Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Blind Date I

aliaZalea

Prolog

HAL pertama yang aku sadari adalah bahwa aku sedang dalam keadaan di antara

alam sadar dan tidak sadar. Aku dapat mendengar bunyi bip... bip... bip... yang

konstan dan terus-menerus, seperti bunyi air menetes dari keran yang tidak ditutup

rapat. Bunyi itulah yang membangunkanku. Kucoba berkata-kata dan meminta

seseorang agar mengencangkan keran itu, tetapi lidahku terasa berat dan kelu. Aku

mencoba membuka mataku, usaha yang juga tidak membuahkan hasil.

Kutenangkan diriku dan berusaha membuka mataku sekali lagi. Kali ini aku

berhasil membukanya sedikit, tetapi aku harus segera menutupnya kembali karena

ada sinar terang yang tiba-tiba membutakan penglihatanku. Ketika mataku tertutup

lagi, aku baru sadar bahwa ada sesuatu yang menempel pada hidungku dan

membuatku sulit bernapas.

Sekali lagi kubuka mataku, tetapi kini lebih perlahan. Awalnya semuanya

terlihat buram, namun lama-kelamaan aku dapat menangkap warna dinding di

hadapanku. Putih keabu-abuan, ucapku dalam hati. Bunyi bip... bip... bip... yang tadi

aku dengar menjadi semakin keras. Bunyi itu ternyata berasal dari sebuah mesin di

sebelah kiriku. Garis hijau pada layarnya melonjak-lonjak setiap detik, menunjukkan

aku masih hidup. Aku ada di mana ini?! tanyaku pada diri sendiri. Jelas-jelas ini

bukan di apartemenku. Aku sadar, aku terbaring di atas tempat tidur yang biasanya

ada di rumah sakit. Rumah sakit?! Aku di rumah sakit?! Otakku berteriak, tetapi aku

tidak mendengar ada suara yang keluar dari mulutku. Kok aku bisa ada di sini?

Aku mendengar suara air dituang ke gelas. Tiba-tiba aku jadi merasa sangat

haus. Aku mencoba menelan ludah dan membasahi kerongkonganku, tetapi

mulutku terasa bagai ada pasirnya sehingga aku harus bersusah payah untuk

menghasilkan air liur. Ketika mulutku sudah terasa sedikit basah, kugerakkan

lidahku untuk membasahi bibirku. Samar-samar aku bisa mendengar suara orang

bercakap-cakap, tetapi aku tidak bisa mendengar dengan jelas topik percakapannya.

Kualihkan perhatianku untuk mengenali sekelilingku. Ada jendela besar di sebelah

kananku, dan rangkaian mawar putih, bunga favoritku, di atas satu-satunya meja

yang bisa aku lihat.

Aku tidak bisa memastikan waktu yang tepat pada saat itu. Sinar matahari yang

masuk dari sela-sela kerai vertikal berwarna putih menunjukkan hari masih siang

atau sore, yang jelas bukan malam. Pelan-pelan kuangkat tangan kiriku dan terasa

ada jarum menusuk pergelangan tanganku. Selain itu, ada selang yang

menghubungkan pergelangan tanganku itu dengan sebuah kantong cairan bening

yang digantung pada tiang besi di samping tempat tidurku. Aduhhh, pakai ada

jarum pula di tanganku!

Ketika aku sedang menggerakkan tangan kananku untuk mencabut jarum itu

dari pergelangan tangan kiriku, tiba-tiba aku mendengar suara orang berbisik,

“She‟s awake.”

Kualihkan tatapanku dari lengaku ke arah seorang wanita bule, yang dari

pakaiannya jelas-jelas seorang suster. Tiba-tiba kulihat wajah Didi, adikku, yang

terlihat cemas. Kemudian dia tersenyum lebar karena melihatku sudah sadar dan

buru-buru berjalan menghampiriku.

Suster itu kemudian berdiri di sebelah kiriku, dan menggenggam pergelangan

tanganku. “How are you feeling?” tanyanya kepadaku, masih dengan suara berbisik.

Aku sebetulnya ingin berteriak kepadanya agar mencabut jarum yang menusuknusuk

lenganku, tetapi yang keluar dari mulutku justru, “Wah... teh.” Kata yang

ingin aku ucapkan adalah water, tetapi lidahku tidak bisa bekerja sama. Untungnya

suster itu langsung memahami apa yang aku inginkan. Dia segera menyodorkan

satu gelas plastik air putih dengan sedotan di dalamnya. Aku berusaha mengangkat

kepalaku sedikit agar bisa minum melalui sedotan yang bisa dibengkokkan. Didi

yang melihat apa yang aku sedang coba lakukan membantuku dengan menopang

kepala dan bahuku. Suster itu tetap memegang gelas di hadapanku. Pelan-pelan

cairan dingin mulai membasahi kerongkonganku. Aku baru berhenti minum ketika

gelas itu sudah kosong.

“Do you want more?” bisik suster itu, setelah menyingkirkan gelas kosong dari

hadapanku.

Aku menggeleng kaku dan menyandarkan kepalaku kembali ke bantal.

“Saya akan beritahu Dokter Smith bahwa kamu sudah bangun.” Suster itu lalu

menghilang dari pandanganku setelah mengangguk kepada Didi.

Didi kemudian duduk di atas tempat tidur di sebelah kananku. Dia tersenyum

sendu. Aku sebetulnya ingin bertanya, “Aku ada di mana?” Ketika aku mencoba

berkata-kata, yang keluar dari mulutku hanya, “Gu...,” dan aku kemudian terbatukbatuk.

Didi buru-buru menuangkan air ke gelas plastik yang tadi, dan memintaku

minum lagi hingga habis. Wajahnya terlihat khawatir.

“Jangan dipaksa, Mbak. Istirahat saja dulu. Bicaranya nanti saja,” katanya

dengan suara agak bergetar dan menyingkirkan gelas kosong itu dari hadapanku.

Aku perhatikan Didi terlihat cukup tenang, tetapi aku tahu sebetulnya dia panik.

Aku bisa melihat kepanikan itu di matanya.

Kucoba tersenyum agar bisa menenangkannya. Kusentuh benda yang

menempel pada hidungku, yang ternyata adalah infus. Didi menggenggam

tanganku dan menjauhkannya dari selang itu.

“Tunggu dokter ya, Mbak. Kalau dia bilang nggak apa-apa, kita bisa lepas

infusnya,” jelasnya. Setelah yakin aku tidak akan menarik infus dari hidungku, Didi

melepaskan genggamannya dari tanganku. Dia kemudian mengelilingi tempat tidur

dan menyingkapkan tirai kain putih di sebelah kiriku.

Ketika aku menoleh, kulihat kami tidak sendirian. Ada seseorang yang sedang

tidur di atas sofa. Aku tidak bisa melihat wajahnya, tetapi yang jelas sofa itu tidak

bisa menampung tubuhnya yang tinggi besar sehingga kedua kakinya menjulur

keluar dari salah satu sisi sofa.

Melihatku memusatkan perhatian kepada orang yang tertidur di sofa itu, Didi

berbisik, “Dia nggak mau pulang, padahal sudah aku katakan aku bisa jaga Mbak

sampai dia balik.” Didi tersenyum ketika mengatakannya. Suaranya terdengar lebih

pasti, dan dari balik matanya aku bisa melihat ada kehangatan di situ.

Siapa orang itu? pikirku. Aku menarik napas panjang ketika tiba-tiba beberapa

hal mulai melintas kembali dalam memoriku. Aku ingat, aku sedang mengendarai

mobil super ngebut dari kantorku menuju Raleigh. Hal ini tentu saja sangat

berbahaya mengingat kondisi jalan yang licin akibat hujan rintik-rintik yang jatuh

selepas salju tadi malam. Aku tahu, ada kemungkinan aku akan terlambat dan dia

sudah pergi. Aku tidak akan bisa memaafkan diriku kalau itu terjadi. Kupaksa

Mitsubishi-ku menembus angka 145 km per jam. Mesin mobil yang berusia hampir

sepuluh tahun itu langsung protes atas perlakuan kejamku, tetapi untuk pertama

kalinya aku tidakpeduli.

Kulihat masih ada beberapa bongkahan es yang tersisa di pinggir jalan. Musim

dingin tahun ini benar-benar parah di North Carolina. Salju yang turuh bahkan

mencapai enam puluh senti. Belum lagi hujan es yang turun berkali-kali selama

beberapa minggu belakangan ini membuat angin terasa menggigit jika bertiup dan

mengenai bagian tubuh yang tidak tertutup baju dingin. Kuikuti tanda lalu lintas,

yang menyatakan Airport Raleigh-Durham masih 1,6 km lagi. Aku segera

mengambil jalur kanan, keluar dari jalan interstate itu dengan tidak memedulikan

bunyi klakson mobil yang jalurnya aku potong dengan paksa. Roda mobil agak

tergelincir sedikit ketika kubanting setir, tetapi aku tidak mengurangi kecepatan

pada saat melewati tikungan.

Andaikan aku tidak lupa membawa telepon selular?! Saking terlalu terburuburu,

benda itu tertinggal di kantor. Seandainya pun aku membawa telepon selular

itu, rasanya tidak akan bisa membantuku. Apa yang akan aku katakan? I‟m sorry for

being so stupid, for thinking that you would leave me? Atau I love you, please tell me that

you love me too? Kata-kata itu tidak bisa menggambarkan perasaanku yang

sebenarnya. Aku tidak bisa bernapas jika dia tidak ada. Jika aku mencoba melihat

masa depanku tanpanya, semuanya terlihat suram. Diriku tanpanya bagaikan

satelit, yang planetnya telah hancur karena bencana alam besar, meninggalkanku

melayang-layang tanpa arah. Mengapa aku terlalu bersikeras bahwa dia tidak

mencintaiku hanya karena terpengaruh kata-kata orang yang telah membuat hatiku

remuk? Dia tidak akan meninggalkanku seperti yang aku takutkan selama ini. Titik!

Bunyi klakson membangunkanku dari lamunan, ternyata aku sudah memasuki

area airport. Aku harus mengangkat kakiku dari pedal gas karena batas kecepatan

di area ini hanya 48 km per jam. Aku tidak punya waktu kalau harus ditilang hari

ini. Setelah memarkir mobil, buru-buru aku berlari menuju bangunan terminal. Aku

harus sedikit menunduk dan memeluk tubuhku ketika berlari karena angin kencang

sedang bertiup, dan aku hanya mengenakan sweater turleneck warna pink, yang

terbuat dari cashmere. Aku tidak mengenakan jaket, topi ataupun sarung tangan.

Aku baru bisa bernapas lagi setelah tubuhku terasa hangat di dalam bangunan

terminal. Aku mengamati lokasi keberangkatan mencari counter check-in

penerbangan Delta Airlines. Kusempatkan melirik ke layar informasi keberangkatan

pesawat. Pada layar terlihat status pesawat yang aku cari adalah LAST CALL. Panik

karena tahu aku sudah terlambat, aku berlari menuju counter check-in Delta terdekat

dan berbicara dengan ground crew-nya. Aku memotong beberapa orang yang sedang

antre.

“Can you... contact your passenger... who is on the flight to JFK?” tanyaku terputusputus

di antara napasku yang masih terengah-engah.

Entah karena melihat wajahku yang panik atau karena tatapanku yang seperti

orang gila, seorang penumpang yang sudah siap check-in mundur satu langkah dan

memberikan aku ruang untuk berbicara lebih dekat dengan ground crew bernama

Kate, yang menerima berondonganku dengan wajah pasrah.

“Thank you, Sir,” ucapku, berterima kasih kepada bapak yang rela mundur dan

memberikan aku ruang untuk melangkah lebih dekat dengan meja check-in.

Melihat bahwa penumpang yang sedang dilayaninya tidak marah walaupun

antreannya aku potong, Kate pun segera menolongku. Dia menanyakan nomor

penerbangan dan nama penumpang yang aku cari. Aku menjawabnya tanpa

berpikir lagi. Kudengar Kate berbicara dengan seseorang menggunakan walkie-talkie.

Dalam kepanikanku, aku hanya bisa menangkap kata-kata „departure‟ dan „gate‟ yang

diulang-ulang. Kate kemudian menatapku dan menggeleng. “I‟m sorry, Ma‟am, but

the gate‟s closed. The plane is heading for the runway as we speak.”

Daerah di sekujur tubuhku membeku. Melihat wajahku memucat, Kate

langsung berkata, “Mungkin Anda bisa menghubungi orang yang Anda cari setelah

pesawatnya mendarat di JFK dalam beberapa jam.”

Aku menggeleng. “Nggak, nggak bisa. Dia akan sudah dalam perjalanan

menuju Charles de Gaulle,” gumamku.

Kutinggalkan counter itu dengan orang-orang yang menatapku bingung dan

penasaran. Kalau saja penerbangannya hanya akan berhenti di JFK?! Akan tetapi,

aku tahu dia akan menyambung perjalanannya dengan Air France menuju Paris,

lalu Nice. Asistennya memang mengatakan dia akan kembali dua bulan lagi, tetapi

aku tidak bisa menunggu selama itu. Aku harus berbicara dengannya sekarang. Aku

dapat merasakan hatiku yang sudah retak selama beberapa bulan belakangan ini

kini hancur berkeping-keping. Mataku mulai terasa agak kabur, dan air mata mulai

membasahi pipiku. Aku mencoba mengusapnya dengan lengan sweater, tetapi air

mata itu tidak mau berhenti.

“Why is that lady crying, Mommy?” Kudengar seorang anak kecil, yang sedang

menatapku, bertanya kepada ibunya.

“Jessica, tidak sopan menatap orang seperti itu. Look away,” komentar ibunya,

kemudian memalingkan wajah anak itu dengan paksa agar tidak lagi menatapku.

Beberapa orang yang berpapasan denganku menatapku dengan bingung atau

khawatir. Ada pula yang menatapku dengan penuh rasa kasihan. Aku bisa

membaca pikiran mereka melalui tatapan itu.

Oh look at that, she must be crying because she just say goodbye to her boyfriend, pikir

seorang ibu. Seakan-akan dia siap memelukku dan menepuk-nepuk punggungku

sambil berkata, “Sudah... sudah... jangan menangis. Dia akan kembali kok,

sweetheart,” untuk menenangkanku.

Sayang, dia terlalu cantik untuk menangis seorang diri. Mungkin aku sebaiknya

membantu menenangkannya, pikir seorang laki-laki yang sebenarnya cukup ganteng

dan wajib didekati kalau saja aku tidak sedang merasa sesedih ini.

!@#$%^&*()?/, pikir dua orang anak kuliahan, yang aku yakin berasal dari

Korea. Karena aku tidak mengerti bahasa Korea, maka aku juga tidak akan bisa

memahami apa yang sedang mereka pikirkan.

Kupercepat langkah untuk menghindari mereka semua. Aku baru

memperlambat langkah setelah berada di luar bangunan terminal, dan perlahanlahan

berjalan menuju pelataran parkir. Aku merasa terlalu limbung untuk

merasakan dinginnya angin yang sedang bertiup kencang di sekelilingku. Ketika

aku sedang menyeberangi jalan, tiba-tiba kudengar seseorang meneriakkan namaku.

Suara itu?! Suara yang aku kenal di mana pun aku berada dan seberapa jauh pun.

Semula aku mengacuhkan suara itu karena aku pikir itu hanya imajinasiku saja.

Kuangkat kedua tanganku untuk menutupi telinga.

“Berisiii... kkkk!” geramku.

Kemudian kudengar suara yang sama meneriakkan namaku dengan volume

lebih keras dan berkali-kali. Suara itu berasal dari belakangku. Perlahan-lahan aku

menoleh dan harus memutar seluruh tubuhku agar bisa menatapnya. Aku langsung

tersedak ketika melihatnya sedang berdiri di trotoar. Wajah gantengnya dengan

hidung, kening, mata, dan garis-garis rahang yang sempurna terlihat bingung dan

tidak pasti. Perlahan-lahan kemudian wajahnya mulai dihiasi senyuman hangat.

Senyum itu semakin melebar sehingga aku bisa melihat gigi-giginya yang putih dan

tertata rapi. Ya... Tuhan, aku benar-benar mencintai laki-laki satu ini, ucapku dalam

hati.

Aku mencoba mengontrol tangisku, akan tetapi bukannya berhenti, air mata

malah semakin membanjiri wajahku. Kali ini air mataku adalah air mata

kebahagiaan. Aku mencoba tertawa di antara tangisku. Detak jantungku sudah

tidak keruan. Aku harus meletakkan tanganku di dada untuk mencegah agar

jantungku tidak loncat keluar dari tempatnya. Tanpa berpikir panjang lagi aku

langsung melangkahkan kaki berlari ke pelukannya.

Tiba-tiba kudengar dia berteriak, “Titania, watch out!” sambil menolehkan

kepalanya ke arah kananku, dan dengan menggunakan kedua tangannya mencoba

menarik perhatianku. Wajahnya terlihat panik.

Awalnya aku hanya menatapnya bingung, tetapi ketika kutolehkan kepalaku ke

arah yang ditunjuknya semua oksigen yang ada di sekitarku tiba-tiba menghilang

dan aku tidak bisa bernapas. Aku langsung panik. Aku melihat sebuah Toyota

Camry warna hitam melaju ke arahku dengan kecepatan tinggi. Mengapa tidak ada

polisi yang menilang mobil ini? Jelas-jelas dia melanggar batas kecepatan yang

tertera di area airport.

Semuanya bagaikan bergerak lambat. Pandanganku beralih dari Camry itu ke

wajah orang yang aku cintai, yang sedang menatapku dengan mata terbelalak

karena panik. Aku tidak bisa meninggal hari ini, apalagi karena ditabrak mobil.

Tidak peduli mobil itu sebuah sedan mewah sekalipun. Terlebih-lebih baru tiga

puluh detik yang lalu aku bisa menemukan kebahagiaanku lagi. Kuperintahkan

kakiku agar berlari secepat mungkin menghindari mobil itu, tetapi tubuhku

menolak mendengarkan perintah dari otakku. Aku hanya bisa berdiri kaku dan

menutup mata, menunggu hingga sedan hitam itu menghantamku.

Ya... Tuhan, jangan sekarang! Tolong... jangan sekarang, pintaku dalam hati.

Kalau aku dibolehkan hidup, aku akan tobat. Aku akan meluangkan waktu untuk

membantu orang lain, meskipun aku sedang sibuk. Ketika aku menyadari bahwa

aku sedang bernegosiasi dengan Tuhan, aku pun berhenti berlari. Akhirnya, aku

hanya menggumam, “Berikanlah aku satu kesempatan lagi! Aku janji akan lebih

berterima kasih atas segala sesuatu yang sudah aku terima dalam hidupku.”

Kemudian kudengar bunyi rem mobil yang sedang bersusah payah untuk

berhenti.

Ciiiiiii... ttttttttttt... GUBRAK...!

Lalu, semuanya gelap.

1

www.myblinddate.com

TIK... TOK... TIK... TOK.... Bunyi jam dinding semakin membuatku tidak nyaman.

Meskipun aku dapat mendengar musik klasik di antara bunyi jam dinding itu,s

emuanya tidak bisa mengalahkan suara detak jantungku sendiri. Sambil pelan-pelan

meminum kopi, sekali lagi kuperhatikan sekelilingku. Berada di dalam ruangan ini

mengingatkanku akan butik-butik yang ada di Rodeo Drive. Hah... kayak aku

pernah masuk saja ke butik-butik itu. Aku hanya pernah melihatnya ketika

menonton acara The Osbournes di MTV. Walaupun begitu, yang jelas segala

sesuatunya tentang ruangan ini meneriakkan kata MAHAL dan SUKSES. Mulai dari

karpet tebal warna putih yang terhampar di kakiku hingga sofa modern warna

merah darah yang aku duduki. Meja kaca dengan kaki warna putih di hadapanku

dipenuhi dengan majalah-majalah fashion edisi terbaru. Wajah Jessica Alba, Angelina

Jolie, Nicole Kidman, dan artis Hollywood lainnya menghiasi sampul majalahmajalah

itu. Seorang wanita bernama Kirsten duduk di belakang meja kaca

berbentuk seperti angka delapan. Di hadapan Kirsten terdapat papan bertuliskan

RECEPTION. Kirsten tersenyum ramah kepadaku. Aku pun membalas

senyumannya dengan canggung.

Aku masih tidak percaya bahwa aku ada di sini, lebih-lebih lagi di tempat ini.

Selama ini aku selalu berpikir bahwa wanita yang memerlukan jasa blind date adalah

tipe wanita yang:

1. Berwajah jelek, hidung seperti nenek sihir, mata jereng atau terlalu besar

seperti ikan mas koki, atau gigi gingsul mirip vampir.

2. Berpenampilan buruk, termasuk tidak tahu cara memilih pakaian yang sesuai

dengan bentuk tubuh sehingga terlihat seperti lemper.

3. Tidak memiliki tata krama, misalnya suka berbicara dengan mulut penuh

makanan.

4. Terlalu tua sehingga pilihannya jadi sangat terbatas.

5. Dipaksa orangtua untuk menikah secepatnya.

6. Senang menggoda, dan hanya menginginkan laki-laki untuk hiburan mereka.

Aku tidak memiliki satu pun karakteristik itu. Pertama, aku tahu bahwa aku

tidak cantik seperti bintang film atau supermodel, tetapi aku cukup menarik dengan

rambut agak ikal dan wajah oval. Tubuhku cukup proporsional dengan tinggi 155

sentimeter dan berat badan 52 kilogram. Kulitku meskipun tidak kuning langsat,

masih tetap menggambarkan kulit wanita Asia pada umumnya, yaitu kuning

kemerah-merahan. Kedua, banyak orang mengatakan selera bajuku patut ditiru

karena aku selalu bisa memilih pakaian yang akan menonjolkan fisikku dan

menyempurnakan penampilanku sebagai wanita Asia yang sukses hidup dan

bekerja di Amerika. Ketiga, umurku masih 27 tahun, masih cukup muda. Keempat,

orangtuaku tidak pernah memaksaku untuk menikah secepatnya, mereka bahkan

terkesan tidak peduli apakah aku akan menikah atau tidak. Terakhir, meskipun aku

tidak pernah mengalami masalah untuk mendapatkan laki-laki yang aku mau, aku

bukan tipe wanita penggoda karena aku lebih memilih hubungan yang serius

daripada one night stand.

Jadi, mengapa aku ada di sini? Aku ada di sini karena usahaku coba mencari

calon suami sendiri selama dua bulan tidak juga membuahkan hasil. Akhirnya, aku

harus mengaku kalah dan datang ke tempat ini. Aku menemukan

www.MyBlindDate.com dari Didi, adikku yang sedang menyelesaikan studi

doktornya di bidang psikologi di Washington D.C. Ia fans berat acara Oprah

Winfrey. Di salah satu episodenya seminggu yang lalu, Oprah membahas mengenai

blind date, dan selebriti berkulit hitam paling sukses di Amerika itu sangat

merekomendasikan MyBlindDate atau MBD sebagai salah satu perusahaan kencan

buta terbaik bagi wanita-wanita sibuk untuk bertemu calon suami. Usut punya usut,

ternyata MBD mempunyai cabang di Greensboro, North Carolina, kota terdekat

dengan tempat tinggalku. Setelah memberanikan diri menelepon MBD beberapa

hari yang lalu dan membuat janji, Sabtu pagi ini aku bela-belain berkendaraan

menempuh jarak selama 45 menit dari Winston-Salem.

Berdasarkan informasi yang telah aku kumpulkan melalui internet, MBD

didirikan sejak tahun 1985 atas dasar pengalaman wanita bernama Tracy Kelly dari

Chicago, yang bernasib sama denganku. Jumlah klien mereka sudah mencapai

ribuan. MBD memberikan pernyataan bahwa hampir setiap hari mereka menerima

berita pertunangan ataupun pernikahan dari klien-klien mereka. Jadi, aku memiliki

cukup keyakinan akan kesuksesannya.

Tidak lama kemudian seorang wanita bule berambut pirang dengan tinggi

hampir 1.80 meter menghampiriku sambil tersenyum lebar. Otomatis aku langsung

merasa cocok dengan wanita ini. Wajahnya mengingatkanku akan Reese

Witherspoon, yang menurutku menggambarkan keramahan dan persahabatan.

“Hi, I‟m sorry that you have to wait. I‟m Sandra,” ucap wanita bule itu.

Aku mengangguk, lalu berdiri dan menjabat tangannya. Tanpa basa-basi lagi

Sandra langsung menggiringku ke ruangannya. Kutinggalkan cangkir kopiku yang

masih setengah penuh di meja lobi. Ruang kerja Sandra ternyata tidak berbeda

dengan lobi yang baru aku tinggalkan. Semua perabot yang ada di dalamnya terlihat

modern dan berteknologi canggih. Setelah mempersilakan aku duduk, Kirsten

datang menyerahkan beberapa lembar kertas dengan tulisan tanganku di atasnya.

Kertas itu berisi informasi mengenai diriku dan tipe laki-laki yang aku inginkan.

Setelah Kirsten keluar ruangan, Sandra lalu duduk di belakang meja dan terlihat

menyimak lembaran-lembaran kertas itu selama beberapa menit, kemudian

tersenyum kepadaku.

“Titania Larasati. Apakah saya mengucapkannya dengan benar?” tanya Sandra.

“Yes,” balasku, sambil tersenyum juga.

“Nama yan gbagus.”

“Terima kasih. Orangtua saya tergila-gila pada titanium.”

Sandra tertawa mendengar komentarku.

“Oke, kalau Anda tidak keberatan saya akan membacakan kembali apa yang

Anda sudah tuliskan mengenai persyaratan yang Anda inginkan dari pasangan date

Anda. Kami hanya ingin memastikan agar tidak terjadi salah paham.” Sandra

terdengar serius, meskipun wajahnya masih tersenyum ramah.

Aku mengangguk.

“Anda menulis bahwa Anda ingin pasangan date Anda tingginya antara 165

hingga 180 sentimeter?”

“Ya, apakah itu akan bermasalah?” tanyaku ragu. Aku memang tidak suka lakilaki

yang terlalu tinggi karena mereka akan membuatku merasa seperti kurcaci.

Dengan ukuranku yang bisa dibilang kecil kalau dibandingkan dengan wanita

Amerika pada umumnya, aku merasa lebih nyaman dengan laki-laki yang tingginya

antara 165 hingga 180 sentimeter.

“Nggak, ini nggak akan bermasalah. Hanya saya pikir Anda memerlukan lakilaki

yang lebih tinggi dari 165 sentimeter. Apakah Anda mengenakan sepatu hak

sewaktu Kirsten mengukur tinggi Anda?” tanya Sandra.

“Nggak, sepatu saya lepas,” jawabku.

Sandra lalu berdiri dan melepaskan sepatu haknya. “Tinggi saya 160 sentimeter,

dan tinggi Anda tidak jauh dari saya.”

Aku lalu ikut berdiri dan mengukur tinggiku di samping Sandra. Benar juga,

ucapku dalam hati.

“Benar, kan?” Sandra tersenyum kepadaku.

“Mmmhhh... Saya selalu berpikir bahwa saya lebih pendek dari ini,” gumamku.

Sandra tertawa mendengarku. “Kebanyakan wanita lupa kalau mereka lebih

sering pakai sepatu hak daripada tidak.” Sandra mencoba menenangkanku. “Saya

rasa akan lebih baik bila Anda mengubah tinggi minimum pasangan Anda menjadi

170 sentimeter.”

Aku menyetujui saran itu.

“Untuk umur, Anda memilih antara 26 hingga 40. Betul?”

Aku mengangguk. Didi telah mengingatkanku agar memilih laki-laki di atas

umur 30 tahun karena menurutnya laki-laki yang belum mencapai usia kepala tiga

kurang dewasa. Aku tidak terlalu setuju dengan pendapatnya, mengingat

pengalaman kedua orangtuaku. Usia bapakku lebih muda dua tahun dari ibuku,

dan pernikahan merkea berjalan lancar-lancar saja. Umurku akan menginjak 28

beberapa bulan lagi, aku yakin laki-laki berumur 26 tahun sudah cukup dewasa

untuk dipertimbangkan sebagai prospek suami.

“Itu juga tidak akan bermasalah. Kami ada banyak klien laki-laki yang masuk

dalam kategori umur tersebut.”

Sandra kemudian menambahkan, “Anda terbuka dipasangkan dengan laki-laki

dari berbagai ras. Sekali lagi, itu akan membuat kami lebih mudah menemukan

pasnagan date untuk Anda.” Sandra mengedipkan matanya kepadaku sambil

tersenyum.

Aku tertawa melihat ekspresinya. Didi berkata kepadaku bahwa laki-laki dari

Amerika Selatan cenderung sangat mencintai istrinya, meskipun mereka juga paling

sering selingkuh. Laki-laki bule kebanyakan akan menjadi botak kalau sudah tua.

Hal ini mengingatkanku akan Bruce Willis, yang kepalanya sudah dibiarkan botak

selama sepuluh tahun terakhir untuk menutupi kenyataan dia sudah kehilangan

rambutnya pada usia yang cukup dini. Laki-laki Asia biasanya kurang menghargai

istri, sedangkan laki-laki African American malah justru kalah terhadap perempuan.

Sebenarnya, aku tidak tahu mengapa aku mendengarkan Didi, padahal Didi sama

sekali tidak berpengalaman dalam berpacaran.

“Anda mengharuskan pasangan date Anda single dan unattached. Apakah Anda

bersedia dating dengan laki-laki yang statusnya baru „pisah‟ dari istri mereka?”

tanya Sandra.

Tanpa berpikir aku langsung menjawab, “Nggak. Saya ingin mereka „single‟ sesingle-

single-nya. Tidak duda cerai, dan terutama tidak laki-laki yang secara hukum

masih terikat pernikahan, meskipun mereka mengatakan mereka sudah pisah.”

Ini adalah salah satu persyaratan yang sempat kubahas panjang-lebar dengan

Didi. Aku dan Didi setuju, aku sebaiknya tidak melayani laki-laki beristri yan

gmasih senang “belanja”, tidak peduli apa pun alasan yang mereka kemukakan.

Pendapat kami agak berbeda mengenai duda cerai. Menurut Didi, laki-laki yang

sudah pernah bercerai bukan berarti laki-laki yang tidak bisa menjadi suami yang

baik. Ada begitu banyak faktor yang bisa menjadi penyebab perceraian. Walaupun

begitu, aku tidak mau mengambil risiko. Kami juga membahas mengenai duda yang

ditinggal mati istrinya, baik duda yang tidak mempunyai anak maupun ada anak.

Akhirnya, kami setuju bahwa aku harus menghindari duda jenis apa pun juga.

Sandra mengangguk. “Anda mencentang boks untuk area North Carolina saja,”

lanjut Sandra.

“Saya rasa akan lebih baik bagi saya mulai dengan laki-laki yang tinggal cukup

dekat dengan saya, tetapi saya bisa mengubahnya nanti kan kalau misalnya saya

tidak bisa menemukan pasangan yang cocok setelah enam bulan?” Aku mencoba

menjelaskan alasanku mencentang pilihan itu.

“Oh, Anda tidak perlu khawatir soal itu. Saya cukup yakin Anda akan

menemukan pasangan yang cocok dalam waktu enam bulan.” Sandra terdengar

yakin.

“Oh, ya?” tanyaku bingung dan kaget.

Sandra mengangguk. “Anda adalah tipe wanita yang biasanya dicari laki-laki

dalam suatu relationship.”

“Oh,” adalah satu-satunya kata yan gkeluar dari mulutku. Aku merasa terlalu

ge-er untuk menanggapi pernyataan Sandra dengan kata lain, meskipun kalau aku

mau jujur dengan diriku sendiri aku tahu itu memang kenyataannya. Aku memang

tidak pernah mengalami masalah untuk menggaet laki-laki, tetapi mendengar

seseorang mengkonfirmasikan sesuatu yang aku hanya bisa rasakan, masih tetap

membuatku canggung.

Sandra tertawa melihat reaksiku.

“Anda tidak perlu menjawab pertanyaan berikut ini, tetapi kalau Anda bisa itu

akan sangat membantu kami lebih memahami Anda dan menemukan pasangan

yang paling cocok untuk Anda.”

“Go ahead,” ucapku, mengizinkan Sandra menyampaikan pertanyaannya.

“Apakah yang membuat Anda datang ke MBD?”

Aku tertawa sebelum menjawab. “Saya baru putus dari hubungan yang cukup

serius beberapa bulan yang lalu. Setelah melakukan makeover, termasuk memotong

pendek rambut saya, membeli baju baru dengan warna yang lebih cerah, saya

memutuskan melanjutkan hidup dan datang ke MBD.”

“Well said,” balas Sandra penuh pengertian. “People should quote those words that

you just told me and turned it into a movie or something.”

Aku tertawa terbahak-bahak mendengar komentarnya. Kini aku memang bisa

menertawakan keadaanku, tetapi tidak tiga bulan yang lalu. Aku tidak

menceritakan kejadian sebenarnya bahwa aku melihat Brandon, pacarku selama tiga

tahun, selingkuh dengan asistennya. Aku ingat betul kejadian pada akhir bulan Mei

lalu itu. Aku baru saja sampai di apartemen pukul enam hari Jumat sore ketika

Brandon menelepon untuk menunda date kami karena dia harus lembur. Dia berjanji

akan menelepon kembali setelah pekerjaannya selesai. Aku tentunya tidak

berkeberatan, aku justru senang karena pacarku begitu tekun dengan pekerjaannya.

Beberapa minggu ini memang Brandon sering pulang malam karena salah satu klien

terbesarnya sedang terkena kasus. Sebagai salah satu pengacara termuda di

kantornya, aku justru merasa bangga karena para partner di kantornya melibatkan

pacarku untuk menyelesaikan kasus itu sehingga aku sama sekali tidak curiga akan

jam kerjanya yang tiba-tiba berubah.

Aku lalu menyempatkan diri membuatkan pasta jamur kesukaannya karena aku

tahu dia pasti akan datang dengan wajah kelaparan, seperti biasanya. Akan tetapi,

setelah menunggu hingga pukul tujuh malam dan Brandon masih belum telepon

juga, akhirnya aku pun menghubungi kantornya. Anehnya tidak ada yang

mengangkat. Aku lalu menghubungi telepon selularnya, tapi panggilanku langsung

masuk ke voicemail. Dengan pemikiran bahwa aku akan memberikannya kejutan jika

aku muncul di kantornya dengan membawa makan malam untuknya, aku

menempuh jarak 30 menit untuk tiba di bangunan kantornya yang terlihat sepi

kecuali bagian lobinya.

“Hello, Miss Titania, coming to see Mr. Brandon?” tanya Leonard, satpam kantor

Brandon. Ia tersenyum ramah dan aku bisa melihat deretan giginya yang putih,

kontras sekali dengan kulitnya yang berwarna ebonit.

“Yes, is he still here? Saya bawakan dia makan malam,” balasku tidak kalah

ramahnya. “Apakah kamu sudah makan malam?”

“You are a sweet woman. Ya, saya sudah makan sekitar satu jam yang lalu, thanks

for asking.”

Aku tersenyum mendengar jawaban Leonard. Itulah salah satu sebab mengapa

aku menyukai North Carolina, orang-orangnya sangat ramah.

“Mr. Brandon masih di atas dengan Miss Bella. Sebentar, saya telepon beliau

dulu untuk memberitahu bahwa Anda ada di sini,” ucap Leonard lagi. Ia lalu

mengangkat telepon.

Aku mengangguk. Rupanya memang kasus yang Brandon hadapi cukup serius

karena bahkan Bella, asistennya, juga harus lembur.

“Tidak ada yang menjawab.” Leonard terlihat sedikit bingung. “Mari, saya antar

Anda ke ruangannya,” ucap Leonard. Aku tahu bahwa di kantor Brandon apabila

ada nonpegawai yang ingin masuk ke dalam, maka ia harus ditemani oleh salah

satu pegawai.

Leonard mengiringiku ke lift dan mengantarku ke ruangan Brandon di tingkat

delapan. Ketika pintu lift terbuka, lantai itu terlihat sepi dan redup. Leonard

kemudian berjalan menyeberangi ruangan yang dipenuhi dengan meja-meja yang

dipisahkan oleh beberapa sekat, tempat para asisten duduk pada siang hari. Aku

tidak melihat Bella di mana pun juga. Aku hampir tidak mengenali ruangan ini.

Terakhir kali aku ada di dalam ruangan ini ketika Brandon membawaku untuk

dikenalkan kepada kolega-koleganya hampir dua tahun yang lalu, dan pada saat itu

semuanya terlihat sibuk, bahkan ramai.

“Sepi sekali,” gumamku. Aku masih belum curiga ada sesuatu yang aneh

dengan keadaan ini.

Leonard hanya mengangkat bahunya, dan terus berjalan menuju ruangan yang

berseberangan dengan lift. Kami berdiri di depan pintu kayu berwarna cokelat tua

yang tertutup. Jendela sepanjang dua meter, yang terletak di sebelah pintu, juga

tertutup oleh kerai kayu horizontal. Ada sinar terang yang menembus ke luar,

menandakan masih ada orang di dalamnya. Leonard bersiap-siap mengetuk pintu

itu, tetapi aku berbisik perlahan.

“Biar saya yang melakukan. Saya ingin membuat kejutan untuknya.”

Leonard menyeringai, dan berjalan kembali menuju lift. Aku tersenyum melihat

wajah Leonard. Dalam hati aku berjanji akan membuatkan kue cokelat untuknya,

yang bisa dibawa Brandon pada hari Senin. Setelah menarik napas aku pun

membuka pintu itu perlahan-lahan, sebisa mungkin tidak mengganggu konsentrasi

Brandon apabila dia sedang bekerja. Akan tetapi, apa yang kulihat cukup

membuatku ternganga. Pacarku dan Bella dalam posisi “doggy style”. Pakaian

mereka masih cukup lengkap di bagian atas, tetapi tidak ada sehelai pakaian pun

dari pinggang ke bawah.

Aku mendengar suara orang berteriak kaget, dan aku baru sadar bahwa suara

itu adalah suaraku. Otomatis dua pasang mata langsung mengarah kepadaku. Mata

Brandon langsung melebar ketika melihatku.

“Excuse me,” ucapku, dan buru-buru lari menuju lift. Aku tidak berhenti berlari

hingga sampai di dalam mobil. Aku bahkan tidak menghiraukan Leonard, yang

menanyakan apakah ada masalah ketika melihatku berlari melewati lobi bagaikan

dikejar setan. Aku tidak bisa berkata-kata, bahkan tidak mampu menangis. Aku

masih shock.

Untung saja aku selalu menolak tinggal bersama Brandon selama kami

berpacaran sehingga aku masih punya tempat tinggal setelah kejadian itu.

Walaupun begitu, aku merasa apartemenku tidak bisa memberikan kenyamanan

dan keamanan yang aku inginkan. Selama dua minggu aku terpaksa tinggal dengan

Didi di Washington D.C. untuk menghindar dari Brandon, yang setelah kutemukan

sedang ML dengan asistennya selalu meneleponku, mendatangi apartemenku,

bahkan menggangguku di kantor untuk meminta maaf. Setelah tahu aku tidak akan

pernah memaafkannya, Brandon berubah menjadi seorang stalker. Ia meneleponku

siang dan malam hanya untuk menutup kembali telepon itu apabila aku

mengangkatnya. Dengan rasa kesal akhirnya aku meneleponnya untuk

mengajaknya bertemu dan memutuskan hubunganku dengannya selama-lamanya.

Aku mengajaknya bertemu pada hari Minggu siang di tempat yang ramai untuk

mencegah pertemuan itu berubah menjadi sebuah konfrontasi yang akan melibatkan

kekuatan fisik. Selama tiga tahun kami bersama-sama, Brandon memang sama sekali

tidak pernah berbuat kasar terhadapku. Akan tetapi, Brandon laki-laki dan secara

fisik dia lebih kuat daripada aku. Apalagi Brandon sedang terluka, dan aku tahu

orang yang dalam kondisi seperti ini akan memiliki kecenderungan mudah kalap

kalau keinginannya tidak dipenuhi.

Brandon sedang duduk sendiri di meja favorit kami di restoran yang dia pilih

ketika aku datang. Sekali lagi aku harus mengakui Brandon adalah laki-laki paling

ganteng yang pernah aku pacari. Kemeja biru yang dikenakannya menempel

dengan sempurna pada bahunya yang tegap. Kedua lengannya yang berotot

ditutupi oleh sedikit bulu berwarna cokelat muda. Dia tersenyum dan aku kembali

ke realita. Didi pernah berkata bahwa senyum Brandon selalu terlihat palsu dan

tidak tulus. Aku tidak pernah mengerti apa yang dimaksud Didi hingga saat itu.

Senyum itu terlihat licik.

“Let‟s get this over with,” ucapku tegas, lalu duduk di kursi di hadapan Brandon.

Brandon terlihat kaget mendengar nadaku, tetapi ketika melihatku duduk dia

pun menatapku dengan penuh harap. Dia masih tersenyum, kemudian

pandangannya tertuju ke dua kantong besar dari Old Navy yang ada di

genggamanku dan senyumnya langsung hilang dalam sekejap mata.

“Do you want anything to eat?” tanyanya.

Seorang waiter mendatangiku, tetapi aku tidak memesan apa-apa. Aku tahu, aku

tidak akan mampu berlama-lama duduk berhadapan dengan Brandon tanpa merasa

ingin menamparnya.

“Aku ke sini untuk memberitahu kamu agar berhenti menggangguku. Aku

tidak ingin ada hubungan apa-apa lagi dengan kamu sampai kapan pun juga.”

Aku lalu berdiri dan menyerahkan dua kantong yang tadi aku bawa kepadanya.

“Aku sudah membereskan barang-barang kamu yang masih ketinggalan di apartemenku.

Semuanya ada di dalam kantong-kantong ini. Have a nice life,” ucapku, lalu

berdiri dan melangkah meninggalkannya. Brandon menatapku dengan mulut

terbuka.

Kemudian tanpa kusangka-sangka Brandon juga berdiri dan menarik lenganku.

“Apakah kamu bahkan tidak ingin tahu mengapa aku melakukan itu?” tanyanya.

Matanya menatapku dalam. Aku melihat ada kemarahan dan kebencian di situ.

“Oh, aku tahu alasannya,” jawabku.

Aku tahu alasan utama mengapa Brandon selingkuh, tidak lain karena seks.

Selama ini aku sangat bersyukur karena telah menemukan Brandon, laki-laki yang

berbeda dari pacar-pacarku sebelumnya. Dia memahami prinsipku yang tetap ingin

menjadi perawan hingga aku menikah. Aku bahkan tidak pernah menyangka

Brandon selingkuh karena dia tetap selalu perhatian terhadapku sampai Didi

menempelkan ide itu di kepalaku ketika aku menceritakan tentang perselingkuhan

Brandon.

“Cara Brandon memperlakukan Mbak kayak dia sedang menebus dosa. Dia

terlalu perhatian.”

Kata-kata Didi itulah yang membuatku mencoba mengingat-ingat, apakah aku

bisa melihat ada perubahan dalam diri Brandon selama beberapa bulan terakhir?

Aku baru sadar Brandon jadi semakin sering mengajakku ke luar makan malam dan

memberiku hadiah-hadiah romantis dan mahal. Awalnya hanya bunga mawar putih

setiap kali dia muncul di apartemen, tapi kemudian dia muncul dengan gelang dari

Tiffany‟s atau syal dari Burberry.

“Tolong jawab satu hal ini. Apakah dia satu-satunya atau ada perempuan lain

sebelum dia?” desisku.

Brandon tidak menjawab, tetapi dari sorot matanya aku tahu ternyata dugaan

Didi benar. Aku harus menarik napas dalam dan menahan diriku tidak

mengguyurkan satu pitcher bir yang ada di meja kami ke kepalanya. Bagaimana

mungkin aku bisa sebuta ini? Bagaimana mungkin Didi, adikku yang dua tahun

lebih muda dariku dan juga masih perawan dan rekor dating-nya sangat minim, bisa

lebih punya intuisi membaca gelagat Brandon daripada aku?

Kulepaskan cengkeraman Brandon dari lenganku dan bergegas melangkah ke

luar restoran. Aku tidak memedulikan tatapan beberapa orang di dalam restoran

yang cukup padat itu. Sinar matahari yang terik langsung menyambutku.

Kukenakan kembali kacamata hitam yang tadi aku gantungkan di kerah kausku.

Tiba-tiba kudengar pintu restoran terbuka dengan bantingan yang cukup keras,

dan kulihat Brandon sedang menuju ke arahku. Wajahnya seperti badai, penuh

dengan kemarahan. Aku tahu bahwa aku hanya akan mengundang masalah apabila

tidak menjauh darinya saat itu juga, tetapi aku penasaran ingin tahu apa yang ingin

dia katakan kepadaku sehingga membuatnya terlihat seperti itu.

“Apakah kamu tahu bagaimana rasanya tidak mendapatkan seks selama dua

tahun?!” teriaknya kepadaku.

Kukerutkan keningku, mencoba mengingatkannya bahwa kami sedang berada

di tempat umum dan tingkah lakunya yang seperti orang kesurupan menarik

perhatian semua orang yang ada di teras restoran. Kemudian aku tersadar oleh katakata

terakhir Brandon. Dia ternyata sudah tidak jujur terhadapku selama setahun

terakhir ini.

“Jadi, kamu sudah selingkuh selama setahun terakhir ini, ya?” tanyaku santai.

“Ya, kamu terlalu sibuk dengan hidup kamu sendiri sehingga kamu nggak

pernah memperhatikan aku. Ada empat perempuan lain sebelum dia, dan we did it

everywhere. Termasuk di atas tempat tidurku.” Brandon menutup penjelasannya.

Luapan kemarahan yang sudah aku coba tahan naik ke permukaan. Bagiamana

mungkin dia bisa mengatakan aku terlalu sibuk dengan kehidupanku sehingga

tidak memperhatikan dia? Selama tiga tahun dia pikir aku sedang berbuat apa?

“Apakah itu alasannya mengapa kamu keluar dari restoran sambil marahmarah?

Untuk mempermalukan diri kamu sendiri dengan mengumumkan

perselingkuhan kamu kepada seluruh Winston-Salem?” Meskipun darahku sudah

mendidih, anehnya suaraku masih terdengar tenang.

Aku mendengar seseorang berteriak, “Laki-laki itu perlu ditampar.”

“Setuju...,” sambut beberapa orang lainnya.

Seakan-akan baru sadar bahwa tidak hanya aku yang baru saja mendengar

pengakuannya, Brandon menoleh ke kiri dan ke kanan untuk memastikan hal itu.

Ketika sadar apa yang telah dilakukannya, Brandon terlihat semakin marah dan

berjalan mendekatiku. Baru saja dia berjalan dua langkah, dua laki-laki berbadan

tinggi besar mencengkeramnya dan mendorongnya untuk menjauhiku. Salah satu

dari mereka berambut cokelat, dan yang satu lagi mengenakan topi baseball berlogo

Wake Forest University.

“Walk away, man,” ucap laki-laki yang mengenakan topi Wake Forest University

itu.

Brandon kemudian berjalan menjauhiku, tetpai sebelumnya dia berteriak,

“Kamu lihat saja, tidak akan ada laki-laki yang mau dengan kamu! Tidak akan ada

laki-laki yang bisa tahan berhubungan dengan kamu! Akulah satu-satunya laki-laki

untuk kamu!”

Sepanjang sejarah aku tidak pernah dihina oleh siapa pun juga seperti Brandon

baru saja menghinaku. Aku sudah berniat menampar Brandon saat itu, tetapi

terlambat orang lain telah melakukannya untukku. Laki-laki yang berambut cokelat

telah melayangkan kepalan tinjunya ke sisi kanan wajah Brandon, dan aku

mendengar bunyi “crack” yang cukup keras.

Kulihat Brandon mundur beberapa langkah karena terkejut dengan serangan

tiba-tiba itu. Darah segar mulai menetes dari pelipisnya, yang kini ditandai garis

warna merah yang cukup panjang tepat di samping alisnya.

“That‟s not the way to talk to a lady,” geram laki-laki yang baru melayangkan

kepalan tinjunya.

Brandon terlihat ingin melakukan serangan balik ke laki-laki itu. Aku yakin dia

akan bisa mengalahkan laki-laki berambut cokelat itu karena Brandon jelas-jelas

lebih tinggi dan tubuhnya lebih gempal. Akan tetapi, ketika ia melihat laki-laki yang

mengenakan topi Wake Forest itu sedang bertolak pinggang, Brandon berpikir dua

kali sebelum meluncurkan serangannya. Untuk pertama kalinya aku menyadari

bahwa meskipun laki-laki bertopi itu lebih kurus daripada Brandon, kedua

lengannya terlihat kekar. Cukup kekar untuk mencekik Brandon sampai dia

kehabisan napas. Setelah memberikan tatapan ganas kepadaku, Brandon kemudian

melangkah pergi yang diikuti oleh teriakan “booooo” dari beberapa orang yang

menonton kejadian itu.

“Ma‟am... are you alright?” tanya laki-laki bertopi itu lagi, sambil berjalan ke

arahku. Aku tidak bisa betul-betul melihatnya karena wajahnya tertutup oleh bagian

luar topi tersebut.

Aku mengangkat tangan dengan telapak menghadap ke arah laki-laki bertopi

tersebut, dan mengangguk. “Thank you for that,” ucapku. Laki-laki bertopi itu

mengerti sinyalku, dan menghentikan langkahnya.

“It was our pleasure,” balas laki-laki yang berambut cokelat, yang setelah aku

perhatikan mengingatkanku akan seekor Panda. Mungkin karena senyumnya yang

sumringah, tatapannya yang bersahabat, atau matanya yang dalam. Temannya yang

bertopi menyentuh ujung topinya.

Aku lalu berjalan menuju mobil, dan meluncur pulang. Malam itu juga aku

berangkat ke Washington D.C.

Pertanyaan Sandra menarikku kembali ke masa kini. “Jadi, Anda mencentang

„Looking for a serious relationship‟ sebagai pilihan Anda. Betul?”

“Ya. Saya sudah 27 tahun, dan sekarang tampaknya waktu yang tepat untuk

mulai suatu hubungan yang superserius,” jelasku. Ada beberapa alasan lain

tentunya, tetapi aku tidak akan menceritakannya kepada Sandra. Dia adalah agen

kencan butaku, bukan seorang psikolog.

Sandra tertawa terbahak-bahak mendengar penjelasanku. “Saya mengerti

maksud Anda. Pokoknya, Anda tidak perlu khawatir. Banyak klien laki-laki kami

yang menginginkan hal yang sama.”

Aku mengangguk. Justru yang aku khawatirkan adalah tidak ada satu pun dari

laki-laki yang sesuai dengan kriteriaku itu bersedia menjalin hubungan serius

denganku. Selama tiga bulan berulang kali kuputar percakapan terakhirku dengan

Brandon. Entah mengapa, tetapi kata-katanya, “Kamu lihat saja, tidak akan ada lakilaki

yang mau berhubungan dengan kamu. Tidak akan ada laki-laki yang bisa tahan

berhubungan dengan kamu,” semakin hari semakin menggangguku. Apakah ada

yang salah dengaku? Apakah memang benar tidak ada laki-laki lain yang akan mau

berhubungan denganku? Kalau saja aku mendengar ucapan seperti ini tiga tahun

yang lalu sebelum aku mengenal Brandon, aku akan tertawa terbahak-bahak karena

jelas-jelas itu adalah sesuatu yang tidak mungkin. Entah bagaimana, tampaknya

selama tiga tahun aku bersama Brandon tanpa aku sadari lambat laun aku sudah

kehilangan jati diri dan kepercayaan diriku.

Berulang kali Didi memastikan aku bahwa Brandon hanyalah laki-laki idiot

yang tidak bisa menghargai diriku, dan Didi memintaku melupakan semua katakata

yang pernah diucapkan Brandon kepadaku. Terutama kata-kata yang

menyakitkan hatiku.

“Oke, pertanyaan terakhir.” Suara Sandra lagi-lagi menyelamatkanku dari

mengingat kembali kejadian tiga bulan yang lalu itu. “Untuk body type, Anda

menulis „Athletic, I dont‟ mind chubby but not obese‟.”

Aku tertawa mendengar tulisanku dibaca kembali oleh Sandra. “Oh.... man, I

sound so shallow now that you are reading it back to me.”

Sandra pun ikut tertawa. “Nggak... jangan khawatir tentang itu. Kalau itu

memang pilihan Anda, kami akan berusaha sebaik mungkin menemukan pasangan

yang cocok untuk Anda.”

Aku sangat berharap MBD tidak akan mengecewakanku karena sejujurnya

inilah satu-satunya jalanku bisa menunjukkan kepada Brandon bahw aaku bisa

menemukan laki-laki yang menginginkanku, bahwa mungkin mencintaiku.

Setelah selesai interview, Sandra lalu menjelaskan perjanjian yang harus aku

tanda tangani. Garis besar perjanjian itu berisikan tentang hak-hakku sebagai klien,

dan beberapa peraturan yang sebaiknya dipatuhi oleh setiap klien. Beberapa

peraturan itu adalah:

1. Untuk setiap kencan pertamaku, MBD akan mengaturnya untukku. Jika aku

menemukan kecocokan dengan date-ku maka mereka memberiku kebebasan

mengatur kencanku selanjutnya sendiri.

2. Aku harus makan di restoran yang telah dipilih oleh mereka untuk setiap

kencan pertamaku karena ini salah satu cara MBD menjaga keselamatanku.

3. Aku diwajibkan menelepon MBD jika akan terlambat lebih dari 15 menit

untuk kencanku agar date-ku tidak harus menunggu lama atau apabila

kencanku harus dijadwal ulang.

4. Setiap klien wajib membayar makanan mereka masing-masing. Awalnya aku

agak bingung dengan peraturan ini, tetapi kemudian aku dapat memahami

logikanya. Tentu saja MBD tidak akan membebankan setiap makan malam

atau makan siang kepada klien laki-laki.

Setelah kutandatangani perjanjian itu, kukeluarkan American Express-ku untuk

membayar biaya jasa mereka sebesar dua ribu dolar. Hal ini akan mengikat MBD

denganku selama enam bulan ke depan. Sandra kemudian memastikan semua

pertanyaanku sudah terjawab, lalu menggiringku ke luar ruangannya dan

mengantarku hingga ke mobil. Dia berjanji akan menghubungiku lagi secepatnya

untuk mengatur jadwal kencanku.

2

Caesar Salad

DENGAN tergesa-gesa aku meninggalkan kantor tepat pada pukul enam sore untuk

kencan pertamaku di Village Tavern, sebuah restoran yang cukup bergengsi di

Winston-Salem. Aku sudah berkonsultasi dengan Didi tentang pakaian yang harus

aku kenakan untuk kencan ini. Didi menyarankan agar aku sebaiknya tampil apa

adanya. Aku hanya meluangkan waktu untuk mencuci muka, menambahkan bedak

dan lipstik, kemudian berangkat menuju restoran langsung dari kantor. Date-ku

malam ini bernama Trevor, laki-laki berkulit putih, tingginya 180 sentimeter,

berumur 29 tahun, dan seorang mahasiswa kedokteran.

Hari ini aku betul-betul tidak menikmati pekerjaanku sebagai seorang financial

analyst. Dari pukul delapan pagi aku sudah berkutat dengan segala informasi

keuangan yang aku dan Linnell, bosku, sudah kumpulkan dari kemarin. Beberapa

hari yang lalu CFO kami mengemukakan informasi yang dia dengar tentang

peraturan pajak baru, yang sedang dipertimbangkan oleh Negara Bagian North

Carolina. Menurut dia, peraturan itu mungkin akan berdampak buruk pada bank

tempatku bekerja karena pajak itu menyangkut pembayaran kembali pinjaman uang

kepada nasabah yang ingin membeli rumah. Tepat pukul sepuluh aku dan Linnell

pergi menghadap CFO kami dan mengemukakan apa yang telah kami analisis.

Berdasarkan keadaan keuangan bank pada saat ini, meskipun nanti ada beberapa

nasabah yang akan mengalami masalah pembayaran pinjaman uang dikarenakan

kenaikan pajak properti, kalau sampai peraturan pajak itu disetujui, hal itu tidak

akan membuat aktivitas perputaran uang yang dilakukan bank jadi berhenti total.

CFO kami menyarankan agar segala bentuk pinjaman uang kepada nasabah

dihentikan sampai kami mendapat informasi lebih lanjut tentang kenaikan pajak

properti ini. Linnell dan aku, didukung dengan data yang kami miliki, berpendapat

bahwa karena peraturan itu baru dalam tahap pertimbangan, maka perusahaan

tidak perlu mengambil keputusan seperti itu. Setelah melakukan berbagai analisis

selama berjam-jam, semuanya jadi sia-sia karena pada pukul tiga sore kami

mendengar kabar peraturan kenaikan pajak properti telah diveto. Selama sisa hari

kerja itu aku mencoba menyelesaikan pekerjaan yang sempat terbengkalai karena

proyek CFO-ku ini. Otakku belum sempat beristirahat sedikit pun sejak tiga hari

yang lalu sehingga membuatku kurang bersemangat melanjutkan hariku dengan

kencan buta pertamaku.

Aku tiba tepat pukul enam lewat tiga puluh menit. Aku menghampiri hostess

restoran dan mengatakan siapa diriku.

“Please come with me, your date is already here,” ucap hostess itu, sambil tersenyum

dan mengantarkanku menuju sebuah meja di sudut restoran. Beberapa menit

kemudian aku berhadapan dengan Trevor, yang ternyata memiliki rambut berwarna

cokelat gelap dengan kacamata minus bertengger di atas batang hidungnya. Segala

sesuatu yang ada pada Trevor mencerminkan statusnya sebagai mahasiswa

kedokteran. Dia terlihat cukup ramah, tubuhnya tampak sehat dengan perut rata

dan bahu yang cukup bidang. Aku suka penampilan luarnya. Merasa lebih positif,

aku tersenyum kepadanya dan siap mengenal Trevor lebih jauh.

Empat puluh lima menit kemudian aku sudah siap bunuh diri karena bosan.

Awalnya Trevor terlihat malu. Oleh sebab itu, aku mencoba mencari topik

pembicaraan yang netral. Aku mulai dengan menanyakan di mana dia kuliah, yang

dijawab dengan Wake Forest University. Sudah tahun keberapa? Trevor menjawab

tahun terakhir. Spesialisasi apa yang dia ambil? Trevor menjawab pediatrics. Apakah

dia orang asli Winston? Dia menjawab dengan satu anggukan kaku. Berlanjutlah

makan malam kami dengan suasana membosankan, di mana aku akan menanyakan

satu pertanyaan dan Trevor akan menjawabnya dengan tidak lebih dari lima kata.

Setelah selesai makan malam, Trevor masih juga tidak berkata-kata. Akhirnya, aku

berkata, “Are you feeling okay?”

Trevor terlihat terkejut dengan pertanyaanku. “Yes. Why?”

“Selama satu jam makan malam kita, kamu belum pernah mengucapkan kalimat

yang lebih panjang dari lima kata,” balasku, sambil menghirup teh panas.

Trevor terlihat malu mendengar penjelasanku. Wajahnya memerah, dia melepas

kacamatanya dan menyekanya dengan saputangan berwarna putih, yang terlihat

sudah sangat kusut karena keluar-masuk kantong celananya selama satu jam

pertemuan kami.

“Shall we go, then?” tanyaku.

“Saya mohon maaf karena tidak bisa jadi teman bicara yang baik malam ini,”

ucap Trevor pelan. Aku ternganga mendengarnya karena inilah kalimat terpanjang

yang diucapkannya sepanjang malam.

“That‟s okay,” balasku, mencoba tetap ramah. Aku sudah terlalu lama tinggal di

North Carolina sehingga tidak ada alasan bagiku bertingkah tidak sopan terhadap

orang lain, meskipun orang itu telah membuatku gondok semalaman.

“Saya ada ujian besok, yang agak membuat saya khawatir. Saya pikir saya

sudah mempelajari semuanya, tetapi otak saya terlalu penuh sampai tidak bisa

mengingat apa pun yang telah saya pelajari.” Trevor mengucapkan kalimat itu

dalam satu tarikan napas.

Aku hanya bisa bengong menatapnya, kemudian tertawa terbahak-bahak.

Trevor menatapku bingung.

“Oh, saya pikir kamu diam saja karena tidak suka kepada saya. Baguslah kalau

bukan itu alasannya,” jelasku, di antara tawaku.

Trevor terlihat terkejut dengan penjelasanku, lalu dia pun tertawa. Untuk

pertama kalinya aku bisa melihat Trevor cukup cute dengan gigi yang rapi dan suara

tawa yang penuh kehangatan. Aku yakin dia akan menjadi dokter anak yang sukses

suatu hari nanti. Tiba-tiba Trevor berkata, “Awww... kamu tidak perlu khawatir

tentang itu. Kamu terlalu menarik untuk diacuhkan. I would love to go out with you

again next time.”

“Apakah kalimat kamu akan lebih panjang dari lima kata?” candaku.

Trevor tertawa mendengar pertanyaanku. “Aku janji, kalimat-kalimatku akan

lebih panjang dari lima kata,” balasnya.

“Then we have a deal.” Untuk mengganggunya, kusodorkan tangan kananku

mengajaknya berjabat tangan.

Trevor tertawa dan menjabat tanganku. Kami lalu membayar makan malam

kami masing-masing, dan berpisah di depan pintu masuk restoran setelah bertukar

nomor telepon.

Keesokan paginya, Sandra meneleponku dan menanyakan kencanku dengna

Trevor. Setelah memikirkan dalam-dalam kencan pertamaku itu sambil merendam

tubuhku dengan air hangat ditemani Nelly Furtado dan sabun mandi berbau melati,

aku memastikan bahwa Trevor sama sekali bukan tipeku. Meskipun Trevor cukup

cute dan jelas-jelas tajir karena bisa kuliah kedokteran di Wake Forest University,

salah satu universitas swasta termahal di Amerika yang biaya per semesternya

cukup untuk membeli satu rumah di Jakarta, aku tidak bisa melanjutkan kencan

kami.

Di luar segala sesuatu yang bersifat material, aku yakin aku akan bosan kalau

meneruskan kencan dengan Trevor. Meskipun dia mengatakan dia biasanya cukup

menyenangkan, entah mengapa aku meragukan itu. Dengan jujur aku mengatakan

hal itu kepada Sandra, yang mendengarkan dengan penuh pengertian. Dia juga

meminta maaf karena kencnaku tidak berjalan semulus yang telah direncanakan

MBD.

Aku sebetulnya sedikit cemas setelah kencanku dengan Trevor. Bagaimana

kalau semua klien laki-laki MBD ternyata seperti Trevor? Ketika aku

mengemukakan kekhawatiranku kepada Didi, dia berkata aku tidak boleh terlalu

pesimis. Tidak semua laki-laki di seantero North Carolina membosankan seperti

Trevor. Aku percaya dengan kata-kata Didi. Sekali lagi, aku tidak mengerti mengapa

aku bisa percaya dengannya, adikku yang suka sok tahu itu.

* * *

Hari Selasa pagi Sandra meneleponku dan memberitahu aku akan memiliki dua date

sekaligus akhir minggu ini. Hari Jumat malam aku akan bertemu dengan Reggie,

African-American, tingginya 180 sentimeter, berumur 26 tahun, dan seorang psikolog.

Aku harus pergi ke Concord, sekitar 45 menit dari rumahku, untuk bertemu

dengannya. Reggie akan datang dari Charlotte, yang jaraknya sekitar dua jam dari

rumahku. Hari Sabtu siang aku akan bertemu dengan Gabriel, Hispanic, tingginya

nyaris hampir dua meter, berumur 35 tahun, dan seorang banker. Kami akan

bertemu di Burlington, sekitar satu jam dari Winston-Salem. Aku meragukan dua

pilihan ini karena aku belum pernah berkencan dengan laki-laki African-American

ataupun Hispanic sebelumnya. Aku hanya berharap mereka tidak akan terlalu

berbeda dengan laki-laki pada umumnya.

Sore itu sepulang dari kantor aku langsung menuju Fresh Market untuk

berbelanja. Persediaan bahan makanan di rumahku sudah sangat minim, dan aku

berencana mencoba resep yang aku lihat beberapa hari yang lalu di Cooking Channel.

Sewaktu aku masih tinggal bersama Didi, dialah yang aku jadikan korban untuk

mencoba resep terbaruku. Kemudian ketika aku bersama Brandon, kualihkan semua

perhatianku kepadanya. Aku menertawakan diriku sendiri. Selama tiga tahun aku

mengutamakan Brandon dalam hidupku. Segala sesuatu yang kulakukan adalah

untuknya. Bahkan kepindahanku ke North Carolina dari Washington D.C. pun agar

aku bisa lebih dekat dengannya.

Aku pertama kali bertemu Brandon di suatu klub malam di Washington D.C.,

dan aku langsung jatuh cinta kepadanya. Tubuhnya tinggi besar dengan lengan

kekar yang ditutupi kemeja hitam, yang jelas-jelas dibeli dari sebuah butik designer

kenamaan. Dia terlihat sangat nyaman dengan tubuhnya itu. Namun demikian,

daya tarik Brandon ada pada rasa percaya dirinya. Hal ini terlihat dari caranya

berjalan, yang seakan-akan dunia ini miliknya. Ada banyak wanita di dalam klub itu

yang ingin menarik perhatiannya, tetapi dia justru menghampiriku. Temantemanku

langsung menyingkir sambil tersenyum tersipu-sipu ketika Brandon

menarik tanganku untuk dance dengannya. Meskipun aku sudah flirting dengannya

dengan tatapan mataku selama satu jam, aku masih tetap merasa sedikit terkesima

karena tidak menyangka dia berani mendekatiku. Jadi, aku hanya menurut saja,

bahkan tidak mengatakan apa pun ketika Brandon menarikku ke pelukannya dan

mengatakan betapa seksinya aku. Aku masih ingat bau kulitnya yang membuat

kepalaku dipenuhi hal-hal yang seharusnya tidak aku pikirkan.

Brandon memberitahu dia kuliah hukum di Wake Forest University. Saat itu

aku pikir dia bercanda karena Brandon terlihat lebih seperti dumb jock, laki-laki yang

hanya berbadan besar tapi kurang berotak. Brandon pun menjelaskan siapa dirinya,

dan aku tidak lagi meragukan kapasitas otaknya. Menurutnya, dia berada di

Washington D.C. selama musim panas untuk melakukan internship dengan salah

satu law firm yang berspesialisasi dalam menangani kasus-kasus hak asasi manusia.

Aku semakin jatuh cinta kepadanya karena kelihatannya dia tipe laki-laki yang aku

inginkan sebagai seorang pendamping. Dia amat peduli kepada orang lain dan

ambisius, dua sifat yang aku yakin akan membantu masa depannya untuk menjadi

pengacara sukses. Setelah malam itu, aku dan Brandon seperti tidak bisa dipisahkan.

Ketika musim panas berakhir, Brandon harus kembali ke North Carolina untuk

menyelesaikan tahun terakhir kuliahnya.

Brandon mengundangku mengunjunginya di Winston-Salem pada akhir musim

gugur di tahun yang sama. Aku pun menerima undangan itu dengan sukacita.

Setelah itu kami selalu berusaha bertemu sesering mungkin. Terkadang Brandon

terbang menemuiku di Washington D.C. atau aku terbang ke Winston-Salem

menemuinya pada akhir minggu. Brandon lulus sebagai valedictorian atau lulusan

terbaik, dan menerima tawaran bekerja di perusahaan hukum terbesar di North

Carolina. Dua bulan kemudian, aku pindah menetap di Winston-Salem. Pada saat

itu, Didi menasihatiku agar tidak melakukan hal ini. Dia tidak ingin hidupku harus

diatur laki-laki. Akan tetapi, aku yang sedang jatuh cinta setengah mati dengan

Brandon tidak mau mendengarkan nasihat itu.

Kini lihatlah aku, merana dan sendirian! Selama ini hidupku hanya dipenuhi

oleh Brandon sehingga aku tidak mempunyai kehidupan lain di luar dirinya. Aku

tidak punya teman setelah putus dengannya karena semua temanku di Winston-

Salem adalah teman-teman Brandon. Jadi, begitu aku putus dengna Brandon, maka

putus jugalah tali persahabatan yang telah aku jalin dengan mereka. Awalnya aku

sempat sakit hati dengan perlakuan ini, tetapi kemudian aku menyadari bahwa

mungkin mereka tidak tahu bagaimana harus menghadapiku. Jadi, daripada salah

bicara, mereka lebih memilih menjauh dariku.

Sebulan yang lalu aku sempat bertemu dengan Steven, salah satu rekan kerja

Brandon. Ia cukup peduli dan menanyakan kabarku. Dari wajahnya aku tahu dia

sudah paham tentang status hubunganku dengan Brandon. Steven memberi

informasi kepadaku bahwa “karena satu hal yang dia tidak bisa ceritakan” Brandon

sudah ditransfer ke cabang mereka di Memphis, Tennessee, salah satu cabang

terkecil, sedangkan Bella dipaksa mengundurkan diri oleh Bagian Personalia. Steven

tidak perlu memberitahuku apa „satu hal yang dia tidak bisa ceritakan‟ itu.

Tampaknya bukan hanya aku saja yang mengamuk karena Brandon berselingkuh

dengan asistennya. Mau tidak mau aku jadi tertawa, meskipun hanya dalam hati.

Ternyata masih ada keadilan yang tersisa di dunia ini.

* * *

Aku memasuki Fresh Market, dan mulai memasukkan beberapa makanan serta

minuman ke dalam trolley. Dengan pensil aku mencoret benda-benda yang sudah

ada di dalam trolley satu per satu. Susu putih full cream, satu blok keju cheddar Kraft,

satu kotak Kellog‟s Frosted Flakes.... Daftarku terus berlanjut. Aku bergerak dari

bagian makanan segar, makanan beku, dan makanan kering. Hal terakhir yang aku

lakukan adalah mengambil satu ikat peterseli. Ketika aku sedang memilih peterseli

yang paling segar seseorang melayangkan pertanyaan kepadaku.

“Excuse me, Ma‟am, but do you know which lettuce that I supposed to get if I want to

make a caesar salad?”

Aku langsung menoleh, dan harus mundur selangkah. Laki-laki yang ada di

sampingku ternyata lebih tinggi dari perkiraanku. Akan tetapi, bukan tingginya

yang membuatku melangkah mundur. Aku tidak pernah melihat mata sebiru itu.

Aku tidak tahu bagaimana reaksi mukaku, yang jelas mulutku ternganga dan pupil

mataku melebar. Laki-laki itu menatapku sambil mengerutkan dahinya.

“Ma‟am?” tanyanya lagi.

Suaranya membuatku tersadar kembali dari serangan apopleksi. Aku menelan

ludah, baru kemudian berkata, “Romaine. You need to get romaine lettuce to make caesar

salad.” Suaraku terdengar seperti tikus terjepit.

Laki-laki itu memandangku, seolah-olah aku sedang berbicara dalam bahasa

Arab dengannya. Aku lalu sadar laki-laki ini tidak tahu selada apa yang dibutuhkan

untuk membuat caesar salad. Ada kemungkinan dia juga tidak tahu bentuk selada

romaine seperti apa. Aku lalu menjulurkan tanganku ke hadapannya, mengambil

satu ikat selada romaine, dan memasukkannya ke dalam plastik sebelum

memberikannya kepada laki-laki itu.

“Apakha ini cukup untuk enam orang?” tanyanya polos, sambil menggenggam

selada itu dengan tangan kanannya.

“Enam?” tanyaku, hanya untuk memastikan. Laki-laki itu mengangguk.

“Men or women?”

“Men. All men,” jawab laki-laki itu, sambil tersenyum.

Aku harus buru-buru membuang muka menghindari senyuman itu dengan

mengambil satu ikat selada romaine lagi untuknya. Dengan tatapan matanya yang

biru dan senyuman yang baru dia berikan, entah bagaimana aku masih bisa berdiri.

Dunia ini memang tidak adil. Bagaimana mungkin seorang laki-laki bisa kelihatan

“beautiful”? Laki-laki satu ini begitu indah dilihat sehingga membuatku limbung.

Seumur hidupku, tidak ada laki-laki yang bisa membuatku limbung seperti ini. Aku

tidak tahu, apakah itu karena aku sudah kehilangan kemampuanku untuk tetap bisa

kelihatan cool di hadapan laki-laki yang menarik perhatianku setelah terlalu lama

bersama Brandon, atau karena sudah terlalu lama aku tidak melihat laki-laki

seganteng ini setelah aku putus dengan Brandon.

Kuserahkan selada romaine yang kedua kepada laki-laki itu. Ia segera

meletakkan selada itu ke dalam trolley, yang sudha terisi dengan setidak-tidaknya

dua lusin kaleng heineken, lima botol pepsi berukuran satu setengah liter, dan

berbagai macam keripik.

“Persiapan untuk nonton pertandingan malam ini?” tanyaku, sambil menunjuk

trolley-nya.

“Ya. Apakah kamu fans olahraga football?” tanyanya, sambil tersenyum dan

mata berbinar-binar.

“Nggak, tapi kebanyakan orang di kantor saya fans berat olahraga ini. Gators

malam ini akan berhadapan dengan Bulldogs, kan?”

Laki-laki itu mengangguk lagi, senyumnya semakin melebar. Aku bisa tahu

jadwal pertandingan football karena semua orang di kantor, terutama yang laki-laki,

tidak ada habis-habisnya membicarakan pertandingan antara tim American football

dari University of Florida, The Gators, dengan tim dari University of Georgia, The

Bulldogs.

“Saya Reilley,” ucap laki-laki itu, dan ia mengulurkan tangan kanannya.

Kusambut uluran tangannya yang terasa hangat. “Titania,” balasku.

“Wow... orangtua kamu pasti suka sekali dengan titanium, ya. Sampai-sampai

menamakan anak mereka seperti nama logam itu.”

Aku agak terkejut dengan komentarnya karena tidak banyak orang bisa

menghubungkan namaku dengan metal itu, yang harganya lebih mahal dari emas.

Banyak orang mengira namaku diambil dari Titanic. Bukan suatu pujian bila

mengingat kapal mewah itu sekarang berkarat di dasar Samudra Atlantik setelah

menabrak gunung es pada awal tahun 1900-an.

Reilley tidak hanya memiliki wajah yang bisa membuat para agel model rela

membayar mahal untuk menjadikan ia modelnya, tetapi dia juga punya otak yang

cukup cerdas.

“Ya, mereka memang fans berat logam itu,” ucapku, setelah bisa mengatasi rasa

kagetku.

Reilley mengangguk mendengar penjelasanku. “Kalau mau betul-betul

menghubungkan nama kamu dengan logam itu, seharusnya pengucapan nama

kamu „Taitania‟ bukan „Teetania‟. Walaupun begitu, saya suka dua-duanya,”

lanjutnya, sambil mengedipkan mata kirinya.

Sejujurnya, aku akan lari terbirit-birit saat itu juga bila laki-laki lain

mengedipkan mata kepadaku, tetapi cara Reilley melakukannya lebih terkesan

bercanda daripada menggoda.

“Apakah nama kamu ejaannya R-I-L-E-Y?” tanyaku, sambil mengeja namanya.

“Bukan. Ejaannya R-E-I-L-L-E-Y,” balasnya.

“Oh... seperti Bill O‟Reilley,” ucapku, tanpa sadar bahw aaku sudah mengatakannya.

Aku agak bingung juga, bagaimana aku bisa ingat cara nama pembawa

berita di televisi itu dieja.

“Yeeesss...,” sambutnya penuh semangat. Aku tertawa melihat reaksinya yang

antusias itu.

Tiba-tiba kami terdiam. “I better go then. Have fun watching the game,” ucapku.

Aku bersiap-siap mendorong trolley ke kasir dan menghindar dari laki-laki bermata

biru, yang seakan-akan menarik semua oksigen dari saluran pernapasanku.

Tiba-tiba Reilley berkata lagi. “Apakah kamu tahu apa lagi yang saya perlukan

untuk membuat caesar salad?”

Aku menghentikan langkahku, dan berpikir sejenak. “Kamu perlu keju

parmigiano, lada hitam, dan tentunya bumbu caesar. Kamu juga bisa menambahkan

croutons di atasnya kalau mau.”

Reilley menatapku bingung. “Saya nggak tahu semua yang barusan kamu

sebutkan. Saya hanya tahu keju,” ucapnya, sambil berbisik.

Mau tidak mau aku jadi tertawa lagi ketika mendengar kata-katanya dan

melihat ekspresi wajahnya yang tersipu-sipu. Bagaimana mungkin laki-laki dengan

tubuh sebesar dia bisa terlihat menggemaskan. Aku rasanya ingin membawanya

pulang, membuatkan susu hangat untuknya dan membacakan cerita dongeng,

kemudian memeluknya sampai dia tertidur. Aku menarik napas dalam-dalam. Aku

tahu kemungkinan besar aku akan menyesali keputusanku ini, tetapi aku tidak tega

membiarkan orang yang jelas-jelas memerlukan bantuanku. Kudorong trolley

belanjaanku ke salah satu sudut agar tidak mengganggu jalan orang lain.

“Ayo, saya bantu kamu mencari semua bahan untuk membuat caesar salad,”

ucapku.

Reilley terlihat terkejut dengan tawaranku, tetapi dia langsung menerimanya

dengan sukacita. Ketika kami sedang berjalan menuju bagian keju, aku bertanya,

“Mengapa kamu ingin membuat caesar salad kalau tidak tahu apa yang kamu

perlukan?”

“Ini untuk taruhan. Merka bilang saya tidak bisa masak sama sekali. Saya akan

membuktikan mereka salah.”

Aku menahan tawa ketika mendengar alasannya. “Mereka itu siapa?” tanyaku.

“Teman-teman saya,” jawabnya, sambil memicingkan matanya. “Kamu

menertawakan saya, ya?” tanyanya curiga.

“Nggak,” jawabku. Aku harus membuang muka agar dia tidak bisa melihat

tawaku, yang aku yakin akan meledak sebentar lagi. Tampaknya Reilley tidak tahu,

membuat salad tidak bisa digolongkan dalam kategori memasak karena tidak ada

bahan-bahan yang perlu dimasak.

Dari sudut mataku aku lihat Reilley sedang memperhatikan wajahku. “Kamu

memang menertawakan saya,” katanya putus asa.

Aku tidak bisa menahan tawaku lagi. Untungnya kami sudah tiba di rak keju,

aku segera mengambil satu pak keju parmigiano dan meletakkannya di dalam trolley

yang didorong Reilley.

“Ayo, kita ambil bumbu caesar untuk kamu,” ucapku, dan berjalan mendahului

Reilley menuju rak bumbu-bumbu.

“Titania,” panggil Reilley. Caranya mengucapkan namaku membuatku agak

merinding. Seperti ada air dingin yang dialirkan dari ujung rambut ke seluruh

tubuhku.

“Yes,” jawabku, sambil tetap berjalan tanpa menolehkan kepalaku kepadanya.

Aku berjalan beberapa langkah lagi diiringi bunyi roda trolley dan langkah Reilley

yang terdengar sigap, dan menunggu Reilley berbicara lagi. Ketika dia tidak

berbicara juga aku menoleh ke belakang.

“Ya... Reilley, kamu tadi ingin bertanya apa kepada saya?” tanyaku.

Reilley menggeleng.

Kami tiba di depan rak panjang berisi berbagai jenis caesar dressing. Aku

mengambil brand kesukaanku, dan sekali lagi meletakkannya ke dalam trolley

belanjaannya.

“Apakah kamu punya lada hitam di rumah atau kamu perlu beli?”

“Kelihatannya ada, tetapi saya nggak tahu apakah itu sesuai dengan yang kita

butuhkan. Lebih baik kita beli saja, untuk jaga-jaga,” balas Reilley, sambil nyengir

kepadaku.

Aku mencoba tidak menghiraukan kata-kata Reilley, yang menggunakan kata

“kita” dan bukan “saya”. Aku lalu berjalan ke ujung rak panjang untuk mengambil

satu kotak lada hitam dan menyerahkannya kepada Reilley.

“Apakan kamu ingin croutons untuk salad kamu?” Aku berdiri di hadapan

Reilley sambil berkacak pinggang.

Kulihat sudut kiri bibir Reilley tertarik ke atas, seolah-olah dia akan tersenyum.

Merasa canggung dengan tatapannya, aku pun menurunkan tangan dari

pinggangku.

“Kok senyum?” tanyaku ingin tahu.

“Nggak, rasanya kita nggak perlu croutons,” ucap Reilley, jelas-jelas ia tidak

menjawab pertanyaanku yang kedua. Sekali lagi dia menggunakan kata “kita”,

seakan-akan aku dan dialah yang akan membuat salad itu.

“Okay, then you are set,” balasku, sambil tersenyum dan mulai melangkah

kembali menuju trolley belanjaanku. Dari sudut mataku kulihat Reilley mendorong

trolley belanjaannya mengikutiku.

“I guess I am.” Reilley terdengar khawatir ketika mengucapkan kata-kata itu.

Kuhentikan langkahku, dan menatapnya. Trolley belanjaan Reilley menyenggol

pinggulku.

“Kamu tahu cara membuat salad, kan?” tanyaku curiga.

“Saya pernah melihat orang membuatnya,” jawabnya, dengan wajah memerah.

“Di mana?” Aku semakin bertambah curiga.

“Di TV.”

Meledaklah tawaku. Reilley pun tertawa bersamaku. Suara tawanya terdengar

berat. Tampak kerut-kerut di sudut matanya, yang membuat wajahnya terlihat lebih

ramah dan hangat.

“Man, you‟re hopeless,” candaku.

“Kamu bisa tanya apa saja tentang otomotif atau elektronik kepada saya, tetapi

kalau untuk urusan makanan dan fashion saya betul-betul buta,” katanya, sambil

masih tertawa.

Kami lalu mulai berjalan lagi menuju trolley belanjaanku. “Cukup gampang kok

sebetulnya membuat caesar salad, kamu hanya...” Kucoba menggambarkan sedetail

mungkin cara membuat caesar salad. Reilley mendengarkanku dengan saksama.

“Good. Kamu ingat semua langkah-langkahnya persis seperti yang saya sudah

jelaskan kepada kamu,” pujiku ketika Reilley bisa mengulangi instruksiku dengan

sedetail-detailnya.

“Ingatan saya cukup kuat,” balasnya, sambil mengetuk kepalanya dengan jari

telunjuknya.

“Well, you better go. Kamu nggak mau ketinggalan pertandingannya, kan?”

kataku, sambil mendorong trolley belanjaanku menuju kasir.

“Thanks for your help!” teriak Reilley.

Aku mengangguk dan melambaikan tangan, sambil tersenyum.

Ketika sampai di rumah dan membongkar belanjaanku, aku baru tahu ternyata

aku lupa membeli peterseli untuk makananku. Aku pun tertawa. Ternyata Reilley

telah memenuhi pikiranku lebih daripada yang aku perkirakan. Karena malas

kembali lagi ke supermarket, aku akhirnya memutuskan membuat makanan lain

dan menunda mencoba resep dari Cooking Channel untuk lain waktu. Setelah makan

malamku siap, kunyalakan TV dan mencari channel CNN untuk menonton world

news. Lagi-lagi China terkena gempa bumi, dan ada pesawat jatuh di Brazil. Seperti

juga beberapa bulan yang lalu, keadaan perekonomian dunia masih terpuruk dan

tampaknya tidak akan ada banyak perubahan untuk beberapa tahun ke depan.

Aku selalu membuka mata dan telingaku lebar-lebar saat menonton CNN. Aku

berharap dna juga khawatir kalau-kalau Indonesia, negara tercintaku yang telah aku

tinggalkan selama lebih dari sepuluh tahun, akan masuk liputan berita. Aku tahu

apabila sesuatu yang buruk terjadi di Indonesia, seperti tsunami yang menimpa

Aceh beberapa tahun yang lalu, orangtuaku pasti akan memberitahuku. Tetap saja

aku waswas karena telah meninggalkan orangtuaku, yang akan melewati umur 60

tahun mereka sebentar lagi, berada beribu-ribu kilometer dariku tanpa dijaga oleh

siapa pun juga. Aku berharap suatu saat aku akan bisa kembali lagi ke Indonesia.

Dalam keadaan ekonomi seperti saat ini, akan lebih menguntungkan apabila aku

tetap tinggal di Amerika untuk sementara waktu.

3

Cold, Warm & Hot

AKU betul-betul menikmati kencanku dengan Reggie Morgan. Dengan umurnya

yang baru 26 tahun, dia sangat berambisi menjadi psikolog terbaik dan siap

membantu setiap orang yang memerlukan bantuannya tanpa memedulikan latar

belakang mereka. Dia berencana membuka praktek sendiri dalam waktu lima tahun

setelah mendapatkan sertifikasi dan izin yang diperlukannya. Melihat keantusiasannya

dalam menjalani hidup mengingatkanku akan Brandon ketika dia masih kuliah

dan sangat menggebu-gebu ingin bekerja menjadi pengacara yang rela tidak dibayar

untuk membela orang-orang yang tertindas. Tentunya mimpi itu langsung punah

setelah menerima tawaran pekerjaan dengan bayaran tujuh puluh ribu dolar

setahun, meskipun untuk membela orang yang melakukan penindasan. Aku

berharap Reggie tidak melakukan hal yang sama.

“So, are you okay with seeing someone who is older than you are?” tanyaku

kepadanya, meskipun aku sudah tahu jawabannya karena MBD tidak akan

mempertemukan kami kalau Reggie keberatan berhubungan dengan wanita yang

lebih tua darinya.

Reggie menggeleng. “You‟re not that much older than I am,” ucapnya santai.

“Apakah kamu siap untuk suatu komitmen yang serius? Kamu masih muda.

Apakah kamu nggak mau cari-cari dulu?” kataku lagi. Keingintahuanku telah

mengalahkan tata kramaku, tetapi aku tidak peduli. Aku sudah membayar dua ribu

dolar kepada MBD. Aku harus menemukan laki-laki yang bisa aku jadikan suami

sebelum kontrakku habis. Aku tidak ada waktu untuk main kucing-kucingan.

Reggie tertawa mendengar pertanyaanku. “Well, ada beberapa orang yang

mengatakan bahwa usia 27 masih terlalu muda untuk suatu hubungan yang serius.

Apakah kamu sendiri nggak mau lihat-lihat dulu?”

Mau tidak mau aku jadi tertawa melihat logika pernyataannya itu.

Kuperhatikan Reggie dengan lebih teliti. Cara dia berbicara tidak seperti laki-laki

berumur 27 tahun pada umumnya. Setiap kalimat yang keluar dari mulutnya seperti

telah dipikirkannya dulu masak-masak sebelum dikatakan. Pembawaannya terlalu

tenang, yang membuatku agak sedikit malu karena aku jadi terlihat tidak sabaran

duduk berhadapan dengannya. Reggie bahkan berdiri dari duduknya ketika aku

permisi pergi ke toilet, hal yang tidka pernah dilakukan laki-laki mana pun

kepadaku. Reggie mengingatkanku pada CEO perusahaan tempatku bekerja. Itu

mungkin suatu pujian bagi kebanyakan orang, tapi faktanya CEO-ku berumur 60

tahun dan sudah memiliki empat orang cucu.

Malam itu kami akhiri dengan bertukar nomor telepon, tetapi aku yakin

meskipun aku cukup menyukai Reggie hubungan kami tidak akan pernah lebih dari

hanya sekadar teman. Secara mental dia terlalu tua untukku. Kesimpulannya,

Reggie adalah pilihan yang salah untukku.

* * *

Hari Sabtu siang, aku sedang melangkah memasuki restoran untuk menemui

Gabriel ketika telepon selularku berbunyi. Ternyata dari Sandra yang ingin

memberitahuku bahwa Gabriel akan terlambat tiga puluh menit dari waktu kencan

yang sudah dijadwalkan. Informasi ini membuatku sedikit jengkel karena berarti

aku harus menunggu Gabriel di restoran. aku tidak tahu dia akan datang dari mana,

tetapi aku tidak suka orang yang tidak bisa datang tepat waktu. Reggie yang harus

datang dari Charlotte saja bisa sampai tepat waktu kemarin, mengapa Gabriel tidak

bisa?

Awalnya aku menolak duduk di meja yang telah dipesan. Aku lebih memilih

menunggu date-ku di bangku panjang dekat pintu masuk. Akan tetapi, setelah dua

puluh menit dan tempat itu mulai penuh dengan orang-orang yang sedang

menunggu meja, aku pun meminta hostess restoran mengantarku ke meja yang telah

dipesan MBD. Aku memilih hanya memesan segelas pink lemonade, sambil

menunggu Gabriel. Sepuluh menit kemudian aku masih belum juga melihat batang

hidungnya. Dasar laki-laki tidak bertanggung jawab. Orangtua gila mana sih yang

memberi nama anak laki-laki mereka dengan nama salah satu malaikat? Aku sudah

semakin kesal karena kelihatannya restoran ini salah satu restoran terfavorit di

Burlington. Antrean orang yang menunggu meja terlihat cukup panjang. Beberapa

orang di sekitarku mulai menatapku penuh tanda tanya. Aku bahkan hampir bisa

mendengar pertanyaan-pertanyaan yang terlintas di kepala mereka.

Mengapa dia sendirian, ya? Apakah kamu pikir pacarnya sengaja tidak datang?

Mengapa dia belum mulai makan? Dia sudah duduk di situ selama sepuluh menit. Dia

cukup cantik, mengapa ada orang yang stood her up?

Aku sudah siap menelepon MBD agar membatalkan kencanku ketika kulihat

hostess restoran yang tadi mempersilakanku duduk berjalan ke arahku diikuti lakilaki

superganteng yang pernah kulihat sepanjang hidupku. Dia bahkan lebih

ganteng daripada laki-laki bermata biru yang baru-baru ini aku temui. Wajah lakilaki

yang sekarang ada di hadapanku lebih cocok berada di karpet merah pada acara

Academy Awards bersama-sama dengan Tom Cruise atau Brad Pitt dibandingkan di

restoran di Burlington, North Carolina, bersama-sama dengan orang-orang yang

wajahnya lebih pantas menjadi tukang kebun dua bintang Hollywood itu.

Apakah ini date-ku? Tidak mungkin. Buat apa laki-laki seganteng ini

memerlukan jasa blind date untuk menemukan pasangan? Aku yakin perempuan

mana pun akan rela mendampinginya tanpa ada insentif apa pun juga. Kulihat mata

beberapa wanita yang duduk di meja-meja di hadapanku mengikuti laki-laki itu.

Beberapa dari mereka bahkan mulai menelanjangi laki-laki itu dengan matanya.

Mau tidak mau aku terpaksa tersenyum dan mengalihkan perhatianku pada telepon

selularku lagi.

Aku tidak mengalihkan perhatianku dari telepon selular ketika kurasakan ada

angin yang berembus di hadapanku, efek samping ketika seseorang tiba-tiba

berhenti di hadapanku. Tatapanku kemudian tertuju pada sepasang sepatu laki-laki,

dan aku mendengar seseorang berkata, “This is your table. Have a nice lunch.”

Saat itu juga kuangkat kepalaku, dan bertatapan langsung dengan laki-laki

ganteng tadi.

“I‟m sorry that you have to wait for me. But my flight from Boston was delayed. I drove

as fast as I could from Raleigh. Did MBD called to let you know that I will be late?”

Laki-laki itu mengatakan semua itu, sambil menarik kursi yang ada di

hadapanku dan duduk. Kemudian dia mulai membuka-buka buku menu. Aku

hanya mengikuti gerakannya dengan mataku. Aku bisu seribu bahasa. Benar saja,

laki-laki ganteng ini Gabriel. Date-ku siang ini. Semua kejengkelanku hilang

bagaikan ditelan bumi, yang timbul malah justru rasa malu karena telah merasa

jengkel terhadap laki-laki seganteng ini. Aku menarik kembali perkataanku yang

telah menyumpahi seorang ibu, yang menamakan anaknya dengan nama salah satu

malaikat. Jelas-jelas nama itu justru membuat laki-laki terlihat lebih seksi, terutama

laki-laki ini. Aku berjanji akan memberi nama anak laki-lakiku Gabriel Jr. kalau

sampai aku menikah dengannya, dan berharap agar anakku akan seganteng

ayahnya.

Beberapa orang yang tadi menatapku penuh tanda tanya sekarang

mengerlingkan mata mereka penuh kekaguman. Hah... tidak usah mereka, aku

bahkan kagum dengan diriku sendiri karena bisa mendapatkan date seganteng ini.

“Oh... di mana sopan santun saya. Saya Gabriel,” ucapnya, sambil mengulurkan

tangannya.

Entah bagaimana aku bisa menggerakkan tanganku, yang jelas kemudian tahutahu

tanganku sudah menjabat tangan Gabriel diikuti dengan suaraku yang

terdengar menyebutkan namaku.

“Apakah kamu sudah siap pesan makanan? I‟m starving. Let‟s see what‟s good in

here.”

Seketika aku tersadar dari keterpanaanku, dan berkata, “Shrimp ravioli dengan

white sauce kelihatannya enak.” Meskipun suaraku agak bergetar, masih terdengar

cukup keras dan meyakinkan.

“Kamu ingin pesan apa?” Gabriel menatapku.

“Shrimp ravioli dengan white sauce,” jawabku. Otakku telah bekerja kembali dan

bisa mengatakan kalimat itu dengan jenaka.

Gabriel tertawa mendengarku. “Saya sebaiknya pesan pizza, soalnya pasta

nggak akan cukup untuk saya,” balasnya, juga dengan jenaka.

“Itu tergantung ukuran perut kamu. Tadi ketika saya menunggu kamu, saya

lihat beberapa pesanan pasta yang sedang dihidangkan, dan ukurannya cukup

besar,” ucapku, sambil tangan kananku menunjuk pada beberapa meja di

sekelilingku.

Gabriel menoleh ke kiri dan ke kanan. Ketika dia berpaling lagi kepadaku, dia

menyeringai, “Well, piring-piring itu memang besar.”

Selang beberapa detik dia berkata lagi, “Saya tetap lebih memilih pizza. Pasta is

such a girly food.”

“Girly?” tanyaku, sambil mengernyit. “How can food be girly?”

“Kamu nggak bisa kelihatan berantakan kalau makan pasta. Ini sebabnya

mengapa pasta dikategorikan sebagai girly food.”

“Apakah kalau makan pizza bisa berantakan?”

“Ya, dan kamu bisa makan dengan tangan.”

Aku memandangi Gabriel dengan mulut ternganga. Dari planet manakah lakilaki

satu ini? Aku harus pindah ke planet itu sekarang juga karena sepertinya planet

itu bisa menghasilkan laki-laki ganteng dan humoris.

“Jadi, pizza nggak girly karena berantakan, dan kamu bisa makan dengan

tangan?” tanyaku merangkum percakapan kami.

“Yep.”

Kami lalu terdiam sesaat saling tatap. Aku mencoba menyimpulkan, apakah

Gabriel sedang meledekku dengan kata-katanya atau dia betul-betul serius. Aku

yakin dia sedang bercanda.

“Saya hanya bercanda,” lanjutnya, sambil tertawa dengan keras. “Coba ada

yang bawa kamera untuk memfoto ekspresi kamu tadi. Lucu banget.”

Aku tidak tahu seperti apa ekspresiku tadi. Aku lalu menarik napas, kemudian

berkata dengan nada sesarkasme mungkin, “Ha... ha, bagus kalau kamu anggap

saya lucu.”

Tawa Gabriel semakin menjadi sehingga membuat beberapa mata menatap

kami. Kebanyakan mata itu adalah milik wanita. Dalam tatapan mereka seolah-olah

terlintas beberapa pertanyaan dan komentar.

Aku nggak percaya ini, dia bisa membuat laki-laki itu tertawa sampai terbahak-bahak?

Apakah kamu pikir dia adik laki-laki itu? Dia nggak mungkin pacarnya,

perempuan itu terlalu biasa untuk dia.

Wow, itu adalah gigi paling rapi yang pernah aku lihat.

Aku masih nggak bisa percaya kalau laki-laki itu duduk dengan dia.

Apa yang dia punya yang aku nggak punya, coba?

Aku tersenyum karena rupanya imajinasiku sedang berlari-lari dengan liar hari

ini.

Seorang waiter kemudian menghampiri meja kami untuk mencatat pesanan. Dia

kembali beberapa menit kemudian membawa segelas pepsi untuk Gabriel.

“Apakah kamu selalu kelihatan seserius ini?” tanya Gabriel setelah waiter itu

berlalu.

Aku menatap Gabriel bingung. Apakah maksudnya dengan pertanyaan itu?

“Kamu kelihatan... marah. Waktu saya lihat kamu tadi,” lanjut Gabriel.

“Marah? Saya kelihatan marah?” ucapku terkejut. Apakah betul wajahku

terlihat marah ketika melihatnya?

“Mungkin nggak marah, tetapi... kesal,” tambahnya.

“Oh... ituuu. Saya sebetulnya memang agak „kesal‟ kepada kamu karena telah

membuat saya menunggu lebih dari setengah jam. Saya sudah siap menelepon MBD

untuk membatalkan date ini,” balasku, sengaja menekankan kata „kesal‟ dalam

penjelasanku.

“Oh, ya? Kamu ingin membatalkan date ini?”

Aku mengangguk.

“Kok nggak jadi?”

“Karena kamu muncul dan kelihatan lebih seperti bintang film daripada seperti

layaknya seorang banker.” Aku buru-buru menutup mulutku ketika sadar apa yan

gbaru saja aku katakan.

Gabriel tertawa melihat reaksiku. Untung kemudian makanan kami tiba

sehingga aku memiliki waktu beberapa menit untuk mengatur detak jantungku

kembali ke normal.

“Jadi, kamu kerja sebagai financial analyst?” tanya Gabriel, setelah waiter berlalu.

Aku sangat bersyukur dia tidak mengangkat kembali topik pembicaraan yang

tadi sempat terputus, dan segera menjawab pertanyaannya, “Ya... di sebuah bank di

Winston-Salem.”

“Kamu keberatan nggak kalau saya tanya-tanya mengenai beberapa investasi

saya? Saya hanya ingin memastikan apakah saya sudah cukup berhati-hati dengan

uang saya.”

Kami lalu membahas tentang keadaan keuangannya secara lebih mendetail.

Secara tidak langsung Gabriel memberitahuku bahwa dia sudah sangat mapan dan

siap melangkah ke jenjang selanjutnya, yaitu pernikahan. Aku mencoba

membandingkan Gabriel dengan Trevor dan Reggie. Di usianya yang sudah

menginjak 35 tahun, aku seharusnya tidak kaget jika hidup Gabriel memang sudah

mapan, bahkan sukses. Akan tetapi, fakta itu bukannya menenangkanku, malah

justru membuatku sulit bernapas. Pada Trevor dan Reggie, dengan usia mereka

yang masih muda, aku bisa melihat potensi mereka dalam sepuluh tahun ke depan.

Sementara pada Gabriel, aku melihat laki-laki yang sudah „jadi‟, yang tidak lagi

memerlukan doronganku untuk meraih kesuksesannya. Entah mengapa, aku

merasakan ada sedikit kekecewaan ketika menyadari hal ini.

Namun demikian, aku tetap melihat prospek suami yang sangat sempurna pada

diri Gabriel. Harus kuakui, secara fisik aku tidak bisa menolak rasa ketertarikanku

kepadanya. Aku pun cukup yakin, setelah satu jam mengobrol dengannya, dia juga

tertarik kepadaku. Aku lalu menepiskan rasa waswasku yang tidak memiliki dasar

yang kuat, dan mencoba mengenali Gabriel lebih jauh lagi.

“Sudah berapa lama kamu jadi anggota MBD?” tanyaku, sambil memotong kue

cokelatku dengan sendok.

“Bulan November ini bakalan satu tahun,” jawab Gabriel, sambil meminum

kopinya.

Mau tidak mau keningku mengernyit. Bagaimana mungkin dia sudah menjadi

klien MBD selama hampir setahun dan belum juga menemukan pasangan yang

cocok.

“Kamu masih belum menemukan orang yang tepat?” pancingku.

“Saya ketemu beberapa.”

“Terus?” Aku mencoba menyembunyikan nada penasaran pada suaraku, tetapi

gagal total.

Gabriel menatapku sambil memicingkan matanya. Aku merasa dia sedang

mencoba menilaiku. Setelah puas dengan pengamatannya, Gabriel menjawab,

“Montana.”

Aku mengedipkan mata beberapa kali. Itu jawaban yang sama sekali tidak

masuk akal bagiku. Apakah ada yang terjadi di negara bagian itu? Aku mencoba

mengingat-ingat apa saja yang ada di Montana. Ada pegunungan dan peternakan

kuda, itu saja. Setelah beberapa detik dan otakku tetap tidak bisa menemukan

penjelasan yang lebih masuk akal, aku terpaksa bertanya, “Maksudmu?”

“Anak gadis saya.”

Apa yang terjadi setelah itu di luar kontrol otakku. Tiba-tiba saja mulutku

menyemburkan lemonade yang baru saja kutelan ke wajah, tangan, dan sebagian

kemeja Gabriel. Semua orang yang ada di sekelilingku langsung menoleh ingin

melihat apa yang sedang terjadi di meja kami.

Hahaha... laki-laki itu pasti akan memutuskan hubungannya dengan perempuan itu

setelah kejadian ini.

Apakah yang laki-laki itu katakan kepadanya sehingga membuatnya bereaksi seperti itu?

Sudah aku bilang perempuan itu aneh. Aku masih nggak percaya dia menyemburkan

minumannya ke laki-laki itu.

Sekali lagi aku mencoba tidak menginterpretasikan tatapan orang-orang yang

ada di sekitarku. Aku memerintahkan imajinasiku untuk diam seribu bahasa. Aku

sangat menghargai Gabriel yang tidak marah, dia bahkan tidak terlihat tersinggung.

Dia hanya mengambil serbet yang ada di pangkuannya untuk mengusap tetesantetesan

lemonade dari wajahnya.

“Are you okay?” tanyanya khawatir.

Tanpa menghiraukan pertanyaannya aku meluncurkan pertanyaanku sendiri,

“Kamu punya anak gadis?” Dengan suara yang cukup keras.

Tiba-tiba waiter yang tadi melayani kami muncul, dan menanyakan apakah

semuanya baik-baik saja sambil menatapku khawatir. Aku dan Gabriel mengangguk

bersamaan. Waiter itu pun berlalu.

Aku lalu mengulang pertanyaanku lagi, tetapi kini dengan berbisik. Gabriel

mengangguk, dan tiba-tiba dia mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya.

“Umurnya enam belas tahun,” ucapnya, sambil menyodorkan selembar kertas

kecil kepadaku. Ternyata foto gadis remaja berambut hitam dengan kawat gigi.

“Wajahnya seperti kamu.” Aku mencoba terdengar seramah mungkin sambil

membandingkan wajah anak itu dengan Gabriel.

Gabriel tertawa. “Dia lebih kelihatan seperti ibunya sebetulnya.”

Saat itu aku sedang memaki-maki MBD di dalam hatiku. Bagaimana mungkin

mereka memasangkanku dengan laki-laki yang sudah punya anak? Apakah mereka

tidak memahami kalimat “single” se-single-single-nya? Aku ingin laki-laki yang

masih single dan tidak pernah menikah. Gabriel jelas-jelas pernah menikah, kalau

tidak bagaimana dia bisa punya anak?

Aku menggeleng dan mencoba menjelaskan keadaan ini.

“Sori, saya seharusnya memberitahu kamu sebelumnya.” Suara Gabriel

terdengar agak kecewa melihat reaksiku.

“Nggak... nggak... ini bukan salah kamu. Ini salah MBD. Saya mengatakan

kepada mereka bahwa saya hanya mau dating dengan laki-laki single yang belum

pernah menikah. Kelihatannya ada kesalahpahaman.” Aku mengatakan semua katakata

itu secepat mungkin agar tidak menyinggung hati Gabriel.

“Saya masuk ke dalam kategori itu,” balas Gabriel, dengan suara tenang.

“What?”

“Priscilla, ibu Montana, dan saya tidak pernah menikah. Kami hidup secara

terpisah. Priscilla meninggal dalam boating accident enam bulan yang lalu. Jadi,

Montana harus tinggal dengan saya.”

Aku hanya ternganga mendengar penjelasannya. Aku merasa seperti sedang

menonton sinetron daripada menjalankan hidupku sendiri. Bagaimana mungkin

kejadian seperti ini bisa terjadi dalam kehidupan nyata?

“I‟m sorry about... Priscilla,” ucapku akhirnya ketika aku bisa mengeluarkan katakata

lagi.

Gabriel mengangguk dan tersenyum.

Rasa penasaranku seketika muncul. “Kalau usiamu 35 tahun dan Montana 16

tahun, itu berarti dia lahir ketika usia kamu... 19?” Aku mencoba melakukan

perhitungan itu di kepalaku.

Gabriel tertawa mendengar pertanyaanku. “Well, saya masih muda dan berpikir

dunia ini milik saya.” Gabiel mengedipkan mata kanannya. “Priscilla lebih sial

daripada saya. Dia nggak pernah mencapai mimpinya jadi seorang supermodel,”

lanjutnya.

Kalau ini dalam situasi lain, aku mungkin bisa tertawa mendengar penjelasan

Gabriel, tetapi kini aku hanya bisa terdiam.

“Apakah kamu berdua pacaran sejak SMA?” tanyaku, setelah beberapa menit.

“Nggak. Kami kenal di pesta teman kuliah saya.”

Aku pasti menatap Gariel dengan wajah penuh kebingungan karena Gabriel

tertawa lagi.

“Kami sama-sama drunk. Banyak hal terjadi. Ketika saya bangun, kami berdua

ada di satu tempat tidur dan sama-sama tidak mengenakan apa pun. Sebulan

kemudian dia datang mencari saya dan mengatakan dia hamil anak saya.” Gabriel

menarik napas panjang sebelum melanjutkan. “Saya dibesarkan sebagai laki-laki

yang baik dan tahu sopan santun. Saya tidak punya pilihan selain menikah

dengannya, tapi Priscilla menolak. Dia kurang memiliki insting keibuan.

Orangtuanya mencoba meyakinkannya agar menikah dengan saya untuk

menyelamatkan nama keluarganya. Mereka salah satu keluarga paling berpengaruh

di New England. Priscilla tetap menolak, kami pun berhenti meyakinkannya.”

“Montana sekarang ada di mana?” bisikku.

“Dia ada di salah satu boarding school di Boston. I will never let her out of my sight

until she‟s 40. Saya tidak mau dia membuat kesalahan yang sama seperti saya dan

Priscilla.”

“Seberapa sering kamu ketemu dengan anak kamu?” tanyaku.

“Sesering mungkin, selama saya bisa mengambil off dari pekerjaan saya. Liburan

Thanksgiving nanti saya akan membawanya ke Rhode Island mengunjungi

grandparents-nya.”

Rhode Island adalah salah satu negara bagian di timur laut Ameriak Serikat,

yang juga dikenal sebagai New England. Kebanyakan keluarga dengan old money,

yaitu keluarga yang kekayaannya turun-temurun semenjak Amerika Serikat

merdeka dari Inggris di tahun 1800-an, tinggal di wilayah ini.

“Orangtua Priscilla?”

Gabriel mengangguk. “Saya memiliki hak asuh anak penuh atas Montana, tetapi

saya tidak bisa melarangnya bertemu dengan satu-satunya grandparents yang dia

pernah kenal. Lagi pula, mereka mencintai Montana, begitu pula sebaliknya.”

Aku mengangguk, menyetujui keputusannya. Aku mendengarkan cerita Gabriel

dengan saksama. Di satu sisi aku kagum karena dia telah memikul tanggung jawab

sebesar itu pada usia yang sangat muda dan tetap bisa meraih sukses. Di lain sisi

aku tahu Montana-lah penyebab kenapa aku, seperti juga beberapa wanita lainnya

menurut Gabriel, memutuskan mundur teratur. Aku masih terlalu muda untuk jadi

seorang ibu dari gadis berumur enam belas tahun.

“Did I scare you off?” tanya Gabriel tiba-tiba.

Aku berpikir sejenak. Apakah aku harus berbohong kepadanya, dan

mengatakan aku tidak peduli bahwa dia sudah punya anak? Tujuanku meminta

pertolongan MBD agar aku tidak perlu lagi membuang waktu mencari suami di

tempat yang salah atau menghabiskan waktu dengan orang yang salah. Aku juga

yakin Gabriel sudah cukup dewasa untuk mengerti jika aku menolaknya.

“Ya. Kalau saya mau jujur, kamu sudah membuat saya takut setengah mati,”

ucapku.

Tanpa kusangka-sangka Gabriel justru tertawa. “Setidak-tidaknya kamu jujur

kepada saya soal ini. Tidak seperti mereka yang mengatakan tidak mempermasalahkan

hal ini, tetapi kemudian tidak mau menjawab telepon saya.”

“Ada yang begitu?” tanyaku terkejut. Menurutku tindakan itu sangat tidak

sopan.

Gabriel mengangguk. “Are you finished with your dessert?” tanyanya.

“Yes, I‟m done,” ucapku.

Dalam perjalanan pulang menuju Winston-Salem aku menelepon Sandra dan

memberitahunya agar menambahkan satu lagi persyaratan yang harus dipenuhi

oleh date-ku, yaitu mereka tidak boleh punya anak di luar nikah.

* * *

Bulan Oktober pun tiba, dan aku sudah menjadi klien MBD selama enam minggu.

Reggie sempat meneleponku untuk mengajakku ke luar, tetapi aku menolaknya.

Aku mengatakan kepadanya bahwa aku tidak bisa menjalin hubungan romantis

dengannya, meskipun aku terbuka apabila dia masih mau berteman denganku.

Reggie memahami penjelasanku dan kami sempat bertemu makan siang ketika dia

harus datang ke Winston-Salem untuk mengikuti seminar psikologi, yang diadakan

Wake Forest University. Hingga kini Trevor tidak pernah meneleponku, dan aku

sangat bersyukur oleh karenanya.

Setelah Gabriel, aku sudah pergi berkencan dengan empat laki-laki lagi. Tiga

dari mereka bahkan tidak aku pertimbangkan sama sekali. Rob Adams sangat

mengingatkanku akan Brandon. David Wu ternyata tidak bisa membedakan warna

cokelat dengan hitam, alias buta warna. Ben Stewart, yang meskipun usianya sudah

38 tahun, masih memulai setiap kalimatnya dengan, “My mother said...”. Hanya satu

dari mereka yang betul-betul menarik perhatianku. Dia bernama Jacob Sutter.

Meskipun wajah dan penampilan keseluruhannya bisa digolongkan biasa saja,

sepanjang kencan pertama kami aku selalu merasa nyaman dengannya. Berbeda

dengan Gabriel, yang menjatuhkan “bom atomnya” kepadaku dua jam setelah aku

bertemu dengannya, Jacob kelihatannya tidak memiliki rahasia yang harus

disembunyikan.

MBD mungkin sudah siap mencekikku karena setiap kali mereka menanyakan

apakah mereka sudah mempertemukanku dengan laki-laki yang berpotensi sebagai

suami, aku akan menjawab tidak “COLD”, yang berarti „meleset jauh dari sasaran‟.

Atau sudah “WARM”, artinya „cukup mendekati sasaran‟. Khusus kencanku dengan

Gabriel, aku akan menjawab sudah cukup “HOT” yaitu „tepat sasaran‟, kalau saja

dia tidak memiliki anak gadis yang umurnya lebih cocok jadi keponakanku

daripada anakku. Sejujurnya, menurutku MBD betul-betul telah melaksanakan

tugas mereka dengan baik. Aku yakin, aku tidak akan bisa menemukan semua lakilaki

yang telah dipasangkan denganku oleh MBD jika aku mencari mereka sendiri.

Oleh karena itu, aku berencana menemui Jacob lagi malam ini untuk memastikan

apakah aku bisa mengubah pendapatku tentangnya, dari “cukup mendekati

sasaran” menjadi “tepat sasaran”.

Untuk kencan pertama kami Jacob-lah yang datang dari Durham, tempat dia

tinggal, untuk menemuiku di Winston. Untuk kencan kedua aku mengambil jalan

tengah dan memintanya menemuiku di Burlington karena aku tidak mau

membebaninya datang jauh-jauh ke Winston lagi. Aku berjanji bertemu Jacob di

salah satu restoran Jepang yang telah direkomendasikan banyak orang kepadaku.

Jacob mengatakan dia tidak pernah makan makanan mentah, tetapi dia akan

memberanikan diri mencobanya denganku. Aku sedang meluncur di I-40, jalan raya

yang menghubungkan Winston dengan kota-kota lainnya, ketika tiba-tiba

kurasakan setir mobil terasa agak berat dan lari ke kiri.Aku memang kurang paham

urusan otomotif, tetapi aku tahu jika mobil yang biasa dikendarai terasa agak lain

ketika sedang dikemudikan, maka pastilah ada komponen mobil itu yang tidak

bekerja dengan sempurna.

Perlahan-lahan kutepikan mobil ke bahu jalan dan berhenti. Kubiarkan mesin

tetap hidup dan hanya menarik rem tangan, kemudian keluar dari mobil untuk

memeriksa keadaan. Ternyata ban depan sebelah kiri memang agak sedikit kempes.

Aku mempertimbangkan, apakah dengan kondisi ban seperti itu aku bisa sampai ke

Burlington, yang masih membutuhkan waktu lima belas menit lagi. Aku bisa

menelepon AAA, perusahaan yang menyediakan berbagai jasa yang berhubungan

dengan isu-isu travel, mulai dari peta hingga mengganti ban yang kempes. Mereka

akan mengganti banku selama aku makan siang dengan Jacob. Kulirik jam

tanganku, aku masih ada waktu setengah jam sebelum waktu pertemuanku dengan

Jacob. Melihat kondisi ban mobilku, sepertinya ban itu tidak akan bertahan sampai

di Burlington. Kalau aku harus menunggu hingga AAA datang, bisa jadi aku akan

terlambat berkencan dengan Jacob.

Aku pun segera mengambil keputusan. Kumatikan mesin mobil, kemudian

membuka bagasi dan mengeluarkan dongkrak serta kunci ban. Untung saja hari ini

aku hanya mengenakan jeans dan sweater turtleneck. Jadi, aku bisa lebih leluasa

bergerak. Ketika aku sedang memompa dongkrak itu dengan kakiku, tiba-tiba

kulihat sebuah Volvo SUV berhenti persis di belakang mobilku. Aku

memperhatikan pemilik mobil itu, yang mengenakan kacamata hitam, keluar dari

kendaraannya dengan langkah yang cukup luwes untuk ukuran laki-laki sebesar

dia. Apakah dia juga mengalami masalah dengan mobilnya sepertiku? pikirku.

Tiba-tiba dia meneriakkan namaku. “Titania!”

Aku menatapnya bingung. Bagaimana dia bisa tahu namaku? Jelas-jelas aku

tidak mengenalnya, tetapi tata krama tetap harus didahulukan.

“Yes?” Jawabanku lebih terdengar seperti pertanyaan.

“Flat tire?” tanyanya lagi.

“Yes,” jawabku lagi. Aku masih bingung. Siapakah orang ini?

Kemudian seperti bisa membaca pikiranku, dia berkata, “Kamu nggak ingat

saya, ya?”

Aku tersenyum sopan kepadanya, tetapi aku yakin wajahku menggambarkan

kebingunganku.

“Saya Reilley. Kamu membantu saya memilih lettuce di Fresh Market. Masih

ingat?”

Reilley melepaskan kacamata hitamnya, dan mata birunya langsung menatapku

dengan jenaka. Saat itu juga aku bisa merasakan sengatan listrik yang menyerang

tubuhku. Aku tidak bisa bernapas.

Aku berhenti memompa dongkrak dengan kakiku, lalu tertawa cemas. “Kok

bisa bertemu kamu lagi di sini, ya?” Suaraku agak bergetar.

Kulihat Reilley sedang menarik lengan sweater cokelatnya sambil tersenyum.

“Ban serepnya di mana?” tanyanya, dan melangkah mendekatiku.

Tiba-tiba ada angin yang cukup kuat berembus melewati tubuh Reilley yang

besar ke arahku, dan aku bis amencium bau cologne-nya.

Untuk mencegah imajinasiku agar tidak memikirkan yang tidak-tidak, aku

buru-buru menjawabnya, “Di bagasi,” sambil menunjuk ke bagasi mobil yang

terbuka. Aku lalu berlutut di samping mobil dan mulai melepaskan semua baut ban

satu per satu.

Kudengar ada suara gedebuk yang sangat halus, dan ban serep sudah berada di

sampingku.

“Boleh saya bantu?” tanyanya, sambil mengambil kunci ban dari genggamanku.

Aku sebetulnya mau protes karena aku wanita mandiri yang bisa mengganti

ban sendiri, aku tidak memerlukan bantuannya. Reilley melihat ekspresi wajahku

dan menambahkan, “Kini giliran saya membantu kamu,” ucapnya pelan.

Aku mengangguk dan mempersilakannya mengganti ban mobilku. Dalam

waktu lima menit dia sudah menyelesaikan semua pekerjaannya, lalu meletakkan

ban yang kempes, dongkrak, dan kunci ban di bagasi mobil.

“Thank you,” ucapku ketika Reilley menutup bagasi mobilku. Kuserahkan

selembar tisu basah kepadanya. Reilley mengambilnya dan mengusap kedua

telapak tangannya. Aku kemudian mengambil tisu bekas itu dari genggamannya.

“Kamu akan ke mana?” tanyanya.

“Burlington,” jawabku. Tiba-tiba angin bertiup dan aku harus memeluk

tubuhku untuk mengusir udara yang tiba-tiba terasa agak dingin.

Tanpa kusangka-sangka Reilley menarikku ke pelukannya dan mengusap

punggungku. Sekali lagi aku merasakan sengatan listrik yang tadi menyengatku.

Bau cologne-nya yang tadi hanya samar-samar kini menyengat indra penciumanku

dengan kekuatan penuh. Bau cologne itu semakin mengingatkanku betapa

gantengnya Reilley, dan aku tahu aku harus menjauh darinya sebelum terlena

dalam pelukannya. Akan tetapi, tubuhnya memang hangat sehingga aku tidak

mencoba melepaskan diri.

Setelah beberapa detik, dia berkata, “Better?”

Aku mengangguk. Reilley kemudian menuntunku menuju mobil, membuka

pintunya dan membiarkanku masuk. Setelah itu, ia menutup pintu mobil dan

menunggu hingga aku menghidupkan mesin. Reilley mundur satu langkah untuk

memeriksa banku sekali lagi, kemudian dia mengacungkan kedua jempolnya

sebagai tanda oke. Aku pun menurunkan kaca mobilku dan berkata, “Thank you.

Again,” ucapku.

“It was my pleasure,” balasnya, sambil tersenyum. Ketika dia mengucapkan katakata

itu, seperti ada sesuatu dalam otakku yang berbunyi klik... klik... klik.... Aku

merasa kata-kata itu penting dalam konteks yang lain, tapi aku tidak bisa ingat di

mana aku pernah mendengar kata-kata yang sama diucapkan.

Reilley kemudian berjalan menuju mobilnya. Aku baru sadar, aku masih

menggenggam tisu bekas yang tadi digunakan Reilley. Kulemparkan tisu itu ke

lantai mobil dan akan kubuang ke tempat sampah kemudian. Kuperhatikan lalu

lintas yang ada di sebelah kiriku melalui kaca spion, kemudian meluncurkan mobil

kembali ke jalan raya. Sepanjang perjalanan untuk menemui Jacob, aku merasa tidak

tenang karena seperti ada sesuatu yang mengganjal. Suatu teka-teki yan gtidak

terselesaikan atau ditinggalkan tidak terjawab. Yang jelas, aku tidak bisa

menghapuskan bau cologne Reilley dari kepalaku, terutama karena bau itu sekarang

menempel pada sweater-ku.

Pada akhirnya, kencanku dengan Jacob tidak berjalan sebaik yang aku

harapkan. Jacob sadar bahwa aku tidak menumpukan perhatianku kepadanya

sepanjang kencan kami. Ia terlihat kecewa dan mengakhiri kencan kami lebih cepat

dengan alasan dia harus mengunjungi temannya yang baru saja melahirkan.

Sejujurnya, aku merasa bersalah terhadap Jacob. Akan tetapi, kepalaku terlalu

penuh dengan sosok laki-laki bermata biru yang bisa menenggelamkanku hanya

dengan tatapannya sehingga aku tidak terpikir untuk mengatakan kata “maaf”

kepadanya.

* * *

Seperti biasanya, Didi akan meneleponku setelah kencanku untuk mengetahui

hasilnya. Dia bahkan lebih tertarik terhadap Jacob dibandingkan aku.

“Bagaimana date-nya, Mbak?” tanya Didi, penuh semangat.

“Biasa saja,” jawabku. Aku baru saja membuka pintu depan apartemen ketika

telepon selularku berbunyi.

“Lho kok nggak excited begitu sih? Ada yang salah?” Didi terdengar curiga.

Tentu saja ada yang salah. Bukannya memikirkan Jacob, selama perjalanan

pulang dari Burlington aku justru memikirkan Reilley.

“Nggak, nggak ada yang salah,” jawabku, sambil melangkah masuk ke dalam

apartemen.

“Jadi, ada apa dong? Kemarin Jacob kan sudah masuk zona HOT, kok sekarang

jadi COLD sih?”

Aku memang tidak pernah bisa berbohong kepada adikku ini. Dia terlalu jeli

melihat tingkah laku manusia.

“Ya, kayaknya Jacob nggak cocok deh untuk aku.” Kulepaskan sepatu dan

berjalan menuju kamar tidur.

“Oh, ma...n, padahal aku sudah setuju sekali dengan yang ini,” teriak Didi

kecewa.

Aku terpaksa tertawa mendengar suaranya yang penuh kekecewaan itu. “So,

kapan date selanjutnya?”

“Belum ada. Sandra belum telepon lagi,” jawabku.

Didi mengembuskan napasnya, dan berkata, “Oh begitu.”

“By the way, aku tadi bertemu Reilley,” ucapku tanpa ancang-ancang. Daripada

menyimpan rahasia ini dan berisiko diomeli habis-habisan oleh Didi karena tidak

menceritakan kepadanya, aku memutuskan mengambil jalan aman dan berkata

jujur.

“Reilley? Cowok yang dari Fresh Market itu?” Suara Didi langsung terdengar

ceria.

Aku memang sempat menceritakan pertemuanku dengan Reilley beberapa

bulan yang lalu itu kepada Didi. Pada saat itu aku belum memiliki perasaan apa-apa

terhadap Reilley, selain bahwa dia ganteng sekali.

“Yep,” jawabku, sambil mengatur telepon selularku agar suara Didi bisa

terdengar melalui speaker. Aku kemudian menanggalkan sweater dan celana jeans

yang aku kenakan dan menggantinya dengan kaus longgar dan celana piama.

“Di mana?” Kini suara Didi semakin meninggi, yang menandakan dia sudah

sangat tertarik terhadap Reilley dan siap melupakan Jacob.

Aku lalu menceritakan pertemuanku dengan Reilley. Didi mendengarkan

dengan saksama dan sesekali menarik napas karena kaget.

“Oh, my God. He is so sweet,” ucap Didi, dengan nada seperti si punguk yang

merindukan bulan.

“You think so?” tanyaku ragu. Aku tidak tahu apakah normal menyukai laki-laki

yang baru aku temui dua kali.

“Of course I think so. Aku jadi penasaran ingin lihat tampangnya. Mata birunya

tuh sebiru apa, ya?”

“Biru sekali deh pokoknya. Laut Pasifik juga kalah,” ucapku bersemangat.

Sejujurnya, aku tidak pernah terlalu memikirkan sebiru apakah mata Reilley, tetapi

kelihatannya penggambaranku barusan cukup mengena.

Didi tertawa mendengarnya. “Kayaknya dia suka deh kepada kamu, Mbak.”

Kata-kata Didi menyadarkanku akan perasaanku sendiri, tetapi aku tetap belum

berani menerimanya sebagai suatu kenyataan.

“Ah, nggaklah. Dia hanya baik saja kok,” balasku salah tingkah.

“Menurutku malahan kelewat baik. Mana ada sih orang zaman sekarang yang

mau berhenti di pinggir tol untuk membantu orang?”

“Kalau di D.C. sih nggak mungkin, tetapi di sini masih banyak kok orang yang

mau membantu orang lain. “Aku memberi penjelasan bahwa memang budaya di

kota besar akan sedikit berbeda dengan di kota kecil.

“Tetap saja aneh. Dari cara dia omong ketika bertemu Mbak kayaknya dia

berhenti bukan karena memang berniat membantu siapa saja, tetapi karena orang

yang bakal dia bantu itu Mbak.”

“Jangan bikin aku ge-er deh,” omelku.

Didi tertawa tergelak. “Sayang ya Mbak nggak sempat minta nomor teleponnya.

Kalau nggak kan setidak-tidaknya Mbak bisa telepon dia.”

“Doakana ku supaya bisa bertemu dia lagi. Mudah-mudahan kali itu aku nggak

lupa minta nomor teleponnya. Eh, tetapi... bagaimana mintanya ya, Di?”

Meskipun aku cukup berpengalaman dengan laki-laki sebelum aku bertemu

dengan Brandon, selalu merekalah yang meminta nomor teleponku terlebih dahulu

sehingga aku tidak memiliki pengalaman melakukan sebaliknya.

“Ya, bilang saja Mbak minta nomor telepon dia. Beres, kan.” Didi terdengar

tidak sabaran.

“Memang kamu pernah minta nomor telepon cowok?” Aku tahu jawaban

pertanyaan ini, tetapi aku hanya ingin menggoda adikku. Didi tipe perempuan yang

supergengsi untuk minta nomor telepon dari laki-laki mana pun.

“Apa maksud Mbak tanya begitu?” Didi terdengar tersinggung, tetapi aku tahu

dia paham aku hanya bercanda.

“Ya, nggak ada apa-apa, hanya tanya saja,” balasku pura-pura cuek.

Tiba-tiba aku mendengar suara ketukan, kemudian kudengar suara Didi

berteriak, “Be there in a sec.” Lalu Didi berkata padaku, “Mbak, sudah dulu ya

ngobrolnya. Aku sudah dijemput nih oleh teman.”

“Kamu mau ke mana?” tanyaku ingin tahu.

“Biasa... ke library, mau research.” Cara Didi mengatakan kata library dan research

terkesan dia akan melakukan hal yang akan membawa kebahagiaan baginya. Aku

tertawa pada diriku sendiri, menertawakan adikku yang kutu buku itu.

“Well, have fun,” ucapku memberinya semangat.

“I will. Oh... ya, omong-omong jangan lupa minta nomor telepon Reilley kalau

bertemu dia lagi, oke.”

Sebelum aku menjawab, Didi sudah menutup teleponnya. “Oke,” ucapku pelan.

4

Zorro From Hell

TANGGAL 31 Oktober pun tiba, dan untuk pertama kalinya selama tiga tahun

terakhir ini aku akan menghadiri pesta Halloween yang diadakan kantorku tanpa

ditemani Brandon. Aku merasa agak sedikit canggung datang sendiri karena

biasanya aku dan Brandon selalu mengenakan kostum yang akan melengkapi satu

sama lain. Dua tahun yang lalu kami memakai kostum sebagai Bonnie dan Clyde,

pasangan bandit yang terkenal pada era tahun 30-an. Tahun lalu Brandon

mengenakan kostum Popeye dan aku sebagai Olive.

Tahun ini aku terpaksa mengenakan kostum biarawati. Sejujurnya, kostum ini

bukan pilihanku. Aku terpaksa mengambilnya karena pilihan lain yang tersisa

adalah menjadi seekor kelinci paskah berwarna pink dengan ukuran bokong yang

superbesar atau menjadi putri duyung. Aku langsung menolak kostum putri

duyung karena udara sudah terlalu dingin bila harus mengenakan BH saja. Selain

itu, akut idak berani memamerkan perutku yang agak buncit kepada teman-teman

kantor. Mereka bisa langsung pingsan melihatku. Titania Larasati, satu-satunya

pegawai yang orang Asia dan sangat konservatif, tiba-tiba muncul dengan hanya

mengenakan BH dan selembar kain tipis berwarna hijau yang menutupi pinggul

hingga ke mata kaki dengan potongan yang sangat ketat.

Inilah konsekuensi yang harus aku terima jika baru pergi ke toko yang

menyewakan kostum pada detik-detik terakhir. Mungkin kalau aku tinggal di New

York hal ini tidak akan menimbulkan masalah karena di kota-kota besar biasanya

terdapat beberapa toko yang menyewakan kostum untuk Halloween. Aku kan

tinggal di salah satu kota terkecil di Amerika Serikat, dan di Winston hanya ada dua

toko yang menyewakan kostum untuk Halloween. Satu toko dikhususkan untuk

anak-anak berumur dua belas tahun ke bawah, sedangkan satu toko lagi untuk

remaja dan orang dewasa. Sejujurnya, aku sudah berniat tidak datang ke pesta

Halloween tahun ini, tetapi Halloween adalah salah satu liburan yang aku paling

sukai. Sejak aku SMA dan pindah ke Amerika, aku tidak pernah melewatkan

kesempatan menanggalkan identitasku dan berpura-pura menjadi orang lain,

walaupun hanya untuk beberapa jam.

Bukannya aku ada masalah dengan „diri‟ku. Aku sangat menyukai siapa aku

dari ujung rambut hingga ujung kaki. Hanya saja terkadang aku ingin melarikan diri

dari segala tekanan yang ada di sekitarku. Sebagai anak paling besar, aku sudah

terbiasa mandiri sejak SD. Meskipun aku tahu adikku bisa menjaga dirinya sendiri,

aku selalu merasa bertanggung jawab menjaganya. Aku selalu berusaha

mendahulukan kepentingannya daripada kepentinganku. Didi terlahir menjadi

seorang pemikir. Oleh sebab itu, aku sangat mendukungnya ketika dia berniat

mengambil S3, meskipun itu berarti dia tidak akan memiliki penghasilan sendiri

selama lima tahun ke depan. Dengan diterimanya Didi di Program S3 Psikologi

pada salah satu universitas terbaik di Amerika, maka kecil kemungkinan baginya

memiliki waktu untuk mencari suami dan memberikan cucu bagi ibu dan bapakku.

Akhirnya, semua tanggung jawab itu jatuh ke aku.

* * *

Didi dan orangtuaku tentunya tidak pernah memintaku memikul semua tanggung

jawab itu, tetapi aku tetap merasa itulah tugas seorang kakak. Sepanjang hidupku,

aku sudah menata semua rencana hidupku dengan rapi dan penuh perhitungan.

Aku bahkan memiliki rencana cadangan jika rencana utama tidak berjalan sesuai

yang kuinginkan. Tentu saja semua rencana itu tidak mempersiapkanku untuk

menghadapi perselingkuhan orang yang menjadi pusat semua rencana yang

menyangkut masa depanku. Setelah aku pikirkan semuanya kembali, aku tidak tahu

mengapa aku bisa bertahan hidup dengan Brandon selama hampir tiga tahun.

Brandon bahkan tidak pernah mengutarakan keinginannya menikahiku. Memang

kata cinta sering diucapkannya, terutama jika dia sedang memohon kepadaku agar

mau melepaskan keperawananku untuknya. Namun demikian, tidak sekali pun dia

menyinggung tentang pernikahan.

Selama ini aku telah membohongi diriku sendiri dengan mencoba meyakinkan

diriku bahwa kata cinta dari Brandon berarti pernikahan dengannya suatu hari

nanti. Aku telah menginvestasikan tiga tahun hidupku bersama Brandon. Kalau saja

investasi itu bisa diuangkan, mungkin aku sudah menjadi kaya. Aku mematut

diriku sekali lagi di depan cermin panjang di kamarku. Ternyata memang ada

untungnya berkostum sebagai biarawati karena bentuk tubuhku betul-betul tidak

kelihatan sama sekali. Hal itu berarti aku bisa makan sebanyak-banyaknya tanpa

harus khawatir perutku akan bertambah buncit. Sambil tersenyum aku pun

mematikan lampu kamar dan beranjak menuju mobil.

* * *

Pesta Halloween tahun ini seperti biasa diadakan di Embassy Suites, sebuah hotel

yang cukup jauh dari rumahku. Ketika aku memasuki lobi hotel, aku langsung

merasakan beberapa pasang mata menatapku penasaran. Aku melihat Kathy, rekan

kerjaku, memakai kostum Wilma Flinstone. Aku melambaikan tangan dengan

semangat sambil berjalan ke arahnya. Kulihat Kathy memicingkan matanya, dia

terlihat ragu. Kulihat Kathy memicingkan matanya, dia terlihat ragu. Setelah aku

hanya tinggal satu meter darinya, Kathy berteriak, “Titania, is that you? Aww... Lorrd,

I almost didn‟t rrecognize yah!” Dengan logat yang sangat North Carolina, dia

memanjangkan pengucapan huruf „r‟ dan mengubah „ou‟ menjadi „ah‟.

Aku tertawa melihat reaksinya. “Bagaimana penampilanku?” tanyaku.

Kathy menatap wajahku yang tanpa makeup, seluruh tubuhku yang dilapisi

jubah hitam, dan kakiku yang ditutupi sepatu bot berwarna hitam.

“Well, yah definitely look different and I‟m suh that people won‟t know it‟s yah „til you

tol „em.”

Untungnya Kathy tidak menyinggung soal Brandon. Semua orang di

departemenku sudah tahu mengenai berakhirnya hubunganku dengan laki-laki

bajingan itu. Mereka sempat terkejut ketika aku memberitahu bahwa aku dan

Brandon sudah tidak sama-sama lagi, tetpai aku tidak mengatakan alasannya.

Mereka hanya tahu sudah tidak ada kecocokan lagi di antara kami berdua.

“Apakah semua orang sudah sampai?” tanyaku. Tiba-tiba aku mendengar bunyi

musik yang cukup keras dari ballroom, yang pintunya terbuka.

“Most of „em arrre. Therrre are some that I dont rrrecognize and we‟re not s‟posed to ask

until midnight when the parrrty is over and eve‟ryone can take off their masks.”

Aku hampir lupa dengan peraturan itu. Tentunya selama ini aku tidak pernah

ada masalah mengenali siapa pun juga karena kebanyakan mereka mengenakan

kostum tanpa menutupi wajah. Tahun ini tampaknya ada trend kostum baru.

Banyak wanita dan laki-laki yang seliweran mengenakan topeng. Beberapa dari

mereka mengenakan topeng bulu-bulu yang hanya menutupi bagian kening hingga

hidung. Beberapa lainnya mengenakan topeng yang menutupi separo wajah ala

Phantom of the Opera. Banyak juga yang menutupi seluruh wajah dengan tiruan

topeng Hannibal Lecter. Aku hampir bergidik ketika melihat seseorang melewati

kami dengan mengenakan topeng karakter antagonis di film Saw.

“Mengapa sih mereka pakai topeng?” tanyaku pada Kathy, yang

menggandengku menuju ballroom.

“I ain‟t got a clue, honey. Jujur saja, mereka bikin aku agak waswas. You better be

real careful coz people will act cra-ha-zy if they think that nobody can know who they are

when they‟re doing it.”

Aku mengangguk mendengar nasihatnya. Kathy lalu membuka pintu ballroom,

dan aku langsung terkesima. Ruangan itu telah disulap menjadi klub malam ala

tahun 70-an. Semuanya terlihat retro abis, mulai dari lampu kristal yang

memantulkan cahaya ke lantai dansa di tengah ruangan hingga kursi-kursi yang

bertebaran mengelilingi ruangan itu. Satu-satunya yang menandakan kita sedang

berada pada abad ke-21 adalah musik yang terlantun dengan keras dari beberapa

speaker yang tergantung rendah di langit-langit ballroom.

“Aku mau ambil minum, kau mau?” teriak Kathy, meningkahi suara Justin

Timberlake.

Aku menggeleng. Kathy lalu menghilang di antara kerumunan orang-orang. Di

bawah lampu yang remang-remang pelan-pelan aku berjalan mengelilingi lantai

dansa yang sudah cukup penuh. Ada Hillary Clinton yang sedang berdansa dengan

P.Diddy, Shakira dengan Harry Potter, laki-laki ubanan dengan kimono tidur

berwarna merah sedang berdansa dengan dua orang wanita yang bergaya seperti

Playboy Bunnies. Aku kemudian sadar bahwa laki-laki ubanan yang berdansa

dengan mereka adalah Hugh Hefner. Bukan raja majalah khusus untuk laki-laki

yang asli tentunya, tapi cukup mirip untuk jadi kembarannya. Kemudian kulihat

ada yang mengenakan kostum Batman. Aku harus menahan tawaku ketika sadar

bahwa orang itu adalah Linnell, bosku. Kostum yang ketat itu tidak bisa

menutupiperutnya yang buncit. Dia kelihatan mengalami masalah untuk bernapas

dalam kostum itu. Aku merasa kasihan kepadanya. Kuputuskan menghampirinya,

tetapi tiba-tiba ada yang menarik lenganku.

“Can I have this dance?” tanya suara itu, yang terdengar berat dan dalam.

Ketika aku berpaling, aku berhadapan dengan Zorro. Aku betul-betul sedang

tidak mood berdansa. Kuperhatikan sekelilingku, mencoba mencari Kathy yang bisa

menyelamatkanku, tetapi aku tidak melihat Wilma Flinstone di mana pun juga. Aku

kembali menghadapi Zorro smabil mempertimbangkan pilihanku.

“Hanya satu dance saja kok. Anggap saja sebagai sumbangan, sister?” Sepasang

mata cokelat di balik topeng Zorro itu terlihat sedang menari-nari. Dia

memanggilku dengan kata “sister”, kata yang digunakan di Amerika untuk para

biarawati.

Mau tidka mau aku jadi tersenyum. Ada sesuatu yang terlihat familiar pada

dirinya, tetapi aku tidak merasa pasti. Aku lalu membiarkan diriku dituntunnya ke

lantai dansa. Sebuah lagu rap melantun dengan keras. Aku mencoba mengikuti

ketukan lagu itu. Aku merasa agak risi dengan kostum panjangku yang tidak

memberikanku keleluasaan bergerak. Berbeda denganku, Zorro seakan-akan tidak

memiliki masalah sama sekali untuk bergerak mengikuti tempo lagu. Dia bahkan

menggunakan pedangnya ketika sedang menari. Beberapa orang yang sedang

berdansa di sekeliling kami sampai tersenyum melihat tingkah lakunya.

Mula-mula aku masih mengkhawatirkan reputasiku di depan orang-orang

kantorku bila nge-dance dengan gaya yang terlalu heboh. Setelah sadar bahwa tidak

akan ada yang bisa mengenaliku maka aku mulai menanggalkan “Titania Larasati

yang penuh dengan rencana masa depan” menjadi “Titania Larasati yang tidka

peduli apa yang akan terjadi besok”. Kulenggokkan pinggulku dengan lebih

percaya diri, kumainkan mataku untuk menggoda Zorro, bahkan membasahi

bibirku agak terlihat lebih seksi. Zorro melahap semuanya dengan tatapannya, dan

mendekatkan dirinya kepadaku. Setelah beberapa lagu bertempo cepat, musik mulai

berganti dengan lagu-lagu bertempo lambat. Aku tidak tahu sudah berapa lama aku

berdansa dengan Zorro, tetpai tiba-tiba aku merasa haus.

Aku lalu memberi isyarat kepada Zorro bahwa aku akan pergi mengambil

minum. Seperti yang sudah kusangka, dia mengikutiku ke bar yang terlihat agak

sepi. Penerangan di situ bahkan lebih minim dibandingkan di lantai dansa. Aku

melirik jam tanganku, yang sudah menunjukkan pukul setengah sebelas. Gila!!! Aku

sudah berdansa dengan laki-laki tidak dikenal ini selama satu jam lebih. Aku hanya

memesan sebotol corona kepada bartender, dan duduk di salah satu kursi bar yang

tinggi. Zorro kemudian duduk di sebelahku sambil menggenggam botol budweiser.

Suara musik di bar ternyata tidak sekeras di lantai dansa.

“Kamu datang sendiri?” tanya Zorro.

Aku memikirkan pertanyaan itu sejenak. Aku tidak mengenal laki-laki ini.

Jangan-jangan dia seorang pembunuh berantai. Aku memilih jalan aman, dan

menjawab, “Nggak, saya datang bersama teman.”

“Pacar?”

Aku menggeleng. “Kamu sendiri?” tanyaku.

“Sendiri saja,” jawabnya.

Kami lalu terdiam sesaat sambil menikmati minuman masing-masing. “Kostum

kamu seru juga,” ucap Zorro lagi, sambil menunjuk kostumku.

“Kamu juga,” balasku, sambil menunjuk pedangnya yang terbuat dari besi.

“Mengapa jadi biarawati?” tanya Zorro, sambil menatapku dalam.

Aku mengangkat bahu. “Hanya ini yang tersisa.”

Zorro lalu menghadapku, kemudian mendekatkan kepalanya dan membisikkan

sesuatu kepadaku. Otomatis aku pasti mendekatinya. “Untung saja kamu bukan

biarawati betulan, soalnya saya memikirkan hal-hal yang saya ingin lakukan ke

kamu yang nggak seharusnya saya pikirkan,” bisiknya. Ia menarik kepalanya sambil

tersenyum. Sekali lagi suara hatiku berkata ada sesuatu yang familiar tentang

dirinya, tetapi aku menepiskan kata hatiku itu.

Aku tahu, seharusnya aku berdiri pada saat itu juga dan meninggalkan laki-laki

tidak tahu tata krama itu. “Hal-hal seperti apa?” Sebelum aku bisa mengontrol

lidahku, kata-kata itu sudah keluar dari mulutku. Setelah beberapa bulan ini dating

dengan beberapa laki-laki, aku mulai mendapatkan kembali keahlianku flirting

dengan mereka yang sempat hilang.

Kulihat mata Zorro melebar di balik topengnya. “Come with me and I‟ll show you,”

ucapnya, dengan suara serak.

Aku memutar kursiku dan menghadapnya sambil tertawa cemas. “I‟m not gonna

come with you sampai saya tahu kamu siapa,” balasku.

“Oh, kamu tahu siapa saya.” Zorro terlihat menikmati permainan ini.

“Oh, ya?” Hal ini menjelaskan mengapa beberapa hal mengenainya sangat

familiar bagiku. Kupicingkan mataku curiga. “Look. Saya nggak mau play games

malam ini. Jadi, bagaimana kalau kamu lepas topengmu supaya saya bisa melihat

wajah kamu,” ucapku cepat.

Bartender yang terlihat sedang mencuci gelas menatapku. Dari matanya dia

seperti menanyakan, apakah aku memerlukan pertolongannya. Aku menggeleng

sedikit, menandakan aku masih bisa mengatasi keadaan. Bartender itu lalu kembali

mencuci gelas-gelas, tetapi dia terlihat mendengarkan percakapanku dengan Zorro

lebih saksama.

“Selalu perlu mengontrol semuanya.” Suara Zorro seperti membelai wajahku.

Kemudian Zorro turun dari kursinya dan berdiri di hadapanku. Lututku

bersentuhan dengan pinggulnya. Tanpa kusangka-sangka kemudian dia menyentuh

kedua pahaku. Ia memaksaku membuka kedua kaki, kemudian memposisikan

dirinya di antaranya. Dia lalu menarikku ke dalam pelukannya. “Coba kamu ingatingat

lagi,” ucapnya, kemudian sebelum aku bisa melakukan apa-apa dia sudah

mencium bibirku.

Ciuman itu terasa panas dan mendesak hingga aku tidak bisa bernapas. Otakku

tidak bisa bekerja, yang bisa kulakukan hanya berpegang erat ke dirinya dan

menikmati saat-saat ini. Sudah hampir enam bulan berlalu, dan hal ini membuatku

sedikit haus akan sentuhan laki-laki pada bibir, mulut, dan lidahku. Tiba-tiba

bibirnya meninggalkan mulutku dan beralih menyusuri dagu hingga telingaku. Aku

hanya bisa mendesah dan mengizinkannya melakukan itu.

“I like the way you kiss,” bisiknya. Aku hanya bisa menarik napas karena

embusan napasnya tengah menggelitik wajahku. “Kayaknya saya satu-satunya lakilaki

untuk kamu,” lanjutnya, dengan bisikan yang semakin menggoda. Samar-samar

kudengar suara Mariah Carey menyanyikan lirik lagu “We Belong Together”. Pada

saat itu juga aku tersadar oleh bunyi “KLIK” yang sangat keras. Buru-buru

kuletakkan kedua telapak tanganku di dadanya dan mendorongnya dengan sekuat

tenaga. Zorro harus mundur beberapa langkah untuk menjaga keseimbangannya

dan menabrak meja bar.

Tanpa memedulikan bartender yang sedang berjalan ke arahku, aku beranjak

turun dari kursi. Kutatap mata Zorro dalam-dalam, kemudian menarik topeng

hitam yang menutupi wajahnya dengan tangan kananku. Ketika aku bisa melihat

seluruh wajahnya, yang aku bisa lakukan hanya berdiri diam menatap wajah itu.

Wajah Brandon yang sedang menatapku dengan penuh kemenangan.

“Hey, babe,” ucapnya, seperti orang tidak bersalah.

Aku langsung merasa mual. Tanpa berkata-kata lagi aku langsung berbalik

badan menuju pintu keluar ballroom. Aku bahkan tidak menoleh ke belakang untuk

memastikan apakah Brandon mengikutiku atau tidak. Aku mencoba menyeka

bibirku dengan tangan. Sebetulnya, aku ingin pergi ke kamar mandi dan mencuci

mulutku dengan Listerine sebanyak sepuluh kali, kemudian mnyikat gigiku sepuluh

kali juga.

Bagaimana mungkin aku tidak mengenalinya? Aku pacaran dengannya selama

tiga tahun. Aku seharusnya tahu bentuk wajahnya, badannya, suaranya, dan cara

dia menciumku. Pokoknya, aku seharusnya mengenali dia. Aku bahkan seharusnya

mengenali keahliannya menarik perhatian wanita mana pun hanya dengan kedipan

matanya. Aku pun pernah jatuh cinta kepadanya karena itu. Bagaimana mungkin

aku jatuh pada perangkap yang sama untuk yang kedua kalinya? Ternyata usahaku

menghapuskan Brandon dari pikiranku cukup sukses karena aku betul-betul tidak

bisa mengenalinya lagi. Kalau saja tadi dia tidak mengatakan kata-kata itu maka

mungkin aku tidak akan pernah tahu hingga waktunya membuka topeng sekitar...

aku melirik jam... setengah jam lagi. Sialan... sialan... sialan, geramku dalam hati.

Aku meninggalkan bunyi musik, yang kini membuatku pusing, di belakangku

dan menuju pelataran parkir. Kukeluarkan kunci mobil dari saku kostum

biarawatiku. Baru pada saat itu aku mendengar bunyi langkah di belakangku. Aku

tidak perlu menoleh untuk mengetahui bahwa itu adalah Brandon. Aku tahu cara

dia berjalan, yang selalu terkesan seperti sedang berbaris dengan menghantamkan

kakinya kuat-kuat pada lantai.

“Go away, Brandon!” teriakku, tanpa menoleh dan mempercepat langkahku.

“Hey, tunggu! Aku perlu bicara dengan kamu.” Kudengar langkah Brandon

juga semakin cepat.

Mendengar kata-kata itu aku menghentikan langkahku dan berbalik

menghadapnya. “Aku nggak mau bicara dengan kamu, oke. Aku bahkan nggak

mau lihat muka kamu lagi. Bukankah aku sudah jelaskan semua terakhir kali aku

bicara dengan kamu?” Aku mengatakan semua itu sambil bertolak pinggang.

“Kamu nggak kelihatan keberatan melihat mukaku ketika kamu mencium aku

beberapa menit yang lalu.”

“Itu karena aku nggak tahu kalau itu kamu,” geramku. “Bagaimana kamu bisa

masuk ke party ini sih? Ini kan private party.”

“Aku hanya bilang ke orang-orang yang menjaga pintu bahwa aku date kamu

malam ini, dan mereka izinkan aku masuk.”

Aku menarik napas dalam-dalam. Brandon mungkin seorang buaya darat, tapi

dia buaya darat yang cerdas. Dulu aku sangat menghargai betapa pintar dan

kreatifnya Brandon, tetapi tidak sekarang.

“Bagaimana kamu... Ah, masa bodoh deh,” ucapku, lalu kembali berjalan ke

mobil. Aku sebenarnya ingin menanyakan, dari mana dia tahu aku ada di pesta ini?

Rasanya aku tahu jawabannya. Perusahaanku selalu menyewa ballroom di hotel ini

setiap tahunnya untuk mengadakan pesta Halloween atau pesta apa pun juga.

Brandon cukup mengenalku dan tahu aku tidak akan mungkin melewatkan

perayaan Halloween.

“Titania, tunggu! Aku betul-betul perlu bicara dengan kamu!” teriak Brandon.

“Bukannya kamu seharusnya ada di Tennessee?” tanyaku, sambil terus berjalan

menuju mobil.

“Aku kembali untuk berkunjung,” jawabnya. Kemudian dia melanjutkan,

“Tunggu sebentar... bagaimana kamu bisa tahu kalau aku seharsunya ada di

Tennessee?” tanyanya, dengan nada sedikit bingung.

“Steve yang memberitahu aku,” balasku. Di antara beberapa hal lainnya, ucapku

dalam hati.

“Have you been checking up on me?”

Kata-kata itu membuatku sekali lagi berhenti melangkah dan menatapnya.

“Brandon, di planet mana sih kamu hidup selama beberapa bulan ini? Mengapa juga

aku harus checking up on you?”

“Karena kamu masih cinta kepadaku, tetapi kamu nggak mau mengakui,” jawab

Brandon, penuh kepastian.

Saat itu juga emosiku bergejolak. Kutatap Brandon sedalam-dalamnya, tidak

percaya bahwa dia baru saja mengatakan kalimat itu.

“Apakah kamu lupa minum obat hari ini?” tanyaku akhirnya.

“Obat? Untuk apa?”

“Untuk gejala delusional kamu.”

Brandon mengerutkan dahinya sebelum membalasku, “Aku nggak delusional.

Aku tahu kamu masih cinta kepadaku, seperti aku cinta kepada kamu. Jadi,

bagaimana kalau kita lupakan saja yang sudah terjadi dan mulai lagi dari awal?”

“Hah... apa kamu pikir aku bisa lupa begitu saja setelah melihat kamu ML

dengan asisten kamu di kantor?”

“I‟m happy to let you know that she is out of my life. Dia nggak berarti apa-apa

untuk aku, begitu juga yang lainnya. Aku cintanya hanya kepada kamu,” jawab

Brandon.

“Itu nggak membuat semuanya baik-baik saja, oke? Aku nggak mau lagi

mendengarkan semua kebohongan yang keluar dari mulut kamu. Ever. I‟m done with

you.”

Aku lalu berjalan menuju mobil dengan langkah lebih cepat. Kudengar Brandon

memanggil-manggil namaku, tetapi aku tidak menghiraukannya. Tiba-tiba

kurasakan pergelangan tanganku ditarik dengan kasar dan tubuhku diputar

menghadap Brandon.

“Kamu bisa nggak sih stop sebentar dan dengarkan aku?” geramnya, sambil

mencengkeram kedua lengan atasku.

“Aku nggak mau stop atau dengarkan atau melakukan apa pun untuk kamu,

Brandon. Sekarang lepaskan!” Kucoba melepaskan diri dari cengkeramannya, tetapi

Brandon tetap tidak melepaskanku.

“Lepaskan... Brandon... lepas... atau sumpah aku akan...”

“Hey... let her go.” Tiba-tiba kudengar suara laki-laki berteriak dari belakangku.

Terkejut oleh teriakan itu, Brandon melepaskan cengkeraman tangan kirinya,

tetapi tangan kanannya masih mencengkeram lenganku. Aku pun menoleh dan

langsung mengenali laki-laki berbadan besar yang sedang berjalan ke arahku.

Seperti terakhir kali aku melihatnya, dia hanya mengenakan sweater turtleneck di atas

celana jeans dan tanpa jaket.

“Reilley!” teriakku.

Reilley memicingkan matanya sesaat untuk mengenali wajahku sebelum

berkata, “Titania?” dengan nada terkejut. Tatapannya kemudian tertuju pada

kostum biarawati yang kukenakan, dan aku bersumpah... aku melihatnya

tersenyum.

“And I‟m Brandon, now run along, pretty boy.” Cara Brandon mengatakan kata

“pretty boy” dengan penuh kebencian membuat tubuhku menjadi dingin. Tidak ada

laki-laki mana pun di atas usia tiga puluh tahun, yang akan tinggal diam bila

dipanggil “pretty boy”. Aku yakin sebentar lagi kepalan tinju akan mulai melayang.

Aku akan berada di antara laki-laki yang melayangkan kepalan tinju dengan

targetnya.

Kualihkan perhatianku dari wajah Brandon ke Reilley dengan perasaan waswas.

Akan tetapi, yang kulihat justru membuatku bingung. Bukannya terlihat marah,

Reilley justru terlihat terhibur dengan kata-kata Brandon.

“Now that‟s a thought. I never think of myself as being pretty. Attractive, maybe, but

definitely not pretty,” ucap Reilley santai.

Meskipun hatiku sedang galau, aku harus mengakui bahwa kata “pretty” sama

sekali tidak bisa menggambarkan dirinya. Dia lebih terlihat seperti patung Adonis

Yunani. Seksi dari ujung rambut hingga ujung kaki.

“Ini bukan urusan kamu. Ini antara saya dengan pacar saya. Jadi, kalau kamu

nggak keberatan...”

“Mantan pacar!” teriakku ganas. Mau tidak mau aku harus meluruskan

khayalan Brandon, yang seolah-olah mengelabui pikirannya. “Nggak ada apa-apa di

antara kita, Brandon, sudah tidak lagi.” Kutarik lenganku dari cengkeram Brandon,

dan dia melepaskanku.

Reilley terlihat melpiat kedua tangannya di depan dadanya yang bidang. “Well,

kelihatannya kamu yang harus pergi, pretty boy.”

Mau tidak mau aku jadi tersenyum mendengar Reilley melempar balik kata-kata

Brandon, dan dia terlihat terkejut. Beberapa detik berlalu, dan aku berpikir Brandon

akan melangkah pergi dan meninggalkanku seperti yang terjadi beberapa bulan

yang lalu ketika dia berhadapan dengan dua laki-laki yang rela membelaku. Tibatiba,

bagaikan seekor banteng yang melihat kain merah, Brandon menyerang

Reilley. Gayanya pun sudah seperti banteng, ia sedikit membungkuk untuk

menyerang bagian tengah tubuh Reilley. Selanjutnya, mereka bergumul di aspal

pelataran parkir. Aku mendengar bunyi kepalan tinju mengenai sesuatu yang keras,

yang diikuti dengan teriakan, “Shit, my eye... my eye!”

Aku tidak tahu siapa yang berteraik, tetapi melihat posisi Reilley yang berada di

atas Brandon, aku menduga yang berteriak Brandon.

“Guys... guys... stop it!” teriakku panik. “Bisa nggak sih kita omong ini semua

layaknya orang dewasa?”

Mereka seakan-akan tidak mendengarku, bahkan kedua laki-laki itu terus

terlibat perkelahian. Andai saja aku punya peluit, yang bisa aku gunakan untuk

menarik perhatian mereka? Tampaknya meskipun aku meniup benda itu sampai

mukaku biru, mereka tetap tidak akan berhenti berkelahi hingga salah satu dari

mereka terkapar dan babak belur. Aku mendengar bunyi cling... cling... cling... yang

kemudian aku sadari berasal dari pedang Zorro Brandon. Mau tidak mau aku jadi

tersenyum. Seingatku dari semua film Zorro yang pernah aku tonton, aku tidak

pernah melihat jagoan berjubah hitam dengan gaya misterius itu berhadapan

dengan musuhnya tanpa menggunakan pedangnya.

“Let me blacken that other eye for you.” Kudengar Reilley berkata sebelum dia

melayangkan kepalan tinjunya ke arah Brandon, diikuti dengan bunyi “crack” yang

cukup keras. Kemudian kudengar Brandon berteriak, “Oowww... that hurts you

asshole.”

Kulihat Reilley menarik tali yang mengikat jubah Zorro Brandon ke arahnya,

dan dia menatap Brandon dengan tajam sebelum menggeram, “Who are you calling

an asshole?”

“You. You senseless son of a bitch.”

“Apa ibu kamu nggak pernah mengajarkan agar tidak mengucapkan kata

sumpah serapah?”

Kudengar suara geraman, tiba-tiba Brandon sudah mendorong tubuh Reilley

dan posisi mereka pun berbalik. Kini Brandon berada di atas Reilley.

“Get off me you sissy.” Suara Reilley terdengar seperti guntur yang pecah di langit

menjelang hujan.

“Jangan pernah menghina ibu saya,” teriak Brandon ganas, sambil

menggenggam kepala Reilley di antara kedua telapak tangannya.

Aku melihat ke sekelilingku, mencari seseorang yang mungkin bisa

membantuku menghentikan perkelahian ini, tetapi aku tidak melihat siapa-siapa.

Pelataran parkir itu kosong melompong, tampaknya semua orang masih ada di

dalam ballroom dan menikmati pesta Halloween tanpa menyadari apa yang sedang

terjadi di luar. Menyadari bahwa aku tidak akan bisa menghentikan pergumulan itu

sendirian, aku memutuskan mundur beberapa langkah dan menyandarkan bahu

pada satu sisi Ford Explorer yang diparkir tidak jauh dari tempat Brandon dan

Reilley sedang membuktikan kelaki-lakian mereka, dan menunggu. Aku bukan

orang yang menyenangi kekerasan sehingga aku harus menutup mataku ketika

kulihat kepala Reilley bersentuhan dengan aspal dengan bunyi yang cukup keras,

tetapi kelihatannya kepala Reilley cukup kuat karena entakan itu tidak

memengaruhinya.

Kudengar dia berteriak, “Damn... you fight like a girl!”

“No I don‟t,” balas Brandon tersinggung, ia menghantam wajah Reilley dengan

kepalan tinjunya, kemudian berusaha berdiri. Aku ragu, tetapi kelihatannya kepalan

tinju itu mengenai Reilley tepat di hidungnya.

Kudengar Reilley terbatuk-batuk dan mencoba berdiri juga. Melihat darah segar

menetes keluar dari hidungnya membuatku panik.

“Reilley, kamu berdarah!” teriakku, dan berjalan mendekatinya.

“Jangan dekat-dekat, Titania. Kami belum selesai.” Seolah-olah tidak

mendengarku, Reilley membalas pukulan Brandon sambil mengangkat tangannya

untuk mengingatkanku agar tidak mendekat. Dia tidak memandangku ketika

melakukannya. Tatapannya tetap kepada Brandon.

Kemudian Brandon berbalik badan dan menatapku. Aku bisa melihat wajahnya

lebih parah daripada Reilley. Mata kanannya sudah mulai tertutup karena bengkak.

Bibir bawahnya pecah dan darah kering menempel di situ.

“Brandon.” Suaraku terdengar tercekik.

“Aku nggak apa-apa,” geramnya kepadaku. Ia kemudian memutar tubuhnya

menghadap Reilley, dan berkata, “Ayo! Pukul aku sekali lagi, dan aku akan

membuat kamu lebih babak belur!”

“Oke, stop ini semua sekarang! Both of you!” teriakku. “Brandon, berdiri saja

kamu sudah nggak bisa, bagaimana kamu akan memukul Reilley?”

“Just shut up, woman!” balas Brandon, tanpa menatapku.

Aku terdiam sesaat sebelum kata-kata Brandon betul-betul bisa aku cerna. “Apa

kamu bilang?” Aku masih tidak percaya dengan pendengaranku. Dia baru saja

melontarkan kata “shut up” kepadaku.

“Aku bilang diam!” Seperti tidak memahami kesalahannya, Brandon

mengulangi kata-kata itu sambil menatapku.

Aku tidak tahu apa yang terjadi, tetapi aku tiba-tiba jadi kalap dan langsung

berjalan bergegas mendekatinya dengan mengepalkan kedua telapak tanganku dan

berteriak, “You worthless son of a bitch, how dare you to tell me to shut up!” Aku

kemudian melayangkan kepalan tinjuku pada wajah Brandon, yang terlihat terkejut

dengan reaksiku.

“Titania, kamu ada apa sih?” teriaknya, sambil mencoba menutupi wajahnya

dengan kedua tangannya.

Aku tidak menghiraukannya, dan tetap melayangkan kepalan tinjuku. Setelah

beberapa detik dan menyadari kepalan tinjuku tidak bisa melukainya, aku

memikirkan cara lain untuk betul-betul menyakiti fisik Brandon. Dengan

menggunakan kaki kananku kutendang Brandon di selangkangannya sekuat tenaga.

Ujung sepatu botku yang agak runcing tepat mengenai sasaran. Kudengar Brandon

berteriak kesakitan, dan dia mundur beberapa langkah sambil membungkuk.

“That should teach you not to tell any woman to shut up. Ever!” ancamku, dengan

sedikit terengah-engah. Aku merasakan kemarahan yang tadi ada di dalam diriku

menghilang perlahan-lahan. Sekarang aku mengerti mengapa laki-laki lebih

memilih bertengkar secara fisik daripada verbal karena ternyata cara itu memang

lebih efektif untuk melampiaskan kemarahan.

Aku baru sadar ternyata Reilley masih ada di situ ketika kudengar suara orang

cekikikan. Kualihkan perhatianku kepada Reilley, yang sedang membungkukkan

tubuhnya. Aku pikir dia sedang kesakitan, tetapi kemudian aku melihat bahunya

bergerak naik-turun dengan suara tawa yang tertahan. Kemudian dia meluruskan

tubuhnya dan tertawa keras.

“Oh, itu nggak ada duanya,” ucap Reilley, di antara tawanya.

Aku menunggu beberapa saat sambil mengetukkan kakiku ke aspal. “Senang

bisa menghibur kamu,” kataku datar, kemudian berjalan ke arahnya. “Sini aku urus

hidung kamu.”

Seperti baru sadar ada darah yang sedang menetes dari hidungnya dan menodai

sweater-nya Reilley berteriak, “Awww... crap!”

Mau tidak mau aku tertawa melihatnya. “Aku ada P3K di dalam mobil. Keep

your head back, itu akan mencegah darah terus keluar dari hidung,” ucapku, sambil

menuntunnya menuju mobilku yang diparkir tidak jauh dari tempatnya berdiri.

Kuminta Reilley duduk di atas kap mesin mobil. Kuberikan selembar tisu

kepadanya, yang bisa digunakannya untuk menghentikan darah yang mengalir ke

luar. Sementara itu, kulepaskan kostum biarawati dan melemparkannya ke kursi

belakang mobil. Bulu roma di punggungku langsung berdiri, bereaksi pada

pergantian suhu tubuhku, tetapi aku tidak menghiraukannya.

Kuambil ktoak P3K dan menghampiri Reilley. “Patah nggak?” tanyaku, sambil

mengaduk-aduk kotak itu mencari kapas.

Dia menekan tulang hidungnya sepelan mungkin. “Kayaknya sih nggak.” Suara

Reilley terdengar bindeng.

“Oke, lepaskan tangan kamu biar saya bisa lihat,” ucapku. Reilley kemudian

membiarkanku mengangkat tisu, yang kini berwarna merah karena darah. Darah

yan gtadi mengalir kini sudah berhenti. Aku menarik napas lega.

“Tahan napas kamu!” perintahku, dan segera membersihkan bekas-bekas darah

yang masih tersisa di atas bibir dan dagunya dengan kapas yang sudah dibasahi

alkohol. Selama melakukan itu semua aku mencuri-curi mencium aroma Reilley

dalam-dalam. Aromanya menghantui pikiranku sehingga membuatku mencarinya

di setiap date-ku selama tiga minggu terakhir ini. Ketika aku membersihkan bagian

luar bibirnya, aku menyadari bibir itu mungkin adalah bibir terseksi yang aku

pernah lihat. Apakah yang Reilley akan lakukan bila tiba-tiba aku menciumnya?

pikirku. Aku menggigit bibir bawahku untuk mencegah diriku melakukan tindakan

yang ada di pikiranku.

Reilley tidak mengatakan apa-apa selama jari-jariku bersentuhan dengan

kulitnya. Dia hanya menatapku dengan mata birunya itu. Kalau saja dia mengetahui

fantasiku tentangnya, dia mungkin akan lari pontang-panting sambil berteriak,

“She‟s crazyyyyyy...!” Sekali lagi kugigit bibir bawahku, tetapi kali ini untuk

mencegahku agar tidak tertawa karena imajinasiku.

Setelah wajahnya bersih kembali, aku memberikan beberapa lembar tissue

kepadanya untuk digunakan bila ada darah yang keluar lagi. Sambil membereskan

kotak P3K, aku mempertimbangkan bagaimana aku harus meminta maaf kepadanya

atas kejadian malam ini. Reilley menatapku, bibirnya tertarik lurus seperti sedang

berusaha menahan senyum, tetapi tidak berhasil.

“Apakah kamu menginap di hotel ini?” Pertanyaan yang bodoh sebetulnya,

tetapi setelah selama lima menit aku mencoba mencari topik pembicaraan di dalam

kepalaku tanpa membuahkan hasil, aku tidak punya pilihan lain.

Reilley menatapku seperti aku makhluk dari planet lain karena mengeluarkan

pertanyaan itu, tetapi dia tetap menjawab, “Ya,” ucapnya datar.

“Untuk kerja?” tanyaku lagi.

“Social visit. I‟m leaving tomorrow morning,” jelas Reilley.

Jadi, Reilley memang tidak tinggal di Winston rupanya. Inilah sebabnya aku

jarang melihatnya. Di mana kira-kira dia bermukim? pikirku dalam hati. Kami

masih terdiam dalam keheningan yang mulai membuagku canggung.

“Kamu marah ya kepada saya?” tanyanya akhirnya.

Aku menatap Reilley bingung. “Mengapa sayaa harus marah kepada kamu?”

“Karena sudah membuat pacar kamu babak belur,” jawabnya.

“Dia bukan pacar saya.”

“Mengapa kamu pikir saya marah kepada kamu?” tanyaku kemudian.

“Karena kamu hanya diam saja selama beberapa menit ini.”

Aku terdiam sesaat untuk mencerna kata-katanya. Aku tersenyum atas

kesalahpahaman ini. “Saya nggak marah kepada kamu. Nggak sama sekali. Brandon

laki-laki bajingan dan sudah sepantasnya dia babak belur. Sori karena dia sudah

menunjuk hidung kamu.”

Reilley mengangkat bahunya, kemudian berkata, “Bukan yang pertama kali, dan

mengapa juga kamu minta maaf untuk dia?”

Wah... aku juga tidak tahu mengapa aku melakukannya. Aduh laki-laki ini

membuatku bingung. Terutama karena aku sadar, aku sedang berdiri terimpit di

antara kedua pahanya yang terlihat kokoh di balik jeans berwarna gelap.

“Bagaimana bisa sih kamu date dengan laki-laki bajingan seperti dia?” tanya

Reilley, mengeluarkanku dari rasa ketidaknyamanan.

Aku ada dua jawaban untuk pertanyaan itu. Pertama, ketika aku bertemu

dengan Brandon aku masih muda. Brandon terlihat seperti laki-laki sempurna

bagiku pada saat itu. Kedua, aku cinta mati kepadanya hampir pada pandangan

pertama. Aku ini perempuan tolol, yang sudah terlalu percaya dengan segala katakata

manis yang keluar dari mulut Brandon. Aku seharusnya tahu, sebagai seorang

pengacara, mengeluarkan kata-kata puitis adalah keahliannya dan sudah menjadi

bagian dari dirinya.

Bukannya menjawab pertanyaan Reilley, aku malahan lebih memilih menutup

kotak P3K dan mengembalikannya ke dalam mobil. Melihatku tidak menjawab

pertanyaannya, Reilley lalu turun dari atas kap mobilku.

“Saya sebaiknya mengecek Brandon,” ucapku. Meskipun aku sangat membenci

Brandon karena telah membohongiku dan tidak peduli bila dia kehilangan testiclenya

karena tendanganku, aku toh sudah menghabiskan tiga tahun hidupku

bersamanya. Aku bahkan sempat merasa bahagia bersamanya. Melihatnya lagi

malam ini membuatku teringat, aku dulu pernah mencintainya. Oleh karena itu, aku

tidak bisa tidak memedulikannya sama sekali.

Reilley mengangguk. “Apakah kamu perlu bantuan saya?” tanyanya.

Aku menggeleng. “Nggak, saya bisa mengatasi dia. Terima kasih sudah

menawarkan bantuan.”

Aku baru akan melangkah pergi ketika tatapanku tertuju pada sweater biru tua,

yang membungkus tubuhnya dengan sempurna itu. Kini sweater itu telah dinodai

oleh empat titik berwarna gelap. Aku lalu mengambil dompetku dari dalam mobil

dan mengeluarkan kartu namaku. Di belakang kartu nama itu kutuliskan nomor

telepon selularku.

“Sori soal sweater kamu. Bisa tolong kirimkan tagihan dry cleaning-nya ke saya?”

Kuserahkan kartu namaku kepada Reilley, yang menatap kartu namaku kemudian

wajahku. Dia terlihat bingung.

“Don‟t worry about it,” ucapnya, sambil menggerakkan tangannya di depan

wajahku. Untuk pertama kalinya aku bisa melihat logo sweater itu.

“Holy shit!” teriakku.

Reilley langsung mundur selangkah karena kaget. “What‟s wrong?” tanyanya

khawatir.

“Sweater kamu Armani!” jawabku masih berteriak.

“Yeah, so what?” Reilley masih terlihat bingung. Ia menatap sweater yang

dikenakannya, kemudian mengalihkan tatapannya kepadaku.

“It‟s expensive like hell that‟s what!” teriakku putus asa.

“Ini cuma sweater.” Kini Reilley terdengar tidak peduli sambil menatap sweater

yang dikenakannya itu lagi.

“Nooo... harganya seperempat gaji saya. Sudah begitu, kena darah pula.”

Reilley menatapku, kemudian menoleh ke kiri dan tatapannya terfokus pada

sesuatu. Aku menolehkan kepalaku, dan melihat Brandon sedang memperhatikan

kami sambil mengerutkan keningnya. Tampaknya dia sudah pulih dari

tendanganku.

“Dia lebih memerlukan perhatian kamu daripada sweater saya. Kamu sebaiknya

cek dia, sebelum dia mulai satu lagi sesi adu jotos dengan saya,” ucap Reilley.

“Tapi...” ucapku ingin protes.

Reilley sudah memutar tubuhku dan mendorong aku berjalan menuju Brandon.

Kutolehkan kepalaku kepada Reilley, ia melambaikan tangannya dan menunjuk ke

arah Brandon lagi.

“Bye,” ucapku pelan, dan berjalan menuju Brandon yang masih mengenakan

kostum Zorro.

“Zorro from hell,” gerutuku.

5

Sushi dan Interogasi

KEESOKAN paginya, aku terbangun karena terkejut. Aku harus menenangkan diri

selama beberapa menit, kemudian duduk di atas tempat tidur. Matahari sudah

masuk dari jendela kamar, yang tirainya kubiarkan tidak tertutup tadi malam.

Kulirik jam yang ada di telepon selularku. Sembilan lewat lima pagi. Aku baru tidur

kurang dari lima jam.

“Weird dream,” gerutuku, lalu beranjak berdiri. Aku berjalan menuju kamar

mandi tanpa memperhatikan langkahku, dan akhirnya menabrak keranjang pakaian

kotor yang terletak di samping pintu. Kata-kata sumpah serapah keluar dari

mulutku. Sambil menahan sakit, aku terpaksa meloncat dengan satu kaki memasuki

kamar mandi. Kukenakan kacamata minusku, dan duduk di atas toilet memeriksa

keadaan jempol kakiku. Bagian yang tadi tertabrak keranjang terlihat sedikit memar,

tetapi tidak mengeluarkan darah. Setelah rasa sakit agak reda aku pun berdiri, dan

setelah mendorong kacamata ke atas kepala, kubasuh wajah dengan air dingin.

Ketika kuangkah wajahku dengan air yang masih menetes, aku langsung

berhadapan dengan wajah yang kelihatan stres. Ada lingkaran hitam di bawah mata

dan kulitku terlihat kusam.

Kuseka mukaku dengan handuk dan mengenakan kacamata kembali, kemudian

berjalan menuju dapur untuk membuat sarapan. Aku malas masak sehingga hanya

mengeluarkan susu dari dalam lemari es dan menarik kotak sereal dari atas lemari

es. Kutuangkan sereal itu ke dalam mangkuk, kemudian kusiram dengan susu.

Setelah meletakkan susu dan sereal pada tempatnya, aku duduk di meja makan.

Aku melipat kaki, lalu memasukkan satu sendok sereal ke dalam mulutku. Pelanpelan

kukunyah sarapanku.

Aku mencoba mengingat kembali mimpiku. Aku sedang berlari sekuat tenaga

karena ada seseorang yang sedang mengejarku, tetapi aku tidak bisa melihat wajah

orang itu. Kusadari kemudian, di hadapanku ada bukit yang cukup terjal. Aku

yakin, aku tidak akan bisa mengalahkan orang yang sedang mengejarku jika aku

menaiki bukit itu, tetapi aku tidak punya pilihan lain. Aku menoleh ke belakang dan

melihat orang yang mengejarku sudah semakin dekat ketika tiba-tiba aku terjatuh

karena telah menabrak sebuah dinding, sesuatu yang tidak mungkin karena di bukit

tentu tidak ada dinding. Ketika aku melihat penyebab mengapa aku jatuh, aku baru

sadar ternyata aku bukan menabrak dinding melainkan seseorang bertubuh tinggi

tegap dan dada bidang. Ia sedang menatapku dari balik mata birunya.

Aku berkata, “Reilley, kamu harus bantu aku. Ada yang mengejarku dan aku

nggak tahu itu siapa.”

Reilley di dalam mimpiku awalnya hanya menatapku bingung, tetapi kemudian

dia berkata, “Nggak usah khawatir, aku bisa urus dia.”

“Oh... ya, bagaimana caranya?”

Reilley kemudian mengangkat tubuhku, dan memanggulku. Tahu-tahu aku

sudah berhadapan dengan bokongnya, yang mengenakan celana ketat berwarna

biru.

“Reilley, kamu mau apa sih?!” teriakku panik.

“Aku harus bawa kamu melewati garis 10-yard untuk touchdown,” jawabnya

santai, dan mulai berlari menuruni bukit.

Touchdown? Memangnya aku ini bola? Kami bahkan tidak sedang berada di

lapangan football.

Tiba-tiba suasana berubah, dan aku ada di lapangan football milik University of

Florida, yang dikelilingi oleh lautan orang dengan baju berwarna biru dan oranye,

warna khas “The Gators”. Kulihat ada beberapa orang dengan kaus football dan

celana ketat biru sedang mengejarku, atau lebih tepatnya mengejar Reilley yang

sedang memanggulku. Salah seorang di antara mereka adalah Brandon, tetapi dia

masih mengenakan kostum Zorro walaupun tanpa topeng. Brandon berteriak, “Mau

ke mana, Titania?! Mau lari?! Kamu nggak bisa lari dari aku!”

Aku berteriak kepada Reilley, memintanya berlari lebih cepat dan

menjauhkanku dari Brandon. Reilley menjawab teriakanku, “Aku sedang berusaha

sekuat tenaga, kamu harus bantu aku!”

“Bagaimana caranya?”

“Aku akan menurunkan kamu, nah kamu harus lari bareng aku, oke?”

“Oke,” balasku.

“Aku hitung sampai tiga. Begitu aku bilang tiga kamu harus sudah lari.”

“Oke.”

“Satu... dua... tiga.” Reilley menurunkanku, dan aku berlari sekuat tenaga di

sampingnya menuju garis 10-yard. Tangannya menggenggam tanganku. Anehnya,

bukan semakin dekat, garis itu terlihat semakin menjauh.

“Reilley, aku nggak bisa lari lagi.” Lariku mulai berkurang kecepatannya.

“Kamu harus bisa. Kalau kamu mau berhasil, kamu harus coba,” bujuk Reilley.

Dia tersenyum kepadaku.

Aku sudah siap melebarkan langkahku ketika tiba-tiba ada yang menarikku.

“Reiiii... lleeeyyy...!” teriakku. Tanganku mencoba menggapainya, tetapi tidak

mendapatkan apa pun kecuali udara kosong.

Kemudian aku terbangun.

Sekali lagi aku menggerutu, “Weird dream.” Mimpi itu betul-betul tidak masuk

akal. Aku bahkan tidak tahu-menahu tentang permainan football atau warna

seragam masing-masing universitas. Aku kebetulan saja mengenali seragam

University of Florida karena sempat melihat pertandingan mereka di TV melawan

University of Alabama beberapa waktu yang lalu. Kalau dipikir-pikir mimpi itu

bahkan nggak ada hubungannya dengan kejadian tadi malam. Aneh. Lebih anehnya

lagi, dalam mimpiku Brandon dan Reilley berbicara dalam bahasa Indonesia,

padahal jelas-jelas mereka tidak paham atau tidak tahu apa-apa tentang bahasa itu.

Jangan-jangan aku sudah jadi kurang waras. Aku tahu sumber kegilaanku ini tidak

lain dan tidak bukan berasal dari laki-laki bejat bernama Brandon, yang menolak

menerima kenyataan aku sudah tidak menginginkannya sama sekali. Entah dia

dapat ide dari maa untuk meyakinkan dirinya bahwa aku masih mencintainya.

Ingin rasanya aku membunuhnya tadi malam.

* * *

Kemarin malam, setelah aku beranjak dari sisi Reilley, aku menarik napas dalamdalam.

Lalu aku berbalik menghadapi Brandon untuk yang kedua kalinya malam

itu. Aku harus membuatnya mengerti bahwa aku tidak lagi mencintainya, dan aku

ingin dia meninggalkanku supaya aku bisa menjalankan hidupku dengan damai.

Kuhentikan langkahku agak jauh dari Brandon. “Bagaimana keadaan bibir

kamu?” tanyaku dari tempatku berdiri. Aku berusaha sebisa mungkin tidak

menghampiri Brandon pada saat itu juga untuk mengurus lukanya. Meskipun aku

masih peduli padanya, aku tidak mau memberinya sinyal yang salah. Dia sudah

bukan lagi pacarku, dia sudah bukan tanggung jawabku lagi.

“Sudah nggak berdarah lagi sih,” ucap Brandon. “Aku masih nggak percaya

kamu menendang aku.”

“Kamu pantas ditendang,” balasku, sambil menatapnya serius. Melihat

reaksiku, Brandon hanya terdiam.

“Laki-laki itu siapa sih?” tanyanya.

Semula aku ingin berpura-pura tidak memahami siapa yang Brandon maksud,

tetapi aku sedang malas main tebak-tebakan malam ini.

“Teman,” balasku pendek. Pikiranku kembali kepada laki-laki bermata biru,

yang tampaknya telah menjadi lebih dari sekadar teman. Laki-laki itu sudah

menjadi malaikat penyelamatku, yang akan muncul tiba-tiba tanpa aku minta bila

aku sedang membutuhkannya.

“Well, teman kamu itu harus belajar nggak mencampuri urusan orang lain.”

Brandon menggerutu sambil menatapku dengan memicingkan matanya.

”I agree,” balasku, meskipun dalam hati aku tidak setuju sama sekali. Aku tidak

keberatan bertemu dengan Reilley lagi. Kalaupun itu berarti aku harus berada

dalam keadaan darurat lagi, aku tetap rela.

Aku memaksa pikiranku kembali kepada Brandon. Aku terdan sesaat

memikirkan apa yang akan aku katakan selanjutnya. “Aku ingin kamu mengerti,

aku nggak mau kejadian barusan terulang lagi. Kamu paham, kan?”

Brandon menggeleng. Aku menarik napas putus asa. Keras kepala sekali lakilaki

ini. Aku baru saja akan mengatakan sesuatu, tetapi tiba-tiba kata-kata meluncur

dari mulut Brandon. Aku langsung diam mendengarkannya.

“Aku minta maaf soal kejadian barusan. Percaya atau nggak, rencanaku malam

ini sebetulnya hanya ingin bicara dengan kamu dan minta maaf. Begitu aku melihat

kamu, rasa kangenku terhadap kamu selama beberapa bulan ini seolah terobati.

Hidupku berantakan tanpa kamu.”

Mendengar pengakuan Brandon, hatiku sedikit luluh. Setidak-tidaknya kini aku

tahu dia lebih membutuhkanku daripada aku membutuhkannya.

Perlahan-lahan aku berjalan mendekatinya. “Aku ingin kamu tahu, aku sudah

memaafkan kamu. Aku bahkan sudah nggak pernah memikirkan kejadian dulu itu

lagi.”

Untuk pertam akalinya aku menyadari ternyata aku memang sudah memaafkan

Brandon atas perbuatannya. Mungkin itu sebabnya mengapa aku sudah bisa

melanjutkan hidupku.

“Oh ya? Kamu bersedia memaafkan aku setelah aku menyakiti kamu seperti

itu?” Brandon terlihat betul-betul terkejut.

Aku tertawa melihat ekspresinya. Kuhentikan langkahku sekitar satu meter

darinya, kemudian mengangguk. “Hanya saja, rasanya aku nggak akan pernah bisa

lupa sama sekali kejadian dulu itu. Jarang-jarang kan perempuan bisa memergoki

pacarnya sedang making love dengan selingkuhannya, padahal dia bilang sedang

lembur.”

Suasana hening selama beberapa detik. “Kalau aku memohon, mencium kaki

kamu, dan berjanji nggak pernah mengulang perbuatanku lagi, apakah kamu mau

menerima aku balik?” tanya Brandon, dengan wajah penuh harap.

“Kamu serius?”

“Superserius,” jawab Brandon, dengan penuh keyakinan.

“Nggak,” jawabku pendek.

“Mengapa?” Wajah Brandon terlihat kecewa.

Aku menggigit bibir bawahku, senewen. Ini adalah kebiasaanku dan Didi

apabila kamu berdua merasa tidak nyaman.

“Kamu tahu kan kita nggak pernah benar-benar cocok satu sama lain.” Kumulai

penjelasanku. “You‟re too much for me. Kamu memang pintar, sukses, dan ganteng.

Semakin kamu sukses, your... needs would increase as well. The needs that I can never

fulfill, setidak-tidaknya nggak sekarang.”

Brandon tidak berkata-kata, tetapi dari wajahnya kelihatannya dia memahami

ketika aku mengatakan kata “needs”, yang kumaksudkan adalah “sexual needs”.

Kuangkat kepalaku ketika melihat banyak orang lalu-lalang di lobi hotel. Kulirik

jam tanganku, waktu sudah menunjukkan pukul 24.30. Tampaknya pesta

Halloween sudah selesai karena aku melihat beberapa orang berjalan menuju

pelataran parkir.

Mengingat aku tidak ingin terlihat bersama Brandon oleh orang kantorku, aku

berkata, “Kamu sebaiknya pulang dan minta orang mengurus muka kamu yang

babak belur.”

Aku lalu berbalik badan dan berjalan menuju mobil. Aku tahu Reilley sudah

menghilang. Dalam hati aku menyumpah. Meskipun memang aku berkata bahwa

aku bisa mengatasi Brandon sendiri, aku berharap dia tidak mendengarkan katakataku

dan tetap menungguku.

“Jadi, itu saja jawaban kamu? Kamu akan meninggalkan aku begitu saja?!”

teriak Brandon.

Aku berputar balik, dan berjalan maju beberapa langkah. “Bukan aku yang

meninggalkan kamu, tetapi kamu yang meninggalkan aku. Ingat itu!” teriakku, lalu

memutar tubuhku lagi dan berjalan menuju mobil.

“Kamu tahu kan, kamu nggak akan bis ahidup tanpa aku. Aku hanya perlu

menunggu sampai kamu mau mengakui itu!” teriak Brandon lagi, masih tidak mau

kalah.

Kalimat terakhir yang diucapkan Brandon telah mengubah pendapatku

tentangnya, yang selama beberapa menit tadi merasa kasihan kepadanya. Ternyata

dia masih juga laki-laki kurang ajar dan tidak tahu diuntung, yang aku tinggalkan

lima bulan lalu. Dia tidak berhak menerima simpatiku sama sekali.

“You need to grow up, Brandon,” balasku, dan melambaikan tanganku tanpa

menatapnya lagi. Aku akan membuktikan bahwa aku bisa hidup, terus akan hidup

dan bahkan lebih baik tanpanya.

* * *

Sekali lagi kutatap sarapanku, yang baru setengah termakan. Kulirik jam yang

tergantung di dinding dapur. Pukul sepuluh pagi. Kumakan habis sarapanku,

kemudian mencuci mangkuk dan sendok. Kusempatkan menelepon orangtuaku.

Aku bertanya kapan mereka akan datang berkunjung lagi ke Amerika? Ibuku

menjawab bahwa sebaiknya aku saja yang pulang ke Indonesia karena dia sudah

tidak sanggup terbang 27 jam hanya untuk bertemu denganku dan Didi. Aku

bahkan sempat mengiming-imingi tiket pesawat Business Class kepadanya, tetapi

ibuku tetap bersikeras tidak akan pernah terbang ke Amerika lagi. Kecuali bila

situasinya memang darurat.

Kemudian ibuku bertanya, apakah aku sudah bertemu dengan orang baru. Aku

tahu yang dimaksud ibuku adalah pacar baru. Aku berusaha menghindar, dan

hanya mengatakan aku masih terlalu sibuk untuk melakukan itu. Walaupun begitu,

aku berjanji sebisa mungkin meluangkan waktu agar bisa “shopping” calon suami.

“Pokoknya, Ta, jangan lupa. Kerja sih boleh saja, tetapi jangan sampai lupa cari

suami, ya,” pesan Ibu kepadaku.

“Ya, Bu,” jawabku.

Satu jam kemudian aku menutup telepon dengan perasaan lebih lega karena

orangtuaku kelihatannya baik-baik saja. Biasanya hari Sabtu aku habiskan pergi ke

toko buku dan membaca-baca majalah edisi terbaru, tetapi hari ini aku merasa malas

keluar rumah. Kulihat keranjang pakaian kotor yang sudah cukup penuh, tetapi

belum berlimpah. Aku pun memutuskan mencuci pakaian. Sembari menunggu

hingga cucian kelar, aku mandi. Setelah mandi kutata rapi tempat tidur, kurapikan

lemari pakaian, kusedot karpet dengan vacuum cleaner sampai dua kali untuk

memastikan karpet sudah superbersih. Bahkan setelah pakaian kering kusetrika

semuanya dengan rapi, kemudian memasukkannya ke dalam lemari.

Kulirik lagi jam, yang sudah menunjukkan pukul dua siang. Aku lalu beranjak

ke dapur untuk membuat makan siang. Setelah selesai makan siang, aku memeriksa

telepon selularku untuk memastikan tidak ada text message atau telepon yan gtidak

terdengar olehku. Tidak ada pesan ataupun missed call. Selanjutnya, aku menyalakan

TV. Kuganti channel beberapa kali, mencari acara yang bisa menyita waktu dan

pikiranku untuk beberapa jam. Aku memilih film komedi romantis yang dibintangi

Drew Barrymore, yang baru saja mulai. Aku lalu duduk menikmati film itu selama

tiga jam. Ketika film itu berakhir, hari sudah gelap. Kunyalakan beberapa lampu di

dalam apartemen. Jam dinding sudah menunjukkan pukul enam sore.

“Kok dia belum telepon sih?!” akhirnya aku berteriak frustrasi. Aku agak

terkejut dengan teriakanku karena pada saat itu aku baru menyadari alasan

mengapa sepanjang hari ini aku merasa resah dan tidak bisa diam. Tanpa aku

sadari, aku menunggu telepon dari Reilley. Aku ingin mengetahui, berapa utangku

untuk mengganti biaya dry cleaning sweater Armani-nya.

Tolol, tolol, tolol! Aku mengomeli diriku sendiri. Tentu saja dia tidak akan

meneleponku hari ini. Dia mungkin belum sempat membawa sweater itu untuk didry

clean. Oleh sebab itu, dia belum bisa meneleponku untuk memberitahu jumlah

tagihannya. Muncul keragu-raguan di hatiku dia tidak akan meneleponku sama

sekali, meskipun sweater itu sudah di-dry clean. Hal ini disebabkan karena dua

alasan. Pertama, dia tidak menganggap kejadian tadi malam merupakan

kesalahanku. Oleh karena itu, aku tidak bertanggung jawab atas sweater itu. Kedua,

dia tidak mau berhubungan denganku dan mantan pacarku yang sinting. Rasanya

alasan kedua lebih masuk akal.

* * *

Satu bulan pun berlalu, dan Natal akan tiba dua minggu lagi. Aku sudah berkencan

dengan delapan laki-laki dalam kurusn waktu itu, dan tidak satu pun dari mereka

yang mampu menarik perhatianku. Baru belakangan aku menyadari alasannya,

ternyata karena aku membandingkan mereka semua dengan Reilley. Laki-laki yang

ini terlalu pendek, yang itu terlalu tinggi. Laki-laki ini matanya memang biru, tetapi

tidak sebiru Reilley. Laki-laki itu aromanya mirip dengan Reilley, tetapi tidak betulbetul

sama. Laki-laki ini rambutnya cokelat dan mirip dengan Reilley, tetapi rambut

Reilley lebih mengilat dan sedikit merah kalau terkena sinar. Laki-laki itu suaranya

mirip Reilley, tetapi jelas-jelas wajahnya jauh sekali dari Reilley... dan berlanjutlah

semua alasanku untuk menemukan kesalahan pada setiap date-ku. Lebih parahnya

lagi, aku selalu menahan napas setiap kali melihat ada Volvo SUV berwarna perak.

Aku betul-betul sudah terobsesi oleh Reilley.

Aku tidak tahu bagaimana Sandra masih bisa terdengar ceria setiap kali

meneleponku untuk menanyakan tentang kencanku dengan laki-laki, yang telah

dicarikan MBD untukku. Apakah dia tidak bosan mendengar komentarku, “Ya, dia

memang baik, tetapi kayaknya dia bukan laki-laki yang tepat untuk saya”? Mau

tidak mau aku harus mengakui kekagumanku terhadap Sandra dan semua staff

MBD, yang pantang menyerah mencarikan laki-laki yang tepat untukku. Di dalam

hati kecilku aku tahu, laki-laki yang tepat untukku adalah laki-laki bule berbadan

tinggi besar, bermata biru, memiliki aroma yang membuatku tergila-gila, dan

mobilnya Volvo SUV berwarna perak. Laki-laki yang seakan-akan menghilang dari

permukaan bumi sebulan yang lalu.

Selama dua minggu pertama aku masih mengharapkan telepon darinya.

Terkadang aku duduk menatap telepon selularku, dan berharap benda itu

berdering. Tanpa sadar sering aku bergumam, “Ring... ring... ring... c‟mon just ring.”

Ketika telepon itu tidak berdering juga aku memaki-makinya, “Dasar telepon

goblok, bunyi saja nggak bisa.”

Untungnya kegilaanku dapat teratasi setelah Didi datang mengunjungiku

dengan membawa pacarnya bernama Vincent, yang terlihat seperti seorang kutu

buku pada umumnya. Didi biasanya leibh menyukai laki-laki yan ggaul untuk

mengimbangi gen kutu bukunya itu. Oleh sebab itu, aku sedikit terkejut ketika

melihat Vincent. Hanya satu jam bersama Vincent dan Didi, aku langsung tahu

perasaan Vincent terhadap adikku lebih dalam dibandingkan perasaan adikku

terhadap laki-laki itu. Vincent selalu menatap Didi bagaikan dia berlian paling

berharga. Vincent hanya tinggal selama seminggu, kemudian dia kembali ke D.C.

Aku pun mulai menginterogasi adikku.

“Kamu dan Vincent serius?” tanyaku, sambil menyiapkan makan malam untuk

kami berdua.

Didi, yang sedang menyiapkan salad, menjawab, “Mmmhhh... belum tahu juga

sih, memang ada apa?”

“Nggak. Kayaknya dia sudah cinta mati kepada kamu deh.” Aku membalik dua

daging sapi sirloin seperempat kilo yang ada di atas panggangan.

Adikku berhenti menuangkan bumbu salad ke dalam mangkuk dan menatapku.

“Kok Mbak bilang begitu?”

“Dia terus-menerus menatap kamu seperti kamu ini matahari dia.” Kuangkat

sepotong daging yang sudah setengah matang. Aku tahu Didi tidak pernah mau

makan daging yang terlalu well-done.

Didi tertawa mendengar komentarku dan meneruskan membuat salad sambil

menyanyikan lirik lagu Nelly Furtado, yang bergema dari speaker stereo.

“Omong-omong, aku sudah lama nggak dengar kabar tentang Reilley. Kamu

masih belum bertemu lagi dengan dia?” tanya Didi tiba-tiba.

Aduhhh... mengapa... oh... mengapa arah pembicaraan kami jadi ke situ? Sudah

selama dua minggu ini aku cukup berhasil mengusir Reilley dari pikiranku.

“I guess he‟s fine. Aku belum bertemu dia lagi tuh,” ucapku pelan. Aku

mengangkat steak dari panggangan, kemudian meletakkannya di atas piring.

Didi sudah duduk di kursi makan dan menungguku. Dengan mulut penuh dia

berkata, “Menurut kamu... dia mengapa timbul... tenggelam begitu, ya?” Kata-kata

Didi terputus-putus karena dia mencoba berbicara sambil mengunyah.

“Telan dulu daging di mulutmu baru omong, bisa nggak sih?” pintaku, sambil

mencoba menahan tawa melihat kelakuannya.

Didi tersenyum, lalu mengunyah daging yang ada di dalam mulutnya. “Steak ini

enak lho, Mbak. Makasih, ya,” ucapnya, kini dengan lebih sempurna karena daging

yang tadi dikunyahnya sudah ditelan.

“Enak, ya? Bagus deh. Aku dapat resep dari Cooking Channel, cara bikin steak

yang enak tapi gampang.”

Hanya dengan begitu aku bisa mengalihkan pembicaraan ke topik yang lebih

aman dan tidak membuat jantungku berdebar-debar.

* * *

Hari Natal pun tiba, berarti aku sudah resmi berumur 28 tahun. Orangtuaku

meneleponku pukul enam pagi, mereka memberi ucapan selamat sambil

menyanyikan lagu “Selamat Ulang Tahun” untukku. Ini tradisi yang telah kami

lakukan sejak aku SD. Setelah mandi dan berganti pakaian, aku dan Didi beranjak ke

luar rumah. Kami memutuskan merayakan ulang tahunku di salah satu restoran

Jepang yang ada di Winston, dan makan sushi sebanyak-banyaknya. Pelayan di

restoran ini sudah cukup mengenalku, dan mempersilakan kami duduk di meja

favoritku di tengah ruangan.

Restoran terlihat cukup padat dengan orang-orang yang baru pulang dari

menghadiri misa pagi di gereja. Kuliaht meja terbesar restoran itu, yang terletak di

pinggir ruangan, sudah terisi oleh satu keluarga besar. Sepasang oma dan opa,

dengan rambut yang sudah hampir putih semua, tampaknya adalah orangtua

mereka. Seorang wanita berambut cokelat gelap sepunggung sedang memasukkan

sepotong sushi ke dalam mulut anak kecil, yang duduk di sampingnya. Seorang

wanita berambut pendek, yang parasnya hampir sama dengan wanita yan gtadi,

duduk di sebelahnya. Di depan mereka ada empat orang lagi duduk

membelakangiku. Salah seorang dari mereka berambut pirang, dan selebihnya

berambut cokelat gelap. Dari raut wajah dan suara-suara mereka yang berbicara

satu sama lain, tampaknya mereka sedang membahas topik tentang American football

dan betapa seksinya Paris Hilton.

Tiba-tiba salah seorang laki-laki di antara mereka berdiri, dan aku langsung

bertatapan dengan wajah malaikat pelindungku. Aku harus mengedipkan mataku

berkali-kali untuk memastikan aku tidak sedang berhalusinasi. Aku benar-benar

tidak sedang bermimpi karena wajah itu kini sedang tersenyum lebar ke arahku.

“Titania!” teriak Reilley. Dia betul-betul terlihat gembira bertemu denganku.

“Reilley,” balasku, masih dengan suara agak tersedak.

Dia kemudian maju beberapa langkah dengan penuh semangat, sebelum

berhenti persis di depanku dan kelihatan ragu. Aku baru sadar percakapan seru

yang tadi terdengar di meja mereka kini sunyi. Delapan pasang mata dengan

berbagai warna, tetapi kebanyakan biru, sedang menatapku penuh rasa ingin tahu.

“Have you eaten?” tanyanya akhirnya, setelah beberapa detik hanya menatapku

sambil mengerutkan kening.

“Just about,” jawabku. Kulihat Didi berdiri di sampingku dengan tatapan penuh

arti.

“Why don‟t you join us?” Reilley terdengar antusias. Kulihat Reilley mengangguk

kepada Didi.

Sebelum aku bisa menolak, kulihat tiga laki-laki yang tadi duduk bersamanya

melambaikan tangan kepada waiter untuk meminta ekstra kursi. Hanya dalam

hitungan detik, meja mereka semakin padat dengan dua kursi tambahan.

Tampaknya aku tidak memiliki pilihan, selain menerima tawaran itu.

Aku duduk bersebelahan dengan Reilley, sedangkan Didi duduk di sebelahku.

Dua laki-laki, yang tadi duduk di kursi yang sekarang kami duduki, sudah

menyingkir ke kedua ujung meja. Aku dan Didi lalu memesan makanan dan

minuman kami. Kini sembilan pasang mata menatapku dan Didi, tetapi aku sadar

bahwa fokus tatapan mereka adalah aku. Situasi ini sangat membuatku tidak

nyaman, apalagi aku menyadari aku duduk terlalu dekat dengan Reilley sehingga

bahu kami hampir bersentuhan. Bagaimana mungkin aku bisa menerima tawaran

duduk dan makan siang dengan orang-orang tidak aku kenal ini? Oh, ya... aku

lupa... aku tergila-gila kepada laki-laki yang duduk di sebelahku, yang kini

tampaknya sedang mengirimkan aliran listrik kepadaku setiap beberapa detik.

Zzzzzzttt... zzzzttttttt.... zzzzttttt....

“Hi, I‟m Marcus,” ucap laki-laki yang duduk di ujung meja sebelah kiriku

dengan tiba-tiba, kemudian membungkuk dan mengulurkan tangannya menyalamiku.

Ketika dia melakukan itu, kudengar beberapa orang berteriak pada saat yang

bersamaan.

“Watch it, you‟re tipping the soy sauce bottle.”

“She‟s taken you idiot.”

“And look how smoooooth that boy is, it‟s a wonder why he has no girlfriend.”

Aku yang baru setengah berdiri terdiam kaget, dan memutuskan duduk

kembali di kursi serta menarik lagi tanganku yang sudah setengah terjulur ke arah

Marcus.

“Hei, kami dikenalkan dong. Apakah kamu terlalu malu mengakui kami semua

sebagai keluarga kamu?” Wanita yang tadi sedang menyuapi anaknya berkata

sambil melemparkan senyumnya kepadaku.

Reilley memberikan tatapan gemas kepadanya sebelum menjawab, “Titania, ini

keluarga saya. Mom and dad,” ucapnya, sambil menunjuk kepada sepasang manula

yang sedang tersenyum ramah kepadaku. “My younger sister, Christine,” ia mnunjuk

wanita berambut pendek, yang mengangguk. “And her boyfriend, Matt,” sambil

menunjuk kepada laki-laki berambut pirang yang duduk di sebelah Didi. ”My older

sister Mary, her husband Alex, and my nephew Joseph.”

Reilley menarik napas, kemudian melanjutkan, “Ini adik laki-laki saya, si

pembuat onar, Marcus.”

“Hey,” teriak Marcus tersinggung, diikuti gelak tawa smua orang yang duduk di

meja itu.

“Nice to meet you all. Saya Titania dan ini adik saya Adriana, ucapku

memperkenalkan diri. Aku tidak menatap Didi ketika sedang memperkenalkan diri

karena dari sudut mataku aku bisa melihat wajahnya tampak sangat terhibur.

Rasanya aku harus mempersiapkan diri diinterogasi Didi setibanya di apartemen

nanti. Ini tentu saja bukan prospek yang aku tunggu-tunggu.

Ketika makanan kami tiba, aku menyempatkan diri memperhatikan

sekelilingku. Kulihat wajah semua anggota keluarga Reilley jauh di atas rata-rata,

bahkan bisa dibilang wajah Reilley paling biasa saja dibandingkan mereka semua.

Untungnya mereka sedang sibuk dengan percakapan atau makanan masing-masing

sehingga memberikanku waktu beberapa menit untuk bernapas.

“Bagaimana kabarmu? Maksudku sejak terakhir kali aku bertemu kamu,” tanya

Reilley pelan.

“Saya baik-baik saja,” jawabku pendek, sambil memasukkan sebagian california

roll ke dalam mulutku.

“Apakah Brandon masih suka mengganggu kamu setelah malam itu?” lanjut

Reilley, masih dengan suara pelan.

Mau tidak mau aku tersenyum mendengar pertanyaannya. Ternyata dia masih

betul-betul ingat kepadaku.

“Nggak, dia sudah nggak pernah mengganggu saya lagi,” jawabku.

“Baguslah. Aku agak khawatir soal itu,” lanjutnya, kemudian kembali pada

makan siangnya, meninggalkanku dengan mulut agak menganga dan hati

berbunga-bunga. Dia mengkhawatirkanku? Aku ada di pikirannya?

“Any more flat tires?” tanya Reilley lagi, setelah beberapa detik.

“Nggak.” Aku mencoba menyembunyikan ekspresi wajahku yang bisa

memperlihatkan bahwa aku merasa ge-er dengan perhatiannya.

“Hidung kamu bagaimana?” lanjutku.

Reilley menyentuh hidungnya sedikit, dan berkata, “Baik-baik saja,” sambil

kemudian tersenyum lebar.

“Kamu kenal kakak saya di mana?” tanya Marcus tiba-tiba, yang diikuti dengan

teriakan, “Oowww, that hurts dude!” Kulihat Reilley sedang menghunjamkan tatapan

tajam ke arah Marcus, yang sedang meringis kesakitan.

“Bagaimana kalau kita biarkan mereka makan dulu sebelum kamu interogasi.”

Ibu Reilley menolongku. Aku memandangnya dengan tatapan penuh terima kasih.

“Bagaimana pihak rumah sakit memperlakukan kamu?!” teriak Alex dari ujung

meja kepada Marcus.

“Seperti sampah, that‟s all I could say,” balas Marcus. “Saya kasih tahu saja, ya.

Kalau kamu memutuskan untuk kuliah, jangan pernah mau masuk kedokteran,”

lanjutnya. Ia menatap Didi, yang mengerlingkan matanya kepadaku dengan

bingung.

Aku harus menahan tawa. Didi memang berwajah dan bergaya masih seperti

anak SMA. Dengan mukanya yang bulat dan tubuhnya yang tidak terlalu tinggi,

aku tidak bisa menyalahkan orang yang menyangka dia baru saja merayakan ulang

tahunnya yang ke-16.

“Kamu tahun keberapa sih?” tanya Marcus lagi kepada Didi.

“Tahun keempat,” balas Didi sopan. Kulihat ibu Reilley menggeleng-geleng

melihat kelakuan anaknya, yang seakan-akan tidak menghiraukan kata-katanya

untuk membiarkan kami makan dulu sebelum bertanya-tanya.

“A senior. Kamu sekolah di mana?” kata Marcus, semakin antusias.

“George Washington.”

Kulihat Marcus mengerutkan keningnya. “Itu bukan di Winston, ya? Aku nggak

pernah mendengar ada George Washington High School di sini.”

“It‟s in Washington D.C.” Aku bisa merasakan Didi mulai terhibur dengan main

tebak-tebakan ini.

“D.C.?!” teriak Marcus terkejut.

“Dia sudah kuliah, blo‟on. George Washington University, paham?” Kudengar

Christine mengomentari dengan nada sarkasme. “Aku nggak tahu deh bagaimana

kamu bisa diterima kuliah kedokteran kalau kamu se-blo‟on ini,” lanjutnya.

Marcus mengerlingkan matanya kepada Christine, yang membalas dengan

kerlingan matanya juga.

“Jadi, kamu bakal lulus tahun depan dong?” Kudengar suara Mary.

“Mungkin belum. Saya masih mengerjakan disertasi saya. Mudah-mudahan

saya akan lulus secepatnya.” Didi menjawab pertanyaan itu dengan penuh senyum.

Aku tahu, dia selalu menganggap kejadian di mana seseorang menyangka dia masih

mengambil S1 dan bukannya S3 sebagai hiburan yang tidak akan pernah dia

lewatkan.

Kulihat orang-orang yang ada di sekelilingku tampak bingung, kemudian

ekspresi wajah mereka berganti dengan kekaguman setelah mereka betul-betul

memahami maksud Didi.

”You‟re doing your PhD in what area, dear?” Ibu Reilley bertanya, sambil

memandang Didi dengan tatapan keibuan.

Aku tersenyum bangga melihat Didi mencoba menjelaskan kepada Reilley dan

keluarganya tentang bidang yang ditekuninya. Tidak lama kemudian, Didi sudah

terlibat dalam pembahasan yang panjang lebar mengenai teori-teori psikologi

dengan Christine, yang ternyata sedang mengambil S2 Jurusan Psikologi. Aku sama

sekali tidak paham apa yang mereka bicarakan.

“Makanan kamu bagaimana?” tanya Reilley, dengan suara pelan sehingga

hanya aku yang bisa mendengarnya.

“Good,” jawabku, sambil memasukkan unagi terakhir ke dalam mulutku. Setelah

menelan dan meminum teh hijau seteguk, aku memberanikan diri menanyakan

pertanyaan yang sudah berputar-putar di kepalaku selama satu jam terakhir.

“Berapa utang saya kepada kamu untuk biaya dry cleaning?”

Sebenarnya, yang ingin aku tanyakan adalah “Kenapa kamu belum telepon

aku?”

Reilley menyandarkan punggungnya ke kursi dan menatapku bingung.

“Untuk sweater kamu,” lanjutku. Reilley masih menatapku bingung. Aku

terpaksa menambahkan, “Sweater kamu yang supermahal, yang kena darah itu lho?”

“Oh... sweater itu. I told you not to worry about it. Kalau nggak salah, sweater itu

sudah aku kirim ke Goodwill. Aku bahkan nggak ingat.”

“Kamu kasih sweater Armani ke Goodwill?” Nadaku meninggi karena terkejut.

Untung saja Marcus sedang ke toilet sehingga dia tidak mendengar ucapanku.

Orang tolol mana yang akan menyumbangkan sweater Armani-nya ke organisasi

yang menerima sumbangan pakaian. Walaupun sweater itu sudah terkena darah,

tetap saja itu sweater Armani.

“Sweater itu sudah tua. Lagi pula, bahannya bikin aku gatal. Hari itu aku pakai

karena aku kehabisan pakaian.”

“Oh,” ucapku ragu.

“Itu sweater cadangan yang aku simpan di mobil, buat jaga-jaga saja kalau aku

perlu,” jelas Reilley lagi.

Aku mengangguk menerima penjelasannya itu, meskipun aku tetap bingung

bagaimana mungkin seseorang bisa memiliki sweater Armani dan tidak

mengenakannya sesering mungkin.

“Omong-omong, mau dengar nggak apa yang terjadi padaku waktu aku pergi

kunjungan ke rumah sakit jiwa?” Kudengar suara Christine. Kualihkan perhatianku

kepada adik perempuan Reilley itu.

“Were you about to commit yourself?” Alex bertanya dengan nada jenaka, yan

gdiikuti suara tawa kami semua. Setahuku orang yang akan “commit”, atau

memasukkan dirinya ke rumah sakit jiwa, hanyalah orang-orang yang betul-betul

merasa kesehatan mental mereka tidak stabil.

“Mau dengar atau nggak nih?” omel Christine.

“Mau... mau...,” ucap Reilley. Aku menoleh dan menatap Reilley, yang sedang

tersenyum kepadaku.

“Jadi kan dengar ceritaku? Oke, aku mulai, ya. Profesor Duncan adalah orang

paling gila yang pernah aku temui sepanjang hidupku. Dia mengajak kami bertemu

salah satu pasiennya, namanya Jim. Ia agak kurang waras karena percaya dirinya

sudah meninggal.” Christine memulai ceritanya.

Kulihat Didi dan Mary saling tatap, kemudian tersenyum. Kelihatannya aku

tidak perlu khawatir keluarga Reilley tidak akan cocok dengan keluargaku. Oke,

Titania, stop. Aku mencoba mengontrol imajinasiku yang mengawang-awang dan

kembali memfokuskan pikiranku pada suara Christine.

“Ada beberapa suster yang mencoba menjelaskan kepada Jim bahwa dia masih

hidup. Kalau dia sudah meninggal maka mereka nggak akan bisa melihat atau

menyentuhnya. Nah, Prof. Duncan berkata ke kami untuk mengobservasi selama

dia menangani masalah ini. He went up to Jim, took one of Jim‟s arm, and then slash it

with a scalpel. Gila nggak tuh?” Suara Christine semakin meninggi karena antusias.

Aku pun melipat kedua tanganku di atas meja, tertarik dengan cerita itu dan

menunggu Christine melanjutkan ceritanya.

Tiba-tiba kudengar suara Marcus, yang baru kembali dari toilet. “Sedang

bicarakan apa sih?” Dia kemudian duduk kembali di kursinya.

“Aku sedang cerita tentang kunjunganku ke RSJ,” jawab Christine, tidak

sabaran.

“Oh... itu cerita gila. ITiba-tiba kudengar suara Marcus, yang baru kembali dari

toilet. “Sedang bicarakan apa sih?” Dia kemudian duduk kembali di kursinya.

“Aku sedang cerita tentang kunjunganku ke RSJ,” jawab Christine, tidak

sabaran.

“Oh... itu cerita gila. You guys would love it,” ucap Marcus, sambil tertawa.

“Marcus... you mind? Aku lagi cerita nih.” Christine kelihatannya sudah siap

ngambek.

Marcus mengangkat tangannya tanda menyerah. Kulihat semua orang di meja

itu, kecuali aku dan Didi, saling pandang dengan senyuman yang tertahan dan

tatapan penuh pengertian. Rupanya hal yang cukup biasa bagi Christine dan

Marcus bertengkar, dan Marcus-lah yang biasanya akan mengalah.

Setelah yakin Marcus tidak akan mengeluarkan kata-kata yang akan

mengganggunya, Christine melanjutkan ceritanya.

“Jim memperhatikan lengannya yang sudah berdarah. Nggak banyak memang.

Perhatiannya kemudian beralih ke Prof. Duncan, lalu ke para suster sebelum

akhirnya ke kami, para mahasiswa yan gsedang memandangi dia dengan mulut

ternganga tentunya. Bukannya menyadari dia masih hidup, Jim malahan mulai

berteriak-teriak „Orang mati bisa berdarah, orang mati bisa berdarah‟ sambil lari-lari

keliling ruangan.” Christine mengakhiri ceritanya sambil tertawa keras, dan kami

pun ikut tertawa bersamanya.

“Ada yang mau dessert nggak?” Kudengar suara Alex bertanya, setelah suara

tawa reda.

Aku sudah terlalu kenyang sehingga menolak tawarannya, begitu juga semua

orang yang duduk di meja itu. Alex kemudian berdiri dan menuju toilet.

“So where are you from, dear?” tanya ibu Reilley kepadaku. Kulihat ayahnya juga

sedang menatapku ingin tahu.

“Saya dari Indonesia,” jawabku sopan. Aku sedang menunggu mereka

melanjutkan pertanyaannya dengan, “Itu di mana ya?” Aku sudah terbiasa dengan

orang-orang Amerika yang tidak mengetahui letak Indonesia di peta dunia, suatu

fakta yang sangat aku sayangkan. Kemudian aku cukup terkejut ketika ayah Reilley

berkata, “Oh, apakah Aceh sudah pulih dari tsunami?”

Aku harus mengontrol ekspresi wajahku agar tidak terlihat terlalu terkejut

sebelum menjawab, “Pemerintah Indonesia sedang berusaha sebaik mungkin

melakukan pemulihan di sana-sini, tetapi masih ada banyak hal yang harus

dikerjakan.”

Kedua orangtua Reilley mengangguk penuh pengertian. “Kamu tinggal di mana

di Indonesia, apakah dekat dengan Aceh?” tanya Reilley kepadaku. Kini Marcus

pun terlihat tertarik dengan percakapan kami.

“Saya tinggal di Jakarta, dan untungnya itu cukup jauh dari Aceh,” jelasku.

Hingga hari ini aku sangat bersyukur bahwa aku tinggal di Jakarta, bukan di Aceh.

Aku tidak bisa membayangkan, apa jadinya hidupku kalau saja aku kehilangan

orang-orang yang aku cintai hanya dalam sekejap mata seperti yang terjadi pada

banyak orang di Aceh pada akhir tahun 2004.

“I‟m glad to hear it. Apakah orangtua kamu ada di sini atau mereka masih di

Jakarta?” tanya ibu Reilley lagi. Ini mungkin hanya imajinasiku saja, tetapi aku

merasa ia sedang menginterogasiku untuk melihat apakah aku calon istri yang

sesuai untuk anaknya. Calon istri? Hah!!! Pacaran saja belum.

“Mereka masih di Jakarta,” jawabku, sambil tersenyum.

“Seberapa sering kamu pulang ke Jakarta?”

“Sekali setiap empat sampai lima tahun.”

“Lima tahun sekali?” teriak ibu Reilley. “Orangtua kamu pasti kangen dan ingin

sekali bertemu kamu, ya. I know I would.”

“Not all parents are as whiny as you are, Mom,” Marcus berkata, yang diikuti

dengan bunyi “whack” dan kata, “Owww... Mooom,” ketika tangan ibunya

bersentuhan keras dengan belakang kepalanya.

“Honestly, I should have stopped with your brother if I‟ve known that you and your

twin sister will be so out of control,” omel ibu Reilley.

Pada saat itu barulah aku sadar bahwa Christine dan Marcus ternyata anak

kembar. Aku seharusnya sudah bisa menebak sebelumnya karena mereka memang

terlihat sangat mirip dan sepantar, dan cara mereka berinteraksi terlihat lebih dekat

daripada kakak-beradik pada umumnya. Mereka kelihatan lebih bisa memahami

satu sama lain tanpa harus mengeluarkan kata-kata. Sekali lagi aku tersenyum

melihat semua interaksi dalam keluarga Reilley; mereka terlihat seperti satu

keluarga yang utuh dan bahagia, seperti keluargaku.

Dari sudut mataku kulihat Alex baru kembali dari toilet, kemudian aku melihat

Mary berdiri sambil menggendong Joseph yang sudah tertidur. “We‟re heading out.

Kami mau menghindari traffic ke Atlanta,” ucap Mary.

“Mary nggak tinggal di Winston?” tanyaku kepada Reilley.

“Nggak ada dari kami yang tinggal di sini. Hanya orangtua saya saja,” jawab

Reilley.

Sebetulnya, aku ingin menanyakan di mana Reilley tinggal ketika Marcus

menepuk bahu Reilley. “Nice seeing you again, Big Man, but we gotta split. Aku ada

shift pagi besok.”

Di sudut lain kulihat Christine sedang memeluk dan mencium kedua

orangtuanya.

“Promise me you‟ll call more often, you don‟t see your family enough,” ucap ibu

Reilley, sambil memegang wajah Christine di antara kedua telapak tangannya.

“Aku bertemu Marcus setiap hari,” balas Christine cuek.

“Dia saudara kembar kamu, itu nggak bisa dihitung.” Kudengar ibu Reilley

mengomentari.

Marcus dan Christine tertawa terkekeh-kekeh. Didi menarik tanganku dan

menanyakan tentang tagihan makanan kami.

Aku mencoba menarik perhatian salah seorang pelayan untuk menanyakan bon

makanan kami. Reilley, yang melihatku sedang melambaikan tangan, kemudian

bertanya, “Kamu perlu sesuatu?”

“Saya ingin minta tagihan makanan saya,” balasku, sambil tetap melambaikan

tangan kepada pelayan.

Reilley menarik tanganku turun, dan tidak melepaskan genggamannya. “Kamu

nggak usah khawatir soal itu. Alex sudah membayar semuanya,” ucapnya.

“Alex?” tanyaku terkejut.

Reilley mengangguk. “Kalau begitu, sebaiknya aku tanya ke dia berapa utang

saya,” ucapku, dan siap beranjak menuju Alex, yang sedang mengangkat Joseph

dari pelukan istrinya. Reilley menarik tanganku yang masih digenggamnya.

“Don‟t worry about it.” Reilley menatapku tajam.

“Kamu yakin?” tanyaku ragu.

Tiba-tiba Reilley mengalihkan perhatiannya kepada seseorang di belakangku.

“Hei, Alex, Titania tanya ke aku apakah kamu keberatan membayari makan

siangnya?”

Aku rasanya ingin mencekik Reilley pada saat itu juga. Mengapa dia harus

menanyakan secara langsung begitu kepada Alex sehingga membuatku terkesan

terlalu perhitungan dengan uang? Aku memang sangat berhati-hati dengan uangku,

tetapi aku tidak mau orang lain tahu tentang itu. Untungnya Alex hanya tertawa,

dan Mary menjawab, “Makan siang kami yang traktir.”

Kemudian dia melangkah ke arahku dan memelukku sambil berkata, “Merry

Christmas. It was very nice to meet you.”

Aku tidak punya pilihan selain mengucapkan terima kasih, membalas

pelukannya dan mengatakan hal yang sama. Mary kemudian berputar untuk

memeluk dan mencium semua anggota keluarganya, termasuk Didi, kemudian

melangkah ke luar restoran diikuti oleh Alex dan Joseph. Alex melambaikan

tangannya sebelum menghilang dari pandanganku.

Sebelum aku bisa pulih dari reaksi Mary terhadapku, Christine sudah

memelukku diikuti Marcus. Matt, pacar Christine, hanya melambaikan tangannya

sambil tersenyum tersipu-sipu. Aku baru ingat, sepanjang makan siang tadi aku

tidak mendengarnya berbicara sama sekali. Mereka berlalu untuk menempuh jarak

dua setengah jam dengan mobil ke Chapel Hill. Aku pun berpamitan dengan Reilley

dan kedua orangtuanya. Meskipun ayah Reilley hanya menyalami tanganku, ibu

Reilley memelukku dengan hangat dan antusias. Kami berjalan ke luar restoran

bersama-sama dan berpisah di depan pintu.

Didi berjalan tanpa suara di sampingku, tetapi aku tahu dia tidak sabar

menunggu sampai kami ada di dalam mobil dan membahas semua kejadian siang

ini. Aku dan Didi masuk ke dalam mobil sebelum kuhidupkan mesin dan

menyalakan pemanas. Dari kaca spion kulihat Reilley berjalan menuju Mercedes

berwarna hitam, diikuti oleh ayahnya yang sedang menggandeng ibunya. Melihat

pasangan tua yang masih mesra itu aku teringat ibu dan bapakku, yang juga selalu

bergandengan tangan ke mana pun mereka pergi. Akhirnya, mereka masuk ke

dalam mobil. Aku masih tetap menunggu karena mesin mobilku masih terlalu

dingin. Didi menekan tombol radio mobil untuk mencari siaran yang melantunkan

lagu selain lagu-lagu Natal.

Tiba-tiba telepon selularku berbunyi, Kulirik layar untuk mengetahui siapa yang

meneleponku, tetapi di layar hanya tampil tulisan “private”. Sambil mengerutkan

kening kujawab telepon itu. Kulihat Didi buru-buru mengecilkan volume radio, dan

menatapku penuh tanda tanya karena melihat wajahku yang bingung.

“Hello,” ucapku ragu.

“Hei, apakah kamu berencana tidak segera meninggalkan tempat parkir itu?”

Kudengar suara Reilley dari ujung telepon.

Aku sempat tersedak sebelum berkata, “Reilley?”

Kini Didi menatapku dengan mata terbelalak.

“Yes,” jawab Reilley, kemudian ia tertawa. “So are you planning to move soon?”

lanjutnya.

“Memang ada apa?” Aku masih tidak bisa menebak alasan mengapa dia

meneleponku dan menanyakan hal itu.

“My mom nggak membolehkan saya pergi sampai dia lihat kamu dan adik kamu

sudah dalam perjalanan pulang dengan aman.” Suara Reilley terdengar sedang

mencoba menahan tawa. Kemudian kudengar bunyi sesuatu dan suara perempuan

yang agak teredam, seperti ada tangan yang menutupi speaker telepon Reilley.

Kudengar suara Reilley lagi, “My Mom said to tell you that it was very nice meeting you

and your sister and that she hopes to see you again.” Kini nada Reilley terdengar sedikit

terpaksa.

Aku berusaha tidak menelaah setiap perkataan yang diucapkan Reilley

kepadaku, dan berkata, “Please tell your Mom that we said thank you. It was nice meeting

her and your dad as well.”

“Mereka bisa dengar, teleponnya on speaker. Kamu lebih baik bergerak sekarang,

soalnya ada mobil yang menunggu tempat parkir kamu,” lanjut Reilley.

Aku melirik ke kaca spion untuk mengkonfirmasi apa yang Reilley baru

katakan. Kulihat ada sebuah Mustang warna hitam sedang menunggu. “Oke, bye,”

ucapku. Aku buru-buru menutup telepon selularku, kemudian memberikannya

kepada Didi. Ia memasukkan telepon itu ke dalam tasku.

Buru-buru kualihkan persneling mobil dari “P” ke “R”, dan mundur dari tempat

parkir. Kubunyikan klakson satu kali sebelum meluncur ke Jalan Bethesda menuju

arah Country Club, jalan di mana apartemenku berada.

6

Spekulasi dan Otak Anak Sapi

DALAM perjalanan pulang menuju apartemen, Didi tidak habis-habisnya memuji

Reilley dan keluarganya.

“Ya... ampun, Mbaaa...k, dia perfect banget buat kamu. Terang saja kamu suka

banget kepadanya. He is nice. Aku pikir tipe laki-laki seperti dia sudah punah,

ternyata aku salah. Kamu benar, matanya... Oh, my God... lebih biru dari Laut Pasifik.

Nggak adil banget deh, kok laki-laki bisa punya mata seseksi dia.”

“kok kayaknya kamu lebih excited bertemu dia sih dibandingkan aku?” tanyaku,

agak bingung melihat reaksi Didi yang menggebu-gebu.

“Terang saja aku excited. Aku nggak percaya Mbak sudah membuang waktu tiga

tahun hidup bersama Brandon, cowok sialan dan nggak tahu diri itu, kalau ternyata

ada Reilley di dunia ini. Aku yakin ini kismet.”

“Kismet?” tanyaku ragu.

Didi seakan-akan tidak mendengar atau tidak mau menghiraukan keraguanku,

dan melanjutkan usahanya meyakinkanku. “Ya, kismet. Jodoh... jodoh... Mbak

dengan Reilley tuh jodoh. Mbak lihat deh faktanya. Mbak bertemu dia setelah putus

dari Brandon, lalu Mbak sudah bertemu dia berkali-kali setelah itu. Kayaknya

memang Tuhan menunjuk dia untuk Mbak.”

Aku terpaksa tertawa mendengar penjelasan Didi. “Keluarga dia juga suka

dengan Mbak deh. Apalagi si Marcus. Untung saja tuh anak superberondong, kalau

nggak, waaa... hhh... dia nggak tahu sudah aku kerjai.”

“Yeah, he‟s cute,” balasku, ketika sadar Marcus memang tipe cowok yang Didi

suka. Tinggi, besar, gaul, dan atletis.

“Cute? Dia superganteng, lagi!” teriak Didi. “Well, anyway... setidak-tidaknya

Mbak sudah punya nomor teleponnya sekarang. Jadi, Mbak bisa telepon dia.”

“Aku nggak punya nomor telepon Marcus,” balasku bingung.

“Aduuu... hhh bukan Marcus, Mbaaa...k,” Didi terdengar gemas. “Maksudku

Reilley. Dia tadi kan telepon Mbak. Jadi, nomor teleponnya pasti tercatat kan di cell

Mbak. Bagaimana kalau Mbak telepon dan ajak dia makan di rumah Tahun Baru

nanti?” katanya dalam satu tarikan napas.

Aku harus menahan diri untuk tidak mengakui bahwa aku tidak bisa

melakukannya karena nomor telepon Reilley “private”. Didi melihat ekspresi

wajahku, “What?” tanyanya curiga.

Aku menelan ludah sebelum menjawab, “Nomor telepon Reilley “private”, aku

nggak bisa telepon dia balik.” Aku menunggu ledakan kemarahan Didi sampai di

telingaku.

Ternyata yang keluar dari mulut Didi hanya, “Oh... ya nggak apa-apa. Aku lihat

Mbak tadi ngobrol dengan dia. pastinya Mbak sempat minta nomor teleponnya

dong. Kartu namanya kek... atau apa gitu.”

Aku memahami logika berpikir Didi. Pada dasarnya untuk siutasi lain mungkin

hipotesisnya bisa berlaku, tetapi tidak untuk kali ini. Melihatku tidak juga menjawab

Didi mengerlingkan matanya, “Mbak minta nomor telepon dia, kan?”

Aku menggeleng.

“Kartu nama?”

Aku menggeleng sekali lagi.

“Oh maaa... nnnn this sucks,” omel Didi, dan sekali lagi aku bisa melihat mengapa

banyak orang menyangka adikku ini masih SMA. Sewaktu dia mengatakan katakata

barusan, dia terdengar seperti Bart Simpson. Aku seakan-akan jadi bisa

mendengar lagu yang selalu terlantun pada awal setiap seri The Simpsons di TV. The

Simpsooo...ns tut... tut... tut... tut... tut... tut... tut... tut... tut... tut...tutu...tut....

* * *

Bulan Januari pun tiba, dan Didi harus kembali ke Washington D.C. untuk

melanjutkan risetnya. Aku kembali sendirian di Winston-Salem. Sandra dan timnya

di MBD, yang dulu masih cukup optimis dapat menemukan pasangan ideal

untukku dalam waktu kurang dari enam bulan kini mulai terdengar khawatir

karena aku belum juga menemukan satu date pun yang “HOT”, tetapi seperti biaya

Sandra dan timnya tetap pantang menyerah. Kembali aku sudah mulai tenggelam

dengan kencan-kencan butaku selanjutnya, yang selalu diakhiri dengan

kekecewaan. Sejujurnya, semua date-ku yang tampaknya salah alamat ini mulai

membuatku khawatir, apakah semua ini sebanding dengan uang dua ribu dolar

yang telah kukeluarkan lima bulan yang lalu? Apakah pada akhir bulan keenam aku

akan berakhir dengan tabungan yang sudah berkurang dua ribu dolar, kilometer

mobil yang jebol karena semua perjalanan luar kota yang harus aku tempuh,

setidak-tidaknya seminggu sekali untuk menemui date-ku, dan masih tanpa prospek

suami?

Kalau saja Reilley mau meneleponku, aku tidak akan mengalami kekhawatiran

seperti ini. Sepanjang tanggal 25 Desember hingga 3 Januari, aku dan Didi selalu

melonjak dari kursi setiap kali mendengar telepon selularku berbunyi. Didi akan

menatapku penuh harap, dan kecewa ketika melihatku menggeleng sebagai tanda

bahwa telepon itu bukan dari Reilley. Sering kali wajah kecewa adikku itu

membuatku tertawa karena seolah-olah justru dia yang menaruh banyak harapan

terhadap Reilley. Sejujurnya, aku pun merasakan hal yan gsama. Oleh karena itu,

aku juga merasa kecewa karena Reilley belum meneleponku lagi.

Suatu malam, aku sedang mengganti-ganti channel TV ketika kutemukan acara

yang membahas tentang Scott Peterson, suami pembunuh istri yang sedang hamil

besar agar bisa menikahi pacarnya. Acara itu membahas tentang beberapa indikasi

yang bisa kita kenali pada orang yang selingkuh. Bagi wanita yang mungkin jadi

selingkuhan seorang laki-laki tetapi tidak tahu-menahu soal itu, beberapa ciri

kebiasaan laki-laki seperti itu bisa dikenali. Pertama, laki-laki itu akan datang dan

pergi dengan tiba-tiba. Kedua, hidupnya terkesan misterius dan penuh rahasia.

Ketiga, laki-laki itu biasanya yang menghubungi kita, tetapi kita tidak bisa

menghubungi dia.

Entah mengapa, pikiranku langsung tertuju kepada Reilley dengan sifat timbultenggelamnya.

Aku bertemu dengannya secara tiba-tiba di Fresh Market ketika dia

menegurku untuk menanyakan bahan salad, padahal pada saat itu ada beberapa

orang yang cukup berdekatan denganku yang bisa dia tanya. Seperti disulap dia

muncul sebulan kemudian ketika aku mengalami masalah dengan mobilku, dan

tanpa diminta dia segera membantuku. Kemudian lagi-lagi seperti dia telah

menguntitku, Reilley menolongku di pelataran parkir Embassy Suites. Kalau aku ini

selingkuhannya, mengapa dia berani memperkenalkanku kepada keluarganya?

jangan-jangan mereka bukan keluarganya betulan? Oh, my God! Apakah Reilley

seorang penjahat yang buron dan sedang dikejar polisi?

Jadi, selama beberapa hari aku sama sekali tidak bersemangat melakukan apaapa.

Ada kabut kesedihan dan kekecewaan yang menyelimutiku dengan tebal,

membuatku sulit bernapas. Aku harus mengusir semua perasaan itu dan bersiapsiap

untuk kencan selanjutnya dengan Francis, seorang computer programmer berusia

32 tahun. Dia berkulit putih dengan tinggi 190 sentimeter. Seingatku dia laki-laki

tertinggi yang pernah aku temui sepanjang sejarah kencan butaku ini. Ketika

mendengar deskripsi tentang dirinya, aku merasa agak ragu. Sebagai seorang

computer programmer tentunya Francis akan kelihatan seperti kutu buku dengan

tubuh yang kurus kering kerontang, kulit yang pucat karena kurang terkena sinar

matahari, dan berkacamata tebal. Pokoknya, jauhs ekali dari tipe laki-laki yang

biasanya aku pacari. Belum lagi karena namanya... Francis, nama yang menurutku

sudah ketinggalan zaman. Aku cukup penasaran terhadapnya karena Sandra

mengatakan, “I think he‟s the best candidate so far.” Mau tidak mau aku harus memberi

kesempatan kepada diriku untuk mengenal Francis karena siapa tahu ternyata

memang ada kecocokan di antara kami berdua.

Hari ini aku harus mengenakan jaket wol karena suhu di Winston mencapai 32

derajat Fahrenheit, yang berarti 0 derajat Celsius. Aku tidak pernah mengalami

cuaca sedingin ini sejak aku meninggalkan Washington D.C. tiga tahun yang lalu.

Aku memasuki pelataran parkir restoran tepat pukul 12.45. Hari ini aku hanya

bekerja setengah hari karena aku sudah bekerja overtime dari hari Senin sampai

Kamis. Francis bersedia menemuiku di Winston, hal yan gaku sangat syukuri karena

aku tidak akan berani mengemudikan mobil ke luar kota dengan salju setebal ini.

Untuk memastikan bahwa dandananku masih sempurna seperti ketika aku

meninggalkan rumah, kusempatkan mematut wajahku di kaca beberapa detik

sebelum keluar dari mobil.

Untuk pertama kalinya aku terpaksa mengenakan kacamata minusku ketika

keluar rumah karena ada iritasi di mata kananku. Mengikuti saran dokter, aku

melepas lensa kontak dan mengenakan kacamataku selama satu minggu sampai

iritasi di mataku reda. Setelah selalu mengenakan lensa kontak setiap kali keluar

rumah selama empat tahun terakhir ini, aku merasa agak tidak nyaman ketika harus

mengenakan kacamataku kembali. Salah satu alasan mengapa aku tidak pernah

mengenakan kacamata ketika keluar rumah karena menurut Brandon aku kelihatan

seperti dorky, bukan penampilan yang ingin aku perlihatkan sebagai seorang

financial analyst yang sukses.

Tadinya aku sempat berencana tidak akan menghiraukan saran dokter dan tetap

mengenakan lensa kontak, tetapi mengingat betapa gatalnya mataku ketika harus

melepaskan lensa kontak itu beberapa jam kemudian, aku memutuskan

membatalkan ide itu. Pilihan lain yang bisa aku pertimbangkan adalah tidak

mengenakan lensa kontak dan juga tidak mengenakan kacamata, tetapi semuanya

akan terlihat kabur. Aku lebih memilih bisa melihat ekspresi wajah date-ku selama

kencan daripada takut kelihatan seperti dorky.

Dengan langkah sedikit canggung aku memasuki restoran dan langsung

disambut Maitre d‟ restoran, yang berbicara dalam bahasa Prancis. Buru-buru

kuinformasikan siapa diriku kepadanya dalam bahasa Inggris. Untungnya Maitre d‟

itu kelihatan mengerti bahwa aku tidak bisa berbahasa Prancis sehingga dia

melanjutkan percakapan dalam bahasa Inggris.

“Oh, great... you‟re here. Your date is already here,” ucapnya antusias. Aku terpaksa

melirik jam tanganku untuk memastikan aku tidak terlambat. Jam tanganku

menunjukkan pukul 12.55. Mmmhhh... kelihatannya date-ku ini tipe laki-laki yang

memilih lebih baik datang lebih cepat daripada terlambat.

“This way please,” ucap Maitre d‟ itu lagi, dan mengantarkanku melewati

beberapa meja yang sudah terisi.

Kami berjalan menuju meja yan gterletak di samping jendela, di mana seorang

laki-laki berambut cokelat sedang duduk menyandar pada kursi. Tubuhnya yang

berkemeja biru terlihat santai. Aku sampai di meja yang sudah dipesan. Maitre d‟ itu

menyapa date-ku, yang duduk membelakangiku dalam bahasa Prancis. Aku agak

terkejut ketika mendengar suara date-ku, yang membalas sapaan itu dalam bahasa

Prancis yang fasih. Pada detik itu aku merasa bahwa aku sedang berada di Paris

daripada di Winston-Salem, North Carolina. Aku merasa sedikit kagum dan mulai

penasaran dengan date-ku ini. Aku masih belum bisa melihat wajahnya, tetapi

kemudian dia memutar tubuhnya dan berdiri. Seketika aku langsung seperti terkena

serangan jantung.

“Hello, Titania,” ucapnya, sambil tersenyum.

“Reilley?” Suaraku terdengar ragu.

“Oh... you two know each other?” tanya Maitre d‟, yang kini sedang menatap kami

berdua dengan mata melebar.

Kemudian kudengar Reilley berkata-kata dalam bahasa Prancis lagi sambil

melirik ke arahku dengan jenaka. Maitre d‟ itu tertawa dan mengangguk, kemudian

meninggalkan meja kami dengan penuh senyum.

Reilley kemudian mempersilakanku duduk di kursi yang terletak di

hadapannya. Aku hanya menuruti kemauannya karena masih terlalu terkejut

menyadari date-ku adalah Reilley. Aku juga agak jengkel karena tahu Reilley dan

Maitre d‟ itu baru saja membicarakan aku, tetapi aku tidak bisa memahaminya

karena tidak mengerti bahasa Prancis.

Reilley kembali duduk, dan menatapku sambil tersenyum. “Kamu perlu

mengambil napas, muka kamu sudah biru,” ucapnya, masih jenaka.

Aku lalu menarik napas, dan merasakan otakku mulai berfungsi kembali

dengan bantuan oksigen. Sayangnya, dengan pemikiran yang lebih jernih aku bisa

melihat situasi ini apa adanya. “What game are you playing at?” desisku.

Reilley menatapku bingung ketika mendengar pertanyaan dan nada bicaraku.

“Game? What game?”

“Apakah kamu sedang punya affair? Apakah saya ini selingkuhan kamu?

Apakah orangtua kamu tahu apa yang sedang kamu lakukan?”

Wajah Reilley terlihat semakin bingung, tetapi aku sudah tidak bisa

menghentikan ketakutanku kalau-kalau Reilley sedang membohongiku. Aku juga

tidak bisa menghentikan kemarahanku karena dia tidak pernah meneleponku balik.

Terlebih-lebih aku tidak bisa menghentikan kekecewaanku akrena sudah terlanjur

menyukainya. Sekali lagi aku terjatuh ke dalam perangkap laki-laki buaya darat

seperti Brandon.

“Ibu kamu kelihatannya wanita baik-baik. Dia akan sangat kecewa kepada

kamu kalau sampai tahu kejadian ini, atau jangan-jangan dia bukan ibu kamu?

Apakah mereka bahkan juga bukan keluarga kamu? Kamu sebaiknya punya alasan

dan penjelasan yang masuk akal, kalau tidak... sumpah aku akan telepon polisi.”

Reilley menatapku dengan mulut ternganga. Aku tidak tahu mengapa aku

membawa-bawa polisi dalam argumentasiku. Jelas-jelas kalau polisi datang dan

menanyakan tuduhanku terhadap Reilley, paling-paling aku hanya bisa menjawab

laki-laki satu ini telah “menggantung” perasaanku selama empat bulan. Aku yakin

para polisi itu akan menatapku seakan-akan aku ini pasien yan gbaru kabur dari

rumah sakit jiwa.

Tanpa kusangka-sangka Reilley kemudian tertawa sekencang-kencangnya.

Seluruh tubuhnya bergoyang, dan dia terus tertawa.

Melihatnya tertawa aku sudah siap mengangkat buku menu yang tadi

ditinggalkan Maitre d‟, dan melemparkannya ke wajah Reilley. Bagaimana mungkin

dia menganggap semua pertanyaanku sebagai lelucon yang superlucu dan patut

ditertawakan? Aku tidak pernah seserius ini dalam hidupku, dan aku tidak pernah

semarah ini kepada laki-lai mana pun dibandingkan kemarahanku kepada Reilley

pada saat ini. Bahkan kemarahanku pada Brandon tidak ada apa-apanya

dibandingkan ini.

Aku semakin merasa tidak nyaman karena beberapa orang mulai menatapku

perasaan. Karena Reilley tidak juga berhenti tertawa, akhirnya aku terpaksa berkata,

“Apa sih yang lucu?”

“Kamu,” jawab Reilley singkat, kemudian tertawa lagi. Aku menyandarkan

tubuh ke kursi dan menunggu. Salah seorang waiter datang dan menanyakan

pesanan kami dalam bahasa Prancis, tetapi aku memintanya kembali saja beberapa

menit lagi. Aku mengingatkan diriku sendiri untuk tidak lupa berpesan kepada

Sandra agar tidak lagi mengatur kencanku di restoran ini. Aku merasa seperti orang

paling tolol karena semua orang berbicara dalam bahasa yang tidak aku pahami.

Tak lama kemudian Reilley mulai bisa mengontrol tawanya dan menatapku,

meskipun dia masih tersenyum lebar.

“Mengapa kamu kira aku sedang selingkuh?” tanyanya.

“Karena kamu penuh dengan rahasia,” jawabku, tanpa berpikir lagi.

“Aku nggak punya rahasia.” Reilley menyatakannya dengan tenang, dan dari

matanya kelihatannya dia memang mengatakan yang sebenarnya.

Waiter yang tadi, yang bernama Pierre, kembali lagi untuk menanyakan pesanan

kami. Aku buru-buru menunjuk beberapa tulisan berbahasa Prancis yang ada di

menu, tanpa tahu apa yang aku tunjuk. Seperti Maitre d‟ tadi, Reilley juga berbicara

dalam bahasa Prancis dengan Pierre. Mereka kelihatannya sedang berdiskusi

panjang-lebar mengenami semua makanan yang dihidangkan di restoran ini. Pierre

kemudian menanyakan sesuatu kepada Reilley, yang menatapku selama beberapa

detik. Reilley kemudian tersenyum kepada Pierre sambil menggeleng. Setelah itu,

mereka berdua tertawa.

Aku sudah siap mencekik mereka berdua. Untungnya kemudian Reilley

menunjuk salah satu makanan yang ada di buku menu, kemudian tersenyum

kepada Pierre lagi. Aku baca makanan itu bernama lunettes d‟agneau, entah apa

artinya. Pierre mengulangi pesanan kami, kemudian berlalu sambil tersenyum.

Mungkin ini hanya imajinasiku saja, tetapi kelihatannya ada sesuatu yang

menggelikannya di balik senyuman itu, dan aku yakin akulah penyebab yang

membuatnya merasa geli.

“Mengapa sih dia menatap aku seperti begitu? Kamu omong apa dengan dia?”

desisku.

Reilley hanya menggeleng sambil tetap tersenyum. “Nothing important,” jawabny

apendek.

Mengatahui bahwa aku tidak akan mungkin bisa mengorek informasi apa-apa

dari Reilley tentang percakapan mereka, aku pun mengganti topik pembicaraan dan

menyerang Reilley dari sisi lain.

“Apakah nama kamu memang Reilley?” Nadaku terdengar curiga.

Reilley terlihat ragu sebelum menjawab, “Yes. Itu bukan nama yang dipakai oleh

keluarga atau rekan kerja saya, tetapi nama saya memang Reilley.”

Melihat tatapanku yang tidak percaya, Reilley mengeluarkan dompetnya dan

menunjukkan SIM-nya kepadaku, kemudian berkata, “Nama lengkap saya Francis

Winslow O‟Reilley, tetapi ketika kuliah teman-teman memanggil saya dengan nama

keluarga. Lambat laun „O‟ pada O‟Reilley mulai nggak dipakai lagi, dan akhirnya

teman-teman lebih familiar memanggil saya Reilley saja. Nama itu stuck dengan

saya.”

Aku perhatikan nama dan foto yang ada di SIM Negara Bagian North Carolina

itu. Kelihatannya semua cukup valid. Aku mengembalikan SIM itu kepadanya. Aku

juga tidak bisa berargumentasi tentang pergantian namanya itu. Aku sempat

berpacaran dengan laki-laki bernama Chris Wheeler. Di rumah, tempat dia tinggal

bersama delapan temannya, dia dipanggil Will, kependekan dari Wheeler.

“Hanya sebagai informasi, semua orang yang bertemu kamu Christmas kemarin

memang keluarga saya. My real mom and dad, my brother and two sisters. Saya yakin

my mom... akan kena serangan jantung kalau dia tahu saya sudah mempermainkan

perempuan.”

“Oh,” ucapku. Aku tidak tahu bagaimana harus menyikapi penjelasan Reilley

ini.

Untung saja minuman kami tiba. Aku buru-buru menyambar gelas yang berisi

pepsi, dan meminumnya sampai habis untuk menenangkan pikiranku. Reilley

hanya menatapku sambil mengerutkan keningnya, kemudian dia memanggil Pierre

lagi dan memintanya mengisi gelasku yang kosong.

“Jadi, apakah kamu ingin saya panggil Francis?” tanyaku ragu, setelah Pierre

sekali lagi berlalu dan gelasku sudah penuh lagi.

“Oh, no... pelase don‟t. Call me Reilley, please,” ucap Reilley buru-buru. “Oh... ya,

sepanjang yang saya tahu, saya nggak pernah menikah. Kecuali kalau ada orang

iseng yang memberi saya obat bius, membawa saya ke Las Vegas, menikah di sana,

dan mengembalikan saya ke tempat tidur sebelum saya sadar. Jadi, boleh dong

kalau saya simpulkan bahwa hubungan yang ingin saya jalin dengan kamu nggak

bisa dikategorikan sebagai perselingkuhan,” lanjutnya.

“Hubungan macam apa yang kita bicarakan di sini?” tanyaku hati-hati.

“Dating, kalau bisa yang serius.”

Aku masih tetap menatapnya curiga, lalu aku terpaksa menanyakan pertanyaan

terahirku. “Kalau kamu memang serius, mengapa kamu belum memberi nomor

teleponmu ke saya?”

“Kamu mau nomor telepon saya?” Reilley kelihatan kaget.

“Ya... iyalah, kalau nggak untuk apa juga saya tanya.” Sebenarnya, aku malu

juga setelah mengatakan kalimat itu. Aku benar-benar tidak percaya, aku bisa

mengatakan hal itu. Secara tidak langsung, aku baru saja memohon kepada Reilley

untuk memberikan nomor teleponnya kepadaku. Aku tidak pernah melakukan hal

seperti itu sepanjang hidupku. “Forget I said that,” lanjutku buru-buru.

Pada saat itu pesanan kami tiba, dan aku menatap pesananku dengan mata

melebar. Karena tadi terlalu kesal aku hanya asal tunjuk saja, suatu hal yang sangat

aku sesali sekarang. Makanan yang ada di hadapanku tampilannya seperti makanan

yang sepatutnya tidak dimakan manusia. Yuck....

“Jadi, kamu nggak mau nomor telepon saya?” tanya Reilley, sambil dengan

luwesnya bergerak menukar piring yang ada di hadapanku dengan piringnya yang

jelas-jelas kelihatan lebih bisa membangkitkan selera makanku.

“Eh... eh... kamu mau apa?” tanyaku bingung, dan memegangi piring

pesananku yang sudah setengah terangkat.

“Kamu pesan makanan yang salah. Kamu nggak akan bisa menelan makanan

ini. Percaya kepada saya,” jelas Reilley, sambil menunjuk pesananku dengan

gerakan kepalanya karena kedua tangannya sedang memegangi piring. “Now let

go!” perintahnya.

Aku melepaskan genggamanku pada piring dan membiarkan Reilley

menukarnya dengan piringnya.

“Memang itu apa sih?” tanyaku, setelah Reilley meletakkan makanan

pesanannya di hadapanku. Aku menunjuk pada makanan pesananku, yang kini

berada di hadapannya.

“Ini tête de veau vinaigrette,” jawab Reilley pendek.

Aku menunggu sampai Reilley menjelaskannya dalam bahasa Inggris. Aku

mulai menyesal karena tidak pernah belajar bahasa Prancis ketika kuliah.

“‟Tête de veau‟ artinya kepala anak sapi, tapi bisa juga diterjemahkan otak sapi.

Nah, itulah makanan yang kamu pesan tadi,” lanjutnya.

Menu yang kupesan otak anak sapi? Mulutku langsung terbuka, dan aku tidak

bisa melepaskan tatapanku dari wajah Reilley yang sedang tersenyum. Dia

kelihatannya cukup terhibur melihat tingkah lakuku.

“Kamu sebaiknya makan lunch kamu sebelum dingin,” ucapnya, sambil

menunjuk lamb chop yang ada di hadapanku dengan garpu.

Kulihat Reilley memasukkan sesuap makanan di hadapannya ke dalam

mulutnya. Dia tidak terlihat ada masalah dengan makanan itu sama sekali.

Kupotong dagingku dan memasukkannya ke dalam mulutku. Sejujurnya, ini adalah

steak daging kambing terenak yang pernah aku makan.

“Bagaimana makanan kamu?” tanya Reilley.

Aku menelan makanan yang ada di dalam mulutku, dan menjawab, “Enak.”

Aku terdiam sesaat dan minum pepsi. “Saya nggak tahu ternyata kamu bisa bahasa

Prancis.”

Reilley mengangkat bahunya. “Saya cukup bisa bahasa Prancis sekadar untuk

memahami menu restoran ini sehingga nggak asal tunjuk.”

Aku mengangguk. Aku tahu Reilley sedang meledekku. Aku memperhatikan

Reilley lebih saksama. Kini aku mulai menyadari, ternyata Reilley bukan berasal

dari keluarga biasa-biasa saja. Kecenderungannya dia bahkan berasal dari keluarga

kelas atas. Hal ini bisa dilihat dari cara dia membawa diri, berbicara, berpakaian,

makan, bahkan dari cara dia menaburkan lada di atas makanannya. Aku jadi

semakin penasaran terhadapnya.

“Kamu belajar bahasa Prancis di mana?” Meskipun aku agak kesal dengannya,

aku tetap tertarik dengan laki-laki satu ini.

“Here and there,” jawabnya. Ia kemudian mengangkat gelas anggur merahnya,

menandakan bahwa dia tidak lagi ingin memperpanjang topik ini.

Aku pun terdiam dan memfokuskan perhatian pada makananku.

“Saya minta maaf karena nggak memberi nomor telepon saya ke kamu. Saya

nggak pernah terpikir kamu cukup tertarik kepada saya, dan ingin menelepon

saya,” tiba-tiba Reilley berkata. Dia terdengar tulus.

Aku menatapnya sambil memicingkan mataku. “You need to do better than that.

That‟s the lamest excuse for not calling that I have ever heard,” balasku datar.

Reilley menatapku, sekali lagi wajahnya terlihat terhibur mendengar jawabanku.

Seolah-olah memahami ekspresi wajahku yang aku yakin terlihat marah, dia

menatapku tidak percaya. “Kamu pikir saya menghindari kamu?” Pisau yang

dipegangnya tergantung di antara piring dan mulutnya.

Aku harus mengontrol ekspresi wajahku agar terlihat tidak peduli, dan

menjawab, “Nooo...,” ucapku pendek, dan mengalihkan tatapanku pada piring

makananku.

“You did!!! Kamu betul-betul berpikir saya menghindar dari kamu.” Mendengar

nadanya, aku kembali menatapnya. Reilley menggeleng, kemudian menatapku

tajam.

Aku hanya mengerlingkan mata, kemudian berkata, “Hanya sebagai informasi

saja...” aku sengaja mengulang katka-kata yang tadi diucapkannya untuk

membuatnya kesal, “saya coba telepon kamu, tetapi nomornya „private‟. Jadi, nggak

bisa tersambung,” jelasku, sambil menusukkan garpu dengan gemas ke sepotong

daging.

“Kamu telepon saya?” Reilley kelihatan betul-betul terkejut. “Kapan?” Dia

memasukkan suapan yang tadi sempat tertunda ke mulutnya.

Aku menelan makananku sebelum menjawab, “Beberapa hari setelah

Christmas.” Aku tidak tahu mengapa aku mengakui ini semua. Aku bahkan tidak

pernah menceritakannya kepada Didi karena takut diomeli atau malahan justru

dikomporinya.

Kulihat Reilley sedang bersusah payah menelan makanannya. Setelah itu, dia

minum satu teguk, dan berkata, “Kamu... telepon... saya?” Sambil mengusap

mulutnya dengan serbet. Nadanya masih tidak percaya.

“Would you stop saying that? Ya, saya telepon kamu, dan saya merasa seperti

orang goblok. Meskipun saya tahu nomor itu nggak akan terhubung, saya tetap

mencoba,” geramku, sambil mulai memotong daging steak. Aku mencoba sebisa

mungkin melonggarkan genggamanku pada garpu dan pisau.

“Kesinikan telepon selular kamu,” ucap Reilley tiba-tiba.

Kedua tanganku yang sedang memotong daging terhenti seketika. “Apa? Untuk

apa?” Kini giliranku menatapnya terkejut.

“Just give it to me, please.”

Kuletakkan pisau dan garpu sepelan mungkin di sisi kiri dan kanan piring,

kemudian merogoh telepon selular dari dalam tas, dan meletakkannya ke dalam

genggaman tangan Reilley. Dengan ahlinya dia langsung menekan beberapa tombol,

lalu mengembalikan telepon selular itu kepadaku.

“Saya sudah memasukkan nomor saya ke memori telepon kamu. Bisa tolong

kamu telepon nomor itu, hanya untuk memastikan nomornya benar,” pintanya.

Aku mengangguk, dan mulai mencari-cari nama Reilley pada phonebook telepon

selularku, tetapi aku tidak bisa menemukannya. Aku coba mencari di deretan huruf

“F” untuk “Francis”, tetapi juga tidak membuahkan hasil. “Kamu simpan di mana

sih?”

“Di deretan huruf „H‟.”

Aku menatap Reilley penuh tanda tanya. “Untuk „Hunny Bunny‟,” ucapnya,

tanpa ekspresi.

Aku menatapnya tidak percaya. Aku pikir dia hanya bercanda, tetapi ternyata di

deretan huruf “H” aku memang menemukan nomor untuk “Hunny Bunny”. Tidak

mau kalah dengan tantangan Reilley, aku pun menelepon nomor itu. Kutempelkan

telepon di daun telingaku, dan menunggu. Kudengar nada sambung. Tiba-tiba

kudengar lagu Goo Goo Dolls terlantun. Meskipun pelan, tetap terdengar dengan

jelas di dalam restoran yang cukup tenang walaupun penuh dengan orang.

Kulihat Reilley merogoh kantong celananya, dan mengeluarkan Blackberry. Dia

sempat tersenyum sebelum menekan satu tombol, menempelkan Blackberry itu ke

daun telinganya, dan berkata, “Nah, sekarang kamu punya nomor telepon saya.”

Aku mendengar suara itu dari speaker telepon selularku, bukan suara Reilley

sendiri. Aku menatap Reilley, seolah-olah dia makhluk planet yang superaneh.

Sejujurnya, Reilley laki-laki paling “nyentrik” yang pernah aku temui. Aku lalu

menutup telepon, begitu juga Reilley. Reilley menatapku, dan aku pun menatapnya.

Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut kami, tetapi sebuah pengertian

terlintas di antara kami berdua. Saat itu juga tubuhku terasa panas, seolah-olah

darahku tiba-tiba mendidih. Aku tidak lagi sedang berada di restoran, melainkan di

suatu ruangan tanpa nama dan tanpa batas. Ruangan itu diterangi lampu-lampu

gemerlap bagaikan di stadion sepak bola sebelum Liverpool bertanding dengan

Chelsea. Kudengar riuh rendah suara beribu-ribu orang berteriak-teriak.

Suara Sandra, agen kencan butaku dari MBD, “I‟m guessing we found a HOT one

for you?”

Kudengar suara ibuku yang berkat,a “Tita... Reilley cocok sekali untuk kamu.

Ibu dan Bapak setuju kalau kamu memilih dia.”

Lalu kudengar suara Didi, yang berteriak dengan gemas, “Apa Mbak buta?!

Mbak perlu bukti apa lagi?! Go and get him or I swear I‟m gonna kick your ass when I see

you again!”

Selainkan tiga suara yang aku kenal itu, selebihnya hanya meneriakkan nama

Reilley berulang-ulang. “Reilley!!! Reilley!!! Reilley!!!” Bagaikan dia seorang

quarterback, yang sedang berdiri sambil membawa bola menuju touchdown.

Aku tidak tahu sudah berapa lama aku terdiam, tetapi tiba-tiba kudengar Reilley

berkata dengan pelan. “What are you thinking?”

Aku menggeleng. Aku tidak mungkin menceritakan apa yang ada di pikiranku.

Kalau dia sampai tahu, aku yakin dia akan menghilang dalam sekejap mata.

Melihat tatapan mataku yang kosong, Reilley mulai kelihatan khawatir. “Look.

You don‟t have to put my number under „Hunny Bunny‟ if you don‟t like it. Kamu ubah

saja. Saya hanya bercanda. Bad joke, on my part. Here, kasih ke aku telepon kamu

nanti aku ubah nama untuk nomor tadi,” ucapnya cepat, nadanya terdengar sedikit

kecewa. Ketika melihatku tidak juga bereaksi, kudengar dia menyumpah. Meskipun

pelan, aku bisa mendengarnya.

“Apa kamu baru saja menyumpah?” tanyaku, sambil menaikkan daguku

sedikit.

Reilley awalnya hanya menatapku, tetapi kemudian dia mengangguk. “Yes,”

ucapnya, kemudian menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil menyisiri rambut

gelapnya dengan jari-jari tangan kanannya. Aku hampir tertawa melihat ekspresi

wajahnya, yang kelihatan sangat bersalah karena telah mengucapkan kata serapah

itu.

“Aku sangka kamu nggak pernah menyumpah?” tanyaku, sambil memasukkan

telepon selular kembali ke tasku.

Reilley mengembuskan napasnya, sebelum menjawab, “I don‟t. Cuma suka

kelepasan kalau lagi stres.” Kemudian Reilley menatapku dengan mata melebar.

“Eh, bagaimana kamu bisa tahu kalau aku nggak pernah menyumpah?”

“Kamu mengomeli Brandon ketika dia menyumpah saat kalian... errr... ketika

terakhir kali kamu ketemu dia,” akhirnya aku berkata.

“Oh. Saya bahkan nggak ingat,” balas Reilley. Dia kelihatannya bisa menerima

penjelasanku, walaupun wajahnya masih kelihatan bingung.

“Bisa dimengerti, soalnya kalian terlalu sibuk memukul satu sama lain

ketimbang memperhatikan hal lainnya.” Mau tidak mau aku tersenyum mengingat

kejadian malam itu. Tiba-tiba aku teringat topik pembicaraan kami sebelum Reilley

mengalihkannya.

“Memang saya bikin kamu stres, ya?” tanyaku, sembari mulai mengangkat

pisau dan garpu lagi dari meja, berniat meneruskan makan siangku.

Reilley terlihat menarik napas. “Nggak. Bukan kamu. Saya yang bikin diri saya

sendiri stres,” jawabnya.

“Lho kok begitu?” Perlahan-lahan kupotong steak di piringku.

Reilley mengerlingkan matanya kepadaku. Seketika aku sadar, bulu mata

Reilley lebih lentik daripada bulu mataku. Digabung dengan mata birunya,

wajahnya tampak benar-benar sempurna. Aku masih menatap Reilley, menunggu

hingga dia menjelaskan alasan mengapa dia stres.

“Saya nggak pernah coba mendekati perempuan seperti kamu sebelumnya. Jadi,

saya nggak tahu apa yang harus saya kerjakan.”

“Perempuan seperti saya? Memang saya seperti apa?” tanyaku bingung.

“Tipe perempuan yang sangat serius, sangat sukses, dan sangat mandiri,” jawab

Reilley jujur.

Aku tidak bisa berkata-kata. Aku tidak tahu bahwa seperti itulah image orang

tentang diriku.

“Satu hal lagi, kamu orang Asia,” tambah Reilley.

Aku tidak tahu, apakah aku harus tersinggung atau tidak ketika Reilley

menyebut rasku. Sejujurnya, isu ras bukanlah hal yang baru untukku. Banyak

temanku di bangku kuliah, yang mengatakan bahwa bangsa Asia adalah bangsa

yang patut ditakuti karena mereka selalu ada di mana-mana. Selain itu, ada juga

yang memandang orang Asia sebagai spesies yang sangat menarik karena terlihat

berbeda dengan mereka. Pendapat ini tentunya biasanya diutarakan oleh orangorang

non-Asia. Menurutku, Asia atau non-Asia tidak ada bedanya. Bukan ras yang

menentukan siapa kita, tetapi cara kita membawa dirilah yang menentukan siapa

kita.

Akhirnya, aku memutuskan memberi Reilley kesempatan menjelaskan

pendapatnya. “Apakah ada yang salah karena saya orang Asia?” tanyaku, dengan

hati-hati.

“Salah seorang teman saya mengatakan orang Asia sangat berbeda dengan

kami, orang Barat. Kebanyakan dari kalian selalu kelihatan serius... bahkan sedikit

bikin orang jadi segan. Kalian jarang berhubungan dengan orang di luar lingkaran

kalian sendiri.”

Aku mengangguk, dan menunggu, karena tampaknya Reilley belum selesai

dengan penjelasannya. Mungkin karena melihat wajahku yang tidak kelihatan

tersinggung, Reilley melanjutkan, “Teman saya yang lain mengingatkan saya harus

sangat berhati-hati dengan orang Asia karena budaya kalian lebih halus daripada

budaya kami. Jadi, itu sebabnya mengapa saya nggak pernah memberi kamu nomor

telepon saya. Saya nggak mau kelihatan memaksa.”

Reilley kemudian terdiam, dan menatapku penuh harap. Aku pun terdiam

mencoba mencerna penjelasannya, yang terdengar cukup masuk akal. Dalam hati

aku menyumpahi acara TV, yang aku tonton beberapa hari yang lalu. Gara-gara

acara itu aku jadi berspekulasi bahwa Reilley adalah kembaran Scott Peterson, si

“Penjagal Istri”. Tiba-tiba aku merasa sangat bersalah kepada Reilley karena telah

berprasangka buruk terhadapnya.

“Apakah saat ini kamu segan terhadap saya?” tanyaku, sepelan mungkin.

“Nggak... nggak juga. Nggak saat ini karena kamu kelihatan terlalu bingung dan

menggemaskan. Beberapa kali saya bertemu kamu, jujur saja saya agak segan

terhadap kamu.”

“Apa?” Aku tidak percaya Reilley mengatakan aku menggemaskan. Tidak

pernah ada orang yang menggunakan kata itu untuk melihatku. Lebih-lebih lagi,

aku tidak percaya ternyata aku telah membuat laki-laki berbadan tinggi besar ini

segan terhadapku.

“Kamu kelihatannya siap menguliti saya hidup-hidup ketika saya tanya tentang

lettuce ke kamu,” Reilley menjelaskan.

Aku mencoba mengingat-ingat ekspresi wajahku ketika pertama kali bertemu

Reilley. Aku hanya berhasil mengingat bahwa aku tidak bisa berkata-kata selama

beberapa detik karena tatapanku terpaku pada mata birunya. Mata biru yang

sekarang sedang menatapku dengan agak khawatir. Akhirnya, aku memutuskan

mendorong piringku yang masih setengah penuh ke tengah meja. Pikiranku terlalu

penuh untuk mencerna makanan. Reilley juga sudah berhenti makan, dan

menyingkirkan piringnya ke tepi meja.

“Kamu nggak menghabiskan lunch kamu?” tanya Reilley, sambil menunjuk

piringku.

“Saya nggak bisa makan sekarang. Ada terlalu banyak pertanyaan yang ingin

saya tanyakan ke kamu,” balasku.

“Contohnya?”

“Kamu sudah berapa lama jadi klien MBD?” tanyaku.

“Sejak 1 Januari,” jawab Reilley.

“Kamu baru join tahun ini?!” aku terpekik.

Reilley mengangguk. Dia kelihatan siap menanyakan sesuatu, tetapi aku potong,

“Apakah kamu tahu, sayalah date kamu sebelum kamu bertemu saya?”

Reilley tersenyum simpul, dan berkata, “Feeling saya mengatakan itu kamu.

Deskripsi yang diutarakan MBD kepada saya cocok sekali dengan kamu.”

Aku mengangkat alis kananku, dan Reilley melanjutkan penjelasannya. “MBD

memberitahu date saya bernama Titania, ras Asia, financial analyst, sedikit lebih

tinggi dari 160 sentimeter, umur 27, I mean 28 years old... Omong-omong, mengapa

kamu nggak bilang ketika bertemu saya kalau Christmas itu hari ulang tahun

kamu?”

“Nggak sempat. Tunggu sebentar, kamu tahu itu dari mana?” tanyaku curiga.

Setahuku informasi yang biasanya diberikan MBD kepadaku tentang date-ku

hanyalah informasi mendasar seperti nama (tanpa nama akhir), umur (tanpa tanggal

lahir), penampilan fisik (misalnya, ketinggian), pekerjaan (bukan di mana tempat

bekerja), dan ras. Bagaimana mungkin dia bisa tahu tanggal lahirku?

“Agen saya di MBD keterlepasan. Tentu saja dia nggak sengaja, mereka terlalu

profesional untuk blak-blakan memberitahu ke saya.” Reilley mencoba membela

agen kencan butanya, yang membuatku bertanya-tanya. Jangan-jangan dia ada

hubungan istimewa dengan orang itu, di luar hubungan antara agen dan klien. Tibatiba

muncul perasaan cemburu di benakku. Buru-buru kumarahi diriku sendiri, dan

mencoba membuang jauh-jauh perasaan yang tidak masuk akal itu.

Aku tidak tahu, ternyata aku sudah terdiam lebih lama daripada yang Reilley

harapkan. Aku baru bisa kembali fokus ketika kudengar Reilley menggerutu.

“Kamu harusnya memberitahu saya kalau hari itu adalah hari ultah kamu,”

ucapnya.

“Memang mengapa?” tanyaku bingung.

“Karena saya ingin mengenal kamu lebih jauh.” Cara Reilley mengatakannya

seakan-akan itu adalah penjelasan yang paling masuk akal.

Aku menarik napas putus asa. Masih ada sejuta pertanyaan di dalam kepalaku,

tetapi aku tidak bisa mengungkapkannya. Setiap kali aku akan menanyakan

sesuatu, Reilley akan membuatku bingung dan tidak bisa bernapas oleh jawabanjawabannya.

“Saya... saya nggak... maksud saya...,” ucapku terbata-bata.

“God. Saya nggak percaya ternyata mereka benar.” Kudengar Reilley

menggumam.

“Mereka siapa?” tanyaku pelan.

“My brother and sisters. Mereka berkata, saya akan screw this one up really bad.

Mereka berkata, saya sebaiknya melupakan saja semua ini.”

“Date ini?” Aku mencoba bersusah payah mengikuti jalan pikiran Reilley, yang

seakan-akan meloncat-loncat.

“Oh, screw this whole blind date shit,” geram Reilley.

Aku sempat terkejut dengan sumpah serapah itu. Kelihatannya sekarang dia

sudah betul-betul stres, dan aku tidak tahu bagaimana mengatasi keadaan ini.

Sebelum aku menyadari apa yang telah aku lakukan, tanganku sudah melambai

untuk menarik perhatian Pierre.

Reilley yang melihatku melambai menatapku bingung. “Apa yang kamu

lakukan?”

“Saya ingin minta bill,” jawabku singkat.

“You‟re leaving?” tanyanya, semakin bingung.

“No. We are,” balasku. Reilley masih tetap menatapku bingung, tetapi kemudian

dia mengangguk. Aku berharap aku tidak salah menilai Reilley. Dia tipe pria baikbaik,

yang tidak akan menginterpretasikan kata-kataku sebagai suatu undangan

untuk melakukan hal yang tidka-tidak.

“How is everything?” tanya Pierre, yang tiba-tiba sudah berdiri di samping meja

kami. Seperti memahami bahwa aku tidak mengerti bahasa Prancis, Pierre

menggunakan bahasa Inggris. Dia kelihatan bingung melihat kedua piring kami

yang masih setengah penuh.

Aku tersenyum ramah kepadanya. “It was delicious. Bisa kami minta bill-nya?”

pintaku, sebelum Pierre berkata-kata lagi.

Pierre kemudian berlalu. Reilley tetap menatapku bingung, tetapi dia tidak

mengatakan apa-apa. Pierre kembali beberapa menit kemudian dengan membawa

dua tagihan. Seperti juga restoran-restoran lainnya yang telah direkomendasi MBD,

restoran Prancis ini juga tahu bahwa kami harus membayar tagihan kami masingmasing.

Kulihat Reilley mengeluarkan tiga lembar uang 50 dolar, dan berkata, “Ini untuk

bill kami berdua. Keep the change,” ucapnya, lalu ia berdiri.

Aku hanya menatapnya penuh tanda tanya, tetapi dia tidak menghiraukanku.

Buru-buru kuangkat tasku dan melangkah ke luar restoran. Reilley berada tepat di

belakangku.

Aku baru berhenti berjalan ketika kami sudah berada di luar restoran. “Kamu

tahu Crowne Park apartment, di daerah Country Club?”

“Yes,” jawab Reilley ragu.

“Good. Saya tinggal di situ. Kamu bisa bertemu saya di sana, atau kamu bisa

mengikuti mobil saya.” Nadaku terdengar sedikit memerintah, tetapi aku tidak

peduli. Aku harus mendapatkan jawaban atas semua pertanyaanku.

“Saya bertemu kamu di sana saja. Nomor apartemennya berapa?”

Kuberikan nomor apartemenku. Reilley tidak mencatatnya, dan dia tidak

memintaku untuk mengulangnya. Aku kemudian melangkah menuju mobilku.

Kulihat Reilley ragu sesaat, tetapi kemudian dia pun berjalan menuju Volvo SUV

berwarna perak yang diparkir cukup jauh dari mobilku.

7

Di Antara Hot dan Warm

AKU sampai lebih dulu di apartemen, dan aku tahu kalau aku sudah setengah gila

karena mengundang laki-laki tidak dikenal datang ke apartemenku. Lebih gilanya

lagi, aku tidak tahu mengapa aku mengundangnya. Aku hanya tahu, aku ingin

mengenal Reilley lebih jauh. Tentu saja aku tidak bisa melakukannya kalau berada

di dalam restoran penuh orang yang bisa mendengar percakapan kami.

Aku sedang mencoba membereskan ruang TV atau ruang tamu di apartemen

agar kelihatan sedikit lebih rapi. Sejujurnya, aku belum sempat membersihkannya

setelah Didi pergi sekitar seminggu yang lalu. Ketika aku asyik dengan pekerjaanku,

kudengar pintu diketuk. Sekadar untuk berjaga-jaga, aku berteriak, “Who is it?”

“It‟s Reilley.”

Buru-buru kubuka pintu dan mempersilakannya masuk.

“Kamu harus lepas sepatu,” ucapku ketika melihat Reilley akan melangkah

masuk ke apartemen dengan masih mengenakan sepatunya.

Selama beberapa detik Reilley menatapku bingung, kemudian melepaskan

sepatunya satu per satu.

“Apakah sekarang saya boleh masuk?” tanyanya, dengan wajah yang kini

terlihat sangat terhibur oleh kelakuanku.

“Boleh,” sahutku, sambil berjalan ke dapur. “Kamu mau minum atau makan

sesuatu?”

“No, I‟m fine,” jawab Reilley.

Aku hampir saja menjatuhkan botol mountain dew, yang sedang aku pegang.

Terkejut karena suara itu terdengar persis di belakang telingaku.

“Jeeezzz... jangan mengagetkan orang begitu deh,” omelku, sambil mengusapusap

dadaku.

“Oh, sori. Didn‟t mean to scare you,” ucapnya, sambil tersenyum.

Aku buru-buru menuangkan satu gelas penuh mountain dew, dan berjalan

kembali menuju ruang TV. Reilley mengikutiku.

Aku duduk di satu ujung sofa, dan tanpa menunggu hingga dipersilakan dia

pun duduk di ujung satu lagi. Dia melepaskan jaket kulit yang dikenakannya, dan

sempat terlihat bingung di mana dia harus meletakkannya. Kuletakkan gelas berisi

soda di atas meja, dan mengambil jaket itu darinya untuk digantung di dalam lemari

dekat pintu masuk.

Aku sedang melipat kedua kakiku di atas sofa ketika Reilley berkata,

“Apartemen kamu nyaman.”

Aku mengangguk sambil mulai mendaftarkan pertanyaan-pertanyaan yang

ingin aku tanyakan kepadanya di dalam kepalaku. Menyadari bahwa aku sedang

mempersiapkan diri untuk menginterogasinya, Reilley menunggu. Dia

menyandarkan tubuhnya yan gbesar di bantal-bantal sofa. Tubuhnya

menghadapku, salah satu kakinya terlipat di atas sofa. Sejujurnya, dia kelihatan

cukup nyaman dengan sekelilingnya.

Kuangkat gelas berisi soda, dan setelah minum satu teguk aku pun mulai

dengan sesi tanya-jawabku. “Seingat saya, kamu bilang kamu nggak tinggal di

Winston, betul?”

Reilley mengangguk.

“Jadi, kamu tinggal di mana?” lanjutku. Aku yakin Sandra pasti sudah

memberitahuku dari mana Reilley berasal, tetapi aku tidak bisa mengingatnya.

“Saya ada rumah di Wilmington, tetapi sudah lama saya tidak tinggal di sana.”

“Mengapa?”

“Pekerjaan saya mengharuskan saya selalu travel. Don‟t get me wrong, I love my

job, it‟s just that I wish it would allow me more free time.”

“Kamu computer programmer, kan?”

“Yep.”

“Kamu nggak kelihatan seperti computer programmer pada umumnya,” ucapku.

“Oh, ya?” Kini wajah Reilley penuh senyum.

“Kamu terlalu atletis untuk seseorang yang mata pencahariannya duduk di

depan komputer sepanjang hari, kamu suka nonton football...”

“Saya dulu juga main di tim football Wake Forest University,” Reilley memotong

kalimatku.

“Oh?” Aku terkejut. Hla itu tampak terlihat dengan jelas dari tubuhnya yang

kelihatan superatletis dan tanpa lemak satu ons pun.

“Jangan tersinggung ya, tetapi kamu juga nggak kelihatan seperti seorang

financial analyst,” sambung Reilley.

“Maksud kamu?” Aku terdengar sedikit tersinggung, tetapi Reilley

menganggap reaksiku lucu dan tertawa.

“Kamu terlalu hot untuk mengerjakan pekerjaan seserius itu.” Hanya dengan

kata-kata itu, Reilley telah memadamkan semua kemarahan yang baru akan muncul

ke permukaan. “Oh... ya, saya nggak tahu kamu pakai kacamata.” Reilley menunjuk

ke kacamata yang kupakai.

Otomatis aku langsung melepas kacamata itu, dan meletakkannya di atas meja.

Setidak-tidaknya sekarang aku sudah tahu bagaimana wajah date-ku, dan Reilley

duduk cukup dekat denganku sehingga aku tidak mengalami kesulitan membaca

ekspresi wajahnya.

“Hei, mengapa dilepas?”

Aku mengangkat bahu. “Saya nggak memerlukannya lagi. Saya bisa melihat

kamu cukup jelas,” jelasku.

“Saya suka kacamata itu di kamu. Bikin kamu kelihatan tambah seksi.” Reilley

mengatakannya betul-betul sebagai pujian, bukan untuk menggodaku. Hanya

dalam hitungan detik kurasakan semua darah yang ada di tubuhku naik ke wajah,

dan akan membuat wajahku kelihatan seperti tomat.

“Jadi, seberapa sering kamu harus travel untuk pekerjaan kamu?”

Melihatku tidak bereaksi dengan komentarnya, dan justru mengganti topik

pembicaraan, Reilley kelihatan sedikit kecewa. Walaupun begitu, dia segera

mengatur ekspresi wajahnya dan menjawab pertanyaanku.

“Saya biasanya ada di luar delapan bulan dalam satu tahun.”

“Delapan bulan?!” teriakku terkejut. Aku tidak pernah mendengar ada orang

yang bersedia travel sebegitu banyaknya karena pekerjaannya, kecuali mereka sales

representative. “Lho, bukankah kamu programmer? Bukankah mereka seharusnya

hanya duduk di belakang meja sehari penuh dan... mendesain program komputer?”

“Well, yes. Itu memang yang dikerjakan computer programmer pada umumnya.

Selain hal itu, saya juga melakukan aplikasi dan training program-program

tersebut,” jelas Reilley.

Penjelasannya memang masuk akal. Hal ini membuatku semakin penasaran.

“Biasanya kamu pergi ke mana saja?”

“Kebanyakan sih di Continental U.S. dan Kanda, tetapi kadang-kadang saya

harus pergi ke Eropa atau Asia kalau memang ada masalah yang serius.”

“Memang nggak ada ahli-ahli lain yang bisa menyelesaikan masalah-masalah

itu?”

“Ada. Malahan cukup banyak.”

“Apakah mereka harus travel sesering kamu?”

Reilley menggeleng.

“Itu agak nggak adil, kan? Mengapa kamu nggak menolak saja kalau disuruh

travel lagi?” ucapku.

“Well, saya nggak bisa.”

“Mengapa?”

“Karena banyak dari program itu saya yang mendesain. Jadi, saya merasa

bertanggung jawab atas performa mereka.” Reilley menutup pembahasan kami.

Awalnya aku hanya menatapnya, mencoba memahami kata-katanya. Aku tahu,

Reilley tampaknya sedang menyembunyikan sesuatu tentang pekerjaannya itu.

“Kamu nggak melakukan sesuatu yang ilegal, kan?” Nadaku terdengar sedikit

tajam daripada yang aku rencanakan.

Reilley tertawa melihat ekspresiku yang serius. “Saya pastikan semuanya legallegal

saja.”

Aku mengangguk. “Kamu biasanya membuat program apa?”

“Program yang biasanya digunakan dalam dunia finansial.” Reilley lalu

menyebutkan salah satu software, yang kini aku gunakan di kantor untuk melakukan

perhitungan pinjaman kepada nasabah.

“Kamu yang mendesain software itu?!” teriakku terkejut.

Reilley terlihat terkejut dengan keantusiasanku. “Melihat reaksi kamu, saya

simpulkan kamu suka software itu?”

“I love it. Sangat user friendly,” jawabku, masih mencoba menutupi kekagumanku

kepada Reilley.

Ketika melihat Reilley akan mengatakan sesuatu, buru-buru aku potong dengan

pertanyaan lagi.

“Siapa yang memaksa kamu join dengan MBD?”

Tentunya aku tidak bisa mengelabui Reilley. Dia tahu taktikku untuk

menghindari pertanyaannya, tetapi dia tidak memaksa, malah justru mengalah dan

menjawab pertanyaanku. “Mengapa kami pikir harus ada yang memaksa saya?”

“You‟re seriously asking me that question?” Kubuat nadaku agar terkesan

menggurui.

Reilley mengangkat alisnya dan menunggu.

“Kamu punya pekerjaan yang mapan, punya rumah sendiri, penghasilan kamu

kelihatannya cukup sehingga kamu bisa beli mobil Eropa yang cukup mahal, kamu

nggak merokok, nggak kelihatan kesepian karena kamu punya teman untuk hang

out dan nonton sports, dan kamu hot,” jelasku.

“Menurut kamu saya hot?” Reilley betul-betul terlihat terkejut.

Aku memutar bola mataku sebelum melanjutkan, “Saya yakin kamu nggak

punya masalah untuk menemukan perempuan dengan upayamu sendiri. Jadi, lakilaki

normal mana yang akan menghabiskan dua ribu dolar untuk bertemu dengan

perempuan kalau mereka bisa melakukannya sendiri, kecuali kalau ada yang

memaksa mereka?”

Reilley terlihat menimbang-nimbang pertanyaanku, kemudian berkata, “Kamu

ingat Christine, adikku?”

“Dia memaksa kamu untuk join MBD?”

Reilley mengangguk pasrah. “Dia pakai bawa-bawa my mom dan Mary segala.

Rupanya dia melihat company itu dipromosikan di Oprah beberapa bulan yang lalu,

kalau nggak salah.”

Mau tidak mau aku tersenyum. Sepertinya orang-orang yang mengambil

jurusan psikologi memiliki kecenderungan menyukai Oprah.

“Dates kamu bagaimana sejauh ini?” tanyaku.

“Lumayan, tetapi nggak ada yang semenarik kamu.”

Terakhir kali laki-laki yang mengatakan bahwa aku “hot”, seksi, dan menarik,

dia akhirnya selingkuh dengan asistennya. Seperti ada embusan angin yang

menyapu tubuhku, aku menggigil.

“Saya lebih memilih jadi nggak „hot‟, nggak seksi dan membosankan,” gerutuku.

“Kamu seharusnya belajar menerima pujian dengan senyuman dan kata terima

kasih, Titania,” tegur Reilley.

“Ha... ha, saya mungkin akan mengikuti saran kamu kalau saja tidak karena

orang terakhir yang mengatakan hal yang sama adalah pacar saya selama tiga

tahun. Saya memergoki dia sedang ML dengan asistennya di kantornya pada suatu

malam ketika saya memutuskan untuk datang membawakannya makan malam,”

balasku sarkasme.

“Oh, my God. I‟m sorry I didn‟t know,” ucap Reilley, sambil bergeser di atas sofa

dan mendekatiku.

“Not as sorry as I am,” gumamku. Aku tahu, aku tidak sepatutnya mengatakan

ini semua kepada Reilley, tetapi kehadirannya seolah-olah telah menenangkanku

dan membuatku memercayainya. “Sori, saya seharusnya nggak menumpahkan

nonsense seperti ini ke kamu.”

“Itu bukan nonsense.” Suara Reilley menenangkanku. Tanpa kusangka-sangka

dia kemudian menarikku ke pelukannya. Setelah itu, ia menyandarkan tubuhnya ke

sofa sambil masih memelukku.

Aku sempat terkejut dengan tindakannya, tetapi aku lebih terkejut lagi dengan

reaksiku yang menerimanya dengan sepenuh hati. Sekali lagi aku bisa mencium

aroma Reilley yang maskulin. Kulitnya terasa hangat di bawah pipiku. Kutarik

napas dalam-dalam mencoba mengingat hal-hal yang ada di sekelilingku pada detik

ini, dan menyimpannya di dalam memoriku agar bisa mengingatnya kembali di

kemudian hari.

“I‟m guessing it was Brandon who did this to you?”

Aku mengangguk. Aku sudah tidak terkejut lagi ketika Reilley menyebutkan

nama Brandon. Reilley tampaknya memiliki memori yan gcukup kuat dalam

mengingat nama orang.

“Saya seharusnya menghajar dia habis-habisan,” geram Reilley.

“Ya. Seharusnya,” balasku, kemudian tertawa. Reilley pun tertawa bersamaku.

“Oh... ya, aku harus mengatakan ke kamu bahwa aku sangat menikmati bagian

di mana kamu berkata ke dia untuk grow up.”

Aku tertawa ketika mengingat kejadian malam itu. Aku ingat, Reilley sudah

menghilang ketika aku meneriakkan kata-kata itu. Kutarik tubuhku dari

pelukannya, dan menatapnya curiga. “Dari mana kamu tahu tentang itu, kamu kan

nggak ada di situ?”

Reilley terlihat salah tingkah ketika menjawab. “Saya... saya... well you see.... Saya

nggak yakin bagaimana dia akan bereaksi. Jadi, saya menunggu saja to make sure... to

make sure bahwa kamu baik-baik saja.”

“Were you there the whole time?” tanyaku terkejut. Aku bisa merasakan wajahku

mulai memerah.

“Ya. Saya berdiri di belakang an Expedition. Jadi, kamu nggak bisa melihat saya,”

jelas Reilley.

Tentu saja aku nggak akan bisa melihatnya di belakang sebuah Expedition,

sebuah SUV dengan ukuran supertinggi dan besar.

“Sekarang, kamu mau nggak dating dengan saya?” Reilley terdengar serius

kembali.

“Tentu saja saya mau. Are you kidding me? Saya belum bertemu dengan orang

yang mendekati kamu kepintarannya atau gantengnya dalam waktu lima bulan ini.

Kontrak saya dengan MBD sudah hampir habis, dan Sandra bakal membunuh saya

kalau sekali lagi saya hanya mengkategorikan kamu sebagai „warm‟ dan bukannya

„hot‟!” teriakku frustrasi.

“Sandra itu siapa?”

“Agen saya di MBD,” jawabku.

“Agen saya bernama Kim. Dia baik. Dia berkata kepada saya bahwa kamu

kemungkinan besar adalah kandidat terbaik untuk saya,” ucap Reilley.

“Sandra juga berkata hal yang sama tentang kamu,” balasku.

“So what do you think?” tanya Reilley.

“About what?”

“About us.”

“What about us?” tanyaku bingung.

Reilley memutar bola matanya. “Apakah kamu mau lanjut dating dengan saya?

Apa saya ada di zona „hot‟ atau hanya „warm‟?”

Aku memikirkan jawabanku dengan saksama. “Kamu jelas-jelas lebih dari

„warm‟, tapi saya masih belum bisa bilang kamu „hot‟. Saya perlu waktu untuk lebih

mengenal kamu.”

“Cukup adil,” balas Reilley.

Tiba-tiba kudengar suara perut Reilley berbunyi dengan cukup keras.

“Kamu lapar, ya?” tanyaku, sambil menatap wajahnya yang sedang tersenyum

malu.

“Sedikit. Kamu ingat kan tadi saya nggak sempat menghabiskan lunch saya?”

“Oh... ya. Kamu seharusnya kasih tahu saya tadi. Jadi, saya bisa masak sesuatu

untuk kamu.” Buru-buru aku bangun dari sofa dan berjalan ke dapur.

Kubuka lemari es dan memeriksa sisa makanan apa yang ada di situ. Ada sisa

lasagna yang aku buat tiga hari yang lalu, ada nasi goreng yang kubuat tadi pagi,

dan salad kentang sisa tadi malam.

“Oke, kamu mau lasagna, salad kentang, atau nasi goreng?!”

Kudengar langkah Reilley berjalan ke arahku. “Kayaknya saya bisa makan

semuanya deh, soalnya lapar banget,” jawab Reilley.

Aku tertawa dan mengeluarkan piring berisi tiga potong besar lasagna dan

semangkuk besar salad kentang dari lemari es. Kulepaskan plastik yang menutupi

piring dan mangkuk itu, kemudian memasukkan lasagna ke dalam microwave untuk

dihangatkan. Kuaduk salad kentang dengan dua spatula kayu, kemudian

menambahkan sedikit merica di atasnya.Aku lalu mengambil dua piring makan dari

dalam lemari dan membagi salad kentang itu menjadi dua. Dengan sengaja aku

membuat porsi Reilley lebih banyak dibandingkan porsiku. Dari sudut mataku

kulihat Reilley sedang memperhatikanku dengan saksama. Aku langsung merasa

risi.

“Sori, ya. Kamu hanya mendapatkan makanan sisa. Saya bisa sih memasakkan

kamu sesuatu, tetapi mendengar suara perut kamu kelihatannya lebih baik saya

kasih kamu makan sekarang sebelum kami mulai menyerang tetangga saya,”

candaku, yang diikuti suara tawa Reilley.

Kudengar bunyi bip... bip... bip... yang menandakan lasagna sudah siap

dikeluarkan dari dalam micromave. Aku mengangkat satu potong dan meletakkannya

pada piringku, kemudian mendorong dua potong lagi ke piring Reilley.

“Bisa tolong bawa piring-piring ini ke meja makan, saya akan bawa gelas dan

peralatan makannya.” Reilley langsung mengangkat kedua piring itu, dan berjalan

menuju meja makan.

Kuambil satu gelas tinggi, dua set garpu, dan pisau dari dalam laci. Setelah itu,

kubuka kulkas dan mengambil botol mountain dew yang tadi masih tersisa, dan

membawanya ke meja makan. Aku berjalan menuju ruang TV untuk mengambil

gelas berisi soda. Meja makanku bisa diduduki enam orang, dan Reilley memilih

duduk di ujung sementara aku duduk di sebelahnya.

“Go ahead.” Dengan tanganku kupersilakan Reilley makan.

Tanpa pikir panjang lagi, Reilley langsung memakan lasagna dan salad kentang

yang aku hidangkan sampai bersih tidak bersisa.

“That was the best food I have ever tasted in a very long time,” ucapnya bersungguhsungguh.

“Kamu nggak suka otak sapi yang tadi siang?” candaku.

“Makanan itu rasanya kayak dog food,” gerutu Reilley.

“Penampilannya juga kayak dog food.”

“Yeah, no kidding. You sure can pick your food.” Reilley kemudian tertawa ketika

melihat ekspresi di wajahku yang terlihat agak tersinggung. “Apakah kamu yang

bikin lasagna dan salad kentang yang barusan saya makan?” sambung Reilley.

“Aku mengangguk. “Kamu suka masak, ya?” lanjutnya.

“Ya. Dulu saya suka masak untuk Br...” Aku menghentikan kata-kataku yang

baru saja akan mengatakan “Brandon”. Kucoba memperbaikinya sebelum Reilley

sadar. “Untuk adik saya. Dia tikus percobaan saya.”

Sekali lagi aku tidak bisa mengelabui Reilley. Dari wajahnya dia tahu bahwa aku

baru saja hampir salah bicara, tetapi dia tidak menanyakan hal itu.

“Apakah kamu sudah kenyang? Atau kamu mau saya panaskan nasi

gorengnya?”

“Nggak... nggak.... Saya sudah kenyang. Thanks for the...” Reilley kemudian

melirik ke jam tangannya sebelum berkata, “Well... for that food.”

Aku pun melirik ke jam yang ada di dapur. Ternyata sudah pukul lima sore.

“Oh, my God. Sudah pukul lima!” teriakku.

Reilley mengangguk, kemudian menguap.

“Sori, ya. Kamu pasti capek banget.” Aku mencoba meminta maaf. “Apakah

kamu akan menyetir balik ke Wilmington setelah ini, atau kamu akan tinggal

bersama orangtua kamu di Winston?”

“Saya sebetulnya berencana ingin tidur di sini beberapa jam, kalau kamu nggak

keberatan. Orangtua saya sedang ada di Prancis bulan ini. Jadi, rumah mereka

kosong. I don‟t feel like going there with nobody‟s home.”

Aku hampir saja meneriakkan, “‟Di sini‟ maksud kamu „apartemen saya‟?!”

ketika mendengarnya mengatakan itu, tetapi kata-kata selanjutnya lebih menarik

perhatianku untuk diungkapkan. “Mengapa mereka ada di Prancis?” tanyaku

bingung.

“Oh... mereka punya rumah di Nice. Mereka selalu pergi ke sana setiap bulan

Januari,” jawab Reilley cuek.

“Orangtua kamu punya rumah di Nice?” Bahkan orangtuaku yang

kehidupannya jauh di atas rata-rata tidak memiliki rumah di Nice atau bahkan di

luar Indonesia.

Reilley mengangguk. “Di situlah saya belajar bahasa Prancis. Sayangnya nggak

sebaik Marcus atau Christine. Saya sudah sepuluh tahun ketika kami mulai berlibur

ke sana setiap musim panas. Mereka baru enam tahun, otak mereka bisa menyerap

informasi lebih cepat.”

“Mereka kelihatannya dekat sekali.”

“Siapa?” tanya Reilley.

“Marcus dan Christine.”

“Oh, memang. Mereka selalu bikin aku dan Mary kesal karena itu. Mereka tidak

bisa dipisahkan. Suatu keajaiban sampai Christine bisa punya pacar, padahal dia

tinggal bersama Marcus. Dia sangat protektif theradap my mom dan Mary, tapi

paling parah terhadap Christine.” Reilley menjelaskan semua itu sambil tersenyum

dengan tatapn mata yang tiba-tiba menjauh, seakan-akan dia sedang mengingat

sesuatu yang lucu. Aku dapat melihat bahwa dia mencintai keluarganya sedalam

aku mencintai keluargaku.

“Kelihatannya Christine juga begitu terhadap Marcus.”

Reilley mengangguk, “Itu sebabnya mengapa Christine sekarang mengambil

gelar Master‟s di Chapel Hill, padahal dia diterima di Columbia. Supaya dia bisa

dekat dengan Marcus.”

Columbia adalah salah satu universitas swasta terbaik di U.S. yang rankingnya

cukup jauh di atas University of North Carolina Chapel Hill atau biasa disebut

Chapel Hill saja. Itu sebabnya aku agak terkejut dengan pilihannya ini. “Dia

diterima di Columbia?” tanyaku. Aku selalu berpikir adikku adalah orang terpintar

yang pernah aku temui, tetapi kelihatannya dia kalah pintar dengan Christine.

Reilley mengangguk. “Mereka memang suka bikin kesal, tetapi mereka berdua

memang pintar.”

Aku tertawa mendengar komentar Reilley. Kemudian kulihat Reilley menguap

dan aku tidak tega menolak permintaannya, yang kini terlihat tidak berdosa itu.

“Why don‟t you go ahead and crash on my bed. I‟ll clean up over here,” ucapku. Aku

mengangkat piring kotor, lalu membawanya ke tempat cuci piring.

“Saya tidur di sofa kamu saja. I‟ll be fine,” balas Reilley, sambil mengangkat

piring dan gelasnya sebelum mengikutiku.

“Reilley, kamu kan tingginya lebih dari 190 sentimeter. Badanmu bakalan sakit

kalau tidur di sofa. Lagi pula, saya mau nonton TV dan saya nggak bisa nonton TV

kalau kamu tidur di sofa.”

“Well... kalau begitu... makasih ya,” ucap Reilley, kemudian menguap lagi.

“Terima kasih kembali. Sana pergi tidur!” Aku lalu mendorong Reilley keluar

dari dapur. “Masuk lewat pintu itu untuk ke kamar tidur saya. Kamar mandinya

juga di dalam sana,” jelasku, sambil menunjuk ke arah pintu kamar tidurku.

“Apakah kamu perlu pakaian ganti?”

“Nggak perlu. Saya sudah bawa sendiri.” Reilley kemudian keluar sebentar dari

apartemen dan kembali beberapa menit kemudian sambil menenteng tas yang

terbuat dari kanvas hitam. Dia lalu tersenyum kepadaku, kemudian menghilang ke

dalam kamar tidurku.

Pelan-pelan kucuci piring dan gelas yang tadi kami gunakan. Ketika aku

mematikan keran air, aku bisa mendengar shower di kamar mandi sedang

dihidupkan. Pelan-pelan kulongokkan kepalaku ke dalam kamar tidur. Dari jendela

kamar tidur yang terbuka kulihat matahari sebentar lagi akan terbenam, dan hari

akan menjadi gelap. Buru-buru kututup kerai jendelaku dan kunyalakan lampu.

Kulihat ada kaus berwarna putih dengan celana piama berwarna abu-abu

terbentang di atas tempat tidurku yang berukuran Queen. Aku sedang

membereskan tempat tidur ketika Reilley keluar dari kamar mandi hanya

mengenakan celana dalam boxer briefs berwarna putih bersih, dan handuk ukuran

sedang berwarna putih tergantung di lehernya.

Aku menarik napas terkejut. Reilley juga kelihatan terkejut.

“Sori. Saya akan biarkan kamu tidur,” ucapku, buru-buru keluar dari kamar

tidur dan menarik pintu kamar hingga tertutup.

Ketika sudah berdiri di ruang tamu baru aku bisa bernapas lagi. Aku mencoba

menenangkan dan mengingatkan diriku berkali-kali bahwa ini bukan pertama

kalinya aku melihat laki-laki hanya bercelana dalam. Aku bahkan pernah melihat

laki-laki dengan tubuh yang lebih bidang daripada Reilley, yang bertelanjang dada.

Jadi, mengapa aku harus panik? Satu-satunya jawaban yang keluar dari otakku

adalah bahwa terakhir kali aku melihat laki-laki bertelanjang dada sekitar sembilan

bulan yang lalu, dan laki-laki itu Brandon. Satu-satunya orang yang aku coba

lupakan selama sembilan bulan ini.

Aku kemudian duduk di sofa dan menyalakan TV, mencoba mencari channel

yang bisa menarik perhatianku. Aku hampir saja loncat dari sofa ketika mendengar

pintu kamar tidur dibuka.

“Titania, saya boleh buka jendela kamar tidur sedikit nggak?” Suara Reilley

terdengar agak ragu.

“Errr... boleh. Apa heater-nya terlalu panas untukmu? Saya bisa turunkan

suhunya,” balasku, setelah terdiam beberapa saat dan hanya menatap tubuhnya

yang kini telah tertutup kaus dan celana piama. Rasa kecewa karena tidak bisa

melihatnya bertelanjang dada lagi muncul di kepalaku.

“Nooo... the heater is fine. Saya hanya perlu udara segar kalau tidur.”

Aku mengangguk.

“Pukul berapa kamu ingin dibangunkan?”

“Sekitar pukul dua pagi kalau kamu masih terjaga. Nggak usah repot-repot,

saya bisa pasang alarm.”

“Pukul dua pagi?” tanyaku terkejut. Dia ingin tidur di apartemenku, di atas

tempat tidurku semalaman? Sekali lagi aku harus menenangkan diriku. Ini bukan

pertama kalinya ada laki-laki yang menginap di rumahku. Brandon sering

menginap di rumahku ketika dia datang berkunjung ke D.C. Dia juga pernah

berkunjung ke apartemen ini dan menginap karena terlalu lelah untuk menempuh

jarak 30 menit pulang ke apartemennya.

Sambil pelan-pelan mendekatiku di sofa, Reilley menjelaskan situasinya.

“Pesawat saya ke New York berangkat besok pukul enam pagi dari Raleigh. Jadi,

saya sebaiknya berangkat sekitar pukul setengah tiga dari sini supaya nggak

terlambat.”

Meskipun aku berterima kasih atas informasi tersebut, kelihatannya Reilley

tidak menyadari alasan sebenarnya mengapa aku berteriak beberapa detik yang

lalu.

“Berapa lama kamu akan ada di New York?”

“Selama weekend ini saja, untuk memberi training. Saya akan kembali Minggu

sore,” jelasnya, sambil duduk di sofa dan menguap. Melihat Reilley seperti inil, aku

jadi ingat pendapatku tentangnya ketika pertama kali bertemu dengannya di Fresh

Market. Tiba-tiba aku ingin menyanyikan lagu “Ninabobo” untuknya.

“Oke,” ucapku, lalu mengulurkan tanganku kepada Reilley, yang juga

mengulurkan tangannya kepadaku. Aku kemudian menuntunnya menuju kamar

tidur.

Kulepaskan genggamanku pada tangannya, dan berjalan menuju jendela untuk

membukanya sedikit agar ada udara segar yang masuk. Ketika aku berbalik badan,

kulihat Reilley sedang menatap tempat tidur sambil mengerutkan keningnya.

“Apa ada masalah dengan tempat tidur?” tanyaku ragu.

“Kamu selalu tidur di sebelah kanan,” ucap Reilley, kemudian menatapku. Aku

mengangguk. “Biar saya tidur di sebelah kiri, just in case kamu ingin tidur sebelum

saya bangun.” Reilley kemudian berjalan menuju sisi kiri tempat tidur dan

menyingkapkan selimut, kemudian naik ke atas tempat tidur dan perlahan-lahan

membaringkan tubuhnya.

“Ahhh... this is a good bed,” gumam Reilley. Dia kemudian memutar kepalanya

dan mencium bantal yang menopang kepalanya. “And it smells like you,” ucapnya

ceria, kemudian tersenyum padaku.

Aku hampir saja menangis ketika mendengar Reilley mengatakan kata-kata itu.

Dia benar-benar penuh perhatian dan tenggang rasa. Bahkan Brandon tidak pernah

peduli di sisi mana aku tidur, aku yang biasanya harus mengalah dan tidur di sisi

sebelah kiri kalau dia sedang menginap. Aku memiliki “aroma”, begitu tadi

katanya? Aku tidak pernah tahu tentang itu. Brandon jelas-jelas tidak pernah

mengomentari “aroma”-ku.

“I hope it‟s not a bad smell,” balasku, sambil melangkah mematikan lampu kamar.

“Not at all. I love this smell. Been dreaming about it for the past few weeks actually.”

Reilley kelihatan malu ketika mengatakannya.

Meskipun hatiku tiba-tiba berdebar-debar dengan kencang, aku berhasil

mengucapkan selamat malam mematikan lampu, dan meninggalkan kamar tidur

dengan selamat.

Satu detik setelah aku melangkah kembali ke ruang tamu, telepon selularku

berbunyi. Aku buru-buru berjalan menuju ruang kerja, yang terletak berseberangan

dengan kamar tidur. Ternyata Didi yang meneleponku.

“Mbak... gimana date-nya?” Seperti biasa Didi terdengar antusias.

Aku mengempaskan tubuh ke atas kursi. “Kamu nggak bakalan percaya deh

dengan ceritaku.”

“What happened?” Tiba-tiba Didi terdengar khawatir.

“Aku bilang ke kamu kalau date aku namanya Francis, kan?”

“Ya...,” jawaban Didi terdengar menggantung.

“Mau tahu nama lengkapnya siapa? Francis Winslow O‟Reilley,” ucapku,

menjawab pertanyaanku sendiri.

Didi terdiam beberapa saat, masih belum bisa mengerti teka-tekiku. Kemudian

dia menarik napas dan berteriak, “Nooo fucking way... Date Mbak itu Rielley? Lakilaki

sialan yang nggak pernah telepon itu?”

“Ya,” jawabku.

“Yang nomornya juga nggak bisa dihubungi?”

“Yep.”

“Yang mobilnya Volvo SUV?”

“Mm-ehm.”

“Yang matanya superbiru dan ganteng abis?”

Aku sempat tertawa sebelum menjawab, “He-eh... itu dia.”

“Gilaaa... kok bisa sih?” teriak Didi.

“Aku saja bingung,” jawabku.

“Terus bagaimana, cerita dong,” pinta Didi. Aku bisa mendengar bunyi keran

air yang dinyalakan melalui speaker telepon. Kemungkinan besar Didi sedang

membuat makanan tengah malam favoritnya, yaitu mie instan.

“Kami ngobrol panjang-lebar,” ucapku.

“He-eh,” jawab Didi.

“Dia cerita tentang keluarganya,” lanjutku.

“Oke,” jawab Didi lagi.

“Pekerjaan dia, bla bla bla...”

“Well that‟s a start.” Kudengar bunyi keran air dimatikan, dan aku yakin Didi

sedang mengangkat panci ke atas kompor.

“Sekarang dia sedang tidur di atas tempat tidurku,” ucapku tenang. Pada saat

itu juga aku bisa mendengar bunyi KLONTANG... yang cukup keras diikuti dengan

makian Didi sebelum dia berteriak, “He is doing whaaattt?!”

“Sedang tidur di atas tempat tidurku,” ulangku, sambil tersenyum. Aku tahu

seharusnya aku tidak mengganggu adikku ini, tetapi terkadang aku hanya ingin

melihat atau mendengar reaksinya atas kata-kataku.

“Mbak nggak... maksud aku... aduh bagaimana omongnya ya. You know...

nggak...” Untuk pertama kalinya adikku tidak bisa berkata-kata.

“Nggaklah. Kamu gila. Mbak bisa digoreng Ibu dan Bapak,” potongku karena

tidak tega mendengar Didi terbata-bata.

“Oh... phewww... tentu saja nggak. Aku nggak tahu mengapa aku berpikir

begitu.”

“Dia harus terbang besok pagi ke New York dari Raleigh. Jadi, daripada pulang

ke Wilmington, dia menginap di sini,” jelasku.

“Dia tinggal di Wilmington? That‟s a nice town to live in.”

“Kamu tahu dari mana? Kamu kan nggak pernah ke sana?” Aku mendengar

bunyi plop... plop... plop... Kelihatannya Didi sedang membersihkan tumpahan air

dari pancinya dengan menggunakan napkin dapur bukan kain pel.

“Dawson‟s Creek-lah. Mereka kan shooting di situ,” jawab Didi seakan-akan dia

sedang mengemukakan fakta yang semua orang harus tahu, yakni tentang serial

anak ABG tahun 90-an itu.

“Aduuuhhh, adikku yang calon doktor ini kok otaknya penuh informasi nggak

berguna kayak begini sih?” candaku.

Didi tertawa kencang. Kemudian kudengar Didi menarik sesuatu yang

terdengar seperti kantong kripik.

“Kamu nggak jadi makan mie?” tanyaku.

“Nggak... gara-gara Mbak, aku nggak mood lagi bikin mie,” omel Didi. Selang

beberapa detik dia berkata, “Mbak kok tahu sih kalau aku lagi ingin masak mie?”

Aku tertawa sebelum menjawab, “Memang ada makanan lain yang kamu bakal

makan selain mie kalau di rumah?”

“Hehehe... benar juga,” ucap Didi tersipu-sipu. Kemudian kudengar bunyi

krauk... krauk... krauk... dan aku tahu Didi sudah berhasil membuka kantong

keripiknya dan sedang melahap isinya dengan membabi buta.

“Dia kerjanya apa, Mbak?” Suara Didi terdengar jelas ketika menanyakan ini.

Tampaknya dia mendengarkan nasihatku agar tidak berbicara ketika mulutnya

penuh dengan makanan.

Aku lalu menceritakan segala sesuatunya tentang Reilley kepada Didi, yang

mendengarkan dengan saksama.

“Mbak bakal tidur dengan dia?” Didi terdiam setelah menanyakan pertanyaan

ini, kemudian baru melanjutkan, “Maksudku bukan tidur begitu. Maksudku tidur

betulan.”

“Nggaklah. Mbak tunggu saja sampai dia bangun baru Mbak tidur.”

“Oh... ya sudah.” Ketika Didi mengucapkan ini dia terdengar kecewa, tetapi aku

tidak berani menanyakan alasan di balik kekecewaannya itu.

Ketika aku selesai berbicara dengannya jam sudah menunjukkan pukul

sembilan malam. Perlahan-lahan aku bangun dari kursi dan berjalan ke luar ruang

kerja. Aku harus mandi. Sayangnya semua bajuku ada di kamar tidur, dan satusatunya

kamar mandi di apartemen ada di dalam kamar tidur. Mau tidak mau aku

berjalan ke sana. Perlahan-lahan kubuka pintu kamar tidur. Semuanya cukup gelap

kecuali penerangan dari sinar lampu jalan yang masuk melalui sela-sela kerai.

Udara di dalam kamar tidur terasa lebih dingin dibandingkan di ruang tamu karena

jendela yang terbuka. Aku berjalan menuju lemari pakaian dan menyalakan

lampunya. Aku melirik ke arah tempat tidur untuk meyakinkan sinar lampu tidak

mengganggu tidur Reilley. Aku tidak melihat ada gerakan apa pun. Aku juga tidak

mendengar suara mendengkur. Rupanya Reilley tipe orang yang tidur seperti orang

mati.

Kuambil piyama tidurku dan celana dalam, kemudian aku mematikan lampu

dan berjalan menuju kamar tidur. Kunyalakan lampu kamar mandi dan buru-buru

masuk. Tidak lama kemudian aku sudah ada di dalam bathtub, dan air panas pun

mengucur dari shower membasahi seluruh tubuhku. Ketika aku akan mengambil

sabun, aku baru menyadari ada beberapa botol alat mandi yang bukan milikku.

Botol-botol itu semuanya produk laki-laki dengan brand designer terkenal. Aku

yakin satu botol produk itu bisa untuk membeli empat botol produk yang aku

gunakan. Kuambil botol shampo-ku dan menuangkannya sedikit pada telapak

tanganku sebelum mulai mengusapnya pada rambutku. Aku lalu mengambil botol

sabunku, menuangkan beberapa tetes pada sponge, kemudian mengusapkannya ke

seluruh tubuh.

Selama melakukan itu semua, aku tidak bisa mengalihkan mataku dari produkproduk

mandi khusus untuk laki-laki yang terletak bersebelahan dengan produk

mandiku. Aku kemudian membilas bersih rambut dan tubuhku beberapa kali untuk

memastikan tidak ada busa sabun dan shampo yang masih tersisa. Setelah kulitku

bersih aku berdiri di bawah shower dan menikmati siraman air panas, yang cukup

bisa membuatku terasa nyaman. Rasa keingintahuan semakin mendorongku untuk

melakukannya. Akhirnya, aku menyerah untuk melawan rasa itu dan mengangkat

salah satu botol, membuka tutupnya, dan menghirup aromanya. Saat itu aku yakin,

aku baru saja meninggal dan masuk ke surga. Aroma yang keluar dari botol itu

adalah aroma Reilley. Aku tidak tahu berapa lama aku berdiri di bawah shower

dengan air yang masih mengalir sambil menciumi botol itu. Aku baru tersadar

ketika air yang tadinya panas kini mulai menjadi dingin, dan aku harus cepat-cepat

keluar dari bawah siraman air itu kalau tidak mau masuk angin.

Kuletakkan botol shampo Reilley dan mematikan shower, kemudian melangkah

turun dari bathtub. Kukeringkan semua bagian tubuh dengan handuk, kemudian

menyapukan lotion berbau melati pada seluruh tubuh dan mengenakan pakaian

tidur. Kukeringkan rambut dengan hair dryer, kemudian melangkah ke luar kamar

mandi. Kumatikan lampu dan berjalan sepelan mungkin menuju pintu kamar. Saat

itulah aku mendengar suara Reilley memanggil namaku. Suara itu terdengar cukup

jelas sehingga aku berpikir bahwa dia terbangun.

“Sori aku membuatmu terbangun,” bisikku, dan berjalan menuju Reilley. Ketika

aku berada sekitar satu meter darinya, aku menyadari Reilley masih tertidur lelap.

Lho kok? ucapku dalam hati. Aku lalu menggeleng, berpikir bahwa aku pasti salah

dengar dan sekali lagi berjalan sepelan mungkin menuju pintu.

Baru saja aku berjalan satu langkah, aku mendengar suara Reilley lagi

memanggil namaku. “Titania,” ucapnya dengan sangat jelas.

Penasaran aku lalu beranjak ke atas tempat tidur untuk memastikan apakah dia

masih terlelap atau tidak. Aku menahan berat tubuhku dengan kedua lenganku.

“Reilley kamu masih tidur?” bisikku. Wajahku hanya sekitar lima puluh

sentimeter dari wajahnya.

Tiba-tiba tangan Reilley terangkat dan memelukku dengan paksa.

“Hhhmmppp.” Adalah satu-satunya kata yang keluar dari mulutku karena tiba-tiba

aku sudah terbaring di atas tempat tidur dalam posisi yang agak janggal. Bagian

atas tubuhku ada di tempat tidur, sedangkan kedua kakiku masih tergantung keluar

dari tempat tidur. Sekarang aku yakin Reilley barusan mengigau. Aku berusaha

melepaskan diri tanpa membangunkannya. Kudorong tubuhku untuk menjauhinya,

tetapi Reilley justru menarikku lebih erat. Kucoba menggulingkan tubuhku, yang

juga tidak membuahkan hasil. Kini posisiku malah jadi tengkurap di atas dada

Reilley. Hanya tinggal pergelangan kakiku yang masih menjulur keluar dari atas

tempat tidur.

Aku berdiam diri selama beberapa detik untuk mempertimbangkan langkah

yang akan aku lakukan. Bahkan dalam tidur aroma Reilley masih cukup kuat. Aku

bisa merasakan denyut jantungnya di bawah pipiku. Kututup mataku untuk

menghirup aroma Rielley dalam-dalam. Memasukkannya ke dalam semua indraku

dan menguncinya di dalam memoriku. Kutarik napas panjang. Satu kali... dua kali...

tiga kali... empat kali....


2 Responses to "Blind Date I"

  1. BAGUS Banget... critanya tp lanjutannya mna ya....

    ReplyDelete
  2. Maaf, saya tidak tau kalo g da lanjutannya. Tapi sudah di perbaiki lanjutan ceritanya.
    silahkan dilanjutkan...
    makasi tas pemberitahuannya..

    ReplyDelete

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified