Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Cinderella Jakarta

CINDERELLA JAKARTA

Penulis: Zaenal Radar T

Lukisan Elliza

ELLIZA gemar melukis, terutama melukis wajah cowok yang ditaksirnya. Bila Elliza melihat cowok yang disukai di sekolah maupun di jalan maka ia simpan sketsa wajah cowok itu di benaknya. Setibanya di rumah, barulah ia tuangkan ke kanvas.

Seperti malam itu. Elliza baru saja melukis wajah seorang cowok yang ia lihat di sebuah taman. Cowok itu Elliza temukan di sebuah kursi taman saat ia pulang sekolah. Ketika melintasi taman itu, wajahnya sempat beradu pandang dengan wajah si cowok.Sekilas senyum si cowok mengembang, hingga membekas dalam ingatan Elliza. Senyum cowok itu begitu manis, semanis susu rasa stroberi yang sering disediakan mama di rumah.

Sayangnya,cowok di taman itu duduk berdua dengan seorang cewek. Entah siapa cewek yang duduk bersanding dengan cowok itu. Mungkin adiknya, sodaranya, teman sekolahnya, atau …?

Ah,Elliza enggan berpikir yang nggak-nggak! Ia nggak mau termakan perasaan. Melenyapkan rasa cemburu yang tiba-tiba menghampiri jiwanya. Kemudian,Elliza mengandaikan cowok di bangku taman itu masih sendirian, dan senyumnya itu memberikan

tanda bahwa si cowok sangat mengharapkan kenal dengan Elliza.

Elliza pernah punya pengalaman tentang seorang cowok yang duduk berduaan dengan seorang cewek. Kala itu, cowok yang Elliza lihat duduk berdua dengan seorang cewek, kemudian cowok itu mendekati Elliza untuk berkenalan.Tetapi, Elliza menolaknya. Elliza takut melukai perasaan cewek yang duduk di sebelah sang cowok. Elliza memutuskan pergi meninggalkan cowok itu, dan melupakannya.

Namun, belakangan Elliza baru tahu. Ternyata, cewek yang duduk di sebelah si cowok itu bukan pacarnya, tetapi hanya teman biasa. Elliza tahu karena di kemudian hari, melihat cewek itu jalan dengan cowok lain. Dan si cowok itu tetap sendirian. Tentu saja, Elliza menyesal. Apalagi ketika Elliza ingin mengenal lebih dekat dengan cowok itu, sang cowok keburu akrab dengan cewek lain! Pupuslah harapannya.

Oleh sebab itulah, Elliza nggak mau berpikir macam-macam terhadap cewek yang duduk di sebelah cowok di bangku taman itu, cowok yang wajahnya ia lukis di sebuah kanvas berbingkai indah. Dan Elliza hanya mau mengingat-ingat cowok itu. Senyum manis cowok itu ia letakkan di sebuah dinding, berjejer dengan lukisan lain yang pernah ia lukis, menambah koleksi lukisannya.

ELLIZA, berhentilah melukis wajah cowok! Lukislah momen lain.Bukankah masih banyak hal yang bisa kamu lukis, selain wajah cowok-cowok itu?”

“Elliza nggak bisa, Ma.Elliza hanya bisa melukis wajah cowok. Siapa tahu, cowok yang Elliza lukis mau jadi teman dekat Elliza?”

“Mendapatkan seorang cowok nggak harus melukisnya lebih dulu, Sayang!”

“Mengapa, Ma? Bukankah Mama dulu pernah melukis wajah papa, waktu Mama ingin mengenal papa? Mama memberikan lukisan wajah papa itu ke papa, hingga akhirnya papa suka sama Mama?”

“Iya, Sayang, kamu benar. Tapi, Mama hanya melukis wajah papa, bukan pria lain.”

“Elliza belum bisa mendapatkan wajah cowok yang mau sama Elliza, Ma?”

“Lalu, apa kamu harus terus melukis wajah-wajah itu?”

“Iya, Ma.”

“Sampai kapan?”

“Sampai Elliza mendapatkan dia dan menjadikan cowok itu teman spesial Elliza!”

Mamanya geleng-geleng, tetapi tentunya sangat mengerti. Putri tersayangnya yang saat ini duduk di kelas tiga SMA, memang belum pernah terdengar dekat sama cowok. Setiap kali Elliza cerita, yang ia dengar adalah keluhan mengapa Elliza sulit mendapatkan teman cowok yang ia inginkan. Keputusan melukis wajah-wajah cowok yang ia suka akhirnya menjadi pilihan. Sebelum Elliza benar-benar mendapatkan cowok yang dilukisnya itu.

Kini, sudah cukup banyak koleksi lukisan cowok Elliza yang ditempel di dinding kamarnya. Sekitar tiga belas lukisan! Pertama, lukisan wajah Adrian. Adrian adalah cowok yang Elliza lukis waktu ia kelas satu. Elliza suka sama Adrian karena dia pintar main gitar. Sayangnya, Adrian harus pindah ke luar negeri. Sehingga sebelum Elliza memberikan lukisan itu, Adrian sudah nggak di sekolahnya lagi.

Lukisan berikutnya adalah Agus, Pepen, Jave, dan Rae. Keempat cowok itu Elliza lukis sewaktu ia kelas dua. Keempat cowok itu kakak kelasnya. Mereka anak band sekolah yang disukai cewek-cewek satu sekolah! Semuanya hanya bisa Elliza lukis, karena pada akhirnya Elliza tak bisa berharap lebih selain melukis wajahnya. Sebab, keempat cowok itu udah punya cewek, anak kelas tiga juga!

Lukisan keenam, ketujuh, kedelapan, kesembilan, kesepuluh, kesebelas, dan kedua belas, adalah lukisan yang Elliza buat saat ia duduk di kelas tiga. Mereka adalah Dani, Tyo, Andra, Kevin, Arman, Jack, dan Ron. Mereka bukan cuma anak-anak satu sekolah. Ada yang Elliza kenal di mal, di sebuah pesta temannya, tempat parkir, atau bioskop. Semuanya cowok bertampang keren, karena semua lukisan yang Elliza buat memang khusus cowok-cowok bertampang keren. Sayangnya, dari ketujuh cowok yang dilukis, tak ada satu pun yang berhasil Elliza dapatkan.

Selain melukisnya, Elliza senang menuliskan nama-nama cowok itu di balik setiap lukisannya. Dan ia tak pernah lupa dengan nama-nama itu, ka-

rena sebelum melukis wajahnya, Elliza pasti tau siapa namanya. Kecuali cowok di taman, yang sore itu tersenyum padanya. Elliza nggak tahu siapa nama cowok yang baru dilukis itu. Cowok ketiga belas itu masih misterius statusnya.

Rencananya, sore ini, Elliza akan melintasi taman itu lagi, berharap bertemu cowok yang telah dilukis wajahnya.Mudah-mudahan,cowok itu duduk-duduk di taman lagi. Dan … sendirian.

Sayang, ternyata Elliza tak menemukan cowok itu ketika melintasi taman. Akhirnya, ia memutuskan duduk di kursi taman yang kosong. Elliza berharap cowok yang udah dilukis wajahnya itu datang ke taman, lalu duduk di sebelahnya. Akan ia berikan lukisan itu pada si cowok,berharap bisa mendapatkan cintanya.

Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit, Elliza masih saja duduk sendirian. Elliza muak sama keadaan ini! Tetapi, ia masih saja duduk di kursi taman itu, berharap bisa bertemu dengan seseorang yang diharapkan datang. Satu-dua orang melintasi taman itu, tapi seperti tak peduli dengan keberadaan Elliza. Mereka sibuk dengan urusan masing-masing.

Dua puluh menit sudah ia duduk.Datanglah seseorang, duduk di sebelahnya. Kursi taman yang panjang itu, kini diduduki oleh dua orang. Kalo nggak salah, yang duduk di sebelah Elliza itu cewek yang sore itu duduk dengan cowok yang telah dilukis wajahnya. Elliza mulai berpikir, Apakah cewek yang duduk di sebelahku ini lagi nunggu seseorang? Atau jangan-jangan, cewek ini emang udah janjian

sama cowok itu di kursi taman ini?

Tiga puluh menit sudah Elliza duduk di kursi taman itu, bersebelahan dengan cewek yang baru duduk sepuluh menit. Keduanya saling diam. Satu, dua orang melintasi kursi taman itu lagi, dan seperti tak memedulikan keberadaan Elliza dan cewek itu.

Elliza pengin nanya sama cewek di sebelahnya, apakah ia kenal sama cowok yang sore itu duduk di sebelahnya waktu Elliza melintas? Tetapi, Elliza ragu menanyakannya. Jangan-jangan, cewek di sebelahnya ini memang pacar cowok itu dan sedang menunggunya. Kalo itu yang terjadi, Elliza bisa malu!

Tiga puluh lima menit waktu berlalu. Cewek di sebelahnya membuka majalah, lalu menenggelamkan wajahnya ke cover majalah. Kalo Elliza tampak tegang, cewek itu biasa-biasa saja. Namun, cewek di sebelahnya sesekali melihat jam tangan.Setelah itu, kembali sibuk dengan majalahnya. Rupanya, si cewek seperti nunggu seseorang yang akan menemuinya.

Akhirnya, Elliza pergi dari taman karena takut kalo cewek itu emang lagi nunggu cowoknya! Kalo iya, percuma saja Elliza menunggu!

ESOK sore sepulang sekolah, Elliza kembali duduk di kursi taman dan ingin memastikan apakah cewek yang duduk di kursi taman kemarin, emang

pacar cowok itu? Kalo iya, ya nggak masalah, tapi kalo bukan, inilah kesempatan! Elliza udah nyiapin lukisan cowok itu, dan berniat memberikannya.

Tapi, ya ampun! Ternyata cewek yang kemarin sore duduk di sebelah Elliza, udah lebih dulu duduk di kursi taman itu! Cewek itu membaca sebuah majalah yang kemarin Elliza baca.

Elliza memberanikan diri duduk di sebelah cewek itu walaupun agak takut dan ragu. Elliza bertekad untuk bertemu cowok itu, meskipun cewek di sebelahnya ini kekasihnya! Elliza tak mau berharap banyak kecuali ingin berkenalan, dan mau memberikan lukisan wajah cowok itu.

Sepuluh menit, dua puluh menit, tiga puluh menit, Elliza duduk di kursi taman itu. Bersebelahan dengan seorang cewek yang entah sedang menunggu siapa.Sebentar-sebentar,cewek di sebelahnya melihat jam tangannya, lalu kembali sibuk dengan bacaannya.

Lima menit kemudian, cewek itu bangkit dari duduknya, lalu merapikan majalahnya. Cewek itu seperti hendak meninggalkan kursi taman itu! Sebelum cewek itu benar-benar pergi, Elliza menahannya.

ŚEee … hai!”

“Hai …!”

“Ng … kamu lagi nunggu siapa?” tanya Elliza akhirnya, masih malu-malu.

“Maaf, aku nggak nunggu siapa-siapa, kok. Aku emang seneng duduk di kursi taman ini, sambil baca majalah! Kenapa, ya?”

“Ooh, maaf…. Ngngng … boleh tanya, nggak?”

“Kayaknya dari tadi, kamu udah nanya aku, deh?”

“Eee … hehehe maaf. Aku cuma mau tanya, apakah kamu kenal sama cowok yang pernah duduk di kursi taman ini tiga atau empat hari yang lalu?”.

Cewek itu mengernyitkan dahinya, lalu menggeleng. “Maaf, aku nggak pernah merhatiin siapa aja yang pernah duduk di kursi taman ini. Terlalu banyak orang duduk di kursi taman ini. Maaf ya, aku harus pulang sekarang!”

“Eh, tunggu dulu!” Elliza menarik lengan cewek itu. “Tunggu sebentar! Aku akan mengeuarkan lukisanku dulu. Siapa tahu, kamu … kenal dia?”

Cewek itu tampak bingung menghadapi sikap Elliza. Sejenak, ia menghela napas, menunggu Elliza mengeluarkan lukisan dari dalam tas sekolahnya. Lukisan wajah seorang cowok itu Elliza keluarkan, kemudian menunjukkannya ke cewek itu.

“Kamu kenal dia?”

Cewek itu menatap lukisan, lalu beralih ke Elliza. “Maaf, aku nggak kenal. Dan aku nggak pernah tahu siapa dia! Maaf … aku harus pulang sekarang!”

“Terima kasih. Maaf mengganggu waktumu.”

Cewek itu meninggalkan Elliza. Kini,Elliza duduk sendirian di kursi taman, menunggu siapa tahu cowok yang udah ia lukis wajahnya akan datang. Elliza senang sekali karena si cewek nggak kenal cowok itu!Elliza bahagia sekali, karena ternyata cewek yang sering duduk di kursi taman itu bukan kekasih cowok yang udah dilukis wajahnya!

Elliza menunggu cowok itu sambil mendekap lukisannya. Satu jam, dua jam, tiga jam, dan sore pun berubah malam. Ternyata, cowok yang udah dilukis itu tak kunjung datang.

Elliza kesal dan muak sama semua ini! Ia banting lukisan dalam dekapannya, lalu pergi meninggalkan kursi taman itu!

Satu menit kemudian, seorang cowok melintasi taman itu. Cowok itu terkejut melihat sebuah lukisan robek teronggok di dekat kursi taman. Meskipun lampu taman agak meremang, cowok itu bisa dengan jelas melihat lukisan wajah itu. Cowok itu pun bergumam sendiri, “Hah?! Lukisan siapa ini? Kok … seperti lukisan wajahku? Siapa yang melukisnya? Indah sekali. Oh, seandainya yang melukis ini seorang cewek

Cinderella Jakarta

BAIKLAH, kuharap kalian menikmati cerita ini dengan santai. Siapkanlah susu atau teh manis sebagai teman untuk kalian membaca. Jangan lupa sepotong pizza atau boleh juga pisang goreng. Siapa tahu,kalian pengin camilan.Asyik sekali bukan, membaca sambil menikmati camilan? Yang penting, kalian enjoy, namun tentu saja, tetaplah berusaha agar tubuh nggak terlalu gemuk!

Berikut ini akan kuceritakan pada kalian sebuah kisah tentang seorang cewek cantik namun miskin, yang tinggal di rumah gedongan sebuah pemukiman elite Jakarta. Cewek cantik itu bernama Tira.

Tira berumur sekitar enam belas tahun. Cewek lain seusia Tira mungkin lagi menikmati masa-masa remaja yang indah dengan teman-teman sekolah, atau bisa jadi udah punya gebetan. Ehm, gebetan …? Nggak pernah terlintas dalam benak Tira, memiliki seorang kekasih pujaan hati. Mimpi pun barangkali nggak!

Tira menetap di keluarga pengusaha kaya raya sejak umur tiga belas tahun, yakni setelah ia lulus SD. Tetangga Tira satu kampung mengajaknya bekerja di Jakarta. Ketika itu, Tira nggak mikirin apa

pekerjaan yang akan dikerjakan. Ia hanya ikut-ikutan dan berharap mendapat gaji yang akan diberikan pada orangtua di kampung seperti teman-temannya yang sudah lebih dulu bekerja di kota.

Oya, baiknya kalian tahu dari mana Tira berasal. Tira terlahir di sebuah desa pesisir utara pulau Jawa, bertetangga dengan sebuah daerah yang dikenal sebagai lumbung padi. Di desa, keluarga Tira bekerja menanam padi di sawah. Hanya, sawah-sawah yang ditanami padi itu bukan sawah milik mereka, melainkan milik orang kota. Tak bisa diceritakan di sini,entah bagaimana caranya keluarga Tira bisa terbelit utang dan menggadaikan semua sawahnya pada orang kota. Sebenarnya, bukan cuma keluarga Tira yang mengalami nasib pahit ini. Tetangga-tetangga Tira pun mengalami hal yang sama. Itulah sebabnya, anak-anak seusia Tira di desanya pergi ke Jakarta untuk menjadi … seperti yang saat ini lagi dijalani Tira; Pembantu Rumah Tangga!

Tira tinggal di rumah Bapak Sasongko Prawiro, seorang pengusaha sukses yang bergerak di bidang otomotif. Di rumah yang sangat luas dan berasitek-tur indah layaknya istana kerajaan itu, Bapak Sasongko Prawiro tinggal bersama istrinya.Pak Sasongko hanya memiliki satu anak yang disekolahkan di Inggris.

Di rumah Pak Sasongko yang sangat luas itu, meskipun Tira sebagai pembantu rumah tangga,Tira diperlakukan sangat baik. Bapak dan Ibu Sasongko bahkan menganggap Tira sebagai putrinya. Bagaimana nggak, Tira itu seorang cewek yang cantik,

berkulit putih mulus, berbulu mata lentik, beralis bagus, berambut hitam panjang nan tebal dan indah, pokoknya te-o-pe BGT!

Setiap kali Bapak dan Ibu Sasongko pergi jalan-jalan ke sebuah tempat, ke hotel atau mal misalnya, Tira selalu diajak. Kerabat dan partner Pak Sasongko yang kebetulan sesekali bertemu dengan mereka pasti salah sangka.Mereka menganggap Tira putrinya Pak Sasongko! Bila mendapat perlakuan seperti itu, Bapak dan Ibu Sasongko senang dan bahagia. Bagaimana nggak, Tira itu cantik sekali! Bo lehlah kalo kita sebut Cinderella! Bapak dan Ibu Sasongko nggak merasa malu atau sungkan bila orang menyangka Tira putri mereka.

SUATU hari ketika musim liburan tiba, Goena-wan Sasongko, putra semata wayang Pak Sasongko pulang ke Indonesia. Goenawan yang dipanggil Gun oleh orangtuanya itu adalah cowok tampan, cerdas, berperangai sopan, dan nggak sombong. Meskipun anak orang kaya, Gun selalu berpenampilan sederhana. Papanya pernah menghadiahkan Ferari untuk Gun, tetapi tak pernah mau disentuhnya.

Gun bilang, “Aku nggak enak pakai Ferari di Jakarta. Masa sih, setiap lampu merah, harus membuka jendela untuk memberi recehan pada penga-

men dan pengemis …T’

Orangtuanya hanya tersenyum mendengar alasan putra kesayangannya tidak mau menggunakan mobil pemberiannya. Ketika di Jakarta, Gun hanya memakai mobil yang cukup sederhana.

Orangtua Gun senang sekali menyambutnya di bandara. Gun pun bahagia sekali bisa kembali berkumpul dengan kedua orangtuanya. Ketika tiba di bandara, Gun langsung memeluk papa dan mamanya secara bergantian. Dan ketika melihat Tira yang menemani mereka, Gun terkejut.

Gun bertanya, “Pa Mam Who is she?”

Papa dan mamanya hanya tersenyum, lalu mamanya memperkenalkan Tira.

“Oya, sorry Mama belum cerita. Ini Tira, pembantu kita yang menggantikan Mbok Nah. Dia sudah tinggal di rumah kita sejak kamu berangkat, lho!”

Gun tersenyum ramah dan terlihat menaruh hormat pada cewek yang baru dikenalnya itu, meskipun ia hanyalah seorang pembantu.

Setelah itu, papa dan mamanya mengajak Gun menuju mobil. Pak Samson, sopir pribadi Pak Sasongko, membawa koper dan barang-barang milik Gun. Tira membantu membawa satu buah koper.

Ketika Tira tengah menarik koper itu, Gun mencegahnya.

“Ini berat sekali. Biar aku aja yang bawa!” ujar Gun setengah berteriak.

Tira pun tersenyum dan bilang, “Nggak apa-apa, biar aku bawa. Udah biasa, kok!”

“Biar saja, Nak Gun! Tira itu anaknya kuat lho …?!” kata Pak Samson, sambil terus meng-ikuti langkah Pak Sasongko dan istrinya menuju mobil.

Tira akhirnya menarik koper itu dengan sangat antusias. Gun hanya bisa memandangi apa yang dilakukan Tira, sambil teus memerhatikannya. Gun merasakan dadanya bergetar ….

SETELAH menjemput Gun di bandara,malamnya Tira merasakan sesuatu yang aneh terjadi pada dirinya.Tira tak mampu memejamkan matanya. Mendadak di kepalanya selalu terbayang senyum Gun tadi siang! Oh, apakah aku jatuh hati sama anak majikan ?

DI kamarnya, Gun merenung dan tak mampu melepaskan sosok Tira walaupun sekejap. Baru pertama melihatnya, Gun langsung merasa tertarik sama Tira. Sejujurnya Gun akui, baru pertama kali dalam hidupnya, bertemu dengan cewek seperti yang selama ini diimpi-impikan.Ternyata,cewek itu tinggal di rumah sendiri!

Tetapi, kenapa cewek itu harus pembantu?

WAKTU terus berjalan. Sudah seminggu Gun tinggal di Jakarta. Selama seminggu itu, Gun selalu memerhatikan gerak-gerik Tira. Melihat cara Tira mengepel lantai.Mengintip cara Tira menyetrika baju -baju.Melihat dari jauh Tira menyiram bunga-bunga di halaman.

Gun benar-benar jatuh hati pada Tira! Begitupula sebaliknya, Tira merasa bersemangat sekali bekerja di rumah majikannya. Apalagi ketika diperintah untuk melayani Gun. Mencarikan sepatu yang akan dipakai Gun. Mengambilkan buku dari ruang perpustakaan untuk Gun baca. Membawa makanan untuk Gun. Tira suka sekali bisa bersama-sama Gun.

Tetapi, Tira selalu menyadarkan dirinya, mem-buang jauh-jauh pikiran yang melesat-lesat di kepalanya, bahwa ia benar-benar sangat menyukai Gun! Sedapat mungkin, Tira mengenyahkan pikiran yang bersarang dibenaknya!

Aku ini siapa? Gun adalah anak majikanku yang kaya raya. Sedangkan aku, cuma … seorang cewek kampung yang miskin!

SINGKAT cerita, kedekatan antara Gun dengan Tira akhirnya diketahui oleh Pak Sasongko dan istrinya. Kedua orangtua Gun telah mendengar kabar dari Angelina yang sudah lama berharap menjadi istri Gun kelak bahwa Gun seringkah mengajak Tira

si pembokat itu jalan ke luar rumah. Ke mal, ke bioskop, dan ke tempat-tempat lainnya.

Angelina putri kolega Pak Sasongko berhubungan dengan Gun sejak Gun masih di Jakarta, meskipun sebenarnya Gun nggak memiliki perasaan cinta sedikitpun terhadapnya. Angelina sangat geram setiap kali ingin bertemu Gun, sementara Gun malah ingin bersama dengan pembantunya!

Akhirnya, pada suatu hari, Angelina yang berada di rumah Pak Sasongko memanggil Tira menghadap mereka.

“Tira, seharusnya kamu nyadar diri dan ngaca, dong! Kamu itu siapa?! Kamu pikir, selama ini bapak sama ibu nggak tahu ya, kalo kamu sering berduaan ke luar rumah bareng Gun?!” sewot Angelina dengan sorot mata penuh kebencian.

“Tapi … walaupun aku keluar rumah, semua pekerjaan udah aku selesaikan seperti biasanya?”

“Bukan itu maksudnya! Posisi kamu di rumah ini cuma pembantu! Kamu nggak pantas jalan berdua sama Tuan Gun!”

“Iya, Ra. Mulai sekarang, bapak dan Ibu berharap kamu nggak lagi berdua-duaan dengan Gun. Mengerti kamu?!” tegas Bu Sasongko.

“Baik Pa, Bu. Aku berjanji nggak akan lagi pergi sama Gun.”

Sejak saat itu, Tira selalu menolak kalo Gun mengajaknya pergi.Namun,Tira tak mau memberikan alasannya.

Gun jadi bingung.

KEMUDIAN, Tira merasa tersiksa tinggal di rumah majikannya. Apalagi setiap kali Tira melihat sepatu hak tinggi dan gaun indah yang dibelikan Gun, yang rencananya akan ia pakai jalan-jalan bareng Gun. Pergi berduaan dengan Gun, kini hanyalah menjadi mimpi belaka. Sebab, Tira udah janji sama majikannya, bahwa ia nggak mau lagi jalan bareng Gun.

Suatu hari, akhirnya Gun mengetahui kenapa Tira selalu menolak setiap ajakannya. Gun marah sama Angelina, dan bilang kalo Angelina nggak berhak ngelarang ia pergi sama siapa pun. Gun juga menjelaskan seluruh kegundahan pada orangtua-nya. Tentu aja hal itu membuat mama dan papanya marah besar.

“Gun, Papa dan mama menyekolahkan kamu jauh-jauh ke Inggris untuk menjadi orang pintar! Menjadi seseorang yang disegani. Kamu adalah pewaris Papa dan mama yang mulai beranjak tua ini. Sudah sepantasnya kalau kamu mulai berpikir serius untuk mencari siapa cewek yang akan menjadi istrimu kelak. Kami telah sepakat dengan keluarga Angelina, agar kalian menjadi akrab dan melanjutkan hubungan yang lebih serius. Jadi, untuk apa kamu deket sama pembantu kita itu?!” bentak papa Gun.

“Maaf, Pa, Ma, bila kata-kata Gun ini menyakiti perasaan Papa sama Mama. Aku ingin berterus terang, kalo hubunganku sama Tira nggak main-main. Sedangkan dengan Angelina, Gun nggak punya perasaan cinta sedikitpun! Dan, Gun merasa menemukan cewek yang selama ini Gun impi-impikan. Cewek itu adalah … Tira!”

APA KAMU BILANG?!” Papa dan mamanya terkejut.

“Ya, Gun merasa mencintai Tira dengan sepenuh hati dan jiwa,” tambah Gun.

“Dasar, kamu anak keras kepala dan tak tahu balas budi!” papa dan mama Gun marah besar. Kemarahan itu nggak hanya dilampiaskan pada Gun putra semata wayangnya, namun juga pada Tira. Hingga puncaknya, mereka mengusir Tira dari rumah. Sementara Gun, kembali dikirim ke Inggris.

Duh, cerita ini kayaknya semakin seru aja! Gimana susu atau teh manisnya? Gimana pizza atau mungkin pisang goreng yang tadi kamu siapin? Cobalah nikmatin dulu, sebelum membaca kelanjutan cerita ini. Aku sendiri lagi menikmati sebatang cokelat yang tadi aku beli,sebelum melanjutkan mengetik kalimat berikut-nya.

Hmmm … asyik banget cokelatnya f

Akhirnya, Tira meninggalkan rumah majikannya yang luar biasa megah itu menuju rumahnya yang sederhana di kampung. Ketika keluarganya bertanya mengapa ia pulang, Tira menjawab kalo ia sengaja berhenti karena majikannya pindah.

Setelah kembali tinggal di rumahnya, Tira tak

pernah bisa melupakan Gun. Setiap malam, Tira memandangi gaun indah dan sepatu hak tinggi pemberian Gun. Tira ingat, ketika membeli gaun indah dan sepatu hak tinggi itu, Gun bilang kalo ia ingin sekali mengajak Tira jalan-jalan dengan mengenakan gaun indah dan sepatu hak tinggi itu. Tira jadi cantik seperti putri Cinderella!

Mengingat semua itu, Tira hanya bisa menangis. Ya, Tira sering menangis sendirian.Ketika salah satu keluarganya memergoki Tira sedang menangis, mereka menanyakan kenapa Tira menangis. Tira menjawab, kalo dirinya menangis karena kehilangan pekerjaan.

SEMINGGU kemudian, kampung Tira menjadi ramai. Serombongan anak berlarian mengikuti sebuah Ferari merah menya-la. Sedan itu menuju rumah Tira! Pak Samson, si pengemudi Ferari itu, tersenyum ke arah Tira yang berdiri kebi-ngungan di depan rumahnya. Kebetulan sekali, hari itu Tira sedang mencoba-coba gaun dan sepatu hak tinggi pemberian Gun. Dan Tira nggak sengaja memakainya sampai ke halaman rumahnya yang lumayan becek ketika sedan Ferari itu tiba.

Beberapa saat kemudian,seorang cowok turun dari dalam Ferari, membawa setangkai bunga dan

memberikannya pada Tira.

“Untuk apa kamu ke sini? Bukankah kamu lagi di Inggris?”

Gun menggeleng. “Aku sengaja ke sini mau ngajak kamu jalan-jalan. Asal kamu tau, sebelumnya aku nggak pernah naik mobilku ini. Aku ingin jalan-jalan sama kamu dengan mobil ini.”

“Tapi ….”

“Sudahlah! Kamu jangan pikirin papa sama mama. Mereka nggak tau. Tenang aja, Pak Samson nggak bakalan ngasih tau, deh!”

“Tapi ….”

Gun mengajak Tira naik Ferari miliknya. Entah bagaimana perasaan Tira saat itu, antara takut dan senang jadi satu.

Dan maafkanlah aku, karena cerita ini harus berakhir sampai di sini.Aku nggak akan melanjutkannya, karena aku harus mengha-biskan dua batang cokelat yang belum ku nikmati ini.

Unjuk Rasa

SUDAH tiga hari, murid-murid SMA 1973 nggak masuk kelas. Hampir semua murid melakukan aksi unjuk rasa. Mereka menuntut Dewan Sekolah yang dianggap mengeluarkan keputusan sepihak. Dewan Sekolah menaikan SPP, tanpa kesepakatan orangtua siswa.

“Ini namanya kesewenang-wenangan!” protes Winy, dengan lantang.

“Bener, Win! Kita harus meluruskannya!”sambar Nien, tak kalah semangat.

“Kalo perlu, kita demo setiap hari sampai mereka mendengar protes kita!” Hilna menam-bahkan.

“Benar! Jangan berhenti demo, sebelum Dewan Sekolah menarik keputusannya!” seru Ajeng dengan tangan terkepal.

“Menurutku … lebih baik kita masuk aja. Kita kan, masih sanggup membayar kenaikan SPP itu. Kalo kita demo terus, nanti kita semua akan ketinggalan pelajaran.”Eugina justru menentang, membuat rekan-rekannya marah.

“Gin! Kalo elo mau masuk, masuk aja sendiri!”

“Tau nih anak! Nggak solider amat, sih!”

“Kita memang mampu membayar kenaikkan

SPP itu. Tapi, cara mereka yang kita sesalkan!”

“Selain itu, nggak semua murid di sekolah ini mampu. Iya, nggak?!”

“BENER!!!”

Eugina tak berkutik. Ia manut pada kesepakatan teman-temannya, melakukan protes terhadap keputusan Dewan Sekolah.

“Kalo kamu nggak mau ikut unjuk rasa ini,nggak apa-apa, Gin!” ujar Winy, dengan tampang asem.

“Iya Win, apalah artinya satu suara, dibandingin dengan hampir seluruh siswa di sekolah ini!”

“Ini jelas menandakan siapa sebenarnya siswa yang nggak punya rasa peduli terhadap siswa lainnya.”

Eugina semakin terkucil. “Oke, deh! Gue minta maaf.Gue akan ikut kalian berdemo!” Eugina akhirnya luluh juga. Sohib-sohib-nya memeluk Eugina, menandakan bahwa mereka memang kompak.

Sejak saat itu, Eugina selalu ikutan unjuk rasa, menuntut agar Dewan Sekolah membatalkan keputusannya. Bahkan, karena takut dibilang setengah-setengah, justru Eugina yang menjadi juru bicara dalam setiap unjuk rasa. Dan terus terang aja, Eugina emang ahli bicara. Eugina adalah salah satu siswa pemenang lomba pidato antar sekolah tingkat provinsi! Selain itu, Eugina juga beberapa kali menjadi juara lomba debat!

“Dewan Sekolah jangan hanya memikirkan diri sendiri. Setiap keputusan hendaknya mendapat kesepakatan para orangtua siswa! Apalagi negara kita

belum terbebas dari krisis. Sehingga, nggak semua orangtua mampu membiayai anak-anaknya sekolah. Jangan menambah beban mereka dengan kenaikan yang belum begitu perlu. Aku melihat, alasan Dewan Sekolah menaikkan SPP demi kemajuan sekolah ini nggak relevan. Karena tanpa menaikkan SPP pun, kita bisa memajukan sekolah ini, yakni dengan cara menunjukkan prestasi setiap siswa. Dan, ini masih terus berlangsung hingga kini, tanpa ada embel-embel kenaikan. Menyangkut biaya pembangunan sekolah, baik berupa pembangunan gedung-gedung tambahan maupun perawatan, bukankah sudah berjalan? Seluruh biaya pembangunan sekolah sudah dipungut dari biaya pendaftaran siswa-siswa baru. Ditambah lagi dengan biaya para donatur dari orangtua siswa yang mampu! Jadi, buat apa Dewan Sekolah menaikkan SPP?!”

Demikian kata-kata Eugina, yang disambut riuh tepuk tangan oleh siswa-siswi yang berunjuk rasa.

“Gila si Gin-Gin, keren abiiis …!”

“Dia bener-bener all out"

“Iya, ya?! Ternyata, dia serius ikutan unjuk rasa ini!”

Sohib-sohib Eugina bangga padanya.

Diam-diam, ada seorang cowok bernama Seno yang memerhatikan Eugina. Dia adalah cowok yang selama ini menjadi perhatian Eugina dan teman-temannya. Siapa sih, cewek-cewek di SMA 1973 yang tak kenal Seno? Seno yang tajir tapi pendiam, dan terkenal sangat rendah hati. Meskipun Seno siswa baru, tuh cowok udah ngerebut perhatian

cewek-cewek di 1973.

Seusai unjuk rasa di hari yang ketujuh itu, Seno mendatangi Eugina.

“Hai!”

Eugina mendadak sesak napas ketika makhluk bernama Seno itu menyapanya. “Hai!” Eugina membalas sapaan.

“Gue Seno! Gue seneng banget denger pidato unjuk rasa elo! Hebat!”

“Ya.”

“Boleh kenalan, nggak?”

“Ya.” Eugina masih belum bisa bicara apa-apa. Di sudut lain,sohib-sohib Eugina melihat keberadaan Seno.

“Weits! Itu si Seno, kan?” “Eh, lagi ngapain tuh cowok?” “Kayaknya … serius banget!” “Datengin, yuk …!” “Ssst … ntar aja.”

Keempat sohib Eugina mengintip di sudut koridor sekolah. Seno dan Eugina duduk di bangku depan kelas, membicarakan tentang unjuk rasa.

“Aku bangga sama kamu, karena kamu cewek yang cerdas dan tegas,” puji Seno sambil terus memerhatikan Eugina.

“Ya.”

“Nggak semua cewek, atau mungkin cowok sekalipun, yang bisa bicara begitu lancar di depan umum seperti kamu, Gin!” tambah Seno.

“Ya.” Eugina masih belum bisa berkata-kata.

“Oke, deh! Gue cabut ke kelas dulu, Gin!”

“Ya.”

Seno meninggalkan kelas Eugina. Keempat sohib Eugina langsung menghambur mengerubutinya. Mereka memberikan ucapan selamat pada Eugina, karena didatangi Seno!

“Gimana perasaan elo didatengin Seno?”

“Gin-Gin, tau nggak, tiap malem gue mimpiin dia! Taunya dia caper ke elo!”

“Iya, Gin! Nggak percuma elo jadi juru bicara unjuk rasa sekolah kita, sampai bikin cowok kayak Seno merhatiin elo!”

“Selamat ya, Gin!”

Eugina cuma senyum-senyum. Ia nggak nge-rasa tersanjung sama pujian sohib-sohibnya.Sebab, Eugina masih saja memikirkan, mengapa di depan Seno tadi ia hanya bisa bilang, “Ya.”

Di hari yang kesepuluh, unjuk rasa semakin meriah. Karena Dewan Sekolah masih belum memberikan keputusan, seluruh siswa SMA 1973 tetap bersikukuh nggak mau mengikuti pelajaran di sekolah.

Sejumlah wartawan mendatangi sekolah. Rupanya, para kuli disket baru mengetahui unjuk rasa itu, setelah mendapat bocoran dari beberapa orangtua murid yang mengaku resah karena proses belajar anak-anak mereka terganggu.Bahkan, sejumlah orangtua murid ada yang akhirnya ikut berunjuk rasa. Tak ketinggalan,akhirnya sejumlah stasiun televisi swasta meliput unjuk rasa ini.

Eugina dipercaya menjadi juru bicara oleh para siswa SMA 1973. Karena sejak hari keempat, dialah

yang menjadi andalan para pengunjuk rasa. Bicaranya cerdas dan tegas. Ia tak pernah kehabisan kata-kata. Saat para wartawan datang, Eugina yang menjadi sorotan.

“Sebenarnya, kami nggak menginginkan unjuk rasa ini. Bisa Anda bayangkan, tak akan ada asap kalo nggak ada api. Benar, kan? Jadi, unjuk rasa ini terjadi hingga berlarut-larut seperti sekarang, disebabkan karena Dewan Sekolah seperti nggak mau kompromi!”

“Dewan Sekolah merasa kecewa pada siswa, karena unjuk rasa ini mencoreng nama SMA 1973. Mereka beranggapan, kenaikan SPP itu dilakukan demi kemajuan sekolah. Bagaimana menurut komentar Anda?”

“Sampai kapan unjuk rasa ini berlangsung?” “Apakah kalian nggak merasa rugi bila setiap hari seperti ini?”

Para wartawan media cetak maupun media elektronik, membombardir Eugina dengan rentetan pertanyaan.

Dengan tenang, Eugina menjawab, “Maaf, Bapak-Bapak. Satu-satu, ya! Begini …. Kami rasa, kekecewaan Dewan Sekolah nggak berdasar sama sekali. Kenapa mereka mesti kecewa? Yang seharusnya kecewa adalah kami, para siswa. Kenapa Dewan Sekolah harus menaikkan SPP tanpa lebih dulu berunding dengan orangtua murid? Dan, kami pikir alasan menaikkan SPP untuk memajukan sekolah ini cuma isapan jempol belaka! Tanpa harus menaikkan SPP, sekolah ini tetap maju! Dan kalo

Bapak-Bapak bertanya sampai kapan kami berunjuk rasa, kami menjawab; sampai Dewan Sekolah mau membatalkan keputusan mereka! Kalopun mereka memaksa untuk tetap pada keputusan itu, mereka harus lebih dulu membawa masalah ini ke dalam rapat orangtua murid dan Dewan Sekolah! Sudah, ya! Aku rasa cukup. Makasih, Bapak-Bapak.”

“Maaf, pertanyaan aku belum dijawab.”

“Yang mana?”

“Ini, eee … apakah kalian nggak rugi bila setiap hari seperti ini?”

“Sejujurnya kami akui, kami merasa rugi nggak melakukan proses belajar mengajar seperti biasanya.Namun,satu hal yang perlu Bapak-Bapak catat, bahwa tindakan yang kami lakukan ini pun sebenarnya sebuah pembelajaran! Mengapa aku katakan begitu? Tindakan melawan kesewenang-wenangan terhadap pihak yang berkuasa itu memang seharusnya dilakukan! Ini sebagai bekal kami, sebagai siswa yang nantinya jadi mahasiswa! Apakah Anda lupa, siapa yang menggerakkan roda reformasi di negeri ini? Apakah Anda, para wartawan? Atau, Bapak-Bapak yang duduk di gedung wakil rakyat? Tentu semua masih ingat, bahwa mahasiswa lah yang menjadi penggeraknya! Dan Anda, para wartawan, yang membantu menuliskannya di media!”

Semua yang hadir manggut-manggut. Satu, dua wartawan geleng-geleng kepala. Mereka agak takjub pada kata-kata seorang siswi yang menjadi juru bicara unjuk rasa sekolah. Lebih-lebih sohib-sohib Eugina, yang merasa sangat bangga pada

sahabatnya. Tak ketinggalan, Seno yang selalu me-luangakan perhatiannya, menjadi semakin tertarik pada Eugina!

Keesokan harinya, Dewan Sekolah bersedia berunding dengan para siswa dan sejumlah orang tua murid. Perundingan itu memutuskan bahwa kenaikan SPP ditunda dalam waktu yang nggak terbatas. Dikemudian hari akan dibicarakan lagi, pada rapat antara Dewan Sekolah dan para orangtua murid.

Kontan, murid-murid seisi sekolah bergembira menyambutnya. Terlebih, beberapa siswa yang merasa keberatan karena ortu mereka orang nggak mampu. Kegembiraan mereka dilampiaskan pada Eugina, yang menjadi juru bicara andalan selama unjuk rasa berlangsung.

“Gue nggak bakalan melupakan kejadian ini,Gin! Gue bangga punya temen cewek yang pinter ngo-mong kayak elo! Gue berdoa, semoga suatu saat elo jadi presiden!”

“Gin! Elo potensial banget jadi politikus!”

“Makasih. Jangan terlalu berlebihan. Ini semua berkat kerja sama kita semua!”

Sohib-sohib Eugina nggak kalah senangnya. Mereka bangga sekali pada Eugina. Dan … seorang cowok pun datang memberikan selamat pada Eugina. Siapa lagi kalo bukan … Seno!

Ketika Seno datang, sohib-sohib Eugina menyingkir.

“Gin, selamat, ya! Oya, waktu liat kamu di berita teve semalem, gue nonton sama bonyok gue!

Mereka juga terkagum-kagum lho, sama kamu!” “Ya.”

“Sekali lagi, selamat!”

Setelah itu, Seno pergi. Sohib-sohib Eugina kembali mengerubuti Eugina. Mereka memberi selamat pada Eugina, karena Seno kelihatannya “ada hati” pada Eugina. Tapi, Eugina ternyata nggak sesenang yang sohib-sohibnya kira. Eugina masih saja tak percaya, bahwa dirinya yang juara lomba pidato dan kampiun debat itu, yang menjadi juru bicara unjuk rasa sekolahnya, ternyata selalu menjadi seperti orang gagu di depan Seno. Di hadapan Seno, Eugina hanya bisa bilang, “Ya”. Nggak lebih dari itu!

Cewek yang Menunggu Pelangi

SEJAK siang hingga menjelang sore, cewek itu duduk di beranda belakang rumahnya yang menjorok ke pantai.

Aku ingin tahu kenapa di waktu yang sama, ia selalu berada di sana, seperti tengah menanti seseorang yang udah sekian lama nggak datang-datang. Dan bila hari berubah gelap, ia kembali masuk ke rumah, dengan raut wajah kelam.

Setelah kutanyakan pada salah seorang tetanggaku, barulah kuketahui. Ternyata, cewek itu gagal melihat pelangi!

Oh, rupanya cewek itu menunggu pelangi. Kenapa cewek itu selalu menunggu datangnya pelangi?

Maka pada suatu sore yang mendung, saat awan hitam berarak bergerak menutupi sebagian langit,aku bermaksud mendatanginya untuk sekadar berkenalan. Aku sudah lama menanti saat yang tepat untuk lebih mengenalnya, ketimbang harus tanya sana sini seperti yang selama ini kulakukan.

Namun sebelum niatku terlaksana, gerimis terlanjur pecah. Titik-titik air tumpah dari langit, meskipun pada saat yang bersamaan matahari dari

arah barat menyibak awan. Pada saat yang bersamaan pula, lamat-lamat kudapati segores cahaya menghias ujung langit. Cahayanya indah berwarna merah, kuning, dan hijau. Itulah warna pelangi.

Dari kejauhan, kulihat cewek itu tersenyum di beranda belakang rumahnya, menikmati apa yang ditatapnya. Begitu cantiknya ia, manakala senyumnya mengembang. Sepertinya, kerinduan yang selama ini terpendam, terobati sudah. Oh, dunia ini seolah miliknya!

Aku yang bermaksud mendekatinya untuk berkenalan, terpaksa menahan diri. Aku nggak mau mengganggu keasyikan cewek itu menikmati pelangi.

DI siang yang lain, saat cuaca cerah, kucoba untuk kembali mendekatinya. Aku ingin menemui cewek itu di beranda rumahnya. Sebagai tetangga barunya, bukan alasan yang dibuat-buat bila aku memperkenalkan diri. Siapa tahu, dia bersedia jadi sahabatku. Sebab sejak tinggal di daerah ini, aku belum memiliki seorang teman yang seumuran denganku.

Tetapi, sebelum aku berhadap-hadapan dengannya, seorang cowok lebih dulu datang ke beranda itu, dan terlibat pembicaraan serius dengan sang cewek. Cowok itu cukup tampan. Tubuhnya proporsional bak seorang atlet. Ia datang membawa setangkai bunga melati. Aku hanya bisa mengintipnya

dari balik bilik beranda samping rumahku.

Aku melihat cowok itu memperlihatkan keakraban, mengajak si cewek bicara. Si cowok tampak begitu antusias. Namun, cewek itu tak menunjukkan rasa senangnya.Kukira,cewek itu nggak terlalu suka dengan si cowok. Hal itu ia tunjukkan dengan wajahnya yang selalu memberengut, sepanjang bersama-sama si cowok.

Beberapa saat kemudian, si cowok pergi me ninggalkan si cewek. Dan si cewek tampak senang melepas kepergian cowok keren itu. Aku nggak tahu kenapa cewek itu terlihat nggak suka sama kedatangan cowok itu. Aku jadi khawatir mendapat perlakuan yang sama kalo mau kenalan sama dia. Aku takut cewek itu ngerasa keganggu sama kehadiranku.

Siang itu, kembali kutanyakan tentang cewek itu pada orang yang udah lama tinggal di sekitar kediamanku.Aku terpaksa nggak menanyai langsung cewek itu, karena alasan tadi. Dengan orang yang kutanyai ini, kebetulan aku udah sangat akrab. Dia Pak Koko Nata, seorang nelayan tua bermata sipit yang ramah, yang namanya seperti orang Jepang. Pak Koko Nata berasal dari Palembang.

“Kamu beruntung bisa melihat cewek itu. Cantik, kan?” puji Pak Koko Nata.

“Bukan masalah cantik atau nggak, Pak. Aku hanya bingung pada apa yang ia lakukan setiap siang menjelang sore.” “Maksud kamu?”

“Kenapa dia selalu berada di beranda belakang

rumahnya?”

“Udah Bapak bilang,kalo dia sedang menung-gu pelangi!”

Aku menghela napas. Aku masih nggak habis pikir tentang cewek itu.

“Ya! Cewek itu menyukai pelangi!” ulang Pak Koko Nata.

“Jadi, setiap sore dia akan berada di beranda belakang rumahnya, hanya untuk melihat pela-ngi?!”

“Sepertinya begitu! Lagi pula, dia nggak setiap hari tinggal di rumahnya. Hanya waktu liburan, seperti saat ini.”

“Lho?! Jadi, sebenarnya dia nggak menetap di rumah itu?”

“Cewek itu tinggal dan sekolah di Jakarta.”

“Bapak tahu siapa namanya?”

“Eee … aku tahu, nama cewek itu Elliza. Coba kamu tanyakan sendiri.”

KALO benar cewek bernama Elliza itu tinggal di daerah ini hanya pada waktu liburan, berarti waktu yang kumiliki untuk bisa mendekatinya hanya tersisa sehari.Besok bisa dipastikan Elliza akan bersiap-siap kembali ke Jakarta karena waktu liburan udah habis.

Aku pun bersiap-siap berangkat ke Jakarta, untuk mencari sekolah baru. Ayahku memang menginginkan aku bersekolah di Jakarta, meski pun beliau ditugaskan di daerah, tempat aku berada kini. Di

Jakarta, aku bisa menumpang di rumah paman. Setelah tinggal dan sekolah di sana, mungkin aku baru pulang ke rumah ini hanya pada waktu liburan atau di akhir pekan.

Sebelum terlambat, baiknya kudatangi cewek itu, yang siang ini tengah asyik duduk di beranda belakang rumahnya. Aku berharap, mudah-mudahan dia mau menerima kedatanganku.

Tetapi sebelum kulangkahkan kaki, seorang cowok yang kemarin membawa bunga datang lagi. Cowok keren itu datang membawa bunga lain, yang warnanya berbeda. Dan si cewek seperti biasa, mengacuhkan kedatangannya. Hingga akhirnya si cowok pergi meninggalkannya.

Bersamaan dengan kepergian si cowok, aku berjalan melintasi beranda rumahnya.Cuaca saat itu mendung. Aku sengaja nggak mampir ke berandanya, melainkan berjalan ke arah pantai. Kurasa aku tengah melakukan trik 1001 cara menaklukan cewek, yang pernah kubaca di sebuah buku. Aku mencuri perhatian cewek itu, menyukai apa yang disukai si cewek. Yup!

Aku terus berjalan hingga ke bibir pantai. Aku sengaja nggak menoleh ke belakang, pura-pura tidak peduli sama keberadaan cewek itu. Aku berharap cewek itu melihatku.

Aku duduk pada sebuah batu karang yang mulai tersentuh oleh deburan ombak. Laut hampir pasang. Kulihat guntur membelah langit, memercik seperti las listrik. Gerimis perlahan tumpah membasahi tanah. Aku segera berlari ke arah pohon kelapa

yang daunnya nggak terlalu tinggi, berteduh di sana.

Ketika tubuhku udah merasa aman di bawah pohon kelapa, tiba-tiba gerimis berhenti. Matahari perlahan menyembul dari balik awan hitam. Aku kembali ke batu karang semula. Dan sialnya, pada saat pantatku menyentuh batu karang itu, gerimis kembali tumpah ruah. Gerimis datang meskipun sang surya bercahaya terang. Dan secara bersamaan, terlihatlah pelangi.

Aku kembali berlari untuk berteduh. Tapi, aku ragu melangkah ke pohon kelapa itu, karena seseorang telah berada di sana, duduk menengadahkan wajahnya ke pojok langit. Dia, cewek itu, tengah menatap pelangi!

Kupikir ini kesempatan. Aku tak akan merasa malu untuk berteduh di bawah pohon kelapa itu.Aku udah lebih dulu berada di sana, sebelum ia datang. Menyesal aku telah meninggalkan pohon kelapa itu ketika gerimis berhenti. Harusnya, aku ada di sana sebelum dia tiba. Kukuatkan hati untuk berteduh di dekatnya!

“Boleh numpang berteduh?” tanyaku pada cewek itu, dan langsung disambut dengan senyuman. “Silakan.”

Aku berdiri di sebelahnya, kemudian melirik sekilas, mendapati keceriaan wajahnya yang antusias menatap pelangi. Aku ingin berbasa-basi, tapi takut menganggu. Apakah aku harus selamanya berdiam seperti ini? Tuhan menciptakan mulut untuk bicara, bukan untuk makan saja. Kenapa aku jadi seperti kura-kura?

“Indah sekali, ya, pelangi itu?!” akhirnya, keluar juga kata-kata dari mulutku. “Ya, ya … indah.” “Kamu suka pelangi?”

“Suka sekali! Kamu?”cewek itu menatapku. Bulu matanya yang lentik seolah menarik-narik bola mataku. Duh, begitu teduhnya tatapan itu.

Aku tak kuasa berkata-kata, takjub pada tatapannya.Aku hanya mengangguk pelan,lalu kembali memandang pelangi. Ketika pandanganku tegak lurus menikmati pelangi,cewek itu menatap wajahku lama sekali.Aku tahu karena aku nggak benar-benar menatap pelangi.

“Kenapa kamu suka pelangi?”tanyaku kemudian.

“Karena pelangi tak pernah bohong.”

“Cuma itu?”

“Karena pelangi selalu setia.” “O, ya?”

“Dan pelangi selalu bisa menyejukan suasana hati. Kalo kamu, kenapa suka pelangi?” cewek itu balik bertanya.

“Aku …?”

“Ya, kamu? Kenapa kamu suka pelangi?”

“Karena aku sungguh bingung dibuatnya. Kenapa aku suka pelangi, ya? Uh, aku nggak pernah berpikir tentang pelangi sebelum ini. Aku jarang sekali melihat pelangi. Selama di Jakarta, aku nggak pernah menyaksikan pelangi. Lagi pula, untuk apa?

“Kok, diem …?”

“Kenapa aku suka pelangi … karena ….” Pikiranku kembali buntu, namun terbersit masa

kanak-kanak,saat kudengar lagu pelangi menga-lun, “Peiangi-peiangi … alangkah indahmu … merah kuning hijau, di langit yang biru setelah itu,

kembali buntu!

“Boleh aku jujur sama kamu, kenapa aku suka pelangi?” kataku kemudian, membuat raut wajahnya berubah. Mungkin tumbuh rasa ingin tahu yang berkecamuk di benaknya.

“Ya, kamu memang harus jujur.”

“Aku suka pelangi … karena … keindahannya.” Begitulah yang kukatakan padanya, hingga senyumnya tiba-tiba merekah.

“Aku baru menemukan cowok romantis kayak kamu,” ucapnya sambil tersipu.

“Maksud kamu?”

“Aku nggak pernah menemukan cowok yang menyukai pelangi kayak kamu.” “Begitu, ya?!” Cewek itu tersenyum. “Oya, boleh aku tahu nama kamu …?” Lalu, aku menyebutkan nama. Dan bilang padanya, “Kamu pasti Elliza?”

“Kok kamu tahu nama aku?” Aku tersenyum. Elliza geleng-geleng kepala.

SEJAK saat itu, nggak bisa nggak, aku menyukai pelangi. Dan saat tinggal di Jakarta, aku selalu mencari pelangi. Kalo rindu sama Elliza, dan Elliza

ternyata sedang sibuk, pelangi-lah yang kucari.

Seringkah aku menunggu pelangi, namun nggak pernah menemukannya. Aku jadi bingung, mengapa di Jakarta sulit sekali menemukan pelangi? Apakah karena Jakarta selalu terang benderang oleh lampu-lampu gedung-gedung bertingkat, sehingga membuat pelangi tak mau menunjukkan dirinya.

Aku jadi kangen pulang ke rumah di bibir pantai itu, mengajak Elliza untuk bersama-sama melihat pelangi di sana.

Cowok

Yang Menakutkan

TRISTAN selalu bikin masalah. Kalo nggak nyindir-nyindir, ada aja yang dia lakuin. Mendenguslah, mendehemlah, bersiul-siul sok merdulah, atau cekikikan dengan anak-anak cowok lain. Jadinya, lama-lama tuh cowok jadi menakutkan!

“Hm, boleh juga tuh sepatu?! Warnanya ngej-reng amat! Jadi kayak kue lapis bikinan nyokap gue! Hahaha …!” itulah komentar Tristan, waktu gue pake sepatu pink yang baru gue beli di sebuah mal.

“Eh, tumben nih … roknya agak tinggian? Jadi kayak Britney habis kecebur di kali! Hahaha …!” ini komentar dia waktu gue habis latihan cheers.

“Wuah, rambutnya diponi ni, yee …! Hihihi lumayan buat ngelindungi muka kalo turun hujan!” ini komentar waktu Tristan ketemu gue di deket kantin.

Itu belum seberapa. Malah ada lagi yang lebih nyeremin. Tau nggak, Tristan pernah bilang, “Dhini, mending elo ikutan casting aja, biar bisa gantiin Mpok Ati. Lumayan tau, peran jadi ibu-ibu sekarang lagi banyak dibutuhin rumah pro-duksi! Hihihi …!”

“Dhini, elo kok, cemberut aja kalo lewat di depan gue? Mending manis! Bibir elo tuh, udah ka-

yak dompet tanggung bulan! Hahaha .,,!”

“Dhini! Kalo dipikir-pikir, elo cakep juga. Sayang, gue nggak pikirin!”

Tuh, nyebelin nggak, sih?! Untung cowok yang namanya Tristan cuma satu di sekolah gue. Coba kalo ada tiga Tristan. Bisa ko’it gue!

Sebenernya, gue pengin ngedamprat dia kalo lagi jahil sama gue. Tapi, gue nggak berani. Temen-temen gue malah ngasih selamat ke gue, atas perlakuan si tengik Tristan sama gue.

“Elo beruntung, Dhin! Tristan tuh setau gue, anaknya pendiam!” kata Chacha, yang ngaku sering banget merhatiin Tristan kalo upacara bendera.

“Gue nggak percaya kalo Tristan begitu sama elo! Anaknya kan, cool banget!” Agni malah memuji.

“Gue tuh mimpi banget digodain Tristan! Sumpeh, deh!” ucap Bunga berapi-api.

Audi lain lagi. Dia malah bilang, “Tristan?! Dia itu cowok dambaan gue!”

Huaaah, bener-bener membingungkan!

Sewaktu curhat sama nyokap, beliau malah ceramah tentang masa remajanya. “Dhini, dulu di sekolah Mami juga ada cowok yang ngeselin banget! Anaknya suka jahil. Mami sebel banget sama cowok itu. Tapi lama-lama, Mami suka sama dia. Nggak tau kenapa? Tau nggak, cowok itu siapa? Dia itu papi kamu! Hihihi …!”

“Oh, jadi papi itu dulunya sengak juga ya?!”

“Bukan sengak lagi! Tapi ngeselin, sok, tengil, berlagak, perlente, sirik, dengki … cumaaa … dia

dulunya ganteng, lho!”

“Uh, Mami kenapa mau sama cowok tengil jahil kayak papi, sih?”

“Buktinya, ternyata papi orangnya baik banget. Iya, kan?!”

“Iya juga, siiih

EMANG gue akui, Tristan itu cowok yang keren dan lumayan tajir. Kebisaannya banyak. Dan kata anak-anak di kelasnya, dia termasuk anak pinter. Tapi … kok, kelakuannya ama gue begitu, ya? Kenapa, ya? Apa mungkin karena selama ini gue nggak pernah marah diperlakukan begitu sama dia? Apa gue mesti melawannya?

Oke, mulai besok, gue nggak bakal menghindar lagi kalo ketemu dia. Gue nggak takut lagi! Gue ba-kalan ngedamprat dia, kalo dia kurang ajar lagi sama gue! Gue bakalan marah habis-habisan!

Keesokan harinya, gue mencari-cari di mana Tristan berada.Gue sengaja mau lewat di depan dia. Gue mau cari gara-gara! Gue udah panas banget kalo inget dia. Selama ini, boleh aja dia nginjek-nginjek gue. Sekarang nggak boleh lagi! Cowok kayak Tristan musti dikasih pelajaran. Musti digecek! Kalo perlu ditumbuk halus, diberi sedikit lada, dicampur garem, dikasih cabe rawit, ditaburin cuka, terus disiram pake air panas seratus delapan puluh derajat selsius!!!

“Liat Trsitan, nggak?” tanya gue ke salah satu cowok yang biasa nongkrong sama Tristan.

“Belum liat, tuh. Kenapa? Kangen, ya?”

Busyet! Kangen? Gila aja kangen sama cowok kayak Tristan?

“Eh, jangan macem-macem,ya! Liat nggak, lo?!”

“Bujug, Non, galak amat?! Nggak liat!”

“Bilang dong, dari tadi!” Ya, ampun! Ternyata gue galak juga, ya? Tristan nggak berhasil gue temukan. Ke mana ya, tuh cowok? Jangan-jangan, dia udah punya firasat, kalo pagi ini gue mau melabraknya!

Hari ini, Tristan nggak masuk. Kata salah satu temen sekelasnya waktu gue interogasi Tristan sakit.

ŤSt

KEESOKAN harinya, Tristan masih belum masuk juga. Begitupun hari-hari berikutnya. Hingga seminggu lamanya, Tristan nggak masuk sekolah. Lama-lama, kemarahan gue jadi surut.

Sejak Tristan nggak masuk, nggak ada lagi cowok yang jahil sama gue. Nggak ada yang sirik, dengki, macem-macem, ngeledekin, nyeletuk, atau apalah. Gue bener-bener terbebas dari godaan makhluk menyebalkan seperti si Tristan itu.

Sepuluh hari kemudian, gue ngeliat Tristan di depan kelasnya sendirian. Dia tampak segar bugar. Nggak ada kesan bahwa dia habis sakit. Malahan,

bisa dibilang tuh anak tambah manis aja! Ups, kok, gue jadi muji-muji si Brengsek, ya?!

Kayaknya, gue mesti lewat di depan dia. Gue pengin tau, apakah dia jahil sama gue kayak biasanya atau udah berubah?

Gue pun melintas di depan Tristan. Dan ternyata … dia cuek aja!

Gue jadi penasaran. Gue mampir ke kantin. Pesen jus alpukat. Habis itu, gue balik lagi ke kelas, lewat ke kelasnya Tristan. Pas mau lewat kelasnya, Tristan keluar kelas, berpapasan ama gue. Tapi, dia cuek aja!

Kok, dia cuek aja?!

SEJAK kejadian hari itu, gue jadi sering melamun. Kenapa cowok bernama Tristan yang sengak dan tengil itu nggak lagi ngeganggu gue? Apakah dia udah menyadari kesalahannya? Atau jangan-jangan, mungkin karena penyakit yang dideritanya. Dia kan, nggak masuk sekolah karena sakit. Karena sakitnya itulah dia jadi nyadar. Nggak mau ngego-dain gue lagi. Begitu kali, ya?

Hm, gue jadi penasaran. Besok,gue mau lewat di depan Tristan lagi. Gue mau ngepang rambut. Dulu, dia pernah ngomentarin rambut gue. Dia pernah bilang kalo rambut gue sebaiknya ditutupin topi, biar enak diliat. Tapi, topinya topi proyek! (Yang kayak helm itu, lho!). Ugh!

Nah, kalo sekarang gue lewat di depan dia pake rambut kepang dua, siapa tau dia jahil lagi, ngatain rambut kepang gue? Nggak dimacem-mace-min aja dia jahil, apalagi … dikepang dua begini! Yup! Gue coba.

Pas jam istirahat, rambut gue minta dikepang dua sama Audi. Gue mau melintas di depan Tristan dengan rambut kepang dua. Pasti, dia bakalan nyin-dir gue.

Ternyata … udah susah payah dikepang dua dan dikasih pita segala, Tristan cuek-cuek aja! Malahan, kayaknya dia nggak terpengaruh sama keberadaan gue! Sial!

Gue semakin penasaran! Gue coba ngegulung tangan baju seragam. Dulu, gue pernah dibilang preman terminal waktu tangan baju seragam gue nggak sengaja terlipat. Hm, gue coba, deh.

Ternyata … Tristan cuek aja!!!

Kenapa, ya?! Apakah Tristan udah ngeiupain

gue?!

Waduh, kenapa justru sekarang gue jadi inget terus sama Tristan?!

“Mami bilang juga apa? Kalo kamu digodain cowok, nggak usah ditanggepin. Apalagi dipikirin! Nanti, lama-lama kamu bisa seneng sama dia,” ucap mami waktu gue curhat.

“Ah, Mami. Siapa sih, yang seneng sama dia?! Dhini cuma penasaran. Kenapa dia jadi berubah.”

“Itu bagus, kan?” tanya mami.

“Bagus sih, bagus … tapi, apa dong, penyebabnya?”

“Kenapa tanya Mami? Tanya dong, sama anaknya langsung!”

“Hah?! Tanya sama Tristan?! Amit-amit, deh!” “Jangan begitu, dia itu temen kamu juga!” “Iya juga, sih.”

Besoknya, gue harus tanya langsung, kenapa Tristan berbuat begini sama gue. Kenapa kemarin-kemarin itu dia sok tengil sama gue.

Tibalah saatnya gue ketemu Tristan di depan lapangan upacara bendera. Gue sengaja ngedate-ngin dia pas latihan basket.

“Tan, gue mau ngomong sama elo!” teriak gue keras.Tristan tampak sok bego.Dia cuma menunjuk-nunjuk dadanya.

“Iya, sama elo! Gue mau ngomong!” Tristan pun nyamperin gue. Tapi sewaktu dia jalan ke arah gue, kakinya tersandung. Dia nyaris jatuh dan kelihatan culun dan lucu. Gue sempet senyam-senyum, tapi langsung ditahan. Nanti jadi nggak keliatan gahar lagi di depan dia.

“Ada apa?” tanya Tristan dengan ramah sekali.

“Gue mau ngomong sama elo, bisa?!”

“Kayaknya nggak bisa sekarang, deh. Gue lagi latihan.”

“Kapan bisanya?”

“Kalo ntar, gimana?”

“Habis latihan?”

“Ya. Tapi, gue latihannya sampe sore. Elo tunggu gue, gimana?”

Gimana, ya? Gue jadi bingung, nih! Ya, daripada terus penasaran, gue tunggu aja, deh.

Lagian, kalo gue maksa ngomong di pinggir lapangan, ntar dikira gue keganjenan ngobrol sama dia.

“Oke, gue tunggu!”

“Ya, udah. Gue latihan dulu, ya?”

Gila tuh anak! Kok, sopan banget, ya?

Akhirnya, gue nunggu Tristan latihan. Temen-temen gue pulang lebih dulu. Boleh jadi, karena hari Sabtu. Mereka pasti pada pengin cepet-cepet pulang.

Kok, gue jadi nunggu Tristan, ya?

Selesai latihan, Tristan langsung ngajak gue pulang.

“Boleh nggak, gue nganter elo pulang?” ucap Tristan, sebelum gue berkata-kata.

“Hah?! Berani-beraninya elo nganter gue pulang?!”

“Kalo elo mau

“Udah, jangan pura-pura jadi orang baik, deh! Gue mau ngomong, nih!”

“Ngomong aja … mau ngomong apa, sih?” Gue dan Tristan berhadap-hadapan. Sorot matanya begitu tajam. Gue jadi bingung mau ngomong apa, saking silau sama tatapannya.

“Udah, ngomong aja!”

Tiba-tiba, gue lupa mau ngomong apa!

“Ya, udah. Ngomongnya ntar aja. Sekarang udah hampir gelap. Gue anter elo pulang, ya?” usul Tristan, lalu berjalan ke halaman parkir sekolah.

Gue nurut sama kata-katanya. Gue terus aja ngikutin ke mana langkahnya. Sampai dia nyuruh

gue masuk ke mobilnya. Dan gue diem aja sampai mobil jalan, dia cengar-cengir sendirian.

“Tadi, katanya mau ngomong. Udah, ngomong aja!” Tristan mendesak gue lagi.

Gue bingung mau ngomong apa. Terus terang aja, gue suka dia jadi berubah baik.

“Huh, bilang aja pengin dianterin pulangiNggak usah pake alesan mau ngomong segala.”

“TRISTAN!”

Mata gue melotot. Tapi, Tristan malah senyam-senyum. Gue luluh sama senyumnya yang manis itu. Siaaal …!

Bekas Koreng

DUA benci banget sama bekas koreng yang ada di kedua lututnya. Pasalnya, ia jadi nggak berani pakai rok pendek lagi ke sekolah. Selama ini, Dita selalu pakai rok yang tingginya di atas lutut. Tapi setelah ada bekas korengnya itu, ia jadi nggak pede lagi pake rok pendek!

Bekas koreng itu sangat jelas terlihat ketika lututnya terbuka. Bentuknya bulat sebesar telur puyuh, melingkar pas di bagian depan tempurung kedua lututnya. Hal itu terjadi akibat Dita jatuh dari sepeda waktu boncengan sama Pepen. Dita jatuh dengan posisi lutut membentur tanah aspal kompleks perumahan. Kedua lututnya berdarah hingga lama kelamaan jadi koreng.

Salah Dita sendiri yang menyebabkan luka di kedua lututnya itu jadi koreng. Saat Dita jatuh dari sepeda, ia nggak bilang papa-mama. Alasannya takut, sebab papa dan mama pernah melarang Dita boncengan sepeda sama Pepen. Sepeda cowok yang Dita taksir itu nggak ada jok belakangnya. Dita sering boncengan sama Pepen, berdiri pada besi yang dipasang di bagian tengah ban belakang sepeda itu.

Peristiwa malang itu terjadi waktu Pepen mengayuh sepedanya kencang-kencang, dan lupa mengerem saat melintasi “polisi tidur”. Hal itu menyebabkan ban depan sepeda terangkat, lalu Dita terpelanting ke belakang, terjatuh dengan posisi kedua lutut membentur aspal!

Berhari-hari Dita menutupi kedua lututnya dari papa dan mama. Begitupula terhadap teman-teman di sekolah. Setiap hari, Dita memakai rok panjang untuk menutupi lukanya. Dita hanya mengobatinya dengan plester dan obat merah. Namun suatu malam, mamanya mendengar rintihan Dita di kamar. Mama masuk dan memergoki Dita tengah membuka plester yang menutupi lukanya. Luka di kedua lutut itu bukannya sembuh, tetapi malah menjadi koreng!

Malam itu juga,mama dan papa membawa Dita ke dokter. Menurut dokter, luka Dita mengalami infeksi. Tetapi, dokter bisa menanganinya, Dita diberi obat secukupnya dan disarankan istirahat di rumah dulu sebelum luka itu sembuh. Dita pun izin nggak masuk sekolah. Karena nggak masuk sekolah, akhirnya teman-teman dekatnya jadi tahu kalo Dita korengan.

Setelah tiga hari nggak masuk sekolah,luka itu mengering. Dan Dita senang bukan main karena nggak merasakan nyeri lagi. Hanya,luka itu membekas. Menurut dokter, hal itu terjadi karena luka itu tadinya telah jadi koreng!

Karena bekas koreng itulah, Dita jadi nggak berani pakai rok pendek ke sekolah. Ia malu kalo semua temannya melihat bekas koreng. Sementara

itu, kalo pakai rok panjang terus, Dita juga merasa jengah. Jengah pada teman-temannya yang biasa melihat Dita pakai rok yang panjangnya di atas lutut. Jadi serba salah!

“Kamu kan, bisa pake rok panjang, Ta,” nasihat mamanya, waktu Dita mengeluh soal bekas koreng yang masih sangat kentara di kedua lutut-nya itu.

“Malu sama temen-temen, Ma. Nanti diledekin

lagi!”

“Masa sih, orang pake rok panjang diledekin?!” “Bener lho, Ma. Kalo Dita pake rok panjang terus, dikiranya kaki Dita masih korengan!” “Terus gimana, dong?!”

“Mungkin Dita perlu operasi plastik. Biar bekas korengnya nggak kelihatan lagi!”

“Operasi plastik?!” Mama terbengong-bengong mendengar Dita mengusulkan operasi plastik. Jelas aja mama jadi mendadak terbengong-bengong kare na biaya operasi pasti mahal. “Apa nggak ada jalan lain, Ta? Apa nggak nunggu hilang sendiri aja?!”

“Kalo bisa hilang! Kalo nggak bisa? Apa Dita harus seumur-umur pake rok panjang?!”

“Cewek yang selalu pake rok panjang belum tentu lebih jelek dari cewek yang pake rok pendek, Dita! Apalagi anak sekolahan!”

“Uh, bilang aja Mama nggak sayang Dita lagi!”

“Dita! Kok, kamu ngomong begitu?”

“Mama sih, nggak pernah mau serius nolongin Dita. Bujuk papa, kek!”

“Ya udah. Nanti Mama bujuk papa buat

mengoperasi plastik kedua lututmu, biar bekas korengnya nggak kelihatan lagi!” “Nah! Gitu, dong!”

TERNYATA, papa nggak setuju kalo Dita harus operasi plastik segala. Papa justru menyarankan agar Dita bersabar. Kata papa, seperti kata mama tempo hari, bekas koreng yang tumbuh di kedua lututnya bisa hilang sendiri.

“Kalo nggak diobatin mana bisa hilang, Pa?!” protes Dita, dengan mulut manyun.

“Papa juga dulunya sering korengan di lutut. Nih, lihat lutut Papa! Waktu seumuran kamu, papa masuk tim sepak bola, jadi penjaga gawang. Papa sering jatuh hingga lutut Papa sering luka. Dulunya juga pernah korengan kayak lutut kamu. Tapi, lama kelamaan hilang sendiri!Nih,lihat!”Papa menunjukkan lututnya pada Dita.

“Ih, lutut Papa kan, item! Lagian, Kaki Papa banyak bulunya! Jadi nggak keliatan bekas korengnya! Kalo lutut Dita putih mulus, Pa! Dan nggak ada bulunya! Pasti bekas korengnya nggak bakalan bisa ilang!”

“Waduh, Ta! Kamu kok, menghina Papa, sih?! Ya udah, deh! Yang jelas,Papa belum punya uang buat biaya operasi lutut kamu! Papa sarankan, kamu cari dulu obat-obat murah, lotion atau apa kek, yang bisa menghilangkan bekas koreng itu!”

“Iya, Ta. Mending kita cari cara lain dulu sebelum dioperasi! Dan sebelum bekas koreng itu benar-benar hilang, kamu pakai rok panjang dulu!”

Dita nggak menjawab, tapi cuma cemberut. Abis, mau gimana lagi kalo papa diam, mama nggak punya uang buat operasi lutut itu. Akhirnya, ia menghubungi sahabat-sahabat dekatnya, siapa tahu bisa mencarikan jalan keluar.

“Gue rasa, mama-papa elo bener, Ta. Sebaiknya, elo berobat luar dulu, daripada mikirin biaya operasi yang pasti mahal itu,” saran Titi.

“Bener, Ta! Nanti kita cari di apotek aja, siapa tau ada obat yang bisa menghilangkan bekas koreng elo,” ujar yang lain.

“Minum suplemen bervitamin E aja, Ta!” tambah yang lainnya lagi.

SETELAH keluar masuk apotek, ternyata Dita nggak nemuin obat yang mujarab buat musnahin bekas koreng terkutuk itu dari kedua lututnya. Dita sungguh merasa tersiksa lahir batin karena ulah bekas koreng itu. Sepertinya,memang nggak ada jalan lain kecuali operasi plastik! Uh, kalo aja papa dan mama mau membiayainya.

Karena bekas koreng itu belum juga hilang, akhirnya Dita selalu pakai rok panjang. Dita pernah mencoba pakai rok pendek. Tetapi, setiap kali ia melihat bekas koreng itu, ia segera menggantinya

lagi dengan rok panjang. Rasanya bener-bener jelek kedua lututnya ini,yang keduanya dihiasi oleh bekas koreng.

Dita jadi nggak pernah lagi mengikuti kegiatan-kegiatan di luar sekolah sejak ia pake rok panjang. Ia enggan ikut cheerleader lagi dan menolak setiap anak-anak mengajaknya ke pesta.Ia malu nongkrong di mal seperti dulu. Karena menurutnya, memakai rok panjang itu kayak dandanan ibu-ibu arisan yang pakai kain dan kebaya! Dengan begitu, Dita nggak lagi berpikir tentang cowok.

Menurutnya, tak ada lagi cowok-cowok keren suka padanya. Sebab, meskipun Dita lumayan manis, ia punya bekas koreng di kedua lututnya. Termasuk Pepen, cowok sekompleks yang udah jarang main lagi bersamanya. Mungkin Pepen tahu kalo lutut Dita pernah korengan?Wah,nggak bertanggung jawab amat tuh cowok!

Tetapi ternyata, Dita ngerasa terheran-heran ketika suatu hari mendapat sepucuk surat di kolong mejanya. Apalagi surat itu dari Acid! Siapa sih, yang nggak kenal Acid, jagoan nge-band di sekolahnya?! Yang kalo udah nyanyi, suaranya bisa bikin penonton cewek berteriak-teriak his-teris!

“Gue rasa, Acid emang ada hati ke elo, Ta!” ujar Titi, saat mendengar cerita Dita. “Soalnya, Acid sering nitip salam lewat gue!”

“Ah, masa?! Kok, elo nggak pernah cerita?”

“Abis, gue juga suka sama Acid!”

“Ya udah, elo ambil aja!”

“Eits, bentar dulu, Ta!” Titi menarik lengan Dita

yang ngambek itu. “Sekarang, gue sadar, Ta. Kalo Acid itu lebih suka sama elo daripada gue. Seperti yang ada di surat elo itu. Acid suka sama cewek yang pake rok panjang kayak elo. Dan dia justru benci sama cewek yang pake rok mini kayak gue! Uh, sebel! Kalo tau begitu, gue pasti selalu pake rok panjang terus!”

“Ya udah, Ti! Elo pake rok panjang terus aja kayak gue!”

“Udah terlambat, Ta! Nanti dikiranya gue pake rok panjang gara-gara Acid, lagi!”

“Tapi, Acid tau nggak ya, kalo gue pake rok panjang karena punya bekas koreng di kedua lutut gue?!”

“Wah, gue nggak tau!”

“Kalo dia tau, gimana?!”

“Elo jujur aja!”

Akhirnya, Dita emang bener-bener jujur ketika ketemu Acid. Dan ternyata, di luar dugaan Dita,Acid nggak peduli apakah lutut Dita ada bekas korenga-nya apa nggak.Sebab Acid bilang,Dita tetep terlihat manis di matanya, meskipun apakah ia pernah korengan apa nggak!

Uh, akhirnya Dita sangat bersyukur pernah memiliki koreng. Sebab, kalo nggak pernah korengan dan akhirnya berbekas, belum tentu Dita punya te-men cowok sebaik dan se-oke Acid. Kalo dulunya Dita nggak punya bekas koreng, belum tentu Dita selalu pake rok panjang ke sekolah!

Pada akhirnya, setelah sering jalan bareng pas pulang sekolah, Dita dan Acid jadian. Dita seneng

bukan main. Ia pun menceritakan sama papa dan mamanya. Dan bisa diduga, papa dan mamanya nggak setuju!

Papa dan mama yang sekarang ini udah punya dana buat ngoperasi bekas koreng kedua lutut Dita itu, nggak rela Dita punya pacar. Mereka membujuk Dita buat mutusin hubungan.Sebagai imbalan, bekas koreng kedua lututnya itu akan dioperasi plastik!

“Dita udah nggak butuh lagi operasi-operasian, Pa, Ma!”

“Kamu nggak nyesel?!”

“Nggak, Ma!”

“Ya udah! Kamu boleh berteman dekat dengan cowok, tapi harus hati-hati!”

“Iya, Pa! Tenang! Nanti, Dita ngenalin Acid ke Papa dan Mama!”

Mendengar penjelasan Dita, papa dan mama nyerah. Namun, papa dan mama nggak ngerti mengapa tiba-tiba Dita berubah pikiran. Menga-pa Dita nggak mau dioperasi seperti yang pernah ia inginkan.

“Jadi, elo nggak mau bekas koreng di kedua lutut elo diilangin, Ta?!”

“Bukannya nggak mau, Ti! Nih, elo liat sendiri!” Dita membuka rok panjangnya hingga ke atas lutut.Ternyata … kedua lututnya yang bagus … nggak ada bekas korengnya lagi. Lututnya mulus seperti nggak pernah korengan!

“HAH! Bekas koreng elo udah nggak ada! Kok, papa sama mama elo nggak tau?!”

“Ssst! Yang tau cuma elo dan Acid, ya! Nanti kalo Acid dateng ke rumah, baru gue kasih tau

mereka. Biar surprise]”

“Terus, elo kok, nggak pake rok pendek lagi?!”

“Nggak, ah!”

“Pasti karena Acid, ya?!”

“Nggak juga! Acid juga suka kok, gue pake rok pendek. Asal nggak kependekan. Dan, sebenernya justru Acid yang nganter gue ke dokter spesialis kulit waktu gue terus terang ke dia, kalo gue punya bekas koreng!”

“Hah?! Beruntung banget elo punya koreng.”

“Hus!”

“Eh, maksud gue … punya cowok care kayak Acid!”

“Ini kan, yang disebut hikmah, Ti! Acid bilang, setiap apa yang terjadi menimpa kita, meskipun musibah sekalipun,pasti ada hikmahnya! Gue bersyukur banget pernah punya koreng di kedua lutut gue!”

“Aaah mau dong, punya koreng!”

“Hus! Apa-apaan, sih?! Punya koreng tuh nggak enak, tau!”

“Iya! Gue cuma bercanda. Sekarang, gue ngerti. Gue yang pernah sombong karena nggak pernah punya koreng kayak elo, ternyata nggak lebih beruntung dari elo!”

Ojek Cewek

DPA yang bisa dilakukan cewek sebatangkara yang nggak punya lagi sanak saudara? Apakah harus mengemis? Apakah harus merengek-rengek minta tolong pada orang-orang yang ditemuinya? Atau, datang ke yayasan untuk sekadar mendapat bantuan dana?

Nggak. Tatu nggak mau melakukan itu semua. Tatu adalah seorang cewek yang kuat. Tatu yang sempat menangis bermalam-malam karena teman, kerabat, dan seluruh keluarganya tewas secara mengenaskan di Aceh itu, tetap sabar dan tabah menjalani hidup. Tatu harus bisa survive.

SIANG cukup terik. Tatu pulang dari sekolah dengan perut kosong. Nggak ada uang sepeser pun yang tersisa di rumah kosnya. Mestinya, hari ini kiriman wesel dari Aceh udah tiba. Seharusnya, semuanya baik-baik saja kalo gempa dan gelombang tsunami enggak meluluhlantahkan rumah keluarganya di Banda Aceh.

Di tempat kosnya ini, Tatu nggak tinggal sendirian. Tatu yang sekolah di sebuah SMA di pinggiran Jakarta, ikut keluarga kakaknya. Namun, kakak dan istri serta anak-anaknya saat ini tengah berkunjung ke Aceh menengok keluarga besar yang jadi korban tsunami.

Tatu kini sendirian dan nggak ikut sama kakaknya pulang ke Aceh, karena Tatu nggak ingin bolos sekolah. Lagi pula,kakak Tatu berjanji nggak lama di Aceh,nggak lebih dari dua minggu. Dan yang terjadi, hingga saat ini Tatu nggak pernah dapat kabar dari kakaknya, ataupun keluarga lainnya. Sejak sambungan telekomunikasi diberitakan terputus, Tatu nggak pernah mendapat kabar apa pun. Dan kini, semuanya udah jelas.Tatu nggak bakalan dapat kabar dari keluarganya. Tatu bisa lihat sendiri melalui televisi, kalo daerah tempat rumahnya berada, kini udah rata dengan tanah.

Siang ini, Tatu harus mengisi perutnya. Tatu udah mempersiapkan segala sesuatunya untuk bisa bertahan hidup. Kakak Tatu memiliki sepeda motor. Tatu jago naik sepeda motor dan mau coba jadi pe-ngojek motor buat cari uang, buat nyambung hidup. Caranya gampang,Tatu ikut mangkal di tempat ojek!

Apakah bisa?

Selama ini, memang nggak pernah ada cewek jadi tukang ojek motor di daerah tempat tinggalnya. Dan Tatu sebenarnya nggak mau membuat sejarah. Tatu nggak mau disebut sebagai cewek yang memelopori pengojek cewek. Makanya, Tatu memutuskan akan merombak penampilannya jadi cowok!

Nggak susah bagi Tatu. Tatu punya jaket dan topi serta kacamata hitam yang bisa menipu mata calon penumpang. Tatu adalah cewek Aceh yang kulitnya lumayan gelap. Wajahnya nggak secantik Cut Tary, atau Cut-Cut artis lainnya. Boleh dibilang, Tatu memang lebih mirip cewek kelahiran Jawa. Bisa jadi, karena ayah Tatu yang pensiunan tentara itu emang orang Jawa yang menikah dengan cewek Aceh.Gen ayah lebih kuat dari ibu. Tatu pun terlahir sebagai blasteran Jawa-Aceh.

Selama ini, Tatu nggak pernah mengeluh kalo dirinya nggak secantik teman-temannya, atau artis sinetron Aceh yang cantik-cantik itu. Dan saat ini, Tatu justru bersyukur pada Tuhan, karena dikarunia bentuk serta raut wajah seperti yang kini dimilikinya. Penyamaran yang Tatu lakukan akan berjalan dengan baik dan lancar.Tatu akan menjadi pengojek dengan penampilan cowok.

.

NGGAK akan ada orang lain yang tau siapa Tatu, kecuali Pak Anggoro. Pak Anggoro adalah lelaki tua yang udah lebih dari sepuluh tahun menjadi tukang ojek. Pak Anggoro tinggal nggak jauh dari rumah kos kakak Tatu. Tatu udah bilang ke Pak Anggoro, kalo ia mau ngojek. Pak Anggoro nggak percaya apa yang dikatakan Tatu. Dan tentu saja, Pak Anggoro nggak pernah nyadar kalo Tatu itu cewek Aceh yang keluarganya habis diterjang gem-

pa dan gelombang tsunami.

“Nak Tatu mau ngojek? Mana mungkin bisa? Nak Tatu kan, perempuan …?” ujar Pak Anggoro, ketika Tatu mengutarakan isi hatinya.

“Tatu bisa kok, Pak. Ngojek itu kan, yang penting bisa naik motor. Dan aku juga bisa. Bapak lihat sendiri, gimana aku naik sepeda motor?”

“Ya. Bapak sering lihat kamu naik sepeda motor. Tapi

“Udahlah … aku bisa kok, ngubah penampilan jadi laki-laki. Itu masalah kecil.” “Tapi

“Bapak nggak usah khawatir. Yang penting, aku diberi kesempatan untuk ikut ngojek di pangkalan.”

Pak Anggoro menatap wajah Tatu dengan luar biasa herannya. Pak Anggoro seperti nggak ngerti kenapa Tatu begitu memaksakan diri untuk bisa menjadi tukang ojek seperti dirinya.Hingga akhirnya, Pak Anggoro jadi merasa kasihan melihat Tatu.

“Kalo kamu butuh uang, Bapak mau kok, minja-min uang.”

“Aku nggak mau menyusahkan Bapak.”

“Kalo cuma buat makan sih, Bapak punya. Memangnya, saudara-saudara kamu pada ke mana? Kayaknya, beberapa hari ini Bapak nggak melihat orang-orang yang tinggal bareng kamu.”

Tatu jadi gugup mendengar pertanyaan Pak Anggoro. Tatu takut Pak Anggoro tahu kalo dirinya anak Aceh yang seluruh keluarganya telah musnah.

“Pak Anggoro tahu, kalo saya dan kakak saya itu pendatang baru di daerah ini. Nah, sekarang ini

kakak saya sedang ke rumah famili di Sumatra. Kalo kakak saya kembali, saya juga nggak mau menjadi tukang ojek. Pasti kakak saya marah besar.”

“Ke mana kakak kamu? Ke Sumatra?”

Tatu mengangguk pelan. Setelah itu, Tatu menunduk.

Pak Anggoro kembali berkata, “Mudah-mudahan bukan ke Aceh atau ke Sumatra Utara yang kena musibah itu. Baiklah, kalo kamu ngotot mau ngojek, silakan. Tapi ingat ya, kamu harus ngubah penampilan seperti laki-laki. Ya udah, Bapak ke pangkalan dulu. Nanti, kamu nyusul saja! Kalo ada apa-apa, bilang,Pak Anggoro yang punya pangkalan ojek!”

Tatu mengangguk. Tak terasa, air mata haru tumpah ke pipinya.Tatu segera melangkah ke kosan sambil melap air matanya. Ia akan merombak penampilannya menjadi cowok.

Di kamar kosnya, Tatu menatap dirinya di cermin.

“Aku ini cewek Aceh! Aku harus kuat.Aku harus seperti Cut Nyak Dhien! Harus setegar Cut Meutia! Aku nggak mau jadi cewek Aceh yang lemah! Aku nggak mau ngemis-ngemis sama orang lain. Beruntung kakak punya sepeda motor. Aku siap mencari rezeki yang udah di-siapin Tuhan.”

Memang, jalan satu-satunya bagi Tatu adalah menjadi tukang ojek. Semua makanan dan minuman yang ada dikosannya udah ia habiskan. Tatu nggak mau menjual barang-barang yang ada di rumah kos kakaknya. Sebab, Tatu merasa bertangung jawab

menjaga barang-barang ini, dan masih memiliki harapan, kelak kakaknya akan pulang membawa seluruh keluarga,datang dari Aceh berkunjung ke rumah kos di pinggiran Jakarta. Tatu pun berharap semua orang yakin kalo keluarganya bukanlah orang GAM. Sehingga, nggak harus repot-repot mendapat pemeriksaan di perbatasan, seperti yang selama ini dikeluhkan keluarganya.

Tatu udah siap bertempur di pangkalan ojek. Jilbabnya udah tertutup rapi oleh topi. Setelah itu, ditindih dengan helm. Karena Tatu anak baru di sekolahnya, mungkin juga nggak akan ada seorang anak pun yang menyangka ada anak cewek jadi tukang ojek!

Setelah selesai menghias penampilan wajah, Tatu mengambil jaket kakak laki-lakinya. Lalu, memakainya dengan kerah dibiarkan berdiri. Sepatu kets dan celana jins yang kebesaran pun dikenakannya. Jadilah Tatu sebagai tukang ojek yang siap menarik penumpang.

Tatu bergegas menghidupkan sepeda motor. Dan berangkatlah ia mencari uang.Tiba di pangkalan ojek langsung bertemu dengan Pak Anggoro. Kalo bukan Tatu yang menegur lebih dulu, Pak Anggoro enggak akan mengenali. Sebab, penampilan Tatu benar-benar seperti tukang ojek kebanyakan.

“Kamu ….” Pak Anggoro geleng-geleng kepala. “Kamu bener-bener luar biasa. Bapak jadi ingat sama pahlawan-pahlawan perempuan tem-po dulu!”

Tatu cuma tersenyum.

Beberapa saat kemudian, tukang ojek lainnya

mengerubuti Tatu dan Pak Anggoro. Pak Anggoro pun mengenalkan Tatu pada semua tukang ojek sebagai keponakannya. Tukang ojek itu mengangguk-angguk mengerti meskipun mungkin merasa keberatan karena ada saingan baru.

SETENGAH hari Tatu ngojek. Tatu bersyukur karena bisa membawa cukup banyak penumpang. Di antara penumpang-penumpang itu, Tatu menarik penumpang yang tak lain teman sekolahnya, dan ada juga gurunya.

Mereka nggak mengenali Tatu! Ini benar-benar luar biasa. Ternyata, doa Tatu dikabulkan Tuhan. Tatu memang berharap semua orang, kecuali Pak Anggoro, nggak mengenali dirinya.

“Gimana, Nak … lumayan hasil ngojeknya?” “Alhamdulillah, ini semua berkat bantuan Pak Anggoro.”

“Kalo kamu masih mau ngojek, besok kamu bisa ngojek lagi.” “Boleh?”

“Ya, boleh! Yang penting, sekolah kamu nggak keganggu.”

Sepulang ngojek, Tatu mampir di tempat makan. Di tempat makan itu ada televisi. Kebetulan, menyiarkan tentang gempa dan gelombang tsunami yang terjadi di Aceh. Tatu cuma melirik layar televisi itu sebentar, Tatu tak kuasa berlama-lama me-

nyaksikan orang-orang di daerah-nya yang terlihat sangat menyedihkan.Setelah makan, Tatu bergegas menuju rumah kosnya. Tatu berpikir, seandainya ia terus menjadi tukang ojek, Tatu yakin ia bisa menghidupi dirinya. Seperti Pak Anggoro yang mengaku sebagai pensiunan pegawai negeri rendahan, yang ternyata mampu mencari tambahan penghasilan jadi tukang ojek.

Sepanjang perjalanan menuju rumah kosnya, Tatu menemui banyak panitia penggalangan dana Aceh. Setelah membayar makanan di warung makan tadi, Tatu masih memegang sisanya. Tatu udah menghitung-hitung, bisa untuk makan pagi dan ongkos ke sekolah besok. Dan itu pun masih ada sisanya sedikit.

Pada salah satu peminta-minta amal untuk korban Aceh di pinggir jalan itu, Tatu merogoh saku jaketnya. Lalu, mengeluarkan sedikit uangnya untuk disumbangkan ke Aceh. Tatu sungguh bersyukur bisa membebaskan dirinya dari bantuan orang lain, dan bahkan mampu membantu saudara-saudaranya yang tertimpa musibah, meskipun tak banyak.

Tatu merasa harus jadi cewek Aceh yang tegar dan kuat, dan tak pernah jadi lemah, seperti tokoh-tokoh pahlawan wanita asal Aceh yang terkenal gigih dan nggak kenal putus asa.

Aku Ingin Kau Membenciku

KURASAKAN malam semakin pekat. Awan hitam menggulung cakrawala, melenyapkan cahaya rembulan dan bintang gemintang. Angin berembus perlahan, membuat sam-pah plastik beterbangan.

Kuperhatikan para pedagang kaki lima mulai merapikan dagangannya, berkemas-kemas untuk pulang. Aku berada tak jauh dari mereka, menyandarkan tubuh pada sebuah dinding ruko. Napasku turun naik begitu cepat, seiring degup jantung yang berdetak-detak. Kuremas-remas kepalaku, sesekali membenturkannya ke tembok. Pusing!

Aku berjalan menyusuri jalan-jalan di sepanjang ruko-ruko untuk menghilangkan penat. Para pedagang makanan, warung-warung tenda, satu demi satu meninggalkan tempat mereka berdagang. Aku sendiri terus saja berjalan, melangkah tiada tujuan. Pikiranku kembali teringat pada kejadian tadi sore, ketika Anna menemuiku di tempat aku biasa parkir.

Anna, dengan sedan BMW-nya, menemuiku dengan bermaksud mengajakku jalan-jalan. “Cuma nemenin aku, Kum,” bujuk Anna. “Aku nggak bisa, An.”

“Kenapa?”

“Ya … nggak bisa.”

“Mesti ada alasannya, dong!”

“Nggak bisa … ya, nggak bisa aja.”

“Oke deh, gini aja, sore ini kamu nganter aku, ntar pulangnya aku kasih ongkos, lebih besar dari pendapatan parkir kamu sore ini! Gimana?”

“ANNA?!” aku berteriak, ngerasa tersinggung.

“Maaf, Kum, aku cuma pengin kita jalan-jalan. Itu aja.”

“Tapi, bisa di lain waktu. Nggak harus sekarang, kan?”

Anna memandangku sesaat, lalu menepiskan tangannya dengan raut wajah marah. “Kalo nggak mau, ya udah!”

Anna membanting pintu sedannya, lalu melajukannya ke luar areal parkir warung tenda yang terletak di sekitar ruko-ruko itu.

“Kum, Markum! Cewek bening gitu kok, disia-siain?!” ledek Kang Asep, penjual sea food yang tadi mergokin aku sama Anna.

Aku nggak meladeni Kang Asep. Menghela napas sebentar yang terasa sesak, lalu meninggalkan areal parkir.

Sejak kelas dua SMP, aku udah menjadi tukang parkir. Menjadi tukang parkir kulakoni demi menyambung hidup diri dan keluargaku. Membiayai sekolahku,adik-adikku,dan ibuku yang sakit-sakitan. Saat ini, aku kelas tiga SMA. Aku bangga karena mampu membiayai sekolah sendiri. Dua adikku yang beranjak besar, mengikuti jejakku menjadi tukang

parkir. Maka, sedikit demi sedikit, pengeluaranku berkurang. Namun, sejak ibuku berobat jalan, aku harus lebih giat lagi. Kalo biasa-nya aku pulang pukul sepuluh malam, kini aku baru kembali pukul dua belas. Kalo biasanya aku mengantongi dua puluh lima ribu, aku bisa mendapat tiga puluh lima sampai lima puluh ribu rupiah. Apalagi kalo malam Sabtu atau malam Minggu, aku bisa mendapat lebih dari itu. Dengan begitu, aku bisa mengatasi biaya pengobatan ibu.

Hanya, kalo aku pulang malam, besoknya Tetapi semua temanku maklum, karena mereka tahu bahwa aku adalah seorang tukang parkir yang pulang larut malam! Termasuk Anna.

Anna adalah teman sekolahku, hanya berlainan kelas. Anna tahu kalo aku ini tukang parkir. Tapi, itu tak menyurutkan dirinya temenan denganku. Semua anak di kelasku akhirnya tahu kalo Anna suka padaku. Begitupun aku, senang punya temen secantik dirinya. Hanya, aku selalu merasa nggak enak berdua-duaan sama Anna, cewek cakep anak orang kaya itu.

Semua teman di sekolahku mengatakan bahwa aku memiliki wajah yang lumayan tampan. Selain itu, tubuhku atletis dan berisi. Aku jago taekwondo dan basket. Di sela-sela markir, aku berlatih main basket di areal parkir. Untuk latihan taekwondo, aku menyempatkan ikut latihan setiap Minggu pagi. Sejak ikut latihan kelas dua SMP, kini aku menyandang sabuk hitam dan dua!

Perihal hubunganku sama Anna, bukan rahasia

lagi. Karena akhirnya semua anak di sekolah, guru-guru, para pemilik warung tenda di tempat aku biasa parkir, tahu kalo Anna kekasihku. Bahkan, ibuku pun tahu. Sebab, bukan sekali dua kali Anna datang ke rumahku. Anna sempat masuk sekolah, aku pasti mengantuk di kelas, pula mengantar ibuku ke rumah sakit dengan sedannya.

Namun begitu, tampaknya kedua orangtua Anna nggak suka Anna berhubungan denganku. Orang tua Anna mengetahui hubungan putrinya dari Alek, salah satu cowok sekelas Anna. Alek cukup tampan dan berada. Hobinya motor sport dan nge-track di jalan raya.Teman-temanku bilang,Alek udah lama naksir Anna. Tapi, Anna nggak menanggapi.Malah,Anna pernah mengatakan padaku bahwa ia nggak suka Alek. Anna bilang, ia sangat mencintaiku.Ia nggak peduli meskipun aku ini tukang parkir!

Sebaliknya, akhir-akhir ini, aku yang selalu menghindari Anna. Dengan berbagai alasan, aku selalu menolak kalo Anna menemuiku di luar sekolah. Apalagi harus jalan-jalan berduaan, seperti yang diinginkan Anna sore ini. Hal itu kulakukan karena aku mendapat ancaman dari orangtua Anna,yang mendampratku di tempat parkir.

Ketika itu,aku tengah sibuk memarkir kendaraan seperti biasa. Tiba-tiba, seseorang dari dalam salah satu mobil yang tengah parkir memanggilku.

“Kamu yang bernama Markum, ya?!” tanya seorang laki-laki berkepala botak dari dalam mobilnya. “Kenalkan, saya papinya Anna! Saya tahu, kamu suka mengganggu putri saya! Apa kamu nggak

pernah ngaca, siapa diri kamu? Mulai sekarang, jauhi putri saya! Kalo nggak, kamu akan berurusan dengan polisi! Nih, kembaliannya ambil!”bentak laki-laki yang mengaku orangtua Anna itu, sambil melempar uang dua puluh ribu rupiah padaku.

Aku nggak ngambil uang itu. Membiarkan lembaran bergambar Ki Hajar Dewantara terhempas di aspal. Temanku Ipen, seorang tukang parkir lainnya, mengambil uang itu lantas mengembalikannya padaku.

“Ambil aja! Buat anak-anak!” kataku pada Ipen.

Sejak saat itu, aku yang sebenarnya mencintai Anna, berusaha untuk menghindar. Aku nggak peduli meskipun ia selalu mendekatiku. Aku nggak peduli meskipun ia selalu mengajakku pergi. Aku nggak peduli meskipun sesungguhnya hatiku begitu berat menolak setiap ajakannya. Aku nggak peduli menolaknya meskipun sesungguhnya aku begitu mencintainya. Aku nggak peduli! Aku ingin, ia tak mencintaiku!

“Apakah kamu udah nggak suka sama aku lagi, Kum?” tanya Anna siang itu, di kantin sekolah. “Aku suka kamu, An!” kataku, jujur. “Lalu, kenapa kamu selalu menolak ajakan-ku?” “Belum saatnya, An.” “Belum saatnya?” “Ya.”

Anna nggak tau kalo orangtuanya mendampratku di areal parkir. Anna nggak pernah tau kalo orangtuanya sering mengancamku, melalui Alek. Sebaliknya, aku nggak pernah menceritakan perihal

ini. Aku khawatir Anna akan marah pada orangtuanya bila kuberitahukan hal itu.

Aku masih berjalan sendirian, menyusuri jalan di penghujung malam. Hujan tiba-tiba turun, ditandai dengan gemuruh halilintar. Langit akhirnya menangis,seperti ingin berbagi kesedihan.Aku berteduh di sebuah emperan swalayan, duduk di sana dan menunggu hujan reda.

Lima belas menit kemudian, aku udah kembali berjalan, entah ke mana, yang aku sendiri nggak tau. Aku nggak peduli malam masih menyisakan gerimis, aku melangkahkan kaki mengikuti jalan raya dengan hati giris. Pikiranku kembali pada Anna, cewek cantik yang telah membuat perasaanku gundah gulana. Ingin kukatakan bahwa sesungguhnya aku mencintainya.Tapi,aku nggak mampu, bukan karena aku takut pada orangtuanya.Tetapi, aku menuruti pesan ibuku, agar aku nggak terlalu serius berhubungan dengan cewek.

“Berteman boleh-boleh saja, tapi ada batasnya. Kamu harus lebih banyak konsentrasi pada sekolah dan pekerjaanmu! Ingat, kamulah harapan Ibu satu-satunya. Kamu harus lulus sekolah. Kalo gigih, kamu pasti mampu! Meskipun cuma tukang parkir, kalau kamu sungguh-sungguh, kamu pasti bisa, Kum! Seandainya bapakmu masih hidup, beliau pasti bang-ga.”

“Ibu jangan berkata begitu. Biarlah bapak tenang di alamnya. Markum janji akan menuruti pesan Ibu,” jawabku waktu itu.

“Maaf ya, Kum?! Ibu harus melarangmu seperti

ini. Apa yang Ibu katakan, semuanya demi kemajuan kamu. Satu hal lagi Kum, tentang Anna. Kalo bisa, sebaiknya kamu jangan terlalu serius dengannya. Dia itu berbeda dengan kita. Antara kita dan dia itu ibarat langit dan bumi. Kamu harus memperlakukannya dengan baik. Meskipun Anna baik sama kitajangan sekali-kali kamu berpikir, berandai-andai suatu saat ia jadi pendamping hidupmu. Kecuali jika kamu bisa membuktikan, keluar dari kesulitan ini. Oleh karena itu, konsentrasilah pada sekolah dan pekerjaanmu.”

Aku kembali tersadar dari lamunan dan masih berjalan sendirian, menyusuri jalan aspal yang basah. Tak kuhiraukan gerimis yang mulai membasahi tubuhku. Aku tetap berjalan, menembus kegelapan malam yang gerimis. Aku masih tetap nggak mampu keluar dari bayang-bayang Anna. Entah kenapa, sekarang baru kusadari. Semakin aku berusaha melupakannya, aku semakin rindu padanya. Semakin kutekadkan diri untuk nggak mencintainya, aku semakin merasa tersiksa. Apakah harus kukatakan sejujurnya bahwa aku sebenarnya sangat mencintai Anna, dan selalu kuturuti setiap ajakannya?

Aku nggak tau dan bingung. Mungkin aku memang cowok bodoh. Aku benci sama semua ini! Ya Tuhan, mengapa nasibku seperti ini? Mengapa aku nggak seperti teman-teman sekolahku? Apakah seharusnya aku nggak sekolah saja? Apakah seharusnya aku seperti teman-teman parkirku aja? Nggak perlu susah-susah sekolah,karena sekolah cuma bikin pusing aja?! Aku sendiri belum tau, apakah se-

telah lulus SMA ini aku bisa langsung mendapatkan kerja, meneruskan kuliah, atau tetap seperti ini, menjadi tukang parkir?

Menjadi tukang parkir pun nggak jelek-jelek amat.Tetapi untuk apa aku sekolah,kalo tetap menjadi tukang parkir? Temanku seperti Ipen dan Agus yang nggak sekolah pun bisa jadi tukang parkir! Ya, TuhaniKalo saja ibu tidak menyuruhku sekolah,udah lama aku berhenti sekolahIDan,mengapa Anna harus mencintaiku?! Sialnya, aku pun nggak mampu melupakannya. Aku nggak tau lagi gimana cara menghindarinya.

Seminggu lalu, udah kucoba dengan cara memanas-manasinya dengan cewek lain. Aku sengaja berjalan dengan Lidya di depannya, dengan maksud memancing kecemburuannya. Aku pun mengantar Lidya pulang sekolah. Aku berharap ia terpancing. Aku ingin Anna membenciku. Biar dia nggak usah datang-datang lagi menemuiku. Biar aku bisa melupakan wajahnya dan lambat laun, aku bisa menghapus keberadaanya, melenyapkan dirinya dari kehidupanku!

Tapi,Anna nggak cemburu! Anna nggak marah aku jalan bareng Lidya. Anna nggak marah aku ngantar pulang Lidya. Ketika itu, Anna justru menanyakan secara baik-baik sama Lidya, tentang hubungan Lidya denganku. Uh, dengan jujur, Lidya mengatakan bahwa antara aku dan dirinya nggak ada apa-apa.Jadi, memang nggak ada alasan buat cemburu!

Lalu, gimana caranya agar Anna membenciku?

Apakah aku harus berpura-pura, mengatakan padanya bahwa aku membencinya? Berbohong pada kata hatiku?!

Aku nggak mampu melakukannya. Kini, ketika semakin jauh kumelangkah, aku nggak tau gimana jalan keluarnya. Malam semakin larut, gerimis tak juga reda. Aku masih terus berjalan tanpa tujuan dan berusaha untuk menenangkan pikiran yang tak kunjung hilang. Berusaha untuk melupakan Anna sekejap yang tak pernah bisa kulakukan.

Prom Night With Nira

BEBERAPA anak kelas tiga yang sebentar lagi berpisah, bakal menggelar prom night. Rencananya, mereka menyewa baiiroom sebuah hotel di pusat kota. Acara disusun sedemikian rupa supaya bener-bener menjadi kenangan indah yang tak terlupakan sepanjang masa. Seorang DJ Top udah dihubungi, berikut beberapa penyanyi terkenal sebagai pengisi acara.

Pokoknya, top abis, deh!

Ajeng, yang jadi ketua panitia, terlihat paling sibuk. Saat ini, dia lagi mampir ke rumah Dea, ngo-mongin prom night.

“DJ oke, pengisi acara oke, susunan acara rapi, terus Ajeng berhenti sebentar, “Apa lagi yang kurang?”

“Tema kostumnya, Jeng! Tema kostumnya!” tukas Dea seraya menjentikkan jemarinya, sebagaimana seseorang menemukan ide brilian.”Maksud elo?”

“Pas prom night nanti, kita-kita mesti pake baju apa?”

“Bener juga. Punya ide, nggak?”

“Ada, sih. Kata majalah yang gue baca, ada

beberapa pilihan baju yang bisa kita pake pas prom night. Sweet prom, Giam punk prom, Vintage prom, atau Eksentrik prom?”

“Wah, ribet juga, ya? Jelasin, dong satu-satu!” pinta Ajeng.

“Oke, deh, gue jelasin satu-satu, berdasarkan majalah yang gue baca. Sweet prom itu, model bajunya lebih feminin dan manis, seperti warna-warna pastel; hijau, biru, atau kuning pastel. Sedangkan Giam punk prom, mentingin aksesori yang keliatan nge-punk. Vintage prom, nah ini yang agak ribet! Kayak pemakaian tiie pada roknya dan draperi atau kerutan-kerutan pada atasannya. Dan gue rasa, saat kita make baju seperti ini, kita akan terlihat anggun, hehehe …!” Dea ketawa, lalu narik napas panjang.

“Nah, yang satunya lagi?”

“O, ya. Eksentrik prom,,’Sesuai namanya, tentu kita bakal banyak menarik perhatian mata. Sebab, baju yang kita pake emang nggak standar! Keliatan eksentrik, gitu! Nih, contoh-contohnya bisa elo liat di majalah gue.”

Kemudian, Dea mengeluarkan majalah dari rak. Keduanya pun sibuk membolak-balik majalah itu, memilih baju apa yang nantinya bakal mereka kenakan di acara prom night.

“Gimana kalo kita pake tema sweet prom aja?!” usul Ajeng sambil menunjuk gambar sebuah gaun di majalah yang dipegangnya.

“Oke banget, tuh!”

“Ya udah, kalo elo setuju, gue juga oke! Terus

... pas acara nanti, semua pada dateng, kan?”

“Beres! Anak-anak udah setuju semua, kecuali Nira, yang mungkin nggak bisa dateng.”

“Kenapa?”

“Gue nggak bisa ngejelasin detilnya. Kayaknya, elo yang mesti ngebujuk dia!”

Ajeng pun menghela napas, begitu berat. Kalo sampe ada anak kelas tiga yang nggak ikut acara prom night nanti, kayaknya nggak sreg! Apalagi Nira, cewek paling jenius dan terkenal kreatif itu!

“Kenapa ya, Nira nggak mau ikutan?” tanya Ajeng akhirnya, setelah keduanya diam.

“Mungkin karena Nira nggak suka pesta, kali?” tebak Dea.

“Iya juga, sih. Nira emang antiparty1. Tapi, masa saat malam perpisahan nanti dia nggak mau dateng?!”

“Kalo kamu bujuk, mungkin dia bisa ikutan kali?” usul Dea.

“Oke deh, gue coba.”

Esok siang, saat bel istirahat, Ajeng nyari-nyari Nira di tempat Nira biasa mangkal, di perpustakaan sekolah.

“Nira, saya mau ngomong, bisa?” ucap Ajeng, membuka percakapan.

Nira yang lagi asyik ngebet-ngebet sebuah buku cukup tebal, memberikan perhatian pada Ajeng. “Ada apa?” tanyanya, terdengar begitu resmi.

“Begini, Ra,” Ajeng sedikit nervous, harus bagaimana menjelaskannya. “Ee mungkin kamu udah tau kalo aku ama anak-anak mau ngadain

prom night.Semua anak setuju dan mau ikutan. Aku denger, cuma kamu yang nggak mau ikut. Bener nggak, sih?” ucap Ajeng akhirnya.

“Ya. Terus, kenapa?” Nira balik tanya.

“Begini, Ra. Penginnya, semua anak kelas tiga bisa ikutan,”ucap Ajeng, dengan penuh harap. Lalu, Ajeng menatap wajah Nira yang tenang, seolah nggak memiliki rasa bersalah.

“Aku nggak bisa, Jeng!”

Ajeng menarik napas dalam-dalam, memperlihatkan kekecewaannya.

“Boleh tau nggak, kenapa kamu nggak bisa ikutan?”

“Masalahnya, aku nggak suka sama format acara itu. Dari namanya aja, prom night1. Aku yakin, kalian cuma tahu namanya aja, prom night. Coba kalo kalian bikin dengan tema ‘acara malam perpisahan kelas tiga1, misalnya, ada kemungkinan aku bakal dateng!” jawab Nira sedikit antusias.

“Alasan kamu nggak ngena deh, Ra,” celetuk Ajeng.

“Oke deh, kita bahas dulu, apa itu prom night. Asal kamu tau, sebenernya prom night itu acaranya para ortu. Tradisi prom night menurut buku Prom Night karangan Amy Best, dimulai sejak awal abad ke-20. Tepatnya kira-kira tahun 192D, di beberapa kota di Amrik, terutama di kota-kota industri yang masyarakatnya kebanyakan bekerja sebagai buruh-buruh pabrik. Nah, prom ini dibuat oleh masyarakat setempat sebagai ajang mempertemukan cewek ama cowok yang beranjak dewasa atau remaja.

Bisa dibilang, sebagai momen para ortu memperkenalkan anak-anaknya. Kalo mau contoh bentuk awal prom, cek deh, film The Deer Hunter. Nah, itulah alasan kenapa aku nggak mau ikutan,” ucap Nira dengan gaya seperti seorang guru menerangkan pelajaran sejarah.

“Wah, kamu emang banyak tahu tentang segala hal, Ra. Pantes kalo kamu dinobatkan jadi murid paling oke di sekolah ini. Tapi, apa yang kamu kemukakan tadi nggak bisa dijadikan alasan kenapa kamu nggak bisa ikutan,” kata Ajeng, dengan bibir bergetar.

“Udah bisa aku bayangin gimana acara yang kamu buat nanti berlangsung! Aku juga tau kalo acara kayak gitu emang udah populer dan dijadiin tradisi oleh muda-mudi di beberapa negara. Satu hal yang perlu kamu tahu dari diri aku, bahwa aku beda sama kalian! Aku nggak suka pesta! Dan, aku … seandainya bisa ikutan prom night … nggak punya pasangan seperti kalian!”

Sekarang, Ajeng benar-benar mengerti keadaan sesungguhnya.

“Jadi, nggak ikutnya kamu dalam acara tersebut bukan karena prom night itu budaya luar negeri, kan?” selidik Ajeng, ketika Nira terlihat mulai melunak.

Nira terdiam. Keadaan menjadi hening. Belum sempat berkata-kata, bel sekolah berbunyi tiga kali. Semua anak meninggalkan ruang perpustakaan. Nira menutup buku tebalnya, kemudian meletakkannya di atas meja. Ajeng membantu Nira, menaruh buku itu

di sebuah rak yang nggak teraih tangan Nira. Setelah itu, Ajeng memegangi tubuh Nira yang hendak kembali duduk di kursi rodanya. Tapi, Nira menolak dengan halus.

“Maaf, Jeng! Aku bisa sendiri!” elak Nira, sambil berusaha keras duduk di kursi rodanya. Pada saat itu, kursi rodanya agak oleng sehingga keadaan tubuh Nira yang cacat sejak lahir itu limbung. Untung, Ajeng bisa memegang erat-erat kursi roda itu, hingga Nira bisa tertahan. Setelah itu, Ajeng mendorong kursi roda keluar perpustakaan. Nira memegangi tangan Ajeng, mengelus-elusnya sambil bilang, “Terima kasih, Jeng.”

Di luar perpustakaan, tampak Dea dan kawan-kawan yang sejak tadi menunggu, merasa surprise melihat Nira dan Ajeng keluar bareng. Mereka menduga-duga, barangkali Nira luluh hatinya. Besar kemungkinan doi mau ikutan acara prom night nanti.

SEMINGGU sebelum hari H,beberapa anak kelas tiga yang jadi panitia prom night berkumpul, terutama membahas masalah Nira. Sebab,mengenai format acara dan tetek-bengeknya udah oke semua.

“Mudah-mudahan Nira bisa ikutan!” terang Dea, pada anak-anak lainnya.

“Kepengin gue, Nira mau ngebacain pusi karya-nya!” sodok Galuh, sambil senyum-senyum.

“Kalo nggak, baca cerpen-cerpennya juga

asyik, tuh!” Cyntia menambahkan.

“Gimana kalo dia nyumbang satu lagu ciptaan-nya?” kali ini, Meutia yang mengusulkan.

“Gue sih, setuju-setuju aja. Masalahnya, dia bener-bener mau dateng, nggak?” akhirnya Ajeng komentar, membuat anak-anak kembali jadi keliatan down.

Sebenarnya, seandainya Nira nggak ikutan prom night, anak-anak panitia yakin acara itu meriah. Namun, kehadiran Nira di acara itu sungguh berarti bagi mereka. Semua anak kelas tiga pun pasti senang melihat Nira bersama mereka.

Nira adalah anak yang pandai dan serbabisa. Dia seringkah mengharumkan nama sekolah. Cacat yang dideritanya nggak menghalangi kreativitasnya. Sehingga, berbagai penghargaan, dari soal seni budaya maupun ilmu pengetahuan bisa diraihnya. Nira yang nggak mampu berdiri itu, jago bikin puisi. Nira yang sehari-hari duduk di kursi roda itu, langganan juara nulis cerpen. Bahkan, dia menjadi salah satu peserta kompetisi fisika internasional! Itulah sebabnya, sebagian anak-anak panitia ngotot menghadirkan Nira pada acara itu.

APAKAH semua anak mesti berpasangan?” tanya Nira, pada Ajeng dan anak-anak panitia yang datang ke rumahnya, yang nggak mau berhenti membujuk Nira.

“Nggak harus, Ra. Aku juga sendirian,” ucap Ajeng.

“Jangan begitu, Jeng. Aku nggak mau gara-gara aku, Adit yang jadi korban!” tukas Nira, yang tau banget kalo Ajeng dan Adit udah lama pacaran.

“Kalo perlu, aku juga dateng sendirian!” ucap Dea tiba-tiba, membuat anak-anak kebingungan.

“Bima mau dikemanain, Dea?!” kata Nira, sambil senyum.

“Ya, udah. Nggak usah basa-basi. Aku pasti dateng di acara prom night nanti. Ada atau nggak ada pasangan. Lagian, aku udah biasa sendirian, kok,” ucap Nira akhirnya, membuat Ajeng dan anak-anak nggak percaya. Mereka nggak menduga kalo akhirnya Nira luluh juga. Barangkali karena hampir semua anak memaksa Nira untuk hadir di prom night.

“Kamu mau dateng, Ra?” Ajeng melotot, masih nggak percaya.

“Kamu bisa dateng?!” Dea ikutan terbelalak.

“Ya, aku pasti dateng!” Nira meyakinkan.

“Nira … makasih, ya?!” semua anak memeluk

Nira.

ACARA prom night pun berlangsung meriah. Semua anak kelas tiga hadir. Termasuk Nira! Anak-anak menyambutnya senang. Apalagi, ternyata Nira “dikawal” oleh Ahmad, cowok paling ganteng di ke-

las tiga! Ahmad always berdiri di belakang kursi roda Nira. Semua anak nggak nyangka, termasuk Ajeng dan Dea.

“Ahmad …!” mata Dea terbelalak.

“Bener kata gue, segala hal bisa terjadi tanpa kita duga!” kata Ajeng, sok berfilosofis.

“Gue pikir, Ahmad bakal ngajak siapa, gitu,” kata Dea lagi.

“Udahlah, emangnya kamu ngiri, ya? Bima mau dikemanain?!” tukas Ajeng, bikin Dea me-rengut.

Semua anak, terutama cewek, nggak pernah nyangka kalo Ahmad datang bareng Nira. Ahmad, salah satu cowok paling keren di sekolah, rupanya sengaja datang menemani Nira atas inisiatif sendiri. Ternyata, udah lama Ahmad membanggakan sosok Nira.

Di tengah acara, Ajeng meletakkan mahkota kecil yang anggun dan indah di kepala Nira. Nira di-Mnobatkan sebagai prommiss, alias yang menjadi ratu di acara prom night kali ini! Semua anak bertepuk tangan meriah buat Nira.

Acara ini pasti sungguh berkesan di hati Nira. Akhirnya, Nira menyadari kalo selama ini anak-anak kelas tiga sangat tulus menyayanginya. Yang jelas, pada akhirnya menjadi begitu berat berpisah dengan mereka yang selama tiga tahun ini bersamanya di sekolah.

Ehm…!

EHM ...!” Aku berdehem untuk mencari perhatiannya. Celaka dua belas, dia masih tetep aja cuek. Aku berdehem aja dia cuek, apalagi diem-dieman? Bisa makin diem aja …! Bener-bener cool banget tuh cowok!

“Ehm …!”

Sekali lagi aku berdehem. Bukan untuk apa-apa, cuma sekadar cari perhatian. Paling, nggak di-liriklah. Tapi, dia tetep aja cuek dan sok serius dengan bacaannya. Aku jadi semakin sebal dengan diriku Apakah aku nggak menarik di mata dia?

Sungguh, aku nggak tau gimana cara mencari perhatiannya,menarik simpati agar dia mau bertegur sapa denganku.Paling nggak,dia ngasih respons di-kit.Biar aku nggak merasa dicuekin.Disepelein.Emang enak dianggurin,dicuekin! Meskipun anggur itu enak, dianggurin tuh jadi kayak sapi ompong! Beda banget dibanding diapelin! Hah,diapelin? Boro-boro diapelin, kasih perhatian dikit aja nggak!

“Ehm …!”

Bujuk buneng! Aku bener-bener jadi mati rasa! Padahal, dehemku udah digedein dikit volumenya.

Dia masih tetep aja cuek bebek. Aku jadi sebel sekaligus penasaran.Padahal, di ruang perpustakaan ini cuma ada aku dan dia. Aku duduk di tengah, sekitar tiga langkah dari posisi-nya yang duduk di sudut.

Daripada capek hati, mending aku tinggalin dia aja. Uh, tenggorokanku jadi sakit. Lebih baiknya aku ke kantin aja, deh! Pengin minum cola. Siapa tau bisa bilang, “Hey! Hey! How are you?!”

NGGAK biasanya, kantin sepi sekali. Aku cuma liat satu cowok yang duduk di bangku panjang sambil ngangkat sebelah kakinya. Posisi ini mirip orang lagi ngopi di warung pinggir jalan. Tapi, cowok itu nggak lagi ngopi. Dia duduk santai Aku nggak terlalu kenal dengan cowok ini. Mungkin anak kelas satu. Terlalu sulit bagiku menghafal cowok-cowok yang ada di sekolah ini. Selain karena aku belum terlalu lama berada di sekolah baru ini, mungkin juga karena aku cewek yang nggak punya rasa pede tinggi.

Barangkali mama benar. Aku ini orangnya minder.

Oke, deh. Aku akan membuang jauh-jauh rasa minderku ini. Kalo di perpustakaan tadi, aku gagal menarik perhatian cowok yang menurutku lumayan keren. Sekarang, aku akan mencoba mencari perha-

tian cowok keren lainnya yang lagi duduk santai di kursi kantin ini!

Uh, begitu banyak cowok keren di sekolah ini. Masa nggak ada satu pun yang bisa nyangkut? Hi hihi nyangkut kayak jemuran aja!

Rasanya nggak mungkin kalo langsung kutanyakan namanya. Hm, nggak etis banget deh, kalo cewek nanya duluan. Ntar dikira sok akrab. Sok kenal. Atau, bisa jadi aku dibilang cewek kegatelan! Sori, yah! Aku harus berusaha mem-buat dia bertanya padaku lebih dulu! Gimana caranya?

“Ehm …!”

Aku berdehem, mudah-mudahan dia melirik-ku. Kalo dia melirikku, aku akan langsung tersenyum padanya! Tapi … setelah aku berdehem tadi, kok dia nggak menatap wajahku. Dia cuma menoleh ke samping kiri dan kanan, lalu wajahnya melongok ke kolong meja, seolah mencari-cari sesuatu! Brengsek! Woooi … aku di sini!!!

Lebih baik, aku pesan minum dulu, sambil nunggu dia sadar kalo di kantin ada aku.

“Bu, cola satu!” lancar benar suaraku. Sengaja kukeraskan, biar tuh cowok sadar ada cewek di kantin ini!

“Yang dingin apa biasa, Non?”

“Yang dingin! Berapa?!”

“Seribu tujuh ratus, Non!”

“Eits ..!” Aku mengeluarkan jurus-jurus silat, mendengar Bu Kantin menyebut seribu tujuh ratus! Aku tau harga sebenarnya seribu tiga ratus. Paling nggak, diluruskan jadi seribu lima ratus!

“Hehehe …, seribu lima ratus aja deh, Non!”

“Seribu tujuh ratus juga nggak pa-pa, Bu. Saya cuma becanda.”

Aku melirik lagi, berharap si cowok memerhatikan keramahanku pada Bu Kantin. Tetapi, rasanya dia tetap pada posisinya. Duduk dengan sebelah kakinya terangkat, dengan tatapan wajah lurus ke luar kantin. Huah! Dia nggak peduli dengan keberadaanku!

Setelah membayar, aku duduk selang dua meja dari si sok cuek. Diam-diam, aku terus meliriknya, mencoba memasuki alam pikirannya. Apakah yang sedang dilamunkan cowok ini? Apakah ia tengah merasa gundah karena habis diputusin? Atau mungkin tengah memikirkan bagaimana mendekati seorang cewek pujaan hatinya? Entahlah. Aku nggak tau.

“Ehm …!”

Aku berdehem untuk yang kedua kalinya, kembali berharap agar si cowok melirikku. Tetapi, yang terjadi justru sebaliknya. Kulihat dia meremas-remas rambutnya. Menundukkan kepala, lalu membenamkannya di atas meja.

Aku nggak tau gimana caranya,agar dia kembali duduk seperti semula. Kalo dengan posisi menunduk begitu, dia nggak akan sempat melirik ke arahku. Menemukan seorang cewek yang duduk sendirian dan ingin sekali disapa.

Setelah cukup lama memerhatikan dan si cowok nggak juga mengangkat kepalanya, aku menyeruput minumanku.

Srooottt ….

Ah, mak’nyes rasanya! Cowok itu mengangkat kepalanya. Duduk dengan posisi seperti semula, namun nggak lagi mengangkat sebelah kakinya. Aku nggak tau,apakah konsentrasinya terganggu karena mendengar suara tadi, atau ia memang sengaja melakukan itu atas keinginannya sendiri.

Kupikir, inilah kesempatan emas bagiku. Barangkali cowok ini udah mulai merasakan keberadaanku di dekatnya. Selangkah lagi, dia akan benar-benar dapat kutaklukkan. Aku berharap dia marah. Tak apalah dia marah. Nggak sedikit film bertema cinta yang kutonton, yang memulai hubungan kasih dengan kemarahan. Seperti ungkapan “benci” yang bisa diartikan sebagai “Benar-benar cinta ….”

“Ehm ..!”

Tak sengaja,dehemku keluar begitu saja.Kulirik cowok itu menghela napas panjang, lalu pergi begitu saja meninggalkanku kantin! Meninggalkan seorang cewek yang tengah berusaha mati-matian menarik perhatiannya!

Apakah aku harus tersinggung? Apakah aku harus marah? Marah sama siapa? Apakah aku harus marah pada diri sendiri? Rasanya, percuma aku marah-marah sendiri. Lebih baik kutinggalkan kantin ini. Mungkin lebih baik kalo aku melihat anak-anak yang tengah menyaksikan pertandingan bola basket antar kelas. Apakah aku harus nonton bola basket?! Aku nggak suka basket! Aku ke kelas aja!

Setibanya di kelas, aku duduk di kursi. Aku duduk sendiri karena mungkin semua anak berada di

lapangan basket! Beberapa menit kemudian, seorang cowok masuk kelas dengan tubuh ber-simbah keringat.

Dia Markum, cowok jagoan basket di kelasku. Bodinya kekar. Jangkung. Tampang oke. Bisa dibilang, cowok paling guanteng di sekolah baruku ini!

Tiba-tiba aku mengkhayal, seandainya saja Markum yang katanya cowok baik itu mau menjadi teman dekatku. Ah, kok, mengkhayal?! Aku nggak mau jadi cewek pengkhayal! Aku harus sebisa mungkin berusaha mendapatkan perhatianya. Tapi, kok mulutku berat sekali,ya? Benar kata mama, mungkin aku harus mengambil kursus kepribadian! Biar nggak minder begini. Menanyakan teman satu sekolah aja nggak berani.

“Ehm …!”

Tiba-tiba, aku mendengar suara dehem. Jelas ini bukan suaraku! Aku mendengar dengan jelas bunyi itu dari mulut seseorang yang berada di kelas ini. Tak ada seorangpun yang ada di ruangan ini, kecuali aku dan si ganteng Markum! Apakah aku nggak salah dengar? Apakah telingaku sedang nggak normal?

Aku melirik Markum, tapi dia duduk cuek sambil melap keringatnya. Eh, siapa sih, yang tadi berdehem?Jangan-jangan, emang cuma perasaanku aja?!

“Ehm!”

Suara dehem lagi! Kali ini aku yakin, pasti Markum yang berdehem. “Ehm …!”

Kubalas dehem itu.

“Ehm!”

“Ehm …!”

Hihihi aku dan Markum main dehem-

deheman! Kulihat wajahnya tersenyum ke arahku! Hm,bener-bener manis! Sekarang,aku percaya sama omongan Sania, temen sebangkuku, kalo Markum emang cowok paling manis di dunia!

“Ehm! Emmm …! Ehm!!!”Markum berdehem lagi.

“Ke-ke-ke … ke … na … ke-na-pa, Kum …?” akhirnya, keluar juga keberanianku.

“Eh, ini Lin,tenggorokan aku gatel banget!Ehm!” Ooo aku kira, dia berdehem untuk cari perhatianku? Ternyata ….

“Kamu kok, gitu sih, Lin? Orang lagi sakit tenggorokan malah diledek?!11

“So-so-so … ri … a-a-aku … tadi … ng … ng … nggak sengaja!”

“Hehehe nggak pa-pa, Lin. Aku nggak marah! Ngomong-ngomong, kamu betah sekolah di sini?!”

“Be-be-betah ju-ga, sih. Ta-ta-tapi … a-a-aku belum bi-bisa ngi-ngilangin gu-gu-gugupku ini.”

“Nggak pa-pa, Lin! Nanti juga kamu nggak gugup lagi, asal kamu mau berusaha menyem-buhkan kegugupanmu ini. Sori ya, kalo selama seminggu berada di sekolah ini temen-temen pada ngeledekin kamu.”

“Ng … ng … nggak pa-pa, Kum. A-a-aku u-udah biasa, kok.”

“Oh ya, ntar siang kamu ada acara nggak?! Aku

mau ke toko sport, mau nggak nganter aku?!”

“HAH!? Nga-nga-nga-nganter … kamu?!”

“Iya, Lin! Mau, kan?!““Mau!”

“Ya udah, sampe ntar siang, ya?! Sekarang, aku mau ke lapangan lagi. Kamu kok, nggak nonton aku main basket, sih? Takut diledek temen-temen lagi, ya?”

“Ng … ng … nggak kok, Kum.”

“Yuk, bareng aku! Nih, kamu bawa handukku. Kalo sama aku, nggak bakalan ada anak yang berani ngeganggu kamu! Yuk!”

Akhirnya, aku menuruti ajakan Markum ke lapangan basket. Aku hampir shock berjalan bersisi-an dengan Markum. Benar kata Sania,Markum bukan cuma ganteng, tapi baik hati! Rasanya, dadaku bergemuruh berjalan di sampingnya. Apalagi saat satu-dua pasang mata cewek memandang kaget ke arahku dan Markum! Barangkali mereka berpikir, aku yang selama berada di sekolah ini diacuhkan anak-anak, kok, bisa-bisanya jalan bareng cowok paling keren di sekolah ini! Apalagi pake acara bawa-bawa handuknya segala!

Ehm! Aku jadi ge-er, deh!

My First Date

GILE bener! Damar ngajak gue nge-ctete! Gimana, dong?!”

“Sabar, Cha. Sabaaar …! Pejamkan mata elo, tarik napas dalem-dalem, terus lepas-kan perlahan-lahan.”

Icha melakukan apa yang diminta Nana. Ia pejamkan matanya,menarik napas dalam-dalam, lalu melepaskannya perlahan.

“Gimana, Cha? Lebih enak, kan?” Icha memejamkan kedua bola matanya sekali lagi, lalu diam cukup lama, menunggu apakah perubahan itu datang.

“Gimana perasaan elo sekarang, Cha? Udah lebih baik?!” ulang Nana.

“Boro-boro, Na! Gue tetep aja deg-degan!”

“Aduh, Cha! Gimana, sih?! Elo nggak konsen,

sih!”

“Bodo, ah! Gue bingung neh!”

“Tapi, Cha Nana berhenti sebentar, lalu garuk-garuk kepala, “Cha … kita udah sama-sama tau kalo si Damar itu udah punya gebetan.”

“Dia bilang udah diputusin, Na.”

“Elo percaya?”

“Percaya, dong! Dia udah sumpah-sumpah di depan gue!”

“Iya sih, tapi namanya cowok, bisa aja dia ngibul.”

“Udah, deh! Kok, elo malah mikir gitu?! Bukannya bantuin gue gimana cara ngadepin dia.”

“Oke. Sekarang gini aja, elo pulang, terus langsung tidur. Nanti pas bangun, elo bakal baikan, deh!”

“Nah, gitu dong, kasih saran. Ya udah, gue pulang duluan. Gue turutin saran elo, kebetulan gue ngantuk berat neh!”

“Tapi, tidurnya jangan sampai keterusan ya, Non?!”

“Iya, lah! Dia kan, bakal jemput gue jam setengah lima!”

“Ya. Tidur siang satu jam udah cukup!”

“Gue balik duluan, ya?”

“Daaagh …!” Icha nggak seperti biasa, pulang lebih dulu. Nana melepas kepergian Icha dengan perasaan berat. Bukan apa-apa, Sabtu ini pertama kalinya bagi Icha janjian dengan seorang cowok. Nana khawatir Icha diperlakukan macam-macam, seperti dirinya dulu. Sebab, Nana sendiri pernah dibohongin sama Damar. Hanya, Nana merahasiakanya pada Icha.

SETIBANYA di rumah, Icha langsung tidur

siang. Papa dan mamanya yang memang libur kerja pada hari Sabtu, bingung melihat tingkah putrinya.

“Itu si Icha, kok tumben-tumbennya bisa tidur siang? Biasanya, jam segini dia belum pulang,” selidik mama.

“Jangan-jangan, dia sakit kali?”

“Ya udah, kita tanya, yuk!” Papa dan mama masuk kamar Icha. Icha yang sebenarnya nggak bisa tidur, pura-pura memejamkan mata. Ya, Icha emang nggak biasa tidur siang. Icha masih aja mikirin Damar yang akan menjemputnya nanti sore.

“Kayaknya tidurnya nyenyak banget, Ma,” ujar

papa.

Icha tentu saja mendengar ucapan papanya itu. Sebenarnya, Icha kepengin ketawa.

“Kita harus hati-hati, Ma. Tau sendiri si Icha, kalo sakit suka nggak mau bilang. Takut sama dokter. Iya, kan?!”

“Iya, sih. Mama jadi inget waktu dia kena tifus. Jangan-jangan

Papa dan mama saling tatap. Icha melirik sebentar ke arah papa dan mama, lalu segera memejamkan mata ketika papa dan mamanya yang mulai panik itu, hendak menatapnya lagi.

Terdengar papa menghela napas berat. “Cha Cha mama memanggil-mangil Icha sambil menggoyang-goyang tubuh Icha.

Icha malah pura-pura menguap, seperti seseorang yang sedang nyenyak tidur. Papa memegang kening Icha.

“Wah … panas, Ma!” teriak papa.

Jelas aja kening Icha panas. Mungkin karena Icha lagi mikirin apa yang mesti dipersiapkan buat kencan pertamanya nanti malam. Saking kerasnya berpikir, hingga keningnya jadi serasa panas.

“Gimana kalo kita panggil dokter …?”usul mama.

Tiba-tiba, Icha bangkit dari tidurnya.

“Pa … Ma … ngapain sih, di sini?” tanya Icha, dengan raut wajah sebal.

“Kamu sakit, Cha? Papa panggilin dokter, ya?”

“Ih, Icha nggak kenapa-kenapa, kok!”

“Kok, kamu tidur? Biasanya nggak.”

“Icha ngantuk, neh.”

“Ya udah … kamu tidur lagi, deh.” Papa menyerah.Setelah itu,papa dan mama meninggalkan kamar Icha.

“Biarin aja deh Pa, mungkin Icha kecapekan,” ujar mama, setelah di luar kamar Icha. “Tapi, mungkin aja dia sakit, Ma.”

BEBERAPA jam kemudian, Icha bangkit dari kasur dan berteriak sejadi-jadinya.

“HAH? JAM ENAM! PAPA ... MAMA ...!!!”

Papa dan mama yang berada di ruang tengah segera bergegas ke kamar Icha. Papa dan mama memandang Icha yang kelihatan marah.

“Kamu kenapa, Cha?”

“Mau dipanggilin dokter?”

Icha mengatur napasnya yang naik turun. “Ma, tadi ada yang dateng, nggak?” Mama menatap wajah papa.Papa mengernyitkan dahinya.

“Tadi ada yang dateng nggak, Ma?” ulang Icha. Mama mengangguk.”Temen kamu, Damar,” sela

papa.

‘Nanyain Icha, nggak?”

‘Ya, terus Papa dan mama bilang, kamu lagi

sakit

Terus?”

Terus dia pulang”

HAHM PAPA ... MAMA ... KOK,JADI GINI,SEEEH

“Lho … kenapa, Cha?!” Icha bangun dan segera meraih horn telepon. Dia bergegas menghubungi Damar.

“Halo, bisa bicara dengan Damar?” “Halo, Damarnya sedang keluar rumah.” “Ke mana?”

“Nggak tau, tuh. Ini malam Minggu. Apel kali. Hehehe

Icha sebel banget denger suara di ujung telepon itu. Itu pasti pembokat Damar. Setelah itu, Icha langsung menutup telepon dengan kesal. Papa dan mama tampak bingung melihat tingkah Icha.

“Cha, Papa sama Mama mau ke mal, kamu mau ikut?”

Icha kelihatan bingung.

“Kalo kamu mau ikut, sana mandi!” Icha nggak menyahut kata-kata papa dan

mamanya. Icha hanya memperlihatkan tampang sebal.

DARIPADA di rumah sendirian, Icha ikut papa dan mama ke mal. Icha terlihat uring-uringan karena apel pertamanya berantakan. Papa dan mama masih belum mengerti. Namun, mereka belum mau menanyakan kenapa Icha cemberut. Papa dan mama menduga, pasti gara-gara teman cowok yang datang tadi sore ke rumahnya.

Setibanya di mal, secara nggak sengaja, mama menunjuk seorang cowok yang lagi jalan bareng seorang cewek dari kejauhan. Mama mengenali tampang cowok itu. Jelas aja, cowok itu Damar!

“Ssst … itu, Cha. Cowok yang tadi ke rumah,” bisik mama, sambil menepuk-nepuk pundak Icha.

Icha langsung lemas melihat Damar bersama dengan seorang cewek.

Bener juga kata Nana, nih cowok nggak bisa dipercaya, ucap Icha dalam hati.

Bersamaan dengan itu, Damar melihat ke arah Icha dan papa-mamanya. Damar terlihat gugup. Sebelum Damar melangkah ke arah Icha dan papa mamanya, Icha langsung menarik lengan papa dan mamanya untuk pergi menjauh.

Damar kehilangan jejak. Damar pun kembali menemui cewek yang tadi bareng dirinya, yang tak lain adalah adik kandungnya.

Ketika Damar menghubungi HP Icha, Icha langsung menjawab dengan nada kasar, “Mar! Asal elo tau, this’s my first date with someone1. Dan, elo mengacaukan semuanya! Elo nggak usah ngubungin gue lagi, deh! Ke laut aja! Or go to heii!”

“Tapi Cha … Cha … Cha Komunikasi terputus.

Amnesia

ANDRE kena amnesia!” ujar Rene, setengah berteriak, saat Belia berada di kantin sekolah. “Pantes, terakhir kali ketemu dia selalu batuk-batuk.”

“Plis, Belia! Amnesia … bukannya asma!” “Oh

“Amnesia itu hilang ingatan sementara, nggak ada hubungannya sama batuk-batuk.”

Belia menghela napas berat, lalu sorot matanya menatap jauh keluar kantin dengan pandangan kosong. Rene enggak bisa berbuat apa-apa dan melihat air mata sahabatnya mulai mengaliri pipi.

“Belia, jangan terlalu sedih! Sekarang, Andre lagi ditangani seorang dokter ahli!”

“Gimana nggak sedih, Ren?! Gue belum sebulan jadian, tapi Andre udah kena Amnes ….““Amnesia.” “Iya. Gimana, dong?”

“Yang jelas, kita harus cepet-cepet jenguk dia.Tapi kalo bisa, anak-anak jangan dikasih tau dulu! Soalnya, berita ini cuma kita yang tau.”

“Jadi, anak-anak belum tau?”

“Belum.”

Sore itu juga,Rene dan Belia menjenguk Andre

ke rumahnya. Ting-tong!

Rene menekan bel pagar rumah Andre. Beberapa saat kemudian, seorang lelaki setengah baya membuka pintu pagar. Dia adalah Pak Sion, tukang kebun Andre.

“Ada perlu apa, Non?” tanya Pak Sion.

“Kami mau ketemu Andre, Pak.”

“Oh, kebetulan Andre lagi di teras belakang. Mari masuk

Rene dan Belia mengikuti langkah Pak Sion memasuki halaman rumah Andre yang cukup luas, di bagian tengahnya terdapat kolam berukuran sedang, ada air mancur di sisi kanannya.Pak Sion berjalan agak tergesa. Rene dan Belia mengikuti di belakang. Mereka memasuki jalan berkerikil, untuk sampai teras belakang. Sepanjang perjalanan, mereka melintasi pepohonan yang didominasi bunga-Mbunga anggrek.

Setibanya di teras belakang, Pak Sion yang berjalan lebih dulu tampak bicara pelan sama Andre, tapi Andre seperti acuh saja. Setelah itu, Pak Sion menemui Rene dan Belia yang berada di belakangnya.

“Silakan, Non,” ujar Pak Sion.

“Terima kasih, Pak,” jawab Rene dan Belia serempak.

Pak Sion kembali berjalan ke halaman depan, sedangkan Rene dan Belia berjalan mendekati Andre. Andre tampak angkuh dan seperti nggak kenal sama yang datang. Padahal yang datang adalah

Belia, cewek yang beberapa minggu lalu “ditembaknya”.

“Ndre … Andre Rene menegur Andre, sambil menggoyang-goyangkan telapak tangannya di depan wajah Andre. Andre tetap acuh. Pandangannya kosong ke depan, ke arah kolam renang.

“Andre ….” Akhirnya,Bella mengeluarkan suara. Belia memegang pundak Andre, lalu memutarnya, menghadapkan wajah Andre tepat ke wajahnya.

“Ndre, aku Belia. Kamu nggak lupa, kan?” Andre mundur ke belakang dan tampak seperti orang linglung. Andre menatap Belia dari ujung rambut sampai ujung sepatu. Andre seperti asing dengan Bella. Belia jadi kalut.

“Ndre, kamu kenal aku, nggak?” tanya Rene, sambil memperlihatkan wajahnya tepat di depan wajah Andre.

“Aku Rene!”

“Rene?” Andre tersenyum.

“Tau nggak, dia siapa?” Rene menunjuk wajah Belia.

“Dia Belia! Cewek kamu!”

Andre tersenyum ke arah Bella. Belia pun tersenyum menyambutnya. Belia menghela napas lega. Rupanya, Andre mulai menyadari kekeliruannya. Mungkin, Andre udah mulai mengenalinya. Bukan apa-apa, menurut cerita Rene tadi, amnesia yang diderita Andre belum terlalu parah. Andre masih mengenali beberapa anggota keluarganya, meskipun nggak semuanya.

Masih menurut Rene, Andre mengalami amnesia

karena kecelakaan sepeda motor. Andre me-nubruk sebuah sedan yang sedang berada di tempat parkir.

Meskipun nggak mengalami luka-luka serius, Andre mengalami amnesia karena kepalanya membentur body sedan itu. Menurut Rene, kecelakaan itu terjadi waktu Andre melamun. Andre melamun karena kemarin sempat marahan sama Belia.

“Masa sih, gara-gara gue, Andre jadi gitu?” ucap Belia, saat menuju rumah Andre tadi.

“Makanya, elo harus minta maaf. Sebelum penyakitnya tambah parah!”

“Maksud elo?”

“Menurut keterangan salah satu keluarganya, penyakit Andre bisa aja tambah gawat, kalo enggak ditangani serius. Andre harus didatangi dokter ahli, dan harus banyak istirahat.”

Belia mengangguk-angguk. Akhirnya, Belia jadi ngerasa bersalah. Itulah sebabnya, Belia antusias banget waktu Rene ngajak ke rumah Andre. Bella mau minta maaf.

“Ndre aku Belia. Kamu masih inget aku, kan?” Belia kembali mencoba menyadarkan Andre. Andre tersenyum sambil mengangguk pelan.

“Kapan dateng dari Bandung?” tanya Andre kemudian.

Hal itu membuat Belia nyaris melonjak ke belakang. Bela luar biasa kagetnya.

“Kok, dari Bandung, sih?” Bela kebingungan. Rene yang memerhatikan keduanya, segera menarik tangan Belia, menyingkir ke salah satu sudut beranda. Keduanya menjauh dari Andre.

“Belaaa … elo harus sabar! Mungkin, Andre belum ingat elo.”

“Gue ngerti! Tapi, kok, dia bilang gue dari Bandung?”

“Ya, namanya juga orang kena amnesia!”

“Tapi, masa sih, dia nggak ngenalin gue? Gue kan, pacarnya! Udah ah, gue coba lagi!”

Belia kembali mendatangi Andre, yang tampak acuh atas kedatangannya. Rene nggak bisa berbuat apa-apa, mengikuti langkah Belia di belakang.

“Andre … gue emang dari Bandung!” ujar Belia, sambil mencoba merapikan lengan kaus Andre, dengan maksud memberikan perhatian.

Kening Andre tampak berkerut, namun nggak lama kemudian, Andre tersenyum. Belia jadi bingung. Kenapa Andre tersenyum?

“Makasih ya, oleh-olehnya … aku jadi makin sayang sama kamu,” ujar Andre, membuat Belia kembali tersentak kaget.

“Oleh-oleh?”Bella seperti mengulang perkataan Andre. Kayaknya, gue nggak pernah ngasih oleh-oleh, deh I

Belia lalu geleng-geleng kepala.

“Aku nggak ngerti maksud kamu, Ndre. Ka-yaknya aku nggak pernah bawa oleh-oleh buat kamu.”

“Lho, yang kemarin itu dari siapa? Kayaknya, kamu ngasih aku jaket warna biru dari Bandung. Itu dari kamu, kan?”

“Oke. Sekarang, aku mau tanya, sebenarnya kamu tau nggak sih, kalo aku ini siapa?” Belia sewot.

“Kamu …T’

Beberapa saat lamanya, Andre terdiam. Belia menahan napas. Belia menunggu Andre mengucapkan namanya. Namun mulut Andre masih tetap saja menganga.

“Aku Bella, Ndre!” Belia setengah berteriak, mencoba meyakinkan Andre.

Andre mengerutkan kening lagi.Belia membuang napas dan baru ingat. Beberapa waktu lalu, Belia memang mengaku pada Andre kalo dia mau ke Bandung. Belia janji mau beliin Andre Jaket warna biru. Kebetulan, Belia punya sodara yang punya dis-tro. Belia mau borong baju-baju murah dan keren, sekalian mau ngasih hadiah buat ultah Andre. Duh, Belia ternyata lupa. Kenapa Belia bisa lupa? Dan ini kan, kalo Belia nggak salah inget, hari ultah Andre?! Ya ampyuuun Belia emang pelupa yang akut!

“Ndre, sori gue lupa kalo gue ….”

“Bela … udah yuk, elo tuh malah bikin si Andre jadi kebingungan! Percuma ngomong, dia nggak ba-kalan inget elo!” potong Rene. Lalu, Rene menarik lengan Belia, menjauh dari Andre.

“Nggak bisa, Ren! Gue harus bisa ngeyakinin dia.Tadi, dia udah nyebut-nyebut Bandung dan jaket biru! Berarti, dia inget gue!”

“Tapi, elo kan, nggak ke Bandung?!”

“Iya … tapi

Nggak lama kemudian, beberapa orang keluar dari pintu. Mereka adalah papa dan mama Andre. Lantas, di belakangnya dua orang pembantu datang menyusul. Keduanya membawa loyang kue ulang

tahun berukuran sedang. Lilinnya belum dinyalakan. Bella dan Rene berdiri agak menjauh.

Papa dan mamanya langsung memeluk Andre, lalu mengatakan, “Selamat Ulang Tahun, Sayang …!”

Andre menyambutnya dengan anggukan dan tersenyum.

Dari sudut lain, Belia menatap itu semua dengan bingung.Sedangkan Rene, cuma tersenyum-senyum.

“Sori, Bel. Kali ini, elo gue kerjain,” bisik Rene. “Jadi … Andre nggak amnesia, kan?” “Gue rasa, dia tetep amnesia. Tapi amnesia khusus untuk elo.”

“Kupret lo, Ren!”

“Ini April Mop, Sayang. Udah deh, tuh … kayaknya Andre nunggu elo.”

Belia kembali berjalan ke arah Andre. Setelah beramah tamah sebentar dengan papa dan mama Andre, Belia memukul-mukul tubuh Andre dengan manja. Belia nggak terima dirinya dikerjain, di hari ultah cowoknya sendiri.

Angkot D15

PAGI ini adalah pagi yang menyebalkan. Sebab Pak Abdul, sopirku, nggak bisa mengantarku ke sekolah seperti biasanya, dengan alasan sakit perut. Papa lagi di luar kota. Mama berangkat siang, karena pagi ini masih banyak urusan rumah.

Buat nunggu taksi yang dipesan mama, rasanya nggak mungkin, karena setelah dihubungi, taksi tersebut baru bisa datang dua jam lagi. Aku ngerti, mungkin seandainya ada, pasti taksi itu cuma beralasan,nggak mau ngantar penumpang yang jaraknya nggak terlalu jauh.Akhirnya terpaksa,untuk pertama kalinya terjadi dalam hidupku, aku ke sekolah naik angkot alias ang-kut-an kota!

Dari jalan depan rumahku, mama nyuruh tukang ojek yang lagi mangkal mengantarku sampai gerbang perumahan.Aku naik ojek yang tukang ojeknya bertampang tengil dan genit,tapi aromanya lumayan harum; bau parfum aneh.Meskipun begitu,dia nggak bisa ngumpetin bau badannya yang asem campur asin. Hufffh hidungku sangat sensitif sama bau-bauan. Baik bau harum maupun bau tak sedap.

“Tumben naik ojek?” kata si tukang ojek tengil itu, di tengah perjalanan.

“Ya,” kujawab malas-malasan. “Sekolahnya di mana, sih?”

Ya ampun! Males banget pagi-pagi ngobrol sama tukang ojek. Aku diem ajaKalo ditanggapi, aku takut dia semakin cerewet Apalagi akhirnya dia tanya begini, “Udah punya pacar belum? Hehehe

Aku tetap nggak jawab. Dan, si tukang ojek terus aja tertawa. Aku benci sekali dan sangsi, kah dia udah sikat gigi hingga begitu pedenya ketawa di dekat seorang Bunga Citra Lestari?

“Pasti belum punya pacar ya? Hehehe Si tukang ojek mungkin nggak tau kalo aku sedang cemberut. Uh, kenapa perjalanan dari jalan depan rumah belum juga sampai ke gerbang perumahan ?

“Ngomong-ngomong, namanya siapa, sih?” Alhamdulillah, udah nyampe. Aku nggak mau menjawab pertanyaan si tukang ojek ini. Aku keluarkan uang pecahan dua puluh ribu. Lalu kuberikan padanya, “Nih, Bang! Jangan banyak ngomong, deh!”

“Deuelaaah cakep-cakep kok, galak amat, sih?! Hehehe …. Duh, duitnya besar banget!”

What? Dua puluh ribu … apakah terlalu besar?

“Nggak ada kembaliannya, Neng!”

“Nama saya Bunga! Bukan Neneng!” ralatku, sambil melotot. Si tukang ojek itu bukannya takut, tapi malah tersenyum.

“Hehehe nggak ada kembaliannya. Saya tukar dulu, ya?!”

“Terserah deh, Bang!” Kutunggu si tukang ojek itu menukarkan uang

dua puluh ribuan. Hampir lima menit aku menunggu, ia belum juga kembali. Namun, aku bisa melihat kegigihannya mendatangi para pedagang di sekitar gerbang perumahan, menukarkan uang itu pada tukang bubur ayam, bubur kacang ijo, susu kedelai, soto ayam, dan pada teman-temannya sesama tukang ojek. Setelah itu, dia kembali padaku.

“Bunga, nggak ada kembaliannya. Pakai uang receh aja! Emangnya nggak ada?”

“Berapa, sih?”

“Tiga ribu lima ratus!” Kucari uang pecahan yang diminta. Dan kutemukan empat lembar ribuan di dalam tas, lalu kuserahkan pada si tukang ojek menyebalkan itu.

“Nih, Bang! Makasih, ya!”

Kutinggalkan si tukang ojek. Tetapi, ia memanggilku.

“Bunga! Ini kembaliannya!” Si tukang ojek itu mengejarku sambil memberikan kembalian uang receh lima ratus rupiah.

Hm jujur juga nih orang. Andai saja dia jadi pejabat, bukan jadi tukang ojek, pasti negara ini udah maju meninggalkan Malaysia atau Singapura . Negara kita mendatangkan pekerja perempuan dari negara-negara tetangga, nggak sebaliknya seperti sekarang ini. Yeah, Aku baca di koran, banyak pejabat yang nggak jujur. Tapi, seandainya tukang ojek yang jujur ini jadi pejabat, jangan-jangan genitnya malah menjadi-jadi?

“Kembaliannya buat Abang aja!” kataku, sambil terus bergegas meninggalkannya.

SETELAH lepas dari tukang ojek, kutunggu angkot. Tadi, mama mengingatkan, jika gagal mendapatkan taksi untuk sampai ke sekolah, aku harus naik angkot D1S. Daripada telat, aku harus naik angkot.

Kulambaikan sebelah tanganku setiap kulihat tulisan D1S di kaca bagian atas angkot-angkot yang lewat. Tetapi, tak satu pun berhenti. Muatannya selalu penuh. Kalo udah begini, Pak Abdul yang kuingat! Kenapa pagi ini sopir pribadiku harus sakit perut, ya?

Akhirnya, setelah sepuluh menit,ada juga angkot D1S yang berhenti. Tetapi, ketika separuh tubuhku udah masuk,setelah kulihat ke dalamnya, tak ada tempat duduk kosong.Seseorang berteriak pada sopir, “Udah penuh, Bang! Mau ditaruh di mana?!” “Naik di depan, Dik!” sopir itu berteriak.

Apa dia bilang? Dik? Emangnya, aku adiknya

apa?

Aku kembali turun dan melongok ke depan, ke arah sopir.Pintu depan terbuka, dan seorang cowok berseragam sekolah turun. Lalu, cowok itu mempersilakan aku naik.

“Kamu di dalam aja,” ujar cowok itu. Sekilas kutatap wajahnya. Ia tersenyum dan mengangkat bahunya.Tadinya, aku males banget naik angkot ini. Apa enaknya naik mobil sempit ini bertiga di depan ?

Toh, aku tetap naik juga. Dengan alasan, pertama susah menunggu angkot yang kosong. Kedua, karena cowok supercare di sebelahku keren banget!

Ups!

Kalo tau ada cowok keren kayak dia naik angkot, mungkin udah tiap hari aku naik angkot. Sumpah! Selama ini, aku nggak pernah liat tampang cowok seperti cowok di sebelahku ini di sekolah. Atau jangan-jangan, dia emang lain sekolah?

Aku berharap cowok di sebelahku ini mau bertanya padaku, seperti tukang ojek genit tadi. Tetapi, cowok ini diam aja. Ia malah membuka tasnya, lalu mengambil sebuah buku lumayan tebal berwarna cokelat. Hilang sudah harapanku untuk bisa ngobrol dengannya.

Wow, dia membaca novel The Da Vinci Code.Novel kesukaanku! Ini mungkin kesempatan aku buat nanya-nanya dia. Tapi, apa enaknya kalo orang lagi baca diajak ngobrol? Apalagi pagi-pagi gini. Duh, jangan-jangan di mata cowok ini nantinya aku jadi seperti tukang ojek tadi. Biarin aja, deh!

“Kamu suka Dan Brown juga?”tanyaku akhirnya. Cowok itu mengangguk, lalu menoleh ke arahku dan tersenyum, “Kamu suka juga?”

“Suka banget! Aku juga udah baca Angels and Demons, Robert Langdon’s First Adventure ….”

“Ummm … Malaikat dan Iblis, ya? Aku juga udah baca. Dua buku Dan Brown yang udah diter-jemahin, kan?”

“Kamu beli di toko buku mana?”

“Aku pinjem sama temen. Aku juga udah baca

buku-buku Dan Brown lainnya, Kayak Deception Point dan Digital

Fortress!” sambungku.

Kamu udah tau juga?”

Tau dong, aku udah beli!”

Keren-keren, ya?!”

Iya.”

Terminal habis! Terminal habis!” tiba-tiba, Pak Sopir berteriak-teriak pada seluruh penumpang. Oh, rupanya udah sampai di terminal. Nggak kerasa banget, deh!

Cowok itu turun, lalu merogoh saku. Aku membayar dengan uang pecahan dua puluh ribu. Uang yang tadi nggak ada kembaliannya itu. Setelah kuberikan, Pak Sopir yang tengah menerima ongkos dari penumpang lainnya bilang, “Uang pas aja!”

“Berapa, Pak?”

“Seribu!”

Kucari di tas, siapa tau ada pecahan seribu rupiah. Ternyata, enggak ada.

“Aku aja yang bayar!” Tiba-tiba, cowok itu memberikan uang dua ribu rupiah pada Pak Sopir angkot. Setelah itu, dia menarik tasku,meninggalkan angkot itu. Ketika menarik tasku,aku seperti tengah bersama-sama dengan cowok yang udah lama sekali kukenal.

“Selain baca, kamu suka apa?” tanya cowok itu, setelah melepaskan lenganku.

“Aku suka … nonton, denger musik, sesekali jalan ke toko buku. Kalo kamu?”

“Kok, hobi kita bisa sama, ya?” Cowok itu tersenyum. Aku cuma bisa menghela napas. Baru kali ini kutemukan cowok hobinya sama!

“Oke, deh! Kayaknya, kita mesti pisah di sini. Aku masih harus naik sekali lagi,” ujar cowok itu sambil melambaikan tangan.

“Oke! Sampai ketemu!”

“Daaagh …!”

“Daaagh …!”

Aku dan cowok itu berpisah. Dia naik bus kota, dan aku cukup berjalan kaki menuju gerbang sekolah. Ringan sekali kakiku melangkah. Kalo udah begini, aku nggak lagi sebal kalo ingat Pak Abdul. Aku justru harus berterima kasih kepadanya. Kalo aja pagi ini ia nggak sakit perut, aku belum tentu bisa ketemu sama cowok di Angkot D1S itu!

Apakah aku akan bertemu lagi dengan cowok itu? Ya ampun, kenapa tadi aku lupa tanya nomor teleponnya? Selain itu, siapa nama cowok tadi?

Kucari-cari bus kota yang tadi ia tumpangi. Sayangnya, bus itu udah jauh meninggalkan terminal. Damn!

- ;fr

KEESOKAN harinya, aku nggak mau diantar sama Pak Abdul. Aku naik ojek seperti kemarin, dan menunggu angkot yang sama. Nggak peduli sama tukang ojeknya yang genit abis. Nggak peduli meskipun angkot D1S selalu penuh penum-pang.

Sayangnya, aku nggak ketemu sama cowok yang kemarin itu. Nggak ada cara lain untuk bisa ketemu sama cowok itu, aku harus naik angkot D1S setiap pagi. Terkadang, pulang sekolah pun aku nggak mau dijemput. Pak Abdul kusuruh menunggu di gerbang perumahan,biar aku terhindar dari si tukang ojek itu.

SUDAH sebulan lebih aku naik angkot D1S, tetapi nggak pernah ketemu sama cowok yang pernah satu angkot denganku. Bukan aja aku punya utang seribu rupiah padanya.Namun,aku masih ingin banyak ngobrol tentang banyak hal dengannya. Pasti asyik banget punya temen cowok yang punya hobi sama.

Papa dan mama menghargai pilihanku naik angkot ke sekolah, meskipun sebenarnya mereka agak-agak khawatir. Tapi, mereka nggak bisa berbuat banyak, apalagi udah tiga minggu ini Pak Abdul nggak pernah masuk karena sakit.

Sore ini, papa dan mama mengajakku menengok Pak Abdul ke rumahnya. Meskipun malas, aku mau ikut.Pak Abdul sudah kuanggap bagian dari keluargaku. Dia orang yang baik, rajin, dan penyabar.

Setibanya di rumah Pak Abdul yang sangat sederhana, kami disambut dengan ramah oleh beliau. Pak Abdul masih tampak lemah. Papa dan mama

pernah bilang, Pak Abdul yang udah nggak punya istri ini nggak pernah mau berobat ke rumah sakit. “Sekarang sudah agak lumayan, Tuan. Saya mulai enak makan. Mungkin dua hari lagi saya sudah bisa masuk kerja.”

“Nggak apa-apa, Pak. Barangkali Pak Abdul memang perlu istirahat. Lagi pula, Bunga mulai suka naik angkot, kok.”

Pak Abdul tersenyum mendengar pengakuan

papa.

“Ya ampun, saya lupa menyediakan minuman. Sebentar, ya? Sam! Sam! Tolong bawa minumannya! Dari tadi baca terus, sih!” Pak Abdul berteriak-teriak memanggil seseorang. Tak lama, seorang cowok membawa minuman dengan sebuah nampan.

“Iya, Pak. Ini minumannya ujar cowok itu, sambil melirik ke arahku. Cukup lama kami bertatapan.

“Kamu Aku menunjuk-nunjuk ke arahnya, sambil mencoba mengembalikan ingatannya. Siapa tahu, dia lupa sama aku. Aku adalah … cewek yang pernah satu angkot dengannya!

“Kamu … Sophie Neveu … from The Da Vinci Code, kan?” ujar cowok itu, sambil meletakkan minuman.

“Benar, Robert Langdon …do you remember about Angels and Demons?” aku ikut menyebutkan tokoh cerita dari salah satu bacaan favorit kami lainnya.

“Kalian sudah saling kenal, ya?” terka mama, melihat keakraban kami.

Aku cuma tersenyum malu-malu. Sore ini, aku bahagia sekali. Akhirnya, aku bisa bertemu kembali dengan cowok ini. Aha, yang pasti namanya bukan Robert Langdon, melainkan Sam!

Rahasia Cowok

DI antara teman-temannya, Lulu terkenal paling tau soal cowok. Dari A sampai Z. Ia tahu cara menghadapi persoalan bila dijauhin cowok, cara meredakan kemarahan cowok kalo marah, cara mengambil simpati cowok, sampai hal lainnya tentang makhluk berjenis cowok itu.

Karena itu, nggak sedikit teman-teman yang berkonsultasi padanya kalo punya masalah sama cowok. Seperti Nanda, yang ngeluh dicuekin cowoknya. Nanda nggak tahu kenapa cowok yang sangat disayanginya itu akhir-akhir ini cuek.

“Dia nggak kayak dulu lagi, waktu pertama kali kenal gue!” seru Nanda pada Lulu, waktu mengeluh soal cowoknya.

“Mungkin,elo pernah menyinggung perasaannya?!” ujar Lulu, teramat tenang.”Menyinggung perasaannya? Apa mungkin cowok gue orangnya perasa? Bukankah cowok nggak sesensitif cewek?”

“Jangan salah, Nda!” potong Lulu. “Bukan cuma cewek yang punya sifat perasa. Cowok juga punya.Emang sih, cowok biasanya suka blak-blakan kalo tersinggung. Tapi, ada juga yang cuma menyimpannya di hati.”

“Terus, apa saran elo supaya gue nggak dicuekin?”

“Elo mesti ngomong baik-baik ke dia! Elo jangan diem aja, apalagi ngebalas nyuekin dia!”

“Iya, gue pernah berpikir mau nyuekin dia!”

“Jangan, Nda! Kalo elo ngikutin cuek, bisa bahaya. Nanti akan timbul kesan kalo hubungan elo sama dia tuh, udah nggak ada kecocokan! Menurut gue, elo mesti tanya baik-baik. Tanya kenapa dia nyuekin elo!”

“Oke deh, gue coba! Thanks ya, Lu!” Tiga hari kemudian, Nanda balik lagi ke Lulu dan kembali ngomongin cowoknya. Nanda nyeritain kalo cowoknya udah berhenti nyuekin dia.

“Elo bener juga, Lu! Akhirnya, cowok gue ngaku kenapa dia cuek sama gue. Ternyata,doi tersinggung sama omongan gue. Waktu itu, gue nge-banding-bandingin dia sama mantan gue. Gue pikir, dia baik-baik aja. Eh, ternyata nyuekin gue!”

“Bener kan, apa kata gue?!Coba kalo elo bales nyuekin dia, sampe sekarang elo pasti masih main cuek-cuekan! Untung elo masih tahap dicuekin! Coba kalo dia marah beneran?!”

SETELAH Nanda berhasil kembali rukun dengan cowoknya, giliran Allisa yang punya masalah sama cowoknya. Allisa ribut sama cowoknya karena cowoknya jalan dengan cewek lain. Karena itu, Allisa

selalu menjauh dari cowoknya, nggak pernah mau ngangkat teleponnya, apalagi didatengin.

“Jangan buruk sangka dulu, Sa! Elo mesti nyelidikin kenapa semua ini bisa terjadi. Selain itu, elo harus tahu juga siapa cewek yang jalan bareng dengannya.”

“Waktu itu, mereka mesra banget, Lu! Gue benci banget ngeliatnya!”

“Selama ini, elo pernah nanya ke cowok elo nggak, siapa cewek itu?!”

“Nggak pernah! Seandainya dia ngomong, pasti dia ngibul!”

“Lho? Elo mesti beri dia kesempatan, dong! Suruh dia memberikan alasan kenapa dia jalan sama cewek lain. Siapa tau ….”

Lulu berhenti sebentar, karena ada telepon masuk. Lulu mengangkat HP-nya. Ternyata dari Intan. Intan nelepon Lulu dengan suara terisak. Intan mengaku menyesal karena mengatakan putus dengan cowoknya!

“Terusin dong, Lu!”

“Tadi sampe mana?!”

“Gue mesti nanya alasan cowok gue … siapa tau maksudnya apa, nih?!”

“Oh, itu. Ya, siapa tau cewek yang jalan bareng cowok elo itu bukan siapa-siapa.Maksudnya, jangan mikir macam-macam dulu! Kadang, cowok suka iseng. Cowok kan, emang sifatnya mata keranjang, walaupun nggak semua cowok gitu. Nah, yang jenis mata keranjang ini, sebenernya dia juga punya cewek yang bener-bener jadi dambaan hati-

nya. Kalo seandainya cowok elo jenis ini, elo nggak perlu khawatir. Siapa tau cewek yang jalan bareng dia tuh, cuma temen jalan aja, atau jangan-jangan … sodaranya?!”

“Tapi, cowok gue bukan mata keranjang, Lu! Dan, dia nggak punya sodara cewek!”

“Kok, elo bisa tau kalo dia bukan mata keranjang?! Emangnya, dia pernah ngomong ke elo kalo dia bukan mata keranjang?!”

“Senggaknya menurut gue, Lu!”

“Buktinya, dia jalan sama cewek lain?! Apa itu bukan mata keranjang?!”

“Iya, juga, ya?”

“Sori, Al, tadi itu cuman becanda! Gue yakin, cowok elo bukan tipe kayak gitu. Elo juga harus yakin, kalo cowok elo tuh cowok baik-baik. Sebelum bisa membuktikan bahwa dia mata keranjang, jangan percaya dulu!”

“Aduh, bikin bingung aja, Lu! Gimana dong, jalan keluarnya?”

“Oke, oke. Sekarang gini aja, deh. Elo selidiki dulu baik-baik,tanya pelan-pelan ke doi, soal cewek yang jalan bareng dengannya. Selama ini, elo nggak pernah mau denger penjelasan dia. Nah, kasih dia kesempatan! Biarin dia ngeluarin alasan-alasannya jalan bareng cewek lain. Ada kemungkinan dia juga butuh perhatian ekstra dari elo!”

“Oke deh, Lu. Gue coba.”

Seminggu kemudian, Allisa balik lagi ke Lulu. Allisa datang dengan wajah berbinar-binar. Bukan main senangnya Allisa, karena akhirnya kembali akur

dengan cowoknya!

“Elo emang temen yang paling hebat, Lu! Ternyata setelah gue mau denger penjelasannya, gue jadi tau kalo ternyata cewek yang jalan bareng dengannya itu anak omnya! Sial, hampir aja gue ke-jebak! Kalo nggak minta penjelasan dari elo, mungkin udah gue putusin tuh cowok! Oke deh, Lu! Trims ya, udah bantu gue.”

“Sama-sama, Al. Gue juga seneng banget bisa nolong elo, apalagi soal cowok. Menurut gue, meskipun cowok makhluk misterius, kita mesti bisa tau rahasia-rahasia yang ada di dalamnya.Makanya,gue seneng banget mecahin perkara kayak gini. Bukan cuma elo yang punya masalah sama cowok. Minggu lalu, Nanda hampir putus sama cowoknya. Dan dua minggu sebelumnya,Riana.Anita juga pernah nanya-nanya soal cowok ke gue! Padahal, si Anita kan, udah lebih dari lima kali pacaran!”

“Elo emang hebat, Lu! Gue beruntung punya sobat kayak elo!”

SETELAH masalah Allisa selesai, giliran Intan yang harus mengalami masalah dengan cowoknya. Seperti yang ia katakan di HP, Intan telah mengucapkan kata-kata yang sangat sakral dalam dunia pacaran. Ia langsung mengatakan “putus” sama cowoknya. Padahal, dia masih cinta berat.

“Gue bener-bener nyesel! Nyesel abis, Lu!”

“Penyesalan nggak ada gunanya, Intan.”

“Abis, gimana dong, Lu?”

“Emang, kenapa bisa bilang putus?”

“Dia nggak dateng dua malam Minggu ber-turut-turut!”

“Cuma gitu masalahnya? Ya, ampun!”

“Iya, Lu! Gimana, dong?! Gue baru tau sekarang, nyokapnya sakit udah dua minggu! Dia nggak bisa dateng malam Minggu karena harus nungguin nyokapnya di rumah sakit!”

“Kok, elo nggak pernah tau kalo nyokapnya sakit udah dua minggu?!”

“Dia nggak pernah cerita. Aduh, gimana doong?! Gue nyesel banget mutusin dia gitu aja! Padahal, gue masih suka banget sama dia! Gimana dong, Lu?”

“Elo mesti tahu, In. Cowok itu nggak sama kayak cewek. Gue pikir, elo bisa menarik kata-kata yang pernah elo ucapin itu. Emang sih, jadi seperti menjilat ludah yang elo buang ke tanah! Menurut gue, kalo emang tuh cowok masih sayang sama elo, dia pasti mau nerima elo kembali jadi ceweknya!”

“Dia pasti tersinggung, Lu! Dia pasti udah muak sama gue!”

“Belum tentu, Intan! Coba deh, saran gue ini. Pertama,telepon dia baik-baik.Tanya kabarnya,atau sekadar basa-basi. Lakukan seperti nggak pernah terjadi apa-apa. Kedua, kalo elo nggak berani ngomong, elo bisa minta bantuan temen deketnya. Kasih dia hadiah. Nantinya, tuh cowok akan berpikir, bahwa elo masih suka sama dia. Ketiga, ini yang paling hebat. Datengin dia langsung! Minta maaf

padanya! Pasti beres. Dan, kalo dia masih sayang sama elo, elo nggak bakalan kesulitan!”

“Oke deh, In! Gue coba!”

“Nah, gitu, dong!” Sehari kemudian, Intan udah kelihatan happy. Berkat saran Lulu, Intan mengaku kembali menjalin hubungan sama cowok tersayangnya. Sebagai ucapan terima kasih, Intan ngajak Lulu makan di fast-food. Nggak ketinggalan, Nanda dan Allisa diajak.

“Elo emang hebat, LuiGue bangga punya sobat kayak elo!”

“Iya, Lu! Elo emang jagonya soal cowok!” tambah Nanda.

“Kalo nggak ada elo, kita-kita bisa ngejomblo lagi!” tukas Allisa, membuat yang lainnya tertawa.

“Ah, jangan berlebihan! Gue kan, cuma nyumbang saran. Kalo ternyata itu ampuh, mungkin cuma kebetulan aja.”

“Jangan ngerendah gitu, Lu! Gue yakin dan percaya, semua rahasia tentang cowok ada ditang-an elo! Iya, nggak?”

“Akuuur …!”

“Ngomong-ngomong, sekarang cowok elo siapa, Lu?!” tiba-tiba, Nanda mengalihkan pembicaraan.

“Pasti yang ketemu di mal dua tahun lalu, kan?”terka Intan.

“Kalo nggak, cowok yang pernah elo kirimin surat itu?!” tebak Allisa.

Ditanya gitu, Lulu diem aja. Sekejap kemudian, ketiga sahabatnya udah menemukan titik-titik bening di kedua pipi Lulu. Lulu menangis.

“Inilah yang jadi masalah gue selama ini … gue belum pernah punya cowok!”

Ketiga sahabat Lulu melongo.

Tentang Rumah Hantu

RARA mematikan televisi, lalu beringsut ketem-pat tidur, merebahkan tubuhnya di sana, dan pengin segera tidur. Namun, bola matanya sulit terpejam. Acara misteri di teve tadi menjadi lekat di kepalanya; kuburan, pocong, hantu perempuan yang ketawa cekikikan.Ih, syerem! Sampai beberapa saat lamanya, Rara nggak mampu memejamkan mata meskipun ia memaksakan diri buat segera tidur. Mata Rara terasa kering.Rara masih mikirin gimana kalo tiba-tiba ada hantu seperti di teve tadi masuk kolong tempat tidurnya!

Akhirnya, Rara ke luar kamar, menuju kamar papi maminya. Ia hendak mengetuk pintu, tapi ragu karena nggak mau mengganggu mereka.

Kenapa nggak ke kamar Mbok Yum aja? Rara ke kamar Mbok Yum, pembokat yang sejak kecil merawatnya. Ia bangunkan Mbok Yum, lantas mengajaknya ke kamar Rara. Malam itu, apa boleh buat, Rara tidur ditemani Mbok Yum.

Ketika sudah berada di kamarnya, Mbok Yum melanjutkan tidurnya. Mbok Yum tampak nyenyak dan damai! Rara sendiri masih nggak mampu memejamkan mata!

Rara tetap nggak bisa tidur. Padahal, papanya pernah bilang, “Ra, hantu hanya mendatangi seseorang yang kosong jiwanya. Hantu hanya bisa dilihat oleh orang yang percaya bahwa sosok hantu memang benar-benar ada!”

Huaaah, sekarang ini jiwa Rara kosong? Apakah Rara percaya sama hantu?

Uh, ampun, deh! Tiba-tiba, tawa seorang presenter acara misteri di salah satu televisi swasta itu meledak-ledak di kepalanya.

“Huahahaha …. Hukaaa-hukaaa

Bersamaan dengan itu, Rara ingat ucapan guru agama di sekolahnya, bahwa hantu itu nggak bisa dilihat dengan mata biasa.Akhirnya, Rara sadar kalo ia nggak bisa melihatnya. Kenapa mesti takut?

Rara membangunkan Mbok Yum, memintanya kembali ke kamar Mbok Yum lagi. Dengan langkah malas, Mbok Yum berjalan tertatih-tatih ke kamarnya. Kini, Rara kembali sendirian di kamarnya. Dan, munkin Mbok Yum udah kembali nyenyak di kamarnya.

Rara senyum-senyum sendiri, ngerasa puas bisa ngalahin rasa takutnya. Rara kembali berusaha memejamkan matanya. Tapi, sayang, masih belum juga bisa. Bersamaan dengan itu, jam dinding di ruang tengah berdentang dua belas kali. Suaranya sama persis dengan jam di acara misteri tadi.

Teng! Teng! Teng!

Uh, Rara ingat lagi acara misteri tentang rumah kosong itu!

Rumah kosong, biasanya suka ditempati

makhluk-makhluk halus, hantu-hantu penasaran. Rumah kosong? Uh, ia ingat. Di depan rumahnya yang besar dan asri ini, tepat di depan jendela kamar Rara, ada rumah kosong. Rumah kosong di seberang jalan itu sudah ada sejak Rara belum pindah. Rara nggak tahu siapa penghuni rumah kosong itu. Sebelum ini, Rara nggak pernah peduli sama cerita-cerita seram tentang rumah kosong itu. Habis, Rara emang nggak percaya sama hal-hal gituan.

Meskipun ada yang bilang bahwa dulunya ada yang gantung diri di rumah itu, Rara nggak peduli. Ada yang cerita kalo di sekitar rumah itu suka ada cewek cantik “jadi-jadian” yang hobi menggoda pejalan kaki,bisa menghilang atau berubah jadi nenek-nenek jelek kayak Mak Lampir. Rara juga nggak peduli. Dan, ada pula hal-hal yang juga nggak pernah Rara pedulikan tentang rumah sebelahnya itu, yakni adanya suara seseorang merintih tengah malam!

Tiba-tiba, semua yang nggak pernah Rara pedulikan itu, malam ini muncul secara seketika di kepalanya. Rara kembali teringat adegan di teve tadi, seorang perempuan cantik tertawa-tawa di depan rumah kosong, tetapi setelah didekati oleh seorang pejalan kaki atau pengen-dara sepeda motor, perempuan itu menghilang!

Rara bangkit dari tidurnya, merapatkan tubuhnya ke dinding.Mendadak napasnya ngos-ngosan turun naik, seperti seseorang yang berlari berjarak ribuan meter! Sekujur tubuhnya bermandi keringat. Ketika tubuhnya telah rapat ke dinding, yang jaraknya beberapa senti dari jendela kamarnya,

Rara menyibak gorden jendela itu. Tampaklah rumah kosong itu yang tampak gelap. Pepohonan yang tumbuh nggak keurus di halaman rumah itu, meliuk-liuk tertiup angin.Rara terus menatap pintujendela-jendela, dan keseluruhan rumah kosong itu. Sepertinya, ada seorang cewek bergaun putih-putih melambai-lambaikan tangan ke arahnya! Sepertinya …. JLEGER!

Suara petir bergemuruh setelah dua kali kilatan yang menyambar-nyambar di atas atap rumah kosong itu.Rara menjerit kaget.Bersamaan dengan itu, hujan turun.

JLEGER!

Petir bergemuruh lagi, diiringi hujan. Rara kembali menatap rumah kosong itu dari balik jendela kamarnya. Nggak ada siapa-siapa di sana!

Tetapi, bulu kuduknya merinding. Rara kembali teringat adegan di acara misteri, hantu perempuan tertawa cekikikan di tengah gemuruhnya hujan. Tawa cekikikan hantu itu sungguh menakutkan Rara. Kini, suara itu seperti terdengar dari rumah kosong!

Rara segera menghambur ke luar kamar, mengetuk pintu kamar Mbok Yum!

m

SORE ini, sepulang sekolah, Rara mendapati sekumpulan orang di depan halaman rumahnya. Orang-orang itu ternyata lagi melihat rumah kosong itu. Entah apa yang terjadi di sana, hingga begitu

banyaknya orang berkumpul sampai ke halaman rumah Rara.

“Ada apa, Pak?” Rara bertanya sama satpam kompleks. Satpam ini udah nggak asing lagi bagi Rara karena beliau udah bekerja sejak kompleks perumahan elite ini baru dibangun.

“Itu lho, Non! Katanya, dini hari tadi ada tukang bakso lewat di depan rumah kosong ini. Lalu,ia berhenti tepat di depan rumah ini karena ada yang memesan bakso,” jelas satpam itu.

“Siapa yang memesan bakso? Bukankah itu rumah kosong?” potong Rara.

“Saya juga nggak tau, Non. Tau-tau, mangkuknya udah tergeletak di depan rumah kosong ini! Tukang bakso itu tiba-tiba menghilang!”

“Terus, gimana?” Rara tambah penasaran.

“Sabar dulu, dong! Tarik napas dulu. Emang, Non nggak tau apa, kalo semalam ada tukang bakso keliling?”

“Saya kan, udah tidur!” Rara pura-pura bego. “Oh

“Terus, gimana?” tanya Rara.

“Terus, sampai di mana tadi?”

“Tukang bakso itu tiba-tiba menghilangiHuuuh gimana, sih?!” Rara jadi jengkel.

“Oh, ya. Setelah itu, beberapa satpam menemukan dua mangkuk yang habis dipakai di depan halaman rumah kosong itu. Mungkin, tukang bakso itu menghilang di dalam rumah kosong itu!”

“Tapi, siapa yang menjamin kalo tukang bakso itu masih berada di dalam rumah kosong itu?!”

desak Rara semakin penasaran.

“Waduh, Bapak juga kata orang!” satpam itu kebingungan.

“Terus, orang-orang ini ngapain?”

“Mereka penasaran apakah tukang bakso itu ada di dalam rumah kosong atau nggak.”

“Sudah lapor polisi?”

“Polisi datang tadi siang, tapi cuma meriksa.” “Mereka bilang apa?”

“Susah! Hal-hal gaib itu kan, nggak ada dalam undang-undang?”

“Ih, Bapak ngomong apa, sih?!” Rara pura-pura

pilon.

“Baca koran, dong! Emangnya, hantu bisa dijerat hukum?”

“Hah?! Kayaknya, makin nggak jelas aja, nih!” Rara tambah bingung.

“Kesimpulannya, polisi malah mengusir orang-orang yang berkerumun di rumah kosong ini karena nggak ada bukti kejahatan yang bisa dilacak! Cuma, mereka masih penasaran. Di antara mereka, ada paranormal segala, lho!”

“Ya udah, deh! Rara jadi bingung, nih.”

Setelah itu,Rara memasuki halaman rumahnya, dan bergegas masuk ke rumah. Rara masih nggak ngerti, kenapa tadi malam ia nggak melihat sebuah gerobak bakso di depan rumah kosong itu! Lagi pula, Rara nggak percaya sedikit pun, atas apa yang baru diceritakan oleh satpam itu. Namun, orang-orang yang berkerumun itu, kenapa mereka berada di sekitar rumah kosong itu? Jangan-jangan, mereka

percaya kalo tukang bakso keliling yang disebut-sebut satpam itu masih berada di dalam rumah kosong itu.

Hiiiyyy … Rara bergidik setengah mati. Ketika berada di dalam rumah, Rara langsung disambut Mbok Yum.

“Aduh, gawat! Gawat!” teriak Mbok Yum, dengan suara bergetar.

“Gawat kenapa?” Rara pura-pura nggak ngerti. Padahal Rara tau, pasti Mbok Yum mau ngomong tentang rumah kosong itu!

“Itu lho, rumah kosong itu!”

“Iya, kenapa?”

“Non liat, kan, orang-orang yang pada

ngumpul?”

“Iya, iya, Rara tau!”

“Mereka lagi nunggu tukang bakso itu keluar!”

“Tukang bakso?!” Rara semakin berlagak pilon.

“Iya. Setelah mengantar pesanan ke rumah kosong itu, katanya tukang bakso itu nggak pernah kembali!”

Uh, pasti Mbok Yum termakan omongan satpam itu. Tapi apa bener, ya?

“Non! Non! Kok, malah bengong?”

“Eh, iya, Mbok! Terus, Mbok?”

“Terus Non, katanya malam ini papi sama mami nggak pulang. Ada rapat penting di hotel. Kata mami, tadi nelepon ke HP Non Rara, tapi nggak nyam-bung-nyambung!”

“Ya udah. Papi mami kan, emang udah biasa ada rapat mendadak kayak gini?”

“Mbok Yum tau. Tapi “Kenapa?”

“Biasanya kan, kalo papi sama mami Non Rara nggak pulang, Non Rara bisa ditemani sama Mbok.” “Lha, iya lah!”

“Iya bagaimanaTI/l/ong malam ini Mbok Yum mau menginap di rumah saudara Mbok Yum.”

“Mbok Yum juga mau pergi?”

“Iya, saudara Mbok Yum sakit. Mbok Yum sudah minta izin sama papi-mami Non.”

“Mereka ngasih izin?”

“Kata mereka, sih … terserah Non Rara.”

Rara jadi bimbang. Apakah ia ngizinin atau nggak. Rasanya, ia terlalu kejam kalo nggak ngizinin Mbok Yum nginep di rumah sodaranya yang sakit itu. Tapi, kalo Rara izinin, siapa yang nanti malam menemaninya di rumah?!

“Ya sudahlah. Mbok Yum boleh menginap!”

“Bener, Non?” Mbok Yum nggak percaya.

“Bener!”

“Non Rara nggak takut sendirian di rumah?” “Takut? Takut apa?” “Hehehe … kali aja

m

MALAM ini, papi, mami, dan Mbok Yum nggak ada di rumah. Rara mengunci seluruh pintu dan jendela rumahnya rapat-rapat.Sebelum memeriksa jendela kamarnya sendiri, ia menyibak gordennya, dan

tampak rumah kosong itu!

Rumah kosong di seberang jalan itu begitu gelap dan sepi. Rupanya, orang-orang yang berkumpul sejak siang sampai sore tadi sudah meninggalkannya.Apalagi,sore ini gerimis tumpah menyiram tanah.

Setelah semua beres, Rara merebahkan tubuhnya di kasur. Matanya sempat melirik televisi.Hm ia ragu menghidupkannya. Belakangan ini, Rara rajin nonton acara berbau gaib dan misteri. Apakah malam Jumat ini ia pun menon-tonnya lagi?

Tiba-tiba, Rara teringat adegan demi adegan yang berbau pocong, kuburan, dan hantu penasaran. Bulu kuduknya mendadak berdiri. Rara menggeser letak telepon di sebelah tempat tidurnya, berharap bisa langsung menghubungi nomor seseorang kalo ia membutuhkannya!

Kriiing …f f f

Rara melonjak kaget karena tiba-tiba telepon itu berdering. Ia ingin mengangkatnya, tapi ragu. Jangan-jangan, telepon itu dari …. Dalam sebuah adegan sinetron misteri, hantu bisa menelepon seseorang yang tengah sendirian!

Rara makin ngeri aja! Pada saat bersamaan, iseng-iseng Rara menyibak gorden jendela kamarnya. Rara mengamati sosok berbaju putih melambai-lambaikan tangannya. Rara langsung menutup gordennya.Tapi … tiba-tiba,Rara merasa kenal dengan orang yang melambai-lambaikan tangan itu. Perempuan itu seperti … mamanya!

Rara kembali menyingkap gorden jendela

kamarnya. Mendongakkan kepala, mendapati mama, papa, dan satpam yang berteriak-teriak. Tampak mamanya menghidupkan HP.Dan terdengarlah dering telepon di kamarnya.

“Halo …!” Rara mengangkatnya, karena merasa telah mengenali orang yang meneleponnya.

“Halo, Ra! Kok, nggak diangkat-angkat? Ini Mama sama papai Kamu ini gimana, sih? Semua pintu kamu kunci dari dalam! Mama sama papa nggak bisa masuk!”

Rara langsung menutup telepon, setengah berlari keluar kamar membuka pintu rumah.

Mimpi Selebritis

SUDAH dua hari ini, Siska nggak masuk sekolah. Semua teman di kelas nggak heran. Siska nggak masuk karena izin buat keperluan casting. Ia bilang, memenuhi tawaran seorang produser untuk membintangi sebuah sinetron! Seisi kelas jadi seneng abis. Karena sebentar lagi, sohib mereka bakal ada yang jadi bintang sinetron! Jadi selebritis!

“Duh, Siska! Coba, gue punya tampang manis kayak dia. Gue juga kepengin main sinetron!” ucap Dara, pada Rini dan Sasa. Temen-temen lainnya ikutan nguping.

“Emangnya, jadi pemain sinetron harus yang manis-manis, apa?” celetuk Kiki, yang katanya selalu sirik sama manusia bertampang manis.Habis, te-men-temennya bilang, doi ini bertampang misterius, semacam Tante Suzana yang demen banget berperan jadi Sundel Bolong itu! Hihihi padahal aslinya Tante Suzana itu manis, lho! Kalo Kiki, emang sehari-harinya keliatan misterius!

“Nggak juga sih, Ki. Kalo semua bintang sinetron bertampang manis, ntar siapa dong, yang berperan jadi pembokat?” sodok Jejen yang belakangan ini diam-diam suka merhatiin Kiki.

“Kalo cuma jadi pembokat, gue sih, ogah jadi bintang sinetron! Malu-maluin aja!” sambar Dara sambil pasang muka sinis.

“Emangnya, siapa yang sudi ngajak elo jadi bintang sinetron, Ra?!” Rini kesal.

“Iya, Ra. Lagian, biar peran pembokat, yang penting bintang sinetron! Elo pasti nggak tau sinetron Inem Pelayan Seksi, ya? Coba kalo elo tonton, bakalan kaget ngeliat Inem yang pembokat itu tampangnya cute banget!” Sasa ikutan komentar.

“Nggak seberuntung Siska. Sampe peran pembantu pun, gue nggak mungkin!” ucap Dara, lunak tapi kenes.

“Maaf ya, Ra! Gue nggak bermaksud nyakitin elo.Dan, Siska emang udah sepantasnya meraih apa yang ia cita-citakan sejak lama, jadi bintang sinetron. Nggak percuma kalo selama ini, Siska suka keliling-keliling mal atau ikutan lomba foto model,” Rini ikutan melunak.

“Mmm … Siska ikutan lomba foto model sih,gue udah tau, Rin. Bahkan, dia pernah masuk nominasi cover gir/. Tapi … keliling-keliling mal itu apa maksudnya?” tanya Dara akhirnya.

“Ooo elo belum tau ya, Ra? Siska itu sering ke mal karena berharap ada produser yang mengajaknya main sinetron! Kan, emang enggak sedikit artis sinetron yang ditemuin dari mal?” kata Rini.

“Elo bener, Rin. Gue juga pernah baca di tabloid hiburan,artis sinetron yang awalnya diajak main sinetron gara-gara ditemuin di mal!” Sasa menambahkan.

“Wah … coba gue sering-sering nongkrong di mal?!” Jejen, cowok yang seneng berpenampilan dekil itu, ikutan ngomong lagi.

“Waduh, kalo elo sampe sering nongkrong di mal, bisa gawat, Jen! Kasian sama satpamnya! Mereka bakal sibuk merhatiin elo!” cerocos Sasa.

“Eh … emangnya, tampang gue kayak maling, apa?” Jejen kesal.

“Beda-beda tipis, lah!” sahut Kiki, sambil ketawa ngakak.Semua anak ikutan ngetawain Jejen.

“Ya, udah! Liat aja nanti!”ancam Jejen. “Paling nggak, kalo Siska udah ngetop,gue bakalan selalu mendampingi dia jalan-jalan ke mal. Jadi … body guard-r\ya" lanjutnya bersemangat, sampe-sampe mulutnya berbusa.

“Eh, ngaca! Ngaca! Siska nggak bakalan mau sama elo! Jijay, tau?!” sambar Rini, sengit.

“Tunggu tanggal mainnya!”teriak Jejen, nggak kalah sengit. Setelah itu, Jejen keluar kelas sambil menutupi kedua telinganya, karena semua anak mendamparatnya.

“Huuu …! Jejen dekil!”

“Jejen kumal!”

“Jejen kumuh!”

“Psssttt … udah, udah … kasian Jejen! Kalo rapi, sebenernya Jejen itu lumayan, tau!” Kiki menengahi teman-temannya.

“Ketauan, ya?! Kalo naksir, sana kejar!” teriak anak-anak.

“Gue, naksir si Jejen? Sori, ya! Enggak level! Soalnya, gue pun bentar lagi jadi bintang sinetron!”

“Hah? Elo, Ki? Jadi bintang sinetron? Mimpi kali, yeee …!”

“Tunggu aja! Mulai siang ini, pas bubar sekolah,gue langsung nongkrong di mal!!!11

“Mau ngapain?!” tanya anak-anak, heran.

“Masa nawarin parfum? Ya cari produser sinetron, lah!” sahut Kiki, sambil ngacir keluar kelas, nyusul Jejen.

HARI ini,Siska masuk sekolah dan keliatan lelah setelah dua hari berturut-turut nggak masuk lantaran ikutan casting sinetron itu.

“Emang, capek ya, Sis?!” selidik Dara.

“Gila, Ra! Yang casting antre!”

“Terus, elo lulus nggak?”

“Tinggal nunggu kabar. Paling,satu-dua hari ini.” “Gue doain, Sis. Mudah-mudahan, elo lulus tes!” “Makasih, Ra.”

“Tapijangan lupa sama kita-kita ya,Sis!” harap

Rini.

“Maksud, elo?”

“Gue khawatir aja. Ntar, kalo elo udah ngetop, elo lupa sama kita-kita.”

“Don t worry, friends! Gue bukan ‘kacang lupa sama kulitnya’.”

“He-eh,Sis! Gue ngerti maksud elo!”serobot Jejen, yang tau-tau udah masuk ke kerumunan anak-anak cewek.

“Sok tau! Kacang lupa sama kulitnya itu apa, hayo?!” sembur Kiki.

“Gini, Ki. Siska itu kan, nantinya bintang sinetron. Nah, pas doi makan kacang, doi enggak lupa mesti ngupas kulitnya dulu! Masa, mentang-mentang bintang sinetron, makan kacang sampai sama kulit-kulitnya?!”

“Huuu …!” semua anak yang mendengar ocehan Jejen, serentak mencubiti tubuhnya.

“Ampuuun …! Ampuuun …!”Jejen teriak-teriak.

“Ngakunya mau jadi body guard?1. Baru dikeroyok lima cewek aja udah kalang-kabut!” umpat Dara.

m

PAGI ini, Siska nggak masuk sekolah. Menurut kabar, doi udah mulai syuting sinetron hari ini!

“Elo tau dari siapa, Ra?” selidik Sasa.

“Semalam, Siska nelepon gue. Katanya, dia lulus casting1. Wuih, heboh banget, ya?!” ucap Dara berapi-api, tapi mulutnya enggak sampe ngeluarin asap, sih.

“Ya, Tuhan! Siska lulus casting?! Woooy … semuanya! Denger, ya! SISKA MAIN SINETRON!” teriak Sasa sambil berlari ke sana-kemari, kayak orang kebakaran jenggot. Untung, Sasa nggak punya jenggot.

“Aduh, duh, duh … hik, hik, hik akhirnya, sohib gue jadi bintang sinetron!” Jejen malah terharu,

“Hah? Gila! Hebat! Agnes Monica bakal punya saingan beraaat .,,!” teriak Kiki, sambil melompat-lompat, persis nenek-nenek kebakaran bulu ketek! Hihihi kalah tuh hutan di Kalimantan.

“Judul sinetronnya apa, sih?”

“Lawan mainnya siapa? Roger? Revaldo? Syah-rul? Atau … Irwansyah? Ck, ck,ck!”

“Nggak tau,deh. Kita tunggu aja kabar selanjutnya.”

HAMPIR seminggu, Siska nggak masuk sekolah. Semuanya menanti kehadirannya. Mereka pada enggak sabar menunggu.

“Emangnya, berapa hari sih, syutingnya?”tanya Sasa.

“Bisa jadi sebulan,” jawab Dara asal.

“Walah …! Sebulan? Apa nggak lebih baik sekalian berhenti sekolah aja?”

“Hus! Udah nggak aneh bintang sinetron tuh kayak gitu! Tapi, biasanya orang macam Siska da-pet dispensasi dari sekolah. Artis kan, emang gitu? Nanti mendatangkan guru privat ke lokasi syuting! Mmm … pokoknya, jadi bintang sinetron itu oke banget!” Jejen sok tau.

“Gue enggak percaya sama omongan elo, Jen! Mulut elo aja bau jengkol!!”

“Emangnya, kenapa kalo mulut gue bau jengkol?! Asal elo pada tau, bagi gue, rasa jengkol tuh,

surga dunia!”

“Bau jengkol aja bangga! Biar bau jengkolnya ilang, sono, makan pete!” hardik Kiki.

“Bodyguard kok, suka makan jengkol? Kasian atuh, para penggemar!”

“Udah, udah …! Kenapa jadi ngebahas jengkol, sen?”

“Iya, neh! Sono, Jen, bersihin mulut elo! Perasaan, di kantin kita nggak ada menu jengkol?” “Jejen pesen di warteg seberang sekolah, bo!” “Pantes.”

“Terus, masalah Siska, gimana, dong?” “Ya mau gimana? Kita tunggu aja kabar selanjutnya.”

“Udah dihubungi lewat HP?”

“Enggak aktif. Sibuk ngelayanin wartawan,

kali?”

“Uh, bintang sinetron!”

SISKA kembali masuk. Kontan, semua anak pada mengerumuninya. Malah, ada yang pura-pura minta tanda tangan segala.

Gimana syutingnya, Sis?”

Lawan mainnya siapa aja?”

Judul sinetronnya apa, sih?”

Tayangnya kapan?”

Di stasiun apa?”

Gimana rasanya main sinteron?”

Bertumpuk-tumpuk pertanyaan menyerang Siska. Sayang, Siska nggak mau menjawab.Ia cuma bilang, “Tunggu aja beritanya di tabloid, satu atau dua minggu lagi. Soalnya, sang produser ngelarang para pemain ngasih bocoran sama siapa pun! Masih rahasia!”

“Jeee elo, Sis! Kita-kita kan, bukan wartawan. Kenapa mesti rahasia-rahasiaan, sih?!” Kiki yang paling penasaran, protes keras.

“Iya, Sis. Please deh, ah Semua anak

merengek-rengek.

Siska nggak peduli sama rengekan teman-temannya. Lagi puia, Siska pikir, pasti teman-temanku nggak bakaian puas seandainya aku menjawab.

Namun,karena serangan teman-temannya yang bertubi-tubi, terutama Kiki yang cerewet, akhirnya Siska menjawab satu pertanyaan yang membuat teman-temannya puas.

“Gue main di FTV ucap Siska, yang langsung membuat teman-temannya paham.

Semua pada tau, FTV itu Film Televisi alias telesinema, sinetron yang sekali tayang langsung tamat.

“Judulnya?” sodok Kiki.

“Misteri Rumah Hantu.” Ups! Siska keceplosan, ngasih tau judulnya!

FTV Misteri, ya?” tebak Dara.

“Udah, ah! Kok, jadi terus-terusan tanya, sih? Nanti aja, tunggu tanggal mainnya!” Siska jadi berang.

“Pertanyaan terakhir,” ucap Kiki, persis reporter yang mau menyudahi wawancara. “Tayangnya kapan?” lanjut Kiki.

Karena ngerasa bosan dikerumuni anak-anak, akhirnya Siska nyerah.

“Hari Jumat depan, jam delapan malam!”jawab Siska, dan nggak lupa menyebut stasiun teve yang bakal menayangkannya.

Merasa puas akan jawaban itu, anak-anak akhirnya menyingkir dari Siska. Siska menghela napas, merasa lega dijauhin sohib-sohibnya. Kasihan Siska, baru mengalami sekali syuting, udah merasakan seperti bintang sinetron top yang diserbu penggemarnya!

SABTU pagi, kelas Siska gaduh. Semua anak pada diskusi soal film televisi yang mereka tonton semalam.

“Perasaan, gue nggak liat tampang Siska, deh!”ucap Kiki dengan nada kecewa.

“Itu tuuh … yang jadi cewek di pos ronda, yang menggoda penduduk yang melintas,”kata Dara.

“Yang mana, ya? Habis,muka tuh cewek pucat gitu, sih. Udah gitu, gue agak-agak ngeri nonton tuh sinetron!”

“Yeee … nggak nyimak, sih!!!” timpal Jejen.

“Wah … gue juga nggak fokus ke salah satu stasiun teve tuh. Ng … jadi, waktu syuting Siska

yang seminggu itu, cuma nongol lima menit itu doang?!” sungut Rini, tak kalah kecewa.

Semua anak mengangkat bahu.

“Pssttt … Siska udah dateng bisik Rini

kemudian.

Semua anak kompakan diam.

“Gimana, bagus nggak, akting gue?” tanya Siska, begitu tiba di depan sohib-sohibnya.

Kontan, semua anak terbengong-bengong. “Emangnya, elo yang jadi siapa sih, Sis? Eee sori, gue nggak begitu merhatiin tuh sinetron,” tanya Sasa polos.

“Ya ampun, elo, Sa! Gue kan, yang jadi kuntilanak jadi-jadian itu!” jawab Siska, datar, lalu menghambur ke mejanya.

Sohib-sohibnya pada kebingungan,tapi akhirnya tersadar, sebagian dari mereka yang menonton sinetron itu pasti paham. Tokoh kuntilanak jadi-jadian yang diperankan Siska bertampang jelek, seperti Mak Lampir, yang sepanjang sinetron itu sering ke-tawa menyeramkan. Kecuali pas adegan di pos ronda,yang memakai wajah manis Siska sesungguhnya, tentu dengan make-up dibuat agak seram.

“Ya ampun, Siska … yang jadi kuntilanak itu elo, ya? Yang ketawanya serem banget?”

Siska mengangguk senang. “Wah, selamat deeeh …!”

Satu persatu, sohib Siska memberi ucapan selamat pada Siska, yang mereka anggap berakting bagus. Saking bagusnya, mereka sampe nggak tahu kalo Siska sebenarnya pemeran utama sinetron itu!

Cheerleader

SEMUA anak cewek ngomongin penampilan dahsyat anak-anak cheerleader, yang jadi penggembira pada pertandingan basket antarkelas. “Ya ampun, mereka keren abis, deh!” “Piramid yang mereka bikin lain dari yang lain!” “Gerakan mereka yahud banget!” “Aku pengin banget deh, ikut latihan sama mereka.”

“Tapi, nggak semua anak bisa ikut cheer’s, lho! Banyak persyaratannya.”

Memang, nggak semua anak bisa jadi anggota cheerleader. Padahal, banyak banget anak cewek yang jadi anggotanya.Salah satu cewek yang ngebet banget jadi anggota cheerleader adalah Bianca Sisilia Rombey, siswi kelas satu K. Udah lama banget Bianca mimpi pengin jadi anggota cheer’s, tapi itu enggak mungkin banget.

Masalahnya, temen-temennya bilang Bianca nggak punya senyum manis kayak anak-anak cheer’s itu.Bianca enggak mungkin bisa menghafal gerakan-gerakan yang biasa diperlihatkan anak-anak cheer’s . Dan, kalo Bianca ngotot gabung sama anak-anak cheer’s, dipastikan bakal memperburuk penampilan

anggota cheer’s lain, sebab dianggap akan merusak pemandangan!

“Ya ampun, Bi, elo nggak pantes banget masuk tim cheer’s1.”

“Cocoknya topeng monyet kali! Hahaha

“Jadi Sarimin-nya, dong! Hehehe

Bianca sebenarnya nggak peduli pendapat sinis teman-temannya itu. Masalah senyum, itu gampang dipelajari. Soal gerakan-gerakan, bisa dihafal setiap hari. Penampilan juga bisa dibuat stylist, kok. But, the main problem is … Bianca emang nggak bisa menutupi diri, kalo ia punya bodi balon gas! Kayaknya, nggak banget deh, kalo tubuhnya yang gempal melompat-lompat mengikuti gerakan-gerakan anak-anak cheer’s lainnya.

Persoalan sebenarnya adalah, kalo Bianca ngotot ikutan cheer’s, apakah dia bisa menurunkan berat badannya lima belas kilo aja?! Oh, kayaknya berat banget! Sementara itu, diet cuma bikin sengsara. Kalo ngomong soal diet, Bianca langsung pusing tujuh keliling pangkat tiga belas. Life is hell!

Taruhlah Bianca bisa menurunkan bobotnya, tapi apa bisa ia meninggikan tubuhnya dua puluh lima senti lagi, hingga keseluruhannya minimal jadi 160 senti?

Dan kini Jelaslah … bagi Bianca Sisilia Rombey, jadi anggota cheer’s cuma mimpi belaka!

“Gue bilang juga apa?! Elo tuh, cocoknya main basket!” ujar Lola, satu-satunya anak cewek yang mau jadi temen deket Bianca.

“Masa sih, main basket? Menghina banget, deh!”

“Abis, apa lagi? Anak-anak cheer’s kan, manis-manis, langsing-langsing, seksi-seksi …. Nah elo …?”

“Oke, gue terima. Nah, elo malah bilang gue pantesnya main basket! Gila aja. Tapi … oke juga sih, saran elo. Kayaknya, gue bisa main basket. Cuma … kira-kira, posisi gue apa?”

“Taelaaa elo tuh main basket bukan jadi pemainnya, tapi jadi bolanya!”

Bianca nggak marah meskipun Lola sebenarnya keterlaluan. Lagian, buat apa marah? Nanti, bisa-bisa dia nggak punya teman.

AKHIRNYA, Bianca nggak mau pusing dan menyadari sepenuhnya, kalo dirinya nggak mungkin jadi anggota cheer’s. Pada akhirnya, Bianca cuma bisa mengkhayal, seandainya dia bisa jadi salah satu anak cheer’s.

Bianca merasa beruntung memiliki kegemaran menulis cerita. Keinginannya yang nggak bisa terwujud itu, ia tuliskan di dalam sebuah cerita. Dalam cerita yang ia buat, ia menjadi tokoh yang bisa menjadi anggota cheer’s. Dalam sebuah karangan, segalanya menjadi mungkin, termasuk Bianca yang punya bodi nggak mendukung, toh ia tetap bisa menjadi anggota cheerleader dalam cerita yang ia karang!

Meskipun memiliki tubuh supergendut dan

pendek, akhirnya Bianca bisa jadi anggota cheer’s sekolahnya. Anak-anak cheer’s mau nerima keadaan Bianca.

Seminggu sekali, Bianca ikut latihan bareng anak-anak lainnya. Namun, ia sendiri berlatih setiap hari di rumah. Angkat barbel, push up, sit up, lompat, lari, renang, semua ia lakukan agar tubuhnya bisa lentur dan kuat. Tak lupa pula menghafalkan semua gerakan cheer’s-nya.

Hebatnya, ternyata Bianca mampu menandingi teman-temannya sesama cheer’s. Bianca bahkan bisa menjadi maskot cheer’s karena gerakannya yang gesit dan lincah. Setiap kali cheerleader yang beranggotakan Bianca, selalu mendapat sambutan yang sangat meriah dari orang-orang.

Pada akhirnya,karena kehebatannya itu,Bianca jadi cheerleader inti sekolah. Di setiap pertandingan, Bianca selalu tampil bareng tim cheer’s-nya. Bahkan, para penonton selalu menanti-nantikan kehadiran Bianca dalam setiap penampilannya. Bianca mampu tampil seperti anak-anak cewek lain yang bertubuh langsing.

Hanya, semua itu cuma dalam cerita yang dibuat Bianca! Karena yang terjadi sesungguhnya, Bianca tetaplah Bianca, si gendut pendek yang nggak akan mampu bisa jadi anggota cheer’s, kecuali menuliskannya dalam sebuah cerita.

TULISAN Bianca tentang anggota tim cheer’s sekolah yang gendut pendek itu,dibaca oleh temen-temen sekelas. Ketika selesai membacanya, salah satu teman Bianca terenyuh, namun lega ketika baca ending-nya.Naskah Bianca yang sudah dijilid rapi itu, diberikan pada anak-anak di kelas lain. Bahkan jadi rebutan!

Seorang guru bahasa Indonesia ikut membaca tulisan Bianca. Beliau meminta disketnya dan mengatakan akan memberikan disket berikut naskah yang sudah d-print out itu pada penerbit.

“Kamu akan menjadi penulis terkenal, Bianca!” ujar guru bahasa Indonesia pada Bianca.

BUKU itu diterbitkan!

Bianca nggak nyadar kalo cewek seperti dirinya bisa menjadi ‘sesuatu1. Meskipun nggak bisa jadi anggota cheerleader, dia bisa bisa jadi seorang penulis! Apalagi, ketika dihubungi, penerbit mengatakan kalo novel itu udah dua kali cetak ulang dalam waktu seminggu sejak diterbitkan!

Aha, Bianca kini menjadi sangat berarti hidupnya. Ketika promosi novelnya di salah satu sekolah, seorang cowok keren meminta tanda tangannya.Dia mengaku sangat menyukai novel itu. Si cowok itu juga meminta nomor HP Bianca.

Pada akhirnya, cowok itu jadi temen curhat Bianca. Mereka seringkah saling SMS-an. Dan pada

suatu malam Minggu, si cowok ngajak Bianca jalan-jalan. Tapi, Bianca menolaknya, karena dia mengaku sedang sibuk menulis cerita lainnya.

Zaenal Radar T., kelahiran Tangerang,7 Desember 1973 Bu-kunya yang telah terbit: Jerawatan (Cinta, 2005), Bunda, Aku Jatuh Cinta (MU: 3 Books, 2DD5), The Last Lajang-er (Lajang Terakhir), ditulis bareng Dono Indarto (Gagas Media, 2DDS), Kantin Love Story (LPPH, 2DD4), Airmata Laki-laki (FBA, 2DD4), Ketemu Camer (DARI Mizan, 2DD4), Harga Kematian (DARI Mizan, 2DD3), dan beberapa buah buku anak-anak serta sejumlah antologi bersama penulis lain. Cerpen-cerpennya dimuat dalam sejumlah media, di antaranya majalah CEWEK, Kawanku, ANEKA Yessl, FANTASI Teen, Mahardika, KEREN Beken, GAUL, CINTA, dan lain-lain. Saat ini, ia menjadi kontributor sejumlah media serta menulis cerita dan skenario sebuah rumah produksi di Jakarta.Setelah semua lapangan sepak bola di daerahnya tergusur dan diganti dengan perumahan dan mal, hobi main sepak bolanya menjadi bersepeda keliling kampung. Dan tentu saja, bila senja datang, Zaenal selalu menyempatkan diri untuk minum teh sambil membaca atau menonton film.

Buat kamu-kamu yang penasaran dengan karya-karyanya, bisa kirim e-mail ke zaenal_

radar_t@y ahoo. com.

menikmati jus al-pukat yang tinggal sete-ngahnya.

0 Response to "Cinderella Jakarta"

Post a Comment