Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Pelarian I

Bintang-bintang di langit mulai memudar. Langit malam yang hitam mulai digantikan oleh langit pagi yang biru cerah. Matahari yang bersembunyi di balik gunung yang berkabut putih tebal mulai menampakkan wajahnya yang cerah. Sekelompok awan putih mengintip malu-malu dari balik gunung yang tinggi menjulang langit. Langit timur pun mulai memerah pertanda malam mulai berganti pagi. Titik-titik air di permukaan daun tampak berkilauan seperti permata. Pohon-pohon di halaman Istana Urza meneteskan embunnya yang bersinar keemasan tertimpa sinar matahari. Di kejauhan terdengar suara serangga bersahut-sahutan. Perlahan-lahan suara serangga itu menghilang seiring dengan langit yang semakin terang.

Suasana di Istana masih sunyi senyap. Hanya suara kicau burung yang terdengar. Penghuni Istana seakan-akan masih terlelap dalam dunia mimpi mereka. Penjaga pintu gerbang berdiri sambil terkantuk-kantuk. Sesekali kepala mereka mengangguk-angguk. Ketika sinar matahari mulai menerangi bumi, mereka terbangun dan menantikan penjaga lainnya yang akan mengambil alih tugas mereka.

Matahari semakin menampakkan wajahnya dan dengan sinarnya yang terang, ia menyinari seluruh dunia. Bersamaan dengan itu kegiatan manusia pun dimulailah. Demikian pula kegiatan harian di Istana. Pelayan-pelayan mulai berlalu lalang dan saling mengucapkan selamat pagi. Namun suasana di Istana masih belum ramai. Semua orang seakan-akan menjaga kesunyian pagi itu. Satu-satunya yang ramai di Istana Urza adalah burung-burung yang terbang di sekitar Istana sambil menyanyikan lagu mereka dengan penuh suka cita.

Udara yang dingin terus merambati bumi.

Dalam keheningan yang menyelimuti Istana Urza itu, tiba-tiba terdengar suara jeritan seseorang. Jeritan itu membuat semua orang terkejut dan mereka lebih terkejut ketika melihat seorang wanita tua berlari di sepanjang koridor menuju Ruang Duduk.

Wanita itu terus berlari sambil berteriak-teriak, “Paduka Raja! Gawat, Paduka!” Wanita itu demikian tergesa hingga hampir semua orang ditabraknya. Tetapi ia terus berlari sekencang-kencangnya.

Ketika ia tiba di Ruang Duduk, seorang prajurit bertanya, “Apa yang terjadi, Maryam. Mengapa engkau berlari-lari seperti orang dikejar setan?”

“Gawat, aku harus bertemu Paduka saat ini juga,” kata Maryam menghiraukan pertanyaan itu.

“Sebenarnya apa yang telah terjadi, Maryam. Mengapa engkau tergesa-gesa seperti itu? Paduka baru saja tiba di sini dan engkau hendak menganggunya,” kata prajurit itu.

Sekali lagi wanita itu mengacuhkan pertanyaan pria itu. “Aku harus bertemu Paduka Raja saat ini juga! Ini masalah yang sangat gawat.”

“Apakah terjadi sesuatu pada Puteri?”

“Menepilah dan biarkan aku menemui Paduka saat ini juga,” kata Maryam bersikeras.

Tiba-tiba pintu Ruang Duduk terbuka dan seorang pria yang telah tua namun raut wajahnya menunjukkan wibawa, muncul. Pria itu berdiri di ambang pintu sambil menatap kesal kepada kedua orang yang sedang berdebat itu.

“Mengapa kalian pagi-pagi seperti ini telah bertengkar sampai suara ribut kalian mengangguku?”

“Maafkan kami, Paduka. Maryam mengatakan ia ingin bertemu Anda karena suatu urusan yang sangat gawat,” lapor prajurit itu.

“Masalah apa, Maryam?” tanya Raja Phyllips.

“Masalah yang sangat gawat, Paduka,” kata Maryam berhati-hati, “Putri Alviorita menghilang.”

“APA!!!?” pekik Raja.

Mendengar seruan terkejut Raja itu, Maryam semakin berhati-hati dalam mengucapkan kata-katanya. “Saya tidak menemukan Tuan Puteri di kamarnya.”

“Apakah engkau telah mencarinya di halaman Istana?” sela Raja.

“Saya telah mencarinya ke seluruh penjuru Istana ini, Paduka. Tetapi saya tetap tidak dapat menemukan Tuan Puteri. Saya hanya menemukan secarik kertas ini tergeletak di meja belajar Tuan Puteri,” kata Maryam sambil menyerahkan surat yang sejak tadi dibawanya kepada Raja Phyllips.

Raja mengambil surat itu dan membuka lipatan kertasnya.

Kepada Ayahanda yang tercinta,

Maafkan Alviorita, Papa. Alviorita pergi diam-diam karena Alviorita tidak setuju dengan rencana Papa. Alviorita tidak ingin menikah dengan pria yang belum pernah Alviorita kenal bahkan belum pernah Alviorita lihat.

Alviorita

Raja Phyllips meremas kertas itu dan menatap tajam pada wanita tua yang menanti cemas. “Apakah engkau telah mencarinya?”

“Saya telah mencari Tuan Puteri di mana-mana, Paduka. Tetapi saya tetap tidak dapat menemukan Tuan Puteri,” kata Maryam.

“Bagus!” kata Raja murka, “Putriku meninggalkan Istana dan engkau tidak mengetahui ke mana ia pergi.”

Kemarahan di suara Raja membuat Maryam merasa cemas. “Maafkan saya, Paduka. Memang saya seharusnya mengetahui ke mana Tuan Puteri pergi. Tadi pagi ketika saya ke kamar Tuan Puteri, Tuan Puteri telah menghilang.”

“Apakah ia tidak pernah mengatakan sesuatu tentang pernikahan kepadamu?”

“Tuan Puteri tidak pernah mengatakan apa-apa kepada saya mengenai itu, Paduka. Tuan Puteri juga tidak pernah mengatakan ia berniat pergi diam-diam.”

“Sekarang Alviorita telah pergi dan kita harus mencarinya. Aku tidak peduli apakah ia mau pulang atau tidak. Kita harus mencarinya,” kata Raja.

Maryam menatap surat di genggaman Raja Phyllips.

“Ia harus sudah berada di sini dalam dua hari.”

“Maafkan sikap lancang saya, Paduka. Tetapi bila Anda tidak keberatan, saya ingin mengetahui mengapa besok lusa Tuan Puteri harus berada di sini juga apa hubungan pernikahan dengan perginya Tuan Puteri Alviorita,” kata Maryam hati-hati.

Raja Phyllips mengacuhkan pertanyaan itu. Saat ini satu-satunya yang dipikirkannya hanyalah mencari putrinya dalam dua hari dan dalam dua hari itu putrinya harus ditemukan.

Sekali lagi Raja menatap surat dalam genggamannya. “Segera panggil Wolve,” katanya pada prajurit yang sejak tadi hanya diam terpaku mendengar kata-kata Raja Phyllips yang penuh kemarahan dan kecemasan.

Prajurit yang mendapat perintah itu bergegas pergi.

Maryam mengawasi wajah Raja yang menampakkan kemarahannya. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

Selama ini hubungan Raja Phyllips dengan putri satu-satunya, Alviorita tidak begitu akrab. Setiap hari dilalui Alviorita seorang diri bersama Maryam. Sementara itu Raja Phyllips selalu disibukkan urusan kerajaan yang terus bertambah setiap menitnya. Kesibukkan Raja membuat Alviorita yang telah kehilangan ibunya saat ia masih kecil, semakin kehilangan kasih sayang. Satu-satunya kasih sayang yang didapatkannya hanyalah dari pengasuhnya, Maryam. Tetapi itu masih belum cukup. Alviorita memang telah menganggap Maryam sebagai ibunya tetapi ia tetap tidak dapat menggantikan kedudukan ibu kandungnya dengan Maryam. Keadaan yang terus berlangsung seperti ini membuat Alviorita menjadi seorang gadis yang sulit diatur.

Sebagai putri tidak ada yang dapat melawan kehendaknya. Satu-satunya yang dapat melawannya hanyalah Raja. Tetapi Raja sendiri jarang memperhatikan segala kegiatan putrinya. Raja Phyllips dan Alviorita juga jarang bertemu. Dan bila mereka bertemu suasana yang ada bukanlah suasana yang akrab tetapi suasana yang kaku dan tegang. Hal ini dikarenakan keduanya mempunyai keras kepala yang tidak mau segala kehendaknya ditentang. Selain itu mereka terlalu jarang bertemu dan jarang sekali berbicara. Kesibukan Raja membuat hubungannya dengan putrinya semakin hari semain renggang.

Maryam tidak tahu apa yang telah terjadi sehingga membuat Alviorita meninggalkan Istana. Tetapi ia dapat menduga Alviorita pergi karena suatu penyebab yang sangat serius.

Selama ini Alviorita tidak pernah terlihat bosan apalagi ingin meninggalkan Istana. Walaupun ia kesepian tetapi ia tidak pernah menunjukkan keinginannya untuk meninggalkan Istana dengan diam-diam. Seperti keluarga raja umumnya, bila Alviorita pergi, ia selalu dikawal prajurit. Tidak pernah Alviorita meninggalkan Istana seorang diri. Tetapi pagi ini Alviorita telah meninggalkan Istana tanpa ada yang mengetahuinya. Ia pergi sendiri. Dan tidak seorangpun yang tahu kapan ia pergi. Bahkan Maryam yang selalu bersama Alviorita.

Maryam hanya tahu satu hal yaitu Alviorita telah menghilang ketika beberapa saat yang lalu ia memasuki kamar Alviorita untuk membangunkan gadis itu. Ia telah mencari gadis itu ke mana-mana, ia tetap tidak dapat menemukan Alviorita. Seakan-akan Alviorita lenyap ditelan bumi.

Tidak ada yang dapat dilakukan Maryam selain menanti keputusan Raja Phyllips yang lain. Maryam sudah tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya. Biasanya pagi-pagi sekali ia membangunkan Alviorita untuk mempersiapkannya menghadapi sederetan kegiatan padat yang seakan-akan tiada hentinya. Tetapi sekarang sang Putri telah menghilang.

Raja menyadari Maryam menanti tugas yang akan diberikannya. “Mengapa engkau masih diam saja di sini? Pergilah dan cari Alviorita. Aku yakin ia belum jauh dari Istana.”

Maryam terkejut mendengar kata-kata itu. Ia menyadari apa yang dikatakan Raja benar. Tidak mungkin Alviorita telah berada jauh dari Istana. Alviorita tidak mungkin pergi pagi-pagi sekali karena ia paling takut gelap.

Entah mengapa Alviorita tidak berani berada dalam kegelapan. Walaupun keadaan suatu ruangan remang-remang, ia tidak mau memasukinya apalagi bila ruangan itu benar-benar gelap gulita.

Segera Maryam meninggalkan Raja Phyllips dan mulai mencari Alviorita di sekeliling Istana. Tetapi ia tidak akan pernah dapat menemukan gadis itu. Karena gadis itu sekarang tidak lagi berada di dekat Istana.

Alviorita terbaring dalam sebuah kamar yang luas.

Kepalanya terasa pening saat ia berusaha mengenali ruangan tempat ia berada. Alviorita menyadari ia berada di sebuah kamar yang tak dikenalnya.

Jelas ruangan tempatnya berada kini bukan ruangan di Istana. Perabotan-perabotan tua di ruangan itu berbeda dengan yang ada di Istana Urza. Bentuk ruangannya juga berbeda.

Ruangan ini bernuansa lembut dengan ukiran-ukirannya yang menggambarkan dedaunan yang rimbun. Sedangkan ruangan di Istana Urza bernuansa tegas dengan ukiran-ukiran binatang pada perabotannya.

Alviorita tidak tahu bagaimana ia bisa berada di tempat ini. Ia tidak tahu di mana ia kini berada. Alviorita hanya tahu mengapa ia bisa berada di luar Istana sendirian.

Kemarin sore, ayahnya memanggilnya ke Ruang Perpustakaan. Alviorita tidak tahu mengapa ayahnya tiba-tiba memanggilnya. Selama ini ayahnya tidak pernah mempedulikannya apalagi memperhatikannya. Yang diperhatikan Raja Phyllips hanya urusan kerajaan saja.

Meskipun ia malas menemui ayahnya tetapi ia tetap menemui Raja di Ruang Perpustakaan. Rasa ingin tahunya lebih besar dari rasa malasnya.

Melihat ayahnya tengah menghadapi setumpuk kertas ketika ia tiba di Ruang Perpustakaan, Alviorita merasa jengkel.

“Papa memanggilku?” tanya Alviorita malas.

Raja memalingkan kepalanya dari tumpukan kertas di hadapannya. “Duduklah,” kata Raja sambil mengarahkan pena bulunya ke kursi di hadapannya.

Alviorita duduk di kursi yang ditunjuk ayahnya. Ia menanti kata-kata ayahnya.

“Sebelumnya aku ingin engkau mengerti. Masalah ini sangat serius,” kata Raja memulai percakapan.

“Aku akan mendengarkan dengan baik,” kata Alviorita meyakinkan ayahnya.

Raja tersenyum dan mengangguk. Namun ia tetap tidak mengatakan apa-apa. Ia menggerak-gerakkan pena bulunya dengan gelisah.

Melihat kegelisahan ayahnya, Alviorita hanya diam saja. Ia tetap diam menanti kalimat selanjutnya.

“Aku ingin engkau mempersiapkan dirimu menghadapi pesta pertunanganmu yang akan diadakan tiga hari lagi.”

Mendengar kalimat itu, Alviorita terlonjak dari kursinya. Ia menatap lekat-lekat wajah ayahnya yang tampak tenang menghadapi keterkejutannya.

“Apa yang Papa katakan?” tanyanya terkejut.

“Engkau harus mempersiapkan dirimu menghadapi pesta pertunanganmu yang akan diadakan tiga hari lagi,” ulang Raja Phyllips.

“Pertunangan?” ulang Alviorita.

Alviorita merasa kepalanya pening. Ia merasa semua ini bagaikan mimpi buruk saja. Dan bila benar ini semua adalah mimpi buruk, ia ingin segera terbangun dari tidurnya. Tetapi Raja menganggukkan kepalanya.

Alviorita tidak percaya dengan semua ini. Bagaimana ia tiba-tiba dapat mempunyai seorang tunangan kalau ia sendiri tidak pernah jatuh cinta pada lelaki.

“Papa bohong. Tidak mungkin aku mempunyai tunangan,” kata Alviorita gemetar.

Sekali lagi Raja menggeleng. “Aku tidak bohong. Engkau akan bertunangan tiga hari lagi dan persiapan pesta pertunanganmu itu sudah hampir selesai.”

Kata-kata yang diucapkan dengan penuh keyakinan itu membuat Alviorita semakin terpana.

“Tidak mungkin,” kata Alviorita tidak percaya.

“Ini benar. Engkau harus mempersiapkan dirimu.”

Kata-kata Raja Phyllips yang terdengar meyakinkan itu membuat Alviorita semakin merasa tak berdaya.

Alviorita masih sukar mempercayai apa yang didengarnya. Semula ia menduga ayahnya memanggilnya ke Ruang Perpustakaan hanya untuk membicarakan masalah kerajaan, seperti biasanya. Bukan hal yang aneh lagi bagi Alviorita sebagai Putri Mahkota, bila ia harus banyak belajar dari ayahnya agar dapat menjadi Ratu yang baik bagi rakyatnya. Tetapi apa yang dikatakan ayahnya ini benar-benar di luar dugaannya.

Sedikitpun tidak pernah terbersit dalam pikirannya bahwa ayahnya telah mempersiapkan seorang tunangan untuknya.

Sekarang melihat keseriusan dalam wajah ayahnya maupun kata-katanya yang meyakinkan itu, Alviorita mau tidak mau harus mempercayai hal yang menggemparkan hatinya ini.

“Tidak mungkin,” ulang Alviorita, “Aku tidak mungkin mempunyai tunangan.”

“Itu benar. Sejak kecil engkau sudah mempunyai tunangan.”

Alviorita menggelengkan kepalanya. Ia semakin sukar mempercayai apa yang didengarnya. Bagaimana ia dapat mempunyai tunangan sejak kecil sedangkan ia masih ingat ia tidak pernah akrab dengan orang lain di luar Istana.

“Ini pasti hanya mimpi. Mimpi terburuk yang pernah aku alami.”

Raja menggelengkan kepalanya dengan mantap. “Bukan. Ini memang nyata. Tiga hari lagi engkau akan menghadapi pesta pertunanganmu.”

Alviorita merasa semua ini seperti pertunangan yang konyol. Bagaimana mungkin ia dapat menikah dengan pria yang belum pernah dijumpainya. Semua ini terasa menggelikan tetapi dalam keadaan seperti ini, pertunangan ini terasa seperti mimpi buruk yang paling buruk yang pernah dialami Alviorita.

“Aku tidak mau. Dan aku tidak akan pernah setuju dengan ini semua. Bagaimana aku dapat bertunangan tanpa aku mengetahui siapa tunanganku itu,” kata Alviorita keras kepala.

“Engkau pernah berjumpa dengannya,” kata Raja tenang.

Alviorita terdiam. Ia berusaha mengingat setiap pria yang ia temui dalam hidupnya. Selama hampir delapan belas tahun ia hidup, ia jarang sekali bertemu dengan pria yang masih muda. Setiap pria yang ia jumpai adalah orang yang jauh lebih tua darinya yang hanya mempunyai urusan kerajaan yang membosankannya. Kalaupun ada pemuda yang dijumpainya, Alviorita sama sekali tidak pernah tertarik pada mereka. Ia merasa pemuda-pemuda itu membosankan. Mereka hanya menunjukkan kepadaian mereka dalam memuji kepadanya. Semua pria yang ia jumpai hanyalah pria-pria yang membosankan dengan urusannya yang membosankan pula.

“Tidak mungkin Papa memilih seorang dari pria-pria yang membosankan itu untukku,” kata Alviorita takut mendengar jawaban ayahnya.

Raja menggelengkan kepalanya. Tetapi itu tidak membuat Alviorita merasa lega.

“Papa tidak memilih pria-pria yang jauh lebih tua dariku dan membosankan itu?” tanya Alviorita tidak percaya.

“Tunanganmu itu pemuda yang sangat menarik. Papa yakin engkau pasti akan menyukainya.” Raja Phyllips menambah kesan bangganya pada pria pilihannya dengan senyuman bangga.

“TIDAK!”

Raja Phyllips terkejut mendengar suara Alviorita yang lantang itu.

“Aku tidak mau bertunangan dengan siapa pun!” kata Alviorita tegas.

Raja semakin terkejut mendengarnya. Tanpa sadar ia juga ikut berdiri. “Engkau harus melakukannya.”

Alviorita menggelengkan kepalanya. Ia menatap tajam mata ayahnya yang mulai menampakkan kejengkelannya. Alviorita tahu ia telah membuat ayahnya marah dengan penolakkannya tetapi ia tetap tidak peduli.

“Aku tidak akan pernah mau bertunangan apalagi menikah dengan pria yang tidak pernah kulihat,” kata Alviorita menyakinkan ayahnya dengan nada suaranya yang penuh keyakinan dan ketegasan.

“Engkau harus melakukannya,” kata Raja mulai marah.

“Dan aku tidak akan pernah mau melakukannya,” kata Alviorita dingin.

“Dengar baik-baik. Engkau tidak akan menikah dengan pria yang belum pernah engkau temui. Engkau pernah bertemu dengannya,” kata Raja sambil berusaha menahan amarahnya.

“Lalu mengapa aku tidak pernah ingat?” tanya Alviorita tanpa mengurangi nada dingin dalam suaranya.

“Saat itu engkau masih kecil. Engkau masih sangat kecil.”

Walaupun Alviorita tahu ayahnya semakin tidak dapat menguasai kemarahannya tetapi ia tetap bersikap dingin dan menentang.

“Mengapa aku harus menikah dengan pria yang kujumpai saat aku masih kecil bahkan mungkin saat aku baru saja lahir?”

Raja Phyllips benar-benar tidak dapat menguasai lagi kemarahan yang memenuhi dadanya. Semula ia mengira akan mudah mengatakan hal ini kepada putrinya tetapi ternyata untuk mengatakan hal ini sangat sulit sekali.

“Dengar baik-baik, Alviorita. Engkau harus menerima semua ini karena ini semua adalah keinginan Mamamu,” kata Raja Phyllips geram.

Mendengar nama ibunya disebut ayahnya dalam hal ini, Alviorita semakin merasa jengkel. “Mama tidak akan pernah melakukan hal ini kepadaku. Mama pasti juga tidak setuju Papa menyodorkan seorang tunangan yang tidak pernah aku jumpai.”

Suara Alviorita yang dingin tetapi penuh dengan rasa tidak percaya itu membuat Raja Phyllips semakin jengkel.

“Entah berapa kali aku harus mengulanginya. Engkau pernah berjumpa dengan tunanganmu itu dan ini adalah keinginan Mamamu. Mamamu sendiri yang merencanakan pertunangan ini.”

“Mama pasti tidak melakukan itu,” kata Alviorita sambil menggelengkan kepalanya.

Raja tersenyum jengkel. “Engkau salah. Mamamu yang merencanakannya dan ia pula membuat pertunangan ini.”

“Mengapa Mama melakukannya?” Suara Alviorita bergetar karena berusaha menahan perasaannya.

Raja mengangkat bahunya. “Kata Mamamu, engkau terlihat akrab sekali dengan Nathan dan kalian berdua sangat serasi.”

“Nathan?” tanya Alviorita tak percaya.

“Itu nama tunanganmu.”

Suara Raja yang penuh keyakinan itu membuat Alviorita merasa seperti mendapat petir yang lain. Rasanya Raja tidak akan pernah berhenti memberinya kejutan yang membuat Alviorita merasa seperti boneka tak berdaya yang hanya dapat menerima keputusan yang dibuat sang majikan.

Alviorita tahu pria itu. Nathan, putra tertua Duke of Kryntz, bangsawan tertua di Kerajaan Lyvion di samping keluarga raja.

Sudah bukan rahasia lagi hubungan kedua keluarga bangsawan yang paling berpengaruh di Kerajaan ini. Sejak dulu kedua keluarga bangsawan ini menjalin hubungan persahabatan yang erat. Tetapi selama ini tidak pernah terdengar kedua keluarga ini akan menjalin hubungan keluarga.Kini kedua keluarga itu akan menjalin hubungan keluarga. Dan yang menjadi korbannya adalah sang Putri Mahkota, Alviorita!

Alviorita sukar mempercayai kenyataan ini. Bagaimana mungkin ia akan menikah dengan pria yang paling membosankan yang pernah didengarnya.

Alviorita memang belum pernah bertemu dengan Nathan sendiri tetapi dari yang didengarnya, ia tahu Nathan adalah seorang pemuda yang tampan dan menarik bagi semua wanita. Tetapi baginya pria itu adalah pria yang paling membosankan yang diketahuinya. Pemuda itu hanya memperhatikan pekerjaan. Semua orang memuji keseriusannya dalam bekerja serta kepandaiannya menangani segala macam urusan yang sulit. Dan Alviorita membenci hal itu sama seperti ia benci harus melakukan segala macam urusan kerajaan yang semakin hari terasa semakin membosankan baginya.

Andaikata Alviorita boleh memilih, pasti ia akan memilih melepaskan gelarnya sebagai Putri Mahkota dan menjadi seorang gadis yang hidup bebas di luar Istana Urza. Tetapi semua orang juga sang Takdir membuat Alviorita tidak dapat melakukan yang lain selain menerima semua itu.

Tuntutan semua orang kepada dirinya bukan hanya itu saja. Semua orang masih mengharapkan ia tampil dengan penuh keanggunan dan senyum yang manis.

Setiap kali Alviorita melakukan itu, ia merasa seperti boneka yang bergerak sesuai keinginan tuannya yang dalam hal ini Raja Phyllips dan seluruh penduduk Kerajaan Lyvion. Dan Alviorita semakin membenci itu semua.

Keseriusan ayahnya dalam melakukan tugasnya sebagai Raja membuat Alviorita tidak pernah menyukai pria yang serius dalam pekerjaannya. Raja setiap hari hanya sibuk menekuni pekerjaannya dan melupakan putrinya sendiri. Hal itu telah cukup membuat Alviorita merasa sedih dan kini ia diharuskan menikah dengan pria yang sama seperti ayahnya.

“Bagaimana mungkin Papa mengatakan aku pernah bertemu dengan pria itu bahkan aku akrab dengannya sedangkan aku sendiri tidak pernah ingat kalau aku pernah bertemu dengannya?” Rasa terkejut yang masih menguasai hatinya membuat suara Alviorita terdengar bergetar.

“Engkau telah bertemu dengannya ketika engkau masih kecil,” kata Raja Phyllips lembut.

“Aku tidak mau menikah dengannya,” kata Alviorita keras kepala.

Kelembutan dalam raut wajah Raja menghilang mendengar kata-kata itu. “Engkau harus melakukannya,” kata Raja geram.

“Aku tidak akan pernah mau menikah dengan pria membosankan seperti itu. Tidak akan,” kata Alviorita selantang keinginan hatinya untuk menolak itu semua.

“Ia bukan pria yang seperti itu,” kata Raja, “Engkau harus menerima ini semua sebab segala persiapan pesta pertunanganmu ini hampir selesai.”

Alviorita benar-benar kesal mendengar nada kemarahan bercampur kemenangan itu. Ia ingin sekali melakukan sesuatu yang membuat ayahnya merubah keputusannya itu. Tetapi melihat wajah ayahnya yang penuh kemarahan itu, Alviorita merasa tak berdaya. Ia tahu ia tidak dapat berbuat apa-apa selain menerimanya. Kenyataan yang harus dihadapinya ini membuat Alviorita merasa sedih bercampur marah.

“Aku tidak mau!” seru Alviorita sambil berlari meninggalkan Ruang Perpustakaan.

Alviorita berlari ke kamarnya dan segera menjatuhkan diri di tempat tidurnya. Rasa jengkel bercampur terkejut dan sedih membuat Alviorita menangis terisak-isak.

“Semua ini benar-benar mimpi buruk,” kata Alviorita pada dirinya sendiri, “Dan aku harus meninggalkan mimpi buruk ini.”

Tengah Alviorita berpikir bagaimana cara ia menggagalkan pesta pertunangan ini, ia teringat kata-kata ayahnya.

“Ini semua adalah keinginan Mamamu.”

Alviorita kebingungan. Ia tidak tahu harus melakukan apa. Ia tidak ingin menikah dengan Nathan yang tak pernah dijumpainya dan pria yang paling membosankan. Tetapi bila apa yang dikatakan ayahnya itu benar maka itu berarti Alviorita telah mengecewakan ibu yang paling disayanginya. Bila ibunya masih hidup, tentu ia tidak senang pada sikap Alviorita yang jelas-jelas menunjukkan penentangan ini.

Ingatan yang lain memasuki pikiran Alviorita dan membuat gadis yang sedang kebingungan itu semakin bingung.

Entah mengapa tiba-tiba saja Alviorita teringat pada kejadian dua belas tahun yang lalu yang membuat ia berubah.

Saat itu ia tengah memperhatikan seorang pelayan muda yang sibuk membersihkan jendela.

“Apakah engkau sungguh-sungguh tidak mau menemaniku bermain?” tanya Alviorita lagi.

Pelayan itu memalingkan kepalanya. “Maafkan saya, Tuan Puteri. Saya harus melakukan tugas saya,” kata pelayan itu.

“Tetapi mengapa engkau harus melakukannya? Masih ada orang lain yang dapat melakukannya,” kata Alviorita.

“Saya harus melakukannya, Tuan Puteri. Ini adalah tugas saya dan saya harus melakukannya sebaik-baiknya,” kata pelayan itu.

“Tidak ada yang salah bila engkau menemaniku bermain,” bujuk Alviorita.

“Maafkan saya, Tuan Puteri. Saya benar-benar tidak dapat menemani Anda.”

“Mengapa engkau serius sekali melakukan semua itu? Apakah engkau tidak ingin bermain?”

Pelayan itu memandang sedih pada kain di tangannya. “Sebenarnya saya juga ingin sekali bermain.”

“Kalau begitu mari kita bermain,” sela Alviorita.

Pelayan itu mengacuhkan ajakan Alviorita. Ia kembali menekuni pekerjaannya.

Melihat hal itu, Alviorita merasa jengkel. “Mengapa engkau seperti semua orang? Semua orang hanya sibuk bekerja, bekerja, dan bekerja.”

Pelayan itu pun jengkel mendengar kata-kata tajam Alviorita. “Apakah Anda tahu semua ini bukan keinginan saya? Anda tidak akan pernah dapat mengerti. Anda seorang Putri yang hidup serba mewah sedangkan kami, rakyat kecil ini?”

Alviorita terkejut mendengar kata-kata pelayan itu.

“Anda tidak akan dapat merasakan bagaimana sulitnya kami mencari uang hanya untuk menghidupi diri kami. Anda tidak akan pernah dapat merasakan bagaimana senangnya kami bila kami dapat mencukupi kebutuhan kami.”

Kata-kata tajam itu membuat Alviorita kembali berpikir.

Selama ini Alviorita selalu menolak bila ia harus melakukan segala macam urusan kerajaan. Ia selalu menolak mengikuti pelajaran-pelajaran yang diberikan guru privatnya. Ia tidak suka bila harus mengikuti ayahnya dan mempelajari bagaimana menjadi Ratu yang baik. Setiap kali Alviorita melarikan diri dari semua kegiatan yang membosankannya itu. Setiap saat ia hanya bermain-main di halaman Istana yang luas. Bila ayahnya ada, Alviorita mau tidak mau mengikuti semua kegiatan yang membosankan itu tetapi bila sang Pengawas telah pergi, maka sang Putri bebas melakukan apa saja yang diinginkannya.

Kata-kata tajam pelayan itu membuat Alviorita sadar selama ini ia telah berbuat salah. Seharusnya ia melakukan semua tugas-tugas yang menjadi kewajibannya sebagai Putri Mahkota. Sebagai satu-satunya penerus keluarga raja, ia harus belajar menjadi seorang Ratu yang baik. Ia harus memikirkan rakyatnya bukan hanya bermain. Alviorita sadar apa yang dikatakan pelayan yang lebih tua beberapa tahun darinya itu benar. Sebagai seorang Putri ia memang tidak kekurangan apapun tetapi rakyat di luar Istana tidak sepertinya. Tidak semua orang bisa hidup dalam kemewahan. Satu-satunya yang dapat dilakukan Alviorita bagi rakyatnya adalah belajar memperlakukan rakyatnya dengan baik dan itu harus dimulai dengan memikirkan hal-hal yang kecil.

Setelah peristiwa itu Alviorita mau melakukan semua kegiatan rutinnya sebagai Putri Mahkota. Walaupun Alviorita masih merasa semua kegiatan itu membosankan tetapi ia tetap berusaha melakukannya dengan baik.

Keinginan Alviorita untuk membebaskan diri dari pertunangan yang tidak disukainya ini membuat Alviorita berada dalam kebimbangan. Alviorita tidak ingin membuat ibunya kecewa tetapi ia juga tidak ingin menikah dengan pria yang paling membosankan itu. Raja Phyllips tidak mungkin berbohong kepadanya.

Tetapi…

Dalam masalah ini, hal itu mungkin saja. Raja mungkin membohongi Alviorita dengan mengatakan pertunangan ini adalah keinginan ibunya.

Alviorita percaya ibunya tidak akan mungkin membiarkan ia menikah dengan pria yang tidak dikenalnya.

Teringat kembali pada kata-kata tajam pelayan itu, Alviorita memutuskan untuk meninggalkan Istana dan melihat sendiri bagaimana kehidupan rakyat Kerajaan Lyvion yang sebenarnya serta merasakan bagaimana hidup di luar kemewahan yang selama ini mengelilinginya.

“Aku akan meninggalkan Istana,” kata Alviorita tegas.

Keputusan itu telah diambil Alviorita itu membuat gadis itu membuat keputusan-keputusan yang lain.

Gadis itu memutuskan untuk tidur lebih awal dan bangun pagi-pagi kemudian meninggalkan Istana diam-diam.

Alviorita tahu ayahnya tidak akan curiga bila ia tidak muncul dalam makan malam.

Raja Phyllips memang tidak curiga sama sekali ketika pada malam harinya putrinya tidak muncul untuk makan malam. Ia menduga putrinya masih merasa jengkel kepadanya.

Sesuai dengan rencananya, Alviorita mempersiapkan barang yang akan dibawanya sesaat setelah Maryam meninggalkan kamarnya. Alviorita membawa dua buah gaun putih yang dianggapnya tidak terlalu mencolok dan tidak terkesan seperti gaun yang mewah. Dalam bingkisan kecil yang akan dibawanya itu, Alviorita juga membawa leontin perak milik ibunya. Kemudian Alviorita menulis pada secarik kertas. Kertas itu dilipatnya dengan rapi dan diletakkannya di meja belajarnya. Setelah merasa segalanya telah siap, Alviorita segera pergi tidur agar dapat bangun pagi-pagi sebelum semua orang memulai kesibukannya. Dengan membawa bingkisan kecil itu, diam-diam Alviorita meninggalkan kamarnya. Tidak seorangpun yang melihat kepergiannya. Bahkan penjaga pintu gerbang juga tidak mengetahui kepergian Alviorita.

Kedua penjaga gerbang itu tertidur ketika Alviorita mendekat.

Semula Alviorita khawatir kedua penjaga gerbang itu akan mengetahui kepergiannya tetapi ketika ia melihat kedua penjaga itu tertidur nyenyak sambil memegang erat-erat tombak mereka, ia merasa lega.Dengan perlahan-lahan Alviorita membuka pintu gerbang dan menutupnya kembali agar tak seorangpun curiga. Alviorita berjalan setengah berlari di jalan setapak menuju kota Vximour. Ia takut berjalan di kegelapan malam.

Bintang-bintang di langit bersinar cemerlang. Dan tidak ada tanda-tanda matahari akan segera menampakkan dirinya. Udara terasa dingin menusuk kulit. Angin yang bertiup menambah dinginnya pagi itu. Suasana sangat sunyi. Tidak ada kehidupan yang tampak. Hanya sesekali terdengar bunyi serangga di kejauhan. Burung-burung malam masih berkeliaran mencari makan dari satu pohon ke pohon yang lain. Suara burung hantu yang menakutkan membuat Alviorita semakin merasa takut berada di kegelapan pagi itu.

Alviorita merasa beratus-ratus mata menatapnya. Mata-mata itu menatap ingin tahu dan curiga pada dirinya. Suara burung hantu itu menyalahkan tindakannya yang menentang keinginan ayahnya.

Alviorita menatap langit yang masih gelap. Ia melihat bintang-bintang itu dan ia merasa takut. Ia merasa seperti ditarik ke dalam bintang-bintang itu.

Semakin lama Alviorita melihat bintang-bintang yang bercahaya di langit hitam, ia semakin merasa seperti tersedot dalam suasananya yang sunyi dan menakutkan. Ia merasa kecil dan hampa serta tak berdaya di alam yang sepi dan luas ini. Alviorita merasa seperti debu kecil yang tak berarti di antara bintang-bintang yang bersinar di langit. Merasa dirinya terbang sendirian di angkasa yang luas, yang hampa dan sepi serta penuh misteri, membuat Alviorita semakin ketakutan.

Hal ini membuat Alviorita memalingkan kepala pada Istana yang terlihat terang di kejauhan.

Istana Urza berdiri dengan kokoh, melindungi penghuninya. Cahaya terang yang muncul dari dalam Istana sempat membuat Alviorita merasa ingin kembali ke Istana yang telah memberinya perlindungan selama hampir delapan belas tahun.

Alviorita tahu bila ia kembali ke Istana, maka ia harus menerima pesta pertunangan yang akan diadakan besok lusa.

Membayangkan bertunangan dengan pria yang paling membosankan, Alviorita meyakinkan hatinya untuk terus melangkah menjauhi Istana.

Kembali Alviorita menatap jalan panjang di hadapannya.

Jalan inilah yang saat ini ditempuh Alviorita. Alviorita telah melepaskan jalan yang penuh dengan kemewahan dan kini ia akan berada di jalan yang tidak dapat ditebak. Di jalan ini Alviorita tidak akan tahu apa yang akan dialaminya keesokan hari. Sedangkan di jalan satunya Alviorita tahu ia akan menghadapi apa.

Alviorita kembali melanjutkan perjalanannya. Tetapi hati kecilnya yang merasa enggan meninggalkan Istana Urza yang telah disayanginya membuat Alviorita memalingkan kepalanya ke Istana itu berulang kali.

Setiap kali Alviorita menatap Istana yang semakin menjauh itu, Alviorita semakin merasa enggan meninggalkan Istana. Alviorita menatap sedih Istana Urza sebelum ia membulatkan hatinya untuk tidak memalingkan kepalanya ke Istana. Setelah menyakinkan dirinya sendiri untuk tidak melihat Istana lagi, Alviorita melanjutkan perjalanannya.

Tetapi hal itu masih sulit juga dilakukannya. Alviorita berjalan sambil menatap Istana yang semakin menjauh itu. Ia tahu bila ia mau ia masih dapat kembali ke Istana itu. Ia masih belum terlambat untuk kembali ke Istana yang penuh perlindungan itu.

Alviorita memalingkan kepalanya dan saat itulah ia melihat sebuah kereta tiba-tiba muncul dengan sangat cepat di tikungan tempat ia berdiri.

Selanjutnya apa yang terjadi Alviorita tidak dapat mengingatnya. Alviorita tidak tahu apa yang telah terjadi sehingga ia berada di ruangan yang penuh sinar matahari ini.

Alviorita ingin menuju jendela untuk melihat apakah hari telah siang tetapi rasa pening yang masih terasa di kepalanya membuatnya kembali membaringkan kepalanya di atas bantal yang empuk.

Alviorita menatap langit-langit kamar yang terbuat dari batu itu seperti dinding-dinding sekeliling kamar tempat ia berada.

Melihat dinding batu yang mengelilinginya serta perabotannya yang tua, Alviorita menduga sekarang ia berada di sebuah Castil tua. Tetapi Castil siapakah ia tidak tahu. Jelas ini bukan Castil milik keluarga raja karena semua keluarga raja baik dekat maupun jauh menggunakan binatang sebagai lambang mereka. Sedangkan keluarga pemilik Castil ini jelas-jelas menggunakan tumbuhan sebagai lambang keluarga mereka.

Di Kerajaan Lyvion memang ada banyak Castil tetapi ia tidak dapat mengetahui Castil yang manakah tempat ia berada saat ini.

Tengah Alviorita sibuk berpikir, seseorang membuka pintu.

“Anda sudah sadar, rupanya.”

Mendengar suara seseorang yang lega bercampur senang itu, Alviorita menghentikan pikirannya dan menatap ke pintu.

Seorang wanita berpakaian serba hitam dengan apronnya yang putih bersih, tersenyum padanya.

Alviorita terus memandang lekat-lekat wajah wanita itu ketika ia mendekat. Alviorita tidak mengenal wanita itu. Ini pertama kalinya ia berjumpa dengan wanita itu tetapi ia merasa pernah melihat wajah wanita yang setengah baya itu. Ia pernah melihat wanita itu tetapi di mana dan kapan, ia tidak tahu.

“Siapakah Anda?” tanya Alviorita.

“Anda jangan banyak berbicara dulu. Anda baru saja sadar,” kata wanita itu.

Alviorita memandang ruangan tempat ia berada. “Ini di mana? Mengapa saya bisa berada di sini?”

“Anda baru saja tertabrak kereta kuda keluarga ini dan saat ini Anda berada di Castil mereka.”

“Apa nama Castil ini?”

“Castil ini milik keluarga Kryntz yang bernama Castil Q`arde.”

Jawaban wanita itu membuat Alviorita merasa sangat terkejut. Entah mengapa semua ini bisa terjadi. Seakan-akan telah diatur oleh seseorang. Bagaimana mungkin ia dapat berada di Castil milik tunangannya sedangkan ia sendiri tidak ingin menghadiri pesta pertunangan itu. Takdir telah membuat Alviorita yang ingin melarikan diri dari pertunangannya, kini justru berada di Castil tunangannya.

2

“APA!?” Hanya itu satu-satunya kata yang dapat diucapkan Alviorita.

“Anda berada di Castil Q`arde,” ulang wanita itu.

Kalimat itu membuat Alviorita merasa pusing. Ia kembali merasa berada di dalam mimpi buruk. Bahkan mimpi terburuk yang tak pernah dibayangkannya.

Alviorita tahu ia harus segera meninggalkan Castil ini bila ia tidak ingin menghadiri pesta pertunangannya. Bila ia tidak ingin menghancurkan impiannya, ia harus meninggalkan Castil ini sebelum semuanya terlambat.

Melihat wajah Alviorita yang memucat, wanita itu tampak cemas. “Anda harus beristirahat dulu. Anda masih terlihat pucat,” kata wanita itu.

Alviorita menggelengkan kepalanya. “Saya harus pergi.”

“Anda harus tinggal dulu di sini. Anda tampak sangat pucat.”

Kalimat itu membuat Alviorita tiba-tiba mempunyai ide yang dianggap Alviorita paling hebat. “Saya rasa Anda benar. Saya tidak dapat pergi dengan kepala pening seperti ini,” kata Alviorita sambil tersenyum puas.

“Bila Anda tak keberatan, saya ingin mengetahui siapakah Anda?”

Dalam hati Alviorita tersenyum gembira mendengar pertanyaan yang memang telah dinantikannya itu. Tetapi di luar, Alviorita berpura-pura sedih. Ia memandang sayu pada wanita itu dan berkata lirih, “Saya tidak ingat siapakah saya.”

Wanita itu terkejut mendengarnya. “Anda sama sekali tidak dapat mengingat nama maupun masa lalu Anda?”

Alviorita mengangguk lemah.

“Saya turut menyesal,” katanya bersimpati.

Melihat ketulusan wanita itu, Alviorita merasa bersalah telah membohonginya tetapi ia menguatkan hatinya untuk terus bersandiwara.

Bila ia benar-benar ingin membatalkan pertunangan terkonyol yang harus dialaminya ini maka ia harus menahan perasaan bersalah seperti ini. Alviorita tahu itu.

“Beristirahatlah dulu. Saya akan mengatakan hal ini kepada majikan saya. Saya tidak tahu apa yang harus saya perbuat,” kata wanita itu.

Wanita itu membenahi selimut Alviorita sebelum ia pergi meninggalkan Alviorita yang merasa lega sekaligus senang.

Alviorita telah berhasil memainkan sebuah sandiwara dan kini agar tetap dapat menyimpan rahasia itu, Alviorita harus dapat terus memainkan peran yang ia mainkan.

Alviorita tersenyum puas. Tetapi sebenarnya dalam hati Alviorita merasa was-was apakah ia akan tetap dapat menjaga rahasianya ini. Apakah ia akan dapat membohongi semua orang di Castil ini seperti ia membohongi wanita itu.

Karena keinginannya yang kuat untuk melepaskan diri dari pertunangan konyol ini, Alviorita memaksa dirinya untuk terus bersandiwara dan bersandiwara. Alviorita juga harus dapat menahan perasaan bersalahnya.

Menyadari ia kini berada di luar Istana Urza, membuat Alviorita melupakan kegelisahannya.

Alviorita tersenyum senang. Ia senang dapat meninggalkan Istana tanpa seorangpun yang mengetahui kepergiannya. Alviorita sedang dapat terbebas dari kegiatan rutin yang membosankan. Tetapi tidak urung juga hal itu membuat Alviorita merasa bersalah karena tidak melakukan tugasnya sebagai Putri Mahkota.

Alviorita melupakan segala perasaan bersalahnya dan mulai melamunkan hari esok di luar Istana.

Membayangkan dirinya berjalan-jalan seorang diri di tengah keramaian tanpa ada yang mengenalinya, membuat Alviorita merasa senang. Selama ini ke manapun ia pergi, setiap orang selalu mengenalnya karena pengawal-pengawal yang selalu mengikuti setiap langkahnya. Ke mana pun ia pergi pasti ada pengawal di sisinya yang selalu siap menjaganya dari segala macam bahaya. Tetapi itu membuat Alviorita merasa tidak bebas. Ia merasa pengawal-pengawal itu mengawasi setiap gerak-geriknya. Mereka selalu melarang Alviorita melakukan hal yang diinginkannya.

Sekarang di sisi Alviorita tidak ada seorangpun pengawal bahkan Maryam yang selalu bersamanya juga tidak ada. Alviorita merasa bebas seperti seekor burung yang bebas dari sangkar emasnya. Dan setelah burung itu bebas, ia ingin mengepakkan sayapnya mengelilingi dunia yang selama ini tidak pernah dilihatnya. Demikian pula Alviorita. Selama ini kepergian Alviorita hanya ke tempat-tempat yang berhubungan dengan urusan kerajaan. Banyak kota besar yang didatangi Alviorita tetapi Alviorita tidak pernah bermain-main di hutan, di pedesaan yang tentram. Apa yang diinginkan Alviorita saat ini adalah berjalan-jalan ke semua tempat yang tidak pernah dikunjunginya seorang diri sambil menikmati kebebasan di luar Istana. Alviorita ingin menikmati kebebasannya dari segala kegiatan rutin yang membosankan dengan bermain-main.

Tengah Alviorita sedang melamunkan hari-hari yang akan dihadapinya, Raja Phyllips kebingungan di Istana Urza.

Entah berapa kali Raja mondar-mandir di dalam Ruang Tahta. Sesekali Raja menatap cemas kepada orang-orang yang berdiri mematung di dekatnya. Kecemasan dan kemarahan yang nampak di wajah yang telah berkerut itu membuat semua yang ada di ruangan itu diam seribu bahasa. Semua nampak ketakutan menghadapi Raja Phyllips yang bagai meriam yang siap meledak itu.

Setelah terdiam beberapa lama akhirnya Raja berkata, “Jadi Alviorita belum ditemukan?”

Wolve maju ke depan membungkukkan badannya, “Maafkan saya, Paduka. Saya telah mencari Tuan Puteri ke seluruh penjuru Istana tetapi saya tidak dapat menemukannya.”

“Aku menyuruhmu mencari Alviorita bukan hanya di dalam Istana saja tetapi juga di sekitar Istana. Bila engkau melakukannya pasti Alviorita sekarang sudah berada di sini tetapi nyatanya sekarang ia tidak berada di sini dan kemungkinan besar ia telah berada jauh dari Istana,” kata Raja geram.

“Maafkan atas kelancangan saya, Paduka. Saya juga telah mencari Tuan Puteri di sekitar Istana bahkan hingga Vximour tetapi saya masih saja tidak dapat menemukan Tuan Puteri. Tuan Puteri seperti hilang terlelan bumi,” kata Wolve tenang.

Raja Phyllips menatap tajam pada Wolve.

“Engkau sebagai Kepala Pengawal Istana tidak mengetahui kepergian Alviorita?” kata Raja tidak dapat mengurangi kemarahannya.

Telah puluhan kali Wolve menghadapi situasi seperti ini dan ia semakin tahu apa yang harus dilakukannya dalam menghadapi sikap Raja yang meledak-ledak. Wolve menatap tenang wajah Raja Phyllips yang penuh dengan kemarahan.

Dan dengan tenang pula ia berkata, “Maafkan atas ketidakmampuan saya, Paduka. Sebagai Kepala Pengawal Istana yang bertugas menjaga Istana saya tidak mampu menjaga Istana dengan baik sehingga kepergian Tuan Puteri tidak dapat saya ketahui.”

“Sudahlah percuma saja engkau beribu-ribu kali mengatakan maaf. Tidak akan ada gunanya. Alviorita tetap tidak dapat berada di sini saat ini,” kata Raja kesal, “Aku benar-benar tidak mengerti mengapa tidak seorangpun mengetahui kepergian Alviorita. Bahkan penjaga gerbang. Entah apa saja yang dilakukan mereka sehingga tidak mengetahui kepergian Alviorita.”

“Saya kurang mengerti, Paduka. Mereka mengatakan mereka sama sekali tidak tahu kapan Tuan Puteri meninggalkan Istana bahkan pintu gerbang Istana terus tertutup,” kata Wolve melaporkan.

“Sebarkan pencarian Alviorita. Cari Alviorita di seluruh penjuru Kerajaan Lyvion jangan ada suatu daerah pun yang terlewatkan!” perintah Raja Phyllips, “Besok lusa Alviorita harus sudah ada di sini!”

Wolve bimbang mendengar perintah itu. Walaupun Kerajaan Lyvion tidak dapat dikatakan sebagai negara yang luas tetapi untuk mencari seseorang dalam waktu dua hari bukanlah hal yang mudah dilakukan mengingat kondisi Kerajaan Lyvion yang berbukit-bukit. Penduduk Kerajaan Lyvion tersebar di antara bukit-bukit itu dan untuk mencapai suatu daerah dari daerah yang lain membutuhkan waktu yang cukup lama.

“Apakah kita harus mencarinya dalam waktu dua hari?” tanya Wolve ragu-ragu.

“Kita harus menemukan Alviorita dalam dua hari. Alviorita harus menghadiri pesta pertunangannya,” kata Raja tegas.

“Apakah kita tidak dapat menunda pesta tersebut?”

“Tidak!” sahut Raja, “Kita tidak dapat menunda pesta yang telah selesai dipersiapkan ini. Engkau harus menemukan Alviorita dalam waktu dua hari.”

Wolve ragu-ragu. “Apakah saya harus mengumumkan kepada masyarakat?”

Raja menatap tajam wajah Wolve yang diliputi keraguan. “Tidak,” katanya tegas, “Kita tidak boleh memberitahu siapa pun.”

“Kita akan mengalami kesulitan bila kita tidak meminta bantuan rakyat.”

Walaupun telah diperingati oleh Wolve, tetapi Raja Phyllips tetap bersikeras untuk tidak mengatakan apa-apa kepada orang di luar Istana mengenai hilangnya Alviorita ini.

“Cari dan temukan Alviorita dalam dua hari ini. Dan tidak seorangpun di luar Istana yang boleh mengetahui hal ini.”

Suara Raja yang tegas bercampur kemarahan itu membuat Wolve memutuskan untuk berdiam diri. Wolve tahu pada saat Raja sedang berada di puncak kemarahannya, lebih baik tidak dilawan. Satu-satunya yang dapat dilakukan hanya segera mengundurkan diri dan melaksanakan perintah Raja. Walaupun Wolve menerima perintah itu tanpa banyak membantah, dalam hatinya banyak sekali saran yang ingin diberikannya pada Raja Phyllips. Tetapi melihat kemarahan Raja Phyllips yang telah memuncak itu hal itu rasanya tidak akan berhasil malah akan membuat Raja semakin marah. Tidak hanya Wolve yang menganggap tugas yang diberikan Raja padanya kali ini sangat berat. Semua orang yang berada di Ruang Tahta juga berpendapat seperti itu.

Tugas kali ini memang sangat berat. Wolve harus menemukan Alviorita yang tak diketahui keberadaannya di Kerajaan Lyvion yang berbukit-bukit tinggi ini. Dan tidak seorangpun yang boleh mengetahuinya. Sudah cukup sulit mencari Alviorita dalam dua hari masih ditambah oleh keinginan Raja Phyllips untuk tidak memberi tahu siapa pun di luar Istana tentang masalah ini. Mereka harus mencari Alviorita dengan sembunyi-sembunyi.

Alviorita sendiri yang dikhawatirkan oleh seluruh penghuni Istana kini sedang tersenyum puas di Castil Q`arde sambil membayangkan hari-hari yang akan dilaluinya di luar Istana Urza.

Rasa senang yang memenuhi dadanya membuat Alviorita sama sekali tidak tahu ketika pintu kamarnya dibuka.

Pelayan yang tadi datang bersama seorang wanita yang tampak tak asing lagi di mata Alviorita.

Alviorita tidak mengerti mengapa ia mempunyai perasaan seperti itu. Setahu Alviorita ini adalah kunjungannya yang pertama di Castil Q`arde. Ia belum pernah menginjakkan kakinya di Castil Q`arde tetapi wajah wanita itu serta pelayan di sampingnya tampak tak asing lagi di matanya. Tetapi kapan dan di manakah mereka bertemu. Alviorita tahu ini adalah pertemuannya yang pertama dengan kedua wanita itu.

Alviorita terus memandang lekat-lekat wajah kedua wanita itu.

Wanita yang berpakaian lebih mewah jelas adalah majikan pelayan itu.

Kecantikan di wajah wanita yang telah tua itu tidak luntur. Wanita itu tersenyum lembut pada Alviorita. Ketika wanita itu mendekatinya, Alviorita melihat keanggunan yang terpancar dari gerak-geriknya.

Sebagai gadis yang telah bertemu banyak orang, Alviorita lekas mengetahui wanita itu adalah istri pemilik Castil Q`arde dan juga calon ibunya bila ia jadi menikah dengan Nathan. Tetapi Alviorita tidak menyukai pertunangan konyol ayahnya dan ia bermaksud untuk menggagalkan pertunangan konyol ini.

“Bagaimana keadaanmu?” tanya wanita itu.

Alviorita tersenyum. “Saya baik-baik saja.”

“Kata Innane engkau tidak dapat mengingat apa-apa.”

Sekali lagi Alviorita pura-pura tersenyum sedih. Ia memandang sayu wajah kedua wanita di hadapannya. “Saya tidak dapat mengingat apa-apa dari masa lalu saya.”

Wanita itu tersenyum simpati kepadanya. “Saya turut menyesal mendengarnya.”

Alviorita terus memandang wajah wanita itu tanpa berkata apa-apa. Ia menanti cemas keputusan wanita itu mengenai masa depannya. Apakah wanita itu akan membiarkan ia tetap berada di Castil Q`arde seperti keinginannya atau mengirimnya ke tempat yang lain. Kali ini wajah cemas Alviorita bukan topeng. Alviorita benar-benar cemas.

Wanita itu tersenyum melihat kecemasan di wajah Alviorita. “Beristirahatlah dulu. Jangan kaupikirkan masa depanmu. Saat ini yang harus kaulakukan adalah beristirahat sambil berusaha mengembalikan ingatanmu.”

Walaupun wanita itu tidak mengatakan apa-apa mengenai masa depannya tetapi Alviorita tahu wanita itu tidak akan membiarkan ia meninggalkan Castil Q`arde sebelum ia mengingat kembali semua ingatannya. Kata-kata yang penuh simpati dari wanita cantik itu membuat Alviorita tersenyum puas dalam hati. Tetapi senyum lega bercampur terima kasih di wajah Alviorita bukan bagian dari sandiwara yang sedang diperankan Alviorita. Alviorita benar-benar lega sekaligus berterima kasih atas kata-kata simpati wanita itu.

Seolah-olah mengetahui apa yang dipikirkan Alviorita, wanita itu menepuk lembut lengan Alviorita. “Jangan kau khawatirkan masa depanmu,” katanya menenangkan Alviorita, “Sekarang engkau harus beristirahat.”

Alviorita mengangguk.

Wanita itu beserta pelayan yang dipanggilnya Innane meninggalkan Alviorita seorang diri.

Ketika mereka semakin mendekati pintu, wanita itu berbisik kepada Innane, “Aku merasa seperti pernah melihat gadis itu.”

Innane mengangguk, “Saya juga merasa demikian, Yang Mulia. Tetapi saya tidak kapan.” Wanita itu melirik wajah Alviorita yang masih tampak pucat. “Ia mengingatkanku pada seseorang.”

Innane tersenyum. “Malang sekali nasib gadis itu. Ia tidak dapat mengingat masa lalunya.”

“Ya, ia juga tampak sangat sedih karena tidak dapat mengingat apa pun dari masa lalunya,” kata wanita itu menyetujui.

Sepeninggal kedua wanita itu, Alviorita tiba-tiba sadar barang yang dibawanya dari Istana tidak ada bersamanya. Alviorita khawatir mereka membuka isi barang itu dan menemukan leontin ibunya yang kemudian akan membuat semua orang di Castil Q`arde mengetahui bahwa ia adalah Putri Alviorita. Dengan menahan rasa pening di kepalanya, Alviorita meninggalkan tempat tidur dan mulai mencari bingkisan yang tadi pagi masih bersamanya. Usaha pencarian Alviorita tidak menghasilkan apa-apa selain rasa pening di kepalanya yang bertambah parah. Dengan bersusah payah Alviorita kembali ke tempat tidur dan berbaring. Kepalanya pening itu membuat Alviorita tertidur dengan cepat.

Ketika Alviorita membuka matanya kembali, hari telah terang. Sinar matahari telah memenuhi ruangan itu. Alviorita melihat bingkisan putih yang tadi dicarinya kini berada di meja yang letaknya tak jauh dari tempat tidur. Alviorita baru saja hendak meninggalkan tempat tidurnya untuk mengambil bingkisan itu ketika seseorang tiba-tiba berseru kepadanya.

“Jangan bangun dulu!”

Alviorita terkejut akan kehadiran Innane. Rupanya sejak tadi Innane telah berada di ruangan itu hanya saja Alviorita tidak melihatnya. Rasa terkejut yang masih menguasainya membuat Alviorita menurut ketika wanita itu membaringkannya kembali ke tempat tidur.

“Sebaiknya Anda tidak bangun dulu sampai Anda benar-benar pulih,” kata Innane, “Kepala Anda terbentur cukup keras sehingga Anda kehilangan ingatan.”

Alviorita menatap wajah wanita itu tanpa berkata apa-apa kemudian ia menatap bingkisan kecil di meja.

Innane mengerti apa yang dilihat Alviorita. Ia mengambil bingkisan itu dan memberikannya kepada Alviorita.

“Ini bingkisan yang ada bersama Anda. Kami tidak membuka bingkisan ini tetapi kami rasa isi bingkisan ini akan membantu mengembalikan ingatan Anda.”

Alviorita mengambil bingkisan itu dan memeluknya erat-erat. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Ia tidak dapat membuka bingkisan itu di hadapan Innane yang ingin tahu apa isi bingkisan putih yang sekarang berada di pelukannya.

Melihat rasa ingin tahu yang tampak jelas di mata wanita itu, Alviorita akhirnya memutuskan untuk membuka bingkisan itu sebagai penebusan atas kebohongan yang dikatakannya kepada Innane yang telah merawatnya.

Perlahan-lahan Alviorita membuka bingkisan itu. Ketika tangan Alviorita menyentuh leontin ibunya, ia segera menggenggam leontin itu kemudian menunjukkan gaun putih yang dibawanya kepada Innane.

Innane diam saja melihat gaun di pangkuan Alviorita. Ia mengambil gaun itu dan mengamatinya. Sementara Innane mengamati gaun-gaun itu, Alviorita menyembunyikan leontin peraknya di bawah bantalnya.

“Mengapa Anda membawa gaun-gaun ini?” tanya Innane curiga,

“Saya tidak ingat,” kata Alviorita tenang.

“Saya lupa kalau Anda tidak dapat mengingat masa lalu Anda,” kata Innane menyesal.

Alviorita diam menanti pendapat wanita itu yang lain. Ia tahu Innane akan mengatakan pendapatnya mengenai gaun yang dibawanya. Dengan tenang dipandanginya wanita itu dan ia tersenyum ketika Innane berkata, “Saya tidak tahu siapa Anda tetapi gaun ini menunjukkan Anda bukan berasal dari kalangan rakyat biasa.”

Alviorita tahu ayahnya tidak akan mengumumkan berita hilangnya ini kepada masyarakat sebelum hari pesta itu tiba. Raja Phyllips pasti berusaha menemukan dirinya dalam dua hari agar ia dapat menghadiri pesta pertunangan itu.

Alviorita yakin ayahnya tidak akan dapat menemukan dirinya dalam dua hari walaupun saat ini ia berada tak jauh dari Istana. Raja Phyllips tidak mungkin mengirimkan pasukan ke Castil Q`arde untuk menemukan dirinya di sini. Ayahnya tentu tidak ingin keluarga Kryntz mengetahui hilangnya dirinya. Karena itu Alviorita yakin setelah ia masih belum ditemukan dalam dua hari itu, Raja Phyllips akan mengumumkan berita menghilangnya dirinya.

Sebelum berita itu muncul, Alviorita tidak ingin seorangpun di Castil Q`arde yang menduga dirinya bukan berasal dari kalangan rakyat biasa. Alviorita ingin semua orang di Castil Q`arde menduga dirinya dari kalangan rakyat biasa. Dan kelak bila berita menghilangnya Putri Mahkota beredar, tidak seorangpun curiga dirinya adalah sang Putri Mahkota yang hilang.

Bila Alviorita tidak ingin pulang sebelum ia berhasil membuat ayahnya membatalkan pertunangan konyol ini, maka Alviorita harus bermain sandiwara yang baik mulai dari saat ini.

Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkannya bila berita menghilangnya dirinya telah diumumkan ayahnya, maka Alviorita berkata,

“Bila saya berasal dari kaum bangsawan, mengapa saya pergi seorang diri?”

Innane terkejut mendengarnya. “Anda benar. Mengapa Anda pergi sendirian?”

Alviorita pura-pura berpikir. Dalam hati Alviorita tersenyum senang karena ia berhasil membuat kepercayaan Innane menjadi goyah.

“Mungkin saya mendapat gaun itu dari teman atau mungkin majikan saya,” kata Alviorita tenang.

Innane menatap wajah Alviorita dengan tenang namun diliputi banyak pertanyaan. Ia sama sekali tidak tahu bahwa sesungguhnya Alviorita sedang tersenyum senang melihat keragu-raguan di wajah tuanya.

“Mungkin juga,” kata Innane.

Kata-kata yang masih dipenuhi keragu-raguan itu membuat Alviorita berpikir bagaimana caranya membuat Innane benar-benar yakin ia bukan seorang gadis kaya. Alviorita tahu ia tidak dapat lagi menggunakan kata-kata untuk membuat wanita itu percaya ia bukan dari keluarga bangsawan. Tetapi Alviorita tidak mau menyerah. Ia akan berusaha terus dalam dua hari ini untuk membuat semua orang di Castil Q`arde termasuk Innane yakin ia berasal dari kalangan rakyat biasa.

“Gaun yang Anda kenakan ketika Anda tertabrak kereta…,” kata Innane ragu-ragu namun ia tetap meneruskan kalimatnya, “Gaun itu kotor dan robek. Tetapi Anda jangan khawatir, saya akan berusaha untuk membetulkannya kembali.”

“Terima kasih,” kata Alviorita sambil tersenyum penuh terima kasih.

“Saya rasa sejak tadi saya belum sempat memperkenalkan diri saya,” kata Innane tiba-tiba, “Anda dapat memanggil saya Innane.”

Alviorita tersenyum.

“Sepertinya masih ada yang belum saya lakukan,” kata Innane sambil berusaha mengingat sesuatu.

Dalam hati Alviorita tersenyum senang melihat sikap Innane.

Sejak kecil Alviorita telah diajari oleh Raja Phyllips untuk dapat mengenal sifat lawan bicaranya baik melalui tutur katanya maupun sikapnya. Setiap kali Alviorita menghadapi seseorang, ia selalu berusaha untuk memperhatikan setiap tingkah laku serta tutur kata orang itu. Setelah itu barulah Alviorita tahu sifat orang itu dan biasanya dugaan Alviorita tidak pernah meleset. Sikap Innane sambil berusaha mengingat sesuatu itu menunjukkan kepada Alviorita sifatnya yang pelupa.

Sifat pelupa Innane benar-benar menguntungkan Alviorita. Bila suatu saat nanti ia tidak sengaja mengatakan sesuatu di depan Innane yang dapat membuat wanita itu menduga ia adalah Putri Mahkota, Alviorita tidak perlu khawatir Innane akan mengingat hal itu dan mengatakannya kepada yang lain. Tetapi Alviorita tidak mau mengambil resiko. Ia tetap akan bersikap hati-hati di depan Innane yang pelupa.

Alviorita terus memperhatikan Innane.

Suara ketukan di pintu membuat Innane terkejut. Dengan terburu-buru Innane menghampiri pintu.

Alviorita tersenyum geli melihat tingkah Innane yang lucu. Dengan badannya yang gemuk, wanita itu cepat-cepat menghampiri pintu sehingga sempat membuat Alviorita takut wanita itu terjatuh.

Alviorita masih tersenyum geli ketika Innane membuka pintu.

Entah apa yang dikatakan Innane pada seseorang di luar pintu. Tetapi yang jelas tak lama kemudian Innane menutup kembali pintu itu.

“Saya ingat sekarang. Saya belum meminta seseorang untuk mengantar makan siang untuk Anda,” kata Innane senang, “Sejak tadi Anda belum makan dan tentunya Anda lapar. Untung sekali pelayan itu muncul dan menanyakan bila Anda sudah bangun.”

Alviorita menahan diri untuk tidak tersenyum melihat wajah senang Innane yang seperti anak-anak itu.

Innane berjalan gelisah di dalam kamar itu. “Mengapa mereka lama sekali?”

Alviorita diam saja mendengar pertanyaan yang ditujukan Innane kepada dirinya sendiri itu. Alviorita menduga ruangan tempat ia berada ini jauh dari dapur juga Ruang Makan.

Sekali lagi terdengar suara pintu diketuk.

“Akhirnya mereka datang juga,” kata Innane senang sambil berjalan ke pintu.

Sikap Innane yang agak kekanak-kanakan walau usianya telah tua, membuat Alviorita menyukai wanita tua yang gemuk itu.

Ia tersenyum pada Innane yang mendekatinya sambil membawa nampan yang penuh berisi makanan.

Innane duduk di tepi tempat tidur sambil mengawasi Alviorita yang menghabiskan makan siangnya. Sikapnya itu membuat Alviorita merasa seperti anak kecil yang tengah diawasi pengasuhnya agar mau menghabiskan makan siangnya. Mata Innane yang tak pernah lepas dari dirinya membuat Alviorita menduga wanita itu adalah Nanny di keluarga Kryntz.

Tak dapat dibayangkannya bagaimana cara wanita pelupa ini merawat anak asuhnya sehingga anak asuhnya itu menjadi seseorang yang sangat serius dalam menghadapi pekerjaannya. Sang kakak menjadi seorang yang selalu serius bagaimana dengan adiknya dan keluarganya?

Pikiran ini membuat Alviorita sempat merasa ragu akan keputusannya untuk tinggal di Castil Q`arde sambil berusaha membatalkan pertunangannya. Jelas sekali sifat serius bukanlah hal yang sesuai dengan Alviorita yang selalu ingin hidup bebas dan penuh dengan keceriaan. Sikap serius Nathan beserta keluarganya pasti akan membuat Alviorita cepat merasa bosan tinggal di Castil Q`arde.

Walaupun bagi semua orang Alviorita adalah Putri yang baik, yang selalu memperhatikan segala pekerjaan yang menjadi tugasnya, namun sebenarnya Alviorita bukanlah gadis yang seperti itu. Alviorita sangat membenci kegiatan rutinnya. Andaikata Alviorita bukan Putri Mahkota, ia pasti tidak akan mau melakukan hal yang membosankannya itu. Hanya demi ayahnya dan Kerajaan Lyvion saja Alviorita mau melakukannya.

Sekarang pikiran bahwa ia tinggal di tengah-tengah keluarga yang selalu serius membuat Alviorita ragu-ragu apakah ia tidak akan bosan tinggal di Castil Q`arde sampai ia berhasil membuat pertunangan konyolnya gagal.

Melihat wajah Innane yang tersenyum, membuat Alviorita yakin ia akan dapat melakukan semuanya seperti yang telah direncanakannya.

Alviorita yakin ia tidak akan bosan bila ia masih dapat melihat wajah Innane yang bundar dan kekanak-kanakan. Dan tentu saja selama Alviorita berada di Castil Q`arde, ia akan terus dapat bertemu dengan Innane.

Hal itu membuat Alviorita lega.

Satu-satunya yang belum melegakan Alviorita adalah ia belum mengetahui dengan jelas apakah yang akan dilakukan keluarga Kryntz terhadapnya. Memang Alviorita telah mempunyai dugaan bahwa Duchess of Kryntz tidak akan mengijinkannya meninggalkan Castil Q`arde sebelum ingatannya pulih. Tetapi Alviorita ingin mendengar sendiri kepastian mengenai itu dari keluarga Kryntz.

Alviorita tidak perlu menanti lama untuk dapat mengetahui hal itu karena siang itu juga setelah ia menghabiskan makan siangnya, Duchess ingin bertemu dengannya.

Setelah mendandani Alviorita, Innane membawa gadis itu ke Ruang Duduk di mana Duchess akan menemuinya.

Ketika mereka semakin dekat dengan Ruang Duduk, Alviorita melihat seseorang juga berjalan mendekati Ruang Duduk. Melihat tubuh pria itu yang pendek dan gemuk, Alviorita tersenyum geli.

“Ada apa, Miss?” tanya Innane keheranan.

Alviorita menatap pria yang terus berjalan terburu-buru ke arahnya itu. “Pria itu lucu sekali. Ia seperti bola yang menggelinding.”

Innane melihat pria yang dimaksudkan Alviorita. “Jangan berkata seperti itu, Miss. Ia putra Duke of Kryntz.”

Jawaban itu membuat Alviorita terkejut. “Tidak mungkin,” katanya perlahan seperti berbisik.

Alviorita tidak dapat membayangkan ayahnya telah memilih pria itu sebagai tunangannya. Tetapi Alviorita lebih tidak dapat membayangkan pria yang bertubuh bulat seperti bola itu dikagumi banyak wanita. Bila pria itu adalah seseorang yang selalu serius, itu mungkin saja. Tetapi bila dikatakan pria yang bertubuh bulat seperti bola itu adalah pria yang tampan dan menarik, hal itu sangat tidak mungkin. Sama tidak mungkinnya dengan kata-kata Raja Phyllips yang mengatakan tunangan Alviorita adalah seseorang yang menarik.

Membayangkan dirinya berdiri di samping pria itu di pesta pertunangan mereka membuat Alviorita hampir pingsan karena rasa terkejut dan tidak percaya. Tetapi Alviorita menahan perasaan itu karena ia tahu bila ia menunjukkan perasaan itu maka semua rencananya tidak akan berjalan seperti yang diharapkannya. Dan setelah melihat sendiri tunangannya, Alviorita semakin ingin membatalkan pertunangan konyolnya.

Alviorita sengaja berjalan lambat-lambat agar pria yang tengah terburu-buru itu segera sampai di Ruang Duduk.

Ketika ia melihat keluarga Kryntz berkumpul di Ruang Duduk, Alviorita diam saja sambil berusaha menahan rasa ingin tahunya ketika melihat jumlah anggota keluarga Kryntz yang berkurang satu.

Alviorita melihat tunangannya itu mirip sekali dengan ayahnya, Duke of Kryntz.

Duchess menyambut kedatangan Alviorita.

“Duduklah di sini, kami ingin berbicara denganmu,” kata Duchess sambil mendudukkan Alviorita di depan Duke.

“Kami turut menyesal atas kejadian yang menimpamu,” kata Duke memulai percakapan.

Alviorita diam saja.

“Kami ingin engkau tinggal di sini sampai ingatanmu kembali,” kata Duke meneruskan ceritanya.

“Tinggallah di sini sampai ingatanmu pulih,” kata Duchess ikut membujuk Alviorita yang sejak tadi diam saja.

Melihat Alviorita yang masih diam saja, Duke berkata, “Kami mengakui ini semua adalah kesalahan putra kami. Ia tidak hati-hati hingga ia menabrakmu.”

“Maafkan saya. Saya tidak bermaksud menabrak Anda, saya tadi pagi terburu-buru mengejar kakak saya,” kata pria itu.

Alviorita terkejut mendengar kalimat itu. “Kakak?” tanyanya lirih.

Pria itu mengangguk. “Ya, tadi pagi-pagi sekali kakak saya pergi ke Druqent untuk menjemput kemenakan kami yang ingin berlibur di sini dan ia lupa membawa oleh-oleh yang hendak diberikan Mama kepada adiknya.”

Alviorita memandang tak mengerti wajah Duchess.

Duke tersenyum melihatnya. “Kami mempunyai dua putra. Yang seorang bernama Nathan dan yang ini adalah Trent,” kata Duke menjelaskan.

“Seperti yang engkau lihat putra keduaku ini anak yang nakal. Demikian pula kakaknya,” kata Duchess menambahkan, “Karena itu bila engkau tidak berkeberatan, kami ingin engkau tinggal di sini dan menjadi anak perempuan kami sampai ingatanmu pulih. Selama ini kami ingin sekali mempunyai anak perempuan yang juga meramaikan Castil Q`arde.”

Alviorita menatap wajah Duke dan Duchess bergantian. Ia masih sukar mempercayai apa yang didengarnya. Alviorita memang tidak mengetahui banyak tentang keluarga tunangannya ini tapi ia tahu keluarga ini mempunyai dua orang putra.

Sungguh merupakan suatu kekeliruan yang konyol. Bagimana mungkin Alviorita segera menduga pria yang ditemuinya adalah tunangannya tanpa memikirkan kemungkinan pria itu adalah adik tunangannya. Memang pertunangan konyol ini membuat Alviorita juga merasa dirinya seperti orang konyol. Ia sendiri ingin melepaskan diri dari pertunangan konyolnya tapi ia sendiri juga yang memutuskan untuk tinggal di Castil tunangannya.

Alviorita merasa sedikit lega mengetahui pria itu bukan tunangannya dan saat ini tunangannya sedang berada di Druqent untuk menjemput kemenakannya. Tetapi Alviorita masih khawatir tunangannya akan mirip dengan adiknya, Trent.

Alviorita tahu tunangannya akan kembali sebelum pesta pertunangan itu diadakan. Dan saat itulah Alviorita akan tahu seperti apakah tunangannya, apakah ia mirip Duke yang gemuk tetapi tegap atau Duchess yang cantik.

Setelah menguasai perasaannya, Alviorita berkata senang, “Saya senang sekali mendengarnya. Lagipula saya tidak tahu saya harus ke mana dengan keadaan yang seperti ini.”

“Keputusan yang bijaksana,” puji Duke.

“Sekarang kita hanya perlu memberikan nama yang tepat untukmu,” kata Duchess ikut senang.

Alviorita sudah tidak peduli pada nama apa yang diberikan keluarga Kryntz kepadanya. Saat ini ia merasa lega karena ia berhasil memasuki sarang musuh dan ia tinggal melanjutkan rencana selanjutnya.

Hingga besok lusa, ia harus dapat meyakinkan semua orang di Castil Q`arde bahwa ia tidak berasal dari kalangan bangsawan. Kemudian besok ia akan bertemu tunangannya.

Alviorita tidak dapat membayangkan seperti apa rupa tunangannya itu.

3

Alviorita melihat dua ekor kuda datang mendekati Castil Q`arde. Tetapi ia tidak mempedulikan itu. Sejak tadi pagi saat ia menghindari Trent, Alviorita terus duduk di dahan pohon yang tinggi itu sambil mengawasi setiap orang yang berlalu lalang di depan Castil Q`arde.

Langit yang cerah dengan awan-awan putihnya menaungi Alviorita. Awan-awan putih itu mengumpul di atas Alviorita seakan-akan ingin melindungi Alviorita dari sinar matahari yang semakin panas.

Angin sejuk yang berhembus membuat Alviorita semakin merasa betah duduk berjam-jam di dahan pohon itu.

Walaupun tempat duduknya berada jauh dari permukaan tanah, Alviorita tidak merasa takut. Ia sudah sering duduk di dahan pohon yang tinggi di Istana Urza.

Setiap kali Alviorita melarikan diri dari kegiatan rutinnya, pohon-pohon di halaman Istana Urzalah yang menjadi tempat persembunyiannya.

Tidak seorangpun yang menduga ia memanjat pohon itu dan duduk di dahannya sambil tertawa-tawa kecil melihat mereka yang mengejarnya tengah kebingungan mencarinya.

Tidak seorangpun yang mengetahui rahasia menghilangnya Alviorita itu. Hal itu membuat Alviorita semakin merasa senang dan bebas. Ia tidak perlu khawatir orang-orang akan menemukannya dan memaksa ia melakukan kegiatan rutinnya yang membosankan.

Sering kali Alviorita ingin tahu apa yang dikatakan pengasuhnya, Maryam bila wanita itu mengetahui apa yang dilakukannya bila ia menghilang. Bila Maryam yang selalu disiplin itu mengetahuinya, mungkin yang akan dilakukan wanita itu adalah pingsan. Wanita itu tentu tidak percaya Putri Mahkota seperti Alviorita memanjat pohon.

Tata krama sebagai Putri Mahkota tidak pernah mengajari Alviorita cara memanjat pohon bahkan tidak pernah mengijinkan Alviorita memanjat pohon. Tetapi Alviorita memang seorang gadis yang sulit diatur. Ia tidak pernah mempedulikan tata krama bila ayahnya tidak ada di Istana Urza.

Sikap Alviorita yang berubah menjadi seorang gadis yang patuh dan manis benar-benar membuat Maryam merasa lega sekaligus senang. Maryam tidak pernah tahu bahwa sesungguhnya bersikap sopan dan manis sebagai Putri Mahkota yang baik membuat Alviorita merasa tersiksa. Alviorita sering kali tergoda untuk melarikan diri dari semua kegiatan yang membosankan tetapi ia selalu mengingat teguran pelayan itu dan ia berusaha keras untuk menahan rasa bosannya.

Setiap kali Alviorita duduk di dahan pohon, yang dilakukannya adalah melihat Kerajaan Lyvion yang terlihat dari atas pohon itu. Mengawasi rumah-rumah penduduk yang kecil mengumpul di suatu tempat serta melihat kilaunya sungai yang mengalir di kejauhan membuat Alviorita semakin merasa betah terus berada di atas pohon. Dan biasanya bila Alviorita sudah duduk di atas pohon, ia tidak segera turun kembali. Alviorita selalu menanti hingga hari gelap.

Alviorita senang ketika tadi ia telah membuktikan bahwa ia masih mampu memanjat pohon dengan mudah walau ia sudah lama tidak memanjat pohon.

Tadi pagi ketika Alviorita tengah berjalan-jalan di taman Castil Q`arde, ia merasa seseorang sedang mengikutinya tetapi ia pura-pura tidak tahu. Ia terus berjalan seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Sengaja ia berjalan lambat-lambat untuk menanti apakah orang yang mengikutinya itu akan segera mengejarnya. Tetapi rupanya orang itu tidak berusaha mengejarnya. Ketika ia membelok ke taman yang luas, Alviorita bersandar di tembok dan menanti siapa yang sedang mengikutinya.

Alviorita tidak terkejut ketika melihat Trentlah yang mengikutinya.

Sejak pertama kali bertemu dengan Trent, Alviorita sudah tidak menyukai pria itu. Entah mengapa ia segera tidak menyukai pria yang baru dijumpainya itu. Alviorita hanya tahu ia tidak pernah menyukai pria yang selalu menggodanya itu.

Kemarin malam Alviorita cepat-cepat kembali ke kamarnya karena ia bosan mendengarkan kata-kata yang sering didengarnya. Sekarang Trent mengikutinya.

Alviorita tidak tahu dari mana Trent tahu ia sedang berjalan-jalan di taman. Alviorita yakin tidak ada orang yang melihatnya ketika ia meninggalkan kamarnya.

Trent tiba di sisi Alviorita tetapi ia tidak mengetahui Alviorita tengah bersandar di dinding di sampingnya. Matanya mencari Alviorita di taman yang luas.

“Engkau mencariku?” tanya Alviorita sedingin es.

Trent terkejut. “Tak kuduga engkau ada di sini.”

“Engkau mencariku?” ulang Alviorita.

“Jangan seperti itu. Engkau tahu aku menyukaimu,” kata Trent.

Alviorita tidak mempedulikan kata-kata itu. Dalam hati Alviorita menghitung berapa kali ia mendengar kalimat yang sama. Rasanya sudah terlalu sering Alviorita mendengar pria mengucapkan kalimat itu kepadanya. Dengan tenang Alviorita berkata, “Kalau engkau mencariku hanya untuk mengatakan itu, aku akan pergi.”

Alviorita hendak meninggalkan Trent tetapi pria itu menahan tangannya. Tangan Trent yang meremas lengannya membuat Alviorita kesakitan. “Lepaskan tanganku,” katanya dingin sambil menyentakkan tangannya dari pegangan pria itu.

“Mengapa engkau bersikap sedingin itu kepadaku?”

“Tidak tahu,” kata Alviorita sambil mengangkat bahunya dengan santai.

Trent tersenyum. “Apakah engkau terbiasa melakukan itu kepada semua pria yang kautemui?”

Ingin sekali Alviorita mengangguk tetapi ia bersikap tidak peduli. Ia meneruskan perjalanannya yang terhenti karena pria itu. Alviorita tahu Trent mengikutinya tetapi ia diam saja.

“Mengapa engkau selalu menghindar dariku? Apakah engkau tidak menyukaiku?”

Alviorita terus melanjutkan langkah kakinya tanpa mengatakan apa-apa.

“Kaukira aku tidak tahu mengapa kemarin malam engkau cepat-cepat kembali ke kamarmu. Engkau ingin menghindariku bukan?”

Kata-kata pria itu membuat Alviorita benar-benar ingin segera menghilang dari hadapan pria itu. Sudah cukup sering pula Alviorita mendengar kalimat itu di belakangnya. Sewaktu ia masih seorang Putri Mahkota tidak seorang pria pun yang berani mengucapkan kalimat itu walau sesesungguhnya mereka jengkel pada sikapnya yang angkuh.

Banyak yang mengatakan ia adalah gadis yang dingin. Tetapi itu adalah dugaan yang salah. Alviorita selalu menghindar dari setiap pria yang dijumpainya karena ia tidak menyukai mereka yang selalu memuji dirinya. Alviorita yakin andaikata ia bukan Putri Mahkota, mereka pasti tidak akan memujinya untuk mendapatkan perhatiannya. Siapa yang tidak tertarik untuk menjadi Raja di Kerajaan Lyvion yang makmur? Tentu tidak seorangpun yang tidak tertarik. Dan jalan termudah untuk mencapai kedudukan itu adalah melalui sang Putri Mahkota yang cantik juga kekurangan kasih sayang ayahnya. Alviorita percaya setiap pria memanfaatkannya untuk mencapai kedudukan itu sehingga ia tidak menyadari bahwa ia memang cantik seperti yang mereka katakan.

“Engkau jangan menghindariku, Rosa,” kata Trent memperingatkan, “Akulah yang memilihkan nama itu untukmu.”

Alviorita membalikkan badannya dan menatap tajam wajah bulat Trent. “Aku tidak memintamu melakukannya.”

Alviorita tidak peduli nama apa yang diberikan keluarga Kryntz padanya. Saat ini yang ia pedulikan adalah rencananya untuk menggagalkan pertunangannya.

Trent terdiam mendengarnya. “Engkau tidak suka nama itu?”

Alviorita diam saja. Ia benar-benar ingin segera menjauh dari Trent.

“Mengapa engkau menghindari aku yang telah memilihkan nama itu untukmu? Kalau engkau tidak menyukai nama itu katakan saja kepadaku. Nama itu memang cocok untuk gadis secantik engkau. Setiap hari aku selalu melihat engkau berseri seperti bunga mawar.”

Alviorita sama sekali tidak sadar apa yang dikatakan Trent maupun Duchess memang tepat. Nama barunya itu memang sesuai dengan tatapan tajam yang dimilikinya. Matanya yang besar selalu menatap tajam apa yang dilihatnya, seperti elang.

“Nama itu sesuai untukmu. Engkau memiliki tatapan tajam seperti elang. Dan engkau sangat cantik dan selalu terlihat ceria seperti bunga yang sedang mekar. Dan hanya bunga mawar yang sesuai denganmu. Durinya seperti tatapan tajammu dan keindahan bunganya seperti kecantikkanmu,” kata Duchess ketika Trent mengajukan usulnya.

“Kalau engkau tidak ingin aku menghindarimu maka sekarang kejarlah aku,” kata Alviorita sambil berlari menjauh.

Alviorita tahu Trent tidak akan dapat mengejarnya. Sekerasa apa pun usaha Trent untuk mengejarnya, ia tidak akan dapat menangkap Alviorita yang berlari cepat.

Dulu ketika Alviorita sering melarikan diri dari kegiatan rutinnya, ia selalu berlari menjauh dari Maryam serta pengawal yang mengejarnya. Kebiasaan selalu berlari menjauh dari orang-orang itu membuat Alviorita semakin hari semakin dapat berlari cepat.

Setiap kali Alviorita berlari menjauh, tidak seorangpun yang dapat menangkapnya. Sehingga mereka akhirnya membiarkan Alviorita melarikan diri dari kegiatan rutinnya.

Alviorita tidak menyadari Duke dan Duchess tengah memperhatikan dirinya.

“Mereka kelihatannya akrab sekali,” kata Duchess yang melihat Alviorita sedang berkejar-kejaran dengan Trent.

Duke mengangguk membenarkan kata-kata istrinya.

Mereka terus memperhatikan Trent yang berusaha mengejar Alviorita.

Alviorita tertawa senang ketika ia melihat Trent tertinggal di belakangnya. Ia menghilang di halaman luar Castil Q`arde.

Suara kuda yang meringkik membuat Alviorita mengalihkan perhatiannya ke kuda-kuda yang mendekati Castil Q`arde.

Seorang anak kecil yang mengendarai salah satu kuda itu tiba-tiba melarikan kudanya dengan cepat ketika ia melihat Castil Q`arde. Anak itu tampak benar-benar senang melihat Castil Q`arde yang telah dekat.

Dari tempatnya yang cukup tinggi, Alviorita mendengar suara lantang seorang pria yang mengawasi anak itu.

“Hati-hati!”

Baru saja pria itu mengatakannya ketika tiba-tiba kuda yang ditunggangi anak itu meringkik keras kemudian berlari kencang tanpa mau menuruti perintah anak itu.

Alviorita melihat anak itu berteriak ketakutan karena kuda yang ditungganginya tiba-tiba menjadi liar.

Pria yang sejak tadi mengikuti anak itu dari kejauhan segera mendekat. Tetapi ia terlambat, anak itu telah terjatuh dari kudanya ketika ia sampai di bawah pohon tempat Alviorita duduk sambil mengawasi mereka.

Tingkah kuda yang benar-benar tidak dapat dikendalikan lagi itu membuat Alviorita tidak berpikir panjang lagi. Ia melompat ke punggung kuda yang berada tak jauh dari tempatnya duduk.

Ketika Alviorita melompat ke punggung kuda itu ia tidak sempat berpikir kalau ia dapat terluka. Saat itu yang dipikirkan Alviorita hanya segera menenangkan kuda yang sulit dikendalikan itu sehingga tidak semakin mendekati anak kecil yang ketakutan itu.

Untunglah kali ini sang Takdir memihak Alviorita. Alviorita jatuh tepat di punggung kuda itu dan dengan segera ia berusaha mengendalikan kuda itu. Ia menarik kuat-kuat tali kendali kuda itu. Mula-mula kuda itu tidak mau menurut tetapi Alviorita bukan seorang gadis yang mudah menyerah. Setelah Alviorita berhasil mengendalikan kuda itu, ia segera melompat dari punggung kuda yang telah diam itu dan mendekati anak kecil yang terpana dengan pemandangan yang baru saja dilihatnya. Alviorita memeriksa lutut anak itu yang terluka. Dengan saputangannya ia membersihkan luka itu dari debu kemudian membalutnya. Alviorita tersenyum melihat wajah terkejut anak itu. “Sebaiknya aku segera membawamu ke dalam.”

Anak itu masih terkejut dengan kejadian yang baru dialaminya sehingga ia diam saja ketika Alviorita menggendongnya.

“Terima kasih atas pertolongan Anda.”

Suara lantang yang tadi didengarnya dari atas pohon membuat Alviorita terkejut. Rupanya sejak tadi Alviorita hanya memusatkan perhatiannya ke anak kecil di gendongannya serta kudanya sehingga ia melupakan kehadiran pria itu.

Alviorita lebih terkejut lagi ketika ia melihat wajah pria itu. Pria itu mirip Duchess namun matanya gelap seperti Duke of Kryntz.

Ketika mata Alviorita bertemu dengan mata pria itu, ia tidak dapat berbuat apa-apa seakan-akan mata pria itu telah menghentikan seluruh gerakannya. Tidak seorangpun dari mereka yang bergerak. Mereka hanya diam terpaku dan terus saling memandang seolah-olah ingin saling mengenal.

Suara erangan anak di gendongan Alviorita mengejutkan mereka berdua yang sibuk bertatap-tatapan.

Pria itu mendekati Alviorita.

Alviorita yang sibuk dengan pikirannya sendiri terkejut ketika pria itu berkata, “Terima kasih atas bantuan Anda. Sekarang ijinkanlah saya untuk membawa kemenakan saya masuk Castil Q`arde.”

Walaupun Alviorita telah menduga pria itu adalah kakak Trent tetapi kalimat yang diucapkan pria itu tetap membuat Alviorita terkejut. Alviorita sama sekali tidak dapat mempercayai apa yang dilihat dan didengarnya. Walaupun secara tidak langsung pria itu telah mengatakan bahwa ia adalah Nathan tetapi Alviorita tetap tidak percaya. Bagi Alviorita sungguh mustahil Nathan berbeda dari adiknya. Trent lebih mirip dengan Duke sedangkan Nathan mirip dengan Duchess.

Pria itu semakin mendekati Alviorita. “Saya akan membawa kemenakan saya.”

Untuk kesekian kalinya suara lantang itu membuat Alviorita terkejut.

Untuk menutupi keterkejutannya Alviorita cepat-cepat berkata, “Saya akan membawanya masuk. Anda membawa kuda-kuda itu saja.” Tanpa menanti jawaban pria itu, Alviorita segera membawa masuk anak itu. Walaupun Alviorita tidak memalingkan kepalanya untuk melihat apakah pria itu mengikutinya tetapi dari pendengarannya ia tahu pria itu mengikuti mereka.

“Engkau tidak apa-apa?” tanya Alviorita memecahkan kesunyian.

Anak itu menggeleng.

Alviorita tersenyum. Ia tahu anak laki-laki itu masih terkejut dengan kejadian yang baru dialaminya.

“Apakah lukamu tidak terasa sakit?”

Sekali lagi anak itu menggelengkan kepalanya.

Alviorita tahu anak itu sebenarnya merasa sakit tetapi ia tidak mau berkata terus terang. Alviorita tidak berkata apa-apa lagi. Ia kembali memusatkan perhatiannya ke pria yang berjalan di belakangnya sambil menuntun dua ekor kuda melewati taman.

Seperti halnya Alviorita, pria itu juga tidak berkata apa-apa. Pria itu memusatkan perhatiannya ke gadis yang berjalan di depannya sambil menggendong kemenakannya. Ia masih tidak percaya pada apa yang dilihatnya beberapa saat yang lalu. Sesaat yang lalu saat ia mendekati kemenakannya yang jatuh dari kudanya, tiba-tiba ia melihat sesuatu yang berwarna putih terjatuh dari atas pohon. Ia menengadahkan kepalanya dan terkejut melihat seorang gadis terjatuh dari pohon yang yang tinggi. Tanpa disadarinya ia menghentikan langkah kudanya. Semula ia mengira gadis itu akan jatuh tetapi ternyata gadis itu dengan mudah mencapai punggung kuda yang semula ditunggani kemenakannya. Dengan mudah pula gadis itu mengendalikan kuda yang tiba-tiba menjadi liar itu. Melihatnya, pria itu semakin terkejut. Rupanya gadis itu tidak terjatuh dari pohon tetapi memang sengaja menjatuhkan dirinya dari atas pohon untuk mengendalikan kuda yang liar itu. Tanpa mempedulikan sekitarnya, gadis itu segera menghampiri kemenakannya yang terluka. Ia melihat gadis itu mengatakan sesuatu kepada kemenakannya.

Keterkejutan pria itu masih belum berakhir.

Ia terkejut ketika ia melihat wajah gadis itu. Wajah cantik itu tampak tenang namun matanya memandang tajam padanya. Matanya yang hijau tua tampak kontras dengan rambut hitamnya. Pria itu terpana pada mata hijau yang menatap tajam padanya. Mata itu seakan-akan tidak ingin melepaskan dirinya.

Sekarang ia hanya dapat terdiam memandangi gadis yang tampak berbeda sekali dengan gadis yang beberapa saat lalu melompat dari pohon. Gadis yang beberapa saat lalu terlihat seperti gadis liar sekarang berjalan dengan anggun di depannya.

Pria itu semakin ingin mengetahui siapakah gadis itu ketika ia melihat gadis itu dengan mudah mencapai bangunan utama Castil Q`arde yang terletak di tengah-tengah taman yang luas.

Kemarin saat ia meninggalkan Castil Q`arde, ia tidak melihat gadis itu di Castil Q`arde. Dan sekarang ketika ia kembali, ia melihat gadis itu.

Alviorita terus berjalan tanpa mempedulikan pria yang mengikutinya. Ia ingin segera mencapai Ruang Kanak-Kanak dan segera merawat luka anak di gendongannya.

Darah yang terus membasahi saputangan putihnya itu benar-benar membuat Alviorita semakin khawatir. Walau anak itu tidak mengatakan apa-apa ataupun mengeluh tetapi Alviorita tahu anak itu kesakitan.

Melihat anak itu terus menahan sakit, Alviorita berkata lembut, “Bersabarlah aku akan segera membawamu ke Innane. Ia akan merawat lukamu.”

Anak itu mengangguk tetapi ia tetap tidak berkata apa-apa.

Kerutan di keningnya cukup mengatakan kalau ia tengah kesakitan. Melihat itu Alviorita membatalkan niatnya untuk membawa anak itu ke Ruang Kanak-Kanak. Alviorita merasa kasihan pada anak itu bila ia terus memaksanya menahan sakit hingga mereka tiba di Ruang Kanak-Kanak yang letaknya di lantai tiga. Terlebih lagi ketika ia melihat darah yang terus mengalir dari luka anak itu. Alviorita khawatir anak itu akan kehilangan banyak darah sebelum mereka tiba di Ruang Kanak-Kanak.

Ketika Alviorita melihat seorang pelayan berjalan ke arahnya, ia segera berkata, “Ambilkan seember air dan obat untuk mengobati luka anak ini.”

Alviorita sama sekali tidak menyadari kata-katanya yang terdengar seperti perintah tegas itu. Kebiasaan memerintah selama ia masih berada di Istana Urza membuat Alviorita lupa kalau ia sekarang berada di Castil Q`arde sebagai gadis yang tak dikenal.

Pelayan itu terkejut mendengarnya tetapi ketika ia melihat luka di lutut anak yang digendong Alviorita, ia mengerti mengapa Alviorita berkata setegas itu.

Tanpa menanti pelayan itu pergi, Alviorita segera membelok ke Ruang Duduk yang berada tepat di sebelah kanan lorong yang sedang dilaluinya dan mendudukan anak itu di kursi terdekat. Dengan hati-hati Alviorita membuka lilitan saputangannya di lutut anak itu. Ia tidak terkejut ketika melihat lutut anak itu memerah karena lukanya.

Sambil menanti pelayan, Alviorita membersihkan luka anak itu dengan gaunnya untuk menggantikan saputangan yang sudah kotor itu. Alviorita sama sekali tidak peduli ketika gaun putih yang dibawanya dari Istana Urza menjadi merah karena darah anak itu.

Ketika melihat pelayan datang dengan seember air dan sehelai kain yang bersih, Alviorita berkata, “Segera bawa ke sini.”

Pelayan itu sudah tidak peduli lagi pada kata-kata Alviorita yang tegas. Ia segera menyerahkan benda yang dibawanya kepada Alviorita.

“Tahan sebentar,” kata Alviorita lembut sambil membersihkan luka anak itu dengan air.

Walaupun anak itu diam saja tetapi Alviorita tahu ia menahan rasa sakit ketika lukanya tersentuh oleh air.

Melihat tangan anak itu menggenggam erat-erat pinggiran kursinya, Alviorita tersenyum padanya dan membersihkan lukanya dengan lembut. Alviorita masih tersenyum kepada anak itu ketika ia membalut lukanya. Anak yang sejak tadi hanya menahan sakit, membalas senyum Alviorita.

“Hebat,” kata seseorang sambil bertepuk tangan.

Alviorita mengenali suara itu tetapi ia tidak mau memalingkan kepalanya. Ia merasa malas mendengar suara yang paling tidak ingin didengarnya itu.

“Tak kusangka engkau mampu membuat Jeffreye duduk diam sementara engkau mengobatinya.”

“Mari kita ke Ruang Kanak-Kanak,” bisik Alviorita.

Melihat Alviorita tidak memperhatikan pujiannya melainkan mengulurkan tangan pada kemenakannya, Trent merasa jengkel. “Engkau tidak pernah memperhatikan segala yang kukatakan.”

“Bagaimana mungkin aku memperhatikan segala pujian kosongmu?” kata Alviorita dalam hati sambil tersenyum sinis – mengejek Trent.

Alviorita tahu Trent merasa terhina ketika ia tetap tidak memperhatikannya melainkan memperhatikan Jeffreye yang sekarang telah berada dalam gendongannya. Walaupun demikian Alviorita tetap tidak mengalihkan perhatiannya dari Jeffreye.

Dengan tenang, ia berjalan mendekati Trent yang berdiri di salah satu pintu Ruang Duduk yang menuju ke dalam.

Trent memegang lengan Alviorita ketika gadis itu hendak melaluinya.

“Lepaskan aku.”

Suara Alviorita yang dingin dan tegas itu tidak membuat Trent melepaskan lengan gadis itu. Sebaliknya ia semakin memperat pegangannya.

“Mengapa engkau selalu menghindar dariku?”

“Tanyalah pada dirimu sendiri. Sekarang biarkan aku mengantar kemenakanmu ini ke Ruang Kanak-Kanak.”

Trent baru saja akan mengatakan sesuatu ketika tiba-tiba terdengar seseorang berkata tegas,

“Biarkan ia lewat, Trent.”

Alviorita terkejut mendengar suara lantang dan tegas itu. Ia memalingkan kepalanya ke pintu Ruang Duduk yang lain yang menuju ke halaman Castil Q`arde.

Pria itu menatap tajam wajah Alviorita yang masih dikuasai rasa terkejutnya. “Ia benar. Jeffreye pasti lelah setelah perjalanan yang jauh.”

“Baiklah, Nathan,” kata Trent mengalah.

Alviorita segera berlalu dari tempat itu sebelum Trent melihat wajah terkejutnya. Sekarang semuanya telah jelas bagi Alviorita. Ia telah bertemu tunangannya. Dan tunangannya itu adalah pria yang tadi datang bersama anak yang sekarang ada dalam gendongannya.

Alviorita heran mengapa ia takut mendengar kata-kata tunangannya itu mengenai tingkahnya ketika ia melompat dari pohon untuk menghentikan kuda yang sedang marah. Tetapi ia juga senang karena dengan demikian pria itu tidak akan pernah menduga ia adalah sang Putri Mahkota.

Mengingat masih ada seorang anak dalam gendongannya Alviorita tidak berani menunjukkan rasa senangnya karena hingga kini tidak seorangpun dari Istana yang mencarinya ke Castil Q`arde.

“Engkau tidak apa-apa?” tanya Alviorita.

“Tidak.”

“Siapa namamu?”

“Jeffreye.”

Mendengar Jeffreye terus memberi jawaban singkat, Alviorita tersenyum. “Lukamu masih terasa sakit?”

Jeffreye menggeleng.

“Engkau lelah?”

Jeffreye mengangguk.

“Sandarkan kepalamu pada bahuku dan tidurlah.”

Belum sempat Alviorita menyelesaikan kalimatnya ketika anak itu telah menyandarkan kepalanya ke bahu Alviorita dan memejamkan matanya.

Alviorita tersenyum melihat anak itu segera tertidur. Ia mengerti anak itu telah menempuh perjalanan yang panjang dan sekarang ia lelah terlebih lagi setelah menahan rasa sakitnya.

Melihat anak itu tertidur dalam pelukannya, Alviorita melupakan rasa senangnya karena tidak seorangpun dari Istana Urza yang mencarinya di Castil Q`arde.

Gadis itu merasa senang sekali melihat anak yang manis itu tertidur nyenyak dalam gendongannya. Tidak pernah Alviorita merasa sesenang ini.

Ini adalah pengalaman pertama kalinya. Ini pertama kalinya ia menyentuh anak kecil. Sebelumnya ia tidak pernah mendekati anak-anak. Semua orang yang berada di sekitarnya lebih dewasa darinya. Hanya sedikit orang yang lebih muda darinya. Tetapi mereka hanya lebih muda beberapa tahun darinya.

Dalam setiap kunjungannya ke kota-kota besar pun ia tidak pernah berada di dekat anak-anak bahkan mengunjungi panti asuhan. Semua yang dilakukannya selama hampir delapan belas tahun hanyalah mengurusi masalah kerajaan. Mulai dari kehidupan rakyat hingga masalah politik. Di dalam semua kegiatannya tidak pernah tercantum masalah anak-anak.

Ketika masih kecil Alviorita sering kali merasa iri pada anak-anak lainnya. Anak-anak lainnya tidak dibebani oleh tugas kerajaan sedangkan ia sejak lahir telah dibebani setumpuk tugas yang tidak pernah berkurang bahkan semakin bertambah dari tahun ke tahun. Hingga saat ini Alviorita masih sering merasa iri pada anak-anak. Ia merasa ia telah kehilangan masa kecilnya bahkan tidak pernah mempunyainya. Hidupnya hanya dipenuhi kewajiban-kewajiban saja. Dan itu tidak pernah menyentuh masalah anak-anak. Alviorita tidak pernah melihat keceriaan anak-anak itu dengan mata kepalanya sendiri. Ia hanya dapat membayangkan hidup anak-anak sangat bebas dan penuh keceriaan seperti berada di surga.

Bagi Alviorita sekarang semuanya telah berubah. Ia bukan lagi Putri Mahkota dengan setumpuk tugasnya. Ia adalah gadis biasa yang sedang menyamar di Castil tunangannya sendiri.

Sekarang ia dapat melakukan apa saja yang diinginkannya.

Duke dan Duchess of Kryntz sama sekali tidak keberatan ketika kemarin mereka melihat dirinya berkelakuan yang dikatakan Maryam bukan sebagai tingkah seorang Putri Mahkota. Memang kemarin Alviorita tidak menunjukkan kemahiran memanjat pohonnya tetapi ia tahu Duke dan Duchess tidak akan mempermasalahkan bila ia bertingkah tidak seharusnya, sopan dan lemah lembut. Sepanjang hari kemarin ia mempergunakan waktunya untuk menikmati kebebasannya dengan berkeliling Castil Q`arde seorang diri. Tidak jarang ia berlari-lari sambil melompat kecil.

Saat itu Alviorita berpikir. Bagaimana reaksi pengasuhnya bila melihat ia bertingkah seperti itu.

Maryam adalah seorang wanita yang penuh pengertian kecuali dalam hal peraturan. Ia sangat ketat dalam hal satu ini. Ia selalu menginginkan Alviorita bersikap seperti seorang Putri Mahkota yang sempurna. Setiap langkah Alviorita selalu diperhatikannya dengan cermat. Ia tidak pernah mengijinkan Alviorita bersikap kurang sopan dan anggun. Ia juga mengajari Alviorita untuk bersikap angkuh tetapi tetap memperhatikan keramahan. Walaupun Alviorita tidak pernah mengeluh tetapi sebenarnya ia tidak menyukai semua itu. Seperti ia tidak menyukai kegiatan rutinnya.

Alviorita melihat Duke tengah berjalan menuju ke arahnya ketika ia hampir sampai di Ruang Kanak-Kanak.

“Siapa anak itu?” tanya Duke ingin tahu.

“Jeffreye.”

Duke terkejut. “Nathan sudah datang?”

Alviorita mengangguk.

“Engkau akan membawa Jeffreye ke mana?”

“Saya akan membawanya ke Ruang Kanak-Kanak. Sekarang ia sudah tertidur. Sepertinya ia lelah sekali,” kata Alviorita menjelaskan.

“Kalau begitu kami tidak akan menghalangimu lagi,” kata Duchess yang tiba-tiba muncul dari dalam kamarnya.

Duchess menarik suaminya menuju Ruang Duduk.

Alviorita tersenyum. Ia segera membawa Jeffreye ke Ruang Kanak-Kanak.

Ruang Kanak-Kanak kosong. Innane yang setahu Alviorita selalu berada di sana, kali ini tidak ada di sana. Dengan hati-hati Alviorita meletakkan Jeffreye di tempat tidur dan menyelimutinya.

Alviorita memandangi wajah mungil yang tertidur itu sebelum ia memperhatikan ruangan itu.

Suasana di Ruang Kanak-Kanak tidak berbeda dari ruangan yang lain. masih ada ukiran tumbuhan yang dapat dijumpai di sana.

Alviorita tertarik melihat mainan di sana. Ia senang sekali dapat berada di Ruang Kanak-Kanak kembali walau bukan Ruang Kanak-Kanak yang ada di Istana Urza.

Sudah lama sekali Alviorita tidak pernah mengunjun g i Ruang Kanak-Kanak. Sejak kematian ibunya saat ia baru berusia tiga tahun, ia sudah harus meninggalkan masa kecilnya dan mulai belajar segala urusan kerajaan.

Semasa ibunya masih hidup, Alviorita masih dapat menghabiskan waktunya untuk bermain-main. Ibunya tidak mengijinkan ayahnya memberinya segala macam pelajaran untuk dapat menjadi Ratu yang baik. Tetapi sejak Ratu yang selalu memberi perlindungan kepada Alviorita dari setumpuk tugas kerajaan itu meninggal, Raja mulai memberikan apa yang tidak dapat diberikan olehnya semasa Ratu masih hidup. Alviorita yang masih kecil harus memasuki dunia yang sama sekali baru baginya. Ia harus mulai belajar bersikap sebagai Putri Mahkota. Walaupun setiap orang di sekelilingnya selalu mengatakan ia adalah Putri Mahkota tetapi Alviorita tidak pernah menyukainya. Ia masih ingin menghabiskan waktunya untuk bermain ketika ia dipaksa belajar oleh Raja. Karena itu, setiap kali Raja tidak ada, Alviorita selalu meninggalkan semua kegiatan rutinnya dan membuat semua orang kebingungan.

Tengah Alviorita asyik memperhatikan Ruang Kanak-Kanak, seseorang membuka pintu. Tetapi Alviorita tidak mendengarnya. Gadis itu tenggelam dalam dunianya sendiri.

“Terima kasih atas bantuan Anda.”

Sekali lagi suara berat itu membuat Alviorita terkejut. Alviorita memalingkan kepalanya kepada pria itu.

Nathan menimbang apakah ia harus mengatakan segala yang diketahuinya dari orang tuanya mengenai gadis itu.

Sesaat setelah kepergian gadis itu bersama Jeffreye, Trent berkata,

“Menurutmu bagaimana dia?”

Nathan mengerti siapa yang dimaksud adiknya tetapi rasa herannya membuat ia bertanya tanpa sadar, “Gadis itu?”

Trent mengangguk. “Ia cantik bukan?”

Tanpa menanti jawaban Nathan, Trent berkata, “Aku menyukainya. Ia gadis yang paling cantik yang pernah kujumpai. Aku menyukai mata hijaunya yang selalu menatap tajam.”

“Siapakah gadis itu?”

Duke yang baru muncul tersenyum dan berkata, “Ia adalah hasil dari keterburu-buruanmu.”

“Maksud Papa?” tanya Nathan tidak mengerti.

“Karena engkau terburu-buru berangkat ke Druqent, engkau lupa membawa barang yang akan diberikan Mamamu pada adiknya. Kemudian Trent menyusulmu. Adikmu juga berangkat dengan terburu-buru dan akhirnya ia menabrak gadis malang itu.”

“Gadis malang itu kehilangan ingatannya dan Mama meminta ia tinggal di sini sampai ingatannya pulih,” kata Duchess.

“Aku memberinya nama Rosa. Bagus bukan? Nama itu sesuai untuk kecantikannya dan matanya yang tajam,” kata Trent bangga.

Nathan diam saja.

“Engkau telah bertemu dengannya?” tanya Duke.

“Ya. kami bertemu di depan.”

“Jadi engkau telah mengenalnya?” tanya Duchess.

“Belum. Kami tidak saling berkenalan.”

Duke menggeleng tak mengerti. “Apa saja yang kaulakukan? Engkau bertemu gadis secantik dia tetapi engkau tidak mengajaknya berkenalan.”

“Bagaimana dengan tunangannya?” tanya Trent merajuk.

“Oh…, aku lupa dia sudah punya tunangan.”

“Engkau sudah siap untuk pesta pertunanganmu besok?” tanya Duchess.

Nathan enggan mendengar masalah itu. “Aku akan melihat keadaan Jeffreye,” katanya dan sebelum orang tuanya memberinya ijin, ia telah berlalu dari ruang itu.

Melihat kebingungan di wajah gadis itu, Nathan berkata, “Saya telah mengetahui tentang Anda. Kata orang tua saya, Anda kehilangan ingatan Anda.”

“Lupakan saja. Saya tadi hanya bertindak tanpa rencana.”

“Saya tidak melihatnya seperti itu,” Nathan mengakui, “Saya melihat Anda telah memperhitungkan segala sesuatunya sebelum Anda melompat dari pohon.”

Alviorita menggeleng. “Saya hanya melakukannya sesuai apa yang saat itu terlintas dalam benak saya dan tanpa perhitungan. Kebetulan saja saya dapat mencapai punggung kuda itu.”

“Kebetulan yang menguntungkan.”

“Sepertinya itulah,” kata Alviorita, “Bagaimana keadaan kuda itu?”

“Ia sudah lebih tenang sekarang. Kuda itu menginjak sesuatu yang tajam.”

Alviorita terkejut. “Dan ia tiba-tiba bertingkah seperti itu karena ia terkejut.”

Nathan menatap wajah Jeffreye yang tertidur. “Untung Anda cepat menolong.”

Mendengar nada suara pria itu, Alviorita tahu pria itu menyembunyikan sesuatu dalam kata-katanya. “Maksud Anda melompat dari pohon?”

Nathan menjawabnya dengan tersenyum.

Alviorita jengkel melihat senyum itu. Senyum itu seperti mengejek. “Saya memang tidak dapat berbuat yang lain selain itu. Dan saya tidak menyalahkan Anda yang mempunyai pandangan seperti itu mengenai sikap saya.”

“Saya tidak mengatakan apa-apa,” Nathan membela dirinya tetapi senyumnya masih tidak hilang.

“Anda memang tidak mengatakan apa-apa tetapi wajah Anda lebih menerangkan apa yang Anda pikirkan,” kata Alviorita dengan ketenangan yang dingin.

Nathan tersenyum pada Alviorita kemudian ia mengalihkan perhatiannya pada kemenakannya yang tertidur nyenyak.

“Lebih baik Anda beristirahat. Anda pasti lelah karena…”

“Melompat dari pohon?” kata Alviorita tajam.

Nathan hanya mengangkat bahunya sambil tersenyum.

“Tidak, terima kasih. Saya ingin mengawasinya.”

Suara Alviorita yang tidak mau mengalah itu membuat Nathan hanya mengangkat bahunya tanpa mengatakan apa-apa.

Alviorita jengkel melihat sikap pria itu yang seperti tidak peduli atas apa yang telah terjadi. Tetapi ia juga merasa senang karena sikapnya ini dapat menjadi salah satu alasan mengapa ia tidak ingin bertunangan dengannya. Sikap Nathan yang selalu menyembunyikan sesuatu itu dapat dijadikan Alviorita sebagai perisainya bila ayahnya tetap memaksa dirinya untuk menikah dengan pria itu.

Tetapi apa yang dilakukan Alviorita ini memang curang. Tanpa sepengetahuan siapa pun, ia berusaha menggagalkan pertunangannya sendiri dari dalam keluarga Kryntz.

Meskipun demikian Alviorita tidak peduli. Ia tidak peduli apakah yang dilakukannya ini curang atau tidak. Yang dipedulikan Alviorita hanya hasil dari penyamarannya ini.

Apakah ia berhasil atau sebaliknya?

Alviorita tahu semua ini tergantung dari dirinya sendiri. Bila ia dapat menjaga sikap terutama kata-katanya. Ia akan membuat semua orang di Castil Q`arde mempercayai bahwa ia bukan sang Putri Mahkota.

Dan besok adalah hari yang dinanti-nantikan oleh Alviorita. Esok adalah bukti apakah Alviorita benar-benar dapat melarikan diri dari Istana Urza atau tidak. Apakah Alviorita dapat melanjutkan rencananya atau sebaliknya, ia harus membuat rencana baru.

Rencana yang sedang dijalaninya ini memang merupakan rencana mendadak. Tetapi hingga saat ini rencana itu berjalan dengan lancar.

Buktinya adalah suasana tegang di Istana Urza.

Sejak kemarin, sepanjang hari Raja Phyllips marah. Wolve serta semua prajurit yang bertugas menemukan Alviorita menjadi takut melihatnya. Walaupun Wolve telah sering melihat kemarahan Raja. Namun kali ini ia tetap merasa takut melihat kemurkaan yang luar biasa di wajah Raja. Wajah Raja Phyllips benar-benar menakutkan. Awan kemarahan terus membayangi wajahnya yang tetap terlihat muda.

“Ingat waktumu hanya tinggal hari ini,” kata Raja Phyllips mengingatkan, “Hari ini juga engkau harus menemukan Alviorita.”

Mendengar nada mengancam dalam suara Raja, Wolve tidak berani membantah. Ia hanya mengangguk.

“Apa lagi yang engkau tunggu?” kata Raja, “Cepat temukan Alviorita. Hingga ke ujung dunia pun engkau harus menemukan Alviorita.”

“Hari ini juga,” tambah Raja dengan tegas.

Wolve membungkuk. “Baik, Paduka.”

Ketika meninggalkan Ruang Tahta, Wolve berpikir bagaimana cara ia menemukan Alviorita di kerajaan yang berbukit-bukit seperti ini dalam satu hari. Kepergian Alviorita ini telah membuat setiap orang di Istana Urza menjadi cemas sekaligus takut pada kemurkaan Raja Phyllips. Tetapi tidak ada yang tahu siapa yang harus disalahkan. Alviorita yang kabur? Maryam yang tidak dapat menjaga Alviorita dengan baik? Raja Phyllips yang membuat Alviorita kabur? Atau penjaga gerbang yang tidak melihat kepergian Alviorita? Kalaupun ada yang tahu siapa yang harus disalahkan dalam hal ini. Tidak mungkin orang itu akan mengatakan yang sebenarnya. Setiap orang pasti merasa takut sebelum menunjukkan kepada siapa kesalahan itu terletak. Tidak mungkin ada yang berani mengatakan Alviorita atau Raja Phyllips yang bersalah.

Yang menjadi persoalan saat ini bukan siapa yang bersalah melainkan bagaimana menemukan Alviorita. Bagaimana menemukan gadis itu sebelum pesta pertunangannya.

Wolve merasa tidak ada yang dapat dilakukan selain menunda pesta pertunangan itu. Waktu untuk mencari Alviorita sangat sempit. Dan daerah pencariannya sulit ditempuh. Tidak mungkin Alviorita akan ditemukan. Wolve sendiri mulai merasa ragu apakah Alviorita masih berada di Vximour atau ia sudah berada di kota lain. Hingga saat ini tidak seorangpun di Vximour yang melihat Alviorita.

Seperti kata Maryam, Alviorita selalu menghilang seperti ditelan bumi.

4

Tepat seperti yang diramalkan Wolve, hingga hari pertunangannya, Alviorita masih belum ditemukan. Tentu saja hal ini membuat Raja Phyllips semakin marah. Tetapi Raja sendiri juga tahu tidak ada yang dapat dilakukannya selain menunda pesta tersebut.

“Jadi hingga hari ini Alviorita belum ditemukan,” kata Raja.

“Maafkan kami, Paduka. Kami telah mencari Tuan Puteri ke seluruh tempat tetapi hingga kini kami belum menemukan Tuan Puteri,” kata Wolve sambil membungkuk dalam-dalam.

Raja Phyllips menatap Wolve. “Lupakan saja. Sekarang tidak ada yang dapat kita lakukan selain menunda pesta pertunangan itu. Alviorita memang suka membuat masalah.”

Wolve diam menanti perintah selanjutnya dari Raja.

“Sebarkan perintah pencarian Alviorita,” kata Raja Phyllips, “Sebelumnya sampaikan suratku kepada Duke of Kryntz.”

Wolve terkejut melihat Raja mengeluarkan secarik surat dari sakunya. Rupanya Raja juga merasa ia tidak akan dapat menemukan putrinya tetapi ia tetap menyuruh semua orang mencoba untuk menemukan Alviorita. Raja menggunakan kesempatan yang sempit untuk menemukan Alviorita. Walaupun ia tidak berhasil, setidaknya ia telah mencoba. Wolve mengagumi sikap Raja. Ia mengambil surat itu dari tangan Raja.

“Sampaikan juga permintaan maafku yang sedalam-dalamnya,” kata Raja pada Wolve.

Kemudian Raja memalingkan kepalanya kepada Menteri Dalam Negeri, James. “Sebarkan pengumuman penundaan pesta pertunangan ini kepada seluruh undangan.”

“Baik, Paduka,” jawab James sambil membungkuk.

“Dan jangan kau bongkar ruang yang telah dipersiapkan. Biarkan ruang itu apa adanya karena begitu Alviorita ditemukan, aku akan segera melangsungkan pesta pertunangannya sehingga ia tidak dapat kabur lagi.”

Sekali lagi James membungkuk sambil berkata, “Baik, Paduka.”

“Sebarkan prajuritmu ke seluruh pelosok Kerajaan Lyvion, Rupert. Jangan sampai ada yang terlewatkan.”

Menteri Pertahanan yang mendapat tugas itu membungkuk dan berkata, “Baik, Paduka.”

Melihat ketiga orang yang mengemban perintahnya masih belum juga beranjak, Raja Phyllips berkata, “Sekarang lakukan perintahku.”

“Baik, Paduka,” kata mereka serempak.

Setelah kepergian ketiga pria itu, Raja masih terus mondar-mandir di Ruang Tahta. Pikirannya masih dipenuhi oleh hilangnya putrinya. Ia tidak mengerti mengapa tidak seorangpun yang tahu di mana Alviorita berada.

“Kurasa kali ini Raja Phyllips benar-benar marah,” kata James.

“Aku merasa tak lama lagi ia akan mengerahkan seluruh penduduk Kerajaan Lyvion untuk menemukan Tuan Puteri.”

“Engkau salah, Wolve. Ia sudah melakukannya,” kata Rupert sambil tersenyum.

“Apa yang dapat dilakukan? Seperti kata Maryam, Putri Alviorita selalu menghilang seperti ditelan bumi,” kata Wolve.

“Sejak dulu Putri Alviorita memang selalu begitu. Hingga kini aku selalu ingin tahu ke manakah Putri bersembunyi sehingga tidak seorangpun dari kita yang dapat menemukannya,” kata Rupert.

“Putri Alviorita pandai menghilang,” timpal James.

“Sekarang kita berpisah di sini,” kata Wolve ketika mereka telah sampai di halaman Istana Urza.

Mereka saling mengucapkan selamat tinggal kemudian menaiki kuda yang telah dipersiapkan.

Wolve segera menuju kediaman Duke of Kryntz.

Ketika Wolve sampai di sana, ia tidak menyadari sepasang mata hijau tengah mengawasinya dari atas pohon. Mata hijau itu bersinar penuh kemenangan.

Wolve terus memasuki halaman Castil Q`arde. Kedatangannya disambut oleh pelayan yang segera mengantarkannya ke tempat Duke of Kryntz.

“Apa yang membuatmu kemari, Wolve?” sambut Duke.

Wolve tersenyum. “Apa lagi selain perintah Paduka?”

Duke terkejut. “Apakah terjadi sesuatu yang serius di Istana Urza?”

“Dapat dikatakan seperti itu.”

“Apa yang terjadi?”

“Sebaiknya engkau membaca surat ini.”

Duke menerima surat itu. Dari amplopnya yang bergambar simbol kerajaan, ia tahu surat itu dari Raja Phyllips.

Setelah membaca surat itu, Duke tidak mengatakan apa-apa. Ia berkata kepada istrinya, “Panggilkan Nathan. Kurasa ia pasti tertarik mendengar hal ini.”

Duchess segera meninggalkan ruangan itu.

Sepeninggal Duchess, Duke masih tidak mau membicarakan isi surat itu dengan Wolve.

Duke tersenyum pada Wolve, “Engkau mau minum apa?”

“Tidak, terima kasih.”

Wolve merasa heran melihat sikap Duke yang tenang itu. Semula ia menduga Duke akan sangat terkejut tetapi apa yang dilihatnya sekarang benar-benar bertentangan dengan apa yang dipikirkannya. Duke terlihat sangat tenang seperti tidak terjadi apa-apa. Padahal masalah ini menyangkut pertunangan putranya. Untuk menghilangkan kesunyian, Duke berkata, “Bagaimana keadaan Raja Phyllips?”

“Raja Phyllips baik-baik saja.”

“Apakah ia sudah tidak terguncang lagi karena kematian Ratu?”

Wolve menghela napasnya. “Kurasa sampai saat ini Raja masih saja merasa terguncang tetapi Tuan Puteri sudah tidak lagi. Sepertinya Tuan Puteri telah melupakan kematian ibunya.”

“Saat itu Putri Alviorita masih kecil. Ia pasti dengan cepat melupakan ibunya,” kata Duke.

“Siapa yang dapat menduga, Ratu yang selalu sehat tiba-tiba meninggal karena sakit,” kata Wolve, “Dan malang sekali Ratu meninggal di Castil ini.”

Duke hendak mengatakan sesuatu ketika pintu Ruang Duduk terbuka.

Duchess muncul beserta kedua putranya.

“Duduklah, Nathan,” kata Duke, “Aku mempunyai berita untukmu.”

Nathan mendekati ayahnya. Ketika ia sudah dekat, Duke menyodorkan surat Raja Phyllips kepadanya. Nathan menerima surat itu dan membacanya.

“Tidak mungkin?” tanya Nathan tidak percaya.

“Apa yang telah terjadi?” tanya Duchess ingin tahu.

“Putri Alviorita kabur dari Istana Urza,” kata Duke memberi tahu.

“Oh…,” kata Duchess sambil menutupi mulutnya.

Mereka memandang wajah Wolve yang sudah siap dengan serentetan pertanyaan.

Sebelum setiap orang memberinya pertanyaan, Wolve berkata, “Kemarin lusa Putri Alviorita menghilang. Tidak seorangpun yang dapat menemukannya baik di dalam maupun di luar Istana Urza. Juga tidak seorangpun yang melihat kepergian Tuan Puteri.”

“Hebat!” seru Trent kagum, “Seperti ditelah bumi.”

“Itulah yang selalu dikatakan Maryam. Putri Alviorita memang selalu begitu setiap kali ia menghilang tidak seorangpun yang dapat menemukannya. Ia hilang dan muncul seperti disihir.”

Trent berseru kagum. “Hebat! Aku ingin belajar bersembunyi darinya.”

“Kalian belum menemukannya?” tanya Duke.

“Sejak Putri hilang, kami telah berusaha mencarinya tetapi hingga saat ini kami tetap tidak berhasil. Raja Phyllips marah sepanjang hari karenanya. Dan hari ini ia mengadakan pencarian besar-besaran. Semua prajurit dikerahkannya untuk mencari Tuan Puteri bahkan seluruh penduduk Kerajaan Lyvion.”

“Itu artinya pesta pertunangan mereka ditiadakan?” tanya Duchess.

Wolve mengangguk.

“Engkau beruntung, Nathan. Tunanganmu kabur sehingga pertunangan kalian batal,” kata Trent.

“Tidak. Bukan begitu maksudku,” Wolve cepat-cepat membenarkan kata-kata Trent, “Begitu Putri ditemukan, Paduka akan segera melangsungkan pesta pertunangan mereka.”

“Pertunanganmu tidak jadi batal, Nathan,” kata Trent mengumumkan.

“Tetapi mungkin saja pertunangan itu batal,” kata Wolve, “Tidak seorangpun dapat menemukan Putri Alviorita bila ia telah bersembunyi.”

Wolve tiba-tiba teringat sesuatu. “Paduka meminta maaf yang sedalam-dalamnya atas penundaan pesta pertunangan ini.”

Duke tersenyum. “Tidak apa-apa. Kami mengerti.”

“Tugas pertamaku telah selesai. Sekarang aku harus segera kembali untuk menyelesaikan tugas keduaku.”

“Kami tidak akan menghalangimu. Kami mengerti dengan menghilangnya Putri Alviorita ini, engkau mempunyai banyak tugas,” kata Duke.

“Ya, sejak Yang Mulia Tuan Puteri kabur dari Istana Urza, aku mendapat banyak tugas.”

Merasa ia telah menyelesaikan tugasnya, Wolve bangkit. “Kurasa aku telah menyampaikan semua pesan Paduka.”

“Terima kasih, Wolve,” kata Duke.

Dari tempat duduknya, Alviorita melihat Duke mengantarkan Wolve hingga ke pintu depan.

Alviorita tersenyum puas melihat Wolve telah pergi. Sekarang Alviorita benar-benar merasa bebas. Ia senang sekali telah berhasil membatalkan pesta pertunangan konyolnya. Alviorita yakin tidak akan ada orang yang akan mencarinya di Castil Q`arde.

Setelah kepergian Wolve, Alviorita masih tidak ingin turun. Ia masih ingin menikmati saat yang paling membahagiakannya ini dari atas pohon.

Kepada serombongan burung yang terbang di atasnya, Alviorita berkata, “Sekarang aku mempunyai sayap seperti kalian dan dengannya aku akan mengelilingi dunia.”

Membayangkan ia berjalan-jalan ke bukit yang selalu dilihatnya dari puncak menara membuat Alviorita semakin senang. Dipandanginya rumah-rumah penduduk yang tampak dari atas pohon itu. Rumah-rumah dengan pemandangannya yang tampak kecil dari menara Istana Urza sekarang tampak lebih besar dan lebih dekat. Sekarang dengan cepat Alviorita dapat mencapai tempat-tempat yang ingin didatanginya.

Tanpa pengawal.

Tanpa tugas rutin.

Tanpa larangan setiap orang.

Dan yang lebih penting tidak seorangpun yang akan mengenalnya. Tidak akan ada orang yang mengenalnya sebagai Alviorita. Mereka hanya tahu ia adalah gadis yang hilang ingatan yang bernama Rosa.

Dibayangkannya hari-hari yang akan datang. Ia tidak perlu khawatir orang-orang akan menemukannya. Sekarang yang harus dilakukannya adalah membuat setiap orang Castil Q`arde semakin yakin ia bukan sang Putri Mahkota.

Awal dari rencana Alviorita telah berhasil dengan baik. Sekarang Alviorita dapat meneruskan rencananya.

Kepada ayahnya Alviorita telah membuktikan ia bukan gadis yang dapat dipaksa. Ia mau dipaksa belajar keras hanya untuk penduduk Kerajaan Lyvion. Tetapi ia tidak akan pernah mau dipaksa menikah dengan Nathan, pria yang paling membosankan yang pernah ditemuinya.

Setelah bertemu dengan Nathan sendiri, Alviorita masih merasa pria itu adalah pria yang paling membosankan. Pria itu sama sekali tidak peduli apa yang terjadi di sekelilingnya. Bagaimana ia akan peduli terhadap istrinya? Alviorita juga tidak mau mengakui pria itu adalah pria yang menarik walaupun Alviorita mengakui pria itu tampan.

Hingga saat ini Alviorita sering merasa heran mengapa Nathan berbeda dengan adiknya.

Dulu karena terkejutnya, Alviorita tidak dapat merasakan lucunya keluarga Kryntz. Tetapi sekarang saat Alviorita merasa senang dan lega. Ia mulai menyadari apa yang belum disadarinya dulu. Sekarang Alviorita dapat tersenyum geli ketika ia membayangkan Duchess yang cantik bersanding dengan Duke yang agak gemuk. Tetapi ia lebih tersenyum geli ketika ia membayangkan Nathan yang tinggi dan tampan dijajarkan dengan adiknya yang pendek dan lucu.

Hidup di Castil Q`arde tidak akan terasa membosankan bagi Alviorita. Ia telah menemukan apa yang dapat membuatnya gembira.

Alviorita tersenyum. Semalam ia telah menghabiskan waktunya sesuai dengan apa yang paling diinginkannya. Ia menghabiskan waktunya bersama Jeffreye. Dan ia masih berada di Ruang Kanak-Kanak ketika anak itu pergi tidur.

Melihat langit telah cerah, Alviorita memutuskan untuk melihat apakah Jeffreye sudah bangun.

Dengan hati-hati Alviorita memanjat turun pohon itu.

S epasang tangan yang memegang pinggang Alviorita ketika ia hampir sampai di tanah.

Alviorita terkejut.

Orang itu mengangkatnya dari batang pohon dan menurunkannya tepat di depannya.

Alviorita terkejut melihat wajah Nathan berada di dekatnya.

“Terima kasih,” katanya gugup.

Nathan tersenyum sinis. “Sudah menjadi kebiasaanmu?” katanya sambil memandang puncak pohon.

Alviorita menyadari tangan pria itu belum beranjak dari pinggangnya. “Dapatkah Anda melepaskan tangan Anda?” tanyanya sopan namun tajam.

Nathan segera menarik tangannya dari pinggang Alviorita.

“Terima kasih,” kata Alviorita sambil berlalu.

Tetapi Nathan tidak melepaskan Alviorita begitu saja. Nathan menangkap lengan gadis itu. “Apa yang dapat membuatku yakin engkau tidak akan melakukan kebiasaanmu yang berbahaya itu?”

“Lepaskan aku!” kata Alviorita.

“Ke mana engkau akan pergi?”

“Aku tidak akan memanjat pohon lagi. Saat ini aku ingin melihat Jeffreye,” kata Alviorita sambil menyentakkan lengannya.

Begitu lengannya terlepas dari pegangan Nathan, Alviorita segera berlari ke dalam Castil Q`arde. Alviorita tahu pria itu mengikutinya tetapi ia tidak peduli. Ia tidak suka pria itu menemukan ia tengah menuruni pohon.

Ketika mata Alviorita menangkap bayangan seseorang dari dalam Castil Q`arde, ia berhenti berlari. Ia tahu Nathan tidak mungkin berani menganggunya selama ada orang di Castil Q`arde. Dengan tersenyum senang, Alviorita berjalan dengan tenang menuju bangunan utama Castil Q`arde. Tepat seperti yang diduga Alviorita. Nathan tidak berusaha mengejar maupun menahan Alviorita. Ia hanya berjalan di samping Alviorita.

“Engkau harus berjanji dulu padaku. Engkau tidak akan melakukan kebiasaanmu yang berbahaya itu,” kata Nathan.

“Berbahaya?” tanya Alviorita santai.

“Apakah engkau tidak menyadari engkau dapat jatuh dan terluka bila engkau terus-menerus memanjat pohon seperti itu,” kata Nathan, “Aku tidak tahu apa yang terjadi bila aku tidak menemukanmu turun dari pohon itu.”

“Akan menjadi berbahaya bila engkau mengejutkanku seperti itu,” kata Alviorita tajam, “Lagipula mengapa engkau sibuk mengurusi aku? Bukankah masih banyak yang dapat kaulakukan? Pekerjaanmu yang membosankan itu, misalnya.”

“Aku tidak melakukannya demi engkau,” balas Nathan tak kalah tajamnya, “Aku melakukannya karena aku tidak ingin engkau memperngaruhi kemenakanku. Sejak kemarin ia tampak kagum dengan tindakan penyelamatanmu.”

“Sudah kuduga,” kata Alviorita santai, “Bagaimana mungkin manusia yang paling acuh seperti engkau akan mengurusi masalah selain tanggung jawab, tugas dan entah apa lagi pekerjaan yang membosankan.”

“Aku mengingatkanmu untuk tidak mempengaruhi Jeffreye,” kata Nathan memperingati.

Alviorita mengabaikan peringatan itu. “Itu tidak ada dalam rencanaku.”

Nathan tiba-tiba berhenti. Ia menangkap lengan Alviorita.

Alviorita memandang tajam Nathan. “Lepaskan aku!”

“Aku tidak akan melepaskanmu sebelum engkau berjanji padaku,” kata Nathan tajam.

Pandangan mata Nathan yang tajam membuat Alviorita merasa kecil dan itu membuat Alviorita semakin merasa jengkel pada tunangannya itu. Alviorita tidak suka pada segala macam perasaan yang ditimbulkan pria itu.

“Baiklah, aku berjanji,” kata Alviorita jengkel.

Dalam rencana Alviorita memang tidak ada kegiatan untuk mempengaruhi Jeffreye. Yang ada hanya bagaimana ia dapat membatalkan pertunangan konyolnya dengan pria yang sekarang berdiri di dekatnya.

Alviorita menatap tajam wajah Nathan tanpa menyadari wajahnya saat itu tampak cantik sekaligus berbahaya. Kalaupun Alviorita menyadarinya, Alviorita tidak akan merasa malu. Sebaliknya ia akan merasa senang dapat menunjukkan wajah berbahaya seperti itu. Seperti kegiatannya yang saat ini dapat berbahaya bagi pertunangan konyolnya.

“Bagus,” kata Nathan puas.

Alviorita merasa semakin membenci pria itu ketika ia melihat sinar kemenangan di matanya. Dengan marah ia menyentakkan lengannya. Bagi Alviorita cukup sekian saja ia berada di dekat Nathan. Belum sempat Alviorita menjauhi Nathan, Trent sudah muncul. Dalam hati Alviorita mengeluh mengapa ia bertemu dengan dua pria yang menjengkelkan dalam satu saat. Yang satu hanya mementingkan kewajibannya dan yang satu hanya pandai menjual pujian. Tiba-tiba Alviorita menyadari ia dapat memanfaatkan keberadaan Trent untuk menemukan perisai yang lain di Castil Q`arde.

“Siapakah pria yang tadi datang dengan kudanya bersama prajurit itu?” tanyanya.

“Orang itu adalah Kepala Pengawal Istana Urza, Wolve,” jawab Nathan.

“Mengapa ia kemari?”

“Ia menyampaikan surat Raja kepada ayahku,” jawab Trent.

“Apa isi surat itu?” tanya Alviorita tertarik.

“Aku tidak tahu. Tanyalah kakakku,” jawab Trent sambil memandang wajah Nathan.

Walaupun enggan tetapi Alviorita tetap menatap memohon pada Nathan. Ia ingin sekali mengetahui apa yang ditulis ayahnya untuk mengabarkan berita menghilangnya dirinya ini.

“Untuk apa engkau mengetahuinya? Ini bukan urusanmu,” kata Nathan sinis.

“Apa yang akan kaulakukan bila ini memang urusanku?” tantang Alviorita, “Engkau telah mengurusi masalahku yang bukan menjadi masalahmu.”

Nathan diam saja.

Dari sikapnya Alviorita tahu pria itu menolak untuk mengatakan isi surat Raja Phyllips. Alviorita sudah tahu seperti apa isi surat itu dan ia dapat memancing Nathan mengatakan isi surat itu dengan apa yang diketahuinya. Tetapi ia tidak ingin membongkar penyamarannya sendiri. Alviorita tahu sebelum tengah hari, tidak akan ada seorangpun di luar Istana Urza maupun keluarga Kryntz yang mengetahui berita ini. Penyusunan pengumuman maupun menyebarkan pengumuman itu membutuhkan waktu yang lama. Apalagi bila pengumuman itu mendadak seperti ini.

“Kakakku batal menghadiri pesta pertunangannya hari ini,” kata Trent memberitahu.

Alviorita terkejut mendengar nada mengejek dalam suara Trent.

Dalam hati Alviorita tersenyum senang. Tetapi di luar, ia berpura-pura terkejut, “Pertunangan?”

“Ya, seharusnya petang hari ini kakakku akan mengumumkan pertunangannya dengan Putri Alviorita tetapi sang Putri kabur dari Istana Urza.”

Alviorita hanya dapat memandang kasihan wajah Nathan tetapi dalam hati ia tersenyum mengejek. Alviorita ingin sekali mengatakan sesuatu tetapi ia khawatir kata-katanya akan terdengar seperti mengejek sebab saat ini yang paling dirasakan Alviorita hanya keinginannya untuk mengejek pria yang tidak disukainya itu.

“Bagaimana perasaanmu?” tanya Trent.

“Biasa saja,” kata Nathan santai.

Telinga Alviorita yang terlatih untuk mendengarkan setiap nada suara seseorang dengan baik, menangkap nada senang dalam suara Nathan.

“Engkau tidak lupa bukan? Setelah Putri Alviorita ditemukan, Raja Phyllips akan segera melangsungkan pertunangan kalian sehingga Tuan Puteri tidak dapat kabur lagi,” kata Trent mengingatkan.

Nathan diam saja.

Alviorita terkejut mendengarnya. Ia tidak menduga ayahnya akan melakukan itu.

Alviorita berjanji pada dirinya sendiri kelak bila ayahnya menemukan dirinya, ia telah mempersiapkan sejumlah perisai. Dengannya, Alviorita akan mengadakan pertempuran hanya antara dirinya dan ayahnya. Karena pertempuran ini untuk menentukan masa depan dirinya maka Alviorita harus benar-benar mempersiapkan perisai yang banyak dan dirinya sendiri untuk menghadapi pertempuran itu. Sekarang Alviorita telah menemukan perisai keduanya. Ia harus menyimpan baik-baik perisai itu dan menjaga agar jangan sampai perisai itu menjadi pedang ayahnya. Alviorita tahu bila ia ingin memenangkan pertempuran dengan ayahnya ini, ia harus selalu bersikap hati-hati. Perisai kedua telah ditemukan Alviorita. Kemudian Alviorita segera menuju Ruang Kanak-Kanak tanpa mengatakan apa-apa.

Mula-mula Alviorita tidak mendengar suara langkah kaki yang mengikutinya. Tetapi ketika telah dekat Ruang Kanak-Kanak, ia mendengar langkah kaki. Telinga Alviorita yang telah dilatih Alviorita untuk membedakan suara langkah kaki setiap orang – tahu langkah kaki itu adalah langkah Nathan.

Alviorita jengkel menyadari pria itu masih tidak mempercayai kata-katanya. Ingin sekali ia berkata kepada pria itu, “Aku adalah Putri Mahkota dan tidak mungkin seorang Putri Mahkota melanggar janjinya sendiri.” Tetapi bila ia mengatakan itu, semua penyamarannya akan terbongkar. Dan itu yang paling tidak diinginkannya apalagi sebelum ia menemukan perisai yang cukup untuk menghadapi pertempurannya dengan ayahnya.

Sebelum Nathan mendekatinya, Alviorita mempercepat langkahnya ke Ruang Kanak-Kanak. Namun Alviorita lupa, pria itu lebih cepat dari Trent bahkan mungkin dari dirinya sendiri.

“Engkau akan ke mana?” tanya Nathan setajam pandangan matanya.

Alviorita membalas pandangan mata itu. “Melanjutkan rencanaku.”

“Kuperingatkan kepadamu. Aku tidak akan membiarkan engkau mempengaruhi kemenakanku.”

Alviorita yang keras kepala tidak mau mendengarkan nada mengancam itu. Dengan senyum menantang, ia berkata, “Semoga aku tidak melupakannya.”

Wajah Nathan tampak tegang mendengarnya.

Tetapi hal itu tidak membuat Alviorita merasa takut. Ia sudah sering melihat wajah murka ayahnya yang lebih menakutkan dari wajah Nathan. Terutama saat ia menolak pertunangan konyol yang dipersiapkan ayahnya.

“Lepaskan aku,” kata Alviorita dengan kemanisan yang tajam.

Kemanisan yang ditunjukkan Alviorita sirna ketika Nathan semakin mengetatkan pegangannya pada lengannya.

Sekuat tenaga Alviorita menyentakkan lengannya. “Aku ingin menemui Jeffreye.”

Nathan tidak melepaskan lengan Alviorita melainkan ia semakin mempererat pegangannya sehingga gadis itu kesakitan.

“Lepaskan aku!” kata Alviorita tajam, “Aku hanya ingin melihat apakah Jeffreye sudah bangun.”

“Sepanjang hari kemarin engkau terus bermain dengannya hingga larut malam. Kurasa saat ini Jeffreye belum bangun,” kata Nathan sambil melonggarkan pegangannya.

Alviorita memanfaatkan kesempatan itu untuk melepaskan diri dari Nathan. Alviorita benar-benar tidak menyukai sikap Nathan. Ia tidak menyukai pria yang telah membuat dirinya merasa tidak berdaya itu. Alviorita mengerti kekhawatiran Nathan tetapi ia tidak menyukai cara pria itu. Sebenarnya Nathan tidak perlu khawatir karena Alviorita sendiri tidak berniat untuk membuat Jeffreye seperti dirinya.

Dalam rencana Alviorita tidak ada keinginan untuk mengajari Jeffreye segala yang dapat dilakukannya. Tidak mungkin ia mengajari anak semanis itu memanjat pohon. Alviorita sendiri sudah tahu bahaya yang dapat terjadi bila ia memanjat pohon tetapi kebiasaan itu telah ada pada dirinya sejak ia kecil. Tidak ada tempat yang dijadikan tempat persembunyiannya dari pengasuh serta pengawal-pengawalnya selain pohon.

Bagi Alviorita hanya sekali Nathan menunjukkan perhatiannya pada hal yang bukan menjadi masalahnya.

Kemarin ketika pria itu melihat gaun putih Alviorita yang terkena darah Jeffreye, ia berkata, “Sebaiknya Anda mengganti gaun Anda. Gaun itu telah kotor karena darah Jeffreye.”

Saat itulah Alviorita menyadari ujung gaunnya memerah. Sejak tadi Alviorita hanya memperhatikan Jeffreye sehingga ia melupakan gaunnya sendiri yang telah digunakannya untuk membersihkan luka Jeffreye.

“Anda benar. Noda ini tidak akan hilang bila saya tidak segera membersihkannya.”

Alviorita segera meninggalkan Ruang Kanak-Kanak untuk mengganti gaunnya tetapi ia segera kembali lagi untuk menemui Jeffreye. Saat ia tiba kembali di Ruang Kanak-Kanak, ia melihat Nathan telah meninggalkan ruangan itu dan di sana telah ada Innane yang menjaga Jeffreye. Bersama Innane, Alviorita menanti Jeffreye bangun kembali. Bersama wanita itu pula, Alviorita menghabiskan waktunya dengan Jeffreye.

Innane sama sekali tidak marah ketika Alviorita terlarut dalam kegembiraannya sehingga melewati batas tidur malam Jeffreye.

Tadi pagi ketika Alviorita melihat Jeffreye di Ruang Kanak-Kanak, anak itu masih tertidur. Alviorita menduga sekarang anak itu sudah bangun.

Apa yang diduga Alviorita memang tepat. Jeffreye sudah berpakaian rapi.

Anak itu segera menyambut kedatangan Alviorita.

“Engkau sudah bangun rupanya,” kata Alviorita.

“Ke mana kita akan pergi hari ini?” tanya Jeffreye.

Alviorita menatap Nathan. “Tanyalah pamanmu. Aku tidak tahu ke mana ia akan membawamu.”

“Ke mana kita hari ini?” tanya Jeffreye.

“Kurasa sebaiknya kita tidak pergi dulu hari ini. Luka di lututmu masih belum sembuh,” jawab Nathan.

“Paman berjanji membawaku berjalan-jalan,” kata Jeffreye merajuk.

Alviorita membungkuk dan berkata lembut, “Pamanmu benar, Jeffreye. Lukamu masih belum sembuh benar.”

“Kakiku sudah tidak sakit lagi kalau aku berjalan,” kata Jeffreye merujuk.

“Sungguh?” tanya Alviorita sambil tersenyum, “Coba kulihat.”

Jeffreye segera mundur ketika tangan Alviorita hampir menyentuh lututnya.

Alviorita tersenyum, “Katamu sudah tidak sakit lagi?”

“Memang sudah tidak sakit lagi,” kata Jeffreye mencoba membela dirinya.

Alviorita berdiri dan mendekati Jeffreye. “Mari kita mencobanya.”

“Baiklah,” sahut Jeffreye.

Alviorita tersenyum senang. “Bagus. Sekarang duduklah di sini,” kata Alviorita sambil meraih sebuah kursi.

Jeffreye segera duduk di kursi yang diberikan Alviorita dan menanti apa yang akan dilakukan gadis itu untuk membuktikan kata-katanya.

Seperti halnya Jeffreye, semua orang di ruangan itu menanti apa yang akan dilakukan Alviorita.

Innane memandang ingin tahu sedangkan Nathan hanya memandang tak mengerti. Mereka sama-sama ingin tahu apa yang akan dilakukan Alviorita.

Alviorita membungkuk di depan Jeffreye. Ia tersenyum pada anak itu sebelum ia memegang kaki anak itu yang luka.

Wajah Jeffreye tampak pucat ketika gadis di depannya itu menyentuh kakinya. Ia menduga Alviorita akan memegang lukanya. Tetapi Alviorita tidak melakukannya. Alviorita tahu luka Jeffreye yang kemarin masih belum kering dan ia tidak ingin membuat darah mengucur kembali dari luka itu.

Alviorita menekuk lutut Jeffreye. Walaupun gerakan gadis itu sangat lembut dan perlahan tetapi itu cukup untuk membuat Jeffreye kesakitan.

Melihat Jeffreye menahan sakitnya, Alviorita melepaskan kaki anak itu dengan hati-hati.

“Sakit bukan?” tanya Alviorita sambil tersenyum.

Jeffreye mengangguk.

“Engkau tidak boleh meninggalkan ruangan ini,” kata Nathan menegaskan.

Alviorita terkejut. Ia tidak setuju dengan sikap Nathan yang seperti ayahnya yang selalu mengurungnya di Ruang Belajar. Pengalamannya sendiri membuat Alviorita tidak setuju dengan pengurungan kebebasan anak-anak. Ia telah kehilangan masa kecilnya yang bahagia dan ia tidak ingin melihat anak-anak lainnya mendapat hal yang sama seperti dirinya. Cukup hanya dirinya yang seorang Putri Mahkota yang tidak dapat bermain saat ia masih kecil. Cukup hanya dirinya yang harus menghabiskan waktunya untuk belajar sejak ia masih tiga tahun.

“Tidak!” bantah Alviorita, “Engkau tidak dapat mengurungnya sepanjang hari di sini.”

Nathan menatap tajam wajah Alviorita yang penuh tantangan. “Engkau sendiri yang mengatakan lukanya masih sakit.”

“Memang tetapi itu tidak berarti ia harus terus dikurung di sini,” kata Alviorita, “Aku akan membawanya keluar dari ruangan ini.”

Sebelum Nathan sempat melarangnya, Alviorita telah menggendong Jeffreye. Dan dengan tenang gadis itu mendekati Nathan. “Ia tidak perlu berjalan untuk meninggalkan ruangan ini,” kata Alviorita tajam kemudian ia segera meninggalkan Ruang Kanak-Kanak.

Alviorita tahu Nathan mengikutinya tetapi ia tetap diam saja.

Ia benar-benar tidak menyukai tunangannya itu. Itu telah menjadi perisainya yang lain. Bahkan menurutnya perisai yang paling kuat di antara semua perisainya. Sampai ia telah menemukan perisai yang cukup bahkan lebih kuat dari senjata ayahnya, Alviorita harus bertahan di Castil Q`arde.

Alviorita tahu ia tetap akan dapat bertahan di Castil Q`arde karena ia telah menemukan kegembiraan ketika ia bersama Jeffreye. Juga pada diri Duchess, ia menemukan sosok seorang ibu yang lain.

Bagi Alviorita yang kehilangan ibunya saat ia masih tiga tahun, sosok seorang ibu tidak pernah dikenalnya. Pada diri Maryam ia menemukan sosok seorang ibu yang penuh pengertian dan juga sangat disiplin. Tetapi pada diri Duchess, ia menemukan sosok seorang ibu yang lemah lembut. Alviorita menyayangi keduanya baik Maryam yang telah bersamanya kurang lebih selama delapan belas tahun maupun Duchess of Kryntz yang baru saja dijumpainya. Pada diri Innanepun, Alviorita juga melihat sosok seorang ibu, sosok seorang ibu yang pelupa.

Alviorita mengakui ia menyukai pada semua yang ada di Castil Q`arde kecuali kedua putra Duke of Kryntz. Terlebih lagi Nathan.

Alviorita benar-benar tidak menyukai pria itu. Selama ini ia selalu merasa tidak ada yang dapat menentang keinginannya. Ia selalu merasa apa yang dilakukannya telah tepat. Ayahnya telah berulang kali menekankan padanya bagaimana ia harus bersikap agar tidak mengecewakan rakyatnya. Ia tidak boleh membuat keputusan yang akan menyebabkan rakyatnya menolaknya. Tetapi pria itu telah membuktikan kalau Alviorita masih tidak dapat membuktikan ia adalah seorang Putri Mahkota yang baik. Setiap tindakannya selalu dinilai salah oleh pria itu. Bukan itu yang membuat Alviorita tidak menyukai Nathan. Ia tidak suka perasaan tidak berdaya yang timbul setiap kali ia bertemu dengan pria itu. Karena itulah Alviorita tidak pernah mau mengalah bila ia telah berbicara dengan Nathan.

Setiap kata-kata yang diucapkan Alviorita hanya untuk membuktikan dirinya tidak tak berdaya di hadapan pria itu. Ia masih seorang Putri Mahkota yang tidak pernah merasa rendah diri walaupun ia sedang berada dalam penyamaran. Itulah yang ingin dibuktikan Alviorita kepada Nathan.

Sesuai kata Maryam, seorang Putri tidak boleh menundukkan kepalanya apalagi merasa rendah diri di hadapan rakyatnya, maka Alviorita juga tidak mau merasa tidak berdaya di hadapan tunangannya.

Kepada Trent ia ingin mengatakan bahwa ia bukan gadis yang mudah dirayu dengan pujian. Dan kepada ayahnya, Alviorita ingin mengatakan ia tidak akan pernah mau menikah dengan pria yang tidak disukainya. Untuk mengatakan itu kepada ayahnya, hanya ada satu jalan yaitu melalui pertempuran.

Raja Phyllips tidak tahu putrinya tengah mempersiapkan pertempuran antara mereka untuk menentukan masa depan Alviorita. Tetapi Alviorita tahu ayahnya telah mempunyai senjata yang sangat berbahaya bahkan sebelum Alviorita memutuskan untuk mengadakan perang ini.

Alviorita senang tidak ada yang mengetahui penyamarannya karena itu akan membantunya menemukan perisai yang banyak dari dalam keluarga Kryntz.

“Ya, kita sudah sampai,” kata Alviorita sambil menurunkan Jeffreye di Ruang Duduk.

“Bagaimana keadaanmu, Jeffreye? Lukamu sudah sembuh?” tanya Duke ketika melihat Jeffreye datang menghampirinya.

“Belum,” jawab Jeffreye.

“Mengapa engkau meninggalkan kamarmu?” tanya Duke terkejut.

“Karena aku tidak ingin siapa pun mengurung anak ini di Ruang Kanak-Kanak,” kata Alviorita tegas.

Duke tersenyum. “Apakah baik Jeffreye berjalan-jalan dengan kaki seperti ini?”

“Justru akan menjadi sangat buruk bila ia terus-terus duduk selama lukanya masih belum sembuh,” kata Alviorita tenang, “Bila kalian memperlakukannya seperti itu, aku khawatir ia lupa bagaimana caranya berjalan.”

Kalimat terakhir Alviorita membuat Duke tertawa.

“Jawaban yang tepat,” puji Duke.

“Kata-katamu seperti Nanny yang telah tua saja,” goda Duchess.

“Sebaliknya, saya masih bayi,” sahut Alviorita tenang.

Alviorita sama sekali tidak berbohong mengenai ini. Ia masih bayi di dunianya yang baru. Ia tidak tahu apa-apa mengenai keadaan di luar Castil Q`arde. Tetapi tidak lama lagi segalanya akan berubah. Setelah keguncangan penduduk Kerajaan Lyvion karena berita hilangnya dirinya mereda, Alviorita akan segera memulai rencananya mengepakkan sayap ke seluruh penjuru dunia. Saat itu tidak akan ada yang mencurigai dirinya.

“Engkau pandai merangkai kata-kata,” kata Duke.

“Saya hanya mengatakan yang sebenarnya.”

“Sayang sekali hingga saat ini kita masih belum tahu siapa dirimu,” kata Duchess, “Aku menduga engkau semenarik pribadimu.”

“Menarik?” tanya Alviorita tak mengerti.

“Engkau memang menarik,” kata Trent, “Telah berulang kali aku mengatakannya.”

“Dan telah berulang kali pula aku membantahnya,” sahut Alviorita tajam.

Alviorita mulai bosan mendengarkan suara Trent . Ia merasa pria itu akan mulai memamerkan kepandaiannya lagi.

“Saya permisi dulu. Saya ingin berjalan-jalan,” kata Alviorita.

“Sepertinya engkau tidak pernah puas berjalan-jalan di sekeliling Castil Q`arde,” kata Duke sambil tersenyum.

“Tempat ini terlalu indah walaupun ribuan kali saya mengelilinginya, saya tidak akan pernah merasa puas.”

“Aku ikut,” kata Jeffreye sambil mendekati Alviorita.

“Tidak, Jeffreye. Engkau tidak boleh berjalan jauh.”

“Tetapi aku ingin menemanimu,” kata Jeffreye merajuk.

Alviorita tersenyum. “Tunggu hingga lukamu sembuh saja. Aku yakin saat itu tidak akan ada yang melarangmu,” katanya sambil menatap tajam wajah Nathan.

Nathan tahu ia tengah diawasi oleh mata hijau yang tajam itu tetapi ia tetap bersikap acuh.

Sebelum meninggalkan ruang itu, Alviorita menangkap senyum puas di wajah Nathan. Alviorita benar-benar tidak dapat mengerti Nathan. Pria itu tampaknya tidak pernah peduli dengan sekitarnya tetapi masih memberikan senyum puas ketika Alviorita memutuskan untuk pergi berkeliling seorang diri. Bila pria itu puas Alviorita tidak mengajak serta kemenakannya yang selalu dikhawatirkannya, Alviorita dapat mengerti hal itu. Tetapi tadi saat menolongnya, Nathan juga memberikan senyum. Senyum yang mengejek. Terlalu sulit bagi Alviorita untuk mengerti pria itu.

Alviorita berhenti. “Untuk apa aku berusaha mengerti dia? Aku tidak akan menikah dengannya,” katanya pada dirinya sendiri. Tetapi siapa dapat menebak masa depan? Takdir telah membuat Alviorita terjebak dalam pertunangan dan Takdir pula yang membawa Alviorita yang ingin melepaskan dirinya dari pertunangan konyolnya justru berada ke Castil tunangannya.

Alviorita berjanji kepada dirinya sendiri. Apa pun yang telah ditetapkan sang Takdir, ia tidak akan mau menyerah begitu saja. Ia berjanji ia akan membuat pertunangan ini batal. Alviorita tidak mau menjadi korban keinginan dua keluarga tertua di Kerajaan Lyvion. Biarlah kedua keluarga itu mengikat hubungan keluarga asalkan tidak membuat dirinya menjadi korban.

5

“Mengapa engkau terus mengawasi mereka?” tanya Duke.

Tanpa melepaskan pandangan matanya dari Jeffreye yang tengah bermain bersama Alviorita, Nathan berkata, “Aku mengkhawatirkan mereka.”

“Engkau tidak perlu khawatir,” kata Duchess, “Gadis itu telah menjaga Jeffreye dengan baik sejak Jeffreye datang.”

“Tetapi…,” kata Nathan ragu-ragu.

Nathan tidak tahu bagaimana harus mengatakan kepada orang tuanya apa yang selama ini dilihatnya pada diri gadis yang mereka puji. Bayangan saat gadis itu melompat dari pohon untuk menyelamatkan Jeffreye, tidak pernah dapat dilupakan Nathan. Ia tidak mengerti mengapa gadis semanis itu bertingkah di luar tata krama seperti itu. Bukan hanya sekali atau dua kali Nathan menemukan Alviorita tengah memanjat pohon. Gadis itu masih dapat memanjat pohon dengan mudah walaupun gaunnya panjang.

Nathan tidak tahu mana yang lebih dikhawatirkannya. Gadis itu yang mungkin suatu saat nanti jatuh dari pohon atau kemenakannya terpengaruh sikap gadis itu. Tetapi hingga saat ini gadis itu masih memegang janjinya. Gadis itu tidak pernah mengajari Jeffreye memanjat pohon. Bahkan ia tidak pernah memanjat pohon selama Jeffreye bersamanya.

Duchess terus menanti jawaban Nathan, tetapi ketika gadis itu tetap tidak berkata apa-apa, ia bertanya, “Tetapi apa, Nathan?”

“Tingkah gadis itu benar-benar tidak dapat dimengerti,” kata Nathan.

“Maksudmu memanjat pohon?” tanya Duke.

Nathan terkejut. “Papa sudah tahu?”

Duchess tersenyum. “Bukan hanya Papamu saja yang tahu. Aku juga mengetahuinya.”

“Ia memang gadis yang penuh semangat. Ia bahkan tidak pernah mau kalah dengan siapa pun,” kata Duke.

“Begitu pandangan Papa?” tanya Nathan tak mengerti.

“Aku juga berkata seperti itu. Aku menyukai semangatnya,” kata Duchess.

Trent yang sejak tadi hanya terpana berkata, “Aku tidak percaya.”

“Tetapi memang itulah adanya,” kata Duke.

“Luar biasa!” seru Trent kagum.

“Itulah yang membuatku khawatir. Aku khawatir gadis itu akan mempengaruhi Jeffreye,” kata Nathan.

“Engkau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu, Nathan. Gadis itu tahu apa yang harus dilakukannya,” kata Duchess.

“Tetapi aku tetap tidak dapat menghilangkan kekhawatiranku,” kata Nathan.

“Sebenarnya engkau mengkhawatirkan siapa? Gadis itu atau Jeffreye?” tanya Trent curiga.

“Keduanya,” jawab Nathan singkat.

“Engkau jangan lupa engkau sudah mempunyai tunangan. Walaupun sampai hari ini tunanganmu itu belum ditemukan tetapi engkau tetap mempunyai tunangan,” kata Trent, “Jangan kau ganggu gadis itu.”

“Engkau tidak perlu cemburu seperti itu. Gadis itu telah menunjukkan sikapnya yang tidak mau dikuasai siapa pun. Aku yakin ia tidak akan senang melihat sikapmu,” kata Nathan tenang.

“Jangan kauganggu dia!” bentak Trent, “Cukup sekali engkau merebut gadisku.”

“Ia bukan gadis siapa pun. Dan aku tidak pernah merebut pacarmu itu,” kata Nathan tetap tidak terpengaruh kemarahan adiknya.

“Tetapi buktinya ia meninggalkan aku.”

“Aku tidak pernah mengetahuinya hingga engkau sendiri yang mengatakan hal itu kepadaku,” kata Nathan, “Aku juga tidak pernah berminat pada gadis-gadis.”

Duke tersenyum, “Sudahlah. Mengapa kalian selalu saja bertengkar?”

“Apakah engkau lupa, Trent ? Kakakmu hanya tertarik pada satu gadis.”

“Lupakan saja, Mama,” potong Nathan, “Itu hanya masa kecilku saja lagipula ia pasti telah melupakanku.”

Nathan kembali memandang halaman. Ia terkejut ketika tidak menemukan Alviorita maupun Jeffreye di sana . “Aku akan mencari mereka,” kata Nathan sambil meninggalkan tempatnya.

“Ingat jangan kauganggu Rosa ,” Trent memperingati kakaknya.

“Ingat pula apa yang kukatakan ini, Trent. Ia kehilangan ingatannya dan ia mungkin saja telah menikah.”

Sebelum Trent mengatakan sesuatu, Nathan segera meninggalkan ruangan itu. Seperti Alviorita yang segera meninggalkan pintu tempatnya berdiri.

Alviorita sama sekali tidak bermaksud untuk menguping pembicaraan mereka. Tadi Alviorita hanya ingin meminta ijin untuk membawa Jeffreye meninggalkan Castil Q`arde. Tetapi ketika gadis itu baru tiba di depan pintu, ia mendengar suara Trent yang tajam. Kemudian disusul suara tenang Nathan. Suara itu membuat Alviorita merasa tertarik. Ia terus berdiri di pintu sambil mendengarkan pembicaraan mereka.

Dari pembicaraan itu, Alviorita mendapat perisai yang lain yang sama kuatnya dengan perisai keduanya. Pria itu mencintai gadis lain dan ia tidak menyukai pria itu. Sebenarnya dengan itu saja, Alviorita telah dapat membuat Raja Phyllips berpikir dua kali untuk meneruskan pertunangan konyol ini. Tetapi Alviorita masih merasa perisai yang dimilikinya tidak cukup untuk menghadapi pedang ayahnya dalam pertempuran yang akan datang.

Ketika mendengar Nathan mengatakan ia akan mencari mereka, Alviorita segera meninggalkan tempat itu. Dan ia segera menemui Jeffreye yang telah bersiap di depan Castil Q`arde.

“Mengapa engkau lama sekali?”

“Maafkan aku. Aku kesulitan mencari mereka,” jawab Alviorita, “Aku tidak menemukan mereka.”

“Apakah kita tetap akan pergi?” tanya Jeffreye.

“Aku tidak tahu.”

Alviorita berlutut di samping Jeffreye. Ia memandang langit tanpa mengatakan apa-apa. Sekarang tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkannya. Apa yang diharapkannya telah terkabul. Hingga hari ini tidak ada yang mencarinya di Castil Q`arde.

Seperti yang telah diduga Alviorita pula, penduduk Kerajaan Lyvion gempar ketika pengumuman menghilangnya dirinya.

Alviorita yang bersembunyi di Castil tunangannya hanya tersenyum geli melihat kebingungan orang-orang dan menanti hingga gejolak itu mereda. Setelah gejolak yang timbul karena pengumuman itu telah reda, Alviorita benar-benar telah mempunyai sepasang sayap untuk pergi ke semua tempat yang ingin dikunjunginya. Tetapi ia masih tidak dapat menggunakan sayapnya.

Pertama, karena luka Jeffreye masih belum sembuh. Ketika luka anak telah sembuh, ia masih tidak berani meninggalkan Castil Q`arde. Jeffreye selalu mengikutinya ke mana pun ia pergi. Kedua, ia tidak dapat melanggar janjinya kepada Nathan.

Yang diinginkan Alviorita bila ia bersama Jeffreye adalah Nathan dapat mengawasi mereka sehingga pria itu tahu ia tidak melanggar janjinya. Alviorita ingin Nathan selalu mengawasi mereka ke mana pun mereka berada agar pria itu dapat menghentikan kecurigaannya kepadanya.

“Sekarang aku telah mempunyai sayap tetapi aku belum dapat mengepakkannya,” kata Alviorita pada burung-burung yang terbang di langit biru.

“Apa katamu?”

Alviorita terkejut. Ia mendongakkan kepalanya dan lebih terkejut lagi ketika melihat Nathan tengah menundukkan kepalanya kepada dirinya. “Tidak,” kata Alviorita gugup, “Tidak apa-apa.”

“Mengapa engkau gugup seperti itu?” tanya Nathan curiga.

Alviorita segera berdiri. “Engkau mengejutkanku,” jawabnya tenang.

Mata Nathan menyipit. “Aku merasa engkau sedang menyembunyikan sesuatu dariku.”

“Aku tidak menyembunyikan apa pun darimu,” jawab Alviorita sambil berusaha mengendalikan perasaannya yang bergejolak mendengar tuduhan itu.

“Engkau yakin?”

Alviorita mulai kesal melihat kecurigaan Nathan. Ia ingin sekali mengeluarkan kata-kata yang tajam tetapi ia masih ingat ada Jeffreye di tempat itu. Dan Alviorita tidak ingin Jeffreye menirunya.

“Kami ingin berjalan-jalan di sekitar Castil Q`arde.”

Alviorita senang sekali Jeffreye telah menyelamatkannya dari bahaya yang hampir saja mengancamnya. Sesaat sebelum Jeffreye berbicara, Alviorita hampir saja berkata,

“Aku adalah Putri Mahkota yang tidak akan mengingkari janjiku karena itu engkau tidak perlu khawatir.”

Nathan menatap wajah Alviorita.

Namun Alviorita memalingkan wajahnya. Ia benar-benar tidak ingin melihat wajah Nathan yang selalu penuh curiga.

“Bolehkah kami pergi?” tanya Jeffreye memohon.

“Baiklah tetapi aku akan ikut dengan kalian,” kata Nathan pada akhirnya.

“Memang lebih baik engkau ikut dengan kami sehingga engkau tahu aku tidak melanggar kata-kataku sendiri,” kata Alviorita dalam hatinya sambil tersenyum jengkel.

Jeffreye berseru senang. “Akhirnya aku dapat naik kuda lagi.”

Kalimat yang diucapkan dengan gembira itu membuat Alviorita terkejut. Ia tidak menduga Jeffreye masih berani naik kuda setelah peristiwa itu. Walaupun Jeffreye lebih tua beberapa tahun dari saat Alviorita harus meninggalkan masa bermainnya, tetapi Alviorita tidak percaya anak itu mempunyai keberanian sebesar itu. Kehidupan anak itu berbeda dengan kehidupan masa kecil Alviorita di mana Alviorita harus berjuang agar dapat meloloskan diri dari kehidupan rutinnya.

“Engkau masih berani naik kuda setelah kejadian itu?” tanyanya tak percaya.

“Ya,” sahut Jeffreye.

“Sungguh?”

Pertanyaan yang masih mengandung nada tidak percaya itu membuat Jeffreye menggelengkan kepalanya dan berkata dengan yakin, “Aku tidak takut naik kuda lagi.”

Alviorita tersenyum. “Aku senang engkau tidak takut naik kuda lagi. Tetapi kurasa hari ini sebaiknya kita jalan kaki saja.”

“Mengapa?” tanya Jeffreye merujuk.

“Karena aku khawatir engkau lebih pandai naik kuda daripada aku,” jawab Alviorita lembut.

“Aku rasa engkau lebih pandai berkuda daripada Jeffreye. Peristiwa pertemuan kita telah cukup membuktikannya.”

Alviorita kesal karena ia selalu merasa terkejut setiap kali pria itu berkata sesuatu terlebih lagi bila tidak terduga. Setiap kali ia mendengar suara berat yang lantang itu, ia selalu merasa jantungnya berdegup lebih kencang karena terkejut. Sering kali Alviorita mengeluh sendiri mengapa Nathan tidak diberi suara yang lembut seperti adiknya sehingga tiap kali pria itu berbicara ia tidak akan terkejut terlebih lagi bila ia berbicara dengan tiba-tiba seperti saat ini. Suara lantang yang dimiliki Nathan merupakan kebencian tersendiri bagi Alviorita di samping kebencian karena kecurigaan pria itu.

Entah mengapa Alviorita merasa ia terancam oleh kecurigaan Nathan. Padahal kecurigaan Nathan sama sekali tidak ada hubungannya dengan penyamarannya. Kecurigaan Nathan tidak akan membahayakan penyamarannya. Setiap hari Alviorita selalu berdoa agar ia tidak bertemu Nathan tetapi doa itu tidak pernah terkabul. Selalu saja mereka bertemu. Memang tidak ada yang melarang hal itu tetapi Alviorita semakin merasakan kebenciannya kepada Nathan semakin bertambah. Setiap kali melihat wajah pria itu, Alviorita merasa jengkel melihat kecurigaan di sana . Alviorita juga tahu ia tidak suka bertemu Nathan bukan karena Nathan adalah tunangannya tetapi karena ia menganggap Nathan adalah pria yang paling menyebalkan dan membosankan. Setiap kali melihat Nathan, Alviorita merasa dirinya seperti dituduh karena telah meninggalkan semua kegiatan rutinnya di Istana Urza dan bersenang-senang di luar Istana Urza.

Harus diakui oleh Alviorita bahwa selama ia berada di Castil Q`arde, Nathan tidak pernah melepaskan perhatiannya dari kemenakannya yang selalu berada di dekatnya. Walaupun pria itu tidak pernah terlihat mementingkan pekerjaannya tetapi Alviorita tetap merasa pria itu adalah pria yang membosankan.

Alviorita tidak mau mengakui Nathan adalah pria yang menarik seperti yang dikatakan ayahnya juga orang-orang di sekitarnya.

Kebencian terhadap Nathan tidak membuat Alviorita merasa bosan tinggal di Castil Q`arde. Aneh memang tetapi justru karena itulah ia masih bertahan di Castil Q`arde. Alviorita merasa senang dapat bertengkar dengan Nathan. Setiap kali mereka bertengkar tidak ada orang di sekitar mereka sehingga Alviorita dapat mengatakan semua yang ada di hatinya. Satu-satunya yang membuat Alviorita kurang menyukai pertengkarannya dengan Nathan adalah pria itu selalu menjawab setiap kata-kata tajamnya dengan kata yang tidak kalah tajamnya. Itulah yang mendorong Alviorita semakin tidak mau mengalah kepada Nathan. Kadang kala bila Alviorita memikirkan pertengkarannya dengan Nathan, ia merasa pertengkaran itu seperti pertengkaran anak kecil di mana setiap anak sama-sama tidak mau mengalah. Mungkin Nathan dan Alviorita lebih kecil daripada Jeffreye bila ia membandingkan mereka sendiri dengan Jeffreye.

Tetapi Alviorita tidak pernah memperdulikan itu. Yang penting bagi Alviorita adalah pertengkarannya dengan Nathan membuat perasaannya lebih ringan karena dalam setiap pertengkarannya itulah ia secara tidak langsung mengutarakan kejengkelannya. Kejengkelan karena ia terlahir sebagai Putri Mahkota yang selalu sibuk dan akhirnya dipertunangkan dengan orang yang sama sekali tidak pernah dijumpainya.

Melihat kebahagiaan Jeffreye, membuat Alviorita merasa rindu saat-saat ibunya masih hidup. Hanya saat itulah ia terbebas dari kehidupan yang rutin. Ibunya benar-benar melindunginya dari tugas kerajaan.

Karena pengalamannya sendiri pula Alviorita tidak ingin melihat anak kecil dikurung dalam Ruang Belajarnya seperti dirinya. Sewaktu luka Jeffreye masih belum sembuh, Alviorita masih membiarkan anak itu dikurung di dalam Castil Q`arde, tidak di dalam Ruang Kanak-Kanak. Tetapi sekarang Alviorita tidak ingin siapa pun mengurung Jeffreye. Karena itu Alviorita tidak akan melepaskan kesempatan ini.

“Aku merasa sebaiknya kita berjalan kaki saja. Engkau sudah lama tidak berjalan bukan?” kata Alviorita mengacuhkan kata-kata Nathan.

Jeffreye memandang Alviorita dengan penuh keragu-raguan seperti suaranya ketika berkata, “Tetapi aku ingin sekali berkuda.”

Alviorita tersenyum pengertian. “Aku mengerti apa yang kaurasakan tetapi kurasa sayang sekali bila kita melewatkan hari yang indah ini untuk berjalan-jalan sambil membawa bekal piknik. Bila engkau ingin berkuda, pergilah bersama pamanmu.”

Nathan memandang langit yang cerah. “Hari ini juga terlalu indah untuk dilewatkan tanpa berkuda,” katanya.

Karena tidak ingin bertengkar dengan Nathan di hadapan Jeffreye maka Alviorita berkata, “Terserah kalian. Silakan bila kalian ingin naik kuda. Tetapi aku tetap ingin menggunakan kedua kakiku.”

Tidak ada yang menyahut.

Alviorita menggunakan kesempatan itu untuk mengundurkan diri. “Aku akan menyiapkan bekal piknik kita.”

Tanpa menanti jawaban, Alviorita segera berlalu dari tempat itu dan segera menuju dapur.

Sungguh aneh rasanya bagi Alviorita ketika ia tidak menemukan siapapun di sana . Ia tidak tahu harus berbuat apa karena ini pertama kalinya ia memasuki dapur. Bukan karena ia malas yang menyebabkan ia tidak pernah masuk dapur tetapi karena kesibukannya yang juga membuatnya tidak pernah bersantai.

Alviorita memperhatikan sekeliling dapur yang cukup luas itu sambil memikirkan tindakan yang harus dilakukannya. Bila ia berada di Istana Urza , ia dapat membunyikan bel untuk memanggil pelayan. Tetapi saat ini ia hanyalah seorang gadis yang tak dikenal di antara keluarga Kryntz. Walaupun Kepala Rumah Tangga Castil Q`arde, Dinne telah mengatakan kepadanya untuk tidak ragu-ragu bersikap sebagai majikan karena ia telah menjadi bagian dari keluarga Kryntz, tetapi Alviorita sudah belajar mengenal watak orang lain. Ia tahu pelayan-pelayan di Castil Q`arde pasti tidak menyukainya bila ia yang tidak dikenal ini bertingkah seperti anggota keluarga Kryntz asli. Saat ini ia memang bukan anggota keluarga Kryntz asli dan Alviorita memastikan ia tidak akan pernah menjadi anggota keluarga Kryntz.

Tahu tidak ada yang dapat dilakukannya selain menyiapkan bekal pikniknya sendiri, Alviorita tidak berpikir lama lagi.

Ia sering menghadapi situasi seperti ini di mana ia harus merubah rencananya dengan mendadak. Sesuai dengan kebiasaannya dalam menghadapi situasi yang gawat dan perlu segera ditangani, Alviorita mulai memeriksa isi dapur. Setiap tempat diperhatikannya dengan baik. Setelah itu barulah ia memutuskan akan membawa apa.

Setelah menimbang-nimbang, Alviorita akhirnya memutuskan untuk membawa roti yang ditemukannya di lemari dapur. Begitu selesai mempersiapkan bekal pikniknya, Alviorita merapikan kembali dapur yang baru saja digunakannya sebelum ia mencari keranjang dan sehelai kain. Walaupun ia mengalami kesulitan menemukan benda-benda itu tetapi Alviorita tidak mau menyerah. Ia memang tidak pernah memasuki dapur tetapi ia sedikit banyak mengetahui tentang dapur.

Sambil memasukkan bekal pikniknya ke dalam keranjang yang ditemukannya di dalam lemari dapur yang lain, Alviorita mencoba untuk membayangkan kata-kata pengasuhnya bila melihat ia memasuki dapur. Wanita tua itu pasti tidak setuju bila ia melihatnya tengah sibuk di dapur. Maryam adalah seorang guru tata krama yang paling baik. Ia benar-benar memperhatikan setiap langkah Alviorita.

Alviorita tersenyum puas melihat hasil pekerjaannya. Dan senyum itu masih ada di sana ketika ia meninggalkan dapur yang telah dirapikannya kembali.

Alviorita tidak menduga dirinya dapat melakukan pekerjaan itu. Dan ia merasa senang dengan pengalamannya yang pertama ini. Tinggal di Castil Q`arde membuat Alviorita mengalami banyak pengalaman yang belum pernah dialaminya sebelumnya. Dari semua pengalaman itu, Alviorita paling tidak menyukai pengalaman ketahuan ketika ia memanjat pohon.

Alviorita merasa setiap kali ia memanjat pohon, Nathan selalu mengetahuinya karena setiap kali ia turun selalu saja pria itu tiba-tiba memeluk pinggangnya dan menurunkannya di tanah dengan hati-hati. Bila sudah demikian, Alviorita biasanya segera pergi karena ia tidak ingin mendengar pidato Nathan.

Nathan sendiri sudah tidak lagi berniat menasehati Alviorita karena ia merasa gadis ini tidak akan pernah dapat diatur dan tidak seorangpun dapat mengaturnya

Bila Nathan tahu Alviorita selalu merasa tidak berdaya di hadapannya barangkali pria itu akan memanfaatkan perasaan itu untuk mengatur Alviorita. Alviorita adalah gadis yang keras kepala yang tidak mau diatur siapapun. Ia ingin hidup seperti yang diinginkannya, bebas tanpa kegiatan rutin seperti yang telah menjadi bagian dari hidupnya selama kurang dari lima belas tahun.

Tidak tampak seorangpun di depan Castil Q`arde. Alviorita menduga Nathan dan Jeffreye masih mempersiapkan kuda mereka. Baru saja Alviorita memutuskan untuk mencari mereka di belakang Castil Q`arde ketika ia melihat kedua orang itu datang padanya. Melihat mereka tidak membawa kuda, Alviorita merasa heran, “Ke mana kuda kalian?”

“Kami memutuskan untuk berjalan kaki,” kata Jeffreye.

“Sepertimu,” tambah Nathan.

Alviorita mempercayai mereka tetapi ia masih menginginkan kepastian. “Sungguh?” tanyanya setengah tak percaya.

“Mari kita berangkat sekarang daripada kesiangan,” kata Nathan sambil meraih keranjang yang dibawa Alviorita.

Alviorita terkejut dengan tindakan yang tiba-tiba itu. Ia merasa Nathan selalu berbuat sesuatu secara tidak terduga dan yang lebih menjengkelkannya adalah ia selalu dibuat terkejut karenanya. Segera Alviorita menyembunyikan rasa terkejutnya dengan meraih tangan Jeffreye.

“Mari,” katanya mulai berjalan meninggalkan Castil Q`arde.

Belum jauh Alviorita meninggalkan Castil Q`arde tetapi ia sudah merasa senang sekali. Ia melupakan keberadaan Nathan maupun Jeffreye. Ia hanya merasakan perasaan senangnya karena dapat berjalan-jalan di jalan setapak yang menuju kota tanpa pengawal.

Setiap pemandangan dalam perjalanan mereka tak pernah luput dari perhatian Alviorita. Setiap sudut bumi ini diperhatikan Alviorita dengan cermat.

Bayang-bayang pohon yang tinggi tampak di jalanan yang mereka lalui dan membuat suasana menjadi sejuk.

Melihat orang-orang yang mereka temui sama sekali tidak mengenalinya, Alviorita merasa senang. Tanpa keberadaan pengawal serta yang selalu membuat orang-orang mengetahui ia adalah Putri Mahkota , ia merasa sangat bebas. Ingin sekali ia berlari-lari sambil bernyanyi senang tetapi ia merasa Nathan maupun Jeffreye akan merasa curiga bila ia melakukan itu. Alviorita tahu tindakannya itu seperti seseorang yang baru pertama kalinya berjalan-jalan.

Memang ini bukan pertama kalinya Alviorita berjalan-jalan tetapi hari ini adalah saat pertama kalinya Alviorita berjalan-jalan tanpa pengawal. Walaupun ia telah terbiasa dikawal pengawal, hidup di luar Istana Urza tanpa pengawal tidak membuatnya merasa aneh. Ia sama sekali tidak menyadari tidak hadirnya pengawal di sisinya bahkan ia merasa bebas tanpa pengawal. Putri yang biasanya hanya menanti orang lain melakukan sesuatu untuknya kini telah berubah menjadi gadis yang selalu ingin melakukan segala sesuatu yang belum pernah dilakukannya sebelumnya.

Dengan perasaan senang, Alviorita mengamati setiap rumah yang mereka lewati. Alviorita senang sekali melihat rumah-rumah dalam berbagai ukuran itu berjajar rapi.

Sebuah rumah batu yang mungil membuat Alviorita tertarik. Rumah itu mirip sekali dengan rumah dalam dongeng yang sering dibacakan Ratu kepadanya sewaktu ia masih hidup. Cerobongnya yang tinggi menjulang di pucuk atapnya yang berwarna merah. Andaikata saat itu adalah musim dingin, rumah itu pasti lebih tampak seperti rumah dalam dongeng yang tertutup salju dan dari cerobongnya akan muncul asap-asap yang terus membumbung ke langit.

Seseorang menepuk pundak Alviorita.

Alviorita yang masih sibuk memandangi rumah dalam dongengnya itu terkejut.

Ada apa?”

Alviorita merasa kesal kepada dirinya. Ia selalu saja gugup bila ia dibuat terkejut oleh Nathan. Benar-benar tidak berdaya karena perasaan terkejut yang ditimbulkan Nathan.

“Aku telah memutuskan kita akan membuka bekal piknik kita di lapangan yang ada di tengah hutan,” kata Nathan tenang seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Melihat ketenangan yang ditunjukkan pria itu Alviorita merasa semakin membenci pria i tu. Pria itu masih saja bersikap tidak peculi padahal ia telah membuat Alviorita merasa gugup dan terkejut.

Alviorita baru saja akan mengajak Jeffreye pergi ketika ia menyadari anak itu sudah tidak ada di sisinya.

Nathan tahu apa yang dicari Alviorita. “Ia sudah berangkat duluan,” katanya.

Alviorita diam saja. Ia tetap berdiri di tempatnya dan menanti Nathan berjalan mendahuluinya. Andaikan saja Alviorita tahu letak lapangan yang dimaksud Nathan, ia pasti telah berangkat ke sana tetapi ia tidak mengetahuinya. Dan karena ia malas bertanya pada Nathan, ia hanya berdiri dan tanpa sepatah katapun ia menatap tenang wajah tidak mengerti Nathan. Walaupun Alviorita tahu Nathan sama sekali tidak mengerti apa yang sedang dilakukannya tetapi ia tetap tidak berkata apa-apa.

Nathan akhirnya menyerah pada sikap Alviorita. Ia mulai berjalan ke tempat Jeffreye berada.

Alviorita tetap tidak berkata apa-apa ketika ia mengikuti Nathan. Ia lebih memperhatikan sekitarnya daripada pria itu sendiri. Berada di bawah kerimbunan dedaunan yang berada jauh di atasnya membuat Alviorita merasa seperti berada dalam sebuah petualangan.

Alviorita menatap dedaunan itu dan merasa silau oleh cahaya matahari yang berusaha menerobos masuk melalui sela-sela dedaunan untuk menerangi hutan. Akar-akar pohon yang muncul dari batang terus tumbuh ke bawah. Tampak juga akar-akar pohon yang muncul dari dalam tanah. Batang-batang pohon yang patah berserakan di tanah seperti dedaunan yang menguning. Dari antara rumput-rumput kecil serta semak-semak yang tumbuh di bawah pohon tampak beberapa batang bunga yang berwarna cerah. Ingin sekali Alviorita memetik bunga itu tetapi ia teringat keberadaan Nathan di depannya. Ia tahu pria yang tidak pernah peduli akan sekitarnya itu pasti akan terus berjalan tanpa menyadari ia masih memetik bunga. Apalagi Alviorita sama sekali tidak tahu tentang seluk beluk hutan ini, membuat Alviorita membatalkan niatnya.

Sikap acuh Nathan benar membuat Alviorita semakin jengkel karena ini pertama kalinya ia berjalan-jalan di hutan dan ia ingin menikmatinya tetapi ia yakin Nathan akan segera meninggalkannya tanpa peduli apakah ia tersesat atau tidak.

Sewaktu Alviorita masih dikelilingi kehidupan Istana Urza , ia masuk hutan bukan untuk berjalan-jalan tetapi untuk menemani ayahnya atau memenuhi undangan untuk berburu walaupun ia tidak pernah ikut berburu. Dalam tiap perburuan ia memang selalu hadir karena ia adalah Putri Mahkota tetapi sebagai seorang gadis ia tidak diijinkan untuk berburu. Kadang Alviorita merasa kehadirannya dalam tiap perburuan sama sekali tidak berguna bahkan terasa menggelikan bagi Alviorita. Ia diharapkan hadir tetapi sebagai penonton bukan sebagai peserta. Sering kali Alviorita ingin menggunakan kesempatan itu untuk berjalan-jalan di hutan tetapi ia diharapkan oleh setiap orang untuk memperhatikan perburuan itu kemudian memberi komentar.

Semua keformalitasan itu membuat Alviorita benar-benar merasa bosan tetapi apa yang dapat dilakukannya tanpa membuat penduduk Kerajaan Lyvion merasa kecewa karena mempunyai Putri Mahkota yang jauh berbeda dengan harapan mereka.

Kepada dirinya sendiri Alviorita berjanji untuk datang lagi ke hutan itu. Sendirian tanpa siapapun. Karena itu Alviorita berusaha mengingat setiap jalan yang ia lalui.

Pepohonan tampak semakin berkurang. Dari sela-sela pepohonan tampak hamparan rumput hijau yang bermandikan cahaya matahari yang cerah.

Ketika mereka akhirnya tiba di lapangan itu, Alviorita mendapati ia berada di lapangan rumput yang luas. Hijaunya rumput tampak serasi dengan biru langit yang cerah. Bayang-bayang pohon memanjang di lapangan dan membuat tanah di bawahnya menjadi teduh.

Tanpa berkata apa-apa Nathan segera mendekati sebatang pohon yang paling besar dan paling teduh.

Alviorita yang sibuk meneliti sekitarnya, terkejut ketika menyadari pria itu pergi dari sisinya. Ia segera mengikuti Nathan. Ketika Alviorita melihatnya berhenti di pohon itu, barulah ia sadar ia telah berbuat sesuatu yang konyol. Alviorita kesal pada dirinya sendiri yang mudah terpengaruh oleh Nathan. Sejak semula ia sudah tahu mereka telah tiba di lapangan yang dimaksud Nathan tetapi ia tanpa sadar telah mengikuti Nathan.

Alviorita benar-benar tidak mengerti dirinya sendiri yang selalu menjadi konyol di depan Nathan karena itu tidak heran bila Alviorita semakin membenci Nathan yang selalu bertingkah tidak seperti biasanya. Setiap kali akan berhadapan dengan Nathan, Alviorita selalu meyakinkan dirinya untuk bersikap angkuh terhadap Nathan. Tetapi begitu ia bertemu segala keyakinannya hilang yang tertinggal adalah perasaan jengkel karena merasa tidak berdaya di hadapan pria itu. Andaikan Nathan adalah pria yang benar-benar menarik bagi Alviorita, mungkin Alviorita tidak merasa keberatan merasa seperti itu tetapi kenyataannya sangat berbeda. Alviorita tidak pernah menganggap Nathan adalah pria yang menarik sebaliknya ia merasa pria itu membosankan. Hal ini masih ditambah lagi pria itu adalah pria paling menyebalkan yang paling ditemui Alviorita. Kebenciannya kepada Nathan membuat Alviorita semakin bersemangat untuk menemukan perisai yang banyak dari dalam keluarga Kryntz sendiri.

Segala perasaan jengkel Alviorita kepada dirinya sendiri segera hilang ketika ia melihat keranjang pikniknya berada di pohon itu. Alviorita merasa ia tidak sia-sia mengikuti Nathan karena telah menjadi tugasnya untuk membuka keranjang piknik itu bukan Nathan!

Alviorita segera mendekati keranjang itu dan mulai melakukan pekerjaannya. Pertama Alviorita menebarkan kain lebar di atas rumput dekat pohon besar itu kemudian ia mulai mengeluarkan bekal piknik yang dipersiapkannya sendiri. Tiba-tiba Alviorita merasa ia tengah diawasi. Perasaan Alviorita yang setajam kata-katanya tidak akan pernah salah. Alviorita memalingkan kepalanya dan melihat Nathan tersenyum melihatnya.

Alviorita jengkel melihat pria itu tersenyum mengejek padanya.

“Rupanya putri yang manja sudah berubah,” kata Nathan lalu ia pergi kepada Jeffreye yang tengah bermain di tengah lapangan.

Alviorita terkejut dan ia merasa khawatir Nathan telah mengetahui penyamarannya. Sejak semula Alviorita selalu berhati-hati terhadap Nathan sebab sepanjang pengalamannya, ia selalu merasa tidak dapat menahan kata-katanya bila bersama Nathan. Segala kejengkelan yang ada di hatinya selalu ingin dicurahkan seluruhnya kepada Nathan. Alviorita juga sering merasa cara Nathan memandangnya sangat aneh seperti mereka bertemu kembali setelah sekian tahun berpisah tetapi mereka tidak saling mengenal dan Nathan hanya dapat menduga apakah benar ia pernah bertemu Alviorita.

Alviorita yakin ia tidak pernah mengatakan sesuatu yang dapat membongkar penyamarannya sendiri. Walaupun ia sering hampir mengatakan sesuatu yang dapat merusak semua rencananya tetapi ia selalu dapat mencegah dirinya mengatakan hal itu. Alviorita yakin hingga saat ini ia tidak pernah mengatakan apa pun tentang dirinya yang sebenarnya. Ia selalu berusaha membuat semua orang di Castil Q`arde percaya ia adalah gadis yang kehilangan ingatan yang sekarang bernama Rosa . Tidak mungkin Nathan mengetahui ia adalah putri yang hilang. Bahkan walaupun pria itu sering melihat Alviorita muncul di depan umum maupun di surat kabar.

Alviorita sering mengamati perbedaan wajahnya yang sekarang dengan ketika ia berada di Istana Urza. Wajah Alviorita yang dulu tampak anggun dan berwibawa serta tampak dewasa tetapi wajahnya yang sekarang tampak seperti seorang gadis kecil yang keras kepala, sulit diatur, bahkan kekanak-kanakan. Terlalu banyak perbedaan antara Alviorita yang hidup sebagai Putri Mahkota dengan Alviorita yang sekarang hidup sebagai Rosa .

Sekarang yang dapat dilakukan Alviorita adalah membuat Nathan yakin ia bukan Putri Mahkota. Alviorita tengah memikirkan bagaimana cara ia meyakinkan Nathan ketika ia melihat Jeffreye berlari mendekat.

Melihat Jeffreye yang berlari-lari di lapangan itu, Alviorita tiba-tiba merasa ia pernah ke tempat itu. Tetapi seingat Alviorita ini pertama kalinya ia berada di Chymnt yang berada di sisi utara Istana Urza. Dan berarti ini pertama kalinya pula ia berada di lapangan ini. Karena itu Alviorita segera menghapus perasaan itu.

Alviorita menduga itu semua karena ia sering berada di lapangan terbuka seperti ini tetapi bukan untuk berpiknik melainkan untuk berburu. Walaupun demikian Alviorita sama sekali tidak dapat berhenti mengamati lapangan itu sambil berusaha mengingat sesuatu tentangnya.

Jeffreye duduk di depan Alviorita. “Mengapa engkau tadi melamun?”

“Tadi?” tanya Alviorita tak mengerti.

“Tadi aku telah berkali-kali memanggilmu untuk mengajakmu ke sini tetapi engkau tidak bergerak sama sekali. Kata Paman Nathan engkau sedang melamun dan ia menyuruhku pergi dulu ke sini.”

“Oh…, yang tadi. Tadi aku sedang mengamati sebuah rumah dan aku terlalu sibuk mencurahkan perhatianku ke sana sehingga aku tidak memperhatikanmu,” kata Alviorita, “Maafkan aku.”

“Bagus bukan lapangan ini? Paman Nathan selalu mengajakku kemari setiap kali aku datang,” kata Jeffreye.

Melihat Nathan semakin mendekat, Alviorita enggan mengakui keindahan lapangan rumput ini tetapi ia tetap mengatakannya karena ia tidak ingin membuat Jeffreye kecewa.

Alviorita menganggukkan kepala tanpa berkata apa-apa. Sebenarnya Alviorita tidak mau peduli di mana Nathan akan duduk tetapi ketika pria itu duduk di sampingnya, ia merasa kesal. Apalagi ketika Alviorita menyadari mereka lebih tampak sebagai keluarga yang sedang berpiknik daripada teman. Dengan Nathan yang duduk di sampingnya dan Jeffreye yang duduk di depannya, mereka tampak seperti satu keluarga bukan dua keluarga.

Alviorita mengusir rasa jengkelnya dan bertanya setenang mungkin, “Apa yang akan kita lakukan sekarang? Kurasa masih terlalu awal untuk membuka bekal kita.”

Nathan menyandarkan badan ke batang pohon yang besar di belakangnya dan berkata santai, “Terserah kalian. Aku akan mengawasi kalian dari sini.”

Mendengar kata-kata santai yang semalas gerakan Nathan ketika melipat lengannya di belakang kepalanya itu, Alviorita merasa kesal. Pria itu benar-benar tidak punya rasa peduli. Demikian yang dipikirkan Alviorita.

“Aku ingin bermain lagi,” kata Jeffreye sambil bangkit.

“Engkau tidak lelah?”

“Tidak.” Dan untuk membuktikan kata-katanya, Jeffreye segera berlari ke tengah lapangan.

“Engkau tidak mengikutinya?” tanya Alviorita heran melihat Nathan tetap bersandar sambil memejamkan mata.

“Tidak, aku menyerahkan di kepadamu,” kata Nathan, “Aku ingin beristirahat di sini.”

Tiba-tiba mata Nathan membuka dan menatap tajam wajah Alviorita. “Jangan lupa janjimu. Walaupun aku tidak melihat kalian, aku masih dapat mengetahui apakah engkau menepati janjimu atau tidak.”

Sikap angkuh yang ditambah ancaman tajam itu membuat Alviorita marah. “Kalau engkau tidak mempercayaiku mengapa engkau tidak menjaganya sendiri?”

Suara tajam Alviorita tidak membuat Nathan bergerak bahkan dengan santai pria itu berkata, “Aku lelah menjaga kalian terus menerus. Lagipula kali ini aku berada di sini dan aku yakin engkau tidak berani berbuat yang aneh-aneh selama aku ada di sini.”

“Kita lihat saja,” kata Alviorita tajam.

“Kuperingati engkau untuk….”

“Tidak melanggar janjimu!” sela Alviorita kemudian dengan kata-kata yang tajam dan dingin, Alviorita berkata, “Kalau engkau khawatir, jagalah dia dan segala persoalan akan selesai.”

“Kata orang tuaku engkau dapat dipercayai dan aku ingin membuktikannya,” kata Nathan tenang.

“Aku berkata kepadamu aku tidak pernah mengubah segala keputusanku. Sekali aku berkata ‘ya’ maka seterusnya akan tetap ‘ya’,” kata Alviorita tajam, “Dan kalau engkau masih tidak percaya bukalah matamu lebar-lebar.”

“Aku ingin beristirahat dan sekarang jangan ganggu aku,” kata Nathan marah.

Alviorita teringat ia harus meyakinkan Nathan bahwa ia bukan sang Putri Mahkota.

“Putri yang manja akan tetap manja tetapi aku tidak pernah menjadi seorang putri,” kata Alviorita tajam, “Dan engkau yang paling acuh akan seterusnya demikian.”

Sebelum Nathan mengatakan sesuatu, Alviorita segera meninggalkan Nathan dan segera bermain bersama Jeffreye.

Bermain bersama Jeffreye di lapangan rumput yang luas itu membuat Alviorita semakin merasa ia pernah ke lapangan ini dan bermain di sini tetapi ingatan tajam Alviorita mengatakan ia belum pernah berada di Chymnt apalagi di lapangan ini. Alviorita segera menghilangkan perasaan itu ketika ia melihat sepasang kupu-kupu terbang dari satu rumput ke rumput yang lain. Kupu-kupu itu tampak seperti bekejar-kejaran. Seperti Jeffreye, Alviorita berlari mengikuti sepasang kupu-kupu itu. Kembali Alviorita merasa ia pernah berlari mengejar kupu-kupu. Tetapi Alviorita tidak dapat mengingatnya. Kegembiraan yang telah lama tidak pernah dirasakannya membuat Alviorita melupakannya.

Bermain di alam terbuka seperti inilah yang selalu diinginkan Alviorita saat ia berada di Istana Urza. Dan sekarang setelah keinginannya terwujud, ia tidak mau menyia-nyiakannya. Ia ingin bermain terus sepanjang hari ini di lapangan ini. Lelah berlari-lari, Alviorita duduk di atas lapangan rumput. Melihat Nathan yang masih bersandar di batang pohon sambil memejamkan mata, Alviorita ingin melakukannya juga tetapi ia tidak melakukannya. Alviorita tidak ingin Nathan menduga ia mengikuti segala tindakannya. Selain itu Alviorita sendiri memang tidak ingin meniru segala perbuatan Nathan.

Untuk mengusir rasa bosannya, Alviorita bermain rumput. Jemari Alviorita mempermainkan rumput. Dijalinnya tiap rumput itu lalu diuraikannya kembali. Kadang rumput-rumput kecil itu dicabutnya dari akarnya dan dipermainkannya di atas tangannya lalu ditebarkannya di udara.

Jeffreye mendekat ia duduk di depan Alviorita dan memperhatikan apa yang sedang dilakukan gadis itu bersama rumput-rumput kecilnya. Melihat Jeffreye memandang ingin tahu kepadanya, tiba-tiba muncul perasaan nakal di hati Alviorita. Alviorita tersenyum nakal dan menyiramkan rumput kecil di tangannya ke atas kepada Jeffreye. Selagi Jeffreye sibuk menyibakkan rumput itu, Alviorita terus menyiramkan rumput di atas rambut pirang anak itu.

Jeffreye kesal karena ia tidak dapat membersihkan rumput dari rambutnya karena Alviorita terus menyiramkan rumput ke atas kepalanya. Ia menghentikan usahanya dan mulai meniru perbuatan Alviorita.

Alviorita tertawa melihat kekesalan anak itu. Dan ia tertawa semakin riang ketika Jeffreye berusaha menyiramkan rumput kepadanya. Jeffreye berusaha menyiramkan rumput ke rambut Alviorita tetapi gadis itu selalu dapat mengelak.

Jeffreye mengejar Alviorita yang berlari menjauhinya sambil terus berusaha menyiramkan rumput ke atas rambut hitam Alviorita. Tidak ada yang lebih menggembirakan selain saat ini, saat ia bermain bersama Jeffreye.

Alviorita merasa dirinya kembali menjadi seorang gadis kecil yang masih belum mengenal dunia luarnya. Dunia baru ini benar-benar menyenangkan untuk Alviorita, hanya itu yang dipikirkan Alviorita. Alviorita tidak mau memikirkan kebingungan ayahnya karena ia menghilang. Alviorita yakin ayahnya lebih mencemaskan pesta pertunangannya daripada dirinya sendiri. Memikirkan ayahnya yang selalu mementingkan Kerajaan Lyvion daripada dirinya sudah membuat Alviorita merasa jengkel apalagi bila ia harus ikut campur.

Walaupun Alviorita tahu pelariannya telah mengemparkan penduduk Kerajaan Lyvion tetapi Alviorita tetap tidak mau memberi kabar apapun kepada ayahnya. Alviorita tahu seharusnya ia menulis surat kepada ayahnya dan memberi tahu ia baik-baik saja. Tetapi ia tidak mau melakukannya. Alviorita ingin membuat ayahnya jengkel. Selama ini dirinyalah yang dibuat jengkel oleh sikap ayahnya yang lebih terkesan mengabaikan daripada memperhatikan dirinya. Dan sekarang giliran Alviorita. Keinginan Alviorita untuk menghindari pertunangan konyolnya sekaligus membuat ayahnya jengkel lebih kuat daripada kekhawatiran Alviorita bila kelak ia kembali ke Istana Urza.

Di pikiran Alviorita saat ini tidak ada keinginan untuk kembali ke Istana Urza. Memang pada awalnya Alviorita takut menghadapi dunia barunya di luar Istana Urza tetapi sekarang Alviorita tidak lagi memikirkannya. Dunia baru yang dikhawatirkan Alviorita ternyata sangat menyenangkan hingga Alviorita tidak ingin kembali ke Istana bersama segala kegiatan rutinnya.

Kadang-kadang Alviorita juga memikirkan bagaimana nasib kerajaannya bila ia tidak mau kembali ke Istana Urza. Ia tidak tahu siapakah yang akan meneruskan pemerintahan di kerajaan ini bila ayahnya telah turun tahta. Selama ini dirinyalah yang diharapkan untuk menggantikan ayahnya bila ia turun tahta. Dan setahu Alviorita tidak ada calon Putra Mahkota lain selain dirinya. Raja Phyllips tidak mempunyai adik maupun kakak. Demikian pula kakek Alviorita. Itu berarti hanya Alviorita saja satu-satunya putri yang diharapkan dari keluarga kerajaan untuk menggantikan Raja Phyllips. Kalaupun ada keluarga yang masih memiliki hubungan dengan keluarga kerajaan, hubungan itu sangat jauh. Dan menurut peraturan Kerajaan Lyvion, hal itu tidak dapat membuat putra dari keluarga itu menjadi calon Putra Mahkota.

Hingga saat ini memang tidak pernah terjadi Raja Kerajaan Lyvion tidak mempunyai keturunan. Selalu ada keturunan yang mewarisi gelar Putra atau Putri Mahkota. Menurut peraturan Kerajaan Lyvion pula, putra pertama Raja itulah yang menjadi Putra Mahkota tidak peduli apakah ia pria atau perempuan. Sekarang keturunan Raja Phyllips hanya ada satu yaitu Alviorita. Sebenarnya Raja Phyllips bisa saja menikah lagi ketika Ratu meninggal tetapi rasa cintanya kepada Ratu begitu besar sehingga ia tidak mau menikah lagi. Bahkan tidak untuk putrinya yang masih kecil.

Sejak kematian Ratu, Alviorita yang biasanya selalu dirawat Ratu bersama Maryam diserahkan sepenuhnya kepada Maryam. Raja Phyllips menganggap hal itu sudah cukup untuk Alviorita apalagi gadis itu harus banyak belajar daripada bermain. Sebagai wanita yang terbiasa hidup disiplin, Maryam menyetujui pendapat Raja. Ia juga menganggap sebagai Putri Mahkota, Alviorita harus banyak belajar. Tetapi siapa dapat menduga setelah dewasa sang Putri akan kabur dari Istananya karena ia tidak ingin dipaksa menikah. Dan dalam pelariannya ini sang Putri tidak mau terlalu jauh memikirkan segala hal yang berhubungan dengan kerajaan.

Bermain. Hanya itu yang ingin dipikirkan dan dilakukan Alviorita saat ini. Hari ini Alviorita telah dapat mengepakkan sayapnya walaupun ia masih diawasi. Alviorita yakin tidak lama lagi ia akan dapat mengepakkan sayapnya ke manapun ia inginkan tanpa perlu mengkhawatirkan dicurigai.

Siang ini Nathan telah menunjukkan sedikit kepercayaannya kepada Alviorita. Walaupun masih disertai kecurigaan, Alviorita tidak mau membuang kesempatan ini. Selama bertahun-tahun Alviorita telah belajar untuk menggunakan kesempatan sekecil apapun untuk menghasilkan sesuatu yang besar. Dengan memanfaatkan kesempatan kecil yang secara tidak sadar telah diberikan Nathan kepada dirinya, Alviorita mencoba untuk membuat Nathan percaya bahwa ia dapat dipercayai tanpa mengatakan sesuatu yang dapat merusak penyamarannya.

Alviorita memperingati dirinya untuk lebih menjaga setiap kata-kata serta perbuatannya di hadapan Nathan apalagi setelah pria itu baru saja mengatakan secara tidak langsung kalau ia menduga gadis yang sekarang berada bersamanya adalah sang Tuan Putri Alviorita.

Walupun pengalamannya bersama Nathan telah membuktikan ia tidak dapat menahan kata-katanya bila sudah berhadapan dengan pria menyebalkan itu, Alviorita tetap memperingati dirinya untuk tetap bersikap dingin dan menjaga jarak antara dirinya dengan Nathan. Sedapat mungkin Alviorita harus menghindari Nathan. Pertemuannya dan perbincangannya dengan Nathan harus sejarang mungkin. Bila hal itu tidak dapat dihindari maka Alviorita akan membuat percakapan mereka hanya berputar sekitar masalah Jeffreye. Hanya Jeffreye saja yang dapat digunakan Alviorita sebagai perisainya dalam menghadapi Nathan sedangkan untuk menghadapi ayahnya, Alviorita harus menyiapkan banyak perisai. Semakin banyak perisai yang dimilikinya, Alviorita yakin semakin besar pula kemungkinannya untuk memenangkan perang antara mereka.

Alviorita masih dapat mengerti bila ia harus bersikap sesopan mungkin karena ia tahu ia adalah Putri Mahkota tetapi Alviorita tidak mengerti dan tidak mau mengerti mengapa ia harus menikah dengan pria pilihan ayahnya.

Hanya pikirannya tentang masa depan Kerajaan Lyvion saja yang membuat Alviorita mau kembali ke Istana Urza. Tetapi itupun setelah Alviorita mendapatkan banyak perisai. Hingga saat ini Alviorita telah mempunyai cukup banyak perisai tetapi bagi Alviorita perisainya masih kurang untuk menghadapi pedang ayahnya. Sambil menemukan lebih banyak perisai, Alviorita menikmati kebebasannya di luar Istana Urza. Sepanjang hari tidak ada yang dilakukan Alviorita selain bermain.

Tidak seorangpun di Castil Q`arde yang mengijinkan Alviorita untuk melakukan segala macam kegiatan. Mereka hanya ingin Alviorita menikmati kehidupannya di Castil Q`arde sambil berusaha memulihkan ingtannya.

Mengetahui niat baik mereka terutama Duke dan Duchess of Kryntz, sering Alviorita merasa bersalah karena ia telah membohongi mereka. Tetapi Alviorita tahu bila ia hanya menuruti perasaan bersalahnya itu, maka ia tidak akan pernah dapat melepaskan dirinya dari pertunangan konyolnya.

Tidak seorangpun yang memarahi Alviorita yang setiap harinya hanya bermain-main dengan Jeffreye. Semua orang melihat Alviorita sebagai gadis lincah yang senang bermain dan tidak ada yang memandang buruk hal itu. Semua orang di Castil Q`arde menyukai keriangan di wajah cantik Alviorita.

Jeffreye juga menyukai gadis itu. Ia senang bermain bersamanya dan ia hanya ingin menghabiskan waktu bersama gadis itu. Walaupun kadang Jeffreye dibuat jengkel oleh Alviorita tetapi ia tetap menyukainya dan semakin sering Alviorita menggodanya semakin kuat pula keinginan anak itu untuk membalas Alviorita.

Seperti yang diduga Nathan, Jeffreye terpesona oleh gerakan Alviorita saat gadis itu melompat dari pohon dan segera mengendalikan kudanya yang marah. Jeffreye ingin belajar dari Alviorita bagaimana caranya melakukan itu. Ia sering mengatakan keinginannya itu kepada Alviorita dan setiap kali Alviorita hanya tersenyum sambil berkata, “Itu hanya kebetulan saja.”

Sambil terus berusaha mengejar Alviorita yang berada jauh di depannya, Jeffreye terus mengumpulkan rerumputan di tangannya.

Alviorita membalikkan badannya dan tersenyum mengejek pada Jeffreye yang berusaha mengumpulkan kembali rumput di tangannya. Setelah mengumpulkan cukup banyak rumput di tangannya, Jeffreye kembali mengejar Alviorita. Tak lama kemudian Alviorita melihat anak itu kelelahan mengejarnya. Bagi Alviorita yang telah terbiasa berlari menghindari para pelayan di Istana Urza, berlari selama mungkin bukanlah masalah baginya. Tetapi bagi Jeffreye yang tak pernah melakukan itu, berlari terus sambil berusaha mengejar gadis yang berlari cepat itu adalah suatu masalah. Mengingat keteguhan Jeffreye ketika ia menahan lukanya, Alviorita yakin anak itu akan terus berlari walaupun ia lelah. Demi kebaikan anak itu, Alviorita duduk diatas rumput. Ia tersenyum kepada Jeffreye yang terus berlari mendekat.

Setibanya di sisi Alviorita, Jeffreye segera membalas perbuatan Alviorita kepadanya.

Gadis itu hanya tertawa sambil berusaha membersihkan rambutnya dari rumput. Alviorita masih mengibaskan rambutnya ketika ia melihat Jeffreye duduk kelelahan di sampingnya.

“Engkau lelah?” tanya Alviorita sambil menatap wajah lelah anak itu.

“Ya,” jawab Jeffreye.

Ide nakal lain muncul dalam benak Alviorita ketika jemarinya menyentuh bunga dandelion. “Sungguh?” tanya Alviorita sambil.

“Iya, aku lelah mengejarmu. Engkau berlari sangat cepat.”

“Tentu saja,” jawab Alviorita sambil meniupkan bunga dandelion yang baru saja dipetiknya itu. Kelopak bunga dandelion yang berterbangan ke wajahnya membuat Jeffreye memejamkan matanya. Alviorita tertawa melihat wajah anak itu. Alviorita berdiri dan berlari menjauh dari Jeffreye yang juga segera berdiri.

Sekali lagi Jeffreye berusaha mengejar Alviorita yang terus tertawa.

Alviorita memalingkan kepalanya tanpa berhenti berlari. “Ayo, Jeffreye, kejar aku,” katanya di sela-sela tawanya.

“Aku akan mengejarmu,” kata Jeffreye berjanji.

Alviorita terkejut ketika tiba-tiba Nathan berdiri di depannya. Ia segera berhenti untuk mencegah dirinya bertubrukan dengan pria itu.

Jeffreye terus berlari dan ketika melihat gadis itu berhenti, ia segera melompat untuk menangkap gadis itu.

Alviorita terkejut. Ia belum dapat mengendalikan keseimbangannya akibat tiba-tiba berhenti ketika Jeffreye menabrak dirinya dari belakang dan memeluk pinggangnya erat-erat. Alviorita hampir saja jatuh bersama Jeffreye bila Nathan tidak segera menangkapnya.

“Terima kasih,” kata Alviorita sambil melepaskan diri dari lengan-lengan kekar yang melingkari pundaknya untuk menahan jatuhnya.

Alviorita merasa jantungnya berdebar-debar karena pria itu tiba-tiba mengulurkan lengannya dan menangkap jatuhnya dengan pelukannya. Aneh sekali Alviorita tidak merasa jengkel karena pria yang paling dibencinya itu telah menjadi pria pertama yang memeluknya. Sebaliknya Alviorita merasa malu.

Begitu terlepas dari pelukan Nathan, Alviorita segera membalikkan badannya. “Engkau hampir saja membuat kita jatuh,” katanya kepada Jeffreye yang tersenyum nakal.

“Aku berhasil menangkapmu,” kata Jeffreye senang.

“Engkau hanya beruntung, anak nakal,” kata Alviorita.

Melihat Alviorita siap berlari menjauh lagi, Nathan segera berkata, “Jangan bermain lagi.”

“Mengapa?” tanya Jeffreye tidak mengerti.

“Lihatlah awan hitam itu. Aku yakin tak lama lagi akan turun hujan. Sekarang juga kita harus kembali bila tidak ingin kehujanan,” kata Nathan.

Alviorita memandang awan hitam di langit. Awan hitam itu tampak siap menurunkan hujan setiap saat.

“Tetapi…”

“Tidak ada bantahan. Sekarang juga kita harus kembali. Aku tidak ingin seorangpun dari kalian sakit apalagi sakit gara-gara aku,” kata Nathan memotong kata-kata kemenakannya.

“Pamanmu kali ini benar, Jeffreye,” kata Alviorita membujuk Jeffreye, “Kita harus kembali sekarang. Jangan sampai engkau sakit. Kalau engkau sakit, engkau tidak akan dapat bermain denganku lagi.”

“Sekarang kita kembali,” kata Nathan.

Alviorita tersenyum geli melihat wajah Nathan. Ia tahu ia berhasil membuat Nathan merasa jengkel walaupun pria itu tidak mengatakannya. Dengan sengaja ia telah menggunakan kata ‘kali ini’ dan kata itu telah membuat Nathan merasa marah. Kata itu berkesan selama ini Nathan tidak pernah mengatakan sesuatu yang benar dan hanya saat ini saja apa yang dikatakannya benar.

“Keranjangnya?” tanya Alviorita.

“Aku sudah membawanya,” kata Nathan, “Lebih baik kita segera kembali.”

Nathan berjalan mendahului mereka.

Alviorita yang telah mengingat jalan masuk ke lapangan itu merasa heran melihat Nathan berjalan ke arah yang berlawanan dengan jalan yang tadi mereka lalui.

“Engkau tidak salah jalan?” tanya Alviorita.

“Aku lebih tahu tempat ini daripada engkau,” jawab Nathan tajam.

“Aku tidak mengatakan aku lebih tahu daripada engkau. Aku hanya heran melihat engkau berjalan bukan ke arah dari mana kita datang tadi,” balas Alviorita.

“Kita akan melewati jalan yang lebih singkat agar dapat terhidar dari hujan,” kata Nathan.

Alviorita kesal melihat sikap Nathan yang dingin. Ia tidak menyalahkan pria itu bila ia masih marah karena kata-katanya yang tadi tetapi ia tidak suka melihat pria itu terus bersikap dingin dan bermusuhan. Bagi Alviorita, bukan masalah besar bila ia harus bermusuhan dengan Nathan. Ia tidak akan mengalami kerugian apapun malah sebaliknya ia mendapatkan keuntungan. Karena dengan demikian ia mempunyai satu ‘perisai’ lagi untuk menghindari pertunangan konyolnya. Yang menjadi masalah adalah saat ini mereka bertengkar di hadapan Jeffreye padahal Alviorita selama ini selalu berusaha untuk tidak bertengkar dengan Nathan di depan Jeffreye.

6

Apa yang dikhawatirkan Nathan menjadi kenyataan. Belum jauh mereka memasuki hutan yang lebih dekat dengan Castil Q`arde daripada jalan setapak yang tadi pagi mereka lalui, hujan mulai turun.

Nathan segera berlari. Melihat itu Alviorita juga segera berlari agar lebih cepat sampai di Castil Q`arde.

Mula-mula hujan tidak deras. Tetapi semakin lama semakin deras hujan turun dan semakin banyak genangan air di tanah. Lumpur terus mengotori gaun Alviorita yang berwarna cerah. Tetapi bukan itu yang dikhawatirkan Alviorita. Alviorita mengkhawatirkan Jeffreye. Anak yang telah mengetahui jalan yang mereka lalui ini segera berlari ketika melihat pamannya berjalan terburu-buru. Alviorita sudah berusaha mencegah anak itu berlari tetapi ia tahu ia tidak dapat mengejar anak itu di dalam hutan yang berbahaya seperti ini. Di mana-mana batang berserakan dan akar bermunculan dari dalam tanah. Yang lebih ditakutkan Alviorita bila ia mengejar Jeffreye adalah anak itu mengira ia sedang mengajaknya bermain kejar-kejaran lagi. Alviorita tidak ingin anak itu terjatuh dan ia berharap Nathan mencegah Jeffreye. Tetapi Nathan juga tidak berusaha mencegah Jeffreye. Pria itu diam saja melihat Jeffreye berlari menjauh. Ia hanya berpesan kepada Jeffreye agar hati-hati. Melihat hal itu, Alviorita marah kepada Nathan yang tetap bersikap acuh. Pria itu seakan-akan tidak peduli apakah nanti Jeffreye akan jatuh atau tidak.

“Mengapa engkau tidak mencegahnya?” tanya Alviorita, “Apakah engkau tidak khawatir ia akan jatuh?”

“Jangan khawatir. Jeffreye tahu jalan ini dan ia tidak akan jatuh karena ia telah terbiasa berlari dari sini ke Castil,” jawab Nathan tenang.

“Bagaimana bila ia terjatuh?”

“Jeffreye sudah besar. Anak itu pasti tahu apa yang harus dilakukannya bila ia jatuh.”

“Jeffreye masih anak-anak. Aku yakin anak itu belum genap sepuluh tahun, mungkin tahun ia baru berusia tujuh tahun. Mengaku saja kalau engkau sama sekali tidak mempedulikan kemenakanmu itu. Apa yang akan kaulakukan bila ia jatuh?” kata Alviorita dingin.

Nathan tiba-tiba berhenti. Ia menatap tajam wajah Alviorita. “Aku lebih mengkhawatirkan orang sepertimu akan mempengaruhi dia daripada alam.”

“Kalau engkau khawatir aku akan mempengaruhinya, mengapa tadi engkau hanya tidur dan tidak menjaga Jeffreye?” kata Alviorita tidak mau kalah.

“Siapa yang mengatakan aku tidak mengawasi kalian? Aku tahu apa saja yang kalian lakukan termasuk tingkahmu yang seperti anak kecil,” kata Nathan tajam.

“Lalu?” kata Alviorita dingin.

“Lalu apa?” tanya Nathan tak mengerti.

“Lalu mengapa engkau tidak mencegah aku membuat kemenakanmu itu kelelahan. Kalau engkau memang khawatir aku akan mempengaruhi Jeffreye, engkau seharusnya mencegah aku menggodanya bukannya hanya diam saja.”

Nathan tahu Alviorita benar. Seharusnya tadi ia mencegah Alviorita terus bermain kejar-kejaran bila ia khawatir dengan Jeffreye tetapi ia hanya diam saja. Matanya terus mengawasi mereka bermain di lapangan rumput.

“Aku lebih khawatir engkau mengajari Jeffreye bagaimana caranya memanjat pohon daripada membuat Jeffreye kelelahan.”

“Terima kasih,” kata Alviorita mengejek.

“Terima kasih kembali,” balas Nathan dan ia segera melanjutkan perjalanannya. Dengan kesal Alviorita mengikuti Nathan.

Hujan semakin deras dan hingga saat ini belum terlihat bangunan Castil Q`arde yang megah.

Alviorita semakin mengkhawatirkan keadaan Jeffreye. Ia takut terjadi sesuatu yang buruk pada anak itu.

Tiba-tiba Nathan berhenti dan menarik tangan Alviorita.

Kekhawatiran dan rasa terkejut membuat Alviorita tidak melawan.

Nathan memanfaatkan kesempatan itu untuk menarik tubuh Alviorita lebih dekat. Gadis itu tetap diam saja ketika ia melingkarkan lengannya di pundaknya. Kediaman gadis itu membuat Nathan merasa lega. Semula ia khawatir Alviorita akan melawan tetapi ternyata Alviorita diam saja.

Alviorita masih diam saja ketika Nathan membawanya berteduh di bawah sebatang pohon yang besar.

Ketika Alviorita telah pulih dari rasa terkejutnya, ia bertanya heran, “Mengapa kita tidak segera ke Castil Q`arde?”

“Hujan sangat deras dan aku tidak ingin Mama marah kepadaku karena telah membiarkan engkau berlari di bawah hujan.”

“Tetapi kita harus mencari Jeffreye,” kata Alviorita.

“Jangan khawatir. Anak itu pasti sudah sampai di Castil Q`arde.”

“Mengapa engkau bersikap sesantai itu? Bagaimana bila ia belum sampai?” tanya Alviorita khawatir.

“Castil Q`arde tidak jauh lagi dari sini. Saat ini kita sudah sangat dekat dengan Castil,” kata Nathan, “Aku yakin Jeffreye sudah sampai di Castil Q`arde sebelum hujan mulai turun.”

“Kita harus kembali ke Castil Q`arde secepatnya. Aku khawatir mereka akan mengkhawatirkan kita.”

“Apakah engkau takut berada di sini hanya bersamaku?” tanya Nathan.

Walaupun Nathan sering bertengkar dengannya dan ia menganggap Nathan adalah pria yang harus dihindarinya tetapi Alviorita tidak pernah takut berhadapan dengan pria itu. Berhadapan dengan Nathan justru membuat semangat Alviorita untuk melawan semakin besar. Semakin sering mereka bertengkar, semakin ingin Alviorita segera menemukan perisai yang banyak dan memenangkan perangnya dengan ayahnya.

“Aku sama sekali tidak takut menghadapimu,” kata Alviorita dingin.

“Mengapa engkau ingin segera kembali ke Castil Q`arde?” tanya Nathan.

“Aku sudah mengatakan alasannya kepadamu,” kata Alviorita.

Alviorita membalikkan badannya. Ia tahu tidak ada yang dapat dilakukannya selain menuruti Nathan. Ia tidak tahu jalan ke Castil Q`arde dan ia tidak ingin tersesat apalagi dalam hujan deras seperti ini.

Kerimbunan pohon tempat mereka berteduh membuat mereka terhindar dari air hujan yang terus membasahi bumi. Tetapi udara dingin tetap membuat Alviorita kedinginan. Walaupun gaun Alviorita tidak seberapa basah tetapi udara yang dingin membuat Alviorita menggigil. Alviorita memeluk tubuhnya. Sejak meninggalkan Istana Urza, banyak pengalaman baru yang dialami Alviorita termasuk berteduh di bawah pohon. Walaupun kedinginan, Alviorita tetap merasa senang dengan pengalaman barunya ini.

Selama ini Alviorita selalu berada di tempat yang hangat bila hujan mulai turun. Hari ini Alviorita berteduh di bawah pohon tetapi bersama pria yang dibencinya.

Karena tidak ingin merusak kesenangannya melihat air hujan berusaha menembus dedaunan tempat mereka berteduh, Alviorita mencoba untuk tidak menghiraukan keberadaan Nathan di sisinya.

Tetapi Nathan membuat tidak dapat melakukannya. Pria itu tiba-tiba menyentuh pundak Alviorita.

Alviorita terkejut. Ia membalikkan badannya dan melihat pria itu berdiri sangat dekat dengannya.

“Kurasa tidak ada yang dapat membuatmu merasa hangat selain kain ini,” kata Nathan sambil menyampirkan kain yang semula dibawa Alviorita untuk kegiatan piknik mereka, di pundak gadis itu, “Kalau engkau tidak keberatan.”

Kata-kata yang diucapkan dengan nada mengejek itu membangkitkan kembali kemarahan Alviorita.

Beberapa saat yang lalu, saat pria itu menyampirkan kain di tubuhnya, Alviorita merasa tuduhan ‘tidak pernah peduli kepada sekitarnya’ yang diberikannya kepada Nathan itu salah. Tetapi begitu mendengar kalimat terakhir pria itu, Alviorita batal menarik tuduhan itu.

“Terima kasih atas kebaikan hatimu,” kata Alviorita.

Mendengar suara mengejek itu, Nathan hanya tersenyum.

Alviorita memalingkan kepalanya dan mulai memperhatikan sekitarnya. Sejak tadi Alviorita hanya terburu-buru mengikuti Nathan. Sebenarnya Alviorita ingin berjalan pelan-pelan sambil melihat sekitarnya tetapi Alviorita tahu Nathan akan meninggalkannya bila ia melakukan itu.

Sederetan tanaman menjalar yang membentuk dinding membuat Alviorita tertarik. Menurut Alviorita bentuk tanaman itu aneh. Tanaman itu tampak seperti menutupi dinding. Alviorita mendekati tanaman itu. Alviorita merasa aneh. Ia merasa tahu sesuatu tentang tanaman itu. Jemari Alviorita menyusuri dedaunan di depannya. Bawah sadar Alviorita tahu apa yang harus dilakukan, jemari Alviorita memasuki dedaunan yang rimbun itu. Anehnya Alviorita sama sekali tidak terkejut ketika jarinya menyentuh sesuatu yang keras dan dingin. Tangannya terus mencari sesuatu. Alviorita juga tidak terkejut ketika jemarinya menemukan sesuatu yang mudah digerakkan. Sekali lagi Alviorita tahu apa yang harus dilakukannya, gadis itu menekan benda itu.

“Apa yang kaulakukan?”

Alviorita terkejut.

Nathan merasa marah melihat wajah tak bersalah Alviorita. Begitu melihat gadis itu berdiri di bawah hujan, Nathan segera mendekat tetapi rupanya sang gadis tidak menyadari ia sedang kehujanan. “Apakah engkau tidak sadar saat ini masih hujan deras?”

Suara sesuatu yang bergerak membuat Alviorita mengalihkan perhatiannya dari kemarahan Alviorita.

“Pintunya terbuka,” kata Alviorita senang.

Nathan memandang aneh wajah Alviorita tetapi ia tidak mengatakan apa-apa.

Tanpa menanti Nathan, Alviorita segera memasuki pintu itu dan menuruni tangga di depan pintu. Alviorita mendapati dirinya berada di sebuah ruangan berdinding batu yang kokoh.

“Bagaimana engkau mengetahuinya?” tanya Nathan.

Alviorita membalikkan tubuhnya dan melihat sorot mata Nathan yang aneh. Saat melihat mata itulah Alviorita menyadari ia melakukan semua itu tanpa disadarinya. Alviorita tidak mengerti bagaimana ia dapat melakukannya. Semua terjadi begitu saja seakan-akan Alviorita memang telah mengetahui ada ruangan tersembunyi di balik tanaman menjalar itu. Perasaan Alviorita mengatakan ia pernah ke tempat ini tetapi seingat Alviorita ia tidak pernah ke tempat ini.

“Aku… aku tidak tahu,” jawab Alviorita kebingungan. Alviorita tidak mengerti mengapa ia tahu di balik tanaman itu ada ruangan rahasia ini dan tahu bagaimana cara membuka pintu ruangan ini.

“Siapakah engkau ini?”

“Aku….”

Hampir saja Alviorita mengatakan ia adalah sang Putri Mahkota yang hilang. Kilat petir yang tiba-tiba menerangi langit luar beserta ruangan itu membuat Alviorita sadar ia hampir melakukan kesalahan.

Untuk melengkapi kalimatnya yang belum selesai, Alviorita berkata, “Aku tidak ingat.”

Nathan tidak mempercayai kata-kata itu. “Aku yakin engkau tidak mengatakan yang sebenarnya jadi katakan saja dengan jujur siapa dirimu.”

Suara yang penuh ancaman itu membuat Alviorita ketakutan tetapi gadis itu tidak mau menyerah pada rasa takutnya. “Aku mengatakan yang sebenarnya.”

Saat ini Alviorita tidak berbohong. Saat ini Alviorita tidak lagi mengenali dirinya sendiri sebagai Alviorita. Ia merasa bukan dirinya sendiri. Apa yang baru saja dilakukannya tadi membuat Alviorita semakin tidak mengenali dirinya sendiri. Alviorita sangat yakin ia tidak pernah ke Chymnt tetapi ia dengan mudah mengetahui tempat rahasia ini.

Alviorita tahu ia menemukan tempat ini bukan karena kebetulan tetapi karena ia sudah mengetahuinya. Tetapi kapan Alviorita mengetahuinya kalau ia sendiri sangat yakin ia tidak pernah ke Chymnt. Dalam ingatan Alviorita tidak ada suatupun yang berhubungan dengan Chymnt tetapi sejak ia tinggal di Castil Q`arde beberapa kali ia merasa mengenal tempat ini. Bahkan Alviorita merasa pernah melihat wajah penghuni Castil Q`arde yang telah tua. Setiap kali berjalan-jalan di taman Castil Q`arde, Alviorita selalu merasa ia pernah ke tempat ini dan bermain-main di sana seperti ia bermain dengan Jeffreye. Semula Alviorita menduga semua itu karena Castil Q`arde mirip dengan Istana Urza. Tetapi ketika Alviorita mengamati Castil Q`arde dengan lebih teliti, ia tahu bukan itu alasannya dan tidak mungkin itu alasannya. Sepintas taman Castil Q`arde memang mirip taman di Istana namun bila dilihat dengan teliti keduanya sangat berbeda. Alviorita juga merasa mengenal setiap sudut bangunan Castil Q`arde yang megah. Ketika ia diantar Innane mengelilingi Castil Q`arde, ia selalu tahu ruangan apa yang ditunjukkan wanita itu kepadanya sebelum wanita itu mengatakannya.

Tidak seorangpun yang curiga ketika Alviorita menggendong Jeffreye ke Ruang Kanak-Kanak. Semua orang menduga Alviorita telah mengetahui tempat itu sebelumnya. Padahal sebenarnya ketika menunjukkan bagian-bagian Castil Q`arde kepada Alviorita, Innane lupa mengajak gadis itu ke tingkat tiga Castil Q`arde. Hanya Alviorita sendiri yang merasa aneh ketika ia membawa Jeffreye ke Ruang Kanak-Kanak. Saat Alviorita berjalan sambil menggendong Jeffreye, ia berjalan sesuai dengan langkah kakinya. Kaki Alviorita seakan-akan telah mengetahui ke mana ia harus melangkah. Alviorita terkejut ketika menyadari dirinya telah membawa Jeffreye ke Ruang Kanak-Kanak yang baru saat itu didatanginya dengan mudah tanpa tersesat dan ia lebih terkejut saat ia merasa sangat mengenal setiap sudut lantai tiga itu terutama Ruang Kanak-Kanak.

Bagi Alviorita hal ini benar-benar aneh. Sama anehnya dengan perasaannya ketika pria yang dibencinya memeluknya. Seharusnya saat itu Alviorita marah tetapi Alviorita tidak melakukannya sebaliknya ia merasa malu.

“Katakan sejujurnya siapa dirimu,” kata Nathan, “Tidak seorangpun yang tahu ruang rahasia ini selain aku dan…”

“Kalau engkau telah mengetahuinya, mengapa tidak sejak tadi engkau membawaku ke tempat ini?” sela Alviorita tajam untuk menyelamatkan dirinya dari situasi yang berbahaya bagi penyamarannya ini.

“Itu bukan urusanmu.”

“Memang bukan urusanku tetapi aku tidak dapat mengerti mengapa engkau tidak membawaku ke sini daripada membiarkan aku kedinginan di luar sana,” kata Alviorita tajam.

“Engkau harus mengerti aku telah berjanji kepadanya untuk tidak mengatakan hal ini kepada siapapun,” kata Nathan sambil berusaha mengendalikan kemarahannya.

“Apakah engkau lebih senang melihat aku kedinginan daripada mengingkari janjimu kepada gadis itu?”

Kata-kata Alviorita yang tajam serta kecurigaannya kepada Alviorita membuat Nathan tidak dapat lagi menahan kemarahannya. “Katakan siapa dirimu yang sebenarnya. Tidak mungkin gadis itu mengingkari janjinya. Ia dan aku telah sepakat untuk tidak mengatakan hal ini kepada siapapun.”


“Aku tidak tahu siapa diriku saat ini,” jawab Alviorita tajam.

“Jangan berbohong kepadaku. Aku tahu engkau menyembunyikan sesuatu,” kata Nathan tidak kalah tajamnya.

“Untuk apa aku berbohong padamu?” kata Alviorita dengan ketenangan yang dingin.

“Lalu mengapa engkau tahu ruang rahasia ini?”

“Aku tidak tahu. Kebetulan saja aku menemukannya,” jawab Alviorita sambil berusaha mengatasi ketakutannya melihat wajah Nathan yang penuh kecurigaan.

Alviorita takut ia tidak dapat menahan dirinya. Ia takut mengatakan sesuatu yang dapat merusak penyamarannya. Alviorita tidak ingin kembali ke Istana Urza sebelum ia mendapatkan perisai yang cukup.

Kecurigaan sekaligus kemarahan yang tampak di wajah Nathan tampak menakutkan di ruangan yang remang-remang itu.

“Tidak mungkin engkau mengetahuinya dengan kebetulan. Selama berabad-abad tidak seorangpun mengetahui adanya ruangan ini.”

Sekali lagi Alviorita memotong perkataan Nathan untuk menyelamatkan dirinya, “Lalu mengapa kalian dapat mengetahuinya?”

Alviorita merasa ia telah mengetahui jawabannya.

“Aku menemukan peta tempat ini di antara buku-buku kuno di Ruang Perpustakaan. Kemudian kami mencarinya bersama-sama,” jawab Nathan.

“Gadis kecil itu berhasil menemukan tempat yang kalian cari.”

Kalimat yang tercetus begitu saja membuat mereka berdua sama-sama terkejut.

“Bagaimana engkau mengetahuinya?” tanya Nathan.

“Aku… aku hanya menduganya,” jawab Alviorita kebingungan.

Sesaat yang lalu terlintas suatu gambaran masa kecilnya di benak Alviorita tetapi Alviorita tidak dapat mengetahuinya dengan jelas. Ia hanya teringat ia sibuk mencari sesuatu di tanaman menjalar yang sama dengan tanaman yang menutupi dinding ruangan ini. Tiba-tiba ia melihat sesuatu yang tampak janggal ketika ia berhasil menyibak tanaman itu. Ia melihat dinding batu dan tampak sebuah batu yang tidak menyambung dengan batu-batu lainnya. Tertarik dengan batu itu, Alviorita mengulurkan tangannya dan menekan batu itu. Alviorita senang melihat batu itu masuk dan ia lebih senang lagi ketika ia melihat sebuah pintu yang tertutup oleh tanaman membuka.

Alviorita tidak dapat mengingat lebih jauh dari itu.

“Sungguh?”

Suara Nathan yang terdengar aneh itu membuat Alviorita terdiam. Gadis itu tidak tahu harus berkata apa menghadapi sikap Nathan yang penuh kecurigaan itu. Seperti suaranya, pandangan Nathan ke Alviorita juga aneh. Pria itu seperti sedang mencari sosok yang disembunyikan Alviorita di balik wajah bingungnya. Matanya menatap curiga dan bertanya-tanya.

Dengan kebingungan Alviorita membalas tatapan Nathan. Ia berusaha menebak pikiran Nathan sambil berdoa agar ia tidak sampai membuka penyamarannya sendiri. Wajah curiga Nathan membuat Alviorita harus berhati-hati. Tidak pernah diduga sebelumnya oleh Alviorita bahwa tunangannya memiliki pandangan yang cukup tajam. Tunangannya yang menyebalkan ternyata berbahaya. Jauh lebih berbahaya daripada yang pernah dibayangkan Alviorita.

Belum saatnya ada yang mengetahui ia adalah putri yang hilang itu, tidak juga tunangannya. Belum saatnya Alviorita kembali ke Istana Urza.

Nathan tetap diam saja ketika ia melihat wajah kebingungan Alviorita berubah menjadi seperti biasanya. Wajah itu menunjukkan sikap menantangnya. Pandangan mata gadis itu tampak ia tidak mau kalah dari siapapun terutama dirinya. Gadis itu tidak seperti gadis umumnya. Ia tampak kekanak-kanakan tetapi ia selalu bersikap menantang kepada siapa saja. Gadis itu tidak mau dikalahkan oleh siapapun terutama dirinya. Nathan tidak mengerti mengapa ia mempunyai pikiran seperti itu. Dalam setiap pertengkaran mereka, Nathan melihat gadis itu selalu berusaha mengalahkan dirinya. Tetapi dalam setiap pertengkaran itu pula tidak seorangpun dari mereka yang kalah atau menang.

Sejak pertama kali bertemu dengan gadis itu, Nathan selalu merasa ia mengenal gadis itu di suatu tempat. Selama mereka berada di Castil Q`arde, tidak ada yang dapat menerangkan perasaan itu. Nathan merasa ia mengenal wajah Alviorita, wajah yang mirip seseorang. Tetapi ia tidak ingat wajah siapakah itu.

Tadi ketika ia mengawasi gadis itu bermain dengan kemenakannya di lapangan, barulah ia ingat tetapi ia tidak berani memastikannya. Gadis itu memainkan rumput seperti gadis kecil yang selalu diajaknya ke sana ketika ia masih kecil. Seperti gadis kecil itu pula, Alviorita menyiramkan rumput ke atas kepala Jeffreye. Nathan tidak lupa bagaimana senangnya gadis kecil itu ketika berhasil menyiramkan rumput ke atas rambutnya. Setiap kali Nathan mengajak gadis itu ke lapangan itu hanya satu yang dilakukan gadis itu yaitu duduk sambil memainkan rumput dan berusaha menyiramkan rumput itu ke atas kepalanya.

Ketika melihat Jeffreye mendekati Alviorita dengan perasaan tertarik, Nathan jadi teringat dirinya sendiri yang selalu tertarik melihat gadis kecil itu mempermainkan rumput. Seperti halnya Jeffreye, Nathan juga mendekati gadis kecil itu dan akhirnya gadis itu berhasil menyiramkan rumput ke atas kepalanya. Kemudian ia berusaha membalas gadis itu.

Tingkah Alviorita di lapangan tadi mirip sekali dengan gadis kecil itu. Teringat gadis kecil yang selalu ditemaninya bermain, Nathan akhirnya tahu mirip siapakah wajah Alviorita. Wajah Alviorita mirip sekali dengan wajah gadis kecil itu. Rambut mereka juga sama-sama hitam. Tetapi yang berbeda adalah sinar mata mereka. Gadis kecil itu memiliki sinar ceria sedangkan sinar mata Alviorita adalah sinar mata yang menantang dan tidak mau kalah dari siapapun juga.

Semua tingkah Alviorita sama dengan gadis kecil itu bahkan ketika gadis itu berusaha membersihkan rumput dari rambutnya. Ketika melihat Jeffreye menyiramkan rumput ke atas rambut Alviorita, Nathan menebak gadis itu tidak akan menggunakan tangannya untuk membersihkan rambutnya. Alviorita akan membersihkan rambutnya dengan cara yang sama dengan si gadis kecil. Tebakan Nathan tepat. Alviorita mengibaskan rambut hitamnya yang panjang untuk membersihkan rumput dari rambutnya. Nathan terperangah melihatnya. Bukan wajah gadis itu yang tampak semakin cantik ketika ia mengibaskan rambutnya yang membuat Nathan terpana melihat gadis itu. Yang membuatnya terkejut adalah tebakannya benar-benar menjadi kenyataan.

Segala yang ada pada kedua gadis itu mirip kecuali sinar mata mereka. Nathan mulai menebak diri gadis itu tetapi ia tidak berani memastikannya. Baru sekarang setelah ia melihat gadis itu mengetahui ruang rahasia ini, ia berani memastikan dugaannya. Gadis itu adalah gadis yang sama dengan gadis di masa kecilnya. Tidak seorangpun yang mengetahui ruangan ini selain dirinya dan gadis kecil itu. Dan tidak mungkin Alviorita mengetahui tempat ini dengan kebetulan.

Dulu sebelum ia menemukan ruangan ini bersama gadis kecil itu, ia dan gadis kecil itu selalu bermain di sekitar sini tetapi mereka tidak pernah menemukan ruangan ini walaupun gadis kecil itu selalu mempermainkan tanaman yang menutupi dinding ruangan rahasia yang tersembunyi di bawah batu yang besar. Seperti halnya dirinya, gadis kecil itu tidak pernah menduga di dalam batu yang dirambati tanaman ini ada sebuah ruangan rahasia. Baru ketika mereka menemukan peta tempat ini, mereka mengetahuinya.

Alviorita tidak mungkin mengetahuinya dari gadis kecil itu. Gadis kecil itu dan dirinya saling berjanji untuk tidak mengatakan mengenai ruangan ini kepada siapapun. Hanya mereka berdua yang boleh tahu dan Nathan percaya gadis kecil itu tidak akan mengingkari janjinya.

Terlalu banyak kemiripan Alviorita dengan gadis kecil itu. Nathan tahu ia tidak mungkin salah. Ia selalu ingat setiap kenangannya bersama gadis kecil yang menjadi cinta pertamanya itu. Walaupun waktu itu ia masih berusia sepuluh tahun tetapi hingga saat ini ia masih ingat wajah manis gadis kecil itu. Pada awalnya ia tidak tahu ia telah jatuh cinta pada gadis itu, ia hanya merasa ia menyayangi gadis itu seperti ia menyayangi adiknya sendiri. Baru ketika gadis kecil itu tidak pernah lagi bermain ke Castil, ia menyadari perasaannya.

Nathan tidak pernah mengerti mengapa gadis itu tidak pernah lagi bermain ke Castil Q`arde. Seingat Nathan ia tidak pernah membuat gadis itu marah. Ia selalu berusaha menyenangkan gadis kecil yang manis itu. Gadis itu juga tidak pernah terlihat membencinya. Gadis kecil itu menyukainya tetapi tidak pernah menyukai adiknya, Trent.

Setiap kali melihat sikap permusuhan yang ditunjukkan Alviorita kepada adiknya, Trent, Nathan teringat sikap permusuhan yang ditunjukkan gadis itu kepada adiknya. Kedua gadis ini sama-sama tidak menyukai Trent dan selalu menghindari Trent.

Tidak mungkin Trent yang membuat gadis itu tidak pernah bermain ke Castil Q`arde lagi. Walaupun Trent sering menggodanya tetapi gadis itu selalu tahu apa yang harus dilakukannya untuk membalas sikap Trent.

Pada setiap kedatangannya, gadis itu selalu ditemani ibunya. Dan pada kedatangannya yang terakhir kalinya di Castil Q`arde, ibunya meninggal di Castil Q`arde. Tetapi tidak mungkin itu penyebab gadis itu tidak pernah lagi bermain ke Castil Q`arde. Nathan tahu keluarga gadis itu dan keluarganya sudah sejak lama menjalin hubungan persahabatan. Karena tidak menemukan alasan yang lain, maka Nathan berpikir gadis itu adalah anak sombong yang tidak mau bermain lagi dengannya. Pikiran itu didorong oleh kedudukan yang dimiliki gadis kecil itu.

Ketika pertama kali bertemu dengan gadis kecil itu, Nathan tidak tahu gadis itu adalah putri Raja Phyllips. Baru setelah ibu si gadis kecil meninggal di Castil Q`arde karena sakit, ia tahu gadis kecil itu seorang Putri dan ibunya adalah Ratu Kerajaan Lyvion. Dengan kematian ibunya, si gadis harus menggantikan kedudukan ibunya dalam setiap kunjungan kerajaan. Peran penting yang didapatkan gadis itu karena kematian ibunya membuat Nathan yakin dengan pendapatnya. Gadis itu tidak mau menemuinya lagi karena ia menganggap rendah dirinya.

Karena itu pula Nathan sama sekali tidak merasa senang ketika orang tuanya memberinya sebuah kabar yang mengejutkannya.

Pada suatu siang ketika mereka sedang berkumpul di Ruang Duduk sambil bercakap-cakap, Duke tiba-tiba berkata, “Aku mempunyai kabar gembira untukmu, Nathan.”

“Kabar gembira?” tanya Nathan tak mengerti.

“Tahun ini gadis itu genap delapan belas tahun dan ayahnya berniat untuk segera mengumumkan pertunangan kalian,” kata Duke.

“Pertunangan?” tanya Nathan semakin tidak mengerti, “Pertunangan apa? Siapa yang akan bertunangan?”

Duke memandang kebingungan wajah istrinya, “Ia belum tahu?”

“Belum. Kami belum memberi tahu seorangpun dari mereka berdua. Kami berniat membuat kejutan untuk mereka,” jawab Duchess.

“Apa yang kalian bicarakan?” tanya Nathan curiga.

“Siapa tunangan Nathan?” tanya Trent tertarik.

“Engkau pasti senang mendengarnya, Nathan. Sebenarnya sejak kecil engkau telah aku tunangkan dengan gadis kecil itu, Putri Alviorita.”

Nathan terkejut. “Mengapa Mama membuat keputusan seperti itu tanpa mengatakannya kepadaku?”

Melihat kemarahan di wajah putranya, Duke dan Duchess terkejut. “Kami pikir engkau akan senang mendengarnya,” kata Duke dan Duchess bersamaan.

“Kalian sudah tahu aku sama sekali tidak senang orang lain mencampuri hidupku,” kata Nathan, “Mengapa kalian tetap saja mempertunangkan aku dengannya tanpa sepengetahuanku pula?”

“Kami mempertunangkan engkau dengan Putri Alviorita sejak kalian masih kecil. Saat itu Ratu berkata kalian akan senang mendengarnya. Ratu pula yang mengusulkan pertunangan kalian ini,” kata Duchess menjelaskan.

“Mengapa Mama menyetujuinya?”

“Saat itu kalian tampak akrab sekali.”

“Ya, engkau lebih akrab dengan Putri Alviorita daripada aku. Setiap kali ia datang ke sini engkau selalu berada di sisinya,” sela Trent.

“Trent, jangan memotong perkataan Mama,” tegur Duchess.

“Mengapa kalian menyetujuinya hanya karena alasan itu?” tuntut Nathan, “Apakah kalian tidak pernah berpikir kalau perasaanku bisa saja berubah?”

“Maksudmu engkau sudah tidak menyukai Putri Alviorita lagi?” tanya Trent, “Kalau engkau menikah dengannya engkau akan menjadi Raja Kerajaan Lyvion.”

Nathan tidak tertarik mendengar kata-kata adiknya. Siapa yang tidak tertarik menjadi Raja kerajaan yang makmur ini tetapi yang menjadi masalah adalah Nathan tidak mau berurusan lagi dengan gadis yang dibencinya, Putri Alviorita. Nathan masih tidak dapat memaafkan sikap sombong gadis itu yang setelah menjadi orang penting, tidak mau lagi bermain ke Castil Q`arde.

“Aku tidak setuju dengan pertunangan ini,” kata Nathan tegas.

“Maafkan kami, Nathan. Kami tidak tahu kalau akan begini jadinya,” kata Duke, “Tetapi kita tidak dapat membatalkan pertunangan kalian.”

“Mengapa?” tanya Nathan tajam.

Kemurkaan Nathan membuat Duke dan Duchess memilih untuk bersikap hati-hati. mereka tidak ingin melihat putra sulung mereka lebih marah dari saat ini.

“Mengertilah, Nathan. Pertunangan kalian adalah keinginan Ratu yang telah meninggal. Tidak baik menolak keinginan orang yang sudah meninggal lagipula persiapan pesta pertunangan kalian sudah hampir siap,” kata Duchess penuh pengertian.

“Semua telah siap. Undangan telah disebarkan dan tempat untuk pesta itupun telah diselesaikan,” tambah Duke.

“Tidak ada yang dapat dilakukan untuk membatalkan pertunangan kalian,” kata Duchess meyakinkan, “Kami minta maaf, Nathan. Tetapi engkau tidak dapat menghindari pertunangan ini. Aku tidak tahu mengapa engkau marah seperti ini tetapi aku tahu engkau masih mencintai Putri Alviorita.”

“Mama tidak mengerti apa-apa,” kata Nathan marah.

Nathan tidak menyukai pertunangan ini. Ia ingin sekali membatalkan pertunangan ini.

“Engkau harus mengerti, Nathan. Keluarga kita dan keluarga Raja telah lama bersahabat. Jangan sampai persahabatan ini rusak hanya karena engkau tidak menyetujui pertunanganmu,” kata Duke mencoba memberi pengertian.

Nathan menatap tajam wajah orang tuanya. Ia tahu orang tuanya benar. Bila ia menolak pesta pertunangan ini, hubungan kedua keluarga tua di Kerajaan Lyvion akan rusak bahkan mungkin menjadi bermusuhan. Yang paling ditakuti Nathan adalah Raja menjadi murka kemudian kemurkaan itu menimpa keluarganya. Nathan tahu Raja Phyllips adalah Raja yang bijaksana juga pemarah. Sangat mudah membangkitan kemarahan Raja Phyllips daripada membuatnya senang.

Niat semula Nathan untuk melakukan apa saja demi membatalkan pertunangannya hilang. Dengan pasrah bercampur kemarahan, Nathan berkata, “Kalian telah membawaku ke situasi yang paling sulit yang pernah kualami.”

Duchess tersenyum lega, “Maafkan kami, Nathan. Kami tidak pernah berniat membawamu ke situasi seperti ini. Kami berterima kasih engkau mau mengerti.”

“Bagus,” kata Trent senang, “Bila Nathan sudah mempunyai tunangan maka ia tidak akan merebut kekasihku lagi.”

Nathan menatap tajam wajah Trent. “Harus berapa kali kukatakan aku tidak pernah merebut kekasihmu?”

“Engkau memang melakukannya,” tuduh Trent, “Engkau merebutnya dariku.”

“Sudah, jangan bertengkar lagi,” kata Duke menghentikan pertengkaran kedua putranya, “Engkau jangan lupa Trent, Nathan sudah mempunyai tunangan.”

Diingatkan tunangannya, Nathan merasa jengkel. Ia segera meninggalkan orang tuanya. Walaupun Nathan tidak membanting pintu melainkan menutupnya perlahan-lahan, namun Duke dan Duchess of Kryntz tahu putra mereka marah.

Mereka tidak dapat melakukan apa-apa. Mereka hanya dapat berharap bagi kebahagiaan putra mereka yang paling sulit diatur.

Berbeda dengan adiknya, Nathan sejak kecil lebih suka menghabiskan waktunya untuk belajar daripada bermain. Hanya saat Putri Alviorita berada di Castil Q`arde saja yang mampu membuat Nathan meninggalkan Ruang Belajar. Melihat perubahan sikap putranya bila sang Putri datang, Duke dan Duchess menduga putranya menyayangi Alviorita. Karena itu pula mereka segera menyetujui ide Ratu yang ingin mempertunangkan kedua anak itu. Seperti halnya orang tua Nathan, Ratu juga melihat kedua anak itu cocok satu sama lain.

Tetapi siapa dapat menduga segalanya akan berubah setelah mereka dewasa. Pertunangan yang diharapkan membuat Nathan maupun Alviorita merasa senang ternyata membuat keduanya marah. Keduanya tidak menyukai pertunangan ini. Dan ingin melepaskan diri dari pertunangan ini.

Mengingat keadaan keluarganya bila ia menolak pertunangan yang telah dipersiapkan sejak ia masih kecil, Nathan memaksakan dirinya untuk menerimanya. Sedangkan Alviorita tidak mau mempedulikan apapun. Alviorita sama sekali tidak peduli apakah hubungan kedua keluarga ini akan retak atau tidak. Yang paling diinginkan Alviorita hanyalah kebebasannya yang selama ini selalu terkurung dalam sangkar emas. Sambil mencari kebebasannya, Alviorita berusaha membatalkan pertunangan konyolnya. Gadis itu sama sekali tidak takut apa yang akan dihadapinya dalam usahanya membatalkan pertunangan konyolnya termasuk menghadapi ayahnya yang pemarah.

Keberhasilannya membatalkan pesta yang telah dipersiapkan ayahnya, membuat Alviorita percaya ia dapat membuat ayahnya membatalkan pertunangannya dengan pria yang paling dibencinya.

Batalnya pesta yang dipersiapkan dengan matang karena hilangnya sang Putri tidak membuat Nathan merasa senang. Justru sebaliknya pria itu semakin yakin gadis kecil yang dulu dikenalnya telah berubah menjadi gadis sombong.

Yang tidak dimengerti Nathan adalah mengapa gadis yang dianggapnya bangga dengan kedudukannya itu justru memilih untuk meninggalkan Istananya yang nyaman hanya karena ingin membatalkan pertunangannya. Dalam pikiran Nathan, Alviorita adalah gadis manja yang tidak tahan hidup tanpa adanya pelayan yang selalu siap melayaninya. Karena itu ia semakin tidak mengerti mengapa Alviorita memilih meninggalkan Istana Urza tanpa pengawal. Dan ketika melihat kemiripan gadis yang sekarang berdiri di depannya dengan gadis kecil itu, Nathan semakin tidak mengerti.

Gadis yang sekarang berdiri di depannya tidak mungkin adalah Putri Alviorita. Gadis itu berbeda dari Putri Alviorita yang ada dalam pikirannya. Tidak mungkin mereka adalah gadis yang sama. Tetapi mengapa mereka memiliki banyak kesamaan? Bila benar gadis itu adalah Putri Alviorita yang menghindari pertunangannya mengapa ia membiarkan dirinya berada di Castil Q`arde yang merupakan Castil tunangannya. Nathan benar-benar tidak mengerti.

Tiba-tiba saja Nathan tahu bagaimana caranya membuktikan hal itu.

Nathan sering membaca berita yang memuat Putri Alviorita. Dalam setiap foto sang Putri yang dimuat di surat kabar, selalu ada pria yang berdiri di samping Putri sambil menatap mesra wajah sang Putri. Banyak berita yang beredar mengenai Putri dengan pria-pria yang disekitarnya seiring dengan bertambahnya pria yang mendekati Putri. Setiap hari selalu tampak wajah Putri Alviorita bersama pria yang selalu berbeda di surat kabar beserta isu yang terjadi di sekitar Putri Alviorita.

Nathan mengulurkan tangannya dan meraih tubuh gadis itu ke pelukannya.

Alviorita terkejut dengan tindakan Nathan yang tidak terduga itu. Ia terlalu sibuk meyakinkan dirinya untuk menjaga setiap kata-katanya sehingga ia terhindar dari ancaman terbongkarnya penyamarannya – ketika tiba-tiba pria itu menariknya ke dalam pelukannya. Gerakan pria itu terlalu cepat untuk ditangkap Alviorita yang masih dipenuhi berbagai macam pikiran. Keterkejutan dan pikiran yang masih memenuhi benaknya membuat Alviorita tidak menyadari apa yang dilakukan pria itu.

Alviorita baru menyadari apa yang terjadi ketika bibir pria itu menyentuh bibirnya. Alviorita terkejut sekaligus marah. Tanpa disadarinya tangannya telah melayang ke wajah Nathan.

7

Suara tamparan yang keras itu membuat Alviorita benar-benar menyadari apa yang telah terjadi. Alviorita marah dengan apa yang dilakukan tunangannya itu hingga ia ingin menangis. Ia marah kepada dirinya sendiri karena terlambat menyadari apa terjadi sehingga membuat pria itu berhasil mencium dirinya dan menjadi pria pertama yang menciumnya! Ia menjadi semakin membenci Nathan yang telah menciumnya.

Seperti Alviorita, Nathan juga terkejut dengan tindakan Alviorita yang tidak terduga itu.

Nathan menatap tajam wajah Alviorita. “Engkau memang kucing liar,” Nathan mengatakan apa yang selalu ada dalam pikirannya sejak ia bertemu dengan Alviorita.

“Kalau aku kucing liar, maka engkau the Devil Dog,” kata Alviorita marah.

Alviorita merasa sangat marah hingga ia khawatir tidak dapat menahan air mata yang mulai membasahi matanya. Alviorita tidak ingin membuat Nathan semakin senang karena telah berhasil membuatnya menangis. Alviorita benar-benar membenci pria itu. Melalui pintu ruangan itu yang masih terbuka, Alviorita melihat di luar masih hujan deras. Keinginannya menjauh dari Nathan membuat Alviorita melangkahkan kaki ke tangga batu yang menuju pintu itu.

Alviorita berlari hingga di pintu.

Tiba-tiba seseorang menarik tangannya. “Apa yang hendak kaulakukan?” tanya Nathan tajam.

“Ke mana biasanya kucing liar berada?” tanya Alviorita tajam, “Ke mana kucing liar menghindari the Devil Dog?”

“Engkau memang kucing liar.”

Alviorita menyentakkan tangannya. Tetapi Nathan semakin mempererat pegangannya.

“Lepaskan aku!” seru Alviorita mengalahkan hujan.

“Apa yang kaupikirkan? Apakah engkau tidak melihat hujan di luar sangat deras?”

“Lepaskan aku!” sekali lagi Alviorita berusaha melepaskan lengannya dari genggaman Nathan tetapi pria itu semakin mempererat pegangannya.

“Jangan berharap aku akan mengijinkan engkau memanjat pohon dalam hujan seperti ini,” kata Nathan.

Suara Nathan yang berbahaya tidak membuat semangat Alviorita untuk menentang Nathan luntur. Sebaliknya gadis itu semakin bersemangat melawan Nathan. “Mengapa? Engkau takut?”

“Dengar, aku sama sekali tidak takut terhadapmu. Kalau engkau menantangku memanjat pohon bukan sekarang saatnya.”

“Mengaku sajalah kalau engkau tidak dapat memanjat pohon,” kata Alviorita mengejek.

Nathan marah mendengar ejekan itu. Alviorita sangat salah bila mengatakan ia tidak dapat memanjat pohon. Ia dapat memanjat pohon bahkan ia pula yang mengajari Alviorita kecil memanjat pohon.

“Lihatlah petir di luar. Apakah engkau tidak takut petir menyambarmu yang sedang asyik duduk di atas pohon?”

Alviorita melihat petir yang saling bersahutan di luar. Menyadari pria itu benar, Alviorita semakin kesal. Tangis kemarahan bercampur kesedihan yang selama ini ditahannya tidak dapat lagi ditahannya.

Melihat air mata di wajah gadis yang biasanya selalu menantang itu, Nathan merasa bersalah. Ia sama sekali lupa memikirkan kemungkinan bila ternyata gadis itu tersinggung. Nathan terlalu ingin membuktikan apakah gadis itu adalah gadis yang sama dengan Putri Alviorita sehingga ia melupakan yang lain.

Bila mengingat berita-berita itu, Nathan yakin Alviorita bukan gadis yang tidak pernah dicium pria. Karena itu ia mencium gadis itu. Ia sangat terkejut ketika tangan gadis itu tiba-tiba melayang ke wajahnya. Ia semakin terkejut melihat air mata gadis itu.

Sejak pertama kali bertemu dengan Alviorita, Nathan berpendapat lain dari semua keluarganya. Semua keluarganya mengatakan gadis itu sangat cantik dan penuh semangat. Sedangkan Nathan menganggap gadis itu mirip kucing liar. Kecantikkan dan tingkah laku Alviorita selama berada di Castil Q`arde benar-benar membuat gadis itu tampak liar.

Semua orang mengatakan nama Rosa cocok untuk kecantikan sekaligus tatapan mata gadis itu yang tajam. Nathan berpendapat nama itu tidak tepat karena itu ia tidak pernah memanggil gadis itu dengan nama yang diberikan adiknya kepadanya. Nama yang paling tepat untuk gadis itu adalah ‘The Little Pussycat’. Mata hijau gadis itu yang selalu menatap tajam siapa saja benar-benar mirip mata kucing. Rambut hitam gadis itu yang panjang tampak seperti bulu kucing yang lembut. Dan kecantikkan gadis itu seperti kecantikan kucing yang berbahaya.

Melihat air mata yang membasahi mata yang menatap tajam ke arahnya, Nathan tahu ia telah membuat gadis itu marah. Ia telah menjadi pria pertama yang menciumnya karena itu ia mengerti mengapa gadis itu marah. Tetapi ia tidak mengerti mengapa gadis itu menahan air matanya hingga saat ini. Gadis itu memang tidak mau kalah dari siapapun tetapi mengapa ia terus menahan air matanya, Nathan tidak dapat mengerti.

Setidaknya Nathan kini mulai mengerti satu hal. Gadis itu bukan Putri Alviorita. Ia telah membuktikannya dengan cara yang membuat gadis itu sedih bercampur marah. Nathan menyingkirkan pikirannya dari segala hal yang mirip antara gadis itu dengan Putru Alviorita kecil. Nathan mulai menganggap semua itu hanya kebetulan tetapi terlalu banyak kebertulan yang membuat Nathan tidak dapat sepenuhnya meyakinkan dirinya bahwa semua itu hanya kebetulan. Ia masih merasa gadis itu adalah gadis yang sama dengan Putri Alviorita.

Harus diakui Nathan ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Ia memang berbeda dari adiknya yang senang menghabiskan waktunya untuk bermain. Dulu sebelum adiknya menjadi gemuk, ia adalah pria tampan yang banyak dikejar gadis-gadis muda tetapi mengalami patah hatinya yang pertama, Trent berubah.

Satu-satunya gadis yang pernah memasuki kehidupannya yang hanya dipenuhi oleh belajar hanya gadis kecil itu. Setelah melihat gadis itu tidak mau bermain ke Castil lagi setelah menduduki posisi penting di Kerajaan Lyvion, Nathan semakin menutup dirinya dari dunia luar. Ia semakin banyak menghabiskan waktu untuk belajar dan bekerja. Bila ia sudah melakukan sesuatu, tidak jarang ia melupakan yang lainnya. Karena itu banyak orang yang mengatakan ia adalah pria yang paling serius dalam bekerja. Karena itu pula Nathan tidak tahu bagaimana caranya menghibur Alviorita.

“Masuklah ke dalam. Di luar sangat dingin dan aku tidak ingin engkau sakit,” kata Nathan lembut.

“Mengapa?” tanya Alviorita tajam, “Engkau takut?”

Nathan tidak ingin bertengkar lagi dengan gadis itu. Air mata yang terus membasahi wajah cantik itu membuat Nathan semakin merasa bersalah. “Maafkan aku.”

“Untuk apa engkau minta maaf setelah semuanya terjadi?” tanya Alviorita marah di sela-sela tangisnya yang semakin deras.

“Aku tahu engkau pantas marah karena sikapku tetapi untuk saat ini lebih baik kita menghentikan pertengkaran kita.” Nathan menarik lembut lengan Alviorita yang masih berada dalam genggamannya.

Alviorita terkejut. Ia mundur menjauhi Nathan tetapi tidak berusaha melepaskan lengannya.

“Jangan khawatir, aku tidak akan melakukan apa-apa terhadapmu. Aku hanya ingin menarikmu masuk,” kata Nathan.

Alviorita curiga tetapi ia tetap menurut ketika Nathan menariknya masuk kembali ke dalam ruangan itu.

Sambil menanti Nathan yang sedang menutup kembali pintu yang masih terbuka itu, Alviorita memperhatikan sekeliling ruangan yang sejak tadi belum sempat diperhatikannya itu. Semakin memperhatikan ruangan itu, Alviorita semakin merasa ia mengenal ruangan itu tetapi ia tidak dapat mengetahui mengapa ia mempunyai perasaan seperti itu.

Suara pintu yang tertutup bersamaan dengan menggelapnya ruangan itu membuat Alviorita menjerit ketakutan.

Mendengar jeritan itu Nathan segera memeluk gadis yang berdiri tepat di sampingnya itu.

“Ada apa?” tanyanya lembut.

“Aku… aku takut,” kata Alviorita perlahan.

“Takut? Engkau?” tanya Nathan tak percaya. Ia sukar mempercayai gadis yang bertingkah seperti kucing liar itu ketakutan.

Rasa takut yang merayapi Alviorita membuat gadis itu mengabaikan suara tidak percaya itu. “Aku takut ruang gelap,” katanya jujur.

“Engkau The Little Pussycat takut berada di ruang gelap?” tanya Nathan tak percaya.

Alviorita melepaskan diri dari pelukan Nathan tetapi ketika ia melihat dirinya berada di ruangan yang gelap gulita, ia segera menjatuhkan dirinya ke pelukan Nathan lagi. Walaupun Alviorita tidak menyukai Nathan tetapi Alviorita merasa tempat yang paling nyaman saat ini adalah di pelukan Nathan.

Nathan tersenyum geli melihat ketakutan gadis itu. Sukar dipercayainya gadis yang selalu menatap menantang siapa saja itu takut pada ruang gelap. Ia memeluk erat gadis itu untuk menenangkannya.

“Jangan takut. Aku ada di sini,” kata Nathan menenangkan Alviorita.

“Engkau pasti tersenyum mengejekku.”

Suara merujuk itu membuat senyum geli Nathan semakin lebar. “Tidak, aku tidak melakukannya,” katanya berbohong.

“Engkau bohong. Aku tahu engkau sedang menertawakan aku.”

“Aku tidak bohong,” Nathan mencoba menyakinkan Alviorita. Nathan menduga gadis di pelukannya itu sedang cemberut karena telah menunjukkan kelemahannya pada musuhnya. Nathan tahu sekarang bukan saatnya menebak. Ia harus melakukan sesuatu untuk mengatasi rasa takut gadis itu sekaligus membuat ruangan yang dingin ini menjadi hangat.

“Aku ingin engkau mempercayaiku.”

“Percaya?” tanya Alviorita tak mengerti.

“Aku ingin engkau percaya aku tidak akan memperlakukanmu dengan buruk, seperti…,” Nathan terdiam kemudian ia segera melanjutkan kalimatnya, “Seperti tadi. Aku berjanji tidak akan melakukan kesalahan yang sama.”

Alviorita belum mengatakan apa-apa ketika ia merasa tubuhnya diangkat. Menyadari matanya tengah memandang ruangan yang gelap, Alviorita kembali merasa ketakutan.

Nathan menyadari gadis itu kembali merasa ketakutan. “Percayalah kepadaku. Aku tidak akan berbuat yang buruk kepadamu. Aku hanya ingin membawamu ke bawah, ke tempat yang aman,” katanya menenangkan.

“Di sini terlalu berbahaya bagimu. Karena engkau takut gelap, aku yakin engkau akan segera memejamkan matamu rapat-rapat dan tidak berusaha menemukan jalan ke bawah.”

Alviorita diam saja. Ia segera menyembunyikan wajahnya di bahu Nathan. Tangannya memeluk erat-erat leher Nathan.

Nathan tersenyum ketika ia merasakan tubuh gadis itu menggigil ketakutan di pelukannya. Ia berusaha mengenali jalan dan menuruni tangga batu itu dengan hati-hati.

Alviorita tidak mengerti mengapa ia mempercayai pria yang paling dibenci sekaligus dianggapnya paling berbahaya ini. Alviorita juga tidak mengerti mengapa ia merasa aman dalam pelukan pria itu. Alviorita mencoba mengingkari perasaan senangnya karena mendapat perhatian Nathan. Tetapi ia tidak dapat melakukannya. Menyadari dirinya merasa senang dengan perhatian yang diberikan Nathan, Alviorita merasa malu.

Walaupun Nathan menuruni tangga itu dengan sangat lambat, Alviorita sama sekali tidak ingin segera melepaskan diri dari pelukan Nathan. Ia hanya memejamkan matanya di pundak Nathan sambil menikmati rasa aman yang ditimbulkan Nathan.

Alviorita terkejut ketika Nathan tiba-tiba meletakkan tubuhnya di atas sesuatu yang membuatnya merasa geli. Alviorita takut membayangkan apa yang ada di bawah tubuhnya, ia mempererat pelukannya di leher Nathan.

Nathan menyadari perasaan terkejut gadis itu. “Jangan takut. Itu hanya tumpukan jerami.”

“Jerami? Engkau masih menyimpannya?”

Pertanyaan yang tercetus begitu saja membuat Nathan dan Alviorita sama-sama terkejut.

Setelah beberapa saat yang lalu Nathan menyakinkan dirinya untuk menyadari bahwa gadis itu bukan Putri Alviorita. Sekarang pertanyaan itu membuat dirinya semakin yakin gadis itu adalah Putri yang hilang itu. Hanya dirinya dan si gadis kecil yang tahu ruangan ini dan apa saja yang mereka simpan di dalam ruangan ini. Dulu ia dan si gadis kecil sangat senang ketika menemukan ruangan ini hingga mereka sama-sama ingin berkemah di hutan ini. Mereka baru saja mempersiapkan tumpukan jerami dan batang pohon kering di dalam ruangan ini ketika Ratu tiba-tiba meninggal.

Sejak peristiwa itu Nathan tidak pernah mendatangi ruangan ini. Selama bertahun-tahun tumpukan jerami dan batang pohon tu tetap tersimpan aman di dalam sini. Tidak ada yang menyentuh benda-benda itu.

Sejak awal Nathan memang beranggapan gadis itu menyembunyikan sesuatu. Ia sangat yakin gadis itu tidak kehilangan ingatan. Kelakuan gadis itu lebih tampak seperti seorang tahanan yang baru saja meloloskan diri daripada seorang gadis yang kehilangan ingatan.

Nathan mengubah taktiknya untuk membongkar segala yang disembunyikan gadis itu di balik kata ‘hilang ingatan’.

“Sejak dulu aku tidak pernah memasuki ruangan ini lagi sehingga persiapan kemah kita ini tetap di sini,” kata Nathan.

Taktik Nathan tidak akan pernah berhasil. Sedikitpun Alviorita tidak ingat kalau sewaktu kecilnya ia sering bermain bersama Nathan di sekitar Castil Q`arde.

“Berkemah?”

Pertanyaan tidak mengerti bercampur kebingungan itu membuat Nathan termangu. Ia menduga gadis itu mulai menyadari taktiknya.

“Dulu kita berencana untuk berkemah di sini tetapi rencana itu tidak pernah terwujud,” kata Nathan memancing Alviorita.

Usaha Nathan sia-sia. Alviorita tidak dapat mengerti apa yang sedang dikatakan Nathan. Ia tidak mengerti mengapa Nathan berkata seperti itu. Walaupun masa bermainnya singkat, tetapi Alviorita masih ingat ia sering menghabiskan waktu bermainnya bersama Ratu bukan orang lain. Ratu sering menemaninya bermain di Ruang Kanak-Kanak. Ratu juga yang sering mengajaknya jalan-jalan. Tidak ada orang lain selain Ratu pada ingatan masa kecil Alviorita.

“Aku tidak mengerti apa yang engkau katakan.”

Sekali lagi Alviorita membuat Nathan termangu. Kalimat yang diucapkan dengan jujur itu membuat Nathan tidak mengerti mengapa gadis yang yakini sebagai Putri Alviorita tidak mengingat apa yang ia katakan.

Melalui keremangan ruangan itu, Nathan menatap sinar kebingungan mata hijau Alviorita yang tampak bersinar di ruang yang gelap itu. Nathan yakin gadis itu tidak berbohong dan itu membuatnya semakin kebingungan. Hanya ada satu kesimpulan yang diambil Nathan. Bila gadis itu adalah Putri Alviorita, maka Putri Alviorita terlalu angkuh untuk mengingat masa kecilnya.

“Lupakan apa yang baru kukatakan,” kata Nathan kesal.

Alviorita tidak mengerti mengapa pria itu tiba-tiba kesal. Ia merasa ia tidak melakukan kesalahan apapun selama detik-detik terakhir ini.

Alviorita tahu Nathan bukan pria yang mudah merasa kesal tanpa alasan yang jelas. Alviorita yakin pria acuh itu tidak akan mempermasalahkan apa yang telah terjadi. Pria itu juga tidak mungkin marah karena kejadian yang telah berlalu.

Walaupun hatinya sedang kesal tetapi Nathan membaringkan tubuh Alviorita dengan hati-hati di tumpukan jerami itu.

Merasa punggungnya telah bersandar di dinding batu yang dingin, Alviorita segera melepaskan pelukannya dan ganti memeluk tubuhnya sendiri yang menggigil kedinginan.

“Kenakan ini dulu,” kata Nathan sambil menyampirkan kemejanya di pundak Alviorita.

Alviorita kebingungan melihat sikap Nathan. Ia benar-benar tidak dapat mengerti pria ini. Beberapa detik yang lalu pria itu kesal tetapi sekarang ia kembali bersikap lembut.

Menyadari ia kini berada dalam kegelapan yang ditakutinya, Alviorita merasa takut. Ia memeluk erat-erat tubuhnya yang telah terselimuti jas Nathan itu. Rasa takut semakin menjalari Alviorita ketika gadis itu menyadari Nathan sudah tidak ada di sisinya lagi. Beberapa saat yang lalu saat Nathan berada di sisinya Alviorita masih merasa aman dalam kegelapan ini tetapi setelah pria itu menjauh, Alviorita kembali merasa takut.

Walaupun tidak tahu mengapa pria itu tiba-tiba menjauhinya tetapi Alviorita percaya pria itu akan kembali ke sisinya dan melindunginya dari rasa takut.

Alviorita memeluk lututnya dan meletakkan kepalanya di atas kedua lututnya. Alviorita memejamkan matanya sambil berharap Nathan segera kembali ke sisinya.

Sambil berusaha menemukan kayu bakar yang dulu disimpannya di dalam ruangan ini, Nathan mencoba untuk menyingkirkan pikirannya dari Alviorita. Nathan tidak mengerti mengapa ia masih saja berusaha bersikap lembut kepada gadis itu walaupun ia merasa kesal kepada gadis yang diyakininya sebagai Putri Alviorita yang angkuh itu.

Melalui sinar remang-remang yang memasuki ruangan itu, Nathan melihat gadis itu meringkuk ketakutan.

Nathan mempercepat usahanya membuat api unggun.

Tiba-tiba Nathan teringat sesuatu. Nathan kembali melihat Alviorita yang meringkuk ketakutan. Rasa takut gadis itu terhadap ruang gelap benar-benar mirip dengan si kecil Alviorita. Si kecil Alviorita tidak pernah mau diajak bermain di luar Castil Q`arde pada malam hari. Berada dalam keremangan saja, gadis kecil itu sudah ketakutan. Setiap kali Nathan mengajak gadis kecil itu berjalan-jalan pada malam hari, gadis itu selalu memeluk erat-erat tangannya. Melihat semua itu Nathan semakin yakin gadis yang sekarang ada di ruangan itu adalah Alviorita.

Setelah api unggun yang berhasil dibuat Nathan menerangi ruangan itu, Nathan melihat gadis itu masih meringkuk ketakutan.

Nathan mengambil keranjang piknik yang tadi ditinggalkannya di dekat ujung tangga. K ain putih yang tadi digunakannya untuk membuat Alviorita merasa hangat terjatuh di sekeliling keranjang piknik. Melihat air hujan yang berhasil menerobos masuk celah pintu itu, Nathan yakin kain itu basah.

Nathan mengambil serta kain itu dan merasa lega kain itu tidak sebasah yang diduganya. Nathan segera kembali ke sisi Alviorita yang terus meringkuk ketakutan.

Alviorita mendengar suara kaki mendekat tetapi ia tetap tidak mengangkat kepalanya. Melalui pendengarannya, Alviorita tahu Nathan sudah sampai di sisinya.

Nathan meletakkan keranjang itu di sisi Alviorita. Setelah itu ia menebar kain di dekat api unggun.

“Engkau yakin mereka tidak akan mencari kita?” tanya Alviorita.

Nathan memandang Alviorita yang tetap memeluk tubuhnya. “Aku yakin mereka tidak akan mencari kita.”

“Mengapa? Apakah mereka tidak mengkhawatirkan kita?” tanya Alviorita pilu. Alviorita tidak ingin membayangkan keluarga Kryntz yang selama ini dikenalnya sebagai keluarga yang penuh kehangatan kasih sayang ternyata sama seperti ayahnya yang tidak pernah memperhatikannya.

Suara pilu itu membuat Nathan tertegun. Ia tidak mengerti mengapa suara Alviorita pilu seperti itu bukan sedih atau cemas. “Mereka sangat mempercayaiku karena itu mereka tidak akan mencari kita.”

“Mereka mempercayaimu?” tanya Alviorita tak percaya.

“Engkau tidak mempercayaiku?”

Suara tajam bercampur kemarahan itu membuat Alviorita mengangkat kepalanya. Ia melihat Nathan tengah memandang tajam wajahnya. “Tidak. Aku… aku hanya…” Alviorita segera menghentikan kata-katanya. Ia merasa lega dapat menghentikan kalimatnya sebelum membongkar penyamarannya sendiri.

Nathan mengangkap suara Alviorita itu sebagai suara ketakutan dan ia merasa menyesal karena telah membuat gadis itu ketakutan. “Maafkan aku,” katanya.

“Maaf?” tanya Alviorita tak mengerti.

“Aku membuatmu ketakutan,” kata Nathan.

Alviorita tidak tahu apa yang dikatakan Nathan bila ia menyelesaikan kalimatnya yang tadi. Tadi Alviorita hampir saja mengatakan, “Aku hanya heran melihat engkau mendapat kepercayaan yang sangat besar dari orang tuamu sedangkan aku si Putri Mahkota ini tidak pernah dipercayai siapa pun.”

Semua pengawal yang selalu berada di sisinya membuat Alviorita yakin tidak seorangpun di Istana Urza yang mempercayainya. Mereka selalu mengawalnya untuk memastikan ia melakukan tugasnya. Setiap kali pengawal-pengawal itu melarang Alviorita melakukan sendiri segala sesuatunya, Alviorita semakin yakin mereka tidak percaya ia mampu melakukannya. Alviorita merasa setiap gerakannya selalu diawasi mereka terutama Maryam. Maryam tidak pernah beranjak dari sisi Alviorita. Ia selalu megnawasi segala kelakuan Alviorita sebagai seorang Putri Mahkota. Ia pula yang memastikan Alviorita melakukan tugas-tugasnya.

Alviorita tidak dapat membenci wanita tua itu karena wanita itulah yang merawatnya sejak ia kehilangan ibunya. Alviorita menyayangi wanita itu dan ia tahu wanita itu bersikap ketat terhadapnya karena ia adalah Putri Mahkota. Alviorita juga mengerti pengawal-pengawalnya hanya melakukan tugasnya. Ke manapun ia pergi mereka harus selalu ada di sisinya karena itu ia membiarkan dirinya dikawal walau sebenarnya ia merasa jengkel.

Pengawal-pengawal itu tidak pernah membiarkan Alviorita melakukan sendiri tugas-tugasnya. Mereka selalu mengawalnya ke manapun ia pergi bahkan ketika ia dan Maryam berkeliling kota untuk berbelanja.

Setiap kali berbelanja bersama Maryam, Alviorita ingin sekali dapat membawa barang belanjaannya sendiri. Namun begitu ia membayar belanjaannya, pengawal-pengawalnya sudah membawa barang itu dan mereka terutama Maryam tidak pernah mengijinkannya membawa sendiri barang-barang itu.

Alviorita tidak menyukai semua itu yang membuatnya merasa seperti boneka yang tidak dapat melakukan apa-apa. Tetapi tidak ada yang dapat dilakukan Alviorita.

Setelah selama hampir lima belas tahun hidup dalam keyakinan ia tidak pernah mendapat kepercayaan siapapun, Alviorita terkejut ketika ia mengetahui Duke dan Duchess of Kryntz sangat mempercayai Nathan.

“Percayalah kepadaku. Aku tidak akan melakukan yang buruk kepadamu,” kata Nathan.

“Sesuatu yang buruk?” tanya Alviorita tak mengerti.

Nathan menatap wajah kebingungan Alviorita. “Engkau tidak takut terjadi sesuatu padamu selama engkau bersamaku?”

“Aku yakin engkau akan menjagaku,” kata Alviorita jujur.

“Bukan itu maksudku,” kata Nathan, “Apakah engkau tidak takut aku menciummu lagi?”

Wajah Alviorita memerah. “Engkau telah berjanji tidak akan melakukannya lagi dan aku percaya engkau akan memegang janjimu.”

“Ya, ampun. Apakah engkau tidak tahu bahaya yang mungkin menimpamu saat ini?” kata Nathan kasar.

Alviorita tertegun mendengar suara Nathan. Ia tidak mengerti apa yang membuat Nathan tampak jengkel seperti itu dan ia lebih tidak mengerti apa yang dibicarakan Nathan. Alviorita percaya Nathan akan menjaganya dari rasa takutnya. Ia tahu pria itu akan melindunginya dari bahaya yang mungkin mengancamnya. Pria itu telah menunjukkan sikap perlindungannya kepada Alviorita. Ia menyingkirkan kegelapan yang ditakuti Alviorita dan membuat api unggun untuk menghangatkan ruangan yang dingin itu. Alviorita juga tidak melihat maupun tidak merasakan ada bahaya yang mengancamnya. Di luar juga tidak terdengar suara binatang buas. Yang terdengar hanya suara hujan yang terus membasahi bumi. Kalaupun ada binatang buas yang mengancam mereka di luar sana, Alviorita yakin Nathan akan mencegah binatang itu menganggunya. Walaupun ia selalu bertengkar dengan Nathan tetapi Alviorita mempercayai pria itu. Walaupun Alviorita selalu menganggap pria itu sebagai pria paling acuh yang ditemuinya tetapi Alviorita yakin pria itu tidak akan mengacuhkannya dalam situasi seperti ini.

“Bahaya?” tanya Alviorita tidak mengerti.

“Sebenarnya siapakah engkau ini?” tanya Nathan kasar, “Tingkah lakumu benar-benar seperti kucing liar tetapi engkau tampak seperti saat ini gadis polos. Apakah engkau benar-benar tidak menyadari bahaya yang mengancammu saat ini?”

“Bahaya apa? Aku tidak mengerti apa yang kaubicarakan?” tanya Alviorita kebingungan, “Aku tidak merasakan ada bahaya yang mengancamku. Aku tahu engkau akan menjagaku.”

“Engkau sama sekali tidak menyadari bahaya yang yang saat ini mengancammu?” tanya Nathan untuk kesekian kalinya.

“Aku benar-benar tidak merasakan ada bahaya yang mengancamku,” kata Alviorita kebingungan.

Mata Nathan menyipit. “Juga bahaya dariku?”

Alviorita menatap kebingungan wajah Nathan. Ia menggelengkan kepalanya, “Tidak, aku percaya engkau akan menjagaku.”

Nathan menatap tajam wajah Alviorita. Untuk sesaat ia menyelidiki wajah kebingungan Alviorita tetapi ia tidak menemukan kebohongan di sana. Wajah Alviorita benar-benar menampakkan kebingungan dan rasa tidak mengertinya.

“Sebenarnya engkau ini Putri Alviorita atau bukan?”

Pertanyaan itu membuat Alviorita terkejut. Kekhawatiran Alviorita terbukti. Nathan mencurigai dirinya adalah Putri Alviorita. Untuk membuat pria itu percaya ia bukan sang Putri, Alviorita cepat-cepat menggelengkan kepalanya. “Aku tidak mengenal dia,” kata Alviorita setengah berbohong.

Beberapa hari terakhir ini Alviorita tidak mengenal lagi Putri Alviorita yang dulu ada pada dirinya. Yang dikenal Alviorita hanya gadis yang mempunyai kebebasan.

“Ya, mungkin engkau bukan dia,” kata Nathan mengakui, “Tetapi bila engkau bukan dia mengapa engkau tahu tempat ini?”

“Aku sudah mengatakan kepadamu, aku tidak tahu. Aku hanya kebetulan saja menemukan tempat ini,” sela Alviorita.

Nathan mengacuhkan kata-kata Alviorita. “Kalau engkau adalah dia mengapa engkau sedemikian tololnya hingga tidak mengetahui bahaya yang saat ini mengancammu?”

Sebutan ‘tolol’ yang ditujukan padanya itu membuat kemarahan Alviorita bangkit. “Tolol!?” katanya tajam.

Nathan tidak berusaha membantah. “Ya, engkau adalah gadis paling tolol yang pernah kutemui.”

“Apa yang membuatmu berkata seperti itu?” tanya Alviorita. Menyadari ia telah mengucapkan pertanyaan yang dapat membongkar penyamarannya, Alviorita cepat-cepat berkata, “Dan engkau harus ingat satu hal yaitu aku bukan dia.”

Suara berbahaya itu membuat Nathan semakin tidak mengerti gadis di depannya itu. Ia sangat yakin gadis itu adalah Putri Alviorita. Tetapi kepolosan di wajah cantik gadis itu menunjukkan ia sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksudkan Nathan. Apalagi bila mengingat kemarahan gadis itu saat ia menciumnya.

Berita-berita tentang Putri Alviorita di surat kabar membuat Nathan yakin Putri Alviorita bukan seorang gadis yang tidak mengerti cinta. Tetapi wajah polos gadis itu benar-benar bertentangan dengan apa yang ada di pikirannya mengenai Putri Alviorita.Terlalu banyak pertentangan antara Putri Alviorita yang ada di pikiran Nathan dengan gadis itu dan terlalu banyak pula kemiripan gadis itu dengan Putri Alviorita. Semua itu membuat Nathan semakin kebingungan.

Sejak Ratu meninggal, Nathan memang tidak pernah bertemu lagi dengan Alviorita namun ia dapat menduga bagaimana rupa gadis itu saat ini. Tetapi gadis yang sangat diyakininya sebagai Putri Alviorita ini sangat berbeda rupanya dari Putri Alviorita dalam pikirannya. Putri Alviorita dan gadis ini sama-sama memiliki mata hijau yang serasi dengan rambut hitamnya. Wajah keduanyapun mirip yang berbeda di wajah kedua gadis ini hanya sinar matanya. Sinar mata gadis ini berbeda dengan sinar mata Putri Alviorita juga berbeda dengan sinar mata Alviorita kecil. Sinar mata ketiganya berbeda. Sinar mata Alviorita kecil adalah sinar gembira dan ramah tetapi sinar mata itu sudah berbeda dengan saat ia dewasa. Di foto-foto yang dimuat di surat kabar, sinar mata Alviorita adalah sinar angkuh bercampur keramahan. Sedangkan gadis di hadapan Nathan ini memiliki sinar mata menantang. Mata yang tidak mau kalah dari siapa saja.

Pandangan menyelidik itu membuat Alviorita semakin khawatir penyamarannya akan terbongkar. Alviorita tidak tahu apa yang harus dilakukannya untuk menyelamatkan diri dari situasi berbahaya ini. Ia hanya tahu bila ia membuat pertengkaran di antara mereka, bahaya yang mengancam penyamarannya semakin besar.

Kecurigaan Nathan semakin besar dan semakin berbahaya bila kecurigaan itu menyebabkan pertengkaran di antara mereka.

Udara dingin membuat Alviorita kedinginan. Alviorita memeluk erat-erat lututnya dan berharap tubuhnya tidak terlalu menggigil kedinginan.

Nathan melihat tubuh Alviorita menggigil dan menduga gadis itu ketakutan. “Baiklah, aku minta maaf. Aku tidak akan membuatmu ketakutan lagi.”

“Engkau tidak membuatku ketakutan,” kata Alviorita.

“Sungguh?”

Suara berbahaya itu membuat Alviorita waspada.

“Engkau tidak takut aku memperkosamu?”

Alviorita terkejut. Wajahnya memucat.

Melihat wajah pucat gadis itu, Nathan menyadari ia telah melakukan kesalahan. “Jangan khawatir, aku tidak akan melakukannya.”

Wajah pucat Alviorita tidak menghilang. Gadis menatap ketakutan sekelilingnya.

Melihatnya Nathan semakin menyesal telah mengatakan kalimat itu. “Aku tidak akan menganggumu. Aku janji,” katanya menyakinkan Alviorita, “Aku akan menjagamu.”

Alviorita diam saja. Ia hanya menatap sekelilingnya. Perlahan-lahan wajah Alviorita memerah ketika ia melihat wajah Nathan yang penuh penyesalan. Alviorita tahu pria itu hanya ingin memperingatkannya.

“Kalau melihat langit gelap tadi, kurasa hujan akan terus turun sampai nanti sore dan kita tidak akan dapat pulang,” kata Nathan mengalihkan pembicaraan, “Coba kalau tadi engkau berjalan lebih cepat.”

Alviorita marah mendengar kalimat terakhir yang diucapkan dengan penuh tuduhan itu. “Siapa yang mengatakan aku berjalan lambat? Aku selalu berusaha mengejar engkau yang seperti berlari.”

Nathan menahan senyumannya. Ia berhasil membuat Alviorita melupakan ketakutannya. “Aku tidak berlari,” kata Nathan.

“Tetapi mengejar angin,” sela Alviorita.

“Sebenarnya tadi aku berjalan lebih lambat dari biasanya.”

“Memang itu yang harus kaulakukan.”

Suara mengejek itu membuat Nathan tidak dapat menahan senyumannya. “Kalau tahu hal itu akan membuatmu senang, tadi aku akan berjalan cepat,” goda Nathan.

Alviorita tidak senang mendengarnya. “Apa engkau senang melihat aku terjatuh gara-gara mengikutimu yang berjalan seperti angin?”

“Engkau tidak akan terjatuh. Aku dan Jeffreye saja tidak pernah terjatuh setiap kali kami berlomba dari lapangan itu ke Castil Q`arde.”

“Kalian sudah mengingat setiap seluk beluk jalannya. Dan kalian tidak akan terjatuh karena akar-akar tanaman itu.”

Kemarahan Alviorita membuat Nathan semakin ingin menggodanya. “Engkau takut jatuh?”

“Tidak,” bantah Alviorita, “Aku hanya tidak ingin melihatmu disalahkan orang tuamu karena membiarkan aku terjatuh gara-gara mengejarmu.”

“Aku sudah menduganya. Engkau tidak mungkin sering memanjat pohon kalau engkau takut terjatuh.”

“Aku lebih senang jatuh dari pohon daripada jatuh karena mengejarmu,” kata Alviorita dingin.

Nathan pura-pura mengeluh. “Coba kalau engkau tadi mau kugendong.”

Wajah Alviorita memerah. “Engkau tidak menanyaiku?”

“Memang aku tidak menanyaimu karena aku yakin engkau akan menolaknya.”

“Engkau seharusnya senang aku tidak membuatmu kelelahan. Engkau beruntung aku tidak membuatmu harus berlari sambil membawaku,” kata Alviorita dingin.

Nathan tersenyum melihat sinar tajam mata Alviorita telah kembali. Nathan lebih senang melihat sinar menantang di mata hijau itu daripada sinar ketakutan.

Alviorita menarik tubuhnya menjauh ketika Nathan mendekatinya.

Nathan meraih keranjang piknik di sisi Alviorita dan membukanya. “Untung tadi kita batal berpiknik,” katanya, “Sekarang kita tidak akan kelaparan.”

Alviorita hanya memandang Nathan yang membongkar isi keranjang pikniknya, ia tidak berusaha membantu pria itu.

“Seperti kesepa kat an kita tadi, lebih baik kita menghentikan pertengkaran kita,” kata Nathan kemudian sambil tersenyum ia bertanya, “Engkau lapar?”

“Tidak,” sahut Alviorita.

Setelah pertengkaran mereka, Alviorita sama sekali tidak memiliki nafsu makan.

“Kurasa jam makan siang sudah lewat,” kata Nathan memperingati, “Jangan sampai engkau sakit.”

“Aku tidak lapar,” kata Alviorita keras kepala.

Alviorita kebingungan melihat pria itu menutup kembali keranjang piknik.

“Aku juga tidak lapar,” kata Nathan memberitahu Alviorita.

Nathan mendekati api unggunnya dan menambah kayu.

Alviorita diam saja memandang api yang menyala di depannya. Alviorita tidak tahu apa yang harus dilakukannya sambil menanti hujan berhenti. Semua yang terjadi hari ini di luar rencana Alviorita. Alviorita sama sekali tidak mempunyai rencana berteduh di bawah hujan, tetapi sang Takdir membuat Alviorita berteduh di ruangan ini bersama tunangannya.

Sampai saat ini Alviorita masih merasa marah kepada Nathan yang telah menciumnya. Alviorita tidak pernah membayangkan tunangan yang dibencinya akan menjadi pria pertama yang menciumnya tetapi pria itu telah melakukannya.

Entah bagaimana reaksi Nathan bila pria itu tahu ia telah mencium tunangannya. Alviorita tidak dapat menduganya.

Alviorita tahu kejadian hari ini tidak dapat dijadikan perisai olehnya. Bila ia menggunakan kejadian ini sebagai perisainya, ayahnya pasti akan membuat perisai itu justru berbalik menjadi pedang.

Kedudukannya yang berbahaya membuat Alviorita menyusun rencana baru. Alviorita tidak ingin seorangpun mengetahui ia adalah sang Putri yang hilang dan untuk itu Alviorita berusaha membuat semua orang di sekitarnya tidak pernah menduga ia adalah sang Putri.

Alviorita berhasil membuat semua orang di Castil Q`arde percaya ia adalah gadis yang hilang ingatan kecuali Nathan. Alviorita tidak tahu apa yang harus dilakukannya bila mereka telah membongkar penyamarannya sebelum ia benar-benar siap menghadapi perang antara dirinya dan ayahnya. Bila penyamarannya terbongkar, Alviorita bisa saja membuat semua orang percaya ia adalah gadis yang hilang ingatan dan ia di masa lalu adalah sang Putri Mahkota. Tetapi posisi itu tidak akan menguntungkan Alviorita.

Alviorita percaya ayahnya akan memanfaatkan keadaan itu untuk menyelesaikan pesta yang tertunda. Bila sudah demikian Alviorita tidak mungkin membela dirinya. Membela dirinya sendiri berarti memberitahu semua orang ia tidak pernah kehilangan ingatannya.

Tidak ada yang dapat dilakukan Alviorita untuk menyelamatkan dirinya dari pertunangan konyol ini bila penyamarannya telah terbongkar. Alviorita tahu yang harus dilakukannya saat ini hanya satu yaitu menyusun rencana untuk membuat Nathan percaya ia bukan sang Putri.

Ketika membuat rencana mencari perisai di Castil Q`arde saat ia pertama kali berada di Castil Q`arde, Alviorita sama sekali tidak menduga akan ada orang yang mencurigai dirinya apalagi pria itu adalah tunangan yang dibencinya. Saat itu Alviorita memang telah menyiapkan rencana lain tetapi tidak satupun dari rencana itu yang dapat menyelamatkannya dari kecurigaan Nathan. Alviorita harus membuat rencana lain yang lebih aman dan tidak membuat kecurigaan Nathan semakin bertambah.

Merasa rencana baru yang disusunnya baik dan aman untuk dirinya, Alviorita menyingkirkan segala kegelisahan dari pikirannya. Alviorita meletakkan kepalanya di atas lututnya dan mendengarkan nyanyian hujan di atasnya.

Suara hujan yang bagaikan nyanyian pengantar tidur serta suara petir yang bersahut-sahutan membuat Alviorita mengantuk. Alviorita memperingati dirinya sendiri untuk tidak tertidur. Walaupun Nathan telah meyakinkan dirinya untuk tidak menganggunya dan Alviorita mempercayai pria itu akan menjaganya tetapi Alviorita tetap khawatir.

“Tidurlah. Hujan tampaknya tidak akan segera berhenti.”

Alviorita terkejut mendengar suara lantang yang tiba-tiba memecahkan kesunyian yang ada di antara mereka. Walaupun Alviorita sering mendengar suara lantang itu tetapi gadis itu tetap merasa terkejut setiap kali ia tiba-tiba mendengar suara lantang itu.Keterkejutan Alviorita membuat gadis itu tidak segera menyadari apa yang diucapkan Nathan. Wajah Alviorita memucat ketika ia sadar apa yang diucapkan Nathan.

Nathan melihat wajah gadis itu memucat dan agak memerah. “Aku tidak akan menyentuhmu, aku berjanji padamu.”

Wajah pucat Alviorita semakin memerah melihat penyesalan di wajah Nathan.

Nathan semakin merasa bersalah. “Maafkan kata-kataku yang tadi. Aku tidak pernah berniat melakukannya, tadi aku hanya memperingatimu.”

“Aku… aku tahu,” kata Alviorita malu.

Nathan tersenyum. “Tidurlah, aku akan menjagamu.”

Alviorita ragu-ragu. Ia tidak berani memejamkan matanya seperti yang disuruh Nathan.

Melihat keragu-raguan gadis itu, Nathan segera berkata, “Jangan khawatir, aku juga akan tidur. Aku tidak akan menyentuhmu.”

Pria itu membuktikan kata-katanya dengan menjauhi api unggun dan menata tumpukan jerami yang ada di ruangan itu.

Alviorita memperhatikan pria itu menumpuk jerami di seberang api unggun. Cahaya api tidak menghalangi pandangan mata Alviorita. Gadis itu tetap diam melihat Nathan bersadar di dekat tangga.

Nathan menyandarkan punggungnya di dinding samping tangga. Ia melihat Alviorita masih memandang khawatir dirinya. Nathan tersenyum melihat Alviorita tetap tidak mau memejamkan matanya walau ia merasa mengantuk.

Melihat Alviorita terkantuk-kantuk, Nathan tahu gadis itu tak lama lagi akan tertidur.

Nathan memejamkan matanya. Ia tidak berbohong ketika ia mengatakan akan tidur. Ia sendiri juga mengantuk.

Alviorita terus memperhatikan Nathan tetapi ia tetap tidak berani memejamkan matanya. Ia tetap memeluk lututnya dan menyandarkan kepala di atas lututnya. Walaupun Alviorita tidak ingin tertidur tetapi rasa kantuknya membuat gadis itu akhirnya tertidur.

8

Alviorita membuka matanya. Gadis itu terkejut ketika menyadari dirinya sudah tertidur dan kini sedang memandang dinding batu. Alviorita melihat dirinya tengah terbaring di atas jerami dan sehelai kain putih menyelimuti tubuhnya. Dengan curiga Alviorita memperhatikan Nathan yang duduk di dekat tangga.

Melihat Nathan masih tertidur, Alviorita hanya dapat menduga mengapa kain yang tadi ditebarkan Nathan di dekat api itu menyelimuti tubuhnya dan tubuhnya sudah terbaring di atas jerami.

Melihat sesuatu yang berwarna hitam di bawah rambut hitamnya, Alviorita segera bangkit dan melihat jas Nathan juga telah berpindah tempat dari bahunya ke atas jerami.

Alviorita melihat Nathan yang masih tertidur dan ia tersenyum melihat perhatian Nathan yang telah diberikan kepadanya. Alviorita senang menyadari pria itu masih memperhatikan dirinya. Pria itu telah membaringkan dirinya di tumpukan jerami yang cukup tebal dan menyelimutinya dengan kain. Pria itu juga meletakkan kemejanya di bawah kepalanya sehingga rambutnya tidak terkena jerami.

Mendengar suasana di atas ruangan itu telah sepi, Alviorita segera berdiri.

Api unggun yang tadi dibuat Nathan telah padam dan udara di ruangan itu kembali menjadi dingin.

Alviorita menggigil kedinginan. Ia tidak tahu bagaimana menghidupkan kembali api unggun itu. Alviorita bahkan tidak tahu bagaimana membuat api unggun.

Melihat Nathan masih tertidur, Alviorita tidak tega membangunkan pria itu hanya karena ia ingin menghangatkan ruangan itu kembali. Alviorita juga tidak tega membiarkan pria itu tertidur dalam udara dingin seperti ini. Waktu api unggun masih menyala, pria itu tentu tidak merasa kedinginan tetapi saat ini api unggun sudah padam.

Melihat kayu yang berwarna hitam keabu-abuan itu, Alviorita yakin api itu sudah padam sejak tadi.

Perasaan bersalah membuat Alviorita memandang pria yang tertidur sambil menyandarkan kepalanya di dinding batu yang dingin. Alviorita merasa bersalah telah memberikan sebutan ‘angkuh’ pada Nathan.

Nathan telah menunjukkan perhatiannya kepada Alviorita. Dan karena perhatiannya itu pula Nathan membiarkan dirinya tertidur tanpa kain yang dapat membuatnya merasa hangat. Bahkan jasnya sendiri telah digunakannya sebagai bantal Alviorita.

Alviorita mengambil jas Nathan dan membersihkannya dari jerami kemudian mengenakannya. Alviorita tersenyum melihat dirinya mengenakan jas yang kebesaran itu, ia merasa seperti boneka dalam baju badut yang besar. Diraihnya kain yang telah menjadi selimutnya kemudian ia mendekati Nathan. Dengan hati-hati, Alviorita berlutut di samping Nathan. Saat itulah Alviorita menyadari tidak ada tumpukan jerami yang tadi digunakan Nathan sebagai alas tidurnya.

Alviorita melihat sekeliling ruang yang berbentuk segi empat itu dan menyadari tumpukan-tumpukan jerami yang semula tersebar di sekeliling dinding ruangan itu telah berpindah ke satu tempat yang menjadi tempat tidurnya.

Walaupun Nathan tertidur tetapi Alviorita tahu pria itu tetap menjaganya dalam tidurnya. Sekarang Alviorita mengerti mengapa Nathan memilih tidur di dekat tangga. Menyadari perhatian Nathan yang sangat besar kepada dirinya membuat Alviorita kembali merasa bersalah. Alviorita berjanji tidak akan memberi sebutan ‘angkuh’ lagi kepada Nathan.

Sesaat Alviorita ragu Nathan masih tertidur. Alviorita melambaikan tangannya di depan mata Nathan yang terpejam tetapi mata itu tetap terpejam. Setelah yakin Nathan masih tertidur, Alviorita menyampirkan kain itu di tubuh Nathan. Setelah yakin kain itu sudah menutupi tubuh Nathan yang meringkuk di depannya, Alviorita berdiri dan dengan hati-hati Alviorita menapaki tangga di samping Nathan.

Alviorita mengangkat ujung gaunnya untuk mencegah gaun panjangnya itu menyentuh tubuh Nathan dan membuat pria itu terbangun.

Pintu yang tertutup rapat itu tidak membuat Alviorita khawatir mereka tidak dapat meninggalkan ruang rahasia ini.

Alviorita memperhatikan dinding batu di sekeliling pintu batu itu. Melihat batu kecil pada dinding itu yang terlepas dari sekitarnya, Alviorita menekan batu itu perlahan-lahan sambil berharap suara pintu yang terbuka tidak membuat Nathan terbangun.

Begitu pintu itu terbuka, Alviorita memperhatikan Nathan. Melihat Nathan masih tertidur, Alviorita merasa lega.

Perlahan-lahan ia meninggalkan ruangan itu.

Alviorita tertegun melihat pemandangan yang tidak pernah dilihatnya itu.

Air hujan yang masih tersisa di pepohonan menetes perlahan-lahan. Bahkan batang-batang pohon yang besar juga meneteskan air hujan. Air itu tampak berkilau-kilauan dan membuat suasana di hutan itu tampak segar. Rerumputan di bawah pohon tinggi tampak seperti permata hijau dengan air hujan yang berkilau-kilau itu. Tanah yang tidak tertutup tanaman tampak basah dan berlumpur. Akar-akar pohon yang menyembul di permukaan tanah juga tampak basah dan sedikit berlumpur karena cipratan air kotor dari tanah di sekelilingnya. Burung-burung berkicau menyambut hujan yang telah reda. Dan suara serangga mulai terdengar mengiringi malam yang semakin dekat.

Udara yang segar membuat Alviorita merasa damai. Segala kekhawatiran dan perasaannya seakan-akan hilang dalam udara segar itu.

Alviorita memandang langit yang kembali cerah dengan warna birunya yang dihiasi awan putih seolah-olah tidak pernah ada hujan sebelumnya.

Seekor katak hijau yang tiba-tiba melompat dari sela-sela rumput yang tinggi menarik perhatian Alviorita. Alviorita senang sekali melihat katak yang selama ini hanya dapat dilihatnya dari buku saja.

Alviorita benar-benar seperti bayi yang baru mengenal dunia. Tetapi memang itulah kenyataannya. Dunia di luar Istana Urza ini memang merupakan dunia baru bagi Alviorita yang setiap hari hanya berada di dalam Istana Urza dengan tugas rutinnya yang padat. Banyak buku tentang alam yang dibaca Alviorita tetapi Alviorita tidak pernah benar-benar berada di suasana yang alami seperti ini. Alviorita tidak mempunyai waktu untuk berpiknik bahkan untuk berkeliling kota sambil berbelanjapun Alviorita harus menyisipkannya di sela-sela padatnya jadwal hariannya.

Itu pula yang menyebabkan semua orang memandang Alviorita sebagai Putri yang gemar berbelanja di luar Kerajaan Lyvion. Tetapi itu semua salah.

Alviorita bukannya tidak senang berbelanja di dalam kerajaannya sendiri tetapi ia tidak dapat menyisipkan kegiatan itu di sela-sela jadwal hariannya selama ia berada di Istana Urza.

Bila Raja Phyllips tahu putrinya ingin berbelanja, Raja Phyllips pasti akan menyuruh seluruh toko di Vximour mengirimkan barang mereka ke Istana dan menyuruh Alviorita memilih barang-barang itu.

Alviorita tidak menyukai semua itu. Ia lebih suka melelahkan dirinya sendiri dengan berkeliling dari satu toko ke toko yang lain. Tetapi Alviorita tetap tidak dapat melakukannya walau ia berbelanja di luar Istana Urza bahkan di luar Kerajaan Lyvion. Namun pengawal-pengawal Alviorita tidak pernah mengijinkan gadis itu berjalan kaki mengelilingi suatu tempat. Mereka selalu membawa Alviorita berkeliling kota dengan kereta terbuka. Karena tidak ingin mengecewakan kepala pemerintah tempat yang didatanginya yang telah berusaha untuk menyenangkannya dengan memberikan yang terbaik kepadanya, Alviorita menerimanya.

Semua pendapat yang ditujukan semua orang kepada dirinya itu salah dan hanya Alviorita sendiri yang mengetahuinya. Walaupun demikian Alviorita sama sekali tidak berniat membuat semua orang menyadarinya. Membantah tuduhan itu berarti Alviorita harus menunjukkan dirinya yang selama ini disembunyikan di balik sikap anggun dan penuh wibawa seorang Putri Mahkota. Dan Alviorita tidak ingin rakyatnya kecewa karena mempunyai Putri Mahkota yang sangat berbeda dari yang mereka harapkan.

Karenanya Alviorita diam saja dan membiarkan tuduhan itu terus berkembang. Kalaupun Alviorita ingin membantah tuduhan-tuduhan itu, ia harus menyisipkan kesempatan itu di dalam jadwalnya yang padat.

Menyisipkan kesempatan berkeliling kota dengan dalih berbelanja saja sudah sulit apalagi membantah tuduhan yang ditujukan banyak orang kepada dirinya.

Tuduhan ‘gemar berbelanja di luar Kerajaan Lyvion’ perlahan-lahan menghilang seiring dengan seringnya kunjungan Alviorita ke wilayah Kerajaan Lyvion.

Begitu memasuki dunia politik, Alviorita diajari oleh ayahnya untuk menjalin hubungan dengan luar negeri. Raja Phyllips sering mengirimkan Alviorita dalam setiap kegiatan yang berhubungan dengan kerajaan atau negara lain. Ketika dirasanya Alviorita sudah mengerti bagaimana menjalin hubungan dengan negara lain, Raja Phyllips mulai mengajari Alviorita masalah dalam negeri.

Alviorita sering merasa ajaran ayahnya itu terbalik. Raja Phyllips harusnya lebih mengutamakan pelajaran dalam negeri daripada luar negeri. Bukan hanya Alviorita yang merasa demikian semua menteri juga merasa cara Raja Phyllips mengajari putrinya terbalik. Tetapi tidak seorangpun dari mereka yang berani membantah Raja Phyllips.

Banyak tugas yang harus dilakukan Alviorita sebagai Putri Mahkota dan semuanya itu berputar sekitar masalah kerajaan. Alviorita yang hanya mengenal alam melalui buku sangat senang melihat katak itu melompat dari satu tempat ke tempat lain.

Melihat katak itu menghilang di balik rerumputan yang tinggi, Alviorita merasa kecewa. Tetapi kekecewaan itu hilang ketika seekor katak lain melompat dari sela-sela rumput.

Alviorita ingin mengetahui ke mana katak itu akan pergi. Ia melangkahkan kaki hendak mengikuti katak itu.

“Mau ke mana engkau?”

Alviorita terkejut. Ia membalikkan badannya dan melihat padangan marah di wajah Nathan.

“Aku… aku hanya… hanya ingin melihat katak itu,” kata Alviorita kebingungan. Gadis itu semakin kebingungan ketika melihat katak itu sudah tidak tampak lagi.

“Mengapa engkau meninggalkan ruangan itu?”

Alviorita kebingungan melihat kemarahan Nathan. Ia tidak mengerti mengapa Nathan tiba-tiba marah. “Aku hanya ingin melihat keadaan luar,” kata Alviorita.

“Apakah engkau tidak sadar engkau telah membuat aku khawatir?”

“Khawatir?” tanya Alviorita tidak mengerti.

Nathan jengkel melihat kepolosan Alviorita. Gadis liar itu tampak sangat polos dan lugu. “Apakah engkau tidak mengerti bisa saja terjadi sesuatu padamu selama aku tidak ada di dekatmu?”

“Apa yang dapat terjadi padaku?” tanya Alviorita ingin tahu.

“Ya, ampun. Engkau the Little Pussycat ini apakah sedemikian tololnya sehingga tidak tahu bahaya apa yang dapat menimpanya.”

Keluhan itu membuat Alviorita merasa jengkel. “Dan engkau the Devil Dog mengapa engkau mengkhawatirkan aku?”

“Tentu saja aku khawatir,” sahut Nathan tajam, “Bagaimana bila engkau tersesat? Bagaimana bila engkau terjatuh karena tanah yang licin ini?”

Alviorita terkejut melihat kecemasan bercampur kemarahan di wajah Nathan. Alviorita tahu apa yang diucapkan pria itu benar tetapi ia tidak berniat pulang sendiri ke Castil Q`arde. Walaupun ia merasa ia pernah ke tempat ini tetapi ia tidak yakin ia pernah ke sini. Dalam ingatannya tidak ada yang berhubungan dengan Chymnt.

“Jangan khawatir. Aku tidak berniat membuat diriku sendiri tersesat di hutan ini,” kata Alviorita, “Aku hanya berniat melihat-lihat suasana di luar.”

Alviorita kembali memperhatikan sekitarnya. “Tempat ini indah sekali seperti surga,” kata Alviorita.

Nathan tiba-tiba menarik Alviorita ke pelukannya. “Aku mengkhawatirkanmu, Alviorita.”

Rasa terkejut karena gerakan Nathan yang tiba-tiba itu serta jantungnya yang berdegup kencang membuat Alviorita tidak menyadari Nathan telah menyebut nama aslinya. “Jangan khawatir. Aku tidak ke mana-mana sekarang aku masih di sini.”

Rasa khawatir yang menyelimutinya membuat Nathan juga tidak menyadari dirinya telah menyebut nama asli gadis itu dan gadis itu tidak menyangkalnya.

Ketika terbangun tadi Nathan sangat khawatir melihat Alviorita tidak ada di ruangan itu. Ia khawatir Alviorita terburu-buru pulang ke Castil Q`arde karena marah kepada dirinya yang telah melanggar janjinya.

Setelah menanti sebentar akhirnya Nathan melihat gadis itu telah tertidur, Nathan segera mendekatinya. Nathan memandang gadis itu dan meyakinkan dirinya gadis itu benar-benar tertidur nyenyak. Nathan mengumpulkan jerami di sisi Alviorita yang terus tertidur dalam posisi meringkuk. Setelah merasa tumpukan jeraminya cukup tebal dan dapat membuat gadis itu merasa nyaman, Nathan mengalihkan perhatiannya kepada Alviorita. Perlahan-lahan Nathan meletakkan kepala Alviorita di bahunya kemudian ia mengambil jas hitamnya yang menyelimuti pundak gadis itu. Sebelum melanjutkan pekerjaannya, Nathan memperhatikan Alviorita.

Yakin gadis itu masih tertidur, Nathan memeluk Alviorita dengan satu tangannya dan tangannya yang lain meletakkan jasnya di atas tumpukan jerami. Perlahan-lahan Nathan meluruskan kaki Alviorita. Setelah itu Nathan membaringkan Alviorita dengan hati-hati di atas tumpukan jerami yang tebal itu.

Gadis itu masih tertidur. Nathan lega melihatnya. Ia tidak berharap gadis itu terbangun saat ia membaringkannya.

Nathan memperhatikan wajah Alviorita sebelum ia meninggalkannya. Melihat wajah cantik yang tertidur itu, Nathan semakin yakin gadis itu adalah tunangannya. Nathan tahu ia tidak mungkin salah. Ia tidak pernah melupakan wajah Alviorita kecil.

“Bila ia tertidur seperti ini, ia tampak manis sekali,” gumam Nathan, “Tetapi bila ia membuka matanya, ia tampak seperti kucing liar.”

Nathan mengambil kayu dan meletakkannya di api unggun. Nathan melihat kain yang tadi ditebarkannya di dekat api unggun dengan harapan kain itu cepat kering.

Melihat kain itu benar-benar kering seperti harapannya, Nathan kembali lagi ke sisi Alviorita. Nathan lega melihat gaun gadis itu tidak basah. Nathan tidak ingin gadis yang penuh semangat itu sakit. Walaupun Nathan selalu merasa khawatir melihat tingkah Alviorita yang seperti kucing liar tetapi ia merasa lebih baik gadis itu tetap bersikap liar seperti kucing daripada sakit.

Setelah menyelimuti Alviorita dengan kain itu, Nathan kembali ke api unggun. Merasa telah cukup banyak kayu yang ditambahkannya ke api itu, Nathan duduk di dekat tangga.

Nathan menyandarkan kepalanya di dinding sambil memperhatikan Alviorita yang terus tertidur nyenyak. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukan gadis itu bila bangun dan menyadari ia telah melanggar janjinya.

Dan saat terbangun tadi ia melihat gadis itu sudah tidak ada di depannya. Kain yang menyelimuti gadis itu juga telah berpindah ke tubuhnya.

Walaupun ia yakin gadis itu adalah Alviorita, Nathan tetap khawatir gadis itu pulang sendiri ke Castil Q`arde dan tersesat.

Nathan segera meninggalkan ruangan itu dan ia merasa lega melihat Alviorita tengah memperhatikan sekelilingnya. Nathan ingin membiarkan gadis itu menikmati keindahan alam setelah hujan deras tetapi ketika gadis itu melangkahkan kakinya, Nathan lekas mencegahnya.

Sekarang Nathan benar-benar lega gadis itu telah berada di pelukannya dan tidak akan pergi tanpa dirinya.

Alviorita terkejut menyadari ia membiarkan dirinya berada di pelukan Nathan. Ia berusaha melepaskan dirinya tetapi Nathan mempererat pelukannya.

“Mau ke mana engkau?” tanya Nathan tajam.

“Aku ingin melihat pemandangan ini lagi.”

Nathan juga menyadari ia terlalu lama memeluk gadis itu tetapi ia tidak berniat melepaskan gadis itu.

Usaha Alviorita untuk melepaskan diri dari pelukannya membuatnya merasa kesal. Gadis itu membiarkan laki-laki lain mendekatinya tetapi tidak membiarkan tunangannya sendiri memeluknya.

Melihat langit yang mulai gelap, Nathan tahu mereka harus segera pulang bila tidak ingin membuat keluarganya khawatir juga Alviorita ketakutan.

“Sebaiknya kita segera pulang. Aku yakin engkau tidak ingin berjalan di malam hari,” kata Nathan sambil melepaskan pelukannya.

Melihat kekecewaan di wajah Alviorita, Nathan segera berkata, “Kalau engkau ingin melihat tempat ini lagi, besok aku akan mengantarmu. Engkau tidak ingin berjalan di bawah ribuan mata yang terus mengawasimu, bukan?”

Alviorita melihat langit dan menyadari ucapan Nathan benar. Langit barat semakin memerah dan langit timur semakin hitam. Alviorita ketakutan membayangkan dirinya harus berjalan di bawah ribuan mata yang memandangnya dari langit hitam.

Melihat Alviorita ketakutan, Nathan segera menarik tubuh Alviorita ke sisinya dan membawanya kembali ke ruang rahasia mereka.

Alviorita terkejut dan menatap cemas wajah Nathan.

“Kita harus membawa serta keranjang piknik kita,” kata Nathan menenangkan gadis itu.

Alviorita segera memasuki pintu yang masih terbuka itu dan segera merapikan kembali keranjang pikniknya.

Nathan melihat gadis itu tampak senang. Ia lega gadis itu tidak marah karena ia telah melanggar janjinya. Nathan mengambil kain yang tadi menyelimuti tubuhnya.

Melihat kain itu, Nathan menyadari sesuatu. Ia melihat Alviorita yang masih sibuk merapikan keranjang pikniknya.

“Engkau tidak takut?” tanyanya heran.

“Takut?” tanya Alviorita tak mengerti.

“Saat engkau bangun tadi, aku yakin ruangan ini gelap. Engkau tidak takut?”

Alviorita terpana mendengar kebenaran itu. Tadi saat ia bangun, ia hanya memperhatikan Nathan dan melupakan suasana remang-remang ruangan tempatnya berada. Tidak adanya api yang menerangi ruangan ini tidak membuat ruangan ini menjadi gelap. Sinar matahari yang menerobos melalui pintu membuat ruangan ini menjadi remang-remang. Suasana yang ditakuti Alviorita ini tidak disadarinya olehnya. Saat itu Alviorita sama sekali tidak merasa takut. Alviorita tahu Nathan ada di dekatnya dan pria itu akan menjaganya. Hanya itu yang disadari Alviorita.

Wajah Alviorita memerah. “Aku tidak takut karena aku tahu engkau ada di sisiku,” katanya jujur.

Kata-kata yang tulus itu membuat Nathan terpana. Nathan tidak menyangka gadis angkuh itu masih mempunyai ketulusan seperti itu yang membuat ia mengakui perasaannya.

“Aku merasa tersanjung mendengarnya.”

Mendengar suara tidak senang itu, Alviorita terdiam. Ia tidak mengerti mengapa Nathan tidak senang mendengar kata-katanya.

Sesaat setelah mengucapkannya, Alviorita khawatir Nathan akan merasa senang karena ia yang selalu bertengkar dengannya ternyata masih merasa aman karena keberadaan dirinya di sisinya.

Alviorita sudah mempersiapkan dirinya mendengarkan ejekan Nathan ketika ia mendengar kalimat yang diucapkan dengan tidak senang itu.

Alviorita tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Ia teringat perhatian Nathan. “Terima kasih,” katanya perlahan-lahan.

“Terima kasih apa?”

Suara jengkel itu telah diduga Alviorita. “Engkau telah membuat aku tertidur nyenyak,” kata Alviorita sambil melirik tumpukan jerami di kakinya.

Nathan terkejut. Ia mengira gadis itu akan marah karena ia melanggar janjinya ternyata gadis itu tidak marah malahan ia berterima kasih. Kain yang ada di tangannya membuat Nathan sadar gadis itu juga telah memperhatikan dirinya.

“Aku juga mengucapkan terima kasih atas perhatianmu,” kata Nathan sambil memperhatikan kain di tangannya.

Nathan senang melihat gadis angkuh itu masih memperhatikan dirinya.

Alviorita mendekati Nathan dan meletakkan keranjang piknik di antara mereka. Alviorita segera melepaskan jas Nathan yang masih dikenakannya.

“Apa yang kaulakukan?” kata Nathan mencegah Alviorita melanjutkan perbuatannya.

“Aku harus mengembalikan jas ini kepadamu,” kata Alviorita.

Nathan memegang tangan Alviorita. “Kenakan saja.”

“Tetapi….”

Keragu-raguan itu membuat Nathan merasa heran. Seharusnya gadis yang sering berganti-ganti pria itu senang mendapatkan perhatian tetapi ternyata gadis itu ragu-ragu menerima perhatiannya. Bila gadis itu tidak mau menerima perhatian dari tunangannya mengapa ia berterima kasih kepadanya. Nathan semakin tidak mengerti gadis ini.

“Jas ini milikmu,” kata Alviorita.

“Kenakan saja. Udara di luar masih dingin dan aku tidak ingin engkau sakit,” kata Nathan tegas.

“Bagaimana denganmu?”

“Aku?” tanya Nathan keheranan.

“Engkau tentunya juga kedinginan.”

Kata-kata yang penuh perhatian itu membuat Nathan heran. Ia benar-benar tidak mengerti gadis ini. “Aku tidak akan kedinginan.”

“Engkau yakin?”

“Tentu saja,” kata Nathan sambil mengambil keranjang piknik di dekatnya. Nathan memegang lengan Alviorita, “Lebih baik kita segera pulang kalau engkau tidak ingin kemalaman.”

Alviorita membiarkan Nathan membawanya meninggalkan ruangan itu.

Apa yang dikhawatirkan Nathan memang benar. Udara semakin dingin seiring dengan menggelapnya langit.

Alviorita heran ketika menyadari ia tidak takut sama sekali bahkan ketika ia memandang langit hitam. Dulu sewaktu meninggalkan Istana Urza, Alviorita merasa kecil dan tidak berdaya ketika ia memandang langit malam. Saat ini Alviorita sama sekali tidak merasa takut sebaliknya ia merasa senang melihat keindahan langit malam itu. Bintang-bintang itu sudah tidak tampak menyalahkan dirinya lagi. Bintang-bintang itu tersenyum kepada dirinya dan bulan yang bersembunyi di balik awan juga tersenyum pada dirinya. Apa yang dirasakan Alviorita saat berada di malam yang semakin dekat ini benar-benar berbeda dengan saat Alviorita meninggalkan Istana Urza. Alviorita tidak takut mendengar suara hewan malam walaupun saat ini ia berada di tengah hutan lebat.

Tangan seseorang menyentuh lengan Alviorita dan membuat gadis itu terkejut.

“Maaf aku mengejutkanmu,” kata Nathan.

Alviorita diam saja. Sekarang ia tahu mengapa ia tidak merasa takut sama sekali. Ia tahu pria itu berada di sisinya dan akan menjaganya.

“Engkau takut?” tanya Nathan cemas melihat Alviorita diam saja.

“Tidak,” kata Alviorita tersipu-sipu, “Aku tidak takut karena aku tahu engkau akan menjagaku.”

Suara Alviorita yang seperti orang baru kali ini mendapat perlindungan membuat Nathan heran. “Bagaimana dengan pengawal-pengawal yang selalu menjagamu?”

Alviorita tidak menyadari ia telah memasuki percakapan yang berbahaya bagi penyamarannya. “Aku tidak menyukai mereka.”

Nathan belum berniat membongkar penyamaran Alviorita. Ia ingin memastikan dirinya dulu sebelum ia membuat gadis itu mengakui kalau ia adalah Putri Alviorita.

“Tetapi engkau selalu membiarkan mereka mengawalmu.”

“Aku membiarkan mereka karena aku tahu itu tugas mereka dan aku tidak mungkin dapat pergi tanpa pengawal,” kata Alviorita tanpa menyadari ia telah memasuki jaring yang dipasang Nathan.

Pengakuan Alviorita itu membuat Nathan yakin gadis itu adalah Putri Alviorita sekaligus membuat Nathan heran.

Melihat banyaknya pengawal yang selalu berada di sekitar Alviorita juga keangkuhan gadis itu, Nathan yakin gadis itu senang pergi ke mana-mana dengan banyak pengawal yang membuatnya tampak lebih berwibawa. Tetapi kata-kata yang diucapkan gadis itu bertentangan dengan pendapatnya mengenai gadis itu.

Nathan tidak berniat melanjutkan usaha penyelidikannya. Ia takut Alviorita menyadari jebakannya bila ia meneruskannya. Nathan tahu ia masih dapat meneruskan penyelidikannya di lain waktu saat Alviorita terpengaruh oleh sekitarnya.

Apa yang paling dikhawatirkan Alviorita telah terjadi. Tetapi gadis itu tidak menyadarinya. Alviorita selalu meyakinkan dirinya untuk menjaga setiap kata-katanya bila berhadapan dengan Nathan. Alviorita lupa ia sangat mudah terpengaruh kata-kata Nathan. Sebesar apapun usahanya untuk menjaga kata-katanya tidak akan dapat menandingi pengaruh Nathan terhadap dirinya.

Nathan beruntung gadis itu terpengaruh perasaan herannya sehingga ia tidak menyadari apa yang telah dikatakannya. Bila Alviorita sadar ia telah memasuki percakapan yang berbahaya, ia akan segera menyelamatkan dirinya.

Bukti yang didapatkan Nathan membuat pria itu semakin yakin sekaligus semakin tidak mengerti tunangannya yang berbeda dengan apa yang dibayangkannya.

“Lebih baik kita segera pulang,” kata Nathan sambil menarik Alviorita, “Perhatikan langkahmu kalau engkau tidak ingin jatuh.”

Alviorita khawatir Nathan akan berjalan cepat seperti tadi. Ia tidak ingin membuat gaun putihnya yang dibawanya dari Istana Urza terkena cipratan air kotor.

Kekhawatiran Alviorita tidak terwujud. Nathan sengaja berjalan pelan-pelan. Ia masih ingin meyakinkan dirinya gadis itu adalah sang Putri yang juga adalah tunangannya. Dulu sewaktu masih kecil, Alviorita selalu memeluk tangannya erat-erat bila mereka berjalan di kegelapan malam. Dan sekarang Nathan ingin melihat apakah gadis itu juga akan melakukan hal yang sama.

Alviorita yang tidak ingat ia sering bermain ke Castil Q`arde ketika ibunya masih hidup, segera memeluk erat-erat lengan Nathan. Ia berjalan hati-hati sambil memperhatikan sekelilingnya yang tidak tampak menakutkan lagi baginya. Alviorita khawatir bila ia melepaskan lengan Nathan, pria itu akan segera meninggalkannya.

Walaupun Alviorita telah melakukan apa yang diharapkannya tetapi Nathan tetap berjalan pelan-pelan.

Nathan melepaskan lengannya dari pelukan Alviorita dan ganti memeluk pundak gadis itu.

Wajah Alviorita memerah. Ia menundukkan kepalanya sambil terus berusaha menyamakan langkah kakinya dengan langkah lebar Nathan.

Melihat sikap Alviorita yang seperti baru pertama kali dipeluk pria itu, Nathan semakin tidak mengerti gadis itu.

Semakin banyak persamaan yang ditemukannya pada diri gadis itu dengan Putri Alviorita baik saat kecil maupun dewasa, semakin banyak pula perbedaan yang dilihatnya. Dan semua itu membuat Nathan semakin tidak mengerti pribadi ketiga gadis itu.

Perbedaan pribadi ketiga gadis itu tidak memungkinkan ketiganya adalah gadis yang sama tetapi persamaan yang dimiliki mereka membawa mereka pada satu sosok gadis. Perbedaan pribadi Alviorita kecil dan Alviorita dewasa masih dimengerti Nathan tetapi perbedaan gadis yang diyakininya sebagai Putri Alviorita ini tidak dapat dipahami Nathan.

Di samping perbedaan yang ada dalam diri gadis itu dengan Alviorita kecil maupun Alviorita dewasa, Nathan sangat yakin gadis itu adalah Putri Alviorita.

Walaupun Nathan yakin gadis itu adalah Putri Alviorita tetapi ia tidak berniat melaporkan kepada Raja Phyllips mengenai hal ini. Ia masih ingin mengetahui apa yang menyebabkan ketiganya berbeda. Dan masih ada sedikit keragu-raguan di hatinya mengenai gadis itu.

Untuk sementara ini Nathan merasa cukup dia saja yang tahu gadis itu adalah Putri Mahkota.

Nathan yakin keluarganya tidak akan mempercayainya bila ia mengatakan hal ini. Seluruh keluarganya terutama Trent sangat yakin gadis itu adalah gadis yang hilang ingatan. Nathan tahu hanya dirinya seorang yang mencurigai gadis ini.

Di balik semua pertengkaran yang selalu terjadi setiap kali mereka bertemu, Nathan selalu merasa mengenal gadis ini. Pertengkaran-pertengkaran yang selalu ada di antara mereka membuat Nathan yakin gadis itu tidak menyukai pertunangan konyol ini seperti dirinya. Dan gadis itu tidak senang bertemu dengan tunangannya.

Nathan sendiri juga merasa heran mengapa ia selalu mengajak gadis itu bertengkar. Ia juga heran atas perasaan senangnya kepada pertengkaran-pertengkaran itu.

Melalui pertengkaran-pertengkaran yang terjadi di antara mereka, Nathan merasa ia telah melampiaskan kekesalannya kepada Putri Alviorita yang angkuh.

Putri angkuh yang dibenci sekaligus dicintainya.

Putri angkuh yang menjadi tunangannya dan membuat dirinya bingung.

Putri angkuh yang saat ini berada di pelukannya.

Nathan tahu Alviorita merasa lega ketika dinding Castil Q`arde telah terlihat di kejauhan. Ia tahu gadis itu ingin segera tiba di sana tetapi ia tidak berniat segera sampai di sana.

Melihat gadis itu tetap diam saja walau ia tetap berjalan pelan-pelan, Nathan tidak berusaha mempercepat langkahnya.

Alviorita senang melihat dinding batu Castil Q`arde yang kokoh telah berada di depannya. Alviorita senang melihat bintang-bintang di langit belakang Castil. Ia ingin terus melihat langit malam yang selama ini ditakutinya. Alviorita tidak pernah menduga langit malam yang ditakutinya ternyata memiliki sejuta keindahan. Alviorita tahu ia berani menatap langit malam itu karena Nathan ada di sisinya. Andaikata pria itu tidak ada di sisinya, ia tidak akan berani berjalan di kegelapan seperti ini bahkan menatap langit yang membuatnya merasa tertarik dalam kegelapan yang luas dan tidak berbatas.

Nathan membawa Alviorita memasuki Castil Q`arde melalui pintu belakang dan terus membawa gadis itu ke Ruang Duduk yang hangat. Nathan menduga keluarganya sedang berkumpul di sana sambil menantikan kedatangan mereka.

Seisi Ruang Duduk yang memang menantikan kedatangan mereka tampak lega melihat mereka memasuki Ruang Duduk.

Alviorita sangat senang ketika ia melihat Jeffreye berlari ke arahnya. Ia segera menangkap anak yang melompat ke pelukannya itu.

“Aku mengkhwatirkanmu, anak nakal,” kata Alviorita lega.

“Aku juga mengkhawatirkan kalian,” kata Jeffreye.

Duchess memperhatikan ujung gaun Alviorita yang terkena lumpur. Kemudian ia memperhatikan Nathan.

“Kalian harus segera mengganti baju kalian. Aku tidak ingin seorangpun dari kalian sakit,” kata Duchess, “Antarkan Rosa ke kamarnya, Innane.”

Alviorita terkejut mendengar Duchess tidak bertanya apa yang menyebabkan mereka pulang terlambat. Ia melirik Nathan yang kembali tampak acuh.

Innane segera mendekati Alviorita dan menarik gadis itu kembali ke kamarnya. Alviorita diam saja walau ia mendengar langkah Nathan di belakangnya.

Alviorita membiarkan Innane mengganti gaunnya dengan gaun yang diberi Duchess. Sampai sekarang Alviorita masih merasa bersalah pada Duchess yang telah menghabiskan banyak uang untuk membelikannya gaun baru.

Sebenarnya Alviorita telah menolaknya tetapi Duchess bersikeras membelikan gaun baru untuknya. Alviorita semakin merasa bingung apa yang harus dilakukannya untuk membalas kebaikan hati Duchess bila kelak ia kembali ke Istana Urza untuk menghadapi perang antara dirinya dan ayahnya. Apa yang harus dikatakannya kepada Duchess bila kelak ia berhasil membatalkan pertunangan konyolnya ini, Alviorita juga tidak tahu.

Hingga saat ini Alviorita memang tidak tahu kapan ia harus kembali ke Istana Urza. Dan Alviorita sendiri tidak ingin segera memasuki lagi sangkar emasnya. Alviorita hanya tahu suatu hari nanti ia harus kembali ke Istana Urza demi rakyatnya.

Kebaikan hati Duchess kepadanya tidak membuat Alviorita ingin membatalkan rencananya untuk menghapuskan pertunangan konyolnya. Untungnya, keinginan Alviorita untuk membatalkan pertunangannya lebih kuat dari apapun. Alviorita tidak ingin menghancurkan impiannya sendiri.

Sejak kecil Alviorita selalu mengkhayalkan ia berjumpa seorang Pangeran yang baik hati seperti dongeng-dongeng yang sering dibacakan Ratu untuknya.

Seiring dengan berjalannya waktu, Alviorita semakin tahu ia tidak akan pernah bertemu dengan Pangeran manapun yang akan membuatnya menjadi seorang Putri karena ia sendiri adalah Putri Mahkota.

Gelar Putra Mahkota yang diincar banyak pria darinya membuat Alviorita ingin menemukan pria yang tidak menginginkan gelar itu. Alviorita ingin menikah dengan pria yang benar-benar dicintainya dan benar-benar mencintainya bukan gelarnya. Tetapi Alviorita tidak akan dapat menemukannya bila ia terus berada di dalam Istana Urza. Impian ini pula yang mendorong Alviorita untuk meningggalkan Istana Urza.

Impian ini tidak pernah diutarakan Alviorita kepada siapapun. Ia yakin semua orang akan menertawakan impiannya yang kekanak-kanakan dan tidak mungkin terwujud ini.

Semua orang tahu Putri Mahkota harus menikah dengan pria pilihan orang tuanya. Dalam sejarah Kerajaan Lyvion tidak ada seorangpun Putri Mahkota yang menikah dengan pria pilihannya sendiri. Hanya Putra Mahkota yang boleh menikah dengan wanita pilihannya sendiri.

Tidak ada orang yang benar-benar memahami Alviorita. Tidak ada orang lain yang dapat memberikan apa yang diinginkan Alviorita selain ibunya. Tetapi Ratu telah meninggal dan Alviorita harus berusaha sendiri menemukan apa yang ia inginkan.

Hanya satu yang diinginkan Alviorita tetapi untuk mendapatkannya ia harus berusaha keras bahkan menentang ayahnya juga seluruh Kerajaan Lyvion. Apa yang diinginkan Alviorita sangat mudah didapatkan orang lain tetapi tidak untuk Alviorita sendiri.

Kebebasan.

Hanya itu yang diinginkan Alviorita tidak yang lain. Alviorita tidak menginginkan gelar Putri Mahkotanya, ia juga tidak ingin menjadi Ratu Kerajaan Lyvion. Ia hanya ingin bebas seperti burung yang bebas terbang di langit yang biru.

Kebebasan Alviorita terkurung dalam sangkar emas sejak kematian Ratu. Pengawal-pengawal dan banyak orang yang selalu mengawasi Alviorita dan membuat gadis itu merasa ia tidak dipercayai siapapun. Mereka tidak percaya Alviorita akan melakukan tugas-tugas yang telah menjadi kewajibannya. Mereka tidak percaya putri mereka yang semula suka menghindari kegiatan rutinnya telah berubah.

Hanya tiga tahun lamanya Alviorita menikmati masa kecilnya bersama Ratu dan hanya tiga tahun juga Alviorita menghindar dari tugas-tugas rutinnya. Sisa hidup Alviorita yang telah berjalan hampir delapan belas tahun ini dipenuhi dengan belajar dan belajar serta bekerja.

Semua itu demi penduduk Kerajaan Lyvion tetapi mereka tetap tidak mempercayainya. Alviorita tidak menyukai semua itu. Ia telah berusaha demi mereka tetapi mereka tetap sering memberikan tuduhan-tuduhan yang membuatnya jengkel.

Alviorita tahu kehidupannya sebagai satu-satunya penerus kerajaan selalu diperhatikan setiap orang. Setiap orang memperhatikan siapa saja yang berada di sekelilingnya dan pria mana saja yang berusaha menarik perhatiannya.

Alviorita memang tidak pernah membantah tuduhan itu dengan kata-kata. Tetapi perbuatannya telah membuat banyak orang menarik tuduhan yang mereka berikan kepadanya.

Setiap orang yang mengatakan ia senang menggoda laki-laki segera menarik tuduhannya setiap kali melihat sikap dinginnya terhadap pria mana saja.

Alviorita tidak mau terlalu lama berdua bahkan berbicara dengan pria yang masih muda. Ia hanya punya satu pandangan mengenai mereka. Mereka mengincar gelarnya. Alviorita juga tidak ingin terus menerus berbicara dengan pria yang lebih tua daripada dirinya.

Melihat Alviorita lebih senang menyendiri atau bercakap-cakap dengan pengasuhnya, semua orang mengatakan ia adalah Putri yang angkuh dan sombong.

Semua yang dilakukan Alviorita dinilai salah oleh semua orang. Dan itu membuat Alviorita benar-benar tidak ingin menjadi Ratu.

Hanya pikirannya tentang masa depan kerajaannya yang tidak mempunyai penerus lain saja yang membuat Alviorita tetap bertahan di kedudukannya hingga saat ini.

Karena itu Alviorita terkejut bercampur heran melihat kepercayaan yang diberikan Duke dan Duchess of Kryntz kepada putra mereka, Nathan.

“Mengapa Duke dan Duchess tidak bertanya kepadaku mengapa kami terlambat pulang?” tanya Alviorita.

“Mereka mempercayai Tuan Muda Nathan,” jawab Innane.

“Sedemikian besarkah kepercayaan mereka kepada Nathan?” gumam Alviorita.

“Sejak kecil Tuan Muda Nathan memang mempunyai tanggung jawab. Dibandingkan adiknya, ia lebih tahu bagaimana menjaga tindakan serta kata-katanya. Semua orang sudah mempercayai Tuan Muda Nathan sejak ia masih kecil. Bahkan Ratu membiarkan putrinya pergi berdua dengan Tuan Muda Nathan.”

Alviorita tertegun mendengarnya. “Ratu sering kemari?”

“Ya, Ratu juga meninggal di tempat ini. Kasihan sekali Putri Alviorita yang masih kecil. Ia sangat sedih karena ibunya yang paling disayanginya meninggal. Tidak ada orang yang dapat menghibur Putri Alviorita bahkan Tuan Muda Nathan yang selalu bersamanya setiap kali ia berada di sini juga tidak dapat menghiburnya.”

Alviorita tertegun mendengarnya. Ia tidak mengerti. Bila apa yang dikatakan Innane itu benar mengapa ia tidak dapat mengingatnya sama sekali. Ia tidak ingat pernah berkunjung ke Castil Q`arde sebelumnya, ia bahkan tidak ingat ibunya meninggal di Castil ini.

Mengenai kematian Ratu, Alviorita hanya ingat Ratu tiba-tiba terkena serangan jantung dan meninggal. Hanya itu yang diingat Alviorita selain kenangan-kenangan masa kecilnya bersama Ratu.

Kata-kata ayahnya kembali terngiang di telinga Alviorita. “Engkau pernah berjumpa dengan tunanganmu.”

Bila apa yang dikatakan Innane benar. Maka Raja Phyllips juga benar. Ia pernah bertemu dengan Nathan. Tetapi mengapa ia tidak dapat mengingatnya, Alviorita tidak tahu.

Saat ini hanya satu yang diketahui Alviorita. Ia tidak dapat bertanya lebih jauh. Bertanya lebih banyak berarti membongkar sendiri penyamarannya walaupun ia menujukan pertanyaan itu kepada Innane yang pelupa. Tidak sedikitpun resiko yang mau diambil Alviorita.

Innane sendiri juga tidak berniat membicarakan masa lalu. Wanita itu kembali membicarakan Nathan, “Sejak kecil Tuan Muda Nathan memang senang belajar. Ia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk belajar daripada bermain. Karena itu pula ia dipercayai banyak orang daripada adiknya.”

Alviorita memanfaatkan kesempatan itu. “Mengapa Trent berbeda dengan Nathan?”

“Sebenarnya dulu Tuan Muda Trent juga tampan dan gagah seperti Tuan Muda Nathan tetapi ia berubah sejak kekasihnya meninggalkannya.”

“Mengapa ia meninggalkan Trent bila ia memang setampan Nathan?” tanya Alviorita tidak mengerti.

“Aku kurang mengerti,” kata Innane, “Kalau menurut pendapatku, sejak dulu sampai sekarang Tuan Muda Nathan lebih baik daripada Tuan Muda Trent.”

“Sepertinya engkau lebih menyayangi Nathan,” Alviorita mengatakan pendapatnya.

“Aku memang lebih menyayangi Tuan Muda Nathan daripada Tuan Muda Trent yang nakal. Sejak kecil Tuan Muda Trent sangat nakal karena itu ia tidak mau belajar.”

Alviorita terdiam. Ia mulai mengerti mengapa wanita-wanita yang dikenalnya yang lebih sering membicarakan Nathan daripada adiknya. Dan mengapa Trent tidak menyukai kakaknya bahkan memperingati Nathan untuk tidak mendekatinya.

“Engkau sudah tampak lebih segar sekarang,” kata Innane sambil memandang puas Alviorita, “Dan engkau sekarang sudah siap untuk kembali ke Ruang Duduk.”

Melihat Alviorita tidak segera beranjak, Innane segera berkata, “Pergilah ke sana sekarang. Aku akan merapikan kamarmu.”

Alviorita melihat leontin peninggalan ibunya tergeletak di meja rias depannya. Alviorita tidak mau mengambil resiko apapun. Ia segera meraih leontin itu dam menyimpannya di dalam saku gaunnya.

Innane tidak menyadari hal itu. Ia sibuk mengagumi penampilan Alviorita yang menurutnya sangat cantik itu.

Alviorita yang selama berada di Castil Q`arde tidak pernah terlalu memperhatikan penampilannya itu tidak tertarik melihat bagaimana Innane mendandaninya. Ia hanya tahu rambut hitamnya yang baru dicuci masih basah dan Innane membiarkannya terurai hingga mencapai pinggangnya yang terbungkus kain sutra yang berwarna merah muda yang sangat muda sehingga hampir seperti putih.

Hanya gaun ini satu-satunya gaun pemberian Duchess yang bukan gaun baru. Kata Duchess gaun ini dulu miliknya. Duchess memberikan gaun ini kepadanya karena menyukai warnanya yang hampir seperti putih.

“Engkau jangan merebutnya dariku. Engkau sudah mempunyai tunangan.”

Alviorita yang sudah hampir tiba di Ruang Duduk itu terkejut mendengar suara bentakan itu.

“Aku sudah berulang kali mengatakan aku tidak berniat merebut siapapun darimu.”

“Mengapa engkau berduaan dengannya sambil menunggu hujan reda?”

Alviorita tidak mengerti mengapa Trent masih saja berusaha mendapatkan dirinya walau ia sering dengan jelas menolak pria itu baik melalui sikapnya yang selalu berusaha menghindarinya maupun kata-kata tajamnya.

“Aku sudah mengatakan kepadamu. Aku tidak dapat meninggalkannya di hutan sendirian dan aku tidak ingin ia sakit,” kata Nathan tenang.

“Kakakmu benar, Trent. Ia tidak mungkin membiarkan gadis itu sendirian di sana,” kata Duke, “Gadis itu dapat tersesat.”

“Mengapa engkau membawanya ke hutan?”

Nathan tetap tenang menghadapi adiknya yang semakin marah. “Dia dan Jeffreye ingin ke hutan dan aku mengantar mereka.”

“Mereka tidak memintamu mengantar mereka.”

“Aku mengkhawatirkan mereka. Jeffreye masih kecil dan gadis itu tidak mengenal tempat ini.”

Alviorita heran melihat ketenangan Nathan menghadapi kemarahan Trent. Pria itu tidak pernah dapat terus bersikap tenang bila bertengkar dengannya.

“Sampai kapankah kalian akan terus bertengkar?” sela Duchess, “Kalian selalu bertengkar seperti anak kecil.”

“Dia telah merebut kekasihku, Mama.”

Alviorita merasa jengkel Trent telah menganggap dirinya adalah kekasihnya.

“Gadis itu tidak pernah menjadi kekasih siapapun baik engkau maupun kakakmu,” kata Duchess, “Ia mungkin saja telah menikah.”

“Tetapi ia dulu juga telah merebut kekasihku,” kata Trent.

“Itu bukan kesalahan kakakmu, Trent. Sampai kapankah engkau akan mengerti kakakmu sama sekali tidak mengenal Elly bahkan mereka tidak pernah berbicara. Bagaimana mungkin kakakmu dapat merebutnya?” kata Duke mencoba memberi pengertian.

Alviorita terkejut mendengar nama Elly. Alviorita mengenal baik wanita itu. Wanita itu sangat cantik namun sayang sikapnya terlalu kekanak-kanakan. Wanita itu pula yang sering menceritakan tentang Nathan kepada dirinya. Ia tidak pernah menduga wanita itu dulunya adalah kekasih Trent. Mengingat semangat Elly ketika menceritakan Nathan kepada siapa saja, Alviorita yakin wanita itu sangat mencintai Nathan.

Dulu memang ada berita tentang Elly dan Nathan. Tetapi tak lama kemudian semua orang tahu berita itu hanya bohong. Hanya angan-angan Elly saja yang mengatakan ia adalah kekasih Nathan.

Alviorita yang tidak pernah tertarik masalah seperti itu memang pada mulanya tidak menghiraukannya tetapi akibat yang timbul hanya karena kata-kata Elly membuatnya tertarik.

Hanya dengan satu kalimatnya saja, Elly dapat membuat keluarga seluruh bangsawan terutama wanita terguncang kecuali Alviorita sendiri.

Alviorita sendiri tidak pernah terkejut bila melihat masalah seperti ini. Bagi Alviorita semua yang tidak mungkin terjadi bisa saja terjadi bila sudah menyangkut skandal.

Kepada setiap orang Elly mengatakan ia adalah kekasih Nathan dan semua orang yang mengenal Nathan terkejut. Banyak orang yang tidak percaya Elly yang kekanak-kanakan itu dapat menjadi kekasih Nathan.

Semua kebohongan Elly terbukti ketika Nathan mengacuhkan dalam suatu pertemuan. Walaupun Nathan tidak mengatakan apa-apa tetapi semua orang yang melihat sikap Nathan yang tetap acuh itu itu tahu apa yang dikatakan Elly tidak benar.

Seperti dirinya, semua orang hanya tahu Elly menyebar berita bohong tentang dirinya sendiri dan Nathan. Tetapi tidak ada yang tahu wanita itu pernah menjadi kekasih Trent. Dan wanita itu pula yang membuat Trent berubah. Juga tidak seorang pun yang tahu ia memiliki peran dalam usaha pembongkaran kebohongan Elly itu.

“Tetapi Elly mengatakan kepadaku ia dan Nathan adalah…”

“Trent, harus berapa kali kami mengatakan. Semua itu hanya kebohongan Elly saja,” potong Duke.

“Tetapi…”

“Jangan bertengkar lagi,” kata Duke tegas, “Bersikaplah dewasa, Trent, jangan seperti anak kecil.”

Alviorita dapat merasakan ketidakpercayaan Trent. Sebenarnya ia dapat membuat Trent mempercayai kata-kata Duke maupun Duchess tetapi ia tidak berniat membongkar penyamarannya sendiri.

Dulu sewaktu melihat akibat yang ditimbulkan oleh kebohongan putri teman ayahnya itu, Alviorita merasa pada akhirnya ia akan ikut terbawa ke dalam masalah itu. Dan Alviorita tidak ingin dirinya terlibat dalam skandal apapun dan skandal siapapun.

Melihat seringnya Elly berada di dekat Alviorita, semua orang menduga mereka berdua adalah sahabat seperti ayah mereka. Namun semua itu salah. Alviorita membiarkan Elly terus mengikutinya ke mana pun ia pergi karena ia tidak ingin merusak persahabatan ayahnya dengan ayah Elly, Brethrynne. Walaupun bosan bersama wanita yang dianggap Alviorita manja dan kekanak-kanakan itu tetapi Alviorita tidak pernah berkata apa-apa. Walaupun mereka sering bersama tetapi Alviorita sering mengacuhkan kata-kata wanita itu. Tetapi ketika masalah yang dibuat Elly sudah menyebar dan membuat dampak yang cukup besar, Alviorita yang biasanya tidak mau campur tangan dalam masalah seperti itu, terpaksa campur tangan.

Alviorita melihat bila kebohongan seperti itu dibiarkan terus menerus menyebar, maka dirinya juga akan terseret ke dalamnya. Alviorita yang sudah mempunyai banyak tuduhan, tidak mau semakin merepotkan dirinya. Sebelum banyak orang yang bertanya kepadanya mengenai kebenaran kata-kata Elly yang mengejutkan itu, Alviorita diam-diam bertindak. Tanpa ada seorangpun yang tahu, Alviorita meminta Elly untuk mengatakan segala kebenaran kepada semua orang.

Memang sulit membuat Elly mengakuinya tetapi pada akhirnya Alviorita berhasil menyingkap tabir kebohongan itu.

Melihat Elly tidak mau mengakui kebohongannya, maka Alviorita merencanakan untuk mempertemukan keduanya dalam suatu pertemuan formal. Alviorita yakin bila berita itu bohong, maka Nathan akan bersikap acuh kepada Elly.

Apa yang diyakini Alviorita menjadi kenyataan. Walaupun Alviorita sendiri tidak hadir dalam perjamuan itu tetapi dari Brethrynne, ia tahu selama perjamuan itu Nathan mengacuhkan setiap orang terutama wanita. Elly juga tidak mendapatkan perhatiannya.

Tidak ada yang tahu Alvioritalah yang membujuk Brethrynne untuk mengadakan perjamuan itu demi membuktikan kebenaran kata-kata Elly.

Setelah perjamuan itu, Alviorita tahu Elly akan merasa malu tetapi ia tidak peduli. Ia memanfaatkan kesempatan itu untuk membuat Elly mengatakan yang sebenarnya pada setiap orang.

Demikianlah tanpa mengikutsertakan namanya dalam skandal yang dibuat Elly, Alviorita melepaskan diri dari skandal itu sekaligus menyelesaikannya.

“Jangan bertengkar lagi,” kata Duchess, “Bagaimana kalau nanti Jeffreye dan gadis itu mendengar pertengkaran kalian ini?”

Alviorita terkejut. Ia tidak menduga Jeffreye tidak ada di dalam Ruangan itu.

Alviorita memalingkan kepalanya dan terkejut melihat Jeffreye tengah berdiri di sampingnya. Ia tidak tahu sejak kapan anak itu berada di sana, ia hanya tahu ia harus membuat anak itu tidak mengatakan hal ini kepada siapapun.

“Ini rahasia di antara kita,” bisik Alviorita, “Jangan katakan kepada siapa pun kita telah mendengar pertengkaran mereka.”

“Tentu,” kata Jeffreye senang.

“Sebaiknya sekarang kita tidak segera memasuki Ruang Duduk. Kita akan berjalan-jalan sebentar,” kata Alviorita perlahan.

Mendengar ajakan itu, Jeffreye segera menarik tangan Alviorita.

Alviorita tersenyum. Ia tahu ia telah berhasil membujuk anak itu.

“Ke mana kita akan pergi?” tanya Alviorita pada Jeffreye yang terus menariknya menjauh.

“Kalian tidak akan ke mana-mana.”

Jeffreye dan Alviorita terkejut. Mereka segera membalikkan tubuh dan melihat Nathan menatap tajam mereka berdua.

“Kalian tidak akan ke mana-mana. Kami telah menantikan kedatangan kalian dari tadi tetapi ternyata kalian ingin pergi entah ke mana,” kata Nathan tegas.

Alviorita tersenyum kepada Jeffreye. “Kita tidak boleh pergi jadi sebaiknya kita menurut saja.”

Walaupun kecewa tetapi Jeffreye tetap menarik tangan Alviorita dengan senang menuju Ruang Duduk.

9

Rencana baru Alviorita berjalan seperti yang diharapkan gadis itu.

Hari-hari terakhir ini Alviorita berhasil menjauhi Nathan. Sedapat mungkin ia menghindari Nathan. Alviorita tidak ingin mengambil resiko lagi dalam pertengkaran mereka. Kecurigaan Nathan terhadap dirinya akan bertambah besar bila mereka bertemu. Alviorita yakin itu apalagi bila mengingat ucapan Innane.

Hingga saat ini hanya ucapan Innane saja yang tidak dapat dimengerti Alviorita. Wanita itu mengatakan ia sering bermain ke Castil Q`arde dengan Ratu tetapi ia sama sekali tidak ingat. Alviorita yakin walaupun kejadian itu sudah lama berlalu ia pasti ingat bila kata-kata Innane itu memang benar. Setiap kenangannya bersama ibunya hingga saat ini terus melekat di benaknya.

Tetapi bila Innane tidak mengatakan yang sebenarnya mengapa ayahnya bersikeras ia pernah bertemu dengan Nathan sebelumnya. Juga mengapa ia selalu merasa pernah ke Castil Q`arde sebelumnya. Bahkan pada saat pertama kali bertemu dengan anggota keluarga Castil Q`arde, ia merasa telah melihat mereka sebelumnya. Wajah mereka jelas tidak memiliki kemiripan dengan wajah setiap orang yang pernah ditemui Alviorita.

Andaikata semua itu benar, Alviorita tidak tahu harus berbuat apa. Bila ternyata kata-kata Innane benar maka kata-kata ayahnya juga benar. Bahwa pertunangan ini adalah keinginan Ratu, itu juga benar.

Alviorita benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukannya bila ternyata semua itu benar.

Dalam penyamarannya ini, Alviorita tahu ia tidak mungkin berusaha mencari kebenaran kata-kata Innane. Ia masih tidak ingin kembali ke Istana Urza. Ia juga tidak ingin ada orang lain di luar Nathan yang juga mencurigainya sebagai Putri Alviorita.

Kecurigaan Nathan saja sudah membuat Alviorita kerepotan apalagi bila ditambah kecurigaan orang lain.

Untuk saat ini Alviorita tidak mau memikirkan yang lain, ia hanya berusaha menemukan perisai yang banyak dan menghindar dari kecurigaan Nathan.

Bila ternyata semua ucapan Innane benar, maka Alviorita akan memikirkannya kemudian. Alviorita yakin ibunya akan mengerti bila ia menolak pertunangan ini.

Alviorita menatap langit di atasnya. Ia benar-benar mersa kebingungan. Semua yang terjadi akhir-akhir ini benar-benari di luar rencananya bahkan di luar dugaannya.

Sejak pertengkaran di Ruang Duduk itu, Trent makin berusaha mencari kesempatan untuk berdua dengannya. Walaupun setiap kali Alviorita selalu menghindar tetapi pria itu tetap berusaha mendekatinya.

Yang membuat Alviorita heran adalah sikap acuh Nathan. Bila pria itu benar-benar menduga ia adalah Putri Alviorita, maka pria itu seharusnya menyelamatkan tunangannya dari adiknya tetapi nyatanya pria itu pura-pura tidak melihat.

Alviorita dibuat jengkel olehnya.

Dalam rencana baru Alviorita, ia harus menghindari Nathan tetapi Takdir menyuruh Alviorita untuk menghindari Trent juga.

Keberadaan Jeffreye di Castil Q`arde membuat Alviorita semakin sukar menghindari kedua pria itu. Alviorita tidak mungkin meninggalkan Jeffreye yang telah mendapatkan tempat di hatinya. Alviorita juga tidak ingin mengecewakan anak itu.

Ketika membuat rencana barunya di ruang rahasia sambil menanti hujan lebat dulu, Alviorita telah menyusun rencana untuk menghindari Nathan tanpa beranjak dari sisi Jeffreye.

Alviorita tahu pria itu selalu mengawasi mereka setiap kali mereka bermain di taman Castil Q`arde. Alviorita berniat mengajak Jeffreye bermain di sekitar Castil Q`arde. Walaupun akan mengecewakan Jeffreye tetapi Alviorita tahu hanya itu yang harus dilakukannya.

Sekarang demi menyelamatkan dirinya dari situasi berbahaya yang harus dihindarinya, Alviorita terpaksa mengurangi waktu bermainnya dengan Jeffreye dan lebih sering menghabiskan waktunya di atas pohon seperti saat ini. Jeffreye memang kecewa ketika ia tahu Alviorita sering menghilang. Tetapi ia tidak pernah menunjukkan kekecewaannya pada Alviorita. Walaupun demikian Alviorita selalu menggunakan kesempatan yang singkat itu untuk membuat Jeffreye merasa senang.

Hanya di sore hari saja Alviorita berada di sisi Jeffreye selebihnya ia habiskan di atas pohon. Untuk menghilangkan kebosanannya duduk seharian di atas pohon, Alviorita sengaja membawa buku dari Ruang Perpustakaan.

Melalui percakapan yang dulu didengarnya, Alviorita tahu Duke dan Duchess tidak keberatan ia sering memanjat pohon asal tanpa sepengetahuan Jeffreye. Karena Alviorita sendiri juga tidak berniat memanjat di hadapan Jeffreye, ia selalu pergi sembunyi-sembunyi dan memanjat pohon di pagi hari setelah makan pagi.

Alviorita tahu Trent jengkel melihat ia selalu segera menghilang setelah makan pagi. Dan baru muncul kembali saat makan malam. Alviorita senang melihat kejengkelan pria itu.

Sikap Nathan berlawanan dengan adiknya. Walaupun pria itu telah mencurigai gadis itu sebagai tunangannya tetapi ia tetap bersikap tidak peduli walaupun gadis itu selalu menghilang setelah makan pagi dan baru muncul saat makan malam.

Duke dan Duchess of Kryntz juga tidak pernah bertanya apa-apa kepada Alviorita. Mereka hanya tersenyum saat melihat Alviorita segera meninggalkan Ruang Makan setelah menghabiskan sarapannya dan baru muncul kembali saat makan malam. Bahkan Duke membantu Alviorita menemukan buku-buku yang menarik. Alviorita senang sekali mendapat kebebasan dan kepercayaan dari Duke dan Duchess of Kryntz.

Setelah makan malam un Alviorita segera meninggalkan Ruang Makan setelah menghabiskan makan malamnya.

Tidak ada yang memprotes sikap Alviorita yang seperti enggan berkumpul bersama keluarga Kryntz selain Trent. Hanya pria itu saja yang memprotes sikap Alviorita bahkan tadi pagi ia mengungkit masalah itu.

“Engkau sengaja menghindari kami,” kata Trent tajam saat melihat Alviorita meninggalkan meja makan.

“Salahkan bila aku ingin menyendiri?” tanya Alviorita tenang.

“Tidak tetapi sikapmu itu seperti menghindari kami.”

Alviorita tetap bersikap tenang namun pandangan matanya bersinar berbahaya. “Bila kalian merasa demikian maka maafkan saya,” kata Alviorita sopan, “Harus saya akui saya lebih senang mendekatkan diri kepada alam yang damai daripada dunia yang kejam.”

“Apa bedanya alam dan dunia?” tanya Jeffreye tak mengerti.

“Tanyalah Paman Trentmu, ia pasti mengerti,” kata Alviorita tajam lalu ia segera meninggalkan tempat itu.

Alviorita tidak tahu apa yang dirasakan Trent saat itu tetapi ia tahu pria itu merasa jengkel akan sikapnya.

Duke dan Duchess tidak tampak tersinggung saat Alviorita mengatakan pendapatnya, mereka hanya tersenyum. Hanya Trent saja yang merasa tersinggung.

Bila Duke dan Duchess ikut tersinggung, maka Alviorita akan segera meminta maaf tetapi mereka berdua sama sekali tidak tersinggung. Karena mereka yang dihormatinya tidak tersinggung, Alviorita tidak berniat menarik ucapannya juga tidak berniat meminta maaf.

Walaupun tidak mengenal keluarga Kryntz sebaik ia mengenal penghuni Istana Urza, tetapi Alviorita yakin tidak seorangpun dari mereka yang akan merasa tersinggung dengan sikapnya yang selalu menghilang ini kecuali Trent.

Alviorita mengalihkan perhatiannya dari buku yang dibacanya.

Matahari semakin tinggi dan tidak tampak burung di langit biru. Awan-awan putih juga enggan menutupi matahari yang terus bersinar menyilaukan mata. Kerimbunan daun tempat duduknya membuat Alviorita terhindar dari sinar matahari.

Alviorita lelah terus menerus menghindari Nathan juga Trent. Tetapi ia tahu ia harus bertahan hingga perisainya cukup banyak.

Hingga saat ini tidak banyak perisai yang ditemukan Alviorita. Dan Alviorita berniat akan terus bertahan di Castil Q`arde hingga perisainya sudah banyak. Walaupun ia harus selalu menghindari Nathan juga Trent, Alviorita tetap bertahan.

Keinginan Alviorita untuk tidak membiarkan impiannya dihancurkan oleh pertunangan konyolnya lebih besar dari apapun. Tidak ada yang dapat menahan keinginan Alviorita untuk menghilangkan pertunangan konyolnya ini.

Alviorita tidak ingin menjadi korban dua keluarga tua Kerajaan Lyvion yang ingin menjalin hubungan keluarga ini.

Selama lima belas tahun ia menjadi korban dunia politik dan seumur hidupnya ia akan terus menjadi korban dunia politik. Alviorita sudah merasa itu cukup. Ia tidak mau menjadi korban siapapun juga.

Menjadi korban dunia politik sudah membuat Alviorita merasa jenuh apalagi menjadi korban hubungan dua keluarga.

Sekeras apapun Alviorita berusaha, tetapi sepertinya semua orang masih tidak mempercayainya bahkan mereka menyebarkan berita yang aneh-aneh tentangnya.

Walaupun Alviorita tampak tidak peduli dengan semua itu tetapi sebenarnya ia tidak menyukai semua berita tentang dirinya yang hanya merupakan karangan belaka.

Walaupun Alviorita tidak pernah menyangkal semua berita tentang dirinya dengan kata-kata tetapi sikapnya sudah dapat membuat setiap berita itu runtuh dengan sendirinya.

Maryam juga tidak senang melihat berita bohong mengenai Alviorita itu. Wanita tua itulah yang lebih sering mengomentari berita itu. Dari semua tuduhan yang ditujukan bagi Alviorita itu hanya satu yang disukai oleh Maryam.

“Putri Alviorita adalah putri yang angkuh.”

Hanya itu yang paling disenangi Maryam. Setiap kali mendengar kalimat itu, Maryam selalu berkata, “Anda berhasil, Tuan Puteri. Anda berhasil menunjukkan sikap angkuh Anda sebagai Putri Mahkota.”

Sedangkah Alviorita yang terbiasa menahan semua perasaan tidak senangnya tetap bersikap diam.

Kadang Alviorita merasa hanya tuduhan itu saja yang benar. Alviorita sering mengacuhkan segala kegiatan yang berada di luar kerajaan. Alviorita tidak ingin dirinya terlibat di luar kegiatan politik. Terlibat dalam satu kegiatan saja sudah membuat Alviorita merasa ingin melepaskan diri apalagi bila melibatkan diri dalam kegiatan lain terlebih lagi kegiatan bersenang-senang yang banyak skandal.

Terlibat dalam skandal, hanya akan menyita waktu Alviorita yang telah padat. Bila Alviorita membiarkan dirinya terlibat dalam suatu skandal, maka Alviorita akan kesulitan menyisipkan kegiatan berkeliling kota dengan dalih berbelanja.

Setiap undangan di luar kegiatan politik selalu ditolak Alviorita. Kalaupun gadis itu menghadiri undangan itu, ia hanya akan duduk di tepi dan mengacuhkan orang-orang di sekitarnya.

Sikap Alviorita yang seperti ini juga sikap diamnya terhadap semua berita tentang dirinya dan sebutan-sebutan yang ditujukan kepada dirinya, membuat semua orang memberi sebutan ‘Putri Angkuh’ kepadanya.

Bila memikirkan campur tangannya dalam masalah Elly dan Nathan, Alviorita ingin tahu bagaimana reaksi mereka. Apa yang akan dilakukan mereka bila tahu ‘Putri angkuh’ mereka ternyata tidak seangkuh yang mereka katakan.

Alviorita melanjutkan kegiatan membaca bukunya.

“Sudah kuduga engkau di sini.”

Alviorita terkejut. Buku yang dipegangnya terjatuh.

Nathan menyadari keterkejutan gadis itu dan segera mengulurkan tangannya.

Alviorita hampir saja ikut jatuh seperti bukunya bila tangan itu tidak segera memegang pinggangnya.

“Sudah kukatakan jangan sering memanjat pohon. Bagaimana bila tadi aku tidak segera memegangmu?” tanya Nathan, “Mungkin saat ini engkau sudah jatuh seperti buku itu.”

“Kalau engkau tidak mengejutkanku seperti tadi, aku pasti tidak akan jatuh,” kata Alviorita tajam.

Nathan menyadari gadis itu benar. “Engkau benar. Aku minta maaf.”

“Mengapa engkau di sini?” tanya Alviorita dingin. Setelah berhari-hari mendapatkan ketenangan di atas pohon ini, Alviorita tidak senang ketika pria itu tiba-tiba menganggunya.

“Aku hanya ingin bertanya mengapa akhir-akhir ini engkau sering menghilang,” kata Nathan sambil menyandarkan tubuhnya ke batang pohon.

“Untuk apa engkau mengurusi si kucing kecil yang liar ini?” tanya Alviorita dingin.

“Karena si kucing kecil yang liar ini memang nakal dan aku si the Devil Dog harus menjaganya,” kata Nathan tenang.

“Siapa yang menyuruhmu menjagaku?”

“Tidak ada.”

“Lalu mengapa engkau merepotkan dirimu sendiri dengan menjagaku?” tanya Alviorita tajam.

“Apakah engkau tidak melihat Jeffreye kecewa melihatmu setiap hari menghilang?”

“Aku tahu Jeffreye sedih melihat aku selalu menghilang,” kata Alviorita sedih.

“Lalu mengapa engkau tetap saja sering menghilang?” selidik Nathan.

“Aku hanya ingin menyendiri saja,” kata Alviorita tenang.

“Katakan sejujurnya kepadaku. Apakah benar engkau ingin menghindariku?”

“Engkau seharusnya merasa beruntung tidak perlu mengejar-ngejar si kucing liar. Lalu si the Devil Dog ini mengapa memanjat pohon hanya untuk menemukan si kucing liar?”

“Apa engkau tidak sedih melihat Jeffreye? Anak itu setiap hari tampak murung karena engkau selalu menghilang,” kata Nathan tajam.

“Siapa yang berkata seperti itu?” tanya Alviorita tidak mau kalah.

“Lalu mengapa engkau masih tetap sering menghilang?”

“Dan engkau mengapa mau merepotkan dirimu memanjat pohon hanya untuk menemukan si kucing liar yang ingin membaca buku di atas pohon?”

“Engkau sendiri mengapa membaca buku di atas pohon? Engkau benar-benar kucing liar,” kata Nathan.

“Karena aku adalah kucing liar, maka tempatku hanya di atas pohon,” kata Alviorita tenang namun berbahaya.

Sikap Alviorita yang tidak mau mengalah itu membuat Nathan menyerah. Nathan merasa percuma membuat Alviorita meninggalkan pohon yang selama ini menjadi tempat persembunyiannya.

“Sudahlah. Selama berhari-hari tidak bertengkar, lebih baik kita menghentikan pertengkaran ini.”

“Mengapa? Engkau tidak menyukai pertengkaran kita?” tanya Alviorita dengan suara yang penuh bahaya, “Sayang sekali aku menyukainya. Entah bagaimana dengan tunanganmu yang menghilang karena tidak menyukaimu itu.”

Nathan menatap lekat-lekat wajah Alviorita. “Jangan berbohong lagi. Aku tahu siapa engkau.”

Alviorita yang telah mengetahui kecurigaan Nathan kepada dirinya, tidak terkejut mendengarnya, ia malah bertanya tidak mengerti, “Siapakah aku?”

“Jangan menipuku lagi. Percuma saja. Aku sudah tahu engkau adalah Alviorita.”

“Sayang sekali aku tidak mengenalnya.”

“Jangan berbohong kepadaku lagi, Alviorita,” kata Nathan memperingati, “Aku tahu selama ini engkau selalu menghindariku karena engkau takut dengan kecurigaanku.”

“Kalau aku adalah dia mengapa aku berada di sini?”

“Aku tidak tahu,” kata Nathan mengakui, “Hanya engkau sendiri yang dapat menjawabnya.”

“Maafkah aku. Aku tidak mengenalnya,” kata Alviorita tenang. Alviorita tahu ia harus meninggalkan pria itu sebelum penyamarannya yang berada dalam bahaya ini terbongkar. Alviorita boleh membiarkan Nathan terus beranggapan ia adalah sang Putri Mahkota tetapi pria itu tidak boleh mendengar ia membenarkan dugaan itu.

Nathan segera memegang lengan Alviorita ketika melihat gadis itu hendak meninggalkan dahan tempatnya duduk.

Menyadari gadis itu terkejut, Nathan takut Alviorita jatuh. Nathan segera memeluk tubuh gadis itu.

“Apa yang akan kaulakukan!?” protesnya.

Alviorita berusaha melepaskan diri dari pelukan Nathan. “Aku hanya ingin mengambil bukuku yang kaujatuhkan.”

“Aku tidak menjatuhkannya,” bantah Nathan.

Alviorita menatap tajam wajah Nathan dan setajam tatapannya, ia berkata, “Engkau memang tidak menjatuhkannya tetapi engkau membuatnya jatuh.”

“Baiklah, aku yang menjatuhkannya,” kata Nathan mengalah, “Apakah engkau tidak menyadari engkau bisa terjatuh kalau engkau memanjat pohon?”

“Seperti katamu, aku adalah kucing liar yang pandai memanjat pohon,” kata Alviorita tenang kemudian dengan nada tajam, ia berkata, “Dan aku tidak akan jatuh kalau engkau si the Devil Dog tidak mengejutkanku.”

“Engkau memang kucing liar,” gumam Nathan.

“Sekarang lepaskan tanganmu dan biarkan kucing liar ini turun,” kata Alviorita dingin, “Jangan membuat dirimu sendiri yang tidak dapat memanjat pohon kerepotan.”

Suara dingin yang mengejek itu membuat Nathan marah, “Siapa yang mengatakan aku tidak dapat memanjat pohon?”

Suara Nathan yang tajam tidak membuat Alviorita takut. “Oh…,” katanya pura-pura terkejut, “Rupanya the Devil Dog satu ini memang langka. Ia dapat memanjat pohon hanya demi mengejar kucing liar.”

Ejekan Alviorita membuat Nathan semakin marah, “Dan engkau si kucing liar apa yang akan kaulakukan bila the Devil Dog ini mengejarmu sampai ke atas pohon?”

“Aku akan memintanya tidak mengejutkanku sehingga aku tidak akan terjatuh,” kata Alviorita dingin, “Dan sekarang Mr. The Devil Dog, lepaskan aku dan biarkan aku mengambil buku yang telah engkau jatuhkan.”

Nathan segera melepaskan Alviorita.

Begitu Nathan melonggarkan pelukannya, Alviorita segera menarik dirinya menjauhi Nathan. Sebelum menuruni pohon, Alviorita memperingati Nathan.

“Kalau engkau memang tidak ingin kucing liar ini jatuh, jangan dekat-dekat dariku.”

Nathan membiarkan Alviorita menuruni pohon itu dulu. Setelah merasa gadis itu cukup jauh di bawahnya, ia mengikuti gadis itu.

Tanpa mempedulikan Nathan yang mengikutinya, Alviorita menuruni pohon itu dengan hati-hati. Ia tidak peduli apakah pria itu tidak sabar melihatnya turun pelan-pelan.

Kejadian yang baru saja terjadi ini juga di luar dugaan Alviorita. Walaupun Alviorita tahu pria itu mengetahui ke mana ia pergi setelah makan pagi tetapi ia tidak pernah menduga pria itu akan mengikutinya.

Yang harus dilakukan Alviorita untuk menyelamatkan dirinya dari dugaan Nathan adalah pergi ke Ruang Kanak-Kanak dan menghabiskan waktunya di sana bersama Jeffreye.

Dengan hati-hati Alviorita melompat ke atas tanah. Alviorita tidak mempedulikan Nathan yang masih menuruni pohon, gadis itu hanya ingin segera mengambil bukunya dan sesegera mungkin pergi ke Ruang Kanak-Kanak.

Setelah menemukan bukunya yang terjatuh, Alviorita segera berjalan Ruang Kanak-Kanak. Alviorita mendengar langkah Nathan di belakangnya tetapi ia tetap tidak memperlambat langkahnya.

Nathan segera menyusul Alviorita dan menangkap lengan gadis itu. “Hendak ke mana engkau?”

Melihat kemarahan di wajah Nathan, Alviorita berniat membuat pria itu semakin marah. Pria itu telah menganggu ketenangannya dan pria itu harus mendapatkan hukuman darinya.

“Berjalan-jalan,” jawabnya santai.

Nathan tidak melepaskan lengan Alviorita.

“Lepaskan aku,” kata Alviorita jengkel sambil menyentakkan tangannya.

“Engkau akan ke mana?”

“Apakah engkau tidak mendengarku? Aku telah mengatakan kepadamu aku ingin berjalan-jalan.”

Melihat tatapan marah di mata Alviorita, Nathan masih tidak melepaskan gadis itu.

“Lepaskan aku,” kata Alviorita marah sambil menyentakkan lengannya sekuat tenaga.

Melihat kemarahan gadis itu, Nathan segera melepaskan lengannya.

Alviorita segera menarik lengannya begitu pria itu melonggarkan pegangannya. Saat ia baru akan melanjutkan perjalanannya, ia melihat seseorang mendekatinya.

Melihat orang itu tak lain adalah Trent, Alviorita mengeluh, “Di belakang The Devil Dog dan di depan bola berjalan.”

Alviorita tidak mengerti mengapa ia dapat berada dalam situasi seperti ini. Daripada bertemu Trent, Alviorita lebih memilih bertengkar dengan Nathan. Gadis itu segera membalikkan badannya.

Melihat gadis itu mengubah arahnya, Nathan heran. Ia segera mengikuti gadis itu. “Mengapa engkau tiba-tiba mengubah arahmu? Apakah engkau tidak jadi berjalan-jalan?”

Alviorita tidak menghentikan langkah kakinya. “Daripada bertemu bola berjalan lebih baik berhadapan dengan The Devil Dog.”

Nathan mempercepat langkahnya hingga ia berada di sisi Alviorita. “Apa maksudmu? Siapa ‘bola berjalan’ itu?”

“Siapa lagi kalau bukan adikmu, Trent,” kata Alviorita tenang.

“Dia?” tanya Nathan tidak percaya. Ia melirik adiknya yang berusaha mengejar mereka dan ia tertawa.

Alviorita terkejut mendengar tawa Nathan. “Adakah yang lucu?” tanyanya tajam.

“Tidak, tidak ada apa-apa,” kata Nathan sambil menahan tawanya, “Cuma engkau pandai sekali memberi nama kepada Trent.”

“Tidak sulit memberi nama baru kepadanya yang bertubuh bulat seperti bola itu,” kata Alviorita santai.

“Ia pasti tersanjung mendengarnya.”

“Kuharap demikian,” kata Alviorita tidak peduli.

Alviorita kembali memperhatikan jalan yang dilaluinya. Alviorita tidak mengerti mengapa Nathan tetap mengikutinya. Ia telah meninggalkan pohon itu seperti yang dikehendaki pria itu. Kini Alviorita sedang berjalan ke pintu gerbang Castil Q`arde tetapi pria itu masih saja mengikutinya. Sudah lama Alviorita tinggal di sini dan pria itu tidak perlu khawatir lagi ia akan tersesat.

Bila pria itu ingin membuktikan ia adalah Putri Alviorita, pria itu tidak perlu mengikutinya seperti ini. Dengan mengikuti Alviorita, ia membuat Alviorita semakin merasa jengkel kepadanya.

Alviorita memperhatikan keadaan di luar Castil Q`arde yang tampak melalui gerbang yang terbuka itu. Alviorita terkejut melihat keadaan di luar Castil Q`arde.

Nathan terkejut melihat Alviorita tiba-tiba berhenti. “Ada apa?” tanyanya cemas. Kecemasan Nathan bertambah ketika ia melihat wajah Alviorita memucat.

Nathan mengikuti arah pandangan mata Alviorita.

Di luar Castil Q`arde tampak kereta kuda yang mewah. Melihat bentuknya serta kemewahannya, Nathan tahu kereta kuda itu adalah kereta Istana.

Alviorita tahu kereta kuda itu adalah kereta kuda Istana yang hanya digunakan oleh keluarga raja. Alviorita takut menyadari ayahnya ada di sini. Belum saatnya ia bertemu dengan ayahnya. Perisai yang dimilikinya belum dapat menahan pedang ayahnya. Belum saatnya perang ini diadakan.

Perang ini tidak boleh terjadi di Castil Q`arde. Perang antara Alviorita dan Raja Phyllips harus terjadi di dalam Istana dan tidak dengan cara demikian. Alviorita harus muncul sendiri di Istana Urza dengan membawa perisainya bukan ayahnya yang menemukannya di saat ia belum siap menghadapi perangnya.

Pintu kereta terbuka dan tampak seorang wanita yang mengenakan pakaian pelayan serba hitam.

Alviorita terpaku di tempatnya ketika ia melihat wanita itu.

Wanita itu juga terpaku melihat Alviorita berdiri di depannya hanya berbatasan pintu gerbang yang terbuka.

Maryam lebih cepat menguasai dirinya daripada Alviorita. “Tuan Puteri,” katanya senang.

Alviorita yang masih terkejut semakin terkejut ketika tubuhnya tiba-tiba ditarik Nathan. Alviorita segera menguasai keterkejutannya dan menatap tajam wajah Nathan.

“Mengapa engkau menarikku?”

Nathan juga tidak mengerti mengapa ia tadi menarik gadis itu menjauhi pintu gerbang ketika wanita itu memanggil gadis itu.

“Seharusnya engkau berterima kasih kepadaku yang telah menyelamatkanmu. Aku yakin wanita itu akan segera membawamu kembali ke Istana Urza bila engkau tetap berdiri di sana.”

“Lalu mengapa engkau menolongku?” tanya Alviorita curiga.

“Karena masih banyak hal yang harus kaujelaskan kepadaku,” kata Nathan tegas.

“Penjelasan? Apa yang harus kujelaskan kepadamu?”

“Pertama engkau harus mengakui kalau engkau memang Alviorita.”

“Maaf aku tidak mengenalnya,” kata Alviorita keras kepala.

“Percuma engkau berusaha membohongiku. Aku tahu engkau adalah Alviorita dan percuma saja engkau berusaha mengingkarinya. Aku tidak mungkin salah.”

“Kapan aku membohongimu? Aku tidak pernah merasa telah membohongimu.”

“Sudahlah, Alviorita, mengaku sajalah. Percuma mengingkari apa yang telah terbukti,” kata Nathan.

“Coba buktikan kalau aku adalah dia,” tantang Alviorita. Alviorita tahu tidak ada bukti yang dapat diberikan Nathan. Satu-satunya bukti yang dapat membuat penyamarannya terbongkar berada di tangannya.

Sejak meninggalkan Istana Urza, leontin perak Ratu tidak pernah berada jauh dari Alviorita. Gadis itu selalu membawanya ke manapun ia pergi.

Nathan menatap tajam wajah Alviorita.

Alviorita memalingkan pandangan matanya dari mata kelabu Nathan yang menatap tajam dirinya.

Sebatang pohon menarik perhatian Alviorita.

Nathan menyadari apa yang dilihat Alviorita, ia segera melepaskan tangan Alviorita dan membiarkan gadis itu mendekati pohon cemara itu.

Goresan-goresan pada batang pohon itu membuat Alviorita tertarik. Ia merasa mengenal goresan-goresan yang saling berjajar ke atas itu. Melihat tinggi goresan itu yang berbeda antara satu dengan yang lain, Alviorita yakin goresan itu adalah hasil pengukuran tinggi badan.

Suatu gambaran terbayang dalam benak Alviorita. Ia melihat dirinya berdiri sambil menyandarkan punggung di batang pohon itu. Sepasang tangan memberi goresan pada batang cemara.

“Pohon itu dulu tempat kita saling mengukur tinggi badan,” kata Nathan memberitahu Alviorita.

Alviorita menyentuh goresan itu tanpa mengatakan apa-apa. Gadis itu tidak mengerti mengapa gambaran itu muncul di benaknya sementara ia sendiri sangat yakin ia tidak pernah ke Castil Q`arde saat ia masih kecil. Bila kata-kata Nathan dihubungkan dengan kata-kata Innane, maka keduanya hanya ingin mengatakan satu hal yaitu Alviorita sering ke Castil Q`arde bersama Ratu.

Alviorita sukar mempercayai semuanya itu. Tidak ada sedikitpun ingatan masa kecilnya bersama Ratu di Castil Q`arde. Yang ada hanya ingatan masa kecil bersama Ratu di Istana Urza dan ingatan Ratu sering mengajaknya jalan-jalan.

Sejak kecil, Alviorita telah diajari oleh ayahnya untuk selalu mengingat baik-baik setiap kejadian yang telah terjadi. Tidak mungkin ada yang terlupakan oleh Alviorita. Bahkan kenangan kematian Ratu yang paling menyedihkannya masih tergambar jelas di benaknya.

Alviorita masih ingat dirinya mengenakan gaun hitam dan menangis di samping peti ibunya. Ia terus menangis sambil memanggil-manggil ibunya yang terus tertidur dan tidak ada seorangpun yang mencoba menghiburnya.

Alviorita terus mengira ibunya masih tertidur hingga ia melihat mereka menguburkan ibunya. Alviorita berteriak-teriak mencegah orang-orang itu menutupi peti ibunya dengan tanah.

“Jangan! Mama masih hidup!” teriaknya waktu itu, “Mama pasti akan membuka matanya kembali.”

Melihat tidak ada yang berusaha menghentikan orang-orang itu, Alviorita ingin mendekati ibunya tetapi Maryam segera menggendongnya.

Alviorita terus menangis sambil mengulurkan tangannya ke tempat ibunya disemayamkan.

“Mama, bangun. Mama, bangun,” teriak Alviorita, “Mama, mereka menyiram tanah ke atasmu. Mama, bangun.”

Maryam berusaha menenangkan Alviorita. “Jangan menangis, Tuan Puteri. Yang Mulia tidak akan bangun lagi.”

“Tidak, Mama akan bangun. Aku yakin Mama akan bangun,” kata Alviorita.

Maryam membelai Alviorita sambil berusaha memberi pengertian kepada gadis kecil itu. “Yang Mulia Paduka Ratu telah meninggal, Tuan Puteri. Ia tidak akan bangun lagi.”

Alviorita tidak mempedulikan kata-kata Maryam ia terus memanggil-manggil ibunya.

Peristiwa itu tidak pernah dilupakan Alviorita. Bahkan Alviorita juga tidak lupa saat ayahnya menyuruhnya memasuki dunia politik untuk pertama kalinya.

Sehari setelah kematian Ratu, Raja Phyllips tampak ingin segera menyuruh Alviorita belajar keras. Namun gadis kecil itu masih terlalu sedih hingga ia jatuh sakit, karenanya ia menunda keinginannya. Tetapi beberapa hari setelah gadis itu sembuh dan ia masih saja bersedih, Raja Phyllips tidak dapat menahan kesabarannya lagi. Ia segera memerintahkan sejumlah guru privat mengajari Alviorita dan Maryam bertugas mengawasi Alviorita belajar.

Alviorita tidak akan lupa saat ia harus memasuki dunia yang tidak disukainya itu setelah kepergian ibunya untuk selama-lamanya.

“Engkau baru saja membuktikan sendiri kalau engkau adalah Alviorita,” kata Nathan sambil tersenyum.

“Sungguh?” tanya Alviorita tidak percaya.

“Hanya aku dan engkau yang tahu kita telah menggores pohon itu,” kata Nathan, “Melhat engkau tertarik melihatnya, aku semakin yakin engkau adalah Alviorita.”

Alviorita tidak ingin membuat Nathan semakin percaya ia adalah sang Putri Mahkota.

“Jangan senang dulu,” kata Alviorita memperingati, “Mungkin saja aku hanya tertarik melihat batang pohon ini.”

Nathan menatap tajam wajah Alviorita. Entah sadar atau tidak gadis itu telah mengatakan ia adalah Alviorita tetapi gadis itu masih saja keras kepala.

Nathan baru saja hendak mengatakan sesuatu ketika terdengar suara orang memanggilnya.

Nathan memalingkan kepala ke arah datangnya suara itu dan melihat ibunya tengah memanggilnya dengan cemas.

Kemudian Nathan menatap tajam wajah Alviorita, “Engkau beruntung saat ini. Tetapi aku tidak akan melepaskanmu lagi. Aku akan membuatmu mengatakan semua yang ingin kudengar.”

“Coba saja,” tantang Alviorita.

Nathan menatap tajam wajah Alviorita. “Tunggulah aku dan aku akan membuktikan kata-kataku,” katanya tajam.

Walaupun Nathan telah memperingati Alviorita untuk tetap menunggunya tetapi ia tidak akan pernah melihat gadis itu lagi.

Begitu melihat Nathan menjauh, Alviorita segera kembali ke kamarnya. Alviorita tahu posisinya saat itu benar-benar berbahaya dan ia harus menyelamatkan diri. Alviorita masih tidak ingin kembali ke Istana Urza.

Tidak seorangpun yang ditemui Alviorita saat ia terburu-buru ke kamarnya juga tidak seorangpun yang melihat kepergian Alviorita melalui pintu belakang Castil Q`arde.

10

Nathan khawatir.

Sudah dua bulan lebih berlalu sejak Alviorita menghilang dari Castil Q`arde tetapi hingga saat ini jejak Alviorita masih belum ditemukan.

Kali ini Alviorita benar-benar menghilang seperti ditelan bumi. Tidak seorangpun yang tahu di mana gadis itu kini berada. Setiap orang di Castil Q`arde telah ditanyai namun tidak seroangpun dari mereka yang melihat kepergian Alviorita.

Nathan sama sekali tidak menduga setelah ia meninggalkan Alviorita di taman, gadis itu akan pergi. Sebelum meninggalkan gadis itu, Nathan telah memperingati gadis itu untuk tetap menunggunya karena ia akan membuktikan bahwa dirinya benar.

Nathan memang benar gadis itu adalah Alviorita.

Duchess tersenyum lega saat melihatnya. “Aku mencarimu ke mana-mana, Nathan.”

“Apa yang terjadi, Mama?” tanya Nathan khawatir.

“Tidak terjadi apa-apa,” kata Duchess menenangkan Nathan.

“Lalu mengapa Mama memanggilku?”

Duchess tersenyum lagi. “Jangan khawatir, Nathan. Tidak terjadi apa-apa. Sekarang engkau ikutlah aku menemui ayahmu. Ia menantimu.”

Walaupun Duchess telah mengatakan ia tidak perlu khawatir tetapi Nathan merasa khawatir melihat sikap ibunya yang misterius itu. Nathan mengikuti ibunya yang membawanya ke Ruang Duduk.

Nathan melihat wanita yang tadi memanggil Alviorita berada di sana.

Melihat istrinya muncul bersama Nathan, Duke segera berkata, “Kemarilah, Nathan.”

Nathan mendekati ayahnya tanpa melepaskan pandangannya dari wanita tua itu.

“Engkau tentu heran melihat wanita ini” kata Duke, “Ia adalah pengasuh tunanganmu, Maryam. Dan ia datang kemari atas perintah Raja Phyllips.”

“Paduka meminta Anda untuk datang ke Istana Urza, Tuan Muda,” kata Maryam memberitahu.

Nathan memang belum pernah bertemu Maryam sebelumnya tetapi saat melihat wibawa wanita itu, Nathan yakin wanita itu menjaga Alviorita dengan ketat. Wajah wanita tua itu benar-benar menunjukkan kedisiplinannya.

“Mengapa Paduka tiba-tiba meminta saya datang ke Istana Urza?” tanya Nathan.

“Saya tidak tahu, Tuan Muda. Paduka hanya meminta saya untuk membawa Anda ke Istana Urza.”

Trent yang juga berada di ruangan itu tiba-tiba bertanya, “Apakah Putri Alviorita telah ditemukan?”

Wajah tegas Maryam berubah menjadi murung. “Belum,” katanya sedih, “Tetapi tadi saya melihat Putri Alviorita di taman Castil Q`arde.”

Ucapan Maryam membuat Nathan benar-benar yakin gadis yang sering bertengkar dengannya itu adalah tunangannya, Putri Alviorita. Tetapi Nathan tetap pura-pura terkejut, “Tuan Puteri ada di sini ?”

“Tetapi itu tidak mungkin. Itu pasti hanya bayangan saya.”

“Mengapa demikian?” tanya Nathan keheranan.

Maryam tadi telah melihat Alviorita bahkan Maryam juga telah memanggil Alviorita tetapi wanita itu masih mengatakan itu semua hanya bayangannya saja.

“Karena Putri Alviorita selalu menghilang seperti ditelan bumi,” kata Maryam, “Tidak seorangpun dari kami yang berhasil menemukannya setiap kali Tuan Puteri menghilang. Seperti menghilangnya, Putri Alviorita juga muncul tiba-tiba seperti muncul dari dalam bumi.”

“Hebat sekali!” seru Trent kagum, “Aku jadi ingin tahu ke mana ia menghilang.”

“Hingga saat ini tidak seorangpun dari kami yang mengetahui ke mana Tuan Puteri pergi setiap kali ia menghilang.”

Melihat kelakukan Alviorita selama berada di Castil Q`arde, Nathan dapat menduga ke mana Alviorita pergi setiap kali ia menghilang.

“Aku ingin belajar bersembunyi darinya,” kata Trent.

“Kurasa sebaiknya engkau segera pergi ke Istana Urza, Nathan. Paduka Raja pasti telah menantimu,” kata Duke.

“Paduka juga mengharapkan kedatangan Anda berdua, Duke dan Duchess,” kata Maryam.

“Kami?” tanya Duchess terkejut, “Apa yang ingin dibicarakan Paduka kepada kami?”

“Saya tidak tahu. Tetapi saya rasa Paduka akan membicarakan masalah hilangnya Alviorita dengan Anda.”

“Sepertinya Raja Phyllips ingin membatalkan pertunanganmu dengan Putri Alviorita, Nathan. Atau mungkin ia memintamu terus menanti hingga sang Putri ditemukan,” kata Trent mengejek.

“Pertunangan?” tanya Maryam terkejut.

“Anda belum tahu kalau Putri Alviorita bertunangan dengan Nathan?” tanya Duchess terkejut.

“Tidak, saya belum tahu. Tidak seorangpun yang memberitahu saya,” kata Maryam, “Apakah itu benar?”

“Sejak kecil Putri Alviorita telah bertunangan dengan Nathan,” kata Duchess memberitahu.

“Mungkin itu sebabnya Tuan Puteri meninggalkan Istana Urza,” gumam Maryam.

“Sebaiknya kita tidak membuat Raja Phyllips menanti kita lebih lama lagi,” kata Duke.

“Anda benar, Duke,” kata Maryam.

Sambil menanti keluarga Kryntz bersiap-siap, Maryam melihat-lihat taman Castil Q`arde. Tadi ia melihat Putri Alviorita di sana tetapi sekarang tidak tampak siapapun di sana.

Maryam tidak perlu menanti terlalu lama. Keluarga Kryntz tidak ingin membuat Raja Phyllips menanti kedatangan mereka lebih lama.

Kereta Istana yang besar dapat membawa mereka berlima ke Istana Urza. Tetapi Nathan tetap bersikeras menunggang kudanya sendiri. Nathan tahu selama perjalanan ke Istana Urza, ibunya dan pengasuh tunangannya akan berbicara panjang lebar yang membuatnya merasa bosan. Nathan tidak pernah suka mendengarkan percakapan wanita yang menurutnya hanya berputar sekitar orang di sekitar mereka.

Ketika meninggalkan Castil Q`arde, Nathan tidak melihat Alviorita. Ia menduga gadis itu tengah bermain bersama Jeffreye di Ruang Kanak-Kanak.

Nathan berjanji kepada dirinya sendiri setelah menemui Raja Phyllips, ia akan membuat gadis itu mengakui segala kebenaran yang disembunyikannya.

Nathan tidak tahu apa yang akan dibicarakan Raja Phyllips kepada mereka. Ia hanya tahu ia tidak akan mengatakan apa-apa mengenai keberadaan Alviorita di Castil Q`arde. Nathan belum ingin mengatakan kepada orang lain keberadaan Alviorita sebelum ia mendengar penjelasan dari gadis itu.

Maryam segera mengantar mereka memasuki Istana .

Nathan memang bukan pertama kali ini memasuki bangunan yang indah seperti Istanan ini tetapi lukisan-lukisan yang terpasang di dinding sepanjang lorong yang mereka lalui membuatnya tertarik. Rupanya bukan hanya Nathan saja yang tertarik melihat lukisan itu. Duke dan Duchess serta Trent juga tertarik melihatnya.

Duchess berhenti dan memperhatikan sebuah lukisan yang besar. “Lukisan ini,” kata Duchess tak percaya.

“Itu adalah lukisan diri Putri Alviorita,” kata Maryam menjelaskan.

“Gadis ini,” kata Duchess sambil berpikir, “Aku merasa pernah melihatnya. Ia mirip seseorang.”

“Putri Alviorita memang mirip Paduka Ratu,” kata Maryam memberitahu.

“Bukan. Aku tahu Putri Alviorita mirip Ratu tetapi gadis ini mengingatkanku pada seseorang,” kata Duchess.

Sejak tadi Nathan memperhatikan lukisan itu. Sekali melihatnya saja, Nathan sudah tahu gadis dalam lukisan itu adalah Putri Alviorita yang sekarang ada di Castil Q`arde tetapi Nathan tidak mengatakannya.

Nathan terpana oleh sinar mata Alviorita dalam lukisan itu. Gadis itu tampak sedang melamun tetapi sinar matanya tajam dan berbahaya seperti yang selama ini dilihatnya. Sinar mata itu benar-benar berbeda dengan yang dilihatnya di surat kabar.Gambar alam di belakang Alviorita tampak seperti mendukung tatapan tajam gadis itu. Dengan latar belakang hutan yang masih alami, gadis itu tampak seperti gadis liar yang selama ini ditunjukkannya di Castil Q`arde.

Melihat lukisan itu semua kesangsian Nathan hilang. Ia benar-benar yakin gadis asing di Castil adalah tunangannya. Bersamaan dengan hilangnya kesangsian itu, Nathan tidak mengerti mengapa ketiga diri gadis itu berbeda.

Perbedaan antara Alviorita kecil dengan Alviorita yang sering dilihatnya di surat kabar serta bayangannya dapat dimengertinya. Namun ia tidak mengerti mengapa Alviorita yang sekarang berada di Castil bisa berbeda dari kedua gadis itu. Mereka adalah gadis yang sama tetapi semuanya memiliki perbedaan yang tidak dapat dimengerti Nathan. Putri Alviorita kecil berbeda dengan Putri Alviorita yang sering dibicarakan, Nathan dapat mengerti. Putri Alviorita kecil menjadi sombong sejak kematian Ratu. Tetapi perbedaan Alviorita yang ada di Castil dengan yang ada dalam bayangannya, hingga saat ini Nathan tidak mengerti.

Trent yang sejak tadi terus mengamati lukisan tiba-tiba berkata, “Rosa. Gadis ini mirip Rosa.”

Duke mengamati lukisan itu. “Ya, gadis ini mirip Rosa tetapi tidak mungkin Rosa adalah Putri Alviorita.”

“Rosa?” tanya Maryam tak mengerti.

“Ia gadis yang sekarang berada di Castil Q`arde. Gadis itu kehilangan ingatan,” kata Duchess.

“Bukankah Rosa muncul bersamaan dengan hilangnya Putri Alviorita,” kata Duke tiba-tiba, “Di mana engkau menabrak Rosa, Trent?”

“Waktu itu aku menabrak Rosa di jalan yang menghubungkan Castil Q`arde dengan Istana Urza,” jawab Trent.

“Pasti gadis itu adalah Putri Alviorita,” kata Duke yakin, “Aku tidak ragu lagi.”

“Sebaiknya kita segera memberitahu Raja Phyllips,” kata Duchess senang.

“Kalian tahu di mana Putri Alviorita?” tanya Maryam tak percaya.

“Kami kurang yakin,” kata Duchess, “Tetapi sebaiknya sekarang kita memberitahu Raja Phyllips.”

Maryam segera mengantar mereka ke Ruang Duduk di mana Raja Phyllips telah menanti kedatangan mereka.

“Selamat datang,” sambut Raja Phyllips, “Saya senang kalian semua dapat datang.”

“Ada keperluan apa sehingga Paduka memanggil kami semua?” tanya Nathan sebelum seorangpun dari keluarganya ada yang mengatakan penemuan baru mereka. Nathan ingin mengetahui apa yang akan dibicarakan Raja Phyllips.

“Ini mengenai putriku, Alviorita,” kata Raja Phyllips sedih, “Seperti yang kalian ketahui hingga saat ini tidak ada berita apapun tentang dia. Untuk itu aku meminta maaf. Aku harap kalian sudi menunggu pertunangan ini hingga Alviorita ditemukan.”

“Mungkin kami tahu di mana Putri Alviorita.”

“Benarkah itu?” tanya Raja tak percaya.

“Kami hanya menduganya, Paduka,” kata Duchess, “Tetapi kami yakin gadis itu adalah Putri Alviorita.”

“Pada hari yang sama dengan menghilangnya Putri Alviorita, Trent menabrak seorang gadis hingga gadis itu kehilangan ingatannya. Sekarang gadis itu ada di Castil.”

“Sudah lebih dari empat bulan sejak Alviorita menghilang tetapi aku tak mendengar beritanya. Hari ini aku mengetahui di mana ia berada,” kata Raja Phyllips lega, “Aku benar-benar mengkhawatirkan Alviorita. Sungguh tak kuduga aku sibuk mencarinya ke mana-mana tetapi ternyata ia bersembunyi di Castil tunangannya sendiri.”

“Rosa adalah Putri Alviorita?” tanya Trent tak percaya.

“Aku yakin gadis itu adalah Putri Alviorita,” kata Duchess, “Aku tidak mungkin salah. Sejak pertama kali melihat gadis itu, aku merasa pernah melihatnya dan hari ini aku tahu mengapa Mama mempunyai perasaan seperti itu.”

“Gadis itu adalah tu n angan Nathan ? ” tanya Trent masih tak percaya.

“Ya, gadis itu tunangan kakakmu,” kata Duchess meyakinkan Trent.

“Tidak mungkin,” seru Trent, “Mengapa setiap gadis yang kusukai selalu akhirnya menjadi milik Nathan?”

Mendengar seruan marah itu, Duke cepat-cepat bertindak, “Trent. Jaga bicaramu saat ini engkau berada Istana Urza.”

Raja yang tidak mengerti apa-apa bertanya, “Sebenarnya apa yang telah terjadi selama Alviorita berada di Castil Q`arde?”

“Trent jatuh cinta kepada Putri Alviorita,” kata Duchess memberitahu, “Tetapi sejak awal gadis itu selalu menghindari Trent. Trent berjanji akan mendapatkan gadis itu dan sekarang ia tidak akan mendapatkannya karena gadis itu adalah tunangan kakaknya.”

“Sepertinya engka u harus merelakan putriku, Trent. Ia adalah tunangan kakakmu,” kata Raja.

“Pertunangan ini adalah keinginan Ratu. Tidak mungkin seorangpun dari kita tidak melakukan permintaan orang yang telah meninggal,” kata Duchess turur memberi pengertian kepada Trent.

“Sekarang sebaiknya kita segera menjemput Alviorita di Castil Q`arde,” kata Raja Phyllips, “Dan kita segera melanjutkan pertunangan yang terhambat oleh perginya Alviorita ini.”

Sejak tadi semua orang hanya membicarakan Alviorita dan melupakan keberadaan tunangan Alviorita di ruang itu. Tetapi Nathan tidak mempedulikan semua itu. Nathan tidak tahu apa yang dilakukan Alviorita bila ayahnya menjemputnya di Castil Q`arde. Nathan tahu gadis itu tidak pernah kehilangan ingatan.

Saat ini Nathan hanya tahu saat ini pertunangannya akan benar-benar berlangsung tanpa ia sempat terlebih dulu meluruskan kebingungannya.

Setelah mendengar kata-kata Maryam juga Raja Phyllips. Nathan menarik kesimpulan Alviorita melarikan diri dari pertunangan ini seperti dirinya. Tetapi ia tidak mengerti mengapa Alviorita justru bersembunyi di Castil tunangannya bila ia memang ingin melarikan diri dari pertunangan ini.

Hanya satu orang yang dapat menjelaskan ini semua dan orang itu adalah Alviorita sendiri.

Nathan berniat menarik gadis itu pergi dari Castil Q`arde sebelum semua orang membawanya kembali ke Istana Urza dan ia akan membuat gadis itu mengatakan segala sesuatunya.

Tetapi niat itu tidak pernah berjalan. Bahkan hingga saat ini Nathan belum bertemu dengan Alviorita sejak gadis itu menghilang lagi dari Castil Q`arde. Kepergian Alviorita yang kedua ini benar-benar di luar dugaan Nathan bahkan semua orang.

Saat itu Raja sangat senang dapat menemukan putrinya hingga ia terburu-buru berangkat ke Castil Q`arde bersama keluarga Kryntz. Karena kereta tidak mungkin menampung mereka semua maka Nathan dan Trent naik kuda Istana.

Sepanjang perjalanan ke Castil Q`arde, Nathan tahu semua orang di kereta sibuk membicarakan Alviorita dan pertunangan Alviorita dengannya. Nathan tidak tertarik mendengarnya. Ia hanya tertarik untuk segera menuntaskan masalahnya dengan Alviorita seperti janjinya kepada gadis itu sebelum ia pergi ke Istana Urza.

Trent yang berkuda di samping kakaknya hanya diam saja. Ia benar-benar marah kepada kakaknya yang untuk kedua kalinya merebut gadis yang dicintainya. Sejak pertama melihat Alviorita, Trent jatuh cinta pada kecantikkan dan semangat gadis itu dan ia berniat untuk menikahi gadis itu. Tetapi Takdir berkata lain. Gadis itu adalah tunangan kakaknya. Dan pertunangan itu tidak mungkin dibatalkan karena ini adalah keinginan Ratu yang telah meninggal dunia. Trent semakin membenci kakaknya. Dulu kakaknyalah yang merebut Elly darinya sekarang kakaknya juga yang merebut gadis yang dicintainya.

Tidak seorangpun yang tahu apa yang menanti mereka di Castil Q`arde.

Raja mengira ia akan bertemu putrinya dan ia akan segera melangsungkan pertunangan yang tertunda ini. Trent juga mengira pertunangan kakaknya akan segera berlangsung. Semua orang menduga demikian karena itu tidak heran bila mereka sangat terkejut ketika mereka tidak dapat menemukan gadis itu di Castil Q`arde. Tidak seorangpun yang tahu ke mana Alviorita pergi.

Gadis itu juga tidak ada di sisi Jeffreye seperti dugaan Nathan. Gadis itu menghilang lagi.

“Apakah engkau sudah menemukan gadis itu?” tanya Duke.

“Belum, Yang Mulia. Saya tidak menemukannya di mana-mana.”

“Carilah Putri Alviorita. Aku yakin ia masih ada di sekitar sini,” kata Duke.

Innane ragu-ragu “Saya tidak tahu harus berkata apa,” katanya ragu-ragu, “Gadis itu…”

“Apa yang terjadi padanya?” tanya Raja Phyllips cemas.

“Tampaknya gadis itu sudah pergi.”

Kalimat itu dijawab dengan seruan terkejut semua orang.

“Apa !!??? ?”

Melihat semua orang terkejut hingga membelalakan matanya, Innane ragu-ragu. Tapi ia tahu ia harus mengatakannya, “Saya tadi memeriksa almari kamar gadis itu dan saya menduga gadis itu pergi.”

“Apa yang dibawa gadis itu?” tanya Raja Phyllips mulai marah.

“Ia tidak membawa apa-apa,” kata Innane.

“Lalu mengapa engkau mengatakan ia sudah pergi.” kemurkaan Raja Phyllips mulai tampak dan membuat semua orang takut.

“Saya hanya menduga ia sudah pergi karena saya tidak menemukan barang-barang yang dibawanya saat ia datang dulu,” kata Innane hati-hati.

Melihat Raja akan marah, Nathan segera bertindak, “Sebaiknya Anda tenang, Paduka. Mungkin saja saat ini ia sedang berada di sekitar Castil Q`arde.”

“Ia juga tidak ada di sisi Jeffreye,” kata Duchess mengingatkan.

“Kalau ia benar-benar telah pergi, aku yakin ia belum jauh dari sini,” kata Nathan.

“Kalau begitu sebaiknya kita segera mencarinya,” kata Duke.

Kepergian Alviorita yang pertama membuat seluruh Istana Urza terkejut dan kerepotan. Sekarang kepergian Alviorita yang kedua membuat seluruh Castil Q`arde terkejut dan kerepotan.

“Alviorita benar-benar membawa masalah,” kata Raja Phyllips geram.

Tidak seorangpun berani melawan kemarahan Raja kecuali Nathan. Pria itu tidak takut menghadapi kemarahan Raja Phyllips bahkan ia berkata tenang, “Daripada kita semua hanya membicarakan Alviorita lebih baik kita mencarinya.”

Nathan membuktikan kata-katanya sendiri. Ia segera meninggalkan mereka dan mulai mencari Alviorita di sekitar Castil Q`arde tetapi ia tidak menemukannya. Bahkan hingga hari ini Nathan tidak dapat menemukan Alviorita.

Kepergian Alviorita yang kedua kali ini bukan hanya membuat Istana Urza cemas tetapi juga Castil Q`arde.

Kepergian Alviorita yang kedua ini tidak diketahui orang di luar kedua keluarga tua itu. Penduduk Kerajaan Lyvion hanya tahu Putri mereka yang hilang belum ditemukan. Karena itu mereka berusaha mencari Alviorita sendiri.

Cinta Nathan kepada Alviorita telah bersih dari semua keragu-raguan dan segala kebencian serta dugaan buruk yang pernah ada. Nathan merasa bersalah telah memberikan dugaan yang buruk kepada Alviorita. Andaikata Duchess tidak menasehatinya mungkin hingga saat ini Nathan masih mempunyai pandangan buruk terhadap tunangannya itu. Mungkin saat ini Nathan tidak mau mencari Alviorita hingga ke perbatasan Kerajaan Lyvion.

Sejak beberapa minggu terakhir ini Nathan melakukan pencarian Alviorita di perbatasan Kerajaan Lyvion. Sejak kemarin pagi Nathan memulai pencariannya di Synghz, daerah perbatasan Kerajaan Lyvion yang paling subur.

Tidak seorangpun yang dapat menemukan Alviorita di dalam wilayah Kerajaan Lyvion bahkan tidak seorangpun yang melihatnya. Hingga saat ini masih dilakukan pencarian Alviorita di dalam wilayah Kerajaan Lyvion.

Nathan sendiri yang memutuskan untuk mencari Alviorita di sekitar perbatasan Kerajaan Lyvion. Ia yakin bila Alviorita tidak ada di dalam wilayah Kerajaan Lyvion maka kemungkinannya adalah ia ada di perbatasan kerajaan ini atau ia telah berada di luar kerajaan ini. Tetapi kemungkinan kedua itu tidak mungkin.

Walaupun gadis itu adalah Putri Mahkota tetapi ia tidak akan dapat meninggalkan Kerajaan Lyvion tanpa surat ijin. Dan saat ini tidak mungkin ada yang mempercayainya sebagai Putri Mahkota karena di sisi gadis itu tidak ada seorang pengawal pun.

Sekarang Nathan mengerti semua kebingungannya akan diri Alviorita itu adalah khayalannya sendiri. Semua itu karena bayangannya tentang diri gadis itu yang salah.

Pada hari kepergian Alviorita itulah Duchess menjelaskan semuanya kepada Nathan dan membuat semua pikiran buruk pria itu terhadap tunangannya runtuh.

“Mengapa engkau tidak berusaha mencari tunanganmu?” tanya Duchess melihat Nathan tidak tampak bingung, “Semua orang sejak tadi sibuk mencari Putri Alviorita tetapi engkau tetap duduk tenang di sini.”

“Aku sudah berusaha mencarinya,” kata Nathan tenang.

“Aku juga sudah melihatnya,” kata Duchess, “Tetapi engkau hanya mencari satu kali saja.”

“Lihatlah hingga sekarang semua orang masih sibuk mencari gadis itu sedangkan engkau tunangannya hanya duduk diam di sini,” kata Duke ikut memberi nasehat Nathan, “Apakah engkau tidak mengkhawatirkan tunanganmu?”

“Tidak,” kata Nathan mengakui.

Saat ini Nathan memang tidak merasa khawatir terhadap Alviorita. Sebaliknya ia semakin membenci Alviorita. Alviorita telah menghindarinya seperti ia menghindari pertunangannya dan hal ini sudah cukup membuktikan kalau gadis itu benar-benar angkuh seperti yang banyak orang katakan.

Tadi Nathan mencari gadis itu hanya karena ia ingin menuntaskan masalah di antara mereka yang masih belum berakhir. Ketika ia tidak berhasil menemukan gadis itu, ia tidak mau meneruskan pencariannya. Ia telah membuktikan bahwa gadis itu adalah Putri Alviorita yang angkuh.

“Mengapa engkau berkata seperti itu? Bukankah sejak kecil engkau mencintainya?” tanya Duchess terkejut.

Kebencian Nathan kepada Alviorita yang semakin bertambah membuat pria itu berkata, “Untuk apa aku mengkhawatirkan gadis angkuh seperti dia?”

“Apa katamu?” tanya Duchess terkejut.

“Gadis itu seorang gadis yang angkuh dan sombong, Mama,” kata Nathan tenang, “Ia tidak mungkin mau berada di dekat kita yang dianggapnya rendah ini.”

“Mengapa engkau berkata seperti itu?” tanya Duchess tajam.

“Buktinya setelah Ratu meninggal ia tidak pernah lagi bermain ke sini. Apalagi yang menyebabkan ia tidak pernah ke sini lagi selain ia terlalu bangga dengan kedudukan penting yang didapatnya setelah kematian Ratu,” kata Nathan tetap tenang menghadapi ibunya yang sabar itu marah.

“Itukah pikiranmu tentang dia?” tanya Duchess marah, “Itukah sebabnya engkau tidak menyukai gadis itu?”

“Mengapa Mama marah? Bukankah memang itu yang terjadi?” kata Nathan tenang.

“Ya, ampun, Nathan. Apa yang menyebabkanmu mempunyai pikiran setolol itu,” keluh Duke, “Gadis itu tidak seperti pikiranmu.”

“Tetapi….”

Kata-kata Nathan dipotong oleh suara tajam Duke dan Duchess, “Diam dan dengarkan baik-baik.”

Nathan tidak mengerti melihat kemarahan kedua orang tuanya yang jarang marah ini terutama kepada dirinya. Nathan ingin mengatakan segala yang diketahuinya tentang tunangannya tetapi melihat kemarahan orang tuanya yang hanya tertuju pada dirinya, Nathan memutuskan untuk menurut.

Duchess berdiri dan berjalan mondar-mandir di depan Nathan dengan gelisah bercampur marah. “Aku tidak tahu. Apakah engkau memang tidak tahu ataukah engkau sedemikian tololnya hingga mempunyai pikiran seperti itu.”

Nathan hanya diam melihat ibunya berjalan di depannya. Ia tidak ingin membuat kedua orang tuanya semakin marah atas kesalahan yang tidak dimengertinya.

“Putri Alviorita tidak pernah bermain lagi ke sini setelah kematian Ratu bukan karena ia terlalu bangga dengan kedudukan barunya,” kata Duke.

“Sebaliknya Putri Alviorita tidak pernah menyukai kedudukan barunya itu. Ia tidak pernah sedikitpun bangga karena telah menggantikan ibunya,” tambah Duchess.

Nathan bingung . Ia semakin tidak mengerti di mana letak kesalahannya.

“Setelah kematian Ratu, Putri Alviorita memang tidak pernah ke sini lagi. Tetapi itu bukan karena ia bangga akan kedudukannya sehingga ia menjadi sombong,” kata Duchess, “Seperti yang kauketahui Putri Alviorita sangat sedih atas kematian ibunya. Putri Alviorita lebih dekat dengan Ratu daripada Raja. Karena itu tidak heran bila Putri Alviorita terus menangis ketika ibunya meninggal.”

“Dapatkah engkau membayangkan bagaimana perasaan gadis yang baru berusia tiga tahun tetapi ia harus kehilangan ibu yang paling dicintainya?” tambah Duchess, “Putri Alviorita menyayangi Ratu lebih dari siapapun bahkan melebihi rasa cintanya pada ayahnya.”

“Dari Maryam aku mengetahui, Putri Alviorita sama sekali tidak menyukai ayahnya. Setiap kali bertemu dengan ayahnya, Putri Alviorita tidak pernah tampak senang,” kata Duke, “Engkau tahu mengapa bisa demikian?”

Duke dan Duchess tidak memberi kesempatan kepada Nathan untuk mengatakan apapun.

Duchess segera menyambung perkataan Duke. “Ratu selalu melindungi Putri Alviorita dari tugas-tugas kerajaan karena itulah Putri Alviorita lebih menyayangi Ratu daripada ayahnya. Karena itu juga tidak seorangpun yang dapat menghibur Putri ketika ibunya meninggal. Putri Alviorita sangat sedih, ia terus menangis sepanjang hari hingga ia jatuh sakit.”

“Kata Maryam, suhu tubuh Putri Alviorita sangat tinggi dan ia terus menerus memanggil Ratu. Keadaan Putri saat itu benar-benar mencemaskan. Bahkan Raja Phyllips yang biasanya hanya mempedulikan masalah kerajaan juga ikut cemas.”

Duke dan Duchess menghentikan nasehat mereka yang panjang. Mereka menatap sedih wajah Nathan yang dipenuhi kebingungan.

Nathan semakin tidak mengerti apa yang dikatakan orang tuanya dengan pikirannya tentang Alviorita.

“Mungkin karena demamnya yang tinggi itu, Putri Alviorita melupakan semua kenangan masa kecilnya bersama Ratu. Karena itu pula ia melupakan kita,” kata Duchess sedih, “Dan yang lebih menyedihkan lagi adalah tindakan Raja setelah Putri sembuh.”

Duchess tidak memberi kesempatan Nathan untuk mengatakan sesuatu.

“Setelah Putri sembuh, Raja Phyllips tidak mau menanti lebih lama lagi. Dulu sewaktu Ratu masih hidup, ia tidak dapat melakukan apa yang diinginkannya. Tetapi setelah Ratu meninggal, Putri Alviorita yang masih kecil tidak mempunyai pelindung lagi yang dapat melindunginya dari tugas-tugas kerajaan.”

“Apakah engkau dapat membayangkan bagaimana perasaan gadis yang baru berusia tiga tahun dan masih ingin bermain tetapi ia harus meninggalkan semua masa kecilnya hanya untuk belajar bagaimana menjadi Ratu yang baik?” tanya Duke tajam.

Nathan terkejut. Ia tidak pernah menduga semua yang dikatakan kedua orang tuanya ini bahkan ia tidak pernah memikirkannya. Nathan tahu orang tuanya tidak mungkin berbohong padanya.

“Sekarang engkau mengerti mengapa engkau tidak boleh mengatakan Putri Alviorita adalah Putri yang angkuh yang bangga dengan kedudukannya,” kata Duke sambil menatap tajam wajah Nathan.

“Putri Alviorita tidak pernah menyukai kedudukannya. Dengar baik-baik, Putri Alviorita tidak pernah merasa bangga dengan kedudukannya sebagai Putri Mahkota,” kata Duchess, “Mama yakin engkau pasti tidak pernah membayangkan bahwa sesungguhnya Putri Alviorita sangat membenci kedudukannya itu.”

“Dari apa yang dikatakan Maryam kepada kami juga bila melihat tingkah Putri Alviorita yang seperti burung selama ia berada di sini, maka itu benar. Putri Alviorita tidak pernah sedikitpun menyukai kedudukannya sebagai Putri Mahkota.”

Duke tersenyum geli, “Engkau pasti juga tidak pernah membayangkan Putri Alviorita selalu menghilang setiap kali ia harus belajar. Hanya pada saat Raja ada di Istana Urza saja Putri mau melakukan semua itu. Putri selalu membuat semua orang di Istana Urza sibuk mencarinya hanya karena ia tidak ingin melakukan semua kewajibannya.”

“Semua orang di Istana benar-benar dibuat bingung oleh Putri Alviorita. Mereka semakin bingung ketika tiga tahun kemudian Putri berubah. Putri yang biasanya selalu menghindari kegiatan rutinnya tiba-tiba menjadi seorang putri yang penurut. Tentu saja hal itu membuat semua orang di Istana lega tetapi juga membuat mereka bingung.”

“Putri Alviorita benar-benar putri yang unik,” kata Duke mengakhiri cerita panjangnya.

Duchess menatap tajam wajah Nathan. “Bila engkau menghubungkan kata-kata ayahmu itu dengan kelakukan Putri Alviorita yang seperti burung yang tidak mau terikat siapapun itu, engkau pasti juga percaya Putri Alviorita tidak pernah menyukai kedudukannya sebagai Putri Mahkota itu.”

“Tetapi mengapa ia tetap melakukannya?” Akhirnya Nathan berhasil mengutarakan kebingungannya. Mendengar semua cerita orang tuanya, Nathan semakin bingung. Semua yang dikatakan orang tuanya bertentangan dengan pikirannya sendiri.

“Tidak seorangpun yang tahu bahkan Maryam, tidak ada yang tahu kalau Putri Alviorita tidak menyukai kedudukannya itu,” kata Duke, “Hanya Putri Alviorita sendiri yang tahu. Tetapi kami menduga Putri mau melakukannya karena ia sadar ini adalah kewajibannya sebagapi satu-satunya penerus keluarga Raja.”

“Itulah sebabnya engkau tidak boleh mengatakan ia adalah Putri yang angkuh,” kata Duchess, “Ia adalah Putri yang hebat.”

“Tetapi semua orang mengatakan ia Putri yang angkuh,” kata Nathan membela pendapatnya sendiri.

“Ya, ampun, Nathan. Setelah kami bercerita panjang lebar seperti ini engkau masih juga tidak mengerti,” keluh Duke, “Semua itu hanya kata-kata orang yang tidak mengenal Putri.”

“Semua orang mengatakan ia adalah putri yang sangat angkuh bukan tanpa alasan,” kata Nathan.

“Ya, semua itu memang ada alasannya,” kata Duchess, “Banyak yang mengatakan Putri Alviorita angkuh hanya karena melihat sikap Putri Alviorita yang tidak mau terlibat dengan urusan di luar masalah politik.”

Entah untuk yang keberapa kalinya Duchess menatap tajam wajah Nathan.

“Kau tahu mengapa ia tidak mau terlibat segala masalah di luar kewajibannya?”

Nathan hanya menatap wajah ibunya yang menyalahkan dirinya. Nathan merasa seperti anak kecil yang tengah dimarahi kedua orang tuanya padahal tahun ini ia berusia dua puluh lima tahun.

“Karena sejak kecil ia telah dipaksa meninggalkan masa bermainnya hanya untuk belajar maka dalam pikiran Putri Alviorita tertanam satu keyakinan yang tidak pernah berubah hingga saat ini,” kata Duchess menjawab pertanyaannya sendiri.

“Putri Alviorita yakin semua kegiatan yang berhubungan dengan kerajaan membutuhkan waktu yang banyak. Karena itu ia tidak mau membuat dirinya semakin repot dengan segala macam kegiatan di luar wewenangnya.”

“Maryam sendiri yang mengatakannya kepada Mama. Jadi ini bukan hanya pendapat Mama. Ini semua bersumber dari pengasuh Putri Alviorita, Maryam,” kata Duchess meyakinkan Nathan.

“Tetapi…”

Kata-kata Nathan dipotong oleh keluhan Duke, “Ya, ampun, Nathan. Kami telah bercerita sepanjang ini tetapi engkau masih juga tidak mengerti. Sekarang dengarkan, Putri Alviorita tidak seangkuh yang orang-orang katakan. Kalau ia memang seangkuh yang mereka katakan, ia tidak mungkin melibatkan dirinya dalam masalahmu dengan Elly.”

“Masalahku dengan Elly yang dulu itu?” tanya Nathan tidak percaya.

“Ya, tidak ada seorangpun yang tahu masalahmu yang dulu itu berakhir karena campur tangan Putri Alviorita,” kata Duke, “Aku sendiri juga baru mengetahuinya dari Brethrynne tadi siang.”

“Brethrynne? Apa hubungan dia dengan skandal yang dibuat anaknya itu?” tanya Duchess tidak mengerti.

“Brethrynne sangat mengagumi Putri Alviorita. Ia selalu memuji Putri Alviorita sebagai seorang Putri yang hebat. Tanpa mengikutsertakan namanya, Putri Alviorita menyelesaikan masalah itu,” kata Duke memulai ceritanya.

“Putri yang menyelesaikan masalah itu?” kata Duchess tidak percaya, “Mulai munculnya masalah itu hingga masalah itu selesai tidak pernah disebut-sebut nama Putri di dalamnya.”

“Aku mulanya juga tidak percaya tetapi Brethrynne meyakinkan aku.”

“Mengapa ia tidak mengatakannya kepada siapapun? Dan mengapa pula ia mengatakannya kepadamu?”

Melihat kebingungan istrinya, Duke berkata, “Brethrynne tidak pernah mengatakan hal ini kepada siapapun karena Putri yang memintanya. Dan tadi siang ia memberitahuku saat kami berjumpa di Istana Urza. Ia tahu Putri akan menikah dengan Nathan dan ia mengucapkan selamat kepadaku sambil terus memuju Putri. Kemudian ia menceritakan masalah ini kepadaku.”

“Brethrynne mengatakan kepadaku bahwa perjamuan yang dulu diadakannya itu adalah permintaan Putri Alviorita. Bahkan Putri Alviorita mengatur setiap tamu yang hadir dalam perjamuan itu. Ia juga yang mengatur tempat duduk para tamu di Ruang Makan.”

“Itu artinya Putri Alviorita sengaja mempertemukan Nathan dengan Elly di pesta itu,” kata Duchess tidak percaya, “Dan ia membuat semua orang tahu kata-kata Elly adalah bohong.”

“Kata Brethrynne, Putri Alviorita juga yang membuat Elly mengatakan yang sebenarnya kepada semua orang keesokan harinya.”

“Kalau itu benar…”

“Ya, ampun Nathan. Kami tidak mungkin berbohong kepadamu,” sela Duke kesal.

“Jangan marah, Papa, aku hanya ingin bertanya mengapa aku tidak melihat Alviorita di perjamuan itu kalau ia yang merencanakan semua itu?” kata Nathan.

“Aku tidak tahu,” kata Duke, “Tetapi kurasa itu semua karena Putri Alviorita tidak mau orang lain tahu ia terlibat dalam masalahmu itu.”

“Putri Alviorita tidak mau terlibat segala macam kegiatan di luar wewenangnya. Karena itu ia tidak pernah menghadiri perjamuan apapun yang tidak ada hubungannya dengan kewajibannya. Bila ia terpaksa menghadirinya, ia hanya duduk di tepi dan mengabaikan semua orang. Bahkan Putri Alviorita selalu menghindar dari setiap pria yang ingin mendekatinya,” kata Duchess meyakinkan Nathan, “Itulah yang membuat semua orang mengatakan Putri Alviorita adalah putri yang angkuh.”

“Tindakan Raja yang memaksa Putri untuk meninggalkan masa bermainnya dan mulai memasuki dunia politik membuat dalam diri Putri Alviorita tertanam keyakinan ia tidak mempunyai waktu untuk bersenang-senang. Karena itulah tingkah lakunya di sini seperti burung yang baru lepas dari sangkar emasnya.”

“Saat berada di sini Putri Alviorita memang terlepas dari semua kegiatan rutinnya,” kata Duke menyejutui ucapan istrinya, “Aku setuju dengan Brethrynne. Putri Alviorita adalah putri yang hebat. Walaupun ia tidak menyukai kedudukannya tetapi ia tetap melakukan yang terbaik. Ia hanya memusatkan perhatian dan waktunya hanya untuk kerajaan ini. Walaupun caranya salah tetapi Raja Phyllips berhasil membuat Putri Alviorita menjadi seorang Putri Mahkota yang baik.”

“Aku juga setuju denganmu. Putri Alviorita memang seorang putri yang hebat. Walaupun banyak tuduhan bohong yang ditujukan kepadanya tetapi ia tetap bersikap tenang. Putri Alviorita memang tidak pernah secara terang-terangan membantah semua tuduhan kepadanya itu tetapi sikapnya telah membuat setiap tuduhan itu runtuh dengan sendirinya,” tambah Duchess.

“Putri Alviorita menjadi seorang Putri Mahkota yang baik seperti yang diinginkan ayahnya walaupun ia sendiri tidak menyukai semua itu,” kata Duke, “Aku mengagumi sikap tanggung jawabnya. Hanya karena tanggung jawabnya yang besar, ia mau melakukan apa yang sebenarnya tidak disukainya.”

“Kalau Alviorita tidak ditemukan, siapakah yang kelak akan menggantikan Raja Phyllips?” gumam Nathan.

Duke dan Duchess menatap tajam wajah Nathan. “Karena itu engkau sebagai tunangannya harus mencarinya,” kata mereka serempak.

Cerita panjang Duke dan Duchess of Kryntz berhasil membuat Nathan menghilangkan segala pikiran buruknya kepada Alviorita. Sekarang pria itu mengerti mengapa Alviorita tidak mengingat kenangan masa kecil bersama dirinya di Chymnt. Sekarang ia mengerti mengapa Alviorita yang dilihatnya berbeda dengan Alviorita yang ada dalam pikirannya juga Alviorita yang selalu dikenangnya.

Nathan merasa bersalah telah melampiaskan semua kebenciannya kepada gadis itu dalam setiap pertengkaran mereka.

Kadang bila memikirkan pertengkaran itu, Nathan merasa bingung mengapa ia yang biasanya selalu acuh itu selalu ingin mengajak Alviorita bertengkar. Nathan tahu ia tetap mencintai gadis itu walaupun ia mempunyai pandangan buruk tentang gadis itu. Mungkin karena itulah ia selalu mengajak gadis itu bertengkar.

Memang sejak kecil hanya Alviorita yang mampu membuatnya meninggalkan semua kegiatan belajarnya. Hanya Alviorita juga yang mampu membangkitkan kemarahannya. Nathan juga yakin hanya dia yang mampu membangkitkan kemarahan gadis itu.

Bila mengingat tuduhan kejam yang diberikannya pada Alviorita, Nathan semakin merasa bersalah. Ia tidak mengerti mengapa ia menuduh gadis itu senang mempermainkan pria.

Sekarang ia mengerti gadis itu tidak pernah dekat denga n pria manapun. Nathan yakin ia adalah pria pertama yang memeluk serta mencium gadis itu. Entah bagaimana perasaan Alviorita yang selama ini selalu menghindar dari setiap laki-laki setelah dicium olehnya. Mengingat kemarahan dan air mata gadis itu, Nathan hanya dapat menduga gadis itu sangat marah kepada dirinya.

Pria itu sekarang hanya tahu ia telah memberikan penilaian buruk yang salah kepada tunangan yang dicintainya, bahkan sangat dicintainya.

Nathan tidak tahu apakah Alviorita mencintainya atau tidak. Ia hanya tahu ia harus menemukan gadis itu dan meminta maaf kepadanya.

“Nona, turunlah. Nona apa yang harus saya katakan pada Tuan Besar kalau Anda jatuh.”

Seorang pelayan muda yang menengadahkan kepalanya ke atas sebatang pohon sambil berteriak cemas, menarik perhatian Nathan.

Gadis itu tampak cemas, ia terus berteriak-teriak, “Nona, turunlah.”

Nathan menghentikan kudanya. Ia tertarik mendengar seruan gadis itu.

Gadis itu berteriak memanggil majikannya yang sedang berada di atas pohon. Gadis itu terus berteriak membujuk majikannya agar segera turun.

Tertarik melihat gadis itu berusaha membuat majikannya turun, Nathan mendekatinya.

“Ada apa?” tanyanya kepada gadis itu.

“Nona memanjat pohon ini dan ia tidak mau turun,” jawab gadis itu.

Nathan tertarik. Ia tidak menduga ada gadis selain Alviorita yang pandai memanjat pohon. Nathan menengadahkan kepalanya ke atas pohon dan terkejut.

Seorang gadis berambut hitam duduk di sebatang pohon. Gadis itu memandang ke bawah.

Melihat mata hijau itu memandang terkejut dirinya, Nathan tidak meragukan lagi apa yang dilihatnya.

Gadis itu adalah Alviorita!







0 Response to "Pelarian I"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified