Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Negeri lima Menara 1

NEGERI LIMA MENARA
Oleh:
AHMAD FUADI

Merantaulah….
Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.
Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang
Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran
Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang
Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan.
Nasehat Imam Syafii tentang keutamaan merantau. Beliau wafat di Mesir tahun 819 masehi


PESAN DARI MASA SILAM
Washington DC, December 2003, jam 16.00
Aku mendekat ke jendela kaca dan menyentuh permukaannya dengan ujung telunjuk kananku. Iseng
saja. Hawa dingin segera menjalari wajahku dan bulu-bulu roma di lengan kananku tegak. Dari balik
kerai tipis di lantai empat ini, salju tampak turun menggumpal-gumpal seperti kapas yang dituang dari
langit. Ketukan-ketukan halus terdengar setiap gumpal salju menyentuh kaca di depanku. Matahari
sore menggantung condong ke Barat berbentuk piring putih.
Tidak jauh, tampak The Capitol, gedung parlemen Amerika Serikat yang anggun, berwarna putih
gading, dan bergaya klasik dengan tonggak-tonggak besar. Kubah raksasanya yang berundak-undak
semakin memutih ditaburi salju, bagai mengenakan kopiah haji. Di depan gedung ini, hamparan
pohon-pohon american elm yang biasanya rimbun kini tinggal dahan-dahan tanpa daun yang dibalut
serbuk es. Sudah 3 jam salju turun. Tanah bagai dilingkupi permadani putih. Jalan raya yang lebarlebar
mulai dipadati mobil karyawan yang beringsut-ingsut pulang. Berbaris seperti semut. Lampu rem
yang hidup-mati-hidup-mati memantul merah di salju. Sirine polisi—atau ambulan-- sekali-sekali
menggertak diselingi bunyi klakson.
Udara hangat yang berbau agak hangus dan kering menderu-deru keluar dari alat pemanas di ujung
ruangan. Mesin ini menggeram-geram karena aku paksa bekerja maksimal. Walau begitu, badan
stelan melayuku tetap menggigil melawan suhu yang anjlok sejak beberapa jam lalu. Televisi di ujung
ruang kantorku menayangkan Weather Channel yang mencatat suhu di luar minus 2 derajat celcius.
Lebih dingin dari secawan es tebak di Pasar Ateh, Bukittinggi.
Aku selalu punya hubungan suka dan benci dengan musim dingin. Benci karena aku harus selalu
membebat diri dengan baju tebal yang berat. Yang lebih menyebalkan, kulit tropisku berubah kering
dan gatal di sana-sini. Tapi aku selalu terpesona melihat bangunan, pohon, taman dan kota diselimuti
salju putih berkilat-kilat. Rasanya tenteram, ajaib dan aneh. Mungkin karena sangat berbeda dengan
alam kampungku di danau Maninjau yang serba biru dan hijau. Setelah dipikir-pikir, aku siap gatal
daripada melewatkan pesona winter time seperti hari ini.
Kantorku berada di Independence Avenue, jalan yang selalu riuh dengan pejalan kaki—warga
maupun turis--dan lalu lintas mobil. Diapit dua tempat tujuan wisata terkenal di ibukota Amerika
Serikat, The Capitol and The Mall, tempat berpusatnya aneka museum Smithsonian yang tidak bakal
habis dijalani sebulan. Posisi kantorku hanya sepelemparan batu dari di The Capitol, beberapa belas
menit naik mobil ke kantor George Bush di Gedung Putih, kantor Colin Powell di Department of State,
markas FBI, dan Pentagon. Lokasi yang sangat menguntungkan untuk berburu berita penting. Lokasi
impian banyak wartawan.
Walau dingin mencucuk tulang, hari ini aku lebih bersemangat dari biasa. Ini hari terakhirku masuk
kantor sebelum terbang ke Eropa, untuk tugas dan sekaligus urusan pribadi. Tugas liputan ke London
untuk wawancara dengan Tony Blair, perdana menteri Inggris, dan misi pribadiku menghadiri
undangan The World Inter-Faith Forum. Bukan sebagai peliput, tapi sebagai salah satu panelis.
Sebagai wartawan asal Indonesia yang berkantor di AS, kenyang meliput isu muslim Amerika,
termasuk serangan 11 September 2001, aku dianggap pantas menjadi panelis bersama para ahli
resolusi konflik dan penggiat kerjasama antar budaya dan agama.
Kamera, digital recorder, dan tiket aku benamkan ke ransel National Geographic hijau pupus. Semua
lengkap. Aku jangkau gantungan baju di dinding cubicle-ku. Jaket hitam selutut seperti yang dipakai
Neo dalam The Matrix aku kenakan, dan sebuah syal cashmer coklat tua aku bebatkan di leher. Tutup
kepala rajutan wol aku pasang. Oke, semua beres. Tanganku segera bergerak melipat layar Apple
PowerBook-ku yang berwarna perak.
Ping….bunyi halus dari messenger menghentikan tanganku di tengah jalan. Layar berbahan titanium
ini kembali aku kuakkan. Sebuah pesan pendek muncul berkedip-kedip di ujung kanan monitor. Dari
seorang bernama “Batutah”. Tapi aku tidak kenal seorang “Batutah” pun.
“maaf, ini alif dari pm?”
Jariku cepat menekan tuts.
“betul, ini siapa ya?”
Diam sejenak. Sebuah pesan baru muncul lagi.
“alif anggota sahibul menara?”
Jantungku mulai berdegup lebih cepat. Jariku menari ligat di keyboard.
“benar. ini siapa sih?!” , balasku, mulai tidak sabar.
“menara keempat, ingat gak?”
Sekali lagi aku eja lambat-lambat...me-na-ra ke-em-pat....Tidak salah baca. Jantungku seperti ditabuh
cepat. Perutku terasa dingin. Sudah lama sekali.
Aku bergegas menghentak-hentakkan jari:
“masya Allah, ini ente, atang bandung? sutradara Batutah?”
“alhamdulillah, akhirnya ketemu juga saudara seperjuanganku.... ☺”
“atang, dimana ente sekarang?”
“kairo”
Belum sempat aku mengetik lagi, bunyi ping terdengar berkali-kali. Pesan demi pesan masuk bertubitubi.
“ana lihat nama ente jadi panelis di london minggu depan”
“ana juga datang mewakili al azhar untuk ngomongin peran muslim melayu di negara arab”
“kita bisa reuni euy. raja kan juga di london”
“kita suruh dia jadi guide ke trafalgar square seperti yang ada di buku reading di kelas tiga dulu”
“masih ingatkan? misi ente sebagai menara ketiga?”
“thab’an ya akhi ☺” tentu saja saudaraku
Aku tersenyum. Pikiranku langsung terbang jauh ke masa lalu. Masa yang sangat kuat terpatri dalam
hatiku.


KEPUTUSAN SETENGAH HATI
Hikayat hidupku ini bermula pada suatu hari di tahun 1988. Aku tegak di atas panggung sebuah aula
madrasah negeri setingkat SMP. Sambil mengguncang-guncang telapak tanganku, Pak Sikumbang,
Kepala Sekolah-ku memberi selamat karena nilai ujianku termasuk sepuluh yang tertinggi di
Kabupaten Agam. Tepuk tangan murid, orang tua dan guru riuh mengepung aula. Muka dan kupingku
bersemu merah tapi jantungku melonjak-lonjak girang. Aku tersenyum malu-malu ketika Pak
Sikumbang menyorongkan mik ke mukaku. Dia menunggu. Sambil menunduk aku paksakan diriku
bicara. Yang keluar dari kerongkonganku cuma bisikan lirih yang bergetar karena gugup:
“Emmm..terima kasih banyak Pak…Itu saja..”.
Nilaiku adalah tiket untuk mendaftar ke SMA terbaik di Bukittinggi. Tiga tahun aku ikuti perintah Amak1
belajar di madrasah tsanawiyah2, sekarang waktunya aku menjadi seperti orang umumnya, masuk
jalur non agama--SMA. Aku bahkan sudah berjanji dengan Randai, kawan dekatku di madrasah,
untuk sama-sama pergi mendaftar ke SMA. Alangkah bangganya kalau bisa bilang “Saya anak SMA
Bukittinggi.”
Beberapa hari setelah eforia kelulusan mulai kisut, Amak mengajakku duduk di langkan rumah.
Amakku seorang perempuan berbadan kurus dan mungil. Wajahnya sekurus badannya, dengan
sepasang mata yang bersih dan sepasang alis tebal. Mukanya selalu mengibarkan senyum ke siapa
saja. Kalau keluar rumah selalu menggunakan baju kurung yang dipadu dengan kain atau rok
panjang. Tidak pernah celana panjang. Kepalanya selalu ditutup songkok dan di lehernya tergantung
selendang. Dia menamatkan SPG3 bertepatan dengan pemberontakan G30S, sehingga negara yang
sedang kacau tidak mampu segera mengangkatnya jadi guru. Amak terpaksa menjadi guru suka rela
yang hanya dibayar dengan beras selama 7 tahun, sebelum diangkat menjadi pegawai negeri.
Tidak biasanya, malam ini Amak tidak mengibarkan senyum. Dia melepaskan kacamata dan lensa
double fokus disekanya dengan ujung lengan baju. Amak memandangku lurus-lurus. Tatapan beliau
serasa melewati kaca mata minusku dan langsung menembus sampai jiwaku. Di ruang tengah, Ayah
duduk di depan televisi hitam putih 14 inchi. Terdengar suara Sazli Rais yang berat membuka acara
Dunia Dalam Berita TVRI.
“Tentang sekolah waang4, Lif…”
“Iya, Mak, besok ambo mendaftar tes ke SMA. Insya Allah, dengan doa Amak dan Ayah, bisa lulus…”
“Bukan itu maksud Amak…..” dia berhenti sebentar.
Aku curiga, ini pasti soal biaya pendaftaran masuk SMA. Amak dan Ayah mungkin sedang tidak
punya uang. Baru beberapa bulan lalu mereka mulai menyicil rumah. Sampai sekarang kami masih
tinggal di rumah kontrakan beratap seng dengan dinding dan lantai kayu.
Amak meneruskan dengan hati-hati:
“Amak mau bercerita dulu, coba dengarkan….”
Lalu diam sejenak dengan muka rusuh. Aku menjadi ikut rusuh melihatnya.
“Beberapa orang tua menyekolahkan anak ke sekolah agama karena tidak punya cukup uang.
Ongkos masuk madrasah lebih murah…...”
Kecurigaanku benar, ini masalah biaya. Aku meremas jariku dan menunduk melihat ujung kaki.
“….Tapi lebih banyak lagi yang mengirim anak ke sekolah agama karena nilai anak-anak mereka tidak
cukup untuk masuk SMP atau SMA….”
“Akibatnya, madrasah menjadi tempat murid warga kelas dua, sisa-sisa…. Coba waang bayangkan
bagaimana kualitas para buya, ustad dan dai tamatan madrasah kita nanti. Bagaimana mereka akan
bisa memimpin umat yang semakin pandai dan kritis? Bagaimana nasib umat Islam nanti?”
Wajah beliau meradang. Keningnya berkerut-kerut masygul. Hatiku mulai tidak enak karena tidak
mengerti arah pembicaraan ini.
Ibuku memang dibesarkan dengan latar agama yang kuat. Ayahnya—kakekku-- adalah orang alim
yang berguru langsung kepada Inyiak Canduang atau Syekh Sulaiman Ar-Rasuly. Di awal abad ke
dua puluh, Inyiak Canduang ini berguru ke Mekkah di bawah asuhan ulama terkenal seperti Syeikh
Ahmad Khatib Al-Minangkabawy dan Syeikh Sayid Babas El-Yamani.
Mata Amak menerawang sebentar.
“Buyuang5, sejak waang masih di kandungan, Amak selalu punya cita-cita,” mata Amak kembali
menatapku.
“Amak ingin anak laki-lakiku menjadi seorang pemimpin agama yang hebat dengan pengetahuan
yang luas. Seperti Buya Hamka yang sekampung dengan kita itu. Melakukan amar makruh nahi
mungkar, mengajak orang kepada kebaikan dan meninggalkan kemungkaran”, kata Amak pelanpelan.
Beliau berhenti sebentar untuk menarik napas. Aku Cuma mendengarkan. Kepalaku kini terasa
melayang.
Setelah menenangkan diri sejenak dan menghela napas panjang, Amak meneruskan dengan suara
bergetar:
“Jadi Amak minta dengat sangat waang tidak masuk SMA. Bukan karena uang tapi supaya ada bibit
unggul yang masuk madrasah aliyah6.”
Aku mengejap-ngejap terkejut. Leherku rasanya layu. Kursi rotan tempat dudukku berderit ketika aku
menekurkan kepala. SMA--dunia impian yang sudah aku bangun lama di kepalaku pelan-pelan
gemeretak, dan runtuh jadi abu dalam sekejapan mata.
Bagiku, tiga tahun di madrasah tsanawiyah rasanya sudah cukup untuk mempersiapkan dasar ilmu
agamaku. Kini saatnya aku mendalami ilmu non agama. Tidak madrasah lagi. Aku ingin kuliah di UI,
ITB dan terus ke Jerman seperti Pak Habibie. Aku ingin menjadi orang yang mengerti teori-teori ilmu
modern, bukan hanya ilmu fiqh dan ilmu hadist yang klasik. Aku ingin suaraku didengar di depan
civitas akademika, atau dewan gubernur atau rapat manager, bukan hanya berceramah di mimbar
surau di kampungku.
Aku ingin menjadi aku. Calon ahli ekonomi, ahli managemen, dan insinyur sekaligus. Paling tidak itu
tiga cita-cita terakhir yang aku senangi, setelah sebelumnya aku pernah susah payah
mempertimbangkan antara menjadi dokter, pilot dan Habibie. Kala itu aku menganggap Habibie
adalah seperti profesi tersendiri. Bagaimana mungkin aku bisa menggapai berbagai cita-cita besarku
ini kalau aku masuk madrasah lagi?
“Tapi Amak, ambo7 tidak berbakat dengan ilmu agama. Ambo ingin menjadi insinyur dan ahli
ekonomi,” tangkisku sengit. Mukaku merah dan mata terasa panas.
“Menjadi pemimpin agama lebih mulia daripada jadi insinyur, nak”
“Tapi aku tidak ingin...”
“Waang anak pandai dan berbakat,. Waang akan jadi pemimpin umat yang besar. Apalagi waang
punya darah ulama dari dua kakekmu.”
“Tapi aku tidak mau.”
“Amak ingin memberikan anak yang terbaik untuk kepentingan agama. Ini tugas mulia untuk akhirat”
“Tapi bukan salah ambo, orang tua lain mengirim anak yang kurang cadiak8 masuk madrasah….”
“Pokoknya Amak tidak rela waang masuk SMA”
“Tapi….
“Tapi…”
“Tapi…”
Setelah lama berbantah-bantahan, aku tahu diskusi ini tidak berujung. Pikiran kami jelas sangat
berseberangan. Dan aku di pihak yang kalah.
Tapi aku masih punya harapan. Aku yakin Ayah dalam posisi 51 persen di pihakku. Ayah
berperawakannya kecil tapi liat dengan bahu kokoh. Rambut hitamnya senantiasa mengkilat diminyaki
dan disisir ke samping lalu ujungnya dibelokkan ke belakang. Bentuk rahangnya tegas dan dahi
melebar karena rambut bagian depannya terus menipis. Matanya tenang dan penyayang.
Walau berprofesi sebagai guru madrasah—beliau pengajar matematika—seringkali pendapatnya lain
dengan Amak. Misalnya, Ayah percaya untuk berjuang bagi agama, orang tidak harus masuk
madrasah. Dia lebih sering menyebut-nyebut keteladanan Bung Hatta, Bung Sjahrir, Pak Natsir atau
Agus Salim, dibanding Hamka. Padahal latar belakang religius ayahku tidak kalah kuat. Ayah dari
ayahku adalah ulama yang terkenal di Minangkabau.
Tapi entah kenapa beliau memilih menonton televisi hari ini dan tidak ikut duduk bersama Amak
membicarakan sekolahku. Aku buru-buru bangkit dari duduk dan bertanya pada Ayah yang sedang
duduk menonton. Kacamatanya memantulkan berita olahraga dari layar televisi. Sambil
menengadahkan kepala ke arahku dan mengangkat lensanya sedikit, Ayah menjawab singkat:
“Sudahlah, ikuti saja kata Amak, itu yang terbaik.”
Aku kini sendiri tanpa pembela. Dengan muka menekur, aku minta izin masuk kamar. Sebelum
mereka menyahut, aku telah membanting pintu dan menguncinya pintu. Badan aku lempar telentang
di atas kasur tipis. Mataku menatap langit-langit. Yang kulihat hanya gelap, segulita pikiranku. Di luar
terdengar Sazli Rais telah menutup Dunia Dalam Berita.
Kekesalan karena cita-citaku ditentang Amak ini berbenturan dengan rasa tidak tega melawan
kehendak beliau. Kasih sayang Amak tak terperikan kepada aku dan adik-adik. Walau sibuk
mengoreksi tugas kelasnya, beliau selalu menyediakan waktu khusus buat setiap kami, membacakan
buku, mendengar celoteh kami dan menemani belajar.
Belum pernah sebelumnya aku berbantah-bantahan melawan keinginan Amak sehebat ini. Selama ini
aku adalah anak penurut. Surga di bawah telapak kaki ibu, begitu kata guru madrasah mengingatkan
keutamaan Ibu. Tapi ide masuk madrasah meremas hatiku.
Di tengah gelap, aku terus bertanya-tanya kenapa seorang orangtua harus mengatur-atur anak. Di
mana kemerdekaan kami para golongan anak yang baru belajar punya cita-cita? Kenapa masa depan
harus diatur orang tua? Aku bertekad akan melawan keinginan ibu ini dengan gaya diam dan mogok
di dalam kamar gelap. Keluar hanya untuk buang air dan mengambil sepiring nasi untuk dimakan di
kamar lagi.
Sudah tiga hari aku mogok bicara dan memeram diri di kamar. Semua ketukan pintu aku balas
dengan kalimat pendek, “sedang tidur”. Dalam hati aku berharap Amak berubah pikiran melihat
kondisi anak bujangnya yang terus mengurung diri ini. Amak memang berusaha menjinakkan
perasaanku dengan mengajak bicara dari balik pintu. Suaranya cemas dan sedih. Tapi tiga hari
berlalu, tidak ada tanda-tanda keinginan keras Amak goyah. Tidak ada tawaran yang berbeda tentang
sekolah, yang ada hanya himbuan untuk tidak mengunci diri.
Sore itu pintu kayu kamar diketuk dua kali. “Nak, ada surat dari Pak Etek Gindo9,” kata Amak sambil
mengangsurkan sebuah amplop di bawah daun pintu. Pak etek ini sedang belajar di Mesir dan kami
sering saling berkirim surat. Dua bulan lalu aku menulis surat kalau aku akan menghadapi ujian akhir
dan ingin melanjutkan ke SMA.
Aku baca surat Pak Etek Gindo dengan penerangan sinar matahari yang menyelinap dari sela-sela
dinding kayu. Dia mendoakan aku lulus dengan baik dan memberi sebuah usul.
“…Pak etek punya banyak teman di Mesir yang lulusan Pondok Madani di Jawa Timur. Mereka pintarpintar,
dan bahasa Inggris dan bahasa Arabnya fasih. Di Madani itu mereka tinggal di asrama dan
diajar disiplin untuk bisa bahasa asing setiap hari. Kalau tertarik, mungkin Ananda bisa sekolah ke
sana bisa jadi pertimbangan…”
Aku termenung sejenak membaca surat ini. Aku ulang-ulang membaca usul ini dengan suara berbisik.
Usul ini sama saja dengan masuk sekolah agama juga. Bedanya, merantau jauh ke Jawa dan
mempelajari bahasa dunia cukup menarik hatiku. Aku berpikir-pikir, kalau akhirnya aku tetap harus
masuk sekolah agama, aku tidak mau madrasah di Sumatera Barat. Sekalian saja masuk pondok di
Jawa yang jauh dari keluarga. Ya betul, Pondok Madani bisa jadi jalan keluar ketidakjelasan ini.
Tidak jelas benar dalam pikiranku apa dan seperti apa Pondok Madani itu. Walau begitu, akhirnya aku
putuskan sudah nasibku dengan setengah hati. Tepat di hari keempat, aku putar dan tarik gagang
pintu. Engselnya yang kurang minyak berderik. Aku melangkah keluar dari kamar gelapku. Mataku
mengerjap-ngerjap melawan silau.
“Amak, kalau memang harus sekolah agama, ambo ingin masuk pondok saja di Jawa. Tidak mau di
Bukittinggi atau Padang”, kataku di mulut pintu. Suara cempreng hasil perubahan pubertasku
memecah keheningan Minggu pagi itu.
Amak yang sedang menyiram bunga di ruang tamu ternganga kaget. Ceret airnya miring dan
menyerakkan air di lantai kayu. Ayah yang biasa hanya melirik sekilas dari balik koran Haluan, kali ini
menurunkan koran dan melipatnya cepat-cepat. Dia mengangkat telunjuk ke atas tanpa suara,
menyuruhku menunggu. Mereka berdua duduk berbisik-bisik sambil ekor mata mereka melihat aku
yang masih mematung di depan pintu kamar. Hanya sas-ses-sis-sus yang bisa kudengar dari
kejauhan.
Diskusi mereka berakhir. “Sudah waang pikir masak-masak”, kata Ayahku dengan mata gurunya yang
menyelidik. Ayahku jarang bicara, tapi sekali berbicara adalah sebuah sabda dan perintah.
“Sudah yah”, suara aku coba tegas-tegaskan.
“Pikirkan lah lagi baik-baik,” kata Amak dengan tidak berkedip.
“Sudah Mak,” kataku mengulangi jawaban yang sama.
Ayah dan Amak mengangguk dan mereka kembali berdiskusi dengan suara rendah. Setelah
beberapa saat, Ayah akhirnya angkat bicara:
“Kalau itu memang maumu, kami lepas waang dengan berat hati.”
Bukannya gembira, tapi ada rasa nyeri yang aneh bersekutu di dadaku mendengar persetujuan
mereka. Ini jelas bukan pilihan utamaku. Bahkan sesungguhnya aku sendiri belum yakin betul dengan
keputusan ini. Ini keputusan setengah hati.


RAPAT TIKUS
Tidak ada waktu lagi. Menurut informasi dari surat Pak Etek Gindo, waktu pendaftaran Pondok
Madani ditutup empat hari lagi, padahal butuh tiga hari jalan darat untuk sampai di Jawa Timur. Tiket
pesawat tidak terjangkau oleh kantung keluargaku. “Kita naik bus saja ke Jawa besok pagi,” kata
Ayah yang akan mengantarku.
Bekalku, sebuah tas kain abu-abu kusam berisi baju, dan sebuah kardus mie berisi buku, sepatu,
kacang tojin dan sebungkus rendang kapau yang sudah kering kehitam-hitaman. Ini rendang special
karena dimasak Amak yang lahir di Kapau, sebuah desa kecil di pinggir Bukittinggi. Kapau terkenal
dengan masakannya lezat dan khas.
Sebelum meninggalkan rumah, aku cium tangan Amak sambil minta doa dan minta ampun atas
kesalahanku. Tangan kurus Amak mengusap kepalaku. Dari balik kacamata double lens-nya aku lihat
cairan bening menggelayut di ujung matanya.
“Baik-baik dirantau urang nak. Amak percaya ini perjalanan untuk membela agama. Belajar ilmu
agama sama dengan berjihad di jalan Allah”, kata beliau mencoba tegar. Katanya, cinta ibu sepanjang
hayat dan mungkin berpisah dengan anak bujangnya untuk bertahun-tahun bukan perkara gampang
buatnya. Wajahnya tampak ditegar-tegarkan. Sementara bagi aku sendiri, bukan perpisahan yang aku
pikirkan. Aku gelisah sendiri dengan keputusanku merantau muda ke Jawa.
Setelah merangkul Laili dan Safya, dua adikku yang masih di SD, aku berjalan tidak menoleh lagi.
Kutinggalkan rumah kayu kontrakan kami di tengah hamparan sawah yang baru ditanami itu. Selamat
tinggal Bayur, sebuah kampung kecil yang permai. Halaman depan kami Danau Maninjau, kebun
belakang kami bukit hijau berbaris.
Bersama Ayah, aku menumpang bus kecil Harmonis yang terkentut-kentut mendaki Kelok Ampek
Puluah Ampek. Jalan mendaki dengan 44 kelok patah. Kawasan Danau Maninjau menyerupai kuali
raksasa, dan kami sekarang sedang memanjat pinggir kuali untuk keluar. Makin lama kami makin
tinggi di atas Danau Maninjau. Dalam satu jam permukaan danau yang biru tenang itu menghilang
dari pandangan mata. Berganti dengan horizon yang didominasi dua puncak gunung yang gagah,
Merapi yang kepundan aktifnya mengeluarkan asap dan Singgalang yang puncaknya dipeluk awan.
Tujuan kami ke kaki Merapi, kota Bukittinggi. Di kota sejuk ini kami berhenti di loket bus antar pulau,
P.O. ANS. Dari Ayah aku tahu kalau PO itu kependekatan dari perusahaan oto bus.
Kami naik bus yang bertuliskan ANS Super Executive Full AC dan Video. Kami duduk di kursi
berbahan beludru merah yang empuk di baris ketiga dari depan. Aku meminta untuk bisa duduk di
dekat jendela yang berkaca besar. Bus ini adalah kendaraan terbesar yang pernah aku naiki seumur
hidup. Udara dipenuhi aroma pengharum ruangan yang disemprotkan dengan royal oleh stokar atau
kenek ke langit-langit dan ke kolong kursi. Berhadapan dengan pintu paling belakang ada WC kecil. Di
belakang barisan kursi terakhir, langsung berbatasan dengan kaca belakang, ada sebidang tempat
berukuran satu badan manusia dewasa, lengkap dengan sebuah bantal bluwak dan selimut batang
padi bergaris hitam putih. Kenek bilang ini kamar tidur pilot. Kata Ayah, setiap delapan jam, dua supir
kami bergiliran mengambil waktu untuk tidur.
Tampak duduk dengan penuh otoritas di belakang stir, seorang laki-laki yang bertubuh legam,
berperut tambun dan berkumis subur melintang. Kacamata hitam besarnya yang berpigura keemasan
terpasang gagah, menutupi sebagian wajahnya yang berlubang-lubang seperti kena cacar. Dia
mengenakan kemeja seragam hitam dan merah dipadu dengan celana jins. Di atas saku bajunya ada
bordiran bertuliskan namanya, “Muncak”. Aku memanggilnya Pak Etek Muncak, karena kebetulan dia
adalah adik sepupu jauh Ayah.


Begitu mesin bus berderum, tangan kirinya yang dililit akar bahar menjangkau laci di atas kepalanya.
Dia merogoh tumpukan kaset-kaset video beta berwarna merah. Hap, asal pegang, dia berhasil
menarik sebuah kaset dan membenamkannya ke pemutar video. Sejenak terlihat pita-pita warnawarni
berpijar-pijar di layar televisi, sebelum kemudian muncul judul film: Rambo: The First Blood Part
II.
Aku bersorak dalam hati. Televisi berwarna adalah kemewahan di kampungku, apalagi pemutar video.
Mungkin tontonan ini bisa melupakan sejenak menghibur hatiku yang gelisah merantau jauh. Bus
melaju makin kencang. Sementara Rambo sibuk berkejar-kejaran dengan pasukan Vietnam.
“Selamat Jalan, Anda telah Meninggalkan Sumatera Barat” sebuah gapura berkelebat cepat. Bus
kami menderum memasuki Jambi.
Tapi semakin jauh aku bus berlari, semakin gelisah hatiku. Jantungku berdetak aneh, menyadari aku
sekarang benar-benar meninggalkan kampung halamanku. Bimbang dan ragu hilang timbul. Apakah
perjalanan ini adalah keputusan yang paling tepat? Bagaimana nanti kalau aku tidak betah di tempat
asing? Bagaimana nanti kalau pondok itu seperti penjara? Bagaimana kalau gambaran Pondok
Madani dari Pak Etek Gindo itu salah? Pertanyaan demi pertanyaan bergumpal-gumpal di dalam
kepalaku.
Aku juga tidak kuat menahan malu kalau harus pulang lagi nanti. Sudah aku umumkan keputusan ini
ke segenap kawan dan handai tolan. Bujukan mereka agar aku tetap tinggal di kampung telah
kukalahkan dengan argumen berbahasa Arab yang terdengar gagah, “uthlubul ilma walau bisshin”,
artinya “tuntutlah ilmu, bahkan walau ke negeri sejauh Cina”.
“Ke Cina saja disuruh, apalagi hanya sekedar ke Jawa Timur”, bantahku percaya diri kepada para
pembujuk ini. Kemana mukaku akan disurukkan, kalau aku pulang lagi?
Hari kedua perjalanan, stok film kami habis. Rambo sudah dua kali “disuruh” Pak Etek Muncak untuk
bertempur di hutan Vietnam. Sementara, pelan tapi pasti suasana bus berubah. Akumulasi bau
keringat, sampah, bau pesing WC, bau kentut, bau sendawa, dan tentu saja bau penumpang yang
mabuk darat menggantung pekat di udara. Menggugah syaraf penciumanku.
Tapi Pak Etek Muncak tampaknya punya dedikasi tinggi dalam menghibur penumpangnya. Beberapa
kali dia menurunkan kaca mata hitamnya sedikit dan mengintip para penumpang dari kaca spion.
Begitu dia melihat banyak penumpang yang lesu dan teler, dia kali ini memutar sebuah kaset. Bunyi
talempong segera membahana membuka kaset ini, disusul dengan sebuah suara yang berat
memperkenalkan judul kaset….”inilah persembahan grup Balerong pimpinan Yus Datuak Parpatiah:
Rapek Mancik. Rapat Tikus….” Para penumpang bertepuk tangan, sebagian bersuit-suit.
Kaset ini berisi komedi lokal yang sangat terkenal di masyarakat minang. Yus Datuak Parpatiah, si
pendongeng, melalui logat Minang yang sangat kental, berkisah tentang bagaimana lucunya rapat
antar warga tikus yang ingin menyelamatkan diri dari serangan seekor kucing. Di sana-sini narator
dengan cerdik menghubungkan kehidupan tikus dan kehidupan masyarakat minang. Banyak diskusi,
banyak pendapat, banyak debat, hasilnya nol besar. Karena tidak seekor tikus pun yang mau
melakukan rencana yang telah bertahun-tahun dibicarakan untuk melawan kucing. Yaitu
mengalungkan giring-giring di leher kucing, sehingga kemana pun kucing pergi, masyarakat tikus pasti
mendengar.
Kontan, bus yang melintas rimba Sumatera yang hening itu menjadi riuh rendah. Bangku-bangku
sampai berdecit-decit karena penumpang terbahak-bahak sampai badan mereka bergoyang-goyang.
Pak Sutan yang terserang mabuk darat dan lesu pun bisa bangkit dari keterpurukannya setelah
berhasil muntah sambil ketawa. Mukanya merah padam, tapi bahagia. Umi Piah, seorang nenek tua
berselendang kuning yang duduk dibelakangku tidak kalah heboh. Beberapa kali dia tergelak kencang
sambil kentut. Mungkin otot perutnya agak los karena menahan tekanan ketawa.
***

Pak Sutan adalah sosok kurus beraliran putih. Rambut, alis, jenggot, bahkan bajunya semua putih.
Dia adalah seorang saudagar kain yang selalu bolak-balik Pasar Tanah Abang dan Pasar Ateh
Bukittingi. Dia membawa hasil tenunan Pandai Sikek ke Jakarta dan pulang kembali dengan
memborong baju murah untuk dijual di Bukittinggi. Dia tipe orang yang senang maota, alias ngobrol
ngolar-ngidul. Sambil tidur-tidur ayam dengan mata setengah terpicing, aku mendengar Ayah
berbicara dengannya.
“Bapak mau menuju kemana”, tanya Pak Sutan mencondongkan badannya ke kursi Ayah.
“Saya mau mengantar anak. Mau masuk sekolah di Pondok Madani di Jawa Timur.”
“Maksudnya, pondok tempat orang belajar agama itu, kan?” Dia bertanya sambil matanya melirik
berganti-ganti ke arah aku dan Ayah dengan sorot simpati.
“Iya betul pak”
“Wah, bagus lah itu”, jawab bapak ini seperti menguatkan kami. Ayah tersenyum tanpa suara sambil
mengangguk-angguk.
Setelah diam sejenak dan tampaknya berpikir-pikir, Pak Sutan mendekatkan kepalanya ke Ayah. Dia
merendahkan suaranya seakan-akan tidak mau didengar orang lain. Mukanya serius. “Semoga
berhasil Pak. Saya dengar, pondok di Jawa itu memang bagus-bagus mutu pendidikannya. Anak
teman saya, cuma setahun di pondok langsung berubah menjadi anak baik. Padahal dulunya, sangat
mantiko. Nakal. Tidak diterima di sekolah mana pun karena kerjanya ngobat, minum dan suka
berkelahi. Anak begitu saja bisa berubah baik.”
Dengan setengah terpicing aku bisa melihat muka Ayah meringis. Kepalanya menggeleng-geleng.
“Pak….anak ambo kelakuannya baik dan NEM-nya termasuk paling tinggi di Agam. Kami kirim ke
pondok untuk mendalami agama”. Suaranya agak ditekan. Mungkin naluri kebapakannya tersengat
untuk membela anaknya dan sekaligus membela dirinya sendiri yang tidak mau dicap orang tua yang
gagal. Dalam hati aku bertepuk tangan untuk pukulan telak Ayah.
Pak Sutan terdiam dan sejenak raut muka berubah-ubah. “Wah lebih bagus lagi itu, “ jawabnya malumalu
dengan suara rendah. Dia berusaha meminta maaf tanpa harus mengucap maaf.
Amak mungkin benar. Banyak orang melihat bahwa pondok itu adalah buat anak yang cacat produksi.
Baik karena tidak mampu menembus sekolah umum yang baik, atau karena salah gaul dan salah
urus. Pondok dijadikan bengkel untuk memperbaiki yang rusak. Bukan dijadikan tempat untuk
menyemai bibit unggul.
Aku sendiri jelas bukan barang rusak. Aku bukan tidak bisa masuk sekolah lain. Aku ke pondok hanya
karena memberontak dari suruhan masuk madrasah. Tapi bagaimana kalau Pak Sutan ini benar?
Kalau ternyata Pondok Madani memang tempat kumpulan para anak mantiko. Anak bermasalah?
Wajahku rusuh dan hatiku mengkerut. Aku lebih banyak diam selama perjalanan.
Walau mengantuk, aku tidak bisa tidur nyenyak selama perjalanan. Sebentar-sebentar terbangun oleh
gunjangan bus yang menghantam jalan berlubang. Di lain waktu, aku terbangun dengan kekhawatiran
tentang sekolahku. Di antara buaian lubang di jalan, aku dua kali dikunjungi mimpi yang sama.
Mengikuti ujian akhir matematika yang sulit tanpa sempat belajar sama sekali.
Mungkin karena pikirannya juga tidak menentu, Ayah juga tidak banyak bicara tentang tujuan
perjalanan kami. Dia lebih banyak membicarakan kehebatan sepupunya yang tamatan STM,
merantau ke Jakarta dan sukses mempunyai kios reklame di Aldiron, Blok M dengan nama Takana Jo
Kampuang. Kangen Kampung. Atau tentang teman masa kecilnya yang kemudian punya armada
empat angkot di Bekasi, dengan tulisan besar di kaca belakang bertuliskan Cinto Badarai. Cinta
Berderai.
Perjalanan di malam kedua semakin berat. Bus kami sampai di bagian jalan lintas Sumatera yang
mengular, memilin perut dan membuat mata nanar. Aku merasa serba salah, mau tutup mata mabuk,
buka mata mabuk. Sudah 3 butir pil antimo aku tenggak, kulit limau manis sudah aku pipil dan jajalkan
di depan hidung, bahkan minyak kayu putih sudah aku sekakan di bawah hidung, tapi apa daya,
perutku terus bergolak ganas. Setiap detik kondisiku semakin kritis. Air liur terasa mencair dan pahit
sementara otot rahang mengejang. Pertahananku semakin terkikis. Aku berdiri di depan dam raksasa
yang siap runtuh. Plastik asoi, begitu orang minang menyebut tas kresek, aku buka lebar-lebar untuk
menampung isi perutku yang bertekad keluar. Hanya tinggal menunggu waktu saja…
BLAAR…. Bus tiba-tiba bergetar dan oleng. Semua penumpang berteriak kaget. Amukan di perutku
tiba-tiba surut, pudur seperti lilin ditiup angin. Pak etek Muncak dan kenek bersamaan berseru, ”Alah
kanai lo baliak. Kita kena lagi”. Rupanya salah satu ban ganda bagian belakang pecah. Di tengah
rimba gulita, hanya ditemani senter dan nyanyian jangkrik hutan, kenek dan supir bahu membahu
mengganti ban. Aku was-was. Bulan lalu ada berita besar di Haluan tentang sebuah bus yang
dirampok oleh bajing loncat, yaitu komplotan begundal yang menghadang bus dan truk di tempat sepi.
Mereka tidak segan membunuh demi mendapatkan rampokan.
“Semoga tidak lama ganti bannya,” gumam Ayah yang mulai kuatir dengan keterlambatan jadwal
kami. Menurut Pak Etek Gindo, Pondok Madani tidak punya tawar menawar dengan batas waktu
pendaftaran murid baru. Kalau terlambat, mohon maaf, coba lagi tahun depan.
Untunglah Pak Etek Muncak dengan raut muka menyakinkan menjamin bahwa kami akan sampai di
penyeberangan ferry Bakauheuni sebelum tengah malam. Badanku pegal dan telapak kakiku bengkak
karena terlalu lama duduk. Aku sudah tidak sabar menunggu kapan bisa turun dari bus dan naik ferry.
Ini akan menjadi pengalaman pertamaku menyerangi lautan.
***
“Pegangan yang kuat”, teriak laki-laki bercambang lebat dengan seragam kelasi kepada penumpang
ferry raksasa yang aku tumpangi. Dari laut yang gulita, deburan demi deburan terus datang
menampar badan kapal, bagai tidak setuju dengan perjalananku. Lampu ruang penumpang
mengeridip setiap goyangan keras datang. Angin bersiut-siutan melontarkan tempias air laut yang
terasa asin di mulut. Muka dan bajuku basah.
Aku segera mencekal erat pagar besi dengan tangan kanan. Tangan kiriku memegang kacamataku
yang hampir merosot jatuh. Tapi aku tetap terhuyung ke kanan, ketika ombak besar menghoyak
lambung ferry. Mukaku terasa pias karena cemas dan mual. Berkali-kali aku berkomat-kamit
memasang doa, agar laut kembali tenang. Di sebelahku Ayah menggunakan kedua tangannya
memeluk tiang besi di sebelahnya.
“Ndak ba’a do 10, sebentar lagi kita sampai,” seru ayah mencoba menenangkan sambil menggamit
bahuku. Padahal setengah jam yang lalu pelayaran kami mulus, gemericik air yang dibelah haluan
terasa menentramkan hati.
Untunglah beberapa menit kemudian angin berubah lindap dan gelombang susut. Kapal kembali
tenang membelah Selat Sunda. Laut boleh tenang, tapi perutku masih terus bergulung-gulung seperti
ombak badai. Mulutku pahit dan meregang. Begitu terasa ada yang mendesak kerongkongan, aku
hadapkan muka ke laut lepas dan aku keluarkan isi perut ke laut.
Aku baru benar-benar merasa lega ketika melihat ujung mercusuar yang terang dan kerlap-kerlip
sampan nelayan yang mencari ikan di malam hari. Artinya Pulau Jawa sudah dekat. Tidak lama
10 Gak apa-apa
kemudian, kapten kapal mengumumkan kami akan segera sampai dan menyarankan penumpang
untuk turun ke ruang parkir di perut kapal dan segera naik bus.
Bagai paus raksasa kekenyangan, begitu sampai dermaga Merak, ferry ini memuntahkan isi perutnya
berupa bus besar antar kota, truk, mobil probadi, motor dan sebuah traktor kecil dan galedor11. Tidak
lama kemudian bus tumpanganku melarikan kami ke arah Jakarta. Jari-jariku masih bergetar dan
bajuku masih berbau asin air laut.
***
Supremasi orang minang sangat tampak dalam perjalanan ini, khususnya di bagian makanan. Hampir
semua tempat makan di pinggir jalan lintas Sumatera dan Padang memakai tanduk dan bertuliskan
“RM Padang”. Di dalam ruangannya yang lapang tersusun meja-meja dan kursi-kursi yang jumlahnya
ratusan. Speaker yang berbentuk kotak-kotak kayu ada di setiap sudut ruangan dan tidak henti-henti
memperdengarkan lagu pop minang.
Sementara itu di belakang ruang makan, berderet puluhan kamar mandi dan wc serta mushala untuk
melayani penumpang antar kota yang mungkin sudah tiga hari tiga malam menjadi musafir. Menurut
pengamatanku, perbedaan antara RM yang ada di lintas Sumatera dan Lintas Jawa, adalah derajat
pedasnya rendang. Semakin menjauh dari Padang semakin tidak pedas.
Di setiap RM, ada sebuah sudut yang tampak disiapkan untuk kalangan VIP. Tidak jarang, sudut ini
ditutup pemisah ruangan, dan tempat duduknya dibuat sangat santai di atau bale-bale. Makanan yang
terhidang sangat lengkap. Pelayan selalu siaga di sebelah meja ini. Tempat paling terpuji di RM ini
ternyata disiapkan hanya bagi “pelanggan teladan”, yang tidak lain tidak bukan para supir dan kenek
bus antar kota ini. Rupanya para saudagar Minang ini sadar bahwa supir bus adalah klien penting
yang selalu membawa puluhan pelanggan. Hebatnya lagi, servis kelas satu ini disediakan gratis.
Beruntunglah kami, sebagai kroni sang supir, bisa menikmati fasilitas untuk Pak Etek Muncak ini.
Bus kami tidak hanya menderu melintas batasan geografis daerah tapi sekaligus aku juga menembus
batas budaya, agama, dan bahasa. Duduk di sebelah jendela kaca bus yang besar, rimba muncul
dalam wajah beragam, mulai dari hutan ilalang gara-gara pohon telah dibabat, hutan kelapa, hutan
jati, hutan karet, hutan gelap, hutan terang, hutan botak, hutan rimbun, hutan berkabut, hutan berasap
dan hutan terbakar.
Aku menyaksikan mulai dari rumah gadang, rumah panggung palembang, rumah atap rumbia, rumah
bata, rumah jawa, sampai rumah kardus. Atapnya pun berbagai rupa dari ijuk, seng, genteng, plastik
sampai tidak beratap. Berbagai kulinari unik yang dijajakan para tukang asong juga sebuah
kemeriahan tersendiri, ada bika padang, sate padang, sate udang, pisang goreng, kacang rebus, rujak
buah, sampai tempe mendoan. Para pedagang ini bahkan memakai bahasa lain untuk hanya
menyebut “berapa”: bara, berapo, berape, sabaraha, sampai piro.
Di hari ketiga, aku menggeliat terbangun ketika silau matahari pagi mulai menembus jendela bus yang
berembun. Langit sudah terang dan biru, sementara kabut tipis masih mengapung di tanah dan
menutupi sawah dan pohon-pohon. Sebuah tanda lalu lintas muncul dari balik kabut tipis, bertuliskan
“Selamat Datang di Jawa Timur.” Propinsi tempat Pondok Madani berada.
Pagi mulai beranjak dhuha12. Bus ANS menurunkan aku dan ayah di terminal bus Ponorogo. Sambil
menenteng tas, kami memutar mata ke sekeliling stasiun, mencari informasi bagaimana mencapai
Pondok Madani. Masih di dalam terminal, tidak jauh di depan kami ada sebuah tenda parasut biru
yang kembang kempis ditiup angin. Sebuah papan menggantung di depannya: Jurusan Pondok
sunat di waktu dhuha ini
Madani. Di depan tenda ada sebuah meja panjang yang dijaga oleh anak-anak muda berbaju kaos
putih panjang lengan. Rambut mereka cepak gaya Akabri. Seorang diantaranya bergegas mendekati
kami. Sepatu bot ala tentaranya berdekak-dekak di aspal. Di dada sebelah kiri kaosnya tertulis
namanya, Ismail Hamzah-Maluku. Di lehernya menggantung sebuah kartu pengenal merah
bertuliskan “Kelas 6, Panitia Penerimaan Siswa Baru”.
Dengan senyum lebar yang memperlihatkan sebaris gigi putihnya, dia menyapa Ayah:
“Assalamualaikum Pak. Saya Ismail siswa kelas enam PM atau Pondok Madani. Bapak mau
mengantar anak sekolah ke Madani?” Ayah mengangguk. “Baik Pak, tolong ikuti saya…..” Dengan
sigap dia mengangkat tas dan kardus kami dan mengikatkannya di atap bus biru dengan tulisan PM
Transport di sampingnya. Sejenak kemudian kami telah menembus perkampungan dan persawahan
yang menghijau menuju PM disupiri oleh Ismail.
Lembar petualangan hidupku baru saja dibuka.

KAMPUNG DI ATAS KABUT
Bus L300 berkursi keras ini tidak penuh. Ayah duduk di depan di sebelah Ismail, aku di bangku
barisan kedua. Di sebelahku duduk seorang anak laki-laki berkulit legam, kacamatanya tebal dan
rambutnya kaku dipotong pendek. Dia memakai kaos putih berkerah dan celana kedodoran berbahan
kain warna coklat tanggung dan sepasang sepatu hitam dari kulit yang sudah retak-retak. Sol bagian
belakangnya tidak rata lagi. Sebentar-sebentar matanya melihat keluar jendela. Dia menyebut
namanya Dulmajid, dari Madura. “Tentu saja saya datang sendiri”, jawabnya sambil ketawa berderai
memamerkan giginya yang gingsul, ketika aku tanya siapa yang mengantarnya.
Sementara di bangku belakang, duduk seorang anak berperawakan kurus, berkulit bersih, bermata
dalam dan bermuka petak. Sebuah kopiah beludru hitam melekat miring di kepalanya. Dia memakai
kemeja putih bersih dengan kedua ujung lengan panjangnya dikancingkan. Sebuah ikat pinggang
hitam melilitkan celana hitam katunnya. Sepatu kets dari bahan jeans hitam bertabrakan dengan kaos
kaki putihnya. “Raja Lubis,” katanya menyebutkan nama. Di tangannya tergenggam sebuah buku,
yang sekali-sekali dia buka. Mulutnya terus komat-kamit seperti merapal sesuatu. Raja melihat ke
arahku dan menjelaskan sebelum aku bertanya, “Aku sedang menghapalkan kutipan pidato Bung
Karno.” Aku tidak mengerti maksudnya. Yang jelas, kedua anak ini juga akan masuk PM.
Di bangku paling belakang ada dua orang anak berwajah kanak-kanak sedang cekikikan sambil
memakan kuaci. Mereka diapit oleh dua orang ibu yang memakai baju kurung dan kerudung. Di
terminal aku mendengar kalau dua ibu ini mendaftarkan anak mereka yang baru lulus SD masuk PM.
Diam-diam aku kagum dengan keberanian anak-anak ini. Masih semuda itu, masih sepolos itu, sudah
harus berpisah dengan orang tua mereka.
Setengah jam berlalu, bus kami melambat setelah melewati hamparan sawah hijau yang sangat luas.
Angin segar dari jendela yang terbuka meniup-niup muka dan rambutku. Sekali-sekali tampak rumah
kayu beratap genteng kecoklatan dan berlantai tanah. Berbeda dengan atap rumah gadang yang
menyerupai tanduk dan lancip di kiri dan kanan, atap di sini lancip di tengah. Beberapa rumah sudah
berdinding bata merah yang dibiarkan polos terbuka tanpa acian. Kami juga melewati serombongan
laki-laki dengan ikat kepala hitam memanggul pacul di bahu. Beberapa orang diantaranya menarik
gerombolan sapi yang berjalan malas-malasan. Setiap melangkah, genta di leher sapi ini
berbunyi..tung..tung..tung.
“Bapak, Ibu dan calon murid. Sebentar lagi kita akan sampai di Pondok Madani. Kami akan membawa
Anda semua untuk langsung mendaftar ke bagian penerimaan tamu. Bagi yang akan mendaftar jadi
murid baru, batas waktu pendaftaran jam lima tepat sore hari ini. Jangan lupa dengan tas dan semua
bawaan Anda,” Ismail memberi pengumuman, kembali dengan senyum lebarnya.
Aku dan ayah menarik napas lega. Kami masih punya waktu untuk mendaftar sesuai waktu, walau
perjalanan bus sempat tertahan. Degup jantungku berlomba. Rasanya semua darahku berkumpul di
dada dan membeku beberapa saat. Tiga anak-anak yang baru tamat SD tadi tampak agak pucat dan
tidak tertawa-tawa lagi. Tangan mereka meremas-remas kotak kuaci sampai hancur. Raja dan Dul
mencondongkan badannya ke depan dengan muka serius. Mungkin setiap kami gugup dengan apa
yang akan kami hadapi.
Bus lalu berbelok ke jalan tanah yang kecil.
“Sedikit lagi, di ujung jalan yang ada gapura itulah Pondok Madani,” kata Ismail sambil menunjuk jauh
ke depan. Bagai terbuat dari karet, semua leher kami memanjang melihat ke depan dengan
panasaran.
Kami meluncur pelan melewati sebuah gerbang sederhana yang bertuliskan “Selamat Datang di
Pondok Madani.”
Jalan desa kecil yang berdebu tadi tiba-tiba melebar dan membentangkan pemandangan lapangan
rumput hijau yang luas. Di sekitarnya tampak pohon-pohon hijau rindang dan pucuk-pucuk kelapa
yang mencuat dan menari-nari dihembus angin. Di sebelah lapangan tadi tampak sebuah komplek
gedung bertingkat yang megah, berbeda sekali dengan rumah-rumah yang tadi kami lewati. Sebuah
kubah besar berwarna gading mendominasi langit, didampingi sebuah menara yang tinggi menjulang.
Di tengah kabut pagi, kompleks ini seperti mengapung di udara.
Sebuah spanduk besar berkibar-kibar melintang di atas jalan, “Ke Madani, Apa yang Kau Cari?”
Jantungku kembali berdenyut serabutan. Ya, apa sebetunya yang aku cari? Hanya karena
memberontak tidak boleh masuk SMA? Dan lebih penting lagi, apakah aku bisa bertahan?
***
Ismail meloncat turun dari bus. Kerikil yang diinjaknya hak sepatunya berderik-derik. Dia
menyerahkan selembar daftar penumpang ke seorang anak muda yang berwajah riang yang telah
menunggu di luar mobil. Dia memakai baju putih lengan panjang dan celana hitamnya menyisakan
sudut-sudut tajam baru disetrika. Sebuah dasi berkelir biru laut menggantung rapi di lehernya.
“Shabahal khair13 ya akhi14 Burhan. Ini rombongan tamu pertama hari ini. Semuanya delapan orang”,
kata Ismail.
“Syukran ya akhi. Terima kasih. Kami akan beri pelayanan terbaik.”
Burhan mempersilakan kami mengikutinya menuju sebuah rumah tembok putih dan kusennya dicat
hijau terang. Tidak ada perabot selain sebuah dua meja kayu. Satu berisi gelas-gelas air berwarna
kuning dengan potong es batu dan kedua berisi tumpukan kertas dan sebuah buku tulis besar yang
terbuka. Masing-masing meja dijaga satu orang anak muda yang berpakaian seperti Burhan.
Lima kereta angin bercat kuning parkir berjejer di depan rumah ini. Tiga pohon asam yang rimbun dan
diteruskan tulisan bahasa Inggris, Guest Reception. Bagian Penerimaan Tamu.
Burhan menyuguhi kami dengan limun dingin yang diambilnya salah satu meja. Di meja satu lagi,
setiap calon murid mengisi formulir kedatangan pendaftaran, mendapat kamar sementara dan
menerima kupon, piring dan gelas plastik untuk makan di dapur umum. Setelah itu kami
dipersilakannya istirahat dengan berselonjor di lantai yang dilapisi karpet biru, bersama beberapa
orang yang telah datang lebih dahulu.
Lalu dengan suara keras Burhan membuat pengumuman:
“Bapak, Ibu dan tamu pondok kami yang berbahagia. Selamat datang di Pondok Madani. Hari ini saya
akan menemani anda semua untuk keliling melihat berbagai sudut pondok yang berluas lima belas
hektar ini. Jangan takut, kita tidak akan mengelilingi semua, hanya yang penting-penting saja dan kirakira
butuh makan waktu hampir satu jam. Siapa yang tertarik ikut tur, silakan berkumpul lagi disini
setengah jam lagi. Kamar menginap Anda sudah kami atur sesuai dengan nomor urut kedatangan.
Semoga Anda bisa menikmati kunjungan ini dan kami bisa melayani dengan sebaik-baiknya.”
***
“Pondok Madani adalah sistem pendidikan 24 jam. Tujuan pendidikannya untuk menghasilkan
manusia mandiri yang tangguh. Kiai kami bilang, “agar menjadi rahmat bagi dunia dengan bekal ilmu
umum dan ilmu agama “. Saat ini ada tiga ribu murid yang tinggal di delapan asrama,” Buhan
membuka tur pagi itu dengan fasih. Kedua tangannya bergerak-gerak sesuai dengan ucapannya.
Udara masih sejuk, dan matahari belum tinggi.
“Walau asrama penting, tapi kamar disini lebih berfungsi untuk tidur dan istirahat, sedangkan
kebanyakan kegiatan belajar diadakan di kelas, lapangan, masjid, dan tempat lainnya, seperti yang
akan kita lihat nanti,” papar Burhan sambil mengajak kami yang bergerombol di sekelilingnya untuk
mulai berjalan.
Aku, Raja dan Dulmajid berada di dalam rombongan ini. Kami dengan penuh semangat bergerombol
di sekitar Burhan. Tidak jauh dari kami, tampak dua kelompok kecil yang masing-masing juga dipimpin
oleh seorang pemandu yang berbaju putih dan bercelana hitam, seperti Burhan.
“Gedung utama di di pondok ini dua. Pertama adalah sebuah Masjid Jami’15 dua tingkat yang
berkapasitas empat ribu orang. Di sini semua murid shalat berjamaah dan mendalami Al-Quran. Di
sini pula setiap hari Kamis, empat ratusan guru bertemu mendiskusikan proses belajar mengajar”,
jelas Burhan sambil menunjuk ke masjid. Kubah dan menara raksasanya berkilau disapu sinar
matahari pagi. Masjid ini dikelilingi pohon-pohon rimbun dan kelapa yang rindang. Beberapa kawanan
burung bercecuitan sambil hinggap dan terbang di sekitar masjid ini.
“Yang kedua adalah aula serba guna. Di sini semua kejadian penting terjadi. Pagelaran teater, musik,
diskusi ilmiah, upacara selamat datang buat siswa baru, dan penyambutan tamu penting,” kata
Burhan sambil memimpin kami melewati aula. Gedung ini seukuran hampir setengah lapangan
sepakbola dan di bagian ujungnya memiliki panggung dan tirai pertunjukan. Tampak mukanya
minimalis dengan gaya art-deco, bergaris-garis lurus. Sederhana tapi megah. Di atas gerbangnya
yang menghadap keluar, tergantung sebuah jam antik dan sebuah tulisan dari besi berlapis krom:
Pondok Madani. Keduanya berukuran besar sehingga tampak jelas dari jauh.
Rombongan kecil kami memintas lapangan besar yang berada di depan masjid dan balai pertemuan
menuju sebuah bangungan memanjang yang berbentuk huruf L. Dindingnya dikapur putih bersih, atap
segitiganya dilapisi genteng berwarna bata dan ubinnya berwarna semen mengkilat. Kusen, jendela
dan tiangnya dilaburi cat minyak hijau muda. Bangunan sederhana yang tampak bersih dan terawat
ini terdiri dari 14 kamar berukuran besar. Di depan kamar ada serambi memanjang yang diteduhi atap
dan pohon-pohon rindang. Bangunan ini semakin teduh dengan sebuah taman besar dan kolam air
mancur di halamannya.
“Gedung ini salah satu asrama murid dan dikenal baik oleh semua alumni, karena setiap anak tahun
pertama akan tinggal di asrama yang bernama Asrama Al-Barq, atau berarti petir. Kami ingin anak
baru bisa menggelegar sekuat petir dan bersinar seterang petir,” terang pemandu kami. Mata Raja
yang berdiri di sebelahku berbinar-binar.
Tur kami berlanjut ke bagian selatan pondok, melewati barisan pohon asam jawa yang sedang
berbuah lebat bergelantungan. Di bawah pohon ini Burhan meneruskan cerita. “Sebagai tempat yang
mementingkan ilmu, kami punya perpustakaan yang lengkap. Koleksi ribuan buku berbahasa Inggris
dan Arab kami pusatkan di perpustakaan yang kami sebut maktabah atau library, “ katanya sambil
menunjuk ke sebuah bangunan antik berbentuk rumah Jawa. “Tolong dijaga suara ya,” pesannya
sambil meletakkan telunjuk di bibirnya.
Dari pintu dan jendelanya yang terbuka lebar, kami bisa melongok ke dalam. Tidak ada suara kecuali
kresek-kresek lembar kertas dibolak-balik. Ke mana mata memandang, yang aku lihat hanya
tumpukan buku, dari dinding ke dinding, dari langit-langit ke lantai. Beberapa orang asyik membaca di
meja kayu yang berjejer-jejer di sela-sela rak buku. Dulmajid tidak henti-henti mendecakkan lidahnya
sambil menggeleng-geleng kepala.
“Kami di sini punya kompetisi sepakbola yang ketat dan diadakan sepanjang tahun. Semua
pertandingan bahkan selalu dilengkapi komentator langsung yang menggunakan berbahasa Inggris
dan Arab,” kata Burhan dengan penuh semangat menunjuk sebuah lapangan dan gedung besar
seperti hangar. Kembali suara “wow” terdengar dari rombongan kami. Gedung yang ditunjuk dia ini
juga punya berbagai sarana olahraga lain, seperti bola basket dan bulutangkis. Di samping gedung ini
tampak sebuah ruangan yang heboh dengan berbagai macam umbul-umbul dan spanduk. Di dinding
depannya tampak beberapa papan besar yang bergaris-garis dengan kolom kiri nama tim dan kolom
kanan penuh angka. “Ini adalah papan klasemen kompetisi olahraga antar asrama. Sepakbola adalah
yang paling favorit “ tunjuk Burhan. “Kebetulan saya salah seorang pemain inti”, tambahnya cepatcepat
sambil tersipu. Rona wajahnya sekilas memerah dan matanya berbinar.
Kami mengangguk-angguk terkesan dengan cerita Burhan. Tapi Burhan tampaknya masih
menyimpan banyak hal. “Saya ingin lihatkan apa yang kami pelajari di luar kamar dan di luar kelas.
Semuanya ini menjadi bagian penting dari pendidikan 24 jam kami disini. Dan setiap murid bebas mau
mengembangkan bakatnya”, ujarnya bersemangat.
Kini kami melintasi sebuah jalan yang diapit oleh bangunan berkamar-kamar. Salah satu kamar yang
pintunya terbuka lebar dan di dalamnya beberapa anak muda sedang sibuk menyetem gitar listrik,
sementara di sebelahnya seorang anak dengan mata terpejam menjiwai gesekan biolanya. Bunyinya
mendayu-dayu. Aku coba mengeja tulisan di papan notnya: Sepasang Mata Bola.
“Di Art Departments ini anak yang tertarik mengembangkan jiwa seni bisa berkumpul. Ada musik,
melukis, disain grafis, teater, dan sebagainya”, katanya Burhan sambil melambaikan tangan kepada
para pemusik ini. Mereka mengangguk sambil tersenyum, tanpa melepaskan alat musiknya.
Sedangkan ruangan sebelahnya agak berantakan. Kanvas dan kaleng cat aneka warna bertumpuktumpuk
di setiap sudut. Sementara dua orang sedang tekun menggoreskan kuas cat minyaknya
melukis wajah seseorang berkumis tebal yang tidak aku kenal. “Itu wajah Sir Muhammad Iqbal,
seorang pemikir modern Islam dari Pakistan,” Burhan menjelaskan.
Seorang lagi sedang membuat lukisan kaligrafi abstrak. “Bagi kita disini, seni penting untuk
menyelaraskan jiwa dan mengekpresikan kreatifitas dan keindahan. Hadist mengatakan: Innallaha
jamiil wahuwa yuhibbul jamal. Sesungguhnya Tuhan itu indah dan mencintai keindahan. Jadi, jangan
khawatir buat para calon siswa, hampir semua seni ada tempatnya disini, mulai musik sampai
fotografi,” jelas Burhan.
Masih di jalan ini kami sampai di blok berikutnya. Kali ini bentuk ruangannya seperti camp tempur. Tali
temali, ransel, sepatu bot berjejer, dan sebuah papan besar bertuliskan “Boyscout Headquarter”. Tiga
orang dengan pakaian pramuka hilir mudik menggulung tiga tenda biru langit yang berlepotan lumpur
kering. “Mereka ini baru pulang dari jambore di Jepang. PM memang aktif mengirimkan pramuka kita
ke berbagai jambore. Pramuka adalah kegiatan wajib bagi semua murid,” jelas Burhan.
Tidak terasa, hampir satu jam kami berkeliling PM. Setelah melap keningnya yang berkeringat dengan
sapu tangan, Burhan menutup turnya:
“Baiklah, ini akhir dari tur kita. Semoga bapak dan ibu menikmati tur singkat kita ini. Seperti bisa
dilihat, Pondok Madani ini punya berbagai macam kegiatan, kira-kira mungkin seperti warung serba
ada. Hampir semua ada, tergantung apa minat murid, mereka bebas memilih.”
Ayah yang dari tadi tampaknya ingin bertanya, mengangkat telunjuknya. Tanpa menunggu
dipersilakan dia bertanya: “Mas, saya melihat pondok ini penuh segala kegiatan, mulai dari seni,
pramuka, sampai olahraga. Lalu belajar agamanya kapan?” tanyanya penasaran. Kami menganggukangguk
mengiyakan pertanyaan ini. Burhan tersenyum senang. Sepertinya dia telah sering
mendapatkan pertanyaan yang sama.
“Terima kasih atas pertanyaannya Pak. Menurut Kiai kami, pendidikan PM tidak membedakan agama
dan non agama. Semuanya satu dan semuanya berhubungan. Agama langsung dipraktekkan dalam
kegiatan sehari-hari. Di Madani, agama adalah oksigen, dia ada dimana-mana”, jelas Burhan lancar.
Ayah manggut-manggut puas mendengar keterangan Burhan. Kami bertepuk tangan dan
mengucapkan terima kasih. Burhan membungkukkan badannya dan menjura kepada kami.
Tampaknya dia benar-benar dipersiapkan dan dilatih untuk menjadi pemandu tamu yang hebat.
Susunan kata dan isinya bagus dan terjaga.
Tur singkat ini membukakan mataku tentang apa isi PM. Dan pelan-pelan membuat hatiku lebih
tenang. Jangan-jangan keputusanku untuk merantau ke PM bukan pilihan yang salah? Bahkan
mungkin pilihan yang paling tepat. Tidak terasa, aku tersenyum sendiri. Sebuah senyum yang sudah
beberapa hari ini tidak mampir di wajahku.
Sebelum pamit, Burhan mengangkat tangan dan berkata, “O iya, saya ucapkan selamat ujian kepada
para calon murid. Karena untuk bisa menikmati semua kegiatan ini, tentu saja anak-anak bapak dan
ibu harus lulus tes masuk yang ketat. Semoga sukses, Assalamualaikum…” katanya melambaikan
tangan kepada kami.
Aku menelan ludah. “Apa? Ada tes ketat untuk bisa masuk?” tanyaku dengan muka bingung ke Raja
dan Dulmajid yang berdiri di sebelahku.
***
“Ya ujian seleksi yang susah. Sekitar dua ribu orang ikut, tapi hanya empat ratus yang diterima” Kata
Raja dengan wajah pasrah.
“Tapi aku tidak tahu dan belum ada persiapan”. Aku menelan ludah.
“Aku saja belum siap, walau sudah belajar sejak minggu lalu,” ujar Dulmajid dengan ekspresi yang
membikin aku makin khawatir.
“Tidak ada yang merasa siap. Ujian disini terkenal sulit. Tahun lalu aku gagal karena telah mendaftar,”
kata Raja lagi.
“Lalu kapan ujiannya?” Ulu hatiku ngilu.
“Lusa. Kita masih punya waktu belajar dua hari lagi”
“Terus, soalnya seperti apa saja?”
Pikiranku buncah. Bagaimana kalau ujian ini berat sekali dan aku tidak lulus. Kemana mukaku akan
diletakkan. Pasti aku akan bulan-bulan jadi bahan olokan orang sekampung dan teman-teman
mainku. Aku sudah terlanjur berkampanye: ke Cina saja disuruh belajar, masak ke Jawa saja tidak.
“Bukan soalnya, tapi apa mata pelajarannya. Nih, baca sendiri daftar ujiannya” kata Raja
mengangsurkan sebuah kertas yang bertuliskan jadwal ujian masuk PM. Isinya: ada ujian tulis dan
ujian lisan serta wawancara yang meliputi empat mata pelajaran.
Pak Etek Gindo tidak memberi tahu kalau untuk masuk Pondok Madani harus melalui ujian tulis yang
ketat dan wawancara. Tidak ada juga yang memberi tahu bahwa setiap tahun calon siswa baru
sampai dua ribu orang datang untuk berlomba dapat hanya empat ratus kursi. Aku pikir masuk PM
tinggal datang, mendaftar dan belajar.
Malam itu aku tidur bersesak-sesak di lantai beralaskan karpet, di kamar calon pelajar bersama anakanak
lain. Ayah dan para orang tua lain ditempatkan di kamar khusus pengantar. Aku luruskan badan,
melepaskan lelah. Tapi mataku belum berminat untuk tidur. Mataku menatap langit-langit dan
kepalaku penuh.
Banyak yang sekali yang terjadi dalam beberapa hari ini. Hanya enam hari lalu aku kesal dan marah
dengan nasibku, empat hari lalu aku membuat keputusan ekstrim untuk merantau jauh, tiga hari
kemudian aku meninggalkan kampungku untuk pertama kalinya menuju sebuah tempat yang aku pun
tidak tahu apa. Hari ini aku sampai di PM dengan perasaan bimbang. Hari ini pula aku mulai terkesan
dengan apa yang ada di PM. Tapi hari ini pula aku kecut, karena dalam aku tidak siap dengan ujian
masuk.
Aku tangkupkan buku matematika yang belum selesai aku baca ke mukaku. Malam telah larut.
***
Di hari H, ribuan calon siswa, termasuk aku, Dulmajid dan Raja berkumpul di aula untuk ujian tulis.
Senjata kami hanya sebuah niat untuk belajar di PM, sebatang pulpen, dan sepotong doa dari para
orang tua murid yang mengintip-ngintip kami dengan cemas dari sela-sela pintu dan jendela aula.
Soal demi soal aku coba jawab dengan tuntas. Semua hasil kerja keras belajar dua hari dua malam
dan sisa-sisa ingatan bertahun-tahun di SD dan MTsN aku kerahkan. Besoknya aku menjalani ujian
lisan yang tidak kalah melelahkan dan membuat kepala berat. Aku tidak yakin tentang hasilnya, tapi
aku merasa telah memberikan yang terbaik.
Hanya satu hari setelah ujian, tepat jam tengah malam, sepuluh papan besar digotong dari dalam
kantor panitia ujian dan disusun berjejer di depan aula. Hasil ujian masuk! Malam buta itu, orang tua
dan calon murid yang sudah tidak sabar berkerumun dan berdesak-desakan dari satu papan ke
papan yang lain. Sekonyong-konyong, Ayah yang ikut berdesakan bersamaku merangkulku dengan
kagok. Tangannya mencengkeram bahuku kencang. Di kampungku memang tidak ada budaya
berangkulan anak laki-laki dan seorang ayah. “Alif, nama kamu ada disini, “ kata dengan napas
terngah-engah. Dia berjinjit menunjuk tempat nama dan nomor ujianku ditulis. Alhamdulillah, aku
lulus.
Aku senang sekali bisa lulus dan menyelesaikan tantangan ini. Tapi di saat yang sama, pikiranku
melayang ke Randai. Mungkin saat ini dia sedang mengukur celana biru mudanya di tukang jahit dan
minggu depan telah mengikuti pekan perkenalan siswa SMA baru. Ahh.......
Hari ini aku mengirim satu telegram dan satu surat. Telegram untuk mengabarkan kelulusan kepada
Amak dan sepucuk surat kepada Randai. Kepada kawan dekatku ini aku berkisah pengalaman
menarikku di PM dan betapa aku masih merasa sedih tidak bisa bergabung dengan dia masuk SMA.
Ayahku pulang sehari setelah pengumuman. Meninggalkan aku sendiri di tengah keramaian ini.


MAN JADDA WAJADA
“MAN JADDA WAJADA!!!”
Teriak laki-laki muda bertubuh kurus itu lantang. Telunjuknya lurus teracung tinggi ke udara, suaranya
menggelegar, sorot matanya berkilat-kilat menikam kami satu persatu. Wajah serius, alisnya hampir
bertemu dan otot gerahamnya bertonjolan, seakan mengerahkan segenap tenaga dalamnya untuk
menaklukkan jiwa kami. Sungguh mengingatkan aku kepada karakter tokoh sakti mandraguna di film
layar tancap keliling di kampungku, persembahan dari Departemen Penerangan waktu itu.
Man jadda waja: sepotong kata asing ini bak mantera ajaib yang ampuh bekerja. Dalam hitungan
beberapa helaan napas saja, kami bagai tersengat ribuan tawon. Kami, tiga puluh anak tanggung,
menjerit balik, tidak mau kalah kencang.
“Man jadda wajada! “
Berkali-kali, berulang-ulang, sampai tenggorokanku panas dan suara serak. Hingar bingar ini
berdesibel tinggi. Telingaku panas dan berdenging-denging sementara wajah kami merah padam
memporsir tenaga. Kaca jendela yang tipis sampai bergetar-getar di sebelahku. Bahkan, meja kayuku
pun berkilat-kilat basah, kuyup oleh air liur yang ikut berloncatan setiap berteriak lantang.
Tapi kami tahu, mata laki-laki kurus yang energik ini tidak dimuati aura jahat sama sekali. Sebaliknya,
dia dengan royal membagi energi positif yang sangat besar dan meletup-letup. Kami tersengat dan
menikmatinya. Sumbu kecil kami terpercik api, mulai terbakar, membesar, dan terang! Kami bagai
lilin kecil yang baru dinyalakan.
Dengan wajah berseri-seri dan senyum sepuluh centi menyilang di wajahnya, laki-laki ini hilir mudik di
antara bangku-bangku murid barunya, mengulang-ulang mantera ajaib ini di depan kami bertiga
puluh. Setiap dia berteriak, kami menyalak balik dengan kata yang sama, man jadda wajada. Mantera
ajaib berbahasa Arab ini bermakna ringkas tapi tegas:
”Siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil”.
Laki-laki ramping ini adalah Ustad16 Salman, wali kelasku. Rambutnya ikal dipotong pendek,
jambangnya dibiarkan agak pajang. Wajahnya lonjong kurus, sebagian besar dikuasai keningnya
yang lebar. Alisnya yang tebal datar menaungi sepasang bola matanya yang lincah dan
memancarkan sinar kecerdasan. Dagunya ditumbuhi jenggot yang dipangkas rapi. Kaki dan
tangannya yang panjang gesit bergerak ke setiap sudut kelas. Sebuah dasi berwarna merah tua
terikat rapi di leher kemeja putihnya yang licin. Kedua lengan bajunya lebar dan berkibar-kibar setiap
dia melenggangkan tangan dengan cepat. Lipatan celana hitamnya berujung tajam seperti baru saja
disetrika. Sepatu hitam bertalinya mempunyai sol tebal dan selalu berdekak-dekak setiap dia berjalan
di ubin kelas kami.
Selain kelas kami, ada sekitar puluhan kelas lain yang bernasib sama. Masing-masing dikomandoi
seorang kondaktur yang energik. Sang kondaktur menyalakkan “manjadda wajada” dengan penuh
otoritas sehingga membuat para subjeknya tergugah dan menjerit kencang. Hampir satu jam non
stop, kalimat ini bersahut-sahutan dan bertalu-talu. Koor ini bergelombang seperti guruh di musim
hujan, menyesaki udara pagi di sebuah desa terpencil di udik Ponorogo.
Inilah pelajaran hari pertama kami di PM. Kata mutiara sederhana yang sangat kuat yang terus
menjadi kompas kehidupan kami kelak.
***
Tadi, jam tujuh pagi, kami berkerumun dengan tidak sabar di depan sebuah pintu kelas. Di daun pintu
itu selembar kertas putih bertuliskan Kelas 1 A tertempel rapi. Di antara kerumunan ini, hanya Raja
dan Dul yang selebihnya aku kenal. Lamat-lamat, bunyi ketukan sepatu cepat dan penuh semangat
terdengar dari balik ruang kelas kami. Makin lama makin dekat. Tiba-tiba dari balik tembok, muncul
seorang laki-laki muda berwajah ramah menyapa dengan nyaring,
” Shabahul khair. Selamat pagi. Silakan masuk”
Belum lagi kami menjawab, laki-laki ini membuka gagang pintu kelas dengan tangan kirinya,
sementara tangan kanannya mengibas-ngibas mengisyaratkan kami masuk. Setiap kami disodori
senyum sepuluh centinya yang membentang di wajahnya. Laki-laki periang ini adalah Ustad Salman.
“Ijlisuu17, silakan pilih tempat duduk yang paling nyaman buat kalian”,
Aku bergegas memilih dua baris dari depan ke arah belakang. Ini posisi aman menurutku. Tidak
terlalu menantang tatapan guru di kursi depan, tapi juga tidak tersuruk di bagian terbelakang.
Di sebelahku sudah ada seorang anak jangkung, berambut pendek tidak rata. Aku ingat dia datang
paling pagi dan berdiri paling depan di pintu kelas kami tadi. Sebuah kacamata tebal membebani
batang hidungnya. Wajahnya yang putih tampak serius dan agak tegang. Kumis tipis membayang di
bawah hidung, sementara beberapa helai janggut kasar mencuat di dagunya. Dia mengangguk,
sambil menyorongkan tangannya.
“Eh, kenalkan nama saya Atang”, katanya singkat. Kacamatanya melorot turun ketika mengangguk.
Secepat itu pula tangannya mengembalikan ke posisi semula.
Buru-buru kemudian dia menambahkan,
”Saya dari Bandung. Urang sunda18”, katanya kali ini nyengir. Aku terpesona dengan gaya dan irama
Atang berbicara. Setiap akhiran kalimatnya, diberi ayunan nada yang terasa lucu di kupingku.
Aku genggam jemari tangannya yang panjang kurus-kurus.
”Saya Alif Fikri dari Maninjau, Bukittinggi, Sumatera Barat”
Di sinilah untuk pertama kalinya dalam hidup aku berjabat tangan langsung dengan orang non
Minangkabau. Nun di kampungku, mulai dari pegawai kecamatan, guru, tukang pos, penjual
martabak, supir bus, sampai kenek adalah urang awak, orang Minang asli. Dulu, sebetulnya aku
nyaris berpeluang menjabat tangan seorang Jawa. Ketika duduk di SD, guruku menyuruh kami
sekelas mengibarkan bendera merah putih dari kertas minyak di pinggir jalan kampungku. Balasan
kibasan benderaku adalah sebuah lambaian tangan yang menyembul dari jendela mobil hitam
setengah terbuka. Ingin aku jabat tangan itu, tapi mobilnya terlalu cepat berlalu. Yang punya tangan
adalah Presiden Soeharto yang datang meresmikan PLTA Maninjau tahun 1983.
Sengaja aku tambahkan Sumatera Barat kalau-kalau si orang Bandung ini tidak tahu Bukittinggi
dimana. Menyebutkan Bukittinggi juga sebetulnya kurang tepat, bahkan Maninjau pun sebuah
kebohongan kecil. Yang benar, aku lahir dan berasal dari sebuah kampung liliput di pinggir danau
Maninjau, Bayur namanya. Aku tahu Maninjau punya kans besar untuk dikenal orang luar, karena
lumayan popular sebagai asal Buya Hamka, ulama sastrawan karismatik yang tersohor itu.
Setelah memperkenalkan dirinya, Ustad Salman lalu meminta setiap orang maju ke depan kelas dan
memperkenalkan nama, asal, alasan ke pondok dan cita-cita. Raja Lubis yang duduk di meja paling
depan, tepat di depan meja guru, maju ke depan kelas dengan penuh percaya diri. Kombinasi
pakaiannya persis sama dengan hari kedatangan, kopiah miring, baju putih dengan lengan
dikancingkan dan sepatu bahan jeans.
Sejenak dia menarik napas dalam, dagunya sedikit terangkat, kepalanya berputar setengah lingkaran
menyapu kelas. Setelah mendehem, dia mulai memperkenalkan dirinya dengan suara lantang dan
berat. Iramanya lebih mirip pidato daripada perkenalan. Raja mengaku berasal dari pinggir kota
Medan. Tahun lalu dia gagal masuk PM karena terlambat ikut ujian masuk. Sambil menunggu ujian
tahun depan di PM, dia menghabiskan satu tahun belajar di sebuah pondok tidak jauh dari sini.
“Kenapa sampai mau dua kali mencoba ikut tes masuk PM?” tanya Ustad Salman.
Dengan gagah dia berkata:
“Aku ingin menjadi ulama yang intelek, Ustad. Dari sepuluh orang bersaudara, aku sendirilah yang
diberi amanat Ibu dan Bapak untuk belajar agama.”
Sebetulnya dari tadi saya sangat heran melihat kelakuannya. Ketika kami sekelas membawa
beberapa buku tulis dan sebuah Al Quran, dia malah membawa beberapa buku tebal sekaligus. Salah
satunya buku paling tebal yang pernah aku lihat.
“Buku apa ini?” tanyaku polos.
“Cak kau lihat ini bos, judulnya Advanced Learner Oxford Dictionary, kamus Bahasa Inggris yang
hebat. Cocok buat kita yang belajar bahasa Inggris. Kalau ingin pandai seperti Habibie, macam buku
inilah yang harus kau baca,“ ujarnya serius sambil mengangkat kitab tebal ini pas di mukaku.
“Mulai hari ini aku akan membaca kamus ini halaman per halaman,” kata Raja sambil mengepalkan
tangannya. Hobinya utamanya membaca buku, atau tepatnya kamus tebal ini. Di kemudian hari,
hobinya ini terbayar tunai. Dia paling lancar menjawab pertanyaan-pertanyaan guru Bahasa Inggris
kami. Kalau bicara Inggris, suaranya sengau-sengau seperti orang selesma.
Makhluk paling raksasa di kelas mereka adalah Said Jufri yang berasal dari Surabaya. Lengannya
yang legam sebesar tiang telepon dan berbuku-buku oleh otot keras serta ditumbuhi bulu-bulu
panjang keriting. Bajunya yang berbahan jatuh mencetak dada dan bahunya yang kekar. Rambut
hitam ikal, alis tebal, kumis melintang, fitur hidung dan tulang pipinya tegas melengkapi wajahnya
Arabnya. Dia memang keturunan ke lima dari saudagar Arab yang mendarat dan menetap di kawasan
Ampel, Surabaya. Walau berwajah Arab, tapi medok suroboyoan-nya minta ampun. Walau umurnya
baru 19 tahun, wajahnya seperti bapak-bapak berumur 40 tahun.
“Waktu di SMA dulu aku anak nakal, sekarang aku insyaf dan ingin belajar agama”, katanya sambil
tersenyum lebar. Matanya yang dilingkupi bulu yang lentik berkejap-kejap. Wah, ini dia yang disebut
Pak Sutan yang ada bus kemarin. Anak nakal disekolahkan di pondok, batinku.
“Mari kita dekap penderitaan dan berjuang keras menuntut ilmu, supaya kita semakin kuat lahir dan
batin, “ katanya memberi motivasi di depan kelas tanpa ada yang meminta. Antara mengerti dan tidak
dengan pidatonya yang terlalu tinggi, kami mengangguk-angguk takzim. Dia tampaknya mantan anak
nakal yang aneh.
Tidak salah kalau dia yang paling dewasa di antara kami. Karena itu kami secara aklamasi
memilihnya jadi ketua kelas. Selama setahun ke depan, dia selalu menjawab keluh kesah kami
dengan senyum dan cerita yang mengobarkan semangat. Menurutku, dia orang yang paling optimis
dan positif di kelas kami.
“Saya berasal dari Sulawesi”, kata Baso Salahuddin yang jauh-jauh berlayar dari Gowa, sebuah
daerah yang tersohor dengan prestasi penjelajahan bahari mereka sejak dahulu kala. Wajahnya
seperti nenek moyangnya yang pelaut ulung, rambut landak, kulit gelap, kalau berjalan seperti
terombang-ambing di atas perahu, mengambang dan kurang lurus. Bajunya adalah seragam pramuka
yang sudah luntur coklatnya. Emblem-emblemnya sudah dilucuti, menyisakan warna yang lebih gelap
di saku dan lengan. Dia mengenakan sepatu hitam. Yang seharusnya tali, sol, dan dan badan
sepatunya adalah plastik hitam cetakan.
Sambil mengerlingkan matanya ke kiri atas, dia bicara di depan kelas:
“Alasan saya…alasan saya ke sini apa ya? O..iya, saya ingin mendalami agama Islam dan menjadi
hafiz--penghapal Al-Quran”
Kawanku yang lain adalah Dulmajid yang berasal dari Madura. Dia juga satu bus dengan aku ketika
sampai di PM. Walau mengaku bukan keturunan tukang sate Madura, anak muda ini berbagi
beberapa ciri dengan armada sate ini, berkulit gelap, wajah keras dan royal dengan humor-humor gila
ala Madura. Bedanya kawan yang satu ini tampak lebih terpelajar akibat kacamata berframe tebalnya.
Animo belajarnya memang maut. Di kemudian hari, aku menyadari dia adalah orangnya paling jujur,
paling keras, tapi juga paling setia kawan yang aku kenal. Tapi di saat yang sama, dia adalah seorang
yang sangat mandiri, dewasa, dan juga naif.
Kawan yang duduk di belakangku adalah Teuku. Anak yang berkulit keling ini berasal dari Banda
Aceh. Ketika Ustad Teguh membaca namanya, serta merta dia berdiri tegap dengan setengah
berteriak menjawab “Teuku hadir, Ustad”. Seisi kelas, tidak terkecuali ustad kaget dengan gerakan
berdiri tiba-tiba dan teriakan nyaring anak Aceh ini. Dia suka berbicara dengan suara keras dan
tergesa-gesa, sehingga bahasa Indonesianya terdengar lucu.
Tapi di antara semua teman baru ini yang membuat saya paling kagum adalah Saleh. Dia tinggi
kurus, atletis, dan buku-bukunya banyak stiker bertuliskan Lakers, Bulls, dan gambar orang-orang
hitam berkepala botak, bercelana pendek goyor-goyor.
“Gue dari Jakarte, anak Betawi asli. Tahu Monas kan? Nak rumah gue gak jauh dari sana, di Karbela,”
katanya dengan bangga.
Beruntung sekali dia tinggal di ibukota, pikirku iri. Di umurku yang ke 15 ini, belum sekalipun aku
menjejakkan kaki di ibukota negaraku sendiri. Dalam perjalananku dari Padang ke Jawa Timur, aku
sempat sekilas melewati kota Jakarta jam tiga dini hari. Bus hanya berhenti untuk menurunkan Pak
Sutan yang akan ke Tanah Abang. Dari jendela bus kulihat gedung-gedung tinggi, jalan-jalan silang
gemilang yang semuanya bermandikan cahaya. Modern. Makanya, Jakarta adalah kota yang paling
ingin aku kunjungi, setelah Mekkah.
Hari ini aku mendapat banyak teman baru yang datang dari hampir semua sudut Indonesia.


SANG RENNAISSANCE MAN
Hari ini aku menghadiri hajat besar di PM. Sehabis Isya, murid-murid berbondong-bondong memenuhi
aula. Ratusan kursi disusun sampai ke teras untuk menampung tiga ribu orang. Semua orang
mengobrol seperti dengungan ribuan tawon transmigrasi. Di panggung duduk berjejer beberapa ustad
senior dan kiai. Sebuah tulisan besar menggantung sebagai latar, bertuliskan: Pekan Perkenalan
Siswa PM.
Seorang laki-laki yang mungkin sudah berusia sekitar 60 tahun maju ke podium. Rambutnya yang
sudah setengah memutih menyembul dari balik kopiah hitamnya. Janggutnya pendek rapi tumbuh dari
dagu bundarnya. Laki -laki ramping ini mempunyai wajah seorang bapak penyabar. Bajunya
sederhana saja, koko putih bersih dipadu celana panjang hitam.
Matanya berbinar-binar dan tersenyum kepada lautan murid baru dan lama. Senyumnya begitu lebar,
seakan-akan tidak ada yang lebih membesarkan hatinya selain melihat ribuan murid bersesaksesakan
di ruangan ini. dengan janggut pendek ini membetulkan kacamatanya, dan memegang mik.
Dia mendehem tiga kali di depan mik. Tiba-tiba suara tawon tadi langsung diam dan senyap. Muridmurid
yang duduk dibelakang tampak meninggikan lehernya untuk melihat lebih jelas ke depan.
Penampilan laki-laki ini boleh bersahaja, tapi aura wibawa yang membuat dia terlihat lebih besar dari
fisiknya. Aku mencolek Raja yang duduk di sebelah kiriku.
“Siapa bapak ini?”, tanyaku penasaran.
Raja memandangku dengan tidak percaya. Dia melotot dan agak emosi, “Bos, kau murid macem
mana ni, kok bisa gak tahu. Ini dia kiai19 kita, almukarram20 Kiai Rais yang menjadi panutan kita dan
semua orang selama di PM ini. Dia seorang pendidik dengan pengetahuan dan pengalaman lengkap.
Pernah sekolah di Al-Azhar, Madinah dan Belanda.”
Raja mengangsurkan kepadaku sebuah buku berjudul, Biografi Kiai-Kiai Pendidik. “Di buku ini ada
biografi ringkas beliau. Menurut penulisnya, Kiai Rais ini cocok disebut sebagai rennaisance man,
pribadi yang tercerahkan karena aneka ragam ilmu dan kegiatannya.”
“Marhaban. Selamat datang anak-anakku para pencari ilmu. Welcome. Selamat Datang. Bien venue.
Saya selaku rais ma’had--pimpinan pondok-- dan para guru disini dengan sangat bahagia menyambut
kedatangan anak-anak baru kami untuk ikut menuntut ilmu di sini. Terima kasih atas kepercayaannya,
semoga kalian betah. Mulai sekarang kalian semua adalah bagian dari keluarga besar PM”, Kiai Rais
membuka sambutannya. Suaranya dalam dan menenangkan.
“Assalamualaikum”, tutupnya. Pidatonya sangat singkat. Semua orang memberi tepuk tangan
bergemuruh.
Aku menyikut Raja. “Singkat sekali, mana petuah seorang kiai”, tanyaku.
“Tenang bos. Kata buku ini Kiai Rais itu seperti “mata air ilmu”. Mengalir terus. Dalam seminggu ini
pasti kita akan mendengar dia memberi petuah berkali-kali”, jawab Raja penuh harap.
Raja benar adanya. Setelah berbagai kata sambutan dan beberapa pengumuman tentang berapa
laba koperasi, kantin dan dapur umum, Kiai Rais kembali naik panggung.
“Anak-anakku. Mulai hari ini, bulatkanlah niat di hati kalian. Niatkan menuntut ilmu hanya karena
Allah, lillahi taala. Mau membulatkan niat kalian??”
“MAUUU....” terdengar koor dari ribuan murid di depan Kiai Rais. Lalu, sejenak dia memandu kami
menundukkan wajah dan memantapkan niat bersih untuk menuntut ilmu dan berdoa: Allahumma
zidna ilman war zuqna fahman....Tuhan tambahkan ilmu kami dan anugerahkanlah pemahaman...
Kiai Rais kembali melanjutkan pidatonya. “Menuntut ilmu di PM bukan buat gagah-gagahan dan
bukan biar bisa bahasa asing. Tapi menuntut ilmu, karena Tuhan semata. Karena itulah kalian tidak
akan kami beri ijazah, tidak akan kami beri ikan, tapi akan mendapat ilmu dan kail. Kami, para ustad,
ikhlas mendidik kalian dan kalian ikhlas kan pula niat untuk mau dididik” Tangan beliau bergerakgerak
di udara mengikuti tekanan suaranya.
Aku menyikut rusuk Raja sambil berbisik,”Tidak ada ijazah? Bagaimana maksudnya?” Raja melirikku
sekilas, “Maksudnya, PM tidak mengeluarkan selembar ijazah seperti sekolah lain. Yang ada adalah
bekal ilmunya. Ijazah PM adalah ilmunya sendiri.” Jawaban yang tidak terlalu aku mengerti artinya
sekarang.
Di podium, Kiai Rais meneruskan wejangannya:
“Beruntunglah kalian sebagai penuntut ilmu karena Tuhan memudahkan jalan kalian ke surga,
malaikat membentangkan sayap buat kalian, bahkan penghuni langit dan bumi sampai ikan paus di
lautan memintakan ampun bagi orang yang berilmu. Reguklah ilmu di sini dengan membuka pikir,
mata dan hati kalian”
Telunjuk tangannya terangkat di depan mukanya, memastikan kami memperhatikan petuah ini.
“Selain itu, ingat juga bahwa aturan disini punya konsekuensi hukum yang berlaku tanpa pandang
bulu. Kalau tidak bisa mengikuti aturan, mungkin kalian tidak cocok disini. Malam ini akan dibacakan
qanun21 ,atau aturan komando. Simak baik-baik, tidak ada yang tertulis, karena itu harus kalian tulis
dalam ingatan kalian. Setelah mendengar qanun, setiap orang tidak punya alasan tidak tahu bahwa ini
aturan.”
“Dan yang tidak kalah penting, bagi anak baru, kalian hanya punya waktu tiga bulan untuk boleh
berbicara bahasa Indonesia. Setelah tiga atau empat bulan, semua orang wajib berbahasa Inggris
dan Arab, 24 jam. Percaya kalian bisa kalau berusaha. Sesungguhnya bahasa asing adalah anak
kunci jendela-jendela dunia.”
Aku kembali mengganggu Raja lagi. “Bagaimana mungkin aku bisa bahasa asing dalam empat
bulan?”
“Bos, kau dengar dan percayalah sama Kiai Rais. Puluhan tahun dia melakukan ini dan selalu
membuktikan dia benar, selama kita mengikuti aturannya”, bisik Raja. Matanya melirik bagian
keamanan yang mendelik karena kami berbicara ketika Kiai Rais berpidato.
“Apalagi semuanya akan berpihak kepada kita. Bahkan ikan paus di lautan saja ikut mendoakan kita”,
katanya berbisik ke telingaku.
“Belajar disini tidak akan santai-santai. Jadi, niatkanlah berjalan sampai batas dan berlayar sampai
pulau. Usahakan memberi percobaan yang lengkap”
“Ada yang tahu percobaan yang lengkap?” tanya Kiai Rais seakan bertanya kepada kami satu-satu.
Kami semua diam dan menggeleng-gelengkan kepada.
“Seorang wali murid pernah memberi nasehat kepada anaknya yang sekolah di PM. Anakku, kalau
tidak kerasan tinggal di PM selama sebulan, cobalah tiga bulan, dan cobalah satu tahun. Kalau tidak
kerasan satu tahun, cobalah tiga atau empat tahun. Kalau sampai enam tahun tidak juga kerasan dan
sudah tamat, bolehlah pulang untuk berjuang di masyarakat. Ini namanya percobaan yang lengkap.”
Kami mengangguk-angguk terkesan dengan perumpaan ini.
“Sebelum kita tutup acara malam ini, mari kita berdoa untuk misi utama hidup kita, yaitu rahmatan lil
alamin, membawa keberkatan buat dunia dan akhirat,” ucap Kiai Rais sambil memimpin sebuah doa.
Ucapan amin bergema meliputi udara aula ini.
“Dan sebelum beristirahat di kamar masing-masing dan memulai misi besar kalian besok pagi:
menuntut ilmu, mari kita teguhkan niat dengan membaca Ummul Al-Quran22 dan dilanjutkan
menyanyikan bersama himne sekolah kita. Al-Fatihah..... “
Segera setelah Al-Fatihah ditutup dengan kata Amin yang khusyuk, aula ini diselimuti bahana sebuah
lagu himne yang mulai lamat-lamat dengan syahdu tapi kemudian tempo meningkat dengan ketukan
yang keras dan optimis:
Kami datang dari semua sudut bumi
Untuk menjadi gelas yang kosong
Yang siap diisi
Mengharap ilmu dan hikmah
Dengan hati yang lapang
Dari kebijakan para guru kami yang ikhlas
Di Pondok Madani yang damai
....
Walau dengan referensi not sendiri-sendiri, kami bernyanyi dengan sepenuh jiwa dan tenaga.
Akhirnya ditutup dengan tepuk tangan yang panjang dan membahana. Momen yang menegakkan
bulu romaku. Dadaku bergetar-getar. merupakan summary dan esensi dari Islam


SHOPPING DAY
Usai malam pertama Pekan Perkenalan yang amat berkesan, kami berbondong kembali ke asrama.
Kak Iskandar, rais furaiah, sebutan buat ketua asrama, memberi komando untuk mengikutinya.
“Walau kalian sebelumnya telah ditempatkan di asrama Al-Barq, tapi belum resmi diterima sebagai
anggora asrama. Menyanyikan lagu himne pondok yang dipimpin langsung oleh Kiai Amin Rais
adalah penanda bahwa kalian sekarang resmi menjadi bagian dari asrama Al-Barq. Selamat,” ujarnya
kepada kami di depan pintu asrama.
” Sebelum tidur, kami akan bacakan qanun, aturan tidak tertulis yang tidak boleh dilanggar.
Pelanggaran pasti akan diganjar sesuai kesalahannya. Dan ganjaran paling berat adalah diusir dari
PM selama-lamanya”, katanya tegas. Kami berpandang-pandangan melihat keseriusannya.
Kesalahan apa sih membuat seorang bisa sampai diusir?
Al-Barq adalah sebuah bangunan memanjang dengan sebuah koridor berbentuk huruf L. Kamarkamar
berjejer di sepanjang koridor. Bangunan sederhana ini terlihat bersih dengan ubin tua yang
masih mengkilat dan lis kayu kokoh bercat hijau. Pintu kamar yang besar terbuat dari kayu dengan
lubang angin berderet horizontal dari atas sampai ke bawah. Ukuran kamar kami lebih besar dari
setengah lapangan bulutangkis dan aku tempati bersama 30 murid lainnnya.
Seisi kamar sekarang sudah berkumpul duduk di tengah ruangan yang kosong. Semua tas dan koper
kami singkirkan ke pinggir dinding. Kami sibuk membicarakan, aturan apa saja yang nanti akan
dibacakan. Suara obrolan langsung hilang ketika Kak Iskandar bergegas masuk dan berdiri di depan
kami semua dengan tampang serius. Dia memegang sebuah gulungan kertas.
Wajah kami semuanya mendongak dan ikut serius.
Kemudian terdengar bunyi bel besar berdentang-dentang lima kali. Tandanya pembacaan qanun
dimulai di semua asrama dan kamar.
Dan Kak Is mulai membaca:
“Para siswa PM, bersama ini saya bacakan qanun di depan Anda semua untuk diperhatikan, dipahami
dan dipatuhi
1. Jadwal bangun pagi jam 4.30 dan waktu boleh tidur jam 9:30 malam. Di antara itu jadwal telah
diatur dengan ketat oleh lonceng. Disiplin waktu ditegakkan dengan ketat.
2. Semua harus mengikuti aturan berpakaian sopan dan pada tempatnya. Ada pakaian olahraga,
pakaian sekolah dan pakaian ke masjid.
3. Setiap orang harus memakai papan nama kapan saja dimana saja.
4. Tidak dibenarkan memakai bahasa daerah dan bahasa Indonesia.
5. Tiga kali seminggu waktu latihan pidato dalam bahasa Arab, Inggris dan Indonesia
6. Hari kamis sore waktu latihan pramuka
7. Pelanggaran berat adalah mencuri, berkelahi dan berhubungan dekat dengan perempuan.
Hukumannya adalah dipulangkan.
8. Semua murid harus menjaga milik mereka sendiri dengan baik. Lemari dikunci, sandal, buku
dan barang lain diberi nama.
9. Ketertiban akan diatur oleh bagian keamanan dan bahasa diatur oleh bagian penggerak
bahasa.
10. Semua perizinan tidak masuk kelas dan tidak ikut kegiatan harus melalui rekomendasi dan
tasrih atau surat keterangan izin dari wali kelas”
11. Aturan harus diikuti dan ada hukuman bagi yang melanggar. Semua aturan ini harus diikuti
tanpa kecuali.
12. Hari sekolah dari Sabtu sampai Kamis dan Jumat libur.
13. Setiap pelanggar aturan akan dipanggil dan disidang di mahkamah disiplin.”
Kak Iskandar menggulung kembali kertas tadi dan memandang kepada kami semua. ”Mulai detik ini,
kalian semua sudah resmi berada dalam aturan dan disiplin PM. Aturan akan ditegakkan dengan
tegas. Kepastian hukum menjadi panglima. Ada pertanyaan?”
Beberapa tangan teracung dan bertanya kenapa tidak diberikan dalam bentuk tertulis.
“Akhi. Dengarkan baik-baik. Kita tidak mau membuat peraturan tertulis banyak-banyak, lalu kemudian
dilupakan dan tidak diterapkan. Qanun ini maksudnya supaya apa yang disebutkan dilaksanakan
bersama. Memang tidak ada pengulangan karena harapannya semua orang mencatat dalam hati
masing-masing dan siapa melakukan”, katanya.
“Mulai besok, silakan membeli kasur lipat kecil dan lemari kecil untuk menyimpan barang kalian.
Kasur lipat harus ditumpuk jadi satu di sudut kamar setiap bangun pagi, dan baru boleh diambil ketika
jam tidur datang. Bagian tengah kamar harus tetap kosong untuk kita gunakan tempat shalat jamaah
setiap kamar,” tambah Kak Is.
Aku juga mengacung. ”Kak, kenapa kita tidak shalat berjamaah di masjid saja?”
“Tentu kita berjamaah di masjid, tapi hanya maghrib saja. Sisanya kita lakukan di kamar, karena ini
juga bagian dari pendidikan. Setiap orang akan mendapat giliran menjadi imam. Setiap kalian harus
merasakan menjadi imam yang baik. Semua orang boleh memberi masukan kalau ada yang salah”,
jelas Kak Is.
“Oya, satu hal yang penting kalian ingat terus adalah: selalu pasang kuping untuk mendengarkan
jaras, atau lonceng. Lonceng besar di depan aula itulah pedoman untuk semua pergantian kegiatan,”
katanya lagi.
“Ingat, kamar ini sekarang adalah milik kalian bersama. Kamar ini adalah tempat kalian tidur, shalat,
dan belajar. Maka jagalah seperti menjaga rumah kalian sendiri. Besok kita akan pilih ketua kamar
serentak dan membuat jadwal piket kebersihan, “ pidato Kak Iskandar sebelum mematikan lampu
listrik besar di kamar kami.
Seketika kamar kami temaram. Hanya tinggal sebuah lampu tidur, sebuah lampu semprong
berminyak tanah yang kerlap kerlip karena apinya diayun-ayun angin malam di ujung kamar. Jendela
kamar dibiarkan terbuka, memerdekakan udara menjelang musim hujan yang sejuk keluar masuk.
Badan dan kakiku terasa berat dan pegal. Tidak terasa, sudah seminggu aku di PM, dan seminggu
yang benar-benar menguras tenaga. Sepotong rembulan pucat mengintip dari jendela. Hari ini aku
segera pulas tertidur, walau hanya beralas sajadah. Malam ini aku bermimpi terdampar seorang diri di
sebuah pulau yang permai. Perahuku bocor dan karam. Di pulau ini aku ditemani ratusan kotak-kotak
besi, yang ketika aku buka semua isinya adalah gulungan demi gulungan kertas qanun.
***
Awal tahun ajaran, PM diserbu kesibukan luar biasa. Semua orang tampak berjalan cepat dan
berseliweran mengerjakan berbagai urusan masing-masing. Buat anak baru seperti aku, kesibukan
utama adalah belanja buku dan keperluan sekolah lainnya.
Dalam amplop tanda kelulusan ujian yang kami terima beberapa hari lalu ada selembar kertas yang
menuliskan keperluan yang wajib kami beli sebagai murid batu. Aku buka lipatan kertas folio ini. Ini lis
belanja wajib yang harus aku lakukan segera:
Daftar Belanja Murid Semester Pertama PM
Buku
1. Kamus Arab-Indonesia oleh Prof. Mahmud Yunus
2. Kamus Inggris-Indonesia oleh Hassan Shadily-John M. Echols
3. Al-Quran
4. Durusul Lughoh Arabiah dan Muthala’ah
5. Nahwu Sharaf
6. English Lesson
7. English Grammar
8. Paket buku pendukung jilid 1
Perlengkapan pakaian
1. Sarung
2. Ikat Pinggang
3.
Kopiah
4. Baju Pramuka
5. Baju olahraga (kaos dan training pack)
6. Papan nama untuk disematkan di baju. Latar belakang ungu untuk anak kelas 1. Waktu
pembuatan 10 menit.
Perlengkapan lain:
1. Shunduk, atau lemari kecil dengan kunci
2. Firash, kasur lipat
3. Kalam kaligrafi
“Kak, dimana saya bisa beli barang-barang ini?”, tanyaku pada Kak Iskandar.
“Semuanya tersedia lengkap di toko koperasi di sebelah ruang pertemuan. Kalau saya jadi kamu,
saya akan berangkat sekarang, karena antrinya panjang”, jawab Kak Is.
Atang, Dulmajid, Raja, Baso dan Said ternyata juga teman sekamarku. Kami sepakat untuk belanja
bersama. Sekitar 200 meter dari asrama kami adalah bangunan koperasi bertingkat dua, tingkat satu
khusus toko buku dan tingkat dua untuk segala kebutuhan lainnnya. Di atas pintu masuknya yang
terbuka lebar tertulis “Student Cooperative”, lalu diikuti sebuah tulisan Arab yang sangat artistic
sehingga aku kesulitan membacanya. Tapi aku yakin artinya kira-kira koperasi pelajar.
Tingkat satu lebih mirip gudang buku dari pada toko buku. Setiap bagian dinding tertutup gundukan
buku yang hampir menyentuh langit-langit. Para petugas yang berambut cepak seperti bintara polisi
dengan gesit membantu para murid yang membeli buku tahun ajaran ini. Di sebuah sudut, tumpukan
ini menjelma seperti pilar-pilar Yunani dengan balok-baloknya adalah buku-buku setebal 20
centimeter. Semua buku ini bertuliskan huruf Arab yang tidak bisa aku baca.
“Itu dia kamus dan eksiklopedia arab yang paling terkenal, namanya Munjid. Nanti kalau sudah 3
tahun kita baru boleh mempelajarinya,” Raja dengan bangga berbisik kepada ku. Matanya nanar
menatap buku ini. Dasar si kutu buku. Kalaulah ada uang, mungkin dia langsung membeli dua buah
Munjid sekaligus.
Di sebelah lain ada tumpukan buku yang lebar-lebar dan tebal, uniknya semua halamanannya
berwarna kuning. Tampak sekilas seperti buku lama. Tapi sampulnya tampak baru sungguh indah,
berwarna marun dengan kelim-kelim keemasan mengelilingi judulnya yang berbahasa Arab. Kembali
tanpa diminta Raja menjelaskan panjang lebar.
“Eh, kalian tahu nggak, inilah buku yang melihat hukum Islam dengan sangat luas. Buku ini berjudul
Bidayatul Mujtahid yang ditulis ilmuwan terkenal Ibnu Rusyd atau Averrous seorang cendikiawan
berasal dari Spanyol. Isinya adalah fiqh Islam dilihat dari berbagai mazhab, tanpa ada paksaan untuk
ikut salah satu mazhab. Saya tahu PM membebaskan kita memilih. Sayang, baru 2 tahun lagi kita
boleh mempelajarinya.” Wajahnya Raja tampak kecewa sangat serius.
Buku besar lainnya didominisi warna hijau dan biru. Kali ini saya dengan cepat bisa membaca, Oxford
Advanced Learners Dictionary. Kali ini Raja sumringah.
”Nah kalau yang itu aku sudah punya, kemarin aku bawa ke kelas. Kau ingatkan? Yang aku angkat di
muka kau itu”, dengan logat Medan yang kental. Padahal menurut daftar buku wajib, kamus ini baru
akan kami pakai tahun depan.
Aku segera mengikuti antrian memesan buku. Kak Herlambang, begitu tulisan di papan namanya,
tersenyum kepadaku ketika sampai giliran.
“Faslun awwal? Kelas satu kan? Dari mana asalmu?” Tanyanya basa-basi. Tanpa diminta tangannya
segera bekerja cepat menjangkau buku dari beberapa rak yang berjejer di belakangnya. Dalam
sekejap, sebuah tumpukan buku, persis dengan judul yang ada dalam daftar belanjaku siap di
depanku.
“Thayyib. Baiklah. Ini buku wajib kelas satu. Ada yang lain”, tanyanya.
Selesai dengan buku, kami naik ke lantai dua untuk membeli kasur lipat dan seragam.
Menurut aturan, kami punya 4 seragam. Yaitu sarung dan kopiah untuk waktu shalat, baju pramuka
untuk hari pramuka, baju olahraga untuk lari pagi dan acara bebas, dan baju kemeja dan celana
panjang rapi untuk sekolah. Kami sudah membelinya semua.
“Semua beres, kecuali lemari kecil. Apa istilahnya tadi? Suluk?” Tanya Said pada Raja, yang selalu
memamerkan kehebatan kosa kata Arab dan Inggrisnya.
“Bukan suluk, tapi shunduq, pakai shin”, jawab Raja dengan tajwid yang sangat fasih.
“Artinya harfiahnya adalah kotak, bukan lemari. Ini sebagai tempat pakaian, buku, dan segala macam
yang kita punya. Lemari kayu kecil yang lebih menyerupai kotak,” terang Raja dengan bersemangat.
Dia selalu dengan senang hati berbagi informasi apa saja, melebihi dari apa yang kami Tanya. Dan
sepertinya dia sangat menikmati momen dia lebih tahu dari kita semua. Bagusnya, dia tidak pelit
dengan informasinya.
“O iya, shu-nn-du-uq”, eja Said mencoba mengikuti kefasihan Raja.
Tempat membeli lemari kecil ini di sebuah lapangan di sebelah perpustakaan. Di pinggir lapangan
terpancang sebuah spanduk bertuliskan: Shunduk lil bai’. For Sale. Di tengah lapangan tampak
menggunung lemari bermacam warna yang ditumpuk-tumpuk. Ukurannya mulai dari dari tinggi
setengah meter sampai setinggi badan.
Selain lemari baru, ada juga yang bekas, dan tentunya lebih murah. Tampak beberapa murid lama
memikul dan mendorong lemari lamanya dan menjual kepada pengurus koperasi. Sedangkan
beberapa anak lain membopong lemari ke asrama mereka. Bagaikan tumbukan butir-butir gula yang
dirubung oleh semut, lemari-lemari ini datang dan pergi.
Melihat uang di kantongnya terbatas, aku memutuskan untuk membeli lemari bekas saja. Untuk itu
aku harus memilih baik-baik lemari yang masih bisa dipakai. Ada kuncinya yang rusak, engsel, ada
yang semuanya bagus, tapi baunya minta ampun, ada yang sempurna, tapi kakinya patah. Ada yang
semuanya bagus, tapi warnanya kuning membakar mata. Belum ada yang pas.
”Ya akhi, taal, khuz sur’atan” katanya seorang senior sambil mengetok-ngetok jam tangannya. Aku
bengong tidak mengerti, yang aku tahu jamnya menunjukkan 16.50 siang. Melihat anak baru
terbengong-bengong, dia baru ingat kalau dia masih berbicara bahasa Arab. Segera dia ganti dengan
Indonesia. ”Ya akhi, silakan pilih sebelum yang kehabisan waktu. Sebentar lagi lonceng ke masjid”,
teriak senior itu melihat aku masih berlama-lama memilih.
Di antara tumpukan lemari-lemari tua berwarna hitam, tampak sebuah lemari hijau tua kecil setinggi
pinggang yang kokoh. Semuanya masih mulus dan tidak ada yang retak. Saya segera membayar
kepada senior tadi sebanyak 15 ribu rupiah. Sementara Atang, Baso, Dulmajid, Raja dan Said juga
telah menemukan pilihan mereka.
Matahari telah tergelincir di ufuk dan gerimis merebak ketika kami beriring-iringan menggotong lemari
masing-masing melintasi lapangan besar menuju asrama kami. Said yang tinggi besar dengan gagah
dan enteng membopong lemarinya. Atang yang membeli lemari yang lebih besar tampak terengahengah
menahan beratnya, sambil membetulkan kacamatanya yang melorot terus. Raja, Baso dan
Dulmajid, walau berbadan tidak besar memperlihatkan kekuatan alami mereka sebagai anak
kampung yang tangguh. Walau kepayahan, mereka maju dengan pasti. Aku yang paling kurus
berjalan terseok-seok paling belakang, bergulat dengan lemari yang beratnya serasa 3 kali berat
badanku.

SERGAPAN PERTAMA TYSON
Teng…teng…teng…teng…Suara lonceng besar di depan gedung pertemuan bergema sampai jauh.
Belum lagi gaungnya padam, semua penjuru sepi senyap, tidak ada orang satupun. Kami
berpandang-pandangan dengan kalut. Kalau mengikuti qanun yang dibacakan tadi malam, lonceng 4
kali di jam 5 artinya adalah tanda semua aktifitas harus berhenti dan semua murid sudah harus ada di
masjid dengan pakaian rapi dan bersarung.
Jangankan duduk manis bersarung di masjid. Kami masih menggotong lemari di tengah lapangan.
Artinya kami telah melawan perintah lonceng, alias terlambat. Dari kejauhan, aku lihat asrama kami
seperti rumah hantu, kosong, sepi, tak satu jiwa pun. Pasti mereka semua telah ada di masjid, sesuai
aturan waktu kegiatan yang disiplin.
Kami seperti sekawanan tentara yang terjebak di padang terbuka, tanpa perlindungan sama sekali.
Kami telah dengan telak melanggar qanun di hari pertamanya berlaku. Aku hanya bisa berharap,
sebagai murid baru kami bisa dimaafkan terlambat barang 5 menit. Lagi pula, sejauh ini tidak ada
petugas keamanan yang mencegat kami.
“Ayo lebih cepat”, seru Said di posisi paling depan. Posisinya seperti pelari sprint yang memimpin
paling depan. Ringan, enteng, cepat.
“Kumaha cepat, ini beratnya minta ampun”, balas Atang, sambil menggerutu. Dia menyeret lemarinya
di tanah. Raja tidak bisa menyembunyikan bahasa aslinya, yang terdengar hanya “bah, bah, bah”
berkali-kali.
Aku, Baso dan Dulmajid mendengus-dengus dari belakang.
“Tenang akhi, sebentar lagi kita akan selamat. Asrama hanya tinggal 100 meter lagi.Insya Allah tidak
akan kena hukum. Sedikit lagi…” kata Said dengan optimis memberi kami harapan.
Harapan yang terlalu indah. Tiba-tiba....wusss...... Sebuah sepeda hitam berkelebat kencang dan
berhenti mendadak di depan kami yang sedang ngos-ngosan. Jejak sepedanya membentuk setengah
lingkaran menghalangi jalan kami.
“Qif ya akhi....BERHENTI SEMUA,” suara keras mengguntur membuat kami terpaku kaget. Rasanya
darah surut dari wajahku. Gerimis semakin rapat. Langit senja semakin kelam.
Duduk tegap di sadel sepedanya, kami melihat seorang laki-laki muda, berjas hitam, berkopiah,
sebuah sajadah merah tersampir di bahu kirinya. Di dadanya tersemat sebuah pin perak bundar
berkilat bertuliskan “Kismul Amni”—Bagian Keamanan. Kalau ini film Cowboy, dia adalah seorang
sheriff berwajah keras yang siap mengokang pistolnya. Dengan enteng dia meloncat dari sadel.
Sepedanya diberi kaki. Langkahnya cepat menuju kami. Sret..sret..sret, sarungnya tidak
mempengaruhi keligatan gerakannya.
Perawakannya pendek gempal. Menyerupai sang juara tinju kelas berat dunia Mike Tyson-- tapi
dengan ukuran lebih kecil. Geraknya sigap dan memburu. Matanya tidak lepas menusuk kami. Bagai
pemburu ulung, raut mukanya waspada dengan gerakan sekecil apa pun.
“Maaza khataukum. Apa kesalahan kalian?” tanyanya dengan suara seperti guruh.
Kami gelagapan. Tidak siap menjawab pertanyaan interogatif di senja bergerimis dan dalam keadaan
kepayahan ini.
“Apa salah kalian?” berondongnya sekali lagi, tidak sabar. Gerimis bercampur dengan percikan
ludahnya. Mukanya maju ke depanku. Napasnya mengerubuti mukaku. Aku katupkan mataku rapatrapat.
Apa yang akan dilakukan Tyson ini padaku.
Melihat aku menutup mata, dia membentak lebih keras: “Jangan takut dengan manusia, JAWAB!”
Aku tidak punya pilihan lain untuk memberanikan diri menjawab. Ragu-ragu.
“Maaf…maaf…kak, kami terlambat. Tapi hanya sedikit kak, 5 menit saja. Karena harus membawa
lemari yang berat ini dari lapangan....”
“Sudah berapa lama kalian resmi jadi murid di PM”, katanya memotong kalimatku.
“Dua...dua...hari kak”, jawabku terbata-bata.
“Baru dua hari sudah melanggar. Bukankah kemarin malam qanun dibacakan dan kalian tahu tidak
boleh terlambat.”
Kami membisu, tidak bisa menjawab. Hanya napas kami yang naik turun terdengar berserabutan.
“Kalian sekarang di Madani, tidak ada istilah terlambat sedikit. 1 menit atau 1 jam, terlambat adalah
terlambat. Ini pelanggaran.”
Sambil satu-satu membaca papan nama kami, kakak mirip Tyson ini menyalak lagi:
“Ingat, Alif, Said, Atang, Dulmajid, Baso dan Raja, saya akan selalu ingat nama kalian. Jangan
diulangi lagi.”
Kami bernapas sedikit lega. Gelagatnya, kami akan lolos dari hukuman dan hanya diberi peringatan.
Sambil mengucapkan terima kasih dan merunduk-rundukkan kepala, kami kembali beringsut
membawa lemari-lemari sialan ini.
“Hei, nanti dulu, kalian tetap dihukum. Di PM tidak ada kesalahan yang berlangsung tanpa dapat
ganjaran” hardik si Tyson.
Kami terkesiap. Mukaku setegang besi.
“Ambil posisi berbaris bersaf. Tangan kanan kalian di bahu kiri teman. CEPAT!”
Kami patuh. Membuat barisan. Aku berdiri paling ujung dekat Tyson, menyusul Atang dan Said.
Sementara itu, tanpa kami sadari, dari tadi ratusan murid yang sedang membaca Al-Quran di masjid
lantai dua melihat kami dengan ekor mata. Kami adalah tontonan gratis menjelang Maghrib.
“Sekarang, pegang kuping teman kalian sebelah kiri. CEPAT”
Kami menurut. Aku bergumam dalam hati, kalau cuma jewer gak apa-apa. Kalah menyakitkan
dibanding hukuman rotan waktu mengaji di kampung dulu. Yang berat cuma rasa malu ditonton
ratusan orang…..
Belum selesai gumamanku, kuping kiriku berdenging dan panas. Aku lihat, tangan Tyson dengan
keras memelintir kupingku.
“Jewer kuping teman sebelahmu sekuat aku menjewermu”
Belum dia selesai, aku telah menjewer kuping Atang, sementara Atang menjewer kuping Said, yang
memegang kuping Raja yang memegang kuping Dulmajid yang memegang kuping Baso. Semakin
kencang jeweran yang kuterima, semakin kencang aku menjewer Atang dan semakin ganas Atang
menjewer Said, begitu seterusnya. Sementara itu yang paling ujung, Baso yang malang, tidak punya
mitra untuk saling jewer menjewer. Dia hanya meringis-ringis tanpa bisa melampiaskan kesumatnya.
Dengan sudut mata aku lihat dia akhirnya menjewer pintu lemarinya yang keras.
Dari lantai dua masjid, beberapa orang tampak cekikitan. Mereka menutup mulut mereka dengan
kopiah, tak kuasa menahan tawa melihat kami melakukan jewer massal ini. Sementara itu, di bawah
tangga masjid aku melihat seorang laki-laki berbaju putih, bersorban Arafat, berdiri diam sejak kami
dihentikan Tyson tadi. Bagai elang mengancam ayam kampung, matanya tajam mengawasi kami.
Siapakah gerangan dia?
Itulah perkenalan kami pertama dengan orang yang aku gelari Tyson ini. Dia adalah murid senior
dengan nama lengkap Rajab Sujai dan menjabat sebagai kepala Keamanan Pusat, pengendali
penegakan disiplin di PM. Kerjanya berkeliling pondok, pagi, siang dan malam dengan kereta angin.
Dia tahu segala penjuru PM seperti mengenal telapak tangannya. Begitu ada pelanggaran ketertiban
di sudut PM manapun, secepat kilat dia meluncur cepat dengan sepedanya ke tempat kejadian dan
langsung menegakkan hukum di tempat, saat itu juga, seperti layaknya superhero. Dia irit dengan
komunikasi verbal, tapi tangannya cepat menjatuhkan hukuman. Keras tapi efisien. Tidak heran,
semua murid menakutinya. Baru melihat sepeda hitam berkelebat, hidup rasanya sudah was-was.
Dan bagi kami berenam, Tyson kami nobatkan sebagai horor nomor satu kami.


1 Response to "Negeri lima Menara 1"

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified