Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Bangkok Love Story



Gola Gong


SAJAK BUAT SEKAR TOMBOI


(ditulis Bedi di sebuah sel penjara di Bangkok)
Ini sajak sederhana, Sekar. Kutulis malam hari. Saat dinding sel dingin dan bisu. Ketika aku menggerutu mencari wangi rambutmu. Senyummu. Bertemu tak bertemu jadi semu kini batasnya. Maknanya. Barangkali kita masih bisa menghargai yang sia-sia; perjalanan hidupmu dan hidupku.

Segala yang riang adalah kamu, Sekar. Siapa sangka hidup akan begitu rumit. Jangan hapus aku, ketika sinar purnama memasuki kamarmu. Seharusnya kamu menghitung hari. Apa gerangan yang sudah kamu isi; kepada orangtua, hidupmu, serta negara.

Apakah cukup buat kamu sebait sajak, Sekar? Mending di pinggiran jalan saja. Nonton parade orang-orang; bergelimang uang dan gosip. Itulah pengorbanan. Jadilah kamu alang-alang, selalu tunduk dihantam badai. Tapi akarnya tak pernah tercabut. Menggeliat gemulai. Halus tak pernah menyakiti.

Mari kupunya sajak, Sekar. Kubasuh dukamu. Getirmu. Ada tembang khatulistiwa, legenda Baduy serta indahnya tatar Pasundan. Ya, dengan sajak saja. Tapi, kemana gerangan senyummu?

Aku tak percaya bila sajak bikin kamu senyum, Sekar. Malah bikin cemberut. Ah, tiuplah saja ketujuh belas lilinmu itu. Dekap erat Papa-Mama serta bayanganku. Biarkan hari-hari terus bergulir. Gosip cuma omong kosong, walau pada akhirnya kita terbelenggu.

Kehidupan senantiasa merenggut apa saja, Sekar. Tinggal tunggu Tuhan bersabda: kuun fayakuun; jadilah maka jadilah! Hidupmu selesai. Berkemas dan pakai baju sajalah. Sembunyi di balik sajadah. 

Entah kenapa kutulis sajak buatmu, Sekar. Jangan berkata-kata, sementara aku bingung wangi rambut dan senyummu di mana. Sekali lagi ini cuma terjadi dalam sajak sentimental. Kutulis di balik terali besi yang angkuh. Bersama dinding sel yang kusam dan bisu.

Tapi, selama aku masih berkata-kata, berarti aku masih hidup, Sekar
.






BAB I

SENANDUNG NEGERI


Bangkok pagi hari. Matahari belum muncul dengan sempuma. Langit timur yang bagai dibalut putih kapas mulai kemerah-merahan. 

Jantung hari pun kini berdetak. 

Para monk-bhiksu Budha--dengan jubah keoranye-oranyean (suka bingung soal warna ini, kadang ada yang kekuning-kuningan atau kemerah-merahan pula), berbaris satu-satu dengan tertib. Seperti kereta api saja; meliuk-liuk di keramaian orang-orang dan di trotoar. Jika menyeberang jalan, para pengendara sangat menghormati mereka. Setiap pagi akan tampak pemandangan seperti ini di setiap sudut kota Bangkok. 
Warna kuning dan keoranyean mendominasi. Kepala mereka botak, tanpa alas kaki, dan setiap biksu memegang guci atau kantong. Mereka akan berhenti di depan setiap toko atau rumah. Penduduk Bangkok (bahkan ini terjadi di seluruh kota Thailand yang mayoritas Budha) membagi-bagikan sedekah; nasi, kue, bunga, atau kadangkala uang pada para biksu Budha itu. Dari sedekah apenduduklah para biksu itu bisa hidup. Orang Thai percaya, bahwa Budha adalah kebijaksanaan. Dengan menghormati atau berbuat baik pada para biksu, niscaya hidup mereka akan penuh berkah.

Sekar suka sekali menikmati pemandangan seperti ini setiap berangkat ke sekolah. Itulah sebabnya Sekar rajin bangun pagi. Suasana modernisasi (Sekar lebih suka menyebutnya westernisasi), tetap tak mengubah sisi hidup yang lain-ketradisional-annya. Antara etnis dan modernisasi berbaur. Berdampingan. Ini seperti lukisan nyata yang ditorehkan oleh Tuhan. Indah. Punya sentuhan yang kuat pada jiwa. 

Agak bergeser dari pagi, Bangkok seperti biasanya sibuk. Tak beda dengan Jakarta. Tapi di Bangkok agak tertib. Bus lalu-lalang dan orang-orang berjalan di trotoar. Ada yang berangkat kerja serta ke sekolah. Tertib. Para pejalan kaki menggunakan jembatan penyeberangan atau zebra cross, serta pengguna bus menunggu di setiap halte. Dari apartemen (oh ya, papa Sekar seorang diplomat), Sekar terbiasa jalan kaki. Cuma 300 meteran, kok. Biar sehat dan bisa menikmati kebiasaan para biksu itu tadi.

Sekar sekolah di Sekolah Indonesia Bangkok. SMA kelas dua. Jadi bendahara OSIS. KBRI Bangkok fasilitasnya komplet. Ada lapangan bola, gedung basket, lapangan tenis, serta sebuah taman tempat garden party. Di belakang KBRI ada sekolah yang diperuntukkan bagi anak-anak Indonesia. Mulai dari TK sampai ke SMA. Tiap kelas muridnya sedikit. Ada yang tiga orang, enam orang, paling banyak sepuluh orang. Tapi rasa kekeluargaan terasa sekali. Mungkin karena merasa senasib dan sepenanggungan; jauh dari negeri sendiri.

Kalau mereka rindu Indonesia, biasanya mereka berkumpul di ruang guru. Nonton televisi. Seluruh siaran TV swasta Indonesia tertangkap di sini. Dari TV-lah mereka tahu, bahwa rekan-rekan ABG (serta remaja) mereka di Indonesia sedang demam budaya Amerika; lebih banyak mengisi waktu kosongnya dengan kongkow-kongkow di mall, atau kakak-kakaknya yang sering tawuran. Padahal mereka di sini hidup begitu disiplin dan dididik untuk mandiri. Mereka, atau juga kebanyakan ABG yang tinggal di luar negeri, ternyata tumbuh lebih cepat. Tumbuh lebih dewasa sebelum waktunya. Semuanya harus dikerjakan sendiri, karena orangtua mereka sibuk bekerja tiap hari.
Kembali ke homesick tadi, mereka juga mengadakan pesta kecil-kecilan (biasanya ulang tahun) di rumah teman-teman. Bergiliran. Tak usah mewah. Yang penting mangan ora mangan asal ngumpul, begitu pepatah Jawa. Paling seru sih, kalau sedang perayaan hari besar nasional (misalnya, Proklamasi RI) atau Lebaran. Wuh, seru sekali. Hampir seluruh orang Indonesia yang ada di Bangkok (malah Thailand) tumplek-blek di alun-alun di backyard KBRI. Mereka saling kenalan (biasanya yang remaja seperti Sekar sih, ngecengin mahasiswanya). Kadang ada pula yang ketemu jodohnya di saat-saat seperti ini.
***


KBRI belum ramai. Masih pukul tujuh. Biasanya pukul delapan kesibukan mulai terasa. Beberapa kawan Sekar di SMA-Toni, Lola, Andre, dan Fery-sedang ngobrol di koridor sekolah. Sekar melambaikan tangan pada mereka. Andre membalas dengan antusias. Andre memang naksir Sekar. Tapi Sekar tak peduli. Di lapangan tenis bapak-bapak KBRI masih asyik berlagak kayak Agassi dan Sampras.

"Sarapan, ya!" Andre mengejarnya. Cowok cakep ini satu tahun di atasnya.
Sekar cuma mendelik. Dia tak suka Andre mengikutinya. Tapi karena perutnya lapar, dia terus ke kantin di ujung koridor. Di rumah jarang ada makanan kalau pagi. Mama Sekar kerja di travel agency.

"Saya temenin, ya!" Andre sudah menjajarinya.

Sekar menggeleng. "Nggak usah!" katanya ketus.

Andre tak mau menyerah.

Sekar melihat Bedi, kawan sekelas sekaligus ketua OSIS SMA, sedang duduk menyendiri di bangku di bawah pohon.

"Aku ada perlu sama Bedi," kata Sekar apa adanya; " Aku mau makan sama Bedi. 

Sorry , ya.”

Andre berhenti. Dengan hati panas dia membalik. Dongkol sekali dia. Kenapa Sekar tertarik pada Bedi, anak yang tak jelas asal-usulnya itu! Hati Andre memaki-maki. Huh! Tapi Andre tak bisa melakukan apa-.apa jika sudah berurusan dengan Bedi. Di sekolah ini pun tak akan ada yang mau berurusan dengan Bedi. Tepatnya, tak ada yang berani!

Sekar mendekati Bedi. Wajah Bedi ke1ihatan murung. Terus terang, hati Sekar deg-degan. Sejak kelas 3 SMp, Sekar menaruh hati pada Bedi. Selain ganteng, Bedi mandiri dan idenya untuk kegiatan sekolah banyak. Juga banyak hal lain yang tak dimiliki cowok-cowok di sekolahnya.

Ayah Bedi, yang sering Sekar dengar dari orang-orang kedutaan, setelah lulus sarjana-karena susah cari kerja di Indonesia-jadi tenaga kerja gelap di Malaysia (kalau versi Sekar sih, ayah Bedi seorang petualang). Setelah dapat paspor, dia menyeberang ke Thai. Kerja serabutan. Di pelabuhan, di pabrik, atau (ini yang bikin Sekar ngeri) jadi penyelundup di perbatasan, atau praktek ilegal lainnya. Tapi Sekar belum melihat bukti kebenarannya. Lalu ia mempersunting gadis Thai untuk memperoleh kewarganegaraan Thai. Mereka tinggal di apartemen di lingkungan Thai. Cukup jauh dari lingkungan mereka, di kawasan kedutaan.

Sebetulnya banyak mahasiswa Indonesia yang menyebar sekolah di Thailand. Itu akan tampak pada acara halal bihalal atau proklamasi. Setelah lulus, biasanya mereka ogah balik ke Indonesia. Mereka memilih bekerja di Thai, yang memang harus diakui, gajinya lebih besar daripada di Indonesia. Syukur-syukur mereka bisa menikah dengan sesama mahasiswa Indonesia (pegawai KBRI, apalagi) atau dengan gadis Thai. Dan anak-anak mereka disekolahkan di Sekolah Indonesia Bangkok di kedutaan. Jadi banyak anak hasil asimilasi Indonesia dan Thai yang belum pemah menginjak tanah Indonesia.

Bedi juga termasuk yang belum pernah menginjakkan kaki ke tanah leluhur ayahnya, Indonesia. Beda dengan Sekar, yang walaupun pada umur sepuluh tahun sudah meninggalkan Jakarta, tapi hampir seluruh daerah wisata yang ada di Jawa-Yogya, Solo-dan Bali pernah ia kunjungi. Di Bangkok, Sekar baru tiga tahun. Sebelum tugas di Bangkok, papanya merangkak dari pegawai biasa di KBRI Laos, Bangladesh, dan Pakistan. Kini di Bangkok, ia punya kedudukan yang lumayan. 

Kadang kala Sekar suka mendengarkan kerinduan Bedi (juga teman-teman yang lain) pada Indonesia. Apalagi ketika mereka nonton sinetron dengan latar belakang alam Indonesia serta budayanya, sorot mata mereka begitu berbinar-binar. Terutama Bedi. 

"Itukah Banten?" tanyanya, ketika nonton film lama Saijah dan Adinda karya Max Havelaar.

Sekar mengiyakan.

"Indah sekali," katanya.
Ayah Bedi berasal dari Banten. Daerah keresidenan yang pernah tersohor sebagai Kesultanan Banten di bawah pimpinan Maulana Hasanudin. Kesultanan Banten yang pernah jaya pada abad ke-16 dengan bandar Karanghantu serta jadi pusat perdagangan internasional. Sebuah kawasan yang beken dengan hal-hal yang bersifat magis. Hal-hal kleniknya: teluh-ilmu santet!

"Itukah suku Baduy?" lain waktu Bedi bertanya tentang suku yang mengasingkan diri dari dunia di desa Kanekes, Pegunungan Kendeng, Banten Selatan.

Sekar pun dengan senang hati menerangkan suku Baduy yang unik itu. Lewat televisi di ruangan guru serta buku-buku pariwisata, Sekar semakin menggairahkan keinginan Bedi untuk mengunjungi Indonesia.

"Kayak apa sih Indonesia?" pernah Bedi bertanya begitu di kantin saat makan siang.

"Ya, seperti yang kamu lihat di brosur atau di teve," kata Sekar.

"Pasti lebih indah, ya?"

"Lebih indah dari yang kamu lihat dan kamu bayangkan!"

Bedi terkagum-kagum.

"Kenapa kamu nggak pernah liburan ke Indonesia?"

"Papaku nggak pernah mengajak."

"Kan pasti ada saudara. Yang aku tahu, rasa kekeluargaan di Banten itu begitu besar."

"Papaku nggak pernah cerita tentang keluarganya. Mungkin dia nggak punya saudara. Atau mungkin juga dia nggak punya orangtua. Makanya dia merantau ke sini."

Sekar tak bisa berkata apa-apa saat itu.

"Kayaknya asyik, ya, kalau keliling Indonesia naik motor!" Bedi bermimpi. Bedi ke sekolah mengendarai motor sport ber-cc besar. 

Sekarang Sekar melihat Bedi sedang duduk melamun. Tak. ada luka memar di wajahnya. Biasanya setiap hari Senin, pipinya pasti memar atau keningnya lecet. Setiap malam Minggu, Bedi bertarung di ring. Dia jagoan Thai boxing! Tapi Sekar belum mau diajak Bedi untuk nonton pertarungannya. 

Sekar menghampiri Bedi. "Sarapan, yuk!” ajak Sekar.

Bedi mengangguk. "Kenapa kamu mengawali hari dengan permusuhan?" sindirnya,

"Maksudmu apa, sih ?"

"Kasihan Andre, dong."

"Aku nggak suka sama dia. Mendingan terus terang aja. Kalau nggak gitu, dikira ngasih harapan lagi."

"Andre menaruh perhatian sama kamu."

"Aku nggak."

"Tapi cuma untuk sarapan aja kan nggak apa-apa."

"Tetep nggak."

"Berbuat baik dengan menyenangkan orang itu ibadah, lho. Dapat pahala lagi."

"Kamu juga mengawali hari dengan hal yang buruk!"

"Apa itu?" 

"Duduk ngelamun! Kayak orang susah!"

Bedi tersenyum kecut "Tapi, aku nggak membuat orang susah seperti yang kamu lakukan pada Andre," Bedi membela diri.

"Tapi, sama aja 'mengawali hari dengan buruk'!"

Nyatanya memang begitu. Selama sarapan, Bedi masih saja murung.

"Kenapa, sih?"

"Aku pingin ke Indonesia."

"Dua bulan lagi kan liburan panjang."

"Kamu liburan juga ke Indonesia?"

Sekar tersenyum dan mengangguk.

"Anter aku ke Banten, ya?" harapnya.

Sekar terbelalak. "Papamu, bagaimana?" kata Sekar bingung. "Lagian, aku belum
pernah ke Banten,"

"Masa, sih?" Bedi tak percaya. "Kan deket dari Jakarta. Apalagi sekarang udah ada jalan tol J akarta-Merak."

"Ngeri!" ujar Sekar. "Takut dipelet!" tambah Sekar menyebut "jalan pintas" yang sering dipergunakan lelaki untuk memikat wanita dengan mantra-mantra tertentu.

Bedi tertawa, "Kamu sih nggak usah aku pelet juga udah mau!"

"Enak aja!" Sekar memberengut manja.

Bedi tertawa. 

“Aku denger, ayahmu punya magic, ya?" pancing Sekar.
Soalnya di kedutaan beredar isu bahwa ayah Bedi kebal peluru, punya ilmu terbang, bisa menghilang, dan jago silat. Itulah sebabnya, kenapa ayah Bedi lancar-lancar saja menerobos Malaysia dan Thai untuk jadi penyelundup.

Bedi tersenyum misterius. "Ketika aku kecil, Papa mengajariku silat. Kata Papa, 'Silat bukan untuk berkelahi, tapi untuk membantu orang-orang yang lemah’."

"Papa juga cerita soal magic. Itu kisah lama. Di Banten, pada zaman penjajahan magic dipergunakan untuk mengusir Belanda. Biasanya para jawara-itu lho, jagoan tempo dulu!-yang memiliki ilmu seperti itu."

"Sekarang?" Sekar penasaran.

"Papa belum cerita itu."

"Berarti ayahmu memang sakti, ya?"

"Kata Papa, illmu-ilmu seperti itu bisa dipelajari jika kita mau. Yang jadi masalah, setiap orang selalu punya tujuan yang berbeda. Artinya, jika ilmu-ilmu yang kamu sebut magic itu jatuh ke orang yang salah, berarti malapetaka akan selalu menyertai orang itu." 

"Berarti istilah black dan white magic, begitu?"

"Yang aliran sesat, jelas itu udah menyimpang. Tapi kadang yang aliran lurus pun, kalau imannya nggak kuat, misalnya akibat godaan duniawi, tetep aja salah."

"Bagaimana kamu bisa bermain debus?" tanya Sekar tentang kesenian khas Banten itu. Setiap ada perayaan hari nasional (HUT RI, misalnya), Bedi selalu menyumbang kehebatan atraksi debus-nya. Misalnya memakan bola lampu, mengiris-ngiris lengan, lidah, dan pahanya dengan golok! Tapi Bedi tak mengalami luka sedikit pun!

"Papa mengajariku sejak kecil. Itu bisa dipelajari. Ada kok dalam agama kita. Nggak gampang, memang. Tapi yang terpenting, kita nggak boleh menyekutukan Allah. 
Artinya, segalanya tetap berpangkal kepada Allah. Ini namanya white magic. Kalau santet atau guna-guna, ini black magic. Aliran sesat. Papa dan aku menjauhi hal-hal seperti ini."

Sekar betul-betul kagum jika Bedi sudah ngomong seperti ini. Kadang Sekar suka menyebut Bedi sebagai berandalan santri. Walaupun bandel (karena menu sehari-harinya bergaul dengan sesama gank), tapi Bedi rajin salat di mesjid kedutaan. Jika perayaan Maulid, suara Bedi terdengar sangat merdu saat mengaji.

"Ah, lupakanlah soal magic!" sergah Bedi.Lalu dia serius lagi, "Pokoknya, aku ingin ke Indonesia. Aku udah ngomong sama Papa, liburan kali ini ikut sama kamu. Ke Bandung. Soal aku ke Banten atau nggak, itu urusanku nanti. Kecuali kalau kamu mau nemenin aku."

"Aku belum bisa janji, ya."
***


Siang hari sepulang sekolah.

Bedi masih saja murung. Perahu motor meliuk-liuk menyusuri kanal di pusat Bangkok. Sekar duduk di sebelahnya dengan gelisah. Kali ini dia tidak memakai motor sport-nya ke sekolah. Kanal-kanal di Bangkok sebetulnya tak jauh beda dengan di Jakarta. Keruh, hitam, tercemar. Tapi kanal di Bangkok kedalamannya selalu dikeruk, sehingga bisa dimanfaatkan jadi alternatif angkutan air, untuk mengatasi kemacetan lalu lintas, sekaligus jadi daya tarik turis mancanegara. Yang paling asyik kalau sudah berpapasan dengan motor boat lainnya. Air kanal berhamburan dan orang-orang memekik riang. 

Jika jenuh, Sekar gemar sekali menyusuri kanal-kanal di Bangkok. Kalau Bedi sedang ada waktu, malu-malu Sekar mengajaknya. Sepulang sekolah tadi, malah Bedi yang mengajak Sekar. Orang-orang sih tahunya mereka pacaran. Tapi, bagi Sekar masih belum jelas, karena Bedi belum pernah mengungkapkan perasaannya secara khusus pada Sekar.

"Papaku seperti menyimpan rahasia," Bedi bersuara juga.

"Rahasia apa? Punya istri lagi?"

"Kalau untuk kawin lagi, aku yakin nggak. Papa justru sangat sayang sama Mama," belanya. "Tapi yang membuatku aneh, jika aku nanya soal 'Siapa leluhurku di Banten', Papa Iangsung murung. Kadang kalau waktunya sedang nggak tepat, Papa suka menamparku. Kata Papa, 'Nanti kalau saatnya tiba, aku akan tahu sendiri’."
Buat Sekar ini aneh. Masa sih seorang ayah begitu ngotot merahasiakan "siapa leluhurnya" pada anaknya sendiri. Siapa kakek-neneknya, serta kerabat lainnya.

“Hidup papaku sebetulnya tertutup kabut. Penuh misteri. Siapa dia sesungguhnya atau bagaimana masa lalunya. Sungguh aneh ya, seorang anak nggak mengenal siapa papanya.”

"Apa nggak pernah ada surat dari Indonesia?"

Bedi mengeleng.

"Jangankan riwayat hidupnya, pekerjaannya yang tetap pun aku nggak pernah tahu pasti. Tapi aku merasa kalau papaku itu tukang berkelahi, suka berbisnis ilegal. Kalau mamaku, masa lalunya kamu kan udah tahu. Sebodo amat. Aku nggak malu punya mama bekas penari bugil. Yang penting sekarang nggak."

Ternyata omongan orang-orang betul, bisik hati Sekar. Yang Sekar dengar, ayah Bedi mempersunting gadis go go dance, penari erotis yang curna memakai pakaian dalam di kawasan bursa seks Bangkok, Patpong.

Sekar harus bersyukur terlahir dari keluarga baik-baik. Kakek (dari pihak Papa) bekas camat di Sukabumi. Bolehlah dikategorikan sebagai bangsawan Sunda. Ibu Sekar anak mantan Bupati Majalengka. Papa-mamanya bertemu ketika kuliah di UNPAD. 

Menikah. Punya anak dua. Indah dan Sekar. Nama kompletnya Sekarningrum Kusumabangsa. Tapi tokoh kita ini cuma ingin dipanggil "Sekar” saja. Indah Kusumawardhani-kakaknya-memilih sekolah di Amerika. Menekuni bisnis. Kakak perempuan Sekar itu memang Amerika minded!

“Kadang aku suka mikir, bahwa aku ini anak yang dilahirkan dari manusia-manusia bejat. Papaku penjahat dan mamaku pelacur,” suaranya datar.

“Husss! Nggak baik ngejelekin orangtua kita sendiri,” kata Sekar.

“Buktinya, setiap Papa pulang larut malam-entah dari mana dia!-mulutnya selalu bau alkohol.”

“Iya?” Sekar tak percaya.

“Cuma yang selalu membuatku terhibur, sampai aku segede ini, nggak pernah aku dengar Papa sama Mama cekcok. Nggak pernah itu. Mereka selalu mesra. Kelakuannya masih kayak pengantin baru terus.”

Perahu motor berhenti di halte. Ada yang naik dan ada yang turun. Beberapa turis Inggris menjepretkan kamera pada sasana Thai boxing di sepanjang kanal. Atau rumah-rumah panggung dari kayu. Anehnya kanal-kanal di Bangkok tak pernah banjir. Jadi rumah-rumah yang persis di bibir kanal, aman-aman saja. Tak seperti di Jakarta. Jika hujan deras turun beberapa hari saja, Ciliwung banjir. Rumah-rumah tergenang. Bahkan jalanan pun berubah jadi sungai.
Mereka turun di pusat kota. Dekat Khao San, sebuah kawasan turis mirip jalan Malioboro di Yogya. Sekar sering diajak Bedi menyusuri kawasan ini. Wuh, menakjubkan! Ini kota internasional. Malioboro Yogya, pikir Sekar, bisa menyaingi kawasan ini. Guest house murah bertebaran seperti di gang-gang Sosrowijayan Malioboro. Pedagang suvenir berdesakan di trotoar. Paket-paket tur murah-meriah ke India dan Indocina tumpang tindih. Atraktif!

Khao San memang mendunia. Segalanya tersedia di sini. Yang ilegal apalagi. Tinggal berdiri di pinggir jalan dan pemuda Thai oportunis yang ber-James Dean style akan datang menghampiri. Menanyakan keinginan kita. Mau narkotika bermutu tinggi, paspor palsu, kartu pelajar internasional, atau teman kencan? Semuanya sim salabim asal dolar Amerika tersedia!

Turis-turis serta petualang (Sekar lebih suka menyebut mereka hippies) lalu-lalang. Udara kebebasan membumbung di kawasan ini. Tak ada norma! Yang rileks berciuman. Yang happy-happy di cafe dengan alkohol sambil mendengarkan musik The Doors. Bebas lepas dan terbanglah ke mana saja kamu suka!

Mereka menyusuri Khao San untuk yang entah keberapa kali. Satu-dua berandalan ada saja yang menyapa Bedi. Ini tentu pada awalnya-mengherankan Sekar. Orang-orang melirik pada mereka. Mungkin heran dengan pakaian seragam SMA mereka, yang putih abu-abu. Mereka lupa salin baju dulu tadi. Biasanya jika hendak ke pusat kota; mereka selalu salin dulu di kedutaan. Seragam para pelajar di Thai sopan-sopan. Roknya panjang melebihi lutut (di Indonesia kabarnya ceweknya doyan rok di atas lutut, ya?). Bahkan yang mahasiswa juga memakai seragam.

Bedi suka sekali mengajak Sekar "mengobrak-abrik" Bangkok dengan motor besarnya. Sekar jadi lebih banyak tahu tentang Bangkok daripada kawan-kawan lainnya di kedutaan. Berkat Bedi, Sekar jadi hafal Bangkok luar-dalam.

“Aku suka sama kamu, Sekar, karena kamu praktis dan mandiri!" teriak Bedi saat itu di atas motor dengan kecepatan 100 km/jam. "Sekar Tomboi!" kemudian begitu selalu Bedi memanggil Sekar. 

Sekar memang praktis. Rambutnya saja cepak. Mungkin Sekar salah dilahirkan. Setelah lahir Indah, kakak perempuannya, papanya mengharapkan anak kedua terlahir laki-laki. Tapi malah perempuan lagi, Sekar! Sampai Sekar berumur lima tahun, papanya masih belum mau menerima kalau Sekar itu cewek. Terbukti dari segala jenis mainan yang dibelikan papanya, kebanyakan mainan laki-laki.
Karakter itu pun akhirnya membentuk Sekar lebih cenderung tomboi. Tapi, Sekar tetap cewek, lho. Cakep lagi. Itu kata orang-orang. Ingat Demi Moore saat main film Ghost? Itulah gambaran sepintas tentang Sekar! "Sudah seminggu Papa nggak pulang," Bedi. mengeluh.

"Yang bener mana, 'nggak pulang atau belum pulang'?" Sekar meminta kepastian.

"Aku pikir 'nggak pulang'. Soalnya mamaku gelisah terus. Uring-uringan terus. Kalau aku tanya Papa ke mana, Mama malah marah-marah. 'Ini bukan urusan anak kecil!' begitu Mama bilang."

Sekar begitu menaruh perhatian pada masalah Bedi. Bedi sebaya dengannya, tapi masalah-masalah berat sudah begitu membebaninya. 

Kadang Sekar suka berpikir; bahwa Tuhan tak adil pada Bedi. Padahal Sekar dan teman-temannya gembira semua. 

Tapi yang membuat Sekar kagum pada Bedi, tak ada seorang pun yang menyangka, bahwa hidupnya tertekan. Bedi selalu memperlihatkan senyumnya yang menarik seperti Tom Cruise pada siapa saja, jika menanggapi segala “bisik-bisik” tentang keluarganya di kedutaan.

“Cuma padamu aja, Sekar Tomboi, aku bisa bicara jujur. Aku percaya padamu,” katanya suatu hari di kantin ketika makan siang.

“Jangan menyanjungku,” Sekar merasa tak enak dibebani kepercayaan oleh seseorang.

“Aku ngomong apa adanya. Ini, mungkin, karena aku merasa dekat sama kamu,” Bedi menatapnya. “Apakah kamu juga merasa seperti itu?” tanyanya.

Sekar cuma bisa menunduk.

“Sudahlah, tak perlu kamu jawab. Aku akan mencoba mencari jawabannya dari segala perbuatanmu,” Bedi mencoba bijaksana.

Sekar sependapat dalam hatinya. Seperti para penyair bilang, perbuatan adalah pelaksanaan kata-kata. Mungkin dari rasa kasihan, prihatin, perlahan-lahan timbul rasa simpati Sekar pada Bedi. Semua cewek di sekolah (mungkin juga di apartemennya) pasti akan mengaguminya. Bedi selain ganteng, jantan, juga punya sifat kepemimpinan dan solidaritas yang tinggi. Dia mahir Thai boxing, pencak silat, dan kesenian khas Banten, Debus!

Bedi meraih lengan Sekar. Mereka menyeberangi jalan. Dada Sekar berdesir. Mereka menuju alun-alun Sanam Luang. Grand Palace, istana Raja Bhumibol Adulyadej begitu megah di belakangnya. Pagodanya yang berkerucut kuning keemasan sering dijadikan latar belakang oleh para turis yang ingin berpotret. Begitu indah. Warnanya sangat eksotik dan romantis.
Mereka menyewa tikar. Duduk di rumput. Sepanjang hari orang-orang Bangkok (bahkan turis pun) banyak bermalas-malasan di alun-alun ini. Mereka tidur-tiduran di bawah pohon di sekeliling alun-alun. Kadang menaburkan kacang, lalu burung merpati dari puncak-puncak gedung pun datang menyerbu. Kalau saja orang Jakarta rasa gengsinya tak tinggi, kawasan Monas pun bisa dijadikan tempat rekreasi seperti ini.

"Kamu nggak tahu papamu pergi ke mana?" Sekar melempar kacang sembarangan.

Dari puncak-puncak bangunan tua, burung-burung merpati menukik; Mereka mematuki kacang yang Sekar lemparkan tadi.. Sekar jadi ingat musim liburan di Belanda atau Prancis, Di taman-taman, ratusan merpati begitu jinak menyapa kita.

"Dua hari yang lalu, tengah malam, aku mencuri dengar obrolan Mama dengan dua orang kawan Papa. Mereka bilang soal pengiriman barang dari Utara."

"Pengiriman barang dari Utara?" kening Sekar berkerut.

"Kamu pasti mengerti maksudku."

"Kawasan Segitiga Emas?" Sekar terbelalak. "Opium? Ah, nggak mungkin, nggak mungkin. Kamu jangan terlalu berpikiran buruk pada papamu."

"Aku juga nggak yakin Papa terlibat jaringan narkotika. Tapi aku harus membuktikannya, Sekar tomboi."

Sekar bisa melihat dengan jelas kekhawatiran dan kegelisahan yang luar biasa terpancar pada wajah Bedi. 

"Aku takut, seperti Papa pernah bilang, jika 'ilmu-ilmu' itu digunakan untuk hal-hal yang nggak baik, berarti malapetaka akan datang pada orang itu. Pada papaku."

"Jangan punya pikiran buruk kayak gitu."
Bedi menyembunyikan wajahnya di kedua lututnya. "Aku takut kehilangan Papa. Cuma dengan Papa-lah aku merasa dekat," ujarnya pilu. "Aku nggak akan pernah tahu, apa yang harus aku lakukan jika kehilangan Papa." 

"Sudahlah, mendingan kita ngomongin yang baik-baik aja," usul Sekar.

Tapi Bedi sudah tak bergairah lagi untuk bercerita. Apalagi tertawa. Kebisuan kini sahabatnya. 

Sekar pun tak bisa berbuat apa-apa. Benaknya menerawang ke kawasan Thailand bagian utara. Segitiga Emas, batin Sekar menyebut kawasan yang kondang dengan ladang opiumnya. Tiga buah negara- Thailand, Myanmar, dan Laos-yang cuma dibatasi pertemuan dua sungai: Mae Kong dan Mae Ruak, serta perbatasan alam lainnya, bukit-bukit. 

Di kawasan Golden Triangle inilah pernah ada legenda Khun Sa, si Gembong Candu, yang merepotkan pemerintah Amerika, karena dari kawasan sinilah, generasi muda Amerika rusak; jadi pecandu narkotika. 

Sampai-sampai delegasi Paman Sam mengirim David E Lamberston pada 1989 untuk membasmi ladang opium di kawasan ini. Tak kurang dari US $ 9,7 juta dikeluarkan negara adi daya itu untuk memerangi para gembong opium!

Dan sekarang Bedi menuduh ayahnya sendiri terlibat dengan jaringan Segitiga Emas? Sungguh, ini bagai kisah-kisah di film Hollywood buat Sekar.
Dan bagi Sekar masih sulit untuk menerima kebenarannya.
BAB II

JARINGAN MAFIA


Bedi tak masuk sekolah lagi hari ini.

Sekar gelisah. Lebih gelisah dari seisi kelas yang cuma enam orangi Toni, Hari, Neneng, Dian, Lola, dan Fery. Mereka menganggap, bahwa Sekar tahu ke mana atau kenapa Bedi tak masuk sekolah. Guru-guru juga begitu.

"Orangtuanya cerai, ya!"

"Bedi ditangkep kali!"

"Ditangkep kenapa?"

"Ya, kayak bapaknya, jual narkotika!"

"Atau berantem antar gank!"

Sekar jadi serba sa1ah. Telinganya panas. Hatinya luka. Dia tak tahu harus mengadu pada siapa. Semua kawan-kawan—bahkan para guru-jauh-jauh hari sudah memperingatkan Sekar agar menjauhi Bedi.

"Apa saya bi1ang, cowok model Bedi mana mungkin bisa dipercaya!" Andre kini mendekati Sekar lagi.

Sekar yang sedang menikmati makan siangnya di kantin, jadi tak berselera. Dia meletakkan garpu dan sendoknya. Meminum air putihnya sedikit.

"Bedi itu udah nggak Indonesia lagi, Sekar. Bedi itu Thai. Kamu tau sendiri kelakuan anak muda Thai sekarang? Kerjanya cuma teler, teler, teler!"

Sekar merasa air putih yang diminumnya berhenti di kerongkongan. Bahkan masuk ke hidung. Dia terbatuk. “Apa nggak kebalik, tuh?" sindir Sekar. “Aku nggak pernah ngelihat kamu di mesjid kedutaan. Malah Bedi yang sering aku lihat," tudingnya kesal.

"Itu kan cuma kamuflase belaka!" Andre menepiskan lengannya. "Satu lagi, Sekar! Bedi itu nggak beda sama bapaknya! Like father like son!"

"Ngomong yang jelas. Nggak usah pake kiasan!" Sekar menatapnya dengan jengkel. 

“Apanya yang kamuflase!"

"Bedi belagak kayak santri kan cuma untuk nutupin kelakuan yang sebenernya. Semua orang di kedutaan tau, kalau bapak si Bedi itu penjahat! Penyelundup! Pengedar narkotik! Nah, bapaknya aja begitu, ya tentu dong anaknya nggak bakal beda!"

Sekar merasa wajahnya panas. Matanya pedih. "Kamu kemakan gosip, Andre!" sergah Sekar sambil berdiri.

Andre juga berdiri. Dia mengejar Sekar. "Aku ngomong apa adanya, Sekar!" Andre
mencecarnya terus.

"Kamu tau apa soal Bedi!" bentak Sekar melintasi lapangan basket. 

"Aku tau lebih banyak dari yang kamu kira, Sekar!" Andre terus saja menjajari langkah Sekar.

"Tau apa kamu? Bilang sama aku! Ayo bilang, bahwa Bedi itu penjahat? Udah berapa orang dibunuh Bedi, Andre? Yang dirampok? Ayo bilang sama aku!" teriak Sekar.

Andre mengernyitkan kening. Melihat ke sekeliling kedutaan. Orang-orang memperhatikan mereka.

"Apa kamu ini polisi? Punya data akurat tentang daftar kejahatan Bedi? Mana buktinya? Tunjukkan padaku!" Sekar membabi buta. Dia bertolak pinggang.

Andre agak risi. Orang-orang di kedutaan memperhatikan mereka. Kawan-kawan di koridor sekolah malah menyoraki mereka seperti sedang nonton pertandingan sepak bola saja.
"Jangan keras-keras, Sekar," bisik Andre. "Kita bicarakan di sana. Yuk," Andre berusaha mengajaknya ke gazebo, di taman belakang.

“Apa pedulimu!”

“Justru aku peduli sama kamu!” Andre mencekal bahunya. “Aku nggak ingin Bedi mehcelakakan kamu!”

“Kamu perlu belajar banyak, Andre!” Sekar berontak dengan gelisah.

“Apa itu?” Andre menanti dengan cemas.

“Jika kamu naksir cewek, kamu jangan ngejelek-jelekin cowok yang juga sedang ngedeketin cewek itu. Apalagi kalau ternyata cewek itu naksir cowok yang kamu jelek-jelekin.” Sekar masih bertolak pinggang.

Andre tertegun menatapnya.

“Perlu aku jelasin?” Sekar menatapnya sinis. “Arti omonganku tadi adalah, yang cewek aku dan yang cowok Bedi! Ngerti sekarang!” Sekar meninggalkan Andre.

“Sorry , aku nggak bermaksud seperti itu. Aku cuma nggak ingin kamu ikut celaka. 

Bedi itu lain dari kita yang ada di sini. Dia anak...,” Andre tak meneruskan perkataannya.

“Bedi lain karena apa? Ayo terusin!” Sekar berbalik menatapnya. Bola matanya liar. 

“Karena dia anak penari bugil? Anak penjahat?" Sekar makin berang.

“Aku nggak bilang begitu."

"Kamu beraninya ngomong begitu sama aku! Pengecut! Coba bilang sama Bedi!"

Andre terusik. Dia berlari ke depan. Mencegat Sekar. "Look at me, Sekar!” Wajahnya tampak merah. "Kamu nyuruh aku bertarung dengan Bedi, begitu? Lantas pemenangnya dapetin kamu? Kamu pialanya, begitu maumu? Sorry, aku mendingan mundur! Aku nggak berminat dengan cara begitu. Di mall-mall'piala' seperti kamu banyak. Aku bisa membelinya dengan uang!"

“Ya udah, beli ke mall sana! Ngapain ngurusin aku!" Sekar mencoba menerobos blokade Andre. Dadanya bergolak. Perkataan Andre tadi sangat kasar. Menusuk hatinya.

"Kamu sombong, Sekar! Sok cakep!" Andre terus saja menghalangi langkahnya. 

"Aku emang cakep! Buktinya kamu ngejar-ngejar aku! Ayo, mau ngomong apa lagi, Playboy!" 

Andre tak berkutik, tapi belum mau memberi jalan pada Sekar.

"Minggir, kamu!" hardik Sekar.

"Oh, silakan, Tuan Putri!" Andre mulai hilang kesabarannya.

Sekar ingin sekali menangis. Matanya berkaca-kaca. Dia benci pada Andre, yang sok merasa paling kuasa di sekolah. Paling kaya. Paling cakep. Paling. Paling. Papanya memang orang nomor dua setelah duta besar. Sekar berlari meninggalkan kedutaan. Kalau saja Bedi sekarang ada, Sekar yakin Andre bakal dihajarnya.
***


Hari ini sudah seminggu Bedi raib sejak percakapan mereka di perahu motor, kawasan Khao San, dan alun-alun Sanam Luang seminggu yang lalu itu-ketika Sekar mendengarkan keluhan Bedi tentang papanya yang sudah seminggu tak pulang.

"Kenapa mesti pusing, sih?" goda Lola. "Andre kan lebih cakep."

Sekar melotot. Dia alergi jika mendengar nama Andre disebut.

"Ke apartemennya aja," usul Toni, wakil OSIS SMA. 

"Anter aku ya, Ton?" pinta Sekar.

"Kita banyakan deh,” kata Lola, pacar Toni.

Sekar sebetulnya malu pada mereka, karena cuma Sekar-lah yang paling mengkhawatirkan Bedi. Tapi mereka (mungkin sih) sudah pada maklum, karena cuma dengan Sekar-lah Bedi merasa dekat dan mau terbuka.

Mereka naik bus kota. Mereka berganti bus dua kali. Lalu turun di kawasan sepanjang Sungai Chao Praya. Sungai besar yang membelah Bangkok. Menyusuri jalan kecil. 

Apartemen berdesakan. Jemuran melambai-lambai. Mereka saling lirik. Baru kali ini mereka main ke rumah Bedi. Apartemen mereka rata-rata tak jauh dari kedutaan. Lingkungan mereka bersih. Kadang kala satu gedung apartemen dihuni oleh lima sampai sepuluh keluarga, yang bekerja di kedutaan.
Walaupun tempat tinggal Bedi "terpisah" dan dia sudah jadi warga negara Thailand, mereka masih menghargai dan mau bersahabat dengannya, karena Bedi masih mau sekolah di KBRI. Itu artinya, ayahnya tetap tak ingin melupakan tanah leluhurnya, Indonesia. 

Mereka meliuk-liuk di gang. Toni yang paling lancar berbahasa Thai, menanyakan pada orang-orang. Penduduk Thai ramah-ramah. Tak berbeda dengan bangsa kita. Mereka semakin ramah ketika tahu, bahwa rombongan berseragam putih abu-abu ini pelajar dari Indonesia. Mereka menunjuk sebuah bangunan berlantai lima. Tak jelek. Malah paling bagus di kawasan ini. 

"Sawadi khrab,” Toni menguncupkan kedua telapak tangannya ke dagu sambil menganggukkan kepala. Seperti orang menyembah. Ini adalah sopan santun orang Thai, jika meminta permisi Kulo nuwun, dalam tata krama Jawa atau punten dalam cara Sunda.

Seorang petugas keamanan tersenyum. Dia menanyakan tujuan mereka. Satpam itu memberitahu, bahwa Bedi tinggal di lantai tiga, kamar nomor 14. "Tapi, sudah lama saya nggak lihat Bedi," kata si Satpam.

"Ada orang nggak di apartemennya?" tanya Toni.

Si Satpam berpikir. "Saya sudah lama nggak lihat ayah Bedi. Entah ke mana dia," katanya.

"Ibunya?" 

“Ibunya juga jarang ada di rumah. Kalaupun pulang, pasti tengah malam.”

“Sekarang ibunya ada, nggak?”

“Coba aja. Kalaupun.ada, jam segini pasti masih tidur.”

“Kapan Bapak terakhir lihat Bedi?”

“Kapan, ya?" si Satpam berpikir. "Seminggu yang lalu. Ya, ya. Dia kayak mau berangkat perang saja." Bapak ini tertawa. "Tapi sebelumnya, di depan lift, Bedi ribut dulu sama mamanya."

"Bedi bawa motor?"

"Oh, iya. Motornya tak pernah lepas darinya!"

Mereka saling pandang.
"Kasihan anak itu. Ayahnya hilang entah ke mana. Yang salah sebetulnya ibunya juga," keluh Pak Satpam.

Toni menerjemahkan percakapannya dengan Pak Satpam itu pada mereka. Sekar tidak langsung percaya sebelum ada bukti. Ada apa sebetulnya dengan Bedi? Dengan kedua orangtuanya? Dan Sekar merasa kuatir, karena Bedi hobi ngebut dengan motor sport besarnya jika sedang ruwet pikiran.

Sekar pernah mengalaminya. Bedi dengan edan melaju di highway. Zig-zag disela-sela mobil dan bus. Dan Sekar cuma bisa berteriak-teriak ketakutan sambil memegang erat-erat pinggangnya (terus terang, ternyata terselip juga rasa nikmat yang sukar diterangkan di antara sela-sela rasa takutnya saat itu). Dan Sekar tak pernah menolak lagi, jika Bedi mengajaknya untuk ngebut!

"Mungkin Bedi ke Pattaya Refreshing. Sumpek kan di apartemen terus," hibur Dian.

"Ke Phuket 'kali!" sambung Lola.

"Masa seminggu?" Sekar tetap gelisah.

"Atau ke Mae Hong Sorn. Dia kan kepengin sekali lihat suku Padong," timpal Hari.

Suku Padong atau Long Neck-wanita-wanita yang berleher panjang, karena para wanita suku ini sejak bayi lehernya diberi gelang-gelang dari tembaga-berada di perbatasan Thai-Myanmar. Tempat ini memang sangat kesohor dimata turis. Keunikan ini pun dimanfaatkan pemerintah Thai sebagai aset wisata.

Tak beda jauh dengan telinga suku Dayak di Kalimantan, yang akan merasa cantik kalau telinga mereka semakin panjang. Suku Padong pun begitu. Mereka membiarkan leher mereka semakin panjang seperti jerapah ditumpu gelang-gelang logam keemasan. Sebetulnya mereka mengidentifikasikan dirinya dengan naga; sesembahan mereka. Mungkin Bedi pergi ke sana. Tapi, bisa juga tidak. Begitu pikir Sekar.

Bedi memang sering bercerita pada Sekar, bahwa ia ingin menjelajahi seluruh pelosok Thai dengan motor besarnya. Tapi seluruh perbatasan Thai boleh dibilang gawat. Di timur berbatasan dengan Kamboja; tertanam ribuan (malah jutaan, konon) ranjau, di barat kadang masih baku-tembak dengan pemberontak suku Karen dari Myanmar, di utara terlebih-lebih, karena Segitiga Emas adalah tempat berkumpulnya segala jenis gembong narkotika.

"Apa mungkin dia kabur ke Indonesia?" Fery, pacar Neneng, nyeletuk. “Nyari leluhurnya di Banten?"

“Bisa jadi. Ingin ngerasain debus asli Banten 'kali!” Lola tertawa kecil.

“Pake motor? Gila apa!” sela Toni.

“Gimana, naik nggak?” Dian mengingatkan sambil meminta pendapat pacarnya, Hari.

“Pulang ajalah,” usul Neneng. Toni menatap Sekar.

"Aku tetep naik! yang mau pulang, pulang sana!" Sekar bersikeras untuk naik ke lantai tiga. Siapa tahu Sekar dapat informasi tentang Bedi. Atau bertemu ibunya. Akhirnya kawan-kawan Sekar (mungkin kasihan padanya) mau juga ikut ke lift.

"Bedi kan temen kalian juga. Masa sih' ketika dia sedang susah, kalian cuekin!" kata Sekar kesal di lift.

Kawan-kawan Sekar tampak merasa tak enak.

"Kamu inget nggak, Lola, ketika Bedi nolongin kamu?" sindir Sekar.

Lola mengangguk Suatu hari Lola dan adiknya pernah digodain berandalan di bioskop. Tiba-tiba Bedi ada di sana. Menghajar para berandalan itu. Begitu juga dengan Hari, yang selalu dikompasin anak-anak di mulut jalan apartemennya. Setelah Bedi menemui mereka, Fery tak diganggu lagi. 

Pokoknya bersama Bedi, mereka merasa aman dan terlindungi. Sekar malah pernah memergoki beberapa orang berandalan di beberapa kawasan rawan, misalnya Stasiun Hua Lam Pong, Khao San, Patpong, dan Sanam Luang, menyapa Bedi dengan hormat. 

"Kamu kayak Don Corleon aja," kata Sekar terkagum-kagum waktu itu.

“Aku kan pernah juara Thai boxing," kata Bedi datar. "Sekali-sekali kamu harus nonton aku bertarung di ring, ya!" katanya. “Aku memadukan kelenturan pencak silat dengan keganasan Thai boxing! Makanya, nggak ada yang bisa ngalahin aku di kelasku!" Bedi sesumbar.

"Hih, itu barbar!" Sekar menolak.

"Aku nyari duit tambahan buat jajan dari situ."

"Kamu bertaruh?" tanyaku. 

"Mereka yang bertaruh. Aku cuma petarung. Kalau menang-dan selalu menang!-aku dapat bagian 20 persen!" Bedi tertawa. "Dari situlah aku bisa beli motor gede ini!"

Sekar bergidik mendengarnya. Tapi Sekar mulai paham kini, jika di hari Senin wajah Bedi memar atau pelipisnya sobek, itu bukan karena berkelahi, melainkan akibat pertarungan di ring. Thai boxing buat Sekar olahraga yang tak manusiawi. Barbar. 
Cuma saling tendang dan sikut sampai darah berhamburan! Tapi bagi lelaki Thai, olahraga (sekaligus bela diri) ini adalah simbol kejantanan. 

Lorong lantai tiga sepi. Hati Sekar berdebar-debar. Sekar memencet bel pintu bernomor 14. Tak ada jawaban. Sekar memencet lagi. Mulai terdengar suara-suara. Perasaan Sekar tak menentu.

"Mendingan cabut aja, yuk," bisik Dian."Mumpung belum nongol."

"Ngeri juga, nih,” Neneng salah tingkah.

Sekar melotot. "Kalau kalian mau pulang, ya pulang sana!"

Pintu pun terbuka. Masih digerendel. Sebuah kepala wanita cantik nongol. Cuma memakai selimut yang dibelitkan. Wajahnya pucat berkeringat. Perasaan Sekar (ini mungkin naluri seorang wanita) di dalam pasti ada lelaki lain. Wah, kalau saja Bedi tahu bahwa mamanya berselingkuh dengan lelaki lain Padahal Bedi selalu bilang, papanya sangat sayang pada mamanya. Wah, bagaimana kalau tiba-tiba papanya datang? Bisa-bisa terjadi perang dunia ketiga di apartemen nomor 14 ini!

"Sawadi khrab." Toni tersenyum sopan.

Si Wanita tersenyum mengangguk.

"Mi a'rai thi mai samrej, Honey?" terdengar suara seorang lelaki dari dalam, menanyakan apakah adamasalah yang tak beres. 

"Mai, mai!” ibu Bedi berteriak, mengatakan masalah bisa ditanganinya.

"Ma thamkan to, Honey!" suara dari dalam terdengar tak sabar, menyuruh ibu Bedi untuk kembali. "Hurry up, Honey! Please!" teriak si pria, yang ternyata lelaki bule.

"Just a moment, Darling!" ibu Bedi menenangkan pria bule itu dengan suaranya yang rnanja. Lalu dia menanyakan maksud mereka, "Mi a'rai?"

"Bedi, khaw sabaidi re?" Toni menanyakan kabar Bedi.

"Oh, from Indonesia." Wanita cantik ini tersenyum, setelah melihat Sekar dan kawan-kawannya memakai seragam sekolah Indonesia. Dia tersenyum. "Kawan-kawan Bedi!" serunya dengan bahasa Indonesia, tapi masih belum membuka rantai pintu.

"Ya, Tante." Sekar tersenyum kikuk.
"Bedi tidak ada. Sudah seminggu. Entah ke mana," katanya seperti tak merasa kehilangan anaknya. Bahasa Indonesia-nya lumayan juga.

Sekar merasa tidak enak berbicara dengan seseorang di pintu. Ini jelas sangat tidak etis. Sekar langsung pamit saja. Wanita cantik itu mengangguk dan segera menutup pintu. Sekar kecewa sekali. Kasihan Bedi. Ternyata selama ini dia cuma menghibur diri, mencoba menutup-nutupi kegetiran hidupnya.

Lalu mereka permisi pulang. Sekar gelisah. Di bus kota Sekar uring-uringan. Untung kawan-kawannya cukup mengerti.

“Wah, ini sih bukan Tokyo Love Story lagi, tapi Bangkok Love Story ," Dian mengibaratkan kisah Sekar ini dengan sebuah film seri Jepang yang sedang digandrungi penonton Indonesia.

Sekar melotot kesal.

"Kayaknya Bedi broken home," Neneng menyimpulkan hati-hati.

"Bukan kayaknya lagi, tapi memang iya," timpal Hari.

"Ibunya ternyata gatel juga!" Neneng nimbrung.

"Emang udah dari sononya!" Fery mengingatkan pekerjaan ibu Bedi sebelumnya, gadis go go dance di kawasan hiburan Patpong. 

"Bapaknya juga penyelundup," timpal Lola.

Sekar merasa terusik. Sekar tak suka mereka membicarakan hal-hal jelek tentang orangtua Bedi. Yang dia tahu, Papa pernah bilang, bahwa aib seseorang itu harus dirahasiakan. Dengan menyimpan aib seseorang, kita akan dapat pahala dari Tuhan.

"Gila! Gimana kalau tiba-tiba suaminya dateng, ya?" Fery berandai-andai.

"Bakal ada peristiwa berdarah!" Hari mendramatisir.

"Udah, udah.” Toni menyetop pembicaraan mereka, karena melihat Sekar hampir menangis.

Sekar memang ingin sekali menjerit. Menangis.

"Kira-kira ke mana Bedi, Sekar?" tanya Toni.

"Pasti dia pernah ngomong sesuatu sama kamu,” pancing Dian. "Coba deh, diinget-inget."

Sekar ragu-ragu bilang, "Bedi pernah ngomong soal Segitiga Emas."

"Apa ?" mereka terbelalak.

"Ngapain dia ke sana? Nyari opium?" Toni heran.

"Husss." Lola mencubitnya. "Hati-hati kalau ngomong!" sambil melihat ke penumpang bus.

Toni meringis.

"Sudah seminggu papanya nggak pulang. Bedi pikir papanya ke Segitiga Emas. Yang parah, dia menduga papanya terlibat jaringan narkotika," papar Sekar hati-hati.

"Narkotika? Wah, saya mundur, deh. Ini urusannya sama mafia. Saya belum kawin, nih," bisik Dian takut.

Neneng pun mengangguk ngeri.

"Kamu yakin?" Toni minta kepastian.

"Aku nggak tahu, Ton." Sekar merasa sangat pilu.

"Mendingan kita lapor ke kedutaan aja, deh. Biar bapak-bapak kita yang ngurusin," usul Fery.

"Bedi kan bukan warga negara Indonesia," kata Dian.

"Tapi dia kan bisa berlindung minta suaka di KBRI! Lagian dia temen kita!" protes Sekar.

Mereka akhirnya cuma membisu.

Sekar sebetulnya ingin berteriak mendengar omongan mereka. Ingin menjerit. 

Makanya ketika bus kota berhenti di halte KBRI (apartemen mereka di sekitar kedutaan), Sekar langsung berlari terisak-isak meninggalkan mereka.

"Sekar, tunggu dong!" Toni mengejar.

Sekar tak menghiraukan mereka. Sekar langsung ke apartemen. Masuk ke lift. Beberapa orang di lobi yang menyapa tak Sekar gubris. Sekar langsung mengunci diri. Sekar menangis. Bantalnya basah. Yang ada di benaknya cuma Bedi. 

Ya, Bedi. 

Ketukan di pintu tak Sekar pedulikan.

Oh, di manakah kamu, Bedi? Pekik hatinya.
***


Sekar merasa ada yang membelai-belai rambutnya. Sekar hafal sentuhan tangan lembut itu. Mama. Berarti hari sudah bergulir ke malam.

"Kok, seragamnya nggak diganti?" Mama tersenyum.

Sekar mengusap matanya yang sembap. Sekar memeluk dan berlindung di tubuh Mama. Sekar menangis lagi. Setiap memeluk Mama, Sekar selalu merasa terlindungi dan damai. 

"Tadi Andre nelepon." Mama tersenyum menyelidik.

"Anak itu sok banget, Ma! Sekar benci, deh!"

"Awas, biasanya cinta itu bermula dari benci, lho," goda Mama. 

"Ih, amit-amit! Nggak deh, Ma!"

"Andre cuma nitip pesen sama Mama, bahwa kejadian di kantin tadi karena di dorong oleh rasa kekhawatirannya pada kamu."

"Kuatir boleh aja. Tapi, jangan ngejelek-jelekin Bedi, dong!”

“Andre juga bilang, minta maaf sama kamu."

"Wah, kayaknya Mama ngepromosiin Andre, ya!”

Mama tertawa. "Ya, sekadar ngasih pilihan saja sama kamu, kalau mau nyari pacar. Andre kan sudah kelihatan asal-usulnya. Sudah jelas siapa orangtuanya,” saran Mama.

Sekar cemberut. Dia memeluk bantal-gulingnya. Wajahnya gelisah. Matanya menerawang. Tiba-tiba dia ingat Bedi. Kerinduannya pun muncul menggelegak.

"Wah, pasti Bedi ya." Mama mengusap wajahnya. Menatapnya. "Toni dan Lola cerita sama Mama tadi."

Toni dan Lola tinggal satu gedung dengan Sekar.

"Kasihan Bedi ya, Ma." Tangis Sekar muncul lagi. "Papanya hilang; Ma. Terus, mamanya nyeleweng sama bule. Padahal, di sekolah dia begitu riang. Tak pernah cerita bahwa keluarganya berantakan."

"Itu tandanya Bedi laki-laki. Dia nggak cengeng menghadapi hidupnya. Dia nggak ingin kepedihan hidupnya jadi keprihatinan kalian.”
Sekar menangis terus. Lalu, "Berarti Bedi jelas berbeda dengan Andre kan, Ma. Bedi itu laki-laki, kalau Andre itu banci."

Mamanya tertawa. "Jangan membandingkan dua lelaki dari satu kasus saja, Sekar."

"Itu udah jelas kok, Ma. Bedi itu bertanggung jawab. Punya pendirian. Nggak cengeng. Nggak pernah ngomongin orang. Apalagi ngejelek-jelekin. Malah, dia itu paling suka nolongin orang. Andre, wah, jauh banget, deh, kalau dibandingin dengan
Bedi."

"Tapi saran Mama, kamu jangan terlalu ikut campur. Jangan memikirkan terlalu jauh. Ini sudah menyangkut urusan mafia. Bahaya. Mama kan nggak ingin kehilangan kamu."

Sekar menatap wajah Mama, yang tampak begitu cemas. "Mama percaya, bahwa ayah Bedi pengeaar narkotika?" tanya Sekar tak percaya.

Mama menyodorkan sebuah koran berbahasa Thai. " Ayah Bedi ternyata nggak cuma pengedar narkotika, tapi juga anggota jaringan mafia internasional. Baca koran ini,” kata Mama. 

Sekar mencoba mengamati gambar sesosok mayat, yang ditemukan dengan banyak peluru di tubuhnya. Ketika membaca nama mayat itu, Sekar berteriak. Mayat itu ternyata ayah Bedi!

“Mafia selalu membunuh anggotanya yang hendak keluar. Sekali masuk mafia, tak akan ada kesempatan lagi untuk keluar.”

Tangis Sekar menjadi-jadi. Sebetulnya yang Sekar tangisi saat ini adalah Bedi. Oh, betapa malangnya dia. Mimpinya untuk menemukan “siapa leluhurnya” belum tercapai, ayahnya sudah tewas di bunuh mafia!

“Mafia itu kejam,” tambah Mama. “Nyawa bagi mereka, tak ada artinya lagi dibanding dengan uang.”

“Tapi, apa salah ayah Bedi?”

“Kesalahan terbesar dan tak terampuni bagi anggota mafia adalah keinginannya untuk keluar dari keanggotaan dan ingin menjadi warga baik-baik,” Mama menerangkan. 

Sekar menutup wajahnya.

Mamak memeluk Sekar. Mencoba menghibur putri kesayangannya yang sedang berduka, karena cinta. Sekar cuma bisa menangis.

"Ini Mama temukan di bawah pintu. Surat untukmu. Kayaknya dari Bedi. Tanpa prangko." Mama menyodorkan sepucuk surat.

Sekar terlonjak dan mendekap surat beramplop putih sederhana itu. 

Mama meninggalkan Sekar sendirian.

Sekar memeriksa surat itu. Tak ada nama si pengirimnya.

Sekar dengan gelisah merobek surat itu.

BAB III

SURAT DARI BEDI


Sekar Tomboi!
Aku minta maaf, pasti bikin resah kamu selama seminggu ini. Aku kabur dari rumah. Aku nggak kerasan. Selama ini aku sudah bohong sama kamu tentang keluargaku.

Selama ini aku sudah jadi manusia munafik.

Aku nggak ingin orang-orang mengasihi aku, cuma karena keluargaku berantakan. Papaku memang penjahat, penyelundup, dan pengedar narkotika pula. Dia ternyata anggota mafia! Dan Mamaku, Sekar, dia sebetulnya tak pernah melepaskan 
profesinya sebagai penari bugil. Malah kadang-kalau Papa sedang nggak ada di rumah-Mama suka membawa masuk “pacar-pacar” bulenya cuma untuk kesenangan belaka. 

Papaku mafia dan mamaku pelacur, Sekar Tomboi. Lantas aku--anaknya-pantas disebut sebagai apa?

Kawan-kawan mungkin nggak akan pernah mau menerimaku lagi, ya? Kalian tadi dateng ke apartemenku. Segalanya sudah terbukti sekarang. Aku nggak perlu menutup-nutupi lagi tentang siapa aku.

Aku tadi sempet pulang-mungkin satu atau dua jam setelah kalian pulang-dan memergoki mamaku dengan "pacar" bulenya. Kamu tahu apa yang terjadi? Aku hajar si bule itu sampai babak-belur! Huh, sebetulnya ingin sekali aku membunuh mereka!

Aku benci pada semuanya, Sekar! Padaku, pada Papa, Mama, "pacar-pacar" Mama, dan mungkin Tuhan. Kenapa ini harus terjadi padaku ?

Selama seminggu ini aku nyari Papa. Ke Utara. Naik motor. Aku sampai di Mae Sai, kota kecil di utara, berbatasan dengan Ta Chilick, kota kecil di Myanmar. Aku nyeberang ke sana. Hampir saja aku ditangkap, karena berkelahi dengan berandalan di sana.

Lalu aku ke Golden Triangle. Ada kampung kecil bernama Chiang Saen. Orang-orang (turis bule dan Jepang) pada asyik bikin potret di monumen Golden Triangle itu, sementara aku nyari-nyari informasi tentang papaku. Yang aku temui cuma museum opium. Aku coba jelajahi daerah-daerah "gelap". Aku harus hati-hati. Sekali dua kali aku terlibat perkelahian lagi dengan preman di sana. Tapi, bisa aku tangani setelah mereka tahu bahwa aku Thai boxer!
 

Aku sudah putus asa mencari Papa. Di Segitiga Emas, tak ada yang bisa aku lakukan. Jauh dari jangkauanku. Cuma belantara dan bukit-bukit. Aku tak menemukan jalan masuk. Dan aku masih pengecut unfuk nembus jaringan mafia. Malah seorang pemilik guest house menawari aku kerja!

Gelap, gelap semuanya, Sekar .Tomboi!

Aku memutuskan pulang saja ke Bangkok.

Aku kangen sama kamu. Aku ingin ngebut bersamamu. Aku ingin menumpahkan segala kesumpekan hidupku padamu. Cuma sama kamulah aku percaya. Sebetulnya ingin sekali aku rebah, menangis di dadamu. Tapi, aku tak boleh putus asa. Hidupku masih panjang. 

Tapi, ketika aku tiba di Bangkok, Sekar. Oh! Kamu tentu sudah baca koran hari ini? Papaku ditemukan sudah jadi mayat! Tubuhnya penuh lubang peluru! Mafia membunuh papaku! Mereka menembakinya tanpa ampun!

Ternyata kekhawatiranku selama ini jadi kenyataan. Papa telah menyalahgunakan 
"ilmu-ilmu" yang dimilikinya untuk hal-hal buruk! Seperti Papa bilang, 
"Malapetakalah yang akan menyertai orang itu jika ia mempergunakannya untuk kebathilan. "

Ya, kini aku kehilangan Papa.

Dan ketika aku ingin menangis, Mama malah sedang asyik dengan setan bule! Mamaku memang dasarnya sudah penari bugil! Pelacur! Padahal Papa sudah menolong dengan mengawini Mama! Tapi Mama membalas budi Papa dengan kebusukan!

Tadinya aku ingin membunuh mereka saja! Tanggung! Buat apa hidup kalau cuma dibebani persoalan seperti ini. Tak punya siapa-siapa. Aku betul-betul kehilangan Papa sekarang!

Aku harap surat ini sampai padamu. Aku titipkan pada orang suruhanku. Nanti, kamu pasti akan selalu dihubungi oleh dia. Sekarang aku sedang tergesa-gesa. Jangan terlalu mengkhawatirkan aku.

Untuk sementara, demi keamanan kamu terutama, kita jangan berhubungan dulu. Aku sudah mengirim surat pada Kepala Sekolah. Aku berhenti sekolah saja. Tak ada pilihan lain. Aku nggak ingin bikin malu KBRI. Dengan kasus papaku, pasti, KBRI akan terbawa-bawa. Bagaimanapun, dalam darah papaku mengalir roh bumi Indonesia.

Nanti aku hubungi lagi, Sekar Tomboi.
***
Sekar cuma bisa menangis. Ingin sekali Sekar berada di sisi Bedi. Menghiburnya. 

Sekar yakin di saat-saat seperti ini Bedi membutuhkan kehadirannya. Surat itu Sekar dekap. Entah berapa kali Sekar baca. Surat itu sudah basah kena curahan air matanya. 

Oh, tak akan ada lagi yang bakal memanggilnya, “Sekar Tomboi!”

Cuma Bedi yang biasa memanggilnya begitu.

Sekar tak bisa membayangkan ada di mana Bedi sekarang. Sedang apa dia sekarang. Sekar yakin hari-hari Bedi akan bergulir keras. Sekar takut Bedi akan nekat. Sekar tahu perangainya yang temperamental kalau urusannya sudah menyangkut persoalan lelaki.

Pintu kamar Sekar diketuk lagi. Mama dan Papa muncul. Cepat-cepat Sekar sembunyikan surat Bedi di saku seragamnya.

"Boleh Mama tahu isi suratnya?" rayu Mama.

"Cuma surat biasa, kok.”

"Pasti surat cinta, ya,” canda Papa.

Sekar tersipu malu.

"Bedi memang gagah, Pa. Kalau Mama masih seumur Sekar, pasti naksir lho sama Bedi."

"Oh, ya? Berarti Bedi segagah Papa selagi muda, dong." Papa tertawa.

“Ah, dasar Papa ini." Mama juga tertawa.

Sekar tahu Papa dan Mama mencoba menghiburnya.

“Ada temen-temenmu, Sekar."

Dengan malas Sekar bangkit. Tanpa merapikan seragam dan menyisir rambut, Sekar menuju ruang tamu.

"Betul kamu nggak apa-apa, Sekar?" Mama sangat kuatir.

Sekar mencoba tersenyum. 
Di ruang tamu Sekar melihat Toni, Lola, Fery, dan Neneng. Mereka memang berpacaran. Ketika melihat Sekar, mereka terbelalak. Wajah Sekar memang amburadul.

"Kamu kusut sekali," Lola menghampirinya.

“Kenapa sampai separah ini, Sekar?" Neneng ikut prihatin.

Sekar duduk bersila di sofa. Diam seperti patung. Tatapannya kosong. Yang terbayang di benaknya sekarang cuma: B e d i .

"Ada kabar dari Bedi?" tanya Toni hati-hati.

Sekar masih seperti patung.

"Bedi ngirim surat sama kamu, ya?" tambah Toni.

“Berarti dia masih ada di Bangkok," kali ini Fery.

"Kesulitanmu berarti kesulitan kami juga." Lola mengusap-usap rambutnya. Merapikannya.

"Siapa tahu kami bisa membantu, Sekar," Toni serius.

Sekar menggeleng.

"Kenapa?" Toni meminta penjelasan.

"Terlalu rumit,” Sekar membuka suara juga.

"Kami sudah baca di koran tadi. Kasihan Bedi. Kami ikut menyesal mendengar kematian ayah Bedi. Tapi, apa yang bisa kami lakukan, Sekar?" Toni berduka.

"Kejam. Tak berperikemanusiaan," Fery menambahi.

"Kamu pasti tahu di mana Bedi sekarang," desak Toni.

"Kalau pun tahu, apa yang bisa kalian lakukan?" sindir Sekar.

"Jangan sinis begitu, Sekar," Fery tersinggung.

"Kamu mau jadi jagoan? Kayak Rambo, begitu?" hardik Sekar tak sadar. "Ini bukan urusan kita, yang masih bau kencur! Ini mafia! Urusannya pistol! Dor, dor, dor! 
Saling bunuh kayak film Godfather!" Sekar makin panik.

Lola dan Neneng menenangkan Sekar.

Fery gelisah di bawah tatapan Toni.

Papa dan Mama muncul. Mereka menyuruh kawan-kawan Sekar pulang. Sekar semakin histeris, menangisdan membanting apa saja.

Mama memeluk putri bungsunya. Sekar rebah dan berlindung di hati Mama yang lembut dan teduh. Sekar selalu menemukan kedamaian di sana.
***
"Kamu mencintainya, Sekar?" lembut suara Mama.

Sekar menatapnya. "Apa nggak boleh, Ma?" tanyanya.

"Tapi cintamu membabi buta, Sekar," kata Papa.

Mama-lewat sorot matanya yang teduh-menyuruh Papa diam.

"Mencintai seseorang, tentu saja boleh. Setiap orang punya naluri untuk mencintai dan dicintai. Kamu pun berhak untuk itu. Tapi, tentu, logika pun harus dipakai." Suara Mama biasanya selalu masuk ke relung hati Sekar ketimbang Papa, yang selalu bernada memerintah.

Tapi, entahlah, kali ini semua omongan Mama sepertinya lewat begitu saja. Betul kata Papa, cintanya pada Bedi membabi buta. Sukar untuk dijelaskan. Mungkin cintanya pada Bedi terdiri atas beragam rasa. Sedih, rindu, gembira, waswas, prihatin, kuatir, dan entah apalagi. Sekar belum menemukan kata-kata lainnya yang pantas untuk menyimpu1kan perasaan cintanya pada Bedi. Atau Shakespeare betul, bahwa love is blind.

“Wanita seusiamu, memang paling mudah dikuasai cinta. Mama pernah merasakannya. Terutama pada papamu.” Mama tersenyum pada Papa. “Tapi, kalau kita terlalu mengikuti perasaan, seperti inilah akibatnya. Iya nggak, Pa?” Mama melirik Papa.

“Coba lihat dirimu di cermin sekarang, Sekar,” Papa hati-hati bicara. “Ini baru sehari. Girnana nanti bentukmu sesudah seminggu, sebulan, atau setahun? Wah, bukan kayak kapal pecah lagi ya, Ma? Mungkin mirip korban bencana alam."

"Betul kata Papamu, Sekar. Coba bercermin. Lihat rupamu. Kalau Bedi melihatmu sekarang, tentu dia nggak akan senang,” Mama resah. "Dengar, Sekar, semua lelaki nggak akan senang jika cintanya membawa petaka bagi gadis yang dicintainya. Nah, Bedi pun pasti begitu. Dia akan sedih melihat kamu seperti ini."

Sekar masih menerawang, mencoba mencari-cari Bedi dalam khayalannya.

“Seharusnya kamu tetap gembira, riang seperti dulu. Merawat tubuhmu, bukannya malah merusak diri sendiri. Nanti kalau kamu ketemu Bedi masih cakep kayak dulu, setidak-tidaknya itu bisa mengurangi beban Bedi.

"Kamu perlu tahu, Sekar, ada pepatah di kalangan lelaki ketika Papa seusia kamu. 

‘Senyum pacar itu melenyapkan segala macam persoalan.' Mamamu ini, jika Papa punya masalah, selalu memberi Papa senyum dan kegembiraan, sehingga beban Papa lambat laun berkurang."

Mama tersenyum mendengar omongan Papa. 

Betapa panjang kuliah yang diberikan Papa. Anehnya kali ini ada yang masuk ke hati Sekar. Masuk akal. Seharusnya Sekar tak perlu berkeluh kesah seperti ini, tapi malah harus ikut memikirkan jalan keluarnya. Ya, harusnya Sekar tetap menjaga tubuhnya sendiri, bukan malah menelantarkannya. .
***
Tapi kenyataannya, omongan Papa dan Mama ada betulnya. Banyak betulnya malah. Terbukti sudah lima hari sejak surat pertama dari Bedi, Sekar sudah menjalani hidup normal lagi. Pergi dan pulang sekolah jalan kaki.

Sekar tahu ada yang hilang di belahan hatinya yang lain. Sekar tahu itu Bedi. Biasanya selalu saja ada yang mereka lakukan sepulang sekolah. Mutar-mutar Bangkok dengan motor besarnya, keluar masuk kawasan turis di Khao San atau menyusuri kanal-kanal dan berleha-leha di alun-alun Sanam Luang sambil menikmati senja di Grand Palace, yang cahayanya kekuning-kuningan ibarat emas.

Tapi itu tadi, jika tenggelam dalam kesedihan melulu tak ada gunanya. Merusak diri sendiri juga tak ada manfaatnya. Kalau cinta bisa bicara, tentu tak bermaksud seperti itu. Cinta malah menginginkan kita hidup sehat dan gembira. Dengan cinta seharusnya hidup ini jadi semakin bergairah.

Sejak Bedi raib, Sekar kini lebih memilih pulang ke rumah lebih awal ketimbang ngumpul di ruang guru nonton acara televisi Indonesia atau ngerumpi di kantin. Kini hobinya mengurung diri di kamar. Membaca koran-koran Thai atau edisi Indonesia guna mengikuti perkembangan kematian ayah Bedi. 

Ayah Bedi memang misterius. Latar belakang keluarganya di Indonesia seperti terhapus dari file kehidupannya. Sukar dilacak. Ayah Bedi memang terlibat jaringan mafia besar Thailand. Mulai dari perdagangan senjata gelap bagi para pemberontak suku Karen di perbatasan Myanmar sampai ke opium di Segitiga Emas.

Yang membuat Sekar terenyuh, nyawa ayah Bedi dihabisi ketika hendak hengkang dari kelompok mafia tersebut. Menurut beberapa nara sumber yang dirahasiakan, ayah Bedi ingin menebus dosa-dosanya. Terutama pada anaknya, Bedi. Ayah Bedi berencana hendak membawa Bedi pulang ke Banten untuk bertobat, dan menghabiskan sisa umurnya di tanah kelahirannya. Tapi rupanya keinginan baik itu diartikan lain oleh anggota mafia lainnya, karena ayah Bedi termasuk tahu banyak tentang seluk-beluk mafia internasional. Akhirnya ini seperti makan buah simalakama.

Lambat laun di beberapa koran Indonesia pun kabar tentang kematian ayah Bedi mulai tercium. Pada awalnya cuma berita sekolom. Tapi dua hari belakangan ini sudah jadi head line. Beberapa teve swasta dan koran mencoba melacak ke Banten, siapa sosok ayah Bedi itu. Siapa keluarganya. Kenapa jadi pekerja ilegal di Malasyia, lalu menyeberang ke Thai, kawin dengan gadis Thai, jadi warganegara Thai, dan terlibat jaringan mafia internasional! Dan yang membuat Sekar geli, mereka sedang mengejar Bedi, anaknya, karena dari Bedi-lah segala cerita tentang ayahnya akan terjawab. Mewawancarai Bedi memang bisa jadi berita eksklusif!

Berarti Bedi sekarang sedang bersembunyi. Yang mengincarnya bukan cuma mafia dan polisi saja, tapi media massa pun ikut-ikutan!
***
Sekar pulang sekolah sendirian lagi. Ini hari ketujuh. Masih belum ada kabar tentang Bedi. Sekar merasa ada yang membuntutinya ketika menyeberangi jembatan penyeberangan. Di mall Sekar pura-pura melihat etalase. Pakaian bermerek dipajang. Lewat ujung matanya, lelaki muda bertopi dan berjeansrobek-robek itu gelisah. Sekar masuk ke mall. Lelaki itu membuntutinya lagi. Hatinya agak deg-degan. Tapi nalurinya mengatakan, bahwa anakmuda ini pasti orang suruhan Bedi, bukan anggota mafia!

Sekar menantinya di depan etalase toko kaset. Tapi sekelebat dia melihat Andre di ujung sebelah timur. Dia sedang memperhatikannya. Wah, bisa runyam! Gerutu Sekar.

"Sawadi kharb," lelaki bertampang berandalan itu menyapa Sekar dengan kagok.

Sekar membalasnya, "Sawadi khah."

"Mi wela sakru mai?" pemuda berandalan ini meminta waktu Sekar sebentar.

Sekar mengangguk. Dia melihat Andre berjalan mendekati. Lelaki berandalan itu terusik. Sekar gelisah.

"Pai from kab phom mai?" si Berandalan bermaksud mengajaknya pergi.

Tapi Sekar tak paham omongannya kali ini. Bahasa Thai-nya payah.

"Follow me, please," katanya.

Sekar menelitinya.

"Don't worry," dia mencoba meyakinkan. "This is about Bedi."

Sekar terbelalak. Dia-tanpa sadar-mencengkeram bahunya. "Where is he?" tanyanya. 

"Bedi, sabaidi re?" Sekar menanyakan kabar Bedi dalam bahasa Thai lagi. 

"He is okay," kata si berandalan.
Andre sudah di belakang Sekar. Kehadirannya membuat keruh suasana. 

"Siapa dia, Sekar? Kamu nggak apa-apa?" Andre merasa kuatir.

"Pergi, Andre. Ini bukan masalahmu,” usir Sekar.

"Ini jelas jadi urusanku juga. Ini menyangkut nama baik kedutaan," Andre menarik Sekar. “Dia orang Thai. Hati-hati. Apa kamu tahu siapa dia? Bagaimana kalau dia itu mafia?"

Si berandalan gelisah. Dia memberi isyarat dengan kedua lengannya. Entah pada siapa. 

Sekar begitu kesal. Dia berusaha menerangkan, "Denger, Andre! Ini urusan antara aku dan Bedi. Aku hargai perhatianmu padaku."

"Aku bilang tadi, ini jadi urusanku juga! Mama-papamu menyuruhku untuk menjagamu!" Andre ngotot.

"Please, Andre," Sekar memohon, "jangan ikut campur urusan kali ini!"

Si berandalan mendekati Andre. Mereka sudah tak bersahabat. Sekar menyuruh si berandalan pergi. “Aku nggak akan apa-apa, Andre.” Sekar meninggalkannya. 

“Percayalah!” teriaknya sambil berlari mengejar si berandalan.

Andre mencegah Sekar. “Jangan pergi, Sekar! Ini bahaya! Kamu belum kenal siapa mereka!” kejar Andre.

Tiba-tiba dua orang pemuda menghalangi Andre. Sekar dan si berandalan bergegas pergi. Andre menerobos. Terjadi dorong-mendorong. Sekar sempat berhenti sejenak. Tapi ketika dilihatnya kedua orang itu cuma memegangi Andre saja, Sekar mengikuti ke mana si berandalan membawanya.

"Sekar, mereka pasti membunuhmu!” teriak Andre. “Jangan pergi, Sekar!”

Si berandalan membawa Sekar menyusuri gang-gang. Cowok Thai itu memanggil tuk-tuk, angkutan roda tiga mirip bajaj di Jakarta. Tapi tuk-tuk lebih bagus dan jadi daya pikat turis, seperti jeepney di Manila, ketimbang bajaj di Jakarta yang lebih mirip barang rongsokan. Harusnya bajaj jangan dimusnahkan, tapi diremajakan.

Tuk-tuk itu masuk ke gang kecil yang kotor. Berhenti di depan bangunan tua yang mirip gudang. Untung Sekar sudah mengganti seragam sekolahnya dengan pakaian trade mark-nya; jeans dan T–shirt American style di kedutaan. Busana model James Dean ini lagi nge-trend di kalangan anak muda Thai. Yang cowoknya macho dan ceweknya sensual. Eksotis.

"By the way, My name is Khaosai," pemuda ini memperkenalkan diri.
Ketika Sekar menyindir, bahwa namanya mirip Khaosai Galaxy; petinju Thai yang mengalahkan petinju kebanggaan Indonesia, Elias Pical, anak muda ini dengan semangat bilang, bahwa Khaosai Galaxy adalah idolanya. Bahkan idola seluruh pemuda Thai.

"Tak ada yang bisa mengalahkan Khaosai Galaxy, kecuali istrinya!" Khaosai tertawa.
Khaosai Galaxy memang petinju hebat. Dia juara dunia tinju sejati di kelasnya. Dan dia mundur dengan terhormat dari ring tinju, karena rasa cinta pada istrinya yang orang Jepang.

"Bedi is a good friend!" Khaosai kembali pada soal Bedi sambil membuka pintu seng.

Dari Khaosai-lah Sekar tahu siapa Bedi sesungguhnya. Bedi yang sudah Sekar kenal selama ini ternyata seorang kepala gank yang dihormati oleh anak buah serta musuh-musuhnya.

Mereka melewati lubang kecil yang pas sebadan. Ini petualangan yang paling Sekar sukai. Sekar gemar baca buku-buku petualangan ala Old Shatterhand, Winnetou, dan Tin Tin. Serta cerita detektif misteri ala Sherlock Holmes atau Agatha Christie, serta yang lebih serem seperti Dracula yang dikarang oleh Bram Stocker dan Frankenstein. Ini seperti wujud dari sekian imajinasi kanak-kanaknya.

Mereka menaiki tangga besi ke sebuah bangunan tua. Lebih mirip gudang. Tak terawat. Berbelok-belok. Lalu berhenti di ujung. Khaosai mengetuk pintu. Nadanya seperti sebuah sandi. Lalu pintu dibuka pelan-pelan. Rantainya masih melekat. Begitu orang itu tahu Khaosai yang datang, pintu pun dibuka.

Sekar masuk dengan hati-hati. Matanya mengelilingi ruangan yang cat temboknya sudah mengelupas. Lampu penerangannya remang-remang. Untuk penerangan mereka lebih mengandalkan cahaya matahari yang masuk lewat jendela. Botol-botol minuman keras berserakan. Sekar tahu anak muda Thai gemar alkohol. Minuman keras di jual bebas di Thai. Setiap etalase toko dipajang seartistik mungkin untuk menarik pembeli. Bahkan majalah Playboy versi Thai dan kaset video porno juga digelar di kaki lima. Pergaulan bebas, seks, dan narkotika memang jadi masalah serius di kalangan anak muda Thai. 

Sekar mencari-cari Bedi. 

Seseorang berdiri di jendela. Membiarkan cahaya matahari menamparnya. Dari postur tubuhnya Sekar menerka orang itu adalah Bedi. Tapi Sekar masih menahan diri. 

Beberapa orang main kartu di sofa yang busa sudah amburadul. Di pojok dua orang sedang memetik gitar, menyanyikan lagu-lagu Bob Dylan. 

“Sekar Tomboi,” suara itu akhirnya Sekar dengar lagi.
"Bedi." Sekar mendekati jendela, Segala perasaan bercampur aduk di dadanya. Menggelegak.

Bedi langsung memburunya. Memeluknya. Sekar juga tak ingin melepaskannya. Bedi menciumnya. Sekar tak sanggup menolak. Tak sempat Sekar pikirkan. Ini terjadi begitu saja. Padahal ini adalah ciuman pertama tanpa direncanakan. Buat Sekar ini adalah ciuman kasih sayang. Murni. Yang muncul ketika hati kita sedang diimpit beban. Ciuman yang meminta perlindungan. Pertolongan. 

Sekar menikmatinya.

Betapa bahagia hati Sekar.

Orang-orang di dalam ruangan tak terurus ini seperti tidak peduli. Mereka pun saling berpasang-pasangan. Asyik dengan kesibukannya sendiri.

"Bagaimana kamu bisa hidup dengan mereka, Bedi?" bisik Sekar.

"Iman, Sekar. Kita harus beriman. Pada Tuhan, terutama," kata Bedi sambil menarik Sekar lebih dekat ke jendela.

Sekar semakin berbunga-bunga hatinya. Sekar merengkuh jari-jari Bedi. Mencoba untuk berbagi rasa. Dalam hati Sekar kagum padanya, karena dalam kondisi yang berat seperti ini, Bedi masih bisa menahan diri untuk tak terjerumus pada pergaulan bebas, mengisap ganja dan alkohol; hal yang paling dibencinya! Tapi Bedi lebih menggantungkan sepenuhnya pertolongan itu pada Tuhan. 

Bedi membuka jendela ruangan lebar-lebar. Angin menerpa Sekar. Terasa sejuk. Kota Bangkok yang padat menghampar di depan Sekar. Begitu sesak dilihat dari ketinggian gedung tua ini.

"Aku betul-betul kehilangan Papa sekarang,” kata Bedi, masih pilu.

"Oh!" Sekar cuma bisa memeluknya. "Papamu sekarang dalam keadaan damai, Bedi," hibur Sekar.

"Papaku penjahat," keluh Bedi.

"Tapi, kamu adalah anak yang saleh, Bedi. Bukankah Tuhan akan mengabulkan doa dari anak yang saleh? Berdoalah kamu demi kedamaian papamu di alam kubur sana."

Bedi semakin mendekap Sekar. "Maafkan aku, Sekar Tomboi. Aku sedang bersembunyi. Bule yang aku hajar itu menuntutku ke pengadilan. Mamaku juga terlibat jaringan.mafia. Dia sekarang dipenjara." Tak terdengar lagi kepedihan dalam suaranya.

"Semua orang sekarang mencariku. Polisi, mafia, serta press; dari televisi serta koran. Bahkan beberapa media massa Indonesia pun memburuku. Pusing aku dibuatnya." 

Sekar mendekapnya lagi.
"Aku tak punya siapa-siapa sekarang, Sekar Tomboi,” suaranya perlahan. 1

"Tapi, kamu masih punya aku, kawan-kawanmu di KBRI, serta gank-mu ini," hibur Sekar.

Bedi cuma memeluk Sekar erat-erat. "Aku takut kehilangan kamu, Sekar Tomboi," katanya.

Sekar masih mendekap Bedi.

Terus begitu.
***


"Ayolah ikut aku, Bedi. Di KBRI kamu bisa minta perlindungan," ajak Sekar. 

"Ayahmu kan orang Indonesia. Kamu bisa minta suaka."

Bedi menggeleng, "Nggak, nggak akan aku lakukan itu. Justru karena papaku, KBRI jadi kena aib. Kalau aku masih bertahan di sana, masalahnya akan semakin runyam."

"Kamu kan nggak bersalah, Bedi."

"Tapi bule yang aku hajar itu. Dia mau menuntutku. Aku nggak mau masuk penjara. Aku ingin ke Indonesia!"

Sekar tak bisa memaksanya. Sekar tahu betul perangainya. "Di media massa Indonesia, papamu jadi headline. Jadi perbincangan di mana-mana," Sekar memberi kabar. 

"Oh, ya?" Mata Bedi berbinar-binar. "Aku jadi semakin ingin ke Indonesia. Aku nggak sempat mengikuti perkembangan berita tentang papaku di koran-koran Indonesia."

"Aku membacanya. Aku bisa menceritakannya padamu." 

"Kalau Papa bisa melihat apa yang terjadi di sini dari alam kubur, Papa pasti tertawa karena namanya jadi beken di Indonesia, tanah tumpah darahnya yang justru ditinggalkannya."

Sekar tersenyum getir.

"Apa yang kamu ketahui tentang papaku sekarang?"
"Sampai hari ini, masih belum jelas. Tapi ada tanda-tanda tabir tentang papamu bakal terbuka."

"Oh, ya!" Bedi berseru girang.

"Aku yakin, kamu pasti punya kakek-nenek serta saudara di Banten."

Mata Bedi berbinar-binar; "Aku semakin ingin ke Indonesia!" teriaknya. "Hey, friends! I'll go to Indonesia! My hometown! " teriaknya pada teman-temannya sambil berjingkrak ke sana-kemari.

Kawan-kawannya tampak bersorak senang.

Tapi kegembiraan itu cuma sekejap. Jadi terasa semu. Karena tiba-tiba pintu digedor. Dua orang masuk dengan gelisah. “Police, police! " kata mereka gusar.

Semua orang langsung terlonjak dari tempat duduknya. Mereka menggeliat liar bagai ular Kobra. Bersiap siaga, mencari jalan keluar untuk menyelamatkan diri. Sekar mendengar Bedi memerintahkan mereka untuk berpencar, untuk mengurus diri masing-masing.

Kini Bedi menatap Sekar. Berusaha meninggalkan Sekar. "Kamu nggak akan apa-apa. Di sini saja. Mereka cuma mengincar aku," katanya berat.

"Aku ikut, Bedi," pinta Sekar penuh harap. "Please, bawalah aku ke mana pun kamu pergi."

"Kamu siap ikut denganku?" kedua lengannya mencengkeram bahu Sekar. "Siap dengan segala risikonya?"

Sekar mengangguk. Pengaruh cinta lebih dahsyat daripada apa pun. Cinta sudah menyihirnya jadi makhluk yang cuma mengandalkan perasaan. Logikanya jadi kocar-kacir.

Semua orang kabur lewat pintu belakang. Bedi membimbing Sekar. Menuruni tangga yang merapat di tembok. Masuk lewat celah-celah tembok yang bolong. Di belakang gedung ada gang kecil. Di sana motor besarnya sudah menunggu.

Sekar cuma mengikuti Bedi saja. Dia yakin Bedi akan membawanya ke alam bebas. Lepas terbuka. Tak terlintas apa-apa di benak Sekar selain selalu ingin bersama Bedi; dalam suka maupun duka.

Bedi menyalakan mesin. Memasang helm. Sekar sudah duduk rapat di belakangnya. 

Memeluknya erat-erat. Bedi ternyata hafal seluk-beluk gang. Dan-entah Sekar berada di mana-mereka sudah tertawa-tawa di jalan raya.

Bedi memacu motor sport-nya ke arah selatan kota Bangkok.
"Kamu mau berpetualang denganku?"

"Mau!" teriak Sekar girang.

"Naik motor?"

"Ya!"

"Sungguh?"

"Aku ikut ke manapun kamu pergi Bedi!"

"Why?"

"Because, I love you so much, Bedi!"

"Kita ke Malaysia!" soraknya. "Terus Singapura!" 

"Terus nyeberang ke Sumatra!" tambah Sekar.

"Ke Banten! Kita cari siapa nenek moyangku!" 

Mereka larut dalam kegembiraan anak muda. Tak mereka bayangkan yang buruk-buruk, selain kebersamaan. Selain kegembiraan. Tak pernah terlintas di benak Sekar, bagaimana nanti kuatirnya kedua orangtuanya, kawan-kawannya, atau pihak kedutaan.

Tak pernah.

Yang ada di hati Sekar sekarang adalah: Bedi!
BAB IV

DI STASIUN KERETA


Stasiun Hua Lampong, Bangkok. Sore hari. Bangunannya mengingatkan Sekar pada Stasiun Beos Jakarta Kota. Besar dengan kubah yang melengkung. Cukup sibuk, karena dari sinilah seluruh kereta diluncurkan ke segala arah mata angin. Kereta yang langsung ke Kuala Lumpur serta Singapura tersedia di sini. Mungkin kalau tak terpisah lautan, kereta langsung ke Jakarta pun pasti ada!

Sistem serta mekanisme kerjanya bagus. Profesional. Tak ada calo. Booking tiket lancar untuk hari apa dan tujuan mana saja. Papan petunjuk dipasang di setiap sudut. 

Besar. Memudahkan orang-orang membacanya. Dalam bahasa Inggris dan Thai. 

Lewat papan petunjuk itu, kita bisa tahu kereta jenis apa, hari apa, dan tujuan ke mana saja yang masih tersedia tiketnya. Televisi pun dipajang di setiap sudut untuk pengusir jenuh.

Sekar duduk di taman yang melingkar di depan stasiun. Dia masih kikuk dengan rambut palsunya yang panjang gimbal, model penyanyi reggae Afrika. Beberapa petualang mancanegara tidur-tiduran; kencan dengan gadis Thai sambil makan kacang. Juga anak-anak muda Thai yang menenggak minuman keras. Di trotoar yang melingkari taman berjejer para pedagang asinan, pecel, nasi ketan plus ayam goreng (dan minuman keras). Para pedagang itu cuma berjualan dari pukul lima sore sampai dini hari saja.
Uniknya, para pedagangnya cewek. Pakaiannya pun American style: jeans dan T-shirt. (Bisa kalian bayangkan, cewek berjeans dan kaus oblong putih memikul dagangan, yang biasa dipikul lelaki-lelaki kampung) Kesimpulan Sekar, itulah sisi lain keeksotikan wanita Thai. Mereka sadar memiliki kecantikan atau pesona Timur, yang sering diburu lelaki Eropa atau Amerika.

Sekar menunggu Bedi, yang sedang membeli dua tiket ke Hat Yai, kota terakhir di perbatasan Thai-Malaysia di Selatan. Risikonya sangat besar jika mereka naik motor menyusuri Thai ke perbatasan Malaysia. Bedi kuatir dikenali petugas jalan raya. Mereka akan naik kereta dulu sampai ke perbatasan. Motor sportbesarnya sudah dikirim lebih awal dengan kereta. Tinggal diambil di Hat Yai. Tadi Sekar dan Bedi sudah mengambil uang di ATM dan menukarnya dengan dolar di black market.

Tekad Sekar sudah bulat. Dia tak ingin berpisah dengan Bedi lagi. Dalam kondisi apa pun. Betul juga kata Papa-kini terbukti-bahwa cinta itu buta. Sekar tak peduli. Sekar masih muda. Sekar ingin menikmatinya. Masa muda kan cuma sekali. Apalagi masa remaja, saat masa-masa yang paling indah sedang bermunculan. Indahnya cinta pertama, itulah yang sedang Sekar rasakan bersama Bedi.

Visa bisa mereka peroleh dengan mudah di perbatasan. Malah di ASEAN kita bebas visa, kok. Sekar ke mana-mana selalu membawa paspor (mungkin kawan-kawannya juga). Termasuk Bedi. Untuk jadi warga dunia dalam era globalisasi ini, paspor sudah merupakan kebutuhan sehari-hari ketimbang KTP, karena paspor kartu identitas berharga dan mendunia. 

Oh, tak akan pernah bisa Sekar bayangkan bertualang di atas sadel motor besar bersama kekasih idaman! Menyusuri Malaysia, Singapura, lalu menyeberang lewat Batam, dan here we are, Sumatra! Lepas, bebas, dan oh, betapa indahnya! Cuma bunga, bunga! Cuma pelangi, pelangi! Cuma ombak, ombak! Cuma purnama, purnama!

"Sekar, Sekar Tomboi!" Bedi muncul mengacung-acungkan koran. "Keluarga papaku ketemu!" soraknya penuh sukacita.

Sekar terpesona melihat Bedi. Dengan dandanan grunge dan topi, Bedi sengaja melakukan penyamaran. Begitu juga Sekar. Mereka berusaha tampil hippies, seperti layaknya turis mancanegara.

Sekar berdiri menyambut Bedi dan berusaha membaca koran edisi Thai itu. 

"Terjemahin sama kamu, deh!" Sekar kewalahan juga.
Bedi mengambil koran dari tangan Sekar. Membacanya dengan semangat, "Dulatif, korban pembunuhan mafia itu, berasal dari sebuah kampung di Banten Selatan. Dia punya saudara empat. Dia anak bungsu. Karena perlakuan kakak-kakaknya yang kejam, tanpa disengaja Dulatif mengakibatkan kakaknya yang nomor dua meninggal dalam perkelahian," Bedi mengembuskan napasnya.

Sekar memegangi lengan Bedi.

"Papaku membunuh kakaknya sendiri," kata Bedi lagi tak percaya.

"Itu kecelakaan," Sekar menghiburnya. "Lagi pula papamu membela diri."

Ayah Bedi, Dulatif, menurut cerita koran itu, mendorong kakaknya sehingga terjatuh. Malang ketika jatuh, kepala kakaknya membentur sebuah batu besar! Gegar otak dan mengalami perdarahan di dalam. Sebelum sampai di rumah sakit, kakaknya meninggal di ambulans.
***


Langit barat kota Bangkok mulai meredup. Lembayung merahnya memayungi gedung-gedung bertingkat. Di barat stasiun sebentar lagi akan bergejolak kawasan China town, dengan beragam atraksinya. Jajanan yang mengundang selera; Chinese food serta bioskop-bioskop yang memutar film porno! Di bagian selatannya terdapat kawasan Patpong; bursa seks paling besar di Asia. Sebuah lorong di kawasan bisnis. Jika siang, lorong ini biasa-biasa- saja.

Tapi menjelang senja, hawa lain berembus. Trotoarnya disesaki pedagang cenderamata sampai video porno. Di kiri-kanannya berderet bar dan para anak muda yang tanpa malu menawarkan menu bar malam ini. Saling berlomba menyuguhkan menu dahsyat. Semuanya cuma mengeksploitasi wanita! Seks!

Sekar merasa jijik ketika Bedi mengajaknya melintas di koridor sepanjang tiga ratus meteran ini. Lewat setiap pintu bar yang sengaja dibuka, kita bisa mengintip ke dalam, bagaimana wanita-wanita cantik Thai ber-go go dance.

"Sekadar tahu aja, Sekar Tomboi!" Bedi tertawa.

Sekar marah kepadanya waktu itu.

"Dulu papaku pengunjung setia Patpong. Lalu jadi dewa penyelamat. Mempersunting seorang penarinya, yaitu mamaku!" Tidak ada nada penyesalan saat itu. Lepas begitu saja.

Kini malam sudah jatuh di langit Bangkok. Lampu-lampu di seputar stasiun menyala. Juga di setiap sudut kota. Wanita-wanita penjaja seks pun mulai berkeliaran di seputar stasiun. Mereka berkeliaran bebas. Bahkan yang banci pun bertebaran.

Bedi cuma merenung saja. Koran tadi masih digenggamnya.

"Kalau tak mau meneruskan, ya sudah,” Sekar tak enak. “Kapan kita berangkat?”

“Kita naik kereta tengah malam,” jawab Bedi pelan.

Sekar merebahkan tubuhnya. Kedua paha Bedi dijadikan bantal oleh Sekar. Nikmat sekali melihat ke langit. Bintang-bintang mulai bermunculan. Sayang bulan cuma sepotong.

“Papaku lalu dipenjara di Tangerang. Di Pusat Rehabilitasi Anak-anak Nakal. 
Usianya saat itu dua belas tahun,” ternyata Bedi meneruskan kisah ayahnya. “Di mana itu Tangerang, Sekar Tomboi?”

“Sebelah barat Jakarta. Nggak jauh. Paling cuma satu jam naik mobil.”

“Karena tingkah laku papaku selama masa rehabilitasi baik, dua tahun kemudian dibebaskan. Papaku nggak pulang. Dia hidup di Jakarta. Sebuah keluarga mengangkatnya jadi anak.” Bedi memandang Sekar. “Kamu ngedengerin, Sekar?”

Sekar mengangguk, walaupun matanya masih menatap bintang-bintang di langit. 

"Terusin, dong," katanya manja.

"Papaku jadi pedagang asongan di Jakarta. Terus jadi kenek, sopir mikrolet, dan sopir taksi. Tapi sekolahnya nggak terbengkalai." Bedi berhenti. "Hebat, papaku banting tulang nyari duit untuk biaya sekolahnya!" kekagumannya terlontar.
Sekar juga ikut kagum mendengar kekerasan hidup ayahnya. Tak beda jauh dengan anaknya. Like father like son! batin Sekar.

"Lulus sarjana ekonomi, papaku tak pernah diterima kerja. Alasannya, karena pernah jadi penghuni penjara," keluh Bedi. "Itu nggak adil!" dia memprotes kesal. Lalu, 

"Papaku memilih jadi pekerja ilegal ke Malaysia lewat Pangkal Pinang. Nyeberang ke Thai. Lalu kawin sama penari bugil. Lantas punya anak. Aku."

“Ada lagi?" Sekar penasaran.

“Ada. Ini yang hebat. Anaknya, yaitu ‘aku’, Sekar, ternyata berhasil menggaet putri seorang diplomat!" Bedi tersenyum.

Sekar mencubit pahanya. "Mana! Coba, sini aku baca! Pasti cuma karangan kamu aja!" Sekar berusaha merebut koran.
"Bener! Nih, baca! Nama kamu sama namaku tertulis di sini. Cuma nggak ada fotonya! Wah, kalau ada, beken deh kita! Bisa-bisa kisah kita dibikin telenovela!" Bedi tertawa.

Sekar penasaran mencari-cari berita itu di koran. "Mana, mana?" Sekar merasa dipermainkan. Dia mencubit Bedi lebih keras.

Bedi mengaduh. Lalu menyergap Sekar. Mereka bergulingan di rumput, tanpa peduli sekeliling. Di Bangkok pergaulan memang bebas. Norma-norma tak jelas lagi batasnya. Mereka betul-betul gembira, padahal beragam persoalan berat-Sekar yakin-pasti bakal menghadang.
***


Pukul sebelas malam.

Bedi sedang bercakap-cakap dengan seseorang. Masih di taman di depan stasiun. Serius sekali. Sekitar sepuluh menit kemudian, dia menghampiri Sekar. 

“Ada apa, Bedi?" Sekar cemas. 

"Kamu yakin nggak ada orang dari kedutaan nyariin kamu?" 

“Aku bisa mengenal mereka. Tapi, dengan dandanan seperti ini, mereka nggak akan mengenalku," Sekar mengencangkan ikatan scarf di kepalanya. Rambut gimbal palsunya terbelit. Dia seperti hippies saja. Jauh dari peradaban. Kacamata minus yang dibelinya tadi bikin orang-orang yang dekat dengannya pangling.

"Ya, nggak akan ada yang nyangka kamu dengan dandanan seperti ini. Nyentrik. Aku juga pangling," Bedi tersenyum kecil. "Tapi Andre, gimana?” selidik Bedi. "Apa dia bakal nyari kamu ke sini?"

"Mana berani anak itu!" Sekar menggeleng. 

"Orangtuamu?" 

"Ah, kamu terlalu banyak nanya, Bedi!" 

"Oke, kamu pegang tiket ini, ya. Ingat, namamu yang tertera di karcis ini bukan 'Sekar', tapi 'Chanakya'. Ingat itu. Kamu mirip gadis Thai, kok. Tak akan ada yang menyangka, kalau kamu ini gadis Indonesia." Bedi menyerahkan satu tiket pada Sekar. "Kalau ada apa-apa kita ketemu di kereta. Atau di Hat Yai. Sekadar jaga-jaga aja," katanya sambil mengitari pandang.

Sekar mengingat-ingat nama samarannya. Chanakya, indah juga, pikirnya. " Apakah ada orang yang membuntuti kita?" Sekar melihat ke sekeliling taman. 

Beberapa pemuda bergeletakan, karena terlalu banyak minum alkohol. Di luar taman-di bawah rerimbunan pohon-cuma ketawa cekikikan ladies-boy (julukan pada banci) saja yang terdengar. Orang yang ngobrol dengan Bedi masih berjongkok. Wajahnya tampak waspada.
"Bukan kita. Tapi aku," kata Bedi gelisah. "Ingat baik-baik. Kalau ada apa-apa, kamu berangkat duluan. Aku pasti datang nemuin kamu di Hat Yai," Bedi menyebutkan nama sebuah salon. “Sebut namaku. Pemilik salon itu adalah sahabatku. Dia sering menang taruhan jika memasang aku bertarung Thai boxing. Dia pasti akan merawatmu.”

Sekar jadi cemas. “Apa yang bakal terjadi padamu, Bedi? Pada kita?”

Kalau kamu ragu-ragu, saat ini adalah yang paling tepat untuk pulang. Aku nggak keberatan. Tekadku udah bulat. Aku nggak mau dipenjara. Aku mau ke Indonesia. Mau nyari ‘siapa leluhurku’.”

“Nggak, Bedi. Aku akan selalu di sisimu. Ke mana pun kamu pergi. Apa pun yang terjadi,” kata Sekar, tak tahu lagi mana batas antara logika, perasaan, dan cinta.

“Percayalah, aku akan menemuimu di kereta,” Bedi meyakinkan. 

Sekar berusaha mengangguk. Ini agar memudahkan persoalan. Kalau ikut-ikutan ruwet, Sekar yakin itu malah akan tambah membebani pikiran Bedi.

"Ya, aku tunggu kamu di kereta, Bedi," kata Sekar tersenyum. "Aku yakin kamu bakal datang. Aku percaya padamu."

Bedi tersenyum. Dia meraih pundak Sekar. Memeluknya. Katanya pelan, "Sayang aku nggak sempat mengunjungi makam Papa. Menengok Mama di penjara. Kasihan Mama." Mata Bedi berair.

Sekar ikut merasakan kegetiran hidup Bedi.

"Yuk." Bedi menarik Sekar. "Time for flight!”

Sekar bangkit dengan gairah yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Tapi Bedi menyuruh Sekar untuk merunduk lagi.

Bedi berbisik, "Kamu jangan percaya sama orang-orang sekarang. Tujuanmu cuma kereta api ke Hat Yai. Itu nggak akan mengubah tujuan kita. Paham?" Wajahnya serius sambil mengulangi lagi perkataannya, "Kita ketemu di atas kereta. Ingat, kamu nggak akan apa-apa. Mereka cuma mengincarku."

"Siapa mereka?"

"Bisa polisi, bisa kedutaan, dan bisa juga mafia."

Sekar berusaha untuk tak memperlihatkan rasa takutnya.

"Ingat, nama salon di Hat Yai itu. Don't worry, Honey. We'll be all right,” Bedi meyakinkan Sekar. "Jadi pacar saya harus pemberani," senyumnya. "Ayo, pergi sana. See you on the train."
Sekar mengumpulkan keberanian untuk keluar dari taman. Masih terngiang-ngiang omongan Bedi tadi, "Jadi pacar saya harus pemberani." Harus pemberani. Ya, Sekar harus berani! Sekar menyandang tas punggungnya. Bedi dan kawannya masih berjongkok di taman memperhatikan Sekar. Sampai di pintu gerbang stasiun, Sekar merasa aman-aman saja. Tak ada orang yang mencurigakan.

Beberapa langkah kemudian, Sekar menengok. Bedi dan kawannya sudah tak ada di taman.

Sekar masuk ke pelataran stasiun yang luas dan bersih. Ikut arus orang-orang, yang hendak menuju selatan Thai. Loket-loket masih ada yang buka. Beberapa cafe juga. Stasiun ini tak pernah mati. Orang-orang terkantuk-kantuk di kursi. Beberapa traveller mancanegara ada yang tidur-tiduran di bangku. Mungkin mereka baru tiba dari Malaysia. 

Di pos informasi Sekar melihat Papa, Mama, serta Andre! Mereka meneliti seluruh stasiun. Orang-orang. Satu per satu. Ingin sekali dia berteriak memanggil kedua orangtuanya. Tapi mulutnya langsung dikunci. Matanya nyalang ke seluruh stasiun. Beberapa petugas keamanan dari kedutaan yang dikenalnya dengan pakaian preman lalu-lalang ke setiap sudut.

Sekar berdebar-debar. Dia membetulkan letak kaca mata minusnya. Rambut gimbal palsunya terasa gatal. Ingin sekali dia melepasnya. Dia merasa usaha penyamarannya akan sia-sia. Dia merasa penyamarannya akan terbongkar. Oh! Dadanya bergemuruh. Lututnya gemetar.

Tapi belum ada yang mengenalnya.

Sekar menyelip di antara dua orang turis Eropa. Dia ikut arus orang-orang. Bahkan dengan konyol menggandeng seorang turis Eropa, yang cuma angkat bahu. Sekar berbisik-bisik, bahwa dia sedang dikuntit orang-orang. Dia minta bantuan pria bule itu untuk membantu penyamarannya. Pria bule itu dengan suka cita membantu Sekar. Malah menggandeng pinggang Sekar segala dengan mesra. 

Ketika karcis Sekar sudah dilubangi petugas, di pojok pelataran stasiun ada ribut-ribut. Dua kelompok anak muda saling baku hantam. Sekar tak jadi masuk ke platform. Dengan perasaan tak menentu dia menuju kios-dagangan. Sambil bersembunyi dia memperhatikan perkelahian itu.

Perkelahian itu sangat seru. Tapi Sekar tak melihat Bedi di sana. Beberapa orang yang sedang bertarung dikenalnya sebagai anak buah Bedi, yang pernah dilihatnya di gudang tua itu. Mereka kawan-kawan Bedi. Sekar merasa ini adalah usaha Bedi untuk mengalihkan perhatian darinya.
Semua orang terpusat pada perkelahian itu. Mama, Papa, Andre, dan orang-orang dari kedutaan. Sekar punya kesempatan untuk melenggang menuju kereta. Apalagi ketika seseorang tak dikenalnya-pasti anak buah Bedi-menariknya untuk naik ke kereta. Pemuda Thai ini menggandengnya dengan mesra, seolah-olah mereka sepasang kekasih saja.

"Jangan takut," kata si pemuda dengan anting di telinga kiri. "Perkelahian tadi cuma bohong-bohongan. Itu untuk mengacaukan suasana saja,” kata si anting dengan bahasa Inggris fasih.

Sekar naik ke gerbong pada saat yang kritis. Kereta sudah bergerak. "Bedi, bagaimana?" tanyanya cemas.

“Seperti yang dia janjikan, kamu akan melihatnya di kereta."

"But, how?"

"Seseorang akan membawanya dengan motobike. Bedi akan naik di stasiun Prachuap Kiri Khan. Dia akan menemuimu di sana.”
***


Kereta api berdesis meninggalkan stasiun Hua Lampong, Bangkok. Desisannya bagai rintihan seorang anak, yang mendambakan kebahagiaan. Menyayat hati. Membuat pilu. 

Sekar duduk sendirian. Seharusnya Bedi duduk di sebelahnya. Dia meraba-raba kaca jendela kereta api.

"Mi a'rai thi mai samrej?" seorang wanita tua yang duduk di depannya tersenyum menegur. Lelaki tua-pasti suaminya-yang duduk di sebelahnya juga menanyakan hal yang sama, tentang ‘apakah keadaan Sekar baik-baik saja’.

Sekar tersenyum pertanda tak ada apa-apa. “Chan sabaidi,” katanya.

“Oh, kamu bukan Thai," kata si Suami.

“Saya orang Indonesia," Sekar mengaku.

Sepasang suami-istri ini terpekik senang. Mereka pun bercerita dalam bahasa Melayu, bahwa mereka akan liburan ke Kuala Lumpur, mengenang masa-masa muda yang sudah terlewat dulu.
“Sekalian kami mau ke Singapura. Menengok cucu,” si Istri tersenyum bahagia.

Kereta terus saja melaju membelah Thai menuju selatan.

Sekar terlena.

Beberapa stasiun kecil terlewati. 

Beberapa kota terlalui. 

Semua seperti berpacu.
***


Sekar tertidur beberapa saat di paha Bedi ketika kereta malam melaju meninggalkan stasiun Prachuap Kiri Khan. Walaupun tubuh dan pikirannya lelah, tapi hatinya bahagia. Bedi melindungi Sekar dengan kedua lengannya yang kokoh. “Kamu nggak tidur?” Sekar menggeliat bangun.

Bedi menggeleng. Wajahnya tampak selalu waspada.

Beberapa saat setelah kereta melaju meninggalkan Prachuap, Bedi muncul sambil tersenyum. Dalam keadaan gawat, dia masih bisa menghibur Sekar dengan sifat riangnya. Padahal Sekar sudah putus asa, kuatir Bedi tak akan dijumpainya lagi.

“Apa aku bilang, Sekar Tomboi!” Bedi tersenyum.

“Bagaimana kamu bisa sampai di sini?”

“Dengan bantuan Tuhan." Bedi duduk di sebelah Sekar. Lalu bercerita, bahwa dia bersama temannya ngebut naik motor di jalanan menembus malam. Dengan cara seperti itu, Bedi berhasil menghindar jebakan polisi di stasiun.

"Good bye, Bangkok," bisiknya lirih menatap ke luar jendela.

Sekar bisa merasakan apa yang sedang berkecamuk di dada Bedi saat ini. Bangkok adalah hidupnya. Segala macam kekerasan hidup di Bangkok adalah setiap detik napasnya. Kini dia sedang menuju ke sebuah babak hidup baru. Sekar tak bisa meramal, apakah Bedi akan berhasil menginjakkan kakinya di tanah Indonesia. Di bumi Banten, yang diimpi-impikannya. 

"Suatu saat kamu akan kembali ke Bangkok, Bedi. Menemukan lagi hari-harimu yang terlewat di sini," kata Sekar sambil menatapnya dengan mesra.

Bedi masih saja melihat ke luar. Tangannya meraba-raba kaca jendela. "Andai saja di sini, selain kamu, hadir Papa dan Mama. Oh, betapa bahagianya aku," suaranya serak. 

"Yang berantem di stasiun tadi anak-anak mana Bedi?"
"Anak-anak dari China town. Mereka menyelamatkan kita. Aku lihat Andre mencak-mencak, karena nggak berhasil menangkap aku. Dia pikir dia akan berhasil menggagalkan kepergian kita." "

Sekar menggigit bibir ketika mengingat Andre.

"Aku berutang budi pada Khaosai, Piamong, Samsai, dan Chumsak. Mereka mengorbankan dirinya untuk aku. Untuk kita. Malam ini mereka harus tidur di penjara.”

"Semua orang harus hidup dalam ketergantungan dengan orang lain. Saling tolong-menolong. Aku pikir mereka tak sia-sia mengorbankan hidupnya satu malam tidur di penjara untukmu, Bedi. Untuk pemimpin yang mereka hormati," Sekar membesarkan hati Bedi.

"Ya, betul katamu, Sekar Tomboi, Tapi suatu saat, aku akan membalas budi baik mereka." Bedi memejamkan matanya. "Sekarang kamu tidur lagi," saran Bedi. "Salah seorang dari kita harus kelihatan segar. Itu penting dan sangat dibutuhkan pada saat-saat genting nanti."

Sekar malah jadi tak bisa tidur. Dia memperhatikan penumpang yang duduk di depan mereka. Cuma suami-istri yang sudah tua, sedang asyik bermimpi. Di bangku sebelah, ada empat lelaki, yang juga terkantuk-kantuk. Tak ada yang mencurigakan. 

Bedi tiba-tiba gelisah. Wajahnya tegang. 

"Ada apa?" Sekar hendak melihat ke depan. 

Tapi Bedi mencegah. "Mereka nggak mengenalmu. Usahakan untuk berbahasa Thai. Atau, tidur aja yang pulas. Mereka mencariku. Aku harus pergi. Nanti kita ketemu lagi," katanya tanpa meminta persetujuan Sekar.

Lalu Bedi berbicara pelan-pelan dengan sepasang suami-istri tua itu. Entah apa yang dibicarakan mereka. Tapi Sekar melihat gelagat baik, ketika mereka tersenyum ramah.

"Jangan kuatir, mereka akan menolongmu," bisik Bedi. "Sekarang, kamu tidur yang nyenyak.” Lalu, “Phom rak khun," Bedi mengatakan perasaan cintanya dalam bahasa Thai kepada Sekar.

Walaupun tergesa-gesa, tapi bagi Sekar kedengarannya begitu romantis. Sekar mencoba mencari Bedi, tapi dalam sekejap Bedi menghilang.

Tiba-tiba terdengar ribut-ribut di pintu di ujung gerbong arah depan. Ada pemeriksaan penumpang. Ternyata ini yang dikuatirkan Bedi. Entah apa yang akan dilakukannya. Sekar cuma bisa berdoa pada Tuhan.

Dua orang polisi dan seorang petugas kereta api bukannya memperhatikan serta menanyai semua penumpang, malah memperlihatkan sebuah foto kepada para penumpang. Ini gawat. Sekar betul-betul gelisah. Rasanya seperti mau kencing. Sekar berusaha untuk tidur. Berdoa. Berdoa. Berdoa pada Tuhan. Itu saja. Sekar memicingkan mata.
Para petugas itu sudah semakin dekat. Ah, kenapa Bedi meninggalkan Sekar sendirian dalam kegelisahan ? Suami-istri di depan Sekar menyuruhnya untuk tenang.

Please, tidurlah," kata wanita tua itu.

Sekar mengangguk dan mencoba untuk tidur.

Pemeriksaan semakin dekat. Sekar merasa kedua polisi itu hendak membangunkannya. Sekar menyembunyikan wajahnya di balik topi. Kacamata minusnya sengaja dipakai. Kedua polisi itu memperhatikannya. Mencocokkannya dengan foto di tangannya. Sekar mendengar si suami mencegah para petugas untuk membangunkannya.

"Dia anak kami. Sedang sakit. Jangan diganggu," kata si suami dalam bahasa Thai.
Oh, inilah pertolongan Tuhan! Sekar mengucap syukur. Tapi, di manakah kamu, Bedi? hatinya gelisah.

Beberapa saat berlalu.

Suara kereta mendesis memecah kesunyian malam.

Sekar merasa ada yang menyentuh tangannya. Dadanya lega ketika suami-istri itu tersenyum. Sekar mengucapkan terima kasih berkali-kali, "Kho khun kap."

Suami-istri yang baik hati ini mengangguk-angguk.
BAB V

DI PERBATASAN


Sebuah kereta api dari arah berlawanan mengagetkan Sekar. Suaranya bergemuruh bagai geledek. Sekar terlonjak. Dia melihat Bedi masih belum hadir di sisinya. Sekar mencoba mengintip ke luar. Tapi dia tidak tahu kereta berhenti di stasiun apa.

Hari hampir pagi.

Sekar merasa kesepian sekali.

Wanita tua di depannya tersenyum sambil menyodorkan surat. "Seseorang mengantarkan surat ini. Dari pacarmu, mungkin," kata wanita tua baik hati itu.

"Sudah berapa stasiun dilewati, Tante?" Sekar melihat ke luar jendela.

"Cuma dua stasiun kecil,” jawab suaminya.
Sekar buru-buru membuka surat, yang ditulis tergesa-gesa itu. Dari Bedi. Sekar membacanya dengan cemas: 

Sekar Tomboi!
Aku tadi turun di stasiun kecil Aku lewat darat lagi. Biar aman. Biar jejak kita nggak terlacak. 
Rencana kita turun di Hat Yai batal aja.
Kemungkinannya gawat. Aku yakin orang-orang kedutaan pada nongkrongin kita di sana. Untuk cari aman, sekarang kamu ikuti petunjukku, ya. Kamu turun di stasiun kota... (tanyain deh sama suami-istri yang duduk di depanmu). Terus dari stasiun kamu naik becak. Sebutin nama sebuah restoran…. Nanti kita sarapan pagi di sana. Jangan takut, ya. Ingat, jadi pacarku harus pemberani. Sampai jumpa, Sekar Tomboi. Don't worry, I'll be there for you!
***


Sekar mendekap surat itu ke dadanya. Air matanya mengalir. Sebetulnya dia mulai merasa lelah melakukan "petualangan cinta" ini. Tapi, senyum Bedi meniupkan semangatnya yang hampir padam. Entah apa yang akan terjadi pada Bedi, jika Sekar memutuskan menghentikan segalanya ini. Dia tak sampai hati melakukannya. Biarlah ini ierjadi. Bukankah hidup itu harus saling tolong-menolong? Ini ibadah, namanya.

Sekar membayangkan, bagaimana Bedi jungkir balik memperjuangkan semangat hidupnya; ingin menginjak tanah leluhurnya di Banten. Padahahal ancaman penjara karena penganiayaan terhadap si bule-pacar gelap mamanya-menanti. Paling tidak, Bedi bisa dituduh melakukan tindak pidana dan kena ancaman kurungan dua atau tiga bulan.

Risiko yang dihadapi Sekar pun tak ringan. Setidak-tidaknya, dia ikut membantu pelarian ini. Tapi, Sekar sudah tak bisa mundur lagi. Kalau kepepet, mungkin dia bisa berlindung di balik papanya yang seorang diplomat. Setidak-tidaknya fasilitas kebal hukum bisa menolongnya nanti. Lagian aku nggak melakukan apa-apa, bisik Sekar meyakinkan hatinya agar tak gelisah. 

Lalu Sekar menanyakan stasiun yang di maksud Bedi dalam surat pada suami-istri di depannya. Kata mereka setelah dua stasiun kecil lagi, kereta akan berhenti di stasiun yang dimaksud.

"Cinta memang dahsyat," si suami melirik istrinya. "Kami dulu kawin lari. Orang-tua istri saya tidak menyetujui perkawinan kami."

Si istri cuma tersenyum saja.

"Tapi sekarang, kami punya dua anak dan dua cucu," si suami tertawa. "Yang pertama, lelaki, ada di Amerika. Dia menikah dengan gadis Amerika. Yang kedua, perempuan, ikut suaminya-orang India di Singapura."

Sekar mengangguk-angguk.

"Tapi, kamu jangan gegabah dengan cinta. Harus ada perhitungan yang matang. Apalagi kamu masih muda. Jalanmu masih panjang. Bicarakanlah baik-baik dengan orangtuamu. Bagaimanapun, restu orangtua adalah hal yang terbaik," si suami memberi nasihat.

Sekar merenungkannya, walaupun dari detik ke detik, seluruh tubuhnya bergetar. Dari menit ke menit, darah Sekar bergolak. Dua jam sudah, keringat mulai menghiasi keningnya.

"Hati-hati, ya,” kata si istri.

Sekar menjinjing tas punggungnya. Lalu mencium pipi wanita tua yang sudah menolongnya itu, serta menyalami si suami. Sekar berjalan ke pintu gerbong kereta.

Kereta mulai perlahan. 

Hari sudah terang.

Terdengar suara mendesis. Kereta terlonjak. Lalu berhenti di stasiun kecil. Pedagang asongan langsung menyerbu ke jendela, menawarkan sarapan pagi. Di Thailand, pedagang asongan dilarang keras naik ke gerbong. Mereka cuma melakukan transaksi di jendela kereta saja. Tertib. Di dalam kereta, jual-beli cuma di1akukan para awak kereta.

Sekar turun dari kereta. Entah ada di daerah mana ini. Tapi ketika angin berkesiur, dia merasakan wangi laut. Ini pasti daerah pesisir. Pohon kelapa pun tampak di sana-sini. Kini dia merasa terganggu lagi dengan rambut gimbal palsunya. Gatal. Gerah. Ingin sekali mencopotnya. Tapi, dia kuatir papanya sudah menyebarkan orang-orang kedutaan atau polisi Thai ke setiap penjuru kota. ini. Tapi sedikit pun dia tak merasa gentar. Jadi pacarku harus berani, kalimat Bedi itu seperti jimat dalam perjalanannya kali ini.

Kehadirannya agak menarik perhatian, karena rambut gimbalnya yang aneh, walaupun secara fisik dia tak jauh beda dengan gadis-gadis Thai. Beberapa sopir tuk-tuk menawarkan jasa. Sekar menggeleng. Dia berjalan ke luar stasiun. Mencari pangkalan motor ojek.

Di pelataran stasiun motor-motor ojek dan tuk-tuk berjejer. Setiak joki ojek memakai rompi yang berbeda warnanya. Warnanya itu menandakan trayek ke arah mana. Ongkosnya jauh dekat cuma 10 Bath (sekitar seribu perak).

Di luar stasiun becak-becak terparkir rapi. Di Thailand model becak beragam. Ada yang pengemudinya di samping tempat duduk penumpang seperti becak di Malaysia, atau penumpangnya di belakang si pengemudi seperti becak-becak di India. 
Sekar mendekati mereka. Menyebut nama restoran yang di maksud Bedi dalam surat itu. Tak ada tawar-menawar, karena jaraknya tak begitu jauh. Sekitar sepuluh menit, becak pun berhenti di sebuah restoran Cina. Sekar membayar 10 Bath. Harga yang pantas.

Restoran Cina sepagi ini sudah ramai. Sekar masuk dengan ragu-ragu. Mengambil tempat di sudut paling dalam. Seorang pelayan mendekati, menawarkan menu. Sekar mengelilingi ruangan lewat ujung matanya. Belum ada tanda-tanda Bedi muncul.

Seorang lelaki Cina bertubuh pendek dan gemuk menghampirinya. Mengajaknya bercakap-cakap dalam bahasa Melayu. Di Thai Selatan, orang-orang memang banyak yang mempergunakan bahasaMelayu. Letak geografisnya sudah berdekatan dengan Malaysia. Malah penduduknya pun banyak yang beragama Islam. Wat (kalau di Indonesia: candi) dan mesjid saling berdampingan. Santri Islam dan para biksu Budha jalan beriringan.

"Nona bernama Sekar?" tanya si Gemuk.

Sekar menelitinya. "Chanakya," jawab Sekar hati-hati.

"Don't worry, Nona," senyum si Gemuk bersahabat. “Ayo, follow me." Dia berjalan ke ruangan belakang.

Sekar berdiri. Dia mengikuti naluri saja. Di belakang restoran ada halaman yang lebar. Sekar hampir saja menjerit, ketika Bedi berdiri di bawah pohon kelapa. Bedi tampak segar. Rambutnya basah habis dikeramas.

Sekar berlari. Memeluknya. Menangis dalam dekapannya. " Aku pikir, aku nggak akan melihatmu lagi, Bedi,” isaknya.

"Mandi dulu, sana!" Bedi mendorongnya dengan lucu.

"Huuu!" Sekar merajuk.
***


"Jadi kita nyeberang ke Malaysia lewat Sungai Kolok?" tanya Sekar.

“Aku pikir itu jalan terbaik,” jawab Bedi.

Sungai Kolok adalah pintu perbatasan Thai-Malaysia yang lain. Untuk menyeberang ke Malaysia ada tiga pintu gerbang. Dari pintu Perlis, Kedah, dan Kelantan. Kali ini Bedi mengambil pintu gerbang Sungai Kolok dan masuk lewat Rantau Panjang, Kelantan Malaysia. Yang paling enak sebetulnya lewat Hat Yai, karena berbatasan dengan kota Padang Besar, Kedah. Dari sana tinggal naik feri ke Penang, lalu nyambung ke Medan!
"Sepeda motor kamu, gimana?"

"Sudah kujual, Duitnya udah ditransfer ke account bank aku. Nanti aku beli lagi di perbatasan Malaysia."

“Apa nggak sebaiknya kita naik bus atau kereta saja ke Kuala Lumpur?" usul Sekar. 

"Kita kan mesti menjaga kesehatan."

"Iya, usulmu bagus juga."

Lalu semalaman mereka terkantuk-kantuk dalam bus menuju perbatasan Sungai Kolok. Tangan mereka saling berpegangan. Hati mereka saling bertautan. Tak akan ada lagi yang bisa memisahkan mereka.

Hari masih pagi benar ketika mereka sampai di Sungai Kolok, kota permata di Selatan Thai, yang berbatasan dengan Kelantan, Malaysia. Kota ini berupa kotak-kotak pertokoan, panas dan berdebu. Tapi dinamika terasa di sini. Kota ini, seperti juga namanya, menyeramkan. Sumbang. Kota ini adalah black area. Istilah orang-orang sini, kota Koboi.

Kedua negara ini dibatasi oleh Sungai Kolok (kadang dipelesetkan jadi Sungai Golok!). Pada waktu tengah malam sering ada pelintas batas dari Thailand ke Malaysia. Malaysia memang bagai lampu neon, karena begitu banyak lowongan pekerjaan. Seperti halnya para tenaga kerja Indonesia, yang banyak menyeberang secara ilegal lewat Pangkal Pinang. Bahkan yang seram, para penyelundup juga memanfaatkan sungai ini. Mulai dari senjata sampai narkotika!

Bedi mengajak Sekar ke sebuah losmen murah. Istirahat sejenak; membasuh debu serta keringat. Di lobi losmen banyak gadis Thai berjemur. Ada yang mengerling pada Bedi. Sekar memasang wajah angker. “Lumayan, sepagi ini udah ada yang naksir," Bedi tertawa.

"Hih, seleramu jorok!" Sekar protes.

Di hampir semua hotel di Thai, dari kelas melati sampai yang berbintang, bisnis prostitusi selalu ada. Gadis-gadis muda menawarkan tubuhnya. Seks adalah jalan pintas paling mudah dan digemari di sini. Bahkan pemerintah Thai tak mau tahu dengan ulah para agen perjalanan, yang menawarkan paket wisata Sex Holiday pada para turis mancanegara. Tak aneh di antara negara-negara ASEAN, Thai menduduki peringkat pertama dalam menggaet devisa negara lewat sektor pariwisata. 

“Kapan kita nyeberang?” Sekar melemparkan tubuhnya ke kasur sambil membuka gimbalnya. Sekar melihat seisi kamar. Ada kipas angin di atap, mirip baling-baling helikopter. Kamar mandi kecil, serta meja kecil di sisi tempat tidur, yang kasurnya sudah kempes. Ukuran kamar ini tiga kali tiga meter.

"Entahlah," Bedi duduk di kursi kayu, yang cuma satu-satunya. "Aku lelah. Cemas."

Sekar memejamkan matanya.

“Kalau di perbatasan nanti ternyata kita tertangkap, apa yang akan kita lakukan selanjutnya? Apa yang akan terjadi padaku ?"

"Kita nggak akan tertangkap,” suara Sekar pelan.

"Kalau aku dipenjara, apakah kamu akan menungguku?"

"Hhmmm?"

"Paling-paling aku didakwa penganiayaan. Mungkin tiga bulan."

Tak ada suara. 

"Sekar?" Bedi melihat Sekar tertidur pulas. Dipandanginya wajah gadis idamannya itu. Jika Bedi berada di sisi Sekar, betapa damai hatinya.

Pelan-pelan Bedi bangkit. Dia tak ingin ada bunyi sedikit pun, karena takut akan membangunkan Sekar. Lalu dia mendekati tempat tidur, mengecup kening Sekar, Gadis Tomboi itu menggeliat. Lalu tertidur lagi.

Bedi memandangi tubuh Sekar lama-lama. "Aku mencintaimu, Sekar," bisiknya lirih. 

"Apa pun yang terjadi padamu, aku akan selalu melindungimu. Apa pun yang harus aku korbankan untukmu, aku rela."

Sekar menggeliat lagi. 

Bedi membalik. Membuka pintu kamar pelan-pelan. Bunyinya berderit.

“Mau ke mana, Bedi?" Sekar terbangun.

"Aku mau lihat situasi dulu," kata Bedi.

"Kamu istirahat saja."

"Jangan lama-lama, ya," Sekar bangkit. Berjalan mendekati Bedi. Memeluknya dari belakang. Seolah tak ingin melepaskannya, "Aku juga mencintaimu, Bedi," bisiknya. 

“Aku mendengar apa yang kamu omongkan tadi."

"Aku kira kamu tidur."

"Malah kupikir tadi aku sedang bermimpi."

Bedi membalik.

Angin pagi berembus lewat jendela kamar.
***

Pintu gerbang check point Sungai Kolok ini dibangun tidak menutupi lebar jalan, tapi dibangun memanjang. Pos-posnya berjejer di pinggir. Kesannya seperti dibiarkan melompong; mempersilakan siapa saja untuk masuk ke wilayah Thai. Menurut prosedur pun, jika masuk lewat Malaysia, cuma membayar 30 ringgit untuk dua bulan visa. Tak ada pemeriksaan atau bongkar-bongkar tas.

Bedi menuntun Sekar. Mereka antre dengan berdebar-debar. Tapi tak ada seorang pun yang mereka kenal. Siang ini cukup banyak pelintas batas yang hendak ke Malaysia. Ada yang dari India, Srilanka, Nepal, Bangladesh, Myanmar, serta Pakistan. Mereka adalah para pencari kerja. Di Malaysia pekerjaan memang mudah didapat. Sekarang saja dua juta tenaga kerja Indonesia dibutuhkan di Malaysia!

Ketika giliran paspor Bedi dan Sekar diperiksa, petugas meneliti wajah mereka. Paspor mereka tertahan beberapa saat. Para petugas seperti sedang membicarakan sesuatu.

Sekar melirik Bedi.

Ketegangan merembesi tubuh mereka.

Ketegangan pun luber seketika, karena mereka dipersilakan untuk melintasi perbatasan. Tak terbayang suka citanya mereka.

Sambil bergandengan, mereka meninggalkan pos perbatasan Thailand. Di depan mereka kini terbentang check point Rantau Panjang, Malaysia, yang dipagari jeruji besi. Kesannya tertutup. Negeri persemakmuran Inggris ini memang selektif pada para pelintas batas. 

“Aku nggak percaya bisa lolos." Sekar menengok ke belakang.

“Aku juga," Bedi berteriak-teriak girang. 

"Tapi, jangan gembira dulu. Masih ada satu pos lagi di depan," Bedi menunjuk ke pos perbatasan Malaysia.

"I am coming, Indonesia!" teriak Bedi girang.

“Huss, jangan takabur dulu!” Sekar mengingatkan.

Mereka kini mulai berjalan di atas jembatan Sungai Kolok. Tapi baru beberapa langkah saja, mereka melihat beberapa orang muncul dari arah depan dan belakang. 

Sekar mengenal beberapa dari mereka adalah petugas intel dari kedutaan.

“Oh, ini jebakan, Sekar!” Bedi gemas dan tegang. Tangannya terkepal. Dia gelisah. Kedua kakinya mengentak-entak.

Sekar mencekal lengan Bedi. Menyuruhnya tenang. "Apa yang akan kamu lakukan, Bedi?" Sekar ikut cemas.

“Aku nggak ingin masuk penjara!" Bedi mendekati pagar jembatan. Dia melihat ke air sungai yang cokelat. Tapi percuma juga melompat ke sungai, karena tak akan bisa lolos. Para petugas akan dengan mudah menangkapnya. Ah, tak ada jalan keluar untuk melarikan diri! Bedi sudah dikurung oleh petugas keamanan. Dua orang petugas yang hendak meringkusnya, berhasil dibuatnya tersungkur oleh tendangan kakinya. Bedi betul-betul sudah siap untuk bertarung mempertahankan kebebasannya.

"Jangan lakukan itu, Bedi!" Sekar mencegah.

"Sekar!" suara teriakan ini dikenalnya.

Sekar melihat dipos perbatasan Malaysia Papa dan Mama menunggunya. Malah mamanya melambaikan tangan padanya. Tiba-tiba ada ketakutan muncul di dada Sekar. Dia tak tahu harus melakukan apa. Dia jadi ragu-ragu tintuk meneruskan perjalanannya.

Papa dan Mama Sekar sudah berada di dekat mereka.

"Bedi, jangan bodoh! Jangan menambah runyam persoalan! Menyerahlah baik-baik!" kata papa Sekar. "Kami akan membantumu! Percayalah!"

"Aku lebih balk mati daripada dipenjara!" katanya. "Aku ingin ke Indonesia!" teriakan, Bedi kali ini membuat orang-orang bergidik mendengarnya. Seorang petugas yang hendak mencabut pistol diterjangnya. 

Terdengar suara letusan ke udara. Tembakan peringatan. Beberapa orang sudah menodongkan pistol ke arah Bedi.

Semua orang terpaku ke bumi.

Bedi menjadi pesakitan di titik pusat lingkaran. 

“Oh!" Sekar mengejar Bedi. Memeluk untuk melindunginya. "Please, don't shoot him!" teriaknya menangis. 

"Sekar,” Mama berusaha meraihnya. "Kemarilah, Sayang. Jangan membuatmu celaka," Mama pun menangis. 

Papa mendekati komandan petugas keamanan. Terjadi perdebatan seru. Lalu sang komandan menyuruh anak buahnya untuk kembali menyarungkan pistol. 
Bedi mendorong Sekar untuk melepaskannya. "Pulanglah, Sekar," katanya. 
"Biarkan aku pergi. Mungkin dengan cara seperti ini, aku bisa berkumpul lagi dengan Papa."

"Oh, jangan konyol, Bedi," isak Sekar. "Kenapa kamu jadi loyo seperti. ini? Apatis dan putus asa?"

"Hidupku sudah nggak ada artinya lagi, Sekar." 

“Itu salah, Bedi. Kamu masih punya aku, dan leluhurmu di Banten.”

“Dipikir-pikir, kalau aku ke Indonesia percuma juga. Mereka pasti nggak akan menerima aku, anak seorang penjahat! Papaku kan sudah mereka buang!”

“Kenapa kamu berubah pikiran, Bedi?"

Dua orang petugas berhasil menarik Sekar. 

"Kenapa kamu jadi pengecut, Bedi!" Sekar menangis histeris. “Lepaskan!” Sekar meronta-ronta. “Lepaskan!"

“Maafkan aku, Sekar!" Bedi menerjang kerumunan. Melabrak mereka seperti banteng ketaton. Bedi bertarung seperti siap untuk mati.

Beberapa orang sempat keder juga melihat kehebatan Bedi dalam berkelahi. Tapi para petugas keamanan jumlahnya terlalu banyak. Bedi berhasil diringkus.

Tangis Sekar semakin menjadi-jadi. Dia kini berlindung di dada Mama. Dia bisa merasakan betapa hancur hati Bedi, karena mimpi-mimpinya tentang Indonesia musnah. Mimpi-mimpi yang sedang mereka bangun.

“Sekar, sadarlah,” suara mamanya.

Sekar tersentak. Tiba-tiba saja dalam sekejap, dia dikelilingi oleh orang-orang yang dekat dengannya: Papa, Mama, dan beberapa orang dari kedutaan. Tapi amarahnya dalam sekejap memuncak, ketika dilihatnya Andre tersenyum sinis padanya.

"Sekarang kamu puas, Andre!" Sekar menyerbunya. Berusaha memukuli tubuhnya.
Andre diam saja, walaupun senyum kemenangan tersungging di bibirnya.

Papanya menahannya. "Seharusnya kamu berterima kasih pada Andre. Kalau nggak ada Andre, kamu pasti sudah dibawa kabur Bedi," papanya memperingatkan.
"Andre-lah yang mengusulkan untuk mencegat Bedi di sini," tambah Mama.
Sekar menangis di pelukan Mama. "Tolonglah Bedi, Pa," isaknya memelas. 

"Bedi nggak bersalah. Bedi cuma ingin pulang ke Indonesia. Bedi ingin mencari leluhurnya di Banten." 

Papanya menggeleng."Semuanya sudah berakhir, Sekar," kata Papa.

Sekar tersedu-sedu. "Bedi nggak menculik Sekar, Papa. Sekar sendiri yang ikut dengannya,” isaknya. "Sekar siap jadi saksi yang meringankan untuk Bedi, Pa."
Papanya mengangguk. "Nanti kita bicarakan hal itu," ujar Papa. "Sekarang kita pulang dulu."

Sekar meraung-raung. Dia meronta-ronta, melepaskan diri dari pegangan mama dan papanya. Dia berlari mengejar Bedi. Tapi beberapa petugas keamanan kedutaan memeganginya.

"Bedi, Bedi!" panggilnya.

Bedi menoleh. Dia melihat Sekar sebentar. Kedua lengannya diborgol. Dia dibawa naik ke kendaraan dengan loyo. Dia tak sanggup mengucapkan kata-kata perpisahan pada Sekar, gadis impiannya. Segalanya sudah percuma. Tak ada lagi yang tersisa dalam hidupnya. Papanya tewas. Mamanya di penjara. Cadis idamannya terlepas. Mimpi-mimpinya tentang Indonesia dan Banten pun hangus terbakar.

Kini tuduhan penganiayaan terhadap lelaki bule-pacar gelap mamanya-serta penculikan terhadap Sekar akan merenggutkan kehidupan Bedi. Terali besi seolah-olah sudah siap menerkam Bedi.

"Ayo, kita pulang, Sekar." Mama memeluknya. Memberi perlindungan dengan hatinya. 

Sekar tak bisa berbuat apa-apa. Dia menurut saja ketika Papa dan Mama membawanya masuk ke dalam mobil kedutaan. Tapi dia sangat membenci Andre, ketika dilihatnya Andre tersenyum sinis. Sorot kemenangan terpancar jelas pada wajah Andre.

Sekar cuma bisa memejamkan mata ketika kendaraan melaju membelah bumi Thailand, kembali ke Bangkok. Dia merasa kisah cintanya dengan Bedi akan terkubur. Dia merasa tak ada gunanya lagi tinggal di Bangkok.

Tiba-tiba dia sangat merindukan Indonesia!
***

0 Response to "Bangkok Love Story"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified