Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

The Fourth Protocol I

THE FOURTH PROTOCOL

Frederick Forsyth


BAGIAN PERTAMA

Laki laki berseragam abu-abu itu memutuskan untuk mengambil perhiasan berlian Glen itu di tengah malam. Hanya kalau berlian tersebut masih berada di dalam lemari besi apartemcn itu dan kalau para penghuninya sedang pergi. la perlu tahu itu. Jadi ia mengawasi dan menunggu. Pada jam setengah delapan harapannya terpenuhi.

Limousine yang besar dan lebar itu meluncur keluar dari area parkir bawah tanah dengan anggun dan gagah scperti yang diisyaratkan oleh namanya. Ia berhenti sejenak di mulut tcrowongan karena pengemudinya mengamati arus lalu lint.is, lalu berbclok memasuki jalan raya dan tcrus bergerak ke arah Hyde Park Corner.

Duduk diam di situ, berseberangan dcngan bangunan apartemen mewah itu, berseragam pengemudi di belakang setir Volvo Estate sewaan itu, Jim Rawlings mendesahkan napas lega. Mengamati seberang Belgravia Street secara tidak mencolok, ia menyaksikan apa yang dimauinya—si suami berada

9

di dalam mobil di belakang kemudi, dengan istrinya di sampingnya. Rawlings tetap menghidupkan mesin mobil dan pemanasnya untuk mengusir dingin. Per sneling otomatis itu dipindahkannya ke tanda Drive, dan ia mengemudikan mobilnya keluar dari deretan mobil-mobil yang diparkir lalu mengikuti Jaguar itu.

t Mara pagi terasa bersih dan cerah, dcngan Green Park di sebelah timur nampak diselimuti kabut cahaya temaram, dan lampu lampu jalan ma-sih menyala. Rawlings sudah sejak jam lima pagi melakukan pengawasan di situ, dan walaupun beberapa orang telah melewati jalan itu, tak ada yang memperhatikan kehadirannya. Seorang pengemudi dalam mobil limousine di Belgravia, yang paling clit dari semua kawasan West End London, memang tidak akan mengundang kecurigaan, apalagi dengan empat koper dan satu keranjang besar di belakang, di pagi hari tanggal 31 Desember. Di saat begini banyak orang kaya bersiap-siap meninggalkan ibu kota untuk merayakan datangnya Tahun Baru di vila-vila peristirahatan mereka di pedesaan.

Ia berada lima puluh meter di belakang Jaguar itu saat mencapai Hyde Park Corner, dan ia membiarkan sebuah truk mengambil posisi di antara mcreka. Saat memasuki tanjakan di Park Lane, Rawlings sempat merasa cemas sebentar, di situ ada cabang Coutts Hank dan ia kuatir pasangan sua mi istri dalam Jaguar itu akan berhenti untuk

10

mcnitipkan berlian itu di tempat penitipan Coutts Bank.

Di Marble Arch ia menarik napas lega untuk kedua kalinya. Mobil yang diikutinya temyata tidak mengitari arch untuk mengambil jalan yang menuju ke selatan, balik ke arah Park Lane menuju ke bank. Mobil itu terus meluncur kencang melewati Great Cumberland Place, masuk ke Gloucester Place, dan tetap menuju ke utara. Jadi, penghuni-penghuni apartemen mewah di lantai delapan Fontenoy House itu tidak mcnitipkan barang berharga mcreka di Coutts; mungkin barang itu berada di mobil dan akan mcreka bawa ke pedesaan alau mereka tinggalkan di apartemen mereka selama liburan Tahun Baru ini. Rawlings yakin bahwa kemungkinan yang terakhir itu yang benar.

Ia menguntit Jaguar itu ke arah Hendon, meng-awasinya melaju dengan kencang dan hampir tiba di jalan raya Ml, lalu berbalik ke arah pusat kota London. Jelas sudah, seperti yang diharapkannya, mcreka akan bergabung dengan saudara laki-Iaki si istri, Duke of Sheffield, di rumah peristirahatannya di Yorkshire utara, sekitar enam jam bermobil dari London. Itu berarti ia punya waktu sedikitnya dua puluh empat jam, yaitu lebih dari yang dibutuhkannya. Tak ada keraguan dalam dirinya bahwa ia akan bisa menangani apartemen di Fontenoy House itu; bukankah ia salah satu pendobrak le-mari besi yang terbaik di London.

Menjelang siang ia telah mengembalikan Volvo

11

itu ke perusahaan tempat ia menyewanya, seragam sopir kepada perusahaan penyewaan kostum, dan koper-koper yang kosong itu kc lemarinya. Ia sudah balik ke flat nya di lanjai paling atas, sebuah tempat Unggal yang nyaman dan dilengkapi dengan perabotan mewah yang terletak di atas sebuah gudang penyimpanan teh di daerah asalnya, Wandsworth. Bagaimanapun kayanya dia, ia tetap saja seorang warga London Selatan, dilahirkan dan dibesarkan di situ, dan walaupun Wandsworth mungkin tidak terlalu bergaya seperti Belgravia dan Mayfair, itu adalah “kampung halamanNnya. Seperti semua rekan dengan pekcrjaan seperti dia, ia tidak suka meninggalkan suasana aman di kampung halamannya itu. Di wilayah itu ia merasa cukup aman, meskipun dunia hitam setempat dan polisi mengenalnya sebagai seorang face, istilah dunia hitam untuk seorang penjahat atau residivis.

Seperti semua penjahat yang sukses, ia selalu bersikap low profile di kawasan itu, naik mobil yang tidak mencolok, satu-satunya yang mewah hanyalah apartemennya itu. Ia selalu berusaha me-ngaburkan pandangan dunia hitam kelas bawah akan apa tepatnya yang dilakukannya untuk hidup, dan walaupun polisi dengan persis mencurigai keterampilan khususnya itu, buku catatan kejahatan-nya bersih, kecuali kenakalan-kenakalan kecil saat ia masih remaja. Suksesnya yang nampak jelas dan kekaburan tenlang bagaimana ia memperoleh semua itu telah membuatnya dihormati oleh para

12

pemuda yang berminat akan permainan yang di-mainkannya itu, yang dengan senang hati mau melakukan tugas-tugas kecil untuknya. Bahkan para penjahat berkaliber yang merampok uang gaji di siang hari bolong dcngan senapan dan beliung tidak pcmah mengganggunya.

Seperti yang selalu diperlukan, ia harus mempunyai suatu usaha bisnis nyata untuk memper-tanggungjawabkan penghasilan yang diperolehnya. Semua face yang berhasil selalu mempunyai pekerjaan legal. Usaha nyata yang disukai adalah bisnis taksi (dikemudikan sendiri atau dimiliki), toko-toko P & D, dan usaha jual-beli besi tua. Semua usaha ini memungkinkan adanya penghasilan yang bisa disembunyikan, transaksi tunai, banyak waktu luang, sejumlah tempat persembunyian, dan alasan untuk mempekerjakan sejumlah heavy, atau slag, yaitu orang-orang kasar yang ber-IQ rcndah tapi kuat fisiknya, yang juga mem butuhkan pekerjaan legal untuk melengkapi profesi mereka sebagai tukang pukul.

Rawlings memiliki bisnis penyalur besi tua dan tempat penampungan mobil rongsokan. Ini memberinya alasan untuk memiliki sebuah bengkel mesin yang diperlengkapi dengan baik, beraneka jenis logam, kabel listrik, zat asam untuk baterai, dan dua tukang pukul yang digajinya untuk bekerja di bengkelnya dan untuk melindunginya kalau kalau ia perlu menyelamatkan diri dari penjahat yang berusaha mengganggunya.

13

Setelah mandi dan bercukur, Rawlings meng-aduk bcberapa kristal Dcmcrara ke dalam kopi espresso-nya yang kedua di pagi itu dan mempelajari kembali sketsa-sketsa yang diberikan kepadanya oleh Billy Rice.

Billy adalah pemuda yang magang kepadanya, umurnya dua puluh tiga, pintar, dan satu saat kelak pasti akan jadi ahli di bidang ini, bahkan sangat ahli. la belum lama berkiprah di pinggiran dunia hitam dan sangat ingin berbuat banyak untuk seseorang yang berstatus tinggi, walaupun sementara ini ia hanya disuruh melakukan tugas-tugas sepele. Dua puluh empat jam sebelumnya, Billy mengetuk pintu apartemen di tingkat delapan di Fontenoy House itu, mengantarkan sebuah karangan bunga yang besar dan mengenakan seragam pengantar barang dari sebuah toko bunga yang mahal. Samaran ini membuatnya dengan mudah bisa melewati petugas penjaga di lobi, di mana ia sempat mengamati layout ruang depan sccara cermat, ruang penjaga pintu, dan jalan menuju ke tangga.

Yang membukakan pintu adalah sang nyonya rumah sendiri, wajahnya nampak cerah karcna he-ran dan terkejut melihat bunga-bunga itu; yang dibuat seolah-olah dikirimkan oleh panitia Dana Kemanusiaan untuk Para Veteran yang Berke-kurangan. Lady Fiona merupakan salah satu pe-nyumbang dana, dan yang pesta galanya akan dihadirinya malam itu juga, 30 Desember 1986. Rawlings memperkirakan bahwa kalau ia nanti

14

menyebut-nyebut tentang kiriman bunga itu kepada salah satu anggota panitia, maka yang diajak bi-ear a paling-paling akan beranggapan bahwa bunga itu dikirimkan oleh salah satu anggota lain atas nama mereka semua.

Di pintu, nyonya itu memeriksa kartu penyer-tanya, dan bcrseru, “Oh, sungguh indah!” dalam logat yang jelas dan terjaga yang menjadi ciri kelas masyarakatnya, serta menerima karangan bunga itu. Lalu Billy mcngacungkan blanko slip penerimaan dan bolpoinnya. Karena tidak bisa sekaligus memegang tiga benda. Lady Fiona cepat-cepat masuk ke dalam, kebingungan, ke ruang duduk untuk meletakkan bunga itu, mcninggalkan Billy sendirian untuk beberapa detik di ruang de-pan yang sempit itu.

Wajahnya yang kekanak-kanakan, rambut pi rangnya yang berombak dan halus, matanya yang biru, dan senyumnya yang malu-malu, membuat Billy disukai siapa saja. Ia yakin bahwa ia akan selalu bisa mcnarik hati semua ibu rumah tangga setengah baya di kota metropolitan itu. Tapi mata bayinya itu amat tajam dan cermat jika mengawasi apa saja.

Bahkan sebelum memencet bel pintu, ia telah menghabiskan satu menit untuk mengamati bagian depan pintu itu, kerangkanya, dan dinding-dinding di sekitarnya. Ia ingin memastikan bahwa di situ tidak dipasang bel listrik yang kecil, tidak lebih besar dari biji kenari, atau sebuah kenop hitam

15

atau sakelar yang dipakai untuk mematikan bel listrik seperti itu. Setelah yakin bahwa semua itu tidak ada di situ, barulah bel pintu ditekannya.

Ditinggalkan sendirian di ambang pintu, ia melakukan hal yang sama, mcmcriksa bagian dalam kerangka pintu dan dinding-dinding di dekatnya kalau-kalau ada bel listrik atau sakelar. Juga di situ tidak ada. Saat nyonya rumah kembali ke ruang depan untuk menandatangani tanda terima, Billy sudah sempat melihat bahwa pintu itu diamankan dengan sebuah kunci langsir, yang un-tung sckali mereknya Chubb dan bukan Brahmah, yang tcrkenal sulit dibongkar.

Lady Fiona mengambil tanda terima itu dan mencoba menandatanganinya. Tidak bisa. Bolpoin itu sudah lama tak ada isinya, dan sisa tintanya telah dibuang. Billy minta maaf berkali-kali. Dengan senyum cerah Lady Fiona berkata bahwa itu tidak jadi soal, ia yakin ia punya bolpoin di dalam tasnya, dan ia kembali masuk melewati pintu ruang duduk. Billy telah menemukan apa yang dicarinya. Pintu itu ternyata memang dihubungkan dengan suatu sistcm alarm.

Nampak mencuat dari pinggiran pintu yang terbuka itu, tinggi di sisinya yang berengsel, sebuah kenop karet kecil yang amat elastis. Tepat bcrhadapan dengan kenop itu, dipasang masuk ke dalam bingkai pintu, nampak sebuah soket kecil. Di dalam soket itu, ia tahu, pasti ada sebuah sakelar mikro mcrck Pye. Jika pintu dalam ke—

16

adaan tertutup, maka kenop itu akan menusuk soket itu dan membuat kontak.

Kalau alarm anti maling dipasang dan diaktifkan, sakelar mikro itu akan mcmbunyikan alarm itu jika kontaknya terputus, yailu, pada saat pintu dibuka. Billy hanya memerlukan kurang dari tiga detik untuk mengeluarkan tube Super Glue-nya, menorchkannya cukup banyak ke lubang bcrisi sakelar mikro itu, dan memadatkannya dengan segumpal kecil campuran Plasticine dan lem. Empat detik kemudian campuran itu akan mcngeras seperti batu, sakelar mikro itu akan mcnolak kontak dengan kenop karet yang mencuat di pinggiran daun pintu itu. Ketika Lady Fiona balik lagi ke situ dcngan membawa tanda terima yang sudah ditandatanganinya, ia mendapati anak muda yang menyenangkan itu sedang menyandar di bingkai pintu, lalu cepat-cepat berdiri tcgak mcluruskan dirinya sambil tcrsenyum minta maaf. Sambil berbuat begitu ibu jarinya yang berlepotan lem di-gosokkannya ke pintu dengan tak kentara.

Tak lama kemudian, Billy memberi’Jim Rawlings gambaran lengkap tentang layout ruang depan dekat pintu masuk itu, ruang penjaga pintu, lokasi tangga dan elevator-elevator, koridor yang menuju pintu apartemen terscbut, lorong tempat masuk di balik pintu itu, dan bagian-bagian ruang duduk yang bcrhasil dilihatnya.

Saat mcnghirup kopinya, Rawlings yakin bahwa empat jam sebclumnya pemilik apartemen itu meng—

17

angkat kopcr-kopernya ke lorong dan kembali lagi ke ruang tempat masuk di belakang pintu itu untuk memasang alarmnya. Seperti biasa, tak ada bunyi yang lerdcngar. Pada saat menutup pintunya, ia pasti memutar anak kunci sampai habis, merasa puas bahwa alarmnya sudah terpasang dan dalam keadaan aktif. Scharusnya, kenop karet itu sudah mcmbuat kontak dcngan sakelar mikro Pye. Putaran kunci seharusnya mcmbuat hubungan itu menjadi lengkap, yaitu mengaktifkan scluruh sistcm alarm. Tapi karcna kenopnya kini tidak bisa mcmbuat kontak dcngan sakelar mikro itu, maka sistem alarm pintu itu, scdikitnya, akan non-aktif. Rawlings merasa pasti bahwa ia akan bisa membongkar kunci pintu itu dalam waktu tiga puluh mcnit Di dalam apartemcn itu sendiri pastilah akan ada jebakan-jebakan lain. Ia akan mcngatasinya nanti saja kalau ia sudah berada di sana.

Setelah kopi ditcguknya habis, ia mcmungut file yang bcrisi guntingan-guntingan surat kabar. Seperti semua pencuri permata lainnya, Rawlings selalu mengikuti dengan cermat kolom gosip surat kabar. Yang di file ini khusus tentang pcnampilan Lady Fiona di depan umum dan tentang pcrhiasan berlian bcrkualitas scmpurna yang dikenakannya di pesta gala di malam sebelumnya—yaitu yang perlu diketahui Jim Rawlings, untuk terakhir kalinya.

Seribu mil di sebelah timur, laki-laki tua yang berdiri dekat jendela ruang duduk apartemcn di

18

lantai tiga di Mira Prospekt 111 juga sedang memikirkan tcngah malam nanti. Akan segera diprok-lamirkan datangnya tanggal 1 Januari 1987, yaitu ulang tahunnya yang ketujuh puluh lima.

Saat itu sudah lewat tcngah hari tapi ia masih mengenakan jubah tidumya; tidak cukup alasan baginya hari-hari ini untuk bangun pagi-pagi atau bergegas-gegas pcrgi ke kantor. Dia tidak punya kantor. Istri Rusia-nya, Erita, yang tiga puluh tahun lebih muda, pergi membawa dua putranya main ski di padang-padang salju Taman Gorki, dan ia kini sendirian.

Terlibat sekilas sosok dirinya sendiri di kaca dinding itu, dan hari-hari mendatang yang akan dijalaninya nampak tidak lebih cerah daripada pcrasaannya sckarang ini—yang sedang tercckam oleh renungan akan hidupnya, atau akan sisa hidupnya. Wajahnya, yang selalu banyak kerutan, kini nampak scmakin bcrkcrut. Rambutnya, yang dulu tcbal dan hitam, kini putih bagai salju, jarang-jarang, dan tak bersinar. Kulitnya, karcna sepanjang hidup minum alkohol tanpa batas dan merokok seperti kcreta api, nampak bcrbcrcak-bcrcak dan berbintik-bintik. Matanya mcnatap balik dengan memelas. Ia balik ke jendela itu dan melihat ke bawah ke jalanan yang ditimbuni salju. Beberapa babushka—wanita tua— dengan mantel hangat dan kcpala dibungkus rapat-rapat sedang mcmbersihkan salju, yang pasti akan turun lagi malam nanti.

Sudah lama sekali, ia tepekur, hampir dua puluh

19

empat tahun yang lalu, sejak ia berhenti dari pekerjaannya yang bukan pekcrjaan dan dari pcngucilan dirinya di Beirut untuk datang ke sini. Tak ada gunanya tinggal. Nick Elliot dan scmuanya yang lain di “Perusahaan” itu telah memperoleh scmuanya saat itu; akhirnya itu diakuinya sendiri kepada mcreka. iadi ia datang kc sini, mcninggalkan istri dan anak-anaknya, yang kelak bisa bergabung dcngan dia kalau mcreka mau.

Pada mulanya ia mcngira itu akan seperti pu-lang kc rumah, ke tempat asalnya secara spiritual dan moral, la lalu memasuki kehidupan barunya; saat itu ia benar-benar percaya akan faLsafah itu dan kemcnangan akhir yang menycrtainya. Mengapa tidak? Ia telah mengabdikan dirinya untuk itu selama dua puluh tujuh tahun. Ia merasa tcntcram dan bahagia di tahun-tahun awalnya, yaitu lahun 1960-an. Tcntu saja dia diinterogasi secara intensif, tapi akhirnya dia ditcrima di Komitc Kc-amanan Ncgara. Bagaimanapun juga dia adalah salah satu tokoh “Lima Binlang”—yang paling pia-wai dari mcreka semua—bersama Burgess, Maclean, Blunt, dan Blake, orang-orang yang telah berhasil mcnyusup ke pusat pemerinlahan Inggris dan kemudian mclakukan pengkhianatan.

Burgess, yang mati muda karcna tcrlalu banyak minum alkohol, telah bcrada di sana scbclum ia datang. Maclean telah lebih dulu mcmbelot, dan ia telah bcrada di Moskow sejak 1951. Tahun 1963 ia merasa begitu resah dan frustrasi karcna Melin—

20

da akhirnya memutuskan untuk tidak mau datang kc sini, kc apartemcn ini. Maclean jalan terus walaupun sangat keccwa dan penuh kebencian, sampai akhirnya kankcr mcrcnggut nyawanya; saat itu ia membenci tuan rumah negeri ini dan mcreka juga membenci dia. Blunl telah “ditiup” dan diusir kembali kc Inggris. Jadi yang tinggal cuma dia dan Blake saja, begitu pikir laki-laki tua itu. Dalam bebcrapa hal ia merasa in tcrhadap Blake, yang berhasil mcmbaur dengan total, hidup bahagia, dan yang kini mcngundang dia dan Erita untuk merayakan Malam Tahun Baru. Mcmang, Blake memiliki latar belakang kosmopolitan; ayahnya orang Bclanda, dan ibunya orang Yahudi.

Baginya, ia tidak mungkin akan bisa bcrbaur, ia lahu itu setelah lima tahun pcrtama. Saat itu ia memang telah bisa bcrbahasa Rusia dengan fasih, tcrtulis maupun lisan, tapi logat Inggrisnya yang kcntal masih saja. Selain ilu, akhirnya ia mcmang membenci masyarakat di negeri ilu. Suatu masyarakat asing yang kaku dan sangat tertutup.

Tapi itu bclum yang tcrburuk; sclama kurun waktu tujuh tahun sejak kedatangannya, ia mulai kehilangan semua aspirasi politiknya. Tcrnyata scmuanya adalah dusta besar, dan ia cukup aril untuk bisa mcnyadari semua itu. Ia telah meng-babiskan masa muda dan masa kcmalangannya sebagai laki-laki untuk mengabdi kepada dusta, berdusta demi sebuah dusta, berkhianat demi dus-21

ta, mcninggalkan “tanah yang hijau dan ceria” itu—scmuanya demi sebuah dusta.

Selama bertahun-tahun, kctika majalah dan surat kabar Inggris sudah boleh masuk, ia mengikuti hasil-hasil pertandingan cricket sementara ia mcmberikan konsultasi mengenai cara-cara penycrangan, mengamati tcmpat-tcmpat lama yang tak asing baginya di majalah itu sementara menyiapkan rencana penghancuran tempat-tempat itu, nongkrong di bang-ku tinggi bar di The National untuk mendengarkan orang-orang Inggris lertawa dan bercanda dalam bahasa ibunya, sementara ia bertindak sebagai konsultan bagi tokoh-tokoh teras di KGB, bahkan termasuk sang Direktur sendiri, mengenai cara-cara yang terbaik untuk mclakukan subversi kc negeri pulau yang kecil itu. Dan selama itu, jauh di lubuk hatinya, selama lima bclas tahun terakhir ini, ia merasakan suatu keputusasaan yang mencekam yang bahkan alkohol dan semua wanita yang pcrnah dikencaninya tidak sanggup mcngobatinya. Sudah terlambat; ia tidak akan pernah bisa kembali, katanya kepada diri sendiri. Tapi toh….

Bel pintu bcrdering. Ia hcran. Mira Prospekt 111 adalah bangunan yang sepenuhnya milik KGB, di jalan samping yang sunyi di pusat kota Moskow, yang sebagian besar penghuninya adalah tokoh-tokoh teras KGB dan sejumlah tokoh Kementerian Luar Negeri. Seorang pengunjung pasti hams melewati pos pemeriksaan. Tak mungkin itu Erita—ia mempunyai kunci sendiri.

22

Waktu pintu dibukanya, seorang laki-laki berdiri di situ sendirian. Ia masih muda dan nampak bugar, mengenakan sebuah mantel dingin yang bagus buatannya, tanpa lencana, dilengkapi dengan shapka—topi bulu binatang—tanpa lencana, di kepalanya. Wajahnya nampak kosong dan dingin, tapi bukan karcna angin dingin di luar, sebab sepatunya menunjukkan bahwa ia metangkah ke-luar dari mobil dan langsung menginjak bangunan apartemen yang hangat; ia tidak mcnapakkan kaki ke salju yang beku. Matanya yang biru tanpa eksprcsi menatap Iclaki tua itu tanpa kcramahan dan tanpa permusuhan.

“Kamerad Koloncl Philby?” ia bertanya.

Philby agak terkejut. Teman-tcmannya yang akrab—suami-istri Blake dan kira-kira sctcngah lu-sin lainnya—menyebutnya “Kim”. Orang-orang lainnya mengenatnya dcngan nama samaran, yang disandangnya sclama bcrtahun-tahun. Hanya sc-gelintir orang di tingkat puncak mengenatnya sebagai Philby, salah satunya adalah seorang kolonel KGB yang sudah masuk daftar purnawirawan.

“Ya.”

“Saya Mayor Pavlov, dari Direktorat Utama Sembilan, diperbantukan kepada staf pribadi Sekretaris JendcraL”

Philby mengenai Direktorat Utama Sembilan KGB ini. Badan itu menyediakan bodyguard untuk semua tokoh penting Partai dan untuk semua ge-dung di mana mcreka berkantor dan tinggal. Sc—

23

ragam mereka—kini hanya khusus dikcnakan bila bertugas di dalam bangunan Partai dan bila menghadiri upacara-upacara resmi—antara lain ikat topi bcrwarna biru clcktrik, lidah-lidah di pundak, jas pcndck berkcrah tinggi. Mcreka juga dikenal sebagai Pasukan Keamanan Kremlin. Dipcrbantukan sebagai bodyguard pribadi, mereka mengcnakan pakaian sipil yang bagus buatannya; mcreka juga harus sangat bugar, sangat tcrlatih, sangat loyal, dan bcrscnjata Icngkap.

“Begitu,” kata Philby.

“Ini untuk Anda, Kamcrad Koloncl.”

Sang mayor menyodorkan sebuah amplop panjang terbuat dari kertas berkualitas tinggi. Philby menerimanya.

“Ini juga,” kata Mayor Pavlov, dan menyodorkan scpotong karton kecil persegi dengan nomor telcpon tertulis di atasnya.

“Terima kasih,” kata Philby. Tanpa bcrkata apa-apa lagi mayor itu mcnganggukkan kcpala dengan cepat, bcrputar pada tumitnya, dan berbalik lalu bcrjalan ke arah lorong. Beberapa detik kemudian, dari jendelanya, Philby menyaksikan limousine Chaika hitam dengan pelat nomor Komite Scntral yang nampak jelas itu, yang dimulai dcngan huruf-huruf MOC, mcluncur pcrgi dari gerbang depan.

Ś**

Jim Rawlings mengamati dengan cermat foto di

24

majalah umum itu melalui kaca pembesar. Foto ituyang d iambi I sctahun yang lalumcmpcrlihat-kan wanita yang tadi dilihatnya meluncur dengan mobil ke arah utara kc luar London pagi tadi bersama suaminya. Ia sedang berdiri dalam suatu derctan sementara wanita yang di sebclahnya sedang menyalami Princess Alexandra. Dan ia mengenakan bcrlian-berlian itu. Rawlings—yang telah melakukan pcnclitian bcrbulan-bulan scbclum ia mcmbuat ge-brakannya ini—mengenai asalu.su! berlian ini lebih baik dari tanggal lahirnya sendiri.

Di tahun 1905 Earl of Margate yang masih muda usia kembali dari Afrika Selatan dengan membawa empat balu mulia yang besar-besar tapi belum diasah. Waktu menikah di tahun 1912, ia mcminta Carticr London mcngasahnya dan membcrikan batu-batu itu kepada istrinya yang masih muda sebagai hadiah. Carticr kemudian menugaskan Aascher’s di Amsterdam untuk mcngasahnya, yang saat itu masih dianggap sebagai pengasah berlian terbaik di dunia karcna sukses mcngasah batu Cullinan yang sangat keras. Batu pcrmata yang asalnya empat potong itu dibentuk menjadi dua pasang yang saling mclengkapi, berbentuk buah pir dengan facet lima puluh detapan, satu pasangnya berukuran sepuluh karat untuk masing-masing pcrmata, scdangkan scpasang yang satu lagi dua puluh karat untuk masing-masing permata.

Setelah kembali ke London, batu-batu ini oleh Carticr dibuat menjadi perhiasan dengan emas pu—

25

lih. dikclilingi empat puluh berlian kccil-kccil, untuk menciptakan satu set pcrhiasan terdiri dari satu tiara dcngan salah satu berlian bcrbcntuk buah pir yang besar tadi sebagai titik tengahnya, sebuah mala kalung dengan berlian besar yang satunya lagi sebagai titik tengahnya, dan anting-anting yang serasi yang terdiri dari dua berlian yang lebih kecil itu. Scbclum perhiasan terscbut sclesai dibuat, ayah sang Earl—yaitu Duke of Sheffield yang Ketujuh—meninggal dunia, dan sang Earl mewarisi gclarnya itu. Bcrlian-bcrlian itu lalu ili kenal sebagai Berlian Glen, sama dcngan nama rumah kcluarga itu di Sheffield.

Duke Kcdelapan mewariskan berlian itu pada saat kematiannya di tahun 1936 kepada putranya, dan putranya ini mcmpunyai dua anak, seorang putri yang lahir di tahun 1944 dan seorang putra yang lahir di tahun 1949. Putrinya inilah, sckarang bcrumur empat puluh dua, yang saat ini fotonya sedang diamati oleh Jim Rawlings lewat kaca pemhesar.

NKau tak akan bisa mcmakainya lagi, darling,” kata Rawlings kepada diri sendiri. Lalu sckali lagi ia mcmcriksa pcralatan yang akan digunakannya malam itu.

Harold Philby mcmbuka amplop itu dcngan sebuah pisau dapur, mcngcluarkan suratnya, dan me—

26

letakkannya di atas meja ruang duduk. Ia tcrkesan; surat itu bcrasal dari Sekretaris Jendcral Partai Komunis Uni Soviet sendiri, ditulis dalam tulisan tangan pemimpin Soviet yang rapi bagaikan tulisan seorang sekretaris dan tentu saja, dalam bahasa Rusia.

Seperti amplopnya, kcrtas surat itu juga bcrkualitas tinggi dan tidak ada kopnya. Pastilah ia menu I is surat itu di apartemennya di Kutuzovsky Prospckt 26, bangunan mahabesar yang sejak 7a-man Stalin telah mcnampung tokoh-tokoh Partai yang paling penting dalam ruangan-ruangannya yang mewah.

Di scbelah kanan atas tertulis Rabu, 31 Desember 1986, pagi. Lalu teks di bawahnya. Bunyinya:

Dear Philby,

Perhatian saya tertarik kepada kata kata yang A/nla ucapkan di resepsi makan malam belum lama mi di Moskow. Anda mcngatakan bahwa “stabilitas politik dt Inggris Raya senantiasa selalu ditafsirkan secara bcrlebihan di Moskow sini, terlebih-lebih sckarang ini.”

Saya akan senang sekali kalau Anda dapat memberikan penjelasan lebih lanjut dan rincian dan ucapan Anda tersebuL Harap penjelasan Anda diberikan secara tertulis dan kirunkan tangsung kepada saya pribadi, dan Anda tidak perlu menytmpan salinannya atau me minta sekretaris menuliskannya.

27

Kalau sudah siap harap hubungi Mayor Pavlov di nomor yang diberikan olehnya itu, minta bicara dengan dia pribadi, dan ia akan datang ke tempat Anda untuk mengambil surat itu.

Saya mengucapkan selamat atas ulang tahun Anda besok.

Hormat saya….

Surat itu ditutup dcngan tanda tangan.

Philby mengembuskan napasnya pcrlahan-lahan. Jadi, acara makan malam Kryuchkov pada tanggal dua puluh cnam untuk para perwira senior KGB itu ternyata telah disadap. Ia mcmang sudah agak curiga saat itu. Sebagai wakil dircktur satu KGB dan kepala Direktorat Utama Satu, Vladimir Alcxandrovitch Kryuchkov adalah pembantu sctia sang Sekretaris Jcnderal, jiwa dan raga. Walaupun bcrpangkat kolonel jenderal, Kryuchkov tidak berjiwa militer dan bahkan bukan seorang perwira intelijcn profesional; ia adalah seorang apparatchik Partai, dari ujung rambut sampai kaki, salah satu dari mereka yang dibawa masuk oleh pemimpin Soviet yang sekarang waktu ia menjabat dircktur KGB.

Philby mcmbaca surat itu lagi, kemudian menyingkirkannya. Gaya si tua itu belum juga bcrubah, begitu pikirnya. Singkat dan lugas sampai hampir-hampir kurang pantas, jelas dan persis, tak ada basa-basi yang berlebihan, dan tidak menyebabkan penafsiran yang bertentangan. Bahkan pe—

28

nycbutan ulang tahun Philby juga cukup singkat, hanya untuk menunjukkan bahwa ia telah mcmbuka-buka filc-nya. Tidak lebih dari itu.

Toh, Philby terkesan. Sebuah surat pribadi dari orang yang paling dingin dan tak pcrnah akrab dcngan orang lain ini merupakan sesuatu yang luar biasa dan akan membuat orang gemctar karena merasa mendapat kchormatan besar. Bcrtahun-tahun yang lalu masalahnya akan lain. Pada saat pemimpin Soviet yang sekarang ini memasuki KGB sebagai dircktur, Philby sudah bcrada di sana selama bertahun-tahun dan masih dianggap seakan sebagai bintang, membcri kuliah tentang badan-badan intelijcn Barat pada umumnya dan mengenai SIS Inggris khususnya.

Seperti semua orang Partai yang memperoleh kedudukan yang mcmbawahi orang-orang dari disiplin yang berbeda, kctua baru itu juga mcnempatkan orang-orangnya sendiri di posisi-posisi kunci. Philby, walaupun dihormati dan dikagumi sebagai salah satu dari Lima Bintang, menyadari bahwa sangat penting mcmpunyai pelindung yang berkedudukan tinggi di masyarakat yang penuh dcngan pcrsckongkolan ini. Sang Ketua, yang jauh lebih intclck dan bcrbudaya daripada para pendahulunya, ternyata menunjukkan minat besar— bukan karena kckaguman tapi lebih dari sekadar pcrhatian biasa—tcrhadap Inggris.

Selama tahun-tahun itu sering sekali ia minta Philby untuk mcmberikan interpretasi atau analisa

29

atas peristiwa-perisliwa di Inggris, tokoh-tokohnya, dan bagaimana kcmungkinan rcaksi mcreka, dan Philby selalu scnang mcmbantu. Seakan kctua KGB itu ingin membandingkan laporan yang masuk ke mejanya dari para ahli Inggris di badan yang dipimpinnya dan dari kantornya yang lama— Departcmen Intcrnasional Komite Sentral—dcngan pengamat lain. Beberapa kali ia mengikuti nasihat Philby dalam mcnangani masalah-masalah yang berkenaan dcngan Inggris.

Sudah lima lahun sejak Philby bertemu muka dcngan tsar baru yang mcmbawahi scluruh per-serikatan Rusia. Pada bulan Mei 1982 ia mcnghadiri sebuah rescpsi untuk mcnganlarkan sang Kctua pergi meninggalkan KGB dan kembali kc Komite Sentral lagi, seakan-akan sebagai sekretaris, tapi scbenamya untuk mempersiapkan diri terhadap kematian Brezhnev yang sudah dekat dan untuk mendalangi rencananya sendiri nanti. Dan sckarang ini lagi-lagi ia mcmbuluhkan inlerprctasi Philby.

Rcnungan Philby dibuyarkan oleh kcmbalinya Erita dan anak-anak. Wajah mcreka mcrah karena main ski dan ributnya seperti biasa. Dulu, di tahun 1975, lama setelah kepergian Mclinda Maclean, ketika para penguasa KGB memutuskan bahwa Philby sudah mulai bosan main pcrempuan dan minum alkohol (di mata para apparat, scdikitnya), Erita diinstruksikan untuk pindah dan tinggal bcrsama dia di apartcmennya. Saat itu ia adalah seorang gadis anggota KGB, bcrdarah Yahudi (mc-30

mang ini di luar kebiasaan), bcrumur tiga puluh empat, bcrambut hitam, dan berperawakan gempal. Tahun itu juga mcreka mcnikah.

Setelah menikah, daya tarik pribadi Philby mulai menunjukkan pengaruhnya, Erita benar-benar jatuh cinta kepadanya dan tidak mau lagi memberikan laporan kepada KGB tentang Philby. Petugas yang menanganinya mengangkat bahu, mclapor ke atas, dan diberi instruksi untuk mcmbiarkan saja hal itu. Anak-anak mereka lahir dua dan tiga tahun kemudian.

“Ada yang penting, Kim?” ia berlanya saat Philby bcrdiri dan mcmasukkan surat itu ke dalam sakunya. Ia mcnggclcngkan kepala. Erita lalu membantu anak-anak mclcpaskan jaket tebal yang bcrlapis-lapis.

“Tak ada apa-apa, Sayang,” katanya. Tapi Erita bisa melihat bahwa ia sedang memikirkan sesuatu. Erita cukup arif. Ia tidak mendesak. Dihampirinya Philby, dan diciumnya pipinya.

“Jangan minum terlalu banyak di pesta Blake nanti malam, ya?”

“Akan kucoba,” katanya sambil tersenyum. Padahal ia sudah merencanakan untuk ber-scnang-senang sekali saja lagi. Ia seorang peminum sclama hidupnya, yang jika sudah mulai minum di pesta, biasanya akan mclanjutkannya sampai tak sadarkan diri. Philby telah mengabaikan pcringatan seratus dokter untuk menghentikan kcbiasaannya itu. Mereka telah memaksanya bcrhenti

31

mcrokok, dan ilu saja sudah terlalu bcrat un-luknya. Jadi, dia akan tcrus minum minum. Ia bisa saja bcrhenti jika mau, dan ia tahu bahwa ia harus menghentikan kcbiasaannya untuk sementara waktu setelah pesta nanti malam.

Ia mencoba mcngingat kembali pemyataannya waktu makan malam di tempat Kryuchkov dan gagasan-gagasan apa yang menyebabkannya mcmbuat pernyataan itu. Ia tahu semua apa yang sedang tcrjadi, dan apa yang akan tcrjadi, di tubuh Partai Buruh Inggris. Yang Iain-Iain mcnerima laporan intelijcn yang masih mentah, yang sudah dikajinya sclama bcrtahun-tahun, dan yang masih selalu ditcruskan kepadanya sebagai ungkapan ba-las jasa. Tapi memang hanya dia yang bisa mc-nyusun bahan bahan itu, menggabungkannya bcr-dasarkan kerangka psikologi massa Inggris, dan menghasilkan gambaran yang nyata. Jika ia mcng-hargai gagasan yang terbentuk di benaknya, maka ia harus mcnguraikan gagasan tcrscbut dalam kata kata, mcnyuguhkannya kepada pemimpin Rusia itu sebagai salah satu karya paling bagus yang pemah ditulisnya. Di akhir pekan nanti ia bisa mengirim Erita dan anak-anak ke dacha mcreka. Ia akan mulai mcnulis, sendiri di apartemennya, di akhir pekan nanti. Scbctum itu, bcrscnang-scnang dulu untuk yang tcrakhir kali.

Jim Rawlings sclama satu jam, an Lint jam sembilan dan jam scpuluh malam itu, duduk di sebuah

32

mobil sewaan lain yang lebih kecil, di depan Fontenoy House. Ia mengenakan jas pesta yang bagus buatannya dan dcngan demikian tidak menimbulkan kecurigaan. Yang sedang dikajinya adalah pola-pola pencrangan jauh di atas sana, di bangunan apartemen itu. Flat yang menjadi targctnya tentu saja yang lampunya tidak mcnyala itu, tapi ia lega melihat ada cahaya di apartemcn-apartemcn yang bcrada di atasnya dan di bawahnya. Di masing-masing apartemcn itu, menilik penampilan para tamunya yang nampak di jcndela-jcndclanya, sedang berlangsung pesta Tahun Baru.

Pada jam scpuluh, setelah mobil diparkirnya tersembunyi di sebuah jalan samping dua blok dari tempat itu, ia berjalan santai masuk lewat pintu depan Fontenoy House. Begitu banyak orang keluar masuk schingga pintu-pintu ditutup tapi tidak dikunci. Di dalam lobi, di scbelah kiri, terdapat bilik penjaga pintu, persis seperti yang dilaporkan Billy Rice. Di dalamnya si penjaga malam sedang mcnonton telcvisi portable buatan Jcpang. Ia bangkit dan mcnghampiri mulut pintu, seakan akan mcngatakan scsuatu.

Rawlings mcmbawa scbotol sampanye yang di-hias dcngan pita besar. Ia mclambaikan tangannya mcmbcri salam scpintas lalu.

“Malam,” scrunya, lalu menambahkan, “oh, dan sclama! Tahun Baru.”

Tidak mungkin penjaga tua itu akan mcnanyakan jati diri atau lujuan tamu. Paling sedikit ada

33

cnam pesta berlangsung di bangunan itu. Scparc-nya nampaknya pesta bcbas, jadi bagaimana mungkin dia akan mcncocokkan daftar tamu?

“Oh… cr… terima kasih, sir. Sclamat Tahun Baru, sir,” katanya, tapi tamu bcrjas pesta itu telah masuk kc koridor. Penjaga itu kembali asyik menonton film di TV.

Rawlings mcnggunakan tangga kc lanlai dua, kemudian naik //// kc lanlai dclapan. Pada jam scpuluh lebih lima dia bcrada di luar pintu apartemen yang ditujunya. Seperti yang dilaporkan Billy, tak ada alarm di situ dan kuncinya adalah mcrck Chubb. Masih ada lagi sebuah kunci Yale pelengkap yang bisa mengunci sendiri, untuk kcperluan sehari-hari, sctcngah meter di atas kunci Chubb itu.

Kunci Chubb memiliki tujuh belas hbu kombinasi. Kunci itu terdiri atas lima pengungkit di dalamnya, tapi bagi seorang ahli kunci itu bukan masalah besar, scbab hanya dua sctengah pengungkit yang pertama saja yang perlu dicocokkan; yang dua setengah lagi sama, hanya kcbalikannya, sehingga kunci pemilik akan cocok kalau ditusuk-kan dari sisi pintu yang lain.

Setelah putus sckolah pada umur cnam belas, sclama scpuluh tahun Rawlings bckcrja di tempat pamannya, Albert, di toko besi miliknya. Toko itu mcrupakan usaha samaran yang baik untuk orang tua itu, yang profesi sebenarnya adalah pendobrak !<_ in.iri besi yang tcrkenal pada zamannya. Itu

34

mcmbuat Rawlings muda tahu semua jenis kunci yang dijual dan yang dipakai oleh kebanyakan lemari besi ukuran kecil. Setelah scpuluh tahun terus-mencrus bcrpraktck, dan di bawah bimbingan Paman Albert yang ahli, Rawlings mampu men dobrak hampir semua jenis kunci yang dijual di pasaran.

Dari saku eclananya dikeluarkannya s^untai kunci berjumlah dua belas, scmuanya dibuat di bcngkclnya sendiri. Ia mcmilih dan mencoba tiga, berurutan, dan mclanjutkan sampai yang kecnam dalam unlaian itu. Dimasukkannya kc dalam kunci Chubb ilu, dan ia mulai mcrasakan titik-titik yang menckan di dalam kunci itu. Kemudian, dcngan mcnggunakan pclat baja tipis yang diambilnya dari saku alas bajunya, ia mulai mcngikir kunci kawat yang terbuat dari logam lunak itu. Dalam waktu sepuluh menit ia telah berhasil mcnembus dua setengah pengungkit pertama—konfigurasi, atau profil, yang dibutuhkannya. Lima belas menit setelah itu ia telah bisa mcmbuat pola pengungkit yang sama yang mcrupakan kcbalikannya. Ia lalu menusukkan kunci kawat yang sudah dikikir itu ke dalam kunci Chubb, serta memutarnya pcrlahan dan hati-hati.

Ternyata bisa bcrputar penuh. Ia mcnunggu selama cnam puluh detik, kalau kalau campuran Plasticine dan Super Glue Billy tidak mclckat di dalam kcrangka pintu ilu. Tak ada dering bel. Ia bernapas lega, lalu mclanjutkan mengutak-atik

35

kunci Yale dengan mcnggunakan sebuah paku baja halus. Itu mcmbutuhkan waktu cnam puluh detik, dan pintu itu akhirnya terbuka tanpa suara. Di dalam gelap, tapi cahaya dari kondor mcmbuat ia bisa melihat garis-garts tcpi lorong masuk depan yang kosong. Luasnya sckilar dua setengah meter pcrscgi dan lantainya bcrkarpct.

Ia cunga ada tombol alarm di bawah karpct itu enlah di sebelah mana, yang jclas tidak di dekat pintu supaya tidak terinjak oleh pcmiliknya sendiri. Rawlings mclangkah masuk kc dalam ruangan itu, dcngan menjaga dirinya agar tetap mcrapat ke dinding, sambil menutup pintu di bclakangnya dan mcnyalakan lampu di lorong itu. Di sebelah kirinya ada pintu lain, setengah terbuka, lemyata itu kamar mandi. Di sebelah kanannya, ada pintu lain, hampir pasti itu adalah lemari pakaian yang dipasangi sistcm kontrol alarm, yang akan dibiarkannya saja. Ia lalu mengambil sebuah tang dari saku di dadanya, mcmbungkukkan hadan dan nunc angkat pinggiran karpct-Saat lembaran karpct tcr angkat lebih tinggi, ia melihat tombol injakan alarm, lepat di tengah lorong. Hanya satu. Pclan-pelan ia menurunkan karpct itu kembali, melangkah mcngclilinginya dan mcmhuka pintu yang lebih besar yang berada di depannya. Seperti kata Billy, iuj pintu yang menuju ke ruang duduk.

Ia bcrdiri beberapa menit lamanya di ambang ruang duduk sebelum akhirnya mcnemukan tombol lampu. Lampu dinyalakannya. Ini merupakan

36

suatu langkah penuh risiko, tapi ia bcrada di sebuah apartemcn di tingkal delapan, para pcmiliknya bcrada jauh di Yorkshire, dan ia tidak punya waktu untuk bckcrja dalam ruang penuh jcbakan hanya dcngan bantuan lampu baterai pcnsil.

Ruang itu berbentuk pcrscgi, luasnya sckitar delapan kali cnam meter, dengan karpct mewah dan dilcngkapi pcrahotan mahal. Di hadapannya nampak jendela dcngan kaca ganda yang mcnghadap kc arah selatan dan mcnaungi jalan raya. Di sebelah kanannya ada dinding yang dipasangi perapian batu, dan di salah satu sudut ada sebuah pintu yang bisa diduga pasti menuju kc ruang tidur utama. Di sebelah kirinya, di dinding ada dua pintu: satu menuju ke lorong tempat kamar kamar tidur tamu; satunya lagi tertutup, barangkali ilu pintu ruang makan dan dapur.

Sclama scpuluh mcnil bcrikutnya ia bcrdiri di situ tak bergeming, memandangi dinding dinding dan langit-langit. Alasannya sedcrhana: ada kemungkinan ruang itu dipasangi sebuah static movement alarm—alarm gcrak statis—yang tak tcrlihat oleh Billy Rice dan yang akan bisa mendctcksi tempcratur tubuh atau gerakan yang memasuki ruang itu. Seandainya alarm bcrdcring, ia bisa k<-ltj.tr dari situ dalam waktu tiga detik. Ternyata alarm tidak bcrbunyi; sistcm pengamannya hanya mcngandalkan pintu yang dipasangi alarm dan barangkali juga jendela—yang tidak akan di-37

sentuhnya—dan juga mcngandalkan tombol-tombol injakan alarm di lanlai.

Lemari besinya, dia yakin, pasti bcrada di mangan ini alau di ruang tidur utama, dan pasti dipasang di dinding luar, scbab dinding datam tidak cukup tcbal untuk itu. Tcpat sebelum jam sebelas ia mencmukan-nya. Persis di hadapannya, di dinding sclcbar dua setengah meter di anlara dua jendela yang lebar, dipasang sebuah cermin berbingkai emas, yang tidak mempunyai jarak dengan dinding itu, seperti lukisan-lukisan di ruangan itu—yang tcpi-tcpinya dinaungi bayang-bayang tipis—tapi dipasang menempcl di dinding, seakan diberi cngsel.

Menggunakan langnya untuk mcngangkat pinggiran karpct, ia menuju ke cermin itu dcngan menyusur rapai sepanjang dinding, sambil mclangkahi kawat-kawat kecil mirip benang yang be rasa I dari pusat kontrolnya dan menuju ke tombol-tombol injakan yang tcrscbar di sekitar litik pusat ruangan itu.

Kctika sampai kc cermin itu ia melihat hanya ada satu tombol injakan tepat di bawahnya. Tadinya ia bcrmaksud menyingkirkannya, tapi ia lalu mcngangkat sebuah meja kopi besar tapi pendek yang ada di dekat situ, mencmpatkannya mcnaungi tombol injakan itu, dan mcngusahakan agar kaki-kaki mcja tidak mcnycnluh tombol itu. Kini ia tahu bahwa jika ia selalu bcrada dekat mcrapat ke dinding, atau bcrdiri di alas suatu pcrabot (tak ada pcrabot yang mcnginjak tombol alarm), maka ia akan aman.

38

Cermin itu ditempclkan ke dinding dengan kail magnctik, yang juga dipasangi alarm. Ini bukan masalah. Ia menyclipkan lempengan tipis baja magnctik di anlara kedua kait magnctik itu, satu pada bingkai cermin dan satunya lagi pada dinding. Dengan it tap menjaga supaya lempengan magnet pengganti itu tclap menempcl kc magnet yang ada di dinding, ia lalu melepaskan cermin itu dari dinding. Magnet di dinding itu ternyata tidak bcreaksi; ia masih it tap lengket dcngan magnet pengganti, jadi ia tidak mengirim laporan bahwa kontaknya telah diputuskan.

Rawlings terscnyum. Lemari besi dinding itu ternyata bermcrek Hamber Model D. Ia tahu bahwa pintunya tcrhuat dari baja keras berlekanan tinggi setebal salu scntimctcr lebih; cngselnya adalah tongkat vertikal dari baja keras, yang dipasang mencmbus kcrangka lemari itu dari atas dan dari bawah. Mckanismc pengamanannya terdiri dari tiga sekrup baja keras yang nampak mcnonjol pada pintunya dan mencmbus kcrangka lemari itu sedalam hampir empat scntimeter. Di balik permukaan pintu baja itu ada kotak scng sedalam lima sentimctcr yang memuat kctiga sekrup pc-ngunci itu, sekrup vertikal yang mcngendalikan gcrakan kctiga sekrup itu, dan kunci kombinasi beroda tiga yang kini tcpat bcrhadapan dengan dia.

Rawlings tidak bcrmaksud mengutak-atik semua ini. Ada cara yang lebih mudah, yaitu memotong pintunya dari alas ke bawah di sisi roda kombinasi

39

tempat engselnya bcrada. Ini akan mcngakibatkan cnam puluh pcrscn pintunya, yang mcmuat kunci kombinasi scrta kctiga sekrup pengunci ilu, ler-desak ke dalam kcrangka pintu lemari besi ilu. Dan yang empat puluh pcrscn sisanya akan terbuka, membcrinya cukup ruang untuk memasukkan tangannya ke dalamnya dan mengcluarkan isi-nya.

Dcngan hali hati ia kembali kc lorong, tempat ia meninggalkan botol sampanyenya, dan kembali dcngan itu. Sambil berjongkok di atas meja kopi, dibukanya alas botol palsu ilu dan dikeluarkannya pcralatannya. Sclain sebuah detonator listrik yang tcrbungkus kain katun dalam sebuah kotak kecil, sejumlah magnet kecil, dan segulung kabel listrik rumah tangga biasa, ia juga membawa CLC.

Rawlings tahu bahwa cara tcrb.uk untuk me-molong lempengan baja sctebal satu scpercmpat scntimeter adalah dcngan menerapkan tcori Monroe—suatu cara yang dinamai sesuai dcngan nama penemu prinsip shaped-charge itu. Apa yang sedang dipegangnya disebut CLC atau charge-linear-cutting, yaitu sebalang logam berbentuk V, kaku tapi bisa ditckuk dcngan tang, tcrbungkus dalam bahan pclcdak plastik, dibuat oleh tiga perusahaan di Inggris, yang satu milik pemerintah, dua lainnya nulik swasta. CLC jelas tidak bisa diperoleh secara bebas, kccuali melalui perizinan yang ketat, tapi sebagai seorang pembongkar peli besi pro-40

lesion.il, Rawlings punya koneksi, seorang karyawan korup di salah satu perusahaan swasta ilu.

Dengan cepal dan mahir, Rawlings mempersiapkan logam itu sepanjang yang dibutuhkannya dan memasangnya di sebelah luar pintu lemari Hamber itu, dari atas ke bawah, di salah satu sisi roda kombinasi itu. Pada salah satu ujung CLC dipasangnya detonator, dan dari detonator terscbut mencuat dua kabel tembaga yang terpilin. Ia melepaskan kedua kabel yang terpilin dan dipi&ahkannya Icbar-lebar, untuk mencegah terjadinya kor-sleling. Kabel ini lalu disambungkannya ke kabel biasa yang dibawanya, yang di ujungnya terdapal sicker bcrkaki tiga.

Sambil mcmbuka gulungan kabel dengan hati-hati, ia lalu berjalan mundur sambil merapat ke dinding, ke lorong yang menuju kc ruang tidur tamu. Lorong itu akan melindunginya dari ledakan nanti. Ia lalu melangkah dcngan hati-hati ke dapur untuk mengisi kantong polyethylene besar yang dikeluarkannya dari sakunya. Kantong ini lalu dilekatkannya kc dinding dcngan paku-paku pa-yung dalam posisi mcnggantung di atas bahan pclcdak yang dipasangnya pada pintu lemari besi itu. Pcrcdam ledakan dari bulu unggas, demikian kata Paman Albert, hanyalah untuk burung dan TV. Tak ada pcrcdam ledakan yang lebih cfektif daripada air.

Jam menunjukkan dua puluh menit sebelum tcngah malam. Pesta di atas scmakin bising. Bahkan

41

di dalam bangunan yang mewah ini, yang me nekankan kenyamanan dan kcleluasaan pribadi, ia bisa mendengar dengan jelas suara-suara teriakan dan langkah orang bcrdansa. Tindakannya yang lerakhir sebelum pcrgi berlindung ke lorong itu adalah menyalakan televisi. Di dalam lorong itu ia menemukan sebuah stopkontak dengan kenop, mc-mcncet kenop dalam posisi Off, lalu menusukkan kabel listrik tadi ke dalam stop kontak itu. Lalu ia menunggu.

Satu menit sebelum tcngah malam bunyi-bunyi di atas semakin gaduh. Lalu liba-tiba mereda, ke-tika seseorang berteriak minta semua orang tenang. Dalam bening itu, Rawlings bisa mendengar suara televisi yang tadi dinyalakannya di ruang duduk. Acara tradisional Scotch yang sedang ditayangkan, musik balada dan dansa Highland, tiba-tiba bcrhenti dan nampak lonceng Big Ben dalam keadaan diam di alas Gedung Parlemen London. Di belakang penampang luar lonceng itu nampak lonceng raksasa. Great Tom, yang sering disangka orang Big Ben. Komentator TV mcngisi detik-detik itu dengan obrolan ringan menunggu saat tepal tengah malam, sementara seluruh penduduk Kerajaan Inggris mengisi gelas-gelas mereka. Bunyi perempat lonceng ilu mulai bergenia.

Bunyi perempat selesai dan hening sejenak. Kemudian Great Tom berdenlang: Bong! Menggele-garlah bunyi hitungan pertama dari saat tengah malam itu. Bunyi itu bergenia di dua puluh jula

42

rumah penduduk di Kepulauan Inggris; mengguncangkan apartemen di tingkat sembilan Fontenoy House, bcrbaur dengan suara orang bersorak dan nyanyian Auld Lang Syne. Pada saat dentang pertama itu bergema di lanlai delapan, Jim Rawlings memasang kenop listrik itu ke posisi On.

Ledakan di flat itu tidak didengar orang, kecuali olehnya sendiri. Ia menunggu selama enam puluh detik, lalu melepaskan kabel dari stopkontak dan bcrjalan balik ke lemari besi sambil mengemasi peralalannya. Asap ledakan itu sudah mulai menipis. Dari kantong plastik berisi air tadi tak ada yang tersisa kecuali bercak-bercak basah. Pintu lemari besi itu nampak seperti baru saja dibacok dari atas ke bawah dcngan sebuah kapak tumpul oleh seorang raksasa. Rawlings meniup asap yang menghalangi pandangan dan dengan tangan tcrbungkus sarung tangan ia mcnarik bagian yang lebih kecil dari pintu itu pada engselnya. Kotak dari seng itu terkoyak hancur karena ledakan, tapi semua sekrup yang ada di bagian pintu yang satunya masih utub di dalam soket masing-masing. Celah yang dibuatnya itu cukup besar untuk mengintip kc dalam. Ada peti uang dan sebuah kantong beludru; ia mengeluarkan kantong itu, menarik tali pengikatnya, dan mcnuangkan isinya ke atas mcja kopi.

Benda-benda itu gemcrlapan dan bcrpendar-pendar di bawah sinar lampu, seakan mengandung api. Berlian-berlian Glen. Rawlings telah mema—

43

sukkan sisa-sisa pcralatannya—kabel, kotak detonator yang sudah kosong, paku-paku payung, dan sisa CLC—kembali ke dalam botol sampanye pal-mi, ketika ia tiba-tiba sadar ada suatu masalah yang timbul di luar perhitungannya. Hiasan kalung dan anting-anting itu pasti muat di saku celananya, tapi tiaranya ternyata lebih lebar dan lebih tinggi daripada yang diperkirakannya. Ia memandang ke sekelilingnya, mencari wadah yang sekiranya tidak akan mcnarik pcrhatian orang. Yang dicarinya tcr-lctak di atas sebuah meja tulis beberapa meter dari situ.

Ia mengosongkan isi tas kantor itu—dompet, kartu-kartu kred it, sejumlah pena, buku alamat, dan beberapa map—menuangnya ke jok sebuah kursi.

Tas kantor itu sangat sesuai untuk keperluannya. Itu akan bisa me muat perhiasan Berlian Glen dan botol sampanye itu—yang akan nampak mencurigakan jika dibawa ke luar setelatx pesta usai. Memandang ruang duduk itu untuk terakhir kali, Rawlings lalu mematikan lampu, melangkah menuju lorong, dan mcnutup pintu. Tiba di koridor ia mengunci kembali pintu utama dan enam puluh detik kemudian ia berjalan melewati kamar penjaga pintu dan keluar menuju kcgelapan malam. Penjaga tua itu bahkan mendongak pun tidak.

Sudah hampir tcngah malam di hari pertama bulan Januari 1987, ketika Harold Philby duduk di

44

hadapan meja ruang duduk di flatnya di Moskow. Dia jadi melaksanakan niatnya untuk minum minum malam sebelumnya di pesta yang diadakan suami-istri Blake, tapi sama sekali tidak mcnik-matinya. Pikirannya terlalu tcrpancang pada apa yang akan ditulisnya nanti. Sepagian ini ia ber-angsur pulih dari pening akibat alkohol, dan sekarang, sementara Erita dan anak-anak masih tidur, ia memperoleh kescmpatan untuk bcrada sendirian dan mencoba merenungkan rencananya.

Terdengar dekur merpati dari sebcrang ruangan. Philby bangkit, menghampiri sangkar besar di su-dut, dan memandang—melalui jeruji sangkar—sc-ekor merpati yang satu kakinya diikat dengan bi-lah supaya kaku. Philby mcmang punya hobi me-mchhara binatang, mulai dari rubah sewaktu di Beirut dulu sampai bcrbagai jenis kenari dan par-kit di flatnya yang sekarang ini. Merpati itu mcloncat-loncat menyeberangi lantai sangkarnya, kakinya yang terikat merintangi jalannya.

“Baik, kawanku,” kata Philby melalui jeruji sangkar, “segera akan kila lepas ikatan itu dan kau akan bisa terbang kembali.”

Ia lalu balik ke meja. Scmuanya harus dikcrjakan dengan baik, katanya pada dirinya sendiri untuk yang keseratus kalinya. Sekretaris Jendcral ini tak boleh dibuat marah dan tak boleh dibo-hongi. Beberapa di an Lira perwira senior Angkatan Udara yang telah mengelabuinya schubungan dengan pcristiwa penguntitan dan penembakan pe—

45

sawat pcnumpang Korea di lahun 1983 akhirnya harus icrbujur dalam kubur dingin di bawah udara beku Kamchatka. Walaupun Icmah karena kondisi keschatannya yang buruk dan menghabiskan banyak waktu di atas kursi roda, sang Sekretaris Jendcral masih telap merupakan penguasa mullak Uni Soviet. Kata-katanya merupakan hukum, otaknya masih tajam seperti pisau silet, dan tak ada ha I yang Input dari pandangan matanya yang pucat itu. Mengambil kertas dan pensil, Philby mulai menuliskan konscp awal dari jawabannya.

Tepat sebelum tengah malam tangga I 1 Januari, pemilik apartemcn di Fontenoy House kembali seorang diri ke London. Ia seorang laki-laki berperawakan jangkung dengan rambut bcruban, dan nampak terhormat dalam umurnya yang mcnginjak pertengahan 50-an. Ia mcngarahkan mobilnya langsung kc area parkir di basement, menggunakan kartu plastiknya untuk masuk, menjinjing kopcrnya, dan naik lift ke lanlai delapan. Suasana hatinya sedang kurang baik.

Ia baru saja naik mobil selama enam jam, meninggalkan rumah mewah ipar laki-lakinya tiga bari sebelum yang direncanakan karena bertengkar hebat dengan Lstrinya. Istrinya, yang bersifat kaku dan gemar bcrkuda itu, memuja suasana pedesaan yang justru sangat dibenci suaminya. Karena ingin bersenang-senang naik kuda sepanjang rawa-rawa Yorkshire dalam suasana pertengahan musim di-46

ngin, istrinya ;tu meninggalkan dia tcrsekap dalam rumah bersama saudara laki-lakinya, yaitu Duke Kcsepuluh. Kenyataan ilu memperburuk suasana, karcna sang pemilik apartemen, yang berbangga diri atas kecenderungannya akan sifat-sifat mas-kulin, menemukan kenyataan bahwa iparnya yang brcngsek ilu ternyata seorang gay.

Makan malam mcnyambut Tahun Baru ilu sangat tidak menyenangkan baginya. Ia dikelilingi oleh kerabat istrinya yang tak henti hentinya bcrbicara tentang berburu, menembak, dan memancing, yang ditimpali oleh suara tawa sang Duke yang melengking tinggi dan teman-lcmannya yang kclcwat tampan. Paginya ia menegur istrinya dan itu membuat istrinya marah sekali. Akhirnya disetujui bahwa ia akan naik mobil sendirian ke sclalan setelah minum ten. dan istrinya akan tinggal selama ia suka di situ, bisa-bisa sampai sebulan lamanya.

Ia memasuki lorong tempat masuk ke apartemennya dan berhenti; sistcm alarm ilu scharusnya mengeluarkan bunyi pip-pip-pip sclama tiga puluh detik sebelum alarm berbunyi keras-keras, sementara itu ia akan punya cukup waktu untuk meraih kotak pusat kontrol dan mematikannya. Sialan, pikirnya, macet barangkali. Ia berjalan menuju lemari pakaian dan mematikan scluruh sistcm alarm apartcmennya dengan kunci pribadi. Kemudian ia masuk kc ruang duduk dan menyalakan lampu.

47

Ia berdiri di situ, kopcrnya masili lertinggal di lorong, dan mcnatap ruang duduknya dengan mu-lut ternganga dan perasaan ngeri. Bercak-bercak air telah menguap karena suhu udara yang panas, dan televisinya tidak dihidupkan. Yang tertangkap oleh pandangan matanya seketika itu adalah dinding yang tergurat-gurat dan pintu lemari besi yang terkoyak tepat di hadapannya. Ia berjalan melintasi ruangan beberapa langkah dan mengintip ke dalam lemari besi itu. Tak salah lagi, berlian-bcriian itu sudah raib. Sekali lagi ia memandang berkeliling, melihat harang-barangnya terserak di kursi dekat perapian dan karpet nampak terangkat pinggirannya, di bagian yang menempel di din ding. Ia terduduk di kursi dekat perapian yang satunya lagi, wajahnya pucat bagai kertas/

“Oh, Tuhan,” ia menarik napas. Ia nampak tertegun melihat musibah itu dan tetap duduk di kursi tersebut sepuluh menit lamanya, bernapas dengan beral dan menatap seisi ruangan yang po—

rak poranda.

Akhirnya ia bangkit dan berjalan menuju tcle-pon. Dengan telunjuk yang bergetar ia memutar sebuah nomor. Di sebelah sana telepon berdering-dering, tapi tak ada yang mengangkat.

Keesokan paginya, tepat sebelum jam scbelas, John Preston berjalan di Curzon Street menuju ke markas besar dari departemcn tempatnya bekerja, yang letaknya di sudut jalan dari arah Restoran

48

Mirabelle; sebuah restoran mahal. Hanya scdikil karyawan departemen itu yang sanggup makan di situ.

Kebanyakan pegawai negeri pada hari Jumat pagi itu dibolehkan untuk tidak masuk kerja, karena Tahun Baru jatuh pada hari Kamis, yang me-mang merupakan hari libur resmi, tcrus libur sam-pai akhir pekan. Tapi Brian Harcourl-Smith telah minta Preston untuk datang secara khusus, jadi ia datang. Ia merasa bahwa ia tahu apa yang ingin dibicarakan oleh Wakil Direktur Jendcral MI-5 itu.

Selama tiga lahun, yaitu lebih dari setengah masa pengabdiannya di MI-5 sejak ia bergabung sebagai anggota staf baru di musim panas 1981, John Preston bertugas di Cabang F dinas rahasia itu, yang kegiatannya meliputi pengawasan terhadap organisasi-organisasi politik kaum ekstrcmis, baik dari golongan Kiri maupun Kanan; mclakukan risel tcrhadap badan-badan ini, dan mcngirimkan agen-agen untuk mcnyusup kc dalamnya. Dua tahun ia bertugas di FI, mengepalai Scksi D, yang mengurus masalah masalah penyusupan unsur-unsur sayap kiri ekstrem ke dalam Partai Buruh Inggris. Laporan yang dibuatnya, yaitu hasil dari penyelidikan-pcnyelidikan yang dilakukannya, telah diajukannya dua minggu sebelumnya, tcpat sebelum Hari Natal. Ia heran laporan itu telah dibaca dan diccrna sedemikian cepat.

Ia melapor di resepsionis depan, menunjukkan kartunya, diperiksa, didaftar di kantor Wakil Di—

49

rektur Jenderal (WDJ) ilu sebagai tamu yang diundang, dan dipersilakan untuk naik ke lanlai paling atas.

la menyesal tidak diminta mencmui sang Direktur Jcndcial sendiri. [a suka Sir Bernard Hemmings, (api sudah menjadi rahasia umum di kalangan “Lima” (julukan unluk Ml-S—pent.) bahwa orang tua itu sakit-sakitan dan scmakin jarang datang ke kantor. Karcna string tidak hadir, urusan sehari-hari kantor itu makin lama makin dikuasai oleh wakilnya yang ambisius, suatu kenyataan yang kurang disukai oleh para veteran tua dalam dinas rahasia itu.

Sir Bernard adalah orang “Lima” sejak awalnya, dan sudah pemah mclaksanakan kerja lapangan dulu. Ia bisa mcmahami orang-orang yang bertugas di lapangan, memperkirakan orang-orang yang patut dicurigai, menguntit kurir-kurir yang menjadi musuh negara, dan mcnyusup ke dalam organisasi-organisasi subversif. Harcourt-Smith adalah lulusan universitas, dengan ijazah kclas satu, dan kariemya berkisar di kantor pusat, bcrgerak dcngan lincah di antara departemen-depar-temen dan dengan mantap mendaki jenjang kc pangkatan.

Berpakaian sangat rapi dan bersih, seperti biasanya, Harcourt-Smith menerima Preston dengan ha-ngat di kantornya. Preston ma la ha n curiga karena sikap hangat itu. Konon, banyak orang lain juga ditcrima sehangat ini, tapi seminggu kemudian di tendang dari dinas. Harcourt-Smith mempersilakan

50

Preston duduk di hadapan mejanya dan ia sendiri di belakang meja. Laporan Preston tergclctak di meja, di atas pengering tinta.

“Begini, John, tentang laporanmu ini. Kau pasti tahu bahwa aku menganggapnya sangat scnus, seperti semua hasil kerjamu yang lain.”

“Terima kasih,” kata Preston.

“Jadi,” Harcourt-Smith melanjutkan, “aku menghabiskan liburan Tahun Baru di sini, di kantor ini, unluk mcmbacanya ulang dan mcmikirkannya.”

Preston berpikir, scbaiknya ia tak perlu menanggapi.

“Laporan ini, bagaimana ya, cukup radikal… dan lugas sekali, ya? Pcrtanyaannya adalah—dan ini mcrupakan pertanyaan yang harus kutanyakan dulu pada diri sendiri sebelum departemen mengajukan sualu kebijakan yang didasarkan alas laporan ini—apakah semua ini benar secara mutlak? Apa bisa diverifikasi? Ini pasti akan ditanyakan kepadaAu.”

“Begini, Brian, aku mcnghabiskan dua lahun unluk penyelidikan itu. Orang-orangku menyusup jauh, sangat jauh. Fakta-fakta itu, di mana aku mcmang mengajukannya sebagai fakta, semuanya benar.”

“Ah, John. Aku tidak pernah mcragukan semua fakta yang kauajukan. Tapi kesimpulan yang ditarik berdasarkan fakta-fakta itu….”

“Didasarkan pada logika, kukira,” kata Preston.

“Logika memang suatu cabang ilmu yang hcbaL

51

Dulu aku mempelajarinya,” Harcourt-Smith me-nimpali. “Tapi tidak selalu ditunjang dcngan bukti yang nyata, tidakkah kau sctuju? Coba kita lihat ini….” Ia menemukan bagian yang dimaksudkannya dalam laporan itu dan jarinya bergerak mengikuti satu baris. “MBR. Sangat ekstrem, ya tidak?”

“Oh, ya, Brian, memang ckstrem. Orang-orang ini mcmang dikenal sangat ekstrem.”

“Tak ada keraguan tentang hal itu. Tapi tidakkah akan membantu jika laporanmu ini dilampiri

dengan copy dari MBR?”

“Sejauh yang bisa kutcmukan, itu belum pcrnah ditulis. Itu cuma merupakan serangkaian niat yang akan dilaksanakan—niat yang amat kuat—dalam benak orang-orang tertentu.”

Harcourt-Smith dcngan kcsal menarik napas le-wat satu giginya. “Niat,” katanya, seakan kata itu menjadi masalah baginya, “ya, niaL Tapi kau harus tahu, John, ada banyak niat dalam diri banyak orang yang berurusan dcngan negeri ini, yang tidak scmuanya baik. Tapi kita tidak bisa mengusulkan suatu kebijakan, (indakan, atau tindakan balasan hanya didasarkan pada niat-niat ini.”

Preston sudah hampir membuka mulut, tapi Harcourt-Smith tidak memberinya kesempatan. la bangkil dari duduknya untuk memberi isyarat bahwa pcrtemuan itu sudah sclcsai.

“Begini, John, biar ini di sini sedikit lebih lama lagi. Aku harus memikirkannya lagi dan barangkali mclakukan beberapa pengecekan sebelum aku

52

memutuskan di mana ini akan kutempatkan. Ngomong-ngomong, apa kau merasa kerasan di F1(D)?”

“Aku senang,” kata Preston, sambil bangkit juga.

“Mungkin aku punya sesualu yang lebih kausukai,” kata Harcourt-Smith.

Setelah Preston pcrgi, Harcourt-Smith mcnatap ke pintu yang dilewatinya itu selama beberapa menit. la nampak lenggelam dalam renungannya.

Mcnghancurkan begitu saja file ilu, yang secara pribadi dianggapnya bisa membuat malu dan suatu saat kclak bisa menimbulkan bahaya, adalah sesualu yang tidak mungkin dilakukan. File itu diajukan secara resmi oleh seorang kepala seksi dan sudah diberi nomor.’ la berpikir keras. Kemudian diambilnya penanya yang bertinta merah dan dengan hati-hati dia menulis di atas sampul laporan Preston. Ia lalu menekan bel memanggil sekretarisnya.

“Mabel,” katanya saat sekretaris itu masuk, “bawa ini sendiri ke Bagian Arsip, ya. Sekarang juga.”

Gadis itu memandang sampul file itu sekilas. Di atasnya tertulis huruf-huruf NFA dan singkatan nama Brian Harcourt-Smith. Di kalangan dinas rahasia, NFA bcrarti: “no further action” atau “tak ada penanganan lebih lanjut”. Laporan itu diputuskan untuk dipcti-cskan.

[ Dllarangmeng-koincrsil-kanatau

%J JD1 kesiaian mcnimpa anda sciamanya J

2

Baru pada hari Minggu, 4 Jamiari, sang pemilik apartemen di Fontenoy House itu berhasil memperoleh tanggapan dari nomor telepon yang di-putarnya setiap jam selama tiga hari. Terjadi pembicaraan pendek, yang kemudian disusul dengan pertemuannya dengan seorang laki-laki sesaat sebelum saat makan siang di sebuah ruangan kecil yang tersembunyi di sebuah hotel yang tidak mencolok di kawasan West End.

Orang baru itu berumur sekitar enam puluh tahun, rambutnya beruban, pakaiannya berwarna suram, dan penampilannya seperti seorang pejabat pemerintab, yang memang benar dari satu segi. Ia datang belakangan, dan duduk di situ setelah buru-buru menyatakan maaf. “Sungguh aku minta maaf aku tak ada di tempat selama tiga hari barusan ini,” katanya. “Karena hidup membujang, aku di-ajak beberapa teman unluk melewatkan Tahun Baru bersama mereka di luar kota. Baiklah, ada masalah apa?”

54

Pemilik apartemen itu menceritakan masalahnya dcngan singkat tapi jelas. Ia punya banyak waktu sebelum ilu untuk memikirkan dengan teliti bagaimana caranya menyampaikan kedahsyatan peristiwa yang menimpa dirinya itu dan ia memilih kata-katanya dengan baik. Pria satunya merenungkan cerita itu dengan sangat serius.

“Tentu kau benar sekali,” katanya akhirnya. “Masalah ini bisa jadi amat gawat. Saat kau kembali Kamis malam itu, apakah kau menghubungi polisi? Atau saat lainnya, sejak ilu?”

“Tidak, kupikir lebih baik bicara denganmu dulu.”

“Ah, sayang sekali. Kini sudah terlambaL Jika diperiksa oleh bagian forensik, akan diketahui bahwa lemari besi diledakkan tiga atau empat hari yang lalu. Akan sulit menjelaskan mengapa begitu. Kecuali kalau….1

“Ya?” tanya sang pemilik apartemen dengan penuh minat

“Kecuali kalau kau bisa mengembalikan cermin itu dengan rapi dan sempurna ke tempatnya dan menyatakan bahwa baru tiga hari kemudian kau tahu bahwa pencuri telah menjarah apartemenmu?”

“Sulit,” kata si pemilik apartemen. “Karpelnya telah diangkat-angkat sepanjang pinggirannya. Bajingan itu pasti telah berjalan menyusuri dinding supaya tidak mcnginjak tombol-tombol alarm.”

“Ya,” yang satunya menanggapi. “Mereka pasti tidak percaya bahwa ada mating yang begitu rapi—

55

nya schingga bukan cuma cerminnya yang dikembalikan dengan rapi, tapi juga karpetnya. Jadi rencana yang ini sudah pasti tidak akan jalan. Juga tkJak mungkin mcngaku bahwa kau telah melewatkan tiga hari ilu di suatu tempat lain?”

“Tapi di mana? Harus ada orang yang mclihat-ku. Nyatanya tidak ada. Klub? Hotel? Kan aku harus pernab melakukan check-in.”

“Benar sekali,” kata orang kepercayaan itu. “Tidak, tidak bisa. Mau tak mau, dadu telah dilemparkan. Sudah tcrlambat untuk mclapor ke polisi sekarang.”

“Jadi apa yang harus kulakukan?” lanya pemilik apartemcn itu. “Yang jelas berlian itu harus dilemukan kembali.”

“Berapa lama istrimu akan tidak bcrada di London?” lanya yang satunya.

“Siapa yang bisa tahu? la menikmati acara-acara di Yorkshire. Beberapa minggu, kuharap.”

“Kalau begitu kita harus mcngupayakan penggantian lemari besi yang hancur itu dengan yang baru dan yang modelnya sama. Juga tiruan Berlian Glen. Akan perlu waktu untuk mengatur semua itu.”

“Tapi bagaimana dengan yang dicuh ilu?” tanya si pemilik apartemen dengan kuatir. “Itu kan tidak bisa dibiarkan hilang begitu saja. Aku harus mem-pcrolehnya kembali.”

“Benar,” satunya menjawab, menganggukkan kepala. “Begini, seperti kau tahu, orang-orangku

56

punya koneksi di kalangan yang hcrgerak di bi dang berlian. Aku akan menyuruh orang melakukan penyclidikan. Permata-permata itu hampir pasti akan dibawa ke salah satu pusat berlian utama untuk dibentuk kembali. Berlian-bcrlian itu tidak akan bisa dipasarkan seperti apa adanya sekarang. Terlalu dikenal orang. Akan kuusahakan maling itu dilacak dan barangnya ditcmukan kembali.”

Pria itu bangkit dan bcrsiap-siap untuk pcrgi. Rekannya masih tctap duduk, nampak jelas babwa dia sangat gundah. Pria berpakaian suram itu juga sama gundahnya, tapi ia bisa lebih menutupinya.

“Jangan melakukan apa-apa dan mengatakan apa-apa tentang itu,” ia menasihati. “Usahakan istrimu bcrada di pedesaan selama mungkin. Ber-tingkahlakulah scbiasa mungkin. Tcnangkan hali-mil, aku akan selalu menghubungimu.”

Keesokan paginya, John Preston tcrmasuk dalam rombongan orang yang berbondong-bondong kembali ke pusat kota London setelah liburan Tahun Baru selama lima hari, yang sesungguhnya terlalu panjang. Karcna dia tinggal di South Kensington, baginya lebih enak naik kereta bawah tanah. la turun di Goodgc Street dan sisa lima ratus meter lagi ditempuhnya dcngan berjalan kaki. la adalah seorang pria yang penampilannya tidak menonjol, tinggi badan sedang, besar badan sedang, umur empat puluh enam, mengenakan jas hujan abu-abu

57

dan tidak bertopi walaupun udara terasa amat dingin.

Ketika hampir tiba di ujung Gordon Street ia berbelok masuk ke dalam sebuah bangunan yang tidak mencolok yang bentuknya mirip perkantoran lainnya di situ; nampak kekar tetapi tidak modern, dan pantas jika digunakan untuk kantor perusahaan asuransi. Hanya jika kita telah masuk ke dalamnya, barulah kita melihat perbedaannya dengan bangunan perkantoran lainnya di kawasan itu.

Salah satunya adalah bahwa ada tiga pria di lobinya—satu dekat pintu, satu di belakang meja resepsion, dan satu lagi dekat pintu lift Ketiganya memiliki perawakan dan otot yang tidak biasanya dimiliki oleh mereka yang terlibat dengan bisnis asuransi. Setiap warga yang mencari perusahaan semacam ilu, salah masuk ke situ, dan diminta untuk menyingkir dari situ, bisa melihat bahwa hanya orang-orang yang bisa menunjukkan identitas mereka dan bisa melewali pengecekan oleh terminal kompuler kecil di bawah meja resepsion yang diperbolehkan terus masuk melewati lobi itu.

Dinas Rahasia Inggris, yang lebih dikenal dengan sebutan Ml-5, berkantor di lebih dari satu tempat. Dengan tidak kentara, walaupun kurang nyaman, dinas ini terbagi dalam empat bangunan kantor. Markas besarnya ada di Charles Street (dan sudah bukan di markas besar yang lama di Leconfield House, seperti yang selalu diberitakan oleh surat kabar).

58

Bangunan yang nomor dua besarnya, di Gordon Street, disebut dengan “Gordon” saja, tanpa’embel-embel apa-apa, seperti juga kantor pusatnya disebut sebagai “Charles”. Dua bangunan lainnya terletak di Cork Street (dikenal sebagai “Cork”) dan bangunan tambahannya di Marlborough Street, juga disebut begitu saja dengan menggunakan nama jalan itu.

Departemennya terbagi dalam enam cabang yang terpencar di seluruh bangunan-bangunan itu. Dan juga, dengan tidak kentara tapi membingungkan, beberapa dari cabang-cabang itu memiliki seksi-seksi yang bertempat di bangunan-bangunan yang berbeda. Untuk menghemat pemakaian se-patu, semua cabang dihubungkan dengan jaringan telepon yang super aman, dilengkapi dengan sis-tern identifikasi yang tanpa cela mengenai ciri-ciri si penelepon.

Cabang “A” menangani kebijakan berbagai sek-si, dukungan teknis, pengembangan properti, pe-mrosesan data arsip, kantor penasihat hukum, dan pusat pelayanan agcn rahasia. Yang disebut paling akhir ini adalah tempat bercokolnya kelompok unik yang terdiri dari pria dan (sebagian) wanita, dari semua umur dan ragam, baik yang memiliki keterampilan praktis maupun kecerdasan akadcmis, yang mampu menyelenggarakan tim-tim pelacakan pribadi yang tercanggih di dunia. Bahkan para “hostile** (musuh-musuh negara) harus mengakui

59

bahwa di kandangnya sendiri agen-agen MI-5 ini tak tcrkalahkan.

Berbeda dengan Secret Intelligence Service (MI-6), yang menangani intelijcn luar negeri dan telah mcnyerap banyak unsur Amerika dalam pcrislilah-an di kalangan dalamnya, maka Security Service (MI-5) ini, yang menangani counterintelligence dalam negeri, mendasarkan peristilahannya pada ba-hasa polisi lama. Istilah-istilah seperti “surveillance operative” dihindari dan para agen pelacaknya masih juga disebut dcngan istilah “the watchers”.

Cabang “B” menangani recruitment, kepegawaian, pemcriksaan identitas, kenaikan pangkat, pensiun, dan keuangan (maksudnya gaji dan biaya operas tonal).

Cabang “C” berurusan dengan masalah-masalah keamanan dari pelayanan masyarakat (para pe-gawainya dan hangunan-bangunannya), keamanan schubungan dengan para kontraktor (terutama perusahaan-pcrusahaan swasta yang mengerjakan proyek-proyek pertahanan dan komunikasi), keamanan bidang militer (yang tcrkait crat dcngan para staf keamanan internal kepunyaan angkalan bersenjata sendiri), dan sabotase (yang sudah tcrjadi atau dipcrkirakan akan tcrjadi).

Dulu ada Cabang “D”. tapi karena suatu logika unik yang cuma dimengerti oleh para pelaku di dunia intelijcn, cabang itu diubah namanya menjadi Cabang “K”. Salah satu seksinya yang terbesar yang bcrnama Soviet, dibagi menjadi

60

bidang-bidang operasi, penyclidikan di lapangan, dan prioritas pcrang. Lalu ada juga seksi yang menangani satclit-satelit Soviet, yang juga terbagi dalam tiga sub-scksi, kemudian ada lagi seksi riset dan yang terakhir seksi yang menangani agen rahasia.

Seperti bisa dipcrkirakan, K mencurahkan banyak waktu dan lenaga unluk mengikuli jejak agen-agen Soviet dan negara-negara saielitnya yang banyak jumlahnya, yang bcroperasi—atau berusaha unluk beroperasi-melalui kedutaan-kedutaan, konsulat-konsulat, perwakilan resmi, misi dagang, bank, kantor berila, dan perusahaan komersial, yang karcna kebijakan lunak pemerintah Inggris dibiarkan terse bar di scluruh ibu kola dan (dalam hal konsulal) di scluruh provinsi-provinsinya.

Juga di dalam Cabang K ada sebuah kantor yang dihuni oleh seorang pejabat yang kcrjanya menjadi penghubung anlara MI-5 dan saudaranya, MJ-6. Pejabat ini sebenarnya termasuk orang “Enam” (MI-6), yang bertugas di Charles Street supaya bisa mclaksanakan tugas-tugas penghubungannya itu. Seksi ini dinamai K7.

Cabang “E” (urutan alfabet ini bcrakhir dengan E) mencakup komunisme internasional dan para penganutnya, yang mungkin berkunjung kc Inggris dcngan tujuan jahat, atau anggola-anggotanya di dalam negeri yang ingin ke luar negeri dengan tujuan yang sama. Juga di dalam Cabang E, Seksi Timur Jauhnya mcnempatkan agen-agen peng—

61

hubung di Hong Kong, New Delhi, Canberra, dan Wellington, sedangkan seksi yang disebut Ail Regions—Semua Daerah—melakukan hal yang sama di Washington, Ottawa, Hindia Barat, dan semua ibu kota negara sahabat

Yang terakhir, Cabang “F”, yaitu kantor John Preston, paling tidak sampai tadi pagi, mengurus partai-partai politik (sayap kanan dan sayap kiri ekstrcm), risct, dan agen-agen rahasia.

Cabang F beroperasi di Gordon, di lanlai empat, dan kc kantornya itulah John Preston sedang menuju di pagi bulan Januari itu. Ia memang tidak mcngharapkan bahwa laporannya tiga minggu sebelumnya akan menjadi topik favorit bagi Brian Harcourt-Smith untuk bulan ini, tapi ia masih percaya bahwa laporannya itu akan sampai ke meja Dircktur Jenderal, Sir Bernard Hcmmings

Sir Bernard, Preston percaya, akan mau menyampaikan informasi dalam laporan itu—dan temuannya, yang sebenarnya scbagian didasarkan atas dugaan—kepada Kcpala Joint Intelligence Committee atau kepada Permanent Under Secretary (PUS) di Kantor Kementerian Dalam Negeri, yaitu kantor politik yang mcmbawahi MI-5. Seorang PUS yang kompcten akan tertarik minatnya, dan Mcntcri Dalam Negeri pada gilirannya akan minta Perdana Menteri menaruh perhatian kepada informasi tersebut

Memorandum di meja Preston yang dilihatnya saat ia tiba menunjukkan bahwa itu semua tidak

62

akan pcrnah tcrjadi. Setelah membaca memo itu ia duduk mcnyandar, tepekur. Ia sudah bersiap-siap akan mcmpcrtahankan laporannya, dan scandainya laporan itu mcmang sampai ke atas maka pasti akan ada pcrtanyaan-pertanyaan yang harus dijawab. Dia akan bisa menjawab scmuanya—dia akan siap menjawab scmuanya, karcna ia yakin bahwa ia benar. Ia akan bisa menjawab scmuanya itu, yaitu kalau ia masih berstatus kcpala F1(D), tapi tidak kalau ia sudah dimutasikan ke departemen lain.

Setelah ia dipindahkan, maka yang bisa mengajukan masalah mengenai laporan Preston adalah kepala seksi F1(D) yang baru; dan Preston lega karcna tahu bahwa orang yang akan ditunjuk untuk mcnggantikan dia hampir bisa dipastikan adalah salah satu pengikut sctia Harcourt-Smith, yang tentu saja tidak akan melakukan hal tersebut.

Ia menelcpon Kantor Arsip. Benar, laporannya telah diarsip. Ia mencatat nomor arsipnya, kalau-kalau dipcrlukan kelak. Kemudian: “Apa maksudmu, NFA?” tanyanya seakan tidak percaya. “Baik… Maaf… Ya, aku tahu bukan kau yang memutuskan itu, Charlie. Aku cuma bcrtanya. Cuma scdikit hcran saja, tidak apa-apa.”

Ia mclclakkan gagang telepon dan duduk kembali, berpikir keras. Gagasan-gagasan yang sebenarnya tidak pan Lis ditujukan kepada atasannya, sckalipun di anlara mereka tidak ada hubungan baik secara pribadi. Tapi gagasan-gagasan itu tidak

63

mau hilang dari bcnaknya. Mcmang mungkin, begitu diakuinya, bahwa jika laporannya ditcruskan ke atas, akhirnya akan sampai pada Neil Kin nock, pemimpin opostsi Partai Buruh di Parlcmcn, yang mungkin tidak akan scnang mencrima itu.

Ada juga kemungkinan bahwa dalam pcmilihan umum yang berikutnya, yang akan bcrlangsung tujuh belas bulan lagi, Partai Buruh bisa mcnang dan bahwa Brian Harcourt-Smith saat ini mcmu-puk harapan bahwa salah satu tindakan pemcrintah yang baru adalah mcngangkatnya menjadi Dircktur Jcndcral MI-S. Sikapnya yang tidak mau mcnyinggung pam politisi kuat yang saat ini bcrdinas, atau mcreka yang barangkali akan menjabat kelak, bukanlah hal yang baru. Bagi sescorang yang kepribadiannya lemah atau yang bcrambisi besar, sikap untuk tidak mau mcngabarkan berita buruk ini merupakan suatu motif yang kuat untuk mcnutupi

kclcmahannya sendiri.

Semua orang di kalangan dinas rahasia masih ingat kasus dircktur jcndcral yang sebclumnya. Sir Roger Mollis Bahkan sampai saat ini, mistcri itu tidak pcrnah bisa diungkapkan secara tunlas, walaupun para pendukung dari kedua bclah pihak yakin akan apa yang telah tcrjadi.

Saat itu di lahun 1962 dan 1963, Roger Hollis sejak awal sudah tahu mengenai perisliwa itu dan semua detail yang berkenaan dengan skandal Christine Kcelcr, seperti yang akhirnya dikctahui orang. Di mcjanya ia telah menerima laporan—

64

laporan, bcrminggu-minggu kalau tidak berbulan-bulan sebelum skandal itu tersiar, tentang pihak-pihak Cliveden, tentang Stephen Ward, orang yang mcnyediakan gadis-gadis itu dan orang yang melaporkan balik apa pun yang tcrjadi, tentang atase Soviet Ivanov yang juga ikut mcnikmati I ay a nan dari gadis yang sama dcngan yang melayani Mcnteri Pertahanan Inggris. Tapi saat itu ia tidak melakukan apa-apa walaupun bukti-bukti sudah mc-numpuk, dan tidak pcrnah—yang sebenarnya menjadi lugasnya minta bcrtcmu dengan Pcrdana Mcntcri Harold Macmillan.

Tanpa pcringatan, Macmillan tcrjerumus kc dalam skandal itu, yang mcrusak rcputasinya. Skandal itu meruyak dan mcmburuk sampai lewat mu-sim panas 1963, merusak martabat Inggris di dalam dan di luar negeri, di mala scluruh dunia scakan itu sudah direncanakan oleh Moskow.

Bcrtahun-tahun kemudian, kontrovcrsi masih bcrlanjut: Apakah Roger Hollis mcmang benar-benar tidak mampu, atau apakah dia malahan jaub lebih buruk dari itu…?

“Pcrsctan,” kata Preston pada dirinya sendiri, dan mcnghapuskan gagasan-gagasan itu. Ia mcmbaca kembali memorandum itu.

Memorandum itu be rasa I dari Kcpala B4 (kc-n.uk.m pangkat) pribadi, yang membcritahukan bahwa mulai hari itu ia dipindahkan dan dinaikkan pangkatnya menjadi kcpala C1(A). Nada surat itu ramah dan bcrsahabat, yang scngaja dilakukan un—

65

tuk mclunakkan kcnyalaannya: “Saya dibcrilahu WDJ bahwa akan sangat mcmbantu apabila tahun yang baru ini dapal dimulai dcngan semua jabatan yang baru yang sudah ditsi… sangat bertcrima kasih kalau Anda mau membcrcskan hat hal yang bclum tcrsclcsaikan dan mclimpahkannya kepada Maxwell muda tanpa menunda nunda lagi, kalau memungkinkan dalam beberapa hari ini…. Saya sangat bcrharap bahwa Anda akan mcnyukai jabatan yang baru ini….”

Bla, bla, bla. begitu pikir Preston. C 1. ia tahu, menangani masalah-masalah kepegawaian dan bangunan-bangunan milik ncgara di scklor sipil, dan Seksi A bcrarti khusus yang berkenaan dcngan ibu kota saja. Jadi ia akan menangani keamanan semua kementerian Sri Ratu di London.

“Sialan, ini kan cuma pekerjaan polisi biasa,” ia mendengus, dan mulai menelcpon anggota-anggota korpsnya untuk mengucapkan selamat tinggal.

Kira-kira satu setengah kilometer dari kantor John Preston di London, Jim Rawlings mcmbuka pintu sebuah toko pcrmata yang kecil tapi cksklu-sif yang tcrletak di sebuah jalan masuk, kurang dari 200 meter dari lalu lintas yang sibuk di Bond Street Toko itu gelap tapi sorotan-sorotan cahaya mcnimpa lemari-lcmari pajang yang bcrisi pcrak Georgia, dan di dalam lemari-lcmari pajang lainnya nampak bcrhagai pcrhiasan dari aman dahulu kala. Jclaslah bahwa toko itu mcngkhususkan dirip>

66

di bidang pcrmata antik dan bukan pcrhiasan modern.

Rawlings mcngenakan sctclan jas warna gelap, kemeja sutcra, dasi ramping, dan mencnteng sebuah tas kantor yang bagus tapi tidak mcncolok. Gadis yang bertugas di counter menengadah dan mcmandangnya dengan penuh minat Dalam umurnya yang tiga puluh enam Rawlings nampak ramping dan fit. dcngan pcnampilan setengah gentleman dan setengah garang —suatu pcrpaduan yang selalu mcnguntungkan. Gadis itu mcmbusungkan dada dan melcmparkan senyum cerah.

“Bisa saya bantu?”

“Saya ingin hcrtcmu dcngan Mr. Zablonsky Pribadi.”

Logat Cockney-nya mcngungkapkan bahwa ia tidak mungkin pclanggan. Wajah gadis itu berubah. “Anda seorang rep?” lanyanya.

I’ll in saja Mr. James ingin bicara dengannya,” kata Rawlings.

Tapi pada saat itu pintu bcrccrmin di bagian belakang toko itu mcmbuka dan Louis Zablonsky kcluar. la seorang Iclaki pendek, kcriput, bcrumur lima puluh cnam, tapi nampak lebih tua.

“Mr. James,” —wajahnya menjadi cerah—”sc-nang sekali Anda datang. Mari masuk ke kantor saya. Apa kabar?” Ia mcngantarkan Rawlings masuk melewati counter ke dalam kantor pnbadinya sambil berkata, “Tak ada masalah, Sandra, my dear.”

67

Begitu masuk ke kantornya yang kecil dan berantakan ia menutup dan mengunci pintu bercermin itu, melalui pintu itu bisa dilihatnya kcadaan toko di luamya. Ia mengisyaratkan supaya Rawlings duduk di kursi di depan mejanya yang antik dan ia sendiri duduk di kursi putar di belakang meja itu. Sorotan cahaya tunggal mencrangi rak di dekat situ. Ia memandang Rawlings dengan tajam.

“Well, Jim, ada apa?”

“Aku punya sesuatu untukmu, Louis, sesuatu yang kau pasti suka. Jadi jangan bilang bahwa ini barang rongsokan.”

Rawlings mcmbuka tas kantornya. Zablonsky membentangkan tangannya.

“Jim, apa aku….” Kata-katanya terputus saat ia melihat apa yang diletakkan Rawlings di atas meja. Ketika scmuanya sudah bcrada di atas meja, ia memandang dengan tidak percaya.

“Berlian Glen,” ia terkesiap, “kau telah beraksi dan mencuri Berlian Glen. Bcritanya saja bclum nuinail di surat kabar.”

“Jadi, mungkin mereka masih berada di luar London,” kata Rawlings. “Alarmnya tidak ada yang berbunyi. Aku seorang ahli, kau tahu itu.”

“Yang terbaik, Jim, yang terbaik. Tapi Berlian Glen… Mengapa kau tidak menceritakannya pada-ku?”

Rawlings tahu bahwa semuanya akan lebih mu-dah jika rencana penyaluran Berlian Glen telah dipersiapkan sebelum perampokan dilakukan. Tapi

68

ia bekcrja dengan caranya sendiri, yaitu dengan sangat hati-hati. Ia tidak percaya pada siapa pun, apalagi seorang tukang tadah, meskipun tukang tadah ilu termasuk kelas yang paling terkemuka di pasar berlian seperti Louis Zablonsky. Seorang tukang tadah yang digerebek polisi dan harus menghadapi interogasi yang berkepanjangan bisa saja mcmberikan informasi akan adanya pencurian supaya ia cepat dibebaskan. Pasukan Anti Kejahatan Tingkat Tinggi di Scotland Yard mengenai Zablonsky, walaupun ia mcmang belum pcrnah meringkuk dalam tahanan polisi Inggris. Itulah sebabnya Rawlings tidak pcrnah membocorkan ke-gialan yang akan dilakukannya, dan selalu datang berkunjung secara diam-diam. Jadi ia tidak menjawab pcrtanyaan itu.

Bagaimanapun juga, Zablonsky tenggclam dalam kekagumannya memandangi berlian-berlian yang bcrbinar-binar di atas mejanya ilu. Ia tahu sejarah berlian itu tanpa harus diberitahu. Duke Sheffield Kesembilan, yang mcwarisi perhiasan itu di tahun 1936, punya dua anak, laki-laki dan perempuan. Di tahun 1974, pada saat putranya berumur dua puluh lima tahun, Duke dcngan sedih menyadari bahwa putranya yang eksotik itu dijuluki “bujangan karena kchendak alam” oleh para penulis kolom gosip. Jadi tidak akan ada countess muda dari Margate atau duchess dari Sheffield yang akan bisa mengenakan Berlian Glen yang masyhur itu. Jadi ketika Duke Kesembilan me-69

ninggal pada lahun 1980, ia mewariskan berlian itu bukan kepada putranya, tapi kepada putrinya. Lady Fiona Glen.

Zablonsky tahu bahwa setelah kematian ayahnya Lady Fiona mengenakan berlian itu scsckali, dengan izin yang sulit dari perusahaan asuransi yang menaunginya, biasanya pada pesta gala untuk amal, yang sering dihadirinya. Jika sedang tidak dikenakan, bcrlian-berlian itu tinggal di tempat yang sudah ditcmpatinya bertahun-tahun, yaitu di tempat penyimpanan yang gelap di Bank Coutts di Park Lane. Ia tersenyum. “Pesta gala untuk amal di Grosvcnor House tepat sebelum Tahun Baru itu kan?” ia bertanya. Rawlings mcngangkat bahu. “Oh, kau mcmang anak nakal, Jim. Tapi sangat bcrbakat”

Walaupun fasih berbicara dalam bahasa Polandia, Yahudi, dan Ibrani, setelah empat puluh lahun tinggal di Inggris Louis Zablonsky belum juga mcnguasai bahasa Inggris dengan sempurna. Ia masih saja melafalkannya dengan logat Polandia yang kental. Juga, karena ia mcmpclajari bahasa itu dari buku-buku lama, Zablonsky sering memakai ungkapan-ungkapan salah yang di zaman ini disebut sebagai “camp”. Tapi Rawlings tahu, riwayat Louis Zablonsky bukanlah sesuatu yang mc-nycnangkan. Rawlings tahu, karcna Beryl Zablonsky menceritakan kepadanya, bahwa orang tua itu telah dikebiri di suatu kamp konscntrasi Nazi scwaktu masih kanak-kanak.

70

Zablonsky masih saja mengagumi bcrlian-berlian itu, seperti seorang pakar mengagumi semua karya masterpiece. Samar-samar ia teringat telah membaca enlah di mana bahwa di pertengahan tahun 1960-an Lady Fiona Glen menikah dengan seorang pejabat pemcrintah yang masih muda dan sedang menanjak kariernya, dan yang pada pertengahan tahun 1980-an telah menjadi seorang pejabat teras di salah satu kemcntcrian, dan bahwa pasangan ilu tinggal di suatu tempat di West “End yang mewah dan elit teruiama dengan dukungan dana dari harta pribadi sang Istri.

“Jadi bagaimana pendapatmu, Louis?”

“Aku sangat terkesan, my dear Jim. Sangat terkesan. Tapi juga kuatir. Ini bukan batu mulia biasa. Gampang dikenal di kalangan pengusaha berlian di mana saja. Harus aku apakan ini?”

“Coba, apa usulmu?” kata Rawlings.

Louis Zablonsky membentangkan kedua tangan nya lebar-lcbar.

“Aku tidak akan berbohong padamu, Jim. Aku akan berterus tcrang. Berlian Glen ini barangkali nilai asuransinya sckitar tujuh ratus lima puluh ribu pound, yaitu kira-kira harga yang akan dimaui orang jika dijual secara sab di pasar bebas oleh C artier Tapi jelas tidak bisa dijual dcngan cara begitu, kan?

“Jadi hanya ada dua pilihan. Satu, mencari seorang pembeli yang sangat kaya yang mau mcmbeli Berlian Glen yang termasybur ini tapi tahu bahwa ia tidak akan pcrnah bisa mempertonton—

71

kannya atau mengakui bahwa ia pcmiliknya—seorang kaya yang cukup puas mcnikmati berlian itu diam-diam. Orang-orang seperti itu mcmang ada, tapi scdikit sekali. Dari orang seperti itu kita mungkin bisa mcmpcrolch harga setengah dari yang kuscbutkan tadi.”

“Sampai kapan kau bisa mendapatkan pcmbeli

seperti itu?”

Zablonsky mcngangkat bahu. “Tahun ini, lahun depan, pada suatu saat, tidak akan pcrnah. Kita kan tidak mungkin mcngiklankannya di iklan ko-lom?”

“Terlalu lama,” kata Rawlings. “Jalan lain?”

“Bongkar pcrhiasan ini, dan itu akan mcngurangi nilainya menjadi cnam ralus ribu pound. Diasah ulang dan dijual terpisah sebagai empat bcrtian tunggal yang berbeda-beda. Kita mungkin bisa mcmpcrolch liga ratus ribu. Tapi orang yang mcngasahnya akan minta bagiannya. Kalau aku sendiri yang mcngcr-jakannya, kukira aku bisa membcrikan scratus ribu pound kepadamu—tapi di akhir opcrasi ini. Setelah pcnjualan sclesai dilakukan.”

“Bcrapa yang bisa kauberikan di muka? Aku kan tidak bisa hidup cuma makan angin saja, Louis.”

‘Si.ipa yang bisa?” kata tukang tadah tua itu. “Begini, untuk kcrangka emas putihnya aku bisa mcmpcroleh barangkali dua ribu pound di pasar barang hekas. Untuk batu-batu kecil yang empat puluh itu dijual di pasar rcsmi kata kan, dua be

72

las ribu pound Jadi empat betas ribu pound, yang bisa kupcrolch dcngan cepat. Aku akan membcrikan kepadamu setengah dari itu di muka, tunai, sekarang juga. Bagaimana?”

Mcreka mclanjutkan tawar-menawar sclama tiga puluh menit dan mencapai kata sepakaL Dari Ic mari besinya Louis Zablonsky mengambil 7.000 pound uang tunai. Rawlings mcmbuka tas kantornya dan mcmasukkan tumpukan uang kcrtas itu.

“Bagus,” kata Zablonsky, mengagumi tas itu. “Kau beli sendiri?”

Rawlings menggclcngkan kepala. “Kudapat bcrsama hasil curian itu,” katanya.

Zablonsky mcngcluarkan bunyi “ck-ck-ck” dan mcnggoyang-goyangkan jarinya di bawah hidung Rawlings. “Singkirkan itu, Jim. Jangan pcrnah mcnyimpan apa-apa yang berasal dari hasil kcrjamu. Tidak scpadan dcngan risikonya.”

Rawlings mcmpertimbangkan saran itu, mcngangguk, mcngucapkan selamat tinggal, dan bcrlalu dari situ.

John Preston menghabiskan satu hari penuh untuk mcnghubungi anggota-anggota tim penyclidik-nya, untuk mcngucapkan salam perpisahan. Mcreka mcnyesali kepcrgiannya. Kini giliran menangani masalah administrasi. Bobby Maxwell, pengganti -nya, telah datang untuk mengucapkan salam. Preston hanya mengcnalnya sepintas. la seorang anak muda yang cukup mcnyenangkan, bersemangat

73

tinggi untuk mcrintis karier di Lima—MI-5—dan melihat kescmpatan lerbaiknya untuk bisa naik pangkat adalah dengan menempel Brian Harcourt-Smith yang sedang naik daun. Preston tidak bisa mcnyalahkan dia untuk itu.

Preston sendiri adalah orang yang masuk belakangan, diperbantukan ke dalam dinas rahasia langsung dari Army Intelligence Corps (Korps Intelijen Angkatan Darat) di lahun 1981, pada umur empat puluh satu tahun. Ia tahu ia tidak akan pcrnah bisa sampai ke puncak. Jabatan paling tinggi yang mungkin bisa dicapai oleh mcreka yang masuk belakangan adalah kepala seksi.

Cuma sesckali saja, dan itu pun pasti mcn-jengkelkan mcreka yang berdinas di Lima, pos Direktur Jcnderal diberikan kepada seseorang yang benar-benar berasal dari luar dinas rahasia itu apabila mcmang tidak ada calon yang cocok dari dalam. Tapi wakil dircktur jcnderal, semua direktur keenam cabang, dan kepala-kepala dcparlemen di dalam cabang-cabang itu mcnurut tradisi dijabat oleh para staf yang bckcrja di situ seumur hidupnya.

Preston telah berjanji kepada Maxwell bahwa ia akan menggunakan hari itu, Senin, untuk mcnye-lesaikan urusan administrasi dan sepanjang hari kecsokannya melakukan briefing tcrhadap penggantinya mengenai semua file dan penyelidikan mutakhir. Setelah bersepakat, mcreka bcrdua lalu bcrpisah dengan saling mcngucapkan salam sampai bertcmu kecsokan harinya.

74

Preston memandang arlojinya sckilas. Ia akan bckcrja sampai larut malam ini. Dari lemari kantor pribadinya ia harus mengeluarkan semua file mutakhir, menyisihkan file-file yang dcngan aman bisa langsung dikirim ke Bagian Arsip, dan menghabiskan setengah dari malam itu untuk meneliti flic-file mutakhir itu ha la man demi halaman, sehingga dia siap untuk melakukan briefing kepada Maxwell kecsokan paginya.

Pcrtama-tama ia perlu minuman yang mcnyc-garkan. Ia mcnggunakan lift kc subbasement, di sana gcdung Gordon punya sebuah bar yang nya-man dan lengkap persediaannya.

Louis Zablonsky bekerja sepanjang hari Sclasa, mcngunci diri di ruang kerjanya di belakang toko. Hanya dua kali ia muncul untuk mencmui sendiri pelanggannya. Hari itu dagangan scpi, tidak seperti biasanya, ia justru merasa berterima kasih.

la bckcrja dcngan mclcpas jas dan dcngan le-ngan baju tcrgulung, menampakkan lengan bawahnya yang hampir-hampir tidak bcrbulu sama sekali. Dengan hati-hati ia mencopot Bcrlian-berlian Glen dari kcrangkanya yang tcrbuat dari emas putih. Empat batu utama: dua permata masing masing scpuluh karat dari scpasang anting-anting, dan pasangan yang masing-masing dua puluh karat dari mahkota dan dari hiasan kalung, scmuanya bisa dikcluarkan dengan mudah dan hanya mcmbutuhkan scdikit waktu.

75

Setelah berlian-berlian itu lepas dari kcrangka -nya hnrulah ia bisa memeriksanya dengan lebih teliti. Rcnar-bcnar indah, menyala dan bcrpijar dalam snrolan cahaya. Batu-batu itu dikenal sebagai blue-wiiites, pcrnah juga dinamai “top river”, tapi sekarang digolongkan ulang dan di bawah penilaian standar disebut sebagai “D flawless” (D tanpa ccla). Kccmpat permala tersebut, setelah puas memandanginya, dimasukkannya ke dalam sebuah kantong bcludru kecil. Setelah itu, ia memulai kerja yang mcnghabiskan waktu, yaitu mcn-copot kcempat puluh berlian yang lebih kecil itu dari kcrangka cmasnya. Saat ia mengerjakannya, sinar lampu sesckali mcnangkap tanda kabur yang merupakan nomor bcrangka lima di sebelah bawah lengan kirinya. Bagi orang-orang yang tahu apa penlingnya arti tanda seperti itu, nomor itu hanya mcmpunyai satu arti. Itu adalah cap Auschwitz.

Zablonsky dilahirkan pada tahun 1930, pulra kctiga seorang ahli pcrmata Yahudi Poland ia yang tinggal di Warsawa. la bcrumur sembilan tahun ketika Jcrman masuk, dan pada tahun 1940 ghetto Warsawa ditutup; di dalamnya berjubel hampir 400.0W orang Yahudi, dan ransum makanan diberikan di bawah tingkat kclaparan. Pada tanggal 19 April 1943, 90.000 orang yang berhasil bertahan hidup di ghetto itu, dipimpin oleh beberapa orang yang masih schat fisiknya, bangkit untuk melakukan pembcrontakan. Louis Zablonsky baru saja mcnginjak umur tiga belas tahun, tapi ia

76

begitu kurus dan kercmpeng schingga orang mc-nyangkanya lima tahun lebih muda.

Ketika ghetto itu akhirnya jaluh kc tangan pasukan Waffcn SS pimpinan Mayor Jcnderal Juergcn Stroop pada tanggal 16 Mei, Zablonsky adalah salah satu dari scdikit tawanan yang masih hidup setelah pencmbakan masal itu. Bagian terbesar dari penghuni ghetto itu, sckitar 60.000 orang, sudah mati, karena peluru, granat, h.incur tertimpa bangunan yang run-tuh, alau dihukum lembak. Sisanya yang 30.000 tinggal yang tua, wanita, dan anak-anak kecil. Zablonsky tcrmasuk dalam kclompok ini. Kebanyakan dari mereka kemudian dikirim ke Trcblinka dan mcninggal di sana.

Tapi dalam situasi ganjil yang tcrkadang bisa mencntukan hidup atau matinya scscorang, mcsin kcrcta api yang mcnank gerbong tcrnak yang mcng-angkui Zablonsky saat itu mcngalami kcrusakan. Gerbong itu lalu dihubungkan dcngan kerela lain yang menuju kc Auschwitz.

Walaupun sc inula akan dibunuh, Zablonsky akhirnya selamat karcna ia mcngaku sebagai abli pcrmata. la lalu dipekerjakan sebagai petugas yang mcnyclcksi dan mcmilah-milah pcrhiasan yang masih bisa ditcmukan di tubuh-tubuh orang Yahudi, sctiap kali datang rombongan baru. Kemudian pada suatu hari ia dipanggil kc rumah sakit kamp dan jatuh dalam genggaman Iclaki bcrambut pirang yang selalu lerscnyum, yang dijuluki “sang Malai-kat”; Iclaki yang sedang gctol melakukan ekspcri-77

men gilanya atas alat kclamin para pemuda Yahudi pubcr. Di meja operasi Josef Mengcle itulah Louis Zablonsky, tanpa zat pcmbius, dikcbiri.

Di pcnghujung tahun 1944, para tawanan Auschwitz yang masih hidup dipaksa berbaris menuju kc barat dan Zablonsky akhirnya tiba di Bergen BeIscn, ia lebih mcnycrupai orang yang sudah mall daripada hidup, ia akhirnya dibebaskan oleh lenlara Inggris. Setelah dirawat dengan intensif di rumah sakil, Zablonsky disponsori oleh seorang rabbi di London Utara dan dibawa ke Inggris, dan setelah menjalani program rehabililasi lebih lanjut, ia magang di sebuah toko pcrmata. Di awal tahun 1960 ia mcninggalkan majikannya untuk mcmbuka toko sendiri di East End. Scpuluh tahun kemudian, ia mcmbuka tokonya yang sckarang ini, yang lebih maju dan bcrkelas di West End.

Di East End itulah, yaitu di kawasan pclabuhan, ia pertama kali mulai menangani pcrmata-pcrmata yang dibawa oleh para pel.mi—zamrud dan Sri-lanka, berlian dari Afrika, batu mirah dari India, dan opal dari Australia. Di pertengahan tahun 198(1 an Zablonsky sudah menjadi orang kaya karena hasil dari kedua tokonya, uang sah dan yang tidak sah. Ia menjadi salah satu tukang tadah terkemuka di London, seorang spesialis di bidang berlian, dan memiliki sebuah rumah besar yang eksklusif di Goldcrs Green, ia menjadi tokoh masyarakal di lingkungannya

Kini ia mcnarik lepas berlian kecil yang terakhir

78

dari empat puluh berlian itu, keluar dari wadahnya, dan memcriksa apakah ada yang ketinggalan. Ia menghitung batu-batu itu dan mulai menimbangnya. Empat puluh lotalnya semua, rala-rata bcrukuran setengah karat tapi kebanyakan kurang dari itu. Bisa dipakai untuk cincin pcrtunangan, nilai lotalnya sckitar 12.000 pound, la bisa mcnjualnya lewal Hatlon Garden dan tak akan ada yang tahu. Transaksi tunai —ia kenal orang-orang itu. Ia mulai mcnghan curkan kcrangka cmas putih itu schingga menjadi gumpalan yang tak berbentuk.

Ketika cmas ilu sudah menjadi gumpalan logam tak berbentuk, dimasukkannya kc dalam sebuah kantong bcrsama sisa-sisa lainnya. la melihat Sandra sudah bcrada di luar bangunan, menutup toko, membenahi kantornya, dan bcrlalu dari situ dcngan mcmbawa empat batu utama ilu. Di tcngah jalan pulang ia menclcpon dari sebuah box lelcpon umum ke sebuah nomor di Bclgia, sebuah nomor yang bcrada di sebuah desa kecil bemama Nijlcn, di luar Antwerpen. Scsampainya di rumah ia menclcpon British Airways dan mcmbuat booking pesawat untuk kecsokan harinya kc Brussels.

Di sepanjang Sungai Thames, di tcpi selatan, di sana dulunya ada dcrmaga usang bckas sebuah pclabuhan yang sudah mali, suatu program pem-bangunan kembali besar-besaran sedang berjalan, mulai awal sampai pertengahan lahun 1980-an. Program itu mcninggalkan petak-pctak tanah ger—

79

sang yang penuh dcngan puing-puing di antara bangunan-bangunan baru, tanah Uriah tidak rata tempat rumput yang terlalu subur berbaur dengan bata yang jatuh dan debu. Suatu saat kelak, bc-gitulah rencananya, scmuanya ini akan ditutup dcngan bangunan-bangunan apartemcn bam, pusat-pusat pcrbclanjaan, dan gedung-gedung bertingkat. Tapi kapan itu akan leriaksana tak ada orang yang tahu dcngan pasti.

Jika cuaca sedang hangat para pecandu minum. in berkemah di daerah tempat pembuangan ini dan semua face alias penjahat yang bcrmaksud melcnyapkan bukti-bukti kejahatan mcmbawa barang barang itu kc tcngah-tcngah kawasan scpi itu dan membakarnya sampai musnah.

Di malam yang telah larut pada hah Sclasa tanggal 6 Januari, Jim Rawlings sedang berjalan mclintasi kawasan yang luasnya beberapa arc, hampir jatuh dalam gelap ketika kakinya tersandung sconggok batu bckas bangunan. Scandainya ada yang mcmper-hatikan dia—dan nyatanya tidak ada— maka akan nampak bahwa Rawlings menjinjing sekaleng bensin sckitar dua liter di satu langannya dan sebuah tas kantor bagus buatan tangan dari bahan kulit lembu muda di tangan lainnya.

Louis Zablonsky bisa melewati Heathrow Airport di pagi hari Rabu itu dengan mudah. Mcngc-nakan mantel besar dan tebal scrta topi dari bahan tweed yang lembui, menenteng tas tangan, dengan

80

pipa besar dari akar ma war yang mencuat dari mulutnya, ia bergabung dalam arus kaum bisnis yang melakukan perjalanan schari harinya dari London ke Brussels.

Di atas pesawat, salah seorang pramugari mcn-dekatkan diri kepadanya dan berbisik, “Saya kira kami tidak dapat mengi/inkan Anda menyalakan pipa di dalam pesawat, sir.” Zablonsky meminta maaf berulang-ulang dan memasukkan pipa akar mawar itu kc dalam sakunya. la tidak merasa keberatan. Ia tidak mcrokok, dan bahkan scandainya ia menyalakannya, pipa itu tidak akan bisa discdot dcngan lancar. Sebab di dalamnya tcrdapat empat berlian bcrsegi lima puluh delapan berbentuk buah pir yang dijcjalkan di sela-sela tem-bakaunya.

Di Brussels National ia menyewa sebuah mobil dan meluncur menuju utara lewat jalan khusus mobil keluar dari Zavenlcm menuju Mcchclcn, di sana ia bcrbelok ke kanan ke arah timur laut kc Lier dan Nijlcn.

Pusat industri berlian Bclgia tcrletak di Antwerpen dan tcrutama berada di Pelikanstraat dan sekitarnya, di sana perusahaan-perusahaan besar memiliki showroom dan workshop. Tapi seperti kebanyakan industri, bisnis berlian ini mcnggantung-kan scbagian kegiatannya kepada sckelompok pc-masok skala kecil dan pekerja-pekerja luar, usaha-usaha perseorangan yang bckcrja di luar workshop-nya, kepada siapa disubkontrakkan se-81

bagian dari pckcrjaan mcmasang, members ih kan, dan mcngasah kembali.

Scbagian dari pekcrja-pckerja luar ini juga tinggal di Antwerpen, kebanyakan bcrdarah Yahudi, dan banyak yang bcrasal dari Eropa Timur. Tapi di sebelah timur Antwerpen ada sebuah kawasan yang dikenal dcngan nama Kcmpcn, kumpulan desa kecil yang rapi tempat bcrdiri usaha-usaha kecil yang menerima pckcrjaan dari industri Antwerpen. Di tcngah tcngah Kempcn terlctak Nij-Icn, yang mengapit jalan raya dan jalan kercta api dari arah Lier ke Hcrentals.

Setengah jalan menuju Molcnstraat tinggal seorang Iclaki bernama Raoul Levy, seorang Yahudi-Polandia yang telah bermukim di Belgia sejak pcrang usai dan yang kebctulan masih sepupu jauh Louis Zablonsky. Levy seorang pengasah berlian, seorang duda yang hidup seorang diri di salah satu bungalo dari bala merah yang kecil dan rapi, yang berderet-deret di sisi barat Molcnstraat. Di belakang rumah itu terlctak workshop-nya. Kc sinilah Zablonsky menuju dan bcrjumpa dengan keluarganya ini beberapa saat setelah makan siang.

Mereka berbantah sclama satu jam dan akhirnya mencapai kata scpakat. Levy akan mcngasah kembali kcempal berlian itu, dengan mengusahakan agar scsedikit mungkin bcratnya berkurang, tapi tctap cukup untuk mcnyamarkan identitasnya. Mcreka scpakat menetapkan ongkos 50.000 pound, setengah dibayarkan di muka dan selengahnya lagi

82

setelah semua berlian itu laku dijual. Zablonsky kemudian minta diri dan kembali ke London.

Yang menjadi masalah dcngan Raoul Levy bukannya bahwa dia kurang ahli, tapi bahwa dia sangat kesepian. Jadi sctiap minggu ia menunggu-nunggu saat ia secara tcratur hcrkunjung ke satu tempaL la suka naik kercta api ke Antwerpen untuk mengunjungi cafe favoritnya, tempat semua tcman karibnya bcrtemu di malam hari untuk mcngobrol tentang pckcrjaan mereka. Tiga hari setelah itu ia pcrgi kc tempat itu dan berbincang terlalu banyak tentang pekcrjaannya.

Ketika Louis Zablonsky bcrada di Belgia, John Preston sedang pindah ke kantornya yang baru di lanlai dua. Dia merasa bcrsyukur karena tidak harus mcninggalkan Gordon dan menghuni gedung lain.

Pendahulunya telah pensiun di akhir tahun itu, dan Wakil Kcpala (1(A) mengambil alih pimpinan sclama beberapa hari. Jelas dia berharap akan dikukuhkan sebagai kcpala bagian di situ, la menerima kenyataan yang kurang memuaskan itu dcngan baik dan memberikan briefing dengan bcr-limpah kepada Preston mengenai segala hal yang menyangkut pckcrjaan di situ. Preston merasa bahwa sebagian besar adalah rutinitas yang membosankan.

Bcrada seorang diri sore ilu, Preston mclayang-kan pandangannya kepada da I tar gedung kemen—

83

terian yang berada di bawah Seksi A. Ternyata daftarnya lebih panjang dahpada yang dibayangkannya, tapi kebanyakan gedung itu tidak sangat perlu diamankan, kecuali jika terjadi kebocoran-kebocoran yang mungkin bisa mcmalukan secara politis. Kebocoran dokumcn yang menyangkut, misalnya, rencana pengurangan jaminan sosial, selalu merupakan bahaya scbab serikat kerja pegawai negeri memiliki banyak staf yang bcrpandangan ckstrcm kiri, tapi mcreka biasanya bisa diatasi oleh staf keamanan di dalam kementerian yang bersangkutan.

Yang renting pen ting bagi Preston adalah Kantor Kementerian Luar Negeri, Kantor Kabinet, dan Kantor Kementerian Pcrtahanan, scmuanya ini menerima dokumcn-dokumcn dalam jumlah besar. Tapi masing-masing memiliki sistem keamanan yang cukup ket.it, yang ditangani oleh tim keamanan dalamnya sendiri. Preston mcnghcla napas. Ia mulai melakukan beberapa pembicaraan telepon, menetapkan pertemuan-pertemuan pcrkcnalan dengan kepala-kepala keamanan di semua kementerian yang pen ting itu.

Di antara pembicaraan-pembicaraan telepon itu, ia memandang sekilas tumpukan barang-barang pribadinya yang dibawanya dari kantornya yang lama, yang terlctak dua lantai di atas. Menunggu jawaban telepon dari seorang pejabat yang masih bicara saat ditelcponnya, ia bang kit, mcmbuka kunci lemari pribadinya yang baru, dan melctak—

84

kan file-file itu ke dalamnya, satu demi satu. Yang terakhir adalah laporannya bulan lalu, copy kc-punyaannya sendiri. Sclain copy yang dikctahuinya telah dinyatakan sebagai NFA di Bagian Arsip, copy ini adalah satu-satunya yang masih ada. Ia mcngangkat bahu dan meletakkan file itu di bagian belakang lemari itu. Barangkali itu tidak akan pcrnah diperiksa lagi, tapi ia tidak melihat alasan mcngapa ia tidak menyimpannya, demi masa lalu. Lagi pula, ia telah bckcrja keras menyiapkan laporan terscbuL

85

Dilarajjgmeng-koDiersil-kaii atau kcsiahm menimpa anda selamanya

3

PRIA-PRIA yang bcrkunjung kc tempat Raoul Levy itu ada empat; pria pria yang berperawakan besar dan kuat yang datang dengan dua mobil. Mobil yang pertama berhenti di depan bungalo Levy di Molenstraat, sedangkan mobil yang kedua berhenti strains meter dari situ.

Mobil yang pertama menurunkan dua dari pria-pria itu, yang berjalan dengan gesit tapi tanpa suara, menyusuri jalan setapak yang pendek menuju pintu depan. Kedua pengemudi itu menunggu, lampu-lampu dimatikan, tapi mesin dihiarkan hidup. Malam tcrasa mencckam, sedikit lewat jam 7, gelap pekat Tak seorang pun lewat di jalan itu pada malam tanggal 15 Januari itu.

Pria pi ia yang mengetuk pintu depan itu nampak gesit dan businesslike, pria-pria yang tidak suka membuang waktu, yang sedang mclaksanakan suatu pckcrjaan, dan yang berpendapat bahwa makin cepat scmuanya sclcsai makin baik. Mereka tidak mcmpcrkcnalkan diri ketika Levy mcmbuka

86

kan pintu. Mcreka langsung masuk ke dalam dan mcnutup pintu di belakang mcreka. Proles Levy tidak sempat keluar dari mulutnya karcna diputuskan oleh empat jari yang keras yang mcnohok solar plexus atau pusat jaringan saraf di ulu hatinya.

Pria-pria besar itu mengenakan overcoat Levy ke bahunya, memasangkan topinya kc kepalanya, meninggalkan pintu depan itu tidak terkunci, dan mcnyeretnya dengan gerakan yang mahir menuruni jalan setapak menuju ke mobil, yang pintu belakangnya mcmbuka saat mcreka berjalan mendekaL Kemudian mereka mcluncur dcngan Levy duduk tcrapit di anlara mereka di jok belakang, semua itu hanya memakan waktu dua puluh detik.

Mereka membawa Levy kc Kesselsc Heide, sebuah taman iiinum yang luas tcpat di barat laut Nijlcn, dacrah alang-alangnya lima puluh are luasnya, dengan rumput tcbal, pohon-pohon ek, scrta pohon-pohon conifer, benar-benar jauh dari kcramaian. Setelah jauh dari jalan raya, tiba di tcngah-tengah padang alang-alang itu, kedua mobil itu berhenti. Pengemudi mobil yang kedua, yang akan bettindak sebagai pengintcrogasi, masuk ke dalam mobil pertama dan duduk di jok depan.

la mcnolch kc tempat duduk belakang dan menganggukkan kepalanya pada kedua rekannya. Pria yang bcrada di sebelah kanan Levy mcrang-kulkan kedua tangannya ke pengasah berlian yang berperawakan kecil itu supaya ia tak bisa ber—

87

gerak, dan salu tangannya yang bersarung menutup mulul Levy. Pria yang satu mengcluarkan sebuah tang besar, memegang tangan kiri Levy, dan dengan terampil meremukkan tiga buku jari Levy,

satu demi satu.

Yang membuat Levy lebih ngeri daripada rasa sakit yang meledakkan inderanya adalah bahwa mereka tidak mengajukan pertanyaan apa-apa kepadanya. Mereka nampaknya tidak tertarik untuk bertanya-tanya. Ketika buku jari tangan yang keempat bergemeretak di antara kedua jepitan tang itu, Levy berteriak minta mcreka bertanya.

Penginterogasi yang duduk di jok depan mengangguk dengan santai dan berkata, “Mau bicara?”

Di balik sarung tangan yang menutupi mulutnya, Levy mengangguk dengan gencar. Tangan bersarung itu disingkirkan. Levy mengeluarkan lo-longan panjang, napasnya tersengal-sengal. Setelah dia berhenti, penginterogasi berkata, “Bcrlian-berlian itu. Dari London. Di mana sekarang?” la bcrbicara dalam bahasa Flemish tapi dengan logat asing yang kentara.

Levy langsung memberitahu mereka. Uang, be-rapa pun besarnya, tak akan bisa menggantinya jika ia kehilangan tangannya—yang berarti adalah modalnya untuk mencari nafkah.

Penginterogasi mempertimbangkan informasi ini dengan muram. “Kunci-kunci,” katanya.

Kunci-kunci itu berada di saku celana Levy. Penginterogasi mengambilnya dan keluar dari mobil itu. Beberapa detik kemudian, mobilnya meluncur melintasi rumput yang berdcrak-derak, menuju jalan raya. Ia pergi selama lima puluh menit

Sclama kepergiannya itu. Levy merintih dan memegang tangannya yang hancur. Pria-pria yang duduk di kanan-kirinya nampak acuh saja. Pengemudi duduk di situ dan menatap ke depan, tangan-tangannya yang bersarung mcnumpang pada setir.

Ketika penginterogasi bergabung lagi dengan mereka, ia tidak mengatakan apa-apa tentang keempat berlian yang kini telah berada di sakunya. Ia cuma berkata, “Satu pertanyaan terakhir. Siapa orang yang membawanya?”

Levy menggelengkan kcpala. Penginterogasi menghela napas karena waktu yang terbuang-buang dan menganggukkan kepalanya kepada pria yang duduk di sebelah kanan Levy. Pria-pria besar itu bertukar peran. Yang di sebelah kanan mengambil tang itu dan memegang tangan kanan Levy. Setelah dua buku jari tangan kanannya diremuk-kan, Levy mengatakan kepada mereka. Penginterogasi mengajukan beberapa pertanyaan tambahan yang pendek-pendek, sampai akhirnya ia nampak puas. Ia keluar dari mobil dan balik ke mobilnya sendiri yang tadi. Bcriringan kedua mobil itu meluncur menuju jalan raya. Mereka kembali ke arah Nijlen.

Saat mcreka melewati rumahnya, Levy melihat bahwa rumahnya gelap. Ia bcrharap mereka akan menurunkannya di sini, tapi ternyata tidak. Mereka

88

89

meluncur” melewati pusat kota dan keluar menuju ke arah timur. Lampu-lampu cafe, hangat dan nya-man menembus udara musim dingin yang beku, bergerak lewat jendela-jendela mobil, tapi tak ada orang yang keluar. Levy bahkan bisa melihat tulisan pada neon biru POLIT1E di atas kantor polisi di seberang gereja, tapi tak ada yang keluar dari situ.

Dua mil di sebelah timur Nijlen, Looy Straat memotong rel kereta api di titik jalur kereta antara Lier-Hercntals itu terbujur lurus seperti anak pa-nah, dan lokomotif dicscl besar biasa lewat di situ dcngan kecepatan lebih dari tujuh puluh mil per jam. Di sebelah kiri dan kanan persimpangan yang landai itu terdapat bangunan-bangunan pcrtanian. Kedua mobil itu berhenti di persimpangan yang landai itu dan mematikan lampu serta mesinnya.

Tanpa mcngucapkan apa-apa pengemudi itu mcmbuka kotak penyimpan sarung tangan, mengeluarkan sebuah botol, dan memberikannya ke belakang kepada dua rekannya. Yang satu memencet hidung Levy dan yang satu lagi menuangkan alkohol gandum bermerek lokal ke tenggorokannya. Setelah tiga perempat isi botol itu tertuang, mereka berhenti berulah dan tidak mengganggu Levy lagi. Raoul Levy mulai teler karcna pengaruh alkohol. Bahkan rasa sakitnya sedikit berkurang. Ketiga orang yang berada di mobil, dan satunya lagi yang berada di mobil depan, menunggu.

Pada jam 11.15 penginterogasi keluar dari mobil

90

yang pertama, mendekat, dan menggumamkan sesuatu melalui jendela. Levy sudah tak sadarkan diri saat itu tapi masih bisa bergerak dengan kuat. Pria-pria yang berada di sebelahnya mengeluarkan dia dari mobil dan setengah mengangkatnya kc arah rel kereta api. Pada jam 11.20 salah satu dari mereka memukul kepalanya kerns keras dengan sebatang besi, dan matilah dia. Mereka lalu meletakkan tubuhnya pada rel kereta dengan tangan-tangannya yang hancur di salah satu rel dan kcpala yang retak di rel sebelahnya.

Hans Grobbelaar mengemudikan kereta ekspres terakhir malam itu keluar dari Lier pada jam 11.09, seperti biasa. Itu adalah perjalanan rutinnya dan ia akan tiba di rumahnya di tempat tidurnya yang hangat di Herentals pada jam 1.00 malam. Kereta angkutan barang itu adalah kereta nonstop dan ia meluncur lewat Nijlen tepat pada waktunya, yaitu jam 11.19. Setelah melewati persimpangan di situ, ia menambah kecepatan dan mclaju di lintasan yang lurus menuju ke persimpangan Looy Straat dengan kecepatan lebih dari seratus kilometer per jam, dcngan spotlight lokomotifnya yang bernomor 6268 mencrangi lintasan itu sejauh 100 meter ke depan.

Saat hampir sampai di Looy Straat, ia melihat sosok yang terpuruk di rel dan ia segera menarik renin ya. Percikan-percikan api bcrpendar-pendar dari roda-roda lokomotif. Kereta angkutan barang itu mcngurangi kecepatannya, tapi sudah terlalu

91

dekat Dengan mulut lernganga, ia menyaksikan melalui kaca penahan angin saat lampu depan menyinari sosok yang mcringkuk itu. Dua orang masinis rekannya sudah pernah mengalami hal seperti itu; apakah korbannya bunuh diri atau ma-buk, tak ada yang pernah tahu. Apalagi setelah tubuh korban terlindas. Dengan kereta jenis ini, guncangan akibat lindasan itu takkan terasa sama sekali, kata mereka. Ia memang tidak merasakan apa-apa. Lokomotif yang meraung-raung itu me-laju bagai anak panah melindas sosok itu dcngan kecepatan lima puluh kilometer per jam.

Ketika akhirnya ia berhenti, ia bahkan tidak sanggup untuk melihat Ia berlari ke salah satu rumah pertanian dan mcmbunyikan alarm. Ketika polisi datang dengan mcmbawa lentera, tubuh di bawah roda-roda kereta itu nampak seperti selai strawberry. Hans Grobbelaar baru pulang ke rumahnya menjelang fajar.

Pagi itu juga, John Preston mcmasuki lobi gedung Kementerian Pertahanan di Whitehall, menghampiri meja penerima tamu, dan menggunakan kartu pengenal univcrsal-nya untuk menunjukkan jati dirinya. Setelah dilakukan konfirmasi dcngan orang yang akan dikunjunginya, ia diantar ke dalam lift dan lewat banyak lorong ke kantor kepala keamanan internal kementerian itu, sebuah ruangan, tinggi di belakang bangunan itu, yang menghadap ke Sungai Thames.

92

Brigadir Bertie Capstick tidak berubah banyak sejak Preston terakhir berjumpa dengannya, bertahun-tahun yang lalu, di Ulster. Berperawakan besar, ramai, dan riang, dengan pipi-pipi merah bagai apel yang membuatnya lebih mirip seorang petani daripada seorang prajurit Ia maju kc depan dengan seruan, “Johnny, my boy, bukan main. Mari masuk, masuk.”

Meski hanya sepuluh tahun lebih tua dari Preston, Bertie Capstick mcmpunyai kcbiasaan untuk menyebut hampir semua orang yang lebih muda dari dia “my boy”, yang membuat dia berkesan seperti seorang paman, yang memang cocok dengan gaya dan penampilannya. Tapi tadinya ia seorang prajurit yang tangguh, yang bertugas di pcdalaman di negeri para teroris di aman kampanye Malaya dan kemudian mcmimpin sckelompok penyusup ahli di hutan-hutan Kalimantan di masa yang sekarang dikenal sebagai Indonesian emergency (keadaan darurat di Indonesia).p>

Capstick menyilakan Preston duduk dan mengeluarkan sebotol anggur malt dari sebuah filing cabinet “Mau sedikit?”

“Masih agak pagi,” Preston keberatan. Memang baru jam sebelas lewat sedikit

“Nonsense. Demi masa lalu kita. Laginya, kopi di sini rasanya payah.”

Capstick duduk dan mendorong gelas kc arah Preston, menyeberang mejanya. “Nah, apa yang telah dilakukan mereka terhadapmu, my boy?”

93

Preston menyeringai. “Sudah kukatakan padamu di telepon, apa yang telah mereka berikan pada-ku.” katanya. “Kerjaan polisi yang membosankan. Bukannya mau menyinggung kau, Bertie.”

“Well, aku juga begitu, Johnny. Pckcrjaan rutin. Memang aku sudah pensiun dari Angkatan Darat sekarang, jadi aku tidak begitu mengeluh. Aku pensiun umur lima puluh lima dan memperoleh jabatan ini. Tidak terlalu buruk. Naik kereta tiap hari, melakukan pemeriksaan keamanan secara rutin, memastikan tidak ada yang main kayu, dan pulang menjumpai istriku tcrsayang. Nasibku bisa saja lebih buruk. Ngomong-ngomong, ini untuk

masa lalu kita.”

“Cheers,” kata Preston. Mereka minum.

Masa lalu mereka tidak seramah itu, begitu pikir Preston. Terakhir ia bertemu dengan Bertie Capstick, yang saat itu kolonel penuh, yaitu enam tahun sebelumnya, perwira yang scolah nampak ekstrover itu menjabat wakil direktur Intelijen Mililer di Irlandia Utara, melakukan pekerjaannya di kompleks bangunan di Lisburn, yang bank data-nya bisa memberi informasi kepada orang yang membutuhkan data tentang anggota IRA yang mana yang akhir-akhir ini menggaruk punggungnya.

Preston saat itu mcrupakan salah satu “boy” Capstick, yang bertugas dalam pakaian sipil dan secara menyamar, bergerak menyusup ke perkam-pungan kaum Provo garis keras untuk berbicara

94

dengan para informan atau menjemput kiriman-kiriman tanpa alamat pengirim. Saat itu Bertie Capstick-lah yang tetap setia membelanya ketika menghadapi para pejabat pemcrintah dari Holyrood House saat Preston “terbakar” dan hampir terbunuh di saat mcnjalankan suatu misi untuk Capstick.

Saat itu tanggal 28 Mci 1981, dan surat kabar hanya memuat sedikit berila tentang peristiwa itu esoknya. Preston saat itu berada dalam sebuah mobil yang tidak herein dan telah masuk ke distrik Bogside di Londonderry dalam pcrjalanannya untuk menjumpai seorang informan. Apakah ka rena ada kebocoran di atas, apakah mobil yang dikendarainya telah terlalu sering dipakainya, atau apakah wajahnya telah berhasil “diambil” oleh badan intelijcn Provo—tak pernah bisa diketahui setelah itu. Bagaimanapun halnya, ada permainan curang. Tepat setelah ia memasuki dacrah kaum Republikan, sebuah mobil berisi empat anggota Provo bersenjata bergerak dari sebuah jalan samping dan mengikutinya.

Ia langsung mengenali mereka dari kaca spion dan langsung mcmutuskan unluk membatalkan rendezvous-nya. Tapi orang-orang Provo itu mcnginginkan lebih dari itu. Setelah sampai jauh ke dalam pcrkampungan itu, mereka menyalip, mcng-hadang mobilnya, dan mcloncat keluar dari mobil, yang dua membawa scnapan mcsin ringan dan yang salu membawa pistol.

Tak ada pilihan lain kecuali surga alau neraka.

95

Preston mengambil inisiatif. Menempuh risiko besar dan di luar dugaan para penyerangnya, ia keluar dari mobilnya sambil.berguting-guling ce-pat, bersamaan dengan tembakan senapan mesin ringan yang menghantam mobilnya. la membawa Browning berpeluru tiga belas—sembilan milimeter—di tangannya, dipasang pada Olomatik-nya. Dari aspal berkerikil itu ia memuntahkan pelurunya kc arah mereka. Mcreka menginginkan dia mati dcngan tcrhormat, dan mereka bcrada terlalu dekat satu sama lain.

Dcngan tembakan ccpat, ia berhasil merobohkan dua orang dan melukai lehcr orang kctiga. Pengemudi Provo itu menginjak koplingnya dan menghilang dengan roda-roda mobil terbakar. Preston berupaya mencapai sebuah pos darurat yang aman yang dihuni empat anggota pasukan SAS. yang melindunginya sampai Capstick datang menjemputnya.

Tentu saja, setelah itu menyusul bagian yang tidak enak—pertanyaan, interogasi, rasa tidak percaya dari pihak atas. Nasib Preston selanjutnya sudah jelas. Ia telah benar-benar “terbakar”—suatu istilah di kalangan itu—yang artinya, diketahui jati dirinya. Dia sudah tidak berguna lagi. Provo yang masih hidup ilu akan dapat mengenalinya di mana pun nanti. Jadi, ia bahkan tidak boleh balik ke resimcn asalnya, yaitu pasukan para-komando, di AldershoL Siapa yang tahu berapa orang Provo yang bcrkcliaran di Aldcrshot?

96

Ia ditawari pos di Hong Kong atau harus berhenti bertugas. Lalu Bertie Capstick berbicara dengan seorang tcman. Ada pilihan ketiga. Meninggalkan Angkatan Darat sebagai mayor berumur empat puluh satu dan masuk ke MI-5 sebagai late entrant—anggota yang bergabung belakangan. la akhirnya memilih itu.

“Ada yang khusus?” tanya Capstick.

Preston menggelengkan kepala. “Cuma melakukan serangkaian kunjungan perkcnalan,” katanya.

“Jangan kuatir, John. Sekarang setelah aku tahu kau menjabat itu, aku akan menghubungimu kalau ada yang muncul di sini yang lebih penting daripada hanya pencurian dana Hari Natal. Ngomong-ngomong, Julia bagaimana?”

“Dia telah meninggalkan aku. Tiga tahun yang lalu.”

“Oh, aku ikut bersedih.” Wajah Bertie Capstick berkcrut dan nampak benar-benar prihatin. “Ada orang lain?”

“Tidak. Saat itu tidak. Sckarang mcmang ada, kukira. Hanya masalah pckcrjaan saja… kau pasti tahu.”

Capstick mcngangguk dengan muram. “Bctty-ku selama ini sungguh baik sikapnya,” katanya tcpekur. “Scparo hidupku kuhabiskan di luar rumah. Dia tctap sctia. Tctap berusaha menjaga hubungan kami. Toh itu bukan kehidupan yang cocok bagi seorang wanita. Aku pernah melihat hal seperti itu

97

tcrjadi. Bcrulang kali. Sungguh mcnyedihkan. Sering bertemu putramu?”

“Sekali-sekali,” Preston mengakui.

Capstick benar-benar telah menyentuh perasaan Preston yang paling dalam. Di flatnya yang kecil dan sepi di South Kensington, Preston menyimpan dua buah foto. Yang satu mempcrlihatkan dia dan Julia pada hari perkawinan mcreka—ia dua puluh cnam tahun, nampak tegap dan langsing dalam seragam Resimcn Pencrjun Payung; Julia dua puluh tahun, nampak cantik dalam gaun pengantin wama putib. Yang satu lagi adalah foto putranya. Tommy, yang sangat berarti baginya lebih daripada kchidupannya sendiri.

Mcreka saat itu menempuh kehidupan seperti yang Iain-Iain di perumahan-perumahan khusus bagi anggota Angkatan Darat yang sudah mcnikah, dan Tommy lahir dclapan tahun setelah pcrnikahan mcreka. Kclahiran Tommy telah mcmbuat hidup Preslon menjadi lebih bermakna, tapi tidak demikian dcngan istrinya. Tak lama setelah itu, Julia mulai merasa bosan dcngan tugas-tugas rutin seorang ibu, ditambah dcngan kescpian yang dirasakannya karena ketidakhadiran Preston, dan juga mulai mengeluh tentang terhatasnya keuangan mereka. Ia membujuk Preston untuk keluar dari Angkatan Darat dan mencari kehidupan yang lebih baik sebagai orang sipil, tanpa mau mengerti bahwa Preston mencintai pekcrjaannya dan bahwa rasa bosan bekerja di belakang meja di bklang

perdagangan atau industri akan mcmbuat suaminya itu frustrasi.

Ia dipindahkan kc Korps Intelijcn, tapi itu mcmbuat situasi scmakin runyam. Ia ditugaskan ke Ulster, di sana para istri tidak boleh ikut. Setelah itu ia hams mcnyamar sclama bertugas dan semua hubungan dengan kcluarga putus. Setelah pcristiwa Bogside, Julia benar-benar mcngungkapkan perasa-annya dengan tcrus tcrang. Mereka lalu mencoba herbaik sekali lagi, tinggal di pinggiran kota sementara Preston bekerja di Lima, la bisa pulang hampir sctiap malam kc Sydenham, dan itu memecahkan masalah kelerptsahan tadi, tapi perkawinan mereka telah telanjur rctak. Julia mcngingmkan lebih daripada apa yang bisa dicukupinya dcngan gajinya sebagai pendatang bclakangan di Lima.

Julia mencoba bckcrja sebagai resepsionis di sebuah rumah mode di West End ketika Tommy, umur dclapan lahun saat itu, karena desakannya, telah disekolahkan di sebuah sekolah swasta di dekat rumah mcreka yang kecil itu. Ini scmakin mcmperbumk kondisi keuangan mcreka. Sctahun kemudian Julia benar-benar pergi mcninggalkan nya, dcngan membawa Tommy. Sekarang, ia tahu, Julia tinggal dcngan bosnya, seorang pria yang cukup tua untuk menjadi ayahnya tapi mampu mcmbiayai gaya hidup Julia yang mewah dan mc-nunjang biaya pendidikan Tommy di sekolah pcr-siapan berasrama di Tonbridge. Preston hampir

98

99

tidak pernah lagi berjumpa dengan putranya yang kini bcrumur dua belas tahun.

Ia pernah menawarkan perceraian kepada Julia, tapi tawarannya ditolak. Setelah hidup berpisah selama tiga tahun sebenarnya Preston bisa saja memperoleh perceraian, tapi Julia mengancam, karena dia tidak akan mampu membiayai hidup putranya dan menunjang hidupnya kelak, maka ia akan menuntut untuk memiliki Tommy. Preston terpojok dan ia tahu itu. Julia membolehkan dia berada bersama Tommy sclama satu minggu setiap liburan sekolah dan satu hari Minggu untuk setiap peri ode sekolah.

“Well, aku pamit dulu, Bertie. Kau tahu aku ada di mana kalau ada hal yang periling.”

“Tentu, tentu.” Capstick berjalan ke pintu untuk mengantarnya keluar. “Jaga dirimu baik-baik, Johnny. Orang-orang baik seperti kita sudah tidak banyak lagi yang tersisa.”

Mereka berpisah dalam suasana bercanda dan Preston kembali ke Gordon Street.

aft—

Louis Zablonsky mengenali orang-orang yang datang dengan mobil van dan mengetuk pintu depan rumahnya hari Sabtu larut malam. Ia sedang berada sendirian di rumah, seperti biasanya kalau hari Sabtu; Beryl sedang keluar dan belum akan kembali sampai lewat tengah malam. Ia menduga orang-orang itu tahu akan hal itu.

Ia sedang menonton film di televisi ketika bunyi

100

kelukan itu terdengar, dan ketika pintu dibukanya, mereka langsung masuk ke ruang depan, menutup pintu di belakang mereka. Mereka bertiga. Tidak seperti empat orang yang mendatangi Raoul Levy dua hari sebelumnya (peristiwa yang sama sekali tidak diketahui Zablonsky, sebab dia tidak membaca koran Belgia), orang-orang ini adalah tukang pukul yang disewa dari kawasan East End London—kaUm slag dalam peristilahan dunia hitam.

Yang dua benar-benar nampak seram, bajingan-bajingan dungu berwajah kayu yang akan melakukan apa saja yang diperintahkan dan akan mematuhi instruksi orang ketiga; yaitu seorang pria kecil, bopeng, jahat, dan berambut pirang dekil. Zablonsky tidak mengenai mereka secara pribadi; ia cuma “tahu” siapa mereka; ia pernah melihat mcreka di kamp-kamp mereka, berseragam. Itu membuatnya memutuskan untuk tidak mclawan. Ia tahu bahwa tidak ada gunanya mclawan. Orang-orang seperti ini selalu melakukan apa saja yang mereka maui terhadap orang-orang seperti dia. Tak ada gunanya melawan atau minta dikasihani.

Mereka mendorong dia masuk kembali ke ruang duduk dan melemparkan dia ke kursinya sendiri. Salah satu dari pria-pria besar itu bcrdiri di belakang kursi, memajukan badannya ke depan, dan menekankan kepala Zablonsky ke kursinya. Yang lainnya bcrdiri di dekat situ, mengusap-usap kepalan tangan dengan telapak tangan yang lain. Pria

101

berambut pirang itu menarik sebuah bangku ke depan kursi itu, duduk mengangkang di bangku itu, dan menatap wajah ahli permata itu. “Pukul dia,” katanya.

Bajingan yang bcrdiri di sebelah kanan Zablonsky melayangkan kepalannya yang berat ke mulut Zablonsky. Pria itu mengenakan krakeling kuningan di buku-buku jari tangannya. Mulut sang ahli permata itu hancur menjadi campuran gigi, bibir, darah, dan gusi.

Si Pirang tersenyum. “Bukan di situ,” katanya dengan lembuL “Kan kita mau dia bicara? Lebih bawah lagi.”

Bangsat itu melayangkan dua pukulan dahsyal ke dada Zablonsky. Beberapa tulang iga retak. Dari mulut Zablonsky keluar rintihan yang bernada tinggi. Si Pirang tersenyum lagi. Ia senang jika mereka membuat kegaduhan seperti itu.

Zablonsky berkutat lemah, tapi sebaiknya dia tidak mencoba melakukan apa-apa. Tangan-tangan berotot di belakang kursi memeganginya erat-erat, seperti dulu ketika tangan-tangan lain juga memegang dia di atas meja batu di Polandia selatan, sementara seorang dokter berambut pirang tersenyum kepadanya.

“Kau telah berkelakuan jelek, Louis,” kata si Pirang. “Kau telah membuat temanku marah. Dia bilang barangnya ada padamu dan ia menginginkan ilu kembali.” Lalu dikalakannya kepada ahli permata itu barang apa yang dimaksudkannya.

102

Zablonsky menelan sebagian dari darah yang memenuhi mulutnya. “Tidak ada di sini,” ia berkata dengan suara serak.

Si Pirang bcrpikir sebentar. “Gcledah tempat ini,” katanya kepada rekan-rekannya. “Dia tak akan bisa apa-apa di sini. Obrak-abrik scmuanya.”

Kedua bangsat itu menggeledah rumah itu, meninggalkan si Pirang bersama ahli permata itu di ruang duduk. Mcreka menggeledah habis-habisan dan menghabiskan waktu satu jam. Ketika mereka selcsai, setiap lemari, laci, sudut, dan celah telah diobrak-abrik. Si Pirang menghibur diri dengan mcnusuk-nusuk iga-iga orang tua itu—iga yang kini benar-benar patah. Tepat lewat tengah malam bangsat-bangsat itu turun dari loteng rumah.

“Kosong,” kata yang satu.

“Jadi, siapa yang mcnyimpannya, Louis?” tanya si Pirang. Zablonsky berusaha untuk tidak mengaku. Akibatnya mereka memukulinya lagi berulang-ulang sampai akhirnya dia mengaku. Ketika pria yang di belakang kursi melepaskan pegangannya, Zablonsky tcrpuruk ke lantai yang berkarpet, lalu terguling ke samping. Sekitar bibirnya biru, matanya menonjol keluar, napasnya tersengal-sengal dan terdengaramat berat Ketiga orang itu memandanginya.

“Ia sedang mengalami serangan jantung,” salah satu berkata dengan nada ingin tahu. “Suaranya serak.”

“Kau memukulnya terlalu keras,” kata si Pirang

103

dengan sinis. “Ayo kita cabut. Namanya sudah kita dapat.”

“Apa dia berkata jujur?” lanya salah satu bangsat itu.

Yeah, sejam yang lalu dia juga sudah berkata jujur,” kata si Pirang.

Ketiganya lalu mcninggalkan rumah itu, naik ke mobil van, dan berlalu dari situ. Di jalan di sebelah selatan Golders Green, salah satu bajingan itu bertanya kepada si Pirang, “Jadi, sekarang apa yang akan kita lakukan?”

“Tutup mulut, aku sedang berpikir,” kata si Pirang. Si sadis kecil itu menganggap dirinya komandan para penjahat. Padahal sebenarnya ia tidak cukup cerdas dan kini ia sedang bingung. Sementara itu, kontraknya hanyalah untuk mendatangi satu orang dan memperoleh kembali barang curian itu. Di pihak lain, mereka belum berhasil mendapatkan barangnya. Di dekat Regent’s Park ia melihat sebuah box telepon umum. “Ke pinggir,” katanya. “Aku harus menelepon dulu.”

Orang yang menyewanya telah memberikan kepadanya sebuah nomor telepon, lokasi suatu box telepon umum yang bisa dipakainya, dan tiga waktu lertentu saat dia harus menelepon. Waktu yang pertama hanya kurang beberapa menit lagi.

Beryl Zablonsky pulang dari bepergian di malam Minggu tepat sebelum jam dua pagi. Ia memarkir mobil Metro-nya di seberang jalan dan,

104

karena heran melihat lampu-lampu di dalam rumah masih menyala, langsung masuk ke dalam rumah.

Istri Louis Zablonsky adalah seorang gadis Yahudi yang baik yang berasal dari kelas pckerja— yang sejak dini sudah tahu bahwa berharap untuk memperoleh semuanya dalam hidup adalah bodoh dan egois. Sepuluh tahun sebelumnya, ketika ia berumur dua puluh lima tahun, Zablonsky memungut dia dari pekerjaannya sebagai anggota paduan suara penunjang sebuah grup musik kelas dua yang tak punya harapan untuk maju, dan meminta gadis itu menikah dengannya. Ia telah menceritakan kepada gadis itu mengenai ketidakmampuan seksualnya, tapi gadis itu toh mau menerimanya.

Anehnya, perkawinan mereka ternyata sukses. Louis amat sangat baik dan memperlakukan gadis itu seperti seorang ayah yang terlalu me man ja kan anaknya. Beryl memuja Louis, hampir-hampir seperti seorang anak perempuan lerhadap ayahnya. Louis memberikan apa saja yang dia mampu— rumah yang bagus, pakaian, pcrhiasan, uang saku, rasa aman—dan Beryl merasa sangat berterima kasih.

Ada satu hal yang tidak bisa dibcrikan Louis, tentunya, tapi Louis sangat bisa memahami dan sangat toleran. Syaratnya hanya dia tidak perlu tahu siapa teman Beryl, atau tidak diminta menjumpainya. Di umur tiga puluh lima. Beryl nampak agak montok, agak berani, lepas dalam ber-gaul, dan cukup menarik bagi pria-pria yang lebih

105

muda. Minal yang ditunjukkan para pria ini dila-deninya dengan senang hati. Ia mempunyai sebuah flat kecil di West End untuk melakukan kencan-kencannya dan tanpa malu-malu mcnikmati malam Minggunya di situ.

Dua menit setelah memasuki rumah. Beryl Zablonsky menangis dan memberitahukan alamatnya lewat telepon kepada perusahaan jasa ambulans. Mereka tiba di sana enam menit kemudian, meletakkan pria yang sudah sekarat itu di usung-an, dan menjaga supaya dia tctap hidup selama perjalanan menuju Hampstead Free Hospital. Beryl ikut bersama dia di dalam ambulans itu.

Dalam perjalanan Louis sadar sebentar dan me-nank istrinya dekat ke mulutnya yang berdarah itu. Mcndekatkan telinganya, Beryl bisa mcnangkap beberapa kata yang diucapkannya, dan alisnya berkerut karena kurang mengerti. Cuma itu yang sanggup dikatakannya. Pada saat mereka tiba di Hampstead, Louis Zablonsky merupakan salah satu dari korban-korban yang mati pada saat-tiba di rumah sakit.

Beryl Zablonsky masih mempunyai sedikit kenangan manis di sudut hatinya untuk Jim Rawlings. Ia pernah punya affair singkat dengan Jim tujuh tahun yang lalu, sebelum Jim menikah. Beryl tahu bahwa kini perkawinan Jim sudah berakhir dan bahwa Jim sckarang hidup sendiri lagi di apartcmennya di lantai paling atas di Wandsworth yang nomor

106

teleponnya Beryl cukup hafal karena seringnya ia menelepon Jim.

Ketika menelepon Jim, Beryl masih menangis, dan pada mulanya Rawlings agak sulit mengetahui siapa yang meneleponnya karena ia masih belum sadar benar dari tidurnya. Beryl menelepon dari sebuah box telepon umum dengan menggunakan fasilitas darurat yang terus terdengar bunyi tut-tut setiap kali ia memasukkan koin-koin baru. Ketika akhirnya Jim tahu siapa yang meneleponnya, ia menyimak pesan yang disampaikan itu dengan keheranan yang scmakin bertambah.

“Cuma itu yang dikatakannya? Cuma itu? Baiklah, Sayang. Begini, aku amat menyesal, sungguh amat menyesal. Aku akan datang kalau situasi sudah mereda. Katakan saja, apa yang bisa kulak ukan nanti. Oh, dan Beryl… terima kasih.”

Rawlings meletakkan gagang telepon, berpikir sebentar, dan melakukan dua pembicaraan telepon, langsung berurutan. Ronnie, pckerja di perusahaan besi tua itu datang lebih dahulu, dan Syd tiba di sana scpuluh menit kemudian. Keduanya, seperti diinstruksikan, membawa senjata, dan ternyata mereka datang tepat pada waktunya.

Gerombolan pendatang ilu langsung naik ke lantai dclapan lewat tangga. Si Pirang tadinya tidak mau melakukan kontrak yang kedua, tapi uang tambahan yang dijanjikan oleh suara di telepon itu terlalu menggiurkan untuk ditolak. Si Pirang dan rekan-rekannya adalah penjahat-penjahat East End

107

sejati yang tidak pernah ingin menyeberang ke sebelah selatan sungai. Rasa permusuhan di antara geng-geng East End dan dunia hitam London Selatan selalu menjadi buah bibir di kalangan mereka yang berurusan dengan tindak kriminal di ibu kota itu, dan untuk seorang dari selatan pergi ke “Timur” tanpa diundang, atau sebaliknya, sama artinya dengan mengundang kerepotan. Tapi, si Pirang berspekulasi bahwa pada jam tiga tiga puluh pagi semuanya masih sepi dan ia akan aman kembali ke kawasannya sendiri, sebelum ada yang memergokinya, setelah membereskan pekerjaannya.

Ketika Jim Rawlings membuka pintu flatnya, sebuah tangan yang berat mendorongnya balik ke lorong pintu depan yang menuju ke ruang duduknya. Kedua bangsat itu berada di depan, dengan si Pirang menyusul di belakangnya. Rawlings sengaja mundur dengan cepat di lorong ruang depan itu untuk membiarkan mereka semuanya masuk. Ketika si Pirang membanting pintu di belakangnya, Ronnie keluar dari dapur dan merobohkan salah satu bangsat itu dengan sebuah tangkai kapak. Syd keluar dari lemari pakaian dcngan cepat dan mcnghantamkan sebatang besi ke tengkorak bangsat yang kedua. Keduanya lumbang seperti sapi yang akan dijagal.

Si Pirang sedang berkutat di pegangan pintu, mencoba menyelamatkan diri, ketika Rawlings, dengan melangkahi tubuh-tubuh yang tergeletak itu, menangkapnya di kuduknya dan membenturkan wajahnya ke lukisan Bunda Maria yang berpigura

108

kaca—yang merupakan satu-satunya bukti bahwa pemiliknya masih memiliki hubungan dengan suatu agama resmi. Kaca itu hancur dan serpihan-serpihannya menembus dan bersarang di wajah si Pirang.

Ronnie dan Syd mengikat kedua tubuh yang berat itu, sementara Rawlings menyeret si Pirang ke dalam ruang duduk. Beberapa menit kemudian, dengan kaki-kaki dipegangi Ronnie dan pinggang oleh Syd, tubuh si Pirang dijulurkan ke luar jendela, delapan lantai dari dasar.

“Kaulihat tempat parkir di bawah sana?” tanya Rawlings kepadanya. Walaupun malam musim dingin itu sangat gelap, pria itu bisa melihat mobil-mobil yang diterangi lampu-lampu jalan jauh di bawah sana. Ia mcngangguk.

“Well, dua puluh menit dari sekarang tempat parkir itu akan sangat meriah. Orang-orang akan berdiri mengitari selembar plastik. Dan coba tebak siapa yang berada di bawah plastik itu, dengan tubuh hancur mengenaskan?”

Si Pirang, yang kini sadar bahwa harapan hidupnya kini hanya bisa diukur dalam detik, mengeluarkan suara dari mulutnya, “Baik, aku akan bicara.”

Mereka membawa dia masuk dan mendudukkan dia. Ia berusaha mengambil hati. “Begini, kita kan tahu masalahnya. Bung. Aku cuma disewa untuk melaksanakan suatu pekerjaan. Untuk mendapatkan kembali sesuatu yang telah dicuri….”

“Orang tua di Golders Green itu,” kata Rawlings.

109

“Yah. well, dia bilang barang ilu ada padamu, jadi aku ke sini.”

“Ia adalah lemanku. Ia mati.”

“Well, maafkan aku. Bung. Aku tidak tahu dia punya sakit jantung. Anak buahku cuma menge-tuknya beberapa kali.”

“Kau memang bangsat. Mululnya hancur beran-lakan dan semua tulang iganya patah. Jadi sebenarnya apa yang kaucari?”

Si Pirang mengatakannya.

“Barang apa?” tanya Rawlings dengan tidak percaya.

Si Pirang mengatakannya lagi. “Jangan tanya aku, Bung. Aku cuma dibayar untuk mendapatkan-nya kembali. Atau mencari tahu apa yang terjadi atas barang itu.”

“Well,” kata Rawlings, “hampir saja kau dan kawan kawanmu kubuang di Sungai Thames sebelum matahari tcrbit, hanya memakai celana da-lammu tapi ditambabi pemberat Cuma aku tidak mau ribut-ribut. Jadi kubiarkan kau pergi. Kau bilang sama bosmu barang itu kosong. Sama sekali kosong. Dan aku telah membakarnya… jadi abu. Tak ada yang tersisa. Kau kan tahu aku tidak akan menyimpan apa pun yang ada hubungannya dengan pekerjaan ilu? Aku bukan orang tolol. Sekarang pergi kau dari sini.”

Di mulut pintu Rawlings memanggil Ronnie supaya balik. “Ikuti mereka sampai ke seberang

110

sungai. Dan berikan kepada bangsat kecil itu ha-diah dariku, demi orang tua ilu. Oke?”

Ronnie mengangguk. Beberapa menit kemudian, di tempat parkir di bawah, para penjahat East End yang babak belur ilu naik ke bagian belakang mobil van mereka, dengan tangan masih terikat. Satu yang sudah setengah sadar ditaruh di belakang kemudi dcngan tangan dilepaskan dari ik.it.in dan disuruh menjalankan mobil itu. Si Pirang di lemparkan kc jok depan mobil, dcngan kedua tangannya yang patah terkulai di pangkuannya. Ronnie dan Syd mengikuti mereka sampai ke Jembatan Waterloo, lalu berbalik dan pulang.

Jim Rawlings merasa cemas. Ia membuat kopi espresso dan merenungkan semua itu.

Tadinya ia mcmang bcrmaksud membakar las kantor itu di anlara puing-puing. Tapi tas bualan tangan itu begitu bagus; kulit asli yang kilapnya lembut itu bersinar kena cahaya nyala api bagai kan logam. Ia telah memeriksanya kalau kalau ada tanda identitas pcmiliknya. Tidak ada. Bertentangan dengan akal sehatnya dan walaupun Zablonsky telah memperingatkannya, akhirnya ia memutuskan untuk menyimpan tas itu.

Ia mcnghampiri sebuah lemari pakaian dan menurunkan tas itu dari sebuah rak yang letaknya tinggi di atas. Kali ini ia mcnelitinya kembali dengan kctclitian seorang pembobol lemari besi profesional. Dibutuhkan waktu sepuluh menil unluk menemukan sebuah kenop mungil di sisi las

111

yang berengsel, yang jika dilekan kuat-kuat dengan ibu jari akan bergerak membuka ke samping. Dari dalam tas itu terdengar suatu bunyi. Ketika tas dibukanya kembali, dilibatnya alasnya telah naik satu senUmeter di satu sisi. Dengan pisau surat ia mcngangkat alas itu dan mengintip ruang tipis yang bcrada di an Lira alas yang asli dan alas yang palsu. Dengan sebuah pinset ia mengeluarkan sepuluh lembar kertas yang terdapat di dalamnya.

Rawlings tidak tahu banyak tentang dokumen-dokumen pemerintah, tapi ia bisa memgerti prosedur-proscdur Kementerian Pertahanan, dan kata-kata TOP SECRET itu bisa dimengerti siapa saja. Ia lalu duduk menyandar dan bersiul pelan.

Rawlings memang seorang pembobol dan ma-ling, tapi seperti kebanyakan penjahat London, ia tidak ingin orang “merusak” negerinya. Pada kenyataannya para pengkhianat negara yang ditahan di pcnjara, dan juga para pemerkosa anak-anak, biasanya ditempatkan dalam set khusus, karena para penjahat profesional, jika ditempatkan bersama-sama dengan orang-orang seperti itu, kemungkinan besar akan mem”permak” orang-orang itu.

Rawlings tahu apartemen milik siapa yang telah dijarahnya, tapi pencurian itu belum dilaporkan, dan ia curiga—karena alasan-alasan yang kini da-pat diduganya—bahwa pencurian itu tidak akan pernah dilaporkan. Jadi, jangan sampai ia menarik perhatian orang terhadap hal itu. Di pihak lain,

112

dengan kematian Zablonsky, berlian-berlian itu barangkali akan lenyap untuk selamanya, dan bagian yang akan diperolehnya juga ikul lenyap. Ia mulai membenci orang yang memiliki apartemen itu.

Ia telah telanjur memegang-megang dokumen itu tanpa sarung tangan, dan ia tahu bahwa sidik jarinya berada pada file itu. Ia tidak berani menunjukkan jati dirinya sendiri, jadi ia membersihkan kertas-kertas itu dengan secarik kain, sekaligus menghapuskan sidik jari sang pengkhianat.

Sore hari berikutnya, hari Minggu, ia mengeposkan sebuah amplop coklat polos, ditutup rapat dan dengan prangko yang lebih dari cukup, dari sebuah kotak pos di Elephant and Castle. Tidak ada pemungutan pos sampai Senin pagi dan bungkusan itu belum sampai ke tujuannya sebelum hari Se-lasa.

Hari itu, tanggal 20 Januari, Brigadir Bertie Capstick menelepon John Preston di Gordon. Sifatnya yang biasanya riang tidak tercermin dalam suaranya. “Johnny, kau masih ingat apa yang kita bicarakan hari itu? Kalau ada hal yang muncul…? Well, ini ada. Dan ini bukan dana Hari Natal. Ini masalah besar, Johnny. Seseorang mengirimkan kepadaku sesuatu melalui pos…. Bukan, bukan bom, walaupun barangkali bisa lebih buruk dari itu. Nampaknya ada sesuatu yang dibocorkan di sini, Johnny. Dan pelakunya pasti seseorang yang kedudukannya amat sangat tinggi. Itu artinya dia

113

pasti dari departemenmu. Kukira kau sebaiknya ke sini untuk mclihatnya.”

Pagi itu juga, walaupun pemiliknya tidak ada, dua pekerja masuk ke dalam apartemen lantai delapan di Fontenoy House dengan menggunakan kunci-kunci yang telah discdiakan schctumnya. Sepanjang siang mereka mengeluarkan lemari besi Hamber dari dinding yang tebal dan mcnggantiknya dcngan model yang sama. Ketika malam tiba, mereka telah membenahi dinding itu sehingga kembali seperti keadaan semula. Lalu mcreka pergi.

114

4

Moskow

Rabu, 7 Januari 1987 DARI : H.A.R. Philby

KEPADA : Sekretaris Jcndcral Partai Komunis Uni Soviet

l/mkaii saya untuk mcmulai, Kamerad Sekretaris Jcndcral, dengan uraian amat singkat tentang latar belakang Partai Buruh Inggris dan penyusupan yang man Up ke dalamnya dan akhirnya dominasi yang berhasil oleh golongan Ekstrem Kin selama empat belas tahun yang telah lewat ini.

Partai itu asal mulanya didirikan oleh gerakan scrikat buruh sebagai alat politik kelas pekerja Inggris yang baru saja dibentuk. Sejak semula partai itu adalah pendukung aliran sosialisme borjuis mode rat—dengan tujuan reformasi dan bukan revolusi. Wadah bagi kaum marxis-leninis sejali saat ilu adalah Partai Komunis.

115

Walaupun basis marxisme-leninisme di Inggris selalu gerakan serikat buruh perusahaan, pengikut-pengikut sejatinya dikeluarkan dari Partai Buruh itu sendiri. Mulai dari tahun 1930-an sampai sekarang, beberapa teman kita dari kelompok Ekstrem Kiri pro-Soviet di Inggris berhasil menyusup ke dalam Partai Buruh dcngan berbagai dalih, tapi mereka ini, begitu sudah berhasil berada di dalam, harus bersikap sangat low profile. Teman-teman Moskow lainnya, yang dideteksi ketika mereka sedang bcrupaya memasuki Partai Buruh, ditolak masuk atau, kalau dipergoki sudah berada di dalam partai, dikeluarkan.

Mengapa teman-teman sejati kita di Inggris selama bertahun-tahun berada di luar Partai Buruh yang mendapat dukungan massa, dapat dijelaskan dengan dua kata: “proscribed lisf.

Ini adalah daftar organisasi lerlarang; daftar itu melarang semua hubungan kekerabatan antara Partai Buruh dan golongan-golongan yang jauh lebih kecil yang beranggotakan kaum sosialis revolusioner sejati—yaitu, kaum marxis-leninis. Selanjutnya, semua anggota golongan Ekstrem Kiri tidak diperbolchkan menjadi anggota Partai Buruh di bawah persyaratan proscribed list, yang dijalankan dengan setia oleh para pemimpin Partai Buruh selama lima puluh tahun.

Karena Partai Buruh adalah satu-satunya partai Kiri yang mendapat dukungan massa, dengan harapan dapat mempunyai akses ke dalam pemcrin—

116

tahan Inggris, maka penyusupan dan dominasi ke dalamnya oleh teman-teman kita, dengan mcnganut ajaran leninisme klasik “entryism”, hanya la h merupakan ilusi saja selama tahun-tahun tersebut Walaupun demikian, teman-teman kita yang berada di dalam partai itu, meski cuma sedikit sekali jumlahnya, bekerja tanpa kenal lelah dan dengan diam-diam; dan di tahun 1973 upaya-upaya mereka akhirnya mencapai sukses.

Pada tahun tersebut, ketika partai berada di bawah kepemimpinan Harold Wilson yang lemah dan tidak tegas, mereka memperoleh mayoritas tipis di Komite Pelaksana Nasional Partai, dan menggunakan peluang itu untuk membuat keputusan menghapuskan proscribed list tersebut Hasilnya sungguh lebih dari yang mereka impikan.

Dengan pintu-pintu terbuka lebar-lebar, para aktivis muda Ekstrem Kiri dari generasi pasca-1945 berbondong-bondong masuk ke Partai Buruh dan langsung menduduki semua pos dalam organisasi partai. Jalan menuju entryism, pengaruh, dan akhirnya pengambilalihan telah terbuka, dan pengambilalihan itu sudah terjadi sekarang.

Sejak 1973, Komite Pelaksana Nasional Partai yang teramat vital peranannya itu j a rang sekali lepas dari tangan golongan Ekstrem Kiri yang merupakan mayoritas, dan melalui pemanfaatan sa-rana secara terampil inilah maka konstitusi partai dan komposisinya di tingkat atas telah dirombak secara menyeluruh.

117

Sedikit mcnyimpang, Kamcrad Sekretaris Jendcral. untuk menjelaskan dengan tepat siapa yang saya maksud dengan “teman-teman kita” di dalam Partai Buruh Inggris dan di dalam gcrakan serikat buruh perusahaan. Mereka terbagi dalam dua golongan: yang memang mau dan yang sebenarnya enggan. Dengan kategori yang pertama, yang saya maksudkan bukan orang-orang dari golongan Kiri Lunak atau sempalan pengikut Trotsky, kedua golongan itu sangat membenci Moskow, hanya saja dcngan alasan yang berbeda. Maksud saya, yaitu kaum Ekstrem Kiri yang intinya adalah kaum Kiri Ultra-Ekstrem. Mereka ini adalah kaum marxis-Icninis yang sejati dan sangat berdedikasi, yang tidak suka disebut Komunis, karena ini berarti bahwa mereka adalah anggota Partai Komunis Inggris yang sama sekali tidak bcrmutu. Walaupun demikian, mcreka inilah teman-teman setia Moskow dan sembilan dari sepuluh akan hersikap se-suai dengan kehendak Moskow, walaupun kehendak itu barangkali tidak pernah tcrungkapkan dan walaupun orang yang bersangkutan akan bersikeras menyatakan bahwa ia bertindak karena alasan “mi rani” atau karena alasan “kepentingan Inggris”.

Kategori kedua dari teman-teman kita, yang kini sedang berkuasa, di dalam Partai Buruh Inggris, bisa dikenali ciri-cirinya sebagai berikut: orang-orang yang memiliki komitmen politik dan cmostonal yang mclfdalam lerhadap suatu bentuk sosialisme yang begitu condong ke kiri sehingga

menyerupai marxisme-leninisme; orang-orang yang, dalam situasi apa pun atau dalam kctidak-pastian yang bagaimanapun, akan selalu bercaksi spontan dengan suatu cara yang sangat sesuai dcngan, alau scjalan dengan, arah kebijakan luar negeri Soviet terhadap Inggris dan/atau Persekulu-an Baut; orang-orang yang tidak perlu pengarahan atau inslruksi apa pun, dan yang barangkali akan merasa tcrsinggung jika hal seperti itu diusulkan; orang-orang yang, baik secara sadar atau tidak sadar, baik terdorong oleh keyakinan pribadi— patriotismc yang menyimpang, keinginan untuk mcnghancurkan, kcrinduan akan peningkalan diri, kc tak ulan akan ic kanan intimidasi, rasa diri pen ling, alau keinginan untuk bergabung dengan kaumnya—akan bertingkah laku sesuai dcngan kepentingan-kepentingan Soviet secara sempurna. Mereka semua itu merupakan agen-agen nenyebar pengaruh yang mcnguntungkan kita.

Mereka semua, tentu saja, mengaku sebagai pencari-pencari demokrasi. Untungnya, mayoritas orang Inggris saat ini masih menafsirkan arti kata demokrasi sebagai suatu negara multi partai, yang lembaga pemcrintahannya harus dipilih secara berkala oleh hak pilih orang dewasa yang didasarkan atas cara pemilihan yang bersifal rahasia. Jelas, bahwa teman-teman Ekstrem Kiri kita di sana, yang adalab orang-orang yang makan, minum, bcr-napas, tidur, bcrmimpi, dan bekerja di lingkungan politik sayap kiri setiap saat setiap hari, mcngarti-119

kan kata demokrasi sebagai suatu “demokrasi bagi mereka yang berkomitmen”, dengan tali kcndali yang dipegang oleh mereka sendiri dan orang-orang yang bcrhaluan sama. L’ntunglah, pers Inggris sangat kurang melakukan koreksi atas kesalahan tafsir ini.

Jadi, mulai tahun 1973 sampai saat ini, teman-teman marxis-leninis kita di Partai Buruh bisa mengabdikan diri mcreka dcngan penuh konscntrasi dalam pcrjuangan untuk mcnguasai partai itu secara tidak kentara, suatu upaya yang hanya bisa tercapai jika proscribed list dihapuskan. Inilah yang terjadi saat itu.

Partai Buruh sejak dulu bcrdiri bagai tripod pada tiga kakinya: serikat-serikat buruh perusahaan, kelompok-kelompok beraliran Buruh di daerah-daerah pcmilihan (satu di tiap dacrah pemilihan yang membentuk pola pemilihan umum Inggris), dan Kelompok Buruh Parlcmen, yaitu kclompok anggota Parlcmen yang dipilih pada pcmilihan umum sebelumnya. Pimpinan Partai Buruh selalu dipilih dari kelompok ini.

Serikat-serikat buruh perusahaan yang paling bcrkuasa dari ketiganya dan yang menjalankan kekuasaannya dengan dua cara. Satu, mereka adalah penyandang dana partai, yang mcmbiayai kegiatan-kegiatan dcngan melakukan pungutan-pungutan politik yang diambil dari upah jutaan buruh. Dua, dalam konferensi-konferensi partai mereka mengatur “block votes” (suara-suara gabungan) dalam

120

jumlah besar, yang diberikan oleh Union National Executive (Pelaksana Nasional Scrikat Buruh) atas nama jutaan anggota yang tidak memberikan suara mereka. Suara-suara gabungan ini dapat memastikan lolosnya semua resolusi dan dapat mcmastikan pemilihan sampai ke tingkat tiga dari National Executive Committee (Komite Pelaksana Nasional) Partai Buruh yang amat periling peranannya itu.

Komite-komite eksekutif scrikat buruh yang ber-peranan memberikan suara amat vital kedudukannya; komite-komite itu adalah tempat bermukim-nya para aktivis scrikat buruh yang bckcrja full-time dan pejabat -pejabat yang mencntukan kebijakan scrikat buruh. Mereka berada di puncak pira-mid yang lapisan tcngahnya adalah para pejabat daerah dan lapisan bawahnya adalah para pejabat cabang. Jadi, pengambilalihan pos-pos penting di dalam serikat-serikat buruh oleh para aktivis Ekstrem Kiri jelaslah sangat penting, dan telah berhasil dilakukan.

Faktor yang sangat membantu teman-teman kita dalam melakukan tugas ini ialah sikap apatis para anggota scrikat buruh yang kebanyakan bersikap modcrat, yang tidak mau merepotkan diri menghadiri rapat-rapat cabang scrikat buruh. Jadi, para aktivis, yang menghadiri segala macam rapat, telah berhasil mengambil alih ribuan cabang, ratusan daerah, dan pos-pos terpenting milik komite-komite pelaksana. Saat ini, scpuluh yang terbesar’ dari an Lira delapan puluh scrikat buruh yang

121

bcrafiliasi dcngan Partai Buruh, menguasai scparo suara gcrakan scrikat buruh; sembilan dari yang scpuluh itu dikcndalikan oleh golongan Ekstrem Kiri di puncak, dibandingkan dcngan hanya dua di awal tahun 1970-an. Semua ini berhasil dicapai— dcngan mcngalahkan jutaan pekcrja Inggris—oleh tidak lebih dari scpuluh ribu orang yang herded ikasi tinggi.

Pcntingnya suara scrikat buruh yang dikuasai golongan Ekstrem Kiri ini akan menjadi jelas kalau saya uraikan tentang lembaga pcmilihan yang memilih pemimpin Partai Buruh yang baru; serikat-serikat buruh menguasai empat puluh pcrscn suara dalam apa yang dinamakan lembaga

pcmilihan ini.

Selanjutnya, kclompok-kclompok buruh con

stituency, atau CLP (Constituency Labour Parly). Di pusat pnrt.ii-p.iri.il ini bcrcokol komite komite manajemen umum, yang, selain menjalankan kegiatan schari-hari partai di daerah-daerah pcmilihan (constituency), mempunyai satu lagi fungsi penting: mereka memilih calon-calon Partai Buruh untuk Park-men Sepanjang dekade 1973 sampai 1983, kaum muda aktivis garis keras dari golongan Ekstrem Kiri mulai bergerak masuk kc dalam daerah-daerab pcmilihan, dan dengan selalu rajin mcnghadiri rapat-rapat CLP yang membosankan ‘dan biasanya hanya dihadiri sedikit orang, mcreka berhasil menyingkirkan para pejabat lama untuk

akhirnya mengambil alih kckuasaan dalam komite-komite manajemen umum, satu per satu.

Karena setiap daerah pcmilihan bcrikutnya selalu jatuh kc dalam kckuasaan para aktivis golongan Ekstrem Kiri, maka posisi para MP {Member of Parliament atau anggota Parlemen) yang kcbanyakan adalah kaum scntris (golongan nctral), yang mcwakili daerah-daerah pemilihan tersebut, menjadi semakin sulit Tapi toh, mereka tidak mudah disingkirkan. Demi kemenangan yang sc-sungguhnya bagi golongan Ekstrem Kiri, adalah pcrlu untuk melemahkan, bahkan mengebiri, kebebasan nurani seorang anggota Parlemen; mcng-ubahnya dari peranannya sebagai wakil yang mcmperjuangkan kepentingan daerah pemilihannya menjadi cuma seorang utusan dari komite manajemen umumnya.

Tujuan ini dicapai dcngan gcmilang oleh golongan Ekstrem Kiri di Brighton pada tahun 1979 dengan dibcrlakukannya peraturan baru yang mcwajibkan dilakukannya selcksi ulang (atau dcscleksi) tahunan terhadap para MP oleh komite-komite manajemen mereka. Peraturan ini mengakibatkan pcralihan kckuasaan besar-besaran. Sejumlah besar kaum scntris mcngundurkan diri dari Partai Sosial Demokrat; scbagian lagi terkena descleksi dan mcninggalkan panggung politik; sebagian dari kaum sentris yang paling andal dipaksa untuk mcngundurkan diri. Walaupun defnikian, Kelompok Buruh Parlcmen, mcski dikebiri dan diccmoohkan, masih memiliki

122

123

satu fungsi: para MP, dan mcrcka saja, sudah bisa mcmilib pemimpin Parlai Buruh. AdalaK periling, untuk menyclcsaikan penguasaan liga unsur kekuatan tersebutdan mcnyingkirkan kekuasaan itudari tangan mercka. Tujuan ini tcrcapai, lagi-lagi dcngan desakan darigolongan Ekstrcm Kiri, pada tahun 1981, dcngan diciplakannya lembaga pemilihan umum,dcngan tiga puluh pcrscn suara yang masuk dikuasai olch Kclompok ktlompok Paricmen, liga puluh pcrscn oleh kelompok-kelompokdi daerah-daerah pemilihan, dan cmpat puluh pcrscn olch scrikat-scrikat buruh pcrusahaan. Lembaga itu akan memilih pemimpin baru kalau dan pada waktu diperlukan, dan akan melakukan konfirmasi utang atas dirt pemimpin baru tersebul setiap tahun. Fungsi yang tcrakhir ini sangat pen ting artinya bagi rencana yang sedang dijalankan saal ini, dan yang akan saya jelaskan.

Pcrjuangan untuk mcrcbut kekuasaan yang telah saya uraikan dilanjutkan dcngan bcrlangsungnya pemilihan umum 1983. Pengambilalihan kekuasaan sudah hampir tuntas, tapi teman-tcman kita telah mcmbu.it dua kcsalahan, yaitu penyimpangan dari doktrin Lenin mengenai kewaspadaan dan dissimu-lasi. Mereka telah tampil terlalu terbuka, terlalu mcncolok, dalam upaya mercka mcmcnangkan perjuangan yang besar itu, dan tunlutan untuk menyelenggarakan pemilihan umum scbelum waktunya justm mcmbuat mereka tcrpcrangah. Kaum Ekstrcm Kiri mcmbutuhkan paling sedikit satu tahun lagi untuk melakukan konsolidasi, meredakan

siluasi, dan mcnggalang persaluan. Mcrcka gagal mencapai tujuan. Partai Buruh, yang terlalu dini hams mencrima manifesto kaum Ekstrcm Kiri yang paling ekstrcm dalam scjarah, bcrada dalam kckacauan total. Lcbih buruk lagi, masyarakat Inggris telah mcnyaksikan seperti apa sebenarnya wa-jah kaum Ekstrcm Kiri.

Seperti yang Anda masih ingat, pemilihan umum 1983 lernyata mcrupakan bencana bagi Partai Buruh yang saat ini seharusnya sudah bisa dikuasai olch kaum Ekstrem Kiri. Tapi ton mi nurut pendapal saya, kcjadian itu malahan merupakan suatu hikmah terselubung. Karena itu semua telah membuat teman-teman sejati kita di dalam partai itu sctuju untuk menyangkal dirinya sendiri dan mcngakui realisme dengan bcrani selama cmpat puluh bulan terakhir ini.

Singkatnya, dari 650 dacrah pemilihan di Inggris pada tahun 1983, Parlai Buruh hanya memenangkan 209. Tapi sebenarnya itu tidaklah sc-buruk seperti nampaknya. Satu hal, dari 209 MP dari Partai Buruh yang duduk di Parlcmcn, 100 di antaranya sckarang jelas-jelas orang Kiri, 40 di anlaranya kaum Ekstrem Kiri. Mungkin memang kecil jumlahnya, tapi Partai Buruh di Paricmcn saat ini adalah yang paling kiri yang pernah duduk di Parlemen.

Kcdua, kekalahan dalam pemilihan itu mcngc-jutkan orang-orang bodoh itu, yang mengira bahwa pcrjuangan mcrcbut kekuasaan sccara total telah

124

125

selesai. Mereka dengan cepat sadar bahwa setelah perjuangan yang pahit tapi perlu, yang dilakukan teman-teman kita untuk menguasai Partai Buruh antara lahun 1979 dan 1983, sudah tiba waklunya untuk membangun kembali kesatuan dan memper-baiki basis kckuasaan yang telah rusak di dalam negeri, sambil mcmpersiapkan diri untuk pemilihan umum yang akan datang. Program ini dimulai dan didalangi oleh kaum Ekstrem Kiri pada bulan Oktober 1983, saat disclenggarakannya Konferensi Partai, dan masih tetap dilaksanakan dengan setia sejak itu.

Kctiga, mcreka semua memandang perlunya kembali ke prinsip kcrahasiaan yang dituntut oleh Lenin dari semua pengikut sejati yang sedang ber-juang di dalam suatu masyarakat borjuis. Jadi tcma scluruh kegiatan kaum Ekstrem Kiri selama empat puluh bulan terakhir ini adalah kembali ke prinsip kerahasiaan yang begitu berhasil sclama awal dan pertengahan 1970-an. Ini diikuti dengan arus balik ke sikap mod era i yang nyata dan mengherankan. Dibutuhkan upaya yang keras untuk me-nckankan disiplin diri guna mencapai hal ini, tapi sekali lagi para kamcrad belum sepenuhnya dapat mclaksanakan langkah ini.

Sejak Oktober 1983, kaum Ekstrem Kiri telah dcngan cfektif menunjukkan sikap luwes, toleran, dan mode rat; yang dipentingkan adalah kesatuan partai, dan sejumlah kompromi yang dilakukan dalam dogma kaum Ekstrem Kiri untuk mencapai

126

hal ini. Baik sayap kaum scntris—yang merasa senang dan bersikap bersahabat—dan media nampaknya benar-benar telah sangat terkesan oleh wa-jah baru teman-teman marxis-leninis kita yang dapat benar-benar mereka terima.

Dengan lebih tidak kentara, pengambilalihan Partai Buruh telah dapat dilaksanakan dcngan tun tas. Sekarang semua komite strategis kalau bukan sudah dikuasai oleh kaum Ekstrem Kiri, dapat diambil alih dalam satu rapat darurat. Tapi—dan ini adalah sebuah “tapi” yang penting—mereka biasanya sudah cukup puas jika kctua komite strategis ini dipcrcayakan kepada orang yang bcrhaluan Kiri Lunak, dan kadang-kadang—jika su-prcmasi suara terlampau bcrlebihan—bahkan kepada seorang scntris.

Sayap kaum scntris, dengan pcngccualian sckilar sclusin anggota yang skeptis, telah berhasil dilucuti kekuasaannya oleh persaluan yang bam saja berhasil digalang kembali dan oleh lenyapnya gangguan dalam tubuh mereka sendiri. Walaupun demikian, tangan besi itu masih tetap tcrbungkus samng tangan bcludm.

Di tingkat daerah pcmilihan, pengambilalihan kekuasaan para CLP lokal oleh unsur-unsur Ekstrem Kiri masih terns berlangsung secara diam-diam dan luput dari pcrhatian masyarakat dan media. Begitu jugalah yang sudah tcrjadi dengan scrikat bumh perusahaan, sepanjang scjarahnya, seperti yang telah saya uraikan sebclumnya. Sembilan

127

dari Scpuluh Besar dan setengah dari ketujuh puluh scrikat buruh yang masih ada kini dikuasai oleh kaum Ekstrem Kiri, dan lagi-lagi di sini profile-nya scngaja ditekan jauh lebih kc bawah danpada sebelum tahun 1983.

Kesimpulannya, scluruh Partai Buruh Inggris sckarang adalah milik kaum Ekstrem Kiri, secara langsung, alau melalui tangan kaum Kiri Lunak, atau melalui para scntris yang dikcndalikan, atau melalui pcnyclenggaraan rapat-rapat darurat komite; dan ton, para anggota biasa Partai Buruh dan scrikat buruh, media, dan massa pemberi suara dari Partai Buruh lama, nampaknya tidak mcnyadari kenyataan ini.

Selanjutnya, kaum Ekstrem Kiri selama empat puluh bulan telah mcmpersiapkan diri mcnyambut pcmilihan umum Inggris yang akan datang dcngan sikap sea kanakan merencanakan sebuah kampanye militcr. Untuk memperoleh mayoritas di Parlcmen Inggris, dipcrlukan 325 kursi—atau sckitar 330. Kaum Ekstrem Kiri sudah mengantongi 210. Yang 120 lagi, yang lepas dari tangan kita dalam pemilihan tahun 1979 atau 1983, atau dua-duanya, dianggap bisa dimenangkan dan telah ditctapkan sebagai target yang harus dicapai.

Adalah suatu kenyataan dalam kehidupan politik di Inggris bahwa rakyatnya, setelah dua masa pemerintahan yang sama, sering kali berpendapat bahwa sudah waktunya ada pergantian, bahkan jika pemcrintahan yang masih berjalan itu masih

128

disukai orang. Tapi orang Inggris hanya mau menggantinya kalau mcreka percaya kepada penggantinya. Tujuan Partai Buruh dalam empat puluh bulan terakhir ini adalah memperoleh kembali kc-pcrcayaan rakyat itu, walaupun dcngan cara mink yang dilakukan oleh teman-teman kita di dalam partai itu.

Menilai situasi berdasarkan hasil angket opini publik akhir akhir ini, upaya itu cukup berhasil, sebab perbedaan persentase antara Partai Konservatif yang bcrkuasa dengan Partai Buruh hanya tinggal beberapa point saja. Jika diingat pula bahwa sesuai dcngan sislem Inggris, delapan puluh kursi “inaijinal” yang sesungguhnya menjadi pe-nentu bagi hasil akhir pcmilihan umum, dan kursi-kursi marjinal ini dapat bergeser kc salah satu pihak karcna pengaruh lima belas pcrscn “suara mengambang”, maka Partai Buruh mempunyai peluang untuk kembali memegang pemcrintahan pada pcmilihan umum Inggris yang akan datang.

Naiknya Partai Buruh kc puncak kckuasaan saja tidak akan cukup untuk mengguncangkan Inggris, dan yang selanjutnya akan membawa Inggris ke ambang revolusi yang lebih lanjuL Kiranya kita pcrlu mcnumbangkan pemimpin Partai Buruh yang baru saja mcnang itu sebelum dia dipanggil kc Istana dan disumpah sebagai peruana mcntcri, untuk kemudian digantikan oleh calon Ekstrem Kiri yang sudah dipersiapkan sebagai pcrdana mcntcri Inggris pertama yang menganut paham marxismc-leninisme. Rencana inilah yang sekarang sedang berjalan.

Izinkan saya untuk menyimpang lagi, unluk menjelaskan cara pemilihan pemimpin Partai Bu-ruh. Setelah diperkcnalkannya sistem Icmbaga pemilihan atas desakan tcman-teman Ekstrcm Kiri kita, proscdurnya scbagai berikut: setelah pemilihan dilaksanakan, nominasi untuk jabatan pimpinan Partai Buruh ditutup tiga puluh hari setelah para MP diambil sumpahnya. Setelah itu ada tenggang waktu tiga bulan saat para calon dari kubu lain dapat mengajukan tuntutan mereka sebclum anggota-anggota Icmbaga pemilihan itu bcrtemu. Apabila Partai Buruh kalah, maka mungkin akan terjadi pergantian pimpinan; apabila menang, maka tidaklah akan mungkin menumbangkan Perdana Menteri, sebab tiga bulan itu akan dipakai untuk melakukan pemblokiran suara massa, yang akan mendukung dia.

Kemudian, tahun lalu, dalam konferensi Ok-tobcr, teman-teman kita yang menguasai Komite Pclaksana Nasional berhasil melicinkan jalan bagi suatu “reformasi” berskala kecil. Apabila Partai Buruh menang dalam pemilihan umum, pimpinannya akan dimantapkan kedudukannya dengan ccpat dan efisien melalui cara-cara berikut: semua pen-calonan harus dilakukan dalam waktu tiga hari sejak diumumkannya hasil-hasil pemilihan; lalu suatu rapat luar biasa anggota lembaga pemilihan akan diselenggarakan dalam waktu empat hari sc-130

telah itu. Setelah rapat anggota Icmbaga pemilihan itu dan “pemilihan” pimpinan partai, tak akan ada pemilihan lagi selama dua tahun, dengan meniada-kan tahun yang berada di antaranya.

Mereka yang bersikap ragu-ragu dalam mendukung “reformasi” ini diyakinkan bahwa scluruh proses “konfirmasi” ini hanyalah formalitas saja. Jelas tidak ada orang yang akan mencntang pimpinan yang baru saja menang itu, yang masih menunggu untuk dipanggil ke Istana. Dan ia akan disahkan kembali dalam pemilihan ulang yang tidak beroposisi, bukankah demikian?

Padahal, yang diharapkan adalah kcbalikan dari kenyataan ini. Seorang calon alternatif akan mcngusulkan dirinya sendiri untuk jabatan pimpinan itu. Sempitnya waktu mengakibatkan tidak mungkin-nya dilakukan pemblokiran suara massa; komite -komitc pclaksana nasional akan membcrikan suara mereka yang empat puluh persen itu atas nama jutaan anggota serikat buruh, dan komite-komite itu dikuasai oleh teman-teman kita. Demikian pula halnya dengan komite komite daerah pemilihan. Bergabung dengan separo Partai Parlemen, keduanya akan mengumpulkan lebih dari lima puluh persen dari keanggotaan Icmbaga pemilihan. Itu akan menjadi pimpinan baru yang akan dipanggil ke Istana oleh Sri Ratu.

Sekarang kita sampai kepada rinciannya. Di pu-sat kubu kaum Ekstrcm Kiri Partai Buruh Inggris dan gerakan serikat buruh perusahaan ada kelom—

131

pok dua puluh yang, secara bersama-sama, da pa I disebul mewakili sayap ultra-kiri. Mereka tidak dapat disebut sebagai komite sebab, walaupun mereka selalu saling bcrhubungan, mereka jarang se-kali atau malahan tidak pernah bertcmu di satu tempat. Masing-masing telah menghabiskan seluruh hidupnya dengan bcrjuang mencari jalan ke atas di dalam mekanisme partai; masing-masing mempunyai pengaruh yang jauh, jauh lebih besar daripada yang nampak dalam jabatan resminya. Masing-masing memiliki dedikasi tinggi, kaum marxis-leninis sejati. Jumlah seluruhnya dua puluh orang, sembilan belas pria dan satu wanita. Yang sembilan adalah aktivis serikat buruh, enam (termasuk yang wanita) adalah MP dari Partai Buruh yang masih menjabat, dan sisanya terdiri dari dua akademikus, seorang bangsawan, scornng ahli hu-kum, dan seorang penerbit. Orang-orang inilah yang akan mengawali gebrakan dan mendalangi pengambilalihan kckuasaan.

Sekali berada di dalam kepemimpinan Parlai dan memegang jabatan perdana menteri, sang pendatang baru akan memiliki kekuasaan penuh, yang ditopang oleh Komite Pelaksana Nasional Partai yang dikuasai oleh kaum Ekstrem Kiri, untuk me-rombak kabinetnya sesuai dengan seleranya dan untuk dengan scgera menangani program Icgislatif yang dicanangkan. Singkatnya, rakyat seharusnya memilih orang yang nampak seperti scorang tradi-sionalis Kiri Lunak atau sedikitnya suatu pemerin-132

tahan yang reformis, tapi suatu rezim Ekstrem Kiri total akan memcnangkan jabatan itu tanpa melalui prosedur pemilihan yang menjengkelkan itu.

Akan halnya program Icgislatif tersebut, program itu terdiri dari sebuah rencana untuk melaksanakan dua puluh langkah yang diinginkan yang, karena alasan yang jelas, belum dibuat dalam ben-tuk tertulis. Semua langkah-langkah itu sudah lama merupakan tujuan. program kaum Ekstrem Kiri, walaupun hanya beberapa yang dicakup dalam manifesto resmi Partai Buruh, dan itu pun dalam bentuk yang sudah diperlcmah.

Rencana dua puluh butir itu dikenal sebagai Manifesto untuk Revolusi Inggris—atau singkatan-nya MBR (Manifesto for the British Revolution). Lima belas butir pertama berkenaan dengan nasio-nalisasi massa terhadap perusahaan-perusahaan swasta, hak milik, dan kckayaan pribadi; penghapusan semua pcmilikan tanah, jasa pelayanan medis, dan usaha pendidikan swasta; pengendalian profesi guru, kepolisian, media informasi, dan pengadilan oleh negara; dan penghapusan Parlemen, yang mempunyai kekuasaan untuk menjatuhkan veto terhadap tindakan pengabadian diri olch suatu pemcrintah yang tcrpilih. (Terbukti bahwa revolusi Inggris dulu tidak dapat dicegah atau diubah arahnya olch wewenang para pcmilih.)

Tapi lima butir MBR terakhir secara vital mc-nyangkut kepentingan kita di sini di Uni Soviet, jadi saya perlu mcnguraikannya.

133

1. Pengunduran diri Inggris, dengan mengabaikan semua kewajiban pakta, dari Masyarakat Ekonomi Eropa.

2. Pengurangan kekuatan angkatan bersenjata konvcnsional Inggris menjadi seperlima dari yang sekarang, dengan segera dan tanpa ditunda-tunda lagi.

3. Penghapusan dan penghancuran semua senjata nuklir dan sistem distribusi senjata Inggris, dengan segera dan tanpa ditunda-tunda lagi.

4. Penyingkiran—dengan segera dari Inggris— semua persenjataan Amerika Serikat, nuklir dan konvensional, bersama dengan pcrsonclnya dan perlengkapannya.

5. Pengunduran diri Inggris dengan segera dari, dan penolakan atas. North Atlantic Treaty Organization (NATO).

Kiranya tidak perlu lagi saya gar is bawahi, Kamcrad Sekretaris Jenderal, bahwa kclima usutan terakhir ini akan merusak pertahanan Persckutuan Barat, sampai tingkat yang tidak akan pernah bisa diperbaiki lagi dalam kurun waktu hidup kita, atau bahkan untuk sclamanya. Dengan tidak adanya Inggris, negara-ncgara NATO yang lebih kecil mungkin akan mengikuti, dan NATO pelan-pelan akan mati, meninggalkan Amerika Serikat berdiri sendiri di sisi Atlantik yang lain.

Jelaslah bahwa semua yang telah saya jelaskan dan uraikan dalam memorandum ini tergantung pada pelaksanaannya, seiring dengan kemenangan

134

Partai Buruh, dan dalam hubungan ini, pemilihan umum yang akan datang, yang diharapkan dilakukan dalam musim semi 1988, mungkin akan merupakan kesempatan yang terakhir.

Semua uraian di atas ini adalah yang saya mak-sud dengan komentar saya di resepsi makan ma-lam Jenderal Kryuchkov, bahwa stabilitas polilik Inggris senantiasa dinilai terlalu tinggi oleh Mos-kow “dan belum pernah lebih tinggi daripada sekarang ini”.

Hormat saya, Harold Adrian Russell Philby

Tanggapan sang Sckrctaris Jcndcral atas memorandum itu—sangat mengherankan dan sangat menyenangkan—ternyata cepat. Hampir-hampir tidak lebih dari schari setelah Philby menyerahkan memorandum itu kepada Mayor Pavlov, perwira muda yang misterius dan bermata dingin dari Di rektorat Sembilan itu telah datang kembali. Di tangannya ada sebuah amplop manila yang di-serahkannya kepada Philby tanpa mengucapkan apa-apa sebelum ia membalikkan badannya untuk pergi.

Itu sebuah sural, lagi-lagi dengan tulisan tangan Sekretaris Jenderal, singkal dan to the point seperti biasa.

Di dalam suratnya, pemimpin Soviet itu mengucapkan terima kasih kepada temannya Philby untuk apa yang telah dilakukannya. Ia sendiri telah

135

mcngecek kebenaran isi memorandum itu dan me-nyatakannya sebagai sangat akurat Oleh karena itu, ia beranggapan bahwa kemenangan Partai Buruh Inggris dalam pemilihan umum yang akan datang adalah masalah top priority bagi Uni Soviet la telah membentuk sebuah komite penasihat terbatas, yang bertanggung jawab dan melapor ha-nya kepada dia sendiri, untuk memberikan pertim-bangan kepadanya mengenai kemungkinan-kemungkinan di masa yang akan datang. Ia me-wajibkan dan meminta bantuan Harold Philby untuk bertindak sebagai penasihat bagi komite tersebut

136

5

PRESTON duduk di kantor Bertie Capstick yang nampak sangat kuatir dan scdang mengamati sepuluh lembar kertas fotocopy yang tersebar di meja tulisnya. Ia membacanya dengan teliti. “Be-rapa orang yang telah memegang amplop ini?” ia bcrtanya.

“Si tukang pos, pasti. Hanya Tuhan yang tahu berapa orang yang memegangnya di kantor pe-nyeleksi. Di dalam gedung ini, orang-orang front-office, pesurun yang mcmbawa sural-sural pagi ke tiap-tiap kantor, dan aku sendiri. Amplop ini pasti akan menyebabkan banyak kerepotan bagimu.”

“Dan kertas-kertas yang di dalamnya?”

“Cuma aku sendiri, Johnny. Tentu saja aku tidak tahu itu apa sampai aku mengeluarkannya.”

Preston berpikir sejenak. “Selain orang yang mengeposkannya, kertas-kerlas itu, kukira, mengandung sidik jari orang yang memindahkannya. Aku hams miiiia Scotland Yard untuk memeriksanya. Secara pribadi aku tidak terlalu optimis. Sekarang

137

mengenai isinya. Tampak seperti bahan tingkat tinggi sckali.”

“Yang paling tinggi,” kata Capstick dengan mu-ram. “Semuanya bersifat top secret. Scbagian sangat peka sifatnya, mengcnai sekutu-sekutu NATO kita; rencana antisipasi bagi NATO guna menghadapi kemungkinan berbagai ancaman Soviet— bahan-bahan semacam itu.”

“Baiklah,” kata Preston, “man kita pikirkan kemungkinan-kemungkinannya. Sabar sedikit Mi salnya, kita anggap bahwa ini dikirim kembali oleh scorang warga yang peduli akan kepentingan masyarakat yang karena satu dan lain alasan tidak ingin dikenali. Ini sering terjadi; orang tidak ingin tcrlibat Dari mana orang itu memperoleh dokumen ini? Ada tas kantor yang ditinggalkan di ruang ganti pakaian, taksi, klub?”

Capstick menggelengkan kcpala. “Secara legal tidak mungkin, Johnny. Bahan seperti ini tidak akan pernah—dalam situasi apa pun—keluar dari grilling, kecuali barangkali saat dikirimkan dalam kantong yang disegel ke Kantor Kcmcnterian Luar Negcri atau Kantor Kabinet Sampai saat ini be-lum ada laporan bahwa ada kantong milik Bagian Arsip yang diacak-acak orang. Lagi pula, dokumen ini tidak ditandai dengan tujuan di luar gedung ini, seperti layaknya kalau sebuah dokumen dikirimkan secara legal. Bahkan orang-orang yang belum terbiasa dengan urusan begini pasti tahu aturan mainnya. Tak scorang pun—sungguh tak scorang

138

pun— yang boleh membawa pulang bahan seperti ini untuk dipelajari. Terjawabkah pcrtanyaanmu?”

“Lebih dari cukup,” kata Preston. “Dokumen ini datang kembali dari luar kcmcnterian. Berarti sudah pernah dibawa keluar. Secara ilcgal. Kecerobohan berat? Atau usaha pembocoran yang di sengaja?”

“Coba lihat tanggal-tanggal asalnya,” kata Capstick. “Sepuluh lembar dokumen ini bcrada dalam masa satu bulan. Tidak mungkin lembaran-lembaran ini tiba di mcja dalam satu hari. Semuanya ini pasti dikumpulkan dalam suatu jangka waktu tertcntu.”

Preston, dengan menggunakan saputangannya, memasukkan kembali kesepuluh lembar dokumen itu ke dalam amplop asalnya. “Ini harus kubawa ke Charles Street, Bertie. Boleh kupakai teleponmu?”

Ia menelcpon Charles Street dan minta dihubungkan langsung ke kantor Sir Bernard Hcmmings. Dircklur Jenderal ada di tempat, setelah menunggu bebcrapa waktu dan atas sedikil desakan dari Preston, akhirnya ia mau menjawab telcpon itu sendiri. Preston hanya minta waktu untuk sebuah appointment beberapa menit setelah itu dan itu diperolehnya. Ia meletakkan telepon dan menoleh kepada Brigadir Capstick.

“Bertie, untuk sementara ini jangan melakukan atau mengatakan apa-apa dulu. Kepada siapa pun. Berlakulah seakan hari ini sama seperti hari-hari

139

rutin lainnya,” kata Preston. “Kau akan terus ku-hubungi.”

Tidak mungkin meninggalkan kementerian dengan membawa dokumen itu tanpa kawalan. Brigadir Capstick meminjamkan kepadanya salah satu dari kurirnya, scorang bekas pengawal yang kuat dan tegap.

Preston meninggalkan kcmcnterian dengan dokumen tersebut di dalam tas kantornya sendiri dan naik taksi menuju Charges Apartments; ia menyaksikan taksi itu lenyap melalui Clarges Street sebelum melangkahkan kakinya sejauh dua ratus meter menuju Charles dan kantor pusatnya, di sana ia dapat menyuruh pengawalnya meninggalkannya. Sir Bernard menemuinya sepuluh menit kemudian.

Spycatcher tua itu nampak muram, seakan ia sedang kesakitan, yang memang sering dialaminya. Penyakit yang diidapnya jauh di dalam tubuhnya tidak kentara dari luar, tapi tes-les medisnya tak dapat diragukan lagi. Tinggal setahun lagi, kata mereka, dan tidak bisa dioperasi. Dia akan pensiun pada tanggal 1 September, dan ditambah dengan cuti masa kerja berarti ia sudah bisa pergi pertengahan Juli, enam minggu sebelum ulang tahunnya yang kcenam puluh.

Barangkali dia sudah meninggalkan semua itu kalau bukan karena langgung jawab pribadi mem-bebaninya. Ia punya istri kedua yang membawa scorang anak perempuan tiri ke dalam perkawinan tersebut—anak yang sangat dicintai pria tua yang

140

tak punya anak itu. Anak itu masih bersekolah. Pensiun sebelum waktunya akan menyebabkan dana pensiunnya dipotong cukup banyak, yang akan menyebabkan jandanya dan anak perempuan nya itu berada dalam kondisi yang kurang bagus. Apakah itu bijaksana atau tidak, ia berusaha untuk melanjutkan be kerja sampai saat pensiunnya yang resmi jatuh waktunya, supaya dengan demikian ia bisa mewariskan pensiun penuh kepada mereka. Setelah bekerja seumur hidup, cuma aset itulah yang dimilikinya.

Preston menjelaskan secara singkat dan tepat apa yang telah terjadi di Kementerian Pertahanan pagi itu, dan pandangan Capstick mengenai besarnya kemungkinan bahwa dokumen itu dikeluarkan dari kementerian secara sengaja.

“Oh, my Godt lagi-lagi begilu,” gumam Sir Bernard. Masih segar dalam ingatannya peristiwa Vas-sall dan Prime, juga reaksi pahil orang Amerika ketika mereka menerima berita itu.

“Well, John, kau mau mulai dari mana?”

“Saya telah memberitahu Bertie Capstick untuk berdiam diri untuk sementara,” kata Preston. “Kalau kita memang benar mempunyai scorang pengkhianat sejati di dalam kementerian, maka ada misteri yang kedua: Stapa yang mengirimkan dokumen ini kembali kepada kita? Pejalan kaki yang kebetulan lewat? Maling yang licin? Istri yang memendam rasa bersalah? Kita tidak tahu. Tapi jika kita bisa menemukan orang itu, kita mungkin

141

akan tahu di mana dia memperoleh barang itu. Itu akan memperpendek rangkaian penyelidikan. Saya tidak berharap banyak mcngenai amplop itu— cuma amplop coklat biasa yang dijual di ribuan toko, prangko biasa, alamatnya dalam hum I bcsar blok yang dilulis dengan pena her ma la lunak, dan sudah dipegang-pegang oleh begitu banyak orang yang tidak kita kenal. Tapi kertas-kertas di dalamnya mungkin masih mcngandung sidik-sidik jari. Saya ingin Scotland Yard melakukan tes atas semua kertas itu—di bawah pengawasan, tentunya. Setelah itu, mungkin kita akan tahu apa yang harus kita lakukan.”

“Gagasan bagus. Kauurus sektor itu,” kata Sir Bernard. “Aku harus membcritahu Tony Plumb dan barangkali juga Perry Jones. Aku akan berupaya agar bisa mengadakan pertcmuan dengan mereka berdua saat makan siang. Tergantung pada pendapat Perry Jones, tentunya, tapi kita harus menetapkan J1C barang ini. Kaukerjakanlah apa rencanamu itu, John, dan hubungilah aku selalu. Kalau Yard mencmukan scsuatu, aku ingin tahu.”

Di Scotland Yard, mereka sangat membantu, menugaskan salah satu petugas lab mereka yang terbaik untuk semua kepenlingan Preston. Preston berdiri di scbclah teknisi sipil itu saat dia dengan hati hati membersihkan debu-debu pada setiap kertas itu. Mau tak mau terbaca olch teknisi itu kata-kala TOP SECRET di setiap kepala halaman.

142

“Ada yang nakal di Whitehall sana, ya?” tanya teknisi itu memancing.

Preston menggelengkan kepala. “Bodoh dan ma-las,” ia berdusta. “Barang itu seharusnya sudah berada di mesin pemusnah, bukannya di keranjang sampah. Akan berakibat buruk bagi petugas yang bertanggung jawab alas ini kalau kita bisa menemukan sidik jarinya di situ.”

Teknisi itu tidak berminat lagi. Setelah selesai mcmeriksa semuanya, ia menggelengkan kepala. “Tidak ada apa-apa,” katanya. “Bersih sckali. Tapi satu hal Anda harus tahu. Kertas-kertas itu telah dibersihkan. Ada satu set sidik jari yang jelas, tentu saja, barangkali punya Anda sendiri.”

Preston mcngangguk. Tak perlu diutarakan bahwa satu set sidik jari itu adalah milik Brigadir Capstick.

“Itulah masalahnya,” kata teknisi itu. “Kertas jenis ini menyerap sidik jari dengan sangat bagus, dan bisa bertahan selama berminggu-minggu, mungkin berbulan-bulan. Seharusnya ada lagi paling sedikit satu set, mungkin lebih. Petugas yang menyentuh ini sebelum Anda, misalnya. Tapi tidak ada apa-apa. Sebelum dibuang ke dalam keranjang sampah, kertas-kertas ini telah dibersihkan dengan secarik kain. Saya bisa melihat serat-serat kainnya. Tapi tidak ada sidik jari. Maaf.”

Preston tidak meminta dia untuk mcmeriksa amplopnya. Siapa pun yang telah menghapus sidik-sidik jari itu dari dokumen tersebut pastilah tidak

143

akan membiarkan sidik jarinya ada pada amplop itu. Lagi pula, amplop itu akan mengungkapkan dustanya tentang petugas yang ceroboh. Ia memungut kesepuluh kertas rahasia itu dan meninggalkan lab itu. Ternyata Capstick benar, pikirnya. Memang ada kebocoran, kebocoran yang amat bu-ruk. Sudah jam tiga sore; ia kembali ke Charles Street dan menunggu Sir Bernard.

Sir Bernard, dengan memaksakan diri, pergi ma-kan siang dengan Sir Anthony Plumb, kepala Komite Intelijen Gabungan (JIC—Joint Intelligence Committee), dan Sir Peregrine Jones, wakil Menteri Pertahanan. Mereka bertcmu di sebuah ruang khusus di klub St. James. Kedua pcjabat pemerintah senior itu agak tegang karena sadar akan pentingnya permintaan Direktur Jenderal MI-5 dan memesan makan siang mereka dengan agak tor cenung. Ketika pelayan sudah pergi, Sir Bernard menceritakan kepada kedua orang itu apa yang telah terjadi. Sclera makan kedua orang itu langsung hilang.

“Kalau saja Capstick sudah melaporkannya pa-daku,” kata Sir Perry Jones sedikit jengkel. “Sangat tidak enak diberitahu seperti ini.”

“Kukira,” kata Sir Bernard, “orangku, Preston, yang meminta dia untuk berdiam diri sedikit lebih lama lagi, sebab kalau kita mengalami kebocoran di tingkat tinggi dalam kementerian ini, pelakunya

144

tidak boleh tahu bahwa kita telah mendapatkan dokumen itu kembali.”

Sir Peregrine menggerutu, tapi agak terhibur.

“Bagaimana pendapatmu. Perry?” tanya Sir Anthony Plumb. “Dengan cara yang seceroboh apa bahan itu bisa keluar dari kementerian dalam ben-tuk fotocopy?”

Pejabat puncak Kementerian Pertahanan itu menggelengkan kepalanya. “Kebocoran itu bisa saja terjadi di tingkat yang tidak setinggi itu,” katanya. “Semua pejabat puncak pasti punya staf pribadi. Sering kali banyak copy dibuat—terkadang tiga atau empat orang harus melihat suatu dokumen asli. Tapi copy-copy itu didaftarkan sewaktu dibuat, dan kemudian dihancurkan. Tiga copy dibuat, maka tiga copy juga yang dimusnahkan setelah selesai dipakai. Masalahnya, seorang pejabat senior tidak bisa memusnahkan dokumennya sendiri. Ia akan menyerahkan tugas itu kepada salah satu stafnya. Tentu saja mereka diperiksa dengan saksama, tapi tidak ada sistem yang sempurna. Kenyataannya, copy-copy itu, yang dibuat dalam rentang waktu satu bulan penuh, bisa di-bawa keluar dari kementerian. Tidak mungkin itu ketidaksengajaan atau bahkan kecerobohan. Pastilah itu dilakukan dengan sengaja. Kurang ajar….” Ia meletakkan pisau dan garpunya di atas makanan yang hampir tidak disentuhnya. “Maafkan aku, Tony, tapi kukira ini adalah suatu hal yang amat buruk.”

145

Sir Tony Plumb nampak muram. “Kurasa aku harus membentuk sebuah subkomile icrbatas JIC,” katanya. “Untuk masalah ini, harus sangat terbatas. Hanya Kantor Kementerian Dalam Ncgeri, Kantor Kementerian Luar Negeri, Pertahanan, Sekretaris Kabinet, Kepala-kepala Lima dan Enam, dan seseorang dari GCHQ. Tidak bisa lebih kecil lagi dari itu.”

Disetujui bahwa ia akan memanggil calon-calon anggota subkomite itu untuk berapat keesokan ha rinya dan Hemmings akan memberitahu dia kalau Preston memperolech sesuatu di Scotland Yard. Sampai di situ mereka berpisah.

JIC yang lengkap merupakan sebuah komite yang agak besar. Selain setengah lusin kementerian dan sejumlah badan, ketiga angkatan bersenjata, dan kedua dinas intelijen, tercakup juga di dalamnya perwakilan-perwakilan Canada, Australia, New Zealand, yang berbasis di London, dan, tentu saja, ClA-nya Amerika.

Rapat-rapat pleno jarang sekali diadakan dan agak formal sifatnya. Subkomite terbatas lebih se-ring diselenggarakan, scbab yang hadir di situ, yang berurusan dengan masalah khusus, biasanya lebih saling mengenal secara pribadi dan dapat menyelesaikan lebih banyak pekerjaan dalam waktu yang lebih singkat

Subkomite yang dibentuk Sir Anthony Plumb, sebagai kepala JIC dan sebagai koordinalor in—

146

telijen pribadi Perdana Menteri, pada pagi tanggal 21 Januari itu diberi nama sandi Paragon. Subkomite itu bertemu pada jam 10.00 pagi di Ruang Briefing Kantor Kabinet, yang dikenal sebagai COBRA (Cabinet Office Briefing Room), dua lan-tai di bawah lantai dasar Kantor Kabinet di Whitehall, yailu sebuah ruang konferensi yang bcr-AC, kedap sUara, dan yang setiap hari dibersihkan dari alat-alat penyadap.

Secara teknis, tuan rumahnya adalah Sekretaris Kabinet, Sir Martin Flannery, tapi ia mengalihkan jabatannya kepada Sir Anthony, yang mengepalai pertemuan itu. Sir Perry Jones hadir di sana sebagai wakil Kementerian Pertahanan, Sir Patrick (Paddy) Strickland dari Kementerian Luar Negeri, dan Sir Hubert Villiers dari Kementerian Dalam Negeri, yang secara politis memimpin MI-5.

GCHQ (Government Communications Headquarters) atau Markas Besar Komunikasi Pemerintahan, dinas pengawasan negara yang berkantor di Gloucestershire, yang peranan pengawasannya begitu penting di zaman high-lech ini sehingga hampir-hampir merupakan dinas intelijen terse n diri, telah mengirim wakil direktur jenderalnya, karena DG (Direklur Jcndcral) sedang berlibur.

Sir Bernard Hemmings tiba dari Charles Street, dengan mcngajak Brian Harcourt-Smilh. “Kurasa akan lebih baik jika Brian dilibatkan secara pe-nuh,” Hemmings menjelaskan kepada Sir Anthony. Semua yang hadir tahu bahwa yang dimaksudkan—

147

nya adalah “kalau kalau sualu waktu aku tidak bisa hadir lagi.”

Orang terakhir yang hadir, yang duduk diam tidak bergerak di ujung meja panjang berhadapan dengan Sir Anthony Plumb, adalah Sir Nigel Irvine, kepala SIS (Secret Intelligence Service) atau MI-6.

Anehnya, walaupun MI-5 memiliki scorang direktur jenderal, MI-6 tidak. Ia memiliki seorang kepala (chief), di kalangan dunia intelijen dan Whitehall dikenal sebagai “(”” saja, siapa pun namanya. Juga, lebih aneh lagi, “C” itu bukanlah singkatan dari Chief. Nama pimpinan MI-6 yang pertama adalah Mansfield-Cummings, dan “C” ini adalah singkatan nama belakangnya itu. Ian Fleming mengambil singkatan nama depannya, yaitu “M”, untuk figur sang pimpinan di dalam novel-novel James Bond-nya.

Jadi, total seluruhnya ada sembilan orang di sekeliling meja itu; tujuh di antaranya bergelar bangsawan yang mewakili kekuasaan dan pengaruh yang lebih besar daripada yang bisa dipunyai tujuh orang yang mana saja di Kerajaan Inggris. Semua nya telah saling mengcnai dengan baik dan saling memanggil nama depan masing-masing. Masing-masing dari mereka bisa memanggil kedua wakil direktur jenderal itu dengan nama depan mereka, akan tetapi para DDG (Deputy Director General—Wakil Direktur Jenderal) itu memanggil

14S

pejabat-pejabat senior itu dengan sebutan “sir”. Semua itu sudah dimaklumi.

Sir Anthony Plumb membuka rapat itu dengan uraian singkat tentang apa yang ditemukan di hari scbelumnya, yang mengundang gumam-gumam kc-heranan, dan menyilakan Sir Bernard Hemmings untuk melanjutkan ceritanya. Pimpinan Lima itu mclcngkapinya dengan rinciannya, termasuk gagalnya Scotland Yard menemukan sidik-sidik jari. Sir Perry Jones menutup pembicaraan itu dengan ke-yakinannya bahwa keluarnya fotocopy-fotocopy itu dari dalam kementerian tidak mungkin disebabkan oleh suatu kebetulan atau keccrobohan semata. Itu pasti dilakukan dengan sengaja dan dengan sembunyi-sembunyi.

Ketika dia mengakhiri pembicaraannya, semua yang hadir di sekeliling meja itu diam seribu bahasa. Dua kata menggantung bagaikan hantu di atas mereka semua: damage assessment (perkiraan jumlah kcrugian). Sudah berapa lama itu berlangsung? Bcrapa dokumen yang telah hilang? Tujuannya ke mana? (Mcski pertanyaan yang satu ini sudah cukup jelas jawabannya.) Jenls-jenis dokumen apa saja yang telah dibajak? Seberapa besar kerugian yang diderita Inggris dan persekutuan NATO? Dan bagaimana caranya kita memberitahukan masalah ini kepada sekutu-sekutu kita?

“Siapa yang Anda tugaskan untuk menangani ini?” Sir Martin Flannery bertanya kepada Hemmings.

149

“Namanya John Preston,” kata Hemmings. “Dia adalah C1(A). Pejabat kementerian, Brigadir Capstick, memanggil dia ketika bingkisan itu tiba melalui pos.”

“Kita bisa… ee… menugaskan seseorang yang lebih… berpengalaman,” usul Brian Harcourt-Smith.

Sir Bernard Hemmings mengernyitkan keningnya. “John Preston adalah pendatang belakangan,” ia menjelaskan. “Sudah bekerja bersama kita se-lama enam tahun. Saya mempercayai dia sepenuhnya. Dan ada alasan lain. Kita hams menganggap bahwa kebocoran ini disengaja.”

Sir Perry Jones mengangguk dengan muram.

“Kita juga bisa menganggap,” Hemmings melanjutkan, “bahwa orang yang bertanggung ja-wab—akan kusebut dia ‘Chummy’—sadar akan hilangnya dokumen itu dari tempatnya menyimpan. Kita bisa berharap bahwa Chummy tidak tahu bahwa dokumen itu telah dikembalikan tanpa ala-mat pengirim ke kcmcnterian. Toh, kemungkinan besar saat ini Chummy sedang kebingungan dan dalam keadaan frustrasi. Kalau kita mengerahkan sepasukan penyelidik, Chummy akan tahu permainannya sudah berakhir. Jangan sampai nanti dia kabur dan menjadi bintang di sebuah konferensi pers di Moskow. Saya mengusulkan untuk sementara ini kila bersikap low profile saja dan menjajaki apakah kita bisa memperoleh petunjuk secara dini. Sebagai pimpinan C1(A) yang baru.

150

Preston cukup punya alasan untuk melakukan tur ke kementerian-kementerian dan melakukan penyelidikan, dalam gaya rutin, sesuai dengan prosedur. Itu akan meruupakan penyamaran yang terbaik yang bisa kita peroleh. Kalau kita beruntung. Chummy tidak akan menyadarinya.”

Dari ujung meja tempat ia duduk Sir Nigel Irvine mengangguk. “Masuk akal,” katanya.

“Ada kemungkinan kau bisa memperoleh petunjuk melalui salah satu sumbermu, Nigel?” tanya Anthony Plumb.

“Aku akan menugaskan beberapa orang pelacak,” katanya seakan tak acuh. Andreyev, begitu pikimya; dia perlu mengadakan pertemuan dengan Andreyev. “Bagaimana dengan sekutu-sekutu kita yang bersimpati?”

Sir Nigel sudah tujuh tahun berdinas di posnya yang sekarang dan ini adalah tahun dinasnya yang terakhir. Berperangai halus, berpengalaman, dan pandai menyimpan perasaan, ia sangat di hormati oleh dinas-dinas rahasia sekutu Eropa dan Amerika Utara. Toh, bertindak sebagai penanggung jawab masalah ini bukanlah sesuatu yang dapat dianggap ringan. Tak bisa ditemukan jalan yang mudah untuk memenangkan permainan ini. Dia sedang mempertimbangkan Alan Fox, agen penghubung senior CIA London yang tidak ramah dan terkadang sarkastik. Alan akan minta bayaran tinggi—amat tinggi—jika dilibatkan dalam masalah ini. Sir Nigel mengangkat bahu dan tersenyum. “Aku setuju dengan Bernard.




0 Response to "The Fourth Protocol I"

Post a Comment