Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Spring in London

Spring in London
Ilana Tan
“To the one who showed me Moonlight...
thank you...”
Prolog
ADA sesuatu yang ingin kukatakan padamu sejak dulu. Sampai sekarang aku
belum mengatakannya karena... yah, karena berbagai alasan. Dan alasan utamanya
adalah karena aku takut.
Kalau aku mengatakannya, reaksi apa yang akan kauberikan?
Apakah kau akan menerima pengakuanku?
Apakah kau akan percaya padaku?
Apakah kau masih akan menatapku seperti ini?
Tersenyum padaku seperti ini?
Atau apakah justru kau akan menjauh dariku?
Meninggalkanku?
Tapi aku tahu aku harus mengatakannya padamu. Aku tidak mungkin
menyimpannya selamanya. Entah bagaimana reaksimu nanti setelah
mendengarnya, aku hanya berharap satu hal padamu.
Jangan pergi dariku.
Tetaplah di sisiku.
Bab Satu
Seoul, Korea Selatan
“AKHIRNYA kaujawab juga teleponmu. Aku sudah mencoba menghubungimu
berkali-kali selama tiga hari terakhir.”
Kata-kata itu menerjang gendang telinga Danny Jo bahkan sebelum ia sempat
berkata “Halo”. Ia bahkan juga belum sempat benar-benar menempelkan ponselnya
ke telinga. Mengenali suara sahabatnya di ujung sana, Danny tertawa dan berkata,
“Jung Tae-Woo, aku tahu kau rindu padaku, tapi tolong kecilkan sedikit suaramu.
Aku tidak mau orang-orang yang ada di dekatmu berpikir kita pacaran atau
semacamnya. Kau mungkin sudah terbiasa dengan gosip gay1, tapi aku tidak.”
Jung Tae-Woo tertawa hambar. “Lucu sekali,” katanya datar.
Danny berdiri menghadap kaca jendela besar di kantor itu, menatap jalanan
Apgujeong-dong di bawah sana. Jalanan cukup ramai, orang-orang dalam balutan
jaket tebal beraneka warna berjalan di sepanjang trotoar dan mobil-mobil
berseliweran di jalan raya. Pemandangan yang sangat biasa. Pemandangan seharihari
yang sering kali diabaikan kebanyakan orang. Namun Danny menyukainya. Ia
suka mengamati keadaan di sekitarnya, setiap pejalan kaki dan setiap mobil yang
lewat.
“Sebenarnya aku tahu kau meneleponku,” kata danny ringan, “dan aku minta
maaf karena tidak sempat membalas teleponmu. Kau sendiri penyanyi terkenal, jadi
kau tentu tahu bagaimana rasanya saat jadwal kerjamu begitu padat sampai kau
bahkan tidak punya waktu untuk memikirkan hal lain. Aku harus berangkat ke
London minggu depan, jadi semua pekerjaanku di sini harus selesai sebelum itu.”
“Aku tahu kau mau pergi ke London,” sela Tae-Woo. “Karena itulah aku
meneleponmu. Aku butuh bantuan.”
“Tentu,” sahut Danny tanpa ragu, “katakan saja.”
“Aku ingin kau tampil dalam video musikku.”
“Video musikmu?”
1 Baca Summer In Seoul
“Syutingnya akan dilakukan di London. Kau tahu siapa yang sudah setuju
menjadi sutradaranya?” Tanpa menunggu jawaban, Tae-Woo melanjutkan, “Bobby
Shin. Dan karena aku tahu kau akan pergi ke London untuk bekerja dengannya,
kupikir kami tidak perlu mencari model pria lagi. Kau model pria yang sempurna.
Bagaimana menurutmu?”
Danny mendesah, pura-pura pasrah. “Apakah aku punya pilihan lain?”
“Tidak,” kata Tae-Woo sambil tertawa. “Oke. Berarti kita sudah sepakat. Oh ya,
Danny, asal kau tahu, wajahmu tidak akan terlihat sepanjang video musik itu.
Hanya model wanitanya yang akan disorot.”
Alis Danny terangkat. “Apa? Kenapa?”
“Secara pribadi, menurutku kau terlalu tampan untuk video musikku,” gurau
Jung Tae-Woo. “Tapi tenanglah, walaupun hanya punggungmu atau bagian
belakang kepalamu yang terlihat, seluruh Korea akan tahu bahwa Danny Jo yang
membintangi video musik Jung Tae-Woo. Kalau kau keberatan, silakan bicarakan
dengan Sutradara Shin. Dia yan gmembuat konsep video musiknya.”
Danny kembali mendesah berlebihan, namun mulutnya tersenyum. “Jung Tae-
Woo, aku ini orang sibuk, baik di sini maupun di London nanti. Jadi katakan
padaku, kenapa aku harus meluangkan waktuku yang berharga untuk tampil dalam
video musikmu kalau wajahku tidak akan terlihat?”
Mengabaikan pertanyaan Danny, Jung Tae-Woo malah balas bertanya, “Sibuk?
Maksudmu sibuk pacaran?” Lalu ia terkekeh. “Kapan kau akan mengenalkan
pacarmu kepadaku?”
Alis Danny terangkat heran. “Apa maksudmu? Pacar apa?”
“Gadis yang kulihat keluar dari restoran di Gangnam bersamamu kemarin
malam. Apakah gaids itu yang membuatmu sibuk akhir-akhir ini?”
Mata Danny menyipit begitu teringat kejadian kemarin malam. Dan beberapa
kejadian sebelum kejadian kemarin malam. “Dia bukan pacarku.”
“Oh, yang benar saja.”
“Dia... bukan... pacarku,” ulang Danny, menekankan seitap kata. “Lagi pula
apa-apaan ini? Kau sudah beralih profesi menjadi wartawan atau apa?”
Jung Tae-Woo tertawa. “Hei, aku hanya bertanya.”
Saat itu pintu kantor terbuka dan Danny berbalik. Matanya terarah pada wanita
bertubuh langsing dan berambut pendek yang berdiri di ambang pintu dan yang
menatap Danny dengan alis terangkat. Danny yakin kakak perempuannya heran ia
muncul di sini tanpa pemberitahuan. Ia mengangkat sebelah tangan, tanpa suara
menyapa kakaknya, dan tersenyum singkat, senyum yang sudah membuat banyak
gadis penggemarnya luluh lantak.
“Aku harus pergi sekarang. Nanti kita bicara lagi,” kata Danny di ponsel. Tanpa
menunggu jawaban Tae-Woo ia menutup ponsel, menjejalkan benda itu ke saku
celana jinsnya, lalu berpaling ke arah kakaknya. “Nuna2 harus bicara dengan Ibu,”
katanya langsung tanpa basa-basi.
Anna Jo, yang sedang melepaskan topi, menghentikan gerakannya dan menatap
adiknya dengan heran, lalu tersenyum. “Selamat pagi juga, adikku sayang,” katanya
sambil menyisir rambutnya yang berpotongan modis dengan jari. “Dan apa yang
harus kubicarakan dengan Ibu?”
Anna tiga tahun lebih tua daripada Danny. Wajah kedua kakak beradik itu tidak
mirip, tetapi mereka sama-sama memiliki wajah menarik yang disukai para
fotografer, sama-sama memiliki bentuk tubuh jangkung dan ramping yang disukai
para perancang busana, sama-sama memiliki kepandaian berbicara yang membuat
mereka disenangi orang-orang yang bekerja sama dengan mereka. Semua itulah
yang menjadikan mereka model terkenal.
Dulu Anna Jo adalah model fashion yang menghabiskan waktunya berjalan di
atas catwalk di seluruh penjuru dunia. Namun sejak lima tahun lalu ia mulai dikenal
sebagai perancang busana dan butik-butiknya kini tersebar di Seoul dan Tokyo.
Danny mengerang dan menjatuhkan dirinya di kursi berlengan di depan meja
kerja kakaknya. “Nuna, aku benar-benar harus bicara dengan Ibu,” katanya lagi, kali
ini dengan suara yang terdengar tertekan. “Ibu tidak bisa terus berusaha
menjodohkan aku dengan anak perempuan sahabatnya, atau saudara perempuan
kenalannya, atau—seperti yang terjadi kemarin malam—keponakan perempuan
orang yang baru dikenalnya di salon! Ini sudah kelewatan. Kenapa tiba-tiba saja Ibu
begitu bersemangat ingin menjodohkan aku? Dan asal Nuna tahu, akhir-akhir aku
sangat sibuk dan tidak punya waktu untuk main-main.”
Kalau kakaknya lebih dikenal sebagai model catwalk, maka Danny lebih dikenal
sebagai model iklan. Wajahnya sering terpampang di majalah-majalah dan iklan
televisi. Menurut survei salah satu majalah remaja populer, Danny Jo adalah salah
satu bintang iklan paling diminati di Korea Selatan, walaupun akhir-akhir ini ia
mulai memfokuskan diri pada impiannya yang lain, yaitu menjadi sutradara video
musik.
Anna tersenyum lebar dan memeriksa surat-surat yang diletakkan sekretarisnya
dengan rapi di atas meja kerja. “Kurasa kencan buta yang diatur Ibu untukmu
kemarin malam tidak berjalan mulus? Kau tidak suka gadis itu?”
Danny mencondongkan badan ke depan, wajahnya serius. “Apakah Nuna
percaya kalau kubilang gadis itu baru lulus SMA?”
Mata Anna melebar menatap adiknya, lalu tertawa terbahak-bahak. “Astaga,
Ibu benar-benar sudah kelewatan kali ini.”
Danny mendesah berat dan bersandar ke kursinya kembali. “Apa yang Ibu
rencanakan? Kenapa Ibu ingin aku segera menikah? Aku tidak mengerti. Nuna harus
membantuku menyadarkan Ibu. Kalau tidak, aku bisa gila.”
“Kenapa bukan kau sendiri yang bicara dengan Ibu?”
“Aku sudah mencobanya, tapi Ibu tidak mau mendengarkanku,” sahut Danny.
“Ibu beralasan bahwa dia hanya ingin membantu, karena aku terlalu sibuk bekerja
sampai tidak sempat bersosialisasi. Katanya siapa tahu di antara gadis-gadis yang
dikenalkannya kepadaku itu ada yang cocok untukku. Katanya dia hanya
bermaksud baik dan aku seharusnya menghargai usahanya.” Danny terdiam, lalu
menatap kakaknya dengan mata disipitkan. “Jangan-jangan Nuna dulu menikah
juga karena dijodohkan Ibu?”
“Jo In-Ho, jangan sampai kakak iparmu mendengar itu,” Anna Jo
memperingatkan sambil tertawa. “Dia sangat gencar mengejarku dulu.”
Danny tersenyum masam. “Aku tahu.”
Anna Jo memandang adiknya yang sedang tertekan itu dengan perasaan geli
bercampur kasihan. “Setelah tiga kali mencoba dan gagal, kurasa Ibu akan
menyerah.”
Danny menggeleng cepat. “Oh, kurasa tidak. Kemarin Ibu bertanya padaku
wanita seperti apa yang kusuka. Untuk memudahkannya mencari wanita yang tepat
untukku, begitu katanya. Aku yakin dia masih belum menyerah.”
“Lalu apa yang kaukatakan padanya?”
Kali ini Danny tersenyum kecil. “Kukatakan padanya kami akan melanjutkan
pembicaraan itu setelah aku kembali dari London.”
Anna mengangkat alis. “Oh, kau jadi pergi ke London?”
Danny memang pernah bercerita pada kakaknya bahwa ia akan pergi ke
London untuk bekerja dengan Bobby Shin, salah seorang sutradara video musik
terkenal di Korea. Walaupun Sutradara Shin sudah menetap di London bersama
keluarganya, kadang-kadang ia masih aktif bekerja di Korea. Danny sudah beberapa
kali bekerja sama dengan Sutradara Shin dalam pembuatan video musik dan ia
snagat mengagumi pria yang lebih tua itu. Sekarang Danny kembali ditawari oleh
Sutradara Shin sendiri untuk bekerja sama dengannya di London. Bukan sebagai
model, tetapi sebagai asisten sutradara. Danny tidak mungkin melepaskan
kesempatan sebesar itu.
“Aku akan berangkat minggu depan,” kata Danny.
“Ibu pasti uring-uringan,” kata Anna smabil tersenyum kecil dan menyandarkan
tubuh ke sandaran kursi. “Dia tidak pernah merasa tenang kalau kau pergi ke
luar negeri. Apalagi kali ini kau akan bekerja dengan Sutradara Shin. Kau pasti akan
cukup lama tinggal di sana. Kau sudah memberitahu Ibu tentang ini?”
Danny tersenyum lebar. “Oh, ya. Ibu mengeluh panjang-lebar dan terdengar
sangat kecewa. Tapi tidak apa-apa. Yang penting aku bisa melarikan diri darinya
untuk sementara.”
* * *
London, Inggris
Satu minggu kemudian
Naomi Ishida membuka matanya yang terasa berat, lalu ia mengangkat tangan
menutupi mata dan mengerang pelan. Sinar matahari yang menembus jendela
kamar tidur menyilaukan matanya. Ia menguap lebar sambil merenggangkan
lengan dan kaki dengan posisi yang masih terbaring di tempat tidur. Lalu ia
memaksa diri berguling turun dari tempat tidur, berjalan dengan langkah diseretseret
ke meja tulis di depan jendela untuk mematikan lampu meja yang masih
menyala dan memandang ke luar jendela.
Tidak biasanya langit kota London terlihat cerah. Sepertinya musim semi yang
ditunggu-tunggu sudah tiba. Naomi membuka jendela dan menarik napas dalamdalam,
mengisi paru-paru dan seluruh tubuhnya yang masih lemas dengan
semangat musim semi. Tetapi karena udara masih terasa dingin, Naomi cepat-cepat
menutup jendela dan menggosok-gosok kedua tangannya. Tiba-tiba matanya
terarah ke jam kecil di atas meja dan ia pun terkesiap. “Oh, dear,” erangnya.
Ia berlari ke pintu kamar tidur dan membukanya dengan satu sentakan cepat,
mengagetkan kedua teman satu flatnya yang sedang duduk mengobrol di dapur,
tepat di luar kamar tidurnya.
“Apa? Apa yang terjadi?” Gadis bertubuh jangkung, berkacamata, dan
berambut merah panjang, yang sedang mengenggam cangkir kopi dengan kedua
tangan, menatap Naomi dengan alis terangkat heran.
Walaupun penampilannya pagi ini lebih mirip penghuni panti rehabilitasi—
piama bergaris-garis, jubah kebesaran, rambut acak-acakan, dan wajah
mengantuk—Julie Humphrey yang lebih muda daripada Naomi sebenarnya adalah
putri seorang pengusaha kaya yang lebih memilih mengejar mimpinya menjadi
aktris panggung daripada masuk universitas. Dan selama beberapa tahun ini ia
memang sering tampil di atas panggung pertunjukan di West End, meskipun hanya
mendapat peran-peran kecil.
“Aku terlambat...,” kata Naomi panik sambil berlari ke kamar mandi di samping
dapur. “Aku punya jadwal syuting video musik hari ini dan aku terlambat.”
Julie mengibaskan sebelah tangannya dan berkata, “Kau terlalu berlebihan,
Naomi. Kau tidak pernah terlambat. Paling-paling kau hanya terlambat bangun
sepuluh menit. Dan aku tahu kau pulang ke rumah larut malam kemarin. Kau
berhak bangun lebih siang.” Ia kembali menyesap kopinya dan mendesah muram.
“Aku kasihan pada orang-orang seperti kita bertiga yang tetap harus bekerja di hari
Sabtu yang indah ini.”
Naomi menyerukan sesuatu yang tidak bisa dipahami dari kamar mandi karena
ia sedang sibuk menggosok gigi.
“Hei, Sayang, kau mau wafel ala Chris dengan selai apel buatan sendiri?” tanya
laki-laki bertubuh tinggi, ramping, dan berambut hitam yang duduk di hadapan
Julie. “Kau tahu benar selai apel buatanku bisa membuatmu merasa seperti di
melayang di angkasa.”
Christopher Scott, yang aslinya berasal dari Edinburg, Skotlandia, berprofesi
sebagai koki di salah satu restoran terkenal di Soho, walaupun ketika pertama kali
bertemu dengannya, Naomi merasa Chris lebih mirip preman karena tato naga dan
ular yang ada di sepanjang lengan kanannya. Meskipun begitu Naomi harus
mengakui bahwa ia belum pernah bertemu preman yang memiliki mata seperti
Chris. Mata biru yang benar-benar biru, mata yang bisa membuat wanita mana pun
yang ditatapnya mendadak tidak bisa berpikir apa-apa. Tetapi sayangnya, Chris
tidak tertarik pada wanita.
Naomi kembali menyerukan serentet kata-kata yang tidak jelas artinya.
Chris menoleh ke arah Julie. “Apa katanya?”
Julie mengangkat bahu. “Mungkin dia tidak mau melayang di angkasa?”
Tepat pada saat itu pintu kamar mandi terbuka dengan suara keras dan Naomi
melesat kembali ke kamar tidurnya, disusul dengan suara pintu lemari dibuka
dengan gaduh dan gantungan-gantungan baju berjatuhan ke lantai.
“Tolong jangan panik, Sayang,” seru Chris tempat duduknya di dapur. “Kau
bisa melukai dirimu sendiri di dalam sana kalau kau membabi-buta seperti itu.”
Kemudian terdengar bunyi gedebuk keras, disusul suara Naomi yang berseru,
“Aku tidak jatuh! Tenang. Aku tidak jatuh. Aku baik-baik saja.”
Kedua temannya berpandangan dan mengangkat bahu.
Beberapa menit kemudian Naomi muncul kembali dari balik pintu kamar
tidurnya. Ia sudah berpakaian lengkap sampai ke sepatu bot dan topinya.
“Ngomong-ngomong,” kata Julie, “kau akan tampil di video musik siapa?”
Naomi mengangkat bahu. “Penyanyi dari Korea. Aku tidak kenal,” katanya
sambil mengibaskan tangan tidak peduli. “Yang membuatku tertarik adalah konsep
video musiknya. Mereka membuatnya seperti film pendek.”
Julie menoleh menatap Naomi, mata hijaunya bersinar cerah. “Apakah ceritanya
romantis?” tanyanya, lalu mendesah senang. “Aku suka cerita romantis.”
Naomi mendesah tidak sabar. “Kurasa ceritanya tentang seorang pria yang
diam-diam jatuh cinta pada seorang wanita. Selalu mengawasinya dari jauh. Diamdiam
selalu membantu wanita itu tanpa pernah menunjukkan siapa dirinya. Kirakira
seperti itu,” sahutnya.
“Hmm... Bukankah itu romantis sekali?” desah Julie dan menatap Chris. Yang
ditatap mengangguk setuju.
“Kurasa agak menakutkan,” gerutu Naomi. “Coba pikir, diam-diam mengawasi
si wanita dari jauh, diam-diam membantunya tanpa menunjukkan wajah.
Memangnya itu tidak terdengar seperti orang sakit jiwa?”
“Astaga,” gumam Chris sambil menggeleng-geleng. “Kuharap sutradara video
musik ini tidak menyesal sudah memilihmu. Seharusnya kau menjadi bintang film
horor.”
Naomi tersenyum dan mendorong bahu Chris dengan main-main. “Baiklah,
Teman-teman, aku pergi dulu.”
“Kau yakin kau tidak mau makan sepotong wafel ala Chris dengan selai apel
ini?” tanya Chris sambil menyodorkan piring penuh wafel. “Kau tahu sarapan
adalah makanan paling penting dalam sehari. Kau sudah cukup kurus sekarang.
Jangan sampai kau berubah menjadi tulang berjalan seperti orang yang duduk di
depanku ini.”
“Ya Tuhan, lihat siapa yang bicara,” kata Julie sambil memutar bola matanya.
“Koki paling kerempeng sedunia.”
Chris tersenyum lebar. “Tubuhku memang tidak bisa gemuk walaupun aku
makan banyak. Sedangkan kalian berdua kurus kering karena tidak makan.”
“Model memang seharusnya kurus,” gumam Naomi sambil merogoh-rogoh
tasnya yang besar, memastikan semua barang pentingnya sudah ada di dalam.
Dompet. Kunci. Ponsel.
“Apa?” tanya Chris, tidak mendengar apa yang digumamkan Naomi tadi.
“Tidak apa-apa.” Naomi menatap temannya dan tersenyum lebar. Ia tidak
mungkin mengulangi ucapannya. Ia tidak berani. Chris pasti akan mulai
menceramahinya dan ia tidak punya waktu mendengar omelan itu saat ini.
“Aku ingin sekali mencoba wafelmu, tapi ini keadaan darurat,” kata Naomi
cepat. “Aku benar-benar tidak sempat sarapan. Sekarang sudah jam...,” ia melirik
jam tangannya dan terkesiap, “...oh, dear. Sepertinya aku harus berlari sepanjang
jalan sampai ke stasiun. Dah, Teman-teman!”
Tanpa menunggu balasan teman-temannya, Naomi berlari menuruni tangga
dari flat mereka di lantai dua dan keluar ke jalan. Ia melirik jam tangannya sekali
lagi. O-oh. Ya, ia sudah pasti harus berlari ke stasiun kereta. Ia tidak mungkin
sempat mendongak menatap langit biru dan menikmati udara musim semi. Semua
itu harus menunggu.
Sudah hampir tiga tahun berlalu sejak ia pertama kali tiba di London dan sejak
ia pindah ke sini ia sudah tinggal bersama Julie dan Chris di Hampstead yang
terletak di pinggiran kota London. Flat yang ditempatinya bersama Jlie dan Chris
berada tepat di atas Robin‟s Nest, sebuah pub tradisional Irlandia yang sudah berdiri
sejak zaman dulu. Walaupun kadang-kadang suara-suara dari pub bisa terdengar
sampai ke kamar tidur kalau jendelanya dibuka, Naomi tidak keberatan. Berbeda
dengan kebanyakan orang, ia tidak terlalu nyaman dengan suasana sepi.
Flat yang mereka tempati tidak terlalu besar, namun cukup untuk mereka
bertiga. Tempat itu memiliki tiga kamar tidur—satu kamar tidur utama yang
berukuran lebih besar dan dua kamar tidur yang lebih kecil—satu kamar mandi,
dapur sempit dengan jendela yang menghadap ke perkarangan samping gedung
sebelah, dan ruang duduk kecil dengan jendela menghadap ke bagian depan
gedung. Julie menempati kamar tidur utama karena dialah yang pertama kali
menempati flat ini sebelum ia mengajak Chris berbagi flat dengannya. Lalu pada
musim panas lebih dua tahun lalu Naomi ikut bergabung.
Naomi tidak pernah suka tinggal sendiri. Sepanjang hidupnya ia tidak pernah
sendiri. Saudara kembarnya, Keiko, selalu ada bersamanya sampai ketika Naomi
memutuskan untuk pindah dari Tokyo. Kadang-kadang ia mengkhawatirkan Keiko
karena saudara kembarnya itu juga tidak terbiasa sendirian. Tetapi mengingat
mereka memiliki tetangga-tetangga yang sangat baik di Tokyo dan setelah membaca
e-mail dari Keiko yang melibatkan seorang tetangga baru di gedung apartemen
mereka3, Naomi merasa ia tidak perlu mengkhawatirkan Keiko lagi.
Empat puluh lima menit kemudian, Naomi sudah tiba di lokasi syuting untuk
hari itu dan sudah duduk di dalam tenda sementara yang didirikan di salah satu
sudut Hyde Park, salah satu taman paling terkenal di London, di dekat Serpentine
Lake. Naomi memandang berkeliling dan merasa seolah-olah dalam semalam
bagian kecil taman itu sudah diserbu oleh sekumpulan orang Korea. Di sekitarnya
terlihat para staf produksi yang sibuk dengan tugas mereka masing-masing, berjalan
cepat dari satu tempat ke tempat lain, mengangkut sesuatu, memasang sesuatu, dan
saling berseru dalam bahasa asing yang sama sekali tidak bisa dipahami Naomi.
Naomi juga baru menyadari bahwa selain Bobby Shin, alias si sutradara video
musik, yang sudah pernah ditemuinya pada saat wawancara awal dan penata rias
yang bertanggung jawab atas penampilan Naomi dari ujung kepala sampai ujung
kaki, tidak ada staf produksi lain di sana yang bisa berbahasa Inggris. Tetapi
pekerjaan Naomi sering menuntutnya bepergian ke luar negeri dan bekerja sama
dengan orang-orang asing yang tidak bisa berbahasa Inggris dengan fasih, jadi ia
merasa ia bisa mengatasi sedikit hambatan komunikasi ini.
“Ini tehmu.”
Naomi menoleh dan melihat penata riasnya—yang memperkenalkan diri
sebagai Yoon—mengulurkan secangkir teh harum yang mengepul. Senyum Naomi
mengembang. Saat itu ia baru teringat ia belum sarapan dan perutnya tiba-tiba
berbunyi pelan. Ia menerima teh itu, menyesapnya, lalu mendesah senang ketika
kehangatan teh itu menjalari tenggorokan, dada, dan tangannya.
“Kau juga lapar?” tanya Yoon dengan bahasa Inggris yang masih dihiasi logat
Korea. “Mau makan ini?”
Naomi menatap sekotak donat yang disodorkan ke depan wajahnya. Gemuruh
di perutnya semakin keras. “Terima kasih banyak. Kau benar-benar penyelamatku,”
katanya sambil mengambil sepotong donat berselimut cokelat. Seorang model
memang seharusnya kurus, tetapi seorang model tidak seharusnya mati kelaparan.
3 Baca Winter in Tokyo
Penata riasnya yang sangat ramah itu meletakkan kotak donat di meja di depan
Naomi, membuat Naomi bertanya-tanya apakah ia boleh mengambil sepotong lagi
kalau ternyata ia masih belum kenyang.
“Ngomong-ngomong, kau sudah pernah bertemu dengan lawan mainmu di
video musik ini?” tanya Yoon ketika ia mulai menggulung rambut Naomi dengan
rol-rol besar.
Naomi mengalihkan pandangan dari kotak donat dan menatap wajah Yoon
yang bulat di cermin. “Belum. Aku belum pernah bertemu dengannya. Aku bahkan
belum tahu namanya,” sahutnya dan kembali menyesap tehnya yang enak sekali.
Mata Yoon yang sipit langsung berbinar-binar. “Jo In-Ho,” katanya singkat.
Ketika melihat Naomi yang menatapnya dengan pandangan bertanya, ia
melanjutkan, “Lawan mainmu. Namanya Jo In-Ho. Tapi dia lebih dikenal dengan
nama Danny Jo.”
Naomi berhenti mengunyah donatnya.
Yoon memandang berkeliling. “Di mana dia ya? Tadi aku sempat bertemu
dengannya.” Ia mendesah dan kebmali menggulung rambut Naomi. “Mungkin kau
tidak tahu, tapi dia sangat terkenal di Korea. Sering membintangi iklan dan video
musik.”
Karena Naomi tidak berkata apa-apa, Yoon menambahkan, “Tidak perlu
khawatir. Dia sangat baik. Oh, dan dia juga tampan. Benar-benar tampan. Kalau kau
melihatnya nanti, aku yakin kau akan jatuh pingsan.”
Naomi masih diam. Hanya menunduk menatap teh kental yang mengepul di
dalam cangkir gelasnya. Mendadak saja kehangatan yang dirasakannya tadi
menguap begitu saja.
Tiba-tiba Yoon menepuk-nepuk pundaknya. “Hei, lihat. Itu dia!” bisik Yoon
dengan nada mendesak.
Kepala Naomi berputar pelan dan matanya langsung menangkap sosok laki-laki
berjaket abu-abu dan bertopi putih yang berdiri di luar tenda. Laki-laki itu
melepaskan topi dan menyapa orang-orang yang mengelilinginya dengan senyum
lebar, berjabat tangan dan membungkuk kepada beberapa orang.
“Ups! Hati-hati. Tehmu bisa tumpah.”
Naomi mengerjap kaget dan menyadari bahwa cangkir kertas yang
dipegangnya sudah hampir terlepas dari pegangan. “Oh, dear. Maaf,” gumamnya
pelan.
“Nah, kubilang juga apa?” kata Yoon sambil menepuk pundak Naomi lagi dan
tersenyum penuh kemenangan. “Kau memang terliaht hampir jatuh pingsan.”
Naomi memalingkah wajah dan menatap cermin. Namun ia masih bisa melihat
bayangan Danny Jo di sana. Tepat pada saat ia melihat Yoon berbalik dan
mengangkat sebelah tangannya yang memegang sisir, lalu berseru, “Hei, Danny!”
Naomi membeku. Oh, tidak...
Danny menoleh ke arah mereka. Ke arah Naomi. Sedetik mata mereka bertemu
di cermin. Mata laki-laki itu seolah-olah menatap lurus ke mata Naomi. Hanya
sedetik, sebelum Naomi buru-buru mengalihkan pandangan, menatap Yoon yang
tersenyum lebar padanya di cermin.
“Dia ke sini,” kata Yoon. “Akan kuperkenalkan kau padanya.”
Naomi tidak bisa bernapas. Ia mencengkeram lengan kursinya erat-erat.
Ya Tuhan...
Bab Dua
DANNY melangkah keluar dari flatnya di Mayfair dan menarik napas dalam-dalam.
Ia mengeluarkan iPod dan memasang earphone ke telinga, lalu berjalan ke stasiun
kereta bawah tanah.
Suasana hatinya saat itu sangat bertolak belakang dengan langit yang cerah.
Wajar saja. Ia baru saja berbicara dengan ayahnya di telepon. Setiap kali ia selesai
berbicara dengan ayahnya, dadanya selalu terasa berat.
Tadi ia menelepon orangtuanya hanya untuk mengabarkan bahwa ia sudah tiba
di London dengan selamat. Orangtuanya selalu mencemaskannya, selalu khawatir
apabila pekerjaan Danny menuntutnya pergi ke luar negeri. Sering kali Danny
merasa tertekan dengan kekhawatiran yang berlebihan terhadap dirinya itu. Karena
itulah ia juga harus terus-menerus mengingatkan diri sendiri untuk memaklumi
perasaan orangtuanya.
“Kau tahu benar kenapa mereka mengkhawatirkanmu, In-Ho,” kata Anna dulu
ketika Danny pertama kali mengungkapkan perasaan tertekannya kepada kakak
perempuannya.
“Aku tahu, Nuna,” gerutu Danny, lalu mendesah. “Aku tahu.”
Danny tahu benar bahwa semua kekhawatiran itu bermula dari kecelakaan lalu
lintas yang menewaskan kakak lakii-laki mereka, putra sulung keluarga Jo, ketika
sedang berada di luar negeri.
“Ayah dan Ibu sudah tua,” kata Anna sambil menatap Danny yang saat itu
memandang kosong ke luar jendela. Ia mengerti apa yang dirasakan Danny dan ia
juga bisa merasakan perasaan tertekan adiknya itu, tetapi bagaimanapun juga
Danny sendiri harus mengerti perasaan orangtua mereka. “Karena Oppa1 sudah
tidak ada, yang tersisa hanya kau. Hanya kau anak laki-laki yang bisa mereka
andalkan untuk menjaga keluarga.”
1 Panggilan wanita kepada pria yang lebih tua / kakak
Saat itu Danny hanya diam, tidak tahu harus berkata apa, dan kembali
memandang ke luar jendela.
Kereta berhenti di stasiun Hyde Park Corner, menyentakkan Danny kembali ke
alam sadar. Ia menarik napas panjang. Waktunya meninggalkan masalah pribadi
dan mulai bersikap profesional.
Ketika Danny tiba di lokasi syuting, ia melihat para staf produksi sibuk bersiapsiap
memulai proses syuting. Ia enyapa beberapa staf yang dikenalnya dan pergi
mencari Bobby Shin.
“Hyong2,” panggilnya ketika ia melihat si sutradara sedang mengobrol dengan
salah seorang kamerawan.
Bobby Shin yang berusia empat puluhan terlihat seperti penampilan sutradara
pada umumnya. Ia bertubuh kurus, agak bungkuk karena terbiasa duduk
membungkuk menatap monitor, berkacamata, bertopi, dan tidak ada ciri khusus di
wajahnya yang ramah. Mendengar panggilan Danny, ia menoleh dan tersenyum
lebar. “Danny boy, senang bertemu denganmu lagi,” sahutnya ramah dan
mengulurkan tangan. “Kau baru tiba kemarin, bukan? Kuharap kau tidak jet-lag.
Kita hanya punya waktu tiga hari untuk syuting. Seharusnya itu bukan masalah
besar, tapi jadwal kita akan sangat padat.”
Danny menjabat tangan Bobby Shin yang terulur. “Aku baik-baik saja,” kata
Danny. “Hyong tidak perlu khawatir.”
“Bagus.” Bobby Shin mengangguk-angguk. “Ngomong-ngomong, lawan
mainmu sudah datang. Kurasa dia sedang dirias. Kau bisa memperkenalkan diri
nanti. Dia orang Jepang, jadi kau jangan berceloteh kepadanya dalam bahasa
Korea,” katanya. “Sebaiknya kau juga bersiap-siap. Kita akan mulai setengah jam
lagi.”
Danny pergi menyapa beberapa staf produksi yang sudah dikenalnya. Tiba-tiba
ia mendengar seseorang berseru memanggilnya. Ia menoleh ke arah salah satu tenda
dan melihat Yoon, penata rias selebriti yang sudah dikenalnya, bersama seorang
gadis berambut hitam panjang yang belum pernah dilihatnya. Nah, gadis itu pasti
lawan mainnya.
“Apa kabar, Nuna?” sapa Danny sambil menghampiri Yoon. Ia berhenti di
depan Yoon dan menatap wanita bertubuh agak gempal itu dari ujung kepala
sampai ke ujung kaki, lalu menyipitkan mata. “Ada sesuatu yang berubah di sini.
Hmm... Nuna lebih kurus ya?”
Yoon meringis, lalu tertawa. “Omong kosong. Aku tahu berat badanku tidak
turun-turun walaupun aku sudah mencoga segala macam diet.”
“Tapi Nuna tetap cantik,” kata Danny dan menyunggingkan senyumnya yang
terkenal. Kemudian ia mengalihkan perhatian kepada gadis yang satu lagi, yang
2 Panggilan pria kepada pria yang lebih tua / kakak
duduk diam sambil menggenggam cangkir kertas dengan kedua tangan. Danny
mengulurkan tangan dan berkata dalam bahasa Inggris, “Dan kau pasti gadis yang
membuatku jatuh cinta.”
Gadis itu tersentak, mendongak dan menatap langsung ke arah Danny. Hal
pertama yang terlintas dalam pikiran Danny ketika ia melihat wajah gadis itu
dengan jelas adalah bahwa gadis itu mirip boneka. Bukankah Sutradara Shin berkata
gadis ini orang Jepang? Tetapi gadis ini tidak benar-benar mirip orang Jepang.
Mungkin matanya yang besar itulah yang membuatnya tidak mirip orang Jepang.
Dan mata itu menatap Danny dengan kaget dan gugup. Dan... takut?
* * *
Naomi mendongak dan menatap laki-laki berambut hitam dan bertubuh jangkung
yang berdiri di dekatnya itu tanpa berkedip. Danny Jo memang tepat seperti yang
digambarkan Yoon tadi. Dan Naomi memang merasa hampir pingsan, walaupun
alasannya jauh berbeda dengan perkiraan Yoon.
Sebelum Naomi sempat membuka mulut, Danny Jo cepat-cepat berkata, “Dalam
video musik ini, maksudku. Kau akan berperan menjadi gadis yang membuatku
jatuh cinta dalam video musik ini.” Ia berhenti sejenak, lalu bertanya ragu, “Kau
yang akan menjadi lawan mainku, bukan?”
Naomi mengerjap satu kali, seolah-olah baru tersadar dari lamunan. Perlahanlahan
ia mengembuskan napas yang ternyata ditahannya sejak tadi dan bergumam,
“Ya.”
Danny tersenyum. “Namaku Danny. Danny Jo,” katanya sambil menggerakkan
tangannya yang masih terulur, mengundang Naomi menjabatnya.
Naomi menunduk menatap tanagn Danny, kemudian ia meletakkan cangkir
kertasnya di atas meja dan berdiri dari kursi. Ia membungkuk sedikit sebelum
menjabat tangan Danny—itu salah satu kebiasannya sebagai orang Jepang yang
tidak bisa dihilangkannya—dan bergumam, “Naomi Ishida.”
“Naomi,” kata Danny, senyumnya melebar, “senang berkenalan denganmu.”
Tepat pada saat itu terdengar seseorang berseru memanggil Danny dan
mengatakan sesuatu dalam bahasa Korea. Danny menoleh ke belakang dan balas
menyerukan sesuatu. Kemudian ia kembali menatap Naomi. Matanya bersinar geli.
“Itu penata riasku,” jealsnya dalam bahasa Inggris karena tahu Naomi tidak bisa
berbahasa Korea. “Dia menyuruhku segera bersiap-siap karena kita akan segera
mulai syuting. Aku tidak mengerti kenapa aku harus dirias kalau wajahku tidak
akan disorot sepanjang video musik ini.” Ia mengangkat bahu. “Tapi sebaiknya aku
menurutinya. Percayalah padaku, kau tidak mau melihat penata riasku mengamuk.
Aku pernah melihatnya dan itu bukan pemandangan yang bagus.”
Setelah melambai singkat kepada Naomi, Danny membalikkan tubuh dan
bergegas menghampiri penata rias yang sudah menunggunya.
“Dia baik sekali, bukan?” kata Yoon ketika Naomi kembali duduk dan menatap
cermin.
Naomi menarik napas dalam-dalam dan memaksa dirinya tersenyum kepada
bayangan Yoon di cermin. “Ya,” gumamnya, menunduk menatap jari-jari tangannya
yang saling meremas.
Entah berapa lama Naomi duduk di sana dan tenggelam dalam pikirannya
sendiri. Ia baru tersadar dari lamunannya ketika seseorang berseu menyuruh para
model berkumpul karena syuting akan segera dimulai. Naomi mendongak dan
menarik napas.
Saatnya meninggalkan masalah pribadi dan mulai bersikap profesional, pikir
Naomi dalam hati. Ini adalah pekerjaannya dan ia tahu ia bisa melakukannya.
Lakukan dan selesaikan. Hanya tiga hari. Ia hanya perlu bertahan tiga hari. Lalu
semua ini akan segera berakhir.
Bab Tiga
HARI pertama syuting sangat melelahkan karena seharian itu Sutradara Shin
memutuskan untuk mengambil adegan di luar ruangan. Lokasi syuting hari itu
berkisar di Hyde Park dan West End, terutama di Piccadilly Circus. Tentu saja
syuting di tempat umum bukan hal yang gampang karena sisa-sisa musim dingin
masih terasa dan banyak orang berlalu-lalang. Namun Sutradara shin adalah
sutradara yang perfeksionis. Ia sangat memperhatikan gerak-gerik Naomi di depan
kamera, dari ekspresi wajah, posisi tubuh, langkah kaki, gerakan tangan, bahkan
sampai tatapan mata.
“Cut!” seru Sutradara Shin untuk yang kesekian kalinya.
Naomi menegakkan tubuh dan menoleh ke arah si sutradara. Langit sudah
berubah gelap sejak berjam-jam yang lalu. Mereka pun sudah mengulangi adegan di
depna toko barang antik bercat merah cerah ini sedikitnya enam kali dan tidak ada
satu adegan pun yang memuaskan bagi Sutradara Shin.
“Kali ini coba kau menyeberang jalan dari sana ke sini,” kata Sutradara Shin
ketika ia sudah berada di samping Naomi, “lalu berhenti sebentar di depan toko ini,
melongok ke dalam, seolah-olah kau ragu, lalu kau masuk. Oke? Kita coba yang
ini.”
Naomi tersenyum dan mengangguk walaupun rasa lelah mulai menjalari
tulangnya dan tubuhnya menggigil. Ditambah lagi kakinya terasa sakit dalam
sepatu bot yang kekecilan. Tentu saja ini bukan pertama kalinya ia merasakan
semua itu. Sebagai model pekerjaannya sangat menuntut waktu dan tenaganya. Ia
pernah pulang ke rumah pada pukul dua pagi setelah tampil di London Fashion
Week sepanjang hari dan harus keluar lagi dari rumah pada pukul empat pagi
untuk acara pemotretan di Cornwall. Jadi rasa lelah sama sekali tak asing baginya,
malah kadang-kadang ia merasa ia membutuhkan perasaan lelah itu.
Sutradara Shin mengangguk. “Kita akan mulai lima menit lagi,” katanya, lalu
berjalan ke salah seorang kamerawan di sana.
Yoon bergegas membawakan jaket untuk Naomi. “Terima kasih,” gumam
Naomi sambil mengenakan jaketnya dan menjejalkan tangan ke saku.
“Duduk di sini,” kata Yoon sambil mendorong Naomi ke salah satu bangku di
dekat cahaya lampu dan mulai memperbaiki riasannya.
Ketika Yoon pergi mengambil peralatannya yang lain, Naomi memejamkan
mata sejenak. Waktu istirahat yang didapatkannya hanyalah sedikit waktu di selasela
pekerjaan seperti ini. Naomi tidak tahu apakah ada orang yang pernah menghargai
lima menit waktu luang seperti dirinya. Tiba-tiba ia mencium aroma yang
enak. Matanya terbuka dan langsung dihadapkan pada secangkir teh yang
mengepul.
“Capek?”
Mendengar suara rendah dan asing itu, Naomi mengangkat wajah dan langsung
bertatapan dengan mata gelap Danny Jo yang ramah. Sejak pertemuan pertama
mereka pagi tadi, sepanjang hari itu mereka sama sekali belum sempat saling bicara.
Mereka sama sekali belum melakukan adegan bersama dan adegan mereka masingmasing
diambil secara terpisah. Dan setiap kali tidak berada di depan kamera,
Danny langsung kembali pada perannya sebagai asisten Sutradara Shin, sibuk di
belakang kamera. Naomi tahu dari Yoon bahwa tujuan utama Danny datang ke
London sebenarnya memang untuk bekerja dengan Bobby Shin dan laki-laki itu
hanya setuju menjadi model di video musik ini tanpa dibayar adalah karena si
penyanyi adalah teman baiknya.
Karena Naomi tetap bergeming, Danny meraih tangan Naomi, ingin membuatnya
menerima cangkir kertas yang disodorkan. Tetapi Naomi langsung tersentak
dan secepat kilat menarik kembali tangannya. Danny mengerjap dan menatap
Naomi dengan alis terangkat heran. Walaupun udara terasa dingin, Naomi merasa
pipinya memanas. Selama beberapa detik tidak ada yang bergerak. Lalu Danny
menghela napas dan menempelkan cangkir kertas yang hangat itu ke tangan Naomi.
“Ini. Minumlah. Kau akan merasa lebih baik,” katanya ringan.
Naomi menggenggam cangkir kertas yang disodorkan itu dengan kedua
tangan. Ia mendesah pelan ketika merasakan kehangatan menjalari ujung jari dan
tangannya. Sedikit ketegangan pun menguap dari pundaknya.
“Sutradara Shin memang agak keras, tapi dia selalu berhasil mendapat gambar
yang bagus,” kata Danny sambil memasukkan kedua tangan ke saku celana. “Kau
akan lihat nanti.”
Naomi menatapnya sejenak, lalu mengangguk singkat.
Tepat pada saat itu terdengar suara Sutradara Shin yang menyatakan syuting
akan dimulai lagi.
Danny menoleh ke arah si sutradara, lalu kembali menatap Naomi.
“Bertahanlah sebentar lagi,” katanya sambil tersenyum menghibur sebelum berbalik
dan meninggalkan Naomi.
Naomi menatap punggung Danny yang menjauh sejenak, lalu menunduk
menatap cangkir teh yang masih penuh dan bergetar dalam genggamannya. Ia
menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya, dan meletakkan cangkir itu ke
tanah.
* * *
Akhirnya syuting hari itu selesai juga.
Naomi mengusap-usap bagian belakang lehernya sambil mengumpulkan
barang-barangnya. Ia menatap jam yang tertera di layar ponsel. Kalau ia bergegas, ia
bisa naik kereta bawah tanah yang terakhir. Besok ia harus bangun pagi-pagi karena
ia diminta tiba di lokasi syuting jam delapan pagi. Sekarang ini ia hanya ingin tidur.
“Naomi.”
Naomi berbalik ketika mendengar Sutradara Shin memanggilnya. “Ya?”
“Kau akan pulang sendirian?” tanya Sutradara Shin.
“Ya,” sahut Naomi dan tersenyum. “Tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa. Aku
masih sempat naik kereta terakhir.”
Sutradara Shin mengerutkan kening sejenak. “Sekarang sudah terlalu larut.
Tidak baik membiarkan seorang gadis berjalan sendirian,” katanya. Kemudian ia
memandang berkeliling, ke arah para staf produksi yang sedang sibuk
mengumpulkan dan merapikan perlengkapan. Matanya berhenti pada Danny Jo
yang sedang membantu mengangkat perlengkapan ke mobil van. “Oi, Danny,” seru
Sutradara Shin.
Danny Jo menoleh. “Ya?”
“Kau bisa mengantar Naomi pulang?” tanya Sutradara Shin dalam bahasa
Inggris kepada Danny. “Aku tidak mau dia pulang sendirian malam-malam begini.”
Mata Naomi melebar. “Tidak,” katanya cepat. Terlalu cepat dan terlalu keras
sampai kedua pria itu menoleh memandangnya. Naomi menggoyang-goyangkan
tangan dan tersenyum gugup. “Tidak perlu repot-repot,” katanya dengan suara
yang diusahakan tidak terdengar panik. “Aku bisa sendiri. Sungguh.”
Danny berjalan menghampiri mereka. “Aku tidak keberatan,” katanya. “Lagi
pula, aku setuju dengan Hyong. Sekarang sudah malam dan sebaiknya ada yang
mengantarmu pulang. Kau tinggal di mana?”
Naomi menggoyangkan tangannya lagi. Kali ini lebih cepat. “Sungguh, aku
tidak perlu diantar. Aku bisa pulang sendiri. Aku sudah terbiasa pulang sendiri,”
katanya sambil meraih tas dan topinya. Ketika ia melihat Danny membuka mulut
seolah-olah ingin mengatakan sesuatu, Naomi cepat-cepat membungkuk. “Selamat
malam,” katanya cepat, lalu berbalik tanpa menunggu jawaban dan berjalan pergi.
Mengamati punggung Naomi yang menjauh, Bobby Shin bergumam, “Rasanya
tidak benar membiarkannya pulang sendirian malam-malam begini.”
Danny menoleh. “Tapi dia sendiri tidak mau ditemani,” balasnya. Lalu ia
mengangkat bahu. “Hyong tidak perlu cemas. Tidak akan terjadi apa-apa.”
Bobby Shin mendecakkan lidah dengan pelan. “Tapi tetap saja...,” gumamnya
enggan. Ia menghela napas dan berbalik. “Ya sudahlah. Ayo, Danny. Kita bereskan
tempat ini dan pulang.”
“Ya. Tentu saja,” gumam Danny. Namun ia tidak beranjak dari tempatnya
berdiri sampai sosok Naomi menghilang di belokan di seberang jalan sepi itu.
* * *
Sementara itu Naomi meragukan keputusannya sendiri. Jalanan sudah sepi. Stasiun
kereta bawah tanah juga tiba-tiba terlihat remang-remang dan menakutkan. Hanya
ada segelintir orang yang berdiri menunggu kereta. Naomi tidak suka tempat sepi.
Kepanikan mulai meresapi otaknya dan membuat tubuhnya menggigil.
Apakah tadi sebaiknya ia menerima tawaran Danny Jo untuk mengantarnya
pulang? Tapi ditemani laki-laki yang baru ditemuinya hari ini juga sama sekali
bukan pilihan yang pantas dipertimbangkan.
Sepanjang perjalanan pulang Naomi menyibukkan pikirannya dengan
mengingat jadwal kerjanya selama sebulan ke depan, berusaha mengabaikan
keadaan kereta yang hampir kosong dan dua pria berpenampilan kusam yang
berdiri di dekat pintu sambil mengobrol dan menenggak bir. Ketika ia akhirnya tiba
di Hampstead, Naomi baru bernapas sedikit lebih lega. Hanya sedikit. Karena
sekarang ia harus berjalan kaki ke flatnya. Memang tidak jauh dari stasiun, tapi ia
tetap merasa paranoid kalau harus berjalan sendirian malam-malam.
Sambil terus menyibukkan pikirannya sehingga tidak berpikiran macammacam,
Naomi berjalan cepat menyusuri jalan dari bebatuan yang mengarah ke
flatnya. Ia baru bisa benar-benar bernapas lega ketika sudah mendekati gedung flat.
Robin‟s Nest di lantai satu gedung itu masih buka dan masih ramai. Cahaya lampu
yang terang, suara orang tertawa, bercakap-cakap dan bunyi denting gelas membuat
Naomi merasa santai.
Baru saja ia merasa lega, tiba-tiba bunyi keras di belakangnya membuatnya
terperanjat, disusul disusul suara yang mengumpat. Naomi terkesiap, berputar
cepat, dan membelalak.
“Oh, sialan,” gerutu sesosok bayangan gelap di bawah salah satu pohon yang
berjejer di tepi jalan. Bayangan itu sepertinya sedang membungkuk dan mengangkat
sesuatu dari tanah.
Naomi seakan terpaku di tempat. Tidak bisa bergerak, tidak bisa bersuara, tidak
bisa bernapas. Dengan mata terbelalak ia menatap bayangan itu membetulkan
letak... tong sampah?
“Jangan panik. Ini aku. Aku menabrak tong sampah. Tapi tidak perlu khawatir.
Tong sampahnya baik-baik saja.”
Naomi mengerjap mengenali suara itu sementara bayangan gelap tadi
melangkah ke bawah sinar lampu jalan sambil mengangkat kedua tangan. Mata
Naomi melebar setelah wajah laki-laki itu terlihat jelas. “Kau...?”
Danny Jo menurunkan tangan dan tersenyum lebar.
“Sedang apa kau di sini?” tanya Naomi heran bercampur curiga. Ia memandang
berkeliling, lalu kembali menatap Danny. Matanya disipitkan. “Kau mengikutiku?”
Danny tidak langsung menjawab. Ia terlihat sedang memikirkan sesuatu. Lalu ia
berkata dengan nada merenung, “Kau tahu, ini pertama kalinya kau mengucapkan
lebih dari dua kata padaku. Dan aku baru tahu kau punya logat London yang jelas.
Sebenarnya sudah berapa lama kau tinggal di sini?”
Naomi terdiam sejenak dan tetap menatap laki-laki di hadapannya. Lalu, tanpa
menjawab pertanyaan Danny, ia bertanya sekali lagi, “Sedang apa kau di sini?”
Danny Jo menjejalkan kedua tangan ke saku jaket abu-abunya dan mengangkat
bahu. “Karena kau tidak mau diantar pulang, aku memutuskan untuk
mengikutimu.”
Kening Naomi berkerut tidak mengerti. “Kenapa?”
“Hanya untuk memastikan kau baik-baik saja. Memastikan kau tiba di rumah
dengan selamat,” sahut Danny ringan. “Hyong—maksudku sutradara kita itu—takut
sesuatu terjadi padamu.”
Naomi mengerjap bingung. “Oh.”
“Jadi,” kata Danny sambil mendongak memandang gedung di depannya, “kau
tinggal di sini?”
Naomi menoleh, mengikuti arah pandang Danny, lalu kembali menatap lakilaki
itu. “Ya.”
Mendengar nada suara Naomi, mata Danny beralih kembali kepada Naomi dan
ia tertawa pendek. “Tidak perlu curiga begitu. Aku tidak minta diajak masuk,”
katanya. Ia menatap Naomi dari kepala sampai ke kaki, lalu kembali ke wajahnya
dan berkata, “Lagi pula kau bukan tipeku.”
Naomi mengerjap kaget, membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Otaknya
berkutat mencari balasan yang cocok, tetapi tidak ada satu pun yang terpikirkan
olehnya. Otaknya mendadak kosong. Ia hanya bisa menatap laki-laki yang
tersenyum lebar itu dengan sebal.
“Baiklah. Karena kau sudah sampai di rumah dengan selamat, aku pergi dulu,”
kata Danny sambil mengangkat sebelah tangan. “Sampai jumpa besok.”
Ketika laki-laki itu berbalik dan mulai melangkah pergi, Naomi baru berhasil
memikirkan selusin cara membalas kata-kata Danny tadi. Tapi tentu saja sudah
terlambat. Dengan jengkel Naomi membalikkan tubuh sambil menggali tasnya,
mencari kunci pintu tangga depan.
“Siapa laki-laki itu?”
Jantung Naomi hampir jatuh ke tanah ketika Julie tiba-tiba sudah ada tepat di
depan wajahnya. “Ya Tuhan, Julie!” Naomi menempelkan tangan ke dada. “Sedang
apa kau di sini?”
Julie memberi isyarat dengan ibu jarinya ke arah Robin‟s Nest yang ramai. “Aku
sedang bersama teman-temanku,” katanya. “Kebetulan aku melihatmu dengan lakilaki
itu. Siapa dia?”
“Rekan kerja,” sahut Naomi, masih merasa sebal pada diri sendiri karena
membiarkan dirinya terlihat seperti orang bodoh di depan Danny Jo.
Alis Julie terangkat. “Dan dia mengantarmu pulang? Naomi, aku tidak pernah
meliahtmu diantar pulang oleh laki-laki.”
“Tidak, dia tidak mengantarku,” sela Naomi cepat, “dia mengikutiku.”
Kali ini alis Julie berkerut. “Dia mengikutimu sampai ke sini? Untuk apa?”
Naomi tidak langsung menjawab. Ia menoleh ke belakang. Danny Jo sudah
tidak terlihat. Ia menggeleng dan mendesah. “Entahlah. Aku lelah sekali dan aku
mau tidur,” katanya sambil mengeluarkan kunci dari tas dan berjalan melewati
Julie. “Sana, kembalilah kepada teman-temanmu.”
“Oh ya, Naomi,” panggil Julie. “Miho menelepon mencarimu berkali-kali hari
ini. Katanya ponselmu tidak bisa dihubungi.”
Naomi baru teringat ia mematikan ponselnya selama proses syuting agar tidak
mengganggu. Ia mendesah berat. “Miho. Oh, dear, aku hampir lupa. Aku berjanji
akan menyerahkan artikelnya besok.” Ia mengembuskan napas panjang. Bahunya
melesak. “Kurasa aku harus membatalkan rencanaku untuk tidur.”
Selain bekerja sebagai model, Naomi juga bekerja sebagai editor freelance di
salah satu majalah fashion populer di Inggris. Ia sangat suka dan tahu banyak soal
dunia fashion, jadi ketika Nakajima Miho, mantan teman seprofesi dan putri pemilik
majalah itu, meminta bantuannya menulis artikel fashion untuk majalahnya, Naomi
dengan senang hati menerima pekerjaan itu. Namun sekarang ia mulai
mempertanyakan keputusannya sendiri untuk membantu Miho karena sepertinya ia
sekarang hanya bukan hanya bertugas menulis artikel fashion, tetapi juga sering
diminta mengerjakan tugas yang seharusnya dikerjakan Miho sendiri sebagai editorin-
chief karena temannya itu bukan tipe orang yang bisa mengambil keputusan
sendiri.
Julie menatapnya dengan tatapan prihatin. “Kurasa sudah waktunya kau
memilih salah satu, Naomi. Model atau editor majalah. Kau tidak bisa melakukan
dua-duanya dengan jadwalnya yang sekarang. Memangnya kau tidak capek?”
Naomi memutar kunci dan membuka pintu, lalu ia berbalik menatap temannya.
“Jangan khawatir. Aku bisa mengatasinya,” katanya sambil tersenyum.
Ia tidak pernah memberitahu siapa-siapa, tetapi kesibukan adalah perlindungannya.
Kesibukan bisa mengalihkan perhatiannya. Kesibukan bisa membuatnya
tidak memikirkan hal-hal yang tidak ingin dipikirkannya.
Misalnya hal-hal yang berhubungan dengan Danny Jo.
Bab Empat
NAOMI tiba-tiba menyadari dirinya sangat lelah dan lapar ketika ia berjalan
melewati pintu restoran kecil berdesain modern itu keesokan harinya. Aroma steik
yang enak menerjang hidungnya, membuat kepalanya pusing sejenak. Ia praktis
tidak tidur semalaman karena harus menyelesaikan artikel yang dijanjikannya
kepada Miho. Ketika akhirnya ia berhasil menyelesaikan artikel itu dan
mengirimnya lewat e-mail kepada Miho, ia hanya punya sisa waktu satu jam
sebelum bersia-siap berangkat ke lokasi syuting lagi. Dihadapkan pada pilihan
apakah ia harus tidur atau sarapan, Naomi memilih tidur, walaupun tentu saja satu
jam itu sama sekali tidak cukup.
Dan tadi pagi ketika Naomi hendak keluar dari flat, Miho meneleponnya dan
meminta bertemu di saat makan siang. Ketika Naomi berkata bahwa ia sudah
mengirimkan artikelnya lewat e-mail, temannya itu tetap ingin bertemu. Katanya ada
yang ingin dibicarakannya dengan Naomi. Sesuatu yang berhubungan dengan
perancang busana baru yang akan ditampilkan di edisi mendatang. Karena Miho
tidak suka ditolak, dan karena Naomi juga tidak tega menolak, akhirnya ia
menyerah.
Naomi melirik jam tangan dan mengerang dalam hati. Perutnya yang
menyedihkan terpaksa harus bertahan tanpa makanan siang ini. Ia harus cepat-cepat
kembali ke lokasi syuting. Tadi Naomi hanya sempat memberitahu Yoon bahwa ia
akan pergi sebentar sementara para kru makan siang. Ia tidak memberitahu
Sutradara Shin karena tadi pria itu terlihat sedang sibuk bicara dengan asisten
sutradara.
Si asisten sutradara...
Naomi menarik napas dan mengusap pelipisnya sejenak. Ia tidak tahu apa yang
harus dipikirkannya tentang Danny Jo. Mereka belum sempat berbicara hari itu
karena keadaan di lokasi syuting sangat sibuk dan karena hari ini tidak ada adegan
yang melibatkan dirinya, Danny Jo selalu berada di belakang kamera bersama
Sutradara Shin.
Tapi besok adalah hari terakhir syuting. Setelah itu Naomi tidak akan melihat
Danny Jo lagi. Lalu semuanya akan kembali seperti semula. Semuanya akan baikbaik
saja. Harus baik-baik saja.
Lamunannya buyar ketika mendengar seseorang memanggil namanya. Naomi
menoleh dan menatap salah satu meja kecil di tengah ruangan. Miho Nakajima
melambai ke arahnya sambil tersenyum lebar.
Selain nama dan wajahnya, tidak ada kesan Asia lain dalam diri Miho. Karena
dilahirkan dan dibesarkan di London, cara berpikir, cara bicara, dan gayanya sangat
mirip orang Eropa. Walaupun masih keturunan Jepang, ia praktis tidak bisa
berbahasa Jepang. Kemampuan berbahasa Jepang-nya benar-benar payah sampai
Naomi selalu berbicara dengannya dalam bahasa Inggris.
“Maaf, aku agak terlambat. Sudah lama menunggu?” tanya Naomi begitu ia
duuk dan melirik piring salad yang sudah hampir habis di depan Miho. Perutnya
kembali berbunyi.
Miho mengibaskan rambut panjangnya yang dicat pirang ke belakang. “Aku
bersedia menunggu lama asal kau datang ke sini. Aku benar-benar butuh
bantuanmu,” katanya sambil tersenyum lebar. Walaupun ia kini adalah editor-inchief—
jabatan yang dulunya dipegang oleh ibunya sebagai pemilik perusahaan—ia
masih sering bergantung pada pendapat Naomi tentang berbagai hal.
“Baiklah. Apa yang bisa kubantu?” tanya Naomi langsung.
Miho tersenyum dan mengeluarkan sebuah folder dari tasnya yang besar. “Ini
adalah perancang-perancang baru dan berbakat yang menurutku cocok
diperkenalkan di edisi mendatang. Tentu saja kita tidak bisa menampilkan
semuanya, jadi aku ingin mendengar pendapatmu. Menurutmu siapa yang paling
oke?” Ia membuka folder itu dan mendorongnya ke arah Naomi. “Kita harus
memutuskannya sekarang juga karena aku harus pergi selama seminggu atau
bahkan lebih.”
“Memangnya kau mau pergi ke mana?” tanya Naomi sambil terus membaca
data yang disodorkan Miho.
Miho tersenyum masam. “Aku harus terbang ke Korea malam ini untuk
menghadiri perayaan ulang tahun kakekku yang kedelapan puluh. Semua keluarga
besar berkumpul untuk acara itu.” Ia mendesah panjang. “Asal kau tahu, aku tidak
pernah suka acara keluarga seperti itu. Aku tidak dekat dengan kerabat-kerabatku,
baik yang di Korea maupun yang di Jepang. Sama sekali tidak dekat. Bagaimana
bisa dekat kalau akut idak mengerti apa yang mereka katakan dan mereka sama
sekali tidak mengerti bahasa Inggris? Membosankan. Tapi, tentu saja orangtuaku
memaksaku hadir. Mereka tidak mau aku dianggap kurang ajar.”
Kali ini Naomi menatap Miho dengan alis terangkat heran. “Kau punya
keluarga di Korea?” Kenapa akhir-akhir ini ia merasa seolah-olah melihat orang
Korea di mana-mana?
“Tentu saja,” sahut Miho sambil mendorong piring salad-nya yang isinya masih
bersisa. “Ibuku keturunan Korea. Kau tidak tahu?”
Naomi menggeleng. “Ternyata ibumu orang Korea?”
Sepertinya Miho tidak mendengar. Keningnya berkerut samar, memikirkan
waktu-waktu panjang dan membosankan yang akan dihabiskannya di Korea. Ia
sudah mengajukan seribu satu alasan kepada ibunya untuk tidak ikut, tetapi ibunya
bersikeras dan Miho tidak punya pilihan lain yang tersisa selain menurut. Ia
mendesah panjang dan menatap ke sekeliling restoran, lalu berkata, “Sepertinya aku
butuh sedikit puding cokelat untuk mempersiapkan diriku menghadapi hari-hari
suram yang menantiku. Kau mau memesan sesuatu?”
Naomi melirik jam tangan dan mengembuskan napas panjang. “Aku kelaparan
setengah mati, tapi tidak ada waktu untuk makan.” Naomi menunjuk salah satu
kertas di hadapannya. “Menurutku yang ini saja. Desain pakaiannya sangat unik,
bukan? Aku suka warna-warna yang dipakainya. Bagaimana menurutmu?”
“Aku setuju saja denganmu,” sahut Miho dan mengangguk-angguk. “Kau
memang punya selera yang bagus, Naomi. Apa jadinya aku tanpa dirimu?”
Naomi tertawa singkat. “Aku yakin kau akan baik-baik saja,” katanya, lalu
melirik jam tangan. “Kalau tidak ada lagi yang lain, aku harus pergi sekarang.”
Miho menggeleng. “Tapi setelah aku kembali ke sini nanti aku ingin kau
menemaniku pergi menemui perancang ini.”
“Baiklah,” kata Naomi cepat sambil bangkit dari kursi dan meraih tasnya.
“Selamat bersenang-senang di Korea. Telepon aku kalau kau sudah kembali. Aku
ingin tahu bagaimana kau berhasil melewati hari-hari suram yang kausebut-sebut
itu.”
Miho tersenyum masam. “Itu juga kalau aku belum mati kebosanan di sana,”
gerutunya. “Atau mati kesal karena harus menghadapi kerabat-kerabatku yang suka
ikut campur dalam kehidupan pribadiku. Kau tahu, kudengar dari ibuku mereka
sekarang berniat menjodohkan aku, seolah-olah aku sudah melakukan dosa besar
karena masih melajang di usiaku yang sekarang.”
Naomi kembali melirik jam tangan. Ia harus segera kembali ke lokasi syuting.
“Itu tandanya mereka peduli padamu,” katanya cepat, lalu tertawa ketika melihat
raut wajah Miho. “Jangan muram begitu. Maksudku, siapa tahu kau suka calon
yang mereka ajukan?”
Bab Lima
DANNY memandang ke sekeliling studio yang menjadi lokasi syuting hari itu,
tetapi gadis aneh itu tidak terlihat. Sutradara Shin meminta para model bersiap-siap
karena syuting akan segera dilanjutkan, tetapi model utamanya tidak terlihat di
mana-mana. Mungkin ia pergi makan siang di luar dan belum kembali. Danny
mengembuskan napas dan mengingatkan diri sendiri untuk meminta nomor ponsel
gadis itu supaya ia bisa menghubunginya kalau ada kejadian seperti ini lagi.
“Nuna,” panggil Danny sambil berjalan menghampiri Yoon yang sedang
merapikan kostum di rak gantung. “Nuna tahu di mana dia?”
“Dia siapa?” Yoon balas bertanya tanpa menoleh.
“Siapa lagi? Gadis aneh itu. Naomi Ishida. Di mana dia?”
Sebelum Yoon sempat menjawab, terdengar suara dari balik punggung Danny
yang berkata pelan, “Aku di sini.”
Danny berputar cepat dan langsung berhadapan dengan sepasang mata hitam
besar yang balas menatapnya dengan resah. Danny bertanya-tanya apakah Naomi
Ishida mendengar kata-kata “gadis aneh itu” tadi, namun langsung menyadari
bahwa gadis itu tidak mengerti bahasa Korea. Ia hanya mendengar Danny
menyebut namanya dan menyadari bahwa dirinya sedang dicari-cari.
“Baguslah karena kau sudah di sini,” kata Danny cepat-cepat. “Kau harus
bersiap-siap sekarang.”
Naomi menggigit bibir dan mengangguk singkat. “Oh, oke. Aku akan...” Katakatanya
terhenti ketika ia tiba-tiba merasa dunia bergoyang. Seperti gempa bumi
ringan yang sering dialaminya di Tokyo. Tetapi ini London. Tidak mungkin gempa
bumi, bukan?
Ketika ia mendapatkan keseimbangan tubuhnya kembali, Naomi menyadari
Danny Jo sedang memegangi sikunya dan laki-laki itu menatapnya dengan alis
berkerut samar. “Ada apa denganmu?” tanyanya.
Naomi menggeleng bingung. “Aku tidak apa-apa,” sahutnya sambil menarik
lengannya dari pegangan Danny dan mundur selangkah. “Aku akan bersiap-siap
sekarang.”
“Kau sudah makan?” tanya Danny Jo lagi.
Naomi tidak langsung menjawab. Setelah ragu sejenak, ia berkata, “Sudah.”
Danny tidak berkata apa-apa. Hanya terlihat berpikir-pikir, lalu ia mengangguk
dan tersenyum kecil. “Baiklah. Aku akan memanggilmu kalau semuanya sudah
siap.”
Naomi memandangi punggung Danny yang menjauh sambil merenung, lalu ia
berputar menghadap Yoon dan tersenyum. “Kostum mana yang harus kupakai?”
Beberapa menit kemudian, setelah berganti pakaian dan berjalan kembali ke
meja riasnya, Naomi melihat melihat dua bungkus sandwich dan sekotak susu
tergeletak di meja rias. Ia mengamati kedua sandwich yang terlihat lezat itu. Sandwich
kalkun dan sandwich mentimun. Secarik kertas kuning terselip di bawahnya.
Aku tidak tahu kau vegetarian atau bukan dan aku tidak tahu kau suka kalkun
atau tidak, tapi tolong makan saja daripada kau jatuh pingsan di tengah-tengah
syuting. Kita tidak mau hal itu terjadi, bukan?
D.
Naomi memandang berkeliling sampai ia melihat Danny Jo di seberang
ruangan. Laki-laki itu sedang menunduk menatap sesuatu yang ditunjukkan salah
seorang kru dan mendengarkan dengan saksama. Lalu tiba-tiba ia mengangkat
wajah dan bertemu pandang dengan Naomi. Sebelum Naomi sempat berpikir apa
yang harus dilakukannya, Danny tersenyum sekilas kepadanya dan kembali
memusatkan perhatian pada apa yang dikatakan kru di sampingnya.
Menatap dua potong sandwich di tangan, Naomi hanya ragu sejenak, lalu
membuka bungkusan sandwich kalkun dan menggigitnya. Ia memejamkan mata
sejenak. Pada kenyataannya sandwich itu memang bukan sandwich paling enak di
dunia, tetapi saat itu, bagi perutnya yang keroncongan, sandwich itu adalah salah
satu makanan paling enak yang pernah dicicipi Naomi.
* * *
Danny mendapati dirinya tersenyum melihat gadis aneh itu menggigit sandwich
dengan tekun, seolah-olah sandwich itu akan menguap kalau tidak segera
dimasukkan ke mulut. Pikiran pertama yang muncul di benaknya adalah Naomi
Ishida bukan vegetarian. Lalu pikiran kedua adalah dugaannya memang benar.
Gadis itu nyaris pingsan karena kelaparan tadi. Danny jadi ingin tahu apa yang
dilakukannya selama waktu makan siang tadi, kalau gadis itu memang tidak pergi
makan.
Ia membiarkan dirinya menatap ke arah Naomi Ishida sejenak, lalu berdoa
dalam hati supaya gadis itu tidak jatuh pingsan di tengah-tengah syuting. Jadwal
syuting sudah cukup gila tanpa perlu ditambah dengan pingsannya model utama.
Tetapi pada kenyataannya ia tidak perlu khawatir sama sekali. Proses syuting
sepanjang sisa hari itu berjalan sangat lancar. Entah karena perut Naomi Ishida yang
sudah terisi penuh sehingga ia bisa bekerja lebih baik atau karena suasana hati
Sutradara Shin memang sedang baik, semua adegan yang direncanakan untuk hari
itu diselesaikan dengan cepat dan memuaskan. Kemudian segalanya bertambah
menyenangkan ketika Sutradara Shin menghentikan proses syuting lebih awal
daripada kemarin dan mengajak semua kru makan malam di restoran Korea yang
berjarak satu blok dari studio.
Restoran itu terletak di lantai dua, tepat di atas toko suvenir, di ujung jalan yang
tidak terlalu ramai. Restoran kecil yang tadinya sepi itu berubah ramai karena
kedatangan mereka dan mereka menempati hampir semua tempat kosong yang
tersedia.
“Aku belum pernah mencoba makanan Korea.”
Danny menoleh ke arah suara itu dan melihat Naomi sedang berbicara kepada
Yoon.
“Sama sekali belum pernah?” tanya Yoon, lalu menerjemahkan kata-kata Naomi
ke dalam bahasa Korea sehingga penata rias lain yang duduk semeja dengan mereka
mengerti.
Naomi tersenyum dan mendengarkan sementara para penata rias itu mulai
berlomba-lomba menjelaskan makanan kecil yang mulai disajikan di meja
kepadanya dalam bahasa Inggris yang sepatah-sepatah dan kadang-kadang tanpa
sadar dicampur bahasa Korea.
Selama dua hari ini jadwal syuting sangat padat dan gadis itu bahkan belum
sempat banyak bicara dengan para kru. Ini akan menjadi kesempatan yang baik bagi
mereka untuk lebih mengenal. Dan kelihatannya gadis itu tidak mendapat kesulitan.
Sekarang saja beberapa orang kru di meja lain mulai mendekatinya dan
mengajaknya mengobrol dengan bantuan Yoon sebagai penerjemah. Tidak lama
kemudian mereka mulai tertawa-tawa dan membicarakan hal-hal yang tidak bisa
ditangkap danny dari tempat duduknya.
Sutradara Shin mengatakan sesuatu kepadanya dan Danny pun mengalihkan
tatapan dari gadis itu.
* * *
Naomi merasa senang malam itu. Lelah setengah mati, tentu saja, tapi juga senang.
Awalnya ia ingin menolak ketika diajak ikut makan malam karena dua alasan.
Pertama, ia merasa ia mungkinakan disisihkan karena ia adalah satu-satunya orang
yang tidak bisa berbahasa Korea di sana. Tetapi ternyata ia salah. Para kru memang
tidak banyak bicara dan bersikap profesional ketika sedang bekerja, tetapi sekarang
sikap mereka sangat berbeda. Mereka selalu mengajak Naomi bicara dan bercanda
walaupun mereka tidak bisa berbahasa Inggris dan harus mencampur-campurkan
bahasa Inggris mereka yang sepatah-sepatah dengan bahasa Korea dan isyarat
tangan.
Kedua, ia sangat lelah. Ia hanya ingin pulang dan tidur. Ketika syuting hari itu
berakhir, ia baru benar-benar menyadari betapa lelah dirinya. Sebenarnya ajaib
sekali ia masih bisa berdiri saat ini kalau mengingat jadwal kerjanya yang padat
selama dua bulan terakhir, walaupun tentu saja sekarang ia merasa kakinya hampir
tidak kuat lagi menopang tubuhnya.
Tetapi ia tidak bisa menolak ajakan Sutradara Shin untuk makan malam
bersama. Ia tidak tahu apakah ia akan dianggap tidak sopan kalau menolak.
Ditambah lagi Yoon juga mendesaknya ikut. Karena tidak punya tenaga untuk
berdebat. Naomi pun mengiyakan.
Dengan adanya Yoon yang bertindak sebagai penerjemah, Naomi harus
mengakui bahwa ia tidak menyesal telah ikut makan malam bersama. Makanannya
enak dan orang-orangnya menyenangkan. Dan Naomi menyadari ia banyak tertawa
selama makan malam karena lelucon yang dilontarkan para kru. Sudah lama sekali
ia tidak tertawa-tertawa seperti itu.
Walaupun ia bersenang-senang, rasa kantuk tetap menyerangnya. Tentu saja itu
tidak aneh mengingat sudah beberapa minggu terakhir ini ia kurang tidur. Ia tidak
tahu sudah berapa kali ia menguap diam-diam selama makan malam.
Dan sekarang ia menguap lagi.
“Ngomong-ngomong, apa pendapatmu tentang Danny?”
Naomi buru-buru mengatupkan mulut dan menoleh menatap Yoon. “Hm?”
“Bagaimana pendapatmu tentang Danny? Dia baik, bukan?” tanya Yoon sekali
lagi.
Naomi menoleh ke arah meja yang tadi ditempati Danny, tetapi tidak melihat
laki-laki itu di sana. Naomi menggigit bibir. Sebenarnyaia sama sekali tidak
memikirkan Danny Jo selama dua jam terakhir ini, dan menurutnya itu sesuatu
yang bagus. Lalu kenapa Yoon tiba-tiba harus membicarakan laki-laki itu? Kalau
obleh memilih, Naomi benar-benar tidak ingin berbicara tentang Danny Jo. Bahkan
tidak ingin berpikir tentang laki-laki itu. Tetapi salah satu hal yang diketahui pasti
oleh Naomi tentang Yoon adalah bahwa kalau wanita itu ingin membicarakan
sesuatu, tidak ada yang bisa menghentikannya.
Sadar bahwa Yoon masih menatapnya dan jelas-jelas berharap ia mengatakan
sesuatu, Naomi memaksakan senyum kecil dan bergumam, “Sepertinya kau
mengenalnya dengan baik.”
Senyum Yoon melebar bangga. “Tentu saja. Aku bahkan mengenal kakak
perempuannya yang dulu juga adalah model terkenal. Sedangkan kakak lakilakinya...
yah, aku hanya sempat bertemu dengannya satu kali—sebelum dia
meninggal dunia, tentu saja.”
Naomi menyesap minumannya dengan pelan.
Yoon mencondongkan tubuhnya ke arah Naomi dan bergumam pelan,
“Kecelakaan lalu lintas. Tiga tahun lalu. Mengemudi sambil mabuk.”
“Oh ya?”
“Oh, ya.” Yoon mengangguk muram. “Tulang pinggulnya patah dan dia sempat
koma selama dua bulan sebelum akhirnya meninggal. Kasihan sekali, bukan?”
Naomi menghela napas pelan. Kasihan?
Sebenarnya tidak. Ia tidak kasihan pada orang-orang seperti itu. Hidup ini
penuh dengan pilihan. Dan kalau orang itu memilih bersikap tidak bertanggung
jawab dengan mengemudi dalam keadaan mabuk, makaia sendiri yang harus
menerima akibatnya.
Tetapi Naomi tidak berkata apa-apa pada Yoon, hanya kembali menyesap
minumannya dengan muram. Kepalanya mulai terasa pusing. Ia merasa seolah-olah
sedang bermimpi. Ia butuh udara segar. Tidak, tidak... Ia harus pulang. Ia tidak
ingin jatuh pingsan karena kelelahan di tengah jalan.
Setelah pamit dengan Sutradara Shin, Yoon dan para staf lain—yang terbukti
agak sulit karena mereka semua mendesaknya tetap tinggal—Naomi pun
mengumpulkan barang-barangnya dan berjalan ke arah tangga. Oh, ia sangat lelah.
Saking lelahnya, ia merasa ia bisa tidur sambil berdiri. Naomi menepuk-nepuk
pipinya sendiri untuk sedikit menyadarkan diri. Udara dingin pasti bisa
menyegarkannya. Sekarang yang harus dilakukannya adalah menuruni tangga kayu
sempit di restoran itu. Menuruni tangga sempit dalam sepatu bot bertumit tinggi
dan dalam keadaan setengah sadar sama sekali bukan pekerjaan yang mudah.
Naomi harus mengerahkan segenap konsentrasin yang tersisa. Ia tidak mau
sampai...
“Mau pergi ke mana?”
Suara itu membuat Naomi tersentak kaget dan kehilangan keseimbangan.
Sebelum ia bahkan menyadari apa yang sedang terjadi, kaki kanannya tergelincir
dari pijakan dan tubuhnya terhuyung ke depan. Naomi memejamkan mata, bersiapsiap
menerima yang terburuk. Ia merasa dirinya menubruk sesuatu, tetapi ia tidak
jatuh berguling-guling di tangga, tidak terjerembap di lantai keras, tidak merasa
kesakitan.
Naomi membuka mata dan mendongak. Matnaya melebar kaget ketika ia
menyadari bahwa ia telah mendarat dalam pelukan Danny Jo.
Oh dear...
* * *
Mata hitam yang mirip mata boneka itu terbelalak lebar menatapnya. Sejenak Danny
melupakan kaki kirinya yang berdenyut-denyut kesakitan. Oh ya, ia bisa melihat
berbagai macam ekspresi yang melintas di mata itu. Kaget, bingung, dan... takut?
Danny berdeham dan bergumam, “Kau tidak apa-apa?” Ia tidak melepaskan
Naomi. Gadis itu pasti akan langsung tersungkur kalau Danny melepaskannya,
mengingat posisinya saat itu yang seluruhnya bersandar pada Danny.
Naomi Ishida tidak menjawab. Tidak bergerak sedikit pun. Tubuhnya begitu
kaku dalam pelukan Danny sampai Danny hampir mengira gadis itu sudah berubah
menjadi boneka kayu.
“Kalau kau baik-baik saja,” Danny melanjutkan dengan nada ringan, “mungkin
kau bisa mengangkat kaki kananmu sedikit.”
Mata Naomi mengerjap satu kali, lalu ia menunduk menatap kaki kanannya.
Danny mengikuti arah pandangannya dan mereka berdua menatap hak tinggi
sepatu bot Naomi yang menancap di kaki kiri Danny. Naomi terkesiap dan buruburu
melepaskan diri dari Danny. Tetapi karena terlalu terburu-buru, ia malah
terhuyung ke belakang.
Danny dengan cepat mengulurkan tangan dan menahan siku gadis itu. Ia
mengembuskan napas panjang dan berkata, “Pelan-pelan saja,” kata Danny. Seperti
yang sudah diduganya, Naomi secepat kilat menarik lengannya dari pegangan
Danny.
Sejenak Naomi hanya menatapnya tanpa berkedip. “Aku... Maaf,” gumamnya
pada akhirnya. Jeda sejenak, lalu, “Kakimu...”
Danny tersenyum dan menggerak-gerakkan kaki kirinya. “Aku tidak akan
pincang,” katanya ringan.
Naomi mengangguk, namun tidak berkata apa-apa.
Danny mengamati Naomi Ishida yang berdiri di hadapannya. Apakah hanya
perasaannya atau apakah gadis itu memang terlihat resah?
“Jadi kau mau ke mana?” tanya Danny lagi.
Naomi berdeham pelan. “Aku pulang dulu.” Ia tersenyum singkat. Benar-benar
singkat, sampai Danny tidak yakin apakah Naomi benar-benar tersenyum tadi.
“Sampai jumpa besok.”
Tanpa menunggu jawaban, gadis itu dengan cepat menuruni tangga melewati
Danny dengan kepala tertunduk. Kening Danny berkerut samar, lalu sedetik
kemudian ia berputar dan berkata, “Biar kutemani sampai ke stasiun.”
Naomi Ishida berhenti di dasar tangga, berbalik pelan dan mendongak menatap
Danny. “Apa?”
“Akan kutemani kau sampai ke stasiun,” Danny mengulangi kata-katanya
sambil menuruni tangga.
“Aku tidak butuh ditemani.”
Danny mendesah dalam hati. Astaga, gadis ini benar-benar menyulitkan. Ia
berdiri di hadapan Naomi dan tersenyum ringan. “Baiklah. Aku yang butuh teman,”
katanya. “Aku sedang bosan. Aku butuh teman bicara. Dan kurasa jalan-jalan
sebentar tidak ada salahnya. Bukankah begitu?”
Setelah berkata begitu, Danny berjalan melewati Naomi yang masih
menatapnya dengan alis berkerut bingung.
Setelah berjalan beberapa langkah, Danny berbalik dan melihat gadis itu masih
berdiri di tempat. “Aku tidak bermaksud merayumu, kau tahu? Maksudku, kalau
itu yang kautakutkan,” katanya sambil tersenyum. “Sudah kubilang kau sama sekali
bukan tipeku. Tapi itu tidak berarti kita tidak bisa berteman, bukan?”
Alis gadis itu masih berkerut dan ia masih menatap Danny dengan ragu.
Danny memiringkan kepala sedikit. “Apakah kau takut padaku?”
Naomi tidak menjawab, dan hal itu membuat Danny heran. Ia hanya bercanda
dan mengira Naomi akan membantah dengan tegas. Tetapi gadis itu hanya berdiri
diam di sana. Apakah gadis itu benar-benar takut padanya? Kenapa? Sebelum
Danny sempat berpikir lebih jauh, ia melihat Naomi memejamkan mata, lalu
menghela napas seolah-olah menyerah, dan mulai berjalan menyusul Danny.
Senyum Danny mengembang. Itu sama sekali bukan kemenangan besar, tetapi
tetap adalah kemajuan. “Jadi, Naomi,” kata Danny memulai percakapan sementara
mereka berjalan menyusuri trotoar, “kau sudah merasa lebih baik?”
Naomi meliriknya sekilas. “Apa maksudmu?”
Danny mengangkat bahu. “Tadi siang kau hampir pingsan di depanku karena
kelaparan. Sekarang kau hampir pingsan di tangga karena... yah, aku tidak tahu
kenapa, tapi yang pasti bukan karena lapar. Kulihat porsi makanmu cukup sehat
tadi.”
Langkah kaki Naomi terhenti. Ia berputar menghadap Danny dan membuka
mulut hendak membalas, lalu menutupnya lagi. Setelah berpikir sejenak, ia
membuka mulut dan berkata, “Pertama, tadi siang aku tidak pingsan. Walaupun
aku... walaupun aku memang tidak sempat makan. Tapi itu tidak ada hubungannya!
Kepalaku hanya agak pusing dan...”
Danny mengangkat alis, terkejut mendengar aliran kata-kata yang cepat dari
mulut Naomi Ishida. Tetapi sepertinya salah mengartikan ekspresi Danny karena
gadis itu melotot ke arahnya.
“Dan itu jarang sekali terjadi,” lanjut Naomi galak. “Kedua, tadi aku hanya
tergelincir di tangga—sekali lagi, bukan pingsan!—karena kau tiba-tiba muncul entah
dari mana dan membuatku kaget setengah mati. Ketiga, apa maksudmu dengan
porsi makanku besar? Apa salahnya kalau aku makan banyak? Aku kan tidak
sempat makan siang tadi. Seorang model memang seharusnya kurus, tapi seorang
model tidak seharusnya mati kelaparan. Katakan padaku, apakah aku salah?”
Naomi menarik napas panjang di akhir penjelasannya dan Danny tersenyum
melihatnya. Lalu ia berkata, “Giliranku?” Karena gadis itu hanya diam dan
menatapnya dengan mata disipitkan, Danny melanjutkan, “Oke, pertama, tadi siang
kau memang hampir pingsan—tunggu, jangan menyela dulu—dan kalau aku tidak
menahanmu, kau pasti sudah jatuh ke lantai seperti pohon tumbang. Kedua, aku
tidak tiba-tiba muncul entah dari mana. Aku tadi sedang melihat-lihat tok osuvenir
yang ada di bawah restoran. Ketiga, tadi kubilang porsi makanmu sehat, bukan
banyak. Sehat. Dan tidak, tidak ada salahnya kalau kau makan banyak.”
Naomi menatapnya sejenak dengan alis berkerut kesal. “Well, terima kasih,”
katanya datar, berbalik meneruskan langkah.
“Sekarang,” kata Danny ringan sambil mengikuti langkah gadis itu, “Ceritakan
tentang dirimu.”
Naomi meliriknya sekilas—lagi-lagi tatapan curiga itu—dan bertanya singkat,
“Kenapa?” Ah, lagi-lagi nada curiga itu.
“Karena itu yang dilakukan teman, bukan?” Danny balas bertanya dengan nada
polos. “Saling mengenal, maksudku.”
Naomi tidak menjawab. Danny juga menyadari gadis itu tidak membantah kata
“teman”. Jadi sepertinya itu sesuatu yang bagus.
“Sudah berapa lama kau tinggal di London?” tanya Danny ketika sepertinya
Naomi tidak berniat mengatakan apa-apa.
Naomi tidak langsung menjawab. Lalu, “Hampir tiga tahun.”
Danny tersenyum kecil. “Kau suka tinggal di sini?”
Naomi hanya mengangkat bahu sedikit.
“Ini ketiga kalinya aku datang ke London,” kata Danny. “Aku suka kota ini,
walaupun pada dua kunjungan awalku aku tidak punya waktu untuk berkeliling
dan melihat-lihat karena jadwal kerjaku terlalu padat. Tapi karena sekarang aku
akan tinggal agak lama di sini, kurasa aku bisa mencari waktu luang untuk
berkeliling kota.”
Naomi tetap menunduk menatap jalan, tidak berkomentar.
“Bagaimana kalau kau menemaniku?”
Kali ini kepala Naomi berputar ke arahnya. Mata bulat dan resah itu menatap
mata Danny sedetik, lalu mengerjap. “Apa?”
Danny mengangkat bahu dengan ringan. “Kukira mungkin kau bisa
menemaniu berkeliling kota setelah syuting berakhir. Aku tidak punya teman lain di
sini, kecuali sutradara kita, tentu saja, tapi menurutku dia mungkin lebih suka
menghabiskan waktu bersama istri dan anaknya daripada bersamaku.”
“Oh, kurasa tidak,” gumam Naomi cepat—mungkin terlalu cepat—sambil
menurunit angga ke stasiun kereta bawah tanah.
Danny bergegas menyusulnya. “Kenapa tidak?”
“Karena aku tidak punya waktu.”
Kedengarannya tidak meyakinkan. Danny semakin penasaran. Sepertinya
Naomi Ishida tidak menyukainya. Tapi kenapa? Danny tidak pernah menganggap
dirinya sebagai orang yang menjengkelkan. Ia ramah pada siapa saja. Dan ia jelas
selalu bersikap ramah pada Naomi. Lalu kenapa ia merasa seolah-olah Naomi tidak
menyukainya? Apakah ia telah melakukan sesuatu yang menyinggung perasaan
gadis itu? Sepertinya tidak.
“Keretaku akan datang sebentar lagi,” kata Naomi sambil mendongak menatap
papan penanda kedatangan kereta, “jadi kalau kau mau pergi sekarang...”
“Kenapa kau membenciku?”
* * *
Naomi menahan napas sejenak. Lalu perlahan-lahan ia mengembuskan napas dan
menoleh ke arah Danny Jo. Ia bisa melihat kebingungan di wajah laki-laki itu.
“Kenapa kau membenciku?” tanya Danny sekali lagi.
Naomi menarik napas lagi, lalu berkata pelan, “Aku tidak membencimu.”
Itu memang benar. Ia tidak membenci Danny Jo. Naomi memang baru bertemu
dengan Danny Jo dua hari yang lalu dan mungkin Naomi belum benar-benar
mengenal laki-laki itu, tapi ia tahu Danny Jo bukan orang yang gampang dibenci.
Malah—kalau Naomi mau jujur pada diri sendiri—ia merasa mudah sekali bagi
seseorang untuk menyukai Danny Jo.
“Kalau begitu kau hanya tidak menyukaiku?” tanya Danny lagi.
Naomi menggigit bibir, berpikir. “Kurasa aku belum cukup lama mengenalmu
untuk bisa memberikan penilaian apa pun,” katanya pada akhirnya.
Alis Danny terangkat dan ia tersenyum tipis. “Kau tidak membenciku, tapi juga
tidak suka padaku.” Ia menghela napas sejenak, lalu bertanya, “Apakah kau takut
padaku?”
Itu kedua kalinya Danny Jo bertanya seperti itu. Ya, Naomi tidak menjawabnya
ketika Danny pertama kali bertany apadanya. Saat itu ia tidak tahu bagaimana
menjawabnya. Sekarang juga tidak.
“Naomi?”
Naomi mengangkat wajah dan menatap Danny Jo, lalu balas bertanya, “Apakah
aku punya alasan untuk takut padamu?”
Danny terdiam sejenak. Kepalanya dimiringkan ke satu sisi. Senyum kecil itu
masih tersungging di bibirnya. Naomi merasa seolah-olah laki-laki itu tahu apa yang
sedang dipikirkannya. Dan hal itu membuatnya gugup.
“Tidak, kau sama sekali tidak punya alasan untuk takut padaku,” gumam
Danny Jo.
Satu kalimat itu langsung membuat dada Naomi terasa lebih ringan. Entah
kenapa. Mungkin tanpa sadar Naomi memang mengharapkan penegasan ini.
Kemudian sebelum salah satu dari mereka mengatakan sesuatu, bunyi melengking
panjang tanda kereta akan segera tiba terdengar, disusul bunyi gemuruh kereta di
terowongan.
“Keretamu,” kata Danny pendek.
Sementara kereta berhenti di depan mereka dan sementara menunggu para
penumpang turun dari kereta, Naomi berpikir sejenak sambil menggigit bibir.
Akhirnya ia menoleh ke arah Danny dan berkata, “Terima kasih.”
Danny balas menatapnya dengan alis terangkat. “Hm?”
“Terima kasih. Untuk semuanya, kurasa.” Naomi mengangkat bahu dengan
canggung. “Karena membelikan sandwich untukku siang tadi. Karena menolongku
di tangga tadi. Karena mengantarku ke sini.”
“Hei, itu gunanya teman, bukan?” balas Danny ringan.
Naomi tersenyum ragu, lalu melangkah ke dalam kereta.
Dari balik jendela kaca kereta, ia melihat Danny Jo melambaikan sebelah tangan
ke arahnya. Dan laki-laki itu tidak beranjak sampai kereta itu sudah melaju
meninggalkan stasiun.
Naomi duduk bersandar dan menghela napas dalam-dalam. Kata-kata Danny Jo
tadi terngiang-ngiang di telinganya.
Hei, itu gunanya teman, bukan?
Apakah ia bisa berteman dengan laki-laki itu? Naoi mengusap pelipisnya, lalu
bertopang dagu, menatap ke luar jendela kereta, menatap dinding terowongan yang
gelap gulita.
Laki-laki selalu membuat Naomi merasa resah dan gugup. Ia tidak pernah
merasa nyaman berada di dekat laki-laki. Tidak pernah. Yah, sebenarnya bukan
“tidak pernah”. Tentu saja ia tidak terlahir takut pada laki-laki. Hanya saja beberapa
tahun terakhir ini, sejak kejadian... kejadian itu, ia tidak pernah bisa memandang
laki-laki dengan cara yang sama lagi. Hanya Chris satu-satunya laki-laki yang
dianggapnya teman dan satu-satunya laki-laki yang tidak membuatnya merasa
resah.
Dan sekarang ada Danny Jo. Selama dua hari terakhir ini Naomi sudah
berusaha menjaga jarak darinya, sama sekali tidak ingin berurusan dengannya.
Namun malam ini Danny Jo menunjukkan bahwa ia berbeda dengan perkiraan awal
Naomi. Laki-laki itu sepertinya... baik.
Mungkin Danny Jo memang berbeda.
Tetapi apakan kau benar-benar bisa berteman dengan orang yang bisa
membangkitkan mimpi-mimpi terburukmu?
Bab Enam
KEESOKAN paginya Christopher Scott berdiri di depan jendela dapur dan cemberut
menatap langit mendung di luar. Ia memang sudah terbiasa dengan cuaca kota
London yang tidak menentu, tetapi itu tidak berarti ia menyukainya. Ia menyesap
tehnya, lalu kembali memusatkan perhatian pada adonan panekuk di atas meja dan
menghela napas. Ia suka memasak, dan ia meyakini kata-kata ibunya sejak ia masih
kecil, bahwa sarapan adalah makanan paling penting dalam sehari. Sayang sekali
kedua teman satu flatnya tidak meyakini hal yang sama. Julie hanya perlu secangkir
kopi di pagi hari dan Naomi terlalu sibuk untuk makan. Kalau tidak ada Chris di
sini, kedua gadis itu pasti sudah kering kerontang seperti tengkorak.
Ia mendongak ketika pintu kamar Naomi terbuka dan Naomi yang terbungkus
jubah tidur muncul dengan wajah pucat dan lingkaran hitam di sekeliling matanya.
“Astaga, lass, apa yan gterjadi padamu? Kau terlihat seperti tidak tidur semalaman,”
kata Chris.
“Tidak bisa tidur,” gumam Naomi dengan suara serak sementara ia duduk di
salah satu dari tiga kursi kayu di meja makan dan mengangkan kedua kaki ke atas
kursi.
“Tunggu sebentar,” kata Chris cepat. “Akan kutuangkan teh untukmu, lalu kau
bisa menceritakannya padaku.”
“Cerita tentang apa?”
“Jangan pura-pura bodoh, Sayang,” kata Chris sambil meletakkan secangkir teh
yang mengepul di depan Naomi, lalu duduk di hadapannya. “Aku sudah
mengenalmu cukup lama untuk tahu bahwa kau sedang ada masalah. Sekarang kau
boleh menceritakannya padaku sambil makan. Ini panekuknya dan ini madunya.
Aku tahu kau suka makan panekuk dengan madu.”
Naomi tersenyum kecil ketika Chris mendorong sepiring panekuk hangat ke
arahnya. “Kau terdengar seperti ibuku,” gumamnya pelan.
“Seseorang memang harus berperan sebagai ibu kalau ada kau dan Julie di
sini,” omel Chris. Tetapi kemudian ia tersenyum ketika melihat Naomi mulai
melahap panekuknya. “Sekarang ceritakan padaku apa yang membuatmu tidak bisa
tidur semalaman?”
“Di mana Julie? Belum bangun?”
“Dia sudah pergi pagi-pagi tadi,” sahut Chris. “Katanya ada audisi.”
Naomi mengangguk-angguk.
“Sekarang ceritakan padaku sebelum kesabaranku habis,” desak Chris.
Naomi meringis dan melahap panekuknya lagi. Kemudian ia ragu sejenak,
sepertinya sedang memikirkan kata-kata yang tepat, lalu berkata dengan hati-hati,
“Ada seorang laki-laki.”
Alis Chris terangkat heran. Selama ia mengenal Naomi, ia belum pernah
mendengar Naomi membicarakan laki-laki mana pun. “Laki-laki? Siapa?”
“Rekan kerjaku,” lanjut Naomi tanpa menatap Chris. “Lawan mainku untuk
video musik ini. Dia...”
“Dia mengganggumu?” tebak Chris dengan alis berkerut.
Naomi mengangkat wajah dan cepat-cepat menggeleng. “Tidak. Tidak, dia
tidak... Maksudku tidak seperti itu.” Lalu ia mengalihkan tatapan ke luar jendela.
“Dia tidak menggangguku.”
Ketika Naomi masih diam, Chris menebak lagi. “Kalau begitu, dia merayumu?”
Naomi kembali menunduk. “Tidak, dia tidak seperti itu,” gumamnya sambil
menghela napas.
“Lalu apa?” Chris mengerang, terlalu penasaran untuk bersikap sabar.
Naomi menggigit bibir sejenak, lalu mengangkat wajah menatap Chris dan
berkata, “Tidak apa-apa. Sama sekali tidak apa-apa.” Ia mengangkat bahu. “Kau
mungkin tidak tahu, tapi aku tidak pernah merasa nyaman bersama... laki-laki
dan...”
“Aku tahu,” sela Chris. Ketika Naomi menatapnya dengan bingung, ia menambahkan,
“Julie juga tahu.”
“Kalian tahu?” Naomi menatapnya dengan heran.
Chris memutar bola matanya. “Tentu saja kami tahu, Naomi, walaupun kami
tidak tahu apa alasannya. Sudah berapa tahun kita tinggal bersama? Selama itu kami
belum pernah melihatmu bersama laki-laki mana pun. Jangankan pacar, kau bahkan
juga tidak punya teman berjenis kelamin laki-laki. Kecuali aku, tentu saja, tapi itu
kasus yang berbeda.”
Naomi meletakkan garpu dan memeluk kedua kakinya.
“Kau mau membicarakan alasannya?” tanya Chris.
“Tidak,” jawab Naomi cepat.
Chris mengembuskan napas pelan. “Baiklah. Kita bicarakan laki-laki ini saja.
Apa masalahmu dengannya? Kau tadi bilang dia tidak mengganggumu.”
“Memang tidak.”
“Dia baik?”
Naomi mengangkat bahu. “Yah... bisa dibilang begitu.”
“Dia tampan?”
“Apakah itu ada hubungannya?”
“Banyak! Nah, dia tampan atau tidak?”
Naomi terdiam sejenak, lalu bergumam, “Lumayan.”
Chris bersandar kembali. “Baiklah. Jadi dia baik dan juga tampan. Sejauh ini
aku tidak melihat ada masalah.”
Naomi menarik napas panjang, menoleh ke luar jendela, lalu bergumam, “Dia...
dia mengingatkanku pada hal-hal yang tidak pernah ingin kuingat lagi.”
Chris menatap Naomi sejenak. “Maksudmu, dia mengingatkanmu pada
seseorang di masa lalumu? Seseorang yang tidak menyenangkan?” tanyanya pelan.
Naomi menoleh ke arah temannya dan tersenyum masam. “Aku lupa kau pintar
membaca pikiran wanita,” gerutunya.
Chris tidak menghiraukan kata-katanya dan terus bertanya, “Tapi seseorang di
masa lalu itu bukan dia, kan?”
“Bukan.”
“Lalu kenapa kau menyamakan orang itu dengan dia?”
“Aku tidak...”
“Tidak?” tanya Chris dengan alis terangkat. Lalu ia mendesah pelan dan
mencondongkan tubuh ke depan dan menggenggam tangan Naomi. “Dengar,
Naomi, aku tidak tahu apa yang terjadi di masa lalu. Mungkin kau pernah terluka
karena seorang laki-laki. Atau mungkin alasannya sama sekali berbeda. Entahlah.
Hanya kau yang tahu. Tapi kau harus tahu bahwa tidak semua laki-laki itu sama.
Rasanya tidak adil memusuhi semua laki-laki hanya karena kesalahan satu orang.
Terutama apabila laki-laki itu sebaik yang kaukatakan tadi.” Ia tersenyum. “Lakilaki
yang normal, tampan, dan baik sulit didapatkan, kau tahu?”
Naomi ikut tersenyum mendengarnya. “Aku tidak bermaksud menjalin
hubungannya dengannya, kau tahu?”
“Aku tahu. Tapi tidak ada salahnya berteman, bukan?” kata Chris ringan.
“Kalau dia ternyata tidak sebaik yang kaukira, atau kalau dia macam-macam
padamu, kau punya aku di sini. Begini-begini aku bisa menendangnya sampai ke
negara tetangga, kau tahu? Atau Julie bisa meminta salah seorang pengawal pribadi
ayahnya menghabisinya di tempat.”
Seulas senyum mulai tersungging di sudut bibir Naomi.
Chris ikut tersenyum. “Tapi kalau nantinya dia memang terbukti baik dan kalau
kau memang tidak tertarik padanya, kau boleh melemparkannya kepadaku. Siapa
tahu...?”
Kali ini Naomi tertawa.
“Baguslah kau sudah tertawa. Sekarang habiskan panekukmu dan pergi
mandi,” kata Chris puas. Lalu ia terdiam sejenak dan mengerjap. “Astaga, aku
benar-benar terdengar seperti ibu-ibu.”
* * *
Kafe kecil khas Inggris di West End itu terlihat ramai. Bukan oleh para tamu yang
ingin menikmati secangkir teh atau sandwich mentimun, tapi oleh para staf produksi
video musik yang saling mengobrol dan berseru dalam bahasa Korea. Sementara
para stafnya sibuk mempersiapkan semuanya, Bobby Shin duduk di luar kafe,
menempati salah satu meja bundar bercat putih di trotoar, dengan secangkir kopi
panas di hadapannya. Langit siang itu terlihat mendung, tetapi Bobby Shin sama
sekali tidak khawatir. Syuting hari ini seluruhnya akan dilakukan di dalam ruangan.
“Halo, Hyong.”
Bobby Shin mengangkat wajah dari lembaran-lembaran kertas di pangkuannya
dan langsung bertatapan dengan Danny Jo yang entah bagaimana sudah menempati
salah satu kursi besi di hadapannya. “Oh, halo. Kau sudah makan siang? Kalau
belum sebaiknya kau pergi makan dulu karena kami semua sudah makan tadi,” kata
Bobby Shin sambil kembali menunduk menatap kertas-kertasnya.
Danny tidak menjawab, malah memandang berkeliling sejenak, lalu kembali
menatap Bobby Shin. “Hyong sudah melihat Naomi?”
Bobby Shin menggeleng. “Sepertinya dia belum datang. Mungkin sebentar
lagi.”
“Hyong, apa pendapat Hyong tentang dia?” tanya Danny tiba-tiba.
“Dia profesional,” sahut Bobby Shin sambil kembali membalik-balikkan kertas
di pangkuannya. “Punya wajah yang cocok untuk video musik ini.”
“Maksudku selain itu,” kata Danny. “Apa yang Hyong ketahui tentang dia?”
Kali ini Bobby Shin mengangkat wajah dan menatap Danny dengan tatapan
heran. “Apakah ada hal lain yang perlu kuketahui tentang dia selain kenyataan
bahwa dia profesional, memiliki wajah yang cocok untuk video musik ini, juga
sangat cocok berpasangan denganmu?” Bobby Shin balas bertanya. “Bagaimanapun
juga, Tae-Woo sudah memutuskan sejak awal bahwa dia ingin kau membintangi
video musik yang ini. Jadi kami hanya perlu mencari model wanita yang cocok
denganmu.”
Danny meringis. “Dengan kata lain, Hyong tidak tahu apa-apa tentang dia di
luar urusan pekerjaan?”
“Apakah aku harus tahu?” tanya Bobby Shin heran. Ia tidak pernah mengurusi
urusan pribadi model-modelnya. Baginya, selama mereka melakukan semua yang
diinginkannya di depan kamera, ia tidak peduli dengan apa pun yang mereka
lakukan di belakang kamera.
Danny mengembuskan napas, lalu berkata, “Sepertinya dia tidak suka padaku.”
“Masa?” tanya Bobby Shin acuh tak acuh. “Apa yang sudah kaulakukan
padanya?”
“Aku tidak melakukan apa-apa.”
Bobby Shin menyipitkan mata memandang melewati bahu Danny. “Itu dia,”
katanya. “Orang yang kaucari-cari sudah datang.”
Danny segera berbalik dan melihat Naomi Ishida sedang berjalan menghampiri
Yoon yang melambai-lambaikan tangan ke arahnya.
“Kau harus mengerahkan pesonamu, Danny. Usahakan agar dia menyukaimu,
paling tidak di depan kamera,” kata Bobby Shin. “Hari ini kalian berdua akan tampil
bersama di depan kamera dan aku tidak mau ada masalah.”
“Aku tahu,” Danny mendesah. Lalu ia tersenyum masam, berdiri dan berjalan
pergi. Saat itu Bobby Shin baru melihat langkah kaki Danny yang timpang.
“Hei, Danny, apa yang terjadi dengan kakimu?” tanyanya.
Danny mengibaskan sebelah tangan. “Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”
Bobby Shin mengangkat bahu. Ia hanya berharap Danny tidak akan terlihat
timpang di depan kamera.
* * *
Naomi sudah tahu Danny Jo berjalan menghampiri mereka bahkan sebelum Yoon
menyerukan nama laki-laki itu dengan nada cemas. Naomi menoleh dan langsung
bisa menebak apa yang membuat Yoon terdengar cemas. Langkah Danny Jo terlihat
timpang. Namun sebelum Yoon sempat bertanya lebih jauh, seseorang berseru
memanggilnya dan hal berikut yang disadari Naomi adalah ia sudah ditinggal
berdua dengan Danny Jo.
“Halo,” sapa Danny sambil tersenyum cerah. “Kuharap kau mendapat waktu
istirahat yang cukup semalam.”
“Ya,” gumam Naomi singkat.
Tiba-tiba Danny Jo membungkuk dan mendekatkan wajahnya ke wajah Naomi.
Naomi terlalu kaget untuk bergerak. Mata Danny Jo mengamati wajahnya, lalu lakilaki
itu memiringkan kepala sedikit dan bergumam, “Tapi kau masih terlihat pucat
pagi ini. Kurang tidur?”
Naomi mengerjap dan cepat-cepat mundur selangkah. “A-ada apa dengan
kakimu?” tanyanya agak tergagap karena ingin mengalihkan topik pembicaraan.
Danny menunduk menatap kakinya, lalu tersenyum. “Seseorang menginjak
kakiku semalam,” jawabnya ringan. “Kemarin tidak terasa sakit, tapi tiba-tiba pagi
ini kakiku sudah bengkak. Aneh, bukan?”
Seseorang menginjak kakinya semalam? Naomi mengangkat wajah dan
menatap Danny Jo yang masih tersenyum. “Aku?” tanyanya ragu. Ia ingat ia
memang menginjak kaki Danny Jo di tangga restoran kemarin malam.
“Jangan khawatir,” Danny menenangkannya. “Tidak ada tulang yang patah.
Dikompres sedikit saja pasti sembuh.”
Naomi masih tidak yakin. Mungkin memang tidak ada tulang yang patah, tapi...
“Kau sudah ke dokter?” tanyanya.
Danny mengangkat bahu. “Untuk apa ke dokter hanya gara-gara masalah kecil
ini?”
Alis Naomi berkerut samar.
“Kalau kau masih merasa bersalah,” sela Danny cepat, “kau bisa mentraktirku
makan. Aku belum sempat makan siang dan aku ingin sekali makan fish and chips.
Kau sudah makan siang?”
“Aku sudah sarapan,” kata Naomi.
Danny mendesah. “Sarapan dan makan siang itu berbeda. Kau tidak mau jatuh
pingsan lagi, bukan?” Ketika Naomi mendelik ke arahnya, senyumnya malah
bertambah lebar dan ia menambahkan, “Ayo, ikut aku. Syutingnya baru akan
dimulai dua jam lagi dan aku tahu tempat yang menjual fish and chips paling enak di
seluruh penjuru London. Semoga saja mereka belum pindah.”
Naomi membuka mulut ingin menolak, tetapi ia teringat pada pembicaraannya
dengan Chris di meja dapur pagi tadi. Tidak ada salahnya berteman, bukan?
Dan Danny Jo sendiri juga mengatakan hal yang mirip seperti itu kemarin
malam.
Naomi menutup mulutnya kembali dan menatap Danny Jo yang sedang
menyerukan sesuatu kepada Sutradara Shin dalam bahasa Korea. Mungkin berkata
bahwa mereka akan pergi makan siang. Kemudian ia kembali menoleh kepada
Naomi, masih dengan senyum cerah yang sama. “Kita pergi sekarang?” tanyanya.
Naomi ragu sejenak, lalu ia pun mengangguk.
Ia akan mencobanya. Mencoba berteman dengan Danny Jo.
Bab Tujuh
DANNY JO membawanya ke sebuah restoran kecil yang belum pernah dikunjungi
Naomi sebelumnya. Mungkin tempat itu tidak bisa disebut restoran, karena tempat
itu hanya semacam toko kecil sempit yang khusus menjual fish and chips—yang
menurut Danny Jo adalah yang paling enak di seluruh penjuru London—tanpa meja
atau kursi di dalam toko, jadi orang-orang menikmati fish and chips mereka di tepi
jalan, di bangku taman, atau sambil jalan. Walaupun begitu toko itu sangat ramai.
Antrean pembelinya sangat panjang sampai ke luar toko.
“Jadi kau belum pernah ke sini?” tanya Danny Jo setelah ia menerima dua
bungkus fish and chips yang dipesannya dan keluar ke jalan.
Naomi menggeleng sambil menerima salah satu bungkusan yang diulurkan
Danny dengan alis terangkat. Ternyata fish and chips di sini hanya dibungkus kertas
seadanya. Sama sekali tidak... yah, tidak berkelas.
Danny terkekeh pelan. “Jangan biarkan penampilannya menipumu,” katanya,
seoalh-olah bisa membaca pikiran Naomi. “Walaupun penampilan luarnya
berantakan, isinya benar-benar berbeda.”
Naomi membuka pembungkusnya sedikit dan langsung mencium aroma
harum. Perutnya pun otomatis berbunyi pelan. Ia memandang berkeliling dan
bertanya, “Kita akan makan di mana?”
Danny menggerakkan kepalanya. “Ayo, ikut aku.”
Sekali lagi Naomi mendapati dirinya mengikuti Danny Jo. Ia agak heran
menyadari bahwa laki-laki itu sepertinya lebih mengenal London daripada dirinya
sendiri, padahal Naomi sudah tinggal di sini selama hampir tiga tahun. Ternyata
Danny Jo membawanya ke sebuah taman kecil tidak jauh dari sudut jalan. Naomi
juga harus mengakui dalam hati bahwa ini adalah pertama kalinya ia melihat taman
ini, atau menyadari keberadaan taman ini di kota London.
Taman itu hanya sebuah taman kecil di sudut jalan, dengan jalan setapak
mengelilingi kolam yan gtidak terlalu besar dan pepohonan yan gberderet di
sepanjang jalan setapak. Naomi menengadah menatap langit. Matahari terlihat
mulai mengintip dari balik awan dan mengintip dari sela-sela dedaunan. Kicau
burung yang sesekali terdengar di antara embusan angin menambah kesan damai di
taman itu.
Sebenarnya inilah salah satu hal yang sangat ingin dilakukan Naomi, tetapi ia
belum pernah mendapat kesempatan melakukannya. Berjalan-jalan santai di taman
kota, atau duduk di salah satu bangku panjang yang sering dilihatnya di sana dan
tidak melakukan apa-apa. Hanya duduk di bawah sinar matahari dan menikmati
hari. Tanpa melakukan apa-apa. Tetapi selama ia tinggal di London, belum pernah
sekali pun ia berhasil mewujudkan keinginannya. Pekerjaannya membuatnya selalu
sibuk, selalu bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Tidak pernah berhenti
sebentar untuk sekadar berdiri dan memandang sekeliling.
“Bagaimana kalau kita duduk di sini saja?”
Suara Danny membuyarkan lamunannya. Naomi menoleh dan melihat Danny
menunjuk salah satu bangku panjang kosong bercat hijau yang berderet di
pinggiran jalan setapak, menghadap kolam. Beberapa bangku di sana sudah terisi.
Naomi melihat sepasang suami-istri tua duduk sambil mengobrol di bangku lain,
lalu ada seorang pria yang duduk membaca koran sambil menggigit sebuah apel di
bangku yang agak jauh dari sana, juga ada dua wanita yang mendorong kereta bayi
di sepanjang jalan setapak smabil tertawa-tawa.
“Jangan katakan padaku kau juga belum pernah datang ke sini,” kata Danny
ketika Noami sudah duduk di sampingnya.
“Memang belum,” kata Naomi. Matanya melahap pemandangan indah di
sekelilingnya. Suasana taman yang tenang menyejukkan jiwanya, membuat hatinya
terasa ringan melayang, membuat seulas senyum senang tersungging di bibirnya
tanpa sadar. “Aku suka di sini.”
Danny memasukkan sepotong kentang goreng ke dalam mulut. “Ini salah satu
tempat yang selalu kukunjungi setiap kali aku datang ke London,” katanya. “Taman
ini selalu indah di musim apa pun. Musim semi, musim panas, musim gugur,
musim dingin, sebut saja. Tapi aku paling suka taman ini di musim semi, ketika
bunga-bunga mulai bermekaran.”
Naomi memandang berkeliling. Ia tidak melihat ada banyak bunga yang mekar
di sana.
“Sekarang memang bunganya belum muncul,” kata Danny, lagi-lagi berhasil
membaca pikiran Naomi. “Tunggu beberapa minggu lagi dan kau akan lihat nanti.”
Naomi mengangguk-angguk, lalu membuka bungkusan makan siangnya dan
mulai makan. Sedetik kemudian, matanya melebar dan ia menoleh menatap Danny
Jo. “Astaga, ini benar-benar enak,” katanya.
Danny Jo tersenyum lebar. “Kubilang juga apa.”
Naomi ikut tersenyum dan selama dua atau tiga menit mereka makan tanpa
suara, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Kemudian Naomi menghela napas
dalam-dlaam dan mengembuskannya dengan pelan. “Ini pertama kalinya aku
makan sambil duduk di taman,” katanya.
“Kau mengalami banyak hal baru hari ini, bukan?” kata Danny. “Pertama kali
makan fish and chips paling enak di seluruh London, pertama kali menginjak taman
ini, pertama kali makan di taman.”
Naomi mengangguk.
“Pertama kali mendapat teman makan yang menyenangkan seperti aku?”
Naomi menoleh menatap Danny dan tertawa kecil. Lalu ia mengangkat bahu
dan menjawab, “Mungkin.”
Danny tersenyum. “Itu sudah cukup bagus untukku.”
Beberapa menit berlalu tanpa suara, hanya terdengar embusan angin yang
lembut dan kicauan burung. Naomi memejamkan mata sejenak. Suasananya benarbenar
damai sampai ia merasa ia bisa tidur di sini.
“Kau sering mengunjungi taman seperti ini ketika kau masih tinggal di
Jepang?”
Suara Danny membuat Naomi membuka mata. “Tidak,” sahutnya setelah
berpikir sejenak. Baik di Tokyo atau di London, jadwal kerjanya selalu padat. Ia
tidak pernah bisa bersantai. “Sebenarnya aku sudah lupa kapan terakhir kalinya aku
mengunjungi taman mana pun. Di Kyoto-kah?”
“Kau tinggal di Kyoto?” tanya Danny.
“Apa? Oh, tidak. Aku tinggal di Tokyo. Orangtuaku yang tinggal di Kyoto,”
sahut Naomi ringan. “Ayahku tidak terlalu suka tinggal di Tokyo, jadi ayah dan
ibuku pindah ke Kyoto dan membuka toko barang antik di sana. Aku dan adikku
tetap di Tokyo karena saat itu kami tidak mau pindah sekolah. Jadi...” Sadar bahwa
ia sudah bercerita lebih banyak tentang keluarganya daripada yang diinginkannya,
Naomi menghentikan diri sendiri dan bergumam, “Begitulah.”
Tetapi sepertinya Danny Jo tidak menyadari ucapan Naomi yang terhenti tibatiba.
Ia merenung sejenak, lalu menatap Naomi. “Kau tidak terlihat seperti orang
Jepang,” katanya.
Naomi tersenyum tipis. “Aku sudah sering mendengarnya. Nenekku orang
Indonesia.”
“Rupanya begitu,” gumam Danny sambil mengangguk-angguk. Lalu ia tiba-tiba
mengalihkan pertanyaan, “Jadi kau punya adik?”
Naomi mengangguk.
“Aku punya seorang kakak perempuan dan seorang kakak laki-laki,” lanjut
Danny.
“Mm, aku pernah mendengarnya dari Yoon,” kata Naomi sambil merenung.
Danny menoleh ke arahnya dan tersenyum. “Wah, ternyata kau sudah
bertanya-tanya pada orang lain tentang aku?”
Naomi mendengus, tapi tidak menjawab.
“Kakak perempuanku adalah mantan model yang kini berprofesi sebagai
perancang busana. Kakak laki-lakiku... yah, dia dulu seorang produser acara
televisi.” Danny berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “Kalau kau sudah diberitahu
tentang kakakku, kau pasti tahu bahwa beberapa tahun lalu dia mengalami
kecelakaan parah dan sempat koma selama dua bulan sebelum akhirnya meninggal
dunia.”
Naomi melirik Danny sekilas, tetapi tidak berkata apa-apa. Danny hanya duduk
di sana dan menatap kosong ke depan. Karena tidak ingin suasana menyenangkan
ini hancur gara-gara kenangan yang tidak menyenangkan, Naomi mengalihkan
pembicaraan. “Aku dan adikku adalah saudara kembar.”
Mata Danny melebar kaget. “Kembar? Astaga...”
“Kenapa?”
“Aku tidak bisa membayangkan ada orang lain yang sama persis denganmu,”
gumam Danny. “Apakah wajah kalian sangat mirip?”
Naomi mengangguk.
“Dia juga model?”
Naomi menggeleng. “Dia bekerja di perpustakaan di Tokyo.”
“Oh.” Danny sambil mengangguk-angguk. “Dia juga galak sepertimu?”
Kali ini Naomi menoleh ke arahnya dengan alis berkerut. “Aku tidak galak.”
“Baiklah, baiklah. Kau tidak galak,” sela Danny cepat, lalu mengangkat bahu,
“hanya sedikit... yah, menakutkan.”
Melihat Danny tersenyum lebar, Naomi memalingkan wajah dan tertawa.
Danny mengamatinya dengan tatapan merenung, lalu ia berkata, “Siapa yang
menyangka untuk melihatmu tertawa aku hanya perlu membelikan fish and chips
dan mengajakmu ke taman?”
Naomi kembali menatap Danny dan selama dua detik mereka hanya
bertatapan. Sebelum Naomi sempat membuka mulut untuk mengatakan sesuatu—
bukannya ia ingin mengatakan sesuatu, karena otaknya mendadak kosong dan
suaranya juga terbang entah ke mana—ia mendengar seseorang menyerukan
namanya.
“Hei, Naomi!”
Naomi menyeret tatapannya dari mata Danny Jo dan menoleh. Ternyata yang
memanggilnya adalah Julie, dan gadis itu sudah berdiri di samping Naomi. “Oh,
Julie.”
“Kebetulan sekali bertemu di sini,” kata Julie dengan mata bersinar-sinar
gembira. Ia menunjuk ke balik bahunya dengan ibu jari. “Aku baru selesai
mengikuti audisi dan aku akan pergi makan siang bersama teman-temanku.”
Naomi memandang melewati bahu Julie dan melihat lima teman Julie
menunggu agak jauh dari sana.
“Kau sudah makan? Kalau belum, ikut saja dengan kami,” kata Julie. Lalu
matanya beralih kepada Danny yang duduk di samping Naomi. “Tentu saja
temanmu juga harus ikut.”
Tidak salah lagi. Naomi mengenali kilatan penuh minat di mata hijau Julie.
Temannya itu pasti heran melihat Naomi duduk-duduk di taman bersama seorang
laki-laki. Tadi pagi Chris berkata bahwa ia belum pernah melihat Naomi bersama
laki-laki mana pun. Sudah pasti Julie juga belum pernah melihatnya. Dan Naomi
yakin Julie akan menceritakan kejadian luar biasa ini kepada Chris kalau ia pulang
nanti.
Tiba-tiba Naomi merasakan cubitan di lengannya. Ia meringis dan melotot
menatap Julie. Yang ditatap hanya tersenyum manis kepadanya, lalu kembali
menatap Danny. Maksudnya sangat jelas. Naomi mendesah dalam hati, lalu berkata
patuh, “Julie, ini... Danny.” Lalu ia menoleh ke arah Danny. “Ini Julie, teman satu
flatku.”
Julie menampilkan senyum panggungnya yang paling cerah sementara Danny
berdiri dan mengulurkan tangan. “Senang sekali berkenalan denganmu,” kata Julie
sambil menjabat tangan Danny. “Aku tidak tahu Naomi punya teman—aduh!” Ia
melotot kepada Naomi yang mencubitnya, lalu kembali memasang senyum
cerahnya kepada Danny. “Jadi, kalian mau ikut makan siang bersama kami?”
Naomi melihat Danny Jo juga menyunggingkan senyumnya, yang pastilah
menjadikannya model paling diminati di Korea seperti yang dikatakan Yoon.
“Terima kasih atas tawaranmu, tapi kami baru saja makan.”
“Oh, begitu,” gumam Julie sambil menatap Naomi dengan tatapan penuh arti.
“Kalau begitu, Naomi, sampai bertemu di rumah nanti.” Lalu ia menoleh kepada
Danny. “Dan sampai jumpa, danny. Sekali lagi, senang berkenalan denganmu.”
Setelah Julie kembali kepada teman-temannya dan menghilang dari pandangan,
Danny berkata, “Temanmu sepertinya menyenangkan.”
Naomi mengangkat bahu. “Jangan tertipu dengan senyumnya. Kadang-kadang
dia bisa menyulitkan.”
“Lebih menyulitkan darimu?”
Naomi meliriknya, lalu tersenyum samar. “Ngomong-ngomong, kurasa sudah
waktunya kita pergi.”
Danny menatap jam tangannya sekilas. “Benar juga. Sebentar lagi Hyong pasti
kalang kabut kalau kita belum muncul.”
Naomi bangkit dan memandang berkeliling untuk yang terakhir kalinya. “Aku
harus datang ke sini lagi lain kali,” gumamnya.
“Kalau kau butuh teman, kau boleh mengajakku,” kata Danny.
Naomi menatapnya.
Danny balas menatapnya dengan alis terangkat. “Apa? Kita masih tetap
berteman walaupun syuting video musik ini selesai, bukan? Kau boleh
menghubungiku, kau tahu, kalau kau butuh teman. Misalnya kalau kau merasa
tidak ingin makan siang sendirian, atau misalnya kau tidak ingin duduk sendirian di
taman.”
Naomi berpikir sejenak, lalu perlahan-lahan, ia menghela napas panjang dan
tersenyum tipis. “Akan kuingat itu,” katanya.
* * *
Naomi benar ketika berpikir Julie pasti akan bercerita kepada Chris tentang dirinya
yang terlihat duduk di taman berdua dengan laki-laki. Tetapi ia salah ketika
mengira Julie akan menunggu sampai ia pulang ke rumah baru menceritakannya.
Malah begitu sudah menghilang dari pandangan Naomi, Julie langsung
mengeluarkan ponsel dan menghubungi Chris.
“Kau melihat apa?” tanya Chris di ujung sana. Suara berisik panci, piring, dan
seruan orang-orang terdengar di latar belakang.
“Aku melihatnya bersama seorang laki-laki di taman,” kata Julie sekali lagi.
“Dan aku melihat dia tersenyum.”
“Siapa? Naoi?”
“Tentu saja Naomi. Siapa lagi?” cetus Julie. “Mereka bahkan makan siang
bersama! Aku hampir tidak percaya melihatnya.”
“Oh, mungkinkah laki-laki itu adalah laki-laki yang diceritakannya padaku tadi
pagi?” gumam Chris, lebih pada dirinya sendiri.
“Apa?”
Chris menceritakan apa yang terjadi di dapur flat mereka tadi pagi, apa yang
dikatakan Naomi, dan apa yang dirasakan Chris sendiri. “Bagaimana menurutmu?”
tanya Chris pada akhirnya.
Julie mengetuk-ngetuk dagu dengan jari telunjuk. “Kurasa kau benar.”
“Laki-laki itu, bagaimana tampangnya?” tanya Chris. Julie bisa mendengar tawa
dalam suaranya.
“Sangat tampan. Benar-benar tipemu,” kata Julie sambil terkekeh pelan. “Dan
dia kelihatannya baik.”
“Aduh, aku jadi ingin melihatnya,” erang Chris. Tetapi suaranya dengan segera
berubah serius. “Lalu bagaimana dengan Naomi? Apakah dia baik-baik saja?”
“Ya,” sahut Julie. “Kau tahu, aku melihatnya tersenyum, bahkan tertawa,
bersama laki-laki itu. Sudah lama sekali aku tidak melihatnya seperti itu. Itu bagus,
bukan?”
“Ya. Ya, tentu saja,” sahut Chris. Ia terdiam sejenak, lalu menambahkan,
“Kuharap begitu.”
* * *
Bukankah Danny bilang Naomi tidak menyukainya? pikir Bobby Shin dalam hati sambil
mengamati kedua orang itu dari belakang kamera. Apakah yang dinamakan tidak suka
itu seperti ini?
Saat itu adalah pengambilan adegan Danny dan Naomi bersama dan hubungan
kedua orang itu terlihat baik-baik saja, di depan maupun di belakang kamera. Malah
Bobby Shin agak tidak sabar ketika Danny selalu membuat Naomi kehilangan
ekspresi serius yang diinginkannya. Seharusnya mereka berdua berdiri berhadapan
dan berpegangan tangan, lalu wajah Naomi perlahan-lahan terangkat menatap
Danny, dan setelah itu ia harus tersenyum dengan mata berkaca-kaca karena
akhirnya ia berhasil bertemu dengan laki-laki yang selalu menolongnya dan
mencintainya dari jauh. Seharusnya itu menjadi adegan yang romantis. Tetapi
kenyataannya?
“Danny, kita tidak sedang membuat film komedi di sini,” Bobby Shin
memperingatkan dari belakang kamera.
Danny berbalik dan membungkukkan badan meminta maaf. Naomi juga ikut
membungkukkan badan, tetapi ia melakukannya sambil membekap mulut dengan
tangan, menahan tawa.
Bobby Shin mengembuskan napas. “Sekali lagi,” katanya.
“Astaga, jangan tertawa terus. Aku jamin kau tidak mau melihat Hyong kalap,”
kata Danny kepada Naomi, namun Bobby Shin bisa melihat mata Danny bersinarsinar
tertawa. Lalu ia menunduk dan mengatakan sesuatu kepada Naomi yang tidak
terdengar oleh Bobby Shin, dan sedetik kemudian gadis itu menatap Danny dengan
matnaya yang besar itu dengan tatapan heran, lalu melirik Bobby Shin, dan
akhirnya kembali menatap Danny yang mengangguk-angguk kecil.
Bobby Shin menghela napas dan menggeleng-geleng. Anak itu benar-benar...
Kemudian ia melihat senyum Naomi perlahan-lahan mengembang. Oh, oh, oh!
Bobby Shin dengan cepat memberi isyarat kepada kamerawan yang memegang
kamera satu untuk mengambil gambar close-up. Segera saja wajah Naomi yang
tersenyum memenuhi monitor di hadapan Bobby Shin.
Sangat bagus, pikir Bobby Shin sambil tersenyum senang. Ia sudah pasti bisa
memakai gambar ini nanti.
Bobby Shin kembali mengangkat wajah dan menatap kedua orang yang berdiri
di depan kamera itu. Ia tidak peduli bagaimana bentuk hubungan mereka. Naomi
Ishida boleh saja tidak suka pada Danny—walaupun Bobby Shin tidak yakin
kenyataannya seperti itu—dan Danny boleh saja bercanda sesuka hatinya, asalkan
Bobby Shin bisa mendapatkan gambar yang diinginkannya. Hanya itu yang penting.
Setidaknya bagi Bobby Shin. Dan saat ini pekerjaan harus tetap dilanjutkan.
Bobby Shin bertepuk tangan dua kali dan berseru, “Semuanya kebali ke posisi
awal. Kita coba sekali lagi.”
Bab Delapan
“SUDAH berapa lama?” tanya Chris kepada Julie.
Julie mengangkat bahu. “Tiga minggu? Sekitar itulah.”
Mereka berdua duduk berhadapan di meja dapur dengan cangkir di tangan.
Julie menyesap kopi paginya seperti biasa sementara Chris menggenggam secangkir
teh Earl Grey.
“Dia benar-benar sudah berubah, bukan?” tanya Chris lagi.
“Dia tidak gila kerja seperti dulu,” kata Julie sambil mengangguk. “Jadwal
kerjanya juga tidak sepadat dulu.”
“Dan dia makan dengan teratur. Biasnaya dia bahkan hampir tidak pernah... oh,
aku tidak mau memikirkan dia dulu yang jarak makan,” kata Chris gemetar, lalu
menyesap tehnya. “Aku jadi ingin bertemu dengan orang bernama Danny Jo itu.”
Julie merenung. “Kurasa mereka berdua...” Ia berhenti sejenak, lalu menatap
Chris. “Chris, mungkinkah dia menyukai laki-laki itu? Bagaimanapun juga, mereka
masih berhubungan walaupun syuting video musik itu sudah selesai.”
Saat itu pintu kamar Naomi terbuka dan kedua orang di meja dapur serentak
menoleh ke arahnya. Naomi berdiri di ambang pintu dalam balutan jubah tidur dan
dengan wajah seseorang yang jelas-jelas baru bangun tidur. Itu adalah perubahan
lagin yang disadari teman-temannya dalam diri Naomi selama tiga minggu terakhir.
Waktu tidurnya juga membaik.
“Selamat pagi, Sunshine,” sapa Chris riang. “Ayo bergabung dengan kami dan
muffin-muffin lucu yang baru kubuat ini.”
Naomi menguap lebar, lalu menatap kedua temannya. “Apa yang sedang kalian
bicarakan?”
“Tentang bagaimana Danny berhasil membuatmu berubah,” sahut Chris
langsung, dan tersenyum lebar ketika Naomi menatapnya dengan mata disipitkan.
“Dan kami sama sekali tidak mengeluh.”
Naomi menyeduh secangkir teh hijau untuk dirinya sendiri dan bergabung
dengan mereka di meja. Ia meraih salah satu muffin cokelat dari piring besar di atas
meja, lalu menatap kedua temannya bergantian. “Apa?” tanyanya.
Kedua temannya hanya menggeleng-geleng sambil tersenyum lebar. “Apa yang
akan kaulakukan hari ini?” tanya Chris.
“Hmm, ini enak sekali,” sahut Naomi setelah menggigit muffin-nya. “Siang nanti
aku harus pergi menemui Miho. Dia sudah kembali ke London dan katanya banyak
yang mau diceritakannya padaku. Kurasa dia juga mau mengajakku menemui salah
satu perancang busana yang akan ditampilkannya dalam majalah. Lalu setelah itu
aku ada jadwal pemotretan.”
Chris meletakkan cangkir tehnya dengan pelan, lalu berdeham. “Kau tidak
pergi menemui Danny-mu hari ini?” tanyanya, memasang sikap pura-pura tidak
terlalu tertarik, namun gagal total.
Naomi mengangkat bahu. “Entahlah,”gumamnya. “Mungkin hari ini tidak akan
sempat.”
“Ngomong-ngomong, kau akan mengajaknya ke pertunjukan perdanaku
nanti?” tanya Julie tiba-tiba.
Chris menjentikkan jari. “Ya, benar. Ajak saja dia. Aku sudah penasaran ingin
bertemu Danny-mu itu. Aku sering mendengar tentang dia tapi belum pernah
melihat orangnya. Gagasan yang bagus, Julie,” katanya cepat. Ia kembali menatap
Naomi dengan wajah berseri-seri. “Julie pernah bilang dia sangat tinggi dan tampan.
Benar-benar tipeku.”
Naomi mengerutkan alis, lalu tertawa pendek. “Oh, dear.”
Chris mengibaskan tangan. “Tenang saja,” katanya ringan. “Aku hanya akan
mengagumi dari jauh. Aku tidak pernah merampas milik temanku sendiri.”
Naomi mendengus. “Milik...”
“Telepon dia sekarang,” sela Julie cepat. “Tanyakan padanya apakah dia bisa
datang ke pertunjukanku atau tidak. Dia boleh mengajak teman-temannya, tentu
saja. Semakin banyak orang yang datang menonton pertunjukan itu semakin baik.
Ini peran penting pertamaku, kalian tahu? Peranku memang hanya sebagai sahabat
tokoh utamanya, tapi kupastikan pada kalian bahwa itu peran yang sangat penting.”
Naomi mendongak menatap jam kecil di atas kulkas. “Telepon sekarang?”
tanyanya.
“Ya. Biar aku tahu berapa lembar tiket yang harus kuberikan kepadamu,” kata
Julie.
Naomi masuk kembali ke kamar untuk mengambil ponselnya, lalu kembali ke
dapur dengan ponsel ditempelkan ke telinga. Beberapa detik kemudian ia
menggeleng dan mematikan ponsel. “Sedang sibuk. Nanti saja baru kutelepon lagi,”
katanya. Lalu ia kembali melirik jam. “Sebaiknya aku mandi sekarang.”
Chris tetap diam, menunggu sampai Naomi mengunci diri di kamar mandi, lalu
bergegas berbisik kepada Julie dengan penuh semangat, “Kau dengar tadi? Aku
menyebut Danny-nya dua kali dan...”
“Dan dia tidak membantah,” Julie menyelesaikan kalimat Chris sambil
tersenyum. “Menarik sekali.”
* * *
Satu jam kemudian Naomi sudah berada di dalam mobil VW hijau nyetrik milik
Miho Nakajima dan mendengarkan temannya itu bercerita tentang apa yang
dialaminya selama liburan di Korea.
“Jadi pesta ulang tahun kakekmu diadakan besar-besaran?” tanya Naomi.
“Ya. Mereka mengundang banyak orang,” sahut Miho dari balik kemudi.
“Tentu saja itu bagus bagiku. Kau tahu aku suka berada di antara banyak orang.
Dan yang lebih baik adalah banyak di antara para tamu yang bisa berbahasa Inggris.
Aku tidak merasa aneh sendiri dan aku bertemu dengan banyak orang yang
menarik.”
Naomi tersenyum, memahami maksud temannya. “Maksudmu, banyak pria
menarik?”
Miho tertawa. “Itu juga,” akunya. “Oh, liburan kali ini sangat hebat.”
Ketika Miho menghentikan mobil di depan sebuah gedung bergaya modern di
daerah Covent Garden, Naomi mengerutkan kening. “Miho, kenapa kita berhenti di
sini? Kukira kita mau pergi menemui perancang busana itu.”
“Oh, aku harus memberikan barang titipan kepada seseorang,” kata Miho
sambil mengambil sebuah bungkusan dari kursi belakang mobil. “Ada teman ibuku
ingin mengirimkan ginseng kepada anak laki-lakinya yang tinggal di London. Dan,
dia menitipkannya kepadaku.”
“Oh,” gumam Naomi sambil keluar dari mobil.
“Tapi aku yakin itu hanya alasan,” kata Miho lagi. “Aku yakin dia dan ibuku
berkomplot ingin menjodohkan aku dengan anak laki-lakinya.”
Alis Naomi terangkat. “Oh, ya?”
“Wanita itu menunjukkan foto anaknya kepadaku,” aku Miho. “Di foto itu anak
laki-lakinya memang terlihat sempurna menurut penilaianku. Tapi siapa tahu?
Fotobisa dipermak di sana-sini. Mungkin orang aslinya tidak sesempurna di foto.”
“Karena itu kau mengajakku?” tebak Naomi sambil meringis.
Miho tersenyum meminta maaf. “Kalau ternyata laki-laki itu berbeda jauh
dengan foto yang kulihat, aku tidak ingin berlama-lama di sini. Kau bisa menjadi
alasanku untuk cepat-cepat kabur.”
“Kalau ternyata dia sesempurna di foto?”
“Kau boleh menyingkir jauh-jauh dan membiarkan aku mengurusnya sendiri,”
gurau Miho.
Naomi menghela napas lalu menggeleng-geleng. Ia kembali mendongak
menatap gedung di hadapannya. Kebetulan sekali laki-laki yang ingin ditemui Miho
bekerja di studio Bobby Shin. Mungkin ia bisa menemui Danny sebentar sementara
Miho menemui siapa pun yang ingin ditemuinya itu. Tentu saja itu kalau Danny
tidak terlalu sibuk.
* * *
Danny sedang mengedit gambar bersama salah seorang editor ketika ponselnya
berbunyi. Ia menatap layar ponselnya. Dari kakaknya? Danny keluar dari ruangan
untuk menerima telepon. “Hai, Nuna,” sapanya pendek.
“Hei, In-Ho. Kuharap aku tidak mengganggumu,” suara Anna Jo yang halus
terdengar di ujung sana.
“Tidak. Tidak apa-apa,” sahut Danny sambil keluar ke koridor dan menutup
pintu di belakangnya. “Ada apa?”
“Sudah beberapa hari ini aku bermaksud meneleponmu, tapi entah kenapa aku
lupa,” kata Anna. “Ini soal Ibu dan ambisinya.”
Danny duduk di salah satu bangku yang berderet di koridor dan tersenyum
kecil. Ia bisa menebak arah pembicaraan kakaknya. “Ibu dan ambisinya,” ulangnya
pelan.
“Ya. Minggu lalu Ibu pergi menghadiri pesta—jangan tanyakan padaku pesta
apa. Aku tidak tahu—dan dia bertemu dengan seorang temannya, atau kenalannya,
atau semacamnya...”
“Dan temannya, atau kenalannya, atau semacamnya itu punya seorang anak
perempuan?” tebak Danny.
“Ya. Dan kebetulan sekali anak perempuan orang itu akan pulang ke London.
Jadi Ibu bertanya padanya apakah dia boleh menitipkan ginseng kepada gadis itu
untuk diberikan kepadamu.”
“Mm-hmm. Ginseng. Benar-benar kreatif.”
“Jadi aku ingin memperingatkanmu bahwa Ibu masih belum menyerah dalam
usahanya menjodohkanmu, walaupun kau sudah melarikan diri sampai ke seberang
samudra,” kata Anna sambil tertawa.
“Aku sudah menduganya,” desah Danny.
“Apa?”
“Tadi pagi dia sudah meneleponku.”
“Siapa? Ibu?”
“Bukan,” sahut Danny singkat. “Wanita itu.”
“Wanita yang mana? Maksudmu yang ingin dijodohkan Ibu denganmu?” tanya
Anna heran.
“Mm-hmm.”
“Oh, jadi dia sudah ada di London? Bagaimana rupanya? Apa katanya?”
Danny tertawa. “Nuna, aku belum bertemu dengannya. Dia hanya meneleponku
tadi. Kurasa Ibu yang memberikan nomor teleponku kepadanya. Dia tidak berkata
apa-apa, hanya bahwa Ibu menitipkan ginseng untukku. Kami akan bertemu nanti.”
Ia melirik jam tangannya. “Malah sebentar lagi dia akan datang ke sini.”
“Oh, In-Ho, kau harus menceritakannya kepadaku nanti. Aku ingin tahu
bagaimana rupanya. Kata Ibu wanita itu cantik dan akan sangat cocok untukmu.
Tapi kurasa Ibu selalu berkata begitu tentang semua wanita yang ingin
dijodohkannya denganmu,” kata Anna penasaran. “Apakah kau akan mengajaknya
makan siang? Kurasa di sana sekarang masih siang, bukan? Siapa tahu kau akan
menyukai yang satu ini.”
Danny meringis. “Aku sangat meragukannya. Nuna jangan terlalu berharap.
Dan tolong katakan pada Ibu untuk berhenti menjodoh-jodohkan aku. Aku benarbenar
tidak mau ikut dalam permainan ini lagi.”
“Memangnya kenapa? Bukankah kau belum pernah bertemu dengan gadis ini?
Bukannya aku membela Ibu, tapi kau jangan berkata tidak sebelum kau... Tunggu,
aku mencium sesuatu di sini.” Anna terdiam sejenak, lalu bertanya curiga, “Jo In-
Ho, apakah kau sudah bertemu dengan seseorang di sana?”
Senyum Danny melebar. Kakaknya memang sangat tajam. Ia baru hendak
menjawab ketika seseorang memanggilnya. Ia mendongak dan melihat salah
seorang rekan kerjanya berkata bahwa ada tamu untuknya di bawah. Danny
mengangguk dan mengangkat sebelah tangan untuk berterima kasih. Kemudian ia
berkata kepada kakaknya di telepon. “Dengar, Nuna, aku harus pergi sekarang.
Kurasa wanita itu sudah datang. Lain kali saja kita bicara lagi.”
“Jo In-Ho...”
“Aku tutup dulu, Nuna.”
Danny langsung menutup ponsel sambil tersenyum puas. Kakaknya pasti
uring-uringan. Oh, itu sudah pasti. Tapi Danny akan membiarkan kakaknya
menebak-nebak dulu. Setidaknya untuk sementara.
* * *
Naomi menatap ponselnya dengan kening berkerut. Kenapa ponsel Danny masih
sibuk? Ia mengembuskan napas dan kembali menghampiri Miho yang duduk di
salah satu sofa yang tersedia setelah memberikan nama orang yang ingin
ditemuinya kepada si resepsionis.
Miho mendongak menatapnya. “Kenapa? Temanmu tidak ada?” tanyanya.
“Mungkin sedang sibuk,” sahut Naomi dan duduk di samping Miho.
Tidak lama kemudian Miho menyikutnya. “Coba lihat. Kurasa itu dia.”
Naomi menoleh ke arah meja resepsionis. Ada seorang laki-laki bertubuh
jangkung di sana, berbicara kepada resepsionis. Lho, bukankah itu...? Naomi
mengerjap kaget. Danny Jo?
“Astaga, dia kelihatan persis seperti di fotonya,” gumam Miho bersemangat.
“Sama persis. Sempurna.”
Naomi menoleh menatap temannya yang mengamati Danny dengan mata
berkilat-kilat memuji. Mendadak saja jantungnya mulai berdebar lebih keras. Oh,
dear. Jangan katakan bahwa orang yang dijodohkan dengan Miho adalah Danny Jo.
Kemudian Danny menoleh ketika si resepsionis menunjuk ke arah Naomi dan
Miho. Mata Danny langsung tertuju pada Naomi dan senyumnya pun
mengembang. Oh, dear, kenapa ia harus tersenyum seperti itu? pikir Naomi tanpa
sadar. Naomi kembali melirik Miho. Tentu saja Miho juga melihat senyum itu. Dan
kilatan baru yang dilihatnya di mata Miho menegaskan kecurigaannya.
“Naomi, kenapa kemari?” tanya Danny sambil menghampiri Naomi dengan
langkah lebar. Dan senyum terkutuk itu masih tersungging di bibirnya.
Naomi menyadari kepala Miho berputar cepat ke arahnya. “Kau
mengenalnya?” bisik Miho dengan nada heran.
Naomi cepat-cepat berdiri dan memaksa bibirnya tersenyum. “Hai, Danny.”
“Aku baru berencana mengajakmu makan siang bersama nanti,” kata Danny,
masih menatap Naomi. “Ternyata kau sudah datang ke sini.”
“Eh, sebenarnya...” Naomi menoleh ke arah Miho yang juga sudah berdiri di
sampingnya. “Ini temanku, dan eh...” Ia benar-benar tidak tahu bagaimana
menjelaskan keadaan ini karena ia sendiri masih bingung.
Miho dengan tangkas mengambil alih keadaan. Ia mengulurkan tangan ke arah
Danny dan menyunggingkan senyum cerah yang sudah sering ditunjukkannya di
depan kamera. “Halo,” katanya lancar. “Aku Miho Nakajima, orang yang
meneleponmu tadi pagi.”
Danny menjabat tangannya. “Oh?” Ia juga terlihat agak bingung sementara ia
memandang Miho dan Naomi bergantian. “Jadi...”
“Sebenarnya Naomi hanya menemaniku ke sini untuk menemuimu,” Miho
menjelaskan dengan lancar. “Aku tidak tahu ternyata kalian berdua saling
mengenal. Ini kejutan yang menyenangkan.”
“Rupanya begitu. Ini memang kejutan,” kata Danny sambil menganggukangguk
kecil. Lalu ia menyadari sesuatu. “Oh ya, maaf, aku lupa memperkenalkan
diri. Aku Danny Jo. Senang berkenalan denganmu. Teman Naomi adalah temanku
juga.”
Miho menyodorkan bungkusan yang dipegangnya. “Ini titipan dari ibumu.”
“Terima kasih. Aku minta maaf karena sudah merepotkan,” kata Danny.
“Aku sama sekali tidak keberatan.”
Naomi melirik Miho dan harus mencegah dirinya memutar bola matanya.
Wajah Miho jelas-jelas menunjukkan bahwa ia sangat tertarik dengan yang ada di
depan matanya.
“Ngomong-ngomong,” kata Danny lagi sambil menatap Naomi dan Miho
bergantian, “tadinya aku bermaksud mengajak Naomi makan siang bersama.
Bagaimana kalau kau juga ikut dengan kami? Kau sudah berbaik hati membawakan
titipan ibuku sampai ke kantorku, paling tidak aku bisa mentraktirmu makan
siang.” Ia melirik jam tangannya, lalu menatap Naomi, “Bagaimana kalau kira-kira
satu setengah jam lagi?”
“Aku tidak bisa,” sahut Naomi, agak kaget menyadari nada suaranya terdengar
ketus. “Ada pekerjaan siang ini.”
Danny mengangkat alis.
Kali ini Naomi menjaga suaranya tetap terkendali dan cepat-cepat
menambahkan, “Aku akan makan. Tenang saja. Aku pasti makan. Hanya saja aku
tidak akan punya cukup waktu untuk makan siang di luar.”
“Itu bagus,” kata Danny sambil tersenyum kecil.
“Aku bebas siang ini,” sela Miho tiba-tiba.
Danny mengalihkan tatapan dan senyumnya dari Naomi dan mengarahkannya
kepada Miho. “Baiklah,” katanya ringan. “Bagaimana kalau satu setengah jam lagi
kita bertemu di Covent Garden Piazza? Kita bisa menemukan banyak pilihan di
sana.”
“Tentu saja,” sahut Miho.
Kepala Naomi tiba-tiba terasa berdenyut-denyut. Astaga, ada apa lagi dengan
dirinya? Ia sudah cukup tidur dan cukup makan. Kenapa kepalanya kembali
bermasalah?
Beberapa menit kemudian mereka berdua sudah duduk kembali di dalam VW
hijau Miho dan Naomi harus mendengarkan celotehan Miho yang menggebu-gebu.
“Ini benar-benar kebetulan, bukan, Naomi?” tanya Miho sambil tertawa. “Ternyata
Danny Jo itu temanmu. Dunia memang sempit. Kenapa kau tidak pernah bilang kau
punya teman setampan itu?”
Naomi hanya tersenyum dan bergumam tidak jelas.
“Dan apakah sudah kubilang bahwa dia sama persis dengan foto yang kulihat?”
lanjut Miho. “Ini benar-benar hebat. Naomi, kau harus menceritakan semua tentang
dia kepadaku.”
Naomi menoleh menatap temannya. “Kenapa aku?”
Miho tertawa. “Apakah itu juga perlu ditanya? Kau temannya dan kau tahu
lebih banyak tentang dirinya. Sudah jelas kau bisa membantuku.”
Tidak tahu apa yang harus dikatakannya, Naomi kembali tersenyum, lalu
memalingkan wajah ke luar jendela dan mengembuskan napas pelan.
Oh, dear...
Bab Sembilan
KETIKA pulang malam itu, Naomi menemukan flat dalam keadaan kosong. Chris
dan Julie belum pulang. Naomi mendesah dan berjalan ke dapur. Tidak ada Chris
berarti tidak ada makan malam. Ia meletakkan tas besarnya ke atas meja dapur dan
membuka kulkas. Ia menemukan cottage pie yang sudah dimakan setengah. Entah
milik siapa, tapi Naomi tidak peduli. Tidak ada catatan yang tertempel di sana yang
menyatakan bahwa cottage pie itu tidak boleh dimakan. Lagi pula Naomi lapar. Ia
memasukkan cottage pie ke dalam microwave, lalu meraih tasnya dan masuk ke
kamarnya.
Empat puluh menit kemudian ia sudah selesai mandi, keramas, dan duduk di
depan televisi di ruang tengah sambil melahap cottage pie-nya. Tayangan berita di
televisi tidak berhasil menarik perhatiannya. Pikirannya selalu kembali kepada
kejadian siang tadi dan tanpa sadar ia menusuk cottage pie-nya dengan tenaga yang
lebih besar daripada yang diperlukan.
Tiba-tiba ponselnya yang tergeletak di meja berbunyi dan lamunannya buyar.
Alisnya terangkat ketika membaca nama yang muncul di layar. “Apa?” katanya
singkat setelah ponsel ditempelkan ke telinga.
“Kenapa kau marah-marah padaku?”
Waluapun Naomi tidak menyadarinya, tetapi kini hanya mendengar suara
Danny saja bisa membuat sudut-sudut bibirnya melengkung ke atas membentuk
senyuman. Seperti sekarang.
“Aku tidak marah,” kata Naomi, mencegah senyumnya terdengar dalam
suaranya.
“Kukira kau rindu padaku.”
Naomi mendengus. “Aku sudah pasti tidak rindu padamu.”
“Kalau begitu kau mau aku menutup telepon?”
“Kenapa kau meneleponku?”
Danny tertawa, lalu berkata, “Ada yang ingin kukatakan padamu.”
“Apa? Katakan saja.”
“Sekarang kau ada di rumah?”
“Mmm.”
“Aku ingin kau melihat ke luar jendela. Ada sesuatu di sana.”
Naomi mengerutkan kening. “Apa maksudmu? Jangan menakutiku, Danny.”
“Tidak, tidak. Justru yang akan kaulihat itu akan membuatmu gembira. Lihatlah
ke luar jendela.”
Noami berdiri dan berjalan ke jendela. “Apa yang harus kulihat?” tanyanya
sambil menyibakkan tirai dan mendongak menatap langit gelap di atas sana. Tetapi
tidak terlihat apa pun. Bintang pun tidak ada. “Tidak ada apa-apa, Danny.
Memangnya menurutmu langit yang hitam bisa membuatku gembira?”
“Itu karena kau melihat ke arah yang salah,” kata Danny.
“Apa?”
“Lihat ke bawah.”
Naomi menunduk menatap jalan di bawah sana dan matanya langsung melebar
melihat Danny berdiri di trotoar di depan gedung flatnya. “Oh, dear,” gumamnya
tanpa sadar.
Danny tersenyum lebar dan mengangkat tangannya yang tidak memegang
ponsel. “Halo. Kau gembira melihatku, bukan?” katanya.
Naomi mendesah berat, namun ia tidak bisa mencegah dirinya tersenyum.
“Danny Jo, sedang apa kau di situ?”
“Temanmu ada di rumah?” tanya Danny.
“Tidak. Mereka belum pulang.”
“Kalau begitu kau bisa turun sebentar?”
Naomi tahu kenapa Danny tidak memilih naik ke flatnya. Walaupun mereka
berteman baik dan Naomi tidak menganggap Danny sama dengan laki-laki lain,
sepertinya Danny tahu Naomi masih merasa tidak nyaman apabila berdua saja
dengannya di dalam ruangan tertutup. “Tunggu di sana,” kata Naomi ke ponselnya.
“Aku akan segera turun.”
Tidak lama kemudian mereka sudah duduk di ayunan di taman bermain anakanak
yang tidak jauh dari flatnya. Danny merogoh saku jaketnya dan mengulurkan
sehelai saputangan kepada Naomi. “Aku datang ke sini untuk mengembalikan ini,”
katanya.
Naomi menerimanya dengan kening berkerut heran. “Ini bukan milikku.”
“Memang bukan. Itu milik temanmu, Miho,” kata Danny. “Dia meninggalkannya
ketika kami makan siang tadi.”
Naomi mengeluarkan suara yang terdengar seperti dengusan dan tawa pendek.
“Aku tidak percaya ini. Dia memakai taktik saputangan,” gumamnya lirih.
“Apa katamu?”
“Tidak apa-apa,” kata Naomi cepat. “Lalu kenapa kau tidak mengembalikannya
sendiri kepadanya? Aku yakin itu yang diinginkannya.”
“Aku pasti sudah melakukannya kalau aku tidak menghilangkan nomor
teleponnya,” sahut Danny ringan.
Naomi berdeham pelan. “Makan siang kalian menyenangkan?”
Danny mengangguk. “Tentu saja.”
“Aku yakin begitu,” kata Naomi, tidak sanggup menyingkirkan nada tajam
dalam suaranya. Lalu ia melirik Danny dan menambahkan, “Ngomong-ngomong,
dia juga tertarik padamu.”
“Oh ya?”
“Dia mencekokiku dengan ratusan pertanyaan tentangmu setelah kami bertemu
denganmu tadi,” sahut Naomi. “Aku yakin dia pasti ingin kau sendiri yang
mengembalikan saputangan ini kepadanya. Dia pasti berharap kau meneleponnya.
Bagaimanapun juga, dia sudah memberikan nomor teleponnya kepadamu.”
Danny menoleh menatapnya dan tersenyum. “Menurutmu begitu? Benar juga.
Mungkin aku harus mencari nomor teleponnya lagi. Mungkin aku memang harus
mengembalikan saputangan itu sendiri kepadanya.”
Tetapi Naomi tidak menunjukkan tanda-tanda ia akan melepaskan saputangan
yang dipegangnya.
“Apa pendapatmu tentang Miho?” tanya Naomi, tidak bisa menahan diri.
“Temanmu orang yang menyenangkan,” sahut Danny ringan. “Cantik, ramah,
lucu, dan tidak pernah kehabisan bahan obrolan.”
Naomi memberengut ke arah saputangan dalam cengkeramannya.
“Bisa dibilang dia benar-benar tipeku,” tambah Danny. “Tapi...”
Naomi meliriknya. “Tapi apa?”
Danny mengangkat bahu. “Entah tipe seperti itu tidak lagi menarik minatku,”
katanya terus terang. Lalu ia menatap Naomi dan berkata, “Kurasa sekarang ini aku
menginginkan sesuatu yang dulunya bukan tipeku.”
Naomi tidak mengerti. Jadi ia hanya balas menatap Danny tanpa berkata apaapa.
Sedetik kemudian Danny mendesah dan merogoh saku bagian dalam jaketnya.
“Ini alasan kedua aku datang ke sini,” katanya sambil mengacungkan sekeping CD
dalam kotak bening.
“Apa itu?”
“Video musik kita waktu itu. Ini hasil akhirnya. Kukira kau pasti ingin
melihatnya.”
“Benarkah?” Senyum Naomi mengembang. “Kau sudah melihatnya?”
Danny mengangguk. “Tentu saja. Penampilanmu hebat.”
Naomi menatap CD itu, lalu menoleh ke arah Danny. Ia ragu sejenak, lalu
bertanya, “Kau mau melihatnya bersamaku? Di flatku?”
Danny balas menatapnya. “Kau yakin?”
Naomi tersenyum dan mengangguk. “Ya.”
* * *
“Naomi, apakah itu kau?” Suara pria berlogat Skotlandia itu langsung menyambut
mereka begitu mereka memasuki flat. Alis Danny berkerut. Suara laki-laki?
“Ya, ini aku,” Naomi balas berseru.
“Sayang, apakah kau yang menghabiskan cottage pie yang kusimpan di dalam
kulkas?” tanya suara itu lagi, yang sepertinya berasal dari arah dapur.
“Itu Chris,” kata Naomi kepada Danny.
Chris? Tapi... Sebelah alis Danny terangkat dan ia menoleh menatap Naomi.
“Sayang?” gumamnya pelan.
Naomi mengerjap. “Ah, itu...”
Namun sebelum Naomi sempat menjelaskan, seorang laki-laki bertubuh
ramping, jangkung dan berambut gelap muncul dari dapur. “Lass, apakah kau yang
menghabiskan cottage pie—oh!” Kata-katanya terhenti ketika ia menyadari bahwa
mereka kedatangan tamu.
Naomi buru-buru memperkenalkan mereka. “Chris, perkenalkan ini Danny.
Danny, ini teman satu flatku yang lain, Chris.”
“Danny? Danny yang itu?” kata Chris sambil menatap Danny dengan mata
birunya yang berkilat-kilat. Senyumnya mengembang dan ia menjabat tangan
Danny. “Senang sekali akhirnya bertemu denganmu. Aku sudah mendengar banyak
cerita tentang dirimu. Biar kukatakan padamu, kau sama persis seperti yang mereka
gambarkan padaku. Ayo, masuklah. Kau mau minum? Sudah makan malam? Oh,
naomi, lupakan saja soal cottage pie itu. Kau boleh makan apa pun sesuka hatimu.”
“Sebenarnya Danny datang ke sini untuk menunjukkan video musik yang kami
kerjakan beberapa minggu yang lalu,” kata Naomi.
“Oh, video musik itu?” tanya Chris sambil bertepuk tangan. “Boleh aku ikut
menonton?”
“Tentu saja,” sahut Danny ringan.
Tepat pada saat itu pintu terbuka dan seorang gadis berambut merah dan
bermata hijau melangkah masuk. “Halo? Kenapa kalian semua berkerumun di
belakang pintu? Oh, rupanya ada tamu.”
Danny ingat gadis itu. Kalau tidak salah namanya Julie, teman Naomi yang
pernah dijumpainya di taman beberapa minggu yang lalu.
Naomi kembali memperkenalkan mereka. “Julie, masih ingat Danny? Danny, ini
Julie.”
“Kami akan menonton video musik yang mereka bintangi bersama,” sela Chris
sementara Julie dan Danny bertukar sapa.
“Oh, bagus. Aku juga ingin ikut menonton,” kata Julie.
“Ayo, semuanya pindah ke ruang duduk,” seru Chris sambil menggiring
mereka ke ruang duduk yang kecil dan nyaman. “Sepertinya masih ada anggur
merah yang tersisa. Tunggu, akan kuambilkan. Dan juga masih ada sherry trifle yang
kubuat kemarin. Julie, Sayang, kau bisa membantuku di dapur? Biar Naomi saja
yang menemani tamu kita sebentar.”
Danny tersenyum mengamati kedua teman satu flat Naomi keluar dari ruang
duduk dan berjalan ke dapur sambil terus mengobrol. Ia menduga suasana di flat ini
tidak pernah sepi. Dan ia menyukai kenyataan itu. Flat yang nyaman dan temanteman
yang ramah.
Naomi menoleh kepada Danny dan tersenyum meminta maaf. “Mereka agak
berisik, bukan?”
Danny tertawa, lalu berkata, “Aku sama sekali tidak keberatan. Kau punya
teman-teman yang luar biasa. Aku iri padamu.” Dan itu memang benar.
“Kau boleh mengambil mereka dari sini kapan saja,” gurau Naomi.
“Ngomong-ngomong, kau tidak pernah bilang bahwa teman satu flatmu
ternyata laki-laki,” kata Danny, tiba-tiba teringat pada persoalan yang
mengganggunya sejak ia masuk ke flat ini.
Naomi memiringkan kepala dan berpikir-pikir. “Aku yakin aku pernah
menyebut-nyebut soal Chris.”
“Memang. Tapi kau hanya bilang bahwa kau punya dua teman yang tinggal
satu flat denganmu. Julie dan Chris. Kukira Chris itu wanita,” kata Danny. Ia ragu
sejenak, lalu bertanya, “Apakah dia...?”
“Ya, dia gay,” sahut Naomi, langsung tahu apa maksud Danny. Namun
matanya menyipit ketika menatap Danny. “Tapi kuharap kau tidak mempermasalahkan
kenyataan itu.”
Danny menggeleng. “Tidak, sama sekali tidak. Mungkin kau tidak percaya, tapi
aku senang dia gay.”
Alis Naomi berkerut bingung, namun ia tersenyum.
Tetapi apa yang dikatakan Danny tadi benar. Karena ia yakin wanita man pun
ingin tenggelam dalam mata biru Chris. Bahkan mungkin Naomi juga akan
mengakuinya. Oh, sialan, jangan-jangan...
“Apakah kau juga tertarik pada mata birunya?” tanya Danny tiba-tiba sambil
menatap Naomi lurus-lurus. Ia sadar pertanyaannya terdengar aneh dan tidak
berhubungan, tetapi ia sungguh tidak bisa menahan diri.
Kali ini Naomi tertawa. “Apa maksudmu?”
“Maksudku, apakah kau berharap dia bukan gay?” tanya Danny, lalu merasa
pertanyaannya semakin aneh. “Maksudku, apakah kau merasakan sesuatu... Oh,
sialan. Lupakan saja kata-kataku. Aku sendiri tidak mengerti apa yang ingin
kukatakan.”
Hening sejenak sementara Danny mengomeli ketololannya sendiri. Sesaat
kemudian Naomi memecah keheningan. “Tidak,” katanya.
Danny kembali menoleh kepadanya. “Apa?”
Naomi tersenyum kecil. “Jawaban untuk pertanyaanmu,” sahutnya. “Apakah
aku tertarik pada mata birunya? Tidak.”
Danny menatap mata Naomi dan ia merasa dirinyalah yang mulai tenggelam
dalam mata hitam itu. “Oh,” gumamnya tidak jelas.
“Apakah aku berharap dia bukan gay?” Naomi mengulangi pertanyaan Danny
tadi, lalu menjawab sendiri, “Tidak.”
Saat itu, suara Naomi seolah-olah menyihirnya. Danny tidak bisa melakukan
apa-apa selain menatap gadis yang duduk di sampingnya di sofa di ruang duduk
kecil itu dan mendengarkan setiap patah katanya. Ia juga sadar bahwa ia menahan
napas.
Naomi kembali melanjutkan, “Apakah aku merasakan sesuatu...?” Ia menatap
Danny dengan mata berkilat-kilat tertawa. “Ya.”
Apa? Apa? Danny merasa jantungnya seolah-olah jatuh ke lantai. Oh, sialan.
Namun sebelum Danny sadar sepenuhnya, atau sebelum ia sempat mencerna
kata-kata Naomi, atau sebelum perasaan aneh itu mulai mengacaukan otak dan
indranya, ia mendengar suara Chris yang lantang dan ceria, “Siapa yang mau sherry
trifle?”
Bab Sepuluh
“DIA benar-benar seperti yang kaugambarkan, Julie.”
Naomi menyesap tehnya sambil tersenyum. Chris sudah mengulang-ulang
kalimat itu setidaknya delapan kali sejak Danny meninggalkan flat mereka kemarin
malam sampai pagi ini ketika mereka bertiga berkumpul di dapur kecil mereka.
“Dia benar-benar tipeku,” tambah Chris lagi sambil menggoreng telur.
“Singkirkan mimpi itu sebelum kau patah hati,” Julie menyarankan acuh tak
acuh dan menguap lebar. Lalu ia menoleh ke arah Naomi. “Ngomong-ngomong,
kau harus mengajaknya menonton pertunjukanku nanti. Ini pertunjukan pertama di
mana aku mendapat peran utama, kalian tahu?”
Tepat pada saat itu terdengar bel pintu berbunyi.
“Siapa lagi yang datang pagi-pagi begini?” gerutuChris. “Kalian sedang
menunggu seseorang?”
Julie bangkit dan berjalan ke pintu dengan langkah terseok-seok. Terdengar
pintu terbuka, lalu terdengar suara Julie yang berkata, “Oh, Miho. Masuklah!”
Naomi mengangkat wajah dan mengerjap. Miho? Dan ia teringat bahwa ia
belum bercerita kepada Chris dan Julie tentang kejadian antara dirinya, Miho dan
Danny kemarin.
“Selamat pagi, semuanya,” sapa Miho ketika ia muncul di dapur.
“Hei, Miho,” sapa Chris sambil melambaikan sebelah tangan.
“Naomi, aku ke sini untuk meminta pendapatmu tentang ini,” kata Miho
kepada Naomi sambil tersenyum cerah. Ia mengeluarkan dua lembar kertas dari
dalam mapnya dan mengacungkannya di depan wajah Naomi. Dua-duanya adalah
foto salah seorang aktris Inggris yang sedang populer saat ini, namun dalam pose
dan pakaian yang berbeda. “Salah satu dari kedua foto ini akan menjadi sampul
depan majalah kita untuk edisi mendatang. Aku benar-benar tidak tahu yang mana
yang harus kupilih, jadi aku datang meminta pendapatmu.”
Naomi menatap kedua foto di depannya dan mendesah dalam hati. Sebenarnya
siap ayang menjadi pemimpin redaksi di sini? Ia tidak keberatan membantu teman,
tetapi karena kejadian ini terus berulang, ia mulai bertanya-tanya apakah selama ini
dirinya sudah diperalat tanpa disadari.
“Miho, kau juga harus datang menonton pertunjukanku nanti. Ini pertunjukan
besar pertamaku,” kata Julie yang menyusulnya ke dapur, kembali duduk di
tempatnya semula.
“Tentu saja,” sahut Miho, “kalau aku tidak punya acara penting. Kapan
pertunjukanmu itu?”
“Dua minggu lagi,” kata Julie, lalu kembali menoleh ke arah Noami. “Lalu
kapan kau akan mengajak Danny ke pertunjukanku?”
Naomi melotot ke arah Julie, tetapi sudah terlambat. Mata Miho mengerjap dan
terarah pada Julie. “Maksudmu Danny Jo?”
Chris berbalik dari kompor dan meletakkan sepiring telur di atas meja. “Kau
mengenalnya?” ia balas bertanya.
Naomi menyesap tehnya tanpa berkomentar sementara Miho menceritakan
kejadian kemarin siang kepada mereka. Ia menceritakan semuanya. Semuanya.
Tanpa melewatkan detail kecil apa pun.Semuanya. Tentang bagaimana ibunya dan
ibu Danny berusaha menjodohkan mereka berdua, tentang Danny yang
mengajaknya makan siang bersama, tentang bagaimana mereka langsung cocok , bla
bla bla.
Naomi menyadari lirikan tajam yang dilemparkan Julie dan Chris ke arahnya,
tetapi ia pura-pura tidak peduli. Ia tahu apa yang ingin ditanyakan teman-temannya
itu, tetapi tidak tahu bagaimana menjawabnya, bagaimana menjelaskannya. Ini
bukan salahnya. Miho sendiri yang langsung menyerbu masuk tanpa bertanya
ataupun meminta izin. Kalau sudah begitu, apa yang bisa Naomi lakukan?
“Dan kalau kau mau mengajak Danny, aku bisa meneleponnya,” kata Miho di
akhir penjelasannya.
Namun sebelum Miho menyelesaikan ucapannya, Naomi sudah masuk ke
dalam kamar, meraih ponsel dan menekan nomor Danny.
* * *
Danny masih berbaring di tempat tidur ketika ponselnya berdering. Ia mengerang
pelan, tapi langsung terbatuk-batuk. Ia memaksa dirinya bangkit duduk dengan
susah payah dan meraih ponsel yang tergeletak di meja di samping tempat tidur.
“Halo?” gumamnya serak, dan kembali terbatuk-batuk.
“Ada apa denganmu?”
Walaupun kepalanya terasa berat dan seluruh tubuhnya lemas, Danny masih
bisa tersenyum mendengar suara Naomi yang bernada cemas bercampur curiga.
“Aku tidak tahu,” gumam Danny pelan. “Badanku panas dan lemas, tenggorokanku
sakit, dan kepalaku serasa seperti batu. Sudah begini sejak aku bangun tadi pagi.”
“Kemarin kau baik-baik saja,” kata Naomi lagi. Ia terdiam sejenak, lalu bertanya
ragu, “Apakah gara-gara sesuatu yang kaumakan di tempatku kemarin malam?”
Danny kembali berbaring dan memejamkan mata, berharap rasa pusingnya bisa
berkurang. “Tidak. Aku yakin bukan itu,” sahut Danny. “Kurasa aku tertular salah
seorang rekan kerjaku di kantor.”
“Kau sudah ke dokter? Minum obat?” tanya Naomi.
Danny menggeleng walaupun ia tahu Naomi tidak bisa melihatnya. “Nanti saja.
Terlalu lemas untuk bangun. Aku mau berbaring sebentar.”
Jeda sejenak di ujung sana, lalu Naomi bertanya, “Kau... kau mau aku pergi ke
sana?”
“Kau akan datang kalau kuminta?” Danny balas bertanya.
“Yah... tentu saja. Kalau kau mau.”
Danny tersenyum tipis. Naomi bahkan tidak berhasil menyingkirkan keraguan
dari nada suaranya. Selama Danny mengenal Naomi, ia sudah berhasil mengetahui
beberapa hal tentang diri gadis itu. Pertama, Naomi Ishida selalu bersikap waswas
di depan laki-laki. Hal ini membuat Danny lega karena itu berarti Naomi tidak
bersikap gugup dan resah hanya di depan Danny. Namun hal itu juga menimbulkan
pertanyaan lain: Kenapa Naomi enggan berhubungan dengan laki-laki? Walaupun
hubungan mereka sudah mengalami banyak kemajuan kalau dibandingkan dengan
pertemuan pertama mereka, Danny merasa Naomi masih menahan diri.
Hal kedua yang disadari Danny adalah Naomi masih tidak suka disentuh. Dan
sampai sekarang Danny masih belum tahu alasannya.
“Terima kasih, tapi itu tidak perlu,” kata Danny pada akhirnya. Ia tahu Naomi
akan datang kalau ia memintanya, tetapi ia tidak ingin memaksa gadis itu. Ia ingin
Naomi membuka diri atas pilihannya sendiri. “Aku yakin ada obat di sekitar sini.
Aku hanya akan tidur sebentar. Setelah itu aku berjanji aku akan minum obat. Dan
aku yakin setelahitu aku akan sembuh. Tenang saja.”
“Kau akan meneleponku kalau kau membutuhkan sesuatu?” tanya Naomi.
Suaranya masih terdengar cemas.
“Tentu saja.”
“Kalau begitu aku tidak akan mengganggumu lagi. Istirahatlah. Jangan lupa
telepon aku kalau ada apa-apa.”
“Kau orang pertama yang akan kuhubungi.”
Setelah menutup telepon, Danny terbatuk-batuk sebentar sambil kembali
meringkuk di balik selimut. Ini benar-benar menjengkelkan. Ia tidak suka merasa
sakit dan merasa tak berdaya seperti ini. Ia benar-benar harus mencari obat. Dan
kalau ia masih belum membaik setelah minum obat, ia sudah pasti harus ke dokter.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi lagi. Danny mengerang dan berpikir seharusnya
ia mematikan ponselnya saja seharian ini supaya bisa beristirahat dengan tenang. Ia
meraba-raba ranjang mencari ponsel yang tadi dilepaskannya begitu saja.
Mengangkat ponsel ke telinga saja membutuhkan segenap kekuatannya. “Ya?”
gumamnya pendek. Dua detik kemudian matanya terbuka. “Oh, Miho?”
* * *
Siang itu Naomi masih merasa khawatir. Ia ingin menelepon Danny tetapi takut
mengganggu istirahat laki-laki itu. Selama beberapa menit terakhir, ia duduk di
meja tulisnya yang menghadap jendela di kamar tidurnya. Ia tidak punya jadwal
kerja hari ini. Ia memang sengaja mengatur agar hari ini ia bisa berlibur. Sudah lama
ia ingin pergi ke kota untuk melihat-lihat dan berbelanja, namun tentu saja ia tidak
bisa menikmati acara belanjanya kalau terus memikirkan Danny.
Ia sedang memutuskan apa yang sebaiknya dilakukannya keika ponselnya tibatiba
berbunyi. Ia melirik layar ponsel yang tergeletak di meja dan cepat-cepat
menjawabnya. “Danny?”
“Kau bisa datang ke sini?” Suara Danny terdengar lirih dan lemah. Napasnya
juga terdengar berat, seolah-olah butuh usaha besar hanya untuk berbicara.
“Tolonglah... Tolong datang ke sini.”
Kini Naomi sama sekali tidak ragu. Keraguan apa pun yang tadi pagi masih ada
langsung digantikan oleh rasa panik dan cemas. Ia langsung melompat berdiri dari
kursi dan berkata, “Aku akan segera ke sana.”
Tidak terlalu lama kemudian, Naomi sudah berdiri di depan pintu flat Danny di
Mayfair. Ia membunyikan bel dan menunggu dengan tidak sabar. Tetapi matanya
melebar kaget ketika pintu terbuka dan ia melihat siapa yang berdiri di sana.
“Miho?”
Miho Nakajima yang membuka pintu dari dalam juga terlihat heran. “Oh,
Naomi?”
Sesaat Naomi tidak bisa berkata-kata. Kepanikan dan kecemasannya selama
perjalanan ke sini memudar sedikit dan digantikan sesuatu yang tidak bisa
diartikannya. Kenapa Miho ada di dalam flat Danny? Sedang apa dia di sana? Ada
apa ini? Semua pertanyaan itu simpang siur dalam benak Naomi. Namun satu hal
yang disadarinya. Ia tidak suka melihat Miho di sana, di flat Danny.
Lalu mata Naomi beralih ke arah sosok Danny muncul di belakang Miho. “Kau
sudah datang,” kata Danny. Suaranya terdengar lega.
Penampilan Danny benar-benar kacau. Wajahnya pucat pasi, bibirnya kering,
rambutnya acak-acakan. Kaus hitam lengan panjang dan celana panjang putihnya
terlihat kusut. Ia terlihat lemah dan sakit.
Banyak hal yang berkelebat dalam benak Naomi, namun begitu melihat Danny,
hanya satu hal yang terpikirkan olehnya. “Kenapa kau tidak berbaring dan
beristirahat?” tanyanya dengan alis berkerut.
Danny mengayunkan tangan dengan lemah.”Masuklah dulu dan setelah itu kau
boleh mengomeliku.”
Naomi melangkah masuk dan menoleh ke arah Miho. “Miho, kok kau ada di
sini?” tanyanya sambil berusaha menjaga suaranya terdengar ringan.
Miho tersenyum. “Tadi aku menelepon Danny untuk mengajaknya ke
pertunjukan Julie dan dia bilang dia sedang sakit. Jadi aku langsung datang untuk
menawarkan bantuan.”
“Oh, begitu,” gumam Naomi, tidak tahu lagi harus berpikir apa. Seharusnya ia
melakukan apa yang dilakukan Miho. Seharusnya ia juga langsung datang ketika
mendengar Danny sedang sakit. Bagaimanapun juga, Danny adalah temannya dan
seharusnya ia tidak ragu-ragu membantu teman yang sedang sakit. Ia menoleh ke
arah Danny dan bergumam, “Maafkan aku karena baru datang.”
Danny berdiri bersandar di dinding. Tangannya mencengkeram pinggiran meja
kecil di samping pintu. Ia terlihat sangat lemah, tapi ia masih bisa tersenyum kepada
Naomi.
“Sebaiknya kau duduk,”kata Naomi kepada Danny.
Danny menurut tanpa membantah. Ia berjalan masuk ke ruang duduk, diikuti
Naomi dan Miho, lalu mengempaskan diri ke salah satu sofa. Jelas sekali ia lega
karena tidak perlu berdiri lebih lama lagi. “Miho,” gumamnya sambil mengayunkan
tangan ke arah Miho, “sudah sangat baik karena sudah membantuku sejak pagi tadi
walaupun aku tahu dia pasti sangat sibuk.”
Naomi menoleh ke arah Miho dan temannya tersenyum lebar. “Aku tidak
keberatan membantu. Dan kalau aku tidak masuk kantor sehari, tidak akan terjadi
bencana,” sahut Miho, lalu menatap Danny. “Lagi pula, aku tidak mungkin
meninggalkanmu sendirian di sini. Bagaimana kalau kau membutuhkan sesuatu?”
Danny mengangguk. “Mungkin kau benar. Tapi karena sekarang Naomi sudah
ada di sini, aku yakin dia bisa menemaniku dan memastikan aku tidak jatuh pingsan
atau semacamnya. Lagi pula hari ini dia tidak punya jadwal kerja, jadi dia pasti
tidak keberatan.” Ia mendongak menatap Naomi yang berdiri di sampingnya. “Kau
tidak keberatan, bukan?”
Naomi mengalihkan tatapannya dari Miho dan menunduk menatap Danny.
“Tentu saja tidak.”
Miho menatap mereka berdua bergantian, lalu mengangkat bahu. “Baiklah
kalau begitu,” katanya ringan. Lalu ia menoleh ke arah Naomi dan menambahkan,
“Aku senang kau bisa datang dan menjaga Danny. Terima kasih.”
Naomi mengerjap. Apakah hanya perasaannya atau apakah Miho benar-benar
berbicara dengan nada seolah-olah Danny adalah tanggung jawabnya dan Naomi
hanyalah seseorang yang diminta datang untuk membantu? “Tentu saja,” gumam
Naomi singkat.
“Kau tahu kau bisa meneleponku kapan saja kau butuh sesuatu,” kata Miho
sementara ia mengumpulkan barang-barangnya.
“Terima kasih banyak, Miho. Kau benar-benar baik,” kata Danny sambil
tersenyum lemah.
Setelah Miho pergi dan Naomi menutup pintu, Naomi berdiri sejenak di sana,
cemberut ke arah pintu. Lalu ia berbalik dan berjalan kembali ke ruang duduk.
“Aku mau berbaring sebentar,” gumam Danny lelah. “Kau boleh... entahlah...
yah, anggap saja rumah sendiri.”
Naomi ragu sejenak, menatap Danny yang mencoba berdirid engan agak
terhuyung. Akhirnya ia mengambil keputusan. Ia menghampiri Danny yang
berjalan terseok-seok ke kamar sambil berpegangan pada dinding. “Biar kubantu,”
katanya sambil memegang lengan Danny.
Danny berhenti melangkah dan menunduk menatap Naomi, lalu matanya
beralih ke tangan Naomi yang memegang lengannya. Naomi bisa melihat
kebingungan di mata Danny yang agak merah.
Naomi menatap mata Danny lurus-lurus dan berkata tegas, “Kau bisa jatuh
kalau tidak dibantu.”
Danny mengerjap, lalu mengangguk lemah. “Ya... ya, kurasa kau benar.”
Naomi membantunya masuk ke dalam kamar dan menyelimutinya. Karena
Danny tidak berselera makan, Naomi harus memaksanya makan biskuit sedikit
sebelum minum obat. “Kau terlihat kacau,” kata Naomi ketika Danny sudah
berbaring kembali di temapt tidur setelah minum obat.
“Aku memang merasa kacau,” gumam Danny. “Aku hanya butuh tidur
sebentar. Aku akan merasa lebih baik setelah bangun nanti.”
“Baiklah,” kata Naomi sambil mengumpulkan botol obat dan gelas-gelas
kosong di meja di samping tempat tidur. “Tidur saja.”
“Ngomong-ngomong, kenapa kau meneleponku tadi pagi?” tanya Danny tibatiba.
“Tadi pagi?” gumam Naomi sambil mengingat-ingat. “Ah, itu... Aku ingin
memberitahumu bahwa Julie ingin mengundangmu ke pertunjukan perdananya.
Katanya dia mendapat peran yang penting kali ini. Kau akan datang, bukan?”
“Tentu saja. Kapan pertunjukannya?”
“Masih dua minggu lagi.”
“Kau akan pergi bersamaku?”
Sebelah alis Naomi terangkat sedikit, lalu ia mengangkat bahu. “Kalau kau
mau.”
“Baiklah kalau begitu,” gumam Danny dan memejamkan mata.
Ketika sepertinya Danny tidak akan berbicara lebih banyak lagi, Naomi
berputar dan berjalan dengan langkah pelan ke pintu.
“Aku tidak menyuruhnya datang ke sini,” gumam Danny tiba-tiba.
Naomi berhenti melangkah dan berbalik kembali. “Ya?”
Danny tidak bergerak di tempat tidurnya, juga tidak membuka mata. “Miho,”
katanya. “Aku tidak menyuruhnya datang ke sini. Dia datang sendiri setelah
mendengar aku sakit.”
Naomi mengerjap. “Oh.”
“Dan aku tidak bisa tidur kalau dia ada di sini,” lanjut Danny dengan suara
pelan. “Karena itu aku memintamu datang.”
Naomi terdiam sejenak, lalu akhirnya tersenyum tipis dan bergumam, “Aku
tahu.”
Bab Sebelas
HARI sudah menjelang sore ketika Danny terjaga. Kepalanya masih terasa berat,
namun tidak berputar-putar lagi. Ia turun dari tempat tidur dan menyadari bahwa
kakinya juga terasa lebih mampu menopang tubuhnya. Ia meraba keningnya.
Sepertinya suhu tubuhnya juga sudah turun. Bagus. Ia ingin cepat-cepat sembuh. Ia
benci merasa tidak berdaya seperti ini.
Ia baru hendak bangun dan berjalan ke pintu ketika ponselnya berdering. Seulas
senyum tipis muncul di wajahnya ketika melihat siapa yang meneleponnya. “Mm,
Nuna,” gumamnya begitu ponsel ditempelkan ke telinga.
“Pembicaraan kita kemarin belum selesai, In-Ho,” kata kakaknya tanpa basabasi.
“Tapi, ngomong-ngomong, ada apa dengan suaramu?”
“Tidak apa-apa, Nuna,” ujar Danny, lalu berdeham pelan. “Tenggorokanku
hanya agak kering.”
“Baiklah,” kata Anna Jo tanpa curiga. “Kalau begitu, bagaimana kelanjutan
ceritamu kemarin?”
Danny mendesah dalam hati. Ia ingat pembicaraan terakhir dengan kakaknya.
Saat itu kakaknya bertanya apakah ia sudah bertemu dengan seseorang di London.
Sebenarnya Danny belum ingin bercerita kepada kakaknya tentang Naomi. Ia
memang menyadari bahwa Naomi mulai menerimanya dan ia senang dengan
hubungan mereka sekarang. Mereka sering bertemu, mengobrol, dan menghabiskan
waktu bersama. Namun entah kenapa Danny selalu merasa masih ada sebagian diri
Naomi yang menahan diri. Seolah-olah gadis itu masih tidak sepenuhnya percaya
padanya.
Tetapi apakah itu hanya perasaannya sendiri?
“Jo In-Ho, aku sedang bicara padamu.”
Danny harus menyeret perhatiannya kembali kepada suara kakaknya di
telepon. “Maaf, Nuna,” katanya. “Sekarang aku masih bingung.”
“Katakan padaku, apakah dia cantik?” tanya Anna Jo, mengabaikan kata-kata
Danny.
“Ya,” gumam Danny, lalu menarik napas dan mengembuskannya. “Seperti
boneka.”
“Apa?”
Danny tertawa pendek. “Dia punya mata seperti mata boneka. Setidaknya itulah
yang kupikirkan ketika aku pertama kali bertemu dengannya.”
“Begitukah? Lalu apa lagi?”
Danny kembali mengenang pertemuan pertamanya dengan Naomi. “Awalnya
dia terlihat dingin dan sulit didekati. Tapi kalau kau berhasil mendekatinya dan
mengenalnya lebih baik, kau akan tahu bahwa dia sebenarnya orang yang menarik.
Dan semakin kau mengenalnya, kau akan mendapati dirimu merasa...” Ia terdiam.
Kata-kata itu sudah berada di ujung lidahnya. Kau akan mendapati dirimu merasa
gembira setiap kali berada di dekatnya. Tetapi ia tidak mungkin mengatakannya kepada
kakaknya. Akhirnya ia hanya bergumam, “Yah, begitulah.”
“Kau mendapatkan semua kesan itu hanya pada pertemuan pertama?” tanya
Anna dengan nada tidak percaya. “Astaga, dia pasti gadis yang luar biasa. Berarti
kali ini Ibu sudah membuat pilihan yang benar?”
“Apa?” Danny mengerutkan kening. “Apa hubungan semua ini dengan Ibu?”
“Kita sedang membicarakan gadis yang ingin dijodohkan Ibu denganmu,
bukan? Gadis yang kautemui kemarin siang?” Anna balas bertanya. “Atau apakah
kita sedang membicarakan dua orang yang sama sekali berbeda?”
Danny mengerang dalam hati. Ternyata yang dimaksud kakaknya adalah Miho
Nakajima yang ditemui Danny kemarin siang, bukan Naomi. Astaga, otaknya sudah
kacau. “Oh, maksud Nuna gadis yang itu?” gumam Danny datar.
“Kau membicarakan gadis yang berbeda,” sela Anna blak-blakan. “Ternyata
aku benar. Kau memang sudah bertemu dengan seseorang di sana.”
Danny menghela napas dan mengembuskannya panjang-panjang. Akhirnya
seulas senyum tersungging di bibirnya. “Ya,” gumamnya, lalu cepat-cepat
menambahkan sebelum kakaknya bisa menyela, “tapi sekarang bukan waktu yang
tepat untuk membicarakannya.”
“Kenapa? Lalu kapan?” tanya kakaknya bingung.
Sulit mengelak dari kakaknya, tetapi akhirnya Danny berhasil memutuskan
hubungan dan mendesah berat. Lalu tiba-tiba ia menoleh ke arah pintu kamarnya
yang tertutup. Apakah Naomi masih ada di luar sana? Rasanya agak tidak mungkin.
Danny sudah tidur lebih lama daripada yang direncanakan. Mungkin gadis itu
sudah pulang.
Danny berjalan ke arah pintu dan membukanya. Ruang duduknya sunyi
senyap. Seberkas perasaan kecewa melandanya ketika menyadari bahwa Naomi
sudah tidak ada. Sebenarnya ia ingin terbangun dan mendapati Naomi masih ada di
sana. Ia ingin melihat gadis itu, melihat gadis itu tersenyum padanya dengan cara
yang selalu membuat hatinya terasa ringan.
Danny kembali mendesah berat dan berbalik hendak pergi ke dapur. Tetapi
tiba-tiba ia melihat sesuatu dari sudut matanya. Ia berbalik menghampiri sofa
panjang di ruang duduk dan dihadapkan pada pemandangan yang tidak
diduganya, namun membuat seulas senyum tersungging di bibirnya.
Ternyata Naomi Ishida belum pulang. Gadis itu masih ada di sana dan saat ini
ia sedang berbaring menyamping di sofa, lututnya ditekuk dan kepalanya
disandarkan ke lengan sofa. Tertidur pulas.
Danny sedang mempertimbangkan apakah ia harus membangunkan Naomi
atau tidak ketika gadis itu mendadak terjaga dan langsung terkesiap keras.
“Ini aku,” gumam Danny cepat ketika Naomi melompat berdiri dan menjauh
dari sofa. Ia menatap Danny dengan mata terbelalak kaget dan... takut? Jantung
Danny mencelos. Astaga, itu adalah tatapan yang dulu sering dilihat Danny pada
awal perkenalan mereka. Tatapan Danny beralih ke tangan Naomi yang terkepal di
sisi tubuhnya. Alis Danny berkerut samar ketika melihat tangan Naomi gemetar.
Kenapa tangan gadis itu gemetar? “Ini aku,” gumam Danny sekali lagi.
Naomi mengerjap satu kali, dua kali, dan Danny melihat sinar ketakutan itu
menghilang dari mata Naomi. Gadis itu tertawa pendek dan berkata ringan, “Tentu
saja aku tahu itu kau.”
Benarkah? tanya Danny dalam hati. Benarkah Naomi tadi tahu bahwa yang
berdiri di hadapannya adalah Danny? Lalu kenapa Naomi bereaksi seperti itu?
Kenapa ia ketakutan begitu?
Danny menatap Naomi dengan tajam dan bertanya-tanya.
Kenapa selama sesaat tadi aku mendapat kesan kau mengira aku adalah orang lain?
* * *
Jantung Naomi masih berdebar kencang. Seluruh tubuhnya terasa dingin dan kaku.
Selama sesaat ia dilanda kepanikan yang membuatnya mati rasa. Matanya terbelalak
menatap sosok di hadapannya. Namun perlahan-lahan sosok kabur itu semakin
jelas. Lalu ia melihat Danny. Danny Jo. Yang berdiri di depannya adalah Danny Jo.
“Ini aku.” Naomi mendengar kata-kata yang diucapkan dengan perlahan itu. Ia
mengerjap satu kali, dua kali, lalu mendengar kata-kata itu lagi. Kali ini lebih jelas.
“Ini aku.”
Sedetik kemudian Naomi mulai menyadari apa yang terjadi dan di mana
dirinya berada saat itu. Ia menatap Danny yang berdiri di hadapannya dengan
wajah cemas dan alis berkerut samar. Lalu ia menyadari bahwa sikapnya yang
berlebihan mungkin membuat Danny heran. Naomi menjilat bibirnya yang kering
dan mencoba tertawa. Kedengarannya sumbang. “Tentu saja aku tahu itu kau,”
katanya. Lalu karena Danny terus menatapnya dengan alis berkerut tanpa berkata
apa-apa, Naomi cepat-cepat berdeham dan bertanya, “Bagaimana keadaanmu
sekarang?”
Danny Jo menatapnya sambil tersenyum kecil. “Sudah lebih baik,” sahutnya
agak lemah. “Karena kau ada di sini.”
Saat itu debar jantung Naomi yang sudah kembali normal kembali melonjak
begitu mendengar kata-kata Danny. Apa-apaan ini? Danny selalu suka bercanda.
Lalu kenapa Naomi berdebar-debar hanya karena kata-kata ringan dan tidak berarti
itu? Naomi cepat-cepat mengendalikan diri dan berdeham. “Kau mau makan
sesuatu? Aku sudah membuat teh ketika kau tidur tadi. Dan kau juga harus makan
sedikit. Setelah itu minum obat.”
Naomi tidak yakin apakah Danny menyadari usahanya untuk mengalihkan
pembicaraan atau tidak, tetapi laki-laki itu tidak berkomentar apa-apa. Danny
mengikuti Naomi ke dapur dan duduk diam di meja dapur sementara Naomi
menuangkan teh dan menyiapkan sandwich untuknya.
“Jadi apa yang kaulakukan selama aku tidur?” tanya Danny ketika Naomi
sudah duduk di hadapannya dengan sepotong sandwich di tangan.
“Melihat-lihat flatmu,” sahut Naomi ringan. “Membongkar semua lemari dan
laci yang ada.”
“Asal kau tahu, ini flat kakak perempuanku,” kata Danny. “Jadi kalau kau
menemukan barang-barang mencurigakan, itu bukan milikku.”
Naomi tersenyum melihat Danny mengunyah sandwich-nya. Setidaknya selera
makannya sudah membaik. “Aku hanya bercanda,” kata Naomi. “Setelah aku
berkeliling flatmu sampai bosan, aku menelepon ibu dan adikku. Oh, jangan
khawatir, aku memakai ponselku sendiri.”
“Kau pasti bosan setengah mati,” gumam Danny.
Naomi mengangkat bahu.
“Aku minta maaf karena kau terpaksa menemani orang sakit di hari liburmu,”
kata Danny, “sementara aku yakin kau pasti sudah memiliki segudang rencana
untuk hari liburmu.”
Naomi memiringkan kepala, berpikir apakah ia harus jujur atau tidak. Akhirnya
ia lalu menghela napas dan berkata, “Tidak juga. Aku hanya ingin ke salon dan
berbelanja sedikit hari ini. Setelah itu aku berencana membujukmu makan malam
bersamaku.”
Danny tersenyum. “Setidaknya sebagian rencanamu berhasil. Kita memang
sedang makan malam bersama sekarang,” katanya sambil mengayunkan tangan ke
arah sandwich di atas meja.
“Kau benar,” sahut Naomi, lalu tertawa.
Sejenak Danny hanya tertegun menatapnya. Sebelum Naomi sempat bertanya,
laki-laki itu kembali menunduk menatap sandwich-nya dan berdeham. “Karena kau
sudah berbaik hati menemaniku hari ini, aku akan melakukan hal yang sama
untukmu. Aku akan menemanimu seharian penuh. Kalau aku sudah sembuh nanti.”
Mata Naomi bersinar-sinar. “Kau akan menemaniku seharian penuh?”
Danny mengangguk. “ya.”
“Dan kita akan melakukan apa pun yang kuinginkan?”
Danny mengangguk lagi. “Tentu saja.”
“Apa pun?”
Danny menyipitkan mata dan tersenyum. “Dengan anggapan kau tidak akan
memintaku melakukan sesuatu yang melanggar hukum, ya, aku akan melakukan
apa pun yang kauinginkan selama satu hari itu.”
Senyum Naomi mengembang, dan ia sama sekali tidak tahu apa pengaruh
senyumnya terhadap Danny. Saat itu Danny memang bersedia melakukan apa
saja—apa saja—agar ia selalu bisa melihat Naomi tersenyum padanya seperti itu.
Hanya padanya. Dan sebelum ia benar-benar menyadari apa yang dilakukannya,
kata-kata itu sudah meluncur dari lidahnya. “Katakan padaku kau tidak tertarik
pada Chris.”
Alis Naomi terangkat. “Apa?”
Danny mendesah dan memejamkan mata. Sebelah tangannya terangkat
memegang kening. “Lupakan saja. Aku tidak tahu apa yang kukatakan,” gumamnya
pelan, lalu bangkit dari kursi sambil membawa cangkir tehnya. “Aku mau berbaring
di sofa.”
Kening Naomi berkerut bingung sementara ia menatap Danny yang berjalan
pelan ke arah ruang duduk. “Kenapa kau mengira aku tertarik pada Chris?”
tanyanya langsung. “Kau tahu benar dia gay.”
Danny berhenti melangkah, lalu perlahan-lahan berbalik menghadap Naomi. Ia
mengembuskan napas dan mengangkat bahu. “Entahlah,” ujarnya lirih. “Mungkin
karena dia memiliki mata biru dan logat Skotlandia yang bisa membuat wanita
mana pun melupakan kenyataan bahwa dia seorang gay?” Danny terdiam sejenak.
Ia mengerang. “Astaga. Otakku benar-benar kacau. Aku sedang tidak bisa berpikir
jernih. Lupakan saja kata-kataku.”
Ketika Danny hendak berbalik lagi, Naomi berkata, “Aku tidak tertarik
padanya. Sudah kukatakan padamu kemarin.”
“Tapi kaubilang kau merasakan sesuatu untuknya,” kata Danny, masih
mengingat jelas pembicaraan mereka kemarin di flat Naomi.
Naomi mengangkat bahu. “Kau tidak bertanya padaku apakah aku merasakan
sesuatu untuk Chris.”
“Aku ingat jelas aku menanyakannya,” Chris menegaskan. “Dan aku ingat kau
menjawab ya.”
“Danny,” sela Naomi pelan, “kau bertanya apakah aku merasakan sesuatu. Kau
tidak menyebut untuk siapa.”
Danny terlihat bingung. “Lalu?”
Naomi menarik napas dalam-dalam. “Aku... memang merasakan sesuatu,”
katanya pelan. Matanya menatap lurus ke mata Danny. Debar jantungnya semakin
jelas terdengar dan ia bertanya-tanya apakah Danny juga bisa mendengarnya. “Tapi
bukan... eh, bukan untuk... Chris.”
Danny masih berdiri di sana. Kerutan di alisnya perlahan-lahan menghilang
ketika kata-kata Naomi akhirnya diserap otaknya yang masih terasa berkabut.
Keheningan di ruangan itu mendadak dipecahkan bunyi bel pintu.
Begitu Naomi membuka pintu, Miho Nakajima berdiri di hadapannya sambil
tersenyum lebar. “Hai, Naomi, kau masih ada di sini?” tanyanya ceria.
Naomi mengerjap. “Oh, Miho, halo. Masuklah.” Ia melangkah ke samping dan
membiarkan Miho berjalan masuk.
“Aku sedang dalam perjalanan pulang dari kantor dan kupikir sebaiknya aku
mampir untuk melihat keadaan Danny,” kata Miho ringan. Ia menoleh ke arah
Danny dan bertanya, “Bagaimana keadaanmu sekarang?”
Danny mengangkat sebelah tangan dan tersenyum. “Aku sudah merasa jauh
lebih baik sekarang. Terima kasih atas perhatianmu.”
“Kau sudah makan?” tanya Miho. “Aku bisa membelikan sesuatu. Atau
membuatkan sesuatu.”
“Tidak. Tidak perlu,” sahut Danny. “Aku sudah makan sedikit tadi. Aku hanya
ingin istirahat sekarang.”
“Oh,” gumam Miho sambil mengangguk-angguk, terlihat agak kecewa
walaupun ia berusaha keras menjaga wajahnya tetap datar.
Danny mengalihkan pandangan ke arah Naomi. “Naomi, sebaiknya kau juga
pulang sekarang. Kau pasti lelah,” katanya. “Aku sudah terlalu banyak
merepotkanmu—kalian berdua—hari ini. Aku sudah tidak apa-apa sekarang.”
“Oh.” Naomi memandangnya, lalu memandang Miho, lalu kembali menatap
Danny. “Baiklah kalau begitu.”
“Aku bisa mengantarmu pulang kalau kau mau,” Miho menawarkan diri.
“Ya, tentu saja,” sahut Naomi, lalu ia pergi ke ruang duduk untuk mengambil
tas dan jaketnya. Ketika ia kembali, Miho sudah berdiri di ambang pintu bersama
Danny.
“Kalau ada apa-apa, jangan ragu-ragu menghubungiku,” kata Miho kepada
Danny.
Danny tersenyum. “Baiklah. Terima kasih banyak.”
Ketika Miho berbalik dan mulai berjalan pergi, Naomi menoleh ke arah Danny.
“Jangan lupa minum obat dan langsung tidur,” katanya pelan. Lalu ia melirik meja
makan yang masih belum dibereskan dan menambahkan, “Kau tidak perlu
membereskan mejanya sekarang. Kalau besok kau masih belum merasa lebih baik
kau harus...”
Aliran kata-katanya terhenti ketika Danny tiba-tiba menempelkan telapak
tangannya di kedua sisi kepala Naomi. Secara naluriah Naomi menarik diri, namun
tangan besar yang menangkup pipi dan menempel di telinganya itu tidak bergerak.
Naomi tidak bisa bergerak. Hanya bisa berdiri di sana dan mendongak menatap
Danny dengan mata melebar kaget. Tangan Danny terasa besar. Dan hangat. Sama
sekali tidak menakutkan. Sesaat jantung Naomi seolah-olah berhenti berdegup, lalu
mulai berdebar dan semakin lama semakin cepat. Ia tidak bisa bernapas. Oh, dear...
“Berhentilah merasa cemas,” kata Danny pelan. Seulas senyum tersungging di
bibirnya. “Aku pasti akan minum obat dan langsung naik ke tempat tidur. Aku
tidak akan membereskan meja makannya sekarang. Dan kalau besok aku masih
merasa seperti mayat hidup, aku akan langsung pergi ke rumah sakit. Oke?”
Naomi hanya bisa mengangguk tanpa suara.
“Bagus.” Senyum Danny melebar. Ia menurunkan tangannya ke bahu Naomi.
“Sekarang pergilah. Aku akan meneleponmu nanti.”
Saat ini Naomi baru menyadari bahwa ia sedang menahan napas. Akhirnya ia
menarik napas dalam-dalam, lalu mengangguk.
* * *
“Ngomong-ngomong, sudah berapa lama kau mengenalnya?” tanya Miho ketika ia
melajukan mobilnya meninggalkan gedung apartemen Danny.
Naomi menoleh. “Hm?”
“Danny Jo,” kata Miho. Ia melirik Naomi sekilas, lalu kembali menatap jalan di
depannya. “Sudah berapa lama kau mengenal Danny?”
“Tidak terlalu lama.”
Miho tersenyum lebar. “Dia sangat tampan, bukan?”
Naomi memaksa diri balas tersenyum. “Mm.”
“Dan sangat sopan.”
“Mm.” Naomi memandang ke luar jendela. Dan sangat baik, pikirnya. Sangat
menyenangkan, sangat...
“Aku menyukainya.”
Kepala Naomi berputar kembali menatap Miho. “Apa?”
Miho tertawa senang. “Aku menyukainya, Naomi. Sangat menyukainya,”
katanya tegas. “Aku senang ibuku memaksaku pulang ke Korea waktu itu. Kalau
aku tidak pulang, aku tidak akan menghadiri pesta ulang tahun kakekku dan tidak
akan pernah bertemu dengan ibu Danny yang berniat menjodohkan aku dengan
putranya.”
Tiba-tiba saja Naomi merasa seolah-olah tekanan udara di dalam mobil
berkurang dengan cepat. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya
dengan pelan. Berat. Udara terasa berat. Ada apa ini?
“Aku mengatakannya padamu karena kau temanku. Karena itu kau harus
membantuku,” lanjut Miho.
Naomi mengerjap. Ada sesuatu dalam nada suara Miho yang membuatnya
heran.
Miho menoleh menatapnya sejenak dan tersenyum. “Naomi, kau mau
membantuku, bukan?”
Oh, dear. Naomi menarik napas dalam-dalam. Apa yang harus dikatakannya?
Ya, ia akan membantu Miho walaupun sebenarnya ia tidak ingin melakukannya?
Atau tidak, ia tidak akan membantu Miho mendekati Danny? Tetapi kalau Miho
bertanya kenapa Naomi tidak mau membantu, apa yang harus dikatakannya?
Bahwa ia sendiri juga...
Naomi tertegun. Apa? Astaga... Apa yang dipikirkannya tadi? Tidak, itu tidak
mungkin. Naomi memalingkan wajah, memandang kosong ke luar jendela. Jari-jari
tangannya mendadak terasa dingin dan dadanya mendadak terasa nyeri. Apa pun
yang saat ini dikiranya sedang dirasakannya sangat tidak mungkin. Sangat tidak
mungkin.
“Naomi?”
Panggilan Miho menembus otak Naomi yang kalut. Naomi menoleh dan
berusaha memasang wajah datar. “Ya?”
Miho memandangnya dengan tatapan bertanya. “Jadi bagaimana? Kau akan
membantuku, bukan?”
Naomi berharap Miho tidak mendesaknya seperti itu. Lagi pula Miho bukan
wanita pemalu yang membutuhkan bantuan mak comblang untuk menjalin
hubungan dengan pria mana pun. Namun karena ia sedang tidak ingin berdebat
panjang-lebar, Naomi memaksakan seulas senyum kecil dan bergumam, “Tentu.”
Senyum Miho mengembang. Naomi kembali memalingkan wajah ke luar
jendela dan menghela napas panjang. Apa pun yang saat ini dikiranya sedang
dirasakannya sangat tidak mungkin. Sangat tidak mungkin.
Karena ia sama sekali tidak boleh lupa siapa Danny Jo sebenarnya.
Bab Dua Belas
“KAU mau ke Lake District? Hari ini?” tanya Naomi di ponsel dengan alis
terangkat. Ia sedang minum teh dengan Julie di kafe di Holland Park ketika Danny
meneleponnya dan berkata bahwa ia akan pergi ke Lake District, New Country.
“Ya,” sahut Danny di ujung sana. “Kami sedang mengerjakan video musik baru
dan pengambilan gambarnya akan dilakukan di sana. Kudengar tempat itu sangat
indah.”
“Kudengar juga begitu,” gumam Naomi sambil lalu. “Tapi, Danny, apakah kau
yakin kau sudah cukup sehat untuk melakukan perjalanan jauh?”
Danny tertawa. “Aku sudah sembuh. Sungguh. Hyong juga tidak akan
mengizinkan aku pergi kalau aku masih sakit.”
“Kapan kau akan kembali?”
“Entahlah. Aku tidak yakin. Kurasa hanya dua atau tiga hari.”
“Dua atau tiga hari?”
“Kenapa? Tentunya kau bisa bertahan beberapa hari tanpa aku, bukan?” gurau
Danny.
Naomi mendengus. “Aku sudah bertahan seumur hidup tanpa dirimu, jadi aku
yakin aku akan baik-baik saja.”
Saat itu Julie mencondongkan tubuhnya ke arah Naomi dan berbisik, “Apakah
dia akan datang ke pertunjukanku?”
Naomi meneruskan pertanyaan Julie kepada Danny.
“Katakan padanya aku pasti datang,” sahut Danny. “Bukankah aku sudah
pulang sebelum hari pertunjukan perdananya?”
“Dia pasti datang,” kata Naomi kepada Julie, lalu kembali berkata kepada
Danny, “Baiklah kalau begitu. Jaga dirimu.”
“Kau juga. Aku akan meneleponmu lagi nanti.”
“Ada pekerjaan di North Country?” tanya Julie sambil memasukkan scone ke
dalam mulut ketika Naomi sudah menutup ponsel.
“Katnaya dia akan pergi selama beberapa hari,” sahut Naomi pelan, lalu
menoleh memandang ke luar jendela. Seperti biasa, langit London terlihat suram
walaupun sinar mathari berusaha mengintip dari sela-sela awan.
“Oh, astaga,” kata Julie tiba-tiba. Seulas senyum lebar tersungging di bibirnya
dan mata hijaunya berkilat-kilat penuh arti.
Naomi menatapnya dengan alis terangkat. “Apa?”
“Kau mendesah, Naomi,” kata Julie.
“Mendesah?” ulang Naomi sambil mengerjap kaget. Ia tidak mendesah. “Aku
tidak mendesah.”
Senyum Julie semakin lebar. “Kau sudah pasti mendesah tadi dan aku tahu jenis
desahan seperti itu.” Julie mencondongkan tubuh dan menopang kedua siku di atas
meja. Matanya menatap mata Naomi lurus-lurus. “Belum apa-apa kau sudah
merindukannya.”
“Apa?”
Julie tertawa. “Oh, akui saja, Naomi. Kau menyukai laki-laki itu.”
“Aku...” Naomi terdiam sejenak, lalu mengembuskan napas. “Sebaiknya kita
bicarakan hal lain saja.”
Julie mengangkat bahu. “Kenapa? Danny Jo itu sangat tampan, baik, sopan, dan
menyenangkan. Dan aku yakin dia juga menyukaimu. Jadi apa salahnya kalau...”
“Miho menyukainya,” sela Naomi.
“Aku tahu itu,” kata Julie, membuat Naomi heran. “Tapi lalu kenapa? Danny
tidak menyukainya, bukan?”
Naomi mengangkat bahu. “Aku sudah berjanji akan membantunya.”
“Membantu siapa? Miho?”
Naomi mengangguk.
“Maksudm, membantunya mendekati Danny?”
Naomi tidak menjawab.
Julie menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan perlahan.
“Kau tahu, Naomi, kadang-kadang kau bisa sangat bodoh.”
Naomi tidak berkomentar. Ia hanya menunduk dan mengaduk-aduk tehnya.
“Ngomong-ngomong soal Miho,” gumam Julie tiba-tiba.
Naomi mengangkat wajah dan melihat Julie sedang memandang ke arah pintu
restoran. Naomi mengikuti arah pandang Julie dan matanya langsung menangkap
sosok Miho Nakajima yang sedang berjalan ke meja mereka sambil tersenyum cerah.
Terakhir kali Naomi bertemu dengan Miho adalah empat hari yang lalu, ketika
mereka pulang dari apartemen Danny.
“Halo,” sapa Miho ceria ketika ia sudah berdiri di samping meja Naomi dan
Julie. “Aku kebetulan lewat dan melihat kalian dari luar restoran, jadi kuputuskan
untuk ikut bergabung dengan kalian. Kalian tidak keberatan, bukan?”
“Tidak, tidak. Silakan duduk,” kata Julie sambil bergeser ke kursi di
sampingnya untuk memberi tempat kepada Miho.
Miho melepas jaket sambil memesan secangkir teh pada seorang pelayan yang
menghampirinya. Setelah si pelayan pergi, Miho menatap Naomi dan Julie
bergantian. “Jadi apa yang sedang kalian bicarakan?”
Naomi melirik Julie sekilas, lalu menatap Miho dan berkata, “Hanya tentang
pertunjukan Julie minggu depan. Dia ingin memastikan kita semua datang. Kau juga
pasti datang, bukan?”
Selama beberapa saat mereka mengobrol tentang berbagai hal sambil minum
teh dan melahap semua scone dan kue kecil yang mereka pesan. Lalu tiba-tiba Miho
berkata, “Ngomong-ngomong, kenapa Chris dan Danny tidak ikut minum teh
bersama kita?”
“Chris tidak bisa meninggalkan restoran,” sahut Julie. “Sedangkan Danny
sedang pergi ke luar kota.”
Alis Miho terangkat dan ia menoleh ke arah Naomi. “Ke luar kota? Ke mana?”
Naomi memaksakan seulas senyum tipis. “Lake District,” gumamnya. “Ada
pekerjaan di sana.”
“Lake District,” gumam Miho dengan nada merenung. Sesaat kemudian ia
menatap Naomi dan Julie bergantian. “Ada yang mau pesan scone lagi? Scone di sini
benar-benar enak.”
* * *
Tiga hari kemudian
Begitu Naomi membuka pintu flatnya, aroma tidak asing langsung menyerbu
hidungnya. Aroma masakan. Seulas senyum otomatis tersungging di bibirnya. Pasti
Chris sudah ada di rumah. Dan kalau menilai dari aromanya, ia pasti sedang
memasak sesuatu yang lezat.
“Naomi, kaukah itu?” seru Chris dari dapur.
“Ya, ini aku,” Naomi balas berseru sambil menggantung jaket dan melepas
sepatunya. Lalu ia berjalan ke dapur. “Aromanya enak sekali.”
Chris sedang mengaduk-aduk sesuatu di panci sementara Julie duduk di meja
makan dan memotong-motong sayuran hijau dengan canggung. Naomi tersenyum
memikirkan bagaimana jadinya Julie kalau ia disuruh memerankan koki andal
dalam drama. Ia pasti gagal total.
“Kuharap kau belum makan malam, Sayang,” kata Chris, lalu mencicipi saus
yang sedang dimasaknya. “Oh... Ya Tuhan, aku benar-benar jenius. Saus ini benarbenar
lezat. Aku bisa jatuh cinta pada diriku sendiri.”
“Aku belum makan malam dan aku kelaparan,” kata Naomi. Ia menghampiri
Chris dan mengintip ke dalam panci. “Kita akan makan apa malam ini?”
“Pasta,” kata Chris. “Oh ya, bagaimana kalau kau mengundang Danny makan
malam bersama kita? Kuharap dia tidak alergi lobster.”
Naomi menggeleng. “Danny belum kembali ke London.”
“Kenapa? Bukankah dia bilang hanya dua atau tiga hari?” tanya Julie.
“Kemarin malam dia meneleponku dan sepertinya ada sedikit masalah teknis di
sana. Jadi mereka terpaksa tinggal lebih lama daripada yang direncanakan.”
Tiba-tiba Chris berhenti mengaduk pancinya dan berbalik menatap Naomi. “Dia
pergi ke Lake District, bukan?”
Naomi mengangguk. “Ya, kenapa?”
“Kudengar di sana pemandangannya sangat indah,” kata Chris sambil berpikirpikir.
“Lalu?”
“Kudengar juga tempat itu sangat romantis. Tempat yang membuat orang jatuh
cinta semudah ini.” Chris menjentikkan jari.
“Oh, Chris. Tolong katakan saja langsung apa yang ingin kaukatakan,” kata
Julie.
Raut wajah Chris terlihat serius. “Kau tidak takut dia akan jatuh cinta pada
wanita lain di sana?” tanyanya pada Naomi. “Bayangkan saja, dia berada di salah
satu tempat paling indah di dunia, dikelilingi kedamaian pegunungan, padang
rumput hijau, danau biru, udara segar, desa-desa kecil yang indah. Mungkin kalian
tidak tahu, tapi percayalah padaku apabila kukatakan bahwa suasana seperti itu
membuat kita jatuh cinta dengan mudah. Sangat mudah. Bagaimana kalau Danny
bertemu dengan salah seorang gadis desa yang cantik dan lugu di sana, lalu dia
terpesona dan... dan tidak mau kembali ke London lagi?”
Naomi menyipitkan mata menatap Chris, seulas senyum kecil tersungging di
sudut bibirnya. “Kau tahu masalahmu? Kau terlalu banyak nonton film-film lama,”
katanya.
Chris terkekeh. “Setidaknya memang itu yang terjadi dalam film,” kata Chris. Ia
menoleh ke arah Julie yang masih memotong-motong sayuran dengan kikuk.
“Sayangku, kalau kau memotong seperti itu, salad-nya baru bisa dihidangkan besok
pagi.”
“Aku lebih mementingkan keselamatanku. Aku tidak mau jariku putus,” balas
Julie, masih memotong sayuran dengan teramat hati-hati.
“Baiklah,” kata Naomi sambil beranjak ke kamarnya. “Aku akan mandi. Setelah
itu aku akan membantu kalian.”
* * *
“Dia belum meneleponmu hari ini?” tanya Chris tiba-tiba setelah mereka selesai
makan malam dan duduk mengobrol di meja makan.
Naomi mengalihkan tatapan dari jam kecil di atas kulkas dan menatap Chris.
“Apa?”
“Ayolah, Naomi,” timpal Julie sambil tersenyum. “Dari tadi kau terus melirik
jam.”
“Dan kalau tidak melirik jam, kau melirik ponselmu,” Chris menambahkan.
“Jelas sekali kau sedang menunggu telepon,” lanjut Julie.
“Tepatnya, telepon dari Danny,” kata Chris.
Naomi tidak tahu apa yang bisa dikatakannya untuk menghadapi serangan
kedua temannya. Tetapi ia memang tidak ingin membantah. Ia memang sedang
menunggu telepon dari Danny. Biasanya Danny meneleponnya atau mengirim
pesan singkat setiap hari—setiap hari—hanya untuk mengabarkan keadaannya
ataupun menanyakan kabar Naomi. Tetapi dua hari terakhir ini laki-laki itu belum
menghubungi Naomi dan hal itu membuat Naomi bertanya-tanya. Apa yang sedang
dilakukannya di sana?
Tiba-tiba Naomi tertegun dan alisnya berkerut bingung. Kenapa ia seperti ini?
Aneh sekali. Sudah beberapa hari ini ia tidak melihat Danny dan ia mulai merasa
rindu. Rindu? Yah, walaupun Naomi tidak ingin mengakuinya, itulah kata yang
tepat untuk menggambarkan apa yang dirasakannya sekarang. Ia ingin bertemu
dengan Danny, ingin mendengar suaranya, ingin berbicara dengannya, ingin... Oh,
dear, aku sudah gila, pikir Naomi sambil menggeleng pelan.
“Kau tidak gila,” kata Chris. “Apa yang kaurasakan itu wajar saja.”
Naomi mendongak kaget. Apakah ia mengatakan apa yang dipikirkannya tadi?
Sepertinya begitu.
“Kenapa kau tidak meneleponnya?” Julie menyarankan dan mulai
membereskan meja. “Dia juga bukannya pergi ke luar negeri. Telepon saja dia
sekarang.”
Naomi menggigit bibir, mempertimbangkan usul itu sejenak, lalu ia tersenyum.
“Baiklah kalau begitu.” Ia meraih ponsel dan menekan nomor Danny. Nada
sambung terdengar empat kali sebelum akhirnya telepon diangkat di ujung sana
dan...
“Halo?”
Naomi mengerjap dan matanya pun melebar. Suara wanita? Apa...?
“Halo?” kata suara itu lagi. Lalu, “Naoi?”
Tanpa sadar Naomi mencengkeram ponselnya lebih erat sementara jantungnya
seolah-olah berhenti sejenak ketika ia mengenali suara itu. “Miho?” tanyanya kaget.
Chris dan Julie yang sedang membereskan meja menghentikan gerakan mereka
dan menatap Naomi dengan alis terangkat kaget. Namun kekagetan mereka tidak
seberapa dibandingkan dengan kekagetan Naomi. Miho? Miho menjawab ponsel
Danny? Apa ini? Apa yang sedang terjadi?
“Ternyata benar kau, Naomi,” kata Miho. Suaranya terdengar ringan dan ceria
seperti biasa. “Danny sedang pergi ke toilet dan ponselnya ditinggalkan di meja.”
Naomi merasa kepalanya nyaris meledak karena banyaknya pertanyaan yang
berseliweran di sana. “Tapi, Miho, bagaimana kau bisa ada di... Maksudku, sedang
apa kau di sana?” tanyanya, berusaha mengendalikan suaranya.
“Oh, kau tidak tahu aku ada di Lake District?” Miho balas bertanya. “Bukankah
sudah kukatakan padamu aku ingin menulis artikel tentang Lake District? Aku
yakin aku pernah mengatakannya padamu.”
Naomi memang ingat Miho pernah menyebut-nyebut soal itu, tapi ia tidak tahu
bahwa Miho akan langsung pergi ke sana. Dan bertemu dengan Danny. Dan
menjawab ponsel Danny!
“Jadi aku datang ke sini dan aku kebetulan bertemu dengan Danny dan
rombongannya di Keswick. Benar-benar kebetulan yang luar biasa, bukan?” Miho
melanjutkan penjelasannya. “Dan karena malam ini mereka tidak sibuk, aku
mengundang danny dan rombongannya makan malam bersama. Oh, Naomi,
mereka benar-benar rombongan yang menyenangkan. Dan Danny benar-benar
teman mengobrol yang luar biasa. Dia membuatku tertawa sepanjan gmalam.”
Naomi harus menahan diri untuk tidak memutuskan hubungan saat itu juga.
“Oh, begitu? Menyenangkan sekali,” gumamnya kaku.
“Oh, oh, ada yang ingin kukatakan padamu,” kata Miho lagi. Suaranya
terdengar antusias.
Naomi tidak yakin ia ingin mendengarnya.
“Danny akan mengajakku ke suatu tempat sehabis makan malam,” bisik Miho
senang. “Kurasa dia mulai menyukaiku.”
Dan Naomi merasa jantungnya jatuh ke lantai dapur flatnya.
“Aku akan menceritakan semuanya kepadamu ketika aku pulang nanti.”
Tidak. Jangan. Naomi menarik napas dalam-dalam. “Baiklah kalau begitu. Aku
tidak akan mengganggu acara makan malammu. Bersenang-senanglah. Dan semoga
artikelmu berhasil.”
“Artikel?” tanya Miho bingung. “Oh, artikel itu! Ya, ya, tentu saja. Terima kasih,
Naomi.”
Naomi tidak bisa menahan diri dan memutar bola matanya.
“Oh, Naomi, kau ada pesan untuk Danny? Akan kusampaikan kepadanya,”
tambah Miho.
“Tidak,” tukas Naomi cepat. Suaranya terdengar agak ketus, jadi ia menarik
napas lagi dan berkata dengan lebih tenang. “Tidak, terima kasih, Miho. Tidak usah.
Tidak ada yang penting.”
Naomi menutup ponsel dan menatap Chris dan Julie yang sedang menatapnya
dengan ragu. “Itu tadi Miho,” katanya singkat.
Chris dan Julie saling berpandangan sejenak. “Ya, kami sudah mendengarnya.”
“Dia sedang makan malam dengan Danny,” kata Naomi lagi. Dadanya terasa
agak berat. “Yah, bukan berdua dengan Danny. Rekan-rekan kerja Danny juga ada
di sana.”
Chris dan Julie mengangguk.
“Katanya Danny sedang pergi ke toilet dan meninggalkan ponselnya di meja.
Katnaya dia sedang menulis artikel tentang Lake District dan kebetulan bertemu
dengan Danny di Keswick.” Lagi-lagi Naomi menarik napas dalam-dalam, lalu
bergumam lirih, “Katanya Danny akan mengajaknya ke suatu tempat setelah makan
malam.”
Chris dan Julie masih diam. Lalu Chris berkata ragu, “Kau tahu, itu mungkin
tidak berarti apa-apa. Kusarankan kau tidak terlalu memikirkannya.”
Naomi mengangkat wajah dan menatap Chris. “Aku tidak apa-apa,” katanya
cepat. “Aku baik-baik saja.”
Lalu ia berbalik dan masuk ke dalam kamarnya, melempar ponsel ke tempat
tidur dan berdiri di tengah-tengah kamar dengan kedua tangan dilipat di depan
dada.
Danny akan mengajakku ke suatu tempat sehabis makan malam. Kurasa dia mulai
menyukaiku.
Mata Naomi terasa perih. Ia juga mendadak merasa sesak. Ia membuka
jendelanya lebar-lebar dan menarik napas dalam-dalam. Kenapa tiba-tiba bernapas
membuat dadanya terasa sakit?
* * *
Miho sedang menunduk menatap ponsel Danny yang ada dalam genggamannya
ketika suara Danny mengagetkannya. “Ada yang menelepon?”
Miho mendongak dan menyunggingkan senyum cerah. “Naomi,” sahutnya.
“Maaf, aku menjawab teleponmu. Tapi sudah kukatakan padanya bahwa kau
sedang pergi ke toilet.”
Danny duduk dan menerima ponsel yang disodorkan Miho. Naomi
meneleponnya? Apakah ada masalah? Ia memang tidak sempat menelpon gadis itu
selama dua hari ini, tetapi itu karena Bobby Shin membuat semua orang sibuk
sepanjang hari dan ketika akhirnya Danny mendapat waktu luang, Miho mendadak
muncul dan mengajak mereka semua makan malam.
“Maaf, aku keluar sebentar,” kata Danny kepada Miho. Kemudian ia keluar dari
restoran dan berdiri di tepi jalan yang melandai. Ia menekan nomor telepon Naomi
dan menempelkan ponsel ke telinga.
Nada sambung terdengar satu kali, dua kali, tiga kali, empat kali, lima kali...
Naomi tidak menjawab telepon. Ke mana gadis itu? Kenapa tidak menjawab
telepon?
* * *
Naomi menatap ponselnya yang berdering di atas tempat tidur, namun sama sekali
tidak bergerak untuk menjawabnya. Ia tetap berdiri di depan jendela sambil melihat
kedua tangan di depan dada. Ia tahu itu telepon dari Danny, ia sudah melihat nama
yang muncul di layar ponsel, tetapi ia tidak lagi ingin berbicara dengan laki-laki itu.
Tidak setelah berbicara dengan Miho tadi.
Ia yakin Miho memutuskan pergi ke Lake District setelah ia tahu Danny ada di
sana. Ia juga yakin Miho tidak kebetulan bertemu dengan Danny di Keswick. Miho
pasti tahu rombongan Danny menginap di Keswick. Pasti begitu. Dan kini mereka
berdua ada di tempat yang menurut Chris adalah salah satu tempat paling indah di
dunia, dikelilingi kedamaian pegunungan, padang rumput hijau, danau biru, udara
segar, desa-desa kecil yang indah.
Tempat yang membuat orang-orang jatuh cinta dengan mudah, begitulah kata
Chris tadi.
Naomi menyipitkan mata. Namun bukannya gadis desa yang cantik dan lugu,
Danny malah bertemu dengan Miho Nakajima.
Miho Nakajima yang cantik, pintar, menarik, pandai bicara, dan selalu percaya
diri di tengah banyak orang.
Miho Nakajima yang sangat bertolak belakang dengan Naomi Ishida.
Miho Nakajima yang pastinya bisa dengan mudah membuat Danny jatuh cinta.
Bab Tiga Belas
SAAT itu waktu makan siang dan Chris sedang sibuk seperti biasanya di dapur
restoran tempat kerjanya. Sebagai kepala koki, Chris bertugas memastikan semua
berjalan lancar dan semua makanan yang keluar dari dapur sudah sempurna.
Christopher Scott yang sedang bekerja dan Christopher Scott yang tidak sedang
bekerja sangat berbeda. Ketika sedang bekerja, Chris teramat sangat serius dan
selalu bersikap tegas pada semua anak buahnya, seperti komandan di medan
perang. Sementara Chris yang dikenal teman-temannya di luar urusan pekerjaan
adalah pribadi yang sangat lucu, menyenangkan, dan sangat santai.
“Daging dombanya berapa lama lagi?” seru Chris kepada salah seorang anak
buahnya yang sedang mengintip ke dalam oven.
“Tiga menit lagi, Chef,” jawab si anak buah dengan suara lantang.
Chris menoleh ke sisi lain dan berseru lagi, “Bagaimana dengan risotto-nya?”
“Ini dia, Chef.” Dan sepiring risotto diletakkan di depan Chris untuk diperiksa.
Setelah memasitkan semuanya sudah benar, Chris membiarkan pelayan restoran
membawanya keluar dari dapur.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi dan Chris mengumpat. “Siapa lagi yang
menelepon di saat seperti ini?” gerutunya pada diri sendiri. Ia mengeluarkan ponsel
dari saku celana dan berkata cepat, “Ya, siapa ini?”
Mendengar suara orang di ujung sana, sikap Chris langsung berubah. “Tunggu
sebentar,” katnaya kepada si penelepon, lalu berseru memanggil salah satu
asistennya. “Jenner! Gantikan aku sebentar. Ibuku menelepon.”
Lalu Chris melepaskan celemeknya dan keluar dari dapur yang berisik itu.
Begitu ia tiba di kantor kecilnya, ia mengempaskan diri ke kursi dan berkata, “Ya,
Danny. Kita bisa bicara sekarang. Ngomong-ngomong, kau sudah kembali ke
London?”
“Belum,” sahut Danny di ujung sana. Lalu ia bertanya heran, “Kaubilang aku
ibumu?”
Chris terkekeh. “Biasanya aku tidak menjawab telepon kalau sedang bekerja.
Kau tahu sekarang waktunya makan siang? Kami sedang supersibuk di sini.”
“Maafkan aku,” kata Danny. “Aku sudah berusaha menelepon Julie tadi, tapi
dia tidak menjawabnya.”
“Tunggu dulu,” sela Chris. “Kau menelepon Julie lebih dulu? Kenapa? Kenapa
pilih-pilih kasih seperti ini?”
Danny tertawa hambar. “Yang benar saja. Aku tahu kau pasti sibuk pada jamjam
seperti ini, jadi aku tidak ingin mengganggumu,” Danny menjelaskan. “Tapi
berhubung Julie tidak menjawab telepon, aku terpaksa menghubungimu. Kuharap
aku tidak terlalu merepotkan.”
Chris mengangkat bahu. “Tidak juga,” katanya ringan. “Ada yang mau
kaubicarakan?”
Danny ragu sejenak. “Sebenarnya aku ingin meminta bantuanmu.”
“Ini tentang Naomi, bukan?” tebak Chris.
“Ya. Aku sudah berusaha menghubunginya selama dua hari ini. Tapi dia tidak
menjawab teleponku.”
“Aku juga tidak akan menjawab teleponmu kalau aku jadi dia,” timpal Chris.
“Tapi kenapa? Ada apa? Apa yang sudah kulakukan?” tanya Danny tidak
mengerti. “Jangan katakan padaku ini karena Miho.”
“Mm-hmm,” gumam Chris membenarkan. “Danny, asal kau tahu, dia sangat
marah. Dan aku tidak menyalahkannya.”
“Tapi bukan aku yang menyuruh Miho ke sini. Aku juga tidak menyuruhnya
menjawab teleponku,” kata Danny cepat. “Dan sekarang Naomi tidak mau bicara
denganku gara-gara itu?”
“Kata Miho, kau hendak mengajaknya ke suatu tempat setelah makan malam
waktu itu,” kata Chris datar.
“Yah, itu memang benar,” kata Danny, lalu cepat-cepat menambahkan, “tapi itu
karena katanya dia sedang menulis artikel tentang tempat-tempat menarik di Lake
District. Karena dia sudah berbaik hati mentraktir kami semua makan malam,
kupikir aku bisa berterima kasih kepadanya dengan menunjukkan beberapa tempat
menarik di Keswick yang mungkin bisa menjadi bahan yang berguna untuk
artikelnya.” Ia terdiam sejenak, lalu bertanya dengan nada tidak percaya. “Tapi
kenapa aku menjelaskan semua ini kepadamu?”
Chris terkekeh. “Karena kau ingin meminta bantuanku?”
Danny mendesah berat. “Dan asal kau tahu, kami tidak pergi berdua. Seorang
temanku yang sepertinya tertarik pada Miho juga ikut dengan kami.”
“Miho mengira kau mulai menyukainya.”
“Aku—apa?” Danny terdengar kaget. “Dan apakah Naomi juga berpikir
begitu?”
Chris mengangkat bahu, walaupun Danny tidak bisa melihatnya. “Aku baru
tahu ternyata dia bisa cemburu juga,” gumamnya lirih, lebih pada diri sendiri, lalu
tertawa kecil.
Danny tidak mendengarnya. “Apa katamu?”
“Tidak apa-apa,” sahut Chris cepat. “Jadi katakan apa yang bisa kubantu?”
* * *
Malam itu Naomi masuk ke kamarnya, menjatuhkan tasnya ke lantai dan langsung
merebahkan diri ke atas tempat tidur. Ia menggigit bibir dan menatap langit-langit
kamar. Ia mulai merasa reaksinya terlalu berlebihan malam itu, malah ketika Miho
menjawab telepon Danny. Seharusnya ia tdiak bereaksi seperti itu. Seharusnya ia
tidak menolak menjawab telepon Danny ketika laki-laki itu meneleponnya.
Bagaimanapun juga, ia tidak berhak merasa cemburu. Danny Jo bebas
melakukan apa pun yang diinginkannya. Ia juga bebas bersama siapa pun yang
diinginkannya. Bebas menyukai siapa pun yang diinginkannya.
Tetapi kenapa pikiran itu malah membuat Naomi sendiri lesu?
Ia bangkit dan berjalan ke lemari pakaiannya. Saat itu matanya menatap secarik
kertas kecil berwarna kuning yang ditempelkan di cermin meja riasnya. Ia mencabut
kertas itu dan membacanya.
Periksa e-mail-mu. Chris.
Alis Naomi berkerut heran. Apa lagi ini? pikirnya, namun ia menghampiri meja
tulis dan menyalakan laptop-nya. Tidak lama kemudian ia sudah masuk ke inbox email-
nya. Seseorang mengirimkan video file untuknya. Berharap itu bukan semacam
virus, Naomi membuka file di sana.
Sejenak kemudian ia mengerjap kaget menatap gambar yang muncul di layar
laptop. Danau dengan permukaan air berwarna biru yang tenang, padang rumput
hijau yang terbentang luas, diselingi pepohanan dan berlatar belakang bukit hijau
gelap. Langit terlihat biru jernih dan ia bisa mendengar gemeresik dedaunan yang
ditiup angin. Ia juga nyaris bisa merasakan tiupan angin di wajahnya. Tempat apa
itu?
Tiba-tiba terdengar suara yang sudah tidak asing lagi di telinganya. “Indah,
bukan? Selamat datang di Ullswater.” Lalu pemandangan itu bergerak ketika
kamera dialihkan dan mata Naomi melebar ketika wajah Danny memenuhi layar
laptop-nya. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali ia melihat wajah Danny.
Danny tersenyum lebar ke arah kamera dan berkata, “Apakah kau tahu bahwa
Ullswater sering dianggap sebagai danau terindah di antara seluruh danau di
Cumbria? Kemarin kami melakukan pengambilan gambar di sini. Aku tahu kau
pasti menyukai pemandangan ini, jadi hari ini aku kembali ke sini untuk
menunjukkannya kepadamu.”
Danny kembali mengarahkan kameranya ke sekelilingnya, menunjukkan
seluruh pemandangan indah yang terbentang di hadapannya. Dan saat itu Naomi
juga merasa seolah-olah ia ada di sana, berdiri di samping Danny, melihat
pemandangan itu dengan mata kepalanya sendiri, meraskaan angin menerpa
wajahnya. Ia mengangkat kedua kaki ke atas kursi dan memeluk lutut. Seulas
senyum tersungging di bibirnya.
Wajah Danny kembali terlihat di layar. Ia mendongak menatap langit biru
sambil menaungi mata dengan sebelah tangan yang tidak memegang kamera.
Rambutnya acak-acakan tertiup angin. Kemudian ia kembali menatap kamera dan
menyunggingkan senyum lebar yang membuat jantung Naomi berdebar dua kali
lebih cepat. “Lain kali aku pasti akan mengajakmu ke sini supaya kau bisa
melihatnya sendiri,” katanya. “Sekarang pegang tanganku. Aku akan mengajakmu
berkencan hari ini, Naomi Ishida. Jadi kuharap kau bersedia menikmati hari yang
indah ini bersamaku.”
Senyum Naomi melebar. “Sangat kreatif,” gumamnya lirih.
Dan ia hampir lupa bernapas ketika ia melihat semua pemandangan indah yang
direkam Danny. Danny membawanya dari Lorton Vale yang merupakan tanah
pertanian hijau di sebelah selatan Cockermouth, lalu ke Crummock Water di sebelah
utara Buttermere, sampai ke Borrowdale yang begitu indah, membuat tenggorokan
Naomi tercekat.
Jelas sekali Danny tidak merekam semua gambar itu dalam satu hari. Naomi
yakin laki-laki itu pasti melakukannya di waktu luangnya yang terbatas. Kesadaran
bahwa Danny telah menyempatkan diri merencanakan semua itu untuknya
membuatnya tersentuh. Sangat tersentuh.
Wajha Danny yang ceria kembali terlihat di layar. “Bagaimana menurutmu?
Kau suka?”
Naomi tersenyum. “Sangat,” gumamnya pelan.
“Aku benar-benar berharap kau ada di sini bersamaku sekarang.” Danny
mendesah dan memandang berkeliling, lalu kembali menatap kamera. Menatap
Naomi. “Kau tahu, aku menyadari sesuatu selama berada di sini,” katanya irngan. Ia
masih tersenyum, namun ada kesan sungguh-sungguh dalam suaranya. “Aku rindu
padamu.”
Naomi mengerjap kaget dan menahan napas. Oh, dear... Suasana di sekelilingnya
mendadak sunyi senyap. Hanya debar jantungnya sendiri yang terdengar
olehnya.
“Kurasa aku sudah terbiasa selalu melihatmu, jadi kalau kau tidak ada, aku
merasa agak aneh. Seolah-olah ada sesuatu yang... salah,” Danny melanjutkan
dengan nada merenung. Lalu ia tertawa kecil. “Astaga, kurasa aku mulai meracau.
Baiklah, kuharap kau menikmati kencan kita hari ini. Sampai jumpa lagi di
London.”
Selama dua menit penuh setelah video itu berakhir, Naomi masih duduk diam
di depan laptop-nya.
Aku menyadari sesuatu selama aku berada di sini. Aku rindu padamu.
Kata-kata Danny masih terngiang-ngiang di telinganya. Dan kata-kata itu kini
membuat seulas senyum kecil muncul di sudut bibirnya. Ia melirik ponsel yang
tergeletak di meja. Setelah ragu sedetik, ia membulatkan tekad, meraih ponsel itu
dan menekan nomor Danny.
Kali ini Danny menjawab pada dering pertama dan suara yang kini disadari
Naomi sangat dirindukannya itu langsung bertanya, “Naomi?”
“Mmm,” gumam Naomi. “Ini aku.”
Naomi bisa mendengar Danny mengembuskan napas dengan perlahan.
“Apakah kau menikmati acara jalan-jalan kita?”
Naomi tersenyum. “Bagaimana kau bisa tahu ak usudah melihat videonya?”
“Aku punya informan tepercaya.”
Informan tepercaya? Naomi melirik pesan dari Chris yang kini tergeletak di
mejanya.
“Jadi, Naomi, kau sudah tidak marah padaku?” tanya Danny. Suaranya
terdengar ragu, sama sekali tidak seperti yang dikenal Naomi.
Naomi mendengus. “Aku tidak marah padamu.” Bagaimanapun juga ia tidak
mungkin mengakui bahwa ia tidak suka dengan kenyataan bahwa Miho menjawab
ponsel Danny, bahwa Danny ingin mengajak Miho ke suatu tempat, bahwa mereka
makan malam bersama, bahwa Miho bisa melihat Danny sementara Naomi sendiri
tidak bisa.
Bahwa Miho yakin Danny mulai menyukainya.
Danny terkekeh. “Suaramu terdengar marah.”
“Aku tidak marah.”
“Baiklah, baiklah. Kalau begitu, aku senang mendengarnya,” kata Danny cepat.
Ia terdiam sejenak, lalu bertanya pelan, “Bagaimana keadaanmu, Naomi?”
“Aku baik-baik saja,” gumam Naomi. “Kau sendiri?”
“Sudah lebih baik,” sahut Danny.
Alis Naomi terangkat. “Apa maksudmu? Kau sakit lagi?”
“Tidak, tidak,” sela Danny cepat, lalu tertawa kecil. “Tidak bertemu denganmu
selama ini sudah cukup membuatku gelisah. Ditambah dengan kau yang tidak mau
berbicara denganku selama dua hari terakhir ini...” Ia menghela napas sejenak.
“Tapi sekarang aku sudah merasa jauh lebih baik. Karena aku sudah mendengar
suaramu.”
Seperti yang sudah sering dialaminya akhir-akhir ini seitap kali berada di dekat
Danny dan setiap kali ia menatap Danny, jantung Naomi pun kembali berdebar
kencang.
* * *
Danny Jo sedang duduk melamun di antara para rekan kerjanya di sebuah pub kecil
di Keswick ketika ponselnya berdering. Ia tersentak dan cepat-cepat menjawab
tanpa melihat siap ayang menelepon. “Naomi?” tanyanya langsung sambil bangkit
dan berjalan keluar dari kedai. Ia sama sekali tidak menyadari Bobby Shin yang
menatapnya sambil tersenyum kecil dan menggeleng-geleng.
“Mmm, ini aku.”
Danny bisa merasakan kelegaan menjalari dirinya begitu ia mendengar suara
Naomi di ujung sana. Ia tahu Naomi sudah melihat video yang dikirimnya. Chris
yang memberitahunya beberapa saat yang lalu.
Tidak melihat gadis itu selama beberapa hari saja sudah cukup membuatnya
uring-uringan. Dan dua hari terakhir ini benar-benar menguji kesabarannya, bahkan
Bobby Shin sampai kebingungan menghadapinya. Penyebabnya? Naomi yang tibatiba
menghindarinya, menolak menjawab teleponnya. Dan yang paling buruk
adalah Danny tidak tahu alasannya, tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
Ia tidak tahu sejak kapan, ia tidak tahu kenapa, dan ia juga tidak tahu
bagaimana, tetapi ia tahu Naomi Ishida sangat berpengaruh pada ketenangan
jiwanya.
Danny berdiri di teras pub kecil itu dan menghela napas dalam-dalam. Tangan
kirinya yang tidak memegang ponsel dijejalkan ke dalam saku celana. Setelah ragu
sejenak, ia bertanya dengan pelan, “Jadi, Naomi, kau sudah tidak marah padaku?”
“Aku tidak marah padamu.”
Danny tertawa pendek. “Suaramu terdengar marah.”
“Aku tidak marah.”
Danny pun tidak mendesak lagi. Akhirnya ia bertanya, “Bagaimana
keadaanmu, Naomi?”
Naomi menjawab ringan, “Aku baik-baik saja. Kau sendiri?”
“Sudah lebih baik,” sahut Danny. Ya, ia sudah merasa jauh lebih baik. Karena ia
sudah mendengar suara gadis itu. Karena gadis itu tidak lagi marah padanya.
Tetapi suara Naomi terdengar khawatir. “Apa maksudmu? Kau sakit lagi?”
“Tidak, tidak,” sela Danny cepat dan tertawa, merasa senang karena Naomi
ternyata mencemaskannya. Itu bisa dianggap sesuatu yang bagus, bukan? “Tidak
bertemu denganmu selama ini sudah cukup membuatku gelisah. Ditambah dengan
kau yang tidak mau berbicara denganku selama dua hari terakhir ini...” Ia menghela
napas sejenak. “Tapi sekarang aku sudah merasa jauh lebih baik. Karena aku sudah
mendengar suaramu.”
Naomi tidak menjawab. Danny bertanya-tanya apakah ia sudah membuat gadis
itu terkejut. Apakah Naomi akan kembali menarik diri? Apakah kata-katanya tadi
akan membuat Naomi kembali menjaga jarak? Karena walaupun Naomi tidak
pernah berkata apa-apa, Danny tahu gadis itu selalu menjaga jarak dengan laki-laki.
Laki-laki mana pun. Dan walaupun Naomi tidak pernah berkata apa-apa, Danny
yakin penyebabnya bukan karena Naomi gadis pemalu. Pasti pernah terjadi sesuatu
yang membuat Naomi bersikap seperti ini. Danny ingin tahu apa yang terjadi. Ia
ingin mengetahui semua yang bisa diketahuinya tentang Naomi. Hanya saja ia tidak
tahu caranya.
“Naomi?” panggil Danny ragu. Semoga saja Naomi tidak langsung menutup
telepon. Kalau itu terjadi, Danny tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya.
“Aku masih di sini,” kata Naomi.
Dengan pelan Danny mengembuskan napas yang ditahannya. Astaga, ia tidak
pernah segugup ini seumur hidupnya, baik dalam urusan pekerjaan atau ketika
menghadapi wanita mana pun. Kenapa gadis yang satu ini membuatnya selalu
merasa gugup, selalu bertanya-tanya, selalu ragu? Ia tidak pernah seperti ini.
Sungguh. Ini tidak normal.
“Kau harus tahu tidak ada yang terjadi. Maksudku, antara aku dan Miho
Nakajima,” kata Danny pada akhirnya.
Hening sejenak, lalu terdengar, “Mmm.”
“Kau percaya padaku, bukan?” tanya Danny.
“Tentu saja,” sahut Naomi cepat, tetapi bagi Danny suara gadis itu tidak
terdengar meyakinkan. “Kau sedang di mana?”
Danny menoleh ke arah jendela pub dan melihat teman-temannya masih sibuk
mengobrol dan tertawa di dalam. “Di pub. Bersenang-senang sedikit setelah hari
yang panjang dan melelahkan.”
“Dia ada di sana bersamamu?”
Danny tersenyum kecil, tidak bisa menahan diri. “Siapa?”
Hening sejenak, lalu Naomi bergumam, “Miho.”
Senyum Danny melebar. “Tidak,” sahutnya singkat. Ia tidak berkata bahwa
siang tadi ia kebetulan bertemu dengan Miho. Ia juga tidak berkata bahwa Miho
memang berencana akan bergabung dengan mereka di pub ini. Bagaimanapun juga,
bukan Danny yang mengundang gadis itu ke sini. Miho sendiri yang kebetulan
mendengar bahwa Danny dan teman-temannya akan berkumpul di pub lalu
menyatakan bahwa ia juga ingin bergabung.
“Begitu?” gumam Naomi. Lalu tiba-tiba ia mengalihkan pembicaraan. Nada
suaranya pun berubah lebih ringan. “Baiklah kalau begitu. Aku tidak akan
mengganggumu lebih lama lagi. Oh, dan terima kasih untuk videonya. Aku sangat
menyukainya.”
“Terima kasih karena sudah berkencan denganku hari ini,” balas Danny.
“Dan, Danny,” kata Naomi lagi ketika Danny hendak menutup telepon, “aku
juga senang mendengar suaramu.”
Dan tiba-tiba saja, begitu mendengar kata-kata sederhana yang diucapkan
dengan pelan itu, Danny merasa hatinya berubah ringan dan melambung tinggi. Ia
juga mendapati dirinya tidak bisa berhenti tersenyum, bahkan lama setelah Naomi
menutup telepon.
Saat itu ia teringat pada kata-kata yang pernah diucapkan Naomi.
Aku... memang merasakan sesuatu, tapi bukan... bukan untuk Chris.
Danny tidak tahu apakah ia berani berharap atau tidak.
* * *
Miho kembali bersandar di dinding samping pub. Danny sudah kembali ke dalam
pub, sama sekali tidak sadar bahwa Miho sudah mendengar semua yang
dikatakannya. Sebenarnya Miho tidak menguping dengan sengaja. Ia baru saja akan
berbelok ke pub itu ketika mendengar suara rendah Danny yang berkata, “Tapi
sekarang aku sudah merasa jauh lebih baik. Karena aku sudah mendengar
suaramu.”
Kata-kata yang diucapkan dengan pelan dan serius itu membuat Miho
menghentikan langkah. Ia belum pernah mendengar Danny berbicara dengan nada
lembut seperti itu. Penasaran dengan orang yang sedang berbicara dengan Danny,
Miho bersandar di dinding samping pub. Ternyata Danny sedang berbicara di
ponselnya. Tapi dengan siapa?
Pertanyaan itu langsung terjawab karena kata yang diucapkan Danny
selanjutnya adalah, “Naomi?”
Miho mengerutkan kening. Lalu perlahan-lahan seulas senyum muram muncul
di bibirnya. Sebenarnya ia sudah menduganya. Sejak hari itu di flat Danny. Ia sudah
melihat cara Danny menatap Naomi. Dan cara Danny menangkup kepala Naomi
dan berbicara pelan kepadanya ketika Miho dan Naomi hendak pulang.
Namun saat itu Miho menolak memikirkannya. Sama seperti sekarang. Ia sama
sekali belum ingin mundur. Danny Jo mungkin menyukai Naomi, tapi Naomi belum
tentu menyukai Danny. Miho mengenal temannya dengan baik. Naomi bukan tipe
wanita yang mudah didekati. Malah Miho selalu melihat Naomi menjauhi laki-laki.
Jadi Miho masih memiliki kesempatan.
Seperti kata orang-orang, segalanya sah dalam perang dan cinta.
Bab Empat Belas
“KALIAN sudah tahu besok adalah hari pertunjukan perdanaku, bukan?” tanya
Julie untuk kesekian kalinya hari ini.
Chris mengadahkan wajah dengan gaya dramatis. “Kami tidak mungkin lupa,
Julie,” katanya dengan nada ditarik-tarik. “Demi Tuhan, kau terus mengingatkan
kami setiap jam. Ada apa denganmu? Tenanglah sedikit.”
Naomi baru saja pulang ketika Julie menariknya ke dapur, di sana Chris yang
mengenakan piama sutra ungu sudah berdiri sambil memegang secangkir cokelat
panas dan langsung melemparkan pertanyaan tadi. Julie terlihat sangat
bersemangat. Juga tegang.
“Aku tidak bisa tenang,” kata Julie sambil berjalan mondar-mandir di dapur
mereka yang kecil. “Ini peran utamaku yang pertama. Pertunjukan ini harus
berhasil. Harus! Kalau ini berhasil baik, maka kesempatan-kesempatan besar lain
akan terbuka untukku. Aku akan terkenal! Aku akan mendapat banyak tawaran!
Aku akan mendapat kesempatan berbagi panggung dengan aktor-aktor besar! Aku
akan...”
“Wow, berhenti sebentar,” sela Chris sambil mengacungkan sebelah tangan ke
wajah Julie. “Pelan-pelan saja. Aku tidak bisa memahami kalau kau berbicara
secepat kereta api ekspres. Tarik napas dalam-dalam.”
Julie mengangguk-angguk dan menarik napas dalam-dalam, mematuhi katakata
Chris. Namun ia langsung menggeleng, “Tidak, tidak. Ini tidak berhasil. Aku
tidak bisa tenang. Apakah kalian sudah mengundang semua teman kalian ke
pertunjukanku?”
“Tenanglah, Sayang. Aku sudah mengundang semua temanku dan aku jamin
mereka pasti datang,” sahut Chris. Lalu ia mengerdip ke arah Naomi dan berbisik,
“Aku sudah mengancanm mereka.”
Naomi tertawa.
Julie menoleh ke arah Naomi dan menyipitkan mata. “Bagaimana dengan
Danny?” tanyanya. “Kapan dia akan kembali ke London? Waktu itu dia sudah
berjanji akan mengajak semua rekan kerjanya ke pertunjukanku. Kalau dia tidak jadi
datang...”
“Dia akan kembali malam ini,” sahut Naomi cepat. “Setidaknya itulah yang
dikatakannya padaku ketika dia meneleponku kemarin.”
Dan Naomi berharap itu benar. Danny sudah pergi selama lebih dari seminggu
dan Naomi berharap bisa segera bertemu dengannya, bukan hanya melihatnya di
video yang dikirimkan Danny untuknya. Naomi menghela napas dan
mengembuskannya dengan pelan. Sepertinya ia mulai kacau. Danny baru pergi
selama seminggu, tetapi kenapa ia merasa seolah-olah Danny sudah pergi lebih dari
sebulan?
“Sekarang sudah larut dan aku sudah mengantuk,” kata Chris sambil menguap,
lalu menatap Julie, “Dan kalau kau ingin aku tampil prima untuk pertunjukan
perdanamu, kau akan membiarkanku tidur dengan tenang.”
Julie memberengut ke arah Chris yang berjalan ke kamarnya sendiri, lalu
menoleh ke arah Naomi dan tersenyum. “Aku juga harus tidur sekarang. Aku tidak
mau sampai ada lingkaran hitam di sekeliling mataku besok. Selamat malam.”
Naomi balas mengucapkan selamat malam dan masih berdiri bersandar di
lemari dapur beberapa saat setelah Julie masuk ke kamar. Tubuhnya terasa lelah,
namun pikirannya masih segar bugar. Dan seperti yang sering dialaminya akhirakhir
ini kalau sedang sendirian, pikirannya langsung melayang pada Danny Jo.
Apakah Danny akan meneleponnya kalau ia sudah tiba di London? Mungkin tidak.
Malam sudah larut dan Danny pasti sangat lelah.
Naomi memejamkan mata dan menggeleng-geleng. Oh, dear. Ini harus
dihentikan. Ia tidak bisa memikirkan Danny terus. Yang harus dilakukannya
sekarang adalah mandi dan tidur.
Namun ketika ia masuk ke kamarnya sendiri, ponselnya berbunyi. Ia
mengeluarkan ponsel dari tas dan menatap tulisan yang muncul di layar. Wajahnya
langsung berseri-seri. “Danny!”
“Wah, kedengarannya kau sedang gembira.” Suara Danny terdengar agak lelah,
namun masih ada tawa di dalamnya. “Kuharap itu karena kau gembira mendengar
suaraku.”
Naomi mendengus pelan, namun ia tidak bisa mencegah senyum lebar yang
muncul di wajahnya. “Kau sudah ada di London?”
“Mmm,” gumam Danny membenarkan. “Baru turun dari kereta dan orang
pertama yang terpikirkan olehku adalah kau. Aneh, bukan?”
“Kau baru memikirkanku setelah turun dari kereta?” gurau Naomi.
“Ah, sebenarnya aku memikirkanmu sepanjang perjalanan pulang,” koreksi
Danny. “Dan setiap hari selama aku tidak ada di London. Setiap hari. Bahkan setiap
jam. Bagaimana kedengarannya?”
Naomi tertawa. “Kedengarannya tidak normal.”
“Kau benar. Ini tidak normal,” desah Danny. “Ngomong-ngomong, kenapa kau
belum tidur?”
“Aku baru pulang.”
“Selarut ini?”
Naomi melirik jam tangan. Memang sudah hampir tengah malam.
“Pemotretannya berlangsung lebih lama daripada yang kukira,” katanya. “Tapi
kenapa kau masih meneleponku kalau kau memang merasa ini sudah larut?”
“Tadinya aku berencana meninggalkan pesan di kotak suaramu,” aku Danny.
“Tapi karena kau ternyata belum tidur, maukah kau membantuku?”
Sebelah alis Naomi terangkat. “Apa?”
“Sudah lama aku tidak melihatmu dan karena aku sudah tiba di London kurasa
aku tidak akan bisa tidur malam ini kalau aku belum melihatmu,” kata Danny.
“Maukah kau melihat keluar jendela?”
Apa? Naomi mengerjap kaget sementara jantungnya mulai berdebar semakin
keras dan cepat. Tanpa membuang-buang waktu, ia melompat ke jendela kamar
tidurnya dan menyibakkan tirai. Benar saja. Danny Jo sedang berdiri di bawah tiang
lampu di seberang jalan di depan gedung flat Naomi. Sebelah tangannya yang tidak
memegang ponsel terangkat menyapa Naomi. Wajahnya yang terdongak ke arah
Naomi terlihat agak pucat dan lelah, namun senyum yang sangat disukai Naomi itu
tetap tersungging di bibirnya.
“Danny,” Naomi merasa hatinya membuncah dan ia tidak bisa menahan
senyumnya.
“Atau kau bisa turun sebentar dan membiarkanku melihatmu dari dekat,”
tambah Danny pelan.
Naomi tidak ragu sedetik pun. “Tunggu di sana,” katanya, lalu berbalik, melesat
keluar dari kamarnya, keluar dari pintu flat dan berlari menuruni tangga. Kurang
dari tiga puluh detik kemudian ia sudah menginjak trotoar di depan gedung flatnya.
Ia harus mencegah dirinya berlari menyeberangi jalan dan memeluk Danny. Tanpa
melepaskan pandangan dari wajah Danny, Naomi memaksa dirinya berjalan dengan
tenang menyeberangi jalan yang sudah sepi dan berhenti di depan Danny.
“Cepat sekali,” komentar Danny sambil tersenyum ke dalam mata Naomi.
Naomi mengangkat bahu. “Yah, semakin cepat aku turun ke sini dan
menemuimu, semakin cepat kau bisa pulang dan membiarkan aku tidur.”
Danny tertawa pelan. Lalu ia mengangkat sebelah tangannya dan menyentuh
pipi Naomi. “Benarkah?”
Mata Naomi melebar, napasnya tercekat, jantungnya berdebar begitu keras
sampai rasanya hampir melompat keluar dari dadanya. Tetapi ia tidak bisa
bergerak. Tidak bisa berbicara. Tidak bisa bernapas. Mata Danny yang gelap seolaholah
menghipnotisnya. Tangan Danny terasa hangat di pipi Naomi yang dingin.
Kehangatan tangan itu mulai meresap di kulit Naomi dan menjalari seluruh
tubuhnya. Sama seperti waktu itu di flat Danny.
Perlahan-lahan tangan Danny bergerak merangkul bahu Naomi dan
menariknya mendekat. Dan sebelum Naomi bisa bereaksi, kedua lengan Danny
sudah melingkari tubuhnya, menyelubunginya dengan kehangatan. Naomi
mengerjap kaget. Kaget karena Danny memeluknya. Kaget karena ia membiarkan
Danny melakukannya. Kaget karena rasa aman yang dirasakannya dalam pelukan
Danny.
“Ah, senang sekali melihatmu lagi,” gumam Danny di pelipis Naomi.
Naomi pun mengembuskan napas yang ditahannya sejak tadi, seiring dengan
ketegangan yang menguap dari tubuhnya. Ia menyandarkan dagunya di bahu
Danny dan memejamkan mata. Ia bisa merasakan debar jantung Danny, dan entah
kenapa hal itu membuatnya merasakan kedamaian yang belum pernah
dirasakannya selama ini.
Lalu suara Danny yang rendah kembali terdengar dai balik kabut kedamaian
yang menyelimutinya dengan nyaman. “Apa yang akan kaulakukan besok?”
Sulit rasanya berpikir tentang besok ketika saat ini ia sedang berada dalam
pelukan Danny, tetapi Naomi berhasil memaksa otaknya bekerja. “Besok pagi aku
harus pergi menemui agenku.”
“Setelah itu?”
“Bersiap-siap untuk menghadiri pertunjukan perdana Julie.”
Danny tertawa kecil. “Kau tidak perlu menghabiskan seharian mempersiapkan
diri.” Ia melepaskan pelukannya, kedua tangannya memegang bahu Naomi, lalu ia
mengamati Naomi dari kepala sampai ke kaki, lalu kemblai ke wajah Naomi.
“Menurutku kau sudah sempurna.”
Wajah Naomi pun memanas. Ia yakin wajahnya terlihat merah, bahkan di
bawah sinar lampu jalan yang remang-remang.
“Setelah kau menemui agenmu, dan sebelum kita menghadiri pertunjukan Julie,
bagaimana kalau kau menemaniku menghabiskan hari liburku?”
Bagaimana mungkin Naomi menolak sementara Danny tersenyum padanya
seperti itu. Dan saat itulah ia menyadari sesuatu, sesuatu yang sudah tersembunyi
rapi di dalam hatinya sejak lama, namun kali ini perasaan itu begitu kuat sampai
tidak mungkin diabaikan lagi.
Sepertinya ia sudah jatuh cinta pada Danny Jo.
Oh, dear...
Bab Lima Belas
KEESOKAN harinya ketika Naomi keluar dari kantor agennya, ia melihat Danny
sudah duduk menunggunya di atas sepda motor besar berwarna perak.
Danny tersenyum lebar sambil mengulurkan helm kepadanya. “Ini sepeda
motor Hyong. Dia meminjamkannya kepadaku hari ini. Ayo, naiklah.”
Naomi menatap Danny dan sepeda motor itu bergantian. “Kau harus tahu
bahwa ini pertama kalinya aku naik sepeda motor,” katanya ragu.
Danny mengenakan helmnya sendiri. “Benarkah? Kau sudah banyak mendapat
pengalaman baru bersamaku, bukan?” tanya Danny ringan. “Dan hari ini kita akan
mencari pengalaman baru lagi. Ayo, naiklah. Kau percaya padaku, bukan?”
Naomi menatapnya sesaat, lalu perlahan-lahan keraguan memudar dari
matanya dan ia tersenyum. “Baiklah.”
Seperti yang dijanjikan Danny, Naomi mendapat berbagai pengalaman baru
hari itu. Selama tiga tahun tinggal di London, hari itu Naomi naik sampan di
Regent‟s Park untuk pertama kalinya, menyaksikan pergantian pengawal kerajaan
di Buckingham Palace untuk pertama kalinya, dan naik London Eye untuk pertama
kalinya. Lalu mereka makan dan berjalan-jalan di Leicester Square, daerah yang
menjadi wilayah pejalan kaki dan pusat hiburan di West End tempat berbagai jenis
seniman jalanan bersaing berebut perhatian.
Waktu memang berlalu dengan cepat ketika kau sedang bersenang-senang.
Itulah yang dirasakan Naomi. Ia menyadari bahwa menghabiskan waktu bersama
Danny adalah saat-saat paling menyenangkan baginya. Bersama Danny, ia
mendapati dirinya sering tertawa, selalu mengalami hal-hal baru yang
menyenangkan, dan bisa berbicara bebas. Bersama Danny, Naomi bisa menikmati
semua hal yang tidak bisa dinikmatinya sebelum ini, melihat semua hal yang tidak
akan bisa dirasakannya seumur hidupnya. Dan bersama Danny, ia bisa melupakan
masa lalu dan masa depan, walaupun hanya sejenak, dan hanya menikmati masa
sekarang.
Namun Naomi selalu tahu bahwa masa lalu akan kembali menghantuinya. Dan
kali ini ia tidak akan bisa mengelak lagi.
* * *
Pertunjukan Julie sukses besar. Semua tiket terjual habis, semua kursi terisi dan
respons penonton sangat bagus. Penampilan Julie sendiri sangat memukau. Naomi
yakin temannya akan mendapat banyak tawaran bagus setelah pertunjukan ini.
“Aku tidak pernah melihat Julie seperti itu. Dia benar-benar hebat, bukan?” kata
Miho kepada Naomi di akhir pertunjukan.
Ini adalah pertama kalinya Naomi bertemu lagi dengan Miho setelah Miho
menjawab ponsel Danny beberapa hari yang lalu. Miho sama sekali tidak
mengungkit-ungkit kejadian itu, jadi Naomi juga tidak pernah bertanya. Miho masih
bersikap ceria seperti biasa, dan masih berusaha mendekati Danny setiap ada
kesempatan.
Untuk merayakan kesuksesan Julie, setelah pertunjukan berakhir Chris
mengadakan pesta kejutan di restoran tempatnya bekerja. Dan berhubung yang
mengadakan pesta adalah Christopher Scott, salah satu koki paling terkenal di
Inggris, semua tamu yang hadir di pesta itu adalah orang-orang penting dalam
dunia seni dan pertunjukan.
Chris dan Julie adalah orang-orang yang tidak pernah merasa resah berada di
tengah banyak orang, berlawanan dengan Naomi. Naomi tidak menyukai pesta.
Bahkan bisa dibilang ia benci pesta. Tentu saja sebagai model ia harus menghadiri
berbagai jenis pesta, baik pesta pribadi yang sopan maupun pesta yang berisik dan
gila-gilaan. Namun Naomi tidak pernah tinggal lebih lama dari setengah jam di
setiap pesta itu, karena pada setengah jam pertama semua orang masih bersikap
sopan dan suasana pesta masih beradab. Tetapi segalanya akan berubah setelah
orang-orang menegak minuman keras yang tak pernah berhenti disajikan. Dan
Naomi selalu menghindari saat itu.
Tetapi malam ini ia melanggar peraturannya sendiri. Ia sudah bertahan di pesta
ini selama hampir dua jam, dan itu karena ia tidak ingin mengecewakan Julie. Julie
adalah bintang pesta malam ini dan ia sangat gembira. Naomi tidak mungkin
meninggalkan pesta yang diadakan untuk merayakan keberhasilan teman baiknya
itu begitu saja. Kalau ia melakukannya, ia akan merasa seperti orang yang tidak
berperasaan.
Ia menoleh ke arah Danny yang berdiri di sampingnya dan sedang berbicara
dengan salah seorang tamu pesta. Naomi tidak meminta Danny menemaninya,
tetapi sepertinya Danny menyadari kegelisahan Naomi di tengah-tengah orang
banyak, karena laki-laki ini tidak pernah meninggalkan sisinya sepanjang malam
itu.
Naomi menarik napas dalam-dalam dan memandang berkeliling. Alunan musik
dan suara orang-orang yang mengobrol mulai membuatnya pusing. Ia mulai merasa
sesak napas. Ia harus pergi dari sini. Julie dan Chris pasti akan mengerti kalau
Naomi pulang lebih dulu.
“Ada apa?”
Mendengar suara Danny, Naomi menoleh dan memaksakan seulas senyum.
“Tidak apa-apa. Aku hanya...” Naomi terlihat ragu. Ia memandang berkeliling lagi,
dan kembali menatap Danny. “Apakah menurutmu aku boleh pulang lebih dulu?”
Danny memiringkan kepala sedikit, masih tetap menatap Naomi. Lalu ia
tersenyum ringan. “Tentu saja. Kita akan pamit pada Chris dan Julie, lalu aku akan
mengantarmu pulang.”
* * *
Wajah Naomi terlihat agak pucat. Danny tahu Naomi tidak nyaman berada di
tengah-tengah pesta yang ramai seperti ini dan ia bisa merasakan ketegangan yang
memancar dari diri gadis itu. Ia tersenyum dan berkata, “Tentu saja. Kita akan pamit
pada Chris dan Julie, lalu aku akan mengantarmu pulang.”
Kelegaan pun terlihat jelas di wajah Naomi.
Ketika mereka hendak beranjak pergi, seseorang berseru memanggil Danny.
Danny menoleh dan melihat seorang pria jangkung dalam balutan jas mahal sedang
berjalan menerobos kerumunan ke arahnya. “Oh, Dong-Min Hyong?” gumamnya
pada diri sendiri, heran melihat salah seorang temannya dari Korea di sini.
Naomi menyentuh lengannya dan berkata, “Biar aku saja yang pergi mencari
Chris dan Julie.”
Danny mengangguk. “Baiklah. Aku akan menunggumu di sini.”
Setelah melihat sosok Naomi menghilang di antara kerumunan orang-orang.
Danny kembali menoleh ke arah Kim Dong-Min yang menghampirinya sambil
memegang segelas sampanye dan tersenyum lebar.
“Hyong, apa kabar?” sapa Danny ketika Kim Dong-Min sudah berdiri di
hadapannya. “Ini benar-benar kejutan. Kapan Hyong di London?”
Sebenarnya Danny dan Kim Dong-Min tidak bisa disebut teman. Danny hanya
mengenalnya sebagai salah seorang teman dekat almarhum kakak laki-lakinya, Jo
Seung-Ho, dan orang yang dulu pernah berniat mendekati kakak perempuannya,
Anna Jo.
“Danny, aku sudah mendengar bahwa kau ada di London, tapi aku sama sekali
tidak menyangka bisa kebetulan bertemu denganmu di pesta ini,” kata Kim Dong-
Min sambil tersenyum lebar dan menjabat tangan Danny. Dari dekat wajahnya yang
tampan terlihat agak merah. “Aku tiba di London tiga hari yang lalu. Urusan
pekerjaan. Dan karena besok aku harus kembali ke Seoul, temanku mengajakku ke
sini. Pesta yang hebat, bukan? Orang-orang terkenal dan wanita-wanita cantik. Ini
baru namanya pesta.” Matanya dilayangkan ke seluruh ruangan dan senyumnya
semakin lebar.
Danny tersenyum tipis tanpa berkomentar. Ternyata Kim Dong-Min masih
sama seperti dulu. Penggemar pesta dan wanita. Diam-diam Danny bersyukur Kim
Dong-Min tidak berhasil menarik perhatian Anna bertahun-tahun yang lalu. Danny
tidak mau membayangkan kakak perempuannya menikah dengan pria seperti ini.
Dong-Min kembali menatap Danny dan matanya berkilat-kilat penuh arti.
“Ngomong-ngomong, kalau tidak salah tadi aku melihatmu berbicara dengan
seorang wanita cantik,” katanya. “Kalau tidak salah, wanita itu Naomi Ishida,
bukan? Model terkenal dari Jepang itu?”
Mata Danny agak menyipit. Ada sesuatu dalam nada suara Dong-Min yang
tidak disukainya. “Ya,” gumamnya datar, “itu memang dia.”
Dong-Min meneguk sampanyenya dan terkekeh. “Wah, tidak kuduga ternyata
seleramu sama dengan kakakmu.”
Danny baru hendak membuka mulut untuk bertanya apa maksud Dong-Min
ketika seseorang menyentuh lengannya. Ia menoleh dan langsung bertatapan
dengan Miho Nakajima.
“Danny, maaf, boleh bicara sebentar?” tanya Miho. Lalu ia menoleh ke arah
Dong-Min dan tersenyum manis. “Kuharap Anda tidak keberatan.”
Sebelum Danny menjawab, Dong-Min sudah menyela cepat, “Tentu saja tidak.
Tadi aku melihat seseorang yang kukenal di sana, jadi kurasa aku harus pergi dan
berbicara dengannya.” Ia mengangkat bahu dan menyunggingkan senyum miring
kepada Miho, lalu menatap Danny. “Oke, Danny, kita akan bicara lagi nanti.”
* * *
Di mana Julie dan Chris? Naomi tidak melihat mereka di mana-mana. Ia harus
pulang sekarang dan ia harus memberitahu Chris atau Julie sehingga kedua
temannya itu tidak mengkhawatirkannya kalau mereka tiba-tiba menyadari Naomi
sudah tidak ada.
Naomi mengembuskan napas dengan keras. Yah, kalau dipikir-pikir, dalam
suasana seperti ini, kemungkinan besar Chris dan Julie bahkan tidak
memikirkannya. Semua orang terlihat sedang bersenang-senang. Semua orang,
kecuali Naomi sendiri.
Ia memijat pelipisnya sejenak. Tidak bisa, ia harus keluar sekarang. Ia akan
mencoba menelepon Chris dalam perjalanan pulang nanti. Sebaiknya ia kembali ke
tempat Danny. Ia berbalik dan berjalan kembali ke tempat ia meninggalkan Danny
bersama temannya tadi. Tetapi apa yang dilihat Naomi sedetik kemudian membuat
langkahnya mendadak terhenti.
Danny memang masih berdiri di sana, namun kini ia tidak lagi sedang berbicara
dengan temannya. Kini yang berdiri di hadapannya adalah Miho. Danny berdiri
memunggunginya, jadi Naomi hanya bisa melihat wajah Miho yang tersenyum
lebar kepada Danny. Lalu Danny mengatakan sesuatu yang membuat Miho tertawa.
Dan itu bukan pemandangan yang menyenangkan.
“Naomi, kenapa berdiri di sini seperti orang bingung?” tanya Chris yang tibatiba
saja sudah muncul di sampingnya.
Naomi tersentak dan menoleh. “Oh, Chris. Tidak apa-apa.”
Chris segera melihat penyebabnya. Ia tersenyum pada Naomi dan bertanya,
“Kau mau aku menyeret Miho menjauh dari Danny?”
Naomi menggeleng. “Tidak apa-apa, Chris. Kebetulan kau ada di sini.”
“Ada apa?”
“Aku ingin pulang lebih dulu. Tolong sampaikan juga kepada Julie.”
“Kenapa?”
Naomi tersenyum kecil. “Kau tahu aku tidak suka pesta-pesta seperti ini,
Chris.”
Chris berpikir sejenak, lalu berkata, “Baiklah. Tunggu sebentar di sini. Aku akan
mengantarmu pulang.”
“Tidak usah,” Naomi cepat-cepat menyela. “Kau tuan rumah di sini. Mana
mungkin tuan rumah meninggalkan tamu-tamunya begitu saja? Lagi pula, tadi
Danny bilang dia yang akan mengantarku pulang.” Ia kembali melirik Danny.
“Tetapi karena sekarang sepertinya dia sedang sibuk, aku akan pulang sendiri saja.”
Chris menggeleng. “Aku bisa kembali lagi ke sini setelah mengantarmu,”
katanya. “Tunggu di sini. Aku akan memberitahu Julie dan setelah itu kita bisa
pulang.”
Naomi mendesah pasrah ketika Chris berbalik pergi. Tetapi ia juga tidak mau
menunggu lebih lama lagi di sini. Kenapa ia harus merepotkan Chris dan merusak
malam Julie? Kenapa pula ia harus menunggu Danny mengantarnya pulang? Ia bisa
pulang sendiri. Sambil menarik napas, Naomi pun berbalik dan berjalan ke arah
tempat penitipan jaket.
Namun tempat itu kosong. Di mana penjaganya? Naomi berdiri sebentar di
meja penjaga sambil menoleh ke kiri dan kanan, mencari si penjaga tempat
penitipan yang sepertinya juga ikut berpesta. Setelah beberapa menit berdiri di sana
dan si penjaga belum kembali, Naomi memutuskan untuk masuk dan mencari
jaketnya sendiri.
Sementara mencari jaketnya, bayangan Danny dan Miho bersama kembali
tebersit dalam otaknya. Naomi cepat-cepat menggeleng untuk menyingkirkan
pikiran itu. Mereka hanya mengobrol biasa. Kenapa ia harus kesal melihat Danny
mengobrol dengan wanita lain? Yah... sebenarnya ia tidak kesal hanya gara-gara
Danny mengobrol dengan Miho, tetapi kesadaran bahwa Miho sedang berusaha
merayu Danny dan cara Miho tersenyum pada Danny-lah yang membuat Naomi
kesal.
Kekesalan yang tiba-tiba muncul kembali membuat Naomi menarik jaketnya
dengan kasar dari gantungan. Ia harus keluar dari sini, pikirnya untuk yang ketujuh
belas kalinya malam ini. Udara malam akan menjernihkan pikirannya.
Tetapi ketika ia keluar dari bilik penyimpanan jaket, ia melihat seorang pria
berwajah Asia berdiri di depan bilik. Naomi langsung membeku di tempat, berharap
bumi menelannya, berharap ia bisa menguap begitu saja, berharap pria itu tidak
melihatnya. Tetapi tentu saja harapannya tidak terkabul.
“Ah, rupanya kau ada di sini,” kata pria itu sambil tersenyum miring. “Kau
Naomi, bukan? Aku masih ingat padamu.”
Jantung Naomi mulai mengentak-entak dadanya, ia tidak bisa bernapas, ia tidak
bisa bersuara. Kepanikan mulai menjalari dirinya dengan kecepatan penuh. Dengan
tangan terkepal, ia memaksa dirinya membuka mulut untuk mengatakan sesuatu,
namun tidak bisa. Ia tidak bisa bersuara. Hanya satu hal yang terpikirkan olehnya.
Pergi. Secepatnya.
“Wow, wow, tunggu sebentar,” kata pria itu sambil menahan lengan Naomi
ketika Naomi berusaha berjalan melewatinya.
Naomi terkesiap keras dan menyentakkan tangannya secepat kilat.
Pria itu menyipitkan mata menatap Naomi. “Masih galak seperti dulu,”
gumamnya pelan.
Naomi terbelalak kaget. Kata-kata itu dan napas pria itu yang berbau alkohol
membuat sekujur tubuh Naomi merinding. Apa maksudnya? Apakah ia pernah
bertemu dengan—Ya, Tuhan!
Tubuh Naomi mulai gemetar sementara ia merasa dirinya meluncur kembali ke
masa lalu. Ke hari itu, tiga tahun yang lalu. Hari saat ia merasakan ketakutan
terbesar dalam hidupnya. Hari yang menghancurkan seluruh hidupnya. Hari saat ia
untuk pertama kalinya berpikir untuk mengakhiri hidupnya.
“Kalau kau tidak mengingatku, aku bisa maklum,” pria itu melanjutkan sambil
menyunggingkan senyum miringnya. “Kau tentu lebih mengenal Jo Seung-Ho.”
Nama itu membuat napas Naomi tercekat dan ketakutan besar yang pernah
dirasakannya satu kali itu pun kembali melandanya.
“Kau masih ingat padanya, bukan?” desak pria itu sambil maju selangkah.
“Bagaimanapun juga kalian pernah bersenang-senang.”
Naomi mundur selangkah, namun ia sadar jalannya terhalang dan ia mundur
kembali ke bilik penyimpanan jaket. Ketakutannya kini mulai lepas kendali.
Matanya terbelalak liar menatap pria yang berdiri di hadapannya itu.
Pria itu mendesah berat, naun matanya tidak pernah lepas dari wajah Naomi.
“Apakah kau tahu Seung-Ho sudah meninggal? Ah, tentu saja kau tahu. Karena
sekarang kau beralih kepada adiknya.” Ia maju selangkah lagi.
Naomi mundur lagi, semakin jauh ke dalam bilik yang penuh jaket dan remangremang.
“Kau tahu,” lanjut pria itu dengan nada melamun. “Kalau kupikir-pikir, kurasa
Seung-Ho tidak akan keberatan kalau kau menemaniku sebentar.”
Pria itu mengulurkan tangan menyentuh pipi Naomi dan Naomi otomatis
menepis tangannya dan mundur selangkah lagi. “Tidak,” kata Naomi dengan suara
tercekat dan gemetar. Ia menatap pria yang kini menghalangi jalan keluar itu
dengan panik. “Biarkan aku lewat.”
Naomi berusaha berjalan melewatinya, namun pria itu tiba-tiba mencengkeram
bahu Naomi dan mendorongnya ke dalam bilik penyimpanan jaket. Naomi
mendengar jeritan keras ketika ia jatuh tersungkur di lantai, lalu menyadari bahwa
itu adalah suaranya sendiri.
“Kalau kau bisa menemani Seung-Ho dan adiknya, kau tentu juga bisa
menemaniku. Sebutkan hargamu.” Naomi mendengar pria itu berbicara dengan
nada malas yang ditarik-tarik. Naomi mendongak dan melihat pria itu sudah masuk
ke bilik sempit tersebut dan menutup jalan keluar. Tubuhnya mulai gemetar dan
perasaan ngeri membuat sekujur tubuhnya lumpuh. Ia tidak bisa melakukan apa
pun selain menatap pria itu dengan mata terbelalak ketakutan. Ia sudah bersumpah
ia tidak akan pernah merasakan ketakutan seperti ini lagi. Ia sudah bersumpah...
Ia harus menjerit. Ia harus menjerit minta tolong. Kenapa suaranya tidak mau
keluar?
Sebelum Naomi sempat berpikir, pria itu mulai menarik jaket Naomi dengan
kasar. Naomi memekik dan berusaha melepaskan diri, tetapi tangan pria itu
langsung membekap mulutnya dan menahannya di lantai. Otak dan pandangan
Naomi berubah gelap. Ia terus menjerit walaupun mulutnya dibekap dengan kasar.
Ia terus meronta, mencakar, dan menendang dengan membabi buta walaupun
sepertinya hal itu sama sekali tidak berpengaruh.
Lalu tiba-tiba Naomi mendengar suara keras, sedetik kemudian tangan yang
mencengkeram wajahnya itu terlepas dan pria itu tiba-tiba tersungkur di
sampingnya. Masih diliputi kengerian dan tidak menyadari apa yang sedang terjadi
di sekelilingnya. Naomi cepat-cepat merangkak menjauh dan meringkuk di sudut,
berusaha memperbaiki pakaiannya yang berantakan dengan tangan yang gemetar
hebat sambil terisak keras di luar kendali.
* * *
Ketika Danny tidak bisa menemukan Naomi di ruang pesta, ia memutuskan untuk
mencari ke tempat penitipan jaket, melihat apakah Naomi sudah pulang atau belum.
Tetapi tidak ada orang yang terlihat di sana. Ia hampir saja berbalik pergi kalau
bukan karena mendengar suara aneh di dalam bilik penyimpanan jaket. Ketika ia
masuk untuk memeriksa, tidak ada satu hal pun di dunia yang bisa
mempersiapkannya menyaksikan apa yang sedang terjadi. Kim Dong-Min sedang
menahan Naomi di lantai sambil berusaha merobek pakaiannya.
Dalam sekejap darah yang mengalir dalam tubuh Danny seolah-olah membeku.
Tanpa berpikir lagi, ia mencengkeram kerah kemeja Dong-Min, menariknya berdiri
dengan satu sentakan keras, lalu meninju wajahnya. Begitu Dong-Min tersungkur di
lantai, Danny langsung menariknya berdiri lagi dan mendorongnya dengna kasar ke
dinding, lengannya yang kuat menjepit leher Dong-Min. Saat itu Danny benar-benar
kalap, tidak bisa berpikir jernih. Yang dirasakannya hanyalah amarah yang begitu
besar yang belum pernah dirasakannya sebelum ini. Amarah hebat yang
membuatnya ingin menuntut darah. Membuatnya sanggup membunuh siapa pun
yang menyakiti Naomi.
Dong-Min mencengkeram lengan Danny, berusaha melepaskan lengan Danny
dari lehernya. “Dan... Danny,” rintihnya dengan suara tercekik.
Tepat pada saat itu Chris menyerbu masuk ke bilik penyimpanan jaket dan
terkesiap keras melihat apa yang ada di hadapannya. “Danny!” serunya kaget. “Apa
yang terjadi?”
Mengabaikan Chris, Danny tetap menatap wajah Kim Dong-Min lekat-lekat.
“Aku akan membunuhmu,” gumam Danny dengan suara yang sangat rendah,
sangat dingin, dan sangat serius. Keheningan yang menyusul terasa sangat
mencekam sementara Kim Dong-Min menatap Danny dengan mata terbelalak dan
wajah merah padam karena sesak napas.
Chris bergegas menghampiri Danny dan berusaha menghentikannya. “Danny...
Danny, dia tidak bisa bernapas.”
Danny tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia mendengar suara Chris.
Matanya yang gelap dan menusuk sama sekali tidak beralih dari wajah Kim Dong-
Min. “Kalau kau berani menyentuhnya sekali lagi... Kalau kau berani mencoba
menyentuhnya sekali lagi,” lanjutnya dengan nada dingin dan mengancam yang
sama, “percayalah padaku, aku akan membunuhmu.”
Danny pasti akan mencekik Kim Dong-Min sampai kehabisan napas di sana
kalau Chris tidak menyela. “Danny, sebaiknya kau melihat keadaan Naomi.”
Nama Naomi berhasil menyadarkan Danny. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia
melepaskan Dong-Min, menatap pria itu jatuh lemas ke lantai seperti onggokan
lembek dan terbatuk-batuk. Chris bergegas menariknya berdiri dan mendorongnya
keluar dari bilik itu. Danny yakin Chris juga akan langsung melempar Kim Dong-
Min ke jalan.
Setelah Chris membawa Dong-Min keluar dari pandangannya. Danny berbalik
dan jantungnya serasa ditikam ketika ia melihat sosok Naomi yang meringkuk di
sudut dengan tubuh gemetar sambil terisak. Danny harus menahan diri untuk tidak
langsung menarik Naomi ke dalam pelukannya. Sebagian kecil otaknya yang masih
berfungsi memberitahunya bahwa Naomi pasti sangat ketakutan saat ini dan Danny
tidak boleh menambah ketakutannya.
Danny berlutut di depan Naomi, lalu mengulurkan tangan ke wajahnya. Tetapi
Naomi terkesiap keras dan menempelkan diri ke dinding. “Ini aku,” bisik Danny.
“Naomi, ini aku. Danny.”
Mata besar itu menatapnya dengan ketakutan nyata, ketakutan yang membuat
dada Danny terasa sangat sakit. Naomi tidak mengenalinya. Naomi mengira Danny
akan menyakitinya seperti Kim Dong-Min.
“Tidak apa-apa,” bisik Danny lagi. Suaranya terdengar serak karena berbagai
emosi yang mencekat tenggorokannya. “Kau sudah aman. Aku berjanji.”
Naomi masih tidak bersuara dan tubuhnya jelas-jelas masih gemetar, tetapi
tatapannya yang liar mulai berubah. Ia mengerjap satu kali, dua kali, lalu Danny
melihat kesadaran perlahan-lahan meresap ke dalam mata itu. Naomi sudah
mengenalinya.
Danny beringsut duduk di samping Naomi, lalu merangkulnya. Tubuh Naomi
terasa kaku, namun Danny tetap mendekatnya. Sekejap kemudian tangis Naomi
pun pecah. Ia bersandar di pundak Danny dan menangis tersedu-sedu.
Danny telah melakukan satu kesalahan malam ini. Ia membiarkan Naomi
sendirian di tengah banyak orang. Seharusnya ia tetap bersama Naomi. Kalau ia
tetap bersama Naomi, gadis itu pasti tidak akan mengalami kejadian mengerikan
ini. Danny sama sekali tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada
dirinya sendiri kalau Naomi sampai terluka. Ia tidak akans anggup
menanggungnya. Ia yakin ia bisa gila.
“Semuanya akan baik-baik saja,” Danny bergumam lirih kepada Naomi yang
masih menangis. Ia mempererat pelukan dan menyandarkan pipinya di puncak
kepala Naomi. “Dia tidak akan menyakitimu lagi. Aku berjanji.”
Bab Enam Belas
NAOMI sudah lebih tenang ketika mereka masuk taksi. Wajahnya masih pucat pasi,
tubuhnya masih gemetar, namun ia sudah berhenti menangis. Ia sama sekali tidak
bersuara selama perjalanan pulang, tetapi ia tidak menarik diri dari pelukan Danny.
Jadi Danny tidak memaksanya bicara, hanya terus merangkulnya.
Ketika mereka sudah masuk ke dalam flat Naomi, Danny menyalakan lampu
dan menuntun Naomi ke sofa di ruang duduk. “Tunggu sebentar di sini. Aku akan
membuatkan teh untukmu.”
Naomi tersentak dan mendongak menatap Danny, seolah-olah baru ingat
bahwa Danny ada di sana bersamanya. Lalu ia mengangguk kecil, melepaskan diri
dari pelukan Danny dan duduk di sofa. Ia memeluk tubuhnya sendiri dan
menggigil. Matanya yang sembap memandang ke sekeliling flatnya dengan waswas,
seakan takut ada pria tak dikenal yang akan melompat keluar dan menyerangnya
lagi. Melihat sikap Naomi yang seperti kelinci ketakutan itu membuat hati Danny
serasa ditusuk-tusuk.
Danny berbalik dan pergi ke dapur. di sana ia berhenti melangkah dan menarik
napas dalam-dalam sambil berkacak pinggang. Sialan, ia sangat kacau. Amarah dan
perasaan tak berdaya bercampur aduk dalam dirinya. Ia harus menuntut penjelasan
dari Kim Dong-Min, walaupun saat ini Danny hanya ingin menghajarnya habishabisan.
Bayangan mengerikan dari apa yang dilihatnya pertama kali di bilik
penyimpanan jaket tadi membuat gelombang amarah kembali menerjang diri
Danny. Danny memejamkan mata dan berusaha mengatur napas. Ia ingin meninju
sesuatu. Apa saja. Tetapi tidak mungkin di sini. Naomi ada di ruang duduk dan
Danny tidak mungkin menimbulkan kehebohan di sini sementara gadis itu masih
ketakutan.
Dengan susah payah Danny memaksa dirinya bergerak dan beberapa saat
kemudian ia kembali ke ruang duduk dengan membawa secangkir teh panas untuk
Naomi. Ia duduk di samping Naomi dan mengamati gadis itu menyesap tehnya
dengan pelan. Danny memperhatikan tangan Naomi sudah tidak terlalu gemetar,
namun ketakutan masih jelas terlihat di dalam matanya.
Kalau saja ada cara untuk memutar kembali waktu, Danny akan melakukannya
tanpa ragu. Apa pun risikonya, apa pun yang harus dikorbankannya, walaupun
apabila itu berarti ia harus menyerahkan jiwanya sendiri, Danny pasti akan
melakukannya. Ia akan melakukan apa saja untuk menghapus sinar ketakutan dari
mata hitam Naomi, menjauhkannya dari rasa sakit, melindunginya supaya tidak
terluka. Ia bersedia melakukan apa saja. Demi Naomi.
Tetapi kenyataannya semua sudah terjadi dan Danny tidak bisa melakukan apa
pun untuk mengubah kenyataan. Itulah yang membuatnya tertekan dan frustrasi. Ia
merasa ia tidak bisa melakukan apa pun untuk Naomi. Seumur hidupnya belum
pernah ia merasa tak berdaya seperti ini.
“Maafkan aku,” gumam Danny lirih, memecah keheningan dalam flat itu.
Perlahan-lahan Naomi menoleh ke arahnya. Kebingungan berkelebat dalam
matanya.
“Aku tahu benar kau tidak pernah nyaman berada di tempat ramai,” lanjut
Danny dengan suara serak. “Seharusnya aku tidak meninggalkanmu sendiri.
Maafkan aku.”
Mata Naomi berkaca-kaca, lalu ia mengerjap, memalingkan wajah dan
menunduk menatap kedua tangannya yang menggenggam cangkir teh. Setelah
beberapa saat, Naomi membuka suara, “Kau tidak bersalah.”
Danny menghela napas dengan berat. Matanya menatap kosong ke depan dan
ia mengernyit samar. “Pria yang tadi itu,” katanya ragu. “Dia... Sebenarnya aku
mengenalnya.”
Naomi tetap menunduk tanpa berkata apa-apa.
“Dia teman almarhum kakakku,” lanjut Danny dengan suara datar dan pelan.
“Aku tidak tahu apa yang membuatnya berani... berani melakukan hal seperti itu.
Kurasa dia mabuk.”
“Itu bukan alasan.”
Danny menoleh mendengar nada tajam dalam suara Naomi, lalu ia
mengangguk. “Kau benar. Itu bukan alasan.”
Naomi menarik napas dalam-dalam dan tetap duduk kaku di samping Danny,
tidak bersuara. Namun Danny melihat tangan Naomi mulai gemetar lagi. Danny
mengulurkan tangannya dan menggenggam sebelah tangan Naomi. Tangan itu
terasa dingin, namun Naomi tidak menarik kembali tangannya. Ia membutuhkan
kehangatan yang diberikan Danny, kalau tidak ia akan mulai menggigil.
Saat itu Danny teringat pada pembicaraannya dengan Kim Dong-Min di pesta
tadi. Apa kata Dong-Min waktu itu? Tidak kuduga ternyata selera kedua kakak-beradik
ini sama. Itulah yang dikatakan Dong-Min setelah melihat Danny berbicara dengan
Naomi. Danny tidak sempat bertanya kepada Dong-Min, tetapi sepertinya Dong-
Min mengenal Naomi. Mungkinkah?
Alis Danny berkerut samar dan ia menatap Naomi. Apakah mungkin hal itu ada
hubungannya dengan apa yang terjadi di bilik penitipan jaket itu? Ia harus tahu.
“Naoi,” panggilnya pelan. “Apakah kau mengenal pria tadi itu?”
Napas Naomi tercekat di tenggorokan dan tangannya yang berada dalam
genggaman tangan Danny berubah kaku. Ia sama sekali tidak memandang Danny,
namun wajahnya terlihat resah dan bibirnya mulai bergetar. Hal itu membuat
Danny berpikir bahwa Naomi memang mengenal Kim Dong-Min.
“Apakah kau juga mengenal almarhum kakakku?” tanya Danny lagi.
Kali ini Naomi tersentak berdiri. “Ku-kurasa... kurasa aku sudah tidak apa-apa
sekarang,” katanya agak tergagap, sama sekali tidak memandang ke arah Danny.
Tubuhnya terlihat tegang dan wajahnya mengernyit seolah-olah kesakitan.
“Naomi...”
“Julie dan Chris akan segera pulang, jadi kau tidak perlu menemaniku di sini,”
sela Naomi. Kemudian ia berbalik menatap Danny. “Aku tidak apa-apa. Sungguh.”
Danny sangat bingung. Banyak pertanyaan berseliweran dalam benaknya.
Kenapa Naomi mengelak dari pertanyaannya? Apakah Naomi mengenal almarhum
kakaknya? Kalau memang begitu, kenapa Naomi tidak pernah berkata apa-apa pada
Danny? Ada hubungan apa antara kakaknya dan Naomi? Apa yang sedang terjadi
di sini?
“Naomi, kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?” tanya Danny pelan.
Suaranya terdengar frustrasi. “Apa yang sebenarnya terjadi? Kau bisa
menceritakannya kepadaku.”
Naomi menatap Danny sejenak. Lalu ia menghela napas dalam-dalam dan
bergumam, “Tidak, Danny. Aku tidak bisa.”
Suara Naomi terdengar begitu sedih dan pasrah sampai dada Danny kembali
terasa seakan dicabik-cabik. “Kenapa?” tanya Danny, sama sekali tidak mengerti.
Sebutir air mata jatuh dari mata Naomi dan bergulir di pipinya. “Tidak akan
ada gunanya,” gumamnya pelan. “Masa lalu tidak akan berubah.”
Bab Tujuh Belas
KIM DONG-MIN membaringkan tubuhnya yang sakit ke ranjang di kamar hotelnya
dan menyentuh pipi kirinya yang mulai bengkak. Bagaimana mungkin ia bisa
pulang ke Seoul besok dengan wajah amburadul seperti ini? Orang-orang pasti akan
bertanya. Mereka pasti akan curiga. Apa yang harus dikatakannya pada mereka?
Lagi pula apa yang merasuki Danny malam ini? Dong-Min belum pernah melihat
Danny mengamuk seperti itu sebelumnya.
Bel pintu kamarnya berbunyi dan ia mengerang keras. “Oh, sialan. Apa lagi
sekarang?”
Dengan langkah berat ia berjalan ke pintu dan membukanya. Tubuhnya
langsung membeku begitu melihat siapa yang berdiri di luar pintu. “Kau,”
gumamnya dengan nada waswas.
Danny Jo berdiri di hadapannya dengan wajah marah dan kedua tangan
dijejalkan ke saku celananya, berusaha menahan diri untuk tidak melayangkan tinju
dengan membabi-buta ke arah Dong-Min.
“Kau... Apakah kau datang ke sini untuk menghajarku lagi?” tanya Dong-Min
dengan suara yang diusahakan terdengar datar walaupun diam-diam ia menelan
ludah.
Danny menatapnya sejenak, lalu bergumam, “Tidak.”
Dong-Min tidak percaya. Tatapan Danny terlalu dingin bagi orang yang datang
dengan maksud baik. Sebelah tangan Dong-Min masih menahan pintu, siap
membanting pintu itu di depan wajah Danny kalau pria itu melakukan gerakan
mencurigakan. Saat itu Danny benar-benar terlihat seperti pembunuh bayaran.
Sialan, Dong-Min mengutuk dalam hati. Seharusnya ia tidak mendekati gadis model
bernama Naomi Ishida itu. Walaupun Seung-Ho dan Danny memiliki sifat yang
jauh berbeda, Dong-Min bisa melihat satu kemiripan di antara kakak-beradik itu.
Mereka berdua sama-sama tidak suka melihat apa yang menjadi milik mereka
diganggu gugat.
Oh ya, dan satu kemiripan lagi. Sepertinya, kakak-beradik itu juga memiliki
selera yang sama dalam hal wanita.
“Bagaimana kau bisa tahu aku menginap di hotel ini?” Dong-Min untuk
mengalihkan pikirannya dari hal-hal yang berbahaya.
“Aku bertanya,” kata Danny singkat. Bukan hanya tatapannya, nada suaranya
pun terdengar dingin.
Dong-Min mulai berkeringat dingin. Ia bisa membayangkan Danny menelepon
semua hotel yang ada di London untuk mencari tahu tentang keberadaan dirinya.
Kalau memang itu yang terjadi, masalah ini bisa sangat serius. Sialan... sialan...
“Tidak mengundangku masuk?‟ tanya Danny.
Dong-Min menyadari Danny sudah melepas sikap hormatnya. Danny tidak
memanggilnya dengan sebutan “Hyong” seperti biasa. Berusaha tidak menunjukkan
ketakutannya—bagaimanapun juga Danny lebih muda darinya dan Dong-Min tidak
mungkin menunjukkan bahwa ia sebenarnya takut pada adik temannya itu—Dong-
Min mengangkat bahu dan melepaskan tangannya dari pintu.
Danny melangkah masuk dan menutup pintu. Dong-Min berjalan menjauh,
berusaha tidak berdiri terlalu dekat dengan Danny. Tapi ternyata Danny juga tidak
bermaksud mendekatinya.
“Jadi,” kata Dong-Min lalu berdeham, “kalau kau ke sini bukan untuk
menghajarku, apa yang kauinginkan?”
“Aku ingin tahu apa hubunganmu dengan Naomi,” gumam Danny rendah.
Tatapannya yang tajam menusuk membuat nyali Dong-Min langsung ciut.
“Hubungan? Hubungan apa? Aku tidak menger...”
“Dan aku inign tahu apa maksud kata-katamu padaku sewaktu pesta tadi.”
Kali ini Dong-Min merasa dirinya bisa mengembuskan napas lega. Ah, jadi
alasan Danny ke sini memang bukan untuk menghajarnya. Danny ingin tahu apa
hubungan Naomi Ishida dengan almarhum kakaknya. “Maksudmu ketika aku
berkata bahwa kau dan kakakmu memiliki selera yang sama?” tanya Dong-Min
menegaskan.
Mata Danny menyipit. Tatapannya itu seakan ingin mencabik-cabik Dong-Min
di tempat. “Ceritakan dari awal,” katanya dengan nada rendah dan datar.
Dong-Min mendesah dan duduk di salah satu kursi di dekatnya sambil
meringis kesakitan. Tulang-tulangnya terasa nyeri. “Ceritanya tidak panjang. Itu
hanya hubungan semalam.”
Ia langsung bisa melihat perubahan dalam diri Danny. Tubuh Danny berubah
tegagn dan ia bisa melihat otot rahang Danny berkedut. Oh, sialan, batin Dong-Min.
Sebaiknya ia mengatakan apa yang ingin didengar Danny supaya laki-laki itu segera
pergi dari sini.
“Seung-Ho pertama kali bertemu dengan gadis itu di pesta,” tutur Dong-Min
cepat. “Tiga tahun yang lalu. Di Jepang.”
“Teruskan.”
Dong-Min menelan ludah. “Aku dan kakakmu pergi ke Tokyo untuk membuat
film dokumenter, bekerja sama dengan salah satu stasiun televisi di Jepang. Suatu
hari kami diundang menghadiri pesta yang diadakan oleh salah seorang perancang
busana yang baru saja menggelar fashion show di Tokyo. Gadis itu—model bernama
Naomi itu—adalah model utamanya. Kakakmu langsung terpesona padanya sejak
pertama kali melihatnya.”
Danny tidak berkomentar, hanya berdiri bersandar di dinding dengan kedua
tangan yang masih dijejalkan ke dalam saku celana panjangnya.
Dong-Min memijat-mijat pelipisnya yang mulai berdenyut. “Kakakmu berusaha
mendekatinya, tapi sepertinya gadis itu tidak tertarik.” Dong-Min mengeluarkan
suara setengah mendengus, setengah terkekeh. “Bayangkan apa yang dirasakan oleh
Jo Seung-Ho yang tidak pernah gagal mendekati wanita, ketika ia ditolak oleh gadis
yang menarik perhatiannya. Kakakmu kesal. Dan marah. Dan mulai menenggak
bergelas-gelas sampanye. Dan suasana hatinya memburuk. Dia mulai marah-marah
padaku tanpa alasan. Kau tentu tahu bagaimana sikap kakakmu kalau dia sedang
kesal. Bahkan aku yang menjadi sahabat terdekatnya saja tidak berani mendekatinya
kalau dia sedang begitu.
“Aku yakin gadis itu hanya berlagak jual mahal. Gadis seperti dia pasit sudah
sering berhubungan dengan banyak orang. Bagaimanapun juga kakakmu pria yang
tampan, pintar, dan sukses. Gadis mana yang mungkin menolaknya? Lalu kupikir
kalau saja aku bisa memberi kakakmu sedikit kesempatan berdua dengan gadis itu,
suasana hati kakakmu pasti akan langsung membaik.”
Dong-Min mengangkat wajah dan menatap Danny yang masih berdiri tak
bergerak di tempatnya. Juga tidak berkomentar. Tetapi Dong-Min masih bisa
merasakan aura dingin yang mencekam di udara.
“Saat itu aku benar-benar merasa ide itu sangat bagus. Aku tidak mau dipaksa
menghadapi amukan kakakmu. Suasana hatinya bisa tetap buruk selama berharihari
kalau sedang kesal, kau tahu itu,” lanjut Dong-Min, mulai terdengar membela
diri. “Kebetulan sekali pesta itu diadakan di hotel. Jadi aku memesan kamar,
membawa gadis itu ke sana, menyuruh kakakmu menyusul ke sana...”
“Membawa gadis itu ke sana?” potong Danny tiba-tiba. “Bagaimana caranya?
Jangan katakan padaku dia dengan senang hati mengikutimu.”
Dong-Min tertawa gugup. Tadinya ia bermaksud melewatkan detail kecil itu,
tetapi sepertinya Danny tidak akan melepaskannya begitu saja. “Eh, kalau soal itu...
Kebetulan aku membawa... semacam... semacam... pil... yang kucampurkan ke
dalam minuman gadis itu.” Melihat perubahan ekspresi di wajah Danny, Dong-Min
buru-buru menambahkan, “Tapi katanya pil itu tidak berbahaya. Sungguh. Hanya
membuat pusing sedikit. Supaya aku bisa membawanya ke kamar tanpa membuat
keributan.”
“Pusing sedikit?”
Butir-butir keringat mulai bermunculan di dahi Dong-Min. Sialan, kenapa
Danny membuatnya merasa terintimidasi? Anak itu lebih muda darinya. Sialan.
“Yah, mungkin aku salah mengukur takarannya. Gadis itu hampir tidak bisa
berjalan. Lemas. Tapi aku berhasil membawanya ke kamar—aku sama sekali tidak
menyentuhnya. Sungguh!—lalu aku menghubungi kakakmu.”
“Dan kakakku datang?”
“Tentu saja,” sahut Dong-Min sambil mengangkat bahu, heran mendengar
Danny menanyakan pertanyaan yang jawabannya sudah sangat jelas.
Suasana hening sejenak. Lalu ketika Danny berbicara, suaranya terdengar aneh.
“Dan kau meninggalkan kakakku yang mabuk berat bersama gadis itu—gadis yang
kaubius itu—di dalam kamar?”
Dong-Min ragu sejenak, lalu mengangguk kaku.
“Lalu apa yang terjadi?”
“Apa lagi? Tentu saja hal yang pasti terjadi apabila seorang pria berduaan saja
dengan seorang wanita di kamar hotel.”
* * *
Danny memejamkan mata dan berusaha mengatur napas. Sesuatu yang gelap dan
asing mulai menjalari dirinya, menyesakkannya. Ia merasa dirinya tenggelam dalam
kegelapan yang dingin dan berputar-putar. Tidak bisa bernapas... Ia tidak bisa
bernapas....
Ini tidak mungkin. Ini tidak mungkin terjadi. Kakaknya dan Naomi... Demi
Tuhan, apa yang sudah dilakukan kakaknya pada Naomi? Kakaknya tidak
mungkin...
“Kau bohong,” kata Danny dengan gigi mengertak.
Kim Dong-Min tersinggung. “Aku sama sekali tidak mengada-ada. Kakakmu
sendiri meneleponku setelah dia selesai dengan gadis itu. Dan bisa kupastikan
suasana hatinya jauh berubah, seperti yang sudah kuperkirakan. Dia sangat
gembira. Katanya dia akan pergi dari hotel itu sebelum gadis tersebut benar-benar
pulih kesadarannya. Katanya dia tidak ingin mendapat masalah.”
“Tidak ingin mendapat masalah?”
Kim Dong-Min mengangkat bahu. “Kata kakakmu, gadis itu masih... eh, belum
berpengalaman, jadi dia pasti akan menyulitkan kalau sudah benar-benar sadar.
Maksudku, pasti akan ada banyak sekali air mata dan jeritan yang terlibat. Jadi dia
lebih memilih pergi sebelum gadis itu mampu bangun. Tentu saja kakakmu
bermaksud menghubunginya setelah beberapa hari, setelah gadis itu lebih tenang.
Tapi seperti yang kau tahu, keesokan harinya kakakmu mengalami kecelakaan lalu
lintas sewaktu pulang dari acara minum-minum bersama rekan-rekan kerja kami di
Jepang.”
Danny merasa sekujur tubuhnya mati rasa dan sangat berat. Seolah-olah ia tidak
sanggup berdiri lagi. Ia harus mencengkeram lemari kecil di sampingnya. Ia tidak
boleh jatuh di sini. Otaknya berputar kembali ke saat ia pertama kali bertemu
dengan Naomi Ishida. Gadis itu pasti sudah tahu sejak awal bahwa Danny adalah
adik Jo Seung-Ho, orang yang menyakitinya. Tidak heran pada awalnya Naomi
selalu terlihat gugup dan resah di dekatnya. Tidak heran mata hitam besar itu selalu
memandangnya dengan tatapan takut. Tidak heran gadis itu membenci Danny.
Tidak heran... tidak heran... Demi Tuhan, mengingat apa yang telah dilakukan
kakaknya pada Naomi, Danny heran gadis itu tidak langsung mencakarnya ketika
pertama kali melihatnya.
Apa yang sudah dilakukan kakaknya? Astaga... Ya Tuhan...
“Kau boleh bertanya pada gadis itu kalau kau tidak percaya pada ceritaku,”
kata Dong-Min tiba-tiba. “Sudah kubilang aku tidak mengada-ada.”
Danny mengangkat wajahnya yang pucat. Matanya menatap Dong-Min dengan
tajam. Sekujur tubuhnya gemetar menahan amarah, menahan dorongan ingin
membunuh. “Dan kau,” katanya dengan nada rendah dan dingin, “setelah tahu apa
yang telah dilakukan kakakku pada Naomi, kau masih ingin melakukan hal yang
sama padanya malam ini.”
Dong-Min mendecakkan lidah. “Oh, ayolah, Danny. Gadis itu bukan lagi gadis
lugu. Apa salahnya...”
Danny bergerak begitu cepat sampai sebelum Dong-Min sempat menyadari apa
yang sedang terjadi, tinju Danny sudah melayang ke wajahnya dan membuatnya
terjatuh dari kursi dan tersungkur di lantai. Tetesan darah mengalir dari hidung
Dong-Min dan jatuh ke atas karpet tebal di lantai.
“Sialan, kau mematahkan hidungku!” pekik Dong-Min.
Danny berdiri menjulang di hadapan Dong-Min dengan kedua tangan terkepal
erat di sisi tubuhnya. “Dan aku akan melakukan lebih dari itu kalau aku mendengar
kau membicarakan hal-hal buruk tentang Naomi lagi,” katanya dengan nada dingin
yang sama seperti tadi.
Dong-Min merintih kesakitan sambil memegangi hidungnya yang berdarah.
“Oh, sialan... Sialan...”
“Kau harus menyadari satu hal,” gumam Danny, namun suaranya seolah-olah
bergema menakutkan di dalam kamar. “Jangan berpikir kau tidak bersalah dalam
kejadian tiga tahun lalu itu. Kau juga ikut terlibat. Kau ikut membantu kejahatan
yang dilakukan kakakku. Dan kaalu kejadian itu terbongkar, kau pasti akan masuk
penjara.”
Dong-Min berhenti merintih dan menatap Danny dengan mata terbelalak dan
wajah pucat pasi.
Danny balas menatap Dong-Min dengan pandangan tanpa ekspresi.
“Kuperingatkan untuk yang terakhir kalinya. Menjauhlah dari Naomi,” lanjutnya
pelan, “sebelum aku terpaksa membunuhmu.”
Dong-Min mendongak menatap Danny dengan napas tercekat.
“Dan yakinlah, aku akan melakukannya tanpa ragu.”
Kalimat terakhir itu seolah-olah bergema dalam keheningan mencekam di
dalam kamar. Setelah itu Danny berbalik dan keluar dari sana dengan langkah lebar.
Sama sekali tidak menoleh lagi.
Bab Delapan Belas
“KENAPA kau tidak mau mengajukan tuntutan?” tanya Chris dengan nada heran.
“Setelah apa yang dilakukan penjahat itu padamu semalam, kenapa kau tidak mau
menuntutnya? Kenapa?”
Naomi menghela napas dan mengangkat wajah menatap kedua teman satu
flatnya yang balas menatapnya dengan bingung. Julie dan Chris duduk di meja
dapur, sedangkan Naomi berdiri di dekat pintu kamarnya sambil mencengkeram
cangkir tehnya. Perlahan-lahan Naomi mengembuskan napas dan bergumam,
“Karena tidak ada yang terjadi semalam.”
“Tidak ada yang terjadi?” ulang Chris lagi dengan suara meninggi. “Apa...?” Ia
menghentikan kata-katanya dan melotot menatap Julie, meminta dukungan, namun
Julie juga tidak tahu apa yang harus dikatakannya.
Saat itu bel pintu flat mereka berbunyi dan Chris pergi membuka pintu.
“Oh, Danny. Rupanya kau. Masuklah.”
Naomi menoleh ketika Chris berjalan kembali ke dapur bersama Danny. Alis
Naomi berkerut samar melihat wajah Danny yang pucat. “Kau sakit?” tanya Naomi
langsung.
Danny tersenyum tipis dan menggeleng. Sebelah tangannya terulur ke depan,
hendak menyentuh Naomi, namun tiba-tiba ia mengurungkan niat dan malah
menjejalkan kedua tangan ke saku celana panjangnya. Ia berdeham pelan dan
menatap wajah Naomi lurus-lurus. “Bagaimana keadaanmu?” tanyanya.
Ada sesuatu dalam suara Danny yang tidak Naomi mengerti. Naomi menatap
mata Danny, berusaha mencari tahu apa yang membuat perasaannya tiba-tiba
gelisah. Namun ia mendapat kesan bahwa mata gelap yang balas menatapnya itu
juga sedang melakukan hal yang sama, berusaha mencari tahu apa yang
tersembunyi di dasar jiwa Naomi.
“Aku baik-baik saja,” sahut Naomi. Lalu ketika Danny tetap diam, ia
menambahkan, “Sungguh.”
“Hanya itu yang dikatakannya sepanjang pagi,” kata Chris kepada Danny
dengan nada muram. “Katanya dia tidak mau menuntut pria kemarin itu. Mungkin
kau bisa membujuknya. Menyadarkannya. Aku harus pergi sekarang. Tekanan
darahku bisa naik kalau aku lama-lama di sini.”
Julie mengembuskan napas dan meraih tasnya. “Aku juga akan membiarkan
kalian berdua mengobrol di sini,” katanya sambil berdiri. “Sampai jumpa nanti
malam, Naomi. Dah, Danny.”
Setelah Naomi menutup pintu dan kembali ke dapur, ia melihat Danny masih
berdiri di tempatnya semula dan memandang kosong ke luar jendela dapur. Jelas
sekali ada sesuatu yang mengganggu pikiran laki-laki itu. Sikapnya terlihat aneh. Ia
agak pendiam pagi ini, juga murung. Kenapa?
“Kau sudah sarapan?” tanya Naomi, menjaga suaranya terdengar ringan dan
riang. “Kalau belum, kau boleh mencoba roti buatan Chris.”
Danny mengerjap satu kali, lalu menoleh. “Tidak. Tidak usah,” gumamnya.
“Kalau begitu duduklah. Biar kubuatkan teh saja.”
Danny menurut dan duduk di kursi yang tadi diduduki Chris.
“Jadi kenapa kau datang ke sini pagi-pagi begini? Untuk memeriksa
keadaanku?” Naomi mulai berceloteh sementara ia berbalik memunggungi Danny
dan menyibukkan diri dengan cangkir dan daun teh. “Jangan khawatir. Kau bisa
lihat sendiri. Aku baik-baik saja. Aku juga tidak akan mengajukan tuntutan pada...
orang itu karena tidak ada yang terjadi kemarin. Kau datang tepat pada waktunya.
Oh ya, aku baru ingat aku belum berterima kasih padamu karena sudah
menolongku. Pokoknya karena tidak ada yang terjadi dan aku juga baik-baik saja,
aku tidak ingin masalah ini dibesar-besarkan. Aku tidak ingin ada skandal.” Ia
tertawa pendek dan hambar. “Aku yakin agenku juga setuju.”
“Karena itukah kau tidak pernah berkata apa-apa tentang kejadian waktu itu?”
sela Danny tiba-tiba.
Naomi membalikkan tubuh sambil membawa secangkir teh yang mengepul.
“Kejadian yang mana?”
“Yang berhubungan dengan almarhum kakakku.”
Dan dunia Naomi pun menggelap seketika.
* * *
Segalanya terjadi begitu cepat di depan mata Danny. Ia melihat Naomi terhuyung
dan cangkir yang dipegangnya oleng, membuat teh yang mengepul itu tumpah
mengenai tangannya, sebelum akhirnya jatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping.
Danny melompat berdiri, meraih tangan Naomi dan menariknya ke bak cuci piring.
“Kau punya salep untuk luka bakar?” tanya Danny sementara ia membasuh
tangan Naomi dengan air keran.
Naomi tidak menjawab, tetapi Danny merasakan ketegangan gadis itu dan
tangannya yang kaku. Lalu perlahan-lahan Naomi menarik tangannya dari
genggaman Danny dan berkata pelan, “Tidak apa-apa. Aku tidak apa-apa.”
Danny mengamati Naomi berbalik dan berjalan ke kamarnya. Jelas sekali
Naomi tidak ingin membicarakan masa lalunya itu, tetapi Danny tidak bisa
menahan diri lebih lama lagi. Ia tidak bisa tidur semalaman, ia merasa tersiksa,
merasa bersalah, merasa sangat tak berdaya. Ia hampir gila setiap kali mengingat
apa yang dikatakan Kim Dong-Min kepadanya. Ia harus berbicara dengan Naomi. Ia
harus tahu apa yang dipikirkan Naomi tentang hal ini, karena ia sendiri tidak tahu
apa yang harus dipikirkannya.
Danny berdiri di ambang pintu kamar Naomi, mengamati gadis itu
mengeluarkan kotak obat dari laci dengan tangan gemetar, lalu berjalan ke tempat
tidurnya dan duduk di sana. Hanya duduk dengan kotak obat di pangkuan tanpa
melakukan apa-apa. Melihat itu Danny masuk dan menghampiri Naomi. Danny
berlutut di hadapan Naomi dan mengambil kotak obat dari tangan gadis itu. Setelah
menemukan obat yang dicarinya, Danny menatap tangan Naomi yang masih
gemetar dan ragu sejenak. Lalu ia mengulurkan tangannya dan meraih tangan
Naomi. Kali ini Naomi meringis.
“Ini harus segera diobati,” gumam Danny pelan dan mulai mengoleskan obat ke
tangan Naomi.
Naomi tidak menarik tangannya, namun juga tidak berkata apa-apa. Saat itu
Danny benar-benar merasakan kesunyian yang menyelubungi flat itu. Namun itu
bukan kesunyian yang menenangkan. Ada ketegangan yang mencekam di sana
yang membuat Danny sulit bernapas.
“Bagaimana kau bisa tahu?” tanya Naomi tiba-tiba, memecah keheningan.
Suaranya terdengar sangat datar dan hampa, seolah-olah tak berjiwa. Ia juga tidak
memandang Danny, tetapi memandang kosong ke luar jendela kamarnya, ke arah
langit mendung London.
“Aku pergi mencari Kim Dong-Min kemarin malam. Dia menceritakan
semuanya kepadaku,” kata Danny pelan.
Masih tidak menatap Danny, Naomi menelan ludah dan bertanya, “Apa yang
dikatakannya padamu? Apakah dia berkata bahwa aku yang...?” Naomi tercekat,
tidak mampu melanjutkan kata-katanya. Wajahnya mengernyit seolah-olah
kesakitan.
“Katanya kakakku memaksamu,” sahut Danny. Ia menunggu sejenak, namun
karena Naomi tidak berkata apa-apa, ia mendongak menatap Naomi dan bertanya,
“Apakah sejak awal kau sudah tahu siapa aku?”
Naomi tidak langsung menjawab. Setelah diam beberapa saat, ia mengangguk
pelan. “Aku tahu tentang dirimu dari tabloid,” gumam Naomi dengan nada
melamun. “Karena kau termasuk artis terkenal di Korea dan karena artis-artis Korea
juga populer di Jepang, para wartawan Jepang suka meliput segala sesuatu yang
terjadi pada artis Korea. Artikel tentang kecelakaan yang menimpa saudara
kandung Danny Jo pun menjadi bahan yang menarik untuk dimuat dalam tabloid.”
Danny menunduk dan memejamkan mata, berusaha menenangkan gemuruh
dalam dadanya. “Kenapa kau tidak pernah berkata apa-apa sebelum ini, Naomi?”
Naomi mendengus pelan dan menggeleng. “Jangan mengira aku tidak
membenci kakakmu. Aku membencinya. Aku membencinya karena apa yang
dilakukannya padaku. Aku begitu membencinya sampai ingin membunuhnya
dengan tanganku sendiri. Tapi sebelum aku bisa melaksanakan niatku, dia sudah
meninggal. Tewas dalam kecelakaan lalu lintas. Apa lagi yang bisa dikatakan kalau
begitu?” Seulas senyum sinis dan hambar terukir di bibirnya. “Lagi pula kalau
waktu itu kukatakan padamu apa... apa yang dilakukan kakakmu—kakakmu yang
sudah meninggal tiga tahun lalu—padaku, apakah kau akan percaya?”
Danny tidak bisa menjawab dan ia merasakan desakan kuat untuk melukai diri
sendiri.
“Sudah kuduga,” gumam Naomi. Ia menarik tangannya dari genggaman
Danny, berdiri dan berjalan ke arah jendela. Sejenak keheningan pun kembali
menyelimuti ruangan. Lalu Danny mendengar Naomi mendesah lirih dan berkata,
“Orangtuaku... Merekalah alasan utama aku tidak pernah berkata apa-apa tentang
kejadian itu. Seumur hidupku aku belum pernah melakukan sesuatu yang membuat
mereka terpaksa menanggung rasa malu. Mereka bangga pada anak-anak mereka.
Mereka bangga padaku. Kalau mereka sampai tahu masalah ini... Kalau ayahku
sampai tahu masalah ini, aku tidak berani membayangkan bagaimana
perasaannya.”
“Naomi...”
“Sebenarnya ada dua hal yang bisa disyukuri dalam kejadian ini, kalau kita bisa
menyebutnya rasa syukur,” sela Naomi, masih memunggungi Danny. “Selama
kejadian itu aku lemas tak berdaya, nyaris tidak sadarkan diri, sehingga aku tidak
terlalu kesakitan walaupun aku tahu siapa lelaki itu, dan ingin berontak, ingin
melawannya. Dan yang kedua, aku tidak hamil.”
“Naomi...”
Saat itu Naomi berbalik dan menatap Danny lurus-lurus. “Kalau dipikir-pikir,
kurasa bagus juga karena sekarang kau sudah tahu semuanya,” katanya. Ia menarik
napas dalam-dalam sekali lagi dan mengembuskannya. “Aku lega.”
Danny sama sekali tidak mengerti apa maksud Naomi. Ia pun berdiri dan
berdiri di hadapan Naomi dan menunggu gadis itu melanjutkan.
Naomi membalas tatapannya, namun Danny menyadari bibir bawah Naomi
bergetar samar. Setelah ragu sejenak, Naomi membuka mulut dan berkata, “Aku
lega kita bisa mengakhiri semua ini.”
Kening Danny berkerut tidak mengerti.
Naomi tidak langsung menjawab, hanya menatap Danny tanpa berkedip selama
beberapa detik, lalu berkata, “Kau pasti merasa jijik padaku.”
Danny terkejut, sama sekali tidak menyangka akan mendengar kata-kata itu.
“Apa? Tidak. Aku tidak....”
“Aku juga merasa jijik pada diriku sendiri,” sela Naomi.
Danny mengulurkan tangan. “Naomi, tolong jangan...”
Namun Naomi mengernyit dan menjauh dari uluran tangan Danny. “Kurasa
aku telah membuat kesalahan,” katanya dengan suara tercekat. Kedua tangannya
terkepal erat di sisi tubuhnya. Ia terlihat tegang dan tertekan. “Ketika kupikir kita
bisa berteman, kurasa aku salah. Kita tidak pernah bisa berteman. Tidak akan
pernah.”
“Apa yang sedang kaubicarakan?” tanya Danny bingung. Rasa frustrasi mulai
menjalari dirinya. Frustrasi melihat luka besar yang dialami Naomi. Frustrasi karena
melihat Naomi begitu menderita. Frustrasi karena ia tidak tahu apa yang harus
dilakukannya untuk menolong Naomi. Frustrasi karena Naomi menarik diri
darinya.
Naomi menelan ludah dengna susah payah. Air mata mulai membayang di
matanya. “Sekarang kau tidak akan bisa lagi memandangku tanpa memikirkan apa
yang pernah terjadi antara aku dan kakakmu.”
“Tidak... Itu tidak benar.”
“Dan aku tidak bisa memandangmu tanpa teringat pada kakakmu dan apa yang
pernah dilakukannya padaku.”
Kata-kata yang diucapkan dengan tajam dan jelas itu menghujam jantung
Danny. Dadanya terasa sakit dan sekujur tubuhnya lumpuh. Ia menatap Naomi
tanpa berkedip, tanpa bernapas. Ia membuka mulut, namun tidak ada suara yang
keluar.
* * *
Ya Tuhan...
Naomi menggigit bibirnya keras-keras. Apa yang sudah dilakukannya? Ia tidak
bermaksud mengatakannya. Sungguh. Namun kata-kata itu meluncur dari
mulutnya tanpa sempat dicegah. Melihat Danny yang berdiri mematung di
depannya membuat hatinya terasa perih. Melihat kilatan kaget dan terluka di mata
Danny membuatnya inign menarik kembali kata-katanya. Oh, betapa ia berharap
bisa menarik kembali kata-katanya.
Tetapi sudah terlambat. Ia tidak bisa menarik kembali kata-katanya. Naomi
menarik napas dalam-dalam dan meraba keningnya dengan sebelah tangan.
“Maafkan aku. Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku... aku...”
Danny mengangkat sebelah tangan, menghentikan kata-kata Naomi. Ia
mengembuskan napas dengan pelan dan bergumam, “Kurasa... sebaiknya aku
pergi.” Dan sebelum Naomi sempat membuka mulut lagi, Danny sudah berbalik
dan berjalan ke arah pintu. Sama sekali tidak menatap Naomi.
Kesadaran bahwa ia telah menyakiti perasaan Danny membuat hati Naomi
serasa dicabik-cabik. Ia tidak ingin Danny berpikir Naomi menyamakannya dengan
kakaknya karena itu sama sekali tidak benar. Danny sangat berbeda dengan
kakaknya. Hanya saja... hanya saja...
“Naomi.” Suara Danny yang pelan dan berat membuat Naomi mengangkat
wajah. Danny berhenti di ambang pintu kamar dan berbalik menghadap Naomi.
“Aku mewakili kakakku meminta maaf padamu. Walaupun aku sendiri tidak akan
pernah bisa memaafkannya atas apa yang dilakukannya padamu, aku tetap ingin
mewakilinya meminta maaf padamu.”
Naomi menelan ludah dengan susah payah, berusaha menahan air mata yang
mulai menggenang di matanya dan mengaburkan pandangannya.
“Aku juga ingin kau tahu,” lanjut Danny tanpa mengalihkan pandangannya
dari wajah Naomi, “aku bukan kakakku. Aku tidak akan pernah menyakitimu.”
Naomi menggigit bibir. Kedua tangannya terkepal erat di sisi tubuhnya. Jangan
menangis... Jangan menangis... Jangan...
“Apakah kau percaya padaku?”
Naomi menelan ludah dengan susah payah, namun tidak menjawab.
Danny tersenyum sedih. “Kuharap kau bisa. Kalau bukan sekarang, mungkin
suatu hari nanti.”
Setelah berkata seperti itu, Danny pun pergi. Naomi mendengar pintu depan
flatnya dibuka dan ditutup. Setelah itu barulah Naomi membiarkan air matanya
tumpah, bersamaan dengan rasa sakit besar yang menyebar dari dadanya yang
sesak ke sekujur tubuhnya.
Bab Sembilan Belas
“NAOMI, bagaimana menurutmu?”
Naomi tersentak dari lamunannya dan mengangkat wajah. “Hm?”
Chris mengangkat alis dan menyesap teh Earl Grey-nya. “Bagaimana
menurutmu?” tanyanya sekali lagi.
“Tentang apa?”
“Oh, bagus. Dia tidak mendengarkan kita dari tadi,” kata Julie sambil memutar
bola matanya. “Apa yang kaulamunkan pagi-pagi begini, Naomi?”
Naomi mengangkat bahu. “Tidak ada.”
“Dia selalu begini kalau sudah berhari-hari tidak bertemu dengan Danny. Kau
ingat sewaktu Danny pergi ke Lake District? Dia juga seperti ini,” kata Chris pada
Julie. “Ngomong-ngomong sudah beberapa hari ini Danny tidak kelihatan. Ke mana
dia?”
Naomi menyesap teh herbalnya dan memandang ke luar jendela dapur.
Memang sudah beberapa hari ini ia tidak bertemu dengan Danny. Tepatnya sejak
Naomi mengucapkan kata-kata terkutuk itu. Sampai sekarang Naomi belum bisa
melupakan ekspresi wajah Danny saat itu, seolah-olah kata-kata Naomi melumpuhkannya
seketika. Dan sampai sekarang perasaan bersalah itu masih mengimpit
dadanya, membuatnya tidak tenang, tidak bisa tidur, tidak bisa makan, dan nyaris
tidak bisa bernapas.
Ia ingin menelepon Danny untuk menjelaskan bahwa maksud kata-katanya
waktu itu tidak seburuk yang terdengar, namun ia selalu mengurungkan niatnya di
saat-saat terakhir. Ia takut Danny masih marah padanya. Ia takut Danny menolak
berbicara dengannya. Tapi kalau dipikir-pikir, bukankah keadaan sekarang ini juga
sudah seperti itu? Kata-katanya yang gegabah itu telah melukai perasaan Danny
dan sekarang laki-laki itu tidka pernah menghubunginya lagi. Gagasan itu membuat
Naomi semakin tertekan.
“Naomi, kau tahu Danny pergi ke mana?”
Naomi tersentak lagi, tetapi ia terselamatkan dari keharusan menjawab
pertanyaan Julie ketika bel pintu flat mereka berbunyi. Julie bangkit dari tempat
duduknya dan pergi membuka pintu. Tidak lama kemudian ia masuk kembali ke
dapur bersama Miho Nakajima.
“Hai, teman-teman. Aku tahu aku datang pada waktu yang tepat. Aku sudah
mencium aroma telur dan bacon dari depan pintu. Asal kalian tahu, aku belum
sempat sarapan dan sekarang perutku benar-benar keroncongan,” kata Miho riang,
benar-benar bertentangan dengan apa yang dirasakan Naomi saat itu.
Chris mengibaskan tangan. “Duduk dan makanlah. Aku tidak pernah menolak
memberikan makanan kepada gadis-gadis kurus yang mengeluh dirinya kelaparan.”
“Jadi apa yang sedang kalian bicarakan?” tanya Miho sambil menuang
secangkir kopi untuk dirinya sendiri.
“Tentang Naomi yang sering melamun dan Danny yang tidak terlihat akhirakhir
ini,” sahut Chris ringan.
Miho mengangguk-angguk dan menyesap kopinya. “Benar juga. Waktu itu dia
berkata padaku ada sedikit pekerjaan di Dublin.”
“Jadi sekarang ini Danny ada di Dublin? Pantas saja,” kata Julie, lalu menoleh ke
arah Naomi. “Kau tidak pernah bilang.”
Karena aku sendiri juga tidak tahu. Naomi menggigit bibir dan menoleh menatap
Miho. Danny pergi ke Dublin? Kenapa Miho bisa tahu itu?
“Oh, ya, Naomi, aku datang ke sini untuk meminta bantuanmu.” Suara Miho
menembus pikiran Naomi yang kusut. “Ada satu artikel yang ingin kutampilkan di
majalahku dan kupikir kau bisa...”
“Maaf, Miho,” sela Naomi cepat, nyaris tanpa berpikir. “Kurasa aku tidak bisa
membantumu kali ini.”
Miho terlihat agak kaget. “Oh,” gumamnya. “Kau sibuk sekali?”
“Ya.” Naomi tersenyum sekilas, menghabiskan tehnya dan berdiri. “Malah
sekarang aku harus pergi kalau tidak mau diomeli fotograferku karena datang
terlambat.”
“Kau punya jadwal pemotretan hari ini? Bukankah tadi kau bilang...”
“Aku tahu jadwalku sendiri,” Naomi memotong kata-kata Chris dengan ketus
dan menatap temannya dengan mata disipitkan. “Dan aku sangat sibuk hari ini.”
Chris mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. “Oh, baiklah, lass. Simpan
cakarmu.”
Setelah menggumamkan selamat tinggal yang tidak jelas, Naomi meraih jaket
dan tasnya dari kamar, lalu bergegas meninggalkan flatnya yang mulai terasa
menyesakkan. Di luar, ia mendongak menatap langit yang tumben-tumbennya
cerah—bertentangan dengan suasana hatinya—dan menarik napas dalam-dalam,
namun usahanya itu tidak berhasil melenyapkan beban dalam dadanya. Juga tidak
berhasil membuat suasana hatinya membaik.
Sebenarnya Naomi tidak punya jadwal kerja pagi ini, namun ia terlalu resah
untuk duduk di rumah tanpa melakukan apa-apa, terlebih lagi setelah Miho datang
dan berkata bahwa Danny sedang berada di Dublin. Naomi mengembuskan napas
dengan keras. Ia harus menenangkan diri. Ia harus pergi ke tempat yang bisa
membuatnya tenang. Mungkin ia bisa ke salon. Atau ke Harrod‟s. Ya, berbelanja
selalu berhasil membuatnya gembira.
Namun anehnya, ia akhirnya tidak jadi pergi ke salon atau ke Harrod‟s. Tanpa
benar-benar disadarinya, langkah kakinya membawanya kembali ke taman kecil
yang pernah dikunjunginya bersama Danny. Tempat ia dan Danny pernah makan
fish and chips paling enak di London. Tempat yang justru selalu mengingatkannya
pada Danny Jo.
Benar-benar menyedihkan.
Taman itu sudah dipenuhi bunga, tepat seperti yang pernah dikatakan Danny,
namun Naomi hampir tidak memerhatikan keadaan di sekelilingnya. Ia hanya
menyusuri jalan setapak di samping kolam dengan kepala tertunduk dan
memikirkan... memikirkan... Astaga, ada apa dengannya? Naomi meringis dan
memukul kepalanya sendiri. “Bodoh. Jangan terus memikirkan orang itu.”
Tetapi kalau ia memang tidak mau memikirkan orang itu, kalau ia memang
tidak seharusnya memikirkan Danny Jo, kenapa di antara semua tempat yang bisa
dikunjunginya di London ia justru datang ke sini? Ia benar-benar menyedihkan.
Benar-benar...
Naomi terkesiap keras ketika lengannya mendadak dicengkeram, disusul suara
rendah dan datar yang berkata, “Kau mau terjun ke dalam kolam?”
Naomi mengerjap dan baru menyadari bahwa ia sudah berjalan menjauh dari
jalan setapak dan malah mengarah ke kolam. Apakah ia terlalu asyik melamun
sampai tidak memerhatikan jalan di depannya? Lalu Naomi tertegun. Tunggu...
Suara itu... Suara itu! Ia menoleh dengan cepat dan matanya langsung bersirobok
dengan mata gelap Danny Jo yang menatapnya dengan muram.
* * *
Danny menyandarkan punggung ke sandaran bangku taman dan mendongakkan
wajahnya ke arah langit London yang cerah. Mengherankan sekali. Cuaca di London
selalu bertentangan dengan suasana hatinya. Danny mengembuskan napas dan
menundukkan kepalanya kembali.
Sudah beberapa hari berlalu sejak ia terakhir kali bertemu dengan Naomi. Ia
juga tidak berusaha menemui gadis itu. Ia tahu Naomi butuh waktu untuk
menenangkan diri dan berpikir. Danny juga begitu. Namun sampai sekarang ia
tidak berhasil menyingkirkan perasaan bersalah dari dalam hatinya. Ia juga tidak
berhasil mengusir bayangan Naomi dari benaknya, terutama ketika Naomi berkata
bahwa ia selalu teringat pada orang yang telah menyakitinya setiap kali melihat
Danny.
Kenyataan itu membuat Danny frustrasi. Ia pernah berjanji pada diri sendiri
bahwa ia akan melakukan apa pun demi melindungi dan menjauhkan Naomi dari
rasa sakit. Tetapi bagaimana kalau orang yang selalu membuat Naomi menderita
adalah Danny sendiri? Apa yang bisa dilakukan Danny kalau begitu?
Sebelum ia sempat menjawab pertanyaan itu, ponselnya berbunyi. Danny
mengembuskan napas dan mengeluarkan ponselnya yang terdengar memekakkan
di tengah-tengah taman sunyi itu.
“Halo?”
“In-Ho?” Suara Anna Jo terdengar agak resah di ujung sana. “Kau sedang di
mana? Sibuk?”
“Oh, Nuna. Tidak, aku sedang tidak sibuk. Ada apa?”
“Dengar, aku tidak ingin membuatmu khawatir, tapi kurasa kau harus tahu.”
Danny mengerutkan kening. “Ada apa? Ayah dan Ibu...?”
“Mereka baik-baik saja, In-Ho. Jangan khawatir. Ini bukan soal mereka,” kata
Anna cepat. Lalu ia terdiam sejenak, ragu. “Tapi aku tidak tahu bagaimana reaksi
mereka kalau mereka mendengar berita itu.”
“Berita apa?”
Anna Jo menarik napas. “Kudengar Kim Dong-Min baru kembali dari London.
Apakah kau bertemu dengannya di London?”
“Ya.”
“Apakah dia mengatakan sesuatu kepadamu? Tentang Seung-Ho Oppa?”
Danny tidak menjawab, malah balik bertanya, “Apa yang dikatakannya tentang
Hyong?”
Kerutan di kening Danny semakin dalam dan wajahnya berubah muram
sementara ia mendengarkan cerita kakak perempuannya. Beberapa menit
kemudian, ia berkata, “Aku tahu, Nuna. Jangan khawatir. Aku akan
membereskannya.”
Danny menutup dan mengembalikan ponselnya ke saku dengan pelan. Berita
yang disampaikan kakak perempuannya tadi tidak benar-benar membuatnya
terkejut, namun tidak berarti ia memperkirakan hal itu akan terjadi. Danny menarik
napas dan mengembuskannya dengan keras. Ia harus pulang ke Seoul. Tetapi
sebelum itu ia harus menghubungi para manajernya. Masalah ini harus segera
diatasi sebelum bertambah runyam.
Danny baru saja berdiri dari bangku dan hendak berbalik pergi ketika sudut
matanya menatap sosok seorang wanita di jalan setapak tidak jauh darinya. Danny
menoleh. Dugaannya benar. Yang sedang berjalan menyusuri jalan setapak di tepi
kolam itu memang Naomi Ishida. Sepertinya gadis itu sedang melamun karena ia
melangkah dengan pelan dan dengan kepala tertunduk. Dan mengarah ke kolam.
Astaga.
Dalam beberapa langkah, Danny sudah tiba di samping Naomi dan
mencengkeram lengannya. “Kau mau terjun ke dalam kolam?”
Naomi tersentak kaget dan mengangkat wajah. Matanya mengerjap satu kali,
lalu melebar sementara otaknya mencerna siapa yang berdiri di hadapannya.
“Danny,” gumamnya pelan, lalu memandang sekelilingnya dengan bingung.
Setelah memastikan Naomi berdiri agak jauh dari kolam, Danny melepaskan
cengkeramannya dan menjejalkan kedua tangan ke dalam saku celana. Selama
beberapa detik mereka hanya berdiri dan berpandangan tanpa berkata apa-apa.
Akhirnya Danny membuka suara. “Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu
di sini.”
Naomi mengangguk dan berdeham. “Aku juga. Kudengar kau pergi ke Dublin.”
“Aku kembali ke London kemarin sore.”
“Oh, begitu.” Ia menatap Danny sejenak, lalu dengan resah memalingkan wajah
ke arah pepohonan di sebelah kirinya dan bergumam, “Maafkan aku.”
“Untuk apa?”
Naomi menggigit bibir sejenak dan kembali menatap Danny. “Karena katakataku
waktu itu. Aku tidak bermaksud... Aku hanya...” Naomi menghentikan katakatanya
yang kacau dan menarik napas panjang untuk mengendalikan diri. “Waktu
itu aku sedang tidak berpikir jernih. Maafkan aku.”
Danny mendesah dan tersenyum tipis. “Tidak usah meminta maaf. Kau tidak
bersalah.”
Naomi menunduk sejenak. Ketika ia mengangkat wajah lagi, Danny sudah
duduk di salah satu bangku taman di dekat kolam. Naomi menghampiri bangku itu
dan duduk di samping Danny. Selama beberapa saat mereka hanya duduk di sana
tanpa saling bicara. Suara yang terdengar hanyalah suara gemeresik dedaunan yang
ditiup angin dan suara lalu lintas di kejauhan.
“Aku akan kembali ke Korea,” kata Danny tiba-tiba.
Terkejut, Naomi mengangkat wajah dan menoleh menatap Danny. “Kenapa?”
Danny tersenyum samar, tidak langsung menjawab. Ia tidak mungkin
mengatakan alasan yang sebenarnya kepada Naomi tanpa membuat gadis itu
khawatir. “Ada sedikit masalah keluarga,” katanya setelah berpikir sejenak.
“Masalah keluarga?”
“Mm,” gumam Danny, lalu menarik napas dalam-dalam. “Karena itu aku harus
pulang lebih cepat daripada yang kurencanakan.”
Naomi memalingkan wajah dan menggigit bibir. “Kapan?” tanyanya.
“Secepatnya.”
Naomi menatapnya dengan heran. Ia membuka mulut untuk mengatakan
sesuatu, tetapi tidak jadi.
“Aku bukannya ingin menghindarimu, Naomi,” kata Danny lembut, seolaholah
bisa membaca pikiran Naomi. “Aku tidak akan bisa menghindarimu walaupun
aku ingin.”
Naomi menatap Danny tidak mengerti.
Danny membuka mulut hendak menjelaskan, namun mengurungkan niatnya.
Saat ini bukan saat yang tepat untuk menyatakan perasaannya. Naomi pasti akan
mundur teratur begitu mendengarnya. Bahkan mungkin akan menarik diri dan
menghindari Danny selamanya. Kalau itu terjadi, Danny tidak yakin ia bisa
mengatasinya.
Tetapi saat ini ia sangat ingin mengatakan apa yang dirasakannya, apa yang ada
dalam hatinya. Danny menoleh ke arah Naomi. “Ada sesuatu yang ingin kukatakan
padamu sejak dulu,” katanya. Lalu ia tersenyum. “Sampai sekarang aku belum
mengatakannya karena... yah, karena berbagai alasan. Dan alasan utamanya adalah
karena aku takut.”
Naomi masih tidak mengerti, namun ia mendapat dirinya menahan napas
mendengar Danny yang berbicara dengan suara yang rendah dan pelan.
“Kalau aku mengatakannya, reaksi apa yang akan kauberikan? Apakah kau
akan menerima pengakuanku? Apakah kau akan percaya padaku? Apakah kau
masih akan menatapku seperti ini? Tersenyum padaku seperti ini? Atau apakah
justru kau akan menjauh dariku? Meninggalkanku?” Saat itu Danny menatap mata
Naomi menarik napas panjang. “Tapi aku tahu aku harus mengatakannya padamu.
Aku tidak mungkin menyimpannya selamanya. Entah bagaimana reaksimu nanti
setelah mendengarnya, aku hanya berharap satu hal padamu.”
Menatap mata Danny membuat Naomi tidak bisa berpikir. Sesuatu dalam mata
Danny membuat Naomi berdebar-debar, membuat tenggorokannya tercekat,d an
membuat hatinya terasa nyeri.
“Jangan pergi dariku. Tetaplah di sisiku.”
Naomi tidak bisa mengalihkan pandangan dari mata Danny. Ia masih tidak bisa
berpikir. Ia masih tidak bisa bersuara. Ia masih tidak bisa mendengar apa pun selain
suara Danny. Sedetik kemudian ia menyadari dirinya masih menahan napas
menunggu kata-kata Danny selanjutnya.
Namun ternyata Danny hanya tersenyum kecil penuh rahasia dan bergumam
lirih, “Karena itu... maukah kau menungguku?”
Naomi tertegun. Danny sedang menatapnya dengan penuh harap. Matanya
yang gelap seolah-olah bisa melihat ke dalam jiwa Naomi. Saat itulah pertama
kalinya Naomi mengerti apa yang dimaksud dengan tenggelam dalam mata
seseorang. Tatapan Danny membuatnya sulit bernapas, seolah-olah dunia mengecil
di sekeliling mereka, menyelubungi mereka.
“Aku tidak akan menuntut banyak. Aku juga tidak akan membebanimu. Aku
hanya memintamu menunggu sampai aku menyelesaikan masalahku. Sampai saat
itu tiba, jangan pergi ke mana-mana. Tetaplah bersamaku,” pinta Danny.
“Danny, aku...”
“Pada saat kita bertemu lagi nanti, kalau perasaanmu masih belum berubah,
kalau kau mashi merasa sulit percaya padaku, kalau kau tidak mau melihatku lagi,
tidak mau berurusan denganku lagi, kau hanya perlu mengatakannya dan aku akan
menuruti apa pun yang kaukatakan.
Naomi menatap Danny sesaat, lalu menunduk. Kalau Danny menatapnya
seperti itu, Naomi merasa hatinya melemah. Dan sebelum ia benar-benar menyadari
apa yang dilakukannya, ia mengangguk.
Bab Dua Puluh
“JADI kemarin kau tidak mengantar Danny ke bandara?” tanya Julie sambil
mengangkat kedua kaki ke atas kursi dan menyesap kopi paginya.
Naomi mengaduk-aduk tehnya dan mendesah. “Dia tidak mengizinkan aku
mengantarnya ke bandara.”
“Dia pasti takut kau menangis meraung-raung di bandara,” komentar Chris
sambil menundud dan mengeluarkan roti dari oven. “Laki-laki seperti Danny tidak
suka menjadi pusat tontonan.”
Naomi mendengus. “Kau lupa dia seorang model? Dia sudah terbiasa menjadi
pusat tontonan. Dan apa maksudmu dengan aku yang menangis meraung-raung?”
“Mungkin kau memang bukan tipe orang yang menangis meraung-raung,”
koreksi Chris dan memindahkan roti-roti dalam loyang ke piring besar. “Kau tipe
orang yang langsung menutup diri dan tenggelam dalam kesedihan sendiri.”
Naomi menyesap tehnya tanpa berkata apa-apa.
Julie menyikutnya. “Hei, kau dan Danny baik-baik saja, bukan? Tidak
bertengkar atau semacamnya?”
Naomi tertegun. Apakah ia dan Danny baik-baik saja? Entahlah.
“Naomi?”
Naomi buru-buru memaksakan senyum dan berkata, “Semuanya baik-baik
saja.”
Saat itu bel pintu berbunyi dan Chris menegakkan tubuh. “Aku berani bertaruh
itu pasti Miho dan dia datang untuk meminta bantuan Naomi sekaligus sarapan
gratis di sini,” gerutunya riang dan berjalan ke pintu. Beberapa detik kemudian
Naomi dan Julie mendengar Chris berseru lantang, “Aku benar!”
“Benar apanya?” tanya Miho ketika ia muncul di dapur. “Astaga, aromanya
enak sekali.”
“Duduklah dan anggap rumah sendiri,” kata Julie sambil menggeser kursi
untuk memberi tempat kepada tamu mereka.
“Miho, kenapa kau datang pagi-pagi begini?” tanya Naomi.
“Selain untuk mencicipi masakanku, tentu saja,” sela Chris sambil nyengir.
“Aku ingin meminta bantuan Naomi,” sahut Miho sambil meraih salah satu roti
dari tumpukan.
“Seperti biasa,” sela Chris.
Tetapi sepertinya Miho tidak mendengar, karena ia langsung menoleh ke arah
Naomi dan berkata, “Kami berencana menerbitkan edisi khusus yang memuat
perancang-perancang baru di seluruh penjuru Inggris dan pagi ini kami akan
mengadakan rapat untuk membahas rencana ini lebih mendetail. Kuharap kau bisa
bergabung. Biasanya kau memiliki gagasan-gagasan unik yang sangat berguna.”
Naomi ingin mendesah keras. Ia sudah tahu apa yang akan terjadi di rapat itu
kalau ia ikut serta. Seperti di rapat-rapat lain yang pernah dihadirinya, Naomi-lah
yang akan selalu melontarkan ide-ide dan menjelaskan semua rencananya
sementara Miho akan menuruti semua gagasannya tanpa menyumbangkan ide apa
pun.
“Maaf, Miho. Aku tidak bisa. Jadwal kerjaku penuh sepanjang hari ini,” kata
Naomi. Ia bersyukur ia tidak perlu berbohong untuk menolak permintaan temannya
karena seharian ini ia memang akan sangat sibuk.
Miho mendesah keras dan menggeleng-geleng. “Aneh sekali. Kenapa semua
orang yang kuhubungi selalu sibuk?” gerutunya pada diri sendiri. “Pertama-tama
sepupuku, lalu kau. Dan Danny juga tidak bisa dihubungi sejak kemarin. Ada apa
dengan semua orang?”
“Danny? Tentu saja kau tidak bisa menghubunginya karena dia sudah pulang
ke Korea,” kata Julie.
Mata Miho terbelalak kaget. “Pulang ke Korea? Kapan? Kenapa aku tidak
diberitahu?”
“Kenapa pula kau harus diberitahu? Memangnya kau pacarnya?” Chris balas
bertanya dengan sikapnya yang blak-blakan.
Alis Miho terangkat heran. “Tapi kenapa mendadak sekali?”
“Katanya ada masalah keluarga,” sahut Naomi.
Kali ini Miho mengerutkan kening. “Masalah keluarga? Jangan-jangan...”
Ketiga pasang mata lain di dapur kecil itu langsung terarah kepada Miho. Chris
mencondongkan tubuhnya ke depan dan bertanya, “Jangan-jangan apa?”
Miho memiringkan kepalanya sedikit. “Mungkinkah karena skandal itu?”
“Skandal?” tanya Naomi bingung.
“Aku mendengar berita ini dari ibuku yang mendengarnya dari seorang teman
di Korea. Katanya di sana sedang ada gosip yang menimpa keluarga Danny,” kata
Miho. Lalu ia menatap Naomi. “Aku pernah bilang bahwa ibuku mengenal ibu
Danny, bukan? Nah, ibuku sudah berusaha menelepon ibu Danny tetapi tidak bisa
tersambung.”
“Tunggu, Miho. Gosip dan skandal apa yang kaumaksud itu?” tanya Naomi. Ia
mulai merasa cemas. Cemas untuk Danny. Semoga bukan masalah besar.
Miho mengangkat bahu. “Yang kudengar adalah ada gosip yang menyebutkan
bahwa almarhum putra sulung keluarga Jo telah melakukan sesuatu yang
memalukan keluarga.”
“Apa yang dilakukannya?” desak Julie.
“Pemerkosaan.”
Cangkir Naomi terlepas dari pegangan dan jatuh ke meja dengan bunyi keras.
“Astaga, lass. Hati-hati,” Chris mengomel dan menegakkan cangkir Naomi.
“Untung isinya tinggal sedikit.”
Naomi mengabaikannya. Matanya terarah pada Miho. “Apakah... apakah
mereka mengatakan siapa yang... siapa wanita itu?” tanyanya dengan suara yang
diusahakannya setenang dan sedatar mungkin.
Miho menggeleng. “Tidak.” Ia menatap ketiga pendengarnya bergantian. “Aku
yakin kepulangan Danny yang mendadak ini pasti berhubungan dengan skandal
ini. Kudengar ibunya langsung jatuh sakit karena masalah ini.”
Sebelah tangan Naomi terangkat ke keningnya. Tangannya agak gemetar dan
sangat dingin. Ketiga temannya masih asyik membahas gosip itu, tetapi Naomi
tidak lagi mendengarkan. Ia berdiri dan membawa cangkirnya ke bak cuci piring. Ia
berdiri di sana, memandang kosong ke luar jendela. Kedua tangannya dilipat di
depan dada, memeluk diri sendiri, karena tubuhnya juga mulai gemetar.
* * *
Sudah lewat tengah malam namun Naomi masih belum bisa terlelap. Sekujur
tubuhnya lelah karena jadwal kerjanya yang padat seharian ini, tetapi anehnya ia
tidak merasa mengantuk. Ia duduk di depan meja tulis di kamar tidurnya, menatap
layar laptop di hadapannya. Sudah berulang-ulang kali ia membaca e-mail pendek
yang dikirim Danny kepadanya, namun isinya tetap sama. Danny hanya
menyampaikan bahwa ia sudah tiba di Seoul dengan selamat dan meminta maaf
karena harus menunggu beberapa hari setelah tiba di Seoul baru bisa mengirimkan
e-mail. Banyak sekali masalah yang harus diurusnya di sana, tetapi semuanya
berjalan lancar. Ia baik-baik saja dan Naomi sama sekali tidak perlu khawatir.
Hanya itu. Danny sama sekali tidak mengungkit masalah skandal yang
menerpa keluarganya. Naomi tahu Danny tidak mengatakan apa-apa kepadanya
karena Danny tidak ingin Naomi khawatir. Dan Naomi juga tahu Danny akan
memastikan nama Naomi tidak dilibatkan dalam masalah ini. Tetapi Danny kini
sendirian. Sendirian menghadapi serangan gosip yang bisa menghancurkan
keluarganya. Dan Naomi merasa sangat tidak berdaya karena dirinya adalah salah
satu pihak yang menyebabkan semua ini terjadi dan ia tidak bisa melakukan apaapa
untuk menolong Danny.
Memikirkan kemungkinan Danny Jo menderita sendirian membuat sebutir air
mata jatuh menuruni pipinya. Naomi menghapus air mata itu dengna kasar dan
berjalan ke tempat tidur. Ia duduk di tepi ranjang dan berpikir.
Saat ini ia sama sekali tidak memiliki keyakinan untuk menepati janjinya pada
Danny.
Maukah kau menungguku? Kata-kata Danny kembali terngiang-ngiang di telinga
Naomi. Aku tidak akan menuntut banyak. Aku juga tidak akan membebanimu. Aku hanya
memintamu menunggu sampai aku menyelesaikan masalahku. Sampai saat itu tiba, jangan
pergi ke mana-mana. Tetaplah bersamaku.
Naomi menggigit bibir dan membenamkan wajah di kedua tangannya. Saat ini
ia sama sekali tidak punya keyakinan untuk menepati janjinya. Dengan adanya
skandal itu, bagaimana ia bisa tetap bersama Danny? Ia adalah wanita dengan masa
lalu yang kotor dan rumit, masa lalu yang berhubungan dengan kakak laki-laki
Danny. Ia hanya akan membuat Danny semakin menderita. Ia juga akan membuat
keluarga Danny menderita.
Ia juga hanya akan membuat dirinya sendiri menderita.
Ia mengira ia sudah mengatasi masa lalunya, tetapi ternyata ia belum berhasil
mengatasi apa-apa. Ia hanya menyembunyikan masa lalunya yang gelap itu jauh
dalam hatinya. Sama sekali tidak mau memikirkannya, tidak pernah berniat
menghadapinya. Ia selalu menghindar. Selalu. Dan apa akibatnya? Ia membuat jarak
dengan semua orang. Teman-temannya, Danny Jo, bahkan orangtua dan saudara
kembarnya.
Naomi menegakkan tubuh dan menarik napas dalam-dalam. Sudah waktunya
ia memberanikan diri dan menghadapi masa lalunya. Ia harus berdamai dengan
masa lalunya sebelum ia bisa memikirkan hal lain.
Bab Dua Puluh Satu
Seoul, Korea Selatan
DANNY duduk sendirian di bar langganannya dan mengamati cairan keemasan
dalam gelasnya sambil melamun. Dua minggu terakhir ini benar-benar menguras
tenaga dan pikirannya. Hari-harinya disibukkan dengan pertemuan dengan para
manajernya untuk membahas pengaruh skandal ini terhadap reputasinya,
menghadapi para wartawan yang menuntut penegasan, menenangkan keluarganya
yang kalang kabut dan ibunya yang jatuh sakit begitu mendengar gosip bahwa
almarhum putranya pernah melakukan kejahatan, serta melacak keberadaan Kim
Dong-Min, yang rupanya sedang bersembunyi dari para wartawan.
Butuh waktu beberapa hari sebelum Danny berhasil menemukan Kim Dong-
Min. Danny masih ingat bagaimana wajah Kim Dong-Min memucat ketika Danny
menemuinya. Ternyata si pengecut itu sama sekali tidak berniat menyebarluaskan
masalah kakak Danny dengan Naomi. Hanya saja saat itu ia sedang minum-minum
bersama beberapa orang temannya—salah seorang di antaranya adalah wartawan
tabloid gosip—dan dalam keadaan mabuk ia mengungkit apa yang pernah
dilakukan kakak Danny. Tetapi ia tidak pernah menyebut-nyebut nama Naomi dan
bersumpah tidak akan pernah melakukannya. Bagaimanapun juga, ia sadar ia
adalah kaki-tangan dalam masalah ini dan bisa diseret ke penjara. Ia bahkan sudah
berencana pindah ke Kanada, tempat tinggal orangtuanya, demi menghindari
bencana.
Danny mendengus dan meneguk minumanya. “Setidaknya dia masih punya
otak,” gumamnya pada diri sendiri.
Walaupun Kim Dong-Min sudah berjanji akan tutup mulut rapat-rapat, Danny
masih pusing memikirkan bagaimana cara meredam gosip yang sudah telanjur
merebak ini dan bagaimana ia bisa mengelak dari para wartawan yang terus
mengejarnya. Selama seminggu berikutnya Danny nyaris tidak bisa tidur
memikirkan apa yang harus dilakukannya.
Lalu tiba-tiba hari ini terjadi sesuatu yang sama sekali tidak terrduga. Sesuatu
yang bisa saja membantu Danny meredam skandal, atau malah memperumit
masalah yang sudah ada. Seorang wanita yang mengaku sebagai mantan kekasih
kakak Danny entah kenapa merasa bahwa dirinyalah yang digosipkan sebagai
korban pemerkosaan dalam skandal ini. Pagi ini ia mengadakan jumpa pers untuk
memberikan pernyataan bahwa skandal itu tidak benar dan bahwa hubungannya
dengan kakak Danny sama sekali tidak didasarkan atas paksaan.
Danny benar-benar tidak tahu kenapa wanita itu merasa dirinyalah yang
digosipkan sebagai korban. Mungkin saja wanita itu benar-benar pernah menjalin
hubungan dengan kakak Danny dan ia benar-benar salah paham karena mengira
dirinyalah yang dimaksud oleh gosip ini. Atau mungkin juga ia hanya mencari
popularitas sesaat demi mendongkrak kariernya yang sedang merosot sebagai aktris
televisi. atau mungkin saja ia ingin mencari keuntungan dari keluarga Danny dalam
masalah ini. Pengacara keluarga Danny akan pergi menemui wanita itu besok pagi
dan Danny hanya bisa berharap semuanya berjalan dengan baik.
“Hei, Teman. Sudah lama menunggu?”
Suara Jung Tae-Woo membuyarkan lamunan Danny. Ia menoleh dan tersenyum
pada sahabatnya. “Belum lama,” sahutnya. “Lagi pula aku tahu penyanyi terkenal
sepertimu pasti tidak punya waktu luang sebelum tengah malam.”
“Kau sendiri juga sangat sibuk begitu pulang dari London dan baru hari ini kau
menghubungiku.” Jung Tae-Woo duduk di samping Danny dan memesan minuman
kepada bartender yang menghampirinya. Kemudian ia menoleh kembali kepada
Danny. “Bagaimana keadaanmu? Aku sudah mendengar tentang apa yang terjadi
apgi ini. Benar-benar mengejutkan, bukan?”
“Mmm. Memang mengejutkan,” tambah Danny jujur.
“Kau kenal wanita itu?” tanya Jung Tae-Woo.
Danny menggeleng. “Tapi aku akan meminta pengacaraku pergi menemuinya,
untuk memastikan wanita itu tidak mencari keuntungan dalam situasi ini.”
Jung Tae-Woo mengangguk-angguk. “Bagaimana keadaan ibumu sekarang?”
Danny mendesah. “Masih sama. Tapi kurasa keadaannya akan membaik setelah
mendengar bahwa putra kesayangannya bukan kriminal seperti yang digosipkan.”
Saat itu ponsel Danny berbunyi. “Siapa lagi malam-malam begini?” gumamnya
pada diri sendiri dan menempelkan ponsel ke telinga. “Halo?”
“Danny?”
Alis Danny terangkat kaget begitu mendengar suara Naomi di ujung sana.
“Naomi? Ada apa? Ada masalah?”
Jung Tae-Woo menoleh heran mendengar Danny berbicara dalam bahasa
Inggris.
“Tidak ada masalah apa-apa,” sahut Naomi cepat. “Hanya ingin tahu
keadaanmu.”
Danny tersenyum. “Aku baik-baik saja.”
Naomi ragu sejenak, lalu berkata, “Danny, aku tahu apa yang sedang terjadi di
sana dan aku mengerti kenapa kau tidak mau mengatakan padaku, tapi...”
“Kau tahu?” sela Danny agak kaget.
“Ya, aku tahu.”
Danny menarik napas dalam-dalam. “Naomi, aku baik-baik saja. Sungguh. Aku
bisa mengatasinya. Kau tidak usah khawatir.”
“Lalu bagaimana situasinya sekarang?” tanya Naomi.
Danny menceritakan kejadian mengejutkan pagi ini.
“Benarkah?” Nada Naomi terdengar datar, tanpa emosi.
“Ya. Tapi kau tidak usah cemas. Aku sudah mengurusnya semuanya akan baikbaik
saja.”
“Kuharap begitu.” Naomi terdiam sesaat, lalu berkata pelan, “Ngomongngomong,
ada yang ingin kukatakan kepadamu. Tadinya aku tidak ingin berkata
apa-apa, tapi setelah kupikir-pikir lagi, sebaiknya aku mengatakannya secara
langsung kepadamu.”
Danny langsung berubah waswas. “Ada apa?”
“Aku...” Naomi menarik napas, “aku sudah memutuskan untuk kembali ke
Jepang.”
Alis Danny berkerut kaget. “Apa? Kenapa?”
“Aku... Aku butuh waktu untuk berpikir dan menyelesaikan masalahku
sendiri.”
“Masalah apa?”
“Masa laluku. Aku tahu selama ini aku terus melarikan diri dari masa laluku.
Kupikir sudah saatnya aku menghadapinya.”
Danny masih tidak mengerti. “Lalu...?”
“Karena itu aku butuh waktu. Sementara aku mengatur kembali hidupku, aku
benar-benar tidak bisa memikirkan hal lain. Aku harus menghadapi diriku sendiri
terlebih dahulu sebelum aku bisa menghadapi orang lain.” Naomi terdiam sejenak.
“Termasuk dirimu.”
“Apa?”
“Karena itu kurasa ada baiknya kita tidak berhubungan... untuk sementara.”
Otak Danny kosong sesaat dan ia nyaris yakin jantungnya berhenti berdebar.
Naomi akan meninggalkannya. Ya Tuhan, Naomi akan meninggalkannya. Ia merasa
sekujur tubuhnya mendadak lumpuh.
“Untuk sementara?” ulang Danny datar, lalu menelan ludah. “Berapa lama?”
“Entahlah,” kata Naomi cepat. “Aku hanya merasa kita berdua butuh waktu
untuk berpikir. Supaya kita benar-benar yakin tentang apa yang kita inginkan.”
Danny menghela napas dalam-dalam, mencoba meredakan kepanikan yang
tiba-tiba menyerangnya. “Maksudmu kau tidak yakin dengan perasaanku,” katanya
pelan. “Apakah sesulit itu bagimu untuk percaya padaku?”
“Apakah kau sudah lupa alasan awalmu datang ke Inggris?” Naomi balas
bertanya tanpa menjawab pertanyaan Danny. “Kau datang ke Inggris untuk bekerja
dengan Bobby Shin. Karena kau bercita-cita menjadi sutradara terkenal.”
“Apa hubungannya...?”
“Jadilah sutradara terkenal.”
“Apa?”
“Jadilah sutradara terkenal,” ulang Naomi. “Setelah itu, kalau memang masih
ada kesempatan, kita bisa bertemu lagi.”
Danny terdiam. Sekali lagi ia menghela napas panjang dan menunduk. Ia tidak
ingin menunggu. Ia tidak ingin Naomi pergi dari sisinya. Sebagian dari dirinya yang
enggan paham bahwa Naomi butuh waktu. Untuk mengembalikan kepercayaan
dirinya sendiri. Juga untuk percaya pada Danny. Ini keputusan yang sangat sulit,
tapi...
“Baiklah,” kata Danny akhirnya, “aku bisa menunggu.”
Naomi tidak berkata apa-apa.
“Kalau kau butuh waktu untuk memercayaiku, aku bisa menunggu.”
Masih tidak terdengar suara di ujung sana, namun Danny yakin Naomi
mendengarnya.
“Aku akan menjadi sutradara terkenal seperti yang kaukatakan. Dan, Naomi,
pada saat kita bertemu nanti—dan kita pasti akan bertemu lagi, baik kau siap atau
tidak—kau harus memberikan jawabanmu,” kata Danny.
Hening sejenak, lalu terdengar Naomi bergumam, “Terima kasih.”
Jung Tae-Woo meliriknya ketika Danny menutup ponsel dan menghabiskan sisa
minumannya dengan sekali teguk. “Siapa Naomi?” tanya Tae-Woo dengan nada
polos.
Danny mengembuskan napas berat dan mendorong gelasnya yang sudah
kosong menjauh. “Dia benar-benar bisa membuatku gila,” gerutunya.
Jung Tae-Woo terkekeh pelan. “Bukankah semua wanita begitu?” katanya.
“Lagi pula, kalau dia memang membuatmu gila, kenapa kau tidak melepaskannya
saja?”
Danny tidak langsung menjawab. Ia tepekur sejenak, lalu tersenyum muram
dan menggeleng. “Aku juga berharap bisa semudah itu,” gumamnya.
Jung Tae-Woo menatapnya tidak mengerti.
“Masalahnya aku tidak bisa melepaskannya,” lanjut Danny tanpa membalas
tatapan temannya. Kemudian ia tertawa pendek dan berkata, “Benar-benar bodoh,
bukan?”
Jung Tae-woo hanya tersenyum kecil dan menyesap minumannya. “Bukankah
kita semua juga begitu?”
* * *
Naomi menutup ponsel dengan gerakan pelan dan jatuh terduduk di tempat
tidurnya. Mendadak saja ia merasa sedih walaupun ia terus berkata pada diri
sendiri bahwa ia telah melakukan hal yang benar. Bagaimanapun juga, ia
melakukan semua ini demi dirinya sendiri dan Danny.
Seperti yang dikatakannya tadi, ia butuh waktu untuk berpikir. Tentang masa
lalu dan masa depannya. Juga tentang Danny Jo. Saat ini Naomi benar-benar tidak
bisa berdiri di hadapan Danny dan menatap matanya tanpa merasa malu. Masa
lalunya terlalu kotor.
Sedangkan soal Danny... Naomi yakin Danny juga butuh waktu untuk berpikir.
Danny mungkin berkata bahwa perasaannya tidak berubah bahkan setelah ia tahu
tentang masa lalu Naomi, tetapi Naomi tidak yakin Danny akan tetap merasa seperti
itu setelah mendapat waktu yang cukup untuk benar-benar memikirkan semuanya.
Naomi ingin menberikan kesempatan kepada Danny untuk menarik diri sebelum
laki-laki itu menyesal.
Sebutir air mata jatuh di pipinya dan Naomi menghapusnya dengan cepat.
Kenapa ia menangis? Kenapa tiba-tiba hatinya terasa sakit? Naomi menghela napas
dalam-dalam dan mengembuskannya dengan pelan.
Jawabannya sederhana saja.
Karena ia, Naomi Ishida, dengan bodohnya telah menyerahkan hati dan jiwanya
kepada Danny Jo.
Bab Dua Puluh Dua
Seoul, Korea Selatan
Dua tahun kemudian
MATAHARI bersinar cerah dan langit terlihat biru ketika Danny mengendarai
mobil keluar dari gedung apartemennya. Musim semi benar-benar sudah tiba.
Sejenak Danny termenung. Musim semi sudah tiba lagi dan itu berarti sudah dua
tahun berlalu sejak terakhir kali ia bertemu dengan Naomi. Sejak terakhir kali ia
berbicara dengan Naomi. Sejak Naomi meninggalkannya.
Dering ponsel membuyarkan lamunannya. Ia melirik ponselnya dan memasang
earphone ke telinga. “Ya, Nuna. Ada apa?”
“In-Ho, aku butuh bantuanmu,” kata Anna Jo tanpa basa-basi.
Alis Danny terangkat heran. “Bantuan apa?”
“Aku ingin kau menjadi model untuk iklan koleksi pakaian musim panasku,”
kata kakaknya cepat. “Aku tahu, aku tahu... Sekarang ini kau pasti sangat sibuk
dengan pekerjaanmu sebagai sutradara. Oh, ngomong-ngomong, aku sudah melihat
musik video yang kaubuat untuk penyanyi baru itu dan aku harus mengucapkan
selamat kepadamu. Dia pasti akan terkenal gara-gara video musiknya. Tapi mari
kita kembali ke topik awal. Aku ingin kau yang menjadi modelku. Bagiku tidak ada
lagi model yang lebih cocok selain dirimu. Bagaimana?”
Danny tersenyum. “Tapi, Nuna, besok aku harus pergi ke Jepang.”
“Ke Jepang? Untuk apa? Ada pekerjaan di sana?”
Danny ragu sejenak. “Bukan. Aku hanya ingin menemui seseorang di sana.”
“Tapi tentunya tidak akan lama, bukan? Pemotretan untuk iklanku akan
dilakukan minggu depan. Tentunya kau sudah kembali saat itu?” tanya Anna penuh
harap.
Danny mendesah berlebihan, namun bibirnya tersenyum. “Baiklah, Nuna. Tapi
aku tetap akan meminta bayaran.”
“Siapa yang menyangka model dan sutradara terkenal sepertimu masih butuh
uang?” gerutu kakaknya.
Danny hanya tertawa.
“Ngomong-ngomong, siapa yang ingin kautemui di Jepang?”
Danny menghela napas. “Seseorang yang sangat ingin kutemui selama dua
tahun terakhir ini,” sahutnya pelan.
Kakaknya terdengar bingung. “Seseorang yang... Siapa?”
Danny tersenyum lagi. “Lain kali saja kuceritakan. Dah, Nuna.”
Tanpa menunggu jawaban kakaknya Danny memutuskan hubungan dan
melepas earphone dari telinga. Ia menghela napas sekali lagi.
Dua tahun terakhir ini sama sekali tidak mudah bagi Danny dan keluarganya.
Wanita yang dulu meyakini dirinya sebagai orang yang digosipkan dalam skandal
dengan kakak Danny, memang benar-benar mengira dirinyalah yang dimaksud
dalam gosip. Dan wanita itu sama sekali tidak keberatan dijadikan bahan gosip
karena ia memang bermaksud mendongkrak popularitasnya.
Walaupun ada beberapa pihak yang menerima pernyataan wanita itu, banyak
juga pihak yang masih meragukannya dan merasa bahwa sebenarnya memang ada
kejahatan yang terjadi. Namun karena tidak adanya bukti dan saksi yang kuat untuk
mendukung kecurigaan mereka, perlahan-lahan skandal itu pun mereda, walaupun
tidak sepenuhnya karena sampai sekarang pun masih ada orang yang
mempertanyakan kebenaran skandal itu.
Setelah skandal kakak laki-lakinya mereda dan memastikan keluarganya baikbaik
saja, Danny kembali ke London untuk melanjutkan pekerjaannya dengan
Bobby Shin. Setahun kemudian itu ia kembali ke Seoul dan memulai peran barunya
sebagai sutradara video musik. Video musik pertama yang digarapnya sukses besar
dan sejak itu banyak tawaran datang kepadanya.
Danny sudah menepati janjinya. Ia sudah memberikan waktu yang dibutuhkan
Naomi, ia sudah menjadi sutradara terkenal, dan ia tidak pernah mencoba
menghubungi Naomi selama ini. Sebenarnya yang terakhir itulah yang paling sulit
dilakukan. Tidak bertemu dan berbicara dengan gadis itu saja sudah cukup
membuat danny tertekan. Tetapi tidak tahu di mana Naomi, apa yang sedang
dilakukannya, bagaimana keadaannya, membuat Danny hampir gila. Itulah
sebabnya ia pergi mencari Chris Scott, mantan teman satu flat Naomi, ketika ia
kembali ke London dan menanyakan alamat Naomi di Jepang. Danny tersenyum
masam mengingat semua yang harus dilakukannya demi mendapatkan alamat itu
dari Chris.
Walaupun Danny sudah berhasil mendapatkan alamat Naomi, ia tidak pernah
berusaha menemui gadis itu. Karena ia sudah berjanji dan ia bermaksud menepati
janjinya.
Namun dua tahun bukan waktu yang singkat. Setidaknya bagi Danny. Tentu
saja dalam dua tahun ini keadaan sudah kurang-lebih kembali seperti sedia kala.
Skandal kakaknya sudah mulai terlupakan karena banyaknya skandal baru, yang
melibatkan artis-artis baru yang sedang terkenal. Nama Naomi sama sekali tidak
siangkut-pautkan dalam skandal kakak Danny. Keluarga Danny berhasil melewati
masa sulit itu dengan baik, bahkan ibunya juga sudah mulai berusaha
menjodohkannya seperti dulu. Segalanya terlihat baik.
Segalanya kecuali dirinya sendiri.
Danny tidak merasa baik. Dan ia tahu ia tidak akan pernah merasa baik sampai
Naomi kembali kepadanya. Karena itulah ia memutuskan untuk pergi ke Jepang.
Kalau Naomi tidak bisa datang kepadanya, ia yang akan pergi menemui gadis itu.
* * *
Anna Jo tersenyum puas sambil menurunkan ponsel dari telinga.
“Bagaimana?” tanya asistennya dengan nada penuh harap.
“Tentu saja dia setuju melakukannya. Adikku itu selalu bisa diandalkan,” kata
Anna senang. Lalu tiba-tiba teringat sesuatu. “Bagaimana dengan model wanitanya?
Mereka menerima tawaran kita?”
Baru-baru ini ia melihat iklan di salah satu majalah yang menampilkan seorang
model wanita yang menurutnya sangat cocok mewakili koleksi pakaian terbarunya.
Ia langsung menyuruh asistennya mencari tahu tentang model itu.
“Mereka belum memberikan jawaban,” kata si asisten, menjawab pertanyaan
Anna tadi.
Anna mendesah dan menggigit bibir. “Katakan pada mereka bahwa aku tahu
ini agak terburu-buru, tapi aku benar-benar berharap bisa bekerja sama dengan
model yang itu.” Ia terdiam sejenak, lalu bertanya, “Ngomong-ngomong, siapa
namanya?”
Si asisten melirik buku catatannya, lalu menjawab, “Naomi Ishida. Dan apakah
kau tahu dia pernah membintangi video musik Jung Tae-Woo bersama adikmu?”
* * *
Tokyo, Jepang
“Naomi,” panggil Keiko dari ruang duduk. “Kau sudah siap? Mereka sudah
menunggu kita di bawah.”
Tidak terdengar jawaban dari kamar. Keiko menghela napas dan berjalan ke
kamar tidur yang ditempatinya bersama saudara kembarnya. Ia melongokkan
kepala ke dalam kamar. “Naomi.”
Naomi sedang duduk di kursi meja tulis. Kedua kakinya diangkat ke atas kursi
dan dagunya ditopangkan ke lutut. Matanya menatap kosong ke depan dan jelasjelas
sedang melamun.
“Naomi,” panggil Keiko lagi, sedikit lebih keras.
Kali ini Naomi tersentak dan menoleh. “Oh, ada apa, Keiko?”
“Kau sudah siap? Mereka sudah menunggu kita di bawah,” kata Keiko.
Naomi mengerjap tidak mengerti.
Keiko masuk ke dalam kamar. “Kita akan makan malam di tempat Nenek
Osawa. Kau ingat?”
Yang dipanggil Kakek dan Nenek Osawa sebenarnya adalah pasangan tua yang
menempati apartemen di lantai bawah. Mereka juga adalah penanggung jawab
gedung apartemen yang hanya bertingkat dua itu dan sering sekali mengundang
semua penghuni lain—yang hanya berjumlah lima orang termasuk Naomi—makan
malam bersama.
“Ah, kau benar. Kenapa aku bisa lupa iu?” gumam Naomi sambil bangkit dari
kursi. “Tunggu sebentar. Aku akan segera siap.”
Keiko bisa melihat bahwa saudara kembarnya sedang risau. “Ada masalah apa,
Naomi?” tanyanya langsung.
Naomi berhenti di depan lemari pakaian dan berbalik menghadap Keiko. Ia
menggigit bibir, ragu, lalu akhirnya berkata, “Aku mendapat tawaran pembuatan
iklan di Korea. Iklan pakaian.” Ia berhenti sejenak, menarik napas. “Perancangnya
adalah kakak perempuan Danny.”
Keiko tahu siapa Danny yang dimaksud Naomi. Ketika Naomi kembali ke
Tokyo dua tahun lalu, Naomi telah menceritakan semuanya. Semuanya. Ia
menceritakannya sambil menangis tersedu-sedu. Termasuk rahasia gelap yang
sudah dipendamnya selama bertahun-tahun. Ia menceritakan semua itu kepada
Keiko pada hari pertama ia kembali ke Tokyo. Saat itu Keiko benar-benar
terguncang mendengar tentang kejadian mengerikan yang dialami Naomi dan sedih
membayangkan Naomi menanggung semua luka dan mimpi buruk itu sendirian.
Pada akhirnya Keiko hanya bisa berkata pada Naomi bahwa ia senang Naomi
menceritakan semua itu kepadanya dan berkata bahwa ia berharap kini Naomi
merasa sedikit lebih lega karena telah mencurahkan seluruh beban hatinya. Ia juga
meyakinkan Naomi bahwa semuanya akan baik-baik saja. Kemudian mereka berdua
pun menangis bersama.
Satu hal yang mereka sepakati bersama adalah bahwa orangtua mereka tidak
perlu tahu tentang masalah ini. Tidak ada gunanya. Malah hanya akan menambah
beban dan luka. Lagi pula orang yang melakukan kejahatan itu sudah meninggal
dunia dan bagaimaanpun juga Naomi bisa dibilang baik-baik saja.
Keiko juga tahu alasan Naomi kembali ke Tokyo adalah Danny Jo. Danny
adalah adik laki-laki penjahat yang menyakiti Naomi, namun Danny juga adalah
satu-satunya pria yang entah bagaimana berhasil menyelinap masuk dan memiliki
hati Naomi. Keiko mengerti dilema yang dihadapi saudara kembarnya. Sungguh, ia
mengerti. Tapi...
“Apakah menurutmu kakak perempuannya itu tahu tentang dirimu?” tanya
Keiko.
Naomi menggigit bibir. Danny tidak mungkin memberitahu kakak
perempuannya tentang masalah Naomi. Tidak mungkin. “Tidak,” sahutnya, lalu
mengangkat bahu. “Entahlah. Aku tidak tahu.”
“Jadi apakah kau menerima pekerjaan itu?” tanya Keiko lagi.
Naomi merentangkan kedua lengannya dan menjatuhkannya ke sisi tubuhnya.
“Aku tidak tahu. Aku belum memutuskan,” sahutnya. Ia mengangkat sebelah
tangan ke kening. “Kalau aku menerima pekerjaan itu, ada kemungkinan aku akan
bertemu kembali dengan Danny.”
“Lalu kenapa? Kau tidak ingin bertemu dengannya?”
Naomi menahan napas. Dan tiba-tiba saja, tanpa peringatan apa pun, setetes air
mata jatuh bergulir di pipinya. Ia duduk di pinggiran tempat tidur dan berusaha
mengendalikan diri.
“Naomi.” Keiko segera menghampirinya dan duduk di sampingnya. “Ada
apa?”
Naomi mencoba menarik napas dan mengembuskannya untuk mengendalikan
diri, namun tidak benar-benar berhasil. “Bodoh, bukan? Sudah dua tahun berlalu,
tapi aku masih tetap seperti ini setiap kali mendengar namanya. Aku masih belum
bisa melupakannya. Apa yang salah denganku?”
“Apa yang salah denganmu?” Keiko balas bertanya. “Naomi, tidak ada yang
salah dengna dirimu. Kau hanya mencintainya.”
Naomi berpaling ke arah Keiko. Ia membuka mulut, namun tidak ada kata-kata
yang keluar.
“Kau tidak pernah mengakuinya kepadaku, Naomi, tapi aku tahu apa yang
kaurasakan,” kata Keiko. “Alasan apa lagi selain itu yang membuatmu begitu tekun
mengikuti kursus bahasa Korea selama ini?”
Naomi menutup mulutnya.
Keiko melanjutkan, “Dua tahun adalah waktu yang cukup lama untuk berpikir
dan mengambil keputusan. Kau sudah berhasil menghadapi masa lalumu, mimpi
burukmu. Sekarang waktunya kau menghadapi apa yang ada dalam hatimu.”
Naomi menggigit bibir, lalu berkata lemah, “Tapi...”
“Dia bukan kakaknya.”
Kata-kata Keiko membuat Naomi terdiam. Kata-kata itu sama seperti yang
pernah diucapkan Danny.
Aku bukan kakakku. Aku tidak akan pernah menyakitimu.
Apakah kau percaya padaku?
Kuharap kau bisa. Kalau bukan sekarang, mungkin suatu hari nanti.
Oh, Naomi memang percaya. Naomi percaya padanya. Ia tahu Danny tidak
seperti kakaknya. Sungguh, ia tahu. Hanya saja... “Bagaimana dengan keluarganya?
Bagaimana kalau mereka tahu tentang kejadian itu?” tanyanya. “Tidak, tidak... Aku
belum siap.”
Keiko meremas pundak saudaranya. “Kau sendiri pasti sudah ribuan kali
memikirkan pertanyaan itu selama dua tahun terakhir ini dan aku yakin sampai
sekarang kau belum menemukan jawabannya. Apa yang membuatmu berpikir
bahwa menunggu satu hari, satu bulan, atau satu tahun lagi akan ada bedanya?”
“Mereka pasti akan membenciku,” gumam Naomi sambil menggeleng, “kalau
mereka sampai tahu yang sebenarnya.”
“Kenapa mereka akan membencimu?” tanya Keiko heran. “Naomi, bukan kau
yang bersalah di sini.”
Naoi tertegun. Ya, Keiko benar. Ia tidak bersalah dalam masalah itu. Ia tidak
bersalah...
“Tapi dua tahun sudah berlalu,” kata Naomi dengan suara bergetar. “Sudah
terlalu lama. Keadaan mungkin sudah berubah. Dia mungkin sudah berubah.
Segalanya mungkin sudah terlambat.”
Keiko merangkul pundak Naomi dan berkata, “Tapi kau tidak akan tahu
sebelum kau mencobanya, bukan? Kalau keadaan memang sudah berubah, kalau
dia memang sudah berubah, bukankah lebih baik kau mengetahuinya dengan pasti
daripada bertanya-tanya selama sisa hidupmu?”
Naomi menatap saudara kembarnya dan bertanya-tanya sejak kapan Keiko
berubah sebijak ini? Tetapi Keiko memang jenis orang yang selalu berpikir rasional.
Mungkin itu ada hubungannya dengan kegemaran Keiko membaca buku. Naomi
tahu apa yang dikatakan Keiko itu benar.
“Kau tahu aku benar, Naomi,” kata Keiko lagi, seolah-olah bisa membaca
pikiran suadara kembarnya.
Kali ini Naomi tersenyum, menghapus air matanya dengan telapak tangan dan
mengangguk. “Seperti biasanya, Keiko. Kau benar,” katanya. Lalu ia menghela
napas dalam-dalam. “Kurasa aku akan menerima pekerjaan itu.”
Keiko balas tersenyum. “Bagus kalau begitu. Sekarang ayo kita pergi makan
malam. Mereka pasti sudah kelaparan setengah mati karena menunggu kita.”
Bab Dua Puluh Tiga
TAKSI yang ditumpangi Danny berhenti di seberang gedung apartemen tua
bertingkat dua di pinggiran kota Tokyo.
“Di sinikah tempatnya?” tanya Danny kepada si sopir taksi dengan bahasa
Jepang yang terdengar agak payah dan terpatah-patah. Tetpai setidaknya si sopir
taksi mengerti dan ia mengangguk sebagai jawaban.
“Tunggu sebentar,” kata Danny kepada si sopir. Lalu menggerakkan tangan
untuk memperjelas maksudnya. “Tunggu sebentar di sini. Oke?”
Si sopir mengangguk-angguk dan memberi tanda oke dengan tangannya.
Danny keluar dari taksi dan memandang berkeliling, sebelah tangannya
terangkat ke mata untuk menahan sinar matahari. Daerah ini cukup sunyi, namun
bukan sunyi yang menakutkan. Rasanya seperti sunyi yang menenangkan. Ia
menunduk ke arah kertas lusuh di tangannya. Lusuh karena sudah sering dibuka
untuk dibaca lalu dilipat kembali. Kalau alamat yang diberikan Chris memang
benar, maka inilah gedung apartemen tempat tinggal Naomi. Dan yang harus
Danny lakukan sekarang adalah mencari apartemen bernomor 202 dan
mengetuknya.
Danny baru hendak menyeberangi jalan ketika sesuatu menangkap
perhatiannya. Dari seberang jalan ia bisa melihat seorang wanita keluar dari
apartemen di lantai dua. Dan jantung Danny seolah-olah berhenti berdetak sesaat
ketika ia mengenali wanita itu.
Naomi. Itu Naomi.
Mata Danny tidak terlepas dari sosok Naomi yang sedang menuruni tangga
batu di gedung apartemen itu. Danny begitu terpaku sampai butuh beberapa detik
baginya untuk menyadari bahwa ada seorang laki-laki yang menuruni tangga
bersama Naomi.
Danny menyipitkan mata untuk melihat lebih jelas. Siapa laki-laki itu? Apa
hubungannya dengan Naomi? Apa...?
Namun pertanyaan berikutnya tidak sempat terpikirkan oleh Danny karena
pada saat itu Naomi dan laki-laki itu sudah tiba di lantai dasar dan Danny bisa
melihat Naomi sedang tersenyum.
Tersenyum kepada laki-laki di sampingnya. Senyum yang tidak pernah dilihat
Danny sebelumnya. Orang-orang yang melihat senyum seperti itu tidak mungkin
salah mengartikannya. Senyum itu berarti... Oh, sialan. Sekaran glaki-laki itu
mengatakan sesuatu yang membuat senyum Naomi melebar, lalu tertawa.
Danny langsung merasakan sesuatu menghunjam jantungnya dan kakinya
seolah-olah tertancap ke tanah tempatnya berdiri. Ia tidak bisa bergerak. Seluruh
tubuhnya terasa membatu. Berat.
Naomi sama sekali tidak menyadari keberadaan Danny di seberang jalan. Ia dan
laki-laki itu berjalan meninggalkan gedung apartemen dan mulai berjalan
menyusuri jalan, menjauhi Danny. Lalu Danny melihat laki-laki itu mengulurkan
tangan dan menggandeng tangan Naomi seolah-olah ia berhak melakukannya.
Seolah-olah ia memberikan pernyataan kepada dunia bahwa Naomi adalah
miliknya.
Dan Naomi sama sekali tidak menarik kembali tangannya. Naomi membiarkan
laki-laki itu menggenggam tangannya. Mereka berdua terlihat sangat gembira dan
santai, seolah-olah mereka sudah sering melakukannya dan terbiasa melakukannya.
Danny tiba-tiba merasa sulit bernapas. Ia hampir yakin ada yang salah dengan
dirinya. Debar jantungnya tidak beraturan, dadanya mendadak terasa sangat, sangat
sakit. Dan nyeri. Ia terpaksa harus berpegangan pada taksi di sampingnya supaya ia
tidak jatuh terduduk di tanah. Dan di atas segalanya, ia merasakan desakan besar
untuk melukai seseorang. Terutama laki-laki yang berjalan bersama Naomi tadi.
Laki-laki yang menggandeng tangan Naomi dan tersenyum pada Naomi itu.
Oh, sialan...
Dalam kondisi setengah sadar, Danny masuk kembali ke taksi dan duduk
bersandar dengan mata terpejam. Seharusnya ia merasa senang. Naomi terlihat baik.
Naomi terlihat sehat. Naomi terlihat gembira. Naomi terlihat bahagia. Ya,
seharusnya Danny merasa senang dengan itu. Bukankah ia memang ingin melihat
Naomi baik-baik saja? Bukankah ia memang ingin melihat Naomi bahagia?
Tentu saja. Tentu saja, tapi...
Rasa sakit di dadanya semakin menjadi-jadi dan Danny meringis.
Ia memang ingin melihat Naomi bahagia, tetapi ia ingin Naomi bahagia
bersamanya. Hanya bersamanya.
Apakah ia sudah menunggu terlalu lama? Apakah dua tahun terlalu lama?
Apakah keputusannya untuk menunggu dua tahun telah membuatnya kehilangan
Naomi?
Apa yang harus dilakukannya sekarang?
Apa yang bisa dilakukannya sekarang?
Bab Dua Puluh Empat
“AKU tidak tahu ternyata kau bisa berbahasa Korea, Naomi.”
Naomi tersenyum mendengar komentar Anna Jo. “Hanya sedikit-sedikit,”
katanya merendah.
Ketika Naomi pertama kali tiba di lokasi pemotretan, ia harus mengakui bahwa
perutnya terasa mual karena sangat gugup. Sejuta pertanyaan berkelebat dalam
benaknya. Apa yang diketahui kakak perempuan Danny itu tentang Naomi? Seperti
apa Anna Jo? Apakah Naomi bisa bertanya tentang Danny Jo? Dan kalau bisa, apa
yang harus ditanyakannya?
Namun ketika ia akhirnya bertemu dengan Anna Jo, Naomi merasa kegugupannya
menguap sedikit. Anna Jo menatapnya dengan mata berkilat-kilat senang dan
Naomi yakin wanita itu tidak tahu apa-apa tentang masa lalunya.
Wajah Anna Jo sama sekali tidak mirip Danny Jo, tetapi ada beberapa kemiripan
yang jelas di antara kedua kakak-beradik itu. Misalnya senyum mereka, sikap
mereka yang ceria dan gaya bicara mereka yang bersahabat.
Anna Jo memiringkan kepalanya sedikit. “Kudengar kau pernah berpasangan
dengan adikku dalam video musik Tae-Woo dua tahun lalu,” katanya. “Kau masih
ingat Danny? Dia adikku.”
Seperti biasa, setiap kali nama Danny disebut-sebut napas Naomi langsung
tercekat dan jantungnya mengentak-entak dadanya. Ini dia kesempatan yang
ditunggu-tunggunya. Sekarang saat yang tepat untuk bertanya tentang Danny.
Naomi membuka mulut untuk bertanya, tetapi sebelum ia sempat bersuara, ia
mendengar seseorang memanggil namanya dengan penuh semangat. Ia menoleh
dan langsung mengenali Yoon, penata rias yang bekerja sama dengannya pada
pembuatan video musik di London tahun lalu.
Yoon berlari kecil menghampirinya sambil melambai-lambaikan tangan. “Halo,
halo, halo,” katanya dengan wajah berseri-seri. “Senang bertemu denganmu lagi.
Kau masih ingat padaku, bukan?”
“Oh, Onni1,” kata Naomi dalam bahasa Korea. “Apa kabar?”
Senyum Yoon melebar. “Astaga! Rupanya kau sudah belajar bahasa Korea.”
“Kalian berdua sudah saling kenal? Baguslah,” tanya Anna Jo sambil
memandang Naomi dan Yoon bergantian. “Sekarang sebaiknya kalian bersiap-siap.
Aku harus menelepon seseorang.”
Dan hilanglah kesempatannya untuk bertanya tentang Danny, pikir Naomi
sambil menatap Anna yang berbalik dan mengeluarkan ponsel dari tas tangannya.
Lalu Naomi menoleh ke arah Yoon yang menggandeng lengannya dengan gembira.
Ah, benar juga. Ia bisa bertanya pada Yoon. Yoon pasti tahu tentang Danny.
“Onni,” panggil Naomi agak ragu. “Ngomong-ngomong, kau tahu kabar Dan...”
“Jo In-Ho! Kau tahu sekarang sudah jam berapa? Kenapa kau belum datang?
Datang ke sini sekarang juga atau aku yang akan pergi ke sana dan menyeretmu
kemari.”
Suara Anna yang galak membuat Naomi dan Yoon serentak menoleh ke
arahnya. Tanpa berkata apa-apa lagi dan tanpa menunggu jawaban dari orang yang
diteleponnya, Anna langsung menutup ponselnya dengan kasar. Menyadari Naomi
sedang menatapnya dengan heran, Anna menyunggingkan senyum manis dan
berkata, “Pasanganmu untuk pemotretan ini akan segera datang. Tenang saja.”
Setelah berkata seperti itu, ia pun pergi.
Naomi tertegun. Matanya melebar kaget. Lalu perlahan-lahan ia menoleh
menatap Yoon. “Jo... In-Ho?”
Yoon mengangguk. “Danny yang akan menjadi pasanganmu dalam pemotretan
ini,” katanya sambil menarik Naomi ke ruang rias, sama sekali tidak menyadari
Naomi yang tiba-tiba berubah kaku. “Bukankah ini menyenangkan sekali? Seperti
reuni saja.”
Oh, dear. Naomi mulai panik. Bagaimana sekarang? Ia akan segera berhadapan
kembali dengan Danny Jo dan ia sama sekali tidak tahu apa yang harus dikatakannya
kepada laki-laki itu.
Bagaimana ini?
* * *
Danny mencengkeram kepala dengan satu tangan dan meringis. Ini benar-benar
seperti mimpi buruk. Kepalanya sudah berdenyut-denyut seperti ini sejak beberapa
hari terakhir—tepatnya setelah ia kembali dari Tokyo—dan pagi ini rasanya
sakitnya semakin parah. Pertama-tama ia terbangun karena telepon dari ibunya
yang menanyakan hal-hal yang tidak penting, lalu tidurnya terganggu lagi karena
telepon dari kakaknya yang langsung mengomelinya dan langsung menutup tele-
1 Panggilan wanita untuk wanita yang lebih tua/kakak.
pon tanpa memberinya kesempatan untuk berbicara.
Danny ingat ada jadwal pemotretan iklan kakaknya pagi ini, tetapi ia lebih suka
kalau ia tidak mengingatnya. Entah apa yang terjadi pada dirinya, tapi ia merasa
tidak bersemangat dan suasana hatinya selalu muram. Tidak ada yang baik di
matanya, tidak ada yang membuatnya senang, tidak ada yang bisa mengangkat
beban berat yang mengimpit dadanya.
Sambil mendesah berat, ia memaksa diri bangkit dari ranjang dan bersiap-siap.
Tadi kakaknya mengancam akan datang dan menyeretnya ke tempat pemotretan.
Danny yakin kakaknya pasti akan melaksanakan ancaman itu apabila memang
diperlukan. Danny jadi bertanya-tanya apa yang akan dikatakan kakaknya apabila
melihat Danny dalam keadaan kacau seperti ini.
Satu jam kemudian Danny tiba di lokasi pemotretan. Begitu ia masuk, kakaknya
langsung menghampirinya dengan raut wajah khawatir. “In-Ho, ada apa denganmu
akhir-akhir ini? Kenapa kau selalu terlihat berantakan dan pucat seperti ini?”
tanyanya dengan alis berkerut.
Danny memaksakan seulas senyum muram dan berkata, “Aku tidak apa-apa,
Nuna. Ayo kita mulai bekerja saja.”
“Kita harus bicara nanti,” kata Anna tegas. “Sekarang kita tidak punya waktu
lagi. Sebaiknya kautemui dulu pasanganmu dalam pemotretan ini. Dia ada di ruang
rias.” Anna masih menatap Danny dengan khawatir, tetapi kemudian ia pergi
memastikan semuanya sudah dipersiapkan dengan baik.
Pasangannya? Danny menghela napas dan mengembuskannya dengan keras.
Dengan enggan ia berbalik dan berjalan ke ruang rias. Ia tidak tahu apakah ia bisa
memaksa dirinya bersikap ramah atau tidak karena suasana hatinya benar-benar
buruk.
Di ambang pintu ruang rias, langkah kakinya tiba-tiba terhenti. Matanya
terpaku pada wanita yang sedang berdiri di depan cermin tinggi dan menertawakan
ucapan Yoon.
Naomi.
Otak Danny berputar-putar dan ia hampir tidak memercayai matanya sendiri.
Naomi ada di sini? Di sini? Tapi itu tidak mungkin. Apakah salah satu mimpinya
selama seminggu terakhir ini berhasil menyelinap ke dunia nyata? Apakah...?
Tetapi yang berdiri di sana itu memang Naomi. Tidak salah lagi.
Saat itu Naomi menyadari kehadiran Danny dan menoleh. Matanya yang hitam
menatap lurus ke mata Danny dan Danny bisa melihat kekagetan dalam mata itu.
Lalu bibir Naomi terbuka dan ia bergumam pelan, “Danny.”
Mendadak hati Danny terasa nyeri.
Nyeri karena merindukan Naomi.
Nyeri karena akhirnya Naomi berdiri di depannya, memandangnya dan
memanggil namanya.
Bab Dua Puluh Lima
KETIKA melihat Danny berdiri di ambang pintu, napas Naomi langsung tercekat. Ia
hanya bisa mematung menatap Danny. Ia bahkan tidak sadar dirinya memanggil
nama Danny.
Danny masih terlihat seperti dulu, walaupun gaya rambutnya kini agak berbeda
dan wajahnya terlihat pucat dan lelah. Naomi tidak tahu apa yang sedang
dipikirkan Danny karena ia tidak bisa membaca apa yang tersirat di balik mata
gelap yang menatapnya dengan tajam itu.
“Danny,” sapa Yoon ceria. “Lihatlah siapa di sini. Kau masih ingat pada Naomi,
bukan?”
Suara Yoon seolah-olah menyadarkan Danny. Ia tersenyum samar dan
bergumam, “Ya, aku ingat.”
“Menurutku kita harus minum-minum bersama. Untuk mengenang masa lalu
dan merayakan pertemuan kita kembali. Mungkin setelah sesi pemotretan ini?
Bagaimana menurut kalian?” tanya Yoon penuh semangat.
Baik Danny maupun Naomi tidak menjawab. Mereka hanya bertatapan. Lalu
Danny menoleh ke arah Yoon dan berkata, “Nuna, maafkan aku, tapi bisakah Nuna
meninggalkan kami berdua sebentar?”
“Oh.” Yoon mengerjap bingung. Ia menatap Danny, lalu beralih kepada Naomi.
“Tidak apa-apa, Onni,” gumam Naomi.
Sebelah alis Danny terangkat mendengar Naomi berbicara dalam bahasa Korea.
Setelah Yoon keluar, ruang rias itu pun diselimuti keheningan yang
menegangkan. Setidaknya menurut Naomi. Selama beberapa detik—yang terasa
seperti beberapa menit—tidak ada yang bersuara. Sampai sekarang Naomi sama
sekali tidak tahu apa yang akan dikatakannya kalau ia sudah bertemu dengan
Danny. Otaknya sama sekali tidak bisa berpikir.
“Jadi kau bisa berbahasa Korea,” kata Danny tiba-tiba. Dan ia mengatakannya
dalam bahasa Korea.
Naomi tersentak dan mengangkat wajah. “Ya.”
Hening lagi.
“Jadi bagaimana kabarmu?”
“Bagaimana kabarmu?”
Mereka berdua mengatakannya bersamaan dan rasanya aneh. Naomi tidak tahu
kenapa mereka berubah menjadi seperti ini. Sejak kapan mereka saling bersikap
canggung? Kenapa Danny berubah pendiam seperti ini? Apakah dua tahun
memang sudah terlalu lama? Apakah segalanya memang sudah berubah?
“Aku baik-baik saja,” kata Naomi, menjawab pertanyaan Danny lebih dulu.
“Dan kau sendiri?”
Danny menghela napas dalam-dalam dan menunduk sejenak. Lalu ia
mengangkat wajah dan menatap Naomi. “Aku... aku senang kau baik-baik saja,”
katanya singkat, tidak menjawab pertanyaan Naomi. “Kurasa sebaiknya aku
membiarkanmu bersiap-siap. Aku juga harus bersiap-siap. Kita harus bekerja.”
Naomi mengerjap kaget ketika Danny langsung berbalik dan berjalan ke arah
pintu yang ditutup ketika Yoon keluar tadi. Begitu saja? Setelah dua tahun berlalu
hanya itu yang ingin dikatakan Danny kepadanya?
Danny membuka pintu dengan gerakan cepat, mengagetkan dua oran gyang
sedang berdiri di balik pintu. Yoon dan Anna Jo melompat mundur dan terlihat
salah tingkah. Jelas sekali mereka baru tertangkap basah karena menguping.
Danny benar-benar akan pergi tanpa berkata apa-apa. Tidak, Naomi tidak bisa
membiarkannya. Kalau tidak sekarang, tidak akan ada lagi kesempatan lain. Dan
sebelum Naomi sempat berpikir lebih jauh, ia langsung berseru, “Apakah hanya itu
yang ingin kaukatakan padaku?” Ia tidak bisa membiarkan Danny pergi begitu saja.
Ia tidak tahu kenapa Danny bersikap seperti itu, tetapi ia tidak akan
membiarkannya. “Hanya itu?”
Sejenak Danny masih berdiri di ambang pintu, memunggungi Naomi,
menghadap Anna Jo dan Yoon yang masih berdiri di tempat walaupun mereka
berdua tidak berani memandang wajah Danny. Lalu dengan satu gerakan Danny
menutup pintu kembali dan berbalik menghadap Naomi.
“Tentu saja tidak,” cetus Danny. Ia berjalan menjauhi pintu dan menghampiri
Naomi. “Terlalu banyak yang ingin kukatakan padamu sampai aku tidak tahu harus
memulai dari mana.”
“Aku bisa menunggu sementara kau berpikir,” kata Naomi.
Danny mengacak-acak rambut dengan tangan, lalu berkacak pinggang,
menunduk sebentar untuk mengendalikan diri. “Selama ini aku menunggu karena
kupikir kau butuh waktu,” kata Danny dengan suara rendah. “Kukira aku sudah
membuat keputusan yang benar. Tidak, aku yakin aku sudah membuat keputusan
yang benar dengan membiarkanmu pergi. Kau memang butuh waktu untuk
berpikir. Dan kupikir pada saatnya nanti, kalau kau tidak bisa datang padaku, aku
yang akan pergi mencarimu. Tapi sekarang aku bertanya-tanya apakah aku sudah
menunggu terlalu lama. Apakah seharusnya aku tidak menunggu sampai dua tahun
baru pergi mencarimu?”
Naomi tidak berkata apa-apa. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang sedang
Danny bicarakan.
Danny mengembuskan napas dengan keras. “Katakan padaku, apa yang
dimilikinya yang tidak kumiliki?”
Alis Naoi berkerut bingung. “Apa? Siapa?”
“Laki-laki itu, Naomi,” cetus Danny sambil mengibaskan sebelah tangan dengan
tidak sabar. “Kenapa kau memilih dia? Dia... oh, sialan. Lupakan saja kata-kataku
tadi. Aku hanya bicara sembarangan.”
Danny berbalik dan berjalan dengan langkah lebar ke pintu. Dan ketika kali ini
ia membuka pintu dengan satu gerakan cepat, bukan hanya kakaknya dan Yoon
yang ada di balik pintu, tetapi juga beberapa staf lain. Mereka semua serentak
terkesiap dan melompat mundur ketika Danny tiba-tiba muncul di hadapan mereka
dengan wajah menakutkan.
Naomi sama sekali tidak mengerti apa yang dibicarakan Danny tadi. Laki-laki
mana? Siapa? Apa Danny sudah gila? Kekesalan Naomi pun terbit.
“Kenapa kau marah-marah?” serunya kepada Danny. “Sebenarnya apa yang
sedang kaubicarakan? Laki-laki mana yang kaumaksud? Aku benar-benar tidak
mengerti. Bicaralah yang jelas.”
Sekali lagi Danny membanting pintu di hadapan semua orang yang berusaha
menguping itu dan berbalik menghadap Naomi. “Jangan pura-pura tidak mengerti,
Naomi. Kau tahu jelas siapa yang kumaksud. Aku melihat kalian berdua dengan
mata kepalaku sendiri. Apakah kau ingin aku menjelaskan setiap detailnya?”
Naomi membalas tatapan Danny dengan mata menyala-nyala. “Ya,” katanya
keras. “Jelaskan padaku karena aku tidak mengerti apa yang sedang kauocehkan.”
“Minggu lalu aku pergi ke Tokyo untuk mencarimu,” kata Danny. “Dan ketika
aku tiba di gedung apartemenmu, aku melihatmu bersama seorang laki-laki. Dan
kalian berdua...”
“Kau datang ke apartemenku?” sela Naomi kaget. “Dari mana kau tahu tempat
tinggalku?”
“Chris yang memberitahuku. Tapi...”
“Chris? Chris Scott?”
“Ya, Chris. Tapi bukan itu intinya. Aku melihatmu keluar dari gedung
apartemenmu bersama seorang laki-laki dan... dan kalian terlihat... terlihat... akrab.”
Alis Naomi terangkat. “Apa? Aku tidak merasa pernah keluar dari apartemen
bersama laki-laki mana pun dan terlihat akrab seperti istilahmu itu,” bantah Naomi.
“Lagi pula apa maksudmu dengan akrab?”
Danny mengernyit, seolah-olah kenangan yang berkelebat dalam benaknya
sama sekali bukan sesuatu yang menyenangkan. “Kau benar-benar ingin aku
menggambarkannya?” tanyanya.
“Ya, karena aku yakin aku jelas tidak pernah melakukan apa yang kaukatakan
itu. Itu hanya berarti satu hal: Kau salah lihat.”
“Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, Naomi,” kata Danny sambil
menjejalkan kedua tangan ke saku celananya dengan sikap frustrasi. “Aku bisa
mengenalimu di mana saja. Dan aku melihatmu di sana. Tersenyum pada laki-laki
itu dan menggandeng tangannya seolah-olah...”
“Itu bukan aku,” sela Naomi sambil melipat tangan di depan dada. Sungguh,
Danny sudah gila. Itu satu-satunya penjelasan untuk ocehannya yang tidak ada
ujung-pangkalnya ini.
Danny mendesah kesal. “Bukan kau? Kalau yang kulihat itu bukan kau, lalu
siapa? Memangnya kau punya saudara kem...”
Mata Naomi menyipit tajam, lalu membentak, “Ya! Aku memang punya
saudara kembar dan aku yakin aku sudah pernah mengatakannya padamu!”
* * *
Bahkan sebelum Naomi membuka mulut untuk membentaknya, Danny sudah
menyadari apa yang terlupakan olehnya. Ia melupakan kenyataan bahwa Naomi
memang memiliki saudara kembar. Danny tertegun menatap Naomi yang balas
menatapnya dengan mata menyala-nyala marah. Kalau begitu yang dilihatnya
keluar dari gedung apartemen itu adalah...
Seolah-olah bisa membaca pikiran Danny, Naomi berkata lagi, “Sudah pasti
yang kaulihat itu adalah saudara kembarku, Keiko. Asal kau tahu, wajah kami
memang sangat mirip.”
Danny masih agak kesulitan menemukan suaranya. Kalau itu memang saudara
kembar Naomi, berarti selama seminggu ini ia sudah mengacaukan diri sendiri
tanpa alasan. Rasa lega langsung membanjiri dirinya. “Kupikir...”
“Kau tidak berpikir,” sela Naomi, jelas-jelal masih marah. “Tapi coba sekarang
pikirkan ini. Kalau aku melakukan apa pun yang kaukatakan tadi, kenapa aku
repot-repot belajar bahasa Korea? Kenapa pula aku datang ke sini dan menerima
pekerjaan ini walaupun aku tahu Anna Jo adalah kakakmu?” Naomi berhenti untuk
menarik napas, lalu mendengus dan berjalan melewati Danny.
Tetapi Danny menangkap pergelangan tangan Naomi dan menahannya. “Jadi
kau memang sengaja datang ke sini untuk mencariku?” tanyanya sambil menunduk
menatap Naomi. “Kenapa?”
Naomi berusaha melepaskan diri, tetapi Danny tidak membiarkannya.
Akhirnya Naomi menyerah dan mendongak menatap Danny. “Tadi kaubilang kau
pergi ke Jepang mencariku. Kenapa?” ia balas bertanya.
Danny mendapati dirinya menatap ke dalam mata Naomi. Sejenak ia ragu,
apakah ia harus mengatakan yang sebenarnya atau apakah hal itu terlalu berisiko.
“Kenapa?” tanya Naomi sekali lagi.
“Karenaaku merindukanmu,” kata Danny pelan.
Mata Naomi melebar kaget dan napasnya tercekat.
“Karena aku membutuhkanmu,” lanjut Danny. “Karena kurasa kau sudah
cukup lama berpikir dan sekarang saatnya kau kembali padaku. Karena aku ingin
kau tahu bahwa perasaanku sekarang masih sama seperti dulu. Dan karena aku
ingin tahu apakah kau sudah percaya padaku, walaupun hanya sedikit.”
Naomi membuka mulut, tetapi tidak ada yang keluar.
Ia juga tidak tahu apa yang harus dikatakannya.
“Aku ingin kau percaya padaku,” lanjut Danny, masih menggenggam tangan
Naomi. “Aku ingin kau percaya ketika kukatakan bahwa aku tidak akan pernah
menyakitimu. Kalau perlu, aku bersedia menghabiskan sisa hidupku menebus apa
yang dilakukan kakakku padamu. Asal kau tetap bersamaku. Di sisiku.”
Naomi menggeleng-gelengkan kepala. Tidak, tidak... Ia tidak pernah
menyamakan Danny dengan kakaknya dan ia tidak pernah menyalahkan Danny
atas apa yang dilakukan kakaknya. Ia tidak ingin Danny merasa bersalah dan ia
tidak ingin Danny menebus apa pun. Tetapi saat ini ia masih tidak mampu bersuara
karena air mata mulai mencekat tenggorokannya.
“Dan di atas segalanya,” lanjut Danny, “aku ingin kau percaya padaku ketika
kukatakan bahwa aku mencintaimu.”
Naomi hampir yakin jantungnya berhenti berdebar sesaat dan ia harus
memaksa dirinya bernapas karena kalau tidak ia pasti akan pingsan di tempat.
Otaknya juga mendadak kosong sejenak. Selain suara Danny dan debar jantungnya
sendiri yang kembali berdebar keras, Naomi tidak bisa mendengar apa-apa lagi.
Dunia seolah-olah mengecil di sekeliling mereka berdua.
“Itulah yan gingin kukatakan padamu pada saat terakhir kali kita bertemu,”
kata Danny. Matanya tidak lepas dari mata Naomi. “Itulah yang ingin kukatakan
padamu.”
Sebutir air mata jatuh ke pipi Naomi dan ia menghapusnya dengan tangannya
yang bebas. Kemudian ia menunduk menatap tangannya yang lain yang masih
berada dalam berada dalam genggaman Danny. Perlahan-lahan ia menarik
tangannya. Kali ini Danny membiarkannya, walaupun dengan enggan. Danny sama
sekali tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Naomi. Ia merasa sangat gugup.
Jantungnya berdebar begitu keras. Ia sudah mencurahkan seluruh perasaannya. Ia
sudah melakukan semua yang bisa dilakukannya. Sekarang semua terserah pada
Naomi.
Hidupnya... hidupnya kini ada di tangan Naomi.
Naomi kembali mendongak menatap mata Danny. Air matanya tidak bisa
berhenti mengalir. Perlahan-lahan ia maju selangkah mendekati Danny, lalu
berjinjit, dan melingkarkan kedua lengannya di leher Danny, dan menyandarkan
dagu di bahunya.
Sejenak Danny tetap diam tak bergerak. Ia terlalu tercengang untuk bergerak. Ia
terlalu takut untuk bergerak. Ia takut ini hanya mimpi. Ia takut kalau ia bergerak
maka mimpi ini akan buyar dan Naomi akan meninggalkannya. Tetapi ia bisa
merasakan kehangatan Naomi, bisa merasakan debar jantung Naomi di dadanya,
bisa mendengar tarikan napas Naomi di telinganya. Dan ia bisa mendengar suara
Naomi...
“Aku,” gumam Naomi lirih, “percaya padamu.”
Kata-kata itu hanya berupa bisikan, tetapi itu sudah cukup bagi Danny. Ia
memejamkan mata sementara rasa lega dan bahagia membanjiri dirinya. Rasanya
seolah-olah beban berat yang mengimpit dadanya selama ini akhirnya terangkat.
Akhirnya ia bisa bernapas.
Saat itulah ia baru bisa menggerakkan kedua tangannya yang sejak tadi terkulai
di sisi tubuhnya. Dan ketika kedua lengannya melingkari tubuh Naomi, ia merasa
benar. Ia merasa mulai sekarang ia akan baik-baik saja. Mulai sekarang segalanya
akan baik-baik saja.
Lalu ia mendengar Naomi kembali berbisik, “Dan... terima kasih karena sudah
menungguku.”
* * *
“Mereka berpelukan,” bisik salah seorang kru yang mengintip dari lubang kunci
pintu ruang rias.
Mata Anna Jo melebar. Ia termasuk orang yang ikut berdiri bergerombol
bersama para kru yang penasaran dengan apa yan gterjadi di balik pintu ruang rias.
“Mereka berpelukan?” tanyanya penuh semangat. Lalu keningnya berkerut samar.
“Astaga... Jangan-jangan gadis itulah alasan Danny berubah senewen selama ini.
Mungkinkah? Jadi itu orangnya...”
“Sekarang mereka berpandangan,” kru yang sedang mengintip itu kembali
melaporkan dan semua orang di belakangnya serentak ber-“oh” dan “ah” dengan
gembira. “Gadis itu menangis, tapi juga tersenyum. Dan sekarang Danny
menyentuh pipinya dan...”
Tiba-tiba ponsel Anna berbunyi, membuatnya terkesiap keras dan terlompat
kaget. Sambil menggerutu ia buru-buru menjauh dari kerumunan orang yang
penasaran itu dan menempelkan ponsel ke telinga. “Ya.? Ibu? Ada apa?”
Ia berhenti sejenak dan mendengar apa yang dikatakan ibunya. “Ya, In-Ho ada
di sini. Dia tidak menjawab telepon? Mungkin dia mematikannya. Memangnya ada
apa Ibu mencarinya?... Mau menjodohkannya lagi? Ya ampun. Dengar, sebaiknya
lupakan saja niat Ibu untuk menjodohkan In-Ho. Aku jamin dia tidak akan mau....
Kenapa tidak mau? Karena sudah ada gadis yang disukainya. Itulah sebabnya....
Aku juga baru tahu.... Tenang saja, kurasa In-Ho akan segera memperkenalkannya
kepada Ibu. Oh ya, Ibu tidak punya masalah dengan orang Jepang, bukan?”
Epilog
“JADI katakan padaku bagaimana caramu memaksa Chris memberikan alamatku di
Jepang kepadamu. Aku sudah melarangnya memberitahumu dan aku yakin dia
tidak memberikannya begitu saja.”
“Tentu saja tidak. Tapi aku juga bukan orang yang gampang menyerah.”
“Jadi apa yang kaulakukan?”
“Aku terus merecokinya setiap hari. Sampai suatu hari dia mulai kesal padaku
dan berkata bahwa kalau aku bersedia memenuhi satu permintaannya, dia akan
memberikan alamatmu kepadaku.”
“Permintaan apa?”
“Dia ingin aku menemaninya ke pesta.”
“Pesta? Hanya itu?”
“Pesta khusus para gay.”
“Oh.”
“Hanya itu yang bisa kaukatakan? „Oh‟?”
“Kau menyetujuinya?”
“Karena aku ingin mendapatkan alamatmu, ya, aku menyetujuinya.”
“Oh... Kau menikmati pestanya?”
“Kau tidak mungkin bisa membayangkan keadaannya.”
“Astaga. Ini lucu sekali. Tapi kau berhasil melewati pesta itu dengan selamat,
bukan?”
“Nyaris saja.”
“Lagi pula Chris tidak mungkin membiarkan sesuatu terjadi padamu. Aku
yakin dia pasti menjagamu dengan baik. Dia menyukaimu, kau tahu?”
“Ya Tuhan, apakah kau harus mengatakannya? Maksudku, aku benar-benar
tidak perlu tahu soal itu.”
“Tenang saja. Chris bukan orang yang akan mengkhianati sahabat sendiri. Dia
tidak akan merampas milik sahabatnya. Dia sendiri yang berkata begitu. Jadi selama
kau tetap bersamaku, maka kau akan aman.”__

Sekian

0 Response to "Spring in London"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified