Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Topeng Sang Putri I

TOPENG SANG PUTERI





“Engkau sudah gila, Elleinder?” tanya Arwain tak percaya.
“Tidak,” sahut Elleinder tenang namun tegas.
Arwain tidak mengerti apa yang mempengaruhi pikiran Elleinder sehingga pria itu tiba-tiba memutuskan untuk menikah dengan Putri dari Kerajaan Aqnetta yang kecil tetapi subur dan makmur.
Tidak dapat disalahkan kalau pria yang baru saja diangkat menjadi Raja – menggantikan ayahnya yang meninggal karena sakit – itu berambisi untuk memasukkan kerajaan tetangga itu ke dalam wilayah kerajaannya yang luas, Skyvarrna. Sebagai teman akrab sejak kecil, Arwain tahu Elleinder sejak dulu mempunyai keinginan itu. Seperti banyak negara lain, kerajaan kecil itu sangat menarik perhatian. Wilayahnya memang kecil tetapi kesuburan tanahnya dan kekayaan alamnya sangat besar.
Konon sejak Kerajaan Aqnetta berdiri banyak yang berusaha menguasainya tetapi tidak ada yang pernah berhasil. Dan sampai sekarang hal itu tidak pernah terjadi. Kekuatan militer Aqnetta tidak dapat diabaikan. Kekuatan militernya yang tangguh itulah yang membuatnya tetap damai dalam kebebasannya.
Siapapun yang ingin menyerang Kerajaan Aqnetta selalu berpikir berulang kali. Apalagi terdengar adanya kabar bahwa Kerajaan Aqnetta mempunyai sekelompok pasukan rahasia yang tiada tandingnya.
Memang satu-satunya jalan yang termudah untuk memasukkan Aqnetta ke dalam Skyvarrna adalah dengan menikahi Putri Kerajaan Aqnetta. Tetapi Arwain tetap tidak setuju dan tidak mengerti mengapa Elleinder punya pikiran seperti itu.
Semua Pangeran maupun Raja tahu itu satu-satunya jalan yang termudah apalagi Putri Kerajaan Aqnetta saat ini hanya ada seorang dan kemungkinan besar ialah pewaris tahta kerajaan kelak bila Raja Leland meninggal. Tetapi tidak satupun yang mengambil jalan itu karena mereka tidak tahu banyak tentang Putri Kerajaan Aqnetta ini. Bahkan penduduk Aqnetta sendiri tidak banyak mengetahui Putri mereka.
“Engkau mengerti apa yang kaurencanakan ini, bukan?” tanya Arwain untuk meyakinkan dirinya sendiri.
“Berapa kalikah aku harus mengatakannya padamu, Arwain?” Elleinder balas bertanya, “Aku sudah memikirkannya masak-masak. Bahkan sebelum aku mengatakannya padamu, aku telah menetapkan bahwa aku tidak akan membatalkannya. Aku akan meneruskan rencanaku tak peduli kalau ada yang tidak setuju.”
“Engkau harus tahu, Elleinder, Putri satu ini tidak banyak kita ketahui,” Arwain memperingatkan, “Hampir tidak ada yang mengetahui tentangnya. Bahkan penduduk Kerajaan Aqnetta sendiri tidak banyak mengetahuinya.”
“Aku tahu,” sahut Elleinder, “Ia tidak pernah meninggalkan Istana Vezuza dan tidak pernah menampakkan dirinya pada siapapun.”
 “Engkau juga harus tahu kabar tentangnya,” Arwain terus memperingatkan sahabatnya demi berusaha membatalkan rencana yang dianggapnya rencana paling konyol yang pernah diketahuinya. “Di kalangan penduduk Aqnetta beredar kabar bahwa Putri Kerajaan Aqnetta tidak secantik Putri-Putri yang lain. Bahkan mereka mempunyai keyakinan Putri mereka jelek dan gemuk sehingga membuat Raja Leland malu dan melarangnya meninggalkan Istana Vezuza.”
Elleinder terus mendengarkan ceramah Arwain sambil mengangguk-angguk bosan.
“Mungkin ini terdengar aneh bagimu tetapi ini benar. Karena malunya, Raja Leland tidak pernah mengucapkan nama putrinya kepada siapapun sehingga tidak seorangpun di luar mereka yang tinggal bersama Putri yang tahu namanya.”
Arwain jengkel melihat sikap Elleinder yang seakan mengacuhkannya. “Engkau mendengarkanku, Elleinder?”
“Aku mendengar semuanya, Arwain dan engkau harus tahu aku sudah tahu semua yang kaukatakan itu.”
“Lalu mengapa engkau mempunyai rencana konyol seperti itu?”
“Rencana konyol?” tanya Elleinder keheranan, “Kaukatakan rencana hebat ini rencana konyol?”
“Apalagi kalau bukan rencana konyol?” tanya Arwain geram, “Tidak ada seorang Pangeran pun yang mempunyai pikiran sepertimu. Tidak seorangpun yang mengambil resiko untuk menikah dengan Putri yang tidak jelas itu.”
“Pikiran mereka lain denganku,” kata Elleinder santai.
“Dengar baik-baik, Elleinder,” Arwain menggebrak meja di depannya – tanda ia mulai tidak sabar melihat sikap Elleinder yang tidak peduli pada apapun yang dikatakannya, “Kita tidak tahu seperti apa rupa Putri satu ini. Kita juga tidak tahu seperti apakah wataknya. Bagus kalau ia mempunyai sifat yang baik walau wajahnya tidak seperti yang kauharapkan. Tetapi kalau wataknya buruk, maka yang celaka adalah engkau kemudian Kerajaan Skyvarrna. Aku tidak ingin engkau mengambil resiko itu.”
“Engkau juga harus mendengarkanku baik-baik, Arwain,” Elleinder turut menggebrak meja Ruang Kerjanya dan menatap tajam wajah Arwain, “Aku tidak peduli pada protes siapa pun tentang rencanaku ini. Aku tidak akan membatalkan rencanaku ini.”
“Tidak akan,” ulang Elleinder dengan tegas.
Arwain duduk kembali di kursinya dengan putus asa. Dengan nada putus asa pula ia berkata, “Baiklah, Elleinder. Percuma menghalangimu.”
Elleinder pun kembali duduk. Dengan senyum penuh kemenangan ia menatap wajah putus asa Arwain.
“Aku tahu sejak dulu engkau memang tertarik pada Kerajaan Aqnetta,” kata Arwain seperti orang yang kalah perang, “Mungkin ini satu-satunya jalan yang teraman untuk mewujudkan impianmu menguasai kerajaan itu.”
Arwain menatap lekat-lekat wajah Elleinder sebelum dengan penuh kesedihan berkata, “Aman bagi orang lain tetapi tidak bagimu.”
“Engkau tahu sendiri kekuatan Aqnetta tidak dapat diabaikan. Kerajaan Aqnetta terlalu kuat untuk diserang oleh kita walau aku yakin kekuatan kita sebanding dengan mereka.”
“Kabarnya Aqnetta mempunyai pasukan rahasia yang sangat kuat.”
Elleinder mengangguk. “Itulah yang membuatku tidak yakin kita akan menang. Aku tidak tahu apa yang membuat mereka sangat kuat tetapi tidak ada yang berani mencoba mengusik pasukan itu bahkan penduduk Kerajaan Aqnetta sendiri.”
“Seorang temanku pernah berkunjung ke Istana Vezuza ketika ia ada urusan dagang dengan kerajaan itu. Katanya ia merasa sangat tidak nyaman ketika berada di sana . Ia merasa ribuan mata selalu mengawasinya dengan ketat. Aku menduga perasaan itu karena keberadaan pasukan rahasia itu di Istana Vezuza.”
“Mungkin juga.”
“Harus kauketahui selama berada di Istana Vezuza , ia sama sekali tidak bertemu sang Putri juga tidak mendengar tentangnya dari orang-orang Istana,” Arwain kembali mengingatkan kemisteriusan Putri Kerajaan Aqnetta.
“Aku tahu,” kata Elleinder, “Perkins juga pernah ke sana ketika ayahku masih hidup. Dan ia juga tidak bertemu dengan Putri juga tidak mendengar tentangnya.”
“Putri ini sangat misterius, Elleinder, jangan mengambil resiko apapun. Aku tidak ingin melihatmu berdampingan dengan wanita yang tidak pantas denganmu,” kata Arwain, “Aku tidak dapat membayangkan bila sang Putri memang seperti yang dikabarkan itu.”
Elleinder hanya tertawa mendengarnya. “Mengapa engkau khawatir seperti itu, Arwain? Engkau seperti ibu-ibu yang mencemaskan anaknya yang akan menikah.”
Arwain geram karenanya.
“Jangan cemas, aku telah memikirkan semuanya. Tidak ada satupun yang terlewatkan termasuk kemungkinan kalau Putri itu jelek, gemuk, atau apapun yang buruk-buruk yang kita semua perkirakan. Bahkan kemungkinan kalau ia ternyata lebih tua dariku.”
Arwain mengawasi Elleinder yang tampak percaya diri dengan rencananya itu. Arwain tidak dapat membayangkan bila temannya itu harus berdampingan dengan seorang Putri yang gemuk. Sebagai sahabatnya, Arwain lebih senang kalau Elleinder menikah dengan seorang gadis yang cantik dan ramping. Gadis seperti itulah yang cocok untuk Elleinder yang tampan dan gagah, bukan Putri pilihannya.
Tetapi apa yang dapat dilakukan Arwain? Ia telah berusaha membuat Elleinder membatalkan rencananya tetapi ia tidak berhasil.
“Sekarang bantu aku menyusun surat lamaran yang indah dan pasti membuat sang Putri menerimanya.”
“Tanpa kata-kata yang indah pun, ia pasti akan menerimanya,” kata Arwain setengah mengejek, “Ia pasti merasa sangat beruntung dapat menikah dengan pria sepertimu.”
“Cepat bantu aku!” Elleinder pura-pura marah, “ Surat ini harus sudah siap dalam waktu lima menit.”
 Lima menit?” tanya Arwain tak percaya, “Engkau gila, Elleinder?”
“Tidak,” sahut Elleinder, “Aku sudah memanggil Perkins sebelum engkau datang tadi. Dan kuperkirakan ia telah siap berangkat ke Aqnetta dalam waktu lima menit lagi.”
“Engkau benar-benar Raja paling gila yang pernah kuketahui,” kata Arwain, “Juga paling tidak masuk akal.”
“Sudah cukupkah ejekan itu?” tanya Elleinder acuh, “Aku rasa justru itu yang membuatmu terus berteman denganku.”
“Engkau benar,” sahut Arwain, “Sejak dulu engkau memang seperti itu. Sekali mempunyai keinginan, selalu berusaha mewujudkannya tanpa peduli apa kata sahabatmu ini.”
Elleinder tersenyum puas sambil menyodorkan pena kepada Arwain.
“Ini benar-benar gila,” kata Arwain, “Engkau yang akan menikah tapi aku juga harus ikut repot.”
“Kau tahu sendiri aku tidak pandai merayu wanita,” Elleinder berkata jujur, “Engkau lebih pandai dari aku.”
“Engkau memang pandai memanfaatkan orang lain,” gerutu Arwain, “Sekarang katakan apa yang harus kutulis. Bahwa engkau jatuh cinta pada sang Putri atau bahwa engkau ingin mempersatukan dua kerajaan melalui ikatan perkawinan.”
“Karena tujuan pernikahan ini murni karena politik, katakan saja untuk mempersatukan dua kerajaan,” sahut Elleinder tegas, “Aku yakin ia pasti menerimanya.”
“Aku tidak tahu harus mengucapkan apa atas semua kekonyolanmu ini,” gerutu Arwain.
“Terus saja menulis,” perintah Elleinder.
Suara ketukan yang tiba-tiba terdengar menghentikan gurauan kedua sahabat itu.
“Masuk!” sahut Elleinder.
Perkins muncul lengkap dalam pakaian kementeriannya. “Selamat siang, Paduka. Selamat siang, Sir Arwain,” sapa Perkins.
“Selamat siang,” sahut mereka.
“Saya melaporkan bahwa saya telah siap menuju Kerajaan Aqnetta.”
“Tetapi surat lamarannya belum siap,” keluh Arwain.
 Surat lamaran?” tanya Perkins tak mengerti.
Pandangan menyelidik Arwain menatap tajam wajah tak bersalah Elleinder.
“Sudah lanjutkan tugasmu,” kata Elleinder pada Arwain kemudian pada Perkins ia berkata, “Duduklah dulu.”
“Baik, Paduka.”

Perkins mengambil tempat tepat di samping Arwain.
“Kalau boleh saya tahu, Paduka. Untuk apakah surat lamaran itu?”
“Raja kita punya rencana konyol yang tak masuk akal,” jawab Arwain, “Ia bermaksud menikahi Putri Kerajaan Aqnetta.”
Perkins terkejut karenanya.
Sebelum pria setengah baya itu sempat mengatakan apapun, Elleinder mendahuluinya, “Jangan berkomentar apapun. Tidak ada gunanya. Rencana ini tetap berjalan walau kalian tidak setuju.”
“Ia benar,” Arwain setuju, “Aku telah berusaha membujuknya tetapi ia tetap tidak berubah pendirian.”
“Anda tahu resikonya bila menikah dengan gadis yang tak banyak kita ketahui, bukan? Resikonya bukan hanya akan menimpa diri Anda tetapi juga Kerajaan Skyvarrna.”
“Aku tahu.”
Elleinder sudah bosan diceramahi hal yang sama sepanjang siang hari ini. Untuk mengalihkan perhatian Perkins, ia bertanya, “Sudah selesai, Arwain?”
“Sebentar lagi,” kata Arwain.
Perkins terus memperhatikan Arwain yang sibuk menyelesaikan tugasnya sementara itu Elleinder yang melihat surat lamaran itu hampir selesai, segera mempersiapkan penanya.
“Selesai,” kata Arwain pada akhirnya, “Ditambah tanda tanganmu, maka surat ini akan resmi darimu.”
Elleinder menerima surat itu dan membacanya sebelum membubuhkan tanda tangannya kemudian memasukkan surat itu ke dalam sampul surat yang telah disiapkannya.
“Berikan surat ini pada Raja Leland dan sampaikan maafku padanya karena tidak dapat datang sendiri.”
Perkins bangkit dan menerima surat itu. “Baik, Paduka.”
“Setelah tugasmu selesai, segera kembali ke sini.”
“Baik, Paduka,” sahut Perkins.
Segera setelah berpamitan pada Elleinder dan Arwain, Perkins meninggalkan Kamar Kerja.
Sepanjang perjalanan ke kereta kudanya, Perkins terus memandangi surat di tangannya sambil terus berpikir. Tetapi ia tetap tidak mengerti mengapa Elleinder tiba-tiba melamar Putri Kerajaan Aqnetta yang sangat misterius bagi semua orang.
“Kita berangkat,” kata Perkins pada kusir kudanya sebelum naik kereta.
“Baik.”

-------0-------

Raja Leland duduk di Ruang Rekreasi sambil bersantai membaca koran dan menikmati hangatnya kopi hitam. Itulah kebiasaannya di pagi hari.
Seharian mengurus banyak urusan kerajaan membuatnya lelah dan hanya di pagi hari seperti inilah ia bisa beristirahat.
Tengah ia menikmati istirahatnya, seseorang mengetuk pintu.
“Masuk!” kata Raja Leland jengkel.
“Lapor, Paduka,” kata prajurit itu, “Menteri Luar Negeri Kerajaan Skyvarrna ingin bertemu Anda. Katanya ini urusan yang sangat penting yang menyangkut dua kerajaan.”
“Sepenting apakah urusannya?” gumam Raja Leland jengkel.
“Maafkan saya, Paduka,” kata prajurit itu, “Saya telah mengatakan padanya bahwa Anda tidak senang diganggu pada pagi hari tetapi ia mengatakan Raja Elleinder memberinya tugas yang sangat penting dan ia harus bergegas kembali ke Kerajaan Skyvarrna.”
“Baiklah,” kata Raja Leland, “Katakan padanya untuk menungguku di Ruang Tahta. Aku akan menemuinya di sana .”
“Baik, Paduka.”
Prajurit itu pergi untuk melakukan tugas yang diperintahkan padanya.
Tak lama kemudian pintu diketuk lagi.
 Ada apa lagi?” kata Raja Leland geram.
Calf terkejut melihatnya. “ Ada apa, Paman?”
“Kukira engkau adalah prajurit itu lagi.”
 Ada apa Menteri Luar Negeri Kerajaan Skyvarrna datang sepagi ini?”
“Aku tidak tahu. Katanya sangat penting.”
Calf ingin tahu apa yang dibawa Menteri itu dari kerajaannya yang luas. “Boleh aku ikut?” tanyanya hati-hati.
“Justru aku mengharapkan engkau ikut,” kata Raja Leland, “Engkaulah calon penggantiku.”
Calf senang mendengarnya. Ribuan kali ia mendengarnya, ia tidak akan bosan. Memang sejak dulu itulah yang diharapkannya, menggantikan pamannya.
Berdua mereka menemui Menteri Luar Negeri Kerajaan Skyvarrna di Ruang Tahta.
“Selamat pagi, Paduka,” sapa Perkins ketika melihat mereka, “Maafkan saya yang telah menganggu Anda sepagi ini.”
“Selamat pagi,” kata Raja Leland sambil tersenyum ramah, “Urusan penting apakah yang membuatmu datang sepagi ini?”
“Saya diperintahkan oleh Paduka Raja Elleinder untuk menyampaikan surat pada Anda. Sebelumnya ia minta maaf karena tidak dapat datang sendiri.”
“Katakan padanya aku mengerti. Memang sulit memerintah kerajaan yang seluas itu.”
Perkins merogoh sakunya dan mengeluarkan surat itu. “Ini suratdari Paduka Raja Elleinder,” katanya sambil menyerahkan surat itu.
Calf menerima surat itu kemudian memberikannya pada Raja Leland.
Raja Leland membuka surat itu dan membacanya.
Calf yang ikut membaca terkejut melihat isi surat itu yang berbunyi:
Kepada Yang Terhormat Paduka Raja Leland,

Hubungan antara Kerajaan Aqnetta dan Kerajaan Skyvarrna telah terjalin dengan baik sejak lama. Persahabatan yang telah berlangsung selama lebih dari tiga abad ini telah mempererat hubungan kedua kerajaan. Sebagai kerajaan yang bertetangga, saya merasa tidak ada salahnya kalau kita semakin mempererat hubungan itu.
Saya telah banyak mendengar tentang Putri Anda. Banyak yang mengatakan ia sangat cantik sehingga Anda tidak rela ia dilihat oleh orang lain. Sayapun kemudian merasa tidak pantas untuk mendampinginya. Tetapi demi mempererat hubungan dua kerajaan yang bertetangga ini, saya memberanikan diri untuk melamarnya.
Dengan pernikahan ini, Kerajaan Aqnetta yang makmur dan Kerajaan Skyvarrna yang luas dapat lebih saling mendukung. Pada akhirnya kedua kerajaan ini akan mempunyai hubungan yang sangat erat yang kelak akan sangat bermanfaat bagi generasi mendatang.
Melalui pernikahan antara saya sebagai Raja Kerajaan Skyvarrna dan Putri Mahkota Kerajaan Aqnetta, dapat dikatakan Kerajaan Skyvarrna menjadi wilayah dari kerajaan Kerajaan Aqnetta demikian pula sebaliknya. Hal ini selain dapat memperluas hubungan kerjasama antara dua negara juga dapat menghilangkan perbedaan yang selama ini ada di kedua kerajaan.
Pada akhirnya, pernikahan ini akan menguntungkan kedua belah kerajaan.
Hormat saya,

Elleinder
Calf mengawasi raut tak percaya Raja Leland dengan cemas.
“Hal ini tidak pernah kubayangkan sebelumnya,” kata Raja Leland tak percaya. “Katakan pada Raja Elleinder aku setuju dengan pendapatnya.”
“Paman?” bisik Calf cemas, “Raja Elleinder hanya ingin menguasai kerajaan kita.”
“Mengapa engkau cemas, Calf?” Raja Leland balas bertanya dengan berbisik, “Kedua kerajaan akan menjadi satu dengan pernikahan ini. Sejak dulu aku ingin menguasai kerajaan yang luas seperti Kerajaan Skyvarrna dan dengan pernikahan ini impianku terwujud.”
“Tetapi kerajaan kita menjadi milik mereka.”
“Tidakkah engkau mengerti, Calf? Pernikahan dua Putra Mahkota dari dua kerajaan akan mempersatukan dua kerajaan. Seperti yang dikatakan Raja Elleinder dalam suratnya, Kerajaan Skyvarrna menjadi wilayah Kerajaan Aqnetta dan Kerajaan Aqnetta menjadi wilayah Kerajaan Skyvarrna.”
“Berarti aku bukan lagi pengganti Paman?” tanya Calf tak percaya.
“Maafkan aku, Calf. Aku tidak ingin mengecewakanmu tetapi inilah yang akan terjadi dengan pernikahan ini,” kata Raja Leland, “Demi kemajuan Kerajaan Aqnetta, engkau harus merelakan hal ini.”
Calf kecewa bercampur geram karenanya. Tanpa mengatakan apapun, ia meninggalkan Ruang Tahta.
Perkins kebingungan melihat pemuda itu berlalu begitu saja dengan marah.
“Abaikan dia,” kata Raja Leland, “Sekarang kita akan membicarakan isi surat Raja Elleinder.”
“Katakan padanya aku sepenuhnya setuju padanya. Aku menerima lamarannya,” kata Raja Leland dengan gembira, “Atau aku harus menulis surat untuknya.”
“Menurut saya, lebih baik kalau Baginda membalas surat Paduka Raja Elleinder sehingga tidak akan ada keraguan ketika saya menyampaikan balasan Anda.”
“Tentu. Tentu saja,” kata Raja Leland, “Tunggulah sebentar.”
Raja Leland memerintahkan kepada prajurit untuk mengambilkan kertas dan pena dari Ruang Gambar yang dekat dengan Ruang Tahta.
Sambil menunggu prajurit itu kembali, Raja Leland mengajak Perkins bercakap-cakap.
“Raja Elleinder memang seorang raja yang cakap walau ia masih muda. Aku tidak pernah menyangka ia mempunyai pikiran yang sangat jauh tentang hubungan dua kerajaan ini.”
“Anda benar, Paduka,” sahut Perkins, “Ketika Raja Fahrein meninggal, Kerajaan Skyvarrna menjadi kacau tetapi Raja Elleinder dapat segera menguasai keadaan.”
“Aku tidak pernah memikirkan bahwa dengan menikahkan putriku dengannya, kedua kerajaan ini akan mempunyai hubungan kerabat bahkan kedua kerajaan tetangga ini dapat menjadi satu kerajaan. Sungguh merupakan suatu keberuntungan bagi kerajaan kecil ini untuk dapat menjadi satu dengan Kerajaan Skyvarrna yang luas.”
Akhirnya Perkins mulai dapat memahami mengapa Elleinder melamar Putri Kerajaan Aqnetta. Tetapi ia tetap tidak mengerti mengapa demi menguasai Kerajaan Aqnetta , ia rela mengorbankan dirinya sendiri untuk menikah dengan Putri yang konon sangat tidak cocok menjadi seorang Putri sejati.
“Juga merupakan keberuntungan bagi Kerajaan Skyvarrna untuk dapat bergabung dengan Kerajaan Aqnetta yang makmur dan kaya hasil alam,” kata Perkins merendah.
Raja Leland tertawa karenanya. “Kerajaan Skyvarrna beruntung memiliki seorang menteri sepertimu.”
Lagi-lagi Perkins merendahkan diri. “Kerajaan Aqnetta juga beruntung memiliki seorang Raja yang sebijaksana Anda, Paduka.”
Raja Leland senang melihat sikap Perkins yang penuh rasa hormat dan kesopanan.
Prajurit yang ditugaskan Raja Leland untuk mengambil kertas beserta pena itu akhirnya tiba. Dengan setengah membungkuk hormat, ia menyerahkan benda-benda itu pada Raja Leland.
Segera setelah menerimanya, Raja Leland menulis suratjawabannya. Tidak sampai sepuluh menit ia telah selesai menuliskan semua kegembiraan dan persetujuannya atas lamaran Elleinder.
“Berikan ini pada Raja Elleinder,” katanya sambil menyerahkansurat itu pada Perkins.
“Baik, Paduka,” jawab Perkins.
“Apakah engkau mau sarapan pagi di sini bersamaku?” Raja Leland tiba-tiba mengundang Perkins sebagai wujud kegembiraannya.
“Saya akan senang sekali tetapi maafkan saya, Baginda. Paduka Raja Elleinder memerintahkan saya untuk segera kembali setelah menerima jawaban Anda atas suratnya.”
“Ya… ya tentu saja,” kata Raja Leland berulang-ulang. “Bila demikian halnya, aku tidak dapat memaksamu lagi. Sampaikan juga salam dan hormatku pada Raja Elleinder.”
“Baik, Baginda,” kata Perkins sambil membungkuk hormat, “Semua perkataan Anda akan saya sampaikan pada Paduka Raja Elleinder.”
Tak lama kemudian Perkins meninggalkan Istana Vezuza dengan berbagai perasaan.
Lamaran telah diterima. Untuk hubungan kedua kerajaan sudah jelas tetapi tidak untuk masa depan Raja dari Kerajaan Skyvarrna. Perkins tidak dapat membayangkan seperti apakah rupa Putri Kerajaan Aqnetta. Dan kalau apa yang dikatakan banyak orang tentangnya itu benar, Perkins tidak dapat membayangkan bagaimana kebahagiaan Elleinder yang harus berdampingan dengan Putri itu.
Perkins telah menjadi Menteri Luar Negeri Kerajaan Skyvarrna sejak Elleinder masih kecil. Dan hubungan mereka sudah akrab seperti ayah dan anak.
Perkins tahu seperti dirinya, Raja Fahrein mengharapkan Elleinder menikah dengan seorang gadis yang cantik jelita bukan dengan putri yang tak banyak diketahui orang. Bahkan dikatakan gemuk, buruk dan entah apa lagi. Yang pasti kesan yang dikatakan banyak orang tentang Putri Kerajaan Aqnetta adalah bahwa Putri itu tidak pantas menjadi seorang Putri sejati yang anggun, cantik dan penuh pesona. Karena itu Raja Leland malu dan melarang sang Putri meninggalkan Istana Vezuza.
Kalau memang ini yang diinginkan Elleinder, Perkins tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Ia baru mengetahui rencana ini setelah semuanya terlambat.
Ketika utusan Elleinder datang ke rumahnya untuk menyampaikan perintah Elleinder, Perkins tanpa curiga segera mempersiapkan diri untuk berangkat ke Kerajaan Aqnetta. Dan di Istana Qringvassein , ia tidak punya banyak kesempatan untuk mengetahui apa yang tengah direncanakan Elleinder hingga memerintahkannya untuk segera berangkat ke Kerajaan Aqnetta.
Semua telah siap ketika ia tiba dan yang dapat dilakukannya hanya melakukan tugas itu walau hatinya bingung dan tidak setuju dengan rencana ini. Arwain benar, ini rencana konyol tetapi juga rencana yang sangat berani. Menempuh resiko yang sangat besar hanya untuk menguasai Kerajaan Aqnetta yang kecil tetapi sangat menarik perhatian kerajaan manapun.
Pangeran-pangeran dari kerajaan lain pasti juga tahu dengan menikah sang Putri, mereka dapat menguasai Kerajaan Aqnetta. Tetapi sebesar apapun ambisi mereka, tidak ada yang berani mengambil resiko itu. Hanya Elleinder saja yang berani mengambil resiko itu.
Perkins memandangi halaman Istana Vezuza yang sangat luas.
Istana Vezuza sangat megah dan indah. Walaupun Kerajaan Skyvarrna lebih luas dari Kerajaan Aqnetta, tetapi Perkins mengakui Istana Vezuza lebih indah daripada Istana Qringvassein. Di dalam istana yang indah bagai istana negeri dongeng itu, tinggal seorang Putri yang penuh misteri bagi siapapun kecuali orang Istana Vezuza sendiri.
Perkins menghela napas dengan pasrah. Seperti apapun rupa sang Putri, ia berharap Putri itu dapat membahagiakan Elleinder. Perkins juga berharap Elleinder tidak menyesal dengan jalan yang ditempuhnya ini bila ia tahu rupa sang Putri.
Perkins menyapu seluruh Istana Vezuza beserta halamannya itu dengan pandangannya sebelum akhirnya ia memasuki kereta.
Seperti yang diharapkan Elleinder, Perkins sudah tiba di Istana Qringvassein hanya dalam waktu tak lebih dari dua minggu setelah kepergiannya.
Begitu mencapai Skyvarrna, Perkins segera menuju Istana Qringvassein untuk menyerahkan surat jawaban Raja Leland kepada Raja Elleinder.
Elleinder tampak begitu percaya diri ketika menerima surat itu. “Engkau secepat yang kuharapkan, Perkins.”
“Terima kasih, Paduka.”

Dengan penuh percaya diri, Elleinder membuka surat itu.
Arwain juga ingin tahu jawaban Raja Leland tetapi ia tahu batas-batas keakraban mereka sebagai sahabat. Walaupun mereka adalah sahabat akrab sejak kecil, Arwain tahu ia harus menjaga sikapnya kepada orang nomor satu di Skyvarrna.
“Aku sudah menduganya,” kata Elleinder puas, “Mungkin engkau mau melihatnya, Arwain.”
Arwain tentu saja mau. Ia segera menerima surat itu dan membacanya cukup keras sehingga Perkins juga dapat mendengarnya.
Kepada Yang Terhormat Raja Elleinder,

Saya merasa sangat beruntung atas lamaran Anda kepada putri saya. Saya menyadari apa yang Anda katakan dalam surat Anda benar. Persahabatan antara kerajaan kita telah terjalin cukup lama dan tidak ada salahnya bila kita mempererat hubungan ini dalam suatu ikatan pernikahan. Saya dan putri saya merasa sangat beruntung dengan lamaran Anda ini.
Saya akan merasa sangat beruntung dapat mempunyai menantu yang hebat seperti Anda.
Hormat saya,


Raja Leland
“Tentu saja ia merasa sangat beruntung mempunyai menantu yang sangat tampan sepertimu untuk putrinya yang jelek,” Arwain memberi komentar setelah selesai membaca surat itu.
Elleinder diam saja mendengarnya. Ia senang rencananya berjalan mulus seperti harapannya. Dan ia tidak mau memikirkan yang lain selain keberhasilannya ini.
Arwain menatap lekat-lekat wajah penuh kemenangan Elleinder. “Rencanamu berhasil,” katanya, “Aku hanya dapat mengucapkan selamat menjadi pengantin yang bahagia.”
Elleinder hanya tersenyum mendengarnya.
“Paduka,” kata Perkins tiba-tiba, “Apakah Anda yakin dengan rencana Anda ini? Rencana ini terlalu besar resikonya.”
Entah untuk yang keberapa kalinya, Elleinder berkata, “Aku telah memikirkan semuanya.” Untuk meyakinkan Perkins kalau ia tidak bisa mencegahnya, Elleinder menambahkan, “Kalaupun engkau ingin menghentikanku, semuanya sudah terlambat. Engkau tidak ingin kerajaan kita berperang dengan Kerajaan Aqnetta, bukan?”
“Tentu saja bukan itu maksud saya. Tapi…”
“Sudahlah, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.” Dengan penuh keyakinan, Elleinder berkata, “Setelah menjadi istriku, ia harus menurut padaku. Aku adalah suaminya dan ia tidak akan bisa melawanku.”
“Kuharap engkau bisa mengendalikannya,” Arwain berkata acuh, “Kurasa ia akan terpesona padamu hingga ia akan selalu menuruti semua kata-katamu.”
Elleinder mengacuhkan sahabatnya dan berpaling pada Perkins. “Apakah Raja Leland mengatakan sesuatu tentang rencana pernikahan putrinya?”
“Tidak, Paduka,” jawab Perkins.
“Baiklah,” kata Elleinder tiba-tiba, “Sudah kuputuskan.”
“Memutuskan apa, Paduka?”
“Aku akan ke Kerajaan Aqnetta, Perkins. Aku akan menemui Raja Leland untuk membicarakan pernikahan ini dan mengaturnya.”
“Anda bisa menyuruh saya melakukannya untuk Anda, Paduka,” kata Perkins, “Lagipula banyak yang harus Anda kerjakan di sini.”
“Tidak, Perkins. Aku merasa lebih baik kalau aku sendiri yang membicarakannya dengan Raja Leland. Aku tidak ingin membuat Raja Leland tersinggung.”
“Aku rasa engkau ingin ke sana karena ingin bertemu calon istrimu,” kata Arwain mengejek.
“Aku memang berharap seperti itu. Setidaknya aku sudah tahu bagaimana rupa gadis yang akan menjadi istriku sebelum aku menikahinya.”
Arwain terus menganggu Elleinder.  “Kalau ia buruk rupa, engkau akan tetap menikahinya?”
“Sudah berulang kali kukatakan aku tidak akan membatalkan rencanaku,” kata Elleinder jengkel, “Lagipula aku tidak yakin dapat menemuinya. Raja Leland tentu akan menyembunyikannya entah di mana.”
“Saya juga tidak pernah bertemu dengannya ketika dulu saya ke Istana Vezuza,” kata Perkins, “Tampaknya putri ini benar-benar disembunyikan oleh Raja Leland dari semua orang.”
“Baiklah, sekarang semua telah diputuskan. Perkins, engkau boleh kembali ke rumahmu untuk beristirahat. Arwain, engkaupun boleh kembali kalau engkau ingin.”
“Aku ingin ikut denganmu. Aku ingin melihat calon istrimu.”
“Tidak,” kata Elleinder tegas, “Aku yang akan pergi sendiri.”
“Paduka,” kata Perkins, “Saya akan lebih tenang kalau Sir Arwain juga ikut Anda.”
“Tidak,” sekali lagi Elleinder berkata tegas, “Ini perintah dan tidak ada yang boleh membantahnya.”
“Kalau aku ikut, aku dapat mencari tahu tentang sang Putri sementara engkau sibuk berunding dengan Raja Leland,” Arwain tidak berhenti membujuk Elleinder, “Aku juga ingin bertemu dengan calon istri sahabat baikku yang juga rajaku.”
“Saya pikir apa yang dikatakan Sir Arwain benar, Paduka. Seperti yang Anda katakan, lebih baik Anda mengetahui seperti apa rupa sang Putri sebelum Anda menikah dengannya. Sehingga Anda bisa tahu apa yang harus dilakukan sebelum memboyongnya ke sini.”
“Membawa Arwain sebenarnya adalah bencana. Tetapi kalau kalian memaksa Arwain ikut, aku tidak akan mencegah,” kata Elleinder, “Aku juga tidak akan bertanggung jawab kalau terjadi sesuatu padamu ketika engkau berusaha menyelidiki sang Putri.”
“Aku telah melarangmu,” Elleinder memperingatkan.
“Jangan khawatir,” Arwain tersenyum senang.
“Sebelum engkau kembali, Perkins, tolong panggilkan salah seorang prajurit.”
“Baik, Paduka.”
Perkins segera berlalu dari ruangan itu.
“Keputusan yang sangat bijaksana untuk membawaku pergi besertamu, Elleinder,” kata Arwain puas.
“Seperti yang kukatakan membawamu sepertinya bukan ide yang baik. Tetapi kupikir daripada aku harus sibuk menceritakan apa yang terjadi selama aku berada di Istana Vezuza, lebih baik engkau melihatnya sendiri.”
Arwain tersenyum penuh kemenangan.
“Sebaiknya engkau lekas bersiap-siap. Kalau tidak malam ini, kemungkinan aku akan berangkat besok pagi.”
“Baik, Paduka,” kata Arwain. Kemudian pria itupun segera berlalu.
Sesaat setelah kepergian Arwain, pintu diketuk seseorang.
“Masuk!”
“Paduka memanggil saya?” tanya prajurit itu.
“Aku ingin engkau memanggil Brasch untukku. Dan aku ingin sesegera mungkin, ini masalah yang sangat mendesak.”
“Baik, Paduka,” sahut prajurit itu sebelum meninggalkan Kamar Kerja.
Elleinder menyandarkan punggungnya ke kursinya yang tinggi dengan puas. Ia sangat puas dengan keberhasilannya ini hingga ia yakin ia tidak akan dapat tidur malam ini. Sejak kecil ia berambisi menguasai Kerajaan Aqnetta ke dalam kekuasaan Kerajaan Skyvarrna.
“Kerajaan kecil yang hijau permai namun tak terjangkau,” gumam Elleinder sambil membayangkan keindahan tempat itu.
Hanya sekali Elleinder berkunjung ke Kerajaan Aqnetta, itupun ketika ia masih berusia sepuluh tahun. Tetapi sejak itu dan terus selama tujuh belas tahun terakhir ini, ia tidak pernah melupakan tempat itu. Ia seperti terbius oleh pesona alamnya yang indah.
Pegunungan Alpina Dinaria yang memanjang di perbatasan barat dengan Gereja Chreighton-nya yang lebat dan masih liar. Kota-kotanya yang damai dan penuh pesona. Istana Vezuza-nya yang indah seperti istana negeri dongeng.
Kerajaan Aqnetta. Sebuah kerajaan kecil yang indah dan kaya namun tak berani disentuh kerajaan manapun.
Elleinder puas bahkan sangat puas dengan keberhasilan rencananya ini. Ia merasa telah menang dari kerajaan manapun.
Mereka tidak berani mengambil resiko untuk menghadapi Kerajaan Aqnetta. Elleinder pun juga tidak mau mengorbankan pasukannya ke dalam cengkeraman kekuatan Kerajaan Aqnetta yang terkenal sangat kuat. Kekuatan Kerajaan Aqnetta terlalu kuat untuk diusik kerajaan manapun bahkan bila mereka bersatupun, belum tentu mereka dapat menang dari pasukan Kerajaan Aqnetta terutama pasukan rahasianya.
Tetapi Elleinder lebih berani mengambil resiko untuk menikahi Putri Mahkota Kerajaan Aqnetta. Walau ia tidak pernah tahu seperti apakah rupa sang Putri, ia berani mengambil resiko itu. Tidak peduli sang Putri jelek, tua, gemuk atau apapun, Elleinder tetap akan menjalankan rencananya ini. Setelah menjadi istrinya sang Putri harus tunduk padanya dan ia tidak akan dapat bertindak sekehendak dirinya sendiri.


2

 

Seperti keinginan Elleinder, dalam waktu empat hari ia telah tiba di Istana Vezuza.
Elleinder berdiri memandang Istana yang tinggi itu. Seumur hidupnya ia akan selalu mengagumi Istana itu walau ia juga mempunyai Istana yang besar dan indah.
Istana Vezuza yang berdinding putih dengan tamannya yang selalu berseri sepanjang tahun. Berbagai macam bunga tampak bermekaran di seluruh halaman Istana walau saat ini adalah pertengahan musim gugur.
Tanaman perdu diatur rapi mengelilingi pohon-pohon tinggi yang berbagai macam. Bunga-bunga kecil tampak di antara rerumputan dan semak-semak. Angin berhembus menimbulkan suara gemerisik dedaunan. Dedaunan terus bergemerisik menyambut kedatangan setiap tamu. Bunga-bunga terus berseri dengan warnanya yang indah memberi senyuman ramah pada tiap tamu.
Prajurit berbaju putih kebiru-biruan berbaris rapi di depan pintu masuk. Di pintu gerbang, berbaris prajurit yang dengan teliti memeriksa setiap tamu yang datang.
“Benar-benar Istana yang indah,” kata Arwain.
Elleinder mengangguk.
“Selamat datang,” sambut seorang prajurit.
“Kami datang untuk menemui Raja Leland,” kata Elleinder.
“Ijinkanlah saya mengetahui siapa Anda dan ada keperluan apa Anda mencari Paduka Raja?” tanyanya pula.
“Saya adalah Raja Kerajaan Skyvarrna. Kami datang untuk membicarakan perjanjian yang penting yang telah kami sepakati bersama.”
“Silakan masuk, Paduka,” prajurit itu sedikit membungkuk. Tangan kirinya melintang ke pundak kanannya dan tangan kanannya menunjuk ke dalam Hall.
Prajurit itu kemudian mengantar mereka ke Ruang Duduk. “Silakan menanti di sini, Paduka. Saya akan memberitahukan kedatangan Anda pada Paduka Raja Leland.”
“Terima kasih,” kata Elleinder.
Arwain tiba-tiba bertanya, “Apakah setiap tamu selalu disambut oleh prajurit yang kaku seperti itu?”
“Sepertinya seperti itu,” jawab Elleinder.
“Benar-benar ketat penjagaan di sini,” bisik Arwain.
Tak lama kemudian pintu terbuka dan Raja Leland datang sambil tersenyum ramah. “Selamat datang. Anggaplah ini sebagai rumah kalian.”
“Terima kasih, Paduka,” kata Elleinder.
“Senang dapat bertemu dengan Anda, Raja Elleinder,” kata Raja Leland.
“Saya juga senang dapat berjumpa dengan Anda.”
Raja Leland melihat seorang pria yang berdiri di samping Elleinder.
“Ijinkanlah saya memperkenalkan teman saya, Arwain kepada Anda, Paduka.”
“Saya merasa terhormat dapat berjumpa dengan Anda, Paduka,” kata Arwain sopan.
“Saya juga senang dapat berkenalan dengan Anda, Tuan Arwain.”
“Ia ikut bersama saya karena ia mendengar tentang keindahan kerajaan ini. ia tertarik untuk melihatnya sendiri. Di sini ia juga bertindak sebagai seorang pengawal saya.”
Raja Leland mengangguk-angguk melihat Arwain kemudian ia kembali pada Elleinder dan berkata, “Saya merasa tersanjung mendapatkan lamaran Anda itu. Ijinkanlah saya mewakili putri saya mengucapkan terima kasih atas lamaran Anda.”
“Saya juga senang dapat mempersunting putri Anda yang cantik.”
Raja Leland tersenyum dan berkata, “Saya tidak pernah menduga akan mendapatkan lamaran Anda. Harus saya akui Andalah orang pertama yang melamar putri saya.”
“Saya merasa tersanjung mendengarnya, Paduka,” kata Elleinder.
“Tidak perlu merasa seperti itu. Mungkin putri saya ditakdirkan untuk menjadi istri Anda.” Raja Leland tertawa senang lalu melanjutkan, “Karena kita akan menjadi ayah dan menantu, sebaiknya panggilan sopan itu mulai kita hilangkan dari sekarang. Aku takkan senang mendengar menantuku memanggilku Paduka terus menerus. Kurasa mulai sekarang engkau harus membiasakan diri memanggil aku ayah.”
“Tentu, tetapi saya akan mulai melakukannya setelah saya menikah dengan putri Anda.”
“Ya, tentu saja,” Raja Leland setuju. “Kapankah kalian akan menikah?”
“Itulah yang ingin saya bicarakan dengan Anda juga dengan putri Anda.”
“Putri saya akan selalu siap kapan saja,” Raja Leland cepat-cepat menyahut, “Anda tidak perlu mengkhawatirkan itu.”
“Kedatangan saya kemari juga ingin bertemu dengan putri Anda.”
“Maafkan saya,” kata Raja Leland, “Putri saya sedang tidak enak badan. Ia tidak dapat menemui Anda dalam beberapa hari ini. Anda tidak perlu khawatir. Ia akan cukup sehat untuk menghadiri pesta pernikahannya.”
“Saya berharap demikian. Saya tidak ingin putri Anda sakit ketika upacara itu berlangsung.”
“Saya meyakinkan Anda ia akan cukup sehat untuk menikah dengan Anda,” kata Raja Leland kemudian ia mengalihkan pembicaraan dengan berkata, “Menginaplah di sini untuk beberapa hari hingga kita selesai membicarakan pernikahan ini.”
“Saya juga berencana tinggal beberapa hari di Kerajaan Aqnetta untuk membicarakan masalah ini.”
Raja Leland tersenyum senang. “Makan siang akan siap sebentar lagi. Saya berharap Anda mau turut makan bersama kami. Anda juga, Tuan Arwain.”
“Terima kasih atas undangan Anda,” kata Elleinder dan Arwain hampir bersamaan.
Elleinder memberi tanda dengan matanya kepada Arwain ketika Raja Leland membawanya meninggalkan ruang itu.
Arwain tersenyum. Sekarang bukan waktunya ia memulai sandiwaranya sebagai seorang pengawal. Tidak tertutup kemungkinan saat makan siang nanti, mereka akan makan bersama sang Putri.
Sayangnya, harapan tinggallah harapan.
Di meja makan yang besar itu tidak tampak seorang gadis pun. Yang ada hanya Raja Leland, Elleinder dan Arwain serta beberapa prajurit pengawal.
Pelayan-pelayan berbaju biru cerah dengan celemek putihnya mulai bermunculan dengan nampan perak di tangan mereka. Mereka terus bergerak melayani ketiga orang itu.
“Hidangannya sangat lezat, Paduka,” puji Arwain, “Belum pernah saya merasa dijamu semewah ini.”
“Anda hanya melebih-lebihkan, Tuan Arwain,” kata Raja Leland merendah.
“Hidangan yang Anda sajikan ini sangat lezat,” timpal Elleinder.
“Terima kasih, saya senang Anda menyukainya,” kata Raja Leland.
Raja Leland melihat sinar matahari yang menyinari ruangan itu. “Hari sudah siang,” katanya, “Saya kira Anda lelah setelah perjalanan jauh Anda. Silakan Anda beristirahat. Besok kita baru membicarakan rencana pernikahan ini.”
“Anda benar, Raja Leland,” kata Elleinder, “Sebaiknya kita mulai membicarakannya esok hari.”
“Luke!” panggil Raja Leland, “Antarkan Raja Elleinder dan temannya ke kamarnya.”
“Baik, Paduka,” kata Luke kemudian pada Elleinder ia berkata, “Saya akan mengantar Anda berdua.”
“Kami permisi dulu, Paduka,” kata Arwain. Kemudian mereka meninggalkan Ruang Makan.
Ketika merasa cukup jauh dari Ruang Makan, Arwain berbisik, “Sang Putri tidak ada.”
Elleinder mengangguk.
“Sepertinya ia benar-benar disembunyikan bahkan dari calon suaminya sendiri,” bisik Arwain lagi.
“Kurasa kata-katamu tempo hari benar,” bisik Elleinder, “Sementara aku berunding, engkau mencari sang Putri.”
Arwain tersenyum puas.

Keduanya berdiam diri dan terus mengikuti Luke.
Luke membuka pintu sebuah ruangan. “Ini kamar untuk Anda, Paduka,” kemudian Luke melihat Arwain, “Di sampingnya adalah kamar untuk Tuan.”
“Terima kasih,” kata Elleinder.
Pria itu membungkuk dan meninggalkan mereka.
Elleinder memasuki kamarnya. Dibandingkan luas kamarnya di Kerajaan Skyvarrna, kamar ini sama besarnya.
“Benar-benar kamar yang indah,” kata Arwain.
Sebuah tempat tidur antik dengan tirai-tirai putihnya yang tipis terletak di dekat jendela. Antara jendela dan tempat tidur hanya berbatasan sebuah meja kecil. Sebuah meja lain terletak di depan perapian besar di hadapan tempat tidur. Di atas meja terdapat sebuah vas bunga dengan bunga-bunga keringnya yang ditata rapi dan indah.
Lantainya berselimutkan permadani hijau yang cerah. Dinding kamar putih bersih tanpa noda sedikit pun. Di sudut langit-langit kamar terdapat ukiran-ukiran malaikat yang indah. Langit-langit putih yang tinggi itu menaungi kamar yang rapi itu.
Tirai-tirai jendela menari-nari tertiup angin yang sejuk. Di luar jendela tampak sehamparan permadani alam yang hijau berseri.
“Inilah kamar Istana negeri dongeng,” kata Elleinder lalu ia melangkah masuk.
“Aku ingin tahu kamarku seperti apa.” Arwain berlari ke kamarnya dan tak lama kemudian ia kembali ke kamar Elleinder dengan wajah sedih.
“Ada apa?” tanya Elleinder ingin tahu.
“Kupikir kamarku akan lebih indah dari kamarmu tetapi…”
“Kamarmu lebih jelek,” sambung Elleinder.
“Tidak,” kata Arwain sedih, “Kamarku sama dengan kamarmu.”
“Mengapa engkau sedih seperti anak kecil?” tanya Elleinder, “Tidak ada gunanya menangisi kamar Istana ini. Kita sudah beruntung mendapat kehormatan untuk menginap di Istana negeri dongeng ini.”
Arwain menunduk sedih.
“Aku lelah sekali. Aku ingin beristirahat kemudian aku akan mencari tahu seperti apa rupa sang Putri.”
Tiba-tiba Arwain menjadi bersemangat lagi. “Istirahatlah,” katanya lalu menghilang dari kamar Elleinder.
Elleinder tersenyum. Ia yakin Arwain akan mencari sang Putri saat ini juga. Elleinder menjatuhkan diri di kasur bulu angsa yang lembut.
Sekarang ia dapat beristirahat dan menanti Arwain memberikan laporannya.
Arwain menuju lantai terdasar dari Istana Vezuza dan berjalan santai seperti layaknya penghuni Istana lainnya.
Orang-orang yang berlalu lalang di Hall tidak mempedulikan kedatangannya. Mereka tampak sibuk sendiri dengan pembicaraan mereka.
Tidak adanya orang yang memperhatikan, membuat Arwain merasa senang dan bebas. Ia dapat mencari sang Putri tanpa khawatir seorang prajurit akan menangkapnya karena mencurigainya.
Mengingat sang Putri tidak pernah meninggalkan Istana, sang Putri pasti telah terbiasa berada di dalam Istana. Karena sang Putri tidak pernah menampakkan diri, ia pasti tidak berada di Hall yang ramai seperti ini.
Berada di dalam Istana terus juga tidak mungkin. Bagaimana pun senangnya sang Putri tinggal di dalam Istana, ia pasti ingin melihat dunia luar.
Siang hari seperti ini, jarang ada orang di halaman. Halaman Istana sangat luas dan sang Putri tidak akan menemukan kesulitan untuk mencari tempat persembunyian yang sejuk dan menyenangkan.
Arwain terus melangkah ke taman dan berharap melihat seorang gadis buruk rupa seperti yang dikatakan orang-orang itu.
Berjalan di bawah teriknya matahari bukanlah hal yang menyenangkan. Tumbuhan di halaman sangat banyak dan lebat tetapi tidak dapat menandingi keangkuhan sang surya.
Belum ada setengah halaman yang dilalui Arwain tetapi seluruh tubuhnya telah basah oleh keringat. Arwain tidak kuat lagi untuk berjalan di teriknya matahari. Ia kembali ke Istana.
Sang Putri tidak pernah meninggalkan Istana tentu ia juga tidak pernah merasakan teriknya matahari. Jadi, kemungkinan satu-satunya adalah sang Putri sekarang berada di dalam Istana. Di suatu tempat yang jarang didekati orang.
Tidak mungkin di lantai pertama karena tempat itu sangat ramai oleh orang yang berlalu-lalang. Lantai dua juga tidak mungkin karena di sanalah kamarnya juga kamar Elleinder berada. Lantai tiga masih mungkin apalagi lantai tertinggi Istana Vezuza.
Dengan penuh percaya diri Arwain melangkah ke lantai tiga. Seperti dugaannya di tempat itu jarang ada orang. Yang tampak olehnya hanya pelayan-pelayan yang bertugas membersihkan tempat itu.
Setelah lama mencari akhirnya Arwain menemukan sebuah tempat yang tidak tampak dihuni. Tidak seorang pun yang tampak di sana walaupun tempat itu sangat bersih. Lorong-lorongnya yang terang tampak kosong.
Arwain tersenyum puas dengan temuannya itu. Walau tidak tampak seorang pun di tempat ini, ia yakin sang Putri berada di sini di lantai empat ini.
Arwain mulai berjalan lambat-lambat dan berhenti di tiap pintu untuk mendengar bila ada kehidupan di dalamnya. Bila tak ada orang, Arwain membuka pintu yang tak terkunci itu dengan harapan sama yaitu melihat sang Putri.
Tetapi harapan Arwain tidak pernah terwujud. Dengan sedih ia melanjutkan pencariannya dan semakin lama semangat ingin tahunya semakin besar.
Tiba-tiba Arwain merasa hawa dingin di sekitarnya. Rasanya seperti ada beratus-ratus orang yang tengah mengawasinya dengan mata tajam mereka dan siap menghunuskan pedang ke perutnya.
Arwain melihat ke sekeliling lorong mulai dari atas hingga bawah tetapi ia tidak melihat seorang pun. “Mungkin hanya perasaanku saja,” kata Arwain pada dirinya sendiri tetapi pikiran Arwain mengatakan pasukan rahasia Kerajaan Aqnetta sedang mengawasinya.
Arwain memarahi dirinya sendiri. Sejak tadi hingga saat ini ia sama sekali tidak ingat tempat ia berada saat ini adalah markas dari pasukan rahasia Kerajaan Aqnetta yang sangat terkenal. Tentu sejak tadi mereka telah mengawasinya.
Celaka sudah dirinya! Sekarang seluruh pasukan Kerajaan Aqnetta akan mencurigainya.
Arwain mengutuki dirinya sendiri dan kembali ke kamarnya.
Walau ia telah meninggalkan lantai empat, perasaan diawasi itu masih tetap ada. Arwain merasa seluruh tubuhnya bergetar ketakutan membayangkan sekelompok pasukan rahasia sedang mencurigainya.
Dengan terpaksa Arwain harus membatalkan pencariannya untuk hari ini. Ia harus beristirahat agar pasukan rahasia itu tidak curiga lagi padanya. Kalau ia berhasil, maka pasukan itu akan menganggap perbuatannya sepanjang siang ini hanya karena ia ingin melihat seluruh isi Istana Vezuza bukan memata-matai kegiatan di Istana Vezuza.
Hari ini Arwain membatalkan pencariannya tetapi bukan berarti ia akan membatalkannya untuk seterusnya.
Pagi ini setelah makan bersama Raja Leland, Elleinder diajak Raja Leland ke ruangannya untuk membicarakan pernikahannya. Kesempatan ini dimanfaatkan Arwain dengan baik untuk mulai mencari sang Putri.
Pencariannya hari ini berbeda dengan pencarian kemarin. Hari ini ia mencari perhatian para wanita di Hall.
Seperti yang dilakukannya kali ini, Arwain mendekati sekelompok wanita yang sedang berbincang-bincang.
“Selamat pagi,” sapanya, “Maaf saya menganggu pembicaraan Anda. Kalau Anda tidak keberatan, saya ingin bertanya pukul berapa sekarang.”
“Saat ini sekitar pukul setengah sepuluh.”
“Sudah siang rupanya,” Arwain berpura-pura mengeluh, “Saya tak menyangka waktu terasa lebih cepat berlalu di negeri ini.”
“Anda tidak berasal dari sini?” tanya seorang wanita tertarik.
“Saya berasal dari Kerajaan Skyvarrna.”
“Anda berasal dari negeri yang luas itu rupanya. Ada keperluan apa Anda datang kemari?” tanya yang lain.
Arwain puas mendapat perhatian dari para wanita itu.
“Saya ke sini menemani teman saya menyelesaikan masalahnya di sini.”
“Tampaknya masalah yang teman Anda hadapi itu bukan masalah mudah.”
“Anda benar. Saya yang hanya sebagai penonton ikut pusing karenanya.”
“Saya berharap dapat membantu Anda.”
“Anda sudah membantu saya bila Anda mengijinkan saya memperkenalkan diri pada wanita-wanita yang cantik seperti Anda semua.”
“Anda pandai memuji, Tuan.”
“Saya berkata yang sejujurnya. Saya belum pernah melihat wanita yang secantik Anda semua. Saya yakin sang Putri kalah cantik dari Anda semua.”
“Putri kami yang Anda maksud?” tanya seorang wanita.
“Ya, kata orang ia cantik tetapi saya yakin ia kalah cantik dengan Anda semua.”
Wanita-wanita itu tertawa geli.
“Siapakah yang mengatakan hal itu pada Anda, Tuan?”
“Putri kami sangat memalukan Paduka hingga Paduka melarangnya meninggalkan Istana Vezuza. Sejak lahir ia sudah buruk rupa karena itu Paduka tidak mengijinkannya keluar.”
“Benarkah itu?” tanya Arwain pura-pura tak percaya, “Apa yang saya dengar sangat berlainan dengan yang Anda katakan.”
“Kami mengatakan yang sebenarnya, Tuan. Semua orang di kerajaan ini juga tahu sang Putri sangatlah buruk hingga untuk menyebut namanya saja, Paduka malu. Kami dengar sang Putri sudah tua. Raja tampaknya sudah menyerah untuk mencarikan suami bagi putrinya itu.”
“Siapa yang mau menikah dengan wanita yang sudah buruk, gemuk juga tua walaupun ia seorang Putri Raja?”
“Orang yang menikah dengannya pasti orang gila.”
“Saya setuju dengan Anda,” sahut Arwain tak mau kalah, “Hanya orang gila yang mau menikah dengan gadis seperti itu.”
“Ia bukan seorang gadis muda lagi, Tuan,” kata seorang wanita mengingatkan, “Ia gadis tua.”
“Karena tua dan buruknya dia, Paduka sampai tak mengijinkannya meninggalkan kamarnya.”
“Benarkah itu?” Arwain pura-pura tak percaya, “Tidak mungkin Paduka Raja Leland menyembunyikan putrinya sampai tidak mengijinkanya meninggalkan kamarnya.”
“Itu benar, Tuan. Ayah saya telah bekerja di Istana ini selama berpuluh-puluh tahun tetapi belum pernah ia melihat sang Putri. Ia hanya tahu mengenai kelahirannya setelah itu ia tidak tahu apa-apa lagi tentangnya.”
“Jadi apa yang saya dengar selama ini sangat salah,” gumam Arwain.

“Benar, Tuan. Semuanya itu sangat salah.”
“Kalau Anda tidak mempercayai kami, Anda bisa menanyakannya pada para pelayan di Istana ini.”
“Anda jangan heran bila mereka mengatakan tidak pernah bertemu sang Putri.”
“Saya akan mencoba saran Anda,” kata Arwain, “Terima kasih atas pembicaraan yang menyenangkan ini.”
“Bila Anda sangat ingin tahu mengenai sang Putri, Anda bisa mencari Nissha. Kata ayah saya, wanita itulah yang merawat sang Putri sejak ia lahir.”
“Terima kasih atas saran Anda. Saya akan mencarinya.”
Arwain tersenyum puas ketika meninggalkan sekelompok orang itu.
Elleinder akan sangat terkejut bila mengetahui apa yang dikatakan para wanita itu padanya. Mungkin ia akan membatalkan pernikahan konyolnya ini.
Bila itu terjadi, Arwain sebagai temannya akan sangat senang.
Arwain tidak perlu menemui pelayan yang disebut wanita itu. Ia yakin wanita itu akan mengatakan hal yang sama padanya.
Ketika melihat Elleinder kembali ke kamarnya, Arwain segera menuju kamar pria itu.
“Dari wajahmu, aku melihat engkau telah menemukan sesuatu yang sangat menyenangkan hatimu.”
“Kau benar,” sahut Arwain, “Apa yang kutemukan ini pasti dapat mengubah semua rencanamu.”
Elleinder hanya memandang tak percaya.
“Aku yakin, Elleinder. Sangat yakin,” kata Arwain tegas.
Elleinder tetap memandang tak percaya.
“Putrimu itu benar-benar seperti yang dikatakan orang-orang. Wanita-wanita yang kutemui tadi mengatakan seperti apa rupa sang Putri tepat seperti yang kita ketahui. Mereka berulang kali menekankan sang Putri sudah tua.”
“Apa pun yang terjadi, aku tidak akan membatalkan pernikahan ini.”
“Ia lebih tua darimu, Elleinder. Ia sangat tidak pantas untukmu.”
“Engkau terlambat, Arwain. Aku dan Raja Leland telah mencapai kata sepakat untuk menikah secepat mungkin. Kami juga telah membicarakan di mana dan kapan kami akan menikah. Malam ini puaskan rasa kagummu pada Istana Vezuza sebab besok siang kita akan kembali ke Kerajaan Skyvarrna untuk melaksanakan apa yang telah kusepakati dengan Raja Leland.”
Arwain hanya dapat terpana mendengar kata-kata tegas itu.
Elleinder menepuk pundak Arwain. “Bersenang-senanglah malam ini. Hanya malam ini satu-satunya kesempatan yang tersisa.”
Arwain tidak mengerti mengapa Elleinder secepat ini memutuskan pernikahannya. Elleinder dengan cepat memutuskan akan menikah di mana dan kapan. Masalah ini bukan masalah kecil tetapi kedua raja itu telah menyelesaikannya dalam sekali bicara. Tampaknya kedua raja merasa diuntungkan dengan pernikahan ini sehingga dengan cepatnya memutuskan akan segera menikahkan sang Putri dengan Elleinder.
Arwain yakin Raja Leland merasa sangat lega karena pada akhirnya ada pria yang mau menikah dengan putrinya yang buruk rupa.
Karena segalanya telah diputuskan berarti masa depan Elleinder juga Kerajaan Skyvarrna sudah jelas. Mereka akan mempunyai ratu yang buruk rupa dan sangat memalukan sepanjang sejarah Kerajaan Skyvarrna.
“Tidak,” kata Arwain dalam hatinya. Arwain tidak mau mempunyai ratu yang memalukan seperti itu. Satu-satunya jalan untuk membuka mata Elleinder adalah mempertemukannya dengan pengasuh sang Putri.
Arwain segera keluar mencari wanita itu.
“Di mana Nissha?” tanya Arwain kepada pelayan yang ditemuinya di lorong.
“Itu Nissha.” Pria itu menunjuk seorang wanita yang baru saja meninggalkan Ruang Perpustakaan.
Arwain segera menghampiri wanita tua itu. “Mrs. Nissha,” panggilnya.
Nissha berhenti. “Apakah saya mengenal Anda?” tanyanya heran.
“Saya Arwain, teman baik Raja Elleinder dari Kerajaan Skyvarrna. Saya tahu Anda adalah pengasuh sang Putri. Saya ingin bertanya pada Anda mungkinkah teman saya bertemu sang Putri.”
“Maaf, Putri sangat sibuk,” kata Nissha ketus.
Arwain tidak mengerti mengapa wanita itu bersikap ketus padanya. “Teman saya sangat ingin bertemu sang Putri sebelum menikah dengannya.”
“Untuk melihat apakah Putri seperti yang orang-orang katakan?” tanya Nissha tajam.
Arwain terdiam.
“Paduka Raja Elleinder telah melamar Putri tanpa melihat seperti apa rupanya. Ia juga tidak peduli seperti apa sang Putri. Sekarang ia ingin bertemu Putri. Apakah ia ingin lebih mengolok Putri?” tanya Nissha ketus, “Apakah ia ingin semakin mempermalukan Putri dengan membatalkan pernikahannya setelah bertemu dengannya dan semakin memperbesar mulut orang-orang itu? Maaf, saya tidak dapat membantu Anda.”
Nissha pergi dengan angkuhnya.
Arwain terpana melihat wanita itu.
Wanita itu tampaknya sangat mencintai sang Putri hingga tidak mau ada orang yang menjelek-jelekkannya. Itu berarti sang Putri memang seperti apa yang dikatakan orang-orang itu. Arwain yakin pada apa yang didengarnya tetapi Elleinder tentu tidak mau mempercayai apa yang baru saja terjadi ini.
Dengan lesu Arwain kembali ke kamarnya.
Tampaknya tidak ada jalan lagi untuk menyelamatkan Elleinder dari pernikahan konyol ini.


3

 

Hari pernikahan yang direncanakan akhirnya tiba.
Dalam pertemuan antara Elleinder dengan Raja Leland, diputuskan untuk segera melangsungkan pernikahan. Dan untuk menunjukkan pernikahan ini untuk mempererat persahabatan dua kerajaan, pernikahan dilangsungkan di gereja yang paling dekat dengan perbatasan antara dua kerajaan.
Pernikahan yang baru diumumkan setelah semuanya siap ini mengejutkan banyak kerajaan.
Banyak yang menilai tindakan Elleinder sangat berani. Tidak ada seorang Pangeran pun yang mau menikah dengan Putri yang buruk rupa itu walau untuk menguasai Kerajaan Aqnetta.
Yang pertama kali terkejut dengan rencana pernikahan ini tentu saja penduduk Kerajaan Skyvarrna. Tetapi mereka sudah terlalu terlambat untuk menghentikan Raja mereka. Semua hal yang menyangkut pernikahan hampir selesai ketika mereka tahu. Para pejabat istana pun baru tahu setelah Raja Leland menerima lamaran Elleinder.
Yang diharapkan penduduk Kerajaan Skyvarrna hanya Raja mereka tahu tindakannya ini dan ia tidak menyesal menikah dengan Putri yang dikatakan sangat buruk rupa hingga Raja Leland sangat malu karenanya.
Dalam pernikahan ini diundang banyak keluarga kerajaan dari kerajaan lain. Dan semua sudah hadir sebelum waktunya.
“Lihatlah Gereja Chreighton sudah penuh,” kata Arwain yang hari itu menjadi pendamping pengantin pria, “Kurasa mereka lebih ingin melihat rupa sang Putri daripada pernikahanmu sendiri.”
“Mengapa mereka belum datang?” kata Elleinder cemas, “Raja Leland berjanji akan datang tepat waktu.”
“Engkau tidak sabar rupanya. Tidak mengetahui rupa calon istri saja sudah tidak sabar seperti ini belum lagi kalau tahu.”
“Aku tidak mengerti mengapa Raja Leland sangat menyembunyikan putrinya. Bahkan ketika aku menanyakannya, ia mengelak mengatakan segala sesuatu tentang putrinya.”
“Kurasa ia benar-benar malu akan putrinya,” Arwain memberi pendapat. “Selama kita di Istana Vezuza, aku juga tidak dapat menyelidiki lebih jauh. Istana itu sangat ketat penjagaannya. Sampai sekarang aku masih ingat bagaimana aku merasa seluruh bulu kudukku berdiri ketika menginjak halaman istana.”
Elleinder pun masih ingat suasana ketika berada di Istana Vezuza. Rasanya puluhan mata selalu mengawasi gerak-geriknya walau ruangan itu kosong. Penjagaan di Istana Vezuza memang sangat ketat bahkan lebih ketat dari penjagaan di Istana Qringvassein. Tidak heran kalau tidak ada yang berani mengusik kedamaian Istana Vezuza.
“Tampaknya calon istrimu sudah tiba,” kata Arwain ketika melihat keributan di luar pintu Gereja Chreighton.
Tak lama setelah Arwain mengucapkannya, Elleinder melihat seorang gadis yang berkerudung putih panjang memasuki pintu gereja dengan perlahan.
Raja Leland dengan bangga menggandeng gadis itu ke arahnya. Sesekali ia mengangguk kepada orang-orang yang mengucapkan selamat padanya.
“Seperti apa yang rupa gadis itu. Aku sama sekali tidak tahu apakah ia cantik atau jelek. Apakah ia gemuk atau tidak.”
“Apa boleh buat,” kata Elleinder, “Dari rambut sampai kakinya tertutup kerudung putihnya yang panjang. Dan sepertinya kerudungnya sangat tebal sehingga sukar melihat wajahnya.”
“Tampaknya Raja Leland benar-benar tidak mau putrinya terlihat siapapun sebelum engkau menikahinya.”
“Tampaknya memang seperti itu.”
Tiba-tiba Uskup berdehem cukup keras.
Kedua pria itu segera menyadari kesalahan mereka. Mereka diam seribu bahasa dan terus menantikan gadis yang semakin dekat itu.
“Gadismu datang,” bisik Arwain ketika gadis itu telah tiba di depan altar.
“Saat ini adalah saat terakhir kita berhubungan sebagai dua Raja,” kata Raja Leland sebelum menyerahkan putrinya kepada Elleinder, “Aku ingin engkau menjaga putriku baik-baik.”
“Tentu, Raja Leland,” jawab Elleinder.
Raja Leland tersenyum. “Terimalah putriku. Aku berharap dia tidak mengecewakanmu dan engkau mau membahagiakannya,” katanya sambil mengulurkan tangan putrinya pada Elleinder.
Elleinder tertegun melihat tangan itu. Tangan yang terbungkus sarung tangan putih itu kecil dan jari-jari lentiknya terulur anggun.
Perlahan tapi pasti Elleinder meraih tangan itu. Kembali ia tertegun ketika merasakan dinginnya tangan itu di tangannya. Tangan mungil itu terasa sangat tenang. Sama sekali tidak ada getaran khawatir atau sejenisnya. Juga tidak ada getaran gembira.
Elleinder heran. Setahunya setiap gadis pasti akan gugup menghadapi pernikahannya tapi tangan gadis yang akan menjadi istrinya ini sama sekali tidak menampakkan kegugupannya. Tangan itu sangat tenang dan lembut.
Segera setelah keduanya berlutut di depan altar, Uskup memulai upacara suci itu. Dalam keheningan yang sakral itu, Elleinder sama sekali tidak merasakan kecemasan sang Putri dan itu membuatnya semakin ingin tahu seperti apakah rupa sang Putri. Dalam upacara itu pula ia baru mengetahui nama sang Putri.
“Illyvare,” gumam Elleinder dalam hatinya sesaat setelah mengucapkan janjinya.
Keingintahuan Elleinder semakin besar ketika sang Putri mengucapkan janjinya dengan perlahan namun tetap tenang. Suara lembut itu mengusik keingintahuan Elleinder. Elleinder tahu ia harus bersabar hingga upacara selesai.
Ketika Uskup akhirnya berkata “Dengan ini kalian resmi menjadi suami istri”, Elleinder sudah tidak sabar untuk menyingkap kerudung yang menutupi seluruh wajah istrinya.
Dengan menahan perasaan ingin tahunya yang besar, Elleinder membuka kerudung itu perlahan-lahan. Ketika akhirnya kerudung itu benar-benar tersingkap, Elleinder tertegun.

Entah untuk keberapa kalinya dalam upacara pernikahannya ini ia dibuat tertegun oleh istrinya yang tak pernah dilihatnya sebelumnya juga tidak pernah dilihat orang lain. Tetapi kali ini Elleinder bukan hanya tertegun tetapi juga terpesona oleh wajah cantik yang menatapnya dengan tenang.
Wajah cantik itu tampak tenang setenang sinar bola matanya yang kecoklatan. Dengan rambut hitamnya yang indah yang disanggul rapi, gadis itu tampak anggun. Kulit putihnya bersemu rona merah muda yang membuatnya sangat manis.
Sungguh merupakan suatu kejutan melihat istrinya ternyata jauh berbeda dari apa yang diperkirakan semua orang. Putri Illyvare sangat cantik dan mungil seperti seorang peri. Kecantikkan timur yang lembut yang dimilikinya membuatnya tampak sangat anggun dan lembut.
Uskup tampaknya juga tertegun melihat Putri kerajaannya itu. Ia tidak segera menghentikan Elleinder yang terus menatap lekat-lekat wajah Illyvare. Dibiarkannya mata terpesona Elleinder terus beradu dengan mata tenang Illyvare.
Untung Elleinder cepat menyadari ia berada di tengah upacara pernikahan. Dengan perlahan seolah takut mengusik ketenangan gadis cantik itu, Elleinder mencium istrinya.
Rupanya sang Putri masih merasa belum cukup membuat Elleinder tertegun dalam upacara pernikahannya ini. Sekali lagi Elleinder tertegun oleh dinginnya bibir sang istri. Bibir yang lembut itu dingin dan tenang. Rasanya semua yang ada pada gadis itu dingin dan tenang tetapi juga lembut.
Setelahnya Uskup melanjutkan upacara dengan upacara peneguhan cincin pernikahan.
Ketika akan memasukkan cincin pernikahan itu ke jari istrinya, Elleinder baru sadar cincin itu terlalu besar untuk istrinya. Seperti semua orang, ia percaya sang Putri gemuk dan ia menyiapkan cincin yang cukup besar. Tak pernah sekalipun terlintas dalam benaknya kalau sang Putri ternyata seorang gadis yang sangat cantik seperti seorang peri.
Dengan perasaan bersalah, ia memasukkan cincin itu ke jari manis Illyvare yang tetap tenang dalam kediamannya.
Setelah semua rangkaian upacara pernikahan selesai, keduanya masih tidak dapat meninggalkan gereja. Mereka masih harus menanti upacara penobatan mereka sebagai Raja dan Ratu Kerajaan Aqnetta. Dan untuk Illyvare, ia harus mengikuti upacara penobatan dirinya menjadi Ratu Kerajaan Skyvarrna.
Mereka berdua terus berlutut di depan altar – membelakangi semua tamu yang ingin tahu seperti apakah rupa sang Putri.
Dalam ketenangan penantian itu, Illyvare kembali teringat saat-saat ia mengetahui pernikahannya ini.
“Putri! Putri Illyvare!”
Illyvare yang berada di antara kebun bunganya yang tinggi, memalingkan kepalanya dengan perlahan seolah tidak ingin rambut panjangnya merusak kuntum-kuntum bunga warna-warni yang bermekaran di sekitarnya.
Nissha yang terburu-buru lupa pada tujuannya semula karenanya. Nissha tidak pernah tidak mengagumi kecantikan Putri yang diasuhnya sejak kecil, ketika gadis itu berada di antara bunga-bunga di kebun bunganya.
“Ada apa, Nissha?” Illyvare membuyarkan senyuman yang menghiasi wajah Nissha.
Pertanyaan yang diucapkan dengan lembut itu membuat Nissha kembali teringat pada tujuannya semula. “Gawat, Tuan Puteri. Gawat sekali.”
Illyvare hanya menatap pengasuhnya itu.
“Baru saja Menteri Luar Negeri Kerajaan Skyvarrna meninggalkan Istana Vezuza.”
Illyvare kembali melanjutkan kesibukannya merawat bunga-bunga di sekelilingnya dengan penuh perhatian.
“Tuan Puteri!” panggil Nissha merajuk.
“Aku mendengarkanmu,” sahut Illyvare sambil terus memilih bunga-bunga yang cukup tua untuk dipotongnya.
“Dengarkanlah saya, Tuan Puteri. Masalah ini benar-benar gawat,” kata Nissha setengah memohon, “Ini menyangkut masa depan Anda.”
Pandangan Illyvare menerawang jauh ke langit biru yang tak berujung sebelum ia kembali menatap Nissha.
“Menteri Luar Negeri itu datang untuk menyampaikan lamaran Raja Elleinder pada Anda. Dan ayah Anda menerimanya.”
Illyvare menatap Nissha dengan tenang.
Nissha keheranan melihat Illyvare tetap tenang walau ia tahu ia harus menikah dengan seorang pria yang belum pernah ditemuinya. “Tuan Puteri?”
“Tadi Calf menemuiku dan mengatakan semua hasil pembicaraan Menteri Perkins dengan mereka.”
“Mengapa Anda tenang-tenang saja seperti itu, Tuan Puteri?” Nissha mengungkapkan keheranannya, “Masalah ini bukan masalah sepele. Ini menyangkut masa depan Anda.”
Illyvare sambil menghela napasnya dengan pasrah. Kembali mata gadis itu menerawang jauh di langit biru yang tak berujung. “Langit sedemikian luasnya dan kita tidak tahu dan tidak dapat menentukan di mana ujungnya.”
Nissha tidak mengerti apa yang dikatakan Illyvare. Dan ia tidak bertanya lebih jauh lagi.
“Saya rasa Raja Elleinder mengajukan lamaran bukan karena ia mencintai Anda,” gumam Nissha.
Mendengar perkataan itu, Illyvare menggelengkan kepalanya. Dan tanpa berkata lebih banyak lagi, ia melanjutkan kesibukannya.
“Ia pasti melamar Anda karena ia ingin menguasai Kerajaan Aqnetta. Anda sering berkata banyak yang ingin menguasai kerajaan ini sejak dulu. Pasti Raja Elleinder termasuk di antara mereka. Kalau tidak, ia tidak mungkin melamar Anda yang kata orang-orang, jelek dan gemuk dan entah apa lagi.”
Sambil terus membantu Illyvare, Nissha terus berkata, “Saya tidak mengerti mengapa mereka mempunyai pikiran yang buruk-buruk tentang Anda.”
“Aku tidak pernah menampakkan diriku pada siapapun selain pada kalian yang tinggal di Istana ini, Nissha,” Illyvare memberi penjelasan.
“Tetapi tidak seharusnya mereka punya pikiran seperti itu walau Anda tidak pernah meninggalkan Istana.”
Illyvare tahu percuma berusaha memberi penjelasan lebih banyak kepada Nissha. Dibiarkannya Nissha terus menggumam.
“Putri! Putri Illyvare!” Kembali seseorang memanggil gadis itu.
Kembali pula Illyvare memalingkan kepalanya dengan perlahan.
“Paduka Raja Leland memanggil Anda,” kata prajurit itu, “Paduka ingin Anda menemuinya di Ruang Kerja.”
Illyvare tahu kalau ayahnya memanggilnya ke Ruang Kerja, berarti apa yang akan dikatakannya ini sangat penting dan menyangkut Kerajaan Aqnetta. Illyvare tahu apa yang akan dibicarakan ayahnya padanya.
“Paduka pasti memanggil Anda karena masalah itu,” Nissha memberi pendapat.
Illyvare mengabaikan Nissha. Dengan tenang dan tanpa kecemasan ia berkata, “Bawalah keranjang ini ke kamarku.”
Nissha keheranan melihat Illyvare yang tampak tenang walau tahu apa yang akan dibicarakan ayahnya. Gadis itu memang selalu tenang tetapi tidak pernah disangkanya bahwa ia sedemikian tenangnya hingga tetap tenang walau ada masalah besar yang menyangkut masa depan dan kebahagiaannya sendiri.
Nissha terus memandangi punggung Illyvare yang semakin jauh dan akhirnya menghilang di balik pepohonan yang tinggi di halaman Istana Vezuza yang memagari Istana Vezuza.
Illyvare tahu apa yang sedang dipikirkan pelayan sekaligus pengasuhnya itu tetapi ia tetap diam saja. Tanpa mengkhawatirkan apa pun, Illyvare terus menuju Ruang Kerja. Ia sudah tahu apa yang akan dikatakan ayahnya padanya dan ia sudah tahu apa yang harus dilakukannya.
“Masalah apakah yang ingin Ayahanda bicarakan hingga memanggil saya sepagi ini?” tanya Illyvare dengan sopan.
“Duduklah dulu,” kata Raja Leland tak dapat menahan luapan kegembiraannya.
Illyvare menuruti perintah ayahnya.
“Beberapa saat yang lalu Menteri Luar Negeri Kerajaan Skyvarrna datang untuk menyampaikan surat dari Raja Elleinder. Dalam suratnya, Raja Elleinder ingin melamarmu demi semakin mempererat hubungan kedua kerajaan. Aku telah menerimanya dan aku ingin engkau juga menerimanya dengan ikhlas.”
“Saya mengerti, Ayahanda,” kata Illyvare, “Demi kesejahteraan penduduk Kerajaan Aqnetta, saya akan menikah dengan Raja Elleinder dengan segenap perasaan saya. Dan demi dua kerajaan saya akan melakukan tugas saya dengan baik.”
“Bagus,” kata Raja Leland puas, “Engkau harus tahu pernikahan kalian ini akan membuat kemungkinan dua kerajaan ini menjadi satu dengan kalian sebagai raja dan ratunya. Aku baru saja memutuskan akan segera menyerahkan tahtaku kepadamu setelah pernikahanmu. Dengan demikian engkau dapat dengan mudah membuat rakyat kita menjadi semakin sejahtera.”
“Saya lebih mengharapkan Ayahanda yang memegang tampuk pemerintahan Kerajaan Aqnetta sampai saya benar-benar siap,” kata Illyvare merendah, “Tetapi bila Ayahanda memaksa, saya hanya dapat melakukannya dengan sebaik-baiknya. Saya berharap kelak Ayahanda mau membantu saya yang belum berpengalaman ini.”
Raja Leland tertawa senang karenanya.
“Bagus. Bagus sekali,” katanya berulang-ulang, “Memang itu yang harus kaulakukan. Engkau sudah beruntung bisa dilamar oleh Raja dari kerajaan luas seperti Kerajaan Skyvarrna.”
Illyvare terdiam mendengar kata ‘beruntung’ yang diucapkan dengan penuh kemenangan itu. Ia tahu yang lebih beruntung dengan pernikahan ini adalah ayahnya dan Kerajaan Aqnetta bukan dirinya. Illyvare tahu ia hanya sebagai suatu pion dalam penyatuan dua kerajaan sahabat ini, pion yang sangat penting.
“Karena pernikahanmu ini aku telah mengecewakan Calf. Aku tidak akan memaafkanmu kalau engkau tidak melakukan tugas ini dengan baik.”
“Saya mengerti besarnya tanggung jawab yang berada di tangan saya ini. Saya tidak akan mengecewakan Ayahanda juga rakyat Kerajaan Aqnetta,” Illyvare berjanji.
Raja Leland kembali tertawa senang dan penuh kemenangan.
“Illyvare! Illyvare!”
Illyvare terkejut mendengar panggilan yang semakin lama semakin keras itu. Dengan segera ia menguasai perasaannya kemudian dengan tenang memalingkan kepala pada pria yang kini menjadi suaminya.
“Aku minta maaf.”
Illyvare hanya menatap bingung sebagai jawabannya.
“Cincin yang kusiapkan terlalu besar untukmu.”
“Lupakan saja,” sahut Illyvare kemudian ia kembali menatap lurus ke depan.

Elleinder terus memperhatikan Illyvare yang memandang lurus ke depan. Pandangan yang lurus dan jauh ke depan. Pandangan yang tenang.
Illyvare tahu Elleinder sedang menatapnya namun ia tidak mempedulikannya. Sejak tahu ia akan menjadi Ratu dari dua kerajaan, Illyvare terus berdoa memohon bantuan-Nya agar dapat melakukan tugas beratnya dengan baik.
Elleinder terus memperhatikan gadis itu menutup matanya setelah sekian lama menatap lurus ke salib Yesus di belakang altar.
Tidak dapat dimengerti oleh Elleinder mengapa Raja Leland menyembunyikan putrinya yang sedemikian cantik bahkan malu karenanya. Gadis ini terlalu cantik untuk disembunyikan dari siapapun. Tidak ada suatupun pada diri Illyvare yang dapat menimbulkan perasaan malu.
Elleinder menatap lekat-lekat bulu mata hitamnya yang lentik. Mulutnya yang menekuk lembut di bawah hidungnya yang mungil. Semua yang ada pada gadis ini tampak begitu indah untuk terus dipandang. Elleinder yakin ia takkan menemukan gadis yang jauh lebih mempesona dari Putri satu ini.
Seorang wanita tua mendekati Illyvare.
Elleinder melihat Illyvare merendahkan kepalanya seolah tahu apa yang akan dilakukannya. Kemudian gadis itu membiarkan wanita itu bersama pelayan-pelayannya yang lain melepas mahkota pengantinnya beserta kerudungnya yang panjang.
“Semoga Anda berbahagia bersamanya, Tuan Puteri,” bisik Nissha sesaat sebelum meninggalkan gadis yang terus berlutut di depan altar itu.
“Terima kasih, Nissha,” bisik Illyvare pula. Dan ia kembali tenggelam dalam doanya.
Sesaat setelah itu, Raja Leland dengan pakaian kerajaannya yang lengkap dengan jubah merahnya yang panjang dan berjahitkan benang emas keperak-perakan, memasuki Gereja Chreighton dan terus menuju altar.
Tampak seorang prajurit yang berpakaian seragam lengkap membawa sebuah mahkota yang bertahtakan emas dan berbagai macam batu indah di belakangnya. Beberapa prajurit lain yang juga berpakaian lengkap mengawal mereka dengan ketat.
Elleinder melihat Illyvare masih terus memejamkan matanya walau tamu-tamu menjadi ramai karena terpesona pada mahkota Kerajaan Aqnetta yang indah. Elleinder tidak tahu apakah yang sedang dilakukan gadis itu. Ia hanya menduga gadis itu ingin menikmati saat-saat terakhir sebelum ia menjadi Ratu dan ia membiarkannya.
Sesaat sebelum Raja Leland berdiri di depan mereka, Illyvare membuka matanya perlahan-lahan. Ia tahu saatnya sudah tiba dan ia telah siap menjadi Ratu dari dua kerajaan.
Uskup muncul kembali di altar. Setelah itu Raja Leland baru melepas mahkota di kepalanya dan mengangkatnya tinggi-tinggi di atas kepala Elleinder.
“Hari ini dalam pernikahan kalian, aku menyerahkan tahta Kerajaan Aqnetta kepada kalian,” Raja Leland memulai upacara penyerahan tahta, “Aku ingin kalian memerintah Kerajaan Aqnetta dengan jujur, adil dan bijaksana. Dan demi kemakmuran dan kebahagian seluruh rakyat Kerajaan Aqnetta, aku ingin kalian bersumpah dengan hati yang tulus.”
Kemudian pada Elleinder, Raja Leland berkata, “Elleinder, hari ini aku mengangkatmu menjadi Raja dari Kerajaan Aqnetta menggantikan aku, Raja Leland. Engkau adalah Raja dari Kerajaan Skyvarrna dan aku ingin engkau tidak membedakan kedua kerajaan.”
Kemudian Uskup mendekati Elleinder dan meletakkan tangan Elleinder di atas Kitab Suci. “Sebelum engkau menjadi Raja, aku ingin mendengar sumpahmu. Sekarang ucapkanlah sumpahmu dalam kekudusan Allah,” katanya.
“Saya, Elleinder, bersumpah tidak akan membedakan Kerajaan Aqnetta dari Kerajaan Skyvarrna dan akan melakukan segala sesuatu yang terbaik bagi kebahagiaan Kerajaan Aqnetta.”
“Dengan demikian, sejak saat ini engkaukah Raja dari Kerajaan Aqnetta,” kata Raja Leland sesaat sebelum memasangkan mahkota itu di kepala Elleinder.
Upacara penobatan masih belum selesai dan tidak seorang tamupun yang berani menganggu dengan tepuk tangan.
“Illyvare, pada hari ini pula aku mengangkatmu menjadi Ratu Kerajaan Aqnetta, menggantikan ibumu, Ratu Saundra. Sebagai istri dari Elleinder, engkau harus membantunya melakukan segala tugasnya demi kesejahteraan Kerajaan Aqnetta.”
Sekali lagi setelah Raja Leland berbicara, Uskup mengambil alih. Ia meletakkan tangan Illyvare di atas Kitab Suci dan berkata, “Sebelum menjadi Ratu Kerajaan Aqnetta, aku ingin mendengar sumpahmu. Sekarang ucapkanlah sumpahmu yang tulus dalam kekudusan Allah.”
“Saya, Putri Mahkota Kerajaan Aqnetta, Illyvare,” kata Illyvare tegas namun tetap tenang dan perlahan-lahan, “Bersumpah atas nama Bapa, Putra dan Roh Kudus akan membantu suami saya dalam memerintah Kerajaan Aqnetta. Demi kemakmuran Kerajaan Aqnetta dan kebahagiaan rakyatnya, saya bersumpah akan melakukan setiap tugas saya dengan sebaik-baiknya.”
Raja Leland kembali menggantikan tugas Uskup. Ia mengambil mahkota lain dari prajurit tadi. Kemudian ia berkata, “Dengan ini aku mengangkatmu menjadi Ratu Kerajaan Aqnetta yang harus membantu setiap tugas suamimu.” Dan iapun memasangkannya di kepala Illyvare.
Kemudian Raja Leland mengeluarkan sesuatu dari balik jubahnya. Raja Leland mengangkat tongkat emas yang tak kalah indahnya dengan mahkota Kerajaan Aqnetta di antara kedua Raja dan Ratu baru itu. “Ini adalah tongkat kekuasaan Kerajaan Aqnetta. Sekarang aku ingin kalian berpegang pada tongkat ini dan sekali lagi bersumpah akan memerintah bersama demi Kerajaan Aqnetta.”
Elleinder segera melakukan apa yang diperintahkan Raja Leland diikuti Illyvare. Bersamaan keduanya berkata, “Kami bersumpah akan bersama-sama memerintah Kerajaan Aqnetta dan saling membantu demi kemakmuran Kerajaan Aqnetta.”
“Dengan ini resmilah kalian menjadi Raja dan Ratu Kerajaan Aqnetta. Atas nama Bapa, Putra dan Roh Kudus,” Uskup mengakhiri upacara penobatan, “Semoga kalian memerintah dalam nama kebenaran dan keadilan.”
Akhirnya selesailah rangkaian upacara suci di Gereja Chreighton.
Kembali Uskup menyalami mereka. Kali ini bukan selamat atas pernikahan mereka tetapi selamat atas pengangkatan mereka menjadi penguasa Kerajaan Aqnetta yang baru.
Raja Leland juga tidak ketinggalan memberi selamat. Ketika menyalami Illyvare, ia berkata, “Jangan kecewakan aku.”
Illyvare hanya mengangguk tanpa mengatakan apapun.
Suasana ramai memenuhi Gereja Chreighton setelahnya. Tamu-tamu sudah tidak sabar ingin melihat dari dekat wajah sang Putri dan memberi ucapan selamat kepada mereka.
Prajurit yang tadi mengawal masuknya Raja Leland beserta mahkota kerajaan, segera membuka jalan bagi keluarga kerajaan itu.
Dalam perundingan antara Elleinder dan Raja Leland, disepakati setelah menikah di Gereja Chreighton, Illyvare akan segera dibawa ke Istana Qringvassein. Alasan yang diberikan Raja Leland saat itu adalah putrinya pasti lelah setelah menjalani dua upacara dalam waktu yang berturut-turut dan ia tidak ingin putrinya jatuh sakit karenanya. Saat itu Elleinder hanya mengangguk sambil tersenyum dalam hati. Ia tahu Raja Leland tidak ingin orang lain tahu rupa putrinya yang buruk.
Tetapi itu adalah saat itu. Saat ini sudah lain dari saat itu. Saat ini Elleinder menganggap apa yang dikatakan Raja Leland benar. Ia sendiri merasa sangat lelah setelah menjadi dua upacara yang cukup melelahkan dalam waktu satu hari. Belum lagi perjalanan panjang ke Istana Qringvassein yang harus ditempuh.
Apapun alasan Raja Leland menyembunyikan istrinya dari orang banyak, Elleinder tidak tahu. Tetapi Raja Leland benar-benar menyembunyikannya dari siapapun.
Mungkin karena keingintahuan para tamu yang besar, prajurit yang memagari mereka kewalahan. Di saat-saat genting sebelum mereka terdorong oleh para tamu itulah datang pasukan lain dalam jumlah besar yang segera membantu mereka.
Entah dari mana mereka datang tetapi mereka tampak tiba-tiba muncul dari segala penjuru dan segera membuat pagar betis yang sangat kuat sehingga Elleinder dan Illyvare dapat terus berjalan di lorong depan altar yang memisahkan kedua baris bangku umat itu.
“Mungkin merekalah pasukan rahasia Kerajaan Aqnetta,” pikir Elleinder saat melihat kesigapan pasukan yang baru datang itu.
Illyvare melihat Elleinder terus memperhatikan pasukan yang membukakan jalan bagi mereka. Ia tahu apa yang sedang dipikirkan pria itu dan berkata, “Mereka pasukan Pengawal Istana.”
Elleinder terkejut mendengarnya. “Pasukan Pengawal Istana?”
Illyvare hanya mengangguk untuk meyakinkan Elleinder.
“Tak heran kalau tidak ada yang berani mencoba kekuatan militer Kerajaan Aqnetta,” pikir Elleinder tanpa berhenti memperhatikan pasukan itu.
Semua tampak tangguh dan kuat. Tidak seorangpun yang tampak lemah. Pandangan tajam mereka menyiratkan kekuatan yang tersembunyi. Benar-benar sekelompok pasukan yang tangguh. Pasukan Pengawal Istananya saja sangat tangguh seperti ini apalagi Angkatan Bersenjatanya yang lebih penting tugasnya yang bukan hanya melindungi keluarga Raja tetapi juga seluruh Kerajaan Aqnetta.
Tanpa kesulitan mereka berhasil mencapai kereta yang telah dipersiapkan di depan pintu.
Elleinder segera membantu Illyvare naik sebelum ia sendiri naik.
Pasukan Pengawal Istana Qringvassein segera mengambil alih tugas Pasukan Pengawal Istana Vezuza. Mereka mengiringi kepergian kereta yang membawa Raja dan Ratu.
“Untung kita berhasil lolos dengan mudah,” kata Elleinder setelah mereka agak jauh dari Gereja Chreighton.
Illyvare tidak menanggapinya.
Elleinder melihat gadis itu memandang lurus ke luar jendela. Ia menduga gadis itu masih enggan meninggalkan kerajaannya.
“Suatu hari nanti kita pasti akan kembali lagi ke sini,” Elleinder mencoba menghibur Illyvare.

Illyvare memalingkan kepalanya dan mengangguk.
“Engkau tidak lelah?” tanya Elleinder – mencoba membuka percakapan.
“Tidak,” jawab Illyvare singkat.
“Lebih baik engkau tidur. Perjalanan ini sangat panjang. Ayahmu tidak ingin engkau sakit,” Elleinder membujuk Illyvare. “Jangan khawatir, aku tidak akan mengganggumu. Aku sendiri sangat lelah dan yang kuinginkan saat ini hanya tidur.”
“Lakukanlah,” kata Illyvare tanpa meninggalkan ketenangannya.
“Tidurlah,” Elleinder kembali mencoba membujuk Illyvare, “Aku tidak akan menyentuhmu. Aku janji.”
Elleinder pikir bila ia memberi contoh pada Illyvare, gadis itu akan mengikutinya. Maka ia menyandarkan punggung dan memejamkan matanya.
Kesunyian yang ada di antara mereka membuat Elleinder menduga Illyvare telah mengikuti tindakannya. Diam-diam ia membuka mata dan terkejut melihat Illyvare masih tetap memandang ke luar jendela.
“Mungkin ia masih malu,” pikir Elleinder, “Tapi tak lama lagi ia akan lelah dan akhirnya tidur.”
Elleinder kembali memejamkan mata.
Illyvare memandang tempat-tempat yang dilaluinya tanpa mengedipkan mata. Sungguh aneh ia sekarang Ratu dari kerajaannya sendiri, Kerajaan Aqnetta tetapi baru kali ini ia melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.
Daerah-daerah hijau itulah yang kini harus diperintahnya. Penduduk-penduduk yang ramah itulah yang kini menjadi rakyatnya. Ia sebagai Ratu harus bertindak bijaksana demi kemakmuran mereka.
Diam-diam Elleinder memincingkan matanya. Lagi-lagi ia terkejut melihat Illyvare tidak bergerak sejak tadi. Ia tidak bisa melihat wajah gadis yang duduk membelakanginya itu tetapi ia bisa merasakan gadis itu terpesona oleh hal-hal baru yang dilihatnya.
Elleinder tidak heran. Seumur hidup dikurung dalam Istana Vezuza yang luas tanpa mengenal dunia luar, pasti tak tahu apa yang ada di luar istana. Istana Vezuza memang indah dan luas tetapi lebih luas lagi daerah di luar Istana Vezuza.
Elleinder tidak lagi berpura-pura tidur. Ia juga tidak mencoba membujuk Illyvare lagi. Elleinder mengerti Illyvare terlalu terpesona untuk merasa lelah.


4


“Kita telah tiba, Paduka!”
“Akhirnya kita tiba juga. Aku sudah tidak sabar ingin beristirahat dan makan sesuatu. Tak kusangka upacara pernikahan dan penobatan ditambah perjalanan selama tiga jam membuatku menjadi lapar.”
Illyvare diam seribu bahasa. Sejak tadi ia hanya melihat keluar jendela dan mengingat lingkungan yang baru pertama kali dilihatnya.
Elleinder turun dari kereta kemudian membantu Illyvare.
“Kami telah menantikan kedatangan Anda, Paduka,” sambut seorang pelayan. Kemudian ia membawa mereka memasuki Istana Camperbelt.
Di dalam telah berdiri seluruh pelayan yang ada di Istana Camperbelt. Mereka berbaris rapi membentuk dua barisan. Satu di kanan dan satu di kiri. Mereka membungkuk hormat ketika melihat Elleinder dan Illyvare.
Pelayan itu berkata lagi, “Ijinkanlah saya atas nama seluruh pelayan mengucapkan selamat atas pernikahan Anda.”
“Terima kasih, Matt.”
Illyvare hanya mengangguk perlahan tapi sikapnya telah menunjukkan rasa terima kasihnya yang tulus.
“Kami yakin Paduka merasa lelah setelah menempuh perjalanan jauh. Kami telah menyiapkan kamar untuk Paduka.”
“Kurasa saat ini aku hanya ingin makan.”
“Kami akan segera menyiapkan makan siang untuk Paduka.”
“Sementara itu suruh pelayan membantu Illyvare mengganti gaun pengantinnya,” perintahnya. Kemudian pada Illyvare, Elleinder berkata lembut, “Kurasa sebaiknya engkau bersalin. Gaun pengantin itu pasti telah menganggu gerakmu.”
Dengan gerakan tangannya, pelayan itu memanggil beberapa pelayan wanita.
Tanpa banyak berbicara, Illyvare mengikuti para pelayan yang mengantarkannya ke kamar yang telah dipersiapkan untuknya.
Ketika Illyvare sudah jauh, Elleinder kembali berkata, “Steele sudah datang?”
“Sudah, Paduka,” jawab Matt.
“Anda mencari saya, Paduka?” Komandan Angkatan Laut Kerajaan Skyvarrna itu muncul dari belakang barisan para pelayan.
“Pantas aku tak melihatmu,” gumam Elleinder. “Bagaimana, Steele? Semua sudah siap?”
“Sudah, Paduka,” lapor Steele, “Sesuai perintah Anda. Kami sudah siap berangkat sore ini.”
“Bagus,” kata Elleinder puas. “Lanjutkan tugasmu. Kurasa tak sampai sore, kami akan segera berangkat.”
“Baik, Paduka.”
Elleinder meninggalkan para pelayan itu. Seperti ketika Illyvare berjalan di antara mereka, para pelayan itu membungkuk hormat.
Elleinder menuju kamarnya. Ia ingin beristirahat selama beberapa saat sebelum makan siang. Ia tidak merasa terlalu lelah tetapi kejutan yang dibuat istrinya membuatnya lelah.
Hingga kini Elleinder tak mengerti mengapa gadis secantik itu disembunyikan Raja Leland dari masyarakat. Raja Leland juga diam saja ketika semua orang mengatakan putrinya gemuk dan jelek. Mengapa Raja Leland melakukan itu semua tidak dapat dijawab Elleinder. Hanya Raja Leland yang tahu mengapa ia melakukan itu mungkin Illyvare juga tahu. Tapi tak mungkin ia menanyakan hal itu pada Illyvare sendiri. Illyvare pasti sudah tahu apa kata orang tentang dirinya dan ia pasti dapat menduga bagaimana penolakan rakyat Kerajaan Skyvarrna ketika rajanya ingin menikahi dirinya yang tak jelas seperti apa.
“Illyvare,” gumam Elleinder. Matanya menatap langit-langit kamar tapi yang muncul bukan lukisan indah di sepanjang langit-langit bukan juga patung-patung kecil di langit-langit. Elleinder melihat wajah Illyvare.
Gadis yang cantik dan tampak lembut. Seorang gadis yang sangat lembut seperti wanita Timur. Daripada menjadi wanita Barat, Illyvare lebih cocok menjadi wanita Timur. Matanya yang hitam mengandung misteri Timur. Rambut hitamnya membingkai wajahnya yang cantik.
Illyvare sangat elok. Tak pernah dalam hidupnya Elleinder melihat seorang gadis yang secantik Illyvare. Elleinder terus memandang bayangan wajah Illyvare yang tampak di langit-langit kamar.
Suara dentang lonceng tanda makan siang telah siap, mengejutkannya. Elleinder ingat ia sedang menanti makan siang yang disiapkan pelayan. Cepat-cepat Elleinder mengganti pakaiannya.
Tak lama setelah Elleinder merapikan dirinya, Matt mengetuk pintu.
“Makan siang sudah siap, Paduka,” lapornya.
Elleinder berjalan lambat ke Kamar Makan. Ketika melewati kamar Illyvare, ia melihat pintu itu masih tertutup rapat. Elleinder berpikir Illyvare masih sibuk berdandan dan ia semakin memperlambat langkahnya.
Penjaga membukakan pintu Ruang Makan untuk Elleinder.
Elleinder melangkah masuk dan tertegun.
Seorang gadis duduk di bingkai jendela dan memandang jauh ke depan. Tubuhnya yang terbungkus gaun hijau cerah tampak elok. Perlahan gadis itu memalingkan kepala. Tanpa berbicara apa-apa, ia bangkit dan mendekati meja makan.
Elleinder cepat-cepat menarik kursi untuk Illyvare.
“Terima kasih,” kata Illyvare singkat.
Elleinder duduk di kepala meja samping gadis itu. “Maafkan aku. Aku pasti telah membuatmu lama menunggu.”
“Saya baru tiba.”
Pelayan yang telah bersiap-siap di ruangan itu segera melayani mereka. Bergantian mereka masuk sambil membawa baki perak berisi makanan yang lezat-lezat.
Mereka makan tanpa banyak bicara. Sampai pelayan membawa makanan penutup, Illyvare diam seribu bahasa.
Setelah pelayan membawa masuk makanan penutup, Elleinder berkata, “Mari kita ke Ruang Duduk. Ada yang ingin kukatakan padamu.”
Illyvare tetap tidak berkata-kata saat mengikuti Elleinder.
Elleinder membuka pintu dan mempersilahkan Illyvare masuk. Setelah itu ia menutup pintu rapat-rapat.
“Ada yang perlu kauketahui.”
Illyvare diam memandang pria yang duduk di depannya.
“Ini mengenai perjalanan kita ke Kerajaan Skyvarrna,” kata Elleinder, “Engkau pasti menduga kita akan melewati jalan darat. Tapi aku telah merencanakan kita akan melewati jalan laut. Saat ini laut sedang cerah-cerahnya kupikir engkau pasti senang kalau kita lewat sana. Aku tahu engkau ingin melihat dunia luar yang selama ini tak pernah kaulihat. Aku juga ingin engkau melihatnya.”
“Kita akan berangkat hari ini juga. Kurencanakan kita berangkat nanti sore, tetapi aku merasa kita bisa berangkat lebih pagi dari yang kurencanakan semula. Sekarang engkau beristirahatlah dulu. Nanti bila hampir tiba saatnya untuk berangkat, aku akan menyuruh pelayan memanggilmu.”
Illyvare beranjak bangkit.
Elleinder juga bangkit. Ia memegang lengan Illyvare sebelum gadis itu pergi. “Aku berharap engkau tidur yang nyenyak. Perjalanan dari Kerajaan Aqnetta ke Istana Camperbelt pasti telah melelahkanmu. Dari rumah musim panasku ini, kita akan ke pelabuhan. Perjalanannya kurang lebih setengah lama perjalanan tadi.”
Illyvare hanya melihat Elleinder dengan tenang.
Elleinder termenung melihat Illyvare berlalu dari hadapannya dengan anggunnya tanpa menoleh lagi.
Illyvare tahu ia tidak merasa lelah. Ia tidak akan dapat tidur seperti keinginan Elleinder.
Illyvare terus melewati tempat tidur dan berdiri di serambi. Seperti kebiasaannya, ia memandang langit di kejauhan dan berpikir.
Elleinder mengerti apa yang dirasakannya. Itu yang membuatnya heran. Ia tidak pernah mengatakan apa yang diinginkannya tapi pria itu tahu ia ingin melihat seluruh wajah dunia yang tidak pernah dilihatnya.
Elleinder telah menunjukkan padanya rumah-rumah penduduk yang berjajar di tepi jalan. Hijaunya hutan rimbunnya pepohonan di dekatnya. Sekarang Elleinder akan menunjukkan padanya indahnya laut di saat menjelang musim gugur.
Illyvare termenung.

-----0-----

Elleinder mengetuk perlahan kamar Illyvare.

Semula Elleinder ingin menyuruh pelayan membangunkan Illyvare, tetapi setelah dipikir-pikirkannya, ia merasa lebih baik ia sendiri yang membangunkan Illyvare. Sekarang, di sinilah ia – menanti jawaban Illyvare.
Tidak ada jawaban dari dalam.
Elleinder mengira Illyvare masih tidur. Elleinder ragu membangunkan Illyvare. Ia yakin gadis itu kelelahan setelah perjalanan jauh pertamanya. Tapi saat ini kereta telah siap mengantar mereka.
Perlahan-lahan Elleinder membuka pintu itu. Perlahan-lahan pula ia menutup pintu. Elleinder masih ragu membangunkan Illyvare.
Elleinder melihat ke depan dan terkejut.
Illyvare duduk di pagar serambi. Seperti tadi, matanya memandang jauh ke depan.
“Illyvare.”
Gadis itu masih tenggelam dalam dunianya.
“Illyvare!” Elleinder meninggikan suaranya.
Illyvare memalingkan kepalanya. Saat itulah Elleinder menyadari Illyvare tidak tampak telah tidur. Gadis itu masih tetap segar seperti ketika dua jam lalu ia duduk bersamanya di Ruang Duduk.
“Engkau tidak tidur?” tanya Elleinder heran, “Mengapa engkau tidak beristirahat?”
“Saya tidak mengantuk.”
Elleinder memincingkan matanya dengan heran. “Engkau yakin engkau tidak lelah?”
Illyvare mengangguk.
“Kurasa sebaiknya aku mengundur keberangkatan kita. Aku tidak ingin engkau terlalu lelah akhirnya jatuh sakit.”
Illyvare melihat ke bawah pada kereta yang telah siap di depan Istana Camperbelt.
Elleinder ikut melihat Pengawal Kerajaan yang tengah menanti mereka kemudian berpaling pada Illyvare. “Mereka pasti mengerti keputusanku ini. Seperti aku, mereka juga tidak ingin engkau sakit.”
“Raja yang baik tidak pernah mengecewakan rakyatnya,” kata Illyvare sambil berlalu dari sisi Elleinder.
Elleinder segera mengikuti Illyvare. “Ratu yang baik tidak pernah membuat rakyatnya cemas,” balas Elleinder.
Illyvare tidak membantah juga tidak mengatakan apa-apa. Ia mengambil topinya di atas  tempat tidur dan membuka pintu.
“Baiklah,” kata Elleinder menyerah, “Aku mengerti engkau ingin segera melihat laut.”
Lagi-lagi Elleinder membuat Illyvare heran. Ia tidak mengatakan keinginannya tapi Elleinder tahu ia ingin segera melihat laut biru yang membentang luas yang bertemu dengan langit biru.
Dengan sigap, Elleinder mengangkat Illyvare ke dalam kereta dan menutup pintu setelah memberikan perintahnya pada prajurit yang mengawal mereka.
“Kali ini,” kata Elleinder tegas ketika kereta mulai berjalan, “Aku ingin engkau tidur.”
Illyvare tetap memandang keluar jendela. Melihat matahari yang tengah memancarkan sinarnya yang menyilaukan.
Seperti tadi, Elleinder membujuk Illyvare. “Tidurlah. Aku tidak akan menyentuhmu.”
Illyvare tetap membandel.
Elleinder mengerti Illyvare ingin melihat tempat-tempat yang mereka lalui. Tapi ia juga mengerti Illyvare lelah. Walaupun gadis itu tak mengakuinya, Elleinder tahu.
“Aku tidak akan menyentuhmu,” Elleinder meyakinkan Illyvare, “Aku juga akan tidur. Sejak tadi aku tidak beristirahat sedikitpun.”
“Lakukanlah,” kata Illyvare tanpa berpaling.
Tak sampai setengah jam kemudian, Illyvare merasa matanya lelah. Sejak siang tadi ia memaksakan matanya melihat hal-hal yang baru. Ia senang melihatnya dan tidak ingin melewatkan tiap tempat, tapi tubuhnya menolak. Tubuhnya yang tidak pernah dibawa pergi jauh merintih lelah dan membuat matanya lelah juga.
Illyvare tidak dapat menahan rasa lelahnya dan akhirnya ia memilih menyandarkan punggung sebentar. Illyvare melihat Elleinder tidur dengan tangan terlipat di belakang kepalanya. Sesaat Illyvare ragu-ragu. Kemudian Illyvare duduk menjauh di pojok kereta dan beristirahat. Ia akan mengistirahatkan matanya sebelum memperhatikan pemandangan yang baru baginya itu.
Entah berapa lama ia memejamkan mata, Illyvare sudah tidak tahu lagi tetapi ia dapat merasakan sesuatu menyentuhnya. Illyvare tidak tahu apakah itu ia merasa ia tidak mempunyai cukup tenaga untuk membuka matanya.
Sesaat kemudan Illyvare merasa hangat. Seluruh tubuhnya terasa diselimuti oleh perasaan hangat dan aman. Angin yang beberapa saat lalu masih terasa menerpa tubuhnya tidak terasa lagi. Kehangatan itu membuatnya merasa nyaman. Tanpa sadar, Illyvare semakin merapatkan diri ke asal perasaan hangat itu dan kembali terlelap.
Tiba-tiba Illyvare merasakan angin dingin yang keras menerpa tubuhnya. Ia menggigil tapi kehangatan itu segera menyelimuti tubuhnya. Illyvare semakin membenamkan tubuhnya dalam kehangatan itu.
Belum lama ia merasakan kehangatan itu ketika Illyvare merasa tubuhnya seperti dibuai. Gerakan-gerakan yang lembut membuatnya merasa seperti bayi yang sedang dibuai dalam gendongan. Tiba-tiba Illyvare merasa dingin. Tetapi kali ini tidak ada kehangatan yang menyelimuti tubuhnya.
Illyvare mengerjapkan mata berulang-ulang ketika melihat dinding putih di depannya. Illyvare kembali teringat pada perasaan hangat yang terus menyelimutinya. Pada sepasang tangan kekar yang memeluknya dengan lembut. Tangan yang memeluknya erat-erat sehingga ia bisa tidur dengan nyenyak sepanjang perjalanan.
Illyvare melihat sekeliling ruangan. Dalam kegelapan, ia hampir tidak dapat melihat apapun. Ruangan itu gelap hanya seberkas cahaya dari lubang jendela yang menyinari tempat itu.
Didekatinya jendela bulat itu dan ia tertegun.
Laut yang biru tampak hitam sehitam langit malam. Sinar-sinar bintang membuat laut tampak berkilau-kilau keemasan. Ombak-ombak kecil berlarian di permukaan laut. Di kejauhan tak tampak apapun selain warna hitam dan cahaya yang kemilauan. Langit juga tidak tampak. Laut dan langit bersatu dalam kegelapan malam.
Keindahan laut di malam hari membuat Illyvare terpesona.
Elleinder tertegun. Entah untuk keberapa kalinya Illyvare membuat dirinya terpesona.
Beberapa saat lalu saat ia membaringkan Illyvare, ia melihat gadis itu tertidur sangat nyenyak. Demikian pula ketika ia berada dalam pelukannya. Illyvare yang telah tertidur di dalam kereta itu sama sekali tidak bergerak ketika ia meraih gadis itu dalam pelukannya dan membiarkan kepalanya terkulai lemah di dadanya selama perjalanan.
“Engkau sudah bangun?”
Illyvare berpaling.
“Kukira engkau masih tidur. Tidurmu sangat nyenyak seolah engkau tidak akan bangun sebelum pagi.”
Illyvare diam saja.
Elleinder tersenyum. “Sebaiknya aku memanggil Linty.”
Illyvare menatap Elleinder lekat-lekat.
“Kupikir ia akan sangat membantumu dalam perjalanan ini. Ia juga dapat menjadi temanmu,” kata Elleinder sambil tersenyum.
Elleinder meletakkan lilin di meja tengah ruangan dan meninggalkan Illyvare. Sesaat kemudian seorang wanita muncul dengan tersenyum.
“Selamat malam, Paduka. Nama saya Linty. Saya di sini bertugas melayani Anda. Kalau ada yang harus saya lakukan, jangan ragu untuk mengatakannya juga jangan ragu untuk memarahi saya bila saya berbuat salah,” wanita itu memperkenalkan dirinya dengan sopan.
“Paduka Raja meminta saya membantu Anda membersihkan diri,” kata Linty pula.

Illyvare tidak mengatakan apa-apa ketika wanita itu membantunya melepaskan gaunnya.
Illyvare merasa segar kembali setelah mandi. Rasa lelah dan rasa kantuknya hilang bersama air mandinya. Ia merasakan kedinginan yang menyegarkan.
Setelah menyikat rambut hitamnya, Linty mengundurkan diri.
Illyvare mengawasi wanita itu hingga ia menghilang di balik pintu. Kemudian Illyvare duduk dan menatap keluar jendela.
“Apa yang engkau pikirkan?”
Illyvare melihat Elleinder mendekatinya.
“Maukah engkau ikut denganku melihat laut musim gugur?”
Elleinder tak menanti jawaban Illyvare. Dengan lembut ia menarik berdiri Illyvare dan menggandengnya keluar kamar.
Angin dingin laut membuat Illyvare menggigil kedinginan. Tapi itu hanya sesaat, Elleinder memeluknya dan membawanya ke geladak kapal.
“Indah bukan?” tanya Elleinder.
Illyvare mengangguk.
“Engkau masih kedinginan?”
Pertanyaan itu hanya dijawab Illyvare dengan gelengan kepalanya.
“Seharian ini,” kata Elleinder, “Aku hampir tidak mendengar suaramu. Apakah engkau marah padaku?”
“Tidak,” jawab Illyvare singkat.
“Baiklah, aku mengerti. Engkau mungkin marah padaku tetapi engkau tidak mau mengatakannya,” Elleinder mengalah.
Illyvare memperhatikan laut yang tampak hitam sehitam langit malam. Laut dan langit tampak seakan-akan bersatu dalam kegelapan. Sinar bintang di langit memantul di laut yang berombak dan membuat laut bersinar kemilauan. Angin laut yang dingin terus bertiup mengembangkan layar kapal. Kapal yang berjalan perlahan dibuai oleh ombak kecil.
Illyvare senang merasakan buaian laut itu. Ia merasa seperti anak kecil yang dibuai oleh ibunya.
Elleinder melihat gadis di sampingnya itu dengan heran. Perasaannya mengatakan gadis itu merasa senang tapi wajahnya tetap tenang. Elleinder ragu apakah gadis itu menyukai perjalanan laut ini.
Diakuinya ia sama sekali tidak mengenal sifat istrinya yang ternyata berbeda jauh dari apa yang dibayangkannya juga dibayangkan semua orang.
Elleinder kembali memandang laut.
Perjalanan laut masih akan berlangsung seminggu lagi. Itu berarti masih seminggu lagi rakyat Kerajaan Skyvarrna akan tahu rupa Putri yang dinikahinya. Tetapi sebelum itu, pasti sudah ada berita tentang Putri Illyvare di koran.
Elleinder yakin seperti dirinya, semua rakyatnya akan terkejut melihat rupa Putri Kerajaan Aqnetta.
“Permisi, Paduka,” kata Linty ragu-ragu.
 Ada apa, Linty?” tanya Elleinder.
“Makan malam sudah disiapkan di kamar Paduka Ratu, seperti perintah Anda,” Linty melaporkan.
“Terima kasih. Kami akan segera ke sana .” Kemudian pada Illyvare, Elleinder berkata lembut, “Mari, Illyvare.”
Illyvare tidak berkata apa-apa ketika Elleinder menuntunnya kembali ke kamarnya.
Meja di tengah kamar Illyvare telah diatur dengan rapi. Sepasang lilin putih dinyalakan di tengah meja yang juga dihiasi oleh mawar merah itu. Suasana di dalam kamar itu telah diubah sedemikian rupa menjadi romantis.
Elleinder menarik kursi untuk Illyvare. Seperti tadi siang, Illyvare hanya diam saja. Elleinder terus memandang Illyvare yang berdiam diri sepanjang makan malam itu.
Pelayan berlalu lalang membawakan makanan dan melayani mereka.
Suasana di kamar Illyvare selama makan malam itu sunyi. Tidak seorangpun di antara mereka yang berbicara.
Illyvare, si gadis tenang, sepanjang hari memang selalu berdiam diri. Tetapi Elleinder sengaja berdiam diri. Ia tidak tahu apakah ia bisa membuat Illyvare berbicara. Sepanjang hari ini ini telah bertanya banyak dan mencoba membuat Illyvare berbicara tetapi Illyvare lebih banyak berdiam diri.
Pelayan membawa pergi piring mereka.
Elleinder diam memandang wajah Illyvare.
 Ada masalah penting yang harus kukatakan padamu.”
Illyvare diam mendengarkan.
“Ini masalah pernikahan kita. Engkau harus tahu pernikahan ini adalah pernikahan politik belaka. Hubungan baik antara Kerajaan Aqnetta dan Kerajaan Skyvarrna telah terjalin selama berabad-abad. Aku berpikir alangkah baiknya bila hubungan ini dipererat. Karena itu aku melamarmu. Ayahmu telah mengerti keinginanku ini dan ia juga menganggap ini adalah ide baik. Dengan pernikahan ini aku juga ayahmu mengharapkan rakyat dari kedua kerajaan ini semakin akrab.”
“Dan karena kita belum saling mengenal, aku ingin kita berhubungan sebagai teman. Engkau mengerti apa yang kukatakan ini bukan?”
Sejak awal Illyvare juga mengerti ini adalah pernikahan politik biasa.
“Aku senang engkau mengerti.” Elleinder terdiam beberapa saat kemudian berkata, “Malam semakin larut. Kupikir sebaiknya engkau beristirahat.”
Setelah Elleinder menghilang di balik pintu, Illyvare menuju jendela dan mengawasi langit.
“Sejak dulu langit dan bumi tidak pernah bersatu. Kini langit dan bumi terlihat bersatu tetapi dalam kegelapan yang pekat,” kata Illyvare termenung.
Illyvare menuju geladak. Dipandanginya langit tanpa sedikitpun berkedip. Rambut hitamnya yang basah dibiarkannya dipermainkan angin laut. Sampai rambut itu kering, Illyvare masih berdiri memandang laut. Gaun lengan panjang Illyvare membuat gadis itu tidak terlalu merasa kedinginan. Illyvare senang memandang laut dan langit yang bersatu itu seperti ia senang melihat hal-hal yang baru baginya.
Elleinder telah menunjukkan banyak hal pada Illyvare. Entah apa yang akan ia tunjukkan pada Illyvare esok hari.


5


“Illyvare!”
Illyvare memalingkan perhatiannya dari laut biru.
“Seharian aku melihatmu berdiri di sini. Engkau senang melihat laut?”
“Ya,” jawab Illyvare singkat – seperti biasanya.
Laut yang biru telah mempesona Illyvare. Di malam hari Illyvare dapat melihat laut seakan-akan bersatu dengan langit. Dan di pagi hari ia dapat melihat laut biru yang membentuk garis lurus dengan langit biru.
“Laut memang indah. Aku senang melihatnya terlebih saat matahari terbit atau matahari terbenam. Engkau telah melihat matahari terbit pagi tadi?”
“Ya.”
Illyvare telah banyak mendengar tentang keindahan laut saat matahari terbit juga matahari terbenam. Pagi ini ia bangun pagi-pagi dan berdiri di geladak untuk melihat matahari terbit.
Gadis itu telah membuktikan sendiri apa yang dikatakan banyak orang. Matahari yang terbit di laut memang tampak indah bahkan lebih indah dari apa yang dikatakan orang-orang.
Sesaat sebelum matahari muncul, langit tampak kemerahan dengan sinar-sinar orange ikut mewarnai langit. Warna merah yang cerah itu mengusir langit malam yang gelap. Beberapa saat kemudian matahari yang tampak besar seolah-olah muncul dari dalam laut. Matahari terus muncul perlahan-lahan sampai akhirnya ia menunjukkan seluruh wajahnya yang besar dan merah menyala.

Saat itu Illyvare mengerti mengapa Nissha mengatakan sinar matahari pagi membawa harapan baru dalam hidup setiap orang. Malam yang dingin dan gelap terusir oleh sinar matahari yang terang dan menghangatkan. Sinar itu mencerahkan hati siapa saja dan memunculkan harapan baru di dalam hati yang melihatnya.
Matahari siang memang tidak bersahabat terutama di musim panas, tetapi matahari pagi muncul dengan harapan-harapan baru.
Harapan-harapan baru yang dibawa matahari itulah yang berabad-abad lalu membangkitkan semangat para pelaut.
Dimulai dari bangsa Mesir kira-kira tahun 2000 SM yaitu oleh orang yang bernama Hennu. Menurut kepercayaan bangsa Mesir pada jaman itu, dunia ini dataran bulat yang dikelilingi air. Mereka menyangka bahwa Sungai Nil berasal dari kumpulan air itu di selatan dan mengalir lewat sebuah gua di dalam gunung.
Mula-mula Hennu membawa rombongannya menyeberangi gurun pasir ke ujung utara Laut Merah. Di sini mereka membangun kapal-kapal, lalu berlayar ke Punt melalui Laut Merah. Penduduk Punt ramah tamah. Hennu membuat kapal-kapalnya dengan barang-barang berharga, lalu kembali ke Mesir dengan selamat. Setibanya di tanah airnya kisah pelayarannya yang luar biasa dipahat pada sebuah batu.
Kapal Hennu mempunyai dasar yang datar serta haluan dan buritan yang menonjol. Ia terbuat dari potongan-potongan kayu kecil yang disatukan dan diperkuat dengan tali dan kulit mentah. Tiangnya hanya satu berbentuk huruf V terbalik, sedang layarnya juga hanya satu. Kapal itu dikemudikan dengan dayung-dayung kasar yang dilekatkan pada sisinya. Bila angin tidak cukup baik untuk menggunakan layar, pengayuh-pengayuh yang berdiri mendayung kapal itu.
Itulah kapal pertama yang dibuat manusia.
Selain itu kira-kira tahun 3000 sampai tahun 1400 SM di Kreta muncul penjelajah-penjelajah besar. Bangsa Minoan yang menempati Kreta ini menyukai laut. Mereka adalah pelaut-pelaut yang selama berabad-abad menjelajah seluruh dunia Laut Tengah.
Bangsa Minoan menggunakan kapal-kapal kecil menyerupai ember yang mempunyai satu layar. Serupa bangsa Mesir, mereka juga hanya dapat menggunakan layarnya bila angin berhembus dari buritan.
Orang Minoan dapat melakukan hal-hal yang luar biasa dengan kapalnya yang kecil ini, yang hanya sedikit lebih besar daripada perahu dayung. Mereka tidak menggunakan jangkar dan di kapalnya itu mereka tidak mempunyai tempat untuk memasak dan tidak ada bilik untuk berbaring. Mereka harus berlabuh untuk makan, tidur dan mengumpulkan persediaan makanan dan minuman.
Satu keuntungan bagi bangsa ini adalah Laut Tengah tidak banyak pasang surutnya. Kecuali selama beberapa musim, anginnya tidak berhembus dengan kencang. Juga banyak pulau tempat mendarat. Semua ini memungkinkan mereka untuk menjelajah Laut Tengah.
Kira-kira tahun 1400 SM penyerbu-penyerbu biadab menaklukan Kreta. Perdagangan Laut Tengah yang sangat menguntungkan jatuh ke tangan bangsa Phunisia. Pada tahun  800 SM bentuk kapal Phunisia tidak lagi menyerupai ember, tetapi panjang dan ramping dengan lunas yang baik. Kapal-kapal itu juga menggunakan jangkar yang terbuat dari karung-karung kulir yang diisi dengan batu. Perkembangan lunas dan penemuan jangkar ini merupakan kemajuan besar dan pelayaran selanjutnya.
Tahun 600 SM kapal-kapal Phunisia sudah berani melewati SelatGibraltar memasuki Lautan Atlantik. Mereka menyusur pantai barat Eropa, menyeberang ke Pulau-pulau Scilly, bahkan mendarat di Inggris.
Bangsa Kartago adalah penjelajah-penjelajah besar berikutnya. Kira-kira 500 tahun SM, suatu ekspedisi yang dipimpin oleh seorang nahkoda masyhur, Hanno, menemukai suatu pulau yang didiami oleh “orang-orang hitam kecil berbulu”. Hanno dan anak buahnya berhasil menangkap beberapa di antara “perempuan”, tetapi yang “laki-laki” berhasil lari. Yang disebut orang-orang itu tentu saja sama sekali bukan manusia, tetapi monyet.
Selain mereka, masih banyak bangsa-bangsa lain yang menjelajahi dunia melalui laut. Pelaut terkenal di permulaan abad Masehi, Viking, gerombolan bajak laut dari Skandinavia melancarkan serentetan serangan yang menghancurkan terhadap Inggris, Perancis, Jerman, Irlandia, Itali dan Spanyol antara tahun 700 dan 1100-an. Mereka juga menjelajah dan menetap di Tanah Hijau dan Eslandia.
Selama berabad-abad manusia mencoba menjelajahi dunia termasuk bangsa Eropa. Niat untuk menjelajah negeri Timur dimulai dari tulisan Marco Polo.
Orang tua Marco Polo, Nicolo Polo yang seorang pedagang Venesia, ingin mengetahui apakah ia dapat langsung membeli barang-barang dari Cinda dan India, dan tidak melalui pedagang-pedagang Arab sebagaimana dilakukan kebanyakan saudagar saat itu.
Dengan tekad bulat, ia dan saudaranya, Maffeo Polo berangkat dari suatu peabuhan di Laut Hitam pada tahun 1255. Di salah satu jalan kabilah besar dari Cina ke India, mereka bergabung dengan utusan-utusan Kublai Khan, kaisar yang memerintah Cina dan sebagian besar dari Asia.
Kublai Khan menyambut mereka dengan senang hati. Nicolo dan Maffeo tinggal selama 10 tahun di Cina. Tahun 1269 mereka kembali ke Venezia. Karena Kublai Khan ingin mereka kembali lagi ke Cina, mereka berangkat lagi dengan membawa Marco Polo, putera Nicolo Polo. Tahun 1271 Marco yang saat itu berumur 17 tahun berlayar dari Venezia ke Akko , pelabuhan besar di Palestina.
Di Cina, Marco Polo banyak menulis catatan-catatan terperinci yang kemudian dibukukan dalam bukunya yang berjudul “Gambaran Dunia”. Buku inilah yang kemudian mempengaruhi banyak penjelajah untuk mengarungi samudera dan menemukan daerah-daerah baru di Timur yang kaya akan hasil alam dan emas.
Tiba-tiba kapal berguncang keras.
Elleinder cepat-cepat menarik Illyvare ke dalam pelukannya. Ia melihat sekeliling dengan cemas. Beberapa prajurit berlari lalu-lalang dengan panik. Sementara itu kapal terus bergerak dengan keras.
Ayunan kapal yang tenang membuat Illyvare merasa terbuai tetapi ayunan yang keras ini membuat Illyvare merasa mual. Baru kali ini ia bepergian dengan kapal dan ia belum pernah mengalami guncangan sekeras ini. Sepanjang hari kemarin kapal terus berlayar dengan tenang.
Illyvare merasa apa yang telah dimakannya pagi tadi mulai naik ke atas tenggorokannya. Illyvare mual dan kepalanya terasa pening. Illyvare bersyukur Elleinder memeluknya kalau tidak, Illyvare yakin ia akan jatuh pingsan. Kakinya terasa lemas sekali sementara itu matanya terasa berkunang-kunang.
“Kurasa sesuatu telah terjadi,” kata Elleinder, “Sebaiknya aku membawamu kembali ke kamarmu.”
Elleinder membopong Illyvare dan membawa Illyvare ke kamarnya sambil menyesuaikan diri dengan gerakan kapal yang tidak teratur. Illyvare, merasa ia terlalu lemah untuk melakukan sesuatu, menyandarkan kepalanya di pundak Elleinder.
Elleinder melihat langit dengan cemas. Ia khawatir akan terjadi badai. Itulah hal yang paling tidak diharapkannya akan terjadi selama perjalanan ini.

Saat ini Elleinder tidak dapat menanyakan apa yang telah terjadi. Illyvare berada di gendongannya dan ia tidak mau gadis itu menjadi khawatir kalau tahu sesuatu yang buruk telah terjadi.
Illyvare melingkarkan tangannya di sekeliling leher Elleinder. Gadis itu menyembunyikan kepalanya di dada Elleinder dan mencoba mengatasi rasa mual di perut dan lehernya. Matanya terus berkunang-kunang dan apa yang dilihatnya hanya membuat dirinya semakin pusing. Illyvare memejamkan mata.
Elleinder merasakan tubuh Illyvare bergetar di pelukannya. Ia mengerti gadis itu ketakutan oleh hal yang baru pertama kali dialaminya ini. Elleinder semakin berhati-hati membawa Illyvare ke kamarnya.
Linty yang sejak tadi menanti Illyvare, terkejut melihat Elleinder datang dengan Illyvare di gendongannya.
“Cepat siapkan tempat tidur,” perintah Elleinder.
Linty cepat-cepat membenahi letak bantal dan menarik selimut yang menutupi seluruh permukaan tempat tidur.
Dengan hati-hati Elleinder meletakkan Illyvare di tempat tidur.
Merasakan kelembutan tempat tidur, perlahan-lahan Illyvare membuka matanya.
Elleinder terkejut melihat wajah pucat Illyvare. Tiba-tiba saja ia menyadari ia tak memperhitungkan kemungkinan Illyvare mabuk laut.
“Maafkan aku,” kata Elleinder sambil menyelimuti Illyvare, “Aku sama sekali tidak memperhitungkan kemungkinan engkau mabuk laut.”
“Ti… tidak apa… apa…,” kata Illyvare sambil mencegah tubuhnya memuntahkan kembali apa yang telah dimakannya pagi tadi.
“Linty,” kata Elleinder, “Carikan obat untuk Illyvare.”
“Baik, Paduka.”
“Aku pun harus pergi, Illyvare,” kata Elleinder lembut. “Aku ingin mengetahui apa yang telah terjadi.”
Illyvare menarik lengan baju Elleinder.
Elleinder melihat tangan putih yang memegang erat-erat lengan bajunya itu. Elleinder meletakkan tangannya di atas tangan itu dan berkata lembut, “Jangan khawatir, Illyvare. Di sini engkau aman. Sebentar lagi Linty juga akan kembali. Ia akan menemanimu sampai aku datang.”
Elleinder melepaskan pegangan itu dengan lembut. “Tunggulah Linty di sini.”
Gadis itu mengangguk dan memejamkan matanya.
Elleinder meninggalkan kamar Illyvare dan segera menemui Steele di ruang kemudi.
“Apa yang terjadi? Apakah akan ada badai?”
“Tidak, Paduka,” jawab Steele, “Guncangan tadi akibat kapal kita hampir menabrak karang. Kami telah berhasil menjauhi karang-karang itu tetapi sebagian dari lambung kapal tertabrak akibatnya air masuk dan kapal menjadi tidak seimbang.”
“Perintahkan beberapa orang untuk memperbaiki kerusakan kapal dan membuang air yang masuk.”
“Paduka tidak perlu khawatir. Saya telah melakukannya.”
“Untuk menghindari kerusakan yang lebih parah, kita harus mendarat di daratan terdekat. Di sana kita akan memeriksa kerusakan dengan lebih teliti. Jangan sampai ada kerusakan yang terlewatkan.”
“Saya mengerti, Paduka.”
Elleinder melihat laut yang tenang. “Aku berharap tidak terjadi badai selama perjalanan ini hingga kita sampai di Leiffberg.”
“Saya juga berharap cuaca akan tetap tenang seperti ini hingga kita sampai di Leiffberg.”
Elleinder mengawasi laut yang tenang.
Steele mulai memeriksa kedudukan mereka dan membuka peta untuk mencari daratan terdekat untuk mendarat. Sementara itu di geladak, beberapa kelasi berlalu lalang kepanikan.
“Paduka! Paduka!”
 Ada apa, Linty?”
“Gawat, Paduka,” kata Linty terengah-engah, “Paduka Ratu…”
 Ada apa dengannya?” potong Elleinder panik.
“Paduka Ratu tidak mau makan obat dan ia tampak sangat pucat. Saya sudah membujuknya tetapi ia tidak mau.”
“Aku mengerti.”
Elleinder menuju kamar Illyvare. Elleinder melihat wajah Illyvare tampak putih pucat. Gadis itu tampak sangat kesakitan.
Elleinder duduk di samping Illyvare. Dengan satu tangannya, ia mengangkat tubuh Illyvare dan tangannya yang lain meraih obat di meja samping tempat tidur.
Illyvare membuka matanya perlahan-lahan.
“Mengapa engkau tidak mau minum obat? Engkau harus minum obat ini agar engkau merasa lebih baik.”
“S…”
Elleinder tidak melewatkan kesempatan baik ketika Illyvare membuka mulutnya. Cepat-cepat ia meraih gelas dan menyodorkannya di bibir Illyvare.
“Obat ini akan membuatmu mengantuk tetapi setelah engkau bangun nanti, engkau akan merasa lebih baik.”
Illyvare meneguk sedikit air yang disodorkan di mulutnya. Illyvare takut air itu akan membuat perutnya semakin mual dan akhirnya ia memuntahkan semua yang ada di perutnya.
Elleinder menyeka keringat dingin di kepala Illyvare yang tersandar di dadanya itu.
“Keadaanmu sangat mengkhawatirkan aku, Illyvare. Aku akan menyuruh Steele mendarat di kota terdekat. Dari sana kita akan ke Istana Qringvassein dengan kereta kuda. Kita akan berjalan pelan-pelan agar engkau dapat pulih sebelum kita mencapai Skellefreinth.”
Tangan Illyvare bergetar ketika ia berusaha meraih tangan Elleinder. Elleinder melihatnya dan ia cepat-cepat meraih tangan Illyvare.
“Ti… ti… ti…dak… p… pe… per… lu…”
“Perlu!” bantah Elleinder, “Kalau aku memaksa engkau pergi dengan keadaan seperti ini, engkau akan jatuh sakit. Itu adalah hal yang tidak kuinginkan. Rakyat kita pasti juga tidak ingin Ratunya sakit.”
“Baiklah,” Elleinder cepat-cepat mengalah ketika melihat Illyvare hendak berkata, “Kita akan membicarakannya setelah engkau merasa lebih baik. Sekarang engkau beristirahat saja.”
Illyvare mulai merasa mengantuk.
Elleinder terus memeluk Illyvare sampai gadis itu tertidur. Elleinder membaringkan tubuh Illyvare dan menyelimutinya.
Seperti dulu, ia senang melihat wajah cantik itu tidur dengan tenang. Tetapi kali Elleinder tidak ingin meninggalkan Illyvare. Elleinder ingin menjaga Illyvare.
Elleinder meletakkan kursi di samping tempat tidur Illyvare. Melalui pintu yang menghubungkan kamarnya dan kamar Illyvare, ia kembali ke kamarnya untuk mengambil koran tetapi ia tidak membacanya.
Elleinder mengawasi wajah Illyvare dengan penuh rasa ingin tahu. Sampai saat ini ia jarang mendengar suara Illyvare. Illyvare pendiam, sangat pendiam hingga kelihatannya ia marah pada Elleinder dan tidak mau berbicara dengannya. Sampai saat ini pula Elleinder tidak tahu mengapa gadis secantik Illyvare dikurung Raja Leland di Istana Vezuza.
Gadis itu baik tidur maupun tidak tidur selalu tenang bahkan ketika ia sakit pun matanya tetap terlihat tenang. Mata hitam yang selalu tenang itu indah dipandang. Hitam bagai gua yang tak berujung dan penuh misteri. Misteri kecantikan yang selalu memabukkan tiap orang untuk terus memandangnya.
Diam-diam Elleinder mengakui ia senang melihat wajah cantik itu baik sedang tidur maupun tidak. Untuk saat ini lebih aman bila ia menatap lekat-lekat wajah cantik itu saat gadis itu tidur. Kalau saat gadis itu bangun, Elleinder tidak tahu apa yang akan dilakukan Illyvare.
Terdorong perasaannya, Elleinder membungkuk mencium bibir yang terkatup rapat itu.
“Paduka.”
Panggilan ragu-ragu itu membuat Elleinder terpaksa berpaling dari Illyvare.
“Saya minta maaf telah mengganggu Anda,” Linty berkata hati-hati.
“Aku yakin ada sesuatu yang hendak kaukatakan, Linty. Mengapa engkau tidak mengatakannya sekarang?”
“Ini mengenai Paduka Ratu. Selama ini Paduka Ratu hampir tidak pernah berbicara dengan saya. Saya khawatir Paduka Ratu tidak mengerti apa yang saya katakan.”
“Kupikir ia mendiamkanmu bukan karena Illyvare tidak mengerti, tetapi karena ia memang pendiam. Engkau tidak perlu khawatir, Linty. Aku melihat Illyvare menyukaimu hanya saja dia terlalu pendiam.”
Linty lega Elleinder mengerti apa yang dikhawatirkannya. “Raja Elleinder memang orang yang pengertian,” pujinya dalam hati.
“Hari ini engkau bebas tugas, Linty. Aku yang akan menjaga Illyvare untuk hari ini. Engkau dapat bersenang-senang.”
“Terima kasih, Paduka,” kata Linty.
Linty membungkuk hormat sebelum meninggalkan kamar itu.
Elleinder kembali pada peri mungilnya yang cantik.

-----0-----

Illyvare kesulitan membiasakan matanya dalam cahaya yang memenuhi kamarnya. Sinar yang menyilaukan itu membuat Illyvare melindungi matanya.
“Engkau sudah bangun?”
Illyvare mengerjapkan mata berulang kali sebelum ia benar-benar terbiasa dengan sinar itu.
Elleinder duduk di sisi Illyvare. Perlahan-lahan ia mengangkat badan Illyvare. Sementara tangannya yang lain menyangga punggung Illyvare, Elleinder menumpuk bantal di pinggiran ranjang. Elleinder masih bersikap hati-hati ketika ia menyandarkan punggung Illyvare di tumpukan bantal itu.
“Bagaimana perasaanmu sekarang?”
“Saya baik-baik saja,” jawab Illyvare singkat.
Elleinder tidak percaya. Ia meraba kening Illyvare. “Aku senang mendengarnya.”
“Kita…,” Illyvare tidak merasakan buaian laut yang lembut, “Kita telah mendarat?”
Elleinder tersenyum lembut. “Benar, kita sekarang sudah mendarat.”
“Kita akan tetap melanjutkan perjalanan laut ini tetapi kita harus memeriksa lambung kapal. Guncangan siang tadi disebabkan kapal kita menabrak karang. Tabrakan itu menyebabkan lambung kapal koyak dan air masuk. Kerusakan itu telah dibenahi tetapi aku tetap memerintahkan kita mendarat di daratan terdekat. Aku ingin kerusakan diperiksa dengan lebih teliti sebelum melanjutkan perjalanan. Aku juga ingin pendaratan ini memulihkan keadaanmu.”
Illyvare diam saja. Ia sadar apa yang diinginkan Elleinder benar. Setelah guncangan yang membuat ia mual tadi, Illyvare merasa ia perlu meninggalkan buaian laut yang dapat memabukkan itu. Tubuhnya harus sehat kembali agar dapat meneruskan perjalanan sampai akhir.

Illyvare melihat jendela tempat sinar itu masuk. Ia ingin tahu apakah ini sudah saatnya matahari terbenam.
“Belum terlalu terlambat untuk melihat matahari terbenam.”
Illyvare mengalihkan perhatiannya.
“Aku akan memanggil Linty untuk membantumu mempersiapkan diri.”
Illyvare melihat tubuhnya dan memerah. Gaunnya telah ditanggalkan dari tubuhnya. Yang melekat padanya adalah gaun tidurnya. Ini sudah kedua kalinya Elleinder melihatnya berbaring di ranjang dengan mengenakan gaun tidur sutra yang lembut. Pertama kemarin sore lalu sore ini.
Pintu diketuk seseorang lalu Linty muncul. Seperti biasa Linty tersenyum ramah sambil menyapanya, “Selamat sore, Paduka Ratu. Apakah Anda sudah merasa lebih baik?”
Illyvare mengangguk. Gadis itu meninggalkan tempat tidurnya.
Linty dengan cekatan mengambil gaunnya dan membantunya mempersiapkan diri.
Illyvare hanya dapat terpana ketika melihat di buritan kapal terdapat meja yang telah dihiasi dengan taplak putih dan pot bunga besar.
Elleinder tersenyum ramah ketika mendekatinya. Pria itu mencium tangannya. “Kita akan makan siang di sini. Engkau senang?”
Illyvare melirik matahari yang hampir terbenam.
Elleinder tertawa geli. “Baik. Aku ralat makan sore sebagai ganti makan siang kita yang terlewatkan.”
“Aku berkata ingin mengenalmu karena itu aku juga ingin makan bersamamu.”
Elleinder membimbing Illyvare ke meja makan. Seperti yang sering dilakukannya, Elleinder menarik kursi untuk Illyvare sebelum ia duduk di hadapan gadis itu.
Pelayan mulai melayani mereka.
Matahari yang terus mendekati wajah bumi menyinari mereka. Sinarnya yang merah terasa hangat. Angin laut yang bertiup sepoi-sepoi meramaikan suasana. Ombak laut membuai perahu.
Suasana makan siang seperti ini tidak pernah dibayangkan Illyvare. Sangat romantis. Berdua menyantap makan siang sementara matahari menyinari mereka, angin memabukkan mereka dan laut membuai mereka.
Elleinder berdiri di samping Illyvare yang tengah memandang matahari yang mulai memasuki peraduannya.
Langit membara terang. Matahari tampak sangat besar dan sinarnya yang jatuh di permukaan laut membuat laut tampak merah. Di sekeliling matahari tampak pelangi yang mempesona.
Tidak seorangpun dari mereka yang berbicara. Juga para pelayan yang tengah merapikan meja makan.
Elleinder mengira Illyvare akan terpesona melihat keindahan alam itu. Ia terkejut ketika melihat Illyvare dan mendapati gadis itu tetap tenang. Ketika matahari sudah benar-benar memasuki peraduannya dan meninggalkan sinarnya yang membara pun, Illyvare masih tetap tampak diam membisu.
“Bagaimana menurutmu?” Elleinder sengaja memancing Illyvare berbicara.
“Seperti tiara laut,” jawab Illyvare singkat.
Untuk sesaat Elleinder kebingungan mendengar jawaban itu. Ia melihat laut di kejauhan dan mengerti apa yang dikatakan Illyvare.
Sinar merah matahari di permukaan laut tampak seperti permata yang tiada taranya. Benar-benar permata laut yang indah.
Illyvare melihat sekeliling kapal yang sepi.
“Malam ini mereka berkemah di daratan. Besok mereka akan kembali memeriksa kapal. Ketika kita mendarat tadi, hari sudah sore dan pemeriksaan belum selesai. Menurut perhitunganku, besok siang kita sudah akan berlayar kembali.”
Illyvare melangkah ke geladak kapal. Dari situ ia melihat prajurit-prajurit yang mengawal mereka telah mendirikan tenda. Sekarang mereka tengah bercakap-cakap sambil mengelilingi api unggun.
“Apa yang akan kaulakukan?” Elleinder kaget ketika Illyvare menuju tangga tali kapal. Elleinder cepat-cepat menarik Illyvare.
“Saya merasa kita tidak adil. Mereka tidur di tanah sementara kita tetap di kapal.”
“Mereka yang ingin berkemah, Illyvare,” kata Elleinder lembut, “Aku tidak melarang kalau mereka ingin tidur di kapal. Kurasa mereka sudah merindukan daratan.”
Illyvare memandang pantai di kejauhan.
Elleinder berkata tegas, “Engkau masih belum sehat benar. Jangan sampai engkau tidur dengan angin dingin sepanjang malam terus menerpamu. Malam ini engkau harus tidur di kamarmu yang hangat!”
Belum habis kekagetan Illyvare mendengar nada-nada tegas dan memerintah itu ketika tubuhnya tiba-tiba terangkat.
“Angin malam laut musim gugur sangat kejam. Ia akan membuatmu sakit. Kalau itu terjadi, aku akan membatalkan perjalanan ini walau engkau tidak suka.”
Illyvare hanya berpegangan pada pundak Elleinder yang lebar dan membiarkan pria itu membawanya ke kamarnya.
Linty telah menyalakan lilin-lilin. Wanita itu tersenyum ramah ketika melihat mereka. “Selamat malam.”
“Selamat malam, Linty.”
“Bila Anda mengijinkan, Paduka, saya ingin berkumpul dengan yang lain.”
“Lakukan apa yang kaumau, Linty,” kata Illyvare.
Linty terpana mendengarnya. Kemudian ia tersenyum senang dan membungkuk badan dalam-dalam sebelum meninggalkan mereka berdua.
Elleinder menurunkan Illyvare dengan hati-hati. “Aku tahu engkau bisa bahasa kami.”
Illyvare diam saja.
“Linty khawatir engkau tidak dapat mengerti Bahasa Latin Kuno. Sekarang ia tidak perlu khawatir lagi. Engkau dapat berbicara bahasa itu dengan fasih. Dan, sepertinya aku tidak harus berbicara dalam bahasamu.”
Pelajaran bahasa Latin Kuno adalah satu di antara pelajaran-pelajaran lain yang diterima Illyvare. Raja Leland berulang kali menegaskan Illyvare harus bisa menggunakan bahasa yang menjadi induk hampir semua bahasa di Eropa ini.
“Hari ini masih panjang. Bagaimana kalau kita bermain kartu atau catur sambil berbicara tentang sesuatu yang menarik?”
“Saya tidak mempunyai apa pun untuk diceritakan.”
“Sebaliknya, Illyvare, aku berpendapat engkau mempunyai banyak hal menarik yang dapat kauceritakan.”
Illyvare diam saja.
“Aku akan mengambilnya di kamarku.”
Tak lama kemudian Elleinder kembali bersama kotak catur dan sebuah buku tebal. Elleinder menunjukkan buku itu pada Illyvare.
“Aku menemukan buku ini ketika mencari catur ini. Kulihat engkau sangat menyukai laut. Aku yakin engkau akan menyukainya.”
Illyvare melihat judul buku itu itu. “Gambaran Dunia” begitu judulnya.
“Buku ini ditulis oleh Marco Polo,” Elleinder menjelaskan, “Ia banyak bercerita tentang Negara-negara Timur. Tentang kerajaan yang semuanya berlapis emas, negeri-negeri yang subur. Semuanya ada.”
“Bukan oleh Marco Polo,” Illyvare membenarkan, “Tetapi oleh seorang pengarang populer yang bernama Rusticello dari Pisa .”
“Tak kuduga engkau banyak tahu tentang buku ini,” Elleinder terkejut.
Illyvare tidak menanggapi.
Elleinder melihat pembicaraan tentang buku ini dapat membuat Illyvare berbicara panjang lebar. Pria itu tidak membuang kesempatan ini. “Mengapa bukan Marco Polo sendiri yang menulisnya?”
“Waktu itu Marco Polo ditangkap dan dipenjara oleh tentaraGenoa . Sewaktu di dalam penjara itulah Marco Polo memutuskan untuk membukukan kisah perlawatannya. Dengan bantuan catatan-catatannya, ia mendiktekan pengalaman-pengalamannya kepada Rusticello yang waktu itu juga terpenjara bersamanya. Rusticello menterjemahkan cerita itu ke dalam bahasa Perancis Kuno, bahasa sastra Itali di abad 13. Buku itu selesai tahun 1298.”
Elleinder senang pada akhirnya ia berhasil membuat Illyvare berbicara panjang. Tapi ia harus puas sekali membuat Illyvare berbicara banyak. Selanjutnya Elleinderlah yang banyak bicara. Illyvare lebih banyak membenarkan atau mendengarkan.
Mereka berbicara sampai larut malam hingga membuat Illyvare khawatir ia tidak dapat bangun sepagi yang ia harapkan. Tetapi pagi ini ia sudah membuka matanya ketika hari masih gelap.
Illyvare masih ingat benar apa yang mereka bicarakan sepanjang malam hingga lewat tengah malam. Mereka berbicara tentang Marco Polo yang merupakan penjelajah pertama yang menempuh seluruh Asiadari barat ke timur dan kembali lagi.
Elleinder menjelaskan apa saja yang ada dalam buku “Gambaran Dunia.” Bagaimana Marco Polo menyebutkan semua kerajaan yang dilaluinya dan melukiskan negeri-negeri dan rakyatnya.
Elleinder juga menjelaskan bahwa di dalam buku itu dijelaskan bahwa Marco Polo adalah orang yang pertama yang mendaki dataranPamir yang tinggi di Asia Tengah dan menceritakan tentang gurun-gurun Parsi yang penuh bahaya. Ia adalah orang Eropa pertama yang melukiskan kehidupan rakyat Cina.
Marco Polo juga menggambarkan kehidupan di Tibet , Burma ,Siam , Srilangka dan India . Semua negeri ini sudah dikunjunginya. Tetapi ia juga menceritakan tentang negeri-negeri berbatasan yang diketahuinya keadaannya dari orang lain.
Ia bicara mengenai Jepang dengan angkatan lautnya yang kuat dan diceritakannya tentang kereta luncur yang ditarik anjing, tentang rusa-rusa dan beruang-beruang kutub di Siberia dan daerah-daerah Kutub Utara yang beku.
Dalam bukunya yang diberi judul “Gambaran Dunia” Marco Polo menceritakan tentang kerajaan Kublai Khan yang makmur dan maju, tentang kekayaan kerajaan itu, perdagangan, jalan-jalan dan terusan-terusannya yang panjang.
Ia juga menceritakan tentang sistem pos Khan yang terdiri dari jaringan stasiun-stasiun kurir di seluruh kerajaannya. Penunggang-penunggang kuda menyampaikan berita-berita secara beranting dari stasiun yang satu ke stasiun yang lain.
Semua itu diceritakan Elleinder kepadanya kemarin malam. Sepanjang malam Illyvare mendengar bagaimana Elleinder menjelaskan isi buku itu padanya. Illyvare sudah membaca buku itu tetapi ia tetap tertarik mendengar penjelasan Elleinder.
Mereka keasyikan membahas buku itu hingga tidak sadar hari telah berganti dan saat mereka sadar, waktu menunjukkan hampir pukul setengah dua.
“Sudah hampir pukul setengah dua?” kata Elleinder tak percaya ketika melihat jam. “Tak kuduga kita terlalu larut membicarakan buku ini hingga dini hari.”
Illyvare juga tidak menyadari waktu terus berjalan sementara ia asyik mendengar Elleinder berbicara.
“Kurasa kita harus tidur sekarang juga kalau tidak ingin kita bangun lebih siang,” kata Elleinder sambil menutup buku, “Aku khawatir kita akan bangun terlambat.”
Elleinder meletakkan buku itu di meja lalu mendekati Illyvare. “Tidurlah yang nyenyak,” Elleinder mencium dahi Illyvare, “Selamat malam.”
Setelah Elleinder menghilang di balik pintu, Illyvare berganti gaun tidur lalu naik ke tempat tidur. Seperti Elleinder , ia juga khawatir akan kesiangan. Tetapi saat ini ia sudah membuka mata.
Sayup-sayup Illyvare mendengar keramaian di kejauhan. Illyvare tahu suara ramai itulah yang membangunkannya sepagi ini. Illyvare tertarik untuk mengetahui apa yang menyebabkan suara itu.
Illyvare membuka lemari bajunya dan mencari mantel yang tebal. Kemudian ia menuju geladak yang menghadap pantai.
Di pantai prajurit-prajurit sudah terbangun. Terlihat beberapa api unggun sudah padam dan meninggalkan asap membumbung tinggi. Beberapa masih menyala terang.
Sejumlah prajurit menuju ke bagian pantai yang menjorok ke laut dan melemparkan sesuatu ke dalam laut. Yang lain ada yang masih berada dalam tenda tetapi ada juga yang menghidupkan api unggun kembali.
“Sepertinya mereka yang membuat kita terbangun.”
Illyvare membalikkan badan.
“Entah apa yang membuat mereka ribut seperti ini,” Elleinder mendekati Illyvare, “Sangat ribut sampai suara mereka terdengar di sini.”
Illyvare melihat keramaian di pantai.
“Aku rasa mereka sedang memancing. Aku ingin sesekali sarapan dengan ikan bakar. Engkau mau ikut?” Tanpa perlu bertanya pun Elleinder tahu Illyvare mau.
“Kita harus berganti baju dulu,” Elleinder mengajak Illyvare kembali ke kamar mereka masing-masing.
Ketika sampai di depan pintu kamar Illyvare, Elleinder berkata, “Aku akan menunggumu di sini.”
Illyvare segera masuk dan cepat-cepat merapikan diri. Gadis itu ingin segera turun melihat keramaian di pantai. Illyvare membiarkan rambut panjangnya terurai kemudian ia mengambil mantel coklatnya.
Ketika Illyvare keluar, Elleinder juga baru keluar dari kamarnya.
“Dengan gaun biru cerah itu, engkau tampak seperti peri yang baru muncul dari laut,” puji Elleinder.
Illyvare diam termenung.
Elleinder mengambil mantel tanpa lengan di tangan Illyvare kemudian mengenakannya pada Illyvare. “Lebih baik engkau memakai mantelmu. Di bawah sana lebih dingin dari di sini.”
Elleinder membawa Illyvare ke geladak.

Illyvare melihat laut di sekeliling kapal mereka.
“Kita akan ke pantai dengan perahu kecil,” Elleinder menjelaskan.
Illyvare melihat di bawah telah ada sebuah perahu kecil.
“Aku akan turun dulu untuk menjagamu,” kata Elleinder kemudian pria itu menuruni tangga tali di samping kapal. Setelah menuruni beberapa tangga, Elleinder berkata pada Illyvare, “Turunlah, aku menjagamu.”
Illyvare mengikuti apa yang disuruh Elleinder.
Elleinder benar-benar melakukan apa yang dikatakannya. Pria itu menjaga Illyvare dalam setiap langkahnya.
Ketika Elleinder sampai di perahu, ia segera mengangkat tubuh Illyvare dari tangga.
Illyvare memegang erat-erat lengan Elleinder sampai ia terbiasa oleh ombak yang menghantam perahu kecil itu.
Elleinder membantu Illyvare duduk di perahu kemudian ia duduk dan mulai mendayung.
Ketika mereka mulai meninggalkan kapal besar itu, Illyvare melihat beberapa perahu mengikuti mereka. Illyvare tahu prajurit yang ada di dalam perahu itu adalah pasukan pengawal Raja dan Ratu.
Semakin mereka menjauhi kapal besar itu, Illyvare semakin tahu sebesar apa kapal itu. Kapal itu sangat besar dan kokoh. Tiang-tiang layarnya berdiri tegak menjulang ke angkasa seolah-olah memamerkan kekuatan mereka. Kapal yang berdiri di lautan itu tampak terayun-ayun oleh ombak besar. Kapal dengan laut biru yang membentang luas itu tampak seperti lukisan di dini hari.
Semakin mereka menjauhi kapal, semakin luas laut yang tampak oleh mata. Laut yang terhampar di depannya, tampak hitam dan memantulkan sinar kemilau bintang-bintang yang mulai memudar.
Elleinder melihat gadis yang duduk di hadapannya itu memandang jauh. Pria itu terus mendayung kapal ke pantai.
Orang-orang yang berada di pantai tidak menyadari kedatangan Elleinder dan Illyvare. Mereka terlalu sibuk dengan keramaian mereka sendiri.
Elleinder melompat ke pantai ketika mereka tiba. Elleinder mencegah Illyvare yang hendak melompat juga. Elleinder menarik perahu kecil itu ke pantai yang tidak tergenang air lalu mengangkat Illyvare keluar dari perahu.
Perahu-perahu lain yang mengikuti mereka juga mulai mendekati pantai. Tetapi baik Elleinder maupun Illyvare tidak menanti mereka. Mereka berdua berjalan ke tenda-tenda di depan mereka.
Semua orang di sana tidak menyadari Raja dan Ratu mereka telah berada di dekat mereka hingga salah seorang yang kebetulan melihat ke arah laut, melihat mereka berjalan mendekat dengan sejumlah pasukan di belakang mereka.
“Paduka Raja dan Paduka Ratu datang!” teriaknya.


6


Orang-orang itu terkejut. Beberapa dari mereka sibuk merapikan tempat itu dan beberapa sibuk menyambut.
“Selamat pagi, Paduka,” kata Steele kebingungan, “Maaf tempat ini kotor.”
“Selamat pagi,” balas Elleinder, “Apakah kalian dapat tidur nyenyak?”
“Ya, Paduka.”
“Apa yang sedang terjadi hingga keributan kalian terdengar sampai ke kapal induk?”
“Maafkan kami, Paduka,” Steele merasa bersalah, “Beberapa dari kami tiba-tiba memutuskan untuk makan pagi dengan ikan bakar. Tetapi dari tadi kami belum mendapat seekor pun. Itulah yang membuat kami ribut. Kami sungguh menyesal telah menganggu istirahat Anda, Paduka.”
“Tidak apa-apa, Steele,” kata Elleinder, “Kami ke sini bukan untuk marah tetapi untuk ikut makan pagi dengan ikan bersama kalian.”
Elleinder melihat sekeliling. Beberapa orang tampak menanti umpannya dimakan ikan dan beberapa yang menyadari kedatangan mereka, sibuk merapikan peralatan untuk segera menyambut.
“Sudah lama aku tidak memancing,” kata Elleinder tiba-tiba, “Masih ada alat yang tersisa?”
 Ada , Paduka,” kata Steele. Kemudian Steele memanggil seseorang yang berada di dekat mereka.
Elleinder melihat Illyvare. “Engkau mau di sini atau ikut bersamaku?” Sebelum Illyvare menjawab, Elleinder berkata, “Aku tahu engkau pasti ingin ikut bersamaku.”
Illyvare tak menanggapi.
Tak lama kemudian seseorang mendekati Steele sambil menyerahkan sebuah alat pancing.
“Ini alatnya, Paduka,” Steele menyerahkan dengan hormat.
“Terima kasih, Steele.”
Illyvare mengikuti Elleinder ke tempat prajurit yang lain memancing.
Prajurit-prajurit itu segera berdiri dan membersihkan bebatuan itu. “Silakan duduk, Paduka,” kata mereka hampir bersamaan.
“Tidak perlu bersikap seperti itu. Kali ini aku hanya seorang pemancing biasa seperti kalian,” kata Elleinder, “Mari kita memancing.”
Elleinder duduk diikuti prajurit lainnya yang telah memancing disana sejak tadi.
“Berapa banyak ikan yang kalian dapatkan?” tanya Elleinder sambil menanti umpannya dimakan ikan.
“Kami hanya mendapat sedikit, Paduka.”
“Sepertinya ikan-ikan di tempat ini tahu akan dipancing sehingga kabur semua,” gurau yang lain.
“Kalian kurang bersabar. Memancing membutuhkan kesabaran.”
Mereka mengeluh panjang.
Elleinder tertawa. “Kalian tidak bersabar seperti itu bagaimana bisa mendapat ikan?”
Illyvare melihat pancing Elleinder bergerak-gerak, ia memegang lengan pria itu.
Elleinder menoleh. Ia melihat Illyvare memandang laut kemudian mengikuti pandangan gadis itu.
“Rupanya aku telah mendapat seekor,” kata Elleinder menarik pancingnya.
Elleinder melepas ikan yang menggelepar-gelepar itu. Illyvare mengambil ember di sampingnya.
“Anda beruntung, Paduka. Anda telah mendapatkan seekor sedangkan kami yang sejak tadi di sini belum mendapatkan apapun.”
“Kalian harus bersabar.” Elleinder melemparkan kailnya.
Pagi ini Elleinder beruntung. Lebih beruntung daripada prajurit-prajuritnya yang lain. Ketika orang banyak itu menanti ikan mengambil umpannya, Elleinder telah mendapatkan beberapa ekor.
“Mengapa ikan-ikan itu tidak mau berbelok sebentar?” keluh seorang di antara mereka.
“Karena ia takut padamu,” jawab yang lain.
Elleinder belum sempat ikut menanggapi ketika Illyvare menyentuh lengannya lagi untuk memberitahukan pancingnya bergerak-gerak.
“Aku dapat lagi,” kata Elleinder senang, “Rupanya kali ini aku memang sedang beruntung.”
Illyvare menyodorkan embernya yang hampir penuh oleh ikan.
Seorang prajurit meletakkan pancingnya dan mendekati Illyvare. “Ijinkan saya untuk memberikannya pada tukang masak, Paduka Ratu.”
Illyvare memberikan embernya.

Prajurit yang lain mengumpulkan ikan tangkapan mereka di ember yang lain. “Bawa juga ini,” katanya.
Prajurit itu membawa kedua ember itu ke kumpulan tenda di pantai.
“Paduka Ratu, silakan menggunakan ember,” seseorang berkata pada Illyvare sambil menyerahkan embernya.
Illyvare memandang pria itu tanpa berkata apa-apa.
“Saya ingin membantu yang lain memanggang ikan,” prajurit itu berkata canggung karena ditatap Illyvare.
“Illyvare,” Elleinder memanggil, “Aku telah mendapatkan lagi.”
Illyvare menyodorkan ember itu.
“Kami permisi dulu, Paduka.”
“Kalian mau pergi?” tanya Elleinder tak percaya, “Kalian belum mendapatkan banyak.”
“Kami bosan, Paduka. Sejak tadi kami menunggu tetapi tidak ada ikan yang mau menghampiri umpan kami.”
“Memancing itu membutuhkan kesabaran,” kata Elleinder.
“Cara yang baik untuk melatih kesabaran,” tambah Illyvare.
Elleinder melihat Illyvare dengan heran. Ia baru sadar gadis itu sejak tadi tidak bersuara sedikitpun. “Mengapa engkau diam saja?” tanya Elleinder ingin tahu.
“Mencegah ikan lari ketakutan,” jawab Illyvare singkat.
Elleinder tersenyum geli, “Kurasa ikan-ikan itu tidak akan lari ketakutan mendengar suaramu yang merdu itu. Mereka akan mendekat.”
Illyvare tidak menanggapi.
Tak seorangpun di antara mereka yang sadar prajurit-prajurit yang memancing di sekitar mereka, telah pergi. Kini tanah terjal itu tinggal mereka berdua.
Mereka juga tidak sadar di pantai sana , beberapa orang membicarakan mereka.
“Paduka Raja memang beruntung. Ia mendapatkan banyak ikan daripada kita.”
“Kurasa Paduka Ratu yang membuatnya beruntung.”
“Apa yang kalian bicarakan?”
“Raja dan Ratu kita, Komandan.”
Steele melihat ke tempat Elleinder dan Illyvare berada.
Elleinder duduk menanti umpannya dimakan ikan sedangkan Illyvare berlutut di samping pria itu. Elleinder tidak tampak memperhatikan pancingnya. Pria itu berbicara dengan Illyvare. Illyvare hanya diam mendengarkan dan memberitahu Elleinder bila pria itu telah mendapatkan ikan.
 Ada apa dengan mereka?”
“Paduka Raja beruntung, ia mendapatkan banyak ikan.”
“Kurasa ia mendapat ikan banyak karena ikan-ikan itu ingin mendekati Ratu,” Brasch menyahut, “Ratu sangat cantik dan tidak akan ada orang yang menyangkalnya.”
“Aku yakin ia adalah seorang peri yang dapat memanggil para ikan.”
“Ia membuatku gugup ketika ia menatapku.”
“Bukan saatnya kita membicarakan mereka,” Steele memotong, “Banyak yang harus kita lakukan. Kita masih harus memeriksa kapal.”
“Dan aku menjaga keamanan,” tambah Brasch.
Baik Elleinder maupun Illyvare memang terlalu sibuk untuk memperhatikan orang lain. Elleinder sibuk membuat Illyvare berbicara sedangkan Illyvare sibuk mendengarkan sambil mengawasi pancing Elleinder.
“Hari ini aku benar-benar beruntung,” kata Elleinder sambil meletakkan seekor ikan lagi di ember. “Engkau mau mencobanya, Illyvare? Aku yakin engkau bisa.”
Illyvare menggeleng.
“Apakah ini sudah cukup?” Elleinder melihat ember ikannya. Elleinder melihat sekeliling dan sadar tidak ada orang lain selain mereka. “Rupanya mereka memang tidak sabar,” gumamnya.
“Paduka! Paduka Ratu!”
Illyvare berpaling pada Linty yang berlari mendekat.
“Maafkan saya, Paduka. Saya tidak melayani Anda dengan baik.”
“Engkau ingat perintahku kemarin?”
Linty mengingat-ingat kapan Illyvare memberinya perintah. Sejauh ingatannya, Illyvare belum pernah memberinya perintah. Illyvare jarang berbicara dengannya. Linty teringat kata-kata Illyvare kemarin malam.
Linty tersenyum sambil berkata, “Saya senang melayani Anda, Paduka Ratu.”
“Linty, apakah ikan di sana sudah cukup?”
“Saya rasa sudah, Paduka Raja. Tidak semua dari kami yang akan makan ikan,” jawab Linty.
“Berarti ini sudah cukup. Mari, Illyvare,” Elleinder mengulurkan tangan membantu Illyvare berdiri namun ia menariknya kembali. “Sebaiknya aku tidak membuatmu yang wangi menjadi bau ikan,” kata Elleinder jujur.
Illyvare tidak menanggapi dan berdiri.
Linty membantu Illyvare membersihkan debu dari gaunnya.
“Kurasa sudah ada ikan yang matang,” kata Elleinder.
Linty yang merasa menganggu Raja dan Ratunya berkata, “Akan saya siapkan untuk Anda berdua, Paduka.”
Sebelum seorang pun di antara mereka berkata, Linty telah berlari menjauh.
“Dia memang pelayan yang cekatan. Aku sengaja menyuruhnya menemani sekaligus melayanimu dalam perjalanan ini. Kuharap engkau menyukainya.”
“Aku menyukainya,” sahut Illyvare singkat.
Elleinder menatap lekat wajah Illyvare.
Beberapa orang mendekati mereka.
“Ijinkan saya untuk membantu Anda, Paduka.”
Elleinder menyerahkan pancing dan embernya yang penuh berisi ikan pada mereka.
Setelah mengantar Illyvare ke tengah kumpulan tenda itu, Elleinder berkata, “Aku akan pergi sebentar. Aku ingin mencuci tanganku.”
Elleinder mencari tong yang berisi air bersih. Ketika ia mencuci tangannya, Brasch datang mendekat.
 Ada apa, Brasch?”
“Paduka Ratu telah mempesona semua orang, Paduka. Apakah Anda tidak khawatir meninggalkan Paduka Ratu?”
Elleinder melihat Illyvare dan terkejut.
Beberapa pria mengelilingi Illyvare. Sembilan pria itu kemudian membawa Illyvare ke sebuah batang pohon besar yang terbaring di dekat hutan. Pria-pria itu tampak berbicara dengan Illyvare kemudian mereka meninggalkan Illyvare ke dalam hutan.
Elleinder tersenyum. “Mereka menjaga Illyvare, mengapa aku harus khawatir? Yang aku khawatirkan hanya apakah kapal kita akan selesai diperbaiki siang ini.”
“Steele mengatakan bila tidak ada hambatan maka kita dapat berlayar lagi siang ini,” Brasch melaporkan.
Elleinder melihat kapal yang terombang-ambing di laut lepas itu. “Kuharap tidak ada badai.”
“Saya juga berharap demikian, Paduka.”
Elleinder berpaling pada Illyvare yang duduk diam memandang kesibukan di depannya. Beberapa pria mengajaknya berbicara. Elleinder tidak heran ketika mereka kesulitan melihat sikap diam Illyvare.
Tidak heran pula bila di sekeliling Illyvare yang ada hanya lelaki. Karena Illyvare tidak seperti dugaannya, banyak perhitungan Elleinder yang salah. Elleinder tidak membawa pelayan wanita lain selain Linty.
Semula Elleinder berniat membuat Putri Kerajaan Aqnetta itu tahu ia tidak bisa berbuat sewenang-wenang pada rakyatnya. Elleinder tidak mau banyak pelayan wanita membuat wanita itu besar kepala. Tetapi ia telah melakukan kesalahan dengan tindakannya itu.
Sekarang di sekeliling Illyvare yang ada hanya pria selain Linty yang selalu melayaninya.
Elleinder melihat prajurit-prajurit yang tadi masuk hutan kembali dengan buah-buahan di tangan mereka. Mereka memberikan buah itu pada Illyvare.
Illyvare tersenyum manis.
Elleinder tercengang.
“Aku harus kembali, Brasch,” kata Elleinder, “Awasi terus keadaan sekitar tempat ini.”
“Baik, Paduka,” kata Brasch sambil tersenyum penuh arti.
Elleinder bergegas mendekati Illyvare.
Gadis itu mengangkat kepala melihat kedatangannya.
“Mereka memberimu banyak buah-buahan,” kata Elleinder.
Illyvare memandangi buah-buahan di pangkuannya.
“Kami permisi dulu, Paduka.” Prajurit-prajurit itu meninggalkan mereka berdua.
Elleinder duduk di samping Illyvare. “Bagaimana perasaanmu?” kata Elleinder tajam.
Illyvare mengangkat bahunya.
“Mengapa? Bukankah engkau seharusnya senang mendapat banyak buah?”
Illyvare menatap Elleinder lekat-lekat. Ia tidak mengerti mengapa pria itu tiba-tiba menjadi sinis kepadanya. Ia tidak tahu apakah ia telah berbuat kesalahan. “Engkau mau?” Illyvare memberikan sebuah pada Elleinder.
Elleinder menerimanya tapi tidak mengatakan apa pun.
Illyvare diam memandangi buah-buahan itu kemudian memandang hutan di belakang mereka.
“Sarapan telah siap,” Linty datang dengan nampannya. Linty meletakkan nampan itu di antara Elleinder dan Illyvare. “Biarkan saya menyimpan buah-buahan ini, Paduka.”
Illyvare membantu Linty memindahkan buah itu ke celemek Linty. Illyvare mengawasi kepergian wanita itu. Beberapa prajurit ingin mengambil buah itu dari Linty, tapi mereka tidak melakukannya setelah Linty memarahi mereka.
Illyvare melihat Elleinder yang sedang memakan seekor ikan. Illyvare tidak merasa lapar, tetapi ia merasa tidak pantas mengecewakan Linty yang telah bersusah payah membakarkan ikan untuknya. Illyvare memilih seekor ikan yang kecil.
Tak seorangpun di antara mereka yang bersuara. Baik Elleinder maupun Illyvare diam memandang prajurit lain yang juga makan ikan bakar.
Illyvare melihat laut. Pandangannya menerawang jauh dan pikirannya melayang-layang tanpa arah.
“Illyvare!”

Seperti waktu upacara pernikahan mereka, Elleinder melihat Illyvare tenggelam dalam dunianya sendiri. Kali ini Elleinder tidak memanggil Illyvare berulang-ulang, ia memegang lengan Illyvare.
Illyvare berpaling.
“Hari semakin siang. Aku melihat Steele telah kembali. Tak lama lagi ia akan datang melaporkan kapal telah selesai diperbaiki.”
Elleinder mengulurkan tangan membantu Illyvare berdiri. Mereka berjalan mendekati tepi pantai.
“Perbaikan kapal telah selesai?”
“Benar, Paduka. Kerusakan kapal tidak separah yang kita duga. Lambung kapal hanya terkoyak sedikit. Sebagian besar telah kami perbaiki kemarin. Hari ini kami hanya memperkuat perbaikan itu. Saat ini juga kita bisa berlayar.”
“Kalian beristirahat dulu setelah itu kita baru berangkat.”
“Baik, Paduka.” Steele memimpin anak buahnya ke pantai.
“Kita bisa berperahu sebelum kapal berangkat kalau engkau mau,” kata Elleinder mengulurkan tangannya.
Illyvare menyambut uluran tangan itu.
Dengan tangkas, Elleinder menarik Illyvare mendekat dan mengangkat tubuh gadis itu. Elleinder mendudukkan Illyvare di perahu kecil itu dan mulai mendorong perahu.
Elleinder sudah mulai mendayung perahu kecilnya ketika para pengawalnya sadar di mana Raja dan Ratunya berada. Mereka bergegas naik perahu dan bersiaga di tepi pantai.
Illyvare menatap kaki langit tanpa suara.
“Engkau marah padaku, Illyvare?”
Illyvare diam saja.
“Aku tidak pernah ingin membuatmu marah. Aku ingin membuatmu senang. Kalau engkau marah padaku, katakan saja tetapi jangan berdiam diri seperti ini.”
“Saya tidak bisa marah,” Illyvare mengakui.
Elleinder menatap heran. “Jangan bercanda, Illyvare. Tiap orang pasti bisa marah termasuk aku juga engkau.”
Illyvare hanya memandang langit dengan pandangannya yang menerawang jauh.
Elleinder memegang dagu Illyvare dan memalingkan wajah gadis itu. “Kalau aku membuatmu marah, maafkan aku,” katanya lembut.
Illyvare tetap memandang langit.
“Apakah yang merisaukanmu, Illyvare? Aku sering melihatmu memandang jauh. Apa ada yang kaupikirkan?”
“Tidak ada,” kata Illyvare tenang.
“Engkau merindukan kerajaanmu?” tanya Elleinder.
Illyvare menggeleng.
Tiba-tiba ombak yang cukup besar menerjang perahu mereka. Illyvare memegang erat-erat lengan Elleinder. Wajahnya memucat – teringat pengalaman yang lalu.
Elleinder memeluk Illyvare dan berkata, “Tidak apa-apa. Jangan khawatir. Ombak di sekitar tempat ini memang tidak teratur. Ada yang besar dan ada yang kecil.”
 Setelah perahu seimbang, Elleinder melepaskan Illyvare. “Sebaiknya kita menanti mereka di kapal.”
Elleinder mendayung perahu mendekati kapal.
“Naiklah dulu. Aku di bawahmu,” Elleinder mengangkat tubuh Illyvare ke tangga tali di samping kapal.
Illyvare berpegangan erat pada tangga itu. Belum lama ia berpegangan pada tali ketika angin tiba-tiba bertiup keras. Illyvare terkejut. Ia merasa tubuhnya didorong angin keras itu.
“Tidak apa-apa,” tubuh tegap Elleinder menghadang angin itu. Elleinder yang tinggi tegap itu hanya butuh berada setingkat di bawah Illyvare untuk bisa melindunginya.
Dengan kata-katanya yang lembut, Elleinder berkata, “Jangan takut. Teruslah melangkah, aku akan terus berada di sisimu.”
Illyvare hanya menatap wajah tampan yang lembut itu.
Elleinder tersenyum – mendorong semangat Illyvare.
Sesuatu dalam senyum itu meyakinkan Illyvare bahwa ia tidak akan apa-apa. Elleinder pasti akan menangkapnya bila angin meniupnya. Elleinder pasti akan memeganginya bila ia terjatuh. Maka Illyvare pun melanjutkan langkah-langkahnya.
Seperti tadi, Elleinder menjaganya dalam tiap langkahnya.
Ketika mereka hampir sampai di ujung tangga, Elleinder berkata, “Aku akan naik dulu. Berpeganglah yang erat.”
Illyvare menepi memberi jalan pada Elleinder.
Elleinder berhati-hati ketika ia melewati gadis itu. Ketika ia telah sampai di dek kapal, ia mengulurkan tangan membantu Illyvare. “Naiklah seperti tadi, Illyvare,” Elleinder memberitahu, “Jangan takut, aku memegang tanganmu.”
Illyvare baru menaiki dua tangga tali ketika Elleinder mengangkat tubuhnya. Elleinder tidak menurunkan Illyvare di dek kapal melainkan membawanya ke kamarnya.
“Engkau bisa tenang sekarang,” kata Elleinder setelah menurunkan gadis itu. “Engkau merasa pusing lagi?”
Illyvare menggeleng.
Terdengar suara ramai mendekati kapal.
“Mereka telah berkemas. Sekarang mereka pasti telah mendekati kapal.”
Elleinder menuju dek diikuti Illyvare.
“Kami siap berangkat, Paduka,” Steele melaporkan.
Dek kapal yang sepi itu kembali ramai. Orang-orang berhilir mudik mempersiapkan keberangkatan mereka. Beberapa orang menarik perahu-perahu kecil. Ada pula yang menarik jangkar.
“Angkat jangkar!” Steele memberi perintah.
Illyvare yang tidak melihat saat pertama kali mereka akan berlayar, memperhatikan kesibukan itu.
Ketika melihat jangkar telah dinaikkan ke dek, Steele kembali berseru, “Tarik layar!”
Prajurit yang telah bersiap-siap, segera menarik layar.
Angin yang bertiup membentangkan layar dan menjalankan kapal. Steele mengawasi orang yang mengemudikan kapal. Prajurit-prajurit meninggalkan tempat mereka dan mulai berjaga-jaga.
Kesibukan di kapal telah dimulai sejalan dengan lajunya kapal.
Mereka berlayar dengan tenang. Tidak ada gangguan lagi dalam pelayaran ini. angin berhembus seperti biasa dan terus mendorong kapal. Ombak terus membuai kapal.
Perjalanan menuju Leiffberg telah dilanjutkan setiap orang ingin perjalanan itu tanpa gangguan lagi. Juga tidak ada badai yang ditakutkan.
Illyvare tahu perjalanan menuju Leiffberg masih panjang. Masa depannya juga masih panjang. Ia tidak tahu seperti apakah tempat ia akan tinggal itu. Sama seperti ia tidak tahu bagaimanakah kehidupannya akan berlangsung. Yang diketahuinya saat ini adalah ia telah menjadi milik Kerajaan Skyvarrna dan Kerajaan Aqnetta. Ia adalah Ratu dari kedua kerajaan itu.
Tetapi sebagai Ratu, Illyvare tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Seperti langit, ia tak dapat melihat ujung masa depannya. Langit membentang di hadapannya. Laut yang biru membentang di kakinya. Tetapi semua itu tak memberikan jawaban apapun.
Illyvare bagaikan kapal itu. Terombang-ambing di antara laut dan kaki langit. Berlayar menurut arah tujuan sang nahkoda kapal. Tetapi itu bukan masalah bagi Illyvare. Ia telah terperangkap dalam Istana Vezuza seumur hidupnya. Ia telah hidup menurut aturan-aturan ayahnya. Di Kerajaan Skyvarrna pun ia tahu ia harus mengikuti semua peraturan kerajaan itu.
Illyvare tahu keputusan Elleinder untuk menikah dengannya ditentang oleh rakyat Kerajaan Skyvarrna. Kecil kemungkinan rakyat Kerajaan Skyvarrna akan mencintai dirinya sebagaimana mereka mencintai Elleinder. Tetapi Illyvare telah bersumpah di hadapan Uskup, di hadapan ayahnya, di hadapan rakyatnya dan di hadapan Allah bahwa ia akan mendampingi Elleinder apa pun yang terjadi.
Tidak banyak yang Elleinder ketahui tentang dirinya tetapi Illyvare tahu banyak tentang pria itu. Calf membantunya mencari informasi tentang suaminya itu.
Illyvare tahu ketika Elleinder datang ke Istana Vezuza bersama rombongannya. Ia ada di Istana , ia ada di dekat pria itu tetapi ia tidak pernah menemui pria itu. Illyvare tahu Elleinder berusaha menemukannya, tetapi pria itu tidak pernah dapat menemukannya.
Illyvare tahu banyak kerajaan yang memuji keberanian Elleinder ketika mereka tahu pria itu melamar dirinya. Resiko besar yang tidak pernah diambil siapapun, telah diambil Elleinder. Illyvare mengagumi pria itu.
Tak diragukan lagi bila rakyat Kerajaan Skyvarrna sangat mencintai Raja Muda itu. Raja Fahrein meninggal dengan meninggalkan banyak masalah. Selama ia jatuh sakit, pemerintahannya terhambat. Menteri-menteri disibukkan oleh kondisi Raja.
Keadaan raja yang kritis itu membuat para menteri terbagi dua. Sebagian sibuk menjemput Pangeran Elleinder yang masih bersekolah di Paris. Sebagian sibuk melayani perintah Raja.
Di saat-saat terakhir sebelum kematiannya, Raja Fahrein menjadi sangat pemarah. Ia akan membanting apa saja bila perintahnya tidak dituruti. Perintahnya bukan lagi menyangkut kerajaan tetapi pesta.
Bahkan sehari sebelum kematiannya, Raja Fahrein meminta diadakan pesta meriah untuk kesembuhannya. Saat itu Raja Fahrein tampil dengan segar bugar. Semua orang menyangka Raja memang telah sembuh. Tidak seorangpun menyangka itu adalah pesta terakhir Raja Fahrein.
Keesokan paginya Raja Fahrein ditemukan dalam keadaan tak bernafas di tempat tidurnya. Kerajaan Skyvarrna berduka. Namun Elleinder tidak membiarkan dirinya terlarut terlalu lama dalam kedukaan itu. Ia segera membenahi segala pekerjaan yang terbengkalai sejak ayahnya sakit.
Setelah semuanya selesai, ide itulah yang muncul. Keinginan untuk memiliki Kerajaan Aqnetta melalui pernikahan telah terwujud. Sekarang mereka berada dalam perjalanan ke Leiffberg dan kemudian menuju Istana Qringvassein.
Setiap perjalanan pasti ada akhirnya demikian pula perjalanan Illyvare ini. Setelah melewati hari-hari yang tenang di atas laut, mereka akhirnya melihat kota pelabuhan Leiffberg.
“Daratan! Daratan!” teriak prajurit di menara pengintai.
“Kita sudah tiba di Leiffberg,” sahut yang lain senang.
Kesibukan kembali memenuhi seluruh kapal itu. Prajurit-prajurit mulai bersiap-siap di posisinya. Mereka menanti perintah Steele sebagai kapten kapal.
Illyvare berdiri di dek kapal dan melihat daratan yang semakin mendekat itu. Tampak olehnya daratan itu yang semakin mendekati mereka bukan kapal yang mendekati daratan itu.
“Itu adalah Leiffberg,” Elleinder memberitahu, “Dari situ kita akan naik kereta menuju Istana Qringvassein.”
Illyvare diam memandangi daratan yang semakin mendekat itu. “Laut pun akhirnya ada batasnya,” gumamnya lirih.
“Kita harus bersiap-siap untuk pendaratan ini.”
Elleinder mengajak Illyvare kembali ke kamar mereka masing-masing.
Linty segera menyambut kedatangan Illyvare. “Kita hampir merapat di pelabuhan, Paduka. Anda harus segera mempercantik diri,” kata wanita itu ketika merapikan kembali rambut Illyvare.
Illyvare mengenakan mantel panjangnya yang tebal kemudian kembali ke dek. Elleinder sudah ada di sana menanti kedatangannya.
Tak sampai setengah jam kemudian mereka telah melihat perahu-perahu lain di dekat daratan itu.
Ketika mereka semakin mendekati pelabuhan itu, Steele berseru, “Turunkan layar!”
Prajurit yang telah bersiap-siap segera menarik layar. Beramai-ramai mereka menarik tali dan menutup layar yang terkembang itu.
Illyvare terus memandangi pelabuhan itu.
“Kita tiba lebih lambat dari yang semula dijadwalkan. Kukira orang-orang yang ingin menyambut kita telah pulang semua.”
Illyvare diam saja.
Akhirnya mereka merapat di pelabuhan dan Steele kembali berseru, “Tambatkan kapal!”
Beberapa orang melompat keluar dan melakukan perintah itu. Orang-orang mulai memasang tangga kayu di dek.
Pelabuhan masih ramai seperti biasanya walau hari sudah menjelang sore. Sebuah kereta emas terlihat di tepi pelabuhan. Kereta terbuka itu menanti dengan anggun di bawah kapal.
“Itu kereta kuda yang akan membawa kita ke Istana Qringvassein,” Elleinder memberitahu, “Menurut jadwal semula, kita akan tiba pagi hari tetapi kita baru tiba saat ini. Aku ingin menunjukkan padamu kerajaanku dalam perjalanan ke Istana Qringvassein. Sekarang aku menyesal menyuruh kereta itu yang menjemput kita. Hari sudah malam dan udara semakin dingin, kita tidak dapat berjalan cepat bila tidak ingin engkau sakit.”
Illyvare melihat orang banyak yang berdiri di belakang sebaris prajurit yang memagari mereka.
Elleinder juga melihat orang banyak itu dan berkata, “Aku tidak tahu mereka akan menyambut kita. Aku sama sekali tidak memberitahu siapa pun kapan kita datang. Kurasa mereka mengetahuinya dari kereta yang menanti kita.”

“Kapal telah merapat, Paduka,” Steele melaporkan.
Illyvare mengenakan topi mantelnya untuk mencegah angin mempermainkan rambut panjangnya.
“Kita jangan membuat mereka menanti lebih lama lagi, Illyvare.”
Illyvare memasukkan tangannya di siku Elleinder dan berjalan di samping pria itu.
Terdengar suara ramai ketika mereka berjalan ke kereta. Ketika seorang prajurit membuka pintu kereta dan Elleinder mengangkat Illyvare ke dalam kereta itu, suara ramai itu masih tidak berhenti.
Elleinder terkejut melihat Illyvare tetap tenang. Sikap gadis itu menunjukkan ia tidak terpengaruh oleh keramaian itu.
Seharusnya seorang gadis yang selama ini dikurung di Istananya yang besar, akan bingung dan gugup ketika mendapat sambutan semeriah ini dari rakyat. Tetapi raut wajah Illyvare tetap tenang. Matanya memandang ke depan.
Kereta berjalan perlahan menuju Istana Qringvassein. Orang-orang yang telah menanti mereka sejak tadi itu tidak tampak lelah. Mereka berseru-seru memanggil mereka dan melambai-lambaikan tangannya.
Illyvare memberikan senyum kepada mereka dan membalas lambaian tangan mereka.
Elleinder juga tidak mau berdiam diri saja menghadapi sambutan rakyatnya yang meriah itu.
Seperti yang dikatakan Elleinder, kereta berjalan lambat. Illyvare tidak menyadari kereta berjalan lebih lambat dari yang diperhitungkan Elleinder.
Kusir kuda tidak berani menjalankan kereta lebih kencang. Ia khawatir rakyat yang ingin menyambut kedatangan Raja dan Ratu, kecewa bila tidak dapat melihat rupa Raja dan Ratu.
 Prajurit berkuda yang mengawal mereka baik di depan maupun di belakang kereta yang ditumpangi Elleinder dan Illyvare juga berjalan lambat.
Elleinder menyadari hal ini tetapi ia tidak mempedulikannya. Dengan kecepatan seperti ini, Elleinder tidak khawatir Illyvare kedinginan.
Melalui ujung matanya, Elleinder melihat Illyvare yang terus membalas lambaian tangan rakyat. Gadis itu telah menutupi seluruh tubuhnya dengan mantelnya yang tebal. Cukup tebal untuk menghadapi angin yang bertiup lembut ini tetapi tidak cukup untuk menghadapi angin yang lebih kencang.
Illyvare merasa sedang diperhatikan. Namun ia tidak mempedulikannya. Ia terus membalas lambaian tangan rakyat.
Elleinder juga terus melambaikan tangannya pada rakyat.
Hingga mereka meninggalkan Leiffberg, kereta tetap berjalan lambat. Ketika mereka telah meninggalkan kota Leiffberg, orang-orang yang berdiri di tepi jalan tidak kunjung berkurang. Baru ketika mereka memasuki kawasan yang jauh dari rumah penduduk, orang-orang mulai berkurang.
“Engkau kedinginan?”
Illyvare menggeleng.
Elleinder terdiam beberapa saat. Ia melihat langit yang semakin gelap kemudian melihat Illyvare dengan cemas. “Berhenti!” Elleinder memerintah kusir.
Brasch yang mengawal di belakang mereka segera mendekat. “Ada apa, Paduka?”
“Pergilah lebih dulu dan cari penginapan. Malam ini kita beristirahat dulu. Besok baru kita lanjutkan.”
“Saya khawatir kita akan mengecewakan rakyat, Paduka. Saya baru saja mengirim orang untuk melihat keadaan di kota yang akan kita lalui dan ia mengatakan banyak orang yang berdiri di tepi jalan menanti Anda.”
“Kita tidak bisa mengecewakan mereka,” kata Illyvare perlahan.
“Baiklah. Kita akan meneruskan perjalanan walau mungkin kita akan tiba tengah malam.”
“Menurut perhitungan saya, Paduka, dengan kecepatan seperti ini kita akan mencapai Skellefreinth dalam empat jam. Ketika kita meninggalkan Leiffberg, waktu menunjukkan pukul lima sore. Jadi, kita akan tiba sekitar pukul sembilan malam.”
“Kita lanjutkan perjalanan.”
“Baik, Paduka.” Kemudian Brasch memerintahkan kusir menjalankan kuda.
“Kalau kita tidak berada di keramaian, cepatkan kereta,” Elleinder memberitahu kusir kuda.
“Baik, Paduka.” Kusir kuda itu melakukan perintah Elleinder.
Elleinder melihat Illyvare yang duduk menepi. Jarak di antara mereka sangat lebar hingga cukup untuk satu orang lagi. Illyvare merapat di pinggir kereta seolah-olah ia takut berdekatan dengan Elleinder.
“Illyvare,” panggilnya.
Gadis yang sedang memandang ke depan itu menoleh.
“Aku menyesal kita tidak dapat menginap di kota terdekat malam ini.”
“Tidak apa-apa.”
“Mendekatlah kemari,” Elleinder mengulurkan tangannya, “Aku tidak ingin engkau kedinginan.”
“Saya tidak kedinginan.”
“Engkau yakin?” Sebelum Illyvare menjawab Elleinder telah berkata, “Kalau engkau duduk menjauh seperti itu, engkau akan kedinginan. Kemarilah, aku tidak akan menyakitimu.”
“Saya paham akan hal itu.”
“Maka, kemarilah,” Elleinder berkata lembut, “Aku hanya tidak ingin engkau kedinginan.”
Illyvare menyambut uluran tangan itu dengan ragu-ragu. Ia bukannya ingin menjauhi Elleinder tetapi ia tidak terbiasa duduk berdua dengan pria di kereta.
Elleinder menarik Illyvare menyeberangi jarak di antara mereka. “Kalau kita duduk seperti ini, engkau tidak akan terlalu kedinginan.
Illyvare diam memandangi tangannya.
Elleinder memegang kata-katanya. Ia menyandarkan punggung dan melipat tangan di belakang kepalanya.
Perjalanan ini masih jauh. Illyvare tahu itu. Ia belum melihat pucuk-pucuk menara Istana Qringvassein. Yang dilihatnya masih hijaunya dedaunan dan rimbunnya pohon.
Setelah beberapa saat, Illyvare mulai melihat rumah-rumah penduduk dan orang-orang yang berdiri di belakang barisan prajurit.
“Mereka menyambut kita.”
Illyvare hanya mengangguk.
Illyvare seorang putri kerajaan, tetapi ia tidak pernah tahu sambutan rakyat terhadap keluarga kerajaan bisa lebih meriah dari yang dibayangkannya. Matahari mulai kembali ke istananya tetapi rakyat masih berdiri di tepi jalan dan dengan bersemangat menyambut kedatangan Raja dan Ratu mereka.
Semangat rakyat yang besar itu menunjukkan cinta mereka pada Raja dan Ratu. Illyvare terharu melihatnya.
Ketika untuk pertama kalinya ia meninggalkan Istana Vezuza, sepanjang jalan rakyat berteriak-teriak memanggilnya. Sepanjang jalan menuju Gereja Chreighton, rakyat mengelu-ngelukan namanya.
“Putri! Putri!” demikian teriak mereka. “Putri lihatlah kemari!”
Mereka berharap dapat melihat wajah Illyvare, tetapi jendela kereta tertutup rapat. Illyvare ingin sekali melihat wajah-wajah rakyat yang menyambutnya tetapi Raja Leland yang duduk di sampingnya tidak ingin ia melakukannya.
Illyvare hanya dapat mendengar panggilan rakyat itu dan merasa bersalah. Rakyat telah menantinya sepanjang jalan dan berharap dapat berjumpa dengannya yang untuk pertama kalinya meninggalkan Istana Vezuza. Tetapi ia bersikap sangat angkuh dan sedikitpun tidak mau mengintip keluar.
Di jalan masuk menuju Gereja Chreighton, Illyvare melihat banyak orang berdiri dengan penuh semangat. Melalui kerudungnya, Illyvare dapat melihat harapan di wajah orang banyak itu.
Seperti orang-orang di tepi jalan yang dilaluinya, mereka juga berharap dapat melihat wajahnya. Sayang, saat itu Illyvare dalam perjalanan menuju altar. Dari ujung rambut hingga kakinya tertutup oleh kerudung pengantinnya yang sangat panjang dan tebal.
Gaun pengantin itu dipesan khusus untuk Illyvare. Perancang gaun itu membuatnya sedemikian rupa hingga ia tampak seperti pengantin misteri. Seluruh tubuhnya tertutup oleh kerudung pengantinnya yang tebal. Dan gaun pengantinnya dibuat berleher tinggi dan berlengan panjang.
Dua lapisan kain yang menutupi tubuh itu dapat membuat Illyvare kepanasan. Untung udara pagi musim gugur di Kerajaan Aqnetta sangat dingin dan membuat Illyvare yang bersembunyi di balik gaun pengantinnya tidak kepanasan.
Melalui kerudungnya, Illyvare dapat melihat pandangan kagum orang-orang pada gaun pengantinnya yang bersulamkan benang perak. Juga pada kristal-kristal kaca bening yang membentuk bunga-bunga mawar di ujung gaunnya.
Saat memasuki Gereja Chreighton, Illyvare tahu masa depannya bukan berada di tangannya lagi. Di depan sana menanti pria yang akan menjadi suaminya. Pria yang bersama-sama dengan dirinya akan memerintah Kerajaan Aqnetta.
Saat itu pula Illyvare menyadari ia bukan lagi seorang Putri tetapi seorang Ratu yang memiliki tanggung jawab besar. Illyvare menyadari kedudukannya ini sejak ia tahu Menteri Luar Negeri Kerajaan Skyvarrna datang untuk menyampaikan surat lamaran Raja Elleinder.
Sekarang Illyvare telah berada di sisi Elleinder dan dalam perjalanan ke Istana Qringvassein.
Mereka melewati lautan manusia bagaikan melewati sebuah ujian untuk dapat mencapai Istana Qringvassein.
Ribuan, puluhan orang telah mereka lewati. Hari semakin malam tetapi orang-orang tetap bersemangat menyambut mereka. Hingga mereka tiba di Skellefreinth, masih banyak orang yang menyambut kedatangan mereka. Ketika puncak-puncak menara Istana Qringvassein terlihat, lautan itu tak berkurang.
Illyvare tidak lagi memperhatikan orang-orang di kanan kirinya. Ia memandang jauh ke depan ke Istana Qringvassein yang berdiri dengan kokoh.
Istana itu berbeda jauh dengan Istana Vezuza tetapi tidak berbeda jauh dengan Istana Camperbelt. Di depan bangunan Istana terdapat sebuah air mancur besar dikelilingi rerumputan yang menguning. Sebuah jalan besar terbagi dua memutari air mancur itu dan bergabung kembali ke depan pintu masuk Istana.
Istana ini tidak memiliki serambi depan seperti Istana Vezuza. Juga tidak ada taman bunga Illyvare.
Illyvare sedih menyadari ia tidak berada di Istananya lagi. Ia merindukan Istana negeri dongengnya yang putih dengan menara-menaranya yang menjulang tinggi dan atapnya yang bercat biru. Juga pada kebun bunganya yang terletak di belakang Istana Vezuza.
Kereta melalui air mancur itu dan berhenti di depan pintu masuk Istana.
Seorang pelayan segera membuka pintu kereta dengan membungkuk hormat.
Elleinder turun kemudian membantu Illyvare. Ketika ia menurunkan Illyvare, seseorang mendekat dan berseru marah,
“Apa saja yang kaulakukan? Mengapa lama sekali? Katamu akan datang sebelum makan siang, tetapi ini sudah melewati makan malam.”
“Maafkan atas gangguan ini, Illyvare,” bisik Elleinder kemudian menoleh pada Arwain. “Kapal kami mendapat kecelakaan, Arwain.”
Arwain melihat gadis mungil yang berdiri di samping Elleinder. Di Gereja Chreighton, ia tidak dapat melihat dengan jelas rupa Putri Illyvare selain mengetahui ia bertubuh ramping dan tidak gemuk. Dan ia mempunyai rambut hitam yang indah.
Arwain menatap lekat-lekat wajah cantik yang tenang itu.
Bola mata yang dikeliling bulu mata yang lentik itu menatapnya dengan tenang. Bibirnya yang menutup rapat membentuk sebuah senyuman. Tubuhnya tertutup rapat oleh mantel coklat tebal tetapi tidak dapat menyembunyikan kemolekannya. Rambut hitamnya berjuntai keluar dari topi mantelnya. Mantelnya menari-nari diterbangkan angin malam dan membuat ia nampak seolah-olah akan terbang jauh.
“Illyvare, engkau telah bertemu dengannya di upacara pernikahan kita. Ia adalah teman baikku, Arwain,” Elleinder memperkenalnya.
“Senang berkenalan dengan Anda.”
Arwain tiba-tiba saja menjadi gugup karena suara tenang namun merdu itu. Ia meraih tangan Illyvare dan menciumnya sebelum berkata, “Sungguh merupakan suatu kebanggaan bagi saya dapat bertemu dengan Anda, Paduka Ratu.”
“Dapatkah saya juga menjadi teman baik Anda?”
“Tentu, Paduka Ratu. Anda adalah istri teman baik saya berarti Anda teman baik saya pula.”
Illyvare tersenyum.
“Bisakah saya meminjam suami Anda sebentar, Paduka Ratu?” Sebelum Illyvare menjawab, Arwain mendekati Elleinder dan menariknya menjauh.
“Ada apa, Arwain?” tanya Elleinder heran. “Aku sudah mengatakan padamu, aku terlambat karena kapal mendapat kecelakaan kecil.”
Arwain melirik Illyvare yang berdiri dengan tenang di samping kereta. “Ia benar-benar Putri Kerajaan Aqnetta?”
Elleinder belum menjawab, Arwain telah berkata, “Gadis itu cantik sekali. Aku sampai dibuat gugup olehnya. Mengapa ia disembunyikan sampai mendapat banyak tuduhan jelek?”
“Aku tidak tahu, Arwain. Aku tidak punya ide tentang itu,” kata Elleinder kesal, “Kalau sudah tidak ada yang ingin kaukatakan lagi, aku permisi.”
Elleinder beranjak pergi.
“Elleinder!”
Elleinder berbalik dan berkata, “Aku lelah dan lapar, Arwain. Engkau sudah makan malam atau  belum? Kalau belum, ikutlah bersama kami.”
Arwain hanya dapat menahan kekesalannya melihat Elleinder terus berjalan mendekati Illyvare kemudian membawa gadis itu masuk.
“Percuma memisahkan mereka, Arwain,” tegur Brasch, “Selama perjalanan Paduka Raja terus berada di samping Ratu. Raja seolah-olah khawatir Ratu akan direbut orang lain.”
Arwain mendesah panjang.
“Raja benar. Kalau saya mempunyai istri secantik itu, saya juga pasti akan selalu berada di sisinya. Saya takkan rela ia direbut orang lain.”
“Ini aneh, bukan?” celetuk Perkins, “Dulu kita khawatir Putri Illyvare takkan sepadan dengan Paduka, tetapi ternyata Putri Illyvare sangat cocok bersanding dengan Paduka. Aku yakin Paduka bahagia didampingi seorang gadis secantik itu.”
“Ratu cantik dan ramping seperti seorang peri mungil, bukan seperti yang dikatakan orang banyak,” kata Arwain.
“Aku heran mengapa ia disembunyikan sampai muncul banyak dugaan yang sangat salah?” tanya Perkins heran.
“Jangan tanya aku karena aku tidak tahu. Elleinder sendiri juga tidak tahu.”
Tidak seorangpun di antara mereka yang tahu. Mereka hanya dapat menebak-nebak tetapi tidak akan pernah tahu jawaban yang sebenarnya.

Selanjutnya ...


0 Response to "Topeng Sang Putri I"

Post a Comment