Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

The Fourth Protocol II

Chummy saat ini pasti sedang kuatir. Kurasa kita bisa menganggap dia tidak akan cepat-cepat mencuri dokumen top secret lainnya dalam beberapa hari mendatang ini. Akan lebih enak kita memberitahu sckutu-sekutu kita kalau sudah ada sedikit kemajuan, dengan suatu perkiraan jumlah kerugian. Aku ingin menunggu dan melihat apa yang bisa diperoleh oleh orang kita, Preston. Sedikitnya untuk beberapa hari ini.”

Sir Anthony mengangguk. “Perkiraan jumlah kerugian memang sangat penting. Dan rasanya itu tidak mungkin diperoleh sampai kita sudah bisa menemukan Chummy dan membujuk dia untuk menjawab beberapa pertanyaan. Jadi untuk sementara ini kita rupanya harus bergantung pada kemajuan yang dicapai Preston.”

“Kedengarannya seperti judul sebuah buku,” sa-lah seorang menggumam seusai pertemuan itu, para permanent under secretary itu langsung melakukan briefing dengan para mentrinya dalam kerahasiaan yang ketat, dan Sir Martin Flannery tahu bahwa dia akan harus mengalami beberapa saat yang kurang nyaman dengan Mrs. Margaret Thatcher yang sangat berwibawa.

••*

Keesokan harinya, di Moskow, sebuah komite lain menyelenggarakan pertemuannya yang pertama.

152

Mayor Pavlov menelcpon Philby beberapa saat setelah makan siang untuk memberitakan bahwa ia akan menjemput kamerad kolonel itu pada jam enam; sang Kamerad Sekretaris Jenderal PKUS (Partai Komunis Uni Soviet) ingin berjumpa dengannya. Philby menduga (dan ia benar) bahwa tenggang waktu lima jam itu sengaja diberikan supaya dia bisa datang dalam keadaan tidak ma-buk dan dalam pakaian yang layak.

Jalan-jalan pada jam itu, yang diselimuti salju, penuh scsak dengan arus lalu lintas, tapi mobil Chaika dengan pelat nomor MOC itu meluncur lancar di jalur tengah yang disediakan khusus untuk kaum vlasti, kaum elit, kucing-kucing gemuk dalam masyarakat tak berkclas yang menjadi im-pian Marx—masyarakat itu ternyata telah menjadi suatu masyarakat yang terkolak-kotak, berlapis-lapis, dan berkelas-kclas yang hanya bisa terjadi di dalam suatu hierarki birokratik yang mahaluas.

Ketika mereka melewati Ukraina Hotel, Philby menyangka mereka akan melakukan perjalanan jauh ke dacha di Usovo, tapi kira-kira satu kilometer dari situ mereka berbelok menuju pintu gerbang yang berportal yang menuju ke gedung berlantai delapan yang besar di Kutuzovsky Prospekt 26. Philby terheran-heran masuk ke tempat tinggal pribadi anggota Politbiro sungguh merupakan suatu kehormatan yang langka.

Nampak orang-orang Direktorat Utama Sembilan berlalu-lalang di trotoar dalam pakaian biasa.

153

tapi yang bertugas di gerbang baja itu semuanya berseragam, mengenakan mantel abu-abu tebal, topi shapka dari bulu binatang dengan penutup telinga terpasang, dan dengan Icncana biru Pengawal Kremlin. Mayor Pavlov menunjukkan identitasnya dan gerbang baja itu membuka. Cbaika itu meluncur menuju halaman gedung yang luas dan lengang, kemudian berhenti

Tanpa mengucapkan apa-apa mayor itu membawa Philby masuk ke dalam gedung, melalui dua pemeriksaan jati diri, dengan metal-detector yang tersembunyi dan X-ray scanner, lalu menuju ke lift. Sampai di tingkat tiga mereka melangkah keluar, seluruh lantai ini dimiliki olch sang Sekretaris Jenderal. Mayor Pavlov mengetuk sebuah pintu; pintu itu membuka, muncul seorang major-domo—kepala pelayan—yang mengenakan pakaian putih-putih, yang menyilakan Philby masuk. Mayor yang pendiam itu melangkah mundur dan pintu tertutup di belakang Philby. Pelayan mengambil mantel dan topi nya dan dia diantarkan ke sebuah ruang duduk besar, sangat hangat karena orang-orang tua tidak tahan dingin, tapi herannya pe-rabotannya sederhana.

Tidak seperti Leonid Brezhnev, yang mcncintai pajangan yang scmarak, gaya rococo, dan yang mewah, sekretaris jenderal ini dikenal sebagai seorang puritan dalam seleranya pribadi. Perabotannya terbuat dari kayu Swedia atau Finlandia, berbentuk sederhana, putih rapi, dan fungsional. Kecuali dua

154

permadani Bokhara yang pasti sangat mahal, tak ada barang antik. Ada sebuah meja kopi rendah dan empat kursi yang diatur mengitarinya, lingkaran itu nampak terbuka di satu tempat untuk kursi kelima yang masih belum ada. Nampak tiga orang masih berdiri—tak scorang pun duduk sebelum dipersilakan. Philby kenal mereka semua, dan mereka menyapanya dengan menganggukkan kepala.

Satu bernama Vladimir Ilich Krilov. la profesor sejarah modern di Universitas Moskow. Peranannya yang terpenting adalah sebagai ensiklopedi berjalan mengenai partai-partai sosialis dan komunis di Eropa Baral; ia mengkhususkan diri dalam masalah masalah Inggris. Lebih penting lagi, dia juga anggola Soviet Tertinggi, yaitu lembaga paling tinggi di Uni Soviet, yang menganut paham parlemcn satu partai; anggota Akademi Ilmu Pengetahuan; dan sering berperan sebagai konsultan bagi Departemen Internasional Komite Sentral tempat sang Sekretaris Jenderal pernah menjabat sebagai pimpinan.

Pria yang mengenakan pakaian sipil tapi sikapnya seperti seorang militer itu adalah Jenderal Pyotr Sergeivitch Marchenko. Philby hanya kenal dia scpintas lalu, tapi tahu bahwa ia seorang per wira senior di GRU, dinas intelijen militer milik angkatan bersenjata Soviet. Marchenko sangat ahli dalam teknik-teknik keamanan dalam negeri dan lawannya destabilisasi, minatnya yang khusus adalah negara-negara demokrasi Eropa Barat, yang angkatan kepolisiannya dan kekuatan keamanan

155

dalam negerinya telah dipelajarinya selama separo masa hidupnya.

Orang yang ketiga adalah Dr. Josef Viktorovitch Rogov, juga seorang akademikus, bidang fisika. Tapi kcmasyhurannya ada pada gelarnya yang satunya lagi—grand master catur. Ia dikenal sebagai salab satu dari sedikit teman pribadi sang Sekretaris Jenderal, orang yang string dimintai bantuan oleh pemimpin Soviet itu manakala ia merasa perlu menggunakan otak kawannya yang cemerlang itu untuk memikirkan tahapan-tahapan perencanaan operasi-operasi tertentu.

Keempat pria itu sudah dua menit berada di situ ketika pintu ganda di ujung ruangan itu membuka dan masuklah sang penguasa Uni Soviet yang tak tcrbantahkan, penguasa terhadap negara-negara satelit, dan koloni-koloninya.

Ia duduk di kursi roda yang didorong oleh seorang pembantu berperawakan jangkung yang mengenakan jas putih. Kursi roda itu didorong masuk ke tempat kosong dalam lingkaran itu, yang memang disediakan untuknya.

“Silakan duduk,” kata sang Sekretaris Jenderal.

Philby heran melihat perubahan dalam diri orang ini. Ia berumur tujuh puluh lima dan punggung tangannya berbercak-bercak seperti tangan orang yang sangat tua. Operasi bedah jantung di tahun 198S nampaknya berhasil baik, dan alat pacu jantung itu rupanya bcrfungsi dengan baik. Tapi toh dia kelihatan sangat rapuh. Rambutnya

156

yang putih, tebal, dan berkilau dalam potret Upacara Hari Buruh, bulan Mci itu, yang membuatnya nampak seperti seorang dokter keluarga yang favo-rii, kini telah hampir lenyap. Di sekitar kedua ma ia nya nampak bercak-bercak kecoklatan.

Satu setengah kilometer dari Kutuzovsky Prospekt, dekat desa tua Kuntsevo, di sebuah kawasan luas yang dikelilingi pagar kayu palisade sc.tinggi dua meter di jantung hutan pohon birkin, tertetak Rumah Sakit Komite Sentral yang super-eksklusif. Rumah sakit ini merupakan modernisasi dan per-luasan Klinik Kuntsevo yang lama. Di halaman rumah sakit itu terletak dacha tua milik Stalin, sebuah bungalo yang ternyata sangat sederhana tempat sang tiran telah begitu banyak menghabiskan waktunya dan tempat ia akhirnya meninggal. Seluruh dacha ini telah diubah bentuknya menjadi unit medis gawat darurat yang paling modern demi kepentingan pria yang sekarang sedang duduk di kursi rodanya mengamati mereka satu per satu. Enam dokter spesialis top standby penuh di dacha Kuntsevo itu, dan mereka inilah yang setiap minggu menyelenggarakan perawatan terhadap sang Sekretaris Jenderal. Nampak jelas bahwa mereka hanya sekadar berusaha mempertahankan hidupnya. Tapi otaknya masih utuh, di balik tatapan mata yang dingin melalui kacamata berbingkai emas itu. Ia jarang mengedipkan mata, dan jika itu dilakukannya, maka kedipan matanya sangat lam-bat, bagaikan burung yang tak berdaya.

157

Ia tidak menghabiskan waktu untuk berbasa-basi. Philby tahu ia tidak pernah begitu. Sambil mengangguk kepada tiga pria yang lain, ia berkata, “Anda, para Kamerad, telah membaca memorandum tcman kita, Kamerad Kolonel Philby.”

Itu bukan pertanyaan, tapi ketiga pria yang lain mengangguk tanda setuju.

“Jadi Anda tidak akan heran kalau tahu bahwa saya menganggap kemenangan Partai Buruh Inggris, yang berarti kemenangan sayap ultra-kiri partai itu, sebagai suatu prioritas bagi kepentingan Soviet Saya berharap Anda berempat membentuk sebuah komite yang amat tertulup untuk memberitahu saya akan metode-metodc yang menurut Anda baik yang dapat membantu kita—dengan cara terselubung, tentunya—meraih kemenangan itu.

“Anda tidak boleh mcmbicarakan ini dengan siapa pun. Dokumen-dokumen, kalau ada, akan dibuat oleh Anda sendiri. Catatan-catatan akan di-bakar. Pertemuan-pertcmuan akan diadakan di rumah-rumah pribadi. Anda tidak akan saling berhubungan di depan umum. Anda tidak perlu ber-konsullasi dengan orang Iain. Dan Anda akan melapor kepada saya dengan cara menelepon ke sini dan berbicara dengan Mayor Pavlov. Saya kemudian akan mengatur pertemuan tempat Anda harus mengemukakan usulan-usulan Anda.”

Jelas bagi Philby bahwa pemimpin Soviet itu sedang mcmbicarakan masalah yang amat rahasia

158

dan menganggapnya sebagai sesuatu yang amat serius. Seharusnya dia bisa saja menyelenggarakan pertemuan itu di kantornya, di gedung Komite Sentral, bangunan kelabu besar di Novaya Ploshed tempat semua pemimpin Soviet pernah bekerja sc-jak zaman Stalin. Tapi para anggota Politbiro yang Iain akan bisa melihal mereka datang atau pergi, atau mendengar tentang pertemuan itu. Jelas Sekretaris Jenderal sedang membentuk sebuah komite yang amat rahasia sifatnya, dan tak ada orang lain yang boleh tahu.

Ada satu hal lagi yang ganjil. Kecuali Sekretaris Jenderal sendiri—dan dia sudah tidak menjabat pimpinan badan itu—tidak ada anggota KGB yang hadir; padahal Dircktorat Utama Satu memiliki banyak file tentang Inggris dan ahli-ahli yang perlu dicocokkan. Karena alasan pribadinya, pemimpin yang 1 it in ini telah memilih untuk tidak melibatkan badan yang dulu pernah dipimpinnya.

“Ada hal-hal yang ingin ditanyakan?”

Philby mengacungkan tangannya. Sang Sekretaris Jenderal mengangguk.

“Kamerad Sekretaris Jenderal, saya dulu menyetir sendiri mobil Volga saya. Sejak mengalami stroke tahun lalu, para dokter melarang saya menyetir sendiri. Sekarang istri saya yang menyetir untuk saya. Tapi dalam hal ini, demi menjaga kerahasiaan…”

“Saya akan menugaskan seorang pengemudi KGB untuk menyetir mobil Anda untuk hal itu,”

159

kata sang Sekretaris Jenderal lirih. Mereka semua tahu, kctiga pria lainnya telah mempunyai pengc-mudi yang a man untuk maksud itu.

Tidak ada point-point lain. Dengan anggukan sang Sekretaris Jenderal, pembantu itu mendorong kursi roda bersama penumpangnya kembali melalui pintu ganda. Keempat penasihat itu bangkit dan bersiap-siap untuk pergi.

Dua hari kemudian, di dacha di pedesaan, milik salah satu akademikus itu, Komite Albion melakukan pembicaraan yang intensif.

Seperti judul buku atau tidak, Preston sudah membuat beberapa kemajuan. Bahkan saat sidang per la ma Komite Paragon masih berjalan, ia sudah berada di Bagian Arsip, jauh di dalam di bawah Kementerian Pertahanan.

“Bertie,” katanya kepada Brigadir Capstick, “se-jauh menyangkut kepentingan staf di sini, aku ini sapu baru yang sedang mcrcpotkan diriku sendiri. Katakan kepada mereka bahwa aku sedang mencoba mencari muka di depan atasanku. Pcmcrik-saan prosedur secara rutin, mereka tidak perlu kuatir, cuma sesuatu yang agak merepotkan.”

Capstick telah mcnjalankan bagian tugasnya, menyiarkan bahwa pimpinan baru CI (A) sedang melakukan kunjungan ke kementerian-kementerian untuk menunjukkan bahwa ia seorang pejabat yang aktif. Para petugas di Bagian Arsip melotot dan melayani Preston dengan rasa jcngkcl yang discm—

160

bunyikan. Tapi Preston diberi akses. untuk memeriksa file-file—yang diambil dan yang dikembalikan lagi, siapa saja yang telah melihal dokumcn-dokumen itu, dan yang terpenting, pada tanggal-tanggal berapa saja.

Ia telah memperoleh satu hasil dengan cepat. Semua dokumen yang dipertanyakan itu, kecuali satu, scharusnya ada di Kantor Kementerian Luar Negeri atau Kantor Kabinet, sebab semua dokumen terscbut menyangkut sekutu-sckutu Inggris di NATO dan bidang-bidang yang berkenaan dengan reaksi gabungan NATO terhadap berbagai kemungkinan serangan Soviet.

Tapi satu dokumen tidak pernah keluar dari Kementerian Pertahanan. Permanent Under Secretary, Sir Peregrine Jones, baru-baru ini kembali dari pembicaraan di Washington di Pentagon; to-piknya adalah patroli gabungan oleh kapal-kapal selam nuklir Inggris dan Amerika di Laut Tengah, Atlantik Tengah dan Selatan, dan Samudera India. Ia telah mempcrsiapkan konscp makalahnya tentang pembicaraan itu dan mengedarkannya ke sejumlah pejabat senior di dalam kementeriannya. Bahwa ternyata konscp makalah terscbut terdapat di antara dokumcn-dokumen yang dicuri, dalam bentuk fotocopy, sedikitnya berarti bahwa kebocoran itu terjadi di dalam kementerian terscbut.

Preston melakukan analisa, mulai dari apa yang terjadi bcrbulan bulan yang lalu, atas distribusi dokumen-dokumen top-secret. Semakin menjadi

161

jelas bahwa dokumcn-dokumen yang dikembalikan dalam bingkisan itu dibuat dalam suatu jangka waktu tertentu, dari yang pertama sampai yang terakhir, sclama empat minggu. Jelas juga bahwa setiap pejabat yang pernah menerima dokumen-dokumen itu di mejanya juga telah menerima lebih dari itu. Jadi pencurinya bcrsikap selektif.

Ada dua puluh empat orang yang mungkin sudah memperoleh semua, yakni sepuluh dokumen itu, demikian kesimpulan Preston di akhir hari kedua. Kemudian dia mutai mcngecck data ke tidakhadiran dari kantor-kantor itu, perjalanan-pcrjalanan ke luar negeri, siapa saja yang mcngaku sakit flu—dengan mengccualikan mereka yang tidak mungkin punya akses selama masa pencurian itu dilakukan.

Ia dihambat oleh dua hal. Pertama, ia harus berpura-pura mcmeriksa sejumlah penarikan dokumen yang lain supaya tidak mengundang kecurigaan atas kcsepuluh dokumen khusus itu. Bahkan petugas-petugas Bagian Arsip pun suka gosip, dan sumber kebocoran itu bisa saja seorang staf kelas rendah, scorang sekretaris atau tukang ketik, yang bisa saja bergosip saat coffee-break dengan scorang petugas adminislrasi. Kedua, ia tidak bisa menembus ke lantai-Iantai atas untuk mcmeriksa jumlah fotocopy yang dibuat dari dokumen aslinya. Ia tahu bahwa lumrah bagi seseorang untuk minta sebuah dokumen top-secret dikeluarkan atas namanya, tapi mungkin saja orang itu ingin minta

162

pendapat dari rekannya. Jadi dibuatlah fotocopy, diberi nomor, dan diberikan kepada rekan tersebut. Jika kelak dokumen itu dikembalikan, maka fotocopy itu akan dimusnahkan—atau, dalam kasus ini, tidak dimusnahkan. Dokumen aslinya dikembalikan ke Bagian Arsip. Tapi beberapa pasang mata mungkin telah sempat melihat fotocopy itu.

Untuk memecahkan hambatan yang kedua, Preston kembali ke kementerian bersama Capstick setelah hari gelap dan mcnghabiskan dua malam di lantai-Iantai atas—yang kosong kccuali wanita-wanita pembersih yang bersikap tak acuh—mengecek jumlah copy yang pernah dibuat. Dengan ini ia bisa melakukan pengurangan-pengurangan lagi akan pihak-pihak yang tersangkut, yaitu jika ada dokumen yang ada pada pejabat pemerintah senior yang sama sekali tidak membuat copy-nya sebelum mengembalikannya kepada Bagian Arsip. Pada tanggal 27 Januari Preston mclapor kembali ke Charles Street dengan Catalan kemajuan sementara.

Brian Harcourt-Smith-lah yang menerima dia. Sir Bernard lagi-lagi tidak berada di kantornya.

“Senang sekali kau telah memperoleh sesuatu buat kita, John,” kata Harcourt-Smith. “Aku telah menerima dua telepon dari Sir Anthony Plumb. Rupanya orang-orang Paragon itu mulai mendesak. Bicaralah.”

“Pertama,” kata Preston, “dokumen-dokumcn itu.

163

Itu ternyata diseleksi dengan hati-hati, seolah ma-ling kita hanya mengambil bahan yang dipesan orang kepadanya. Itu membutuhkan keahlian. Jadi tidak mungkin kalau dilakukan oleh staf kclas bawah. Mereka pasti akan bcroperasi sesuai dengan prinsip sindrom magpie—sejenis burung ga-gak, yaitu menyambar apa saja yang lewat. Ini mcmang catatan scmcntara, tapi jumlah tcrsangka sudah banyak berkurang. Kukira pelakunya orang yang berpengalaman di bidang ini dan sadar akan isi dokumennya. Berarti tidak mungkin pelakunya juru tulis atau pcsuruh. Bagaimanapun juga, kebocoran itu tidak terjadi di Bagian Arsip. Tidak ada segel kantong dokumen yang rusak, tidak ada pcnarikan dokumen yang ilegal atau peng-copy-an tanpa izin.”

Harcourt-Smith mengangguk. “Jadi menumt kau itu terjadi di atas?”

“Ya, Brian, kukira begitu. Alasan yang kedua begini. Selama dua malam penuh kuperiksa semua copy yang pernah dibuat. Tidak ada yang tidak be res. Jadi, cuma tinggal satu hal saja. Pemus-nahan copy-copy itu. Seseorang seharusnya memusnahkan tiga copy, tapi hanya dua yang dimus-nahkannya, lalu yang kctiga diselundupkan keluar dari gedung. Sekarang tentang jumlah pejabat senior yang bisa melakukan hal itu.

“Ada dua puluh empat yang mcmpunyai kemungkinan berhubungan dengan kesepuluh dokumen itu. Kukira yang dua belas bisa kukeluarkan

164

karena mereka hanya pernah membuat satu copy saja—satu setiap orang—yaitu untuk keperluan minta pendapat orang lain. Aturan mainnya cukup jelas. Seseorang yang menerima fotocopy karena keperluan tadi harus mcngcmbalikannya kepada orang yang mengirimkannya kepadanya. Menahan copy seperti itu akan menimbulkan kecurigaan. Menahan sepuluh copy merupakan hal yang tidak pernah tprdengar dilakukan orang. Jadi kita sudah bisa memfokuskan diri pada kedua belas orang yang mengeluarkan dokumen asli dari Bagian Arsip.

“Dari mereka ini, tiga tidak ada di tempat karena bcrbagai alasan pada saat pengeluaran dokumen—yaitu dengan melihat tanggal-tanggal dokumen yang dikirim kembali oleh orang yang tidak dikenal itu. Orang-orang itu melakukan pengeluaran dokumen pada tanggal-tanggal yang lain dan dengan demikian harus disisihkan dari daftar. Berarti tinggal sembilan.

“Dari yang sembilan ini, empat tidak pernah membuat copy untuk minta pendapat orang lain— sama sekali tidak pernah, dan tentu saja peng-copy-an yang tidak diizinkan dan tidak didaftarkan adalah tidak mungkin.

“Kalau begitu tinggal lima,” gumam Harcourt-Smith.

“Benar. Nah, ini hanya tentatif—sementara— sifatnya, tapi ini kcsimpulan terbaik yang bisa kubuat saat ini. Tiga dari lima itu, selama jangka

165

waktu itu, mempunyai dokumcn-dokumen lain di meja nya yang jenisnya sama dengan dokumen-dokumen yang dicuri, yang isinya jauh lebih menarik, tapi tidak dicuri. Logisnya, dokumen-dokumen itu seharusnya ikut dicuri. Jadi daftarnya kupersempit sehingga hanya tinggal dua orang saja. Bclum ada yang pasti, cuma mereka merupakan tersangka-tersangka utama.”

Ia menyorongkan dua file ke arah Harcourt-Smith, yang melihatnya dengan rasa ingin tahu.

“Sir Richard Peters dan Mr. George Bcrenson,” Harcourt-Smith membacanya. “Yang pertama adalah asistcn Under Secretary yang menangani Kebijakan Internasional dan Industrial, dan yang kedua adalah wakil Kepala Pengadaan Pertahanan (Defense Procurement). Kedua orang itu tentu saja punya staf pribadi.”

“Ya.”

“Tapi kau tidak mendaftar staf-staf mereka sebagai tersangka! Bolehkah kutanya mengapa?”

“Mereka memang tersangka,” kata Preston. “Kedua orang itu mungkin mcnyuruh staf mereka membuat copy-copy itu untuk nantinya dimusnahkan. Tapi itu berarti akan menjaring lebih dari selusin orang. Seandainya ternyata kedua pemimpin itu bcrsih, maka untuk menangkap bawahannya dengan kerja sama atasannya akan mudah sekali. Aku ingin mulai dengan kedua pemimpin ini.

166

“Jadi apa yang kauperlukan?” kata Harcourt-Smith.

“Pengawasan total terselubung atas kedua orang ini untuk jangka waktu yang terbatas, dengan pemcriksaan surat-surat pas dan penyadapan telepon,” kata Preston.

“Aku akan minta pendapat Komite Paragon,” kata Harcourt-Smith. “Tapi mereka ini adalah pejabat-pejabat senior. Jangan sampai kau keliru.”

Pertemuan Paragon yang kedua diselenggarakan di COBRA sore mcnjclang senja hari itu. Harcourt-Smith mewakili Sir Bernard Hemmings. Dia membagikan transkrip laporan Preston kepada semua yang hadir. Para pejabat senior itu membaca laporan Preston dengan diam. Setelah .semua sclesai membaca, Sir Anthony Plumb bertanya, “Well?”

“Nampaknya cukup logis,” kata Sir Hubert Villicrs.

“Kukira Mr. Preston telah melakukan tugasnya dengan baik sampai saat ini,” kata Sir Nigel Irvine.

Harcourt-Smith tcrsenyum tipis. “Tentu saja bisa jadi bukan kedua pejabat yang sangat senior ini,” katanya. “Seorang juru tulis yang diminta untuk memusnahkan copy-copy, bisa saja dengan mudah nicngumpulkan sepuluh dokumen.”

Brian Harcourt-Smith dulu bcrsekolah di sebuah sekolah swasta yang tidak terkenal dan ia menyan—

167

dang suatu perasaan rendab diri yang sebenarnya sangat tidak perlu. Di balik penampilannya yang halus, ia mampu melakukan hal hal yang kurang baik. Sepanjang hidupnya ia tidak senang melihat betapa orang-orang di sekitarnya bisa dengan san-tai menangani masalah masalah kehidupan mereka. Ia tidak senang melihat jaringan relasi dan persahabatan yang seakan tidak terbatas dan saling bcrkait, yang tcrbcntuk scjak masa sckolah, ketika masih di universitas, atau semasa berdinas dalam resimen tempur—yang menjadi tempat mereka bergantung kapan saja mereka menghcndakinya. Itu biasa disebut sebagai “jaringan pak tua”, atau “lingkaran ajaib”, dan yang terutama membuatnya kurang senang adalah karena ia tidak termasuk kclompok itu. Satu hari nanti, begitu dikatakannya kepada dirinya sendiri berulang kali, kalau ia telah memperoleh jabatan direktur jenderal dan memperoleh gelar kebangsawanannya, ia akan dapat duduk sama tinggi dengan orang-orang ini, dan mereka akan mau mendengarkan dia, benar-benar mendengarkan dia.

Di ujung meja. Sir Nigel Irvine, orang yang sangat peka, menangkap sorot mala Harcourt-Smith dan merasa kuatir. Orang ini punya kcmam-puan untuk ma rah, pikirnya. Irvine adalah rekan sebaya Sir Bernard Hemmings, dan mereka telah saling mengenal sejak lama sekali. Ia tcpekur mc*-mikirkan calon pcngganti sang Direktur Jenderal di musim gugur nanti. Ia bcrtanya-tanya dalam hati.

168

mengapa Harcourt-Smith punya kccenderungan untuk marah, dan punya ambisi terselubung, dan ke manakah kcduanya ini akan menuju atau, barangkali, sudah menuju.

“Well, kita sudah mendengar apa yang diinginkan Mr. Preston,” kata Sir Anthony Plumb. “Pengawasan total. Akan kita penuhi itu?”

Tangan-tangan terangkat ke atas.

Setiap hari Jumat di MI-5 diselenggarakan apa yang mereka sebut sebagai rapat “tawar-menawar”. Direktur Cabang K, yaitu gabungan dari seksi-seksi, yang bertindak sebagai pimpinan rapat Dalam rapat tawar-menawar, direktur-direktur yang lain mengajukan permintaan-permintaan berkenaan dengan kcpcrluan-keperluan mereka—dana, pelayanan teknis, dan pengawasan terhadap tersangka-tersangka favorit mereka. Beban yang ter-berat selalu dipikul oleh direktur Cabang A, yang mcngcndalikan para pcngawas itu. Minggu itu rapat nya didominasi, scjauh yang menyangkut pc-nyediaan pcngawas. Mereka yang hadir pada hari Jumat tanggal 30 Januari itu mendapati bahwa daftar pengawas sudah kosong. Dua hari sebelumnya, Harcourt-Smith, berdasarkan permintaan Paragon, telah memberikan kepada Preston para pengawas (agen rahasia) yang diperlukannya. Dengan enam agen untuk setiap satu tim (empat membentuk “box”-nya dan dua menunggu di mobil yang diparkir) dan empat tim untuk setiap dua puluh

169

empat jam, ditambah dua petugas survai, maka ia telah mengambi! empat puluh dclapan agen dan mencopotnya dari tugas mereka yang lain. Scmpat terjadi protes kcras, tapi tak scorang pun bisa berbuat apa-apa mengenai hal itu.

“Ada dua target,” para petugas pemberi briefing di Cork berkata kepada tim-tim itu. “Yang satu sudah menikah tapi istrinya sedang bcrada di pc-desaan. Mereka tinggal di sebuah apartemen di West End dan ia pergi kerja dengan berjalan kaki ke kementerian setiap pagi, sekitar dua sctengah kilometer. Yang satu lagi seorang bujangan, tinggal di luar Edenbridge, di Kent. Ia pulang-pcrgi dengan kcrcta setiap hari. Kita akan mulai besok.”

Bagian Technical Support—Bantuan Tcknis— mcngurus penyadapan telepon dan pengecckan surat-surat pos, dan baik Sir Richard Peters mau-pun Mr. George Berenson akan diamati dengan sangat ccrmat

Tim A terlambat untuk mengamati dalangnya kiriman langsung sebuah bingkisan di F(ťntcnoy House. Bingkisan itu diambil si penerima dari penjaga lobi saat dia pulang dari kerja. Isinya sebuah contoh tiruan Berlian Glen dari batu-batu zirconium, yang kemudian dimasukkan ke dalam kotak simpanan di Coutts Bank keesokan harinya.

f^Y>V I Dllarangmeng komersil-kan atau Uul I kcsiaJanmenimpaandaselamanya

170

6

HARI Jumat {anggal tiga belas biasanya dianggap hari sial, tapi bagi John Preston malah kebalikan-nya. Ia memperoleh hasil pertama dari penguntitan yang mclelahkan terhadap kedua pejabat pemcrintah senior itu.

Pengawasan telah berjalan cnam belas hari tanpa hasil. Kedua orang itu adalah manusia-manusia yang taat pada kebiasaan dan keduanya juga bukan tipe orang yang sadar pengawasan—maksudnya, mereka tidak dengan sengaja membuat ulah su-paya dikuntit, dan karena itu membuat tugas para agen menjadi gampang. Tapi mcmbosankan.

Orang London itu meninggalkan apartemen Belgravia-nya setiap hari pada jam yang sama, berjalan kaki ke arab Hyde Park Corner, berbclok ke Constitution Hill dan melintasi St. James’s Park. Dan ia tiba di Horse Guards Parade. Ia berjalan mclintasinya, melewati Whitehall, dan langsung masuk ke gcdung kcmcnterian. Kadang-kadang dia makan siang di luar, kadang-kadang di dalam.

171

Petang harinya kcbanyakan ia bcrada di apartc-mcnnya atau di klubnya.

Si pejabat yang pulang-balik, yang hidup seorang diri di sebuah cottage yang indah di luar Edenbridgc, setiap hari naik kereta yang sama ke London, berjalan kaki dari Stasiun Charing Cross ke gedung kementerian, dan langsung lenyap ke dalamnya. Para agen mengamati kclakuannya di rumahnya dan terus berjaga sambil kedinginan di luar sampai behas tugas di waktu fajar untuk digantikan olch tim siang yang pertama. Kedua orang itu tidak melakukan hal hal yang mencurigakan. Pengecekan surat pos dan penyadapan telepon atas kedua orang itu hanya menunjukkan surat surat tagihan rutin, surat pribadi, pcrcakapan telepon yang nakal, dan suatu cara hidup yang biasa dan lerhormaL Sampai tanggal tiga betas Februari itu.

Preston, sebagai pengendali operasi, sedang ber-ada di ruang komunikasi radio di basement gedung di Cork Street ketika sebuah pcrcakapan radio masuk dari tim B yang sedang mcngawasi Sir

Richard Peters.

“Joe scddng memanggil taksi. Kami bcrada di bclakangnya di mobil.”

Dalam bahasa para agen rahasia, orang yang dilacak selalu disebut “Joe”, “Chummy”, atau “te-man kita”. Ketika tim B datang scpulang bcrtugas jaga, Preston scmpat berbicara dengan pimpinannya, Harry Burkinshaw. Dia berperawakan kecil

172

dan bulat, setengah baya, seorang veteran dalam profesi yang sudah digelutinya seumur hidup. Ia bisa diam bcrjam-jam menunggu di pinggir sebuah jalan di London dan kemudian bcrgcrak dengan keccpatan luar biasa jika targetnya berusaha me larikan diri darinya.

Dia mengenakan jaket dan topi porkpie, membawa jas hujan, dan menyandang kamcra di leher-nya, bagaikan seorang turis Amerika biasa. Seperti halnya dengan semua agen pclacak, topi, jaket, dan jas hujannya nampak cmpuk dan bisa diubah bentuknya sehingga mcnghasilkan enam kombinasi. Para agen pclacak sangat mcnyayangi perlengkapan mereka, yang memungkinkan mereka berganti-ganti peran dalam waktu beberapa dctik.

“Jadi bagaimana tadi itu, Harry?” Preston bertanya.

“Ia keluar dari gedung kementerian pada saat seperti biasanya. Kami mengikutinya sehingga dia berada di pusat box. Tapi ia tidak berjalan ke arah yang biasanya, dan malahan berjalan tcrus sampai ke Trafalgar Square dan memanggil taksi. Kami sudah sampai ke akhir jam shift kami. Kami memberitahu tcman-teman kami dari shift bcrikutnya untuk waspada dan mengikuti taksi itu.

“Ia turun di Panzer’s Delicatessen di Bayswater Road dan menuju Clanricarde Gardens. Setengah jalan dari situ, secepat kilat ia masuk ke dalam sebuah gedung di pinggir jalan dan menuruni undakan yang menuju ke basement. Salah satu anak

173

buah saya berada cukup dekat untuk melihat bahwa di bawah undakan itu tidak ada apa-apa kecuali pintu flat basement itu. Ia rupanya cepat-cepat masuk ke dalamnya. Terpaksa anak buah saya berjalan terns melewatinya—Joe lalu keluar lagi dan menaiki undakan itu. Ia balik ke Bayswater Road, naik taksi yang lain, dan menuju West End lagi. Setelah itu, ia melanjutkan ke-gialan rutinnya. Kami melewatinya saat kami berbelok di ujung Park Lane.”

“Berapa lama ia turun ke basement lewat undakan itu?”

“Tiga puluh, empat puluh detik,” kata Burkinshaw. “Dia pasti disilakan masuk dengan sangat ccpat atau ia mcmpunyai kunci masuk sendiri. Di dalam tidak nampak ada penerangan. Kelihatannya dia cuma mampir sebentar untuk mengambil kiriman atau mcngecek apa ada kiriman buat dia.”

“Rumahnya seperti apa?”

“Nampak kotor, basement-nya juga nampak ko-tor. Besok pagi kita pasti sudah akan tahu. Apa saya boleh pergi sekarang? Kaki saya pcgal sekali.”

Sepanjang malam Preston merenungkan peristiwa itu. Mcngapa Sir Richard Peters mcngunjungi flat kumuh di Bayswater? Cuma selama empat puluh detik. Tak mungkin ia bertemu dengan seseorang di dalam. Tidak cukup waktu. Mengambil kiriman paket? Atau meninggalkan pesan? Preston mengatur supaya rumah itu juga ikut diawasi, dan

174

sebuah mobil dengan scorang agen dan sebuah kamera sudah tiba di tempat itu dalam waktu satu jam.

Akhir pekan tetap saja akhir pekan. Preston sc hams nya bisa mendesak para pejabat sipil untuk mulai melakukan pcnyelidikan atas apartemen itu sepanjang hari Sabtu dan Minggu, tapi itu malahan akan menimbulkan banyak kecurigaan. Operasi ini adalah operasi pengawasan yang amat tersclubung. Ia mcmutuskan untuk mcnunggu sampai hari Se-nin.

Komite Albion telah sepakal untuk mengangkat Profesor Krilov sebagai ketua dan juru bicara, dan dialah yang memberitahu Mayor Pavlov bahwa Komite sudah siap untuk melaporkan pertimbang-annya kepada Sekretaris Jenderal. Saat itu Sabtu pagi. Dalam waktu beberapa jam, masing-masing anggota komite diberitahu untuk melapor ke dacha milik Kamerad Sekretaris Jenderal di Usovo.

Tiga yang lain datang dengan mobil masing-masing. Mayor Pavlov mengemudikan mobil Philby, yang dengan demikian bisa membebaskan Gregoricv, supir KGB yang telah mengemudi untuknya selama tiga minggu terakhir itu.

Di sebelah barat Moskow, lewat Jembatan Uspenkoye dan berdiri dekat tanggul Sungai Moskva, ada sebuah komplcks desa buatan. Di sckitar desa buatan itu terletak rumah-rumah peristirahatan akhir pekan milik warga Soviet kelas

175

tinggi dan yang berkuasa. Bahkan di sini pun terdapat kelas-kelas. Di Peredelkino terdapat cottage-cottage milik para seniman, akademikus, dan pejabat-pejabat militcr; di Zhukovka terdapat dacha-dacha anggota Komite Sentral dan pejabat-pejabat lain yang berdinas tepat di bawah Politbiro; tapi yang discbut terakhir ini, yaitu orang-orang yang bcrada di puncak kekuasaan, memiliki rumah-rumah mereka di sekitar Usovo, kawasan yang paling eksklusif dari semuanya. Dacha Rusia yang asli bcrbentuk cottage model pedesaan, tapi dacha-dacha yang ini adalah vila-vila yang benar-benar mewah yang didirikan di tengah-tengah hu-tan pin us dan pohon birkin yang ratusan are luasnya, suatu kawasan yang dipatroli selama 24 jam oleh bodyguard-bodyguard dari Direktorat Utama Sembilan untuk memastikan keamanan dan kenyamanan bagi kaum vlasti ini.

Philby tahu bahwa setiap anggota Politbiro, pada saat ia dinaikkan ke jabatan itu, mcmpunyai hak atas empat tempat tinggal. Apartemen keluarga di Kutuzovsky Prospekt yang, kecuali jika hierarki itu tumbang, akan menjadi milik keluarga itu untuk sclamanya. Lalu ada vila rcsmi di Bukit Lenin, yang selalu dilayani olch staf dan dijaga kenyamanannya, selalu disadap, dan jarang sekali dipakai, kecuali untuk mcmberi kenyamanan kepada para tamu asing. Yang kctiga adalah dacha di hutan di sebelah barat Moskow, yang boleh dirancang dan dibangun sesuai sclera si pejabat yang

176

baru naik pangkat itu. Yang terakhir adalah rumah peristirahatan musim panas, kebanyakan di Seme-nanjung Crimea, di tepi Laut Hitam. Tapi sang Sekretaris Jenderal sudah lama mendirikan rumah musim panasnya di Kislovodsk, suatu tempat peristirahatan dengan mata air mineral di Pegunungan Caucasus yang dipakai khusus untuk mengobati berbagai penyakit yang ada hubungannya dengan perut.

Philby belum pernah melihat dacha milik Sekretaris Jenderal yangdi Usovo itu. Ketika Chaika-nya tiba di sana di malam yang beku itu, ia melihat bahwa dacha itu ternyata merupakan bangunan panjang dan rendah, terbuat dari batu potong, dengan atap sirap, dan, seperti perabotan yang di Kutuzovsky Prospekt itu, banyak dipengaruhi oleh kesedcrhanaan gaya Skandinavia. Di dalam, temperatur sangat tinggi dan sang Sekretaris Jenderal menerima mereka semua di sebuah ruang duduk yang luas di sana perapian berbahan bakar kayu yang mengeluarkan bunyi gemuruh menambah panasnya ruangan. Setelah basa-basi yang amat singkat, sang Sekretaris Jenderal memberi isyarat kepada Profesor Krilov untuk mengungkapkan kepadanya hasil pemikiran Komite Albion.

“Anda akan mendapati nanti, Kamerad Sekretaris Jenderal, bahwa yang kita jajaki adalah bagaimana caranya mcmpengaruhi bagian tertentu dari total suara pcmilih Inggris scbesar tidak kurang dari sepuluh persen di seluruh negeri itu untuk

177

mcncapai dua target utama; satu adalah hilangnya secara total kepcrcayaan mereka terhadap pemcrintahan Partai Konservatif yang berkuasa saat ini, kedua adalah keyakinan bahwa memilih pemerinlahan Partai Buruh merupakan peluang mereka yang terbaik untuk memperoleh kepuasan dan rasa aman.

“Untuk menyedcrhanakan upaya ini, kami bertanya kepada diri sendiri apakah sekiranya tidak ada satu issue tertentu yang mampu mendominasi, atau dibuat mampu untuk mendominasi, seluruh pemilihan umum itu. Setelah merenungkan dengan mendalam, kami semua sampai pada suatu pandangan bahwa tidak ada satu pun aspek ck<>noun—apakah itu hilangnya kesempatan kerja, pc-nutupan pabrik-pabrik, meningkatnya otomatisasi dalam industri, dan bahkan pengurangan pelayanan masyarakat—yang bisa berperan sebagai Issue tunggal yang sedang kami cari-cari itu.

“Kami percaya bahwa hanya ada satu: issue politis non-ekonomi yang paling besar dan paling emosional di Inggris dan di seluruh Eropa Barat pada saat ini. Yaitu masalah pcrlucutan senjata nuklir. Ini telah berkembang menjadi suatu masalah yang besar di Barat, yang mclibatkan jutaan rakyat jelata. Pada dasarnya ini adalah masalah kecemasan massa, dan dari sinilah mcnurut pendapat kami serangan harus dilancarkan, suatu issue yang harus kita garap secara terselubung.”

178

“Dan usulan khusus Anda?” tanya Sekretaris Jcndcral dengan sikap lembut.

“Anda akan mcmahami, Kamerad Sekretaris Jenderal, semua upaya yang telah kami lakukan dalam masalah ini. Bukan cuma jutaan tapi miliaran nihil yang telah dihabiskan untuk membiayai bcrbagai lobi anti nuklir, dalam rangka mcngusulkan kepada masyarakat Eropa Barat bahwa pcrlucutan senjata nuklir unilateral sesungguhnya merupakan peluang mereka yang terbaik untuk menuju perdamaian. Upaya-upaya terselubung kita dan hasil-hasil yang telah dicapai sangat banyak, tapi tidak ada apa-apanya apabila dibandingkan dengan apa yang menurut pendapat kami harus diupayakan dan dicapai sekarang ini.

“Partai Buruh Inggris adalah satu-satunya di an-tara empat partai yang ikut dalam pemilihan umum yang akan datang ini yang mempunyai komitmen terhadap perlucutan senjata nuklir unilateral. Pandangan kami yaitu, semua daya sekarang harus dikcrahkan, dengan mcnggunakan dana, disinformasi, propaganda, untuk membujuk minimal sepuluh persen suara pemilih Inggris untuk mengalihkan suaranya, dan akhirnya mcyakinkan mereka bahwa suara untuk Partai Buruh adalah suara untuk perdamaian.”

Kchcningan saat mereka menunggu tanggapan sang Sekretaris Jenderal terasa mencekam. Akhirnya ia bcrbicara. “Upaya-upaya yang telah kita

179

lakukan dan yang ladi Anda singgung itu—apakah ada hasilnya?”

Profesor Krilov seakan baru saja dihantam sebuah peluru kcndali udara-ke-udara. Philby bisa menangkap suasana hati pemimpin Soviet itu dan menggelengkan kepala. Sang Sekretaris Jenderal menangkap isyarat itu dan melanjutkan bicaranya.

“Selama delapan tahun kita telah berupaya kcras untuk melumpuhkan keyakinan masyarakat pemilih Eropa Barat terhadap pemerinlahnya berkenaan dengan issue itu. Sekarang ini, benar, semua gerakan unilateral itu sudah begitu bcrsifat kiri sehingga dengan satu atau cara lain mereka sudah bisa dikuasai oleh leman-teman kita dan sedang bckcrja untuk mencapai tujuan-tujuan kita. Upaya itu sudah mcmbuahkan hasil yang besar dalam hal banyaknya orang-orang yang bcrsimpati dan besarnya pengaruh yang sudah berhasil ditanamkan. Tapi….”

Sang Sekretaris Jenderal tiba-tiba memukulkan kedua telapak tangannya ke lengan kursi rodanya. Gerak yang garang yang dilakukan oleh orang yang biasanya sangat dingin ini mengguncangkan mental kcempat pendengarnya.

“Bclum ada yang berubah,” seru sang Sekretaris Jenderal. Lalu suaranya kembali ke nada tinggi yang biasa. “Lima tahun yang lalu, dan empat tahun yang lalu, semua ahli kita dari Komite Sentral dan dari universitas-universitas serta kclompok-kclompok ka-jian analitis KGB mcmberitahu kami, yang di Polit—

180

biro, bahwa gerakan unilateral itu begitu kuatnya sehingga mereka mampu menghentikan rencana pemasangan rudal-rudal Cruise dan Pershing. Kami saat itu pcrcaya. Ternyata kami salah pcrhitungan. Di Jcncwa kami dikecewakan. Kami diyakinkan olch propaganda kami bahwa kalau kami bertahan cukup lama, maka pcmcrintah-pcmcrintah di Eropa Barat akan mcnycrah terhadap demonstrasi-demonstrasi besar mendukung perdamaian yang secara terselubung kami sokong dan akan menolak pemasangan Pershing dan Cruise. Tapi ternyata pemasangan tetap dilaksanakan, dan terpaksa kami melakukan walk out.”

Philby mengangguk, menunjukkan sikap mcrcn-dah. Dulu, di tahun 1983, ia mempcrtaruhkan reputasinya ketika ia menyerahkan makalah yang mengungkapkan bahwa gerakan perdamaian di Barat, walaupun ditopang olch demonstrasi-demonstrasi yang didukung oleh masyarakat luas, tidak akan dapat mengubah a rah pemilihan umum atau mcngubah pandangan pemcrintah. Ternyata ia benar. Peristiwa-pcristiwa yang kemudian terjadi me-mang sesuai dengan teorinya.

“Itu mcmang mcnjcngkelkan, Kamerad, dan masih selalu mcnjcngkelkan,” kata sang Sekretaris Jenderal. “Sekarang Anda mengusulkan sesuatu yang tidak jauh berbeda. Kamerad Kolonel Philby, bagaimana hasil-hasil poll opini publik Inggris yang paling akhir mengcnai issue itu?”

“Tidak bagus, saya rasa,” kata Philby. “Hasil

181

terakhir menunjukkan bahwa dua puluh persen orang Inggris sekarang mendukung perlucutan senjata nuklir unilateral. Tapi bahkan itu pun masih mcmbingungkan. Di antara kelas pekerja, yaitu para pemilih tradisional Partai Buruh, angka itu lebih rendah. Adalah suatu kcnyataan yang pa hit, Kamerad Sekretaris Jenderal, bahwa kelas pekerja Inggris adalah salah satu kelompok yang paling konservatif di dunia. Hasil-hasil poll juga menunjukkan bahwa mereka juga termasuk kelompok yang paling patriotik, dalam artian tradisional. Waktu krisis Falkland dulu, para anggota serikat buruh fanatik mcmbuang semua prinsip yang di-anutnya dan bekcrja siang-ma lam mcmpersiapkan kapal-kapal pcrang untuk diluncurkan ke laut. Saya kuatir, kalau kita mau menghadapi kenyataan pahit, harus diakui bahwa kaum buruh Inggris scnantiasa mcnolak anggapan bahwa kepentingan mereka sama dengan kepentingan kita, atau paling sedikit mereka tidak mau melihat sesuatu yang akan mclcmahkan pertahanan Inggris. Dan tidak ada alasan untuk mengira bahwa mereka akan mcngubah cara berpikirnya saat ini.”

“Kcnyataan pahit—mcmang itulah yang saya minta untuk dihadapi oleh komite ini,” kata sang Sekretaris Jenderal. Ia diam lagi selama beberapa mcnit. Lalu, “Pergilah, Kamerad. Rcnungkan ini kembali. Dan buatkan untuk saya suatu rencana— suatu langkah aklif—yang akan menggarap, dengan cara yang belum pernah dilakukan sebclum—

182

nya, kecemasan masyarakat yang Anda sebutkan tadi; suatu rencana yang akan mampu membujuk pria dan wanita yang paling kcras kepala sekalipun agar mau memberikan suaranya untuk mendukung penghapusan senjata nuklir dari tanah air mereka, dan dengan demikian mcmilih Partai Buruh.”

Setelah mereka pergi, orang Rusia berusia I an jut itu bangkit dan dengan bantuan tongkat berjalan pcrlahan ke arah jcndela. Ia memandang ke luar ke kumpulan pohon birkin yang membuat bunyi gemeretak di bawah tumpukan salju. Ketika ia naik ke puncak kekuasaan sementara pendahulunya masih belum dikuburkan, ia mcmpunyai tekad pribadi untuk mencapai lima tujuan dalam sisa hidupnya yang pendek itu. Ia ingin dikenang sebagai orang yang telah meningkatkan produksi pangan dan distribusinya yang efisien; yang telah mendua-kali-lipatkan produksi barang konsumsi dalam hal jumlah dan kualitas dengan perbaikan besar-be-saran di bidang industri yang dijangkiti penyakit tidak efisien yang kronis; yang telah melakukan pengetatan disiplin partai di semua tingkat; yang telah menghapuskan bencana korupsi yang me-rongrong sektor-sektor vital negerinya; dan yang telah mcmpertahankan supremasi akhir dalam jumlah tentara dan senjata terhadap musuh-musuh negerinya yang teramat banyak. Sekarang ia sadar bahwa ia telah gagal dalam semuanya itu.

Ia sudah tua, dan sakit-sakitan, dan waktunya hampir ha his. Ia selalu membanggakan dirinya se—

183

bagai orang yang pragmatis, real is lis, di dalam kerangka pemikiran marxis ortodoks. Tapi bahkan kaum pragmatis juga mcmpunyai impian-impian, dan orang-orang lanjut usia memiliki kebanggaan diri. Impiannya sederhana: ia menginginkan suatu kemenangan besar, suatu monumen besar yang menjadi miliknya dan hanya miliknya saja. Tapi scberapa besar yang diinginkannya di malam musim dingin yang bcku itu, hanya dia sendiri yang tahu.

Pada hari Minggu, Preston berjalan-jalan melewati rumah di Clanricardc Gardens itu, yaitu jalan yang terbentang ke arah utara dari Bayswater Road. Burkinshaw benar, rumah itu adalah salah satu dari rumah-rumah bertingkat lima model Victoria yang dulu pernah berjaya, tapi kini tidak laku lagi dan hanya discwa oleh kaum yang kurang mampu. Halaman depannya yang sempit ditumbuhi alang-alang; nampak lima anak undakan menuju ke atas, kc pintu depan yang rcyot tepat di atas bibir jalan. Dari teras depannya ada beberapa anak undakan yang turun menuju ke lokasi basement kecil dengan pintu yang hanya nampak sedikit ujung atasnya—sebuah flat basement. Preston lagi-lagi mcrasa hcran mcngapa scorang pejabat pemerintah senior dan scorang bangsawan mau mengunjungi tempat kumuh seperti itu.

Di suatu tempat di sekitar situ, ia tahu, pasti ada agen pclacak, barangkali bcrada dalam mobil—

184

nya yang diparkir dengan kamera tele-lens yang siap membidik. Ia tidak berusaha memergoki agen itu, tapi ia tahu bahwa ia sendiri mungkin sedang diamati. (Pada hari Senin mcmang benar ia lere-kam dalam laporan sebagai “seorang pria tidak dikenal yang berjalan lewat pada jam 11.21 dan nampak menaruh minat akan rumah itu”. Terima kasih untuk laporan yang tak ada artinya itu, demikian pikir Preston.)

Senin pagi hari ia mcngunjungi balai kota lokal dan memeriksa daftar pengclola rumah di jalan itu. Pemilik rumah itu adalah seseorang bemama Mr. Michael Z. Mifsud. Preston merasa berterima kasih untuk huruf “Z” itu; tidak banyak orang yang memiliki nama dengan huruf itu. Setelah dihubungi lewat radio, agen pelacak di Clanricardc Gardens lalu mcnyebcrang jalan dan memeriksa kenop bcl rumah itu. M. Mifsud tinggal di lantai dasar. Pemilik penghuni, pikir Preston, yang menyewakan sisa rumah itu sebagai tempat tinggal yang dilengkapi dengan perabolan; penghuni rumah. yang tidak diperlengkapi harus membayar sendiri pajak-pajak rumahnya.

Menjclang siang ia mencoba mencari data Michael Z. Mifsud di komputer kantor imigrasi di Croydon. Ia berasal dari Malta dan telah tiga puluh tahun tinggal di ncgeri ini. Tidak ada data apa-apa, cuma sebuah tanda tanya lima belas tahun yang lalu. Tidak ada lanjutannya, dan tidak ada penjclasan apa-apa. Komputer di Kantor Catat—

185

an Knniin.il Scotland Yard mcnjclaskan tanda tanya itu: orang itu hampir-hampir dideportasikan. Tapi tidak jadi, dan ia dipenjarakan selama dua tahun karena mencari nafkah secara tidak bcr-moral.

Setelah makan siang, Preston pergi mcngunjungi Armstrong di Bagian Keuangan di Charles Street. “Apa aku bisa jadi pemeriksa Pcndapatan Dacrah besok pagi?” tanyanya.

Armstrong menghcla napas. “Akan kucoba atur itu. Tclepon aku sebelum kantor tutup.”

Kemudian Preston pergi mcngunjungi penasihat hukum Lima. Tolong kauminta Cabang Khusus mengeluarkan surat izin penggelcdahan untuk kupakai terhadap alamat ini. Aku juga pcrlu seorang scrsan yang siap scwaktu-waktu kuperlukan untuk melakukan penahanan.” MI-S tidak punya wewenang untuk menahan. Hanya scorang polisi yang bisa menahan seseorang, kecuali dalam kcadaan da rural, saat seorang warga bisa ditahan. Jika MI-S ingin menahan seseorang, Cabang Khusus biasanya menyctujuinya.

“Kau tidak akan melakukan penggerebekan, kan?” tanya si ahli hukum dengan curiga.

“Tentu tidak,” kata Preston. “Aku akan mcnunggu sampai penghuni flat itu muncul, baru masuk dan menggclcdah. Penahanan mungkin diperlukan, tergantung apa yang kuicmukan.”

“Baiklah,” ahli hukum itu mcnarik napas. “Akan kulcruskan kc pejabat hukum yang bersikap lunak

186

itu. Kau akan memperoleh dua-duanya besok Pag’-“

Mcnjclang jam lima sore itu, Preston mengambil identitas pemeriksa Pcndapatan Dacrah nya dari Bagian Keuangan. Armstrong mcmbcrinya sebuah kartu lain, dengan nomor telepon.

“Kalau ada pcrtanyaan, bilang kepada si tersangka untuk mcnclcpon nomor itu. Itu kantor Dinas Pcndapatan Dacrah di Willesdcn Green. Minta bicara dengan Mr. Charnlcy. Ia akan mcm-bantumu. Ngomong-ngomong, namamu BrcnL”

“Baik,” kata Preston.

Mr. Michael Mifsud, yang diwawancarai kecsokan harinya, ternyata bukan orang yang mcnyenangkan. Tidak bercukur, mengenakan kaus oblong, kasar, dan tidak mau bekcrja sama. Tapi ia menyilakan Prcslon masuk ke dalam ruang duduknya yang bcrantakan.p>

“Anda bilang apa?” Mifsud mcmprotcs. “Penghasilan apa? Semua yang saya hasilkan, saya laporkan.”

“Mr. Mifsud, ini hanya pemeriksaan rutin setempaL Dilakukan dari waktu ke waktu. Harap laporkan semua hasil scwa kamar Anda, jangan ada yang discmhunyikan.”

“Tidak ada yang saya sembunyikan. Anda boleh

187

mengeceknya kc akuntan saya,” kala Mifsud menantang.

“Saya bisa lakukan itu kalau perlu,” kata Preston. “Tapi Anda boleh tahu bahwa kalau saya lakukan itu maka biaya akuntan Anda akan naik secara mcngejutkan. Baiklah saya berterus It-rang saja: kalau laporan scwa Anda beres, saya akan pergi dan mcmeriksa orang lain. Tapi kalau, mudah-mudahan jangan, ada dari flat-flat ini yang ternyata disewakan untuk maksud-maksud amoral, itu lain lagi ceritanya. Saya, unisan saya adalah pajak pcndapatan. Tapi saya wajib mclaporkan apa yang saya temukan kepada polisi. Anda tahu apa artinya mencari nafkah dengan cara-cara amoral?”

“Apa maksud Anda?” Mifsud mcmprotes. “Tidak ada penghasilan dari pekerjaan yang amoral di sini. Scmuanya penghuni baik-baik. Mereka mcmbayar scwa, saya mcmbayar pajak. Scluruhnya.”

Tapi nampak wajahnya sedikit mcmucat, dan sambil mengomel ia mcngeluarkan buku catatan sewa. Preston berpura-pura mcnaruh minat terhadap semuanya itu. Ia melihat bahwa basement-nya disewakan kepada Mr. Dickie dengan ongkos sewa 140 pound per minggu. Dibutuhkan waktu satu jam untuk memperoleh semua rincian. Mifsud belum pernah bcrtcmu dengan penyewa basement itu. Ia mcmbayar sewanya secara tunai, tertib seperti putaran jam. Tapi ada sebuah surat yang dikctik yang mcnunjukkan asal mula transaksi sewa human itu. Ditandatangani oleh Mr. Dickie.

188

Preston mengambil surat itu pada saat berpamitan, meski diprotes oleh Mifsud. Saat makan siang ia telah menyerahkan sural itu ke Scotland Yard bagian grafologi, bursa ma dengan copy-copy tulisan tangan dan tanda tangan Sir Richard Peters. Di penghujung hari itu Scotland Yard menelepon dia kembali. Ternyata itu tulisan tangan orang yang sama tapi disamarkan.

Jadi, pikir Preston, Peters sendirilah yang mcnyewa tempat rahasia itu. Untuk pertemuan santai dengan orang yang mengendalikannya? Sangat mungkin. Preston mcmberikan instruksinya: kalau Peters nampak menuju flat itu lagi, maka ia, Preston, harus segcra diberitahu, di mana pun juga dia bcrada. Pengawasan terhadap flat basement itu harus I; lap dilanjutkan kalau-kalau ada orang lain yang muncul.

Hari Rabu berjalan dengan membosankan, juga Kamis. Lalu, saat meninggalkan gedung kementerian Kamis petang, Sir Richard Peters memanggil taksi lagi dan minta diantar ke Bayswater. Para pclacak menghubungi Preston yang sedang bcrada di bar di Gordon Street. Ia lalu menelepon Scotland Yard dan memaksa sersan yang ditunjuk oleh Cabang Khusus untuk meninggalkan kantin. Diberikannya alamat rumah itu saat berbicara di tcle-pon dengan sersan itu. “Jumpai aku di sebcrang jalan, seccpat mungkin, tapi jangan ribul-ribut,” katanya.

Mereka semua berkumpul dalam dingin senja

189

yang beku di trotoar di scbcrang rumah yang dicurigai itu. Preston sudah menyuruh taksinya pergi dua ratus meter dari situ. Petugas dari Cabang Khusus datang dengan mobil yang tidak bcr identitas, yang, bersama dengan pengemudinya, diparkir di sudut jalan dengan lampu-lampu dimatikan. Sersan Detektif Lander ternyata masih muda dan agak kurang berpengalaman; ini merupakan tugas scrgapannya yang pertama dengan orang-orang MI-5 dan ia nampak terkesan. Harry Burkinshaw muncul dari kcgelapan.

“Bcrapa lama ia sudah bcrada di dalam sana, Harry?”

“Lima puluh lima menit,” kata Burkinshaw. “Ada tamu lain?” “Tidak ada.”

Preston mcngcluarkan sural izin pcnggelcdahan dan mcnunjukkan itu kepada Lander. “Okc, man kita masuk,” katanya.

“Apa ada kemungkinan ia akan bcrtindak ganas, sir?” tanya Lander.

“Oh, kuharap tidak,” kata Preston. “Dia seorang pejabat pemcrintah bcrusia setengah baya. Ia bisa lerluka.”

Mereka menyeberangi jalan dan diam-diam masuk ke halaman depan. Nampak cahaya redup mencrangi flat basement itu, mencmbus tirai. Mereka mcnuruni undakan dalam hening dan Preston membunyikan bcl. Terdengar suara langkah kaki

190

dari dalam, kemudian pintu dibuka. Dalam bendcrang lampu nampak sosok scorang wanita.

Ketika ia melihat kedua pria itu sebuah senyum tersimpul di bibir yang dipoles tebal dengan gincu mcrah tua. Ia mencoba menutup pintu, tapi Lander mendorongnya hingga terbuka, ia mendorong wanita itu dengan sikunya, dan masuk dengan cepat melewatinya.

Ia tidak muda lagi, tapi ia sudah mencoba semampunya. Rambut bcrombak warna gelap yang tergcrai sampai ke pundak menjadi kerangka bagi wajahnya yang di-make-up tebal. Tcrlalu banyak mascara dan shadow di sckitar matanya, rouge di pipinya, dan olesan lipstick warna manyala di hi birnya. Sebelum ia sempat menutup bagian depan dari gaun rumahnya, Preston sempat melihat sekilas stocking hi lam dan pengikatnya yang elastis, serta korsct kctat yang diikat pita mcrah.

Ia mcnyeret wanita itu di sikunya sepanjang lorong pintu masuk ke ruang duduk, lalu men-dudukkannya. Wanita itu tunduk mcmandang ke karpct. Mereka duduk dalam hening scmentara Lander menggeledah flat itu. Sersan itu tahu bahwa para penjahat kadang-kadang berscmbunyi di bawah tempat tidur atau di dalam lemari pakaian, dan dia melakukan tugasnya dengan baik. Sepuluh menit kemudian ia muncul, agak tersipu, dari bagian bclakang flat itu.

“Sedikit pun tak ada tanda-tanda tentang dia,

191

sir. Pasti ia sudah I.in lewat bclakang, memanjat pagar ha la man, lalu mclompal ke jalan.”

Tiba-tiba terdcngar bunyi bcl pintu depan.

“Anak buah Anda, sir?”

Preston menggelengkan kepala. “Kalau satu de-ring pasti bukan,” ia menjawab.

Lander pergi mcmbukakan pintu depan. Preston mendengar orang mcnyumpah dan bunyi langkah-langkah kaki yang sedang lari. Kemudian ternyata bahwa seorang pria datang ke situ dan, melihat bahwa yang membuka pintu seorang polisi, mencoba melarikan diri. Anak buah Burkinshaw langsung mcngepung di puncak tangga dan memcgang orang itu sampai Lander yang mengejar dari ba-wah mcmasangkan borgol di tangannya. Setelah itu, orang itu mcnycrah dan dibawa ke mobil polisi.

Preston duduk bersama wanita itu dan mendengarkan keributan di atas yang sudah mercda. “Ini bukan penahanan,” katanya dengan pcrlahan, “tapi saya kira scbaiknya kita pergi ke kantor pusat, bukan?”

Wanita itu mengangguk dengan mcmelas. “Anda tidak keberatan kalau saya ganti pakaian dulu?”

“Saya rasa itu gagasan yang baik, Sir Richard,” kata Preston.

Scjam kemudian, scorang sopir truk yang tcgap pcrawakannya tapi sangat gay dilcpaskan dari kantor polisi Paddington Green, setelah dengan serius dinasihati supaya bcrhali-hati dalam menanggapi

192

iklan-iklan blind-date di majalah-majalah kencan orang dewasa.

John Preston mcngawal Sir Richard Peters ke pedesaan, mencmaninya, mendengarkan apa yang ingin disampaikannya, sampai tengah malam, naik mobil kembali ke London, dan menghabiskan sisa malam itu untuk menulis laporannya. Dokumen itu sudah bcrada di depan semua anggota Komite Paragon ketika mereka bcrtcmu lagi pada jam sebelas pagi hari Jumat tangga I 20 Februari. Wajah-wajah mereka menunjukkan kchcranan dan ketidakscnangan.

Ya Tuhan, pikir Sir Martin Flanncry, sang Sekretaris Kabinet. Pertama Hayman, lalu Trestrail, lalu Dunne It, dan sekarang ini lagi. Tak bisakah orang-orang goblok ini menutup celananya rapat-rapal?

Orang yang terakhir selcsai mcmbaca laporan itu mendongakkan kepalanya. “Cukup mcngejutkan,” komentar Sir Hubert Villiers dari Kcmcnterian Dalam Negeri.

“Kukira kita tidak menginginkan dia kembali ke kementerian,” kata Sir Perry Jones dari Kcmcnterian Pertahanan.

“Di mana dia sekarang?” tanya Sir Anthony Plumb dari Dircktorat Jenderal MI-5, yang duduk di scbclah Brian Harcourt-Smith.

“Di salah satu rumah kita di pedesaan,” kata Sir Bernard Hemmings. “Dia telah menelepon kemcn—

193

lerian, mcngatakan bahwa ia menelepon dari cot-lagc-nya di Edcnbridgc, mclaporkan bahwa ia ler-pcleset saat menginjak sebuah ham pa ran es kemarin petang dan pcrgclangan kaki nya rctak. Katanya dia sakit, dan tidak bisa masuk kerja selama dua minggu lamanya. Instruksi dokter. Dengan begitu, untuk semcntara waktu, semuanya akan tcrtunda.”

“Apakah kita tidak mclupakan satu masalah?” gumam Sir Nigel Irvine dari MI-6. “Lepas dari kclakuannya yang ganjil, apakah mcmang dia orang yang kita cari? Apakah dia sumber kebocoran itu?”

Brian Harcourt-Smith berdehem sebelum mcn-jawab. “Interogasi, gentlemen, sedang dilakukan dalam tahap awal,” katanya, “tapi kemungkinan besar mcmang dia orangnya. Yang pasti orang seperti dia akan jadi sasaran ut una pemerasan.”

“Waktu menjadi masalah yang pokok di sini,” scla Sir Patrick Strickland dari Kcmcnterian Luar Negeri. “Kita masih belum bisa mcnangani masalah perkiraan kerugian, dan berkenaan dengan tugas saya, masalahnya adalah kapan dan apa yang akan kita katakan kepada sekutu-sekutu kita.”

“Kita bisa… er… mengintensifkan intcrogasinya,” usul Harcourt-Smith. “Saya yakin, kita akan memperoleh jawabannya dalam waktu dua puluh empat jam.”

Kehcningan terasa tak mengenakkan hati. Gagasan untuk mcnginterogasi salah satu rckan sc-kerja mereka olch suatu tim yang “kcjam” sangat

194

men-sailkan hati. Sir Martin Flannery mcrasa pc-rutnya mual. Secara pribadi ia paling tidak mcnyukai kckcrasan. “Itu pasti belum perlu untuk tahap ini, kan?” ia bcrtanya.

Sir Nigel Irvine mengangkat wajahnya dari laporan itu. “Bernard, orangmu—Preston—ini, petugas penyclidik itu—nampaknya ia cukup cakap.”

“Benar,” Sir Bernard Hemmings membenarkan.

“Aku sedang bcrpikir-pikir…” Sir Nigel melanjutkan scakan tidak yakin. “Ia rupanya sempat bcrada bcrsama Peters langsung setelah kcjadian di Bayswater itu. Aku berpikir, barangkali ada guna nya bagi komite ini untuk mendengarkan penjclasan langsung dari dia.”

“Saya sudah melakukan briefing penuh dengan dia pagi tadi,” Harcourt-Smith dengan cepal mc-nyela. “Saya yakin saya dapat menjawab pcrtanyaan mengcnai semua yang sudah terjadi.”

Pimpinan Enam itu mcnunjukkan sikap mcminta maaf. “My dear Brian, tak ada kcraguan dalam diriku mengcnai hal itu,” katanya. “Cuma… well… terkadang orang bisa memperoleh suatu kesan dari interogasi yang dilakukannya terhadap scorang tersangka yang tidak akan jelas jika dituangkannya dalam bentuk tertulis. Aku tidak tahu bagaimana pendapat komite, tapi kita harus segcra membuat keputusan untuk melakukan langkah apa setelah ini. Aku hanya punya gagasan, barangkali akan ada gunanya jika kita mendengarkan satu orang ini, orang yang telah berbicara dengan Peters.”

195

Para hadirin yang duduk mcngitari meja mengangguk. Hemmings menyuruh Harcourt-Smith, yang jelas nampak jengkcl, untuk memanggil Preston mclalui telepon. Sementara para pejabat itu mcnunggu, kopi dihidangkan.

Preston diantar masuk tiga puluh menit kemudian. Para pejabat senior itu mcngamatinya dengan rasa ingin tahu. Ia diberi tempat duduk di tengah meja, berseberangan dengan direktur jenderalnya

sendiri dan wakilnya.

Sir Anthony Plumb mcnjclaskan dilcma yang dihadapi komite dan bertanya, “Apa saja yang terjadi di anlara kalian?”

Preston berpikir sejenak. “Di dalam mobil, dalam pcrjalanan kc pedesaan, ia menangis. Sampai sebelum itu ia masih sanggup bcrsikap tenang, walaupun di bawah tekanan yang bcrat. Saya sendiri yang mcngantarkan dia, mengemudikan mobil itu. Ia mulai menangis, dan berbicara.”

“Ya?” Sir Anthony mcnycla, ingin memperce-pat. “Apa yang dikatakannya?”

“Ia mengakui bahwa ia punya kclainan seksual yang aneh, tapi ia nampak sangat terkejut mendengar tuduhan pengkhianatan itu. Ia menyangkal dengan bcrapi-api, dan tcrus mcngulangi sangkal-annya sampai saya mcninggalkannya dengan para penjaga.”

“Well, dia bisa saja bersikap begitu,” kata Brian Harcourt-Smith. “Bisa saja dia pelakunya.” “Ya, memang, bisa saja,” Preston sctuju.

196

“Tapi kesan Anda, intuisi Anda?” gumam Sir Nigel Irvine.

Preston mcnarik napas dalam-dalam. “Gentlemen, saya rasa bukan dia.”

“Boleh kami bertanya mcngapa?” kata Sir Anthony.

“Seperti yang dikatakan Sir Nigel tadi, ini hanya intuisi saja,” kata Preston. “Saya pernah melihat dua orang yang dunianya telah berantakan dan yang percaya bahwa hidupnya sudah tak ada gunanya. Jika orang yang bcrada dalam kondisi seperti itu bicara, mereka cendcrung mcmbocorkan banyak hal. Amat langka orang yang mcmpunyai kepribadian sangat kuat, seperti Philby atau Blunt, yang sanggup bcrtahan. Tapi mereka adalah pengkhianat-pengkbianat idcologi, penganut-penganut marxisme yang fanatik. Seandainya Sir Richard Peters mcmang dipcras untuk berkhianat, saya kira dia akan langsung mcngaku pada saat permainannya sudah ambruk, atau paling sedikit tidak akan tcrlalu terkejut mendengar tuduhan pengkhianatan. Jelas sekali dia nampak terguncang; mcmang bisa saja dia berakting, tapi saya rasa reaksinya tidak mungkin begitu dalam keadaan seperti itu. Kalau tidak, bcrarti dia layak memperoleh Oscar.”

Itu adalah sebuah pcrnyataan yang panjang untuk orang yang berstatus junior di hadapan Komite Paragon, dan suasana hening sejenak. Harcourt-Smith menatap Preston dengan ckspresi kurang senang. Sir Nigel mcngamati Preston dengan pc—

197

I

nub minal. Jabatannya membuat dia tahu tentang peristiwa Londonderry yang telah membuyarkan penyamaran Preston sebagai agen rahasia Angkatan Darat la juga sempat melihat tatapan Harcourt-Smith dan mcrasa heran mcngapa DDG Lima ini nampak kurang senang terhadap Preston. Ia sendiri mempunyai kesan yang positif atas Preston.

“Bagaimana pendapalmu, Nigel?” tanya Anthony Plumb.

Irvine mengangguk. “Aku juga pernah melihat ketegaran sikap yang ambruk yang menjerumuskan seorang pengkhianat pada saat ia diinlerogasi. Vassal, Prime—dua-duanya lemah dan kurang tegar, dan mereka mcmbocorkan scmuanya ketika rencana mereka mulai berantakan. Jadi, kalau bukan Peters, bcrarti hanya tinggal George Bercnson.”

“Sudah sebulan,” kcluh Sir Patrick Strickland. “Kita benar-benar harus bisa menangkap pelakunya dengan satu atau lain cara.”

“Masih tctap ada kemungkinan bahwa pelakunya scorang asisten pribadi atau sekretaris yang menjadi staf salah satu dari kedua orang itu,” Sir Perry Jones mengemukakan pendapatnya. “Bukan begitu, Mr. Preston?”

“Benar sekali, sir,” kata Preston.„

“Kalau begitu kita harus mcmbebaskan George Bercnson dari tuduhan atau mcmbuktikan bahwa memang dialah pelakunya,” kata Sir Patrick dengan nada jengkel. “Bahkan kalau seandainya dia ternyata bersih, bcrarti masih ada kemungkinan

bahwa Peters-lah pelakunya. Dan kalau dia tidak mau mengaku, bcrarti kita kembali lagi kc link nol.”

“Bolehkah saya mcngusulkan scsualu?” tanya Preston perlahan.

Yang hadir agak terperangah. Dia bcrada di sini bukan untuk diminlai usulan. Tapi Sir Anthony Plumb adalah orang yang simpatik. “Silakan,” katanya.

“Sepuluh dokumen yang dikembalikan olch pengirim tanpa identitas itu ternyata cocok jika diterapkan dalam suatu pola yang sama,” kata Preston.

Yang hadir di sekeliling meja itu semua mengangguk.

“Tujuh di antaranya,” Preston mclanjutkan, “ber-isi bahan yang menyangkut kedudukan Angkatan Laul Inggris dan NATO di Atlantik, Utara atau Selalan. Nampaknya itu menyangkut bidang perencanaan NATO yang menjadi minat si pclaku, atau orang-orang yang mengendalikan dia. Apakah mungkin sekarang kita dengan sengaja mcngirimkan suatu dokumen yang sedemikian mcmikat isi-nya sehingga, kalau memang benar Mr. Bercnson adalah pelakunya, maka ia akan sangat tcrgoda untuk membuat sebuah copy dan membuat move untuk mencruskan copy itu keluar?”

Beberapa dari antara yang hadir mcngangguk-angguk sambil mercnung.

“Menjebak dia, maksud Anda?” kata Sir Bcr—

198

nard Hemmings sambil bcrpikir kcras. “Bagaimana pendapalmu, Nigel?”

“Terus terang saja, aku suka itu. Mungkin bisa bcrfaasil. Bisakah itu dilakukan. Perry?”

Sir Peregrine Jones mcngcrutkan bibirnya. “Sc-sungguhnya, bisa lebih realistis daripada yang kau-pcrkirakan,” katanya. “Saat aku berada di Amerika, sebuah gagasan sedang dipcrdebatkan—mcskipun ini belum kuteruskan—bahwa suatu hari ke-lak kita akan perlu menambah sarana instalasi nuklir kita di Ascension Island dengan pcrlengkapan pengisi bahan bakar dan pasokan suku cadang, supaya bisa mencakup sarana-sarana bagi kapal selam nuklir kita. Orang-orang Amerika itu sangat tcrtarik, dan mengisyaratkan bahwa mereka mungkin bcrscdia membantu pembiayaannya kalau mereka juga bisa memanfaatkan sarana-sarana itu. Dengan begitu, kapal-kapal selam kita tidak perlu lagi balik ke Faslane dan mcnghadapi demonstrasi-demonstrasi yang berkepanjangan di sana, dan para Yankee itu juga tidak perlu balik ke Norfolk, Virginia. Kukira aku bisa membuat sebuah dokumen pribadi yang bersifat sangat rahasia, yang memuat gagasan itu untuk diusulkan menjadi kebijakan yang disetujui, dan mcnyusupkannya lewat empat atau lima meja, tcrmasuk meja Bercnson.”

“Apakah Bercnson biasanya mcmbaca dokumen seperti itu?” tanya Sir Paddy Strickland.

“Pasti,” kata Jones. “Sebagai wakil Pimpinan Pcngadaan Pertahanan ia bcrtanggung jawab alas

200

semua aspek yang ada kaitannya dengan nuklir. Ia wajib mcmbaca dokumen itu, bersama tiga atau empat pejabat lain. Beberapa copy akan perlu dibuat untuk diperiksa olch rekan-rekan dekat saja. Kemudian copy-copy itu akan dikembalikan dan dimusnahkan. Aslinya akan kembali kepadaku, di sampaikan secara pribadi.”

Itu disetujui. Dokumen Ascension Island akan bcrada di meja George Bercnson pada hari Selasa.

Saat meninggalkan Kantor Kabinet, Sir Nigel Irvine mengundang Sir Bernard Hemmings untuk mcnemaninya makan siang.

“Orang baik, si Preston ilu,” komentar Irvine, “begitu pula pcnampilan pribadinya. Apakah dia setia kepadamu?”

“Aku punya semua alasan untuk berpendapat begitu,” kata Sir Bernard, bingung.

Ah, itu barangkali bisa menjelaskan masalahnya, pikir C dengan mislerius.

Hari Minggu ilu, langgal dua puluh dua, Perdana Menteri Inggris menghabiskan liburannya di rumah peristirahntan resminya di pedesaan. Chequers, distrik Buckinghamshire. Dengan cara sangat rahasia, ia mcminta tiga dari para penasihat terdekatnya di Kabinet dan pimpinan Partai Konservatif untuk datang ke sana menjumpainya, secara pribadi.

Apa yang disampaikannya kepada mereka membuat mereka semua bcrpikir kcras Juni mendatang

201

bcrarti ia sudah bcrada di puncak kekuasaan selama empat tahun dalam masa jabatannya yang kedua. Ia sudah memutuskan untuk memenangkan pemilihan umum lagi, untuk kctiga kalinya, secara berturut-turuL Indikator-indikator ekonomi menu isyaratkan adanya penurunan di musim gugur yang akan datang, yang discrtai gelombang tuntutan kenaikan gaji. Kemungkinan akan ada pemogokan-pemogokan. Ia tidak mcnginginkan tcrulangnya “kcrcsahan musim dingin* tahun 1978, ketika gelombang pemogokan mclumpuhkan kredibilitas pemerintahan Partai Buruh dan akhirnya menyebabkan kejatuhannya pada bulan Mei 1979.

Lagi pula, dengan pcrsekutuan Partai Sosial Demokrat/Liberal masih saja hanya dua puluh persen suara perolchannya di poll pendapat umum, Partai Buruh, dengan penampilan barunya yang hex-motto kesatuan dan kcmodcralan, telah bcrhasil mcnaikkan pcrolehan poll-nya menjadi tiga puluh tujuh persen dari seluruh total suara, yaitu hanya enam point di bawah Partai Konservalif. Dan pcrbedaan ini semakin mengecil. Singkatnya, ia mcnghendaki suatu pemilihan dadakan di bulan Juni, tapi tanpa spckulasi yang merusak yang mendahului dan mempcrcepat keputusannya di tahun 1983. Suatu dcklarasi yang tiba-liba dan bcrsifal kcjutan dan suatu kampanyc pemilihan selama tiga minggu adalah yang diinginkannya, bukan di tahun 1988, atau bahkan di musim gugur tahun 1987, tapi di musim tahun itu juga.

202

Ia membuat rckan-rekannya terdiam seribu ba-hasa, tapi tanggal yang lebih disukainya adalah Kamis kedua sebelum terakhir di bulan Juni, tanggal delapan belas.

Pada hari Senin, Sir Nigel Irvine melangsung-kan pertemuannya dengan Andreyev. Sifatnya sangat terlutup, di Hampstcad Heath. Sejumlah anak buah Irvine disebarkan di seluruh tempat itu untuk mcmastikan bahwa Andreyev datang seorang diri dan tidak bcrada di bawah pengawasan agen-agen KR (kontra-intelijen) Kcdutaan Soviet sendiri. Tapi ternyata dia bersib. Pengawasan Inggris sendiri alas gcrakan-gerakan diplomat Soviet memang telah ditiadakan.

Sir Nigel Irvine menangani Andreyev seperti menangani seseorang yang berstatus pimpinan. Adalah tidak biasa bagi seseorang yang statusnya dalam dinas (dinas apa pun) setinggi kepala dinas untuk menangani seorang agen langsung sendiri. Tapi, itu bisa saja terjadi apabila agen itu menyangkut kepentingan yang teramat khusus, atau karena penugasan itu dilakukan sebelum si pcngawas berstatus kepala dinas di tcmpatnya bekerja dan si agen tidak bersedia ditangani oleh orang lain. Begilulah yang terjadi dengan Andreyev saat ilu.

Di bulan Februari 1972 dulu, sang Kepala, saat itu hanya disebut Mr. Irvine, adalah kepala perwakilan di Tokyo. Di bulan itu pasukan anti tero—

203

ris memutuskan untuk mcnyerang markas besar Faksi Tentara Merah Ultra Kiri yang fanatik, yang terletak di sebuah vila di tengah padang salju di lereng Gunung Otakine, di sebuah tempat bemama Asamaso. Korps Kepolisian Nasional yang sesungguhnya melaksanakan tugas itu, tapi di bawah komando pimpinan pasukan anti tcroris yang pcr-kasa, Sassa, yang adalah tcman Irvine.

Dengan mcnggunakan sebagian pengalaman yang diperoleh unit-unit tempur SAS Inggris, Irvine bisa memberikan bantuan saran kepada Sassa, dan beberapa usulnya telah berhasil menyelamatkan sejumlah nyawa orang Jepang. Karena posisi ncgerinya yang neural, Sassa tidak dapat menunjukkan rasa tcrima kasihnya kepada Irvine dengan cara kongkrcL Tapi di suatu jamuan cocktail sebulan kemudian, pria Jepang yang sangat pintar dan halus perangainya ini menangkap pandangan mata Irvine dan mengangguk ke arah seorang diplomat Rusia di seberang ruangan. Lalu ia tersenyum dan berlalu dari situ. Irvine mendekati orang Rusia itu dan mcngctahui kenyataan bahwa orang itu belum lama berada di Tokyo dan namanya Andreyev.

Irvine lalu menyuruh anak buahnya menguntit pria itu dan ternyata ia melakukan tindakan bodoh, yaitu menjalin hubungan cinta dengan seorang ga-dis Jepang, suatu pclanggaran yang akan segera menyebabkan ia dibuang oleh bangsanya sendiri. Tentu saja si gadis Jepang sudah tahu, sebab se—

204

tiap diplomat Soviet di Tokyo diam-diam selalu dibuntuti setiap kali ia meninggalkan kedutaan.

Irvine lalu membuat jebakan asmara, berhasil memperoleh foto-foto yang dipcrlukan dan rekaman suara, dan akhirnya melakukan penyergapan di tempat atas diri Andreyev dengan menggunakan teknik crash-bang-gotcha (pendadakan). Pria Rusia itu hampir-hampir pingsan, mcngira dia sedang disergap oleh kaumnya sendiri. Sambil mengena-_kan celananya kembali, ia setuju untuk berbicara dengan Irvine. Ia merupakan tangkapan yang lu-mayan. Ia adalah anggota Dircktorat (legal KGB, seorang agen Jalur N.

Dircktorat Utama Satu KGB, yang menangani kegiatan luar negeri, dalam tubuhnya sendiri terbagi menjadi direktorat-direktorat, departemen departemen khusus, dan departemen-departemen biasa. Agen-agen KGB Soviet biasa yang menyamar sebagai diplomat be rasa I dari sal a h satu departemen wilayah (Departemen Tujuh mencakup Jepang). Para staf ini disebut Jalur PR kalau sedang ditugaskan di luar ncgeri, dan merckalah yang melakukan tugas pencarian informasi sehari-hari, membentuk kontak-kontak yang berguna, mcmbaca bahan publikasi teknis, dan sebagainya.

Tapi di jantung paling rahasia Dircktorat Utama Satu terletak pusat urusan Ilegal, atau Dircktorat S, yang tidak mengenal batas-batas wilayah. Departemen ini melatih dan menugaskan agen-agen “ilegal”—yaitu mereka yang tidak memiliki

205

kekebalan diploma lik, mereka yang bekcrja di bawah lanah, dengan penyamaran yang canggih, dengan dokumen-dokumen palsu dan bcrtugas dalam misi-misi rahasia. Para ilegal ini beroperasi di luar kcdutaan. Mcskipun demikian, di dalam seliap tim KGB di setiap kcdutaan Soviet, biasanya selalu ada satu agen dari Direktorat S, yang dalam pcnu-gasan luar ncgcrinya dikcnal sebagai agen Jalur N. Agen-agen Jalur N ini hanya mcngcmban lugas-tugas khusus, sering kali menjalin kerja sama dengan mata-mala setempat dari negeri yang sedang dimata-matainya, atau mcmberikan bantuan, dengan perlindungan dan dukungan teknis, kepada scorang ilegal lain yang mcnyamar yang berasal dari negara blok Soviet.

Andreyev berasal dari Direktorat S. Anchnya, dia bukan ahli masalah Jepang, yang merupakan persyaratan bagi semua rekannya di Departemen Tujuh di kcdutaan. Dia scorang ahli bahasa Inggris, dan dikirim ke Jepang karena ditugaskan membentuk kontak dengan scorang sersan Angkatan Udara Amerika Serikat yang telah mcnjalani lalihan di San Diego sebelum ia ditransfcr ke pangkalan gabungan Angkatan Udara Amerika-Jepang di Tashikawa. Karena sadar ia tidak mungkin mcngakui kesalahannya kepada atasannya di Moskow, Andreyev sctuju untuk bekcrja bagi kepentingan Irvine.

Kerja sama yang nyaman ini berakhir ketika sersan Amerika ilu, yang tcrus-mencrus ditekan

206

sehingga tidak tahan lagi, bunuh diri dengan cara yang kurang rapi, yaitu menembak dirinya sendiri dengan rcvolver-nya di kamar kecil dapur militer dan Andreyev dikirim pulang ke Moskow dengan tergesa-gesa. Tadinya Irvine hernial “membakar” (membeberkan “dosa”) agen itu di sana saat itu, tapi ia mengurungkan niatnya.

Dan kemudian Andreyev muncul di London. Sejumlah foto baru ada di meja Sir Nigel Irvine enam bulan sebelum itu, dan ke sanalah Andreyev bertugas. Dimutasikan dari Direktorat S dan kembali ke Jalur PR, Andreyev diangkat sebagai sekretaris dua di Kcdutaan Soviet. Sir Nigel memasang kaitnya lagi. Andreyev tidak bisa bcrbuat lain kecuali bekcrja sama, tapi ia tidak mau dila ngani olch orang lain, jadi Sir Nigel lerpaksa memperlakukan dia sebagai orang yang berstatus direktur.

Mengenai masalah kebocoran di Kementerian Pertahanan Inggris, Andreyev tidak bisa mcmbantu banyak. Ia tidak tahu apa-apa tentang masalah itu. Jika mcmang ada kebocoran, maka si pelaku di kementerian itu mungkin ditangani olch seorang agen Soviet ilegal yang berdomisili di Inggris, yang bcrhubungan langsung dengan Moskow, atau dia mungkin ditangani olch salah satu dari tiga agen Jalur N yang bcrtugas di dalam kcdutaan. Tapi agen-agen itu tentu tidak akan mcmbicarakan masalah sepenting itu saat minum kopi di kantin. Secara pribadi ia tidak pernah mendengar apa-apa,

207

tapi ia akan membuka mata dan telinganya lebar-lebar. Dalam kondisi seperti itulah kedua laki-Iaki di Hampstcad Heath itu berpisah.

Dokumen Ascension Island dibagikan pada hari Sclasa, 24 Fcbruari, olch Sir Peregrine Jones, yang mcnghabiskan waktu sepanjang hari Senin untuk menyiapkannya. Dokumen itu dibagikan kepada empat orang. Bertie Capstick menyanggupi untuk pergi ke kementerian setiap malam dan memeriksa fotocopy-fotocopy yang dibuat secara legal. Preston membcritahu para pelacaknya bahwa ia ingin tahu apakah George Bercnson mulai beraksi, dengan segcra. Kepada para petugas pcngccck surat pos juga dimintanya hal yang sama, dan tim penyadap telcponnya dimintanya untuk siaga penuh. Lalu mereka bersJap dan menunggu.

208

7

PADA hari pertama tidak terjadi apa-apa. Malam itu, Brigadir Capstick pergi ke kementerian bersama John Preston, sementara para staf sedang tidur dan mengecek jumlah fotocopy yang dibuat. Ada tujuh lembar semuanya: tiga olch George Berenson, masing-masing dua oleh pejabat-pejabat senior yang lain yang menerima Dokumen Ascension Island, dan tak satu pun dibuat olch orang kecmpat.

Pada malam hari kedua, Berenson melakukan sesualu yang ganjil. Para pclacak mclaporkan bahwa petang itu ia meninggalkan apartemen Belgravia-nya dan berjalan menuju sebuah box telepon di dekat situ. Mereka tidak bisa melihat nomor yang dipulamya, tapi dia cuma mcngucapkan beberapa patah kata, mcletakkan kembali gagang telcpon, dan berjalan pulang. Mengapa, pikir Preston, seseorang harus berbuat begitu kalau ia mcmpunyai lelepon sendiri yang berfungsi dengan baik

209

di flatnya—sesuatu yang Preston tahu dengan pasti, scbab ia menyadap telepon ilu?

Pada hari kctiga, Kamis langgal 26 Februari, George Berenson meninggalkan gedung kcmcnterian pada waktu seperti biasa, memanggil taksi, dan menuju St. John’s Wood. Di High Street di depan gereja itu, yang suasananya seperti di pedesaan, terletak sebuah kedai es krim dan coffee shop. Pejabat Kcmcnterian Pertahanan itu masuk ke dalam, mcmcsan satu sundae, yang merupakan salah satu hidangan istimcwa kedai itu.

John Preston duduk di ruang radio di basement di Cork Street dan menyimak laporan pimpinan tim pclacak. Terdcngar suara Len Stewart yang mengepalai tim A. “Ada dua orang di sini,” katanya, “dan dua lagi di luar sini di jalanan. Ditambah mobil-mobil saya.”

“Dia sedang apa di dalam sana?” tanya Preston.

“Tidak terlihat,” kata Stewart melalui radio. “Harus mcnunggu sampai orang-orang yang ada bersama dia punya kescmpatan untuk mclapor kepada saya.”

Yang sedang terjadi yaitu, Berenson yang duduk terlindung di sebuah sudut sedang menikmati es krim sundae-nya dan sedang mcngisi kotak-kotak terakhir teki-teki silang di koran Daily Telegraph yang dikcluarkannya dari tas kantornya. Ia tidak menyadari adanya dua mahasiswa bcrpakaian jeans yang duduk di sudut

Tiga puluh menit kemudian si pejabat minta

bon, membawanya ke meja pembayaran, mem-bay a r, dan pergi dari situ.

“Ia sudah balik ke jalanan,” Len Stewart melapor. “Dua anak buah saya masih di dalam sana. Ia sedang berjalan di sepanjang High Street Men cari taksi, saya rasa. Saya bisa melihat anak buah saya di dalam kedai itu sekarang. Mereka sedang mcmbayar di meja pembayaran.”

“Bisakah kautanyakan kepada mereka, apa yang tadi dilakukannya di dalam sana?” tanya Preston. Ada sesuatu yang aneh dalam rcntetan pcristiwa ini, pikirnya. Mungkin kedai es krim itu punya kcisti-mcwaan, tapi ada kedai-kedai lainnya di May (air dan di kawasan West End, yang terletak di jalur lurus dari kementerian ke Belgravia. Mcngapa menuju ke sebelah utara Regent’s Park, ke St John’s Wood hanya untuk minum es krim?

Suara Stewart terdcngar lagi di udara. “Ada taksi datang. Ia memanggil nya. Sebentar, nah ini anak buah saya dari dalam.” Sejenak transmisi itu tcrhenti. Lalu, “Rupanya dia cuma makan es krim dan menyelesaikan mcngisi teka-teki silang Daily Telegraph. Lalu ia membayar dan pergi dari situ.”

“Di mana korannya?” tanya Preston.

“Dilinggalkannya setelah ia sclesai…. Sebentar…. Lalu si pemilik kedai datang dan mcmbcrsihkan mejanya, mengambil mangkok yang kotor dan koran itu dan membawanya ke dapur…. Ia berada di dalam taksi sekarang dan sedang meluncur. Apa yang kita lakukan sekarang… tctap ikuti dia?”

210

Preston bcrpikir dengan tegang. Harry Burkinshaw dan tim B telah dibebaskan dari tugas melacak Sir Richard Peters dan diberi cuti beberapa hari. Mereka harus bcrtugas jaga dalam hujan, cuaca dingin, dan kabut selama bcrminggu-ming-gu. Kini hanya ada satu tim yang bcrtugas. Kalau ia memecah tim itu dengan risiko kehilangan Berenson, yang mungkin saja akan menemui pengon-taknya di tempat lain, Harcourt-Smith pasti akan memojokkannya habis-habisan. Ia membuat keputusan.

“Len, biarkan satu mobil dengan pengemudinya menguntit taksi itu. Aku tahu orangmu tidak akan cukup jika ia meloloskan diri dengan berjalan kaki. Tidak apa, suruh sisa anak buahmu pergi ke kedai es krim itu.”

“Siap, Pak,” kata Len Stewart, dan cabut dari udara.

Preston bcruntung. Taksi itu mcluncur langsung ke klub Berenson di kawasan West End dan menurunkan dia di situ. Ia masuk kc dalamnya. Tapi kalau begitu, pikir Preston, orang yang akan di-kontaknya mungkin bcrada di dalam sana.

Len Stewart memasuki kedai es krim itu dan duduk sampai saat kedai akan tutup, ditemani secangkir kopi dan koran The Evening Standard. Tidak terjadi apa-apa. Ia diminta meninggalkan kedai saat kedai itu akan tutup dan itu dilakukannya. Dari ujung sana dan ujung sini jalan, tim empat orang itu mcnyaksikan para karyawan kedai

212

itu meninggalkan tempat kerja mereka, si pemilik menutup pintu, dan lampu-lampu dimatikan.

Dari Cork Street, Preston bcrusaha melakukan penyadapan telepon atas kedai es krim itu dan mcnyelidiki idcntilas si pemilik kedai. Ternyata ia bemama Signor Bcnotti, seorang imigran legal, berasal dari Naples, yang telah mencmpuh hidup tanpa cacat selama dua puluh tahun. Di tengah malam Preston melakukan penyadapan alas kedai es krim itu dan atas rumah Signor Bcnotti di Swiss Cottage. Tidak ada hasil apa-apa.

Malam itu di Cork Street, Preston tidak bisa tidur. Tim pengganti Stewart sudah mulai bertugas pada jam 8.00 malam dan mcngawasi kedai es krim serta rumah Benotti sepanjang malam. Pada jam 9.00 Jumat paginya, Benotti berjalan menuju ke kedainya, dan pada jam 10.00 membuka kedainya. Len Stewart bersama tim shift siang mulai bcrtugas lagi pada jam yang sama. Pada jam 11.00, Stewart mclapor.

“Ada sebuah mobil van pengantar barang di pintu depan,” katanya kepada Preston. “Sopirnya kelihatannya mcmuatkan box-box es krim ke dalam mobil. Rupanya mereka melayani pesanan dengan anlaran.”

Preston mcngaduk kopinya yang kurang enak rasanya, cangkir kedua puluh. Otaknya letih karena kurang tidur. “Aku tahu,” katanya, “pembicaraan-pembicaraan telepon sudah mengisyaraikan hal itu. Atur supaya sebuah mobil dengan dua orang

213

mcnguntit van ilu. Calai semua penerima anlaran es krim itu.”

“Dengan begitu saya cuma tinggal punya satu mobil dan dua orang saja di sini, termasuk saya sendiri,” kata Stewart “Sangat kurang untuk pcla-cakan.”

“Ada rapat bidding—tawar-menawar—saat ini di Charles. Aku akan berusaha memperoleh tim cks—

tra,” kata Preston.

Van es krim itu melakukan dua belas antaran pagi itu, scmuanya di kawasan St. John’s Wood/Swiss Collage, dengan dua di selatan scjauh Marylebone.

Scbagian antaran itu dilakukan di gcdung-gedung apartemen, di sana sulil bagi para pclacak untuk (idak menimbulkan kecurigaan, tapi mereka mencatat semua alamat Lalu van itu meluncur kembali ke kedai itu. Tidak ada anlaran sore.

“Bisakah kau drop daftar itu di Cork dalam perjalananmu menuju ke rumah?” Preston bertanya

pada Stewart.

Petang ilu, para penyadap telepon melaporkan bahwa Berenson menerima empat telepon selama dia di rumah, termasuk satu yang ternyata pcncle-ponnya salah sambung. Dia tidak melakukan pembicaraan keluar. Semua sudah dirckam. Apa Preston ingin mendengarkan rekaman ilu? Sama sekali tidak ada yang mencurigakan. Tapi ia berpikir, mungkin scbaiknya didengarkannya juga.

Sabtu pagi hari, Preston melakukan sesuatu

214

yang paling melelahkan dalam hidupnya. Dengan mcnggunakan tape recorder yang sudah disiapkan oleh km Bantuan Tcknik, dan dengan mcngucapkan berbagai perminUian maaf, ia menelepon setiap penerima antaran es krim itu, dan, apabila yang menjawab telepon seorang wanita, menanyakan apakah ia boleh bcrbicara dengan suaminya. Karena hari itu hari Sabtu, ia berhasil menelepon scmuanya kecuali satu.

Satu suara rasa nya pernah didengarnya. Apakah itu—ada sedikit akscn asingnya? Dan di manakah ia pernah mendengar suara seperti itu scbclumnya? la mcmeriksa nama pemilik apartemen ilu. Tidak mcmpunyai arti apa-apa baginya.

Ia makan siang dengan murung di sebuah cafe dekat Cork Street Kcterkaitan dalam kasus itu muncul di benaknya saat ia minum kopi. Ia bergegas kembali ke Cork Street dan mcmutar lagi rekaman itu. Bisa jadi—belum pasti, tapi bisa jadi.

Scotland Yard, di antara berbagai sarananya yang lengkap milik Departemen Ilmiah Forcnsik-nya, memiliki satu seksi yang khusus menangani analisa suara manusia, yang amat berguna jika seorang penjahat yang sedang dilacak, yang telepon nya telah disadap, menyangkal bahwa yang ada di pita rekaman itu adalah suara nya. MI-S, yang tidak memiliki sarana forensik, hams bergantung kepada Scotland Yard dalam hal seperti ini, suatu pengaturan yang biasanya dilakukan mclalui Cabang Khusus.

215

Preston menelepon Sersan Detektif Lander di rumahnya, dan Lander-lab yang kemudian mengatur suatu pertemuan prioritas di seksi analisa suara Scotland Yard sore itu juga. Hanya ada satu teknisi yang bcrtugas, dan ia jcngkcl sekali karena harus berhenti nonton pertandingan sepakbola di televLsi untuk dipanggil bekerja, tapi perintah itu dipatuhinya. Ia scorang pemuda berperawakan ku-rus dengan kacamata tebal. Diputarnya pita rekaman Preston setengah lusin kali sambil mcngamati jalur terang pada layar oscilloscope yang naik-turun untuk menangkap nuansa-nuansa paling ha-lus dari nada dan ttmbre dalam suara-suara itu.

“Suara yang sama,” katanya akhirnya, “tak ragu lagi.”

Pada hari Minggu, Preston mencari identitas pemilik suara bcrakscn asing itu dengan mcnggunakan Daftar Diplomatik. Ia juga menghubungi seorang teman di Departemen Fisika di Universilas London, mengganggu hari liburnya dengan meminta bantuan yang agak mercpotkan, dan akhirnya menelepon Sir Bernard Hemmings di rumahnya di Surrey.

“Saya kira ada sesuatu yang perlu kita laporkan kepada Komite Paragon, sir,” katanya, “csok pagi.”

Komite Paragon mengadakan pertemuan pada jam 11.00 pagi hari Senin tanggal 2 Marct, dan Sir Anthony Plumb meminta Preston menyampaikan laporannya. Sua sana terasa mencekam karena

216

ada sesuatu yang diharapkan, meskipun Sir Bernard Hemmings nampak muram.

Preston mclaporkan rincian kejadian dua hari pertama setelah dibagikannya Dokumen Ascension Island itu dengan sesingkat mungkin. Terasa yang hadir mulai menaruh minat ketika dilaporkan bahwa Bercnson bertingkah ganjil dan melakukan pembicaraan telepon sangat singkat dari sebuah box telepon pada hari Rabu petang yang lalu.

“Apakah pembicaraan telepon itu Anda rckam?” tanya Sir Peregrine Jones.

“Tidak, sir, kami tidak berhasil untuk berada cukup dekat,” jawab Preston.

“Jadi mcnurut pendapat Anda telepon itu untuk apa?”

“Saya kira Mr. Berenson mcmbcritahu pengendalinya tentang adanya drop yang ditunda, barangkali ia mcnggunakan kodc-kode tertentu untuk menyatakan waktu dan tempatnya.”

“Apa Anda mempunyai bukti mengcnai bal itu?” tanya Sir Hubert Villicrs dari Kementerian Dalam Negeri.

“Tidak, sir.”

Preston kemudian melanjutkan dengan menguraikan kunjungan ke kedai es krim itu, ditinggalkannya koran Daily Telegraph, dan kenyataan bahwa koran ilu kemudian diambil oleh si pemilik kedai sendiri.

“Apakah Anda berhasil memperoleh koran itu?” tanya Sir Paddy Strickland.

217

“Tidak, sir. Melakukan penggcrcbekan di kedai es krim itu barangkali bisa berlanjut dengan penangkapan alas diri Mr. Benotti, dan kemungkinan juga Mr. Berenson, tapi Benotti bisa saja mengaku tidak bersalah sama sekali dan menyatakan koran itu tidak bcrisi apa-apa, dan Berenson bisa saja menyatakan bahwa ia telah melakukan kesalahan yang sangat ceroboh.”

“Tapi Anda percaya bahwa kunjungan ke kedai es krim ilu adalah sualu tindakan drop?” tanya Sir Anthony Plumb.

“Saya yakin itu,” kata Preston. Ia melanjutkan mcnguraikan antaran box-box es krim berukuran satu galon ke selusin pelanggan keesokan harinya, bagaimana ia telah memperoleh contoh suara scbelas dari mereka, dan dilerimanya telepon salah sambung olch Bercnson petang itu, pada hari yang sama. “Suara yang menelepon dia petang itu— yang menyatakan bahwa peneleponnya rupanya salah sambung, meminta maaf, dan membatalkan telepon itu—ternyata sama dengan salah satu penerima antaran es krim.”

Suasana langsung hening di sekeliling meja.

“Apakah tidak mungkin itu hanya suatu ke-bclulan saja?” tanya Sir Hubert Villiers ragu-ragu. “Sangat banyak nomor-nomor tidak bersalah yang mcngalami salah sambung di kola ini. Saya sendiri sering mengalami hal seperti itu.”

“Saya telah mengkonsultasikan kemungkinan itu kepada scorang teman kemarin, yang tahu soal—

218

soal komputer,” kata Preston dalar. “Kemungkinan bahwa seseorang yang tinggal di kola berpen-duduk dua belas juta yang pergi ke kedai es krim untuk memesan sundae, dan bahwa kedai es krim itu melakukan antaran kepada dua belas pelanggan keesokan harinya, lalu salah satu pelanggan itu menelepon secara salah sambung kepada pemakan cs krim itu di tengah malam —adalah satu dibanding scjuta. Telepon di hari Jumat ilu merupakan pengakuan bahwa antaran sudah diterima dengan baik.”

“Coba, apa saya sudah mengerti benar,” kata Sir Perry Jones. “Bercnson memperoleh kembali semua fotocopy dokumen fiktif itu dari rekan-rckan-nya dan berpura-pura telah memusnahkan semuanya. Padahal, ia menahan satu copy. Ia memasukkan copy itu ke dalam lipatan korannya dan meninggalkannya di kedai es krim. Si pemilik kedai mengambil koran itu, membungkus dokumen rahasia itu dengan plastik, dan mcngirimkannya kepada si pengcndali dalam sebuah box cs krim. Si pengcndali lalu memberitahu Berenson bahwa ia telah menerima kirimannya.”

“Saya percaya bahwa itulah yang sudah terjadi,” kata Preston.

“Kemungkinannya satu dibanding sejuta,” Sir Anthony Plumb tepekur. “Nigel, bagaimana pendapatmu?”

Pimpinan SIS itu menggelengkan kcpalanya. “Aku tidak percaya akan kemungkinan satu di

219

banding sejuta,” katanya. “Tidak dalam pekcrjaan kita ini—eh, Bernard? Tidak, itu memang suatu drop, dari si sumber kepada si pengendali melalui seorang perantara, Signor Benotti. John Preston telah menganalLsa dengan benar. Saya ucapkan selamat. Bercnson adalah orang yang kita cari.”

“Apa yang terjadi sejak Anda mengembangkan kctcrkaitan ini, Mr. Preston?” tanya Sir Anthony.

“Saya mcngalihkan pengawasan dari Berenson ke si pengendali,” kata Preston. “Saya berhasil mcnemukan identitasnya. Malahan, pagi ini saya bergabung dengan para pclacak dan mengikuti dia dari flatnya yang terletak di Marylebone—tempat ia tinggal scorang diri sebagai bujangan—sampai ke kantornya. Ia adalah seorang diplomat asing. Namanya Jan Mara is.”

“Jan? Kedengarannya orang Ceko,” kata Sir Perry Jones.

“Tepatnya bukan,” kata Preston dengan murung. “Jan Marais adalah seorang diplomat resmi yang menjadi salah satu staf di Kedutaan Republik Afri-ka Selatan.”

Suasana hening karena yang hadir terjieran-he-ran dan seakan tak percaya. Sir Paddy Strickland menggumam dalam bahasa yang tidak layak dipakai oleh para diplomat, “Bloody hell.” Semua mata terarah kepada Sir Nigel Irvine.

Ia duduk di ujung meja, nampak sangat terguncang. Kalau ilu benar, demikian dikatakannya kepada dirinya sendiri, akan kuhancurkan tulang

220

iganya dan kuremukkan kepalanya. Ia sedang berpikir tentang Jenderal Henry Pienaar, pimpinan Dinas Intelijen Nasional Afrika Selatan, penerus Biro Keamanan Nasional yang sudah dibubarkan dan yang kepergiannya tidak discsali Adalah suatu hal yang buruk jika orang-orang Afrika Selatan menyewa sejumlah bandil London unluk menjarah arsip-arsip Kongres Nasional Afrika; tapi membentuk jaringan mata-mata di dalam Kementerian Pertahanan Inggris merupakan pernyataan perang an-tara dinas-dinas rahasia kedua ncgara itu.

“Saya kira, gentlemen, kalau Anda sudi berbaik hati, saya minta waktu beberapa hari unluk menyelidiki masalah ini lebih lanjut,” kala Sir Nigel.

Dua hari kemudian, pada tanggal 4 Marct, salah satu menteri senior Kabinet yang dipercaya Mrs. Thatcher dan diberitahu tentang kcinginannya untuk menyelenggarakan pemilihan umum dini, sedang menikmati makan pagi dengan isirinya di rumah mereka yang indah di Holland Park, London. Isirinya sedang mcmbalik-balik sctumpuk brosur paket wisata.

“Corfu sangat menyenangkan,” kata istrinya, “atau Pulau Krcta.” Tidak ada tanggapan, sehingga ia merasa perlu untuk mendesakkan keinginannya. “Darling, kita perlu bcrlibur dua minggu unluk istirahat total di musim panas ini. Sudah hampir dua tahun kita tidak pergi bcrlibur. Bagaimana

221

kalau bulan Juni? Sebelum kau sibuk lagi dan saat cuaca masih dalam kondisi yang terbaik.”

“Jangan Juni,” kata sang menteri, tanpa mene-ngadahkan wajahnya.

“Tapi Juni sangat bagus,” istrinya mcmprotcs.

“Jangan Juni,” suaminya mengulangi, “lain kali saja, asal bukan Juni.”

Mata isirinya mcmbclalak. “Mengapa Juni begitu penting?”

“Sudahlah.”

“Kau scrigala licik,” kaia istrinya penuh emosi. “Margaret, kan? Pasti gara-gara obrolan sanlai di Chequers hari Minggu yang lalu. Dia akan mcngunjungi desa-desa. Well, aku berani taruhan.”

“Shush,” kata suaminya, tapi setelah dua puluh lima lahun perkawinan mereka, isirinya lahu jika tcbakannya benar. Ia mendongak dan melihat Emma, putri mereka, yang sedang bcrdiri di mulut pintu.

“Kau sudah mau pergi, Sayang?”

“Yeah,” kata gadis itu, “sampai nanti.”

Emma Lockwood berumur sembilan belas tahun, mahasiswi fakullas seni rupa yang dengan sepenub jiwa-raganya bcrgabung dengan sualu alir-an yang discbut “politik radikal”. Ia membenci pandangan-pandangan politik ayahnya dan bcrusaha memprotesnya dengan gaya hidupnya. Orang-luanya yang cemas tapi masih berusaha untuk bcrsikap tolcran itu melihat putri mereka tidak pernah ketinggalan mcngikuti demonstrasi-222

demonstrasi anti nuklir atau protes-protes sayap kiri lain yang lebih vokal. Salah satu bentuk proles pribadinya adalah tidur dengan Simon Devine, seorang dosen di fakultas politcknik yang dijumpainya ketika ikut salah satu demonstrasi.

Dosen itu bukan seorang pecinla yang hebat, tapi ia membuat gadis itu terkesan karena paham trotskyismc-nya yang fanatik scrta kebenciannya yang mendalam terhadap semua yang berbau “borjuis”, yang mencakup semua orang yang tidak setuju dengan pandangannya. Mereka yang mampu bcrsilang pendapat secara lebih efektif daripada kaum borjuis diklasifikasikannya sebagai kaum fa-sis. Pclang itu, di tempat tidur Devine, gadis itu menyampaikan tip yang tadi kebeiulan didengarnya saat berdiri di mulut pintu ruang makan pagi orangtuanya.

Devine adalah anggota sejumlah kelompok studi rcvolusioncr dan sering menyumbangkan tulisan-lulisannya di buletin-bulctin kaum Ekstrem Kiri yang sifatnya sangat berapi-api tapi ber-oplag ke-cil. Dua hari kemudian, ia menyinggung-nyinggung infonnasi bcrbarga yang dipcrolehnya dari Emma Lockwood saat dia mengadakan pertemuan dengan salah satu editor buletin-bulelin itu, untuk mana ia sudah mempersiapkan sebuah tulisan yang menganjurkan agar semua pekerja pabrik mobil di Cowley yang menyukai kebebasan bersatu menghancurkan jalur produksi sebagai reaksi

223

terhadap dipccatnya salah satu dari mereka karena tindak pencurian.

Si editor mcmberitahu Devine bahwa desas-dcsus itu tidak cukup kuat untuk bisa dituangkan sebagai tulisan yang akan ditcrbitkan, tapi ia her janji akan mcmbicarakan informasi itu dengan rekan-rekannya, dan ia mcnasihati Devine agar menyimpan informasi itu untuk dirinya sendiri saja. Setelah Devine pergi, si editor segcra mcmbicarakan hal itu dengan salah satu rckannya— perantaranya—dan si perantara menyampaikan hal itu kepada si pengendali yang berkedudukan di Kedutaan Rusia. Pada tanggal 10 Marel, bcrita itu sampai ke Moskow. Devine pasti menyesal kalau tahu akan hal itu. Sebagai penganut fanatik seruan Trotsky untuk menjalankan revolusi global yang scketika, ia sangat membenci Moskow dan semua yang dipcrjuangkan Moskow.

Sir Nigel Irvine, terguncang karena pengungkap-an yang mcnunjukkan bahwa pengendali mata-mata kelas tinggi dalam pemerintahan Inggris itu ternyata seorang diplomat Afrika Selatan, mengambil satu-satunya pilihan yang tersisa baginya— suatu pendekatan langsung ke Dinas Intelijen Nasional Afrika Selatan untuk mcminta pcnjelasan.

Hubungan antara dinas SIS Inggris dan NIS (National Intelligence Service) Afrika Selatan (dan pendahulunya— BOSS) digambarkan olch setiap politisi dari kedua negara itu sebagai “tklak ada”.

224

“Hubungan berjarak” akan terdengar lebih rcalislis. Hubungan sebenarnya ada, tapi karena alasan-a las an politis, hubungan itu sulit direalisasikan.

Di bawah berbagai pemerintahan Inggris, karena adanya kcudakscnangan terhadap doktrin apartheid, hubungan itu selalu diccmoohkan, lebih-lebih oleh Partai Buruh dari pada oleh Partai Konservatif. Selama masa pemerintahan Partai Buruh antara tahun 1964 dan tahun 1979 ketidaksenangan itu terus bcrlanjut—anehnya, discbabkan oleh sengketa Rhodesia. Pcrdana Menteri Partai Buruh saat itu, Harold Wilson, mengakui bahwa ia memang me merlukan semua informasi yang bisa dinerolehnya mengcnai Rhodesia-nya Ian Smith supaya bisa menerapkan sanksi-sanksinya, dan orang-orang Afrika Selalan-lah yang memiliki scbagian besar dari itu.

Partai Konservatif berjaya kembali pada bulan Mei 1979, yaitu pada saat kasus itu telah berakhir, dan hubungan itu pun terus bcrlanjut, kali ini karena adanya kepentingan yang menyangkut Namibia dan Angola, yang, harus diakui, bahwa Afrika Selatan memiliki jaringan informasi yang bagus. Dan hubungan itu tidak bcrsifat sepihak saja. Inggris-lah yang menerima lip dari Jcrman Barat tentang kctcrkaitan Jerman Timiir dengan istri Ko-modor Laut Afrika Selatan Dieter Gerhardt—ia kemudian ditangkap sebagai ma la-ma la bk>k Soviet Inggris, yang menggunakan file-file SIS yang secanggih ensiklopcdi mengcnai tokoh-tokoh seperti ilu, juga mcmbcrikan tip kepada Afrika Sela-225

tan tentang scpasang agen ilegal Soviet yang menyusup ke bagian selatan bcnua Afrika.

Pernah terjadi suatu insklen yang kurang nya-man di uhun 1967, ketika scorang agen BOSS (Bureau of State Security), he mama Norman Blackburn, yang bekcrja sebagai penjaga bar di Zambezi Club, menggunakan daya pikatnya terhadap salah satu “the Garden Girls”. Mereka adalah para sekretaris di Downing Street 10, yang disebut begitu karena mereka bekerja di sebuah ruangan yang menghadap ke a rah sebuah La man

Gadis bemama Helen yang kena pikat itu (sebut saja nama nya begitu, sebab ia sudah lama menempuh hidup yang mapan dan membina keluarga) memberikan scjumlah dokumen rahasia kepada Blackburn sebelum affair mereka tercium. Akibatnya cukup pa rah dan akhirnya membuat Harold Wilson mulai saat itu mcrasa yakin bahwa apa pun yang tidak beres, mulai dari bolol anggur yang tersumbat sampai gagalnya panen, discbah-kan oleh BOSS.

Setelah itu, hubungan antara kedua ncgara mulai membaik dan berada di jalur yang a man. Karena itu inggris kemudian menamh seorang kepala perwakilan, yang identitasnya dilaporkan kepada NIS, dan yang biasanya berdomtsili di Johannesburg. Tidak ada “langkab-langkah aktif” yang dilakukan olch pihak Inggris di wilayah Afrika Selatan. Afrika Selatan menamh scjumlah stafnya di kcdutaan mereka di London, yang identitasnya dikelahui

226

oleh SIS, dan beberapa lagi di luar kcdutaan, yang diawasi dengan waspada oleh MI-5. Tugas agen agen yang disebut bclakangan adalah memantau kegiatan-kegiatan berbagai organisasi revolasioner Afrika Selatan di London, seperti ANC, SWAPO, dan scbagainya. Selama Afrika Selatan membatasi kegiatannya di sektor-seklor ini, mereka tidak di-usik.

Adalah pimpinan pcrwakilan Inggris di Johannesburg yang mengupayakan dan memperoleh kesempatan untuk melakukan wawancara pribadi dengan Jenderal Henry Pienaar dan melapor balik ke pimpinannya di London tentang apa yang dinyata kan olch pimpinan NIS itu. Sir Nigel mengadakan pertemuan dengan Komite Paragon pada tanggal 10 MareL

“Jcndcral Pienaar yang terkcnal dan baik hati bersumpah demi semua yang dianggapnya suci, bahwa ia sungguh-sungguh tidak tahu mcnahu tentang Jan Marais. Ia menyatakan bahwa Marais tidak bekcrja untuk dia dan belum pernah bekerja untuk dia,” kata Sir Nigel.

“Apakah ia mengatakan yang sebenamya?” tanya Sir Paddy Strickland.

“Dalam pcrmainan seperti ini, kita sebaiknya tidak langsung percaya. Tapi ada kemungkinan ia mengatakan yang sebenamya. Yang jelas, ia mestinya sudah tahu sejak tiga hari yang lalu bahwa kita telah membuka kedok Marais. Seandainya Marais memang agen dia, ia akan tahu bahwa kita

227

akan membalas dendam tanpa tanggung-tanggung. Sampai sekarang ia belum mcnarik mundur orang-orangnya, yang kukira pasti dilakukannya kalau dia memang bersalah.”

“Kalau begitu Marais itu apa?” tanya Sir Perry Jones.

“Pienaar menyatakan ia sama ingin tahunya dengan kita,” jawab C. “Malahan, ia telah menyetujui permintaanku untuk menerima penyelidik kita dan melakukan perburuan gabungan bersama orang-orangnya. Aku ingin mengirimkan seseorang ke sana.”

“Bagaimana posisi Berenson dan Marais sekarang?” tanya Sir Anthony Plumb kepada Harcourt-Smith, yang mewakili Lima.

“Kedua orang itu bcrada di bawah pengawasan terselubung, tapi belum akan ada Undakan untuk menyergap. Belum ada penggerebekan ke apartemen-apartemen mereka. Cuma pemeriksaan surat-surat pos, penyadapan telepon, dan para pelacak yang bcrjaga-jaga selama dua puluh empat jam,” jawab Harcourt-Smith.

“Berapa lama yang kaumaui, Nigel?” tanya Plumb.

“Sepuluh hari.”

“Baiklah, tapi itu maksimal. Dalam waktu sepuluh hari kita harus menindak Berenson dengan data apa pun yang telah kita peroleh dan memulai perkiraan kerugian, tidak peduli apakah dia bersedia atau tidak bcrsedia untuk bekerja sama.”

228

Keesokan harinya. Sir Nigel Irvine mcngunjungi Sir Bernard Hemmings di rumahnya di luar Farnham, tempat orang tua yang sakit itu menyendiri.

“Bernard, orangmu itu, Preston. Aku tahu ini memang tidak biasa—aku bisa saja mengirim salah satu orangku sendiri—tapi aku suka sry/e-nya. Bisakah kupinjam dia untuk Misi Afrika Selatan itu?”

Sir Bernard sctuju. Preston terbang ke Johannesburg dengan flight malam pada tanggal 12-13 Ma-ret Berita itu mencapai meja Brian Harcourt-Smith setelah Preston berada di udara. Ia marah sekali, tapi ia tahu bahwa pangkatnya tidak memungkinkan baginya untuk mcmprotes.

Komite Albion melapor kepada sang Sekretaris Jenderal pada petang hari tanggal dua belas, dan ditcrima di apartemennya yang di Kutuzovsky Prospekt

“Dan apa yang telah Anda peroleh buat saya?” pemimpin Soviet ilu bertanya lirih.

Profesor Krilov, sebagai ketua komite, mcmberi isyaral kepada Grand Master Rogov, yang lalu membuka file yang berada di depannya dan mulai membaca.

Seperti selalu jika berada bersama dengan sang Sekretaris Jenderal, Philby terkesan, bahkan ka-gum, oleh kckuasaannya yang tak terbatas. Selama melakukan penelilian untuk komite itu, mereka

229

cuma perlu menyebutkan namanya saja sebagai pelindung dan apa pun yang diinginkan mereka di Uni Soviet akan bisa diperoleh tanpa banyak pertanyaan lagi. Sebagai orang yang mempelajari apa arti kekuasaan dan pencrapannya, Philby mcngagumi cara-cara yang licin dan tak kenal ampun yang digunakan sang Sekretaris Jenderal untuk memperoleh kekuasaan mullak untuk mengendalikan setiap aspek kehidupan di Uni Soviet

Bcrtahun-tahun scbelumnya, ketika dia diberi jabatan kclua KGB yang penuh kuasa, bukan sebagai calon yang diusulkan oleh Brc/hncv, tapi oleh si pencetak penguasa’tokoh kunci Politbiro yang tidak dikenal umum, sang ideolog partai— Mikhail Suslov. E)engan kemandiriannya terhadap Brezhnev dan “Mafia” pribadinya, ia telah memastikan bahwa KGB tidak akan pernah menjadi an-jing penurut milik Brezhnev. Pada bulan Mei 1982, dengan kematian Suslov dan keadaan Brezhnev yang sc karat, ia meninggalkan KGB untuk kembali ke Komite Scntral, ia tidak membuat kesalahan yang sama.

Setelah pergi, ia meninggalkan orangnya sendiri, Jenderal Fcdorchuk, unluk menggantikannya menjadi pimpinan KGB. Dari dalam partai, sekretaris jenderal yang sekarang telah mcngkonsolidasikan posisinya dengan Komite Sentral, lalu menunggu waktunya melalui era-era Andropov dan Cher-nenko yang singkal sampai tiba saat ia naik sebagai pengganti. Dalam tcnggang waktu beberapa

230

bulan itu, ia telah berhasil menyatukan. pusat-pusat kekuasaan: Partai Komunis Uni Soviet, Angkatan Berscnjata, KGB, Kementerian Dalam Negeri, MVD. Dengan semua kartu as di tangannya, tak seorang pun bcrani mencntang atau bcrkomplot melawan dia.

“Kami telah menyusun sebuah rencana, Kamerad Sekretaris Jcndcral,” kata Dr. Rogov, dengan menggunakan—seperti biasa—scbutan formal. “Ini adalah sebuah rencana kongkret, suatu langkah yang aktif, sebuah usul untuk melakukan deslabili-sasi di antara rakyat Inggris yang akan mampu membuat peristiwa Sarajevo dan kebakaran Berlin Reichstag nampak kurang berarti. Kami menama-kannya Rencana Aurora.”

Ia mcmbutuhkan waktu satu jam unluk membaca rinciannya secara penuh. Sekali sekali ia melirik untuk melihat apakah ada tanggapan, tapi sang Sekretaris Jenderal adalah seorang grand master permainan catur yang lebih tinggi dan wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa-apa. Akhirnya Dr. Rogov selesai. Suasana hening dan mereka menunggu.

“Ada risiko-risiko,” kata Sekretaris Jenderal perlahan. “Apa ada jaminan bahwa tidak akan jadi bumerang seperti halnya dengan… beberapa operasi lain?”

Mereka semua tahu apa yang dimaksudkannya. Ia pemah tcrguncang hebat karena kegagalan pahit dalam apa yang disebut Wojtyla Affair. Makan

231

waktu tiga tahun sampai semua ribut-ribut dan tuduhan-tuduhan mcrcda, dan pcristiwa itu telah mcnciptakan publisitas global yang sungguh tidak diinginkan Uni Soviet

Di awal musim semi tahun 1981, Dinas Rahasia Bulgaria mclaporkan bahwa agcn-agennya yang berada di tcngab-tengah masyarakat Turki di Jer-man Barat telah menangkap seekor ikan yang anch. Demi alasan clnis, kultural, dan hisloris, orang-orang Bulgaria, yaitu yang paling sctia dan patuh di antara satelil-satelit Rusia, terlibat jauh dalam masalah-masalah Turki dan masyarakat Turki. Orang yang mereka tangkap adalah seorang pembunuh tcroris yang berdedikasi tinggi yang telah dilatih oleh kaum Ultra Kiri di Lebanon, yang sudah pernah mcmbunuh demi kepentingan kelompok Serigala Kclabu dari aliran Ultra Kanan di Turki, meloloskan diri dari penjara, dan kabur ke Jcrman Barat

Yang aneh, orang ini menyatakan obscsi pribadinya untuk membunuh Paus. Apakah mereka sebaiknya melepaskan Mehmet Ali Agca kembali ke masyarakat atau memberinya dana dan identitas palsu, lengkap dengan sebuah senapan, dan mem-biarkannya lepas?

Dalam keadaan normal KGB pasti akan menanggapi dengan sikap waspada: Bunuh dia. Tapi keadaan saat itu sedang tidak normal. Karol Wojtyla, Paus Polandia pertama dalam sejarah, merupakan ancaman scrius. Polandia sedang bergolak

hebat; kekuasaan komunis di sana bisa sewaktu-waktu dihancurkan oleh gerakan Solidaritas yang membelot

Wojtyla sudah mcngunjungi Polandia satu kali, dengan hasil yang sangat mcrugikan pihak Soviet Ia harus dihentikan atau dijatuhkan reputasinya. KGB kemudian menjawab orang-orang Bulgaria itu: Tcruskan, tapi kami tidak mau tahu. Di bulan Mei 198i; dibekali uang, identitas palsu, dan sebuah senapan, Agca dikawal menuju Roma, ditunjukkan arahnya, dan disodori kepala Paus. Sebagai hasilnya, banyak orang kehilangan kepala mereka.

“Dengan segala hormat, menurut pendapat saya, keduanya tidak bisa dibandingkan,” kata Dr. Rogov, yang berperan sebagai arsitek utama Rencana Aurora dan karena itu bcrmaksud memper-lahankan kredibilitasnya. “Wojtyla Affair adalah sebuah bencana karena tiga hal: sang target tidak mati; pembunuhnya tertangkap hidup-hidup; dan, yang terburuk dari semuanya, saat itu tidak ada suatu persckongkolan yang telah dikembangkan dengan rapi dan yang bisa dijadikan kambing hi-tam dan akan dituding sebagai dalangnya—misalnya kaum Ekstrem Kanan Italia atau Amerika. Seharusnya saat itu ada gclombang bukti yang bisa dipercaya yang sudah disiapkan untuk di-retease, yang mcmbuktikan kepada dunia bahwa golongan Kanan-lah yang telah mendalangi Agca.”

Sang Sekretaris Jenderal mengangguk seperti seekor kadal tua.

1

“Di sini,” Rogov melanjuUcan, “situasinya berbeda. Di sini ada cara-cara unluk mundur dan cara-cara untuk bcrhcnti di setiap tahapan. Si pclaksana haruslah scorang profcsional top yang her sedia mcngakhiri hidupnya sendiri sebelum ia tertangkap. Penampilan fisiknya sama sekali tidak akan mengundang kecurigaan, dan tak ada ciri yang bisa dihubungkan dengan Uni Soviet. Petugas pclaksana itu tidak akan hidup untuk menyaksikan pelaksanaan rencana ini. Dan masih ada lagi subrencana-subrencana selanjutnya yang akan mencmpalkan kesalahan secara gamblang dan meyakinkan di pihak Amerika.”

Sang Sekretaris Jenderal mcnoleh ke Jenderal Marchenko. “Apa akan bisa berhasil?” ia bertanya.

Kctiga anggota komite itu mcrasa tidak enak. Akan lebih mudah kalau saja mereka bisa menangkap reaksi sang Sekretaris Jenderal yang sebenamya, untuk kemudian menyelujui recana itu. Tapi ia sama sekali tidak mcnunjukkan pcrasaannya.

Marchenko mcnarik napas dalam-dalam dan mengangguk. “Rencana itu layak dilaksanakan,” ia menyelujui. “Saya kira akan membutuhkan waktu sepuluh sampai enam belas bulan untuk dapat diopcrasikan.”

“Kamerad Kolonel?” tanya sang Sekretaris Jenderal kepada Philby.

Kcbiasaan gagap Philby muncul saat ia berbicara. Selalu begitu kalau ia sedang dalam ke—

234

adaan stress. “Mcngenai risikonya, saya bukan orang yang paling tepat untuk mcnilamya. Demikian juga mengenai kelayakan tcknisnya. Mcngenai akibatnya—tanpa diragukan lagi, itu akan dapat mcngalihkan lebih dari sepuluh persen suara ‘massa mcngambang’ Inggris menjadi keputusan yang tergesa-gesa untuk memilih Partai Buruh.”

“Kamerad Profcsor Krilov?”

“Saya terpaksa menentangnya, Kamerad Sekretaris Jenderal. Saya beranggapan bahwa rencana itu sangat berbahaya, dalam pelaksanaannya dan dalam hal akibat-akibat yang mungkin bisa terjadi. Rencana itu sama sekali bcrtcntangan dengan ketentuan-ketentuan dalam Protokol KeempaL Kalau itu dilanggar, kita semua akan menderita.”

Sang Sekretaris Jcndcral nampaknya tenggelam dalam permenungannya, dan tak seorang pun be-rani mcngganggunya. Mata yang terlindung kc-lopak itu nampak tepekur—selama lima menit—di balik kacamata yang mengkilap. Akhirnya ia mengangkat wajahnya.

“Tidak ada catatan, tidak ada rekaman, tidak ada bagian-bagian rencana ini yang masih berada di luar ruangan ini?”

“Tidak ada,” kata keempat anggota komite itu.

“Kumpulkan semua file dan map-map ini dan berikan kepada saya,” kata sang Sekretaris Jenderal. Setelah itu dilakukan, ia mclanjutkan, dalam gaya monotonnya seperti biasa.

“Ini sembrono, gila, nekat, dan berbahaya di

235

luar batas normal,” katanya. “Komite ini dibubarkan. Kalian akan kembali ke profesi masing-masing dan jangan pernah lagi mcnyebut-nyebut Komite Albion atau Rencana Aurora.”

Ia masih duduk di situ, menatap ke arah meja, saat keempat orang yang dikalahkan dan dipermalukan itu bcrbaris keluar. Mereka mengenakan mantel dan topi mereka dengan berdiam diri, hampir-hampir tidak berani saling memandang, dan diantarkan ke bawah untuk menuju mobil-mobil mereka.

Di halaman, mereka masuk ke mobil masing-masing. Di dalam Volga-nya, Philby menunggu Gregoriev mcnghidupkan mesinnya, tapi orang itu hanya duduk diam di situ. Ketiga limousine yang lain meluncur keluar halaman, mclewati lengkung gerbang, dan mcmasuki jalan raya. Tiba-tiba jen-dcla mobil di samping Philby diketuk. Ia memutar kacanya turun dan melihat wajah Mayor Pavlov.

“Silakan ikut dengan saya, Kamerad Kolonel!”

Jantung Philby seakan berhenti berdenyut la baru sadar sekarang bahwa ia tahu tcrlalu banyak; hanya dialah orang asing dalam kelompok itu. Sang Sekretaris Jcndcral dikcn.il sebagai orang yang gemar menyingkirkan—secara permanen— orang-orang yang bisa menimbulkan kesulitan di kemudian hari. Ia mengikuti Mayor Pavlov kembali ke gedung itu. Dua menit kemudian ia diantarkan ke ruang duduk sang Sekretaris Jenderal. Orang tua itu masih duduk di kursi rodanya dekat

236

meja kopi. la memberi isyarat agar Philby duduk. Dengan gemctar pengkhianat Inggris itu duduk.

“Bagaimana pendapat Anda yang sebenamya mengenai itu tadi?” tanya sang Sekretaris Jenderal dengan lembut.

Philby menelan ludahnya dengan sulit. “Sangat kreatif, berani, berbahaya, tapi, kalau berhasil— sangat efeklif,” katanya.

“Cemerlang,”, gumam sang Sekretaris Jenderal. “Dan rencana itu akan dilanjutkan. Tapi di bawah pengawasan saya langsung. Ini tidak akan diopcrasikan oleh orang lain, hanya olch saya. Dan Anda akan

tcrlibat langsung di dalamnya.”

“Bolehkah saya bertanya tentang satu hal?” Philby mencoba. “Mengapa saya? Saya orang asing. Walaupun saya telah mengabdikan seluruh hidup saya kepada Uni Soviet dan tinggal di sini sepertiga dari itu, saya masih tctap saja orang asing.”

“Justru itulah,” jawab sang Sekretaris Jenderal, “dan Anda tidak mcmpunyai perlindungan kecuali dari saya. Anda tidak mungkin bcrkomplot untuk menentang saya.

“Anda akan meninggalkan istri dan keluarga Anda dan membcrhentikan sopir Anda. Anda akan tinggal di wisma tamu di dacha saya di Usovo. Di sana Anda akan membentuk sebuah lim yang akan mclaksanakan Rencana Aurora. Anda akan memperoleh semua wcwenang yang diperlukan—itu akan datang dari kantor saya di Komite Sentral.

237

Anda sendiri tidak akan perlu menampilkan diri.” Ia lalu menekan tombol bcl di bawah meja. “Anda akan senantiasa bekerja di bawah pengawasan orang ini. Saya kira Anda sudah mengenal dia.”

Pintu itu terbuka. Di situ berdiri Mayor Pavlov yang berpembawaan tak acuh dan dingin.

“Dia orang yang sangat ccrdas dan bersikap sangat curiga,” kata sang Sekretaris Jenderal me muji. “Dia juga seratus persen setia. Ia kebetulan adalah keponakan saya.”

Ketika Philby bangkit untuk bcrgabung dengan mayor itu, sang Sekretaris Jenderal mcnyodorkan sccarik kertas kepadanya. Itu sebuah surat dari Direktorat Utama Satu yang diberi kode khusus untuk perhatian Sekretaris Jenderal Partai Komunis Uni Soviet Philby seakan tak percaya akan apa yang dibacanya.

“Ya,” kata Sekretaris Jcndcral, “itu baru saya terima kemarin. Anda tidak akan punya waktu sepuluh sampai enam belas bulan seperti yang disebutkan Jenderal Marchenko. Rupanya Mrs. Thatcher akan membuat move-nya dalam bulan Juni. Kita harus membuat move kita seminggu sebelum itu.”

Philby mcngembuskan napasnya perlahan. Di tahun 1917 dibutuhkan waktu sepuluh hari untuk menyelesaikan Revolusi Rusia. Pengkhianat Inggris yang paling besar hanya diberi waktu sembilan puluh hari untuk menjamin penyelesaian revolusi Inggris.

238

BAGIAN KEDUA

OBI KENOBI

Dilarang meng-komersl-kan atau kesialan menimpa anda selamanya

8

KETIKA John Preston mcndarat di Jan Smuts Airport di pagi tanggal 13 Ma ret, pimpinan pcrwakilan lokal di sana, scorang pria jangkung, ku nis, dan berambut pirang bcrnama Dennis Grey, sudah ada di sana untuk mcnyambulnya. Dari tcras pengamat, dua agen NIS Afrika Selatan menyaksikan kedatangannya, tapi tidak datang mcndckaL

Pabcan dan imignisi hanyalah formalitas saja, dan tiga puluh menit setelah pesawat mendarat, kedua pria Inggris itu telah bcrada dalam mobil yang menuju Pretoria. Preston memandang kc luar ke kawasan bandara itu dengan rasa ingin tahu; ternyata tidak seperti yang dibayangkannya tentang Afrika—cuma jalan raya enam jalur, bcraspal bi-tam dan modern, yang terbentang mclintasi suatu padang luas yang kosong, diapit lanab-tanah pcrtanian dan pabrik-pabrik gaya Eropa.

“Aku telah membuat booking untukmu di Hotel Burgerspark,” kata Grey. “Di pusat kota Pretoria. Aku diberitahu bahwa kau lebih suka mcnginap di hotel saja daripada di rumah dinas.”

241

“Ya,” kata Preston. “Tcrima kasih.”

“Kita akan ke sana dan check-in dulu. Kita ada appointment untuk bcrlcmu dengan ‘the Beast’ jam scbclas.” Julukan yang kurang scdap didengar itu tadinya diberikan kepada Jcndcral Van Den Berg, seorang jenderal polisi dan pimpinan ex-Bureau of State Security, atau BOSS. Setelah tcrjadinya apa yang disebut sebagai Skandal Muldcrgatc di tahun 1979, hubungan yang tidak harmonis antara dinas intelijen negara Afrika Selatan dan polisi rahasia-nya ini telah dibubarkan, dan membuat lega seluruh petugas intelijen profesional dan departemen luar negeri, yang scnantiasa mcrasa malu atas ulah BOSS dengan taktik-taktik brass-knuckle (kcpalan herbalui kuningan) yang brutal itu.

Dinas intelijen kemudian dibenluk kembali di bawah NIS (National Intelligence Service), dan Jcndcral Henry Pienaar menyebcrang dari jabatannya sebagai pimpinan Intelijen Mililer. Dia bukan seorang jcndcral polisi, tapi jcndcral militcr, dan mcskipun dia bukan pejabat intelijen militcr selama hidupnya scpcrli Sir Nigel Irvine, tahun tahun pengabdiannya di bidang intelijen militcr telah mengajarkan kepadanya bahwa ada banyak cara lain untuk mcmbunuh scckor kucing sclain mcmukulnya dengan perkakas tumpul. Jenderal Van Den Berg sudah mcnjalani masa pensiun, tapi masih saja suka mengatakan kepada siapa saja yang mau mendengarkan, bahwa “tangan Tuhan” scnantiasa melindunginya. Secara kurang simpatik.

242

orang-orang Inggris mcmindahkan julukan itu ke sosok Jenderal Pienaar.

Preston mcncatalkan diri di hotel yang terletak di Van Dcr Walt Street, mclemparkan kopcr-ko-pcrnya, mencuci muka, hcrcukur dengan cepat, lalu bcrgabung dengan Grey di lobi pada jam setengah scbclas. Dari silu mereka naik mobil menuju Union Building.

Kantor scbagian besar pejabat pemcrintah Afrika Selatan merupakan sebuah kompleks bangunan yang besar, panjang, dibangun dari batu pasir warna coklat oker, bertingkat tiga, dan bagian depannya yang panjangnya empat ratus meter dipcrluas dengan empat scrambi dengan pilar-pilar pc no-pang. Kompleks itu terletak di pusat kola Pretoria di atas sebuah bukit yang mcnghadap ke selatan ke a rah sebuah I em bah yang da la ran rendahnya dibclah oleh Kerk Straat, dan dari laman luas di depan bangunan ilu nampak pemandangan indah ke ar.ili lembah sampai kc bukit-bukit kecoklatan di highveld (plateau yang biasa dijadikan padang gembalaan knas Afrika Selatan) terus ke arah selatan, tempat Monument Voortrckkcr yang kokoh berbentuk perscgi nampak mcnonjol.

Dennis Grey mcmbcrikan identitasnya di meja rescpsion dan menyebutkan appointmcnt-nya dengan Kepala Dinas Intelijen. Beberapa menit kemudian scorang petugas muda muncul untuk mcngantarkan mereka kc kantor Jenderal Pienaar. Markas besar kepala NIS itu terletak di lantai

243

paling atas, di sayap kanan bangunan itu. Grey dan Preston diantarkan mclewati lorong-lorong yang lurus panjang, yang didekorasi dcngali motif yang nampaknya kbas motif gedung pemerintah Afrika Selatan, yaitu motif coklat krcm dengan akscn kuat pada panel-panel kayu yang bcrwama gelap. Kantor sang Jcndcral, di ujung lorong di lani.ii tiga, diapit di sebelah kanan olch sebuah kantor yang dihuni olch dua sekretaris dan di sebelah kiri olch kantor lain yang dihuni olch dua pejabat staf.

Si petugas mcngctuk pintu terakhir ilu, menunggu pcrintah bcrnada kasar untuk masuk, dan mempcrsilakan tamu-tamu Inggris itu masuk ke dalam. Kantor itu nampak agak muram dan resmi, bcrisi sebuah meja tulis yang besar mcngkilap, mcnghadap ke pintu, dengan empat kursi kayu bcrjok kulit yang mengitari sebuah meja rendah dekat jcndela, yang mcnghadap kc arah Kerk Straat, kc arah lembah terus ke bukit-bukiL Di situ tertihat juga sejumlab pcta mcmcnuhi dinding-din-ding yang nampak sering digunakan, yang ditutup sckcnanya dengan tirai-tirai hijau.

Jenderal Pienaar bcrpcrawakan besar dan beraL Ia bangkit dari duduknya, menyambut tamu-tamu-nya dan mcngajak mereka bcrsalaman. Grey mempcrkcnalkan kedua orang itu dan sang Jenderal menyilakan mereka duduk di kursi kursi kayu terscbut. Kopi dihidangkan, tapi pcrcakapan masih belum beranjak dari lingkup basa-basi. Grey Uhu

244

diri, minta diri, dan berlalu dari situ. Jcndcral Pienaar mcnatap Preston untuk beberapa saat.

“Jadi, Mr. Preston,” katanya dalam bahasa Inggris yang hampir tidak bcraksen sama sekali, “mcngenai masalah diplomat kami, Jan Marais. Saya sudah menyatakan kepada Sir Nigel, dan sekarang saya nyatakan kepada Anda: dia tidak bekcrja untuk saya atau untuk pemerintah saya, sedikitnya bukan sebagai pengendali agen-agen di Inggris. Anda berada di sini untuk mencari tahu, dia itu bekcrja untuk siapa?”

“Itulah tugas saya, Jcndcral, kalau saya bisa.”

Jenderal Pienaar mcngangguk-angguk beberapa kali. “Saya telah berjanji kepada Sir Nigel bahwa Anda akan memperoleh bantuan penuh dari kami di sini. Dan saya akan mencpati janji saya.”

“Tcrima kasih, Jenderal.”

“Saya akan menugaskan salah satu dari dua staf pribadi saya untuk mcmbantu Anda. Ia akan membantu Anda dalam apa saja yang Anda pcrlukan: mencarikan file-file yang ingin Anda pcriksa, bcrperan sebagai pencrjemah Anda bila perlu. Anda bisa bahasa Afrikaans?”

“Tidak, Jenderal, sepatah kata pun tidak.”

“Kalau begitu pencrjemah akan dipertukan. Barangkali juga perlu adanya interpreting—pencrje-mahan lisan saat berbicara.”

Ia lalu menckan sebuah bcl di mcjanya, beberapa delik kemudian pintu terbuka dan seorang pria masuk. Perawakannya sama dengan sang Jen—

245

dcral hanya ia jauh lebih muda. Preston mcmper-kirakan ia bcrumur tiga puluhan lebih sedikit Rambutnya bcrwarna jane, dan alisnya hcrwarna

seperti pasir.

“Saya perkenalkan Kaptcn Andrics Viljoen. Andy, ini Mr. John Preston dari London, yang akan bekerja bcrsamamu.”

Preston bangkit untuk bersalaman. la merasakan sedikit rasa pejmusuhan terselubung dalam diri Afrikaner muda ini, barangkali hanya rcflcksi dari sikap bosnya yang lebih pandai menyembunyikan pcrasaannya.

“Saya juga sudah menyiapkan sebuah ruangan untuk Anda pakai di lorong itu,” kata Jenderal Pienaar. “Well, man jangan mcmbuang waktu lagi, gentlemen. Silakan lanjulkan pekerjaan Anda.”

Ketika mereka sudah berada sendiri di kantor yang khusus diperuntukkan bagi mereka, Viljoen bertanya, “Anda ingin mulai dengan apa, Mr. Preston?”

Preston menarik napas dengan tidak kentara. Dia merasa lebih nyaman bekcrja dalam suasana tklak rcsmi—seperti di Charles dan di Gordon—di sana semua orang dipanggil dengan nama kin I nya. “File mengcnai Jan Marais, kalau Anda tidak berkcberalan, Kapten Viljoen.”

Eksprcsi kemenangan nampak di wajah si Kaptcn ketika ia mcngeluarkan file itu dari laci sebuah meja. “Kami tentu sudah mempelajarinya,” katanya. “Saya sendiri mcngambilnya dari Arsip Pcr—

246

sonalia Kcmcnterian Luar Negeri beberapa hari yang lalu.” Ia mclctakkan sebuah file tebal yang bersampul lunak kc hadapan Preston. “Izinkan saya mcnyimpulkannya dari apa yang bisa kami pelajari dari situ, sckiranya itu akan bisa mcmbantu Anda. Marais memasuki dinas luar negeri Afrika Selatan di Cape Town di musim panas tahun 1946. la telah berdinas selama empat puluh tahun—lebih sedikit—dan sudah hampir pensiun nanti di bulan Descmber. Ia berasal dari suatu kcluarga Afrikaner baik baik dan belum pernah dicurigai karena masalah apa pun. Karenanya, maka kclakuannya di London benar-benar tidak bisa dimcngcrti.” .

Preston mengangguk. Ia tidak ingin itu dijclas-kan lebih lanjut Orang di sini berpendapal bahwa London telah melakukan suatu kckcliruan. Ia membuka Hie itu. Di antara dokumcn-dokumen yang ditempatkan di depan terdapat scjumlah kertas dengan tulisan tangan dalam bahasa Inggris.

“Itu,” kata Viljoen, “adalah otobiografinya, suatu persyaratan bagi calon calon karyawan dinas luar negeri. Di zaman ilu, saat United Party di bawah Jan Smuts masih berkuasa, bahasa Inggris masih lebih banyak digunakan daripada sekarang ini. Sekarang dokumen seperti itu ditults dalam bahasa Afrikaans. Tentu saja, para calon harus fasih dalam kedua bahasa itu.”

“Kalau begitu saya kira sebaiknya kita mulai saja dengan ini,” kata Preston. “Scmcntara saya

247

mcmbaca ini, tolong Anda membuat ringkasan kariernya selama dia berdinas. Terutama yang bcrkenaan dengan penugasan-penugasannya di luar negeri—di mana, kapan, dan untuk bcrapa lama.”

“Baiklah”—Viljoen mengangguk—”kalau dia mcmang bcrubah jadi jahat, kalau ia mcmang melakukan penyimpangan, itu mungkin terjadi di suatu tempat di luar ncgeri.” Tckanan suara Viljoen pada kata kalau cukup mcngungkapkan kcraguan-nya, dan pengaruh jahat yang dibcrikan olch orang asing terhadap Afrikaner yang baik tcrcermin dalam kata luar negeri itu. Preston mulai mcmhaca.

Saya dilahirkan papa bulan Agustus 1925 di Duiwclskloof, sebuah kota pcrtanian kecil di Transvaal utara, sebagai putra tunggal seorang pe-tani di Mootseki Valley di pinggiran kota. Ayah saya, Laurens Marais, adalah scorang Afrikaner asli, tapi ibu saya, Mary, scorang Inggris. Di za man itu pcrkawinan seperti ilu dianggap tidak umum, tapi karena itulah saya menjadi fasih bcrbicara dalam bahasa Inggris dan bahasa Afrikaans.

Ayah saya jauh lebih tua dari ibu saya, yang agak rapuh kesehatannya dan meninggal ketika saya bcrumur sepuluh tahun saal terjadi wabah penyakil tipus yang di masa itu scring mclanda dacrah itu. Ayah saya bcrumur empat puluh cnam ketika saya dilahirkan, dan ibu saya baru bcrumur dua puluh lima. Ayah saya terutama bertanam kcnlang dan tembakau, dan juga bcternak ayam.

248

bebek, kalkun, sapi, biri-biri, dan bertanam gan-dum. Sepanjang hidupnya dia adalah pendukung aklif United Party, dan saya dinamai seperti nama Marsckal Jan Smuts.

Suara Preston mcmecah kcheningan. “Saya kira semua ini tidak akan mempengaruhi pcncalonan-nya saat itu,” katanya.

“Sama sekali tidak mempengaruhi,” kata Viljoen, sambil mcmeriksa lulisan-tulisan itu. “Saat itu United Party masih bcrkuasa. Nalional Party baru memegang pemerintahan pada tahun 1948.” Preston melanjutkan mcmhaca.

Ketika saya bcrumur tujuh tahun saya bcrscko-lah di sekolah desa di Duiwclskloof, dan waktu umur dua belas saya melanjutkan kc Mcrcnsky High, yang didirikan lima tahun scbelumnya. Setelah pcrang peeah di tahun 1939, ayah saya, yang adalah pengagum In-rat Kerajaan Inggris yang jaya bescrta seluruh jajahannya, terus mengikuti semua perkembangan pcrang di Eropa mclalui pcralatan wireless-nya, duduk di bcranda setiap petang schahis bekerja. Setelah ibu saya meninggal, hubungan kami menjadi scmakin dekat, dan saya juga mulai bcrkcinginan untuk berpcran-scrta dalam pcrang.

Dua hari setelah ulang tahun saya yang kc dclapan belas, di bulan Agustus 1943, saya mengucapkan selamat linggal kepada ayah saya dan naik kcreta api kc Pictcrsburg, kemudian bcrganti kin-Li menuju kc selatan kc Pretoria. Ayah saya mcngantarkan sampai Piclersburg, dan terakhir kalinya saya melihat dia adalah saat dia hcrdiri di pcron, mclambaikan tangan pada putranya yang berangkat bcrpcrang. Esoknya saya berjalan menuju Mar Lis Besar Pertahanan di Pretoria, mendaftarkan diri, dan dikirim kc kamp Roberts Heights untuk mcnjalani latihan dasar, bela diri, olah fisik, dan pclajaran mcnggunakan senjata ringan. Di sana saya juga mendaftarkan diri sebagai pasukan sukarclawa ban mcrah.

“Apa artinya ‘ban mcrah”?” Preston bertanya.

Viljoen mengangkat wajahnya dari tulisan yang sedang dikcrjakannya. “Di masa itu hanya sukarclawa n saja yang bisa dikirim untuk bertcmpur di luar pcrbatasan Afrika Selatan,” katanya. “Tidak boleh ada pemaksaan. Mereka yang menjadi suka-rclawan untuk bcrtempur di luar negeri diberi ban-merah untuk dikenakan.”

Lulus dari Roberts Heights saya ditugaskan di Rcsimcn Witwatcrsrand Rifles/Dc La Rcy, yang telah dilebur menjadi satu setelah kckalahan di Tobruk untuk dibentuk menjadi Rcsimcn Wits/De La Rcy. Kami dikirim dengan kcrcCa api ke sebuah kamp transit di Hay Paddock, tak jauh dari Pielcrmaritzburg, dan dipcrbantukan untuk mcm-perkual DivLsi Kecnam Afrika Selatan, menunggu untuk dikirim kc Italia. Akhirnya, di Durban, kami semua dinaikkan ke kapal Duchess of Richmond,

250

berlayar mcnyusuri Tcrusan Suez, dan bcrlabuh di Taranto di penghujung bulan Januari.

Selama scbagian besar musim semi di Italia itu, kami bcrgerak menuju Roma, dan bersama dengan Divisi Kecnam, yang saat itu terdiri dari Brigade Mobil Kedua Belas dan Brigade Lapis Baja Kese-bclas, kami dari Rcsimcn Wits/De La Rey bcrgerak menembus Roma dan mcmulai move kami terhadap Florence. Pada tanggal 13 Juli saya bcrada di depan Monte Benichi di kawasan Pegunungan Chianti bersama rcgu patroli dari Kelompok C Dalam hutan lebat di sebuah desa saya terpisah dari anggota rcgu patroli yang lain setelah senja tiba dan beberapa menit kemudian saya menyadari bahwa saya sudah terkepung olch pasukan Jcrman dari DivLsi Hermann Gocring. Waktu itu saya, mcminjam istilah mereka, “dimasukkan dalam karung.”

Saya bcrunlung masih letap hidup, tapi mereka mcnaikkan saya kc truk bersama tawanan-tawanan Sckutu yang lain dan mcmbawa kami kc sebuah “sangkar” atau kamp da rural, di sebuah tempat yang disebut La Tarina, di sebelah ui.ua Florence. NCO Afrika Selatan sc*niornya, saya ingal, adalah Pcrwira Rcndah Snyman. Itu tidak bcrlangsung lama. Ketika Sckutu bergerak menuju Florence tiba-tiba kami menjadi subyck suatu operasi pc-nyclamalan malam hari yang brutal. Suasana ka-cau. Sejumlah tawanan berusaha mclarikan diri dan berhasil ditembak. Tubuh-tubuh mereka in

251

gclelak di jalan-jalan diiindas truk-truk. Dari truk-truk, kami dipindahkan kc gerbong-gcrbong kereta yang biasa dipakai mcmuat tcrnak dan menuju kc ulara selama bcrhari-hari mclintasi Pcgunungan Alpen sampai akhirnya tiba di sebuah kamp POW (Prisoners of War) di Moosberg, sckilar empat puluh kilometer di sebelah utara Munich.

Ini juga tidak bcrlangsung lama. Empat belas hari kemudian sekilar scparo dari kami disuruh berbaris keluar dari Moosberg, digiring kc stasiun kereta api, di sana kami dinaikkan kc dalam gerbong tcrnak lagi. Hampir tanpa makanan dan minuman sama sekali, kami mcnggclinding mclintasi Jerman selama enam hari cnam malam, dan di akhir bulan Agustus 1944 akhirnya kami dilurun-kan lagi dan berbaris menuju sebuah kamp lain yang jauh lebih besar. Ternyata itu adalah kamp Stalag 344, yang terletak di Lamsdorf, dekat Bres-lau, di kawasan yang saat itu dikcnal sebagai Silesia Jerman. Mcnurut saya, Stalag 344 pastilah stalag yang terburuk di antara semua stalag yang lain. Di sana ada 11.000 POW Sckutu, yang hampir hampir mati kclaparan karena ransum yang sangat terbatas, yang bisa bcrtahan hidup terutama hanya karena ditunjang oleh bingkisan bingkisan dari Palang Mcrah Intcrnasional.

Karena saat itu pangkat saya kopral, saya diwajibkan bergabung dengan sebuah kelompok kerja, dan setiap hari dikirim bersama banyak lawanan lain dengan truk, untuk bekcrja di pabrik bensin—

252

sintetis yang terletak dclapan belas kilometer dari situ. Musim dingin di data ran Silesia waktu itu sangat pa rah. Pada suatu hari, mcnjclang Hari Natal, truk kami mogok. Dua tawanan mencoba mcmpcrbaikinya semcntara serdadu-scrdadu Jerman mcngawasi mereka dengan senjata. Sebagian dari kami dipcrbolchkan melompal turun dekat pa nut truk. Seorang scrdadu Afrika Selatan yang masih muda menatap ke hutan pinus—hanya sckitar tiga puluh meter dari situ—melirik saya, dan menaikkan alisnya. Saya tidak pernah tahu mengapa saya lakukan itu, tapi beberapa saat kemudian kami sudah bcrlari mencmbus salju sctinggi paha semcntara teman-teman yang lain mendorong serdadu-scrdadu Jerman ilu untuk mclcnccngkan bi-dikan mereka. Kami berhasil mencapai tepi bulan itu dan terus berlari masuk kc jantung hutan.

“Anda ingin keluar untuk makan siang?” tanya Viljoen. “Kami punya kantin di sini.”

“Apa kita bisa mcmcsan sandwich dan kopi di sini?” tanya Preston.

“Tentu. Saya akan menelepon.”

Preston kembali kc kisah Jan Marais.

Kami segcra mcnyadari bahwa yang kami lakukan itu sama saja dengan meloncat keluar dari wajan penggorengan dan masuk kc dalam api, hanya apinya tidak panas tapi dingin yang mematikan—yang di malam hari tempcraturnya bisa turun sampai ke tiga puluh derajat di bawah nol.

253

Kami membungkus kaki kami dengan kertas sebelum memasukkannya ke dalam scpatu boi. tapi ini atau mantel-mantel tebal kami tidak mampu mclin-dungi kami terhadap dingin. Setelah dua hari kami menjadi sangat lemah dan sudah hampir memutuskan untuk menyemhkan diri saja.

Di malam kedua kami mencoba tidur di sebuah gudang yang sudah roboh ketika kami dihangun-kan orang dengan kasar. Kami tadinya mengira itu pasti orang Jerman, tapi dengan bahasa Afrikaans saya, saya bisa memahami sejumlah kata Jerman dan suara-suara itu tidak bcrbahasa Jerman. Itu bahasa Polandia; kami telah ditemukan oleh sckc-lompok partisan Polandia. Mereka hampir saja mcnembak kami yang scmula dikira desertir Jerman, tapi saya bcrtcriak bahwa kami orang Inggris dan salah satu dari mereka nampak nya mengcrti.

Rupanya, walaupun scbagian besar penduduk kota di dacrah Brcslau dan Lamsdorf adalah kc-turunan Jerman, para pctaninya adalah dari kc-turunan Polandia, dan dengan semakin dekatnya Tcntara Rusia, banyak dari mereka yang pergi kc hutan untuk menccgat tentara Jerman yang bcrgerak mundur. Ada dua jenis partisan: Komunis dan Katolik. Kami beruntung—yang menolong kami itu adalah para pejuang gerakan bawah tanah Katolik. Mereka menahan kami sepanjang musim dingin itu scmenlara bunyi senapan tentara Rusia terdengar di sebelah timur dan mereka sudah semakin dekat kc situ. Kemudian, di bulan Januari,

254

teman saya terserang pneumonia; saya bcrusaha merawat dia, tapi tanpa antibiotika, ia akhirnya meninggal dan kami menguburkan dia di dalam hutan.

Preston mengunyah sandwich-nya dengan mu-rung dan mcnghirup kopinya. Ia melihat hanya tinggal beberapa halaman saja.

Di bulan Marct 1945 Tcntara Rusia tiba-tiba sudah bcrada di hadapan kami. Dari dalam hutan kami bisa mendengar gemcrincing senjata dan kendaraan mereka bcrgcrak kc arah barat melalui jalan-jalan raya. Orang-orang Polandia itu mcmilih untuk [clap bcrscmbunyi di hutan, tapi saya sudah tidak tahan lagi. Mereka menunjukkan jalan keluar pada saya, dan pada suatu pagi, dengan tangan di atas kepala, saya berjalan keluar dari hutan itu lalu menyerahkan diri pada sckciompok scrdadu Rusia.

Mula-mula mereka mcnyangka saya orang Jerman dan hampir saja mencmbak saya. Tapi orang-orang Polandia itu mcngajarkan kepada saya untuk mencriakkan kata Angleesk?t yang saya lakukan bcrulang kali. Mereka menurunkan senapan dan memanggil scorang pcrwira. la tidak bisa berbahasa Inggris tapi setelah memeriksa atrihut-atri-but saya ia mengatakan sesuatu kepada scrdadu scrdadu itu, dan mereka semuanya terscnyum. Tapi kalau saya bcrharap bahwa saya akan dipulangkan dengan scgera, maka ternyata saya kcli-ru lagi. Mereka menyerahkan saya kepada NKVD.

255

Selama lima bulan, dalam scrangkaian sel yang beku dan lembap, saya dipcrlakukan dengan sangat buruk. dan selalu dikucilkan sendirian. Saya terus-tcrusan mcnjalani interogasi tingkat tiga dalam upaya membuat saya mcngaku bahwa saya seorang mata-mata. Saya menolak, dan saya diantar kembali kc sel dalam keadaan telanjang. Pada akhir musim semi (pcrang sedang bcrakhir di Eropa tapi saya tidak tahu) keschatan saya benar benar sudah ambruk dan saya diberi tempat tidur pallet, makanan yang lebih bcrgizi, walaupun masih jauh jika dibandingkan dengan makanan kita di Afrika Selatan.

Kemudian ada suatu instruksi yang datangnya pasti dari atas. Di bulan Agustus 1945, dalam keadaan lebih banyak mati daripada hidup, saya dibawa dengan truk bcrpuluh-puluh kilometer jauhnya, dan akhirnya di Posldam, Jerman, saya diserahkan kepada Tentara Inggris. Mereka lebih ramah daripada yang bisa saya ungkapkan, dan setelah tinggal beberapa saat di sebuah rumah sakit miliu-r di luar kola Bielefeld, saya dikirim kc Inggris. Saya tinggal selama tiga bulan lagi di Rumah Sakit EMS di KiUcarn, sebelah utara Glasgow, dan akhirnya pada bulan Desember 1945 saya berlayar dengan kapal He de France dari Southampton menuju Cape Town, dan tiba di akhir Januari tahun ini.

Di Cape Town inilah saya mendengar bahwa ayah saya sudah meninggal, satu-satunya sisa kc—

256

luarga saya di dunia ini. Saya sangat lerpukul sehingga penyakit saya kambuh kembali dan saya selama dua bulan dirawat di Rumah Sakil Militer Wynberg di sini di Cape Town.

Sekarang saya sudah dibebaskan, dan memperoleh surat kcterangan sehat, dan bersama ini mcngajukan lamaran untuk bekcrja di dinas luar negeri Afrika Selatan.

Preston menutup file itu, dan Viljoen mengangkat wajahnya.

“Well,” kata orang Afrika Selatan itu, “scjak itu ia meniti karicr dengan mantap dan tanpa cacat, walaupun barangkali tidak terlalu hebat, yaitu sampai kc pangkat sekretaris satu. Ia telah ditugaskan kc dclapan pos di luar negeri, dan scmuanya kc ncgara-ncgara yang sangat pro Barat. Itu sudah cukup mcmuaskan, tapi sayangnya dia bujangan yang mcmang bisa membuat hidupnya lebih mudah dalam melakukan tugasnya, tapi di tingkat duta besar atau menteri diharapkan adanya istri sebagai pendamping. Anda masih bcrpendapat bahwa ia telah bcrubah jadi jahat pada titik tertentu dalam pcrjalanan karicrnya?” Preston mengangkat bahu. Viljoen mencondongkan tubuhnya ke depan dan mcngetuk map itu. “Anda lihat bagaimana bangsat-bangsat Rusia itu mempcrlakukan dia? Karena itulah maka saya bcrpendapat bahwa Anda kcliru, Mr. Preston. Jadi ia suka makan cs krim.

257

dan dia membuat suatu telepon salah sambung. Suatu kcbctulan saja.”

“Barangkali,” Preston tcrpckur. “Riwayat hidup ini… Ada sesuatu yang ganjil di dalamnya.”

Kapten Viljoen menggelengkan kepala. “File ini telah berada di tangan kami sejak Sir Nigel Irvine mcngonlak sang Jenderal. Kami telah mcmbacanya hcrulang-ulang. Kisah itu scratus persen akuraL Setiap nama, tanggal, tempat, kamp militcr, unit militcr. scrangan milter, dan setiap detail kecil. Bahkan sampai kc jcnis tanaman yang biasa mereka tanam sebelum pcrang di Mootscki Valley. Kalangan pertanian telah mcngkonfirmasikan hal itu. Sekarang mereka menanam tomat dan alpukat di sana, tapi di masa itu memang benar kentang dan tembakau. Tak ada orang yang bisa mengarang cerita seperti itu. Tidak, scandainya dia memang menjadi orang jahat, dan itu saya ragukan, maka itu pasti terjadi di suatu tempat di luar ncgeri.”

Preston kclihatan murung. Di luar jcndcla, senja turun perlahan-lahan.

“Baiklah,” kata Viljoen, “saya di sini untuk mcmbantu Anda. Setelah ini apa yang Anda lakukan?”

“Saya ingin mulai dari awal,” kata Preston. Tempat ini, Duiwclskloof, jauhkah itu?”

“Kira-kira empat jam pcrjalanan dengan mobil.

Anda ingin kc sana?”

258

“Ya, benar. Bisakah kita bcrangkat pagi-pagi? Bagaimana kalau jam cnam pagi besok?”

“Saya akan meminjam mobil dari pool dan akan bcrada di hotel Anda pada jam enam,” kata Viljoen.

Pcrjalanannya cukup panjang di jalan raya yang menuju Zimbabwe, tapi jalur unluk mobil itu modern dan Viljoen mcmakai mobil Chcvair tanpa identitas, yaitu mobit yang biasa dipakai oleh NIS. Mobil itu mcnempuh kilometer demi kilometer melalui Nylstroom dan Potgictcrsrus kc Pictersburg, yang mereka capai dalam waktu tiga jam. Pcrjalanan itu mcmbcrikan kescmpatan bagi Preston unluk mcnyaksikan pemandangan padang-padang Afrika yang mengagumkan, yang seoiah tak berbatas, yang scnantiasa membuat orang Eropa itu terkesan karena ia tcrbiasa dengan dimensi-dimensi yang lebih sempit.

Di Pictersburg mereka bcrbelok kc timur dan mcnempuh jarak lima puluh kilo meter melewati padang rumpul yang landai, dengan lebih banyak lagi cakrawala-cakrawala yang tak berbatas dinaungi langit berwarna biru bagai lelur burung robin, sampai mereka tiba di sebuah tebing yang disebut Buffalo Hill, atau Buffclberg, tempat padang rum-put itu berakhir dan bcrlanjut dengan Mootseki Valley—Lcmbah Mootscki. Saat mereka mulai menuruni Icrcng yang berliku-liku itu, Preston menahan napas karena kagum.

259

Jauh di bawab tcrhampar Icmbah itu, begitu kaya dan makmur, tanahnya yang datar dipenuhi dengan scribu gubuk Afrika berbenluk sarang le-bah, disebut rondavel, dikclilingi kandang lembu dan kraal—kandang domba, dan mealte—ladang-ladang gandum. Scbagian rondavel-rondavel itu bcrtcnggcr di lereng Buffelherg, tapi kebanyakan tersebar di dasar Lemhab Mootscki. Asap dari perapian kayu mengcpul lewat lubang asap di puncak pondok, dan bahkan dari jarak scjauh itu Preston bisa melihat anak-anak Afrika menggem-bala kawanan-kawanan kecil lembu yang gemuk-gemuk, dan para wanitanya nampak membungkuk-bungkuk merawat kebun-kebun mereka.

Ini, pikirnya, adalah Afrikanya orang Afrika. Dulu pasti nampaknya seperti ini juga waktu nc-nck moyang suku Mzililcazi, cikal bakal bangsa Malahclc, bcrgcrak kc utara untuk mclarikan diri dari amukan Chaka Zulu, menyeberangi Sungai Limpopo dan mencmukan kcrajaan orang-orang berpcrisai panjang. Jalanan berbclok dan mcliuk-liuk mcnuruni lebing, dan memasuki Lembah Mootseki. Di scherang lembah terdapat scrangkaian hukil lagi, dan di tengah rangkaian ilu ada sebuah Ickukan yang dalam, mclalui situ jalanan itu dilcmbuskan. Inilah yang disebut sebagai the Devil’s Gap (Cclah Sctan), Duiwclskloof.

Sepuluh menit kemudian mereka sudah berada di cclah itu dan mcluncur perlahan mclcwaii scko—

260

lah dasar yang baru dibangun dan masuk kc Botha Avenue, jalan utama di kota yang kecil ilu.

“Anda mau ke mana?” tanya Viljoen.

“Ketika pctani tua Marais meninggal dunia, dia pasti telah membuat sural wasiat,” Preston tepekur. “Sural waslit ilu pasli perlu dilaksanakan, dan itu bcrarti harus ada seorang ahli hukum. Apakah bisa kita cari tahu, adakah seorang ahli hukum di Duiwclskloof, dan apakah dia bisa dihubungi pada hari Sabtu pagi?”

Viljoen berhenti di Kirstens Garage dan mcnunjuk kc scherang jalan kc Imp Inn. “Pcrgilah kc sana minum kopi dan lolong pesan satu unluk saya. Saya akan mengisi bensin dan mencari ke-tcrangan.”

Lima menit kemudian ia bergabung kembali dengan Preston di cafe hotel ilu.

“Ada satu ahli hukum,” katanya sambil mcnghirup kopinya. “Orang Inggris bernama Benson. Kantornya di sana di scherang jalan, dua rumah dari pompa bensin itu, dan mungkin dia ada di tempat pagi ini. Mari kita kc sana.”

Mr. Benson ada, dan ketika Viljoen menunjukkan kartu identitas yang tersclip dalam dompet plastiknya kepada sekretaris Benson, efeknya segcra dapat dirasakan. Ia bcrbicara dalam bahasa Afrikaans mclalui sebuah inlcrkom, lalu mereka dianlarkan kc kantor Benson tanpa menunggu lagi. Benson adalah seorang pria bcrwajah kemcrahan yang ramah dan mengenakan selclan coklat muda.

261

la menyalami mcrcka berdua dalam bahasa Afrikaans. Viljocn membalas dalam bahasa Inggrisnya yang hcraksen kcntal.

” Jjii adalah Mr. John Preston, la datang dari London, Inggris. la ingin mcnanyakan bebcrapa ha I kepada Anda.”

Benson mempersilakan mcrcka duduk dan kembali ke kursinya sendiri di bclakang meja tulisnya. “Sii.ik.m,” Icatanya, “apa saja yang bisa saya Kin tu.”

“Mobon Anda bcrilahukan kepada saya bcrapa umur Anda?” tanya Preston.

Bcnson mcmandang kepadanya dengan terhcran-hcran. “Jauh-jauh dari London hanya unluk mcnanyakan berapa umur saya? Saya bcrumur lima puluh liga.”

“Jadi di tahun 1946 Anda bcrumur dua bclas tahun?” “Ya.”

“Saya mohon Anda sudi mcngatakan kepada saya, siapakah ahli hukum di sini, di Durwclskloof, pada tahun itu?”

“Tcntu. Ayah saya, Ccdric Benson.”

“Apakah dia masih hidup?”

“Ya. Dia sudah lebih dari dclapan puluh dan bisnisnya telah dialihkannya kepada saya lima bclas tahun yang lalu. Tapi dia masih schat”

“Apakah mungkin bcrbicara dengan dia?”

Scbagai jawahan Benson mcnggapai tclcpon dan mcmuLir sebuah nomor. Pastilah ayahnya yang

2(>2

menjawab, sebab putranya itu lalu mcnjclaskan bahwa ada dua lamu, yang satu dari London dan ingin bcrbicara dengan dia. U lalu mclctakkan gagang tclcpon itu.

“la tinggal kira-kira scmbilan kilometer dari sini, tapi ia masih kuat mcnyctir, mcskipun itu mcmbual pengendara-pengendara lain ngcri. Katanya ia akan segcra datang.”

“Sambil mcnunggu,” tanya Preston, “apa Anda bisa mcmeriksa file-file Anda di tahun 1946 dan mencari tahu apakah Anda, atau tepalnya ayah Anda, lelah mctaksanakan sural wasiat scoring pctani sctempat be ma ma Laurens Mara is, yang mcninggal pada bulan Januari tahun itu?”

“Akan saya coba,” kata Benson Junior. “Tenlu saja, tapi Mr. Marais ini mungkin saja telah mcmakai jasa ahli hukum dari Petersburg. Tapi penduduk sini cendcrung memakai jasa lokal di masa itu. Box untuk Tile 1946 pasti ada di sekitar sini. Ma a (Van saya.”

Ia mcninggalkan kantornya. Sekretarisnya mcng-hidaogkan kopi. Scpuluh mcnit kemudian lerde-ngar suara-suara di luar kantor. Kedua Benson masuk bersama-sama, sang putra mcmbawa sebuah box karton yang berdebu. Yang tua rambutnya sudah putih scmua, tapi masih kclihatan segesit burung clang. Sctelah dipcrkcnalkan, Preston mcnjclaskan masalahnya.

Tanpa mengucapkan apa-apa, Benson tua duduk di kursi di belakang meja itu, yang membuat putranya tcrpaksa duduk di kursi lain. Benson tua memasang kacamata di atas hidungnya dan mena-lap tamu-tamu itu dari balik kacamatanya itu. “Saya ingat Laurens Marais,” katanya. “Dan benar, kami yang menangani sural wasialnya ketika ia mcninggal. Itu saya laksanakan sendiri.”

Pulranya memberikan kepadanya sebuah dokumen kusam dan bcrdcbu yang diikat dengan pita merah jingga. Orang tua itu meniup debunya, mc-lepaskan ikatan pila iiu, dan membeberkan dokumcn tersebut. Ia mulai mcmbacanya dalam hati.

“Ah ya, saya ingat sckarang. Ia seorang duda. Hidup sendirian. Punya salu putra, Jan. Sebuah kasus tragis. Anak itu baru saja kembali dari IV rang Dunia Kedua. Laurens Marais scdang dalam perjalanan ke Cape Town untuk menjumpai putranya itu ketika dia meninggal. Tragis.”

“Bisakah Anda ceritakan tentang warisannya?” tanya Preston.

“Semuanya untuk pulranya,” kata Benson dengan jelas dan sederhana. “Tanah pertanian, ru-mah, pcralatan, isi rumah. Oh, ada juga warisan-warisan kecil dalam bentuk uang yang biasa dilakukan—untuk para pekerja ladang, si mandor— h;il-haI scmacam itu.”

“Apa ada warisan lain—apa saja yang bcrsifat pribadi?” Preston terus mendesak.

“Humph. Ada satu di sini. ‘Dan bagi teman dan sahabatku yang baik hati, Joop Van Rcnsbcrg, satu set buah caturku yang dari gading demi mengc—

264

nang malam-malam yang menyenangkan yang kami nikmati bcrsama sambil main calur di tanah pertanian. Itu saja.”

“Apakah putranya sudah bcrada di Afrika Selalan waktu ayahnya meninggal?”

“Scharusnya sudah. Si Laurens tua bcrmaksud menjumpainya. Suatu perjalanan yang panjang untuk ukuran mas a itu. Belum ada jalur udara. Kami biasa bepergian naik kercta api.”

“Apakah Anda yang menangani penjualan tanah pertanian dan barang-barang miliknya yang lain, Mr. Benson?”

“Para pelclang yang melakukan penjualan, di sana di tanah pertanian itu juga. Dibeli olch keluarga Van Zyl. Mcreka mcmbcli seluruhnya. Seluruh tanah itu sekarang milik Bertie Van Zyl. Tapi saya hadir di sana scbagai pclaksana utama surat wasiatnya.”

“Apakah ada benda kenang-kenangan pribadi yang tidak terjual saat itu?” tanya Preston.

Orang tua itu mengernyilkan alisnya. “Tidak banyak. Semuanya terjual. Oh, saya ingat ada sebuah album foto. Album itu tidak punya nilai komcrsial. Saya kira saya mcmbcrikannya kepada Mr. Van Rcnsbcrg.” “Siapa dia?”

“Kcpala sckolah,” pulranya mcnukas. “Ia mcngajar saya sampai saya bersekolah di Mcrcnsky High. Ialah yang mcngclola sckolah lama di kawasan pertanian itu sampai mercka memhangun

265

sebuah sckolah dasar ham. Lalu dia pensiun dan mcnctap di sini di Durwclskloof.”

“Apakah dia masih hidup?”

“Tidak, dia meninggal sekitar sepuluh tahun yang lalu,” kaCa Benson lua. “Saya mcnghadiri upacaranya.”

Tapi dia punya anak perempuan,” kata pulranya membantu. “Cissy, la bersekolah di Mcrcnsky High, satu sekolah dengan saya. Kira-kira umur kami sama.”

“Tahukah Anda bagaimana keadaannya sekarang?”

“Tcntu. Ia menikah, bcrlahun-tahun yang lalu. Dengan pemilik sebuah penggergajian kayu di Jala n Tzaneen.”

“Satu pertanyaan tcrakhir”—Preston mengarahkan bicaranya kepada yang lebih tua—”mengapa Anda menjual hak milik itu? Apakah putranya tidak menginginkannya?”

“Kclihatannya tidak,” kata orang tua itu. “Saat itu ia bcrada di Rumah Sakit Militer Wynbcrg. Ia mcngirimkan telegram. Saya memperoleh alamalnya dari para pejabat militer dan mcrcka mcngkonfirmasikan identitasnya. Dalam telcgramnya ia mcminta saya untuk menjual seluruh tanah milik itu dan mentransfer uangnya kepada dia.”

“Dia tidak hadir saat pemakaman?”

“Tidak ada waktu lagi. Januari adalah saat mu-sim panas di Afrika Selatan. Di masa itu sarana penyimpanan mayat tidak banyak. Jenazah harus

266

segcra dikubur. Saya matahan berpikir bahwa mungkin dia sama sekali tidak kcmbali ke situ. Bisa dimcngerti. Dengan kematian ayahnya, tidak ada lagi yang mcmbuatnya mcrasa perlu untuk kembali.”

“Di mana Laurens Marais dimakamkan?”

“Di tanah pekuburan di atas bukit,” kata Benson Senior. “Apa sudah selesai? Kalau sudah, saya akan makan siang dulu.”

Cuaca di sebclah timur dan sebelah baral gunung-gunung di Duiwelskloof bcrubah-ubah secara dramatis. Di sebelah barat curah hujan di Mootscki kira-kira lima puluh scntimcter selahun. Di sebelah limurnya awan-awan yang banyak dan tebal datang dari Samudera India, bcrgerak mclintasi Mozambique dan Kruger Park, dan mcnabrak gunung-gunung itu, yang lercng-Iercng limurnya diguyur hujan se-banyak dua ratus scntimcter sctahun. Di sisi yang ini induslri utama ditopang olch hutan-hutan blue gum. Mcnanjak sejauh sembilan kilometer di Jalan Tzaneen, Preston dan Viljocn menemukan penggergajian kayu milik Mr. du Plessis. Istrinyalah, pulri kcpala sekolah itu, yang membukakan pintu; ia seorang wanita gemuk, dengan pipi-pipi merah bagai apcl, berusia kira-kira lima puluh tahun, tangannya berlumur tepung dan ia mengenakan celcmck. Dia scdang di tengah-tengah proses mcmanggang roti.

Ia mcnyimak masalah yang mereka ungkapkan dengan scrius, lalu mcnggclcngkan kcpala. “Saya ingat, scbagai anak kecil saya diajak kc tanah

267

pertanian dan ayah saya bermain catur dengan Pak Marais,” katanya. “Itu sekitar tahun 1944 atau 1945. Saya ingat buah catur gading itu, lapi album fotonya saya tidak ingat”

“Ketika ayah Anda meninggal, apakah Anda tidak mewarisi barang-barangnya?” tanya Preston.

“Tidak,” kata Mrs. du Plcssis. “Bcgini, ibu saya meninggal di tahun I9SS, sehingga Daddy mcnjadi duda. Saya mcnjaganya scndiri sampai saya menikah di tahun 1958, ketika saya bcrumur dua puluh tiga. Sctclah itu ia tak bisa bcrtahan lagi. Rumahnya sclalu bcrantakan. Saya masih terus bcrusaha untuk memasak dan membersihkan rumah untuknya. Tapi selelah adanya anak-anak,

saya tidak bisa lagi.

“Lalu di tahun 1960, saudarinya, yailu bibi saya, juga mcnjadi janda. Ia tinggal di Pictersburg. Ia berpcndapal mungkin ada baiknya kalau ia bisa dating dan tinggal dengan ayah saya dan menjaga dia. Jadi itulah yang dilakukannya. Ketika Ayah meninggal, saya sudah mcmintanya untuk mcmbcrikan semuanya kepada Bibi—rumah itu, pe-rahot, dan semuanya.”

“Apa yang terjadi dengan bibi Anda?” tanya Preston.

“Oh, ia masih tinggal di sana. Sebuah bungalo sedcrhana tcpat di bclakang Imp Inn di Durwe Is kloof.”

Ia sctuju untuk mencmani mcreka. Bibinya, Mrs. Winter, scorang wanita yang ccrdas dan lin—

268

cab bagai burung gcreja dengan rambul kebiruan, ada di rumah. Ketika mendengar masalah yang mcreka kemukakan, ia menghampiri sebuah lemari pakaian dan mcngcluarkan sebuah kotak prpih. “Si Joop dulu suka sckali main dengan ini,” katanya. Itu ada lah pcrangkal catur dari gading. “Inikah yang Anda inginkan?”

“Scbcnamya bukan, album foto itu yang lebih penting,” kata Preston.

Mrs. Winter nampak bingung. “Ada satu pcti barang-barang rongsokan di loteng,” katanya. “Semuanya disimpan di sana sctclah dia meninggal. Cuma kcrtas-kertas dan barang-barang dari masa dinasnya scbagai kcpala sekolah.”

Andries Viljocn naik ke loleng dan membawanya turun. Di bawah lumpukan laporan-laporan sckolah yang sudah mcnguning, album keluarga Marais dilemukan. Preston mcmbalik-balik halainannya. Temyala semuanya ada di sana: pengantin wanita yangcantik tapi nampak rapuh—tahun 1920; scorang ibu muda yang tcrscnyum main malu—tahun 1930; scorang anak laki-laki scdang cemberut di atas kuda poni-nya yang pcrtama; sang ayah dengan pipa tcrjepil di antara gigi-giginya, bcrusaha untuk tidak nampak tcrlalu bangga, dengan putranya di sampingnya dan barisan kclinci di rcrumputan di hadapan mcreka Di bagian akhir ada sebuah foto hitam putih, foto scorang anak laki-laki yang mengenakan seragam cricket dari bahan flanel; seorang pemuda tampan bcrumur tujuh belas tahun, berada di dekat

269

gawang untuk mcnembak masuk. Caption di bawahnya berbunyi Fanni, kapten tim cricket, Merensky High, 1943.

“Bolchkah saya ambil ini?” tanya Preston.

“Silakan,” kata Mrs. Winter.

“Apakah kakak Anda almarhum pcrnah bcrcerita pada Anda tcntang Mr. Marais?”

“Kadang-kadang,” jawabnya. “Mcreka sudah bersahabat bertahun-tahun.”

“Apakah kakak Anda pernah mcngatakan, tc-m army a itu meninggal karena apa?”

Ia mcngcrutkan keningnya. “Apakah di kantor ahli hukum tadi Anda tidak dibcritahu? Astaga. Si Cedric tua pasti sudah mulai pikun. Kecelakaan Librak-Ian, begitu kata Joop. Rupanya Marais menghentikan mobilnya untuk mcngganti bannya yang bocor dan ia dilabrak oleh truk yang lewat. Saat itu orang mcngira yang mcnabrak adalah pemabuk kaffir… ups” tangannya dengan ccpat mcnutupi mululnya dan ia memandang ke arah Viljocn dengan kcmalu-maluan—”scharusnya saya tidak mcmakai istilah itu lagi. Welt, pokoknya, mcreka tidak pcrnah menemukan siapa yang mengemudikan truk itu.”

Dalam perjalanan pulang menuruni bukit me-nuju ke jalan raya, mcreka mclcwati tanah pc-kuburan. Preston mcminta Viljoen untuk berhenti. Itu adalah suatu tcmpat yang nyaman dan sepi.

Ntgro.Afnka StUun

270

jauh di alas kola, dikelilingi oleh pohon-pohon pinus dan ccmara, yang di pusatnya didominasi oleh sebuah pohon mwataba dengan baiang yang bcrcelah, dan dipagari oleh tanaman perdu poinset-tia. Di salah satu sudut mcreka menemukan sebuah batu yang dipenuhi lumuL Preston mcmbersihkan lumut itu dan ternyata balu itu sebuah nisan granit dengan tulisan yang diukir: Laurens Marais 1879-1946. Suami tercinta dari Mary dan ayah dari Jan. Tuhan selalu menyertatnya. RIP.

Preston bcrjalan menyebcrangi pagar itu, mc-mclik seranting poinscttia yang me rah manyala, dan meletakkannya di samping nisan itu. Viljocn memandang dia dengan ganjil.

“Pretoria sctelah ini, saya kira,” kata Preston.

Ketika mcreka sedang mendaki Buffclberg di jalanan yang menuju ke luar Lcmbah Mootscki, Preston mcnolch ke bclakang memandang lcmbah itu. Awan-awan kclabu telah bergumpal-gumpal di balik Celah Sctan. Ia mcnyaksikan awan-awan itu scmakin mendekat kc eclah itu, mcnghapus kola kccll itu dari pandangan bersama dengan raha-sianya yang mcnakutkan, -yang hanya diketahui oleh seorang pria Inggris sctengah baya yang sedang berada di mobil yang mclakukan perjalanan pulang. Kemudian disandarkannya kepalanya ke bclakang dan ia tertidur pulas.

Pctang itu, Harold Philby dikawal dari wisma tamu dacha itu ke ruang duduk sang Sckretaris

271

Jenderal, di sana pcmimpin Soviet itu mcnunggu-nya. Philhy melctakkan scjumlah dokumcn di ha-dnpan orang tua itu. Sang Sckretaris Jenderal mcmbacanya dan melctakkan semuanya kcmbali.

Tidak banyak orang yang dilibatkan,” katanya.

“Izinkan saya mengemukakan dua point pen ting, Kamerad Sekretaris Jenderal. Pertama, karcna Rencana Aurora ini amat sangat rahasia sifalnya, saya berpendapat bahwa lebih bijaksana untuk mclibal-kan sesedikit mungkin pescrta di dalamnya. Kalau kita menjalankan prinsip hanya-yang-pcrlu-tahu-saja, maka akan lebih scdikit lagi yang akan lahu tujuan rencana ini sebenarnya. Kedua, karcna sangat terbatasnya waktu, maka akan pcrlu untuk mcngurangi banyak aspek. Minggu-minggu, bah-kan bulan-bulan, yang dipcrlukan untuk melakukan briefing-briefing yang biasanya diperlukan dalam mclaksanakan ‘langkah-langkah aktif harus di-pangkas sampai mcnjadi hari-hari saja.”

Sang Sekretaris Jenderal mcngangguk pcrlahan. “Jelaskan mcngapa Anda mcmbutuhkan orang-orang ini.”

“Kunci scluruh opcrasi ini,” Philby melanjutkan, “adalah pelugas pclaksananya, yaitu orang yang sccara nyata akan menyusup kc Inggris dan tinggal di sana selama berminggu-minggu sebagai warga Inggris, dan yang akhirnya akan mclaksanakan Rencana Aurora.

“Yang akan memasok dia dengan semua sarana yang dipcrlukannya adalah dua bclas kurir, atau

‘kclcdai’. Mereka yang akan menyelundupkan sarana-sarana itu kc dalam, baik melalui suatu pos pabcan atau, kadang-kadang, melalui suatu tempat masuk yang tidak diperiksa. Setiap orang tidak akan tahu apa yang dibawanya atau mcngapa. Setiap orang harus sudah tahu pasli mcngenai tempat rendczvous-nya, dan satu lagi tempat lain sebagai cadangan scandainya yang satu gagal. Setiap orang akan menyampaikan pakct itu kepada si pctugas pclaksana dan kemudian kembali kc wilayah kita, untuk segcra dimasukkan ke dalam karantina sccara total. Akan ada satu orang lagi, sclain pctugas pclaksana itu, yang tidak akan pemah kcmbali. Tapi kedua orang itu tidak akan mengetahui hal itu.

“Yang memberi komando kepada para kurir itu adalah pctugas pengirim, dengan tanggung jawab untuk memastikan bahwa kiriman-kiriman tcrscbut sampai ke tangan si pctugas pclaksana yang bcr-kedudukan di Inggris. Ia akan dibantu oleh scorang pctugas pemasok yang bcrtugas mengamankan pakct-pakct yang akan dikirimkan. Orang ini akan mempunyai empat bawahan, masing masing dengan satu tugas khusus.

“Salah satu dari bawahan ini akan mclengkapi surat-surat dan sarana transportasi bagi para kurir; yang lainnya akan bcrtugas mengupayakan perolehan bahan-bahan tcknologi canggih yang dipcrlukan; yang kctiga akan mcnyediakan artefak-artefak atau bahan-bahan yang sudah dirckayasa

272

273

scdcmikian rupa; dan yang kcempat akan menangani komunikasi. Adalah sangat vital bahwa si pctugas pelaksana dapat mcmbcritahu kita tentang perkembangan, masalah, dan, yang terpenting, tentang saat kapan ia sudah siap melaksanakan opcrasi; dan kita harus dapat mcmbcritahu dia setiap kali ada pcrubahan rencana, dan, tcntu saja, mcmberikan perintah kepadanya untuk mclaksanakan rencana.

“Mengenai masalah komunikasi, ada satu hal lagi yang perlu dikctahui. Karena terbatasnya waktu, maka kita tidak mungkin mcnggunakan saluran-saluran normal sepcrti surat-surat lewat pos atau pertcmuan-pcrtcmuan pribadi. Kita akan bcr-komunikasi dengan pctugas pclaksana itu dengan mcnggunakan sinyal Morse, dengan sistem kode khusus, yang dikirim lewat gclombang-gclombang komcrsial Radio Moskow dengan waktu-waktu pc-nyiaran yang tetap. Kalau dia perlu mcnghubungi kita dalam kcadaan da rural dan dengan ccpat, ia hams mcmiliki sebuah pemancar di suatu tempat di Inggris. Sistem ini mcmang sudah kuno dan mcngandung risiko, yang kebanyakan hanya dipakai dalam kcadaan pcrang. Tapi itu harus. Anda akan mclihat bahwa saya sudah mcnyinggung tentang hal itu.”

Sang Sekretaris Jenderal mcmpelajari dokumcn-dokumcn itu lagi, mcncliti jenis-jenis operasi yang dipcrlukan dalam rencana itu. Akhimya ia mengangkat wajahnya.

274

“Anda akan mempcroleh anak buah Anda,” katanya. “Saya akan menyuruh mcreka ditclusuri satu per satu, yang terbaik yang kita punyai, dan kc-mudian dimutasikan untuk tugas-tugas khusus. Satu hal yang terakhir. Saya tidak mau siapa pun yang tcrlibat dalam Rencana Aurora ini mcmbuat kontak dalam bentuk apa pun dengan orang-orang KGB di dalam wilayah kewenangan kita di kcdutaan kita di London. Kita tidak pernah bisa tahu siapa-siapa yang sedang bcrada di bawah pengawasan, atau….”

Apa pun yang mcnjadi kckuatirannya tidak diucapkannya.

“Cukup sckian dulu.”

275

OBI

Dilarangmeng-komersil-kanataii kesiaian menimpa anda setamanya

Pkimon dan VUjoen bertcmu di kanlor mereka di lanlai tiga Union Building kccsokan harinya, alas permintaan orang Inggris ilu. Karcna hari ilu hari Minggu, gcdung itu scakan hanya untuk mcreka send in.

“Well, selanjulnya apa?” tanya Kaptcn Viljocn.

Tadi malam saya hcrgadang, bcrpikir,” kata Preston, “dan ada sesuatu yang tidak Mop.”

“Anda tidur terus dalam perjalanan pulang dari utara,” kala VUjoen serius. “Saya yang mcnyctir.”

“Ah, tapi Anda kan jauh lebih bugar,” kata Preston. Ucapan itu menyenangkan hati Viljocn, yang memang bangga dengan fisiknya, yang dilatihnya dengan teratur. Dia agak santai sekamng. “Saya ingin mcnyclidiki scrdadu yang satunya ilu,”

Preston mclanjutkan. “Scrdadu yang mana?”

“Yang mclarikan diri bcrsama Marais. Ia tidak pcrnah mcnycbulkan namanya. Cuma menyebutnya ‘scrdadu yang satu’ atau ‘kamcrad saya’. Mcngapa tidak ada namanya?”

276

Viljocn mengangkat bahu. “Ia tidak mcnganggap itu perlu. Ia pasli sudah mcmbcritahu para pctugas di Wynberg Hospital, schingga sanak keluarga ler-dekatnya bisa dibcritahu.”

“Itu kan hanya lisan,” Preston tepekur. “Para petugas yang pcrnah mendengar nama itu akan segera berbaur lagi dalam kchidupan schari-hari. Hanya Catalan tertulisnya saja yang masih bisa dilacak, dan itu tidak mcnyebutkan namanya. Saya ingin mcnyclidiki scrdadu yang satu itu.”

“Tapi ia sudah meninggal,” Viljoen mcmproles. “Ia telah dikuburkan di suatu hutan Polandia sc-lama cmpat puluh dua tahun.”

“Kalau begitu saya ingin tahu dulu siapa dia.” “Gila… dari mana kita akan mulai?” “Marais bilang bahwa mcreka bisa bcrtahan hi-dup di kamp POW tcrulama karcna adanya bingkisan-bingkisan maka nan dari Palang Mcrah Intemasional,” kata Preston, scakan mere fie ks ilea n apa yang sedang dipikirkannya saat itu. “Dia juga bilang bahwa mcreka mclarikan diri mcnjclang Hari Natal, dan mcmbuat orang-orang Jcrman itu marah. Scring kali scluruh kclompok akan dihu kum dengan cara pengurangan fasililas, tcrmasuk pengurangan bingkisan makanan. Siapa saja yang dulu mcnjadi anggota kclompok itu kcmungkinan besar akan ingat Hari Natal sepcrti ilu sclama hidupnya. Bisakah kita cari scscorang yang dulu ada di sana?”

Tidak ada organisasi formal dari eks tawanan

277

pcrang di* Afrika Sclatan, tapi ada sebuah ikatan persaudaraan veteran perang, yang tcrbatas pada mereka yang dulu bcnar-bcnar pernah bertcmpur. Namanya “Order of Tin Hals” (Orde Topi Timah), dan para anggotanya disebut “MOTH”. Ruang-ruang rapat kaum MOTH ini disebut “shelf holes” (lubang peluru), dan komandannya disebut “Old Bull” (Banteng Tua). Masing-masing mcnggunakan satu lelepon, Preston dan Viljoen mulai menclcpon scmua “lubang peluru” di Afrika Selatan, mcncoba menemukan scscorang yang pernah berada di kamp Stalag 344.

Pekerjaan ilu cukup melelahkan. Dari 11.000 tawanan Sekutu yang pcrnah ada di kamp ilu, scbagian besar berasal dari Inggris, Kanada, Australia, Selandia Baru, dan Amerika. Warga Afrika Sclatan hanyalah minoritas.

Lagi pula, banyak yang sudah meninggal sejak itu. Akan halnya para MOTH itu, ada yang scdang main golf, ada yang tak berada di tempat. Mcreka mcmpcroleh banyak tanggapan yang mcngcccwa-kan dan segudang usul yang bersifat ingin membantu tapi tcrnyata tidak banyak manfaatnya. Mereka menghentikan usaha mcreka hari itu ketika matahari terbenam dan memulainya lagi Scnin pagi. Viljoen mempcrolch litik terang mcnjelang tengah hari; bcrita itu datang dari seorang penge-pak daging yang sudah pensiun di Cape Town. Viljoen, yang tengah bcrbicara dalam bahasa Afrikaans, mcnutupkan tangannya pada corong

278

pencrima. “Ini ada orang yang mcngaku pcrnah berada di Stalag 344.”

Preston mengambil alih telcpon itu. “Mr. Anderson? Nama saya Preston. Saya sedang melakukan sebuah penelitian tcntang Stalag 344…. Terima ka-sih, Anda sangai baik…. Ya, saya pcrcaya Anda berada di sana. Masih ingatkah Anda akan Hari Natal tahun 1944? Dua scrdadu muda dari Afrika Selatan mclarikan diri ketika scdang bckerja di luar kamp…. Ah, Anda masih ingat…. Ya, pasti sangat tidak cnak. Anda masih ingat nama-nama mcreka?… Ah, bukan di barak mereka? Tidak, lentu saja. Well, ingatkah Anda nama NCO senior Afrika Sclatan itu?… Bagus. Perwira Rcndah Roberts. Nama kecil? Tolong diingat-ingaL… Apa?… Wally. Anda yakin itu?… Banyak terima kasih.”

Preston mclclakkan telcpon itu. “Perwira Rcndah Wally Roberts. Barangkali Walter Roberts. Apa kita bisa pergi ke Bagian Arsip Militer?”

Bagian Arsip Militer Afrika Selatan ternyala, karcna alasan tertenlu, berada di bawah Dcpar-temen Pendidikan dan terlctak di bawah Visagic Slrect 20, Pretoria. Ada lebih dari scratus Roberts yang tcrdaftar di sana, scmbilan be I as di antara mereka inisial nama kccilnya dengan huruf W, dan lujuh bcrnama Waller. Tidak ada yang cocok. Mereka lalu menelusuri daftar W. Roberts. Tidak ada. Preston mulai lagi dengan file A. Roberts dan sejam kemudian dia bcruntung. James Walter

279

Roberts ‘dulu seorang perwira rendah dalam Perang Dunia Kedua; ia tertangkap di Tobruk dan dipenjarakan di Afrika Utara, Italia, dan akhirnya di Jerman sebelah timur. Ia tetap berdinas di Angkatan Darat sctclah perang selesai dan naik pangkat sampai mcnjadi kolonel. Ia pensiun di tahun 1972.

“Sebaiknya Anda berdoa, semoga ia masih hi-dup,” kata Viljoen.

“Kalau dia masih hidup, dia pasti mcnggunakan pensiunnya,” kata Preston. “Para pengurus Dana Pensiun mungkin tahu dia.”

Ternyata benar. Kolonel (Purnawirawan) Wally Roberts scdang menghabiskan senja hidupnya di Orangeville, sebuah kola kecil yang terletak di antara danau-danau dan hutan-hutan seratus lima puluh kilometer di sebelah sclatan Johannesburg. Di luar, di Visagie Street, hari sudah gelap ketika mcreka keluar dari gcdung. Mereka memutuskan untuk bepcrgian keesokan paginya.

Mrs. Robcrts-lah yang mcmbukakan pintu bungalo yang nampak rapi itu keesokan harinya, dan memeriksa kartu identitas Kapten Viljoen dengan agak ccmas dan heran.

“Ia sedang berada di danau, membcri makan unggas,” katanya kepada mereka, dan mcnunjuk ke sebuah jalan setapak. Mcreka menemukan scrdadu tua itu scdang menyebarkan rcmah-rcmah roti kepada sekawanan unggas air yang mcnyambutnya dengan gembira. Ia meluruskan badannya ketika mereka mcnghampirinya, lalu memeriksa kartu

280

identitas Viljoen. Kcmudian ia mengangguk seakan mengatakan “Silakan”.

Ia bcrumur tujuh puluhan lebih, sikap punggungnya sangat tegak, scbaris kumis lipis beruban mcnaungi bibir atasnya. Ia mengenakan pakaian dari bahan tweed dan sepatu coklat yang sangat mengkilap. Ia menyimak pertanyaan Preston dengan serins.

“Tcntu saya masih ingat. Saya discrct kc hadapan komandan Jerman itu, yang murka sepcrti kese-tanan. Seluruh kelompok kami tidak menerima bingkisan Palang Merah Internasional untuk periode itu. Pcmuda-pemuda goblok itu; kami diungsi-kan ke barat pada tanggal 22 Januari 1945, dan dibebaskan akhir April.”

“Apakah Anda masih ingat nama nama mereka?” tanya Preston.

“Tentu. Saya tak pcrnah melupakan nama. Keduanya masih muda—belum dua puluh tahun, saya rasa. Kcduanya berpangkat kopral. Yang satu dipanggil Marais; satunya lagi adalah Brandt. Frikki Brandt. Dua-duanya Afrikaner. Tapi saya tidak ingat nama kesatuannya. Saat itu kami sudah sangat compang-camping, mengenakan apa saja yang masih ada. Hampir tidak tcrlihat lagi atribut-atribut militer.”

Mereka mengucapkan terima kasih mereka yang mendalam dan meluncur balik ke Pretoria, untuk berbincang lagi di Visagie Srcct. Sayangnya, Brandt mcrupakan nama Belanda yang terlalu

2X1

umum, dengan variasinya. Brand—yang tidak mengandung huruf t akhir itu—tapi diucapkan sama. Ada ratusan orang dengan nama itu.

Saat petang menjelang, dengan bantuan enam staf bagian arsip, mereka berhasil menyeleksi enam kopral Frederick Brandt, yang semuanya sudah meninggal. Dua tewas selama bcrtugas di Afrika Utara, dua di Italia, dan satu karena kecelakaan pesawat saat mendarat. Mereka membuka file yang keenam.

Kapten Viljoen memandang dengan mata ter-belalak ke map yang terbuka itu. “Saya tidak pcrcaya ini,” katanya perlahan. “Siapa yang telah mclakukan ini?”

“Siapa yang bisa tahu?” Preston menjawab. “Tapi terjadinya sudah lama.”

File itu kosong sama sekali.

“Maaflcan saya untuk ini,” kata Viljoen ketika ia mengantarkan Preston dengan mobil, kembali kc Burgerspark. “Tapi nampaknya ini akhir dari pencarian kita.”

Saat malam sudah larut, dari kamar hotelnya, Preston menelepon Kolonel Roberts. “Maaf saya mengganggu lagi, Kolonel. Apa sekiranya Anda ingat apakah Kopral Brandt mempunyai teman khusus di kelompok itu? Berdasarkan pcngalaman saya sendiri, di kctentaraan biasanya selalu ada satu teman dekat.”

“Benar sekali, biasanya ada. Saya tidak bisa ingat langsung. Coba saya ingat-ingat dulu. Kalau

282

ada yang saya dapatkan, Anda akan saya telepon besok pagi-pagi.”

Kolonel yang senang membantu itu menelepon Preston saat ma kan pagi. Suara yang tegas itu terdengar melalui telepon, scakan ia sedang memberikan laporan pertempuran ke markas besar. “Ingat sesuatu,” katanya. “Barak-barak itu dibangun untuk mcnampung sekitar seratus orang. Tapi kami dijcjalkan ke dalamnya scperti ikan sarden. Lebih dari dua ratus orang dalam satu barak. Ada yang tidur di lantai, ada yang tidur berdesakan dalam satu tempat tidur. Bukan karena masalah seksual, hanya karena terpaksa saja.”

“Saya mengerti,” kata Preston. “Dan Brandt?”

“Tidur sama-sama dengan seorang kopral lain. Namanya Levinson. RDLI.”

“Maaf?”

“Royal Durban Light Infantry, resimen Levinson.”

Visagie Street memberikan informasi lebih cepat kali ini. Levinson bukan nama yang terlalu umum, apalagi nama resimennya diketahui. File-nya berhasil dilemukan dalam waktu lima belas menit Namanya adalah Max Levinson dan dia dilahirkan di Durban. Ia keluar dari kctentaraan setelah perang selesai, jadi tidak ada pensiun dan tidak diketahui alamatnya. Tapi diketahui bahwa ia bcrumur enam puluh lima tahun.

Preston mencoba menelaah buku telepon Durban, sementara Viljoen meminta polisi Durban me—

283

lacak nama itu lewat file-file mereka. Viljoen-lah yang mempcrolch pctunjuk pertama. Ada dua sural lilang parkir dan sebuah alamaL Max Levinson mengelola sebuah hotel kecil di pantai. Viljoen menelepon dan berbicara dengan Mrs. Levinson. la membenarkan bahwa suaminya pcrnah berada di Stalag 344. Saat itu ia scdang pcrgi mcmancing.

Mereka terpaksa menganggur saja sampai pe-tang tiba, kelika Preston berhasil menghubungi dia melalui telcpon. Pcmilik hotel yang periang itu berbicara dengan penuh semangal di telepon, dari pantai timur.

“Tcntu saja saya ingat Frikki. Bangsat tolol itu mclarikan diri kc hutan. Sejak itu saya tidak pcrnah mendengar lagi tcnlang dia. Kenapa dia?”

“Dia be rasa I dari mana?” tanya Preston.

“East London,” kata Levinson tanpa ragu-ragu.

“Latar bclakangnya apa?”

“Dia tidak pcrnah bicara banyak tcntang itu,” jawab Levinson. “Yang jelas dia Afrikaner. Fasih berbahasa Afrikaans, tapi bahasa Inggrisnya parah. Dari kelas pekcrja. Oh, saya ingat, dia bilang ayahnya scorang juru langsir kereta api di sana.”

Preston mengucapkan salam dan menoleh kepada Viljoen. “East London,” katanya. “Bisa kita bcrmobil ke sana?”

Viljoen mcnghcla napas. “Saya tidak menganjurkan itu,” katanya, “jaraknya ratusan kilometer dari sinl Ini ncgeri yang sangat luas, Mr. Preston. Kalau Anda memang ingin sekali kc sana, kita

284

naik pesawat saja besok. Akan saya atur mobil polisi dan pengemudi untuk menjemput kita.”

“Tolong mobilnya jangan bcridentitas,” kata Preston. “Dan pengemudinya dalam pakaian biasa.”

Walaupun markas besar KGB terletak di “Pu-sat”, Lapangan Dzerzhinsky No. 2, di pusat kota Moskow, dan walaupun bangunan itu tidak kecil, ia tidak akan mampu menampung bahkan sebagian saja dari salah satu dari scjumlah direktorat ulama, direktorat, dan departemen yang membentuk organisasi yang sangat besar itu. Jadi scjumlah sub-markas besar lersebar di mana-mana.

Direktorat Utama Satu terletak di Yasyenevo, di jalan lingkar luar yang mcngelilingi kota Moskow, hampir mencapai sektor selatan kota. Hampir se-mua FCD—First Chief Directorate—atau Dirck-lorat Utama Satu ditampung dalam sebuah bangunan modern bcrtingkat tujuh dari aluminium dan kaca, berbentuk bin Ling bcrkaki tiga, mirip logo mobil Mercedes.

Gedung itu dibangun oleh orang-orang Finlandia di bawah konlrak, dan tadinya dimaksudkan sebagai gedung Departemen Intcrnasional Komite Sentral. Tapi selelah selesai, orang-orang ID—Inlerna-tional Department atau Departemen Intemasional— tidak mcnyukainya; mereka ingin berada dekat dengan pusat kota Moskow; jadi gedung itu dibcrikan kepada Direktorat Utama satu. Ternyata cocok

285

sekali untuk FCD, karena Ictaknya yang di luar kota dan jauh dari mata-mata yang mengawasi.

Para slaf FCD secara resmi berada dalam penyamaran, juga di negerinya sendiri. Karcna banyak di antara mereka yang akan ditugaskan ke luar negeri (atau sudah pernah) sebagai diplomat, yang paling tidak boleh mcreka lakukan adalah terlihat keluar dari markas besar FCD oleh scorang luris asing yang nyinyir, yang bisa saja memotret wajah mcreka.

Tapi ada satu direktorat di dalam FCD yang begitu bersifat rahasia sehingga ia tidak bermarkas hersama yang lain-lain di Yasyenevo. Kalau FCD ini saja sudah disebut rahasia, maka Direktorat S, atau Ilegal, adalah super rahasia. Bukan hanya agen-agennya tidak pernah bcrtemu dengan rekan-rekannya di FCD; mcreka bahkan tidak pernah saling bcrtemu di antara mcreka sendiri. Pclatihan dan briefing mereka dilakukan dengan prinsip satu-lawan-satu—jadi hanya instruktumya dan satu murid. Mcreka tidak diharuskan datang absen setiap pagi ke kanlor mana pun, sebab dengan demikian mereka akan bcrtemu satu sama lain.

Alasannya sedcrhana dalam psikologi orang Ru-sia: orang Rusia paling curiga tcrhadap kcrahasiaan dan pengkhianatan—ini bukan disebabkan oleh paham komunisme, tapi bisa dihubungkan dengan zaman Tsar dulu. Para ilegal adalah orang-orang (kadang-kadang wanita) yang dilatih dengan kcras untuk menyusup ke negeri asing dan hidup dalam

286

penyamaran yang kctaL Tapi malang, sejumlah ilegal pernah ditangkap dan telah bckcrja sama dengan penangkapnya; ada juga yang mcmbelot dan membocorkan scmua yang mereka ketahui. Karena itu, semakin scdikit yang mcreka ketahui, semakin baik. Adalah merupakan suatu dalil dalam dunia spionase bahwa seseorang tidak akan bisa berkhianat tcrhadap scsuatu atau seseorang yang tidak dikclahuinya.

Para ilegal, karena ilu, tcrsebar di kompicks-kompleks flat kecil di pusat kota Moskow dan melapor sendirian sehubungan dengan pelatihan dan briefing. Supaya letap dekat dengan “anak-anak”-nya, pimpinan Direktorat S tetap mempertahankan kantornya di Pusat di Lapangan Dzerzhinsky. Kanlor itu terletak di lantai enam, liga lantai di alas kanlor Ketua KGB Chebrikov dan dua lantai di atas kantor-kantor wakil-wakil ketua satu, Jenderal Tsincv dan Jenderal Kryuchkov.

Ke tempat yang tidak nampak megah inilah kedua orang itu melangkah masuk pada sore hari Rabu tanggal 18 Maret, pada saat Preston sedang berbicara dengan Max Levinson, untuk bcrtemu dengan sang direktur, yaitu seorang veteran tua yang kurang ramah yang sudah berdinas scpanjang hidupnya dalam bidang spionase tersclubung. Beri-ta yang mcreka bawa tidak membuat hatinya sc-nang.

“Hanya ada satu orang yang mcmcnuhi per—

287

syaratan itiT,” ia mengakui sambil mcngomcl. “Dia sangat andal.”

Salah satu lamu dari Komite Senlral itu memberikan sebuah kartu kecil. “Kalau begitu, Kamerad Mayor Jenderal, Anda diharapkan untuk menarik dia dari tugasnya dengan segcra dan nicnun-ta dia untuk mclapor kc alamat ini.”

Sang direktur mengangguk dengan muram. Ia tahu alamat tersebut. Setelah tamu-tamunya pergi, ia mcmikirkan kcmbali kewenangan yang mcnaungi mcreka. Mcmang benar dari Komite Scntral, dan walaupun tidak dijelaskan dengan kata-kata, ia tak ragu lagi dari siapa datangnya pcrintah tersebut, mcngingat tingkat kewenangan yang dibcrikan. Ia menarik napas, merasa tak berdaya. Berat sekali melepaskan salah satu agen terbaik yang pernah dilatihnya, scorang agen yang benar-benar istimcwa, tapi instruksi seperti ilu tidak bisa diban-tah. Ia hanya scorang pejabat yang harus paluh; ia tidak mcmpunyai wewenang untuk mempertanyakan sebuah perintah. Ia lalu menekan sebuah tom-bol pada intcrkomnya. “Katakan kepada Mayor Valcri Pctrofsky untuk melapor kepada saya.”

Pcsawat pcrlama yang meningr.nlkan Johannesburg untuk menuju East London mendarat tcpal waktu di Ben Schoeman, sebuah bandara yang kecil, rapi, berwarna kombinasi biru-putih, yang mcnopang kegiatan kota pelabuhan dan kota komcrsial kecmpal di Afrika Selatan. Pcngcmudi

288

polisi itu sudah menunggu di ruang tunggu dan mengantar mereka menuju sebuah sedan Ford biasa di tempat parkir.

“Kc mana, Kapten?” tanyanya. Viljocn mcnaikkan sebelah alisnya ke arah Preston.

“Kanlor pusat jawatan kercta a pi,” kata Preston. “Lebih tepatnya lagi, gedung administrasinya.”

Pengcmudi itu mengangguk dan mcnjalankan mobil. Stasiun kereta api modem kota East London terletak di Fleet Street, dan tepat di depannya berdiri sebuah kompleks bangunan bertingkat satu yang sudah tua dan agak lusuh berwarna hijau dan krem, yang mcrupakan kantor-kantor administrasinya. Kartu identitas Viljoen yang sakti dengan ccpat mcmbawa mereka ke direktur bagian keuangan. Ia mcn-dengarkan maksud kedatangan Preston.

“Ya, kami memang membayarkan pensiun kepada semua staf dinas kereta api yang sudah pensiun yang masih tinggal di daerah ini,” katanya. “Siapa namanya tadi?”

“Brandt,” kata Preston. “Maaf, saya tidak tahu nama pcrtamanya. Tapi ia dulu scorang juru langsir, bcrtahun-tahun yang lalu.”

Direktur itu memanggil seorang asistcn dan mcreka semua bersama-sama berjalan melcwati lorong-Iorong muram menuju bagian penyimpanan arsip. Asistcn itu mencari-cari sebentar dan mun-cul dengan sebuah slip pembayaran pensiun.

“Ini dia,” katanya. “Salu-satunya yang ada pada kita. Pensiun tiga tahun yang lalu. Koos Brandt.”

289

“Bcrapa umurnya sekarang?” lanya Preslon.

“Enam puluh tiga,” kata asistcn itu sctclah me-11 ha i sckilas ke kartu itu.

Preston menggclengkan kcpala. Kalau Frikki Brandt sama umurnya dengan Jan Marais, dan ayahnya sckitar liga puluh tahun lebih tua, maka orang tua itu mestinya bcrumur lebih dari sembilan puluh tahun sekarang. Tapi direktur dan asistcn itu bersikcras. Tidak ada Brandt lain yang sudah pensiun.

“Kalau begitu, bisakah Anda mencarikan untuk saya,” tanya Preston, “liga pensiunan tcrtua yang masih hidup dan masih mencrima pembayaran setiap minggu?”

“Mereka tidak didaftar mcnurut umurnya,” si asistcn mcmprotes, “mereka didaftar mcnurut abjad.”

Viljocn menarik direktur itu kc samping dan berbicara dengan sen us—bcrbisik-bisik—dalam bahasa Afrikaan. Apa pun yang dikatakannya ternyata mcmbawa hasil. Direktur itu nampak terkesan. “Lanjutkan,” katanya kepada asistennya. “Satu per satu. Semua yang lahir scbelum tahun 1910. Kami akan berada di kanlor saya.”

Itu memakan waktu satu jam. Si asistcn mengeluarkan tiga slip pembayaran pensiun. “Ada satu yang bcrumur scmbilan puluh,” katanya, “tapi dia penjaga pintu di terminal penumpang. Salu bcrumur dclapan puluh, bekas pctugas kebcrsihan. Lalu ada satu lagi, umur dclapan puluh satu. Dia

290

bekas juru langsir di tempat langsir.” Orang itu dipanggil dcng.m nama Fourie dan alamatnya tcrtulis di situ, di suatu tempat di Quigney.

Sepuluh mcnit kemudian mcreka sudah meluncur mcnembus kawasan Quigney, dacrah pemukiman tua di East London, yang sudah bcrumur lima puluh tahun lebih. Sebagian dari bungalo-bungalonya nampak dirawal dengan baik; tapi sebagian lagi nampak kumuh dan lapuk, rumah rumah lempal tinggal orang kulit putih yang mis-kin. Dari bclakang Moore Street mcreka bisa mcndengar bunyi-bunyi dari bcngkel kcrja dinas kereta api dan kesibukan stasiun langsir, tempat kcrcta-kercta yang besar disatukan untuk mengangkut muatan dari dermaga-dermaga pclabuhan East London kc kola pcdalaman Transvaal lewat Picier maritzburg. Mcreka menemukan rumah itu salu blok masuk dan Moore Street.

Scorang wanita tua Kulit Berwarna mcmbukakan pintu, wajahnya scperti biji kenari yang bo-peng dan rambutnya yang putih disisir ke bclakang dan disanggul. Viljocn berbicara dengan dia dalam bahasa Afrikaans. Wanita tua itu mcnunjuk kc a rah kaki langit dan mcnggumamkan sesuatu sc—

Sccara gans besar penduduk Rtpubfak Afrika Sclatan digolon’gkan rnenjadi empal krkimpok tints Kulii Putih (luum prndaUng). Hitam (penduduk mIi). Kulit Bm-arna (kcturuoan baogsa bangM Am dengan penduduk a&li dsn yang sehari ban berbaha&a Afrikaans). Orang Asia (lerutama betas*! dan India)

291

bclum menutup pintu dengan man tap. Viljoen mcngawal Preston balik ke mobil.

“Dia bilang orang tua itu ada di lembaga,” kata Viljoen kepada pengemudi. “Tahu apa maksudnya itu?”

“Ya, Pak. Gedung Lembaga Kereta Api yang kuno. Sekarang disebut orang Turnbull Park. Di Patcrson Street. Itu adalah klub sosial dan rekreasi untuk para karyawan jawatan kereta api.”

Temyata gedung itu bertingkat satu, amat besar, scrta bersebelahan dengan tiga lapangan rumput khusus untuk bowling. Di balik pintunya mcreka mclcwati sederclan meja snooker dan ruang-ruang TV scbclum sampai ke sebuah bar yang penuh pengunjung.

“Papa Fouric?” kata penjaga bar itu. “Tentu. Dia di luar sana, scdang nonton bowling.”

Mereka menemukan orang tua itu di salah satu lapangan bowling, duduk di bawah malahari mu-sim gugur yang hangat sambil menikmati segclas bir. Preston menyapanya.

Orang tua itu menatapnya sebentar scbelum mengangguk. “Ya, saya ingat Joe Brandt, la telah meninggal bcrtahun-tahun yang lalu.”

“la mcmpunyai seorang putra. Frcdcrik—Frikki.”

“Benar. Astaga, anak muda, kau telah mcm-bawaku kc masa sOam. Dia anak baik. Scring da tang ke tempat kerjaku sctclah sekolah. Joe scring mcmbiarkan anak itu ikut naik lokomotif

292

bcrsama dia. Sangat mcnyenangkan untuk scorang anak di masa itu.““ltu pasti sekitar pcrtcngahan sampai akhir 1930-an?” tanya Preston.

Orang tua itu mengangguk. “Sekitar itu. Tcpat sctclah Joe dan kcluarganya pindah kc sini “

“Sekitar tahun 1943 Frikki—yang sudah jadi pemuda—pcrgi bcrperang,” Preston bcrkomcnlar.

Papa Fouric menatapnya sebentar dengan mala-nya yang berlendir, yang mencoba mcmbayangkan masa silamnya scpanjang lima puluh tahun yang bcrlangsung tanpa kcjadian yang mcnarik. “Benar,” katanya. “Pemuda itu tidak pernah kcmbali. Orang mcngabarkan pada Joe bahwa anaknya itu tcwas di suatu tempat di Jerman. Kabar itu membuat hati Joe hancur. la sangat mencintai anak itu dan mcmpunyai rencana-rencana besar buat dia. Scjak itu ia tidak pcrnah pulih, yaitu setelah telegram itu ditc-rimanya, ketika perang berakhir. Ia meninggal tahun 1950—aku sclalu bcranggapan bahwa itu karcna kesedihan halinya. Istrinya mcnyusulnya tak lama setelah itu—dua tahun kemudian, barang-kalL”

“Tadi Anda mengatakan, ‘Tcpat sctclah Joe dan kcluarganya pindah ke sini,*” Viljocn mcngingat-kan dia. “Dari Afrika Sclatan kawasan mana mereka datang?”

Papa Fouric nampak bingung. “Mcreka bukan bcrasal dari Afrika Selatan.”

“Tapi mereka keluarga Afrikaner,” Viljocn mcmproies.

293

“Siapa yang bilang begilu?” ‘Angkatan Darat,” kata Viljoen. Orang tua itu tersenyum. “Kurasa Frikki muda mcmang bisa bios sebagai Afrikaner di Angkatan Darat. Bukan, mereka berasal dari Jerman. Imigran. Sekitar pertcngahan 1930-an. Joe (idak pcrnah bisa berbahasa Afrikaans dengan baik sampai dia meninggal. Tapi tentu saja anak itu bisa. Dipc-lajarinya di sckolah.”

Ketika mereka kcmbali ke mobil yang diparkir, Viljoen menoleh ke Preston dan bertanya, “Well?”

“Di mana Catalan kcimigrasian disimpan?”

“Di basement Union Building di Pretoria, bersama arsip-arsip ncgara yang lain,” kata Viljoen.

“Bisakah staf bagian arsip di sana melakukan pcngccekan scmcntara kita menunggu di sini?” tanya Preston.

Tentu. Mari kita pcrgi ke kantor polisi. Kita bisa menelepon dengan lebih enak dari sana.”

Kantor polisi itu juga terletak di Fleet Street; bentuknya scperti benlcng berlantai tiga tcrbuat dari bata kuning dengan jcndela-jcndcla berwarna buram, tcpat bcrsebelahan dengan gedung tempat berlatih Kaffrarian Rifles. Preston dan Viljocn mcngajukan pcrmintaan mcreka dan ma kan siang di kantin, scmcntara di Pretoria seorang staf bagian arsip kchilangan kescmpatan makan siangnya karena ia diminta memeriksa file-file. Untungnya, semuanya telah dikomputcrisasi pada tahun 1987 dan nomor filc-nya dengan cepat bisa ditemukan.

294

Si pctugas mcngcluarkan file itu, mengetik sebuah ringkasan, dan mengirimkannya lewat telex.

Di East London telex itu diantarkan kepada Preston dan Viljoen saat mcreka sedang minum kopi. Viljoen menerjemahkannya, kata demi kata.

“Ya, Tuhan,” katanya setelah selcsai. “Siapa yang mcnyangka bisa begitu?”

Preston nampak tepekur. Ia bangkit dan berjalan menyebcrangi kantin untuk berbicara dengan si pengemudi, yang duduk di meja lerpisah. “Apakah ada synagogue—gereja orang Yahudi—di East London?”

“Ya, Pak. Di Park Avenue. Dua mcnit dari sini.”

Synagogue yang berkubah hilam, bercat putih, dan dihiasi lambang Bintang Daud—lambang bangsa Yahudi—di puncaknya itu kosong di sore hari Kamis itu; hanya nampak scorang pengurus Kulit Berwarna yang mengenakan mantel Angkatan Darat yang tcbal dan topi wol. la memberikan kepada mereka alamat Rabbi Blum di pinggiran Sal bourne. Mereka mcngctuk pintu rumahnya jam tiga lewat scdikit. Rabbi itu sendiri yang mcmbukakan. la scorang laki-laki tcgap berjenggot te-bal, rambutnya sudah bcruban dan kelihatannya bcrumur sekitar pcrtengahan 50-an. Pandangan sekilas saja sudah cukup; dia terlalu muda. Preston mempcrkcnalkan dirinya sendiri dan bertanya, “Dapatkah Anda mengatakan kepada saya, siapa rabbi di sini scbclum Anda sendiri?”

295

Tentu. Rabbi Shapiro.Ś

“Apakah Anda tahu, apakah dia masih hidup dan di mana saya bisa mencmui dia?”

“Sebaiknya Anda masuk saja dulu,” kata Rabbi Blum. Ia menganlarkan tamu-tamunya kc rumahnya, melewati sebuah lorong, dan membuka sebuah pintu di ujung lorong itu. Ternyata kamar itu sekaligus bcrfungsi sebagai kamar tidur, di sana seorang lelaki yang sangat tua sedang duduk di depan perapian gas menghirup secangkir tch hi tarn. “Paman Solomon, ada orang yang ingin bertemu dengan Anda,” katanya.

Preston meninggalkan rumah itu sejam kemudian untuk bergabung dengan Viljoen, yang telah lebih dahulu balik kc mobil. “Ke bandara,” kata Preston kepada pengemudi, dan kepada Viljoen, ‘Bisak.ih Anda atur pcrtemuan dengan Jenderal Pienaar untuk esok pagi?”

Kamis sore itu, dua orang lagi ditransfer dari pos mcreka di angkatan bersenjata Soviet ke tugas khusus.

Kira-kira seratus lima puluh kilometer di sebelah barat Moskow, tepat di jalan masuk ke Minsk, di tengah sebuah hutan luas, berdiri sebuah komplcks antene parabola radio dan bangunan-bangunan penunjangnya. Itu adalah salah satu pos penerima Uni Soviet untuk sinyal-sinyal radio

296

yang datang dari unit-unit militer Pakta Warsawa dan dari luar negeri, tapi ia juga bisa menangkap pesan-pesan yang dikirimkan oleh pihak-pihak yang berada jauh di luar perbatasan Soviet. Satu sektor dari kompleks itu diberi batas khusus dan hanya dipakai oleh KGB saja. Salah satu dari orang-orang yang ditarik untuk tugas khusus itu adalah seorang operator radio berpangkat scrsan mayor dari sektor ini.

“Dia orang terbaik yang saya miliki,” komandannya, yang berpangkat kolonel, mcngcluh kepada wakilnya ketika orang-orang dari Komite Scnit.il telah pergi. “Baik? Mcnurut saya dia baik. Kalau diberi pcrlengkapan yang benar, dia bisa menangkap bunyi seekor kecoa yang scdang mcnggaruk pantatnya di California.”

Satu lagi orang yang ditarik dari posnya adalah scorang kolonel dari Angkatan Darat Soviet Scandainya dia mengenakan scragamnya, yang jarang dikenakannya, atributnya akan menunjukkan bahwa dia be rasa I dari kesatuan artilcri. Pada kenyataannya dia lebih menyerupai seorang ilmuwan daripada scrdadu, dan dia bckcrja di Direktorat Persenjataan, Divisi Riset

“Jadi,” kata Jenderal Pienaar ketika mereka sudah duduk di kursi kayu berjok kulit, mengitari meja kopi, “diplomat kami, Jan Marais. Bersalah-kah dia atau tidak?”

“Bcrsalah,” kata Preston, “amat sangat”

297

“Saya kira saya ingin mcndengar Anda membuktikannya, Mr. Preston. Di mana letak kesalahannya? Di mana dia berubah mcnjadi jahat?”

“Ia lidak berubah,” jawab Preston. “Ia tidak pernah salah melangkah. Anda sudah membaca riwayat hidupnya yang ditulLs tangan?”

“Ya, dan seperti mungkin sudah dikemukakan oleh Kapten Viljoen, kami juga sudah mengecck semuanya yang bcrkenaan dengan karicr orang itu mulai saat kelahirannya sampai saat ini. Kami (idak bisa menemukan ketidakcocokan.”

“Memang tidak ada,” kata Preston. “Kisah masa kecilnya seratus persen akurat sampai ke detail terakhir. Saya percaya bahwa bahkan hari ini pun dia pasti masih bisa mcnguraikan masa kecilnya itu sclama lima jam dengan lancar, tanpa membuat kcsalahan dalam satu detail pun.”

“Kalau begitu benar. Semuanya yang bisa dicek adalah benar,” kata sang Jenderal.

“Semua yang bisa dicek, ya. Semuanya benar sampai saat ketika kedua serdadu itu turun dari bagian belakang truk Jerman di Silesia dan mulai berlari. Setelah itu, semuanya dusta. Izinkan saya mcnjclaskan dengan memulainya dari ujung lain, dengan cerita tentang Frikki Brandt, orang yang melarikan diri bersama Jan Marais.

ŚPada tahun 1933 Adolf Hitler naik ke puncak kekuasaan di Jerman. Pada lahun 1935 seorang pekerja perkercta-apian Jerman bernama Josef Brandt pergi ke pcrwakilan Afrika Selatan di Ber—

298

lin dan mengajukan pcrmohonan untuk mcmperoleh visa emigrasi dengan alasan kemanusiaan—ia berada dalam bahaya dihukum mati karena ia bcrdarah Yahudi. Pcrmohonannya dikabulkan dan dia diberi visa untuk memasuki Afrika Selatan bersama keluarganya—keluarga muda. Arsip-arsip Anda sendiri telah mcngkonfirmasikan kebenaran permohonan dan pcngcluaran visa tersebut”

“Itu benar,” Jenderal Pienaar mengangguk. “Banyak sekali imigran Yahudi berdatangan ke Afrika Selatan selama masa kekuasaan Hitler. Arsip Afrika Selatan dalam masalah itu sangat bagus—lebih baik dibandingkan negara-negara lain.”

“Pada bulan September 1935,” Preston melanjutkan, “Josef Brandt bersama istrinya. Use, dan putranya yang berumur sepuluh tahun, Friedrich, naik kapal di Bremcrhavcn, dan enam minggu kemudian mereka turun dari kapal di East London. Saat itu jumlah masyarakat Jerman di sana cukup besar dan masyarakat Yahudi ada juga, sedikit. Brandt memilih untuk menctap di East London, dan mcn-cari pekerjaan di bidang perkcreta-apian. Seorang pejabat imigrasi yang baik hati memberitahu rabbi setempat mengenai keda tangan keluarga baru itu.

“Rabbi itu, seorang pemuda energik bernama Solomon Shapiro, mengunjungi pendatang-penda-tang baru tersebut dan berupaya menolong mereka dengan menganjurkan agar mcreka bergabung dengan perkumpulan sosial Yahudi di sana. Mcreka menolak, dan ia menyimpulkan bahwa mereka

299

ingin bcrasimilasi dengan masyarakat Gentile— masyarakat non-Yahudi. Rabbi ilu keccwa, tapi sama sekali tidak curiga.

“Kcmudian, di tahun 1938, anak itu, yang namanya sekarang sudah diafrikanisasikan menjadi Frederik, atau Frikki, sudah berumur tiga belas tahun. Sudah waktunya ia menjalani bar mitzvah-nya, yaitu masa akil balig bagi seorang anak laki-laki Yahudi. Bagaimanapun besarnya kcinginan keluarga Brandt untuk bcrasimilasi, itu mcrupakan upacara yang tcramat penting bagi scorang pria yang hanya punya seorang anak laki-laki. Walaupun tak scorang pun anggola keluarga itu pernah pergi kc shut—synagogue— Rabbi Shapiro mengunjungi keluarga itu untuk menanyakan apakah mcreka ingin dia mclaksanakan upacara itu. Mereka malahan memaki-maki dia dengan pedas, dan kecurigaannya sekarang mcnjadi kepasuan.”

“Kepaslian tcnlang apa?” tanya sang Jenderal, tidak mcngcrti.

“Kcpastian bahwa mereka bukan Yahudi,” kata Preston. “Begitulah yang dikatakannya kepada saya kemarin ma lam. Dalam upacara bar milzvah, anak laki-laki itu dibcrkati oleh sang rabbi. Tapi pertama-lama nibbi itu harus yakin akan kemurnian da rah Yahudi anak laki-laki itu. Dalam kepercayaan Yahudi, da rah Yahudi diwariskan dari pi-hak ibu, bukan dari pihak ayah. Si ibu harus bisa mcnunjukkan sebuah dokumcn yang disebut ke tubahy yang mcmbuktikan bahwa dia benar seorang Yahudi. Use Brandt tidak mcmiliki ketubah. Jadi upacara bar mitzvah tidak bisa dilaksanakan.”

“Jadi mcreka mcmasuki Afrika Sclatan dengan alasan palsu,” kata Jenderal Pienaar. “Tapi itu sudah amat sangat lama.”

“Lebih dari itu,” kata Preston. “Saya tidak dapat mcrjibuktikannya, tapi saya kira saya benar. Josef Brandt tidak berdusta waktu ia memberitahukan kepada perwakilan Anda—bcrtahun-tahun yang lalu—bahwa ia berada di bawah ancaman Gestapo. Bukan karcna ia Yahudi, mclainkan sebagai seorang militan, aktivis gcrakan Komunis Jerman. la tahu, kalau ia membcritahukan kenyataan itu kepada perwakilan Anda, ia tidak akan pernah mem-perolch visa.”

“Tcruskan,” kata sang Jenderal dengan sikap kesal.

“Pada saat ia berumur delapan belas tahun, Frikki tcrbius total oleh gagasan-gagasan ayahnya yang tcrselubung; ia telah mcnjadi scorang komunis yang siap bekerja unluk Comintern.

“Pada tahun 1943 dua orang pemuda masuk mcnjadi anggota Angkatan Darat Afrika Sclatan dan pcrgi kc mcdan perang: Jan Marais, dari Duiwelskloof, untuk mcmbela Afrika Selatan dan Persemakmuran Inggris, dan Frikki Brandt untuk mcmbela tanah air ideologinya, yaitu Uni Soviet

“Mereka tidak pcrnah bcrtemu di pusat latihan dasar, atau dalam konvoi pasukan, atau di Italia, atau di Moosberg. Tapi mcreka bcrtemu di Stalag

3(K)

301

344. Saya tidak tahu apakah Brandt sudah merencanakan pelariannya saat itu, tapi ia menu!in seorang pemuda yang jangkung dan berambut pirang sepcrti dia sendiri sebagai teman melarikan diri. Brandt-Ian yang bcrinisiatif untuk lari ke hutan ketika truk itu mogok.”

“Tapi bagaimana mcngenai pneumonia itu?” tanya Viljoen.

“Tidak ada pneumonia,” kata Preston, “mereka juga tidak jatuh ke tangan partisan Polandia Katolik. Lebih mungkin mcreka jatuh ke tangan par tisan Komunis, kepada siapa Brandt bisa berbicara dengan bahasa Jermannya yang fasih. Barangkali mcreka kemudian mcnycrahkan Brandt kepada Tcntara Mcrah, lalu kc NKVD, dengan Marais yang hanya terima nasib terus ikut dengan dia.

“Antara Maret dan Agustus 1945 dilakukanlah pcrtukaran itu. Semua pengakuan tentang sel-sel yang beku itu cuma omong kosong. Marais pasti sudah diperas habis-habisan untuk menccritakan masa kecilnya dan pendidikannya, dan Brandt pasti sudah menghafatkan itu sampai -walaupun bahasa Inggris tertulisnya kurang bagus—dia bisa menulis curriculum vttae itu dengan mata tertutup.

“NKVD—polisi rahasia Uni Soviet—barangkali juga mcmberi Brandt kursus kilat bahasa Inggris, mengubah penampilannya scdikit, memasangkan atribul atribut militer Marais di tubuhnya, dan dengan demikian siaplah mereka. Karena sudah tidak bcrguna lagi, Jan Marais barangkali lalu dibunuh.

302

“Orang-orang Soviet itu juga mcnggarap Brandt scdikit, memberinya scjumlah zat kimia untuk membuatnya nampak benar-benar sakit, dan mcnycrahkan dia kepada pihak Inggris di Potsdam, la dirawat di rumah sakit di Bielefeld, dan lebih lama lagi di luar Glasgow. Di musim dingin tahun 1945 hampir seluruh serdadu Afrika Sclatan sudah pulang; kecil kemungkinannya ia akan bcrtemu dengan seseorang dari Resimcn Wits/De La Rcy di Inggris. Pada bulan Descmber dia beriayar ke Cape Town, dan mendarat pada bulan Januari 1946.

“Ada scdikit masalah. Seseorang dari Markas Besar Pertahanan telah mengirimkan telegram kepada pctani tua Marais yang memberitahukan bahwa putranya akhirnya kcmbali, yang tadinya diberitakan sebagai ‘hilang, dianggap sudah tcwas.* Dan Brandt menjadi panik karena menerima sebuah telegram—dalam hal ini saya mengaku saya hanya mcreka-reka, tapi ini masuk akal—yang mcnganjurkan dia supaya pulang. Tentu saja, ia tidak mungkin muncul di Duiwclskloof. la lalu membuat dirinya sakit lagi dan berobat ke Rumah Sakit Militer Wynberg.

“Ayahnya yang sudah tua itu tidak man menu nggu lagi. Ia mcngirim telegram lagi, memberitahukan bahwa ia akan datang kc Cape Town. Dalam kepanikan Brandt menghubungi tenia n-temannya di Comintern, dan masalah itu dicarikan pemccahannya. Mcreka mcnabrak orang tua itu di

303

sebuah jalan scpi di Mootseki Valley, dengan membuatnya nampak sepcrti sebuah kecelakaan labrak-lari pada saat Marais sedang mengganti sebuah ban yang bocor. Selclah ilu, semua rencana Brandt bcrjalan dengan mulus. Pemuda itu tidak dapat pulang untuk menghadiri pemakaman—semua orang di Durwelskloof bisa memaklumi hal itu—dan ahli hukum Benson sama sekali tidak curiga ketika diminta untuk menjualkan tanah milik ilu dan mengirimkan hasil penjualannya ke Cape Town.”

Kchcningan di kantor itu hanya terusik oleh dengung seckor lalat di kaca jendela. Sang Jenderal mengangguk. “Masuk akal,” ia mengakui. “Tapi tidak ada bukti. Kita tidak dapat mcmbuktikan bahwa keluarga Brandt itu bukan orang Yahudi, apalagi bahwa mereka itu komunis. Bisakah Anda bcrikan kepada saya scsuatu yang bisa mcnghapuskan kcraguan ini?”

Preston mora ha sakunya dan mcngeluarkan foto itu, yang diletakkannya di mcja tulis Jenderal Pienaar. “Itu adalah foto—foto yang terakhir—Jan Marats yang asli. Seperti Anda lihat, dia adalah seorang pemain cricket yang andal waktu masih kanak-kanak. la seorang pclcmpar. Kalau Anda pcrhatikan, Anda akan mclihal bahwa jari-jarinya mencengkeram bola itu dengan cara seorang pc-lempar spm (pclintir). Anda juga akan mclihat bahwa ia kidal. Saya mcnghabiskan waktu lebih dari satu minggu untuk mcmpelajari Jan Marais

304

yang di London—dalam jarak dekat, melalui tc-ropong. Waktu dia mengemudi, merokok, ma kan, minum, dia jelas tidak kidal. Jenderal, kita bisa melakukan banyak hal untuk mengubah seseorang; kita bisa mengubah rambutnya, cant bicaranya, wajahnya, tingkah lakunya. Tapi kita tidak bisa mengubah seorang pclcmpar bola spin yang kidal mcnjadi orang yang tidak kidal.”

Jenderal Pienaar, yang telah bermain cricket se-paro dari umurnya, mcnatap foto itu. “Jadi orang apa yang kita punyai di London sana, Mr. Preston?”

“Jenderal, Anda mcmiliki seorang agen komunis scjati sampai kc lulang sumsumnya, yang telah bekerja dalam dinas luar negeri Afrika Selatan st l.i ma lebih dari cmpat puluh tahun tapi sebenarnya mcngabdi kepada Ini Soviet”

Jenderal Pienaar mengangkat matanya dari mcjanya dan memandang jauh kc se be rang lcmbah. kc Monumen Voortrekker. “Saya akan mcnghancurkan dia,” ia berbisik, “akan saya hancurkan dia mcnjadi berkeping keping dan saya kuburkan di hushueld—padang scmak bclukar itu.”

Preston berdehem. “Mengingat bahwa kami orang Inggris juga mcmpunyai masalah karena orang ini, bolehkah saya mcminta Anda untuk tidak mcnggunakan kekuasaan Anda sampai Anda sccara pribadi berbicara dengan Sir Nigel Irvine?”

“Baiklah, Mr. Preston,” Jenderal Pienaar menjawab, mengangguk. “Saya akan berbicara dengan

305

Sir Nigel Irvine lebih dulu. Sekarang, apa rencana Anda?”

“Ada flight kc London petang ini, sir. Saya akan pulang dengan ilu.”

Jenderal Pienaar bangkit dan mcngulurkan tangannya. “Selamat jalan, Mr. Preston. Kapten Viljocn akan mengantarkan Anda sampai kc pesawat Anda. Dan terima kasih atas ban man Anda.”

Dari hotel, scmcntara dia mengemasi kopcrnya, Preston menelepon Dennis Grey, yang lalu naik mobil dari Johannesburg untuk menjemput sebuah pesan untuk dikirim ke London dengan sandi rahasia. Preston mcmperoleh jawaban dua jam kemudian. Sir Bernard Hcmmings akan datang ke kantor hari berikutnya, yaitu hari Sabtu, unluk menjumpai dia.

Preston dan Viljoen berdiri di ruang pengantar pada jam 8.00 petang kurang sedikit, tcpat di saat panggilan terakhir untuk penumpang flight South African Airways dengan tujuan London diumumkan melalui pengeras suara. Preston memperlihatkan boarding pass-nya dan Viljocn menunjukkan kartu identitasnya yang scrba guna itu. Mereka berjalan menuju kc landasan yang dingin dan ge-lap.

“Saya akan mengucapkan ini untukmu. En gelsmany Anda seorang jagdhond yang sangat baik.”

“Terima kasih,” kata Prcslon. “Anda tahu apa artinya jagdhond?”

“Saya yakin,” kata Preston hati hati. “anjing pemburu di Cape ini lamban, kurang lincah, tapi sangat ulct.”

Untuk pertama kali sclama satu minggu itu Kapten Viljoen tertawa terbahak-bahak. Lalu tiba-tiba dia jadi scrius. “Botch saya menanyakan satu hal?”

“Ya.”

“Mengapa Anda melctakkan bunga di makam orang tua itu?”

Preston menatap pesawat yang menunggu itu, lampu-lampu kabinnya tcrlihat bendcrang dalam kegclapan remang-remang, dari jarak dua puluh meter. Penumpang-penumpang yang terakhir se-dang menaiki tangga.

“Mereka telah mengambil nyawa pulranya,” katanya, “kemudian mereka membunuh dia supaya dia tidak tahu kenyataan itu. Karcnanya, rasanya hal itu pantas saya lakukan.”

Viljocn mcngulurkan tangannya. “Selamat jalan, John, dan good luck.”

“Selamat tinggal, Andrics.”

Scpuluh menit kemudian, springbok—sejenis an-telop—(lambang South African Airways) di sirip pesawat jet itu mendongakkan hidungnya yang kaku ke angkasa dan pesawat lepas landas menuju ke utara dan Eropa.

DJlarajigmciig-konicrsil-kaJi atau kcsialan menimpa anda selamanya

307

306

10

SIR BERNARD HEM MINGS, dengan Brian Harcourt-Smith di sampingnya, duduk diam dan mendengarkan laporan Prcslon sampai dia selcsai.

“Ya Tuhan,” katanya dengan berat, ketika Preston sudah hcrhenti berbicara, “jadi tcmyata me-mang benar Moskow. Mcreka akan mencrima pcmbalasan. Kerugian pasti sangat besar. Brian, apa kedua orang itu masih di bawah pengawasan?”

“Yes, sir.”

Teruskan begitu sampai akhir pekan ini. Jangan membuat move untuk menycrgap sampai Komite Paragon punya kesempatan untuk mendengar apa yang telah kita pcroleh. John, aku tahu kau pasli capek sekali, tapi bisakah kau membuat laporan itu dalam bentuk tcrtulis besok malam?”

“Yes, sir.”

“Tolong letakkan di mcjaku pagi-pagi sekali hari Senin. Aku akan menghubungi semua anggola komite di rumah mereka masing-masing dan minta mcreka mengadakan rapat penting Senin pagi.”

308

Ketika Mayor Valeri Pelrofsky diantarkan ke ruang duduk di dacha mewah di Usovo itu, ia berada dalam kcadaan yang sangat tegang. Ia bclum pernah bcrtemu dengan Sekretaris Jenderal Partai Komunis Uni Soviet dan tidak pernah membayangkan akan mengalami hal itu.

Selama empat hari terakhir ia bingung dan hah kan sangat ketakutan. Sejak ditarik untuk mclaksanakan tugas khusus oleh direkturnya, ia dikucilkan dalam sebuah flat di pusat kota Moskow, dijaga siang-malam oleh dua agen dari Direktorat Utama Scmbilan, Pengawal Kremlin. Bukan scsuatu yang aneh kalau ia cemas akan kemungkinan yang tcrburuk, tanpa scdikit pun tahu apa kiranya kesalahan yang telah dilakukannya.

Lalu da tang instruksi mendadak, pclang itu hari Minggu, untuk mengenakan sctelan jas sipilnya yang tcrbaik dan ikut dengan pengawal-pcngawal itu turun ke bawah, menuju sebuah mobil Chaika yang scdang mcnunggu, yang kemudian membawanya kc Usovo. Ia tidak mcngenali dacha ke mana ia dibawa.

Hanya setelah Mayor Pavlov mcmbcritahu dia, “Kamerad Sekretaris Jenderal akan menjumpai Anda sekarang,” maka ia sadar ia sedang berada di mana. Tcnggorokannya kering saat ia mclangkah melcwati pintu menuju ruang duduk. Ia bcrusaha menenangkan diri, mcngatakan pada dirinya sendiri bahwa ia dengan sopan dan sejujurnya

309

akan menjawab semua tuduhan yang dilemparkan padanya nanti.

Di dalam ruangan itu ia bcrdiri tegak dalam sikap siap. Orang tua yang duduk di kursi roda itu mengamatinya selama bebcrapa menit, lalu mengangkat tangannya dan menunjuk ke depan. Petrofsky membuat empat langkah pendek dan bcrhcnti lagi, tetap dalam sikap siap. Tapi ketika pemimpin Soviet itu berbicara, tcrnyata sama sekali tidak ada nada menuduh dalam suaranya. Ia berbicara dengan cukup IcmbuL

“Mayor Petrofeky, kau bukan boneka pajangan di toko pakaian. Maju ke sini ke tempat terang, supaya aku bisa melihatmu. Dan silakan duduk.”

Petrofsky tertegun. Dipersilakan duduk di hadapan Sekretaris Jenderal, bagi seorang mayor muda, merupakan scsuatu yang tidak pernah di dengarnya. Ia melakukan apa yang diperintahkan, duduk di bibir kursi yang ditunjuk, punggungnya tegak, dan kedua lututnya rapat.

“Kau… kira-kira, tahukah kau mengapa aku me-manggilmu?”

“Tidak, Kamerad Sekretaris Jenderal.”

“Memang, aku kira tidak. Penting sekali bahwa tidak ada yang tahu. Aku akan memberitahukan kepadamu.

“Ada sebuah misi yang hams dilaksanakan. Hasilnya merupakan sesuatu yang tak terukur pentingnya bagi Uni Soviet dan bagi kejayaan Revolusi. Kalau berhasil, manfaatnya bagi negeri kita

310

tidak tcrnilai; kalau gagal, kerugiannya bagi kita merupakan bencana. Aku telah memilih kau, Vale-ri Alexeivitch, untuk mengemban misi itu.”

Perasaan Petrofsky campur-aduk. Kctakutannya tadi bahwa ia akan dijatuhi hukuman dan dibuang berganti dengan sukacita yang meluap-Iuap, yang hampir-hampir tak terkendali. Sebagai seorang mahasiswa yang cemerlang di Universitas Moskow, ia telah dicabut dari cita-citanya untuk berkarier di Kementerian Luar Negeri untuk dibina sebagai salah satu pemuda cemerlang di Direktorat Utama Satu; scjak ia dengan sukarela mengajukan permintaan untuk menjadi anggota Direktorat Ilegal yang elit dan dilerima, ia senantiasa memimpikan ditugaskan dalam sebuah misi yang penting. Tapi khayalannya yang paling hcbat pun tidak pernah sampai ke yang seperti ini. Akhirnya ia mem-beranikan diri memandang sang Sekretaris Jenderal, langsung ke matanya. “Terima kasih, Kamerad Sekretaris Jenderal.”

“Orang-orang lain akan memberikan briefing mengenai detail-detailnya,” sang Sekretaris Jenderal melanjutkan. “Waktu sangat sempit, tapi kau telah dilatih untuk memanfaatkan seluruh kemampuan kita yang paling canggih, dan kau akan bisa mendapatkan semua yang kauperlukan untuk misi ini.

“Aku ingin bertemu dcnganmu karena satu alas-an. Ada sesuatu yang harus dijelaskan kepadamu, dan aku memutuskan untuk memintanya sendiri

311

darimu. Kalau operasi ini bcrhasil—dan aku tidak mcragukan keberhasilannya—kau akan pulang ke sini dengan kenaikan pangkat dan pcnghormalan luar biasa yang tak pcrnah kaubayangkan. Aku akan mcngatur itu.

“Tapi kalau ada yang salah, kalau polisi dan tentara negeri kc tempat mana kau akan dikirim bcrgerak untuk menangkapmu, kau harus melakukan suatu tindakan tanpa ragu untuk memastikan bahwa kau tidak akan ditangkap dalam keadaan hidup. Kau mengerti, Valeri Alexeivitch?”

“Ya, saya mengerti, Kamerad Sekretaris Jenderal.”

“Ditangkap hidup hidup, diinterogasi secara ke-jam, dipatahkan—oh, ya, di zaman ini itu mungkin terjadi, tidak akan ada cadangan keberanian yang bisa melawan zat-zat kimia—’ditelanjangi’ di hadapan konferensi pers internasional—semua itu sama seperti hidup di neraka. Tapi kerugian yang diderita Uni Soviet karena hal seperti itu, yang didcrita negcrimu ini, tak akan bisa diperkirakan dan tak bisa diperbaiki.”

Mayor Petrofsky mcnarik napas dalam-dalam.

“Saya tidak akan gagal,” katanya. “Tapi kalau itu

terjadi, saya tidak akan pernah ditangkap dalam

kcadaan hidup.”

Sang Sekretaris Jenderal menekan sebuah tombol di bawah meja dan pintu terbuka. Mayor Pavlov berdiri di sana.

“Sekarang pergilah, anak muda. Kau akan

312

diberitahu di sini di rumah ini, oleh seseorang yang mungkin sudah pernah kaujumpai, mengenai misi itu. Lalu kau akan pergi kc tempat Iain lagi untuk menerima briefing intensif. Kita tidak akan bertcmu lagi—sampai kau kembali kelak.”

Ketika pintu tertutup di bclakang kedua mayor dari KGB itu, sang Sekretaris Jenderal mcnatap sebentar ke nyala api yang menjilat-jilat dari balok-balok kayu di perapian. Orang muda yang begitu bermutu, pikirnya. Sungguh sayang.

Saat Petrofsky mengikuti Mayor Pavlov melewati dua lorong panjang menuju wisma tamu, ia merasa rongga dadanya seakan tidak sanggup menahan emosi pengharapan dan kebanggaan yang bergejolak di dalamnya.

Mayor Valeri Alexeivitch Petrofsky adalah seorang scrdadu dan patriot Rusia. Waktu mempelajari bahasa Inggris habis-babisan, ia kenal dengan pepatah “mati untuk Tuhan, Raja, dan ne-gara” dan ia mcmahami artinya. Ia tidak punya Tuhan, tapi ia dipcrcaya melaksanakan sebuah misi oleh pemimpin negerinya, dan ia bertekad, saat ia berjalan melalui lorong-lorong di Usovo itu, bahwa jika saatnya tiba ia tidak akan mundur dari apa yang harus dilakukannya.

Mayor Pavlov berhenti di depan sebuah pintu, mengetuk, dan mendorongnya sampai terbuka. Ia melangkah ke pinggir untuk memberi jalan masuk bagi Petrofsky. Lalu pintu ditutupnya dan ia berlalu dari situ.

313

Scorang pria bcrambul pulih bangkit dari kursi dekal meja yang penub dengan kertas dan pela, dan mclangkah maju. Ia (ersenyum, mengulurkan langannya. “Jadi Anda Mayor Petrofsky.”

Petrofsky hcran melihat orang itu bicara dengan lergagap. la mcngcnal wajah ini, walaupun mereka bclum pernah saling jumpa. Dalam kisah-kisah klasik FCD (Direktorat Utama Salu) yang diajar-kan kepada para agen pemula, orang ini adalah salah satu dari apa yang dijuluki sebagai “Lima Bintang”, seorang laki-laki yang harus dihormati, orang yang mcwakili salah satu dari kemenangan-kcmcnangan gcmilang idcologi Soviet terbadap ka-pitalisme. “Ya, Kamerad Kolonel,” katanya.

Philby telah mempclajari file-nya sampai ia benar-benar paham. Petrofsky baru berumur tiga puluh enam dan telah dilatih selama satu dekade untuk bisa bcrpcran sebagai orang Inggris. Ia sudah pcrnah kc Inggris dua kali untuk membiasakan diri, dan dalam setiap kunjungan itu ia berada dalam penyamaran total, linggal jauh-jauh dari Kedutaan Soviet, dan tidak melakukan misi apa-apa. Kunjungan oricntasi seperti itu cuma dimaksudkan untuk membuat para ilegal—scbclum mereka benar-benar bcroperasi— membiasakan diri dengan apa saja yang kclak akan mereka lihat lagi; hal-hal schari-hari seperti mcmbuka rekening bank, ber-tcngkar dengan pengendara mobil lain dan tahu harus berbuat apa, menggunakan kereta bawah ta-314

nab London, dan senantiasa mcningkatkan pemakaian ckspresi-ekspresi slang yang mutakhir.

Philby tahu bahwa orang muda yang berada di depannya itu tidak hanya bisa berbahasa Inggris dengan scmpurna, tapi ucapannya juga sempurna dalam cm pat akscn daerah yang berbeda-beda dan menguasai bahasa Welsh dan Irlandia tanpa cela. Ia sendiri lalu berbahasa Inggris.

“Silakan duduk,” katanya. “Begini, saya hanya akan mcnguraikan garis besar misi ini. Orang-orang lain akan menguraikan rinciannya. Waktunya sempit, sangat sempit, jadi Anda harus bisa mcnyerap semuanya lebih cepat dari yang pernah Anda lakukan dalam hidup Anda.”

Scmcntara mereka berbicara, Philby sadar bahwa setelah tiga puluh tahun meninggalkan tanah airnya, dan walaupun ia terus membaca semua koran dan majalah dari Inggris yang bisa dipcro-lchnya, tcrnyata sekarang dialah yang tidak up-to-date, dialah yang ungkapannya kaku dan kuno. Orang Rusia muda itu berbicara seperti scorang Inggris modern yang sebaya dengan dia.

Philby mcmbutuhkan dua jam untuk mcnguraikan garis besar rencana yang disebut Aurora itu dan apa saja tujuannya. Petrofsky menycrap semua detailnya dengan lahap. Ia sangat tcrkesan dan kagum akan kebcranian rencana itu.

“Anda akan mcnggunakan bebcrapa hari berikut ini untuk bcrtemu dengan sebuah tim yang beranggotakan cmpat orang saja. Mereka akan mem—

315

beri briefing mengenai scrangkaian nama-nama, tempat-tempat, tanggal, waktu-waktu transmisi, rendezvous, dan rendezvous penopang. Anda harus menghafalkan semuanya itu. Satu-satunya perlengkapan yang perlu Anda bawa hanyalah sejumlah buku catatan yang hanya sekali-pakai. Well, cukup sekian saja.”

Petrofsky duduk di situ dan mengangguk menanggapi apa yang baru saja disampaikan kepadanya. “Saya telah berjanji kepada Kamerad Sekretaris Jenderal bahwa saya tidak akan gagal,” katanya. “Semua akan dilaksanakan seperti direncanakan dan tcpat pada waktunya. Jika komponen-komponennya sudah siap, semuanya akan segera dilaksanakan.”

Philby bangkit. “Bagus, kalau begitu saya akan minta Anda diantar balik kc Moskow ke tempat Anda akan mcnghabiskan waktu yang tersisa sampai saat keberangkatan Anda.”

Ketika Philby melintasi ruangan menghampiri telepon rumah, Petrofsky tcrkejut mendengar bunyi coo yang keras dari suduL la menolch dan melihat sebuah sangkar besar yang berisi seekor burung dara yang bagus dengan sepotong kayu kecil terikat di kakinya. Philby menycringai untuk mc-nyatakan maaf. “Saya mcnamainya Hopalong,” katanya sambil menelepon Mayor Pavlov untuk kcmbali ke situ. “Saya menemukan dia di jalanan di musim dingin yang lalu dengan sayap dan kakinya

316

paiah. Sayapnya telah pulih tapi kakinya masih menyulitkan dia.”

Petrofsky melcwati sangkar itu dan mcnggurat jerujinya dengan kuku jarinya. Tapi burung dara itu mclompat-lompat menjauhinya. Pintu mcmbuka dan Mayor Pavlov masuk. Seperti biasa, dia tidak mengucapkan apa-apa, tapi mcmberi isyarat kepada Petrofsky untuk mengikuti dia.

“Sampai bertcmu lagi, scmoga sukses,” kata Philby.

Pada hari Senin langgal 23 Ma ret, anggota-anggola Komite Paragon bcrtemu untuk mendengarkan laporan Preston.

“Jadi,” kata Sir Anthony Plumb, membuka rapat itu, “sekarang kita scdikitnya sudah tahu apa, di

mana, kapan, dan siapa. Kita masih bclum tahu mengapa.”

“Juga tidak tahu berapa banyak,” sela Sir Patrick Strickland. “Pcrkiraan kcrugian masih bclum dilakukan dan kita harus mcmbcritahu sckutu-sekutu kita. Walaupun bclum ada sesuatu yang sensitif—kecuali satu dokumcn fiktif—yang terbang ke Moskow scjak Januari.”

“Setuju,” kata Sir Anthony. “Baiklah, gentlemen, saya kira kita harus berscpakat bahwa saat untuk mclakukan penyelidikan lebih lanjut sudah lewat Bagaimana akan kita tangani orang ini? Ada usul? Brian?”

Brian Harcourt-Smith hadir tanpa direktur

317

jenderalnya, dan mewakili MI-5 seorang diri. Ia memilih kata-katanya dengan hati-hati. “Kita beranggapan bahwa dengan Berenson, Marais, dan Benotli sebagai perantaranya, maka rangkaiannya sudah lengkap. Dinas Keamanan bcrpendapat bahwa kemungkinan adanya lebih banyak agen yang lerlibat dalam rangkaian ini amal kecil. Berenson pasti dianggap sangat penting, dan kami beranggapan, kemungkinan besar seluruh rangkaian itu dibentuk hanya untuk menangani dia saja.”

Yang hadir di sekeliling meja ilu mengangguk.

“Dan rekomendasi Anda?” tanya Sir Anthony.

“Kita amankan saja mereka semua, gulung seluruh komplotan itu,” kata Harcourt-Smith.

“Ada scorang diplomat asing yang lerlibat,” Sir Hubert Villiers dari Kementcrian Dalam Negeri berkeberatan.

“Saya kira Pretoria akan bersedia melepaskan haknya atas kekebalan dalam masalah ini,” kata Sir Patrick Strickland. “Jenderal Pienaar pasti sudah melaporkan semua ini kepada Mr. Botha saat ini. Mereka pasti juga menginginkan Marais setelah dia kita interogasi nanti.”

“Well, nampaknya sudah cukup jelas keputusannya,” kata Sir Anthony. “Kau bagaimana, Nigel?”

Sir Nigel Irvine sejak tadi tews menatap ke langit-Iangit, seakan tenggelam dalam permenungannya. Pertanyaan itu rupanya membangunkan dia. “Aku cuma sedang berpikir,” katanya perlahan. “Kita ambil mereka. Tews apa?”

318

“Interogasi,” kata Harcourt-Smith dengan kctus. “Kita bisa segera memulai menjajaki perkiraan kerugian dan memberitahu sekutu-sekutu kita mengcnai kegiatan seluwh komplotan itu untuk scdikit membuat pil pahit itu terasa man is.”

“Ya,” kata Sir Nigel, “itu bagus. Tapi setelah itu apa?” Ia mulai menyebut sekretaris-sckretaris dari tiga kementerian dan KabineL “Saya pikir kita mempunyai cmpat pilihan. Kita bisa mengambil Berenson dengan dakwaan rcsmi berdasarkan Un-dang-undang Kerahasiaan Negara (Official Secrets Act), yang mcmang perlu kita lakukan kalau kita menahan dia. Tapi apakah kita benar-benar punya kasus hukum yang bisa kita ajukan kc pengadilan? Kita tahu bahwa kita benar, tapi apa bisa kita buktikan itu mclawan suatu pembclaan hukum ke-las satu? Di luar semua itu, suatu penahanan dan dakwaan resmi akan menimbulkan skandal besar, yang pasti akan merupakan pukulan bagi pemerintah.”

Sir Martin Flannery, Sekretaris Kabinet, memahami poin ini. Tidak seperti yang Iain-Iain di ruangan itu, ia tahu akan rencana untuk menyelenggarakan pemilihan umum pendadakan di mu-sim panas nanti, sebab Perdana Menteri telah membcritahukan hal ini kepadanya secara sangat rahasia. Sebagai seorang pejabat pemerintah yang sudah mengabdi seumur hidup dan berasal dari aliran kuno, Sir Martin telah memberikan loyalitasnya secara penuh kepada pemerintah yang se-319

karang, seperti halnya dengan tiga pemerintah sebclumnya, dua di antaranya dari Partai Buruh. Ia akan mcmbcrikan loyalitas yang sama kepada semua pemerintah penerusnya yang dipilih secara demokratis. Ia mengcrutkan bibirnya.

“Atau,” kata Sir Nigel lagi, “kita bisa membiarkan saja Berenson dan Marais, tapi mcncoba mensuplai Berenson dengan dokumcn-dokumcn yang diubah isinya untuk ditcruskan kc Moskow. Tapi itu tidak akan berlangsung lama. Berenson terialu tinggi stalusnya dan terlalu banyak tahu schingga sulit dilipu dengan cara seperti itu.”

Sir Peregrine Jones mengangguk. Ia tahu bahwa dalam poin yang satu itu Sir Nigel benar.

“Atau kita bisa mcngambil Berenson dan mencoba membuat dia bekerja sama secara total dalam mclakukan perkiraan kerugian dengan mcnawarkan kepadanya kckcbalan dari tuntutan. Secara pribadi, saya tidak suka kckcbalan diberikan kepada pengkhianaL Kita tidak bisa tahu apakah mcreka telah memberitahukan seluruh kebenaran atau telah mcmbohongi kita, seperti yang dulu dilakukan Blunt Dan pengaturan seperti itu nantinya akan diketahui umum juga, discrtai dengan skandal

yang lebih buruk.”

Sir Hubert Villicrs, yang kementeriannya berisi pejabat-pejabat hukum negara, menggumam setuju. Ia juga tidak suka akan transaksi kckcbalan, dan mereka semua tahu bahwa Perdana Menteri juga bcrsikap begitu.

320

“Jadi rupanya cuma tinggal,” pimpinan SIS ilu melanjutkan dengan lancar, “pilihan penahanan tanpa penjajakan, dan interogasi ketat. Dengan kata lain, tingkat tiga. Saya mungkin bcrpikiran kuno, tapi terus it-rang saya tidak pcrcaya kepada cara itu. Mungkin saja ia akan mcngakui lima puluh dokumcn, tapi tak scorang pun dari kita akan bisa tahu sampai kita mati nanti, apakah tidak ada lima puluh lagi yang tidak diakuinya.”

Situasi hening sebentar.

“Semua itu memang kurang enak,” Sir Anthony Plumb setuju, “tapi rupanya kita harus mengikuti usul Brian kalau tidak ada usul-usul lain.”

“Barangkali ada satu,” kata Sir Nigel dengan lembut. “Begini. Mungkin saja penunjukan Berenson sebagai mata-mata dilakukan dengan mcnggunakan pendekatan false-flag atau bendera palsu.”

Kebanyakan yang nadir paham apa arlinya penunjukan false-flag, tapi Sir Hubert Viiliers dari Kcmcntcrian Dalam Negeri dan Sir Martin Flannery dari Kabinet mengcrutkan kening karena tidak mengerti. Sir Nigel mcnjelaskan.

“Itu berkenaan dengan penunjukan scorang agen oleh orang-orang yang pura-pura bckcrja untuk suatu negara, tcrhadap mana si agen bersimpati, padahal sebenarnya mcreka bckcrja untuk negara lain. Mossad-nya Israel sangat ahli dalam mcnggunakan tcknik ini. Dengan kemampuannya mencetak agen-agen yang bisa menyamar sebagai hampir semua bangsa di muka bumi ini, orang-321

orang Israel itu telah sering mcrnbuat ‘scngatan-sengatan* yang mcngagumkan dengan cara false-flag.

“Misalnya: Seorang warga Jerman Baral yang scu’a yang scdang bckcrja di Timur Tengah didekati ketika scdang cuti di negcrinya oleh dua rckan Jcrmannya yang, dengan mcnunjukkan bukti-bukti kuat, menyatakan kepadanya bahwa mcreka mcwakili BND, dinas intclijcn Jerman Ba-raL Mcreka lalu mcngarang ccrita bahwa scorang Prancis yang bckcrja di proyck yang sama dengan dia mcmbocorkan formula-formula tcknologi rahasia yang dilarang kcluar oleh NATO. Maukah orang Jerman itu membanlu negcrinya sendiri dengan cara melaporkan kembali apa yang terjadi? Sebagai seorang Jerman yang loyal dia setuju, dan bcrtahun-tahun dia bckcrja demi kepentingan Mos-sad lanpa disadarinya. Hal-hal seperti ini sering terjadi.

“Nampaknya masuk akal,” Sir Nigel mclanjutkan. “Kita semua sudah mempelajari file Berenson sampai kita bosan mclihatnya. Tapi dengan apa yang kita ketahui itu, mungkin sekali tcknik false-flag merupakan jawaban dari masalah ini.”

Scjumlah besar yang nadir mengangguk ketika mcreka mcngingat kcmbali isi file Berenson. la mcmulai karicrnya, langsung sctclah lulus dari uni-versilas, di Kementerian Luar Negeri. Ia mencatat kemajuan cukup baik, bertugas di luar negeri untuk tiga misi dan Icrus naik pangkat secara man—

322

tap, malahan mungkin secara istimewa, di kalang an korps diplomatik.

Di pertcngahan tahun 196f>an ia mcnikah dengan Lady Fiona Glen dan tak lama setelah itu ditugaskan di Pretoria, di sana dia ditemani oleh istrinya yang baru dinikahinya. Mungkin di sana itulah, karcna berada di tengah-tengah keramahan masyarakat Afrika Sclatan yang tradisional dan hampir tak berbatas, ia mulai mcnaruh simpati dan mcngagumi negeri itu. Dengan pemerintah Partai Buruh yang scdang berkuasa di Inggris dan Rhodesia yang scdang mcmbcrontak, kekaguman Berenson akan Pretoria yang semakin tcrus tcrang dinyatakannya tidak mendapal sambutan cukup di tanah airnya.

Ketika kcmbali kc Inggris pada tahun 1969, dia mendengar bahwa posnya yang berikutnya mungkin kurang kontrovcrsial—katakan saja, ke Bolivia. Orang-orang di kalangan diplomatik hanya bisa menduga, tapi sangat mungkin bahwa Lady Fiona, yang berscdia mencrima Pretoria sebagai sesuatu yang tidak dapat dihindari, sama sekali tidak sc-nang mcmbayangkan bahwa ia harus meninggal kan kuda kuda yang dicintainya dan kchidupan sosialnya di London untuk mcnghabiskan tiga tahun yang mcmbosankan di Pcgunungan Andes sana.

Apa pun alasannya, George Berenson akhirnya minta dipindahkan kc Kementerian Pcrtahanan, yang di Kementerian Luar Negeri dianggap

323

sebagai turun penghasilan. Tapi dengan kekayaan istrinya, ia tidak pcduli. Dengan bcrkurangnya bc-ban kcrja diplomatik dari pundaknya, ia mulai menjadi anggota berbagai perkumpulan pcrsahabat-an pro-Afrika Selatan, yang biasanya mcnjadi wa-dah bagi mereka yang beraliran kanan.

Sir Peregrine Jones, paling tidak, tahu bahwa simpati Berenson yang tcrlalu kentara tcrhadap aliran kanan menyulitkan dia, Jones, untuk mcrc-komendasikan Berenson agar bisa mcmpcrolch gc-lar kebangsawanan, sesuatu yang sekarang disadarinya mungkin telah mcmbangkitkan rasa tidak scnang dalam diri Berenson.

Setelah mcmbaca laporan itu satu jam yang lalu, para pejabat senior itu tadinya menganggap bahwa simpati pro-Afrika Selatan Berenson hanyalah ke-dok bagi simpatinya yang terselubung terhadap Soviet. Tapi kini gagasan Sir Nigel Irvine telah memberikan perspektif lain kepada masalah tersebut

“False-flag?1* Sir Paddy Strickland tepekur. “Maksudmu, ia mcngira ia mcmbocorkan rahasia itu ke Afrika Selatan?”

“Pikiranku tak bisa lepas dari tcka-teki ini,” kata pimpinan SIS. “Scandainya dia mcmang seorang simpatisan Soviet atau seorang komunis terselubung, mengapa Pusat tidak menangani dia melalui seorang agen pcngcndali Soviet? Aku bisa membayangkan sedikitnya lima orang di kedutaan me—

324

rcka yang mampu mclakukan tugas seperti ilu dengan sama baiknya.”

“Well, aku mengaku tidak tahu,” kata Sir Anthony Plumb. Pada saat itu ia mcngangkat wajahnya dan bcrtemu pandang dengan Sir Nigel. Irvine dengan cepat mcnurunkan sebelah kelopak matanya dan mcnaikkannya lagi. Sir Anthony memaksakan pandangannya kcmbali kc file Berenson di hadapannya. Kau bajingan licin, Nigel, pikirnya, kau pura-pura tidak yakin. Kau sebenarnya tahu pasti.

Sesungguhnya, dua hari scbclumnya, Andreyev telah mclaporkan sesuatu yang menarik. Tidak banyak, cuma obrolan santai di kantin yang lerletak di dalam Kedutaan Soviet Andreyev scdang mi-num dengan seorang anggota Jalur N dan berbicara tcntang masalah-masalah pcrdagangan secara umum. Ia mcnyinggung-nyinggung tcntang manfaat—pada saat-saal tertcntu—penunjukan dengan teknik false-flag. Anggota Direktorat Ilegal itu tertawa, mengedipkan mala, dan mencpuk sisi hidungnya dengan jari telunjuknya. Andreyev mc-nafsirkan isyarat itu sebagai mcmpunyai arti bahwa mcmang ada operasi false-flag yang sedang dilcrapkan di London saat ini dan agen Jalur N itu mcngetahui sesuatu tcntang itu. Sir Nigel, ketika mendengar tentang hal itu, juga berpendapat sama.

Suatu gagasan lain muncul di benak Sir Anthony. Kalau kau mcmang tahu, Nigel, ilu pasti karena kau punya sumber langsung di dalam rezi—

325

aentura mcreka. Kau scrigala ccrdik. Kemudian ada gagasan Iain, yang kurang enak: Mcngapa kau tidak mcngatakannya dengan lerus tcrang? Mcreka semua seratus pcrscn bisa dipercaya, yang hadir di mcja ini, tidakkah begitu? Suatu perasaan yang kurang nyaman mcnjalari henaknya. Ia mcngangkat wajahnya. “Well, kukira scbaiknya kita mempertimbangkan gagasan Nigel dengan scrius. Itu masuk akal. Bagaimana mcnurut kau, Nigel?”

“Orang itu adalah pengkhianat, tak ada kcraguan tcntang itu. Kalau dokumcn-dokumcn yang dikembalikan secara anonim itu ditunjukkan kepadanya, aku bcrani mcmaslikan, ia pasti akan sangat ler-guncang. Tapi kalau ia lalu diminta mclihat laporan John Preston itu, dan ia memang mcngira bahwa selama ini ia berbuat untuk Pretoria, kurasa ia tidak akan bisa menutupi kcgagalannya lagi. Tapi, scandainya selama ini dia memang scorang komunis tcrsclubung, ia pasti sudah tahu tcntang siapa Marais sebenarnya, jadi dia tidak akan tcrlalu ter-kcjuL Kukira seorang pengamat yang tcrlatih akan bisa melihal bedanya.”

“Dan kalau itu tcrnyata memang suatu pendekatan false-flag?” tanya Sir Perry Jones.

“Kalau begitu kukira dia akan mau bckerja sama secara penuh dan tidak hanya tcrbalas pada perkiraan kcrugian saja. Juga, kukira ia bisa di-bujuk untuk ‘bcrbalik’ secara sukarcla, schingga kita bisa mcluncurkan opcrasi disinformasi besar—

326

besaran tcrhadap Moskow. Nah, itu akan mcnjadi satu poin plus besar untuk para sekulu kita.”

Sir Paddy Strickland dari Kementerian Luar Negeri puas mendengar kcterangan itu. Akhirnya di-sctujui untuk melaksanakan taklik Sir Nigel.

“Satu hal terakhir: siapa yang akan menemui dia?” tanya Sir Anthony.

Sir Nigel berdehem. “Well, tentu saja itu tcr-serah kepada Lima,” katanya, “tapi suatu opcrasi disinformasi melawan Pusat adalah wewenang Enam untuk menangani. Lalu, kcbctulan aku tahu orangnya. Sebenarnya, kami dulu satu sckolah.”

“Good Lord? scru Plumb. “Ia scdikit lebih muda darimu, kan?”

“Lima tahun, tepalnya. Ia dulu biasa mcmbcrsihkan scpatuku.”

“Baiklah. Semua setuju? Ada yang tidak setuju? Kau mcnang, Nigel. Bolch kauambil dia, dia pu-nyamu. Be ri tahu kita bagaimana perkembangannya nanti.”

Pada hari Sclasa tanggal 24 Ma ret. scorang turis Afrika Sclatan dari Johannesburg tiba di Bandara Heathrow London, di sana dia melcwati pemcriksaan rutin tanpa kcsulitan. Ketika dia kcluar dari ruang pemcriksaan pabcan dengan menjinjing kopcrnya, scorang pria muda menghampirinya dan mcnggumamkan sebuah pcrtanyaan di telinganya. Orang Afrika Sclatan yang gemuk ilu mengangguk membenarkan. Pria muda itu lalu mcngangkat

327

kopcmya dan mcnganlar dia keluar menghampiri sebuah mobil yang sudah mcnunggu.

Bukannya menuju kc arah London, pengemudi mobil itu malahan mengambil ring road M25 dan kemudian M3 yang menuju Hampshire. Satu jam kemudian mcreka berhenti di depan sebuah rumah country yang bagus di luar Basingstoke. Orang Afrika Selatan itu, setelah melepaskan jasnya, diantarkan kc dalam ruang pcrpustakaan. Dari kursi dekat perapian, scorang Inggris yang mengenakan pakaian country dari bahan tweed dan yang sebaya dengannya, bangkit untuk mcnyalaminya.

“Henry Pienaar, scnang sekali bcrtemu denganmu lagi. Sudah lama sekali. Selamat datang di Inggris.”

“Nigel, bagaimana kabarmu selama ini?”

Pimpinan-pimpinan dari kedua dinas intelijcn itu punya waktu satu jam scbelum makan siang dihidangkan, jadi sctclah bcrbasa-basi sccukupnya, dengan serius mereka berbicara tcntang masalah yang membawa Jenderal Pienaar ke rumah country milik SIS untuk kcpcrluan mcnampurg tamu-tamu terhormat tapi tersclubung.

Menjelang petang. Sir Nigel Irvine telah berhasil mencapai kcscpakalan yang dikchendakinya. Afrika Sclatan setuju untuk mendiamkan saja Jan Marais dan mcmberi kesempatan pada Irvine untuk meluncurkan operasi disinformasi besar-besar-an melalui George Berenson, dengan menganggap bahwa ia mau bckcrja sama.

328

Inggris akan mclakukan pengawasan total atas Marais; dengan kewajiban untuk memastikan bahwa Marais tidak akan punya kesempatan untuk mclarikan diri ke Moskow, scbab sekarang Afrika Sclatan juga mcmpunyai masalah pcrkiraan kcrugian mereka sendiri—yang nilainya cmpat puluh tahun.

Sclanjutnya juga disepakati bahwa apabila operasi disinformasi itu telah diluncurkan, Irvine akan memberitahu Pienaar bahwa Marais sudah tidak diperlukan lagi. Warga Afrika Selatan itu akan dipanggil pulang, pihak Inggris akan “mcngaman-kan” dia kc atas pesawat jet Afrika Sclatan, dan anak buah Pienaar akan mclakukan penangkapan saat jet itu masih di udara—yaitu jika sudah berada di wilayah kcdaulatan Afrika Sclatan.

Setelah makan malam, Sir Nigel mohon diri; mobilnya menunggu di luar. Pienaar akan mcnginap, sedikit shopping di daerah West End London besoknya, dan pulang menumpang pesawat petang.

“Jangan sampai dia lolos,” kata Jenderal Pienaar saat mcngantarkan Sir Nigel ke pintu. “Aku menginginkan bajingan itu pulang kc rumah akhir tahun ini.”

“Kau akan mendapatkan dia,” Sir Nigel bcrjanji. “Cuma scmcntara ini jangan sampai dia ditakut-takuti.”

Sementara pimpinan NIS scdang mencari sesuatu di Bond Street untuk Mrs. Pienaar, John Preston berada di Charles Slreet untuk bcrtemu dengan Brian Harcourt-Smith. Wakil Direktur Jenderal sedang dalam suasana hati yang ceria.

“Well, John, kukira kau pantas diberi selamat. Komite sangat terkesan dengan penemuan-penemuanmu di Afrika Sclatan.”

“Terima kasih, Brian.”

“Ya, sungguh. Mulai saat ini semuanya akan ditangani oleh Komite. Aku tidak bisa mengatakan apa tepatnya yang akan dilakukan, tapi Tony Plumb minta aku untuk menyampaikan penghargaan khususnya. Nah, sekarang”—ia membentangkan kedua tangannya dan meletakkannya di atas mejanya—”tentang masa depan.”

“Masa depan?”

“Bcgini, aku punya sedikil dilema. Kau sudah menangani kasus ini selama delapan minggu, sebagian dari itu di jalanan bersama para pelacak, scbagian besar di basement di Cork, lalu di Afrika Sclatan. Selama itu March muda itu, wakilmu, telah mengelola C1(A), dan membcrikan kesan

baik kepada semua orang.

“Nah, aku tanya diriku sendiri, apa yang sebaiknya kulakukan untuk dia? Kukira tidak enak jika aku sampai mengecewakannya—padahal, dia sudah pernah bcrtugas di semua kementerian, membuat usulan-usulan yang sangat bcrmanfaat dan bebcrapa pcrubahan positif.”

Pasti dia begitu, pikir Preston. March masih

330

muda dan sangat ambisius, pantas sekali menjadi pengikut Harcourt-Smith.

“Bcgini, aku tahu kau baru scbclas minggu berada di C1(A), dan itu sangat pendek, tapi mcnim-bang bahwa kau telah membuat prestasi yang sangat bagus, ini merupakan momentum yang bagus untuk melangkah maju lagi. Aku telah berbicara dengan pihak Personalia dan kebetulan sekali, Cranlcy dari C5(C) mcngambil pensiun dini di akhir minggu ini. Istrinya, sudah lama sekali sakit dan ia bermaksud membawanya kc Lake District. Jadi ia memutuskan untuk pensiun dan mcninggalkan posnya. Kupikir kau akan cocok di situ.”

Preston mcrcnung. “C5(C)? Pelabuhan dan bandara?” ia bertanya.

Suatu pekcrjaan liaison—penghubung—lagi. Imigrasi, Pabean, Cabang Khusus, Pasukan Anti Kejahatan Khusus, Pasukan Anti Narkotik—semua ini mcmantau pelabuhan dan bandara, mengamati semua pribadi yang mencurigakan yang bcrusaha mcmbawa diri mcreka sendiri atau barang ilegal mereka kc dalam negeri ini. Preston curiga bahwa C5(C) ini tugasnya mcmungut apa saja yang tklak dapat dimasukkan ke dalam kategori divisi lain.

Harcourt-Smith mengangkat telunjuknya seakan menjatuhkan vonis. “Itu penting, John. Tanggung jawab khususnya, tentu saja, adalah untuk terus bersikap waspada tcrhadap para ilegal dan kurir dari Sovbloc (blok Soviet)—dan scbagainya. Ini

331

akan banyak berhubungan dengan hal-hal yang kausukai.”

Dan juga akan mcnjauhkan dirinya dari kanlor pusat scmcntara pcrjuangan untuk mercbut kursi direktur jenderal terus berlangsung, pikir Preston. Pada dasarnya Preston sebenarnya masih merupakan anak buah Hemmings, dan ia sadar bahwa Harcourt-Smith juga tahu akan hal itu. Ia nicnim bang-nimbang akan melancarkan protes terhadap ini, minta bcrtemu dengan Sir Bernard, dan me-ii 11 rit 111 supaya dia tidak dipindahkan.

“Bagaimanapun, aku ingin kau mencobanya dulu,” kata Harcourt-Smith. “Kan masih tetap di Gordon, jadi kau tidak perlu pindah.”

Preston tahu ia sudah kalah. Harcourt-Smith telah mcnghabiskan separo hidupnya mempelajari scluk beluk sLstcm di kantor pusat. Scdikitnya, pikir Preston, ia akan menjadi orang lapangan lagi, walaupun masih tetap menangani pekcrjaan yang discbutnya sebagai cuma “pekcrjaan polisi” biasa.

“Kuharap kau sudah bisa mulai pada tanggal satu bulan depan,” demikian Harcourt-Smith mcnyimpulkan.

Jumat itu, tanggal 27 Maret, Mayor Valeri Petrofsky diam-diam mcmasuki Inggris.

Ia diterbangkan dari Moskow ke Zurich, menggunakan surat-surat identitas Swedia, lalu mcmasukkan surat-surat itu ke dalam sebuah amplop yang disegcl yang dialamatkan kc sebuah markas

332

KGB yang aman di kota itu, dan mengambil surat-surat lain yang mcmbcrinya identitas sebagai scorang insinyur Swiss, yang sudah disiapkan un-luknya dalam amplop lain yang disimpan di sebuah kantor pos di sekitar kawasan bandara. Dari Zurich dia lalu tcrbang kc Dublin.

Di dalam pesawat yang sama ada pengawalnya, yang tidak tahu dan tidak peduli akan apa yang dilakukan orang yang harus dikawainya. Pcngawal ini cuma melaksanakan tugasnya saja. Di sebuah ruangan di International Airport Hotel di Dublin, barulah kedua orang ini bcrtemu. Petrofsky menanggalkan seluruh pakaiannya dan mcngcmbalikan pakaian gaya Eropa-nya. Ia lalu mengenakan pakaian yang dibawa pengawalnya dalam kopcrnya sendiri—pakaian gaya Inggris dari kcpala sampai ujung jari kaki, ditambah sebuah koper bcrisi sc-pcrangkat kepcrluan menginap seperti piama, sikat gigi, alat cukur, novel yang sudah dibaca separo, dan pakaian cadangan.

Pcngawal itu telah mengambil sebuah amplop dari papan penampung pesan-pesan di bandara, telah dipersiapkan oleh agen Jalur N di kedutaan di Dublin dan ditempelkan ke papan pesan itu cmpat jam scbclumnya. Amplop ilu berisi sobekan tiket sebuah pertunjukan malam scbclumnya di Eblana Theatre, sebuah tanda terima kcterangan menginap semalam di New Jury’s Hotel untuk malam scbclumnya dengan menggunakan nama yang sesuai, dan sctengah dari tikct pergi-pulang

333

London-Dublin dengan perusahaan penerbangan Acr Lingus.

Akhirnya, Petrofsky mcnerima paspor barunya. Ketika ia kembali ke bandara dan mclakukan check-in, tak scorang pun curiga. Ia adalah seorang pria Inggris yang sedang dalam perjalanan pulang dari acara bisnis satu hari kc Dublin. Tidak ada pengecekan paspor antara Dublin dan London; di London sendiri, penumpang-penumpang yang baru liba harus mcnycrahkan boarding pass atau sobekan tiketnya sebagai identifikasi. Mcreka juga dipcriksa oleh dua pctugas dari Cabang Khusus yang wajahnya acuh tak acuh, yang nampaknya tidak waspada, tapi sebenarnya jarang sekali Input mcngawasi apa saja. Kcduanya bclum pcrnah mclihat wajah Petrofsky sebab ia bclum pernah memasuki Inggris melalui Heathrow Airport. Seandainya mcreka berlanya, ia akan dapat mcnunjukkan sebuah paspor Inggris yang scmpurna atas nama James Duncan Ross. Itu adalah dokumcn yang tidak mungkin bisa dinyatakan tidak benar oleh Kantor Paspor, karcna alasan yang sangat kuat dan sedcrhana, yaitu bahwa Kantor Paspor scndirilah yang telah menerbi&an paspor tersebut.

Berhasil melewati pabcan tanpa pemcriksaan, agen Rusia itu naik taksi menuju King’s Cross Station. Di sana ia menghampiri sebuah locker bagasi yang kuncinya sudah dipunyainya. Locker itu adalah satu dari scjumlah locker di scluruh ibu kota Inggris, yang disewa secara pcrmanen oleh

334

agen Jalur N di kedutaan. Dari locker tersebut agen Rusia ilu mcngcluarkan sebuah bingkisan, yang masih bcrsegel, persis seperti saat bingkisan itu ditcrima melalui jalur pos diplomatik di kedutaan dua hari scbclumnya. Agen Jalur N itu tidak mclihat apa isinya, dan juga tidak ingin. Ia juga tidak mcnanyakan mengapa bingkisan itu harus ditinggalkan dalam sebuah locker tcrtcntu di sebuah stasiun kereta api. Ia tidak bcrhak untuk mempertanyakan pcrinlah.

Petrofsky mcmasukkan bingkisan itu kc dalam tasnya, tanpa dibuka. Ia bisa membukanya nanti, dengan santai. Ia sudah tahu apa isinya. Dari King’s Cross ia naik taksi lain, mcnyebcrangi London menuju Liverpool Street Station, dan di sana ia naik kereta api petang kc Ipswich, distrik Suffolk, di sana, tepal pada saat makan malam, ia check-in di Great White Horse Hotel.

Seandainya seorang polisi yang ingin tahu memaksa untuk mclihat isi bingkisan yang terdapat dalam tas tangan pria Inggris muda itu, maka ia akan lerhcran-heran. Sebagian isinya adalah sebuah pistol otomatis Sako buatan Finlandia dengan ma-gas in pelurunya diisi penuh dan setiap ujung pelurunya dengan teliti digurat dalam bentuk X. (Jurat -an itu diisi dengan campuran gelatin dan konsentral potassium sianida. Peluru ilu tidak hanya akan membuat lubang di lubuh manusia, tapi luka karcna racun sianida itu tidak mungkin akan bisa diobati.

335

Bagian lain dari isi bingkisan itu adalah legenda tokoh James Duncan Ross. “Legenda”, dalam ka-Iangan spionase, artinya sebuah kisah hidup fiktif dari seseorang yang tidak pcrnah ada, yang didukung oleh scrangkaian dokumen nyata dari her bagai jenis dan bentuk. Biasanya, tokoh yang dipakai untuk mendasari legenda ini pcrnah hidup di masa lalu, tapi meninggal dalam keadaan tanpa jejak dan tidak mcnimbulkan gejolak. Idcntitasnya kemudian diambil alih dan tokohnya dihidupkan kcmbali, walaupun kcrangka orang mati itu tidak bisa bangun lagi, dengan didukung oleh dokumen-dokumen yang meliput masa lalu dan masa kini dari legenda tersebut.

James Duncan Ross yang asli, atau kcrangkanya yang masih tersisa, telah bertahun-lahun membusuk di semak-semak lebat di tepi Sungai Zambezi. Ia dilahirkan pada tahun 1950, putra Angus dan Kirstie Ross dari Kilbride, Skotlandia. Di tahun 1951, Angus Ross, bosan dengan hidupnya yang hanya bergantung kepada ransum yang dibcrikan oleh Inggris setelah perang, mcmutuskan untuk beremigrasi bersama istri 3an bayi laki-laki mereka ke Rhodesia Selatan. Kualifikasinya sebagai in sinyur mcmbuatnya mendapatkan pekcrjaan sebagai perancang pcralatan dan mesin-mesin pertanian dan di tahun 1960 ia mampu mendirikan usahanya sendiri.

Ia mcnjadi makmur, dan mampu mengirimkan James muda ke sebuah sekolah dasar yang baik

336

untuk kemudian melanjutkan ke Michaclhouse. Pada tahun 1971 pemuda itu, dengan kcharusan masuk wajib militer yang telah dipenuhinya, seharusnya bisa bergabung dengan ayahnya di perusahaan miliknya. Tapi saat itu Rhodesia dipimpin oleh Ian Smith, dan perang melawan kaum gcrilya yang dipimpin oleh Joshua Nkomo dari ZIPRA dan Robert Mugabe dari ZANLA semakin meng-hebat.

Semua pemuda yang sehat dimasukkan ke dalam pasukan tcntara cadangan, dan masa wajib militer menjadi semakin panjang. Di tahun 1976, ketika sedang bertugas dalam pasukan Light Infantry Rhodesia, James Ross tertangkap dalam suatu serangan mendadak ZIPRA di tepi selatan Sungai Zambezi dan terbunuh. Para gcrilyawan ZIPRA mcngepungnya, menelanjanginya, dan mcnghilang kcmbali kc basis mcreka di Zambia.

Ross sebenarnya tidak mcmbawa identitas apa-apa, tapi tepat scbelum berangkat berpalroli ia mencrima scpucuk sural dari pacarnya dan memasukkannya kc dalam saku baju tcmpurnya. Sural itu terbawa kc Zambia dan jatuh ke tangan KGB.

Seorang perwira KGB yang sangat senior, Vassili Solodovnikov, saat itu mcnjadi duta besar di Lusaka, dan mengelola berbagai jaringan mata-mata di scluruh Afrika bagian selatan. Salah salu anggota jaringan ini mengambil sural gadis itu yang dialamatkan kepada James Ross dengan

337

alamat pengirim rumah orangtuanya. Penelusuran pertama terhadap serdadu muda itu mcmbcrikan hasil yang bcrmanfaat: kclahiran Inggris, Angus Ross dan pulranya, James, bclum pcrnah mcnang-galkan paspor Inggrisnya. Jadi KGB menghidupkan lagi tokoh James Duncan Ross ini.

Pada saat, setelah Rhodesia merdeka dan diganti namanya mcnjadi Zimbabwe, Angus dan Kirstie Ross bcrtolak kc Afrika Sclatan, James (yang sudah mati) mcmutuskan untuk kcmbali ke Inggris. Tangan-tangan yang tidak kelihatan mencuri sebuah copy akte kelahirannya dari Somerset House di London; tangan-tangan lain mcngisi dan mengirimkan formulir pcrmohonan untuk sebuah paspor baru. Pengecckan dilakukan, dan pcrmohonan itu dikabulkan.

Dalam upaya menciptakan sebuah legenda yang bagus, sejumlah besar agen dimanfaatkan dan i ibu -an jam dihabiskan. KGB tidak pcrnah kckurangan orang dan kesabaran untuk hal-hal seperti ini. Rekcning-rckcning bank dibuka dan ditutup; SIM-SIM dengan tepat diperpanjang sebelum habis masa berlakunya; mobil-mobil dibcli dan dijual kcmbali, schingga nama itu tcrcatat di komputer Pusat Pcndaftaran Kendaraan. Pekerjaan diatur dan kenaikan pangkat diadakan; surat-surat refcrensi dipcrsinpkan, dana pensiun pcrusahaan juga diadakan. Salah satu tugas staf intelijen yang masih berstatus junior adalah menjaga agar dokumen-dokumcn tersebut tetap up to date.

338

Tim tim lain mcngurus masa lalunya. Apa nama julukan tokoh ini di masa kanak-kanaknya? Di mana ia dulu bersekolah? Nama julukan apa yang dibcrikan oleh anak-anak di sckolah untuk guru IPA mereka? Apa nama anjing keluarga?

Pada saat legenda itu sudah lengkap—dan itu bisa mcmakan waktu bcrtahun-tahun—dan sctclah semua data tersebut dihafalkan oleh penyandang-nya yang baru, diperlukan lagi berminggu-minggu untuk meluncurkannya, untuk mcmastikan apakah sudah cukup aman untuk diluncurkan. Semua ini-lah yang kini berada dalam benak Petrofsky dan di dalam kopernya. Dia adalah—dan bisa membuktikan bahwa dia adalah—James Duncan Ross, yang sedang pindah dari West Country untuk mengambil alih perwakilan East Anglian dari sebuah pcrusahaan yang berkantor pusat di Swiss, yang bcrgerak di bidang marketing software komputer. Ia memiliki rekening koran yang cukup bonafid di Barclays Bank, Dorchester, Dorset, yang sekarang akan ditransfcrnya ke sekitar Colchester. Ia telah bcrlatih mcnggorcskan tanda tangan Ross dengan scmpurna.

Inggris adalah negara yang sangat menghargai privacy. Mungkin satu-satunya di dunia, orang Inggris tidak perlu mcmbawa identitas apa-apa di tubuhnya. Scandainya ada yang menanyakannya, sebuah sural yang dialamatkan padanya biasanya sudah cukup, scakan itu sudah mcmbuktikan scga-lanya. Sebuah SIM, walaupun SIM Inggris tidak

339

ada folonya, sudah dianggap cukup. Seseorang adalah orang itu kalau ia mengaku begitu.

Ketika ia menikmati makan malamnya, malam itu, di Ipswich, Valeri Alexeivitch Petrofsky me-rasa sangat percaya diri, dan memang itu pantas— bahwa tak scorang pun akan meragukan bahwa ia adalah James Duncan Ross. Sctclah sclesai makan, ia menghampiri meja resepsionis, mencari buku petunjuk telcpon komcrsial Yellow Pages dan membukanya di bagian agen real-estate.

340

11

SEMENTARA Mayor Petrofsky makan malam di Great White Horse di Ipswich, bcl pintu berdering di apartcmcn di lantai dclapan Fonlcnoy House di Bclgravia. Pintu dibuka oleh pemiliknya, George Berenson. Scjenak ia tcrtegun mcnatap sosok yang bcrdiri di hadapannya itu. “Good Lord. Nigel….”

Mereka saling mengenal tapi tidak pernah akrab, walaupun dulu pernah belajar di sekolah yang sama dan kadang-kadang bertemu muka dalam kaitan pekcrjaan mereka di Whitehall.

Pimpinan SIS itu mengangguk dengan sopan tapi resmi. “Malam, Berenson. Bolch aku masuk?”

“Tentu, tentu, dengan senang hati….”

George Berenson nampak kebingungan, walaupun ia tidak tahu apa maksud kunjungan itu. Pcng-gunaan nama bclakang oleh Sir Nigel Irvine tadi, tanpa scbutan penghormatan, mcnunjukkan bahwa kunjungan itu bcrsifat ramah tapi sama sekali bukan santai. Tidak akan ada scbutan santai nama kecil “George” dan “Nigel”.

341

“Lady Fiona ada di rumah?”

“Tidak, dia scdang pcrgi ke salah satu per temuan sosialnya. Di sini hanya ada kita hcrdua.”

Sir Nigel sudah tahu itu sebenarnya. Tadi ia duduk mcnunggu di mobilnya dan mcnyaksikan istri Berenson pcrgi scbclum ia melangkah masuk.

Melepaskan mantclnya tapi tetap mcmcgang las kantornya. Sir Nigel dipersilakan duduk di sebuah kursi di ruang duduk, kurang dari tiga meter jauhnya dari lemari besi dinding di balik cermin yang kini sudah dipcrbaiki. Berenson duduk bcrhadapan dengan dia.

“Well, apa yang bisa kulakukan untukmu?”

Sir Nigel membuka tasnya dan dengan hati hati membebcrkan sepuluh helai fotocopy di atas meja kopi yang permukaannya dari kaca itu. “Kukira barangkali ada manfaatnya kalau kaulihat ini.”

Berenson dengan diam mengamati copy yang paling atas, mcngangkatnya untuk memeriksa copy yang di bawahnya, dan kemudian yang ketiga. Sampai pada yang ketiga ia berhenti dan melctakkan semuanya itu kcmbali. Wajahnya sangat pucat, tapi ia masih bisa mcngcndalikan diri. Pandangannya masih tertuju pada ke kertas-kcrtas itu. “Kukira aku tidak bisa mcngatakan apa-apa….”

“Tidak perlu banyak-banyak,” kata Sir Nigel dengan tenang. “Itu dikirimkan kcmbali kepada kami beberapa waktu yang lalu. Kami tahu bagaimana kau bisa kehilangan dokumcn-dokumen itu—kurang mcnguntungkan dari scgimu. Sctclah

342

itu dikembalikan, kami mclakukan pengawasan atas dirimu selama beberapa waktu, mengamati peng-copy-an dokumen Ascension Island, penye-rahannya kepada Bcnotti dan kemudian kepada Marais. Ini cukup gawat”

Hanya sedikit dari yang dikatakannya itu bisa dibuktikan, scbagian besar adalah gcrtakan bclaka; ia tidak ingin Berenson tahu belapa lemahnya ka-sus hukum terhadap dia. Wakil Pimpinan Pengamanan Pcrtahanan mencgakkan duduknya dan mcngangkat wajahnya. Kini tibalah saat pcmbclaan diri, pikir Irvine, upaya pembenaran diri. Aneh kalau dipikirkan bahwa mcreka semua sclalu menempuh pola yang sama. Berenson memandang kepadanya. Nampak ia akan melakukan perlawan-an.

“Well, karcna kau sudah tahu sekarang, apa yang akan kaulakukan?”

“Menanyakan beberapa hal,” Sir Nigel menjawab. “Misalnya, sudah bcrapa lama ini berlangsungť dan mcngapa kau mclakukannya?”

Walaupun ia bcrusaha kuat mcngcndalikan diri, Berenson masih nampak bingung schingga tidak mempertanyakan satu poin sedcrhana: bukanlah tugas Pimpinan SIS untuk mclakukan interogasi seperti ini. Mata-mata yang bckcrja untuk negara asing biasanya ditangani oleh kontra-intelijen. Tapi cmosinya untuk membcla diri mengalahkan kemampuannya untuk mcnganalisa.

343

“Menjawab pcrtanyaan yang pertama, sudah dua tahun lebih.”

Bisa lebih parah, pikir Sir Nigel. Ia tahu, Marais sudah berada di Inggris hampir tiga tahun, tapi Berenson bisa saja sudah ditangani oleh seorang agen Afrika Selatan pro-Soviet sebelum itu. Rupanya tidak.

“Menjawab yang kedua, mcnurut aku jawabannya sudah jelas.”

“Anggaplah aku agak lamban memahami,” kata Sir Nigel. “Jclaskan padaku. Mcngapa?”

Berenson menarik napas dalam-dalam. Barangkali, seperti banyak mata-mata lain sebelum dia, dia sudah cukup sering mempcrsiapkan pembclaan dirinya di benaknya, bcrdebat di depan pengadilan nuraninya sendiri—alau yang dianggapnya begitu.

“Sudah lama aku berpendirian bahwa satu-satu-nya pcrjuangan di planet ini yang patut dilakukan adalah pcrjuangan melawan komunisme dan im-perialisme Soviet,” ia memulai.

“Dalam pcrjuangan itu, Afrika Selatan merupakan salah satu pilar penunjang. Barangkali malahan pilar utama, kalau bukan salu-satunya, di wilayah sebelah sclatan Sahara. Sudah lama aku hcr-pendapat adalah sia-sia dan mcrugikan diri sendiri bahwa kekuatan-kekuatan Barat, berdasarkan alas-an moral yang tidak jelas, memperlakukan Afrika Sclatan scakan ia penderita kusta, mcngucilkannya dari semua rencana gabungan kita untuk menentang ancaman global Soviet.

344

“Aku sudah lama punya keyakinan bahwa Afrika Selatan telah diperlakukan dengan sangat buruk oleh kekuatan-kekuatan Barat, bahwa adalah salah dan bodoh mencegahnya ikut dalam pcrencanaan contingency kemungkinan masa datang—NATO.”

Sir Nigel mengangguk, seakan gagasan itu be-lum pcrnah dipikirkannya. “Dan kau berpendapal adalah benar dan layak jika kau mencoba menutup kesalahan itu?”

“Ya, aku berpendapal begitu. Dan, walaupun aku tahu ada Official Secrets Act—Undang-undang Kerahasiaan Negara, aku tetap berpendapal begitu.”

Kecongkakan itu, pikir Sir Nigel, selalu ada kecongkakan seperti itu, penilaian diri sendiri yang terlalu berlebihan dari orang-orang yang cacat pribadinya. Nunn May, Pontecorvo, Fuchs, Prime— benang kecongkakan itu menjalari jiwa mereka semua: hak yang ditetapkan sendiri untuk berperan sebagai Tuhan, keyakinan bahwa si pengkhianat itu sendiri yang benar dan semua rekannya tolol, bercampur dengan kecendcrungan gila kekuasaan—dengan ciri-ciri penyalahgunaan wewenang dengan cara pembocoran rahasia negara untuk mencapai tujuan-tujuan yang diyakininya dan selalu membuat rckan-rckan scjawatnya di negcrinya sendiri terheran-heran—rekan-rckan yang mcmban-lu dia mempcroleh kenaikan pangkat dan penghargaan.

“Mmmmm. Coba jelaskan, apakah kau memulai

345

semua inf karena inisiatifmu sendiri atau karcna inisiatif Marais?”

Berenson bcrpikir sejenak. “Jan Marais adalah seorang diplomat, jadi ia berada di luar batas wcwcnangmu,” katanya. “Tidak ada salahnya jika kujawab. Itu adalah inisiatifnya. Kami bclum pernah saling bcrtemu ketika aku bcrtugas di Pretoria. Kami bcrtemu di sini, tidak lama sctclah dia da-tang. Kami menemukan bahwa kami punya banyak persamaan pandangan. Ia mengatakan padaku, seandainya kelak timbul konflik dengan Uni Soviet, Afrika Sclatan harus berdiri sendiri di bclahan bumi bagian sclatan, menjaga rute-rute vital dari Samudcra Hindia kc Atlantik Selatan, dan barangkali dengan dikepung oleh basis-basis Soviet di scluruh pclosok Afrika Hitam. Kami berdua berpendapal, bahwa dengan tidak adanya indikasi mengenai bagaimana NATO kclak akan bcropcrasi di dua wilayah ini, Afrika Sclatan akan mcnjadi tidak bcrdaya, walaupun ia sebenarnya merupakan se-kutu kita yang paling setia di kawasan itu.”

“Argumcntasi yang sangat kuat.” Sir Nigel mengangguk dengan rasa scsal. “Kau perlu tahu, ketika kami mclacak Marais sebagai pengendali-mu, aku mencmpuh risiko dan mcngajukan nama itu langsung kc Jenderal Pienaar. Ia mcnyangkal bahwa Marais pernah bekerja untuk dia.”

“Well, pasti dia akan bersikap begitu.”

“Ya, itu jelas. Tapi kami lalu mcngirimkan scorang agen ke sana untuk mengceek kebenaran

346

pengakuan Pienaar. Barangkali kau perlu melihat ini.” Ia mcngcluarkan dari tasnya laporan Preston sekembalinya dia dari Pretoria, dengan foto masa kanak-kanak Marais yang diklip di bagian atas.

Dengan mcngangkat bahu Berenson mulai mcmbaca ketujuh balaman ukuran kuarto itu. Di satu bagian tertentu ia mcngisap napasnya dengan la jam, mendorongkan buku-buku tangannya ke dalam mulutnya, dan mcnggigitnya. Setelah membalik halaman terakhir, ia mcnutupkan kedua tangannya kc wajahnya dengan tubuh terayun-ayun ke bclakang dan kc depan pcrlahan-lahan. “Oh, my God,” ia mendesah, “apa yang telah kulakukan ini?”

‘Tcrus tcrang saja, kcrugian yang sangat parah,” kata Sir Nigel. Ia mcmbiarkan Berenson menyerap seluruh kesengsaraannya tanpa diselanya. Ia duduk menyandar dan memandang tanpa belas kasihan kepada pejabat pemerintah yang telah hancur itu. Bagi Sir Nigel, Berenson hanyalah salah satu pcngkhianal rendah yang bisa mengucapkan sum-pah sucinya kepada Sri Rain dan negcrinya, lalu untuk kepentingan dirinya sendiri mcngkhianati semuanya itu. Orang yang derajatnya sama rendahnya, kalau bukan marlabatnya juga, dengan Donald Maclean.

Berenson tidak pucat lagi sekarang, tapi kclabu. Ketika tangannya diturunkannya dari wajahnya, ia nampak jauh lebih tua. “Apakah ada—apa saja— yang bisa kulakukan?”

347

Sir Nigel mcngangkal harm, scakan cuma scdikit yang bisa dilakukan Berenson untuk mcmpcrbaiki kesalahannya. Ia memutuskan untuk mcnusuk-nusukkan pisaunya sedikit lagi. “Jelas ada pihak-pihak yang menghendaki kau dan Marais segera ditangkap. Pretoria telah mencabut haknya atas kckcbalan diplomatik Marais. Kau akan diberi juri kclas mencngah, yang setengah baya—pengadilan kcrajaan akan men catur itu. Mcreka orang-orang yang injur, tapi tidak licin. Mcreka mungkin tidak akan pcrnah pcrcaya bahwa pengendalian dengan cara false-flag mcmang dilakukan terhadapmu. Yang kubicarakan ini adalah hidupmu— dan dengan umurmu yang sekarang ini, kasusmu ini benar-benar bisa mcnghabiskan seturuh hidupmu—di penjara Parkhurst atau Dartmoor.”

Ia membiarkan ucapannya itu mengendap dulu beberapa menit, lalu dilanjutkannya lagi, “Sekarang ini, aku telah bcrhasil mcminta laksi garis kcras tadi untuk mcnahan diri dulu—untuk beberapa waktu. Ada jalan lain….”

“Sir Nigel, aku akan mclakukan apa pun. Sungguh. Apa pun.”

Benar sekali, pikir pimpinan SIS itu, sungguh amat benar. Scandainya saja kau tahu. “Ada tiga hal sebenarnya,” katanya kcras. “Satu, kaulanjut-kan bekerja seperti biasa di kementerian seakan tidak pcrnah terjadi apa-apa, mcnjalankan peranan-mu, tugasmu sehari-hari, jangan sampai ada riak di pcrmukaan air yang tenang.

348

“Dua, di sini di apartemen ini, setelah gelap dan bila perlu sepanjang malam, kau harus membantu kami melakukan perkiraan kerugian. Satu-satunya jalan untuk meringankan kerugian yang telah diderita adalah bahwa kita harus mcngetahui semuanya, setiap informasi yang sudah lari ke Moskow. Kalau kau menyembunyikan salu titik atau satu koma saja, maka kau akan dipcras dan digarap sampai mati.”

“Ya, ya, pasti. Aku bisa melakukan itu. Aku masih ingat setiap dokumcn yang pcrnah ku-bocorkan. Semua…. Ec, kau bilang tadi ada tiga hal.”

“Ya,” kata Sir Nigel, mengamati kuku-kuku jarinya. “Yang ketiga agak rumit. Kau harus tetap berhubungan dengan Marais….”

“Aku… apa?”

“Kau tidak perlu bcrtemu dengan dia. Aku lebih senang kalau kau tidak bcrtemu lagi dengannya. Menurulku, kau tidak cukup pandai berakting untuk bisa menyembunyikan penyamaran ini jika kau berhadapan dengan dia. Lakukan saja dengan cara seperti biasa, yaitu kontak melalui telepon dengan mcnggunakan kode-kode kalau kau akan mengirimkan sesuatu.”

Berenson benar-benar bingung sekarang. “Ki riman apa?”

“Bahan-bahan yang akan disiapkan oleh anak huahku, bckcrja sama dengan sektor-scktor lain, untukmu. Disinformasi istilahnya. Selain tugasmu

349

untuk bckcrja sama dengan orang-orang dari Kementerian Pertahanan mengenai pcrkiraan kerugian, aku ingin kau juga bekerja sama denganku. Kita akan membuat kerusakan besar di pihak Soviet”

Berenson mcnggapai-gapai seperti orang tenggclam yang diberi sebatang jura mi untuk bernapas. Lima menit kemudian, Sir Nigel bangkit. Orang-orang yang akan menangani pcrkiraan kerugian akan datang setelah akhir pekan ini. Ia berjalan keluar dari tempat itu. Ketika berjalan di lorong menuju lift, diam-diam ia mcrasa puas. Ia berpikir tentang laki-laki yang hancur dan kctakutan itu, yang baru saja ditinggalkannya. “Mulai saat ini, kau bajingan, kau bekerja buat aku,” ia bcrgumam.

Gadis muda yang bertugas di front office di Oxborrows mencngadah ketika seseorang yang tak dikenal masuk. Ia memandang pcnampilan laki-laki itu dengan penuh minat. Tinggi scdang, tubuh tcgap dan nampak bugar, dengan scnyum tcrsungging, rambut coklat kacang, dan mata berwarna hazel (coklat muda). Ia mcnyukai mata hazel itu.

“Bisa saya bantu?”

“Saya harap begitu. Saya baru di daerah ini, tapi saya dibcritahu bahwa Anda menyewakan rumah-rumah.”

“Oh, ya. Anda scbaiknya berbicara dengan Mr.

350

Knights. Ia yang menangani urusan sewa-mcnyc-wa. Boleh tahu nama Anda?”

Ia tersenyum lagi. “Ross,” katanya, “James Ross.”

Gadis itu menckan sebuah tombol dan berbicara ke interkom. “Ada seorang pria bernama Mr. Ross di depan, Mr. Knights. Masalah rumah. Dapatkah Anda mencmuinya?”

Dua menit kemudian, James Ross sudah duduk di kantor Mr. Knights. “Saya baru saja pindah dari Dorset untuk mengambil alih East Anglia untuk pcrusahaan saya,” ia memulai bicara dengan santai. “Kalau bisa, saya ingin istri dan anak-anak saya mcnyusul kemari secepatnya.”

“Barangkali Anda bcrmaksud mcmbcli rumah, kalau begitu?”

“Sekarang belum. Kita kan biasanya ingin melihat-Iihat dulu, rumah seperti apa yang cocok. Untuk itu dibutuhkan waktu cukup lama. Kedua, mungkin saja saya tidak akan tcrlalu lama berada di sini. Tergantung pada kantor pusat. Begitulah.”

“Tentu, tentu.” Mr. Knights bisa mcmahami sepenuhnya. “Sewa jangka pendek akan mcmbantu Anda untuk membiasakan diri dengan daerah ini sambil menunggu keputusan apakah Anda akan menetap?”

“Tepat sekali,” kata Ross. “Singkatnya begitu.” “Dengan perlcngkapan atau kosong?” “Dengan perlengkapan, kalau Anda punya yang begitu.”

351

“Tidak ada masalah,” kata Mr. Knights, menggapai setumpuk brosur. “Rumah-rumah tanpa perlcngkapan hampir tidak mungkin didapat jika buru-buru. KJta tidak sclalu bisa meminta penghuninya keluar dengan segera di akhir masa sewa. Nah, ini kami ada cmpat yang mungkin cocok dengan kondisi Anda saat ini.”

Ia memberikan brosur-brosur itu kepada Mr. Ross. Yang dua jelas terlalu besar untuk seorang commercial represen taiive—wa k i I da ga n g—ya n g sibuk, karena mcmbutuhkan banyak perawatan. Dua yang lain cukup mcmadai. Mr. Knights punya waktu satu jam dan ia lalu mcmbawa kliennya dengan mobil untuk meninjau kedua rumah itu. Yang satu nampaknya cocok sekali, sebuah rumah dari ha la yang rapi, yang terletak di jalan yang tcrsusun juga dari bata, di sebuah lingkungan komplcks pemukiman—di salah satu cabang Belstead Road.

“Rumah ini milik Mr. Johnson,” kata Mr. Knights saat mcreka turun kc lantai bawah, “seorang insinyur yang dikontrak bekerja di Saudi Arabia selama satu tahun. Tapi masa sewanya tinggal enam bulan.”

“Saya kira itu tidak jadi masalah,” kata Mr. Ross.

Alamatnya adalah Chcrryhayes Close No. 12. Semua nama jalan di sckitarnya berakhir dengan kata “hayes”, sehingga scluruh komplcks itu dike n a 1 sebagai “The Hayes”. Brackenhayes, Gor—

352

schayes, Almondhayes, dan Healhcrhayes mengitari tempat itu. Chcrryhayes No. 12 tcrpisah dari trotoar oleh jalur rumput sclebar kira-kira dua meter dan tidak bcrpagar. Garasi mobil dihubungkan dengan salah satu sisinya—Petrofsky tahu bahwa ia akan mcmcrlukan sebuah garasi. Halaman belakangnya kecil dan bcrpagar, bisa die apa i melalui sebuah pintu dari dapumya yang kecil. Lantai bawahnya mcmiliki pintu depan dari kaca berpanel yang menuju sebuah lorong masuk yang sempit. Lurus dengan pintu depan ilu terletak tang-ga yang menuju lantai atas. Di bawah tangga itu ada lemari penyimpan sapu.

Lalu masih ada ruang duduk tunggal di depan dan dapur di ujung lorong masuk, antara tangga dan ruang duduk. Di lantai atas ada dua kamar tidur, satu di depan satu di bclakang, dan kamar mandi. Rumah itu tidak nampak menonjol dan tcrbaur di antara rumah-rumah bata yang lain yang bercorak sama di jalan itu, kebanyakan dihuni oleh pasangan-pasangan muda, si suami bekerja di hi dang komersial atau industri, dan islrinya merawat rumah dan satu atau dua anak. Tipe rumah yang pas untuk seorang pria yang scdang mcnunggu istri dan anak-anaknya bergabung dengannya dari Dorset di akhir tahun ajaran dan yang penampilannya tidak menonjol.

“Saya akan menyewa yang ini,” katanya.

“Bagaimana kalau kita kembali ke kantor dan mcnyclcsaikan surat-suratnya…,” kata Mr. Knights.

353

Pcnyclcsaian surat-surat ilu ternyata mudah. Sebuah surat scwa resmi dua lembar yang harus ditandatangani dan dihadiri saksi, deposit, dan sebulan uang scwa di muka. Mr. Ross mengcluarkan sebuah surat rcferensi dari majikannya di Jcncwa dan mcminta Mr. Knights untuk menelepon bank-nya di Dorchester hari Senin pagi untuk melakukan clearing atas cek yang ditulisnya di situ saat itu. Mr. Knights mengalakan bahwa ia akan bisa membereskan surat-surat itu pada hari Senin petang jika ccknya dan surat referensinya telah bc-res. Mr. Ross terscnyum. Sudah pasti beres, ia tahu itu.

Alan Fox juga berada di kantornya Sabtu pagi itu, atas pcrmintaan khusus tcmannya. Sir Nigel Irvine, yang menelepon dia scbclumnya, mengatakan bahwa ia perlu bertemu. Bangsawan Inggris itu diantarkan kc lantai atas Kedutaan Amcrika

pada jam scpuluh lebih sedikit.

Alan Fox adalah pimpinan perwakilan lokal CIA dan ia memiliki riwayat pekerjaan yang panjang. Ia telah mcngenal Nigel Irvine selama dua puluh tahun.

“Aku kuatir kita punya sedikit masalah,” kata Sir Nigel Irvine sctclah dia duduk. “Salah satu pejabat sipil kami di Kementerian Pertahanan ternyata adalah telur busuk.”

“Oh, demi Tuhan, Nigel, kebocoran lagi,” Fox menukas.

354

Irvine nampak menycsal. “Aku kuatir mcmang itulah yang terjadi,” ia mengakui. “Sesuatu yang agak mirip dengan affair Harper-mu itu.”

Fox mengcrnyit. Pukulan balik itu benar-benar telak. Di tahun 1983 dulu, Amerika sangat ter-pukul saat mengctahui bahwa scorang insinyur yang bckcrja di Silicon Valley, California, telah merabocorkan kepada pihak Polandia (dan kemudian disampaikan ke pihak Rusia) scjumlah besar informa’si rahasia tcntang sistem peluru kcndali Minutcman.

Sir Nigel mcrasa bahwa, ditambah dengan kasus mata-mala Boycc yang terjadi sebelum itu, affair Harper ini telah scdikit mcnycimbangkan keduduk an mcreka. Pihak Inggris sudah lama merasa tidak cnak karcna terus-terusan mcnerima laporan yang mcmalukan tcntang Philby, Burgess, dan Maclean, belum lagi Blake, Vassal!, Blunt, dan Prime, dan bahkan setelah bertahun-tahun, noda itu belum juga hilang. Pihak Inggris hampir-hampir merasa senang ketika pihak Amerika juga menemukan dua pejabat brcngsek, yaitu Boyce dan Harper. Paling tidak bangsa lain juga memiliki pengkhianat

“Uups,” kata Fox. “Itu yang membuat aku mc-nyukaimu, Nigel. Kau tidak pernah bisa melihat ikat pinggang tanpa ingin memukul di bawahnya.”

Fox dikcnal di London sebagai orang yang lin-cah mcnggunakan ungkapan-ungkapan yang tajam. Dulu ia menunjukkan kemampuannya itu di suatu pertemuan Komite Intclijen Gabungan (Joint Inlel—

355

ligencc Committee), ketika Sir Anthony Plumb mengcluh bahwa dia tidak memiliki suatu singkal-an yang enak yang menggambarkan pekcrjaannya, seperti yang dimiliki dinas-dinas lainnya. Ia cuma disebut Ketua JIC, atau kordinator intelijen. Mengapa dia tidak boleh mcmakai sebuah singkatan yang membentuk sebuah kala pendck?

“Bagaimana kalau,” tukas Fox dari tempat ia duduk, “Supreme Head of Intelligence Targeting?”

Sir Anthony lebih suka tidak dijuluki SHIT di kalangan Whitehall dan mcmutuskan untuk tidak menyebut-nyebut lagi masalah akronim ilu.

“Oke, seberapa buruknya?” Fox bertanya.

“Kalau tidak didctcksi akan lebih buruk lagi,” kala Sir Nigel, dan menceritakan kepada Fox seluruh kisahnya dari awal sampai akhir.

Orang Amerika itu mencondongkan tubuhnya ke depan dengan penuh minaL “Maksudmu, ia sekarang sudah disuruh berbalik seratus delapan puluh derajat? Ia akan mau menyampaikan apa saja yang diinstruksikan?”

“Kalau ia tidak mau, maka ia lerpaksa makan bubur penjara seumur hidupnya. Ia akan diawasi setiap saat. Tentu saja, ia bisa menelepon Marais untuk mcmberi peringatan dengan memakai kodc khusus, tapi kukira tidak akan. Dia benar-benar berhaluan Ekslrcm Kanan, dan penunjukannya sebagai mata-mata itu dilakukan berdasarkan pendekatan false-tlag.”

Fox tepekur beberapa saat. “Mcnurut kau, scbe—

356

rapa besarnya nilai Berenson ini di mata Pusat— Komite Scntral PKUS, Nigel?”

“Kami memulai pcrkiraan kerugian Senin ini,” kata Irvine, “tapi kukira mcngingat statusnya yang tinggi di kementerian, ia pasti dinilai sangat tinggi di Moskow. Mungkin bahkan setaraf direktur kasus.”

“Apa kami juga bisa ikut mengirimkan disinformasi kami melalui jalur yang sama itu?” tanya Fox. Di dalam benaknya tcrlintas sudah beberapa tipuan yang dengan senang sekali akan disampaikan oleh Langlcy kc Moskow.

“Aku tidak mau memuati sirkuit itu secara berlebihan,” kata Sir Nigel. “Irama pengiriman bocoran palsu itu harus diatur—seperti yang sudah-sudah—dan juga jenis informasinya. Tapi, iya, kami bisa mengikutkanmu dalam move ini.”

“Dan kau ingin aku mcmbujuk rekan-rekanku untuk tidak bcrsikap terlalu mcnyalahkan London?”

Sir Nigel mengangkat bahu. “Kerugian sudah telanjur didcrita. Mcmang akan mcmuaskan ego kita untuk membesar-besarkan pcrsoalan ini. Tapi percuma saja, itu tidak bcrguna. Aku ingin kita segcra berupaya mempcrbaiki kerusakan itu dan mcmbalas membuat kerusakan di pihak mcreka.”

“Oke, Nigel, aku setuju. Aku akan mengatakan kepada rckan-rckanku, jangan ikut campur. Kami tidak akan mcmuat perkiraan kerugian itu di media, dan kami akan mcnyiapkan beberapa bahan tcntang kapal-kapal selam nuklir kami yang di

357

Atlantik dan Samudcra Hindia yang akan membuat Pusat (PKUS) salah jalan. Aku akan tcrus menghubungimu.”

Di pagi hari Senin tanggal 30 Marct, Petrofsky menyewa sebuah sedan keluarga yang kecil dan sedcrhana dari sebuah agen di Colchester. Ia mc-ncrangkan bahwa ia datang dari Dorchester dan sedang mencari rumah di daerah Essex dan Suffolk. Mobil miliknya sendiri ada pada istrinya dan keluarganya di Dorset, yang mcnjadi alasan mcngapa ia tidak ingin mcmbcli mobil hanya untuk dipakai sebentar saja. SIM-nya bercs dan bcr-alamat di Dorchester. Tentu saja sewa itu harus diserlai asuransi. Dia menghendaki sewa jangka panjang, mungkin sampai tiga bulan, dan ia memilih jenis cara pembayarannya. Ia membayar di muka uang sewa untuk seminggu secara tunai, dan mcninggalkan sebuah cek untuk membayar scwa bulan April sekalian.

Masalah berikumya lebih rumit dan membutuhkan jasa seorang broker—maketar—asuransi. Ia mencari dan mcngunjungi agen asuransi yang tinggal di kota yang sama dan mcnjclaskan posisinya. Ia pernah bckcrja di luar negeri selama beberapa tahun, dan sebelum itu ia selalu mcmakai mobil perusahaan, jadi ia tidak memiliki langganan pcrusahaan asuransi di Inggris. Kini ia mcmutuskan untuk pulang dan memulai bisnisnya sendiri. Ia akan perlu mcmbeli kendaraan sendiri dan karena

358

itu ia akan mcmcrlukan jasa asuransi. Bisakah broker itu membantunya?

Broker itu mengatakan ia senang bisa mcmbantu. Sctclah memeriksa dokumcn-dokumen, ia mclihat bahwa klicn baru itu bclum pernah melakukan pelanggaran lalu lintas, memiliki SIM internasional, penampilannya tcrhormat dan mcyakinkan, dan memiliki rckening bank yang pagi itu juga telah dipindahkannya dari Dorchester ke Colchester.

Kendaraan jenis apa yang ingin dibclinya? Sebuah sepeda motor. Ya, benar. Jauh lebih cnak kalau jalanan macct. Tentu saja, kalau pcmiliknya seorang rcmaja belasan tahun, maka asuransinya akan sulit. Tapi untuk scorang Iclaki dewasa yang bcrprofesi jelas tidak akan ada masalah. Asuransi total mungkin agak sulit… ah, klien itu akan minta polis “pihak ketiga”? Dan alamatnya? Saat ini scdang mencari rumah. Cukup bisa dipahami. Tapi tinggal di Great White Horse di Ipswich? Seratus persen bisa diterima. Jadi, kalau Mr. Ross bisa mcmbcritahu dia nomor rcgistrasi sepeda motornya sctclah ia membelinya, dan perubahan alamalnya, maka ia menjamin bahwa polis asuransi “pihak ketiga” akan bisa diselesaikannya dalam waktu satu atau dua hari.

Petrofsky kcmbali naik mobil sewaannya kc Ipswich. Hari itu ia benar-benar sibuk, tapi ia merasa puas karena tidak membuat orang curiga dan juga tidak mcninggalkan jejak yang bisa di lacak. Agen persewaan mobil dan petugas Great

359

White Horse Hotel telah diberi alamat Dorchester yang sesungguhnya tidak pernah ada. Oxborrows, agen real-estate itu, dan broker asuransi itu mem-perolch alamat hotel itu sebagai alamat semen-taranya, dan Oxborrows tahu mengenai rumah di Cherryhayes Close No. 12 itu. Barclays Bank di Colchester juga diberi alamat hotel itu selama dia masih “berburu rumah”.

la akan tetap mempertahankan kamarnya di hotel itu sampai ia mcmpcrolch polis asuransi dari si makelar asuransi, kemudian baru dia pcrgi. Kemungkinan bahwa pihak-pihak yang bcrbeda-beda itu akan saling bcrhubungan adalah sangat amat kecil. Sclain Oxborrows, jejaknya putus di hotel itu atau di alamat yang sebenarnya tidak pernah ada di Dorchester. Selama pembayaran dilakukan dengan to nib atas rumah itu dan mobil itu, selama broker ilu menerima cek yang sah untuk membayar premi asuransi selama setahun atas sepeda motor ilu, tak ada yang akan mencurigainya. Barclays di Colchester telah dibcritahu unluk mengirimkan kepadanya rekening korannya setiap kuartal, tapi di akhir bulan Juni ia sudah akan pcrgi meninggalkan Inggris.

Ia kcmbali ke agen real-estate itu untuk menandatangani pcrjanjian sewa dan melengkapi persyaratan lainnya.

Petang itu, ujung tombak tim pcrkiraan kerugian

360

tiba di apartemen George Berenson di Belgravia dan memulai kerja mereka.

Mereka tergabung dalam sebuah kelompok kecil yang terdiri dari ahli-ahli MI-5 dan analis-analis Kementerian Pertahanan. Tugas pertama adalah mcngidentifikasi setiap dokumen yang telah dibocorkan ke Moskow. Tim itu membawa copy-copy dari tile-tile milik Bagian Arsip—penarikan dan perigcmbalian—kalau-kalau ada yang dilupakan oleh Berenson.

Kemudian, analis-analis lain, dengan mendasarkan pengamatan mereka alas dokumen dokumen yang dibocorkan, akan mencoba memperkirakan dan meringankan kerugian yang telah diderita, mengusulkan mengenai apa yang masih sempat diubah, rencana rencana apa yang harus dibatalkan, program-program laktis dan straiegis yang mana saja yang harus dihapuskan, dan yang mana yang bisa dibiarkan berjalan terns.

Tim itu bekerja sepanjang malam dan kemudian berhasil melaporkan bahwa Berenson telah bckcrja sama dengan sangat baik. Pendapal pribadi mereka tentang dia tidak akan mempengaruhi laporan mereka karena hal ilu tidak akan tertuang dalam bentuk terlulis.

Sekelompok ahli yang lain, yang bckcrja jauh di jantung kementerian, mulai mcnyiapkan scrangkaian dokumen rahasia lain yang akan disampaikan Berenson kepada Jan Marais dan pengendali-

}

361

pengcndalinya di suatu tempat di Direktorat Utama Satu di Yasyenevo.

John Preston pindah ke kantornya yang baru sebagai pimpinan C5(C) pada hari Rabu, dengan membawa file-file pribadinya. Untunglah, dia hanya naik ke atas satu lantai, yaitu lantai tiga di Gordon. Saat ia duduk di depan meja tulisnya terlihat olehnya kalender yang lergantung di dinding. Hari itu tanggal 1 April—April Mop. Cocok sekali dengan nasibku, pikirnya jengkel.

Satu-satunya kebahagiaan di halinya adalah bahwa ia tahu seminggu lagi putranya, Tonmv, akan berada di rumah dalam rangka liburan mum semi. Mcreka akan melewatkan satu minggu penuh bersama-sama sebelum Julia, setelah kembali dari main ski di Verbier bersama teman prianya, akan mcminta Tommy kcmbali untuk melewatkan sisa liburannya.

Selama seluruh minggu itu flatnya yang kecil di South Kensington akan bcrgema karcna suara seorang anak berumur dua belas tahun yang ke-girangan, karena mendengar cerita-cerita kehebatan di lapangan rugby, guru bahasa Prancis yang di-pcrmainkan, dan selai dan cake yang disclundupkan ke dalam asrama setelah lampu dimatikan dan waktu tidur tiba. Preston tersenyum mcmbayangkan semua itu dan mcmutuskan untuk mengambil cuti sekurang-kurangnya empat hari. la merencanakan beberapa perjalanan bapak-anak yang menyenangkan dan berharap mudah-mudahan itu akan scsuai dengan ke-362

inginan Tommy. Permcnungannya tcrputus oleh Jeff Bright, wakilnya di seksi itu.

Bright, pikir Preston, pasti sudah akan menjabat pos yang sekarang didudukinya seandainya umurnya tidak scmuda itu. Bright adalah salah satu dari mereka yang cocok jadi murid Harcourt-Smith, yang merasa senang dan tersanjung kalau secara teratur diundang oleh Wakil Direktur Jenderal untuk minimi bersama dan mclaporkan apa saja yang terjadi di seksinya. Ia akan meraih posisi tinggi di bawah Harcourt-Smith yang kelak akan menjadi direktur jenderal.

“Kukira kau mungkin ingin mclihat daftar pelabuhan dan bandara yang harus kita awasi, John,” kata Bright.

Preston mcngkaji informasi yang diletakkan di hadapannya. Apa benar ada scbanyak itu bandara yang menampung penerbangan-penerbangan yang berasal dari atau berhenti di luar Kepulauan Inggris? Dan daftar pelabuhan yang bisa menerima kapal-kapal barang komersial yang berasal dari pelabuhan-pelabuhan asing berhalaman-halaman banyaknya. Ia menghela napas dan mulai mcmbaca.

Keesokan harinya, Petrofsky menemukan apa yang dicarinya. Dengan menganut prinsip membeli di kota-kota yang berbeda di kawasan Suffolk/Essex, ia pcrgi ke Stowmarkct. Sepeda motor itu mereknya BMW K100 shaft-drive (ber-persne—

363

ling tongkat), tidak baru tapi kondisinya mulus, dengan mesin bcr-cc besar dan kuat, berumur tiga tahun tapi baru dijalankan 33.000 kilometer, seperti terlihat pada indikatornya. Toko yang sama juga menjual akscsorinya—celana dan jaket kulit hitam, sarung tangan, sepatu bot dengan ritsleting samping, dan helm dengan klep depan gelap yang bisa diturunkan. Ia membeli semua perlcngkapan itu.

Uang muka dua puluh persen memungkinkan ia memperoleh sepeda motor itu, tapi belum bisa membawanya pulang. Ia minta kantong sadel untuk dipasangkan di luar roda bclakangnya, ditambah satu box fiberglass yang bisa dikunci di atasnya, dan dia diberitahu dia bisa mengambil motor dan semua pcrlengkapannya itu dua hari lagi.

Dari sebuah box telcpon ia menelepon broker asuransi di Colchester dan menyebutkan nomor registrasi BMW itu. Si broker memastikan bahwa ia akan mcngusahakan polis asuransi sementara untuk tiga puluh hari agar bisa keluar hari berikutnya. la akan mcngeposkan polis itu ke Great White Horse Hotel di Ipswich.

Dari Stowmarket, Petrofsky naik mobil ke utara ke Thetford, tepat melewali perbatasan distrik di Norfolk. Tidak ada yang khusus Thetford; tempat itu hanya kcbctulan saja terletak di jalur yang diperlukannya. Ia memperoleh apa yang diinginkannya tidak lama setelah makan siang. Di Magdalen Street, antara No. 13A dan markas Salvation Army, terletak sebuah lapangan berbentuk persegi

364

yang mcmuat tiga puluh garasi. Salah satunya ditcmpcli tanda DISEWAKAN di pintunya.

Ia mencari pemiliknya, yang tcrnyata tinggal tak jauh dari situ, dan mcnyewa garasi ilu untuk jang-ka waktu tiga bulan, membayar tunai, dan langsung diberi kunci. Garasi itu sempit dan Iapuk, tapi sesuai sekali dengan kcperluannya. Pemiliknya senang sekali menerima uang tunai yang bebas pajak dan sama sekali tidak menanyakan identitasnya. Karcna itu Petrofsky memberinya nama dan alamat fiktif.

Ia menyimpan pakaian kulitnya, helm, dan sepatu botnya dalam garasi itu, dan selama sisa sore hari itu ia membeli dua drum plaslik bcrukuran sepuluh galon di dua toko yang berbeda, mcng-isinya dengan bensin di dua pompa bensin yang berbeda, dan menyimpannya di garasi itu juga, lalu mcngunci pintunya. Saal matahari terbenam ia meluncur balik ke Ipswich dan mcngatakan kepada resepsionis hotel bahwa dia bermaksud untuk check-out hari berikutnya.

Preston sadar bahwa ia sedang mengalami kebosanan sampai-sampai hampir frustrasi. Dia baru dua hari bcrtugas di posnya yang baru, dan selama itu hanya membaca file-file saja.

la duduk di kantin menikmati makan siangnya dan dengan scrius berpikir untuk mcngajukan pensiun dini. Itu akan mcnimbulkan dua masalah. Pertama, tidak akan mudah bagi scorang pria yang

3f>5

berumur 45-an untuk memperoleh pekerjaan yang bagus, terlcbih lagi karena kualifikasinya yang tidak jelas tidak akan terlalu menarik minat pcrusahaan-perusahaan besar.

Masalah kedua adalah loyalitasnya tcrhadap Sir Bernard Hemmings. Preston baru enam tahun berdinas di situ, tapi “Orang Tua” itu selalu bcrsikap amat baik terhadap dia. Ia mcnyukai Sir Bernard dan ia tahu para pejabat scdang bersaing untuk menduduki pos sang Direktur Jenderal yang se-dang menderila sakit.

Kcputusan terakhir mengenai siapa yang akan mcnjadi pimpinan MI-5 atau kepala MI 6 di Inggris adalah wewenang sebuah komite yang disebut Wise Men (Orang-orang Bijak). Dalam hal MI-5, komite itu biasanya terdiri dari Permanent Under Secretary dari Kementerian Dalam Negeri (kementerian yang mengcndalikan Lima), ditambah PUS dari Kementerian Pertahanan, Sekretaris Kabinet, dan Pimpinan Joint Intelligence Committee.

Mcreka ini akan “merekomendasikan” seorang calon yang diunggulkan kepada Menteri Dalam Negeri dan Perdana Menteri, dua politisi senior yang ikut tcrlibat. Jarang sekali politisi-politisi itu menolak rckomendasi dari the Wise Men.

Tapi sebelum membuat kepulusan, para pejabat itu akan mengadakan penelaahan sikap hidup calon dengan cara-cara mereka masing-masing yang unik. Akan ada acara-acara makan siang yang diam-diam diatur di klub-klub, minum-minum di

366

bar, berbisik-bisik saat minum kopi. Dalam hal pcncalonan Direktur Jenderal MI-5, pimpinan SIS akan dimintai pendapat. tapi karcna Sir Nigel sendiri juga sudah akan pensiun, ia harus mempunyai alasan yang sangat kuat jika ia mencntang si calon kuat bagi dinas intclijcn yang satunya lagi itu. Yang jelas, dia nantinya tidak harus bckcrja sama dengan orang itu.

Di antara sumber-sumbcr yang paling berpengaruh dalam penelaahan oleh the Wise Men itu adalah Pimpinan Lima yang sudah akan pensiun itu sendiri. Preston tahu bahwa orang tcrhormat seperti Sir Bernard Hemmings akan merasa bcr-kcwajiban melakukan pemungutan suara di kalangan kcpala-kepala seksi di semua enam cabang dalam dinas yang dipimpinnya. Hasil pemungutan suara itu akan menjadi faktor penting baginya untuk mencntukan sikapnya terhadap sang calon, dengan mcngabaikan pcrasaan pribadinya sendiri. Jadi bukan tanpa maksud apa-apa jika selama ini Brian Harcourt-Smith mcnggunakan pcranannya yang semakin dominan dalam pengclolaan dinas itu sehari-hari, untuk menempatkan satu demi satu penganul-penganutnya sebagai kepala berbagai seksi.

Preston tidak mempunyai keraguan bahwa Harcourt-Smith menginginkan dia pergi sebelum mu sim gugur, untuk mengikuti dua atau tiga yang lain yang telah tcrjun kc kchidupan sipil dalam dua belas bulan terakhir ini.

367

“Keenakan dia,” ia berucap bukan kepada siapa-siapa di kantin yang hampir kosong itu. “Aku akan bertahan.”

Semenlara Preston sedang makan siang, Petrofsky meninggalkan hotel, barang-barangnya kini bertambah dengan satu koper besar penuh pakaian yang dibclinya di toko setempat. Ia mengatakan kepada resepsionis bahwa ia akan pindah ke kawasan Norfolk dan semua surat yang masuk ke situ untuk dia harap disimpan dulu untuk diambil kelak.

Ia menelepon broker asuransi yang di Colchester dan diberitahu bahwa polis semenlara untuk sepeda motornya telah dikeluarkan. Orang Rusia itu meminta kepada si broker supaya tidak mengeposkannya; ia akan mengambilnya sendiri. Itu dilakukannya dengan segera, dan sore menjelang senja ia pindah ke Chcrryhayes Close No. 12. Ia mcnggunakan sebagian petang itu untuk mengerjakan buku catatan sekali-pakai, menyiapkan sebuah pesan bersandi dengan kode yang tak akan bisa di pecan kan oleh komputer mana pun. Pemccahan sandi, ia tahu, sclalu didasarkan atas pola-pola dan pengulangan-pengulangan, bctapapun canggihnya komputer yang dipakai untuk memecahkan sandi itu. Dengan memakai lembar catatan sekali-pakai untuk setiap kata, sebuah pesan pen-dek tidak akan meninggalkan pola apa pun dan pengulangan apa pun.

368

Keesokan paginya, hari Sabtu, ia naik mobil ke Thetford, mcmasukkan mobilnya ke dalam garasi, dan naik taksi setempat ke Stowmarkel. Di sini, dengan sebuah cek yang terdaftar, ia membayar sisa harga sepeda motor BMW, mcminjam kamar kecil untuk mengenakan pakaian kulit dan hclmnya, yang dibawanya dalam sebuah tas kanvas, memasukkan tas itu bersama jasnya, celananya, dan sepatunya yang biasa ke dalam kantong-kantong sadel, lalu pcrgi dengan mcnaiki sepeda motor itu.

Cukup jauh jarak yang ditempuhnya dan makan waktu bcrjam-jam. Baru setelah petang ia tiba kcmbali di Thetford, bcrganti pakaian, menukar sepeda motornya dengan mobil, dan mengendarainya sambil terkantuk-kantuk kcmbali ke Cherryhayes Close, Ipswich, yang dicapainya pada tengah malam. Ia tidak dilihat orang, tapi seandainya ada yang melihatnya, paling-paling ia akan dikomentari sebagai “Mr. Ross muda yang ramah, yang baru pindah ke Nomor Dua Belas kemarin.”

Sabtu petang, Sersan Mayor Averell Cook dari Angkatan Darat USA sebenarnya lebih suka pcrgi dengan pacarnya yang tinggal di Bedford, tidak jauh dari situ. Atau main pool dengan teman-temannya di ruang konsumsi. Tapi kini ia harus bcrtugas jaga di stasiun radio pemantau, milik gabungan Inggris-Amerika di Chicksands.

“Kantor pusat” komplcks pemantauan elcktronik dan pemecahan sandi Inggris terletak di Markas

369

Besar Komunikasi Pemerintah di Cheltenham (Government Communications Headquarters— GCHQ), Gloucestershire, di sebelah selatan Inggris. Tapi GCHQ mempunyai stasiun-stasiun luar di berbagai peiosok ncgeri, dan salah satunya, Chicksands di Bedfordshire ini, dikclola bcrsama-sama oleh GCHQ dan NSA—National Security Agency atau Badan Keamanan Nasional.

Zaman ketika terlihat orang-orang duduk membungkuk dcngan earpttone terpasang di telinga, untuk menangkap dan mencatat ketukan tangan yang membuat kunci-kunci Morse, yang dioperasi-kan oleh scorang agen Jerman di Inggris, sudah lama lewat. Dalam masalah-masalah yang menyangkut penyimakan, analisa, penyaringan suara penting dari suara yang tidak pcnting, merekam yang disebut terakhir itu, dan memecahkan sandinya—komputer telah mengambil alih.

SersarT Cook mcrasa yakin, dan memang ia pan-tas bersikap dcmikian, bahwa kalau salah satu antena dari “hutan” antena di atas kepalanya menangkap suatu bisikan elcktronik, maka ia akan mcneruskan bisikan itu ke rangkaian komputer di bawah. Seleksi gelombang akan berjalan secara otomatis, demikian juga pencatatan setiap bisikan ilcgal di udara. Kalau bisikan seperti itu muncul, komputer yang tcrus bcrjaga akan menekan scndiri tombolnya yang terletak jauh di dalam tsi perut-iiy.-i, merekam transmisi tersebut, dengan scgcra mclacak sumbcrnya, mcmberi instruksi kcpada

370

saudara-saudara komputernya yang lain di seluruh peiosok ncgeri, dan mcmberitahu Sersan Cook.

Pada jam 11.43 malam, sesuatu mcnycbabkan komputer master itu menekan tombolnya sendiri. Sesuatu atau scscorang baru saja mcntransmisikan sesuatu yang tak diharapkan, dan di dalam rimba sinyal elektronik yang memenuhi udara planet ini selama dua puluh empat jam sehari, sang komputer telah mampu mcndcteksinya dan melacak-nya. Sersan Cook mencatat sinyal peringatan itu dan menggapai telepon.

Apa yang tadi ditangkap oleh komputer master itu adalah sebuah squirt, yaitu sebuah bunyi mcng-gcrit yang hanya berlangsung beberapa detik dan tidak mcmbentuk suatu arti bagi telinga manusia. Squirt merupakan produk akhir suatu prosedur yang rumit yang dipakai untuk mengirimkan pesan-pesan rahasia. Pcrtama-tama pesannya dituliskan dcngan jelas dan scsingkat mungkin. Lalu dibuat sandinya, tapi masih tetap dalam bentuk daftar huruf dan angka. Pcsan yang sudah disan-dikan itu lalu dikctukkan dcngan sandi Morse, bukan untuk umum tapi kepada sebuah mesin perekam. Mesin perekam itu dipercepat jalannya ke tingkat yang ckstrem, sehingga semua titik dan garis yang mcmbentuk transmisi itu ditclcskop, untuk akhirnya muncul dalam satu lengkingan yang hanya berlangsung beberapa detik. Kalau transmitcrnya sudah siap, maka operatornya cukup mengirimkan bunyi lengking tunggal itu, lalu

371

mcmbcnahi pcralatannya dan bcrgerak dengan ce-pal kc tempat lain.

Dalam waktu scpuluh menit pada Sabtu malam itu, komputer pelacak segi tiga telah berhasil menunjukkan dengan jitu dari mana bunyi Icngking itu berasal. Komputcr-komputer lain di Menwith Hill di Yorkshire dan Brawdy di Wales, juga menangkap transmisi lengking tunggal itu dan telah melakukan pelacakan. Pada saat polisi lokal tiba di tempat itu, ternyata transmisi itu dipan-carkan di pinggir sebuah jalan sepi jauh di atas di Distrik Derbyshire Peak. Tak ada siapa-siapa di sana.

Dalam waktu yang sama pesan itu sampai ke Cheltenham dan diperlambat kecepatannya supaya titik-titik dan garis-garis itu bisa diubah menjadi huiuf-huruf. Tapi setelah dua puluh empat jam diproses melalui otak elektronik yang disebut pemecah sandi, hasilnya masih tetap nol besar.

“Itu adalah transmiter tidur, barangkali di suatu tempat di Midlands, dan sekarang sudah di-‘aktifkan,” demikian laporan analis kepala kepada Direktur Jenderal GCHQ. “Tapi pelakunya rupanya menggunakan lembar catatan baru sekali-pakai untuk setiap kata. Kecuali kita bisa menangkap jauh lebih banyak dari ini, kita tidak akan bisa memc-cahkannya.”

Diputuskan untuk mengawasi saluran yang tadi dipakai oleh pengirim rahasia itu dengan ketat,

372

walaupun hampir pasti jika dia mcngudara lagi, dia akan menggunakan saluran yang berbeda.

Secarik kertas tipis berisi rckaman pcristiwa itu ditaruh di atas meja tulis kepunyaan—antara lain—Sir Bernard Hemmings dan Sir Nigel Irvine.

Pesan itu telah diterima di suatu tempat lain, kemungkinan besar di Moskow. Jika sandinya dipecahkan dengan mcnggunakan tiruan lembar kertas sekali-pakai yang digunakan di suatu tempat terpencil di Ipswich, maka pesannya adalah bahwa si pengirim telah mclaksanakan semua tugas pen-dahuluannya, lebih cepat daripada yang dijadwalkan dan siap menerima kurir pertamanya.




0 Response to "The Fourth Protocol II"

Post a Comment