Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Blind Date 2

8

Reilley vs Brandon

HELLO moto... moto... moto... aku terbangun karena mendengar deringan telepon

selularku. Aku meraba-raba di atas tempat tidur mencari telepon itu. Tanpa melihat

ke layarnya aku langsung menjawab telepon itu.

Hello,” ucapku. Suaraku masih serak.

“Hei... sori membangunkan kamu. Kamu kan minta aku telepon begitu

mendarat.” Begitu mendengar suara itu kantukku langsung hilang.

“Kamu telat nggak?” tanyaku, terdengar agak khawatir karena dia terlambat

setengah jam berangkat dari rumahku.

“Nggak,” jawab Reilley, kemudian tertawa. Samar-samar aku mendengar suara

perempuan mengumumkan sesuatu melalui speaker. Reilley sudah sampai di New

York dengan selamat, pikirku.

“Kamu ngebut, ya?”

“Sedikit.” Reilley tertawa terkekeh-kekeh.

Mau tidak mau aku tertawa juga mendengarnya. Ia sudah sangat ceria pada

pukul delapan pagi. “Have a safe drive to the city, okay.” Aku berusaha terdengar ceria

juga.

Kudengar Reilley tertawa. “I will. Ketemu kamu hari Minggu, ya,” ucapnya.

Kemudian disusul dengan, “Holy shit.”

Aku langsung bangun dari posisi tidurku. “Reilley, ada apa?” tanyaku khawatir.

“Dingin banget di sini, gila,” jawabnya sambil tertawa, aku pun tertawa. Aku

bisa mendengar bunyi klakson dan kesibukan airport JFK.

“Ketemu kamu hari Minggu,” ucapku.

“Apa kamu bilang?!” teriak Reilley.

“Aku bilang ketemu kamu hari Minggu!” teriakku.

“Ya, sampai bertemu nanti!” jawabnya, juga dengan berteriak. Setelah itu,

sambungan itu terpupus.

Kuletakkan telepon selular itu di atas tempat tidur dan mengusap mataku,

mencoba mengusir kantuk yang masih tersisa. Tiba-tiba telepon selular itu berbunyi

lagi. Kulirik nama yang sedang berkedip-kedip di layar.

“Ada apa, Di?” ucapku pada adikku.

“Dia sudah pergi, kan?” sahut Didi.

Dalam hati aku menggeram. Tentu saja Didi mau tahu segala sesuatu tentang

apa yang terjadi selepas pukul sembilan malam kemarin ketika aku menutup

telepon darinya. “Sudah. Barusan dia telepon, katanya baru saja sampai di JFK,”

jawabku pasrah.

Aaa... nnnddd?” Meskipun aku tidak sedang bertatap muka dengannya, aku

tahu Didi pasti baru saja memutar bola matanya karena tidak sabaran.

“Kamu kok tumben sih sudah bangun jam segini? Biasanya kamu tidur sampai

siang kalau hari Sabtu,” gerutuku.

“Aku nggak bisa tidur tadi malam memikirkan Mbak dan Reilley,” balas Didi,

nadanya seolah-olah informasi itu sudah cukup memberikan penjelasan. “Jadi,

bagaimana?” desaknya lagi.

“Aku tidur bersama dia,” ucapku. “Maksud aku satu tempat tidur,” lanjutku.

Aku menelentangkan tubuh dan menatap langit-langit kamar yang berwarna biru.

Oh... my... gawd,” teriak Didi.

Lalu aku menceritakan kejadian semalam, di mana Reilley menarikku ke dalam

pelukannya ketika masih tidur dan tidak melepaskanku lagi. Aku pun akhirnya

tertidur dalam posisi itu dan terbangun beberapa jam kemudian oleh sinar lampu

yang berasal dari kamar mandi. Aku menyadari Reilley sudah tidak ada di atas

tempat tidur. Aku memutar tubuh dan melihatnya sedang mengenakan pakaian di

dalam gelap hanya dengan bantuan sinar lampu kamar mandi, yang pintunya

dibiarkan setengah terbuka.

“Pukul berapa sekarang?” tanyaku kepadanya, dengan suara masih mengantuk.

Reilley kelihatan terkejut ketika mendengar suaraku, kemudian dia berkata,

“Apakah saya membangunkan kamu?” Nadanya penuh meminta maaf.

“Nggak kok,” jawabku, kemudian bangun dari tempat tidur dan menyalakan

lampu kamar. Aku harus memicingkan mata dan membiasakan dengan sinar lampu

yang tiba-tiba menerangi kamar. Jam beker menunjukkan pukul tiga pagi.

“Kamu telat,” teriakku. “Sori, aku lupa menyetel alarmnya,” lanjutku mencoba

meminta maaf.

Reilley sedang memasukkan lengannya ke dalam sweater berwarna hitam

dengan leher berbentuk V. Dia mengenakan kemeja putih dengan garis-garis biru di

balik sweater itu. Dia berhenti sesaat dan menatapku.

Don‟t worry about it,” ucapnya. Ia menampilkan senyumnya, yang seakan-akan

lebih mematikan karena sekarang kami sedang berada di kamar tidur dengan

penerangan lampu agak kekuning-kuningan sehingga membuat suasana jadi terasa

agak sedikit sensual.

“Apakah kamu ada rencana hari Minggu malam?” tanyanya, sambil berjalan

menuju tempat tidur. Ia duduk di atasnya, dan mengeluarkan sepasang kaus kaki

berwarna hitam dari suka celananya.

Aku mencoba berpikir, apakah aku ada rencana pada hari Minggu malam.

“Kayaknya nggak ada,” jawabku akhirnya.

Good. Saya berencana akan mengajak kamu dating lagi.”

Oh... well... actualy that would be nice,” ucapku terbata-bata. Reilley tersenyum

melihat reaksiku.

“Kamu pilih restorannya. Pesawat saya mendarat sekitar pukul empat di

Raleigh. Saya akan sampai di sini sekitar pukul enam.” Reilley tidak menatapku

ketika mengatakan itu semua, perhatiannya fokus pada kegiatannya memakai kaus

kaki.

Mengetahui bahwa dia harus menempuh jarak dua jam lagi untuk bertemu

denganku, aku merasa tidak tega. “Apakah kamu yakin ingin bertemu saya lagi?”

Sepasang mata birunya langsung menatapku. Dia kemudian bangun dari

tempat tidur dan berjalan ke arahku. Meskipun langkahnya perlahan, aku merasa

agak sedikit terancam sehingga aku harus mundur selangkah. Melihat langkah

mundurku, Reilley berhenti melangkah dan berdiri diam sambil menatapku.

I don‟t know about you, but I like what we did last night. So I am looking forward to

doing that again,” ucapnya.

Apakah yang kami lakukan tadi malam? pikirku dalam hati. Seingatku kami

hanya mengobrol, lalu aku membuatkan dia makan malam. Setelah itu, dia tidur

dengan aku di dalam pelukannya. Mau tidak mau aku langsung mengalihkan

perhatian pada tubuhku. Ternyata aku masih memakai piama, yang aku kenakan

tadi malam, dan pakaian dalamku pun masih lengkap. Phewww... itu berarti kami

tidak melakukan apa-apa.

Baru kemudian aku menyadari, Reilley telah salah mengartikan pertanyaanku

sebagai suatu penolakan. Mau tidak mau aku tertawa. Reilley menatapku bingung,

dia kelihatan agak jengkel dengan reaksiku.

“Ada apa kamu tertawa?” tanyanya datar.

“Saya nggak pernah bertemu laki-laki seganteng kamu, yang nggak yakin

akan... akan kemampuannya untuk... untuk dazzle perempuan dan menyetujui apa

pun yang dia katakan,” jawabku, di antara tawaku.

“Kelihatannya ada seorang perempuan yang jaid pengecualian.”

Mendengarnya menggerutu karenaku, membuat tawaku yang tadinya sudah

cukup reda muncul kembali. “Kamu nih memang lucu,” ucapku kemudian.

Reilley menatapku sambil mengernyit. Melihat bahwa dia betul-betul

tersinggung dengan reaksiku, aku pun berjalan ke arahnya dan memeluknya. Tubuh

Reilley langsung menjadi sedikit kaku karena terkejut.

“Saya bertanya soal itu karena saya pikir kamu mungkin capek setelah

penerbangan, tetapi kalau kamu memang ingin bertemu I would definitely love to have

you around,” ucapku pelan.

Pelan-pelan kurasakan tangan Reilley membalas pelukanku. Mungkin ini hanya

perasaanku saja, tetapi aku merasa Reilley sedang menghirup aromaku sedalamdalamnya.

Aku pun melakukan hal yang sama.

“Boleh nggak saya kasih usul untuk date ini?” Kulonggarkan pelukanku pada

tubuh Reilley, dan mengangkat kepalaku untuk menatap wajahnya.

“Boleh.”

“Aku usul kita makan di rumah. Saya akan masak sesuatu untuk kamu.”

“Kamu mau masak?” tanya Reilley, nadanya terdengar ragu.

Mendengar nada tidak percayanya, aku melepaskan pelukanku. “Saya yakinkan

masakan saya nggak....” Aku mencoba membela diri, tetapi Reilley sudah

memotongku.

“Bukan itu maksud saya,” geramnya.

Kutatap wajahnya dengan bingung. Aku harus betul-betul melihat ke atas

karena kami berdiri terlalu dekat. “Jadi, apa dong maksud kamu?” tantangku.

I was thinking that it was the most romantic thing anyone has ever done for me,”

ucapnya dalam satu tarikan napas.

Aku menatapnya dengan mata melebar. Aku yakin, kalau Didi mendengar katakata

Reilley mungkin dia akan tidak habis-habisnya tertawa. Menurut Didi, aku

orang yang paling tidak romantis di seluruh dunia. Aku juga tidak pernah

memikirkan diriku sebagai orang yang romantis. Jadi, pernyataan Reilley sempat

membuatku sedikit limbung.

“Saya buatkan kamu sandwich untuk dimakan di jalan,” ucapku, sambil

melepaskan diri dari pelukan Reilley.

Aku baru saja berjalan satu langkah ketika pergelangan tanganku ditarik oleh

Reilley, dan yang aku rasakan selanjutnya adalah sengatan listrik di sekujur

tubuhku. Bibir Reilley sudah mencium bibirku, lidahnya bergerak menyapu bagian

dalam bibirku. Tampaknya dia tidak peduli bahwa aku baru bangun tidur, aroma

mulutku mungkin tidak segar dan penampilanku pun acak-acakan. Aku hanya bisa

berpegang pada kedua lengannya dengan sekuat tenaga untuk mencegah agar

diriku tidak menggelongsor ke lantai. Aku bereaksi membalas ciuman ganas itu.

Merasakan bahwa aku sedang membalas ciumannya dengan antusias. Reilley

menyisirkan jari-jarinya pada rambutku. Kemudian tiba-tiba Reilley berhenti

menciumku dan menggenggam bagian atas kedua lenganku, lalu mendorongku

menjauhinya.

Aku menatapnya bingung sambil mencoba menarik napas. Apakah dia sedang

menolakku? Nggak mungkin. Satu hal yang aku kuasai adalah memberikan ciuman

yang dahsyat, dan aku yakin aku masih memiliki keahlian itu. Jadi, kenapa dia

berkelakuan seperti ini?

Melihat perubahan pada wajahku, Reilley langsung berkata, “Kamu sebaiknya

menyiapkan sandwich itu. I need to keep my hands off of you and I can‟t do that if I‟m

kissing you.” Reilley mengucapkan kata-kata ini dengan cepat sambil menatapku

tajam. Suaranya terdengar sedikit serak. Butuh beberapa detik bagiku untuk

mencerna maksudnya. Dia tidak menolakku. Dia hanya ingin menjagaku.

Memastikan agar tidak ada satu pun dari kami yang melampaui batas.

Is tuna okay?” tanyaku pelan.

Tuna‟s fine,” geram Reilley. Dia masih menatapku tajam, dan ada sedikit

tatapan bersalah.

Buru-buru aku keluar dari kamar tidur, dan melangkah menuju dapur. Tidak

lama kemudian roti sandwich siap. Kudengar bunyi pintu kamar dibuka, dan Reilley

berjalan ke luar dengan membawa tas kanvas yang tadi malam dibawanya.

“Kamu mau susu atau orange juice?”

Orange juice,” jawab Reilley, sambil berjalan ke arahku.

Aku mengambil satu botol jus jeruk yang ada di dalam lemari es, dan

memberikan botol serta roti itu kepada Reilley.

“Kamu sebaiknya berangkat, sekarang sudah pukul 3.30.” Kudorong Reilley

menuju pintu keluar. Kuambil botol jus dan roti dari genggamannya ketika dia

berlutut mengenakan sepatunya.

Setelah Reilley siap, aku membuka pintu dan menuju mobilnya yang ternyata

diparkir bersebelahan dengan mobilku. Aku baru menyadari bahwa aku tidak

mengenakan jaket ketika angin dingin menyerangku, dan aku menggigil.

Titania, you‟ll freeze to death!” teriak Reilley.

I‟m fine,” ucapku, tetapi gigiku sudah bergemeletuk.

Reilley buru-buru membuka pintu mobilnya, melemparkan tas ke bangku

belakang dan mengambil roti serta jus dari tanganku sebelum meletakkannya di

dashboard. Dia kemudian menghidupkan mesin mobilnya dan menutup pintu.

Reilley memeluk dan menarikku masuk kembali ke apartemen. “Are you okay?”

tanyanya khawatir.

Aku mengangguk.

Thanks untuk... untuk semuanya.” Reilley kelihatannya akan mengucapkan

kata lain, tetapi dia tidak bisa menemukan kata yang tepat.

“Telepon saya begitu kamu mendarat di New York, ya,” pintaku.

Reilley mengangguk. “Jadi kita bertemu hari Minggu?” tanyanya, sambil

tersenyum.

Aku mengangguk. Reilley diam sambil menatapku, dia tampaknya sedang

mempertimbangkan apakah dia akan menciumku lagi atau tidak. Aku menjijitkan

kedua kakiku, dan menciup pipinya. “Bye,” ucapku.

Reilley sempat terlihat terkejut oleh ciuman itu. Dia mengangguk, kemudian

berjalan menuju mobilnya dengan sedikit limbung. Dalam hati aku tertawa ketika

menyadari bahwa tindakan-tindakan kami telah membuat kami berdua satu sama

lain menjadi limbung. Kulihat Reilley melambaikan tangannya, kemudian mundur

dari tempat parkir dan berlalu. Aku kembali masuk ke dalam apartemen dan

mengunci pintu.

* * *

“Jadi, begitulah ceritanya,” ucapku pada Didi, yang langsung tidak bisa berkatakata.

“Mbak... kayaknya Mbak harus buru-buru nikah dengan dia deh sebelum dia

diambil orang lain. Dia sweet banget kepada Mbak.”

I know... aku nggak pernah bertemu laki-laki yang model begini. Aku nggak

tahu harus bagaimana.”

“Ya, juga sih. Menurut aku, you are doing just fine. Kalau ini terjadi padaku,

mungkin aku sudah ambil langkah yang salah dan membuat dia kabur.” Didi lalu

tertawa dengan leluconnya sendiri, yang disusul oleh tawaku.

“Denganku juga belum pasti dia nggak akan kabur. Nanti deh kita lihat. Kalau

misalnya dia nggak datang hari Minggu nanti, itu berarti dia kabur,” jawabku.

“Nggaklah... aku yakin dia nggak akan kabur. Kalau dia memang berniat kabur,

dia nggak bakal susah-susah telepon Mbak begitu sampai di JFK.”

Aku harus mengakui logika Didi, dan tersenyum bahagia. “Kira-kira aku harus

masak apa ya, Di, untuk dia?” tanyaku.

Kami mengobrol panjang-lebar tentang menu untuk kencanku pada hari

Minggu malam dengan Reilley. Dia mengusulkan sebaiknya aku memasak makanan

yang mudah tetapi enak, dan tidak membuat kencan ini terkesal terlalu formal.

So none of those dinner for two kind of shit,” kata Didi.

Aku tertawa mendengarnya. “Jadi, casual dinner saja, ya?”

Yep,” jawabnya. “Reilley sudah bisa dikategorikan sebagai HOT, kan?” pancing

Didi.

Definitely,” sahutku, kemudian tertawa. Aku lalu terdiam sesaat. Tiba-tiba saja

muncul suatu pemikiran di benakku. “Di...,” ucapku ragu.

What?

“Eh, nggak jadi deh.”

“Apaan sih?” Didi terdengar penasaran.

“Aku hanya... hanya...”

“Cuma cumi, buruan deh omongnya,” omel Didi.

“Aku bingung. Apakah dengan aku dating dengan Reilley, itu berarti aku harus

berhenti dating dengan laki-laki lain?”

What??! Mbak sudah gila??! Mbak sudah bayar dua ribu dolar. Kontrak Mbak

masih ada satu bulan lebih kan dengan MBD. Ya, iyalah Mbak harus dating dengan

orang lain juga. Jangan mau rugilah!” teriak Didi.

“Maksudku... apa itu nggak terkesan agak... agak kayak... kayak melacurkan diri

nggak sih?” Aku tidak bisa menemukan kata lain, yang bisa menggambarkan

kelakuan seperti itu.

Tanpa kusangka-sangka Didi malah tertawa.

“Kok kamu malah tertawa sih? Ini urusan serius lho,” gerutuku.

Didi berusaha berhenti tertawa, dan berkata, “Aku sudah lama nggak dengar

kata „pelacur, biasanya kita kan hanya pakai kata „perek. Aenh saja aku

dengarnya.”

“Ya, bodo deh, tetapi kamu mengerti kan maksud aku?”

“Ya, pastilah aku mengerti... Menurut aku sih, Mbak tetap saja dating dengan

orang lain. Aku yakin Reilley juga nggak berhenti dating kok. Dia kan juga sudah

bayar dua ribu dolar seperti Mbak.”

“Tapi...” Aku mencoba menjelaskan posisiku kepada Didi. Aku tidak pernah

berpacaran dengan dua laki-laki sekaligus, dan aku tidak tahu bagaimana caranya

membagi waktu.

“Begini saja, Mbak. Ini kan masih tahap awal. Mbak lihat saja

perkembangannya. Siapa tahu setelah Mbak sudah kenal dia lebih jauh ternyata

Mbak nggak terlalu suka kepada dia. Seperti perumpamaan, „Ikan yang sudah

ditangkap jangan dibuang lagi ke laut hanya karena mengharapkan ikan yang lebih

besar. Mbak mengerti maksudku, kan?”

“Hah?” Itulah satu-satunya kata yang bisa aku keluarkan dari mulutku ketika

mendengar Didi mengucapkan perumpamaan itu.

“Ya... maksudku...” Didi terdengar tersipu-sipu.

“Kayaknya perumpamaan itu hanya berlaku kalau kita sedang mencari laki-laki

berduit deh, bukan untuk situasi aku ini,” potongku.

“Ya, bodo deh. Pokoknya, Mbak mengerti kan maksudku?” tanya Didi.

Mau tidak mau aku tertawa karena aku baru saja mengucapkan kata-kata yang

sama kepada Didi beberapa menit yang lalu.

“Paham... paham,” balasku.

“Jadi, kapan Mbak bakal kasih tahu Ibu dan Bapak kalau Mbak membayar dua

ribu dolar untuk jasa blind date supaya bisa dapat suami?” tanya Didi, tiba-tiba

mengganti topik.

“Nggak bakalan,” jawabku ketus. Aku tidak mau orangtuaku tahu bahw aaku

menggunakan jasa agen profesional hanya untuk mendapatkan suami. Sudah cukup

memalukan adikku tahu tentang ini. Kalau sampai orangtuaku tahu, entah apa yan

gakan mereka pikirkan tentang aku? Kemungkinan mereka akan berpikir anaknya

sudah setengah gila.

Andaikan saja aku berkata jujur tentang alasan mengapa aku putus dengan

Brandon, mungkin mereka akan lebih mengerti. Aku tidak ingin membebankan

pikiran mereka dengan kejadian yang menimpaku. Aku meminta Didi bersumpah

agar tidak menceritakan kejadian sebenarnya kepada orangtuaku. Aku tahu,

orangtuaku hanya menunggu waktu yang tepat kapan aku akan menjelaskan alasan

sebenarnya aku yang tadinya memuji-muji Brandon setengah mati setiap kali

mereka menelepon tiba-tiba berhenti menyebutkan namanya sama sekali.

* * *

Hari Sabtu berlalu lebih lambat daripada biasanya. Aku tahu alasan utamanya

karena aku sudah tidak sabar menunggu hari Minggu tiba. Sesekali aku menyentuh

bibir dengan jari-jariku untuk meyakinkan Reilley memang telah menciumku pagi

itu. Aku mencoba mengingat-ingat “rasa” Reilley di mulutku. Aku ingat napasnya

berbau Listerine citrus. Selama ini aku tidak pernah begitu terobsesi oleh ciuman

pertamaku dengan laki-laki mana pun. Jadi, mengapa sekarang aku terobsesi oleh

ciuman Reilley? Hah... itu mungkin karena aku terobsesi oleh Reilley sehingga aku

jadi terobsesi oleh segala sesuatu yang berhubungan dengannya. I‟m going crazy,

omelku kepada diriku sendiri.

Kegilaanku semakin menjadi ketika aku melangkah ke kamar mandi dan

menemukan baju tidur Reilley, yang masih ada di atas toilet. Kaus putih, celana

piama abu-abu, dan boxer briefs putih bersih. Handuknya tergantung di sebelah

handukku, sikat gigi listrik dan pisau cukurnya ada di atas wastafel, dan peralatan

mandinya masih ada bersama-sama dengan peralatan mandiku di samping bathtub.

Karena terburu-buru kelihatannya Reilley terlupa telah meninggalkan barangbarang

ini di kamar mandi. Kuangkat kaus Reilley, dan secara refleks langsung

membawanya ke hidungku dan menghirup aromanya. Seperti yang sudah aku

perkirakan, aroma Reilley masih menempel di situ. Sebenarnya, seluruh kamar

mandi dipenuhi aroma Reilley. Buru-buru kuangkat celana piama dan celana

dalamnya dari atas toilet, kemudian menyambar handuknya dan membawanya ke

luar kamar mandi serta melemparkannya ke dalam keranjang batu kotor. Semua

barang milik Reilley itu harus dicuci secepatnya supaya bisa mencegahku

menciuminya setiap saat.

Setelah aku bisa sedikit menenangkan diri, baru aku menelepon Sandra untuk

memberikan laporan kencanku dengan Reilley.

“Jadi, bagaimana?” tanya Sandra antusias, tetapi dari nadanya aku bisa

mendeteksi adanya rasa waswas.

It was good,” jawabku, seceria mungkin.

Just good?” Sandra terdengar ragu.

Very good, actually,” balasku.

“Oh, ya? Jadi, kita sudah menemukan pemenangnya?” teriak Sandra. Aku bisa

membayangkan, dia pasti mengempaskan diri di kursi kerjanya dengan wajah lega.

I wouldn‟t go that far,” ucapku di antara tawaku. “But he is definitely close.”

Of course.”

Oh... Sandra, saya perlu kasih usulan tentang restoran,” ucapku, kemudian

menceritakan pengalaman makanku di restoran Prancis.

Sandra tertawa geli mendengar komentarku, tetapi dia memastikan MBD tidak

akan menggunakan restoran itu untuk kencanku berikutnya.

“Omong-omong tentang dating, date Anda selanjutnya hari Jumat. Namanya

Suresh. Dia orang Asia, hampir 190 sentimeter, dan pekerjaannya di retail. Anda

akan bertemu dengannya di B. Christopher‟s Steakhouse di Burlington pukul tujuh

malam. Would this schedule works for you?” tanya Sandra.

Aku agak tergagap ketika menjawab pertanyaan itu.

Yes, that would be fine,” ucapku akhirnya, dengan nada datar.

Okay, great. Saya akan konfirmasi balik ke Suresh kalau begitu.”

Sebelum aku kehilangan keberanianku, aku bertanya, “Hei, Sandra, saya ada

pertanyaan.”

Sure. Fire away.”

“Apakah klien-klien kamu akan terus dating dengan orang lain, meskipun

mereka sudah menemukan orang yan gtepat? Atau setidak-tidaknya mendekati

orang yang mereka inginkan?”

Sandra terdiam sejenak sebelum menjawab. “Setiap klien saya berbeda-beda.

Beberapa dari mereka akan terus dating dengan orang lain, tetapi ada juga yang

berhenti sama sekali. Mereka memilih untuk memanfaatkan waktu bersama orang

yang tepat, yang sudah mereka temukan.”

“Mana yang lebih efektif? Maksud saya, seberapa besar kemungkinannya

mereka menikah kalau mereka membuat pilihan tersebut?”

“Dua-duanya cukup efektif.” Sandra terdengar ragu. Aku tahu mungkin dalam

peraturan perusahaannya, MBD menetapkan para agen blind date tidak boleh

memberikan pendapat yang akan menyebabkan klien mereka menjadi bias dalam

situasi apa pun. Hal ini juga mungkin untuk mencegah adanya tuntutan hukum,

yang dilayangkan oleh klien yang frustrasi karena tidak berhasil mendapatkan

pasangan yang ideal karena mengikuti nasihat agen mereka.

“Mana yan glebih efektif?” aku mengulang pertanyaanku. Aku tahu, aku sedang

berlaku tidak adil dengan memojokkan Sandra seperti itu. Akan tetapi, aku betulbetul

memerlukan masukan dari orang lain selain adikku.

Kudengar Sandra menarik napas sebelum berkata, “Anda betul-betul ingin

mendengar opini saya?”

“Ya.”

“Saya rasa, begitu Anda yakin dialah orang yang tepat untuk Anda, sebaiknya

Anda berhenti mencari. Manfaatkanlah waktu Anda untuk membuat hubungan

dengan orang tersebut berjalan mulus.”

“Bagaimana kita bisa tahu kita sudah menemukan orang yang tepat?” tanyaku

ragu.

“Oh, percaya kepada saya, Anda akan tahu nanti jawabannya,” balas Sandra.

Aku menutup mataku, dan memohon kepada Tuhan agar perasaanku tentang

Reilley tidak meleset. Sekarang yang harus aku lakukan adalah memastikan, apakah

Reilley memang laki-laki yang terbaik untukku.

* * *

Hari Minggu pun tiba, aku sudah keluar rumah sebelum pukul sembilan pagi untuk

membeli semua keperluan makan malam. Sepanjang hari aku tidak bisa berhenti

tersenyum, dan jantungku berdetak lebih cepat daripada biasanya. Beberapa kali

aku harus menenangkan diri agar tidak terkena serangan jantung. Apakah bisa

orang meninggal akibat serangan jantung karena kebahagiaan yang meluap-luap?

Aku kurang tahu soal itu, dan aku tidak peduli. Aku hanya tahu bahwa 24 jam

terakhir ini merupakan waktu paling membahagiakan dalam hidupku selama

delapan bulan ini.

Begitu tiba di rumah aku segera membumbui daging sapi yang telah aku beli,

kemudian memasukkannya ke dalam lemari es. Setelah itu, aku mempersiapkan

segala sesuatu yang aku perlukan untuk membuat tiramisu. Pukul dua siang

semuanya sudah siap. Kutinggalkan tiramisu di dalam lemari es agar sudah dingin

ketika disajikan. Aku lalu membereskan apartemen agar kelihatan lebih rapi,

termasuk mengganti seprai tempat tidur. Aku lalu membawa seprai dan beberapa

pakaian kotor, sekaligus juga baju dan handuk Reilley, untuk dicuci dan

dikeringkan.

Ketika aku baru saja melangkah masuk ke apartemen lagi sambil membawa

keranjang berisi pakaian dan seprai yang sudah kering, kudengar telepon selularku

berbunyi. Buru-buru kuletakkan keranjang cucian di lantai, dan lari ke meja makan

untuk menjawab panggilan itu. Kulihat yang menelepon adalah „Hunny Bunny. Aku

tersenyum kepada diriku sendiri karena lupa menukar nama itu dari phonebook.

“Reilley?” Meskipun aku tahu itu adalah Reilley, entah mengapa aku merasa

aku harus memastikannya.

Yeah, it‟s me. Saya baru mendarat di Raleigh. I‟m heading to Winston right now.

I‟ll see you at six,” ucap Reilley. “Do you want me to bring anything?

Nothing. Just you,” jawabku.

Aku baru menyadari implikasi kata-kataku ketika kudengar Reilley berkata, “I

like how that sounds.” Sebelum aku bisa menjelaskan maksudku, Reilley berkata, “See

you in a bit,” kemudian menutup telepon itu.

Okay. Drive safe,” balasku, yang disambut oleh nada tut... tut... tut.

Damn it,” gerutuku. Aku harus betul-betul memperhatikan kata-kata yang

keluar dari mulutku kalau aku sedang berbicara dengan Reilley. Aku tidak mau dia

mengira aku sudah menyukai dia, meskipun memang seperti itu kenyataannya. Aku

tidak mau dia tahu tentang perasaanku. Tidak sekarang. Mungkin nanti, setelah aku

tahu seberapa sukanya dia kepadaku.

Aku lihat jam baru menunjukkan pukul 16.15, aku buru-buru mandi. Setelah

mandi aku kenakan jeans dan sweater dengan leher V, yang terbuat dari katun

berwarna krem. Rambutku kutarik ke belakang dengan bandana agar tidak

menggangguku malam ini. Setelah semuanya aku yakin sempurna bagiku, barulah

kukenakan kacamata. Sekarang aku sudah lebih percaya diri mengenakan kacamata

ini karena kata-kata Reilley dua malam yang lalu. Aku menggeleng karena percaya

dengan kata-kata itu, yang kemungkinan besar hanyalah gombal.

Aku sedang mengeluarkan daging steak dari dalam lemari es ketika kudengar

pintu apartemen diketuk. Buru-buru kubuka pintu itu, dan harus menahan napas

ketika melihat Reilley berdiri di luar dengan senyumnya yang lebar. Dia memeluk

satu botol coca-cola satu setengah liter. Aku mengambil botol itu darinya, dan

mempersilakannya masuk. Aku menarik napas dalam-dalam dan menikmati wangi

cologne, yang masuk ke dalam hidungku. Reilley langsung membuka sepatunya

ketika memasuki apartemen.

“Mudah-mudahan kamu lapar, soalnya saya bikin steak,” ujarku, sembari

berjalan kembali menuju dapur. Kuletakkan botol Coca-Cola di atas meja makan.

* * *

“Saya kelaparan,” balas Reilley, dan mengikutiku menuju dapur. Dia sudah

melepaskan jaketnya dan kini hanya mengenakan kaus putih lengan panjang yang

dilapisi dengan kaus tim American Football The New York Giants.

“Kamu ingin steak-mu dipanggang matang atau setengah matang?” tanyaku,

sambil melemparkan sepotong daging besar ke atas panggangan.

Well-done, please,” jawabnya. “Kamu perlu bantuan?”

“Kamu bisa nggak memanaskan jagung manis tanpa menyebabkan apartemen

kebakaran?” candaku.

Reilley tertawa sebelum menjawab, “Bisa.”

Dia membuka kaleng jagung manis dan menuangkan isinya ke dalam panci

kecil, kemudian menyalakan kompor.

That smells good, by the way,” ucapnya, sambil menunjuk daging yang ada di

atas panggangan.

Aku hanya tersenyum. “Jagungnya perlu kamu aduk. Ada spatula kayu di

dalam laci, kamu bisa pakai itu.”

Reilley mengikuti saranku. Memasak bersama Reilley di dapur membuat

pikiranku kembali terobsesi oleh keseksian tubuhnya.

Training-nya bagaimana?” tanyaku, untuk mengalihkan pikiranku.

“Brutal. Mereka ingin saya kembali ke sana akhir bulan ini.”

“Mengapa brutal?” Kulihat jagung manis di panci sudah mendidih. “Kayaknya

jagungnya sudah siap. Bisa tolong jaga steak-nya sebentar, saya akan mengangkat

jagungnya?” pintaku.

Sure. Saya harus apa?” Reilley terlihat agak kikuk.

Just make sure that it doesn‟t burn completely black. Kamu mau steak yang lezat

kan, bukan steak gosong,” balasku, sambil mengangkat panci rberisi jagung dan

menuangkan seluruh isinya ke dalam saringan yang sudah aku siapkan di dalam

bak cuci piring.

“Jadi, mengapa training-nya brutal?” Aku mengulang pertanyaanku, yang

belum sempat terjawab.

“Oh... bos-bos besar di perusahaan ingin meng-upgrade sistem mereka, tetapi

para pegawai kelihatannya nggak setuju. Mereka bersikeras sistem yang sekarang

digunakan cukup memadai untuk melakukan pekerjaan mereka. But that is the point.

This new system is trying to make it can do better than just being „quite sufficient‟, it has the

ability to be „efficient‟ as well,” jelas Reilley.

“Apakah para pegawainya sudah tua?”

Reilley terdiam sejenak, seolah-olah dia sedang mencoba mengingat-ingat

orang-orang yang ada di training-nya. “Nggak, kebanyakan dari mereka masih

sekitar 30-an. Mengapa?”

Well, itu agak aneh. Biasanya generasi yang lebih tualah yang nggak suka

perubahan karena mereka memerlukan waktu lebih lama untuk mempelajari dan

memahami informasi baru,” komentarku, sambil memindahkan jagung manis ke

dalam mangkuk.

“Ya... nih, saya juga nggak tahu ada apa dengan orang-orang itu. Anyway, saya

akan mengadakan beberapa follow-up untuk memastikan sistem yang baru betulbetul

bekerja,” balas Reilley.

Aku lalu berbalik badan, menghadap kembali ke kompor. “Mungkin mereka

hanya perlu untuk menyesuaikan diri. Saya yakin lambat-laun mereka akan

menyukai sistem yang baru itu,” ucapku, sambil tersenyum untuk memberikan

dukungan kepada Reilley.

Reilley juga ikut tersenyum.

Steak-nya bagaimana?” tanyaku.

It‟s doing great. Belum ada yang teriak dia kegosongan,” balas Reilley, sambil

nyengir.

Kami kemudian tertawa terbahak-bahak. Tidak lama kemudian, aku

mengangkat daging steak itu dan meletakkannya di atas piring. Setelah itu,

kuletakkan daging steak dengan ukuran yang lebih kecil di atas panggangan

untukku sendiri.

“Ini punya kamu.” Kuberikan piring berisi daging sapi potongan besar kepada

Reilley, dan mengangkat mangkuk berisi jagung serta meletakkannya di atas meja

makan.

Wow, this looks sooo... goooooo...d,” puji Reilley, sambil menghirup aroma daging

panggang itu.

Ini sudah kedua kalinya. Reilley mengomentari steak buatanku, aku jadi merasa

agak risi. Brandon jelas-jelas tidak pernah memuji makanan buatanku. “Kamu mulai

saja duluan. Steak saya masih perlu beberapa menit lagi. Saya nggak mau tamu saya

kelaparan.”

Naahhh... I can handle it. Saya tunggu kamu saja. Boleh saya ambil es dari

freezer?”

Go ahead,” ucapku, lalu membalik daging di atas panggangan. Aku

mengeluarkan dua gelas tinggi dari dalam lemari, dan meletakkannya di sebelah

kulkas agar Reilley bisa mengisinya dengan es batu.

sSetelah memenuhi kedua gelas itu dengan es batu, Reilley membawanya ke

meja makan dan menuangkan coca-cola ke dalamnya. Kuangkat steak dan

meletakkannya di atas piring, lalu berjalan menuju meja makan.

Let‟s eat!” ajakku, dan mengangkat garpu-pisauku.

Setengah jam kemudian piring Reilley sudah bersih, dan mangkuk berisi jagung

manis pun sudah ludes olehnya.

This is the best steak I have ever eaten my whole life,” ucap Reilley.

Aku tertawa, kemudian berjalan menuju lemari es untuk mengeluarkan

tiramisu.

“Itu apa?” tanya Reilley ingin tahu, sambil perlahan-lahan berjalan ke arahku.

“Tiramisu,” jawabku.

No... waaa...yyy. Kamu bisa bikin tiramisu?”

Aku mengangguk, dan mulai memotong tiramisu. “Kamu suka tiramisu?”

Are you kidding me? Itu kue favorit saya,” balas Reilley. Dia kemudian menatap

tiramisu, seolah-olah kue itu pemberian Tuhan yang paling sempurna.

“Errr... apa kamu mau makan langsung dari pyrex-nya?” Kalau bukan karena

ada tamu, aku dan Didi biasanya memang makan tiramisu buatanku langsung dari

tempatnya.

Oh, really? Can I?” Kalau Reilley berumur lima tahun, aku yakin dia sudah

meloncat-loncat kegirangan. Mengingat usianya yang tidak lagi anak-anak, kini

reaksi kegembiraannya dia ekspresikan dengan menatapku dan matanya berbinarbinar.

C‟mon,” ucapku, sambil membawa pyrex itu menuju meja makan. “Oh, bisa

tolong ambilkan sendok?”

Aku sudah duduk di meja makan ketika Reilley memberikan sendok kepadaku,

kemudian dia duduk di hadapanku. “Dig in,” ujarku.

Reilley langsung menenggelamkan sendoknya ke dalam tiramisu, dan

memasukkan sesendok besar ke dalam mulutnya.

“Kue ini rasanya lebih enak daripada seks,” desahnya.

Aku tertawa melihat ekspresi wajahnya, yang terlihat sangat puas dan bahagia.

Mirip wajah laki-laki yang baru mendapatkan seks terbaik yang pernah dialaminya.

Aku tidak tahu bagaimana mungkin aku bisa menggambarkan hal seperti itu,

mengingat aku masih perawan. Dalam imajinasiku, seseorang yang bahagia ekspresi

wajahnya pastilah tidak jauh berbeda dengan Reilley saat ini.

Mengingat jejak Reilley, aku pun menenggelamkan sendokku dan memasukkan

satu sendok besar ke dalam mulutku. Jujur saja, ini memang tiramisu terenak yang

aku pernah buat. Mungkin karena aku membuatnya dengan penuh rasa cinta.

Cinta? Pernyataan itu hampir saja membuatku tersedak. Dari mana aku bisa

mendapatkan ide itu? Aku baru saja mengenal Reilley. Ini baru kencan kedua kami.

Aku tidak mungkin jatuh cinta dengan seorang laki-laki pada kencan kedua.

Jari Reilley, yang kini sedang menyentuh sudut bibirku, membangunkanku dari

lamunan. “You got cream right here,” ucap Reilley. Ia mengusap sudut bibirku dengan

ibu jarinya, kemudian memasukkan ibu jari itu ke dalam mulutnya.

Aku hanya bisa menatapnya dengan mata terbelalak dan mulut terbuka. Apa

yang baru saja dia lakukan merupakan hal paling romantis dan seksi yang pernah

dilakukan laki-laki terhadapku. Reilley, yang menyadair bahwa aku belum berkatakata

selama beberapa menit, menegurku, “Titania, kamu nggak apa-apa?”

Yes,” ucapku, nada suaraku agak meninggi. “I‟m glad you like my tiramisu,”

lanjutku.

Hell... Saya suka masakan kamu, apartemen kamu, senyum kamu, the way that

glasses somehow makes you look more sexy, which is impossible because you are the sexiest

woman I have ever met, I even love how you smell. Saya suka semuanya tentang kamu,”

jawab Reilley. Kemudian seolah-olah baru menyadari apa yang dia telah katakan,

dengan susah payah dia berkata lagi, “Maksud saya... saya hanya...”

Aku mungkin akan mencoba membantunya agar tidak merasa seperti anak kecil

yang baru saja tertangkap basah mengambil mangga tetangga, kalau aku sendiri

tidak sedang mencoba mencerna apa yang baru diungkapkannya kepadaku.

“Sori,” ucap Reilley akhirnya, sambil meraih tanganku. “Aku nggak bermaksud

membuat kamu takut.”

“Nggak... nggak... nggak apa-apa. Saya hanya agak... kaget. Itu saja.”

“Yakin?” Reilley terdengar ragu.

Aku mengangguk.

Reilley tersenyum, dan mulai menyantap tiramisu lagi. Kami makan dalam

diam. Aku tidak tahu harus berkata apa, sedangkan aku yakin Reilley tidak berani

berkata-kata lagi karena takut akan mengucapkan kata-kata yang salah. Mencoba

membuat suasana jadi lebih santai, aku berkata, “Apakah kamu berencana

menginap di sini atau kamu akan pulang ke Wilmington?”

Kulihat Reilley menelan ludah sebelum menjawab, “Itu tergantung kamu.”

“Maksud kamu?” tanyaku bingung.

“Apakah kamu akan mengambil semua selimutnya?” Wajah Reilley terlihat

serius sampai kedua alisnya terangkat.

Did I do that?” tanyaku, sambil tertawa.

You sure did,” balas Reilley dengan jenaka. Dia kelihatannya juga sedang

berusaha mencairkan es, yang tiba-tiba muncul di antara kami berdua.

“Saya janji nggak akan mengambil semua selimutnya,” ucapku, sambil

tersenyum.

“kalau begitu, saya akan menginap di sini malam ini.”

Aku mengangguk, dalam hati bersyukur aku sudah menyempatkan diri

mengganti seprai. Kami lalu menumpahkan perhatian kembali kepada tiramisu.

“Reilley,” ujarku tiba-tiba, tanpa menatap Reilley.

“Ya?” Aku bisa merasakan bahwa Reilley sedang menatapku, tetapi aku

menolak membalas tatapan itu dan memfokuskan perhatian pada sendokku.

Aku merasa agak canggung menanyakan pertanyaan yang sempat membuatku

penasaran, tetapi kuberanikan diri. “Errr... saya hanya penasaran. Kamu mimpi apa

sih dua malam yang lalu ketika kamu tidur di sini?” Aku tidak tahu mengapa aku

menanyakan ini, tetapi aku memang penasaran. Mimpi apakah yang menyebabkan

Reilley menyebutkan namaku dua kali di dalam tidurnya?

Ketika Reilley tidak menjawab juga, kutatap wajahnya.

“Pipi kamu mengapa jadi merah begitu?” tanyaku.

“Nggak ah,” balas Reilley, nadanya terdengar sedikit tajam.

“Sekarang malam semakin merah.” Aku tidak mau kalah.

“Kacamata kamu membuat kamu melihat yang nggak-nggak,” omel Reilley.

“Kamu memimpikan saya, ya?” Aku tidak memberi Reilley kesempatan

menghindar dariku.

“Lho, kok omong begitu?”

“Kamu menyebut nama saya.” Reilley menggeram. Ketika Reilley tidak juga

mengatakan apa-apa, kutambahkan, “Dua kali.”

Reilley menutup mulutnya rapat-rapat. Dari gerakan mulutnya aku tahu dia

sedang menggigit-gigit bagian dalam bibirnya. Dia kelihatan sangat bersalah.

“Kamu menarik saya ke pelukan kamu dan nggak melepaskan lagi,” lanjutku.

I did that?” Reilley berteriak terkejut sambil menatapku.

“Ya. Saya coba melepaskan diri beberapa kali, tetapi kamu kelihatannya capek

sekali dan saya nggak ingin membangunkan kamu... well, akhirnya saya jadi

ketiduran setelah beberapa menit... di atas tempat tidur... di dalam pelukan kamu.”

Reilley menatapku dengan mata terbelalak. Melihat reaksinya, aku curiga dia

sudah salah paham. “Saya harap kamu nggak berpikir saya sengaja dekat-dekat

dengan kamu,” ucapku tegas.

“Nggak. Tentu saja nggak, meskipun ketika saya bangun saya memang

bertanya-tanya bagaimana bisa kamu kok ada di pelukan saya.”

Well, sekarang kamu sudah tahu.” Aku terdiam, kemudian mengulang

pertanyaanku. “So were you?

Were I what?

“Kamu mimpi saya, ya?” balasku, tidak sabaran.

Semula Reilley seolah-olah tidak akan mengatakan apa-apa, tetapi akhirnya satu

kata keluar dari mulutnya. “Yes.”

“Oh, ya? What were you dreaming about?” Aku jadi semakin penasaran, mengapa

dia harus malu mengakui dia bermimpi tentangku.

“Banyak hal,” balasnya datar.

“Contohnya?” desakku.

“Kita bisa nggak, nggak membahas tentang ini lagi?” gerutunya.

Aku masih menunggu beberapa saat sebelum akhirnya menyerah. Tampaknya

Reilley betul-betul tidak akan menceritakan mimpinya kepadaku.

“Pukul berapa kamu harus sampai di kantor besok?” tanyaku, mengganti topik.

“Pukul berapa kamu harus berangkat kerja?” Reilley terlihat mengembuskan

napas lega dengan pergantian topik ini.

“Setengah delapan.”

“Saya berangkat bersama-sama kamu.”

Aku mengangguk, kemudian meletakkan sendok di atas meja karena perutku

rasanya sudah siap meledak.

“Apakah kamu mau tiramisu lagi?” tanya Reilley.

“Nggak. Perut saya sudah nggak bisa mencerna apa-apa lagi.”

Aku tertawa ketika Reilley tersenyum senang, dan menyapu bersih tiramisu.

Setelah semuanya ludes, ia mengangkat piring dan gelas kotor serta pyrex ke bak

cuci piring.

“Kamu tinggalkan saja semuanya di situ. Besok pagi akan saya cuci,” ucapku.

“Biar saya saja. Kamu sudah masak, saya yang cuci.” Reilley kemudian mulai

mencuci semua peralatan makan itu satu per satu.

Dia kelihatan sedikit aneh berada di dapurku yang kecil itu. Sekali lagi aku bisa

melihat perbedaan antara Brandon dan Reilley yang sangat kontras. Brandon tidak

pernah membantuku sama sekali di dapur. Dia bahkan tidak pernah menawarkan

bantuannya. Brandon tipe laki-laki yang berpendapat dapur merupakan area yang

hanya boleh dimasuki wanita. Brandon juga selalu serius, bahkan hampir tidak

pernah tersenyum. Aku mencoba mengingat-ingat terakhir kali kami bercanda, dana

ku tidak bisa mengingatnya sama sekali. Sedangkan Reilley, dia bersiul-siul sambil

mencuci piring. Dia kelihatan ceria, jenaka, dan tanpa beban. Kami pun baru saja

bercanda beberapa menit yang lalu.

“Ada lagi yang perlu dicuci?” Kudengar suara Reilley bertanya, dan aku harus

berpijak kembali ke bumi.

“Nggak ada.” Aku lalu beranjak menuju ruang TV, dan mengempaskan diriku

ke atas sofa.

Reilley menyusul, dan duduk di sebelahku.

“Kamu kelihatan capek,” komentarku.

I‟m okay, tetapi rasanya aku perlu andi, kalau kamu nggak keberatan.”

“Tentu saja nggak. Anggap saja rumah sendiri,” ucapku. Reilley menatapku

sambil tersenyum.

You gonna regret saying that,” ucapnya.

Saying what?” tanyaku bingung.

Inviting me to make myself at home in your apartment,” balas Reilley pendek.

Aku terpaksa tertawa melihat reaksi Reilley. “Saya grew up di Indonesia, Reilley.

Kami diajarkan untuk sopan kepada tamu,” jelasku.

“Jadi, kamu akan ngomong seperti itu kepada semua orang?” Reilley terlihat

bingung.

“Kira-kira begitulah.”

Reilley menatapku, seolah-olah aku orang paling aneh yang dia pernah temui.

“Kamu pasti berpikir saya sudah gila, ya?” tanyaku.

Well... nggak gila, hanya sedikit beda,” jelas Reilley.

“Kalau kamu pikir saya berbeda, tunggu sampai kamu bertemu orangtua saya.

Mereka jauh lebih parah. Semua tamu yang datang ke rumah saya nggak pernah

pulang dengan tangan kosong. Ibu saya selalu membawakan mereka makanan atau

hasil kebun kami.”

“Hasil kebun seperti apa?” Kini Reilley terlihat sedikit penasaran.

“Seringnya sih pisang atau jambu batu. Kadang-kadang kalau lagi musim

mereka akan kasih nangka atau kelapa.”

“Orangtua kamu punya buah-buahan itu di kebun mereka?” Sekarang Reilley

sudah betul-betul penasaran.

“Ya. Bapak saya memang punya bakat menanam. Dia bisa menanam apa saja

yang dia mau.”

WOW. That‟s... well... he sounds like a really cool dad.”

He is,” ujarku.

Would love to meet the guy someday,” balas Reilley, yang kemudian menguap.

“Kita lihat saja nanti. Kalau kamu sudah dating dengan saya cukup lama,

mungkin kamu bisa ketemu bapak saya,” candaku, kemudian berdiri dan menarik

Reilley. “Ayo, kamu perlu istirahat.”

Reilley berjalan bersamaku menuju kamar tidur. “Ya, itu mungkin ide yang

bagus. Dating dengan anaknya hanya untuk bertemu bapaknya. He would luuuvvv

that idea,” balasnya dengan jenaka.

Aku tertawa. Kulepaskan genggaman tangan Reilley ketika kami masuk ke

kamar tidur. “Ini baju dan handuk kamu. Sudah saya cuci. Peralatan mandi kamu

masih ada di kamar mandi where you left them.”

“Oh, makasih, ya.... Sori karena sudah meninggalkan barang-barang saya di

mana-mana. Saya agak terburu-buru waktu itu sampai lupa.”

“Nggak apa-apa. Kamu sebaiknya mandi, sudah hampir pukul sepuluh. Saya

perlu tidur sebentar lagi,” ucapku, dan melangkah ke luar kamar tidur.

9

Undangan

SETELAH hari itu, akhirnya Reilley secara tidak resmi tinggal di apartemenku kalau

dia sedang berada di North Carolina. Meskipun aku masih tetap berkencan dengan

orang lain bila Reilley kebetulan sedang tidak ada bersamaku, Reilley tidak pernah

menanyakan hal itu sehingga aku berkesimpulan dia juga melakukan hal yang

sama. Aku kadang bertanya-tanya dalam hati, bagaimana dia bisa meluangkan

waktunya untuk berkencan dengan orang lain di sela-sela pekerjaannya dan

kebersamaannya denganku. Setelah satu bulan menghabiskan waktu dengannya,

aku mulai merasakan hubunganku dengannya sudah menjurus ke arah yang lebih

serius dibandingkan dengan hanya kencan biasa. Namun demikian, mengingat

Reilley tidak mengatakan apa-apa yang bisa mengkonfirmasikan perasaanku, aku

pun memutuskan untuk diam.

Pada awal bulan Februari, Reilley membuat kejutan dengan memintaku

menghabiskan akhir minggu untuk merayakan hari Valentine dengannya di

Wilmington. Dia bahkan rela datang menjemputku Jumat malam, dan mengantarku

pulang hari Minggu. Aku tahu, ini tindakan wajar bagi laki-laki yang ingin

mengenalku lebih jauh, dan untuk menunjukkan siapa dirinya sebenarnya.

Orangtuaku selalu berkata, kalau kita ingin menilai seseorang tempat terbaik

untuk melakukannya adalah dari rumahnya. Mobil atau pakaian tidak bisa

dijadikan patokan karena itu hal pertama yang bisa dilihat oleh orang lain, dan

kebanyakan orang biasanya akan mengutamakan penampilan luar mereka terlebih

dahulu. Aku tidak tahu mengapa Reilley tiba-tiba mengundangku melihat

rumahnya. Apakah dia memang sudah betul-betul serius denganku?

Ketika kutanyakan hal ini kepadanya, jawabannya hanya, “Kita sudah dating

selama sebulan. Kamu tahu segala sesuatunya tentang saya. Saya menghabiskan

hampir setiap malam di apartemen kamu. Kamu sudah bertemu keluarga saya, dan

sekarang saya ingin kamu melihat rumah saya.”

Kami sedang duduk santai di sofa, di apartemenku pada hari Minggu siang.

Reilley sedang memijat kakiku yang terjulur ke atas pangkuannya. Satu hal lagi

yang tidak pernah dilakukan Brandon. Biasanya aku yang akan kebagian memijat

daripada dipijat.

“Seperti yang kamu bilang, kita kan baru dating selama sebulan.” Aku tetap

bersikeras menunjukkan keputusannya mengundangku ke Wilmington masih

terlalu dini.

“Kita sudah dating „secara serius selama sebulan.” Reilley mengganti pilihan

kata-katanya dengan memberikan penekanan pada kata “serius”.

“Apakah kita sebegitu seriusnya?”

“Kalau saya nggak superserius dengan kamu, saya mungkin sudah ML dengan

kamu pertama kali saya tidur di tempat tidur kamu.”

WHAAATTTTT?!” teriakku, sambil berusaha duduk tegak. Usaha yang snagat

sulit dilakukan karena kedua kakiku masih ada di pangkuan Reilley.

“Sori, saya seharusnya nggak kasih tahu kamu soal itu, tetapi saya nggak tahu

bagaimana lagi caranya meyakinkan kamu,” ucap Reilley.

“Kamu pernah ML dengan perempuan hanya setelah date pertama?” Kutarik

kakiku dari pangkuan Reilley, dan duduk bersila di atas sofa.

Reilley kemudian terlihat serius ketika menjelaskan maksudnya. “Beberapa dari

mereka bahkan cukup antusias soal itu. Sori, saya seharusnya nggak menyalahkan

mereka.”

You bet your ass you shouldn‟t,” omelku.

Okay, if it‟s any comfort to you I haven‟t done that in a while now.”

Melihat ekspresiku yang sedang mengerlingkan mata, Reilley menyumpah,

Shit... that came out wrong.” Dia terdiam sejenak sambil menghadapku, keningnya

berkerut karena sedang berpikir keras. Aku menunggunya memberikan penjelasan.

“Yang saya ingin katakan, sebenarnya saya jarang dating karena susah untuk

meet women dengan jam kerja saya,” lanjutnya.

I don‟t believe that,” ucapku datar.

Well, believe it.”

Reilley, have you looked in the mirror lately?”

What does that have anything to do with this?”

It has everything to do with this. Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya.

Kamu ini „hot dengan huruf besar untuk „H-nya. Perempuan bakal dating bahkan

tidur dengan kamu tanpa perlu kamu minta,” jelasku.

“Kalau saya bertemu dengan mereka di bar mungkin,” gerutu Reilley pelan,

tetapi aku bisa mendengarnya.

“Kamu pernah tidur dengan perempuan yang kamu temui di bar?!” teriakku

terkejut.

“Ya, nggaklah.” Reilley terdengar betul-betul tersinggung. “Apakah kamu

bersedia tidur dengan laki-laki yang kamu temui di bar?”

“Jelas-jelas nggak,” balasku, tidak kalah tersinggungnya.

Kulihat Reilley menatapku sambil memicingkan matanya, kemudian dia loncat

dari sofa dan menyumpah sekeras-kerasnya. “HOLY SHIT! Kamu masih perawan!”

Aku menatap Reilley bingung, kemudian berkata, “Tentu saja saya masih

perawan. Itu nggak ada hubungannya dengan diskusi kita.” Aku tidak pernah

menyembunyikan status keperawananku kepada siapa pun. Aku bangga menjadi

wanita yang akan mengeksplorasi kemampuan seksualnya hanya dengan suaminya

kelak.

“Oh... apa kamu ingin saya beri tahukan fakta mengapa itu sangat berhubungan

dengan diskusi kita ini?” Tanpa menunggu jawaban dariku, Reilley melanjutkan

dengan berapi-api. Kedua tangannya melayang ke mana-mana, dan dia berjalan

bolak-balik di hadapanku. “Kita sudah tidur sama-sama selama sebulan. Saya sudah

menciumi kamu seperti orang gila, dan kamu juga menciumi saya balik. Satu hal

lagi... tanpa sepengetahuan kamu, saya sudah memimpikan kamu naked semenjak

pertama kali kita tidur sama-sama.”

Aku hanya bisa megap-megap seperti ikan maskoki ketika mendengar kata-kata

Reilley. “Kamu mau tahu apa yang saya mimpikan pada malam ketika saya

menyebut nama kamu?” tanyanya.

Untungnya Reilley sudah berhenti bergerak sehingga aku bisa memfokuskan

perhatianku pada wajahnya. Aku mengangguk.

We were having sex,” teriaknya. ”Great sex. Mind blowing sex like you wouldn‟t

believe,” sambungnya.

Ketika aku masih juga tidak bereaksi, Reilley melanjutkan. “It doesn‟t help that

when I woke up your backside is practically up against my hard dick.”

Aku menarik napas terkejut, dan harus menutup mulutku dengan tangan. Aku

tahu bahwa wajar sekali bagi laki-laki ketika bangun tidur alat genitalnya

memperlihatkan seperti sedang terangsang, tetapi akut idak tahu bagaimana harus

bereaksi jika penyebab dari keadaan itu adalah diriku. Perlahan-lahan aku mulai

ingat apa yang Reilley katakan pagi itu. Aku langsung merasa kasihan kepadanya,

ternyata ia telah “menderita” karenaku.

“Sebetulnya, saya bangun lebih cepat pagi itu. Akhirnya jadi telat karena saya

harus mandi lebih lama... dengan air dingin.” Reilley lalu duduk di hadapanku, dan

menggenggam wajahku di antara kedua telapak tangannya. “Nah, sekarang apakah

kamu mengerti mengapa status... keperawanan kamu sangat berhubungan dengan

diskusi ini ataupun diskusi lainnya nanti?” Meskipun Reilley mengalami masalah

ketika mengatakan kata “keperawanan”, suaranya cukup stabil dan halus.

Aku harus menelan ludah, baru kemudian mengangguk. Reilley melepaskan

genggamannya pada wajahku, dan menyandarkan tubuhnya pada bantal sofa.

“Apakah ini berarti kamu nggak akan tidur satu tempat tidur dengan saya

lagi?” candaku.

“Saya... saya nggak tahu. Apakah kamu keberatan kalau kita tetap tidur

bersama-sama?” Reilley menatapku ragu.

Aku mengangguk. “Selama memang itu saja yang kita rencana akan lakukan.”

“Bukan itu yang saya rencanakan, tetapi itulah yang saya akan lakukan,” tegas

Reilley.

Sekali lagi aku mengangguk. Reilley lalu mengernyit. Aku tahu dia ingin

menanyakan sesuatu kepadaku, tetapi tidak tahu bagaimaan mengungkapkannya.

What do you want to ask me, Reilley?” tanyaku.

I don‟t think I should be asking this. Kayaknya nggak sopan, dan kamu nggak

usah merasa perlu...,” Reilley mencoba menjelaskan.

“Apa pertanyaannya?” potongku.

“Keputusan kamu tidak ML, sampai kamu menikah. Apakah itu karena

budaya? Agama atau...?” Reilley tidak bisa menyelesaikan pertanyaannya.

Ini bukan yang pertama kalinya aku harus menjelaskan prinsipku. Aku menarik

napas panjang sebelum memulai. “Sebetulnya, ada beberapa alasan mengapa saya

kuat memegang prinsip itu. Dalam budaya Asia memang tabu ML di luar nikah,

tetapi banyak orang masih melakukannya. Dari sudut agama, saya rasa setiap

agama menganjurkan supaya hubungan seksual dilakukan setelah pernikahan, dan

lebih baik jika tidak dipertontonkan kepada orang ramai.” Kukedipkan mata

kananku ketika mengatakan hal ini.

“Bagi saya,” lanjutku, “pendapat keluarga saya mengenai hubungan seksual

antara laki-laki dan perempuan bisa dibilang agak kolot. Orangtua saya nggak

pernah benar-benar membahas tentang itu, tetapi kami memiliki pemahaman yang

sama tentang hal tersebut.”

Reilley mendengarkan penjelasanku dengan seksama. “Apakah kamu nggak

pernah penasaran tentang seks? Maksud saya, seks adalah kebutuhan manusia yang

paling dasar,” komentarnya.

Aku tertawa. “Saya berbohong kalau berkata saya tidak penasaran tentang itu,

tetapi ada banyak cara untuk menjawab rasa penasaran itu.”

“Contohnya?”

Are you seriously asking me this question?

“Ya. Saya kehilangan keperjakaan saya ketika berumur enam belas tahun

dengan seorang cewek bernama Tara. Dia seorang senior dan „hot sekali. Kami

nggak bisa lepas satu sama lain selama sebulan penuh. Dengan berbagai tawaran

hormon dan obat vitalitas yang merajalela, we can‟t keep our hands off each other for

long. Jadi, saya nggak mengerti bagaimana kamu bisa tetap menjadi perawan sampai

selama ini.”

Mau tidak mau aku tertawa. “Kok hanya sebulan?” tanyaku penasaran.

“Dia lulus dan pindah ke luar kota. Saya nggak pernah bertemu dengannya lagi

setelah itu.” Reilley tersenyum ketika menjawab pertanyaanku. “Anyway, back to you.

Bagaimana kamu... memuaskan rasa penasaran kamu?”

“Kamu pernah tahu buku yang berjudul Kama Sutra?”

“Kamu belajar tentang seks dari Kama Sutra?” Reilley terlihat terkejut, bahkan

tidak percaya.

“Oke... mengapa sih setiap kali saya bilang ke laki-laki bahwa saya tahu

tentang... tentang... sastra untuk orang dewasa, mereka selalu memandang saya

seperti ini? Reaksi Brandon juga sama seperti kamu. Eh, bukannya kamu ada di sana

ketika saya bertengkar dengan Brandon? Kami kan membicarakan tentang statusku

sebagai perawan, tetpai mengapa kamu kelihatan kaget ketika saya

menyinggungnya lagi beberapa menit yang lalu?”

“Saya memang ada di sana, tetapi saya nggak bisa mendengar semuanya. Lagi

pula, saya ingin memberikan kamu sedikit privacy. Kamu ingat kan saya seharusnya

nggak ada di sana?”

“Oh, benar juga.” Penjelasan Reilley memang masuk akal.

“Untuk menjawab pertanyaan kamu yang pertama. Saya kaget karena...

karena...”

“Karena saya orang Asia dan masih perawan, dan seorang perawan seharusnya

buta tentang hal-hal seperti ini. Apakah itu yang akan kamu katakan?” Aku

mencoba membendung kejengkelanku. Ternyata bukan hanya Brandon yang

berpendapat seperti itu, Reilley juga.

“Di antaranya,” ucap Reilley dengan hati-hati.

“Ada alasan lainnya?” Suaraku sudah semakin meninggi.

Well... you also look so sweet dan pendiam. Saya nggak yakin bila perempuan

seperti kamu akan menikmati hal-hal seperti itu.”

“Eh, saya kasih tahu ya tentang kami, para perempuan yang „sweet dan

„pendiam,” aku sengaja memberikan penekanan pada dua kata sifat itu, “sekali-kali

kami juga menikmati sesuatu yang romantis dan sedikit edgy.”

“Saya pernah menonton film Kama Sutra, nggak ada yang romantis tentangnya

sama sekali. Itu cerita tragedi,” komentar Reilley.

“Saya juga pernah menonton film itu, dan menurut saya itu romantis,” balasku.

“Kalau kamu pikir bahwa film itu romantis, kamu jelas-jelas punya opini

tentang romantisme yang agak nggak wajar.”

“Oke. Menurut kamu apa yang menjadikan sebuah cerita itu romantis?”

tantangku.

“Oh, coba saya pikir... mungkin sebuah cerita yang nggak berakhir dengan

KEMATIANi, salah satu karakter utamanya,” jawab Reilley, sambil menekankan

kata „KEMATIAN.

“Jadi, bisa saya simpulkan kamu bukan fansnya Romeo and Juliet, ya?” Kalau

sampai Didi tahu aku sedang membela Shakespeare, dia mungkin akan tertawa

sampai keluar air mata. Didi tahu, pemahamanku tentang romantisme jauh berbeda

dengan norma umum. Ketika aku berkata bahwa Maria dan Kapten Von Trapp

adalah pasangan paling romantis yang pernah aku lihat, Didi tidak bisa berhenti

tertawa selama berhari-hari.

Hell, no. Itu cerita paling goblok yang pernah ditulis. Hanya perempuan saja

yang akan berpendapat bahwa cerita itu romantis.

“Kamu sadar kan Shakespeare itu laki-laki?”

“Saya juga yakin dia gay,” balas Reilley.

“Shakespeare bukan gay. Dia laki-laki yang sangat sweet dan tahu cara

melelehkan hati wanita,” bantahku.

“Dia tahu cara membuat mereka menangis sampai seember,” gerutu Reilley.

“Oke, kok kita berdebat tentang ini sih?”

Reilley terdiam sejenak, kemudian berkata,” I seriously have no idea.” Dia

kemudian tertawa terbahak-bahak. Mau tidak mau aku pun tertawa setelah

menyadari hal ini.

“Kita tadi sedang bicara tentang apa sih? Kok tahu-tahu akhirnya kita diskusi

tentang ini?” tanya Reilley, setelah tawanya reda.

Aku mencoba berpikir sejenak, “I have no idea,” ucapku akhirnya, yang langsung

disambut tawa kami berdua lagi. Aku lalu menyandarkan tubuhku di dadanya.

Reilley langsung mengangkat tangannya untuk memeluk bahuku dan mencium

keningku.

“Apakah kamu ada alasan tertentu, mengapa kamu nggak mau pergi ke

Wilmington?” bisiknya.

Aku menarik napas panjang, dan menggeleng.

“Apakah kamu nggak ingin melihat rumah saya?” bisik Reilley lagi.

Aku sebetulnya sangat ingin melihat rumahnya. Aku hanya khawatir

bagaimana menghabiskan waktu dua hari dua malam bersamanya di rumahnya itu.

Sekali lagi aku menggeleng.

Is it me then?” Suara Reilley terdengar putus asa. Aku bisa merasakan tubuh

Reilley menegang menunggu jawabanku.

It‟s not you,” jawabku, dan aku bisa merasakan Reilley mengembuskan napas

lega.

“Saya ingin kamu pergi ke Wilmington dan melihat rumah saya karena saya

cinta rumah itu. Ukurannya kecil, putih, dan dekat pantai. Itu satu-satunya tempat

di mana saya bisa merasa damai. I just want to share that with you.”

Setelah mendengar penjelasan seperti itu tentunya aku tidak mampu menolak

undangannya, meskipun aku tetap merasa belum siap. Mengundang laki-laki

menginap di rumahku masih tergolong tidak berbahaya karena mereka berada di

daerah kekuasaanku, tetapi menginap di rumah laki-laki yang baru aku kenal

selama satu bulan membuat perasaanku tidak nyaman. Satu bulan? Baru selama

itukah aku mengenal Reilley? Mengapa aku merasa seperti sudah mengenalnya

selama bertahun-tahun? Aku mencoba mencari penjelasan atas keraguanku

menerima undangan Reilley, tetapi aku tidak bisa menemukan alasan yang masuk

akal.

* * *

Pada hari Sabtu (akhirnya aku mengambil keputusan berangkat hari Sabtu pagi

bukan Jumat malam, dengan begitu aku hanya akan menginap satu malam di

rumah Reilley), tanggal 14 Februari, pukul sebelas siang aku melangkahkan kaki

memasuki sebuah rumah pinggir pantai paling cantik, yang aku pernah lihat

sepanjang hidupku. Seperti pada umumnya rumah yang berada di tepi pantai,

rumah ini juga merupakan rumah panggung satu lantai dengan teras berpagar yang

berlantaikan kayu. Ada ayunan yang bisa diduduki dua orang di satu sisi teras itu,

dan dua kursi serta sebuah meja yang terbuat dari kayu bercat putih di sisi lainnya.

Udara yang meskipun dingin segar berembus dari pantai. Aku menarik napas

dalam-dalam.

Ketika aku melangkah masuk ke dalam rumah itu aku melihat ruang TV ada di

sebelah kanan, dengan sofa putih yang kelihatan sangat nyaman diduduki. TV

plasma berukuran super-besar menempel pada dinding, di bawahnya ada DVD-CD

player berteknologi tinggi. Di sebelah kiri ada meja makan untuk enam orang, yang

terbuat dari kayu bercat putih dan ditutupi taplak yang terbuat dari karung goni

berwarna putih pudar dengan garis-garis biru. Di sebelah ruang makan itu ada

dapur terkomplet yang aku pernah lihat. Ada microwave/oven, kompor dengan

empat tungku yang dilengkapi dengan panggangan, dua bak cuci piring, sebuah

pencuci piring otomatis, dan lemari es dua pintu. Segala sesuatunya dalam rumah

itu berwarna putih dan biru tua.

Reilley mengajakku melihat kamar tidur utama, yang memiliki tempat tidur

terbuat dari kayu antik berwarna cokelat tua dengan empat buah tiang di setiap

sudutnya. Satu sisi kamar itu terbuat dari kaca dengan sebuah pintu geser menuju

ke teras terbuka, yang memiliki tangga untuk turun langsung ke pantai. Aku

melongokkan kepalaku ke dalam kamar mandi, ada dua wastafel dan bathtub yang

cukup untuk empat orang. Ada juga shower superbesar melengkapi satu sisi kamar

mandi itu.

Reilley meletakkan tasku di atas sebuah meja, di sebelahnya aku melihat pintu

menuju sebuah lemari walk-in. Aku baru menyadari bahwa semua lantai rumah

tersebut terbuat dari ubin tanah liat, tetapi kamar tidur ini terbuat dari lantai kayu.

Aku lalu berjalan menuju pintu kaca.

This is beautiful,” ucapku, sambil mendorong pintu geser itu ke kiri dan

melangkah ke luar ke teras.

Kuletakkan tanganku di atas pagar teras dan menarik napas dalam.

I‟m glad you like it.” Reilley langsung melingkarkan lengan kirinya pada

pinggangku.

“Kamu sudah berapa lama punya rumah ini?” Mataku menyapu pantai yang

kelihatan sepi. Hanya ada beberapa orang yang sedang berjalan-jalan karena udara

masih terlalu dingin untuk berenang.

“Saya membelinya dua tahun lalu dari sepasang kakek-nenek yang

memutuskan pindah ke Florida karena mereka nggak tahan lagi cuaca yang dingin.”

“Sepi dan damai sekali di sini. Apa selalu seperti ini?”

“Biasanya ramai kalau musim panas waktu liburan sekolah dan cuacanya tidak

terlalu dingin, tetapi biasanya ya memang seperti ini sepanjang tahun.”

Kusandarkan kepalaku pada dada Reilley, dan menutup mataku. Kurasakan

Reilley mengeratkan pelukannya, dan meletakkan dagunya di atas kepalaku.

“Kamu sedang berpikir apa?” tanyanya.

“Aku sedang berpikir, sekarang aku tahu mengapa orang punya rumah pantai.

Tempat ini cocok untuk bersantai dan melarikan diri dari kesibukan.”

“Kedengarannya puitis sekali.”

Aku tertawa. “Mungkin udara pantai sudah mengacaukan otakku.” Reilley pun

tertawa mendengar balasanku. Kami lalu terdiam, dan menikmati keheningan

ditemani bunyi deburan ombak yang teratur serta teriakan burung camar yang

tinggi melayang.

Tiba-tiba aku teringat lagu Burung Camar, yang didendangkan Vina

Panduwinata. Aku mencoba mengingat liriknya.

Burung camar, tinggi melayang

Bersahutan di balik awan

Aku tidak bisa ingat lagi kata-katanya selain dua baris itu. Tiba-tiba Reilley

bertanya, “Kamu sedang nyanyi apa?”

“Aku nyanyi?” Aku membuka mataku kembali. Aku tidak menyadari kalau aku

sudah mengeluarkan suara ketika menyanyikan lirik lagu itu.

You were humming. Lagu apa?”

“Lagu lama penyanyi Indonesia. Lagunya tentang burung camar,” jelasku.

“Saya nggak pernah dengar kamu omong dalam bahasa Indonesia sebelumnya.

Bisa kamu nyanyikan lagu itu untuk saya?”

“Kamu sudah pernah dengar saya berbicara dalam bahasa Indonesia kalau saya

mengobrol dengan adik saya di telepon. Saya nggak bisa menyanyikan lagu itu

untuk kamu, saya nggak ingat liriknya,” balasku.

“Saya nggak pernah bisa menangkap kata-katanya kalau kamu sedang

mengobrol dengan adik kamu. Kamu omongnya terlalu cepat, dan kadang-kadang

dicampur dengan bahasa Inggris. Saya selalu berpikir, bagaimana kamu bisa gontaganti

bahasa segampang itu,” ucap Reilley.

Well, saya juga nggak mengerti kalau kamu sudah mulai omong dalam bahasa

Prancis. Jadi, kita impas,” ujarku, mengganggu Reilley. Aku tahu Reilley ingin sekali

belajar bahasa Indonesia agar dia bisa memahami percakapanku dengan Didi, tetapi

aku selalu menolak mengajarinya karena aku tidak mau dia tahu bahwa biasanya

topik utama pembicaraanku dengan Didi adalah dirinya.

“Suatu hari nanti saya akan telepon adik kamu dan minta dia mengajari saya

lewat telepon,” gerutu Reilley.

“Kamu sudah lapar belum?” tanyaku, sengaja mengganti topik.

Reilley mengembuskan napasnya sebelum menjawab, “Starving,” sambil

menundukkan kepalanya, dan mulai menciumi leherku. Setelah mengenal Reilley

selama enam minggu ini, aku tahu dia agak sedikit terobsesi dengan leherku.

Menurut dia, leherku bagian dari tubuhku yang paling seksi, selain bibirku

tentunya.

Saat itulah kulihat seseorang melambaikan tangannya kepada Reilley, kemudian

bergegas mendekati kami. Ada sesuatu yang familiar dengan wajah orang itu. Aku

tahu, aku pernah bertemu dengannya sebelum ini. Di mana, ya? Aku langsung

menyikut Reilley agar menghentikan apa yang sedang dilakukannya. Aku tidak

akan pernah terbiasa dengan kebiasaan orang-orang Barat untuk mempertontonkan

hubungan cinta mereka kepada semua orang.

Someone‟s coming,” bisikku.

So?” Bibir Reilley masih menempel pada leherku.

So you need to stop. Ini nggak sopan,” jelasku.

“Kata siapa?”

“Kata siapa,” geramku.

“Kalau saya berhenti, would you allow me to explore your neck further later?

Aku tidak percaya kami sedang bernegosiasi tentang ini. “Fine.”

Reilley pun mengangkat bibirnya dari leherku, dan mengalihkan perhatiannya

kepada laki-laki yang sedang berjalan mendekati.

Hey, man, I don‟t know you‟re back,” ucap laki-laki itu, sambil menaiki tangga.

Just for the weekend. Jack, this is Titania.” Reilley memperkenalkan diriku kepada

temannya itu.

Hello, I‟m Jack,” ujar laki-laki itu, sambil mengulurkan tangannya.

“Titania,” balasku, dan menjabat tangan Jack yang kelihatan seperti panda.

PANDA!!! “Oh, my God.” Tanpa aku sadari, aku sudah mengucapkan kata-kata itu.

Khawatir bahwa genggaman tangannya terlalu keras, Jack langsung melepaskan

tanganku. “Titania, ada apa?” tanya Reilley khawatir.

Aku tidak menghiraukan Reilley, dan mengajukan pertanyaanku kepada Jack.

“Apakah kamu pernah menonjok orang di restoran di Winston sekitar sembilan

bulan yang lalu?”

Kulihat Jack memicingkan matanya sebelum menjawab, “Ya, pernah. Itu

tonjokan yang paling pantas saya berikan sepanjang hidup saya.”

Kulihat Reilley menatapku bingung. Kemudian tiba-tiba dia berkata, “Nggak

mungkin... kamu....”

Feisty little lady,” ucap Reilley dan Jack bersamaan, kemudian tertawa terbahakbahak.

Kini giliranku yang menatap mereka berdua dengan bingung. Mengapa mereka

tertawa?

“Bagaimana bisa sih saya nggak mengenali kamu sebelumnya.” Reilley

mengatakan hal ini dengan wajah terkesima sambil menggeleng.

“Rambutnya lebih pendek sekarang,” ucap Jack.

“Dia pakai kacamata hitam hari itu,” lanjut Reilley. “Dia juga kelihatan lebih

kecil hari itu,” sambung Reilley.

“Dia nggak pakai sepatu hak waktu itu,” balas Jack.

“Oke, kalain berdua sedang membicarakan apa sih?” tanyaku, mulai sedikit

jengkel karena mereka jelas-jelas sedang membicarakan diriku, seakan-akan aku

tidak berada di situ. Reilley menatapku sambil tersenyum.

She still feisty I give you that,” ucap Jack lagi.

Yep,” balas Reilley.

“Apakah laki-laki itu masih mengganggu kamu lagi setelah hari itu?” tanya Jack

kepadaku.

“Sayangnya, ya,” balasku pendek karena masih terlalu kesal untuk mengatakan

apa-apa lagi.

She kicked him in the balls the second time,” sambar Reilley.

“Oh, ya?” Jack terdengar kagum sambil menatapku. “Baguslah. Dia pantas

menerimanya,” lanjutnya.

“Apa maksud kamu ketika berkata kamu tidak mengenali saya sebelumnya?”

tanyaku kepada Reilley.

“Aku laki-laki yang menanyakan, apakah kamu baik-baik saja,” jawab Reilley

enteng.

WHAAATTTT?

“Hei, aku musti pulang nih. Istriku menunggu untuk makan siang sama-sama.

I‟ll see you both of you around,” ucap Jack, sambil menepuk bahu Reilley. Mungkin ini

hanya perasaanku saja, tetapi kelihatannya dia mengedipkan mata kanannya

kepada Reilley.

Nice to meet you... again,” ujar Jack kepadaku, kemudian menuruni tangga dan

berjalan menuju arah kanan.

Begitu Jack hilang dari pandangan, aku langsung menarik Reilley masuk ke

dalam rumah.

“Kamu laki-laki yang pakai topi baseball?” teriakku. Ternyata ketika Reilley

mengatakan, “It was my pleasure,” setelah membantuku mengganti ban mobilku

memoriku langsung bisa mengingat kembali kata-kata yang diucapkan Jack, “It was

our pleasure,” setelah membantuku mengatasi Brandon hari itu. Tidak disangkasangka

ternyata aku sebetulnya telah bertemu dengan Reilley sembilan bulan yang

lalu.

“Topi baseball? Saya nggak ingat kalau saya pakai topi hari itu,” balas Reilley

sambil nyengir.

“Saya ingat,” omelku. “Saya ingat Jack karena dia mengingatkan saya pada

seekor panda. Berkaitan dengan kamu, karena saya nggak bisa lihat wajah kamu,

maka saya hanya ingat kamu pakai topi baseball Wake Forest,” lanjutku.

“Menurut kamu, Jack mirip panda?” Reilley kelihatan sangat terhibur dengan

arah percakapan ini.

“Ya, matanya dalam dan dia agak... tunggu sebentar, are you trying to distract

me?”

Is it working?” Reilley menarikku ke dalam pelukannya. Punggungku

bersandar pada dadanya.

“Nggak!!! Saya perlu... ahhh....” Reilley sudah menenggelamkan wajahnya di

leherku, dan aku tidak bisa berpikir lagi.

“Kamu perlu apa?” Tangan kanannya sudah menyentuh payudaraku.

“Saya... ahhh....” Reilley sedang mengelus payudaraku. Tanganku kemudian

naik dan menarik kepala Reillely lebih membungkuk. Kusandarkan kepalaku pada

bahunya dan kudekatkan bibir Reilley pada bibirku.

Reilley menggeram, dan memutar tubuhku sehingga dadaku menempel pada

dadanya. Aku tidak tahu bagaimana kami sampai di kamar, tahu-tahu aku sudah

ada di atas tempat tidur dan tubuh Reilley sedang menekan seluruh tubuhku di atas

kasur.

“Titania,” ucapnya pelan, dan perlahan-lahan tangannya masuk ke balik sweaterku.

Salah satu dari kami biasanya langsung berhenti sampai di situ saja, tetapi tidak

hari ini. Tangan Reilley terus naik melewati perutku, sementara lidahnya sedang

mengeksplorasi mulutku. Otakku berteriak aku harus berhenti, tetapi bukan

menghentikan Reilley aku justru menarik kepala Reilley ke arahku agar aku bisa

menciumnya lebih dalam. Tangan Reilley meraba punggungku, dan melepaskan

kait BH-ku.

I need to touch you,” bisik Reilley. Aku hanya mendesah. Tanpa ada kain sehelai

pun di antara telapak tangannya dan kulitku, aku bisa merasakan efek penuh

sentuhan kulitnya yang agak kasar pada kulitku. Sentuhan itu membuatku sulit

bernapas. Tidak ada laki-laki mana pun yang pernah aku perbolehkan

menyentuhku seperti ini, bahkan Brandon pun tidak.

Oh, my God,” ucapku, dan menarik sweater Reilley. Aku mulai mengeksplorasi

punggungnya di balik sweater itu. Aku bisa merasakan otot-otot yang menegang

beberapa detik, kemudian relaks dan menerima sentuhanku. Punggung Reilley

terasa halus di bawah telapak tanganku. Kemudian aku menarik tanganku dan

pindah ke dada Reilley. Lalu pada satu detik aku bisa merasakan tangan Reilley

sedang mencoba membuka kancing celana jeans-ku, dan pada detik selanjutnya

Reilley sudah menghilang dari hadapanku. Meninggalkanku dengan napas yang

memburu, dan otak yang terlalu beku untuk memikirkan apa yang sedang terjadi.

Perlahan-lahan aku bangun dari posisi tidurku, dan melihat Reilley sedang

berdiri dengan napas terengah-engah sekitar lima meter dariku. Dia sedang

menatapku sambil mengerutkan dahinya.

“Sori, saya seharusnya berhenti,” ucapku pelan.

“Nggak, saya yang seharusnya berhenti,” balas Reilley pendek. Ekspresi di

wajahnya terlihat antara marah, bingung, dan penasaran.

Aku ingin menghapus ekspresi itu dari wajahnya dengan pelukanku. Aku lalu

melangkah turun dari tempat tidur, dan berjalan ke arahnya. Akan tetapi, ketika aku

berjalan satu langkah mendekatinya, Reilley mundur selangkah juga. Aku tahu

mungkin Reilley hanya sedang mencoba mengontrol emosinya. Oleh karena itu, dia

tidak bisa terlalu dekat denganku pada saat ini, tetapi tindakannya tetap membuat

perutku tiba-tiba mual. Dia membuatku merasa seolah-olah ini semua salahku,

akulah penyebab mengapa dia begini.

I‟ll just get out of your way then,” ucapku, lalu berjalan menuju kamar mandi.

Reilley tidak mencoba menarikku ke pelukannya, dan menjelaskan ini semua bukan

salahku seperti yang aku harapkan. Dia membiarkanku melangkah pergi.

Kukunci pintu kamar mandi, duduk di atas toilet, dan menenggelamkan

wajahku di kedua telapak tanganku. Aku sudah siap menangis. Bagaimana

mungkin hari yang dimulai dengan sangat menjanjikan menjadi seperti ini? Kami

bahkan belum berada di rumah ini selama stau jam, dan kami sudah melalui situasi

yang tidak mengenakkan. Selama enam minggu bersamanya, inilah pertama kalinya

kami bertengkar. Ini bahkan tidak bisa dikategorikan sebagai suatu pertengkaran

karena tidak ada satu pun dari kami yang berteriak-teriak. Kalau begitu, mengapa

ini justru membuat hatiku menjadi semakin gelisah?

Aku lalu menyadari, ternyata Reilley telah menanggalkan kait BH-ku dan

kancing celana jeans-ku. Buru-buru kupasang kembali kait dan kancing itu, dan

berdiri mencuci mukaku di wastafel. Karena wastafel itu lebih tinggi daripada

wastafel yang ada di apartemenku, aku terpaksa berjinjit agar bisa membungkukkan

tubuhku di atasnya ketika mencuci muka tanpa membasahi bajuku. Setelah

mengusap wajahku dengan handuk, aku lalu merapikan wajahku di depan cermin.

Sudah biasa bagi orang yang sedang pacaran bertengkar, kucoba meyakinkan

diriku. Kutegakkan bahuku, dan melangkah ke luar kamar mandi. Kulihat Reilley

sudah menghilang dari kamar tidur. Aku pun berjalan ke luar kamar, dan melihat

Reilley sedang berdiri di dapur. Perlahan-lahan aku mendekatinya. Reilley kelihatan

serius sambil menatap karton telur yang ada di hadapannya, seakan-akan dia tidak

mendengar langkahku.

“Kamu nggak bisa menggodok telur dengan mata kamu, Reilley,” komentarku,

seceria mungkin.

Kulihat Reilley tersentak karena kaget. Aku berpura-pura tidak melihat

reaksinya itu, dan mengambil karton telur dari hadapannya.

“Kita bisa bikin omelet,” ucapku, masih dengan nada ceria.

Sure,” balas Reilley. Dia kelihatan terkejut mendengar nadaku yang ceria.

“Apakah ada makanan lain yang bisa dimakan dengan telur?” Kupaksa mataku

menatapnya.

“Kayaknya... saya nggak tahu juga... Sudah lama saya nggak ada di rumah,”

ucapnya tergagap. Reilley lalu berjalan menuju lemari es.

“Apa yang kamu punya di dalam sana?” tanyaku.

“Mentega, keju, tomat, susu, tunggu... lupakan susunya, soalnya sudah

kadaluarsa beberapa hari yang lalu. Itu saja,” jawab Reilley, sambil melemparkan

botol susu yang masih setengah penuh ke dalam tempat sampah.

Aku mulai menurunkan wajan dari gantungannya di atas kompor. Sekali lagi

aku harus berjinjit untuk mencapainya. Kompor itu juga lebih tinggi daripada

kompor normal.

“Kasih ke saya semua itu,” ucapku, dan mulai membuka-buka lemari mencari

mangkuk besar yang bisa digunakan untuk mengocok telur. Kutemukan mangkuk

yang tepat pada lemari di atas tempat cuci piring. Reilley mengeluarkan mentega,

keju, dan beberapa buah tomat dari lemari es. Ia meletakkannya semua itu di

sebelah kompor.

“Kompor kamu kok tinggi sekali, ya?” tanyaku, sambil mulai memecahkan

beberapa buah telur ke dalam mangkuk.

“Apakah terlalu tinggi untuk kamu?” Reilley terdengar khawatir.

“Sedikit. Ini kan rumah kamu. Mungkin kamu merasa seperti raksasa di rumah

saya.”

Tanpa kusangka-sangka, Reilley lalu mengeluarkan sebuah stool setinggi 30

sentimeter dari lemari yang tersembunyi di sudut dapur.

“Apakah ini bisa membantu?”

Yes,” ucapku, lalu mengambil stool itu dari genggamannya. Aku

meletakkannya di atas lantai, dan naik ke atasnya. Aku langsung merasa lebih

nyaman karena sekarang kompor itu berada satu level dengan perutku.

“Apa lagi yang kamu perlukan?” tanya Reilley.

“Saya perlu pemarut keju, pisau, dan talenan,” balasku.

Dalam sekejap mata ketiga benda itu sudah ada di sampingku.

“Ada yang bisa saya bantu?” Seperti biasa Reilley selalu mencoba membantuku

memasak.

“Kamu bisa memarut kejunya ke dalam mangkuk telur, sementara saya

memotong tomat.”

Reilley langsung memarut keju cheddar itu, dan aku pun mulai memotong tomat.

Kami bekerja dalam diam.

“Apakah ini cukup?” tanya Reilley, setelah beberapa menit.

Aku melirik dan mengangguk. “Oke, biar saya yang kerjakan itu. Bisa tolong

ambil piring dan susun tomat ini di atasnya?”

Sure.” Reilley lalu berjalan menuju salah satu lemari, dan mengeluarkan dua

buah piring. Dia juga mengeluarkan dua buah garpu dari dalam laci.

Sekali lagi kuaduk telur bercampur keju, kemudian menaburkan garam dan

merica di atasnya. Kupotong sebongkah mentega dan memasukkannya ke dalam

wajam, lalu memanaskan wajan itu. Perlahan-lahan aku mulai menuangkan telur ke

atas wajan itu. Aroma keju dan telur langsung menyelimuti dapur.

That smells good,” ucap Reilley. Mau tidak mau aku langsung tertawa. Reilley

ikut tertawa bersamaku, dan cair sudah bongkahan es yang membatasi kami.

Aku membalik omelet itu untuk memastikan semua bagiannya telah matang

dengan sempurna. Seperti juga diriku, Reilley kurang suka makan makanan yang

setengah matang. Kami selalu makan makanan yang benar-benar matang atau welldone.

Aku lalu memotong telur itu menjadi dua bagian. Seperti biasa, bagian Reilley

kubuat lebih besar daripada bagianku. Aku tidak tahu di mana dia menyimpan

semua makanan itu karena meskipun makannya banyak, dia tidak pernah kelihatan

gendut. Sedangkan aku, hanya makan sedikit saja langsung harus sit-up lima puluh

kali kalau tidak mau perutku semakin buncit. Dunia ini memang tidak adil.

Reilley lalu mengangkat kedua piring itu ke meja makan.

Why don‟t you sit down. Saya ambilkan kamu minuman,” ucapnya, sambil

menatapku tajam ketika aku mencoba protes.

Aku duduk di kursi makan. Reilley meletakkan piring di hadapanku dengan

satu garpu dan satu serbet berwarna biru. Dia melakukan hal yang sama dengan

piring dan peralatan makan untuknya, kemudian berjalan menuju lemari es.

“Oke, kita ada heineken, absolute vodka, dan jus apel. Kamu mau yang mana?!”

teriaknya.

“Jus saja. Jangan pakai es,” jawabku.

Tiga puluh detik kemudian Reilley menggenggam botol jus apel di tangan

kanannya, dan satu gelas tinggi di tangan kirinya. Dia mengantongi satu botol

heineken di kantong celana jeans-nya.

Thank you,” ucapku, ketika Reilley menuangkan jus apel untukku.

No... thank you,” balas Reilley, sambil duduk di kursi makan dan membuka

botol birnya.

“Hari ini rencananya kita ingin melakukan apa?” tanyaku dan memasukkan

satu suap telur ke dalam mulutku.

Mmmhhh... I‟m thinking that we should drive to town and look around. They used to

shoot....

Dawson‟s Creek di Wilmington. Ya, saya tahu,” potongku.

“Ya. Saya rasa semua orang tahu tentang itu, ya.” Reilley terdengar kecewa.

“Sebetulnya, saya nggak tahu sama sekali tentang itu sampai adik saya kasih

tahu ke saya.”

“Apakah kamu pernah menonton seri itu?” Reilley terdengar sedikit bersemangat.

“Nggak sama sekali. Saya masih sibuk nonton Beverly Hills 90210 saat itu,”

jelasku.

Reilley tertawa, “Oh, saya ingat seri itu. Saya selalu berpendapat Brenda „hot.”

Aku pun tertawa. “You like slutty girls huh?” candaku.

Brenda wasn‟t slutty. Nah, kalau Kelly berbeda. Dia merebut Dylan dari

Brenda.”

“Kamu masih ingat itu?” Aku tidak menyangka laki-laki seperti Reilley suka

menonton serial TV semacam itu.

Reilley tersenyum tersipu-sipu. “Kadang-kadang otak saya suka menyimpan

informasi yang nggak mutu.”

“Informasi nggak mutu lains eperti apa lagi yang ada di otak kamu?” tanyaku

penasaran.

“Kamu betul-betul mau dengar?” tanya Reilley bingung.

“Ya. Siapa tahu informasi itu bisa berguna suatu hari nanti,” jelasku.

Reilley terlihat serius sebelum mengatakan, “Kamu tahu lagu Goo Goo Dolls

yang berjudul Black Balloon?”

“Saya tahu beberapa lagu Goo Goo Dolls, tetapi saya nggak tahu judulnya.

Mungkin saya bisa mengenali lagunya kalau kamu nyanyikan untuk saya,”

jawabku.

“Seperti ini lho... Baby‟s black balloon makes her fly. I almost fell into that hole in your

life.” Reilley hanya perlu menyanyikan dua baris, dan aku bisa langsung mengenali

lagu itu.

“Oh, yang itu judulnya Black Balloon?” tanyaku kepadanya.

Reilley mengangguk. “Apa kamu tahu maksud lagu itu?” sambungnya.

“Tentang seorang cewek, kan?” tanyaku ragu. Kulihat Reilley menggeleng.

“Kalau begitu, tentang apa dong?” lanjutku.

“Lagu itu tentang bagaimana rasanya saat menggunakan narkoba,” jawab

Reilley.

No, it‟s not,” bantahku. “Kamu pasti mengarang deh.” Mana mungkin ada

orang menulis lagu hits, yang mengakui mereka pernah menggunakan obat-obatan

terlarang? Kemudian aku ingat, ada band dari Afrika Selatan yang menulis lagu

tentang bagaimana rasanya kalau sedang ML.

Reilley mengangkat bahunya. “John Rzeznik yang bilang sendiri kok.”

John who?”

”Rzeznik,” ulang Reilley. “Dia lead singer Goo Goo Dolls,” lanjut Reilley ketika

melihat muka bingungnya.

Oh, the hot dude,” ucapku.

“Menurut kamu John Rzeznik „hot?” Kini giliran Reilley yang terlihat bingung.

Superhot. Dia itu... mmmhhh.... Nggak tahu deh... misterius mungkin. Dia

seolah-olah tahu sesuatu yang kita nggak tahu. Saya suka sekali bibirnya.” Aku

sengaja mengucapkan ini untuk melihat reaksi Reilley, yang sekarang sedang

menatapku seakan-akan aku baru saja mengatkaan bahwa Gollum, karakter

antagonis di film The Lord of the Rings, kelihatan cute.

“Bibirnya?” Reilley meletakkan garpu di atas meja.

“Ya, bibirnya. Kayaknya enak dicium, dan rambutnya...” Aku mencoba

menahan tawaku.

“Rambutnya?” Mata Reilley sudah membelalak.

“Kamu nggak akan mengerti betapa „hot-nya dia karena kamu laki-laki,”

balasku cuek.

You‟re right. I don‟t. Saya bisa mengerti kalau misalnya kamu bilang...

mmmmhhh... siapa tuh orang Inggris yang main di film bareng Kiera Knightley?”

Reilley mengetuk-ngetuk kepalanya dengan jari telunjuknya, mencoba mengingatingat.

“Film Kiera Knightley kan ada banyak. Kamu harus lebih spesifik,” ucapku.

It was a medieval movie,” lanjut Reilley.

King Arthur?” tebakku.

“Ya, itu dia!” teriak Reilley antusias. “Kamu ingat siapa pemeran utama lakilakinya?”

“Clive Owen,” jawabku.

“Ya, benar banget,” Reilley mengkonfirmasi jawabanku. “Nah, kalau kamu

bilang dia „hot, saya bisa mengerti.”

“Menurut saya, Clive Owen memang hot, tetapi berbeda tipenya dari penyanyi

Goo Goo Dolls,” jelasku.

“Ada tipe yang beda-beda?”

“Tentu saja ada. Kami para wanita kan sebetulnya nggak terlalu berbeda dengan

laki-laki.” Aku menggunakan kata-kata yang sering diutarakan oleh profesorku di

kelas Women‟s Studies. Profesor itu mungkin akan tertawa terbahak-bahak bila

mengetahui aku telah mengutip kata-katanya. Pada tahun pertama di universitas,

kami semua diwajibkan mengambil kelas yang berhubungan dengan unsur-unsur

kemanusiaan. Entah bagaimana aku berakhir di kelas itu. Setelah dua minggu aku

harus mengajukan permintaan pertukaran kelas karena pikiranku tidak sejalan

dengan profesor itu. Menurut aku, laki-laki dan perempuan adalah dua spesies yang

sangat berbeda, yang tidak seharusnya berbagi planet.

Kulihat Reilley masih menungguku menyelesaikan argumentasiku. “Oke,

pertimbangkanlah seperti ini. Apakah menurut kamu Jennifer Lopez hot?” tanyaku

kepada Reilley.

Duuuh... do you need to ask?” balas Reilley sarkasme.

Tanpa menghiraukan nada Reilley, aku melanjutkan, “Oke... sekarang apakah

menurut kamu Catherine Zeta-Jones hot?”

“Catherine Zeta-Jones yang mana, ya?” tanyanya.

“Istri Michael Douglas. Dia main di Zorro,” ucapku, tidak sabaran.

“Oh, dia. Ya, dia „hot,” kata Reilley.

“Nah, bagaimana kamu bisa menjelaskan itu? Dua wanita yang nggak ada

mirip-miripnya sama sekali.”

“Tentu saja mereka nggak mirip. Jennifer Lopez is more feisty kind of hot whereas

that Zorro lady is more sophisticated hot,” jelas Reilley.

“Kedua-duanya hot, kan?” desakku.

Dari wajahnya aku dapat melihat, Reilley mulai memahami argumentasiku.

“Mengerti kan maksud saya?” ucapku, penuh kemenangan.

Reilley mengangkat garpu sambil menggerutu. Seperti juga laki-laki pada

umumnya, Reilley menolak mengakui kekalahannya. Aku mengangkat garpu

sambil mencobao menahan senyum.

“Telur saya sudah dingin deh,” omelnya, sambil menatapku. “And why are you

looking at me like that for?”

“I wasn‟t looking at you like anything,” balasku, dan memasukkan sesuap telur ke

mulutku untuk mencegah diriku agar tidak terbahak-bahak.

Kulihat Reilley menyapu bersih piringnya, meskipun sambil menggerutu. Aku

belum pernah melihat Reilley ngambek, dan ternyata dia betul-betu lucu kalau itu

sampai kejadian.

“Jadi, apa lagi yang ada di Wilmington selain tempat di mana dulu film

Dawson‟s Creek shooting?” Aku mencoba mencari topik baru agar Reilley tidak

terlihat terlalu jengkel lagi. Ternyata aku berhasil karena wajahnya langsung ceria

dalam hitungan detik.

Well, it has it‟s charms. Semu aorang sangat bersahabat, dan sebetulnya mereka

kenal satu sama lain. I would take you around town once you finish your lunch,” ujar

Reilley, sambil tersenyum dan mengangkat piring gelasnya menuju dapur.

“Saya sudah selesai,” ucapku, setelah memasukkan potongan terakhir telurku

dan mengangkat piring gelas menuju dapur juga.

10

Kehabisan Waktu

HARI Minggu sore aku memasuki apartemenku sambil mengucapkan, “Home sweet

home,” kemudian mengempaskan tubuh ke sofa. Aku sudah tidak memiliki energi

lagi untuk melakukan apa pun. Aku berpikir untuk meminta izin sakit besok agar

bisa mencerna semua yang terjadi padaku akhir minggu ini. Bibirku terasa agak

sedikit bengkak karena habis diciumi dan menciumi Reilley. Mau tidak mau aku

tertawa mengingat apa saja yang telah kami lakukan dua puluh empat jam yang

lalu.

“Titania OReilley,” ucapku pelan. “Mrs. O‟Reilley,” ucapku lagi. Aku harus

mengaku bahwa kedua nama itu terdengar cocok untukku.

Kutatap cincin berlian yang sekarang melingkari jari manis tangan kiriku. Aku

masih tidak percaya bahwa Reilley telah melamarku. Kucoba mengingat-ingat

kejadian tadi malam sambil tersenyum.

Setelah makan siang, akud an Reilley pergi menuju pusat kota Wilmington. Aku

harus mengakui kota ini memang menarik. Jalanan utama tidak sebesar di Winston,

tetapi ada banyak toko kecil yang berderet di sisi kiri dan kanan jalan, membuatnya

kelihatan menarik dan mengundang. Reilley membawaku ke dermaga, dan kami

menghabiskan sore itu sambil duduk-duduk dan menikmati suasana yang damai.

“Saya suka di sini,” ucapku perlahan.

I was hoping that you would say that,” balas Reilley. Aku sedang menutup mata,

jadi tidak bisa melihat ekspresi wajah Reilley.

Reilley lalu meraih tangan kiriku dan mengenakan sesuatu yang dingin pada

jari manisku. Kubuka mataku untuk melihat apa yang Reilley sedang lakukan, dan

hanya bisa ternganga ketika melihat cincin berlian yang sudah melingkari jariku.

“Kamu nggak usah kasih jawaban sekarang. Saya hanya ingin kamu tahu kalau

saya serius dengan kamu, dan I wish to wake up everyday seeing your face beside me.

Saya ingin menikahi kamu, punya anak dari kamu, dan hidup bersama-sama kamu

seumur hidup saya,” ucap Reilley, tanpa melepaskan genggamannya pada

tanganku.

Aku masih tidak bisa berkata-kata. Perlahan-lahan kualihkan tatapanku dari

cincin itu ke wajah Reilley, yang sedang menatapku sambil tersenyum. Untungnya

dermaga itu sudah kosong karena matahari sebentar lagi akan tenggelam. Jadi, tidak

ada orang yang bisa menyaksikan lamaran ini. Hal itu justru membuat apa yang

sedang terjadi terasa lebih asli dan khidmat.

“Reilley,” bisikku. Jantungku berdetak lebih cepat, dan kurasakan seluruh

tubuhku tiba-tiba menjadi panas.

Ssshhh... take all the time that you need to consider it. Saya nggak ingin mendesak

kamu. Saya akan ada di sini sampai kamu siap, oke? Saya nggak akan ke manamana.”

Reilley lalu memelukku dan mencium keningku. Aku ingin melebur dalam

pelukannya.

Setelah matahari terbenam sepenuhnya, Reilley menuntunku pergi ke salah satu

restoran khas Wilmington untuk makan malam. Aku betul-betul tidak bisa berpikir

dengan jernih, aku masih shock. Sebisa mungkin aku mencoba bertingkah biasa saja,

seakan-akan tidak ada kejadian heboh yang pernah kualami sepanjang hidupku.

Tidak setiap hari seorang wanita dilamar laki-laki yang memang diinginkannya.

Kata-kata itu membuatku terdiam seketika. Apakah aku betul-betul menginginkan

Reilley? Aku tahu, secara fisik aku sangat tertarik dengannya. Aku sangat menyukai

segala hal tentang dirinya. Dia memiliki pekerjaan yang bagus dan mapan. Dia

sudah punya rumah, dan dia sangat mencintai keluarganya. Keluarganya pun

kelihatannya menyukaiku. Dia sangat perhatian kepadaku, dan selalu mempertimbangkan

keadaan serta perasaanku dalam situasi apa pun. Lalu seperti ada petasan

yang meledak sangat dekat dengan diriku, aku pun terlonjak dari kursiku. Reilley

terlihat khawatir ketika menanyakan, apakah aku tidak apa-apa. Aku

meyakinkannya bahwa aku hanya perlu pergi ke toilet sebentar. Meskipun Reilley

menatapku dengan curiga, dia tetap membiarkanku pergi.

Di dalam toilet aku baru bisa berpikir, C-I-N-T-A. Lima huruf itu muncul ketika

aku mencoba menggambarkan perasaanku yang sebenarnya kepada Reilley. Aku

mencintai Reilley. Bagaimana bisa, ya? Aku baru mengenalnya selama enam

minggu. Selama ini aku selalu terheran-heran melihat orang-orang yang

menyebarkan undangan perkawinan hanya setelah mengenal pasangan mereka

selama satu bulan, tetapi kini aku mengerti bagaimana fenomena seperti ini bisa

terjadi.

* * *

Sekali lagi kupandangi jariku, yang tiba-tiba terasa lebih berat daripada dua hari

yang lalu. Tiba-tiba aku menginginkan pelukan Reilley, yang selalu bisa

menenangkanku. Aku tidak habis-habisnya menganalisis permintaan Reilley sejak

dia menanyakannya, terutama setelaha ku menyadari bahwa aku mencintainya.

Kalau begitu, mengapa seperti ada sesuatu yang mengganjal di hatiku? Kalau aku

menerima lamaran Reilley, jelas-jelas aku bisa membuktikan kepada Brandon bahwa

dia salah. Aku telah menemukan laki-laki lain, yang menginginkanku dan ingin

menikahiku. Hah!!! Aku tidak tahu mengapa aku memikirkan Brandon pada saat

ini. Otakku mulai berputar dengan bunyi klik... klik... klik... dan KLIK. Ya... ampun,

itu dia. Brandon. Aku harus bertatap muka dengannya untuk memberitahukan

berita ini.

Buru-buru kurogoh telepon selularku dari dalam tas, dan langsung menekan

nomor telepon selular Brandon. Aku telah menghapus segala sesuatu yang

berhubungan dengannya, termasuk nomor teleponnya. Aku agak terkejut ketika

menyadari, ternyata aku masih ingat nomor itu dengan sempurna. Aku berharap dia

masih menggunakan nomor yang sama. Kudengar nada sambung. Aku menunggu

beberapa saat, kemudian kudengar nama Brandon mengucapkan namaku.

“Hei, Brandon. Apa kabar?”

“Aku baik-baik saja,” jawab Brandon, dengan nada bingung. Aku yakin, dalam

hati Brandon sedang bertanya-tanya ada apa aku meneleponnya.

“Baguslah kalau begitu. Apakah kamu masih tinggal di Memphis?”

“Masih. Ada apa?” Brandon terdengar curiga.

Aku mengakhiri basa-basiku, dan langsung ke topik utama. “Aku hanya ingin

tanya, apakah kamu ada rencana berkunjung ke Winston dalam waktu dekat?”

“Nggak sih. Ada apa?” tanyanya, semakin curiga.

Aku mencoba mengontrol emosiku agar suaraku tidak terdengar terlalu

gembira. “Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan ke kamu, dan aku nggak bisa

omong lewat telepon,” ucapku semanis mungkin.

“Oh, ya?” Tiba-tiba Brandon terdengar bersemangat.

“Ya,” balasku.

Kudengar suara kertas yang sedang dibolak-balik, seolah-olah Brandon sedang

melihat agendanya. “Saya bisa ada di sana hari Sabtu siang, bagaimana?” tanyanya.

That‟s perfect.” Aku tahu Reilley tidak akan ada di North Carolina pada akhir

minggu itu. Jadi, dia tidak akan memergoki pertemuanku dengan Brandon.

“Kamu ingin kita bertemu di mana?”

Aku langsung memberikan nama restoran favorit Brandon di Winston. Aku

selalu berpikir itu restoran favorit “kami” ketika aku bersamanya, tetapi kini aku

menyadari betapa aku sangat tidak menyukai makanan yang dihidangkan di

restoran itu.

“Apakah kamu ingin aku jemput?” Aku hampir saja tertawa ketika mendengar

Brandon menanyakan hal ini. Ini baru pertama kalinya dia menawarkan

menjemputku. Biasanya kalau ada date denganku, Brandon akan memintaku

menemuinya di restoran saja. Hanya pada saat-saat terakhir hubungan kami saja

Brandon rela menjemputku, yang kin aku tahu hanya sebagai salah satu cara

menutupi rasa bersalahnya kepadaku karena perselingkuhannya.

“Aku bertemu kamu saja di sana langsung. Sekitar pukul 12.00, bagaimana?”

Brandon langsung menyetujui jadwal itu. Aku lalu menutup telepon sebelum aku

mulai tertawa terbahak-bahak di depannya, dan merusak semua rencanaku.

“Hahaha... biar tahu rasa nih orang,” ucapku.

* * *

Aku tidak bisa tidur selama beberapa hari, menunggu hingga hari Sabtu tiba.

Semakin hari aku semakin yakin, satu-satunya jawaban yang harus aku berikan

kepada Reilley, kalau dia melamar lagi adalah, “Yes”. Setiap malam, di mana pun

dia berada, dia akan meneleponku hanya untuk menanyakan apa yang aku lakukan

hari itu. Dia meminta maaf tidak bisa pergi menemuiku hingga minggu depan

karena dia akan berada di San Fransisco. Meskipun aku merindukannya, aku bukan

tipe perempuan yang merengek-rengek meminta agar pacarnya cepat pulang. Aku

hanya memintanya menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Dia tidak

menyinggung satu patah kata pun tentang cincin yang sekarang melingkari jariku

dan lamarannya. Aku yakin dia sedang berusaha menepati janjinya, dan

memberikanku waktu untuk mempertimbangkan ini semua. Aku sangat bersyukur

atas toleransi itu.

Satu-satunya orang yang tahu hubunganku dengan Reilley sudah pada tahap

yang sangat serius adalah Sandra. Mau tidak mau aku terpaksa memberitahukan

alasan meminta MBD membatalkan semua kencan buta yang sudah dijadwalkannya

untukku, meskipun aku masih ada sekitar dua minggu lagi sampai kontrakku habis.

Sandra mengucapkan selamat kepadaku, dan berharap agar aku mengirimkan

undangan pernikahanku secepatnya. Didi memang terdengar curiga ketika

mendengar laporanku yang biasa-biasa saja tentang kunjunganku ke Wilmington.

Untuk pertama kalinya aku bisa menyembunyikan apa yang sebetulnya terjadi

darinya. Aku berjanji, aku akan memberitahunya setelah aku berbicara dengan

Brandon, dan juga Reilley.

Untungnya hari Sabtu akhirnya tiba juga. Aku sengaja datang agak terlambat ke

restoran untuk membuat Brandon menunggu. Aku kini yang memegang kendali,

dan aku berniat menggunakan keadaan ini dengan semaksimal mungkin. Kulihat

Brandon sudah duduk di meja tempat kami biasa duduk di restoran ini. Aku

menyentuh jari manis tangan kiriku untuk memastikan bahwa cincin Reilley, benda

yang menandai diriku sebagai miliknya, masih melingkar di sana. Brandon berdiri

dari kursinya ketika melihatku. Aku pun mendekat dan sengaja mencium pipinya.

Brandon kelihatan agak terkejut, tetapi dia membalas ciumanku dengan antusias.

You look good, babe,” ucap Brandon. Aku sengaja tidak membetulkan kata yang

digunakannya untuk memanggilku. Tatapan Brandon penuh dengan kerinduan yan

gtidak mapmu dibendungnya lagi.

I feel good,” jawabku, sambil tersenyum.

Waiter kemudian tiba, dan kami memesan makanan dan minuman masingmasing.

“Pekerjaan kamu bagaimana?” tanyaku.

“Baik-baik saja,” jawab Brandon. Lalu, “It‟s so good to hear your voice again.”

Ketika melihat aku hanya tersenyum, Brandon melanjutkan, “Jadi, apa yang

perlu kamu bicarakan kepadaku?”

Aku sudah menunggu hingga dia mengajukan pertanyaan ini. Sebelum aku

menjawab, waiter sudah kembali dengan minuman pesanan kami. Aku pun minum

seteguk sebelum menjawab.

“Kamu masih ingat apa yang kamu katakan kepadaku ketika aku

mengembalikan barang-barang kamu yang masih ketinggalan di apartemenku?”

Brandon menatapku bingung, tetapi dia tidak mengatakan apa-apa.

“Kamu berkata... „Kamu lihat saja, tidak akan ada laki-laki yang akan mau

dengan kamu. Tidak akan ada laki-laki yang bisa tahan berhubungan dengan

kamu.”

“Aku berkata begitu?” Brandon kelihatan terkejut.

Yes, you did,” ucapku tenang.

Aku hampir saja tertawa ketika melihat wajah Brandon, yang kelihatan sangat

bersalah. “Kamu nggak usah kelihatan bersalah begitu. Aku nggak akan mengomeli

kamu soal itu. Aku sebetulnya mau mengucapkan terima kasih kepada kamu.”

Kini Brandon kelihatan terkejut, penasaran, dan bingung.

“Selama sembilan bulan, aku sudah mencoba membuktikan kamu salah.

Memang aku memerlukan waktu lebih lama daripada yang aku rencanakan, tetapi

nggak apa-apa.”

“Maksud kamu?”

I‟m engaged, Brandon,” ucapku, smabil mengangkat tangan kiriku dan

menunjukkan cincin berlian Reilley.

Mata Brandon hampir saja keluar ketika melihat cincin empat karat itu. “He is a

great guy. Dia bukan seorang pengacara, tapi dia ada pekerjaan yang cukup mapan.”

Melihat Brandon tidak bereaksi, aku melanjutkan, “Yang paling penting adalah dia

menyayangi aku, dan dia ingin menghabiskan seluruh hidupnya... dengan aku.”

Brandon masih tidak bisa mengeluarkan kata-kata ketika makanan kami tiba.

Aku langsung menyerang salad salmon bakarku. Brandon tidak menyentuh

makanannya, dia justru mengerlingkan matanya kepadaku.

“Apakah ini alasannya mengapa kamu ingin bicara kepadaku langsung? Untuk

memamerkan pertunangan kamu?” Suara Brandon terdengar sedikit bergetar.

Aku menelan suapanku sebelum menjawab, “Nggak, kan aku sudah katakan.

I‟m here to thank you.” Dalam hati aku sedang bersorak gembira. Aku betul-betul

telah membalas penghinaan Brandon terhadapku sembilan bulan yang lalu itu.

Thank me my ass,” omelnya. Beberapa orang sudah mulai melirik ke arah meja

kami.

“Brandon, kamu harus tenang. Orang-orang mulai memperhatikan kita,”

ucapku pelan. Seperti yang sudah aku perkirakan, Brandon meledak.

“Aku nggak peduli orang memperhatikan kita. Apakah kamu sudah tidur

dengan dia? Oh... aku yakin kamu sudah hamil beberapa bulan ya, itu sebabnya

mengapa dia melamar kamu!” teriak Brandon.

“Brandon...,” aku mencoba menenangkannya, tetapi Brandon seolah-olah tidak

mendengar dan berlanjut dengan kemarahannya.

“Aku nggak percaya kamu bersedia tidur dengan dia, tetapi nggak dengan

aku,” ucapnya.

“Aku tidak tidur dengan dia!” teriakku. Aku tidak terima segala tuduhan yang

dilayangkan Brandon kepadaku. Kuletakkan garpu yang aku pegang agar tidak

melemparkannya kepada Brandon.

Brandon terdiam, kemudian dia tertawa terbahak-bahak. Aku kini yakin,

pikirannya sudah tidak stabil. Ada apa juga dia tertawa kalau tidak ada yang lucu?

Ohhh... that guy is so much smoother than I am. I give him that,” ujar Brandon,

sambil mencoba mengontrol tawanya.

“Maksud kamu?” tanyaku bingung.

“Apakah kamu nggak bisa lihat, Titania. Dia hanya ingin ML saja dengan kamu.

Itu sebabnya dia melamar kamu. Pakai cincin mahal segala lagi.” Brandon

menunjuk cincin dari Reilley.

“Dia nggak hanya ingin ML dengan aku,” omelku.

Has he said that he loves you?”

Of course...” Tiba-tiba aku teringat, Reilley tidak pernah mengatakan kata cinta

kepadaku. Tentu saja dia mengatakan dia ingin menikahiku dan hidup denganku

selama-lamanya, tetapi tidak kata cinta.

Melihatku tiba-tiba terdiam, Brandon berkata, “Dia belum bilang apa-apa

tentang itu, kan?” tanya Brandon, dengan penuh kemenangan.

“Dia nggak perlu omong. Aku tahu dia mencintaiku.” Aku mencoba terdengar

meyakinkan, tetapi aku tahu hatiku mulai bertanya-tanya.

“Kamu yakin?”

Aku hanya mengerlingkan mataku kepada Brandon. “Jangan nikah dengan dia,

aku tahu tipe laki-laki seperti dia. Dia cuma salah satu dari banyak laki-laki yang

terobsesi dengan perempuan Asia. Mereka hanya ingin mencicipi saja, dan begitu

mereka sudah tahu bagaimana rasanya mereka akan meninggalkan kamu tanpa

permisi lagi,” ucap Brandon pelan.

Ini tidak mungkin. Reilley tidak seperti yang Brandon gambarkan, tetapi tanpa

sadar aku mulai menganalisis tindakan-tindakan Reilley yang memang kelihatan

sangat tertarik dengan budaya dan kebiasaanku sebagai orang Asia. Aku tetap

mencoba membela Reilley.

“Dari mana kamu tahu tentang itu?”

“Karena aku laki-laki. Percaya kepadaku soal yang satu ini. Memang kamu

sudah tahu dia selama berapa lama sih?”

“Beberapa bulan,” jawabku.

“Beberapa bulan? Jelas-jelas dia hanya ingin ML saja dengan kamu, that‟s it.”

Shut up, Brandon,” ucapku datar.

“Oke... oke... coba aku ganti kalimatnya. Aku sudah kenal kamu selama tiga

tahun, dan aku nggak yakin aku ingin dan bisa menikah dengan kamu. Dia baru

kenal kamu selama beberapa bulan, dia bakalan kabur sebelum bulan madunya

kelar.”

No, he won‟t,” bantahku.

“Mau taruhan?” Mata Brandon terlihat berbinar-binar. “Menurut aku, kamu

jangan menikah dengan laki-laki yang baru kamu kenal selama beberapa bulan saja.

Kamu nggak tahu apa-apa tentang dia.”

“Aku tahu semua hal yang perlu aku tahu tentang dia,” balasku.

Oh, yeah? Do you know his social security number?” tantangnya, ketika melihatku

tersedak Brandon tersenyum lebar.

Shit! teriakku dalam hati. Jangankan nomor jaminan sosial, aku bahkan tidak

tahu nama ibu Reilley.

“Apakah dia tinggal di Winston?” Kudengar Brandon bertanya.

No, he doesn‟t,” jawabku. “We try to meet as often as possible when he‟s around.”

“Aha... dia sudah merencanakan semuanya dengan baik kelihatannya. Aku

yakin dia juga pacaran dengan orang lain selain kamu.”

“Enak saja kamu ngomong.”

“Buka mata kamu, Titania. Dia itu laki-laki. Kalau dia nggak bisa dapat seks dari

kamu, dia akan mendapatkannya dari orang lain.”

Not all men are jerks like you, Brandon,” geramku.

Are you sure about that?”

Kalau Brandon enanyakan hal itu dua puluh empat jam yang lalu, aku akan

langsung menjawab dengan, “Of course I‟m sure,” tanpa perlu berpikir panjang lagi,

tetapi sekarang aku mulai mempertanyakan keyakinanku itu. Aku betul-betul tidak

merencanakan hubunganku dengan Reilley dibedah dan dianalisis Brandon. Aku

hanya menemuinya untuk mengibarkan bendera kemenanganku di hadapannya,

tetapi sekarang aku hanya bisa duduk diam dan menatap Brandon yang sedang

tersenyum penuh kemenangan. Bagaimana mungkin posisi kami berganti hanya

dalam hitungan menit?

“Saya sudah mengatakan apa yang perlu dikatakan, sekarang I‟m gonna go,”

ucapku, sambil mengeluarkan uang dua puluh dolar dari dalam dompetku dan

melemparkannya ke atas meja.

Oh come on, babe. Kamu nggak harus pergi.” Brandon menarik pergelangan

tanganku.

I‟m not your babe. Sekarang lepaskan tangan aku,” desisku. Brandon

melepaskanku dan aku pun bergegas ke luar restoran.

* * *

Malam itu aku tidak mengangkat telepon ketika Reilley meneleponku, juga ketika

dia meneleponku pada hari-hari berikutnya. Meskipun aku tahu aku tidak

seharusnya mendengarkan kata-kata Brandon, entah mengapa aku tidak bisa

menghapuskannya dari kepalaku. Kata-katanya terngiang-ngiang di telingaku.

Apa kamu nggak bisa lihat, Titania. Dia hanya ingin ML saja dengan kamu. Itu

sebabnya dia melamar kamu. Pakai cincin mahal segala lagi.” Pisau baru saja menyayat

hatiku.

Has he said that he loves you?” Pisau itu sekarang sudah menusuk.

Dia cuma salah satu dari banyak laki-laki yang terobsesi dengan perempuan Asia.

Mereka hanya ingin mencicipi saja, dan begitu mereka sudah tahu bagaimana rasanya

mereka akan meninggalkan kamu tanpa permisi lagi.” Sebuah kampak sudah melayang.

Aku sudah kenal kamu selama tiga tahun, dan aku bahkan masih nggak yakin aku ingin

menikah dengan kamu. Dia baru kenal kamu selama beberapa bulan, dia bakalan kabur

sebelum bulan madunya kelar.” Kudengar bunyi gergaji listrik baru saja dinyalakan.

Buka mata kamu, Titania. Dia itu laki-laki. Kalau dia nggak bisa dapat seks dari kamu,

dia akan mendapatkannya dari orang lain.” Aku sudah mati karena jantungku berhenti

berdetak.

Aku betul-betul sedang berlaku tidak adil terhadap Reilley, dan aku tahu aku

harus meluruskan ini semua sebelum semuanya menjadi lebih parah lagi. Reilley

berkata dia harus pergi ke New York pada akhir bulan ini. Jadi, aku harus

meneleponnya sekarang untuk bertemu dengannya. Aku tahu Reilley akan tiba dari

San Fransisco pada hari Kamis. Jadi, pada Rabu malam aku pun meneleponnya.

Titania, are you okay? Kamu nggak angkat telepon dariku.” Meskipun Reilley

berbicara dengan tenang, aku bisa mendengar kekhawatiran di balik suaranya.

I‟m fine. Hei, kamu keberatan nggak kalau saya datang ke Wilmington untuk

bertemu kamu besok?” Aku mencoba membuat suaraku terdengar gembira.

“Tentu saja nggak, tetapi apakah itu nggak terlalu jauh untuk kamu? Saya bisa

pergi ke rumah kamu langsung dari Raleigh.”

Aku hampir saja menangis mendengar Reilley mengatakan ini. Seperti biasa, dia

selalu penuh perhatian. Dia jelas-jelas tidak mau aku harus menempuh jarak empat

setengah jam, yang berarti sembilan jam bolak-balik hanya untuk menemuinya.

No no... it‟s okay. Saya ingin sekalian melihat Wilmington lagi, “jawabku.

Well, okay,” ucap Reilley ragu.

“Pukul beratap kamu sampai di rumah?”

“Sekitar pukul empat,” jawab Reilley.

Okay then. I will see you at four tomorrow,” ucapku, lalu menutup telepon itu.

Aku terpaksa meminta izin pulang lebih cepat dari kantor besok.

* * *

Keesokan harinya, ketika aku baru saja melangkah ke luar mobil Reilley bergegas

menuju ke arahku. Tanpa mempedulikan reaksiku, dia langsung memelukku dan

mencium bibirku.

I‟m sorry. I don‟t mean to kiss you like that, but I‟ve been missing you for the past

week,” ucap Reilley, setelah dia melepaskan bibirku.

Aku hanya mengangguk.

“Kamu sudah makan?” tanyanya, sambil menarikku masuk ke dalam

rumahnya.

“Sudah,” jawabku pendek. “Kamu?” tanyaku.

“Sudah, saya makan burger tadi di jalan.”

Sekali lagi aku hanya mengangguk.

Reilley... we need to talk,” ucapku, akhirnya memberanikan diri mengatakan apa

yang perlu aku katakan.

So talk,” balas Reilley cuek.

Can we sit somewhere?” tanyaku.

Mendengar nada seriusku, Reilley langsung menarikku ke arah meja makan. Dia

baru melepaskan tangan kiriku ketika duduk.

Aku menarik napas dalam sebelum berkata, “Sori... ya, saya nggak angkat

telepon dari kamu selama seminggu ini,” ucapku.

“Ya, saya agak khawatir jangan-jangan telepon kamu rusak atau ada apa

begitu,” balas Reilley.

“Telepon saya nggak rusak. Saya hanya perlu waktu untuk berpikir.”

“Berpikir? Tentang kita?” tanya Reilley hati-hati.

Aku mengangguk. Seperti bisa menebak kata-kataku selanjutnya, Reilley

langsung nyerocos, “Look. Saya kan sudah berkata, kamu nggak usah khawatir soal

itu. Kamu lupakan saja omongan saya if that would make you feel any better. Saya

nggak...”

Reilley terdiam ketika melihatku mengangkat tangan. Aku lalu mengeluarkan

kotak cincin yang terbuat dari beludru warna hitam dari dalam tasku.

“Saya ke sini untuk mengembalikan ini ke kamu.” Kudorong kotak beludru itu

ke hadapan Reilley. “I can‟t marry you, Reilley.” Aku tidak berani menatapnya.

Ketika selang beberapa detik dan Reilley masih belum mengatakan apa-apa, aku

terpaksa mengangkat wajahku. Apa yang kulihat pada wajah Reilley langsung

membuat jantungku berhenti berdetak. Dia sedang menatapku dari balik bulu

matanya. Ada kemarahan, kekecewaan, dan pertanyaan di tatapannya itu.

I see,” ucap Reilley pendek.

Aku lalu mengangguk. “I‟m sorry that you have wasted so much of your time and

energy on me.” Kutarik tasku dari pangkuanku, dan berdiri. Reilley hanya

mengangkat kepalanya dan menatapku, tetapi dia tidak berdiri.

“Saya akan kirimkan barang-barang kamu. Bye, Reilley,” ucapku, dan tanpa

menunggu jawaban aku langsung bergegas ke luar ruangan itu menuju mobil.

Lima belas menit kemudian, aku sudah berada di I-40 menuju Winston dengan

air mata yang sudah membasahi seluruh wajahku. Dadaku rasanya mau meledak.

Mengetahui bahwa aku sebaiknya tidak berada di belakang setir dengan keadaan

seperti ini, aku pun menghentikan mobilku di bahu jalan dan menangis sepuasnya.

Aku baru menyadari kemudian, salju sedang turun dengan cukup lebat. Aku

melihat ke sekelilingku, dan permukaan jalan raya itu sudah putih semua. Dari

gelagatnya kelihatannya North Carolina akan tertutup oleh salju tebal sebelum

tengah malam, dan aku harus sudah berada di rumah sebelum hal itu terjadi. Buruburu

kuhidupkan mesin mobil, dan dengan ban berdecit aku kembali ke jalan raya.

Dalam kondisi seperti itulah aku meninggalkan Wilmington, Reilley, dan hatiku di

sana.

* * *

Bulan Maret pun tiba, dan untuk pertama kalinya kota Winston-Salem betul-betul

mati total. Dengan salju setebal hampir 80 sentimeter, orang-orang Winston

disarankan hanya keluar rumah kalau memang betul-betul perlu saja. Untungnya

aku telah membeli makanan sebanyak-banyaknya sehingga aku tidak perlu keluar

rumah sama sekali. Aku bisa mendengar bunyi angin yang bertiup dengan kencang

di luar. Ketika aku mengintip ke luar melalui jendela, aku tidak bisa melihat apa-apa

kecuali putih. Kantorku sempat ditutup selama dua hari, hal yang sangat aku

syukuri karena aku yakin mobilku tidak akan mampu menembus salju setinggi itu.

Menurut Didi, keadaan di Washington, D.C. bahkan lebih parah. Dia tidak bisa

keluar rumah sama sekali selama dua hari karena salju telah mengubur mobilnya

hingga atap. Reilley sama sekali tidak mencoba menghubungiku.

Seminggu kemudian, Didi memberitahuku dia tidak bisa mengunjungiku untuk

liburan musim semi. Meskipun akhirnya badai salju sudah berlalu, dia tidak berani

membawa mobil dari Washington, D.C. menuju Winston sendirian dengan keadaan

jalan yang belum betul-betul normal. Di satu sisi aku merasa sangat kecewa dengan

berita ini karena aku sangat mengharapkan kedatangannya untuk menghiburku,

tetapi di sisi lain aku sangat berterima kasih kepada Tuhan atas kejadian ini karena

aku belum siap menghadapi serangan pertanyaan yang pasti akan datang darinya.

Didi masih belum tahu apa yang telah terjadi antara aku dan Reilley. Aku selalu

menghindar setiap kali dia menanyakan tentang itu.

Suatu hari, tanpa ada hujan atau badai, aku teringat satu bait lagu Burung Camar

yang didendangkan Vina Panduwinata.

Tiba-tiba kusadari lagu burung camar tadi

Hanya kisah sedih nada duka, hati yang terluka,

Tiada teman, berbagi derita,

Bahkan untuk berbagi cerita.

Tanpa kusadari aku sudah menangis tersedu-sedu sambil memegangi dadaku

yang tiba-tiba terasa sakit sekali.

Bulan Maret berganti ke bulan April, dan April ke Mei. Aku mulai merasa

seperti zombie. Orang-orang di kantorku pun mulai mengomentari wajahku yang

kelihatan lelah dan tidak pernah lagi tersenyum. Tidak seperti waktu bulan Januari,

di mana aku tidak habis-habisnya tersenyum kepada semua orang. Linnell, bosku,

mengumpamakan wajahku yang sekarang seperti bumi yang tidak lagi terkena sinar

matahari, semuanya gelap. Aku tertawa sedih ketika mendengar ini karena

sejujurnya aku memang merasa seperti telah kehilangan matahariku. Sebagai

seorang profesional, aku tidak pernah membiarkan kehidupan pribadiku

memengaruhi pekerjaanku sehingga Linnell tidak memiliki alasan menegurku. Aku

mulai menyesali keputusanku tentang Reilley. Beberapa kali aku mencoba menekan

nomor teleponnya yang masih terdaftar di deretan nama “Hunny Bunny” di

phonebook telepon selularku, tetapi pada detik terakhir aku menekan CANCEL

sebelum panggilan itu tersambung.

Lebih parahnya lagi, akibat keputusan tergoblok yang pernah aku ambil

sepanjang hidupku pada bulan Februari itu, kini Brandon mengira dia memiliki hak

mengganggu hidupku lagi. Akhirnya, baru dengan ancaman aku akan

melaporkannya ke polisi kalau dia tidak juga berhenti menggangguku, Brandon

menghentikan aksi terornya.

Tanggal 4 Mei pukul setengah enam pagi, aku menelepon Didi untuk

mengucapkan selamat ulang tahunnya yang ke-27. “Mbak, Reilley bagaimana

kabarnya?” tanya Didi, setelah kami membahas segala sesuatu yang perlu dibahas,

tetapi tetap menghindari topik ini.

Aku terdiam seribu bahasa. Sudah dua bulan lebih aku tidak bertemu dengan

Reilley. Lebih dari apa pun juga, aku merindukan suaranya yang selalu penuh

dengan kehangatan. Selama satu bulan pertama setelah aku memutuskan hubungan

dengannya, aku tetap membiarkan peralatan mandinya berada di dalam kamar

mandi, bersebelahan dengan peralatan mandiku. Kubiarkan handuk Reilley

tergantung tanpa disentuh. Beberapa bajunya masih tersimpan di lemari. Bahkan

botol cologne-nya yang masih setengah penuh kubiarkan berada di atas meja

dandanku. Aku tidak mampu menyingkirkan benda-benda itu. Benda-benda yang

mengingatkanku bahwa Reilley benar-benar pernah hadir di dalam hidupku.

Memasuki bulan kedua aku mencoba memberanikan diri, dan mulai

menyingkirkan benda-benda itu. Baru saja aku mengangkat botol shampoo-nya, aku

langsung tidak bisa bernapas. Aku harus duduk di atas toilet dan memegangi

dadaku, berusaha tetap menjaga utuh hatiku yang sudah retak ini. Aku tahu, aku

sebaiknya memenuhi janjiku untuk mengirimkan benda-benda itu kembali kepada

Reilley, tetapi aku masih juga belum sanggup melakukannya.

I don‟t want to talk about it,” ucapku, menjawab pertanyaan Didi.

“Mbak ada apa sih dengan dia? Kok tiba-tiba saja Mbak berhenti bicara tentang

dia, padahal aku dengar Mbak excited banget ketika baru balik dari Wilmington?”

Nada Didi terdengar agak menuduh.

“Aku nggak ingin membicarakan tentan gdia, oke.” Nadaku terdengar tajam.

“Dia berbuat apa denganmu sih, Mbak? Dia nggak macam-macam, kan?” Kini

Didi terdengar agak waswas.

“Kamu kok omong begitu?”

“Habis... Mbak nggak mau menjelaskan ke aku duduk permasalahnnya. Jadi, ya

aku hanya bisa menebak, kan?”

“Di, just let it go, okay,” pintaku. Kudengar Didi terdiam. “You‟re not gonna let it

go, are you?

No. Mbak, kamu sudah diam saja selama dua bulan lebih tentang ini. Mbak

sudah jarang tertawa lagi. Setiap kali aku telepon, Mbak selalu kedengaran capek.

Mbak selalu menghindar setiap kali aku bertanya soal Reilley. Setidak-tidaknya,

ketika Mbak putus dengan Brandon, Mbak masih bisa marah-marah, tetapi ini...

Mbak hanya diam saja. Aku tahu Mbak sudah putus dengan Reilley, dan aku yakin

Mbak yang memutus dia. Yang aku nggak tahu, „mengapa Mbak memutus dia?”

“Kamu tahu dari mana aku putus dengan Reilley?”

“Mbak, aku ini calon doktor jurusan psikologi. Segoblok apakah Mbak pikir aku

ini kalau sampai nggak bisa mengenali gelagat orang yang sedang patah hati?”

Aku terdiam mendengar pernyataan Didi. Aku pikir aku sudah berhasil

membohongi adikku, tetapi ternyata dia hanya berdiam diri dan menelan semua

alasanku karena dia sedang menunggu hingga aku siap menceritakan kejadian

sebenarnya. Mendengarku terdiam, Didi bertanya lagi, “You wanna talk to me about

it?

Hanya dengan kata-kata itu, meluncurlah tetesan air mata pertama dari sudut

mataku.

“Dia berencana mau memutus aku. Jadi, sebelum dia bisa memutus aku, aku

lebih dulu memutus dia,” ucapku perlahan-lahan.

“Oke... dari mana Mbak tahu dia bakal memutus Mbak?” Aku tahu Didi

mendengar suaraku yang tersedak mencoba menahan tangis, tetapi dia tidak

mengatakan apa-apa.

“Dari semua gelagatnya yang selalu manis dan perhatian kepadaku,” jawabku.

“Mbak, kayaknya Mbak harus menjelaskan ke aku deh. Mengapa laki-laki yang

perhatian kepada Mbak, dan selalu baik kepada Mbak mengindikasikan mereka

akan memutus hubungan?”

“Brandon selingkuh setelah lebih perhatian dan lebih manis terhadapku!”

teriakku.

What in the hell... Mbak kok bisa-bisanya membandingkan Reilley dengan lakilaki

supersinting kayak Brandon sih?” Didi berteriak marah.

“Karena itu benar, Di. Brandon berkata kepadaku bahwa Reilley nggak akan

menikahiku setelah dia memuaskan rasa penasarannya tentang aku.”

That is the most ass backward thing I have ever heard,” geram Didi. “Wait a minute,

Mbak bilang Brandon berkata ke Mbak.... Sejak kapan Mbak omong dengan dia

lagi?”

Kuseka air mataku dengan tisu, kemudian menceritakan semuanya kepada Didi.

Mulai dari lamaran Reilley, pertemuanku dengan Brandon, hingga hari aku pergi

menemui Reilley di Wilmington dan mengembalikan cincin itu. Didi tidak berkatakata

selama beberapa menit, dan aku jadi khawatir saluran teleponku tiba-tiba

terputus.

“Di, kamu masih di situ, kan?” tanyaku.

“Masih. Sorry, aku hanya sedang terkesima dengan kakakku yang pintar ini.

mengapa kok dia selalu jadi goblok bila dekat-dekat dengan mantan pacar

brengseknya itu.”

“Aku nggak goblok,” omelku. Aku tidak akan tinggal diam kalau ada orang

yang mengatakan aku goblok. Tidak ada orang yang boleh menggunakan kata itu

untuk menggambarkan diriku, kecuali diriku sendiri.

“Oh, ya? Jadi, mengapa Mbak memutus Reilley?” tantang Didi.

Aku langsung terdiam.

“Mbak sudah bicara dengan dia sejak dari Wilmington?” tanya Didi. Dengan

susah payah dia mencoba menggunakan nada sehalus mungkin denganku.

“Belum. Dia nggak telepon aku juga.”

“Ya, iyalah dia nggak telepon, Mbak. Laki-laki mana juga yang bakal menelepon

begitu lamarannya ditolak?”

Sekali lagi aku hanya terdiam.

“Mbak cinta kan dengan Reilley?”

“Ya. Aku sebetulnya ingin bilang perasaanku ke dia, tetapi dia nggak pernah

mengatakan cinta kepadaku. Jadi, ya sudah.”

“Sejak kapan sih Mbak jadi begini sentimentilnya hanya gara-gara satu kata itu?

Bukannya selama ini Mbak bilang ke aku kalau kata cinta itu sudah terlalu dibesarbesarkan?

Lagi pula juga, dia sudah melamar Mbak. Apakah itu belum cukup bukti

bahwa dia cinta kepada Mbak.”

I don‟t know. I serously don‟t know, okay!” teriakku frustrasi.

“Oke... oke...,” balas Didi, agak terkejut mendengar teriakanku.

“Aku harus bagaimana, Di?”

“Kalau Mbak memang terobsesi banget mendengar kata cinta dari dia, aku

sarankan Mbak tanya dia. Telepon dia sekarang juga dan tanya,” perintah Didi.

“Kalau misalnya dia nggak mau bicara dengan aku, bagaimana?”

“Ya... kan masih ada e-mail, text message, surat, kirim kurir, samper dia di

rumahnya kek, di kantornya kek. Pokoknya, terserah deh,” balas Didi tidak sabaran.

Aku memikirkan saran Didi beberapa detik, kemudian loncat dari tempat tidur.

“Di, sudah dulu ya,” ucapku, dan tanpa menunggu jawaban darinya aku langsung

memutuskan sambungan itu.

Dengan tangan gemetaran aku menekan nomor telepon Reilley. Aku berjalan

bolak-balik di samping tempat tidur, menunggu hingga ada nada sambung. Setelah

lima deringan aku mendengar suara Reilley.

You have reached Francis O‟Reilley‟s cell number. I‟m sorry that I‟m unable to pick up

your call right now. Please leave a message and I will get back to you as soon as I can.”

Damn it!” teriakku. Kulirik jam yang ada di telepon selularku. Sudah pukul

setengah tujuh. Aku harus mandi dan berangkat kerja.

Satu setengah jam kemudian, aku sudah tiba di kantor tanpa menyadari

bagaimana aku bisa sampai di sana. Aku sudah mencoba menghubungi nomor

Reilley sebanyak empat kali, dan setiap kali voicemail-nya yang menjawab. Apakah

mungkin Reilley sedang berada di luar Amerika, dan tidak membawa teleponnya

sehingga semua panggilan akan langsung masuk ke voicemail? Aku menimbangnimbang

untuk menelepon kantor Reilley di Raleigh. Selama mengenal Reilley, aku

tidak pernah mengganggu orang di kantornya. Aku akhirnya memutuskan untuk

memberinya waktu, mungkin dia memang sedang sibuk dan tidak bisa mengangkat

telepon. Kutarik napas dalam, dan menumpukan perhatianku pada pekerjaanku.

Pukul sembilan aku mencoba menghubungi nomor telepon selular Reilley lagi,

tetapi kembali hanya voicemail-nya yang menjawab. Pukul sepuluh telepon selularku

bergetar. Jantungku langsung berhenti berdetak selama beberapa detik, kemudian

kuberanikan diri melirik ke layar dan menggeram.

“Di, aku sedang coba menghubungi dia, tapi belum terhubung. Nanti begitu aku

bisa terhubung dengan Reilley, aku langsung kasih tahu kamu, ya,” ucapku,

sebelum Didi bisa mengatakan apa-apa.

“Oke,” balas Didi, sambil cekikikan dan menutup telepon. Pikiranku sudah

terlalu galau untuk menanyakan mengapa dia cekikikan.

Aku menimbang-nimbang telepon selularku dengan tangan kanan, lalu tanpa

aku sadari aku mulai menuliskan pesan untuk Reilley.

Reilley, I really need to talk to you. Would you call me as soon as you read

this message. Titania.

Aku lalu mengirimkan pesan itu dan mencoba mengontrol napasku, yang tibatiba

memburu. Pukul 12.00, aku masih belum juga mendapat kabar apa-apa dari

Reilley. Aduh, ini orang ke mana sih? Setidak-tidaknya, dia kan bisa telepon aku

balik atau kirim text message kalau memang dia nggak mau omong denganku,

omelku dalam hati. Pukul satu siang, aku baru kembali dari makan siang ketika aku

akhirnya memutuskan menelepon kantor Reilley. Aku sudah tidak mampu

menunggu lagi. Kukeluarkan kartu nama Reilley dari dalam agendaku.

Kutekan nomor itu perlahan-lahan untuk memastikan aku tidak salah tekan

atau salah lihat, lalu kuletakkan telepon di telinga. Tidak lama kemudian aku

mendengar nada sambung, dan seorang wanita yang menyebut dirinya sebagai

Wanda menyambutku dengan ramah.

Can I please be connected to Francis O‟Reilley,” ucpaku, kemudian menahan

napas.

Mr. O‟Reilley‟s is not in today, but I can connect you to his assistant. Would that be

okay?” balas Wanda.

Asisten? Reilley tidak pernah berkata kepadaku dia punya asisten. Tampaknya

jabatan Reilley di perusahaan ini jauh lebih tinggi daripada apa yang telah

diungkapkannya kepadaku.

Yes, that would be fine,” jawabku.

Hold, please.” Beberapa detik kemudian, aku mendengar suara laki-laki di ujung

saluran telepon.

Yes, I‟m supposed to be connected to Mr. Francis O‟Reilley‟s assistant?”

Yes. I am Mr. O‟Reilley‟s assistant. I‟m Michael, how can I help you?” Michael

terdengar ramah.

“Ya. Bisa kasih tahu bagaimana saya dapat menghubunginya? Saya sudah

mencoba menghubungi telepon selularnya sejak pagi, tetapi tidak pernah diangkat.

“Wah, saya nggak tahu bagaimana itu bisa terjadi, teleponnya biasanya tetap

hidup sampai dia naik ke pesawat.”

Is he going somewhere?

Well, he‟s technically on his vacatio, Ma‟am, but he always leaves his cell on just incase

we need to reach him.”

Aku mengembuskan napas kesal. Tampaknya aku harus menunda bertemu

dengan Reilley hingga dia kembali dari cutinya. “Apakah Anda tahu kapan dia akan

kembali?”

“Pesawatnya berangkat dari Raleigh pukul 16.00 hari ini. Dia baru akan kembali

sekitar bulan Juli.”

“Bulan Juli?!” teriakku terkejut.

“Ya, Mr. OReilley selalu mengambil cuti delapan minggu untuk pergi ke Nice

setiap tahun, Ma‟am.”

Did you say Nice?” Aku langsung teringat, Reilley pernah mengatakan dia dan

keluarganya selalu pergi ke Nice setiap musim panas. Sekarang kan masih awal

bulan Mei. Musim panas baru akan dimulai pada bulan Juni.

Yes, Ma‟am,” jawab Michael. Aku langsung melirik jam tanganku, yang kini

telah menunjukkan pukul setengah dua. Aku langsung panik.

“Dia mengambil penerbangan apa?”

“Dia akan terbang ke JFK dengan Delta, lalu melanjutkan penerbangannya

dengan Air France ke Paris lalu Nice.”

“Apa nomor penerbangannya?”

Kudengar suara keyboard yang sedang ditekan, kemudian Michael memberikan

nomor penerbangan itu. Aku hanya sempat mengucapkan terima kasih sebelum

menutup telepon. Tanpa mematikan komputer, aku langsung pergi menemui bosku

dan meminta izin keluar karena ada keadaan darurat. Melihat wajah panikku,

Linnell tidak bertanya-tanya lagi dan langsung membolehkanku pergi.

Aku berlari sekuat tenaga menuruni tangga menuju lantai dasar, lalu aku berlari

lagi menuju mobil. Kuhidupkan mesin, dan tanpa menunggu lagi aku langsung

tancap gas. Aku hanya ada waktu dua jam lebih sedikit untuk mengejar

penerbangan itu. Aku sudah kehabisan waktu.

“Tunggu, Reilley, tunggu... please tunggu sampai aku datang!” ucapku pelan.

11

Belajar Bahasa Indonesia

KUTATAP tubuh tinggi besar, yang masih tertidur di atas sofa. Tiba-tiba seorang

laki-laki mengenakan jas putih dokter dengan rambut ubanan dan langkah sigap

sudah memasuki ruangan diikuti suster. Setelah dia cukup dekat, aku bisa membaca

nama yang disulam pada jas putihnya. Roland Smith, M.D.

Ahhh... our sleeping beauty is awake,” ucap dokter itu, dengan suara yang

menggelegar. Aku sebenarnya ingin sekali menutup telingaku dengan kedua

tanganku, tetapi karena tangan kananku sedang digenggam oleh Didi dan tangan

kiriku oleh Dokter Smith aku pun hanya bisa meringis saja.

Is she going to be alright?” tanya Didi khawatir.

“Apakah Anda merasa pusing atau penglihatan agak kabur?” tanya Dokter

Smith kepadaku, masih dengan suara yang terlalu keras.

Aku menggeleng. “Hanya capek saja,” ucapku pelan.

“Ya. Itu biasa setelah tidur terlalu lama,” jelas Dokter Smith. Aku jadi bertanyatanya,

sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri. “Badan Anda akan terasa sedikit

kaku beberapa hari karena memar di seluruh tubuh Anda, tetapi tidak ada tulang

yang patah,” lanjut Dokter Smith. Memar? Tubuhku ada memarnya? Bagian mana?

Aku mulai bertanya-tanya dalam hati.

“Apa kakak saya sudah diperbolehkan pulang?” tanya Didi lagi.

“Saya rasa akan lebih baik bila dia menginap satu malam lagi, hanya untuk

memastikan dia betul-betul baik-baik saja. Kadang-kadang ada efek yang agak

terlambat datangnya setelah benturan di kepala, seperti yang dialaminya. Kami

hanya ingin memastikan dia tidak mengalami hal-hal seperti itu sebelum kami

memperbolehkannya pulang.”

Kulihat Didi mengangguk. Aku menyentuh infus yang menempel pada hidungku,

dan Didi langsung bertanya, “Apakah dia masih perlu oksigen itu?”

“Apakah Anda mengalami masalah pernapasan?” tanya Dokter Smith

kepadaku. Aku menggeleng, dan Dokter Smith langsung memerintahkan suster

agar mencabut selang oksigen itu secepatnya.

Shift saya akan habis dalam beberapa menit, tetapi Marge akan mengurus

Anda sampai saya kembali besok pagi, oke,” ucap Dokter Smith, sambil menunjuk

suster yang kini sedang tersenyum kepadaku.

Don‟t worry about a thing, dear,” Marge mencoba meyakinkanku.

Aku mengangguk, dan Dokter Smith berlalu diikuti Marge.

“Aku lupa ingin tanya sesuatu ke Dokter Smith. I‟ll be right back, okay,” ucap

Didi, kemudian menghilang keluar dari kamar dan menutup pintu di belakangnya.

Ketika ruangan sudah kosong kembali, aku baru menyadari Reilley sedang

berdiri di samping sofa sambil menatapku tidak pasti.

Hi.” Aku rasanya ingin menendang diriku setelah mengucapkan kata itu. Ada

banyak sekali yang ingin aku katakan kepadanya, tetapi satu-satunya kata yang aku

bisa ucapkan hanya „hi?

Tiba-tiba Reilley sudah berdiri di samping tempat tidur sambil memegangi

tanganku. Aku mencoba membalas dengan meremas tangan Reilley, tetapi ototototku

masih terlalu kaku.

I‟m sorry,” ucapku akhirnya.

Ssshhh... just rest. We can talk about it later,” balas Reilley, kemudian mencium

tanganku.

Stay?” pintaku.

I‟ll be here.” Reilley lalu mencium keningku, dan aku pun kembali ke alam

bawah sadar.

* * *

Ketika aku terbangun lagi, sinar matahari sudah tidak bersinar di luar sana.

Kamarku kelihatan agak redup hanya dengan penerangan sebuah lampu tidur, yang

terletak di atas meja kecil di samping sofa. Sudah tidak ada selang yag menempel

pada hidungku, dan tidak ada jarum yang menusuk pergelangan tanganku. Marge

rupanya telah mengangkat semua itu ketika aku masih tidur. Kulihat Reilley sedang

tidur sambil duduk dengan mengistirahatkan kepalanya di atas kasur. Kuangkat

tanganku perlahan-lahan, dan membelai rambutnya. Satu kali... dua kali... tiga kali...

Reilley mulai bergerak di bawah belaianku. Pada belaian keempat, Reilley

mengangkat kepalanya dan menatapku.

Hey,” ucapnya, dengan nada sedikit mengantuk.

Baru pada saat itu aku sadari, Reilley kelihatan sangat lelah. Ada garis hitam di

bawah matanya, dan kerutan-kerutan di keningnya kelihatan lebih dalam daripada

yang aku ingat. Dia kelihatan lima tahun lebih tua hanya dalam waktu dua bulan.

Reilley meraih tanganku, mendekatkannya pada hidungnya dan menarik napas

dalam-dalam sambil menutup matanya.

God, I miss that smell,” bisiknya.

“Kamu kelihatan lelah,” ujarku pelan. Reilley membuka matanya ketika mendengar

nada khawatirku.

“Sudah dua bulan belakangan ini saya nggak bisa tidur,” kata Reilley. Aku

hanya menatap Reilley, mencoba tersenyum. “There was this girl. Kami baru dating

sebulan ketika saya tahu bahwa saya nggak akan pernah bisa hidup tanpa dia. Jadi,

dia saya lamar pada Hari Valentine‟s, thinking that I may be able to get a yes on such a

romantic day.” Reilley mengedipkan matanya kepadaku. Aku hanya bisa tersenyum.

But she didn‟t take the proposal so well. She just kept quiet like a deer caught in the

headlight. So I had to improvise. I told her to take all the time in the world to think about it,

even though I feel like shaking some sense into her right then and there.” Reilley

melanjutkan ceritanya dengan lebih serius. Aku sebetulnya sudah ingin tertawa,

tetapi Reilley langsung mengerlingkan matanya begitu melihat senyumku sehingga

aku terpaksa menggigit bibir bawahku.

Anyway, my patience paid off, because our relationship... blossomed (Reilley meringis

ketika mengatakan kata ini. Aku tahu, kata „berkembang terkesan lebih pas

diucapkan oleh wanita, bukan laki-laki semaskulin Reilley) selama seminggu setelah

itu, tetapi tiba-tiba nggak ada hujan nggak ada badai dia berhenti menjawab telepon.

Waktu itu saya sedang ada di San Fransisco karena ada pekerjaan, so I can‟t just bolt.

Malam sebelum saya seharusnya pulang, dia telepon saya dan memberitahu dia

akan datang ke rumah saya, bukan kebalikannya seperti yang saya sudah rencanakan

sebelumnya.” Reilley terdengar sangat sedih dan kecewa ketika mengatakan ini

semua. Aku mencoba bangun dari posisi tidur, ingin memeluknya dan mengusir

semua kesedihan serta kekecewaan itu. Ketika Reilley melihat apa yang aku coba

lakukan, dia justru bangun dari kursinya dan duduk di atas tempat tidur agar bisa

lebih dekat denganku.

“Saya sudah terbiasa pulang ke rumahnya, sampai-sampai saya hampir

menganggap rumahnya sebagai rumah saya daripada rumah saya sendiri. Saya rasa

dia juga tahu itu. Oleh karena itu, saya pikir permintaannya agak sedikit aneh, tetapi

saya ikut saja. Semakin saya pikirkan tentang itu, saya berkesimpulan mungkin...

hanya mungkin... dia berencana menerima lamaran saya. Saya mencoba menyimpan

semua kebahagiaan itu di bawah penampilan yang sok cool, tentunya. But when I saw

her coming out of her car looking like a very sexy Greek goddess....”

Aku mencoba memotong kalimat Reilley, dan menegurnya agar tidak

menggangguku dengan menyebutku seksi atau mengibaratkanku seperti Dewi

Yunani, tetapi Reilley mengangkat tangannya memintaku memberinya kesempatan

agar dapat menyelesaikan ceritanya. Aku pun menutup mulutku kembali.

As I was saying... she looked like a Greek goddess... and I just lost it. I grabbed her

before she had a chance to take a breath and kissed the living hell out of her. She didn‟t protest

either, so I thought it was a good sign.” Aku berusaha agar pipiku tidak memerah

karena mengingat ciuman Reilley hari itu, yang menurutku adalah ciuman

terdahsyat yang pernah aku rasakan sepanjang hidupku.

“Dia bilang dia perlu bicara. Jadi, kami duduk. Dia melemparkan bomnya ke

saya. She literally made me from the happiest man alive in one minute to the most miserable

in the next. Saya terlalu kaget ketika mendengar kata-katanya. Jadi, saya hanya

duduk diam seperti orang idiot. The next thing I knew she was gone.” Reilley sedang

menundukkan kepalanya, sehingga aku tidak bisa melihat wajahnya.

“Reilley,” ucapku. Nadaku antara memohon dan mencoba terdengar simpatik.

My life without you was hell. Selama sebulan saya coba menghapus kamu dari

pikiran saya, tetapi nggak bisa. Hal-hal kecil yang bikin saya gila, like how you would

always sleep on the furthest side of the bed but ended up snuggled up to me anyway, atau

cara kamu menggigit bibir bawah kalau kamu lagi gugup. Hell I even missed seeing

your hair all mussed up in the morning but still manage to look so hot. Pokoknya...”

kulihat Reilley menarik napas, baru kemudian berkata, “I missed you,” sambil

menatapku. Reilley menyentuh wajahku dengan jari-jarinya.

By April, I can‟t even think straight anymore. I just want to hear your voice so bad that

I would pick my phone up, dial your number and hang-up before it starts ringing, several

times a day. I could‟ve showed up at your door one day and demand you to take me back, but

I know that... that‟s not what you want. You‟re the kind of person who when you said you

can‟t marry someone, you must have meant it or you wouldn‟t be saying it. I want to respect

your decision, so I left you alone. Even though it was killing me, but I left you alone.”

Mendengar semua penjelasannya aku tahu Reilley mengenalku luar-dalam,

mungkin lebih daripada aku mengenal diriku sendiri. Selama dua bulan aku

mengharap Reilley menghubungiku, tetapi di dalam hati kecilku aku tahu yang aku

inginkan adalah agar Reilley menghormati keputusanku untuk tidak menikahinya.

Then that day. I was supposed to be flying out to Nice to join my family like I always do

every year, but at the last minute I bailed. I have no idea why, but I just felt... wrong, like I‟m

missing something. So instead of checking-in I just sat there at the departure area for two

hours.” Reilley tertawa sedih ketika mengatakan ini.

“Kemudian, saya lihat kamu. Awalnya saya nggak yakin dan berpikir saya

berhalusinasi, tetapi saya ikuti kamu sampai keluar dari gedung terminal, dan

hanya untuk memastikan saya panggil nama kamu. Kamu tetap jalan saja. Jadi, saya

pikir saya pasti sudah salah orang. Saya panggil nama kamu again and again, lalu

tiba-tiba kamu berhenti dan menoleh.” Reilley menggeleng, seolah-olah dia sedang

mencoba mengusir bayang-bayang yang menghantui pikirannya.

“Kamu kelihatan seperti baru melihat hantu. Muka kamu pucat... shock

kayaknya. Saya nggak tahu mengapa kamu ada di situ, tetapi dalam hati saya

berharap kamu datang mencari saya. Anywa, you didn‟t look too happy to see me. Jadi,

saya tahu kamu datang bukan untuk saya. Tahu-tahu kamu tertawa, dan saya jadi

yakin kamu memang datang mencari saya. Lalu...”

Reilley tersedak, dia seakan-akan sedang bersusah payah menahan emosinya.

Kugenggam jari-jarinya, kudekatkan pada hidungku, dan kuambil napas dalamdalam.

Aromanya jauh lebih wangi daripada yang aku ingat.

The moment that car came at you, saya nggak bisa lihat apa-apa selain ketakutan

saya sendiri. Ketakutan kehilangan kamu lagi. I would‟ve tried to pull you out of the

way, tetapi saya terlalu jauh dan mobil itu menabrak kamu sehingga kamu jatuh ke

aspal. I swear I thought you were dead. I went to pull the driver out of his car, he was about

80, a crazy old grandpa who is senile enough that he probably didn‟t know that he was

speeding, and I wanted to hit him, But then someone screamed that you were alive and I

just... I just...”

Kutarik Reilley ke dalam pelukanku. Aku tidak peduli posisi tubuh Reilley

menjadi kurang nyaman. “I‟m so sorry, Reilley,” ucapku pelan. “Saya coba

menghubungi telepon selular kamu hari itu selama berjam-jam, tetapi saya selalu

mendengar nada voicemail.”

Reilley melepaskan pelukannya, dan menatapku. “Kamu telepon saya?”

tanyanya, dengan suara tidak percaya.

Aku mengangguk. “Saya bahkan mengirim text untuk memberitahu saya perlu

bicara dengan kamu secepatnya, tetapi kamu nggak pernah telepon saya balik.”

Reilley menundukkan kepalanya, kemudian dia tiba-tiba tertawa sekencangkencangnya

sambil menggeleng-geleng. Aku hanya bisa menatapnya bingung,

tetapi lama-kelamaan aku tersenyum karena menyadari betapa aku merindukan

suara tawa itu.

“Kamu kok tertawa?” tanyaku, sambil tersenyum.

“Hahaha... Saya nggak bawa telepon selular hari itu. Ketinggalan di rumah, itu

sebabnya kamu mendengar nada voicemail melulu. Hahaha... I can‟t believe it. Pada

hari ketika kamu memutuskan bicara dengan saya adalah hari di mana saya nggak

bawa telepon.”

“Kamu lupa membawa telepon?” tanyaku bingung. Reilley tidak pernah lupa

membawa telepon selularnya. Dia pernah berkata, benda itu adalah hal kedua

terpenting baginya setelah diriku.

“Saya tahu, pasti menurutmu aneh, kan? Saya nggak tahu bagaimana itu bisa

terjadi. Saya bahkan nggak menyadari hal itu sampai saya ingin menelepon 911

untuk menolong kamu.”

Aku mengangguk. Tanpa kusangka-sangka Reilley kemudian menatapku tajam.

“Mengapa kamu nggak menunggu saya sebelum bertemu Brandon? Semua ini

nggak akan terjadi kalau kamu nggak pergi menemui dia.”

“Dari mana kamu tahu soal itu?”

“Adik kamu cerita semuanya kepada saya. Did you hoenstly believe that I was

going to leave you and that I didn‟t love you?

Aku meringis mendengar pertanyaan Reilley. Tampaknya Didi sudah menceritakan

segala sesuatunya kepada Reilley. Tiba-tiba Reilley meremas lengan atasku

dengan kedua tangannya, dan berkata dengan tajam, “Promise me that you would

never ever think like that ever again.”

Aku hanya bisa menatap Reilley dengan mulut ternganga. “Promise me,” ucap

Reilley lagi.

I promise,” balasku lemah. Mendengar kepastian itu, Reilley baru melepaskan

pegangannya pada lenganku. Kemudian kuberanikan diri untuk mengatakan katakata

yang aku sudah ingin katakan kepadanya. Aku tidak peduli apakah dia

merasakan hal yang sama. Dia harus tahu bagaimana perasaanku kepadanya.

I love you,” ucapku perlahan-lahan.

Reilley kelihatan terkejut mendengar kata-kata itu, tetapi kemudian dia

membalas, “Your love for me is nothing compares to how much I love you.”

I know, but I think I can keep up,” candaku.

Taht would be impossible because I love you so... so... so much. So much so that I‟m

willing to meet with that psycho ex-boyfriend of yours to tell him that if he ever bother you

again with that trash talk of his, I will swing my fist at his face again. Kali ini saya nggak

akan berhenti sampai dia mati.” Reilley terdengar cukup geram ketika mengucapkan

kata-kata ini.

Oh... please don‟t do that,” pintaku, sambil tertawa.

You don‟t want me to kill him?” tanya Reilley bingung.

Oh... You have no idea how much I want you to kill him, tetapi bagaimana kalau

kamu kirim orang lain saja untuk melakukannya. Saya hanya nggak mau kamu

menyentuh bagian mana pun dari diri orang nggak bermutu itu,” balasku.

Well... wel... look at you going all Sicilian on me.”

Sicilian?”

“Ya. Kamu nggak ada belas kasihan.”

“Saya nggak ada belas kasihan?”

Oh... yeah, which makes you look so much hotter.”

“Oke, kamu harus berhenti menggunakan kata hot dan seksi untuk menggambarkan

saya deh.”

“Mengapa?”

“Kata-kata itu bikin saya merasa nggak nyaman,” protesku.

“Bagaimana kalau saya katakan, kamu juga wanita paling pintar yang pernah

saya temui?”

You think so?” tanyaku agak terkejut.

“Mengapa kamu kelihatan kaget?”

Well, I have never been the smart one in the family. So I don‟t know whether I should

believe you or not.”

Well, believe it. It‟s not your fault that your sister is freakishly smart.”

Hey...!” teriakku, meskipun dengan nada bercanda.

Reilley tertawa melihat reaksiku. “Hei, omong-omong, dari mana kamu tahu

saya akan ada di RDU hari itu?” lanjutnya.

RDU adalah kode airport Raleigh. “Saya telepon kantor kamu dan asisten kamu,

Michael, memberitahu saya,” jelasku.

“Oh,” kata Reilley.

“Omong-omong, kamu nggak pernah cerita ke saya kalau kamu punya asisten.”

“Dia masih baru. Saya naik jabatan jadi head programmer bulan April kemarin.

Itulah sebabnya saya dapat asisten.”

“Kamu naik jabatan?”

Reilley mengangguk. “Hal itu berarti waktu travel saya bisa dikurangi, dan saya

bisa relaks sedikit.”

That would be a nice change. Mungkin kamu akan bisa menghabiskan lebih

banyak waktu kamu di Wilmington,” usulku.

Reilley sedang menatapku, dia kelihatan agak ragu. Aku tahu ada sesuatu yang

ingin dia tanyakan. Jadi, aku hanya diam menunggu. Kemudian, Reilley menarik

napas dan meraih kedua tanganku. “Saya tahu ini mungkin bukan saat yang tepat,

but I don‟t think I can stand the suspense any longer,” ucapnya perlahan-lahan.

What are you talking about?” tanyaku hati-hati.

Reilley mengeratkan genggamannya dan menatapku, lalu berkata, “Kalau saya

melamar kamu sekarang, apakah kamu akan menjawab ya? Atau kamu masih perlu

waktu untuk berpikir lagi?”

“Saya nggak perlu waktu untuk berpikir lagi,” jawabku, sambil tersenyum.

Is that a yes?” Reilley mulai tersenyum.

“Menurut kamu?” balasku, sambil nyengir. Reilley langsung menarikku ke

dalam pelukannya, kemudian mulai menciumi wajahku. Reilley mencium bibirku

sedalam-dalamnya, dan tidak melepaskannya selama beberapa menit.

Aku harus memohon kepadanya agar berhenti, dan memberiku kesempatan

bernapas lagi.

Thank you,” bisik Reilley.

Pada saat itulah aku menyadari Reilley benar-benar mencintaiku. Aku tidak

tahu mengapa Reilley bisa tergila-gila kepadaku, tetapi aku tidak akan menanyakan

hal itu. Ibuku selalu berkata, lebih baik digila-gilai daripada menggila-gilai orang

yang kita cintai. Aku hanya berharap Reilley akan tetap mencintaiku sampai aku tua

dan keriput karena aku tahu aku akan masih mencintainya hingga aku mati.

Saat itulah aku dapat mengerti arti mimpiku ketika Reilley memintaku lari

bersamanya menuju garis 10-yard pada saat aku dikejar Brandon. Aku sadar

sekarang, garis 10-yard itu menggambarkan kebahagiaanku dengan Reilley. Itu

sebabnya mengapa aku harus mencapai garis itu dengan berlari bersama-sama

Reilley, bukan dipanggul olehnya karena akulah yang harus melepaskan diriku dari

Brandon. Apa pun yang dilakukan Reilley, kalau Brandon masih memiliki pengaruh

begitu besar terhadap diriku, maka hubunganku dengannya akan mati di jalan. Aku

akan memastikan hal itu tidak terjadi lagi.

You really need to get some sleep. You look terrible,” ucapku, sambil sekali lagi

menyentuh wajahnya.

“Apa saya kelihatan sejelek itu?” tanya Reilley, sambil membelai wajahku.

Aku tersenyum. “As bad as you might look, which is not as bad as other people. You

can still pull-off a photo shoot or two,” candaku.

Well, menurut saya kamu kelihatan fantastic untuk orang yang tidur selama

empat hari berturut-turut,” balas Reilley.

“Empat hari? Saya sudah tidak sadarkan diri selama empat hari?” teriakku

terkejut.

Reilley mengangkat bahunya, “Kepala kamu terbentur cukup keras.”

“Saya ada di mana sih?” tanyaku, sambil melihat ke sekelilingku.

“Kamu masih ada di Raleigh, tetpai saya bisa bawa kamu pulang begitu Dokter

Smith bilang oke.”

Aku mengangguk. “Saya minta maaf karena kamu nggak bisa berlibur bersama

keluarga kamu.”

Reilley mengibaskan tangannya, “Don‟t worry about it. This is the best vacation tha

tI have since I was ten.”

“Kamu lebih memilih menunggui orang sakit, dan tidur di sofa yang terlalu

kecil untuk kamu di dalam kamar yang berbau alkohol daripada ada di Nice?”

tanyaku ragu.

“Ah... kamu lupa poin yang paling penting.”

“Apa itu?”

That I get to spend all of those time being close to you.”

Aku tidak bisa mengeluarkan kata-kata untuk membalas Reilley. Aku hanya

bisa menatapnya sambil tersenyum tersipu-sipu. Kemudian pintu kamar terbuka,

dan Didi masuk dengan membawa beberapa kantong plastik. Aku langsung bisa

mencium bau burger. Tiba-tiba aku merasa lapar.

“Sudah bangun, ya?” ucap Didi. Ia kemudian meletakkan semua bawannya di

atas sofa, lalu berjalan ke arahku dan mencium pipiku.

“Bawa apa, Di?” tanyaku.

Didi langsung berjalan setengah berlari menuju sofa, “Aku beli chicken teriyaki

dari Subway, cheeseburger, Big Mac, sop krim, dan tacos dari Taco Bell. Untuk

minumnya aku beli pepsi, mountain dew, dan ice lemon tea,” jawabnya.

“Aduh, semua kamu borong?” candaku.

“Habis aku pikir Mbak pasti kelaparan. Mbak sudah nggak makan empat hari.

Lagi pula, cowok Mbak ini kalau makan nggak kira-kira. Untungnya aku masih

kebagian makanan begitu dia selesai makan.” Sambil bicara Didi mengeluarkan

semua isi plastik itu, dan meletakkannya di atas meja makan untuk pasien. Dia

kemudian mendorong meja itu ke hadapanku.

Hey, Ry,” ucap Didi kepada Reilley, yang kini sedang menatap adikku dengan

tatapan jenaka. Aku menatap Reilley bingung. Sejak kapan adikku memanggil

Reilley dengan Ry? Reilley menggeleng kepadaku, menandakan dia akan

menjelaskan semuanya nanti.

“Oh... ya, Mbak ingin kumur dulu? Mbak belum sikat gigi selama empat hari

lho,” ucap Didi cuek. Aku langsung menutup mulutku karena malu. Reilley kan

baru saja menciumiku. Bagaimana dia bisa melakukannya, dan tidak jatuh pingsan.

Melihat reaksiku Didi hanya tertawa, sedangkan Reilley menatapku bingung

karena dia tidak memahami apa yang sedang kami bicarakan. “Kumur saja dulu

deh,” jawabku. “Mungkin pakai Listerine,” tambahku. Didi tersenyum, kemudian

mengisi gelas dengan air dan membawa gelas itu kepadaku. Ia juga membawakan

aku satu botol Listerine citrus berukuran kecil dan satu baskom.

Aku langsung melakukan aktivitas higienis-ku dengan wajah agak memerah

karena malu. Setelah aku selesai dengan itu semua, Reilley mengangkat baskom dan

menumpahkan isinya ke wastafel. Dia bahkan menyempatkan diri mencuci baskom

itu sebelum kembali duduk di hadapanku.

“Jadi, Mbak ingin yang mana?” tanya Didi. Aku memfokuskan perhatianku

pada semua makanan yang ada di hadapanku. “Memang aku boleh ya makan

makanan seperti ini?” tanyaku ragu.

“Boleh kok, kata Marge nggak apa-apa.” Tanpa menunggu persetujuanku, Didi

langsung memasukkan sedotan pada masing-masing tutup ketiga gelas plastik yang

ada di hadapanku.

Aku lalu memilih membuka tutup mangkuk plastik yang berisi sop krim. Didi

menyerahkan sendok plastik untukku, kemudian meletakkan napkin pada dadaku.

Scoot over, dude, I also want to sit on the bed!” perintah Didi kepada Reilley. Aku

agak terkejut ketika Reilley mengikuti perintah itu dan bergeser sedikit.

So, have you told her?” tanya Didi, sambil mengambil cheeseburger dan mulai

membuka pembungkus kertasnya.

Yeah, I told her,” balas Reilley, yang sedang melahap Big Mac.

“Dia bilang apa?”

“Dia bilang dia cinta saya.” Wajah Reilley kelihatan memerah ketika

mengatakan ini.

“Oh, ya?” Didi langsung menatapku dengan mata berbinar-binar, sambil

mengunyah. Aku hanya bisa menggeleng-geleng melihat kelakuan adikku ini.

Kumasukkan suapan pertama sop krim itu, dan harus menutup mukaku. Ini adalah

sop krim terenak yang pernah aku rasakan. Tanpa menunggu lagi, aku langsung

menghabiskan sop itu. Didi dan Reilley menatapku sambil tertawa.

“Masih lapar?” tanya Reilley kepadaku.

Aku mengangguk sambil membuka bungkus taco, dan mulai memakannya.

Kami semua lalu makan dalam diam.

“Saya melamar dia... lagi,” lanjut Reilley, Didi langsung terbatuk-batuk. Aku

buru-buru menyodorkan salah satu gelas yang ada di hadapanku kepadanya. Didi

minum sambil mengerlingkan matanya kepada Reilley.

Dude, what part of the word „wait a day or two‟ do you not understand?” omel Didi

pada Reilley, setelah dia sudah dapat mengontrol batuknya.

It doesn‟t matter, dia bilang ya,” balas Reilley bangga.

You said yes?” teriak Didi, dan langsung meremas pahaku. Didi baru

melepaskannya ketika melihatku meringis. “Sori, sori... lupa... lupa,” ucapnya

meminta maaf. Rupanya salah satu bagian yang memar adalah pahaku. “Jadi, kapan

menikahnya?” tanya Didi antusias.

“Di, aku baru dilamar hari ini. Kita perlu ada acara perkenalan, lalu lamaran,

dan baru nikah. Lagi pula, Reilley perlu bertemu Ibu dan Bapak dulu.... Omongomong,

kamu nggak bilang ke mereka kan kalau aku masuk rumah sakit?” tanyaku

khawatir.

“Tadinya aku sudah akan telepon mereka, tetapi kata dokter Mbak nggak kritis.

Jadi, aku nggak jadi telepon. Honestly, kalau Mbak waktu itu kritis, Ibu dan Bapak

pasti sudah di sini,” jelas Didi.

Aku langsung mengembuskan napas lega. Aku betul-betul tidak ingin membuat

orangtuaku panik. Tiba-tiba kudengar Reilley terkikik, aku dan Didi langsung

menatapnya bingung.

I‟m sorry, but I found your conversation quite fascinating. Kalian tadi bicara tentan

gapa sih?” tanya Reilley, di antara tawanya.

Nothing important,” balasku.

“Saya sudah meminta beberapa kali ke adik kamu untuk mengajari saya bahasa

Indonesia, tetapi dia menolak,” ucap Reilley, sambil menunjuk Didi.

Didi hanya melirikkan matanya kepadaku sambil tersenyum. Didi yang sudah

memakain habis cheeseburger tiba-tiba turun dari tempat tidur, dan mengambil

sesuatu dari dalam tasnya. Dia kembali beberapa menit kemudian membawa

agendanya. Dia duduk kembali di atas tempat tidur, dan menuliskan sesuatu di

dalam agendanya. Setelah itu, ia merobek kertas itu dan menunjukkannya kepada

Reilley.

“Bisa kamu baca itu keras-keras?” pinta Didi.

Reilley meletakkan Big Mac di atas meja, dan meraih kertas itu. “Apa ini?”

tanyanya bingung.

“Kamu bilang mau belajar bahasa Indonesia. Nah, ini pelajaran pertama kamu,”

balas didi, dengan sedikit memaksa.

“Oh... oke,” jawab Reilley, yang kemudian memicingkan matanya. Aku menatap

Didi penuh tanda tanya, tetapi Didi malah justru mengedipkan matanya kepadaku.

Kucoba mengintip apa yang ditulis Didi di selembar kertas itu, tetapi Didi

menahanku. Meskipun penasaran, aku terus memakan taco dan menunggu.

“Ekyu... shinta... kemyu.... Benar nggak saya mengucapkannya?”

“Mengerti nggak, Mbak?” tanya Didi kepadaku. Aku menggeleng.

“Coba sekali lagi, Ry. Pandang Titania ketika kamu mengucapkan itu,” pinta

Didi. Reilley lalu menatapku, dan mengulangi kata-kata itu.

Memahami apa yang Reilley baru katakan, mau tidak mau aku tertawa

terbahak-bahak.

“Saya tadi berkata apa sih?” tanya Reilley penasaran.

Aku cinta kamu, basically means I love you in Indonesian,” jelasku.

“Oh,” ucap Reilley, dan mengulangi tiga kata itu dengan pengucapan yang lebih

sempurna.

“Aku juga cinta kepada kamu,” balasku, sambil menatap Reilley.

“Oke, itu kedengaran beda. Kalau yang itu maksudnya apa?” tanya Reilley,

ingin tahu.

I just said that I love you too,” jawabku.

Oh, really?” Reilley kedengaran sangat tertarik. “Teach me more Indonesian

words,” pintanya.

“Apa yang kamu mau tahu?” tanyaku.

“Ini orang pasti benar-benar cinta kepadamu, Mbak, sampai mau belajar bahasa

kita. Aku kayaknya nggak pernah deh lihat orang sebegitu relanya belajar bahasa

Indonesia. Kita saja suka malas belajar bahasa kita sendiri,” komentar Didi.

“Kayaknya dia memang suka segala sesuatu tentang budaya Asia deh,” balasku.

“Oke, kalian baru omong apa tentang saya?” tanya Reilley.

Nothing,” balasku dan Didi bersamaan, lalu kami pun tertawa terbahak-bahak.

Aku baru berhenti tertawa ketika kulihat Reilley sedang memicingkan matanya

curiga.

* * *

Empat bulan kemudian.

“Kamu sudah siap?” tanyaku kepada Reilley.

Yeah, I think so,” jawab Reilley.

“Jangan panik oke, you‟ll be fine. Kamu kan sudah sering mengobrol dengan

mereka melalui telepon. Ini nggak beda dari itu kok.” Aku mencoba sebisa mungkin

menenangkan Reilley.

“Oke,” balas Reilley, sambil sekali lagi merapikan kaus yang dikenakannya.

Kami sedang berdirid i lokasi kedatangan Airport Raleigh, menunggu sampai

orangtuaku menginjakkan kaki mereka untuk pertama kalinya di North Carolina.

Tidak lama kemudian kulihat bapak dan ibuku berjalan bersama-sama. Bapakku

mendorong trolley, yang berisi dua kopor besar. Mereka kelihatan lebih tua dari

terakhir kali aku melihat mereka.

They‟re here,” bisikku kepada Reilley.

Reilley yang sudah berkali-kali melihat foto orangtuaku langsung bisa

mengenali mereka. Lagi pula, mereka adalah satu-satunya orang Asia yang keluar

dari pesawatan yang baru saja mendarat dari Detroit, Michigan.

Aku langsung berlari memeluk mereka. Bapak memelukku selama lima menit

tanpa mau melepaskanku. Ibu hanya mengangkat bahunya dan menunggu

gilirannya dengan sabar. Setelah Bapak melepaskanku, Ibu kemudian memelukku.

“Bagaimana, Ta? Baik-baik saja?” tanyanya.

“Baik, Bu,” jawabku. “Penerbangannya bagaimana?” tanyaku.

Ibu melepaskan pelukannya, lalu berkata, “Ya, enak sekali. Kalau pergi ke

Amerika seperti ini lagi sih Ibu mau. Nggak capek.” Ibuku kemudian tertawa. Aku

harus berterima kasih kepada calon suamiku, yang memaksa membayari tiket

pesawat Business Class orangtuaku. Aku ingat betul argumentasi di antara kami dua

bulan yang lalu, yang jelas-jelas akhirnya dimenangi oleh Reilley.

“Reilley, kamu nggak perlu membayari tiket mereka. Saya bisa bayar sendiri,”

ucapku.

“Saya memang ingin membayari,” balas Reilley.

“Mereka orangtua saya. Tanggung jawab saya.”

“Sebentar lagi mereka juga akan jadi orangtua saya, dan saya hanya mau

memastikan mereka mendapatkan akomodasi yang terbaik.”

They will be fine with Coach tickets, kamu nggak usah menghabiskan uang kamu

untuk beli tiket Business Class,” jelasku. Meskipun aku tahu Business Class memang

lebih baik daripada kelas ekonomi, aku tidak mau Reilley harus membayar 7000

dolar hanya untuk dua tiket pesawat Jakarta – Raleigh bolak-balik.

“Titania, ini penerbangan tiga puluh jam. Mereka sudah enam puluh tahun, dan

ini ungkapan rasa syukur saya karena mereka mengizinkan kamu menikah dengan

saya tanpa pernah bertemu saya sebelumnya. I want to do this for them, so deal with it.”

“Apa maksud kamu dengan „mereka nggak pernah bertemu kamu

sebelumnya? Mereka sudah pernah melihat...” Aku tidak bisa menyelesaikan

kalimatku karena Reilley sudah memotong.

“Foto saya. Ya, saya tahu. You told me so many times. Mereka kan nggak pernah

bertemu saya langsung. Besides it‟s not my money we‟re spending, but our money.”

“Kita masih belum menikah. Jadi, secara hukum itu masih uang kamu,”

bantahku.

“Coba saya tanya ini ke kamu. Apa kamu akan membiarkan orangtua saya travel

dari Raleigh ke Jakarta tanpa akomodasi yang terbaik kalau kamu memang mampu

membayarnya?”

“Tentu saja saya akan memastikan mereka mendapatkan akomodasi yang

terbaik, yang bisa saya pikirkan.”

Reilley menatapku dengan senyum penuh kemenangan. “Aggghhh... fine you can

pay for thos damn tickets,” geramku.

Hello, Bapak, nice to finally meet you. I‟m Francis.” Kudengar suara Reilley di

belakangku, dan ucapannya itu membuatku tersadar dari lamunan. Ketika aku

berputar, aku melihat dia sedang berjabat tangan dengan Bapak, yang kini kelihatan

superkecil dan sangat Asia berdiri di sampingnya. Aku agak terkejut karena dia

menggunakan nama Francis, yang terdengar sangat formal, ketika berkenalan

dengan orangtuaku.

“Ya, sama-sama,” balas Bapak.

Aku hampir saja tersedak, mencoba menahan tawaku ketika melihat Reilley

sedang mengerlingkan matanya kepadaku penuh dengan tanda tanya. Aku dan

Didi tidak mengajarkan apa arti kata “sama-sama” kepada Reilley.

“Reilley, ini ibu saya,” ucapku.

Reilley langsung berjalan ke arah Ibu dan menjabat tangannya. “Hello, Ib. Apa

kabar?” ucapnya dengan fasih.

Ibuku langsung membalas dengan menggunakan bahasa Indonesia, “Wahhh,

sudah bisa bahasa Indonesia, ya?”

Sekali lagi Reilley menatapku bingung. “Ibu saya kaget karena kamu bisa bicara

bahasa Indonesia dengan fasih,” jelasku.

“Oh... Terima kasih. Still learning,” ucap Reilley.

Ibu dan Bapak tertawa mendengar kata-kata Reilley. Kami lalu berjalan menuju

pelataran parkir. Reilley langsung mengambil alih tugas mendorong trolley, dan

mengajak bicara Bapak sehingga aku bisa berbicara lebih leluasa dengan Ibu.

“Persiapannya sudah selesai, Ta?” tanya Ibu.

“Sudah, pokoknya Ibu dan Bapak nggak usah khawatir. Keluarga Reilley

banyak membantu. Didi juga, selama summer kemarin. Dia harusnya datang besok

pagi dari D.C.,” jelasku.

“Reilley kelihatannya baik,” komentar Ibu, sambil memperhatikan punggung

Reilley.

“Dia cinta kepadaku,” ucapku, sambil tersenyum.

Ibuku mengangguk, kemudian tertawa terbahak-bahak disusul olehku. Bapak

dan Reilley menolehkan kepala mereka, ingin mengetahui apa yang membuat kami

tertawa.

We‟re just talking about the wedding!” teriakku kepada Reilley, yang kemudian

tersenyum dan kembali bercakap-cakap dengan Bapak.

* * *

Seminggu kemudian, aku pun resmi menjadi Mrs. O‟Reilley. Tentu saja aku

menangis dan harus di-makeup lagi sebelum resepsi, yang diadakan di sebuah taman

terbuka di daerah Winston. Selain orangtuaku dan adikku, beberapa bude, pakde,

om, tante, dan sepupuku ikut datang dari Jakarta menghadiri pernikahan kami.

Ternyata keluarga Reilley juga tidak kalah besarnya dengan keluargaku. Walaupun

rencananya kami hanya ingin mengadakan pesta kecil dengan hanya mengundang

keluarga dan teman-teman dekat saja, akhirnya tamu kami tetap meledak hingga

mencapai dua ratus orang. Upacara pernikahan kami tetap terasa resmi dan sakral

karena kami dikelilingi oleh orang-orang yang kami cintai dan mencintai kami.

Aku harus membiasakan diri setiap kali mendengar Reilley memperkenalkanku.

This is my wife, Titania,” itulah kata-kata yang diucapkannya dengan bangga. Aku

harus menahan diri agar tidak loncat ke pelukannya, dan menciuminya sampai dia

minta ampun.

Epilog

SATU bulan setelah semua keluargaku kembali ke Indonesia dengan ucapan terima

kasih yang sebesar-besarnya dariku dan Reilley, aku menghabiskan waktuku

dengan suamiku di Wilmington. Jauh dari segala hiruk-pikuk yang sudah

mengelilingi kami selama beberapa bulan belakangan ini.

Aku dan Reilley sedang menyisiri pantai di depan rumah, yang baru beberapa

hari ini menjadi rumahku juga. Aku mengajukan permintaan ke kantor agar

ditransfer ke Wilmington setelah menikah karena aku tidak mungkin meminta

Reilley menjual rumah ini dan tinggal bersamaku di Winston. Linnell sempat

ngamuk setengah mati ketika mendengar permintaanku, tetapi dia mengerti ketika

aku jelaskan bahwa dalam budaya Asia tugas seorang istri adalah ikut suami.

Aku langsung merasa nyaman dengan Wilmington. Sekarang aku mengerti

daya tarik kota kecil ini. Perlahan-lahan aku juga mulai menyukai rumah Reilley,

meskipun aku harus menggunakan stool jika ingin masak atau menggunakan

wastafel. Reilley selalu tertawa setiap kali melihatku sedang berdiri di atas stool itu.

Udara bulan Oktober yang mulai agak dingin mengelilingi kami, tetapi aku

hampir tidak merasakannya karena senantiasa ada dalam pelukan hangat Reilley.

Aku tidak menyangka kisah pencarian suami melalui jasa blind date berakhir dengan

tidak terlalu blind date karena aku sudah kenal Reilley sebelumnya.

How are you adjusting being married to me?” tanya Reilley kepadaku.

I‟m adjusting well enough,” ucapku. “Kamu bagaimana? Sudah bosan dengan

saya belum?” candaku.

Reilley tertawa dan mengeratkan pelukannya. “Nggak sampai lima puluh tahun

ke depan atau mungkin lebih,” bisiknya.

“Hanya lima puluh tahun?” tanyaku, sambil mengerlingkan mataku kepadanya.

Reilley menatapku dan menjawab, “Ya... karena pada saat itu kamu bakaln

sudah hampir delapan puluh tahun, dan kemungkinan besar baumu jadi aneh.

Kayak permen obat batuk dan Counterpain.”

“Mengapa kamu pikir saya baunya akan seperti itu?”

Well... saya nggak tahu juga. Suatu hari saya melihat seorang nenek di grocery

store, di satu tangan dia memegang sekantong permen obat batuk dan kotak

Counterpain di tangan yang satunya.”

“Apakah kamu bertemu dia di sini, di Wilmington?”

Reilley mengangguk. “Mengapa?” tanyanya, ketika melihat ekspresi wajahku.

“Saya pernah melihat dia juga sebelumnya. Rambutnya disanggul dan dia pakai

cardigan warna biru kalau nggak salah,” ucapku.

“Ya,” balas Reilley antusias.

“Saya bertemu dia beberapa kali, dan saya berpikir mengapa dia selalu

sendirian saja.” Tiba-tiba aku teringat akan nenek itu, dan aku merasa kasihan

kepadanya.

“Mungkin suaminya baru meninggal,” ucap Reilley pelan.

“Ya, mungkin. Dia seharusnya menikah lagi supaya nggak sendirian seperti itu,

ya nggak?”

Well, mungkin dia nggak mau menikah lagi. Mungkin dia terlalu cinta kepada

suaminya sehingga sulit baginya bisa jatuh cinta dengan orang lain lagi.”

Kupertimbangkan komentar Reilley. Sejujurnya, kalau misalnya Reilley tiba-tiba

terkena serangan jantung dan meninggal, amiti-amit... amit-amit... jangan sampai

deh... tetapi kalau saja hal itu terjadi, aku yakin aku juga tidak akan menikah lagi.

Tidak ada orang yang dapat menggantikan posisinya di dalam hatiku pada saat ini

dan sampai kapan pun juga.

“Apakah dia punya anak, ya?” gumamku.

“Mungkin ada. But maybe all her kids lived out of state and doesn‟t have much time to

come and see her.”

Oh, that‟s a terrible thing to do to a parent,” geramku.

Not to burst your bubble, but you are doing it right now to your parents,” ucap

Reilley pelan, sambil tertawa. Ketika melihatku mengerling, Reilley langsung

terdiam.

“Saya nggak menelantarkan orangtua,” omelku.

“Saya nggak bilang kamu beigtu. Hey look, saya juga melakukan hal yang sama

dengan orangtua saya, oke. Setidak-tidaknya kamu masih bisa dimaafkan karena

kamu tinggal beribu-ribu mil jauhnya dari mereka. Bagaimana saya? Saya hanya

tinggal empat jam perjalanan bermobil dari mereka, tetapi saya jarang bertemu

mereka,” jelas Reilley.

Aku menimbang-nimbang kata-kata Reilley ini. “Ya, kita betul-betul perlu lebih

sering bertemu orangtua kamu. Maybe we can invite them to stay over or something. Kita

bisa jemput mereka dari Winston dan mengantar mereka pulang nantinya.

Bagaimana menurut kamu?”

That sounds like a good idea,” ucap Reilley. “Kita juga bisa melakukan hal yang

sama untuk orangtua kamu. Mungkin kita bisa ke Jakarta kalau liburan.

Bagaimana?”

“Kamu ingin pergi ke Jakarta?” tanyaku bingung.

“Ya.... Saya ingin melihat negara tempat kamu grew up. Lihat rumah kamu,

teman-teman kamu, sekolah kamu, bahkan kebun yang pernah kamu ceritakan ke

saya.”

“Kamu ingin pergi ke Jakarta?” tanyaku sekali lagi.

Okay, is it just me or do I get the feeling that you don‟t want me to go to Jakarta?

Reilley terdengar sedikit jengkel.

Fine. We can go to Jakarta. Akan tetapi, saya peringatkan Jakarta itu nggak

seperti kota-kota lain yang pernah kamu kunjungi.”

Reilley mengangkat bahunya. “Nggak mungkinlah lebih parah dari Tokyo.”

“Ooohhh... kalau kamu pikir Tokyo parah, saya nggak tahu deh apa yang kamu

akan katakan tentang Jakarta.”

It can‟t be that bad if the people are as nice as you,” balas Reilley, sambil tersenyum.

Aku hanya menggeleng sambil tersenyum kepada suamiku ini. “Saya akan coba

bicara dengannya kalau saya bertemu dia lagi. Siapa tahu mungkin kita bisa jadi

teman,” lanjutku.

“Siapa?”

“Ratu Elizabeth.” Ketika kulihat Reilley tidak juga memahami nadaku yang

sarkasme, aku berkata dengan jengkel, “Nenek-nenek permen obat batuk itu, of

course.”

Tanpa kusangka-sangka Reilley menatap langit, dan tertawa terbahak-bahak.

Aku sudah berhenti melangkah, dan menatapnya sambil menjejak-jejakkan kakiku

ke atas pasir dengan tidak sabaran menunggu hingga dia menjelaskan alasan atas

reaksinya itu.

Tiba-tiba Reilley mengangkat tubuhku dan memutarku sambil berteriak, “I love

this woman!

Beberapa orang yang sedang berjalan langsung berhenti dan menonton

kelakuan gila Reilley.

“Reilley, turunkan saya!” perintahku.

Reilley berhenti memutarku. “Apakah saya pernah bilang ke kamu bahwa kamu

perempuan paling baik, paling pintar, dan paling seksi yang pernah saya temui?”

tanya Reilley.

All the time,” balasku datar, meskipun hatiku cukup berbunga-bunga. Reilley

memang tidak pernah lupa mengingatkanku tentang betapa baik, pintar, dan

seksinya aku. Tidak peduli berapa kali dia sudah mengatakannya, jantungku masih

tetap akan berhenti sesaat setiap kali mendengarnya.

Reilley sengaja tidak memedulikan nadaku dan berbisik, “Katakan kamu cinta

kepada saya juga, baru kamu saya turunkan.”

I love you,” bisikku.

“Apa?” Reilley mendekatkan telinganya pada bibirku.

I said I love you,” geramku.

“Saya nggak bisa dengar, kamu perlu bicara lebih keras.”

I love you, goddamn it! Now put me down!” teriakku.

She loves me too!” teriak Reilley, dan mulai memutarku lagi sambil tertawa

dengan keras. Aku mendengar orang-orang di sekitar kami juga mulai tertawa. Mau

tidak mau aku pun tertawa.

Kupeluk tubuh Reilley seerat-eratnya. Aku betul-betul mencintai dan dicintai

oleh laki-laki gila, yang sekarang sedang memutar-mutar tubuhku sambil

meneriakkan kepada seluruh Wilmington bahwa dia mencintaiku, dan aku tidak

bisa berhenti tersenyum serta tertawa karenanya.__

0 Response to "Blind Date 2"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified