuruhnya pergi. John, kami tidak mempunyai kendaraan. Juga, jika fajar merekah nanti, tempat ini tidak ada perlindungannya.”

“Suruh dua agen berjaga di ujung sana jalan dan dua lagi di sini,” kata Preston. “Aku akan kembali ke kota untuk menghubungi kantor polisi dan m Inti sedikit bantuan. Kalau si ‘Chummy* pergi dari situ, kabari aku. Tapi segera bayangi dia dengan dua anggota tim—yang dua lagi diminta untuk mengawasi rumah ilu.”

Ia lalu meninggalkan kebun itu dan berjalan kembali ke pusat kota Chesterfield untuk mencari kantor polisi, yang ditemukannya di Beetwell Street. Saat dia berjalan, sesuatu terus menggelitik dalam benaknya. Ada sesuatu dalam ulah Winkler yang tidak masuk akal.

219

19

KEPALA POLISI ROBIN KING tidak senang dibangunkan pada jam tiga pagi, tapi ketika mendengar bahwa ada seseorang dari Ml-5 di kantor polisinya mencari bantuan, ia menyanggupi untuk segera datang; dan dia berada di sana, tidak sempat bercukur dan bersisir, dua puluh menit kemudian. Ia menyimak dengan penuh perhatian ketika Preston menjelaskan inti permasalahannya: bahwa seorang pria asing yang dicurigai sebagai agen Soviet telah dikuntit sejak dari London, ia melompat dari kereta di Chesterfield, dan telah diikuti sampai ke sebuah rumah di Compton Street, yang nomornya belum diketahui.

“Saya tidak tahu siapa yang tinggal di rumah itu, atau mengapa buronan kita berkunjung ke situ. Saya bermaksud mencari tahu, tapi untuk sementara ini saya tidak ingin ada penangkapan. Saya ingin mengawasi rumah itu. Nanti agak Siangan, kita akan bisa menerapkan wewenang yang lebih penuh melalui Kepala Polisi Derbyshire; untuk

220

saat ini masalah ini lebih penting sifatnya. Saya menempatkan empat orang dari tim pelacak kami di jalan itu, tapi jika hari bertambah siang nanti mereka akan nampak jelas tanpa perlindungan. Jadi saya membutuhkan bantuan sekarang.”

“Apa tepatnya yang bisa saya lakukan buat Anda, Mr. Preston?” perwira polisi senior itu bertanya.

“Apa Anda mempunyai mobil van yang tidak beridentitas, misalnya?”

“Tidak. Sejumlah mobil sedan polisi memang tidak beridentitas, tapi dua van milik kami ada lambang kepolisiannya di sisinya.”

“Apakah bisa diusahakan sebuah van tanpa identitas dan kemudian memarkirnya di jalan itu dengan anak buah saya di dalamnya, hanya sebagai suatu langkah sementara?”

Kepala polisi itu memanggil sersan yang sedang bertugas melalui telepon. Ia mengajukan pertanyaan yang sama itu dan mendengarkan selama beberapa saat “Upayakan dia datang ke telepon dan minta dia meneleponku sekarang juga,” katanya. Dan pada Preston, “Salah satu orang kami mempunyai van. Kondisinya sudah cukup parah—ia selalu diejek rekan-rekannya karena itu.”

Tiga puluh menit kemudian constable polisi yang masih mengantuk itu telah membuat rendezvous dengan tim pelacak di depan gerbang utama stadion sepakbola. Burkinshaw dan anak buahnya masuk ke dalam van dan van itu lalu dikemudikan

221

kc Compton Street, kemudian diparkir di hadapan rumah yang sedang diawasi. Di bawah instruksi, polisi itu keluar dari mobil, menggeliat, dan berjalan menyusuri jalanan dengan sangat santai seperti orang yang sedang pulang ke rumah dari kerja malam.

Burkinshaw mengintip dari jendela belakang van dan menghubungi Preston lewat radio. “Sekarang lebih enak,” katanya, “kami bisa melihat rumah di seberang jalan dengan jelas. O, ya, nomornya ternyata lima puluh sembilan.”

“Tetap di situ dulu sementara,” kala Preston. “Aku sedang mengusahakan sesuatu yang lebih baik lagi. Sementara ini, kalau Winkler keluar berjalan kaki, minta dua orang menguntit dia dan yang dua lagi tetap mengawasi rumah ilu. Kalau dia pergi naik mobil, ikuti dengan van itu.” Ia lalu menoleh ke Kepala Polisi King. “Kita mungkin masih harus mengawasi rumah itu untuk waktu yang lama. Artinya kita harus mengambil sebuah kamar di lantai atas dari sebuah rumah yang berseberangan. Apa bisa kita dapatkan seseorang di Compton Street ini yang bisa dimintai bantuan untuk itu?”

Kepala polisi itu berpikir keras. “Saya kenal seseorang yang tinggal di Complon Street,” katanya. “Kami dulu pernah tinggal sama-sama di satu pondokan. Karena itu saya kenal dia. Dia dulu seorang bintara di Angkatan Laut, sudah pensiun sekarang. Dia tinggal di nomor enam puluh dcla—

222

pan. Tapi.saya tidak tahu di mana letak rumah itu di jalan ini.”

Burkinshaw memastikan bahwa Compton Street nomor 68 terletak berseberangan dengan rumah yang diawasi, tapi selisih dua rumah. Jendela depan di lantai dua, barangkali kamar tidur, akan bisa memberikan pandangan yang jelas ke rumah yang diawasi. Kepala Polisi King menelepon temannya dari kantor polisi.

Atas petunjuk Preston, sang polisi mengatakan pada pemilik rumah yang masih mengantuk, Mr. Sam Royston, bahwa ini merupakan suatu operasi resmi—mereka bermaksud mengawasi seseorang yang dicurigai yang berlindung di rumah di seberang jalan. Setelah pelan-pelan rasa kantuknya hilang, Royston menyatakan persetujuannya. Sebagai warga negara yang patuh akan hukum ia tentu saja membolehkan polisi memakai kamar depannya itu.

Van itu dikemudikan pelan-pelan mengitari blok itu, masuk kc West Street; Burkinshaw dan anak buahnya menyelinap di antara rumah-rumah di kompleks itu, menembus pagar-pagar kebun, dan memasuki rumah Royston di Compton Street dari kebun belakang rumah. Beberapa saat sebelum matahari menerangi jalan, tim pelacak itu sudah bersiaga di kamar tidur Royston di balik gorden-gorden yang berenda, melalui situ mereka bisa melihat rumah nomor 59 di seberang jalan.

Royston, yang nampak sangat tegang dalam pa—

223

kaian tidurnya, tapi dipenuhi dengan rasa diri penting karena diminta membantu para pengawal Sri Ratu, ikut mengintip lewat gorden ke arah rumah yang hampir tepat berseberangan itu. “Perampok bankkah? Pengedar obat terlarang?”

“Semacam itulah,” Burkinshaw menanggapi.

“Orang asing,” Royston menggeram. “Saya tidak suka mereka. Mestinya dilarang saja masuk ke negeri ini.”

Ginger, yang orangtuanya berasal dari Jamaica, menatap acuh tak acuh menembus gorden. Mungo, si orang Skotlandia, sedang membawa naik dua buah kursi dari lantai bawah.

Mrs. Royston muncul bagai seekor tikus yang keluar dari tempat persembunyiannya, setelah melepaskan rol-rol dan jepit-jepit rambutnya. “Apa ada yang mau,” ia bertanya, “minum teh panas?”

Barney, yang masih muda dan tampan, menyunggingkan senyum simpatik di wajahnya. “Saya mau sekali itu, ma’am.”

Ternyata itu menghabiskan seluruh waktu Mrs. Royston hari itu. Ia mulai mempersiapkan cangkir teh pertama yang kemudian disusul—tanpa henti— dengan cangkir-cangkir teh selanjutnya—jenis minuman yang nampaknya mendominasi hidupnya tanpa tanda-tanda adanya makanan padat sebagai pendamping.

Di kantor polisi, sersan yang sedang piket juga telah berhasil menentukan identitas para penghuni rumah nomor 59 di Compton Street

224

“Dua orang Yunani Siprus, sir,” ia melapor kepada Kepala Polisi King. “Bersaudara dan keduanya masih bujangan, Andreas dan Spiridon Stephanides. Tinggal di sini sekitar empat tahun, menurut polisi yang menangani bidang itu. Kelihatannya mereka mengurus sebuah kedai sate ala Yunani dan sebuah kedai makanan take-away di Holywell Cross.”

Preston sudah menghabiskan setengah jam dalam upaya menelepon London. Pertama-tama ia membangunkan petugas piket di Sentinel, yang kemudian menghubungkannya dengan Banks. “Barry, tolong kauhubungi C di mana pun dia berada dan minta dia untuk menghubungi aku kembali.”

Sir Nigel Irvine menelepon lima menit kemudian, yang bersikap begitu tenang dan jernih seolah-olah ia bukan baru saja bangun dari tidur. Preston meleporkan kepadanya semua peristiwa malam itu.

“Sir, ternyata ada tim penyambutan di Sheffield. Dua agen Cabang Khusus dan tiga agen berseni ga m yang diberi wewenang untuk melakukan penangkapan.”

“Kukira itu tidak termasuk dalam rencana, John.”

“Sedikitnya itu tanpa sepengetahuan saya.”

“Baiklah, John, masalah itu aku yang akan mengurusnya di sini. Kau telah menemukan rumah itu. Kau akan bergerak masuk sekarang?”

“Saya telah menemukan sebuah rumah,” Preston

225

mengoreksi. “Saya tidak akan memasukinya karena saya kira ini bukan akhir dari pelacakan ini. Satu hal lagi, sir. Kalau Winkler meninggalkan rumah itu dan akan kembali ke tempat asalnya, saya ingin ia diperbolehkan pergi dengan damai. Seandainya dia seorang kurir, atau pembawa pesan, atau hanya melakukan pengecekan, maka orang-orang di pihaknya akan mengharapkan dia kembali ke Wina. Kalau dia gagal untuk kembali, mereka akan mengubah rencana mereka secara total.”

“Ya,” kata Sir Nigel hati-hati. “Aku akan berbicara dengan Sir Bernard mengenai hal itu. Kau ingin tetap mengendalikan operasi itu di sana atau kembali ke London?”

“Saya ingin tetap di sini dulu, kalau mungkin.”

“Baik. Aku akan mengajukan permintaan tingkat tertinggi dari Enam bahwa apa yang kauinginkan itu dikabulkan. Sekarang, lindungi dirimu dan buatlah laporan operasimu itu ke Charles Street.”

Setelah telepon diletakkannya. Sir Nigel menelepon Sir Bernard Hemmings di rumahnya. Direktur Jenderal Lima setuju makan pagi bersamanya di Guards Club pada jam delapan.

“Begitulah, Bernard, mungkin saja Pusat (Partai Komunis Uni Soviet) sedang meluncurkan sebuah operasi besar di dalam negeri ini, saat ini,” kata C sambil membubuhi rotinya yang kedua dengan mentega.

Sir Bernard Hemmings merasa sangat tertekan.

226

Ia duduk di situ dengan makanan di hadapannya yang belum disentuhnya. “Brian seharusnya melaporkan insiden Glasgow itu padaku,” katanya. “Sungguh gila! Mengapa laporan itu masih saja tergeletak di meja tulisnya tanpa diproses?”

“Kita semua kadang-kadang melakukan kekeliruan dalam memberikan penilaian. Errare huma-num est—berbuat salah adalah manusiawi, begitulah,” gumam Sir Nigel. “Sekarang ini, anak buahku di Wina berpendapat bahwa Winkler adalah seorang kurir untuk suatu kelompok agen yang sudah lama terlibat dalam suatu operasi, dan aku menyimpulkan bahwa Jan Marais mungkin salah satu dari kelompok agen itu. Kini ternyata kelihatannya mungkin ada dua operasi terpisah.”

Ia tidak mengaku bahwa ia sendirilah yang telah menulis telegram dari Wina itu hari sebelumnya, untuk memperoleh apa yang diinginkannya dari rekannya itu—yaitu dilibatkannya Preston sebagai pengendali lapangan dalam operasi Winkler. Bagi C, selalu ada saat-saat dia sangat berterus terang dan ada saat-saat dia bersikap hati-hati dan menutup mulut.

“Dan operasi kedua, adalah operasi yang terkait dengan penyergapan di Glasgow itu?” tanya Sir Bernard.

Sir Nigel mengangkat bahu. “Aku belum tahu pasti, Bernard. Kita hanya meraba-raba dalam gelap. Yang jelas, Brian tidak percaya itu. Mungkin ia benar. Jika begitu maka akulah yang akan ber—

227

lumur telur di wajahku. Tapi, peristiwa Glasgow, transmiter misterius di Midlands, kedatangan Winkler…. Orang itu, Winkler, merupakan petunjuk yang kita peroleh karena nasib baik; mungkin itu yang terakhir yang bisa kita peroleh.”

“Jadi apa kesimpulanmu, Nigel?”

C tersenyum dengan sikap meminta maaf. Itu adalah pertanyaan yang sudah ditunggu-tunggunya. “Tidak ada kesimpulan, Bernard. Hanya beberapa perkiraan semenlara. Jika Winkler tcrnyala seorang kurir, kukira dia pasti akan membuat kontak dan menyampaikan barang yang dibawanya, atau menjemput barang yang menjadi tujuan dari kedatangannya, di sebuah tempat umum. Tempat parkir, tanggul sungai, bangku di sebuah taman, tempat duduk di pinggir sebuah kolam…. Seandainya ada suatu operasi besar yang sedang berlangsung di sini, pasti ada seorang ilegal kelas satu di dalam negeri ini. Orang yang sedang memainkan pertunjukan ini. Seandainya kau adalah dia, apakah kau menghendaki kurir-kurir itu muncul di depan pintu rumahmu? Tentu saja tidak. Kau pasti akan minta satu tempat pertemuan rahasia, barangkali dua. Mari diminum kopinya.”

“Baik, setuju.” Sir Bernard menunggu, sementara rekannya menuangkan secangkir kopi untuknya.

“Karena itulah, Bernard, kupikir Winkler itu pasti bukan ikan besarnya. Ia cuma seorang kroco—pesuruh, kurir, atau lainnya lagi. Begitu

228

juga dengan dua orang Siprus di rumah kecil di Chesterfield itu. Cuma sleeper saja, bukankah begitu pendapatmu?”

“Ya,” Sir Bernard setuju, “sleeper kelas rendah.”

“Karena itu, sekarang mulai nampak bahwa rumah di Chesterfield itu barangkali berfungsi sebagai tempat penampung bagi paket-paket yang masuk, kiriman pos, gudang penyimpan, atau barangkali pangkalan bagi transmiter itu. Yang jelas, lokasinya benar, dua bunyi lengking yang ditangkap GCHQ dulu itu berasal dari Distrik Derbyshire Peak dan dari bukit-bukit di sebelah utara Sheffield, yang sangat mudah dicapai dari Chesterfield.”

“Dan Winkler?”

“Banyak kemungkinannya, Bernard. Teknisi yang dikirim untuk mereparasi transmiter kalau alat itu mengalami kerusakan? Supervisor yang memantau pelaksanaan? Apa pun dia sebenarnya, kukira kita harus membiarkan dia melapor kembali bahwa semuanya berjalan lancar.”

“Dan ikan besarnya—menurut kau—akan muncul nanti?”

Sir Nigel mengangkat bahu lagi. Kecemasan yang menghantuinya adalah bahwa Brian Harcourt-Smith, yang kecewa karena gagalnya penangkapan di Sheffield, mungkin akan merancang untuk menyerbu rumah di Chesterfield itu. Bagi Sir Nigel, tindakan ini sangat terlalu dini. “Perkiraanku adalah bahwa pasti ada seorang kontak di

229

sana di suatu tempat E;:uh dia yang akan menjumpai orang-orang Yunani itu atau orang-orang Yunani itu yang akan menjumpai dia,” katanya.

“Begini, Nigel, aku rasa kita harus membiarkan dulu rumah di Chesterfield itu, paling tidak untuk sementara ini.”

Kepala SIS nampak serius. “Bernard, sahabatku, aku setuju dengan pendapatmu. Tapi Brian muda itu kelihatannya begitu tak sabar untuk menyerbu masuk dan melakukan penangkapan. Ia sudah mencoba itu tadi malam di Sheffield. Memang, penangkapan akan kelihatan baik untuk beberapa waktu, lapi….”

“Biar aku yang mengurus Harcourt-Smith, Nigel,” kata Sir Bernard dengan murung. “Aku memang sudah uzur, tapi singa tua ini masih bisa mengaum. Begini, aku akan mengambil alih pengendalian operasi ini secara pribadi.”

Sir Nigel menyandarkan tubuhnya ke depan dan meletakkan tangannya di lengan Sir Bernard. “Aku sungguh berharap kau lakukan itu, Bernard.”

Winkler meninggalkan rumah di Compton Street itu pada jam setengah sepuluh, berjalan kaki. Mungo dan Barney menyelinap keluar dari rumah Royston, melewati kebun, dan menyusul si Ceko di sudut Ashgate Road. Winkler kembali ke stasiun, mengambil kereta jurusan London, dan dikuntit oleh tim pelacak pengganti di St Pancras. Mungo dan Barney kembali ke Derbyshire.

230

Winkler tidak pernah balik lagi ke hotelnya. Apa pun yang telah ditinggalkannya di sana, tidak diambilnya lagi, seperti ia meninggalkan koper berisi piama dan kemeja di kereta api malam sebelumnya—dan dia langsung menuju Heathrow. Ia menumpang pesawat sore yang terbang ke Wina. Kepala perwakilan Irvine di sana melaporkan kemudian, bahwa pada saat tiba di Austria Winkler disambut oleh dua orang pria dari Kedutaan Soviet.

Preston menghabiskan sisa hari ilu di kantor polisi setempat, menyaksikan pelaksanaan prosedur administrasi yang sangat rumit, yang menyangkut pengawasan di suatu propinsi. Mesin birokrasi sudah mulai berputar; Charles Street mengontak Kantor Kementerian Dalam Negeri, yang lalu memberi wewenang pada Kepala Polisi Distrik Derbyshire untuk memerintahkan Kepala Polisi King untuk membantu Preston dan anak buahnya dalam segala hal. King senang saja melakukan itu, tapi urusan administrasinya harus beres.

Len Stewart datang dengan mobil, membawa tim kedua, dan mereka semua ditempatkan di mes polisi yang khusus untuk bujangan. Kakak beradik Stephanides diambil fotonya dengan menggunakan lensa panjang saat mereka meninggalkan Compton Street untuk pergi ke restoran mereka di Holywell Cross, beberapa saat sebelum tengah hari, dan kemudian dikirimkan dengan sepeda motor ke

231

London. Ahli-ahli teknik lain datang dari Manchester, pergi ke sentral telepon setempat, dan melakukan penyadapan terhadap kedua telepon mereka, yang di ramah dan yang di restoran. Sebuah alat pelacak lokasi disusupkan ke dalam mobil mereka.

Saat sore menjelang senja, London telah berhasil mengidentifikasi mereka. Sebenarnya mereka bukan orang Siprus, tapi benar mereka memang kakak-beradik. Mereka adalah veteran Komunis Yunani, yang dulu pernah aktif dalam gerakan ELLAS; mereka sudah dua puluh tahun meninggalkan daratan Yunani untuk pindah ke Siprus. Karena itu Athena dengan senang hati memberikan informasi kepada London. Nama mereka yang sebenarnya adalah Coslapopoulos. Menurut informasi dari Nicosia, mereka telah menghilang dari Siprus delapan tahun yang lalu.

Catatan imigrasi di Croydon mengungkapkan kakak-beradik Stcphanides masuk ke Inggris lima tahun yang lalu, sebagai warga negara Siprus yang sah dan diizinkan untuk menetap.

Catatan imigran di Chesterfield menunjukkan bahwa mereka tiba di sana tiga setengah tahun yang lalu dari London, membuat sewa jangka panjang atas tempat berjualan sate itu, dan membeli ramah kecil di Compton Street Sejak itu mereka hidup sebagai warga yang damai dan patuh hukum. Enam hari dalam seminggu mereka membuka restoran mereka untuk menampung orang

232

makan siang—yang ternyata tidak terlalu menggembirakan—dan mereka buka sampai malam, hasilnya jauh lebih bagus karena banyak orang membeli makanan untuk dibawa pulang.

Tidak ada orang di kantor polisi itu yang diberitahu alasan sesungguhnya dari pengawasan itu, kecuali. Kepala Polisi King, dan hanya enam orang yang tahu bahwa ada pengawasan. Yang lainnya hanya diberitahu bahwa operasi ini merupakan bagian dari kampanye nasional pemberantasan obat terlarang. Orang-orang London didatangkan, hanya karena mereka sudah mengenal wajah-wajah para pelakunya.

Beberapa saat setelah matahari terbenam, Preston menyelesaikan urusan administrasi di kantor polisi itu, lalu pergi bergabung dengan Burkinshaw dan timnya. Sebelum meninggalkan kantor polisi, ia mengucapkan terima kasih kepada Kepala Polisi King, berulang-ulang, untuk semua bantuan yang diberikannya.

“Apakah Anda akan terus hadir selama pengawasan ini?” tanya kepala polisi itu.

“Ya, saya akan berada di sana,” kata Preston. “Mengapa Anda bertanya?”

King tersenyum sedih. “Tadi malam hampir separo waktu kami habiskan melayani seorang portir stasiun yang kena musibah. Rupanya seseorang telah memukulnya jatuh dari sepeda motornya di halaman stasiun dan melarikan diri dengan motor itu. Kami menemukan motor itu di Foljambe

233

Road, masih utuh. Tapi, dia memberikan ciri-ciri yang jelas mengenai orang yang menyerangnya. Anda tidak akan banyak kHaar-keluar, kan?”

Tidak, saya kira tidak.”

“Sungguh bijaksana,” King menanggapi.

Di rumah di Compton Street, Mr. Royston diminta untuk melanjutkan kebiasaan hidupnya sehari-hari, mengunjungi loko-toko di pagi hari dan pergi ke lapangan hijau untuk main bowling di sore hari. Makanan dan minuman ekstra dimasukkan ke dalam rumah setelah hari mulai gelap, kalau-kalau ada tetangga yang curiga melihat selera makan Royston yang mendadak meningkat dengan drastis. Sebuah pesawat televisi kecil dibawa masuk sebagai sarana hiburan bagi yang diistilahkan Royston sebagai “anak-anak di atas”, dan mereka semua bersiap-siap untuk menunggu dan mengawasi.

Suami-istri Royston pindah ke kamar tidur yang di belakang, dan tempat tidur single yang berada di kamar itu dipindahkan ke depan. Tempat tidur itu dipakai bergantian oleh para pelacak ilu. Yang juga dibawa masuk adalah sebuah teropong di atas tripod yang kuat daya jangkaunya, ditambah sebuah kamera berlensa panjang untuk pengambilan foto di siang hari dan lensa inframerah untuk pengambilan foto di malam hari. Dua mobil yang diisi bahan bakar penuh diparkir dekat di situ, dan anak buah Len Stewart menangani ruang komunikasi di kantor polisi itu, menghubungkan rumah

234

Royston, yang dilengkapi dengan perlengkapan manual, dengan London.

Ketika Preslon tiba di sana, keempat pelacak itu nampaknya sudah merasa kerasan di rumah itu. Barney dan Mungo sedang tidur sejenak, satu di tempat tidur dan lainnya di lantai; Ginger sedang duduk di sebuah kursi malas menghirup secangkir teh yang masih hangat; Harry Burkinshaw sedang duduk bagaikan Buddha di sebuah kursi empuk di belakang gorden-gorden berenda itu, memandang ke seberang ke arah rumah kosong itu.

Sebagai orang yang telah menghabiskan separo umurnya mengawasi dan melacak orang yang dicurigai dalam hujan dan panas, siang maupun malam, Harry cukup senang. Dia merasa hangat, tidak kehujanan, persediaan permen mint-nya masih cukup, dan sepatunya dilepasnya. Pengawasan-pengawasan yang sebelum ini lebih buruk—ia tahu itu. Rumah target ilu malahan bagian belakangnya berbatasan dengan tembok beton setinggi empat setengah meter, stadion sepakbola itu—yang artinya tidak ada yang perlu malam-malam meringkuk di balik semak-semak. Preston mengambil kursi kosong di sebelahnya, di belakang kamera yang terpasang, dan menerima secangkir teh dari Ginger.

“Apakah kau akan mendatangkan tim penyusup terselubung?” Harry bertanya. Yang dimaksudkannya adalah para penyusup ahli yang dimiliki Dinas

235

Bantuan Teknik jika diperlukan penyusupan secara diam-diam.

Tidak,” kata Preston. “Karena satu hal saja misalnya, kita bahkan tidak tahu apakah ada orang lain di dalam sana. Alasan lainnya yaitu, mungkin saja ada serangkaian peralatan yang bisa memberikan peringatan kalau ada penyusupan, dan kita mungkin belum mendeteksinya semua. Terakhir, yang kutunggu adalah seorang ‘Chummy’ lain yang mungkin akan muncul. Jika benar dia muncul, maka kita akan memakai mobil-mobil itu dan menguntit dia. Len bisa mengambil alih pengawasan atas rumah itu.”

Mereka lalu bersiaga lagi dan tidak saling berbicara. Barney terbangun. “Ada berita apa di TV?” ia bertanya.

“Tidak banyak,” kata Ginger. “Berita petang. Omong kosong seperti biasa.”

Dua puluh empat jam kemudian, pada hari Kamis petang pada jam yang sama, berita TV cukup menarik. Di layar kecil itu nampak Perdana Menteri sedang berdiri di undakan Downing Street 10 mengenakan setelan biru yang rapi, berhadapan dengan sejumlah wartawan dan kru televisi.

Ia mengumumkan bahwa ia baru saja kembali dari Buckingham Palace, ia telah mengajukan permintaan untuk membubarkan Parlemen. Konsekuensinya, negara harus bersiap-siap untuk pemilihan umum, yang akan diselenggarakan pada tanggal 18 Juni. Sisa petang itu digunakan untuk

236

sensasi, para pemimpin dan pemuka semua partai politik menyatakan keyakinan mereka, bnhwa mereka akan menang.

“Itu hanya untuk kaum terpelajar saja,” Burkinshaw berkomentar ke arah Preston. Tidak ada tanggapan apa-apa.

Preston yang seakan tenggelam dalam permenungan masih terus menatap ke layar TV. Akhirnya ia berkata, “Kurasa sudah kuperoleh.”

“Well, jangan pakai kamar kecil kami,” kata Mungo.

“Apa maksudmu, John?” tanya Harry setelah tawa mereda.

“Deadline-ku,” kata Preston, tapi ia tidak mau merincinya.

***

Pada tahun 1987 hanya sedikit sekali mobil buatan Eropa yang masih mempertahankan bentuk lampu depan yang bundar dan kuno, dan salah satu yang masih adalah Austin Mini. Mobil jenis inilah yang terdapat di antara banyak mobil yang turun dari ferry Cherbourg yang berlabuh di Southampton, pada petang tanggal 2 Juni.

Mobil itu dibeli di Austria empat minggu sebelumnya, dibawa ke garasi rahasia di Jerman, dimodifikasi, dan dibawa kembali ke Salzburg. Mobil itu memiliki surat-surat Austria yang lengkap, dan begitu juga si turis yang mengendarainya,

237

walaupun sebenarnya dia adalah orang Ceko, sumbangan kedua dan yang terakhir dari StB untuk rencana Mayor Volkov dalam upaya mengimpor masuk ke negeri Inggris komponen-komponen yang dibutuhkan Valcri Petrofsky.

Austin Mini itu digeledah di pabean, dan tak ditemukan sesuatu yang mencurigakan. Setelah lolos dari pelabuhan Southampton, pengemudinya mengikuti petunjuk yang sudah diberikan padanya sampai—di suburb di utara kota pelabuhan itu—ia meninggalkan jalan raya untuk masuk ke suatu tempat parkir yang luas. Saat ilu hari sudah cukup gelap dan di bagian belakang tempat parkir orang-orang yang naik mobil dengan cepat di jalan raya tidak bisa melihatnya. Ia membungkukkan badan dan dengan obeng mulai mengutak-atik lampu-lampu depan mobilnya. .

Pertama-tama dilepaskannya ring chrome yang menutup celah di antara unit lampu itu dengan logam yang mengelilinginya yang menempel pada bumper mobil itu. Dengan obeng besar ia lalu membuka sekrup-sekrup yang melekatkan lampu itu dengan keras ke bumper mobil. Setelah semua sekrup lepas ia menarik keluar seluruh unit itu lepas dari soket-nya7 melepaskan kabel-kabel sistem listrik mobil itu ke bagian belakang mangkok lampu, dan meletakkan lampu yang nampak sangat berat itu ke dalam sebuah (as kanvas yang ada di sebelahnya.

Makan waktu hampir satu jam untuk menge—

238

luarkan kedua unit lampu itu. Setelah selesai, mobil kecil itu menatap ke depan tanpa mata, dengan soket-soket lampu yang kosong. Keesokan paginya, agen itu tahu, ia akan kembali ke situ dengan lampu-lampu baru yang dibelinya di Southampton, memasangnya, dan melanjutkan perjalanannya.

Sekarang ia mengangkat tas kanvas yang berat itu, kembali ke jalan raya, dan berjalan tiga ratus meter balik ke arah pelabuhan. Halte bis adalah tempat yang sudah ditentukan. Ia melihat ke arlojinya; rendezvous akan berlangsung sepuluh menit lagi.

Tepat sepuluh menit kemudian, seorang pria yang mengenakan pakaian kulit hitam pengendara sepeda motor berjalan menuju halte bis itu. Tidak ada orang lain di situ. Pendatang baru itu melihat sekilas ke arah jalan dan berkomentar, “Selalu lama rasanya menunggu bis rute malam yang terakhir.”

Orang Ceko itu menarik napas lega. “Ya,” ia menjawab, “tapi untungnya, saya diharapkan sampai ke rumah tengah malam nanti.”

Mereka menunggu tanpa berkata-kata sampai bis yang menuju Southampton tiba. Orang Ceko itu meninggalkan tas kanvasnya dan menaiki bis. Saat lampu belakang bis menghilang masuk ke dalam kota pelabuhan itu, si pengendara sepeda motor mengangkat tas itu dan berjalan balik kc arah berlawanan di tempat ia tadi memarkir motornya.

239

Ketika fajar tiba, setelah pergi ke Thetford untuk menukar pakaian dan menukar kendaraan, ia tiba di rumahnya di Cherryhayes Close, Ipswich, membawa komponen terakhir dalam daftar yang ditunggu-tunggunya selama berminggu-minggu. Kurir Sembilan telah mengirimkan barang.

Dua hari kemudian, pengawasan atas rumah di Compton Street, Chesterfield, telah berjalan selama seminggu dan tidak satu hal pun bisa dilaporkan.

Kakak-beradik Stephanidcs menjalani kehidupan yang benar-benar rutin. Mereka bangun sekitar jam sembilan, menyibukkan diri sebentar di rumah, nampaknya mereka membersihkan dan merawat sendiri rumahnya itu tanpa pembantu, dan berangkat ke restoran naik mobil yang umurnya lima tahun, beberapa saat sebelum tengah hari. Mereka bekerja sampai hampir tengah malam, dan pulang ke rumah untuk tidur. Tidak pernah ada tamu dan sedikit sekali telepon. Telepon yang masuk biasanya berkenaan dengan pesanan daging dan sayur-mayur atau urusan-urusan rutin sehari-hari.

Di restoran yang terletak di Holywell Cross, Len Stewart dan anak buahnya melaporkan hal yang sama. Telepon memang lebih sering terpakai, tapi lagi-lagi percakapan meliputi pesanan makanan, booking meja, atau pengiriman anggur. Tidak mungkin bagi seorang pelacak untuk makan di sana setiap malam; orang-orang Yunani itu nampak seperti profesional yang sudah bertahun-tahun

240

hidup dalam penyamaran dan akan bisa mendeteksi seorang pelanggan yang terlalu sering datang atau tinggal terlalu lama di situ. Tapi Stewart dan timnya berupaya semaksimal mungkin.

Bagi mereka yang bertugas di rumah Royston masalah utamanya adalah rasa bosan. Bahkan Mr. dan Mrs. Royston juga mulai merasa capek dengan kerepotan yang disebabkan oleh kehadiran mereka, setelah kegairahan pada saat-saat awal sudah mulai luntur. Royston menyatakan setuju untuk secara sukarela membantu kampanye Partai Konservatif—ia dengan tegas menolak membantu pihak lain—dan jendela-jendela rumahnya kini dipasangi poster-poster yang mendukung calon Tory dari Partai Konservatif setempat.

Ini lebih memungkinkan adanya orang masuk dan keluar rumah itu, karena semua orang yang mengenakan hiasan pita bunga di dada yang merupakan ciri Partai Konsevatif yang terlihat meninggalkan atau masuk ke rumah itu, tidak akan mengundang kecurigaan para tetangga. Burkinshaw dan timnya menggunakan taktik ini. Mereka memakai hiasan pita bunga itu dan dengan demikian bisa berjalan-jalan di luar rumah saat kakak-beradik Stcphanrdes masih berada di restoran mereka. Dengan demikian situasi yang monoton bisa sedikit tertolong. Satu-satunya orang yang kebal terhadap rasa bosan adalah Harry Burkinshaw.

Bagi anggota tim yang lain, hiburan utama mereka adalah televisi, dengan volume yang dikecil—

241

kau, terutama pada saat suami-istri Royston sedang keluar, dan topik utama siang-malam adalah kampanye pemilihan umum yang sedang berlangsung. Seminggu memasuki masa kampanye itu, tiga hal mulai menjadi jelas.

Persekutuan Partai Liberal/Sosial Demokrat masih tetap gagal mencetak angka dalam poli pendapat umum, dan situasi semakin berkembang ke arah terjadinya persaingan tradisional antara Partai Konservatif dan Partai Buruh. Faktor kedua adalah bahwa semua poli pendapat umum menunjukkan bahwa kedua partai utama ini bersaing lebih ketat daripada yang bisa diantisipasi empat tahun yang lalu, pada tahun 1983, pada waktu Partai Konservatif memenangkan pemilihan dengan gemilang; selanjutnya, poli di tingkat distrik menunjukkan bahwa hasil yang dicapai di delapan puluh distrik (daerah) pemilihan yang paling marjinal hampir pasti akan menentukan warna pemerintahan negeri itu selanjutnya. Dalam setiap pemilihan, “massa mengambang” yang mencakup sepuluh sampai dua puluh persen, menentukan perimbangannya.

Perkembangan ketiga adalah bahwa—walaupun banyak dilibatkan issue-issue ekonomi dan ideologi, dan walaupun semua partai mencoba memanfaatkan semaksimal mungkin issue-issue tersebut— kampanyenya semakin didominasi oleh issue yang lebih emosional sifatnya, yaitu perlucutan senjata nuklir unilateral. Semakin lama semakin banyak poli yang menunjukkan bahwa perlombaan persen-242

jataan nuklir menempati prioritas pertama atau kedua perhatian masyarakat

Gerakan-gerakan kaum pasifis (penentang perang/pencinta damai), yang beraliran Kiri dan yang kali ini sangat bersatu, meluncurkan kampanye mereka sendiri secara serentak. Demonstrasi-demonstrasi besar-besaran terjadi hampir setiap hari, yang didukung oleh liputan secara besar-besaran oleh surat kabar dan televisi. Gerakan-gerakan itu, sementara tidak mengungkapkan adanya organisasi pendukung dana yang nyata, nampaknya mampu menyewa ratusan bis dengan tarif komersial, dengan sumber dana gabungan, untuk mengangkut para demonstran ke sana-ke-mari ke seluruh negeri.

Tokoh-tokoh Ekstrem Kiri Partai Buruh, yang agnostik maupun atheis, tampil di setiap panggung umum atau TV bersama para rohaniwan dari Gereja Anglikan aliran modem, di mana para anggota suatu kelompok menghabiskan waktu mereka yang terbatas untuk mengudara untuk mengangguk-angguk dengan serius, menyalakan setuju terhadap point-point yang dikemukakan oleh kelompok tain.

Tak pelak lagi, walaupun persekutuan itu sebenarnya tidak bersifat unilateral, target utama pendukung perlucutan senjata itu adalah Partai Konservatif, dan sekutu utama mereka adalah Partai Buruh. Pimpinan” Partai Buruh, yang didukung oleh Eksekutif Nasional—yang hanya mengikuti

243

ke mana angin bertiup—secara terbuka menyatakan dirinya dan partainya mendukung setiap tuntutan kaum unilaleralis.

Sebuah tema lain yang dikemukakan dalam kampanye kaum Kiri adalah anti-Amerikanisme. Di atas seratus panggung, semakin lama semakin tidak mungkin bagi sang pewawancara atau pemandu acara untuk memancing, dari para pembicara pendukung perlucutan senjata, suatu pernyataan yang mengutuk Uni Soviet; tema yang terus diulang-ulang adalah kebencian terhadap Amerika, yang dilukiskan sebagai maniak perang, imperialistis, dan ancaman bagi perdamaian dunia.

Pada hari Kamis tanggal 4 Juni, kampanye menjadi bergairah dengan adanya tawaran mendadak dari Soviet yang memberikan “jaminan” akan menganggap seluruh Eropa Barat, negara-negara netral dan juga negara-negara NATO, sebagai zona bebas nuklir secara permanen apabila Amerika juga berbuat begitu.

Sebuah upaya dari Menteri Pertahanan Inggris untuk menjelaskan bahwa (a) pengurangan persenjataan Eropa-Amerika selalu bisa diverifikasikan, sementara pengurangan kepala nuklir Soviet tidak bisa, dan (b) Pakta Warsawa memiliki empat kali lipat persenjataan yang konvensional lebih kuat daripada NATO—telah diteriaki dan dicemoohkan dua kali sebelum makan siang, dan sang Menteri sampai-sampai perlu diselamatkan dari serangan kaum pasifis oleh para bodyguard-nya.

244

“Semua orang akan berpendapat,” Harry Burkinshaw mengomel sambil mengunyah sebuah permen mint lagi, “bahwa pemilihan kali ini merupakan referendum nasional mengenai perlucutan senjata nuklir.”

“Benar sekali,” kata Preston dengan tajam.

Pada hari Jumat Mayor Pelrofsky nampak berbelanja di Ipswich. Di sebuah toko peralatan kantor ia membeli sebuah lemari baja kecil yang tingginya kira-kira tujuh puluh lima sentimeter, lebarnya empat puluh lima sentimeter, dan dalamnya tiga puluh sentimeter, dengan pintu yang bisa dikunci dengan aman. Dari sebuah toko besi ia membeli sebuah gerobak dorong ringan berpegangan pendek dan beroda dua yang biasa dipakai untuk memindahkan kaleng-kaleng sampah atau koper-koper yang berat. Di toko bahan bangunan ia membeli dua papan yang panjangnya tiga meter dan beraneka bilah kayu, tongkat, dan balok kayu, sedangkan sebuah toko do-it-yoursetf menjual padanya sebuah kotak peralatan lengkap yang antara lain berisi bor high-speed yang dilengkapi dengan serangkaian mata bor untuk baja atau kayu, ditambah paku-paku, baut, mur, sekrup, sepasang sarung tangan heavy-dutyt dan beberapa lembar sepon. Ia mengakhiri programnya pagi itu di sebuah toko alat-alat listrik, membeli empat aki sembilan volt dan sejumlah kabel listrik muiti-warna. Ia sampai perlu dua kali mengangkut barang-barang itu de-245

ngan sedan hatchback-nya kembali ke Cherryhayes Close, ia lalu menyimpan semua itu ke dalam garasi. Setelah hari mulai gelap ia membawa sebagian besar peralatan itu masuk ke dalam rumah.

Malam itu radio memberitahukan padanya dalam sandi Morse rincian kedatangan si perakit, satu-satunya acara yang dia tidak diminta untuk menghafalkan. Itu akan merupakan Rendezvous X dan harinya Senin tanggal delapan. Ketat, pikirnya, sangat ketat, tapi dia akan masih bisa memenuhi target itu.

Sementara Pelrofsky menekuri buku catatan sekal ipakainya untuk menguraikan sandi-sandi dan kakak-beradik Stephanides sedang menghidangkan moussaka dan shish kebab pada sejumlah orang yang baru saja meninggalkan bar-bar di dekat situ pada saat restoran hampir tutup, Preston berada di kantor polisi, sedang menelepon Sir Bernard Hemmings.

“Pertanyaannya, John, adalah berapa lama kita akan sanggup bertahan di sana di Chesterfield tanpa hasil apa-apa,” kata Sir Bernard.

“Kan baru satu minggu, sir,” kata Preston. “Banyak pengawasan lain memakan waktu jauh lebih lama.”

“Ya, aku tahu itu. Soalnya, kita biasanya punya lebih banyak alasan untuk melanjutkan. Di sini, semakin banyak pihak yang menghendaki penggerebekan atas orang-orang Yunani itu, untuk

mengetahui mengapa mereka disekap di rumah itu, setidak-tidaknya. Mengapa kau tidak setuju anak buahmu menyusup diam-diam untuk memergoki mereka ketika sedang bekerja?”

“Karena saya berpendapat bahwa mereka adalah profesional kelas satu dan mereka akan mendeteksi penyusupan itu. Kalau itu terjadi, maka mereka mungkin akan memakai cara yang aman untuk memperingatkan pengendalinya supaya jangan pernah mengunjungi mereka lagi.”

“Ya, kukira kau benar. Tepat sekali tindakanmu menunggui rumah itu bagaikan seekor kambing yang dirantai di India, yang menunggu datangnya sang harimau. Tapi… seandainya harimau itu tidak muncul?”

“Saya kira dia akan muncul, cepat atau lambat. Sir Bernard,” kata Preston. “Mohon saya diberi sedikit waktu lagi.”

“Baiklah,” Hemmings setuju setelah diam sebentar untuk berkonsultasi dengan pihak lain di tempatnya berbicara itu. “Satu minggu, John. Jumat depan aku sudah harus mengirim anak-anak dari Cabang Khusus untuk masuk ke sana dan mengobrak-abrik tempat itu. Kita hadapi saja kenyataannya, orang yang sedang kaucari-cari itu mungkin saja berada di dalam situ sejak semula.”

“Saya kira tidak. Winkler tidak akan mendatangi sarang harimau itu sendiri. Saya kira dia masih di luar sana, entah di mana, dan saya percaya dia akan muncul.”

246

247

“Baiklah. Satu minggu, John. Jumat depan.”

Sir Bernard menutup telepon itu. Preston menatap gagang telepon. Pemilihan akan berlangsung tiga belas hari lagi. Ia mulai merasa murung. Mungkin saja selama ini dia keliru. Tak ada orang lain, kecuali mungkin Sir Nigel, yang percaya terhadap kecurigaannya itu. Sebuah lempeng polonium kecil dan seorang kurir Ceko kelas rendah tidak merupakan cukup bukti untuk melanjutkan pencarian, dan mungkin keduanya tidak saling terkait

“Baiklah, Sir Bernard,” ia berbicara kepada gagang telepon yang masih berdengung itu, “satu minggu. Setelah itu toh aku memang akan cabut.”

Jet Finnair dari Helsinki mendarat sore hari Senin esoknya, tepat waktu seperti biasanya, dan rombongan penumpangnya lolos dari Heathrow tanpa hambatan yang berarti. Salah satu dari mereka adalah seorang pria jangkung berjenggot, berumur setengah baya yang paspor Finlandia-nya menyatakan bahwa namanya adalah Urho Nuutila, dan kefasihannya berbicara dalam bahasa itu bisa dikaitkan dengan kenyataan bahwa orangtuanya berasal dari Karelia. Sebenarnya dia orang Rusia yang bernama Vassiliev yang profesinya adalah sarjana rekayasa nuklir yang diperbantukan pada Artileri Angkatan Darat Soviet, Direktorat Riset Persenjataan. Bahasa Inggrisnya tidak bagus, cuma cukup bisa dimengerti.

248

Setelah lolos dari pabean, ia menumpang bis layanan bandara ke Heathrow Penta Hotel, berjalan masuk lewat depan, terus melewati reception, dan muncul di pintu belakang yang menuju tempat parkir. Ia lalu menunggu di pintu itu di bawah sinar matahari sore tanpa diperhatikan oleh siapa pun, sampai sebuah sedan hatchback kecil meluncur mendekatinya. Pengemudinya membuka jendela mobil. “Apa benar di sini tempat bis bandara menurunkan penumpangnya?” ia bertanya.

“Tidak,” kata si pelancong. “Saya kira di depan sana.”

“Anda berasal dari mana?” tanya orang muda itu.

“Finlandia,” kata pria berjenggot itu.

“Pasti dingin di Finlandia sana.”

“Tidak, bulan-bulan begini cuaca sedang panas-panasnya. Masalah utamanya adalah nyamuk.”

Pria muda itu mengangguk. Vassiliev berjalan mengitari mobil dan memasukinya. Mereka berlalu dari tempat itu.

“Nama?” tanya Pelrofsky..

“Vassiliev.”

“Itu cukup. Lainnya tidak perlu. Namaku Ross.” “Jauhkah dari sini?” tanya Vassiliev. “Sekitar dua jam.”

Mereka menempuh perjalanan dengan berdiam diri. Pelrofsky melakukan tiga manuver yang berbeda-beda untuk mengecek apakah ada yang menguntit Mereka tiba di Cherryhayes dose tepat

249

sebelum petang tiba. Di halaman depan rumah sebelah, tetangga Pelrofsky, Mr. Armitage, sedang memangkas rumput dengan mesin.

“Teman?” Armitage bertanya saat Vassiliev turun dari mobil dan berjalan ke pintu depan.

Pelrofsky mengangkat satu-satunya koper kecil yang dibawa tamunya dari belakang mobil dan mengedipkan mala pada tetangganya. “Kantor pusat,” ia berbisik. “Kelakuan baik. Mungkin ada kenaikan pangkat”

“Oh, benar, saya harap begitu.” Armitage tersenyum dan mengangguk menunjukkan simpati, lalu melanjutkan memangkas rumput

Di dalam ruang duduk, Petrofsky menutup gorden-gorden seperti yang selalu dilakukannya sebelum menyalakan lampu. Vassiliev berdiri tanpa bergerak dalam ruangan yang remang-remang itu. “Baiklah,” katanya saat lampu sudah menyala. “Sekarang bisnis. Apa kau sudah menerima semuanya, sembilan paket, yang dikirimkan kepadamu?”

“Ya. Semua—sembilan.”

“Mari kita cek semuanya. Satu bola mainan anak-anak yang beratnya sekitar dua puluh kilogram.”

“Ada.”

“Satu pasang sepatu, satu kolak cerutu, satu selongsong gips.” “Ada.”

“Salu radio transistor, satu alat cukur listrik, satu tube baja, sangat berat”

250

“Pasti ini.” Petrofsky menghampiri sebuah lemari dan mengacungkan sebatang logam berat yang dibungkus dengan bahan anti panas.

“Benar,” kala Vassiliev. “Akhirnya, satu pemadam api dengan satu pegangan, berat luar biasa, dan sepasang lampu depan mobil yang juga sangat berat”

“Ada.”

“Well, kalau begitu sudah semuanya. Kalau kau bisa melengkapi sisa peralatan yang dibeli di toko biasa itu, aku akan memulai merakit esok pagi.”

“Mengapa tidak sekarang saja?”

“Begini, anak muda. Pertama-tama, penggergajian dan pengeboran pasti tidak akan membuat tetangga senang pada jam-jam seperti ini. Kedua, aku lelah. Membuat mainan seperti ini kita tidak boleh membuat kekeliruan. Aku akan mulai dengan segar esok pagi dan akan selesai saat senja.”

Petrofsky mengangguk. “Kau ambillah kamar tidur belakang. Akan kuantarkan kau Rabu nanti tepat pada waktunya untuk naik pesawat pagi.”

OBI KENOBI

Dilarang meng-komersil-kan atau kenalan menimpa anda selamanya

251

20

Vassiliev memilih untuk bekerja di ruang duduk, dengan gorden gorden tertutup dan dengan diterangi lampu listrik. Pertama-tama dia meminta kesembilan kiriman itu dikumpulkan.

“Kita memerlukan sebuah keranjang sampah,” katanya. Petrofsky mengambil itu untuk dia dari dapur.

“Berikan padaku barangnya pada saat kuminta,” kata si perakit. “Pertama, kotak cerutu.”

Ia membuka segelnya dan mengangkat tutupnya. Kotak itu berisi dua lapis cerutu, tiga belas di atas dan dua belas di bawah; setiap cerutu dibungkus dengan tube aluminium.

“Letaknya ketiga dari kiri, deretan bawah.”

Benar. Ia mengeluarkan cerutu itu dari tubenya dan membelahnya dengan sebuah silet. Dari dalam tembakau yang terbelah itu ia menarik keluar sebuah botol kecil dari gelas yang ujungnya tidak rati dan dengan dua kabel terpilin yang mencuat keluar. Sebuah detonator listrik. Sisa yang tak terpakai dibuang ke dalam keranjang sampah.

252

“Selongsong gips.”

Selongsong itu terdiri dari dua lapis. Lapis pertamanya dibiarkan mengeras dulu sebelum lapis keduanya diterapkan. Di antara kedua lapis itu selembar bahan abu-abu yang mirip adukan semen tipis dipasang melingkar, dilindungi oleh polyethylene untuk mencegah adhesi, dan dibungkuskan melingkari lengan. Vassiliev memisahkan dengan paksa kedua lapis gips, mengupas bahan abu-abu itu dari tempat kedudukannya, melepaskan pelindung polyethylene, dan menggulungnya kembali menjadi sebuah bola. Seperempat kilogram bahan peledak plastik.

Setelah menerima sepatu Lichka, ia memotong tumit-tumit kedua sepatu itu. Dari satu tumit dikeluarkan sebuah lempeng baja bergaris lengah lima sentimeter dengan tebal dua setengah sentimeter. Tepinya dibuat beralur sehingga lempeng bundar itu berbentuk sebuah sekrup yang lebar dan tipis dengan satu permukaannya diberi berlekuk dalam untuk bisa memuat ujung obeng yang lebar. Dari tumit yang satu lagi dikeluarkan sebuah lempeng bundar logam abu-abu yang lebih tipis dengan lebar lima sentimeter; itu adalah lithium, sejenis logam ultra ringan yang, kalau diikatkan dengan polonium di saat terjadinya ledakan, akan membentuk sebuah inisiator dan akan menyebabkan reaksi atom itu mencapai daya maksimalnya.

Lempeng bundar polonium pelengkapnya berada di dalam alat cukur listrik, yang waktu itu sangat

253

mencemaskan Karel Wosniak, dan menjadi pengganti bagi lempeng yang hilang di Glasgow. Masih ada lima kiriman selundupan yang belum ditangani

Pembungkus anti panas pada pipa exhaust yang diselundupkan dengan truk Hanomag dikupas, sehingga nampak sebuah tube baja sepanjang enam puluh sentimeter dengan berat dua puluh kilogram. Garis tengah dalamnya lima sentimeter garis luar sepuluh sentimeter, sebab ketebalan logam itu dua setengah sentimeter dan terbuat dari baja keras. Satu ujungnya diberi ring dan diberi beralur di bagian dalamnya, ujung yang lain diberi penutup dari baja. Penutup itu berlubang kecil di tengahnya, yang memungkinkan detonator listrik tadi dimasukkan melaluinya.

Dari radio transistor Prajurit Satu Romanov, Vassiliev mengeluarkan timer; sebuah kolak baja tipis yang disegel berukuran dua kotak rokok yang digabung vertikal. Di satu sisinya terdapat dua kenop bundar besar, satu merah dan satu kuning; dari sisi yang lain mencuat dua kabel berwarna, negatif dan positif. Di setiap sudutnya ada tonjolan mirip telinga yang diberi berlubang, untuk nantinya dipakai sebagai pegangan ke kotak baja yang berisi bom.

Si perakit lalu mengambil pemadam api yang dulu diselundupkan dengan mobil Saab milik Lundqvist dan membuka sekrup-sekrup di alasnya, yang sebelumnya telah dicopot oleh orang-orang

25-;

dari tim persiapan, ditutup dan dicat kembali untuk menutupi sambungannya. Lalu isinya dikeluarkan dan ternyata bukan busa pemadam api tapi bahan penyumbat lembut, dan terakhir sebuah tongkat berat yang terbuai dari logam sejenis limah dengan panjang dua belas setengah sentimeter dengan garis tengah lima sentimeter. Meskipun kecil ukurannya, beratnya empat setengah kilogram. Vassiliev mengenakan sarung tangan lebal ketika akan menanganinya. Ternyata itu adalah uranium-235 murni.

“Apakah bahan itu bersifat radioaktif?” tanya Petrofsky, yang menyaksikan dengan tercengang.

“Ya, tapi tidak terlalu berbahaya. Orang mengira bahwa semua zat radioaktif sama berbahayanya. Itu keliru. Arloji yang bercahaya di malam hari juga bersifat radioaktif, tapi kita mengenakannya. Uranium adalah zat yang memancarkan sinar alpha, tingkat rendah. Nah, kalau plutonium—itu memang mematikan. Juga bahan ini, kalau mencapai titik kritis, yaitu sesaat sebelum diledakkan—tapi sekarang belum.”

Sepasang lampu depan mobil yang diangkut oleh mobil Austin Mini harus dikupas cukup lama. Vassiliev mencopot kedua bola lampunya, filamen di dalamnya, dan mangkok reflektor yang di dalam. Yang masih tinggal adalah sepasang mangkok setengah bola yang sangat berat, masing-masing tebalnya dua selengah sentimeter dan terbuat dari baja keras. Masing-masing mangkok diberi ring di

255

sekeliling bibirnya, dengan enam belas lubang untuk memuat mur dan baut. Jika digabungkan, maka keduanya akan membentuk sebuah bola yang sempurna.

Salah satu mangkok itu mempunyai lubang sebesar lima sentimeter di alasnya, yang diberi beralur di bagian dalamnya, untuk menampung colokan baja yang diambil dari sepatu kiri Lichka. Mangkok yang satunya berisi sebuah tube pendek yang mencuat keluar dari alasnya; di bagian dalam lebarnya lima sentimeter, diberi ring penyekat dan di bagian luarnya diberi beralur untuk nantinya disekrupkan ke silinder “meriam” baja yang berasal dari sistem exhaust truk Hanomag.

Komponen yang terakhir adalah bola mainan anak-anak yang diselundupkan oleh van yang memuat perlengkapan berkemah. Vassiliev mengiris dan membuang kulit karet yang mengkilap. Nampak sebuah bola logam berbinar di bawah cahaya lampu.

“Itu pembungkus timahnya,” katanya. “Bola uraniumnya, yaitu inti bom nuklir yang akan mengalami pembelahan fisi sel untuk menghasilkan reaksi nuklir, ada di dalam. Aku akan mengeluarkannya nanti. Ilu juga radioaktif, seperti barang yang di sana itu.”

Merasa puas bahwa ia telah mengumpulkan kesembilan komponen ilu, ia mulai menggarap lemari bajanya. Setelah meletakkannya dengan punggung di lantai, ia mengangkat tutupnya dan dengan

256

menggunakan bilah-bilah dan tongkat-tongkat kayu, ia membuat kerangka dalamnya yang berbentuk mirip ayunan bayi rendah yang diletakkan di lantai lemari itu. Ini lalu diselimulinya dengan lapisan tebal karet busa peredam guncangan.

“Aku akan menambah karet busanya lagi di sekitar sisi-sisinya dan di alasnya nanti kalau bomnya sudah berada di dalam,” ia menjelaskan.

Ia lalu mengambil keempat aki, dipasangi kabel, dari terminal ke terminal, kemudian menggabungkan semuanya menjadi satu blok dengan menggunakan cello tape. Akhirnya ia membuat empat lubang kecil pada tutup lemari itu dan mengikatkan blok aki itu di dalamnya. Sudah lengah hari sekarang.

“Baiklah,” katanya. “Sekarang mari kita rakit komponen-komponen ini. Ngomong-ngomong, sudah pernahkah kau melihat sebuah bom nuklir?”

“Belum,” kata Pelrofsky dengan suara parau. Ia seorang pakar dalam pertempuran tanpa senjata, tidak gentar menghadapi kepalan, pisau, atau senapan. Tapi sikap riang Vassiliev yang tidak berperasaan, sementara dia mempersiapkan sebuah kekuatan perusak yang mampu meratakan sebuah kota membuatnya cemas. Seperti kebanyakan orang, Petrofsky menganggap ilmu nuklir sebagai suatu ilmu gaib.

“Dulu memang sangat rumit,” kata si perakit. “Sangat besar ukurannya, bahkan yang berdaya ledak kecil pun ukurannya besar, dan hanya bisa

257

dibuat dalam sebuah laboratorium dengan peralatan yang sangat rumit. Sekarang bom-bom yang sangat canggih, yaitu bom-bom hidrogen yang berkekuatan multimegalon, masih begitu. Tapi bom atom dasar di zaman sekarang telah disederhanakan, sehingga bisa dirakit di semua bengkel sederhana—jika suku cadangnya lengkap, tentunya, dengan sedikit hati-hati, keterampilan, dan pengetahuan yang cukup.”

“Hebat,” kata Petrofsky. Vassiliev sedang memotong dan membuang lapisan timah tipis di seputar bola uranium-235 itu. Timah itu tadinya dibungkuskan begitu saja, seperti kertas pembungkus biasa dan sambungannya disegel dengan obor las. Timah itu terlepas dengan gampang. Di dalamnya nampak bolanya yang bergaris tengah dua belas setengah sentimeter, dengan lubang sebesar lima sentimeter yang dibor tepat di pusatnya.

“Ingin tahu bagaimana bekerjanya?” tanya Vassiliev.

“Tentu.”

“Bola ini adalah uranium. Beratnya lima belas setengah kilogram. Massanya tidak cukup untuk membuatnya mencapai titik kritis. Uranium menjadi kritis kalau massanya bertambah melebihi titik kritisnya.”

“Apa maksudmu, ‘menjadi kritis’?”

“Ia mulai mendesis. Bukan secara harfiah seper ti soda. Maksudku mendesis dalam artian radioaktif. Ia akan melewati ambang ledak. Bola ini se—

258

karang belum sampai ke tahap itu. Kaulihat tongkat pendek di sana itu?” “Ya.”

Itu adalah tongkat uranium yang berasal dari dalam tabung pemadam api.

“Tongkat itu akan pas masuk ke lubang lima sentimeter di tengah bola ini. Kalau itu dipasang, seluruh massa ini akan menjadi kritis. Silinder baja di sana itu berfungsi sebagai wadah peluru seandainya ini pistol, dan tongkat uranium ini adalah pelurunya. Jika diledakkan, maka peledak plastik itu akan mendorong tongkat uranium ini melalui silinder itu masuk ke jantung bola ini.”

“Dan meledaklah dia.”

“Belum. Kita memerlukan inisiator. Jika dibiarkan begitu saja, uranium ini akan mendesis dan akan habis, menciptakan miliaran debu radioaktif, tapi tidak menghasilkan ledakan. Untuk membuat ledakan kita harus mengebom uranium yang sedang kritis itu dengan kilatan kilatan neutron. Kedua lempeng bundar ini, lithium dan polonium, membentuk inisiator-nya. Dalam keadaan terpisah, kedua logam ini tidak berbahaya; polonium adalah zat yang memancarkan sinar alpha yang lunak, lithium tidak mempunyai daya. Coba saling pukulkan keduanya, maka sesuatu yang aneh akan terjadi. Akan terjadi semacam reaksi; akan terpancar kilatan-kilalan neutron yang diperlukan. Karena terkena kilatan ini, uranium itu pecah terkoyak dengan mengeluarkan energi yang luar biasa be-259

sarnya—yang mampu menghancurkan apa saja. Waktunya seperseratus juta detik. Penumbuk baja itu berfungsi untuk menampung semua itu selama waktu yang teramat singkat itu.”

“Siapa yang akan menjatuhkan inisiator itu?” tanya Pelrofsky mencoba bercanda.

Vassiliev menyeringai. “Tidak ada. Kedua lempeng itu sudah berada di dalam sana, tapi dipisahkan. Kita letakkan polonium itu di satu ujung lubang dalam bola uranium tersebut, dan lithium-nya ditempelkan pada hidung proyektil uranium yang akan meluncur masuk. Peluru itu akan masuk ke dalam silinder, dan terus menusuk jantung bola uranium, dan lithium-nya yang berada di hidungnya akan menghantam polonium yang menunggu di ujung lain terowongan ilu. Begitulah.”

Vassiliev menggunakan setetes Super Glue— lem super kuat—untuk merekatkan lempeng polonium itu ke satu sisi dari colokan baja pipih yang berasal dari tumit sepatu Lichka. Ia lalu menempelkan colokan itu dengan sekrup ke lubang yang terdapat di alas salah satu mangkok baja (adi. Lalu diambilnya bola uranium dan dimasukkannya ke dalam mangkok. Dinding dalam mangkok itu memiliki empat tonjolan, yang besarnya pas dengan empat lekukan yang terdapat pada bola uranium itu. Tonjolan dan lekukan itu bertemu dan bergabung, dan bola itu tertanam dengan baik dalam mangkok tersebut. Vassiliev mengambil lampu ba-260

terai berbentuk pensil dan mengintip ke dalam lubang yang menembus pusat bola uranium.

“Itu dia,” katanya, “sudah menunggu di dasar lubang.”

Kemudian ia menempatkan mangkok baja yang kedua di atas mangkok yang pertama untuk membentuk sebuah bola penuh, dan menghabiskan waktu satu jam untuk mengencangkan keenam belas baut yang mengelilingi ring penyekat untuk mengikat kedua setengah bola itu dengan erat

“Sekarang pistolnya,” ia berkomentar. Ia menjejalkan bahan peledak plastik itu kc dalam silinder baja sepanjang empat puluh lima sentimeter, menumbuknya dengan mantap tapi pelan, dengan gagang sapu yang diambil dari dapur sampai bahan itu terjcjal padat Melalui lubang kecil di alas silinder, Petrofsky dapat melihat bahan peledak itu menonjol ke luar. Dengan Super Glue yang sama, Vassiliev menempelkan lempeng lithium itu ke hidung yang rata dari tongkat uranium itu, membungkusnya dengan tissue untuk memastikan ia tidak akan tergelincir kc arah yang berlawanan di dalam silinder itu karena getaran, dan kemudian mendorong tongkat itu kc arah alas tempat terdapat bahan peledaknya. Lalu dlsekrupkannya silinder itu ke bola itu. Keseluruhannya nampak seperti sebuah semangka abu-abu bergaris tengah tujuh belas setengah sentimeter dengan pegangan sepanjang empat puluh lima sentimeter yang men-261

cuat dari satu sisinya; mirip sebuah granat longkal yang menggembung.

“Hampir selesai/ kata Vassilicv. “Sisanya adalah seperti membuat bom konvensional.”

la memungut detonatornya, memisahkan kabel-kabelnya dari ujungnya dan mengisolasinya dengan cello-lape. Kalau saling menyentuh maka akan terjadi ledakan prematur. Seutas kabel lima Ampere dijalinkan pada setiap kabel yang mencuat dari detonator. Lalu detonator itu ditekannya masuk melalui lubang di ujung silinder sampai ia diselimuti oleh bahan peledak plastik.

la menurunkan bom itu bagaikan bayi ke wadahnya yang mirip ayunan bayi, yang beralas karet busa, menambah karet busa untuk dijejalkan ke sisi-sisinya dan juga di atasnya, seakan bayi itu akan ditidurkan. Hanya kedua kabel itu yang dibiarkan nampak. Salah satunya dilekatkan pada terminal positif blok aki tadi. Kabel ketiga mencuat dari terminal negatif aki-aki itu, jadi Vassiliev kini memegang semua ujungnya di tangannya. Ia lalu mengisolasi setiap ujung yang telanjang.

“Knlau-kalau kabel-kabel ini bersentuhan.” Ia menyeringai. “Itu akan benar-benar Jadi bencana.”

Satu-satunya komponen yang belum dipakai adalah kotak timer. Vassiliev menggunakan bor untuk membuat lima lubang di sisi lemari baja itu dekat dengan bagian puncaknya. Lubang yang di tengah adalah untuk tempat keluar bagi kabel-kabel yang mencuat dari belakang timer, yang

262

segera dijcjalkannya keluar. Empat lubang lainnya adalah untuk baut-baut tipis yang berfungsi menempelkan timer itu ke bagian luar lemari baja. Selesai dengan itu, ia menghubungkan kabel-kabel yang berasal dari aki-aki dan detonator itu ke kabel-kabel yang berasal dari timer, sesuai dengan kode warnanya. Pelrofsky menahan napasnya.

“Jangan kualir,” kata Vassiliev, yang bisa melihat kecemasannya. “Timer ini sudah dites berulang-ulang di sana di negeri kita. Pcmotongnya, atau pemutus arusnya, berada di dalam dan berfungsi dengan baik.”

Ia lalu menghubungkan kabel-kabel yang terakhir, mengisolasi persendiannya tebal-tebal, dan menurunkan tutup lemari itu, menguncinya rapat-rapat dan melemparkan kuncinya kepada Petrofsky.

“Begitulah, Kamcrad Ross, sudah beres. Kau bisa memuatnya ke atas gerobak itu dan mendorongnya ke mobil untuk diletakkan di belakang mobil hatchback-mu, dan alat ini tidak akan rusak. Kau boleh membawa mobilmu ke mana saja— getarannya tidak akan mengganggu alat ini. Ada satu hal lagi. Kenop kuning di sini ini, kalau ditekan dengan keras, akan menyalakan timer, tapi tidak akan menghubungkan arus listriknya. Timer-nyalah yang akan melakukan itu dua jam kemudian. Tekan kenop kuning ini dan kau punya waktu dua jam untuk meloloskan diri. Kenop merah ini merupakan peledak manual-nya. Kalau ditekan akan terjadi ledakan langsung.”

263

Ia tidak tahu bahwa pengarahannya itu keliru. Ia cuma percaya saja akan apa yang diberitahukan kepadanya. Hanya empat orang di Moskow yang tahu bahwa kedua kenop itu berfungsi untuk menghasilkan ledakan langsung. Kini hari sudah petang.

“Nah, Kamerad Ross, aku mau makan, minum sedikit, tidur pulas, dan pulang esok pagi, sekiranya kau tidak keberatan.”

“Tentu,” kata Petrofsky. “Mari kita pindahkan dulu lemari ini ke sudut sini, di antara dinding penyekat dan meja minuman ini. Kautuanglah sendiri whisky-mu, dan aku akan menyiapkan makan malam.”

Mereka berangkat ke Heathrow Airport dengan mobil kecil Petrofsky pada jam sepuluh keesokan harinya. Di suatu tempat di sebelah barai daya Colchester di mana pepohonan lebat mencapai pinggir jalan, Petrofsky menghentikan mobilnya dan keluar untuk menghirup udara segar. Beberapa detik kemudian Vassiliev mendengar jeritan ketakutan yang tajam dan ia berlari untuk menyelidiki. Perakit itu tewas dengan leher patah di balik sederetan pepohonan. Tubuhnya, yang dilucuti identitasnya, terbujur di selokan dangkal dan ditutupi dengan ranting-ranting pohon yang masih segar. Tubuh itu akan ditemukan dalam waktu satu atau dua hari, barangkali lebih. Penyelidikan polisi akhirnya akan menyebabkan fotonya dimuat di koran setempat, tetangga Petrofsky—Armitage—akan

264

melihatnya atau tidak melihatnya, dan akan bisa atau tidak bisa mengenalinya. Tapi toh semua itu akan terlambat. Petrofsky meluncur balik ke Ipswich.

Ia tidak menyesal. Ia mendapat instruksi yang cukup jelas dalam kaitan dengan si perakit. Bagaimana Vassiliev berpikir bahwa ia akan bisa pulang ke rumah, Petrofsky’ tidak dapat membayangkan. Bagaimanapun juga, ia punya masalah lain. Semuanya sudah siap sekarang, tapi waktunya amat singkat. Ia telah meninjau Rendlesham Forest dan telah memilih lokasinya; yaitu suatu tempat yang lebat terlindung, tapi hanya seratus meter jauhnya dari pagar kawat yang membatasi pangkalan AU Amerika di Bentwaters. Di sana tidak akan ada orang pada jam empat pagi, saat dia menekan kenop kuning agar bom nuklir itu meledak pada jam enam. Ranting-ranting pohon segar akan menutupi lemari itu sementara menit-menit merambat dan ia akan meluncur cepat dengan mobilnya ke London.

Satu-satunya hal yang belum diketahuinya adalah harinya. Isyarat untuk melaksanakan hal ini— ia tahu—akan diberikan melalui berita bahasa Inggris yang disiarkan Radio Moskow pada jam sepuluh malam, sebelum operasi dilaksanakan. Pesan itu akan disampaikan dalam bentuk kekeliruan bicara yang disengaja oleh penyiar dalam acara berita pertama. Tapi karena Vassiliev tidak bisa memberitahukan kepada mereka, Petrofsky masih

harus mcmbcritahu Moskow bahwa semuanya telah siap. Artinya harus ada pengiriman berita yang terakhir lewat radio. Setelah itu, kakak-beradik Stcphanides sudah bisa disingkirkan. Pada suatu senja yang hangat di bulan Juni, ia meninggalkan Chcrryhaycs Close dan mengendarai mobilnya dengan tenang ke utara menuju ke Thctford dan sepeda motornya. Pada jam sembilan, setelah bertukar pakaian dan kendaraan, ia. mulai meluncur ke arah barat laut, ke kawasan Midlands Inggris.

Rasa bosan yang menyelimuti para pelacak setiap petang di kamar tidur depan di lantai dua rumah Royston dipecahkan sesaat selelah jam sepuluh, ketika Lcn Stewart berbicara lewat radio dari posisinya di kantor polisi.

“John, salah satu anak buahku sedang makan di kedai sate itu. Telepon berdering dua kali, lalu peneleponnya menutupnya sendiri. Lalu berdering lagi dua kali, dan ia menutupnya lagi. Kemudian ia melakukannya lagi untuk yang ketiga kalinya. Yang mendengarkan memastikan hal itu.”

“Apakah Yunani-Yunani itu mencoba menanggapinya?”

“Mereka terlambat mencapai telepon itu pada kesempatan pertama. Selelah itu. mereka tidak mencoba lagi. Malahan terus saja melayani pembeli…. Sebentar…. John, kau masih di situ?”

“Ya, tentu.”

“Anak buahku di luar melaporkan bahwa salah

266

satu kakak-beradik itu pergi. Lewat belakang. Ia sedang menuju mobilnya.”

“Dua mobil dengan empat agen harus mengikutinya,” perintah Preston. “Yang dua tetap tinggal di restoran. Si Yunani mungkin akan meninggalkan kota.”

Ternyata tidak. Andreas Stcphanides naik mobil kembali ke Co m p Ion Street, memarkir mobilnya, dan masuk ke dalam rumah. Lampu dinyalakan di balik gorden. Tidak ada hal lain yang terjadi. Pada jam sebelas lewat dua puluh, lebih dini dari biasanya, Spiridon menutup restorannya dan berjalan kaki pulang. Ia tiba di rumah pada jam dua belas kurang seperempat

Ikan besar yang ditunggu Preston tiba sesaat sebelum tengah malam. Jalanan sangat sepi. Hampir semua lampu rumah sudah dipadamkan. Preston lelah menyebar keempat mobilnya beserta anak buahnya dalam lingkaran yang lebih jauh dan lebih luas, dan tak seorang pun melihat dia datang. Yang pertama-tama menyadarkan mereka adalah gumaman salah satu anak buah Stewart.

“Ada orang di ujung Compton Street, di persimpangan Cross Street”

“Melakukan apa?” tanya Prcslon.

“Tidak apa-apa. Berdiri tanpa bergerak di kegelapan.”

“Tunggu.”

Saat itu gelap pekat di kamar tidur Royston di lanuii atas. Gordcn-gorden ditutup dan para pe—

267

lacak berada jauh dari jendela. Mungo meringkuk di belakang kamera yang menggunakan lensa inframerah. Preston menempelkan radio kecilnya ke telinganya. Tim enam orang pimpinan Stewart dan dua pengemudi Burkinshaw dengan mobil-mobil mereka ada di luar sana, entah di mana, semuanya dihubungkan dengan radio. Pintu salah satu rumah membuka, dan seseorang mengeluarkan kucingnya. Lalu pintu itu tertutup lagi.

“Ia mulai bergerak,” radio itu berbunyi. “Menuju ke arah kalian. Pelan-pelan.”

“Kulihat dia,” desis Ginger yang berada di salah satu jendela samping. “Perawakan sedang, tinggi sedang. Jas hujan panjang warna gelap.”

“Mungo, bisakah kaufoto dia di bawah lampu jalanan itu, tepat di depan rumah si Yunani?” tanya Burkinshaw.

Mungo menggeser arah lensa sedikit. “Sudah kufokuskan ke arah lokasi cahaya,” katanya.

“Sepuluh meter lagi dia akan sampai ke situ,” kata Ginger.

Tanpa suara sosok dalam jas hujan itu memasuki lingkaran cahaya yang berasal dari lampu jalanan. Kamera Mungo menjepret lima kali dengan cepat. Orang itu melewati lingkaran cahaya dan tiba di gerbang rumah Stcphanides. Ia berjalan di jalan setapak yang pendek dan mengetuk pintu, bukan membunyikan bel. Pintu membuka seketika itu juga. Tak ada penerangan di lorong masuk. Jas

268

hujan warna gelap itu berkelebat masuk ke dalam. Pintu menutup.

Di kamar tidur Royston ketegangan pecah.

“Mungo, keluarkan filmnya dan bawa ke lab polisi. Aku minta itu dicuci dan dikirimkan segera ke Scotland Yard. Dan segera kirimkan ke Charles dan Sentinel. Aku akan menghubungi mereka untuk siap mencoba melakukan identifikasi.”

Sesuatu mengganggu benak Preston. Sesuatu mengenai cara orang itu berjalan. Saat itu udara malam terasa hangat—mengapa ia memakai jas hujan? Supaya tetap kering? Matahari bersinar seharian tadi. Menyembunyikan sesuatu? Pakaian berwarna pucat, pakaian khusus?

“Mungo, ia mengenakan pakaian apa? Kau melihatnya secara elose-up.”

Mungo sedang setengah jalan menuju ke pintu. “Jas hujan,” katanya. “Warna gelap. Panjang.”

“Di bawah itu.”

Ginger bersiul. “Sepatu bot. Aku ingat sekarang. Bot setinggi dua puluh lima sentimeter.”

“Buset, dia naik sepeda motor,” kata Preston. Ia berbicara lewat radio. “Semua orang turun ke jalan. Berjalan kaki saja. Tidak boleh ada suara mesin mobil. Semua jalan di distrik ini kecuali Compton. Kita sedang mencari sebuah sepeda motor dengan mesin yang masih hangat”

Masalahnya sekarang adalah, pikirnya, aku tidak tahu ia akan berapa lama berada di dalam sana.

269

Lima mcnil? Sepuluh? Enam puluh? Ia menghubungi Len Stewart dengan radio.

“Len, John di sini. Kalau kita bisa menemukan sepeda motor itu, aku minta itu dipasangi alat pelacak lokasi. Sementara itu, telepon Kepala Polisi King. Ia harus melancarkan operasinya. Kalau si ‘Chummy’ pergi kita akan mengikutinya. Tim Harry dan aku. Aku minta kau dan anak buahmu tetap mengawasi Yunani-Yunani itu. Setelah kami pergi selama satu jam, polisi boleh menggerebek rumah itu dan menangkap Yunani-Yunani itu.”

Len Stewart, di dalam kantor polisi, menyatakan setuju dan mulai menelepon Kepala Polisi King di rumahnya.

Dua puluh menit kemudian salah satu anggota tim pencari menemukan sepeda motor itu. Ia melapor kepada Preston yang masih berada di rumah Royston.

“BMW besar, di ujung Queen Street. Ada kotak barang di belakang boncengan, terkunci. Dua kantong sadel di kiri-kanan roda belakang, tidak terkunci. Mesin dan knalpotnya masih hangat”

“Nomor registrasi?”

Nomornya dilaporkan, la meneruskannya kepada Len Stewart di kantor polisi. Stewart minta identifikasi langsung atas nomor itu. Ternyata itu nomor dari daerah Suffolk, terdaftar atas nama Mr. James Duncan Ross dari Dorchester.

“Kalau bukan motor curian, mungkin nomornya palsu, atau alamatnya fiktif,” gumam Preston.

270

Beberapa jam kemudian, polisi Dorchester memastikan bahwa kemungkinan ketiga itu yang benar.

Orang yang berhasil menemukan sepeda motor diperintahkan memasang alat pelacak lokasi pada salah satu kantong sadel, dalam keadaan dihidupkan, dan menjauh dari kendaraan itu. Orang itu, Joe, adalah salah satu dari dua pengemudi Burkinshaw. Ia kembali ke mobilnya, menenangkan diri di belakang kemudi, dan memastikan bahwa alat pelacak lokasi itu berfungsi dengan baik.

“Okay,” kata Preston, “sekarang kita melakukan pergantian. Semua pengemudi kembali ke mobil masing-masing. Tiga anak buah Len Stewart bergerak ke pintu belakang di West Street ke pos pengawasan kami dan menggantikan kami. Satu per satu, perlahan, dan sekarang.” Kepada orang-orang di sekitarnya di ruangan itu ia berkata, “Harry, bcrbenahlah. Kau duluan. Kauambil mobil yang terdepan. Aku akan naik mobil dengan kau. Barney, Ginger, kauambil mobil yang di belakang. Kalau Mungo bisa kembali pada waktunya, ia akan bergabung dengan aku.”

Satu demi satu, anak buah Stewart tiba di situ untuk menggantikan tim Burkinshaw. Preston berdoa minta supaya si agen di seberang jalan belum bergerak keluar sementara pergantian sedang berlangsung. Ia yang terakhir beranjak, melongokkan kepala ke dalam kamar tidur suami-istri Royston untuk menyatakan terima kasihnya atas bantuan mereka dan memastikan bahwa semuanya akan

271

berakhir saat subuh nanti. Bisikan yang membatas ucapannya itu terdengar sangat cemas.

Preston menyelinap melalui kebun belakang dan masuk ke West Street, lima menit kemudian ia bergabung dengan Burkinshaw dan Joe, si pengemudi di mobil terdepan yang diparkir di Foljambe Road. Ginger dan Barney melapor mereka sudah masuk ke mobil kedua di ujung Marsdcn Street, yang masuk dari Saltcrgatc.

“Tentu,” kata Burkinshaw dengan murung, “kalau tidak dibantu alat di sepeda motor itu, kita akan kerepotan sekali.”

Preston duduk di jok belakang. Di sebelah sopir, Burkinshaw menyaksikan panel display pesawat pengontrol di depannya. Seperti sebuah layar radar kecil, panel itu menampilkan gerak cahaya bergelombang yang bergerak dalam interval ritmis, dengan indikator seperempat lingkaran yang menunjukkan arah target terhadap mobil yang mereka tumpangi, atas sumbunya dari ujung-ke-ujung dan juga jarak kurang-lebihnya dari mobil itu— delapan ratus meter. Mobil kedua itu juga dilengkapi dengan peralatan yang sama, yang memungkinkan kedua operatornya memperoleh data silang jika dikehendaki.

“Mudah-mudahan benar ini isyarat dari sepeda motor itu,” kata Preston cemas. “Kalau tidak, kita tidak akan sanggup menguntitnya di jalan-jalan seperti ini. Jalan-jalan terlalu sepi dan dia terlalu mahir.”

272

“Dia pergi dari situ.”

Suara mendadak dari radio memutuskan pembicaraan. Anak buah Stewart dari kamar tidur Royston melaporkan bahwa orang yang berjas hujan itu telah meninggalkan rumah dan menyeberangi jalan. Mereka memastikan bahwa ia berjalan di sepanjang Compton Street, menuju Cross Street dan ke arah lokasi BMW tadi. Lalu lenyap dari pandangan. Dua menit kemudian salah satu pengemudi Stewart di SL Margaret’s Drive melaporkan bahwa si agen telah menyeberang di ujung jalan, dan masih lelap menuju Queen Street. Setelah itu tidak ada apa-apa lagi. Lima menit berlalu. Preston berdoa.

“Dia sedang bergerak.”

Burkinshaw tcrloncal-loncat di jok depan karena tegang—suatu ulah yang sangat tidak biasa dilakukan oleh pelacak yang biasanya sangat tenang ini. Titik cahaya di layar meluncur melintasi layar saat sepeda motor mengubah sudut antara dirinya dan mobil itu.

“Target sudah bergerak,” mobil kedua memastikan.

“Beri dia jarak kira-kira dua kilometer, lalu kita berangkat,” kata Preston. “Hidupkan mesin sekarang.”

Tilik cahaya itu bergerak ke selatan dan ke timur melalui pusat Chesterfield. Ketika sudah dekat dengan bundaran Lordsmill, mobil-mobil itu mulai menguntit. Saat mencapai bundaran itu, mc—

273

reka tidak ragu lagi. Sinyal dari sepeda motor itu mantap dan kuat, lurus menyusuri A617 ke arah Mansfield dan Newark. Jarak: kira-kira dua kilometer. Bahkan lampu-lampu mereka tidak akan nampak oleh pengendara motor yang di depan. Joe menyeringai. “Coba permainkan kami sekarang, kau bajingan,” komentarnya.

Preston sebenarnya lebih suka kalau orang yang di depan itu naik mobil. Sepeda motor sangat sulit dikuntit. Cepat dan berdaya manuver tinggi dan karena itu mampu menyelinap di antara lalu lintas yang padat yang menghambat mobil penguntil dan menyusup ke gang-gang sempit atau di antara tiang-tiang penghambat lalu lintas yang sulit ditembus mobil. Bahkan di pedesaan, sepeda motor bisa meninggalkan jalan raya dan melaju di atas rerumputan di mana mobil akan sulit mengikuti. Yang penting adalah jangan sampai orang yang di depan sadar bahwa ia sedang dikuntit.

Pengendara yang di depan itu sangat mahir. Ia tetap berada dalam batas kecepatan yang diizinkan, tapi jarang berada di bawah itu, dan mengambil tikungan-tikungan tanpa mengurangi kecepatan. Ia tetap berada di jalan A6I7 di bawah jalan tol Ml, melewati kota Mansfield yang masih tidur di pagi buta itu, dan terus ke arah Newark. Setelah Derbyshire dilewati, maka di depan terbentang tanah pertanian Nottinghamshire yang subur dan kaya, dan ia masih saja tidak mengurangi kecepatan.

Sesaat sebelum tiba di Newark ia berhenti.

274

“Jarak mengecil dengan cepat,” kata Joc tiba-tiba.

“Matikan lampu, berhenti ke pinggir,” tukas Preston.

Ternyata Petrofsky menyimpang ke sebuah jalan masuk, mematikan mesin dan lampunya, dan duduk di persimpangan itu sambil menatap ke arah dari mana dia datang tadi. Sebuah truk besar menderu melewatinya dan lenyap ke arah Newark. Lalu tidak ada apa-apa lagi. Satu setengah kilometer dari situ, kedua mobil pelacak berhenti di pinggir jalan. Petrofsky tetap diam selama lima menit, lalu menghidupkan mesin dan naik lagi ke jalan raya, menuju ke arah tenggara. Ketika mereka melihat titik cahaya di layar monitor bergerak Pergi> para pelacak mengikutinya, dengan tetap menjaga jarak paling sedikit satu setengah kilometer.

Perburuan itu melewati Sungai Trent, lampu-lampu pabrik gula di sebelah kanan mereka melaju dan menghilang, kemudian masuk ke kota Newark. Jam menunjukkan pukul tiga kurang sedikit. Di dalam kota, sinyal berfluktuasi dengan liar saat mobil pelacak membuat belokan-belokan menyusuri jalan-jalan di kota itu. Titik cahaya itu membawa mereka ke jalan A46 yang menuju Lincoln, dan mobil-mobil itu sudah masuk kira-kira satu kilometer ke jalan itu ketika Joe menginjak rem dengan keras.

275

“Ia kabur di sebelah kanan kita,” katanya. “Jarak makin membesar.”

“Berbalik,” kata Preston. Mereka menemukan belokan itu di dalam kota Newark; target sudah sampai di jalan A17, ke tenggara lagi, ke arah Sleaford.

Di Chesterfield operasi yang dilancarkan polisi sudah sampai ke rumah Stcphanides pada jam dua lima puluh lima. Ada sepuluh petugas berseragam dan dua agen Cabang Khusus berpakaian preman. Kalau saja mereka datang sepuluh menit lebih dini, dengan mudah mereka bisa menangkap kedua agen Soviet itu. Memang nasib sedang sial. Pada saat agen-agen Cabang Khusus itu menghampiri pintu, pintu itu terbuka.

Kakak-beradik Stcphanides rupanya sedang bersiap-siap untuk berangkat dengan mobil mereka, membawa radio untuk melakukan transmisi yang sudah ditransfer dalam sandi dan sudah direkam di dalam transmiter itu. Andreas sedang keluar untuk menghidupkan mesin mobilnya ketika ia melihat polisi-polisi itu. Spiridon berada di belakangnya membawa transmiter. Andreas menjerit kaget, melangkah mundur, dan menutup pintu dengan keras. Polisi terus maju mendobrak pintu dengan bahu mereka.

Ketika pintu itu rubuh, Andreas berada di belakangnya dan di bawahnya. Ia lalu bangkit dan berkelahi seperti binatang di lorong masuk yang

276

sempit itu, dan perlu dua orang petugas untuk merubuhkan dia lagi.

Agen-agen Cabang Khusus berjalan melewati huru-hara ini, memeriksa sekilas ruang-ruang di lantai satu, berteriak kepada dua orang yang berada di kebun belakang yang tidak melihat ada yang muncul di situ, dan berlari ke lantai atas. Kamar-kamar tidurnya ternyata kosong. Mereka menemukan Spiridon di loteng sempit di bawah pinggiran atap. Transmiter berada di lantai, dicolokkan ke stopkontak pada dinding, dan sebuah cahaya merah kecil memancar di panelnya. Spiridon maju ke depan perlahan-lahan.

Di Menwilh Hill pos penyimak GCHQ menangkap sebuah bunyi lengking tunggal dari sebuah transmiter gelap dan mencatatnya pada jam dua lima puluh delapan di pagi hari Kamis tanggal 11 Juni. Segera dilakukan pelacakan lokasi dengan penghitungan trigonometri dan hasilnya adalah sebuah lokasi di ujung barat kota Chesterfield. Kantor polisi di sana diberitahu dengan segera dan panggilan telepon ditujukan ke mobil yang sedang dipakai oleh Kepala Polisi Robin King. Ia menerima telepon itu dan mengatakan kepada Mcn-with Hill, “Saya tahu. Kami telah menangkap mereka.”

Di Moskow, operator radio berpangkat sersan melepaskan headphone-nya dan mengangguk ke arah teleprinter. “Pelan tapi jelas,” katanya.

277

Printer itu mulai berbunyi, mengeluarkan lembaran kertas panjang yang penuh dengan huruf-huruf yang tidak ada artinya. Setelah printer itu diam, petugas di samping radio menyobek kertas itu dan memasukkannya ke dalam decoder—mesin pengurai sandi—yang sudah dipasang sesuai dengan formula dari catatan sekali-pakai yang sudah disepakati. Decoder itu menyerap lembaran kertas itu, komputernya bekerja menguraikan sandi-sandinya, dan akhirnya keluarlah pesannya dalam bentuk yang jelas. Petugas itu membaca teks itu dan tersenyum. Ia memutar sebuah nomor telepon, menyebutkan identitas dirinya, memastikan identitas orang yang diteleponnya itu, dan berkata,

“Aurora ‘jalan’”

Setelah Newark tanah pedesaan semakin melandai dan angin semakin banyak. Pengejaran memasuki daerah Lincolnshire yang berbukit-bukit dan bergelombang dan jalan-jalan raya yang lurus bagai anak panah yang menuju ke daerah rawa-rawa. Titik cahaya di layar itu mantap dan kuat, membawa kedua mobil Preston masuk ke jalan A17 melewati Sleaford dan terus ke arah Wash dan Distrik Norfolk.

Di sebelah tenggara Sleaford, Petrofsky berhenti lagi dan mengamati cakrawala yang gelap di belakangnya, untuk mencari kalau-kalau ada cahaya lampu. Tidak ada apa-apa. Satu setengah kilometer di belakang dia, para pengejar menunggu dalam

278

gelap, sambil berdiam diri. Ketika titik cahaya mulai bergerak ke atas di layar oscilloscope, mereka mengikutinya lagi.

Di desa Sulterton terjadi kebingungan lagi. Di ujung desa yang masih tidur itu jalan bercabang dua; A16 yang menuju ke selatan ke arah Spalding, dan A17 yang menuju ke tenggara ke arah Long Sutton dan King’s Lynn, melintasi perbatasan di Norfolk. Memakan waktu dua menit untuk memutuskan bahwa titik cahaya itu bergerak ke A17, ke arah Norfolk. Kesenjangan jarak bertambah menjadi empat setengah kilometer.

“Perkecil jarak,” perinlah Preston, dan Joe menekan gas sampai jarum speedometer menunjuk angka seratus tiga puluh, sampai jarak diperkecil menjadi sekitar dua kilometer.

Di sebelah selatan King’s Lynn mereka menyeberangi Sungai Ousc, dan beberapa detik kemudian titik cahaya itu masuk ke jalan yang menuju ke selatan dari jalan bypass yang menuju ke Downham Market dan Thetford.

“Gila—dia mau ke mana sih?” Joe mengomel.

“Dia pasti punya pangkalan di suatu tempat di sana,” kala Preston dari belakangnya. “Terus ikuti.”

Di sebelah kiri mereka langit merah jambu menghiasi cakrawala di ufuk timur, dan siluet-siluet pepohonan yang melaju lewat menjadi bertambah jelas. Joe mengganti lampu besar dengan lampu kecil.

279

Jauh di sebelah selatan, lampu-lampu temaram menerangi iring-iringan bis yang merayap di jalan-jalan yang macet melalui kota pasar Suffolk yang bernama Bury St. Edmunds. Seluruhnya berjumlah dua ratus, yang datang dari berbagai penjuru negeri, yang penuh padat berisi—sampai kc jendela-jendelanya—para pendukung perdamaian. Para demonstran lain datang dengan mobil, sepeda motor dan sepeda, dan dengan berjalan kaki. Iring-iringan yang lamban itu, yang digantungi spanduk dan poster, bergerak keluar kota dan masuk ke jalan A143 untuk kemudian berhenti di persimpangan Ixworth. Bis-bis itu tidak bisa bergerak maju melalui jalan-jalan rumput yang sempit dan terpaksa berhenti di pinggir jalan raya di dekat persimpangan dan menurunkan muatan penumpangnya yang masih menguap karena kantuk untuk menyambut fajar di pedesaan Suffolk. Para petugas ketertiban mulai mengimbau dan membujuk kerumunan orang-orang itu untuk membentuk semacam barisan, sementara polisi Suffolk duduk mengangkang di sepeda motor mereka dan mengawasi.

Di London, lampu-lampu masih menyala. Sir Bernard Hemmings baru saja diminta meninggalkan rumahnya, baru saja diberitahu, sesuai permintaannya, kalau tim-tim pelacak di Chesterfield sudah mulai membuntuti target mereka. Kini ia berada di ruang radio di basement gedung di Cork

Street, dengan Brian Harcourt-Smith di sampingnya.

Di bagian kota yang lain. Sir Nigel Irvine, yang juga dibangunkan karena permintaannya sendiri, kini sedang berada di kantornya di Sentinel House. Di bawahnya, di basement, Blodwyn sudah duduk selama separo malam itu dan menatap kc wajah laki-laki yang berdiri di bawah lampu jalan di sebuah kota kecil di Derbyshire. Ia tadi dibawa dengan mobil dari rumahnya di Camden Town di pagi buta, dan setuju untuk dating hanya jika diminta secara pribadi oleh Sir Nigel sendiri. Sir Nigel menyambut dia dengan seikat bunga; untuk Sir Nigel dia bersedia berjalan di atas pecahan kaca, tapi tidak untuk orang lain.

“Dia belum pernah berada di sini sebelum ini,” Blodwyn tadi sudah menyatakan, segera setelah ia menatap foto itu, “tapi toh….*

Satu jam kemudian ia mengalihkan perhatiannya ke Timur Tengah, dan pada jam empat pagi ia berhasil mendeteksi orang itu. Ini adalah sumbangan dari Mossad Israel; foto itu sudah enam tahun umurnya, agak kabur, dan merupakan satu-satunya foto yang ada. Bahkan Mossad sendiri pun tidak yakin; teks yang menyertainya menyatakan bahwa ini hanya perkiraan saja.

Salah satu orang mereka lelah mengambil foto itu di jalanan kota Damaskus. Subjek itu menyebut dirinya Timothy Donnelly waktu itu, dan menyatakan bahwa ia adalah seorang salesman untuk

280

281

Watcrford crystal. Karena curiga, Mossad lalu menangkap dia dan berkonsultasi dengan orang-orang mereka di Dublin. Timothy Donnelly ini memang ada, tapi tidak tinggal di Damaskus. Saat mereka tahu itu, orang yang ada dalam foto itu sudah kabur. Dia tidak pernah muncul kembali.

“Ini adalah dia,” kata Blodwyn. “Telinganya itu kentara sekali. Seharusnya dia pakai topi.”

Sir Nigel menelepon ruang radio di basement gedung di Cork Street. “Kami rasa kami telah membuat identifikasi, Bernard,” katanya. “Kami bisa mengirimkan kepadamu copy-nya.”

Mereka hampir saja kehilangan jejaknya tujuh setengah kilometer di sebelah selatan King’s Lynn. Mobil-mobil pengejar sedang meluncur menuju ke selatan ke Downham Market ketika titik cahaya itu mulai menyimpang, mula-mula sulit diikuti, tapi kemudian lebih tegas, ke arah timur. Preston memeriksa peta jalannya.

“Ia berbelok di sana masuk kc jalan A134,” katanya. “Menuju ke Thctford. Di sini kita belok kiri.”

Mereka menemukan orang itu lagi di Stradsctt, dan setelah itu perjalanan terus lurus melalui hutan-hutan birkin, ek, dan pinus yang semakin lebat menuju ke Thctford. Mereka sudah sampai ke puncak Gallows Hill dan bisa melihat kota pasar kuno itu terbentang di hadapan mereka da—

282

lam cahaya fajar yang temaram, ketika tiba-tiba Joc menghentikan mobil. “Dia berhenti lagi.”

Memastikan lagi apakah dia dikuntit? Dia selalu melakukan itu di kawasan pedesaan yang terbuka sebelum itu.

“Di mana posisinya?”

Joc mengkaji indikator jarak dan menunjuk ke depan. “Tepat di jantung kota, John.”

Preston mengkaji petanya dengan cermat. Selain jalan tempat mereka sedang berada sekarang, ada lima jalan lain yang keluar dari Thctford membentuk konfigurasi yang mirip bintang. Hari semakin terang. Sudah jam lima. Preston menguap. “Kita beri dia sepuluh menit.”

Titik cahaya itu tidak bergerak juga setelah sepuluh menit, bahkan setelah ditambah lima menit lagi. Preston mengirimkan mobilnya yang kedua untuk berputar menyusuri ring road. Mobil kedua itu melakukan pengukuran trigonometri dengan mobil pertama dari empat posisi yang berbeda; titik cahaya itu benar ada di jantung kota Thelford. Preston memungut mike tangan.

“Okay, kukira kita menemukan pangkalannya. Kita akan bergerak masuk.”

Kedua mobil itu meluncur menuju ke tengah kota. Mereka bertemu di Magdalen Street, dan pada jam lima dua puluh lima mereka menemukan sebuah lapangan sempit yang penuh garasi. Joe menggerakkan hidung mobilnya sampai mengarah

283

lepat kc salah salu pinlu garasi. Ketegangan semakin memuncak dalam diri para pelacak.

“la berada di dalam sana/ kala Joe. Preston turun dari mobil. Ia diikuti oleh Barney dan Ginger dari mobil yang lain.

“Ginger, bisa kaudobrak pegangan pintu itu?”

Sebagai jawabannya Ginger mengambil sebatang linggis dari kotak peralatan di salah satu mobil, menusukkannya ke pegangan pintu garasi dan mencongkelnya dengan keras. Terdengar bunyi gemeretak di dalam kunci itu. Ia memandang Preston, yang mengangguk. Ginger mendobrak pintu garasi dan cepat-cepat melangkah mundur.

Para pelacak yang berdiri di halaman hanya bisa menyaksikan saja. Sepeda motor itu ditaruh berdiri pada standarnya di tengah garasi. Pada sebuah kaitan tergantung seperangkat pakaian dari kulit hitam dan sebuah helm. Sepasang sepatu bot ditaruh di dekat tembok. Di antara debu dan oli di lantai terdapat jejak-jejak ban mobil.

“Ya, Tuhan,” kala Harry Burkinshaw, “kendaraan ditukar.”

Joe melongok ke luar jendela mobilnya. “Cork baru saja menghubungi jaringan kepolisian. Katanya mereka sudah memperoleh foto dengan wajahnya yang jelas. Kau mau itu dikirim ke mana?”

“Kantor polisi Thctford,” kata Preston. Ia memandang ke atas kc langit biru yang jernih di atasnya.

“Tapi sudah terlambat,” ia berbisik.

BI

Dilarang mengkomcrsil kan atau kesialan menimpa anda selamanya

21

SESAAT selelah jam lima pagi, para demonstran akhirnya membentuk sebuah barisan yang lebarnya tujuh orang dan panjangnya lebih dari satu setengah kilometer. Bagian kepala barisan itu mulai bergerak di sepanjang jalan sempit dari persimpangan Ixworth yang disebut A1088, tujuan mereka adalah desa Little Fakcnham dan kemudian terus menyusuri jalan yang lebih sempit yang menuju pangkalan udara Royal Air Force di Honington.

Saat itu pagi sangat cerah dan hangat dan semangat mereka tinggi, walaupun harus bangun di pagi buta seperti yang ditentukan oleh para pemimpin mereka supaya bisa tiba tepat pada waktunya untuk menyongsong angkutan American Galaxy yang memuat rudal-rudal Cruise. Ketika kepala barisan itu muncul di antara pagar semak yang mengapit jalan, badan arak-arakan itu mulai meneriakkan yel-yel ritual, “No to Cruise—Yanks out….”

Bertahun-tahun sebelumnya, pangkalan RAF di Honington berfungsi sebagai pangkalan bagi pe—

285

sawal pembom Tornado dan lidak menarik minal masyarakat secara umum. Hanya tergantung pada keputusan warga desa Little Fakcnham, Honington, dan Sapiston untuk mcntolcrir raungan pesawat-pesawat Tornado di atas kepala mereka. Keputusan untuk menjadikan Honington sebagai pangkalan rudal Cruise Inggris yang ketiga telah mengubah semuanya.

Pesawat-pesawat Tornado dipindahkan ke Skotlandia, tapi sebagai gantinya kedamaian daerah pedesaan itu telah dirusak oleh para pemrotes yang kebanyakan adalah para wanita yang membuat ulah-ulah yang tidak umum, yang menduduki kebun-kebun dan mendirikan tenda-tenda di tanah milik umum. Keadaan itu sudah berlangsung selama dua tahun.

Sebelumnya memang ada demonstrasi-demonstrasi yang berpawai, tapi yang ini adalah yang terbesar. Para wartawan dan reporter televisi hadir dalam jumlah besar, para cameraman berlari-lari mundur di jalanan untuk mengambil film dari tokoh-tokoh terkenal yang berada di lapisan paling depan arak-arakan itu. Itu mencakup tiga anggota Kabinet Bayangan, dua uskup, seorang monsignor, berbagai tokoh terkemuka dari gereja-gereja reformis, lima pimpinan serikat buruh, dan dua akademisi terkemuka.

Di belakang mereka adalah kaum pasifis, para pemrotes yang serius, rohaniwan, para Quaker, mahasiswa, kaum marxis-leninis pro-Soviet, para

286

penganut paham Trotsky anti Soviet, para dosen, dan aktivis Partai Buruh, berbaur dengan para pekerja yang menganggur, kaum punk, kaum gay, dan ekologis yang berjenggot. Juga ada ratusan ibu rumah tangga yang prihatin, kaum pekerja kantor, guru-guru, dan anak-anak sekolah.

Di sepanjang sisi-sisi jalan terdapat para pemrotes wanita yang bermukim di situ, sebagian besar membawa poster dan spanduk, ada yang mengenakan jaket bertopi dan ada yang rambutnya dipotong sangat pendek; mereka berpegangan tangan dengan teman-teman wanita mereka yang lebih muda atau bertepuk tangan menyambut arak-arakan yang bergerak kc mereka. Seluruh arak-arakan itu didahului oleh dua polisi bersepeda motor.

Pada jam lima lima belas Valcri Petrofsky sudah lolos dari Thctford dan seperti biasanya ia mengendarai mobilnya dengan rileks ke selatan menyusuri jalan A1088 untuk nantinya masuk ke jalan raya yang menuju Ipswich dan rumahnya. Ia tidak tidur semalaman dan ia merasa capek. Tapi ia tahu bahwa pesannya pasti sudah dikirimkan pada jam tiga liga puluh; dan saat ini Moskow pasti sudah tahu bahwa kerjanya tidak mengecewakan.

Ia melintasi perbatasan masuk ke kawasan Suffolk dekat Huston Hall dan melihat seorang polisi bersepeda motor sedang duduk mengangkang di sepeda motornya di pinggir jalan. Jalan yang salah

287

dan jam yang salah; Petrofsky sudah berulang kali melewati jalan ini selama beberapa bulan terakhir ini dan ia belum pemah melihat seorang polisi pun yang berpatroli dengan sepeda motornya di jalan itu.

Satu setengah kilometer jauhnya dari situ, di Little Fakenham, segenap naluri alamiahnya bangkit serentak dalam siaga penuh. Dua mobil polisi Rover bercat putih diparkir di sebelah utara desa itu. Di sampingnya, sekelompok perwira senior sedang berbincang dengan dua polisi bersepeda motor. Mereka memandang sekilas kc arah dia saat dia melewati tempat itu, tapi tidak berupaya untuk menghentikan dia.

Upaya itu datang kemudian, di Ixwcrrth Thorpe. Petrofsky baru saja akan keluar dari desa itu dan sedang mendekati gereja desa di sebelah kanan jalan ketika ia melihat sebuah sepeda motor bersandar di pagar jalan dan sosok seorang polisi sedang berdiri di lengah jalan, dengan radio dilekatkan kc mulutnya dan tangan dinaikkan untuk menyetop dia. Ia mulai mengurangi laju mobilnya, tangan kanannya diturunkannya kc kantong penyimpan peta di bagian dalam panel pintu tempat sebuah pistol otomatis Finlandia tergeletak di bawah gulungan sweater wol.

Jika ini sebuah jebakan, ia di “box” dari belakang. Tapi polisi itu kelihatannya sendirian saja. Tidak ada orang lain di dekat situ. Petrofsky melaju semakin pelan dan berhenti. Sosok jangkung

28S

dalam seragam vinyl hitam itu berjalan menghampiri jendela mobilnya dan membungkukkan badan. Petrofsky berhadapan dengan seraut wajah Suffolk yang kemerahan yang sama sekali tidak mengandung sifat jahat.

“Bolehkah saya minta Anda untuk berhenti di pinggir jalan, sir? Di sana saja di depan gereja itu. Supaya Anda aman nanti.”

Jadi memang benar sebuah jebakan. Jebakan itu tidak terlalu tersamar. Tapi mengapa tidak ada orang lain di situ?

“Ada apa, Pak Polisi?”

“Kami kuatir jalan tersumbat di sebelah sana, sir. Kami akan membukanya secepatnya.”

Benar atau palsu? Mungkin saja ada traktor yang terbalik di depan sana. Ia memutuskan untuk tidak menembak polisi itu dan segera kabur saja. Tapi tunggu dulu. Ia mengangguk, melepas kopling, dan berhenti di depan gereja. Lalu ia menunggu. Dari kaca spion di atasnya ia melihat bahwa polisi itu tidak memperhatikan dia lagi, tapi memberi isyarat pada pengendara mobil lainnya untuk berhenti. Mungkin inilah saatnya, pikirnya. Kontra-intclijen. Tapi hanya satu orang yang berada di dalam mobil itu. Mobil itu berhenti di belakangnya. Orang itu turun dari mobil.

“Apa yang terjadi?” ia berseru pada si polisi. Petrofsky bisa mendengar mereka melalui jendela mobilnya yang terbuka.

289

“Anda tidak mendengar, sir? Ada demonstrasi. Semua koran memuatnya. Juga televisi.”

“Oh, hell,” kala pengemudi yang lain, “saya tidak tahu jalan ini yang dipakai. Atau jam ini.”

“Tidak akan mengambil waktu lama untuk lewat di sini,” kata polisi itu menenangkan. “Tidak akan lebih dari satu jam.”

Pada saat itu kepala arak-arakan muncul dari tikungan. Dengan rasa jijik dan sikap merendahkan, Petrofsky memandang spanduk-spanduk itu dari kejauhan dan mendengar teriakan-teriakan itu secara samar-samar. Ia turun dari mobil untuk menyaksikan.

Lapangan sempit berlantai aspal yang terletak masuk dari Magdalen Street dengan tiga puluh garasi itu sekarang penuh orang. Beberapa menit setelah ditemukannya sepeda motor yang ditinggalkan itu, Preston mengirimkan Barney dengan mobil kedua berpacu menyusuri Grove Lane ke kantor polisi untuk minta bantuan. Di sana ada seorang polisi petugas piket di meja depan, dan seorang sersan yang sedang minum teh di belakang.

Dalam waktu yang sama Preston menelepon London melalui jaringan komunikasi polisi, dan walaupun itu merupakan sirkuit terbuka serta biasanya ia menggunakan penyamaran sebagai agen persewaan mobil, kali ini ia membuang kewas—

290

padaan seperti itu dan berbicara secara langsung dan terbuka kepada Sir Bernard sendiri.

“Saya membutuhkan dukungan satuan polisi Norfolk dan Suffolk,” katanya. “Juga sebuah heli, sir. Sangat segera. Atau semuanya akan lewat.” Ia telah menghabiskan dua puluh menit terakhir untuk mengkaji peta berskala besar kawasan East Anglia, yang dibentangkannya di atas kap mesin mobil Joe.

Lima menit kemudian seorang polisi patroli bersepeda motor dari Thetford, yang dikirim oleh sersan atasannya, masuk kc halaman, mematikan mesin dan memarkir sepeda motornya. Ia berjalan menghampiri Preston sambil melepaskan helmnya. “Anda orang yang dari London itu?” ia bertanya. “Apa yang bisa saya banhi?”

“Tidak akan bisa kecuali Anda seorang ahli sulap,” Preston menghela napas.

Barney kembali dari kantor polisi. “Ini fotonya, John. Datang waktu aku sedang berbicara dengan sersan piketnya.”

Preston meneliti wajah tampan yang masih muda itu yang diambil potretnya di jalanan kota Damaskus. “Bajingan kau,” ia bergumam. Kata-katanya tidak jelas, jadi tidak ada orang yang mendengarnya. Dua pesawat tempur pembom Amerika l-‘-lll berpacu di angkasa dalam formasi ketat, terbang rendah ke timur. Raungan bunyi mesinnya memecahkan kesunyian kota kecil yang

291

baru saja bangun. Polisi itu tidak mendongak ke atas.

Barney yang berdiri di sisi Preston, mengikuti laju pesawat itu sampai lenyap di kejauhan. “Berisik sekali,” komentarnya.

“Ah, pesawat-pesawat itu selalu lewat Thctford,” kata si polisi lokal. “Kalau sudah biasa jadi tidak terasa. Datang dari Lakenheath.”

“Bandara London juga parah,” kata Barney, yang tinggal di Hounslow, “tapi paling tidak pesawatnya tidak terbang serendah itu. Saya kira saya tidak akan tahan kalau terus-terusan begitu.”

“Jangan pedulikan itu, selama mereka masih di angkasa,” kata si polisi sambil mengupas bungkus sebatang coklat. “Asal jangan sampai jatuh saja. Pesawat-pesawat itu membawa bom atom. Kecil, tapi.”

Preston menoleh perlahan. “Apa yang Anda bilang tadi?” ia bertanya.

Di Cork Street, MI-5 bekerja dengan gesit. Tanpa menggunakan perantaraan penasihat hukum. Sir Bernard Hemmings secara pribadi menelepon kedua asisten komisaris (kriminal) daerah Norfolk dan Suffolk. Pejabat yang di Norwich masih tidur, tapi di Ipswich rekannya sudah berada di kantornya karena adanya demonstrasi besar yang menyita setengah kekuatan polisi Suffolk.

Asisten komisaris untuk Norfolk dihubungi pada saat yang sama dengan masuknya telepon untuk

292

dia dari kantor polisi Thctford. Ia menyetujui untuk membantu sepenuhnya; urusan administrasi bisa menyusul nanti.

Brian Harcourt-Smith sedang berupaya keras mendapatkan sebuah helikopter. Kedua dinas intelijen Inggris itu mempunyai hak khusus untuk menggunakan helikopter, yang pangkalannya ada di Northolt, di luar kota London. Bisa saja meminta helikopter secara darurat, tapi biasanya dianjurkan pengaturan di muka. Wakil Direktur Jenderal mendesak minta dijawab dengan segera bahwa sebuah helikopter akan mengudara dalam waktu empat puluh menit dan bisa mendarat di Thetford empat puluh menit kemudian. Harcourt-Smith minta Northolt menunggu sebentar. “Delapan puluh menit,” lapornya pada Sir Bernard.

Sang Direktur Jenderal kebetulan sedang berbicara dengan asisten komisaris untuk Suffolk yang berada di kantornya di Ipswich. “Apa Anda punya helikopter polisi yang siap pakai? Sekarang juga?” ia bertanya pada pejabat itu.

Diam sebentar karena Asisten Komisaris untuk Suffolk sedang bertanya pada rekannya yang bertugas di kontrol lalu lintas udara jalur intern. “Kami punya satu yang sedang mengudara di atas Bury SL Edmunds,” katanya.

“Tolong kirim dia ke Thctford untuk mengambil salah satu petugas kami yang akan ikut,” kata Sir Bernard. “Saya tegaskan kepada Anda ini adalah masalah keamanan nasional.”

293

“Saya akan memberikan perintah sekarang,” kata Asisten Komisaris untuk Suffolk itu.

Preston memberi isyarat kepada polisi Thetford supaya mendekat ke mobilnya. “Tolong tunjukkan di mana letak pangkalan-pangkalan udara Amerika di sekitar sini,” katanya.

Polisi itu meletakkan jarinya yang gemuk pada peta jalan itu. “Well, agak tersebar, sir. Ada yang di Sculthorpc di sini di Norfolk utara, Lakenheath dan Mildenhall di sini di sebelah barat, Chicksands di Bedfordshire—meskipun saya kira itu sudah tidak dipakai lagi. Dan masih ada Bentwaters, di sini di pantai Suffolk dekat Woodbridgc.”

Sudah jam enam sekarang. Para demonstran berkerumun di sekitar dua mobil yang diparkir di depan Church of AU Saints, sebuah gereja kecil tapi cantik, yang umurnya setua desa itu sendiri, dengan atap ilalang Norfolk dan tanpa penerangan listrik, sehingga doa petang masih dilakukan dengan cahaya lilin.

Petrofsky berdiri di samping mobilnya, kedua lengannya terlipat, wajahnya tenang, menyaksikan mereka berjalan dengan santai melewati dia. Apa yang ada di dalam benaknya adalah sangat jahat. Di seberang ladang-ladang di belakangnya, sebuah helikopter pemantau lalu lintas membuat bunyi gaduh menuju ke utara, tapi ia tidak bisa mendengarnya karena gaduhnya teriakan dan nyanyian para demonstran.

294

Pengemudi mobil yang lain, yang ternyata adalah seorang salesman biskuit yang sedang dalam perjalanan pulang setelah menghadiri seminar mengenai daya tarik penjualan Butter Osborncs, berjalan menghampirinya. Ia mengangguk kc arah para pengunjuk rasa itu. “Goblok,” ia bergumam saat mereka sedang menyanyikan “No to Cruise— Yanks out. Orang Rusia itu tersenyum dan mengangguk. Tidak memperoleh tanggapan berupa kata-kata, salesman itu berjalan balik ke mobilnya sendiri, masuk kc dalamnya, dan mulai membaca setumpuk brosur promosi perusahaannya.

Kalau saja Valeri Petrofsky memiliki selera humor yang baik, ia akan tersenyum jika menyadari situasinya saat itu. Ia sedang berdiri di depan sebuah gereja Tuhan, padahal dia tidak percaya akan Tuhan, dalam negeri yang sedang diupayakannya untuk dihancurkan, dan memberikan jalan bagi orang-orang yang sangat dibencinya. Dan lucunya, kalau misinya nanti sukses, maka semua tuntutan para pengunjuk rasa itu akan terpenuhi. Ia menghela napas ketika rnemikirkan betapa pasukan MVD di negerinya sendiri akan bisa menangani pawai seperti ini dengan cepat sebelum menyerahkan para pemimpin demonstran kc para petugas di Direktorat Utama Lima untuk diinterogasi secara berkepanjangan di Lefortovo.

Preston menatap kc bawah kc peta di mana dia sudah melingkari kelima pangkalan udara Ame—

295

rika. Seandainya aku seorang ilegal yang tinggal di negeri asing dalam penyamaran ketat dan sedang melaksanakan sebuah misi, pikirnya, aku akan mencoba bersembunyi di sebuah desa besar atau kota besar.

Di Norfolk ada King’s Lynn, Norwich, dan Yarmouth. Di Suffolk ada Lowestoft, Bury St Edmunds, Colchester, dan Ipswich. Untuk kembali ke King’s Lynn, yang dekat dengan pangkalan udara AS Sculthorpe, agen itu harus berbalik melewati dia di Gallows Hill. Itu tidak terjadi. Jadi tinggal empat pangkalan lagi, yang tiga di sebelah barat sana dan yang satu di sebelah selatan.

Ia merenungkan kembali jalur perjalanan yang telah membawa targetnya dari Chesterfield kc Thetford. Arahnya terus saja ke tenggara. Akan lebih logis memilih pos tempat menukar sepeda motor dengan mobil di suatu tempat di sepanjang jalur perjalanan. Dari Lakenheath dan Mildcnhall ke rumah transmiter di Chesterfield, akan lebih logis menyewa sebuah garasi di Ely atau Peterborough, dalam rute kc Midlands.

Ia mengambil jalur arah tenggara dari Midlands ke Thetford dan meneruskannya lebih jauh ke tenggara. Jalur itu menunjuk tepat ke Ipswich. Delapan belas kilometer dari Ipswich, yaitu di tengah-tengah hutan lebat dan dekat dengan pantai, terletak Bcntwatcrs. Ia teringat ia pernah membaca entah di mana, bahwa pesawat-pesawat F-5 diterbangkan dari sana, yaitu pesawat tempur pembom

296

modern yang dilengkapi dengan bom nuklir taktis yang dirancang untuk mampu menahan serangan dua puluh sembilan ribu tank bersama-sama.

Di belakangnya radio milik sang polisi mengeluarkan bunyi. Polisi itu menghampirinya dan menjawab panggilan itu. “Ada sebuah helikopter yang dalang dari selatan,” ia melaporkan.

“Itu buat saya,” Preston berkata.

“Oh… ah… Anda ingin ia mendarat di mana?”

“Apa ada tanah yang rata di dekat sini?” tanya Preston.

“Tempat yang kami sebut ‘Meadows’,” kata polisi itu. “Masuknya dari Castle Street setelah bundaran. Dan juga cukup kering tempatnya.”

“Katakan padanya untuk mendarat di sana,” kata Preston. “Saya akan menjumpai dia.” Ia lalu menghubungi timnya, beberapa di antara mereka sedang tidur di mobil. “Semuanya masuk. Kita akan pergi ke ‘Meadows’.”

Sementara mereka masuk kc dalam kedua mobil itu, Preston mengambil petanya dan membawanya kc polisi itu. “Coba katakan. Seandainya Anda ada di sini di Thetford dan sedang naik mobil ke Ipswich, Anda akan lewat jalan yang mana?”

Tanpa ragu polisi bersepeda motor itu menunjuk ke sebuah lokasi di peta itu. “Saya akan mengambil jalan A1088 yang langsung menuju Ixworth, melewati persimpangan, dan terus untuk kemudian memotong lewat jalan raya A45 yang menuju Ipswich, di sini di desa Elmswcll.”

297

Preston mengangguk. “Saya juga sama. Mari kita berharap bahwa si ‘Chummy’ juga berpikir sama. Saya ingin Anda tetap di sini dan mencoba melacak penyewa garasi lainnya yang barangkali pernah melihat mobil orang yang hilang itu. Saya perlu tahu nomor pelatnya.”

Helikopter Bell yang ringan sedang menunggu di Meadows, dekat bundaran. Preston turun dari mobil dengan membawa sebuah radio portable.

“Tinggal di sini,” katanya pada Harry Burkinshaw. “Ini perjalanan jauh. Ia barangkali sudah beberapa puluh kilometer jauhnya dari sini—paling sedikit ia sudah mendahului kita lima puluh menit. Aku akan pergi sejauh Ipswich untuk mencoba apakah aku akan mendeteksi sesuatu. Kalau tidak, tinggal tergantung pada nomor pelat mobil itu. Seseorang mungkin pernah melihatnya. Kalau polisi Thetford berhasil melacak orang yang pernah, melihatnya, hubungi aku di atas sini.”

Ia menunduk di bawah pusaran rotor heli itu dan menaikinya masuk kc kabinnya yang sempit, menunjukkan kartu identitasnya pada pilotnya dan mengangguk kepada pengontrol lalu lintas yang mundur kc belakang untuk memberinya tempat “Cepat sekali Anda tiba,” ia berteriak kepada pilot itu.

“Saya sudah mengudara sebelumnya,” pilot itu berteriak balik.

Helikopter itu mulai naik dan terbang menjauhi Thetford.

298

“Anda mau kc mana?” pilot itu bertanya.

“Kc jalan A1088.”

“Ingin melihat demo itu, ya?”

“Demo apa?”

Pilot itu memandangnya seakan Preston baru saja mendarat dari Mars. Heli itu, hidungnya menghadap ke bawah, menderu ke arah tenggara dengan posisi sejajar dengan jalan A1088 supaya Preston bisa melihat jalur arak-arakan pengunjuk rasa.

“Demonstrasi RAF Honington,” pilot itu berkata. “Semua koran dan TV membicarakannya.”

Preston tentu saja sudah melihat liputan berita tentang kermjngkinan adanya demonstrasi terhadap pangkalan itu. Dua minggu lamanya ia menonton televisi di Chesterfield. Dia cuma tidak menyadari bahwa pangkalan itu terletak di dekat jalan A1088, antara Thctford dan Ixworth. Tiga puluh detik lagi ia akan bisa melihat pangkalannya yang sebenarnya.

Jauh di sebelah kanannya matahari pagi bersinar di atas landasan pacu pangkalan itu. Sebuah pesawat American Galaxy yang sangat besar sedang berputar dekat pagar pangkalan setelah mendarat. Di luar gerbang-gerbang pangkalan, nampak noktah-noktah hitam kerumunan polisi Suffolk yang jumlahnya ratusan. Punggung mereka menempel kc pagar kawat, menghadapi para pengunjuk rasa.

Dari antara kerumunan massa yang padat di depan pagar betis polisi, segerombolan pengunjuk

299

rasa berpakaian gelap, dengan spanduk-spanduk yang berkibar dan melambai di atas kepala mereka, berlari menyusur jalan sempit yang menghubungkan lokasi itu dengan jalan A1088, muncul di jalan itu, dan berlari kc arah tenggara kc persimpangan ixworth.

Tepat di bawahnya Preston bisa melihat desa Little Fakcnham, dan desa Honington tidak jauh dari situ. Ia bisa melihat bangsal-bangsal Honington Hall dan bata merah Malting Row di seberang jalan. Di sini kerumunan pengunjuk rasa adalah yang terpadat saat mereka berjubel di sekitar mulut jalan sempit yang menuju pangkalan itu. Jantungnya mulai berdebar keras.

Di hulu jalan yang keluar dari jantung desa Honington nampak sederetan mobil yang panjangnya sekitar satu kilometer, dengan pengemudi yang tidak menyadari jalan itu akan tertutup sebagian pagi itu, atau yang berharap akan bisa menembusnya dalam waktu singkat. Ada lebih dari seratus kendaraan.

Lebih jauh ke hilir, tepat di jantung arak-arakan massa itu, ia bisa melihat kilatan dua atau tiga atap mobil; jelas itu mobil-mobil yang diizinkan untuk terus berjalan sesaat sebelum jalanan ditutup, lapi yang tidak berhasil mencapai persimpangan Ixworth pada waktunya agar tidak terperangkap kemacetan. Ada beberapa lagi di desa Ixworth Thorpe dan dua lagi diparkir dekat sebuah gereja kecil lebih jauh lagi ke hilir.

300

“Aku tak tahu,” ia berbisik.

Valeri Petrofsky melihat polisi yang tadi menyetopnya berjalan menghampirinya. Pawai massa itu sudah menipis sedikit; tinggal ekornya saja dan itu pun sudah akan lewat sekarang.

“Maaf sampai begitu lama, sir. Nampaknya jumlahnya lebih banyak daripada yang diperkirakan.”

Petrofsky mengangkat bahu dengan ramah. “Habis bagaimana lagi. Pak Polisi. Saya tadi bodoh mau mencoba menembusnya. Saya pikir bisa lolos pada waktunya.”

“Ah, cukup banyak mobil yang terperangkap. Tak akan lama lagi. Sepuluh menit lagi orangnya akan habis, lalu diikuti beberapa van peliput berita di ekornya. Begitu semua itu lewat, kami akan membuka jalan kembali.”

Di seberang ladang-ladang di depan mereka, sebuah helikopter polisi mendesing lewat membuat lingkaran besar. Dari mulut pintunya yang terbuka Petrofsky bisa melihat sang pengontrol lalu lintas sedang berbicara ke walkietalkie-i\ya.

“Harry, kau bisa dengar aku? Masuk, Harry, ini John.” Preston duduk di mulut pintu heli di atas Ixworth Thorpe, mencoba menghubungi Burkinshaw.

Suara si pelacak menjawab, dengan banyak gangguan komunikasi, dari Thetford. “Harry di sini. Roger, John.”

301

“Harry, di bawah sedang ada demonstrasi anti Cruise. Ada kemungkinan, cuma kemungkinan, bahwa Chummy terperangkap di dalamnya. Tahan.” Ia menoleh kepada sang pilot. “Sudah berapa lama pawai itu berlangsung?”

“Sekitar satu jam.”

“Kapan mereka mulai menutup jalan di Ixworth di bawah itu?”

Dari belakang, si pengontrol lalu lintas mencondongkan tubuhnya kc depan. “Jam lima dua puluh,” katanya.

Preston melihat kc arlojinya. Jam enam dua puluh lima. “Harry, cepat ke jalan A134 ke Bury St. Edmunds, lalu ambil jalan A45, dan temui aku di persimpangan jalan AI088 dan A45 di Elmswell. Minta si polisi yang berada di garasi itu bertindak sebagai pemandu jalan di depan. Dan Harry, bilang pada Joc supaya melarikan mobilnya seperti yang belum pernah dilakukannya seumur hidupnya.” Ia menepuk pilot itu di pundaknya. “Bawa saya kc Elmswell dan turunkan saya di lapangan dekat persimpangan jalan itu.”

Lewat udara hanya makan waktu lima menit. Saat terbang di atas persimpangan Ixworth, melintasi jalan A143 Preston bisa melihat deretan bis — bagaikan ular—diparkir di mulut jalan; bis-bis yang tadi mengangkut sebagian besar para pengunjuk rasa ke daerah pedesaan yang cantik dan hijau. Dua menit kemudian ia sudah bisa melihat jalan

302

raya A45 yang lebar membentang dari Bury St. Edmunds ke Ipswich.

Pilot memiringkan heli untuk membuat belokan, mencari-cari landasan yang bisa dipakai mendarat. Ada lapangan-lapangan rumput di dekat titik di mana jalan A1088 yang sempit menyilang jalan A45.

“Mungkin saja itu padang rumput yang berair,” teriak si pilot. “Saya akan terbang hover—tak bergerak. Anda bisa melompat dari ketinggian beberapa kaki.”

Preston mengangguk. Ia menoleh kc sang pengontrol lalu lintas yang berseragam. “Pakailah topi Anda. Anda ikut saya.”

“Itu bukan pekerjaan saya,” protes sersan itu, “saya pengontrol lalu lintas.”

“Memang itulah yang saya minta dari Anda. Mari kita lompat.”

Ia melompat setinggi enam puluh sentimeter dari pijakan heli Bell itu ke atas rumput yang tebal dan tinggi. Sersan, polisi itu, sambil memegangi topinya yang ditiup angin rotor, mengikutinya. Pilot itu naik lagi, lalu terbang pergi menuju Ipswich yang merupakan pangkalannya.

Dengan Preston memimpin di depan, mereka berlari menyeberangi padang rumput, melompati pagar, dan mencapai jalan A1088. Seratus meter dari situ, jalan itu bergabung dengan jalan A45. Di seberang persimpangan mereka bisa melihat iring—

303

iringan kendaraan yang lak ada habisnya ke arah Ipswich.

“Sekarang bagaimana?” tanya sersan polisi itu.

“Sekarang Anda berdiri di sini dan hentikan mobil-mobil yang menuju ke selatan di jalan ini. Tanyakan kepada pengemudinya apakah dia sudah berada di jalan ini sejak paling jauh Honington di utara itu. Kalau ia masuk kc jalan ini di sebelah selatan persimpangan Ixworth, atau dari situ, biarkan dia terus. Lapor kepada saya kalau Anda bertemu dengan mobil pertama yang lolos dari arak-arakan itu.”

Preston lalu berjalan di jalan A45 dan memandang kc sebelah kanan, ke arah Bury St. Edmunds. “Ayo, Harry. Ayolah.”

Semua mobil yang menuju kc selatan diminta berhenti oleh si polisi berseragam, tapi semuanya menyatakan mereka masuk ke jalan itu di sebelah selatan arak-arakan demonstrasi anti nuklir. Dua puluh menit kemudian, Preston melihat si polisi bersepeda motor dari Thctford, sirenenya meraung-raung membuka jalan, berpacu ke arahnya diikuti kedua mobil pelacak. Semuanya lalu menggerit berhenti di depan mulut jalan A108N. Polisi itu membuka helmnya.

“Saya harap Anda tahu apa yang Anda lakukan, sir. Saya kira ini sudah yang paling cepat yang bisa kami lakukan. Pasti nanti akan ada pertanyaan-pertanyaan.”

Preston mengucapkan terima kasih kepadanya

304

dan menginstruksikan kedua mobil pelacak untuk maju beberapa meter kc jalan sempit itu. Ia menunjuk tanggul yang berumput. “Joe, tabrakkan mobilmu ke situ.” ŚApa?!”

“Tabrakkan. Tapi jangan keras-keras supaya mobilnya tidak hancur. Usahakan supaya nampak sungguh-sungguh.”

Kedua polisi itu menyaksikan dengan tercengang saat Joe menabrakkan mobilnya ke tanggul di tepi jalan. Bagian belakang mobil itu mencuat dan memblokir separo badan jalan.

Preston menyuruh mobil yang lainnya maju lima belas meter. “Okay, keluar,” ia memberi instruksi pada pengemudinya. “Ayo, semuanya bersama-sama, sekarang. Balikkan kc sampingnya.”

Mereka harus mendorong tujuh kali sebelum berhasil membalikkan mobil milik MI-5 itu. Preston lalu mengambil sebuah batu dari pagar jalan dan menghantam salah satu jendela mobil Joc, menyerok pecahan kristal kaca itu dengan kedua telapak tangannya dan menaburkannya di jalanan.

“Ginger, kau berbaring di jalanan, di sini, dekat mobil Joe. Barney, ambil selimut dari bagasi dan tutupkan di alas badannya. Seluruh badannya. Wajahnya juga. Okay, yang lain lompati pagar itu dan jangan tampakkan diri kalian.”

Preston memberi isyarat pada dua polisi itu untuk mendekat kepadanya. “Sersan, anggap saja baru terjadi tabrakan karena mobil mengerem

305

mendadak. Saya minla Anda berdiri di sebelah jenazah itu dan mengarahkan lalu lintas yang melewatinya. Dan Anda, parkir motor Anda, berjalanlah ke depan sana dan pelankan laju lalu lintas yang datang dari sana saat mendekat ke tempat ini.”

Masing-masing polisi itu telah menerima instruksi dari Ipswich dan Norwich. Bckcrjasamalah dengan orang-orang dari London itu. Biarpun ternyata mereka itu gila.

Preston duduk di atas tanggul berumput, dengan saputangan ditempelkan kc wajahnya, seakan sedang menghambat keluarnya darah dari hidung yang berdarah.

Tidak ada yang lebih ampuh yang bisa menyebabkan para pengendara mobil mengurangi laju mobilnya daripada sebuah jenazah, atau membuat mereka menatap melalui jendela mobil ketika melewatinya. Preston telah mengatur supaya “jenazah” Ginger berada di sisi pengemudi berada untuk mobil-mobil yang menuju ke selatan di jalan A1088.

Mayor Valeri Petrofsky berada dalam mobil ketujuh belas. Seperti mobil-mobil di depannya, mobil keluarga model hatchback itu mengurangi kecepatannya ketika melihat isyarat si polisi, lalu pelan-pelan melewati tempat kecelakaan itu. Di dasar tanggul berumput, dengan mata setengah terpejam dan wajah yang di foto itu terpeta di benaknya, Preston memandang agen Rusia yang hanya

306

tiga setengah meter darinya ketika mobil sedannya maju perlahan melewati kedua mobil yang hampir memblokir badan jalan.

Dari sudut matanya Preston menyaksikan hatchback kecil itu membelok kc kiri ke jalan A45, berhenti sebentar di depan lalu lintas yang melaju lewat situ, kemudian masuk kc jalur kendaraan yang menuju Ipswich. Ia lalu bangkit dan berlari. -

Kedua pengemudi dan kedua pelacak kembali kc situ melompati pagar mendengar panggilannya. Seorang pengendara mobil yang baru saja mengurangi kecepatan, tercengang melihat “mayat” itu melompat bangun dan membantu lainnya membalikkan mobil itu kembali kc posisi semula pada empat rodanya. Mobil itu jatuh ke jalan dengan suara keras.

Joe masuk ke mobilnya sendiri, duduk di belakang setir, lalu memundurkan mobilnya—lepas dari tanggul itu. Barney membersihkan lampu-lampu depan mobil itu dari lumpur dan rumput yang menempel sebelum ia memasukinya. Harry Burkinshaw mengambil—bukan satu—tapi tiga permen mint dan memasukkan semuanya kc dalam mulutnya.

Preston menghampiri polisi bersepeda motor itu. “Sebaiknya Anda kembali ke Thctford, dan banyak terima kasih atas semua bantuan Anda.” Kepada sang sersan yang berjalan kaki dia berkata, “Maafkan saya, saya harus meninggalkan Anda di sini.

307

Seragam Anda sangat mencolok sehingga Anda tidak bisa ikut dengan kami. Tapi banyak terima kasih atas bantuan Anda.” Kedua mobil MI-5 itu lalu berpacu ke jalan A45, kemudian berbelok kc kiri menuju Ipswich.

Pengendara mobil yang kebingungan, yang melihat semuanya itu, bertanya kepada sersan yang ditinggalkan itu, “Apa mereka sedang membuat film untuk televisi?”

“Saya tidak akan terlalu heran kalau memang begitu,” kata si sersan. “Ngomong-ngomong, Bung, apa boleh saya menumpang sampai Ipswich?”

Jalan menuju Ipswich penuh dengan kendaraan niaga dan mobil para pekerja kantor yang**bcrangkat kerja, dan semakin dekat ke kota semakin padat. Itu merupakan perlindungan yang baik bagi kedua mobil pelacak, yang terus-menerus berganti posisi, agar mereka bisa tetap melihat hatchback itu secara bergantian.

Mereka memasuki kota melewati Whitton, tapi ketika hampir tiba di pusat kota, mobil kecil di depan itu berbelok kc kanan memasuki Chevallier Street dan mengitari bundaran menuju Handford Bridge, di mana ia melintasi Sungai Orwell. Di sebelah selatan sungai itu, si target menyusuri Ranclagh Road, kemudian berbelok lagi ke kanan.

“Ia keluar dari kota lagi,” kata Joe yang berada lima mobil di belakang mobil yang dicurigai. Mc—

308

reka memasuki Bclstcad Road, yang berarti meninggalkan Ipswich menuju kc selatan.

Tiba-tiba hatchback itu membelok kc kiri dan memasuki sebuah kompleks perumahan.

“Awas,” Preston memperingatkan Joc, “dia tidak boleh melihat kita sekarang.”

Ia memberitahu mobil kedua untuk mengambil posisi di persimpangan antara jalan masuk kc kompleks itu dan Belstead, kalau-kalau si target berputar balik dan keluar lagi. Joe meluncur perlahan memasuki kompleks yang terdiri dari tujuh culs-desac yang membentuk pemukiman The Hayes. Mereka melewati gerbangnya dan menuju Cherryhaycs Close, tepat pada waktunya untuk melihat orang yang mereka kuntit memarkir mobilnya di depan sebuah rumah kecil yang terletak kira-kira di pertengahan jalan itu. Orang itu kini sedang turun dari mobilnya. Preston menginstruksikan pada Joe untuk terus melaju sampai hilang dari pandangan, lalu berhenti.

“Harry, pinjam topimu dan coba periksa apa masih ada hiasan bunga Partai Konservatif di kotak sarung tangan itu.”

Masih ada—sisa dari masa dua minggu itu— yang digunakan tim itu supaya bisa masuk-keluar rumah Royston melalui pintu depan tanpa dicurigai. Preston memasang itu di dadanya, menanggalkan jas hujan yang tadi dipakainya di pinggir jalan tempat dia pertama kali melihat Petrofsky dengan

309

mata-kcpala sendiri, mengenakan topi porkpie Harry, lalu (urun dari mobil.

la berjalan kc arah Cherryhayes Close dan memasuki jalan setapak yang menuju rumah yang tepat berhadapan dengan rumah agen Soviet itu. Rumah yang berada tepat di hadapan rumah No. 12 adalah rumah No. 9. Di jendelanya tertempel poster Partai Sosial Demokrat Ia berjalan ke pintu depannya dan mengetuk.

Pintu dibuka oleh seorang wanita muda yang cantik. Preston bisa mendengar suara seorang anak kecil, lalu suara seorang pria dari dalam rumah itu. Saat itu jam delapan; keluarga itu sedang bersantap pagi.

Preston mengangkat topinya. “Selamat pagi, madam.”

Melihat hiasan bunga di dadanya, wanita itu berkata, “Oh, maafkan saya. Anda hanya akan membuang waktu saja di sini. Kami memilih Sosial Demokrat”

“Saya sepenuhnya mengerti, ma’am. Tapi saya mempunyai selebaran promosi. Saya akan sangat berterima kasih kalau Anda mau menunjukkannya kepada suami Anda.” Ia lalu memberikan kartu plastik yang memual identifikasi dirinya sebagai petugas dari MI-5.

Wanita itu tidak memandang kartu yang disodorkan Preston, hanya menghela napas, “Oh, ya. Tapi saya yakin, itu tidak akan mengubah apa-apa.”

310

Ia meninggalkan Preston berdiri di undakan pintu depan dan masuk ke dalam rumah; beberapa detik kemudian, Preston mendengar bisik-bisik percakapan dari dapur di bagian belakang rumah. Seorang pria muda keluar dan menghampiri lorong masuk pintu depan sambil memegang kartu itu. Ia adalah seorang eksekutif perusahaan yang mengenakan celana berwarna gelap, kemeja putih, dan dasi bergaris. Jas’ tidak ada; itu akan dikenakannya nanti pada saat ia akan berangkat kerja. Ia sedang memegang kartu Preston dan wajahnya nampak cemberut

“Ini sebenarnya apa, sih?” tuan rumah itu bertanya.

“Ya seperti yang nampak di situ, sir. Itu adalah kartu identitas petugas MI-5.”

“Ini bukan lelucon?”

“Tidak, itu sungguh asli.”

“Baiklah. Well, apa yang Anda kehendaki?”

“Bisakah Anda membiarkan saya masuk dan menutup pintu?”

Pria muda itu diam sebentar, lalu mengangguk. Preston membuka topinya lagi dan melangkah melompati ambang pintu. Ia menutup pintu di belakangnya.

Di seberang jalan, Valcri Petrofsky sedang berada di ruang duduk rumahnya di balik gorden tipis berwarna coklat opaque. Ia lelah, dan otot-ototnya terasa pegal karena perjalanan jauh itu. Ia menuangkan segelas whisky. Memandang melalui

311

gorden, ia, bisa melihat seorang petugas kampanye—yang biasa berkeliaran hari-hari itu— sedang berbicara dengan penghuni rumah No. 9. Ia sendiri sudah dikunjungi tiga petugas kampanye selama sepuluh hari ini, dan sejumlah brosur partai telah berada di bawah pintunya waktu dia tiba di rumah tadi. Ia menyaksikan pemilik rumah itu membolehkan orang itu masuk ke lorong pintu depan rumahnya. Satu lagi kena jaring, pikirnya. Itu akan menyenangkan partai.

Preston menarik napas lega. Pria muda itu memandang dia dengan curiga, sementara istrinya menatap dari pintu dapur. Wajah seorang gadis kecil berumur sekitar tiga tahun muncul di mulut pintu, di samping lutut ibunya.

“Anda benar-benar dari MI-5?” tanya pria itu.

“Ya. Kami memang tidak mempunyai dua kepala dan telinga hijau.”

Untuk pertama kalinya pria muda itu tersenyum. “Tidak. Tentu saja tidak. Saya hanya heran saja. Tapi apa yang Anda inginkan dari kami?”

“Tidak ada, tentu saja,” Preston menyeringai. “Saya bahkan tidak tahu Anda siapa. Rekan-rekan saya dan saya telah menguntit seseorang yang kami kira agen asing, dan dia tadi masuk ke dalam rumah di seberang itu. Saya ingin meminjam telepon Anda dan barangkali Anda akan mengizinkan beberapa orang untuk mengawasi orang yang dicurigai itu dari jendela kamar tidur Anda yang di lantai atas.”

312

“Agen asing?” tanya pria itu. “Jim Ross? Ia bukan orang asing.”

“Kami duga mungkin dia agen asing. Bolehkah saya meminjam telepon Anda?”

“Well, ya. Saya kira begitu.” Ia menoleh pada keluarganya. “Ayo, semua kembali kc dapur.”

Preston menelepon Charles Street dan dihubungkan dengan Sir Bernard Hcmmings, yang masih berada di Cork. Burkinshaw telah menggunakan jaringan radio polisi untuk memberitahu Cork dalam bahasa kode bahwa sang “klien” sedang berada di rumahnya di Ipswich dan bahwa “taksi-taksi” sudah berada di sekitar situ dan “siap dipanggil”.

“Preston?” kata sang Direktur Jenderal ketika dia menerima telepon itu. “John? Kau berada di mana tepatnya?”

“Di sebuah kompleks pemukiman di Ipswich yang disebut Cherryhayes Close,” kata Preston. “Kami telah melacak “Chummy* sampai kc sarangnya. Saya yakin, kali ini adalah pangkalannya.”

“Menurut kau sudah waktunya kita masuk?”

“Ya, sir, saya kira begitu. Saya kualir, mungkin dia bersenjata. Saya kira Anda tahu apa maksud saya. Saya kira ini bukan urusan Cabang Khusus atau satuan polisi setempat.” Ia mengatakan kepada Direktur Jenderal, apa yang diinginkannya, lalu meletakkan gagang telepon itu dan menelepon Sir Nigel di Sentinel House.

“Ya, John, aku setuju,” kata C ketika dia diberi

313

informasi yang sama. “Kalau dia mempunyai si sualu yang kita perkirakan, memang sebaiknya d tempuh cara yang kauminta itu. Pasukan SAS.”

314

OBI KENOBI

I )i lanmgirarng-komersi) - kail atau keratan menimpa anda selamanya

22

Memanggil sas (Special Air Service), yaitu resimen elit dan multifungsi yang terdiri dari pakar-pakar penetrasi ke dalam, pengawasan, dan (kadang-kadang) serbuan di dalam kota, tidaklah semudah seperti yang diperlihatkan dalam drama-drama televisi yang penuh petualangan.

SAS tidak pernah beroperasi atas inisiatif sendiri. Di bawah Undang-Undang Dasar, seperti semua sektor angkatan bersenjata, SAS beroperasi di dalam Kerajaan Inggris hanya kalau didukung oleh kekuasaan sipil—yaitu kepolisian. Jadi, rupanya kepolisian lokal masih tetap berfungsi sebagai komando pemegang umum operasi itu. Dalam kenyataannya, sekali orang-orang SAS telah diberi perintah “jalankan”, maka kepolisian setempat dianjurkan untuk sebaiknya mundur saja.

Sesuai dengan undang-undang, kepala polisi distrik tempat keadaan darurat itu timbul—suatu keadaan darurat yang tidak bisa ditangani oleh kepolisian setempat tanpa dibantu—yang harus mengajukan permintaan resmi kc KcmcrHcrian Dalam

315

Negeri untuk melibatkan SAS. Mungkin saja kepala polisi itu “dinasihati” untuk mengajukan permintaan itu, dan hanya orang yang punya nyali besar yang berani menolak kalau “nasihat” itu datang dari atas sana.

Setelah kepala polisi mengajukan permintaan resmi kepada Permanent Under Secretary di Kementerian Dalam Negeri, yang kemudian menyampaikan permintaan itu kepada Kcmenterian Pertahanan, yang lalu memberitahu pimpinan operasi militer mengenai permintaan itu—dan Kemcnlcrian Pertahanan ini kemudian memberitahu SAS di pangkalannya di Hereford.

Bahwa prosedur seperti ini bisa diselesaikan hanya dalam waktu beberapa menit adalah karena telah dipraktekkan berulang-ulang dan telah dipoles menjadi sangat canggih, dan juga karena sistem pemerintahan Inggris—jika dituntut untuk bergerak cepat—memiliki jalinan antarpribadi yang cukup bagus, sehingga banyak prosedur yang bisa dilakukan melalui komunikasi lisan saja, yaitu dengan kelengkapan administrasinya disusulkan kemudian. Birokrasi Inggris memang nampaknya lamban dan tidak praktis di mata orang Inggris, tapi masih jauh lebih efisien daripada birokrasi di negara-negara Eropa lainnya dan Amerika. Yang jelas, kebanyakan kepala polisi di Inggris sudah pernah berkunjung kc Hereford untuk melihat sendiri unit yang dikenal dengan sebulan “the Regiment” itu, dan menyaksikan dengan jelas jenis-316

jenis bantuan apa saja yang bisa diberikan kepada mereka jika diminta. Hanya sedikit di antara mereka yang tidak terkesan.

Pagi itu. Kepala Polisi Distrik Suffolk diberitahu dari London tentang adanya krisis di wilayahnya, yaitu dicurigai ada seorang agen asing yang diperkirakan bersenjata dan barangkali memiliki sebuah bom, yang saat ini sudah dikepung di Cherryhayes Close, Ipswich. Kepala polisi itu lalu menghubungi Sir Hubert Villicrs di Whitehall, di sana teleponnya itu memang sudah ditunggu-tunggu. Sir Hubert menghubungi rekannya, Menteri Sekretaris Kabinet, yang lalu memberitahu Perdana Menteri. Setelah memperoleh persetujuan dari Downing Street, Sir Hubert menyampaikan permintaan yang kini sudah sah secara politis, kepada Sir Peregrine Jones di Kcmenterian Pertahanan, yang sudah tahu tentang semua itu karena ia telah berbicara dengan Sir Martin Flanncry. Dalam waktu enam puluh menit sejak kontak pertama antara kepala polisi Suffolk dan Kcmenterian Dalam Negeri, pimpinan operasi militer berbicara melalui jalur komunikasi bersandi kepada komandan SAS di Hereford.

Seksi tempur SAS dibentuk berdasarkan unit-unit empat. Empat orang membentuk satu patroli, empat patroli membentuk satu pasukan, dan empat pasukan satu skuadron. Keempat skuadron “pedang saber” ini adalah A, B, D, dan G. Mereka bertugas bergiliran di berbagai wilayah operasi

317

SAS: Irlandia Utara, Timur Tengah, latihan di hutan, dan proyek-proyek khusus, selain tugas-tugas reguler NATO dan tugas mengadakan satu skuadron yang selalu standby di Hereford.

Tugas-tugas itu biasanya meminta waktu enam sampai sembilan bulan, dan bulan itu Skuadron B-lah yang sedang bertugas di Hereford. Seperti biasanya, ada satu pasukan yang standby setengah jam dan pasukan lain yang berjaga-jaga dua jam. Keempat pasukan dalam tiap skuadron adalah selalu pasukan udara (penerjun payung terlatih), pasukan perahu (marinir yang terampil mengendarai kano dan melakukan manuver di bawah air), pasukan gunung (para pendaki gunung), dan pasukan mobil (mengendarai Land Rover yang dipersenjatai-).

Ketika Brigadir Jenderal Jeremy Cripps selesai menelepon dari London, ternyata yang diberi tugas ke Ipswich adalah Pasukan Tujuh —penerjun payung—dari Skuadron B.

“Apa kegiatan rutin Anda biasanya pada jam begini?” tanya Preston kepada pemilik rumah di Cherryhayes Close, yang bernama Adrian. Eksekutif muda itu baru saja selesai menelepon Wakil Kepala Polisi Suffolk yang berada di kantornya di markas besar kepolisian Ipswich. Kalau tadinya Adrian masih saja kurang percaya akan keabsahan identitas tamunya yang tidak diharapkan itu, maka sekarang keragu-raguan sudah lenyap. Preston mc-318

nyarankan supaya Adrian sendiri yang menelepon dan pria muda itu sekarang benar-benar yakin bahwa kepolisian Suffolk mendukung petugas MI-5 yang kini berada di ruang duduknya. Dia juga diberitahu bahwa orang yang berada di seberang rumahnya itu mungkin bersenjata dan berbahaya, dan bahwa akan dilakukan penangkapan tidak lama lagi, hari itu juga.

“Well, saya berangkat kerja dengan mobil sekitar jam sembilan kurang seperempat—yaitu sepuluh menit lagi. Sekitar jam sepuluh, Lucinda mengantarkan Samantha kc sekolah taman kanak-kanak. Ia biasanya shopping sebentar, lalu tengah hari menjemput Samantha, dan pulang kc rumah. Berjalan kaki. Saya pulang kerja sekitar jam enam tiga puluh, dengan mobil tentunya.”

“Saya minta hari ini Anda tidak masuk kerja,” kata Preston. “Hubungi kantor Anda sekarang dan katakan Anda kurang enak badan. Tapi tinggalkan rumah pada jam yang biasa. Anda akan dijemput di ujung jalan, di mana Belstead Road memotong jalan masuk ke The Hayes, oleh sebuah mobil polisi.”

“Bagaimana istri dan anak saya?”

“Saya minta Mrs. Adrian menunggu di sini sampai tiba saatnya ketika dia biasa pergi—lalu pergi dengan Samantha sambil membawa tas belanja, berjalan menuju kc sana dan bergabung dengan Anda. Apakah ada tempat yang bisa Anda tuju untuk menghabiskan hari ini?”

319

“Ada ibu saya di Felixstowe,” kata Lucinda Adrian dengan tegang.

“Bisakah Anda hari ini tinggal bersama dia? Malahan barangkali malam ini juga?”

“Bagaimana mengenai rumah kami?”

“Saya menjamin, Mr. Adrian, tidak akan terjadi apa-apa di sini,” kata Preston dengan nada optimis. Padahal seharusnya ia menambahkan bahwa rumah itu bisa saja tetap utuh atau, jika ada yang salah, akan lenyap total. “Saya mohon Anda mengizinkan saya dan rekan-rekan saya menggunakan rumah ini sebagai pos pengawasan untuk memantau gerak-gerik orang yang rumahnya di seberang itu. Kami akan masuk keluar lewat belakang. Kami tidak akan menyebabkan kerusakan apa-apa.”

“Bagaimana pendapatmu, darling?” Adrian bertanya pada istrinya.

Lucinda mengangguk. “Aku hanya ingin membawa Samantha keluar dari sini,” katanya.

“Satu jam lagi, saya berjanji,” kata Preston. “Kami tahu bahwa Mr. Ross tidak tidur semalaman karena kami menguntit dia. Dia mungkin sedang tidur sekarang; dan bagaimanapun juga, tidak boleh ada tindakan polisi terhadap rumah itu sebelum sore hari, mungkin malahan sampai senja hari.”

“Baiklah,” kata Adrian, “akan kami lakukan itu.”

Ia menelepon kantornya minta izin tidak masuk hari itu, kemudian berangkat naik mobil pada jam

320

delapan empat puluh lima. Dari jendela kamar tidurnya di lantai atas, Valeri Petrofsky menyaksikan dia berangkat. Si Rusia sedang bersiap-siap untuk tidur beberapa jam. Tidak ada sesuatu yang aneh di jalanan. Adrian selalu berangkat kerja pada jam begini.

Preston melihat ada tanah kosong di belakang rumah Adrian. Ia menghubungi Harry Burkinshaw dan Barney lewat radio, yang lalu masuk lewat belakang, mengangguk kepada Lucinda yang terkejut melihat mereka, dan naik ke lantai atas untuk menjalankan profesi mereka sehari-hari—mengawasi. Ginger telah menemukan sepetak tanah di ketinggian yang jauhnya lima ratus meter dari situ, dari sana ia bisa melihat Teluk Orwell dengan dermaga-dermaga di tepinya, dan juga kompleks pemukiman kecil yang terbentang di bawahnya. Dengan memakai teropong ia bisa memantau bagian belakang rumah Chcrryhaycs Close Nomor 12.

“Rumah itu bagian belakangnya berbatasan dengan halaman belakang rumah lain di Brackenhayes,” kala Ginger pada Preston melalui radionya. “Tidak ada tanda-tanda gerakan di dalam rumah atau di halamannya. Semua jendela tertutup—aneh juga dalam cuaca sepanas ini.”

“Awasi terus,” kata Preston. “Aku akan ada di sini. Kalau aku harus pergi, Harry yang mengambil alih.”

Satu jam kemudian, Lucinda dan Samantha ber—

321

jalan dengan tenang keluar dari rumah itu dan berlalu dari situ.

Di dalam kota itu sendiri, suatu operasi lain sedang disiapkan. Kepala Polisi, yang menangani sektor polisi berseragam, telah menyerahkan rincian operasi itu kepada asistennya. Inspektur Kepala Peter Low.

Low telah mengirimkan dua detektif kc balai kota, di sana mereka memperoleh informasi bahwa rumah target itu dimiliki oleh seseorang bernama Mr. Johnson, lapi rekening-rekening diminta untuk dikirimkan ke Oxborrows, kc agen real-estate. Ketika Oxbonrows dihubungi, diperoleh keterangan bahwa Mr. Johnson sedang berada di Saudi Arabia dan rumah itu sekarang disewakan kepada Mr. James Duncan Ross. Foto kedua Ross alias Timothy Donnelly yang diambil di jalanan Damaskus, dikirimkan via telex kc Ipswich dan ditunjukkan pada agen di Oxborrows itu—yang membenarkan bahwa orangnya sama dengan penyewa rumah itu.

Dinas perumahan di balai kota juga melaporkan nama-nama para arsitek yang lelah membangun pemukiman yang disebut The Hayes, dan dari kerja sama ini diperoleh peta pembagian ruang dari rumah di Cheryhaycs Close itu. Para arsitek itu malahan membantu lebih jauh; rumah-rumah lain yang bercorak sama persis sampai kc dciail-dctailnya, lelah dibangun di lokasi lain di Ipswich,

322

dan satu didapati masih kosong. Itu akan berguna bagi tim penyergap SAS; mereka bisa mengetahui dengan tepat seluk-beluk rumah itu nanti kalau mereka masuk ke dalamnya.

Salah satu tugas lain Peter Low adalah mencarikan suatu “pangkalan operasi” untuk digunakan pasukan SAS jika mereka tiba. Sebuah pangkalan harus menyendiri, tertutup, dan bisa dicapai dengan cepat, dengan cdkup ruang untuk kendaraan-kendaraan dan sarana telepon. Sebuah gudang kosong di Eagle Wharf ditemukan, dan pemiliknya setuju untuk meminjamkannya kepada pihak kepolisian untuk keperluan “latihan tempur”.

Gudang itu memiliki pintu-pintu geser besar yang bisa dibuka untuk membiarkan konvoi kendaraan masuk dan ditutup untuk menghindari pengamatan orang luar, ruang yang cukup luas untuk memuat peniruan bangunan rumah yang di The Hayes, dan sebuah kantor kecil bersekat kaca untuk dipakai sebagai ruang operasi.

Sesaat sebelum tengah hari sebuah helikopter Army Scout melayang ke ujung bandara kota Ipswich dan menurunkan liga orang. Yang salu adalah komandan Resimen SAS, Brigadir Cripps; salu lagi perwira operasi berpangkat mayor, staf tetap resimen itu; dan yang ketiga adalah komandan tim itu. Kapten Julian Lyndhurst. Mereka semua mengenakan pakaian sipil, membawa koper yang berisi seragam mereka, dan disambut oleh sebuah mobil polisi tanpa identitas, yang kemudian

323

membawa mereka langsung kc pangkalan, tempat polisi sedang mengembangkan pusat operasi mereka.

Inspektur Low memberikan briefing pada ketiga perwira itu dengan mengerahkan segenap kemampuannya, yaitu dengan menyampaikan semua keterangan yang telah diterimanya dari London. Ia telah berbicara dengan Preston melalui telepon tapi belum pernah bertemu dengan dia.

“Saya tahu ada yang bernama John Preston,” kata Brigadir Cripps, “pengendali lapangan dari MI-S. Dia ada di sana?”

“Saya kira ia masih di sana, di pos pengawasan,” kata Low, “di rumah yang terletak di seberang rumah si target. Saya bisa menghubungi dia, minta dia meninggalkan rumah itu lewat belakang dan bergabung dengan kita di sini.”

“Begini, sir,” kata Kapten Lyndhurst kepada KO (Komandan Operasi), “apakah tidak sebaiknya saya langsung kc sana dulu. Jadi saya bisa melihat sendiri “benteng si target*, lalu saya bisa kembali ke sini bersama Preston.”

“Baiklah, kebetulan ada mobil yang akan ke sana,” kata KO.

Lima belas menit kemudian, polisi yang ditempatkan di lereng bukit di seberang teluk dari arah Eagle Wharf menunjuk pintu belakang rumah No. 9 dan memberitahu Lyndhurst. Masih mengenakan pakaian sipil, kapten berumur dua puluh sembilan tahun itu berjalan di tanah yang tidak rata, mclom—

324

pati pagar halaman, dan masuk melalui pintu belakang, la bertemu dengan Bamcy di dapur, si pelacak sedang memasak air untuk membuat teh dengan kompor Mrs. Adrian.

“Lyndhurst,” kata perwira itu, “dari Resimen. Mr. Preston ada?”

“John,” Barney memanggil kc lantai alas dengan bisikan yang parau, karena rumah itu harus nampak kosong, “ada orang yang ingin bertemu denganmu.”

Lyndhurst menaiki tangga kc kamar tidur di sana ia mendapati John Preston dan memperkenalkan diri. Harry Burkinshaw menggumamkan sesuatu mengenai minum teh dan pergi dari situ. Kapten itu lalu memandang ke seberang jalan kc rumah No. 1Z

“Masih ada yang kurang jelas bagi kami,” kata Lyndhurst. “Siapa lepatnya yang menurut Anda berada di situ?”

“Saya yakin dia agen Soviet,” kata Preston, “seorang ilegal yang bermukim di sini dengan menyamar sebagai James Duncan Ross. Umur liga puluh limaan, tinggi sedang dan perawakan sedang, mungkin sangat bugar kondisinya, seorang top-pro*

Ia memberikan foto yang diambil di jalanan Damaskus itu kepada Lyndhurst. Sang Kapten mengkajinya dengan penuh perhatian.

“Ada orang lain di dalam sana?”

“Barangkali. Kita tidak tahu. Yang jelas ada Ross.

325

Ia mungkin punya pembantu. Kami tidak bisa berbicara dengan para tetangga. Di lingkungan seperti ini kita tidak bisa mencegah mereka menyebar berita. Sebelum mereka pergi tadi, penghuni-penghuni rumah ini mengatakan dengan pasti bahwa ia tinggal sendiri saja. Tapi kami tidak bisa membuktikan itu.”

“Dan dalam briefing yang kami peroleh tadi, menurut Anda dia bersenjata dan mungkin berbahaya. Terlalu berbahaya untuk ditangani polisi setempat yang bersenjata, mmmmm?”

“Ya, kami berpendapat dia punya bom di dalam sana. Dia harus dicegah sebelum bisa menggunakannya.”

“Bom, eh?” kata Lyndhurst, kurang berminat. (Ia telah dua kali ditugaskan di Irlandia Utara.) “Cukup besar untuk membuat rumah itu berentakan, atau seluruh jalan ini?”

“Agak lebih besar dari itu,” kata Preston. “Kalau kami benar, dia punya bom nuklir kecil.”

Perwira yang jangkung itu dengan cepat menoleh dari tatapannya ke rumah di seberang jalan, dan matanya yang biru pucat menatap mata Preston.

“Bloody hell* katanya. “Saya sungguh terkesan.”

“Well, begitulah seharusnya,” kata Preston. “Pokoknya, saya menginginkan dia, dan saya menginginkan dia hidup-hidup.”

“Mari kita kembali kc pangkalan dan berbicara dengan KO,” kata Lyndhurst.

326

Ketika Preston dan Lyndhurst sedang berkenalan di Cherryhayes Close, dua helikopter lagi, sebuah Puma dan sebuah Chinook, tiba di bandara dari Hereford. Yang pertama mengangkut tim penyergap, yang kedua mengangkut berbagai jenis peralatan mereka yang bersifat rahasia.

Tim itu secara darurat dipimpin oleh wakil komandan tim, seorang veteran sersan bernama Steve Bilbow. Ia berperawakan pendek, berkulit gelap, dan tegap, ulet bagai kulit sepalu tua, dengan mata cemerlang bagai kenop hitam dan sering menyeringai. Seperti semua WKO (Wakil Komandan Operasi) di Resimen, ia telah sangat lama berdinas di situ—dia sendiri khususnya—sudah lima belas tahun.

SAS juga unik dalam hal ini: para perwiranya semuanya hanya bertugas secara sementara saja, meninggalkan resimen “induk”-nya dan biasanya bertugas selama dua sampai tiga tahun sebelum kembali ke unit mereka masing-masing. Hanya perwira-perwira “Berpangkat Lain” yang tetap berdinas di SAS—itu pun bukan semuanya, hanya yang terbaik saja. Bahkan perwira komandannya, meskipun ia sudah pernah berdinas di Resimen sebelumnya dalam perjalanan kariernya, hanya berdinas dalam masa singkat saja sebagai KO. Sangat sedikit perwira yang berdinas lama, dan semuanya berdinas di pos-pos logistik/suplai/teknik di Markas Besar Kelompok SAS.

Steve Bilbow masuk sebagai penerjun di Rcsi—

327

men Terjun Payung, memenuhi penugasannya, dipilih uniiik diperpanjang masa dinasnya berdasarkan prestasinya, dan telah dinaikkan pangkatnya menjadi sersan staf. Ia telah dua kali ditugaskan dalam misi tempur di Dhofar, bermandi peluh di rimba raya Belize, beku kedinginan di malam-malam yang tak terhitung banyaknya dalam misi penyergapan di Armagh selatin, dan bersantai di Cameron Highlands di Malaya. Ia pernah membantu melatih tim-tim GSG-9 Jerman Barat dan bekerja dengan kelompok Delta milik Charlie Beckwith di Amerika.

Di saat-saat seperti itu ia telah terbiasa dengan rasa bosan karena latihan yang diulang-ulang terus-menerus yang membuat anggota SAS mencapai puncak kebugaran dan keadaan siap siaga, dan romantika dari operasi-operasi yang sangat menegangkan saraf: berpacu di bawah hujan tembakan para pemberontak untuk mencari perlindungan di bukit-bukit Oman, mengerahkan sebuah satuan penyergap rahasia melawan para pemberontak bersenjata IRA di Belfast timur, dan melakukan lima ratus kali terjun payung yang kebanyakan dilakukan dengan cara HALO—high altitude, low opening. Ia merasa malu karena dulu waktu rekan-rekannya menyerbu Kedutaan Iran di London di tahun 1981, ia merupakan salah salu serdadu cadangan yang tidak diikutsertakan.

Anggota tim lainnya terdiri dari satu fotografer, tiga perancang intelijen, delapan penembak jitu,

328

dan sembilan penyergap. Sejumlah van polisi yang tidak beridentitas telah menjemput mereka di bandara dan membawa mereka ke pangkalan. Pada waktu Preston dan Lyndhurst tiba di gudang itu, tim telah berkumpul dan sedang membentangkan peralatannya di lantai dengan disaksikan polisi-polisi Ipswich yang melihat semuanya itu dengan terheran-heran.

“Hello, Steve,” kata Kapten Lyndhurst, “semua beres?”

“Hello, boss. Ya, bagus. Lagi disiapkan.”

“Aku telah melihat bentengnya bertahan. Rumah pribadi yang kecil. Penghuni yang diketahui satu, mungkin dua. Dan sebuah bom. Ini akan merupakan sergapan kecil karena tempatnya sempiL Aku ingin kau yang masuk pertama.”

“Coba halangi aku, bos,” Bilbow menjawab sambil menyeringai.

Karakter utama SAS adalah disiplin pribadi dan bukan disiplin yang diciptakan di permukaan. Setiap orang yang tidak bisa menunjukkan disiplin pribadi yang diperlukan untuk mengatasi semua yang terjadi di SAS, tidak akan bisa lama bertahan di situ. Mereka yang bisa, tidak perlu bersikap kaku dalam hubungan antarpribadi seperti yang dituntut dalam resimen biasa.

Jadi, para perwira biasa memanggil anak buahnya—selain rekan perwiranya—dengan nama depannya. Anak buahnya senang memanggil perwira atasannya dengan sebulan “bos” meskipun KO-nya

329

dipanggil dengan “sir”. Di antara mereka sendiri, para serdadu SAS menyebut perwira mereka dengan istilah “seorang Rupert”. .

Sersan Staf Bilbow melihat Preston, wajahnya langsung berbinar dan ia menyeringai senang. “Mayor Preston…. Good heavens, sudah lama sekali.”

Preston mengulurkan tangannya dan membalas tersenyum. Yang terakhir ia bertemu dengan Bilbow adalah saat ia berlindung dalam sebuah rumah di mana cmpatanggola SAS di bawah komando Bilbow sedang melakukan penyergapan rahasia. Selain itu, mereka berdua adalah eks penerjun payung yang selalu merasa senasib sepenanggungan.

“Aku bekerja di Lima sekarang,” kata Preston, “pengendali lapangan untuk operasi ini, setidaknya dari segi Lima.”

“Apa yang lelah Anda peroleh bual kami?” tanya Steve.

“Orang Rusia. Agen KGB. Top-pro. Mungkin pernah menjalani latihan spetsnaz, jadi pasti dia terampil, cepat, dan barangkali bersenjata.”

“Bagus. Spetsnaz, eh? Akan kita lihat seberapa baiknya mereka.” .

Ketiga orang yang hadir di situ tahu apa pasukan spetsnaz, pasukan penyabot elit Rusia, kelas satu, yang merupakan SAS-nya Soviet.

“Maaf, aku mengganggu percakapan kalian, Lapi mari kita lakukan briefing itu dulu,” kata Lyndhurst.

330

Dia dan Preston menaiki tangga menuju kantor yang di atas, di sana mereka bertemu dengan Brigadir Cripps, sang mayor yang memimpin operasi itu. Inspektur Kepala Low, dan para perancang intelijen SAS. Preston menggunakan waktu satu jam untuk memberikan briefing selengkap mungkin, dan suasana menjadi amat sangat tegang.

“Adakah Anda punya bukti bahwa di dalam sana ada bom nuklir?” tanya Low akhirnya.

“Tidak, sir. Kami merampas sebuah komponen di Glasgow yang sedianya akan disampaikan kepada seseorang yang berada dalam penyamaran di dalam negeri ini. Para ilmuwan menyatakan bahwa benda itu tidak bisa digunakan untuk maksud lain di dunia ini. Kami tahu bahwa orang yang di dalam rumah itu adalah agen ilegal Soviet—dia dikenali di jalanan kota Damaskus oleh Mossad. Kaitannya dengan transmiter rahasia di Chesterfield telah memastikan siapa dia sebenarnya. Jadi saya bisa mengambil kesimpulan-kesimpulan.

“Kalau komponen yang disita di Glasgow itu bukan dipakai untuk merakit sebuah bom nuklir kecil, lalu untuk apa? Sehubungan dengan itu, saya tidak bisa mendapat penjelasan yang lebih masuk akal. Akan halnya Ross, kecuali ada dua operasi rahasia besar-besaran yang diluncurkan di Inggris oleh KGB, maka komponen itu dimaksudkan untuk diberikan kepada dia. Q.E.D.”

“Ya,” kata Brigadir Cripps, “saya kira kita harus berasumsi begitu. Kita harus menganggap bahwa

331

bom itu ada di dalam sana. Kalau ternyata tidak ada, kita terpaksa harus berbicara dengan Kamera d Ross dengan agak serius.”

Inspektur Kepala Low merasa bagaikan sedang bermimpi buruk. Ia harus menerima kenyataan bahwa tidak ada jalan lain kecuali menyerbu ke dalam rumah itu. Yang dicoba dibayangkannya adalah kondisi kota Ipswich kalau bom itu meledak. “Apa kita bisa mengungsi lebih dahulu?” ia bertanya dengan setitik harapan yang tersisa.

“Dia akan melihat itu,” kata Preston datar. “Saya kira kalau dia tahu dia akan hancur, dia akan mengajak kita semua bersamanya.”

Para serdadu itu mengangguk. Mereka tahu, bahwa di pedalaman Rusia sana, mereka akan memilih melakukan hal yang sama.

Jam makan siang telah berlalu dan tak seorang pun menyadari hal itu. Makanan sangat berlimpah. Sore hari itu digunakan untuk melakukan observasi dan persiapan.

Steve Bilbow kembali kc bandara dengan si fotografer dan seorang polisi. Ketiganya naik mobil Scout itu yang meluncur dengan cepat ke Teluk Orwell, cukup jauh dari The Hayes tapi masih bisa melihatnya. Si polisi menunjuk ke arah rumah itu; fotografer itu membuat lima puluh jepretan ke rumah itu, sementara Steve membidikkan kamera videonya cukup lama untuk membuat rekaman yang nantinya akan dipakai untuk melakukan ob-332

servasi terhadap rumah itu sekembalinya kc pangkalan’

Seluruh tim penyergap, masih mengenakan pakaian sipil, pergi bersama si polisi untuk meninjau rumah kosong yang dibangun oleh arsitek yang sama dengan rancangbangun yang sama dengan rumah yang di Cherryhayes Close. Pada saat kembali ke pangkalan, mereka bisa melihat benteng si target dalam video dan dalam foto-foto elose-up.

Mereka menghabiskan sisa sore itu di dalam pangkalan, melakukan latihan dengan rumah bualan yang dibuat dengan bantuan para polisi, di bawah pengawasan SAS, di lantai gudang tersebut. Bangunan itu dibuat dengan tergesa-gesa, dengan “dinding-dinding” kanvas yang menyekat “kamar-kamar”, tapi dimensi-dimensinya sangat tepat, dan satu hal menjadi sangat jelas: ruang dalam rumah ilu ternyata sangat sempit. Pintu depannya sempit, lorong tempat masuknya sempit, tangganya sempit, dan kamar-kamarnya kecil.

Dengan sangat mengecewakan keempat orang yang tidak diikutsertakan, Kapten Lyndhurst memutuskan hanya akan memakai enam orang penyergap. Juga akan ada tiga penembak jitu—dua di kamar tidur depan di lantai atas rumah Adrian dan satu di atas bukit di atas halaman belakang rumah itu.

Bagian belakang rumah Cherryhayes Close No. 12 akan diawasi oleh dua dari enam penyergap Lyndhurst. Mereka akan mengenakan pakaian tem—

333

pur lengkap, tapi seragam mereka akan ditutupi oleh jas hujan preman. Mereka akan diantar dengan mobil polisi tanpa identitas ke Brackcnhayes Close. Mereka akan turun di sini dan, tanpa minta izin kepada pemiliknya, akan berjalan melalui halaman depan rumah yang bagian belakangnya bersambung dengan benteng si target, lalu terus menuju jalan setapak samping di antara rumah dan garasi, dan masuk kc halaman belakang. Di sini mereka akan melepaskan jas hujan mereka, melompati pagar halaman, dan mengambil posisi di halaman belakang rumah si target.

“Mungkin ada kawat penghalang di halaman,” Lyndhurst memperingatkan. “Tapi barangkali dekat dengan bagian belakang rumah itu sendiri. Jangan berdiri terlalu dekat dengan itu. Kalau ada isyarat, aku ingin satu granat dilemparkan langsung melalui jendela kamar tidur belakang dan satu lagi melalui jendela dapur. Lalu siapkan IIK kalian dan ambil posisi. Jangan melepaskan tembakan kc dalam rumah itu; Steve dan anak-anak akan masuk dari depan.”

Para penyergap lewat belakang itu mengangguk. Kapten Lyndhurst tahu bahwa ia tidak akan ikut melakukan sergapan. Dulu dia adalah seorang letnn di Pasukan Berkuda Kerajaan (King’s Dragoon Guards), dia baru pertama kali ini bertugas di SAS dan menyandang pangkal kapten karena SAS lidak punya perwira dengan pangkal itu. la akan kembali ke pangkat letnan jika sudah

334

berada dt resimen asalnya lagi, setelah bertugas selama satu tahun, meskipun ia berharap bisa kembali lagi kc SAS kelak, sebagai komandan skuadron.

Ia juga tahu bahwa tradisi khas SAS—yang berbeda dengan kebiasaan yang berlaku bagi satuan Angkatan Darat lainnya—adalah bahwa perwira hanya boleh ikut serta dalam pertempuran di padang pasir atau di hutan, tapi tidak di suatu lingkungan perkotaan. Hanya Wakil-wakil KO dan anggota pasukan yang boleh melakukan sergapan seperti itu.

Serangan ulamanya, Lyndhurst telah bersepakat dengan KO-nya dan perwira operasinya, akan dilakukan lewat depan. Sebuah mobil van akan meluncur perlahan dan empat penyergap akan turun. Dua akan mencoba mendobrak pintu depan, satu membawa Wingmasler, yang lain menggunakan sebuah palu godam seberat kira-kira tiga setengah kilogram dan/atau gergaji baut jika diperlukan.

Segera setelah pintu terbuka, lapisan penyergap depan—Sieve Bilbow dan seorang kopral—akan masuk. Para pendobrak pintu akan menjatuhkan Wingmastcr dan palu godam mereka, menyiagakan HK mereka yang tergantung di dada, memasuki lorong pintu depan dan bertindak sebagai pelindung bagi pasangan pertama.

Saat memasuki lorong pintu depan, Stcvc akan melangkah langsung melewati dasar tangga menuju pintu ruang duduk di sebelah kirinya. Si

335

Kopral akan lari menaiki tangga untuk menduduki kamar tidur depan. Salah satu serdadu pelindung akan mengikuti kopral itu sampai ke puncak tangga, kalau-kalau si Chummy berada di kamar mandi, dan satunya lagi akan mengikuti Steve masuk ke ruang duduk.

Isyarat yang akan diberikan kepada dua orang di pos mereka di halaman belakang untuk melemparkan granat kejutan ke dalam kedua ruang belakang, dapur dan kamar tidur belakang, akan berupa bunyi Wingmastcr yang ditembakkan kc engsel pintu depan. Karena itu, pada saat para penyergap sudah masuk, siapa pun yang berada di dapur atau kamar tidur belakang akan kebingungan menduga-duga, apa yang baru saja menghantamnya tadi.

Preston, yang dengan sukarela menawarkan diri untuk kembali ke pos pengawasan, diperbolehkan mendengarkan rincian rencana penyergapan itu.

Dia sudah tahu bahwa SAS adalah satu-satunya resimen di Angkatan Darat Inggris yang diperbolehkan memilih senjata dari daftar senjata yang ada di dunia. Untuk penyergapan di tempat sempit ini mereka memilih senjata jenis Heckler und Koch (HK) buatan Jerman, yaitu senapan semi-mesin berkecepatan tembak tinggi, bersilinder pendek, berukuran sembilan milimeter—ringan, gampang ditangani, dan sangat andal—dengan cara pengisian up-and-over.

Mereka biasanya menyandang HK—bermuatan

336

peluru dan dengan moncong ke atas—diselempangkan’di dada mereka; senjata itu ditahan di tempat oleh dua klip yang diberi per. Dengan demikian lengan mereka tetap bebas untuk membuka pintu, masuk melalui jendela, atau melemparkan granat kejutan. Pada waktu senjata itu diperlukan, maka satu sentakan saja sudah cukup untuk mengoperasikannya dalam waktu kurang dari setengah detik.

Pengalaman menunjukkan bahwa untuk mendobrak sebuah pintu adalah lebih cepat meledakkan kedua engselnya daripada merusak kuncinya. -Untuk maksud ini mereka memilih senapan pompa sekali tembak, yaitu Remington Wingmaster, tapi dengan menggunakan peluru berkepala padat dan bukan peluru timah besar.

Selain mainan-mainan ini, salah satu anggota satuan pendobrak pintu membutuhkan sebuah palu godam dan pemotong baut kalau-kalau pintu itu— walaupun engsel-engselnya sudah jebol—tertahan di baliknya oleh sejumlah baut dan sebuah rantai. Mereka juga membawa granat-granat kejutan, yang dirancang untuk membutakan mata sementara dan memekakkan telinga, lapi tidak membunuh. Akhirnya, setiap orang akan membawa sebuah pistol Browning otomatik dengan tiga belas peluru berukuran sembilan milimeter di pinggangnya.

Dalam penyergapan ini, Lyndhurst menekankan, timing merupakan kuncinya. Sebagai saat dimulainya sergapan ia memilih jam 9-45 malam, saat

337

malam sudah semakin pekat di kawasan Close, tapi belum sangat pekat.

Lyndhurst sendiri akan berada di rumah Adrian di seberang jalan, mengawasi rumah target dan melakukan kontak radio dengan van yang mengangkut para penyergap. Jadi ia akan bisa memantau timnya pada saat mendekati rumah itu. Seandainya nanti ada pejalan kaki yang menyusuri jalan di Close itu pada jam 9.44, Lyndhurst akan bisa menyuruh pengemudi van untuk menunggu sampai pejalan kaki itu melewati pintu rumah target yang akan disergap. Mobil polisi yang membawa kedua penyergap halaman belakang ke posisinya akan dihubungi dengan radio melalui gelombang yang sama, dan akan menurunkan kedua orang itu sembilan puluh detik sebelum pintu depan rubuh.

Lyndhurst menyempurnakan rencananya dengan menambah satu detail terakhir. Pada saat van penyergap meluncur di jalan Close itu, ia akan menelepon Ross dari rumah Adrian di seberangnya. Ia sekarang sudah tahu bahwa semua telepon dalam rumah-rumah itu diletakkan di atas meja kecil di lorong pintu masuk. Tipuan ini dimaksudkan untuk menjauhkan agen Soviet itu dari bomnya, di mana pun bom itu diletakkan, dan memberi kesempatan bagi para penyergap untuk bisa menyergap dengan cepat.

Penembakan—seperti biasanya—dilakukan dua kali berturut-turut, dua tembakan setiap kalinya.

338

Meskipun senapan HK busa memuntahkan seluruh muatan liga puluh pelurunya dalam waktu beberapa detik, SAS selalu bertindak cukup cermat, bahkan dalam keadaan kacau seperti misalnya dalam menghadapi teroris yang melakukan penyanderaan; SAS tetap membatasi penembakan dengan satu kali muntahan dua tembakan, yang diulang sekali. Setiap orang yang menerima keempat tembakan itu akan cukup parah keadaannya, seketika itu juga. Penghematan seperti itu juga akan memungkinkan para sandera tetip hidup.

Segera setelah operasi selesai dijalankan, polisi akan bergerak menuju Close dalam jumlah besar untuk menenangkan kerumunan massa yang sudah pasti akan membanjir keluar dari rumah-rumah di sekitar situ. Sepasukan polisi akan disebar di sekitar bagian depan rumah target, dan para penyergap akan meninggalkan tempat itu melalui belakang rumah, melintasi halaman, dan naik ke van mereka yang pada saat itu sudah akan menunggu di Brackenhaycs Close. Akan halnya isi rumah target, akan ditangani oleh pejabat sipil yang berwenang. Sebuah tim dari Aldermaston yang terdiri dari enam orang, akan tiba di Ipswich saat minum teh pelang itu.

Pada jam enam, Preston meninggalkan pangkalan dan kembali ke pos pengawasan—rumah Adrian—yang dimasukinya tinpa dilihat orang melalui pintu belakang.

“Lampu-lampu baru saja dinyalakan,” kata*

339

Harry Burkinshaw ketika Preston bergabung dengannya di kamar tidur lantai atas. Preston melihat bahwa tirai-tirai di ruang duduk rumah seberang ditutup, tapi nampak ada cajiaya di baliknya dan seberkas cahaya pantulan menembus panel pintu depan.

“Saya kira saya melihat gerakan di balik tirai tipis di kamar tidur lantai atas, sesaat setelah kau pergi tadi,” kata Barney. “Tapi ia tidak menyalakan lampu—well, ia pasti tidak akan. Saat itu baru saja lewat jam makan siang. Pokoknya, dia belum keluar sejak tadi.”

Preston menghubungi Ginger yang berada di lereng bukit dengan radio, tapi laporan Ginger sama saja. Di bagian belakang juga tidak terlihat gerakan apa-apa.

ŚBeberapa jam lagi hari akan mulai gelap,” Ginger berbicara dengan dia melalui radio. “Pandangan akan menjadi kabur setelah itu.”

Valeri Petrofsky tidur, tetapi tidurnya tidak tenang dan tidak lelap. Sesaat sebelum jam satu ia terjaga penuh, duduk di tempat tidumya, dan menatap melintasi kamar tidurnya, menembus gorden tipis ke arah rumah di seberang jalan. Sepuluh menit kemudian ia turun dari tempat tidurnya, berjalan ke kamar mandi dan mandi.

Ia bersantap siang pada jam dua dan melakukan itu di meja dapur, sambil sesekali memandang ke halaman belakang, di sana terpasang seutas tali

340

pancing yang halus dan tidak kelihatan—dari ujung kc’ujung—yang diikatkan ke sebuah katrol yang pada malam hari diikatkan pada pagar halaman, dan direntangkan masuk ke pintu belakang rumah. Senar itu diikatkan kc ujung rangkaian kaleng-kaleng kosong di dapur. Ia mengendurkan tegangan senar itu kalau dia keluar rumah dan mengencangkannya lagi kalau dia berada di rumah. Sampai saat itu belum ada yang menyebabkan kaleng-kaleng itu berbunyi.

Sore sudah mulai berubah menjadi petang. Dan bukan tanpa sebab—mengingat apa yang dipercayakan kepadanya, yang sudah siap dilaksanakan—di ruang duduknya ia merasa tegang. Segenap inderanya berada dalam keadaan siaga penuh. Ia mencoba membaca, lapi merasa sulit berkonsentrasi. Moskow saat itu pastilah sudah menerima pesannya sejak dua belas jam yang lalu. Ia mendengarkan musik radio, lalu pada jam enam ia duduk di ruang duduk. Meskipun dia bisa melihat cahaya matahari yang terpantul dari jendela-jendela rumah di seberang jalan, rumahnya sendiri menghadap ke arah timur, sehingga saat itu berada dalam naungan bayang-bayang. Mulai saat itu senja akan menjadi semakin gelap di ruang duduknya. Ia menutup gorden-gordennya, seperti biasanya, sebelum menyalakan lampu baca; kemudian, karena ingin melakukan sesuatu yang lebih baik, ia menghidupkan televisi dan mendengarkan berita.

341

Seperti biasa, berita didominasi oleh kampanye pemilihan umum.

Di pangkalan yang tadinya adalah gudang, ketegangan semakin memuncak. Persiapan-persiapan terakhir sedang dilakukan di mobil van para penyergap, yaitu sebuah Volkswagen biasa berwarna abu-abu dengan pintu geser. Dua orang dalam pakaian sipil akan duduk di depan, yang satu mengemudi dan lainnya siap -dengan radio yang dihubungkan dengan Kapten Lyndhurst. Mereka mengecek radio-radio itu berulang-ulang, sebagaimana mereka juga mengecek semua peralatan lainnya.

Van itu akan dipandu ke gerbang The Hayes oleh sebuah mobil polisi tanpa identitas; pengemudi van itu telah menghafalkan seluk-beluk The Hayes dan tahu persis bagaimana menuju kc Cherryhayes Close. Pada saat mencapai The Hayes, mereka akan dibimbing melalui radio oleh Kapten Lyndhurst dari pos pengawasan. Bagian belakang van itu telah dilapis dengan busa polystyrene untuk mencegah bunyi yang terjadi karena benturan logam dengan logam.

Tim penyergap sedang mengenakan seragam dan menata perlengkapan. Di alas pakaian dalamnya, setiap orang mengenakan jump suit hitam terusan yang terbuat dari bahan anti api. Akhirnya nanti ini akan dilengkapi dengan sebuah topi balaclava dari bahan hitam. Setelah itu dikenakan

342

perisai tubuh, yaitu rompi rajutan logam ringan yang dirancang untuk bisa menyerap tenaga hunjaman peluru dengan cara menyalurkannya ke luar dan ke samping-samping titik tembusnya. Di balik rompi itu mereka menjejalkan “bantalan benturan” keramik untuk melengkapi daya penumpulan dan penghambatan peluru itu lebih lanjut

Di atas semuanya ini dipasang perangkat pengikat untuk memegang senjata yang dipakai dalam penyergapan itu, yaitu HK, dan untuk memegang granat dan pistol. Kaki mereka mengenakan sepatu bot padang pasir tradisional setinggi lutut yang bersol karet tebal, yang warnanya hanya bisa digambarkan sebagai “kolor”.

Kapten Lyndhurst melakukan briefing terakhir dengan anak buahnya, dan yang paling lama dengan pimpinan penyergapan itu, Steve Bilbow. Tentu saja tidak ada ucapan yang mengharapkan sukses—yang lain boleh, tapi “Good luck” tidak pernah diucapkan. Lalu sang Komandan menuju ke pos pengawasan.

Ia memasuki rumah Adrian pada jam 8.00 malam lewat sedikit. Preston bisa merasakan ketegangan yang terpancar dari orang ini. Pada jam 8.30 telepon berdering. Barney sedang berada di lorong depan, jadi ia yang menerimanya. Ada banyak telepon masuk hari itu. Preston memuluskan akan kurang baik kalau tidak dijawat)—seseorang bisa saja datang ke rumah itu. Setiap kali, si penelepon diberitahu bahwa keluarga Adrian berada di rumah ibunya hari

343

itu dan bahwa yang mengangkat telepon adalah salah satu tukang cat yang sedang merenovasi ruang duduk. Tidak ada penelepon yang tidak menerima penjelasan ini. Ketika Barney mengangkat gagang telepon, Kapten Lyndhurst sedang berjalan keluar dari dapur sambil membawa secangkir teh.

“Untuk Anda,” Barney berkala kepada sang Kapten, lalu kembali kc atas lagi.

Mulai jam 9.00 ke atas ketegangan semakin memuncak. Lyndhurst menghabiskan banyak waktu di radio untuk menghubungi pangkalan—dari mana pada jam 9.15 van abu-abu itu bersama mobil polisi pemandunya berangkat menuju The Haycs. Pada jam 9.33 kedua mobil itu telah sampai kc jalan masuk di Belstcad Road, dua ratus meter dari rumah target. Mereka harus berhenti dulu dan menunggu. Pada jam 9.41 Mr. Armitagc keluar untuk meletakkan empat botol susu untuk diambil si pengantar susu. Dan celakanya, ia lalu berhenti di kegelapan yang mulai membayang itu untuk memeriksa tanaman bunganya di pot batu besar di tengah halaman depan rumahnya. Lalu dia menyalami seorang tetangga di seberang jalan.

“Masuk ke dalam, goblok,” bisik Lyndhurst, yang sedang berdiri di ruang duduk dan memandang kc seberang ke cahaya lampu di balik gor-den-gorden di rumah target. Pada jam 9.42 mobil polisi yang lak beridentitas, yang membawa dua penyergap halaman belakang, sudah mengambil posisi di Brackcnhayes Close dan menunggu. Sc—

344

puluh detik kemudian Armitagc mengucapkan selamat malam kepada tetangganya dan masuk kembali ke rumahnya.

Pada jam 9.43 van abu-abu itu memasuki Gor-sehayes, yaitu jalan masuk ke pemukiman tersebut. Berdiri di lorong masuk depan dekat telepon, Preston bisa mendengar percakapan antara pengemudi van dan Lyndhurst. Van itu sedang meluncur perlahan dan tenang menuju gerbang masuk kc Cherryhayes.

Tidak ada pejalan kaki di jalanan. Lyndhurst memerintahkan kedua penyergap halaman belakang untuk meninggalkan mobil polisi dan mulai bergerak.

“Masuk ke Cherryhayes lima belas detik,” gumam petugas di samping pengemudi van.

“Pelankan sedikit, masih tiga puluh detik lagi,” jawab Lyndhurst. Dua puluh detik kemudian ia berkata, “Masuk kc Close sekarang.”

Dari sudut jalan muncullah van itu, cukup perlahan, dengan lampu kecilnya dihidupkan. “Delapan detik,” gumam Lyndhurst ke dalam pesawat penerima, lalu berbisik dengan tajam kepada Preston, “Putar nomornya sekarang.”

Van itu meluncur di jalan Close, melewati rumah No. 12 dan berhenti di depan pot bunga di halaman depan rumah Armitagc. Posisinya memang sengaja ditentukan begitu—para penyergap ingin mendekati rumah target dari arah serong. Pintu geser van yang sudah diminyaki ditarik terbuka, dan turunlah empat

345

orang berpakaian hitam-hitam tanpa mengeluarkan bunyi sama sekali, disambut kegelapan malam. Tidak ada bunyi orang berlari, tidak ada derap langkah, tidak ada teriakan parau. Dalam urutan yang sudah dipraktekkan berulang-ulang sebelumnya, mereka berjalan dengan tenang melintasi halaman berumput rumah Armitage, melewati mobil hatchback Ross yang diparkir, dan fiba di pintu depan rumah Cherryhayes Close No. 12. Penyergap yang membawa Wingmaster tahu persis pada sisi mana engsel-engsel pintu itu terletak. Sebelum langkahnya berhenti, senjatanya telah berada di pundaknya. Ia menentukan posisi engsel lalu membidik dengan cermat Di samping dia, sebuah sosok menunggu dengan palu pengungkit yang sudah diayunkan ke belakang. Di belakang mereka berdiri Steve dan sang Kopral dengan HK mereka yang sudah siaga….

Di ruang duduknya. Mayor Valeri Petrofsky merasa gelisah. Dia tidak bisa berkonsentrasi ke televisinya; indera-inderanya menangkap terlalu banyak—bunyi gemerincing botol-botol susu yang diletakkan, suara meong seekor kucing, deru mesin sepeda motor di kejauhan, lengkingan peluit kapal barang yang sedang memasuki Teluk Orwell di seberang lembah sana.

Pada jam sembilan liga puluh, televisi menyiarkan program berita yang memuat wawancara-wawancara dengan para menteri dan para calon men—

346

teri. Dengan perasaan gundah ia memindahkan saluran kc BBC 2, yang ternyata cuma menyiarkan tayangan dokumentasi tentang dunia burung. Ia menghela napas. Itu masih lebih baik daripada politik.

Acara itu baru berlangsung kurang dari sepuluh menit ketika ia mendengar Armitagc di rumah sebelah mengeluarkan botol-botol susunya yang kosong. Jumlahnya selalu sama dan waktunya selalu sama setiap malam, pikirnya. Lalu si tolol tua itu menyapa seseorang di seberang jalan. Sesuatu di televisi menarik perhatiannya dan ia menatap dengan tertegun. Pewawancara sedang berbicara dengan seorang pria langsing yang mengenakan topi pipih tentang kegemarannya, yaitu memelihara burung merpati. Ia sedang memegang seekor burung merpati di depan kamera, seekor burung merpati berbulu mengkilat dengan warna mencolok di paruh dan kepalanya.

Petrofsky duduk tegak, berkonsentrasi menatap burung itu dengan mencurahkan hampir seluruh perhatiannya dan menyimak pewawancara itu dengan sungguh-sungguh. Ia merasa yakin bahwa burung merpati itu persis sama dengan yang pernah dilihatnya sebelumnya.

“Apakah burung yang cantik ini untuk dipertontonkan dalam lomba?” pewawancara itu bertanya. Ia masih baru dalam profesinya, agak terlalu pintar, mencoba menyerap terlalu banyak dari wawancara ini.

347

“Good Lord, tidak/ kala pria bertopi pipih itu. “Ini bukan burung sembarangan. Ini burung jenis WcstcotL”

Secercah ingatan terkilas di benak Petrofsky dan terbayang kembali ruang tamu di dacha milik sang Sekretaris Jenderal di Usovo. “Saya menemukan dia di jalanan di musim dingin yang lalu,” orang Inggris yang sudah uzur itu berkata, dan burung merpati itu memandang ke luar dari sangkarnya dengan matanya yang cemerlang dan cerdik.

“Well, ini bukan jenis burung merpati yang bisa kita temukan di lingkungan kota ini,” pewawancara televisi itu berkomentar. Ia nampak bimbang. Pada saat itu telepon di lorong masulj depan rumah Petrofsky berdering….

Biasanya ia akan bangkit untuk menerima telepon, kalau-kalau yang menelepon tetangganya. Kalau ia berpura-pura sedang keluar, orang akan curiga karena lampu-lampu di rumahnya menyala. Dan biasanya ia tidak perlu membawa pistolnya ke lorong depan. Tapi ia diam saja dan terus menatap ke layar televisi itu. Telepon itu terus saja berdering. Ditambah dengan percakapan di televisi, bunyi lapak kaki yang beralas karet lunak di jalur semen di depan rumahnya tidak terdengar.

“Saya harap tidak,” jawab pria bertopi pipih itu

dengan riang.

“Merpati jenis Weslcott bukan burung jalanan. Barangkali ia merupakan salah satu jenis merpati pos yang terbagus yang ada. Burung cantik ini

348

akan selalu terbang kembali ke tempat ia dibesarkan. Itulah, maka ia lebih sering dikenal dengan sebutan homer.”

Petrofsky bangkit dari kursinya sambil menggeram murka. Pistol Sako besar yang dibuat dengan presisi tinggi, yang selalu berada dekat dengannya sejak ia memasuki Inggris, dikeluarkannya dari wadahnya di bawah di sisi bantalan kursi. Ia memuntahkan sebuah kata pendek dalam bahasa Rusia. Tidak ada yang mendengarnya, tapi kata itu artinya pengkhianat. Pada saat itu terdengar bunyi ledakan hebat, lalu satu lagi, begitu dekat jaraknya sehingga hampir-hampir bersamaan. Serentak dengan itu terdengar bunyi kaca pecah berantakan dari pintu depan rumahnya, dua ledakan keras menyusul dari belakang rumah, dan suara langkah kaki di lorong masuk depan. Petrofsky berputar ke arah pintu ruang duduk dan menembak tiga kali. Pistol Sako Triace, yang dirancang untuk memuat tiga magasin peluru yang bisa dipertukarkan, saat itu memuntahkan peluru berkaliber terbesar dari ketiganya. Tiap magasin memuat lima butir peluru. Ia hanya menembakkan tiga—mungkin dia akan memerlukan yang dua untuk dirinya sendiri. Tapi ketiga peluru yang ditembakkannya menghantam dan menembus panel pintu kayu yang rapuh dan meluncur kc lorong masuk di baliknya….

Warga Cherryhayes Close akan terus mengenang peristiwa malam itu sepanjang hidup mereka,

349

lapi tak seorang pun yang bisa menggambarkannya dengan lepat, apa yang sebenarnya terjadi.

Dentuman Wingmasler, saat menghancurkan engsel-engsel pintu, membuat semua warga Cherryhayes Close itu terlompat dari kursi mereka. Segera setelah ia menembak, serdadu itu melangkah ke samping untuk memberi ruang kepada rekannya. Satu ayunan palu godam membuat kunci, baut, dan rantai di balik pintu terbang ke segala penjuru. Lalu dia juga melangkah ke samping dan mundur. Kedua orang itu lalu menjatuhkan senjata masing-masing dan menyiagakan HK mereka, mengarahkan moncongnya kc depan.

Steve dan sang Kopral telah melangkah masuk ke celah yang kini terbuka. Kopral itu membuat tiga lompatan untuk mencapai tangga, diikuti serdadu yang tadi membawa palu godam. Steve berlari melewati telepon yang masih berdering, liba di pintu ruang duduk, memutar badannya untuk menghadap ke pintu itu, dan tiba-tiba tubuhnya melayang. Tiga tembakan Petrofsky yang menembus pintu ruang duduk dan meluncur kc lorong masuk menghantamnya dengan suara keras dan melemparkan tubuhnya membentur tangga. Serdadu yang tadi membawa Wingmastcr begitu saja mencondongkan badannya ke arah pintu ruang duduk yang masih tertutup dan memuntahkan tembakan dua rentetan—masing-masing dua tembakan. Kemudian ia menendang pintu itu sampai terbuka, masuk ke dalamnya dengan menggulingkan badannya, lalu bangkitsegera dengan

350

posisi berjongkok—ia benar-benar sudah berada di dalam ruang duduk itu sekarang.

Ketika senapan Wingmasler ditembakkan, Kapten Lyndhurst membuka pintu depan rumah di seberang jalan dan mengawasi; Preston berada di belakangnya. Melalui lorong masuk yang terang kapten itu menyaksikan wakil komandan operasinya menghampiri ruang duduk dan langsung tubuhnya terpental bagai boneka mainan. Lyndhurst mulai berjalan ke depan; Preston mengikuti.

Ketika serdadu yang menembak dua kali itu sudah berdiri dan mengamati sosok yang lemas di atas karpet. Kapten Lyndhurst muncul di mulut pintu. Ia bisa melihat adegan yang terjadi, meskipun pandangannya dikaburkan oleh gumpalan asap mesiu. “Pergi dan tolong Stcvc di lorong,” katanya tajam. Serdadu itu tidak membantah. Sosok yang di karpet mulai bergerak. Lyndhurst menarik keluar pistol Browning dari balik jaketnya.

Serdadu itu telah menembak dengan jitu. Petrofsky kena di lutul kirinya, satu lagi di perut bagian bawah, dan satu lagi di pundak kanannya. Pistolnya terlempar ke seberang ruangan. Walaupun dirintangi pintu kayu yang sudah terkoyak, serdadu itu berhasil menyarangkan tiga dari empat tembakan. Petrofsky berada dalam kesakitan yang mengenaskan, tapi ia masih hidup. Ia mulai merangkak. Tiga setengah meter dari situ ia bisa melihat baja berwarna abu-abu itu, dengan kotak pipih di sebelahnya, kedua kenop itu, satu kuning

351

dan satu merah. Kapten Lyndhurst membidik dengan cermat dan menembak satu kali.

John Preston berlari melewati dia begitu cepatnya sehingga ia menabrak pinggang perwira itu. Ia berlutut di samping tubuh yang tergeletak di lantai. Orang Rusia itu tergeletak pada sisi tubuhnya, separo belakang kepalanya hancur, mulutnya masih bergerak-gerak bagai ikan yang baru disembelih. Preston mendekatkan kepalanya kc wajah yang sedang sekarat itu. Lyndhurst masih membidikkan pistolnya. Lapi Ťagen MI-5 itu berada antara dia dan si agen Rusia. Ia melangkah ke samping untuk memperoleh pandangan yang lebih jelas, lalu menurunkan moncong Browning-nya. Preston bangkit. Tembakan kedua tidak diperlukan lagi.

“Sebaiknya kita memanggil para pakar dari Aldcrmaston itu untuk memeriksa itu,” kata Lyndhurst, sambil memberi isyarat kc arah lemari baja yang berada di sudut ruangan.

“Saya menginginkan dia hidup-hidup,” kata Preston.

“Maaf, old boy. Ternyata tidak bisa,” kata sang Kapten.

Saat itu kedua pria itu terlompat kaget karena mendengar bunyi “klik” yang cukup keras—dan sebuah suara terdengar dari dinding sebelah. Mereka melihat bahwa suara itu berasal dari sebuah radio besar yang hidup sendiri dengan bantuan sebuah alat timer. Suara itu berkata,

“Selamat malam. Di sini Radio Moskow, prog—

352

ram bahasa Inggris, dan inilah siaran berita jam sepuluh. Di TerTy… maaf, saya ulangi. Di Teheran hari ini, pemerintah menyatakan….”

Kapten Lyndhurst melangkah dan mematikan radio itu. Sosok di lantai menatap karpet dengan tatapan kosong, tidak bisa mendengar pesan bersandi itu, yang dimaksudkan hanya untuk dirinya.

353

23

UNDANGAN makan siang itu adalah untuk jam satu hari Jumat, tanggal 19 Juni, di Brooks’s Club di St. James’s. Preston memasuki gerbangnya pada jam itu, tapi sebelum dia sempat menyatakan identitasnya kepada penjaga pintu klub, yang berdiri di samping meja penerima tamu di scbcla)) kanannya. Sir Nigel sudah berjalan menghampirinya di lorong masuk yang terbuat dari marmer, untuk menjumpainya. “My dear John, kau baik sekali mau datang.”

Mereka lalu pergi ke bar untuk menikmati minuman sebelum makan siang, dan percakapan mereka bersifat tidak resmi. Preston menceritakan kepada sang Pemimpin bahwa ia baru saja kembali dari Hereford, mengunjungi Steve Bilbow di rumah sakit. Sersan staf itu sungguh beruntung bisa selamat. Setelah peluru-peluru berkepala rata yang dimuntahkan oleh senjata agen Rusia itu disingkirkan dari rompi anti pelurunya, salah satu dokter di situ melihat suatu guratan yang lengket dan lalu menganalisanya. Untunglah preparat sianida itu ga-354

gal menembus aliran darah; serdadu SAS itu telah diselamatkan oleh bantalan penahan hantaman. Jadi dia cuma luka-luka parah, sedikit penyok, tapi berada dalam kondisi bagus.

“Bagus sekali,” kata Sir Nigel dengan kegembiraan yang tulus, “sangat tidak rela rasanya kehilangan orang yang begitu baik.”

Kemudian, kebanyakan orang di bar itu membicarakan hasil-hasil pemilihan umum dan banyak dari yang hadir di situ semalaman tidak tidur menunggu hasil akhir penghitungan suara dalam pertarungan yang ketat yang berkenaan dengan pemilihan di propinsi-propinsi.

Pada jam satu tiga puluh mereka masuk untuk bersantap siang. Sir Nigel mempunyai sebuah meja di sudut tempat mereka bisa berbicara secara pribadi. Ketika menuju ke situ mereka berpapasan dengan Sekretaris Kabinet, Sir Martin Flannery, yang datang dari arah berlawanan. Walaupun keduanya saling mengenal, Sir Martin dengan segera bisa melihat bahwa rekannya sedang “dalam konferensi”. Kedua pejabat pemerintah itu saling menyapa dengan sedikit gerakan kepala yang hampir-hampir tidak terlihat, yang bagi kedua alumnus Oxford itu sudah cukup. Menyapa dengan tepukan punggung biarlah dilakukan orang asing saja.

“Aku mengundangmu datang ke sini, John,” kata C sambil membentangkan serbet linen di pangkuannya, “adalah untuk mengucapkan terima kasih dan mengucapkan selamat. Suatu operasi

355

yang hebat dengan hasil yang sangat bagus. Aku mengusulkan kaucoba daging domba ini, sangat enak untuk musim seperti ini.”

“Mengenai ucapan selamat itu, sir, saya rasa saya tidak bisa menerimanya,” kata Preston perlahan.

Sir Nigel meneliti menu melalui kacamatanya yang berbentuk setengah lingkaran. “O, ya? Apa kau ingin bersikap rendah hati atau terlalu sopan? Ah, buncis, wortel, dan barangkali kentang panggang, my dear.”

“Cuma ingin realistis saja, saya kira,” kata Preston ketika pelayan sudah pergi. “Kalau boleh, saya ingin berdiskusi tentang pria yang kita kenal dengan nama Franz Winkler?”

“Yang kaukuntit dengan begitu baiknya sampai

ke Chesterfield.”

“Izinkan saya untuk berterus terang, Sir Nigel. Winkler tidak akan hilang pusing kepalanya meskipun dia minum sekotak aspirin. Dia seorang agen yang sangat tidak mahir dan tolol.”

“Kalau tidak salah kalian hampir kehilangan dia di Stasiun Chesterfield.”

“Hanya karena dia mujur,” kata Preston. “Dengan tim pelacak yang lebih besar, kita bisa menempatkan cukup orang di setiap persinggahan di sepanjang jalur pelacakan itu. Yang ingin saya kemukakan di sini ialah, manuver-manuvernya sangat buruk; kata mereka dia seorang pro, tapi ternyata sangat buruk dan gagal mengecoh kita.”

356

“Baik. Ada apa lagi mengenai Winkler? Ah, ini daging dombanya—dimasak dengan sempurna.”

Mereka menunggu sampai masakan selesai dihidangkan dan pelayan berlalu dari situ. Preston mencicipi masakan itu, wajahnya nampak gundah. Sir Nigel bersantap dengan nikmat.

“Franz Winkler datang ke Heathrow dengan menggunakan paspor Austria asli yang memuat visa Inggris.”

“Ya, memang begitu.”

“Dan kita berdua tahu, juga petugas imigrasi itu, bahwa warga Austria tidak memerlukan visa untuk memasuki Inggris. Semua pejabat konsulat kita di Wina pasti akan memberitahu Winkler mengenai hal itu. Visa itulah yang membuat petugas pengontrol di Heathrow merasa perlu mengecek nomor paspornya lewat komputer. Dan ternyata paspor itu palsu.”

“Kita semua bisa saja melakukan kekeliruan,” gumam Sir Nigel.

“KGB tidak pernah membuat kekeliruan seperti itu, sir. Dalam masalah dokumen mereka sangat cermat, sampai-sampai boleh dikatakan sempurna.”

“Jangan menilai mereka terlalu tinggi, John. Semua organisasi besar terkadang membuat kekeliruan. Tambah lagi wortelnya? Tidak? Kalau begitu, izinkan aku….”

“Yang ingin saya permasalahkan, sir, ada dua cacat dalam paspor itu. Mengapa nomor itu membuat lampu merah menyala adalah karena tiga

357

tahun lalu seorang lain yang juga disangka warga Austria, yang membawa paspor dengan nomor yang sama, ditangkap di California oleh FBI dan sekarang sedang menjalani hukuman di Soledad.” “O, ya? Good Lord, ternyata orang-orang Soviet

itu tidak begitu pintar.”

“Saya menghubungi agen FBI yang di London

sini dan menanyakan tuduhannya apa ketika itu. Ternyata agen itu mencoba memeras seorang eksekutif dari Intel Corporation di Silicon Valley supaya menjual kepadanya formula-formula rahasia

teknologi.”

“Jahat sekali dia.” “Teknologi nuklir.”

“Yang lalu memberimu kesan bahwa…?”

“Bahwa masuknya Franz Winkler ke negeri ini memberi isyarat bagai lampu neon. Dan isyarat itu adalah pesan—sebuah pesan dalam bentuk manusia hidup.”

Wajah Sir Nigel masih memancarkan kegembiraan, tapi sinar matanya nampak mengandung secercah keseriusan.

“Dan bagaimana bunyi pesan yang Istimewa itu,

John?”

“Saya kira bunyinya: Aku tidak bisa menunjukkan kepadamu agen ilegal pelaksananya karena aku tidak tahu ia berada di mana. Tapi ikuti orang ini; ia akan membawamu ke transmiter itu. Dan memang benar. Lalu transmiter itu saya awasi dan

358

agen yang kita cari-cari itu akhirnya datang padanya.”

Sir Nigel meletakkan pisau dan garpunya ke piringnya yang sudah kosong dan mengusap mulutnya dengan serbet. “Tepatnya apa yang ingin kaukatakan?”

“Saya kira, sir, operasi ini sebenarnya sudah dibocorkan. Saya tak bisa menghindari untuk menyimpulkan bahwa seseorang di seberang sana dengan sengaja telah menggagalkannya.”

“Benar-benar suatu kesimpulan yang luar biasa. Silakan harap cicipi strawberry flan ini. Minggu lalu saya makan ini juga. Lain jenisnya, tentu saja. Ya? Dua, my dear, tolong. Ya, dengan sedikit cream segar.”

“Boleh saya bertanya?” kata Preston ketika piring-piring sudah disingkirkan.

Sir Nigel tersenyum. “Saya sudah tahu kau akan bertanya.”

“Mengapa agen Rusia itu harus mati?”

“Kalau tidak salah, saat itu ia sedang merangkak menuju bom nuklir itu dengan tekad bulat untuk meledakkannya.”

“Saya berada di sana saat itu,” kata Preston ketika strawberry flan itu datang. Mereka menunggu sampai eream-nya sudah dituangkan.

“Dia terluka di lututnya, perut, dan pundaknya. Kapten Lyndhurst seharusnya bisa saja menghentikan dia dengan sebuah tendangan saja. Tidak perlu menembak kepalanya sampai hancur.”

359

“Aku yakin kapten yang baik itu ingin sepenuhnya pasti,” komentar sang Master.

“Dengan agen Rusia itu hidup, Sir Nigel, seharusnya kita bisa memukul pihak Uni Soviet, menangkap basah. Tanpa dia, kita tidak punya apa-apa yang tidak bisa disangkal secara meyakinkan. Dengan kata lain, seluruh masalah ini sekarang harus disimpan untuk selamanya.”

“Benar sekali,” spymaster itu menjawab sambil mengunyah kue pencuci mulut dan strawberry.

“Kapten Lyndhurst kebetulan adalah putra Lord Frinton.”

“Benar. Frinton? Apa dia cukup dikenal?” “Rupanya begitu. Anda salu sekolah dengan dia.”

“O, ya? Banyak sekali lemanku. Sulit mengingatnya.”

“Dan saya yakin, Julian Lyndhurst adalah putra baptis Anda.”

“A/y dear John, ternyata kau sudah mengecek kc mana-mana, ya?”

Sir Nigel telah selesai dengan dessert-nya. Ia menangkupkan kedua tangannya, menopangkan dagunya pada buku-buku tangannya, dan memandang penyelidik MI-S itu dengan serius. Keramahannya masih tetap terpancar; tapi keceriaannya telah memudar. “Ada lagi yang lain?”

Preston mengangguk dengan serius. “Satu jam sebelum penyergapan kc rumah itu dilakukan. Kapten Lyndhurst menerima telepon di lorong

360

masuk rumah di seberang jalan. Saya telah mengeceknya melalui seorang rekan, siapa yang memulai pembicaraan telepon itu. Ternyata peneleponnya melakukannya dari sebuah box telepon umum.”

“Jadi itu pasti salah satu rekannya.”

“Bukan, sir. Mereka menggunakan radio. Dan tak seorang pun di luar operasi ini yang tahu bahwa kami berada di dalam rumah itu. Tak seorang pun, kecuali beberapa orang saja di London.”

“Boleh saya bertanya apa yang ingin kaukatakan sebenarnya?”

“Satu detail lagi. Sir Nigel. Sebelum dia mati, agen Rusia itu membisikkan satu kata. Ia nampak sangat ngotot untuk mengeluarkan kata itu sebelum dia mati. Saat itu saya dekatkan telinga saya ke mulutnya Yang dikatakannya adalah: ‘PhilbyV

“Philby’? Good heavens. Aku sungguh ingin tahu apa maksudnya dengan itu.”

“Saya kira saya tahu. Saya kira dia menyangka bahwa Harold Philby telah mengkhianati dia, dan saya kira dia benar.”

“Begitu. Dan bolehkah saya tahu apa kesim pulanmu?”

Suara sang Pemimpin terdengar lembut, tapi nadanya sama sekali sudah tidak mengandung keceriaannya yang tadi.

Preston menarik napas dalam-dalam. “Saya menyimpulkan bahwa Philby si pengkhianat ikut

361

mendalangi operasi ini, barangkali malah dari awalnya. Kalau itu benar, maka dia tidak mungkin berada dalam posisi terbuka, tanpa pengawalan ketat. Seperti yang lain-lain, saya mendengar desas-desus bahwa ia ingin pulang ke rumah, ke Inggris sini, untuk melewatkan hari-hari terakhirnya.

“Seandainya rencana itu berhasil, barangkali dia akan bisa memperoleh izin pembebasannya dari para majikan Soviet-nya dan izin masuk dari pemerintah baru Ekstrem Kiri di London. Barangkali satu tahun dari sekarang. Atau dia bisa mengungkapkan kepada London, garis besar rencana itu untuk kemudian mengkhianatinya.”

“Dan pilihan yang mana yang menurut kau telah dipilihnya?”

“Yang kedua, Sir Nigel.”

“Untuk tujuan apa, ya?”

“Untuk membeli tiket pulang kc rumah. Dan bagi pihak Inggris, ini merupakan suatu pertukaran jasa.”

“Dan menurutmu, aku terlibat dalam pertukaran ini?”

“Saya tidak tahu saya harus berpikir bagaimana, Sir Nigel. Saya tidak tahu harus berpikir apa lainnya. Ada desas-desus tentang sahabat-sahabat lamanya, the magic circle, solidaritas dalam suatu sistem di mana dia pernah menjadi anggotanya… hal-hal seperti itu.”

Preston menatap piringnya dan strawberry yang

362

baru separo dimakannya. Sir Nigel memandang ke langit-langit, cukup lama, sebelum ia menarik napas dalam-dalam. “Kau orang yang luar biasa, John. Aku ingin tahu, apa yang akan kaulakukan satu minggu dari sekarang?” “Tidak ada, saya rasa.”

“Kalau begitu tolong temui aku di depan pintu Sentinel House jam delapan pagi tanggal dua puluh enam Juni. Bawalah paspormu. Dan sekarang, kalau kau tidak keberatan, aku usul kita lewatkan saja acara minum kopi di perpustakaan….”

Laki-laki di jendela lantai alas rumah persembunyian di sebuah jalanan sepi di Jencwa itu berdiri dan menyaksikan tamunya berlalu dari tempat itu. Kepala dan pundak tamu itu muncul di bawah tempatnya berdiri; orang itu berjalan melewati jalan setapak yang pendek, menuju gerbang depan, dan melangkah kc jalanan tempat mobilnya sedang menunggu. Pengemudinya turun dari mobil, berjalan memutari mobil dan membukakan pintu untuk pria yang sudah berumur itu. Lalu ia berjalan balik ke pintu pengemudi.

Sebelum masuk kc mobil, Preston mengarahkan pandangannya ke atas, kc sosok yang berdiri di balik kaca jendela di lantai atas itu. Setelah berada di belakang kemudi, dia bertanya, “Betulkah itu dia? Itu benar-benar dia? Orang dari Moskow itu?”

“Ya, itu benar dia. Dan sekarang, tolong ke

363

bandara,” jawab Sir Nigel dari tempat duduk belakang. Mereka meluncur pergi.

“Well, John, aku berjanji untuk menjelaskan,” kata Sir Nigel beberapa saat kemudian. “Kau boleh bertanya.”

Preston bisa melihat wajah sang Pemimpin dari kaca spion di atasnya. Orang tua itu sedang memandang lingkungan pedesaan yang melaju di sampingnya.

“Operasi itu?”

“Ternyata kau benar. Operasi itu diluncurkan secara pribadi oleh sang Sekretaris Jenderal, dengan nasihat dan bantuan Philby. Rupanya itu dinamakan Rencana Aurora. Memang benar rencana itu dikhianati, tapi bukan oleh Philby.”

“Mengapa rencana itu digagalkan?”

Sir Nigel tepekur selama beberapa menit. “Sejak tingkat yang sangat dini kurasa kau mungkin benar. Baik kesimpulan sementaramu di bulan Desember yang lalu, dalam apa yang kini disebut Laporan Preston, maupun kesimpulan yang kau-buat setelah penyergapan di Glasgow itu. Walaupun Harcourt Smith tidak mempercayai keduanya. Aku tidak yakin apakah keduanya saling berhubungan, tapi aku juga tidak mau mengabaikannya. Semakin ku kaji, semakin aku yakin bahwa Rencana Aurora bukan merupakan operasi KGB yang sebenarnya. Ia tidak memiliki ciri-cirinya, yailu sifatnya yang teramat cermat dan rumit Ia nampak sepr-1ť sebuah operasi yang diluncurkan oleh satu

364

orang atau sebuah kelompok yang tidak percaya pada KGB. Tapi toh hampir-hampir tidak ada harapan bagimu untuk bisa menemukan agen itu pada waktunya.”

“Saya meraba-raba dalam gelap, Sir Nigel. Dan saya sadar akan itu. Tak ada pola tertentu yang dimunculkan kurir-kurir itu, yang bisa ditangkap pos imigrasi kita. Tanpa Winkler, saya tidak akan pernah sampai ke Ipswich tepat pada waktunya.”

Mereka berdiam untuk beberapa saat lamanya. Preston menunggu sang Master untuk memulai berbicara pada saat yang dikehendakinya.

“Jadi, aku mengirimkan sebuah pesan ke Moskow,” kata Sir Nigel akhirnya.

“Dari Anda sendiri?”

“Good Lord, bukan. Tidak akan pernah bisa dengan cara begitu. Terlalu kentara sekali. Lewat sumber lain, yang kuharapkan bisa dipercaya oleh mereka. Pesan itu sebenarnya bukan pesan yang jujur. Kadang-kadang kita harus berbohong dalam melakukan pekerjaan seperti ini. Tapi disampaikan melalui saluran yang kuharap akan dipercaya.” • “Dan bisakah dipercaya?”

“Syukurlah, ya. Ketika Winkler tiba, aku yakin pesanku itu sudah diterima, dimengerti, dan, lebih dari itu, dipercayai kebenarannya.”

“Winkler itu merupakan jawabannyakah?” tanya Preston.

“Ya. Kasihan dia. Dia mengira bahwa dia sedang diberi lugas rutin untuk mengecek kafcak—

365

beradik Stcphanides dan transmiter itu. Tak tahunya, ia ditemukan mati tenggelam di Prana dua minggu yang lalu. Dianggap tahu terlalu banyak, kurasa.”

“Dan agen Rusia yang di Ipswich itu?”

“Namanya—baru saja aku tahu tadi—adalah Petrofsky. Seorang profesional kelas satu, dan seorang patriot”

Tapi, ternyata dia juga harus mati?”

“John, itu adalah suatu keputusan yang amat sulit. Tapi tak terhindarkan. Kcdatingan Winkler mewakili suatu tawaran, suatu usulan untuk pertukaran jasa. Tidak ada perjanjian resmi, tentunya. Cuma semacam kesepakatan terselubung. Agen Petrofsky tidak boleh ditangkap hidup-hidup untuk diinterogasi. Waktu itu aku harus berjanji secara tidak tertulis kepada orang yang kaulihat di jendela d| rumah persembunyian tadi.”

“Seandainya kita menangkap Petrofsky hidup-hidup, kita akan bisa menjatuhkan Uni SovicL”

“Ya, John, itu jelas. Kita akan membuat mereka dipermalukan di depan masyarakat internasional. Tapi apa untungnya? Uni Soviet tidak akan menerima penghinaan itu dengan diam saja. Mereka akan membalasnya di suatu bagian dunia yang lain. Lalu apa yang akan terjadi? Kembali lagi ke zaman pahit Perang Dingin?”

“Rasanya sayang sekali kehilangan kesempatan untuk bisa menjatuhkan mereka, sir.”

“John, mereka itu besar, bersenjata canggih, ber—

366

bahaya. Uni Soviet akan tetap hadir esok, minggu depan, dan tahun depan. Mau tak mau kita harus berbagi tempat dengan mereka di planet ini. Lebih baik mereka dikuasai oleh kaum pragmatis dan kaum realis daripada oleh orang-orang yang keras kepala dan kaum fanatik.”

“Dan itukah yang menyebabkan Anda mau berunding dengan orang yang di jendela itu. Sir Nigel?”

“Kadang-kadang kita harus melakukan hal seperti ini. Aku seorang profesional dan dia juga. Ada jurnalis dan penulis yang mengira bahwa kami, dalam profesi kami, hidup dalam dunia impian. Kenyataannya, itu malahan terbalik. Kaum politisilah suka yang justru bermimpi—kadang-kadang mimpi yang berbahaya, seperti mimpi Sekretaris Jenderal itu, yaitu ingin mengubah wajah Eropa sebagai monumen pribadinya.

“Seorang petugas intelijen top harus lebih berkepala dingin daripada pengusaha yang paling ulet sekalipun. Kita harus bisa bersikap realistis, John. Jika mimpi yang mendominasi, maka kita bisa mengalami hal-hal seperti yang terjadi di Bay of Pigs—Teluk Babi—dulu. Usulan pertama berkenaan dengan masalah rudal-rudal Kuba itu dibuat oleh jaringan KGB di New York. Saat itu Krushchev, dan bukan kaum profesional, yang sedang berada di puncak kekuasaan.”

“Lalu apa yang terjadi selanjutnya, sir?”

Spymastcr kawakan itu menghela napas. “Kami

367

menyerahkannya pada kebijaksanaan mereka. Akan dilakukan sejumlah perubahan. Mereka akan melakukan itu dengan cara mereka, yang lain dari yang lain. Orang yang berada di jendela tadi akan mengupayakan itu. Kariernya akan terus menanjak, sedangkan yang lain-lain akan jatuh.”

“Dan Philby?” tanya Preston.

“Ada apa dengan Philby?”

“Apa ia berusaha untuk pulang?”

Sir Nigel mengangkat pundaknya dengan tidak sabar. “Sudah bertahun-tahun,” katanya. “Dan, memang benar, dia terus menghubungi kami—secara terselubung dan dari waktu ke waktu—anak buahku di kedutaan kita di sana. Kami memelihara burung-burung merpati pos….”

“Burung merpati?”

“Memang kedengarannya kuno. Dan sederhana. Tapi ternyata masih sangat efisien. Dengan cara itulah ia berkomunikasi. Tapi bukan tentang Rencana Aurora. Dan jika seandainya iya, kalau aku….”

“Kalau Anda…?”

“Biar dia membusuk di neraka,” kata Sir Nigel perlahan.

Mereka berdiam diri lagi untuk beberapa saat.

“Bagaimana dengan kau, John? Apakah kau akan tetap bekerja di Lima setelah ini?”

“Saya kira tidak, sir. Sudah cukup saya di situ. Direktur Jenderal akan pensiun pada tanggal satu September, tapi dia akan mengambil cutinya yang

368

terakhir bulan depan ini. Saya kira lak ada masa depan bagi saya di bawah penggantinya itu.”

“Aku tidak bisa mengambilmu bekerja di Enam. Kau tahu itu. Kami tidak mempekerjakan karyawan yang masuk belakangan. Tidakkah kaupertim-bangkan untuk kembali kc Civvy Street?”

“Sekarang sudah tidak bisa—seseorang berumur empat puluh enam tanpa bekal keterampilan khusus untuk memperoleh pekerjaan yang bagus,” kata Preston.

“Aku punya beberapa kawan,” kata sang Master sambil merenung. “Mereka punya bisnis perlindungan aset. Mungkin mereka memerlukan seorang tenaga yang cakap. Aku bisa bicara dengan mereka.”

“Perlindungan aset?”

“Sumur-sumur minyak, tambang, kuda-kuda balap….

Barang-barang yang dirasa perlu untuk diamankan dari pencurian atau penghancuran. Bahkan diri mereka sendiri juga. Bayarannya pasti bagus. Supaya kau bisa membiayai putramu itu sepenuhnya.”

“Rupanya bukan cuma saya sendiri yang telah melakukan pengecekan secara menyeluruh,” kata Preston sambil menyeringai.

Laki-laki yang lebih tua itu sedang menatap ke luar jendela, seakan memandang sesuatu yang jauh dan sudah lama lewat. “Aku sendiri juga pernah punya putra,” katanya perlahan. “Cuma satu-satunya. Anak yang sungguh baik. Tewas dalam per—

369

tempuran di Falklands. Aku mengerti bagaimana perasaanmu.”

Dengan keheranan Preston memandang ke arah orang tua itu dari kaca spion. Tidak pernah terpikir olehnya bahwa spymaster yang berbudi pekerti tinggi dan sangat cerdik ini pernah juga bermain kuda-kudaan dengan seorang anak kecil di karpet ruang duduk.

“Maafkan saya. Mungkin saya mengingatkan Anda akan hal itu.”

Mereka tiba di bandara, mengembalikan mobil sewaan, dan terbang kembali ke London secara terselubung, sama dengan ketika mereka berangkat.

Laki-laki yang berdiri di jendela rumah persembunyian menyaksikan mobil orang Inggris itu berlalu. Pengemudinya sendiri baru akan tiba satu jam lagi. Ia membalikkan badan, menyeberangi ruangan, lalu duduk di depan meja tulis untuk mengkaji kembali map yang sejak tadi dibawanya dan saat itu masih saja dipegangnya. Ia merasa senang; pertemuan itu cukup berhasil, dan dokumen-dokumen yang dipegangnya itu akan mengamankan masa depannya.

Sebagai seorang profesional. Letnan Jenderal Ycvgeni Karpov menyayangkan gagalnya Rencana Aurora. Rencana itu bagus—cermat, low profile, dan efektif. Tapi, sebagai seorang profesional dia juga tahu, bahwa sekali sebuah operasi dideteksi

370

maka tidak ada jalan lain daripada membatalkan dan mencabutnya secara total sebelum terlambat. Menunda hanya akan membuahkan bencana.

Ia masih ingat dengan jelas setumpuk dokumen yang dibawa kurirnya dari Jan Marais di London, hasil perolehan agennya Hampstead. Enam di antaranya adalah bahan-bahan seperti biasanya, bahan-bahan intelijen kelas satu yang hanya bisa diperoleh melalui orang sepenting George Berenson. Yang ketujuh—waktu itu membuat dia tercengang.

Itu adalah sebuah memorandum pribadi dari Bcrcnson kepada Marais, untuk dikirim ke Pretoria. Di dalamnya pejabat Kemcnterian Pertahanan itu telah menyatakan bahwa, sebagai Wakil Pimpinan Pengadaan Pertahanan, dengan tanggung jawab khusus atas peralatan nuklir, dia hadir dalam suatu briefing yang sangat rahasia sifatnya, yang diselenggarakan Direktur Jenderal MI-5, Sir Bernard Hemmings.

Pimpinan kontra-intclijcn itu menyatakan kepada sejumlah kecil yang hadir, bahwa pihaknya telah menemukan—dengan sebagian besar rinciannya— adanya suatu komplotan Soviet untuk memasukkan seperangkat komponen, merakitnya, serta meledakkan bom atom kecil tersebut di dalam negeri Inggris. Yang mengejutkan adalah bagian akhir memo itu: MI-5 sudah hampir berhasil memojokkan agen ilegal Rusia yang memimpin operasi di Inggris,

371

dan merasa yakin akan dapat menangkap dia berdasarkan bukti-bukti yang diperlukan.

Dengan hanya memperhitungkan sumbernya yang amat terpercaya itu. Jenderal Karpov mempercayai laporan itu sepenuhnya. Seketika itu juga ia tergoda untuk membiarkan pihak Inggris melanjutkan aksinya; tapi setelah dipertimbangkannya kembali, ia berpendapat bahwa ini akan menjadi bencana. Kalau pihak Inggris berhasil sendirian tanpa dibantu, maka mereka tidak mempunyai kewajiban untuk menutupi skandal yang memalukan itu. Untuk menciptakan kewajiban itu, ia perlu mengirimkan sebuah pesan kepada seseorang yang cukup mengerti harus berbuat apa; seseorang yang bisa diajaknya berunding melintasi jarak yang jauh itu.

Kemudian masih ada masalah kariernya sendiri…. Setelah lama berjalan-jalan sendirian di Hutan Pcredelkino yang hijau dan segar di awal musim semi itu, ia memutuskan untuk mengambil risiko yang paling besar dalam hidupnya. Ia memutuskan untuk melakukan kunjungan rahasia kc kantor pribadi Nubar Gevorkovitch Vartanyan.

Ia memilih orang ini dengan hati-hati. Anggota Politbiro dari Armenia ini dipergunjingkan orang sebagai orang yang memimpin faksi tcrselubung di dalam Politbiro, yang secara pribadi berpendapat bahwa saatnya sudah tiba untuk membuat perubahan di puncak.

Vartanyan waktu itu mendengarkan keterangan

372

dan rencana tanpa mengucapkan sepatah kata pun, merasa aman karena kedudukannya terlalu tinggi sehingga kantornya tidak mungkin disadap. Ia hanya menatap jenderal KGB itu dengan mata kadalnya yang hitam sambil menyimak. Setelah Karpov selesai berbicara, ia bertanya, “Apa Anda yakin informasi yang Anda terima itu benar, Kamerad Jenderal?”

“Saya memiliki uraian lengkap yang diberikan oleh Profesor Krilov dalam pita rekaman,” kata Karpov. “Tape recorder itu ada di tas saya sekarang.”

“Dan informasi yang dari London?”

“Sumbernya sempurna. Saya secara pribadi telah mengendalikan orang itu selama hampir tiga tahun.”

Power broker—pialang kekuasaan—dari Armenia itu menatapnya lama, seakan sedang merenungkan banyak hal, yang salah satunya adalah bagaimana informasi ini bisa menguntungkan bagi dirinya.

“Kalau yang Anda katakan itu benar, berarti ada tindakan yang nekat dan bersifat petualangan di puncak kekuasaan di negeri kita. Kalau itu bisa dibuktikan—tentu saja kita perlu bukti—mungkin perlu ada perubahan di puncak. Selamat siang.”

Karpov mengerti. Kalau orang yang berada di puncak kekuasaan di Soviet jatuh, maka semua pendukungnya akan ikut jatuh bersamanya. Kalau ada perubahan di atas sana, akan ada tempat lo—

373

wong sebagai direktur KGB, suatu jabatan yang menurut Karpov akan sangat cocok baginya. Tapi untuk bisa mengkonsolidasikan semua kekuatan Partai, Vartanyan membutuhkan bukti, lebih banyak bukti, yang mantap, tak terbantahkan, bukti dokumenter, bahwa tindakan nekat itu hampir saja menyebabkan bencana. Tak seorang pun bisa melupakan bahwa Mikhail Suslov telah menggulingkan Khrushchev pada tahun 1964 dengan tuduhan tindakan petualangan pada saat krisis rudal Kuba tahun 1962.

Tidak lama setelah pertemuan itu, Karpov mengirimkan Winkler, yaitu agen yang paling tidak terampil yang terdapat dalam filc-fllc-nya. Ternyata pesannya itu bisa dibaca dan dipahami. Sekarang di tangannya ada bukti-bukti yang diperlukan oleh sponsor Armenia nya itu. Ia memeriksa dokumen-dokumen itu lagi.

Laporan fiktif tentang interogasi dan pengakuan Mayor Valcri Petrofsky kepada pihak Inggris itu perlu sedikit diperbaiki, tapi ia punya orang-orang di Yasycncvo yang akan sanggup melakukannya. Lembar-lembar laporan interogasi itu seratus persen otentik—itu yang paling penting. Padahal laporan Preston tentang pelaksanaan tugasnya saja, yang telah diubah untuk tidak menyertakan semua hal yang menyinggung Winkler, adalah fotocopy aslinya.

Sang Sekretaris Jenderal tidak akan bisa dan tidak akan mau menyelamatkan si pengkhianat

374

Philby; dan kelak juga tidak akan bisa menyelamatkan dirinya sendiri. Vartanyan akan mengupayakan hal itu, dan Karpov pasti tidak akan melupakan jasanya.

Mobil Karpov lelah tiba untuk membawanya kc Zurich dan ke pesawat yang akan menerbangkannya ke Moskow. Ia bangkit. Pertemuan itu sangat bermanfaat. Dan seperti biasanya, melakukan perundingan dengan Chelsea.

Tamat

0 Response to "The Fourth Protocol IIII Tamat"

Post a Comment