Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

And Baby Makes Two II

Aku ikut tertawa, seolah aku tadi memang bercanda. Aku tidak tahu wanita yang sedang hamil tua tidak boleh naik pesawat terbang, tapi setelah Les mengatakannya barusan, aku merasa itu cukup masuk akal juga. Namun, tak pernah terlintas sedikit pun dalam benakku kecurigaan bahwa Les justru akan memilih pergi berlibur di saat aku tidak bisa pergi. Aku malah mengira dia akan menunggu ' sampai setelah aku melahirkan, dan kami bisa menitipkan bayi kami pada nenekku sementara kami pergi berlibur. Nenekku toh tidak punya kegiatan apa-apa.
Bila Charley berkata pada Hillary bahwa dia akan pergi berlibur sendirian, Hillary pasti ngamuk berat. Dia akan membuat hidup Charley seperti di neraka dan tidak mau berhenti marah-marah sampai Charley akhirnya menyerah. iTapi aku kan tidak seperti dia. Aku orang yang penuh pengertian dan toleran. Aku tahu seorang laki-laki membu-
tuhkan ketertarikan lain dan teman-teman sendiri. Aku toleran kok pada kebutuhannya memiliki waktu sendiri.
Jadi, kutelan kembali air mataku.
"Oh," ucapku. "Well, kedengarannya Uburan di Yunani sangat mengasyikkan."
'Tentu saja bakal sangat mengasyikkan," timpal Les. Direguknya anggur banyak-banyak. "Aku sudah tidak sabar lagi."
Aku menyesap sedikit anggurku. Dari baunya saja aku tahu bahwa aku bakal sembelit nanti.
"Jadi, kapan kau berangkat?" tanyaku ceria.

"Akhir bulan Agustus. Dengan begitu, aku bisa dapat libur ekstfa satu hari lagi dengan adanya Hbur bank."
Tapi jelas, meski sudah ada tambahan Ubur satu hari, tetap saja kurang panjang, sehingga dia tidak bisa berlibur dengan naik bus.
"Akhir bulan Agustus," aku menirukan kata-katanya. Akhir bulan Agustus adalah saat bayiku diperkirakan akan lahir. Kutempelkan gelasku ke gelasnya. "Well, kuharap kau akan menikmati hburanmu."
Berjuang Mati-matian, Berharap Seandainya Saja Kau Ada di Sini
AKU membuat jadwal periksa ke klinik kebidanan empat hari sebelum bayiku diperkirakan lahir. Aku mengenakan baju hamilku yang paling keren, tapi sayang, satu-satunya sepatu yang nyaman dipakai hanyalah sepatu olahraga, sehingga agak merusak penampilan. Aku merias wajah dan mengikat rambutku ke belakang, hingga penampilanku terlihat lebih tua. Lalu aku memasukkan CD musik disko ke discman dan berjoget riang. Bahagia banget deh, po-koknya. Hanya tinggal beberapa hari lagi dan aku akan mengakhiri kehamilanku. Aku sudah tidak sabar lagi. Aku merasa seperti sudah seumur hidup hamil. Sulit rasanya membayangkan bahwa dulu aku bisa duduk selama lebih dari lima menit tanpa merasa sakit punggung. 'Yang lebih susah lagi diingat adalah dulu aku bisa minum secangktf teh tanpa merasa ada orang yang menuangkan asam *e dalam darahku. Tapi sebentar lagi semua itu akan berakhtf dan bidupku akan kembali normal. Bagian yang terbaik sebentar lagi dimulai.
Dokter memarahiku karena tidak jadi ikut kelas mela-hirkan.
"Kusangka kau sudah berjanji padaku untuk datang." Nadanya lebih menyerupai pernyataan daripada perta-
nyaan.
"Memang," jawabku. Luar biasa bagaimana banyak sekali orang terdengar persis ibuku. "Dan kami memang sudah
benar-benar berniat pergi, tapi pacarku harus pergi ke
Amerika selama beberapa bulan. Urusan pekerjaan. Men-
dadak."
Dokter itu menatapku dari balik lensa kacamatanya.
"Sebenarnya kau kan bisa pergi sendirian."
Aku tersenyum, berlagak malu-malu kucing. "Aku tidak suka membayangkan pergi tanpa dia." Itu memang benar.
"Sekarang belum terlambat," kata dokter itu lagi. "Ada kelas baru minggu depan."
Minggu depan aku sudah tidak butuh ikut kelas apa-apa lagi. Saat itu aku pasti sudah menjadi ibu.
Atau mungkin juga belum.
Menurut dokter, aku pasti salah memperkirakan tanggal terakhir menstruasiku.
"Sepertinya bayimu kecil, Lana. Jangan-jangan kau keliru menentukan tanggal?"
Kujawab, bisa jadi begitu.
"Ini semua pengalaman baru bagiku," gurauku.
Dokter itu menyunggingkan senyum ala Ram Victoria. Ngerti kan, senyum yang seolah menyiratkan bahwa ko-mentarmu tadi menyinggung perasaannya.
"Well, kau sehat-sehat saja," dia meyakinkanku. Tapi bayiku baru akan lahir bulan September. "Virgo," katanya, "Zodiak yang bagus."
1U1
perjalanan pulang, aku mampir ke perpustakaan untuk meminjam buku tentang horoskop, supaya aku bisa melihat sendiri apakah Virgo benar-benar zodiak yang bagus atau bukan. Toh tidak ada kegiatan lain yang harus kulakukan. Sekarang kan libur musim panas? Shanee dan keluarganya pergi ke rumah kakeknya di Irlandia selama beberapa minggu. Les di Yunani bersama teman-temannya. Bahkan Gerri dan Amie pun pergi.
Lagi pula, semua keperluan bayiku sudah siap. Semuanya tertata rapi di kamarku. Nenek membelikan boks bayi, dan Charley membelikan kereta bayi. Kedua kakakku membelikan setumpuk pakaian bayi yang semuanya berwarna kuning atau hijau, karena mereka tidak yakin anakku nanti laki-laki. Aku sudah memutuskan tidak menyusui bayiku karena pikirku aku ingin bisa meninggalkannya sekali-sekali, supaya bisa bertemu teman-temanku dan berkencan dengan Les, semacam itulah. Hillary bisa mem-berinya susu bila aku sedang tidak ada. Jadi dia membelikan beberapa botol susu, alat untuk mensterilkan botol susu, serta sekotak popok bayi sekali pakai. Dia mengisti-lahkan hadiahnya itu sebagai "starter set". Aku bahkan sudah menyiapkan tas yang akan kubawa ke rumah sakit, berisi perlengkapan bayi dan piamaku, gaun tidur, sandal kamar, dan perlengkapan mandi, seperti yang tertulis dalam salah satu pamflet yang kubaca.
Tapi aku belum sempat memilih nama untuk calon anakku. Padahal aku sudah membeli buku nama-nama bayi di Smiths. Kupikir, aku masih punya banyak waktu setelah aku nanti melahirkan dia dan melihat seperti apa rupa anakku, supaya bisa kucarikan nama yang cocok. Ibuku bilang, dokter itu bisa saja keliru.
"Apakah kau mengatakan hal itu berdasarkan penga-lamanmu membuat jadwal pertemuan para pasien dengan
dokternya?" tanyaku. "Karena itu kau lantas jadi ahli?" "Jangan berlagak pintar denganku," tegur ibuku. "Aku
sendiri punya tiga anak, kau tahu. Maksudku, kau seperti-nya yakin sekali kapan kau berhenti menstruasi. Mungkin bayimu memang kecil. Ada beberapa bayi yang memang kecil."
"Dan yang kukatakan tadi adalah apa yang disampaikan
dokter padaku kemarin. Bahwa mungkin bayiku baru akan lahir bulan September."
'Tapi apa yang kaurasakan?" desak Detektif Spiggs.
Memang menurutnya bagaimana perasaanku? Dia sendiri punya tiga anak. Dia pasti ingat pernah merasa seperti kuda nil yang sakit flu.
"Aku merasa sangat bugar," tukasku. "Tidak pernah sesehat ini."
"Jadi kau tidak keberatan bila aku menginap di rumah Charley? Kau tidak apa-apa ditinggal sendirian?"
Itu metode penyiksaannya yang terbaru. Dia tidak mau meninggalkan aku karena perkiraan waktu melahirkanku yang sudah sangat dekat. Dia khawatir aku melahirkan lebih cepat dari jadwal dan membutuhkan pertolongannya. Seolah, aku sangat membutuhkan dia, seperti Armani membutuhkan Calvin Klein saja.
'Tentu saja tidak apa-apa."
Ibuku ragu-ragu beberapa detik. Bisa kulihat hatinya terbelah antara ingin melakukan apa yang dianggapnya benar—-tetap tinggal di rumah untuk menyiksa/b*—dan melakukan apa yang dia inginkan—pergi ke Cla untuk menyiksa Charley. Asal tahu saja, sebel
tidak pernah merasa sulit menentukan pilihan. Sepanjang ingatanku, selama ini dia enteng saja meninggalkan aku sendirian. Kupikir, mungkin dia tidak mau merasa ber-salah bila aku meninggal saat tengah berjuang melahirkan anak sementara dia asyik berhura-hura di seberang sungai sana.
"Weill' ujamya akhirnya. "Kau tinggal meneleponku saja bila ada apa-apa."
"Nombmya sudah terpatri dalam otakku," kataku.
Ternyata, malam ini menjadi malam yang panjang.
Setelah ibuku berangkat, aku memanaskan sekaleng sup dan membuat sandwich keju panggang, lalu bergelung di sofa untuk membaca mengenai Virgo. Aku tidak bisa berbaring dengan nyaman karena punggungku sakit sekali Sampai sekarang belum ada perubahan.
Aku memusatkan perhatian ke buku yang sedang kubaca. Ternyata, apa yang kubaca sangatlah bagus. Orang-orang berbintang Virgo praktis dan membumi. Menurutku itu bagus. Shanee orangnya sangat praktis dan membumi, dan hubunganku dengannya baik-baik saja, Anakku juga akan mudah beradaptasi, yang merupakan sifat yang baik Dalam hati aku bertanya-tanya apa sebaiknya dia kunamai Virgil. Atau mungkin VigiL Kusimpan nama-nama itu sebagai pilihan yang masuk akal.
Baru makan dua-tiga sendok sup, aku sudah merasa kepingin muntah lagi. Kejunya juga terasa hambar. Selain itu punggungku sakit sekali.
Kutata kembali- letak bantal-bantaL lalu kusetel video yang sudah pernah kutonton. Aku hanya ingin mendengar suara-suara manusia, tanpa peduli pada apa yang meteka katakan.
Perutku mulai terasa sakit. TersLk-8ar«k aku bet^
ke dapur dan membuat teh.
Sulit sekali menonton film itu, karena aku merasa sangat tidak nyaman dan sekujur tubuhku saldt-sakit
Aku mulai memikirkan Les.
Dia sudah pergi selama empat hari, tapi aku belum--... menerima sepucuk kartu pos pun darinya. Kalau aku jadi Les, dari bandara pun aku sudah akan mengirimkan kartu pos, dengan maksud bercanda, meski bisa juga bukan. Supaya aku tahu bahwa dia juga merindukanku seperti aku merindukan dia. Tapi cowok kan tidak sama dengan,| cewek. Hal-hal semacam itu tidak pernah terpikirkan oleh mereka. Cowok hidup di masa sekarang, semen tara cewek di masa yang akan datang. Itu pernah kubaca di Cosmo.
Dalam hari aku bertanya-tanya apa yang sedang dilaku-kan Les saat ini. Sekarang sudah terlambat untuk berenang di laut, tapi dia masih bisa berenang di kolam renang. Atau mungkin sekarang dia sedang berada di bar bersama teman-temannya. Rasanya lebih tepat bila dia sedang berada di bar.
Mungkin dia sedang memikirkanku.
Dia sedang duduk di bar. Praktis, aku seperti bisa melihaiayn. Biasanya Les minum lager, tapi karena saat ini dia sedang berlibur, bisa jadi dia rfiinum koktail yang terdiri dari tiga jenis minuman, ditambah jus buah, dengan hiasan ceri merah dan payung kertas tertancap di remukan es batu. Sejak dulu aku selalu memimpikan duduk di bar dan menyesap minuman-minuman semacam itu. Dan Les tahu itu. Saat ini dia sedang berpikir betapa senangnya aku bila bisa minum minuman seperti yang ada di ha-dapannya sekarang. Karena bar itu berada di YunanLa
denganku di klinik kebidanan bercerita bahwa bayi salah seorang kenalannya mad terlilit tah pusar saat masih berada di dalam perut. Begitukah rasanya bila bayiku sedang sekarat? Apakah justru aku yang merasa sakit, bukan dia?
Sambil menyesap teh, aku berusaha memikirkan langkah selanjutnya. Aku bisa menelepon ibuku dan mendengar pendapatnya. Tapi sekarang sudah lewat tengah malam. Aku tidak mau membangunkannya bila ternyata tidak ada apa-apa. Aku juga tidak bisa menelepon dokter. Aku baru saja chperiksa olehnya. Dia bakal mengira aku histeris.
Beberapa saat kemudian, rasa sakit itu mulai datang lebih teratur. Sakit... bilang... sakit... hilang... sakit... hilang...
Susah payah kuangkat badanku dari sofa dan berjalan sempoyongan mencari pamflet berisi panduan keliamilan.
Berdasarkan keterangan di bab Tanda-tanda Persalinan,' bila apa yang kurasakan sekarang adalah kontraksi, maka sebaiknya aku menghitung waktunya. Saldt... berhenti... sakit... berhenti...
Aku jadi bisa melakukan hal lain selain meringis dan menjerit kesakitan.
Kupusatkan perhatianku ke jam di panel video. Jam 01.30. Aku tidak mungkin menelepon Hillary dini hari begini. Tidak bila bukan karena urusan yang gawat
Dan sepertinya ini bukan urusan yang gawat. Maksudku, memang sakit, tapi setelah mulai merasa terbiasa, sakitnya tidak begitu terasa lagi. Lagi pula, aku tidak mengalami perdarahan atau yang lainnya. Kecuali mungkin perdarahan dalam.
Tepat jam 02.00, aku berhenti menghitung kontraksiku. Soalnya, aku tidak tahu harus menghitung untuk apo-
Sepuluh menit sekali? Lima menit sekali? Tiga? Sesudah itu apa?
Aku berusaha mengingat-ingat cerita orang lain tentang pengalaman mereka melahirkan bayi. Aku tahu bahwa persalinan memang menyaldtkan, tapi sakit bersalin dan sakit karena organ-organ dalam tubuhmu terdorong keluar tentu saja berbeda rasanya. Aku yakin begitulah yang kuingat. Yang paling kuingat adalah waktu Charlene bercerita bahwa dia pergi ke rumah sakit, disuntik, lalu tidak merasakan apa-apa lagi. Yang itu aku ingat. Dalam ingatanku aku melihat seorang wanita tersenyum lebar dengan dahi berkeringat, mendekap bayi yang baru dilahirkan. Dalam bayangan ini, si bayi tidak berpegangan pada organ-organ dalam si wanita.
Aku mencoba tidur, tapi tidak bisa. Rasanya seperti berusaha tertidur saat tengah diinterogasi polisi. Jam 02.30, aku merasa ingin ke belakang. Dengan terbungkuk-bungkuk -menahan sakit, aku mera-yap keluar dari ruang tamu. Aku hampir-hampir merasa takut bergerak, khawatir jangan-jangan aku memecahkan sesuatu. Atau memecahkan sesuatu yang lain.
Aku menghela napas dalam-dalam, untuk mengurangi rasa sakit Saat ini aku berharap seandainya saja waktu itu aku ikut kelas melahirkan, walaupun tanpa didampingi pasangan. Dengan begitu, paling tidak aku tahu seberapa jauh jarak konstraksi sebelum menelepon dokter.
Entah bagaimana caranya aku bisa sampai di kamar mandi. Tapi itu tidak penting benar, karena aku tidak bisa beringsut lebih jauh lagi.
Kubuka pintu kamar mandi, tapi hanya berdiri mema-tung di sana, berpegangan pada gagang pintu.
jsanya seperti ada orang yang melakukan uji Co^ bom nuklir di bawah tanah. Hanya saja, yang menjadi tanahnya aku.
Wuss! Sesuatu meledak di dalam perutku. Aku begitu shock hingga tidak bisa bereaksi sampai kemudian me-nyadari ada air menetes menuruni kedua kakiku.
Dan aku pun langsung tahu apa yang akan terjadi berikutnya. Aku akan mati di sini, sendirian, itulah yang akan terjadi. Mataku tertumbuk pada bayangan diriku dalam cerrnin. Wajahku pucat dan tubuhku berkeringat, basah kuyup. Yang tebersit dalam pilaranku saat itu adalah, syukur Les tidak ada di sini. Aku tidak mau dia melihatku dalam keadaan seperti ini. Cukup petugas am-bulans saja yang melihatku bila mereka mengusungku nanti ke kamar mayat
Tangisku meledak.
"Oh, Tuhan!"
Meski sedang dalam keadaan sekarat, aku masih me-nyadari keadaan di sekelilingku, seperti sedang menonton adegan film.
Les berdiri di ambang pintu. Dia kembali karena dia rindu padaku. Tidak, dia kembali karena dia punya firasat aku membutuhkan dia. Dia rela meninggalkan teman-temannya, dan naik pesawat pertama yang menuju London. Dia mengenakan kaus oblong dari Yunani dan topi jerarni. Begitu melihatku, dia langsung menjatuhkan tas dibawanya dan menghambur untuk memelukku. lah, Sayang..." hiburnya dengan nada lembut. sudah datang...."
Tapi yang datang ternyata bukan Les. Melain . ku. Dia berdiri di belakangku dengan mengenakan
1 biru dan wajah pucat pasi, seperti api unggun
"""Lana! Ternyata benar firasatku—"
"Jangan hanya berdiri di sana dan menguliahikul" menjerit. "Lakukan sesmtuT
Kemudian aku benar-benar menangis.
Kesedihan Pasca Melahirkan
AKU senang sekali berada di bangsal kebidanan. Ruangan
itu dicat kuning pucat dengan tkai-tirai bergambar beruang kecil, hingga menimbulkan kesan riang. Ada tiga ibu baru yang dirawat dalam bangsal yang sama denganku: Ellen, Anne, dan Sam, jadi kami bisa mengobrol seru, bergutau, dan tertawa-tawa. Rasanya hampir-hampir seperti sedang berpesta.
Aku menceritakan pengalamanku pada mereka, bahwa aku tidak tahu aku sedang mengalami kontraksi, menurut dokter aku belum saatnya melahirkan, air ketubanku pecah, dan lain sebagainya.
Tidak seperti Hillary Spiggs, yang menganggapku makh-luk asing dari planet lain, mereka semua bersimpati padaku. Kemudian, ganti mereka menceritakan padaku kisah-kisah horor mereka sendiri. Kalau mendengar cerita mereka, rasanya luar biasa ada orang yang mau repot-repot punya bayi.
Ellen melahirkan bayi keduanya di rumah sakit John Lewis. Jadi dia lantas menamakan anaknya Lou.
"Kalau bukan Lou, pilihannya tinggal Ladies' Lingerie," katanya. 'Tapi kupikir, bisa-bisa dia akan diejek teman-teman sekolahnya nanti, bila kuberi nama Ladies' Lingerie." Dia tertawa. "Kau harus berhati-hati dalam memberi
nama anakmu."
Aku merasa seperti menjadi bagian dari semacam klub atau perkumpulan. Kecuali Anne dan aku, yang lain-lain sudah pernah melahirkan sebelumnya. Ellen bahkan punya
tiga anak.
"Ah, yang benar?" Melahirkan rasanya seperti mengikuti ujian akhir. Aku tidak bisa membayangkan melakukannya
lebih dari satu kali. "Kau sudah punya tiga anak?"
"Cowok-cowok," jawab Ellen. Dia menyeringai. "Kami ingin anak perempuan."
"Aku punya dua anak," Sam menimpali. "Satu laki-laki dan satu perempuan."
"Kalau aku, kurasa aku tidak mau punya anak lagi," kataku.
Yang lain-lain tertawa mendengarnya.
"Semua orang selalu berkata begitu pada awalnya," kata
Sam.
Sam berumur 24 tahun. Setelah aku, dialah yang termuda.
Dia mengedipkan mata padaku. "Kau kan baru mulai. Aku melahirkan anak pertamaku waktu seumur denganmu. Percayalah, nanti kau akan terbiasa."
'Tunggu sampai kau punya anak sebanyak aku," Ellen menambahi. "Satu-satunya hal yang membuatku takut hanyalah apakah masih ada cukup ruangan di rumahku untuk anak ini."
Ellen dan suarninya tinggal di sebuah rumah berkamar dua.
"Kedua orangtuaku memberi kami hadiah perkawinan berupa uang muka rumah," cerita Ellen. "Kami sudah tinggal di sana lebih lama daripada umurmu sekarang."
"Kedengarannya seperti surga bagiku," timpal Anne. "Sejak menikah, Colin dan aku menumpang di rumah ibuku, dan sampai sekarang pun kami masih tinggal di sana."
"Tidak enak kan, tinggal bersama ibumu?" selaku. Aku merasa sangat bahagia sekarang, berbaring di tempat tidur sambil mengobrol dengan mereka, seperti wanita sungguhan. Anne benar, aku nyaris tidak ingat lagi pada rasa sakit yang kurasakan tadi malam. "Begitu sempat, aku dan pacarku akan mencari flat sendiri."
"Beruntung benar kau," kata Anne. "Satu-satunya cara aku bisa memisahkan diri dengan ibuku adalah bila aku membunuhnya dan mereka menjebloskan aku ke dalam penjara."
"Hm... Dipenjara sendirian..." gumam Ellen. "Aku rela dihukum penjara, asal bisa menikmati kesendirian...."
"Kami menginginkan flat yang modern," selaku. "Dengan taman untuk tempat bermain anak-anak." Meski baru terpikirkan olehku sekarang, tapi aku tahu benar bagaimana taman yang kuinginkan. Di sana nanti. akan ada rumah-rumahan Wendy warna pink, persis seperti yang selama ini kuidam-idamkan.
"Kami juga ingin punya flat sendiri," kata Anne. "Tapi... well..." Dia mengernyitkan muka dan mengangkat bahu. "Kita toh tidak selalu bisa mendapatkan apa yang kita mginkan, bukan?"
Aku baru hendak mengatakan bahwa tentu saja kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan, asal mau ber-
usaha, tapi sekonyong-konyong mereka menyahut berba-
rengan, "Kita mendapatkan apa yang kita butuhkan!" Aku tidak mengerti maksudnya, tapi, aku ikut saja
tertawa bersama mereka. "Kurang-lebih itu sama saja, bukan?" tanyaku setelah
mereka selesai tertawa terpekik-jerit. Ellen mengedipkan mata. "Tidak selalu."
Pemandangan saat ini persis seperti adegan film: aku dan Hillary Spiggs, berdiri berdampingan, menunduk meman-dangi bayi mungil dalam gendonganku. Mata bayi perempuan itu terpejam dan kedua tinjunya terkepal di dekat mulut. Rambutnya berantakan dan acak-acakkan, kuhtnya berbercak-bercak. Mukanya agak mirip kodok, tapi dia tetap tampak sangat manis.
"Well, dia tidak mirip dengarw//," kata ibuku. "Jadi dia-pasti rnirip ayahnya."
Itu pertanyaan pancingan. Ibuku mengira, dalam keadaan lemah dan mengharu-biru setelah melahirkan begini, aku bakal keceplosan dan memberitahu dia siapa ayah bayiku. Tapi tentu saja tidak segampang itu aku dijebak olehnya.
Aku hanya berkata, "Luar biasa. Semuanya lengkap, dia punya kuku dan tangan yang begitu mungil."
Memang luar biasa menakjubkan. Maksudku, aku tahu bayiku akan memiliki kuku, tangan, alis, dan lain sebagai-nya, tapi bila melihatoya secara langsung seperti ini, tetap saja itu terasa menakjubkan. Apalagi bila melihat betapa kecil mungilnya dia.
"Memangnya kaukira dia akan punya apa?" sergah 'buku. "Cakar dan- taring?"
Percaya deb, Hillary Spiggs memang paling tidak bisa melihat orang lain senang.
Aku mendesah dan menyentuhkan jari telunjukku ke salah satu jari bayiku. Jari mungil itu memiliki buku jari yang juga kecil, gurat-gurat, dan lain sebagainya. .*js8
"Kau toh mengerti maksudku. Seperti keajaiban saja."
"Yang ajaib itu adalah kalau kau bisa memasukkannya kembali ke dalam perut," sergah Suster Hillary yang periang itu.
rAku mengusap-usap buku-buku jari yang mungil itu. "Aku tidak mau memasukkan dia kembali ke perutku. Menurutku dia hebat" Walaupun dia bukan anak laki-laki.
Aku hanya berharap mudah-mudahan Les sependapat denganku. Aku berpikir jangan-jangan dia sebenarnya ingin punya anak lelaki. Tahu sendirilah, karena dia tidak pernah punya saudara laki-laki dan ayahnya meninggal waktu dia masih duduk di bangku SD. Tapi bayiku ml memang benar-benar mirip dia. Itu bisa membantu ter-bentuknya hubungan yang akrab di antara mereka;
Ibuku bersiap-siap pergi.
"Benar kan, apa kataku? Charlene tidak bisa menung-guimu melahirkan."
Aku mengangguk. Kedua anak Charlene sedang sakit flu.
"Dan Dara sedang mengikuti konferensi di Australia." Kakakku sang bankir internasional. Lagi-lagi aku mengangguk.
'Tapi Charley akan datang ke sini begitu selesai kerja nanti."
Dalam hati aku bertanya-tanya apakah Les sudah tahu bahwa dia punya putri. Secara instingtif, begitulah.
"Bagus."
"Jadi, apa yang bisa kubawakan untukmu bila aku
kembaU ke sini nanti?" Kubersihkan secuil kuht kering dari ahs anakku.
"Surat-suratku saja."
Anne menghampiriku dengan langkah terseok-seok, membawa sekotak cokelat yang dibawakan suaminya tadi serta sebuah buku berisi nama-nama bayi. "Kau sudah memilih
nama untuk anakmu?"
Aku menengadah dari daftar nama yang sedang kususun. "Belum. Kupikir mungkin aku akan menunggu dulu, untuk melihat bagaimana dia."
Anne duduk di pinggir tempat tidurku sambil menge-rang. "Sumpah deh, bekas jahitannya justru yang paling menyakitkan." Dia mengambil buku catatan yang kule-takkan di sampingku. "Nama apa saja yang sudah kaudapat sejauh ini?"
"Belum ada. Satu-satunya nama yang cocok untuknya sekarang ini hanyalah Banshee, setan cewek tukang teriak im." Bayiku menangis terus sehingga perawat terpaksa membawanya ke luar bangsal supaya tangisannya tidak membangunkan bayi-bayi lain.
Anne tertawa, begitu juga Ellen, yang berbaring di tempat tidur yang bersebelahan dengan tempat tidurku.
Anne membolak-balik bukunya. "Bagaimana kalau Angelica...? Maia...? Winona...?"
Aku menggeleng. Tidak. Tidak. Tidak.
"Bagaimana kalau Cheryl...? Atau Amee...? Atau Dana...?"
"Sepertinya kok tidak ada yang cocok."
"Apa ayahnya tidak punya ide apa-apa?" tanya Ellen.
Aku tertawa. "Kau tahu sendirilah bagaimana laki-laki. Dia ingin menamai anaknya seperti nama ibunya." "Dan apa nama ibunya?" tanya Anne.
Mana aku tahu? Aku hanya pernah mendengar Les menyebutnya dengan panggilan "Mum". "Mary," jawabku asal tebak. "Nama yang sedikit kuno..." komentar Anne. "Apakah dia akan datang malam ini?" tanya Ellen. "Siapa?" aku balas bertanya. "Itu—ayah bayimu."
Padahal selama ini aku berharap tidak akan ada orang yang sadar Les tidak ada. Maksudku, ibu-ibu lain selalu dikunjungi banyak tamu. Suami Ellen selalu mampir setiap hendak berangkat kerja, lalu mampir lagi sepulang kerja, dan terakhir setelah makan malam sambil membawa anak-anak.
"Tidak," jawabku cepat-cepat. "Tidak. Dia sedang pergi. Bekerja. Di Manchester. Tidak bisa pulang sampai minggu depan. Tapi dia meneleponku setiap hari. Kau tahu, untuk memastikan semua beres."
"Wah, kasihan sekali," komentar Ellen. "Aku yakin dia pasti sangat kecewa, tidak bisa menyaksikan proses kda-hiran putrinya."
Aku mengangguk. Tapi aku tidak ingin kami terlalu lama membicarakan masalah ini.
"Ada sebuah nama yang sempurna melayang-Iayang dalam pikiranku saat ini," kataku sambil berpikir keras. "Rasa-rasanya, aku pernah mendengarnya di film atau lagu...." Anne menyodorkan kotak cokelatnya pada Ellen. "Bagaimana kalau Laura?" Ellen mencoba membantu.
"Ita dari lagu."
Tapi pasti bukan lagu yang kukenal. I
"Renee," usul Anne. "Itu juga dari lagu."
Lagi-lagi bukan lagu yang kukenal.
Masalah nama itu sebenarnya sedikit kritis. Aku tidak akan bisa mendapatkan akte kelabiran sampai anakku punya nama. Dan tanpa akte kelahiran, aku tidak akan bisa mendapatkan tunjangan anak. Padahal, aku sangat meng-harapkan tunjangan itu. Tambahan lagi, saat ini nenekku sedang membuatkan selimut tambal khusus untuk bayiku. Memang itulah kegiatan nenekku sehari-hari: membuat selimut tambal. Itu dimulai sejak dia berhenti merokok, supaya ada yang bisa dia lakukan untuk mengajihkan pildran dari rokok. Kebiasaan itu berlanjut terus sampai sekarang. Dia membutuhkan nama anakku, supaya bisa disulamkan ke selimut tambal. Juga, sebentar lagi Les pulang. Bila nanti dia meneleponku, aku ingin bayiku sudah punya nama. Supaya anak itu nyata bagi Les. Supaya aku bisa berkata, "Aku memberinya nama—Bagaimana menurutmu?"
Kugigit cokelat isi krim jerukku. "Bagaimana kalau Anastasia?"
Anne menggeleng. 'Terlalu Disney." Dia menusuk-nusuk butiran-butiran cokelat dalam kotak dengan jari tangan.
'"Martina?"
Aku senang mendengar nama yang diakhiri dengan huruf "a". Meski" nam aku kedengarannya seperti nama sabun, tapi di nama-nama lain, akhiran "a" membuatnya
terdengar asing dan romantis.
''Martina nama yang bagus," Ellen berkomentar.
"Bagaimana kalau Simone?" tanya Anne. "Sejak dulu aku suka nama Simone. Kedengarannya anggun."
"Simona...," gumamku. Kemudian, tiba-tiba saja aku mendapat ilham. Ide itu hinggap begitu saja dalam pikir-anku. Kujentikkan jari-jariku. "Dapat!" pekikku. "Nama yang sempurna!"

"Well, jangan membuat kami tegang menunggu," desak Ellen. "Siapa namanya?"
"Sbinolal" Entah di mana aku mendengarnya, tapi setelah sekarang aku ingat lagi, aku langsung jatuh hati pada nama itu. Nama yang tidak biasa dan eksotis. Shinola Spiggs memang bukan nama yang bagus, tapi nama keluarganya tidak akan selamanya Spiggs. Sebentar lagi nama belakangnya akan menjadi Craft. Shinola Craft. Atau mungkin Shinola Craft-Spiggs. Dua nama keluarga dijadikan satu kedengarannya keren sekali.
Ellen mengerutkan kening. "Shinola? Aku kok belum pernah mendengar nama itu sebelumnya."
"Kedengarannya hampir seperti nama Afrika," komentar Anne.
Tapi di telingaku, itu tidak terdengar seperti nama Afrika. Kedengarannya seperti nama yang mengandung arti yang sangat indah, seperti "pagi yang cerah" atau "putri yang anggun" dalam entah bahasa asing apa.
"Mungkin kau bisa mencoba mengusulkannya pada pacarmu bila dia meneleponmu nanti."
"Yeah," sahutku. "Aku pasti akan melakukannya."
uku dan Charley datang kira-kka jam 19.00. Mereka
membawakan aku Big Mac dan kentang goreng ukuran
besar, pai apel, dan milkshake cokelat. Tapi tidak ada
kartu pos untukku, kecuali dari Shanee.
Charley bertingkah aneh dengan mengeluarkan suara berdeguk-deguk pada bayiku, yang sekah ini berhenti menangis untuk sementara waktu dan memandangi Charley dengan mata yang masih belum bisa melihat dengan jelas. Sementara aku makan, ibuku mengoceh panjang-lebar, menceritakan kelakuan fey waktu aku masih bayi. Aku tedalu capek untuk memedulikan ceritanya. Setelah mereka pulang, aku nonton televisi sampai perawat datang untuk mematikan lampu.
Suasana di bangsal langsung berubah setelah lampu-lampu dimatikan. Bila di pagi dan siang hari, bangsal ini terlihat seperti tempat berlangsungnya pesta pora, di malam hari justru terlihat seperti ruangan pesta yang senyap ditinggalkan para tamu. Yang tertinggal hanya aku sendirian untuk membereskan semuanya.
Mungkin penyebabnya balon berbentuk bin tang yang dibawakan suami Sam untuknya, yang kini menggelayut di atas tempat tidurnya. Aku tidak pernah kepingin menjadi astronot atau sebangsanya, tapi tiba-tiba saja aku merasa seperti melayang sendirian ke luar angkasa.
Suasana di luar angkasa dingin 'dan menakutkan. Tidak seperti di film-film. Di sini tidak ada stasiun luar angkasa tempat Han Solo dan Chewbacca nongkrong. Atau koloni tempat persinggahan bagi pesawat luar angkasa. Yang ada hanya ruang angkasa yang luas tak berbatas. Pikiranku melayang pada kartu pos yang tidak dibawakan Hillary dari rumah. Bagaimana bila aku tidak pernah menemukan daratan untuk mendarat? Bagaimana jika aku melayang-
layang terus seperti ini selamanya tanpa ada yang mem-bawakan aku karangan bunga atau balon?
Tangisku sudah hendak pecah, tapi kemudian, pikdran Iain muncul di otakku. Tidak ada kartu pos bukan berarti Les mengacubkan aku. Dia justru hendak melindungfaa. Bila dia mengirim kartu pos dan Hillary melihatnya, ibuku pasti ingin tahu siapa dia. Hillary tinggal menghubung-hubungkan fakta yang ada, dan dia akan tahu bahwa Les adalah ayah bayiku. Syukurlah" Les masih punya cukup akal sehat untuk berhati-hati. Perasaanku jadi lebih enak.
Aku kembali melayang ke ruang angkasa.
Begitu banyak bahaya mengancam di luar angkasa yang belum pernah terpikirkan olehku sebelumnya. Aku sudah menyusun segala macam rencana untukku dan bayiku. Dan juga Les. Aku tahu bagaimana bentuk rumah kami nantinya, serta bagaimana kami akan menghias pohon Natal kami—hal-hal semacam itu. Tapi aku justru belum menyiapkan rencana bila hal-hal itu tidak terwujud.
Bayiku terbangun. Dia merengek-rengek.
Kuangkat dia, seperti yang sudah diajarkan perawat padaku.
"Sttt," bisikku. ?rNanti semua terbangun." Bayiku berhenti merengek dan mengeluarkan lengkingan panjang yang keras sekali, hampir-hampir membuat sebelah telingaku tufi. Aku langsung menekan bel, memanggil perawat "Sekarang belum waktunya minum susu," perawat itu berkata. "Coba kautidurkan lagi dia."
Tapi aku tidak berhasil menidurkannya lagi. Semakin keras aku mencoba, semakin keras pula lengkingannya. Perawat datang membawakan botol susu.
Bayiku tidak mau minum susu.
"Well, wajar saja bila dia gelisah. Ini dunia baru yang
asing baginya, bukan?" kata perawat itu.
Bagi kami berdua, tambahku dalam hati.
Begitu perawat mengambilnya dari gendonganku, bayiku langsung berhenti menangis.
"Mungkin dia tidak suka padaku," bisikku.
"Jangan tolol." Perawat itu menimang-nimang bayiku dalam pelukannya. "Tentu saja dia suka padamu. Kau kan ibunya."
"Aku tidak suka pada ibuku."
Perawat itu tersenyum pada Shinola. "Kau ingin kembali
ke gedongan mummy-mu bukan?" tanyanya. Bayiku kontan mulai menjerit-jerit lagi. "Kaulihat, kan?" sergahku. "Sudah kubilang dia tidak
suka padaku."
Perawat itu tertawa. "Aku akan membawanya ke ruang bayi. Akan kucoba menidurkan dia."
Setelah perawat itu pergi, aku merasa benar-benar depre-si. Semua orang tidur dengan tenang dan damai. Mengapa tidak? Mereka semua akan pulang ke rumah masing-masing, kembali pada ayah anak-anak mereka. Bila mereka bangun di pagi hari, ayah bayi mereka akan datang, membawakan buah dan pesan ucapan selamat dari teman-teman, mungkin bahkan setumpuk kartu ucapan.
Aku berharap seandainya saja tadi aku minta Hillary membawakan Mr. Ted ke rumah sakit. Aku bisa hilang padanya bahwa itu untuk bayiku. Selama ini Mr. Ted selalu menemaniku tidur, kecuali bila Les menginap. Aku benar-benar rindu padanya. Aku tidur dalam posisi me-ringkuk, merengkuh bantalku, dan berpura-pura seolah
aku sedang memeluk boneka beruang botak berrnata satu, tapi tetap saja rasanya berbeda.
Saat itulah aku mulai menangis. Mulanya hanya sedikit
tapi tak lama kemudian, tangisku berubah menjadi sedu-sedan. Semua pikiran ini berkecamuk dalam benakku Begitu banyaknya sampai aku tidak tahu pikiran apa saja itu Apalagi, karena aku memang tidak ingin tahu. Ada sesuatu yang menakutkan, sedang berusaha merangsek masuk ke pikiranku. Tapi aku tidak akan membiarkannya masuk.
Aku berusaha menyanyikan lagu Everything's Gonna Be Alright dalam hati, tapi tidak bisa. Aku berhenti berpikir dan membiarkan diriku menangis.
Perawat datang lagi sambil membawa bayiku, tapi begitu melihat keadaanku, dia membawanya kembali ke ruang bayi. Sejurus kemudian, dia kembali, membawakan secangkir teh untukku.
"Sudah lebih enak sekarang?" tanyanya sementara aku meneguk tehku.
Aku mengangguk.
"Hampir semua orang merasa sedikit sedib setelah melahirkan," perawat itu menjelaskan. "Itu karena penga-ruh hormon."
"Benarkah?" Aku membersihkan ingusku dengan tisu. "Hanya itu?"
Perawat itu menggemukkan bantalku. ^
"Hanya itu," dia menegaskan dengan nada dang-dia membetulkan letak selirnutkm. "Setelah nanti P1"31^ ke rumah dan mulai menjalani hari-harimu bersama *yi mu, kau akan kembali ceria." pja
Perawat itu salah satu perawat yang paling taa-selalu bersikap ramah dan tenang
„j^enurutrnu begitu?"
Diambilnya cangkirku yang sudah kosong.
»Aku yakin begitu."
^ku memutuskan untuk memercayainya.
Menjadi Ibu
PULANG ke rumah setelah melahirkan ternyata jauh. lebih buruk daripada kembali ke sekolah setelah libur musim panas; kekecewaan besar. Ibuku memberiku waktu sato-dua had untuk bed stir ahat memulihkan kekuatan, tapi sesudahnya, dia menyatakan dengan sangat jelas bahwa dia mengharapkan aku mengerjakan semuanya sendiri.
"Aku bukan perawat pribadimu, Lana/' dia menegaskan. Testa sudah berakbir. Sekarang waktunya kembali ke dunia nyata."
Aku tidak punya teman yang bisa kuajak mengobrol' seperti di bangsal rumah sakit. Sudah jelas aku tidak bisa mengobrol dengan dia, semen tara teman-temanku belum ada yang kembali dari berlibur. Tidak ada siapa-siapa kecuali Mrs. Mugurdy. Untuk pertarna kalinya dalam hi-dupku, aku merasa lega ketika bulan Agustus perlahan-lahan mulai mendekati akhir. ,:'-is^i
Shanee langsung datang menengokku begitu kembali dari Irlandia. Dia membawakan oleh-oleh kaus kaki untuk Shinola, kaus bertuliskan I'm a Full-time Job setta boneka
bebek dari katet. Dia tidak membawakan apa-apa untuk-
ku.
"Jadi bagaimana keadaanmu?" tanya Shanee.
Dia berdiri di belakangku, menontonku mengganti po-
pok Shinola.
Aku mengelak dari tendangan kaki kecil yang nyaris
metontokkan gigi depanku.
"Menyenangkan sekali," jawabku. "Inilah makna hidup sebenarnya." Kutarik tinju Shinola dari perekat popok lalu merekatkan popoknya. "Sukar dipercaya bahwa dulu aku pernah tidak punya dia." Perkataanku itu ada benarnya juga; aku bahkan hampir tidak bisa pergi ke toilet tanpa membawanya.
Wajah Shinola kontan memerah dan mengejang pada saat yang bersamaan.
"Mungkin kau terlalu kencang memakaikan popoknya," duga Shanee.
Karena ini pertama kalinya aku bertemu Shanee sejak Shinola lahir, aku tidak membentaknya seperti kalau yang mengatakan itu tadi Hillary Spiggs.
"Tidak, popoknya tidak terlalu kencang," kataku sambil melihat kotoran bayi berwarna cokelat kehijauan mengalir dari dalam popok dan membasahi paha Shinola. "Dia mencret-mencret.''
Shanee menceritakan padaku mengenai liburannya se-mentara aku membersihkan Shinola dan memakaikan popok baru untuknya. Aku terlalu sibuk berdecak-decak dan nierayu-rayu Shinola jadi tidak terlalu memerhatikan ceritanya.
Shanee mengikuti aku ke dapur waktu aku pergi ke sana untuk memberi Shinola susu.
Dia masih terus mengoceh tentang liburan dan tentang cowok yang dikenalnya di sana. Cowok itu mengajaknya jalan-jalan naik motor.
"Wow," seruku, menimang-nimang Shinola sambil terus berdecak-decak dan mengeluarkan suara-suara merayu. "Kedengarannya asyik."
"Nah," kata Shanee, mengakhiri ceritanya. "Bagaimana kabar Les?"
Aku tidak bisa memberitahu Shanee bahwa jangankan bertemu Les, berbicara dengannya saja aku belum pernah, Aku tidak ingin dia mengatakan "tuh kan, apa kubilang" atau merasa kasihan padaku.
Aku mengayun Shinola supaya Shanee bisa melihat wajahnya dengan jelas. "Seharusnya kau melihatnya waktu dia baru lahir," kataku. "Mukanya mirip kodok."
"Sampai sekarang pun dia masih agak mirip kodok" Shanee berkomentar.
Waktu Gerri meneleponku aku juga mengatakan padanya bahwa menjadi ibu merupakan pengalaman yang sangat menyenangkan.
"Kau harus datang dan melihat anakku," kataku. "Dia sangat menakjubkan."
Gerri mulai berceloteh tentang cowok yang dikenalnya di sebuah pesta.
"Luar biasa lho, melihat betapa cepatnya bayi bertum-buh," selaku. "Berani sumpah, setiap hari dia selalu berubah."
"Kusangka justru kau yang berubah," tukas Gerri.
Amie ingin tahu bagaimana bentuk badahku sekarang. "Kau sudah berolahraga?" tanyanya. "Apa perutmu masih menggelambir?"
"Tunggu sampai kau melihatnya," tukasku. "Kemarin dia tersenyum padaku. Aku tahu semua orang bilang itu sendawa, tapi itu tidak benar. Dia benar-benar tersenyum."
"Apa lagi yang kaulakukan selama ini?" tanya Amie.
"Aku harus pergi, Amie. Shinola menangis."
"Aku sudah pulang," seru Les. "Maaf ya, aku baru sem-
pat meneleponmu sekarang. Soalnya, selama ini aku sibuk sekali."
Aku begitu lega Les menelepon ketika ibuku tidak ada di rumah, jadi aku tidak begitu mempersoalkan mengapa
baru sekarang dia meneleponku. "Aku juga sibuk," sahutku.
Les tertawa. "Apa saja kesibukanmu selama ini, shopping}" Aku tertawa juga. "Bukan," jawabku. "Bayiku sudah lahir. Bayi kita." "Apa?" tanya Les.
"Bayiku," aku mengulanginya. "Aku sudah melahirkan. Itulah yang terjadi setelah kau mengandung selama sem-bilan bulan," aku menjelaskan. "Kau melahirkan."
"Astaga," ucap Les.
"Bayinya perempuan," aku memberitahu, meski Les tidak bertanya. "Aku memberinya nama Shinola." "Shinola?" "Yeah. Kau suka?"
"Yeah, namanya bagus." Les berdeham-deham kikuk "Nama apa itu? Afrika atau sebangsanya, ya?"
Kujawab bukan. Aku menjelaskan bahwa nama itu berarti pagi yang cerah dalam bahasa India atau sema-cathnya.
"Bagus," ucap Les. "Bagus sekali." Aku bisa mendengat nada suaranya berubah. "Nanti kutelepon kau lagi, Lana. Sudah dulu ya."
Karena selalu lelah, aku langsung jatuh tertidur setiap kali ada kesempatan, biasanya di depan pesawat televisi. Dan karena Les belum juga datang, aku sering bermimpi tentang dia.
Dalam mimpiku, Les mengajak aku dan Shinola ke Disneyland di Paris.
Waktu Charley mengajak Hillary dan aku ke Disney Worid di Florida, kami menginap di rumah kakak Charley yang memang tinggal di Florida. Tapi Les menyewa kamar di salah satu hotel yang ada di taman hiburan itu. Kamar kami bercat pink dengan tempat tidur berkanopi warna putih dan lampu kristal. Itu kamar suite ripe Cinderella. Les memesannya khusus untuk kami. Di sana ada kamar lain yang lebih keciL tepat di sebelah kamar tidur utama, untuk Shinola. Di dalamnya ada boks yang bisa bergoyang-goyang ke kiri dan ke kanan, seperti yang ada dalam cerita-cerita dongeng, lengkap dengan kelambu putih, penutup boks berwiru dan berhias pita pink.
Shinola terlelap di kamarnya yang kecil sementara Les dan aku bersiap-siap pergi makan malam bersama. Ada pelayan yang bertugas menjaga Shinola sementara kami turun untuk makan, jadi kami tidak perlu mendekam terus di kamar. Sehabis makan malam kami akan pergi ke disko.
Stasiun radio hotel memutar lagu-lagu dari kisah Disney klasik sementara aku mengganti bajuku dengan baju pesta. Lagu Someday My Prince Will Come mengalun lembut
Aku mengancingkan ritsleting gaunku. Gaun merah ketat dengan tali spageti dan rok yang sedikit melebar. Padanannya sepatu merah berhak tinggi yang serasi. Aku duduk di meja rias putih-emas untuk berdandan. Persis sekali seperti meja rias yang kuidam-idamkan selama ini (tapi dia tidak pernah mau membelikannya untukku), dengan lampu-lampu mengelilingi cermin. Les munculdi belakangku. Dia mulai menyurukkan. wajah ke leherku dan memuji kecantikanku. Aku pura-pura mar ah karena &. merusak tatanan rambut dan rias wajahku, padahal sebenarnya aku sama sekali tidak peduli.
"Lana...," bisik Les. "Lana... Lana... Lana____"
Dia kasar sekali padaku. Aku mendorongnya jauh-jauh.
"Lana... Lana... Lana..."
'Jangan sekarang." Kudorong lagi dia. "Aku harus bersiap-siap."
"Lana... Lana... Lana..." Dia tidak lagi menciumku. Tapi mengguncang badanku keras-keras.
Aku melepaskan diri darinya. "Ganti baju sana," pe-rintahku. "Kau juga harus ganti baju."
"Tidak pada jam tiga pagi," bantah Les.
Aku membuka mata. Ternyata lagi-lagi aku tertidur di depan televisi. Tapi walau masih setengah tertidur dan tidak bisa melihat, aku tahu bukan Les yang berdiri di sampingku saat ini. Kupejamkan mataku rapat-rapat.
"Lana, bangun."
Aku memberanikan diri melihat sekali lagi. Hillary berdiri di atasku dengan wajah polos tanpa riasan dan kepala dipenuhi gulungan rol rambut, bagaikan monster di tengah malam buta. Aku ingin sekali memukulnya.
"Mau apa kau?"
"Mau apa aku? Apa kau tidak dengar Shinola menangis? Dia sudah sepuluh menit menangis."
Kalau begitu, kenapa bukan dia saja yang menggen-dongnya? Demi Tuhan. Kuambil bantal dan kutatupi mukaku. "Lantas? Kasih susu saja."
Hillary merenggut bantal itu dan membuangnya ke lantai. "Aku bukan ibunya. Dia membutuhkanmu, Lana, Sekarang"
Perintahnya itu tidak bisa ditawar-tawar lagi. Bila dia tidak berhasil membangunkanku, aku pasti akan diseretnya turun dari sofa. Aku terduduk, mengucek-ucek mata.
"Aku tidak mau tidurku terganggu terus seperti ini setiap malam," keluhnya. "Besok pagi aku harus bekerja."
Hillary cuti satu minggu setelah aku pulang dari rumah sakit, untuk merawatku dan Shinola, dan masa-masa itu terasa seperti di neraka. Tapi ini lebih buruk. Sebelum ini, dia memang selalu mengeluh, tapi paling tidak, sesekali dia masih mau bangun di tengah malam dan membuatkan susu. Sekarang, kerjanya hanyalah mengomel melulu.
"Baiklah..., baiklah..." Aku bangkit dan berjalan ter-huyung-huyung ke dapur.
"Gendong dulu Shinola sebelum kau memanaskan botol susunya," omel Hillary. "Dia mar ah. Dia perlu dihibur."
"Aku akan menggendongnya nanti, setelah memanaskan susu," tukasku, walau yang kuinginkan saat ini sebenarnya menjejalkan Shinola ke dalam lubang toilet. 'Tanganku kan hanya dua." s. .
Syukurlah, sudah tersedia tiga botol susu di dalam kulkas. Saat ini rasanya aku tidak sanggup bila harus membuat susu dari awal lagi. Tidak kalau ibuku yang menyebalkan itu berteriak-teriak di belakangku.
'Tanaskan airnya dulu," perintah ibuku. 'Tapi jangan
terlalu panas, cukup hangat saja."
Aku meletakkan botol susu itu di dalam sepanci air dingin dan menyalakan kompor. "Aku sudah tahu sampai seberapa panas," tukasku ketus. "Aku kan sudah pernah
mdakukannya."
Ibuku tidak berkata apa-apa. Aku menoleh untuk melihat apa sebabnya. Kau tahu, untuk melihat kalau-kalau
dia mengutukku atau bagaimana sehingga tidak mau mem-balas perkataanku. Tapi ternyata dia sudah pergi. Meski tidak terlalu lama.
Belum lagi aku sempat kangen padanya, dia sudah muncul kembali dengan Shinola menggeliat-geliat dalam gendongannya.
"Coba lihat dia!" seru ibuku dengan nada menuduh. "Dia sudah hampir biru."
Kalau menurutku sih mungkin lebih tepat bila dibilang ungu daripada biru.
"Memangnya itu salahku?" aku balas memekik. "Walau-pun aku tidak mendengarnya menangis?"
Ternyata masih ada yang tidak berubah. Aku masih saja disalahkan untuk segala macam hal. Bedanya hanyalah, sekarang ada lebih banyak lagi hal yang bisa dia jadikan alasan untuk menyalahkanku.
"Seharusnya kau mendengarnya menangis," geram ibuku. "Kalau bukan membawa boksnya ke ruang tamu, ya pindabkan saja teleyisinya ke kamarmu."
Tapi, bila dia berbicara pada Shinola, manisnya tidak
ketulungan. "Cup... cup____" hiburnya dengan nada pe-
nuh kasih. "Sebentar lagi susumu siap. Cup... cup... cup...."Kurebut Shinola dari gendongannya. "Dia bisa muntah
bila kau mengguncang-guncang badannya seperti itu."
"Tidak akan," bantah ibuku. "Bagaimana mau muntah? Perutnya saja kosong"
Baru seminggu kemudian Les bisa datang—dia sibuk sekali dengan pekerjaan yang menumpuk karena habis ditioggal
bedibur dan sebagainya. Katanya, dia punya kejutan untukku. "Aku sudah tidak sabar ingin melihat reaksimu nanti bila' melibat kejutan yang kubawa," kata Les.
Sudah lama sekali tidak ada orang yang memberi/b hadiah yang sebenarnya diperuntukkan bagi Shinola, jadi aku langsung memaafkannya karena baru sekarang bisa menengokku.
Sehari penuh kuhabiskan untuk mempersiapkan diri.
Les orang yang sangat resik. Aku tidak ingin dia mengira bahwa kesibukan menjadi ibu membuatku se-rampangan, jadi mula-mula aku membersihkan flat. Lama sekali waktu yang kubutuhkan untuk bersih-bersih, karena setiap kali aku baru mau memasukkan sesuatu ke mesin cuci atau yang lainiiya, Shinola mulai menjerit-jerit.
Kemudian aku memandikan Shinola dan menggano' bajunya, supaya dia tidak bau apak. Begitu aku selesai mengancingkan bajunya, dia buang air besar banyak sekali. Terpaksalah aku mulai dari awal lagi.
Aku bahkan belum selesai merias wajah ketika bel pintu berdering
Tentu saja saat itu Shinola sedang merengek-rengek, jadi aku langsung menggendongnya dan bergegas menda-tangi pintu depan.
Les terlihat kaget. "Ya Tuhan," ucapnya.
Aku menunduk, tersenyum pada Shinola. "Ucapkan halo pada ayahmu." Aku melambai-lambaikan tangannya yang kecil pada Les. Tangannya basah kuyup karena air ludah.
Senyum setengah hati tersungging di wajah Les. Bukan senyum kecil, tapi benar-benar senyum setengah had, seolah hanya separo bagian mulutnya saja yang bisa bergerak. Dia bergerak-gerak gelisah, matanya tertuju pada Shinola. Padahal tadinya aku berharap dia bakal tersedak karena tak mampu menahan emosi waktu pertama kali melihat Shinola, tapi ternyata itu tidak terjadi. Kalaupun ada emosi, yang terlihat hanyalah kegugupan semata.
"Manis juga dia," kata Les.'"Dia rnirip kau."
Aku pura-pura mengamati wajah Shinola seperti belum pernah melihatnya sebelum ini, meski sebenarnya. hanya Shinola sajalah yang kulihat terus setiap hari.
"Menurutmu begitu? Kurasa hidungnya adalah hidung-fflu."
Les tertawa. "Hidungnya bukan hidung siapa-siapa. Itu miliknya sendiri."
Les berdiri di sana dengan sikap canggung, mengang-guk-angguk dan menyeringai, matanya terpaku pada -Shinola sepertinya bocah itu bom surat.
"Nah," ujarku. "Kau mau minum teh? Ceritakan padaku ten tang liburanmu."
Les mengempaskan diri ke sofa, di sebelah bungkusan popok sekali pakai. Sofanya berdencit. Terkejut, Les mero-gohkan tangannya ke balik punggung dan mengeluarkan seekor bebek karet biru.
"Aku tidak bisa membavanoton mitvmru*,Jadinva_
a sudah bisa berjalan nanti," kataku. "Sekarang saja barang-barangnya sudah bertebaran di mana-mana."
Hidung Les bergerak-gerak. "Dia tidak buang air, kan? Di sini kok tercium bau tidak enak."
"Tentu saja tidak." Jangan harap aku mau mengganti popoknya sekarang. Ini pertama kalinya kami bisa bersama-sama lagi setelah sekian minggu berlalu. Aku ingin Les menganggapku sebagai dewi asmaranya, bukan cewek yang tangannya memegang kapas berlumur kotoran bayi. "Bagaimana kalau aku merebus air sementara kau mence-ritakan Iiburanmu padaku?"
Les menyandarkan punggung sambil mengembuskan napas lega. "Jangan biarkan aku kelamaan mengoceh," katanya. "Aku membuat banyak orang bosan dengan cerita-ceritaku mengenai Yunani." Dia terbahak. "Kau beruntung aku lupa membawa foto-fotoku."
Sedan tadi Shinola hanya merengek-rengek pelan, se-kadar. mengingatkan kami bahwa dia ada di sana. Tapi, begitu Les mulai bercerita tentang liburannya, tangisnya benar-benar pecah. ¦
"Sttt, sttt..-,,," bisikku. "Daddy sedang menceritakan sesuatu pada kita."
"Pokoknya, liburan kemarin saat paling menakjubkan yang pernah kurasakan dalam hidupku," tutur Les. Dia sengaja mengeraskan suara, agar bisa mengalahkan raungan Shinola. "Setiap hari aku pergi berenang. Dan aku pergi memancing beberapa kali, bahkan menyelam di air dangkaL Aku sangat—"
Aku membalikkan badan dari depan bak cuci, meng-oenAcrta haviku di satu tangan dan memegang ketel" ber-
isi air di tangan yang lain. "Apa?" teriakku. "Berenang,
memancing, dan apa?"
"Menyelam!'" raung Les. "Aku sangat suka menyelam. Tapi ternyata, itu tidak segampang yang kaukira." ^3||
Berpikir tentang menyelam pun aku belum pernah, dan tidak berniat memulainya sekarang. Les berceloteh panjang lebar tentang menyelam dan berbagai hal yang harus dipelajari supaya tidak celaka atau bagaimana, tapi aku tidak mungkin bisa benar-benar memerhatikan ceritanya. Perhatianku saat ini terpecah antara menyiapkan teh dan Shinola yang memekik-mekik di telingaku. Tidak mungkin aku menyelanya setiap tiga kata hanya untuk bertanya "Apa?" Lagi pula, aku tidak benar-benar peduli. Ibaratnya, dia seperti berbicara tentang selancar bintang, karena kedengarannya begitu asing dan jauh.
Aku kembali ke ruang tamu saat Les sedang asyik bercerita tentang pengalamannya memancing. Dia tidak berhasil menangkap seekor ikan pun.
"Sayang sekali," komentarku. 'Tapi bagaimanapun, sekarang kulitmu cokelat. Keren sekah."
Wajah Les kontan berseri-seri. 'Tidak pakai acara go-song, lagi. Padahal biasanya, kalau aku berjemur, kulitku gosong terbakar matahari. Kah ini, bahkan ujung hidungku pun tidak sampai terkelupas."
Aku memindahkan bungkusan popok dan meletakkan Shinola di sofa, di sebelah Les, supaya mereka bisa mulai mengakrabkan diri. Dia sudah agak tenang setelah aku selesai membuat teh, tapi begitu punggungnya menyentuh sofa, dia langsung mulai menjerit-jerit lagi.
Les melompat berdiri. "Ya Tuhan!" Dia menepuk ke-ningnya. "Kejutanmul Bagaimana aku bisa lupa?"
dia membelikan aku baju kaus bertuliskan Pemenang Ko/apetisi TShirt BasaJb, Stttmytime Holidays kemudian sebaris tulisan lain dalam bahasa yang mcnurut dugaanku pastilah bahasa Yunani. Setidaknya, kedengar-annya seperri bahasa Yunani bagiku. "Cobalah," tenak Les. "Tapi tehnya—"
Les mengedipkan mata. "Tehnya bisa menunggu." Lagi-lagi dia mengedipkan mata. "Kau harus mengenakannya tanpa bra."
Aku terpaksa kembali ke dapur untuk melepas braku, karena orang-orang yang lalu lalang di jalan bisa melihat ke dalam ruang tamu ini. Les menyusulku.
Aku membusungkan dada. "Bagaimana?"
Les menyeringai. ^auh lebih asyik kalau bajumu basah, tapi begitu saja sudah cukup lumayan."
Les maju satu langkah, menghampiriku.
Aku maju satu langkah, menghampirinya.
Bibir kami saling menyentuh.
Shinola menjerk sekuat tenaga.
Les tersentak kaget, seolah bibirku panas.
'Ya Tuhan," ujarnya. Matanya melirik jam tangan. "Se-baiknya aku pergi sekarang. Aku tidak boleh terlambat masuk kantor. Tidak setelah berlibur cukup lama."
Aku berusaha menyembunyikan kekecewaanku. 'Tapi kita kan belum sempat minum teh! Kau harus merninum tehmu dulu."
Les menggeleng. "Aku benar-benar harus- pergi sekarang" la menyentuhku. "Lagi pula, sangat sukar berkon-sentrasi bila dia menjerit-jerit terus seperti itu."
Aku berjalan mengikutinya ke pintu depan.
"Kapan aku bisa bertemu lagi denganmu?" "Sebentar lagi. Nanti aku mampir ke sini." "Mungkin kita bisa makan siang bersama kapan-ka-
pan."
"Yeah, pasti asyik. Kutelepon kau nanti, oke?" "Oke," jawabku.
Shinola meraung-raung. Seandainya dia alarm mobil, orang pasti sudah menghancurkan kaca depan mobil sa-king tidak tahan mendengarnya memekik seperti itu,
Shinola masih saja menjerit-jerit waktu ibuku pulang.
"Kauapakan bayi ini?" tuntutnya.
Dia langsung merenggut Shinola dari pelukanku. Seperti biasa, sikapnya lembut dan manis. seperti gula bila berbicara dengan Shinola. Tapi tidak bila berbicara de-nganku.
"Apa saja yang kaulakukan hingga dia kaubiarkan dalam keadaan seperti ini?" tuntutnya lagi. Oia memandangiku
dari atas ke bawah. "Berdandan?" 'Dia mengucapkannya seolah berdandan perbuatan kri-minal.
'Tidak," - sangkalku. "Aku sudah berdandan sejak sebe-lum dia menangis. Lagi pula, dalam buku panduan merawat bayi yang kubaca, sekali-sekali boleh kok membiarkan, bayi menangis."
Ibuku menimang-nimang Shinola dalam pelukannya.
"Mungkin sebaiknya kau beli buku yang lain," tukas ibuku sengit.
Aku mulai khawatir jangan-jangan mereka sudah lupa padaku, tapi Shanee, Gem, dan Amie akhirnya berhasil
menyisihkan waktu di sela-sela jadwal kegiatan mereka yang padat untuk mampir dan menengokku di rumah.
Aku menceotakan pengalamanku dengan sangat meng-gebu-gebu. Aku memang sudah menceritakan pengalaman seruku pada ibu-ibu lain di bangsal kebidanan waktu itu, juga kepada para perawat di rumah sakit, tapi ini pertama kalinya aku bercerita tentang pengalamanku melahirkan Shinola kepada teman-temanku. Efeknya sangat luar biasa. "Oh, Tuhan...," pekik Gerfi. "Apa kau tidak takut?" "Aku tidak percaya aku tidak ada di saat kau membu-tuhkan aku," kata Shanee. "Kasihan Lana."
Amie mengangkat kedua tangannya. "Kumohon," pin-tanya. "Sudah cukup aku mendengar yang ngeri-ngeri. Aku tidak akan pernah mau punya anak kecuali aku bisa melahirkannya secara Caesar." "Itu juga sakit lho," kata Shanee. "Tapi pasti tidak sesaldt seperti yang dialami Lana," kata Amie. Dia bergidik. "Membayangkannya saja aku sudah ngeri."
Aku tertawa. Aku sangat menikmati reaksi mereka. Aku merasa sudah dewasa sekali, bercerita tentang melahirkan dan segala macam. Paling tidak aku tahu sesuatu yang tidak mereka ketahui.
'Tidak sengeri yang kauduga kok," kataku. "Maksudku, kau tahu bahwa kau tidak akan meninggal atau bagaimana. Dan lagi pula, kau langsung lupa pada rasa sakitmu begitu melihat bayimu."
"Omong-omong soal bayi, kapan kita bisa melihat anakmu?" tanya Gerri.
Aku melihat ke jam dinding. Bayi biasanya punya rutinitas sendiri—tidur, makan, diganti bajunya, tidur lagi—
tapi Shinola jarang sekali tidur. Biasanya dia baru tertidur
kelelahan di saat dia seharusnya sudah bangun lagi.
"Aku baru saja menidurkannya tepat sebelum kalian datang tadi. Paling tidak dia baru akan bangun satu jam
lagi'' 3
"Kami tidak bisa menunggu selama itu," kata Shanee.
"Aku harus segera pulang untuk menjaga adik-adikku."
"Mengintip sedikit boleh tidak?" tanya Gerri.
Sebenarnya aku lebih suka mendandani Shinola dulu dengan salah satu gaunnya yang cantik itu, supaya, yah, dia tidak terlihat seperti kodok. Tapi di lain pihak, aku memang ingin memamerkannya pada teman-temanku.
"Baiklah," jawabku. "Tapi jangan berisik ya."
Kami berjingkat-jingkat masuk ke kamar tidur dan berdiri mengelilingi boks Shinola. Dia tampak sangat manis dalam kantong tidur kuningnya.
"KuHmya kenapa?" tanya Gerri.
'Tidak apa-apa," jawabku berbisik. "Semua bayi memang seperti itu."
"Apa semua bayi rambutnya juga seperti itu?" tanya Amie. "Apakah alis mereka juga bersisik seperti itu?"
"Demi Tuhan!" desisku padanya. "Dia baru saja khir. Berilah kesempatan padanya untuk bertumbuh."
"Apa dia mirip Les?" tanya Amie lagi. .
"Menurutku dia mirip Lana," kata Shanee.
"Dia mirip Les," sergahku, meyalrinkan mereka semua. 'Hanya saja dia tinggi."
"Apa komentar Les waktu dia melihatnya?" tanya Gerri.
Dasar Gerri si mulut besar.
"Dia sangat tergila-gila pada anaknya." Aku yakin suatu
saat nanti dia pasti akan terguVgila pada Shinola
"Dia langsung datang ke sini begitu sampai dari Manchester."
Karena aku tidak mau teman-temanku mengira Les tidak begitu peduli pad aku, aku memberitahu mereka bahwa dia dikirim ke Manchester untuk mgas kantor. Kedengarannya jauh lebih bisa diterima daripada pergi berlibur ke Yunani.
"Di mana ibumu waktu itu?" tanya Gerri lagi. "Jangan bilang padaku mereka akhirnya bertemu juga!"
Kutatap dia dengan pandangan sebal. "Jangan harap Ibuku masih belum tahu siapa dia." Kupandangi lagi dia. "Dan dia tidak akan pernah tahu. Belum."
"Wall, kalau begitu kunjungan kekehiargaannya menjadi agak susah, dong?" komentar Gerri.
"Ayo." Kusambar tangan Gerri dan Amie lalu kutarik mereka keluar. "Ayo kita kembali ke ruang tamu. Bisa-bisa dia bangun nanti kalau kita mengobrol terus di sini."
Sedari tadi mereka sibuk ber-ohh dan ber-ahh-ria serta mengobrol tepat di atas kepala Shinola, tapi itu semua tidak membuatnya terbangun. Justru suara pintu kamar menutup pelan sekali yang membuatnya tergugah. Detik berikutnya, raungan Shinola Spiggs memecahkan kehe-ningan, seperti raungan alarm mobil.
"Astaga," seru Gerri. "Dia tertusuk peniti atau bagaimana?"
Kuputar bola mataku. "Pampers tidak menggunakan peniti. Dia tadi pasti mendengar suara pintu menutup dan terbangun."
"Apa dia selalu menjerit seperti itu?" tanya Amie. "Kau mau aku menggendongriya?" Shanee menawarkan
"Biarkan saja, dia tidak apa-apa. Aku akan menyetelkan
musik, itu bisa membantunya tidur lagi." Aku memasang CD lagu-lagu Oasis dan membuatkan
teh untuk kami semua.
Gerri mulai bercerita tentang pacar barunya. Cowok itu bekerja sebagai kurir yang mengantarkan barang dengan menggunakan sepeda dan memiliki tubuh adetis. Tambahan
lagi, dia ganteng sekali. Juga, penghasilannya lumayan.
Shinola terus saja menangis, tapi suara Gallaghers ber-saudara cukup berhasil meredam suaranya. Hanya sayup-sayup saja terdengar suara tangisnya di balik alunan musik. Shanee berulang kali melirik ke arah kamar, tapi aku pura-pura mengira Shinola sudah tidur lagi, jadi Shanee pun diam saja.
Aku mulai kembali bisa menikmati suasana.'Hanya saja sekarang aku tidak merasa seperti orang dewasa, seperti bila aku membicarakan Shinola. Sekarang aku merasa seperti diriku sendiri.
Amie sekarang bekerja" paro waktu di sebuah restoran ptyga yang terletak di jalan utama. Bosnya sudah tua dan menyebalkan, tapi tip-tip yang berhasil didapatnya lumayan.
Shinola terus saja menangis.
Tiba-tiba saja Shanee berdiri. "Menurutku sebaiknya kita pulang saja." Dia melayangkan pandangan ke arah
kamar.
"Jangan buru-buru pergi," cegahku. Kusambar poci teh dari atas meja. "Bagaimana kalau kubuatkan teh lagi?"
Gerri dan Amie sama-sama memandangi Shanee.
"Ada yang harus kukerjakan," dalih Gerri.
Amie mengedipkan mata. "Dan aku menunggu telepon yang sangat penting."
Itu berarti telepon dari cowok.
Sekuat tenaga aku menahan diri untuk tidak mendo-rongnya kembali ke kursi. "Pasti dia akan meneleponmu
lagi nanti," desakku. "Jangan pergi dulu, rninum dulu secangkir teh lagi."
"Lain kali saja," tolak Gerri.
Amie mengangguk. "Ya, lain kali saja, Lana."
"Bagaimana kalau kau urus dulu bayimu," Shanee me-nyarankan. "Kami bisa keluar sendiri."
Dari balik jendela depan, kupandangi mereka bertiga pergi meninggalkan rumahku. Mereka bahkan tidak sempat lagi berpaling untuk melambaikan tangan dan mengucap-kan selamat tinggal. Mereka tertawa-tawa dan mengobrol dengan ramai, seolah tidak mendengar lengkingan Shinola dari jalan. Aku tahu tangisannya terdengar hingga ke jalan. Itu kuketahui bila aku meninggalkan dia untuk menelepon Les dari telepon umum, supaya Hillary tidak melihat nomornya tertera di rekening telepon. Tangisannya terdengar jelas sekali dari jalan raya.
Kupandangi mereka semua berjalan menuju rumah Shanee dan bertanya-tanya dalam hati apakah masih ada lain kail Kemudian, bukannya pergi ke kamar dan meng-gendong Shinola, tangisku justru ikut-ikutan meledak.
Pekerjaan Seumur Hidup
WALAUPUN Les selalu marripir setiap dua-tiga hari sekali sebelum berangkat kerja, tapi karena dia sangat sibuk setelah berhbur cukup lama, baru pada bulan Oktober kami akhirnya bisa makan siang bersama.
Sebenarnya hari itu bukan hari yang baik untuk meng-ajak Shinola pergi. Aku tahu itu. Cuaca sangat dingin untuk ukurah bulan' Oktober dan hujan turun deras. Tapi aku tidak akan membiarkan cuaca buruk menghalangiku bertemu Les.
Apalagi, aku sudah benar-benar bosan mendekam di rumah, dan sendirian terus setiap waktu. Shanee selalu sibuk dengan urusan sekolah dan kegiatan lain, dan kalaupun dia akhirnya datang, Shinola selalu saja bangun dan merengek-rengek sehingga kami tidak pernah benar-benar bisa mengobrol. Amie dan Gerri tidak pernah mau datang lagi setelah kedatangan mereka ke sini waktu itu. Banyak hal lain yang lebih penting yang harus mereka kerjakan.
Bagaimanapun, saking sibuknya mengerjakan segala se-
suatu, aku tidak sempat lagi membuatkan susu untuk Shinola setelah dia selesai sarapan. Tambahan lagi, aku ingin dia mengenakan gaun kotak-kotak merah-bitu yang dihadiahkan Shanee untuknya, tapi gaun kotak-kotak itu
masih belum dicuci karena belum lama ini dia pakai. Jadi, selain harus membuatkan beberapa botol susu untuknya, juga .mencuci dan mengeringkan gaunnya, butuh waktu sangat lama bagi kami untuk bersiap-siap.
Karena sudah terlambat, aku terpaksa memulaskan pe-rona mata ke kelopak mataku dengan satu tangan, sambil membopong Shinola di pinggul dengan tangan yang lain. Shinola terus saja menggeliat-geliat dan berceloteh heboh hingga aku tidak bisa merias wajah dengan benar. Akibat-nya, sebelah mataku terlihat polos, sementara yang satunya lagi kelihatan seperti habis ditonjok, dan kedua-duanya penuh berlinang air mata. Sebisa mungkin kuhapus riasan yang bedebih di mata satunya.
^"Mau tidak mau, harus begini," kataku pada bayangan diriku dalam cermin. Penampilan kami saat ini sama sekali tidak seperti foto-foto Madonna dan bayinya yang pernah kulihat di majalah, itu sudah jelas. Penampilan kami lebih mirip iklan-iklan permintaan sumbangan untuk membantu anak-anak miskin di negara-negara Dunia Ketiga.
Aku menyemprotkan parfum Tommy Girl ke badanku dan sedikit parfum juga ke badan Shinola. Walaupun penampilan kami tidak- terlihat seperti ibu dan anak yang trendi, tapi paling tidak kami masih wangi seperti mereka.
Shinola tidak menyukai bau parfum itu.
Mudah-mudahan dia nanti tidak tumbuh menjadi anak tomboi. Aku menunduk, mengamatinya. Kelihatannya dia
tidak begitu feminin. Malah, dia agak mirip cowok. Bagaimana kalau dia nanti tumbuh menjadi lesbian? Kemung-kinan itu belum terpikirkan sama sekali Qlehku. •
Selama beberapa menit aku hampir lupa pada Les dan acara makan siang kami karena terlalu sibuk mengkhawa-tkkan bagaimana bila Shinola nanti tumbuh menjadi wanita yang tidak kuinginkan. Aku mulai menyadari bahwa punya anak tidak seperti membeli baju. Kalau kau membeli baju, kau tahu apa yang kaudapatkan: ya baju juga. Bila sesampainya di rumah kau menyadari bahwa baju itu tidak cocok untukmu atau bagaimana, kau bisa mengem-balikannya. Tapi bila kau punya bayi, kau tidak tahu bagaimana jadinya dia nanti. Shinola ngeces, air liurnya berleleran membasahi sweterku. Dan kau tidak bisa me-ngembalikan bayi itu.
Aku mengganti sweterku dengan sweter lain, lalu menyemprotkan Tommy Girl lagi. Sekarang, sudah untung kalau aku bisa sampai di McDonald's tepat waktu, walau naik helikopter sekahpun. Aku melempar beberapa po-pok dan sebotol susu ke dalam tas Shinola, menduduk-kannya di kereta dorong, lalu bergegas meninggalkan rumah.
Naik bus sambil membawa bayi sama repotnya dengan naik bus sambil menggendong seekor burung unta pema-rah yang tidak mau diam. Sebisa mungkin aku berusaha mengajak Shinola keluar rumah setiap hari, jadi sekarang kami sudah terbiasa naik bus, tapi ini perjalanan pertama kami naik bus dalam kondisi hujan deras. Itu berarti, barang bawaan kami semakin banyak. Namanya pergi bersama bayi, ke mana pun, barang bawaan yang harus dibawa sama banyaknya dengan pergi berkemah selama seminggu.
Untuk bisa naik ke bus, pertama-tama aku harus menge-luarkan Shinola dari kereta dorongnya, lalu melipat kereta
itu. Untuk mengeluarkannya dari kereta, terlebih dahulu
aku harus mengeluarkannya dari balik gelembung plastik yang melindunginya dari terpaan air hujan. Lalu, dengan satu tangan, aku harus melipat kereta dorongnya. Hanya saja, dengan adanya gelembung plastik itu di dalam, keretanya tidak bisa menutup sepenuhnya, jadi aku tidak bisa menguncinya rapat-rapat. Baru kemudian aku naik ke atas bus dengan menggendong Shinola dan membawa kereta. Tidak ada seorang pun yang menawarkan ban-tuan, bahkan tidak ketika kereta brengsek itu mendadak terbuka kembali dan nyaris menarik kami kembali ke trotoar.
Busnya kecil dan tidak bertingkat, dan karena hari ini hujan, penuh sesak dengan penumpang. Jadi begitu menapaki tangga, kau sudah tidak bisa ke mana-mana lagi.
'Tujuh puluh pence," kata sopir bus meminta Ongkos.
Aku belum menyiapkan uang, dan aku juga tidak bisa mengeluarkannya dari dalam kantong karena kedua ta-nganku penuh. Yang satu menggendong Shinola, yang satunya lagi berusaha menahan kereta dorong agar tetap tertutup.
"Anda bisa menunggu sampai saya menyimpan dulu kereta dorong ini?"
'Tujuh puluh pence," tegas si sopir.
Seperti biasa, Shinola mulai menangis. Aku bisa merasa mata semua orang terarah pada kami.
"Demi Tuhan," desisku padanya. "Jangan sekarang"
Tapi apa dia mau menuruti aku? Kadang-kadang aku
khawatir dia akan menjadi seperti neneknya.
Dengan cara menahan kereta dorong itu -di antara aku dan sopir bus, akhirnya aku berhasil juga mengeluarkan
uang ongkos dari dalam saku bajuku.
"Mundur!" teriak si sopir bus. "Semuanya mundur!"
Sambil menggigit tiket itu, aku berusaha mundur ke bagian belakang bus.
Rasanya seperti berusaha memasukkan sepeda motor ke dalam kaleng sarden.
Rak bagasi terisi penuh.
"Mundur! Mundur!"
Seolah mengikuti teriakan si sopir, Shinola mulai ber-teriak-teriak, "Huaaaa... Huaaaaa..."
Aku merangsek ke belakang, sambil sekali-sekali berkata, "Permisi," dan "Maaf, numpang lewat," setiap kah kereta dorongku menyenggol badan penumpang lain.
Seorang wanita tua akhirnya memberikan kursinya pa-daku.
"Sepertinya anak lelakimu terkena kolik," wanita tua itu berkata ketika kami bertukar tempat.
"Anak perempuan," koreksiku. 'Tapi menurutku dia rewel bukan karena kolik."
Aku tidak tahu kolik itu apa. Itu salah satu kata yang kerap digunakan semua orang, tapi yang tidak pernah dimengerti artinya. Tambahan lagi, menurutku kerewelan Shinola bukan disebabkan kolik. Aku bahkan mulai curiga jangan-jangan dia memang sengaja melakukannya untuk menggangguku.
Si wanita itu memandangi kami dengan senyum befseri-seri. "Manis benar anak lelakimu, ya? Aku jadi ingat pada
anak ielakiku waktu dia masih bayi." Lagi-lagi dia ter-senyum. "Nikmarilah selagi kau masih bisa," katanya padaku. "Waktu bet jalan sangat cepat." Tidak cukup cepat, kalau menurutku.
Kami terlambat, tapi Les malah lebih terlambat lagi. Ku-pikir dia pasti terhalang macet.
Shinola dan aku berdiri di depan pintu masuk restoran, menunggu. Lalu lintas sangat berisik, karena kemacetan begita parah sehingga mobil-mobil diam di tempat, dan hujan juga masih turun deras, jadi wajar bila Shinola tertidur. Aku membayangkan Les berlari-lari menghampiri kami dari arah jalan, berusaha menembus kepadatan otang-orang yang berbelanja dengan membawa payung dan kereta dorong, secepat yang dia bisa. Dia khawatir kami sudah terlalu lama menunggu. Dia sudah tidak sabar lagi ingin segera bertemu kami. Kemudian, dari ujung jalan, dia akan melihat kami. Jingle iklan BT itu mulai mengalun di latar belakang, "Oh, What a Perfect Day", atau semacam itulahu Wajahnya kontan berbinar-binar begita melihatku. "Lanal" teriaknya. "Lana! Aku di sini!" Dia merengkuh kami dalam pelukannya, lengkap dengan kereta dorong dan semuanya____
Setelah menunggu beberapa saat, aku memutuskan mungkin lebih baik kami menunggu di dalam saja. Shinola sih tidak apa-apa, karena terlindung di balik gelembung plastiknya, tapi aku basah kuyup. Aku merasa seperti mengenakan busa di kakiku.
Les duduk di mefa sudut. Aku langsung melihatnya. Dia sudah mulai makan.
"Les!" Aku melambaikan tangan. "Les!" Les mendongak dan melambaikan burgernya ke arah kami.
"Kusangka kau tidak jadi datang," katanya setelah akhirnya kami sampai di mejanya. Dia menganggukkan kepala ke arah jendela. "Karena cuaca buruk." Rupanya dia memang tidak berniat berdiri menunggu kami di luar dalam keadaan hujan begini. Karena itu bisa membuatmu sakit pilek.
Shinola terbangun ketika Les sedang memesankan makan siang untukku. Dia mengerjap-ngerjapkan mata melihat lampu-lampu, dan menjejalkan tinjunya yang mungil ke dalam mulut. Itu sedikit-banyak merupakan pertanda bahwa hatinya sedang senang.
Aku mengeluarkannya dari kereta dorong dan memba-ringkannya di pangkuanku. Sikapnya sangat manis. Dia sudah bangun, tapi dia berdeguk-deguk.
Les memandanginya waktu dia' duduk kembali di kursi-nya. Cowok itu mengulurkan tangan dan menggosok-gosokkan jarinya ke dagu Shinola: Aku yakin dia tidak mengatakan "kicikicikuuu" tapi suara yang keluar dari mulutnya benar-benar terdengar seperti "kicikicikuu". Shinola memamerkan gusi ompongnya.
"Dia benar-benar mirip kau," kata Les. Lalu cowok itu ber-kicikicikuu-ria lagi. Shinola tertawa. Paling tidak dia sekarang mulai akrab dengan ayahnya.
Les mulai bercerita tentang pekerjaannya.
Penyebabnya adalah kecemburuan, aku tahu itu. Shinola tidak tahan bila dia tidak diperhatikan semua orang setiap waktu.
Begitu Les mulai bercerita, tangis Shinola kontan pecah.
Les mengedarkan pandangan ke sekeliling kami dengan sikap gugup.
"Apa kau tidak bisa mencuamkannya?" desisnya. "Semua orang memerhatikan kita seolah-olah lata mau membu-nuhnya."
Menurutku, Shinola mestinya bersyukur tidak ada orang yang benar-benar berniat membunuhnya.
.Aku tersenyum, tenang dan terkendali. Pokoknya, seba-gaimana layaknya ibu sejati.
"Dia pasti lapar. Aku membawa botol susunya di dalam tas." "Syukurlah," desah Les lega. Tapi tasnya tidak ada.
Aku. melongok ke bawah meja sampai tiga kali, tapi tetap saja tas itu tidak ada di sana.
Aku mengerang. 'Tasti tasnya ketinggalan di bus."
"Seharusnya dia yang kautinggalkan di bus," canda Les.
Sekarang semua orang terang-terangan memandangi kami, seolah kami menusuk Shinola dengan pisau panas.
"Apa kau tidak bisa membawanya ke kamar kecil dan menyusuinya di sana?" pinta Les dengan nada memo-hon.
Aku selalu berusaha tidak mengatakan hal yang sama kepada Les dua kali, supaya dia tidak bosan, tapi sekarang aku lupa pada aturan yang kubuat sendiri itu.
"Botol susunya tidak ada," kataku lagi. 'Tasnya ketinggalan di bus."
Les melirik jam tangannya. "Aku harus pergi sekarang Aku harus kerja."
"Lho, kusangka kau baru akan kembali ke toko jam
"Hari ini Albie tidak masuk karena sakit," dalih Les.
"Jadi aku harus siap lagi di toko jam dua siang." Dia sudah mengenakan kembali jaketnya. Aku tahu sikapku ini tidak baik, tapi aku tidak bisa
menahan diri lagi.
'Tapi kapan aku bisa bertemu denganmu tanpa harus diburu-buru waktu? Aku rindu padamu, Les. Sudah lama
sekali kita tidak pernah bersama-sama lagi."
Mata Les jelalatan kian kemari. "Kalau aku bisa, aku pasti akan mampir ke rumahmu, Lana, tapi tidak bisa lebih dari itu untuk sekarang ini." Dia menjentikkan jari-jarinya. "Hei, bagaimana dengan hari ulang tahunmu? Sebentar lagi kau berulang tahun, kan? Mungkin kau bisa menitipkannya pada seseorang, dan kita bisa pergi bareng. Nonton film atau yang lainnya. Makan-makan." Dia mengedipkan mata. "Merayakan ulang tahunmu."
Hatiku dibanjiri kebahagiaan. Ternyata dia ingat had ulang tahunku. Dan dia ingin bisa berkencan denganku. . Semuanya beres.
"Asyik sekali. Sudah lama sekali aku tidak ke bioskop. Akan kubilang pada Spiggs aku pergi bersama Shanee."
"Kutelepon kau nanti," kata Les. "Kaupilih sendiri harinya."
Bila sedang menonton film, hal itu memang tidak pernah terpikirkan olehmu, tapi kebanyakan karakter dalam film mendapat banyak keberuntungan. Kelihatannya mereka seolah mendapatkan sesuatu yang memang pan tas mereka dapatkan karena melakukan apa yang mereka tahu itu benar, tapi sebenarnya itu keberuntungan.
Aku tahu itu karena aku sama sekali tidak beruntung. Aku melulu dirundung kesialan.
Karena ada yang tidak beres dengan boiler di tempat praktik dokter tempat ibuku bekerja, semua orang langsung disuruh pulang karena takut boiler itu bakal meledak atau bagaimana.
Aku melihat ibuku di jendela begitu aku dan Shinola si Tukang Teriak sampai di jalan depan rumahku. Dia sedang menelepon. Aku melihat kelegaan terpancar di wajahnya selama sata-dua detik, tapi sejurus kemudian langsung lenyap dan digantikan ekspresi mar ah.
Oh, tidak, pilarku. Jangan sekarang____
Ibuku langsung membanting gagang telepon dan sudah memasuki ruang depan sebelum aku sempat memasukkan kereta dorong.
"Dari mana saja kau?" pekiknya. "Bagaimana mungkin kau mengajaknya pergi dalam cuaca seburuk ini?"
"Demi Tuhan," aku balas berteriak. "Orang kutub saja tinggal di iglo. Hujan sedikit tidak bakal membuatnya sakit"
-Ibuku langsung meraup Shinola dari kereta dorong dan lenyap ke arah ruang tamu.
Aku menggoyang-goyangkan kereta itu, membersihkan-nya dari air hujan, lalu menggantung jaketku di gantungan yang ada di ruang depan.
Ibuku masih terus saja mengomel walaupun aku tidak ada di sana bersamanya.
Aku tidak sepenuhnya mendengarkan. Semua ocehannya sudah pernah kudengar sebelumnya.
"Blablabla infeksi... blablabla mati kedinginan... blablabla trauma dan kelelahan... blablabla."
Aku langsung masuk ke kamar untuk mengganti baju
dan celanaku yang basah kuyup. Waktu aku masuk ke dapur, dia sedang memberi Shinola
susu botol.
"Dia kelaparan." Ibuku melayangkan pandangan seperti
yang kerap ditunjukkan Mrs. Mela kepadaku dulu bila aku tidak mengerjakan PR. "Kau tidak memberinya susu
ya, siang lm?
Bukan cuma Shinola saja yang kelaparan. Setelah Les pergi, aku bahkan tidak berniat tinggal lebih lama di sana untuk makan siang. Tidak ada gunanya—apalagi karena Shinola terus saja menjerit-jerit. Kuambil sebungkus bis-kuit dari dalam lemari dan kujerang air untuk membuat teh.
"Tentu saja sudah," dustaku. "Tapi dia memang selalu saja kelaparan."
Ibuku memandangiku dengan muka masam, lalu meng-alihkan perhatiannya kembah pada bayiku.
"Dari mana saja Nola kecil yang malang?" katanya dengan nada lembut dan manis. "Ke mana Lana memba-wamu tadi?"
3Mamanya Shinola, bukan Nola." Aku meletakkan kotak susu keras-keras ke atas konter. "Aku mengajaknya jalan-jalan, menghirup udara segar."
"Di tengah hujan badai," tukas si nenek yang penuh perhatian ita. Diciumnya puncak kepala Shinola. "Lana mengajakmu keluar di tengah hujan badai ya? Apa dia lupa memberimu susu?"
Kali ini giliran wadah gula yang kubanting ke atas meja. "Aku tidak melupakan apa-apa!" raungku. "Untuk keseratus kalinya kubilang, aku sudah memberinya susu."
"Begitu kau selesai minum susu, kita akan memakaikan piama hangat untukmu."
Aku harus menahan diri untuk tidak melemparkan poci teh ke kepala ibuku.
. "Bajunya tidak basah!" jeritku. "Justru akulah yang basah kuyup."
"Mana ada orang waras yang membawa bayi baru lahir jalan-jalan di tengah badai topan seperti ini?"
Kalau ada sedikit saja salju, hujan ini memang sudah bisa dikategorikan sebagai badai salju.
"Ada saja, aku!" • "Dan itu membuktikan apa?" tuntut Hillary Spiggs. "Bahwa sata-satunya bayi yang pernah kautangani seumur hidupmu adalah dirimu sendiri." Jj/fc
"Aku ibunya, bukan kau!" Kurebut Shinola dari gen-dongannya. Saking cepatnya, dia begitu kaget sehingga tidak sempat menghentikan aku. "Kau urus saja urusanmu sendirL".
Hillary mengatupkan bibirnya rapat-rapat dan meman-dangiku beberapa detik.
"Berhati-hatilah dengan omonganmu, young lady" tukas si ibu teladan tahun ini. "Atau aku mungkin akan benar-benar melakukannya,"
Kubilang pada ibuku Shanee ingin mengajakku pergi untuk merayakan ulang tahunku.
Yang mengejutkan, tanpa banyak cingcong lagi ibuku langsung saja setuju.
"Kedengarannya itu ide bagus" katanya. "Kau jarang bertemu teman-temanmu. Bilang saja kapan dan aku akan
memastikan bahwa aku tidak punya acara lain itu."
Hari ulang tahunku jatuh pada hari Sabtu, tapi hari itu
Les harus bekerja. "Jumat," kataku. "Shanee hanya bisa pergi hari Jumat
malam."
"Baiklah, kalau begitu hari Jumat," ibuku menyanggupi.
Tumben-tumbennya ibuku bersikap semanis dan sebaik itu. Pasti ada udang di balik batu. Dan aku yakin sekali aku tahu alasannya. Begitu menginjak usia enam belas tahun nanti, aku akan mengajukan permohonan untuk mendapatkan flat sendiri dari pemerintah. Walaupun ibuku pernah berkata bahwa dia sudah tidak sabar lagi ingin segera menyingkirkan aku, tapi menurutku dia sebenarnya tidak ingin aku pindah. Karena dengan begitu, mau tidak ntau dia harus mengakui kalau aku sudah dewasa. Jadi dia juga harus memperlakukan aku seperti layaknya orang dewasa. Sekali-sekali. Itulah sebabnya mengapa dia berusaha membuat dirinya berguna bagiku. Supaya aku tetap mau tinggal di sini. Kemungkinan ita kecil sekali, sama kecilnya dengan peluang Hillary mendapatkan Piala Oscar.
Karena ibuku menawarkan diri untuk menjaga Shinola sementara aku bersiap-siap, aku bukan cuma bisa mandi berendam untuk pertama kalinya semenjak Shinola khir, tapi aku juga sudah siap di depan bioskop pukul 19.00 tepat, tampak cool dan canggih dalam balutan gaun te-rusan warna perak, serta mantel sepanjang tungkai yang hangat dan tebal, yang kubeli di pasar dengan uang hadiah ulang tahunku. Beberapa cowok melirikku waktu aku sedang menunggu Les, tapi aku pura-pura tidak memerhatikan.
Tepat pukul 19.30, saat film dijadwalkan mulai, aku
mulai khawatir. Mungkin Les mendapat kecelakaan. Hal-hal semacam itu bisa saja terjadi. Mrs. Wallace, guruku di kelas sembilan, kehilangan suaminya karena tertabrak mobil saat sedang menyeberang di sgbra cross. Dia keluar sebentar untuk membeli susu dan tidak pernah kembali. Hal yang sama juga bisa terjadi pada Les. Atau seorang pengendara mobil yang ugal-ugalan menabrakkan mobilnya ke mobil Les. Itu pernah terjadi di salah satu sinetron favotitku.
Les baru muncul beberapa menit setelah pukul 20.00.
"Macetnya minta ampun," katanya padaku. "Bukan cuma lamban bergerak, tapi berhenti total."
"Itu bukan salahmu," hiburku. "Tapi filmnya sudah mulai."
Les pasti mendengar secercah nada kecewa dalam sua-raku. Dia langsung memelukku.
"Maafkan aku," katanya. "Sungguh." Dia mengecup keningku. "Kau cantik sekah."
Pujian itulah yang paling ingin kudengar saat ini.
Les menyeringai, sepertinya dia baru saja mendapat ide yang paling gemilang setelah Coca-Cola ditemukan.
"Begim saja. Bagaimana kalau kita membeli makanan dan kemudian kembali ke rumahku? Semua temanku pergi akhir minggu ini. Ada film bagus diputar di televisi. Kita nonton itu saja." Dia menggesek-gesekkan kepalanya ke kepalaku. "Bersantai sejenak."
Tadinya kupikir kami akan pergi ke McDonald's, karena hari ini juga hari ulang tahun pertemuan kami, tapi kenyataannya justru lebih menyenangkan daripada yang kuduga. Ini jauh melebihi impianku yang paling liar sekalipun. Sungguh. Teman-teman serumah Les sepertinya
tidak pernah pergi ke mana-mana, kecuali saat Natal.
Bayangkan, satu rumah untuk kami sendiri! Kami bisa
nonton televisi sambil tidur-tiduran di tempat tidur, seperti pasangan suami-istri.
"Oke," sahutku. "Kedengarannya asyik."
Dalam perjalanan kembah ke Dollis Hills, aku merasa seperti Putri Diana naik limusin menuju istana. Kau tahu, sebelum hubungannya dengan Pangeran Charles beran-takan. Aku merasa bangga. Aku melihat ke luar jehdela, ke para cewek yang berdiri bergerombol-gerombol, me-nikmati hari Jumat malam. Di mataku, mereka seperti anak-anak kecil yang berdandan rapi untuk pergi ke pesta.
Berbeda dengan aku. Aku punya bayi, yang sekarang di rumah bersama neneknya. Dan malam ini aku akan berkencan dengan kekasihku. Masa bodoh dengan roman Romeo and Ju/iet-aya Mrs. Mela. Malam ini benar-benar sempurna.
Les sudah menyiapkan hadiah untukku. Sudah dibungkus rapi dengan pita dan segala macam.
"Oh, wow," seruku. "Bandul gelang lagi." :
Hiasan bandul kali ini berbentuk botol bayi emas. Secara pribadi, aku tetap lebih suka jantung hati.
"Sepertinya itu cocok untukmu," kata Les."
Aku menciumnya sebagai ungkapan terima kasih.
Les membalas ciumanku.
"Ayo, kita ke atas," ajaknya, mencium dan menarikku pada saat yang bersamaan.
Belakangan, setelah kami makan dan melupakan film yang tadi akan kami tonton, dan setelah kami mendapati bahwa ternyata salah seorang teman serumah Les meng-
ambil pengaman yang dibdinya, Les merangkul tubuhku dan meletakkan kepalanya di bahuku.
"Bukankah ini lebih menyenangkan? Hanya kita berdua?" bisiknya.
Aku meringkuk tapat-rapat ke tubuhnya. Aku bisa membayangkan kami bangun pagi dan menggosok gigi berdua di wastafel.
"Seandainya saja bisa selalu seperti ini," aku balas berbfsik.
Beberapa saat kemudian, Les bertanya, "Bagaimana, apa kau mau menginap di sini malam ini?"
Saat itulah baru aku ingat bahwa aku harus pulang. Saking bahagianya, aku sampai lupa segala-galanya. Ter-masuk lupa waktu.- Tapi aku menahan diri untuk tidak melompat turun dari tempat tidur dan mulai berpakaian. Sebelum ini Les tidak pernah mengajakku menginap di rumahnya. Bagaimana aku bisa berkata "tidak"?
"Aku benar-benar harus pulang...," kataku.
"Apa bedanya beberapa jam lagi?" tanya Les. "Ibumu toh tidak harus pergi ke mana-mana. Bilang saja padanya kau pergi ke rumah siapa-itu-namanya."
"Shanee."
Aku tidak bisa berpikir jernih karena Les mulai men-ciumiku lagi.
"Well..." ujarku. "Kurasa aku bisa tinggal sedikit lebih lama____"
Dia sudah berdiri di ruang depan, menungguku setelah akhirnya aku pulang juga. Kedua tangannya terlipat di dada. Dia terlihat seperti orang yang sangat menderita.
Seperti beruang yang kami lihaf di museum saat kami masih duduk di bangku SD dulu. Hanya saja, dia menge-nakan semacam syal pink yang diikat menutupi rol-rol
rambut yang memenuhi kepala.
"Maafkan aku," kataku, sebelum dia sempat betkata apa-apa. "Shanee dan aku pergi minum kopi setelah nonton film." Dengan lagak biasa-biasa saja, aku berjalan
melewatinya. "Ya Tuhan, capek benar aku." "Kau minum kopi sampai hampir jam lima subuh?"
tanya ibuku.
Kulepas jaketku. "Kami keasyikan ngobrol jadi akhirnya kami pulang ke rumahnya. Besok kan libur." Aku meng-gantung jaketku di gantungan. "Asyik pokoknya. Sudah lama sekali aku tidak pernah ngobrol lagi dengan Shanee." Aku tersenyum padanya. "Trims." Lalu aku berbalik dan berjalan menuju kamar.
"Tunggu sebentar," sergah si Hillary Spiggs. "Aku menelepon ke rumah Shanee saat tengah malam tadi. Kata ibunya, Shanee sudah pulang hampir satu jam sebelumnya. Sendirian."
Aku tertawa. "Kau kan tahu bagaimana Mrs. Tyler itu. Saking banyaknya orang keluaf-masuk rumahnya, dia tidak pernah tahu siapa saja yang ada di sana."
Hillary Spiggs mendengus.
"Well, kau tidak ada di sana."
Kutatap matanya yang bulat itu, 'Tidak, aku ada di sana."
'Tidak; tidak ada. Lucy pergi sendiri untuk melihat Katanya, Shanee sudah tidur lelap."
"Baiklah, baiklah.... Aku ketemu beberapa teman. Kami sudah lama sekali tidak pernah bertemu, jadi aku pergi bersama mereka. Shanee tidak mau ikut."
ary tersenyum. "Oh, begitu ya?" Aku masih terus memandanginya, tapi aku sudah siap untuk mundur secepat mungkin. "Ya, begitu."
"Dan bolehkah aku bertanya mengapa gaunmu terba-Hk?"
Selama sedetik, badanku seperti lumpuh. Tanpa melihat pun aku tahu dia benar. Aku bisa merasakan iahitan gaunku dengan tanganku.
"Siapa bilang gaunku terbalik. Memang dipakainya seperti ini kok," aku mengucapkannya dengan nada seolah dia sudah gila.
Dan detik berikutnya, ibuku benar-benar mengamuk seperti orang gila.
Dia tahu aku pergi ke mana. Aku pergi dengan dia. Apakah satu bayi belum cukup untukku? Apakah aku ingin punya anak lagi? Apakah aku tidak bisa melihat bahwa dia hanya ingin memanfaatkanku saja?
Saat itulah aku tidak tahan lagi dan ikut-ikutan mengamuk. "Kau tidak tahu apa-apa mengenainya!" jeritku. "Kami saling mencintai."
"Cinta?" Ibuku balas menjerit. "Kauanggap ini cinta. Bila dia benar-benar mencmtaimu, dia akan berbuat lebih banyak dari sekadar menidurimu setiap kali dia meng inginkannya."
"Tump mulutmu!" Kepingin benar aku mengguncaflg" guncang badannya. "Tump mulut dan uruslah urusanrfl sendiri sekali-sekali." ^
Ibuku kontan terdiam. "Baiklah," katanya sejurus^ mudian. "Aku akan mengurus urusanku sendiri-tahu saja^- Nona Sok Dewasa: jangan harap a u
mengurus anak-anakmu sementara kau menjual diri ke
seluruh penjuru kota. Kalau kau ingin main rumah-. rumahan, bermainlah sendiri. Aku akan pindah ke rumah Charley untuk sementara waktu. Sekarang kau sudah
enam belas tahun. Benahi dirimu dan setelah im kau akan kutinggal sendiri. Aku akan meninggalkan mm' untuk keperluan rumah di poci teh warna biru, dan aku akan meneleponmu beberapa hari lagi." Sepertinya dia
ingin sekali mengguncang-guncang badanku: "Jangan telepon aku; aku yang akan meneleponmu." Kemudian dia
menghambur meninggalkanku dan masuk ke kamarnya. Tangis Shinola pecah begitu pintu dibanting dengan
suara keras.
Sendirian di Rumah
WAKTU dia tinggal bersama kami, Hillary memaksaku bangun setiap kali dia hendak pergi bekerja, tidak peduli walaupun malam sebelumnya aku tidak tidur mengurus Shinola. Katanya, itu dia lakukan untuk memastikan bahwa aku sarapan dengan benar. Padahal aku yakin itu dia lakukan hanya untuk menyiksaku dan membuatku men-derita seperti dia. Bila dia harus bangun jam 07.00, maka aku juga harus bangun jam 07.00. Dan, hal pertama yang dia lakukan sepulang kerja adalah mengecek apakah aku sudah melakukan semua. yang menurutnya harus kulakukan * hari itu. "Kau sudah mencuci baju... Merapikan kamar-mu... Mencuci botol?" Ngomelngomelngomel terus. Ma-kan malam tepat jam 19.30, kecuali kalau aku terlambat memulainya, jadi kami baru makan jam 20.00. Teh dan biskuit jam 22.00, tidur jam 23.00. Satu contoh lagi betapa tinggal bersama Hillary Spiggs sama seperti tinggal di penjara.
Tapi setelah sekarang dia tidak ada, aku tidak perlu lagi hidup mengikuti jadwal yang dibuat«y«. Kecuali bersiaga
penuh selama 24 jam untuk Shinola, tidak ada lagi yang harus kulakukan di saat-saat tertentu. Semuanya terserah aku. Mau makan sereal untuk makan malam atau sarapan
di tengah hari juga boleh. Aku juga bebas nonton televisi sampai acara terakhir. Aku bisa ketiduran di sofa. Aku bisa melakukan pekerjaan rumah bila aku mau saja.
Pokoknya, aku bisa melakukan apa saja sesukaku.
Tapi memang tidak banyak yang bisa dilakukan. Paling-paling kami hanya nonton acara anak-anak di televisi pada pagi hari, kemudian jalan-jalan bila hujan tidak terlalu deras—ke toko, ke kantor pos, atau ke mana saja—kemudian mendekam di rumah. Aku selalu me-nyalakan televisi atau radio, hanya supaya bisa mende-ngar suara orang dewasa. Bila Shinola tidur siang, aku juga ikut tidur siang, karena toh tidak ada hal lain yang harus kulakukan kecuali mengerjakan tugas-tugas rumah tangga.
Akhirnya aku terbangun oleh dering bel pintu. Kamar gelap gulita. Kupikir yang datang itu pasti Shanee, mampir dalam perjalanan pulang ke rumah. Aku bangkit untuk duduk, tapi Shinola mengerang dan
bergerat
Aku tidak ingin membuatnya terbangun. Sekali-sekali, ™ kepingin juga bisa leluasa mengobrol dengan Shanee. Terakhir kalinya bertemu dia, tidak. satu pun ceritanya
ada yang masuk ke kupingku, saking sibuknya aku mengf •ttus Shinola.
Oengan sangat, sangat pelan dan hati-hati, aku berguling ^ dari tempat tidur. Setelah berhasil menjejak
dengan selamat, aku melongok kembali ke kasur. Kelopak
mata Shinola bergerak-gerak, tapi dia tidak menangis. Itu berarti dia masih tidur.
Sambil menahan napas, aku merangkak menuju pintu, membungkuk serendah mungkin di atas karpet. Setelah terlindung di balik boks Shinola, aku berhenti. Pintu kamar, syukurlah, terbuka. Aku menghela napas dalam-dalam lalu bergegas lagi keluar kamar.
Aku membuka pintu begitu tiba-tiba sehingga Shanee nyaris terjerembap ke ruang depan.
"Demi Tuhan, Lana. Kenapa lama sekali? Kusangka aku bakal tenggelam karena air hujan di luar sini."
"Sstt," bisikku. "Nanti dia mendengarmu."
Shanee tampak bingung. "Maksudmu, Hillary sudah kembali?"
"Bukan dia. Shinola."
"Oh," ucap Shanee, lalu berjingkat-jingkat mengikutiku menuju dapur. ¦¦'*fiM
"Kemarin aku juga datang," kata Shanee begitu aku menutup pintu ruang depan. Dia meletakkan tas dan jaketnya yang basah ke kursi. "Tapi kau tidak pernah membukakan pintu."
"Mengurus bayi itu sangat merepotkan," jawabku. "Tidak seperti sekolah. Dalam mengurus bayi tidak ada istilah istirahat. Waktu itu aku pasti sedang sangat sibuk, jadi tidak mendengarmu datang. Kecuali aku sedang pergi"
"Atau tidur," sergah Shanee.
Aku tidak suka mendengar nada suaranya.
"Maksudmu apa?"
"Tidak ada maksud apa-apa. Aku cuma bercanda. Tap sepertinya kau tidak pernah ada bila kutelepon." D'a
memindahkan setumpuk benda dari kursi dan duduk di sana.
"Mengurus bayi juga sangat melelahkan," kataku. "Iba-ratnya seperti menjadi penjaga dua puluh empat jam
sehari."
"Well, kayaknya kau juga tidak terlalu bisa menjaga tempat ini," tukasnya. "Kelihatannya kok seperti habis
dibom saja."
Aku memandang berkeliling. Padahal sebelumnya rumah ini terlihat agak mirip foto-foto rumah di majalah setelah aku menyingkirkan segala sesuam yang berbau Hillary dari sana, tapi itu sudah sekian minggu yang lalu. Shanee
benar. Sekarang rumah ini lebih mirip zona perang.
"Itu gara-gara Shinola," kataku. "Aku tidak pernah bisa berbenah karena dia selalu terbangun sebelum aku sempat menyelesaikannya."
"Omong-omong soal pekerjaan," Shanee menyela. "Coba tebak? Aku sekarang kerja paro wakm!"
"Kau mau minum teh?" Aku sudah mengisikan air ke dalam panci.
"Ketelnya mana?" tanya Shanee.
Aku mengangkat bahu. "Rusak." Ketel itu gosong sampai meleleh. "Kau tahu sendiri bagaimana Hillary, sukanya membeli barang murahan."
"Dan bagaimana dengan poci teh biru yang bagus im? Jangan bilang kalau poci im sudah pecah."
"Yeah," jawabku. Poci im. pecah karena kulempar. Ter-paksa. Habis, kalau bukan poci itu, Shinola yang bakal jadi korban. "Semuanya rusak atau pecah."
"Begitu," ujar Shanee. "Hei, aku sudah punya pekerjaan lho!"
Kubilang padanya itu hebat sekali.
"Aku tahu." Dia mendekap badannya sendiri. "Aku senaaaang sekali.' Sekarang aku bekerja di gift shop baru yang menjual berbagai macam lilin dan benda-benda unik
seperti vas gelas dan lain sebagainya itu. Mereka mem-pekerjakan aku selama masa liburan Natal, tapi kalau hasil kerjaku bagus, mungkin aku bisa terus bekerja di sana."
"Aku mendapat panggilan untuk datang ke kantor pejabat perumahan minggu depan," kataku. "Cepat sekali, kan!"
Shanee mengangguk. "Ya, cepat sekali." Tanpa berhenti untuk menarik napas, dia langsung melanjutkan, "Berun-tung banget aku bisa mendapat pekerjaan im. Aku melihat pengumumannya ditempel di kaca etalase, dan aku lantas memberanikan did untuk masuk dan bertanya mengenai lowongan itu. Wanita yang mempekerjakan aku berkata bahwa penampilanku sesuai untuk bekerja di tokonya."
"Maksudmu, mengenakan baju bekas dan memiliki ram-but seperti sarang tupai?"
Shanee tertawa. "Tren mode sekarang menyesuaikan diri denganku. Warna hitam, ungu, dan sepam bot bekas sepupuku sekarang sedang jadi trend musim ini."
Shinola tetap tidak terjaga wakm bel pinm berdering, tapi suara tawa orang dewasa membuatnya langsung ter-usik. Dia tidak suka membayangkan aku bahagia tanpa dia selama tiga detik saja. Wk
Shanee langsung berdiri. "Kau mau aku menggendong-nya?"
"Boleh, asal kau berhati-hati dengan kepalanya," jawabku. "Lehernya masih belum terlalu kuat."
"Terima kasih karena sudah mengingatkan aku,"
Shanee.

Waktu dia kembali sambil- menggendong Shinola, aku mendengarnya bercerita pada Shinola tentang pekerjaan
barunya.
'Jadi, nanti aku bisa membelikan hadiah yang sangat istimewa untuk Natal pertamamu," kata Shinola padanya. "Tapi bukan im yang paling asyik. Yang paling asyik adalah toko tempatku bekerja sering kedatangan cowok-cowok keren, yang datang untuk membeli dupa dan lain sebagainya."
Aku senang mendengarnya bercerita pada Shinola, da» ripada bila dia bercerita padaku.
"Menurutmu dia sudah besar atau belum?" tanyaku. "Kurasa dia sekarang sudah besar sekali. Separo bajunya sudah tidak muat lagi."
Shanee sedang mendekatkan kepalanya ke kepala Shinola, seolah mereka sedang berkomplot atau bagaimana
"Bahkan," katanya pada Shinola, "di toko tempatku bekerja ada cowok yang keren banget. Dia juga bekerja di sana. Dia datang wakm aku hendak pulang."
"Kata dokter, sebentar lagi aku bisa mulai memberinya makanan padat."
"Airmu sudah mendidih." Shanee duduk bersama Shinola. "Selain mendapat gaji, aku juga mendapat diskon untuk membeli barang-barang di sana. Beruntung benar aku."
Aku memandang ke dalam kulkas. Kulkasku juga terlihat seperti zona perang.
"Aku kehabisan susu," kataku. Juga yang lak-lainnya. Tidak ada apa-apa di dalam kulkas kecuali kotak telur
(tanpa telurnya), dua batang wortel yang sudah layu, sedikit spageti dalam kaleng, dan botol saus tomat yang sudah kosong melompong.
"Tidak apa-apa," kata Shanee. "Di rumah aku juga tidak pernah minum teh dengan susu karena selalu saja ada bekas muntahan makanan di dalamnya."
Kupandangi wadah teh. Sepertinya aku juga kehabisan teh. Kapan habisnya? Padahal aku yakin aku masih punya banyak kantong teh. Shinola dan aku pergi berbelanja awal minggu lalu. Benar, bukan? Rasanya aku masih ingat kami berdua berjalan menyusuri jalan raya. Aku ingat bagaimana kami melihat-lihat etalase toko baju dan toko sepatu... tapi aku tidak ingat pernah mampir di pasar swalayan.
"Dan coba tebak, ada berita heboh apa lagi?" tanya Shanee. Aku juga kehabisan cangkir.
Maksudku, tenm saja aku masih punya cangkir, tapi tidak semuanya ada di dapur. Yang ada di dapur justru bukan cangkir bersih. Aku menyambar dua cangkir kotot dari bak cud.
"Aku tidak bisa "menebak," tukasku. "Pikiranku isinya melulu urusan bayi."
Tambahan lagi, pikiranku saat ini sedang tertuju ke hal lain. Agak sulit mencuci cangkir-cangkir im karena bak cuci penuh dengan benda-benda kotor, jadi tidak ada cukup ruang untuk bergerak.
"Kakak Amie akan belajar menyetir mobil," Shanee bercerita. "Lalu mereka akan menabung supaya bisa membeli mobil."
Aku berdiri sedemikian rupa di depan cangkir-cangkir
itu, supaya Shanee tidak melihat bahwa aku menggunakan
kantong teh lama untuk kami berdua. "Benarkah?"
Aku mengambil kaleng tempat biskuit tapi tidak ada apa-apa di sana kecuali remah-remah kue. Tidak mungkin
aku sudah berbelanja.
"Jadi, mungkin musim panas tahun depan kami semua bisa pergi ke rumah peristirahatan orangtuanya di Suffolk selama serninggu. Kami sendiri," lanjut Shanee. "Asyik,
bukan?"
Dari caranya berbicara aku tahu bahwa bila dia menga-takan "kami" im tidak termasuk aku. Tapi tidak apa-apa. Aku toh tidak akan bisa ikut. Meski misalnya Les tidak keberatan—karena saat im, kami pasti sudah punya flat sendiri dan hidup bersama—aku bukan tipe ibu yang bisa seenaknya saja berhura-hura bersama teman-temannya, seperti Hillary meninggalkan aku untuk bersenang-senang bersama Charley kapan pun dia suka.
Kuletakkan cangkir-cangkir teh im ke atas meja. "Kurasa aku akan mengajari Shinola berenang musim panas nanti," kataku pada Shanee. "Berdasarkan apa yang kubaca di • buku bayi, bayi bisa dengan mudah belajar berenang."
Aku sendiri tidak begitu bisa berenang. Tapi aku senang memakai baju renang. Aku tidak keberatan duduk-duduk ¦ saja di pinggir kolam, menonton Shinola membuat kagum semua orang dengan kemampuannya berenang sebelum bisa berjalan.
"Dengar-dengar—" Shanee memulai. Tapi begim aku> duduk, Shinola mulai merengek-rengek jadi dia langsung berhenti berbicara. "Kurasa dia ingin kembali ke iburiya,'* kata Shanee.
Shanee meniup-niup tehnya sementara aku ber
mendiamkan Shinola. "Atau, mungkin kami bahkan bisa tnenyeberang ke Prancis selama satu hari. Kalau mereka
membeli mobil yang sanggup berjalan sejauh itu."
Sekarang Shinola sudah sepenuhnya bangun. Kusan-darkan dia ke pinggulku, supaya aku bisa memeganginya dengan mantap.
Shanee mengeluarkan sesuam dari dalam cangkir tehnya.
"Jadi, apa saja kegiatanmu selama ini?" tanyanya. "Ku-sangka kau akan memintaku menjaga Shinola bila kau kepingin pergi."
"Aku tidak begim kepingin pergi," dustaku. Padahal sebenarnya aku ingin bisa keluar rumah sesekali, dan Les juga cukup sering mengajakku main boling atau yang lainnya, tapi ajakannya selalu datang mendadak, jadi aku tidak bisa meminta bantuan Shanee. Shanee selalu saja mengorek-ngorek tentang Les, sepertinya dia tidak suka pada cowok im atau bagaimana Tolol benar, karena dia kan tidak pernah bertemu dengannya. "Sisi keibuanku lebih mendominasL" Aku mengeluarkan sesuam dari dalam cangkir tehku. "Kata Les, dia tidak percaya aku bisa terlihat cantik sekahgus keibuan."
Shanee tersenyum "Kami akan main ice skating hari Sabm nanti, siapa tahu kau mau ikut."

Kupandangi dia dengan sikap tidak percaya. "Dengan Shinola?"
Shanee mengangkat bahu. "Kupikir mungkin Les bisa gantian menjaganya selama beberapa jam. Memberimu kesempatan beristirahat."
"Aku tidak butuh istirahat," bantahku cepat. "Justru aku belum pernah merasa sebahagia ini." Aku menggun-cang-guncangkan Shinola yang kubaringkan di lutut "Kalau
menurutku, inilah makna hidup yang sesungguhnya. Lagi
pula, hari Sabm Les tidak mungkin bisa menjaga Shinola.
Akhir minggu justru saat yang paling sibuk baginya."
Shanee berhenti memandang ke dalam cangkir tehnya untuk melihat benda apa yang ada di sana, lalu ganti memandangiku.
"Well, bagaimana kalau Sabm malam?" desaknya. "Orangtua Gerri pergi akhir minggu ini jadi dia akan mengadakan pesta. Shinola bisa tidur di salah satu kamar yang ada di sana."
Membayangkan diriku pergi ke pesta bersama Shinola rasanya jauh lebih menyeramkan daripada pergi ke pesta tanpa Les.
"Bagaimana kalau Tahun Baru? Ibuku dan pacar ba-runya akan membawa adik-adikku ke Wales segera setelah Natal, dan aku boleh mengundang beberapa temanku untuk berpesta di rumah."
Aku tertawa. "Ibumu punya pacar?"
Aku tidak pernah melihat ibu Shanee dengan rambut disisir rapi, apalagi mengenakan rias wajah. Lelaki mana yang akan tertarik padawya?
Shanee menyeringai. "Dashyat, kan? Tapi tahukah kau, apa lagi yang hebat? Derek itu seorang dokter gigi. Bisa kaubayangkan, tidak? Mereka bertemu di toko Oxfam, mengincar jaket yang sama."
Aku tidak percaya seorang dokter gigi bisa jatuh cinta pada wanita beranak empat yang menganggap dirinya sudah berpakaian rapi bila sudah mengenakan kemeja flanel di luar kaus dan celana jins.
Aku mendesah. "Ya Tuhan.... Tidak semua hal terjadi s«uatu perkiraan kita, bukan?"
: "Hampir tidak pernah," Shanee sependapat. 'Tapi inti-nya adalah, kau masih punya banyak wakm untuk mencari orang yang bisa kaumintai tolong menjaga anakmu." Dia terlihat sangat bangga, seperti orang yang baru saja me-nang lotere. "Derek bahkan memberiku uang untuk hi-dangan pesta nanti. Oke banget, kan?"
"Demi Tuhan, sekarang kan baru bulan November, Shanee. Aku tidak bisa berpikir sejauh im." Memikirkan hari esok saja aku nyaris tidak bisa, karena selalu keca-pekan hari ini.
Tffiju Shinola menghantam cangkir teh di meja dan menghamburkan sedikit cairan panas mendidih ke arah kami. Untung aku berhasil menyingkirkan dia tepat pada waktunya.
"Aku dan Shinola menjalani hidup dari hari ke hari."
Kalau kau bisa menyebutnya sebagai hidup.
Shanee mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruang-an. Bisa kufihat bahwa dia juga tidak menganggap kehi-dupan yang kujalani sekarang sebagai hidup yang memba-hagjakan, tapi dia hanya berkata, "Well, di seluruh dunia sekarang ini semangat liburan sudah mulai merasuk di mana-mana." Dia menyeringai. "Pesta, pesta, pesta.... Ikut atau bete..."
"Entahlah...."
Walau belum sempat mernikirkannya, tapi aku tahu aku ingin melewatkan Malam Tahun Baru bersama Les. Dia memiliki setelan jas hijau dari bahan linen yang dibelinya ketika ada sale dan dia hanya mengenakannya untuk kesempatan-kesempatan khusus. Aku belum pernah me-lihatnya, tapi dia pernah menceritakannya padaku. Pikirku, aku akan membeli gaun biru agar terlihat serasi dengan
jas im. Les pasti ogah menghadiri pesta di sebuah flat
pemerintah dengan segerombolan anak remaja, tapi mungkin kami bisa mampir sejenak selama setengah jam. Jadi semua orang bisa melihat Les dan mengagumi keganteng-annya. Bukan masalah lagi bila dia nanti mengetahui ternyata aku lebih muda daripada yang dikiranya selama ini. Cepat atau lambat dia toh akan tahu juga, bila nanti kami mendaftar untuk mendapatkan surat izin menikah.
"Kutanya Les dulu. Siapa tahu dia sudah punya rencana sendiri untuk kami berdua."
Shanee mengorek ceceran susu bubuk yang sudah mengering dari atas meja dengan kuku jarinya yang panjang dan dicat warn a ungu. Aku terpaksa menggunting semua kukuku pendek-pendek supaya tidak melukai Shinola.
"Lho, kuldra Les pergi ke rumah ibunya pada Hari Natal," kata Shanee. "Di Norfolk."

"Norwich," koreksiku. "Tapi im kan tahun lalu. Tahun ini mungkin dia tidak pergi."
Les memang belum mengatakan bahwa dia tidak akan pergi, tapi aku tidak percaya dia tega kehilangan kesem-patan merayakan Natal pertama bersama putrinya. Tidak bahkan bila ibunya pandai membuat kue buah yang paling enak di seluruh Inggris. "Terserahlah," tukas Shanee. "Pokoknya, beritahu aku." , Setelah sekarang Shanee mengungkitnya, Hari Natal menjadi melekat dalam ingatanku. Sekilas aku mebayangkan diriku dan Shinola mengenakan gaun yang serupa, duduk mengelilingi pohon Natal bersama Les. Aku. toh bisa membeli kue buah di Marks and Sparks.
"Apa pendapatmu kalau aku dan Shinola mengenakan gaun yang serupa untuk Natal nanti?" Aku memasukkan
sendok ke wadah gula dan mengangkatnya, hendak me-masukkannya ke cangkir tehku. "Aku pernah melihat fotonya di salah satu koran Minggu, seorang ibu dan anak perempuannya mengenakan gaun beledu berhias renda yang serupa."
Shinola menggeliat-geliat dan gula im pun berceceran.
"Menurutku, lebih baik baju dari bahan kuht minyak saja," usul Shanee. "Atau plastik. Pokoknya yang mudah dibersihkan." Dia menghirup tehnya. Dengan hati-hati. "Jadi...," dia tersenyum dengan sikap menyemangati, "bagaimana keadaanmu?"
"Baik-baik saja. Semuanya beres. Senang rasanya tidak ada si sapi tua im lagi di rumah. Setiap hari terasa seperti liburan." Aku tersenyum, untuk membuktikan bahwa aku sangat bahagia. "Kau sendiri bagaimana?"
"Hebat" Shanee mengangguk-angguk. "Banyak tugas sekolah, tapi aku menikmatinya, dan nilai-nilaiku bagus. Dan karena sekarang Lucy sudah punya Derek, aku punya banyak wakm untuk diriku sendiri. Itulah sebabnya mengapa aku bisa bekerja paro wakm."
"Hebat sekali" , Sekaligus ironis. Dulu Shanee-lah yang tidak bisa ke mana-mana karena harus selalu mendekam di rumah dan membantu ibunya, sementara aku bebas pergi ke mana saja Sekarang, justru Shanee yang punya lebih banyak wakm luang, sedangkan aku sama sekali tidak punya wakm untuk diriku sendiri. Bukan cuma kurang waktu, bahkan tidak ada sama sekali. Aku masih memegangi tinju kecil Shinola yang basah kuyup, tapi mungkin aku meremasnya terlalu keras atau bagaimana karena mendadak tangisnya meledak.
"Dengar," kata Shanee. "Kalau kau dan Les ingin pergi ke suatu tempat yang menyenangkan, aku tahu sebuah
restoran yang bagus sekali dekat Leicester Square. Kau pasti suka. Ada burung beonya dan segala macam."
Jelas ada banyak sekali perubahan dalam diri Shanee beberapa bulan terakhir ini. Dulu, satu-satunya tempat yang pernah didatanginya di Leicester Square hanyalah stasiun kereta api bawah tanah.
"Sstt.desisku, memarahi Shinola. "Sekarang belum saatnya minum susu. Biarkan aku dan Shanee mengobrol dulu."
Shanee, yang dibesarkan di rumah yang kedamaian berarti hanya ada dua orang yang berteriak, terus saja berbicara, seolah tidak merasa terganggu.
"Aku pergi ke sana untuk merayakan ulang tahun Edna Husser," ceritanya. "Dia mentraktir kami bersepuluh makan malam di sana."
Aku tidak tahu siapa Edna Husser. Dia pasti anak baru. Tapi saat im aku sedang tidak begitu tertarik. Seperti biasa, Shinola memutuskan untuk menangis sekuat tenaga. Kepingin rasanya kuremas dia lagi kuat-kuat, kalau tidak ingat bahwa im hanya akan membuat tangisnya semakin menjadi-jadi.
"Kemudian, kami pergi ke tempat permainan virtual reality itu."
"Shinola," pintaku memohon. "Please.... Bagaimana kalau kautunjukkan senyum manismu pada Shanee? Tunjukkan bahwa kau bayi pintar...."
Ada alasan sendiri mengapa orang menyebutnya muntah proyektil.
Shanee menyeka tangannya yang terkena semburan
muntah Shinola dengan tadah liur yang kotornya minta ampun sampai-sampai tidak terlihat apakah benda itu bergambar kelinci atau beruang.
"Sebaiknya aku pulang saja sekarang." Shanee mendo-rong kursinya ke belakang. "Banyak sekali PR yang harus kukerjakan. Kutelepon kau nanti malam, ya? Setelah Shinola tidur"
Dia beruntung kalau aku masih bisa menerima teie-ponnya.
Shanee tidak pernah menelepon. Selama berhari-hari setelah kunjungannya yang terakhir, aku selalu bergegas meng-angkat telepon setiap kali benda im berdering, tapi tidak pernah Shanee yang menelepon. Kadang-kadang yang menelepon im nenekku atau Charlene, dan beberapa kali juga Dara, menghubungiku dari telepon genggamnya, dalam perjalanan ke suam tempat untuk menghadiri rapat atau jamuan makan malam bisnis. Tapi kebanyakan adalah orang yang sama. Orang terakhir yang paling tidak mungkin kuajak bicara. Si Hillary Biarkan-aku-mengatur-hidupmu Spiggs.
"Bagaimana keadaanmu?" **^M
"Masih sama seperti wakm kau terakhir kali menelepon.
Luar biasa baik."
"Apakah dana rumah tangga yang kutinggalkan masih
cukup?"

Pertanyaan im selalu ditanyakan Hillary setiap kali dia menelepon, seolah dia robot yang diprogram untuk selalu mengucapkannya. Tapi, im juga pertanyaan yang menjebak.
mengatakan hal yang sebenarnya—bahwa kalau
bukan karena tunjangan anak yang kudapat, juga uang lima puluh pound yang dildrimkan nenek untukku kalau
aku ingin membeli sesuam untuk diriku sendiri, juga lima
puluh pound kiriman Dara supaya aku punya uang lebih untuk Natal, serta dua puluh lima pound pemberian Charlene untuk Shinola, maka total jumlah uang yang kupunya kka-kira hanya tinggal lima puluh pence—dia pasti bakal langsung mengamuk seperti Hurricane Mitch.
"Cukup," jawabku, meyakinkan dia. "Semuanya baik-baik saja. Sebentar lagi aku akan mendapatkan giroku yang pertama." "Dan bagaimana kabar Shinola?" "Dia juga baik-baik saja." Aku bisa mendengar suara ibuku mendesah. "Charley sedang mengerjakan proyek di Camden," lanjut ibuku. "Menurut kami, dia bisa menjemput kalian berdua dalam perjalanan pulang kapan-kapan, jadi kau bisa makan malam bersama kami di sini. Kalau mau, kau juga boleh menginap di sini, atau dia bisa mengantarmu pulang ' sesudahnya."
Lagi-lagi ironis. Wakm kami masih tinggal bersama dulu, ibuku selalu saja marah-marah dan menerialdku, tapi sekarang, setelah tidak tinggal lagi bersama kami, dia selalu saja menyuruhku datang ke rumah barunya. Duga-anku, dia cuma mau mengecek keadaanku saja. Tahu sendirilah, untuk memastikan bahwa aku tidak memukuli bayjku, memakai .narkoba, atau hal-hal negatif lain sema-camnya.
"Sebenarnya kami mau saja," dustaku. 'Tapi minggu ini aku sibuk sekali." "Kalau begitu minggu depan."
lihat dulu bagaimana keadaannya nanti." Ibuku terdiam selama beberapa detik. Kusangka di* menyerah kalah. Tapi ternyata tidak. Dia justru sedan
menyusun kembali kekuatannya.
Hillary Spiggs berdebam-deham. "Kata Mrs. Mugurdy dia beberapa kali melihat pacarmu datang."
Mungkin ada baiknya juga aku jarang keluar. Mrs. Mugurdy mungkin punya kunci supaya dia bisa memeriksa isi flatku ketika aku sedang pergi, untuk memastikan bahwa aku tidak memorakporandakan tempat ini.
'Mrs, Mugurdy seharusnya juga mengurus urusannya saja sendiri," tukasku sengit.
"Dia bilang pacarmu kelihatannya sangat baik," kata ibuku.
Aku tidak percaya mendengarnya. Mungkin dia rindu padaku—atau mungkin hanya sekadar rindu pada flatnya— tapi ibuku sudah siap berdamai denganku. Inilah caranya menyerah, Mrs. Mugurdy pasti melaporkan padanya bahwa Les ternyata bukan tipe cowok yang memakai anting-anting atau menunggang sepeda motor, tapi cowok yang memiliki mobil bagus, berpakaian rapi, dan sangat sopan. Hillary Spiggs lega.
Tapi aku tidak mau terperangkap dalam jebakannya dan mengatakan sesuam tentang Les. Aku tahu bagaimana ibuku. Kalau aku menanggapi perkataannya barusan, dalam tempo lima menit dia pasti sudah langsung tahu siapa nama cowok itu, alamat rumahnya, dan nomor jarnjn sosialnya.
Jadi aku hanya berkata, "Hm..." n . ^
"Kuharap dia ikut membiayai keperluan aoakmu, buku.
Xku diam saja.
desaknya "Apakah dia memberimu uang untuk keperluan anakmu?' 6 lcUk
Kalau aku mengiyakannya, aku tidak akan bisa memi uang lebih darinya untuk keperluan yang tidak terd fapi bila kujawab tidak, dia akan lupa pada pujian ^ Mugurdy tentang betapa baiknya Les dan bakal memata*
matai tempat ini untuk mengkonfrontir Les bila di" datang nanti.
'Tentu saja," aku meyakinkan dia. "Dia kan bukan orang tolol." "Kalau im aku sudah tahu," sergah ibuku.
Sunyi Sepi Sendiri
AKU mulai merasa sedih saat bulan Desember tiba.
Tiba-tiba saja, semua orang sibuk sekali. Sekarang, setelah menjadi manajer di entah planet mana nun jauh di sana, Les semakin jarang punya wakm luang dibandingkan sebelumnya. Shanee mulai berpacaran dengan cowok te-man kerjanya di toko, jadi dia juga tidak punya waktu kgi untukku. Charlene, yang selama ini memang tidak pernah punya wakm luang, sekarang semakin tidak punya wakm lagi karena sibuk mengorganisir bazar amal di sekolah untuk menyambut Natal. Dara sedang berada di New York. Nenekku, yang biasanya menelepon setiap satu atau dua hari sekali, sekarang sudah seminggu. tidak pernah lagi menelepon. Masa Natal adalah masa panen pesanan selimut tambal, jadi dia pasti sibuk sekali. Bahkan Hillary juga terlalu sibuk untuk sermg-sering mengecekku. Semua im membuatku merasa sangat kesepian, dengan hanya Shinola saja yang bisa diajak berbicara, hari derfli hari Dan hanya mengerjakan urusan-urusan yang berkaitafl dengan Shinola.
Dan, seolah im semua belum cukup, keadaanku sekarang
ini. juga tidak begim baik.
Giro tunjanganku belum juga datang, dan aku mendapat surat dari kantor urusan perumahan yang mengingatkan
Mrs. Spiggs bahwa behau masih menunggak uang sewa rumah. Aku hampir tidak punya uang lagi untuk mem-bayarnya. Aku sudah menghamburkan uang cukup banyak untuk membeli dua gaun beledu yang mahal sekali, untuk dipakai saat Natal nanti. Meski mahal, menurutku itu bukan masalah, karena kami akari mengenakannya untuk Les. Selain untuk membeh gaun-gaun im, aku tidak tahu lagi ke mana larinya semua uangku. Yang jelas, uang mengalir seperti air dari kantongku. Padahal, aku tidak bermewah-mewah. Selama ini saja aku bertahan hidup dengan makan makanan murah, seperti kacang panggang Kwik Save No Frills dan roti tawar Kwik Save No Frills. Sudah satu bulan aku tidak pernah lagi minum Coca-Cola. Untuk menghemat uang.
Aku masih memutar otak mencari jalan untuk membayar tekening telepon wakm perawat di ldinik tumbuh kembang bayi memarahiku karena bokong Shinola merah-merah dan lecet-lecet sebab popoknya jarang diganti. Bia bahkan tidak memberiku kesempatan unmk menjelaskan bahwa alasan mengapa bokong Shinola terlihat seperti pisfga adalah karena aku bangkrut hingga terpaksa menghemat pemakaian popok sekali pakai. Dia terus saja mengoceh, membuatku merasa bersalah.
"Kahan para ibu muda sepertinya menganggap bayi sebagai boneka," geramnya gusar. "Padahal kalau kaki bayi kalian patah, kahan tidak akan bisa memasangkannya •agi seperti memasang kaki boneka yang
Sehari setelah itu, aku menemui petugas di kantor
perumahan. Orang itu memiliki wajah kaku yang sepertinya tidak pernah tersenyum. Menanggapi permohonanku memiliki flat sendiri, dia malah berkata bahwa aku toh bukan tunawisma atau sangat membutuhkan rumah, bukan? Jadi, karena menurutnya aku tidak terlalu butuh, dia menempatkan namaku di urutan paling bawah. Dia juga berpesan untuk menghubunginya bila simasiku berubah.
"Maksud Anda, menelepon Anda bila saya mati, begitu?" sergahku.
"Semacam itulah."
Setelah menemui petugas kantor perumahan, aku langsung pulang dan menangis. Aku terenyak di sofa sambil masih mengenakan jaket dan memangku Shinola yang mengisap jari tanganku dan menangis. Aku benar-benar berhatap Shanee mau datang lagi ke rumahku seperti dulu. Kami akan membeli sekantong keripik dan camilan lain, lalu nonton video dan bergadang semalam suntuk hanya untuk mengobrol. Tapi, pikiran tentang video malah membuatku menangis semakin keras. Selama beberapa menit aku merasa sangat mar ah. Begitu marahnya- sampai aku merenggut boneka jerapah Shinola yang menusuk-nusuk bokongku dan melemparkannya ke pesawat televisi.
Tapi aku tidak tahu aku marah pada siapa. Bukan pada Shanee. Dan jelas bukan pada Les. Maksudku, bukan salah Les bila dia begitu hebat dalam pekerjaannya hingga diangkat menjadi manajer termuda di negeri ini, mungkin bahkan di seluruh dunia. Bukan salahnya bila dia dipin-dahkan ke cabang Finsbury Park. Bukan salahnya Hillary tidak meninggalkan cukup uang untuk bertahan hidup. Rasanya aku bisa mendengar Hillary Spiggs berkata, 'Tapi
914.
gara-gara dia kau hamil." Saat im, aku tahu aku marah
pada siapa.
Bisa kulihat sekarang bahwa Hillary memang merenca-nakan semua ini. Dia tahu bagaimana rasanya punya bayi. Betapa beratnya mengurus anak sendirian tanpa ada orang lain yang membantumu atau menjaganya sesekali selama beberapa jam. Dia juga tahu betapa banyaknya biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli semua keperluannya. Dia tahu wakm teman-temanku akan sangat tersita karena tugas-tugas sekolah sehingga mereka tidak akan punya waktu untukku. Dia memang menginginkan semuanya be-rantakan. Dia menunggu aku datang dan memohon-mohon agar dia kembali. Dia menunggu aku datang dan berkata bahwa dia benar dan aku salah. Tapi aku tidak akan melakukannya. Aku akan menguatkan diri dan maju terus. Yang kualami sekarang ini hanyalah kemunduran sementara, im saja. Kemunduran sementara yang .tidak berarti. Sam-satunya hal yang dapat menghancurkan ren-canaku hanyalah bila aku dan Les putus. Dan im tidak akan pernah terjadi.
Tapi fldak punya uang adalah masalah besar. Padahal, aku harus membelikan hadiah Natal untuk sembilan orang, bdum termasuk Les dan Shinola. Aku tidak mau membuat Hillary tahu keuanganku morat-marit bila aku datang tanpa membawa hadiah apa pun.
Aku mengambil sebutir Rolo lagi dari bungkusannya. Sebenarnya aku harus memakannya pelan-pelan, karena ini makanan istimewa. Semacam hadiah yang tidak terduga dari Tuhan. Ceritanya begini: tadi aku pergi ke kios koran dan majalah untuk membeli sekotak korek api karena Panantik api utama di kompor tidak berfungsi. Karena
malas menaruh Shinola dalam kereta dorong, aku hanya menggendongnya saja ke. kios im. Kiosnya penuh pe-ngunjung dan, seperti biasa, Shinola merengek-rengek. Aku berusaha keras menghiburnya selagi kami mengantre untuk membayar dengan cara menunjukkan berbagai ma-cam permen yang dijual di konter.
Kuguncang sekotak Maltesers. "Lihat," kataku. "Apa itu, Shinola?"
Shinola tidak suka Maltesers.
Kuambil sebungkus Smarties dan kuguncang-guncang. Shinola juga tidak suka Smarties.
Aku baru saja mengambil sebungkus permen Rolos ketika seorang wanita tua muncul dari bagian belakang kios dan bertanya sekarang giliran siapa.
Wanita yang berdiri di belakangku mendorong pung-gungku. "Giliranmu." Iftr
"Saya mau beli sekotak korek api," kataku, lalu mema-sukkan tanganku ke saku untuk mengambil uang.
Baru setelah meninggalkan kios im aku sadar bahwa pada saat yang sama sewaktu aku merogohkan tangan untuk mengambil uang, aku tanpa sengaja mefTjatuhkan permen Rolos im di antara aku dan Shinola.
Kupandangi permen im sekarang seperti aku meman-danginya tadi. Dengan penuh rasa heran.
Wakm itu,- aku bertanya-tanya dalam hati apakah aku harus mengembalikan permen im.
Sekarang, aku malah bertanya-tanya dalam hati apakah aku bisa melakukannya lagi.
Tidak butuh wakm lama bagiku untuk merencanakan
bagaimana aku bisa melakukannya lagi. Dan lagi. Dan
lagi.
Asal tahu saja nih, melakukan hal itu ternyata jauh lebih mudah daripada menarik botol susu dari mulut bayi yang sedang kelaparan. Apalagi bila kau membawa bayi
yang bisa membantumu.
Dalam tempo tiga menit saja, aku langsung tahu paling mudah mengutil barang dari pasar swalayan. Dan karena sekarang menjelang Natal, jenis barang yang bisa dicomot juga banyak sekali. Hillary selalu berkeluh kesah setiap tahun karena pasar swalayan selalu mengubah letak barang jualan mereka untuk memberi tempat pada barang-barang yang hanya dijual pada masa Natal. "Di mana sih mereka meletakkan telur?" begim dia akan berteriak. "Mengapa tidak diletakkan di tempat biasa saja?" Tapi, lorong-lorong yang penuh berisi barang tambahan seperti hadiah kecil dan cokelat adalah jawaban doa-doaku. Bagiku, im bagaikan surga belanja sekali jalan "yang menyenangkan.
Aku sangat berhati-hati, tenm saja. Aku jelas tidak mau tertangkap basah mengutil di pasar swalayan. Hillary Spiggs bakal ngamuk berat bila cucu perempuannya dijebloskan ke balik jeruji besi. Dia mungkin juga tidak bakal senang bila aku dipenjara. Salah sam kekurangan menjadi anak enam belas tahun yang belum pernah terpikirkan olehku kmgga saat ini adalah bahwa sekarang aku bisa dipidana.
Shinola dan aku selalu pergi ke toko-toko langganan kimi. Semua orang di sana kenal kami karena aku selalu mengobrol dengan para kasir tentang Shinola, keadaan GHca, dan hal-hal semacam im. Hanya im satu-satunya ^empatanku mengobrol dengan orang dewasa, selain ^"gan Les dan sesekali mengobrol di telepon dengan
Shanee atau ketabat dekat perempuan. Dalam perhitung-anku, mereka tidak mungkin mengawasi aku karena mereka kenal padaku. Paling-paling mereka akan berpilrir, oh im dia si ibu muda dengan bayinya yang lucu, dan tidak akan menaruh kecurigaan sedikit pun. Apalagi, karena aku memang selalu membeli sesuam. Dengan begitu, kalau toh aku kepergok mengutil, mereka akan percaya padaku bila kubilang bahwa im tidak disengaja. "Oh, Tuhan!" aku akan memekik. "Aku lupa sama sekali pada barang im Ternyata jatuh dan tertutup selimut bayi." Dan kami tidak pernah pergi ke toko yang sama dua kali berturut-turut Kami menyebar ke toko-toko lain.
Dalam wakm kurang dari satu minggu, aku sudah berhasil mendapatkan hampir semua hadiah yang kubu-tuhkan. Cokelat untuk Nenek dan anak-anak Charlene, aftershave lotion untuk para lelaki, minyak mandi untuk kakak-kakak perempuanku dan si Spiggs, serta boneka kapuk untuk Shinola.
Hanya tinggal satu hadiah yang tidak mungkin kuda-patkan di pasar swalayan. Dan im, tentu saja, hadiah untuk Les. Sebenarnya aku ingin menunggu sampai Hari Natal, siapa tahu ada -yang memberiku uang. Sayangnya, Les akan pergi mengunjungi ibunya di Norwich pada Malam Natal, jadi aku tidak bisa menundanya.
Yang kuinginkan untuk Les adalah sebentuk gelang rantai emas berhias inisial seperti yang kulihat dalam katalog Argos. Aku akan memesan ukiran inisial namanya di bagian depan, dan tulisan "Cinta, ILana" di bagian belakang. Masalahnya, jangankan gelang im, gelang serupa dengan inisial nama orang lain yang dijual di toko gadai pun tidak mampu kubeli.
Pilihan keduaku adalah sepasang kaus kaki bergambar karakter Tazmanian Devil seperti yang pernah kulihat di Oxford Street. Les paling suka Taz. Dia bahkan meng-gantungkan pengharum mobil bergambar Taz di mobilnya. Memang sih, im bukan hadiah yang hebat, tapi setidaknya, hadiah im menunjukkan bahwa aku memerhatikan kese-nangannya.
Aku membutuhkan wakm cukup lama untuk mengum-pulkan keberanian. Para pramuniaga di Oxford Street sudah digembleng sedemikian rupa untuk mengenali setiap gerak-gerik calon pengutil dan kau tidak bisa sepenuhnya melepaskan diri dari pengawasan mereka atau dari kamera pengawas. Tambahan lagi, aku jridak mampu membeli apa-apa di sana, kecuali bila mereka kebetulan mengobral kaus kaki dengan harga lima puluh pence.
Aku mengisi dua tas plastik Body Shop dan Miss Selfridge lama dengan barang-barang rnilikku supaya, kau tahu, mereka mengira aku benar-benar sedang shopping, meski yang kuandalkan sebenarnya adalah Shinola. Dialah nanti yang akan mengalihkan perhatian.
Sekali ini Shinola bertingkah tepat sesuai keinginanku. Begim kami menjejakkan kaki ke toko im, dia langsung meraung-raung. Aku mencondongkan badanku ke atas kereta dorong untuk menghiburnya, tapi dia tidak peduli dan terus saja menjerit-jerit. Beberapa pengunjung dan dua pramuniaga di toko im menyunggingkan senyum simpati kepadaku. Aku mencoba mengguncang-guncangkan kereta dorong itu, tapi toko im kecil sekali sehingga aku tidak bisa melakukannya tanpa membentur sesuatu. Ber-ulang kali aku meminta maaf sambil terus berusaha
menenangkannya. Aku menjadi gelisah dan tertekan. Ku-
Iangkat Shinola, lengkap dengan selimutnya. "Phase, Sayang.pintaku padanya dengan suara keras. "Kita harus mencarikan sesuam untuk ayahmu." Semua orang ikut-ikutan gelisah dan tertekan. Salah seorang pengunjung kabur sementara yang lain langsung menyambar celana pendek dan syal lalu bergegas memba-wa semuanya ke kasir. Aku menyehpkan kaus kaki yang kuinginkan ke balik selimut Shinola dan membaringkannya kembali ke kereta dorong. Sambil masih terus bersandiwara, seperti yang diajarkan pada kami di kelas drama, aku berlagak mengancamnya, "Kita terpaksa pulang kalau kau terus-menerus rewel seperti ini. Besok saja kita kembali ke sini." Dan selesailah sudah: gampang sekali. Seperti meletakkan hiasan sebutir ceri merah di atas kue cokelat. Aku memutar arah, kereta dorong dan mendorongnya ke pintu. "Nanti aku kembali lagi," janjiku pada para pramuniaga. Mereka tersenyum, melambaikan tangan, dan berseru, "Bye, sampai ketemu lagi." Tapi setibanya aku di pintu, keberuntunganku berubah. Sekelompok gadis remaja, dengan tangan menjinjing tas-tas belanja, menerobos masuk. Mereka tertawa terkikik-kikik dengan suara berisik, entah menertawakan apa. Aku sudah hendak melewati gadis-gadis im wakm mendadak aku sadar siapa mereka. Aku terperangah. Hanya im kata yang tepat untuk melukiskan perasaanku: terperangah. Maksudku, ada berapa banyak toko di London? Ribuan? Puluhan ribu? Puluhan ribu toko dan 24 jam dalam satu hari, tapi pada saat
220
yang bersamaan, aku, Shanee, Gerri, dan Amie sama-sama dihinggapi keinginan yang sangat kuat dan tidak tertahankan unmk membeh kaus kaki di Oxford Street Tuhan pasti benar-benar ada; hal semacam ini tidak mungkin terjadi tanpa perencanaan.
"Lana!"
"Lana!"
"Lana!"
Shinola, yang pasti mendapat bisikan dari Tuhan, kontan terdiam dan bersikap semanis bunga. Benar-benar anak pintar. Kepingin rasanya kulempar dia keluar jendela-sekarang juga.
"Shanee! Gerri! Amie!" aku balas berteriak. "Ngapain kalian di sini?"
"Belanja hadiah Natal," jawab Shanee.
"Ini pemberhentian terakhir," kata Amie. "Aku sudah bokek."
Gerri tertawa. "Belum bokek kalau belum mati."
"Kau sendiri sedang apa?" tanya Shanee. Dia tersenyum padaku. "Mencarikan sesuam untuk Dad, ya?"
Aku balas tersenyum. "Yeah, hanya saja Shinola rewel terus dari tadi, jadi aku terpaksa membawanya pulang."
Amie mengernyitkan wajah pada Shinola yang, benar-benar tidak mau mengikuti aturan dalam skenarioku, malah balas tersenyum dan berdgguk-deguk.
"Sepertinya sekarang dia baik-baik saja," kata Gerri.
"Kami tidak lama kok," imbuh Shanee. "Bagaimana kalau kau menunggu sebentar jadi kita bisa pulang bareng?"
Mengerikan benar. Rasanya seperti habis merampok bank tapi tidak langsung pulang dan malah mengobrol dengan salah seorang kasirnya.
:ngangguk ke arah Shinola. "Percayalah, dia hanya diam untuk sementara wakm. Kalian pasti tidak mau pulang bersama kami, im akan menjadi pengalaman yang traumatis bagi kalian."
"Ah, tidak apa-apa." Tiba-tiba saja Shanee sudah ber-jongkok dan membelai-belai pipi Shinola. "Kau tidak akan membuat heboh kan di bus nanti, Manis?"
"Sebentar ya," kata Gerri. "Aku sudah tahu kok mau membeli apa."
Amie mulai melihat-lihat celana pendek yang dijual, tapi Shanee terus saja bercakap-cakap dengan Shinola. Dia membuka salah satu ikatan di jaket Shinola. Mengambil mainan yang dibawa Shinola dan menggoyang-goyangkannya di depan mukanya. Lalu dia berkata, "Sepertinya dia kepingin digendong." Dibukanya sabuk peng-aman Shinola dan diangkamya bocah im dari kereta.
Semua terjadi begitu cepat hingga aku tidak sempat lagi menghentikannya. Sam menit yang lalu Shanee masih berjongkok di samping kereta dorong, dan detik berikutnya dia sudah berdiri sambil menggendong Shinola.
Kaus kaki Tazmanian Devil im melayang dan jatuh ke lantai.
I"Apa im?" tanya Shanee. "Apa itu?" tanya kasir. Untunglah aku memang dilahirkan untuk menjadi artis, sekaligus ibu. "Oh, Tuhan!" Aku menutup mulutku dengan tangan, seolah kaget "Aku lupa sama sekali pada kaus kaki itu! Shinola menangis terus sih tadi—aku pasti tanpa sengaja menjatuhkannya ke atas sefimumya ketika sedang berusaha mendiamkannya tadi."
Para pramuniaga tertawa.
"Tidak apa-apa," kata si pramuniaga yang paling tua.
"Kau memang kelihatan repot sekali tadi."
Shanee masih terus bercakap-cakap dengan Shinola.
"Im yang akan kauhadiahkan pada ayahmu ya, Natal nanti? Wah, dia pasti suka sekali!"
"Kau mau membawanya ke kasir?" tanya si pramuniaga.
Aku tidak tahu harus melakukan apa. Berkata padanya bahwa aku berubah pikiran? Atau berlagak seolah aku memang hendak membelinya lalu pura-pura kehilangan uang?
"Kau masih mengmginkannya, bukan?" dia mendesak.
Aku bisa merasakan mata semua orang tertuju padaku.
"Oh ya," jawabku. 'Tentu saja masih."
Amie datang dan berdiri di sebelahku. "Ada apa?" Dia mengedipkan mata padaku. "Apa saja kerjamu selama ini, Lana? Mengutil lagi ya?"
Im gurauan. Aku tahu dia hanya bergurau. Dan semua orang juga tahu. Tapi tidak ada yang tertawa.
Shanee menyodorkan kaus kaki im kepadaku. Jari-jarinya meraup tanganku dan meremasnya kuat-kuaL
"Ini." Dia membungkuk dan membaringkan Shinola kembali ke keretanya. "Ayo, kita segera pulang."
Aku bisa merasakan sesuam yang bukan kaus kaki di telapak tanganku. Aku menunduk. Ada selembar uang dua puluh pound diselipkan di antara kaus kaki im.
"Untung kau menemukannya tadi," kataku pada Shanee.
Shanee mengangguk. "Yeah," sahutnya. "Kurasa begitu."
Biasanya, bayangan melewatkan satu hari penuh bets
seluruh anggota keluargaku sama tidak menyenangkannya dengan melewatkan sam hari penuh di kelas matematika. Tapi, karena belakangan ini sendirian terus, aku malah menunggu-nunggu datangnya Hari Natal. Paling tidak di sana hangat—alat pemanas ruangan di rumah Charlene tidak dibatasi meteran, tapi kalaupun penggunaannya di-batasi, dia selalu punya cukup uang untuk mengisi ulang. Dan akan ada banyak makan an. Juga hadiah. Dan kami bisa menggunakan gaun baru kami.
Gaun beledu Shinola berwarna hijau, sedangkan gaunku merah. Keduanya memiliki kerah dan pergelangan tangan yang dihiasi renda putih. Aku bahkan menyempatkan diri mengeluarkan kotak berisi perlengkapan merangkai perhias-an yang dihadiahkan Hillary untukku pada Hari Natal sekian tahun lalu. Selama ini aku malas mengutak-atiknya, padahal sebenarnya isinya bagus-bagus. Selain alat-alat, dalam kotak im sudah tersedia kabeL benang, beberapa utas kalung rantai, dan berbagai jenis manik-manik. Kalung ran-tainya murahan, tapi cukup lumayan bila dilihat dari jauh. Aku memendekkan seutas kalung rantai emas supaya pas di leher Shinola, lalu memasangkan bandul beruang tedi kecil dan bintang di sana. Tidak lupa aku memasangkan bandul baru dari Les (kali ini bentuknya poci teh) di gelang rantai emasku, Jadi, Shinola dan aku tampil dengan.tema yang sama. Bila kami tidak terlihat seperti sepasang ibu dan anak, paling tidak kami sama-sama terlihat seperti peri.
Begitu aku berjalan memasuki rumahnya, Charlene langsung merebut Shinola dari gendonganku.
"Tamu kehormatan sudah datang!" teriaknya.
Nenekku menghambur secepat kilat dari dapur, sepern perampok berlari meninggalkan lokasi kejahatan.
"Berikan padaku!" perintahnya dan langsung merebutnya dari gendongan Charlene sebelum Charlene sempat mem-bantah.
Sepanjang sisa hari im, aku benar-benar lepas dari Shinola. Semua orang ingin menggendongnya dan ber-main-main dengannya. Anak-anak ingin menyuapinya. Ne-nek bahkan ingin menggantikan popoknya. Kalau melihat tingkah mereka, orang bakal mengira yang kubawa im Bayi Yesus sendiri, bukan Shinola Spiggs.
Makanan tersedia melimpah ruah. Keripik dan cokelat. Kacang dan pretzel. Biskuit, potongan-potongan keju, dan buah zaitun. Perutku sudah bukan keroncongan lagi, tapi menggemuruh. Aku memilih kursi yang paling dekat dengan semua makanan. im, supaya gampang meraih kacang dan keju.
"Ini untukmu," kata Justin.
Aku mendongak dan melihamya mengulurkan segelas sampanye untukku. Sebenarnya aku tidak bermaksud me-noleh ke Hillary, tapi im sudah menjadi semacam respon otomatis.
"Well, kau mau ikut bersulang bersama kami, kan?" tanya ibuku.
"Oke, sekarang setelah semuanya berkumpul, waktunya mendengarkan musik!" pekik Dara, lalu langsung menghambur ke arah stereo sebelum ada yang sempat meng-hentikannya. "Baru kemudian kita bisa mulai acara buka kado."
"Oh, please" keluh kami semua berbarengan. "Jangan Phil Spector lagi."
"Natal belum afdol rasanya kalau belum mendengarkan Ronettes," tukas Dara.
"Itu berarti lata semua perlu minum lagi" sergah "ck.
Semua orang tertawa dan mengacungkan gelas masing-sing. Termasuk aku. "¦^M
Semua orang mengucapkan terima kasih yang berlebihan saat membuka hadiah dari aku dan Shinola, walaupun hadiah kami sederhana. Untung aku ingat untuk menye-diakan aftershave tambahan untuk Charley, unmk berjaga-jaga, karena tahun ini ternyata mereka tidak pums. Ibuku pemah lupa bercerita tentang alat pembuka kaleng yang kuhadiahkan padanya sebagai kado ulang tahun wakm aku masih berumur mjuh tahun, tapi bahkan dia akap seolah aku memberinya hadiah tiket tur ke Hawaii saja.
"Oh, manis sekaU hadiahmu, Lana." Nadanya bahkan terdengar tubes. "Tenma kasih.... Ini minyak mandi kesu-kaanku."
Shinola mendapat banyak sekali hadiah baju. Keba-nyakan baru bisa dipakai sekitar enam bulan lagi. Jadi, persediaan bajunya aman. Agak menakutkan juga bagaimana ibuku, nenekku, dan kedua kakak perempuanku memiliki piltiran yang sama seperti im. Dia juga mendapat banyak sekali mainan. Mainan dari Hillary, Charley Charlene, dan Dara semuanya bersifat mendidik. Nenek memberinya boneka beruang tedi yang ukurannya hampk sebesar aku.
"Mau ditidurkan di mana beruang ini?" tanyaku. "Di tempat ti&wku?"
Tidak gampang lho, menjadi ibu," sergah nenekku.
Dan, kecuali selimut tambal yang dibuatkan nenek untukku, semua hadiahku kurang-lebih adalah untuk
Shinola juga. Charlene dan Justin memberiku hadiah
telepon genggam dengan kartu prabayar berisi pulsa se-banyak dua puluh pound, supaya aku bisa bebas menelepon
sambil berjalan kian kemari mengurus Shinola.
"Unmk jaga-jaga dalam keadaan darurat," kata Justin. "Kau harus selalu siap dengan telepon di dekatmu setiap
wakm."
"Kami bahkan tidak punya telepon wakm aku masih kecil," tukas Nenek. "Padahal ibuku punya mjuh anak."
Dara dan. Mick memberiku hadiah langganan majalah ibu dan anak, serta sehelai voucher untuk dibelanjakan di Mothercare, siapa tahu aku membutuhkan sesuam untuk Shinola.
"Tapi jumlahnya seratus pound?' Aku tahu Mck meng-hasilkan uang banyak dari pekerjaannya di kota—dan Dara juga menghasilkan uang banyak dari pekerjaannya di seluruh dunia—tapi seratus poundl Aku saja tidak pernah diberi uang sebanyak im untuk membeli keper-luanku.
"Bayi kan cepat sekali tumbuh," kata Dara. "Mereka selalu membutuhkan segala macam."
Anak-anak Charlene, Drew, dan Courtney, memberiku satu set video Sesame Street.
"Wow," ujarku. "Tepat seperti yang kuinginkan selama ini."
"Kalau begitu, coba buka yang ini," kata ibuku. Dia mengulurkan sehelai amplop putih panjang berhias pita merah untukku.
Aku menerimanya dengan -sikap tidak terlalu antusias. Tidak banyak kan yang bisa dimasukkan ke dalam amplop?
"Apa ini?"
"Buka saja," jawab ibuku.
-Tidak ada seorang pun yang berbicara sewaktu aku membuka amplop im. Bahkan Shinola pun diam.
Aku mengeluarkan kertas yang terlipat di dalamnya. "Surat kontrak." Aku menengadah, memandangi Hillary, urat kontrak flat" Spiggs tersenyum. "Benar sekali."
Kupandangi lagi surat kontrak im. Ini tidak mungkin perti yang kukira. Kupandangi lagi ibuku. Mungkin-kah?
"Aku meminta ibumu untuk menjadi pendamping hi-dupku," kata Charley Dia merangkul pundak ibuku.
Hillary menepuk-nepuk lumt Charley. "Dan karena rasanya sayang menyia-nyiakan dua rumah, aku pun meng-iyakannya"
"Jadi kalian akan menikah?"
Ironis banget! Ibuku akan menikah mendahului aku. 'Tidak dalam wakm dekat," jawab ibuku. "Tapi aku akan resmi pindah ke rumah Charley. Untuk selamanya." Dia tersenyum. "Karena sekarang kau sudah dewasa."
"Hebat, bukan?" seru nenek. "Sekarang kau tidak perlu lagi menunggu antrean unmk mendapat rumah dari pe-merintah selama sepuluh tahun. Kau berhak menempati flat ibumu. Im sudah dinyatakan .secara jelas di dalam surat kontrak."
Hillary tertawa. ""Well, apa komentarmu, Lana? Tidakkah kau senang?"
Aku hanya memandangi surat kontrak di tanganku | seolah im sepatu mirah delima Dorothy. "Tentu saja aku senang"
Aku girang bukan kepalang. Ada kira-kira selusin lag0
berkecamuk dalam pikiranku. Setelah semua kekecewaan yang kualami, segala sesuam akan berjalan sesuai rencana-
ku.
Yang lain-lain mulai ribut berbicara pada saat yang bersamaan. Mick berusaha memperkirakan berapa uang yang bakal kudapat dari Tunjangan Hidup dan Tunjangan Anak serta Tunjangan Perumahan, lalu mengoceh tentang pentingnya membuatkan anggaran untukku. Katanya, im pelajaran yang penting dalam ilmu ekonomi. Nenek berkata aku juga bisa kembali ke sekolah bila nanti Shinola sudah agak besar, dan mungkin bekerja paro wakm. Justin malah berkata bahwa aku tidak perlu menunggu selama . im. Menurutnya, pemerintah memiliki program khusus unmk gadis-gadis remaja yang bernasib sama denganku, dengan memberi pelatihan membuat patung tanah liat dan semacamnya. Dara mengingatkan aku bahwa dia dulu membayar uang kuliahnya di bidang studi bisnis dari hasil membersihkan rumah-rumah. Charlene berkata se-baiknya aku mencari ibu-ibu muda lain yang tinggal di sekitar rumahku dan membentuk kelompok untuk bergan-tian menjaga anak masing-masing, supaya kami bisa punya wakta istirahat "Penting lho, punya wakm untuk o!irimu sendiri," kata Charlene.
Kubiarkan mereka berbicara apa saja. Rasanya seperti mandi kata. Semuanya masuk ke kupingku dan menghilang begitu saja.
Aku mengangguk-angguk dan tersenyum, tapi tidak benar-benar mendengarkan perkataan mereka. Aku lebih sibuk mendengarkan lagu demi lagu yang bermunculan dalam benakku.
Benar kata orang bahwa habis gelap, terbidah terang.
229 dfl
Di saat aku tengah merasa sedih dan kesepian, semua persoalan yang menghadangku sebentar lagi akan bisa
diatasi. Flat im kini menjadi rnilikku! Milikku sendiri! Sekarang Les bisa pindah ke rumahku dan kami akan dup bahagia bersama selamanya. Nenek mengacungkan gelasnya tmggi-tinggi. "Ayo ber-ulang!" pekiknya. "Untuk Tahun Baru yang terindah."
Sebuah lagu memisahkan diri dari lagu-lagu lain dalam benakku dan berkumandang kencang. "Hanya lalala dan aku... dan hadirnya si bayi s'makin melengkapi... Kami bahagia di... surga biru... kaa-mi..." Kuangkat gelasku tmggi-tinggi. "Unmk Tahun Baru ang terindah!"
Selamat Tahun Baru Untuk Kita
AKU hampir-hampir merasa tergoda untuk pulang bersama Hillary dan Charley dan tinggal bersama mereka sampai sehari setelah Natal. Mereka juga menginginkan hal yang sama. Well, mereka ingin bisa lebih lama bersama Shinola. Bahkan Charley pun demikian. Mereka bermain terus dengannya. Padahal aku berusaha mengajarkan pada Shinola untuk tidak berharap akan digendong setiap kali menangis, tapi di sini, semua orang malah berebut meng-gendongriya. Tapi, karena banyak sekali pekerjaan yang kuselesaikan, aku tidak mungkin membuang-buang Waktu bersama mereka. Aku merasa bersemangat lagi dan P^uh rencana. Minggu ini juga, Hillary dan Charley datang untuk memindahkan barang-barangnya yang ^sih tertinggal di flat, tapi kubilang pada mereka bahwa *u akan mulai mengemasi barang-barang im sebelum a ^jeka datang. Aku sUdah tidak sabar ingin segera mulai ^benah. Semakin cepat Hillary pindah, semakin cepat £ a aku bisa benar-benar "masuk" dan hidupku akhirnya 1Sa ^ai dengan benar.
P* - Dan, tentu saja, aku harus memberitahu Les. Dia mungkin akan meneleponku setelah Natal nanti, untuk mengucapkan Selamat Natal setelah ibunya selesai me-luapkan kegembiraan karena dia pulang selama satu minggu. Aku harus ada di rumah bila dia menelepon.
Sepanjang hari setelah Natal, aku menunggu-nunggu telepon dari Les, tapi telepon im tidak pernah datang. Kupikir, ibunya pasti menyeretnya ke sana kemari, minta ditemani mengunjungi rumah sanak-saudara, jadi Les tidak pernah punya kesempatan untuk meneleponku. Esok ha-rinya, pagi-pagi benar, aku mulai mengikat buku-buku Hillary setumpuk demi setumpuk, lalu memasukkan semua barang yang tidak bisa pecah ke dalam kantong sampah ukuran besar. Saking sibuknya mengemasi barang, aku tidak sadar bahwa Les belum juga menelepon sampai jam 22.00, wakm aku akhirnya ambruk ke tempat tidur. Aku berbaring di sana, di tengah segala macam sampah yang dikumpulkan Hillary selama sekian tahun, membayangkan bagaimana aku akan menata flat ini nantinya. Dinding dan perabotannya berwarna putih. Ada sam set meja sudut yang terbuat dari kaca dan krom di sebelah sofa kulit. Meja tamunya besar dan bundar, juga terbuat dari kaca dan krom. Lampu-lampunya memiliki mdung kaca embun dan mengarah ke langit-langit. Les sedang sibuk di dapur kami yang dicat biru-kuning, membuatkan mi-numan untuk kami berdua. Lalu dia datang dan duduk di sampingku, mengulurkan gelas berisi minuman. "Selamat Natal, Sayang," bisiknya. "Dan Selamat Tahun Baru." Saat itulah baru aku sadar bahwa dia .belum menelepon juga. Aku begitu capek sampai nyaris tidak peduli.
"Dia pasti akan menelepon," hiburku pada diri sendin
sambil membungkus badanku rapat-rapat dengan selimut tambalku yang baru. "Mungkin wakm Hillary dan Charley
datang ke sini."
Aku menyingkirkan Les jauh-jauh dari pikiranku. Aku tahu bagaimana ibunya. Dia pasti tipe ibu yang selalu meng-gelayuti anaknya dan tidak mau melepaskannya. Tambahan lagi, dia pasti punya banyak pekerjaan untuk Les, mumpung anaknya im ada di rumah. Juga, dia pasti mengajak Les mengunjungi para bibi dan paman. Les mungkin terlalu sibuk sehingga tidak sempat mencari telepon umum. Soalnya, dia tidak bisa menggunakan telepon ibunya, karena penghasilan ibunya yang pas-pasan: Tapi aku juga sibuk.
Hillary dan Charley datang tiga hari setelah Natal. "Well, selama ini jelas kau sibuk sekali," komentar Hillary sambil memandang berkeliling. "Kuharap kau tidak menari-nari di atas kuburku secepat ini."
Walaupun aku sudah mengemasi banyak sekali barang Hillary yang tidak berguna, tapi butuh wakm sehari penuh bagi kami bertiga untuk menyortir semua barangnya dan memuamya ke dalam mobil.
Sepeninggal mereka, aku mati-matian membersihkan seluruh penjuru flat dengan tenaga yang masih tersisa. Aku bekerja seperti orang kesetanan, membersihkan debu, memaku, mengepel dan memindahkan perabotan. Setelah selesai, kedua tanganku lecet-lecet dan kemasukan serpihan kayu, dan dahiku tergores karena menabrak rak.
Aku baru saja menyimpan kembali semua peralatan ketika mendadak bel pintu berdering.
Besok Malam Tahun Baru. Jadi tidak mungkin Shanee yang datang. Sekarang ini Shanee pasti sedang sibuk sekali menyiapkan pestanya.
Jadi im pasti Les. Itulah sebabnya mengapa dia tidak juga menelepon, karena dia hendak memberi kejutan padaku dengan datang untuk melewatkan Malam Tahun Baru bersama.
. Aku sampai tersandung-sandung saking cepamya berlari menghampiri pintu depan, karena tidak ingin dia mengebel lagi dan membangunkan Shinola.
Shanee • berdiri di depan pintu dengan kedua tangan penuh kantong belanjaan.
'Jangan segirang im melihatku," tegur Shanee. "Aku cuma bisa mampir sebentar saja."
Aku bukannya tidak senang melihamya datang. Hanya saja, tadi aku sudah siap menghambur ke dalam peluk-annya, karena mengira dia Les. Aku cepat-cepat tersenyum dan melambaikan tanganku, mempersilakan dia masuk.
"Masuklah!" seruku. "Kau tamu pertama di flat baru kami" -
Shanee menggerak-gerakkan alisnya. "Aku kok tidak tahu kalau kau sudah pindah. Ternyata kita sudah lama sekali tidak bertemu."
'Tunggu saja sampai kau mendengar apa yang terjadi," kataku sambil membimbingnya masuk.
Begitu menapakkan kakinya ke ruang tamu, langkah Shanee langsung terhenti.
"Astaga," seru Shanee. "Kelihatannya kau seperti habis dirampok."
"Hillary sudah pindah dari sini untuk selama-lamanya,"
aku menjelaskan padanya. "Jadi flat ini resmi menja
milikku!"
Shanee mengedarkan pandangannya, dari ujung ruangan ke ujung lain. "Yang tersisa darinya," Shanee berkomen-tar.
"Oh, jangan begitu.... Sekarang toh aku belum selesai menatanya. Tunggu sampai aku sudah mengecat semuanya. Pasti akan sangat bagus. Dan kalau tabunganku sudah cukup, aku akan membuatnya menjadi sangat modern." Hillary pelit sekali hingga dia bahkan tidak mau membeli panggangan roti, tapi aku akan melengkapi dapurku dengan peralatan yang serbaelektris. "Kau tahu kan, dengan kompor yang tidak terlihat seperti kompor, ketel elektris, pembuat kopi elektris, juga panggangan roti elektris. Dan microwave, tentu saja."
Shanee terus saja mengangguk-angguk dan memandang berkeliling.
"Pada akhirnya nanti, semua akan ditata dalam warna yang terkoordinasi dengan baik."
Shanee menatapku dengan pandangan penuh arti. "Apa ini berarti Les akan piAdah ke sini?"
"Tentu saja," jawabku. "Itulah yang kami tunggu-tunggu selama ini."
"Well, kalau begitu hebat." Shanee meletakkan kantong-kantong belanjaannya dan memelukku. "Jadi dia bisa datang ke pesta bersamamu besok malam."
"Kurasa tidak. Dia masih belum bisa pulang dari rumah ibunya."
Lagi-lagi Shanee memandangiku dengan tatapan penuh arti, seperti wakm dia melihat kaus kaki Tazmanian Devil itu terjatuh dari balik selimut Shinola.
"Tapi kau akan tetap datang, kan?" tanyanya. "Kau harus datang."
"Aku tahu.... Aku harus bertemu Guy."
Shanee melambaikan tangan, seolah menepiskan Guy
begitu saja dari hidupnya. "Sudah bukan dia lagi sekarang. Sekarang kau harus bertemu Andy." Dia tertawa. "Aku berkenalan dengannya pada Malam Natal, di rumah Edna Husser. Andy teman kakak Edna."
Aku juga ikut tertawa. "Kau agak berubah sekarang. Dulu kau sama sekali tidak pernah bergaul dengan cowok, tapi sekarang, kau berganti cowok sesering berganti baju."
"Kau tahu kan apa kata pepatah," tukas Shanee.
"Buatlah jerami selama masih ada matahari?" tebakku. Im salah sam pepatah kegemaran Nenek.
"Bukan," jawab Shanee. "Masa muda hanya datang satt kali."
Pada Malam Tahun Baru, hampir sepanjang malam aku berdebat dengan diriku sendiri, apakah sebaiknya pergi ke pesta Shanee atau tidak. Haruskah? Tidak? Haruskah? Tidak? Kira-kira jam 21.00, ketika semua orang di layar televisi mulai bersiap-siap menyambut datangnya Tahun Baru, aku memutuskan pergi saja. Kalau Madonna sudah pasti akan pergi.
Namun, begita Shanee membukakan pintu, sadarlah aku bahwa aku mengambil keputusan yang keliru. "LanaF pekiknya. "Tidak percaya aku! Ternyata kau - datang juga."
Sekarang ini pun aku tidak tahu mengapa aku harus datang Padahal baru beberapa saat yang lalu aku duduk
; sendirian di flat baruku yang kosong, tidak punya kegiatan apa-apa, mendengarkan gema suara-suara di luar sang, membayangkan Les berjoget seperti John Travolta dalam balutan kemeja kuningnya. Kemudian, tiba-tiba saja aku sudah mengganti baju Shinola dan bajuku dengan gaun beledu.
'Ternyata pestanya santai ya," gumamku. Dari apa yang kulihat, banyak tamu cewek yang hanya mengenakan celana jins atau legging dengan blus tipis menerawang atau berhias manik-mamk. Dan hampir semuanya memilih baju berwarna hitam atau abu-abu, atau kombinasi kedua warna im. Jelas, merah bukan warna yang sedang trend musim ini.
"Kau cantik kok," kata Shanee, berusaha meyaldnkanku. "Sangat matang"
Aku menerjemahkannya sebagai "tua".
Shanee sendiri mengenakan gaun, tapi bukan gaun model kuno yang kerah dan pergelangan tangannya dihiasi renda. Gaunnya bahkan tidak memiliki kerah ataupun pergelangan tangan. Gaunnya panjang, menerawang, dan berlapis-lapis. Lapisan paling atas berwarna hitam, dan di bawahnya ungu, lalu di bawahnya lagi, merah. Kesannya sangat seksi tapi tidak vulgar. Belum pernah aku melihat Shanee tampil seksi. Im sedikit membuatku shock.
"Kau juga terlihat sangat matang," komentarku. .
Shanee menyambar lenganku. "Ayo, mari lata bawa Shinola ke kamarku, lalu aku akan mengenalkanmu pada semua orang." "Baiklah," ujarku. "Bagus."
Aku berjalan mengikutinya menembus keramaian. Satu-dua orang memandangiku dengan tatapan aneh, seolah
aku membawa orangutan, bukan bayi manusia. Tapi se-bagian besar tidak menggubrisku. Tidak ada yang melambaikan tangan atau menyapaku. Ada beberapa di antaranya yang wajahnya kukenal, tapi tidak banvak.
'Ternyata, kau punya banyak tern an baru semenjak aku berhenti sekolah," gurauku.
"Yeah," jawab Shanee. "Kurasa ito benar. Banyak sekali hal baru yang terjadi dalam hidupku."
Aku tertawa. "Yeah, aku tahu." Hidupku juga banyak mengalami hal baru, hanya saja semuanya seperti berputar-putar dalam lingkaran, tidak pergi ke mana-mana.
Shanee cekikikan. "Siapa yang mengira menjadi dewasa bakal sangat menyenangkan?"
"Yang jelas bukan aku," sahutku.
Shinola, tenm saja, tidak mau langsung tidur hanya karena aku menginginkannya. Dia malah ingin bermain-main.
"Aku harus kembali ke pesta," kata Shanee. Dia meringis. "Tanggung jawabku sebagai man rumah. Carilah aku kalau dia sudah tidur nanti."
"Tentu," sahutku. "Kalau aku masih bisa mengenalimu saat itu."
Aku duduk di tempat tidur Shanee sambil menunggu Shinola tidur. Seorang cowok dan cewek yang tidak kukenal melongokkan kepala ke kamar unmk mencari tempat berciuman, tapi selain mereka, tidak ada lagi yang masuk.
Berada di kamar Shanee rasanya seperti kembali ke masa lalu. Dia masih menyimpan semua foto kami berdua, terselip di pinggiran bingkai cermin. Dan dia masih memajang foto kami bersama ibu dan adik-adiknya, berdiri
238
berhujan-hujan di Thorpe Park. Juga kerucut pengama yang kami temukan di jalan. Juga poster James Dean-nya yang terpasang di dinding Pikiranku melayang ke masa lalu. Entah berapa banyak jam dalam hidupku yang
kuhabiskan di kamar ini, memandangi poster itu, sementara aku dan Shanee mengobrol. Ratusan. Mungkin ribuan
jam. Aku bahkan bisa melihat kami duduk di sana. Mengobrol sambil mengunyah biskuit dan menyemburkan
remahannya ke segala penjuru bila kami tertawa. Shanee sedang berciuman seru di dapur wakm aku
akhirnya berhasil menemukan dia. Dia bahkan tidak terlihat malu.
"Lana," serunya. "Kenalkan, ini Andy. Andy, ini Lana" Andy im mungkin cowok paling ganteng yang pernah kulihat di kehidupan nyata. Dia memang bukan ripe cowok yang kusuka—rambutnya panjang dan diikat ekor kuda, dan mengenakan cincin hidung—tapi kerennya luar biasa Seperti bin tang film saja. Seperti Johnny Depp. Umurnya paling kurang dua puluh tahun.
"Apa kabar, Lana?" sapa Andy. Sebelah tangannya menjalar menuruni sisi badan Shanee.
"Sebentar lagi aku keluar," janji Shanee. Dia seperti membenturkan pinggulnya ke pinggul Andy. "Aku masuk ke sini karena mau mengambil makanan lagi. Amie dan Gerri ada di luar. Minta mereka memperkenalkanmu pada siapa saja yang tidak kaukenal." "Oke," sahutku. "Sampai ketemu lagi nanti." Tapi aku tidak bisa menarik perhatian Amie, Dia sibuk tertawa terpingkal-pingkal bersama dua cowok yang tidak kukenal. Mereka bukan murid sekolah kami, im sudah pasti.
Aku juga tidak berhasil menarik perhatian Gerri. Dia masuk ke kamar untuk berciuman dengan seorang cowok.
Aku .berkeliaran tak tentu tujuan, mencomot makanan dan tersenyum-senyum, seolah sangat menikmati suasana. Aku mengambil bir dan berusaha membaur dengan tamu-tamu lain. Aku berdiri dekat sekelompok orang dan mendengarkan obrolan mereka dengan senyum tersungging di wajah. Tapi mereka mengobrol tentang orang-orang dan hal-hal yang tidak ada hubungannya denganku. Aku mengambil bir lagi. Bir im membuat perasaanku sedikit lebih enak. Aku berdiri sendirian di sudut ruangan dan sedikit bergoyang-goyang mengikuti irama musik, seperti sedang menunggu seseorang mengajakku berdansa.
Kemudian aku melihat Gary Lightfoot berdiri dekat meja minuman. Dulu dia sekelas denganku. Meski sejak dulu dia memang agak konyol dan goblok, tapi senang rasanya melihat seseorang yang kukenal, jadi aku pun tersenyum padanya. Rasanya seperti mengibaskan kain merah di hadapan seekor banteng. Tanpa ba-bi-bu lagi dia langsung mendatangiku dengan penuh semangat.
"Lana," seru Gary. "Sudah lama tidak ketemu. Apa kabar?"
Kubilang padanya bahwa kabarku baik-baik saja. Bagaimana dengan dia?
"Hebat," jawab Gary. "Bagaimana, semua beres?" "Ya," jawabku. "Semua beres."
©ia tersenyum terus seperti orang yang hendak difoto. "Jadi," Gary berdeham-deham. "Kau sudah melahirkan?" "Sudah," jawabku. "Aku sudah melahirkan." Aku meng-oguk ke arah lorong. "Sekarang dia tidur di kamar banee."
"Hebat." Gary mengangguk. "Siapa nama anakmu?" "Anakku perempuan," jawabku. "Namanya Shinola.'
Senyum Gary sedikit goyah. "Apa?"
"Shinola. Im berarti pa'g—"
"Shinola?" Senyum Gary lebar sekali. "Maksudmu seperti semir sepam im?"
I "Semir sepam?" Senyumku kontan lenyap. "Apa maksudmu, semir sepam?"
¦ "Shinola," jawab Gary. "Im nama semir sepam."
"Bukan, kau salah." Sekarang aku bukan cuma tidak tersenyum, aku bahkan nyaris tidak menggerakkan bibirku. "Im artinya pagi yang indah. Dalam bahasa Afrika."
Gary tidak lagi berusaha menahan tawa. 'Tidak, bukan. Di Amerika im artinya semir sepam."
Aku masih berusaha menjelaskan bahwa nama im berarti pagi yang indah atau semacamnya dalam entah bahasa apa, ketika mendadak Gary menyambar lengan seorang cowok lain yang berdiri di dekat situ dan menyeretnya masuk perdebatan kami.
'Jake," kata Gary. "Bukankah Shinola im nama semir sepam di Amerika?"
Jake menyeringai. 'Tidak bisa membedakan tahi dengan Shinola," kata Jake.
Tawa Gary meledak tapi aku hanya berdiri mematung dengan ekspresi wajah kosong.
"Im peribahasa. Artinya, orang yang sangat tolol," Jake menjelaskan. "Saking tololnya, dia tidak bisa membedakan tahi dengan Shinola."
"Kurasa im berarti cokelat," kataku.
Gary menyembur. "Apakah bayimu coke
"Tidak," jawabku. "Tidak waktu aku terakhir kali meli-hatnya."
Setelah kejadian itu, aku tidak punya keinginan lagi untuk berpesta. Kupandangi Gary dan Jake terhuyung-huyung
pergi sambil masih tertawa-tawa. Kurang dari dua menit tua orang di pesta ini pasti sudah bakal tahu kalau aku memberi nama bayiku seperti nama semir sepam yang mirip tahi. Aku mengambil Shinola dan langsung pulang. i^^p
Begita aku melangkahkan kaki ke dalam rumah, aku mendengar Les berkata, "WeU\ Selamat Tahun Baru! Sampai ketemu sebentar lagi!" Dan detik berikutnya, suara mesin penjawab telepon berputar.
Tidak bisa dipercaya! Scjak Hari Natal, bisa dibilang aku berada di rumah terus setiap wakm, tapi Les justru menelepon ketika aku pergi! Aku berdiri di depan pesawat telepon sambil mendekap Shinola, memandangi mesin penjawab telepon..-Dua tetes air mata mengalir menuruni pipiku. Tapi kemudian, perasaan pums asa membuatku nekat. Aku melakukan sesuam yang tidak pernah kulakukan sebelumnya. Kuangkat telepon dan kuhubungi nomor satu-empat-tujuh-sam untuk mengetahui nomor telepon yang baru saja menghubungiku.
Kejadiannya cepat sekali, sampai aku tidak yakin telah mendapatkan nomor yang benar. Kututap telepon, kuambil bolpoin dan secarik kertas, lalu kuhubungi lagi nomor layanan satu-empat-tajuh-satu.
Ternyata, im sama sekali bukan nomor telepon Norwich. Tapi nomor telepon London.
Les pasti sudah pulang. Dia langsung menelepdti begitu sampai di rumah. Ternyata, dia memang i» melewatkan Malam Tahun Baru bersamaku. Ml kejutannya. Aku dan Shinola masih mengenakan mantel.
Aku tidak merasa perlu berpikir dua kali. Syukuriah Nenek memberiku uang sepuluh pound sebagai hadiah
Natal. Aku langsung berbalik dan keluar lagi, lalu meng-
hentikan taksi.
Aku tahu persis apa yang aku harapkan. Aku berharap akan melihat Les dalam balutan kemeja "kuning dan seringai bahagia tersungging di wajah, serta tangan memegang
sebotol sampanye.
"Aku baru mau meneleponmu lagi," katanya begitu membukakan pinm. "Kupikir, kau tadi pasti sedang me-nidurkan bayimu."
Tapi yang membukakan pintu untukku adalah seorang wanita. Usianya kira-kira sebaya dengan Hillary, tapi ram-butaya sudah beruban. Perasaanku langsung tidak enak begitu melihat wanita ini. Sama seperti perasanku wakm rumah kami kemalingan dulu. Begitu menapakkan kaki memasuki flat, perasaan dingin menjalari hatiku. Karena aku melihat sebuah kaset tergeletak di lantai, padahal aku tahu benda im tidak seharusnya berada di sana. Begitulah perasaanku sekarang. Wanita ini tidak seharusnya berada ¦ di sini.
"Ya?" Wanita itu memandangiku dan Shinola berganti-ganti. "Ada yang bisa kubantu?"
"Oh," ucapku. Wanita im mengenakan celemek dan sandal kamar. Aku pasti mendatangi rumah yang salah. Tadi aku memberitahu sopir taksi untuk berhenti di depan rumah nomor 71, tapi dia pasti salah dengar. Dan
tidak terpikir olehku untuk memeriksanya lagi. "Ma-ttiaaf mengganggu... saya mencari Les, Les Craft? Dia tinggal di jalan ini."
Wanita itu tersenyum kecil. Senyumnya seperti sudah tidak asing lagi. Aku bisa merasakan diriku mulai benar-benar panik. Berbagai macam pikiran berkelebat dalam otakku.
"Oh, begitu? Kau mencari Les?"
Tidak, jerit sebuah suara di kepalaku. Les-lah yang mencariku!
"Anda kenal dia?" Mungkin wanita ini ibu salah seorang teman serumahnya. Atau Les kadang-kadang membantu membawakan belanjaannya. "Mungkin Anda bisa menun-
jukkan rumah Les pada saya____"
Wanita itu tertawa. "Kurasa bisa dibilang aku kenal padanya Aku ibu. Les. Dan ini rumahnya." Matanya beralih pada Shinola. "Kau temannya?"
"Oh...." Rasanya seperti ada menara kartu berdiri di dalam hatiku dan mendadak ada orang yang mengambil sehelai karm yang tedetak paling bawah. Menara im langsung runtuh. Aku bisa merasakannya. Aku bahkan bisa.melihatnya. Aku berusaha menghentikannya. "Anda ibu Les?" Kupaksa diriku untuk tersenyum. "Les tidak bilang Anda datang ke London."
Ibu Les tampak bingung "Tapi aku memang tinggal di London. Di sini. Sudah tiga puluh tahun aku tinggal di rumah ini"
Jderr... jadi im sebabnya mengapa Les tidak pernah memberitahukan nomor telepon rumahnya kepadaku. Jderr... jadi itu sebabnya mengapa telepon genggamnya tidak pernah diaktifkan. Jderr... jadi im sebabnya mengapa
Les sakit flu berat tahun lalu. Jderr... jadi im sebabnya
mengapa dia tidak pernah bisa merayakan Natal bersamW--. ku- Jderrjderrjderr. Tapi tetap saja aku masih berusaha-menghentikannya.
"Tapi im tidak mungkin," sergahku. "Les—maksud saya, saya sangka Anda tinggal di Norwich."
"Norwich?" Wanita im tersenyum begitu rupa seolah dia menganggapku melantur karena pengaruh narkoba. "Yang tinggal di Norwich im adik perempuanku, sedangkan aku tinggal di sini. Bersama Les." Dia mendorong pintu sedikit lebih ke depan. "Bagaimana kau bisa kenal dengan Les?" Sekali lagi dia memandangiku dan Shinola dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Benar kau temannya?"
Aku berdiri di ambang pintu rumahnya bersama seorang bayi dalam gendonganku di Malam Tahun Baru. Me-mangnya dia kira aku siapa, Pemandu Wisata? Tapi tentu saja aku tidak bisa berkata begitu. Aku tahu begitu aku membuka mulut, aku tidak akan pernah bisa berhenti . membeberkan semuanya. Dan karm-karm im juga tidak akan berhenti berjatuhan.
"Ya," jawabku. 'Tentu saja saya temannya." Kugoyang-goyangkan Shinola dengan lembut dalam gendonganku. 'Teman dekat sekali."
Bila senyum ibu Les awalnya tadi sopan, sekarang senyum im terlihat dingin dan kaku.
"Kalau benar teman dekat, bagaimana kau bisa tidak tahu bahwa dia tinggal bersama ibunya?"
"Well, saya—" Pantas dapurnya begitu resik. Pan tas aku tidak pernah melihat ruangan lain selain kamar Les. Aku menabahkan diri supaya suaraku tidak terdengar gemetar. "Les ada di rumah?"
wanita itu memegangi pintu kuat-kuat. "Sayang, dia baru saja pergi." Nadanya sama sekali tidak terdengar
Imenyesal. "Well, apakah dia akan pulang sebentar lagi?" Ibu Les menggeleng. "Sekarang kan Malam Tahun Baru." Siapa tahu aku tidak mengetahuinya. "Dia pergi ke pesta."
"Oh, begitu," ujarku. "Jadi tidak ada gunanya menunggu dia."
"Tidak," jawab Mrs. Craft "Benar, tidak ada gunanya menunggu. Aku yakin dia akan menginap di rumah
Aku tidak menangis wakm bicara dengan ibu Les, dan aku juga tidak menangis wakm dia masuk kembali ke rumah dan mematikan lampu teras. Aku hanya berdiri terpaku di sana, memandangi pintu. Pintunya terbuat dari kayu dan dicat warna putih. Di sana terpancang sebuah kotak surat dari kuningan dan empat jendela kecil yang ditutupi kaca berwarna. Aku berdiri terpaku sampai perasaan terguncang yang kurasakan perlahan-lahan berkurang hingga aku bisa merasakan dinginnya udara malam. Lalu aku berbalik dan berjalan kaki pulang.
Hatiku terasa hampa. Yang ada dalam diriku sekarang hanyalah lubang besar. Lubang besar yang dingin. Sekujur tubuhku, dari dalam hingga ke luar, terasa lumpuh. Aku ingat bagaimana aku mendongak menatap langit di atas sana, untuk melihat apakah ada bin tang, tapi Dollis Hills tidak seperti bangsal rumah sakit dengan bintang-bintang peraknya yang berkilauan. Langit berwarna kecokelat-
246
cokelatan semburat merah muda dan kosong, seakan
kami berada di bawah tanah.
Aku tidak ingat lagi perjalananku pulang ke rumah. Mungkin Shinola terbangun, tapi mungkin juga dia tertidur. Mungkin kami berjalan menyusuri jalan utama, tapi mungkin juga kami melewati jalan-jalan kecil. Yang jelas kuingat hanyalah dekorasi-dekorasi Natal yang bertebaran di mana-mana, serta suara tawa sayup-sayup di kejauhan.
Aku tidak takut jalan kaki sendirian di tengah malam buta seperti im. Padahal banyak orang mabuk berkeliaran, mungkin juga perampok dan pencopet, tapi kasarnya, tampon bekas pun aku tidak punya. Memangnya kenapa bila ada orang yang menyerangku? Apa yang bisa mereka lakukan? Memukuliku? Membunuhku? Bukan masalah.
Lagi pula, aku sangat yakin Tuhan tidak mungkin membiarkan aku diperkosa atau dibunuh. Im terlalu mudah. Hidupku saat ini sudah merupakan hukuman yang sangat berat.
Sekarang ini aku sedang membintangi film yang tidak kusenangi. Jenis film yang disukai Charley. Dia mengang-gap, film-film semacam im sangat realistis. "Duduklah dan nonton film ini bersama kami," begitu dia selalu mengajakku. "Ini tentang kehidupan nyata." Tapi menurutku, film-film im tidak realistis, tapi menyedihkan. Film yang tidak pernah berakhir dengan bahagia. Kebanyakan bertutur tentang orang yang meninggal, atau yang hidupnya begim susah hingga lebih baik mati saja. Walaupun film- . film im berwarna, tapi aku selalu merasa seakan im film hitam-putih.
Dan begitulah aku sekarang ini, berjalan kaki menembus kegelapan di Malam Tahun Baru, bersama bayiku dalam
pelukan, dan segala macam pildran berkecamuk dalam benakku. Aku teringat pada semua kebohongan Les padaku, Semua perkataannya yang hanya separo benar. Bahkan semua perkataannya yang memang benar. Semuanya tidak ada yang sesuai dengan perkiraanku. Dan tidak akan ada yang menjadi seperti keinginanku. Aku menya-darinya sekarang. Aku bisa melihat semuanya dengan sangat jelas. Seperti yang seharusnya kusadari selama ini.
Rasanya, aku seperti putri yang terlelap selama seratus tahun, dan sekarang akhirnya terbangun juga. Tapi, bukan cruman sang pangeran yang membangunkan aku. Melain-kan tendangan sepam bomya yang mengenai mukaku.
Les tidak pernah benar-benar tertarik padaku. Tidak sungguh-sungguh tertarik. Tidak seperti ketertarikanku padanya. Mungkin dia punya pacar lain. Mungkin bahkan lebih dari satu. Itulah sebabnya mengapa dia selalu sibuk. Dalam hati aku ingin tahu dengan siapa dia pergi ke Yunani. Atau mungkin dia pergi ke Yunani seperti dia pergi ke Norwich. Mungkin selama ini dia sebenarnya ada di London. Selama ini ketika aku duduk sendirian di rumahku. Selama ini ketika aku tengah berjuang melahirkan anakku. Selama ini
Akulah yang mengarang cinta kami. Aku mengarang kebahagiaan kami. Aku juga mengarang masa depan kami dan masa sekarang ini. Tapi dari semua hal yang kukarang, mungkin yang paling buruk adalah bagaimana aku mengarang Les dalam benakku. Ternyata dia bukan sosok lelaki yang mandiri. Dia tidak akan menjadi orang sukses. Dia bahkan bukan orang yang sangat baik. Dia biasa saja. Lelaki biasa saja dengan pekerjaan membosankan yang dianggapnya" hebat, yang masih tinggal bersama ibunya.
Jangan-jangan, ibunya memang memilihkan baju-bajunya
Mungkin dia bahkan tidak punya selera berbusana ya
baik.
Terngiang terus di telingaku kata-kata Shanee: Masa muda
hanya datang satu kali... Masa muda hanya datang satu kali....
Yeah, pikirku. Dan aku telah menyia-nyiakannya. Tidak ada satu hal pun yang pernah kulakukan dalam hidupku yang bukan merupakan kesalahan.
Masa mudaku hanya datang satu kali dan sekarang aku sudah ma. Lima tahun dari sekarang, aku akan tetap seperti ini. Berhemat di sana-sini, menabung unmk ini-itu. Aku akan tetap berbelanja di Kwik Save dan toko-toko amal. Aku tidak akan kuliah di instimt kesenian seperti Shanee, atau berlibur di pedesaan bersama teman-temanku. Aku tidak akan pernah memiliki rumah impian dan keluarga impian. Karena memang hanya itulah mereka. Hanya impian. Rumahku yang sesungguhnya adalah flat yang kutinggali sejak aku masih kecil. Keluargaku yang sesungguhnya adalah Shinola.
Kami melewati rumah Shanee dalam perjalanan pulang. Suara musik yang menggelegar terdengar hingga ke pojok jalan. Suara musik bercampur tawa dan teriakan para remaja yang minum-minum dan bersukaria bersama. Dan sekilas aku bisa melihat diriku di dalam sana bersama mereka. Tidak seperti aku tadi saat berada di sana malam ini, tapi seperti seharusnya aku. Seperti aku dulu.
Shinola menangis saat kami sampai di rumah. Aku menyalakan televisi sekeras mungkin supaya bisa mende-ngar suara Iain, lalu mempersiapkan Shinola untuk tidur. Aku melakukan semuanya seperti robot. Mengganti po-pok... memanaskan botol susu... memakaikan piama..
Shinola mau meminum susunya, tapi dia tidak mau diletakkan di dalam boks. Karena sedari tadi aku meng-gendongnya terus.
"Dasar keras kepala," bentakku padanya. Dan kubanting pintu kamar tidur sekeras-kerasnya.
Aku masih bisa mendengar suara tangisnya dari ruang tamu. Kukeraskan lagi suara televisi dan kunyalakan stereo, tapi tetap saja itu tidak bisa meredam suara tangisnya. Mrs. Mugurdy mulai mencak-mencak lagi seperti biasa, menggedor langit-langit rumahku. Saat ini aku sedang tidak ingin bertengkar dengan Mrs. Mugurdy. Kukecilkan lagi semuanya dan kembali ke kamar.
Lampu lorong menyala, jadi aku masih bisa melihat Shifiola meskipun kamar gelap gulita. Aku menunduk, memandangi Shinola yang terbangun dan menjerit-jerit, tapi yang kulihat adalah ibu Les, menghalangi jalan masuk ke rum ah nomor 71 dan tersenyum dingin seolah aku pengemis atau sebangsanya.
Dia bahkan tidak tahu siapa aku. Tak pernah terlintas sedikit pun dalam benaknya bahwa aku pacar Les. Tak pernah terlintas sedikit pun dalam benaknya bahwa bayi dalam gendonganku sebenarnya cucunya. Saat itulah akhirnya tangisku meledak juga. Aku menangis sejadi-jadinya, badanku terguncang-guncang seperti diguncang raksasa.
Apa yang kumiliki dalam hidup ini? Tidak ada, itu jawabannya. Yang kupunya hanyalah flat pemerintah yang tua dan kumuh, yang tidak akan kutinggalkan sampai aku mati, dan seorang bayi yang namanya seperti nama semir sepatu. Bukan semir sepatu Inggris, pula.
Shinola menangis dan terus menangis. Entah hingga
250
berapa lama. Yang kuinginkan saat itu hanyalah kembali ke masa lalu. Kembali ke satu tahun yang lalu dan menjadi Lana Spiggs lagi, bukan ibu Shinola Spiggs. Hanya itu yang kuinginkan. Aku hanya ingin kembali ke masa di mana dulu aku pernah berada, dengan masa depan membentang luas di hadapanku.
Aku berhenti menangis, tapi Shinola tidak.
Seandainya saja dia bisa menghilang. Menghilang entah ke mana. Dengan begitu semuanya akan kembali seperti dulu. Aku bisa kembali menempuh ujian, pergi ke pesta, dan mungkin bahkan masuk sekolah drama. Shanee bisa pindah ke sini dan berbagi flat denganku. Seperti cewek-cewek di film Friends. Mrs. Mugurdy akan meninggal dan beberapa cowok mengisi flatnya. Dengan begitu kami akan benar-benar seperti di film Friends.
Shinola meraung dan meraung terus.
"Diam!" teriakku. "Diam! Diam! Diamlah kau breng-sek!"
Tapi mana mungkin dia mau diarrj^
"Pergi kau!" pintaku. "Pergilah sana jauh-jauh!"
Tiba-tiba saja aku sadar sebenarnya mudah sekali meng-hapus satu tahun ini dari hidupku. Bekap saja dia dengan bantal selama beberapa menit. Hanya itu. Tutupi wajahnya dengan bantal dan biarkan beberapa saat.
Rasanya aku tidak memikirkannya, tapi memimpikannya.
Aku melihat dirtku mengambil selimut tambalan yang dibuatkan Nenek untuk Shinola dan melemparkannya ke muka Shinola. Lalu aku melihat diriku mengambil bantal dan meletakkannya di atas kepala Shinola.
Dentang lonceng menyambut datangnya Tahun Baru mulai bergaung di televisi. Di luar, aku bisa menden
uara kembang api dan orang-orang berteriak. Kutekan bantal itu kuat-kuat. Satu... dua... tiga... empat... lima... Sam tinju kecil mendadak muncul dari bawah selimut 'an bantal. Menggapai-gapai udara.
Dan terbayang di mataku bagaimana dia mencengkeram ambutku, seperti yang selalu dilakukannya selama ini. Dia tidak terkubur di balik selimut dalam boks, tapi erada dalam pelukanku, menarik-narik rambutku begitu „-atnya hingga aku kesakitan. Entahlah, tapi im semua begim menohok hanku, im saja. Im tangan Shinola, dan selalu ada gurat di antara jari-jari tangannya. Aku ingat pernah menghitungnya wakm di rumah sakit dulu. Enam... mjuh... delapan... sembilan... Aku tidak mungkin bisa kembali lagi ke masa lalu. Kecuali bila aku lupa ingatan, aku tidak akan pernah bisa kembali seperti dulu lagi. Bila aku memang ingin menying-kirkan Shinola, im seharusnya kulakukan sebelum dia lahir. Sepuluh... sebelas^.
Bila aku tidak bisa kembali, maka aku harus melangkah maju. Rasanya, aku tidak punya pilihan lain. • Kulempar bantal dan selimut im ke seberang ruangan. Wajah Shinola sudah berubah warna menjadi ungu dan dia megap-megap kehabisan napas. Aku begim ketakutan sampai tidak tahu harus berbuat apa. Aku hanya berdiri di sana, memeluknya erat-erat Dua belas...
Aku tidak mendengar bunyi dering telepon tapi aku mendengar suara mesin penjawab telepon menjawabnya.
"Selamat Tahun Baru, Lana dan Shinola!" teriak Hillary dan Charley berbarengan. "Selamat Tahun Baru!"
Shinola batuk dan ingusnya berhamburan mengotori bagian depan gaunku.
"Well, kurasa sekarang hanya tinggal kau dan aku" kataku pada Shinola. Jari-jari Shinola mencengkeram rambutku. Aku meringis kesakitan.
"Selamat Tahun Baru untukmu, Shinola Spiggs," bisikku. "Selamat Tahun Baru unmk kita."

Sekian

0 Response to "And Baby Makes Two II"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified