Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Cintaku Selalu Padamu II

Episode 32

Namun Daud tidak menghiraukan larangan itu, dan diketoknya pintu. Pintu itu terbuka. Seorang suster tua melotot : " Jangan ketok – ketok , pak, ini ada pasien yang gawat ".

" Tapi isteriku lebih gawat lagi suster ", kata Daud, dan pintu itu ditutup suster tua itu sebagai jawaban tanpa kata. Daud muak dan jengkel , dan diremas – remasnya tinjunya. Laila memanggilnya : " Mas…..."

" YA , SAYANG ? " DAN Daud mendekati Laila, " kau masih kuat ? "

" Masih, mas. Jangan kasar sama suster – suster itu, mas. Karena merekalah yang akan menyelamatkan saya ", kata Laila

" Ya ", kata Daud sadar , " Aku tadi tidak bisa mengendalikan diri ", dan seraya mengelus bahu Laila , ia berkata lirih : " Itu karena sayangku ppadamu, Laila ".

Suster yang masih memegang handle kereta dorong mau tersenyum mendengarnya, tapi dia tak beda dengan beberapa suster lainnya di Dunia ini : Mereka sudah biasa menghadapi kaum lelaki yang lebih panik dan sinting ketimbang isteri mereka sendiri yang mau menyongsong maut.

Pintu terbuka, satu kereta dorong muncul , dan ketika Daud mau mendorong kereta Laila, suster menahannya : " Biar itu lewat dulu, pak ".

" Oh ya…….", ucap Daud dengan suara maaf.

Begitu lewat , Daud mendorong membantu suster.

Tetapi didepan pintu suster berkata : " Bapak Cuma boleh sampai disini. Bapak tidak boleh masuk ".

" Says harus menunggui Laila ", bantah Daud.

" Ya, tapi nanti kita kehabisan hawa didalam , pak. Bantulah kami , pak. Bapak menunggu diluar saja, sampai nanti bapak kami panggil ", kata susteritu.

" Kalau bayi lahir, bapak kami panggil , dan kami ijinkan masuk kedalam ".

" Jadi saya tidak boleh menyaksikan isteriku melahirkan ? ", Tanya Daud yang tidak lagi dijawab oleh suster itu, yang kemudian mendorong kereta itu masuk.

Daud sempat meremas – remas jari tanga Laila dan berkata : " Aku berdo'a diluar , Laila "

Cuma itu. Laila tak sampai menyahut karena menangis terharu. Daud pun merasa gelisah meremas – remas tangannya sendiri kini, tak sempat duduk diruang tunggu.

Seluruh emosi dan fikirannya seolah – olah berada dikamar bersalin dimana kini Laila berada, sekalipun dia berada di ruang tunggu.

Baru Daud merasa berada di ruang tunggu , ketika didengar nya suara: " Nak, nak. Apakah anak menanti isteri anak melahirkan ? "

Daud menoleh. Seorang perempuan tua. Setuaibunya. Ia mengangguk pada iabu yang tua itu : " Ya, bu. Saya menunggu isteri melahirkan ".

" Anak bernasib baik ", kata ibu tua itu, " Isteri anak pun bernasib baik. Beda dengan anak permpuanku. Setiap ia melahirkan bayi , suaminya sedang berlayar ".

" Oh…..Jadi mantu ibu seorang pelaut / "

" Ya, seorang Nahkoda ", kata ibu itu, " Dan ini adalah anak yang kesebelas yang akan dilahirkan ank perempuanku, yang tidak juga dilihat oleh bapaknya ketika ia lahir kedunia ".

Daud mengangguk – angguk tanpa bermaksud apa – apa. Ia kaget ketika ibu tua itu bertanya lagi kepadanya : " Ini anak yang keberapa , nak ? "

" Saya menantikan kelahiran bayi pertama ", kata Daud.

" O, pantesan anak gelisah sekali sejak tadi ", kata ibu tua itu menahan ketawa.

Tetapi Daud tidak merasa terhina oleh senyum geli perempuan tua itu. Dia tanpa sadar sudah duduk disamping ibu tua itu pula.

Daud heran, ibu tua itu bisa tidur juga, Daud tidak ngantuk secemilpun.

Ketika tiap suster muncul , malahan Daud nenyongsong tiap suster itu dan bertanya : " Anak saya sudah lahir ? "

" Belum, pak "

" Itu yang tadi mengeak ?"

" Oh, itu bayi orang lain, Pak ", kata suster itu.

Seharusnya tiap – tiap suster itu sudah muak melihat tampang Daud yang selalu menyongsong mereka jika mereka muncul dipintu bersalin itu. Tetapi setiap suster suster didunia adalah pewaris tugas kemanusiaan.

Ia bukan saj a mengurus bayi, tapi juga mengurus ibunya. Dan kini mengurus ayah sang bayi. Ayah – ayah menjadi bayi kembali, nyinyir bertanya seperti daud kini.

Karena itu suster – suster itu Cuma bisa tersenyum geli dihati jika melihat ayah segelisah Daud ini . Kali ini seorang suster muncul, tetapi sebelum bertanya , suster itu yang berkata : " Bayi bapak belum lahir, jadi sebaiknya bapak pulang saja dulu ".

" Biar saya tunggu disini ", kata Daud.

" Kalau mau tunggu jangan menunggu didepan pintu . Disana ada ruang tunggu ".

" Baik suster, saya akan tunggu di ruang tunggu "., kata Daud tersinggung.

Wajah tersinggung itu tetap murung ketika Lestina muncul menepuk bahunya, dibelakang Lestina muncul juga meiske. Ia membawa termos dan gelas, dan kuwe - kuwe

Episode 33

BUAT DAUD , tidaklah ia begitu peduli yang muncul itu adalah Lestina ataukah meiske. Ia juga tidak perduli apakah meiske membawa termos dan gelas serta kuwe – kuwe. Bahkan ia tak menyambut mereka, atau mempersilahkan mereka untuk duduk. Fikiran Daud terpusat pada lamanya laila melahirkan .

" Belum lahir juga ? ", Tanya Lestina.

" Belum ", Daud menyahut.

" Biasa ", kata meiske sembari menuangkan kopi dari thermos kedalam gelas, " Perempuan satu cepat melahirkan , perempuan lain lambat ".

Meiske meyodorkan gelas yang baru dituang kopi itu kepada Daud : " Minum kopi , bang, supaya tidak mengantuk. Dan menghangatkan badan ".

Daud enggang menerima gelas itu , namun ia terima juga tetapi tidak diminumnya melainkan ditaroknya saja diatas tembok " Minumlah kopinya, ban Daud ", ujar meiske lagi.

" Nanti saja ", jawab Daud.

" Baiknya diminum ketika masih hangat ", kata meiske lagi.

Daud dengan sebal akhirnya mengam bil gelas itu , dan mencicipinya sedikit, lalu ditaroknya lagi.

" Abang pilih kuwe yang mana ? " Tanya meiske sembari membuka bungkusan kuwe.

" Nggak usah ", sahut Daud.

Tetapi akhirnya meiske memilih sendiri kuweh donat , dan disodorkannya kepada Daud.

" Ayolah makan satu ", kata meiske.

" Nggak uasah ", kata Daud menolak.

" Ayolah satu saja ", desak meiske lagi, " Lebih – lebih diruang terbuka begini , udara dingin, sebaiknya perut diisi supaya tidak masuk angin ".

Daud mengambil kuweh donat itu juga dengan tarikan nafas kesal. Ketika ia mengunyah – ngunyah , meiske mengambil gelas kopi tadi , dan menyodorkannya padda Daud.

Daud mengambilnya. Dan diteguknya kopi seteguk, lantas ditarok nya gelas diatas tembok. " Kamu nggak ngopi , Lestina ? ", Tanya meiske.

" Tulung tuangin segelas ", kata Lestina.

Meiske menuangkan segelas bagi Lestina, dan setelah Lestina minum, diapun akhirnya menuangkan lagi satu gelas untuk dirinya sendiri.

" Eh, meis sampai lupa, Lestina. Kita koq bawa gelas 4 biji, Yang sebiji ini untuk kak Lila maksudnya. Hmmmmmmm", dan gadis manis itu ketawa sendirian.

Kemudian sunyi. Yang kedengaran adalah capak – capak lidah Lestiana yang kerjanya mengunyah – ngunyah kuweh..

Daud diam membekukan lidah, dan matanya yang mengantuk itu tetap ditegangkannya melihat kepintu.

Tiba – tiba, dari pintu, muncul suster. Dia bagai berlari menuju kamar bersalin itu. Daud tergopoh bertanya : " Anak saya sudah lahir ? "

" Belum . Mungkin sampai besok malampun belum.

Tetapi isteri bapak perlu tinggal disini, untuk istirahatnya. Bapak boleh pulang saja. Besok sorelah dating lagi ".

" Biarlah saya nunggu disini ", bantah Daud.

" Percuma saja , Pak ", kata suster itu, " Isteri bapak perlu istirahat total ".

" Total tidak total bagi saya menunggu disinipun suatu totalitas ", kata Daud dengan nada tegas, " Nona mungkin tidak memahami isi hati saya ".

Suster itu pergi . Lestina mendekati abangnya. Ia membujuk Daud : " Bang Daud, sebaiknya abang pulang ", Daud tidak mempedulikan Lestina.

Meiske rupanya sedang bercakap – cakap dengan seorang suster yang lain. Meiske kemudian pergi kearah kamar bersalin. Daud melihatnya. Dia bertanya dalam hati : Mau apa meiske ke situ dibawa suster ? jangan – jangan Laila sudah melahirkan! Lalu Daud melihat suster muncul dipintu, dan memberikan sehelai surat ataukah amplop kepada meiske. Meiske buru – buru dengan setengah berlari menuju Daud, membuat Daud berdiri cepat - cepat.

" Ini ada surat dokter untuk bagian aadministrasi ",kata meiske memberikan surat itu kepada Daud. Daud menerimanya dengan menggerutu: " Bukan urusan administrasi yang penting kini buatku. Tetapi keselamatan isteri dan calon bayiku ".

" Kita disuruh pulang ", kata meiske. " Mari kita pulang ".

" Pulanglah kalian . Saya tunggu disini ", kata Daud bersikeras

" Percuma abang tunggu disini ", bujuk meiske, " kata suster, kak Laila perlu istirahat total ".

" Ya, biarlah Laila istirahat total. Tetapi sudah jadi prinsip bagi saya, bahwa saya menunggu disini sebagai suatu keharusan , sebagai suatu totalitas pula. Tahukah Kau ? cinta tak kenal lelah, cinta tak kenal istirahat , karena cinta yang sejati adalah totalitas " , ujuar Daud menatap meiske tajam2.

Meiske berpikir, alangkah besar cinta bang Daud pada Kak Laila. Alangkah bahagianya seorang isteri mendapatkan cinta suami setulus sebesar dan setotalitas cinta kak Daud ini !

" Kalau begitu , kamipun menunggu ", kata meiske .

" Kalian boleh pulang ", kata Daud, " Biarlah saya nunggu sendirian disini ".

Meiske melihat , sebenarnya Daud sudah mengantuk. Lestina memberi isyarat kepada meiske agar mereka pulang, membiarkan Daud sendiri. Tetapi meiske tidak mau. Dia menawarkan kopi pada Daud. Daud menolak.

Episode 34

Meiske memberi juga segelas kopi: " Mata bang Daud sudah kuyu karena ngantuk. Minumlah ".

Daud meminum juga kopi itu, biarpun Cuma secicip. Ia meletakkan gelas diatas tembok, tetapi meiske mengambilnya dan meletakkan ditempat yang lebih aman . Dia melihat Daud sebetulnya sudah mengantuk sekali. Dugaanya benar. Daud mulai menyandarkan kepala disisi tembok. Tidurnya tampak nyenyak.

" Siapa diantara bapak – bapak disini yang bernama Daud ? ", tiba – tiba muncul seorang suster dibalik tembok. Suster itu berpakaian putih dan baunya bau mayat.

" Tidak ada yang bernama Daud Waitulo disini ? " Tanya suster berbau mayat itu.

" Saya !" , teriak Daud kuat-kuat, membuat semua diruang tunggu heran.

" Berita buruk terjadi , pak Daud ', kata suster itu .

" Apa yang terjadi dengan isteri saya , suster ? " Tanya Daud.

" Lihatlah itu ", kata suster berbau mayat tadi .

Begitu daud melihat kearah kamar bersalin, muncullah seorang suster membawa krans bunga dengan pita hitam . Suster itu menangis terisa isak . Lau munculah sebuah kereta yang didorong oleh suster – suster lain yang jiga menangis tersedu – sedu. Daud berdiri, dan mengejar kereta yang didorong itu . Diatas kereta itu terbaring Laila. Laila sudah tak bernyawa lagi. Daud menangis terisak –isak melihat Laila telah meninggal dunia.

Disebuah pekuburan , begitu banyak suster dan dokter pada upacara penguburan Laila. Seorang dokter berkata pada upacara itu : " Atas nama rumah sakit , kami mengucapkan penyesalan tidak dapat menolong perempuan yang baik ini. Ia meninggal bersama bayinya ".

Daud menangis terisak – isak dibawah pohon kamboja . Ketika ia diminta berbicara, dia tak bersedia : " Percuma ", dia menangis terisak terus, " Percuma kalian berpidato, percuma kalian bersekolah dokter kalau kalian tidak mampu menghidupkan Laila ".

" Kami bukan Jesus Kristus yang mampu menghidupkan orang yang sudah mati ", kata dokter yang memimpin upacara itu.

Kini krans bunga bagaikan berganti dengan bunga – bunga yang indah, suatu pertanda telah terjadi suatu upacara yang berbeda dengan upacara kesedihan.

Bunga – bunga itu kiriman dari berbagai perusahaan koneksi perusahaan Daud. Mereka memberikan bunga 2 itu dengan ucapan selamat berbahagia atas perkawinan Daud Waitulo dengan meiske.

Tetapi, duduk dipuadai pengantin itu tampak sekali wajah Daud yang murung, bahkan ia menangis.

" Mengapa abang menangis ", bisik meiske yang berpakaian pengantin putih sutera .

" Saya tidak bisa melupakan Laila ", kata Daud.

" Semoga aku bisa menggantikan kak Laila, bang ", kata meiske.

" Ku kira tak ada satu wanita pun yang bisa menggantikannya ', kata Daud, " Aku kawin lagi karna dipaksa . Sebenarnya aku tak ingin kawin lagi. Jiwa dan raga ku sebenarnya suda mati, meiske ".

Benarlah. Dikamar pengantin Daud tidak memperlihatkan kebahagiaan . Meiske telah mencopot kaos kaki yang dipakai Daud . Meske sendiri ketika itu Cuma mengenakan bh dan celana mandi saja, menciumi daud mulai dari ujung kaki hingga uung kepala . Meiske telah menciumi bibirnya segala sesuatu yang sepantasnya tidak tidak diciumi oleh bibirnya. Tetapi dimalam pengantin itu meiske telah berusaha , karena dia sendiripun sudah bernafsu sekali. Daud benci sekali karna telah mempermalukan dirinya seperti perempuan – perempuan nakal didalam adega film biru.

Melihat itu Daud jijik sekali. Ia berteriak " Aku tidak mau. Aku benci kau "

Teriakan Daud telah membuat meiske menoleh.

Ia melangkah mendekati Daud. Ditepuk – tepuknya bahu Daud ; " Bang , abang mimpi ? "

Daud membukakan mata. Dilihatnya meiske. Masih terbayang meiske melakukan hal yang menjijikan . Meiske bertanya : " Abang mimpi ? "

" Oh…….", kata Daud, " Ya. Ya ".

Meiskee membujuknya untuk pulang , dan kali ini berhasil . Lestina duduk didepan . Daud duduk disebelah meiske. Daud diam membeku dalam taxi ketika pulang itu. Meiske mengagumi Daud. Benar – benar mengagumi Daud. Dia mengagumi, cinta Daud pada kak Laila benar -= benar cinta tak mengenal lelah , cinta tak kenal istirahat , cinta yang penuh totalitas.

Besoknya Daud kebagian administrsi . Disitu Daud di beri tahu bahwa Laila akan dikarantina dan diberi istirahat total agar punya tenaga untuk melahirkan..

Episode 35

DIA TELAH dengan setia datang lagi di rumah sakit itu, menunggu I lagi disitu , tanpa lelah! Daud Waitulo mondar mandir dilorong rumah sakit itu, pada hari ketiga isterinya dikarantina dirumah sakit itu . Semula ia mengira pada malam itu membawa Laila itu adalah saat – saatnya Laila harus melahirkan . Padahal dokter sudah memberikan jadwal bila seharusnya masuk karantina bagi wanita 2 hamil yang akan dibedah Caesar . Konsentrasinya ketika itu sama saja dengan Laila : Sama 2 takut pada kematian.

Tak lama setelah Daud mondar mandir , yang tampak muncul adalah Lestina. Kemudian meiske menyusul satu jam kemudian

" Keadaan kakakmu Laila dalam keadaan kritis ", kata Daud pada Lestina.

" Kenapa sampai lama betul Kak Laila baru melahirkan ? " , Tanya Lestina.

" Ad hal2 khusus pada dirinya ", kata Daud .

" Tapi dokter2 bilang barusan pada ku, bahwa kekhususan selalu ada pada wanita hamil. Itu bukan berarti kehamilannya tak normal . Apa kau mempercayai ucapan2 dokter itu ? " Tanya Daud kemudian. Ketika Lestinan tidak menjawab , tahulah Daud ia sudah salah alamaat menanyakan hal itu.

Memang Daud lebih gugup dari biasanya pada sore ini. Dikantor, pekerjaannya banyak yang terbengkalai . Tetapi asistennya telah membantunya dengan amat baik. Tapi ia masih memilikiharapan pada saat2 begini . Yakni takdiratuhan dan memohon padaNya dengan hati yang bersih dan jujur.

Sementara itu diruang operasi mulai terjadi kesibukan2 luar biasa. Dokter2 berdiskusi. Memang sekaranglah saatnya untuk memulai. Tubuh Laila sudah basah kuyup dengan keringat. Pisau – pisau bedah telah tersusun . Jarum2 untuk menjahit serta benang2 jahitan telah disediakan .

Dan kemudian, pisau bedah yang pertama mulai menyayat perut Laila. Pekerjaan itu sedemikian cepatnya. Tapi diluar, waktu seakan – akan berlalu degan lambat . Saputangan sudah kuyup oleh keringat dihapuskan Daud pada leher dan mukanya. Ia tidak tahu lagi berepa orang ada diruang tunggu itu. Juga ada Lestina. Ketika Lestina pamit , kepada Daud, bahkan Daud tidak mendengar. Tinggal kini meiske. Meiske mendekatinya. Dan dengan suara keibuan :

" Bang Daud dari tadi mondar mandir. Itu meletihkan , duduklah bang Daud "

" Oh, kau meis , biarr, tak apa ", kata Daud .

" Duduklah ", kata meiske. Tak lama kemudian Daud duduk patuh . Tapi ia berdiri lagi. Meiske meninggalkannya. Ia kembali dua menit kemudian membawa dua botol coca cola .

" Bang , Daud ", kata meiske ketika ia sodorkan botol minuman kehadapan Daud tapi Daud seperti mengawang .

" Oh,, minuman ".

" Duduklah, minum tenang – tenang ", kata meiske .

" Ya, terima kasih ".

" Bukan bang Daud saja yang gelisah . Saya tahu kak Laila manusia yang sangat baik , yang pantas kita cintai bersama2 ".

" Ya…."

" Berdo'a lah ", kata meiske.

" Ya. Bang Daud berdo'a. Kau juga ikut mendo'akan ? " Tanya Daud.

" Lho ! Kak Laila itu sudah saya anggap kakak kandung, koq bang Daud !"

" Terima kasih atas doa mu ", kata Daud.

Memang Meiske bebar – benar berdo'a , sejak pada malam dulu kak Laila dibawa ke rumah sakit ini.

Dan didalam, pisau2 bedah sama sibuknya dengan alat pengorek. Begitu banyak darah . Sebegitu banyaknya pengorbanan seorang ibu terhadap kelahiran anak nya. Dan tidak kurang tegang dokter2 itu , maka Daud pun kembali menghapus keringat.

Meiske melihat saputangan itu sudah basah kuyup.

" Sini saputangan itu, bang ", kata meiske, " Lihatlah, sudah basah kuyup begini . Pakai punya Meiske ini ".

Daud tanpa kesadaran mengambil saputangan Meiske . Ia kontan menghapus keringatnya . Mata Daud tiba – tiba berkaca – kaca . Entah mengapa ia sedih mendadak begini . Dan fikirannya sudah amat buruk pada detik matanya mulai berkaca – kaca. Meiske melihat airmata Daud yang berlinang . Meiske melihat bagaimana air mata itu jebol dari tanggul kelopak mata. Ya, Meiske terpaksa membuang muka menghindari perasaan simpatinya melihat kesedihan Daud . Kemudian ia melihat Daud lagi , dan iapun ikut menangis.

" Dengan suara terisak Meiske berkata : " Kita sama2 berdo'a bang Daud ".

Lestina tiba2 muncul , karena hatinya tidak enak menunggu dirumah. Ketika dilihatnya Daud dan Meiske sama2 menangis , Lestina menduga telah terjadi sesuatu yang sedih atau fatal pada diri kak Laila.

" Meis !", seru Lestina dan ia pun ikut menangis, " Bagaimana kak Laila ? " Lestina berjongkok, memeluk dengkul Daud . Daud hanya membelai kepala adik kandungnya itu . Ia bahagia mendapat simpati Lestina.

Dan ia jadi kuat kembali . Dan ia pun dengan menahan dukanya berkata :

" Kita berdo'a lah ".

" Kak Laila masih di kamar operasi ", kata meiske ikut membelai bahu Lestina .Apakah itu firasat , apakah itu perasaan halus , tetapi baik meiske, maupun lestina , dan juga Daud seperti sama digerakkan oleh suatu panggilan bathin agar menoleh kearah pintu kamar bedah. Pintu itu terbuka. Seorang dokter muncul.

Episode 36

Daud berdiri . Rasanya tubuhnya seringan kapas yang terbang ketika ia terhuyung melangkah sana diiringi oleh meiske dan lestina yang juga nanar.

Daud seakan – akan berkata keras : " Bagaimana Dokter ? "

" Bayi selamat lahir ", kata dokter itu.

" Dan bagaimana isteri saya, dokter ? "

" Tidak apa2 " .

" Dokter ! " Daud hampir teriak , " Apa itu tidak apa2 ! katakana "

Dokter itu tenang memegang bahu Daud, " Tunggulah sebentar. Sebentar lagi isteri anda akan sadar kembali ".

Dokter itu mengulurkan tangan memberi selamat pada Daud. Tapi Daud ragu – ragu menerimanya, sehingga Meiske mendorong punggung Daud sembari berkata : " Terima ucapan selamat itu bang "

Daun menjabat tangan Dokter itu, kemudian ia duduk terhempas dikursi tunggu . Dan sepuluh menit kemudian , muncul lagi seorang dokter .

" Tuan Daud ", serunya.

Daud seakan mau melompat namanya dipanggil . Dokter itu tersenyum melihat air mata Daud . Dokter itu Cuma berkata singkat : " Operasi sukses , istri anda belum bisa ditemui pada hari ini , karna ia musti banyak istirahat ".

Daud curiga . Hanya Meiske yang sanggup mengatasi kekacauan2 perasaan Daud pada saat itu.

Sebenarnya Daud sudah tidak mau pulang . Tapi meiske berhasil mengurangi ketegangan bathin lelaki itu. Dan mereka akhir nya pulang bertiga. Meiske langsung membersihkan muka dan tangannya. Kemudian menyiapkan makan malam.

" Makan , bang ", kata Meiske, " Makanan sudah Meis sediakan ".

" Saya tidak mau makan ", kata Daud .

" Ah, apalagi yang dirisaukan . Semestinya malam ini abang gembira. Kalau nanti abang sakit , nanti malah tambah repot lagi ", kata Meiske.

Benar juga. Dan Daud pun makan , sekalipun amat sedikit . Ketika Meiske ingin kepavilium, ia melihat diteras depan Daud duduk termenung. Meiske menghampirinya : " Abang belum tidur ? "

" Panas didalam ", kata Daud .

" Tidurlah nanti masuk angin " kata Meiske.

Ucapan meiske memang bernada keibuan. Daud adalah orang yang takluk bila ia dibujuk dengan sikap – sikap keibuan , seperti juga lima tahun ini Laila melakukannya. Daud jadi patuh . Meiske berhasil membuat Daud tunduk pergi tidur.

Memang Meiske seperti yang pernah dikatakan Laila pada Daud secara jujur dulu : Dia anak yang jujur, berhati baik dan berperasaan halus. Selama dua minggu Laila di rumah sakit , Meiske benar2 mengerjakan pekerjaan ibu rumah tangga secara sempurna. Tiap meiske ikut menjenguk Laila , Laila selalu menanyakan ini dan itu dirumah. Meiske telah memuaskan hati Laila.

" Ada si meiske dirumah, rumah tetap rapi ", tambah Lestina ikut melapor. Memang meiske telah menciplak Laila dalam mengurus keperluan2 khusus Daud. Ia bahkan ikut menyemir sepatu Daud. Dan meletakkan kaos2 kaki sesuai dengan komposisi celana yang akan dipakai Daud.

Dari semua yang ia ambil alih dari Laila, ada beberapa pantangan yang tetap ia jaga : Meiske tak pernah menggoda Daud, meiske tak pernah duduk2 berdua dengan Daud kecuali bertiga dengan Lestina. Itupun kalau kebetulan. Meiske tak pernah makan bersama satu meja dengan Daud. Ia selalu makan duluan atau belakangan . Dia punya alas an untuk menolak ajakan Lestina untuk makan bersama dengan menjawab " Sudah makan tadi : atau " belum lapar karna sudah makan bakso ".

Dan pantangan yang paling dipegangnya taguh : Meiske tak pernah nyelonong masuk kekamar Daud. Baik ketika Daud ada. Maupun ketika tak ada Daud . Ia berkata pada Lestina : " Kamar Bang Daud bagian Lu ! "

Rupanya diam2 Lestina memperhatikan seluruh kegiatan Meiske dirumah ini, selama kak Laila tidak dirumah . Lestina memang senag bercanda. Dan kadangkala mulutnya centil sekali. Sekali ketika, Meiske melamun , Lestina dengan bercanda berkata : " Aku tau…… Meis diam2 sedang emncintai seseorang ".

Biarpun Lestina tidak menyebut nama orang itu , tapi meiske gugup seketika dan wajahnya merah padam. Sebab entah bagaimana ia yakin yang dimaksud " seseorang " oleh Meiske adalah Daud.

Meiske memukul bahu Lestina ketika Lestina meloiriknya dengan jeli. Dan ia menghindari diri dengan berjalan pergi ke kamar nya di pavilium.

Dan untunglah hari itu, hari terakhir laila dirumah sakit. Sebab Meiske menolak kerumah sakit dengan alas an pusing. Padahal ia merasa malu diri sejak duga Lestina menuduh dirinya diam – diam mencintai Daud.

Pasti sebenarnya, memanglah demikian . Meiske tidak tahu kapan ia mulai jatuh cinta pada Daud. Untuk mengingatnya dan menganalisanya adalah sama sulitnya seperti memisahkan kapan garam mulai merembes ke air laut.

Episode 37

Tapi sejal Lestina menuduh begitu, perasaan meiske taka tentram saja. Ia takut hal ini akan merusak suasana yang intiem dirumah ini . Tapi terutama ia takut hal ini akan diketahui pula oleh Laila. Meiske sangat hormat kepada Laila seperti Laila hormat pula kepadanya. Karna itu jalan yang terbaik baginya adalah melepaskan angan – angan kosong yang pernah singgah dihatinya.

Ia berubah sikap, ia tak pernah mau makan bersama. Ia hanya dikamar dan menuangkan pikiran sepenuh nya kepada mata kuliah. Tapi semakin bersembunyi dia dibalik kerimbunan perasaan bagai manusia sembunyi di tengah rimba belantara , semakin lesu otak dan perasaannya.

Pada saat2 semua orang dirumah tertawa bercanda – canda dengan Delila si penghuni baru di rumah itu , pada saat2 ibu dan ayah Delila sibuk sama bernyanyi menidurkan sang bayi, pada saat itu pula meiske menitikkan air mata dikamar seorang diri, menyalahi nasipnya yang malang , yang bodoh dan koyol sampai sebegitu dalam diam – diam mencintai suami orang lain.

Meiske tiba2 jatuh sakit, Lestina yang biasanya keluar masuk kamar Meiske untuk meminjam ini dan itu . Hari itu mendapatkan Meiske tidak pergi kekampus.

Meiske berselimut.

Lestina membangunkan meiske. Dirabanya kepala meiske, panas sekali. Dan kaki meiske amat dingin seperti es. Lestina memberitahukan hal ini pada kak Laila : " Si Meis sakit, kak !" kepalanya panas , kakinya dingin semua ".

Untuk pertama kali Laila melihat wajah Meiske secara mutlak . Karena perhatiannya selama ini secara mutlak pada si Delila. Laila benar – benar terkejut.

Ketika Lestina disuruhnya ke Dokter, Lestina menjawab: " Dokter baru buka sore , ini baru jam tanggung, kak. Nanti sore saja".

" Ya, nanti sore kau antar meis. Kasihan dia, rupanya dia menahan sakitnya diam2 selama ini", kata Laial.

"Sore ini kami rombongan belajar dirumah guru ", kata Lestina, " Siapa yang absen , namanya dicoret dari rombongan ".

" Ah, kau tak boleh dicoret . Oh ya, sebentar sore kalau mas Daud pulang , suruh mas daud saja mengantar Meiske ", kata Laila.

Lestina tidak menjawab usul itu, ia Cuma melangkah pergi . Dan memang jam setengan empat sore itu , ia sudah dijemput oleh temen2 sekelasnya. Tak lama kemudian Daud pulang. Begitu sampai dirumah ia berkata : " Apa dinas saya sore ini, ma ?"

" Jangan cium si Del delu ", kata Laila," Cuci muka, mandikan si Del dan kita rame – rame main organ ".

Daud memang baru saja membeli organ itu. Lahirnya anaknya telah membuat dia bahagia berlebih – lebihan. Entah apa pula sebabnya ia sempat memeli organ itu. Tapi laila ikut hanyut pada kegembiraan ini. Ia pun belajar organ seperti Daud. Kadangkala ia menidurkan delila sambil menekan tuts organ serta bernyanyi.

" Mas ", tiba2 Laila melihat jam." Aku tadi lupa. Dinasmu dinas luar sore ini "

Mendengar isterinya bercanda begitu , Daud bertanya lucu: " Emangnya dinas luar disuruh ke night club "

" Ini serius . Lihat deh si Meiske sakit. Ayo kesana ", kata Laila.

" Jadi….?"

" Liat dulu dia disana !", perintah Laila.

Biarpun ingin menolak, tapi ia mematuhi juga perintah2 isterinya yang berkali–kali .

Ia pergi kepavilium. Ia membuka pintu. Dilihatnya meiske berbaring.

Meiske melihat Daud berdiri dipintu. Gadis itu gugup dan takut.

" Kamu sakit, meis ? "

" Ya….."

Tak ada lagi kata2 Daid. Mendekat pula ia tak berani. Ia kembali kerumah , dan melapor pada Laila : " Memang dia sakit ".

" Yang kumaksud dinas luar adalah mengantarkan Meiske sekarang juga ke dokter . Kulihat matanya kuning, jangan2 sakit kuning ", kata Laila.

Daud ingin menolak. Sungguh2 hati nuraninya tidak bersedia melakukan tugas ini. Tetapi ia melakukannya juga demi menyenangkan hati Laila.

Ia menyetir mobil. Ketika mau membawa meiske, Daud memberi sugesti agar ia tidak memapah meiske. Katanya: " Kau bisa jalan sendiri toh ? "

Meiske berusaha sekuat tenaga untuk melangkah sendiri, namun sebenarnya ia tidak kuat , bahkan untuk menutup pintu mobil .

Dokter yang memeriksanya berkata pada Daud : " Nona ini sebaiknya tinggal dirumah sakit saja, ia menderita sakit kuning ".

" Bisa menular, dokter ? karna kami punya bayi dirumah ", kata Daud.

" Oh, bisa menular memang . Baiknya nona ini tinggal dirumah sakit sampai sembuh ", kata dokter itu memberi surat untuk disampaikan kerumah sakit.

Episode 38

Daud lega oleh hal – hal yang tak sengaja ini . Melihat gelagat meiske belakangan ini , yang hanya bisa diduga oleh perasaan bathin yang halus dan jujur, Daud punya fikiran agar meiske mencari tempat indekost lain . Tapi saran dokter tadi sudah cukup memuaskan hatinya.

Maka dalam perjalanan mengantar meiske ke rumah sakit, Daud coba2 berkata sesuatu pada Meiske. Sebenarnya ia gugup untuk mengatakannya.

" Meis , barangkali kau terlalu capek, karena rumah kita dengan tempat kau kuliah terlalu jauh ".

Meiske dengan perasaan halusnya pula segera mengerti arti ucapan itu. Dan aneh Mieske tiba2 menangis sembari berkata : " Memang maksud Meis juga akan mencari tempat indekost yang dekat dengan kampus ".

Daud mengerti mengapa meis menangis . Pengertian ini pun hanya ada pada manusia berperasaan seperti Daud.

" Tapi apakah boleh Meis tinggal sementara dirumah abang sampai Meis benar – benar sembuh betul ? "

" Oh, boleh saja ", kata Daud, " Tapi kamu jangan mengira tadi itu saya menyuruh Meis pindah ".

" Soal pindah," kata Meis terisak terputus2 , " Memang Meis tadi sudah bilang juga mau pindah ". Dan keduanya membisu sampai rumah sakit.

Begitu dirumah sakit dapat tempat, Daud tidak menyia – nyiakan waktu. Ia membujuk suter rumah sakit agar bisa menerima Meiske saat itu juga.

Sedangkan ia akan pulang mengambil pakaian2 Meiske. Usul itu diterima suster kepala. Dan untuk beberapa hari lamanya Meiske berusaha memulihkan kesehatannya. Ia selalu menindas hatinya sendiri agar melupakan hal-hal yang bernama angan2 konyol itu: Ia musti melenyapkan segala perasaan2 cintanya kepada Daud, karena Daud adalah suami orang lain.. Mengapa harus mencintai suami orang lain . bukan kah itu suatu kejahatan ? Dan bukankah itu lebih jahat lagi karna isteri dari pria yang dicintainya justru manusia yang paling baik ? Y, hanya dengan serangan pertanyaan2 itu Meiske berusaha semampu mungkin untuk melupakan cintanya pada Daud. Kadang kala hatinya sebal bila timbul lagi satu fikiran aneh: Tetap

i cintaku suci, bukan nafsu untuk memiliki, tapi mencintainya diam2, tanpa noda, tanpa diketahui lelaki itu sendiri, juga tanpa diketahui siapapun. Bukankah jika Lestina tahu, mungkin itu tebakan2 belaka atau bercanda ?.

Fikiran bantahan itu pula ditindasnya pula. Tetapi sewaktu ia tidak bisa tidur untuk mengalahkanya, ia melapor pada suster : " Saya tidak bisa tidur , suster ",

Memang obat penenang adalah satu-satunya yang bisa melawan semua fikiran2 yang berkeliaran dikepala Mieske.

Yang paling mengharukan baginya adalah tiap hari ia di jenguk oleh kak Laila. Dan untuk menyenangkan hati Laila, maka meiske sering menanyakan Delila. Menjelang saat2 ia sembuh dan keluar dari rimah sakit, Meiske sempat menanyakan sesuatu yang mengejutkan Laila : " Kak Laila, Meis selalu mau mengucapkan terima kasih sama kakak , juga mau pindah rumah kalau sudah sembuh.

Betapapun suci dan bersihnya hati Laila, tiba2 ia dihinggapi fikiran buruk jua. Jadi mengapa sebenarnya Meiske sakit ? mengapa tiba2 mau pindah ? apa disuru oleh mas Daud ? Apa tak mungkin satu penyakit lain ada dalam diri Meiske ? Sedang mengandung ? ngidam ? Pindah ! Ah , tentu ada sebabnya !

Oh, inilah untuk pertama kali rasa curiga menyerang kalbu Laila.

Ia lantas berkata berbaik – baik pada Meiske : " Sementara ini fikirkan kesembuhanmu . Apa sakit Meiske sebetulnya ? "

" Sakit Lever ", kata Meiske.

Untuk pertama kalinya Laila mendeteksi suaminya. Ia langsung bertanya kepada Daud langsung pada persoalannya. Tak pernah Laila selangsung begini. Tapi entah bagaimana , cemburunya luar biasa. Namun cara ia menanyakannya tetap Laila yang aaseli.

" Mas Daud yg nyuruh meiske pindah ? ", Tanya Laila

Daud gugup.

" Ya…….", sahut daut.

" Kok, Meiske disuruh pindah. Apa dia berkelahi dengan…….si Lestina ? "

" Tidak ", kata Daud, " Tapi terserah kau deh gimana baiknya".

Daud merasa agak menyesali diri sendiri mengapa ia secara halus mengusir Meiske. Ia heran mengapa maksud2 yang sebaik ini masih berakibat yang berbahaya . Ia benar –benar bermaksud baik. Ia tiba2 dihinggapi persaan tidak enak sewaktu Laila berada dirumah sakit, dimana Meiske benar benar mengabdi dan melayaninya, seolah – olah mengidentifisir dirinya sebagai seorang isteri bayangan. Secara langsungnya Daud punya bayangan Meiske jatuh hati padanya, sekalipun tarokhlah, jatuh cinta dengan murni, diluar keinginan membubarkan rumah tangganya.Namun, diam – diam meiske mencintainya adalah sama saja dengan mencintai terang2. Akhirnya tokh Laila akan tahu juga. Akibatnya sama buruknya. Maka ia secara halusmenyuruh meiske pindah. Dan kini…..ia dibikin gugup oleh Laila.

Tapi melihat gugupnya Daud Laila bertambah yakin ada sesuatu. Dia ingin melihat buktinya selanjutnya. Kalau meiske hamil, ia pingin lihat dengan mata kepalanya sendiri. Karena itu sekeluar meiske dari rumah sakit, Laila berkata: " Meiske tak boleh pindah. Kau dititipkan orangtuamu tinggal disini. Kami memang sangat disiplin. Tapi lebih dari itu nanti timbul omongan disana seakan – akan kau tak betah tinggal dirumah kami. Tinggal saja disini terus. Ada yang kurang, bilang terus terang kepada kami, tapi janganlah pindah !"

Episode 39

DAUD WAITULO merasa , bahwa putusan Laila gegabah sekali. Sehalus – halus Laila menyembunyikan isi hatinya, Daud dapat menangkap gerak gerik isterinya itu. Daud seakan –akan bisa membaca kecurigaan mata laila terhadap meiske dan terhadap dirinya sendiri…………………………………………………...

Sementara meiske pergi kekamar, Daud bertanya pada Laila: " Apakah penyakitnya tidak berbahaya lagi ? "

" Penyakit siapa ? " , Tanya Laila.

" Penyakit Meiske ", kata Daud.

" Tergantung kita ", kata Laila, " Kalau kita kuat penyakit apapun tidak bisa menulari kita "

" Kau memang benar , Laila ", kata Daud dengan suara rendah , dengan maksud agar pergolakan bathinnya tidak terbaca oleh laila, " Tetapi sudah lama aku menginginkan agar dirumah ini hanya kita yang tinggal ".

" Juga dengan Lestina ? " Tanya Laila menguji .

Daud merasa lolos dari ujian ketika ia berhasil menemukan jawaban : " Ya. Dengan Lestina ".

Laila menarik nafas dalam – dalam . Karna dia memang menginginkan yang demikian. Makin bahagia manusia . makin egois ia terhadap setiap tumpak kebahagiaan itu !

" Sebenarnya ", kata Daud lagi, " Semenjak Lestina tinggal disini , kita diam –diam saling merasa tertekan. Untung lah modal kita cinta yang suci "

Daud menatap Laila. Laila terharu oleh kata2 itu , tetapi benarkah itu ? Siapapun wanitanya didunia ini , jika ia mau berjujur hati, pasti tidak mau menginginkan suaminya menumpahkan cinta yang terlalu banyak lagi kepada saudara2 kandungnya. Seseorang istri haruslah mempunyai sikap ingin dicintai suaminya.Seperti halnya Laila. Dan Laila memiliki kelebihan daripada kebanyakan isteri : Biarpun bathin hancur tapi ia harus memperlihatkan sikap simpatik kepada Lestina. Keagungan seorang isteri bukan saja karena ia mencintai suaminya secara penuh, tetapi juga mampu mencintai saudara2 suaminya, sekalipun – ya, sekalipun -- dengan terpaksa berpura –pura . Sebab siapakah istri yang bisa tulus menyayangi seorang gadis pengadu domba seperti Lestina ? Namun cintapun punya adat dan etiket. Apa boleh buat, karena adat dan etiket cinta ini pula, Laila harus memperlihatkan -- entah tulus apa tidak – sikap sayang juga pada Lestina.

Daud memahami penderitaan cinta Laila yang begini. Justru inilah yang membuat Daud menaruh hormat kepada Laila. Ia tak ambil pusing Laila benar2 sayang pada Lestina, yang penting adalah Laila memperlihatkan sikap sayangnya itu.

" Usulmu bagus, mas Daud " , kata Laila, " Tetapi mungkin mas Daud bisa berdalih pada orang tuamu. Namun aku adalah ipar Lestina. Tak mungkin bagiku menghirup bahagia di Jakarta, hidup bahagia bersamamu aku dijadikan bahan omongan dan gunjingan ! Tidak , mas. Bahkan jika Meiske keluar dari rumah ini aku tidak merelakannya ".

Kini Daud tak gentar lagi untuk bertanya : " Apa dasarnya engkau selalu mempertahankan meiske tinggal disini terus ? Sejak pertama meiske dating, ketika aku sudah mau memutuskan menolaknya indekost disini, kau yang memberi isyarat agar aku menerimanya tinggal disini. Dan dia akhirnya tinggal disini. Sebenarnya tepat apabila Meiske pindah dari rumah ini, dengan alasan penyakitnya penyakit menular ".

Laila tidak menjawab kata2 Daud, dia menghindarinya dengan berdalih:

"Aku mengantuk , mas Daud . Aku ingin tidur duluuan ".

Itu suatu siasat. Tentu.

Seorang isteri musti mempuyai siasat2 . Tentu !

Dan Laila bersiasat, ingin tidur duluan untuk memberikan kesempatan kepada Daud ----- suaminya sendiri ------ untuk berbicara empat mata dengan Meiske.

Apa yang dibicarakan terserahlah.

Dan memang beginilah penyakit perempuan dimanapun didunia ini : Bila satu kali sang perempuan menaruh sykwasangka kepada suaminya, kecurigaan itu tidak akan dengan gampang dibasmi oleh obat apapun.

Syakwasangka hanya bisa dibasmi dengan tindakan nyata seorang suami yang memberikan bukti bahwa dirinya tidak berbuat noda cinta kepada orang lain.

Daud masih duduk menghadapi meja makan . Tanpa diharapkan Daud sedikitpun karena ini adalah berbahaya, maka muncullah Meiske dari pavilium.

" Kak Laila mana , bang Daud ? "

Laila mendengar suara meiske. Ia turun dari tempat tidur pelan – pelan .

" Sudah tidur ", kata Daud.

" Meiske sebetulnya mau bicara dengan kak Laila ", kata Meiske.

Laila kini sudah mendekatkan telinga kedinding.

" Apa yang akan kamu bicarakan dengan Laila, heh ? " suara Daud dingin.

" Soal tinggalnya saya disini ", jawab Meiske .

Daud mulai menyelidik apakah isterinya benar2 sudah tidur.. Ia sendiri akan menyampaikan sesuatu kepada meiske.

Episode 40

Dia melangkah lambat2 menuju kamar, tetapi memang seorang wanita adalah pemain yang ulung didalam kehidupanini: Laila melihat Daud sudah berada dalam selimut.

" Kau sudah tidur , Laila ? " Tanya Daud.

Tiada sahutan . Karna posisi Laila tidur membelakangi arah Daud bertanya, maka ia tak terbukti tidur atau tida. Hanya air mata Laila jatuh diatas seprei.

" He, Laila . Sudah tidur ? ".

Laila tak menyahut . Tetapi air matanya menetes lagi.

Didengarnya suara suaminya :

" Itu Meiske datang mau membicarakan sesuatu dengan kau ".

Juaga tiada Laila menyahut. Daud mengira, Laila betul2 sudah tidur.

Untuk pengisi tingkah , Daud membawa rokokke meja makan.

Meiske duduk termenung disitu , menoleh kearah Daud yang baru keluar dari kamar. Ia bertanga pada Daud : " Sudah tidurkah kak Laila ? "

" Suda. Besok saja dibicarakan , kalu bersifat rahasia, tokh kamu bisa omong bebas ketika saya kekantor "

" Tidak rahasia , bang Daud . Meiske hanya mau bilang, bahwa Meiske sebaiknya cari tempat indekost yang lain ", kata Meiske.

" Ya, kamu sendiri langsung ngomong dengan dia,. Karna bagaimanapun juga, saya punya prinsip bahwa isteri adalah ratu rumah tangga. Yang berurusan dengan rumah tangga adlah hak prerogatif seorang istri ".

" Baiklah, bang Daud ", kata Meiske.Gadis itu melangkah menuju kamarnya di paviliun. Dia benar2 tak bisa tidur malam itu . Tidurnya bergelimpang kekiri, kekanan dan kadangkala dia duduk berpangku lutut dengan dagu ditaroknya didengkulnya

Sementara itu malam terus merangkak.

Tidurlah Laila?

Tidak

Tidurlah Daud ?

Tidak pula.

Bagai sebuah segitiga , mereka bertiga – tiga insane dirumah itu -- tidak ada seorangpun yang tidur.

Ketika Laila merasa tapak tangan Daud memegang bahunya, Laila buru2 memejam mata dan menghela nafas bagai orang tidur nyenyak .

" Laila,……", tiba – tiba Daud mengguncang bahu Laila. Kini Laila membuka mata dan membalikkan badan berhadapan dengan suaminya. Laila menggosok – gosok mata , ia bersikap seolah – olah terjaga dari tidurnya karna dibangunkan oleh Daud barusan.

" Belum tidur, mas ? "

" Ada yang perlu kusampaikan , Laila".

" Karna itu mas Daud nggak bisa tidur ? "

" Ya ---", sahut Daud" Tetapi kuharap kau menerima analisku ini secara dewasa. Karna aku sama sekali tidak bermaksud menyakiti perasaanmu, Laila ".

Daud memeluk Laila, tapi Laila menerimanya dengan separuh mesra. Itu terasa oleh Daud. Kemesraan yang separuh senantiasa di rasakan oleh sang suami manapun yang punya perasaan. Daud berkata : "Laila, Tahukah kau , bahwa cintaku pada mu tetap penuh seperti dahulu ? ".

" Oh , ya ? koq tiba2 menyatakan itu, mas ? "Tanya Laila bersuara biasa.

" Aku takut nya ada suatu keretakan diam2 , yang akan membuat ruamhtangga kita longsor perlahan – lahan . Janganlah kita berahasia lagi. Bahwa diantara kau dan saya seperti terjadi sesuatu keretakan yang dingin. Maukah kau berterus terang ? "

Laila bereaksi. Reaksi itu sebuah pelukan erat, karena Laila memang bermaksud menyembunyikan wajahnya. Laila berkata ketika kepalanya disurukkannya didada Daud : " Itu hanya perasaanmu, mas Daud. Buatku kurasa rumah tangga kita utuh senantiasa".

" Benarkah itu , Laila ? Kau tidak berpura-pura utuh, dan tidak menyembunyikan perasaan2 tertekan dalam bathinmu ? " Tanya Daud..

Laila memeluk Daud erat2 , dan suaranya menahan tangis: " Sama sekali tidak, mas Daud. Laila bangga mas Daud masih mencintai Laila seperti dahulu " " Sungguh ? "

" Sungguh, mas ", sahut Laila mendekap lebih erat.

" Coba , perlihatkan matamu, wajahmu. Coba…….", kata Daud memisah pelukan itu. Laila berusaha menahan agar ia tidak menangis. Ketika Daud menatap wajah Laila, memang Laila tidak menangis, namun air matanya merlinang menggelantung dikelopak. Lalu sebutir airmata tak terkendali lagi, menggelinding ke pipi Laila. Laila mencoba tersenyum menutupi hal itu, tapi dia tak tahan, lalu memeluk Daud dengan terisak – isak……

Top of Form 1 Bottom of Form 1

Episode 41

SEORANG SUAMI yang baik, tentulah tidak sampai hati merogoh sukma istrinya. Begitupun Daud tidak mendesak agar Laila mengakui hal yang sebenarnya.

Daud malahan memeluk Laila erat – erat. Ia mengakhiri peperangan bathin ini dengan tindakan lahiriah. Daud mencium tubuh Laila sebagai satu – satunya cara menyisihkan hal yang akan memberati perasaan Laila.

Bulu Roma Laila merinding apabila dirasa olehnya bibir Daud menjalari betisnya. Dan ujung lidah Daud bermain disela – sela dimana bagi seorang wanita amat peka merasakannya sebagai yang geli dan membangkitkan berahi.

Laila merintih. Begitu birahinya dia , sehingga dipagutnya Daut. Gerakannya yang hebat membuat Daud terlentang. Kini Laila yang aktif membuat hal yang tadi dilakukan oleh Daud. Kini mata Daudlah yang terbeliak terkatup terbuka menahankan betapa bibir dan lidah Laila begitu mesranya.

Laila

Oh Laila………..

Keringat Laila menetes – netes berjatuhan diwajah Daud, dan rambut Laila yang tergerai gerai menyapu – nyapu wajah suamu itu. Barangkali inilah permainan cinta isteri terhadap suami yang luar biasa, melebihi teori2 pergaulan didalam buku2 sex yang pernah dijual laris diseluruh dunia.

Tak, heran , Laila benar – benar menggelimpang terkapar bagai perempuan mati ketika Daud telah siap memakai dasi sehabis mandi dipagi itu.

Dua kali Daud berpapasan dengan Meiske pagi itu . Yang pertama Meiske bertanya: " Kak Laila sudah bangun , bang Daud ? ". Yang dijawab Daud singkat : " Belum ". Yang kedua sewaktu Daud disediakan makan pagi oleh Meiske sehabis ia berpakaian. Meiske duduk dikursi yang agak jauh dari meja makan itu, membaca surat kabar Kompas.

" Tajuk rencananya enak pagi ini ", ujar Meiske.

Daud tidak menyahut. Lestina merebut surat kabar ditangan Meiske itu, dan dia berkata : " Baca saja terus, saya mengambil halaman karikatur ".

Lestina melihat karikatur, dan ia ketawa melirik Meiske dua kali, dan dua-duanya bepergokan dengan lirikan Daud kepadanya pula .

" Bangunin dong kak Laila ", kata Meiske mencoba bersuara santai.

" Masih tidur ", sahut Daud dingin.

Lalu Daud masuk kamar. Ia membangunkan Laila.

Laila memembuka matanya dengan malas, dan bertanya malaas pula: " Suadah pukul berapa , mas ? "

" Delapan ", sahut Daud. Dan Daud menempelkan ciuman dua kali dipipi Laila, yang membuat Laila memejamkan meta dengan senyum bahagia. Laila berbisik : " Semalam happy ? ".

" Puas ", sahut Daud.

Percakapan2 begini penting bagi suami isteri di pagi hari apabila pada malam harinya mereka bersebadan. Sebab yang penting adalah menumbuh kan , bahwa apapun yang diperbuat dan dikatakan, biarpun sudah lewat adalah hal2 yang mengesankan.

Ini perlu diterangkan disini, karna bayak para suami isteri mengira, bahwa kepuasan sex adalah kepuasan sesaat, dan selesailah urusan itu ketika mereka selesai berjimak dan pergi kekamar mandi membersihkan diri.

Tidak. Sama sekali tidak ! Sex itu harus dimuliakan . Begitu mulianya sehingga sex itulah yang telah meneruskan generasi demi generasi. Mereka yang menganggap sex itu adalah tabu adalah mereka yang tidak menyadari mengapa mereka hadir dimuka bumi ini, dan karena hadir maka nereka berfikir bahwa sex adalah memalukan. Tapi untunglah Laila dan Daud bukanlah pembenci, tapi mereka membuat sex sesuatu luhur. Sampai sewaktu bangun tidurpun masih dibicarakan.

Ini :

" Wajahmu pucat , Laila ", kata Daud.

" Karena mas Daud , sih ", kata Laila meraba-raba manja.

" Tetapi wajahku pucat juga karena siapa ? ", Tanya Daud.

" Karena Laila ", dan Laila meraba – raba lagi membuat Daud menghindari diri seraya berkata : " Eh, aku mau pergi kerja nih "

" Sampai nanti malam ", kata Laila

" Lho ! ", Daud ketawa.

" Sampai nanti malam aku tidur kau tidurrrrrrrr", kata Laila melawak.

Alangkah senangya hati seorang suami yang mau berangkat dari rumah dibekali oleh humor2 nakal tetapi indah, indah tetapi nakal, nakal tetapi nakal, indah tetapi indah.

Daud berangkat dari rumah dengan perasaan segar . Dan kesegaran itu membuat dia bisamembikin rencana kerja hari ini. Tetapi dalam rencana kerja itu dia mencantumkan jadwal, bahwa diwaktu makan siang dikantornya, dia akan pergi menemui Meiske.

Episode 42

Tetapi dirumah . Meiske sendiri masi mundar mandir didepan pintu kamar Laila yang rupanya meneruskan tidurnya setelah suaminya pergi tadi itu.. Mieske tak sabaran lagi. Dia mencoba mengetuk pintu kamar kak Laila setelah Lestina pergi.

Laila bangun dengan malas –malasan, dan melangkah terhuyung – huyung menuju pintu.

" He, kamu Meis ? "

" Maafkan " , kata Meiske, " Rupanya kak Laila terganggu tidurnya gara2 Meiske ".

" Oh, tidak. Mau ada yang penting diomongin ya ? " Tanya Laila.

" Ya ", sahut Meiske.

" tunggu sampai kak Laila selesai mandi. Oh, ya, si Lestina sudah pergi ? "

" Barusan pergi ", kata Meiske," Memang tunggu sampai dia pergi, baru tadi mengetuk pintu ".

" Tampaknya ada yang rahasia , nih ? ", Laila berusaha berucap kata dengan santai.

Meiske hanya tersenyum sambil mengangguk.

Biarpun bersikap santai, dalam hati Laila tegang juga. Yang ditakutkannya adalah sesuatu yang mungkin akan diutarakan Meiske dengan terus terang.

Yang tadi malam dan tadi pagi sudah begitu indah , mulai kusut lagi dikepala Laila. Laila tiba2 ingin agar Meiske jangan sampai terlalu omong terus terang nanti. Laila tiba2 diliputi takut. Dia takut kalau2 Meiske berkata, bahwa antara dia dengan mas Daud pernah atau sedang berlangsung suatu affair diluar penglihatannya.

Apakah ini yang akan dikataka Meiske ? Beranikah dia jika ya? Berani? Soal berani, kadang2 perempuan lebih berani dari lelaki dalam soal2 yang penting. Bahkan untuk minta naik pangkat suaminya, kadang kala ada saja isteri2 yang berani omong langsung kepada atasan sang suami, lebih berani dari suaminya sendiri..

Soal berani, kadang kala seorang gadis yang telah dibuntingi tetennya lebih berani ngomong blak2kan kepada ibunya dari pada anak lelaki yang telah menyebabkan kebuntingan itu ! Dalam hal2 tertentu , lelaki kadang2 lebih pengecut dari Wanita!

Itu yang mengerikan Laila kalau2 Meiske berani berterus terang.

Karena itu, Laila agak lama berada dikamar mandi memikirkan hal ini. Ia mulai lagi terombang ambing gara2 orang ketiga dirumah ini. Dikamar sambil dandan , Laila kuatir jika nanti mendendar, samar –samar atau terang – terangan , bahwa ada sesuatu antara Meiske sendiri dengan suaminya. Laila ingat , ia dulu terlalu lama di rumah sakit…………

Keluar dari kamar, Laila mencoba bersikap santai dan ramah..

Mula2 percakapan hilir mudik, ngalo ngidul tentang yang ringan ringan. Tetapi alis mata Laila naik sebelah ketika Meiske berterusterang .

Memang Meiske berterusterng . Tapi dia bukan berterus terang tentang soal2 yang dicurigai atau diduga atau di takutkan Laila ! Meiske berterus terang dalam soal lain.

Dan ------

Sementara dua perempuan ini asyik bicara dirumah. Dikantor Daud kelihatan tak sabaran menanti waktu makan siang karena ia sudah keburu menyelesaikan pekerjaannya menjelang waktu makan siang itu. Begitu bell makan siang berdering diseluruh ruangan, Daud segera meninggalkan Kaantor.

Kemana Daud pergi ?

Mobil itu menuju kampus. Ia tahu, hari ini Meiske pergi ke tempat kuliah. Daud duduk dikantin kampus, tapi Meiske yang ditunggu2, tidak juga datang. Waktu pun tinggal sedikit lagi.

Akhirnya Daud betul2 jengkel, karna kedatangannya kekampus ini adalah untuk memberitahu secara terus terang kepada Meiske bahwa meiske harus pindah. Kepindahan Meiske dari rumahnya adalah sangat penting , karena adanya Meiske akan menimbulkan keretakan perlahan2 antara daud dan Laila sebagai suami isteri.

Tapi sialan ! Meiske rupanya tidak pergi kekampus . Meiske ketika itu masih dirumah, ngobrol begitu santai dan disertai dengan wajah riah ceria bersama Laila.

" Kalau kak Laila betul2 meminta Meis tetap disini ya Meis terima kasih, deh. Tadi Meis berterus terang mengungkapkan soal2 pribadi karna hal itu sudah Meiske rundingkan dengan pacar Meiske itu. Terimakasih atas nasehat kak Laila, agar selama berpacaran justru kurang baik jika tinggal dirumah pacar. Mungkin saran kak Laila itu bisa menjadi bekal Meiske dikemudian hari.

Hari itu tetap hari yang indah bagi Laila. Karena Meiske sudah berterus terang punya pacar , dan bermaksud pindah kerumah pacarnya itu.

Laila yang " plong " dengan lega mendengar pengakuan Meiske kini benar2 menahan gadis itu supaya tetap tinggal dirumahnya. Yang memplongkan hati Laila adalah , dalam percakapan itu tidak satupun disebut nama Daud. Seperti dijanjikan secara bercanda tadi pagi kepada Daud, malam ini Laila betul2 ingin dipeluk oleh Daud dan ingin melakukan yang tadi malam, senikmat, sehebat, sepuas yg tadi malam…...

Episode 43

MEISKE tidak bisa menolak lagi ajakan Laila untuk tetap tinggak dirumahnya. Tapi gadis ini sebenarnya masih bertanya-tanya. Apakah Laila mengetahui bahwa dia sebenarnya mencintai suaminya. Fikir Meiske : Jika kak Laila tau , Oh, betapa memalukan. Betapa keji diriku dalam anggapan kak Laila.

Dan tetaplah ia tinggal dirumah itu. Dan anehnya rumah itu tidak pernah berubah kegembiraannya. Malahan Meiske melihat betapa bertambah kasihnya Daud kepada kak Laila setelah adanya anak mereka.

Mereka kadang – kadang pergi bertiga kekebun binatang. Dan anak itu lucu sekali. Sering kali Meiske menggendongnya kalau kak Laila meminta tolong , sebab kak Laila sedang berada dalam kesibukan.

Tapi sikap2 Meiske tambah hari tambah berubah. Kalau dulu ia bertindak menjiplak kegiatan2 kak Laila, kini kesibukan 2 kuliahnya adalah tempat dia melampiaskan perasaan sepi. Tetapi yang bernama sepi hati, tetap saja mencengkeram dirinya. Namun begitu banyak teman2 sekuliah mencoba mendekatinya, Meiske memperlihatkan sikap dingin2 saja. Banyak diantara bahasiswa2 yang naksir mendekat diam dan mencoba merayu diam2, tetapi pergi berlalu dengan diam2 pula. Hanya ada satu orang diantara yang jatuh cinta diam2 itu yang kelihatan begitu getol.

Namanya Hengky.

Tetapi memang Hengky orang yang ulet. Dia sudah tahu Meiske gadis yang bersikap dingin, tetapi ia tidak kapok2 nya berusaha menaklukkan hati Meiske. Akhirnya Meiske kasihan sama Hengky. Tapi sikap kasihannya itu hanya kelembutan yang mengecewakan. Ia berkata halus : " Percuma kau Henk ! saya lebih suka jadi perawan tua ".

Ia ganteng, keturunan Jerman , dan seorang pemain film reklame untuk minyak rambut , disamping tetap kuliah. Gadis2 teman sekuliah tingkat tiga sesama Meiske sering mengolok – olok Hengky ( dengan kata lain sebenarnya jatuhhati ) :

" Aduuuuuuh, rambut Hengky berbau reklame ! "

Tetapi Hengky yang juga pernah dicintai dua aktris top film Indonesia, lebih cenderung menyenangi mahasiswi pendiam seperti Meiske. Sempat meliriknya dengan sinis , tapi Hengky memang berbakat jadi badak atau playboy bermuka tembok. Ia malahan pernah mencoba mau merampas ciuman yang hampir2 mengenai bibir Meiske ditempat gelap ketika uapacara inaugurasi.

Hengky ditampar Meiske seketika. Dan setelah itu Meiske menangis dan tidak mengikuti upacara inaugurasi tu. Ia segera pulang dengan kemurungan wajahnya yang khas. Laila yang menggendong Delila yang telah berusia 3 tahun itu seinginnya mau menyerahkan anaknya kepada Meiske. Tetapi ketika di;lihatnya wajah Meiske murung , Laila bertanya: " Ada sesuatu yang terjadi dimalam inaugurasi ini , Meis ? "

" Tidak ada, kak. Saya Cuma tidak enak badan ", kata Meiske,

" Memang , lgi musim flu sekarang . ini tadi si Del dibawa ke Dokter oleh papanya.

Si Del juga kurang sehat ", kata Laila.

Meiske hanya tersenyum hambar. Tetapi sesampainya dikamarnya, ketika ia menggeletak telentangmetatap loteng, Meiske menyadari dirinya. Dan ia menyesal mengapa ia ikut bersikap dingin terhadap kak Laila.

Dan Laila sambil mencoba mendiamkan Delilayang tak berhenti2nya menangis, begitu terkesan pada senyum hambar Meiske tadi. Daud masuk kamar membawa obat.

Ia baru pulang dari apotik.

" Sini , saya yang gendong ", kata Daud. Ia menggoyang – goyangkan badannya sembari menggendong anak nya yang belum juga mau berhenti menangis .

Daud menciumi pipi dan lehr anaknyaitu seraya membujuk lembut: " Ada apa saying ? Kepala Del panas ya ? Oh, biarin nanti panasnya pindahin sama papa saja ya! . Lalu ia bertanya pada Laila : " Si Del sudah dikasih makan?"

" Sudah, tadi mas. Tapi ia nggak ada napsu ", kata Laila.

" Tapi sedikit sudah masuk, to ? "

" Ya, paling sesuap dua suap "

" Kalau begitu obatnya sudah bisa diminumkan. Tolong obatnya, ma " Laila buru2 mengeluarkan obat . Tetapi , setelah diminumkan obat itu , malahan Delila muntah2 seperempat jam kemudian. Daud marah2 : " Ah, ini dokter jangan-jangan salah kasaih obat ! "

" Bukan si Del saja yang sakit, mas . Itu si Meiske juga pucat kayak kena flue ".

" Jangan-jangan nular dari dia ", gerutu Daud.

Daud lalu bertanya: " Apa dia sudah kedokter ? Bahaya lho kalau flu nular-nular. Anak tidak sekuat orang dewasa ".

Dan diciuminya kening dan leher anaknya lagi, bagai dhisap panas anaknya secara elektro untuk memasuki jaringan2 tubuhnya sendiri. Dan ketika malam2 Delila menangis lagi, gugup Daud bertambah – tambah . Dibangunkannya Laila :

" Laila, panas badan si Del nanjak ".

Episode 44

Laila juga ikut gugup, lebih – lebih setelah diperiksanya panas badan anaknya, kegugupannya dialihkannya dengan mendekapi anak tiga tahun itu erat – erat. Dan melihat mata Del yang sekonyong2 membeliak2 begitu, Laila menjerit sambil menangis: " Mas ! Gimana si Del Ini , mas ! "

Daud gemetar . Ia buru2 merebut anak itu dari pangkuan Laila. IA pun ikut menangis: " Oh, sayang papa….kenapa, Del, kenapa, nak, kenapa saying……"

Daud menatap Laila. Fikirannya sudah buntu . Ia takut anaknya meninggal dan ia takkan punya anak lagi setelah ini. Karna Laila hanya bisa satu kali mengandung, kandungannya sudah ditutup.

" Kita ke dokter , ma ", kata Daud pada Isterinya.

Suami isteri itu sama2 terisak . Dan Daud seperti tidak sadar ketika ia menjalankan mobil begitu kencangnya !

Langsung ia memprotes Dokter: " Dokter harus bertanggung jawab bila anak saya ini mati ! Dokter salah memberikan obat ! ".

" Saya tak pernah salah tuan. Anda jangan terlalu nervous . Saya malahan tak pernah berani menyuntik anak2 dibawah lima belas tahun ", kata sang dokter, .

" Mari kita bawa ke RSUP. Memang gejala penyakit anak anda ini sedikit ada kelainan ". Dokter itu membantu menyetirkan mobil Daud ke RSUP . Alat – alat yang komplit disini , dokter2 muda berbakat yang sedang jaga malam , telah melakukan pemeriksaan dengan telititetap mereka yakin bukan salah obat.

" Anak ini pernah jatuh ? tiba2 seorang dokter muda yang khusus bekerja sebagai seorang internist.

" Tidak " bantah Daud, " Kami bukan orang gila. Kami tidak pernah membiarkan anak kami untuk jatuh . Apalagi salah minum obat ".

" Ini bukan sama sekali gejala salah minum obat. Anak anda memang flu. Obat yang diberikan dokter Tamim tadi betul2 obat influenza yang patent. Saya kira ada penyakit lain yang tidak tampak ditubuh anak anda ".

Usul itu diterima. Tetapi anggota badan Delila tidak memperlihatkan ada gejala bengkak didalam. Malaha dokter itu memuji: " Tulang kaki dan tangan anak tuan adalah tulang2 calon atlit ".

Pujian itu tak ada artinya bagi Daud, Karna Delila masih saja menangis. Ia menatap setiap wajah dokter itu dengan geram. Seorang diantaranya yang senior, sedang menuliskan resep. Resep itu diberikannya kepada Daud seraya berkata : " Ambil di Apotik disini saja . Buka 24 jam ".

Ia ragu – ragu menerima resep itu. Ia seakan akan tak percaya pada ilmu kedokteran lagi. Tapi Laila mendorong punggungnya, sehingga Daud menjadi lunak hatinya dan memungut resep itu. Namun wajahnya tetap sinis. Dan ini bukanlah sifat Daud yang sebenarnya. Ia seorang manager yang baik dikantor, dan seorang yang baik di rumah, tetapi ia tidak punya pengetahuan kedokteran sebaik dokter2 itu.

Ketika obat itu akan ddiminumkan pada Delila yang masih menangis, ia menatap pada Laila dengan sikap ragu2. Laila mendorong suaminya : " Minumkan saja . Tak apa – apa "

" Aku hanya percaya pada Tuhan ", kata Daud,

" Jika obat ini salah juga, kuserahkan pada kemurahan hati Tuhan ".

Paginya ketika Daud melihat Meiske sarapan pagi , dengan sedikit kasar ia berkata :

" Kalau kamu sakit flu, ke dokter dong. Nanti nula pada anak kami ".

Meiske melihat mata Daud yang berkilat – kilat, dan ia terhempas sedih dan tersinggung seketika. Tapi ia memaksakan diri untuk makan sarapan terus, lalu buru – buru kekamar dengan sedih. Mengapa bang Daud sekasar itu ? Sedihnya benar2 berhiba hati. Ia merasa dirinya begitu malang.

Namun Laila tahu perasaan Meiske yang tersinggung. Ia memang melihat bagaimana Daud denga kasar berkata pada Meiske. Tapi ketika itu ia tak mau ikut campur, sebab dalam keadaan begini buat Daud yang paling penting Cuma Delila anak tunggalnya saja !

Laila mendatangi paviliun . Meiske didapatinya sedang terisak di temat tidur. Ia berkata membujuk : " Meis, jangan diambil hati kata2 mas Daud tadi. Kak Laila minta maff atas nama mas Daud . Sudahlah, berhentilah bersedih. Bukankah tadi Meis buru2 sarapan karena mau ujian ? Hayo, sudah hampir jam 7 , sedangkan kamu ujian jam 8 ".

Meiske bukan gadis yang sok manja. Ia berkata tulus : " Terima kasih kak Laila. Saya minta maaf , tapi saya yakin bukan saya yang menulari flu si Del ".

" Hayo, lupakan saja. Kak Laila memdo'a kan ujianmu berhasil ".

Meiske mendapatkan spirit. Ketika ia bersalin pakaian , Meiske berkata dalam hati lagi : Bukankah aku ini orang keji ? Kak Laila yang begitu suci hatinya……sedangkan aku mencintai suaminya ? Bukankah aku tadi menangis hanya karena shock sebab di bentak orang yang kucintai ? Bukankah yang kuingini selama ini kata2nya yang lembut, yang itupun belum pernah kurasakan ? Ampuni daku , Tuhanku !

Tetapi uacapan Laila adalah benar2 segunung semangat bagi Meiske yang ketika itu menghadapi ujian hari itu, dan ujian2 hari berikutnya.

Episode 45

Pada hari terakhir ujiannya, dan Meiske yakin ia pasti lulus. Ia sengaja mampir ketokon makanan . Dan karena ia ingat ucapan bang Daud Waitulo dulu, bahwa kak Laila menyenangi kuweh bugis, iapun sengaja membelikannya. Hampir membayar, Meiske tahu benar kesenangan si Delila: roti wafel. Ketika memasuki rumah, bagian untuk Delila adalah yang pertama diberikannya. Laila sedang menggendong anaknya itu. Ia bertanya: " Wah, kau ulang tahun Meis ? "

" Bukan , kak, hanya karna hati senang ujian2 selesai dengan lancar ", kata Meiske dan mencubit pipi Delila dengan saying karena anak itu sekarang sudah sehat kembali. Daud kebetulan melihat kejadian itu, tapi ia tak begitu perduli. Tapi ia sangat kaget sewaktu didengarnya kata2 Laila : " Wah, ini kuweh bugis rupanya ?"

" Kuweh kesenangan kak Laila ", kata Meiske.

Daud menjadi risau akan hal ini. Karena ia mengira Meiske sengaja membelikan Laila kuweh bugis untuk mengambil hati isterinya. Daud tahu benar, Laila punya hati yang baik dan tulus, apalagi masih juga menahan2 Meiske tinggal dirumah ini.

Karena yng dibelikan Meiske itu disodorkan juga oleh Laila untuk Daud . Daud mengambilnya sebuah. Tapi ia mengambilnya karena di sodorkan Laila dalam keadaan sudah dibuka bungkusnya dan hampir2 kedepan mulut Daud . Namun yang senang melihat kuweh itu justru Meiske. Entah bagaimana Meiske malu untuk berada disana. Ia pergi kekamarnya. Sampai jauh malam ia tak bisa tidur oleh perasaan bahagia.

Tapi aneh! Sungguh aneh! Meiske pagi2 dibula april merasa seperti diiris sembilu mendengar dari kak Laila bahwa Daud telah berangkat ke Filipina untuk dua minggu lamanya. Ia merasa sebal karena tidak bangun pagi , dan tidak tahu sejak hari sebelumnya bahwa Daud akan pergi jauh dan lama. Maka pada har – hari kepergian Daud itu telah membuat dirinya melampiaskan rasa syang kepada Delila yang kini telah hampir memasuki usia 4 tahun . Dia bercanda – canda main ubar2an , menggendong2 Delila dibahu, merangka2 seperti binatang yang kesemuanya itu membuat Delila sangat manja kepadanya. Kalau dapat kiriman uang dari ayahnya, Meiske sengaja membelikan roti wafel dan coklat, abhkan tadi ia membelikan mainan . Laila juga senang melihat anaknya Delila begitu lincah pada hari kepergian ayahnya, sehingga Delila seolah-olah sudah lupa papanya tidak ada. Lestina mendengar lelucin2 dan kakak kikik Delila dari kamarnya' karna ia sedang memaksakan diri belaja terus.

Laila berkata: " Tadi siang surat mas Daud dating dari manila ".

Meiske ingin sangat untuk ikut membacanya , tetapi ia hanya menyahut : " Oh, sudah ya ? ".

" Mas Daud kadang terlalu royal . Supaya saya juga bisa melihat fotonya dengan segera berlatar belakang kota manila, ia buang2 duit berpotret dengan film Polaroid yang sekali potret terus jadi itu ".

" Mau lihat fotonya , Meis ? Tanya Laila.

Meiske berlagak tak mendengar dengan terus bercanda sambil ketawa2 kepada Delila. Laila pergi mengambil foto dan surat Daud kekamarnya. Dan rasanya tak sabar bagi meiske untuk melihatnya ! Ya ! Iamungkin jauh lebih kangen dari pada Laila, isteri Daud sendiri ! Laila biasa saja ketika memberikan beberapa foto Polaroid itu. Namun Meiske tak bisa menyembunyikan gemetar nya. Tapi dia berbuat seakan – akan tak begitu acuh pada foto2 itu, dan dikembalikannya dengan senyum hambar, tapi jantungnya kencang berdebar .

" Mau membaca suratnya ? ", Tanya Laila.

" Tidak, terima kasih, kak " kata Meiske menolaknya dengan sikap hambar, biarpun ia merindukan berita2 mengenai Daud.

Dan begitulah Meiske : Nyala cintanya kepada suami Laila ibarat api dalam sekam . yang amat mentakjubkan Meiske adalah sikap Laila yang begitu bai k selalu kepadanya. Laila tidak tahu , bahwa bila Meiske menyayangi Delila adalah sebenarnya pelampiasan kasihannya yang tak sampai pada ayah Delila ini !

Memang Daud memenuhi syarat sebagai ayah maupun suami yang baik. Ia telah kembali sesuai dengan rencana. Ia pulang memakai kemeja Filipino. Untuk Delila ia telah membawa boneka2 yang indah , pakaian2 , bahkan sepasang gelang emas yang sebetulnya bikinan Thailand. Tidak kerang pula oleh2nya untuk Laila . Ada dua buah gaun yang bentuknya mirip yang sering dipakai Imelda marcos : Putih Agung !

Ada gaun2 lainnya, tetapi dihari kedatangannya itu -- sementara Delila main boneka2 yang bisa jalan dan ngomong sendiri --- Daud telah berkata pada Laila : " Aku ingin kau memakai gaun imelda itu dimalam ini juga "

" Ini warna putih warna mayat " , kata Laila.

" Pakailah , aku sengaja membelikannya untukmu ", kata Daud.

Dan Laila menuruti kemauan suaminya. Ia dikomentari oleh Meiske yang menonton saja : " Wah, pas betul kak Laila memakai gaun putih begitu ".

" Ini gaun orang mati ", kata Laila.

Daud hanya tertawa. Tetapi ketika Laila berkata : " Ini satu lagi untukmu, Meiske! "

Satu lagi gaun putih itu yang diberikan Laila untuk Meiske, membuat Daud tidak tertawa. Satu lagi rok dan blus untuk si Lestina membuat Daud bangga pada isterinya. Meiske yang semula menolak, karena dipaksa2 juga oleh Laila, akhirnya menerimanya. Daud cemberut sedikit seetelah Meiske pergi membawa gaun itu.

" Mustinya memberi itu dengan hati ikhlas, ma ", kata Laila.

" Aku membelikannya untukmu ", kata Daud.

" Ya, kau membelinya dua gaun putih . Buat apa sekali dua? Buat aku satu pun cukup, mas Daud",

" Kau terlalu baik hati ", kata Daud.

Delila tiba2 menangis. Daud mendekati Delila dengan cepatnya; " Ada apa , anak papa saying ? ".

" Daud mengerti . " Oh, ini musti diputar pernya dulu, supaya bisa jalan ".

Delila tertawa terkikih kikih. Laila mengomentari : " Begitulah Delila tertawa sewaktu kau di Manila ".

" Dia tak menanyakan papanya, hmmm ? " Tanya Daud pada isterinya.

" Hanya hari pertama . Setelah itu ada yang jadi teman akrabnya ".

" Siapa ? ", Tanya Daud.

" Si Meiske. Rasanya tidak salah Meiske tinggal disini. Ia benar – benar pandai menjaga hati anak kecil. Meiske yang jadi teman Delila selama ini. Ia benar2 punnya watak penuh keibuan ".

Kata – kata Laila itu terbukti. Pagi2 ketika suami itu bangun ereka Delila tidak ada dikamar. Ternyata ia telah turun sendiri dari ranjang.

" He, kemana si Del, ma ? "Tanya Daud pada isterinya.

Laila menjawab tertawa : " Kemana lagi kalau bukan dikamar Meiske ? coba mas kesana, dia pasti lagi bercanda- canda bersama si Meis ! ".

" Nanti menggau pelajarannya ", gerutu Daud.

" Ah, itu sudah jadi kebiasaan sehari – hari Delila ", kata Laila, " Anak kecil tidak bisa saying pada seseorang dengan sikap berpura-pura. Dan Meiske tidak berpura – pura saying pada Delila. Dia benar anak yang amat mengasihi. Jiwanya suci ".

Hari – hari memang begitu kalau Daud terbangun agak pagi. Ia tak pernah bertemu dengan Delila, karena Delila sudah mengetuk pintu kamar Meiske. Gejala ini diketahui Daud. Daud segera berkata pada Laila : " Ma, tidak baik anak kita saying pada orang lain. Aku jadi iri ! Aku seharusnya dapat soenjes dari si Del kalau pagi ".

Episode 46

Daud menemukan akal untuk menyapih rasa saying Delila pada Meiske . Ia bangun lebih pagi. Dan ditirunya cara2 Meiske menggoda dan bercanda dengan Delila, Dan Daudlah yang selalu membangunkan anak tunggalnya itu. Perlahan – lahan Daud merasakan bahwa kesayangan Delila kini telah berpindah kepadanya sepenuhnya. Dan kalau sore2 Daud hanya berdua dengan Delila pergi keair mancur yang bisa menari-nari didekat monas . Delila merasa lucu air bisa mengikuti irama goyang lagu2 dangdut. Ia tertawa – tawa geli. Seperti banyak anak kecil, besok sorenya Delila minta lagi melihat air mancur dangdut itu.

Tak ada satu kesempatan buat Meiske untuk merebut perasaan Delila lagi. Sebab , sampai mecebok Delila sehabis berak juga Daud sendirilah yang melakukannya. Ia menidurkan anaknya bila sudah mengantuk. Dan tiap pagi dialah yang membangunkan Delila.

Hal2 begini diperhatikan benar oleh Laila, entah bagaimana Laila berkata pagi2 itu ketika ia mendapatkan daud sedang mencium – cium Delila dan menggendong2 .

" Mas jangan keliwat saying sama ank". Kata Laila.

" Kenapa ? "

" Nanti salah satu ada yang kehilangan ", kata Laila.

Daud marah sekali dengan kata2 itu : " Kau jangan omong ngawur ! kehilangan adalah kehenda Tuhan ".

Dan ia tak pernah berhenti untuk " teramat saying " kepada puteri tunggalnya selama satu tahun ini. Lagi pula, ketika delila telah berusia lima tahun ia tampak begitu pintar . Makin pintar Delila, makin bertambah sayangnya Daud. Laila tidak bisa mencegah saying yang keterlaluan yang diberikan Daud kepada anaknya. Malahan sering ia mengomel ; ' Lihat, itu si Del tambah kolokan ", " Lihatlah , nanti dia sulit untuk ditinggal kemana-mana ".

Dan memang benar . Daud sendiri gelisah suatu sore sepulang dari kantor, Laila heran : " Apa yang terjadi dikantor ? ".

" Aku harus berangkat ke America begitu visa kudapatkan. Kira – kira dalam tiga hari yang akan dating. Berat rasanya meninggalkan Delila ", kata Daud.

Delila ketika itu mendengar. Murid kelas nol kecil Taman kanak2 yang pintar itu memdengarkan omongan Ayahnya, dan ia berkata : "Papa, Del ikut ke America ya ? "

Daud mendekapi Delila. Delila menangis melonjak-lonjak. Daud berkata membuju : " Papa cari duit kesana. Nanti pulangnya papa bawa oleh2 "

" Nggak ! Del ikut ! Del ikut ! ".

Pada malam keberangkatannya , Daud mendengar Delila mengigau : " Del ikut , papa! Papa jangan pigi sendiri, papa ! Del ikut! ". Daud maupun laila terbangun. Daud menundukkan kepala ketika ia melihat Delila tertidur kembali.

" Kenapa nangis, mas ? ", Tanya Laila yang tiba2 gusar, seakan –akan mau terjadi satu perpisahaan abadi antara Daud dan anaknuya kali ini.

Laila sampai memegang bahu suaminya erat2 dan menggoncang2kannya: "Mas , Kenapa kau .? Kenapa kau ? "

" Entahlah ", kata Daud. " hatiku tidak enak saja berangkat sekarang ini . kalau ticket belum dibeli dan visa belum ditangan, mau saja aku membatalkan keberangkatan saya kali ini ".

Daud menatap lagi pada Delila. Mata Daud tampak layu seakan - akan mata mayat . Laila jadi gusar ! ia menggoacang Daud serta memeluknya .

Menjelang dua menit keberangkatannya, Delila berkata : " Kenapa pakai baju putih – putih , papa ? " Oleh pertanyaan itu Daud memeluk anaknya itu. Laila cepat2 pergi ke kamar mandi, dan menangis seketika. Ia baru keluar setelah Daud memanggilnya. Didapatinya Daud sedang menciumi Delila sepuas – puasnya.

" Kalau mau tidur jangan lupa sama Papa, ya "

" Nggak , papa ", kata Delila, " Tapi Del ikut sama papa ka ? "

" Tidak………." , kata Daud terisak-isak. Dipeluknya Delila sekuat-kuat , seakan2 pelukan orang mau berpisah untuk selama2nya. Laila ikut menangis, dan terlebih2 lagi ketika Delila meratap keras – keras sewaktu Daud mau naik ke taxi. Daud melambaikan tangannya dan membuang muka cepat2, sementara Delila menagis berteriak2. Bahkan Meiske yang pernah jadi teman akrab Delila sewaktu Daud ke Filipina , tak bisa membujuknya.

Perasaan tak tentram melanda diri Laila , lebih2 jika malam. Ia bermimpi pesawat terbang Daud jatuh. Dan jatuh diatas rumah ini, menimpa Delila. Delila tewas tapi Daud selamat namun terbakar oleh api pesawat. Pada malam lainnya Delila yang Delila yang mengigau menangis2 keras . Pagi harinya anak itu ngelamun .

" Del'kan mau diantar tante Meis pergi sekolah , kenapa ngelamun ? "

" Papa kok lama betul perginya , mama ? "

Setiap pagi begitu. Delila selalu ngelamun menanyakan ayahnya. Berita surat kabar pagi ini merupa headline :

PESAWAT TERBANG UNITED DENGAN SELURUH

PENUMPANGNYA TEWAS DIATAS BOSTON !

" Meiske ! " Seru Laila hampir menangis sebelum membaca berita itu dengan mendetail. Teriak Laila memanggil Meiske itu didengar oleh Delila, Meiske lari tergopoh dari kebun.

" Ada apa , ka ? ", Tanya Meiske.

" Bacalah berita ini ", kata Laila lantas melihat Delila yang ngelamun. Ia meraih Delila dengan tangisan terisak isak. Dan ketika Meiske baru sebaris membaca surat kabar itu.

Laila berkomentar: " Aku telah bilang, bermimpi pesawat yang ditumpangi mas Daud jatuh. Aku kuatir….Meiske ! "

" Mama….kenapa papa , mama ? " Tanya Delila dengan mata berkaca-kaca. Iap un pernah bermimpi naik pesawat terbang suatu malam, pesawat itupun jatuh tapi jatuh diatas satu padang salju luas dan memutih.

" Mama….jangan nangis , mama ! kenapa, mama !

Episode 47

SEBAGAI anak kecil berusia lima tahun tapi berotak pintar, ucapan ibunya bahwa ayahnya tewas dalam kecelakaan pesaawat terbang, betul2 menggores perasan Delila.

Delila berfikir : Kenapa bukan aku saja yang mati ? kenapa bukan pesawat terbang didalam mimpiku yang jatuh ?

" Ah ", kata Laila tak sabaran memperhatikan Meiske membaca, " Jangan baca yang lain, lihat saja daftar nama 2 penumpang yang tewas ! "

" Ini dalam berita ada disebut, warga negara dari India 14 org, dari Inggris , dari perancis , dari Itali dan Amerika…..tidak ada warga negara Indonesia disini "

" Jadi tak jatuh '

" Tapi mengapa mas Daud tak pernah tulis surat ya ? ", Tanya Laila.

" Mungkin acaranya padat ", kata Meiske.

Laila teringat soal gaun putih bergaya Imelda yang di beli Daud, Laila bilang " Ini gaun orang mati ". Apa yang membuat Laila berkata begitu ? Entah. Keterlanjuran saja barang kali ! Lantas Laila ingat, ketika Daud sayang2nya pada Delila, Laila pernah memperingatkan suaminya itu : " Mas , jangan keliwat sayang sama anak . Nanti salah satu ada yang kehilangan ! ",Mendengar itu --- kini Laila ingat benar --- Daud marah sekali.

Kini Laila baru sadar, bahwa ia membuat Delila terisak-isak kecil. Ia membujuk anaknya dengan kesadaran : " Tidak ada apa2 Del . Marilah mama antar Del ke sekolah ya ? ".

Delia menggelengkan kepalanya.

" Lho , nanti katanya mau naik kelas nol besar. Sekolah ya ? "

" Del nggak mau sekolah kalau papa mati ", kata Delila.

" Del…"

" Abis papa mati sih ", kata delila

Laila ingat , Delila justru yang menanyakan kenapa papanya pakai baju putih2 dipagi keberangkatan Daud itu . Bukankah itu suatu lambang mistis ?

Agak sulit juga buat Laila untuk berhasil membujuk Delila agar mau pergi sekolah . Dia bangun paling duluan. Dan bila laila keluar kamar mencarinya, maka dilihatnya Delila duduk ngelamun. Laila membujuknya dengan jalan menggendongnya. Tetapi tampak Delila tidak bisa dibujuk lagi . Ia tetap tak mau pergi sekolah. Meiske pun gagal membujuknya.

" Mama ", kata Delila.

" Ya…"

" Apakah papa sudah mati, mama ? "

" Belum , sayang! "

" Papa janji tulis surat , nggak ada suratnya ! " kata anak kecil itu.

Memang agak misterius janji mas Daud kali ini. Biasanya janjinya selalu tepat. Laila bertanya pada Meiske yang rupanya juga risau melihat suasana rumah jadi suram .

" Bagaimana kalau kita tanyakan pada Departemen Perhubungan . Atau kekantor tempat pesawat mas Daud yang pertama. Mungkin Pan American tahu ".

" Saya menduga bang Daud ini sempit waktu. Atau sakit ? ", kata Meiske.

Dugaan Meiske tepat. Sebuah surat dengan cap rumah sakit diterima pada sore itu juga.

Tetapi Meiske yang berteriak –teriak menerima surat itu kegirangan, berbeda dengan sikap Laila yang merenung sedih membaca cap rumah sakit itu. Kemurungannya berhari-hari ini telah dicengkram oleh soal2 kematian, sampai2 ia menduga surat ini datangnya dari rumah sakit memberitahu kematian Daud.

"Kau membacanya", kata laila berlinang air mata seraya meraih Delila. Delila yang kecil itu seakan2 ingin tahu saja apa isi surat itu. Ia sampai naik keatas meja dan amat gugup ketika mgikuti Meiske membaca surat itu :

Washington, cap pos.

Laila tersayang dan Delila tercinta.

Maafkan papa terlambat berhari- hari tidak mengirimkan surat. Sebab begitu sampai di America suda jatuh sakit. Di Hawaii sudah tersa akan flu, tapi salju dingin yang tak tertahankan sewaktu menginjak benua colombus ini ! Papa langsung masuk rumah sakit. Untunglah papa sudah sembuh sekarang. Sekalipun semua urusan jadinya tertunda. Mulai hari ini , papa akan terus menulis surat setiap hari kepada kalian berdua….

Bagai melayang seperti kapas rasanya tubuh Laila. Ia tak sempat mengikuti suara Meiske yang membaca karena tiba2 ia tak ingat apa2. Laila jatuh ke lantai .

Delila kecil berseru lantang : " Mama! Mama mati !" Anak kecil itu menjerit , Lestinapun ikut2 keluar kamar. Barsama Lestina . Meiske menggotong Laila ke kamar. Meiske yang pernah ikut jadi pramuka, menggerak – gerakkan anggota badan Laila agar segera siuman dari pingsannya,

" Mama mati , tante ? " Tanya delila seraya menangis.

" Tidak…"

" Mama….!"

" Jangan takut , sayang ", kata Meiske merangku Delila serta mengendongnya, serta membelai2 kepala anak kecil itu seraya menghibur: " Mama sebentar lagi sadar, mama pingsan saja ".

" Kalo mama hidup lagi, Delila mau sekolah " , kata Delila.

" Itu mama sudah gerak ", kata Lestina.

Episode 48

Delila minta turun dari gendongan Meiske. Ia langsung merangkul ibunya. Laila melihat kiri kanan selayak orang yang baru siuman. Begitu ia sadar Delila menangis, Laila segera merangkulnya. Tubuhnya lemas. Beberapa hari ia sakit, tetapi ia berangsur sembuh setelah setiap hari menerima surat2 Daud Waitulo.

Tapi selama ibunya sakit, Delila yang kecil itu seringkali ngelamun disekolahnya. Suatu ketika Delila memikirkan ayahnya, sambil ngelamun ia tak sadar diperhatikan gurunya.

Gurunya kasihan melihat dalam beberapa hari ini Delila bermenung. Ia mencoba mendekati murid yang satu ini. Dibelainya kepalanya, : " Kau sakit , Del ? "

" Nggak , Del mau pigi kesana ", kata Delila menunjuk awan .

" Bu guru bawa pulang mau ya ? Naik mobil bu guru ya ? "

" Nggak, Delila disuruh sekolah . Delila mau kesana, Bu guru ", katanya , menunjuk kelangit lagi.

Bu guru segera mengatasi panik nya seraya membawa muridnya ke mobil.

Ia menyetir mobil itu mengantarkan murid yang pintar ini kerumah. Disitu didapatkannya Ibu laila --- ibu muridnya yang pintar ini---- sedang terbaring diranjang.

Bu Guru berkata : " Anak Nyonya , Bu Laila, sedang sedikit meriang ".

Meiske memegang kening Delila. Memang panas.

Ia buru2 mengambi Delila dari tangan bu guru dan melarang kak Laila: " Biarlah Meiske yang urusin Delila , kak. Kakak tidur saja disitu ".

" Maaf , bu guru , saya sendiri kurang sehat ", " terimakasih atas kebaikan hati ibu mengantar anak kami ".

Setelah bu guru pergi , Laila bersusah payah mencoba untuk bangun , tapi silitnya bukan main. Ia memanggil nama Meiske, tetapi suaranya tertahan ditenggorokan .

Meiske sendiri ketiks itu amat cemas melihat keadaan anak kecil yang dalam pangkuannya…Ya ! Suhu badan Delila meninggi . Mata Delila terbeliak2 menakutkan ! Dan Meiske yang mula2 ingin merahasiakan keadaan Delila demi menjaga perasaan Laila, tiba2 tak kuasa lagi melihat mata itu. Meiske menjerit lantang memanggil2 : " " Kak Laila! Kakak ! kak Lailaaaaaa! "

Laila yang semula tak kuat berdiri dari pembaringannya , sekonyong – konyong ada tenaga sewaktu ia memdengar namanya d,ipanggil Meiske. Ia melangkah terhuyung2 keluar kamar. Didapatkannya Meiske diruang tengah sedang memeluk anaknya dengan menangis-nangis. " Kak Laila….", seru Meiske melihat Laila dating.

" Mari kita bawa si Del ke Dokter ".

Laila memperlihatkan kembali sikap2 lamanya. Ia selalu tampak begitu tenang apabila seluruh suasana dalam keadaan panik. Ia memegang telapak tangan dan telapak kaki anaknya satu-satunya terasa dingin, dan memang teramat panas terasa suhu kepala anaknya itu disbanding dengan telapak2 tangan dan kakinya. Ia tenang sekali menciumi Delila. Bahkan suaranya seakan – akan tak terdengar : " Anak mama….kenapa, sayang ? "

" Mau kelangit, mama", kata Delila mengerang.

" Baiklah ", kata Laila, " Marilah kita pergi kesana bersama-sama tante Meis , ya ? "

" Papa , mama! Papa ikut, mama !" kata anak kecil itu

" Ya, diamlah. Kita nanti bawa papa juga " kata Laila.

Meiske tak bisa menahan sedihnya melihat laila begitu tabah membujuk anaknya. Meiske terisak-isak tertahan.

" Delila pingin minum es, mama", kata anak kecil itu pula.

" Baik, mama ambilkan es ", kata Laila mau melangkah menuju kekulkas. Meiske teringat pada pelajaran kesehatan dulu di SMA , bahwa itu rasa-rasanya pantangan . Orang sakit panas senantiasa ingin sekali meneguk es.

Dengan suara berbisik, Meiske melarang Laila.

" Mana esnya , mama ! mana es ! mana es, mama! Seru Delila.

Laila mengambil air putih biasa saja, dan membujuk anaknya: " Ini es sayang. Minum ya ". Tetapi begitu Delila meneguk air, ia keluarkan lagi air itu dari mulutnya ! Anak itu berteriak2 : " Itu bukan es ! mama nakalllll ",dan dia meronta2 dalam gendongan Meiske. Meiske seakan akan tidak kuasa menahan rontaan anak kecil itu.

" Kau bisa menyetir mobil, meis ? " Tanya Laila.

" Tidak bisa, kak. Kita pakai taxi saja untuk kerumah sakit ". Kata Meiske , Biarpun dalam keadaan tidak kuat, Laila memaksa diri juga bersama-sama Meiske membawa Delila ke rumah sakit. Tetapi malang dalam perjalanan tergesa – gesa dikoridor rumah sakit. Laila jatuh tertelungkup. Meiske sendiri tak tahu Laila jatuh tertelungkup, karena seluruh konsentrasinya hanya pada Delila yang amat parah.

Untung ada beberapa perawat yang memanggil – manggil Meiske, dan mereka inilah yang ikut membantu menggotong Laila.

" Nyonya ini pingsan ", kata perawat itu pada Meiske.

" Ini yang saya gendong ini anaknya !", kata Meiske.

Semua perawat jadi membantu kepanikan itu seketika.

Tetapi Meiske terpaksa berbantah – bantahan dengan beberapa orang dokter kemudian. Ia memaksa supaya kamar Laila dan anaknya disatukan.

" Anak ini butuh ibunya ", kata Meiske.

" Tetapi penyakit mereka berbeda " kata dokter2 itu.

Episode 49

Meiske terpaksa mengalah. Itu berarti Meiske menyerahkan nasip dua orang sakit itu kepada kebujaksanaan dokter2 itu saja.

' Nona diruang tunggu saja ", kata seorang dokter pada Meiske.

Diruang tunggu selama satu jam Meiske kebingungan. Tetapi dalam kebingungan itu Meske masih bisa menggunakan akal fikirannya. Ia sempat omong2 sebentar dengan jururawat itu untuk mengirimkan telegram ke Amerika.

" Tuliskan saja , nona, nanti saya bisa minta tolong pada teman saya yang giliran pulang siang ini".

" Mohon diperlukan benar ", kata Meiske. Dan ia menuliskan kata-kata ditelegram itu. Dan setelah juru rawat itu berlalu, Meiske masih saja diliputi kegelisahan.

Dokter yang muncul dari pintu kamar Delila, bagai mau diserbunya.

' Bagaimana , dokter ? "

" Ayah anak ini dimana sekarang ? " Tanya dokter itu.

" Di America ", kata Meiske.

" Ibunya ? "

" Diruang lain ", kata Meiske , " Jadi apakah saya bisa membantunya ? ".

" Nona siapa ? " Tanya dokter itu menatap Meiske.

Meiske buru-buru berbohong: " Saya adalah adik dari wanita yg sakit itu , ibu dari anak kecil itu ".

"Kami ingin menyampaikan penyakit anak itu ", kata dokter itu.

" Katakan saja pada saya , dokter ", kata Meiske,

" Saya sudah seperti ibu anak itu sendiri ".

' Nona jangan kaget ", kata dokter itu, ' Penyakit anak itu amat berbahaya. Ia memerlukan pembedahan ".

" Pembedahan berat ? " Tanya Meiske.

" Tidak begitu berat ', kata dokter itu, " Kami pernah berhasil melakukan pembedahan yang sama seperti itu ".

'' Katakan apa penyakitnya, dokter ", kata Meiske.

'' Ada sedikit darah beku dalam kepala anak itu, yang rupa2nya sudah dideritanya sejak kecil. Kami ingin mengorek darah beku itu ", kata dokter itu.

" Semacam tumor ? ", Tanya Meiske.

" Kami tidak bisa memastikannya " kata dokter itu.

" Tapi penyakit ini se-waktu-waktu diderita anak ini. Yaitu suhu badannya menanjak oleh karena kegiatan syaraf . Ia tak boleh terlalu gembira dan tak boleh terlalu sedih".

Meiske termenung. Ia membeku bagai patung. Satu-satunya yang bergerak adalah air matanya yang menggelinding dari kelopak matanya menuruni pipi. Ia berkata –kata seperti pada dirinya sendiri : " Oh, Del yang malang. Kau terlalu kecil untuk memikul beban penyakit ini ".

" Penyakit ini tidak berbahaya ", kata dokter itu, " Asal fihak keluarganya bersedia, kami akan menolongnya sebaik – baiknya ".

' Ayahnya di America. Ia sangat disayangi ayahnya. Kami tiba-tiba takut untuk memutuskan hal ini , kalau2………..ayahnya tidak menyaksikan sendiri ", kata Meiske. Dan Meiske menghela nafas panjang lagi seraya mengeluh ; " Oh, malangnya Delila…………………………………".

" Operasi itu sendiri tidak perlu buru2 ", kata dokter itu . " Kini teman2 saya sekedar mencoba mengurangi rasa sakit di kepalanya itu. Mungkin kalau bisa dikirim kabar pada ayahnya untuk mengijinkan pembedahan itu, anak itu masih kuat untuk menunggu.

Kadang2 nona bisa kaget. Mungkin setelah panasnya turun, ia akan tampak seolah olah sehat, tapi dibalik itu ia mengidap kemungkinan2 untuk kedatangan sakit itu lagi. ".

' Ya, dokter. Saya sendiri telah mengirim telegram ' kata Mieske.

' Nona tak usah cemas. Segera begitu ada perkembangan berkurang, itu berarti untuk sementara waktu anak itu bisa dibawa pilang ", kata dokter itu.

Ketika dokter itu mau pergi, ia sempat kembali lagi pada Meiske, : " Pernahkah ia dibawa suatu ketika sebelum ini ? "

" O, ada satu kali dulu . Ketika masih berusia kira2 satu atau dua tahun, saya juga lupa, tapi dokter sini tidak mengatakan soal darah membeku di kepala ", kata Meiske.

" Mungkin hanya dikira influenza biasa saja. Sebab kalau suhunya tiba2 naik memang mirip influenza " kata dokter itu. " Baiklah , nona boleh tunggu disini melihat perkembangannya ".

Episode 50

Ketika dokter itu kembali diantara sejawatnya dikamar pemeriksaan prihatin tempat Delila, ia sendiri kaget dari tempat tidur itu terdengar suara anak kecil :

" Hallo Oom. Mana Mama Del, Oom ? ".

" Oh, mama kamu ? Sudah besar begini kok mau cari2 mama ? ", kata dokter itu.

" Ia sudah berangsur membaik ", kata dokter yang mengepalai team pemeriksaan itu. Mendengar kata2 dokter itu tadi, Delila berkata pula : ' Memang Del nggak sakit, kok. Kalau Del besar. Delela mau jadi dokter akh, supaya jangan sakit-sakit ".

" Memang kamu berbakat untuk jadi dokter, Delila ", kata kepala tem.

" Nanti kalau Delila sudah sekolah SD, Delila mau jadi Dokter, bisa nggak ?"

Ia tampak seperti sehat. Dan dibiarkan turun oleh dokter2 itu dari tempat pembaringan. Ia malahan memeriksa beberapa alat . Seorang dokter malahan meminjamkan satu stoteskop dan mengkalungkan stoteskop itu di leher Delila . Kata dokter itu: " Kamu sekarang mirip dokter ".

" Mana orang sakitnya ? Mana jarum suntiknya ? Del mau periksa orang sakit , ah ", kata Delila.

Dokter2 itu sengaja merubah perhatian Delila agar tak mencari ibunya. Dia tidak boleh tau, keadaan ibunya pun gawat pada detik2 ini. Ada laporan dari ruang sebelah, bahwa ibu Delila sedang in comma, yang berati sedang diperbatasan hidup atau mati pada saat ini.

Dan Meiske tidak mengetahui sama sekali bahwa kak Laila sedang diperbatasan hidup atau mati pada saat ini. Ia saat itu sedang diruang tunggu dan duduk berdampingan dengan Lestina yang baru muncul dirumah sakit itu. Lestina barusan saja pulang sekolah, dan tetangga2 memberitahu hal ini. Untunglah ada prang sebelah rumah yang mau menunggui rumah yang kosong itu.

Sementara itu , dalam keadaan krisisnya Laila masih tampak berkeinginan untuk tetap bernafas lebih beik sekarang. Dan berangsur-angsur ia bisa mengalah kan saat2 in comma itu dengan mengagumkan. Tiba2 ia kelihatan seperti akan sadarkan diri. Dokter2 sedikit lega melihat perkembangan Laila yang membaik.

Namun sebaliknya, dokter diruang Delila merasa cemas. Karena Delila mulai memaksa dokter2 itu untuk mencari ibunya.

" Kalau mama nggak dibawa kesini, saya nggak mau jadi dokter !" serunya marah.

Barulah teringat oleh Dokter Daeng Melandowa yang pernah ketemu Meiske di koridor, mungkin Delila bisa dialihkan kesini.

" He, anak kecil yang manis ", kata dokter itu,

" Katanya kamu punya tante yang baik yang baik ya ".

" Ya, Oom ".

" Siapa nama tantemu ? "

" Tante Meiska, Oom ! "

" Tadi dia tanya2 kamu, " kata dokter itu seraya menyengir.

Nyengirnya Dr. Melandowa membuat Delila terpamcing. Kata anak kecil itu " Panggil Tante Meiske sini, deh ! Biar Del suntik sama jarum "

Meiske dipanggil, ia terkejut amat sangat! Ia tergopoh2 karna menduga ada berita fatal . Tetapi ternyata tidak . Malahan ia senag bisa memeluk Delila . Tetapi dokter memperingatkan : " Nona musti mengulur waktu supaya anak ini jangan ingat ibunya ".

Betapapun , Delila akhirnya bosan dengan lelucon2 kecil Meiske, Lelucon2 yang ia batasi agar Delila tidak terlalu gembira.. Untuk ini Meiske berhasil.

Tetapi kalau tiba – tiba ingat ibunya, dan bosan terhadap meiske maka meiske tidak bisa lagi mencari akal untuk mengatasinya.

Ini membuat meiske panik menjelang subuh.

Serangan penyakit itu mulai menggerayangi kepala Delila lagi. Dengan ganasnya. Meiske menduga kali in Delila tidak bisa bertahan lagi , tapi dokter2 memberinya harapan.

" Asal nona disini menemaninya, ia akan lebih baik dari tadi", kata dokter daeng Melandowa.

Ini masih lebih baik ? fikir meiske. Oh, bagaimanakah keadaannya tadi, dalam keadaan paling gawat dimana Meiske tak bisa melihatnya. Kini Meiske masih bisa memanggil2 namanya.

Kepala tim dokter itu memberani kan diri untuk mengambil keputusan . Ia berkata: " Saya akan mencoba menyuntikkan obat penenang".

Usahanya berhasil menurunkan, setidak2nya meringankan sakit kepala Delila.

Tetapi merekapun harus berusaha agar Laila segera sembuh . Faktor kesepian anak ini untuk didekapi ibunya tidak sedikit mengganggu ketentraman jiwanya. Tetapi mereka kagum semua pada Meiske yang begitu sabar penuh keibua untuk mengurangi sakit dan kesepian Delila.

Untuk beberapa hari lamanya Meiske iku di rumah sakitdan Lestina mundar mandir membawa pakaian2 salinan Meiske, kak Laila dan Delila. Biarpun panasnya menurun, tetapi Delila dalam keadaan sngat lemah.

Tidak lama kemudian, muncullah Daud Waitulo dirumah sakit itu, Ia sendiri muncul dalam keadaan amat kurus sebab belum sembuh sma sekali ketika harus meninggalkan America setelah menerima telegram dari Mieske, Ia membawa mainan dan pakian untuk mengobati perasaan Delila. Delila melihat Ayahnya seperti tak percaya.

Ia terlalu gembira untuk menjerit-jerit " " Papa pulang ! Papa pulang ! Papa pulang !"

Padahal , keadaan yang terlalu gembira membuat terganggunya perjalanan darah dikepala Delila. Badannya panas lagi dengan cepat.

Episode 51

MEISKE menyaksikan, betapa sayang Daud kepada anaknya. Airmata Daud yang menetes dikepala Delila membah keharuan Meiske menyaksikannya. Tanpa suara tanpa kata, tanpa surat, Meiske bertambah - tambah lagi memendam rasa terhadap Daud. Dia sendiri sangat kangen pada Daud! Ya, kangen diam2 , kangen dari seorang gadis yang mencintai diam2.

Cinta diam2 ibarat arus yang berada dibawah permukaan laut, lebih berbahaya daripada gelombang besar.

Ia mengagumi sambil membayangkan bahwa dirinya telah terlambat. Jika tidak, tentu dirinyalah yang menjadi isteri Daud. Dari dirinyalah akan lahir anak2 Daud. Meiske tersadar dari lamunan bila didengar suara Daud : " Kaukah yang membantu kesusahan anak isteriku selama ini ? "

" Ya –"

" Terima kasih atas kebaikanmu pada keluarga kami", kata Daud

" Tetapi itu bantuan yang sudah sewajarnya ", kata Meiske.

Yang menyulitkan bagi Daud adalah Delila tidak mau lepas2 lagi dari pelukan ayahnya. Badannya yang panas dengan cepat itu membuat Daud bertanya pada Meiske : " Apa penyakit Delila yang sebenarnya ? "

Biarpun Meiske sudah tahu , bahwa Delila sebenarnya diduga menderita radang otak , tapi Meiske berkata : " Coba bang Daud sendiri yang Tanya pada Dokter ".

" Memang Delila sering kali begitu ", kata Meiske,

" Kalau dia terlalu gembira ataupun terlalu sedih, langsung panas badannya naik ".

Daud menatap Meiske : " Dimana Laila kini ? "

Meiske memberi isyarat , bahwa ia tidak bisa mengatakannya sekarang. Meiske memberi aba2 bahwa telah 3 hari ini kak Laila tidak bisa dikunjungi.

" Please, speak in English ! " kata Daud.

Lalu meiskepun berbahasa inggris : " Znobody could meet her in these three days ".

" What happened with her ? " , Daud menanyakan apa yang terjadi atas diri Laila.

" Doctors didn't say anything to me " kata Meiske, karena Dokter memang merahasiakan penyakit kak Laila kecuali tidak bisa dijumpai saja.

Delila rupanya tertidur dalam pangkuan ayahnya itu. Atas bantuan suster , Delila ditaruh kembali ditas tempat tidurnya . Mainan oleh2 yang dibawa dikumpulkan .

Mainan itu disusun meiske disamping tempat tidur. Lalu Meiske duduk di sebuah kursi , dan Daud pun duduk disebuah kursi pula.

Melihat nyenyaknya Delila, Daud kini merasa bebas berbicara dengan Meiske dalam bahasa Indonesia saja.

" Nasib keluarga kami memang malang " kata Daud.

" Kita harus banyak berdo'a dalam keadaan kritis begini, bang Daud ", kata Meiske.

" Ya….."

Meiske memperhatikan betapa bersunguh2nya wajah Daud menahan penderitaan ini. Wajah itu menahan ketegangan , dan bola matanya mulai tampak berkaca-kaca lagi. Daud menatap Meiske , tepat ketika Meiske memperhatikan Daud. Daud bertanya : " Bisakah dokter2 itu dibujuk? Katakana saja bahwa saya akan menengok wajah isteriku. Cobalah bantuanmu , Meis ".

" Sebenarnya tak bisa. Biar Meis akan coba ", kata Meiske.

Meiske berdiri , melangkah keluar kamar khusus Delila itu. Ketika Meiske pergi, Daud menatap wajah anaknya dengan perasaan lemah. Wajah Delila tampak begitu pucat. Seorang suster masuk lagi : " Bapak siapa ? "

" Saya ayah anak ini ", kata Daud .

Suster itu tampak2nya mengerti . Dia bertanya: " Bapak yag sedang berada di America ketika isteri dan anak bapak di opname disini ? "

" Ya ", kata Daud , dan dia mulai mengusahakan dengan bujukan : " Bisakah saya jumpa dengan isteri saya , suster ? ".

" Wah, sayang sekali tidak bisa, pak ", kata suster itu, " sebaiknya bapak bersabar dalam beberapa hari ini "

" Ha! Dalam beberapa hari ini ? Jadi maksud anda dalam beberapa hari ini saya tidak boleh bertemu dengan isteri sya ? "

" Apa boleh buat , pak", kata suster itu , " Secara kemanusiaan kami mungkin harus mengijinkan bapak untuk menunggui pasien. Tetapi ada pasien2 tertentu , seperti isteri bapak misalnya, yang betul2 tidak boleh dijumpai. Kapan bapak kembali dari America ? "

" Barusan saja. Saya langsung kesini ", kata Daud lagi.

" Bapak juga tampaknya kurang sehat ", kata suster itu.

Daud meraba mukanya sendiri. Memang ia sendiri belum sembuh benar, dan dia kesini karna telegram Meiske . Daud mengelu : " Ya, saya sendiri dalam keaadaan sakit. Tapi saya rasa saya harus kesini ".

Suster itu rupanya suster kepala. Dia dengan ramah berkata pada Daud," Coba diluar saja dulu, pak "

Telinga Daud merah seketika. Suster itu bukan memaksa, tetapi memperingat kan kembali dengan halus : " Bapak sayang kepada anak bapak , bukan ? "

" Ya…."

" Sebentar saya panggil dokter. Bapak akan diperiksa lebih dulu, apakah bapak juga benar2 sehat ? " kata suster itu, lalu " Diluar , saja pak ".

Daud keluar kamar itu sambil merasakan hidungnya agak bindeng memang. Suster itu menutup pintu kamar dan berlari-lari. Ditengah jalan ia ketemu dengan suster yang tadi menjaga ruang Delila. " Kamu tadi yg jaga diruang Delila ? "

" Ya, zuz ",

" Kamu benar2 nggak kasihan pada anak itu ! sudah saya peringatkan siapa yang masuk harus dikontrol ", suaranya marah.

" Dia bapaknya, zuzu " , sahut sang suster.

" Biar siapapun ! Kamu tidak lihat bapak itu terkena flu ? Matanya merah kebiruan, mungkin ia membawa penyakit tak dikenal dari America. Flu amemrica berbahaya lho, dik ! sudah kesana ! Jangan kasih kesempatan dia lagi masuk menemui anaknya !" dan suster kepala itu terus menggerutu, melangkah cepat menemui dokter

Episode 52

Ketika Meiske muncul dikamar Delila, ia tidak melihat Daud. Daud rupanya sudah memasuki kamar periksa. Dokter menggeleng – gelengkan kepala ketika memeriksa mata Daud dan tenggorokan Daud. Katanya " Kami menyesal bapak begitu ceroboh memasuki kamar anak bapak. Bapak menderita flu America yang jahat sekali. Selain itu radang tenggorokan ini diperkirakan Diptheria ".

Daud terdongak ketika mendengar kata2 dokter itu kemudian : " Sebaiknya bapak istirahat dirumah, dan memakan obat dari kami ini dengan teratur. Sakit bapak tidak berat, tetapi jika menulari anak bapak , apalagi isteri bapak, dua2nya akan tak kuat bertahan lagi ".

" Jadi saya harus dirumah ? dan tidak punya kesempatan sedikitpun untuk menengok anak dan isteri saya ? " Tanya Daud penasaran .

' Sebagai orang berpendidikan saya rasa bapak ada pengertian ", kata dokter itu.

Daud masih berkata jua: " Tetapi cobalah bapak baying kan . Anak saya ini sudah terlanjur tahu bahwa saya ada disini. Nanti kalau dia terbangun gari tidur, menanyakan saya, apakah bapak tidak kasihan , pak dokter ? ".

" Kami kasihan " , kata dokter itu , " Karena itulah kami mengabdi untuk menyelamatkan jiwanya. Penyakit anak bapak itu berbahaya sekali. Jangan ditambah lagi penderitaan anak itu lagi. Saya hampi marah kepada semua suster yang memberi peluang sampai bapak masuk tadi ".

Daud menundukkan kepala . Dia menangis. Suaranya terisak-isak , " Pernahkah dokter menyayangi anak ? Pernahkah dokter begini ? saying kepada anak anda seperti saya ini ? "

" Dokter itu tertegun . Tapi ia mempu memberi jawaban " Saya punya anak lima , pak Daud waitulo. Saya menyayangi anak2 saya. Kira2 sama seperti pak Daud juga . Tapi jika anda sayang kepada anak anda, tentulah anda tidak mau menambah beban penyakit barunya ".

' Baiklah", kata Daud dengan lesu dan melihat resep yang diberikan dokter itu, " Terimakasih atas pemeliharaan anda pada penyakit anakku ".

' Maafkan kami , pak Daud ", kata dokter itu, " Oh, ya disini ada Apotik .

Lewat dari koridor kiri terus ada tanggan keatas, disana itu ".

" Terima kasih ", kata Daud dengan lesu.

Daud meninggalkan rumah sakit itu setelah mengambil obat , dengan fikiran runtuh. Ia sampai lupa menemui Meisake.

Meiske pulang kerumah jam 8 malam , ketika Daud barusan meminum obatnya. Meiske berusaha bercakap santai : " tadi betul2 repot semua suster, bang Daud. Saya juga tidak tahu bang Daud dapat flu. Pembicaraan disana tadi perihal keteledoran suster memberi ijin bang Daud masuk ".

" Kau sendiri bagaimana ? " Tanya Daud pada Meiske.

" Saya sudah diberikan bermacam2 suntikan kekebalan ", kata Meiske, " Dan tadi saya diberi faccinasi anti flu dan dua injeksi lainnya lagi dibahu dan dikaki ".

" Mereka begitu teliti ", kata Daud, " Begitu telitinya mereka, sehingga , mereka menganggap Cuma obat2anlah yang dapat menyembuhkan penyakit Delila . Padahal kukira Delila bisa sembuh dalam pelukanku , dia rindu. Itulah penyakit Delila !".

Meiske menganggap, Daud telah salah kiprah.

Tapi Daud akan bertambah down lagi jika nanti Meiske terus terang bahwa penyakit Delila bukan hanya rindu , tetapi yang lebih berbahaya adalah radang otak .

Dengan suara mengutuk, Meiske mendengar Daud berkata terisak : " Mereka tidak punya perasaan seorang ayah seperti ku ! Mereka ibarat robot yang diperbudak racun2 itu ! Obat itu racun ! Racun ! Akulah obat bagi Delila ! Akulah obat bagi Laila isteriku ! mereka bukan mengobati Delila dan Laila…………..mereka meracuni anak dan isteriku ".

Daud menghempaskan kepala dimeja, dan menangis tersedu. Meiske membujuknya : "Ah, bang Daud rasanya tak boleh menyesali siapapun jua. Sebaiknya bang Daud istirahat. Lepaskan jas itu , gantilah pakaian . Abang jangan mau diseret oleh frustasi jiwa, karena keadaan begini bisa menimpa siapapun jua…."

Daud menyadari ucapan Meiske yang lembut itu. Dia memasuki kamarnya, membuka koffer yang masih digandoli oleh cap2 penerbangan . Dia bersalin pakaian. Lalu berbaring dengan menghimpitkan kepala pada kedua telapak tangannya sebagai bantalan. Fikirannya menerawang, matanya menatap tenang pada plafon tickwood itu.

Terdengar pintu kamarnya diketuk.

Daud menoleh : " Siapa ? "

" Meiske, bang Daud " Suara kedengaran di luar.

" Mau Apa , Meiske ? "

" Makan malam, bang. Saya telah menyiapka coklat susu buat bang Daud ", kata Meiske.

Daud masih juga telentang, tak berubah . daud bertanya : " Kemana Lestina ?"

" Tadi ada dikamarnya , sebentar Meiske lihat ".

Meiske pergi kekamar Lestina. Tapi Lestina meninggalkan sehelai surat : " Kak Meiske ! Lestina pergi kerumah teman. Baru dimarahin sih, LES".

Ketika Meiske keluar dari kamar Lestina, ia berpapasan dengan Daud yang baru keluar dari kamarnya pula, dan Daud bertanya : " Ada ? "

" Munglin pergi ", kata Meiske.

" Tadi dia saya ajari, melawan. Itu yang bikin saya ini pusing. Mungkin dia pergi sebagai protes ! Heran anak-anak sekarang , protesnya pergi, pergi, pergi !

Ketika Daud makan malam, Meiske membantu menyodorka gulai dan menambahkan minuman. Kerinagt Daud mengocor, dan dia bertanya, " Kau yang memasak ? '

" Kenapa, pedas ? " Tanya Meiske.

" Mungkin sudah begitu lama tak merasakan cabe lagi. Tapi enak. Kemana si Lestina ya , apa belum pulang ? "

" Mungkin nginep dirumah temennya ", kata Meiske.

Sampai jauh malam ditunggu Daud, Lestina tidak pulang2 jua.

Episode 53

MALAM MARANGKAK terlambat sekali.

Daud masih mundar mandir masuk kamar , keluar kamar. Meiske sendiri tetap duduk diruang tengah. Melihat kegelisahan Daud, Meiske berkata : " Sudahlah, bang, tidur saja, Nanti bang Daud yang sakit ".

" Saya akan tunggu dia pulang ", kata Daud , " Kalau kau mau tidur pergilah kepaviliun".

" Saya akan tidur dikamar Lestina saja ", kata Meiske berdiri, dan berkata pada Daud : " Saya tidur duluan ya, bang ".

" Ya, selamat malam " ,kata Daud.

" Abang tidur sajalah ", kata Meiske masuk kepintu kamar Lestina. Kemudian gadis itu merebahan dirinya di tempat tidur Lestina. Dia bukan mengantuk. Dia Cuma merebahkan diri terlentang , dengan fikiran mengambang.

Sebenarnya Meiske ingin dapat cerita2 ringan dari America malam ini. Tapi Meiske memperhatikan , konsentrasi Daud kepada adiknya Lestina saja. Tiba2 ketika ia sedang menghayalkan Daud adalah pria idaman bagi setiap wanita, Meiske mendengar pintu diketuk.

Meiske turun dari tempat tidur, dibukanya pintu.

" Ada apa , bang ? " Tanya Meiske.

" Baiknya kita ngobrol2 diruang makan itu sambil menunggu Lestina pulang ", kata Daud.

" Kebetulan, Meiske juga belum ngantuk ", kata Meiske.

" Maaf, saya tidak membawa oleh2 satupun untukmu dari America ", kata Daud.

" Ah, tidak apa-apa ", kata Meiske bahagia.

Ia bahagia, karena inilah yang dinantinya. Ngobrol. Melihat wajah Daud. Tapi tidak sedikitpun ia akan melakukan penghianatan, sekalipun kesempatan begini mungkin Cuma sekali ini . Bagi Meiske, kakLaila terlalu baik , terlalu jahatlah untuk merebut suaminya. Bila Meiske ingin berbincang-bincang begini, itu karna rindunya pada Daud, cintanya yang diam-diam itu, yang tak usah lagi akan terbuhul karena tiadanya harapan.

" Kak Laila mungkin sakitnya agak parah " , kata Meiske.

" Sekarang aku menyesal, Meiske ", kata Daud.

" Bahwa mencari sukses, mencari uang haruslah dibedakan wadahnya dengan mencari kebahagiaan. Apa artinya sukses saya, apa artinya kekayaan saya, jika dua orang yang saya cintai ini ----Laila maupun Delila----hilang dari hidupku ? ".

" Betapapun bang Daud tidak terlalu salah ", kata Meiske, " Penyakit Delila dating tiba2. Penyakit kak Laila adalah rentetan dari hal-hal sebelum Delila jatuh sakit. Saya berdua Lestina sudah putus asa ketika itu ".

" Jadi Lestina ada membantu Laila maupun Delila ketika sakit ? " Tanya Daud.

" Ada bang ",

" Oh--------" , Daud menyesali dirinya ," Lagi2 saya membuat kesalahan. Ketika saya datang, saya pergoki dia dekat pavilyun kamu sana………sedang cium2an. Bayangkan marahnya saya kepadanya. Betapa tidak, kakak iparnya dan ponakannya sedang terbaring sakit ! , Kau yang tidak ada sedikitpun hubungan darah dengan kami, masih punya waktu, bahkan menghabiskan waktumu untuk menolong keluargaku. Dia, si Lestina cium2an dirumah ini "

Meiske mencoba melemparkan senyum ramah, agar marah Daud turn kembali . Dan Daud dibiarkannya saja meneruskan kata2 : " Untung saya punya fikiran waras. Saya tunggu dulu pemuda itu pergi, barulah saya marahi dia. Dan malam ini sebagai protes, dia pergi. Mungkin pergi kerumah pemuda itu ? "

" Pemuda itu kekasih Lestina ", kata Meiske.

" Mungkin----", kata Daud.

" Setahu saya , dia itu yang selalu bersama Lestina", kata Meiske.

" Laila tahu soal ini ? "

" Mereka saya lihat akrab sekali selama kak Laila dan Delila dirumah sakit "kata Meiske, " Tetapi ada Meis peringatkan , agar Lestina menjaga diri dalam pergaulan".

" Ya…", Daud menelan nafas dalam2 , " Saya tidak mau ambil pukul rata setiap pemuda pemudi sekarang. Tidak semua mereka itu berengsek, ia tak mengindahkan moral. Dibanding dengan America, kita masih sedikit bermoral. Tetapi saya'kan tdak bisa kenal betul , mana yang baik da mana yang buruk ? "

" Dari zaman ke zaman tiap generasi memperlihatkan identitasnya,bang ", kata Meiske . " Mngkin zaman bang Daud dan kak Laila berbeda dengan kami ".

" Tarokh lah kamu satu generasi dengan Lestina", kata Daud," Tapi saya lihat kamu , saya lihat seribu kali lebih baik dan lebih bersantun dari Lestina".

Pujian.

Pujian itu seakan – akan menyapu hati Meiske, membuat wajahnya kemerah merahan menahan bangga. Meiske menundukkan kepala , dan berkata lunak: " Terimakasih, bang".

" Terima kasih apa , Meis ? " Tanya Daud.

' Terima kasih atas pujian bang Daud pada diriku" kata Meiske

Episode 54

Daud tersenyum . Meiske dengan lirikan kecil sambil menunduk diam2 menikmati sendiri perasaan bahagianya, tanpa setahu Daud.

" Dimana rumah pemuda itu? " Tanya Daud.

" Meis tidak tahu"

" Celakanya jika dia menginap dirumah pemuda itu ", ujar Daud.

Memang disanalah Lestina malam ini. Lestina sedang memetik gitar, dan seorang lelaki dengan tubuh kerempeng menyanyi lagu " Open Your Heart ", yang suaranya benar2 ditirukan dari suara George Baker , penyanyi aselinya.

" Gue demen suara kamu, yok ", kata Lestina.

" Kalo gua sih demen sama lu ", sahut pemuda kurus itu.

" Kalo gua demen sama tubuh mu yang ceking "kata Lestina.

" Ceking2 jangan dikira kurang vitamin, meck. Ceking2 juga kuat "kata pemuda itu.

" Iya deh, gua ngaku, gua udah ngerasain", kata Lestina.

" Bagus, ayo kita masuk kedalem yuk ? dari pada kedinginan diluar" kata yok.

Yok menghela tangan Lestina, Lestina tidak bersedia.

Kata yok: " Alaaaaah, kamu pake malu2 kayak anak perawan ".

Lestina masih menelag – ngelak, tapi ia mengalah ketika yok berkata : " Ini film midnight show barusan mula'in , paling2 mamah sama papahku pulang nonton jam 3, sebab pasti mereka makan kerang dulu "

Lestina tetap saja tidak mau dan tidak mau sekalipun kini ia telah terbaring tanpa busana dalam pelukan yok. Barulah Lestina bersedia ketika yok memperlihatkan sesuatu dan berkata : " Iya deh , kalau lu mengharus kan gue pake 'jacket' ".

Sementara Yok menggunakan apa yang disebut jacket itu, Lestina berkat " Gua bukan nggak mau apa2 , yok. Gua takut gua hamil kamu tinggalin begitu saja ".

Yok mencium lembut kaki Lestina. Lestina menggelinjang. Diremasnya rambut yok yang keriting itu, dan kemudian, kemudian sekali, diapun menggelepar dengan nafas yang menggebu-gebu.

Angin yang datang dari kipas angin dikamar itu telah membuat Lestina dan yok tidur ketiduran dan pelukan, tapi untunglah pada jam 5 pagi Lestina terbangun lebih dahulu.

Dia mengenakan seluruh pakaiannya dengan lengkap, kemudian bersisir, dan dihapus-hapusnya mukanya sedikit, supaya jangan kelihatan seperti orang bangun tidur.

Lestina menjinjing sepatu keluar dari kamar itu, meniggalkan yok yang masih tidur mati. Ya, dia tidur bagaikan mati.

Hanya babu yang sedang memompa air yang melihat Lestina keluar kamar itu, melucu bagai maling yang tidak kesiangan.

Didepan rumah yok masih berkumpul tukang becak.

Lestina menawar becak, dan dengan naik becak itu dia pulang. Uadara yang dingin membuat lestina merogoh - rogoh tas, dan dia menemukan dua batang rokok Dji sam soe . Lestina merokok, dan rokok itu dimatikan tepat ketika ia sampai didepan rumah. Dia mengambil kunci dari sebuah tempat kunci yang khusus yakni disatu lobang pohon samping. Pintu dibukanya lambat2 setelah dijinjingnya sepatu. Lestina berjingkat-jingkat menuju kamarnya. Tapi aneh kamarnya terkunci. Tiba2 Lestina menduga, jangan2 bang Daud sudah berduaan dengan Meiske dikamar itu ! Bah ! Perlahan-lahan Lestina mau menjebak. Dia mengetuk pintu itu.

Rupanya Meiske baru hampir tidur ketika pintu didengarnya diketuk perlahan. Meiske kuatir yang mengetuknya itu bang Daud. Meiske tahu, Daud itu pria yang benar2 mencintai anak dan isterinya, tapi siapa tahu ia merniat buruk dimalam ini ? .

Meiske menyelidik, tetapi tidak ada lubang. Yang didengarnya suara bisikan :

" Buka, buka pintu ".

Meiske yakin suara itu bukan suara Daud. Karena itu dibukanya pintu. Meiske kaget : " Jam berapa ini ? "

" Jam lima ", dan memberi isyarat telunjuk dirapatkan ke mulut. Hati-hati Lestina masauk , dan menarok sepatu yang dijinjingnya. Dia merebah kan diri diatas tempat tidur. Katanya berbisik : " Saya kira kamu tadi tidur berdua………."

Meiske mencubit paha Lestina. Kesal dia berbisik : " Berdua siapa hayo ? "

" Saya kira berdua kak Daud ", kata Lestina. Dan Meiske mencubitnya lagi.

" Eh, " bisik Lestina pada Meiske, " Kaalau pagi2 nanti bang Daud Tanya, bilang Lestina pulang tadi malam. Tadi malam kalian tidur jam berapa sih ? .

" Jam 12 lebih dikit " kata Meiske, " Kami Cuma ngobrol2 . Tetapi kamu harus jangan melawan bang Daud. Kalau dia marah, tundukkan saja kepalamu, Lestina. Fikirannya lagi kacau. Kalau dapat ambillah hatinya. Sering2lah membezoek kak Laila dan Delila. Dan pemuda teman mu itu jangan diberi hati untuk datang kesini ".

" Abis, kalau betul2 pacar mau diapain ? bang Daud itu kunooooooo', bisik Lestina menahan ketawa.

Lalu dia tidur.

Pagi itu Meiske tidak meneruskan tidur, melainkan menyiapkan masakan untuk sarapan pagi bang Daud, juga membuatkan kopi. Untuk tidur memang dirasanya tanggung sekali.

Meiske buru – buru sarapan pagi duluan, begitupun ia mandi air panas agar tidak puyeng , dan mencuci pakaian kotor. Tanpa diduganya Daud terdengar menegornya: " Eh, pakaian bang Daud itu biar masuk binatu saja, Meis ".

" Ah, selagi meis bisa nyuci apa salahnya, bang " kata Meiske,

Meiske berkata lagi: " Itu buat sarapan pagi sudah tersedia, bang. Saya sengaja tidak bikin kopi, melainkan di thermos saja, karna saya kira abang bangun terlambat, bang ".

Daud masuk kamar mandi : " Saya pagi ini akan berusaha menemui dokter . Saya sehat setelah disuntik dokter kemarin itu ". Dan Daud pun pergi mandi.

Meiske sudah selesai mencuci dan menjemur pakaian . Lalu ia pergi ke pavilyun dan berbenah untuk pergi kuliah . Ketika ia kembali keruang tengah, didapatkannya Daud sudah sarapan.

" Eh, Meis ! Kamu sudah sarapan ? "

" Maaf saya duluan saja. Pagi ini saya mau mendaftar untuk ujian ", kata Meiske.

Meiske pergi kuliah , Daud memeriksa seluruh ruangan terlebih dahulu sebelum meninggalkan rumah . Ia heran karna dilihatnya ada Lestina sedang tidur memeluk bantal guling. Ia akan marah, tidak jadi. Ia Cuma membangunkan Lestina dan berkata bahwa dia mau pergi kerumah sakit.

" Les ikut !" , kata Lestina, " Lestina sudah kangen sama Delila ! "

Mereka berdua mendapatkan Delila dalm keadaan kritis. Dokter memberitahu bahwa Daud bisa menemui Laila dua hari lagi, yang membuat Daud tersenyum berairmata…..karena Delila makin menghawatirkan !.

Episode 55

DAUD WAITULO menjadi orang yang tidak tenang. Wajahnya menjadi kecut melihat krisis yang menggerayangi anaknya itu. Tetapi berbeda sekali dengan Laila.

Ia berusaha melawan krisis dalam dirinya sendiri begitu Daud muncul. Hatinya sangat sendu melihat Daud yang terpaksa kembali dari America, dan dalam keadaan masih sakit, karena itu keinginannya untuk segera sembuh betul - betul menolongnya..

Ia sembuh. Ia betul2 merasa dirinya kuat.

Dokter2 sendiri tidak mau mengatakan apa penyakit yang diderita sebenarnya oleh Laila. Tapi mereka kagum oleh sikap2 khusus yang yang agung yang diperlihatkan Laila.

" Mungkin suasana rumah sakit ini yang tidak sesuai dengan penyakit Laila ", kata Daud tiba2 kepada kepala tem dokter yang khusus menangani masalah Delila.

" Kami berpendapat begitu juga ", kata dokter itu ," Tapi kami tidak bisa memaksa anda supaya anak ini dioperasi "

" Berilah kami waktu untuk menyenangi hatinya sementara dirumah kami ", kata Daud berhiba-hiba.

" Sebenarnya tidak sulit untuk mengulur waktunya, asal seimbang antara kecewa dan kegembiraannya ", kata dokter itu, " Tapi mengulur waktunya terlalu lama tidaklah baik. Kami tetap punya saran , supaya darah beku dikepalanya dibuang saja. Pekerjaan itu ringan dan kami selalu sukses ".

" Sementara Delila kami bawa kerumah, saya akan mempertimbangkan waktu yang baik untuk pembedahan itu ', kata Daud.

Daud sebagai orang menghadapi buah simalakama.

Serba salah . Tapi hati kecilnya yakin, bahwa Delila bisa diatasi di rumah. Maka ia membawanya kerumah, dan ia memperingatkan siapapun di rumah itu supaya memelihara suasana.

" Kita harus menciptakan satu suasana ", kata Daud, " Sedikit saja suasana tidak favourable bagi Delila, maka kita jelas akan kehilangan dia ".

Daud ketika itu seolah olah lebih baik memilih kehilangan pekerjaan sama sekali dari pada kehilangan Delila.

President Direktur perusahaan itu terkejut ketika mendengar Daud berkata:

" Saya mohon berhenti karena alasan2 pribadi ".

" Lho, kami heran sekali "

" Alasan yang buat tuan2 disini mungkin tidak begitu berarti. Karna saya musti menunggui anak saya yang sakit. Hanya sayalah obatnya " , kata Daud.

" Kami heran karna itu saja anda minta berhenti ", kata president direktur.

" Kami kira anda belum pernah minta cuti. Kecuali cuti pendek waktu perkawinan dulu . Apa salahnya kau mohon cuti panjang , misalnya tiga bulan ? "

Daud merasa segar, ia rasa tiga bulan cukup waktunya untuk menciptakan suasana sehat bagi Delila untuk memasuki tahap pembedahan kepala. Ia tersenyum.

Senyum terharu.

' Terima kasih , pak. Saya segera ajukan permohonan cuti tiga bulan itu ", kata Daud menghela nafas lega. Hari itu juga ia mengajukan cuti, hari itu juga ia mulai istirahat panjangnya dirumah, tanpa perlu memikirkan urusan kantor.

Malam itu hatinya sangat lega, dan ia bisa tidur dengan puas . Ia sendiri berobat pada dokter yang sengaja dimintanyadatang kerumah untuk menciptakan suasana rumah sakit yang mungkin tak lama lagi pun akan dimasuki Delila.

Suasana rumah itu benar-benar didukung oleh penghuni2nya dengan sangat baik. Tidak ada seseorang pun yang membuat lagu sumbang dari simponi menjelang maut ini.

' Aku tiba2 yakin bahwa Delila tokoh akan meninggalkan kita ", kata Daud, " Sekarang kita harus dengan sadar mempersiapkan diri untuk kesedihan yang tidak kita harapkan ".

Laila menangis mendengar itu. Tapi Daud berkata : " Kenapa kau harus menangis. Kita harus siap untuk melepaskan selama- lamanya. Bukan kita yang bersalah ".

" Aku merasa bersalah ", kata Laila.

" Kenapa kau merasa berslah ? Kau telah berbakti untuk memperpanjang nyawanya. Kau sedang sakit , tapi kau berjuang untuk segera sembuh, untuk memberi spirit hidup bagi Delila ".

" Aku bersalah ketika kau berada di America. Aku terlalu emosi ketika membaca surat khabar yang memberitahukan jatuhnya pesawat United di Boston " kata Laila, " Dari mulut ku terlompat seruan bahwa kau tewas ! ".

Episode 56

Daud menghela nafas dalam2 . Ia tidak tahu akan hal ini. Ia tidak mau Laila merasa dirinya berdosa. Karena itu ia berkata ; ' Yang salah itu aku. Mengapa aku tidak memberi tahukan bahwa aku sakit. Aku berdiam diri ". " Aku tahu kau diam karna tak mau mencemaskan diriku memberitahukan kau sakit ", kata Laila. " Maka sekarang kita lupakan yang lewat-lewat itu", kata Daud. " Setujukah mas Daud pembedahan otak yang akan dijalani Delilla ? " " Setuju ". " Aku tidak setuju ", kata Laila menangis ," Aku takut gagal ". " Tapi tidak dibedah pun berbahaya, karna ini pasti tumor otak. Dokter2 berkata ada daging harus dibuang. Daging itu daging hidup. Ia akan membesar terus. Dan ini mengganggu syaraf Delila ". " Oh, mas kalau demikian kau benar. Kita harus siap untuk menerima kematian sayang kita itu. Sedngkan selama ini aku tidak mungkin untuk melahirkan lagi ". " Itu soal yang tak perlu diomong2kan sekarang ", kata Daud. " Aku mulai sulit untuk tidur ", kata Laila. " Karena apa lagi, Laila ", kata Daud menciumi isterinya dengan sayang. " Aneh perasaan bersalah itu masih memenuhi otakku . Delila seringkali ngelamun sejak kau pergi. Ia tambah sering ngelamun setelah aku terlanjur senewen mendengar adanya pesawat jatuh. Delila pernah cerita, ia mimpi pesawat terbangnya jatuh diatas salju. Ia pernah nonton film televisi dan ia menyebut : " Itu, tempat pesawat terbang Delila jatuh, diatas yang putih-putih itu ". Aku menjelaskan itu salju. Aku benar-benar tak tahu, mungkin itu suatu pertanda menghadapi detik – detik sedih ini ". Daud memutuskan dengan tegas: " Kita habiskan cerita itu semua, kita tidur ". Laila mematuhi. Mereka tidur berdekap-dekapan , dan memang bisa tidur dengan nyenyaknya. Daud tak sempat bangun pagi , ketika ia dapatkan Delila sudah ngobrol2 dengan boneka yang dibawa Daud. Delila berbuat seolah – olah ia bu guru. " Hei anak2 semuanya diam , karena si Titi akan memyanyi. Hayo, Titi, maju maju kedepan , bu guru nanti akan ponten seratus ", kata Delila. Yang dimaksud Titi adalah boneka itu. Boneka2 lain duduk dikursi. Titi si boneka dibawa Delila ke 'depan kelas'. " Nah titimulai menyanyi, ya ? anak – anak diam semua ", kata Delila. Ia menyetel kunci diperut boneka itu, dan boneka itu mulai memperdengar kan sebuah lagu inggris. Delila menggoyang goyangkan kepalanya mengikuti irama lagu yang dinyanyikan oleh boneka itu. Ia memang bukan saja anak yang cerdas, tetapi berjiwa musical. Bahkan ia bisa hafal sedikit2 lagu inggris itu. ' Nah , anak – anak . Ini si titi orang America . Tahu kamu dimana America?" Delila menyahuti sendiri seolah-olah itu suara murid2 : " Tidak tahu, bu guru. Dimana America bu guru ? " " America itu dilangit ", kata Delila. " Kalau kamu ke America, kamu musti kelangit. Delila sebentar lagi mau diajak ke America. Kelangit ". Laila menoleh kepada Daud mendengar kata-kata itu, kata2 firasat kematian. Daud menyadari juga, tetapi ia bersikap tenang melihat sikap Laila isterinya. Ia teneg2 seperti ia tak tahu arti firasat. " Nah, anak-anak sekarang Delila mau ajak anak2 kelangit ", kata Delila. Laila segera mendekati Delila. Daud akan mencegahnya. Tapi Laila terlanjur berkata : " Jangan cerita –cerita kelangit ya, Del ? " Karena dilarang, Delila ngambek. Ia berubah murung. Untuk pertama kali suasana jadi rusak. Delila ngambek : " Del benci sama mama , deh. Nggak mau maen sekolahan lagi ". " Hayo maen terrus saja Delila ", kata Daud membujuk, dan berlagak memukul Laila , ia berkata: " Mama nakal, hayo main sama papa ". Sifat kolokannya yang ditakuti Laila selama ini muncul. Delila malahan tak mau main anak – anakan lagi. Pada malam hari, ia hanya mau tidur didekapi Daud. Laila berlagak tak tahu, dan benar2 merasa bersalah. Ia tak ikut campur. Ia hanya mendengarkan Delila berkata-kata pada papanya. " Papa……….ada apa sih dilangit ?" Laila mulai gusar, karna soal langit lagi, dan firasat kematian lagi. " Dilangit ada bulan, ada matahari, ada bintang ", kata Daud. " Delila kepingin ke bintang " " Ya……" " Tapi kenapa mama nakal nggak boleh cerita langit ? " Tanya Delila. " Mama bodoh, nggak tau bahwa langit itu indah dan bagus ". " Papa………", kata Delila puas " Delila kepingin tidur , papa ". " Ya, sayang. Papa akan menyanyikan lagu untuk Delila",kata Daud. " Ya, Papa. Nyanyikan lagu bintang kecil, papa. Papa tahu nyanyi itu , papa ? Bintang kecil yang ada langitnya. Dan dengan penuh perasaan , Daud menyanyikan lagu bintang kecil yang diminta Delila. Delila mendengarkannya , tapi tidak sampai lagu itu selesai. Suatu keanehan terjadi, keesokan paginya Delila tidak bangun seperti pagi selama bulan ini. Ia kesiangan. Mulanya tidak menjadi perhatian Daud. Bahkan Daud melarang ketika isterinya mau membangunkan anak tunggal mereka. " Badannya panas ? " Tanya Daud. " Tidak, biasa saja". Kata Laila. Daud ikut memeriksa. Biasa saja. Normal , itu berarti Delila tidak sakit . Tetapi setelah jam 10 siang Delila masih tidur juga, Laila menatap Daud dengan cemas. Daud tenang, dan ia berkata : " Mungkin tidurnya ini menebus kurang tidurnya yang dulu-dulu. Atau ia lelah sekali ". Cerita Lain:

Episode 57

Laila mengeluh : " Aku menyesal kemarin melarangnya berkhayal tentang langit itu, sesungguhnya kita sudah pasrah hari2 terakhir ini ".

" Berhentilah menyesal. Berhentilah bicara ", kata Daud agak jengkel. Daud memegang dada Delila. Dan ia puas dada itu bergerak tanda ia bernafas.

Tapi pegangan Daud itu diketahui Delila. Ia bersuara lemah :

" Papa………"

" Ya , sayang. Ini papa ".

" Delila mau main lagi " katanya.

" Tidak ngantuk lagi ? "

" Mau main sekolahan lagi", kata Delila.

Tapi biarpun sudah membuka mata , Delila tidak bangun, Daud heran, Daud menoleh pada Laila, yang melihat mata Delila sudah tak sanggup lagi . Mata itu bening dan tak bersinar.

" Hayo bangun ", kata Daud.

Delila berbisik: " Tidak bisa bangun, papa ".

" Kalau begitu tidur saja ", kata Daud.

" Naggak. Delila mau main. Nggak mau tidur ", kata Delila.

Daud membujuk: " Kalau begitu papa gendong ? ".

" Ya " kata Delila, " Tapi sekali ini mainannya di sekolahan betul2an ya, papa? "

Daud menoleh pada Laila, Laila melarang.

" Bagaimana kalau mama pura2 jadi ibu guru ", kata Daud menolak halus.

" Nggak, mau main disekolahan sama2 si Marni, sama si Boy. Si Boy bandel , deh. Suka mintain duit kita ".

" Nah, kalau begitu bu guru dipanggil kesini ? "

" Nggak mau , ah . Del ingin sekolah ", kata Delila.

Daud menatap Laila. Mereka berdua bersetuju tanpa syarat untuk membawa Delila kesekolahnya.

Daud berrkata : " Biar Delila gendong sama mama dulu , salin pakaian dulu, sementara papa mengeluarkan mobil ".

" Tapi papa………." , kata Delila tiba-tiba," Nggak usah, ah "

" Kenapa ? " Tanya ibunya.

" Papa sama mama rupanya nggak boleh Delila kesekolah ", kata Delila.

Meiske yang akan menangis melihat hal itu , segera menyeret Lestina ke kamar Lestina yang rupanya tidak bisa menahan sedihnya.

" Papa dan mama nggak marah Delila mau pergi sekolah ", kata sang ibu, " Malahan kami senang ".

" Nggak ah. Malu sama teman2 . Delila tukang bolos ", katanya.

" Nggak apa-apa . Salin pakaian, ya?"

" Ya . Tapi pakaian yang dari America , dari langit ", kata Delila

Laila selaku ibu yang tabah, sebenarnya sudah tak tahan lagi mendengar kata2 firasat kematian itu. Ia tetap tabah melawan rasa sedihnya. Ia carikan pakaian yang dibawa Daud. Begitu Delila melihat warna putih, Delila berkata : " Nah, itu mama, pakaian bidadari. Pakaian dari langit. Kata bu guru , bidadari ada dilangit. Delila pingin deh jadi bidadari ".

IA menarik nafas. Ibunya tersenyum kepadanya, dan Delila bertanya : " Boleh mama…….Delila jadi bidadari ? "

" Boleh sayang ", kata Laila.

Laila tak sadar bahwa ia membendung air matanya. Tapi ia tak tahu. Ia baru tahu setelah Delila berkata : " Idih, mama nangis , ya ? "

Ibu itu menghapus air matanya dengan segera, dan menggantinya dengan senyum. Sementera itu Delila meminta lagi agar ibunya berpakaian putih juga .

Terpaksalah Laila mengabulkannya denga hati yang amat berat.

Muncul Daud : " Sudah selesai ! Aduuuuuuh , bagus nya anak papa ! ".

Laila menyerahkan anak itu ketangan suaminya. Daud menggendong Delila. Ketika dalam gendongan Daud, anak itu mendekap ayahnya.

" Papa…… ", katanya.

" Ada apa, manis ? "

" Nggak kesekolah ah. Kedokter saja ", kata Delila.

" Ada yang sakit ? ", Tanya Daud.

" Delila mau mati dirumah sakit saja, papa. Barangkali Delila mau mati, sebab kepala sakit lagi, papa. Aduh, papa. Cium Delila, papa……"

Daud menciumi anaknya. Laila menahan airmatanya, tapi tak sanggup.

Daud menciuminya, dan Laila pun menciuminya.

" Delila…….."

" Mama………mama mana ? Bolehkah Delila ke langit mama ? "

" Boleh, sayang ", kata Laila.

" Cium lagi Delila , mama. Delila mau ke langit, mama.Itu langitnya bagus mama ".

" Ya, sayang ", kata Laila.

" Pergilah kesana, sayang ", kata Daud dengan suara pasrah.

" Selamat tinggal papa…..selamat tinggal mama …..", kata Delila dengan dekapan kuat gendongan ayahnya. Wajahnya semakin pucat , tapi melepaskan raut raut yang manis sekali.

" Delila…………." , ujar sang ibu.

Tak ada sahutan. Daud melihat wajah anaknya. Ia benar2 bertahan untuk melawan kesedihan ini.

" Oh, Delila anak mama……..!" seru Laila meraih tubuh anaknya yang telah wafaat itu dari tangan Daud suaminya.

" Delila……..Delilaku , saying. Ini semua salah mama ", kata Laila.

Semua menundukkan kepala didepan pusara Delila ketika anak itu dikuburkan . Teman – teman sekelasnya , serta Bu guru kesayangannya hadir dalam penguburan itu. Daud berkata pada Bu guru dengan bertetesan air mata : " Ketika ia bangun, ia minta sekolah . Ia malu membolos . ia ingin sekolah. Kami sebetulnya sudah mau menbawa kesekolah ibu. Tapi rupanya ia tahu ajal telah memanggilnya, ia minta ke dokter ".

" Ia anak yang pintar ", kata Bu guru.

" Itu selalu disebutnya sebagai kebanggaan ", kata Laila kepada Bu Guru.

Berhari-hari setelah kematian Delila. Seisi rumah suka membicarakan hal2 yang berkesan pada diri anak itu.

Episode 58

BAHKAN bukan berhari – hari kemudian, tetapi berbulan – bulan kemudian. Kisah Delila dimasa lampau, yang indah , sering diulang – ulang Laila dan Daud.

" Sayang kita Cuma diizinkan punya satu anak ", kata Laila.

" Jangan menyesali diri lagi", kata Daud.

" Tetapi biarpun satu, ia ibarat permata ratu. Apakah yang akan kita perbuat pada hari ulang tahun nya kali ini , mas ? "

" Ulang tahun ? " Tanya Daud heran.

" Ya, ulang tahun pertama kematian Delila ", kata Laila.

Daud membelai rambut isterinya. Ia takut laila menangis, dan karena itu dia bertanya : " Kau punya rencana apa ? "

" Aku akan menjual gelang dan kalung ku ", kata Laila.

Aneh sekali ucapan Laila. Dia tidak ingin mencegah, tapi bertanya: " Setelah kau jual, untuk apa ? "

" Kufikir aku tokh tidak akan memakainya tahun depan ", kata Laila," Maka lebih baik kujual ".

" Laila, kau jangan ngomong ngawur ", cegah Daud.

Laila memeluk Daud : " Oh, Daud. Buat apa barang2 emas ? akan kubawa mati ? percuma kalung dan gelang itu semua. Lebih baik kujual. Percayalah , tahun depan aku tidak akan memakainya lagi, karna aku telah bersama Delila ".

Daud menundukkan kepala. Kesehatan Laila memang menurun. Tetapi itu sudah terang. Kesehatan Daud pun menurun pula, karna semua terpulang pada duka cita musibah kematian Delila.

" Uang penjualan kalung akan kubelikan marmer untuk nisan Delila ", kata Laila.

" Laila ! ", peluk Daud seakan – akan mau menutup mulut isterinya.

" Itu sebagai lambang, bahwa aku selalu menyayanyi Delila, bagai wanita sayang pada kalung yang tergantung dilehernya senantiasa ".

" Laila, marilah kita tidur , sayangku ", kata Daud. Daud pun menitikkan air mata.

" Uang penjualan gelang, akan kubelikan batu pualam untuk nisan ku sendiri ", kata Laila.

Daud akan mencegah Laila , tapi lidahnya kelu. Laila bicara lagi : " Kau tahu, hanya satu permintaanku. Yaitu kata2 yang pernah kau ucapkan kepada Meiske ".

Daud jadi gugup . Laila meneduhkan kegugupan Daud. Kata Laila : " Sungguh mulia ucapanmu itu. Aku bangga memdengar cerita mieske, ketika aku didalam kamar bersalin, Meiske cerita, kau begitu keras kepala tidak mau disuruh pulang oleh suster, juga tidak mau diajak pulang oleh Lestina dan Meiske. Ingatlah, ketika itu kau benar2 bangga berkata pada suster, pada Lestina dan mieske ! Aku bangga kau mencintaiku dengan ucapan agung itu. Katamu : " Cinta sejati tidak mengenal lelah , tidak mengenal istirahat, karna cinta sejati adalah suatu totalitas……..kata2mu itu akan ku bawa mati, mas ".

Daud meneteskan air mata. Suami isteri itu bertangisan. Bagi Laila, ia tinggal menanti mati akan menjemputnya. Tetapi bagi Daud, ia teringat mimpinya ketika ia menunggu diruang tunggu itu. Yaitu kematian Laila.

" Tahukah kau sejak kapan aku sungguh-sungguh bahagia di sampingmu ? ", Tanya Laila.

" Sejak mula pertama kita bercinta ", kata Daud.

" Tidak ", kata laila, " Tapi sejak Meiske menceritakan tentang kecemasanmu diruang tunggu. Ia terus terang mengagumimu. Ia pun gadis yang agung. Hanya Meiske yang mampu menggantikan diriku sebagai orang yang bebar2 bisa mencintaimu ", ujar Laila.

" Jangan kau fikirkan orang lain ", kata Daud , " Kuminta dari lubuk hatimu ".

Laila malam itu dipeluk mesra oleh Daud. Bila pagi tiba, Daud akan pergi kekantor, agak mencemaskan kesehatan Laila.

" Pergilah. Laila tidak akan mati tanpa dalam pelukanmu ", kata Laila

Episode 59

Daud pergi dengan bimbang. Sebelum ia melangkah masuk mobil, ia memesan pada Meiske : " Jagalah kak Laila baik – baik, Meiske , Kesehatannya makin turun ".

Dan Meiske menjaga Laila sebaik-baiknya. Laila menatap meiske. Wajahnya yang pucat itu bagai sinar yang akan padam. Tetapi bila Meiske melihat bola mata Laila, bola mata itu masih bersinar, bercahaya.

" Duduklah lebih dekat lagi, Meiske ", kata Laila .

"Duduklah disampingku. Kakak akan mengatakan sesuatu yang amat suci dari lubuk hatiku. Kau tahu, kakak melihat mas Daud betul2 kehilangan habis2an setelah kematian Delila. Saya sendiri tampaknya menderita komplikasi tekanan darah rendah, komplikasi jantung, dan lever barangkali. Apakah kau tak melihat Daud sebenarnya menahan keparahan deritanya, meis ? "

" Ya, saya melihatnya juga , kak "

' Kau tahu, dulu ia ingin sekali punya anak. Tapi satu2nya yang tunggal itu telah pergi. Aku ingin melahirkan , tapi kandungan sudah tertutup. Aku rasa ia akan semakin menyesali kehidupan ini ".

Meiske menelan sedih mendengarnya. Air matanya berlinang. Llu Laila berucap lagi ; " Rasanya kaka akan segera menyusul Delila. Kalau ini terjadi, Daud akan kehilangan seorang yang baik disisinya ".

" Kakak lebih baik istirahat ", kata Meiske.

" Tidak, kutahan sakit ini sampai saat ini. Karena keinginanku hanyalah mati. Kuminta, kalau kau ikhlas, maukah kau menemani hidupnya………."

Meiske meraih Laila dengan sepenuh rasa sedih, dan berkata terisak : " Jangan berkata begitu, kak Laila. Marilah ke dokter saja ! "

Usaha Meiske membujuk gagal . Ia meremas-remas jari2 tangan meiske : " Tahukah, aku sudah betul2 parah saat ini. Ajalku sudah amat dekat, Meis. Kuminta sungguh2 , demi Tuhan , dengan hati ikhlas kuminta kau temani hidup mas Daud. Berilah anak yang sebaik Delila kepadanya…….".

Aneh ! memang wajah kak Laila memperlihatkan gejala yang amat cepat menurun, padahal selama ini ia kelihatan seperti sakit biasa saja, tanpa keluhan2 .

Meiske segera buru2 menelpon Daud yang berada dikantor. Daud segera pulang. Ia amat panik melihat isterinya dalam keadaan amat krisis. Dipeluknya Laila erat2 , yg pada saat itu sudah berada antara sadar dan tiada. Tapi Laila masih terdengar kata2 ,

Sekalipun lidahnya kelu: " Mas. Maafkan Laila, mas . Laila tak kuat lagi untuk hidup, mas. Cuma Laila meminta sesuatu , sebagai permintaan terakhir kali, mas………..Mas……..!"

" Katakan permintaanmu ! " , seru Daud. Laila tak bisa berkata. Mata yang sayu itu menatap pada meiske. Meiske tak tahan untuk memeluk Laila kuat2 seketika itu juga.

Daud terpana ketika dilihatnya nafas itu berhenti bergerak didada isterinya.

Laila nenar2 telah meninggal dengan amat tenang. Setenag ketika Delila meninggalkan dunia ini untuk selama lamanya. Daud menangis sepanjang malam pada saat – saat jenazah diletakkan diruang tengah.

Didepan jenazah Laila, bukan saja Daud yang menangis, tapi juga Meiske, juga Lestina . Dan yang paling tak diduga adalah ibu dan ayah Laila hadir didepan jenazah itu dengan menangis pula. Sarita adik Laila , paling sedih saat itu !.

" Tak ada orang tua yang tak mengampuni kesalahan anaknya ", kata ibu Laila.

Daud memberikan sepucuk surat yang ditulis oleh Laila menjelang wafatnya. Sang ibu terkejut, bertanya : " Ia sudah tahu saat2 kematiannya ? ".

" Kira – kira begitulah ", kata Daud.

Sampul surat itu di buka oleh ibu Laila.

" Ibu dan Ayah tercinta.

Adikku Sarita tersayang,

Laila memohon ampunan ibu dan adikku,

karna ajal rasanya sudah akan Memanggil Laila.

Bersama ini Laila titipkan seuntai kalung pemberian ibu ketika Laila masih kecil. Dan gelang pemberian Ayah ketika Laila lulus SMP. Hampir saja dua barang berhaga ini Laila jual, Kalung untuk pembelian marmer untuk cucu ayah ibu yang bernama Delila yang tak pernah ayah dan ibu lihat. Gelang akan laila jual untuk pembelian pualam untuk nisan Laila sendiri Karena barang2 ini pemberian ibu dengan setulus sayang dan pemberian ayah dengan setulus kasih, maka laila kembalikan bersama ini . ini untuk menjadi kenangan ayah dan ibu , bahwa ayah dan ibu dulu pernah mencintai Laila selaku anak kandung.

Agar kepergian Laila ke alam baga dapat dengan tenang, sekali lagi ampunilah Laila. Kalau sempat , ayah dan ibu menyarankan kepada mas Daud agar ia mencri isteri setelah Laila meninggal. Jika dapat dipengaruhi, tunjuklah si Meiske sebagai calonnya. Tetapi jika tidak, terserah padanya. Jika ayah dan ibu ada waktu , tolonglah bersihkan kuburan ananda dan juga cucunda Delila. Selamat tinggal Ayah Bunda tersayang. Selamat tinggal Adikku Sarita tersayang.

LAILA

Episode 60

Air mata bunda itu berderai, juga airmata sang ayah. Keduanya berunding ketika Daud menyerahkan kalung dan gelang emas kepada orang tua itu. Kata ibu Laila kemudian:" Nisan marmer untuk cucu kami dan anak kami , biarlah kami yang membuatkannya. Kapan2 kami akan kesini lagi setelah penguburan ".

" Ada pesan Laila lagi ", kata Daud, " Yaitu dituliskannya kata2 kenangan dibawah tanggal kematiannya itu nanti ".

Beberapa bulan setelah kematian Laila, nisan marmer itu dipasang bersama dengan nisan untuk Delila. Pada nisan marmer kuburan laila selain tertera nama dan tanggal wafatnya , juga dibawahnya tertera kata – kata :

Cinta sejati tidak kenal lelah dan istirahat , karna cinta sejati adalah suatu totalitas.

Bila Daud berziarah membaca kata2 itu, Daud menangis tersedu – sedu .

Daud berpendapat bukankah Laila benar2 lambang kasih sayang yg sempurna ?

Ibu Laila berusaha membujuk Daud untuk membaca untuk membaca kembali pesan Laila tentang Meiske. Daud dengan suara yang hampir tak kedengaran berkata :

" Mungkin sampai saya pun meninggalkan dunia in menyusul Laila dan Delila, saya tidak akan menemukan lagi wanita yg sebaik dan setulus Laila anak ibu.

Biasanya , sehabis ziarah kekuburan Laila, Daud menitikkan air mata lagi menjelang tidur.

Bukan pada saat itu saja.Ada saat2 tertentu ia menangis mengenang Laila.

Pada saat ziarah kekuburan Laila, ia juga tak kuasa menitikkan air mata, sekalipun itu adalah 3 tahun setelah Laila meninggal. Meiske kadangkala bertemu dengan Daud dipekuburan, kebetulan sekali, menjelang hari lebaran. Daud heran, mengapa Meiske masih tahan untuk meneruskan hidupnya sebagai perawan tua. Ia tidak bertanya. Malahan ia begitu tak acuh, ketika ayah dan ibunya menganjurkan agar kawin saja dengan Meiske. Daud berkata : " maafkan, papa dan mama, saya hanya ingin hidup sekali dengan satu wanita. Dia adalah Laila ".

Meiske dianjurkan juga untuk mendekati Daud oleh ayah dan ibunya sendiri. Tetapi Meiske teringat kebaikan2 kak Laila yang tiada bertara dimuka bumi ini bagai kebaikan orang2 yang seharusnya menghuni surga . Meiske tidak mengatakan ia menolak anjuran itu. Ia hanya berkata dalam hati:" Tidak . Kini tidak. Kapan-kapan pun tidak ". Ia tidak ingin kehilangan kenangan yg murni dari Laila. Ia tak ingin menodai hal2 yang indah dimasa silam, sekalipun sebenarnya ia mencintai Daud dengan murni pula, sehingga saat ini. Adalah saat2 yang paling indah bagi Meiske dalam hidupnya Makin hari makin dikenang, akan semakin indah saat2 yang indah bersama kak Laila.

T A M A T

0 Response to "Cintaku Selalu Padamu II"

Post a Comment