Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

And Baby Makes Two I

DALAM banyak hal, tanggal 25 Oktober sama saja seperti hari-hari lainnya, dan itu berarti, hari itu dimulai dengan pertengkaranku dengan ibuku, dan berlanjut dari sana. Pertengkaranku dengan ibu dipicu tidak adanya susu untuk teh. Seperti biasa, itu salahku. Tidak pernah salah Hillary. Hanya Tuhan yang tahu, siapa yang dia jadikan bulan-bulanan pelampiasan kekesalannya dulu, waktu belum ada aku, karena dia selalu saja menimpakan kesalahannya padaku. Gara-gara pertengkaran itu, lagi-lagi aku terlambat masuk sekolah. Mr. Cox, guruku, memberiku hukuman. Aku berusaha meminta keringanan darinya. "Tapi hari ini hari ulang tahunku," aku beralasan. "Anda tidak bisa memberiku hukuman pada hari ulang tahunku. Itu namanya fasisme." "Tidak, itu tidak benar," tukas Mr. Cox. "Itu bukan fasisme, melainkan frustrasi. Tapi kau bisa melaksanakan hukumanmu hari Senin." Dia menyunggingkan senyum manisnya yang sok bersahabat. "Selamat ulang tahun." Sesudah itu, aku dimarahi karena mengobrol saat pela- jaran geografi. Lalu ditegur karena mengobrol saat pela- jaran matematika. Lalu ditegur lagi karena tidak menger-jakan PR sejarah. Kemudian ditegur lagi karena tidak mengerjakan PR bahasa Inggris. Dan akhirnya, aku ditegur kepala sekolah karena membalas omongan guru geografiku. Semuanya normal-normal saja. Meski begitu, aku tidak pernah membiarkan hal-hal kayak begitu terlalu mengangguku. Maksudku, hidup kan memang begitu? Aku tahu bagaimana kelakuan para peng-khotbah (guru dan orangtua) itu. Rasanya, aku tidak ingat kapan aku pernah tidak membenci ibuku, kecuali mungkin waktu aku masih sangat kecil dan tidak tahu apa-apa. Dan aku juga tidak terlalu suka bersekolah. Jam yang paling kusukai di sekolah adalah jam makan siang. Aku suka sekali makan siang. Saat itu aku bisa bersikap antusias, penuh perhatian, mau berusaha, dan tidak pernah membentak wanita yang melayani kami di kantin. Sean-dainya makan siang ada nilainya, aku pasti menduduki ranking teratas di kelas. Tapi, standarku untuk mata pelajaran lain tidaklah setinggi bila sedang makan siang. Di mata pelajaran lain, aku selalu menduduki urutan paling bawah, kecuali bila disuruh menghadap kepala sekolah dan tidak ikut dalam pelajaran itu. Tidak pernah ada yang bertanya padaku aku dapat nilai berapa kecuali mereka merasa hasil yang mereka dapat jelek sekali dan ingin tahu apakah ada orang lain yang nilainya lebih jelek daripada mereka. Kalaupun hari-hari lain masalah itu membuatku merasa terganggu, hari ini tidak. Bukan hanya karena hari ini hari ulang tahunku. Tapi karena hari ini aku berulang tahun yang lima belas! Umurku bertambah satu tahun lagi. Selama ini aku hanya ingin menjadi dewasa. Dengan begitu, tidak ada lagi orang yang bisa seenaknya sendiri memerintahku dan aku bisa melakukan apa pun juga sesuka hatiku. Tentu saja, umur yang paling kutunggu-tunggu adalah enam belas tahun, saat seseorang boleh melakukan perbuatan hukum tanpa perlu meminta izin orang lain, tapi lima belas pun sudah hampir. Kedewasaan berkilauan di hadapanku bagaikan sorot lampu mercusuar yang terang benderang, hanya tinggal dua belas bulan lagi. Biasanya, aku pulang jalan kaki dari sekolah bersama sahabatku, Shanee. Tapi, berhubung hari ini Shanee tidak ada dan ini hari ulang tahunku, juga karena hari ini hujan turun, maka aku pun naik bus. Aku memilih kursi di pojpk belakang, agar tidak terdesak tas belanjaan yang biasa dibawa ibu-ibu tua, juga supaya terhindar dari pelototannya karena dia menginginkan kursiku. Aku me-masang headphone dan memandang ke luar jendela. Tanpa memedulikan pendapat para penumpang lain, sepanjang perjalanan aku menyanyi menirukan lagu yang mengalun dari discman-ha. Bahagia banget pokoknya. Mendengarkan lagu melalui discman sambil memandangi jalan-jalan yang dilewati dari kaca jendela bus merupakan salah satu kegiatan yang paling kusukai di waktu luang. Rasanya seperti menonton film. Tahu kan, bagian di antara adegan saat kamera memperlihatkan aktivitas orang-orang dengan diiringi lagu. Terkadang, aku ada dalam film itu, tapi kali lain, aku hanya menonton, mengkhayal-kan berbagai cerita tentang orang-orang yang kulihat. Karena hari ini aku berulang tahun, aku ada dalam film itu. Kamera menyorot wajahku saat sedang memerhatikan orang-orang yang berbelanja bergegas lata menembus hu- jan. Discman-ku mengumandangkan lagu-lagunya Garbage. When I Grow Up adalah lagu favoritku. Ada banyak sekali wanita dengan kereta bayi ditutupi plastik berdiri di pinggir jalan. Mereka tampak seperti mendorong gelembung yang penuh berisi bayi. Bus berhenti di depan McDonald's. Terlihat lebih banyak lagi wanita dengan kereta bayi duduk-duduk di pinggir etalase restoran, mengobrol sambil tertawa-tawa sementara anak-anak mereka mengunyah ken tang goreng dan bermain dengan main an hadiah minggu ini. Kamera menyoroti wajahku dari dekat saat aku meng-awasi mereka, dan terus menyorotku saat aku memba-yangkan diriku duduk-duduk bersama para wanita itu di McDonald's, dengan daftar belanjaan di saku baju, ber-canda tentang suami masing-masing, tahu persis apa yang akan kulakukan selama sisa hidupku. Saking asyiknya melamunkan kereta bayi seperti apa yang bakal kubeli untuk calon anakku kelak, aku sampai lupa berhenti di halte tujuanku, hingga terpaksa turun di halte berikutnya dan berjalan kaki pulang. Seandainya aku benar-benar sedang main film, pastilah sesampainya aku di flat, seluruh ruangan penuh balon dan semua orang yang kukenal menungguku di sana, } mengenakan topi pesta dan bersembunyi di balik sofa untuk mengejutkan aku. Tapi aku tidak sedang main film. • Paling tidak, bukan di film yang ada adegan pestanya. Flatku kosong: tidak ada pesta dan balon. Aku sudah I buka semua kado dan kartu yang kudapat, dan j u baru beberapa jam lagi pulang dari kantor. Aku sih tidak keberatan. Soalnya, yang dilakukan ibuku bila ada di rurnah hanyalah berteriak-teriak dan mengganggu kete-nanganku. Dari caranya mengomel dan marah-marah, orang bakal mengira dia terkena sindrom pramenstruasi permanen atau sebangsanya. Poko'knya, walaupun tidak ada siapa-siapa di sana, aku tetap tidak peduli, karena membutuhkan waktu ekstra untuk bersiap-siap. Ibuku dan pacarnya, Charley, akan mengajakku makan malam di Planet Hollywood. Ini luar biasa, karena biasanya, Hillary dan Charley sudah meng-anggap makan malam di Pizza Hut sebagai sesuatu yang sangat mewah. Sejak pertama kali restoran itu dibuka, aku sudah kepingin sekali makan di Planet Hollywood. Dalam pi-kiranku, kau takkan bisa mengira siapa saja yang bakal kautemui di restoran kayak begitu. Anak-anak berotak encer di sekolahku kepingin masuk universitas top dan menjadi dosen, pengacara, dan hal-hal lain seperti itu, tapi aku hanya kepingin menikah, tinggal di flat sendiri, dan puriya banyak anak. Itulah ambisi utamaku. Sejauh menyangkut diriku, keluarga ibarat pakaian yang kaukena-kan dalam hidup ini sementara yang lainnya—pekerjaan dan hal-hal lain—hanya sekadar aksesorisnya. Bahkan pernah pada suatu masa, waktu masih kecil, aku meng-khayalkan rumah dan keluarga impianku dengan gambar-gambar yang kugunting dari majalah. Aku membeli lusinan album foto murah dan mengisinya dengan foto-foto suami dan.anak-anak. Semuanya masih tersimpan rapi di kolong tempat tidurku. Tapi aku bukannya goblok. Aku tahu sebelum menikah, aku harus punya pacar dulu. Pacar sungguhan. Aku memba- yangkan diriku seperti Alicia SUverstone dalam film Che/ess: aku ogah pacaran dengan anak-anak sekolah. Cowok-cowok sekolah an semuanya jerawatan dan belum dewasa. Kegiatan mereka paling-paling hanya berlagak main gitar dan perang makan an, yang membuat mereka tertawa-tawa sementara orang lain jijik. Tapi, prinsipku tidak berkencan dengan cowok-cowok sekolahan membuatku terkucil. Se-jauh ini, aku belum pernah benar-benar berkencan dengan siapa pun. Itulah sebabnya mengapa aku sangat menunggu-nunggu kesempatan makan malam di Planet Hollywood. Di tempat-tempat semacam itulah -aku mungkin akan bertemu orang yang bisa kuajak kencan. Dari beberapa film yang pernah kutonton, biasanya justru di tempat yang jarang kaudatangi, kau akan bertemu orang yang bakal mengubah hidupmu. Dan aku jelas kepingin hidupku berubah. Aku melempar pakaian-pakaian basahku ke atas radiator lalu menyalakan tape. Ibuku masih belum pulih dari kese-dihan hatinya karena Genesis bubar. Menurutnya, musik' haruslah diputar pelan-pelan hingga menyerupai bisikan, dan sayup-sayup seolah berasal dari tempat yang jauh. Tapi, karena sekarang dia tidak ada, aku bebas me-nyetelnya sekeras mungkin. Mrs. Mugurdy, wanita yang tinggal persis di atas fiat kami, kontan langsung memukul-mukul langit-langit flatku. Tapi, seperti biasanya juga, aku berlagak tidak mendengar protesnya. Sepanjang hari tadi, aku sudah tidak sabar kepingin segera berendam di bak mandi sambil mencukur bulu kaki dan semacamnya dalam kedamaian dan ketenangan. Sesuatu yang tidak bisa kulakukan bila si monster ma itu «da di rumah. Kalau dia ada, kerjaannya hanyalah meng- gedor-gedor pintu kamar mandi setiap waktu, berteriak menyuruhku cepat, apa aku tidak tahu orang lain juga perlu menggunakan kamar mandi? Aku merebus air dalam ketel lalu pergi menyalakan keran untuk mengisi bak mandi. Butuh waktu cukup lama untuk memilih-milih bola minyak serta busa mandi mana yang akan kugunakan. Aku ingin memilih wangi yang pas untuk kesempatan istimewa kali ini. Biasanya aku menggunakan Raspberry Ripple dari Body Shop, tapi malam ini kan istimewa. Seperti anak dalam lirik lagu Garbage tadi, aku akan memanfaatkan setiap peluang yang bisa kuraih. Aku menginginkan sesuata yang memberi kesan dewasa dan seksi, jadi bila di Planet Hollywood nanti ada cowok yang menarik, aku mau dia memerhatikan aku. Akhirnya, aku memutaskan untuk mengenakan wangi White Musk Aku pernah baca bahwa White Musk wangi favorit Sharon Stone. Pikirku, bila itu cukup bagus untuk Sharon Stone, maka pasti cukup bagus pula untukku. Kenop otomatis di ketelku tidak berfungsi dengan baik, tentu saja, jadi air yang kurebus tadi sudah hampir habis waktu aku ingat aku tadi sedang merebus air. "Terima kasih, Tuhan," kataku sambil menengadah ke langit-langit saat mengisi ketel itu lagi dengan air. Kalau aku sampai menggosongkan ketel lagi, ibuku pasti bakal membunuhku. Sembari menunggu air di ketel yang kedua mendidih, aku menyalakan dupa (supaya aku bisa lebih merasa rileks) dan memilih CD untuk diputar sembari berendam di air hangat. Nenek mengirim hadiah ulang tahun untukku berupa voucher belanja di Tower Records.- Nenekku paling suka musik. Meski berhenti mendengarkan lagu baru 11 sejak tahun 1948, tapi pada prinsipnya, beliau sangat menggemari musik. Aku membeli dua CD baru dengan voucher hadiahnya: CD soundtrack film Titanic, dan CD soundtrack film The T&odyguard. Kupasang CD Titanic. Titanic adalah film favontku tahun itu. Aku membaringkan diri dalam bak berisi air dengan lampu kamar mandi dimatikan dan lilin menyala, melupa-kan sekolah, ibuku, dan kehidupanku yang muram dan membosankan ini. Kutulis ulang skenario film Titanic dalam benakku. Berbeda dengan akhir film sesungguhnya ketika Jack tewas di tengah laut dan Rose berubah menjadi nenek tua uzur yang nyaris tidak bisa berjalan, dalam skenarioku keduanya terapung-apung di laut dengan berpegangan pada sekeping pintu, lalu terdampar di pulau terpencil. Air lautnya biru kehijauan, dengan pohon-pohon palem meliuk-liuk tertiup angin sepoi-sepoi. Kami bertahan hidup dengan makan kelapa muda dan pisaag$ sementara Jack menangkap ikan dengan tangan kosong. Sungguh bagaikan surga dunia. Hanya kami berdua saja, tanpa ada orang lain yang mengganggu. Aku memejamkan mata dan membayangkan diriku bercinta dengan Jack di hamparan pasir pantai yang berwarna putih, di bawah cahaya bulan. Karena belum pernah berkencan dengan siapa pun, aku juga belum pernah bercinta, tapi dari sekian banyak film yang pernah kutonton, secara umum bisa membayangkannya. Ciuman-ciuman Jack membuat ekujur tubuhku bergetar seperti dialiri listrik. Dia me-unduk memandangi wajahku yang diterpa cahaya bulan utih sejuk. Tubuhku mengilat karena pasir. "Kau tidak membutuhkan bam permata, Rose," bisik k. "Kau sudah cantik apa adanya..." Bibir yang penuh, lembap, dan selembut bola kapas itu bergerak mendekati bibirku. Gedoran pintu yang bertubi-tubi membuyarkan ciuman kami. Aku terpana dengan posisi bibir menempel pada spons bebek di tanganku. Aku sama sekali tidak mendengar ibuku pulang. "Lana?" teriak ibuku dari luar sana. "Lana, kau sudah mau keluar, belum? Aku butuh ke toilet." Aku menghabiskan semua uang hadiah ulang tahunku untuk membeli baju baru yang cukup spesial untuk dipa-kai makan di restoran Planet Hollywood. Modelnya ke-ren banget. Dari sutra hitam yang halus, dengan sepa-sang tali kecil berhias manik-manik, serta hiasan manik-manik berbentuk jantung hati di bagian dada kiri. Aku pernah melihat Julia Roberts mengenakan gaun yang rnirip gaun ini di sebuah acara bincang-bincang. Saking ketatnya gaun ini, kau takkan bisa mengenakan apa pun di baliknya kecuali celana ketat yang sangat tipis. Aku sudah membeli celana ketat warna perak di Sock Shop yang sangat tipis tapi gemerlapan, meski tidak terlalu ge-merlapan. Gemerlapan seperti yang dipakai Cher, bukan gemerlapan seperti yang dipakai Baby Spice. Dan aku juga membeli jaket berenda hitam untuk digunakan ber-sama gaun itu. Tapi, benda termahal yang kubeli adalah sepatu. Luar biasa banget deh, pokoknya. Warnanya hitam dan perak, dengan hak setinggi lima belas sentimeter, sol tebal, dari tali-temali melilit tungkai. Model sepatu seperti yang dike-nakan bin tang-bin tang film ke acara penganugerahan Piala Oscar. Ibuku yang menyebalkan itu bakal ngamuk bila ~rapa banyak uang yang kuhabiskan untuk membeli sepatu ini. Aku menggunting beberapa artikel dari majalah menge- nai cara merias diri supaya berpenampilan bak model Kutata guntingan-guntingan artikel itu di meja rias dengan semua peralatan kosmetik baruku. Alas bedak, pelembap bibir, pemulas mata, maskara, pensil mata—pokoknya komplet, dalam koleksi warna musim gugur yang paling trendi. Aku terpaku di depan cermin, berusaha merias wa-jah secermat mungkin. Penting bagiku untuk tampil naturak' tapi lebih sempurna daripada natural. Menurut salah satu artikel, ada baiknya bila kau menyapukan sedikit bedak ke bulu mata supaya maskaranya tahan lama, tapi saran itu ternyata tidak seberapa berhasiL Mataku belepotan bedak dan semua riasanku malah luntur. Terpaksalah aku kembali ke kamar mandi dan mulai dari awal lagi. Charley datang langsung dari bengkel tempatoya bekerja • ketika aku sedang asyik mengoleskan Nivea baru ke kulitku. Ibuku im mulai lagi menggedor-gedor pintu kamar mandi. "Lana!" pekiknya. "Lana, Charley mau mandi." Karena tahu bagaimana Charley, menurutku sebenarnya dia tidak butuh mandi, tapi dry clean sekalian. Kalau aku pribadi tidak mau pacaran dengan lelaki yang sekujur badannya selalu belepotan gemuk Aku hanya mau pacaran dengan pekerja profesional. "Demi Tuhan!" aku balas menjerit. "Bagaimana aku mau siap kalau sedikit-sedikit diganggu?" Aku melempar handukku ke rak dan berjalan terhuyung-^ huyung ke kamar. Aku belum terbiasa berjalan dengan berhak lima belas sentimeter. Aku baru saja memilm-milih parfum yang hendak kugunakan waktu ibuku mulai berteriak-teriak lagi. "Demi Tuhan, Lana! Sebenarnya kita bisa pergi atau tidak malam ini?" "Ya, sebentar... sebentar..." aku balas berteriak. "Sabar sedikit kenapa sih?" Aku menyemprotkan sedikit parfum Tommy Girl ke pergelangan tangan, mengenakan jaket rendaku, dan meng-amati bayangan diriku dalam cermin. Aku benar-benar memesona. Sangat memesona. Penampilanku paling tidak terlihat seperti sudah berumur dua puluh tahun. Model berusia dua puluh tahun, begitulah penampilanku saat ini. Aku menyunggingkan senyum seksi pada bayanganku yang terpantul dalam cermin. "Kate Winslet, berhati-hatilah," bisikku. "Mampus dan berhati-hatilah." Ibuku dan Charley duduk menunggu di dapur sambil menikmati segelas anggur. Seperti biasa, mereka tidak pernah menawariku minum setetes pun. Bahkan tidak di hari ulang tahunku. Ibu sahabatku, Shanee, mengizinkannya minum sedikit pada kesempatan-kesempatan istimewa, tapi minuman paling keras yang diizinkan Hillary Spiggs untuk kuminum hanyalah Diet Coke. Aku berjalan lambat-lambat ke ruang depan, berusaha tidak terlalu melenggang. "Aku datang," seruku begitu sampai di ambang pintu dapur. Kuangkat kepalaku sambil tersenyum malu-malu. Seperti Cher di film Moonstruck setelah selesai dipermak dan dia melihat Nicolas Cage menunggunya, bertanya-tanya dalam hati apakah lelaki itu menyadari perbedaannya. "Aku sudah siapl" Di film Moonstruck, Nicolas Cage terperangah begitu melihat Cher berpakaian rapi dengan rambut dikeriting. Di dapur, ibuku dan Charley terperangah melihatku. Charley duduk paling dekat dengan pintu. "Wow," ujar Charley. "Coba lihat kau!" Lalu dia mem-bub mulut lagi, hendak mengucapkan "Selamat ulang tahun, Lana," tapi dia hanya sempat mengatakan "Sel—" karena sudah keburu dipotong ibuku. Sejak tadi ibuku hanya memandangiku dengan berdiam did, lebih mirip kelinci yang terperangah melihat sorot lampu mobil yang melaju kencang hendak melindasnya^l daripada terperangah diam karena kagum seperti Nicolas Cage. Detik berikutnya, teriakannya pecah membahana, ' bagaikan lengkingan sirene. "Kau kira kau mau ke mana, berpakaian seperti itu?" pekiknya. "Kau tidak boleh pergi bersama kami dengan penampilan seperti itu" Charley meliriknya. "Hillary," tegurnya. "Hillary, jangan mulai." "Kembalilah ke kamarmu dan hapus sampah ito dari wajahmu, sekarang juga!" raungnya. "Dan ganti baju sekalian dengan pakaian lain yang lebih pantas." "Ini juga pantas kok." Nada suaraku sama kakunya dengan bulu mataku. Pantas sih pantas, kalau kau pelacur anak," sergahnya judes. "Kita tidak akan pergi ke mana-mana bila penam-pilanmu mirip cewek murahan seperti itu." Charley menenggak habis anggurnya. "Kelihatannya kau bakal kedinginan dengan baju itu," gumamnya. "Kau ya mantel atau tidak?" 'Masalahnya bukan punya mantel atau tidak," Hillary meraung. "Pokoknya dia tidak boleh pergi dari rumah ini dengan penampilan seperti itu, titik." Charley menunduk, memandangi gelasnya, siapa tahu gelasnya mendadak terisi lagi setelah tadi dia menghabis- kannya. Terkadang, aku tidak habis pikir mengapa ibuku mau berpacaran dengan Charley. Dia itu tidak menarik, kele-bihan bobot, dan 95% selalu kotor, dan dia tidak pernah kepingin melakukan hal lain selain pergi ke pub untuk nongkrong dengan temannya atau nonton televisi. Tapi, ada kalanya justru aku heran mengapa Charley mau pacaran dengan ibuku, padahal dia uring-uringan dan marah-marah setiap waktu. Inilah salah satu di antara saat-saat itu. "Demi Tuhan, Hil," sergah Charley. "Ini kan hari ulang tahun Lana. Biarkan saja." Ibuku mengalihkan pelototannya dari aku ke Charley. "Sekarang ini hari ulang tahunnya yang kelima belas, bukan ketiga puluh." Dia melafalkan kata demi kata dengan jelas. Lalu dia kembali memelototiku. 'Aku ibu-mu," katanya padaku. Wah, berita besar. "Lantas?" Aku balas berteriak, "Aku bukan anak kecil lagi. Kau tidak bisa terus-menerus memperlakukan aku seolah aku ini masih bayi." Ibu memasang Wajah Ibu-nya. Wajah Ibu yang dia perlihatkan tidaklah menyenangkan, penuh kasih sayang, dan penuh pengertian seperti wanita yang wajahnya ter-pampang di Man Oxo. Wajah Ibu-nya menunjukkan dengan jelas bahwa dia tahu segala-galanya, dia bisa mengatakan serta berbuat apa saja, dan semua itu pasti benar karena dia mengandung aku dalam perutnya selama bebe-rapa bulan. Huh, yang benar saja. "Aku ibumu," tegasnya sekali lagi. Untuk jaga-jaga, siapa tahu aku lupa setelah terakhir kali mcndengarnya dua detik rang lalu. "Tapi bukan karena kau menginginkannya!" jeritku. "Kaii tidak pernah menginginkan aku." Aku tahu itu karena pernah mendengarnya mehgatakan hal ita pada nenek, waktu kami pergi ke Hastings saat liburan musim panas. Aku ini produk "kecelakaan". Kedua kakak pe-rempuanku sudah besar; dan waktu ibuku hamil aku, sebenarnya dia sedang berniat kembali ke bangku kuliah. : "Omong apa kau ini? Tentu saja aku menginginkan- ' Tidak, kau tidak menginginkan aku. Kau ingin berse-' nang-senang dan menikmati hidup, minum gin, dan mem-buang diri ke bawah tangga." Ibuku memutar bola matanya dan mendesah. "Kalau kau tidak membersihkan tata rias itu dari WM jahmu dan mengganti baju dengan sesuatu yang lebih pantas, aku akan minum gin dan membuang/ww ke bawah tangga." Sekarang aku sudah lima belas tahun," tukasku dengan a sedingin dan sedewasa mungkin. "Semua anak se-umurku berpakaian seperti ini." "Semua anak seumurmu yang tidak tinggal bersama^//." "Tidak ada yang mau tinggal di sini." Ibuku membanting gelasnya keras-keras ke konter. "Se- . lama kau tinggal di rumah ini, kau harus menuruti perintahku. Sekarang, kembali ke kamarmu dan pakai ijaju yang lain." 'Tidak." Bibir bawahku bergetar. "Aku tidak mau ganri baju, dan kau tidak bisa memaksaku." Si penyihir tua itu tertawa tergelak-gelak. "Oh, tidak bisa, ya?" "Hil, sudahlah, biarkan saja, oke?" Charley buru-buru menengahi. 'Toh di sana nanti dia duduk, jadi apa bedanya?" Charley menyunggingkan senyum lemah padaku. "Kau cantik sekali kok." Ibuku kelihatannya kepingin sekali menampar Charley. "Jangan ikut campur, Charley. Ini rumahku dan dia anakku!" Gelas-gelas di rak cuci piring mulai bergetar saat level desibel mulai naik. "Aku tidak butuh nasihat apa pun dalam urusan membesarkan anak dunmu." Charley menatap botol anggur dengan sikap kepingin, tapi botol itu terletak di balik bahu ibu dan dia tahu dia hanya akan memperkeruh suasana bila berani-berani meng-ambilnya. "Hil, demi Tuhan. Kau meributkan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu diributkan. Ayo kita pakai saja mantel masing-masing dan lekas pergi, oke? Makan e—" "Aku tidak mau pergi ke mana-mana bila dia tetap berpenampilan seperti ita!" Meski menujukan perkataannya pada Charley, tapi mata ibuku tertuju padaku. "Apakah sudah jelas, Nona Kecil Sok Kuasa? Apa peduliku bila di hari ulang tahunmu kau cuma makan roti bakar dengan keju? Masa bodoh." Aku mengatupkan gigiku keras-keras hingga rasanya seperti mau retak. "Ya sudah kalau begitu!" aku balas memekik. "Asal tahu saja, aku hanya mau pergi denganmu bila ita untuk menghadiri pemakamanmu, dasar sapi tua jahat!" 21 Saat itulah dia memukulku. Menamparku dengan telapak tangannya, tepat di pipi. "Jangan bicara kurang ajar padaku." Sekujur tubuhnya gemetar karena amarah. "Aku ibumu." Aku mendekatkan wajahku ke wajahnya. "Well, sepenuh had aku berharap kau bukan ibuku. Kau dengar? Lebih baik bila ibuku Cruela De Vil, bukan kau!" "Bila kelakuanmu begita terus, harapanmu akan terka-bul!" jerit si Penyihir Jahat Dan aku berlari meninggalkan ruangan itu dan terus meninggalkan rumah, secepat yang bisa dilakukan sese-orang yang mengenakan sepatu berhak lima belas senti-meter. SCAN BY DTDY weblog umum http://ebukita.wordpress.com (privat/best friend) http://Dttoy.wordpress.com Selamat Ulang Tahun Untukku KALAU saja bisa pergi ke tempat lain, aku pasti ke sana. Sayangnya, tidak ada yang bisa kudatangi. Kami tidak pernah bertemu lagi dengan ayahku sejak dia meninggalkan kami, jadi aku tidak mungkin mendatanginya. Kedua saudara seibuku, Charlene dan Dara, keduanya tinggal di seberang selatan sungai, dan nenekku tinggal di Hastings, jadi aku juga tidak mungkin mendatangi mereka. Begitu juga dengan Shanee, karena meski rumahnya dekat dengan rumahku, tapi akhir minggu ini dia pergi. Tanpa berpikir lagi, aku menghambur menyusuri jalan-jalan sebelah barat daya kota London yang membosankan ini, bergerak seperti robot. Lagi-lagi aku berkhayal seolah sedang main dalam film Titanic, menerobos kerumunan orang yang histeris keta-kutan, mencari Jack. Aku mengenakan jaket kebesaran yang disampirkannya tadi di pundakku. Sekujur tubuhku masih basah kuyup karena gelombang air laut sedingin es yang menerjang kapal saat kapal mulai tenggelam ke samudra yang tak berdasar, tapi jiwaku berkobar, menyala- laksana api. Aku bertekad tidak mau man* sebelum mdihamya sekali lagi. "Jack!" hatiku menjerit. "Jack! Jack! Jack!" Sebuah pintu menghalangi jalanku. Kudorong pintu itu hingga terbuka dengan segenap kekuatan yang tersisa. Bagian dalam restoran McDonald's terasa hangat dan terang benderang. Sebenarnya, dengan suasana hati seperti sekarang, lebih cocok bila aku nongkrong di pub. Tapi, tentu saja aku masih terlalu muda untuk pergi ke sana. Yah, lagi-lagi beginilah tidak enaknya jadi anak kecil. Gaunku menempel dengan ketatnya di badanku, seperti tisu basah. Rasanya seperti tidak mengenakan apa-apa, tapi sekaligus juga seperti mengenakan baju senam yang sangat ketat dan tidak nyaman. Belum apa-apa, kakiku sudah lecet dan berdenyut-denyut. Tapi aku tidak peduli. Aku bahkan tidak melirik bayangan diriku yang terpantul di kaca pinm saat menghambur masuk tadi. Sebegitu tidak pedulinya aku. Saat ita mungkin ada selusin orang di restoran, termasuk-beberapa pegawai remaja berwajah bosan yang berdiri di balik konter. Aku melenggang menuju meja-meja kosong dengan sikap seperti orang yang hendak menerima piala Oscar, tapi bukan piala Oscar yang ada di tanganku, melainkan nampan berisi hamburger Big Mac, kentang" goreng ukuran besar, dan segelas milkshake cokelat. Bukan makan an yang bagus untuk kulit, tapi saat itu aku tidak I begitu peduli pada kesehatan kulit. Apa gunanya punya kulit wajah mulus, tahu caranya berdandan dan berpakaian, tapi tidak punya kesempatan menunjukkannya pada orang lain? Tidak ada gunanya, itu jawabannya. Kalau kemauan ibuku dituruti, sekarang ini aku pasti masih mengenakan baju bayi merek Babygro dan mengisap empeng. Aku memilih meja dekat jendela, supaya ada hal lain yang bisa kulakukan selain menangis sambil makan. Hari ulang tahun yang benar-benar menyebalkan. McDonald's sebenarnya lumayan, tapi bagaimanapun, tetap bukan Planet Hollywood. Tanpa kehadiran para ibu dan anak-anaknya, suasananya senyap seperti kuburan. Seperti set film di sela-sela pengambilan gambar. Dan cahaya lampunya terlalu benderang, lebih terang daripada biasanya. Mengingatkanku pada rumah sakit. Tahu sendi-rilah, dengan dinding-dindingnya yang dicat kuning ceria dan lampu-lampu neon benderang, supaya tidak ada orang yang sadar sebenarnya pasien yang tergolek di sana sekarat. Aku memunggungi tanaman gantung dan poster-poster yang mengiklankan film blockbuster Disney terbaru, dan memandangi hujan yang turun deras di luar sana Selamat ulang tahun untukku, pikirku sambil menge-luarkan hamburger. Selamat ulang tahun, Lana sayang, selamat ulang tahun untukku. Kugigit Bic Mac-ku. Rasanya seperti kardus yang diberi saus tomat dan acar. Sepasang kekasih berdiri di sisi luar jendela restoran, berteduh dari hujan sembari menunggu bus. Lengan mereka bertautan, dan si pria memegangi payung menaungi kepala si wanita. Kelihatannya mereka sangat bahagia. Aku merasa seperti akan tersedak. Cepat-cepat kuletak-kan burgerku dan kugigit bibirku keras-keras. Jangan menangis, kataku dalam hati. Tunggu sampai kau ke luar dari sini. Meski tidak pernah memikirkannya sebelum ini, tapi sekarang aku mengerti mengapa orang-orang yang diceri-takan dalam lirik lagu selalu menangis sambil berjalan di 25 tengah hujan deras. Rupanya, itu supaya orang lain tidak tahu sebenarnya mereka menangis tersedu-sedu. Kubuka bungkusan saus tomatku dan kucelupkan ken-tang gorengku ke sana. Ingatanku melayang pada gadis-gadis lain yang juga merayakan ulang tahun pada tanggal 25 Oktober. Saat ini mereka semua berpesta bersama semua teman yang tertawa mengelilingi mereka. Kado-kado menumpuk di meja, dan semua orang memeluk mereka dan memuji kecantikan mereka. Ibu mereka sZt. yang pada mereka. Lalu ingatanku melayang pada artikeli yang pernah kubaca, tentang gadis yang meninggal di, pesta ulang tahunnya sendiri. Waktu pertama kali mem-; bacanya dulu, aku menganggap hal itu sangat menyedihkan dan memilukan, tapi sekarang, selagi menangis sendirian di pojok restoran McDonald's, rasanya aku mau saja. bertukar tempat dengannya. Maksudku, dia toh sudah matt, lantas kenapa? Paling tidak dia sudah sempat ber-senang-senang. Im toh jauh lebih baik daripada mati karena pneumonia dengan napas berbau makanan berle-mak. Aku mencucukkan sedotanku ke dalam milkshake dan menyedotnya sedikit Pasangan yang berdiri di luar jendela itu sekarang berciuman. Payung mereka membentur kaca.I Aku menyerah dan air mataku langsung bercucuran. Isap... isap... telan... isap... isap... telan... glek... glek.... Aku merasa seperti binatang yang terjerat. Sepertinya, tak peduli apa pun yang kulakukan, aku tidak akan bisa meloloskan did. Selamanya aku akan selalu menjadi anak 7 Spiggs, yang selalu dimarabi dan disuruh-suruh enaknya. Aku begitu heboh menangis sampai tidak menyadari dia duduk di sana, di meja yang persis bersebelahan dengan mejaku. Tiba-tiba, aku mendengar suaranya. Aku menoleh, berusaha mengisap kembali ribuan tetes air mata yang sudah hendak tumpah. Dia pasti belum lama duduk di sana, karena dia bahkan belum sempat membuka bungkusan sedotannya. Dia men-condongkan badan ke arahku, mengulurkan sebungkus tisu. Ekspresinya tampak malu. "Kau tidak apa-apa?" Dia menggerak-gerakkan tisunya ke arahku. "Kau—Aku—" Aku tidak sanggup berkata apa-apa. Sebagian karena aku berusaha menghentikan tangisku, sebagian lagi karena dia. Dia memang bukan Leonardo DiCaprio, tapi wajahnya lumayan ganteng. Tubuhnya tinggi, langsing, dan berkulit gelap. Kulimya bersih dari jerawat, tidak mengenakan kacamata, dan tidak berpakaian seperti orang yang baju-bajunya masih dibelikan ibunya. Malah, gaya berpakaiannya lumayan oke. Aku pernah melihat John Travolta di sebuah acara bincang-bincang mengenakan kemeja yang warna birunya mirip seperti warna ke-meja yang dia kenakan, Dan di lengannya melingkar jam Baby G. yang paling mutakhir. Tambahan lagi, usianya pasti di atas dua puluh tahun. Seperti adegan film Sleepless in Seattle, waktu Tom Hanks dan Meg Ryan pertama kali bertatapan. Seperti mimpi menjadi kenyataan. Cowok im mencondongkan badan lebih dekat lagi, masih melambai-lambaikan bungkusan tisu ita untukku. "Riasan wajahmu," katanya. "Kupikir kau mungkin membutuhkan ini." Hatiku begitu tersentuh kebaikan hati dan kepekaannya, hingga nyaris saja tangisku meledak lagi. Aku mengheM napas dan tersenyum. Senyum yang selalu kulatih di depan cermin: ceria tapi seksi. Senyum terbaik yang kumilikL "Trims." Sambil tetap menyunggingkan senyum, aku berlagak menunduk, supaya dia tahu aku malu dan merasa tidak enak had, karena tidak biasa menangis seperti itu di depan umum, "Maafkan aku—" Jari-jari kami bersentuhan saat aku mengambil tisu itu dari tangannya. Mungkin seandainya jari-jari kami tidak bersentuhan, aku akan menghapus air mataku dengan tisunya dan kisahnya akan berakhir sampai di sini saja. Tapi jari-jari kami bersentuhan. Sekujur tubuhku seperti dialiri listrik. Aku tidak ingin dia pergi. "Hari ini hari ulang tahunku," isakku. "Tapi aku malah bertengkar dengan ibuku." "Hari ulang tahunmu? Sungguh?" Dia tersenyum. "Well, selamat ulang tahun—" "Lana." Aku tertawa dan menangis pada saat yang bersamaan. "Lana. Spiggs." Cowok ita • mengulurkan tangannya. "Les," dia mem-perkenalkan did. "Les Craft" Kami saling menatap selama sekian detik. "Ulang tahun yang keberapa?" Sedetik pun aku tidak merasa ragu. Aku tidak kepingin cowok itu mengurungkan niatnya karena menganggapku masih terlalu muda. "Kedelapan belas." Les tersenyum. "Well, selamat ulang tahun, Lana Spiggs." Selamat ulang tahun untukku. Les Craft berumur dua puluh tahun, baik hati, sensitif, dan pintar (dia punya dua nilai A). Meski tidak luar biasa ganteng, tapi dia cukup tampan dan menarik. Telinga kirinya dihiasi dua anting-anting emas kecil, dan gaya berpakaiannya sangat enak dilihat. Tambahan lagi, tangannya tidak belepotan gemuk. Les bekerja sebagai asisten manajer di toko penyewaan film Blockbuster yang terletak di pinggir jalan besar. "Pantas, sepertinya kok wajahmu tidak asing lagi bagiku," dustaku. Aku ingin dia tahu dia istimewa, bukan cowok sembarangan yang tidak bakal diperhatikan cewek. "Aku sering ke sana." Les tersenyum. Aku berpendapat, seandainya Calvin Klein bisa membotolkan senyuman itu, dia bisa meraup untung jutaan dolar. "Aku tahu." Jadi dia memerhatikan aku! Tidak percaya rasanya. Padahal aku sama sekali tidak memerhatikan dia—aku jarang melirik cowok-cowok yang bekerja di Blockbuster karena mereka cenderung jerawatan dan hanya suka me-rekomendasikan film-film action—tapi lelaki yang menarik ini memerhatikan aku. Aku bercerita padanya tentang perkelahianku yang ter-akhir dengan ibuku sembari kami menikmati hamburger masing-masing. Les makan kentang gorengnya dengan saus tomat, persis seperti aku. Les sangat pengertian. Dia juga masih punya ibu. \y- "Yang namanya ibu memang paling susah melepas anak mereka," Les menjelaskan. "Ibuku apalagi. Aku sampai tidak mengizinkan ibuku datang ke flatku, karena begitu menjejakkan kakinya di rumaHku, dia pasti akan Iangsung berbenah-benah." Les menyunggingkan senyum- nya yang menawan hati itu. "Dan dia selalu saja menyu- ruhku memotong rambut" "Oh, jangan." Rambut Les agak panjang hingga menggantung seksi di atas kerah kemeja, tapi tidak terla-lu gondrong hingga orang bakal salah mengira dia ce-wek bila melihatnya dari belakang. "Rambutmu bagus kok." Cahaya matahari menerangi seluruh bagian dalam restoran McDonald's. "Oke. Akan kubilang pada ibuku, Lana suka bila ram-butku seperti ini." Aku merasa seperti ada orang yang menyiramkan saus sundae panas ke seluruh pembuluh darahku. Lana suka bila rambutku seperti ini____ Kedengarannya seolah kami sudah lama sekali saling kenal. Itu berarti aku pasti akan bertemu lagi dengannya. Les memasukkan bungkusan kentang goreng, serbet kertas, serta bungkus sedotahnya ke kotak burger. Tidak. ada secuil pun remah rod atau tetesan saus tomat di nampannya. "Aku harus kembali ke toko," katanya. Nadanya terde-ngar enggan, seakan dia lebih suka di sini saja. "Kau mau ikut denganku dan main-main di sana?" Tanpa berpikir lagi aku Iangsung saja menyahut, "Ya,' tentu saja." Biar saja ibuku khawatir aku diperkosa, ditabrak mobil atau bagaimana. Biar tahu rasa dia. Les mengantarkan aku pulang setelah dia selesai bekerja. Aku tidak memercayai keberuntunganku. Cowok ini bukan cuma punya pekerjaan dan flat sendiri {well, lebih tepamya, sebuah kamar di flat), tapi dia juga punya mobil. Memang sih mobilnya bukan Porsche, Jeep, atau merek-merek keren lainnya, tapi setidaknya juga bukan mobil bobrok seperti mobil Charley, yang selalu harus diparkir di puncak bukit supaya bisa Iangsung didorong bila mogok keesokan harinya. Sudah lewat tengah malam waktu kami sampai di jalan tempat rumahku berada. Aku memintanya menurunkanku di sudut jalan. Untuk jaga-jaga, siapa tahu ibuku mengintip dari balik gorden. "Yakin kau tidak apa-apa?" tanya Les. "Aku bisa meng-antarmu sampai ke dalam bila kau mau." Kedengarannya dia benar-benar prihatin. 'Tidak, tidak apa-apa." Kubuka sabuk pengaman dan kupegangi handle pintu. "Dia bukan orang yang ringan tangan. Dia hanya menyebalkan." Aku tidak mau dia bertemu Hillary. ¦ Sering kali anak perempuan menjadi mirip ibunya bila mereka dewasa nanti. Oprah pernah menayangkan topik seputar hal itu di acara talkshow-nya. Bagaimana nanti bila begitu Les melihat/rjf/2, dia lantas memutuskan aku akan menjadi seperti dia, lalu tidak mau bertemu lagi denganku? Apalagi ibuku pasti akan Iangsung memberitahu dia bahwa aku baru lima belas tahun. Mungkin bahkan sebelum aku sempat memperkenalkah namanya. "Kau tahu dia baru lima belas tahun," dia akan Iangsung menyergah. "Me-mangnya kau mau dipenjara?" Kutarik handle pintu. "Lagi pula, sekarang paling-paling dia sudah tidur," dustaku. "Jadi tidak apa-apa." Les menyambar tangan kananku. Waktu kau masih kecil, kau pasti sering memikirkan apakah sebaiknya kau Iangsung berciuman dengan seorang cowok pada kencan pertama atau tidak. Kalau ya, apakah dia akan menganggapmu gampangan? Apakah dia lantas mengira kau selalu berciuman dengan setiap cowok yang kautemui? Apakah kau bisa ketularan penyakit karena berciuman? Tapi, berhubung teknisnya sekarang ini kami belum berkencan, aku pun tidak mengkhawatirkan hal ita. Begitu merasakan kulit Les menyentah kulitku, aku Iangsung berpaling dan menghadapinya. Aku sudah sering latihan berciuman dengan bantal dan benda-benda lain semacamnya (jadi aku tahu harus melakukan apa) tapi mencium Les sama sekali berbeda dengan mencium bantal. Bibirnya hangat dan lembut seperti inti krim cokelat. Bagian dalam diriku seakan meleleh. Aku bahkan tidak terlonjak kaget atau tersedak mual. Rasanya sama sekali tidak menjijik-kan. "Bagaimana kalau kita ketemu hari Minggu?" bisiknya • ketika kami berhenti berciuman untuk menarik napas. "Aku harus bekerja hari Sabtu dan Minggu malam, tapi "ta bisa ketemu hari Minggu siang. Sehabis makan siang." ibelainya rambutku. "Kalau kau tidak sibuk." Les pasti bercanda. Aku tidak akan pernah sibuk lagi I panjang hidupku. Dia menungguku, tentu saja. Dia sudah menghancurkan pertama ulang tahunku, dan sekarang dia bertekad menehancurkan bagian yang terakhir juga. Dia pasti bisa merasa aku habis bersenang-senang. Kan so kubilang dia tukang sihir. Dia Iangsung menarik dirinya dari jendela begitu meli-hatku muncul di jalan dan melejit keluar dari ruang tamu seperti burung kukuk begitu aku menjejakkan kaki di ruang depan. "Aku mau bicara denganmu," katanya dengan nada datar. Dia agak mabuk. Alkohol seharusnya membuat hatimu gembira, tapi dia justru berubah sangat serius dan sungguh-sungguh sehabis minum sedikit alkohol. Aku tidak mau membalas tatapan matanya. Tidak akan kubiarkan dia merusak hari yang ternyata menjadi malam yang terbaik dalam hidupku. Aku akan Iangsung tidur dan berkhayal seolah Les ada di sampingku, memelukku erat-erat, dan membisikkan kata-kata pujian bernada manis di kupingku. Aku mengunci pintu depan dan menghambur mele- watinya. "Lana. Kaudengar aku, tidak? Kita harus bicara." Kubuka pintu kamar. "Bicara saja sendiri," tukasku. "Aku mau tidur." "Aku ibumu," sergahnya. Orisinil banget si Hillary Spiggs ini. "Kurasa aku berhak tahu dari mana saja kau semalaman." "Menjual diri," jawabku asal saja. "Dari mana lagi?" Sebenarnya aku ingin sekali membanting pintu keras-keras di depan mukanya, tapi dia mendesakkan badannya di ambang pintu. "Lana, dengar, kuakui bahwa reaksiku tadi berlebihan—" Ibuku menyentah bahuku. Aku terlonjak kaget, seolah ada yang menusukku. "Jangan sen tub. aku," perintahku. Ibuku menarik tangannya. Dia pasti lebih mabuk dan-pada yang kukira, karena dia hampir-hampir seperti mau menangis. "Maafkan aku, Lana. Aku tidak ingin keadaannya menjadi seperti ini." Mungkin bila ulang tahunku kali ini bukan yang terbaik yang pernah kurasakan seumur hidupku, dan mungkin bila aku tidak menyadari aku ternyata bisa membuatnya menangis, tangisku kontan pecah saat itu juga dan aku akan Iangsung minta maaf, dan segala sesuatunya menjadi berbeda. Begitulah yang terpikir olehku sekarang. Tapi, Ibukan ito yang kupikirkan saat itu. Aku tidak peduli dia menyesaL Aku malah senang bisa membuatnya menangis. Dan aku tidak peduli pada apa yang dia ingmkan. Aku seperti Dorothy dalam kisah The Wizard of Oz, berdiri di jalan bata kuning, memandang Kota Zamrud berki-lauan di hadapanku. Hanya saja, bukan Kota Zamrud ' kulihat, melainkan masa depanku. Masa depanku dalam wujud cowok dengan tinggi badan 180 sentimeter, memiliki lidah seperti lidah kadal, dan mengendarai Ford. Well, memang begitulah keadaannya," mkasku padanya. idorong dia hingga membentur pinto lalu kubanting ituku keras-keras. juku selalu berkata bahwa cinta tidaklah seperti yang kulihat di film, atau seperti lirik lagu, dan sebangsanya. berarti, dia memang tidak pernah merasakan cinta seperti ita. Ayah Charlene dan Dara meninggal waktu mereka masih kecil. Meski sukar dipercaya, tapi si Spiggs cinta sekali padanya. Dia menikah dengan ayahku karena memang cuma ayahkulah pria terbaik yang bisa dia dapatkan dengan dua anak, selulit, dan kepdbadian yang jelek. Ayah Chadene dan Dara bagaikan berkat Tuhan untuk dunia ini; sementara ayahku seperti meng-ingatkan orang bahwa Tuhan senang menghukum manusia. 'Tidak mungkin kau bertemu seseorang dan BOOM, kau Iangsung jatah cinta dengannya," kata ibuku dulu. "Kejadian di kehidupan nyata tidak seperti di film-film." Waktu umurku dua belas tahun, aku tidak percaya padanya. Sekarang, setelah umurku lima belas tahun, aku tahu dia bohong. Dia hanya ingin hidupku merana seperti dia, ita alasannya. Cinta di dunia nyata persis sama seperti yang di film-film: BOOM. Satu menit yang lalu kau masih orang biasa, menunggu sesuatu yang hebat terjadi, dan semenit berikutnya— BOOM—sesuatu yang hebat telah terjadi. Kau merasa jauh lebih bahagia daripada sebelumnya—lebih dari yang kaukira selama ini. Aku tidak yakin apakah aku jatah cinta pada Les waktu dia menciumku, atau itu terjadi sebelumnya, ketika kami masih mengobrol di McDonald's. Tidak penting memang. Pokoknya, yang aku tahu, aku Iangsung yakin dialah cowok yang kunanti-nantikan sejak aku lahir. Setelah ibuku berhenti meneriakiku dari balik pintu dan akhirnya terhuyung-huyung kembali ke kamarnya, aku memasang CD Celine Dion di discmatkku dan ber-baring di tempat tidur, memandangi hiasan bintang yang kutempelkan di langit-langit kamar, yang bisa bersinar dalam gelap. Aku mengenang kembali semua yang dika- takan Les. Aku membayangkan setiap detail wajahnya, caranya tertawa, makan, dan menyetir mobil. Juga caranya" menatapku serta betapa indah ciumannya tadi. Jadi inilah cinta, pikirku. C-I-N-T-A: CINTA. CD berhenti berputar dan sebuah lagu kuno menyusup masuk dalam benakku. Setelah ayahku kabur ketika aku berumur empat tahun, aku dan Hillary tinggal bersama nenekku selama beberapa tahun. Karena si Spiggs sibuk menata kembali hidupnya yang berantakan, aku lebih banyak bersama nenek. Hampir setiap siang, kami menge-luarkan kotak yang berisi kumpulan kaset lama milik nenek, lalu kami memutarnya di tape-nya, yang kuno. Ini salah sam lagu kesukaanku, karena membuatku merasa sangat bahagia. Dulu aku sering meminta nenek memu-tarkannya untukku setiap waktu. Sekian tahun kemudian, lagu ini dijadikan lagu pengLring dalam film. Sambil ber-baring di tempat tidurku malam im, rasanya aku bisa mendengar kembali lagu im, mengalun dari tape kuno nenekku. Suaranya gemeresik dan kuno. "Hanya lalala dan aku... dan hadirnya si bayi s'makin melengkapi... kami bahagia di surga biru kami..." Aku tidak begitu memahami artinya waktu aku masih kecil dulu, tapi sekarang aku mengerti. Sekarang aku mengerti maksud penyanyi im. Aku terlena sambil masih menggumamkan lagu nenekku im dengan suara lirih. Akhirnya aku mengerti apa arti hidup ini. Cinta Akan Membebaskanmu KATA Les, aku cantik, enak diajak ngobrol, dan bisa membuatnya tertawa. Rasanya aku tidak percaya men- dengarnya. "Aku?" begitu tanyaku. Dan dia menjawab, "Ya, kau" Sama seperti aku, Les juga mengalami masa-masa sulit di sekolah. Karena dia orangnya pendiam, para guru dan anak-anak nakal di sekolah senang mengerjainya. Tam-bahan lagi, meski rasanya sukar dipercaya sekarang, dulu dia gendut dan tidak populer. Jadi, dia selalu malu bila berhadapan dengan cewek-cewek. Katanya, dia bahkan tidak pernah memikirkan cewek semasa duduk di bangku sekolah. Yang ada dalam pikirannya hanyalah bagaimana secepatnya lulus dari sekolah, mendapat pekerjaan, dan hidup mandiri. Lagi-lagi sama seperti aku. Dia baru keluar dari rumah ibunya dan pindah ke London pada musim panas lalu, jadi walaupun sudah beberapa kali berkencan, dia belum pernah punya pacar tetap. Sebelum ini. "Tapi dari caramu berciuman, sepertinya kok sudah," kataku. _ Les tertawa. "ltd namanya keberuntungan pemula." Les senang melihat bagaimana cowok-cowok di jalan memandangiku, seolah berharap diri mereka Les. "Mata mereka sampai hijau karena iri," katanya waktu kami berjalan melewati segerombolan cowok. "Hijau karena iri." Lalu dia memelukku. Dia sangat gembira. Aku membalas pelukannya. Aku juga sangat gembira. Les juga menyukai pembawaanku yang sangat feminin, suka make-up dan hal-hal semacam im. Sementara dia penggemar berat musik. Menurutnya, seperti yang digam-barkan dalam lirik sebuah lagu lama, aku menikmati menjadi wanita. "Sekarang memang begitu," kataku. -Isfcifci Les tahu banyak hal—olahraga, mobil, video, dan siapa yang aslinya berperan dalam Oklahoma!, pokoknya hal-hal kayak begitu—yang tidak banyak kuketahui. Aku senang mendengarkannya menjelaskan segala sesuam kepadaku. Dia senang menjelaskan segala sesuam kepadaku. ''Yakin aku tidak membuatmu bosan?" tanyanya. Aku menjawab, "Tentu saja kau tidak membuatku bosan." KpNi Dan meskipun kami sering jalan bareng serta selalu bersikap mesra, berciuman, dan lain sebagainya, tapi Les tidak pernah mengungkapkan cintanya padaku. Katanya, dia belum siap menjalin hubungan serius, tapi menurutku im cuma karena dia malu. Maksudku, semua ini kan baru bagi dia. Karena Les laki-laki, dia tidak menunggu selama bertahun-tahun untuk jatuh cinta, seperti aku. Dia tidak siap. Aku tahu butuh wakm yang lebih panjang bagi laki-laki untuk menyadari bahwa dia jatuh cinta, tidak seperti wanita. Seperti dalam film When Harry Met Sally____ Wa- laupun aku berharap tidak akan selama im. Jadi aku juga tidak pernah mengungkapkan cintaku padanya. Lagi pula, im toh tidak penting Aku bisa merasakannya. Aku menunjukkannya. Dan aku tahu, jauh di lubuk hatinya yang terdalam, Les juga merasakannya. Selain merasa luar biasa bahagia, yang membuat cinta terasa begitu indah adalah cinta memberiku kuasa yang sesungguhnya, untuk pertama kalinya dalam hidupku. Karena tidak ada hal lain yang lebih penting. Sesederhana im pokoknya. Tidak ada yang lebih penting daripada cinta. Si Penyihir Jahat dari Flat NW6 boleh mengeluh dan mengancamku sesuka hatinya, atau menolak memberiku uang saku, tapi semua im tidak penting. Aku tidak peduli. Dia seperti singa ompong tak bercakar yang mengaum-ngaum di sirkus. Aku memang masih tinggal di flatnya, tapi pikiran dan hatiku sudah lama hengkang dari sana. Hal yang sama terjadi juga di sekolah. Sekarang, benar-benar tidak ada alasan mengapa aku mesti memikirkan hal-hal membosankan seperti sains dan sejarah. Begitu aku menginjak usia enam belas tahun, aku akan berhenti sekolah, tinggal bersama Les, dan mencari pekerjaan. Saat itu, Les pasti sudah jadi manajer, jadi dia bisa mencarikan pekerjaan untukku di Blockbuster sampai kami memutus-kan tiba saamya untuk punya anak. Tak lama lagi, aku pasti sudah sibuk menata flatku sendiri dan memasakkan makan malam untuk teman-temanku yang datang berkun-jung, bukannya mengeram di perpustakaan dengan kepala Sudah di balik buku, berusaha menghafalkan nama orang yang memicu terjadinya perang ratusan tahun lalu. Mak-sudku, memangnya aku harus menunjukkan daftar nama raja dan ratu Inggris sesuai urutan kronologis untuk bisa berbelanja di Salisbury? Tidak, kan? Tapi, seperti biasa, para pengkhotbah itu tidak ada yang setuju denganku. "Sebenarnya kau cukup pintar," Mrs. Mela, guru bahasa Inggris-ku, berkata pada suatu siang. "Tapi sepertinya kau * tidak mau berusaha melakukan apa-apa lagi." Itulah sebabnya mengapa Mrs. Mela sengaja menahanku di kelasnya. Karena aku tidak mau berusaha melakukan apa-apa lagi. Dia memergokiku mengjrimkan surat pendek ke temanku, Amie, waktu dia sedang membacakan Romeo and Juliet. Untuk yang kesekian kalinya. Sebenarnya, aku memang benar-benar sedang malas melakukan apa-apa. saat ini. Aku akan bertemu Les untuk minum teh bersama sebelum dia memulai giliran kerjanya pada sore hari. Memangnya siapa yang- mau repot-repot ; mendiskusikan ketidaktertarikannya pada sastra Inggris bila orang im akan berkencan? Kupandangi jendela di balik bahu Mrs. Mela, berlagak mendengarkan dan memi-kirkan baik-baik perkataannya barusan. Mrs-. Mela mendesah. Mirip banget dengan desahan Hillary Spiggs. "Lana," kata Mrs. Mela dengan nada bersahabat, "apa yang akan terjadi nanti bila kau selalu seperti ini? Sudah bermmggu-minggu kau tidak pernah lagi mengerjakan PR. Kau juga mengganggu konsentrasi belajar teman-teman sekelasmu yang lain..." Lagi-lagi dia mendesah dengan suara berat. "Aku sangat prihatin." Aku memamerkan senyumku yang paling manis. "Anda tidak perlu mengkhawatirkan apa-apa," kataku, meyakinkan dia. "Saya mengerti maksud Anda, tapi Anda keliru. Saya baik-baik saja kok." Mrs. Mela berdeham-deham. "Dan bagaimana dengan masa depanmu?" tanyanya ingin tahu. "Apa yang akan kaulakukan dengan hidupmu? Kalau melihat prestasi be-lajarmu selama ini, lulus separo mata pelajaran yang diujikan saja sudah untung." Sekarang, omongannya benar-benar mirip ibuku. Jadi aku memberi jawaban sama seperti yang kuberikanpada ibuku dan semua orang lain, supaya mereka tump mulut dan berhenti menggangguku. "Saya rasa, saya akan menjadi artis. Saya sangat suka drama." Sesungguhnya, akting adalah satu-satunya pekerjaan yang kusukai. Punya banyak uang, pergi ke pesta-pesta, tidak periu memiliki kualinkasi apa-apa, asal lolos audisi cukuplah sudah. Apa lagi yang lebih gampang daripada im? Kau bah kan tidak perlu masuk sekolah akting, bila memang tidak mau. Banyak sekali artis terkenal yang ditemukan saat sedang berjalan-jalan. "Aku yakin istilah yang tepat sekarang ini adalah 'aktor' untuk semua jenis kelamin," Mrs. Mela mengoreksi. "Dan bila kau memang suka drama, Lana, Shakespeare itu kan drama, tapi sepertinya kau tidak terlalu suka padanya." Itulah yang paling tidak kusukai dari para pengkhotbah, mereka seenaknya saja memutarbalikkan kata-katamu demi mewujudkan maksud mereka. "Maksud saya seperti di film," aku menjelaskan. "Anda tahu kan, seperti Titanic. Atau film musikal." Film musikal " sangat menarik minatku. Aku sudah menonton setidaknya enam film musikal sejak berkenalan dengan Les. "Semua orang bilang suara saya bagus sekali." "Kau membutuhkan lebih dari sekadar suara yang bagus untuk bisa bertahan di dunia ini," sergah Mrs. Mela. "Kau perlu bekerja keras dan mendapatkan pendidikan formal yang baik." Mrs. Mela mengantongi dua gelar sarjana, ditambah sam sertifikat untuk jadi guru. Bila aku tipe orang yang tidak punya ambisi, dia justru kelebihart ambisi. Bayangkan saja, dia tidak keberatan lho bersekolah selama dua puluh tahun hanya untuk mengajar bahasa Inggris kepada se-gerombolan anak yang lebih suka berada di rumah nonton "televisL Aku membenahi letak tas sekolahku yang tersampir di pundak. 'Jadi im saja?" Aku bersiap-siap kabur. "Saya harus segera pulang. Ibu saya sakit flu." Dari cara Mrs. Mela mengerutkan keningnya padaku, aktf punya firasat alasan "ibu saya sakit flu" im sudah pernah dia dengar sebelumnya. Mungkin malah baru-baru ini saja. "Berapa umurmu?" tanya Mrs. Mela. "Lima belas?" Tidak butuh gelar sarjana untuk bisa menebaknya, kan? Bukankah aku sudah kelas sepuluh? Aku mengangguk. "Lima belas tahun sudah cukup ma untuk mulai bersi-kap penuh tanggung jawab," kata Mrs. Mela. Dia tersenyum penuh harap. "Asal kau mau sedikit saja berusaha, kau bisa sedikit lebih dewasa dalam bersikap." "Akan saya coba," dustaku. "Saya yakin bisa." Aku tidak bisa membayangkan sikap dewasa yang bagaimana lagi yang diinginkan Mrs. Mela dariku. Tinggal satu tahun lagi dan setelah itu, aku akan meninggalkan bangku sekolah selama-lamanya. Sahabatku, Shanee Taylor, justru sangat jauh berbeda dariku, bagaikan bumi dan langit. Shanee bermbuh mungil, berkulit gelap, pendiam, dan sederhana, pokoknya polos deh. Bila aku sangat mengge-mari mode, Shanee justru tidak bisa membedakan DKNY dengan CK. Tambahan lagi, ibunya orangtua tunggal dengan tiga anak, jadi mereka selalu bangkrut. Hampir setiap saat, Shanee mengenakan jins tua. Dan, jangankan sepam-sepam "centil" berhak datar atau tinggi, sepam olahraga yang biasa saja dia tidak punya. Ke mana-mana, dia selalu mengenakan bot hiking dan bot tentara bekas yang mirip sepam para pemain film Star Wars. Dan lupakan saja yang namanya make-up. Pernah, satu kali, dia mengizinkan aku merias wajahnya, tapi hasilnya, dia malah mengerang-ngerang terus tanpa henti dan tidak mau diam sampai aku nyaris membuat bola matanya tertusuk. Dan, tidak seperti aku, Shanee orangnya sopan, tingkah lakunya manis, senang bekerja keras, dan pintar di sekolah. Pendek kata, dia anak sempurna. Tapi walaupun kami sangat jauh berbeda, Shanee dan aku sudah bersahabat sejak SD. Dia sudah menungguku di bagian depan sekolah waktu akhirnya Mrs. Mela mengizinkan aku pulang. "Aku tadi sempat melihatmu masuk ke sana," kata Shanee. "Kenapa kau dipanggilnya?" Aku mengangkat bahu dengan sikap cuek. "Yah, kau tahu sendirilah..." Mana mungkin Shanee tahu. Dia tidak pernah terlibat masalah apa-apa. "Dia memergokiku mem-erikan surat untuk Amie, dan waktu ditanya, aku tidak tahu drama tolol yang kami baca sudah sampai di halaman berapa. Lalu, ternyata, aku tidak membawa PR—" "Ternyata?" Shanee tersenyum geli. "Apa maksudmu ternyata kau tidak membawa PR?" Kupandangi dia dengan sebal. "Aku lupa ada PR." Tawa Shanee menyembur. "Maksudmu, kau lupa merer* akannya." Shanee tahu sekali bagaimana aku. "Kurang-lebih begitulah." Aku menyeringai. "Si tua bangka cerewet im Iangsung ngamuk. Jadilah aku terpaksa mendengarnya berkhotbah tentang mau berusaha dan memikirkan masa depan dan semua omong kosong lain sebangsanya." Shanee membetulkan letak tas sekolahnya yang tergan-tung di pundak. "Kau pasti mengira seharusnya dia sekarang sudah bosan, memarahimu terus mengenai hal im," kata Shanee. Aku tertawa. "Tukang khotbah semuanya robot. Mereka tinggal mengatakan hal yang sama berulang-ulang." Shanee menendang kaleng minuman kosong yang meng-halangi langkahnya. "Justru sebaliknya, menurutku akhir-akhir ini kau semakin menurunkan standarmu yang sebenarnya sudah rendah im...." Seandainya yang berkata begim ibuku, aku pasti akan menganggapnya sebagai kritik, tapi karena Shanee yang mengucapkannya, aku tahu dia hanya bercanda. "Kau tahu," lanjutnya, "dulu kau sesekali masih me-erjakan PR." Dia tersenyum padaku. "Atau paling tidak, menyalin PR anak lain." "Aku tidak mungkin menyalin PR bahasa Inggris anak lain, karena kami disuruh membuat esai. Tambahan lagi, Amie payah dalam pelajaran bahasa Inggris, padahal cuma dia yang memperbolebkan aku menyalin PR-nya." Shanee tertawa. "Kadang-kadang, kau ini memang ke- terlaluan...." "Sekarang aku punya kehidupan baru, Shanee. Aku tidak mau'tnembuang-buang wakm hanya untuk memikirkan apa yang ditulis orang yang sudah man* ratusan tahun lalu. Im tidak redolent" "Maksudmu relevant" Shanee mengoreksi. "Redolent im artinya berbau harum." Aku mengibaskan tangan dengan sikap acuh. "Terse-rahlah apa katamu." Shanee berhenti tepat di luar gerbang dan meman-dangiku dengan kepala ditelengkan ke sam sisi. "Mau ke mana kau?" tuntutnya. "Pusat kebun kan ke kiri." Saat im aku sudah berbelok ke kanan, ke arah kafe. "Oh, aku belum bilang padamu, ya? Aku akan minum teh dengan Les, sebelum dia berangkat kerja." Mulut Shanee ternganga, membentuk huruf O besar. "Bagaimana dengan proyek sains kita?" Kami bekerja berpasang-pasangan. Shanee dan aku harus mencari tahu efek cahaya matahari dan air terhadap tanaman. Hari ini, seharusnya kami pergi membeli benih. "Kau toh tidak membutuhkan aku untuk membeli sebungkus benih tanaman." Shanee memang pendiam, tapi bukan berarti dia tidak keras kepala. "Lantas, menanamnya bagaimana?" kejarnya gigih. "Me- mangnya kau mengharapkan aku mengerjakan semuanya seridiri?" "Aku pcrcaya kok padamu," -jawabku, meyaldnkan dia. "Aku yakin kau pasti bisa melakukannya dengan sangat bait" Shanee memutar bola matanya. "Ya sudah," tukasnya. "Siapa yang butuh fotosintesis bila hidupnya sedang di-penuhi cinta?" Sepanjang siang hingga sore itu, aku lupa sama sekali pada Mrs. Mela dan Shanee. Pokoknya aku bersenang-senang menikmati kebersamaanku dengan Les. Usai minum teh, aku mengantar Les ke tokonya dengan berjalan kaki. Karena pegawai lain yang seharusnya bekerja bersamanya di jam kerja malam belum datang, maka aku pun membantunya bekerja di balik konter sampai pegawai im datang. Tugasnya adalah memasukkan nama film yang dipinjam ke dalam komputer. Nilai pelajaran komputerku cukup baik, jadi aku tidak mengalami kesulitan apa pun. Les terkesan sekali. "Aku duhi harus belajar lama sekali baru bisa membuka fikr Les menghadiahkan ciuman kilat ke bibirku. "Ternyata, kau bukan cuma cantik, tapi juga pintar." Sebelum ini, belum pernah ada yang menyebutku pintar. Belakangan, ketika aku sedang mengembalikan beberapa film ke rak masing-masing, Les muncul di belakangku dan meremas pundakku. "Dan dia juga pekerja keras," katanya, seolah berbicara pada penonton yang tidak kelihatan. "Apa lagi yang diharapkan seorang laki-laki?" Aku tertawa. Mrs. Mela dan Hillary Spiggs bisa k serangan jantung bila mereka mendengar Les mendes- kripsikan aku sebagai "pekerja keras". Tapi, justru di situlah letak inti persoalannya, bukan? Aku tidak keberatan bekerja keras bila memang ada alasan yang tepat Tam-bahan lagi, aku senang kok bekerja di toko video. Mem-buatku merasa dewasa dan penting. Dan bertanggung jawab, persis seperti yang selalu didengung-dengungkan orang padaku. Aku hampir saja membalas ciuman Les, tapi saat itu, ada orang masuk ke toko. Les buru-buru mendorongku jauh-jauh. 'Tidak boleh berpacaran saat jam kerja," bisiknya sambil meremas pundakku lagi. Sekujur tubuhku bergetar. Rasanya seperti menyimpan rahasia yang orang lain tidak tahu. Dewasa banget, kan? Pegawai yang lain baru muncul menjelang jam 18.00, jadi setelah menunggunya mempersiapkan did untuk mulai bekerja, lalu berpamitan dengan Les, dan berjalan kaki pulang, aku baru sampai di rumah selepas jam 19.00. Dia sudah menungguku di dapur, minum bir sambil membuat kari. "Dari mana saja kau?" "Pergi." Tentu saja aku tidak bercerita pada«jw tentang Les. Itu kehidupan pribadiku yang kusimpan untuk diriku sendiri, tidak ada hubungannya dengan dia. Soalnya, paling-paling dia nanti hanya akan menghancurkannya. Tambahan lagi, ibuku mungkin juga ingin bertemu dengan Les. Tahu sendirilah, untuk memeriksa giginya, maksudnya mendekati aku, dan lain sebagainya. Hal-hal yang cuma bikin pusing. Walaupun misalnya Les tidak lantas takut aku bakal berubah menjadi' seperti monster ma yang rambutnya dicat dan sclera berpakaiannya buruk—dan meskipuo ibuku tidak Iangsung memberitahu Les berapa umurku sebenarnya—tapi aku yakin ibuku pasti bakal Iangsung membeberkan semua kejelekanku hingga mem-buat Les sebal setengah man padaku. Rasanya aku bisa mendengar suaranya menggema di telingaku. "Tahukah kau, dia itu suka memotong kuku kaki di karpet ruang tamu? Apa kau sudah lihat keadaan kamar tidurnya' yang seperti kapal pecah? Dia im kasar, tahu. Dia pernah melempar remote control ke luar jendela pada musim dingin yang lalu, hanya karena aku menyuruhnya mengerjakan PR..." Memang begitulah sifat ibuku. Kerjanya mengomeL mengomeL mengomel terus. Dan, yang lebih parah lagi, kalau saja dia tahu aku punya pacar yang datang ke rumahku sehabis kerja malam bila dia kebetulan sedang pergi ke rumah Chariey, dia pasti akan nongkrong terus di rumah. Aku tahu bagaimana dia. Dia kejam. Rela melakukan apa saja untuk menghancurkan kesenanganku. Ibu meletakkan pisau yang sedan tadi digunakannya unmk memotong-motong wortel. "Pergi ke mana?" Kulempaf tas sekolahku ke atas meja dan kusampirkan jaketku ke kursi. "Mengerjakan proyek sains dengan Shanee. Makan jam berapa kita?" Ibu menatapku dengan pandangan yang seolah bisa membaca isi benakku. "Aku tadi ditelepon Mrs. Mela." Dia mengucapkannya dengan nada mengancam. Kurasa dia memang bermaksud mengancamku. Aku meraih sebuah apel dari mangkuk buah. "Aku masih sempat mandi, tidak?" Ibu menyandarkan badannya ke konter, bersedekap, dalam posisi siap memarahi seperti biasanya. "Menurut Mrs. Mela, nilai-nilaimu merosot." Kugigit apelku. "Shakespeare membosankan. Aku tidak mengerti." Aku bisa melihat ujung lidahnya di antara bibir. "Karena itulah kau belajar Shakespeare di sekolah. Supaya ada yang menerangkan artinya padamu." "Yah, gitu deh...." Lagi-lagi kugigit apelku. "Well, aku sudah melakukannya kan di sekolah?" "Rupanya tidak," bantah Hillary Spiggs. "Sepertinya, kau malah sibuk menulis surat dan bercanda di sekolah." Aku mulai beranjak meninggalkan dapur. "Aku mau mandi dulu sebelum mak—" "Kau harus tetap di sini dan menjelaskan semua masa-lahnya padaku." Kutatap matanya dengan wajah tanpa ekspresi. 'Tidak ada masalah apa-apa. Aku cuma tidak suka Shakespeare." "Kata Mrs. Mela, bukan cuma di kelasnya saja kau bersikap begitu." "Well, dia salah." Si muka bam ma itu bergeming. "Pasti ada sesuatu," katanya gigih. "Sejak hari ulang tahunmu kemarin, sikapmu aneh sekali." Dia menyipitkan matanya dengan sikap curiga. "Kau bertemu seseorang kan, Lana? Im kan penyebabnya?" Meski tidak menganggap ibuku sebagai orang paling tolpl di seluruh muka planet ini, tapi aku memang menganggap dia tolol. Maksudku, dia tidak tahu apa-apa tentang /in hidup, cinta, atau hal-hal semacam itu. Dan bila dia pernah hidup di bawah usia tiga puluh tahun, dia meng- hapus segala ingatannya tentang masa im. Tapi, ada kalanya dia membuatku terkejut Seperti sekarang, misalnya, Bagaimana dia bisa tahu? 'Tentu saja aku bertemu orang lain." Aku tersenyum manis sekali. Sikapku yang sok lugu im selalu membuatnya marah sekali. "Aku bertemu lusinan orang setiap hari. Shanee, Amie, Gerri, MeryL Lisa—" "Sudahlah," sela si interogator ulung. 'Tidak usah repot-repot menyebutkan daftarnya padaku. Kau mengerti mak-sudku. Apa kau bertemu secara khusus dengan seseorang? Cowok?" Kulempar biji apelku ke keranjang sampah. "Agak susah juga bila dibilang aku tidak bertemu cowok. Sekolahku kan sekolah campuran?" Ibuku meraih gelas birnya. "Ya," tukasnya. "Aku ingat benar." Tidak Persis Seperti Romeo dan Juliet "BAGAIMANA proyek sains kalian?" tanya Amie saat kami sedang istirahat makan siang. Shanee menginjak kotak bekas susu sampai gepeng. "Oke-oke saja. Semua tanaman menunjukkan pertum-buhan sesuai perlakuan yang diterima. Ngerti kan, hasilnya berbeda-beda, tergantung berapa banyak cahaya matahari dan air -yang mereka dapatkan.... Sejauh ini sih belum ada yang mati." Dia memandangiku. "Bagaimana dengan tanamanmu, Lana?" Aku kontan mengerang. "Ya Tuhan, tanaman-tanam-anku...." Shanee membeli benih, menanamnya, lalu memisahkan tumbuhan-tumbuhan im ke dalam pot-pot kecil, lalu memberiku selusin untuk dirawat. Aku diminta meletakkan tiga pot di tempat yang hanya mendapat sedikit cahaya matahari, tiga di tempat yang kurang cahaya matahari, tiga lain-nya di tempat yang sama sekali tidak terkena cahaya matahari. Aku harus memeriksanya setiap hari dan membuat catatan. Tujuannya adalah melakukan pengamatan ilmiah. "Aku lupa sama sekali pada tanaman-tanaman im.... Habis, belakangan ini aku sibuk banget...." "Yang jelas bukan sibuk mengerjakan PR," sindir Gem; Shanee menahan senyum. "Memang bukan," timpal Amie dengan suara seperti anak kecil. "Tapi dengan Les____" Lalu dia melayangkan pandangan kesal padaku. "Katamu dia punya pekerjaan. Tapi kenapa sepertinya dia tidak pernah bekerja?" "Kau tahu, bukan cuma kau satu-satunya orang yang punya cowok, Lana," tegur Gerri. "Orang lain juga punya pacar dan sesekali masih bisa menyelesaikan tugas yang diberikan kepada mereka." Sepertinya ada makhluk lain yang merasuki mereka. Bukan makhluk luar angkasa, tapi pengkhotbah. Mengapa tiba-tiba semua orang jadi begitu cerewet? "Aku tidak pernah bilang bahwa aku satu-satunya orang yang punya cowok di dunia ini," bentakku kesal. "Aku cuma bilang bahwa belakangan ini aku sibuk." Amie mendengus. "Begitu, ya." "Memangnya kemarin malam kau ngapain?" tanya Shanee, si juru damai. "Ada yang menarik?" Dua temanku yang lain terkikik-kikik. "Tidak ada yang istimewa. Si monster tua pergi ke rumah Chadey, jadi sepulang kerja Les ke rumahku dan kami ngobroL" Dua minggu pertama setelah pacaran, Les dan aku memang sering jalan bareng. Pergi ke taman dan minum teh di kafe; nonton film di bioskop; makan malam bersama di restoran piigci dekat stasiun; jalan-jalan naik mobil ke Hendon karena Les senang mengendarai mobil dan berputar-putat sesuka hatinya. Tapi, seiring dengan berjalannya wakm, tidak ada lagi hal istimewa yang kami lakukan. Bukannya aku mengeluh Iho. Aku tidak mengeluh. Disuruh duduk di depan dinding yang baru dicat. dan menunggu camya kering pun aku mau, asal bersama Les. Tidak melakukan apa-apa bersama Les masih ratusan kali lebih menyenangkan daripada melakukan sesuatu dengan orang lain. Aku akan menemuinya untuk minum teh bersama sepulang sekolah, atau aku mampir ke tokonya, dan, bila kebetulan Hillary pergi, dia akan datang ke rumahku sekitar jam 23.30 atau jam 24.00, setelah dia selesai bekerja dan pub-pub tutup. Paling-paling kami non-ton televisi sebentar, lalu berciuman, dan setelah itu, dia pulang. Les tidak pernah mengajakku ke rumahnya, karena dia tinggal bersama empat cowok lain, jadi tidak ada privasi di sana. Padahal, dia ingin berduaan saja denganku. Gerri melirikku. "Kau sudah tidur dengannya?" Gerri sudah berhubungan seks sejak sebelum berulang tahun yang keempat belas. Jadi, praktis sejak dia masih tiga belas tahun. Setidaknya, begitulah menurut penga-kuannya. Dia tidak pernah mengungkapnya secara men-detail. "Tidak, belum." Kuremas kertas pembungkus rotiku. "Les im gentleman. Dia tidak pernah memaksaku." Memang benar begim, meski tak urung im membuatku sedikit bingung juga. Padahal, major saja bila cowok me-nyukai seks; wajar bila mereka suka memaksamu melaku-kannya. Tapi Les tidak pernah. Kami memang sering berciuman di mobilnya, juga di flatku bila kebetulan Hillary sedang tidak ada, kami bahkan pernah berciuman beberapa kali di kantor Blockbuster, tapi dia tidak pernah berusaha melakukan lebih jauh dari ita. Aku memang jarang memikirkan hal itu, tapi bila kebetulan terpikir olehku, aku tidak bisa memutuskan apakah ada sesuatu yang tidak beres dengan Les, atau denganku. Ternyata, bukan cuma aku satu-satunya yang merasa heran. "Oh, yang benar sofa____" Tawa Amie menyembur. "Apa kau yakin tidak ada yang tidak beres dengan dia?" "Jangan-jangan dia gay" seloroh Gerri. "Hanya saja dia belum menyadarinya." Aku juga pernah menonton film itu.. Hanya saja, cowok yang diperankan oleh Kevin Kline jelas-jelas gay. Maksudku, luar biasa banget bila hal itu sama sekali tidak terpikir kan olehnya atau orang lain. Sedang Les sama sekali tidak seperti im Kembali Shanee turun tangan menengahi. "Mungkin mereka benar-benar berhubungan serius," katanya. "Kita tidak bisa Iangsung mencap seorang cowok sebagai gay hanya karena dia tertarik pada hal-hal lain • selain seks." 'Tepat sekali." Aku memang selalu bisa mengandalkan Shanee. 'Tidak semua cowok gila seks, tahu." "Ingin berhubungan dengan pacarmu bukan gila seks," Amie menyergah tak mau kalah. "Im wajar namanya." Senyum Gerri sama licinnya dengan jejak lintah. "Kau kan sudah berpacaran dengan Les sekian lama. Paling tidak seharusnya dia pernah mengajakmu." Aku mengangkat sebelah alia. "Dari mana kau tahu dia belum pernah mengajakku?" Tawa Amie kontan meledak "Oh, mengerti aku sekarang," sergahnya. '"Jadi bukan Les yang gay. Tapi kau." Secara pribadi, menurutku, hidup akan jauh lebih mudah bila dilengkapi berbagai instruksi. Mengerti kan, seperti yang terdapat dalam kardus video atau stereo system. Dengan begitu, kau tidak perlu pusing-pusing memikirkan apa yang pantas atau tidak pantas dilakukan. Karena menurutku artikel-artikel dalam majalah selalu bisa membantu, maka hari im aku Iangsung pulang dan mencari tulisan yang kira-kira sama dengan masalah yang saat ini kuhadapi. Majalah menggunung bertumpuk-tumpuk di rumahku, karena ibuku selalu berniat membawanya ke tempat daur ulang tapi selalu batal. Kupikir, di salah satu majalah im pasti ada tulisan yang mirip dengan persoal-anku. Kalau bukan berupa artikel, ya surat yang dikirim ke pengasuh rubrik psikologi: Dear Auntie, Saya sudah berpacaran selama satu tahun, tapi pacar saya belum pernah mengajak berhubungan seks. Padahal kata orang saya cantik. Mengapa begitu? Tidak banyak yang bisa kutemukan. Ada banyak artikel tentang pakai an, rias wajah, olahraga, perbedaan antara pria dan wanita (siapa tahu kau belum menyadarinya), serta hal-hal lain semacam itu, tapi tidak ada yang persis sama dengan masalahku. Lalu ada sufat di majalah Cosmo, atau mungkin di majalah Marie Claire, dari seorang wanita yang suaminya tidak pernah mau berhubungan seks lagi dengannya. Sudah ldra-kira empat bulan. Pengasuh ensit psikologi menjawab bahwa sang suami mungkin kelelahan dan ensit karena tekanan di tempat kerja, Menurutnya, wanita pada umumnya mengira bahwa pria ingin berhubungan seks setiap wakm, padahal im tidak benar. Pria juga manusia, sama seperti wanita. Ada kalanya mereka merasa ingin berhubungan seks, tapi ada kalanya juga tidak. Bila kau letih sehabis bekerja keras seharian, katanya, kau tentu tidak ingin bermesraan lagi begitu sampai di rumah. Begitu juga lelaki. Walau tidak banyak yang ens kudapat dan majalah, tapi aku merasa lega karena pria ternyata memang tidak harus bemafsu terus setiap waktu. Kenyataan im sedikit mengurangi beban pikiranku. Maksudku, bukan berarti ada yang tidak beres dengan dia atau aku, kan? Memang begitulah hidup. Kemudian aku ingat pada sebuah film yang pernah kutonton. Film im bercerita tentang pria dan wanita yang hidup bersama, tapi hanya sebagai teman. Mereka berte-man dekat, tapi si pria tidak pernah memancing-mancing atau melakukan pendekatan apa pun. Si wanita heran sekali dan tidak tahu apa sebabnya. Ternyata, si pria tahu teman wanitanya pernah diperkosa dan takut berhubungan seks. Itulah sebabnya mengapa si pria memutuskan mereka lebih baik berteman saja, karena si pria ensit pada si wanita dan tidak ingin kehilangan dia. Setelah si wanita mengetahui ensiti yang sebenarnya, dia merayu si pria dan semua akhirnya beres. Situasinya memang tidak persis sama –antara aku dan Les, tapi cukup mirip. Les tidak tahu aku baru berumur lima belas tahun, tapi dia tahu aku belum pernah punya cowok sebelumnya. Dia mungkin hanya bersikap ensitive dan bijaksana. Dia memang orang yang sangat ensitive dan bijaksana. Dia tidak ingin mengambil kesempatan. I Dua malam setelah pembicaraanku dengan Amie, Shanee, rerri, aku baru bertemu lagi dengan Les. Dia mene- leponku pada hari Jumat dan berkata bahwa dia akan ensit, tapi karena ada teman kerjanya yang hendak menikah, mereka akan pergi minum-minum untuk mera-yakahnya, jadi dia akan ensit lebih malam daripada biasanya. Aku yakin sekali dia akan ensit. Hillary selalu pergi ke rumah Charley setiap Jumat malam. Saat im aku sudah merancang rencana di otakku. Kupi-kir, sekaranglah saatnya. Maksudku, karena aku toh sudah tahu bakal menikah dengan Les dan punya anak darinya, aku tidak melihat ensiti mengapa aku harus menahan-nahan. Semakin cepat kami memulai, semakin cepat pula aku meninggalkan Hillary Spiggs. Tapi aku tidak akan merayu dia. Aku merasa belum ens merayu orang. Ibaratnya, tidak mungkin bekerja sebagai tukang manikur di salon bila kau belum pernah dimanikur. Lagi pula, karena Les belum berpengalaman dengan wanita, kupikir dia mungkin juga tidak mengerti bila dirayu. Mungkin yang dia butuhkan hanyalah sedikit dorongan. Semua majalah sependapat bahwa tidak semua pria sangat percaya diri dalam hal seks. Apalagi bila orangnya ensitive seperti Les. Jadi aku sengaja akan mem-berinya kesempatan merayuku, tanpa dia harus menebak-nebak apakah akan ditolak atau tidak. Begim ibuku pergi, aku Iangsung menyiapkan air mandi untuk berendam. Kumasukkan tiga bola minyak mandi dan –memutar album George Michael untuk menimbulkan perasaan seksi. Aku berbaring di sana, menggunakan jari-jari kakiku untuk memutar keran air panas untuk me-nambah ketinggian air, sambil membayangkan Les merayuku. “Sini, biar kupijat punggungmu,” dia berbisik “Biarkan! xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx yang kannya pasti lebih dari satu orang. Di kaMMI banyak hanya ada dua puluh lilin, tapi dibuwhkan waktt menyalakan dua-tiga batang, eh yang pertama padam. Atau, setelah berhasil menyalakan enam batang yang kuletakkan di atas rak berlaci, separonya Iangsung padam begim aku berjalan mdewatinya. Setelah semuanya berhasil dinyalakan, seluruh penjuru kamar penuh asap, seolah baru terjadi tembak-ternbakkan di situ. Beberapa lilin yang pertama disulut sudah mulai padam lagi. Aku sedang menyemprotkan sedikit parfum Opium ke udara, untuk menghalau bau belerang yang timbul dari banyaknya korek api yang kusulut, ketika mendengar bel pintu berdering. Aku berlari ke ruang depan, menarik napas dalam-dalam, lalu tersenyum. "Halo, babe." Les mencondongkan badan ke arahku dari ambang pinta. Tatapannya seperti spons menyerap losion tumpah. "Benarkah yang di balik kemejamu im bikini?" Sorot matanya nanar dan senyumnya kaku, seperti orang yang melihat penari telanjang beraksi di bar topless. Aku bisa merasakan wajahku memerah. Tuhan member-katimu, Ellen Baridnl '"Begitulah." Setengah dari diriku ingin para tetangga melihatku berciuman dengannya di depan pintu, tapi setengahnya lagi tahu bila mereka melihat kami berciuman, cepat atau kmbat, salah seorang di antara mereka pasti bakal mela-porkannya pada ibuku. Jadi, kutarik Les ke dalam, dan dia nyaris terjerembap melewatiku. Aku melemparkan kepalaku. sedemikian rupa supaya dia elihat anting-antingku. Anting-anting panjang sangat seksi. "Sepertinya kau habis bersenang-senang," godaku. Les menyandarkan punggungnya di ambang pinta masuk menuju ruang tamu, menyeringai Tebar seperti labu Halloween. "Video," gumamnya. "Kami nonton video..." Senyum buah labu im berubah menjadi seringai menggoda. "Akan jauh lebih menyenangkan bila ada kau di sana tadi." "Benarkah?" dengkurku. "Kau yakin?' Les menelan ludah dan mengisap bibirnya. Kepalanya mengangguk-angguk. "Kau kelihatan cantik." Dia membentangkan kedua lengannya. "Mau cium aku tidak?" Kubasahi bibir sambil berjalan menghampirinya, lambat-lambat. "Mungkin..." Kata "mungkin" selalu membuahkan hasil. Les menerjang maju, mendesakku ke dinding. Dia lebih besar daripadaku. Aku tidak berdaya di bawah tindihannya. Rasanya sangat menggairahkan. Bau napasnya seperti bau dapur ibuku setelah pesta usai, tapi kesannya jantan dan nyaris memabukkan. Kecuali bila sekarang ini aku sedang mabuk karena keracunan asap. "Aku akan menciummu sampai Peter Pan tumbuh besar...." bisikku. Kalimat im kucomot dari adegan film, tapi Les tidak mengenalinya. "Seharusnya kau menjadi penulis." Bibirnya menyentuh bibirku. "Atau pencium profesional...." Sukar dipercaya! Kami sudah sata setengah bulan berpacaran tapi aku bahkan belum pernah melepas braku. Sekarang, tiba-tiba saja Les sudah mengerayangiku di mana-mana. Lidah, tangan, lutut, bahkan wajah. Dia menggesek- gesekkan pipinya ke pipiku. Rasanya seperti dijilat kucing yang sangat besar dan kuat. Aku tak menggubris rasa sakit yang kurasakan dan balas menggesek-gesek. Orang yang paling tidak ingin kulihat sekarang ini (atau selama-lamanya) adalah Hillary Spiggs, tapi anehnya, sebenarnya aku ingin juga dia melihatok* sekarang. Coba lihat gadis kecilmu, Mrs. Spiggs, lihat baik-baik dan terimalah! "Ayo, ke tempat tidur." Aku berbicara dengan suara pelan, seperti yang biasa dilakukan artis-artis di film romantis, dan wajahku me-nempel erat di lehernya, jadi aku tidak yakin apakah Les mendengarku atau tidak. Kudorong dia. "Sudah malam... ayo, ke kamarku..." Tak terpikir sama sekali olehku bahwa semuanya akan semudah ini "Tempat tidur," ujar Les, dan dia seperti terjerembap ke belakang. Aku cepat-cepat memegangi badannya dan menggiring-nya ke lorong. Aku mengulurkan tangan melewati badannya dan mem-buka pinm kamarku. Kurasa dia tidak sadar, karena dia merangsek maju, menarikku besamanya. Lalu dia Iangsung menegakkan badan secara tiba-tiba hingga aku menubruk punggungnya dan terempas kembali ke pinta. - "Ya Tuhan!" Aku tidak pernah mendengar Les berteriak dengan suara setakut ita. "Kebakaran!" Sesaat, aku mengira kamarku benar-benar terbakar. Soal-nya, aku sudah lupa sama sekali pada lilin-lilin im. Bahaya kebakaran memang bisa. saja terjadi Aku memandang berkeliling, lalu mengembuskan napas 'Tidak apa-apa," kataku meyakinkan dia. Tidak ada benda lain yang terbakar selain lilin. "Im cuma nyala lilin." Les mengangguk, lambat-lambat, seolah yang kujelaskan itu sesuatu yang sangat rumit dan dia sedang berusaha mencerna semuanya. "Oh, benar. Lilin." Aku separo mengira dia akan meraupku dalam peluk-annya dan membopongku, seperti Nicolas Cage meraup Cher di film Moonstruck, tapi aku merasa harus bersikap adil. Bagaimanapun, Les sudah cukup kepayahan membawa dirinya sendiri, apalagi kalau mesti membopong aku juga Les menyambarku, lalu mulai menjilati telingaku. Im sedikit mengingatkanku pada anjing nenek "Kau membuat lilinku menyala," gum am Les. "Sama," gumamku. "Belum pernah aku merasa seperti ini sebelumnya." Les bersendawa. "Aku juga." Dia mengelus dadaku. "Aku juga belum pernah merabamu seperti ini." Keadaan menjadi sedikit panas sesudahnya. Belum pernah aku melihamya senafsu itu. Dan karena dia begitu bersemangat, aku juga ikut-ikutan bersemangat Adegan-adegan penuh gairah berkelebat di depan mataku. Beberapa bahkan berwarna hitam-putih. Sambil berciuman dan seperti saling memanjad, akhirnya kami sampai juga di tempat tidur. Aku membantu Les melepas sepam dan celana panjangnya. Aku harus mening-galkannya sebentar, untuk menyalakan stereo, tapi waktu aku kembali, dia sudah telentang di tempat tidur dengan senyum menghias wajah. "Sayang...." erangnya. "Sayang... sayang..." Aku naik ke sebelahnya. Kedua mata Les terpejam, tapi dia Iangsung merengkuh tubuhku dan menyurukkan kepala ke badanku. Kalanya menggesek-gesek kakiku. "Kulit...," gumam Les, menyentakkan braku. "Kulit bertemu kulit..." Kulit bertemu kulit.... Perkataan paling dewasa yang pernah diucapkan sese-orang kepadaku. Kucium dia dengan penuh gairah. Dia balas menciumku. Berkali-kali. Kami berciuman, mengerang-ngerang, dan lain sebagai-nya, kemudian Les mulai mendesakkan mbuhnya ke tubuhku. Aku bisa merasakannya meraba-raba kian kemari di antara kami. Dorong... dorong... menggeram... menggeram... "Tidak ketemu," desah Les. Aku tidak begitu tahu apa yang dia cari. Kemudian, sesuam yang menyakitkan menyentakkanku dan bola mata Les berputar-putar, seolah dia sedang kejang-kejang, dan sejurus kemudian, dia berguling telen-tang. "Astaga," katanya dengan napas terengah-engah. "Kau juga baru pertama kali ini melakukannya?" Kedengarannya memang aneh, tapi sebenarnya aku tidak benar-benar tahu apa yang terjadi hingga detik itu-Pertama sekali, aku tidak ingat melihat Les memakai pengaman. Aku memang tidak yakin, tapi aku mendapat kesan im tidak bisa dilakukan jauh sebelumnya. Tambahan lagi, seks ternyata tidak seperti yang kubayangkan. Aku bertumpu pada sam siku dan menyandarkan di dadanya. "Maksudmu, kau juga tidak pernah melaku kannya sebelum ini?" Les memandangi langit-langit. Dia menggeleng. "Menu- rutmu bagaimana?" tanyanya. Kukecup sisi kepalanya. "Menuruta* bagaimana?" Les menyeringai. "Menurutku, tadi asyik sekali." Kubaringkan kepalaku di bahunya. "Menurutku juga begitu." Bumi Memanggil Lana Spiggs KALAU kuingat-ingat lagi sekarang, sepertinya tidur dengan Lies membuatku seperti selalu dalam keadaan trance. Seperti dalam cerita dongeng, tapi sebaliknya. Ciuman sang pa-ngeran justru tidak membangunkanku, tapi membuatku tertidur. Segala sesuam berputar di sekelilingku seperti kabut Aku bergerak seperti robot, makan, tidur, nonton televisi," membawa buku-bukuku ke dan dari sekolah, tapi tidak benar-benar menghubungkan semua kegiatan im dengan otakku. Yang ada dalam pikiranku hanyalah masa depan. Masa depanku bersama Les. Kota Zamrud di kisah Oz tidak ada apa-apanya dibandingkan khayalanku tentang masa depan. Aku butuh waktu yang lama sekali untuk sampai di suatu tempat, karena selalu berhenti untuk melihat sesuatu. Aku membaca kertas-kertas pengumuman yang tertempel "di jendela kantor agen real estate, mencari flat yang cocok untuk Les dan aku. Aku juga mampir di setiap toko perabot yang kulewati (kecuali toko barang bekas) untuk, melihat-lihat barang yang dijual di sana. Aku bahkan pernah nekat pergi melihat-lihat toko yang menjual kereta bayi dan perlengkapan anak lainnya. Tidak ketinggalan, aku juga meneliti semua katalog ibuku, terutama yang dari Argos dan Ikea, berulang kali. Aku memilih wajan, panci, dan handuk yang bakal dimiliki Les dan aku. Aku juga memilih perabot dan gorden. Aku membayangkan orang-orang datang ke rumahku dan mengagumi kepan- daianku menata rumah. "Semuanya hasil dekorasi Lana," kata Les bangga. "Dia istri yang sempurna." Aku bahagia. Akhirnya aku benar-benar menjadi wanita yang utuh; jadi tentu saja aku bahagia. Tidak semuanya indah dan tenang. Seperti kata nenekku, ibarat luka yang selalu mengundang lalat, begitu juga cinta. Jelas, ada lalat yang mengusik ketenangan cintaku. "Lalat" yang terbesar adalah ibuku dan pacarnya. Hillary dan Charley selalu saja bertengkar hebat sebelum NataL kemudian mereka pums hubungan untuk "selama-lama-nya". Mereka sudah berpacaran selama enam tahun, dan selama enam tahun berturut-turut, selalu pums untuk "selama-lamanya" menjelang Natal. "Ini yang terakhir!" begim Hillary akan berteriak. "Aku tidak sudi bertemu lagi dengannyal" I Berikumya dia akan mengeluarkan semua hadiah yang pernah diberikan Charley untuknya (kecuali yang besar-besar seperti televisi dan stereo, tenm saja) lalu memasukrj kannya ke kardus dan meninggalkannya di ruang depan, untuk diambil oleh Charley. Tapi Charley tidak pernah mau mengambilnya. Biasanya, mereka akan berbaikan sesudah Han Natal, sehingga selalu pergi bareng pada Malam Tahun Baru. Tahun ini persis sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Tanggal 10 Desember (sedikit lebih cepat daripada biasanya) ibunya menyatakan bahwa dia dan Charley sudah' pums untuk "selamaJamanya", dan bertanya apakah aku mau pergi ke bioskop bersamanya malam itu. Pertengkaran ibuku dengan Charley benar-benar mem-buat kehidupan cintaku yang baru berantakan. Karena Hillary hampir tidak pernah pergi lagi kecuali dia bisa menyeretku bersamanya, Les jadi tidak bisa datang lagi ke rumahku. Dan aku juga tidak bisa lagi pergi seenaknya— tanpa mengarang alasan untuk pergi ke suatu tempat, bersama seseorang yang bukan Les. Dengan tidak adanya Charley yang menyita perhatiannya, Hillary mengawasiku seperti dang. Aku baru mulai menyesuaikan diri dengan semua itu ketika Hari Natal benar-benar tiba. Les harus pergi ke Norwich selama satu. minggu untuk menengok ibunya. Pada malam menjelang keberangkatannya, dia mengajakku ke rumahnya untuk pertama kali. Tidak ada orang di rumah, karena semuanya sudah pergi berlibur. Paling tidak kami punya kesempatan melakukannya lagi. Rumah Les sama seperti rumah-rumah lain di jalan ita Rumah keluarga yang nyaman, sedikit mewah. Tidak ada flat atau rumah susun di daerah tempat tinggal Les. Meski begitu, bagian dalamnya berbeda, karena rumah itu tidak memiliki ruang tamu, hanya lima buah kamar dan sebuah dapur. Sam-satunya ruangan yang kulihat selain kamar Les adalah dapur. Dapurnya bersih sekali padahal lima cowok tinggal sekaligus di situ, tapi Les sendiri orangnya sangat rapi. Bahkan waktu membuatkan teh, dia Iangsung mencuci sendoknya dan meletakkannya di rak piring sebelum kami membawa cangkir kami ke lantai atas. Kamar Les yang paling kecil. Di dalamnya ada pesawat televisi, kasur yang dihamparkan di lantai, dan seperangkat komputer. "Bagaimana?" tanya Les. "Apa pendapatmu?" Kamarnya bersih dan rapi, tapi agak kosong. Menurut pendapatku, kamar im membutuhkan sen tuhan tangan wanita. "Bagus," jawabku. 'Tapi perlu ditambah beberapa fdto. Kau tahu kan, supaya kesannya lebih hangat." Les menyeringai padaku dengan sikap sayang. "Itu tidak pernah terpikirkan olehku." Aku menghadiahi Les sweter longgar yang keren banget dari Covent Garden. Dalam balutan sweter itu, dia jadi mirip Kevin Costner. Mahalnya minta ampun sampai-sampai aku hanya bisa membelikan hadiah cokelat untuk yang lain-lain. Les memberiku gelang rantai dari Argos. Ada hiasan bandulnya berbentuk hamburger kecil,-disepuh emas. "Mengingatkanku padamu," kata Les. "Kau suka?" Memang bukan bandul berbentuk jantung hati dari emas, tapi jelas aku sangat menyukainya. "Suka sekali!" pekikku. "Ini hadiah paling indah yang pernah kuterima." Kupeluk dia erat-erat. Tapi tidak semua seindah im malam ini. Kami berguling-guling di kasurhya yang kecil, lutut kami menghantam dinding dan siku kami saling mem-ben tur, tapi tidak terjadi apa-apa, kecuali cangkir-cangkir teh terguling kena tendang. < Les meminta maaf. Menurut dia, penyebabnya karena selama ini dia tinggal dengan banyak orang lain. Dia jadi waswas terus. Walaupun mereka semua sudah pergi, dia tetap saja khawatir salah seorang dari mereka tahu-tahu nongol dan masuk ke kamarnya. Karena-memang begitulah sifat teman-teman serumahnya. Aku berusaha mengerti. Hal semacam im memang selalu terjadi di televisi. "Tidak apa-apa kok," hihurku, meyakinkan dia. "Hal petti ini biasa terjadi pada setiap orang." "Kau baik sekali," kata Les. Dia mengecup keningku. Dan sangat dewasa untuk gadis yang baru berusia delapan las tahun." Mungkin aku tidak akan bersikap sedewasa im kalau ja aku tahu bahwa im akan menjadi kebersamaan kami terakhir hingga bermmggu-minggu kemudian. Sejak dulu aku menyukai Hari Natal, apalagi wakm aku masih kecil, tapi tahun ini, Natal berjalan dengan sangat lambat dan suasananya sangat membosankan. Seperti biasa, seluruh anggota keluargaku pergi ke rumah Charlene, karena dia yang memiliki anak Juga, seperti biasa, nenek-kulah yang ke bagian jatah memasak semua makanan, sementara anak perempuan dan cucu-cucu perempuannya (kecuali yang satu ini, tentu saja) asyik mmum-minum. Setiap tahun, Dara memaksa kami duduk dan mende-ngarkan album Phil Spector sebanyak paling sedikit selusin kali. Setiap tahun pula, semua orang - memohon-mohori agar dia jangan memutar album im. Hillary mendekam selama delapan jam penuh di dapur, menangisi Charley. Setiap kali aku membuka pintu dapur karena disuruh mengambil sesuam di sana, aku mendengarnya mengatakan hal yang im-im juga. "Pokoknya sekarang aku tidak main-main... kali ini tidak ada ampun lagi..." kemudian me-numpahkan air matanya ke gelas anggur. Bedanya hanyalah pada orang yang dijadikan teman curhat—Charlene, Dara, pacar Charlene, Justin, pacar Dara, Mick, Nenek, bahkan Drew dan Courtney, anak-anak Charlene.... Suatu kali, aku bahkan memergokinya sedang berbicara pada kulkas. Pacar Charlene dan pacar J)ara bertengkar tentang sepak bola. Charlene dan Dara bertengkar memperdebatkan benar-tidaknya anak-anak Charlene kebanyakan nonton televisi. Sementara anak-anak Charlene memang selalu bertengkar. Aku berusaha tidak memedulikan mereka dengan berpura-pura tidak ada di sana. Aku berkhayal berada di rumah bersama Les. Dia meninggalkan ibunya segera setelah makan malam untuk memberi kejutan padaku. Aku pulang sendirian dari rumah Charlene dan im dia di sana, menungguku. Dia memba-wakan pohon Natal plastik warna perak dan menghiasinya dengan bola-bola merah dan lampu-lampu kecil warna hijau yang kelihatannya mirip wreath, hiasan pintu bundar khas Natal, persis seperti yang pernah kulihat di Paperchase. Di bawahnya bertumpuk banyak sekali kado, semuanya dibungkus dengan kertas mengilap yang mewah. Bukan kertas kado murahan seperti yang sering dibeli Hillary, sam pon dapat sepuluh rol, yang separonya bertuliskan "Selamat Ulang Tahun" atau "Selamat Ulang Tahun Pernikahan". Kado-kado itu semuanya cantik dan elegan, dan diikat dengan pita satin sungguhan, bukan pita pkstik tempelan seperti yang digemari para resepsionis dokter. Aku dan Les membuka kado-kado im. sambil menyesap sampanye. Les sedang mencoba salah satu hadiah yang kuberikan padanya—blazer Armani dari sutra—waktu aku menyadari bahwa nenekku sedang meneriakiku. Agak susah mendengar suaranya karena di • .sini berisik sekali, suara televisi dan stereo menggelegat, orang-orang mengobroL dan anak-anak menjerit-jerit, di-tambah Chadene dan Hillary sekarang berdebat. Aku mengedipkan mata. "Apa?" Nenek menenggak habis sherry-nya. fiPli "Hari ini kau pendiam sekali. Sedang tidak enak badan, ya?" Seandainya saja begitu. Kalau benar aku sedang sakit, mungkin ada yang mau mengantarku pulang dan aku benar-benar akan menemukan Les sudah meninggalkan rumah ibunya dan menungguku di sana. Kalaupun tidak, setidaknya aku bisa sendirian di rumah, mengkhayalkan dia dalam ketenangan dan kedamaian. "Im karena aku sudah dewasa," kataku padanya. "Anak perempuan Nenek mungkin tidak menyadarinya, tapi aku sudah bukan anak kecil lagi." "Aku .senang mendengarnya," sergah Nenek. "Karena dengan begitu, aku bisa memberimu tugas mencuci piring." Namun, boro-boro pulang lebih awaL Les malah jatuh sakit sehari setelah Natal dan tidak bisa pulang sama sekali. . "Bercanda kau," mkasku. "Memangnya kau sakit apa\ sakit pes?" "Flu," jawab Les dengan suara serak. "Menurut dokter, bisa jadi dua minggu lagi aku baru sembuh. Mungkin malah lebih." "Ya Tuhan..." Bagiku, dua atau tiga minggu tanpa Les sama saja dengan dua atau tiga minggu tanpa air. Tam-bahan lagi, aku pernah membaca bahwa flu bisa juga membawa kematian. "Mungkin sebaiknya kau kembali saja ke London. Aku bisa ke rumahmu dan merawatmu." Les mendesah karena rasa sakit bercampur demam. Suaranya rendah dan tertekan. "Mana mungkin ibuku mengizinkan," katanya. "Lagi pula, aku kan membawa mobil ke sini. Tidak mungkin aku bisa menyetir sendiri ke London dalam keadaan seperti ini." Aku meminta nomor telepon rumah ibunya, supaya aku bisa menelepon bila ibunya sedang keluar rumah. 'Turun dari tempat tidur untuk menelepon saja aku tidak boleh," Les berdalih. "Kalaupun sekarang aku bisa menelepon, im karena dia sedang ke kota. Dan kalau dia sampai tahu aku menggunakan teleponnya untuk menelepon ke luar kota____ Penghasilan ibuku sangat terbatas. Setiap sen pun dihitungnya dengan cermat." "Well, kalau begitu berikan alamat rumahnya padaku." Aku akan menulis untuknya setiap hari. Surat dan kartu pos. Juga mengirim hadiah-hadiah kecil yang bisa meng-hibur hatinya. "Oh, tidak," sergah Les. "Ibuku pulang. Aku akan meneleponmu lagi nanti kalau bisa." Sesudah telepon im, setiap saat aku berbicara dengan Les dalam pikiranku. Aku mendekam di dalam kamar, memasang telinga mendengar dering telepon, menulis surat dan pesan pendek yang rencananya akan kukirim segera setelah Les meneleponku lagi untuk memberitahu-kan alamat rumah ibunya padaku. Dear Les, Entab bagaimana aku bisa mengungkapkannya, tapi aku benar-benar cinta padamu. Aku cinta segala sesuatu dalam dirimu. Bahkan saat kau marah____ Dear La, Hari ini, setelah. sarapan (roti panggang dengan sereal dan dm cangkir teh) aku pergi berbelanja, tapi-yang kupikirkan cuma kau____ Dear Les, Kubarap kau benar-benar istirahat dan makan makananyang sehat. Minum banyak airputih.... Tapi Les "tidak pernah meneleponku lagi. Pasti karena ibunya mengawasinya dengan sangat ketat. Kalau bukan karena itu, berarti dia sudah meninggal. Les tidak meninggal, tapi dia juga tidak kembali ke London selama tiga minggu. Tiga minggu yang terpanjang dalam hidupku. Aku sudah lupa berapa kosong dan membosankannya hidupku tanpa dia, tapi semua im kembali dengan cepat Ada kalanya aku merasa sepertinya dia tidak pernah ada. Han-had muram yang membosankan membentang membentuk rangkaian hari muram yang membosankan. Kerjaku hanya makan, tidur, nonton TV. Aku merasa seperti hamster yang berputar-putar di roda mainannya. Kegiatan yang sama, pertengkaran yang sama, kehampaan yang sama. Bahkan si Spiggs pun sadar kalau aku depresi. "Tumben sikapmu murung seperti im pada musim huran," dia berkomentar saat kami sedang makan malam. "Seperti apa?" ranyaku, mengira bahwa dia pasti akan berkata bahwa aku tampak "sendu", "patah hati' "merana". "Seperti dihukum kerja paksa seumur hidup," jawab ibuku. Kupandangi ibuku dengan tatapan menuduh. "Memang iya kok" Les kembali pada hari Jumat Dia Iangsung meneleponku begitu sampai di rumah. Hillary dan Charley belum juga berbaikan. Jadi, saat itu-ibuku sedang berada di dapur, hanya beberapa meter saja dariku, sedang mengutak-atik ketel, telinganya kontan ter-buka lebar seperti kuping anjing pemburu. Aku Iangsung memunggunginya. "Oh, Amie," seruku dengan nada ceria dan biasa saja. "Apa kabar?" "Amie?" tanya Les heran. "Lana, ini aku. Les. Aku baru saja sampai." "Oh, kasihan kau..." ujarku. "Sekarang kau sudah lebih sehat?" "Oh, aku mengerti," kata Les. "Sekarang kau sedang tidak bisa berbicara. Yeah, aku masih lemah, tapi sudah jauh lebih sehat." Dia merendahkan suaranya "Aku me-mikirkanmu terus." Aliran darah panas menyembur ke segenap pembuluh darahku. "Aku fuga," sahutku. "Sering sekali...." Aku tersenyum. "Mungkin kita bisa nonton film bareng atau bagaimana. Mumpung kau sudah sehat." "Jangan malam ini," teriak ibuku. "Malam ini kau akan pergi berbelanja bersamaku. Ingat?" Bagaimana mungkin aku lupa pada kegiatan yang sangat mengasyikkan im? "Lihat-lihat keadaan dulu, ya," kata Les. "Soalnya, aku kan sudah lama tidak masuk kerja." Saat-saat seperti inilah yang membuatku yakin begku aku berkeluarga nanti, aku pasti bisa punya karier gemilang sebagai artis. Tak sedikit pun ada nada kecewa dalam suaraku wakm aku berkata, "Oh, tenm saja. Aku tahu banyak sekali yang harus kaubereskan terlebih dulu." "Aku juga ketinggalan pesta-pesta liburan," Les me-nambahkan. 'Jadi, aku juga harus menemui banyak orang." Hampir saja aku menyergah, "Memangnya kauanggap aku apa? Roti tawar?" Untunglah im tidak harus kulakukan. Les, seperti biasa, sangat memahami perasaanku. "Begird saja," kata Les. "Bagaimana kalau besok kau datang ke toko? Besok aku kerja malam." "Baiklah," jawabku. "Sampai ketemu besok." "Jangan lupa, pakai celana pendek yang kaupakai waktu itu," pesan Les. Dia tertawa. "Supaya aku tahu." Aku tersenyum, tenggelam dalam perasaan hangat yang memenuhi hatiku. Ternyata selama ini dia benar-benar memikirkan aku. Musim dingin merambat pelan, muram dan kelabu. Tidak jauh beda dengan hidupku, muram dan kelabu juga. 'Hillary biasanya berada di rumah pada malam haH, sementara Les biasanya bekerja. Karena Shanee tinggal bersama ibu, dua adik lelaki, satu adik perempuan (yang sekamar dengannya), dua ekor kucing, seekor anjing, dan sejumlah alia peliharaan lain—dan nyaris tidak memiliki privasi di rumah—dia jadi lebih sering datang ke rumahku daripada aku yang pergi ke rumahnya. Kebiasaan im sudah berlangsung sejak kami duduk di bangku SD, tapi sekarang semuanya berubah. Karena banyaknya "lalat" yang mengganggu hubungan cintaku, aku jadi tidak punya tujuan lain. Les begitu sibuk bekerja hingga kami jarang bisa bertemu, dan Hillary sekarang nongkrong terus di sofa depan televisi. Rumah keluarga Tyler seperti zona perang dengan semua 'anak kecil -itu, tapi lebih baik berada di sana daripada dipenjara bersama sipir penjara yang tidak pernah berhenti menyu-ruhmu mengerjakan PR, atau memarahimu karena menu-rutoya rias wajahmu terlalu tebal, usil bertanya ke mana kau pergi, kapan pulang, dengan siapa, dan lain sebagainya. "Ya Tuhan..." teriakku, mencoba mengalahkan suara televisi, pelrik jerit adik-adik lelaki Shanee, serta gelegar suara radio dari kamar tidurnya. "Kadang-kadang aku sangat merindukannya, tahu?" Kupandangi dia. Mata Shanee tertuju pada film yang sedang kami tonton. Kedua adik lelakinya duduk di lantai di depan kami, berlagak menirukan serbuan pesawat udara dan lempar-lemparan krayon. "Kau benar-benar harus mencobanya," lanjutku. ''Asyik banget pokoknya." Shanee mengangguk "Aku tahu," sahutnya, matanya tetap tidak beralih dari adegan di layar kaca, Robert De Niro dan Sharon Stone sedang asyik berciuman dengan penuh gairah. "Aku memang sudah berniat mencobanya. Pada akhirriya nanti." Kurangkul diriku sendiri. "Seks...," desahku penuh kerinduan. 'Tidak ada yang seperti im." ¦ Terus terang saja, kayaknya aku lebih suka bercerita tentang seks bersama Les daripada melakukannya dengan dia. Maksudku, memang sih seks itu mengasyikkan— dashyat, pokoknya—tapi ternyata, rasanya tddaklah sehebat yang digembar-gemborkan orang selama ini. Ciuman dan belaiannya lumayan menyenangkan, tapi tidak berlang-sung lama, dan seksnya sendiri langsung selesai begitu dimulai. Aku pern ah mencuri-curi baca buku tuntunan berKobungan seks di perpustakaan, jadi aku tahu bahwa hal-hal seperti ini membutuhkan waktu. Latihan akan menyempurnakan—hanya sayang kami tidak pernah bisa berlatih. Shanee memencet tombol di remote control lalu berdiri. "Aku mau mengambil minuman," katanya. "Ada yang mau minum?" Ternyata semua mau, termasuk si anjing. Aku mengikuti Shanee ke dapur sambil terus mendis-kusikan seks, seperti lazimnya kaum wanita. Dalam banyak hah Shanee pendengar yang baik, karend dia sama sekali belum pernah berhubungan seks, jadi aku bebas bercerita apa saja tanpa perlu khawatir dia bakal tahu lebih banyak dariku. Jangankan pacaran, bersentuhan dengan cowok saja paling-paling hanya terjadi bila Shanee bertabrakan dengan cowok di jalan. Shanee membuka kulkas dan rhelongokkan kepala ke dalam. -'Jadi, kapan kau akan bertemu Les lagi?" tanyanya, menyela omonganku. "Aku baru ketemu dengannya "kemarin." Aku mengambil lima gelas dari rak cuci piring. Aku memang mampir ke toko Les kemarin malam, tapi saat itu pengunjungnya padat sekali, jadi aku tidak bisa lama-lama di sana. "Tt tidak secara intim, kau mengerti kan?" "Kurang-lebih." Kekurangannya membicarakan masalah seks dengan Shanee adajah karena dia tidak berpengalaman dalam hal itu, dia jadi gampang bosan mendengar ceritaku. "Akan jauh lebih menyenangkan bila kau juga punya pacar," keluhku. "Dengan begitu, kau pasti senang meng-obrol tentang seks. Sementara kalau seperti sekarang, rasanya seperti berusaha • melukiskan Miami kepada orang yang meninggalkan Hebrides pun tidak pernah." Shanee mengeluarkan kepala dari dalam kulkas dengan membawa dua karton jus. "Miami dan Disney World itu tidak sama," katanya memberitahuku. Kupandangi dia. Aku sama sekali tidak mengerti mak-sudnya. Shanee mendesah. "Jadi, sudah berapa lama kau terakhir kali berhubungan?" tanyanya. Sebenarnya, kami baru satu kali melakukannya, tapi Shanee toh tidak tahu. Kami sudah mencoba beberapa kali, tapi selalu saja ada yang tidak beres. Pertama kalinya adalah waktu si Hillary pergi menengok nenekku di Hastings. Saking girangnya bisa bebas berduaan di flat, kami kebablasan menghabiskan sebotol anggur Natal di-tambah sebotol sherry milik ibu. Yang kuingaf dari peris-tiwa itu hanyalah aku muntah-muntah di keranjang sam-pah. pada tengah malam buta. Kali lainnya lagi, kami pernah mencoba melakukannya di jok belakang mobil Les, dan satu kali lagi di toko setelah toko tutup. Sayang-nya, hawa di dalam mobil terlalu dingin hingga tidak mungkin kami membuka baju, mungkin malah untung, karena tak lama kemudian mobil polisi berhenti di samping mobil kami. Dan aku tidak sanggup membuka baju di toko, karena begitu banyaknya video yang mengelilingi kami hingga kami kehilangan minat. "Serninggu," jawabku berbohong. "Sam minggu yang sangat panjang dan menyiksa." Shanee mengangguk ke arah rak di atas bak cuci. "Di dalam sana ada keripik dan biskuit," dia mengarahkan. Kukeluarkan makanan im dari dalam lemari. "Entah sampai kapan aku bisa bertahan," aku mengakui. "Aku benar-benar rindu padanya." "Ibuku tidak pernah punya pacar sejak ayahku mening-galkannya lima tahun lalu," kata Shanee. "Tapi sepertinya dia tenang-tenang saja, tuh." "Im karena dia sudah ma. Beda kalau kau sedang mekar-mekarnya." a!!?!*5* Shanee mulai menuangkan jus ke gelas-gelas. "Latihan fisik," dia memutuskan. "Ada baiknya kau melakukan lari lintas alam atau—" Aku menoleh padanya karena dia mendadak berhenti bicara. Kulihat dia memandangiku dengan kepala dite-lengkan ke sam sisi, tingkahnya seperti orang yang baru menyadari bahwa aku punya empat tangan atau bagaimana. "Apa?" Shanee menggugah dirinya sendiri.' "Tidak ada apa-apa," Dia mengalihkan perhatian kembali ke gelas-gelasnya. "Aku cuma heran apakah celana jins yang kaupakai itu celana yang kaubeli di Brent Cross bersamaku bulan September lalu?" Aku meletakkan keripik dan biskuit di konter. "Yeah. Memangnya kenapa?" Shanee mengangkat bahu. "Entahlah. Kelihatannya kok berbeda." Kutarik celanaku im di bagian pinggangnya. "Celana ini mengerut," kataku padanya. "Dia bahkan tidak bisa mencuci celana dengan benar tanpa merusakkannya." "Pasti im penyebabnya..." Dia melirikku dan tersenyum mengejek. "Atau barangkali karena kau kebanyakan makan yang manis-manis Natal kemarin?" 'Ya Tuhan, tidak! Aku malah jarang makan. Wakm im aku kan sedang kangen-kangennya pada Les!" Shanee masih mengamatiku dengan tatapan saksama, seolah aku tanaman proyek sainsnya. "Wajahmu kelihatan lebih gemuk" - Kuangkat bungkusan keripik dan dua gelas sekaligus. "Ita karena kebanyakan berciuman," kataku, menjawab keheranannya. "Otot-ototnya mengembang." Karena enggan duduk-duduk bersama ibuku yang tukang ngomel, aku menghabiskan sebagian besar waktuku malam itu di dalam kamar, pura-pura mengerjakan PR, padahal sebenarnya mendengarkan radio dan berkhayal, memba-yangkan Les dan aku berlibur bersama di musim semi, merayakan enam bulan masa pacaran kami. Dalam kha-yalanku, kami pergi ke Ibiza, atau ke Yunani, pokoknya ke suatu tempat yang berhawa panas dan bersuasana romantis. Di sana kami menemukan teluk tersembunyi yang tidak pernah didatangi siapa-siapa. Airnya sebiru kolam renang, sedang pasirnya selembut bulu dan seputih Nivea. Kami menghamparkan tikar dekat air laut. Aku membuka atasan bildniku dan berbaring telungkup se- mentara Les berjongkok di sebelahku, menggosokkan krim tabk surya ke punggungku. Tapi aku tidak bisa tidur. Setiap kali aku memejamkan mata dan mencoba berhenti memikirkan liburan kami, selalu terbayang wajah Shanee yang memandangiku dengan kepala ditelengkan, berkata bahwa wajahku terlihat. gemuk. Begitu mendengar Hillary mendengkur di kamar sebelah, aku berjingkat-jingkat ke ruang tamu untuk nonton televisi. Aku tidak suka berbaring sendMan dalam gelap. Itu membuatku gelisah. Aku tipe orang yang menyukai cahaya terang dan keramaian. Ada film yang lucu sekali di Channel Five. Cukup lucu hingga berhasil mengalihkan pikkan dari wajahku yang gemuk. Biasanya, aku pergi mencari camilan atau minuman saat sedang jeda iklan, tapi setelah mendengar perkataan Shanee tadi, aku jadi tidak berani mendekati dapur, takut kalau dia benar tentang bobotku yang bertambah. Jadi aku pun tetap duduk di- tempatku, bergumam menirukan Jingle iklan, saat iklan Tampax muncul di layar televisi. Gadis dalam iklan itu berlari-lari dengan lincah di bawah cahaya matahari, dengan-mengenakan pakaian serbaputih. Yeah, yang benar saja, pikirku. Seolah tidak akan bocor saja walaupun sedikit.... Dan detik itu barulah aku sadar bahwa bulan itu aku belum mendapat menstruasi. Aku berusaha menyingkirkan pikkan itu jauh-jauh, tapi tetap saja pikkan itu kembali. Aku tahu, kedengarannya memang gila bila kubilang aku tidak ingat kapan terakhir kalinya aku mendapat menstruasi, tapi sebenarnya itu tidak aneh. Menstruasiku memang tidak selalu teratur. Kadang-kadang telat, atau aku bisa tidak mendapat menstruasi sama sekali bila sedang berdiet ketat atau bila dia membuat hidupku sengsara. Selama ini, aku tidak pernah khawatir bib menstruasiku tidak datang. Tapi, kemarin-kemarin aku kan tidak perlu khawatir bahwa aku hamil. Aku masih duduk terpaku di depan televisi, dengan mata tertuju ke layar kaca, mencoba mengingat-ingat kapan terakhk kalinya aku menstruasi, ketika film mulai lagi. Bulan ini aku belum mendapat menstruasi. Bulan Januari juga tidak. Begitu juga bulan Desember. Wah, pasti ada yang tidak beres, batinku. Itu berarti sudah tiga bulan. Tidak mungkin sudah tiga bulan. Aku berkonsenttasi, mencoba mengingat kembali tanggal 1 Desember. Biasanya, menstruasi datang menjelang akhk bulan. Tapi pada akhk bulan Desember, aku pergi ke rumah Les ketika di rumahnya tidak ada siapa-siapa, dan waktu itu, aku tidak sedang datang bulan. Pikkanku beralih ke bulan Januari. Aku pasti baru mendapat menstruasi pada awal bulan, bukan pada akhk bulan Desember, itulah sebabnya mengapa aku lupa. Tapi aku tidak lupa. Awal bulan Januari, Shanee dan aku mengajak adik perempuannya, Mabel, berenang ke kolam luncur sebagai hadiah ulang tahunnya. Di sana kami berenang. Aku juga tidak mengenakan tampon; tidak mungkin aku berani nyemplung ke kolam bila aku sedang datang bulan; semua pengunjung bisa panik karena mengka mereka sedang berada di film Jams. Aku duduk tak bergerak. Tidak mungkin aku hamil. Tidak mungkin seseorang bisa hamil hanya setelah satu kali berhubungan, semua orang tahu itu. Ada kok buktinya. Kakakku Dara mungkin sudah sembilan juta kali berhu- gan tapi sampai sekarang toh dia belum hamil-harnil juga. Tapi- bila sekarang aku hamil, im pasti terjadi setelah hubungan kami yang pertama, karena kami memang hanya melakukannya satu kali. Tambahan lagi, aku tidak mengalami orgasme, padahal aku yakin sekali sese-orang tidak mungkin hamil bila tanpa orgasme. Selain itu, aku kan tidak muntah-muntah di pagi hari? Tidak. Aku bahkan merasa sehat-sehat saja. Aku juga tidak ngidam macam-macam. Aku hanya menangis bila bertengkar dengan ibuku. Dan payudaraku juga tidak bertambah besar. Aku tidak merasa hamil: aku merasa sebagaimana biasanya aku. Aku berusaha mengingat sesuam—apa saja—dari pela-jafan seks di sekolahku yang bisa memberiku petunjuk apakah aku hamil atau tidak. Tapi aku hanya bisa mengingat satu hak lebih baik menunda melakukannya. Pink atau Biru, Aku Cinta Padamu "AKU tidak mengerti mengapa mesti aku yang membeli-nya," gerutu Shanee. Dia memasang wajah keras kepala. Itu membuatnya jadi mirip anak enam tahun. "Karena tidak ada orang yang bakal curiga kau hamil, itu sebabnya," tandasku sekali lagi. "Paling-paling mereka mengira kau membelinya untuk ibumu." Shanee mengomel panjang-pendek. "Coba waktu im kau sempat berpikir sebentar saja bahwa im bisa meng-akibatkan kau hamil." "Well, aku tidak ingat," bentakku. "Aku memang melakukan kesalahan." Shanee tetap terlihat keras kepala. Dan bagaimana kalau apotekernya, Mr. Arway, menga-ta^an sesuam pada ibuku?" tuntutnya. "Bagaimana, coba?" °h, demi Tuhan." Penolakan Shanee mulai membuat esabaranku habis. "Memangnya dia mau bilang apa?" asku- "Halo, Mrs. Tyler. Bagaimana, hasil tes kehamil-?a positif atau negatif?" Kudorong dia. "Ayolah, Petgl Sana- Tidak apa-apa kok."Walaupun sudah kudorong, Shanee tetap bergeming. "Aku malu," katanya. "Bagaimana kalau Mr. Arway tidak berpikiran bahwa aku membelinya untuk ibuku? Bagaimana kalau dia mengira bahwa itu untuk aku}" Semua orang menganggap Shanee sangat manis, tapi ada kalanya dia bisa juga memasang wajah garang. "Berani taruhan deh, dia pasti akan mengadukannya pada ibuku." Alasan yang satu itu agak susah didebat, karena memang itu merupakan alasan mengapa aku tidak mau membeli tes kehamilan sendiri. Aku tidak mau ibuku .tahu aku hamil sebehim aku merasa siap memberitahukannya pada-nya. "Tidak, tidak akan," aku mencoba memberi alasan, "Apoteker itu sama seperti dokter dan pendeta. Mereka tidak boleh seenaknya saja membeberkan rahasia pribadimu kepada sembarang orang yang datang ke apoteknya." "Lucy Tyler kan bukan sembarang orang," bantah Shanee keras kepala. "Dia ibuku." "Begini saja," kataku, berpikir cepat. "Supaya kau merasa fcbih tenang, ayo kita naik bus saja ke Oxford Street dan kau bisa membelinya di sana." Tatapan garangnya berubah menjadi tatapan curiga. "Kalau di sana, kau bisa membelinya sendiri," tukas-sahabat baikku sejak kecil itu. "Tidak, tidak bisa. Masa kau tidak mengerti? Kalau aku yang membelinya, mereka pasti akan langsung tahu akulah yang hamiL karena memang begitulah kenyataannya. Tapi tidak bila kau yang membelinya. Kau lugu. Tidak peduli apakah orang lain mengira kau hamil atau tidak, karena kau tidak mungkin hamil." "Lugu tidak sama dengan tolol," tukas Shanee. Aku bisa merasakan bibir bawahku mulai bergetar. "Kumohon...," pintaku. "Siapa lagi yang bisa kurnintai tolong? Kau satu-satunya temanku." Bila aku minta tolong pada Gerri atau Amie, seluruh isi planet ini akan menge-tahui hasilnya sebelum aku. "Aku tidak sanggup mengha-dapi si apoteker. Tidak dalam kondisiku yang seperti ini" Kondisi bingung, maksudnya. Setelah bisa mengatasi rasa shock-ka, sebagian dari dariku bagian yang harus memberitahu Hillary Spiggs) merasa benar-benar takut, meski sebagian lagi justru merasa sangat gembira. Perasa-anku sama seperti anak kecil di Malam Natal tidak sabar menanti saat membuka semua hadiah. Shanee mendesah. "Aku tidak percaya kau tidak meng-gunakan kondom," gerutunya. "Benar-benar tidak. Peme-rintah menghabiskan dana hingga jutaan pound untuk mengkampanyekan penggunaan kondom, untuk mencegah lahirnya bayi-bayi yang tidak diinginkan, eh kau malah langsung melompat ke tempat tidur tanpa berpikir daa kali." "Mana sempat berpikir bila sedang sangat bergairah. Itu terjadi begitu saja. Kaulihat saja sendiri, suatu hari nanti." 'Tidak, tidak akan," bantah Shanee. "Aku sudah men- dapat pelajaran darimu." Sepanjang perjalanan pulang, tidak satu kali pun aku membuka kantong plastik berisi tes uji kehamilan itu. Mengintip pun tidak. Bungkusan itu kuletakkan di pang-kuan, sementara di sampingku Shanee ribut mengoceh terus tentang si apoteker yang menatapnya dengan tatapan aneh, bagaimana para pembeli lain memandanginya, serta bagaimana satpam tersenyum padanya waktu dia mening-galkan apotek. Aku baru membuka kantong plastik itu waktu Shanee dan aku sudah". berada di dalam kamar mandi rumahku yang terkunci rapat. "Oh, tidak," pekikku. "Bukan yang ini. Ini warnanya pmM" "Tidak, tidak salah," bantah Shanee. "Aplikatornya memang berwarna putih. Indikatornya baru berubah warna menjadi pink bila kau memang hamil." 'Tapi punya Dara warnanya biru." Aku masih bisa mengingamya dengan jelas. Aku merasa sangat bangga waktu Dara menunjukkannya padaku dan melakukan tes uji kehamilan waktu aku ada di sini, seolah aku bukan adiknya tapi temannya. Shanee merebut kotak itu dari tanganku dan menyobek pembungkusnya. "Demi Tuhan, Lana. Apa bedanya bila indikatornya berubah warna menjadi pink atau biru? Toh artinya sama saja," Kurebut aplikator itu darinya. "Aku tahu. Aku hanya ingin memastikan bahwa lata mendapatkan yang bagus, itu saja." "Ini bahkan tes kehamilan yang paling mahal," tukas Shanee. Shanee membuka kertas yang berisi petunjuk pemakaian dan membacakannya untukku. Dia membalikkan badan waktu aku kencing. Lalu dia ikut berdiri bersama di depan wastafeL memandangi aplikator, menunggu sesuatu terjadi atau tidak terjadi. Sesuatu terjadi. Indikator itu berubah warna menjadi pink. "Mungkin tes ini keliru" kata Shanee akhirnya. Kuacungkan kotak itu padanya. "Di sini disebutkan bahwa hasilnya akurat, sama seperti tes yang dilakukan dokter." Shanee mengatupkan bibir rapat-rapat. "Well, tentu saja disebutkan seperti itu. Mana mungkin mereka menulis, 'Hasilnya sangat tidak akurat'?" Dia merebut kembali aplikator itu dari tanganku dan mengacungkannya tinggi-tinggi ke arah lampu. Benda itu tetap berwarna pink. "Mungkin alatnya rusak," kata Shanee. Hal itu tidak terpikirkan sama sekali olehku. Si Spiggs memang selalu membeli barang yang ternyata tidak ber-fungsi. Benda-benda kecil, seperti bola lampu dan lain sebagainya. Hal yang sama pasti juga bisa terjadi pada tes kehamilan. "Kaupikir begitu? Apa menurutmu seharusnya tadi kita membeli dua alat?" Aku tidak mau melakukan kesalahan. Ini sangat penting. Shanee mendesah. "Kita akan membeli alat tes lain, dari apotek lain." Aku bisa melihat ekspresi wajah Shanee dalam cermin. Dia tampak khawatir. Dan ketakutan. "Su-paya kita yakin." Di sebelahnya, wajahku mulai berbinar-binar. Aku girang sekali. Bayangkan, aku hamil! Tidak percaya rasanya. Aku akan menjadi ibu. Bayangkan, dewasa sekali, kan! Padahal aku mengira baru akan merasa dewasa bila aku menjadi rata atau orang hebat lain semacarnnya. "Ide bagus," kataku, sependapat dengannya. "Sebaiknya kita beli dua alat lagi." Kumasukkan aplikator beserta kotaknya ke kantong plastik. "Bila hasil tes berikutnya negatif, kita harus melakukan tes yang ketiga, sebagai tes kontroL" Alis Shanee kontan terangkat. "Ya Tuhan!" serunya. "Ternyata ada juga pelajaran sains yang nyantol di otakmu." "Tahukah kau..." Shanee meletakkan kembali majalah yang sedari tadi pura-pura dibolak-baliknya ke meja. "Aku senang bukan aku yang harus memberitahu ibumu." MesM mendengar perkataannya, tapi aku diam saja, karena sedang malas berbicara. Aku benar-benar tidak habis piMr. Waktu kami praktik di kelas memasak, puding nasiku malah berubah menjadi seperti sup. Waktu kami membuat jam di kelas desain dan teknologi, jam buatanku terlalu kecil hingga tidak bisa memuat perangkat penunjuk waktunya. Semua tanaman di proyek sainsku mad. Dua kali mencoba, dua kali juga semuanya mati. Tapi ironisnya, hanya satu kali berhubungan, aku langsung hamil. Rasanya seperti pemain golf yang langsung berhasil melakukan pukulan hok-in-one saat pertama kali bermain golf. Tapi bagaimanapun, kami sudah berhasil melakukannya. Aku dan Les. Tanpa belajar dan tanpa pengalaman sama sekali, kami langsung bisa melakukannya. Shanee memutar badan hingga wajahnya menghadap ke arahku. "Apa yang akan kaulakukan sekarang? Aku yakin kau bisa melakukan aborsi tanpa sepengetahuan ibumu." "Aborsi?" Tawaku meledak. "Kau bercanda, ya? Aku tidak akan menggugurkan kandunganku." Shanee mengerjapkan mata. "Tidak akan?" 'Tentu saja tidak." Aku tertawa lagi. "Bagaimana mungr kin kau mengira aku tega melakukan hal seperti itu. Irri bayiku, Shanee! Bayiku dan Les. Aku tidak akan mem-buangnya begitu saja seolah dia kotak bekas susu yang sudah kosong." Shanee memandangiku beberapa menit, seakan aku ini Shakespeare atau orang hebat lain, dan dia sedang beru- saha mencerna maksud sesungguhnya dari perkataanku. "Maksudmu, kau akan memberikan bayimu pada orang lain untuk diadopsi?" Memberikan bayimu pada orang lain untuk diadopsi merupakan pilihan yang diinginkan pemerintah dari para ibu remaja. Tapi, pemerintah yang sama juga mengatakan pada kami bahwa daging sapi yang kami makan aman, tapi kemudian ternyata orang-orang mulai bertingkah seperti sapi gila. Jadi, aku tidak mau mendengar apa kata pemerintah. Kulempar Shanee dengan bantal kursi. "Sekarang kau membuatku bingung." Shanee memegangi bantal kursi itu. "Kau tidak mungkin berniat memeliharanya" • sergah Shanee. Dia berbicara dengan nada sangat lambat. 'Tentu saja aku berniat memeliharanya." Aku memang tidak berencana hamil karena tidak me-nyangka aku bisa. Tapi, tidak berarti itu bukan hal yang tepat. Justru itu solusi dari semua masalahku. Kebahagiaan kini menjadi milikku. "Memang inilah yang kuinginkan sejak dulu," aku meng-ingatkan dia. "Tambahan lagi, punya bayi jauh lebih asyik daripada ikut ujian." "Kau tidak mungkin bisa memelihara bayi, Lana!" Shanee terlihat begitu tegang dan kaku. "Kau sendiri kan rnasih anak-anak!" Pikiranku melayang pada kumpulan foto dari majalah yang kusimpan di kolong tempat tidur. Di sana bahkan ada album yang melulu berisi foto bayi dan anak-anak kecil. Keluarga idamanku terdiri dari dua anak lelaki dan dua anak perempuan; salah seorang anak lelaki dan salah seorang anak perempuan berambut gelap, dua lagi pirang. Kira-kka bayiku yang sekarang ini bagaimana, ya? "Aku bukan anak-anak" Aku berdiri. "Aku sudah menjadi wanita dewasa, Shanee. Mungkin kau masih anak-anak, tapi aku sudah dewasa." Aku berdiri tegak dengan sikap bangga. "Aku akan menjadi ibu." "Kau- akan menjadi penghuni rumah penampungan, itulah yang akan terjadi pada dirimu." "Banyak. kok gadis-gadis seusia kita yang punya anak," kataku padanya dengan nada dingin. "Baca saja di koran-koran. Lagi pula, ada untungnya punya, anak selagi kita masih muda. Hillary berumur empat puluh tahun waktu dia melahirkan aku, dan coba saja lihat bagaimana jadinya hubungan kami sekarang." Shanee mencondongkan badan ke depan. "Lana, demi Tuhan. Ini bukan hal sepele seperti menindik hidung atau bagaimana. Ini serius. Menjadi seorang ibu bukanlah hal yang sepele." Aku tertawa mengejek. "Tahu dari mana kau?" "Kebetukn sekali aku tahu." Dia ikut-ikutan berdiri. "Bukankah aku punya dua adik lelaki dan satu adik perempuan? Aku tahu persis bagaimana beratnya membe-sarkan anak." "Mereka kan bukan anakmu," tukasku. "Jadi pasti lain" Tidak ada yang lebih kuat daripada ikatan batin antara ibu dan anak. Kecuali, tentu saja, ibunya seperti ibuku. Tapi aku tidak seperti Hillary. Aku akan menjadi ibu yang baik. Sekarang saja, aku sudah bisa merasakan ikatan yang erat tumbuh antara aku dan bayiku. Kutepuk-tepuk perutku. "Sekarang pun aku sudah sa- yang pada bayiku, Shanee. Semua pasti beres." Mulut Shanee terbuka seperti hendak mengenakan Bpgloss. "Aku ingin kau tahu bahwa menurutku kau gila. Serams persen sinting." "Yang sinting itu kau. Ini hal terbaik yang pernah • terjadi pada diriku." Shanee menggeleng-geleng dan melambai-lambai. "Aku harus pujang. Aku terlalu trauma jadi tidak bisa membi-carakan hal ini sekarang." Dia trauma? Lantas, menurutnya aku bagaimana? "Bagaimana dengan aku?" bentakku. "Akulah yang harus memberitahu Les. Kau kan tahu bagaimana lelaki. Mereka menganggap bayi sebagai jebakan." Shanee mengumpulkan barang-barangnya dan melayang-kan pandangan yang seolah mengasihani sekaligus meng-anggapku sapi tolol. "Bukan cuma lelaki yang berpikir seperti itu," sergah Shanee. "Ibuku juga." Dia menyelempangkan tali tasnya ke bahu. "Begitu juga aku." Aku menyukai pikiran bahwa untuk sementara ini, tidak ada orang lain yang tahu tentang bayi ini selain aku. Aku merasa seperti memendam rahasia yang sangat besar— seperti mengetahui lokasi terdamparnya Bahtera Nabi Nuh atau semacamnya—dan itu membuatku merasa sangat bahagia dan memiliki kendali. Jadi, hari-hari berikutaya aku bolos sekolah. Setelah tahu aku hamil, aku jadi semakin malas pergi ke sekolah. Maksudku, apa gunanya? Aku toh tidak bisa menyelesai-kannya? Aku bahkan tidak perlu berpura-pura lagi. Kita lihat saja nanti, siapa di antara kami yang patut dikasihani. Setahun dari sekarang, ketika Shanee sedang mati-matian belajar seperti orang kesetanan, aku enak-enakkan men-dorong kereta bayi warna kining-biru di jalan dengan keranjang belanjaan tergantung di belakang, memikirkan apa kira-kira menu yang akan kumasak untuk Les nanti malam. Tambahan lagi, setelah yakin bahwa sekarang aku hamil, aku merasa harus merawat diriku sebaik-baiknya. Merawat diri sebaik mungkin selama masa kehamilan sangatlah penting. Berlari-lari mengelilingi lapangan hoki dan dima-rahi guru tidak. bisa dibilang merawat diri. Selain itu, setelah sekarang aku tahu ada bayi dalam perutku, aku benar-benar merasa hamil. Aku merasa letih dan segan melakukan apa-apa. Aku juga bolak-balik kencing. Selain itu, mendadak saja aku ngidam macam-macam, mulai dari cokelat sampai saus spesial hamburger di Burger King. Lagu-lagu sedih membuatku merasa ingin menangis. Hatiku juga langsung luluh begitu melihat bayi kecil. Jadi, setiap pagi aku bangun, ganti baju, sarapan, dan mengenakan mantel. Lalu aku mengambil tas sekolah, memastikan bahwa aku tidak lupa membawa kunci, lalu berpamitan pada ibuku. Sesudah itu aku pergi ke McDonald's atau Burger King, sampai aku yakin Hillary sudah berangkat kerja. Kemudian, aku kembali ke ru- mah. Hari-hariku kuhabiskan dengan menonton televisi dan memikirkan bayi-bayi. Banyak sekali yang perlu dipikirkan. Apa sebaiknya aku memberi bayiku ASI? Itu jauh lebih mudah daripada memberi susu botol, karena kita tidak perlu mencuci apa-apa, tapi itu juga berarti kau tidak bisa pergi ke mana-mana tanpa membawa bayimu selama lebih dari beberapa jam. Bagaimana kalau Les ingin mengajakku berlibur akhir pekan atau melakukan kegiatan lain? Belum lagi memikirkan di mana bayiku akan tidur. Apakah dia harus tidur bersama aku dan Les pada awal-nya, atau ditempatkan di kamar sendiri? Kamarnya akan kucat dengan warna apa? Yang pasti bukan pink dan biru, karena dua-duanya jelek. Kuning lumayan, asal bukan kuning yang mencolok. Dalam had aku ingin tahu apakah Les bisa memasang rak din ding. Kami membutuhkan rak dinding untuk meletakkan main an dan segala macam. Dan aku membutuhkan sesuatu untuk membawa bayiku ke mana-mana. Aku sering melihat para wanita menggen-dong bayi mereka di tas ransel, tapi menurutku itu agak primitif. Yang kuinginkan adalah kereta bayi model kuno yang besar, yang rangkanya terbuat dari krom, tapi kereta bayi seperti itu kelihatannya tidak praktis. Maksudku, sukar sekali menaikkannya ke bus. Tapi aku bisa -saja membeli kereta dorong" biasa yang mungil dan ringan untuk digunakan sehari-hari, dan khusus menggunakan kereta bayi kuno yang besar itu untuk jalan-jalan ke taman pada hari Minggu. Belum lagi memikirkan soal baja Baju itu penting. Apa sebaiknya aku membeli baju-bajunya di Mothercare atau Baby Gat>? Shanee datang ke rumahku setiap siang sepulangnya dia dari sekolah, untuk mengantarkan PR. Kayak aku bakal mengerjakannya saja. Tapi tidak peduli apa pun yang kukatakan, dia tetap menolak memahami situasiku. "Kau tidak mungkin mendekam di rumah terus selama-lamanya," dia berulang kali memberi tahu aku. "Suatu saat nanti kau harus memberitahu mereka." 'Tasti;" tukasku. "Aku akan memberitahukannya. Aku tidak mengerti mengapa harus bura-buru." Shanee membelalakkan matanya. "Tidak mengerti mengapa harus buru-buru? Apa tidak pernah terpikir olehmu bahwa semakin lama kau menunggu, semakin sediMt pilihan yang kaupunya?" "Aku kan tidak butuh pilihan apa-apa. Sudah kubilang, aku menginginkan bayi ini. Keputusanku sudah bulat" Kutepuk-tepuk perutku. "Aku bahagia, Shanee. Ini benar-benar peristiwa terbaik yang pernah terjadi pada diriku." "Kalau kau memang bahagia, segeralah beritahu nenek dan ayahnya," pinta Shanee. "Tingkahmu ini membuatku gila." "Aku pasti akan memberitahu mereka," janjiku. "Akan kuberitahu ibuku itu lebih dulu." Tidak ada keraguan lagi bagaimana Hillary akan bereaksi. Kata Charley dia sangat reaktif. Itu berarti dia sudah mulai berteriak sebelum kau selesai berbicara, baru kemu-dian berpikir. Waktu nanti kubilang padanya bahwa dia akan menjadi nenek, dia pasti bakal ngamuk berat. Tapi hanya itulah yang akan dia lakukan. Dia bakal mondar-mandir dengan sikap garang, memb anting pintu dan barang-barang ke meja dengan kasar. Lalu dia akan mulai berteriak di setiap kesempatan. Mengoceh di telepon bersama nenek dan kakak-kakakku selama berjam-jam, kemudian menyalahkan aku karena rekening telepon mem-bengkak Tapi pada akhirnya, dia pasti akan diam juga. Maksudku, apa lagi yang bisa dia lakukan? Dia memang ibu yang menyebalkan, tapi dia tidak mungkin mengusir-ku dari rumah. Charley tidak akan membiarkan dia melakukannya. Namun, aku tidak begitu yakin bagaimana reaksi Les nanti. Itulah sebabnya mengapa kupikir dia akan kuberitahu paling akhir. Maksudku, aku tahu dia tipe cowok pekerja keras yang bertanggung jawab. Dia punya peker-jaan, flat, dan lain sebagainya, dan dia juga tidak pernah lalai membayar cicifan mobil. Tidak satu kali pun. Tam-bahan lagi, dia bangga dirinya sudah bukan perjaka lagi. Tipe cowok seperti itu pasti senang kalau tahu dia berhasil "menyarangkan gol". Hal semacam itu penting bagi cowok. Hanya saja, ini memang sedikit tidak terduga. Setahun yang lalu dia masih tidur di kamar yang ditem-patinya sejak lahir, dan sekarang, dia sudah menjadi calon ayah. Dia pasti akan sedikit panik mendengarnya. Karena semua begitu tiba-tiba dan tidak terduga. Apalagi karena impian Les suatu hari nanti adalah memilild mobil Porsche. Mobil convertible warna merah ceri. Mobil Porsche convertible merah ceri kan bukan mobil keluarga. Kapan?" desak Shanee. "Pokoknya begitu ada kesempatan." Kesempatanku Datang TELEPON berdering malam itu, waktu Wanita Naga dan aku sedang makan sambil nonton televisi. Aku tidak bergerak. Soalnya aku sudah tahu telepon itu bukan untukku. Baik Les maupun Shanee tidak mungkin menelepon sesore itu: Les sekarang pasti masih bekerja, sementara Shanee pasti masih sibuk mengurus adik-adiknya. Sambil mendengus-dengus dan terengah-engah, ibuku bangkit dari kursinya dengan susah payah, lalu mengham-piri pesawat telepon untuk menjawabnya. Setelah selesai menelepon, dia langsung bergegas mendatangi televisi dan mematikannya. "Hei!" teriakku. "Aku sedang nonton!" "Seharusnya aku lebih ketat mengawasw**," sergah ibu' ku. Dia berdiri sambil bersedekap di depanku, dan W membuamya terlihat seperti dinding tegap bercelana ji°s dan bersweter pink. Dinding yang sedang berang. mana saja kau tiga hari terakhir ini saat seharusnya berada di sekol: Kubalas tatapan matanya. "Ngomong apa sih kau?" "Jangan berlagak pilon denganku," tukas ibuku. "Kau tahu persis apa maksudku. Kau sudah tiga hari tidak masuk sekolah." Sumpah deh, sekarang ibuku mulai mengetuk-ngetukkan kakinya. Gayanya mirip pemain sinetron saja. Begitu kok dia menganggap/&# terlalu banyak nonton film! "Tentu saja aku masuk sekolah." Ada kalanya, gertakan bisa membuahkan hasil. Aku paling lihai memasang wajah polos dan bersungguh-sungguh. Sikapku itu membuatnya bingung. Walaupun dia benci segala sesuatu mengenai diriku, sebagian dari dirinya fldak ingin putrinya menjadi pembohong. Tapi, kali ini gertakanku tidak berhasil. "Oh tidak, kau memang tidak masuk sekolah." Dia menyentakkan kepalanya ke arah dapur. "Itu tadi telepon dari Mrs. Mela. Menurutnya, kau Itidak masuk sejak hari Selasa." "Sudah kubilang. Aku tidak suka Shakespeare." Luar biasa bagaimana dia bisa membuat bibirnya terlihat setipis itu. 'Tidak masuk sekolah. Bukan cuma tidak ikut pelajaran Bahasa Inggris." "Maksudmu minggu ini?" Tuktuktuktuk. Fred Astaire pasti bakal senang sekali melihat aksi ibuku saat ini. "Ya, maksudku minggu ini. Mengapa kau tidak masuk sekolah?" Kuangkat bahuku. "Tidak kepingin pergi saja." 'Tidak kepingin pergi saja...." Dasar Hillary Pemt 'Tepat sekali." Aku berdiri dan berjalan ke arahnya, untuk menyalakan pesawat televisi lagi. "Aku merasa terlalu stres untuk pergi." Hillary berkotek-kotek. -Terlalu stres? Kau?" Dia me-nempelkan punggungnya rapat-rapat ke layar televisi. "Kau stres bila kukumu patah atau celana jinsmu terkena lum-pur." "Tahu apa kau?". Aku bergerak lagi ke arah televisi, tapi Hillary mendo-rongku dan badanku kontan membentur meja tamu. Aku menjerit kesakitan. Dia tidak peduli bila perbuatannya itu membuatku cedera. "Aku tahu selama ini kau membolos, itulah yang kutahu. Dan aku ingin tahu mengapa." Kuusap-usap bagian belakang kakiku. "Mudah-mudahan saja kau puas," bentakku. "Kau benar-benar membuatku kesakitan." "Oh, itu belum apa-apa," pekiknya. "Tapi aku akan benar-benar menyakitimu bila kau tidak juga menjawab pertanyaanku." Aku berdiri setegak mungkin. Perutku menonjol di antara kami. "Sudah kubilang, aku tidak kepingin pergi. Itu saja." "Tidak, bukan cuma itu saja," sergah Hillary Spiggs si polisi wanita. "Aku ingin tahu ke mana kau pergi bila tidak pergi ke sekolah." Aku sama tingginya dengan dia. Kutatap mata bulatnya lekat-lekat. "Aku ada di sini, di rumah ini. Puas?" Mana mungkin dia puas. Detik berikutnya, Hillary mulai *bceh panjang-lebar tentang tanggung jawabnya sebagai orangtua, dan tanggung jawabku sebagai anak muda, dan betapa suramnya masa depanku nanti bila aku dikeluarkan karena suka membolos. 'Tanggung jawabku sebagai anak muda?" Aku balas berteriak. "Lucu sekali. Aku bukan anak muda bagimu. Di matamu, aku masih anak kecil." "Selama kau masih bertingkah seperti anak kecil, kau akan tetap diperlakukan seperti anak kecil," balas ibuku. Dan saat itulah aku memberitahu dia. Itu kulakukan begitu saja. Rasanya, itu saat yang tepat sekali. "Oh, ya?" Aku menyunggingkan senyum puas sekali. "Well, asal tahu saja, sebentar lagi aku punya bayi." Senyumku semakin lebar. "Bagaimana, dewasa sekali, kan?" Ibuku berdiri terpaku sambil memandangiku, ekspresinya terlihat seperti orang yang baru saja dipukul kepalanya dengan bangkai ikan. Lalu dia tersenyum seperti layaknya aktor film yang kepalanya baru saja dipukul dengan bangkai ikan—atau ditusuk dengan pisau. "Kau tidak serius." Tawanya kecut. "Kau sengaja membuatku bingung. Bukan begitu, Lana? Kau tidak benar-benar hamil." "Oh ya; tentu." Kuacungkan jari-jariku. "Tiga bulan." 'Tapi kau tidak bisa—" "S-E-K-S," aku mengejanya lambat-lambat. "Begitu kan cara membuamya, siapa tahu kau lupa." Dari ekspresi wajahnya aku tahu dia sekarang yakin aku tidak berbohong. Ibuku menarik napas dalam-dalam dan menggigit bibir beberapa detik. Kemudian, seolah kami sedang mendiskusikan acara darmawisata sekolah atau semacamnya, dia berkata, "Aku jit akan membuat teh. Kita harus membicarakannya untuk mengambil keputusan terbaik. Kau sudah memeriksakan diri ke dokter?" Aku menggeleng. Dia sudah separo jalan menuju dapur. "Pertama-tama, kita harus membawamu ke dokter. Me-mastikan bahwa semua baik-baik saja." Dapur terletak persis di sebelah ruang tamu, jadi aku bisa melihatnya menyambar ketel dan membantingnya ke bak cuci. "Sekarang belum terlambat untuk membereskan semuanya." Kalau melihat gaya bicaranya, kau bakal mengira dia bermaksud menyuntik matt seekor anjing. "Aku tidak mau menggugurkan kandungan bila itu yang kaumaksud," teriakku, berusaha mengalahkan deru air keran. Ibuku mematikan keran air dan memandangiku dari balik bahunya. "Kau bilang apa?" "Aku tidak mau membunuh bayiku," teriakku dengan suara keras. "Aku akan tetap mempertahankannya." Ibuku mendekap ketel air itu di dadanya. Kalau mau, ternyata dia bisa juga memasang wajah kosong. "Menurutku, itu juga bukan berarti kau akan menye-rahkan bayimu untuk diadopsi." Sikapnya begitu tenang, seperti televisi yang baru saja dimatikan. "Tentu saja tidak. Ini bayiku. Aku akan memeliharanya." Mendadak ibuku sadar bahwa dia masih mendekap ketelnya sedari tadi. Dia meletakkannya di konter dengan sangat hati-hati, seolah benda itu terbuat dari kaca. "Dan bagaimana dengan ayahnya?" "Memangnya kenapa?" "Apakah ini juga keputusannya?" "Ini keputusan^/. Yang hamil kan aku." 'Tapi bagaimana dengan ayahnya?" ulang ibuku lagi. Dia memang keras kepala. "Di mana dia?" Bibirnya terkatup rapat, membentuk garis lurus. "Atau lebih baik lagi bila aku bertanya, siapa dia?" Aku mengerti sekarang. Dulu, waktu aku masih SD, anjing kami dihamili anjing tetangga. Begitu anak-anak anjingnya bisa disapih, Hillary Spiggs memasukkan semuanya ke kardus dan meninggalkannya di depan pintu rumah keluarga Scudders. Katanya waktu itu, dia sudah melakukan bagian yang menjadi tugasnya, sekarang giliran mereka melakukan tugas mereka. Aku tidak mau dia meninggalkan bayiku di depan pintu rumah Les dengan secarik kertas disematkan di selimutnya dengan tulisan "sekarang giliranmu". "Kau tidak perlu tahu siapa dia," tukasku. "Kau hanya akan menghancurkan semuanya." Hillary masih bisa tertawa. "Aku akan menghancurkan semuanya Memangnya kaukira apa yang sedang kaulakukan sekarang?" Kuangkat kepalaku tinggi-tinggi. "Sekarang aku sudah dewasa. Aku bisa mengurus diriku sendiri." 'Tapi sepertinya kau tidak bisa mengurus dirimu dengan benar," tukas ibuku. "Sebab kalau kau bisa mengurus dirimu sendiri, kau pasti ingat untuk menggunakan pencegah." "Mungkin aku memang tidak ingin menggunakan pencegah." Hillary sama sekali tidak menduga bakal mendapat jawaban seperti itu. "Jadi maksudmu, kau melakukan ini dengan sengaja?" Kubiarkan wajahku tanpa emosi. Biar saja dia mengira sesuka hatinya. "Aku tidak percaya." Suaranya pecah. "Umurmu baru lima belas tahun. Masa depanmu masih membentang luas di depanmu. Tidak mungkin kau mau membebani dirirnu dengan seorang anak—" "Maksudmu, seperti kau terbebani olehku?" teriakku. Mungkin sebenarnya aku beruntung karena dia tidak meninggalkan aku di depan pintu rumah orang lain. Tangisku mulai pecah. "Begitu maksudmu?" Hillary terdiam selama sedetik lalu air mukanya berubah. "Oh, Lana, kumohon—Aku tahu aku memang banyak melakukan kesalahan. Situasinya tidak mudah setelah ayah-mu pergi... di usiaku saat ita... tinggal bersama nenek-mu... berusaha memikirkan langkah selanjutaya... Kita kehilangan semuanya—" "Jadi itu salahvfe* juga!" teriakku. Waktu ayah Charlene dan Dara meninggal, dia meninggalkan uang asuransi, rumah, dan harta benda lain. Tapi ketika ayahku minggat dari rumah, dia meninggalkan setumpuk utang yang jum-lahnya sama dengan utang sebuah negara Dunia Ketiga, juga sederet jura sita dan polisi. Tambahan lagi, Charlene dan Dara pintar dan penuh motivasi seperti ayah mereka, sementara aku tidak. "Kau selalu menyalahkan aku karena ayahku. Setiap kali kau memandangku, kau selalu ingat pada kesalahanmul" "Itu tidak benar, Lana." Dia bergerak, hendak me-nyentuhku, tapi aku. menghindar. "Kau bukti—" Aku tidak ingin mendengar kebohongannya. "Well, aku tidak seperti kau," pekikku. "Sekarang pun aku sudah sayang pada bayiku. Dan aku tidak akan mem- bunuhnya. Atau memberikannya pada orang lain. Dan dia juga tidak akan pernah sendirian." ' Hillary terlihat seperti berusaha untuk tidak menangis. Dia mulai mengatakan hal-hal biasa seperti betapa besarnya tanggung jawab terhadap seorang anak serta betapa sukar- nya membesarkan seorang anak, tapi aku tidak mau men-dengarnya. Aku menyambar jaketku dari lengan sofa dan menghambur meninggalkan rumah. Aku langsung menuju Blockbuster. Di sana hanya ada beberapa pengunjung yang melihat-lihat koleksi film yang baru diluncurkan, ditambah seorang anak lelaki dan seorang anak perempuan di balik konter, bersama Les. Les melambaikan tangan padaku. "Wah, kau seperti bisa membaca pikiranku saja," seru-nya. "Aku baru saja berniat istirahat. Kau mau minum kopi bersamaku?" Kami duduk di meja favorit kami di McDonald's, yaitu meja yang terletak di sudut dekat jendela. Les baru saja bertengkar hebat dengan seorang pelang-gan yang berkata dirinya sudah mengembalikan video yang dipinjamnya,' padahal sebenarnya belum. "Dasar!" Dia menggeleng-geleng. "Aneh-aneh saja ke-lakuan orang-orang itu!" "Memang." Saat itu aku sudah berhenti menangis, tapi sedikit-sedikit mengisap ingus, supaya dia tahu aku sedang gundah. "Luar biasa memang." Les memandangiku dari atas gelas kopinya. "Kau balk-baik saja? Matamu kelihatan aneh." Aku melirik cerrnin yang terpasang di belakang Mataku memang terlihat mirip mata panda. "Aku baru saja bertengkar lagi dengan si Hillary." Kuseka mataku dengan punggung tangan. "Maskaraku luntur." "Apa lagi penyebabnya kali ini?" seringai Les. "Kau lupa membeli susu lagi?" "Tidak juga." Kupandangi cangkir kopiku. "Bolehkah-aku pulang ke rumahmu malam ini? Aku akan mencerita-kan semuanya padamu nanti." Les tersentak hingga kopinya tumpah sedikit. "Ke rumah&z? Malam ini?" Aku menyodorkan sehelai serbet kertas. "Kami bertengkar hebat Aku tidak ingin pulang ke rumah." Aku menyunggingkan senyum tegas tapi sayang. "Aku benar-benar harus bicara denganmu." Les sibuk mengeringkan meja. "Jangan malam ini, Lana. Malam ini tidak bisa." "Tapi aku juga tidak bisa pulang ke rumah." Suaraku sedikit lebih melengking daripada yang kumaksudkan. "Kumohon, biarkan aku tinggal di rumahmu." Tapi Les tetap menggeleng-geleng. "Lain kali boleh, tapi tidak malam ini" 'Tapi aku harus bicara denganmu!" Les mengerjapkan mata. Sebelum ini aku tidak pernah membentak«)«. "Well, sekarang aku toh ada di sini," kata Les. "Bicara-lah." Aku suka McDonald's, sungguh. Dan aku tahu McDonald's sangat menyukai anak-anak. Tapi, ini bukanlah tempat yang tepat untuk memberitahu bahwa kau hamil. "Jangan di sini," tukasku. "Di tempat lain saja yang lebih privat" Les melambaikan tangannya. "Di sini sudah cukup privat. Tidak ada orang lain yang bisa mendengar pembi- caraan kita." Les memandangiku. Sekarang posisi kami sama. Sebelum ini aku tidak pernah melihatnya gusar padaku. "Asal bicaramu pelan-pelan saja," dia menambahkan dengan nada penuh arti. . Tak kugubris smdirannya yang terakhir itu. "Mengapa malam ini aku tidak bisa menginap di rumahmu?" tuntutku. "Nanti toh sudah larut malam. Tidak akan ada yang tahu aku ada di kamarmu." Les tak memedulikan tuntutanku. "Jadi, apa penyebab pertengkaran kalian kali ini? Mengapa kau perlu bicara denganku?" Kudorong gelas minumanku jauh-jauh. "Aku ingin pulang ke rumahmu." "Dan sudah kubilang tadi, tidak bisa." Dia melirik.jam tangannya. "Aku harus kembali ke toko. Malam ini ada trainee yang magang di tempat kami." "Bagaimana dengan pembicaraan kita?" Les berdiri dan mendorong kursinya ke belakang. "Ber-bicaralah dalam perjalanan pulang ke toko, atau kau terpaksa menundanya untuk sementara waktu." "Ini tidak bisa ditunda. Jam biologisku terus berjalan." Les terbahak "Apa lagi maksudmu sekarang?" Aku duduk tegak-tegak. Kuhpat kedua tanganku di meja yang ada di hadapanku. "Les," ujarku. "Aku akan punya bayi." ^—r Les terbahak lagi. "Yeah, tentu saja kau akan punya bayi." "Aku tidak main-main," tukasku. "Bayimu. Bayi kita." Les kontan terduduk. "Ya Tuhan," ucap Les. "Aku tidak percaya. Kusangka selama ini kau minum pil antihamil." Mengapa dia mengira begitu? "Tapi kau kan tahu aku masih perawan. Untuk apa aku minum pil antihamil?'' Les memandangiku seolah aku salah seorang pelang-gannya yang ngotot "Kusangka kau sudah mempersiapkan semuanya. Malam itu waktu aku datang setelah berpesta bersama teman-temanku... kupiktr..." Dia mengangkat bahu. "Kusangka kau, tahu kan, sudah siap..." "Aku memang sudah siap..." Tangisku pecah lagi. Membeli pil antihamil kan tidak semudah membeli alat uji kehamilan? Kita tidak bisa seenaknya pergi ke apotek dan membelinya begitu saja. 'Tapi aku tidak minum pil antihamil." Les mengulurkan tangan dan meraup tanganku dengan kedua tangannya. "Kau mau kutemani pergi ke ldinik? Aku akan menemanimu bila kau menginginkannya. Tidak seharusnya kau pergi sendiri an." Kutelan air mataku. "Klinik apa?" "Untuk menggugurkan kandungan," jawab Les. Dia meremas jari-jariku. "Aku tidak akan membiarkanmu pergi sendiri." Itu tidak ada dalam skenarioku. 'Tapi aku tidak mau melakukan aborsi." Aku tersenyum di tengah derai air mata. "Aku akan mempertahankan bayi ini." "Mempertahankan bayi itu?" Seolah tanganku berubah menjadi arang panas, secepat kilat Les menarik tangannya. "Kau gila, ya? Kau akan melahirkan bayi ini? Bagaimana dengan ujian akhirmu nanti? Bagaimana dengan kuliahmu nanti di RADA dan sebagainya? Kau tidak bisa punya bayi sekarang." Itulah yang kukatakan pada Les, bahwa saat ini aku sedang menempuh ujian. akhir dan akan mendaftar' di RADA setelah lulus nanti. Heran juga aku dia masih ingat. Karena aku sendiri sudah lupa. 'Tentu saja bisa," tukasku. "Sejak dulu aku memang sudah berniat ingin punya anak. Aku hanya memulai lebih awal dari yang kuduga sebelumnya." "Lantas bagaimana dengan aku?" desis Les. "Sudah kubilang padamu dari awal, Lana, aku belum siap menjalin hubungan serius." Saat itu Les mengenakan kemeja oranye tua dengan dasi pranye bergaris-garis hitam. Tangannya mempermainkan dasi itu. "Demi Tuhan, umurku baru dua puluh tahun. Aku belum siap punya anak. Aku baru saja merintis karier. Aku tidak mampu membiayai kehi-dupanmu dan kehidupan anak itu. Untuk hidupku sendiri saja sudah pas-pasan." "Aku tidak memintamu membiayai hidup kami," tukasku kaku. "Aku" tidak berniat menjebakmu, Les. Dan aku tidak akan memberitahu Hillary siapa ayah anak ini, bila itu yang kaukhawatirkan. Kujamin." Kutatap matanya dalam-dalam. "Tapi ingat, kau sendiri waktu itu juga tidak mau repot-repot menggunakan pengaman." Wajah Les memerah dan dia menunduk, memandangi kedua tangannya. "Tidak bisakah aku punya pendapat dalam hal ini?" Aku menelan ludah dengan susah payah. "Kau boleh punya pendapat apa saja, tapi aku tidak akan membunuh bayi kita." Kuangkat daguku tinggi-tinggi. "Dan aku juga tidak akan memberikannya pada orang lain." Les meremas gelas kopinya. "Dan bagaimana aku bisa tahu bahwa itu bayi kita, Lana? Hah? Bagaimana aku bisa tahu itu?" Itu juga tidak ada dalam skenarioku. "Apa maksudmu?" Suaraku melengking tinggi. Aku memang sudah berusaha meredamnya, tapi itu tidak mungkin. "Tentu saja ini bayimu! Waktu itu kan aku masih perawanl Memangnya kaupikir ayah bayi ini Tuhan?" "Demi Tuhan, Lana!" desis Les kesal. "Semua orang bisa mendengar suaramu." "Sudah kubilang aku tidak mau mendiskusikanya di sini," peldkku. "Aku ingin pergi ke rumahmu. Supaya kita bisa membicarakan masalah ini dengan tenang." "Weil, kau tidak bisa da tang malam ini." Mata Les jelalatan. "Karena Gary. Gary akan mengadakan pesta. Situasinya di sana akan jauh lebih parah daripada di sini." 'Tapi kita kan bisa bicara di kamarmu—" Les melihat jam tangannya lagi. "Aku harus kembali ke toko, Lana. Maafkan aku. Kau mau ikut atau tidak?" , Belum pernah aku melihat Les sedingin dan sekeras itu. Dia jadi seperti orang asing. Meski belum pernah terpikir olehku sama sekali, namun sekonyong-konyong aku sadar bahwa aku bisa kehilangan dia. Bila aku terlalu menyulitkan dia— Boro-boro menikah dan tinggal di flat kami sendiri, jangan-jangan dia nanti akan dipindahkan ke bagian kota yang lain dan aku takkan pernah bertemu lagi dengannya. Kuambil tisu dari dalam kantong dan ubersihkan ingusku. "Aku tidak percaya," gumamku. "Kau mar ah padaku!" "Aku tidak marah, Lana. Aku hanya... Kabar ini sedikit mengagetkan, itu saja." Dia kembali dan meletakkan tangannya di bahuku. "Kau yakin ibumu tidak tahu apa-apa tentang aku?" Aku mengarigguk. "Tentu saja tidak. Bukan urusannya siapa ayah bayiku, kan?" "Dan kau yakin dia bayiku?" Air mataku menetes-netes menimpa tangannya. Aku tidak bisa memastikan apakah aku akan kehilangan Les bila dia tahu dialah ayah bayi ini, atau justru sebaliknya. Aku memutuskan mengambil risiko itu. "Yakin seyakm-yakinnya," tegasku jujur. Biarkan Les mengartikan sendiri kata-kataku itu. Begitulah. • Yang luput dari perkiraanku sebelumnya adalah ternyata aku disiksa sebagai hukuman karena menjadi dewasa tanpa persetujuan siapa pun. Bentuk siksaan yang dipilih ibuku, adalah aku harus mendengar kan nasihat semua orang yang diseretnya ke dalam urusan pribadiku. Kata Nenek, aku tidak menyadari betapa sulitaya mem-besarkan anak. "Punya anak itu sangat merepotkan," kata Nenek "Dulu, untuk mencuci popok saja, aku membutuhkan waktu berjam-jam." Kusangka nenekku bercanda. Tak terpikirkan olehku sebelumnya bahwa ternyata popok sekali pakai itu tidak sejak dulu ada. "Weh\ zaman sekarang tidak ada lagi orang yang m tidak leng- gunakan popok," tukasku setelah nenek menyatakan bahwa dia tidak bercanda. "Atau botol." "Kau menyia-nyiakan hidupmu," kata Nenek lagi. "Maksud Nenek, menyia-nyiakan hidup seperti ¦ yang :rnah Nenek lakukan, kan?" balasku. "Nenek sendiri unya empat anak. Itu berarti Nenek menyia-nyiakannya lebih dari satu kali." "Seharusnya kau belajar dari kesalahan orang lain,"' sergah nenekku. "Bukan malah mengulanginya." Kakakku Charlene, jelas mewarisi bakat ibuku dalam mengomel. "Kau membuang hidupmu begitu saja," omel Charlene. "Seharusnya kau bersenang-senang dulu sebelum punya anak." "Kau sendiri punya dua anak," tukasku. "Kau tidak punya suarni," sergah Charlene. "Kau juga tidak. Kau kan sudah bercerai." "Terima kasih karena sudah mengingatkan aku," tukas Charlene. "Tapi dia tetap membantu membiayai rumah tanggaku. Dan aku punya pekerjaan. Aku bisa gila bila harus terus-menerus di rumah dan mengurusi anak*anak." Aku tertawa. "Kau toh memang sudah gila." .Kakakku yang lain, Dara—yang sudah dua puluh tahun arusaha untuk punya anak tapi tidak pernah berhasil—-berkata bahwa hidupku sudah berakhir. "Kau sendiri yang bilang bahwa hidup ini lebih dari kadar punya pekerjaan bagus dan kartu kredit emas," u mengingatkan dia. Itu "lagu wajib" yang dinyanyikan ara di setiap pertemuan keluarga, setelah menenggak ;gur yang kedua. "Kau sendiri kepingin banget bisa iaamil" • "Aku kan tidak berumur lima belas tahun," bentak Dara. "Aku sudah bepergian ke seluruh penjuru dunia dan melakukan segala macam hal. Karierku cemerlang dan aku memiliki hubungan yang stabil. Sementara kerjamu selarna ini cuma shopping dan nonton televisi." Menurut Kepala Sekolah, aku tidak harus berhenti sekolah dan ikut ujian akhir. Kesempatanku memperoleh pendidikan masih terbuka lebar., Bahkan ada program khusus untuk para gadis yang berada dalam situasi seperti aku. "Situasi seperti apa?" tanyaku. "Aku bukannya habis diculik atau bagaimana. Aku sedang hamil." Dokter berkata mudah-mudahan aku menyadari risiko dari tindakan yang kuambil, dan bila aku tidak bisa membicarakannya dengan ibuku, ada beberapa orang yang bisa kuajak bicara. mm "Pastikan bahwa kau sudah mempertimbangkan masak-masak semua pilihan yang ada," dia menasihatiku. "Aku sudah mempertimbangkannya," sergahku. "Aku bukan pembunuh." Mereka semua mirip ibuku bila mendesah. Dokter itu memberiku setumpuk brosur yang harus dibaca, vitamin, serta jadwal periksa rutin ke klinik kebi-danan. Dia juga memberitahu bahwa ada kelas persiapan kelabiran yang bisa kuikuti bersama partoerku. Kubilang padanya bahwa aku dan partnerku akan meng-haclirinya. "Dengan menghadiri kelas itu, kalian bisa lebih mema-hami misteri kelabiran dan membuat kalian merasa tidak takut lagi," katanya memberitahuku. "Aku sangat mereko-mendasikannya. Apalagi karena kalian masih sangat muda." u akan menghadirinya," janjiku. "Kami mengang-gap kehamilanku ini sebagai pengalaman bersama." Kalimat itu kucomot dari artikel dalam majalah calon ibu.' Pria tua berkacamata itu senang sekali mendengar-nya. Lalu dia memberitahu aku ten tang "perpustakaan main-an" dan program pertukaran baju yang diadakan sebuah yayasan. Seolah aku bakal membiarkan anakku bermain-main dengan mainan yang sudah digigiti anak lain dan mengenakan baju yang pernah dikencingi anak lain. Yang benar saja deh____ Bahkan Mrs. Mugurdy di lantai atas pun ikut-ikutan memberi nasihat. Dia juga menganggap aku menyia-nyiakan hidupku. "Dulu, waktu aku masih seumur denganmu sekarang, aku memiliki impian berlayar melintasi samudra luas, menuju Thailand atau Peru," kata Mrs. Mugurdy. "Bu-kannya nonton Sesame Street" "Tapi buntut-buntutnya toh Anda terdampar juga di Kilburn," balas ku dengan nada riang. "Aku pernah tinggal di Singapura beberapa tahun," tukas Mrs. Mugurdy. Kusangka dia cuma bercanda. Soalnya, aku baru tahu Singapura itu nama negara, bukan nama sejenis minuman. Hanya Charley yang tidak sok menasihatiku. "Wah, senang juga aku membayangkan bakal jadi kakek," kata Charley. "Aku suka bayi" 'Itu karena kau tidak pernah punya bayi sendiri," sergah ibuku. Hfttt Hamil AKU punya bayangan sendiri bagaimana rasanya hamil. Tubuhku akan membengkak, tapi membengkaknya menjadi lebih "wanita" dan sensual, Dengan begitu banyak hormon kewanitaan mengalir dalam tubuhku, kulitku akan menjadi lembut dan berseri-seri. Aku akan tampil berkilau. Memang sih, tidak semuanya serbaindah. Ada perasaan mual-mual di pagi hari, sembelit, serta berbagai rasa sakit dan pegal lain yang harus kutanggung. Ibuku itu me-mastikan aku tahu semua mengenainya. 'Tunggu sampai kau merasa sesak napas," katanya dengan nada senang membayangkan penderitaanku. "Tunggu saja sampai kau tidak bisa tidur atau duduk lebih dari lima menit." Tapi, yang paling membuatku cemas adalah bila aku jadi kusut dan terlihat lelah seperti beberapa wanita yang kulihat di pasar swalayan. Bila aku melihat mereka, terbersit juga dalam pikiranku pertanyaan bagaimana mereka bisa hamil bila penampilan mereka begitu tidak menarik? Aku juga tidak mau berjalan seolah ada 01 menggelayut di punggungku. Aku pernah melihat foto Cindy Crawford dalam keadaan telanjang ketika hamil, dan dia terlihat sangat keren. Juga foto-foto Posh Spice. Dia mengenakan pakaian, baju-baju hamil karya perancang terkenak dan dia juga terlihat sangat keren. Tidak mungkin membayangkan mereka membungkuk-bungkuk di depan toilet dan menolak pergi ke pesta .karena punggung mereka sakit Mereka cantik dan hamil. Bukan hamil tapi cantik. Aku ingin menjadi seperti mereka. Seperrinya aku bisa membayangkan diriku melenggang menyusuri Oxford Street dalam balutan gaun putih panjang yang melambai-lambai. Aku mengenakan sepatu berhak da tar warna emas, kalung emas, dan gelang rantai etnas yang dihadiahkan Les untukku Natal kemarin. Para wanita tersenyum padaku. Para pria menatapku dengan penuh damba. Bila aku naik bus, semua orang menawariku tempat duduk. Cahaya berpendar-pendar di sekelilingku dan semua orang tertawa. Aku tampak seperti bidadari dengan perut membuncit dan banyak teman. "Lanaf' ibuku berteriak dari balik pintu kamar mandi. "Lana, kau tidak apa-apa?" Seandainya saat itu mulutku tidak sedang dipenuhi muntah, aku pasti sudah melontarkan jawaban yang ber-nada tajam. Seperti misalnya, "Aku baik-baik saja. Ini memang hobiku, daripada minum secangkir teh lagi." Kalau orang lain mual-mual di pagi hari, aku mual-mual setiap saat Pagi, siang, malam. Tapi karena saat itu mulutku sedang dipenuhi muntab, aku hanya menjawabnya dengan suara sedakan. "Kau mau kubuatkan teh lagi sebelum aku pergi?" Sumpah deh, ibuku itu benar-benar pencandu teh no- mor satu. Jangan sampai kau berada di Titanic bersama Ma. Bukannya memberimu jaket pelampung'di saat-saat genting, dia malah akan menyodorkan secangkir PG Tips. "Agggh!" jawabku dengan suara tersedak. "Kau yakin?" "Yeah," sahutku dengan napas terengah-engah. "Aku baik-baik saja." Aku meludahkan sisa-sisa sarapanku ke dalam toilet, membilas mulutku dengan segelas air yang sengaja ku-siapkan di dalam kamar mandi untuk keadaan darurat seperti ini, lalu berjalan tersaruk-saruk ke pintu. Ibuku masih berdiri di sana. , "Kau mau pergi ke sekolah?" Ibuku ingin aku tetap sekolah sampai akhir tahun ajaran. Untuk memastikan bahwa aku benar-benar masuk, dia sengaja memerasku. Kalau aku tidak mau pergi ke sekolah, meskipun di sana aku muntah-muntah tidak keruan, dia bakal memotong uang sakuku. "Memangnya aku punya pilihan?" balasku kesal. Ibuku juga tidak mau berbasa-basi. 'Tidak," jawabnya. "Kau tidak punya pilihan lain." Kutatap dia dengan garang. "Well, kalau begitu..." ''Beginilah rasanya menjadi dewasa," dia menguliabiku. "Ibaratoya, kau yang menata tempat tidur, kau sendiri yang harus berbaring di atasnya." Aku tidak berkata apa-apa. Mudah-mudahan dia bisa melihat dari sorot mataku betapa aku membencinya. "Walau bila melihat sifatmu, kurasa kau bahkan tidak ingat untuk menata tempat tidur lebih dahulu," sergah ibuku. Setelah ibuku berangkat, aku mulai berpakaian. Dulu, aku paling -suka saat-saat memilih pakaian yang akan dikenakan di pagi hari. Kira-kira bagaimana suasana hatiku hari ini? Warna apa yang sebaiknya kukenakan? Tahu kan, hal-hal semacam itulah. Tapi sekarang tidak lagi. Satu-satunya suasana had yang kumiliki saat ini bermt bungan dengan kondisiku yang sedang hamil. Perutku kind- sebesar bola basket, payudaraku seperti buah melon, dan bokongku terlihat seperti disumpal. Aku berdiri di depan cermin semata kaki yang tergan-tung di balik pintu kamarku. Aku sama sekali tidak mirip Cindy Crawford ataupun Posh Spice. Aku mirip boneka tiup yang menggelembung tak keruan. Tambahan lagi, tidak banyak bajuku yang masih bisa dipakai. Celana jins stretch dan rok mini sama sekali tidak dirancang untuk tubuh yang menggelembung. Hanya baju hamil yang bisa. Dan itu sama saja seperti memakai kantong sampah yang dilubangi di bagian lengan dan leher. Aku~pernah melihat wanita hamil mengenakan gaun yang menonjolkan perut mereka yang buncit, tapi aku tidak mungkin pergi ke sekolah dengan pakaian seperti itu, karena itu sama saja dengan cari gara-gara. Aku menghamburkan sebagian besar uang tabunganku untuk membeli baju hamil yang keren sekali. Aku menemu-kannya di butik trendi khusus untuk calon ibu. Gaun itu berpotongan A line dengan kerah segiempat dan berlengan panjang, lengkap dengan pita yang diikat di bagian punggung, supaya kau tetap bisa mengenakannya setelah melahirkan nanti. Gaun itu tersedia dalam dua pilihan warna, hijau atau biru. Karena menurutku warna hijau akan membuatku terlihat seperti bukit berjalan, maka aku pun memilih yang warna biru. Seperti biasa, Hillary Spiggs ngamuk-ngamuk begitu dia tahu harga baju itu. *Dia mau aku mengenakan baju-baju jelek yang dibelikannya. Padahal aku terlihat cantik sekali dalam balutan gaun itu. Hanya sayang, aku kan tidak bisa memakainya setiap hari? Aku tidak pernah mengenakan baju yang sama dua kali berturut-turut, kecuali piama. Aku tidak akan membiarkan kehamilan memaksaku menurunkan standar. Bel pintu berdering selagi aku sedang mematut-matut diri dengan sweter hitam milik Charley yang tertinggal di rumah. Saking besarnya sweter itu, aku tidak terlihat sedang hamil, tapi seperti orang yang mengenakan tenda. Bila celanaku tidak dikancingkan pun tidak akan ada orang yang tahu. "wah, aku baru tahu kalau penampilan ala 'tukang' sekarang sedang tren," seloroh Shanee begitu aku membu-kakan pintu. Biasanya, Shanee menungguku di depan kotak pos di sudut jalan, tapi sekarang dia langsung menjemputku di rumah. Aku tidak tahu apakah itu karena ibuku yang menyuruh—untuk memastikan bahwa aku benar-benar pergi ke sekolah—atau karena dia kecapekan menungguku bersiap-siap. Aku berpose bak model. "Apakah wajahku berseri-seri?" tanyaku. wanita hamil sudah sepantasnya berseri-seri bagaikan pendulum. Semua orang bilang begitu. Shanee menelengkan kepalanya ke satu sisi. "Weill' jawabnya, "ada beberapa jerawat baru di wajahmu." Gampang saja kepala sekolah dan Hillary Spiggs me-nyuruhku tetap bersekolah. Toh bukan mereka yang harus menghadapi berbagai sindiran dan ejekan. "Apa itu yang kausembunyikan di balik swetermu, Lana?" teriak salah seorang cowok kelas delapain saat Shanee dan aku berjalan kaki memasuki gedung sekolah. "Kau menyelundupkan bola kaki, ya?" Saking lucunya aku sampai lupa tertawa. Kadang-kadang bola kaki. Kadang-kadang buah melon. Kali lain, mereka hanya tertawa, tanpa mengatakan apa-apa. Aku tidak mau menoleh untuk menghitung jumlah mereka, tapi kira-kira di sana ada tiga makhluk kecil jerawatan nongkrong di pintu masuk. Mereka sampai terkencing-kencing saking kerasnya tertawa. "Acuhkan saja mereka," kata Shanee. "Mereka itu bayi-bayi brengsek." Shanee memang selalu berkata begitu. Tapi yang paling parah bukanlah bayi-bayi brengsek itu. Yang terparah justru cowok-cowok yang usianya lebih tua. Ada satu-dua orang yang dengan lancangnya berani mendekatiku waktu aku sedang sendirian sambil tersenyum menggoda. "Dengar-dengar, wanita hamil itu selalu ber-gairah..." begitu kata mereka. Atau, "Dengar-dengar, wanita hamil itu sangat mendambakan belaian sayang..." Kurang ajar banget deh pokoknya. "Lama-lama juga mereka akan bosan sendiri," kata Shanee. Itu juga yang selalu dia katakan. Aku tidak berkata apa-apa. Serbuan rasa panas yang bukan udara dan juga bukan air seolah menyumbat teng- gorokanku. 'Toilet," gumamku. "Kurasa aku mau muntah." Kami bergegas ke toilet. Toilet penuh sesak dengan anak perempuan. Ributnya seperti di kandang ayam. Hanya satu-dua saja yang benar-benar menggunakan toilet, sedang sebagian besar yang lain berdesak-desakkan di depan wastafel, memeriksa rias wajah masing-masing. 'Ya Tuhan," erang Shanee. "Kadal saja tidak bisa masuk ke sini." Dia melirikku dengan cemas. "Kau masih bisa menahannya atau tidak?" Aku membekap mulutku dengan tangan dan meng-geleng-geleng. "Minggir!" teriak Shanee. "Minggir!" Tak ada seorang pun yang menoleh. Mereka semua sibuk memulas mata dan mengagumi pakaian masing-masing. Normalnya, aku termasuk di antara mereka. Aku merangsek masuk. Di ujung sana ada bilik yang kosong, tapi aku tidak bisa menembus kepadatah. Cairan panas itu mulai menyembur ke dalam mulutku. Aku tersedak. "Dia mau muntah!" jerit Shanee. "Minggir! Sebentar lagi dia muntah!" Cewek yang menghalangi jalanku mengernyitkan muka, tapi kemudian menempelkan badannya ke punggung teman di depannya untuk memberiku jalan sambil masih meng-genggam erat maskaranya. "Ya Tuhan," gerutunya. "Pantas saja mereka begitu gigih mengingatkan lata untuk tidak berhubungan seks." | "Jadi, hari Sabtu pasti ya," kata Gerri. "Kita belanja habis-habisan. Miss Selfridge, Hennes, Gap..." Dia me-ngedipkan mata pada Shanee. "Kalau mau, kita bahkan bisa mampir ke Notring Hill Housing Trust Charity Shop" Amie membuka bungkusan keripiknya. Rasa keju dan bawang. Baunya saja sudah membuatku hampir muntah. "Kedengarannya asyik. Aku mau membeli blus seperti yang kita lihat di majalah Cosmo. Kau tahu kan, yang potongan lehernya V dengan corak garis-garis itu?" Aku mengunyah-ngunyah biskuit tawarku sambil berusaha keras untuk tidak menguap. Aku sudah terbiasa merasa bosan mengikuti pelajaran di sekolah, tapi selama ini aku belum pernah bosan makan Sang, demi Tuhan. "Boleb juga," sahut Shanee. "Terakhir kalinya aku ke Trust, aku membeli jaket jins yang keren banget. Tapi sayang aku tidak bisa hari Sabtu ini." Dia mengernyitkan muka, lagaknya seperti orang yang sangat menderita. "Aku harus menjaga adik-adikku yang nakal." "Bawa saja mereka," Gerri mengusulkan. "Kita bisa kok menjaga mereka bertiga." Shanee mengerang "Bercanda kau! Lebih baik membawa beruang daripada membawa adik-adikku. Paling tidak be-ruang akan bersikap lebih baik daripada mereka, dan kita juga bisa nongol di tayangan berita karena berbelanja dengan membawa-bawa beruang." Gerri berpaling padaku. "Bagaimana denganmu, Lana? Kau masih muat menyusup di sela-sela gang di pusat perbelanjaan, kan?" "Oh, hahaha." Kugigit sekeping biskuit lagi. "Mungkin aku akan ikut dengan kalian. Aku ingin melihat-lihat konter Mothercare. Sudah waktunya aku mulai memikirkan baju anak lelakiku." "Apa yang membuatmu yakin anakmu nanti laki-laki?" tanya Gerri. 'Tokoknya aku tahu." Aku mengangkat bahu. "Dalam hal-hal seperti ini, ada kalanya kita bisa merasakannya." Amie kontan tersedak. "Kusangka sudah cukup banyak yang kaurasakan saat ini." "Dan mungkin ada baiknya bila aku melihat-lihat buku tentang bayi..." lanjutku. "Aku masih belum memutuskan apakah akan menyusui bayiku atau tidak." "Kumohon,. jangan... jangan bicara lagi tentang menyusui bayi." Yang membuatku terkejut, Shanee-lah yang mengangkat tangan dan memasang wajah tersiksa. . "Jadi maksudmu, aku membuatmu bosan dengan omonganku tentang menyusui bayi?" tanyaku. "Begitu maksudmu?" Amie dan Gerri memandangi Shanee. "Well, kau memang terus-menerus membicarakan hal itu," tukasnya dengan nada seperti membela diri. "Selain beberapa hal lain," gumam Gerri menimpali. Amie mulai menggumamkan lagu Rock-a-bye Baby dengan suara pelan. 'Tapi itu memang penting." Sekarang ganti aku yang terdengar seperti membela diri. "Kita bisa menghancurkan hidup seorang anak bila salah mengambil keputusan." "Tapi bukan berarti kau harus terus membicarakannya setiap waktu," tukas Shanee. "Mengobrollah tentang hal lain." Aku tidak bisa membicarakan hal lain. Aku sudah tidak punya topik pembicaraan lain. Sekarang aku bahkan jarang nonton film lagi. Kursi bioskop tidak nyaman untuk kududuki selama lebih dari beberapa menit. Dan, ironisnya nih, setelah sekarang aku bisa meminjam video apa saja, aku malah langsung jatuh tertidur di sofa sebelum filrnnya selesai kutonton. "Seperti apa misal—" aku memulai. Tapi aku tidak bisa menyelesaikan perkataanku. Lagi-lagi ada cairan hangat riaik di tenggorokanku. Rongga mulutku terasa seperti dipenuhi secangkir cokelat panas yang tidak habis diminum dan sudah beberapa hari ditinggalkan di kolong tempat tidur. "Ya Tuhan!" aku terkesiap, lalu langsung meloncat berdiri hingga sisa makan siangku berceceran di lantai. "Sepertinya aku mau muntah lagi." Gerri mengerang. "Kalau begini terus, lebih baik kau bawa segepok kantong plastik untuk menampung muntah-anrnu," tukasnya. Hanya satu orang yang tidak pernah mendengar segala keluh-kesahku, dan orang itu Les. Pokoknya, tidak satu kali pun aku pernah mengeluh padanya tentang segala sakit dan pegal yang kurasakan di sekujur tubuh, perasaan mual di pagi hari, sembelit, payudara sakit, atau sema-camnya. Aku tidak mau dia mengira aku wanita hamil yang cengeng dan tukang merengek. Bila aku merasa kepingin muntah, aku tidak akan "huek-huek" atau ter-sedak di depannya, lalu kabur secepat kilat dengan tangan membekap mulut, seperti yang kerap kulakukan bila sedang bersama Hillary atau Shanee. Aku akan permisi padanya sambil tersenyum dan menggeram pelan, lalu melenggang pergi. Begitu dia tidak bisa melihatku lagi, baru aku 'lari secepat kilat. Dan aku selalu memutar keran air keras-keras, supaya dia tidak mendengarku muntah-muntah Aku juga tidak pernah membicarakan masalah popok, ASI, atau semacamnya dengan Les. Maksudku, Shanee saja mengeluh, padahal dia perempuan, dan seharusnya topik itu menarik baginya. Aku tidak ingin membuat Les bosan atau membuatnya mengira aku minta dibelikan macam-macam untuk bayiku. Ada lagi satu bagian lain dalam hidupku yang semakin membaik dengan kehamilanku sekarang. Kehidupan asmaraku. Sebelum ini aku tidak sadar bahwa ada sementara pria yang memandang wanita hamil sebagai sosok yang menggairahkan. Kata Les, wanita hamil terlihat eksotis dan menggairahkan. Hillary dan Charley akhirnya berbaikan kembali sekitar masa Paskah. Dan, segera setelah mereka berbaikan, Les mulai bisa mampir lagi ke rumahku sepulang kerja. Pada awalnya, Les akan minum bir dulu, makan ma-kanan yang dibelinya dari luar, lalu nonton berita atau pertandingan bola selama beberapa saat sebelum kami mulai bermesraan, tapi setelah beberapa kali, dia bahkan tidak merasa perlu makan dulu. Dia justru menganggap perutku yang buncit dan bo-kongku yang gendut sangat fantastis. Agak mengejutkan juga bahwa dia benar-benar mema-hami bahwa aku hamil. Menilik komentarnya waktu itu, bisa jadi dia hanya menganggap berat badanku bertam-bah. Kami tidak pernah membicarakan soal kehamilanku, kecuali bila itu berkaitan dengan ukuran anggota badan eksternalku. Mengherankan, begitu kata nenekku. Sungguh mengherankan. Aku memandang diriku sendiri dan mulai menghitung-hitung, berapa bulan lagi baru aku bisa mengenakan baju-bajuku yang biasa. Tapi anehnya, setiap kali Les memandangku, dia justru melihat sosok dewi asmara. Aku sih senang-senang saja menjadi dewi asmaranya. Walaupun aku sering kali merasa seperti mainan saja baginya, tapi itu membuat rasa percaya diriku bertambah. Les selalu memeluk dan membelai-belaiku, dan baru akan absen bercinta bila benar-benar lelah atau sedang tidak enak hati. 'w*- Itulah sebabnya, waktu Les mulai menyinggung tentang libur musim panas, aku mengira bahwa kami akan pergi bersama. Ke tempat yang romantis, lengkap dengan pela-yanan kamar, sehingga kami bisa bercinta selama berjam-jam tanpa takut Spiggs mendadak pulang. Kami bahkan sempat melihat-lihat berbagai brosur ber-sama-sama: Yunani, Italia, Siprus, Spanyol.... Jujur saja, gambar-gambar pemandangan di negara-negara itu kurang-lebih sama—sebidang laut biru, sebidang pasir dengan tubuh-tubuh yang sedang berjemur, dan hotel—tapi aku tidak peduli kami hendak pergi ke mana. Aku tahu ke mana pun kami pergi, kami akan menginap di lagoon dengan pohon palem dan air laut yang birunya sama dengan warna baju hamilku yang paling bagus. Kemudian, suatu malam Les datang ke rumahku dengan membawa sebotol anggur yang mendesis-desis. "Ada acara apa, nih?" tanyaku ketika dia membuka tutap botol. "Kau tidak bakal percaya, tapi aku mendapat semacam promosi. Mereka mernindahkan aku ke cabang di Finsbury Park" Les membusungkan dada. "Manajer." Dia tertawa. "Itu berarti aku manajer termuda di perusahaan itu." Aku memaksa diri menyunggingkan senyum bahagia; Ini memang kabar baik. Les berhasil menjadi manajer di usianya yang baru 21 tahun. Itu berarti dia bisa menjadi direktur atau sebangsanya di usia tiga puluh tahun nanti. Kami akan tinggal di kawasan pinggir kotadan aku akan memiliki mobil four-wheel drive berkaca gelap, banyak anak, dan anjing peliharaan di halaman belakang. Tapi aku tidak bisa merasa bahagia sekarang. Itu berarti aku tidak bisa setiap saat mampir ke tokonya. Itu berarti dia harus menempuh jarak yang lebih jauh lagi untuk bisa mene-muiku. 'Tapi bukan cuma itu." Les menyeringai. "Mereka akhirnya setuju memberiku cuti. Aku sudah memesan paket tur tadi pagi." Bukan kata "aku" yang kudengar, melainkan "kami". "Benarkah?" Aku memang tidak melompat-lompat kegi-rangan (karena nanti bisa menyenggol sesuatu dan mem-buatoya pecah), tapi suaraku mengandung kegembiraan. "Mau pergi ke mana kita? Kapan?" Les berhenti menuangkan anggur. "Kita?" "Aku ikut denganmu, kan?" Kusangka dia bercanda. "waktu itu kita sudah melihat-lihat berbagai brosur, ingat?" I Sekarang giliran Les yang mengira aku sedang bercanda. Dia tertawa. "Yang benar saja, Lana. Aku tidak mungkin mengajakmu ke Yunani. Kau tahu itu." Memangnya aku tahu? "Memangnya aku tahu?" tanyaku. Les memutar bola matanya, gayanya persis Charley bila Hillary tidak bisa menemukan kunci mobil dan harus mengeluarkan semua isi tasnya lagi. "Tentu saja kau tahu. Aku cuma punya waktu dua minggu, kau tahu itu." Matanya bergerak, dari wajah ke perutku yang membuncit seperti balon raksasa. "Mana mungkin kau bisa naik pesawat dalam keadaan hamil. Tidak bila usia kandunganmu sudah setua itu. Semua orang juga sudah tahu." Lagi-lagi dia tertawa. "Dan aku tidak mau naik bus ke Yunani."


0 Response to "And Baby Makes Two I"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified