Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Cerpen Ahmadun Yosi Herfanda

Kumpulan Cerpen Ahmadun Yosi Herfanda

Anggukan Sapi Betina

Cerpen Ahmadun Yosi Herfanda

MULANYA hanyalah seekor sapi betina. Tetapi, lenguhnya yang aneh dan hanya terdengar tiap malam Jumat, membuat orang-orang desa menganggapnya bukan lagi seekor sapi biasa. Anggukan dan goyangan kepalanya pun dipercayai sebagai isyarat atau jawaban atas pertanyaan yang diajukan kepadanya, bahkan kehendak dan tanda-tanda zaman yang tidak dapat dielakkan.

“Apakah kau mengerti kata-kataku, hai sapi?” tanya seorang lelaki gemuk berbaju safari, sambil membungkuk di depan sang sapi.

Sapi betina itu diam saja. Matanya membelalak, bulat seperti telur mata sapi. Lidahnya yang kemerahan lantas terjulur, meraup rumput hijau yang menumpuk di depannya.

“Ah, kau bohong, Pak Mandor. Dia tidak mengerti kata-kataku.” Lelaki gemuk itu protes pada pria tambun di sebelahnya.

“Bapak harus memanggilnya ‘Ibunda Sapi’ agar dia mau menjawab pertanyaan Bapak,” ujar sang tambun.

“Ibunda Sapi…,” lelaki gemuk dengan pipa cangklong di tangan itu lebih mendekati sang sapi. Suaranya dilembut-lembutkan, ‘’apakah Ibunda setuju saya mencalonkan diri menjadi kepala desa?”

Seekor lalat hijau, ketika pertanyaan lelaki gemuk itu meluncur, tiba-tiba mendengung dan hinggap di ujung telinga kanan sang sapi. Dan, demi menolak rasa geli, sapi itu menggeleng-gelengkan kepalanya keras-keras, mengusir lalat itu.

“Lihat, dia menggelengkan kepalanya,” teriak lelaki tambun yang dipanggil Pak Mandor itu, gembira. ”Ibunda sapi tidak setuju Bapak mencalonkan diri menjadi kepala desa.”

“Ah, saya tidak percaya. Dia menggoyangkan kepalanya karena telinganya gatal. Ada lalat hijau hinggap di situ.”

“Tidak. Ibunda Sapi memang mau menggeleng. Cuma kebetulan lalat hijau ada di situ. Kalau tidak percaya coba bapak ulang.”

“Ibunda Sapi, apakah Ibunda setuju saya mencalonkan diri menjadi kepala desa?” Tanya lelaki gemuk itu lagi, dengan suara lebih nyaring, mulai kehilangan kelembutan, serak seperti suara mikropon retak.

Seekor lalat hijau kembali mendengung dan meluncur masuk ke telinga kanan sang sapi. Dan, spontan sang sapi menggelengkan kepalanya yang tampak besar dan berat seperti kepala dinosaurus, mencoba mengusir sang lalat. Sekali, dua kali, tiga kali, sang lalat pun terloncat kepunggungnya.

“Lihat, Ibunda Sapi tidak setuju Bapak mencalonkan diri menjadi kepala desa. Bapak harus percaya. Tidak cuma sekali dia menggeleng, tapi tiga kali, dengan keras sekali.”

Lelaki gemuk yang di panggil Pak Carik, lelaki dengan wajah persegi dan rambut lurus lebat seperti rumput Jepang di taman desa itu, kali ini terdiam. Wajahnya memerah, bibirnya mengatup rapat dengan gelembung kemarahan di sekelilingnya, menahan geram. “Sapi gila!” umpatnya tiba-tiba, sambil membalikkan tubuhnya dan melangkah ke pintu kandang.

Melihat kegusaran Pak Carik, lelaki tambun mandor kebun tebu yang dipercayai memelihara satu-satunya sisa sapi Banpres itu, ikut menjadi gusar. Dengan langkah ragu-ragu ia mendekati Pak Carik yang tiba-tiba menhentikan langkahnya dan berdiri mematung di pintu kandang sapi.

“Sudahlah, Pak Carik. Urungkan saja niat bapak untuk mencalonkan diri menjadi kepala desa. Warga toh masih menginginkan Pak Sarkem tetap mejabatnya untuk periode mendatang. Mereka sudah merasakan keberhasilan Pak Sarkem memimpin desa ini. Ibunda Sapi tau benar keinginan warga.”

“Warga yang mana, Pak Mandor? Kau jangan main hantam kromo. Lihat saja, di mana-mana ada letupan. Mereka menginginkan perubahan. Mereka sudah bosan berpuluh tahun dipimpin Pak Sarkem.” Suara Pak Carik mengeras, memekakkan telinga, sekeras teriakan jurkam tanpa mikropon di tengah lapangan.

“Pak Carik, hati-hati kalau ngomong! Ingat posisi Bapak. Kalau Pak Sarkem dengar, bisa-bisa Bapak tidak dipakai lagi.”

“Pak Mandor juga harus hati-hati. Pak Mandor hanya dititipi Pak Lurah untuk memelihara sapi Banpres itu, memberinya makan, mengawinkannya agar beranak pinak. Bukan untuk dijadikan dukun!”

“Siapa yang menjadikannya dukun, Pak Carik? Sapi itu memang mumpuni. Dia dapat membaca apa yang sedang terjadi dan bakal terjadi di desa ini.”

“Omong kosong!”

“Terserah Bapak, percaya atau tidak!”

Lelaki gemuk berwajah persegi itu terdiam. Sekali ia menarik nafas panjang dan dalam, lalu menghembuskannya dengan kuat, seperti menghembuskan semua kegusaran hatinya ke udara sore yang kering dan penuh aroma telethong sapi. Pipa cangklong hitamnya lantas ia isap, sambil menyandarkan punggung ke kusen pintu kandang sapi. Pak Mandor juga terdiam, dan karena tak membawa pipa cangklong, ia lantas menyalakan sebatang rokok kretek.

Tiba-tiba seperti ada ide baru yang terlintas di kepala Pak Carik. Buru-buru ia melangkah kembali mendekati sang sapi. Pak Mandor mengungtitnya dari jarak tiga langkah.

“Ibunda Sapi,” kata Pak Carik setelah sampai pada jarak satu langkah dari sapi betina itu, “apakah Ibunda setuju kalau Bapak Kepala Desa, Pak Sarkem, diganti?”

Lagi-lagi, seekor lalat hijau, dua ekor, tiga ekor, empat ekor, lima ekor, mendengung-dengung di seputar kepala sapi. Seekor hinggap di ujung telinga kanannya, seekor menerobos masuk ke telinga kirinya, tiga ekor merubung luka diatas sudut mata kirinya. Sang sapi pun menggeleng-geleng keras, mengusir lalat-lalat itu.

“Lihat! Lihat, Pak Carik! Ibunda sapi mengeleng-geleng keras! Ibunda sapi tidak setuju Pak Sarkem diganti. Ibunda Sapi tahu warga masih menhendaki Pak Sarkem dipilih kembali menjadi kepala desa.”

“Jadi, Ibunda Sapi setuju Pak Sarkem dipilih kembali menjadi kepala desa?”

Tanpa menghiraukan ocehan Pak Mandor, lelaki gemuk berbaju safari itu bertanya lagi pada sang sapi. Dan, kali ini seekor semut merah menggigit janggut Ibunda Sapi. Maka, demi mengusir rasa gatal, sang sapi pun mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menggosok-gosokkan janggutnya yang gemuk ke tumpkan rumput gajah di depannya.

“Lihat! Lihat! Dia setuju!” teriak Pak Mandor.

“Jadi, Ibunda Sapi setuju masih ada kepala desa seumur hidup di desa kita ini?” Tanya Pak Carik lagi dengan penasaran.

Ibunda sapi yang masih merasakan gatal-gatal pada janggutnya, terus mengangguk-anggukkan kepalanya, bahkan disertai lenguhan panjang.

“Lihat! Lihat! Ibunda sapi tidak hanya mengangguk. Dia juga melenguh. Dia sangat setuju Pak Sarkem menjadi kepala desa seumur hidup!” teriak Pak Mandor gembira, seperti orang yang baru saja menang taruhan sepak bola.

“Edan!” umpat Pak Carik sambil ngeloyor pergi, meninggalkan kandang sapi.

***

KEESOKAN harinya – tak jelas apa yang terjadi dalam semalam, seolah sistem penyebaran informasi telah sedemikian canggih dan cepat – desa itu geger. Tersiar berita penting: Ibunda Sapi menghendaki agar Pak Sarkem dipilih kembali menjadi kepala desa.

“Benar! Kata Pak Mandor, sapi itu mengangguk ketika Pak Carik bertanya apakah ia setuju Pak Sarkem dipilih kembali menjadi kepala desa.”

“Jika begitu, pemilihan kepala desa yang akan kita adakan bulan depan percuma saja! Toh hasilnya sudah kita ketahui, yang terpilih akhirnya Pak Sarkem juga.”

“Tetap perlu! Siapa tahu banyak warga desa yang memilih calon lain.”

“Ah, mana berani mereka melawan kehendak Ibunda Sapi.”

“Saya yakin banyak yang berani. Mereka menginginkan perubahan. Lihat saja, kerusuhan meletup di mana-mana. Mereka bosan pada kemapanan seperti ini.”

“Kalau ternyata Pak Sarkem juga yang terpilih?”

“Itu tak masalah. Berarti warga masih ingin mematuhi kehendak Ibunda Sapi. Yang penting demokrasi tetap jalan.”

“Demokrasi macam apa? Demokrasi sapi betina?”

“Jangan begitu! Kamu bisa kualat sama Ibunda Sapi!”

Debat politik ala warung tegal itu tak hanya terjadi di warung kopi, tapi juga di serambi masjid dan gereja, di atas andong, di pematang sawah, di kantin balai desa dan di teras rumah ibu-ibu PKK. Banyak yang mendukung kehendak Ibunda Sapi. Tapi, tak kurang yang tidak setuju dan menganggap itu sebagai syirik dan cermin kebodohan. Mereka menganggap bukan saatnya lagi percaya pada anggukan seekor sapi betina. Mereka menginginkan ada perubahan. Mereka menginginkan Pak Sarkem diganti. Dan, inilah yang meresahkan para Hansip, Wankamra, Satpam dan hampir semua perangkat desa. Mereka menganggap stabilitas politik dan keamanan desa sedang terancam.

“Kita harus melakukan gerakan politik untuk melawan ancaman-ancaman itu. Wibawa Ibunda Sapi harus ditegakkan kembali,” kata Kabag Kesra, tokoh yang ditugasi Pak Sarkem untuk memenangkan pemilihannya, dalam sebuah rapat istimewa di balai desa.

“Jika begitu, kita buat kebulatan tekad saja,” usul Pak Mandor.

“Kebulatan tekad macam apa?”

“Kebulatan tekad untuk menegakkan kembali kehendak Ibunda Sapi dan memilih kembali Pak Sarkem menjadi kepala desa.”

“Ah, itu sudah kuno, hanya akan menjadi bahan tertawaan warga.”

“Atau doa politik saja?”

“Itu juga sudah banyak dilakukan orang. Kurang orisinal.”

“Lantas apa?”

“Kita buat gerakan untuk mempopulerkan kembali Pak Sarkem. Kita pasang foto kepala desa pada tiap rumah warga dan tiap sudut kampung.”

“Lalu, bagaimana dengan Ibunda Sapi?”

“Ya, foto Ibunda Sapi juga perlu kita pasang.”

“Bagaimana kalau kita sebarkan foto Pak Sarkem sedang menunggang Ibunda Sapi?”

“Jangan. Itu bisa berbahaya, bisa dianggap menghina Ibunda Sapi. Bisa-bisa warga tidak mau memilih Pak Sarkem lagi.”

“Bagaimana kalau foto Pak Sarkem sedang mencium Ibunda Sapi?”

“Itu ide bagus. Itu simbol kemesraan hubungan antara Pak Sarkem dan Ibunda Sapi. Saya setuju!”

Maka, pada keesokan harinya, menyebarlah ribuan foto Pak Sarkem sedang mencium pipi sapi betina itu. Pada tiap dinding rumah, sudut kampung, serambi masjid dan gereja, pintu kelenteng dan pura, ruang-ruang sekolah, kantor-kantor lembaga pemerintah desa, warung Tegal, warung Padang, warung sate Madura, warung bakso, kios rokok dan koran, kaos anak-anak dan remaja, terpampang gambar kepala Ibunda Sapi dicium Pak Sarkem.

“Jangan pasang foto selain foto Pak Sarkem dan Ibunda Sapi!” demikian instruksi Wakil Kepala Desa melalui pidato-pidato, radio-radio dan stasiun televisi lokal. Bahkan, iklan-iklan bikini pun harus memakai model Ibunda Sapi. Sehingga, pada hari berikutnya, di sebelah kanan pintu gerbang masuk desa, terpampang baliho raksasa: sapi betina sedang berdiri mengenakan bikini model terbaru, menggantikan baliho bergambar Tamara Blezinsky yang sedang mengiklankan pakaian dalam bikinan Prancis.

***

HARI pemilihan kepala desa akhirnya tiba juga. Tempat pencoblosan dibangun di halaman balai desa dengan latar belakang spanduk raksasa bergambar Pak Sarkem mencium pipi Ibunda Sapi. Memang ada gambar dua calon lain, Pak Mantri Suntik dan Mantri Kali, tapi dipasang kecil saja di pojok kanan dan kiri spanduk. Semua warga tahu, keduanya hanya calon pelengkap saja, agar pemilihan bisa berjalan sesuai undang-undang.

“Saya memutuskan untuk mencalonkan diri sebagai wakil kepala desa saja. Saya mendukung Pak Sarkem terpilih kembali menjadi kepala desa. Ini sesuai dengan kehendak dan restu Ibunda Sapi,” kata Pak Mantri Suntik pada kampanye dialogisnya melalui televisi lokal, sehari sebelumnya.

“Saya sependapat dengan Pak Mantri Suntik. Melihat pengalaman dan kesuksesan Pak Sarkem memimpin desa ini, beliau paling pantas dipilih kembali menjadi kepala desa,” timpal Pak Mantri Kali pada acara yang sama.

Waktu pun terus merambat. Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari. Semua aparat desa, sebagai panitia pemilihan, sudah berkumpul di halaman balai desa. Para Hansip, Wankamra dan Satpam, pun bergentayangan disekeliling balai desa, siap mengamankan pemilihan, dengan pentung dan senapan otomatis di tangan. Telepon genggam, walki talki, tabung gas air mata, bergelantungan pada ikat pinggang mereka. Motor-motor trail, jip militer, dan panser, disiagakan di tempat-tempat strategis.

Tetapi, sampai pukul 12 siang tak seorang warga pun datang mencoblos. Pengeras suara terus berteriak-teriak agar para warga segera datang. “Bapak-bapak, ibu-ibu, harap segera datang ke tempat pencoblosan. Kita semua wajib menyukseskan pemilihan. Ini demi demokrasi dan masa depan desa kita!” Namun, hanya angin siang yang menerobos masuk ke bilik pencoblosan dan menghempas-hempaskan kordennya. Daun-daun kering yang dirontokkan angin ikut menyerbu halaman balai desa.

Yang terjadi selanjutnya adalah kegelisahan yang aneh. Pak Sarkem, yang bertubuh gemuk dan ubanan, gelisah di kursi busanya, sambil mengetuk-ngetukkan sol sepatunya ke lantai marmer dengan irama yang tidak teratur. Para aparat desa, dengan seragam safari abu-abunya, mondar-mandir di halaman balai desa, sambil matanya jelalatan keluar pagar, mengharap-harap ada warga yang datang ke tempat pencoblosan. Hansip, Wankamra dan Satpam, pun mondar-mandir di luar, sambil sesekali menendang-nendang batu atau kaleng minuman yang ditemuinya.

Ketika kegelisahan mereka sampai ke puncaknya, di kejauhanan, di ujung jalan masuk ke balai desa, tampak seorang lelaki berpeci dan bertongkat tertatih-tatih mendekati tempat pencoblosan. “Lihat! Warga mulai datang!” teriak Pak Mandor gembira.

“Ya, warga mulai datang!” teriak yang lain, seolah terbebas dari himpitan kegelisahannya. “Benar, kan! Mereka memang lebih suka mencoblos pada sore hari, jalanan tidak panas.”

Lelaki bertongkat itu, yang ternyata seorang buta, pun memasuki halaman balai desa, sambil meraba-raba jalan dengan tongkatnya.

“Bapak mau mencoblos?” sambut Komandan Hansip bersemangat.

“Ya ya ya,” jawab lelaki bertongkat itu sambil mengangguk-angguk mantap. ‘’Tapi saya buta. Saya tidak tahu mana gambar yang saya sukai .”

“Bapak suka apa? Gambar petai, jengkol, atau kerupuk?”

“Wah, kalau makan saya suka lalap jengkol.”

“Nah, tusuk saja gambar jengkol.”

“Di mana nusuknya.”

“Mana kartu kuningnya, biar saya bantu.”

Selesai menusuk, lelaki buta itu pun pergi. Halaman balai desa kembali lengang dengan bilik pencoblosan dan kotak suara yang kosong melompong. Kegelisahan kembali menerkam mereka. Aparat desa mulai mondar-mandir dengan mata jelalatan keluar pagar, panitia pendaftar mulai menggebrak-gebrakkan tangannya ke meja dengan irama aneh, para Hansip dan Wankamra menendang-nendang kaleng kosong sesukanya. Suara ketukan sol sepatu Pak Sarkem dari dalam balai desa pun semakin keras saja. Semuanya, tanpa sengaja, menciptakan konser kegelisahan yang aneh di halaman balai desa.

“Hai, kalian kenapa? Kalau sudah tak ada yang mencoblos, dihitung saja suaranya! Jangan malah bengong!” teriak Pak Sarkem yang tiba-tiba muncul di pintu balai desa.

“Bagaimana akan dihitung, Pak. Hanya satu!”

“Hanya satu? Jadi, yang mendapat suara hanya satu calon? Itu bagus. Menang mutlak namanya!”

“Hanya satu orang? Orang buta?!” Mata Pak Sarkem kini terbelalak. “Pada kemana warga yang lain, ha?”

“Tidak tahu, Pak! Tidak ada yang datang!”

“Wah, ini namanya pemogokan politik. Ini melawan prinsip-prinsip demokrasi. Pasti ada aktor intelektualnya. Masa depan desa kita bisa gawat!”

‘’Lalu, bagaimana enaknya, Pak?”

“Bagaimana bagaimana! Kalian goblok semua! Paksa mereka ke sini. Kita tegakkan kembali demokrasi! Goblok!” Kemarahan Pak Sarkem tiba-tiba memuncak. Ia melangkah cepat ke arah Pak Mandor dan merebut mikropon dari tangannya. “Hai para Hansip, para Wankamra, para Satpam, paksa warga datang ke sini! Ayo, cepaaat!!! Ini perintah!”

Demi mendengar perintah Bapak Kepala Desa, para Hansip, Wankamra dan Satpam, berhamburan ke seluruh penjuru desa. Mereka menggedor tiap pintu rumah dan memaksa warga untuk datang ke balai desa. Bersamaan dengan itu, pengeras suara di halaman balai desa pun berteriak-teriak keras, “Bapak-bapak! Ibu-ibu, harap segera kumpul! Kumpul! Kumpuuul!’’ Kentongan-kentongan di masjid, di musala, di pos ronda, pun dibunyikan ramai-ramai. “Tong! Tong! Tong! Kumpul! Kumpuul! Tong! Tong! Tong! Kumpuuul!” Desa pun riuh irama musik kentongan. Burung-burung beterbangan ketakutan. Ayam-ayam berkokok-kokok berlarian. Kucing-kucing berloncatan masuk kolong. Kambing-kambing mengembik lepas dari kandang. Dan, hanya dalam waktu beberapa menit, ratusan warga desa sudah berkumpul di halaman balai desa.

“Bapak-bapak, ibu-ibu, kalian semua kenapa?!” Suara Pak Sarkem menggelegar lewat pengeras suara. Tak ada yang menjawab. Ratusan warga hanya berdiri mematung. “Bukankah hari ini hari pencoblosan! Kenapa kalian tidak pada datang? Kalian semua mogok ya?! Jangan begitu! Itu namanya merusak jalannya pemilihan! Merusak demokrasi!”

“Bukan begitu, Pak Kepala Desa,” seorang warga, yang berdiri paling depan, memberanikan diri untuk berbicara. “Kami semua hanya memenuhi kehendak Ibunda Sapi!”

“Kehendak Ibunda Sapi?! Kehendak bagaimana?!’’

“Ibunda Sapi menghendaki kami tidak datang ke tempat pencoblosan. Ibunda Sapi menganggap pencoblosan tidak penting lagi, karena yang terpilih toh pasti Pak Sarkem juga!”

“Pak Mandor, bawa Ibunda Sapi kemari. Kita lihat apa memang benar Ibunda Sapi berkehendak begitu.”

Demi mendengar perintah Pak Sarkem dan kegawatan situasi, lelaki tambun mandor kebun tebu itu langsung menerobos kerumunan warga dan berlari menuju kandang sapinya. Semuanya menunggu dengan tegang. Baliho pesan sponsor bergambar Ibunda Sapi dengan pakaian bikini buatan Prancis di belakang bilik pencoblosan bergoyang-goyang keras ditiup angin sore. Tak seberapa lama, Pak Mandor kembali menerobos kerumunan warga, sambil menuntun sapi betina, masuk ke halaman balai desa.

“Bawa Ibunda Sapi ke tengah!” teriak Pak Sarkem. Ratusan warga langsung menyerbu, mengelilingi Ibunda Sapi. “Yang depan jongkok agar yang belakang dapat melihat!” Pak Sarkem memelopori jongkok di belakang sapi betina itu. Pak Mandor, Pak Carik, Pak Mantri Kali, Pak Mantri Suntik, para ketua RT dan RW, megikutinya. Mereka berjongkok di sekeliling Ibunda Sapi.

“Ibunda Sapi yang mulia, apakah ibunda tidak merestui pemilihan kepala desa ini?” Pak Mandor berinisiatif memulai pertanyaan kepada sapi betina itu. Sapi itu diam saja. Tampangnya yang tua malah tampak bengong.

“Apakah Ibunda Sapi tidak menghendaki warga desa melakukan pencoblosan?” pertanyaan Pak Sarkem menyusul dari belakang pantat sapi. Sang sapi tetap diam. Hanya ekornya yang digoyang-goyangkan ke kanan dan ke kiri.

“Menjawablah! Jangan marah kepada kami. Warga membutuhkan anggukan atau gelengan Ibunda Sapi.” Pak Mandor mencoba merayu sambil mengelus-eluskan tangan kanannya ke jidat sang sapi.

Sapi betina itu hanya membisu. Dan, tak ada yang tahu, perut sang sapi sedang kurang beres. Suara gemerucuk berputar-putar memenuhi usus besar dan usus dua belas jarinya. Namun, tak ada yang mendengarnya. Maka, ketika orang-orang berada pada puncak ketidaksabaran menunggu anggukan sang sapi, meletuslah dubur sapi itu, melemparkan angin bercampur cairan telethong, persis menimpa wajah dan baju Pak Sarkem.

Tentu saja, Bapak Kepala Desa sangat terkejut mendapat hadiah yang di luar dugaannya itu. Dengan wajah memerah dan belepotan telethong, ia pun berdiri, dan … “Kurang ajar! Sapi Gila! Sapi gendeng!” umpatnya sambil menendang pantat sapi itu dengan sepatu hitamnya yang terbuat dari kulit sapi.

Mendapat tendangan keras bertubi-tubi, Ibunda Sapi tidak kalah terkejutnya. Dengan setengah melompat sapi itu berlari tunggang langgang, menabrak kerumunan orang-orang di depannya. Sepuluh orang terinjak dada dan kepalanya. Lima orang terpental keluar, terseruduk kepala sapi.

“Tangkap dia!!! Cincang sapi gendeng itu !!!” teriak Pak Sarkem.

Kerumunan pun bubar seketika. Para Hansip, Wankamra, Satpam, Kepala Desa, Pak Carik, Pak Mandor, Pak Mantri Suntik, Pak Mantri Kali, seluruh aparat desa pun berlari memburu sapi betina itu. “Kita sate saja!” teriak seseorang.

“Kita bikin soto,” teriak yang lain.

“Kita bikin dendeng dagingnya!”

“Kita bikin sop buntut!”

Dan, sapi itu berlari dan terus berlari, diburu ratusan warga desa….

Tangerang, Juni 1997

Biografi Sebungkus Nasi

SEBUNGKUS nasi, yang tersembunyi di dalam kantung plastik hitam, menjerit kecil digencet tubuh para demonstran yang roboh bertindihan di aspal jalanan. Peluru-peluru berdesingan menyusul serentetan suara tembakan yang membelah udara sore kota Jakarta.

“Awas nasinya, jangan sampai tergencet!’’ teriak seorang gadis kepada lelaki di depannya. Dalam posisi tiarap, ia sedikit mengangkat kepalanya. Sebutir peluru tiba-tiba mendesing, nyaris menyambar telinganya, dan sang gadis langsung menyembunyikan kepalanya di antara kedua lengannya.

Si lelaki, berjaket kuning kumal, sambil tetap bertiarap, menyelamatkan sebungkus nasi itu dari gencetan tubuh kawan-kawannya, lantas mengangkatnya tinggi-tinggi dengan tangan kanannya. Tapi, sebutir peluru karet menyambar tangannya, sehingga bungkusan itu terpental ke tengah jalan raya. Dan, tragis sekali! Sepatu-sepatu tentara yang tebal dan berat menginjak bungkusan nasi itu, diikuti ratusan kaki demonstran yang cerai berai dirangsek satu resimen pasukan anti huru hara.

Sang gadis -- yang tangan kirinya kini diseret oleh seorang tentara -- sambil menunjuk-nunjuk kantung plastik hitam berisi sebungkus nasi itu pun berteriak keras, ''Nasi saya, Pak! Tolong nasi saya! Ada yang hampir mati kena sakit mag. Harus segera diberi nasi dan obat. Jika tidak, bisa mati!''. Tapi sang tentara tidak peduli dan terus menyeretnya tanpa ampun.

Dalam kepanikan, sang gadis sempat melihat, kawannya yang berjaket kuning kumal tadi, digebuk berkali-kali dengan pentungan karet oleh dua tentara hingga terkapar, lalu dilempar ke dalam truk militer. Khawatir akan bernasib serupa, ia buru-buru berkata, “Lepaskan saya, Pak! Saya bukan demonstran! Saya anggota PMI. Lihat, ini di lengan saya ada tanda palang merah!''

''Nggak bilang dari tadi!?! Diseret ikut aja! Memangnya enak ya diseret tentara? Capek nih, menyeret-nyeret kamu! Brengsek!'' tentara itu melepas tangan sang gadis, sambil mengomel dan mendorong gadis itu agak keras, menjauh. ''Ambil tuh nasi kamu, udah jadi bubur diinjak-injak demonstran!''

Gadis itu sempoyongan, hampir terjatuh, menabrak serdadu yang lain, yang langsung memelototinya, dan menodongkan senapan otomatis padanya. Khawatir akan diseret lagi seperti tadi, gadis itu langsung meminta maaf sambil membungkuk-bungkuk. ''Maaf, maaf, Pak, tidak sengaja. Saya bukan demonstran. Saya anggota PMI, mau menolong yang terluka!''

''Kopral, biarkan monyet jelek itu pergi!'' teriak tentara yang tadi menyeret gadis itu. Tampaknya ia salah seorang komandan lapangan. Sebenarnya, jengkel juga hati sang gadis dikatakan monyet jelek. Tapi, toh takkan ada gunanya kalau ia balik mengata-ngatainya.

Tentara yang tertabrak tadi menghentikan todongan senjatanya, dan terus melangkah lurus ke depan, ke arah para demonstran yang berhasil menjebol barikade aparat keamanan dan berlari ke arah gedung MPR, tanpa mempedulikan gadis itu, bagai robot-robot yang digerakkan oleh mesin otomatis yang dikendalikan dari jauh dengan remote controle.

Sang gadis lantas berjalan tertatih-tatih melawan arus massa. Matanya jelalatan mencari-cari sebungkus nasi dalam kantung plastik hitam tadi. Jalannya agak terpincang-pincang, mungkin telapak kakinya yang terbungkus sepatu cat hitam lecet, atau pergelangan kakinya terseleo. Berkali-kali ia hampir menabrak arus massa, polisi dan tentara. Ia buru-buru menyelamatkan diri ke tepi, dengan mata tetap mencari-cari sebungkus nasi dalam kantung plastik hitam tadi.

Di tengah situasi kacau balau seperti itu sebungkus nasi memang menjadi barang langka. Nasi itu ia beli dengan susah payah, dan itu adalah stok terakhir dari warung tenda di depan stasiun TVRI Pusat. Sementara peluhun penjaja nasi lain sudah kehabisan stok, atau sengaja menutup warungnya karena khawatir akan terjadi kerusuhan. Karena itu, sang gadis berusaha keras untuk menemukan kembali kantung plastik hitam berisi sebungkus nasi tadi.

Setelah berusaha keras sekitar seperempat jam, ia temukan juga kantung plastik hitam itu, persis di bawah jembatan layang Taman Ria Senayan. Bungkusannya sudah gepeng, entah sudah diinjak oleh berapa ratus sepatu. Ia bermaksud mengambilnya, tapi sepeleton tentara bergerak cepat melewati jalan tempat nasi itu tergeletak. ''Ya Ampuuun!'' teriak gadis itu sambil melongo dan mengusap dadanya, ketika melihat puluhan sepatu militer bergedebum menginjak-injak sebungkus nasi di dalam kantung plastik hitam itu.

Selewat tragedi kecil tersebut, gadis yang di dadanya tertempel nama Hesti Marhastuti itu buru-buru berlari kecil ke tengah jalan dan memungut kantung plastik hitam berisi sebungkus nasi itu. Begitu kembali ke pinggir jalan, ia memeriksa isi kantung itu, ingin memastikan apa yang terjadi dengan nasinya. Ia terbelalak, bungkusan nasi itu telah benar-benar gepeng seperti dilindas buldoser. Tapi, ajaibnya, kertas pembungkusnya sama sekali tidak robek. Begitu juga kantung plastik hitam yang melindunginya.

Gadis itu tampak penasaran. Ia ingin tahu apa yang terjadi dengan nasi dan lauk-pauknya. Ia letakkan bungkusan gepeng itu di bibir pot bunga di tepi jalan. Dan, sambil duduk di bibir pot, pelan-pelan ia melepaskan karet pengikat bungkusan nasi itu. Dengan hati-hati pula ia membukanya, seperti seorang penjinak bom sedang melepas kabel-kabel bom waktu, seakan khawatir bungkusan itu akan meledak. Dan, begitu bungkusan tersebut terbuka, gadis itu lebih terbelalak lagi melihat telur rebusnya remuk, tahunya ringsek, sayur lodehnya lumat bersama sambal dan nasi. Benar kata tentara tadi, nasi itu telah menjadi bubur.

Sambil menyusupkan jari-jari tangan kirinya ke celah-celah rambut pendek di kepalanya, sang gadis memelototi nasi yang telah menjadi bubur itu. Pikirannya pun melayang kepada Dirwan, seorang pengunjuk rasa yang terkapar di salah satu sudut gedung MPR karena digerogoti sakit mag yang parah. ''Dirwan harus segera makan nasi dan obat agar sembuh. Nasi ini harus segera sampai padanya,'' gumamnya.

Ia lantas memeriksa bagian demi bagian nasi yang dibelinya di warung tenda di depan gedung TVRI Pusat itu, barangkali ada kotoran yang masuk. Setelah yakin seratus persen bersih -- yakin nasi itu belum tercemar kotoran sepatu tentara -- ia membungkusnya lagi, dan memasukkannya ke dalam kantung plastik hitam.

Gadis itu lantas berlari tertatih-tatih ke arah para tentara pergi memburu para demonstran. Tepatnya ke arah gedung MPR. Tapi, sebuah barikade berlapis, PHH, dan pasukan Kostrad, menghadangnya tidak jauh dari pintu masuk gedung MPR. Tampak pula beberapa Panser, mobil pemadam kebakaran, dan truk-truk militer yang hidungnya dilengkapi perisai berlapis kawat berduri.

Gadis itu tampak keder dan ragu-ragu, bagaimana bisa menembus barikade yang luar biasa ketat tersebut. Pikirannya kembali melayang kepada Dirwan, yang pasti sedang menunggunya dengan cemas sambil sesekali mengerang kesakitan. Tidak hanya obat anti mag yang harus disuapkan ke mulutnya, tapi juga sebungkus nasi, roti, atau apapun, yang dapat mengisi lambungnya yang kosong. “Jangan-jangan ia sudah pingsan,” pikirnya.

***

SUDAH tiga hari Dirwan menginap di gedung MPR, ikut meneriakkan reformasi untuk menumbangkan rezim otoriter yang korup. Dan, saking bersemangatnya, ia lupa makan dan magnya pun kambuh. Sialnya, saat magnya kumat, perbekalan kelompoknya habis dan suplai makanan dari LSM terlambat. Maka, tergeletaklah ia sambil sesekali mengerang-ngerang kesakitan. ''Tolong, carikan aku nasi dan obat mag. Jika tidak, aku bisa mati,'' rintih Dirwan sambil memegangi perutnya.

“Tenanglah, Dirwan. Aku berjanji segera kembali dengan nasi dan obat mag untukmu,” kata sang gadis ketika itu, mencoba menenangkan kegelisahan sang demonstran.

Ingat janji dan penderitaan sahabatnya itu, semangat gadis anggota PMI itu berkobar lagi. Ia mencoba mendekati seorang komandan PHH yang tadi ikut menyeretnya, dan minta agar diijinkan masuk ke komplek gedung MPR. ''Saya anggota PMI yang tadi, Pak. Lihat ini tandanya! Ada seseorang yang harus segera ditolong di dalam! Mohon saya diperbolehkan masuk!'' katanya.

''Mau anggota PMI, mau anggota PMA, siapapun tak boleh masuk! Cepat menyingkir dari sini! Atau pengen diseret lagi kayak tadi?!'' jawab sang tentara, ketus.

''Aduh, kasihan kawan saya, Pak! Kalau tidak segera ditolong, dia bisa mati! Boleh ya, Pak, saya masuk?'' gadis itu merajuk lagi.

''Sudah saya katakan, siapapun tak boleh masuk! Cepat menjauh dari sini! Atau mau kutembak?'' kali ini sang tentara menodongkan senapan otomatis ke jidat sang gadis. Ia tidak tahu, isi senapan itu peluru karet atau peluru beneran. Sepintas ia ingat, sering ada demonstran yang terkena peluru beneran. ''Kalaupun isi senapan itu peluru karet, bisa benjol juga jidatku kena tembak dari jarak dekat begini,'' pikirnya.

Sang gadis keder juga mengingat itu. Ia tidak ingin mati konyol terkena peluru tentara, atau pingsan dengan jidat benjol. Ia pun terpaksa mundur, agak menjauh dari barikade itu. Ia mencari akal, menunggu kesempatan, untuk dapat masuk secara paksa. Tiba-tiba muncul arak-arakan mahasiswa dari arah Semanggi, bukan hanya ratusan, tapi ribuan. Naga-naganya mereka akan merangsek masuk ke gedung MPR. Ada kabar beredar, malam itu ribuan mahasiswa akan menguasai gedung wakil rakyat. ''Wah, bakal seru,'' pikir sang gadis. Ia melihat ada kesempatan untuk ikut merangsek masuk.

Betul juga dugaan sang gadis. Meskipun sudah diperingatkan melalui pengeras suara agar tidak mendekat, barisan ribuan demonstran itu terus merangsek barikade tentara. Bentrok antara aparat keamanan dan demonstran pun tak bisa dihindari lagi. Bunyi senapan otomatis berletusan dari aparat, dibalas hujan batu dari para demonstran. Gas air mata berkali-kali ditembakkan. Air dari mobil pemadam kebakaran pun disemprot-semprotkan ke barisan mahasiswa. Mereka kocar-kacir. Ada yang tiarap. Ada yang ambil langkah seribu. Ada yang terjungkal kena peluru. Ada yang kena pentung bertubi-tubi, meskipun sudah berteriak-teriak minta ampun. Tapi, banyak juga yang berhasil lolos masuk ke komplek gedung MPR.

Gadis itu memanfaatkan kesempatan untuk ikut lolos ke dalam. Bersama mahasiswa ia berlari menembus barikade tentara. Tapi, belum sampai melewati pintu gerbang komplek gedung MPR, kaki tentara bersepatu kulit tebal menjegal kakinya, dan pentungan karet bertubi-tubi memukul punggungnya. Ia jatuh terguling dan bungkusan nasi di dalam kantung plastik hitam di tangannya terpental lagi ke jalan raya. Kali ini, giliran tubuhnya yang terinjak-injak sepattu tentara dan ratusan kaki mahasiswa yang berlarian tak tentu arah, dalam kepulan gas air mata dan terpaan air dari mobil pemadam kebakaran.

Berkali-kali ia mencoba bangkit, tapi berkali-kali kembali terguling karena diterjang orang-orang yang berlarian menyelamatkan diri. Akhirnya ia hanya bisa melindungi kepalanya dengan kedua lengannya, kemudian memejamkan matanya. Dan, yang terakhir ia ingat adalah puluhan sepatu tentara menginjan-injak perut dan dadanya yang kerempeng, lalu ribuan kunang-kunang menari di matanya, dan gegelapan total memerangkap kesadarannya.

***

TIDAK jelas, berapa jam gadis itu pingsan. Ketika kesadarannya pulih kembali, hari sudah gelap. Bentrok antara aparat dan demonstran telah reda. Suasana jalan di depan komplek gedung MPR pun sudah agak lengang. Namun, yang pertama-tama ia ingat adalah sebungkus nasi di dalam kantung plastik hitam dan wajah cemas Dirwan yang menunggunya di salah satu sudut gedung MPR. Maka, dengan matanya ia mencoba menemukan kembali nasi bungkusnya itu. Dan, sekitar lima meter dari tempatnya terbaring, dalam terpaan cahaya lampu merkuri, tampak bayang-bayang kantung plastik hitam yang kedua ujungnya melambai-lambai diterpa angin. “Itu pasti nasiku,” gumamnya.

Saat itulah, di depan sang gadis tersaji pemandangan yang cukup dramatis. Kantung plastik hitam itu tergeletak di tengah jalan raya, persis di depan gerbang masuk ke komplek gedung MPR. Sementara, di latar belakang kantung plastik itu, tepatnya di pintu gerbang tersebut, tampak puluhan tentara berderet dalam dua lapis. Dua panser dan satu mobil pemadam kebakaran juga tampak siaga di kanan kiri gerbang.

Di tengah suasana jalan yang sudah lengang dari hiruk pikuk demonstrasi, sebungkus nasi di dalam kantung plastik hitam itu seperti menjadi aktor yang sangat penting. Seakan, hanya untuk mengawasi sebungkus nasi itulah puluhan tentara bersiaga di pintu gerbang, agar sang nasi tidak dapat menyusup masuk ke komplek gedung MPR. Hesti membayangkan, seandainya ia nekat merangkak untuk mengambil nasi itu, mungkin akan disambut berondongan tembakan, lemparan bom gas air mata, atau semprotan air dari mobil pemadam kebakaran.

Dalam perasaan kecut, hesti tiba-tiba seperti mendengar rintihan parau, “Hesti, kenapa kamu lama sekali. Aku sudah sekarat. Rasanya sebentar lagi akan mati.” Ia yakin, itu suara Dirwan yang makin cemas menunggunya dengan lambung nyeri, tubuh menggigil, dan keringat dingin bercucuran.

Demi mendengar suara itu sang gadis mencoba untuk bangkit. Tapi, ia merasa tidak punya sisa kekuatan lagi, bahkan hanya untuk mengangkat kepalanya sekalipun. Seluruh tubuhnya – yang basah kuyup terkena air dari mobil pemadam kebakaran – terasa pegal dan nyeri. Dan, rasa yang paling nyeri ada di bawah dada dan kemaluannya. Mungkin tulang rusuknya patah terinjak sepatu tentara. Tapi, apa penyebab rasa nyeri pada kemaluannya? Ia tidak tahu, dan hanya bisa bergidik memikirkannya.

Dengan sisa-sisa tenaganya, ia meraba rasa nyeri di bawah dadanya. Ia yakin, satu atau dua tulang rusuknya patah akibat terinjak sepatu tentara. Ketika ia menekan rusuknya, rasa nyeri makin menjadi-jadi dan ini membuatnya merintih kesakitan. Ia kemudian memberanikan diri meraba kemaluannya yang masih dibungkus celana panjang putih seragam PMI. Ia terkejut meraba ada cairan kental keluar menembus celananya. Buru-buru ia menarik jari-jari tangannya, memeriksa dengan matanya, dan menciumnya. “Kemaluanku berdarah!” batinnya.

Gadis itu bergidik. Ia khawatir telah menjadi korban perkosaan. Tapi, oleh siapa dan dilakukan di mana? Mungkinkah ia diperkosa di tengah jalan? Biadab sekali jika begitu. Ia jadi curiga, jangan-jangan, ketika pingsan, ia dinaikkan ke dalam mobil oleh seseorang, entah siapa, lalu dibawa ke suatu tempat yang sepi, diperkosa di sana, lalu dibawa lagi ke jalan di depan gedung MPR dan dilempar begitu saja di tepi jalan. Ia merasa ngeri membayangkan apa yang telah menimpanya. Ia lantas menggerakkan tangannya ke belakang punggungnya, untuk memastikan di mana tepatnya kini tubuhnya terbaring. Begitu telapak tangannya menyentuh tembok berlumut, iapun menyadari bahwa tubuhnya kini terbaring meringkuk persis di tepi jalan, di bawah tembok pembatas jalan tol Gatot Subroto.

Dengan tetap meringkuk, ia mengamati situasi di dalam komplek gedung MPR. Komplek wakil rakyat itu kini sudah dipenuhi pengunjuk rasa. Bahkan banyak di antara mereka yang sudah naik sampai ke atap gedung dan mengibar-kibarkan bendera serta merentangkan beberapa spanduk. Namun, dalam kegelapan malam, tidak jelas spanduk-spanduk itu bertuliskan apa. Mungkin sudah ribuan mahasiswa yang berhasil menduduki komplek gedung bundar itu, pikirnya. Tapi, bagaimana nasib Dirwan? Makin cemas saja ia mengingatnya.

Dalam kecemasan dan ketidakberdayaan, gadis itu mulai bertanya-tanya, kenapa tidak ada yang menemukannya, menolongnya, atau mengangkatnya ke mobil tentara. Apakah semua orang sudah tidak peduli lagi pada nasib orang lain? Di mana pula tentara yang tadi menendang dan memukulnya? Apakah tentara-tentara yang siaga di pintu gerbang itu juga tidak melihatnya? Apakah semua orang telah menganggapnya sebagai sampah yang pantas dibiarkan teronggok begitu saja di tepi jalan raya, dan cukup menyerahkannya pada petugas kebersihan untuk melemparnya ke truk sampah?

Gadis itu mencoba mengumpulkan kembali sisa-sisa tenaganya. Dengan itulah dia ingin menolong dirinya sendiri. Jika orang lain sudah tidak peduli lagi padamu, maka kamulah yang harus menolong dirimu sendiri, batinnya. “Hidup ini keras, Hesti. Karena itu, kamu harus kuat, dan jangan sekali-kali bergantung pada orang lain. Hanya kamulah yang dapat menolong hidupmu sendiri,” kata ayahnya, dua tahun lalu, ketika ia pamit untuk berangkat kuliah di Jakarta.

Apakah Dirwan juga sedang menghadapi ketidakpedulian yang sama? Jika begitu, siapa yang bisa menolongnya kalau ia benar-benar dalam keadaan sekarat? Ia makin cemas saja. Ia tahu, kata-kata ayahnya memang benar. Tapi ia sadar, tidak tiap saat seseorang dapat menolong dirinya sendiri. Dalam keadaan tertentu nasib seseorang sering tergantung pada pertolongan orang lain. Dan, itulah nasib Dirwan saat ini, juga nasib dirinya, dan itu pula alasannya masuk PMI, agar tiap saat siap menolong orang lain yang membutuhkannya. Tapi, siapa kini yang bakal menolongnya?

Menyadari dirinya lebih tampak sebagai seonggok sampah dalam gelap malam, maka satu-satunya harapan gadis itu adalah datangnya para petugas kebersihan, seragam kuning yang biasa membersihkan kota Jakarta di tengah malam. Tapi, berapa jam lagi mereka akan datang? Ia tidak tahu, sebab di pergelangan tangannya kini tidak ada jam lagi. Dan, karena itu, ia hanya bisa menunggu sambil menggigil kedinginan, dengan seluruh tubuh pegal dan nyeri. Ia berharap belum pingsan ketika ditemukan, sehingga masih sempat memenuhi janjinya, membawakan sebungkus nasi dan satu kaplet obat mag untuk Dirwan, bagaimanapun keadaan sahabatnya itu kini.

Begitu ditemukan oleh petugas kebersihan, gadis itu langsung minta dipapah masuk ke dalam gedung MPR sambil membawa sebungkus nasi yang tadi tergeletak di tengah jalan. Ia betul-betul ingin membuktikan janjinya kepada sahabatnya itu. Maka, begitu berhasil menerobos masuk ke komplek gedung wakil rakyat itu, ia langsung menuju ruangan tempat Dirwan tadi tergeletak dengan sakit magnya. Tapi, tidak ada lagi Dirwan di sana. Yang ada hanya beberapa mahasiswa yang sedang sibuk membuat spanduk dan poster.

Hesti ingin sekali bertanya pada mereka di mana Dirwan. Tapi ia keburu pingsan sebelum pertanyaan itu sempat diucapkan. Dan, sebungkus nasi di dalam kantung plastik hitam, yang telah menempuh perjalanan panjang dan berliku, itu akhirnya cuma tergeletak basi di pojok salah satu ruangan gedung wakil rakyat!

Jakarta, Desember 2001

Buntut

Lek Parto kaget. Buntut sepuluh ekor sapinya lenyap tanpa diketahui sebabnya. Darah mengucur dari pangkal-pangkal buntut di pantat sapi-sapi perahnya. Saking kagetnya, ember yang dia cangking untuk menampung susu sapi perahnya jatuh terguling ke tanah. Ia mengamati pantat demi pantat sapinya. Semuanya menunjukkan tanda-tanda seperti baru saja dipotong buntutnya dengan pisau tajam.

"Wong edan! Tega-teganya nyolong semua buntut sapiku," gumam Lek Parto sambil berjongkok di belakang pantat seekor sapi dan memelototi pangkal buntutnya. Ia kemudian memeriksa sekeliling kandang. Ia menemukan banyak tetesan darah di tanah. Jejak darah itu menuju pintu dapur rumahnya. "Mbokne! Sini sebentar!" Ia langsung memanggil istrinya. Ia langsung curiga, jangan-jangan istrinya yang punya hobi makan sop buntut itu yang menyikat semua buntut sapinya.

Tanpa ba bi bu, istrinya yang dikenal penurut, langsung datang. Di tangannya tergenggam sebilah pisau berlumur darah segar. Lek Parto langsung menghardiknya.

"Mbokne! Kamu ini waras apa tidak, toh? Masak buntut sapi dipotongi semua!"

"Buntut sapi apa, Pakne?"

"Jangan pura-pura tidak tahu, Mbokne! Ini yang motong buntut-buntut sapiku kamu, toh? Kamu bikin sop buntut, ya?"

Mbok Parto mengamati pantat-pantat sapi yang ditunjuk Lek Parto. Ia juga sangat terkejut melihat sapi-sapi perah itu tidak punya buntut lagi. "Lho, buntutnya dimakan apa, Pakne?"

Lho, wong kamu sendiri yang motongi kok malah balik bertanya. Mbok jangan ngawur. Kalau pingin buntut, ya beli di pasar. Jangan motongi buntut sapi yang masih hidup. Kalau sapi kita mati semua, bagaimana?"

"Kamu ya jangan ngawur, Pakne. Wong saya tidak tahu apa-apa kok dituduh."

"Lah itu, pisaumu belepotan darah. Kalau tidak untuk motong buntut sapi, lantas untuk apa?"

"Oh ini toh, Pakne. Saya baru memotong ayam. Itu ayamnya masih kelojotan di dapur. Kalau tidak percaya, lihat sendiri!"

Lek Parto buru-buru menuju dapur. Benar juga kata istrinya. Seekor ayam jago yang baru saja dipotong masih menggelepar-gelepar di lantai. Lek Parto kembali bertanya-tanya, siapa gerangan orang gila yang menyikat semua buntut sapinya.

"Kalau begitu, cepat pergi ke rumah Pak Mantri Hewan. Minta tolong agar buntut-buntut sapi kita segera dibalut. Cepat, Mbokne! Nanti keburu pada mati. Saya akan mencari siapa pencurinya!"

Mbok Parto buru-buru pergi menemui Pak Mantri Hewan yang ditempatkan pemerintah di daerah pengembangan sapi perah itu. Sementara itu, Lek Parto melacak kembali arah bercak-bercak darah dari kandang sapinya. Arah bercak-bercak darah itu semula memang menuju dapur rumahnya. Akan tetapi, sampai di depan pintu bercak itu berbelok ke arah pekarangan di samping rumahnya. Ia terus merunutnya melewati kebun belakang dua rumah tetangganya. Ia sangat kaget karena bercak-bercak darah itu menuju pintu dapur ketua RT-nya.

"Sontoloyo! Apa toh maunya ini, Ketua RT? Buntut sapi orang disikat semua. Slompret!" Lek Parto langsung mengumpat-umpat.

Karena pintu dapur rumah Pak RT dikunci rapat, Lek Parto lantas menuju pintu depan rumah pengurus kampung itu. Ia terheran-heran karena di halaman depan rumah Pak RT sudah berkerumun puluhan tetangganya. Beberapa orang di antaranya, Pak Salim, Pak Amat dan Pak Sastro, tampak sedang marah-marah sambil menuding-nuding Pak RT. Rupanya mereka juga kehilangan buntut sapi dan menuduh Pak RT sebagai pencurinya. Ia tampak kebingungan menghadapi tuduhan warganya.

"Buntut-buntut sapiku juga hilang. Pak RT pasti yang mengambilnya!" Lek Parto langsung nimbrung ikut memarahi ketua RT-nya. "Pak RT ini maunya bagaimana toh? Wong buntut sapi kok dicolongi semua? Mau jadi juragan buntut tanpa modal ya,Pak ?Apa jualan buntutnya tidak laku, Pak?!"

"Tenang dulu, Bapak-bapak. Jangan menuduh sembarangan! Kalau saya tidak terima bisa saya adukan ke pengadilan, lho. Demi Allah, saya tidak mencuri buntut-buntut sapi Bapak!"

"Lalu siapa yang nyolong, Pak? Kok bercak-bercak darahnya menuju pintu dapur Bapak!"

"Pasti ada yang mencoba menfitnahku. Demi Allah, saya benar-benar tidak mencuri buntut-buntut sapi Bapak. Kalau tidak percaya, silakan periksa seluruh isi rumahku. Kalau Bapak-bapak menemukan buntut sapi, nanti sapi-sapi Bapak saya ganti dua kali lipat!"

Mereka beramai-ramai memasuki rumah Pak RT, lalu memeriksa seluruh bagian dan isinya, termasuk kandang ayam, kandang bebek dan kandang marmutnya. Mereka tidak menemukan secuil pun buntut-buntut yang mereka cari. Mereka juga meneliti bercak-bercak tetesan darah yang menuju pintu dapur rumah Pak RT. Bercak-bercak itu ternyata hanya berhenti di depan pintu. Tidak ada yang masuk ke dapur.

"Lantas, siapa ya, Pak, yang memotong buntut-buntut sapi kami?" Tanya Pak Salim.

"Itulah yang harus segera kita selidiki. Yang jelas, pasti ada orang yang mau menfitnah saya. Siapa tahu ada orang yang diam-diam ingin menggantikan kedudukan saya sebagai ketua RT."

"Ah, masak ingin jadi ketua RT saja pakai menfitnah-fitnah segala. Rasanya kok berlebihan, Pak," ujar Lek Parto.

"Itu kan baru dugaan saja. Oh ya, jangan-jangan yang berceceran itu bukan darah sapi. Rasanya kok ada yang aneh. Masak darah buntut sapi bisa berceceran sebegitu banyaknya. Ayo kita periksa saja!"

Orang-orang kampung beramai-ramai menuju halaman belakang rumah Pak RT. Mereka memeriksa bercak-bercak darah itu.

"Saya curiga, jangan-jangan ini hanya ceceran kecap. Lihat, sudah mulai dirubung semut!" kata Pak RT. Ia lantas berjongkok dan mendulit bercak darah itu dengan ujung jari telunjuk tangan kanannya, kemudian menjilat dan menciumnya. "Benar dugaanku? Ini kecap. Bukan darah. Coba Bapak-bapak cium dan rasakan!"

Orang-orang ikut berjongkok, mendulit, mencium dan menjilat bercak-bercak darah itu. "Wah, benar juga, ya. Ini kecap," guman mereka hampir bersamaan. "Benar-benar kurang ajar! Ulah siapa ya ini?"

"Lalu, siapa ya, Pak, yang nyolongi buntut sapi kami?"

"Saya tidak tahu. Yang jelas dia mau menfitnahku."

"Jangan-jangan penjual sop buntut di ujung jalan itu?"

"Ah, masak, jualan sop buntut kok sampai nyolongi buntut sapi?"

"Bisa juga. Siapa tahu, dia kehabisan buntut dan terpaksa nyolong karena persediaan di pasar juga habis. Warungnya kan sangat laris."

"Iya, ya. Bagaimana kalau kita selidiki saja ke sana, Pak RT?"

"Ayo kita ke sana. Tetapi ingat, jangan main hakim sendiri!"

"Ayo ke sana!"

Orang-orang serentak menuju warung sop buntut di ujung jalan kampung mereka. Pak Madi, penjual sop buntut itu kaget digeruduk puluhan orang. Dengan terheran-heran dia keluar dan berdiri bingung di depan pintu warungnya. Jumlah kerumunan orang juga semakin banyak. Mereka ingin tahu apa yang terjadi.

"Pak Madi nyolong buntut sapi kami, ya?!" Pak Parto langsung menyerang.

"Buntut sapi apa, Pak?" bakul sop buntut itu balik bertanya. Tidak tahu apa yang dimaksud Lek Parto.

"Sabar. Sabar! Jangan keburu menuduh dulu. Kita jelaskan dulu perkaranya," sela Pak RT mencoba menenangkan keadaan. "Begini, Pak Madi, para tetangga kita ini kehilangan buntut sapi. Mereka ramai-ramai datang ke rumah saya. Saya kan tidak tahu. Kami kini mencari siapa pencurinya. Lha kebetulan Pak Madi kan jualan sop buntut sapi. Barangkali Pak Madi tahu siapa pencurinya."

"Lho, buntut sapi kok bisa hilang. Diletakkan dimana toh, Pak?" Pak Madi malah makin heran.

Lha ya di pantat sapi, kok dimana!"

"Kok bisa hilang? Gimana toh?"

"Wah, Pak Madi kok tidak mudeng. Sapi-sapi mereka yang masih hidup di kandang dipotongi buntutnya oleh maling. Lha kita ini sedang mencari malingnya," jalas Pak RT.

"Lho, buntut sapi masih hidup kok dicolong. Malingnya pasti maling edan itu, Pak!" Pak Madi makin keheranan.

"Singkat sajalah, Pak. Pak Madi nyolongi buntut sapi kami tidak?" Lek Parto menyela.

"Lha ya tidak toh, Pak. Edan apa? Masak jualan sop buntut saja sampai nyolongi buntut sapi yang masih hidup. Saya tadi beli empat buntut sapi di pasar. Itu baru dipotong-potong di dapur. Silakan dicek, Pak RT!"

Pak RT bersama beberapa warga kampung mengecek ke dapur Pak Madi. Mereka menemukan empat buntut sapi yang sedang dipotong-potong pembantu bakul sop buntut itu. Mereka mengecek seluruh sudut warungnya. Tidak ditemukan buntut-buntut yang lain.

Mereka lantas berbondong-bondong menemui juragan daging sapi di pasar yang terletak cukup jauh di seberang kampung. Mereka tidak menemukan bukti-bukti bahwa Pak Madi maupun juragan daging sapi itu mencuri buntut-buntut sapi mereka. Hari itu dia memang memotong empat ekor sapi dan keempat buntutnya diborong oleh Pak Madi. Dengan tangan hampa mereka bermaksud balik ke kampung. Akan tetapi di tengah jalan berpapasan dengan orang gila yang menenteng dua buntut sapi.

"Hai, orang gila itu membawa buntut sapi," kata Pak RT.

"Itu pasti buntut sapiku," kata Pak Parto.

"Dia pasti yang mencuri buntut sapiku juga," kata yang lain.

"Ayo ditangkap saja!" kata yang lain.

"Dihajar saja!"

"Ganti dipotong saja buntutnya!"

Orang-orang kampung pun mencegat orang gila itu, mengeroyok, dan menggebukinya beramai-ramai. Setelah babak belur, orang gila itu mereka serahkan ke kantor polisi. Malam harinya, warga sekampung, terutama yang sapi-sapinya masih punya buntut, bisa tidur tenang. Mereka menganggap maling edan yang suka mencuri buntut sudah tertangkap. Namun, keesokan harinya, orang-orang kembali geger. Sapi sekandang milik KUD setempat hilang buntutnya. Kali ini malingnya tidak meninggalkan jejak apapun.

"Benar-benar edan maling itu. Masak buntut sapi sekandang disikat semua!" gerutu ketua KUD.

"Kalau begitu malingnya bukan orang gila itu," kata Pak Sastro.

"Kasihan dia, sudah terlanjur kita gebuki," kata yang lain.

"Karena itu malam nanti siskamling harus kita hidupkan lagi. Siapa tahu nanti malam malingnya beraksi lagi," saran Pak RT.

Malam itu penjagaan keamanan kampung benar-benar ditingkatkan. Siskamling yang sudah berbulan-bulan mati dihidupkan lagi. Orang-orang yang masih punya sapi berbuntut pun terpaksa tidur di kandang sapi demi keamanan buntut-buntut sapinya. Ditunggu sampai pagi tidak ada kejadian apa-apa. Tidak ada maling buntut sapi. Kampung mereka aman-aman saja. Begitu juga pada hari berikutnya. Sampailah pada hari ketiga. Ketika orang-orang sedang asyik bermain gaple di gardu ronda, tiba-tiba terdengar jeritan.

"Tolong! Tolong! Maling buntut! Maling buntut! Maling! Maling!!!"

Orang-orang langsung menyerbu ke arah datangnya suara tersebut. Setelah dikepung dan diuber-uber, tertangkaplah Said Gundul, mantan penjual buntut SDSB yang bangkrut karena kalah bersaing dengan Pak RT.

"Mengapa kamu jadi maling buntut, Ndul?" Tanya orang-orang.

"Saya sedang nglakoni!" jawab Gundul sambil meringis karena digebuki.

"Nglakoni kok pakai maling buntut? Nglakoni apa toh?!"

"Saya mau jadi peramal buntut jitu. Mbah dukun menyuruh saya memakan seratus buntut sapi dalam seminggu!"

"Kok nggak beli saja? Kok maling?!"

"Mana bisa aku beli, wong kios buntutanku bangkrut! Lagi pula mana ada orang menjual seratus buntut sapi dalam seminggu."

"Pantesan buntut sapiku kamu gasak semua!"

"Diamput kamu, Ndul!"

"Wong edan!"

"Gebuki lagi saja!"

"Telanjangi saja!"

"Potong buntutnya saja! Biar tahu rasa!"

Meski sudah menyembah-nyembah minta ampun, Said Gundul digebuki lagi, lalu ditelanjangi, dan diarak ke kantor polisi. Untung, tidak ada yang sampai hati memotong buntutnya!

Yogyakarta, Juni 1992

  • Dimuat di Kompas, Minggu 23 Agustus 1992

Kampret

Pemandangan di kantor PT Serba Ngutang menjadi sangat aneh. Sejak kebijaksanaan kampret diberlakukan, orang-orang enggan berpakaian lengkap lagi. Ada yang bekerja hanya dengan bercelana kolor dan berkaos singlet. Ada yang hanya memakai sarung dan bersandal jepit, bertelanjang dada, nobra, bahkan, ada beberapa karyawati yang nekad berbikini setiap hari. Namun, ada satu benda yang tampak selalu menempel pada leher mereka, dasi berbentuk kampret.

"Jadikanlah kampret sebagai satu-satunya ciri khas kita, identitas keluarga besar perusahaan kita," kata direktur PT yang kebetulan bernama Edi Sukampret itu setiap mendapat kesempatan berbicara di depan para karyawannya.

"Mengapa dasi kita harus berbentuk kampret, Pak, bukan kupu-kupu atau dasi panjang biasa saja," tanya seorang karyawannya pada suatu kesempatan.

"Dasi panjang dan dasi kupu-kupu sudah menjadi milik umum, dipakai di mana-mana dan oleh siapa saja. Itu tidak bisa lagi kita jadikan sebagai identitas khas kita," jawab Pak Kampret. "Kau harus ingat, saya memilih dasi berbentuk kampret bukan karena kebetulan nama saya Kampret. Itu saya pilih berdasarkan petunjuk para normal paling ampuh di negeri ini. Dengan dasi kampret perusahaan kita akan terbang mencapai puncak prestasi tertinggi," tambahnya.

Mulanya kebijaksanaan Kampret hanyalah sebuah peraturan baru yang mengharuskan seluruh karyawan perusahaan itu, dari bagian pembersih WC sampai para kepala bagian, memakai dasi berbentuk kampret selama jam kerja. Akan tetapi, kemudian muncul suasana yang sangat aneh ketika sang direktur memutuskan agar seluruh karyawannya memakai dasi kampret sepanjang waktu, bukan hanya ketika menjalankan tugas perusahaan, juga dalam kegiatan apa pun.

Bayangkan saja, dalam berolah raga pun mereka diwajibkan memakai dasi kampret. Begitu pula ketika senam pagi, bersepeda gembira, tennis, sepak bola, mandi, bahkan ketika bersanggamapun harus memakai dasi kampret.

Lebih gila lagi, ketika bermain cinta mereka juga diharuskan mengucapkan, "Oh kampret, aku mencintaimu."

"Sejarah hanya bisa diukir dengan perbuatan-perbuatan besar seperti yang kita lakukan sekarang ini. Kita harus yakin dengan satu kata, bahwa dengan gerakan dasi kampret ini sejarah akan mencatat kita, " kata sang direktur dalam suatu rapat pleno di perusahaannya. "Siapa saja yang tidak menaati kebijaksanaan kampret ini akan dicap sebagai pembangkang. Bisa dipecat," tegasnya.

"Wah, masak, hanya karena dasi saja kita bisa dipecat. Ini terlalu berlebihan," komentar seorang karyawan yang duduk di deretan paling belakang.

"Mengapa kita tidak protes saja?" kata yang lain.

"Ya, kita harus protes." Peraturan ini sudah terlalu gila. Masak mandi saja harus memakai dasi. Coba kau bayangkan, ketika kita akan mencumbu pacar atau istri kita harus mengucapkan dulu ‘Oh kampret aku mencintaimu.’ Kita bisa jadi ribut dengan pasangan kita. Ini sudah terlalu gila!"

"Direktur kita tampaknya memang sudah gila!"

"Kita bisa ikut gila kalau begitu."

"Kita semua memamg sudah gila. Lihat saja tingkah laku teman-teman kita, semakin aneh-aneh."

"Kita protes sekarang saja!"

Tiba-tiba seorang karyawan yang duduk di deretan paling depan berdiri seraya menarik dasinya dari lehernya, membantingnya ke lantai persis di depan sang direktur dan meludahinya tiga kali, ’cuh! cuh! cuh’!

Semua peserta rapat terkejut melihat ulah karyawan itu, lebih-lebih sang direktur. Wajahnya seketika berubah menjadi merah padam. Ia langsung berdiri dan matanya melotot ke arah pemuda pembanting dasi itu.

"Kermit!" bentak sang direktur sangat keras. Pemuda itu kaget dan duduk kembali dengan muka pucat. "Kurang ajar! Kamu ini bagaimana?! Seenaknya saja meludahi kebijaksanaanku di depan mataku!"

"Maaf, maaf, Pak. Napasku sangat sesak. Saya tidak tahan terus-terusan memakai dasi!" Kermit minta maaf sambil menyembah-nyembah.

"Akan tetapi, caramu jangan begitu. Kamu sama saja meludahi mukaku, tahu! Aku tahu, kau selama ini secara diam-diam sering melepas dasi kampretmu. Aku tahu itu. Kau sengaja kubiarkan. Sekarang kau berani meludahinya di depan hidungku. Ini sudah keterlaluan. Kau memang pembangkang! Ayo keluar!"

Kemarahan Pak Kampret benar-benar tidak terbendung. Kermit akhirnya keluar ruang rapat dengan muka pucat setelah memungut kembali dasi kampret yang telah diludahinya itu.

Keesokan harinya Kermit tidak masuk kerja. Hari berikutnya surat panggilan datang. Kermit diminta menghadap sang direktur hari itu juga. Di hadapan Pak Kampret ia mengaku tidak bermaksud membangkang kebijaksanaan, apalagi menghina atau meludahinya.

"Sejak masih kanak-kanak leher saya memang alergi terhadap dasi. Saya tidak tahan memakai dasi, dasi apa saja, lebih dari satu jam. Itulah sebabnya secara diam-diam saya selalu melepas dasi saya tiap Bapak tidak ada," katanya.

"Namun, caramu kemarin sangat menyinggung perasaanku."

"Karena itulah, Pak, sekali lagi saya minta maaf. Saya sungguh-sungguh tidak bermaksud menyinggung perasaan Bapak. Itulah yang selalu terjadi pada diri saya setiap memakai dasi lebih dari satu jam. Saya selalu merasakan dicekik pelan-pelan, makin lama makin kencang. Lalu, tanpa sadar saya akan menarik dasi itu, membantingnya dan meludahinya tiga kali. Itulah penyakit yang menyusahkan saya, Pak, dan telah menyinggung perasaan Bapak," Kermit menjelaskan.

"Baiklah. Aku paham penyakitmu itu. Namun, sudah terlanjur kuputuskan bahwa kau akan ku-PHK. Keputusan ini hanya bisa kucabut jika kau menggantinya dengan hukuman lain."

"Hukuman apa, Pak?"

"Setiap pagi kau berjalan mengelilingi kompleks perkantoran kita sepuluh kali selama sebulan sambil meneriakkan ‘Oh Kampret, aku mencintaimu!’ sambil mencium dasi kampret. Bagaimana?"

Karena tidak ingin dipecat, Kermit akhirnya menerima hukuman aneh itu. Kermit harus latihan vokal dulu untuk dapat menerikkan kata-kata indah, "Oh Kampret, aku mencintaimu", dengan gagah dan penuh perasaan.

Maka, persis pada hari Jumat Kliwon bertambahlah pemandangan aneh di kompleks perkantoran PT Serba Ngutang. Sepuluh orang berjalan keliling kompleks tersebut sambil koor keras, "Oh Kampret, aku mencintaimu!" Rupanya bukan hanya Kermit yang terkena hukuman aneh tersebut.

Pemandangan aneh itu segera menjadi tontonan menarik para karyawan lain dan warga sekitar kompleks perkantoran perusahaan pengekspor TKI tersebut. Bahkan, banyak orang yang sedang lewat, yang berjalan kaki, naik sepeda, naik motor dan mobil, berhenti sejenak untuk menyaksikan pemandangan yang cukup teateral tersebut. Tak pelak, lalu lintas di depan kompleks PT Serba Ngutang menjadi terganggu dan nyaris macet total.

"Wah, ini sudah benar-benar keterlaluan!" komentar seorang karyawan.

"Barangkali kita sengaja dipaksa untuk mempertuhan kampret," kata yang lain.

"Masak, dasi kampret saja harus dianggap sebagai segalanya. Bayangkan saja, aku tadi sengaja membawa pacar ke kantor dan sengaja kucumbu di depan Pak Kampret. Eh, dia cuma senyum-senyum saja karena aku tetap memakai dasi kampret. Bahkan teman kita, si Badrun, kemarin membawa seorang waria ke ruang Pak Direktur. Ia juga hanya ketawa, dan hanya bilang agar waria itu disuruh ikut memakai dasi kampret," cerita yang lain.

Adegan teateral keliling kompleks perkantoran itu terus berlangsung setiap hari. Anehnya, jumlah terhukum yang mengikuti ‘upacara dasi kampret’ itu semakin banyak. Teriakan koor "Oh, kampret, aku mencintaimu" pun semakin membahana di kompleks PT Serba Ngutang. Bahkan, pada hari ketujuh, separuh lebih karyawan PT tersebut terkena hukuman. Enam puluh tujuh karyawan dan karyawati dengan gayanya masing-masing yang serba kocak melalukan upacara dasi kampret itu.

Adegan teateral yang kocak itu pun semakin menarik perhatian umum. Hampir setiap pagi selama sekitar satu jam jam lalu lintas di depan kompleks perkantoran itu macet. Polisi terpaksa turun tangan untuk mengaturnya.

Pada hari kesepuluh hampir seluruh karyawan PT tersebut mengikuti upacara aneh itu. Para terhukum tidak lagi merasakannya sebagai hukuman lagi, tapi sebagai hiburan dan permainan bersama yang kocak dan menyenangkan. Bahkan, yang tidak terkena hukuman pun ikut-ikutan keliling sambil nimbrung koor "Oh Kampret ,aku mencintaimu!" Mereka menganggap sekedar ikut berolah raga jalan kaki sambil latihan vokal. Langkah-langkah gembira dan suara koor mereka yang begitu keras pun semakin menggetarkan kaca-kaca pintu dan jendela perkantoran itu.

Tepat ketika koor dan langkah-langkah kaki mereka mencapai puncak semangat dan greget tertinggi, mobil Pak Kampret memasuki pintu gerbang perkantoran itu. Tiba-tiba, seperti tersedot kekuatan magnet besar, rombangan koor kolosal itu menyerbu mobil Pak Kampret sambil terus berteriak-teriak "Oh Kampret, aku mencintaimu!"

Sambil terus berteriak-teriak mereka memecahkan kaca-kaca mobil Pak Kampret, membuka pintunya, dan menyeret Pak Kampret keluar. Mereka berebut mencium Pak Kampret, berebut mendekap dan berebut menggigit bibir Pak Kampret sambil berteriak-teriak histeris, "Oh Kampret, aku mencintaimu!".

Karena kewalahan, Pak Kampret jatuh terjerembab di sisi mobilnya. Mereka pun beramai-ramai menubruknya, berebut menggigit bibirnya, menggigit hidungnya, menggigit pipinya, menggigit tangannya, menggigit perutnya, menggigit pantatnya, dan menggigit telapak kakinya. Pak Kampret ditindih beramai-ramai sampai tidak bisa bernafas.

Polisi segera turun tangan. Akan tetapi, Pak Kampret sudah tewas di tempat karena tidak kuasa menahan luapan cinta para karyawannya yang sangat dahsyat.

Yogyakarta, September 1991

* Dimuat di Majalah Humor, Desember 1991, dengan judul Dasi Kampret.

Kolusi

GRIMIS kecil senja hari membangun dunia aneh di jalan itu, di atas genangan-genangan kecil sisa air hujan. Angin menghempas-hempas, merontokkan daun-daun akasia dan kelopak-kelopak kembang semboja. Tiba-tiba, seorang gadis dengan rok terusan kuning menyala dan rambut tergerai-gerai di udara berlari-lari kecil menyebrangi jalan itu.

Seorang lelaki gendut, yang tampaknya sedang menunggu seseorang di balik kaca jendela, terkesima melihat pemandangan menakjubkan itu. Apalagi ketika gadis itu berlari kecil kearahnya dan menguak pintu kantornya, mengantarkan bau parfum yang aneh. Ah, barangkali sales parfum merek baru, atau lulusan akademi sekretaris yang akan melamar kerja, pikirnya. "Mau ketemu siapa?"

"Pak Saliman."

"Oh, saya sendiri. Silakan duduk."

Gadis itu melangkah ringan ke kursi, meletakkan pantatnya di sana.

"Saya ditugaskan Mbah Sastro untuk menemui Bapak sore ini." Bibir gadis itu, yang merekah kemerahan seperti irisan buah semangka, meletup-letupkan kata-kata lugas tapi terasa lunak.

"Jadi, Adik mengantarkan tuyul dari Mbah Sastro?"

"Tidak."

"Lho, katanya Mbah Sastro mau mengirim tuyul sore ini."

"Benar."

"Mana tuyulnya?"

"Saya sendiri."

"Ah, yang bener? Masak ada tuyul secantik Anda. Yang saya tahu, tuyul itu kecil, jelek dan gundul."

"Itu sih tuyul kuno, tuyul masa lalu. Tuyul sekarang banyak yang cantik. Namanya saja tuyul kontemporer, Pak. Tuyul posmo." Kelopak mata gadis itu mulai mengerjab-ngerjab, menggoda.

"Apa? Tuyul posmo?" mata Pak Saliman terbelalak.

"Ya, tuyul posmo, posmodern."

"Jadi, wabah posmo juga merambah dunia tuyul?"

"Benar. Terjadi semacam pluralisasi budaya permalingan di kalangan para tuyul. Tiap tuyul dibebaskan mengembangkan seni malingnya sendiri-sendiri, mau langsung sikat, pakai katebelece pejabat tinggi, me-mark up nilai proyek, atau ramai-ramai membobol bank seperti yang sekarang sedang trendi. Mereka juga bebas mengembangkan bentuk dirinya masing-masing. Ada yang memilih jadi perempuan cantik seperti saya, jadi lelaki gendut berdasi seperti konglomerat, atau tetap gundul jelek seperti aslinya."

"Jadi , ada semacam diversifikasi teknik permalingan, begitu?"

"Ya, begitulah."

Lelaki gendut itu mengangguk-angguk sambil menepuk-nepukkan telapak tangan kanannya ke atas pahanya dengan irama yang monoton, sementara matanya mengusap semili demi semili tiap lekuk keindahan wajah dan tubuh gadis itu -- layaknya seorang pelukis pemula yang sedang berlatih menangkap detail anatomi tubuh wanita untuk dipindahkan ke kanvasnya. Gadis itu pura-pura tersipu malu dan segera menundukkan kepalanya. Keheningan lantas menyergap mereka. Titik-titik air hujan terdengar makin keras memukul-mukul atap gedung dan daun-daunan di luar.

"Oh ya, siapa nama adik?" suara lelaki gendut itu memecah kebekuan.

"Mbah Sastro memanggil saya Monika."

"Kamu pasti bukan tuyul. Kamu cucu Mbah Sastro, bukan."

"Swear, saya tuyul asli."

"Okelah. Kalau kamu memang tuyul, apa yang bisa kamu lakukan untuk mendongkrak perusahaan saya yang hampir bangkrut ini?"

"Itu tergantung imbalan dan jabatan yang bapak berikan kepada saya. Jika nasib perusahaan Bapak ingin cepat terdongkrak, angkat saya menjadi wakil direktur." Gadis itu mengangkat wajahnya dan matanya kembali menantang.

''Jadi, tuyul butuh jabatan juga."

"Ya, sebagai sarana penyaluran bakat permalingannya."

''Butuh katebelece?"

"Kadang-kadang, bilamana perlu."

"Wah itu terlalu bertele-tele. Saya ingin yang praktis saja, yang tan-pa prosedur birokrasi segala. Jelasnya, nyolong> saja kamu sekarang. Entah pakai cara bagaimana, terserah kamu. Terserah, mau nyolong di bank atau menyikat habis uang saingan saya."

"Wah, sorry saja, Pak. Saya bukan jenis tuyul yang diprogram un-tuk keahlian model sikat langsung begitu. Itu sih bagian tuyul-tuyul berkepala gundul. Sorry aja. Itu bukan level saya.”

"Ya tuyul macam begitu yang saya minta dari Mbah Sastra. Yang dikirimnya kok malah yang kece macam kamu."

"Bapak ini maunya main langsung sikat saja. Bapak benar-benar tak punya jiwa wirausaha. Belajar entrepreneurship dikit dong, Pak Orang kayak Bapak mestinya jadi garong saja. Bukan jadi pengusaha.''

Gadis itu tersenyum setengah mencibir. Muka Pak Saliman jadi masam. Seumur-umur dia tidak pernah dinasehati orang. Apalagi oleh yang lebih muda atau anak buahnya. Eh, kini tiba-tiba diceramahi oleh perem-puan kece yang mengaku tuyul.

''Jangan macem-macem kamu! Kalau kau memang tuyul yang diki-rim Mbah Sastro, nyolonglah sekarang juga."

''Kalau saya tidak mau?"

"Lebih baik saya batalkan kolusi saya dengan Mbah Sastro."

''Baiklah kalau begitu."

Gadis itu bangkit dari duduknya, menyibakkan rambutnya yang hitam mengkilap seperti model iklan sampo, lantas melangkah pergi, mene-robos pintu dan menyusup hujan rintik-rintik di luar. Leleki gendut itu ha-nya terpana melihat punggungnya.

Begitu gadis itu lenyap di kejauhan, telepon disudut ruangan itu berdering. Si gendut bangkit dari kursi, melenggang beberapa langkah, dan mengangkat gagang telepon.

''Ini Pak Saliman, ya?" suara dari seberang.

''Betul."

"Bapak ini bagaimana? Katanya minta tuyul? Sudah dikirim kok malah disuruh balik."

"Oh ini Mbah Sastro, ya?"

"Betul."

"Ya, Mbah. Saya memang minta tuyul. Tapi yang Mbah kirim kan bukan tuyul."

"Siapa bilang ? Itu si Monika, tuyulku yang paling istimewa."

"Jadi, gadis itu benar-benar tuyul Mbah Sastro?"

"La iya. Memangnya tuyul siapa?"

"Tapi, kenapa dia menolak ketika saya suruh nyolong?"

"Wah, Pak Saliman ini maunya main sikat saja. Kalau mau kaya, pakai seni sedikit dong. Jangan asal main sikat. Norak, Pak!"

"Lantas bagaimana, Mbah?"

"Terserah Bapak saja. Kalau memang tidak mau gulung tikar, turuti saja apa maunya si Monika.''

***

AGAKNYA, si gendut Saliman tidak menemukan pilihan selain memenuhi permintaan si cantik Monika menjadi wakil direkturnya. Tapi, ternyata bukan hanya jabatan itu yang dimintanya. Ia juga minta dikon-trakkan sebuah villa di Puncak dan sebuah kamar di hotel mewah.

Si gendut tak tahu persis apa yang direncanakan dan dilakukan ga-dis itu. Lebih-lebih di luar kantor. Ia minta diberi kebebasan penuh untuk melakukan terobosan-terobosan rahasia tanpa harus menuruti mekanisme birokrasi perusahaannya. Si gendut hanya melihat, gadis itu amat sibuk keluar masuk kantor tiap hari, bahkan tiap jam. Teleponpun berdering-dering terus hampir tiap menit, mencari Monika.

Dalam tiga minggu pertama masa kerjanya, gadis itu memang tidak mau diganggu oleh siapapun. Langkah-langkah rahasianya pun tidak mau diketahui oleh siapapun. Tak terkecuali oleh si gendut Saliman. Si gendut pun hanya sempat menangkap kelebatan tubuh gadis itu datang dan pergi, atau mengamatinya beberapa detik ketika gadis itu meletakkan pantat di kursinya, menyisir rambut, meratakan bedak dan lipstiknya, membuka-bu-ka sejenak mapnya, lantas pergi lagi.

''Gila! Apa saja yang dilakukan si Monika. Benar-benar tuyul edan!" gerutu si gendut sembari membuka-buka komik Dora Emon. Sejak ada Monika, praktis si gendut setengah menganggur. Sebagian besar tugas dan wewenangnya sebagai direktur harus diserahkan kepada gadis itu. Ia hanya kebagian mengawasi disiplin kerja beberapa staf kantornya, yang bisa ia lakukan sambil membaca komik anak-anak.

"Kamu ini sopir apaan, sih?!" tiba-tiba terdengar ribut-ribut di luar.

"Sopir mana yang kuat, Mbak. Dua hari dua malam jalan terus tanpa istirahat. Sopir bus kota saja ada istirahatnya."

"Tapi ini acara sangat penting. Apa saya harus pergi sendiri?"

Si gendut Saliman meletakkan komiknya di atas meja dan memburu suara ribut-ribut itu. Ternyata Monika sedang bersitegang dengan sopirnya.

"Ada apa, Monika?"

"Ini lho, Pak, si Pardi disuruh mengantar tidak mau."

"Habis saya sudah tidak kuat lagi, Pak. Tobat dah!"

"Kan memang tugasmu mengantar Monika, Di."

"Tugas ya tugas. Tapi kalau terus-terusan begini bisa hancur tubuhku. Masak, dua hari dua malam jalan terus ke sana ke mari tanpa istirahat."

"Apa sih sebenarnya yang sedang kamu lakukan, Monika? Kok sibuk amat."

"Bapak tak perlu tahu. Kan Bapak sudah janji untuk tidak bertanya dulu tentang apa yang saya lakukan."

"Tapi saya kan atasanmu. Saya harus tahu semua yang kamu lakukan."

"Okelah. Sekarang terserah Bapak, mau melanggar janji dan semuanya berantakan sampai di sini, atau jalan terus dan Bapak tetap memegang janji."

Ditantang begitu oleh Monika, si gendut terdiam dan mengerutkan keningnya. Agaknya ia harus berpikir keras untuk menjawab tantangan itu.

''Kamu minta diantar ke mena sih, Monika?''

''Ke Puncak. Ada janji penting.''

''Sore-sore begini mau ke Puncak?''

''Ya.''

''Pantas, si Pardi tak mau mengantarmu.''

''Tapi ini amat penting, Pak. Kalau saya tidak datang, semuanya bisa gagal total.''

''Kalau begitu, biar aku saja yang mengantarmu.”

''Bapak mau mengantar saya?''

''Ya apa boleh buat.''

''Tapi Bapak harus janji hanya sampai jalan besar. Masuknya biar aku sendiri jalan kaki. Dan, Bapak tak perlu tahu apa yang saya lakukan di villa saya.''

''Tak apa kalau memang maumu begitu.''

Agaknya posisi memang harus dibalik untuk sementara. Si gendut tidak hanya harus kehilangan hampir semua wewenangnya selaku direktur, tapi kini ia juga harus menjadi sopir bawahannya, mengantar Monika jauh ke Puncak. ''Benar-benar tuyul edan!'' gerutunya.

Untunglah, berkat jalan tol Jagorawi yang mulus, jarak Jakarta-Ciawi ia sikat tidak lebih dari satu jam. Tak seberapa lama sampailah BMW-nya di jalan masuk menuju sebuah villa cukup mewah di lereng bu-kit. Hujan turun agak deras. Namun Monika bersikeras tidak mau diantar sampai ke pintu villa. Ini membuat si gendut Saliman makin curiga dan ingin tahu apa sebenarnya yang akan dilakukan gadis itu. Ia pura-pura memutar mobilnya balik ke arah Jakarta, tapi kemudian memutarnya kem-bali dan merakirnya di jalan masuk menuju villa yang dikontraknya untuk tuyul itu.

Hujan belum reda dan si gendut nekat keluar dari mobilnya, berja-lan kaki mengendap-endap menuju villa itu. Ia amat terkejut ketika melihat sebuah Baby Benz hitam diparkir persis di depan pintu villa. Ia pun terus mengendap-endap ke samping villa itu.

Si gendut mengintip ke dalam lewat celah jendela. Tapi tak ada sia-pa-siapa. Hanya pakaian basah Monika tampak terpuruk di kursi kamarnya. Kemudian terdengar suara semprotan air cukup keras dari shower di kamar mandi. Agaknya si Monika tidak sendiri di kamar mandi itu.

''Kau memang benar-benar dahsyat, Monika,'' terdengar suara lelaki, berat dan agak serak.

"Ah, masak?" sahut suara Monika, genit.

"Tubuhmu benar-benar sempurna," suara laki-laki itu.

"Hi hi hi…."

"Coba lihat ini…."

"Hi hi hi hi…."

Monika makin cekikikan. Si gendut bisa membayangkan apa yang sedang dilakukan lelaki itu -- entah konglomerat mana, entah pejabat penting apa -- terhadap Monika di kamar mandi. Ingin sekali ia memanjat tembok dan mengintip mereka dari lubang angin. Tapi tubuhnya yang agak basah kehujanan makin menggigil saja. Sambil mengumpat-umpat ia pun melangkah cepat balik ke mobilnya.

***

LANGIT sudah gelap ketika si gendut sampai di kantornya. Kantor kontraktor itu sudah sepi. Pardi, sopir Monika, mendengkur di kursi ruang tamu. Si gendut langsung membangunkannya. "Di, kamu tahu apa yang dilakukan Monika selama ini?"

"Nggak tahu, Pak."

"Kamu mengantar ke mana saja tiap hari?"

"Ke sana ke mari, Pak. Ke kantor pejabat ini itu, menemui konglomerat ini itu, ke bank, belanja di supermarket, ke kamar hotelnya, ke Puncak, yah ke mana ajalah. Pokoknya macam-macamlah acaranya, sampai saya tidak bisa istirahat."

"Apa yang dia lakukan di Puncak dan di kamar hotelnya?"

"Nggak tahu, Pak. Saya hanya boleh menunggu di mobil atau di warung terdekat."

"Jangan-jangan pelacur kelas kakap dia."

"Kok Bapak berkata begitu?"

Tiba-tiba telepon berdering keras menghentikan pembicaraan mereka. Si gendut segera mengangkatnya. Begitu ujung gagang telepon menem-pel di telinganya, wajahnya berubah kemerahan. Agaknya ada suara yang tak enak dari si penelpon. Beberapa detik kemudian ia meletakkan gagang itu dengan setengah membantingnya.

"Wah, gawat, Di. Nyonya Besar marah-marah. Saya pulang dulu."

"Hati-hati, Pak."

Pasti ada yang tidak beres, pikir si gendut. Baru pukul 20.15 istrinya sudah marah-marah. Dalam keadaan normal, dengan alasan sedang rapat, istrinya maklum saja dia pulang sampai pukul 22.00. Istrinya pasti mengira, dia punya skandal lagi. Tapi dengan siapa, dan siapa yang mem-fitnahnya?

Ia memang sudah dua kali terlibat skandal cinta dengan bawahan-nya. Pertama dengan sekretarisnya yang genit dan gampangan. Kedua de-ngan bendaharanya yang cantik tapi perawan tua. Keduanya sudah ia pecat atas desakan istrinya , yang sempat marah besar begitu mengetahui skandal itu. Bagaimana pun, ia memang tidak berani melakukan "perang habis-habisan" melawan istrinya -- yang memang kurang cantik dan bertubuh agak gembrot. Selain demi kedamaian hati ketiga anaknya, juga karena perusahaan yang memberinya jabatan direktur memang peninggalan almar-hum mertuanya.

"Belum kapok ya, Pa?" sambut istrinya begitu si gendut duduk di depan meja makan.

"Kapok bagaimana, Ma?"

"Papa sudah berani memelihara perempuan lagi, kan?"

"Ah, jangan mengada-ada, Ma. Siapa bilang saya memelihara pe-rempuan?"

"Jangan bohong, Pa. Tadi ada perempuan cantik mencari Papa ke sini."

"Perempuan cantik, siapa?"

"Masih mau mungkir juga? Papa punya peliharaan baru yang nama-nya Monika, bukan! Tadi dia ke sini pakai rok kuning menyala."

"Monika?" kepala si Gendut bagai di sambar geledek. "Benar-benar edan, anak itu. Bukanlah dia baru saja saya antar ke puncak?"

"Jadi kau baru saja main cinta di puncak dengan perempuan itu? Kurang ajar! Kau tega, ya!"

"Pacaran apa? Dia itu pelacur!"

"Jadi, papa membawa pelacur ke puncak? Dasar hidung belang! Menjijikkan!"

Bu Saliman berlari masuk ke kamar, membanting pintunya dan menguncinya dari dalam. Tampaknya ia marah besar. Si gendut terperangah sesaat. Kepalanya makin pusing, bagaimana ia harus menjelaskan tentang si Monika pada istrinya. Dalam gelisah ia melangkah ke kamar kerjanya, mengangkat gagang telepon dan memutar nomor telepon kantornya.

"Pardi?"

"Ya, Pak."

"Untunglah kamu masih ada di situ."

"Ada apa, Pak?"

"Gawat, Di. Nyonya marah besar soal Monika. Ia mengira simpa-nan saya. Tadi dia ke sini mencari saya. Salahnya, saya tak pernah cerita soal Monika pada Nyonya. Tolong, jemput dia sekarang juga di kamar hotelnya dan bawa kemari. Kau harus ikut menjelaskan tentang dia pada Nyonya.

"Baik, Pak."

Begitu meletakkan gagang telepon, si gendut lantas menuju pintu kamar istrinya. Terdengar tangis sesenggukan dari dalam kamar. "Buka pintu, Ma. Berilah Papa kesempatan untuk menjelaskannya."

"Semuanya sudah jelas. Papa memang bajingan!"

"Dengar dulu, Ma. Saya tadi memang mengantar dia ke Puncak. Tapi, percayalah, saya tak berbuat apa-apa dengan dia. Saya mengantarnya karena dia melakukan transaksi penting yang berkaitan dengan perusahaan kita. Dia itu staf baru bagian marketing. Hanya dugaan saya saja dia me-rangkap menjadi pelacur."

"Dia merangkap jadi peliharaan Papa, kan!"

"Jangan begitu, Ma."

"Tadi dia mengaku begitu."

"Ya peliharaan, maksudnya pegawai baru. Dia memang suka melucu begitu."

Gerimis masih memukul-mukul genteng dan daun-daunan di luar, ketika tiba-tiba terdengar derum mobil masuk pekarangan rumah Pak Saliman. "Nah, itu dia datang bersama Pardi, Ma. Mereka sengaja saya panggil untuk menjelaskan semuanya pada Mama."

***

SANG Nyonya Besar pada akhirnya memang bisa dijinakkan. Ia bisa memahami kehadiran Monika di perusahaan peninggalan almarhum ayahnya yang kini dikelola suaminya. Apalagi, di hadapannya, gadis itu bersumpah tidak akan mengganggu Pak Saliman. Ia juga berjanji untuk memajukan perusahaannya dengan memanfaatkan jaringan koneksi yang telah ia bangun dengan sejumlah pejabat dan konglomerat.

Namun, tidak berarti persoalan Monika selesai sampai di situ. Pada akhir bulan, ketika si gendut harus membayar gaji para karyawannya, Monika memberikan kejutan baru:

"Cadangan uang kita di bank habis, Pak. Besok kita tidak bisa membayar gaji para karyawan," kata kepala bagian keuangan, menghadap si Gendut dengan wajah pucat dan suara gemetar.

"Lho! Bukankah dua minggu lalu masih ada cadangan satu setengah milyar?"

"Ya. Kini sudah habis dipergunakan Monika. Katanya sudah disetujui Bapak."

"Tuyul edan!"

"Lho, kok tuyul?"

"Memang dia tuyul! Siapa lagi yang berani nekad menghabiskan uang segitu banyak kalau bukan tuyul edan!"

"Salah Bapak juga, terlalu cepat memberi kepercayaan pada dia."

"Pardiiii!"

"Yaaa, Pak!" yang dipanggil tergopoh-gopoh masuk.

"Ke mana kau antar Monika hari ini?!"

"Belum saya antar ke mana-mana, Pak. Sejak pagi belum kelihatan. Saya jemput di kamar hotelnya juga kosong."

"Wah, celaka kalau begitu. Uang kita di bank dia sikat habis. Benar-benar tuyul edan dia! Cepat kamu cari dia sampai ketemu. Kalau tidak, bisa tak gajian kamu besok."

Pardi, sopir gadis itu, berlari kecil keluar untuk mencari Monika.

Tapi tiba-tiba telepon di meja si gendut berdering. Ia langsung mengangkatnya, ternyata dari si tuyul.

"Monika, gila kamu! Kamu kemanakan uang saya satu setengah milyar di bank?!" si gendut langsung menghardik gadis itu.

"Tenang, Pak. Bapak kan ingin mendapatkan kakap besar. Umpannya juga harus besar!" jawab Monika dari seberang.

"Omong apa lagi kamu?! Kakap kakap! Mana buktinya?! Kamu ini memang tuyul edan! Tuyul rusak! Kamu tidak mendapatkan duit, tapi malah menghabiskan duit!!"

"Aduh, jangan teriak-teriak begitu, Pak! Nanti didengar orang, rahasia kita bisa bocor."

"Biarin! Kamu memang tuyul edan! Tuyul rusak! Tuyul gendeng!!"

"Dengar dulu, Pak. Saya sedang mengincar beberapa proyek besar, dan hampir berhasil. Percayalah, Pak. Dalam satu dua hari ini pasti sudah ada hasilnya. Uang satu setengah milyar tidak ada artinya dibanding keuntungan yang bakal kita dapatkan. Perusahaan Bapak saya jamin segera menggelembung jadi raksasa. Kalau saya gagal, Bapak boleh bakar padepokan saya di tepi hutan itu."

"Tapi, gaji karyawan kita bagaimana? Besok mereka harus gajian. Kalaupun tidak, mereka hanya bisa mentolerir keterlambatan satu hari. Labih dari itu mereka pasti akan ribut. Aku tak mau kalau di perusahaan kita sampai ada unjuk rasa segala."

"Jangan khawatir, Pak. Saya sudah mengajukan kredit 100 trilyun ke bank. Hari ini direksi bank sedang merapatkannya. Kalau di-acc, besok sebagian dana sudah dapat dicairkan."

"Gila! Kredit 100 trilyun?!"

"Ya."

"Untuk apa uang sebanyak itu?"

"Lho, kita kan bakal menangani proyek-proyek dan pabrik-pabrik besar. Mana bisa jalan kalau hanya dengan modal recehan."

"Aku tak mau ikut pusing-pusing memimpikan yang tidak-tidak begitu. Pokoknya besok karyawan harus gajian. Kau harus mengusahakan uang gaji mereka. Saya tunggu hasilnya hari ini juga."

"Beres, Pak!"

***

MATAHARI sudah jauh melintasi titik ubun-ubun langit, bahkan sudah condong jauh ke barat. Si gendut gelisah menunggu kabar dari Monika. Sekali-sekali ia mondar-mandir di ruang kerjanya. Sekali-sekali berteriak memanggil Pardi, menanyakan apakah gadis itu sudah menampakkan batang lehernya. Sekali-sekali pula ia meminta pada bendaharanya untuk mengecek rekening banknya lewat telepon, apakah sudah ada uang masuk dari Monika. Semuanya masih nihil. Selebihnya, si gendut menghempaskan tubuhnya ke kursi kebesarannya, mencoba meredakan kegelisahannya dengan membaca komik Satria Baja Hitam.

Sore sudah mengambang ketika gadis centil itu muncul dengan senyum khasnya. Si gendut langsung menyambarnya: "Bagaimana, Monika, hasilnya?"

"Beres, Pak."

"Beres-beres, bagaimana?!"

"Lihat ini." Monika menyerahkan berkas-berkas yang dibawanya.

"Gila! Kita mendapat kredit 100 trilyun?" Mata si gendut terbelalak melihat angka yang tercantum pada berkas dari bank itu.

"Ya,"

"Bagaimana kamu bisa membuat bank percaya untuk memberikan kredit sebesar itu pada kita?"

"Saya kan punya katebelece."

"Katebelece? Apa kamu mau mengulang kasus Eddy Tansil, Sinivasan, Sofian Wanandi..... ?"

"Jangan khawatir, Pak. Monika lebih lihai daripada Eddy Tansil, Sinivasan, atau Sofian Wanandi. Semuanya sudah saya atur rapi."

"Kamu memang benar-benar tuyul hebat!" Serta merta si gendut menyalami dan memeluk gadis itu. Monika menyerah saja.

"Bapak mau lihat daftar proyek yang telah kita menangkan tendernya."

Si gendut melepaskan pelukannya. Monika mengeluarkan setumpuk map dari tasnya. "Ini proyek pengurugan Rawa Pening untuk disulap menjadi lapangan golf, ini proyek penggundulan sebagian hutan Irian Jaya untuk diekspor ke Jepang, ini proyek penggusuran seluruh kawasan kumuh Tanjung Priok untuk disulap jadi kondominium, dan ini proyek terowongan bawah laut lintas Selat Sunda. Semuanya bernilai 90 trilyun."

"Gila kamu. Bagaimana kita bisa mengerjakan proyek edan-edanan seperti itu?"

"Jangan khawatir, Pak. Saya bisa mengerahkan seribu jin untuk ikut menyelesaikan proyek-proyek itu tepat pada waktunya."

"Jadi kita juga harus berkolusi dengan para jin?"

"Betul. Itulah cara yang telah saya rancang agar perusahaan kita bisa tumbuh jadi raksasa."

"Seperti Bandung Bandawasa ketika membangun Candi Seribu itu?"

"Ya, begitulah kira-kira. Tapi tentu, proyek-proyek itu tidak harus kita selesaikan dalam semalam. Ya, agar orang percaya bahwa proyek-proyek itu memang murni karya kita, berkat kehebatan teknologi canggih yang telah kita kuasai."

"Memang benar-benar edan kamu, Monika."

"Bapak setuju, kan!"

"Tentu saja, Monika. Lelaki mana yang mau berlaku bodoh dengan menolak kesempatan untuk menjadi besar."

"Ha ha ha." Monika tertawa.

"Ha ha ha.. ." Si gendut juga tertawa.

"Tapi tunggu dulu, Pak." Kali ini wajah Monika berubah serius. Ia mundur selangkah dan duduk di atas meja, persis di depan si gendut yang masih berdiri setengah bersandar pada sandaran kursinya.

"Tunggu apa lagi?"

"Agar kredit itu benar-benar bisa mengucur dan proyek-proyek itu bisa berjalan lancar, ada satu syarat yang harus Bapak penuhi."

"Syarat apa?"

"Bapak harus mengawini saya dan menjadi bapak anak yang akan saya lahirkan."

"Kenapa harus begitu?"

"Ya, karena anak yang akan segera saya lahirkan harus punya bapak yang jelas."

"Lho! Memangnya kamu hamil?" wajah si gendut tampak terperangah.

"Ya."

"Aduh, Monika. Kenapa tidak kamu gugurkan saja?"

"Tak ada dokter maupun dukun yang sanggup menggugurkan kandungan tuyul. Sekarang terserah Bapak, mau menjadi Bapak anak saya, atau semuanya gagal dan selesai sampai di sini." Monika mulai menantang.

"Kalau memang harus begitu, ya apa boleh buat, Monika. Aku akan menjadi Bapak anak yang kau kandung. Aku tak perlu tahu, itu anak siapa. Tapi, tolong sementara dirahasiakan dulu. Jangan sampai istriku tahu."

Mendengar jawaban itu, Monika langsung melompat turun dari meja dan menghambur ke dada Pak Saliman. Si gendut terkejut sesaat, tapi lantas menyongsong gadis itu dengan pelukan.

***

KREDIT 100 trilyun rupiah itu mengucur juga. Bahkan keesokan harinya sebagian sudah bisa dicairkan. Pada malam harinya si gendut langsung mengadakan pesta bersama seluruh staf dan karyawannya. Kesibukan terus meningkat pada hari-hari berikutnya. Lowongan kerja pun dia buka untuk merekrut para insinyur dan karyawan baru. Sejumlah insinyur asing segera didatangkan untuk menyiapkan pelaksanaan proyek-proyek besar itu.

Monika pun tetap hilir mudik seperti biasa. Namun pada hari keenam tiba-tiba ia menghilang dan pada hari ketujuh datang kejutan dari Mbah Sastro untuk si gendut lewat telepon.

"Kau harus datang kepadepokanku sekarang juga. Sangat penting!" suara pawang tuyul itu dari jauh.

"Memangnya ada apa, Mbah?"

"Monika melahirkan hari ini."

"Lho, bukannya usia kandungannya baru tiga Minggu."

"Ya, usia kandungan tuyul memang hanya duapuluh satu hari."

"Baiklah, Mbah."

Sampai di padepokan, si gendut langsung menuju kamar Monika. Ia penasaran, ingin tahu bagaimana wajah anak tuyul cantik itu. Begitu membuka pintu, si gendut terperangah. Pemandangan menakjubkan terpampang di depannya. Monika berbaring miring setengah telanjang, dikelilingi puluhan orok gundul sebesar lengan bayi. Beberapa diantaranya sedang berebutan menetek pada tuyul cantik itu.

"Ini semua anak-anak kita," kata Monika sambil tersenyum. "Jumlah mereka ada tujuh puluh sembilan, sesuai dengan jumlah pendekatan khusus yang saya lakukan untuk mendapatkan kredit bank dan proyek-proyek besar itu."

"Tujuh puluh sembilan?!" sahut si gendut dengan mulut menganga dan mata terbelalak.

Untuk beberapa saat si gendut berdiri terpaku dengan ekspresi terperangah. Kemudian tubuhnya terhuyung-huyung dan ambruk ke lantai. Kali ini Monika tidak hanya memberikan kejutan bagi si gendut, tapi sekaligus membuatnya tewas akibat serangan jantung!*

Jakarta, Akhir Juni 1994

* Cerpen ini pernah dimuat di Percakapan Senja, bonus kumpulan cerpen Majalah Sarinah, No. 309, 22 Agustus-4September 1994.

Ledakan

Cerpen Ahmadun Yosi Herfanda

Telepon bedering ketika aku sudah akan mengunci pintu untuk berlari ke jalan raya mencari taksi. Rumah kosku sudah kosong, dan suara di telepon itu benar-benar membuatku panik….

''Elyah, ini Emak. Pulanglah sekarang juga! Ada yang....'' suara Emak di seberang, tapi tiba-tiba terputus oleh suara ledakan, ''blaaarrr!'' keras sekali hingga gagang teleponku terasa ikut bergetar, kemudian terdengar jeritan Emak, ''Allahu Akbar!'' dan telepon terputus.

''Emak, Emaaaak! Apa yang terjadi?! Emaaak!'' teriakku. ''Emak! Emaaak!'' tak ada jawaban, kecuali suara ''tut tut tut....'' Aku buru-buru meletakkan gagang telepon, lalu kuangkat lagi, dan kuputar nomor rumah Emak, 0651-773679, tak ada jawaban, kecuali suara mesin otomatis dari Telkom, ''Nomor yang Anda hubungi sedang dalam perbaikan, untuk sementara tidak dapat dihubungi.''

Kuletakkan lagi gagang telepon, kuangkat lagi, kuputar lagi nomor itu, berulang-ulang, tapi yang terdengar tetap jawaban mesin yang sama. Aku menjadi sangat panik. Apa yang terjadi dengan Emak? Apakah rumah Emak terkena mortir, atau lemparan granat tentara? Atau bom rakitan GAM? Dan Emak jadi korban? Ya Allah, apa yang menimpa Emak sepagi ini? Ya Allah, selamatkanlah Emak!

Aku benar-benar merasa sangat cemas. Aku ingat, dua hari yang lalu terjadi kontak senjata antara GAM dan TNI di ujung kampung, tak jauh dari rumah Emak. Tiga hari sebelumnya, rumah Emak juga sempat digeledah oleh tentara karena dicurigai menjadi tempat persembunyian anggota GAM. ''Semua kamar diobrak-abrik sama anggota. Juga kamar Kakak. Emak dibawa ke markas tentara, diinterogasi selama tiga jam, tapi dilepaskan lagi,'' cerita adikku lewat telepon dua malam yang lalu.

Apakah Emak akan senasib dengan Ayah yang tewas secara misterius sebulan lalu? Jasad Ayah, juga kata adikku lewat telepon, ditemukan di pinggir jembatan dengan luka-luka bekas tusukan senjata tajam di leher, dan dadanya robek. ''Ngeri sekali, Kak, kami semua jadi takut!'' kata Cut Khasanah, adikku itu.

Keesokan harinya kubaca di koran Jakarta, ayahku tewas akibat penganiayaan berat. Jelasnya, ayahku menjadi korban pembunuhan -- salah satu korban dari tujuh korban 'pembunuhan misterius' yang ditemukan pada pekan itu. Emakku, juga aku, sangat terpukul atas kejadian itu. Emakku kini harus menjanda dengan empat anak, dan mengalami tekanan psikologis yang cukup berat. Tapi, siapa pembunuh ayahku? Polisi belum dapat menyingkapnya dengan jelas. Apalagi menangkap pelakunya.

Berlarutnya konflik di Serambi Mekah memang membuat 'negeri Fansuri' -- tempat kami lahir dan dibesarkan -- seperti menjadi rimba tak bertuan dan tanpa hukum yang pasti. Orang seakan dengan gampang dapat membunuh siapa saja atas nama apa saja. Tentara dengan gampang dapat melenyapkan seseorang atau sekelompok orang atas nama tugas negara, sementara mereka yang mengaku GAM -- dan dicap sebagai GPK oleh tentara -- tiap saat juga dapat mencabut nyawa siapa saja atas nama cita-cita dan kebebasan.

Dan, dua tahun terakhir ini ayahku terjepit di antara dua tudingan yang memojokkan sekaligus membingungkan di tengah pertarungan dua kepentingan itu. Pihak tentara mencurigai ayahku sebagai aktivis GAM, tapi pihak GAM menuding ayahku sebagai mata-mata tentara. Kami sendiri, sekeluarga, tidak tahu mana yang benar. Yang kami tahu, ayah adalah seorang ustad yang saleh sekaligus petani yang sukses. Tiap hari ayah pergi mengontrol ladang, menyetor hasil panen ke pasar, atau mencari bibit unggul di dinas pertanian. Sebelum Magrib Ayah biasanya sudah berada di rumah, mengimami mushalla di sebelah rumah kami, mengajar mengaji sampai waktu Isya tiba, dan selebihnya Ayah lebih banyak di rumah bersama kami.

Tapi siapa pembunuh ayahku? Dari pihak mana pembunuh itu, TNI atau GAM? Atau, Ayah hanya menjadi korban fitnah dan salah sasaran? Tidak ada jawaban yang jelas sampai sekarang. Lalu, apa yang terjadi dengan Emak pagi ini? Jangan-jangan Emak juga senasib dengan Ayah, menjadi korban pertikaian yang berlarut-larut itu?

Aku benar-benar merasa sangat cemas. ''Elyah, pulanglah sekarang juga!'' kembali terngiang suara Emak. Tidak biasanya Emak memintaku pulang dengan cara begitu. Pasti ada apa-apa dengan Emak. Kuputar lagi nomor telepon Emak, 0651-773679, kembali terdengar suara, ''Nomor yang Anda hubungi sedang dalam perbaikan....'' Kuputar nomor telepon tetangga, terdengar suara yang sama. Kuputar nomor tetangga yang lain, suara yang sama terdengar juga. Ya Allah, apa yang terjadi dengan rumah Emak, apa yang terjadi dengan rumah para tetangga, apa yang terjadi dengan kampungku. ''Elyah, pulanglah sekarang juga!''

Ya, aku harus pulang sekarang juga. Itu keputusanku. Tapi, apa yang harus kukatakan pada kepala bagianku di kantor. Bagaimana alasan pamitku? Aku pasti tidak akan diijinkan pulang oleh atasanku, yang cerewet, jika tidak ada alasan jelas untuk mudik mendadak. Apalagi pekerjaanku sedang menumpuk. Apa aku harus mengatakan Emak tewas, atau sakit keras? Tapi, apa benar itu yang menimpa Emak, dan apa ia percaya? Ah, tak peduli. Aku akan pamit lewat telepon saja. Aku harus pulang sekarang juga. Aku harus tahu apa yang terjadi dengan Emak.

***

Pagi itu aku jadi melangkah tergesa ke tepi jalan raya. Kusetop taksi dan kuminta agak ngebut, namun bukan ke kantorku tapi ke terminal bus antarkota. Ya, hanya cara ini yang bisa kulakukan untuk pulang kampung dari Jakarta, mengingat gajiku yang masih pas-pasan untuk hidup membujang saja. Berarti aku masih harus memperpanjang kecemasanku sampai hampir dua hari lagi, sekitar tiga puluh lima jam lagi. Perasaanku pasti sangat tersiksa, tapi apa boleh buat!

Di terminal kubeli beberapa koran ibukota. Aku ingin tahu pergolakan macam apa lagi yang terjadi di dekat kampungku, dan berapa korban yang jatuh akibat pergolakan itu. Aku ingin mendapat jawaban sementara, apa sebenarnya yang menimpa Emak dan kampungku, dan apakah Emak menjadi korban peristiwa itu. Tapi, ah semoga tidak. Kalaupun ledakan tadi suara granat atau mortir, semoga Emak selamat, dan hanya sambungan teleponnya yang terputus. Kalaupun Emak akhirnya ditangkap oleh GAM atau tentara, semoga sebuah keajaiban melindunginya dan cepat dilepaskan kembali. Kami sangat mencintai Emak. Adik-adikku masih butuh dampingan Emak.

Kubuka lembar demi lembar koran yang kubeli, kubaca semua judul pada tiap halamannya. Aku ingin membaca Aceh. Ya, Aceh, ada berita apa lagi tentang Aceh hari ini. Benar. Beberapa peristiwa tentang konflik di Serambi Mekkah terpampang dengan judul-judul yang cukup mencolok, ''Tentara Serbu Markas GPK, 12 Tewas'', ''Tentara Lakukan Sweeping, 56 Warga Ditangkap'', ''Tentara Tembak Mati Tujuh GPK, Dua di Antaranya Perempuan''.

Ya Allah, tentara lagi, tentara lagi. Kenapa para anggota masih main tangkap dan main tembak. Katanya mereka takkan menggunakan kekuatan militer sesudah DOM dicabut? Sudah tiga bulan status DOM untuk Aceh dicabut, tapi anggota TNI masih main tangkap dan tembak. Apa tidak ada cara lain, yang lebih beradab, untuk menyelesaikan konflik di tanah kelahiranku itu? Kadang-kadang aku jadi benci dan muak pada TNI, bahkan pada penguasa negeri ini, penguasa yang telah menguras kekayaan Aceh, tapi tidak mampu menciptakan suasana damai di sana, apalagi mensejahterakan rakyatnya! Aku kecewa berat pada TNI yang tidak kunjung berhasil meredam kekerasan di tanah kelahiranku. Aku kecewa berat pada pemerintah yang tidak pernah becus mengurus negeri ini. Aku kecewa berat pada GAM yang hanya menambah persoalan makin runyam. Ayahku tewas. Keluargaku terus-menerus diteror. Dan, kini Emak.... Apa yang terjadi dengan Emak?! ''Ya Allah, lindungilah Emak. Lindungilah keluarga kami!''

Entah sudah berapa ratus kalimat tanya, berapa ribu ungkapan kecewa, dan berapa juta suku kata kecemasan, yang berputar-putar di benakku, berkecamuk antara tidur dan jaga, antara kantuk dan doa, antara harapan dan keputusasaan, tahu-tahu bus sudah masuk sebuah garasi di Jambi dan semua penumpang diminta turun. Kami harus ganti bus. Bus ini harus masuk garasi untuk diservis dan ganti ban. ''Bus pengganti baru datang sekitar satu jam lagi,'' kata seorang kru bus.

Aku buru-buru turun dan langsung mencari Wartel. Kucoba lagi menelepon rumah. Masih tetap jawaban mesin otomatis dari Telkom. Kutelepon rumah kosku, barangkali ada telepon dan pesan dari Emak, atau dari adikku. Tidak ada telepon dari siapa-siapa, kata ibu kosku. Aku jadi makin khawatir dan cemas. Apa yang sebenarnya menimpa Emak? Di mana pula adik-adikku? Apa pula yang menimpa mereka?

Pukul delapan pagi ketika ledakan itu terjadi, adik-adikku pasti sudah berada di sekolah masing-masing. Tapi, sekarang sudah sore, dan mereka pasti sudah pulang dan tahu apa yang menimpa Emak. Kenapa mereka tidak meneleponku? Ataukah rumah Emak sudah dikepung tentara sejak pagi buta karena memang ada GAM yang diketahui lari ke sana, sehingga adik-adikku tidak dapat keluar dan ikut tewas dalam ledakan itu? ''Ya Allah, lindungilah mereka!''

Kecemasanku makin menjadi-jadi. Kucoba lagi menghubungi nomor-nomor telepon tetanggaku. Jawaban yang kudengar sama saja, dari mesin penjawab otomatis Telkom. Aku jadi yakin, pasti ada sesuatu yang luar biasa terjadi di kampungku, menimpa keluargaku, menimpa tetangga-tetanggaku. Tapi apa? Pertempuran hebat yang menghancurkan semuanya? Kebakaran? Bencana alam? Aku tidak tahu. Bisa jadi kampungku sengaja dibumihanguskan, entah oleh siapa dan atas perintah siapa. Dalam konflik Aceh yang makin runyam, apapun bisa terjadi, atas nama apa saja dan dengan alasan apa saja. Beberapa hari yang lalu, misalnya, beberapa rumah penduduk dibakar oleh tentara karena diyakini menjadi basis kegiatan GAM. Sementara, pada hari yang lain, seorang warga dibunuh – entah oleh siapa – setelah beredar isu bahwa dia mata-mata TNI.

Aku harus cepat-cepat sampai rumah untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, jam berapa akan sampai kalau perjalanan tersendat-sendat begini. Dan, kenapa pula harus ganti bus dan masih harus menunggu lagi? Waktu rasanya berjalan lambat sekali, detik demi detik hanya menggelesot bagai seorang invalid. Makan pun aku sampai tersedak-sedak karena kegelisahan mengetuk-ngetuk seluruh syarafku. Begitu masuk bus lagi, aku langsung menelan pil anti mabuk agak berlebih agar tertidur -- teman pembunuh kebosananku dalam tiap menempuh perjalanan panjang. Aku menyerah pasrah pada sopir bus untuk membawaku ke Aceh, berapa jam pun dia mau. Karena toh percuma saja aku bercemas-cemas sendiri ingin cepat sampai kalau kemampuan lari bus tua ini hanya rata-rata 50 km perjam. Apalagi, banyak jalan rusak, naik turun dan berliku-liku.

Dan aku tidak tahu, berapa kali lagi bus beristirahat untuk memberi kesempatan makan pada penumpang, tahu-tahu aku dibangunkan oleh kru bus karena sudah sampai di terminal Banda Aceh. Aku langsung mencari taksi, dan yang kudapat mobil omprengan, untuk membawaku langsung ke rumah, tanpa peduli harus membayar berapa.

''Ada peristiwa apa di Blangkejren kemarin, Pak?'' tanyaku pada sopir. Aku tak sabar untuk segera tahu.

''Apa Cut belum dengar, ada banjir dan tanah longsor. Banyak yang tewas.''

Banjir? Tanah longsor? Dan banyak yang tewas?! Ada kecemasan baru yang kini menyeragpku. Jangan-jangan Emak dan adik-adikku ada dalam daftar korban tewas itu. ''Cepat bawa aku ke sana, Pak. Keluargaku ada di sana!''

Mengerikan sekali. Kampungku lenyap tertimbun tanah. Tinggal puing-puing, akar-akar pohon tumbang, dan balok-balok kayu yang bercuatan di atas lumpur. Ini lebih gawat dari ledakan granat atau bom rakitan. Bencana alam dapat menghancurkan apa saja dan membunuh siapa saja tanpa ampun, tanpa peringatan dan tanpa pertanyaan-pertanyaan lagi. Ya Allah, apa dosa kami sehingga Engkau mengazab kami dengan cara begitu? Di mana pula Emak dan adik-adikku?

''Cut Elyah, tabahkan hatimu. Rumahmu hancur tertimbun lumpur. Tapi, Emak dan adik-adikmu sudah ditemukan. Sekarang ada di rumah sakit,'' Pak Kepala Desa merangkulku begitu aku keluar dari mobil omprengan di ujung kampung. Rumah Emak memang berada di tepi jalan kabupaten, di lereng bukit yang agak gundul. Kulihat banyak tentara di situ. Orang-orang berseragam loreng itu menggali-gali dan mencari-cari korban yang masih tertimbun.

Aku kembali masuk ‘taksi gelap’ dan meluncur ke rumah sakit. Kutemukan Emakku terbaring dengan seluruh kaki dibalut perban. Tampak kedua adikku duduk menungguinya. Tapi di mana Cut Khasanah? ''Kak Elyah!'' teriak adik-adikku begitu melihat aku datang.

''Alhamdulillah, kalian selamat!''

''Ya, Kak, kami diungsikan tentara sebelum longsor terjadi.''

''Bagaimana Emak, di mana Adik Cut?''

''Kaki Emak patah, Kak, tertimpa tiang rumah. Emak juga diselamatkan tentara. Tapi, Kak Khasanah....''

''Elyah, syukurlah kau sudah tiba! Emak sengaja tidak meneleponmu. Emak khawatir akan mencemaskanmu dan mengganggu tugasmu di tempat kerja.''

''Lho, bukankah Emak kemarin pagi menelepon Elyah?''

''Bukan Emak yang menelepon.''

''Lalu siapa? Suaranya sangat mirip Emak, dan mengaku Emak. Elyah juga mendengar suara ledakan... dan jeritan Emak.''

''Ah, sudahlah, Elyah. Yang penting kau sudah tiba.''

''Di mana Adik Cut?''

''Dia… dia… tewas, Kak. Kak Khasanah tertimbun bersama Emak,'' kata adikku. Di matanya menggantung butiran air mata.

''Innalillahi...,'' aku tidak kuasa meneruskan ucapanku. Serasa ada yang lepas dari diriku. Tubuhku terasa limbung dan nyaris roboh. Seorang adik yang paling dekat denganku, telah direnggut oleh kekuasaan yang tidak dapat dilawan oleh siapapun. Adik terkecilku, Nur Rahmah, segera mendekapku.

“Tabahkan hatimu, Elyah, semuanya sudah kehendak Allah.” Emak mencoba menenangkanku!

Betulkah semua sudah kehendak Allah? Benakku masih bertanya-tanya. Enak sekali selama ini orang mengkambinghitamkan Tuhan tiap terjadi bencana. Padahal, sering manusia juga yang menjadi akar penyebabnya. Ya, aku ingat, bukit-bukit di atas kampungku rata-rata sudah gundul karena pohon-pohon besarnya ditebangi. Program penghijauan pun tidak berjalan karena dananya banyak dikorupsi. Ya, lagi-lagi aku harus menuding oknum-oknum penguasa yang tidak becus mengurus negeri ini.

Ketika banjir bandang melanda desa sebelah atas, kata Emak dengan mata berkaca-kaca, tentara sudah berusaha mengungsikan semua warga kampung, karena khawatir banjir serupa akan menerjang kampung kami. Kedua adik terkecilku ikut mengungsi lebih dulu dengan truk tentara, sedang Emak dan Cut Khasanah bermaksud mengemasi serta menyelamatkan barang-barang yang diperlukan.

Namun, persis pukul delapan pagi ketika telepon di rumah kosku berdering, tanah longsor menerjang rumah kami, mengubur Emak dan Cut Khasanah. Sebuah keajaiban menyelamatkan Emak, tapi Cut Khasanah tidak tertolong.

Satu anggota keluarga kami tewas lagi di Tanah Rencong. Tentu, kali ini aku tidak bisa menuding tantara sebagai penyebabnya. Tapi, siapa yang meneleponku pagi itu dan ledakan apa yang menghentikan suara di telepon itu? Mungkinkah itu suara Cut Khasanah? Dan, mungkinkah itu ledakan bom rakitan yang tersimpan di rumahku? Sampai aku kembali lagi ke Jakarta, sampai hari ini, aku tidak pernah tahu!

Kaliwungu, 17 Nov. 2001

Leher

Sejak membeli pesawat tivi, keluarga Barjo terserang penyakit aneh. Leher mereka seperti terganjal besi yang menegang dari pangkal tulang tengkorak sampai ke pangkal dada. Mereka terpaksa selalu mendongakkan kepala ke atas. Kepala mereka tidak bisa lagi ditundukkan ke bawah, ke depan, ke kanan, dan ke kiri. Mereka hanya bisa diam atau menggeleng sambil tetap mendongak ke langit.

“Ini gara-gara Bapak memasang tivi di atap rumah,” kata Surti, putrinya, sambil terbatuk-batuk sehabis menuangkan minuman ke mulutnya.

“Lalu harus di pasang di mana?” sahut Pak Barjo di bawah kepulan asap rokoknya dengan mata terpejam-pejam karena pegal. ”Dulu ketika akan kuletakkan di ruang tamu, kalian menolak. Katanya, belajar kalian terganggu. Lalu ketika akan kutaruh di ruang tengah, kalian juga protes. Katanya, mengganggu tidur. Lantas di mana? Rumah kita kan Cuma terdiri tiga ruangan ini,” sambungnya.

“Tapi, ya jangan di atap, Pak. Masa tiap hari kita harus mendongak ke atas. Ini akibatnya. Kepala kita tidak bisa dikembalikan seperti semula. Mendongak ke atas terus. Ini lebih mengganggu belajar saya, Pak. Bahkan saya tidak dapat lagi belajar dengan baik, karena tangan saya tidak tahan harus secara terus-menerus mengangkat buku ke atas dan menghadapkannya ke bawah untuk dapat saya baca,” lanjut Surti sambil menuang lagi teh hangat ke mulutnya. Akan tetapi, karena kurang hati-hati, teh itu tertuang semua sehingga mbludak masuk ke hidungnya. Surti terbatuk-batuk keras, lalu berdiri dan membungkukkan tubuhnya agar mulutnya bisa menghadap ke bawah dan teh itu tumpah ke lantai.

Sejak sebulan yang lalu Surti memang tidak bisa lagi melihat ke bawah, apalagi melihat kakinya sendiri. Ini juga dialami Sutris, kakaknya. Sehingga, hampir setiap hari dia terbalik memasang sepatu atau sandal di kakinya. Bahkan, dia sering salah pasang. Kaki kiri memakai sandal merah, tetapi kaki kanan memakai sandal hijau. Repotnya lagi, kakinya tidak bisa lagi merasakan mana sandal mana sepatu. Sehingga pernah suatu hari teman-teman sekelasnya tertawa sampai terkencing-kencing gara-gara dia memakai sandal jepit dan sepatu secara bersama. Kaki kiri memakai sandal jepit, kaki kanan memakai sepatu.

***

Semula teman-teman Sutris dan Surti heran, kenapa tiba-tiba mereka selalu bergaya seperti Batara Narada, selalu mendongak ke atas. Ada yang menganggap mereka telah berubah menjadi congkak hanya karena ayah mereka telah membeli tv. Ada pula yang menduga, mereka terkena cultural shock gara-gara televisi. Baru setelah Surti dan Sutris mengajak mereka berkunjung ke rumahnya dan menceritakan apa yang sebenarnya telah terjadi, mereka paham bahwa keluarga Pak Barjo sedang terserang penyakit leher yang berat dan sulit disembuhkan.

Perlakuan yang tidak kalah menyedihkan dialami Pak Barjo di lingkungan kantornya dan di dalam bus kota setiap akan berangkat ke kantor. Karena bus sering penuh, dia sering tidak bisa membungkukkan badannya untuk melihat ke depan dari dalam bus. Sehingga dia sering tidak tahu kalau bus yang ditumpangi telah jauh melewati kantornya, sehingga dia harus naik bus lagi berbalik arah menuju kantornya. Bahkan, dia sering kebablasan sampai ke terminal. Akibatnya, selain pengeluaran transportasinya naik tajam, dia juga amat sering terlambat masuk kantor.

Sering pula Pak Barjo tanpa sengaja duduk di tempat duduk bus kota yang sudah ada penumpangnya, sehingga harus menerima dampratan yang menyakitkan. Bahkan, dia pernah dihajar seorang lelaki brewok gara-gara menduduki pangkuan istri lelaki itu tanpa sengaja. Ia langsung turun dari bus walau masih jauh dari kantornya. Akan tetapi, karena tergesa-gesa, begitu turun dari bus dia terjerembab masuk selokan.

Banyak pula komentar miring dari teman-teman sekantornya. Ada yang meledek bahwa Pak Barjo terkena kutukan Tuhan karena terlalu sering menjilat atasannya, ada yang menyindir sebagai korban kecongkakannya sendiri, ada pula yang menilai sebagai korban ambisinya yang berlebihan sehingga tidak bisa lagi melihat ke bawah.

“Mana mungkin saya punya ambisi menjadi direktur, wong ijasah saya saja cuma SD,” kata Pak Barjo membela diri. “Saya dan keluarga saya benar-benar terkena penyakit leher yang aneh ini,” tambahnya.

Karena merasa kasihan, teman-teman Pak Barjo pernah membawanya ke ’bengkel manusia’ tempat praktik seorang dukun ahli tulang dan syaraf yang juga memiliki ilmu debus. Mula-mula leher barjo dikenteng dan kepalanya diluruskan. Akan tetapi, begitu tangan sang dukun dilepaskan, kepala itu tetap saja membandel dan kembali mendongak ke atas. Walau hal ini berulang kali dilakukan, selalu gagal. Saking jengkelnya, dia melepas kepala Barjo dan menyambung kembali sambil meluruskannya. Namun, kepala itu tetap saja membandel dan kembali mendongak ke atas.

Barjo kemudian berobat kepada seorang dokter bersama anak dan istrinya. Dokter itu mengatakan bahwa mereka tidak sakit apa-apa. “Ini hanya soal kebiasaan, Pak. Hanya Bapak sendiri yang bisa mengobatinya dengan cara melawan kebiasaan itu,” kata dokter.

“Kebiasaan bagaimana, Pak Dokter? Berani sumpah, sejak kecil saya tidak punya kebiasaan mendongak ke langit. Apalagi sampai menyuruh anak dan istri saya mengikuti kebiasaan buruk ini. Sejak tiga bulan yang lalu kami memang terpaksa nonton tivi tiap hari dengan mendongakkan kepala, karena tivi kami ditempatkan di atap rumah. Seminggu kemudian tiba-tiba leher kami seperti diganjal besi panjang. Kami tidak bisa lagi menganggukkan kepala. Kepala kami terus mendongak ke atas,” cerita Pak Barjo.

“Nah, pasti tivi itu menjadi sumber penyebabnya. Sebaiknya dipindahkan saja, Pak. Jangan ditaruh di atas,” saran dokter.

Sebelum memiliki tivi, keluarga Barjo memang normal-normal saja. Setidaknya, posisi kepala dan leher mereka. Mereka juga bukan tergolong keluarga yang congkak, karena memang tidak memiliki sesuatupun yang bisa dicongkakkan. Mereka tergolong keluarga miskin, keluarga pegawai rendah yang hanya menempati rumah kontrakan, yang hanya terdiri dari tiga petak kecil. Karena itulah, setelah membeli pesawat tivi hitam putih 12 inci, mereka kerepotan untuk menempatkannya. Petak paling belakang sudah dipergunakan sebagai kamar tidur bersama istrinya, petak tengah untuk tidur kedua anaknya, sedang petak paling depan untuk ruang tamu sekaligus ruang belajar kedua anaknya.

Ketiga petak kamar berukuran masing-masing 2x2 meter persegi itu pun sudah penuh berbagai barang. Teras belakang sudah dimanfaatkan untuk dapur darurat bersama tetangga belakang. Sedang kanan kiri rumahnya berhimpitan dengan rumah lain. Untuk mandi dan buang air, mereka memanfaatkan kamar mandi umum. Mereka memang tinggal di perkampungan yang kumuh dan sangat padat. Ruang yang masih agak kosong barangkali hanya teras depan yang berukuran sekitar 1x2 meter persegi. Namun, untuk menempatkan tivi di teras depan, dia takut kalau dianggap pamer oleh para tetangganya yang rata-rata bermulut usil. Akhirnya, Pak Barjo terpaksa menempatkan tivi itu di atap rumah dengan mengikatnya dan menghadapkan layar kacanya ke bawah. Tapi, akibatnya cukup fatal. Seluruh keluarganya terserang penyakit leher yang aneh itu.

Bu Barjo barangkali yang bernasib paling buruk. Setiap pergi ke pasar hampir selalu dimaki dan diajak berkelahi dengan bakul-bakul pasar atau pengunjung lain, karena hampir selalu menabrak orang yang berpapasan dengannya. Suatu hari ia bahkan pernah menabrak bakul dawet sampai dawetnya tumpah ruah di tengah pasar. Bu Barjo sendiri terjerembab di atas tumpahan dawet itu, bertindihan dengan bakul dawet.

Bu Barjo akhirnya menghindari kekonyolan-kekonyolan di pasar. Ia cukup berbelanja di warung tetangganya untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Teman-teman sekolah Sutris dan Surti akhirnya juga bisa memahami keanehan yang menimpa mereka, begitu juga teman-teman kerja Pak Barjo. Bahkan, kru bus kota yang menjadi langganannya dan semua penumpang yang mengenalnya pun mulai memahami kelainan yang dideritanya. Mereka malah sering membantu Pak Barjo mencarikan tempat duduk yang kosong, menolongnya ketika naik dan turun dari bus, serta memberitahunya begitu bus yang ditumpanginya sampai di dekat kantornya.

Anehnya, yang tidak mau memahami kelainan yang diderita keluarga Barjo justru para tetangga mereka. Hampir setiap hari mereka terlibat konflik serius dengan tetangga sendiri. Mereka juga selalu menjadi bahan pembicaraan yang nadanya selalu buruk. Karena itulah, justru di kampung sendiri mereka merasa seperti hidup di neraka.

“Mereka kan cuma pura-pura saja tidak bisa menunduk. Masa hanya gara-gara nonton tivi bisa begitu,” Yu Tarmi membuka diskusi tentang keluarga Barjo di warung belanja Bu Parmin.

“Barangkali hanya untuk menarik perhatian saja, Yu, agar kita tahu bahwa si Barjo itu telah membeli tivi,” sahut Mbok Kasmonah.

“Bukan barangkali lagi, Yu. Memang iya!” Bu Parmin ikut-ikutan menimpali. “Coba saja bayangkan, Yu. Sudah berlagak mendongak begitu, masih suka nabrak-nabrak orang kalau berjalan. Kemarin saya hampir masuk selokan di depan itu gara-gara ditabrak Yu Barjo. Untung saja ada Dik Siyem yang cepat-cepat memegang tangan saya,” sambungnya sambil menunjuk selokan di tepi gang masuk ke warungnya.

“Itu masih lumayan, Yu. Kepala saya dua hari yang lalu malah tersodok dengkulnya ketika saya sedang membungkuk membetulkan sandal jepit saya yang lepas talinya. Hampir saja saya tampar mukanya. Untung dia cepat-cepat merengek minta maaf,” cerita Mbok Kasmonah berapi-api.

“Anak saya yang kecil tadi pagi juga menjadi korban tingkah si Barjo itu. Kakinya diinjak sampai menangis menjerit-jerit kesakitan. Coba bayangkan, Yu. Anak sekecil itu diinjak kakinya oleh orang sebesar Barjo. Sepatunya banyak pakunya lagi. Kaki anak saya sampai berdarah,” cerita Bu Parmi, tidak kalah emosionalnya. “Hampir saja Bapaknya anak-anak tadi berkelahi dengan si Barjo itu. Untung saja Pak RT segera datang melerai. Kalau tidak, mungkin leher si Barjo sudah dipuntir sama bapaknya anak-anak biar putus sekalian,” tambahnya sambil menggerakkan tangan menirukan seolah suaminya benar-benar memuntir leher Pak Barjo.

“Wah, payah, ya, punya tetangga seperti itu. Hampir tiap hari bikin perkara.”

“Bagaimana kalau kita usul saja sama Pak RT agar si Barjo dan keluarganya disuruh pindah ke kampung lain? Mereka di sini toh hanya kontrak. Saya dengar masa kontrak rumahnya juga hampir habis.”

“Saya setuju itu.”

“Kalau Pak RT tidak mau, kita usir saja ramai-ramai!”

“Saya setuju!”

“Saya juga setuju!”

Ketika suhu pembicaraan di warung Bu Parmin semakin memanas, tiba-tiba terdengar jeritan anak kecil, disusul teriakan minta tolong … “Tolong! Tolong! Leher anak saya diinjak Pak Barjo! Tolong! Anak saya mau dibunuh! Tolong!”

Diskusi di warung Bu Parmin pun bubar. Hampir seluruh warga kampung menghambur ke arah datangnya suara itu. Tampak Pak Barjo di tepi jalan sedang membopong anak kecil sambil duduk di tanah. Tangis anak itu telah berhenti. Tubuhnya terkulai, pingsan.

Melihat orang-orang menghambur ke arahnya, Pak Barjo panik. “Maaf, maaf, saya tidak sengaja. Tadi anak ini jatuh terpeleset dan secara tidak sengaja saya menginjaknya,” kata Pak Barjo pada ibu anak itu juga kepada orang-orang yang berdiri mengelilinginya.

Ibu anak itu tidak menggubris kata-kata Pak Barjo. Ia merebut anaknya. Tiba-tiba anak itu siuman. Tangisnya meledak lagi. Kemarahan ibu itu tidak terbendung. Ia mencopot sandal plastiknya lalu memukulkannya ke kepala Pak Barjo. Ibu-ibu yang lain terpancing dengan kemarahan itu. Mereka menggebuki Pak Barjo beramai-ramai. Pak Barjo bangkit dan lari menuju rumahnya. Orang-orang pun terus memburunya.

“Ampun! Ampun! Jangan bunuh saya!” teriak Pak Barjo.

“Ayo! Hajar saja!”

“Ampun! Ampun!”

“Injak-injak saja lehernya biar lurus!”

“Aduh! Tolong!”

“Itu tivinya! Hancurkan saja sekalian!”

Orang-orang kampung itu semakin kalap. Tivi 12 inci yang ditempatkan di atap rumah kecil itu ikut menjadi sasaran. Mereka merontokkan tivi itu dan menghancurkannya. Bu Barjo dan kedua anaknya juga ikut menjadi korban. Untung polisi segera datang. Pak Barjo, Bu Barjo, Sutris dan Surti segera dilarikan ke rumah sakit. Semua orang yang terlibat ‘main hakim sendiri’ itu diperiksa polisi. Lima orang ditahan dengan sangkaan menjadi penyulut peristiwa penganiayaan itu dan dianggap mengobarkan kebencian orang kampung terhadap keluarga Barjo yang malang.

Anehnya, begitu pulang dari rumah sakit, leher mereka kembali normal. Tidak jelas penyebabnya, apakah karena telah diinjak-injak orang kampung, atau karena pesawat tivi penyebab penyakit leher itu sudah tidak ada lagi.

Yogyakarta, Maret 1991

* Cerpen ini memenangkan Suara Merdeka Awards 1992.

Mardok

Profesor Mardok kaget. Ketika bangun tidur ia tidak punya kepala lagi. Tangan kanannya meraba lehernya. Leher itu putus. Kepala botaknya lenyap. Ia lebih kaget lagi ketika menyadari dirinya tidak mati walau tanpa kepala lagi. Namun, ia lupa, ketika akan tidur masih memakai kepala atau tidak.

Profesor ahli bioteknologi itu bermaksud mencari kepalanya dengan matanya, barangkali jatuh ke kolong ranjang. Tapi, dia tidak bisa melihat apa-apa lagi. Ia bermaksud memanggil istrinya, tetapi suaranya hanya berhenti di tenggorokan saja. Dengan kedua tangannya dia lantas meraba-raba seluruh sudut kamarnya, tetapi ia tidak menemukan apa-apa.

Tubuh tanpa kepala itu kemudian berjalan ke luar kamar dengan tangan meraba-raba ke depan. Pemandangan aneh ini mengagetkan seisi rumah. Mereka mengira ada hantu tanpa kepala. Sambil menjerit, “Hantuu!” dengan mata terbelalak dan suara gemetar ketakutan, Bu Mardok berlari mundur menuju pintu ke luar. Akan tetapi sial, kaki kanannya menyangkut kaki kursi sehingga dia terjengkang ke lantai. Nasib sial juga dialami Tugiyem, pembantu Bu Mardok. Begitu muncul di ruang tengah dari pintu dapur dia langsung pingsan saking takutnya melihat tubuh tanpa kepala itu.

Pak Mardok terus melangkah mendekati Bu Mardok. Dengan tangannya dia memberi isyarat agar Bu Mardok tidak takut. Akan tetapi, istrinya malah semakin ketakutan. Ia bangkit dan berlari cepat keluar. Akan tetapi, sial lagi, ia menabrak kedua anaknya yang sedang bermain-main di beranda rumahnya. Ketiganya terjerembab ke semak-semak tanaman bunga.

Merasa orang-orang yang didekatinya ketakutan, Profesor Mardok akhirnya membelokkan langkah ke kamar kerjanya. Istrinya berlari lagi sambil menyeret kedua anaknya ke jalan kampung yang sudah mulai ramai. Beberapa tetangga yang melihat ribut-ribut di pagi hari itu segera berdatangan.

“Ada apa, Bu?” tanya salah seorang tetangganya.

“Ada … ada hantu tanpa kepala di rumah saya,” jawab Bu Mardok.

“Pagi-pagi begini ada hantu?”

“Ya, saya lihat sendiri. Hantu itu malah mengejar saya.”

“Jangan-jangan orang iseng.”

“Jangan-jangan malah maling!”

“Iya, ya.”

“Coba saya lihat.”

“Saya juga mau lihat.”

“Saya juga.”

Mereka pun bersama-sama menuju rumah Profesor Mardok. Sampai di depan pintu mereka sangat terkejut. Sosok tanpa kepala itu sudah berdiri di pintu sambil merentangkan selembar kertas karton bertuliskan “Jangan takut. Aku bukan hantu. Aku Pak Mardok. Kepalaku hilang. Tolong carikan!”

Mereka terpana beberapa saat melihat pemandangan aneh itu. Bu Mardok mengucak-kucak matanya, mencoba meyakinkan apa yang dilihatnya. “Masak, kepala bisa hilang?” gumamnya.

“Itu Bapak, Bu,” kata salah seorang anak Bu Mardok.

“Kau yakin, dia Bapak?” tanya Bu Mardok.

“Yakin, Bu. Lihat kaos dan celananya. Itu yang dipakai Bapak ketika akan tidur tadi malam.

“Ya ya. Cincin yang dipakai juga cincin Bapak. Benarkah kau Bapak?”

Sosok tanpa kepala itu menganggukkan tubuhnya seolah mengiyakan pertanyaan Bu Mardok. Namun, tiba-tiba tubuh tanpa kepala itu roboh di depan mereka. Semuanya terkejut.

“Bapaaaak!” jerit Bu Mardok sambil menubruk tubuh suaminya. “Kenapa Bapak jadi begini?”

Kedua anaknya juga menjerit dan menyusul menubruk tubuh sang profesor. Kemudian mereka menggotong tubuh itu serta membaringkannya di atas dipan di kamar kerja Profesor Mardok. Beberapa saat kemudian tubuh itu bangun, turun dari dipan, melangkah sambil meraba ke meja kerjanya dan mengambil kertas serta spidol, lantas menuliskan sesuatu di atas kertas itu: “Tolong kepalaku segera dicarikan. Kepalaku harus ditemukan dan dipasang hari ini juga. Jika tidak aku bisa mati!”

Kertas itu langsung disodorkan kepada istrinya. Dengan tersengguk-sengguk Bu Mardok membacanya. Yang lain berebutan ikut membaca.

“Lho! Kepalanya hilang kok masih hidup, ya?” komentar seorang tetangganya.

“Pasti punya ilmu armagedon,” komentar yang lain.

“Ah, tidak. Pasti ilmu leak. Ia kan pernah berguru di Bali.”

“Ilmu leak bukan seperti gitu. Ia pasti menggunakan ilmu debus. Bukankah dia kelahiran Banten.”

Mereka makin terheran-heran. Dalam keadaan tanpa kepala, Pak Mardok masih segar bugar. Juga tidak ada darah yang mengalir dari lehernya yang putus. Potongan leher itu cuma tampak agak kemerahan.

“Tolong carikan kepala Bapak!” teriak Bu Mardok tiba-tiba setengah histeris.

Kerumunan orang-orang di sekeliling Bu Mardok langsung bubar. Mereka pergi ke berbagai penjuru kampung untuk ikut mencari kepala professor itu. Semua sudut dan kolong di rumah Bu Mardok juga mereka periksa. Mereka juga memeriksa kandang kambing, kandang sapi, kandang ayam, kandang kerbau sampai kandang bebek. Akan tetapi tidak ditemukan apa-apa. Karena itu, salah seorang tetangga Bu Mardok segera menghubungi polisi untuk meminta bantuan.

Beberapa petugas polisi segera tiba di rumah Profesor Mardok. Mereka bingung ketika akan memeriksa ilmuwan yang terkenal dengan penemuan-penemuannya yang kontroversial di bidang bioteknologi itu. Polisi bingung bagaimana harus mengorek keterangan darinya dan bagaimana harus menanyakannya karena professor itu sudah tidak punya telinga dan mulut lagi. Pancainderanya sudah lenyap bersama kepalanya.

Polisi ingat penemuan kontroversial professor itu. Dengan teknik bioteknologi yang dipadu dengan ilmu pijat syaraf, dia mampu memindahkan fungsi otak ke hati. Dengan penemuannya itu makhluk hidup yang terpenggal kepalanya masih bisa bertahan hidup sampai kepalanya ditemukan dan disambung lagi. Hasil penemuannya itu sekaligus mampu mengendalikan aliran darah dan syaraf, sehingga rasa sakit bisa hilang dan darah tidak keluar dari bagian tubuh yang terpenggal. Sementara orang di media massa menyebut penemuan itu sebagai hasil perkawinan yang paling kontroversial antara ilmu kedokteran dan ilmu debus. Namun, sejauh ini penemuan itu baru berhasil dicobakan pada tikus dan monyet.

“Apakah Pak Mardok masih bisa mendengar, Bu?” tanya polisi pada Bu Mardok.

“Saya kurang yakin, Pak. Namun, tadi ketika saya tanya dia bisa bereaksi,” jawab Bu Mardok.

“Menurut kesaksian Ibu sendiri bagaimana?”

“Ya, seperti yang saya ceritakan tadi. Bapak keluar dari kamar sudah tanpa kepala.”

Polisi itu mendekati Profesor Mardok untuk mencoba menanyakannya. Namun tiba-tiba professor itu menyodorkan secarik kertas berisi tulisan dengan spidol hitam berbunyi, “Aku bisa mendengar suara kalian. Aku tidak ingat kapan kepalaku hilang dan dicuri oleh siapa. Aku minta tolong agar segera dicarikan. Jika dalam waktu 24 jam kepalaku belum dipasang, aku bisa mati.”

Kasus hilangnya kepala Profesor Mardok segera menggemparkan hampir seluruh warga kota. Bahkan, Walikota menganggap kasus tersebut sebagai kasus besar dan penting untuk segera diselesaikan mengingat hasil penemuannya yang luar biasa dan belum diwariskan kepada siapa pun. Walikota sangat berharap, keahlian professor tersebut bisa ikut mengatasi korban-korban kecelakaan yang serius dan makin sering terjadi di kotanya. Puluhan anggota polisi pagi itu pun dikerahkan untuk mencari kepala professor botak itu. Akan tetapi, sampai pukul 12 siang polisi belum berhasil menemukannya.

“Saya yakin kepala itu dicuri oleh suatu sindikat perdagangan kepala yang sudah lama mengincarnya. Seingat saya sudah tiga kali Profesor Mardok luput dari percobaan pembunuhan dan penculikan. Sudah sebulan kunci rahasia penemuannya hilang dicuri orang. Dengan formula rahasia itu orang dengan gampang bisa memasang kepala professor di tubuh orang lain, bahkan ditubuh binatang sekalipun tanpa kehilangan pengetahuan dan kecerdasannya,” kata Dokter Rusmin, kepala proyek penelitian yang dilakukan oleh Profesor Mardok, kepada polisi.

“Lantas motif pencurian itu sendiri kira-kira apa, ya?” tanya polisi.

“Itulah yang masih perlu kita selidiki. Namun, sebelum itu tubuh Profesor Mardok harus cepat-cepat diselamatkan dulu. Jika tidak, dia bisa mati.”

“Bagaimana caranya?”

“Kita bawa saja ke kamar bedah rumah sakit terdekat. Kita transplantasikan dulu kepala sementara pada lehernya. Mudah-mudahan ada kepala yang nganggur.”

Tubuh tanpa kepala Profesor Mardok akhirnya dilarikan ke rumah sakit. Para petugas medis dan polisi segera sibuk mencarikan kepala sementara bagi tubuh professor itu. Sementara itu, pencarian kepala aslinya yang hilang terus digencarkan. Akan tetapi, sampai sore mereka belum berhasil mendapatkan kepala yang cocok bagi professor. Kepala professor sendiri juga belum berhasil ditemukan. Stok kepala tua di bank organ tubuh manusia rumah sakit itu habis. Yang tinggal hanya kepala seorang gadis kecil korban kecelakaan.

“Aduh, bagaimana ini Pak Rusmin? Nasib Bapak bagaimana?” kata Bu Mardok resah.

“Sebaiknya bagaimana, Dokter? Apa tidak ada alternatif lain? Apa tubuh Pak Mardok tidak bisa diawetkan lagi?” tanya Pak Rusmin pada dokter bedah yang menangani professor itu.

“Wah, kami tidak berani menjamin, Pak. Kami selama ini hanya mengawetkan organ-organ tubuh saja, sepotong-sepotong. Kami tidak pernah mengawetkan tubuh tanpa kepala seutuhnya. Apalagi yang masih bernyawa. Kasus ini baru pertama kali terjadi. Jalan terbaik saya kira dipasang saja kepala seadanya. Kepala anak gadis itu atau kita carikan kepala monyet,” kata dokter itu.

“Jangan! Masak kepala Bapak mau diganti kepala gadis, apalagi kepala monyet. Saya sangat tidak setuju!” kata Bu Mardok.

“Ini darurat, Bu. Lagi pula untuk sementara. Jika kepalanya sudah ditemukan bisa diganti,” kata Pak Rusmin.

“Kalau tidak ketemu bagaimana?” tanya Bu Mardok.

“Itulah masalahnya. Ibu harus merelakan Pak Mardok berganti kepala,” kata Pak Rusmin.

Dokter Rusmin kemudian menarik lengan dokter bedah itu ke ruang bedah. Mereka melakukan perundingan empat mata. Beberapa saat kemudian mereka muncul kembali dan mendekati Bu Mardok.

“Usia tubuh Pak Mardok tinggal satu jam, Bu,” kata dokter itu pada Bu Mardok. “Jika tubuhnya tidak diselamatkan dengan kepala orang lain, Beliau bisa mati. Kami sudah memutuskan untuk memasang kepala gadis itu pada tubuhnya. Kami harap Ibu setuju!”

Bu Mardok diam saja. Dokter itu masuk kembali ke kamar bedah. Tiba-tiba datang seorang tetangga Bu Mardok, seorang janda muda. Ia berjalan tergesa-gesa sambil menjinjing sebuah kotak kardus cukup besar.

“Maaf, Bu Mardok. Ini kepala Pak Mardok. Tadi malam tertinggal di kamar saya,” kata janda itu. “Maaf, Bu, akhir-akhir ini dia memang sering tidur di kamar saya.”

Bu Mardok terkejut, bukan kerena telah ditemukannya kepala itu, tetapi karena berita memalukan yang dibawa janda itu. Dengan nada marah, akhirnya dia menyuruh janda itu untuk membawa kembali kepala itu ke kamarnya. Ia memutuskan untuk mengganti kepala Pak Mardok, suaminya, dengan kepala monyet saja.

Pintu

Cerpen Ahmadun Yosi Herfanda

ARYATI mendandani tubuhnya secara istimewa. Angin berdesir masuk lewat jendela mempermainkan rambutnya. Bulan tertawa di atas ubun-ubunnya. Ia kenakan rok panjang sampai menutup ujung kedua kakinya. Ia tutup rambutnya dengan jilbab yang baru ia beli di kaki lima. Aroma bunga cempaka menebar di sekujur tubuhnya. ''Aku ingin tuhan mengawiniku sekarang juga," katanya.

Aryati mengolesi bibirnya dengan lipstik merah delima di depan kaca, lantas membalikkan tubuhnya dan melangkah gairah menuju masjid. "Kapan lagi wanita bisa masuk masjid sendirian malam-malam kalau tidak sekarang juga. Tuhan toh bukan hanya milik lelaki. Tuhan juga milik wanita. Juga milik pelacur seperti aku," katanya pada angin, tembok bisu dan pohon-pohon di pinggir jalan.

Bulan terus tertawa di ubun-ubunnya, cekakaan, seperti Tuhan da-lam bayangannya yang terus tertawa cekakaan sejak bapak tirinya gagal memperkosanya, sebulan setelah ibunya meninggal dunia karena kolera. "Kamu jangan sok suci! Kamu anak jadah, tahu?" bentak bapaknya. Sebu-ah bentakan yang kemudian seperti terekam oleh tape recorder di dalam kepalanya dan diputar berulang-ulang sepanjang hidupnya, bahkan tiap detik diucapkan oleh benda-benda di sekelilingnya: tembok retak, jam din-ding mati, kalender robek, korden jendela, sol sepatu, sprei, bantal, kursi, tatapan mata anjing, kucing, orang-orang dan pohon-pohonan. Sebuah bentakan yang dengan kekuatan aneh menyeretnya ke kamar-kamar hotel, panti pijat dan kelab malam kota Jakarta.

Bulan terus tertawa di ubun-ubunnya. Angin makin keras menerjang tubuhnya. Aryati tidak peduli. Ia telah bertekad bulat menemui Tuhan di masjid malam itu juga setelah berkali-kali gagal menemui-Nya di kamarnya sendiri. "Aku sungguh rindu pada-Mu. Tapi kenapa Engkau selalu menolakku. Kenapa Engkau buat seluruh tubuhku menolak bersujud pada-Mu," keluh Aryati sambil mengutuk kentut kecil yang membuyarkan sembahyangnya.

Sudah berhari-hari Aryati berusaha keras menundukkan seluruh dirinya, jiwa dan raganya, sejak suatu kekuatan aneh tiba-tiba membang-kitkan kerinduannya yang dalam pada Sang Maha Gaib yang tiba-tiba -- tanpa ia ketahui secara persis apa sebabnya -- hidup dalam dirinya. Tapi selalu ada bagian dari dirinya yang menolak untuk menyerah total pada-Nya. Diambilnya air wudlu, diangkatnya kedua telapak tangannya dalam takbiratul ikhram. Tapi tak sepatah katapun dari niat salatnya bergetar dalam hatinya. Ushalli-nya seperti hanya tergetar di kedua katup bibirnya.

Aryati mengulang lagi takbirnya sampai lima kali, kemudian ia baca doa iftitah seperti diajarkan guru mengajinya ketika kecil di kampungnya. Tapi hatinya tetap tidak mau diajak menggetarkan doa itu. Ia lantas ragu-ragu, termangu di tengah doa iftitah: meneruskan sembahyang-nya atau membatalkannya. Tiba-tiba kedua tangannya yang sudah bersedekap terkulai lurus dan terjuntai ke bawah seperti pelepah daun pisang yang patah pada pangkalnya. Ia pun membatalkan salatnya, mengulang takbiratul ikhram sampai berkali-kali. Kemudian dengan suara keras demi melawan rasa was-was hatinya ia mencoba mengucapkan doa iftitah lagi: Allahu akbar kabiiro walhamdulillaahi katsiiro….

Tapi, tiba-tiba lagu dangdut menerobos masuk dari kamar tetangganya, menyerbu kedua telinganya dan membanjiri kolam hatinya, yang ayo goyang yang… pinggul digoyang yang… Hati Aryati pun bergoyang, seluruh jerohannya bergoyang, tulang-tulangnya bergoyang, sumsum-sumsumnya bergoyang, otot-ototnya bergoyang, seluruh syarafnya bergo-yang. Aryati menari-nari di atas sajadahnya. Keringat mengucur di seluruh tubuhnya. Lagu-lagu pop dangdut terus mengalir, berganti rock dangdut yang lebih panas. Aryati pun terus menari….

Dan…. klik, tiba-tiba suara radio tetangganya mati. Aryati terpuruk kelelahan di atas lantai. "Ya, Allah, kenapa Engkau menolak sembahyangku? Harus bagaimana aku menyembah-Mu? Tak ada lagikah tempat bagi sujudku di hadapan-Mu. Aku memang pelacur. Seluruh tubuhku penuh dosa. Tapi apa aku tak boleh bertobat pada-Mu?" Aryati memelototi tembok kosong di depannya, kesal dan marah pada dirinya sendiri.

Aryati berwudlu lagi, sembahyang lagi, gagal lagi, berwudlu lagi, salat lagi, gagal lagi, sampai luluh lantak seluruh kekuatan jiwa dan ra-ganya, sampai tubuhnya lunglai menggelosor tertidur di lantai. Dan … tiba-tiba, entah dari mana, seorang lelaki berwajah hitam merengkuh tubuhnya yang tak berdaya, melepas mukenanya, menelanjanginya dan menjadikannya permainan birahinya.

Menjelang orgasme tiba-tiba tubuh Aryati meledak, pecah berkeping-keping, berserpih-serpih. Kepingan-kepingan dan serpihan-serpihannya menebar memenuhi seluruh sudut kamar: seluruh lantai, sajadah, kolong meja, kolong ranjang, kolong almari, seluruh dinding, di atas ranjang, jendela, meja, kursi, korden, kalender, radio, tape recorder, televisi, almari es, rak buku, kaos kaki, sandal jepit, lubang sepatu. Tiap kepingan dan serpihan menjelma menjadi dirinya yang lain, telanjang, bergumul dengan lelaki kekar berwajah hitam.

Nafas Aryati tiba-tiba sesak, ia menjerit, mendengus-dengus, menggeliat, berguling-guling, berontak dengan seluruh daya, dan "ngeooouuung!" seekor kucing jantan, yang memburu seekor cicak di atas dinding penyekat kamarnya, tiba-tiba terpelanting jatuh menimpa kepalanya. Aryati terkejut, mukenanya masih utuh menempel pada tubuhnya. Kucing pun lari, bersembunyi di kolong ranjang. "Ya, Allah, ampunilah hamba yang telah melumuri diri sendiri dengan segala kotoran dunia yang Engkau benci. Hamba kapok, ya Allah. Hamba bertobat pada-Mu, ya Allah.”

Dengan semangat baru Aryati berwudu lagi, mencoba bersembah-yang lagi dengan khusuk. Tapi gagal lagi. Berkali-kali, kentut kecil yang tak jelas sebabnya, terpompa dari perutnya. Ia mencoba lagi, gagal lagi, mencoba lagi, gagal lagi, sampai tiba-tiba wajah bapak tirinya, wajah laki-laki yang menyekap dan memperkosanya, wajah lelaki yang menyeretnya ke Kramat Tunggak, berganti-ganti muncul pada dinding di depannya, meruntuhkan seluruh konsentrasi jiwanya. "Ya ,Allah, barangkali kamar ini memang sudah penuh setan sehingga Kau tak mau hadir di sini, walau kusebut nama-Mu berjuta kali!" Aryati seperti melampiaskan kemarahan pada dirinya sendiri.

***

Aryati terus melangkah, tak peduli pada tukang-tukang becak lang-ganannya yang terkejut melihat keanehannya. Dalam hatinya kini tidak saja ia ingin menjumpai Tuhan di masjid untuk bertobat pada-Nya, tapi ia bertekad akan memohon pada Tuhan agar "mengawini"-nya saja. Dalam pikirannya, dalam keremukredamannya kini, tak ada lagi yang sanggup mencintainya kecuali Sang Maha Gaib yang tiba-tiba merebut seluruh rin-du-dendamnya. Ia akan memohon pada-Nya agar menjadikannya sebagai Maryam yang tanpa berhubungan seks dengan siapa pun bisa mengandung Isa. "Tuhan, tumbuhkanlah di rahimku seorang lelaki penyelamat dunia yang makin gila ini," katanya pada bulan yang terus tertawa di ubun-ubunnya.

Sampai di gerbang halaman masjid, Aryati terkejut, seorang Sat-pam mencegatnya. "Lho, masjid kok dijaga Satpam?" katanya pada diri-nya sendiri. Ia baru tahu, ada masjid yang dijaga Satpam. Sejak terdampar menjadi pelacur di kota ini ia memang tak pernah ke masjid. Ia hanya ingat, masjid di kampungnya dulu tidak pernah dijaga Satpam. Hanya ada seorang takmir yang merawat masjid dan tiap malam tidur di serambinya, yang tidak pernah menegur siapa pun yang keluar masuk masjid, siang atau malam, untuk sembahyang.

"Malam-malam begini, mau apa, Mbak?" tanya Satpam. Aryati tidak menjawab. Ia hanya melongo menatap Satpam itu.

"Lho, orang ke masjid ya mau sembahyang. Memangnya mau ma-ling," katanya dalam hati.

"Bawa KTP tidak? Mana KTP-nya?" tanya Satpam lagi.

"Lho, orang mau sembahyang kok ditanya KTP segala. Ya, tidak bawa."

"Oh, mau sembahyang, toh. Saya kira mau nginap di masjid."

''Memangnya masjidnya merangkap jadi hotel, ya?"

"Bukan begitu. Kami cuma menolong orang kampung yang kema-laman saja dan tidak punya duit untuk menginap di hotel. Lha, kalau mau menginap harus meninggalkan KTP di pos keamanan."

"Saya cuma mau sembahyang kok, Pak."

"Tapi pintu masjid sudah ditutup, Mbak. Hanya bisa sembahyang di serambi."

"Tidak apa-apa. Tuhan pasti mau membukakan pintu untukku."

''Aryati melangkahkan kakinya melewati halaman masjid yang sa-ngat luas seperti lapangan golf, berwudu di sudut kanan serambi masjid, melewati serambi yang berlantai mengkilap, menuju ke pintu utama masjid dan mencoba membukanya. Tapi pintu itu sudah dikunci rapat. "Tuhan, bukakan pintu untukku!" teriaknya.

Pintu tidak bergerak sedikitpun. Aryati mengetuk-ngetuknya berkali-kali dan mengoglek-oglek gagang gerendelnya. "Assalamu'alaikum. Tuhan, bukalah pintu. Aku rindu pada-Mu!" teriaknya.

Pintu tetap menutup diri dengan angkuhnya.

"Tuhan, apakah Kau tak mendengarku? Apakah Kau terkunci di dalam masjid? Ah, pasti Satpam itu yang mengunci-Mu di dalam masjid. Kurang ajar benar dia. Berani-beraninya dia memisahkan Engkau dari hamba-Mu yang setiap saat ingin berjumpa dengan-Mu," kata Aryati sambil memelototi pintu masjid yang tetap tertutup dengan kukuhnya.

Aryati mundur beberapa langkah. Dipandanginya pintu itu dari ujung atas sampai ujung bawah, dari tapi kanan sampai tepi kiri. Tiba-tiba ia ingat dongeng Alibaba yang pernah ia tonton di televisi. Ia pun meng-gosok-gosokkan telapak tangan kanannya ke telapak tangan kirinya. "Sesame … Sim Sallabiiim!" teriaknya tiba-tiba.

Ia ulang teriakannya sampai tiga kali. Tapi Sang Pintu tetap tertu-tup baginya. "Ya, Tuhan, kenapa Engkau juga menolakku di rumah-Mu yang megah ini. Apakah diriku terlalu kotor untuk berhadapan dengan Engkau? Aku yakin, soal membuka pintu amatlah sepele bagi-Mu. Tapi kenapa Engkau tak mau membukakannya untukku? Apakah Engkau tak mau menerima tobatku? Sia-sialah kerinduanku pada-Mu jika begitu!"

Aryati mengoglek-oglek lagi pintu tertutup itu. Satpam yang sese-kali mengawasinya dan samar-samar mendengar teriakannya mulai curiga pada tingkah lakunya. Aryati mundur lagi beberapa langkah. Ia merogoh saku roknya, mengambil lipatan kertas dan membukanya sambil bersim-puh di depan pintu. "Maafkan hamba, Tuhan. Barangkali Engkau suka mendengarkan aku membaca puisi. Bukankah sekarang orang-orang suka merayu-Mu dengan puisi, puisi religius, puisi sufistik, dan entah apa lagi, seperti pernah kubaca di koran itu. Tapi tolonglah bukakan pintu untukku. Aku sungguh rindu pada-Mu!"

Aryati pun membaca puisi, rupanya puisi Chairil Anwar, yang ia sobek dari sisa-sisa buku pelajaran sekolahnya:

Tuhanku

Dalam termangu

Aku masih menyebut nama-Mu

Biar susah sungguh

Mengingat Kau penuh seluruh

CayaMu panas suci

Tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Tuhanku

Aku hilang bentuk

Remuk

Tuhanku

Aku mengembara di negeri asing

Tuhanku

Di pintu-Mu aku mengetuk

Aku tak bisa berpaling

"Tuhaaan, bukalah pintu untukku!" Aryati berteriak lagi sambil bangkit dan mengoglek-oglek gagang pintu lagi. "Ya Tuhan, kenapa Engkau masih saja menolakku. Apa yang harus kulakukan agar Engkau mau menerimaku di rumah-Mu yang megah ini?!"

Pintu tetap menutup diri dengan angkuhnya. Tak bergeming sedi-kitpun. Aryati tiba-tiba merasa sangat lemas. Bulan terus terbahak-bahak di ubun-ubunnya. Seluruh tulang-belulangnya seperti dilolosi. Ia terpuruk lemas di depan pintu. Tiba-tiba tiap helai benang pakaian yang membung-kus tubuhnya dirasakannya berubah menjadi jarum-jarum panas yang menusuk-nusuk seluruh dirinya. Aryati menggeliat kesakitan. "Oh ya, pakaian ini!" Tiba-tiba ia seperti menemukan sesuatu yang di luar du-gaannya. "Pasti karena pakaian ini Engkau menolakku! Engkau pasti tak suka aku mengenakan pakaian yang kubeli dengan hasil pelacuran diri ini!"

Aryati tiba-tiba menarik lepas jilbabnya hingga seluruh helai ram-butnya yang hitam mengkilat, lurus dan panjang, tersentak ke atas ke-mudian jatuh berjuntaian di kedua pundak, bahu dan dahinya: mencip-takan pesona kecantikan yang aneh dan luar biasa. "Kalau Engkau tak suka pakaianku ini, baiklah, akan kulapas semua. Aku akan telanjang murni di hadapan-Mu!"

Dengan kekuatannya yang tiba-tiba bangkit kembali Aryati menyentakkan bagian dada roknya dengan kedua tangannya ke kanan dan ke kiri hingga terbelah sampai ke perutnya. Dengan kekuatan sama ia pun membelah bagian perut roknya, merobek kedua lengannya, kakinya dan semuanya. Biji-biji kancing baju berjatuhan ke lantai serambi masjid. Aryati benar-benar telanjang bulat di depan pintu utama masjid megah itu. "Tuhan, kini aku sudah benar-benar polos di depan-Mu! Bukalah pintu untukku!"

Pintu tetap tidak bergetar sedikitpun. Justru tubuh Aryati yang tiba-tiba bergetar hebat menahan perasaan dahsyat yang sulit dilukiskan. "Ke-napa Engkau masih menolakku?! Apakah juga karena tubuhku ini Engkau menolakku?!'' Tak ada jawaban dari siapapun, kecuali bulan yang terus terbahak-bahak diubun-ubunnya. Entah apa yang sedang dilakukan dua malaikat di pundak kanan dan pundak kirinya.

"Tuhan, bukaaa pintuuu!!!" Teriakan Aryati makin keras dan his-teris. Suaranya menghantam dinding-dinding masjid, meruntuhkan keheningan malam. Getaran tubuhnya pun makin menghebat. Dan tiba-tiba mata Aryati terbelalak: tangan-tangan hitam muncul dari ujung-ujung daun pintu, dari atap masjid, dari bawah lantai, dari sela-sela jendela dan dari segala sudut kegelapan, menjulur bersama-sama menarik tubuh Aryati ke segala penjuru.

Bersamaan dengan itu, Aryati, sambil menjerit-jerit keras, menca-kar-cakar tubuhnya sendiri sambil menari-nari aneh di atas robekan-robekan pakaiannya. "Akan kurobek-robek tubuhku agar tinggal jiwaku yang polos menghadap-Mu!" teriaknya.

Tarian aneh yang dahsyat terhidang beberapa saat persis di depan pintu utama masjid. Luar biasa! Tarian itu baru berakhir ketika tubuh Ar-yati benar-benar tercerai berai dan terpuruk lemas ke lantai, melepas jiwanya menembus Pintu.*

Jakarta, September 1993

*Cerpen ini pernah dimuat di Jurnal Kebudayaan Ulumul Qur an, Nomor 3, Vol. 5, tahun 1994.

Sebutir Kepala Dan Seekor Kucing

Sidang darurat yang dihadiri para seniman, sastrawan dan budayawan telah memutuskan agar semua peserta sidang menanggalkan kepala masing-masing. Masalahnya, bersidang memakai kepala menyebabkan persoalan yang diperdebatkan tidak kunjung menemukan titik terang, bahkan, semakin jauh dari titik pengambilan keputusan. Masing-masing bertahan pada pendirian yang kuat dengan argumentasi yang tidak terbantah.

Sidang semakin panas dan berbelit-belit. Keringat mengucur di dahi semua peserta. Padahal keputusan harus segera diambil dan disampaikan kepada kepala desa. Jika tidak, makam seorang penyair besar yang terlanjur dimitoskan akan segera dibongkar dan diganti dengan mayat seorang anggota keluarga kepala desa.

"Saudara-saudara, bagaimana kalau kita bersidang tanpa kepala saja?" usul ketua sidang jengkel. "Saya kira ini jalan satu-satunya yang terbaik, agar dapat segera mengambil keputusan. Waktu yang diberikan Pak Kades hanya tinggal satu jam."

"Maksud Saudara Ketua bagaimana?" tanya seorang penyair yang duduk di deretan paling depan dan paling ngotot mempertahankan kuburan penyair yang akan digusur itu.

"Ya, kita copot kepala kita masing-masing. Kita bersidang tanpa kepala," jawab ketua sidang sambil menjepit dan menggoyang-goyangkan kepalanya dengan kedua tangannya.

Peserta sidang kaget mendengar usul ketua yang aneh itu. Sebagian besar tidak paham, yang lain menganggapnya sebagai usul gila. Tapi, ada juga yang mengganggap itu sebagai usul yang sangat jenius dan kreatif.

"Wah itu usul edan, Saudara Ketua. Bagaimana mungkin? Kita ini bicara dengan mulut, mendengar dengan telinga, memandang dengan mata, berpikir dengan otak, dan semua itu terletak di sini! Di kepala!" Seorang kritikus sastra menyanggah usul sang ketua. Ia berbicara berapi-api sambil menunjuk ke kepalanya sendiri. "Bagaimana mungkin kita bersidang tanpa kepala? Tidak masuk akal!"

"Saudara keliru dalam memandang usul saya. Saudara terlalu terikat oleh sosok dan bentuk. Saudara tidak melihat hakikatnya. Yang saudara khawatirkan sesungguhnya hanya persoalan alat. Alat itu, kepala kita ini, bisa diganti yang lain," tangkis sang ketua.

"Coba terangkan, Saudara Ketua. Bagaimana kita mesti mendengar dan berbicara tanpa kepala serta berpikir tanpa kepala. Padahal, itu pekerjaan utama kita di sini!" kritikus itu belum bisa menerima maksud sang ketua.

"Itu mudah. Kita bicara tanpa mulut, mendengar tanpa telinga, memandang tanpa mata, berpikir tanpa kepala, dan akhirnya kita pasti akan dapat mengangguk tanpa kepala. Jelas, bukan! Jadi, marilah kita sekali-kali berlaku seolah kita tidak membutuhkan kepala kita lagi. Kasihan kepala kita, selalu dipaksa bekerja, tidak pernah punya kesempatan istirahat sedikitpun. Bahkan, dalam tidurpun kepala kita tetap bekerja menyusun mimpi-mimpi bagi kita."

Peserta sidang tercengang mendengar penjelasan ketua mereka. Bisik-bisik pun segera terdengar di antara mereka. "Edan. Ini betul-betul gagasan edan …. Wah, ketuane kumat sintinge … Wah mosok endas kon nyopot … Nek ngene carane gawat rek … Aku arep bali wae ah, timbang kelangan endas … Kalau gini caranya, gua mundur aja deh … nggak jadi panitia juga nggak apa … Kepala lu sendiri aja copot … Wah ya lucu, mosok endas mung siji kon nyopot …"

"Tapi itu usul jenius lho! Itu sangat kreatif!" tiba-tiba seseorang bersuara keras.

"Kreatif ndasmu!" balas yang lain.

"Bagaimana? Apakah Saudara-saudara masih merasa keberatan? Jangan takut. Tidak apa-apa. Kita harus segera mengambil keputusan. Waktu kita tinggal beberapa menit saja!" Ketua sidang berdiri dan menggebrak meja, membungkam gemeremang suara para peserta. "Kebulatan tekad kita untuk melepas kepala kita selama sidang berlangsung akan sangat membantu terwujudnya keputusan bersama yang bulat. Keputusan kita itu akan sangat menentukan nasib Penyair Besar yang kita puja itu. Oleh sebab itu, relakanlah kepala Saudara untuk dicopot sementara."

Peserta sidang ragu-ragu dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Mereka hanya saling memandang.

"Bagaimana, ini! Mengapa kalian hanya bengong saja!" Ketua sidang kembali menggebrak meja. Kali ini lebih keras. Dua spidol yang tergeletak di atas meja terpental ke lantai. "Waktu kita tinggal sedikit. Kita bubar saja, atau terus bersidang tanpa kepala?"

Peserta sidang tetap diam dan bengong.

"Kalau kalian belum percaya pada kata-kata saya, saya akan mulai dulu mencopot kepala saya!" Ketua sidang memegang kepala dengan kedua tangannya. Ia kemudian menjepitnya kuat-kuat, menggoyang-goyangkan, memuntir, menggoyang-goyangkan lagi dan menghentakkannya ke atas. Plas! Kepala sang ketua pun lepas dari lehernya dan diletakkannya di atas meja.

Peserta sidang tercengang-cengang melihat apa yang dilakukan sang ketua. Mereka hampir tidak berkedip menatap sebutir kepala di atas meja itu. Kepala itu tersenyum dan mengerdip-kerdipkan mata, mirip pertunjukan sihir di pasar malam rakyat. Seorang aktris teater yang duduk di deretan depan menjerit melihat kejadian itu. Ia hampir berlari ke luar melihat kepala tanpa tubuh itu nyengir dan mengerdipkan mata kanannya padanya.

"Nah, sekarang Saudara lihat sendiri. Saya bisa bicara dengan enak tanpa kepala." Suara parau tiba-tiba keluar dari tubuh tanpa kepala sang ketua.

Peserta sidang semakin tercengang.

"Sekarang giliran kalian melepas kepala masing-masing. Ayo bersama-sama!" tubuh tanpa kepala itu bersuara lagi lebih menggetarkan.

Bagai terkena pengaruh sihir, semua peserta sidang menjepit kepala masing-masing dengan telapak tangan. Mereka kemudian menggoyang-goyangkan, memuntir kuat-kuat dan menghentakkan kepala masing-masing ke atas. Plas! Secara bersamaan kepala mereka pun lepas. Secara bersamaan pula mereka meletakkan kepala masing-masing di atas meja. Kepala-kepala itu tersenyum, meringis, mengedip, dan saling melirik satu sama lain. Suara gemeremang pun muncul dari tubuh-tubuh tanpa kepala itu.

"Wah, ternyata enak ya, tanpa kepala … Ya, pusingnya hilang … Kalau kita tanpa kepala begini, kreatif nggak ya? … Nggak tauk! … Wah, rasanya enteng ya, ora nganggo endas. Beban pikiran hilang … Ya ya, nggak perlu mikir apa-apa …. Hiii, endasmu medeni kuwi, pringas-pringis kaya glundung pringis …. Ndasmu dewe kaya Cakil, ngono …. He endasku lucu ki, bisa melet-melet …. Ha, kepala gua bisa ketawa sendiri, lihat nih! …. Lho kepala gua kok benjol? …. Lha kepala saya botak tuh! …. Wah, nek ngguyu jebul untuku prongos …. Lha, hidungku kok jadi pesek…!

Tiba-tiba, tubuh si aktris berdiri sambil menenteng kepalanya. "Hore! Kepalaku paling hebat! Lihat, bisa menyanyi sendiri!" katanya sambil memperlihatkan kepalanya pada teman-temannya sambil berjalan kesana kemari.

"Wah, njijiki, Mbak. Digletakke wae!" komentar yang lain.

"Sak enake, wong endas-endasku dewe kok urusan!" jawab aktris itu sekenanya.

"Kepala saya mau saya gadaikan saja, ah. Enak kok tanpa kepala."

"Lho, jangan. Itu namanya komersialisasi kepala sendiri."

"Yo ben, toh."

"Wah, kepala kita mengganggu konsentrasi ya. Enaknya disimpan dulu."

"Usul saja sama ketua!"

"Saudara Ketua, bagaimana kalau kepala-kepala ini kita simpan saja dulu. Soalnya mengganggu konsentrasi!" usul seorang dramawan yang sejak tadi memain-mainkan kepalanya sendiri.

"Sebaiknya memang begitu. Kepala-kepala ini kita simpan dulu, agar kita bisa benar-benar bersidang tanpa kepala," jawab sang ketua.

"Bagaimana kalau kita taruh di bawah meja saja?"

"Hus, jangan! Apa kamu mau menginjak-injak kepalamu sendiri?"

"Kalau disimpan di lemari saja bagaimana?"

"Wah, jangan. Banyak kecoaknya."

"Lha mau ditaruh di mana?"

"Wah, ngletakke endas wae kok susah."

"Lho lho, kepalaku malah berjalan sendiri mencari tempat."

"Wah, kalian ini bagaimana? Menaruh kepala sendiri saja pada nggak bisa!" bentak sang ketua. "Sudah! Kita masukkan gudang saja, di belakang ada gudang kosong. Pasti aman."

Para peserta sidang itu pun beramai-ramai menenteng kepala masing-masing menuju gudang. Manusia-manusia tanpa kepala itu kemudian kembali ke tempat sidang.

Sang ketua membuka kembali sidang yang tertunda gara-gara urusan kepala. "Jadi singkatnya, kita diminta Pak Kepala Desa agar merelakan kuburan penyair besar itu untuk ditempati mayat keponakan Pak Kades. Kalian kan tahu, tanah pekuburan desa kita telah habis. Hanya itu satu-satunya cara agar Pak Kades bisa menguburkan keponakannya secara layak."

Tubuh-tubuh tanpa kepala itu mengangguk serentak. Entah karena setuju, atau karena tidak paham saja.

"Sekali lagi, perlu kalian ketahui. Waktu yang diberikan kepada kita untuk berembug hampir habis. Karena itu, kita tidak punya banyak waktu berdebat. Sekarang tegas saja, kalau setuju dengan penggusuran makam itu, katakan setuju. Kalau tidak, katakan tidak. Bagaimana!" lanjut sang ketua.

Tubuh-tubuh tanpa kepala itu kembali mengangguk serentak. Tidak jelas apa maksudnya.

Sang ketua bermaksud membuka pembicaraan kembali. Tangannya digerakkan ke atas. Tapi, tiba-tiba seekor kucing hitam melompat dari atas almari ke meja sang ketua. Kucing itu menggondol sebutir kepala. Entah kepala siapa. Semuanya terkejut. Suasana pun jadi ribut. Kucing itu dengan sigap melarikan kepala itu keluar ruang sidang.

"Ha! Kepala siapa itu digondol kucing?" teriak sang ketua.

"Jangan-jangan kepalaku!" penyair mengejar kucing itu.

"Itu pasti kepala si pelukis. Rambutnya gondrong."

"Ah, rambut penyair kita juga gondrong!"

"Cepat tangkap kucing itu!"

Tubuh-tubuh tanpa kepala itu pun berhamburan keluar ruang sidang, memburu sang kucing. Namun, kucing itu, entah kucing siapa, dengan sigap meloncat ke atas tembok pagar halaman, dan meloncat lagi ke atas atap rumah sebelah.

"Ayo kita kepung kucing itu!"

Tubuh-tubuh tanpa kepala itu menyebar, bermaksud mengepung kucing itu. Tapi, perumahan di kampung itu sangat padat dan berhimpitan. Mereka tidak dapat masuk lorong untuk mengepung sang kucing dari belakang rumah. Sementara itu, sang kucing dengan santai terus menggondol kepala itu dan meloncat dari atap rumah yang satu ke atap rumah berikutnya.

"Wah, mati aku. Itu kepalaku, sungguh!" teriak seorang penyair setengah histeris. "Ini gara-gara ketua sinting itu. Kepalaku satu-satunya disikat kucing. Bagaimana ini Saudara Ketua?!" Tubuh penyair tanpa kepala itu benar-benar marah. Kedua tangannya mengepal geram.

"Sudah. Jangan marah. Nanti diganti kepala boneka saja. Di toko banyak!" ledek seorang temannya.

"Ngomong seenaknya! Kutonjok kau!" Penyair itu benar-benar menonjok perut temannya.

"Sudah. Jangan berantem. Nanti dipesankan kepala robot saja. Pasti lebih kreatif," sang ketua melerai mereka.

"Jangan ngawur! Ini kecelakaan serius!" peyair itu makin berang.

"Sudah. Tenang dulu. Sekarang begini saja, sementara kau pakai kepalaku dulu. Nanti kalau kucing itu tertangkap, bisa ditukar lagi," usul sang ketua.

"Apa? Kepala botak gitu suruh makai!"

"Lho, daripada kamu nggak pakai kepala!"

"Ya, kita terima saja usul ketua. Ia sudah mau mengorbankan kepalanya untuk kamu. Kepala Pak Ketua lebih hebat. Siapa tahu kamu bisa jadi penyair besar."

"Ya, ya, sudah. Aku pakai kepalamu dulu. Tetapi awas, kalau tidak kreatif, kulempar kepalamu ke sungai!"

"Jangan-jangan kepala kita yang lain juga dimakan kucing!"

"Jangan-jangan kepalaku juga."

Tubuh-tubuh tanpa kepala itu kembali berlarian berserabutan masuk gudang. Mereka berebut mengambil kepala masing-masing. Suasana menjadi ribut "Ngawur! Kepalaku dipakai …. Hus. Ini kepalaku! …. Lho, kamu keliru pakai kepala perempuan! …. Sialan! Endasku ngendi?!…. Minggir! Kepalaku jangan diinjak! …. E, ngawur aja, nginjak-injak kepala orang seenaknya…. Wah, ndasku ketendang-tendang nganti untune protol …. Lho, kamu salah pakai. Masak lehernya di atas. Lho, kamu terbalik pakainya. Hidungnya kok di belakang …."

Tubuh-tubuh tanpa kepala itu akhirnya menemukan kepala masing-masing. Akan tetapi, ada juga beberapa orang yang enggan memakai kepalanya kembali, termasuk sang ketua yang terlanjur memberikan kepalanya kepada sang penyair. Mereka menenteng kepala-kepala itu pulang. Entah akan disimpan di mana.

Yogyakarta, Juli 1985

* Pernah dimuat di Horison dalam tahun 1987

Tarian Ombak Liquica

Ombak berdansa di Liquisa. Deburnya menari dalam gemuruh hujan yang mengguyur pepohonan di sepanjang pesisir. Dan, dalam cuaca dingin malam Minggu berkabut, di dalam sebuah gedung sederhana di tepi pantai, orang-orang berdansa dalam kehangatan bir dan hentakan musik disko.

“Ayo! Kalau tidak berdansa kau belum ke Liquisa,” seorang lelaki berkata sambil menarik tangan perempuan yang duduk di depan bar.

“Bangsat kau, Jao! Ketika kawan-kawanmu sedang kelaparan di hutan, kau malah mau berhura-hura.” Perempuan itu bergeming di tempat duduknya.

“Bersenang-senang sedikit apa tak boleh. Sudah berbulan-bulan aku di hutan. Tak ada roti, tak ada bir, tak ada musik, tak ada dansa.”

“Salahmu. Sudah kubilang apa? Tak ada gunanya lagi bergerak di hutan. Letusan geranatmu sekalipun hanya didengar batu-batu.”

“Heh! Jangan keras-keras!”

“Peduli apa? Kalau mau tangkap, tangkaplah!” Perempuan itu malah mengeraskan suaranya.

“Armila! Kamu jangan ngaco begitu!”

Lelaki itu melotot. Matanya menyala dalam remang cahaya lampu. Rambutnya yang berrombak seperti berdirian tiba-tiba. Perempuan yang dipanggil Armila itu balas melotot. Matanya juga menyala. Dan…, tiba-tiba terdengar suara tembakan, berkali-kali.

“Jao! Ada kontak!” Armila terkejut.

“Ya. Aku dengar. Dekat sekali.” Jao juga terkejut.

“Jangan-jangan Alves dan kawan-kawan kena sergap.”

“Kubilang apa. Tinggalkan rumah Victor sekarang juga. Mereka masih tak percaya.”

“Kau benar, Jao. Tapi mereka harus menunggu kiriman logistik dari Dili. Kawan-kawan kita di hutan sudah berhari-hari kelaparan.”

“Kiriman dari siapa? Dari Armando? Aku malah curiga. Jangan-jangan ia malah berkhianat.”

“Jangan curiga dulu. Dia yang selama ini mengumpulkan dana dan mengirim perbekelan untuk kita.”

“Itu Victor!” Seorang lelaki, tinggi kurus, dengan tubuh basah kuyup air hujan, tiba-tiba menyelinap masuk ke ruang dansa. Armila langsung memberi isyarat dengan tangan padanya.

Victor menangkap isyarat itu dan tergopoh-gopoh menuju depan bar. “Rumahku disergap. Alves dan kawan-kawan masih di sana,” kata lelaki kurus itu. “Cepat kita lari. Dua tentara memburuku. Itu mereka di pintu.”

Dua sosok bayangan berkelebat menerobos pintu. Jao langsung melompat dari tempat duduknya, dan menerobos keluar lewat pintu belakang. Tapi, dua letusan pistol menyongsongnya. Armila tak jadi ikut menerobos keluar. Ia menyusup ke tengah orang-orang yang berubah panik oleh keributan itu. Mereka berlarian kesana kemari. Victor mencoba memanfaatkan situasi untuk kabur keluar. Tapi, tentara agaknya sudah mengincarnya. Ia ditangkap persis di mulut pintu.

“Tenang, saudara-saudara! Tenaaang! Kami hanya mau menangkap pengacau ini! Silahkan berdansa lagi!” seorang tentara mencoba menenangkan suasana sambil mencengkeram lengan Victor yang telah diborgol kedua tangannya.

Pelan-pelan suasana kembali tenang. Orang-orang kembali berdansa. Armila pura-pura ikut larut ke dalamnya. Tapi, ketika semua orang telah menemukan pasangan masing-masing, ia jadi merasa aneh, berjoget sendiri di tengah orang-orang yang tak dikenalnya. Akhirnya ia memutuskan kembali duduk di depan bar, dengan dada yang masih bergemuruh.

“Armila!” Suara perempuan tiba-tiba mengejutkannya. Ia menoleh ke arah suara itu. Matanya memandang penuh selidik pada perempuan muda yang tiba-tiba muncul di depannya.

“Lupa, ya? Aku Mariana. Dulu kita pernah berkenalan di rumah Victor.”

“Oh ya. Kami tadi menunggumu di sini.”

“Maaf, aku agak terlambat. Pas ada keributan tadi aku datang. Aku sempat melihat Jao melompat lari ke belakang.”

“Bagaimana nasibnya?”

Mariana hanya menggeleng. Armila merasa menemukan kawan senasib. Gemuruh dadanya sedikit reda. Tapi hujan tetap menggemuruh di luar, mengguyur ombak yang terus berdansa dengan angin dan pasir pantai.

“Kau ikut ke hutan?” Tanya Mariana.

“Tidak. Aku masih kuliah di Dili.”

‘’Jao cerita apa saja tentang aku?” Mariana bertanya lagi.

“Tidak banyak. Cuma bilang kau kawan sekelasnya di SMA.”

Mariana menarik nafas panjang, seperti tiba-tiba ada sesuatu yang membebani perasaannya. “Kau nginap di rumahku saja. Malam-malam begini tidak mungkin balik ke Dili,” katanya sambil mencoba menekan gejolak perasaannya.

“Kupikir begitu. Aku tadi sempat bingung, mau nginap di mana. Rencananya tadi mau di losmen sebelah. Tapi aku tak bawa duit. Jao yang janji membayariku.”

“Jangan kuatir. Aku akan menanggungmu sampai kau bisa balik ke Dili. Sebentar lagi kita pulang jalan kaki. Aku Cuma bertugas sampai pukul dua belas.”

Lewat pukul 12.00 hujan reda. Armila dan Mariana melangkah setengah menggigil, menyusur jalan beraspal yang mendaki bukit. Udara malam Liquisa dingin sekali karena hujan. Awan hitam di langit bergerak cepat. Sesekali cahaya bulan menerobos dari celah-celah mendung tebal, mengusap pohon-pohonan. Butir-butir air hujan di ujung dedaunan gemerlapan beberapa saat tertimpa cahaya itu, seperti butir-butir kaca kristal, lalu padam setelah jatuh ke bumi.

Mereka nyaris sampai ke rumah Mariana ketika tiba-tiba hujan mengguyur bumi Liquisa kembali. Dengan setengah berlari, mereka pun tiba di depan pintu sebuah rumah sederhana separuh tembok. Baju dan rambut mereka agak kuyup.

“Kau tinggal dengan siapa?”

“Dengan mami dan anakku.”

Mariana langsung membawa Armila masuk kamar, lantas membuka almari kayu, mengambil sepotong daster dan menyodorkannya pada perempuan itu. “Pakailah ini untuk tidur.”

“Mana anakmu?” Tanya Armila sambil melepas kaos oblongnya.

“Di kamar sebelah bersama ibu.”

“Suamimu?”

Mariana tidak langsung menjawab. Ia pura-pura suntuk merapikan rambutnya. “Aku tak punya suami,” katanya lirih.

“Oh, maaf…. Lalu…. anak itu…..?”

“Anak itu bagian dari masa laluku. Juga masa lalu Jao.”

“Masa lalu Jao?” Armila tampak terkejut.

“Ah, sudahlah. Besok saja kita bicarakan. Kau pasti lelah dan ngantuk. Tidurlah. Dipannya cuma cukup untuk satu orang. Aku akan tidur di kamar sebelah bersama anakku. Selamat tidur.”

Armila ditinggalkan begitu saja di sebuah kamar sempit yang hanya diterangi listrik 10 watt. Ia hanya sempat melongo ketika Mariana melangkah pergi. Ia sempat menangkap sesuatu yang berat untuk diucapkan oleh perempuan penjaga bar itu tentang anaknya dan Joa. Sesuatu yang mungkin panjang untuk diceritakan sehingga harus ditunda.

Dada Armila yang tinggal bergemuruh sendiri oleh pertanyaan-pertanyaan dan dugaannya sendiri. Apa hubungan anak itu dengan Jao? Apa hubungan Mariana dengan Jao? Apakah Jao pernah menikahi Mariana?

Ingat Jao, Armila ingat janji dan impian-impian lelaki jangkung itu, “Percayalah, Armila. Kalau Timor merdeka aku akan langsung melamarmu jadi istriku. Dan, aku akan jadi pejabat tinggi, dan kita bisa hidup damai dan bahagia. Ha ha ha …..” Tawa lelaki itu mengoyak udara sore, suatu hari, ketika mereka berjalan menyusuri sungai yang berisi pasir dan batu-batu, di tepi hutan di kawasan Ermera.

***

Armila tak dapat memejamkan matanya. Dadanya tetap bergemuruh. Kepalanya kacau oleh pertanyaan-pertanyaan dan pikiran-pikiran aneh. Kadang-kadang ia teringat kuliahnya yang kacau akibat pergerakan clandestine yang diikuti dan menyeretnya cukup jauh ke masalah-masalah politik yang tak sepenuhnya ia pahami. Apalagi setelah Jao sering mengajaknya keluar masuk hutan, atau mengunjungi desa-desa di malam gelap tempat para forsa bertemu. Bayang-bayang lelaki jangkung berambut keriting itu pun muncul dibenaknya, menyeringai, tertawa, lalu lenyap begitu saja begai ditelan rimba gelap.

Armila kadang-kadang merasa amat benci pada lelaki itu, lelaki yang sering berbuat sesukanya: jarang mandi, tidur mendengkur seenaknya di mana saja, minum anggur sesukanya sampai tubuhnya oleng, suka mencaci maki dan menempeleng anak buahnya—bahkan pernah menembak seorang anak buahnya tanpa sebab yang jelas, melahap apa saja sesukanya—termasuk daging ular, kadal dan tikus hutan yang hanya dibakar tanpa garam.

Namun, ada kekuatan aneh yang tak dapat dibendung oleh Armila, getaran yang juga tak sepenuhnya ia pahami : cinta. Kekuatan ini, seperti gerakan subversif, terus merong-rong hatinya.

“Engkaulah satu-satunya wanita yang berhasil menundukkan hatiku, Armila. Aku mencintaimu,” kata Jao dengan bibir bergetar dalam sorot cahaya api unggun di dalam gua tersembunyi di balik bukit, pada suatu malam.

Armila hanya menunduk. Perasaan aneh tiba-tiba menyergap hatinya. Dan, seperti api unggun yang membakar kayu-kayu kering, cinta pun lantas membakar birahi mereka sampai hangus, sebelum perempuan itu benar-benar menyadari arti cinta dan kehadirannya.

“Jao….” Armila menitikkan air mata bagitu menyadari sesuatu yang berharga telah hilang dari dalam dirinya di dalam gua itu, direnggut Jao.

“Maafkan aku, Armila. Kau menyesal?” Tanya lelaki itu sambil mengusap rambut Armila.

Perempuan itu tidak menjawab. Air mata meleleh di kedua pipinya.

“Sudahlah, Armila. Jangan menangis. Aku berjanji, kaulah wanita pertama dan terakhir bagi hidupku. Aku pasti menikahimu setelah perjuangan kita selesai. Setelah Timor merdeka!”

Hanya mereka berdua di dalam gua itu. Sebagian forsa yang lain sedang turun ke Liquisa untuk menjemput kiriman dari Dili. Udara malam tiba-tiba mati. Hening sekali. Hanya suara jengkerik dan burung hantu di kejauhan, serta kemeretek kayu-kayu kering yang terus terbakar api unggun. Armila tertidur setelah merebahkan kepalanya, seperti kapal menemukan pelabuhan, di pangkuan Jao.

***

Armila tidak ingat benar sejak pukul berapa ia tertidur di kamar sempit rumah Mariana. Ketika membuka mata, hari sudah agak siang. Berkas-berkas cahaya matahari menerobos masuk lewat celah-celah atap genteng. Kepalanya terasa agak berat.

“Mandilah biar segar. Kamar mandi di belakang. Sudah ada handuk di sana.” Mariana melongokkan kepalanya lewat mulut pintu kamar yang setengah terbuka, sambil tersenyum pada Armila yang masih terbaring di balik selimut bergaris-garis hitam.

“Thank’s.” Armila bangkit dan melompat turun, melangkah agak gontai ke kamar mandi. Selesai mandi dan merapikan diri, ia langsung ke ruang tamu. Ada ganjalan pertanyaan yang mesti dipuaskan oleh jawaban Mariana.

“Ini anakku. Yasso, ayo berkenalan dengan tante Mila.” Mariana sudah menunggu di ruang tamu bersama anaknya – seorang bocah lelaki berusia sekitar enam tahun.

Anak itu berdiri menyongsong Armila sambil mengulurkan tangannya. Ia menyambut tangan itu dengan hangat. Ada getaran aneh ketika ia menatap wajah anak itu. Wajah itu mirip sekali dengan wajah lelaki yang sangat dikenalnya: Jao Alvino. Armila terlongong beberapa saat sampai suara Mariana menyadarkannya.

“Yasso, sana makan dulu bersama nenek di belakang.”

Anak itu menurut saja.

“Wajahnya mirip Jao, kan?” Mariana agaknya menangkap apa yang sedang bergejolak di hati Armila.

“Jadi… itu anak Jao?”

“Ya.”

Wajah Armila mendadak berubah kemerahan. Ada arus listrik yang tiba-tiba menyengat hatinya. “Jadi … kau istri Jao?”

“Bukan. Kami tak pernah menikah. Ceritanya panjang. Kami bergaul intim cukup lama, ketika sama-sama di SMA. Menjelang ujian kelas tiga, aku hamil. Dia mau menikahiku selesai ujian, tapi dengan syarat aku mau ikut dia ke Lisabon. Aku tidak keberatan, asal boleh membawa mamiku. Kau tahu, aku anak satu-satunya. Papiku sudah lama meninggal. Sedang mamiku tak punya saudara dan sering sakit-sakitan. Tentu aku tak tega meninggalkannya dalam keadaan begitu. Lalu Jao nekad berangkat sendiri. Katanya, masa depannya ada di sana. Empat bulan setelah kepergiannya, Yasso lahir. Tahu-tahu, tiga tahun yang lalu dia muncul lagi. Katanya, ada yang harus dia perjuangkan di sini.”

“Mendengar cerita itu hati Armila seperti diberangus api. Bumi dirasakannya seperti jungkir balik tiba-tiba. Tapi ia berusaha keras menguatkan diri, mencoba mendengarkan cerita itu dengan dingin. Namun, pertahanannya jebol juga. “Bajingan! Lelaki itu telah membohongiku!” teriaknya setengah histeris.

“Maafkan aku, Mila, aku telah mengganggu perasaanmu. Aku tahu kau mencintai dia. Tapi, kurasa, kau perlu tahu ini semua, agar tak ikut menjadi korbannya.”

Dada Armila bergemuruh keras, seperti mau meledak. Ia ingin menjerit keras-keras, atau mengumpat Jao sambil berteriak kuat-kuat. Tapi ini tak ia lakukan. Lelaki itu toh tak ada di depannya. Bahkan nasibnyapun tidak jelas, tertembak mati, ditangkap tentara, atau lolos kembali ke hutan. Yang dapat dia lakukan hanyalah menangis sambil mendekap Mariana. “Maafkan aku, Mariana. Aku sungguh tak bermaksud merebut Jao dari tanganmu. Dia yang telah membohongi aku,” katanya dengan agak terbata, setelah tangisnya reda.

“Kau tidak bersalah, Armila. Itulah Jao, kalau kau mau tahu. Dan, jangan kaget, ada korban lain yang bernasib lebih malang daripada kita. Kira-kira tiga bulan setelah muncul kembali, Jao mengajak seorang gadis ke barku. Isabela namanya. Ia bilang gadis itu keponakannya. Kira-kira lima bulan kemudian, gadis itu datang sendiri sambil menangis. Ia bilang, telah mengandung anak Jao. Kulihat perutnya memang sedikit membuncit. Ia minta tolong agar aku mendesak Jao untuk menikahinya. Ia bahkan mengancam, kalau Jao tidak menikahinya, ia akan melaporkan persembunyiannya pada tentara. Malamnya Jao datang ke barku. Maka, semua keinginan gadis itu kusampaikan kepadanya. Seminggu setelah itu, gadis itu ditemukan mati terbunuh di tepi hutan.”

“Ya, ampun…” Armila terperangah. “Apa Jao yang membunuhnya?”

“Tidak ada bukti yang jelas. Tapi, ada yang melihat, sehari sebelumnya gadis itu pergi bersama Jao.”

***

Pulang dari Likuisa naik bus umum bukan kenangan manis yang dibawa Armila – seperti dijanjikan Jao. Tapi, adalah kenangan teramat pahit, bahkan teramat menyakitkan: serangkaian tragedi yang menimpa kaumnya akibat kebiadaban seorang lelaki yang selama ini menghadirkan dirinya sebagai sesosok pahlawan, sesosok pejuang, di depan matanya. “Lelaki itu benar-benar pembohong!” umpatnya berkali-kali, di dalam hati, di dalam bus yang meliuk-liuk menyusur lereng pebukitan menuju Dili.

Maka, begitu menginjakkan kaki di kota Dili, yang pertama-tama dicarinya adalah kabar tentang nasib Jao dan dimana ia sekarang berada. Ada dendam baru yang mesti ia tumpahkan kepada lelaki jangkung itu. Ia seperti tak sabar lagi. Hatinya terasa hangus terbakar. Ia ingin menemui lelaki itu hari itu juga, entah hidup atau mati. Kalau lolos dari sergapan tentara, ia ingin memburunya ke hutan. Kalau tertangkap, ia ingin melunaskan sakit hatinya di penjara. Kalau mati, ia ingin menyumpahi mayat atau kuburannya.

Armila menemui beberapa clandestine yang biasa berhubungan dengan Jao. Tapi mereka bilang belum ada kabar. Mereka hanya mendengar tentang Alves dan kawan-kawannya yang tertangkap di Liquisa. Armila pun memberanikan diri mendatangi markas tentara.

“Anda mahasiswi yang baik. Anda pasti mau menunjukkan di mana Jao bersembunyi,” kata seorang tentara setelah Armila membeberkan jati dirinya. Agaknya Jao lolos ke hutan dan tentara kehilangan jejaknya.

“Itu yang akan saya sampaikan pada Bapak, asal Bapak mau menjamin keselamatan saya.”

“Jangan khawaitr, kami akan tugaskan beberapa tentara untuk menjaga Anda.”

Setelah menunjukkan tempat persembunyian Jao, di sebuah gua di balik bukit, di tenggara Liquisa, Armila pun tinggal menunggu kapan lelaki itu muncul dengan tangan diborgol atau sudah jadi mayat karena tertembak. Tapi, ia sangat berharap dapat bertemu lelaki itu dalam keadaan masih hidup agar dapat melunaskan sakit hatinya.

Ditunggu sehari, dua hari, tiga hari, empat hari, lima hari, enam hari, akhirnya Jao tertangkap juga. Hidup-hidup, dengan paha kiri terserempet peluru. Armila langsung memburunya ke penjara. Lelaki itu menyunggingkan senyum begitu melihat Armila datang. Tapi gadis ini malah mencibir. “Mariana sudah bercerita banyak tentang kau,” katanya dengan mata yang memancarkan kebencian.

“Cerita apa saja dia?” Jao langsung curiga.

“Kau pasti sudah dapat menebaknya. Aku berkenalan dengan anakmu di rumahnya. Juga tentang Isabela yang kau bunuh di tepi hutan setelah kau hamili. Kau pembohong besar, Jao.”

“Bangsat dia!” Mata lelaki itu makin merah menyala.

“Kupikir, ini ganjaran yang setimpal untuk lelaki macam kau. Akulah yang menunjukkan tempat persembunyianmu pada tentara.” Suara Armila datar, tapi kata-katanya menghantamkan pukulan telak.

“Jadi, kau mengkhianati aku, Armila? Bangsat kau!”

“Tidak, Jao. Aku tetap setia pada cita-cita perjuangan clandestine. Tapi, bangsa Timor tidak membutuhkan orang seperti kau. Kami membutuhkan para pejuang yang dapat melindungi kaum perempuan, bukan perusak perempuan seperti kamu. Kau tak ada artinya bagi masa depan kami. Selamat tinggal, Jao!’’

Dengan wajah tetap membara, Jao terperangah mendengar kata-kata Armila. Pada saat itulah perempuan itu membalikkan tubuhnya dan melangkah meninggalkan lalaki yang tangannya sedang bergetar geram mencengkeram terali besi itu.

“Bangsaaat! Awas, kubunuh kau, perempuan busuuuuk!!!” suara Jao keras sekali, seperti mau meledakkan penjara.

Tapi, Armila terus melangkah pergi, pura-pura tak mendengar umpatan itu. Hatinya, yang terasa amat pedih, hancur berkeping-keping, lalu menyerpih bagi serpihan ombak yang terus berdansa di Liquisa.

***

Dili, Juli 1994/2001

Tragedi Para Kepala

Sejak grup dangdut keliling itu mangkal di lapangan ujung selatan Desa Bokongrejo, hampir tiap malam ada warga desa yang kehilangan kepala. Pada malam pertama saja ada sepuluh warga, semua lelaki, yang keluar dari lapangan itu tanpa kepala. Kepala mereka baru ditemukan oleh para Hansip setelah pertunjukan selesai. Tiga kepala ditemukan di atas panggung, tiga kepala di kamar ganti pakaian, dua di kolong panggung, dan dua lainnya terinjak-injak di tengah lapangan. Tubuh-tubuh pemilik kepala itu langsung digiring ke kantor LKMD dan dipaksa untuk memakai kepalanya kembali.

Pertunjukan dangdut itu memang sangat luar biasa dan mampu membuat tiap penonton mabuk kepayang dan lupa pada kepalanya. Goyangan pinggul para penyanyinya benar-benar sangat dahsyat. Inilah tampaknya yang membuat penonton dangdut itu semakin padat saja dan semakin banyak yang kehilangan kepalanya. Bahkan, pada tiap puncak acara menjelang berakhirnya pertunjukan, dua penyanyi dangdut tanpa malu-malu melakukan gerakan-gerakan senggama di atas panggung. Penonton pun selalu bersorak gegap gempita menyambut adegan puncak itu.

Pada saat adegan puncak berlangsung itulah banyak penonton yang sudah lupa pada kepalanya dan tanpa sadar melepas kepala masing-masing. Ada yang kemudian melemparkannya tinggi-tinggi sambil menjerit histeris. Ada yang melemparkannya ke panggung. Ada yang meletakkannya di ujung kaki penyanyi yang sedang bergoyang. Ada yang menggelindingkannya ke kolong panggung. Ada pula yang menyusupkannya ke kamar ganti pakaian penyanyi.

Setelah melewati puncak gegap gempita itulah kemudian pertunjukan dangdut diakhiri tiap malamnya. Begitu pertunjukan berakhir, orang-orang yang melepas kepalanya pun segera berdesakan mencari kepala masing-masing. Banyak yang berhasil menemukan dan memasangnya kembali. Akan tetapi makin banyak pula yang tidak berhasil menemukannya, atau lupa bahwa mereka telah melepas kepalanya sendiri. Jumlah mereka terus meningkat dan membuat para Hansip semakin kewalahan menanganinya. Komandan Hansip itu sangat khawatir, jangan-jangan banyak di antara tubuh-tubuh yang kehilangan kepala itu lolos dari penjagaan dan keluyuran di kampung-kampung pada siang hari.

"Kita harus memperketat penjagaan!" kata komandan Hansip itu di depan para anak buahnya setelah berhasil menangkap dua puluh lima tubuh tanpa kepala dan mengumpulkan mereka di kantor LKMD. "Tiap pintu masuk lapangan harus dijaga lima Hansip. Jangan sampai ada satu pun tubuh tanpa kepala yang lepas pulang ke rumahnya, apalagi sampai keluyuran pada siang hari. Kita bisa celaka. Pak Lurah pasti marah. Pertunjukan dangdut itu pasti dibubarkan," tambahnya.

"Pak Komandan, apakah tidak sebaiknya kasus ini kita laporkan saja pada Pak Lurah?" tanya seorang Hansip.

"Apa kau ingin pertunjukan dangdut itu dibubarkan, dan kita kehilangan upeti yang kita terima tiap malam dari manajer dangdut itu?" Komandan hansip itu malah balik bertanya.

Dan, tiba-tiba pintu kantor terbuka dan sejumlah anggota Hansip memasuki ruangan itu dengan menenteng sejumlah kepala. Mereka langsung meletakkan kepala-kepala itu di atas meja. Melihat kepala-kepala tersebut, beberapa tubuh tanpa kepala di ruangan itu tampak bergetar hebat, seolah sangat ketakutan pada kepalanya sendiri.

"Nah, sekarang kepala-kepala kalian sudah kami temukan. Silakan ambil kepala masing-masing. Jangan sampai ada yang keliru. Kalian harus memasang kepala kalian di sini juga," kata komandan Hansip itu sembari mengisyaratkan tangannya ke arah tumpukan kepala di atas meja.

Serentak tubuh-tubuh tanpa kepala itu berdiri dan berebutan mengambil kepala masing-masing. Yang sudah menemukan kepalanya dan berhasil memasangnya langsung ngeloyor pergi. Akan tetapi ada sembilan orang yang tidak kebagian kepala.

"Kepalaku mana, Pak Hansip?"

"Kepalaku juga tidak ada!"

"Kepalaku juga!"

"Pasti ada yang ndobel kepala saya!"

"Pasti ada yang memakai dua kepala!"

"Ayo, cepat! Kejar mereka. Yang memakai dua kepala suruh kembali ke sini!" perintah sang komandan Hansip pada anak buahnya.

Para Hansip itu langsung memburu keluar. Mereka semua berhasil dikumpulkan kembali. Ada tiga orang yang memakai dua kepala secara sekaligus; satu kepala menghadap ke depan, satunya lagi menghadap ke belakang. Dua orang lagi ketahuan menenteng kepalanya sendiri, sementara yang dipakai justru kepala orang lain. Mereka diperintahkan untuk mengembalikan kepala-kepala itu kepada pemiliknya. Tinggal empat tubuh yang tidak kebagian kepala.

"Lho, kalian tadi menaruh kepala di mana. Kami tidak menemukannya," kata komandan.

"Kepala saya tadi saya taruh di kolong panggung, Pak, agar bisa mengintip goyangan penyanyi dangdut dari bawah."

"Kalau kepala saya tadi, terus terang, saya taruh di ujung kaki penyanyi dangdut itu ketika sedang bergoyang."

"Kepala saya tadi saya taruh di pojok kamar ganti pakaian. Ketika pulang saya lupa mengambilnya."

"Kepala saya juga!"

"Pantas! Otak kalian ternyata mesum semua. Sudah sepantasnya kalian tidak usah memakai kepala lagi. Sekarang kalian tidak boleh pergi. Kalian terpaksa kami tahan di sini sampai kepala kalian ditemukan. Kami akan mencari kepala kalian sampai ketemu."

Belum lagi berhasil menemukan empat kepala yang hilang itu, tiba-tiba para Hansip Desa Bokongrejo dikejutkan oleh suara wanita menjerit-jerit minta tolong. "Tolong! Tolooong! Ada hantu! Tolooong!" Tampaknya bukan hanya suara seorang wanita saja, tetapi dua atau tiga orang.

"Ada apa itu? Ayo kita ke sana!"

"Kalian di sini saja. Jangan ada yang berani keluar sebelum kepala kalian ditemukan!"

"Kunci pintunya, agar tubuh-tubuh tanpa kepala itu tidak keluyuran keluar!"

Komandan hansip itu diikuti semua anak buahnya segera berlari ke arah datangnya suara. Tampak tiga wanita berlari terbirit-birit di jalan kampung seperti diburu setan.

"Tenang, tenang, Bu. Ada apa? Mana hantunya?"

"Di rumah saya, Pak!"

"Kamar saya juga dimasuki hantu."

"Kamar saya juga!"

Rupanya tiga wanita yang rumahnya saling berdekatan dan terpencil di tengah persawahan itu sama-sama didatangi hantu. Hansip-hansip itu segera memburu ke dalam rumah ketiganya. Mereka sangat terkejut, menemukan tubuh-tubuh tanpa kepala di dalam rumah mereka. Mereka segera menangkap tiga sosok tubuh tanpa kepala itu.

"Sekarang tenang saja, Bu. Hantu-hantu itu sudah kami tangkap. Akan kami bawa ke kantor kelurahan," kata komandan Hansip. "Sekarang tidurlah dengan tenang. Rumah ibu-ibu akan dijaga tiga orang Hansip. Tidak perlu takut lagi."

Tiga tubuh tanpa kepala itu langsung digiring ke kantor LKMD, dijadikan satu dengan tubuh-tubuh lain yang bernasib sama.

"Kalian juga kehilangan kepala ketika nonton dangdut, ya? Di mana kalian letakkan kepala kalian?" tanya komandan Hansip pada tiga tubuh yang dikira hantu itu.

"Tidak, Pak. Demi Tuhan, saya tidak pernah nonton pertunjukan dangdut itu."

"Saya juga tidak!"

"Saya juga."

"Lalu, di mana kepala kalian?"

"Kami buang ke sungai bersama-sama."

"Lho, kenapa dibuang?"

"Terus terang, kami merasa percuma punya kepala. Karena otak kami tidak dihargai lagi. Pendapat kami tidak pernah didengar lagi oleh bapak-bapak aparat kelurahan."

"Memangnya kalian ini kenapa? Pendapat yang mana?"

"Tentu Bapak masih ingat. Kami bertiga merupakan warga yang paling menentang diadakannya pertunjukan dangdut itu di lapangan desa. Karena saya pernah melihat, pertunjukan grup dangdut itu sangat jorok. Tidak pantas untuk dibawa ke kampung kita. Warga kita bisa sakit kepala kalau menyaksikannya. Apalagi, pertunjukan dangdut itu untuk mengumpulkan dana pembangunan tempat-tempat ibadah. Sangat memalukan, Pak."

Salah satu tubuh tanpa kepala itu bersuara panjang lebar seperti ada tape recorder yang diputar di dalam dadanya. Suara itu keluar melalui lubang lehernya, sementara dua tubuh lainnya mengangguk-angguk seperti mengiyakan kata-kata temannya.

"Terus terang, Pak. Kami sangat prihatin dan tidak tahan lagi menyaksikan dampak tontonan jorok yang melanda hampir seluruh warga desa kita. Yang terjadi tidak hanya demam dangdut saja. Akan tetapi, para remaja kita, penonton terbesar pertunjukan itu, sudah benar-benar mempraktekkan apa yang dilihatnya di panggung dangdut itu. Kalau bapak mau tahu, tiap malam saya melihat anak-anak remaja desa kita dengan begitu bebasnya bermain asmara di balik tanggul sungai di ujung lapangan itu. Mereka benar-benar mempraktekkan apa yang dipertontonkan para penyanyi dangdut itu di atas panggung. Bukan hanya main-main. Bapak tentu juga sudah tahu, makin banyak wanita desa kita, bahkan diantaranya masih anak-anak, menjadi korban perkosaan. Kami tidak tahan melihat itu semua. Kami ingin mengeritik. Kami ingin usul, kami ingin protes. Akan tetapi, aparat desa pasti tidak akan mau mendengar suara kami, karena mereka sudah tidak bisa lagi menghargai kepala kami. Jawaban Bapak pasti akan sama: kita membutuhkan banyak dana pembangunan melalui pertunjukan itu. Kalau penampilan penyanyinya tidak begitu, tidak akan ditonton orang. Yah, daripada makin pusing dan stress, kami buang saja kepala kami ke sungai.

Tubuh-tubuh tanpa kepala itu sudah kembali memakai kapala. Agat tidak kebobolan lagi, kesiagaan anak buahnya pun ditingkatkan. Penjagaan di mana-mana diperketat. Tidak hanya personel Hansip penjaga pintu masuk lapangan yang ditambah. Komandan Hansip juga menyebar anak buahnya ke hotel-hotel, panti-panti pijat, kamar ganti pakaian penyanyi dangdut, dan sepanjang tanggul sungai dekat lapangan desa itu. Selain itu, mereka juga mengawasi semua tempat yang diduga bisa membuat orang melupakan kepalanya.

Rupanya ketenangan itu hanya berlangsung beberapa jam saja. Karena keesokan harinya mereka digegerkan oleh munculnya siswa-siswa tanpa kepala di sebuah ruang kelas SMU yang terletak di sebelah selatan kantor LKMD. Tanpa diketahui asal usulnya, puluhan siswa tanpa kepala itu tiba-tiba saja sudah memenuhi satu ruang kelas yang terletak di sebelah kantor kepala sekolah. Seorang guru wanita yang akan mengajar di kelas itu hampir shock begitu membuka pintu kelas tersebut. Ia langsung lari terbirit-birit masuk ruang kepala sekolah. Kepala sekolah itu juga hampir pingsan ketika melongok ke dalam ruang kelas untuk mengecek kebenaran cerita guru tersebut. Aparat keamanan desa segera dipanggil. Kepala sekolah juga menugaskan seorang guru untuk melaporkan kasus tersebut kepada lurah desa.

Lurah Desa Bokongrejo beserta seluruh aparatnya segera tiba di kompleks sekolah menengah atas itu. Mereka bersama pimpinan SMU itu segera memasuki kelas yang aneh tersebut. Tubuh-tubuh tanpa kepala yang duduk rapi di kursi-kursi kelas itu mengangguk-angguk seolah menyambut kedatangan mereka.

"Kalian ini siapa?" tanya kepala sekolah pada tubuh-tubuh tanpa kepala itu.

"Lho, kami semua siswa Bapak. Kenapa Bapak pangling?" sesosok tubuh tanpa kepala yang duduk di deretan paling depan mengeluarkan suara.

"Akan tetapi, kenapa kalian hari ini datang ke sekolah tanpa kepala? Dimana kepala kalian?"

"Kepala kami sebagian ada yang hilang di arena dangdut, Pak."

"Kalau kepala saya cuma saya tinggal di rumah, Pak. Lagi bosan pakai kepala."

"Mau tahu di mana kepala saya, Pak? Saya simpan di gudang. Soalnya malu. Gigi saya prongos!"

"Saya juga."

"Kepala bapak-bapak dicopot sekalian saja. Enak, kok, tidak pakai kepala!"

"Diam!! Kalian ini bagaimana?! Kepala di buat main-main!" Kepala sekolah tiba-tiba membentak mereka sambil menggebrak meja. Tubuh-tubuh tanpa kepala itu pun serentak diam. "Apa kalian anggap, kalian bisa hidup terus tanpa kepala. Apa kalian bisa sukses tanpa kepala? Kalian ini calon-calon penerus perjuangan bangsa, tahu! Bagaimana nasib bangsa kita ini kalau diurus oleh orang-orang tanpa kepala seperti kalian!"

"Benar kata Bapak Kepala Sekolah. Kalian sangat dibutuhkan untuk meneruskan cita-cita perjuangan kami, cita-cita luhur generasi tua seperti saya ini," Lurah Desa itu ikut menimpali. "Untuk itu kalian harus tetap punya kepala. Kalian tidak bisa membuang kepala begitu saja, apalagi dengan alasan yang sepele atau tidak masuk akal."

"Kalian ini memang ada-ada saja. Ayo cepat, cari dan pasang kembali kepala kalian!" Kepala sekolah membentak lagi. Tampaknya ia sangat marah. "Kalian menyusahkan saja!"

"Jangan cepat marah dulu, Pak. Dijamin, kami masih punya kepala yang sehat," sosok tubuh yang duduk di deretan paling depan kembali mengeluarkan suara. Tampaknya sosok inilah yang mengatur ulah teman-temannya. "Ayo, teman-teman, sekarang kita tunjukkan kepala kita masing-masing!"

Secara serentak mereka meletakkan telapak tangan di ujung leher mereka masing-masing, lalu menariknya ke atas," Plass!" kepala siswa itu pun menyembul bersama-sama. Tampaknya mereka hanya memakai kerudung yang di buat persis seperti bagian atas tubuh manusia yang terpenggal kepalanya. Para siswa itu lantas nyengir pada para tamunya.

"Diamput! Kalian ini macam-macam saja. Masak, orang-orang tua dipermainkan!" komandan Hansip yang sejak tadi diam saja tiba-tiba saja meledak setelah merasa dikerjai oleh anak-anak itu.

"Apa sebenarnya mau kalian?" tanya kepala sekolah kemudian.

"Kami memang bermaksud protes, Pak, protes kepada Bapak Kepala Sekolah, juga Pak Lurah," jawab ketua kelas yang rupanya memang telah mengatur ulah teman-temannya. "Kepada Bapak Kepala Sekolah kami memprotes cara mengajar yang diterapkan para guru di sekolah ini. Kami tidak mau kalau terus-terusan dipaksa untuk selalu menerima apa saja yang dikatakan oleh guru-guru kami, karena sebenarnya banyak yang tidak sesuai dengan pendapat kami. Kami tidak mau lagi kalau kepala kami hanya dianggap sebagai tong sampah bagi semua ilmu yang diberikan para guru. Kami ingin diberi kesempatan untuk mengembangkan dan mengemukakan pendapat kami sendiri. Kami ingin diberi kebebasan untuk berpikir kreatif sesuai dengan aspirasi kami sebagai anak muda. Sedangkan kepada Pak Lurah, kami protes agar pertunjukan dangdut di lapangan desa kita itu dibubarkan saja. Itu sama sekali tidak ada gunanya, bahkan cenderung merusak moral teman-teman kami, karena goyang penyanyinya terlalu jorok. Dua tetangga saya bahkan diketahui telah hamil sebelum nikah gara-gara sering nonton dangdut itu bersama pacarnya. Di samping itu, makin banyak pula warga desa kita yang kehilangan kepalanya gara-gara nonton pertunjukan dangdut itu."

"Cerita anak-anak memang benar, Pak Lurah. Bahkan, tetangga sebelah rumah saya sampai sekarang belum berhasil menemukan kepalanya," kata kepala sekolah mendukung usulan siswa-siswanya.

"Kalau begitu, baiklah anak-anakku. Soal cara mengajar guru-guru kalian, selesaikanlah secara baik-baik dengan Bapak Kepala Sekolah. Sedangkan kami bersama semua aparat desa akan segera menyelesaikan kasus pertunjukan dangdut itu," kata Pak Lurah setelah berpikir sesaat.

Lurah Desa Bokongrejo segera mengadakan sidang darurat. Semua aparat desa dipanggil, termasuk komandan Hansip, manajer dangdut, para penyanyi, dan pemainnya. Pertama kali yang menjadi sasaran kemarahan lurah desa adalah komandan Hansip. Lurah desa mempersalahkannya karena tidak pernah melaporkan kejadian-kejadian aneh yang menjadi dampak pertunjukan dangdut itu. Padahal, dialah yang ditugaskan untuk mengawasi dan mengamankan pertunjukan dangdut yang dimaksudkan untuk mengumpulkan dana pembangunan sejumlah tempat ibadah itu.

"Soalnya, kami pikir kasus kehilangan kepala itu hanya persoalan sepele, Pak. Kasus itu sudah muncul sejak malam pertama pertunjukan dangdut di lapangan itu. Kami pikir belum perlu melaporkan kasus itu pada Pak Lurah, karena kami masih bisa mengatasinya sendiri," jawab komandan Hansip dengan nada tidak berdosa.

"Apa? Kamu ini komandan Hansip macam apa? Banyak warga kehilangan kepala kok dianggap sepele!" Lurah itu tampaknya tetap marah, tidak mau menerima pembelaan komandan Hansip.

"Nyatanya memang begitu, Pak. Mereka yang kehilangan kepala tidak pernah mengeluh, tidak pernah protes. Dengan enak mereka ngeloyor pergi atau pulang tanpa kepala. Bahkan, banyak yang kemudian tidur pulas di panti pijat dan hotel. Mereka yang tidak kehilangan kepala yang selama ini malah suka ribut."

"Apa kau tega kalau semua warga desa kita kehilangan kepala? Kalau itu benar-benar terjadi, apa kamu berani nanggung? Siapa yang bakal mengurus desa kita kelak kalau semua warga sudah kehilangan kepala?"

"Pak Lurah ini bagaimana? Desa kita selama ini kan sudah diurus oleh orang-orang yang tidak punya kepala lagi. Apa Bapak kira kita-kita ini yang mengurus desa ini masih punya kepala? Kepala yang kita pakai ini palsu. Wajah-wajah kita ini juga hanya topeng-topeng belaka. Kalau Pak Lurah tidak percaya, mari kita copot kepala kita masing-masing, kita buka topeng kita masing-masing."

Dan… komandan Hansip itu benar-benar melepas kepalanya sendiri, meletakkannya di atas meja dan membuka topengnya. Pak Lurah dan sejumlah perangkat desa sangat terkejut, ternyata kepala yang dipakai komandan Hansip itu kepala buaya. Mereka semakin terperangah ketika manajer dangdut dan empat penyanyinya ikut mencopot kepala masing-masing dan membuka topengnya. Ternyata kepala yang dipakai manajer dangdut itu adalah kepala badak, sementara dua penyanyinya memakai kepala kelinci dan dua lagi memakai kepala mainan dari plastik yang biasa dijual di toko-toko mainan anak-anak.

Giliran Pak Lurah yang kemudian mencopot kepalanya sendiri. Pelan-pelan dia menjepit kepalanya dengan kedua telapak tangannya, memuntir dan menariknya ke atas. "Plass!" Seperti seorang pemain debus dari Banten, kepala Pak Lurah pun lepas dan diletakkannya di atas meja. Kemudian, dengan perlahan-lahan dia mengelotok kulit wajahnya. Pak Lurah dan semua aparat desa sangat kaget, ternyata kepala yang selama ini dipakainya adalah kepala harimau. Kepala itu menyeringai padanya memperlihatkan taring-taringnya yang tajam.

Lurah itu tampak tidak tahan melihat kepalanya sendiri. Tubuhnya bergetar keras seperti sangat ketakutan, lalu lemas dan menggelosor jatuh ke lantai. Pak Lurah mengalami shock berat dan pingsan seketika.

Yogyakarta, Juli 1991

* Dimuat di kumpulan cerita pendek pilihan Sarinah, Burung Putih, bonus majalah Sarinah No. 222 Th. 1991.

0 Response to "Cerpen Ahmadun Yosi Herfanda"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified