Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

The Fourth Protocol III

Cuaca hangat musim semi telah menjelang, tapi sekarang ini serpihan salju masih bergantung di cabang-cabang pohon birkin dan pohon fir jauh di bawah sana. Dari jendela berkaca rangkap yang memberikan pemandangan indah di lantai tujuh— lantai paling atas—gedung Direktorat Utama Satu di Yasyenevo, laki-laki yang sedang mengamati pemandangan bisa melihat—di balik lautan pohon musim dingin—ujung sebelah barat danau yang di musim panas dikunjungi oleh para diplomat asing yang tinggal di Moskow, untuk berekreasi.

Minggu pagi itu. Letnan Jenderal Yevgeni Sergeivitch Karpov lebih suka tinggal dengan istrinya dan anak-anaknya yang sudah remaja di dacha mereka di Peredclkino, tapi walaupun seseorang sudah berhasil mencapai jenjang setinggi Karpov dalam dinas itu, ada saja hal-hal yang harus ditangani sendiri secara pribadi. Menunggu pulangnya seorang kurir dari tugasnya di Kopenhagen merupakan salah satu dari hal-hal itu. Ia melihat

5

arlojinya sekilas. Sudah hampir tengah hari dan orang itu terlambat Membalikkan badannya dari jendela itu, ia menghela napas dan melemparkan dirinya ke kursi putar di belakang meja tulisnya.

Dalam umur lima puluh tujuh, Yevgcni Karpov berada di puncak kepangkatan dan kekuasaan yang mungkin dicapai seorang pejabat intelijen profesional di KGB, atau paling sedikit di Direktorat Utama Satu. Fcdorchuk telah naik lebih tinggi, ke posisi ketua, dan kemudian ke MVI >, tapi itu hanya karena pengaruh sang Sekretaris Jenderal. Lagi pula, Fcdorchuk belum pernah bertugas di FCD (First Chief Directorate—Direktorat Utama Satu); ia jarang meninggalkan Uni Soviet; ia membangun kariernya dengan menghancurkan gerakan-gerakan kaum pembelot dan nasionalis.

Tapi bagi orang yang telah bertahun-tahun mengabdikan diri bagi negaranya dengan bertugas di luar negeri—yang selalu merupakan faktor minus dalam hal kenaikan pangkat ke jabatan-jabatan puncak di Uni Soviet—Karpov telah mencapai banyak sukses. Langsing dan nampak bugar dalam setelan jas yang bagus potongannya (salah satu kenikmatan menjadi anggota FCD), ia adalah seorang letnan jenderal dan wakil kepala satu di Direktorat Utama Satu. Dengan begitu, ia merupakan pejabat profesional Uni Soviet dengan pangkat tertinggi, di bidang intelijen luar negeri, yang kedudukannya sejajar dengan wakil-wakil di-6

rektur operasi dan intelijen di CIA dan Sir Nigel Irvine di SIS.

Bertahun-tahun sebelum itu, dalam perjalanannya ke puncak kekuasaan, sang Sekretaris Jenderal telah mencabut Jenderal Fcdorchuk dari kursi direktur KGB untuk dipindahkan menjadi pimpinan Kemcntcrian Dalam Negeri, dan Jenderal Chebrikov kemudian naik untuk menggantikan dia. Dengan demikian satu pos menjadi kosong— Chebrikov tadinya adalah salah satu dari dua wakil direktur satu KGB.

Pos yang kosong untuk wakil direktur satu ditawarkan kepada Kolonel Jenderal Kryuchkov, yang segera mencaploknya. Masalahnya adalah, Kryuchkov saat itu adalah kepala Direktorat Utama Satu dan dia tidak mau melepaskan jabatan yang sangat berkuasa itu. Dia ingin memegang kedua jabatan itu sekaligus. Bahkan Kryuchkov pun telah menyadari—dan Karpov menganggap orang ini benar-benar tebal muka—bahwa ia tidak bisa pada waktu yang sama berada di kantor wakil direktur satu di pusat di Dzerzhinsky Square dan di kantor pimpinan FDC di luar kota di Yasyenevo.

Yang terjadi adalah, jabatan wakil pimpinan Direktorat Utama Satu, yang telah ada selama bertahun-tahun, kini menjadi semakin penting. Kini itu merupakan suatu jabatan bagi seorang abdi negara yang memiliki cukup pengalaman operasional, yang tertinggi di FCD yang bisa diharapkan

7

oleh seorang pejabat karier. Dengan Kryuchkov tidak lagi bermukim di the Village—istilah KGB untuk markasnya di Yasyenevo—jabatan wakil direktur satu menjadi semakin penting.

Ketika sang pemegang jabatan, Jenderal B.S. Ivanov, telah pensiun, ada dua orang yang dicalonkan untuk menggantikannya: Karpov, saat itu masih lebih muda tapi memimpin Departemen Ketiga yang penting di Ruang 6013, seksi yang meliputi wilayah operasi di Inggris, Australia, Selandia Baru, dan Skandinavia; dan Vadim Vassilyevitch Kirpichenko, agak lebih tua, sedikit lebih senior, yang memipin Direktorat S, atau legal. Kirpichenko-lah yang mendapatkan jabatan itu. Sebagai semacam hadiah hiburan, Karpov lalu dipromosikan menjadi pimpinan Direktorat Ilegal, jabatan yang dipegangnya selama dua tahun yang menegangkan.p>

Lalu, di awal musim semi tahun 1985, Kirpichenko melakukan sesuatu yang hebat: naik mobil di ring road Sadovaya Spasskaya dengan kecepatan hampir seratus lima puluh kilometer per jam, mobilnya selip karena genangan oli yang ditumpahkan oleh sebuah truk yang bocor dan lepas total dari kendalinya. Seminggu kemudian ada upacara sederhana dan pribadi di Pckuburan Novodevichii, dan seminggu sesudahnya, Karpov memperoleh jabatan itu, pangkatnya dinaikkan dari mayor jenderal menjadi letnan jenderal.

Ia dengan rela memberikan Direktorat Ilegal

kepada Borisov tua, yang sudah begitu lama berstatus nomor dua sehingga sedikit sekali yang masih ingat sudah berapa tahun, dan yang— bagaimanapun juga—memang layak memperoleh jabatan itu.

Telepon di mejanya berdering dan ia menyambarnya.

“Kamerad Mayor Jenderal Borisov menelepon, ingin bicara dengan Anda.”

Bicaralah tentang si setan, pikir Karpov. Lalu ia mengernyit. Ia mempunyai saluran khusus yang tidak melewati switchboard, tapi rekannya yang lanjut usia itu ternyata tidak menggunakan saluran itu. Dia pasti menelepon dari luar. Setelah menyuruh sekretarisnya membawa kurir yang dari Kopcnhagcn itu kepadanya begitu dia datang, Karpov menekan tombol saluran luar dan menerima telepon Borisov. “Pavel Pctrovitch, bagaimana kabarmu di hari yang cerah ini?”

“Aku mencoba menghubungimu di rumah, lalu di dacha. Ludmilla bilang kau pergi kerja/

“Memang benar. Kan itu sehat untuk orang-orang tertentu.” Karpov sedang menyindir orang tua itu secara halus. Borisov adalah seorang duda yang hidup sendiri dan lebih sering bekerja di akhir pekan daripada siapa saja.

“Yevgeni Sergeivitch, aku perlu bertemu denganmu.”

“Tentu. Kau tidak perlu meminta. Kau akan ke sini besok, atau aku yang ke kota?”

8

9

“Kalau hari ini kau bisa?”

Lebih aneh lagi, pikir Karpov. Orang tua itu pasti punya masalah. Ia kedengaran seperti baru saja minum alkohol. “Kau baru saja minum, Pavel Petrovitch?”

“Rupanya begitu,” suara yang parau terdengar di saluran. “Seorang laki-laki perlu sedikit minum kadang-kadang. Terutama kalau dia sedang punya masalah.”

Karpov menyadari, apa pun masalahnya, nampaknya cukup gawat. Ia menghentikan candanya. ŚBaiklah, Starets,” katanya menghibur, “kau di mana sekarang?”

“Kau tahu cottage-kuf”

“Tentu saja. Kau ingin aku pergi ke sana?”

“Ya, aku akan sangat berterima kasih,” kata Borisov. “Kapan kau bisa datang?”

“Sekitar jam enam,” usul Karpov.

“Aku telah menyiapkan satu botol vodka merica,” suara itu berkata, dan Borisov meletakkan teleponnya.

“Bukan demi aku,” gumam Karpov. Tidak seperti kebanyakan orang Rusia, Karpov hampir tidak pernah minum, dan kalau ia minum juga, dia lebih suka brandy Armenia yang berkualitas atau Scotch single malt yang biasa diperolehnya melalui kantong diplomatik dari London. Vodka dianggapnya sesuatu yang menjijikkan, dan vodka merica lebih-lebih lagi.

Tamat sudah Minggu soreku di Peredelkino,

pikirnya, dan ia menelepon Ludmilla mengatakan ia tidak bisa menepati janjinya. Ia tidak menyebut-nyebut Borisov; hanya memberitahu istrinya bahwa ia tak bisa meninggalkan pekerjaannya dan bahwa ia akan menjumpai istrinya itu di apartemen mereka di pusat kota Moskow sekitar tengah malam.

Ia masih saja terusik oleh kecemasan Borisov yang tidak biasa itu; mereka berdua sudah lama berteman, terlalu lama baginya untuk merasa tersinggung, tapi suasana hati Borisov sungguh aneh mengingat biasanya dia begitu periang dan tenang.

Minggu sore itu, penerbangan reguler Aeroflot dari Moskow mendarat di Bandara Heathrow London jam lima lebih sedikit

Di antara semua kru Aeroflot ada satu anggota yang bekerja untuk dua majikan, perusahaan penerbangan negara Soviet dan KGB. Perwira Satu Romanov bukanlah seorang staf KGB, tapi hanya seorang agyent—yang artinya seorang informan mengenai rekan-rekannya dan dari waktu ke waktu menjadi kurir untuk menyampaikan pesan-pesan dan melaksanakan suruhan-suruhan.

Seluruh km meninggalkan pesawat dan menyerahkannya kepada staf bandara yang bertugas malam itu. Mereka akan menerbangkannya kembali ke Moskow esok harinya. Seperti biasa, mereka melewati prosedur pemeriksaan kru penerbangan, dan pabean melakukan pemeriksaan sepintas lalu

11

10

terhadap tas-tas punggung mereka dan bagasi tangan mereka. Banyak dari mereka yang membawa radio transistor portable, dan tak seorang pun memperhatikan radio Sony milik Romanov yang tergantung di pundaknya. Barang-barang lux buatan Barat merupakan salah satu kenikmatan bepergian ke luar negeri bagi warga Soviet—semua orang tahu itu—dan walaupun mereka hanya diizinkan untuk memiliki sedikit sekali mata uang asing, kaset dan recorder-nya, radio dan parfum untuk istri di Moskow, merupakan prioritas utama.

Setelah lolos dari formalitas imigrasi dan pabean, seluruh kru naik ke minibus mereka ke Green Park Hotel, tempat kru Aeroflot sering menginap. Siapa pun yang telah memberikan radio transistor itu kepada Romanov di Moskow tiga jam sebelum take off pastilah sudah tahu bahwa kru Aeroflot hampir tidak pernah diperiksa di Heathrow. Pejabat-pejabat kontra intelijen Inggris rupanya sudah menerima bahwa walaupun kru Aeroflot mungkin bisa berbahaya, pastilah masih bisa ditolerir jika dibandingkan dengan sulitnya melakukan operasi pengawasan skala besar terhadap mereka semua.

Ketika sampai di kamarnya, Romanov tidak bisa menahan diri untuk mengamati radio itu dengan penuh rasa ingin tahu. Ia lalu mengangkat bahu, menguncinya di dalam kopernya, dan pergi ke bawah ke bar untuk bergabung dengan rekan-rekannya yang lain—minum-minum, la tahu persis

12

apa yang harus dilakukannya dengan radio itu selelah makan pagi besok. Ia akan melakukannya, dan setelah itu melupakan semuanya. Saat itu ia belum tahu bahwa sekembalinya ke Moskow nanti ia akan langsung dimasukkan ke karantina

Mobil Karpov meluncur mendaki jalan bersalju itu pada jam enam kurang, dan ia mengutuk Borisov yang keras kepala, yang memilih cottage akhir pekannya di daerah yang begitu terpencil.

Semua orang di kalangan pemerintahan tahu bahwa dia orang yang unik. Dalam suatu masyarakat yang menganggap semua bentuk individualisme atau penyimpangan dari norma—apalagi keeksentrikan—perlu dicurigai, Borisov bisa lolos dari kecaman karena ia sangat berprestasi dalam menjalankan pekerjaannya. Ia sudah terlibat dalam bidang intelijen terselubung sejak ia masih kanak-kanak, dan beberapa dari coup yang dilancarkannya terhadap Barat telah menjadi legenda di sekolah-sekolah pelatihan dan, di kantin-kantin tempat para junior makan siang.

Setelah kira-kira satu kilometer menyusuri jalanan itu, Karpov bisa melihat cahaya yang datang dari izba, atau pondok dari balok kayu, yang dipilih Borisov untuk berekreasi. Pejabat-pejabat lain sudah puas, malahan sangat senang memilih lokasi tempat peristirahatan mereka sesuai dengan tingkat sosial

13

mereka, dan lokasi-lokasi itu semuanya berada di sebelah barat Moskow, di sepanjang lengkung sungai yang memotong Jembatan Uspenskoye. Tapi Borisov lain. Ia suka berekreasi di akhir pekan—atau di saat-saat ia bisa lepas dari meja tulisnya—dan berlaku seperti seorang petani bodoh dalam sebuah izba tradisional jauh di dalam hutan di sebelah timur ibu kota. Mobil Chaika itu berhenti di depan pintu dari balok kayu itu.

“Tunggu di sini,” kata Karpov kepada Misha, sopirnya.

“Sebaiknya saya berbal ik dan mencari beberapa balok kayu untuk ditaruh di bawah roda-roda; kalau tidak, kita akan terperangkap dalam timbunan salju nanti,” omel Misha.

Karpov mengangguk setuju dan ia keluar dari mobil. Ia tidak membawa galosh—sepatu karet— karena tidak membayangkan akan terpaksa melangkah menembus salju setinggi lutut. Ia tersandung-sandung menghampiri pintu dan menggedornya keras-keras. Pintu membuka dan terlihatlah cahaya kuning berbentuk persegi, yang jelas terpancar dari lampu-lampu parafin, dan di tengah gelimang cahaya itu berdiri Mayor Jenderal Pavel Petrovitch Borisov, mengenakan kemeja Siberia, celana korduroi, dan sepatu bot dari bahan felt

“Kau seperti seorang tokoh dalam novel Tolstoy,” komentar Karpov ketika dia dipersilakan masuk ke ruang duduk utama, di sana sebuah

14

perapian bata yang penuh dengan balok kayu memberikan kehangatan yang amat nyaman.

“Lebih baik daripada sesuatu yang berasal dari sebuah jendela di Bond Street,” gumam Borisov sambil melepaskan mantel Karpov dan mengantungkannya di sebuah kaitan kayu. Ia membuka tutup sebuah botol vodka yang sangat keras sehingga nampak seperti sirup ketika dituangkan, dan mengisi dua gelas anggur. Kedua laki-laki itu duduk dengan sebuah meja berada di antara mereka.

“Selamat minum,” Karpov menawarkan, mengangkat gelasnya dengan cara Rusia, di antara telunjuk dan ibu jarinya dan dengan kelingking teracung.

“Untuk kau,” Borisov membalas dengan tak sabar, dan mereka menenggak habis isi gelas pertama itu.

Seorang petani wanita yang bentuk tubuhnya seperti poci teh, dan nampak seperti inkarnasi Mother Russia dengan ekspresi wajah kosong dan rambut beruban yang disanggul kencang, masuk dari belakang, melemparkan segumpal roti hitam, bawang, gherkin—sejenis ketimun, dan keju dalam kemasan kotak-kotak, dan pergi lagi tanpa mengucapkan apa-apa.

“Jadi masalahnya apa, Starcts?” tanya Karpov.

Borisov lima tahun lebih tua dari dia, dan bukan untuk pertama kalinya Karpov tertegun melihat kemiripan antara Borisov dengan Dwight

15

Eisenhower almarhum. Tidak seperti kebanyakan rekannya dalam pemerintahan, Borisov banyak disukai oleh rekan-rekannya dan dipuji oleh anak buahnya yang muda usia. Mereka ini sejak lama memberinya julukan akrab Starets, sebuah istilah yang arti aslinya adalah kepala desa, tapi kini mempunyai konotasi seperti istilah Inggris Old Man dan Istilah Prancis Patron.

Borisov menatap ke seberang meja dengan muram. “Yevgeni Sergeivitch, sudah berapa lama kita saling mengenal?”

“Lebih lama dari yang busa kuingat,” kata Karpov.

“Dan selama itu, pernahkah aku berdusta kepadamu?”

“Seingatku tidak pernah.” Karpov tepekur. “Dan apakah kau sekarang akan berdusta kepadaku?”

“Tidak kalau aku tidak terpaksa,” kata Karpov dengan hati-hati. Gila, punya masalah apa pak tua ini?

“Kalau begitu, sialan, apa yang sedang kaulakukan terhadap departemenku?” Borisov menuntut dengan suara keras.

Karpov menimbang pertanyaan itu dengan hati-hati. “Mengapa tidak kaukatakan saja apa yang sedang terjadi di departemenmu?” ia mencoba menangkis.

“Departemenku sedang dilucuti, itu yang sedang terjadi,” tukas Borisov. “Pasti kau yang berada di

16

belakang ini semua. Atau tahu itu. Bagaimana aku bisa menjalankan operasi S kalau orang-orangku yang terbaik, dokumen-dokumenku yang terbaik, dan sarana-saranaku yang terbaik dilucuti dariku? Itu hasil kerja keras selama bertahun-tahun— semuanya dirampas dalam waktu beberapa hari.”

Dia telah meledakkan amarahnya, yang selama ini ditahannya. Karpov duduk menyandar, tenggelam dalam permenungannya, sementara Borisov mengisi gelas-gelas. Karpov tidak akan bisa naik setinggi sekarang di dalam lorong-lorong KGB yang rumit seperti labirin itu kalau ia tidak memiliki indera keenam untuk mendeteksi bahaya. Borisov bukan seorang penakut; pasti ada sesuatu di balik ucapannya, tapi Karpov benar-benar tidak tahu apa itu. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan.

“Pai Petrovitch,” katanya, memakai singkatan dari Pavel yang kedengaran sangat akrab, “seperti kauhilang tadi, kita sudah berteman selama bertahun-tahun. Percayalah, aku sungguh tidak tahu tentang semua yang kaukatakan tadi. Aku mohon kau berhenti berteriak-teriak dan ceritakan kepadaku.”

Borisov agak tenang sekarang, walaupun bingung mendengar nada pasti dalam suara Karpov yang menyatakan ketidaktahuannya. “Baiklah,” katanya, seakan menjelaskan suatu hal gamblang kepada seorang anak. “Pertama, dua bangsat datang dari Komite Sentral dan menuntut supaya aku

17

menyerahkan kepada mereka agen itcgal-ku yang terbaik, orang yang telah kulatih bertahun-tahun lamanya dan yang menjadi tumpuan seluruh harapanku. Kata mereka dia harus dilarik untuk melaksanakan ‘tugas khusus1, entah apa itu artinya. Okay, kuberikan orangku yang terbaik. Aku tidak suka, tapi itu kulakukan juga. Dua hari kemudian mereka kembali. Mereka menginginkan legenda-ku yang terbaik, sebuah kisah yang makan waktu lebih dari sepuluh tahun untuk menyusunnya. Sejak affair Iran yang celaka itu aku belum pernah diperlakukan seperti ini. Kau masih ingat peristiwa Iran itu? Sampai sekarang aku belum sembuh dari luka itu.”

Karpov mengangguk. Waktu itu ia belum bertugas di Direktorat Ilegal, tapi Borisov menceritakan semuanya mengenai hal itu kemudian, ketika mereka bekerja sama selama masa kepemimpinan Karpov di dinas itu. Di hari-hari terakhir Shah Iran, Departemen Internasional Komite Sentral telah memutuskan—sebagai suatu gagasan yang bagus—untuk mengeluarkan seluruh Politbiro dari Partai Tudch (Partai Komunis) Iran dari Iran, secara diam-diam. Untuk itu mereka menyerbu fiie-file Borisov yang merupakan kumpulan legenda berjenis-jenis orang dan merampas dua puluh dua legenda Iran yang sempurna, kisah-kisah penting yang telah disediakan Borisov untuk mengirimkan orang masuk ke Iran, bukannya mengeluarkan orang dari sana. “Habis-habisan aku!” saat itu ia

18

berteriak. “Hanya untuk menyelamatkan kacoak-kacoak itu.” Tak lama setelah itu ia mengeluh kepada Karpov, “Ternyata itu tidak banyak gunanya untuk mereka. Ayatullah masih tetap berkuasa, Partai Tudeh masih dilarang, dan kita sama sekali tidak bisa meluncurkan operasi apa pun di sana.”

Karpov tahu affair itu masih mengganjal, tapi peristiwa yang baru terjadi ini lebih aneh lagi. Misalnya satu hal saja, semua permintaan yang berkenaan dengan personel atau legenda seharusnya diajukan lewat dia. “Siapa yang kauserahkan kepada mereka?” tanyanya.

“Pctrofsky,” kata Borisov dengan lemas. “Tak bisa tidak. Mereka minta yang terbaik, dan ia memang jauh lebih baik dari yang lain-lain. Ingat Petrofsky?”

Karpov mengangguk, la pernah memimpin Direktorat Ilegal meskipun hanya selama dua tahun, tapi ia masih ingat nama orang-orang yang terbaik dan operasi-operasi apa saja yang dilancarkan saat itu. Jabatannya yang sekarang memberikan wewenang kepadanya untuk masuk ke situ. “Permintaan itu diajukan atas wewenang siapa?”

“Well, secara teknis wewenang Komite Sentral. Tapi dari segi jenjang kewenangan…” Borisov menunjukkan jarinya yang kaku itu ke langit-langit, dan itu artinya, ke langit.

“Tuhan?” tanya Karpov.

“Hampir. Sekretaris Jenderal kita yang tersayang. Paling tidak, itulah dugaanku.”

19

“Ada yang lain lagi?”

“Ya. Tajr. lama setelah mereka memperoleh legenda itu, badut-badut itu kembali lagi. Kali ini mereka mengambil kristal penerima untuk salah satu transmiter rahasia yang kaupasang di Inggris empat tahun yang lalu. Itulah makanya kupikir kaulah yang ada di belakang semua itu.”

Mata Karpov menyipit. Dalam masa kepemimpinannya di Direktorat Ilegal, negara-negara NATO menggelar rudal-rudal Preshing II dan Cruise. Washington beroperasi di seluruh dunia memperagakan kembali rol terakhir dari setiap film John Wayne yang pernah dibuat, dan Politbiro sangat cemas. Karpov menerima perintah untuk meng-upgrade perencanaan operasi Direktorat Ilegal untuk melakukan operasi sabotase besar-besaran di belakang perbatasan di Eropa Barat, untuk digunakan apabila suasana permusuhan meledak menjadi kerusuhan.

Untuk memenuhi perintah itu ia telah memasang sejumlah transmiter radio rahasia di Eropa Barat, termasuk tiga di Inggris. Orang-orang yang menjaga instalasi itu dan dilatih untuk mengoperasikannya adalah sleeper (agen tidak aktif) semuanya, yang diinstruksikan untuk tidak muncul ke permukaan sampai mereka diaktifkan oleh seorang agen dengan menggunakan kode-kode identifikasi yang benar. Peralatan-peralatan radio itu ultra modem, yang mampu membaurkan pesan-pesan saat ditransmisikan; untuk bisa merapikan pesan itu

20

kembali maka radio penerima memerlukan kristal yang terprogram. Kristal-kristal itu disimpan di dalam lemari besi di Direktorat Ilegal.

“Transmiter yang mana?” Karpov bertanya.

“Yang kaunamai ‘Poplar* itu.”

Karpov mengangguk. Semua operasi, agen, dan aset mempunyai nama kode resmi. Tapi Karpov telah begitu lama menjadi spesialis mengenai Inggris dan amat mengenal London sehingga ia mempunyai nama kode pribadi untuk operasi-operasinya sendiri, dan peralatan-peralatan radio itu ditempatkan di sejumlah kawasan suburb London yang nama-namanya terdiri dari dua suku kata. Ketiga transmiter yang ditempatkannya di Inggris itu, khusus untuk dia, bernama “Hackney”, “Shoreditch”, dan “Poplar”.

“Ada lagi, Pai Petrovitch?”

“Tentu. Orang-orang ini tidak pernah puas. Yang terakhir yang mereka ambil adalah Igor Volkov.”

Karpov mengenal Mayor Volkov ini, tadinya bertugas di Departemen Aksi Pelaksanaan—Executive Action Department (Ketika Politbiro memutuskan bahwa cara-cara serangan langsung—”aksi pelaksanaan”—telah menjadi semakin memalukan dan bahwa orang-orang Bulgaria dan Jerman Timur harus diberitahu tentang rencana kotor itu, departemen itu mulai berkonsentrasi pada cara-cara sabotase.) “Apa keahlian khususnya?” tanyanya.

21

“Membawa paket-paket rahasia melewati perbatasan negara, terutama di Eropa Barai.” “Menyelundup.”

“Baiklah, menyelundup. Ia sangat ahli. Ia mengenal perbatasan-perbatasan di kawasan itu, prosedur-prosedur pabean dan imigrasi dan bagaimana cara menembusnya, lebih baik daripada agen yang mana pun yang kami miliki. Well… yang pernah kami miliki. Mereka mengambil dia juga.”

Karpov bangkit dan memajukan tubuhnya ke depan, meletakkan kedua tangannya ke atas pundak orang yang lebih tua itu. “Begini, Starets, aku berjanji padamu, ini bukan operasiku. Aku bahkan tidak tahu apa-apa tentang ini. Tapi kita berdua tahu bahwa ini adalah operasi besar, dan itu artinya berbahaya untuk mengusiknya. Tahan diri, telan saja peluru itu, pikul saja kerugianmu. Aku akan mencari tahu apa yang terjadi—diam-diam— dan kapan kau akan memperoleh aset-asetmu kembali. Kau sendiri, tetaplah jangan mengatakan apa-apa, tutup rapat-rapat seperti sebuah dompet Georgia, okay?”

Borisov mengangkat kedua tangannya, telapaknya terbuka, dengan sikap tak bersalah. “Kau tahu aku, Yevgeni Sergeivitch, aku akan mati sebagai orang yang paling tua di Rusia.”

Karpov tertawa. “Aku juga berpendapat begitu.” Ia mengenakan mantelnya dan menuju pintu. Borisov mengikuti untuk mengantarkannya keluar.

Ketika sampai ke mobilnya, Karpov mengetuk

22

jendela di sisi sopir. “Aku ingin berjalan-jalan sedikit. Ikuti aku sampai aku sudah ingin masuk nanti,” katanya. Ia mulai menapaki jalan bersalju itu tanpa mempedulikan es yang menempel di sepatu kantornya dan di celana wolnya. Udara malam yang beku terasa segar di wajahnya, menghapuskan sebagian bau vodka tadi, dan ia perlu berpikir dengan jernih. Apa yang didengarnya benar-benar membuatnya marah. Seseorang—dan ia hampir tak ragu lagi siapa orangnya—sedang meluncurkan suatu operasi pribadi di Inggris. Hal itu merupakan pukulan berat baginya sebagai wakil kepala satu Direktorat Utama Satu. Kecuali itu, ia, Karpov, telah menghabiskan waktu bertahun-tahun di Inggris, atau menempatkan agen-agen di sana, sehingga ia menganggap Inggris sebagai wilayah pribadinya.

Sementara Jenderal Karpov berjalan di jalan bersalju itu, tenggelam dalam permenungannya, sebuah telepon berdering di sebuah flat kecil di Highgate, London, tidak lebih dari lima ratus meter jauhnya dari makam Karl Marx.

“Kau di situ, Barry?” suara seorang wanita berseru dari dapur.

Dari ruang duduk sebuah suara pria menjawab, “Ya, akan kuterima.”

Pria itu berjalan ke ruang penghubung dan mengangkat telepon itu sementara istrinya melanjutkan menyiapkan hidangan malam hari Minggu.

23

“Barry?” “Saya sendiri.”

“Ah, maaf mengganggumu di Minggu malam. Ini C”

“Oh, selamat petang, sir.”

Barry Banks heran. Memang pernah terjadi, tapi tidak sering, bahwa sang Master menelepon salah satu anak buahnya di rumah.

“Begini, Barry, jam berapa kau biasanya sampai ke Charles Street kalau pagi?”

“Sekitar jam sepuluh, sir.”

“Bisakah kau berangkat satu jam lebih pagi besok dan mampir ke Sentinel untuk bertemu denganku?”

“Ya. Tentu saja.”

“Bagus. Kalau begitu sampai besok sekitar jam sembilan.”

Barry Banks adalah K7 di markas besar MI-5 yang di Charles Street, tapi ia sesungguhnya merupakan staf MI-6 yang tugasnya adalah bertindak sebagai penghubung Sir Nigel Irvine dengan Dinas Keamanan. Ia berpikir-pikir tanpa tujuan, sambil menikmati santapan malam yang telah dipersiapkan istrinya—apa kiranya yang diinginkan Sir Nigel Irvine dan mengapa harus dibicarakan di luar jam kerja.

Yevgeni Karpov tidak mempunyai keraguan lagi bahwa suatu operasi rahasia sedang diluncurkan dan sedang dilaksanakan, dan bahwa operasi itu

24

menyangkut Inggris. Petrofsky, dia tahu, sangat ahli dalam menyusup sebagai orang Inggris, masuk ke jantung negeri itu; legenda yang diambil dari file-file Borisov memasukkan Petrofsky ke dalam kode T; transmiter Poplar itu disembunyikan di daerah Midlands utara di Inggris. Kalau Volkov ditransfer karena keahliannya menyelundupkan paket-paket, pasti telah dilakukan transfer lain atas spesialis-spesialis yang lain juga, tapi dari direktorat-direktorat yang berbeda di luar orbit Borisov.

Semua itu menunjuk dengan tepat ke kemungkinan bahwa Petrofsky sedang memasuki Inggris dengan penyamaran ketat, atau bahwa ia sudah masuk. Tidak ada yang aneh mengenai hal i’, karena ia memang dilatih untuk itu. Yang aneh ialah bahwa Direktorat Utama Satu, dalam bentuk pribadi Karpov sendiri, malahan sama sekali tidak dilibatkan dalam operasi tersebut. Ini tidak masuk akal, mengingat’keahlian pribadinya mengenai Inggris dan masalah-masalah Inggris.

Ia sudah dua puluh tahun lamanya terlibat dengan urusan-urusan Inggris, sejak malam di bulan September 1967 itu, ketika ia masih keluar-masuk bar-bar di Berlin Barat yang sering dikunjungi para personel pemerintah Inggris yang sedang tidak bertugas. Sebagai seorang ilegal yang bersemangat dan terus menanjak kariernya, itu memang merupakan misi yang diembannya saat itu.

Pandangannya tertuju pada seorang pria muda yang nampak muram dan kurang ramah di bagian

25

dalam bar itu, yang mengenakan pakaian sipil tapi yang potongan rambutnya jelas-jelas menunjukkan bahwa ia adalah anggota “angkatan bersenjata Inggris”. Karpov mendekati peminum yang kesepian itu dan memperoleh keterangan bahwa ia adalah seorang pemuda berusia dua puluh sembilan tahun yang bertugas sebagai operator radio yang menangani unit (monitor) sinyal/intelijen, di bawah Royal Air Force di Gatow. Pemuda itu benar-benar tidak puas dengan kondisi kehidupan yang dijalaninya.

Antara September tahun itu sampai Januari 1968, Karpov menggarap staf RAF itu, mula-mula mengaku bahwa ia orang Jerman, karena demikianlah penyamaran yang disandangnya, dan kemudian mengaku bahwa ia sebenarnya seorang Rusia. Ternyata itu sebuah “tangkapan” yang empuk, begitu mudahnya sehingga hampir-hampir menimbulkan kecurigaan. Tapi ternyata benar; pemuda Inggris itu merasa tersanjung karena diperhatikan KGB, sementara ia sangat membenci pekerjaannya dan negerinya sendiri, dan akhirnya setuju untuk bekerja bagi Moskow. Selama musim panas 1968, Karpov melatih dia di Berlin Timur, dan dengan begitu menjadi lebih mengenal dia dan semakin menilai rendah kepribadiannya. Misi pemuda itu di Berlin dan kontraknya di RAF sudah hampir berakhir, dan September tahun itu ia harus sudah pulang ke Inggris dan menjalani demobilisasi. Dianjurkan padanya agar selelah meninggal-26

kan RAF, ia melamar ke Markas Besar Komunikasi Pemerintah di Cheltenham. Ia setuju, dan pada bulan September 1968 ia melakukan persis seperti yang dianjurkan. Nama pemuda ilu adalah Geoffrey Prime. “

Karpov, supaya bisa terus mengendalikan Prime, kemudian ditransfer, dengan menyamar sebagai diplomat, ke Kedutaan Soviet di London. Di sana ia mengendalikan Prime selama tiga tahun sampai 1971, kemudian kembali ke Moskow dan melimpahkan tugas-tugasnya kepada penggantinya. Tapi kasus itu berpengaruh sangat positif terhadap kariernya, dan dia dinaikkan pangkatnya menjadi mayor, dan ditransfer kembali ke Departemen Tiga. Dari sana ia menangani informasi yang bersumber dari Prime sampai pertengahan tahun 1970-an. Sudah merupakan suatu dalil di setiap dinas intelijen bahwa suatu operasi yang menghasilkan bahan yang bagus akan dicatat dan dihargai, dan pejabat yang menangani operasi itu tidak akan luput dari penghargaan.

Di tahun 1977, Prime berhenti dari GCHQ (Government Communications Headquarters = Markas Besar Komunikasi Pemerintah); pihak Inggris menyadari bahwa terjadi kebocoran entah di mana dan para pelacak mulai dikerahkan. Di tahun 1978, Karpov kembali ke London, kali ini sebagai pimpinan seluruh rezidentura di kedutaan itu dan dengan pangkat kolonel. Walaupun sudah keluar dari GCHQ, Prime masih tetap agen Soviet, dan

27

Karpov memperingatkan dia untuk tetap bersikap tow profile. Tidak pernah ada, kata Karpov, sedikit pun bukti yang mengungkapkan kegiatan-kegiatannya sebelum tahun 1977.

Ia masih akan menikmati kebebasan sampai hari ini seandainya ia bisa menahan tangan-tangan kotornya terhadap gadis-gadis di bawah umur, pikir Karpov dengan geram. Sebab dia sudah lama mengetahui kelainan jiwa Prime ini, dan akhirnya sebuah tuduhan perbuatan tak bermoral membawa polisi ke pintu rumahnya dan membuat dia mengaku. Ia dihukum tiga puluh lima tahun penjara karena tujuh tuduhan mata-mata.

Tapi London memberikan dua bonus yang mengimbangi kerugian akibat peristiwa Prime. Di sebuah pesta cocktail di tahun 1980, Karpov diperkenalkan pada seorang pejabat pemerintah dari Kementerian Pertahanan Inggris. Pada mulanya pejabat itu tidak mendengar nama Karpov dengan jelas dan selama beberapa menit berlangsung percakapan yang sopan sebelum pejabat itu menyadari bahwa Karpov adalah orang Rusia. Setelah dia tahu, sikapnya langsung berubah. Di balik sikapnya yang ketus dan dingin, Karpov bisa mendeteksi bahwa orang ini sangat membenci dia, baik sebagai orang Rusia maupun sebagai orang komunis.

Karpov tidak kecewa, cuma merasa tertantang. Ia diberitahu bahwa orang itu bernama George Bcrenson, dan penyelidikan lebih lanjut selama minggu-minggu berikutnya mengungkapkan bahwa

28

orang itu’adalah seorang anti komunis yang sangat fanatik dan seorang pengagum berat Afrika Selatan. Diam-diam Karpov mencatat Bcrenson sebagai seorang calon yang bisa didekati secara false-flag.

Pada bulan Mei tahun 1981, setelah Karpov kembali ke Moskow untuk mengepalai Departemen Tiga, ia bertanya-tanya ke mana-mana apakah ada seorang agen sleeper Afrika Selatan yang pro Soviet. Direktorat Ilegal mengatakan bahwa mereka mempunyai dua agen, satu seorang perwira Angkatan Laut Afrika Selatan bernama Gerhardt, yang satu lagi seorang diplomat bernama Marais. Tapi Marais baru saja kembali ke Pretoria setelah liga tahun bertugas di Bonn.

Di musim semi 1983 Karpov naik pangkat menjadi mayor jenderal dan menjabat kepala Direktorat Ilegal, yang mengendalikan Marais. Ia memerintahkan orang Afrika Selatan itu mengajukan permintaan untuk bertugas di London sebagai penutup kariernya yang panjang, dan di tahun 1984 Marais memperoleh pos itu. Karpov terbang ke Paris di bawah penyamaran penuh dan memberikan sendiri briefing langsung kepada Marais: Marais harus mengolah George Bcrenson dan mencoba mengangkat dia menjadi mata-mata bagi Afrika Selatan.

Di bulan Februari 1985, setelah kematian Kir-pichcnko, Karpov menggantikannya dan memegang jabatannya yang sekarang ini, dan sebulan kemudian Marais melaporkan bahwa Berenson su—

29

dah menggigit umpannya. Bulan itu, rangkaian pertama bahan Bcrenson diterima, dan ternyata bagaikan emas mumi dua puluh empat karat—informasi induk. Sejak itu Karpov sendirilah yang mengelola operasi Berenson/Marais yang dikategorikan sebagai kasus direktur, dua kali dalam waktu dua tahun menjumpai Marais di kota-kota Eropa untuk mengucapkan selamat dan menerima informasi dari dia. Di saat makan siang hari itu juga, sang kurir membawa rangkaian bahan Bcrenson yang paling mutakhir, yang dikirimkan Marais ke suatu alamat KGB di Kopcnhagen.

Persekongkolan London sejak 1978 sampai 1981 telah membuahkan keuntungan tambahan. Seperti sudah merupakan kebiasaannya, Karpov memberi nama kode pribadinya untuk Prime dan Berenson: Prime dijuluki “Knightsbridge” dan Bcrenson dipanggil “Hampstcad”. Dan kemudian ada “Chelsea”….

Karpov menghormati Oiclsca, seperti dia melecehkan Prime dan Bcrenson. Berbeda dengan yang dua itu, Chelsea ini bukan agen tapi kontak, orang yang berstatus tinggi di pemerintahan negerinya sendiri dan orang yang, seperti Karpov sendiri, bersifat pragmatis, orang yang menekankan realitas pekerjaannya, negerinya, dan dunia di sekelilingnya. Karpov selalu merasa heran bahwa para pejabat dinas intelijen selalu dianggap oleh kalangan jurnalistik di Barat sebagai orang-orang yang hidup dalam khayalan; bagi Karpov, para politisilah

30

yang sesungguhnya hidup dalam dunia impian, terbius dan terbuai oleh propaganda mereka sendiri

Para pejabat dinas intelijen, menurut Karpov, bisa saja berjalan di lorong-lorong gelap, berdusta dan menipu dalam melaksanakan misinya, tapi kalau mereka berani masuk ke dalam dunia khayalan, seperti yang sering dilakukan oleh agen-agen CIA, maka itulah saatnya mereka menuju ke kegagalan.

Chelsea sudah dua kali memberikan tip bahwa kalau Uni Soviet terus mengikuti suatu jalur tertentu maka mereka semua akan “bclepotan” dan sulit membersihkannya; dua kali ia ternyata benar. Karpov, yang saat itu bisa memperingatkan pemerintahnya akan bahaya yang mengancam itu, telah memperoleh banyak pujian ketika ternyata terbukti bahwa dia benar.

Ia menghentikan renungannya dan memaksa otaknya kembali ke masalah yang sekarang dihadapinya. Borisov benar; sang Sekretaris Jenderal sedang meluncurkan suatu operasi yang sifatnya pribadi dan tertutup, tepat di bawah hidungnya, menyusup ke dalam negeri Inggris, tapi tidak mengikutsertakan KGB dalam bagian yang mana pun. Karpov mencium bahaya; walaupun pernah bertahun-tahun menjabat direktur KGB, Sekretaris Jenderal bukan seorang pejabat intelijen profesional. Karier Karpov sendiri mungkin masih bisa dipertahankan, tapi sangatlah

31

vital untuk mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi. Tapi harus hati-hati, sangat hati-hati.

Ia melihat ke arlojinya. Jam setengah dua belas. Ia memanggil sopirnya supaya maju, naik kc dalam Chaika itu, dan diantarkan pulang ke Moskow.

Barry Banks tiba di markas besar SIS pada jam sembilan kurang sepuluh di pagi hari Senin itu. Sentinel House adalah sebuah bangunan besar, bujur sangkar, dan di luar dugaan nampak murahan, di tepi selatan Sungai Thames dan disewakan kepada suatu kementerian tertentu oleh Greater London Council (Dewan Tinggi Kota London). Ufl-liftnya sering tidak benar jalannya dan di tingkat-tingkat yang lebih bawah ada sebuah mosaik dinding yang senantiasa berguguran keramiknya bagaikan rambut yang berketombe.

Banks melaporkan identitasnya di front desk dan langsung menuju ke atas. The Master—sang Pengendali—yang selalu terbuka dan ramah terhadap anak buahnya yang masih muda dan bersemangat, langsung menyambutnya.

“Apa kau kebetulan kenal dengan seseorang di Lima yang bernama John Preston?” tanya C.

“Ya, sir. Tidak terlalu akrab. Tapi saya pernah bertemu dengan dia beberapa kali. Biasanya di bar yang di Gordon itu, kalau saya sedang minum di sana.”

“Ia mengepalai C1(A), bukan, Barry?”

32

“Tidak lagi. Dia sudah dipindahkan ke C5(Q. Ia mulai bertugas di sana minggu lalu.”

“Oh, masa? Itu cukup mendadak. Aku dengar prestasinya cukup bagus di Cl (A).”

Sir Nigel tidak merasa perlu memberitahu Banks bahwa ia telah berjumpa dengan Preston di pertemuan JIC atau bahwa ia telah menggunakan Preston sebagai pelacak yang ditugaskan secara pribadi di Afrika Selatan. Banks tidak tahu apa-apa tentang affair Bcrenson, dan ia memang tidak perlu tahu. Dalam benaknya, Banks bertanya-tanya, apa sebenarnya yang dikehendaki bosnya ini. Sepanjang apa yang ia ketahui, Preston tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan Enam.

“Sangat mendadak,” Banks menjawab. “Padahal, ia baru beberapa minggu berada di C1(A). Sampai Tahun Baru yang lalu ia adalah kepala F1(D). Barangkali dia telah melakukan sesuatu yang mengecewakan Sir Bernard—atau, lebih mungkin lagi, Brian Harcourt-Smilh. Ia ditarik dari sana dan dimutasikan ke C1(A). Lalu bulan yang lalu ia lagi-lagi dipindahkan.”

Ah, pikir Sir Nigel. Mengecewakan Harcourt-Smith, apa benar begitu? Mungkin saja. Tapi mengapa? Ia lalu berkata, “Kau punya gagasan mengapa dia telah membuat Harcourt-Smilh kurang senang?”

“Saya memang mendengar sesuatu, sir. Dari Preston sendiri. Waktu itu ia tidak berbicara dengan saya, tapi saya berada cukup dekat untuk mendengar ucapannya, la ada di bar di Gordon,

33

sekitar dua minggu yang lalu. Nampaknya ia sedang murung. Ia menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk membuat sebuah laporan, lalu mengajukannya Natal yang lalu. Ia mengira itu cukup berharga untuk diperhatikan, tapi Harcourt-Smith malahan melakukan NFA—no further action—atas laporan itu.”

“Mmmmm. F1(D)… itu menyangkut kegiatan-kegiatan Ekstrem Kiri, bukan? Begini, Barry, aku ingin kau melakukan sesuatu buat aku. Tidak perlu ribut-ribut. Diam-diam saja. Temukan nomor file laporan Preslon dan keluarkan file itu dari Bagian Arsip, ya? Masukkan ke dalam kantong pos dan kirimkan ke sini, alamatkan kepadaku pribadi.”

Banks sudah berada di jalan lagi, ke arah utara menuju Charles tepat jam sepuluh kurang sedikit.

Kru Aeroflot itu menikmati sarapan pagi dengan santai dan pada jam sembilan lebih dua puluh sembilan. Perwira Satu Romanov melihat arlojinya dan pergi ke kamar kecil untuk pria. Dia sudah pernah ke situ sebelumnya untuk memastikan bilik yang harus dimasukinya. Bilik itu terletak satu sebelum yang paling ujung. Bilik yang di ujung itu telah ditutup pintunya dan dikunci. Ia menghampiri bilik yang bersebelahan dengan bilik itu dan mengunci pintunya.

Pada jam sembilan tiga puluh tepat dia meletakkan sebuah kartu kecil, yang telah ditulisi dengan enam angka seperti yang diinstruksikan kepadanya.

34

di lantai dekat dinding pembatas. Sebuah tangan muncul dari balik dinding pemisah dan memungut kartu itu, lalu menuliskan sesuatu di atasnya, dan meletakkannya kembali di lantai. Romanov memungutnya. Di balik kartu itu terdapat enam angka yang telah diperkirakannya.

Dengan beresnya pengecekan identitas, ia lalu meletakkan radio transistornya di lantai dan tangan yang sama menariknya tanpa suara ke dalam biliknya. Di luar, seseorang sedang memakai tempat kencing. Romanov mengguyur toilet dengan air, membuka pintu, mencuci tangannya sampai pemakai tempat kencing itu keluar, lalu mengikutinya keluar. Minibus yang menuju Heathrow sudah menunggu di depan pintu. Kurir Satu telah melakukan pengiriman.

Barry Banks menelepon Sir Nigel tepat sebelum tengah hari. Telepon itu memakai saluran dalam dan sangat aman.

“Ada yang sedikit aneh, sir,” katanya. “Saya mencatat nomor file laporan yang Anda kehendaki itu dan pergi ke Bagian Arsip untuk menariknya. Saya cukup kenal dengan petugas file di situ. Ia membenarkan bahwa file itu berada di bagian NFA. Tapi sedang keluar.”

“Keluar?”

“Keluar. Ditarik.”

“Oleh siapa?”

“Seseorang bernama Swanton. Saya kenal dia.

35

Anehnya, dia orang Keuangan. Jadi saya bertanya padanya apa bisa saya pinjam. Ini hal aneh yang kedua. Ia menolak dan mengatakan belum selesai mempelajarinya. Menurut Bagian Arsip, ia sudah memegangnya selama tiga minggu. Sebelumnya, file tersebut juga dikeluarkan oleh orang lain.”

“Petugas bagian kamar kecil?” tanya Sir Nigel dengan sinis.

“Hampir benar. Seseorang dari Administrasi.”

Sir Nigel berpikir sebentar. Cara terbaik untuk membuat sebuah file hilang dari peredaran adalah dengan terus-terusan menariknya keluar alas nama sendiri atau memberikannya kepada kaki tangannya. Ia tidak ragu lagi bahwa Swanton dan orang yang satu lagi pastilah kaki tangan Harcourt-Smilh. “Barry, aku ingin kau mencari alamat rumah Prestoa Lalu jumpai saya di sini jam lima sore nanti.”

Jenderal Karpov duduk di belakang meja tulisnya sore itu di Yasyenevo dan mengusap tengkuknya yang terasa pegal. Malam tadi tidurnya tidak nyenyak. Sepanjang malam ia terus berjaga, sementara Ludmilla tidur pulas di sampingnya. Saat fajar tiba ia sampai pada satu kesimpulan, dan pemikiran-pemikiran selanjutnya yang terkilas di benaknya sepanjang jam kerja hari itu tidak bisa

mengubahnya lagi.

Sekretaris Jenderal sendirilah yang berada di belakang operasi misterius yang diluncurkan di

36

Inggris ini, tapi walaupun ia berbangga bisa berbicara dan membaca dalam bahasa Inggris dengan baik, sebenarnya ia tidak tahu banyak tentang negeri itu. Ia pasti bergantung pada nasihat seseorang yang tahu. Ada banyak yang seperti itu—di Kementcrian Luar Negeri, Departemen Internasional Komite Sentral, GRU, dan KGB. Tapi kalau ia menghindar dari KGB, pastilah dia juga menghindar dari yang lain-lain.

Jadi, harus ada seorang penasihat pribadi. Dan semakin Karpov memikirkan itu, semakin jelas satu nama muncul di kepalanya, berulang-ulang. Bertahun-tahun yang lalu, sebagai orang muda yang sedang meniti karier di dinas rahasia, ia mengagumi Philhy. Waktu itu semua orang mengaguminya. Tapi dengan berjalannya waktu, kariernya terus menanjak sementara Philby sendiri justru semakin jatuh pamornya. Ia juga menyaksikan bagaimana pengkhianat Inggris itu semakin parah kondisinya karena kebiasaan minumnya yang tak terkendali. Pada kenyataannya, Philby tidak pernah lagi terlibat dengan dokumen-dokumen rahasia Inggris (kecuali yang ditunjukkan padanya oleh KGB) sejak 1951. Ia meninggalkan Inggris tahun 1955 untuk pergi ke Beirut dan tidak pernah lagi menginjak wilayah Barat sejak pembelotannya secara penuh di tahun 1963. Dua puluh empat tahun sudah. Karpov beranggapan bahwa sekarang dia lebih mengenal Inggris daripada Philby.

Ada satu hal lagi. Karpov tahu, bahwa selama

37

masa dinas sang Sekretaris Jenderal di KGB, dalam beberapa hal ia sangat terkesan oleh Philby, oleh gaya dan selera old HwM-nya, pemujaannya pada sifat-sifat gentleman Inggris, ketidaksukaannya akan dunia modern dengan musik pop, sepeda motor, dan blue jeans-nyz—selera yang sesungguhnya mencerminkan selera sang Sekretaris Jenderal sendiri. Karpov ingat dengan pasti, beberapa kali sang Sekretaris Jenderal telah memilih nasihat Philby sebagai bahan pendukung pendapat yang diterimanya dari Direktorat Utama Satu. Kenapa sekarang tidak?

Akhirnya, dalam catatan pribadi Karpov, ada sebuah tip bahwa pernah sekali—cuma sekali— Philby terpeleset bicara, sesuatu yang sangat menarik. Ia ingin pulang ke negerinya. Berdasarkan itu, kalau bukan berdasarkan sesuatu yang lain, Karpov tidak bisa mempercayai orang Inggris itu. Satu inci pun tidak. Ia ingat akan wajah keriput yang tersenyum di seberang meja saat resepsi makan malam di kediaman Kryuchkov sebelum Tahun Baru. Apa yang dikatakannya tentang Inggris saat itu? Sesuatu tentang stabilitas politiknya yang dinilai terlalu tinggi di sini di Moskow?

Banyak serpihan seperti itu, dan sudah mulai membentuk suatu gambar yang jelas. Karpov memutuskan untuk melakukan penyelidikan atas Mr. Harold Adrian Russell Philby. Tapi ia tahu, walaupun kedudukannya setinggi itu, semuanya akan direkam: penarikan berkas dari Bagian Arsip, permintaan—

38

permintaan resmi akan informasi, pembicaraan telepon, memoranda. Penyelidikannya yang akan dilancarkannya itu harus dilakukan secara tidak resmi, pribadi, dan terlebih lagi, secara lisan. Sang Sekretaris Jenderal merupakan orang yang sangat berbahaya untuk ditentang.

John Preston sudah sampai di jalan tempat ia tinggal, sekitar seratus meter dari pintu masuk ke bangunan apartemennya, ketika ia mendengar orang memanggil namanya. Ia menoleh dan melihat Barry Banks sedang menyeberangi jalan menghampirinya.

“Halo, Barry, dunia ini sempit, ya? Kau sedang apa di sini?*

Ia tahu bahwa orang dari K7 itu tinggal jauh di utara, di kawasan Highgatc. Barangkali ia sedang dalam perjalanan nonton konser di Albert Hall yang tidak jauh dari situ.

“Menunggumu, sebenarnya,” kata Banks sambil menyeringai ramah. “Begini, seorang kolegaku ingin bertemu denganmu. Kau tidak keberatan?”

Preston agak heran, tapi tidak curiga. Ia tahu bahwa Banks berdinas di Enam, tapi lak ada kemungkinan Banks sendiri ingin bertemu dengan dia. Ia membiarkan Banks membawanya ke seberang jalan dan kemudian berjalan seratus meter lagi. Banks berhenti di samping sebuah Ford Granada, membuka pintu belakangnya, dan memberi

39

Isyarat kepada Preston untuk menjenguk ke dalam. John mematuhi itu.

“Selamat petang. John. Kau tidak keberatan kalau aku ingin bicara sebentar?”

Dengan terkejut Preston memasuki mobil dan duduk di sebelah sosok yang duduk di kursi belakang dengan mengenakan mantel hangat. Banks menutup pintu mobil dan berlalu dari situ.

“Begini, ini suatu cara yang aneh untuk bertemu. Tapi begitulah. Kita tidak ingin ada gelombang, kan? Aku cuma merasa, belum ada kesempatan baik bagiku untuk berterima kasih alas pekerjaan yang kaulakukan di Afrika Selatan. Itu pekerjaan kelas satu. Henry Picnaar sangat terkesan. Aku juga.”

“Terima kasih. Sir Nigel.” Gila, mau apa rubah tua yang cerdik ini? Pasti bukan hanya sekadar untuk mengucapkan pujian saja. Tapi C nampaknya sedang tenggelam dalam pemikiran.

“Ada masalah lain,” akhirnya C berkala, seakan menerjemahkan permenungannya ke dalam kata-kata. “Si Barry yang masih muda itu mengatakan padaku bahwa ia tahu. Natal yang lalu kau mengajukan sebuah laporan yang sangat menarik tentang golongan Ekstrem Kiri di negeri ini. Barangkali aku salah, tapi mungkin sekali ada campur tangan luar negeri dalam pendanaan yang diberikan, kalau kau mengerti apa maksudku. Masalahnya, laporanmu tidak diedarkan pada kami di Enam. Sayang sekali.”

40

“Sudah dikenakan NFA,” kata Preston cepat. “Ya, ya, begitu yang dikatakan Barry. Sungguh sayang. Aku sebenarnya sangat ingin melihatnya. Kau tidak punya kesempatan untuk meng-copy-nya?”

“Itu ada di Bagian Arsip,” kata Preston, kebingungan. “Itu memang sudah di-NFA-kan, lapi file-nya ada. Dengan mudah Barry bisa mengeluarkannya dan mengirimkannya kepada Anda lewat kantong pos.”

“Sebenarnya tidak,” kata Sir Nigel. “File-nya sudah dikeluarkan. Oleh Swanton. Dan ia belum selesai dengan itu. Ia menolak meminjamkannya.”

“Tapi dia kan orang Keuangan,” Preston memprotes.

“Ya,” gumam Sir Nigel dengan rasa sesal, “dan sebelumnya, file itu juga sudah dipegang oleh seseorang dari Administrasi. Ada yang menginginkan agar file itu lenyap dari peredaran.”

Preston duduk tertegun. Melalui kaca depan ia bisa melihat Banks berjalan mondar-mandir. “Ada satu copy lain,” ia berkala. “Punya saya sendiri. Ada di lemari besi kantor saya.”

Banks mengemudikan mobil itu. Karena kemacetan lalu lintas pelang hari itu, rasanya mereka seperti merangkak dari Kensington sampai Gordon Strict Satu jam kemudian, Preston menyandar di jendela mobil Granada itu dan menyerahkan laporannya kepada Sir Nigel.

jfX v> v DJlarangmeng-komrrsil-kan atau %J mj 1 keid alan meru mpa and a se tamany a

41

13

Jenderal yevgeni karpov menaiki undakan terakhir yang menuju lantai tiga, di gedung apartemen yang terletak di Mira Prospekt dan membunyikan bel. Beberapa menit kemudian pintu terbuka. Istri Philby berdiri di mulut pintu. Karpov bisa mendengar suara-suara anak-anak kecil sedang makan kue di dalam. Ia memilih datang jam enam petang dengan anggapan bahwa pada waktu itu mereka sudah akan berada di rumah setelah

pulang dari sekolah. “Halo, Erita.”

Wanita itu mendongakkan sedikit kepalanya, ke belakang, dengan sikap seakan menantang. Seorang wanita yang sangat protektif, pikir Karpov. Mungkin ia tahu bahwa Karpov bukan pemuja suaminya.

“Kamerad Jenderal.”

“Apakah Kim ada di rumah?”

“Tidak. Ia sedang tidak ada di tempat.”

Bukannya “ia sedang keluar”, tapi “ia sedang

42

tidak ada di tempat”, pikir Karpov. Ia berpura-pura heran. “Oh, saya tadi berharap bisa bertemu dengan dia. Kau tahu kapan ia akan kembali?”

“Tidak. Ia akan kembali kalau sudah waktunya kembali.”

“Bisa diberitahu, di mana saya bisa menghubunginya?” “Tidak.”

Karpov mengernyit. Sesuatu yang dikatakan Philby saat makan malam di rumah Kryuchkov… tentang dia tidak boleh menyetir mobil lagi setelah mengalami stroke. Karpov sudah memeriksa tempat parkir di basement. Mobil Volga Philby ada di sana.

ŚTadinya kukira kau yang mengantarkan dia ke mana-mana sekarang, Erita.”

Wanita itu tersenyum sedikit. Bukan dengan ekspresi yang mencerminkan bahwa suaminya telah meninggalkannya, tapi lebih menunjukkan rasa senang seorang wanita karena suaminya telah naik pangkat. “Tidak lagi. Ia punya sopir.”

“Saya terkesan. Sayang saya tidak bisa menjumpainya. Saya akan mencoba lagi kalau dia sudah kembali.”

Ia menuruni undakan sambil berpikir keras. Pensiunan kolonel tidak akan mampu membayar seorang sopir pribadi. Sampai di flatnya sendiri, dua blok di belakang Ukraina Hotel, Karpov menelepon pool kendaraan KGB dan mendesak untuk berbicara dengan petugas kepala. Ketika ia mem—

43

perkenalkan dirinya, reaksi petugas itu langsung berubah. Suara Karpov terdengar terus terang dan riang. “Saya tidak biasa mengirimkan karangan bunga, tapi kenapa tidak kalau suatu tugas lelah diselesaikan dengan baik.”

Terima kasih, Kamerad Jenderal.”

“Sopir yang menyetir untuk teman saya, Kamerad Kolonel Philby. Ia sangat memuji sopir itu. Sopir yang sangat baik, begitu katanya. Kalau sopir saya sakit, secara pribadi saya akan minta dia.”

“Sekali lagi terima kasih, Kamerad Jenderal. Saya akan menyampaikannya sendiri kepada Grcgoricv.”

Karpov menutup telepon. Gregoriev. Belum pernah mendengar namanya. Tapi berbicara diam-diam dengan orang ini-mungkin akan ada gunanya.

Keesokan harinya, pagi tanggal 8 April, Akademik Komarov bergerak perlahan melewati Greenock dan masuk ke Clyde, ke arah hulu sungai untuk mencapai pelabuhan Glasgow. Kapal itu singgah sebentar di Greenock untuk menjemput mualim dan dua pejabat pabean. Mereka melakukan pemeriksaan rutin di kabin kapten dan memastikan bahwa benar kapal itu datang dari Leningrad dan datang untuk membawa muatan peralatan pompa heavy-duty dari Weir dari perusahaan Cath-cart Limited. Petugas-petugas pabean itu memerik-44

sa daftar awak kapal tapi tidak menghafalkan nama-nama tersebut Kelak ternyata diatur bahwa nama petugas geladak Konstantin Scmyonov tercantum dalam daftar.

Yang biasa dilakukan kalau seorang ilegal Soviet memasuki suatu negara asing dengan kapal adalah. namanya tidak tercantum dalam daftar awak kapal. Si ilegal tiba dengan cara meringkuk dalam sebuah lubang sempit, atau semacam ruang penjara bawah tanah berbentuk tabung dengan satu lubang di atas, yang dengan cerdik ditambahkan dalam kerangka kapal dan sangat tersembunyi sehingga pemeriksaan yang seketat apa pun juga tidak akan bisa menemukannya. Lalu, kalau si agen karena nasib malang atau karena sebab-sebab operasional tidak berhasil kembali ke kapal yang sama, maka tidak akan ada ketidakcocokan di daftar awak kapal itu. Tapi operasi kali ini dilakukan dengan terburu-buru. Tidak ada waktu untuk perubahan struktur kapal.

Kru tambahan yang akan menyelundup itu tiba bersama orang-orang dari Moskow, hanya beberapa jam sebelum kapal Akademik Komarov meninggalkan Leningrad menuju Glasgow dalam suatu pelayaran angkutan barang yang sudah lama dijadwalkan, dan kaptennya serta pejabat politik setempat tidak punya pilihan lain kecuali mencantumkan dia di daftar kru. Surat-surat pelautnya semuanya beres, dan dia akan kembali ke kapal, begitu kata mereka.

45

Walaupun sudah ditolong begitu, orang itu malahan mengambil satu kabin untuk dirinya sendiri, dan tinggal di situ sepanjang waktu pelayaran; dan kedua petugas geladak yang asli, yang kabinnya dipakai, lama-kelamaan menjadi bosan dengan sleeping bag mereka di lantai uang makan. Kantong-kantong itu disingkirkan pada saat mualim Skollandia itu naik ke kapal. Di kabinnya, dengan tegang, karena alasan yang jelas. Kurir Dua sedang menunggu saat (engah malam.

Pada saat Mualim Clyde berdiri di jembatan yang dihubungkan dengan kapal Akademik Komarov dan padang-padang Strathclydc melaju lewat saat ia mengunyah sandwich sarapan paginya, sudah tengah hari di Moskow. Karpov menelepon bagian pool kendaraan KGB lagi. Petugas kepala yang bertugas berbeda dengan yang kemarin, seperti sudah diperkirakannya.

“Sopir saya nampaknya kena flu,” katanya. “Hari ini ia akan melanjutkan bekerja, semampunya, tapi saya akan membebaskannya besok.”

“Saya akan memastikan bahwa Anda akan memperoleh penggantinya, Kamerad Jenderal.”

“Saya lebih senang kalau Gregoriev yang ditunjuk. Apa dia ada? Saya dengar kerjanya sangat baik.”

Terdengar suara kertas-kertas bergesekan saat petugas itu mengecek file-nya. “Ya, ada. Tadinya

46

ia diberi tugas sementara, tapi ia sudah kembali ke pool.”

“Bagus. Minta dia melapor ke flat saya yang di Moskow pada jam delapan pagi besok. Kunci mobil akan ada pada saya, dan Chaika-nya akan ada di basement.”

Semakin lama semakin aneh, pikir Karpov ketika ia meletakkan teleponnya. Gregoriev diperintahkan untuk menjadi sopir Philby selama beberapa waktu. Mengapa? Karena terlalu banyak perjalanan yang harus ditempuh, terlalu banyak untuk bisa dilakukan oleh Erita? Atau supaya Erita tidak tahu ke mana ia pergi? Dan kini sopir itu sudah kembali ke pool lagi. Artinya? Barangkali Philby sekarang sudah berada di suatu tempat lain dan tidak membutuhkan sopir lagi, setidak-tidaknya sampai akhir dari operasi—apa pun itu namanya—di mana ia terlibat.

Petang itu, Karpov memberitabu sopirnya bahwa ia boleh libur hari berikutnya dan membawa keluarganya bersenang-senang.

Pada petang hari Rabu yang sama itu, Sir Nigel Irvine mempunyai janji makan malam dengan seorang teman di Oxford.

Salah satu hal yang menarik tentang Saint Antony’s College, Oxford, adalah bahwa—seperti banyak lembaga Inggris yang sangat berpengaruh lainnya—sepanjang menyangkut kepentingan masyarakat umum, ia tidak pernah ada.

47

Pada kenyataannya ia ada, tapi begitu kecilnya dan begitu tersclubungnya sehingga jika seseorang yang sedang melakukan penelitian tentang rumpun-rumpun akademika di Kepulauan Inggris mengedipkan matanya, maka lembaga itu akan luput dari pengamatannya. Aulanya kecil, sedap dipandang, dan tidak nampak dari luar, ia tidak menawarkan program-program gelar, tidak mendidik mahasiswa, tidak memiliki mahasiswa program kesarjanaan dan oleh karena itu tidak memiliki lulusan sarjana, dan tidak memberikan gelar-gelar. Ia memiliki beberapa dosen dan profesor tetap, yang kadang-kadang makan bersama di aula tapi tinggal di apartemen yang tersebar di kota Oxford, ada juga yang tinggal di tempat-tempat lnin dan hanya berkunjung saja ke sana. Lembaga itu kadang-kadang mengundang orang-orang luar untuk memberikan ceramah kepada para anggotanya—yang merupakan suatu kehormatan luar biasa—dan para dosen dan anggota itu kadang-kadang mengajukan makalah-makalah ke eselon yang lebih tinggi dalam jenjang pemerintah Inggris, di sana usulan mereka ditanggapi dengan sangat serius. Pendanaannya bersifat pribadi, sama dengan penampilannya.

Pada kenyataannya, lembaga itu merupakan mesin pemikir tempat para intelektual yang tergabung di dalamnya—yang memiliki pengalaman non-aka-demik yang luas—menggeluti pengkajian atas suatu disiplin tunggal: masalah-masalah mutakhir.

Petang itu, Sir Nigel makan malam di aula bersama

48

tuan rumahnya, Profesor Jeremy Sweeting. Setelah menikmati suguhan yang amat lezat, sang Profesor membawa sang Master kembali ke apartemennya di sebuah bangunan yang bagus di pinggiran kota Oxford untuk menikmati anggur port dan kopi.

“Baiklah, Nigel,” kata Profesor Sweeting setelah mereka membuka sebotol anggur merek Taylor dan sedang bersantai di depan perapian di ruang buku, “apa yang bisa kulakukan untukmu?”

“Apakah kau kebetulan mendengar tentang sesuatu yang disebut MBR?”

Tangan Profesor Sweeting terhenti di udara, la mengamatinya berlama-lama. “Kau tahu, Nigel, kau memang pandai mengganggu acara petang seseorang, setiap kali kau menghendakinya. Di mana kau mendengar singkatan itu?”

Sebagai jawabannya, Sir Nigel Irvine menyerahkan laporan Preston. Profesor Sweeting membacanya dengan cermat, dan itu memakan waktu satu jam. Irvine tahu, bahwa, berbeda dengan Preston, Profesor Sweeting bukan orang lapangan. Ia tidak pernah punya pengalaman di lapangan. Tapi pengetahuannya tentang teori dan praktek marxisme seperti ensiklopedi, tenting materialisme dialektika, dan tenting ajaran-ajaran Lenin yang berkenaan dengan penerapan teori ke praktek dalam upaya pencapaian kekuasaan. Kegemarannya adalah membaca, mempelajari, menyusun, dan menganalisa.

“Luar biasa,” kati Sweeting ketika mengem—

balikan laporan itu. “Pendekatan yang berbeda, sikap yang berbeda, tentu saja, dan metode yang sama sekali berbeda. Tapi kita akan sampai pada jawaban yang sama.”

“Bisakah kaukatakan apa jawabannya?” tanya Sir Nigel dengan halus.

“Ini hanya teori, tentunya,” kata Profesor Sweeting dengan nada minta maaf. “Seribu batang jerami di tengah embusan angin yang akan—atau tidak akan— terbentuk menjadi gumpalan besar. Yang jelas, masalah inilah yang sudah lama kutekuni sejak Juni 1983….”

Ia berbicara selama dua jam, dan ketika, lama setelah itu, Sir Nigel mohon diri untuk kembali ke London dalam mobilnya, ia tenggelam dalam permenungannya.

Kapal Akademik Komarov melempar jangkar di Dermaga Finnicston di jantung kota Glasgow, supaya derek raksasa di dermaga itu bisa menderek muatan pompa-pompa itu ke atas kapal keesokan harinya. Tidak ada pemeriksaan pabean atau imigrasi di sana; para pelaut asing bisa dengan mudah turun dari kapal mereka, berjalan melintasi dermaga, dan masuk ke jalan-jalan kota Glasgow.

Tengah malam hari itu, ketika Profesor Sweeting masih berbicara, petugas geladak Semyonov menuruni tangga kapal, berjalan menyusuri dermaga

50

sejauh seratus meter, menghindari Betty’s Bar, yang di luar pintunya terlihat beberapa pelaut mabuk sedang memprotes minta diperbolehkan minum segelas lagi, lalu berbelok ke Finnicston Street.

Penampilannya tidak menonjol, mengenakan sweater berkerah tinggi, celana korduroi, dan sebuah anorak (jaket bertopi); sepatunya bertumit terbuka. Di bawah satu lengannya u mengempit sebuah kantong kanvas yang dikatupkan dengan tali di mulutnya. Berjalan di bawah Jalan Tol Clydcsidc, ia tiba di Argyle Street, membelok ke kiri, dan menyusuri jalan itu sampai tiba di Partick Cross, la tidak menggunakan peta lapi terus berjalan sampai memasuki Hyndland Road. Kira-kira satu selengah kilometer dari situ, ia tiba di jalan arteri ulama lain. Great Western Road. Ia telah menghafalkan rutenya ini berhari-hari sebelumnya.

Di sini ia melihat ke arlojinya; ia masih punya waktu setengah jam lagi. Tempat rendezvous-nya akan bisa dicapainya tidak lebih dari sepuluh menit lagi jika ia berjalan lurus ke depan. Ia membelok ke kiri dan terus berjalan ke arah Pond Hotel, dekat dengan danau tempat rekreasi perahu dan seratus meter lewat bengkel dan pompa bensin BP yang lampu-lampunya dilihatnya berbinar di kejauhan. Ia sudah hampir tiba di halte bis di perempatan Great Western Road dan Hughcndcn Road ketika melihat mereka. Mereka sedang her santai-santai di bawah naungan halte bis itu. Saat itu jam setengah dua pagi, dan mereka berlima.

51

Di beberapa daerah di Inggris mereka disebut “skinheads’ atau “punks”, tapi di Glasgow mereka disebut mNedsm. Scmyonov tadinya bermaksud menyeberangi jalan, tapi ia terlambat. Salah satu dari mereka berteriak kepadanya, dan mereka berhamburan dari halte bis itu. Ia bisa berbicara bahasa Inggris sedikit, tapi logat Glasgow mereka yang diseret seperti orang mabuk itu membuatnya tidak paham. Mereka memblokir trotoar, sehingga ia terpaksa turun ke jalan. Salah satu menangkap lengannya dan berteriak kepadanya. Apa yang dikatakan para berandal itu persisnya begini, ‘Wha’ ha’ ya got in ya wee sack, then ?*

Tapi Semyonov tidak mengerti, jadi ia menggelengkan kepala dan mencoba melewati rintangan mereka. Kemudian mereka menyerangnya dan ia roboh karena dihujani pukulan-pukulan. Ketika ia sudah masuk ke selokan, tendangan mulai. Samar-samar ia merasa tangan-tangan mengoyak kantong kanvasnya, sehingga ia menjepitnya ke perutnya dengan kedua tangannya dan menggulingkan badannya, menerima tendangan bertubi-tubi di sekitar kepala dan ginjalnya.

Devonshire Terrace berada di atas persimpangan jalan itu; itu adalah sederetan bangunan apartemen kelas menengah bertingkat empat terbuat dari batu pasir abu-abu. Di salah satu gedung itu, di lantai paling atas, Mrs. Sylvester yang tua, janda, hidup sendiri, dan menderita encok kronis, tidak bisa tidur. Ia mendengar teriakan-teriakan dari jalanan

52

di bawah sana dan ia berjingkat-jingkat dari tempat tidurnya ke jendela. Apa yang dilihatnya menyebabkan dia terpincang-terpincang menyeberangi kamarnya menuju telepon; ia lalu memutar nomor 999 dan minta bicara dengan polisi, la memberitahu operator polisi ke mana mobil patroli harus dikirimkan tapi segera menutup telepon begitu ditanya nama dan alamatnya. Warga masyarakat terhormat—dan semua yang tinggal di Devonshire sangat terhormat—tidak suka terlibat

Dua polisi berpangkat constable, Alistair Craig dan Hugh McBain, berada dalam mobil patroli mereka satu mil dari Great Western Road, di ujung jalan Hillhead, ketika panggilan itu masuk lewat radio. Lalu lintas hampir-hampir kosong dan mereka sampai di halte bis itu sembilan puluh detik kemudian. Ketika para Ncd melihat cahaya lampu mobil patroli polisi dan mendengar raungan sirenenya, mereka berhenti mencoba merampas kantong itu dan memilih kabur melintasi jalur rumput yang memisahkan Hughcnden Road dan Great Western Road, sehingga mobil patroli itu tidak dapat mengejar mereka. Pada saat Alistair Craig melompat dari mobilnya, mereka sudah lenyap di kegelapan dan pengejaran pasti sia-sia saja. Bagaimanapun juga, yang penting adalah si korban.

Craig membungkuk mengamati orang itu. Ia tidak sadarkan diri dan meringkuk dalam posisi seperti bayi dalam kandungan. “Ambulans,

53

Hughie,” seru Craig pada McBain, yang sudah siap berbicara lewat radio. Ambulans dari Western Infirmary tiba enam menit kemudian. Sementara itu, kedua polisi tersebut membiarkan saja orang yang tcrluka itu, sesuai prosedur, kecuali menutupi tubuhnya dengan selimut.

Kru ambulans meletakkan tubuh yang lunglai itu ke brankar, mendorongnya dan memasukkannya ke bagian belakang ambulans. Ketika kru ambulans menyelimuti korban, Craig mengangkat kantong kanvas itu dan meletakkannya di bagian belakang ambulans. “Kau ikut dengan dia, aku akan mengikuti,” teriak McBain, jadi Craig juga masuk ke dalam ambulans itu.

Mereka sampai di rumah sakit kurang dari lima menit kemudian. Kru ambulans dengan cepat mendorong brankar itu melewati pintu-pintu ayun, menyusuri lorong, membelok dua kali, dan masuk ke bagian belakang ruang korban kecelakaan. Karena itu merupakan kasus darurat, mereka tidak perlu melalui kamar tunggu umum, tempat kumpulan pemabuk dini hari merawat luka-luka dan guratan-guratan yang didapat mereka karena kontak dengan benda-benda tajam.

Craig menunggu di pintu masuk sementara McBain memarkir mobil patroli itu. Ketika partnernya bergabung dengannya, ia berkata, “Kauurus formulir pendaftarannya, Hughie. Akan kucoba melihat apa ada nama dan alamatnya.” McBain menghela napas. Selalu ada formulir pendaftaran di mana-mana.

54

Craig mengambil kantong kanvas itu dan mengikuti brankar yang didorong menyusuri lorong menuju Ruang Gawat Darurat. Divisi rumah sakit Western Infirmary ini terdiri dari sebuah lorong dengan pintu-pintu ayun di ujung-ujungnya dan dua belas ruang pemeriksaan yang bertirai, enam ruang di setiap sisi lorong tengahnya. Sebelas di antaranya dipakai untuk melakukan pemeriksaan; yang kedua belas adalah kantor juru rawat, dan terletak paling dekat dengan pintu masuk belakang melalui mana brankar itu didorong masuk. Pintu di ujung lorong yang satu lagi dipasangi cermin satu arah di bingkainya dan menuju ke kamar tunggu umum tempat pasien-pasien yang luka diminta duduk dan menunggu giliran.

Meninggalkan McBain dengan setumpuk formulir pendaftaran yang harus diisi, Craig berjalan melewati pintu bercermin tersebut untuk melihat pria yang tak sadarkan diri itu di atas brankar, yang diparkir di ujung lain lorong. Juru rawat menangani pria yang terluka itu seperti yang biasa dilakukannya—ternyata ia masih hidup—dan menyuruh bawahannya untuk meletakkan dia di atas meja periksa di salah satu ruang pemeriksaan itu sehingga brankarnya bisa dikembalikan ke ambulans. Ruang yang dipilih adalah ruang yang berhadapan dengan kantor juru rawat

Dokter jaga rumah sakit malam itu, orang India bernama Mehta, dipanggil. Ia menyuruh bawahannya menanggalkan pakaian pria yang terluka itu

55

sampai ke balas pinggang—ia tidak melihat tanda-tanda adanya darah yang menembus celananya— kemudian melakukan pemeriksaan yang lebih cermat sebelum ia menyuruh dilakukan pemeriksaan dengan sinar-X. Lalu ia pergi untuk menangani kasus darurat lainnya karena kecelakaan mobil. Juru rawat menelepon bagian sinar-X lapi ternyata sedang dipakai. Ia akan diberitahu kalau peralatan itu sudah selesai dipakai. Ia meletakkan poci di atas kompor untuk membuat secangkir teh.

Alistair Craig, setelah diberitahu bahwa orang yang tak bernama itu masih terbaring tidak sadar di seberang lorong, mengambil anorak milik pria itu, berjalan menuju kantor juru rawat, dan meletakkan baik anorak maupun kantong itu di meja juru rawat “Apa ada sisa teh buatku?” tanyanya dengan nada bercanda yang sering dipakai oleh orang-orang malam yang menghabiskan jam-jam tugas mereka untuk menjaga keamanan di kota-kota besar.

“Mungkin ada,” jawab si juru rawat, “tapi aku tidak melihat atasan mengapa aku harus memboroskannya untuk orang-orang seperti Anda.”

Craig menyeringai. Ia meraba saku-saku anorak itu dan mengeluarkan sebuah buku identitas pelaut. Buku itu memuat foto orang yang saat itu berada di ruang pemeriksaan di seberang lorong—dan ditulis dalam dua bahasa, Rusia dan Prancis. Keduanya tidak dipahaminya. Ia tidak bisa membaca huruf-huruf Cyrillic, lapi nama orang ilu juga di—

56

tulis dalam huruf Latin, di bagian bahasa Prancisnya.

“Siapa pasien itu?” tanya si juru rawat, sambil membuat teh dua cangkir.

‘Nampaknya dia seorang pelaut—seorang Rusia,” kala Craig, kualir. Seorang warga Glasgow yang dijarah oleh gerombolan Ned adalah hal biasa; tapi seorang asing—Rusia lagi—bisa menimbulkan masalah. Untuk mengetahui orang itu berasal dari kapal apa, Craig mengosongkan isi kantong kanvas itu. Isinya cuma sebuah sweater tebal dirajut, dalam keadaan tergulung melingkari sebuah kaleng tembakau bulat panjang yang tutupnya disekrup. Kaleng itu tidak berisi tembakau melainkan segumpal kapas yang membungkus dua disk-lempeng bundar—dari aluminium yang di tengahnya memuat satu disk logam lain berwarna abu-abu kusam bergaris tengah lima sentimeter. Craig memeriksa ketiga lempeng logam itu tanpa minat, meletakkannya kembali ke alas kapasnya, memasang kembali sekrup tutupnya, dan meletakkannya di atas meja bersama dengan buku identitas itu. Yang lidak diketahuinya adalah bahwa sang korban pengeroyokan telah sadar dan sedang mengintip melalui tirai ke arah dia. Yang dike-tihuinya adalah, sudah saatnya ia melaporkan pada divisinya bahwa ia baru saja menemukan seorang Rusia yang terluka.

“Bisa pakai teleponmu. Manis?” ia bertanya pada si juru rawat, dan menggapai telepon.

57

“Jangan panggil aku •Manis’,” tukas si juru rawat, yang umurnya sedikit lebih tua dari Craig yang baru dua puluh empat tahun. “Tuhan, semakin lama semakin muda mereka ini.”

Craig mulai memutar nomor telepon. Apa yang ada dalam benak Konstantin Semyonov tak akan pernah diketahui. Pening dan kebingungan, mungkin menderita gegar otak karena tendangan-tendangan di kepalanya, ia bisa melihat seragam hitam polisi Inggris yang membelakangi dia di seberang lorong. Ia bisa melihat buku identitasnya sendiri dan barang kiriman yang dipercayakan kepadanya untuk dibawa ke Inggris dan diserahkan kepada seorang agen di danau tempat berekreasi naik perahu, tergeletak di meja, dekat tangan polisi itu. Ia tadi menyaksikan bagaimana si polisi memeriksa barang itu— Semyonov sendiri tidak pernah berani membuka kaleng tembakau itu—dan kini polisi itu sedang menelepon. Barangkali pelaut itu membayangkan interogasi tingkat tiga yang tak kunjung berakhir di sebuah ruang bawah tanah yang berbau apak di bawah markas polisi Strathclyde….

Tahu-tahu Craig didorong ke samping dengan kasar, dan ia benar-benar terperangah. Sebuah lengan menjulur melewatinya, menggapai kaleng itu, dan merampasnya. Craig bereaksi dengan cepat, menjatuhkan telepon dan menangkap lengan yang terjulur itu. ‘What the helir teriaknya; lalu, mengira bahwa orang itu sedang menderita halusinasi, ia meringkus orang itu dan mencoba menghentikan

58

ulahnya. Kaleng itu terlepas dari tangan si Rusia dan jatuh ke lantai. Sejenak Semyonov menatap polusi Skotlandia itu, lalu menjadi panik dan lari. Sambil berseru, “Hei, balik ke sini!” Craig lari kencang menyusur lorong mengejarnya.

Shortic Patterson seorang pemabuk. Seluruh hidupnya digunakannya untuk mencicipi produk-produk Skotlandia, dan itu membuatnya tidak bekerja dan tidak bisa dipekerjakan. Ia bukan seorang pemabuk semharangan; ia telah mengangkat hal mabuk menjadi semacam bentuk seni. Kemarin ia baru saja mengambil tunjangan kesejahteraannya dan pergi ke bar terdekat; saat tengah malam ia sudah lumpuh. Dalam keadaan mabuk ia berbuat sesuatu yang tidak biasa pada sebuah tiang listrik yang menolak ajakannya untuk minum bersama, jadi dia memukulinya.

Ia sudah menjalani pemeriksaan sinar X atas tangannya yang remuk dan sedang berjalan balik ke biliknya ketika seorang lelaki dengan dada bertelanjang* dan penuh luka serta wajah berdarah-darah berlari keluar dari ruang sebelah, dikejar oleh seorang polisi. Shortic tahu kewajibannya terhadap sesama penderita. Ia sama sekali tidak senang pada polisi, yang tidak mempunyai kegiatan yang lebih baik daripada menciduknya dari tempat persembunyiannya yang nyaman di lorong-lorong bawah tanah dan menyerahkannya kepada orang-orang yang memaksa dia untuk mandi. Ia mem-59

biarkan pelarian itu lewat, lalu kakinya dijulurkan nya.

“Kau bangsat goblok!” teriak Craig saat dia jatuh. Ketika ia bangkit, ia sudah ketinggalan sepuluh meter dari si Rusia.

Semyonov lari melewati pintu bercermin itu, masuk ke ruang tunggu umum, tidak sempat melihat pintu sempit yang menuju ke luar yang ada di sebelah kirinya, dan malahan berlari melewati pintu ganda yang besar yang berada di sebelah kanannya. Ini membawanya kembali ke lorong tempat ia didorong liga puluh menit yang lalu di atas brankar. Ia berbelok ke kanan lagi, mendapati sebuah brankar didorong ke arahnya—dikitari seorang dokter dan dua juru rawat yang memegangi botol-bolol plasma—pasien korban kecelakaan Dr. Mehta. Brankar itu memblokir seluruh lorong; di belakangnya Semyonov mendengar bunyi sepalu bol yang berlari.

Di sebelah kirinya ada sebuah lobi berisi dua lift. Pintu salah satu lift itu baru saja menutup, dan Semyonov berhasil menyusupkan diri melalui celahnya. Ketika lift itu bergerak naik, ia mendengar suara polisi yang memukul-mukul pintu yang sudah tertutup itu dengan sia-sia. Semyonov menyandarkan tubuhnya ke belakang dan memejamkan matanya dengan perasaan tak berdaya.

Craig menemukan undakan dan berlari naik ke atas. Di seliap lantai ia mengamati indikator di atas pintu lift. Lifl itu masih terus bergerak naik.

60

Di lantai terakhir, lantai sepuluh, ia merasa kepanasan, marah, dan terengah-engah.

Semyonov keluar di lantai sepuluh. Ia melongok ke balik sebuah pintu yang ada di situ, tapi ternyata di dalamnya nampak deretan tempat tidur dengan pasien-pasien yang sedang tidur. Masih ada satu pintu lagi, terbuka dan menuju sebuah undakan. Ia berlari menaiki undakan itu, hanya untuk mendapati dirinya tiba di lorong yang lain, dengan kamar-kamar mandi, dapur, dan gudang-gudang di kiri-kanannya. Di ujung lorong terdapat pintu terakhir, dan di malam yang hangat dan lembap itu pintu tersebut nampak terbuka, ke atap rata di puncak gedung.

Craig telah kehilangan jejak, tapi akhirnya ia terus juga berjalan melewati pintu itu dan keluar ke udara malam. Sementara menyesuaikan matanya dengan kegelapan, ia melihat sosok seorang pria di tembok pelindung sebelah utara. Rasa jengkelnya mereda. Barangkali aku akan panik jika aku terbangun dan berada di sebuah rumah sakit di Moskow, pikirnya, la mulai berjalan menghampiri sosok ^lu, kedua tangannya dinaikkannya ke atas untuk menunjukkan bahwa ia tidak membawa apa-apa.

“Ayolah, Ivan, atau siapa pun nama Anda. Anda tidak apa-apa. Anda cuma mengalami sualu guncangan kecil biasa. Mari kita sama-sama turun ke bawah.”

Craig sudah terbiasa dengan kegelapan seka—

61

rang. Ia bisa melihat wajah orang Rusia itu dengan cukup jelas karena diterangi cahaya kota di bawah. Orang itu menyaksikan dia mendekat sampai Craig telah berada kira-kira setengah meter lebih dari dia. Lalu ia melihat ke bawah, menarik napas dalam-dalam, memejamkan matanya, dan melompat

Craig tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sampai beberapa delik kemudian, bahkan setelah ia mendengar bunyi keras tubuh yang menghantam tanah di tempat parkir dua puluh meter di bawah sana.

“Oh, Christ* ia menarik napas, “aku dalam kesulitan.” Dengan jari-jari gemetar ia menggapai radionya dan menghubungi Divisi.

Seratus meter dari bengkel dan pompa bensin BP dan kira-kira satu kilometer dari halte bis terletak danau tempat rekreasi berperahu, dinaungi bayangan Pond Hotel. Dari trotoar serangkaian undakan batu menuju ke bawah ke jalan setapak yang mengelilingi danau itu, dan dekat dengan ujung bawah undakan itu -terdapat dua bangku kayu.

Sosok yang diam yang mengenakan pakaian kulit pengendara sepeda motor itu memeriksa arlojinya. Jam tiga. Rendczvous-nya dijadwalkan jam dua. Keterlambatan maksimal adalah satu jam. Ada lagi rendezvous kedua, sebagai penunjang, di tempat lain, dua puluh empat jam kemudian. Ia

62

akan berada di sana. Jika kontaknya tetap tidak muncul, maka ia terpaksa menggunakan radionya lagi. Ia bangkit dan meninggalkan tempat itu.

Constable McBain tidak sempat mengikuti seluruh pengejaran itu. Selama itu dia berada di mobilnya, mencari tahu jam berapa tepatnya pengeroyokan yang brutal itu terjadi dan saat dilakukan permintaan bantuan melalui telepon. Ia baru tahu tentang pengejaran itu untuk pertama kalinya saat “neighbor”-nya (istilah di Glasgow untuk “partner”) turun ke ruang tunggu dengan wajah pucat dan sangat terguncang.

“Alistair, sudahkah kauperoleh nama dan alamatnya?” ia bertanya.

“Ia adalah… ia adalah… seorang pelaut Rusia,” kata Craig.

“Oh, gila, itu yang paling kita perlukan. Bagaimana mengejanya?”

“Hughie, ia baru saja… terjun dari puncak gedung.”

McBain meletakkan penanya dan menatap dengan rasa tidak percaya pada neighbor-nya. Kini tinggal kerumitannya. Setiap polisi tahu bahwa kalau masalah jadi berat mereka harus melindungi diri dulu—mereka mengikuti prosedur tepat seperti digariskan, tidak ada taktik-taktik koboi, tidak ada akal-akalan. “Kau sudah menghubungi Divisi?” ia bertanya.

“Ya, seseorang sedang menuju ke sini.”

63

“Mari kita menemui dokternya,” kata McBain.

Mereka menemukan Dr. Mehta, yang sudah terlihat capek karena bekerja habis-habisan malam itu, menangani begitu banyak kasus yang masuk. Ia mengikuti mereka ke tempat parkir, berada di sana tidak lebih dari dua menit, memeriksa tubuh yang hancur itu, menyatakan bahwa orang itu sudah meninggal dan bukan lagi urusannya, lalu kembali ke pekerjaannya. Dua orang petugas rumah sakit membawa selimut untuk menutupi mayat itu, dan tiga puluh menit kemudian sebuah ambulans mengangkut jenazah itu ke krematorium kota di Jocclyn Square dekat Salt Market. Petugas-petugas lain akan menanggalkan sisa pakaian yang masih ada—sepatu, kaus kaki, celana, celana dalam, ikat pinggang, dan arloji—setiap barang akan dimasukkan ke dalam kantong dan diberi label untuk diambil oleh para petugas penyelidik.

Di dalam rumah sakit ada tambahan formulir-formulir baru yang harus diisi—formulir pendaftaran disimpan sebagai bukti, walaupun sekarang menjadi mubazir untuk keperluan praktis—dan kedua polisi itu memasukkan ke dalam kantong serta memberi label sisa milik orang yang sudah mati itu. Dalam daftar disebutkan: anorak, 1; pullover berleher tinggi, 1; kantong kanvas, 1: sweater rajutan tebal (tergulung), 1; dan kaleng tembakau bundar, 1.

Sebelum mereka selesai, sekitar lima belas menit setelah telepon Craig, seorang inspektur dan

64

seorang sersan, keduanya berpakaian seragam, tiba di situ dari Divisi. Mereka dipinjami sebuah kantor tata usaha yang kosong dan mulai mencatat pernyataan-pernyataan kedua constable itu. Sepuluh menit kemudian sang inspektur menyuruh si sersan pergi ke mobil untuk menelepon kepala polisi setempat. Saat itu jam empat pagi hari Kamis, 9 April, tapi di Moskow jam delapan.

Jenderal Yevgeni Karpov menunggu sampai mereka sudah lepas dari lalu lintas utama di kawasan Moskow selatan dan berada di jalan raya ke Yasyenevo sebelum mulai bicara dengan Gregoriev. Rupanya, sopir berumur tiga puluh tahun itu tahu bahwa ia dengan sengaja diatur untuk bertemu dengan sang Jenderal dan ia ingin menyenangkan hati jenderal itu.

“Apa kau senang mengemudi untuk kami?”

“Sangat senang. Tuan.”

“Yah, kerja begini membuat kau bisa keluar-keluar, kukira. Lebih enak daripada pekerjaan di belakang meja.”

“Ya, Tuan.”

“Kudengar kau menyetir untuk temanku Kolonel Philby baru-baru ini.”

Hening sebentar. Sialan, dia sudah diberitahu untuk tidak mengatakannya, pikir Karpov.

“Er… ya. Tuan.”

“Dulu biasanya dia menyetir sendiri sebelum mendapat stroke.”

65

“Begitulah yang dikatakannya kepada saya. Tuan.”

Lebih baik dilanjutkan saja. “Ke mana saja kaubawa dia?”

Hening lebih lama. Karpov bisa melihat wajah sopir itu dari kaca spion, la nampak kualir dan bimbang.

“Oh, cuma sekitar Moskow saja, Tuan.”

“Di mana tepatnya di sekitar Moskow itu, Gregoriev?”

“Oh, tidak. Tuan. Cuma di sekitarnya saja.”

“Coba berhenti dulu di pinggir, Gregoriev.”

Mobil Chaika itu menyimpang keluar dari jalur tengah yang khusus, memotong lalu lintas yang bergerak ke selatan, dan berhenti di pinggir jalan.

Karpov mencondongkan badan ke depan. “Kau tahu aku ini siapa, Gregoriev?”

“Ya, Tuan.”

“Dan kau lahu pangkatku di KGB?”

“Ya, Tuan. Letnan Jenderal.”

“Kalau begitu jangan main main denganku, anak muda. Ke mana lepatnya kaubawa dia?”

Gregoriev menelan ludah. Karpov bisa melihat dia sedang bergumul dengan dirinya sendiri. Pertanyaannya adalah: siapa yang telah menyuruhnya untuk diam jika ditanya ke mana dia membawa Philby? Kalau Philby sendiri yang memerintahkan, Karpov lebih tinggi pangkatnya. Tapi kalau ilu diperintahkan oleh seseorang yang lebih tinggi… Pada kenyataannya. Mayor Pavlov-Iah yang mc-66

merinlahkan, dan ia telah membuat Gregoriev takut setengah mati. la memang cuma seorang mayor, lapi bagi orang Rusia orang-orang dari Direktorat Utama Satu tidak diketahui nilainya, sedangkan seorang mayor dari Pasukan Pengawal Kremlin…. Toh, jenderal tetap jenderal.

“Kebanyakan ke serangkaian pertemuan, Kamerad Jenderal. Ada yang di apartemen di pusat kota Moskow, tapi saya tidak pernah masuk ke dalam, jadi saya tidak tahu tepatnya apartemen yang mana yang dimasukinya.”

“Ada yang di pusat kota Moskow…. Dan lainnya?”

“Kebanyakan tidak. Tuan, selalu, saya kira—di dacha di luar Zhukovka.”

Kawasan Komite Sentral, pikir Karpov. Atau Soviet Tertinggi. “Tahukah kau dacha siapa ilu?”

“Tidak, Tuan. Sejujurnya. Ia cuma menunjukkan arah-arahnya. Lalu biasanya saya menunggu di mobil.”

“Siapa-siapa lagi yang muncul di pertemuan-pertemuan ilu?”

“Pernah salu kali. Tuan, ketika dua mobil tiba bersamaan. Saya melihat seseorang keluar dari mobil yang salu dan memasuki dacha itu….”

“Dan kau mengenali dia?”

“Ya, Tuan. Sebelum saya bergabung di pool mobil KGB, saya bekerja sebagai sopir di Angkatan Darat. Di tahun 1985 saya menjadi sopir seorang kolonel dari GRU. Kami ditugaskan di Kan—

67

dahar, di Afghanistan. Salu kali perwira ilu pernah duduk di kursi belakang dengan kolonel majikan saya. Dia adalah Jenderal Marchenko.”

Wah, wah, wah, pikir Karpov, teman lamaku Pyotr Marchenko, spesialis dalam destabilisasi. “Ada yang lain-lain di pertemuan-pertemuan ilu?”

“Hanya salu mobil lagi. Tuan. Kami para sopir suka ngobrol sedikit, sambil menunggu dan melewatkan waktu. Tapi dia memang brengsek. Yang bisa saya ketahui hanya bahwa ia menyetir untuk seorang anggota dari Akademi Ilmu Pengetahuan. Sejujurnya, Tuan, hanya itu yang saya ketahui.”

Teruskan menyetir, Gregoriev.”

Karpov menyandar ke belakang dan memandang pohon-pohon yang melaju lewat. Jadi, ada empat orang, yang mengadakan pertemuan untuk mempersiapkan sesuatu untuk sang Sekretaris Jenderal. Tuan rumahnya adalah seorang anggota Komite Sentral, atau barangkali Soviet Tertinggi, dan ketiga orang lainnya adalah Philby, Marchenko, dan seorang akademisi yang belum diketahui namanya.

Besok pagi, Jumat, para vlasti ini akan menyelesaikan pekerjaan rutin mereka secepat mungkin kemudian berlibur di dacha-dacha mereka. Karpov tahu bahwa Marchenko punya vila dekat Peredelkino, tidak jauh dari vilanya sendiri. Ia juga tahu kelemahan Marchenko, dan ia mendesah. Sebaiknya ia membawa brandy banyak-banyak. Akan berlangsung suatu perbincangan berat

68

Kepala Polisi Charlie Forbes mendengarkan semua keterangan Constable Craig dan McBain dengan serius, dan sesekali mengajukan pertanyaan dengan nada lembut Forbes tidak ragu bahwa mereka mengatakan yang sebenarnya, tapi ia sudah cukup lama bertugas di kepolisian sehingga tahu bahwa kebenaran lidak selalu bisa menyelamatkan seseorang.

Ini sungguh merupakan suatu kasus yang tidak enak. Secara teknis, orang Rusia itu sudah berada dalam perlindungan polisi, walaupun masih dalam perawatan di rumah sakit. Tak ada orang lain di puncak gedung ilu selain Constable Craig. Tidak ada alasan jelas mengapa orang ilu harus melompat Forbes bahkan lidak peduli mengapa, dengan anggapan, seperti anggapan orang lain juga, bahwa orang itu berada dalam keadaan sangat terguncang dan panik disebabkan oleh halusinasi sementara. Yang ada di dalam benaknya saat itu hanyalah kemungkinan-kemungkinan yang harus dihadapi polisi Strathclyde.

Ada kapal yang harus dilacak, kaptennya harus diwawancarai, identifikasi resmi atas jena/ah itu, Konsul Soviet diberitahu, dan tentunya harus ada siaran pers; pers sialan yang akan menyorot masalah itu dengan menggunakan unsur-unsur yang mengarah ke kebrutalan polisi. Yang paling menjengkelkan adalah, kalau nanti mereka mengajukan pertanyaan tajam, maka ia tidak akan bisa menjawab. Mengapa orang tolol itu melompat?

69

Pada jam selengah lima tidak ada lagi yang bisa dilakukan di rumah sakit itu. Roda penyelidikan akan menggelinding lagi nanti saat fajar merekah. Forbes memerintahkan mereka kembali ke divisi mereka masing-masing di markas besar. Pada jam enam kedua itu telah selesai dengan laporan mereka yang panjang dan Charlie Forbes sedang berada di kantornya menyelesaikan masalah-masalah yang menyangkut prosedur penyelidikan. Suatu pelacakan—mungkin sia-sia saja—dilakukan terhadap wanita yang menelepon ke nomor 999 itu. Pernyataan-pernyataan dicatat dari kedua petugas ambulans yang menjawab telepon McBain melalui pusat kontrol telepon di Divisi. Setidak-tidaknya ada satu hal yang pasti yaitu, pengeroyokan yang dilakukan para Ned terhadap orang itu.

Juru rawat di ruang gawat darurat telah menceritakan versinya; Dr. Mehta, yang pekerjaannya terganggu, juga telah membual pernyataan; petugas di front desk telah bersaksi melihat pria bertelanjang dada itu, dikejar Craig, lari melintasi ruang tunggu. Setelah itu, selama pengejaran ke puncak gedung, tak seorang pun melihat mereka.

Forbes telah mengidentifikasi satu-satunya kapal Soviet di pelabuhan sebagai kapal Akademik Komarov dan mengirimkan mobil polisi untuk meminta kaptennya mengidentifikasi jenazah ilu; ia telah membangunkan Konsul Soviet, yang akan datang ke kantornya pada jam sembilan—dengan membawa protes, pasti. Ia lelah mempersiapkan

70

bawahannya sendiri, seorang chief constable, dan pejabat pengatur masalah keuangan, yang kantornya, di Skotlandia, mencakup pula tugas-tugas pemeriksaan jenazah.

Barang-barang milik orang yang mati itu— “productions* ^telah dimasukkan ke dalam kantong dan akan dibawa ke kantor polisi Partick (pengeroyokan itu terjadi di Partick) untuk disimpan dan dikunci atas perintah pejabat pengatur keuangan itu, yang telah berjanji untuk memberi wewenang pemeriksaan mayat pada jam sepuluh pagi itu. Charlie Forbes merentangkan otot-ototnya dan menelepon kantin untuk memesan kopi dan kue-kue.

Sementara Kepala Polisi Forbes di markas besar Strathclyde di Pitt Street menyelesaikan administrasinya. Constable Craig dan McBain menandatangani laporan mereka di Divisi dan pergi ke kantin untuk sarapan pagi. Keduanya merasa cemas dan mereka menyatakan kecemasan mereka pada seorang sersan detektif tua dari divisi pakaian preman yang duduk di meja mereka. Setelah selesai sarapan, mereka minta izin dan diberi izin untuk pulang ke rumah dan tidur.

Sesuatu yang mereka katakan menyebabkan detektif itu pergi menelepon di telepon umum di aula di luar kantin. Orang yang diganggunya—saat itu wajahnya masih penuh dengan krim cukur— adalah Inspektur Detektif Carmichacl, yang me—

71

nyimak dengan cermat, menutup telepon itu, dan menyelesaikan bercukur sambil merenung-renung. Carmichael berdinas di Cabang Khusus.

Pada jam setengah delapan, Carmichael menghubungi inspektur kepala dari divisi berseragam yang akan menghadiri pemeriksaan mayat dan menanyakan apakah ia boleh ikut hadir di sana. “Silakan,” kata inspektur kepala itu. “Rumah mayat kota jam sepuluh.”

Di rumah mayat yang sama, pada jam delapan, kapten kapal Akademik Komarov, ditemani oleh pejabat politik yang selalu mengikutinya, menatap ke layar video di mana wajah rusak petugas geladak Semyonov segera muncul. Ia mengangguk perlahan dan menggumam dalam bahasa Rusia.

“Itu benar dia,” kata pejabat politik itu. “Kami ingin bertemu dengan konsul kami.”

“Ia akan berada di Pitt Street pada jam sembilan,” kata sersan yang berseragam yang menemani mereka. Kedua orang Rusia itu nampak terguncang dan bagai orang yang kalah. Pastilah sangat sedih kehilangan rekan sekapal yang akrab, pikir sersan itu.

Pada jam sembilan Konsul Soviet diantarkan ke dalam kantor di Pitt Street tempat kerja Kepala Polisi Forbes. Ia berbahasa Inggris dengan fasih. Forbes menyilakan dia duduk dan menceritakan peristiwa semalam. Sebelum dia selesai, konsul itu menukas marah.

“Ini keterlaluan,” orang Rusia itu memulai.

72

“Saya harus segera menghubungi Kedutaan Rusia di London….”

Ada ketukan di pintu dan kapten kapal Akademik Komarov bersama pejabat politiknya dipersilakan masuk. Sersan yang berseragam itu adalah pengawal mereka, tapi ada satu orang lagi yang menyertai mereka. Ia mengangguk kepada Forbes. “Pagi, sir. Anda berkeberatan kalau saya ikut duduk?”

“Silakan, Carmichael. Kurasa ini akan jadi masalah pelik.”

Tapi tidak. Pejabat politik itu baru sepuluh detik berada dalam ruang itu ketika ia menarik Konsul Soviet ke samping dan berbisik dengan marah di telinganya. Konsul ilu meminta maaf dan kedua orang itu mengundurkan diri ke lorong di luar. Tiga menit kemudian mereka kembali. Konsul ilu bersikap resmi dan sopan. Ia harus, tentu saja, menghubungi kedutaannya terlebih dulu. Ia merasa pasti bahwa polisi Strathclyde akan berupaya sekuat tenaga untuk menangkap berandal-berandal itu. Apakah mungkin jenazah pelaut itu, bersama semua barang miliknya, diangkut ke Leningrad dengan kapal Akademik Komarov, yang akan berlayar hari ilu?

Forbes bersikap sopan tapi keras. Penyelidikan polisi dan upaya unluk menangkap para penyerang itu akan dilanjutkan. Selama ilu, jenazah harus tetap disimpan di rumah mayat dan semua barang milik orang itu akan disimpan dalam tempat yang

73

terkunci di kantor polisi Partick. Konsul ilu mengangguk. Ia juga memahami arti prosedur. Akhirnya orang-orang Rusia itu pergi.

Pada jam sepuluh, Carmichael memasuki ruang postmortem (pemeriksaan mayat), tempat Profesor Harland sedang melakukan pembersihan. Perbincangan, seperti biasa, berkisar sekitar masalah-masatah cuaca, permainan golf, nilai-nilai kehidupan sehari-hari. Dua meter dari situ terbujur tubuh Semyonov, di atas sebuah papan datar, dalam keadaan luka-luka dan terkoyak.

“Bolehkah saya melihatnya?” tanya Carmichael. Ahli patologi dari kepolisian ilu mengangguk.

Selama sepuluh menit Carmichael mengamati apa yang masih bisa diamati dari tubuh Semyonov. Setelah meninggalkan rumah mayat, tepai pada saat profesor itu akan mulai melakukan pembedahan, ia lalu pergi ke kantornya di Pitl Street dan menelepon ke Edinburgh—atau lebih tepatnya, ke Departemen Perumahan dan Kesehatan Skotlandia, yang dikenal sebagai Scottish Office, di Saint Andrew’s House. Di sana ia berbicara dengan seorang pensiunan asisten komisaris yang berdinas di Scottish Office itu karena satu alasan: untuk bertindak sebagai penghubung dengan Ml 5 di London.

Pada lengah hari telepon berdering di kantor C5(C) di Gordon. Bright yang mengangkatnya, menyimak sebentar, dan mengacungkannya kepada

74

Preston. “Untuk kau. Mereka tidak mau berbicara dengan orang lain.” “Siapa itu?”

“Scottish Office, Edinburgh.”

Preston mengambil telepon itu. “John Preston…. Ya, selamat siang….” Ia mendengarkan selama beberapa menit, alisnya berkerut Ia menuliskan nama Carmichael pada secarik kertas. “Ya, saya kira sebaiknya saya ke sana. Bisakah Anda sampaikan kepada Inspektur Carmichael bahwa saya akan naik pesawat yang jam tiga, dan bisakah ia menjumpai saya di Glasgow Airport? Terima kasih.”

“Glasgow?” lanya Bright “Apa yang sedang mereka tangani?”

“Oh, seorang pelaut Rusia yang melompal dari puncak sebuah gedung, dan yang mungkin identitas aslinya berbeda dengan yang dibawa-bawa dia. Aku akan kembali besok. Mungkin tidak ada apa-apa. Tapi toh perlu ke sana, supaya aku bisa keluar sebentar dari kantor ini….”

14

Glasgow airport terletak dua belas kilometer di sebelah barat daya kota itu dan dihubungkan oleh jalan raya M8. Pesawat yang ditumpangi Preston mendarat pada jam setengah lima lewat sedikit, dan dengan hanya membawa satu tas tangan, ia sudah berada di ruang utama bandara itu sepuluh menit kemudian. Ia menuju Airport Information dan petugas memanggil “Mr. Carmichael”. Inspektur detektif dari Cabang Khusus itu muncul dan memperkenalkan diri. Lima menit kemudian, mereka sudah berada di mobil sang Inspektur dan meluncur di jalan raya yang menuju ke kota yang mulai gelap.

“Mari kita bicara sambil bermobil,” Preston mengusulkan. “Mulailah dari awal dan ceritakan apa yang lelah terjadi.”

Carmichael bercerita dengan sangat ringkas dan tepat Ada banyak celah yang tak bisa diisinya, tapi dia tadi punya waktu untuk membaca laporan kedua polisi itu, terutama yang ditulis oleh Con—

76

stable Craig, sehingga ia bisa menguraikan sebagian besar dari laporan tersebut Preston mendengarkan dengan berdiam diri.

“Apa yang membuat Anda menelepon Scottish Office dan meminta seseorang untuk datang dari London?” akhirnya ia bertanya.

“Saya mungkin keliru, tapi ada kemungkinan bahwa orang itu bukan pelaut kapal dagang,” kata Carmichael.

“Harap lanjutkan.”

“Ada sesuatu yang diucapkan Craig di kantin di Divisi pagi tadi,” kala Carmichael. “Saya sendiri lidak berada di sana, tapi ucapan itu didengar oleh seseorang dari CID, yang lalu menelepon saya. Apa yang dikatakan Craig, disetujui oleh McBain. Tapi keduanya tidak menyebutkan hal itu di dalam laporan resmi mereka. Anda tahu, laporan harus berdasarkan fakta; dan ini hanyalah perkiraan dari kedua polisi itu. Toh, kelihatannya ada manfaatnya untuk diselidiki.”

“Saya mendengarkan.”

“Kata mereka, ketika mereka menemukan pelaut itu, ia sedang meringkuk dalam posisi seperti bayi dalam kandungan, kedua tangannya memeluk kantong kanvas, yang ditekankannya ke perutnya. Ungkapan yang dipakai Craig adalah ‘ia melindungi barang itu seperti melindungi seorang bayi*.”

Preston langsung melihat keganjilannya. Jika seseorang sedang ditendangi sampai setengah mati, nalurinya adalah meringkuk seperti sebuah bola.

77

seperti yang dilakukan Semyonov, lapi ia akan menggunakan tangannya untuk melindungi kepala. Mengapa seseorang bersedia menerima tendangan-tendangan di kepalanya yang tak terlindung hanya supaya ia bisa melindungi kantong kanvas yang

tidak berharga?

“Selelah itu,” Carmichael melanjutkan, “saya mulai merasa heran mengingat tempat dan waktunya. Para pelaut di Pelabuhan Glasgow biasanya pergi ke Betty’s Bar atau Stable Bar. Orang ini berada enam kilometer jaujinya dari pelabuhan, menyusuri jalan yang entah menuju ke mana, lama setelah toko-toko tutup, dan tidak ada bar di sekitar situ. Apa sebenarnya yang akan dilakukannya di situ pada jam begitu?”

“Pertanyaan yang bagus,” kata Preston. “Selanjutnya?”

“Pada jam sepuluh pagi ini saya pergi ke tempat postmortem. Tubuh itu cukup terkoyak karena jatuh dari atas, tapi bagian depan wajahnya masih cukup baik kecuali ada beberapa luka. Sebagian besar pukulan para Ned mengenai belakang kepalanya dan badannya. Saya sering melihat wajah petugas dek kapal dagang sebelumnya. Biasanya wajahnya kasar dimakan cuaca, karena angin, kecoklatan, dan berkerut-kerut Orang ini wajahnya halus dan pucat—wajah orang yang tidak terbiasa dengan kehidupan di atas geladak.

“Lalu, tangannya juga. Mestinya kccoklatan di bagian punggungnya, kasar di bagian telapaknya.

78

Tangan-tangan itu nampak halus dan putih, sama sekali tidak seperti tangan seorang pekerja geladak. Akhirnya, giginya. Saya menduga seorang petugas geladak dari Leningrad pasti timbalan giginya dari amalgam (campuran logam) dan kalau ada gigi palsu pasti dari baja, cara Rusia. Orang ini gigi-giginya ditambal dengan emas dan ada dua yang dilapis dengan emas juga.”

Preston mengangguk menyatikan setuju. Carmichael sangat jeli dan teliti. Mereka sampai di tempat parkir hotel tempat Carmichael telah memesan kamar untuk Preston, untuk malam itu.

“Ini yang terakhir. Kecil, tipi barangkali ada artinya,” kata Carmichael. “Sebelum postmortem dilakukan. Konsul Soviet datang mengunjungi kepala polisi kami di Pill Street Dia hampir saja melancarkan protes ketika kapten kapal itu liba didampingi pejabat politiknya. Saya bersama mereka juga. Pejabat politik itu menarik konsul itu keluar dari ruangan dan mereka berbicara berbisik-bisik. Ketika konsul itu kembali ke ruangan, sikapnya berubah menjadi sopan dan penuh pengertian. Seakan pejabat politik itu telah mengatakan kepadanya, sesuatu tentang orang yang mati itu. Saya memperoleh kesan bahwa mereka tidak ingin menyebabkan timbulnya gelombang sampai mereka menghubungi kcdutian mereka di London.”

“Apa Anda telah mengatakan kepada seseorang di cabang berseragam bahwa saya akan datang?” tanya Preston.

79

“Belum,” jawab Carmichael. “Apa Anda ingin saya melakukan itu?”

Preston menggelengkan kepala. “Tunggu saja sampai esok pagi. Akan kita putuskan saat itu. Mungkin tidak ada apa-apanya.”

“Ada lagi yang Anda perlukan?”

“Copy dari berbagai laporan ilu—semuanya, kalau Anda bisa memperolehnya. Dan daftar barang-barang milik korban. Ngomong-ngomong, ilu semua ada di mana?”

“Disimpan dalam tempat terkunci di kantor polisi Partick. Saya akan mengupayakan copy-copy itu dan mengirimkannya ke sini nanti”

Jenderal Karpov menelepon seorang teman di GRU dan mengarang cerita bahwa salah satu kurirnya telah membawakan untuknya beberapa botol brandy Prancis dari Paris. Ia sendiri tidak pernah minum brandy, tapi ia pernah berutang budi pada Marchenko. Ia akan mengirimkan brandy itu ke dacha Marchenko di akhir pekan. Ia hanya perlu tahu apakah ada orang di sana yang akan menerimanya. Apakah temannya itu punya nomor vila Marchenko yang di Percdclkino? Teman GRU itu ternyata punya. Ia memberikannya kepada Karpov dan tidak berpikir lagi tentang itu.

Di kebanyakan dacha milik para penguasa Soviet selalu ada seorang pengurus rumah atau pelayan pria yang tinggal di situ selama bulan-bulan musim dingin, untuk menjaga agar perapian tetap

80

menyala sehingga akhir pekan sang pemilik tidak dimulai dengan rasa dingin yang menggigit tulang. Adalah pengurus rumah Marchenko yang menjawab telepon Karpov. Ya, jenderal itu benar akan datang esoknya, hari Jumat; biasanya ia tiba di sana sekitar jam enam petang. Karpov mengucapkan terima kasih dan menutup telepon. Ia memutuskan akan menyuruh sopirnya pulang, menyetir sendiri, dan membuat kejutan bagi jenderal GRU itu pada jam tujuh.

Preston tidak bisa memejamkan mala di tempat tidurnya, berpikir-pikir. Carmichael telah membawakan semua laporan yang diambil dari rumah sakit Western Infirmary dan dari Divisi. Seperti semua catatan polisi, laporan-laporan itu ditulis dengan kaku dan resmi, sama sekali berbeda dengan cara orang bertutur mengenai apa yang telah dilihat dan didengarnya. Semua fakta ada di sana, tentunya, tapi kesan-kesannya tidak ada.

Apa yang tidak bisa diketahui oleh Preston, karena Craig tidak menyebutkannya dan juru rawat itu tidak melihatnya, adalah bahwa sebelum berlari ke arah lorong di antara ruang-ruang pemeriksaan itu, Semyonov telah merampas kaleng tembakau bundar itu. Craig cuma menyalakan dengan singkat bahwa orang yang terluka itu “menyerobot melewati saya”.

Juga daftar barang milik itu—productions—tidak terlalu membantu. Disebutkan ada kaleng tem—

81

bakau bundar dan “isinya-—yang bisa saja cuma dua ons tembakau shag.

Preston mengutak-atik berbagai kemungkinan di benaknya. Pertama: Semyonov adalah seorang agen ilegal yang disusupkan ke Inggris. Kesimpulan: Sangat kecil kemungkinannya. Namanya ada pada daftar awak kapal dan akan kentara kalau dia tidak ikut balik ke Leningrad bersama kapal itu.

Baiklah. Kedua: Ia dimaksudkan tiba di Glasgow dengan kapal itu, dan berangkat lagi dengan kapal yang sama pada Kamis malam. Apa yang dilakukannya di malam buta di pertengahan Great Western Road? Menyampaikan kiriman atau melakukan rendezvous? Bagus. Atau malahan menjemput bingkisan yang akan dibawanya kembali ke Leningrad? Lebih bagus lagi. Tapi setelah itu, habis sudah kemungkinan-kemungkinan yang bisa digali Preston.

Seandainya Semyonov telah menyampaikan apa yang harus disampaikannya, mengapa ia berusaha melindungi kantong kanvas itu seakan hidupnya tergantung pada itu? Padahal barangkali kantong ilu sudah lak ada Isinya yang penting.

Seandainya ia datang untuk menjemput sesuatu, lapi belum sempat melakukannya, maka logika yang sama bisa diterapkan. Kalau ia sudah menjemput sesuatu, mengapa tak ada sesuatu yang nampak penting, seperti misalnya setumpuk kertas, yang bisa ditemukan di tubuhnya?

Seandainya barang yang akan disampaikan atau

82

dijemputnya ilu bisa disembunyikan di tubuhnya, mengapa ia perlu membawa kantong kanvas itu? Kalau ada sesuatu yang dijahitkan pada anorak-nya atau celananya atau disembunyikan di tumit sepalunya, mengapa tidak dibiarkannya saja para Ned itu mengambil kantong kanvasnya, yang memang mereka inginkan? Dengan begitu ia akan terhindar dari pemukulan, dan bisa melakukan rendczvous-nya atau kembali ke kapalnya (ke arah mana pun yang sedang ditujunya) dengan hanya sedikit terluka.

Preston menggali beberapa kemungkinan lagi dalam benaknya. Semyonov datang sebagai kurir untuk sebuah rendezvous tatap muka dengan seorang agen ilegal Soviet yang sudah menetap di Inggris. Untuk menyampaikan pesan lisan? Tidak mungkin; ada berbagai cara yang lebih baik untuk menyampaikan informasi dengan kode rahasia. Untuk menerima laporan lisan? Sama juga. Untuk bertukar kedudukan dengan seorang ilegal yang menetap, untuk menggantikan tempatnya? Tidak, foto yang ada di buku pelautnya itu jelas-jelas memang Semyonov. Seandainya dia memang dimaksudkan untuk bertukar posisi dengan seorang ilegal, Moskow pasti lelah memberi dia buku duplikat dengan foto yang cocok, supaya orang yang digantikannya itu bisa keluar dengan kapal Akademik Komarov sebagai petugas geladak Semyonov. Buku yang kedua itu pasti akan ditemukan di tubuhnya. Kecuali jika dijahilkan di

83

pinggiran… pinggiran apa? Pinggiran jasnya? Kalau begitu, .mengapa dia menahan pukulan untuk melindungi kantong kanvas itu? Apakah buku tersebut disembunyikan di alas kantong kanvas? Itu lebih mungkin.

Semua kemungkinan nampaknya kembali lagi ke kantong kanvas itu. Saat tengah malam hampir tiba, Preston menelepon Carmichael di rumahnya.

“Bisakah Anda menjemput saya jam delapan esok pagi?” ia bertanya. “Saya bermaksud pergi ke Partick dan melihat barang-barang milik korban.”

•••

Saat makan pagi hari Jumat itu, Yevgeni Karpov bertanya pada istrinya, Ludmilla, “Bisakah kaubawa anak-anak keluar ke dacha dengan Volga sore ini?”

“Tentu. Kau akan menyusul langsung setelah pulang dari kerja?”

Ia mengangguk, setengah melamun. “Aku akan terlambat Aku harus menjumpai seseorang dari GRU.”

Ludmilla Karpov diam-diam mengeluh. Ia tahu, Karpov memelihara seorang sekretaris montok di sebuah apartemen kecil di Distrik Arbat Ia tahu, sebab istri-istri suka bergunjing, dan dalam masyarakat yang begitu terkotak-kotak seperti masyarakatnya, kebanyakan temannya adalah istri para

84

pejabat yang berpangkat sejajar. Ia juga tahu bahwa suaminya tidak tahu ia tahu.

Ia berumur lima puluh tahun dan mereka sudah menikah selama dua puluh delapan tahun. Perkawinan mereka cukup baik, mengingat pangkat yang dicapai Karpov, dan ia adalah seorang istri yang baik. Seperti wanita-wanita lain yang menikah dengan pejabat FCD (Direktorat Utama Satu), ia tidak ingat lagi berapa banyak malam yang dilewatkannya dengan menunggu kepulangan suaminya, sementara suaminya sedang berada di ruang rahasia kedutaan di negeri asing. Ia selalu menahan diri menghadapi kebosanan-kebosanan yang terus-menerus dirasakannya saat menghadiri pesta-pesta cocktail diplomatik yang tak terhitung banyaknya. Ludmilla tidak bisa berbahasa asing, sementara suaminya dengan luwes dan ramah berjalan berkeliling, fasih berbahasa Inggris, Prancis, dan Jerman, dan melaksanakan pekerjaannya dalam penyamaran tugasnya di kedutaan.

Ia tidak bisa menghitung lagi minggu-minggu yang dilewatkannya seorang diri, ketika anak-anak masih kecil dan Karpov masih seorang perwira junior, rumah mereka hanyalah sebuah apartemen yang kecil dan sempit tanpa pembantu, sementara Karpov sedang dalam perjalanan, atau menunaikan tugas, atau sedang berdiri di bawah bayang-bayang Tembok Berlin menantikan seorang kurir yang akan pulang ke Timur.

Ia telah mengenal kepanikan dan ketakutan yang

85

dirasakan oleh orang yang bahkan tidak bersalah, yaitu kata u;—di sebuah pos di negara asing—salah seorang rekan Karpov menyeberang ke Barat, dan orang-orang KR (kontra-intelijen) menanyai dia selama berjam-jam tentang apa yang mungkin telah dikatakan orang itu atau istrinya kepadanya. Saat itu ia memandang dengan rasa kasihan pada istri si pembelot, seorang wanita yang dikenalnya dengan baik tapi yang sekarang ia tak berani mendekatinya, yang dikawal keluar menuju pesawat Aeroflot yang menunggunya. Memang ini risiko pekerjaan, demikian kata Karpov setiap kali ia menghiburnya.

Itu sudah lama lewat Sekarang Zhenia-nya sudah menjadi jenderal; apartemen di Moskow itu sejuk dan luas; ia telah membual dacha mereka menjadi cantik dalam cara yang disukai suaminya, dengan kayu cemara dan permadani, nyaman tapi bersuasana pedesaan. Dua anak laki-laki merupakan kebanggaan mereka; keduanya sudah di universitas, satu akan menjadi dokter, dan satunya lagi akan menjadi ahli fisika. Tidak akan ada lagi apartemen-apartemen kedutaan yang mengerikan, dan liga tahun lagi Karpov akan pensiun dengan diberi penghargaan dan dana pensiun yang banyak. Jadi, kalau ia sedikit bersenang-senang satu malam setiap minggunya, ia tidak berbeda dengan kebanyakan rekan seumurnya. Mungkin itu lebih baik daripada kalau suaminya menjadi seorang pemabuk konyol, seperti beberapa rekannya, atau

86

seorang mayor yang dikirim ke salah satu republik di Asia yang terkutuk, untuk mengakhiri kariernya di sana. Toh, ia tetap mengeluh di dalam hati.

Kantor polisi Partick bukanlah bangunan yang paling memikat di kota Glasgow yang cantik, tapi Carmichael dan Preston tidak sedang melakukan wisata untuk mengagumi arsitektur kota. Mereka lebih tertarik pada productions dari peristiwa pengeroyokan/bunuh diri di malam sebelumnya, yang lelah ditangani oleh kantor polisi setempat Sersan yang bertugas di meja penerima tamu mengalihkan tugasnya pada seorang constable dan ia mengantarkan mereka ke belakang, di mana ia lalu membuka kunci sebuah pintu ruangan yang penuh dengan filing cabinet Tanpa menunjukkan keheranan, ia menerima kartu Carmichael dan percaya akan penjelasannya bahwa ia dan rekannya harus memeriksa productions itu untuk melengkapi laporan mereka, bahwa orang yang mati ilu adalah pelaut asing dan sebagainya. Sersan itu tahu tentang laporan-laporan; ia menghabiskan separo hidupnya dengan menyusun laporan-laporan. Tapi ia meninggalkan ruangan itu sementara mereka membuka kantong-kantong dan memeriksa isinya.

Preston memulai dengan sepatu, memeriksa kemungkinan tumit palsu, sol yang bisa dicopot, atau rongga di ujung sepatu, di bagian jari-jari. Tidak ada apa-apa. Kaus kaki diperiksa dengan lebih cepat, begitu juga celana dalam. Arloji itu—bagian

87

belakangnya dicopotnya—tapi itu hanya arloji biasa. Pemeriksaan celana panjang makan waktu lebih lama; ia meraba semua kelim dan jahitan pinggir, mencari-cari jahitan baru atau sesuatu yang tebal yang bukan disebabkan oleh lipatan ganda bahan tekstilnya. Tidak ada apa-apa.

Sweater berleher tinggi yang dipakai orang itu gampang diperiksa; tidak ada kelim dan tidak ada kertas yang disembunyikan atau benjolan keras, la menghabiskan waktu lebih banyak ketika memeriksa anorak, tapi tetap saja tidak ada hasilnya. Ketika sampai pada kantong kanvas, ia bertambah yakin bahwa kalau Kamerad Semyonov yang misterius memang membawa sesuatu, maka jawabannya terletak di sini.

Ia mulai dengan sweater tergulung yang tadinya ada di dalam kantong kanvas, lebih untuk menyingkirkan berbagai kemungkinan dan bukan untuk maksud lain. Ternyata bersih. Lalu ia mulai menggarap kantong kanvas itu sendiri. Selengah jam kemudian berubah ia puas dan yakin bahwa alasnya hanyalah sebuah lempeng kanvas yang dijahit ganda, sisi-sisinya dari kanvas tunggal, dan lubang-lubang logam di bagian alasnya bukanlah transmiter mini dan tali penutupnya bukan antene rahasia.

Jadi tinggal kaleng tembakau ilu. Kaleng itu buatan Rusia, sebuah kaleng biasa yang tutupnya bersekrup dan masih menyebarkan aroma tembakau yang tajam. Kapas itu benar kapas, lalu ting—

88

gal tiga disk atau lempeng logam itu: yang dua mengkilap, seperti aluminium, ringan sekali; yang satu kusam dan berat, seperti timah. Ia duduk menatap ketiganya sebentar setelah diletakkan di atas meja; Carmichael memandangnya, dan sersan ilu memandang ke lantai.

Yang membingungkan bukannya karena lempeng-lempeng itu merupakan sesuatu; yang membingungkan adalah bahwa lempeng-lempeng ilu tidak menyerupai apa pun. Lempeng-lempeng aluminium ilu tadinya berada di atas dan di bawahnya terletak lempeng yang berat itu; yang berat garis tengahnya lima sentimeter, dan yang ringan tujuh setengah sentimeter. Ia berusaha membayangkan apa fungsi yang mungkin dipunyai oleh lempeng-lempeng ilu, dalam komunikasi radio, dalam menerapkan kode atau memecahkan kode, dalam fotografi. Dan jawabannya adalah—tidak ada. Ilu cuma lempeng logam biasa. Toh, ia masih saja yakin sekali bahwa orang itu memilih mati daripada membiarkan lempeng itu jatuh ke tangan para Ned—yang barangkali hanya akan membuangnya ke selokan—atau membiarkan dirinya tertangkap dan diinterogasi tentang lempeng ilu.

Presion bangkit dan mengusulkan makan siang. Sersan itu, yang merasa ia telah membuang waktu sia-sia pagi ilu, mengembalikan barang-barang ilu ke kantong-kantongnya semula dan menguncinya di dalam filing cabinet Lalu ia mengantarkan mereka keluar.

89

Selama makan siang di Pond Hotel—Preslon telah mengusulkan agar mereka naik mobil melewati tempat terjadinya pengeroyokan—ia minta diri untuk menelepon. “Barangkali agak lama,” katanya kepada Carmichael. “Minumlah brandy Sassenach s.”

Carmichael menyeringai. “Akan saya lakukan, dan saya akan membuat toast untuk Bannock-burn.”

Tanpa terlihat dari dalam ruang makan itu, Preston meninggalkan hotel dan berjalan menuju bengis.’ Ťd?.? pompa bensin BP, dia membeli keperluan-keperluan kecil di toko yang bersebelahan dengannya. Ia lalu berjalan balik ke hotel dan menelepon ke London, la memberikan kepada asistennya. Bright, nomor telepon kantor polisi Partick dan mengatakan kepadanya dengan tepat jam berapa ia ingin ditelepon balik.

Setengah jam kemudian, Preston dan Carmichael sudah kembali ke kantor polisi lagi, sersan itu sambil mengomel mengantarkan mereka sekali lagi ke ruangan tempat barang-barang milik korban disimpan. Preslon duduk di belakang meja yang menghadap ke telepon dinding di seberang ruangan. Di depannya, di atas meja, ia meletakkan pakaian-pakaian dari kantong-kantong ilu dan membentuknya seperti barikade. Pada jam tiga telepon berdering; pusat kontrolnya menunjukkan telepon ilu datang dari London. Sersan itu yang mengangkatnya.

90

“Untul* Anda, sir. London bicara,” katanya pada Preslon.

“Bisakah Anda menjawabnya?” Preslon meminta Carmichael. “Coba lihai apakah ilu penting.”

Carmichael bangkit dan melintasi ruangan ke tempat sersan itu masih memegangi telepon. Untuk sesaat kedua pria Skotlandia itu menghadap ke dinding.

Sepuluh menit kemudian Preston sudah selesai dengan semua yang ingin dilakukannya. Carmichael mengantarkannya ke bandara.

“Saya akan mengirimkan laporan, tentu saja,” kata Preston. “Tapi saya tidak mengerti mengapa orang Rusia itu begitu cemas. Berapa lama barang-barang milik korban akan dikunci di Partick?”

“Oh, masih berminggu minggu lagi. Konsul Soviet telah diberitahu tentang ilu. Pencarian gerombolan Ned itu masih terus dilakukan, tapi akan makan waktu lama. Mungkin kami akan menangkap salah satu dari mereka dengan tuduhan lain supaya ia mau ‘menyanyi’. Tapi saya meragukan itu.”

Preston melakukan check in untuk pesawatnya, la diminta naik dengan segera.

“Anda tahu, konyolnya adalah,” kata Carmichael saat ia mengantarkan Preslon, “seandainya si Rusia itu bersikap tenang-tenang saja, kami pasti sudah mengantarkan dia kembali ke kapalnya dengan

91

permintaan maaf kami—dia dan mainannya yang kecil-kecil itu.”

Saat pesawat naik ke angkasa, Preston pergi ke toilet untuk bisa berada sendiri, dan ia mengamati ketiga lempeng yang telah dibungkusnya dalam saputangannya. Masih saja lempeng-lempeng itu belum berarti apa-apa baginya.

Ketiga benda kecil yang diperolehnya dari toko bengkel di sebelah pompa bensin dan yang ditukarnya dengan “mainan kecil” Rusia ilu akan bertahan untuk sementara waktu. Sementara itu ada seseorang yang akan dimintanya memeriksa lempeng-lempeng logam itu. Orang itu bekerja di luar kota London, dan Bright seharusnya sudah meminta dia untuk menunggu di petang hari Jumat itu sampai Preston tiba.

Karpov tiba di dacha Jenderal Marchenko saat hari sudah gelap, pada jam tujuh lebih sedikit Pintu dibukakan oleh ajudan sang Jenderal, yang mengantarkan dia ke ruang duduk. Marchenko sudah berdiri dan nampak terkejut dan senang melihat temannya dari dinas intelijen yang lain yang lebih besar. “Yevgeni Scrgcivitch,” ia berseru. “Apa yang membawamu ke gubukku yang jelek ini?”

Karpov membawa tas belanjaan di tangannya, la mengacungkannya dan melongok ke dalamnya. “Salah satu anak buahku baru saja kembali dari Turki, lewat Armenia,” katanya. “Anak pintar, ia

92

tak pernah pulang dengan tangan kosong. Karena tak ada yang bisa dibeli di Anatolia, ia singgah di Erevan dan memasukkan ini ke dalam kopernya.” la mengeluarkan satu dari empat botol yang ada di dalam tas itu, yang terbaik dari semua brandy Armenia.

Mata Marchenko berbinar. “AkJitamarr ia berseru. “Hidup FCD! Selalu terbaik untuk FCD.”

“Nah,” Karpov melanjutkan dengan santai, “aku tadi sedang dalam perjalanan menuju vilaku, dan aku berpikir: Siapa yang sekiranya mau minum segelas Akhtamar untuk merayakan ini? Dan muncullah jawabannya: Pyolr Marchenko sahabatku. Jadi kubelokkan mobilku. Apa sebaiknya kita coba cicipi?

Marchenko tertawa berderai-derai. “Sasha! Minta gelas!” ia berseru.

••

Preston mendarat pada jam lima kurang sedikit, mengambil mobilnya dari titipan mobil jangka pendek, lalu menuju jalan raya M4. Dia tidak berbelok ke timur ke arah London, tapi mengambil jalur barat yang menuju Berkshire. Tiga puluh menit kemudian ia sampai ke tujuannya, sebuah lembaga yang terletak di pinggiran desa Aldcrmaston.

Dikenal sebagai “Aldcrmaslon”, Lembaga Riset Senjata Atom (Atomic Weapons Research Estab-

>—’

93

lishmcni) yang sering menjadi bulan-bulanan para pengunjuk rasa pro-perdamaian ini sebenarnya merupakan suatu lembaga mulli-disiplin. Pekerja-pekerjanya memang merancang dan membuat senjata-senjata nuklir, tapi lembaga ini juga mempunyai peneliti-peneliti kimia, fisika, peledak konvensional, teknik, matematika murni dan terapan, radiobiologi, kedokteran, standar kesehatan dan keamanan, dan elektronika. Di samping ilu, ia memiliki departemen metalurgi yang sangat baik.

Bertahun-tahun sebelumnya, salah satu ilmuwan yang bermukim di Aldermaston memberikan ceramah pada sekelompok pejabat dinas intelijen di Ulster mengenai jenis-jenis logam yang digemari oleh para pembuat bom IRA dalam menciptakan peralatan mereka. Preston saat ilu hadir sebagai pendengar dan masih ingal nama ilmuwan tersebut

Dr. Dafydd Wynne-Evans sedang menunggunya di mulut lorong. Preston memperkenalkan diri dan mengingatkan Dr. Wynne-Evans tentang ceramahnya bertahun-tahun yang lalu.

“Well, well, luar biasa daya ingat Anda,” kata ilmuwan itu dengan aksen Welsh yang berirama naik-turun. “Baiklah, Mr. Preston, apa yang bisa saya bantu?”

Preston meraba-raba sakunya, mengeluarkan saputangannya, dan mengulurkannya untuk menunjukkan ketiga lempeng bundar yang terbungkus di dalamnya. “Ini diambil dari seseorang di Glas—

94

gow,” katanya. “Saya sungguh tidak tahu ini apa. Saya ingin tahu ini apa dan apa fungsinya.”

Doktor itu mengamatinya dengan cermat “Dipakai untuk maksud jahat, begitu pikir Anda?”

“Boleh jadi.”

“Sulit dipastikan tanpa dites terlebih dulu,” kata ahli metalurgi ilu. “Begini, saya ada acara makan malam nanti dan pesta pernikahan putri saya besok. Apa bisa tesnya saya lakukan hari Senin dan menghubungi Anda setelah itu?”

“Senin tak jadi masalah,” kata Preston. “Sebenarnya, saya akan cuti beberapa hari. Saya akan berada di rumah. Bolehkah saya beri Anda nomor telepon yang di Kensington?”

Dr. Wynne-Evans bergegas ke lantai atas, mengunci lempeng-lempeng logam bundar itu di lemari besinya untuk malam ilu, mengucapkan salam kepada Preslon, dan bergegas pergi untuk menghadiri acara makan malamnya. Preston mengendarai mobilnya menuju London.

Sementara Preston berada di jalan, slasiun radio penerima di Menwith Hill di Yorkshire menangkap squirt—sebuah bunyi lengking tunggal dari sebuah transmiter rahasia. Menwith-lah yang menangkapnya terlebih dahulu, tapi Brawdy di Wales dan Cbicksands di Bedfordshire juga menangkap bunyi itu dan komputernya mencatat nada-nada silangnya. Sumbernya ternyata di daerah bukit-bukit di sebelah utara Sheffield.

95

Ketika pojisi Sheffield tiba di sana, titik lokasi itu ternyata terletak di tepi jalan yang sepi, antara Bamsley dan PontcfracL Tidak ada orang di sana.

Tak lama kemudian, petang itu juga, salah satu petugas jaga di GCHQ Cheltenham melapor di kantor petugas kepala.

“Orangnya sama,” kata petugas itu. “Ia pasti naik mobil dan punya peralatan canggih. Ia hanya mengudara selama lima delik, dan nampaknya sandinya tak teruraikan. Pertama Distrik Derbyshire Peak, sekarang bukit-bukit Yorkshire. Kelihaiannya dia beroperasi di kawasan Midlands utara.”

“Terus ikuti dia,” kata sang kepala. “Sudah berpuluh tahun kita tidak melihat transmiter pasif tiba-tiba jadi aktif. Aku ingin tahu apa sebenarnya yang disampaikannya.”

Apa yang telah disampaikan Mayor Valcri Petrofsky, yang ditransmisikan oleh operatornya setelah dia lama pergi, adalah: Kurir Dua tidak pernah muncul. Ben kahar secepatnya kapan pengganti tiba.

Botol pertama brandy Akhtamar nampak berdiri di meja dalam keadaan kosong, dan yang kedua juga sudah mulai digarap. Marchenko merah wajahnya, tapi ia bisa menenggak dua botol dalam sehari jika suasana hatinya sedang bagus, jadi dia masih bisa mengendalikan diri.

Karpov, walaupun dia jarang minum untuk kenikmatan, dan lebih jarang lagi minum sendirian.

96

telah menyesuaikan perutnya selama bertahun-tahun berdinas di kalangan diplomatik. Ia tetap bisa berpikir jernih walaupun banyak minum. Kecuali itu, tadi dia telah memaksakan makan seperempat kilogram mentega putih sebelum meninggalkan Yasyenevo, dan meskipun rasanya tadi ia hampir tercekik, lemak mentega itu kini melindungi perutnya dan menyerap efek-efek yang ditimbulkan minuman beralkohol.

“Apa yang kaukerjakan akhir-akhir ini, Petya?” ia bertanya, dengan sengaja menggunakan sebutan dengan singkatan nama yang kedengaran lebih akrab.

Mata Marchenko menyipit. “Mengapa kau bertanya?”

“Ayolah, Petya, kita kan sudah berteman lama sekali. Ingat waktu kuselamatkan kau di Afghanistan liga tahun yang lalu? Kau berutang budi padaku. Apa yang sedang terjadi sebenarnya?”

Marchenko ingat itu. Ia mengangguk dengan muram. Pada tahun 1984 ia mengepalai sualu operasi besar-besaran GRU melawan para pemberontak muslim dekat Khyber Pass. Ada salu pemimpin gerilya yang menonjol yang melancarkan serangan-serangan ke Afghanistan, dengan menggunakan kamp-kamp pengungsi di Pakistan sebagai basisnya. Marchenko saat itu dengan nekat mengirimkan sepasukan penggempur melewati perbatasan untuk menangkap dia. Pasukan ini mengalami musibah. Orang-orang Afghanistan pro-97

Soviet itu telah diketahui penyamarannya oleh kaum Pathan dan dibunuh dengan cara mengerikan. Satu-satunya orang Rusia yang berada bersama mereka untung sekali masih hidup; kaum Pathan itu lalu menyerahkan dia ke tangan para pejabat Pakistan di Distrik Perbatasan Barat Laut karena mengharapkan bisa ditukar dengan senjata.

Marchenko saat itu berada dalam posisi yang amat berbahaya. Ia meminta pertolongan pada Karpov, yang saat itu menjabat kepala Direktorat Ilegal, dan Karpov mengirimkan salah satu agen Pakistan-nya yang terbaik di Islamabad untuk melakukan tugas yang sangat berbahaya, yaitu menyeberangkan orang Rusia itu kembali melewati perbatasan. Kalau tidak, bisa saja terjadi insiden internasional yang menghancurkan karier Marchenko, dan ia mungkia akan berada dalam daftar pejabat Soviet yang kariernya runtuh di negeri neraka itu.

“Ya, baiklah, aku tahu aku berutang padamu, Zhcnia, lapi jangan tanya apa yang kukerjakan beberapa minggu terkhir ini. Tugas khusus, sangat khusus. Top secret— tahu apa maksudku?” Ia mengetuk sisi hidungnya dengan telunjuknya yang mirip sosis dan mengangguk dengan muram.

Karpov mencondongkan tubuhnya ke depan dan mengisi kembali gelas jenderal GRU itu dengan brandy dari botol ketiga. “Tentu saja aku tahu, maafkan pertanyaanku tadi,” katanya dengan man—

98

tap. “Aku tak akan menyebut-nyebut itu lagi. Tak akan menyebut-nyebut operasi itu lagi.”

Marchenko menggerak-gerakkan jarinya lidak setuju. Matanya merah. Ia mengingatkan Karpov akan seekor babi hutan yang terluka di semak-semak, otaknya kabur karena alkohol, bukan karena rasa sakit atau kehilangan darah—lapi toh tetap saja ia masih berbahaya. “Bukan operasi… tidak ada operasi… dibatalkan. Disumpah untuk lutup mulut… kami semua. Sangat tinggi di ‘-s… lebih tinggi daripada yang bisa kaubayangkan. Jangan menyebut-nyebut itu lagi, ya?”

“Mimpi pun aku tak berani,” kata Karpov, sambil mengisi gelas-gelas itu lagi. Ia memanfaatkan keadaan mabuk Marchenko dengan menuangkan lebih banyak brandy ke gelas Marchenko daripada ke gelasnya sendiri, tapi ia toh merasa sudah mulai sulit memfokuskan gerakannya.

Dua jam kemudian, botol Akhtamar terakhir sudah terminum sepertiganya. Marchenko sudah loyo, dagunya menempel di dada. Karpov mengangkat gelasnya mengajak toast untuk yang ke-sekian kalinya. “Ini untuk melupakan segalanya.”

“Melupakan?” Marchenko menggelengkan kepala tidak mengerti. “Aku lidak apa-apa. Bisa minum dengan kalian berandal-berandal FCD di bawah meja, kapan Saja. Tidak perlu dilupakan….”

“Bukan begitu,” Karpov meluruskan. “Melupakan rencana itu. Kan itu yang harus kita lupakan?”

99

“Aurora? Benar, lupakan ilu. Meskipun gagasan bagus sebenarnya.”

Mereka minum lagi. Karpov mengisi gelas lagi. “Terkutuklah mereka semua,” ia memancing. “Terkutuklah Philby… dan para akademisi itu.”

Marchenko mengangguk setuju, brandy yang tumpah dari mulutnya meneles-netes dari gelambir di dagunya.

“Krilov? Si brengsek. Lupakan mereka semua.”

Jam menunjukkan tengah malam ketika Karpov berjalan terhuyung-huyung ke mobilnya, la menyandar pada sebatang pohon, menusukkan dua jarinya ke tenggorokannya, dan memuntahkan apa yang bisa dimuntahkannya ke atas salju. Menghirup udara malam yang beku cukup melegakan dadanya, tapi menyetir mobil ke dacha-nya sama saja dengan bunuh diri. Tapi toh ia berhasil mencapai dacha-nya dengan bumper penyok dan dua guratan besar di body mobilnya. Ludmilla yang belum tidur, mengenakan housecoat, dan ia mengantarkan suaminya ke tempat tidur, amat cemas karena mengira bahwa Karpov menyetir sendiri dari Moskow dalam keadaan seperti itu.

Di pagi hari Sabtu, John Preston naik mobil ke Tonbridgc untuk menjemput putranya. Tommy. Seperti biasanya, kalau ayahnya menjemputnya dari sekolah, anak itu berbicara dengan penuh semangat, tentang semester yang baru lewat, apa yang akan terjadi pada semester berikutnya,

100

rencana-rencana selama liburan yang baru saja mulai, pujian-pujian terhadap para sahabatnya dan sifat-sifat baik mereka, dan keluhan-keluhan mengenai orang-orang yang tidak disukainya.

Bagi Preslon, perjalanan balik ke London merupakan suatu kebahagiaan, la menyebutkan berbagai rencananya selama satu minggu yang akan mereka lewati bersama dan merasa gembira karena Tommy rupanya menyetujuinya. Wajah anak itu hanya sekali berubah muram ketika teringat bahwa ia akan diantarkan kembali, seminggu kemudian, ke apartemen Mayfair yang cantik dan sangat mewah di mana Julia tinggal dengan kekasihnya, seorang pengusaha pakaian jadi. Laki-laki itu cukup tua untuk menjadi kakek Tommy, dan Preston menduga bahwa kalau hubungan mereka terganggu, maka itu akan menyebabkan suasana menjadi rusak.

“Dad,” kata Tommy saat mereka meluncur melewati Vauxhall Bridge, “mengapa aku lak bisa tinggal dengan Daddy seterusnya?”

Preslon menghela napas. Tidak mudah menjelaskan perpecahan dalam pernikahan, atau harga yang harus dibayar untuk itu, kepada seorang anak berumur dua belas tahun. “Karena,” kalanya dengan hati-hati, mmummy-mu dan Archie belum benar-benar menikah. Kalau aku memaksakan perceraian resmi, Mummy bisa saja menuntut dan memperoleh allowance—tunjangan—dariku yang disebut maintenance. Ini tidak bisa kutanggung karena

101

gajiku kecil. Paling lidak, lidak akan cukup unluk memenuhi kebuluhanku sendiri, biaya sekolahmu, dan mummy-mu. Tidak akan cukup untuk semua itu. Dan jika aku tidak mampu membayar allowance itu, pengadilan bisa saja memutuskan bahwa paling baik kau harus tinggal dengan mummy-mu. Kalau begitu maka kita lidak akan bisa bertemu sesering yang kita lakukan sekarang ini.”

“Aku tidak tahu bahwa masalahnya ternyata uang,” kala anak itu dengan sedih.

“Pada akhirnya, kebanyakan masalah akan sampai ke uang. Menyedihkan, tapi benar. Bertahun-tahun yang lalu, seandainya aku bisa menunjang suatu kehidupan yang lebih layak unluk kila bertiga. Mummy dan aku mungkin tidak sampai harus berpisah. Saat itu aku cuma seorang perwira Angkatan Darat, dan bahkan selelah aku lepas dari Angkatan Darat dan bekerja di Kemcnlerian Dalam Negeri, gajiku masih saja tidak cukup.”

“Sebenarnya apa saja yang Daddy lakukan di Kementerian Dalam Negeri?” tanya anak itu. la sedang berusaha mengalihkan pembicaraan tentang orangtuanya yang berpisah, seperti biasanya anak-anak ingin melupakan sesuatu yang menyakitkan

perasaan mereka.

“Oh, aku ini semacam pegawai kecil di pemerintahan,” kata Preston.

mCosht pasti sangat membosankan, ya?”

102

“Ya,” Preslon mengakui, “kukira memang begitu.”

Tengah hari Ycvgeni Karpov bangun, dengan kepala sangat berat yang hanya bisa sedikit ditolong dengan setengah lusin aspirin. Setelah makan siang ia merasa lebih enakan dan memutuskan untuk pergi berjalan-jalan.

Ada sesuatu yang menggelitik di sudut benaknya—sebuah kenangan, setengah rekoleksi, bahwa ia pernah mendengar nama Krilov suatu saat belum lama berselang ini. Ini terus mengganggunya. Salah satu buku referensi di dacha itu, yang dianggap khusus dalam daftar, memberikan keterangan tentang Krilov, Vladimir Ilich: ahli sejarah, guru besar di Universitas Moskow, anggota seumur hidup Partai, anggola Akademi Ilmu Pengetahuan, anggola Soviet Tertinggi, dan sebagainya, dan sebagainya. Semua itu ia sudah tahu; tapi masih ada sesuatu yang lain. Ia melangkah menembus salju, kepalanya tertunduk, merenung dalam-dalam.

Anak-anak pergi main ski, memanfaatkan lapisan salju bagus yang terakhir sebelum datangnya cuaca panas yang akan merusak semua itu. Ludmilla Karpova berjalan di belakang, mengikuti suaminya. Ia tahu suasana hati suaminya dan lidak mau mengganggu. Tadi malam dia kaget sekali melihat kondisi suaminya, tapi kemudian merasa lega. Ia tahu suaminya hampir tidak pernah minum—dan belum pernah seberat itu—yang

103

membuktikan bahwa ia tidak mengunjungi pacarnya. Mungkin ia benar-benar melewatkan waktu dengan seorang rekan dari GRU, salah satu dari yang bisa disebut tetangga. Apa pun yang terjadi kemarin, ada sesuatu yang sedang memenuhi pikirannya, tapi yang jelas bukan perempuan yang di Arbat itu.

Pada jam tiga lebih sedikit, entah bagaimana ia mengutak-atik dalam benaknya, jawabannya muncul begitu saja. la menghentikan langkahnya beberapa meter di depan istrinya dan berkata, “Sialan! Tentu saja,” dan semangatnya langsung pulih. Sambil tersenyum lebar, ia menggandeng istrinya, dan mereka berjalan balik ke dacha.

Jenderal Karpov tahu bahwa ia akan melakukan sedikit riset di kantornya keesokan harinya, dan bahwa ia akan mengunjungi Profesor Krilov di apartemen Moskow-nya pada hari Senin petang.

r* W T Dilarang xneng-komersil-kaa atau

kesialan menimpa anda selamanya

104

15

telepon di pagi hari Senin itu menahan John Preston persis ketika dia sudah akan pergi dengan putranya.

“Mr. Preston? Dafydd Wynne-Evans di sini.”

Untuk sejenak nama itu tidak memberikan arti apa-apa; lalu Preston teringat akan permintaannya di pelang hari Jumat yang lalu.

“Saya telah memeriksa lempeng logam kecil punya Anda itu. Sangat menarik. Apa Anda bisa datang ke sini dan berbincang-bincang sedikit?”

“Well, sebenarnya, saya sedang cuti beberapa hari,” kata Preslon. “Bagaimana kalau akhir pekan ini saja?”

Hening sejenak di ujung sana, di Aldermaston. “Saya kira sebaiknya sebelum itu, kalau Anda bisa menyisihkan waktu.”

“Er… oh… well, bisakah Anda jelaskan garis besarnya saja melalui telepon?”

“Jauh lebih baik kalau kita membicarakannya empat mata,” kata Dr. Wynne-Evans.

105

Preston berpikir sebentar. Ia berniat akan membawa Tommy ke Windsor Safari Park seharian. Tapi taman itu juga terletak di Berkshire. “Apa bisa saya datang sore ini—katakanlah, sekitar jam lima?” ia bertanya. • “Jam lima? Setuju,” kata ilmuwan itu. “Sebutkan nama saya pada penerima tamu. Saya akan minta Anda diantarkan ke atas.”

Profesor Krilov tinggal di lantai teratas sebuah bangunan apartemen di Komsomolski Prospek! yang memiliki sudut pandang yang jelas ke arah Sungai Moskva dan yang dekat dengan universitas yang terletak di tepi sungai sebelah selatan. Jenderal Karpov menekan bel pintu pada jam enam lebih sedikit, dan pintu dibukakan oleh sang akademisi sendiri. Ia mengamati tamunya, tetapi gagal mengenali siapa dia.

“Kamerad Profesor Krilov?”

“Ya.”

“Nama saya Yevgeni Karpov. Apa kita bisa berbincang-bincang sebentar?”

Ia memperlihatkan kartu identitasnya. Profesor Krilov mengamatinya, menyadari pangkat Karpov dan menyadari kenyataan bahwa tamunya datang dari Direktorat Utama Satu KGB. Lalu kartu itu dikembalikannya dan memberi isyarat pada Karpov agar masuk. Ia mendahului masuk ke ruang duduk yang diperlengkapi dengan baik, menerima mantel tamunya, dan menyilakan dia duduk.

106

“Apa yang membuat saya memperoleh kehormatan ini?” ia bertanya setelah duduk berhadapan dengan Karpov. Ia sendiri adalah orang yang cukup terkemuka dalam bidangnya, dan sama sekali lidak merasa rendah diri berhadapan dengan seorang jenderal KGB.

Karpov menyadari bahwa profesor ini memang berbeda. Erita Philby bisa dikecoh sehingga mengungkapkan keberadaan sopir itu; Gregoriev bisa ditakut-takuti dengan pangkatnya yang penuh kekuasaan; Marchenko adalah teman lama dan seorang peminum berat Tapi Krilov berkedudukan tinggi dalam Partai, Soviet Tertinggi, Akademi Ilmu Pengetahuan, dan jajaran penguasa negeri. Karpov memutuskan unluk tidak membuang-buang waktu, tapi memainkan kartunya dengan cepat dan tanpa ampun. Itulah jalan satu-satunya.

“Profesor Krilov, demi kepentingan negara, saya ingin Anda memberitahukan kepada saya tentang sesuatu. Saya ingin Anda memberitahukan kepada saya tentang Rencana Aurora.”

Krilov duduk di situ seakan ia baru saja ditampar. Kemudian wajahnya memerah karena marah. “Jenderal Karpov, Anda telah bertindak berlebihan,” ia membentak. “Saya tidak mengerti apa yang Anda bicarakan.”

“Saya yakin Anda tahu,” kata Karpov dengan tenang, “dan saya kira Anda sebaiknya mengatakan kepada saya rencana itu menyangkut apa.”

Sebagai jawaban, Krilov mengangkat tangannya

107

dengan sikap memberi perinlah. “Harap tunjukkan kewenangan Anda.”

“Kewenangan saya adalah pangkat saya dan pengabdian saya,” kata Karpov.

“Kalau Anda lidak membawa surai kewenangan ydng ditandatangani oleh Kamerad Sekretaris Jenderal, berarti Anda sama sekali tidak mempunyai kewenangan,” kata Krilov dengan dingin. Ia bangkit dan menghampiri telepon. “Malahan, saya pikir sudah waktunya rangkaian pertanyaan Anda itu dilaporkan kepada seseorang yang jauh lebih tinggi pangkatnya daripada Anda sendiri.”

la mengangkat telepon itu dan sudah akan memutar nomornya.

“Itu bukan gagasan yang baik,” kala Karpov. “Tahukah Anda bahwa salah satu rekan konsultan Anda, Philby, pensiunan kolonel KGB, hilang?”

Krilov tidak jadi memutar nomor. “Apa maksud Anda, hilang?” ia bertanya. Secercah keraguan mulai menggoyahkan sikapnya yang tadinya sangat tegar.

“Silakan duduk dan harap dengarkan saya sampai selesai,” kata Karpov. Akademisi itu mematuhinya. Di ruangan lain apartemen itu, sebuah pintu nampak membuka. Dari dalamnya terdengar bunyi musik jazz Barai, yang segera reda saat pintu ditutup kembali.

“Maksud saya hilang,” Karpov melanjutkan, “hilang dari apartemennya, sopirnya dikeluarkan,

108

istrinya tidak tahu dia di mana atau kapan dia kembali—kalau dia kembali.”

Itu adalah suatu taruhan—suatu taruhan yang sangat berbahaya. Tapi sorot mata profesor ilu mulai menampakkan kekuatiran. Lalu dia mencoba menenangkan diri. “Tidak ada alasan bagi saya unluk memperbincangkan urusan negara dengan Anda, Kamerad Jenderal. Saya kira saya harus meminta Anda unluk pergi.”

“Tidak semudah itu,” kata Karpov. “Katakan, Profesor, Anda mempunyai putra. Leonid, bukan?”

Dialihkannya pokok pembicaraan dengan tiba-tiba benar-benar membuat sang Profesor terperangah. “Ya,” ia mengakui. “Benar, jadi kenapa?”

“Izinkan saya menjelaskan,” kala Karpov.

Di bagian lain benua Eropa, John Preslon dan putranya sedang berada dalam mobil, keluar dari Windsor Safari Park di penghujung hari musim semi yang hangat.

“Aku harus mampir dulu ke satu tempat sebelum kita pulang,” kata Preslon. “Tidak jauh dan tidak akan lama. Pernahkah kau ke Aldcrmaslon?”

Mata anak ilu terbuka lebar. “Pabrik bom itu?” ia bertanya.

“Sebenarnya bukan pabrik bom,” Preslon meluruskan, “tapi sebuah lembaga riset”

“Belum pernah, belum pernah. Kita akan ke sana? Apakah kita akan diizinkan masuk?”

“Well, aku akan diizinkan. Kau harus menunggu

109

di mobil. Tapi tidak akan lama.” Ia berbelok ke arah utara untuk memotong masuk ke jalan raya M4.

“Putra Anda pulang sembilan minggu yang lalu dari kunjungan ke Canada, di mana dia bertindak sebagai salah satu penerjemah untuk sebuah delegasi perdagangan,” Karpov memulai dengan perlahan.

Krilov mengangguk. “Jadi?”

“Ketika dia berada di sana, anak buah saya dari bagian kontra-intelijen mengamati bahwa seorang anak muda yang menarik menghabiskan banyak waktu—terlalu banyak waktu, begitulah ia dinilai—dengan mencoba membual percakapan dengan para anggota delegasi kita, terularna para anggota muda—sekretaris, penerjemah, dan sebagainya. Anak muda ini kemudian difoto dan akhirnya diidentifikasi sebagai seorang agen penjebak—warga Amerika, bukan Canada, dan hampir pasti bekerja untuk CIA. Akibatnya, ia lalu diawasi dan ternyata telah melakukan rendezvous dengan putra Anda, Leonid, di sebuah kamar hotel. Bukan maksud saya untuk membesar-besarkan, pasangan itu ternyata terlibat dalam suatu affair yang singkat tapi sangat bergairah.”

Wajah Profesor Krilov menunjukkan kemarahan yang sangat. Dia sampai sulit mengeluarkan kata-kata. “Beraninya Anda. Beraninya Anda secara tidak sah datang kemari untuk melakukan

110

pemerasan terhadap saya, anggota Akademi Ilmu Pengetahuan dan Soviet Tertinggi. Partai akan mendengar tentang ini. Anda tahu aturannya: hanya Partai sendiri yang bisa mendisiplinkan Partai. Anda memang benar seorang jenderal KGB, tapi Anda telah jauh melampaui wewenang Anda, Jenderal Karpov.”

Yevgeni Karpov duduk di situ seakan ia takut, menatap meja, sementara profesor itu terus berbicara.

“Jadi, putra saya meniduri seorang gadis asing ketika berada di Canada. Bahwa gadis itu ternyata warga Amerika adalah satu hal yang sama sekali tidak disadarinya. Ia kurang hati-hati, barangkali, tapi tidak lebih dari itu. Apakah ia lalu diperalat oleh gadis CIA itu?”

“Tidak,” Karpov mengakui.

“Apakah ia membocorkan rahasia negara?”

“Tidak.”

“Kalau begitu Anda lidak punya apa-apa, Kamerad Jenderal, kecuali kasus anak muda yang kurang hati-hati. Ia akan ditegur dengan kuras. Tapi akan ada teguran yang lebih keras terhadap anak buah Anda dari bagian kontra-intelijen. Mereka seharusnya memperingatkan dia terlebih dahulu. Mengenai kisah ranjang itu, kita sebenarnya tidak sebegitu anti kesenangan duniawi di Uni Soviet seperti yang Anda kira. Pemuda-pemuda yang sehat jasmaninya senantiasa mencoba meniduri gadis-gadis sejak manusia tercipla….”

111

Karpov membuka las kantornya dan mengeluarkan sebuah foto besar, salah salu dari tumpukan yang ada di dalam lasnya, lalu meletakkannya di atas meja. Profesor Krilov menatap foto ilu, dan kata-katanya terpotong. Wajahnya langsung berubah menjadi merah—yang kemudian menyurut sampai wajahnya yang nampak tua itu berubah menjadi kelabu di bawah cahaya lampu. Ia berkali-kali menggelengkan kepalanya.

“Saya menyesal,” kata Karpov dengan sangat lembut, “sungguh menyesal. Pengawasan tersebut dilakukan atas pemuda Amerika ilu, bukan alas putra Anda. Tidak dimaksudkan unluk sampai kepada hal seperti ini.”

“Saya lidak percaya ini,” kau profesor itu dengan parau.

“Saya juga punya anak laki-laki,” gumam Karpov. “Saya kira saya bisa mengerti, atau mencoba untuk mengerti, bagaimana perasaan Anda.”

Akademisi itu menarik napas dalam-dalam, bangkit, menggumam, “Maafkan saya,” dan meninggalkan ruangan. Karpov menghela napas dan mengembalikan foto itu ke dalam tasnya. Dari ujung lorong sebelah sana ia mendengar bunyi musik jazz lagi saat pintu terbuka, lalu tiba-tiba musik ilu berhenti, disusul suara-suara—dua suara, dalam nada amat marah. Yang satu adalah teriakan seorang ayah, yang satu lagi suara tinggi seorang anak muda. Pertengkaran itu berakhir dengan bunyi sebuah tamparan. Beberapa detik kemudian,

112

Profesor Krilov masuk kembali ke ruang ilu. Ia duduk di situ, sinar matanya muram, bahunya turun. “Apa yang akan Anda lakukan?” ia berbisik.

Karpov menghela napas. “Tugas saya jelas. Seperti kata Anda tadi, hanya Partai yang berhak mendisiplinkan Partai. Saya mempunyai wewenang untuk menyerahkan laporan dan foto-foto ini kepada Komite Sentral. Anda tahu hukumnya. Anda tahu apa tindakan mereka terhadap ‘golden boys’. Biasanya lima tahun tanpa remisi, dan ‘pengendalian ketat*. Saya kualir bahwa kabar akan tersiar di seluruh kamp itu. Setelah itu, anak muda itu akan menjadi—bagaimana harus saya istilahkan?— milik semua orang. Seorang pemuda yang berasal dari keluarga elit akan sulit sekali bertahan dalam kondisi seperti itu.”

“Tapi…,” sela profesor itu.

“Tapi saya bisa memutuskan bahwa ada kemungkinan CIA akan melanjutkan hal ini. Saya mempunyai wewenang untuk itu. Saya bisa mengupayakan supaya pihak Amerika menjadi tidak sabar dan mengirimkan agennya ke Uni Soviet untuk mengadakan hubungan lagi dengan Leonid. Saya mempunyai wewenang untuk mengupayakan agar penjebakan putra Anda diubah menjadi suatu operasi untuk menjebak seorang agen CIA. Sementara menunggu, saya bisa menyimpan file ini di dalam lemari besi saya, dan masa menunggu itu bisa sangat lama. Saya mempunyai wewenang itu; dari segi operasi, ya, saya mempunyai wewenang itu.”

113

“Dan imbalannya?” “Saya kira Anda sudah tahu itu.” “Apa yang ingin Anda ketahui tentang Rencana Aurora?”

“Mulai saja dari awalnya.”

Preslon memasuki gerbang utama di Aldcrmaston, menemukan lowongan di tempat parkir tamu, dan keluar dari mobilnya.

“Sorry, Tommy, terpaksa kau sampai di sini dulu. Tunggu aku di sini. Kuharap aku tidak akan lama.”

Ia berjalan dalam keremangan senja, menuju pintu-pintu ayun dan melapor pada dua petugas di meja penerima tamu. Mereka memeriksa kartu identitasnya dan menelepon Dr. Wynne-Evans, yang membenarkan janji kunjungan tersebut. Letaknya liga lantai dari situ. Preston dipersilakan masuk dan diisyaratkan untuk duduk di kursi yang menghadap ke meja tulis Wynne-Evans.

Sang ilmuwan memandang dia melalui kacamatanya. “Boleh saya bertanya di mana Anda peroleh benda-benda kecil ini?” ia bertanya, menunjuk ke lempeng logam berat yang mirip timah yang kini diletakkan dalam sebuah bejana gelas yang tersegel.

“Ilu diambil dari seseorang di Glasgow di pagi buta hari Kamis yang lalu. Bagaimana mengenai kedua lempeng yang lain?”

“Oh, itu cuma aluminium biasa. Tidak ada yang

114

aneh. Cuma dipakai untuk melindungi yang satu ini. Yang salu ini yang menarik minat saya.”

“Anda tahu itu apa?” tanya Preston.

Dr. Wynne-Evans nampak heran mendengar keluguan pertanyaan itu. “Tentu saja saya tahu ini apa,” katanya. “Memang sudah menjadi tugas saya untuk tahu. Ini lempeng logam polonium mumi.”

Preston mengernyit Ia belum pernah mendengar nama logam seperti itu.

“Ya, semuanya bermula di awal Januari dengan sebuah memorandum yang ditulis Philby untuk Sekretaris Jenderal, yang melaporkan bahwa dalam Partai Buruh Inggris ada sayap Ekstrem Kiri yang telah tumbuh begitu kuat sehingga mempunyai kemampuan untuk mengambil alih seluruh kendali mesin partai jika dikehendaki. Pendapat itu sama dengan pendapat saya.”

“Dan pendapat saya juga,” gumam Karpov.

“Philby melangkah lebih jauh. Ia berpendapat bahwa di dalam kubu sayap Ekstrem Kiri itu ada satu kelompok, satu grup’inti, yang terdiri dari kaum marxis-Ieninis fanatik yang memang bermaksud melakukan hal itu—tapi tidak sebelum pemilihan umum Inggris berikutnya, lapi setelah itu, yaitu di saat awal kemenangan Partai Buruh dalam pemilihan. Singkatnya, menunggu kemenangan dalam pemilihan yang menaikkan Mr. Neil Kinnock ke pucuk pimpinan dan kemudian menggulingkan dia dari kepemimpinan partai. Yang akan menggantikan dia adalah

115

perdana menteri marxis-leninis Inggris yang pertama dalam sejarah, yang akan menerapkan serangkaian kebijakan yang sepenuhnya sejalan dengan kepentingan pertahanan dan kebijakan luar negeri Soviet, terutama di bidang perlucutan senjata nuklir unilateral dan pengusiran semua kekuatan Amerika.”

“Masuk akal,” komentar Karpov, mengangguk. ŚJadi, sebuah komisi beranggotakan empat orang dipanggil untuk memberikan usulan mengenai bagaimana kemenangan dalam pemilihan itu bisa dicapai dengan cara yang terbaik?”

Krilov mendongak, keheranan. “Ya. Di situ ada Philby, Jenderal Marchenko, saya sendiri, dan Dr. Rogov.”

“Grandmaster catur itu?”

“Dan ahli fisika juga,” tambah Krilov. “Apa yang kami hasilkan adalah Rencana Aurora, yang seharusnya akan merupakan operasi destabilisasi besar-besaran terhadap pemilihan umum di Inggris dengan cara menggiring jutaan pemilih ke arah prinsip unilateralism^ total.”

“Anda mengatakan… seharusnya?”

“Ya. Rencana itu pada dasarnya merupakan gagasan Rogov. Ia mendukungnya dengan kuat Marchenko setuju tapi dengan beberapa catatan. Philby—yah, tak ada yang tahu bagaimana pikiran Philby yang sebenarnya. Ia cuma terus mengangguk dan tersenyum, menunggu ke arah mana angin bertiup.”

116

“Begitulah Philby,” Karpov setuju. “Lalu kalian mengajukan rencana itu?”

“Ya. Pada tanggal dua belas MareL Saya menentang rencana ilu. Sekretaris Jenderal setuju dengan saya. Ia mengecamnya habis-habisan, memerintahkan untuk menghancurkan semua catatan dan file, dan menyuruh kami berempat bersumpah unluk lidak menyebut-nyebut lagi masalah itu dalam

kondisi apa pun.”

“Tolong jelaskan, mengapa Anda menentangnya?”

“Saya berpendapat itu terlalu nekat dan berbahaya. Kecuali itu, akan merupakan pelanggaran total terhadap Protokol Keempat. Kalau protokol itu dilanggar, hanya Tuhan yang tahu bagaimana nasib dunia ini.”

“Protokol Keempat?”.

“Ya. Dari Perjanjian Nir-Pengembangbiakan Nuklir (Nuclear Nonproliferation Treaty). Anda ingat itu, tentu.”

ŚBanyak hal lain yang harus saya ingat,” kata Karpov dengan lembut. “Tolong ingatkan saya.”

“Saya belum pernah mendengar tentang polonium,” kata Preslon.

ŚTidak, well, barangkali Anda memang seharusnya tidak mendengar tentang itu,” kata Wynne-Evans. “Maksud saya, Anda tidak akan menjumpainya dalam rangka tugas Anda. Logam itu sangat jarang dipakai.”

“Dan apa saja kegunaannya. Doktor?”

117

“Well, logam itu sesekali—hanya sesekali saja, ingat itu—dipakai dalam pengobatan. Apakah orang Anda yang di Glasgow itu sedang dalam perjalanan menghadiri suatu konferensi medis atau pameran medis?”

“Tidak,” kata Preslon dengan tegas, “ia sama sekali lidak sedang dalam perjalanan ke konferensi medis.”

“Well, kalau begitu hilang sudah sepuluh persen kemungkinan pemakaian logam itu untuk maksud medis—sebelum Anda membebaskannya dari bebannya itu. Karena dia tidak sedang bermaksud menghadiri konferensi medis, saya kuatir, kini tinggallah kemungkinan yang sembilan puluh persen itu. Selain kedua fungsi tersebut, polonium tidak mempunyai fungsi lain di planet ini.”

“Dan fungsi yang satu itu?”

“Well, sebuah lempeng bundar polonium dalam ukuran begini tidak bisa berfungsi apa-apa jika dipakai sendirian. Tapi kalau ia ditempatkan dengan cara juxtaposisi rapal dengan lempeng logam lain yang disebut lithium, maka gabungan keduanya akan membentuk semacam inisiator,”

“Semacam apa?”

“Inisiator.”

“Dan demi Tuhan, apa artinya itu?”

“Pada tanggal salu Juli 1968,” kata Profesor Krilov, “Perjanjian Nir-Pengembangbiakan Nuklir ditandatangani oleh tiga (saat itu) kekuatan nuklir

118

dunia, Amerika Serikat, Britania Raya, dan Uni Soviet.

“Dalam perjanjian itu, ketiga bangsa yang menandatanganinya berjanji kepada diri sendiri untuk tidak mengalihkan teknologi atau bahan-bahan yang memungkinkan pengembangan senjata nuklir kepada negara mana pun yang pada saat itu belum memiliki teknologi seperti itu atau bahan-bahan untuk itu. Anda masih ingat itu?”

“Ya,” kau Karpov, “sampai sebegitu saya ingat”

“Well, upacara penandatanganannya di Washington, London, dan Moskow memperoleh publisius besar-besaran di seluruh dunia. Tapi pe-nandaunganan selanjutnya aus empat protokol rahasia dari perjanjian itu sama sekali luput dari publisitas.

“Masing-masing protokol tersebut dibuat untuk mencegah berkembangnya bahaya yang mungkin terjadi di masa depan, yang pada saat itu memang tidak mungkin terjadi secara teknis, Upi yang— waktu itu diperkirakan^-satu saat kelak bisa menjadi mungkin secara teknis.

“Dengan berjalannya waktu, ketiga protokol yang pertama mulai dilupakan, baik karena bahaya yang dikuatirkan itu tcrnyaU tidak mungkin bisa terjadi aUu karena penangkalnya selalu bisa ditemukan secepat bahaya itu menjadi kenyataan. Tapi pada awal Uhun 1980-an, Protokol Keempat, yaitu yang sifatnya paling rahasia di antara keem—

119

patnya, telah menjadi mimpi buruk yang terus menghantui.”

“Apa, tepatnya, yang diuraikan oleh Protokol Keempat itu?” tanya Karpov.

Krilov menghela napas. “Kami bergantung pada Dr. Rogov mengenai hal yang satu ini. Seperti Anda tahu, ia seorang ahli fisika nuklir; itu adalah cabang ilmu pengetahuan yang digelutinya. Protokol Keempat berjaga-jaga terhadap kemungkinan kemajuan teknologi dalam pembuatan bom nuklir, terutama di bidang miniaturisasi dan simplifikasi. Ternyata memang inilah yang terjadi. Di satu segi, senjata nuklir telah menjadi semakin kuat tak terbatas, tapi lebih rumit pembuatannya dan lebih besar ukurannya. Tapi cabang lain dari ilmu itu telah berkembang ke arah yang berlawanan. Bom atom yang biasa, yang dulu memerlukan pesawat pembom besar untuk mengangkutnya ke Jepang di tahun 1945, sekarang bisa dibuat cukup kecil untuk bisa dimasukkan dalam sebuah koper dan cukup mudah untuk dipasang dari selusin komponen yang sudah lebih dahulu dicetak, dibuat beralur, dan disesuaikan bentuknya, seperti perangkat mainan konstruksi anak-anak.”

“Dan itukah yang dilarang oleh Protokol Keempat?”

Krilov menggelengkan kepala. “Lebih dari itu. Ia melarang semua negara penanda tangan perjanjian tersebut untuk memasukkan, ke dalam wilayah negara mana pun, suatu alat yang sudah tergabung

120

atau masih terpisah-pisah dengan diam-diam, untuk keperluan peledakan, katakan, di sebuah rumah atau flat sewaan di tengah kota.”

“Tak akan ada peringatan cinp.it menit sebelumnya,” Karpov tepekur, “tak akan ada deteksi radar dari rudal yang akan menyerang, tidak ada serangan tangkisan, tidak ada identifikasi atas si pelaku. Tiba-tiba saja terjadi ledakan berukuran megaton dari sebuah kamar yang disewakan di sebuah base-menL”

Profesor itu mengangguk. “Benar. Itulah sebabnya saya menyebutnya mimpi buruk yang terus menghantui. Masyarakat terbuka di Barat akan lebih mudah terkena itu, tapi tak ada di antara kita yang kebal terhadap penyelundupan komponen-komponen seperti itu. Kalau Protokol Keempat ini dilanggar, maka semua jajaran roket dan peralatan elektronik penangkal serangan, serta hampir semua kompleks industri militer itu, akan menjadi mubazir.”

“Dan itulah yang dikandung dalam Rencana Aurora.”

Krilov mengangguk lagi. Ia nampaknya memilih untuk bungkam.

“Tapi karena,” Karpov mengejar terus, “semua itu dihentikan dan dilarang, seluruh rencana itu telah menjadi apa yang dalam dinas ini disebut sebagai ,dipeti-cskan"

Krilov rupanya paham akan arti istilah itu. “Benar. Rencana itu sekarang sudah dipeti-eskan.”

121

“Tapi ceritakan apa yang tadinya akan dilakukan/ Karpov mendesak.

“Rencananya adalah menyusupkan seorang agen rahasia Soviet kelas satu ke Inggris yang akan bertindak sebagai petugas pelaksana Aurora. Kepadanya—dengan memakai berbagai kurir—akan diselundupkan sepuluh atau sejumlah komponen sebuah bom atom kecil berkekuatan kira-kira satu setengah kiloton.”

“Begitu kecilnya? Bom Hiroshima ilu sepuluh kiloton.”

“Bom itu lidak dimaksudkan untuk membuat kerusakan besar. Itu nanti malahan akan membubarkan pemilihan umum. Bom itu dimaksudkan untuk menciptakan sebuah insiden nuklir dan membuat panik sepuluh persen suara pemilih dari ‘massa mengambang* supaya mendukung perlucutan senjata nuklir unilateral dan memberikan suara mereka dalam pemilihan umum itu kepada satu-satunya partai yang mendukung unilatcralismc, yaitu Partai Buruh.”

“Maafkan saya,” kata Karpov. “Harap lanjutkan.”

“Bom itu akan diledakkan enam hari sebelum pemilihan umum,” kata sang Profesor. “Lokasi peledakan sangat penting. Vang dipilih adalah pangkalan Angkatan Udara Amerika Serikat di Bentwaters di Suffolk. Rupanya, pesawat-pesawat tempur F-5 ditempatkan di sana dan pesawat-pesawat itu membawa bom-bom nuklir taktis berukuran kecil yang

122

akan digunakan melawan divisi-divisi tank kita apabila kita melakukan invasi ke Eropa Barat.”

Karpov mengangguk. Dia tahu tentang Bentwaters, dan informasi itu memang benar.

“Petugas pelaksana itu,” Profesor Krilov melanjutkan, “akan diperintahkan mengangkut bom yang sudah dirakit itu dengan mobil ke tepi pagar kawat yang membatasi pangkalan tersebut, ke satu titik yang sudah ditentukan, di pagi buta. Kelihatannya kompleks pangkalan itu terletak di jantung Rendlcsham Forest. Ia akan mclcdakkanJ>om tersebut beberapa saat sebelum subuh.

“Karena kecilnya bom itu, kerusakan akan terbatas di kawasan pangkalan udara itu saja, yakni seluruh kompleks akan lenyap total, bersama seluruh kawasan Rendleham Forest, tiga kampung, satu desa, pantainya, dan sebuah cagar alam untuk burung. Karena pangkalan itu letaknya bersebelahan dengan Pantai Suffolk, maka debu radioaktif yang terlontar ke atas akan ditiup oleh angin barat, keluar ke arah Laut Utara.. Pada saat awan debu itu mencapai pantai Negeri Belanda, sembilan puluh lima persen darinya sudah akan pudar pengaruhnya atau jatuh ke laut. Tujuannya bukan untuk menimbulkan bencana ekologi, tapi untuk menciptakan ketakutan dan gelombang kebencian terhadap Amerika.”

“Mereka bisa saja tidak mempercayainya,” kata Karpov. “Banyak hal bisa saja meleset dari ren—

123

carta. Petugas pelaksana itu bisa saja ditangkap hidup-hidup.”

Profesor Krilov menggelengkan kepala. “Rogov lelah memikirkan semua itu. Ia telah merancangnya dengan cermat seperti dalam permainan catur. Petugas pelaksana yang bersangkutan akan diberitahu, bahwa setelah menekan tombolnya dia punya waktu dua jam sesuai tuner nya untuk lari dengan mobil sejauh yang bisa dicapainya. Padahal liniernya sesungguhnya merupakan satu unit yang disegel, yang telah dirancang untuk langsung meledak.”

Petrofsky yang malang, pikir Karpov. “Dan bagaimana aspek kredibilitasnya?” ia bertanya.

“Di petang hari yang sama dengan hari peledakan ilu,” kata Krilov, “seseorang, yang rupanya adalah agen rahasia Soviet, akan terbang ke Prana dan mengadakan sebuah konferensi pers internasional. Orang itu bernama Dr. Nahum Wisser, ahli fisika nuklir Israel. Kelihatannya dia bekerja buat kila.”

Jenderal Karpov berusaha untuk tidak menunjukkan ekspresi apa-apa. “Luar biasa,” katanya. Ia mengetahui data-data di file Dr. Wisser. Ilmuwan itu dulu punya putra yang sangat disayanginya. Anak muda itu adalah perwira muda Angkatan Darat Israel, dan ditugaskan di pos Beirut pada tahun 1982. Ketika gerilyawan Phalangis menghancurkan kamp-kamp pengungsi Palestina di Sabra dan Shatila, Letnan Wisser yang masih

124

muda mencoba campur tangan. Sebutir peluru menewaskannya. Bukti-bukti yang direkayasa dengan cermat kemudian ditunjukkan kepada sang ayah yang berkabung ilu—yang saat itu telah menjadi tokoh oposisi yang fanatik melawan Partai Likud—bahwa ternyata yang menewaskan putranya adalah sebutir peluru Israel. Dalam kepahitan dan kemurkaan, Dr. Wisser kemudian makin condong ke kiri dan akhirnya setuju untuk bekerja bagi kepentingan Rusia.

“Begitulah,” Krilov melanjutkan, “Dr. Wisser akan menyatakan kepada dunia bahwa ia telah bertahun-tahun bekerja sama dengan pihak Amerika—dalam rangka pertukaran ahli-ahli—dalam pengembangan kepala nuklir ultra kecil. Ini rupanya memang benar. Ia akan melanjutkan dengan menyatakan bahwa ia telah berulang kali memperingatkan pihak Amerika, bahwa kepala nuklir ultra kecil tidak cukup aman untuk diizinkan dipasang. Pihak Amerika memang sudah tidak sabar untuk memasang kepala-kepala nuklir baru itu, karena ukurannya yang kecil memungkinkan diangkutnya kepala-kepala nuklir tersebut ke dalam pesawat sehingga ini akan menambah daya tempur pesawal-pcsawat F-5 mereka.

“Diperhitungkan bahwa pernyataan-pernyataan ini, yang akan dibuat pada hari berikutnya setelah terjadinya peledakan, yaitu hari kelima sebelum hari pemilihan umum, akan mampu mengubah gelombang anli Amerika di Inggris menjadi badai

125

hebat yang bahkan kaum Konservatif pun tidak akan mampu menghentikannya.”

Karpov mengangguk. “Ya, saya percaya itu benar bisa terjadi. Masih ada lagi gagasan dari benak Dr. Rogov yang cemerlang?”

“Masih banyak,” kata Krilov muram. “Ia meramalkan bahwa pihak Amerika akan bereaksi keras dan menyangkal dengan hebat. Jadi, pada hari keempat sebelum pemilihan umum, Sekretaris Jenderal akan menyatakan kepada dunia bahwa kalau pihak Amerika bermaksud memasuki periode kegilaan, itu adalah urusan mereka. Tapi dia, pihaknya sendiri, dalam rangka melindungi rakyat Soviet, tidak mempunyai pilihan lain daripada menyiapkan seluruh kekuatan bersenjata kita dalam posisi siaga merah.

“Malam itu, salah satu teman kita, orang yang sangat dekat dengan Mr. Kinnock, akan membujuk pimpinan Partai Buruh tersebut untuk terbang ke Moskow, untuk bertemu secara pribadi dengan Sekretaris Jenderal dan mengupayakan perdamaian. Seandainya dia ragu-ragu, duta besar kita akan mengundang dia ke kedutaan untuk perbincangan dari hati ke hati mengenai krisis itu. Dengan kamera-kamera media massa terarah padanya, dia pasti tidak akan menolak.

“Selanjutnya, dia akan diberi visa dalam waktu beberapa menit, dan diterbangkan dengan Aeroflot keesokan harinya waktu subuh. Sekretaris Jenderal akan menerima dia di hadapan kamera-kamera me—

126

dia massa dunia, dan beberapa jam kemudian mereka akan berpisah, keduanya akan berwajah sangat serius.”

“Karena, tak ragu lagi, dia akan diberitahu mengapa Soviet bersikap keras,” Karpov menambahkan.

“Tepat sekali. Tapi sementara dia masih berada di pesawat yang membawanya pulang ke London malam harinya, Sekretaris Jenderal kita akan mengeluarkan sebuah pernyataan kepada dunia, yang semata-mata dibuat karena adanya imbauan dari pimpinan Partai Buruh Inggris, bahwa dia. Sekretaris Jenderal, akan memerintahkan seluruh angkatan bersenjata Soviet untuk menurunkan kewaspadaan sampai ke status siaga hijau. Dengan begitu, Mr. Kinnock akan mendarat di bandara London sebagai seorang negarawan dunia kelas satu.

“Satu hari sebelum pemilihan umum, ia akan menyampaikan pidato yang bergema ke seluruh negeri Inggris tentang issue penyelesaian masalah kegilaan nuklir yang menyeluruh dan tuntas. Diperhitungkan dalam Rencana Aurora, bahwa peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kurun waktu enam hari sebelum pemilihan itu akan menghancurkan persekutuan tradisional Inggris-Amerika, mengucilkan Amerika Serikat dari simpati Eropa, dan akan menggiring sepuluh persensepuluh persen yang amat vital itudari total suara pemilih Inggris, untuk memilih Partai Buruh supaya memegang pemerintahan. Setelah itu, kaum Ekstrem

127

Kiri akan mengambil alih semuanya. Begitulah, Jenderal, isi Rencana Aurora.”

Karpov bangkit. “Anda sangat baik hati. Profesor. Dan sangat bijak. Tetaplah berdiam diri, dan saya juga akan begitu. Seperti kata Anda tadi, sekarang itu sudah dipeti-eskan. Dan file putra Anda akan berada di lemari besi saya untuk waktu yang lama sekali. Selamat tinggal. Saya kira saya tidak akan mengganggu Anda lagi.”

Ia menyandarkan dirinya ke senderan tempat duduk belakang, sementara Chaika itu membawa dia menyusuri jalan Komsomolski Prospekt. Oh, ya, memang sangat cemerlang, pikirnya, tapi apakah waktunya cukup?

Seperti sang Sekretaris Jenderal, Karpov juga tahu tentang pemilihan umum di Inggris, yang dijadwalkan bulan Juni, yaitu sembilan minggu dari sekarang. Informasi rahasia untuk Sekretaris Jenderal itu datangnya melalui anak buahnyarezidenturayang beroperasi di Kedutaan Uni Soviet di London.

Ia merenungkan rencana itu berulang-ulang di benaknya, mencari-cari kelemahannya. Bagus, pikirnya akhirnya, bagus sekali. Selama itu bisa berjalan dengan baik…. Kalau tidak berhasil, akan merupakan bencana amat dahsyat.

***

“Sebuah inisiator, my dear man, adalah sejenis detonator bom,” kata Dr. Wynne-Evans.

128

“Oh,” kata Preston. Ia merasa agak lemas. Sudah sering terjadi ledakan bom di Inggris. Cukup buruk akibatnya, tapi hanya bersifat lokal. Ia sering melihat sendiri di Irlandia. Dia pernah mendengar tentang detonator, pendorong, pemicu, tapi inisiator belum pernah. Toh, nampaknya si Rusia, Semyonov, membawa sebuah komponen untuk suatu kelompok teroris di suatu tempat di Skotlandia. Kelompok yang mana? Tentara Tartan? Kaum anarkis? Atau sebuah unit pasukan aktif IRA? The Russian connection ini agak aneh; ternyata perjalanannya ke Glasgow tidak sia-sia.

“Mmmm… inisiator polonium dan lithium ini apakah akan dipakai untuk meledakkan bom anti personel?” ia bertanya.

“Oh, ya, bisa dikatakan begitu,” jawab orang Wales itu. “Sebuah inisiator adalahsesuatu yang memicu sebuah bom nuklir.”

129

BAGIAN KETIGA

16

Brian harcourt-smith mendengarkan dengan serius, menyandar ke belakang, matanya menatap ke langit-langit, jari-jarinya memainkan pena emas yang ramping. “Sudah semua?” tanyanya saat Preston selesai dengan laporan lisannya. “Ya,” kata Preston.

“Dr. Wynnc-Evans ini, apa dia bersedia menuangkan deduksinya itu dalam bentuk tertulis?”

“Sebenarnya bukan deduksi, Brian. Itu merupakan analisa ilmiah terhadap logam itu, yang dihubungkan dengan fungsinya yang hanya dua itu. Dan, ya, ia setuju menuangkannya dalam bentuk laporan tertulis. Itu akan kulampirkan ke laporanku sendiri.”

“Dan bagaimana kesimpulanmu sendiri? Atau sebaiknya kusebut analisa ilmiah?”

Preston tidak menghiraukan ucapan yang bernada menyindir itu. “Menurut pendapatku sudah jelas bahwa Semyonov datang ke Glasgow untuk meletakkan kaleng tembakau beserta isinya itu di

133

suatu tempat dalam rangka antaran buta, atau menyampaikannya kepada seseorang yang direncanakan untuk menjumpainya,” katanya. “Yang mana pun dari kedua kemungkinan itu, artinya ada seorang ilegal di sini, di wilayah kita ini. Kukira kita bisa mencoba mencari dia.”

“Gagasan bagus. Masalahnya, kita belum punya petunjuk untuk mulai dari mana. Begini, John, aku mau berterus terang. Kau membuat aku, seperti sudah sering kualami, berada dalam posisi yang sulit. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana aku bisa menangani persoalan ini lebih jauh kalau kau tidak bisa memberikan kepadaku bukti yang sedikit lebih baik dari hanya satu lempeng logam langka yang diambil dari seorang warga Rusia yang mati dengan menyedihkan.”

“Lempeng logam itu sudah diidentifikasi sebagai separo dari sebuah inisiator bom atom,” Preston menjelaskan. “Itu bukan hanya sekadar logam biasa.”

“Begini. Setengah dari sesuatu yang mungkin sebuah inisiator dari sesuatu yang mungkin sebuah bomyang mungkin akan disampaikan kepada seorang ilegal Soviet yang mungkin bermukim di Inggris. Percayalah, John, kalau kau bisa mengajukan laporan yang lebih terperinci aku akan, seperti selalu, mempertimbangkannya dengan sangat serius.”

“Dan kemudian melakukan NFA terhadapnya?1* Senyum Harcourt-Smith nampak kaku dan ber—

134

bahaya. “Tidak selalu harus begitu. Semua laporan darimu akan diperlakukan berdasarkan kegunaannya, seperti laporan-laporan yang lain. Sekarang kusarankan kau mencaribuat akusedikitnya suatu bukti yang lebih jelas untuk menopang ke-yakinanmu tentang adanya persekongkolan jahat. Buatlah itu menjadi prioritasmu berikutnya.”

“Baik,” kata Preston sambil bangkit. “Aku akan langsung mengupayakannya.”

“Lakukan itu,” kata Harcourt-Smith.

Setelah Preston pergi, Wakil Direktur Jenderal memeriksa daftar nomor telepon khusus departemennya dan menelepon Kepala Bagian Personalia.

Keesokan harinya, Rabu, 15 April, sebuah penerbangan British Midland Airways dari Paris mendarat di West Midlands Airport, Birmingham, sekitar tengah hari. Di antara para penumpangnya terdapat seorang pria muda berpaspor Denmark.

Nama yang tercantum dalam paspor itu juga nama Denmark, dan seandainya ada orang usil yang mengajaknya bicara dalam bahasa Denmark, ia akan bisa menanggapinya dengan fasih. Pada kenyataannya ibunya memang orang Denmark yang memberinya kemampuan dasar berbahasa Denmark, yang kini sudah disempurnakan melalui sekolah-sekolah bahasa dan melalui kunjungan-kunjungan ke Denmark.

Tapi ayahnya adalah orang Jerman, dan pria

135

muda ini, yang lahir setelah Perang Dunia Kedua, berasal dari Erfurt, tempat dia dibesarkan. Berarti ia adalah warga Jerman Timur. Ia juga seorang staf dinas intelijen SSD Jerman Timur.

Ia tidak tahu seberapa pentingnya misinya ke Inggris itu, dan ia tidak ingin mengetahuinya. Instruksi untuknya sederhana dan ia melaksanakannya secara harfiah. Setelah lolos dari pabean dan imigrasi tanpa kesulitan, ia memanggil sebuah taksi dan minta diantar ke Midland Hotel di New StreeL Selama perjalanan dan selama prosedur check in, ia berhati-hati untuk tidak menggunakan lengan kirinya, yang terbungkus dalam gips. Ia telah diperingatkan bahwa dalam situasi yang bagaimanapun ia tidak boleh mencoba mengangkat kopernya dengan tangannya yang “patah” itu.

Sesampainya di kamarnya, ia mengunci pintu dan mulai menggarap gips yang membungkus lengannya itu dengan cutter baja yang disembunyikan di alas kotak perkakas bercukurnya, dengan hati-hati mengiris gips itu di bagian lengan dalam, mengikuti alur yang ditandai dengan lekukan-lekukan kecil.

Setelah irisan selesai dilakukan, ia membuka selongsong gips itu selebar satu sentimeter lebih sedikit dan menarik keluar lengannya, pergelangan, dan tangannya. Selongsong kosong itu lalu dimasukkannya ke dalam sebuah tas belanja plastik yang dibawanya.

Ia menghabiskan seluruh sore itu di dalam ka—

136

marnya supaya staf siang yang bertugas di bagian resepsion tidak akan melihat dia tanpa selongsong gips itu di lengannya, lalu meninggalkan hotel itu setelah malam tiba, yaitu saat giliran staf lain yang bertugas.

Kios koran di Stasiun New Street adalah tempat yang ditentukan sebagai tempat rendezvous, dan pada jam yang ditentukan, seorang pria yang mengenakan pakaian kulit hitam pengendara sepeda motor menghampiri dia. Mereka saling menggumamkan identifikasi masing-masingbeberapa detikkemudian tas belanja plastik itu diserahkan, dan sosok yang berpakaian kulit itu menghilang. Orang yang lalu-lalang di situ tidak ada yang memperhatikan.

Dengan datangnya subuh, ketika staf malam hotel masih bertugas, orang Denmark itu check out, naik kereta api pagi ke Manchester, dan terbang keluar dari bandara di kota itu, di sana tak seorang pun pernah melihat dia, dengan atau tanpa gips di lengannya. Saat matahari terbenam, lewat Hamburg, ia tiba kembali di Berlin, sebagai seorang Denmark ia harus melalui pemeriksaan di Tembok Berlin di Tempat Pemeriksaan Charlie. Orang-orangnya sendiri menjumpai dia di sisi tembok yang satu lagi, mendengarkan laporannya, dan membawanya pergi. Kurir Tiga telah melaksanakan tugasnya.

John Preston sedang kurang senang hatinya dan merasa jengkel. Pekan yang sudah direncanakan—

137

nya untuk mengambil cuti dan menghabiskan waktu bersama Tommy ternyata kacau. Hari Selasa itu sudah terpakai sebagian untuk memberikan laporan lisan kepada Harcourt-Smith, dan Tommy terpaksa menghabiskan seluruh hari itu dengan membaca atau nonton TV.

Preston bersikeras untuk melanjutkan rencana mereka pergi ke museum lilin Madame Tussaud hari Rabu pagi, tapi sore harinya pergi ke kantornya untuk menyelesaikan laporan tertulisnya. Surat dari Crichton dari Bagian Personalia ada di meja tulisnya, la membacanya dengan setengah tidak percaya.

Surat itu ditulis, seperti selalu, dalam nada yang bersahabat. Katanya, catatan menunjukkan bahwa Preston masih mempunyai hak untuk mengambil cuti selama empat minggu; dia pasti tahu peraturan kantornya; menumpuk cuti tidak dapat dibenarkan karena sebab yang jelas, yaitu perlunya menjaga supaya semua waktu cuti dijalankan sesuai jadwal, dan seterusnya, dan seterusnya, dan seterusnya. Singkatnya, dia diwajibkan untuk mengambil seluruh cutinya yang tertumpuk itu dengan segera yaitu, mulai besok pagi.

“Orang-orang goblok/ ia memaki-maki Bagian Personalia dalam hati, “beberapa dari mereka bahkan tidak sanggup mencapai kaleng bir mereka tanpa bantuan anjing pelacak Labrador.”

la lalu menelepon Bagian Personalia dan bersikeras untuk berbicara dengan Crichton sendiri.

138

“Tim, ini aku, John Preston. Begini, surat di mejaku ini apa maksudnya? Aku tak mungkin cuti sekarang; aku sedang menangani kasus, pas di tengah-tengah kasus…. Ya, aku tahu memang sebaiknya tidak menumpuk cuti, tapi kasus ini juga penting, sangat penting malahan.”

Ia mendengarkan penjelasan sang birokrat tentang bagaimana sistem akan kacau kalau para staf menumpuk terlalu banyak cutilalu menyela. “Begini, Tim, begini saja. Kau coba telepon Brian Harcourt-Smith. Ia akan menjelaskan betapa pentingnya kasus yang sedang kutangani ini. Aku akan ambil cuti di musim panas nanti.”

“John,” kata Tim Crichton dengan sabar, “justru surat itu dikirimkan atas instruksi kilat dari Brian.”

Preston menatap telepon itu selama beberapa saat. “Oh begitu,” katanya akhirnya, lalu meletakkan telepon.

“Kau mau ke mana?” tanya Bright ketika ia berjalan ke pintu. #

“Aku perlu minum,” kata Preston.

Saat itu sudah lewat waktu makan siang dan bar hampir kosong. Mereka yang makan siangnya terlambat belum lagi digantikan oleh mereka yang ingin minum dini di petang hari. Nampak satu pasangan yang datang dari Charles Street sedang berasyik-masyuk di sebuah sudut, sehingga Preston memilih untuk duduk di bangku bar saja. Ia ingin menyendiri. “Whisky,” katanya, “gelas besar.”

139

“Saya juga sama,” sebuah suara terdengar di sampingnya. “Dan saya pesan duluan tadi.”

Preston menoleh dan melihat Barry Banks dari K7.

“Halo, John,” kata Banks, “tadi kulihat kau berjalan ke sini ketika aku lewat di lobi. Aku cuma mau mengatakan aku punya sesuatu buat kau. The Master merasa sangat berterima kasih.”

“Oh, ya, itu.”

“Akan kubawa ke kantormu besok,” kata Banks.

“Jangan repot-repot,” kata Preston dengan marah. “Kita di sini sekarang untuk merayakan cutiku yang empat minggu. Mulai besok pagi. Dipaksa. Cheers.”

“Jangan tolak itu,” kata Banks dengan sabar. “Kebanyakan orang akan senang sekali meninggalkan tempat kerja.” Dia bisa melihat bahwa Preston sedang marah karena sesuatu sebab dan bermaksud menghibur rekannya yang berdinas di MI-5 itu. Yang tak bisa diutarakannya kepada Preston adalah bahwa dia sedang menjalankan tugas dari Sir Nigel Irvine untuk menggali informasi dari kambing hitam Harcourt-Smith ini dan melaporkan hasil penemuannya.

Setelah minum tiga gelas whisky selama satu jam, Preston masih juga tenggelam dalam kemurungan. “Aku sedang memikirkan kemungkinan untuk mengundurkan diri,” katanya tiba-tiba.

Banks, seorang pendengar yang baik yang menyela sekali-sekali hanya untuk menyerap infor—

140

masi, merasa ikut prihatin. “Sungguh drastis itu,” katanya. “Apa memang separah itu situasinya?”

“Begini, Barry, aku tidak keberatan disuruh terjun bebas dari ketinggian enam puluh ribu meter. Aku bahkan tidak keberatan aku ditembaki saat payung membuka. Tapi aku akan sangat jengkel kalau serangan itu datangnya dari orang-orang kita sendiri. Cukup masuk akalkah itu?”

“Bagiku itu sangat bisa diterima,” kata Banks. “Jadi, siapa yang menembak?”

“Orang hebat yang di lantai atas itu,” Preston menggeram. “Aku baru saja memberikan sebuah laporan yang rupanya tidak disukainya.”

“Di NFA-kan lagi?”

Preston mengangkat bahu. “Pasti begitu.”

Pintu membuka dan serombongan staf dari Lima keluar. Brian Harcourt-Smith berada tepat di tengah-tengah mereka, dikelilingi kepala-kepala seksinya.

Preston menghabiskan minumannya. “Well, terima kasih atas perhatianmu dan aku permisi dulu. Aku mau mengajak anakku nonton film malam ini.”

Setelah Preston pergi, Barry Banks menghabiskan minumannya, menghindar dari ajakan rombongan tadi untuk bergabung di bar, dan menuju kantornya. Dari sana ia menelepon dan berbicara lama dengan C di kantornya di Sentinel House.

Belum lewat tengah malam hari Kamus itu ketika Mayor Petrofsky tiba kembali di Chcrryhayes

141

Close. Pakaian kulit hitam dan helmnya ditanggalkannya bersama sepeda motor BMW-nya di garasi sewaannya di Thctford. Ketika dia dengan perlahan mengendarai mobil Ford nya yang kecil itu di atas jalur semen di depan garasi rumahnya dan kemudian masuk ke rumahnya, ia mengenakan pakaian berwarna lembut dan jas hujan ringan. Tak ada yang melihat dia atau tas plastik di tangannya.

Setelah mengunci pintu depan baik-baik, ia lalu naik ke lantai atas dan membuka laci paling bawah lemari pakaiannya. Di dalamnya ada sebuah radio transistor Sony. Di samping itu diletakkannya selongsong gips yang kosong tadi.

Ia tidak mengutak-atik kedua barang itu. Ia tidak tahu apa isinya, dan ia juga tidak ingin tahu. Itu adalah tugas si perakit nanti, yang belum akan hadir untuk melakukan tugasnya sampai seluruh komponen yang diperlukan sudah diterima dengan aman.

Sebelum tidur, Petrofeky membuat secangkir teh untuk dirinya sendiri. Seluruhnya ada sembilan kurir. Itu artinya sembilan rendezvous pertama dan sembilan penopang kalau kalau ada yang gagal dalam pertemuan yang pertama itu. Ia telah menghafalkan semuanya, ditambah enam lagi yang mewakili ketiga kurir ekstra yang akan dipakai sebagai pengganti bilamana diperlukan.

Salah satu dari mereka sekarang sudah harus dipanggil, karena Kurir Dua ternyata tidak muncul. Pctrofsky tidak tahu mengapa rendezvous itu ga—

142

gal. Jauh di Moskow sana, Mayor Volkov tahu. Moskow telah menerima laporan lengkap dari konsulnya yang di Glasgow, yang telah memberitahu dengan pasti bahwa barang milik pelaut yang tewas itu terkunci dalam lemari besi di kantor polisi Parlick dan akan tetap berada di sana sampai ada pemberitahuan selanjutnya.

Petrofsky mengecek daftar hafalannya. Kurir Empat dijadwalkan dating empat hari lagi, dan pertemuan direncanakan di West End London. Saat ia berangkat tidur, fajar tanggal enam belas mulai menjelang. Pada waktu dia mulai lelap, dia mendengar bunyi truk susu masuk ke jalan itu dan bunyi botol-botol beradu, yang merupakan antaran pertama untuk hari itu.

Kali ini, Banks menjalankan misinya dengan cara yang lebih terbuka. Ia sedang menunggu Preston di lobi gedung apartemennya, hari Jumat sore, ketika agen MI-5 itu tiba dengan mobilnya bersama Tommy yang duduk di kursi penumpang.

Mereka berdua baru saja mengunjungi ke Museum Pesawat Terbang Hcndon, di sana si bocah, karena sangat bergairah melihat pesawat-pesawat tempur dari zaman dahulu, telah menyatakan bahwa ia ingin menjadi pilot kalau dia sudah besar nanti. Ayahnya tahu bahwa dia telah memutuskan untuk memilih enam karier sebelum itu, dan pasti akan berubah pikiran lagi sebelum lewat tahun itu.

143

Sore itu telah berjalan dengan cukup menyenangkan.

Banks nampaknya terkejut melihat anak itu; jelas ia tidak menyangka anak itu akan berada di situ. Ia mengangguk dan tersenyum, dan Preston memperkenalkan dia kepada Tommy sebagai “seseorang dari kantor”.

“Ada apa kali ini?” tanya Preston.

“Seorang rekanku ingin berbicara lagi dengan kau,” kata Banks dengan hati-hati.

“Kalau hari Senin bagaimana?” tanya Preston. Hari Minggu nanti pekan liburannya bersama Tommy akan berakhir dan dia harus mengantarkan anak itu ke Mayfair serta menyerahkannya lagi pada Julia.

“Sebenarnya, dia sedang menunggumu sekarang ini.”

“Di jok belakang lagi?” tanya Preston. “Er… tidak. Sebuah flat kecil punya kami di Chelsea.”

Preston menghela napas. “Berikan alamatnya padaku. Aku akan ke sana dan tolong ajak Tommy jalan-jalan beli es krim.”

“Aku harus mengecek dulu,” kala Banks.

Ia lalu menghampiri sebuah boks telepon di dekat situ dan menelepon. Preston dan putranya menunggu di trotoar. Banks kembali ke situ dan menganggukkan kepala.

“Bisa,” katanya, dan memberikan secarik kertas kepada Preston. Preston pergi mengendarai mobil—

144

nya sementara Tommy menunjukkan kepada Banks kedai es krim favoritnya.

Flat itu kecil dan letaknya tersembunyi, dalam sebuah bangunan modern, masuk dari Chelsea Manor Street. Sir Nigel sendiri yang membuka pintunya. Dia, seperti biasanya, menunjukkan basa-basi cara kuno. “My dear John, kau baik sekali mau datang.” Seandainya seseorang dibawa ke hadapannya dengan diikat seperti ayam dan diangkat oleh empat orang berbadan besar, ia tetap saja akan mengatakan, “Baik sekali Anda mau datang.”

Setelah mereka berdua duduk di ruang duduk yang sempit, sang Master mengacungkan file asli laporan Preston. “Terima kasih setulusnya. Sangat

menarik.”

“Tapi tidak dipercaya nampaknya.”

Sir Nigel memandang pria yang lebih muda itu sekilas dengan tajam, tapi memilih kata-katanya dengan hati-hati. “Aku belum tentu setuju itu.” Ia lalu cepat-cepat tersenyum dan mengalihkan pembicaraan. “Nah, kau jangan menyalahkan Barry, tapi aku meminta dia untuk mengamatimu. Rupanya kau kurang senang dengan pekerjaanmu yang sekarang.”

“Saat ini saya malahan sedang tidak bekerja, sir. Saya sedang mengambil cuti karena dipaksa.” “Begitu yang kudengar. Sesuatu yang terjadi di

Glasgow, bukan?”

“Anda belum menerima laporan mengenai peristiwa Glasgow itu minggu lalu? Itu menyangkut

145

seorang pelaut Rusia, seorang yang menurut saya adalah seorang kurir. Itu kan jelas menyangkut Enam?”

“Pasti aku akan menerimanya tidak lama lagi,” kata Sir Nigel dengan hati-hati. “Maukah kau menceritakannya padaku?”

Preston memulai dari awal dan mengisahkan kejadian itu sampai selesai, sepanjang yang diketahuinya. Sir Nigel duduk di situ seakan tenggelam dalam permenungan, dan memang begitu: sebagian pikirannya menerima kata-kata itu dan sebagian lagi mencoba mencernanya.

Mereka lidak akan,sampai berbuat begitu, bukan? begitu pikirnya. Melanggar Protokol Keempat? Atau mungkin begitu? Orang yang terpojok bisa saja melakukan tindakan-tindakan nekat, dan ia tahu bahwa dalam beberapa sektor—produksi pangan, ekonomi, perang di Afghanistan—Uni Soviet memang sedang berada dalam posisi terpojok. Ia lalu menyadari bahwa Preston sudah berhenti berbicara. “Maafkan aku,” katanya. “Apa kesimpulanmu dari semua kejadian itu?”

“Saya berpendapat bahwa Scmyonov bukan petugas dek kapal dagang, melainkan seorang kurir. Kesimpulan itu menurut saya tidak bisa dihindari. Tidak mungkin ia akan melindungi apa yang sedang dibawanya itu, atau mengakhiri hidupnya untuk menghindari interogasi dari pihak kiui—kalau dia tidak diberitahu bahwa misinya itu teramat penting nilainya.”

146

“Cukup,bisa diterima,” Sir Nigel setuju. “Jadi?”

“Jadi menurut saya memang ada penerima yang sudah siap menerima lempeng polonium itu, baik secara langsung lewat suatu rendezvous atau secara tak langsung lewat antaran buta. Itu artinya di sini ada ilegal, di wilayah kita. Saya kira kita harus mencoba mencari dia.”

Sir Nigel mengerutkan bibirnya. “Kalau dia seorang ilegal kelas satu, mencari dia sama sulitnya dengan mencari jarum di tumpukan jerami,” ia bergumam.

“Ya, saya tahu itu.”

“Seandainya kau tidak diwajibkan untuk mengambil cuti, kau akan minta wewenang untuk melakukan apa?”

“Saya rasa. Sir Nigel, satu lempeng polonium tidak ada manfaatnya hari siapa pun. Apa pun yang sedang direncanakan si ilegal, pasti ada komponen-komponen lainnya. Nah, siapa pun yang memberikan perintah kepada Semyonov, lelah memutuskan untuk tidak memanfaatkan kantong pos diplomatik Kedutaan Rusia. Saya tidak tahu mengapa—padahal akan jauh lebih mudah mengirimkan sebuah bingkisan yang diperkuat dengan pinggiran timah ke Inggris, melalui kantong pos diplomatik dan menyuruh salah satu agen Jalur N mereka membawa barang itu sebagai antaran buta ke suatu tempat untuk kemudian diambil oleh orang yang bermukim di sini tadi. Jadi saya bertanya pada diri sendiri, mengapa mereka tidak memilih melakukan

147

itu saja. Dan jawaban singkatnya adalah, saya tidak tahu.”

“Benar,” Sir Nigel setuju, “jadi?”

“Jadi kalau ada satu kiriman—yang gagal— maka pasti akan ada kiriman lain. Mungkin sebelumnya sudah ada kiriman-kiriman lain. Berdasarkan hukum perkiraan rata-rata, pasti masih akan ada lagi. Dan nampaknya kiriman-kiriman itu akan disampaikan lewat ‘keledai-keledai’, yang menyamar sebagai pelaut biasa dan hanya Tuhan yang tahu sebagai apa lagi.”

“Dan setelah itu yang kaulakukan—apa?” tanya Sir Nigel.

Preston menarik napas dalam-dalam. “Kalau saja posisi saya tidak begini, saya akan”—ia menekankan kata kalau saja itu—”melacak kembali semua orang yang masuk ke Inggris dari Rusia empat puluh, lima puluh, bahkan mungkin seratus hari ini. Kita tidak bisa mengharapkan akan ada lagi pengeroyokan seperti yang dilakukan berandal-berandal itu, tapi bisa saja terjadi peristiwa lain. Lalu saya akan memperketat pengawasan terhadap semua orang yang masuk dari Uni Soviet, dan bahkan dari seluruh Blok Timur, untuk melihat apakah kita bisa mendeteksi adanya kiriman komponen lain. Sebagai kepala C5(C) saya akan bisa melakukan itu.”

“Dan sekarang kau berpendapat bahwa kau tak mungkin akan memperoleh kesempatan?”

Preston menggelengkan kepala. “Bahkan sean—

148

dainya saya diperbolehkan bekerja besok pagi, saya hampir yakin bahwa saya harus melepaskan kasus ini. Sudah jelas saya ini dianggap sebagai orang yang suka membuat onar dan menimbulkan gelombang.”

Sir Nigel mengangguk sambil tepekur. “Melanggar batas-batas kedinasan sering kali dianggap kurang baik,” katanya, seakan sedang melafalkan alur pikirannya. “Ketika aku memintamu untuk pergi ke Afrika Selatan untukku. Sir Bernard-Iah yang memberikan izin. Tapi kemudian aku tahu bahwa penugasan itu, walaupun sangat pendek masanya, telah menimbulkan—apa istilahnya?—rasa permusuhan di beberapa sektor di Charles Street.

“Jadi, aku tidak menghendaki persengketaan dengan dinas lain yang merupakan saudara sekandung dinasku. Di pihak lain, aku punya pandangan, yang sama dengan pandanganmu sendiri, bahwa barangkali gunung es yang ada di bawah puncaknya yang nampak itu lebih besar daripada yang kita sangka. Singkatnya begini, kau punya cuti empat minggu. Bersediakah kau memakai waktumu itu untuk menggarap kasus ini?”

“Buat siapa?” tanya Preston kebingungan.

“Buat aku,” kata Sir Nigel. “Kau tidak mungkin pergi ke Sentinel, karena orang akan melihatmu. Berita akan tersiar.”

“Jadi saya akan bekerja di mana?”

“Di sini,” kata C. “Tempat ini kecil tapi sangat nyaman. Dan aku juga memiliki wewenang seperti

149

wewenang yang kaumiliki untuk menanyakan semua hal yang kauscbutkan tadi. Semua peristiwa yang menyangkut orang yang baru tiba dari Soviet atau negara Blok Timur akan dicatat, baik di atas kertas atau di komputer. Dan karena kau tidak bisa dekat dengan file-file atau komputer itu, aku akan atur supaya file-file dan printout diantarkan padamu. Bagaimana?”

“Kalau Charles Street tahu akan semua ini, karier saya akan habis di Lima,” kata Preston. Ia memikirkan gajinya, pensiunnya, kemungkinan untuk memperoleh pekerjaan lain dalam umurnya yang sekarang ini, dan… Tommy.

“Berapa lama lagi kau kira kau akan bekerja di Charles di bawah kepemimpinan yang sekarang ini?” tanya Sir Nigel.

Preston tertawa pendek. “Tidak lama,” katanya. “Baiklah, sir, saya menerima itu. Saya memang ingin tetap menggarap kasus ini. Masih ada sesuatu yang tersembunyi di balik semuanya ini.”

Sir Nigel mengangguk menyetujui ucapannya itu. “Kau orang yang ulet, John. Aku menghargai keuletan. Biasanya itu akan membuahkan hasil. Datanglah ke sini pada hari Senin. Aku akan menugaskan dua anak buahku untuk mclayanimu. Minta saja kepada mereka apa yang kaupcrlukan, dan mereka akan memenuhinya.”

Pada hari Senin pagi, 20 April, saat Preston memulai kerjanya di flat di Chelsea, seorang pe—

150

main piano konser yang amat terkenal tiba di Heathrow Airport dari Prana, dalam rangka menggelarkan konsernya di Wigmore Hall petang hari berikutnya.

Para pejabat bandara telah diminta untuk meningkatkan kewaspadaan, dan demi menghormati reputasi sang pemusik, pabean dan imigrasi hanya sedikit saja memperketat pemeriksaan terhadap dirinya. Pianis yang sudah berumur ini setelah melewati pabean disambut oleh seorang wakil dari organisasi sponsor dan, bersama rombongan kecilnya lalu diantar ke suite-nya di Cumberland Hotel.

Rombongannya terdiri dari ahli tata riasnya, yang menangani pakaiannya dan aspek-aspek penampilan lainnya dengan penuh pengabdian; seorang sekretaris wanita yang mengurus surat-surat penggemar dan korespondensi lain; dan pembantu pribadinya, seorang pria jangkung yang bertampang muram bernama Lichka, yang mengurus masalah keuangan dan negosiasi dengan organisasi dari negara tuan rumah, dan kelihatannya mempunyai kebiasaan menelan pil-pil antacid.

Senin itu, Lichka telah menelan pil dalam jumlah yang tidak umum banyaknya. Ia sebenarnya tidak senang akan tugas yang dibebankan kepadanya, tapi agen-agen StB itu sangat menekan dia. Tidak ada orang waras yang berani menentang agen-agen StB, polisi rahasia dan dinas intelijen Cekoslovakia, atau berkeinginan untuk diundang untuk melakukan pembicaraan lebih lanjut di mar-151

kas besar mereka, sebuah tempat yang sangat ditakuti yang disebut “Monastery”. Agen-agen itu menjelaskan bahwa penerimaan cucu perempuan Lichka di universitas akan sangat dipermudah jika ia bersedia membantu mereka—suatu cara yang sopan untuk mengatakan bahwa cucunya itu pasti tidak akan diterima kalau dia menolak permintaan mereka.

Ketika mereka mengembalikan sepatunya, ia tidak melihat tanda-tanda perubahan apa pun pada sepatunya itu, dan sesuai dengan instruksi, ia memakainya saat melakukan penerbangan dan menuju Heathrow Airport.

Petang itu, seorang pria menghampiri meja reception dan dengan sopan menanyakan nomor kamar Lichka. Dengan sama sopannya nomor itu diberitahukan. Lima menit kemudian, tepat pada jam yang sudah dijadwalkan bagi Lichka, terdengar ketukan perlahan di pintu kamarnya. Secarik kertas disorongkan di bawah pintu itu. Ia memeriksa kode identitasnya, membuka pintu itu selebar tiga belas sentimeter, dan menyerahkan sebuah tas plastik yang berisi sepatunya. Tangan-tangan yang tak terlihat menerima tas itu dan Lichka menutup pintu kembali. Setelah kertas itu dilenyapkannya dengan cara mengguyurnya ke dalam toilet, ia bernapas dengan lega. Ternyata lebih mudah daripada yang diperkirakannya. Sekarang, pikirnya, kami bisa memusatkan diri pada urusan musik.

Sebelum tengah malam hari itu, di suatu tempat

152

terpencil di Ipswich, sepatu itu bergabung dengan selongsong gips dan sebuah radio transistor dalam laci bawah sebuah lemari pakaian. Kurir Empat telah melaksanakan tugasnya.

Sir Nigel Irvine mengunjungi Preston di apartemen Chelsea pada hari Jumat sore. Staf MI-5 itu nampak lelah, dan flat itu penuh dengan file-file dan printout komputer yang berserakan di mana-mana.

Ia telah menghabiskan lima hari dan tidak memperoleh apa-apa. Ia memulai dengan setiap orang yang masuk ke Inggris dari Uni Soviet selama empat puluh hari yang telah lewat Ternyata ada ratusan: delegasi-delegasi perdagangan, pembeli-pembeli di bidang industri, para jurnalis, wakil-wakil serikat buruh, serombongan penyanyi koor dari Georgia, sekelompok penari Cossacks, sepuluh atlet bersama seluruh kontingennya, dan suatu tim dokter yang datang untuk menghadiri konferensi medis di Manchester. Dan semua itu baru orang-orang Rusia saja.

Juga masuk dari Rusia adalah para turis yang pulang: para pecinta seni yang pulang dari kunjungan mereka ke Museum Hermitage di Leningrad, kelompok anak sekolah yang baru saja melawat untuk menyanyi di Kiev, dan delegasi “perdamaian” yang memberikan sumbangan yang berarti bagi mesin propaganda Soviet dengan mengutuk negerinya sendiri di konferensi pers di Moskow dan di Kharkov.

153

Bahkan daftar itu masih belum mencakup kru Aeroflotyang masuk-keluar sebagai kegiatan normal perjalanan “udara mereka, sehingga Prajurit Satu Romanov sama sekali tidak muncul dalam data.

Dan tentu saja tidak ada data yang menunjukkan seorang pria Denmark yang dalang ke Birmingham dari Paris dan meninggalkan Inggris melalui Manchester.

Pada hari Rabu, Preston mempunyai dua pilihan; tetap menekuni arus masuk dari Uni Soviet dan melanjutkannya dengan lingkup enam puluh hari, atau memperluas jaring untuk mencakup semua yang masuk dari semua negara Blok Timur. Itu artinya akan meliputi ribuan orang. Ia memutuskan untuk menekuni dulu lingkup waktu empat puluh hari itu tapi memasukkan negara-negara komunis non-Sovict. Untuk itu jumlah kertas yang harus ditangani membengkak menjadi setinggi pinggang.

Pabean sangat membantu. Telah terjadi sejumlah penyitaan, tapi kasusnya selalu menyangkut batas yang dibolehkan untuk barang duty-free. Tidak ada barang sitaan yang mengundang kecurigaan. Imigrasi ternyata tidak menemukan kasus paspor “cacat*, tapi ini memang sudah bisa diduga sebelumnya. Kenakalan dan kecurangan yang dilakukan orang-orang dari Dunia Ketiga terhadap paspor mereka tidak ditemukan pada orang-orang dari negara blok komunis. Bahkan tidak ada kasus paspor yang habis masa berlakunya, yang sering kali merupakan alasan bagi petugas imigrasi untuk menghalangi masuknya pe-154

ngunjung. Di negara-negara komunis paspor seseorang biasanya sudah sedemikian ketatnya diperiksa sebelum keberangkatan orang tersebut sehingga kemungkinannya sangat kecil orang itu akan mendapat kesulitan di bandara Inggris.

“Dan itu,” kata Preston dengan murung, “berarti masih ada yang belum diperiksa—pelaut-pelaut kapal dagang, yang masuk tanpa pemeriksaan di lebih dari dua puluh pelabuhan niaga; para kru kapal-kapal pabrik ikan yang saat ini berlayar di perairan Skotlandia; para awak pesawat komersial, yang hampir-hampir tidak diperiksa sama sekali; dan mereka yang dilindungi secara diplomatik.”

“Seperti telah kuduga,” kata Sir Nigel. “Tidak mudah. Kau punya gagasan mengenai apa yang kaucari?”

“Ya, sir. Saya meminta salah satu anak buah Anda menggunakan waktunya Senin yang lalu untuk hadir di Aldcrmaston bersama para petugas di bagian rekayasa nuklir. Rupanya lempeng polonium itu cocok untuk sebuah bom yang kecil, kasar, dengan rancang bangun yang sederhana, dan tidak begitu kuat daya ledaknya—itu kalau bom atom bisa dianggap punya daya ledak yang ‘tidak begitu kuat’.” Ia memberikan kepada Sir Nigel sebuah daftar komponen. “Saya kira, komponen-komponen itulah yang sedang kita cari.”

C mempelajari daftar komponen itu. “Cuma ini saja yang diperlukan untuk merakit sebuah bom atom?” ia bertanya akhirnya.

155

“Kalau perangkatnya, saya kira, memang cuma itu. Saya juga tidak menyangka itu bisa dibuat dengan begitu sederhana. Selain dari inti atomnya dan penumbuk bajanya, bahan-bahan itu dengan mudah bisa disembunyikan di mana saja dan tidak

akan mengundang kecurigaan.”

“Baiklah, John, apa rencanamu saat ini?”

“Saya sedang mencari suatu pola, Sir Nigel. Hanya itu yang bisa saya cari. Suatu pola masuknya seseorang ke dalam negeri ini dan keluar lagi dengan nomor paspor yang sama. Kalau hanya satu atau dua kurir yang digunakan, maka mereka harus sering masuk dan keluar lagi, memakai tempat-tempat masuk dan keluar yang berbeda-beda, dan mungkin tempat berangkat yang juga berbeda-beda di luar negeri; tapi kalau muncul suatu pola, maka kita akan bisa meminta peningkatan kewaspadaan di seluruh negeri terhadap nomor-nomor paspor tertentu yang tidak banyak jumlahnya. Ini mungkin tidak banyak membantu, lapi ini maksimal yang bisa dilakukan.”

Sir Nigel bangkit. “Lanjutkan itu, John. Aku akan mengatur supaya kauperoleh apa saja yang kaupcrlukan. Mari kita berdoa siapa pun yang sedang kita cari akan terpeleset, sekali saja, yaitu menggunakan kurir yang sama dua atau tiga kali.”

Tapi Mayor Volkov lebih efisien lagi. Ia tidak terpeleset. Ia tidak tahu komponen-komponen itu apa atau akan dipakai untuk apa. Ia hanya tahu

156

bahwa ia diperintahkan mengirim barang-barang tersebut dengan pasti ke Inggris tepat pada waktunya untuk serangkaian rendezvous, bahwa setiap kurir harus menghafalkan jadwal pertemuan pertama dan pertemuan cadangannya, dan bahwa tidak ada satu pun yang boleh dikirim melalui rezidentura KGB di Kedutaan Rusia di London.

Ia ditugaskan mengirimkan sembilan bingkisan dan ia mempersiapkan dua belas kurir. Ia tahu bahwa beberapa di antara mereka bukan profesional, tapi karena penyamaran mereka sempurna dan perjalanan mereka telah diatur berminggu-minggu atau berbulan-bulan sebelumnya, seperti halnya dengan Lichka si orang Ccko, ia merasa aman menggunakan mereka.

Supaya Mayor Jenderal Borisov tidak curiga karena ia perlu “merampok” lagi darinya dua belas ilegal bersama legenda-legenda mereka, -ia telah memperluas jaringnya ke luar Uni Soviet dengan melibatkan tiga dari dinas-dinas rahasia saudaranya: StB dari Cekoslovakia, SB dari Polandia, dan, terutama sekali Haupt Verwaltung Aufklarung (HVA) Jerman Timur yang amat patuh dan penurut

Orang-orang Jerman Timur itu sangat bagus kerjanya. Sementara di Jerman Barat, Prancis, dan Inggris terdapat masyarakat Polandia dan Cekoslovakia, Jerman Timur memiliki kelebihan yang sangat menguntungkan. Karena persamaan etnik antara Jerman Timur dan Jerman Barat dan adanya

157

kenyataan bahwa jutaan orang Jerman Timur telah lari ke Jerman Barat, maka HVA yang berpusat di Berlin Timur memiliki jauh lebih banyak ilegal di Barat daripada dinas rahasia lainnya dari Blok Timur.

Volkov telah memutuskan untuk hanya memakai dua orang Rusia, dan keduanya akan menjadi orang-orang yang pertama disusupkan. Ia tidak menyangka bahwa orang bisa dikeroyok oleh berandal-berandal jalanan, dan ia juga tidak sadar bahwa kiriman barang milik pelaut itu sudah lenyap dari lemari penyimpannya di kantor polusi Glasgow. Dia hanya tahu bahwa dia harus meningkatkan kewaspadaan tiga kali lipat, karena itu sudah menjadi sifatnya dan dia memang dilatih untuk itu.

Untuk sisa kirimannya yang tinggal tujuh itu, ia menggunakan seorang kurir yang dipasok oleh pihak Polandia, dua oleh pihak Ceko (termasuk Lichka), dan empat oleh pihak Jerman Timur. Kurir yang kesepuluh, yang menggantikan Kurir Dua yang tewas, juga datang dari pihak Polandia. Untuk mengubah rancangbangun dua kendaraan motor, Volkov bahkan menggunakan sebuah bengkel yang dikelola oleh HVA di Brunswick, Jerman Berat

Hanya kedua orang Rusia itu dan satu orang Ceko, Lichka, yang akan menggunakan tempat berangkat di negara Blok Timur; ditambah dengan.

158

sekarang ini, kurir kesepuluh, yang direncanakan berangkat-dengan pesawat Polish Airline, LOT.

Volkov tidak akan pernah memunculkan pola yang sedang dicari-cari Preston di tengah lautan kertasnya di Chelsea.

Sir Nigel Irvine, seperti banyak orang yang bekerja di pusat kota London, berusaha untuk melarikan diri dari kesibukan untuk mencari udara segar di akhir pekan. Dia dan Lady Irvine tinggal di London selama hari-hari kerja, tapi mempunyai sebuah cottage yang kecil di pedesaan di Dorset bagian tenggara, di Pulau Purbcck, di sebuah desa yang bernama Langton Matravcrs.

Hari Minggu itu C mengenakan mantel dan topi dari bahan tweed, membawa tongkat tebal, dan berjalan-jalan menyusuri padang-padang rumput dan jalan-jalan setapak menuju bukit karang di atas Chapman’s Pool di Sl Alban’s Head. Matahari bersinar cerah tapi angin terasa dingin, dan mengembus rambutnya yang keperak-perakan yang keluar dari topinya di atas telinganya bagaikan sayap-sayap kecil. Ia mendaki jalan setapak menuju bukit karang itu dan berjalan sambil terus berpikir keras, sekali-sekali berhenti untuk memandang buih-buih putih berkejaran di Selat Inggris di bawahnya.

Ia sedang merenungkan kesimpulan yang diambil Preston dalam laporannya yang pertama dan betapa itu sangat banyak persamaannya dengan

159

kesimpulan Sweeting di pertapaannya di Oxford. Cuma kebetulan saja? Khayalan kosong? Alasan untuk memperkuat keyakinan diri? Atau cuma sekadar isapan jempol dari seorang abdi negara dan seorang akademisi yang terlalu kuat berkhayal?

Dan seandainya semua itu benar, mungkinkah ada hubungannya dengan sebuah lempeng kecil polonium dari Leningrad yang sampai ke kantor polisi Glasgow tanpa diundang?

Kalau lempeng logam itu seperti apa yang dikatakan Wynne-Evans, maka itu artinya apa? Apakah itu bisa berarti bahwa seseorang, jauh di sana di balik gelombang yang berbuih putih, memang bermaksud melanggar Protokol Keempat?

Dan seandainya itu benar, siapakah gerangan orangnya? Chebrikov dan Kryuchkov dari KGB? Mereka tidak akan pernah berani bertindak kecuali atas perintah Sekretaris Jenderal. Dan jika Sekretaris Jenderal berada di balik semua ini—mengapa?

Dan mengapa kantong pos diplomatik tidak dipakai? Jauh lebih mudah, lebih sederhana, lebih aman. Untuk pertanyaan yang terakhir ini, ia merasa bisa menemukan jawabannya. Menggunakan kantong pos diplomatik berarti menggunakan rezidentura—wilayah kewenangan—KGB di dalam Kedutaan Rusia. C lebih tahu daripada Chebrikov, Kryuchkov, atau Sekretaris Jenderal sendiri, bahwa wilayah itu sudah disusupi. Ia punya sumber di dalam sana, yaitu Andreyev.

160

Sekretaris Jenderal, C menduga, mempunyai alasan kuat untuk merasa terguncang dengan gelombang pembelotan yang terjadi di tubuh KGB akhir-akhir ini. Semua bukti menunjukkan bahwa kekecewaan yang sedang terjadi di semua tingkatan di Rusia sudah demikian mendalamnya sehingga kini sudah merasuk ke jajaran yang paling elit dari yang elit. Kecuali pcmbelotan-pcmbelotan itu, yang^dimulai di akhir tahun 1970-an dan terus berlangsung sampai tahun 1980-an, terjadi juga pengusiran besar-besaran terhadap para diplomat Soviet di seluruh dunia, sebagian disebabkan karena ulah mereka sendiri yang terus mencari agen-agen untuk direkrut, tapi kemudian berlanjut dengan kecemasan yang semakin parah karena para pimpinan diplomatik itu pun juga ikut diusir dan dengan demikian jaringan sistemnya menjadi bcrantakan. Bahkan negara-negara Dunia Ketiga yang, satu dekade yang lalu, begitu patuh terhadap Soviet, sekarang bersikap tegas dengan mengusir agen-agen Soviet karena ulah mereka yang melanggar aturan-aturan diplomatik.

Ya, suatu operasi besar yang dilakukan tanpa dukungan KGB adalah masuk akal. Sir Nigel telah mendengar diri sumber yang bisa dipercaya bahwa sang Sekretaris Jenderal sangat cemas terhadap gencarnya penyusupan dari pihak Barat ke dalam tubuh KGB sendiri. Untuk setiap pengkhianat yang menyerang ke pihak musuh—begitu pameo di

161

kalangan dinas intelijen—bisa dipastikan ada satu lainnya yang masih tinggal.

Jadi, di luar sana ada seseorang yang mengirimkan kurir-kurir bersama barang bawaannya masuk ke Inggris—barang bawaan yang berbahaya, yang membawa anarki dan kekacauan yang bentuknya belum dapat diperkirakan C tapi yang tidak diragukan lagi pasti akan terjadi—sementara dia sedang berjalan-jalan di situ. Dan orang itu bekerja untuk seorang lain lagi, sangat tinggi di tas, yang tidak mempunyai rasa sayang terhadap pulau kecil ini.p>

“Tapi kau tak akan bisa menemukannya, John,” ia bergumam kepada angin yang tak acuh. “Kau tangguh,, tapi mereka lebih tangguh lagi. Dan merekalah yang memegang kartu-kartu As-nya.”

Sir Nigel Irvine adalah salah satu dari kelompok tua yang berjiwa besar, generasi yang sudah akan berlalu karena sedang digantikan di setiap lapisan masyarakat oleh orang-orang baru yang berbeda jenisnya, bahkan juga di lapisan tertinggi pemerintahan ini, di mana kesinambungan gaya dan cara adalah sesuatu yang dulu sangat dipuja-puja.

Demikianlah ia memandang jauh ke seberang Selat Inggris, seperti begitu banyak orang Inggris sebelum dia telah melakukannya, dan ia menetapkan niatnya. Dia tidak yakin bahwa akan terjadi musibah atas tanah air leluhurnya itu, tapi ia yakin bahwa ada kemungkinan mengenai itu. Tapi itu sudah cukup baginya.

162

Lebih jauh dari situ, di sebuah dermaga di atas pelabuhan kecil Newhaven, Sussex, seorang pria lain memandang gelombang-gelombang yang berkejaran di Selat Inggris.

Ia mengenakan pakaian kulit hitam, helmnya terletak di sadel sepeda motor BMW-nya yang diparkir di situ. Beberapa pejalan kaki lewat, bersama anak-anak mereka menikmati hari Minggu, melintasi dermaga, tapi tidak memperhatikan dia.

Ia sedang menyaksikan sebuah ferry menuju ke arahnya, sudah jauh melewati batas cakrawala dan melaju memecah ombak ke arah dermaga pelabuhan itu. Ferry Cornouailles memang akan tiba dari Dieppe tiga puluh menit lagi. Kurir Lima akan berada di alasnya.

Pada kenyataannya, Kurir Lima berada di atas geladak depan, menyaksikan pantai Inggris yang semakin mendekat. Dia termasuk salah satu penumpang yang tidak bermobil, tapi tiketnya berlaku untuk kereta kapal yang akan membawanya langsung ke jantung kota London.

Anton Zelcwski, begitu nama yang tercantum di paspornya, dan data itu sangat akurat Paspor Jerman Barat, demikian didapati oleh pejabat imigrasi, tapi tak ada yang aneh dengan itu. Ratusan ribu warga Jerman Barat mempunyai nama yang berbau Polandia. Ia lolos dari pemeriksaan.

Pabean memeriksa kopernya dan tasnya yang berisi barang-barang duty-free, yang dibelinya di atas kapal. Satu botol gin dan dua puluh lima

163

batang cerutu dalam kotak yang belum dibuka masih dalam batas yang diizinkan. Petugas pabean mengangguk, menyalakan dia lolos, lalu menangani pemeriksaan berikutnya.

Zelewski memang telah membeli sekotak cerutu berisi dua puluh lima batang di toko duty-free di alas kapal Cornouaitles. Selelah itu ia masuk ke kamar mandi, mengunci dirinya di situ, dan melepaskan label-label duty-free dari kotak yang baru dibelinya, lalu menempelkan label-label itu pada kotak lain yang persis sama dengan yang dibawanya. Kolak yang lain itu dibuangnya ke laut.

Dalam kereta yang menuju ke London, Zelewski memilih gerbong kelas satu .yang tepat bersebelahan dengan lokonya, memilih tempat duduk dekat jendela yang sudah ditentukan, dan menunggu. Saat hampir mencapai Lewcs, pintu membuka dan seorang pria berpakaian kulit hitam berdiri di sana. Ia memandang sekilas dan tahu bahwa bilik itu kosong kecuali orang Jerman itu.

“Apakah kereta ini menuju langsung ke London?” ia bertanya dalam bahasa Inggris yang mulus tanpa aksen.

“Saya kira kereta ini juga akan berhenti di Lewes,” jawab Zelewski.

Orang itu mengulurkan tangannya. Zelewski menyerahkan kotak cerutu yang pipih itu padanya. Orang itu memasukkannya ke balik jaketnya, mengangguk, dan berlalu. Ketika kereta itu bertolak lagi dari Lewcs, Zelewski melihat orang itu sekali lagi,

164

di peron di seberang sana, sedang menunggu kereta yang kembali ke Newhaven.

Sebelum tengah malam cerulu-ccrulu itu sudah bergabung dengan radio transistor, selongsong gips, dan sepatu di tempat penyimpanannya di Ipswich. Kurir Lima telah melaksanakan tugasnya.

165

OBI

Di larang meng komcrsil-kan atau kesialan menimpa anda selamanya

17

SIR NIGEL ternyata benar. Sampai hari Kamis, hari terakhir bulan April, bertumpuk-tumpuk printout komputer tidak menunjukkan pola apa pun di antara seluruh warga Blok Timur yang berangkat dari pelabuhan mana pun, dan memasuki Inggris berulang-ulang selama empat puluh hari terakhir. Juga tidak ada pola yang terjadi di antara orang-orang berkebangsaan tertentu yang memasuki negeri ini dari Timur selama periode yang sama.

Sejumlah paspor yang mengundang kecurigaan memang ada, tapi ini hal yang biasa dalam urusan seperti itu. Paspor-paspor itu telah diperiksa, pemegang paspornya diperiksa dengan diminta menanggalkan seluruh pakaiannya, tapi hasilnya tetap saja masih nol besar. Tiga paspor masuk dalam daftar “dicegah masuk”; yang dua adalah orang-orang yang dideportasikan dan berusaha untuk masuk kembali, dan yang satu adalah seorang tokoh dunia hitam Amerika yang bergerak di bidang perjudian dan narkotika. Ketiga orang ini juga

166

sudah digeledah sebelum diantarkan naik pesawat berikutnya untuk dipulangkan, tapi tidak ada sedikit pun petunjuk bahwa mereka adalah kurir dari Moskow.

Seandainya mereka menggunakan warga Blok Barat, atau ilegal dalam negeri yang memiliki dokumen-dokumen lengkap sebagai warga Blok Barat, maka aku tak akan pernah bisa menemukan mereka, pikir Preston.

Sir Nigel sekali lagi memanfaatkan persahabatannya yang sudah lama dengan Sir Bernard Hcmmings untuk mengupayakan kerja sama dengan Lima. “Aku mempunyai alasan untuk berpendapat bahwa Pusat (Partai Komunis) akan berupaya untuk menyusupkan seorang ilegal penting ke dalam negeri kita dalam beberapa minggu ini,” katanya. “Masalahnya, Bernard, adalah bahwa aku tidak memiliki identitasnya, deskripsi tentang dirinya, atau tempat dia akan masuk. Tapi, kalau anak buahmu bisa membantu memberikan keterangan tentang apa yang terjadi di gerbang-gerbang masuk, akan sangat kami hargai.”

Sir Bernard membuat permintaan itu menjadi sebuah operasi, dan sarana-sarana negara yang lain—pabean, imigrasi. Cabang Khusus, dan polisi pelabuhan—telah sepakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap orang-orang tak dikenal yang akan menerobos lewat pemeriksaan atau barang apa saja yang mencurigakan yang dibawa masuk sebagai bagasi.

167

Penjelasan itu cukup masuk akal, dan bahkan Brian Harcourt-Smith pun tidak menghubungkannya dengan laporan John Preston tentang lempeng polonium itu; laporan itu masih tetap tergeletak di nampan pending-nya sementara Brian sendiri masih mereka-reka apa yang akan dilakukannya terhadap laporan tersebut.

Mobil van untuk keperluan berkemah itu tiba pada Hari Perayaan Mei. Ia memiliki registrasi Jerman Barat dan diangkut ke Dover dengan ferry dari Calais. Pemilik dan sekaligus pengemudinya, yang surat-suratnya sangat lengkap, bernama Helmut Dorn, dan bersamanya adalah istrinya, Lisa, dan dua anak yang masih kecil, Uwe, anak laki-laki berambut jagung berumur lima tahun, dan Brigitte, anak perempuan mereka yang berumur tujuh tahun.

Setelah melewati pemeriksaan imigrasi, van itu menggelinding menuju zona hijau pabean yang menangani kasus-kasus “nothing to declare” (tidak membawa barang yang perlu dilaporkan), tapi salah satu petugas memberi isyarat untuk berhenti. Setelah memeriksa kembali surat-surat mereka, petugas itu menyatakan hendak memeriksa bagian belakang van. Herr Dorn mematuhinya.

Kedua anak kecil sedang bermain-main di ruang duduk di dalam mobil dan berhenti bermain ketika melihat orang-orang berseragam masuk ke mobil. Lelaki dewasa itu mengangguk dan tersenyum ke—

168

pada mereka; mereka tertawa cekikikan. Ia memandang ke sekeliling interior yang rapi dan bagus, lalu mulai memeriksa isi lemari-lemari. Seandainya Herr Dorn nervous, ia berhasil menyembunyikannya dengan baik.

Kebanyakan lemari itu berisi barang-barang tetek bengek yang pada umumnya dibawa oleh sebuah keluarga yang akan berkemah dalam rangka liburan—pakaian, peralatan masak, dan sebagainya. Petugas pabean mengangkat sedikit jok-jok kursi, yang di bawahnya merupakan tempat tambahan untuk menyimpan barang-barang. Salah satunya rupanya khusus dipakai untuk menyimpan mainan anak-anak. Di situ ada dua boneka, sebuah boneka teddy bear, dan bermacam-macam bola karet yang dihiasi dengan gambar bundaran besar berwarna-warni mencolok.

Anak perempuan itu, yang sudah hilang rasa malunya, memasukkan tangannya ke dalam kotak dan mengeluarkan salah satu boneka. Ia berceloteh dengan riang kepada petugas pabean itu dalam bahasa Jerman. Petugas itu tidak mengerti, tapi ia mengangguk dan tersenyum.

“Bagus sekali, sayang,” katanya. Lalu ia turun melalui pintu belakang mobil dan menoleh kepada Herr Dorn. “Baiklah, sir. Selamat menikmati liburan.”

Van untuk berkemah itu menggelinding bersama-sama dengan kendaraan-kendaraan lain keluar dari tempat itu dan meluncur ke jalan yang

169

menuju kola Dover, lalu ke jalan raya yang menuju ke wilayah Kent lainnya, terus ke London.

“Gott sei dank,” kata Dorn kepada istrinya dengan lega, “wir sind durch.”

Istrinya yang membacakan peta, (api tidak ada yang rumit. Jalan raya M20 yang ke London dipandu dengan tanda-tanda yang jelas sehingga tidak mungkin orang akan tersesal. Dorn berulang kali melihat arlojinya. Dia agak terlambat dari jadwal, lapi dia diperintahkan untuk jangan sekali-kali melanggar batas kecepatan sewaktu mengendarai mobil.

Mereka menemukan desa yang bernama Charing, di satu sisi jalan raya—tanpa kesulitan—dan di sebelah utaranya dekat dari situ terdapat cafe-taria Happy Eater di sebelah kiri jalan. Dorn berbelok menuju ke tempat parkir dan menghentikan mobil. Lisa Dorn membawa anak-anaknya masuk ke dalam cafe untuk memesan snacL Dorn, sesuai perintah, mengangkat tutup mesin dan memasukkan kepalanya di bawahnya. Beberapa detik kemudian ia merasa ada orang di dekatnya dan ia mendongak. Seorang pria Inggris berusia muda dalam pakaian kulit hitam pengendara sepeda motor berdiri d! situ.

“Ada masai h?” ia bertanya.

“Saya kira pasti karburatornya,” Dorn menjawab.

“Bukan,” kata pengendara sepeda motor itu de—

170

ngan serius, “dugaan saya distributornya. Dan juga. Anda terlambat”

“Maafkan saya, gara-gara ferry itu. Dan pabean juga. Bingkisan itu ada di belakang.”

Di dalam van, pengendara sepeda motor itu mengeluarkan sebuah kantong kanvas dari balik jaketnya, sementara Dorn, mengomel dan menarik-narik, berusaha mengeluarkan sebuah bola milik anak-anak dari kotak penyimpan mainan.

Garis tengahnya hanya dua belas setengah sentimeter, tapi beratnya lebih dari dua puluh kilogram, atau empat puluh empat pon. Uranium-235 murni memang dua kali lebih berat daripada timah.

Mengangkat kantong kanvas itu melintasi tempat parkir menuju sepeda motornya, Valeri Petrofsky harus mengerahkan tenaganya untuk menjinjing kantong itu dengan satu tangan, seakan-akan berisi suatu barang yang biasa saja. Dan memang tak ada yang memperhatikan dia. Dorn menutup kap mesin van dan bergabung dengan keluarganya di cafe. Sepeda motor itu, dengan muatannya di dalam kotak di belakang boncengan, menderu ke arah London, Terowongan Dartford, dan Suffolk. Kurir Enam telah melaksanakan tugasnya.

Pada tanggal 4 Mei Preston menyadari bahwa ia sampai ke jalan buntu. Sudah dua minggu, tapi penyelidikannya belum juga membuahkan hasil

171

apa-apa, kecuali satu lempeng polonium yang jatuh ke tangannya secara sangat kebetulan. Dia tahu bahwa tidak mungkin meminta semua orang yang mengunjungi Inggris digeledah total dan diminta bertelanjang. Paling maksimal yang bisa dimintanya adalah meningkatkan pengawasan terhadap semua pengunjung yang berasal dari Blok Timur, ditambah dengan dia sendiri harus waspada terhadap setiap paspor yang nampak mencurigakan. Masih ada satu lagi kesempatan.

Dari laporan yang dibuat para ahli di proyek rekayasa nuklir di Aldermaston, tiga dari komponen-komponen yang diperlukan untuk merakit bom nuklir yang paling sederhana sekalipun sangat berat. Salah satu di antaranya adalah sebongkah uranium-235 murni; satu lagi adalah penumbuk baja, berbentuk silinder atau bola, terbuat dari baja satu inci—dua setengah sentimeter—yang padat dan keras; dan yang ketiga adalah sebuah tabung baja, juga padat dan keras, kira-kira dua setengah sentimeter tebalnya, sekitar empat puluh lima sentimeter panjangnya, dan tiga puluh pon beratnya atau sekitar lima belas kilogram beratnya.

Ia memperkirakan bahwa ketiga bahan ini, paling tidak, harus dibawa masuk ke negeri ini dengan kendaraan, dan karena itu ia meminta kendaraan-kendaraan asing yang masuk diperiksa dengan lebih intensif, terutama dengan memusatkan perhatian terhadap muatan yang berbentuk mirip bola, globe, dan semacam tabung yang sangat berat.

Ia tahu bahwa wilayah pemeriksaannya akan sangat luas. Arus yang masuk ke dalam dan keluar dari negeri itu: sepeda motor, mobil, van, dan truk berlangsung tanpa henti setiap hari sepanjang tahun. Jika lalu lintas niaga sampai macet, yaitu jika setiap truk distop dan digeledah, maka ini berarti akan menghentikan kegiatan seluruh negeri. Ia sedang mencari sebuah jarum biasa di antara tumpukan jerami, dan ia bahkan tidak mempunyai sebuah magnet

Tekanan yang bertubi-tubi mulai membebani George Berenson. Istrinya baru saja meninggalkan dia dan kembali ke rumah saudara laki lakinya yang mewah di Yorkshire. Dia telah menyelesaikan dua belas pertemuan dengan tim dari kementerian dan telah mengidentifikasi seluruh dokumen yang pernah diberikannya kepada Jan Marais. Ia tahu bahwa ia berada di bawah pengawasan, dan itu membuatnya tambah tegang.

Juga kunjungan rutinnya ke kementerian membuat Permanent Undersecretary, Sir Peregrine Jones, tahu tentang pengkhianatannya. Tekanan mental yang terakhir yang membebani dirinya adalah bahwa dia masih harus sekali-sekali mengirimkan bingkisan-bingkisan yang berisi dokumen-dokumen fiktif dari kementerian kepada Marais, untuk diteruskan ke Moskow. Ia berhasil menghindari pertemuan langsung dengan Marais sejak dia tahu bahwa warga Afrika Selatan itu ternyata adalah agen Soviet Tapi

172

173

dia diharuskan membaca bahan-bahan yang disampaikannya ke Moskow lewat Marais, kalau-kalau Marais meminta penjelasan darinya mengenai suatu dokumen yang sudah dikirimkan.

Setiap kali membaca dokumen-dokumen yang akan dikirimkannya, ia terkesan akan keterampilan pemalsunya. Setiap dokumen didasarkan pada suatu makalah nyata yang pernah melewati kantornya, lapi dengan perubahan-perubahan yang begitu halusnya sehingga tidak ada satu aspek kecil pun yang akan bisa mengundang kecurigaan. Efek kumulatif yang dibentuk adalah kesan yang salah mengenai peta kekuatan dan kesiapan Inggris dan NATO.

Pada hari Rabu tanggal 6 Mei, ia menerima dan membaca satu set dokumen—terdiri atas tujuh makalah—yang mengacu pada resolusi-resolusi, usulan-usulan, briefing-briefing, dan survai-survai, yang dijadwalkan untuk diterima kantornya dalam dua minggu terakhir ini. Semuanya ditandai dengan TOP SECRET atau COSMIC, dan salah satu di antaranya menyebabkan dia mengerutkan alisnya. Ia menyampaikan semua itu ke kedai es krim Benotti petang itu dan ia menerima telepon kode yang mengisyaratkan bahwa barang sudah diterima dengan baik dua puluh empat jam kemudian.

***

Hari Minggu itu, tanggal 10 Mei, sendirian di kamar tidurnya di Cherryhayes Close, Valeri

174

Pelrofsky meringkuk di depan radio portable-nya yang canggih dan menyimak rangkaian sinyal dalam kode Morse lewat Radio Moskow gelombang komersial, yang khusus dialokasikan untuk keperluannya.

Peralatannya itu bukan transmiter; Moskow tidak akan pernah membolehkan seorang ilegal yang penting membahayakan dirinya sendiri dengan mengirimkan sendiri pesan-pesannya, dan menghadapi peralatan penangkalnya—milik Inggris dan Amerika—yang mampu melacak tempat asal transmisi yang sebegitu canggihnya. Yang digunakannya adalah sebuah radio Braun besar, yang bisa dibeli di semua toko elektronik yang bagus, yang mampu menangkap hampir semua gelombang di dunia.

Pelrofsky merasa tegang. Sebulan telah berlalu sejak dia mengirimkan berita dengan transmiter Poplar untuk memberitahu Moskow bahwa satu kurir telah hilang bersama kiriman barangnya dan ia minta itu diganti. Setiap malam kedua dan sekali dua hari setiap pagi, kalau dia sedang tidak keluar dengan sepeda motornya mengambil kiriman-kiriman, ia mendengarkan radionya menunggu jawaban. Sampai sekarang belum ada jawaban.

Pada jam sepuluh lewat sepuluh malam itu, ia mendengar call sign kepunyaannya masuk ke gelombang. Ia telah siap dengan buku catatan dan pensilnya. Setelah berhenti sebentar, pesannya mu—

175

lai disampaikan. Ia menuliskan sandi-sandi itu, serangkaian angka yang seakan tidak berarti, langsung dari Morse ke bahasa Inggris. Pihak Jerman, Inggris, dan Amerika pasti juga sedang mencatat sandi-sandi yang sama itu di pos mereka masing-masing.

Setelah transmisi itu berakhir, ia mematikan alat itu, duduk di meja riasnya, memilih buku catatan sekali-pakai yang cocok, dan mulai menguraikan sandi-sandinya. Ia menyelesaikannya dalam waktu lima belas menit: Firebird Sepuluh menggantikan Dua RVT. Pesan itu diulang tiga kali.

Ia tahu apa yang dimaksud dengan Rendezvous T (RVT). Itu adalah salah satu alternatif yang harus digunakan kalau keadaan menuntut, seperti sekarang ini. Dan itu adalah sebuah hotel bandara. Ia lebih suka cafe di jalan sepi atau stasiun kereta api, tapi ia maklum bahwa walaupun ia merupakan ujung tombak operasi ini, ada kurir-kurir yang karena alasan profesional hanya punya waktu beberapa jam di London dan karena itu tidak bisa meninggalkan kota itu.

Ada satu masalah lagi. Ada Kurir Sepuluh yang akan menjadi pengganti itu di antara dua pertemuan, dan dekat dengan saat rendezvous dengan Kurir Tujuh; ini sangat berbahaya.

Kurir Sepuluh harus dijumpainya pada jam sarapan pagi di Post House Hotel, Heathrow; Kurir Tujuh akan menunggu di tempat parkir hotel di luar Colchester di pagi yang sama, pada jam sebe—

176

las. Itu berarti ia harus ngebut dengan sepeda motornya, tapi ia bisa melakukan itu.

Larut malam hari Selasa tanggal 12 Mei, lampu-lampu masih menyala di Downing Street 10, kantor dan tempat tinggal Perdana Menteri Inggris. Mrs. Margaret Thatcher sedang menyelenggarakan sebuah konferensi dalam rangka merancang strategi dengan para penasihat terdekatnya dan kabinet dalamnya. Satu-satunya topik dalam agendanya adalah pemilihan umum yang akan datang; rapat itu dimaksudkan untuk meresmikan keputusan yang telah diambil dan menentukan timing-nya.

Seperti biasa, ia menyatakan pandangannya sendiri dengan gamblang sejak awal rapat itu. Ia yakin bahwa ia akan dibenarkan memerintah untuk masa empat tahun yang ketiga, walaupun undang-undang dasar hanya membolehkan ia untuk memimpin sampai Juni 1988. Ada banyak pejabat yang langsung merasa ragu-ragu apakah bijaksana untuk melakukan pemilihan umum sedini itu, walaupun sebelumnya mereka juga ragu-ragu apakah mereka akan bisa bertahan. Kalau Perdana Menteri Inggris mempunyai naluri tentang sesuatu, maka hanya dengan argumentasi yang teramat kuat ia bisa ditentang. Khusus dalam masalah ini, data-data statistik rupanya mendukung dia.

Pimpinan Partai Konservatif dengan mudah bisa memperoleh informasi tentang data-data poli pendapat umum. Persekutuan Partai Liberal/Sosial Dc—

177

rintkr.’it, dengan adanya data-data itu, rupanya terpancang pada sekitar dua puluh persen suara untuk seluruh daerah pemilihan nasional. Di bawah sistem Inggris, ini akan memberikan kepada mereka sekitar lima belas sampai dua puluh kursi di Parlemen. Dengan demikian hanya tinggal pertarungan pemilihan antara Partai Konservatif dan Partai Buruh.

Akan halnya timing, indikator-indikator nampaknya mendukung keinginan sang Perdana Menteri untuk mengadakan pemilihan umum dini. Sejak Juni 1983, dengan penampilan baru yang menunjukkan toleransi, kesatuan, dan moderasi. Partai Buruh telah mampu mengembalikan dirinya ke posisi sepuluh persen penuh dalam berbagai poli, dan hanya ketinggalan empat persen dari pihak Koaservatif. Dan, perbedaan kecil ini mungkin bisa dikejar. Kaum Ekstrem Kiri hampir-hampir tidak bersuara, manifesto Kaum Buruh diperlunak bunyinya, dan penampilan-penampilan di televisi dibatasi hanya dilakukan oleh anggota-anggota sayap tengah Partai Buruh. Singkatnya, masyarakat Inggris sudah hampir sepenuhnya percaya kepada Partai Buruh sebagai suatu partai alternatif pemerintahan.

Pada tengah malam dicapai kesepakatan bahwa itu harus dilakukan pada musim panas 1987, atau jangan sampai Juni 1988. Mrs. Thatcher menekan hadirin untuk menyetujui tahun 1987 dan akhirnya menang. Mengenai lamanya masa kampanye, ia

178

mendesak supaya masanya singkat saja, tiga ming-gu kampanye kilat dibandingkan yang biasanya empat minggu itu. Lagi-lagi ia menang.

Akhirnya disetujui; ia akan minta audiensi dengan Sri Ratu pada hari Kamis tanggal 28 Mei dan meminta supaya Parlemen dibubarkan. Sesuai tradisi, ia akan langsung kembali ke Downing Street setelah itu untuk membuat pernyataan kepada masyarakat. Mulai saat itu kampanye pemilihan sudah akan dimulai. Hari pemilihannya ditetapkan Kamis tanggal 18 Juni.

Ketika para menteri itu masih tidur di saat-saat sebelum fajar merekah, sepeda motor BMW itu menderu ke arah London dari arah timur laut. Pelrofsky meluncur menuju ke Post House Hotel di Heathrow Airport, memarkir motornya, mengunci mesinnya, dan menyimpan helmnya di kotak yang berada di belakang boncengan.

Ia melepaskan jaket kulit hitamnya dan menarik lepas celananya yang bcrritsleting samping. Di bawah celana kulit itu ia mengenakan celana flannel abu-abu biasa, agak berkerut tapi tidak terlalu kentara. Ia menyimpan sepatu botnya ke dalam salah satu kantong sadel, yang darinya baru saja diambilnya sepasang sepatu lain. Pakaian kulit itu masuk ke kantong yang lain, di mana ia baru saja mengeluarkan sebuah jas twced yang tidak mencolok dan sebuah jas hujan coklat muda. Ketika ia meninggalkan tempat parkir dan berjalan masuk ke

179

bagian reception hotel, ia nampak seperti seorang pria biasa dengan jas hujan plastik biasa.

***

Karel Wosniak tidak nyenyak tidurnya. Salah satu sebabnya adalah karena ia telah mengalami kejutan paling hebat selama hidupnya malam sebelumnya. Biasanya para awak pesawat penerbangan LOT Polandia, di mana ia menjabat sebagai pramugara senior, diperiksa oleh pabean dan imigrasi hanya untuk formalitas saja. Kali ini mereka digeledah, benar-benar digeledah. Saat petugas Inggris yang memeriksa dia mulai mengorek-ngorek peralatan bercukurnya, ia cemas dan hampir panik. Ketika petugas Inggris itu mengeluarkan alat cukur listrik yang diberikan agen-agen SB kepadanya di Warsawa sebelum lepas landas, rasanya ia akan pingsan. Untunglah, alat cukur itu tidak dijalankan dengan baterai dan bukan model yang bisa di-recharge. Tidak ada stopkontak di situ yang bisa dipakai untuk mencoba. Jadi petugas itu mengembalikan alat cukur itu dan melanjutkan penggeledahannya, tanpa hasil. Wosniak memperkirakan bahwa seandainya alat cukur itu dihidupkan, maka pasti tidak akan bisa hidup. Lagi pula, pasti ada sesuatu di dalamnya selain motornya yang biasa. Mengapa dia diwajibkan untuk membawa itu masuk ke London?

Pada jam delapan tepat, ia memasuki kamar kecil pria tepat di sebelah bagian reception di

180

lantai dasar hotel itu. Seorang pria yang penampilannya tidak menonjol, yang mengenakan jas hujan coklat muda sedang mencuci tangan. Sialan, jika agennya nanti muncul, kita harus menunggu dulu sampai orang Inggris ini pergi. Tapi orang itu berbicara kepadanya, dalam bahasa Inggris.

“Pagi. Apa itu seragam kru penerbangan Yugoslavia?”

Wosniak mendesak lega. “Bukan, saya dari penerbangan nasional Polandia.”

“Negeri yang indah, Polandia,” kata orang yang tak dikenal itu, masih tetap membersihkan tangannya, orang itu nampak benar-benar santai. Wosniak masih baru dalam hal seperti ini—dan ia sudah berjanji pada dirinya sendiri, ini adalah yang pertama dan yang terakhir. Ia hanya berdiri saja di atas lantai berubin itu, memegangi alat cukurnya. “Saya mengalami banyak hal yang menyenangkan di negeri Anda,” orang lak dikenal itu melanjutkan.

Nah, itulah, pikir Wosniak. “Banyak hal-hal menyenangkan….” merupakan ungkapan identitas yang disepakati.

Ia mengulurkan alat cukurnya. Orang Inggris itu mengerutkan dahinya dan matanya melirik ke salah satu pintu toilet. Dengan terkejut Wosniak menyadari bahwa pintu itu tertutup; ada orang di dalamnya. Orang tak dikenal itu mengangguk ke rak di atas wastafel. Wosniak meletakkan alat cukur itu di sana. Lalu orang Inggris itu mengangguk ke arah tempat

181

kencing. Dengan bergegas Wosniak membuka ritsleting celananya dan berdiri di depan salah salu tempat kencing. “Terima kasih,” ia berkata. “Saya juga menganggapnya indah.”



0 Response to "The Fourth Protocol III"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified