Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Maryamah Karpov II

Mozaik 21

BARBARA


TAK terasa, sebulan sudah aku di kampung. Tanpa pekerjaan, berijazah universitas, maka profil demografiku dapat digambarkan seperti ini: pengangguran paling intelek di Pantai Timur Belitong.

Konsolidasi, itulah yang kulakukan sekarang, konsolidasi. Secara diplomatis istilahnya begitu. Namun, yang sesungguhnya terjadi adalah ungkapan konsolidasi itu untuk membujuk diri sendiri. Sebab, aku ini tak lebih dari jutaan orang muda berijazah perguruan tinggi di negeri ini yang gugup ketar-ketir menghadapi masa depan. Jika melihat tabiat para petinggi dan wakil-wakil rakyat di negeri ini, rasanya suram, suram sekali masa depan itu.

Maka, aku belajar melihat hidupku dari perspektif yang berbeda. Yakni, saat-saat ini kuanggap aku tengah memberi hadiah pada diriku sendiri dengan sedikit berLeha-Leha di

kampung. Cooling down, begitulah kira-kira. Toh, selama ini aku telah mendidik diriku demikian keras, sejak kecil, tanpa rehat, demi pendidikan itu, demi masa depan itu.

Karena itu, saban pagi, kunikmati saja saat-saat ketika ibuku menjelma menjadi warta berita RRI pukul tujuh. Merepetlah sindiran tentang mengapa aku tak kunjung bekerja, tentang betapa pemalasnya anak-anak muda Melayu zaman sekarang.

"Sudah kubilang dulu!" cetusnya. "Masuk saja madrasah, mengajar mengaji, cepat-cepat cari istri, dapat pahala, dapat ransum beras!"

Ibu sendiri, sangat bangga dengan sepucuk kertas yang menandai dirinya pernah sekolah dua tahun di SR (Sekolah Rakyat). Ia juga mendapat pendidikan tambahan madrasah. Ijazah SR itu memberinya perbedaan sangat besar dari kebanyakan lelaki dan perempuan angkatannya. Pada masa itu Ibu dianggap sangat terpelajar. Perbedaan ini adalah bisa membaca.

Sari berita Ibu kemudian berulang-ulang soal si A yang anaknya sudah masuk SD, si B yang anaknya kembar tiga, dan si C yang akan segera beranak.

"Apa yang kaucari dalam hidupmu itu?!" Aku tafakur seperti orang mengheningkan cipta. Dengan cara apa aku dapat menerangkan pada Ibu soal konsep ekuilibrium ekonomi? Bahwa aku, seperti halnya jutaan sarjana yang sedang gugup itu, memiliki cita-cita demikian tinggi, tapi sistem keseimbangan ekonomi republik ini belum bisa menampung orang-orang seperti kami. Sempit

sekali lapangan kerja itu. Seandainya Ibu kenal sedikit saja dengan Edgeworth, secepat kilat dapat kulukis diagram di atas meja makan ini bahwa ekonomi bangsa ini salah-salah bisa bangkrut, dan orang sepertiku dengan gampang tergulung dalam kebangkrutan itu. Tak jadi sarjana, dan tak tinggi harapan, barangkah akan membuat hidup lebih mudah. Maka di negeri ini, para pemimpi adalah para pemberani. Mereka kesatria di tanah nan tak peduli. Medali harus dikalungkan di leher mereka.

Warung kopi bersemi, pukul tujuh pagi. Diam-diam, saat Ibu berpaling sedikit saja, aku melompat kabur menuju pasar.

Bergabunglah aku di Warung Kopi Usah Kau Kenang Lagi dengan orang-orang Ho Pho, Khek, Hokian, Tongsan, Sawang, orang-orang bersarung, dan orang-orang Melayu. Aku duduk melamunkan masa laluku nan berlika-liku dan masa depanku yang kabur sayup-sayup sampai di atas papan catur. Betapa tak menyenangkan hidup menganggur. Berusia di atas dua puluh lima tahun, masih makan beras hasil jerih payah orangtua, masih berteduh di bawah atap rumah orangtua yang beranjak uzur, adalah bentuk penderitaan diam-diam, persis kanker usus dua belas jari yang kronis. Aku telah mengambil hikmah dari beragam pengalaman pahit hidupku tapi nyaris tak ada hikmah apa pun dari menganggur. Para penganggur bertempur seuap hari melawan rasa pesimis yang menggerogoti pelan-pelan, waktu yang hampir habis, kesempatan yang kian tipis,

saingan yang makin ganas, kepercayaan diri yang merosot, dan harga diri yang longsor, pertempuran dalam perang yang terlupakan. Perang yang tak pernah dibuatkan novel dan film. Sekarang aku mafhum mengapa para penganggur sering tampak seperti orang linglung. Dan, mataku terbelalak membaca angka pengangguran Indonesia mencapai puluhan juta orang? Begitu banyak orang menderita di sini? Sudah kukatakan padamu, Kawan, di negeri ini, mengharapkan bahagia datang dari pemerintah, agak sedikit riskan.

Aku punya banyak ide sebenarnya tentang masa depan itu. Menyadari sudah sangat terlambat untuk menjadi seorang pemain bulu tangkis, tak mengapa, aku masih bisa mengangankan diriku jadi guru, jadi pegawai kantoran di sebuah instansi pemerintah, jadi penyiar radio, juru taksir pegadaian, atau mungkin jadi pelatih sepak bola, atau paling tidak, wasitnya. Namun, ide-ide itu tertelan lagi setiap kuteguk kopiku. Saat ini, kurasakan merupakan saat setiap pagi aku masih tetap mendapati diriku sebagai seorang Melayu pemimpi. Demikian kulalui hari demi hari, dengan gugup.

Bahagia, satu-satunya, hanya jika sore menjelang dan aku menyeduh teh dan kopi yang kudapat dari petualanganku di berbagai penjuru negeri untuk Ayah. Kami duduk berdua dalam diam. Ayah dengan syahdu, mencium aroma teh dan menakar rasa di ujung lidahnya. Momen magis itu datang waktu ia mengangkat wajahnya dari cangkir dan satu kedutan kecil di matanya membuatku paham bahwa teh Alhambra ini lebih enak daripada teh Darjeeling kemarin. Aku telah begitu lihai membaca wajah ayahku. Lalu, kami lewatkan sore yang indah berdua, tetap diam.

Bahagia lainnya muncul di warung kopi. Setiap orang dari setiap suku mulai kukenal sebagai pribadi. Tak hanya namanya kutahu, tapi pekerjaannya dan asal usulnya. Aku senang mengamati tabiat subetnik sekelilingku. Bagiku, lingkungan adalah semacam laboratorium perilaku. Masing-masing punya kisahnya sendiri.

Orang-orang Khek, Hokian, atau Tongsan di kampung kami adalah suku yang serius. Terutama yang tua-tua. Mereka menyadari diri sebagai perantau dan mendidik turunannya dengan mentalitas perantau: disiplin, efektif, keras.

Humor mereka tak lucu, hambar, kemarau, dan orang-orang itu selalu berada di kutub-kutub ekstrem. Jika kaya, kayanya tiada banding. Jika miskin, ibaratnya, sampai makan tanah. Jika berwajah jelek, mohon maaf, wajahnya rata. Namun, jika cantik—A Ling contohnya—tatapannya mampu mencairkan tembaga.

Begitu pula jika baik, dermawan lebih daripada siapa pun, memberi pada siapa saja tak pandang bulu, mulia sekali bak santa-santa. Di kampung kami, beberapa konfusius Tionghoa tak sungkan menyumbang pada orang Melayu untuk membangun masjid, bahkan ada yang membangun sendiri masjid itu. Namun jika sudah jahat, tak sekadar menggarong, tapi merekalah gembongnya.

Berbeda dengan orang-orang bersarung. Semula kuduga kehidupan mereka yang keras di laut membuat mereka tak punya selera humor. Namun, aku salah duga. Mereka memang sulit tertawa. Jarang kulihat mereka terbahak-bahak seperti orang Melayu, tapi ternyata jiwa komedi mereka amat memikat.

Kelucuan bagi mereka, tak masuk akal siapa pun. Ini kusebut—istilahku sendiri—superficial joke, yakni komedi dangkal, spontan tanpa rencana, lugu, dan menjadi lucu bukan karena substansi komedi itu, melainkan karena cara mengomunikasikannya.

Misalnya, mereka menyamakan wajah kepala suku mereka dengan wajah ikan kerapu. Hal itu sangat lucu bagi mereka dan mereka tertawakan—hal yang sama itu—selama dua tahun. Atau, hanya karena temannya kebesaran kopiahnya, tengik bau sarungnya, atau terbalik menyalakan rokok, mereka bisa menertawakannya berbulan-bulan. Kejadian-kejadian itu sebenarnya tak lucu, tapi lihadah ketika mereka berkisah, siapa pun akan tergelak. Lebih dari itu, sesungguhnya orang-orang bersarung adalah suku yang bahagia sebab bisa gembira dari hal-hal yang sederhana.

Tak dinyana, suku Sawang, yangjuga keras peri kehidupannya, pemangku pekerjaan kasar yang tak mampu dikerjakan suku lain, para kesatria dok-dok kapal, pahlawan bengkel-bengkel bubut, pangeran penggali sumur di lubang batu, buruh kasar penjahit karung yuka, kuli-kuli panggul pelabuhan, sangar-sangar tampangnya, teguh garis wajahnya, tegas rahangnya, ternyata punya selera humor yang hebat.

Sore, usai membanting tulang, mereka mengelilingi juru-juru parodi mereka yang bergaya meniru-nirukan pidato pejabat yang mereka lihat di televisi. Atau berjoget riang menyaru para artis dangdut, sambil bernyanyi. Syairnya mereka ganti dengan frasa Jenaka dari bahasa mereka sendiri, untuk menggoda temannya, merayu kekasihnya, atau menyindir majikan. Inilah intelligent joke: guyonan bernuansa ironi, penuh apresiasi akan sendi-sendi sosial termasuk seni. Jarang ada di antara mereka yang sekolah tapi humor mereka humanis, santun, dan terpelajar.

Humor orang Ho Pho, lain pula. Komunitas ini jumlahnya kecil. Mereka turunan prajurit Ho Pho, tentara bayaran dari daratan Tiongkok, kongsi kumpeni dulu. Humor mereka agak ganjil, psikopatik, dan sering agak membahayakan.

Misalnya, mereka dengan sengaja memelihara anjing yang dari waktu ke waktu diberi makan kumbang hitam sehingga galaknya seperti Firaun. Jika mereka berburu mendapat babi hutan, sebelum babi itu dilungsurkan ke penggorengan, sang anjing didandani seperti seorang gladiator, diadu dengan babi hutan tadi, yang mereka dandani seperti kopral kumpeni. Babi Hutan menguik-nguik, mereka terbahak-bahak di luar kandang.

Bentuk lain humor bagi subetnik Ho Pho yang unik ini adalah taruhan. Taruhan merupakan salah satu guyonan favorit mereka, dan taruhan mereka selalu gila-gilaan.

Misalnya, zaman dulu, konon mereka mempertaruhkan istri dalam adu babi hutan melawan anjing itu.

Mereka bertaruh untuk mempertaruhkan hal-hal yang konyol, tak penting, dan tak masuk akal. Misalnya, jika Presiden berpidato di televisi, mereka taruhan berapa kali Presiden batuk. Mereka menyimak pidato Presiden dengan saksama tapi sama sekali tak peduli dengan isi pidato. Suka-sukalah Presiden mau bicara apa, tak ada urusan dengan mereka. Mereka menghitung dengan teliti berapa kali Presiden batuk, yang kalah taruhan sungguh mengenaskan nasibnya, misalnya harus minum kecap campur spiritus, atau k makan seratus cabe rawit mentah yang paling pedas dan B setelah itu tak boleh minum selama sehari-semalam.

Hanya berdasarkan berapa merah rapor anaknya, mereka berani bertaruh mengupas kelapa hanya dengan menggunakan gigi. Namun, mereka selalu gentleman. Jika sudah bertaruh, mereka konsekuen. Taruhan disepakati dengan cara saling memegang daun telinga. Berbeda dengan orang Melayu. Ketika membualkan taruhan sungguh luar biasa lagaknya, jika kalah, dan akan dituntut taruhannya, ia menghilang, tak tahu ke mana. Alasannya selalu, waktu itu ia hanya bercanda saja.

Orang Ho Pho senang berburu dan membuat kalung dari telinga monyet yang dikeringkan, bagi mereka itu seru dan lucu. Atau, untuk tujuan bercanda, mereka memasukkan berbagai ramuan sinting ke dalam minuman temannya sehingga temannya mabuk dua h ari-dua malam. Ramuan itu tak kira-kira: gula aren dicampur ragi dan sedikit spiri-

tus. Melihat temannya bergulung-gulung di tempat tidur, mereka tertawa berguling-guling.

Baru-baru ini San Thong, orang Ho Pho tukang tambal ban, harus berurusan dengan polisi.

Demi menghibur pelanggannya, San Thong memasukkan ujung pipa kompresor gas angin pada seekor kambing yang kebetulan melintas di depan bengkelnya. Kontan, kambing itu kembung.

Sema'un, pemilik kambing, tersinggung berat kambing betinanya diperlakukan tidak senonoh. Apalagi gara-gara itu, Barbara, nama kambingnya itu, kehilangan nafsu makan. Sebab ia menderita sembelit-stafikasi alias susah buang hajat. Kabarnya penyakit ini banyak menimpa para eksekutif muda di Jakarta.

Sema'un mengadukan kelakuan San Thong pada Mahadip Sheriff, seorang Banpol alias bantuan polisi. Ma-hadip Sheriff kesulitan menemukan delik untuk pelecehan terhadap kambing. Akhirnya, pertikaian diselesaikan secara kekeluargaan. San Thong disuruh membaca permintaan maaf secara terbuka pada Sema'un, dan Barbara tentu saja, dan diwajibkan mengangon Barbara selama dua bulan. Sejak itulah nama Sema'un jadi Sema'un Barbara dan San Thong jadi San Thong Pompa.

Suatu sore, datanglah ke kampung kami rombongan pemain sandiwara Melayu Dul Muluk. Mereka tampil di lapangan sekolah nasional.

Orang Melayu berduyun-duyun menonton paling depan dan tertawa senang melihat penampilan karakter ko-median yang terampil memainkan atraksi api obor. Tawa mereka tentu saja dibarengi komentar sana sini tentang pakaian sang komedian, tentang caranya memainkan obor, tentang kesalahan-kesalahan kecil karakter itu. Orang Melayu memang senang berkomentar sana sini.

Orang Sawangjuga tertawa, terutama saat sang komedian menymdh-nyindir paduka raja dengan rima-rima pantun. Mereka bersenda gurau sambil meniru-nirukannya.

Orang-orang Khek, Hokian, dan Tongsan yang berbaris rapi di belakang diam saja. Mereka, yang kering jiwa humornya itu, sama sekali tak bisa menangkap substansi lucu dari adegan-adegan itu. Bagi mereka, laki-laki dibe-daki untuk jadi tontonan adalah hal yang mengerikan. Tak seharusnya seorang lelaki berbuat begitu. Apa sudah tak ada pekerjaan lain? Dasar pemalas!

Rombongan orang Ho Pho yang menonton di belakang orang-orang Khek, Hokian, dan Tongsan juga tampak dingin, bahkan tersenyum saja tidak.

Tiba-tiba, celaka, sang komedian melakukan kesalahan. Api obor yang ia semburkan lewat bensin dari mulutnya membakar wajahnya sendiri. Ia panik dan menjerit-jerit. Orang-orang Melayu dan Sawang serentak berdiri dan terpana tak dapat bergerak. Mereka terpaku melihat pemandangan yang mencemaskan. Orang-orang Khek, Hokian, dan Tongsan berteriak-teriak ketakutan, dan berkali-kali berseru, "Apa kataku tadi!? Jangan main-main dengan api! Berbahaya! Haiyaaaa Sebaliknya, orang-orang Ho Pho yang dari tadi diam membatu kini malah tertawa terbahak-bahak. Bagi mereka, inilah bagian paling lucu dari pertunjukan. Mereka melonjak-lonjak girang tapi hanya mereka yang terpikir untuk menolong komedian malang itu. Sambil berlarian membawa ember air, mereka tertawa terpingkal-pingkal,

Mozaik 22

NAH, inilah hikayat orang Melayu Dalam sang mayoritas.

Sikap mereka selalu moderat, berada di tengah karakter kaum minoritas Khek, Hokian, Tongsan, Ho Pho, orang-orang bersarung, dan suku Sawang.

Jika orang Melayu kaya cukuplah untuk sekali ke Tanah Suci. Umpama miskin, selalu merasa dirinya beruntung. Maka tak pernah ada yang melarat. Jika baik, tanggung, jika jahat, tak kan lebih dari bromocorah pencuri setandan pisang, itu pun pisang mentah. Jika pintar jadi carik kantor desa, jika bodoh bahkan tak bisa membedakan huruf B dengan M. Tak tahu kalau Purwakarta dan Purwokerto itu berbeda.

Komedi orang Melayu Dalam bersifat artifisial dan politikal. Karena itu, salah satu bentuk klasik humor mereka adalah membual.

Mereka seriang sekali membualkan bahwa semua orang penting dikenalnya, semua artis sobatnya, bahwa menteri A itu kerabatnya. Padahal, hanya karena ia bertetangga dengan ipar menteri itu dan ayam mereka pernah ketahuan kawin. Sang menteri sendiri tak mengaku iparnya yang berengsek itu sebagai saudara. Harapan si pembual tentu saja agar dia disegani karena banyak mengenal pejabat. Inilah yang kumaksud sebagai humor artifisial—humor palsu—dan humor politikal.

Namun, obrolan ngalor-ngidul di warung kopi atau di kenduri-kenduri selalu kurang afdol jika si pembual belum datang.

Sang pembual sering malah dengan sengaja dibelikan kopi dan kue hok lo pan, lalu ditanggap sejadi-jadinya. Bualan itu, minta ampun, sungguh sinting, misalnya seorang pembual mengisahkan ia memasang pukat dua ratus hasta. Seratus hasta dipasang di sungai, sedang ujung seratus hasta lebihnya ia biarkan melintang di darat.

"Dari pukat di sungai, aku dapat ikan tapa, tak kurang dari sebesar paha," bualnya edan. "Dan dari pukat yang di darat, aku dapat pelanduk."

Seisi warung kopi tertawa terpingkal-pingkal. Tepuk tangan bertubi-tubi. Pembual lain tak mau kalah.

"Pak Cik, di tempat kau memasang pukat itu, minggu lalu aku menyelam,'' ujarnya serius.

"Ah, di dasar sungai kutemukan termos, kubuka termos itu, amboi, ada air panas di dalamnya, kubuatlah kopi ' dalam air."

Tawa meledak lebih keras dari bualan pukat tadi. Demikian sahut-menyahut cerita-cerita gila. Pengunjung tak henti-henti mengipasi kedua pembual. Bahkan, mereka rela patungan untuk menambah gelas kopi dan hok lo pan agar kedua pembual tak cepat pulang

Anehnya, setiap orang tahu bahwa semua itu hanya bualan. Semua orang mafhum bahwa peristiwa-peristiwa itu tak pernah terjadi. Namun, tak seorang pun merasa dirinya dibohongi, tak seorang pun merasa risi, merasa dihina intelektualitasnya, dibodohi, direndahkan, atau tersinggung, dan tak seorang pun mencoba memberikan gambaran logis pada para pembual dan hadirin.

Lama aku memikirkan fenomena ini. Akhirnya kutemukan jawaban. Bahwa yang dikagumi dan ditertawakan para pengunjung dari para pembual sesungguhnya bukan kisah bualnya, melainkan kemampuan imajinasi pembual sehingga mampu terpikir akan misalnya: memasang pukat di sungai dan di darat atau menemukan termos di dasar sungai. Fenomena membual membuatku makin memahami kaumku sendiri bahwa imajinasi adalah salah satu esensi dari nature orang Melayu. Begitulah cara mereka menertawakan kepedihan nasib.

Maka, paling tidak di Tanah Melayu, tidaklah mudah menjadi pembual. Mesti kreatif dan imajinatif. Karena itu, pembual merupakan jabatan informal yang penting. Biasanya pembual memiliki keterampilan generik lain, yakni jago pantun. Jasanya selalu diperlukan oleh rombongan mempelai pria untuk upacara berebut pintu. Sang jago pan-

tun mengadu pantunnya dengan wakil mempelai perempuan. Jika menang, mempelai perempuan baru mau keluar lewat pintu. Karena itu, saat musim kawin tiba, pada bulan-bulan Agustus atau September sebelum musim hujan, para pembual sentosa berjaya.

Biang pembual paling jempolan tak lain Zainul Arifin. Za-inul yang bertubuh gempal khas kuli dan berwajah seperti orang lugu tapi banyak utang adalah pembual kelas satu. Jika membual ada dalam olimpiade, dia pasti juara.

Bukan main bualan Zainul. Ia misalnya, bercerita tentang kehebatannya ngebut Waktu ia menikung di tikungan Buding yang terkenal itu, ujarnya serius, ia mendengar suara bersuit tak tahu dari mana. Rupanya, ia berhenti sejenak sambil mengisap rokoknya dalam-dalam.

"Suara bersuit itu dari lubang hidungku sendiri! Saking kencangnya motorku!"

Penonton yang merubungnya kontan bertepuk tangan. "Seratus delapan puluh kilometer per jam! Kecepatan-ku, seratus delapan puluh kilometer, per jam! Kalau kalian mau tahu!"

Orang-orang berdecak kagum. "Speedometer motorku, sampai tak bisa lagi mengatasi putaran gas! Tanganku sampai terkilir sebab terlalu lama memutar gas secara pol!"

Padahal, Kawan, sepeda motornya itu tak lebih dari Suzuki tangki biji nangka tahun 1968 yang jika digas keras-keras, bubuk karat berhamburan dari kap rodanya dan tutup kunci sampingnya, lampu seinnya, speedometer yang sudah tak berjarum itu, sadelnya, bahkan tangkinya bisa copot satu per satu.

Lain waktu ia membual pernah disalami Rhoma Irama. Ahai, mana mungkin? Kalau Kak Rhoma pernah ke Tanjong Pandan, aku pasti tahu!

Yang paling dahsyat, adalah bualnya soal helikopter tempur TNI AU.

Zainul, juru muda pompa semprot Meskapai Timah, dinas malam waktu itu. Tiba-tiba, dini hari, ia dan keempat kawannya seregu terkejut melihat sebuah helikopter terbang rendah dan limbung dekat tambang mereka. Helikopter Tempur Puma milik TNI AU itu jelas sedang mengalami kerusakan teknis dan harus segera mendarat darurat. Lampu merah tanda bahaya berkilat-kilat dan satu lampu depan helikopter menyorot Zainul dan kawan-kawannya.

Regu penyemprot paham maksud pilot helikopter. Mereka segera menyalakan obor dan membuat isyarat dengan menunjuk-nunjuk satu dataran tanah lempung yang kering tempat helikopter dapat mendarat. Helikopter itu pun mendarat dengan selamat.

Kejadian helikopter itu benar terjadi, helikopter itu akhirnya memang selamat, tapi versi zainul berbeda. Di Warung Kopi Nyiur Melambai ia membual.

"Waktu itu pukul dua pagi, gelap gulita!" katanya de« ngan wajah tegang.

"Petang tiga puluh!"

Petang tiga puluh, bukan main, gelap sekali. Istilah itu adalah ungkapan orang Melayu untuk menyebut malam paling pekat jika bulan hilang setiap tanggal tiga puluh almanak

"Helikopter itu berputar-putar di depanku, ekornya berasap karena baru saja ditembak oleh rudal kapal selam negeri jiran! Kapal selam ku sembunyi di muara!"

Hadirin menahan napas.

"Lima belas pesawat jet tempur F-16 musuh men-deru-deru mencari helikopter! Ah, aku keliru, bukan lima belas! Dua puluh enam! Suaranya dahsyat, sesekali mereka menembakkan roket, bumi bergetar-getar!"

Hadirin merubung meja Zainul.

"Ada pula penerjun payung, pasukan katak!"

Kian ramai pengunjung warung kopi mengelilingi Zainul, meninggalkan kopi mereka, bahkan melupakan papan-papan catur yang hampir skak mati.

"Keadaan sangat genting!"

Wajah para hadirin khawatir. Mereka bertanya bagaimana keadaan Zainul dan keempat kawan seregunya para juru muda pompa semprot waktu itu.

"Hanya aku yang masih berdiri tegak! Rajab, Jum, Jemali, Mahitar, teibiritrbirit ketakutan, mereka tiarap di dalam parit"

Zainul menceritakan itu sambil mendelik kiri-kanan kalau-kalau salah satu koleganya itu ada di situ. "Lalu, lalu para hadirin tak sabar.

"Helikopter makin kacau! Berputar-putar linglung hampir jatuh, api berkobar-kobar di ekornya, kipasnya ber-siut-siut tak terkendali."

Cerita makin seru. Seseorang menambah cangkir kopi di depan Zainul, semangatnya meluap-luap.

"Sekonyong-konyong, pilot mendongakkan kepala ke luar jendela helikopter, astaga! Ternyata mereka adalah pasukan baret merah TNI AU, bangsa kita sendiri!"

Hadirin melonjak, terbakar jiwa patriotnya.

"Pilot itu berteriak padaku: hoiii, kau yang di sanaaa, tolonglah kamiii, kami mau mendaraaat, helikopter ini akan meledaaaak

Hadirin tegang, mulut mereka ternganga.

"Lampu menyorot dari hidung helikopter itu, kupikir pastilah lampu sorot itu dapat dipakai untuk menyelamatkan tentara kita itu!"

"Jadi, apa yang kaulakukan, Nul?" hampir serempak hadirin bertanya. Mereka cemas, karena mereka ingin membela TNI AU. Zainul serta-merta berdiri dan melakukan gerakan semacam nyengir kuda, memamerkan gigi-gigi kuningnya.

"Inilah yang kulakukan untuk menyelamatkan helikopter tempur itu!"

"Apa maksudnya, Nul?"

"Waktu helikopter itu menyinariku, melalui gigi-gigiku yang bercahaya kena lampu sorotnya, aku memberi one* reka kode-kode Morse SOS agar mereka mendapat pedoman untuk mendarat darurat!"

Zainul menjelaskan maksudnya dengan membuka tump bibirnya, persis kuda mengunyah rumput. Hadirin terpana sejenak... terpana ... terpana ... lalu bergemuruhlah bertepuk tangan. Suitan sahut-menyahut tanda salut pada ZainuL

'Akhirnya para tentara kita itu selamat, tak kurang suatu apa!"

"Nul, tak kusangka kau secerdas itu! Tak percuma kau ikut Pramuka waktu itu!" puji Syarifuddin pemilik Warung Kopi Nyiur Melambai.

Zainul kemudian menceritakan bahwa karena tindakan heroiknya ku ia akan segera diundang oleh Markas Besar TNI AU dan menteri kesehatan untuk menerima bintang jasa di sebuah gedung di Taman Ismail Marzuki, di Jakarta. Dengan takzim, satu per satu hadirin menyalaminya. Beberapa orang memeluknya dengan haru. Wajah Zainul pias karena terharu. Dadanya naik-turun,

Mozaik 23

KEJADIAN mendaratkan helikopter tempur TNI AU dengan gusinya benar-benar mengharumkan nama Zainul. Sejak itu ia ditasbihkan menjadi Zainul Helikopter. Zainul dikagumi karena jangkauan imajinasinya yang mampu menghubungkan cerita helikopter rusak teknis itu dengan satu fragmen pertempuran sengit TNI melawan negeri jiran. Namun, meski hebat, Zainul tak berani macam-macam denganku. Dengan orang-orang lain, bolehlah ia berkicau-kicau. Kalau ada aku di sana, dia diam seribu bahasa. Bagaimana bisa begitu rupa?

Hikayatnya begini.

Rupanya Zainul memang telah memperlihatkan bakat membual sejak kecil. Waktu itu aku, J

lain sedang bersama orangtua kami, mengantre di bangku panjang Rumah Sakit M anggar untuk membuka perban pertama setelah dikhitan tiga hari sebelumnya. Duduk di sampingku, Zainul mulai membual. "Ikal, kaulihat ini, ha?" katanya sambil menepuk-nepuk lengan bapaknya. Bapaknya itu pegawai kantor dinas perikanan Kabupaten Beli tong.

"Bapakku kuat sekali tahu, seperti Herkules." Bapaknya diam saja sambil membaca koran. Bapak Zainul memang kekar. Aku tak acuh.

"Minggu lalu," cetusnya sambil bersungut. 'Atasan bapakku, kepala dinas perikanan, jatuh ke tambak. Ia tak bisa berenang. Ia diselamatkan bapakku. Badannya diangkat bapakku, pakai satu tangan saja," kembali ia menepuk-nepuk otot kawat lengan besi bapaknya. Aku masih tak acuh. Apa peduliku? Kuabaikan, Zainul jengkel.

'Ayahmu pasti tak bisa mengangkat orang pakai satu tangan."

Aku tersentak, tapi masih tak peduli. 'Ayahmu tak sekuat bapakku." Telingaku panas. 'Apa kauhilang?"

"Kubilang, bapakku bisa mengangkat kepala dinas perikanan Belitong dengan satu tangan. Bapakku lebih kuat daripada ayahmu!"

Kurang ajar betul.

'Ayahku bisa mengangkat Bupati Belitong, tahu! Atasan dari atasan bapakmu!"

Zainul tak terima, suaranya tinggi.

"Bapakku bisa mengangkat Kepala Wilayah Perikanan Sumatra Selatan!"

Pertikaian memanas. Semua hadirin di ruang tunggu memandangi kami. Wajah ayahku tak enak dan menceng-menceng, artinya: sudahlah Bujang, jangan ribut soal begitu. Tapi jika menyangkut ayahku, aku tak rela. Aku juga meninggikan suara, meski jika teriak, selangkangku ngilu.

"Ayahku bisa mengangkat gubernur Sumatra Selatan!"

Zainul tak kalah siasat.

"Bapakku bisa mengangkat menteri perikanan!"

'Ayahku bisa memberhentikan menteri perikanan!"

Kulihat ayahku menutup wajahnya. Hadirin di ruang tunggu tegang menyimak pertengkaran, Zainul terpojok, tapi akalnya panjang.

"Bapakku bisa mengangkat ketua DPR-MPR RI!"

Tak ambil tempo, dia langsung kuskak.

"Ayahku bisa mengangkat Presiden Republik Indonesia, beserta ibu, beserta bapakmu, sekaligus!!"

Zainul kontan terdiam. Penonton bertepuk tangan memihakku, sebagian terpingkal-pingkal. Ayah meniup ubun-ubunku tiga kali. Tapi wajahnya tak dapat menyembunyikan perasaan senang. Sementara Zainul kehabisan muslihat. Mungkin ia tahu, waktu itu Presiden adalah sinu-hun tertinggi, yang lebih tinggi daripada Presiden hanya langit, bahkan waktu itu ketua DPR-MPR bisa dibelok-belokkan Presiden.

Namaku dipanggil untuk membuka perban sunat. Ayahku menggandengku. Jalanku terkanglcang-kangkang menuju brankar. Aku masih sewot. Aku berpaling lagi pada Zainul.

"Pakai tangan kiri!" teriakku.

Penonton bersorak-sorai. Selangkangku ngilu. Ayah meniup lagi ubun-ubunku, tiga kali.

Mozaik 21

BERMINGGU -minggu aku mencari informasi, bertanya-tanya sana sini, aku penasaran ingin tahu, bagaimana sepupu jauhku Arai bisa berubah menjadi ganteng begitu. Akhirnya kutemukan jawabannya, dari ibuku.

"Semuanya gara-gara sepucuk surat," bisik ibu.

Arai ada dekat situ, ia nyengir.

Surat itu membuat rasa penasaranku jadi hilang misterinya, Zakiah Nurmala binti Berahim Matarum itulah yang langsung terjun dalam pikiranku. Pasti semua ini berhubungan dengan wanita saraf tegang itu. Apa yang terjadi gerangan?

Rupanya, beberapa minggu setelah dipulangkan dari Sorbonne gara-gara penyakit Asthma bronchiole, Arai nrru Zalriah surat Surat Y^ng dititipkan lewat bibi Zakiah 'l- dlUTm,a Aiai -bulan lalu. Isinya singkat saja, yafcuj

sesudah menimbang dengan saksama ini dan itu, Zakiah memberi Arai kesempatan untuk menjemputnya di Bandar Udara Tanjong Pandan. Zakiah akan pulang kampung untuk menjenguk orangtuanya.

Sekarang, yang membuatku makin penasaran, bagaimana Zakiah, yang hatinya selalu tertutup rapat bak benteng Fort Knox, yang tak pernah mengucapkan sepatah pun kata manis untuk Arai, selain kata-kata tampikan yang keras, bisa mengirim surat macam begitu? Firasat yang halus menyusup dalam hatiku. Tak dapat kujelaskan. It's just too easy.

Selidik punya selidik, rupanya selama bertahun-tahun bibi Zakiah—adik ibunya—diam-diam memata-matai sepak terjang Arai. Memang sudah jadi kebiasaan lama orang Melayu untuk teliti menafsir calon menantu. Dari tradisi inilah mungkin bermula istilah intel Melayu. Setelah diamari dengan saksama selama tujuh tahun, Arai dianggap layak untuk dipertimbangkan. Pelajaran moral nomor enam belas dapat ditarik dari kejadian ini, yaitu diperlukan penyelidikan paling tidak tujuh tahun, untuk benar-benar tahu bahwa seorang pria bukan bajingan.

Sejak menerima surat itu, Ibu bercerita, Arai sering terkekeh-kekeh tanpa alasan jelas. Semangat hidupnya meluap, proses penyembuhan penyakitnya maju pesat.

"Bahkan waktu tidur, ia mengulum senyum," tukas ibuku heran.

Janji Setia Empat Puluh Tahun - 153

Tapi aku tak heran karena aku tahu persis arti Zakiah Nurmala bagi Arai. Ia tak pernah, sekalipun berpaling pada perempuan lain. Sejak ia mengenal Zakiah kelas satu SMA dulu, meski tak pernah ada seberkas pun harapan, Arai tak pernah mundur, Arai adalah seorang pemimpi kelas satu.

Kuamati Arai yang sedang mengaji, mengaji sambil tersenyum, dan aku berpikir, ia jadi tampan sesungguhnya bukan karena secara anatomis wajahnya berubah, melainkan ada aura lain memancar dari dalam dirinya. Aura yang dapat membuat siapa pun tampak lebih rupawan. Kawan, itulah cahaya cinta.

Dan sekarang, banyak sekali teorinya.

"Tahukah kau, Ikal? Perempuan perlu tahu bahwa kita, laki-laki ini, tak gampang hilang akal, itulah mentalitas yang membuat mereka paling terkesan," ia mengatakan itu dengan nada pasti seperti orang yang amat berpengalaman.

'Jika lata, laki-laki, kelihatan seperti orang mudah bingung, mereka akan mendepak kita! Semudah itu saja, Boi."

Hatiku dongkol mendengarnya.

"Pasti, tak ragu-ragu, akurat! Demikian kualitas-kualitas yang diidamkan perempuan di luar sana."

Rasanya ingin aku melemparnya dengan asbak.

"Lha," kata hatiku.

"Lupakah dia? Berpuluh-puluh kali mati kutu di depan Zakiah. Ada sedikit harapan sekarang semata-mata karena rekomendasi bibi Zakiah, intelMelayu itu, bukan karena segala macam kati tengiknya itu."

"Minggu depan di Tanjong Pandan, tengoklah abangmu ini beraksi."

Arai mengakhiri ceramahnya sambil mengelus-elus surat Zakiah yang disandarkannya dengan hati-hati pada sebuah vas bunga. Sejak menerima surat itu, Arai yang tak pernah menyukai bunga, mendadak menjadi seperti seorang florist. Vas bunga itu diisinya beragam bunga, berbeda setiap hari, lain pagi dan lain pula sore. Pagi umumnya kembang sepatu ... dan sore ... keluarga-keluarga Orchidaceae. Hobi barunya adalah mematut-matut kecocokan antara warna bunga di dalam vas dengan warna biru muda amplop surat Zakiah. Kawan, kadang kala, cinta dan gila, samar bedanya.

Jika malam, Arai tidur seperti lele hidup diceburkan ke penggorengan. Pembicaraan soal baju apa yang akan dipakai waktu menjemput nanti sampai memeningkan kepalaku. Maka aku cemas, karena ini hanya menjemput, bukan melamar. Siapa tahu keadaan sebenarnya adalah Zakiah belum puas mendamprat Arai ketika kami meneleponnya pagi buta dulu dari Estonia, sisanya mungkin akan ia tumpahkan di Bandara di Tanjong Pandan nanti.

Kucoba mengingatkan Arai agar jangan terlalu excited. Aku tak sampai hati kalau ia kembali menelan biji duku pahit. Apalagi kalimat dalam surat itu jelas menunjukkan Zakiah ragu-ragu. Segala kemungkinan bisa saja terjadi, tabiat Zakiah selalu susah diduga. Aku telah banyak melihat akibat buruk cinta, aku tak ingin menimpa sepupu jauhku yang hatinya putih ini.

Peringatanku itu membuat Arai tak enak makan seminggu dan tak mau bicara denganku. Aku mengutuki diriku sendiri telah mengatakan itu. Namun, mental dan muslihat memang mesti disiapkan untuk menghadapi bola panas ini. Kusarankan Arai menghadap sang guru cinta, tentu saja Bang Zaitun, demi petuah sepatah dua.

Kami tiba di rumah Bang Zaitun dalam suasana yang berbeda. Dulu rumah itu seperti harem di jazirah: perempuan hilir mudik, irama Melayu mengalun, angin semilir, stanggi wangi, tilam, pinggan, pita, dan tirai berwarna-warni. Dulu kursi-kursi bak pelaminan, meja berkilat, karpet plastik licin, dan gelas berdenting. Begitu melimpah cinta dari empat istrinya di rumah itu, sampai meluap-luap. Karena rupanya kebanyakan, cinta itu tak dapat lagi dikendalikan dan akhirnya menguap. Kini hampa. Rumah tanpa perempuan, seperti rumah tak dihuni.

Ayam-ayam kampung setengah liar naik ke rumah panggung, tak dipedulikan Bang Zaitun. Semangat Bang Zaitun patah karena jiwanya merana. Api yang meletup-letup dalam dirinya padam sudah. Ia bahkan sudah kehilangan minat untuk mengusir ayam-ayam yang menyerbu rumahnya. Rumah Bang Zaitun dikuasai ayam.

Secara pribadi, aku adalah pencinta binatang, tapi aku benci nian pada ayam. Hewan itu, demi Tuhan, kurang ajar betul. Jika diusir dengan sapu, masih sempat-sempatnya ia berkelat-kelit di antara kaki meja, tujuannya untuk mengumpulkan tenaga tekan dan mencuri satu momen yang pas untuk menyemprotkan kotorannya di dalam rumah, lalu ia berkeok nyaring terbang melalui jendela seolah mengejek: terimalah itu! Tuan rumah pelit!

Ayam, tak pernah kutahu tampil di sirkus karena hewan itu sama sekali tak dapat menerima pendidikan. Bodoh dan berwatak keras. Betinanya adalah pencemburu buta luar biasa sekaligus pelaku kejahatan seksual incest yang tak dapat dijangkau hukum. Jantannya senang pamer, maka tak lain mereka itu kaum exhibitionist. Lebih parah lagi, usai menggagahi betinanya, dipanikinya, maksudnya barangkali untuk menegaskan bahwa ia tak bermaksud mengawininya. Semua contoh keburukan ada pada ayam. Karena itu, dalam hikayat-hikayat para nabi agama apa pun, ayam tak pernah diajak-ajak. Seandainya mereka bisa menghitung, pasti mereka berjudi.

Di rumah Bang Zaitun, ayam ribut sekali. Ada yang berkakak-kokok, ada yang peletak-peletok, bertengkar tak keruan. Betina-betina gendut yang sewot hilir mudik dengan pantat bergoyang-goyang, ngomel-ngomel, masing-masing diikuti belasan anaknya, mentidt-cicit beradu cepat mematuki beras. Ada yang terbang ke atas lemari rastik lalu bertelur di situ, banyak yang bertengger di palang wuwungan, dan ada yang tanpa malu-malu, berasyik masyuk, kawin di depan tamu! Bayangkan itu! Benar-benar tak senonoh. Semua keluarga ayam di rumah Bang Zaitun riang gembira, sama sekali tak bersimpati pada perasaan tuannya. Pelajaran moral nomor tujuh belas kutarik: jika Anda berencana untuk poligami, jangan memelihara ayam.

Pada Bang Zaitun kami sampaikan rencana penjemputan Zakiah dan siasat menghadapi perempuan yang tengah

dilanda bimbang Bang Zaitun tercenung. Ia sedih karena teringat akan kisah cintanya yang bangkrut dan istri-istrinya yang minggat, matanya berair, tapi tetap saja .... "Hiii... hii... hiii."

Gigi palsu emas putih pun berkilau-kilau.

"Tak banyak yang bisa kubantu, Boi desahnya

pasrah.

"Jadi bagaimana, Bang?"

Bang Zaitun memandang jauh. Berkali-kali ia melenguh.

"Pokoknya begini sajah

Ia menerawang, menyarikan hikmah dari pengalaman buruknya.

'Jika kau berjumpa dengan Zakiah, tak perlulah banyak kata, Boi, tak perlu banyak lagak, tak perlu bawa bunga segala. Cukup kautunjukkan raut muka bahwa kau bersedia menyuapinya nanti jika ia sakit, bersedia menggendongnya ke kamar mandi jika ia sudah renta tak mampu berjalan. Bahwa, kau, dengan segenap hatimu, bersedia mengatakan di depannya betapa jelitanya ia, meski wajahnya sudah keriput seperti jeruk purut, dan kau bersedia tetap berada di situ, tak ke mana-mana, di sampingnya selalu, selama empat puluh tahun sekalipun

Kawan, di antara riuh rendah suara ayam kawin, aku terkesima menyimak semua itu. Ini adalah petuah asmara paling dahsyat yang pernah kudengar seumur hidupku. Arai menyalami Bang Zaitun erat-erat, air mata BangT i tun menggenang, getir, o

MALAM kelam, angin bersiut-siut, petir sambar-me-nyambar. Mencekam. Anjing warga Tionghoa melolong panjang, sahut-menyahut menyambut hantu yang berjingkat-jingkat di wuwungan. Semua orang menutup rumah rapat-rapat. Ketakutan. Inilah malam zombie bangkit dari kubur. Aku bergidik mendengar lolong serombongan besar anjing menuju rumahku. Kian lama, kian jelas. Dedemit, kuntilanak, drakula pasti sudah masuk pekarangan. Terdengar ketukan keras di pintu. Rasanya ingin aku terkencing-kencing. Aku dan Arai tak berani mendekat. Gagang pintu terputar dengan kasar, satu sosok hitam mengambang, benar, drakula berdiri di situ.

"Ketua Karmun!"

Jantungku hampir copot

Ia membanting pintu, menyerbu masuk, tanpa basa-basi ia menyemprot, "Kalian ke manakan mukaku ini? Benar-benar bikin malu!"

'Ada apa, Ketua Karmun?"

"Memalukan, Boi! Sudah kaude ngarkah soal dokter yang baru itu?! Kurang ajar betul!"

Dokter gigi Budi Archaz Tanuwijaya selalu bangun mendahului matahari. Ia menyirami peperomia kesayangannya, yang berderet-deret di beranda rumah dinasnya. Lalu menangkas pucuk-pucuk pohon tehtehan atau Durante repens, untuk memelihara bentuknya agar tetap seperti angsa.

Pukul tujuh ia telah rapi berseri-seri, cantik, wangi, penuh gairah, dan tampak sangat terpelajar dalam jubah putihnya. Ia berangkat ke kliniknya.

Seperti hari pertama tugasnya, sampai kemarin, sampai hari mi, di depan klinik itu ia hilir mudik seperti orang kehilangan kunci. Itulah yang dilakukannya sepanjang pagi.

Bosan hihr mudik, ia menyeduh teh, membawa cangkir teh manisnya lalu duduk di bangku panjang klinik, tempat seharusnya pasien mengantre. Duduk di situ, sendirian, ia berusaha tenang, tapi gelisah terlukis di mata "anak ke* ejT-nya yang lucu.

Tehnya tandas. Ia masuk ke khnik, memarut-marut benda-benda kecil perkakas tugasnya, meniup-niupnya, dan mengelapnya berulang-ulang Lalu ia menyapu lantai klinik. Meski lantai itu tidak kotor, sebab tak seorang pasien pun pernah masuk. Kemudian Dokter Diaz menyeduh teh lagi. Demikian berlangsung setiap hari, sebulan sudah. Kasihan Dokter Diaz, megah penyambutannya, menggelora semangatnya, tapi sepi tanggapan masyarakat padanya.

Sebenarnya telah disediakan seorang perawat untuk membantu Dokter Diaz. Tapi karena tak ada pasien, Dokter Diaz meminta perawat itu untuk membantu di Puskesmas saja. Maka sendirilah Dokter Diaz, menunggu pasien yang tak kunjung tiba. Sesekali aku mengunjungi Dokter Diaz, berbincang dengannya. Sebenarnya aku menyelidikinya. Darinya aku belajar satu hal bahwa perempuan tak selalu seperti mereka tampaknya. Motivasi mereka runyam seperti labirin. Aku bertanya, mengapa ia mengasingkan diri dari gemah ripah janji masa depan di kota besar, jawab singkat tapi bersayap.

"Hidup untuk memberi, memesona, seperti menggubah kata jadi puisi," katanya tenang.

Sejak sore itu, atau sembarang waktu, jawaban itu, sering secara misterius menembus kalbuku, lalu bot dengung-dengung di dalam sana, tak bisa keluar.

Ironisnya, tepat di depan klinik Dokter Diaz berdirilah rumah dukun gigi Lim Siong Put, alias A Put, dan di rumah itu sampai ditempeli plang yang mengancam: Koe bilangi Saoedara! Djangan sekali-sekali Saoedara mengetoek-ngetoek daripada pintoe roemah ini dari poekoel doea sampai poekoel ampat! Disebabken saja, A Poet, maoe tidoer! Oeroesan gigi bolehlah poekoel toejoeh malem.

Ttd

A Poet

Bayangkan legendarisnya A Put. Plang itu telah berada di situ sejak tahun lima puluhan. Setiap hari orang datang untuk berobat gigi padanya. Bahkan ada yang datang dari Blinyu, Pulau Bangka sana. Seperti dulu pernah kuceritakan padamu, Kawan. Lelaki Hokian tua ini mengaku mendapat wangsit dari peri tempayan. Sejak itu, dengan hanya bermodal paku, balok, dan palu, ia bisa mengobati gigi.

A Put mendiagnosis salat gigi dengan ujung paku di atas sepotong balok yang secara imajiner dianggapnya sebagai tekak manusia. Ia menggeser-geser ujung paku untuk mencari gigi yang sakit, jika pasiennya mengangguk karena—secara imajiner pula—merasakan ujung paku itu mengenai giginya, A Put akan menghantam kepala paku dengan palu, keras, dan byar! Sakit gigi pun sirna. Tanpa perlu membuka tekak, bahkan tanpa perlu disentuh secuil pun oleh A Put. Ajaib dan magis.

Pukul tiga sore, Dokter Diaz kembali ke bunga-bunga peperomia itu. Menyiangi rumput-rumput liar di sekitar pokoknya. Jika tak ada lagi rumput yang disiangi, ia hanya berdiri menatapnya lama-lama. Sering ia memandangi orang kampung yang berduyun-duyun menuju poliklinik umum di Puskemas, atau berbaris antre di rumah A Put, tak satu pun berbelok ke klinik giginya. Ia melihat mereka dengan sedih. Betapa ia merindukan interaksi dengan pasien. Ia adalah seorang dokter. Panggilan jiwanya menyembuhkan orang, berbicara dengan pasien tentang penyakit mereka, dan terharu melihat kesembuhan. Ia ingin merasakan pengalaman praktik yang sebenarnya, ingin mengatasi beragam kasus. Ia ingin membuktikan diri, pada dirinya sendiri dan pada keluarganya. Ia menyukai tantangan, perubahan, dan ia siap bekerja keras. Sama sekali tak diduganya kenyataan di lapangan akan seperti ini. Tak pernah ia sangka pamornya akan dikalahkan oleh seorang dukun gigi yang bahkan tak pandai membaca. Tak seorang pun memedulikan semangat dan ilmu yang meluap-luap di kepalanya. Perempuan naga itu tertunduk pilu. Ia berusaha keras menahan air matanya.

Tentu saja Ketua Karmun tak senang dengan perkembangan ini.

Tapi, aku paham apa yang terjadi. Salah satu sifat kekal orang Melayu Dalam yang kupahami adalah bahwa mereka sangat skeptis: tidak gampang percaya pada apa pun, siapa pun, dan memiliki kecenderungan kuat untuk tidak mau berubah. Mereka betah sekali dalam rutinitas dan apa adanya, bahkan aku curiga, banyak di antaranya yang menikmati kemiskinan dan bersukacita merayakan kebodohan.

Contohnya, tak jarang juru kampanye pening menghadapi orang Melayu Dalam. Jika diberi kaus, mereka terima semuanya, gambar partai apa pun. Bantuan kambing, sembako, pukat, dan bola voli juga mereka terima, tapi jangan harap mereka akan dengan mudah memilih partai yang murah had itu karena meski juru kampanye berbusa-busa, mereka tak kan percaya.

Dalam urusan gigi ini, ada pula hal lain, yaitu, seperti halnya selangkang, bagi Orang Melayu pedalaman, mulut rupanya hal yang pribadi. Orang-orang udik itu tak kan mungkin percaya untuk mempertontonkan isi mulut mereka pada orang asing yang sama sekali tak mereka kenal. Maka, disebabkan A Put mengobati gigi tanpa pasiennya harus membuka mulut, A Put-lah pilihan yang paling patut bagi mereka.

Habis akal, akhirnya Ketua Karmun berusaha mengatasi masalah ini dengan mengajak Dokter Diaz melakukan penyuluhan kesehatan gigi.

Di kampung Bira, tempat dan waktu pertemuan sudah ditetapkan, tak seorang pun hadir. Ketua Karmun mencak-mencak tak keruan. Berita penyuluhan pun tersebar cepat, tapi penolakan meningkat pula. Di kampung Limbong penyuluhan juga tak mendapat tanggapan. Setiap Ketua Karmun melintasi pemukiman suku Sawang, orang-orang Sawang cepat-cepat berjejer rapi di pinggir jalan, lalu mereka nyengir kuda memamerkan gigi geligi mereka seperti orang senyum akan dipotret Maksudnya adalah bahwa gigi mereka, meskipun kuning-kuning dan berantakan ke sana kemari, tapi kuat dan sehat, mereka tak butuh dokter gigi.

Mozaik 26

HARI ini Arai bersukacita. Baju kemeja lengan panjang dan pantalon berwarna cokelat, yang dibuat khusus untuk penjemputan Zakiah, diserahkan oleh penjahit, lalu ia gantung pakaian itu secara terhormat di kamar.

Tiga malam terakhir sebelum Zakiah datang, kepalaku tambah pening. Arai sama sekali tak bisa tidur. Ia lelap sebentar, mengigau-igau. Sering tiba-tiba ia terlompat bangun, bersimbah keringat, dadanya naik-turun. Katanya, ia mimpi buruk melihat pesawat terbang yang akan mendarat tiba-tiba disambar dan ditelan oleh kecoa raksasa. Mengerikan, cinta buta telah berubah jadi halusinasi, penyakit gila nomor dua puluh dua.

Namun, lebih sering tengah malam Arai bangun lalu berdiri di depan kaca, lama sekali. Dari balik selimut aku mengintip kelakuannya. Ia memandang dirinya sendiri: serius, dingin, dan penuh wibawa. Kadang ekspresinya seperti tak peduli tapi penuh antisipasi, kadang polos tapi berharap, kadang meringis minta dikasihani, dan kadang menceng-menceng tak keruan. Aku tahu, dia sedang melatih dirinya untuk menunjukkan air muka seperti disarankan Bang Zaitun. Tampaknya Arai berusaha keras, tapi ia gelisah karena tak mampu menerapkan saran Bang Zaitun. Memang tak gampang menunjukkan wajah bersedia mengatakan jelita pada perempuan peot.

Malam terakhir menjelang penjemputan, Arai tak tidur sepiring pun. Belum terang tanah kami sudah berangkat ke Tanjong Pandan. Sampai di lapangan terbang perintis Buluh Tumbang di Tanjong Pandan, tak ada siapa-siapa. Gerbangnya masih tutup, bahkan petugas Bandara belum datang

Matahari menanjak, masih pagi tapi langsung menggelegak. Kutawari Arai sarapan dulu, tapi wajah tegangnya menyatakan ia telah kehilangan selera atas apa pun kecuali atas seorang perempuan yang akan keluar dari pintu ruang pengambilan bagasi, lima puluh meter di depannya.

Pukul sembilan pagi, pesawat harusnya sudah tiba.

Arai berdiri tegak di bawah tiang bendera Bandara. Pandangannya tak lepas dari ambang pintu ruang bagasi. Aku berteduh di bawah pohon jarak, kira-kira dua puluh meter dari posisi Arai, suspense menunggu peristiwa ajaib apa lagi yang akan terjadi dalam drama cinta Arai dan Zakiah Nurmala. Lagi pula sepupu jauhku telah sesumbar padaku akan menunjukkan aksinya.

Matahari kian panas, Arai masih berdiri bak arca. Peluh bercucuran dari dahinya yang pucat karena tak tidur, membasahi kerah baju barunya. Rambut yang dilumuri Tancho hijau berlebihan mulai lepek. Lamat-lamat terdengar deru pesawat berbahng-baling. Arai kian tegak lurus.

Pesawat mendarat. Penumpang berhamburan, penjemput menyongsong. Tak lama kemudian kulihat seorang perempuan terseok-seok keluar dari ruang bagasi ditambat! berupa-rupa tas yang besar. Tak diragukan, meski posturnya sama sekali telah berubah karena ia makin jangkung, gaya jilbab dan cantiknya tetap kukenal. Ia tak lain tak bukan, satu-satunya dan hanya satu-satunya, perempuan saraf tegang: Zakiah Nurmala binti Berahim Matarum.

"Arai! Arai!" teriakku.

Maksudnya agar ia mengambil suatu tindakan gentleman untuk mengatasi persoalan koper-koper Zakiah yang mahabesar itu. Namun, Arai diam membeku seperti Mauri Kundang kena kutuk. Wajahnya kaku, tak dapat kuartikan. Zakiah berhenti kelelahan. Ia heran mengapa Arai tak menyongsongnya untuk membantu.

Ditatap Zakiah, Arai malah makin menegakkan posisinya. Sekarang ia seperti tiang bendera. Aku segera paham apa yang terjadi. Arai sesungguhnya demam panggung karena berkali-kali dijatuhkan mentalnya secara telak tanpa ampun oleh perempuan galak itu. Wajahnya yang kaku dan pias itu adalah penolakannya karena diperiaku-

kan tidak adil. Ia sudah lelah ditampik, kini ia ingin berita baru. Kurasa bolehlah sikap Arai ini disebut sebagai mekanisme survival.

"Arai! Mana sesumbarmu mau beraksi!" hardikku lagi, Arai telah menjadi tuh. Ia mematung saja dan telah jadi bodoh. Zakiah mengerut dahinya dan mulai mau marah. Gawat

Nah, Kawan, dari dulu selalu saja aku yang jadi tumbal. Terpaksa aku menghampiri Zakiah. Tanpa ba bi bu, dengan jengkel gadis cantik itu menyampirkan tas-tas berat itu di bahu klri-kananku, ditambah dua buah koper yang langsung ia pindah tangankan kepadaku. Tas plastik besar, tanpa peringatan yang ternyata sangat besar, digantungkannya di lenganku. Aku sampai sempoyongan. Zakiah bergegas menuju Arai. Aku ngeri membayangkan nasib sepupuku itu. Hangus sudah kesan indah surat penjemputan dulu. Arai pasti kena damprat Zakiah—untuk ke delapan puluh tujuh kalinya. Zakiah loan dekat, Arai makin tegak, persis inspektur siap menerima laporan komandan upacara. Aku tak berani mendekat. Aku berdiri pada jarak yang cukup sopan untuk menghindari imbas pertempuran sengit

Di depan Arai, Zakiah marah-marah tak keruan. Arai masih diam saja, sesekali ia tersenyum menceng-menceng, tentu maksudnya ia sedang mengeluarkan raut wajah kesetiaan empat puluh tahun ajaran Bang Zaitun. Namun, kemudian suasana berubah. Tak tahu aku apa yang terjadi. Gencatan senjata, Arai dan Zakiah tersenyum.

Perempuan Saraf Tegang ~ 169

Arai berlari kecil ke arahku, merampas semua tas Zakiah dari bahu kiri-kananku dan membawanya. Ringan saja baginya, padahal benda-benda itu berat luar biasa. Dua koper itu sendiri hampir lima puluh kilogram. Arai tak mau dibantu. Ia menjunjung dua koper di atas kepalanya, dipegangi tangan kanannya. Kedua bahunya menyandang masing-masing dua tas besar, dan masih menenteng berupa-rupa plastik kresek di tangan kirinya. Ia seperti pedagang kain diuber Kamtib. Dengan gesit ia melewati pelataran parkir yang luas seakan tas-tas itu berisi kapuk saja. Zakiah terkikik geli melihat Arai begitu bersemangat. Tak masuk akalku, pria kurus tinggi nan penyakitan macam Arai mampu memanggul beban seberat itu. Kawan, jika engkau belum paham juga, inilah yang dimaksud dengan the power of love.

Di pojok pelataran parkir, mobil omprengan menunggu. Tapi, bangku kosong tinggal dua.

"Tonto, kau tinggal saja dulu, bangku tak cukup."

Aku tercekat, kampungku sangat jauh. Tinggal saja dulu itu berarti aku baru bisa pulang besok, atau harus ke Tanjong Pandan menumpang truk terasi.

Begitulah, selalu aku, selalu saja aku yang sial jadi tumbal. Mobil omprengan melaju. Di dalamnya kulihat para penumpang memandang sedih padaku. Namun, tak dapat kupercaya penglihatanku, Muhammad Arai tertawa menggigil-gigil sambil melambai-lambaikan tangannya padaku,

MozaiK a

AKHIRN Y A, berhasil juga Ketua Karmun mengumpulkan segelintir orang untuk ikut penyuluhan kesehatan gigi. Lokasinya di Kampung Lilangan. Tancap bin Setiman, hadir waktu itu. Ia adalah langganan tetap A Put

Waktu Dokter Diaz mendekati Tancap, laki-laki pendulang timah itu pucat dan kaku. Dokter Diaz menanyainya, ia membisu, seakan ia tak pernah diajari bapak-ibunya bicara. Dokter Diaz bertanya berulang-ulang soal gangguan giginya dan memintanya membuka mulut. Tancap membatu. Dokter Diaz merayu-rayu, lelaki kuli itu tetap bergeming. Baru ketika Ketua Karmun mengacungkan tinjunya, Tancap membuka mulut, tapi buru-buru menutupnya lagi, secepat perangkap tikus.

"Gigi Pak Tancap harus diobati di kliruk," kata Dokter Diaz lembut dengan gaya bahwa ia memang pernah sekolah soal gigi,

Tancap menggeleng-geleng dengan keras, baru berhenti waktu Ketua Karmun, dari belakang Dokter Diaz mengeluarkan semacam jurus patuk bangau.

"Datang ke klinik, ya Pak, gratis, tiap hari buka, saya tunggu."

Aduh, kurang bagaimana baiknya Dokter Diaz ini. Suaranya bersahabat, kota, dan terpelajar. Wajah Tancap tak berkurang tegangnya. Ia berusaha menggeleng lagi tapi urung karena Ketua Karmun—-diam-diam di belakang Dokter Diaz—mengeluarkan jurus tendangan putar Bruce Lee.

Rombongan penyuluh yang kurang sukses itu beranjak pulang Ketua Karmun melakukan gerakan semacam balik kucing menyongsong Tancap. Ia berbisik tajam, "Cap, awas, ya! Berani kau tak datang ke klinik besok, huh!"

Ketua Karmun mengacungkan dua jarinya seperti ingin menguntau mata Tancap.

Ketua Karmun hafal betul adat tabiat rakyatnya bahwa sifat dasar orang Melayu Dalam memang susah diyakinkan, tapi sekali mereka yakin, mereka akan fanatik. Dan rumusnya selalu sama, yaitu untuk yakin harus ada yang memulai. Maka, bagi Ketua Karmun, posisi Tancap amat strategis.

Pagi-pagi esoknya, Ketua Karmun sudah bertengger di klinik Dokter Diaz, dan ia mengajak banyak orang untuk menonton sistem pengobatan gigi modern, agar mereka percaya, agar mereka tak berobat ke dukun gigi A Put lagi.

Sayangnya, tunggu punya tunggu, Tancap tak kunjung muncul. Sampai habis lima jilid buku Kho Ping Ho seri Pedang Kayu Harum dan kopi dua cangkir aluminium, Ketua Karmun menunggu Tancap, ia tak kunjung muncul. Beliau jengkel dan mengirim pesan pada salah seorang penonton, tetangga Tancap, Mahip.

"Hip, hilangkan pada Tancap, kalau ia tak datang besok, posisinya sebagai pengumpan dalam tim kasti lata, ku-copot! Dia jadi pengurus air minum pemain saja!"

Gawat, esoknya, Tancap juga tak datang. Padahal penonton sudah berkumpul ingin melihat Dokter Diaz beraksi. Banyak yang sudah bercokol sejak terang tanah, termasuk aku. Aku pun ingin sekali melihat dokter muda yang cantik itu unjuk kebolehan.

Ketua Karmun malu pada penonton dan tak enak hati pada Dokter Diaz. Wibawanya sebagai kepala kampung longsor gara-gara Tancap. Barangkali keadaan lebih tertanggungkan baginya kalau ia tak telanjur mengumumkan pada masyarakat bahwa hari ini Dokter Diaz akan mendemonstrasikan keahliannya. Ketua Karmun muntah, mukanya merah.

"Hip, sampaikan ini dengan terang pada Tancap sialan itu. Jika ia ingkar lagi besok, dia tak boleh belanja di pasar kita lagi, tak boleh minum kopi di warung-warung kita, dia bukan wargaku lagi!"

Sungguh tak elegan ancaman Ketua Karmun mengembargo Tancap macam begitu. Tamatlah riwayat pendulang timah itu. Dikucilkan dari warung kopi adalah sanksi terberat bagi orang Melayu yang gemar betul bersuka ria di warung kopi.

Celaka dua belas, esoknya Tancap mangkir lagi. Mahip mengabarkan bahwa Tancap menderita sakit gigi parah, pipinya bengkak seperti timun suri, tapi ia tetap tak mau ke dokter gigi, pun takut berobat pada A Put karena ancaman Ketua Karmun. Tapi lewat Mahip, Tancap menitip surat.

MenOapo+W tewnaOa Ketua Karmun,

Bang tarmun yang Orahma+t Mlah,

hbang suruh aku belajar menulis, aku belajar menulis

Nbang suruh aku KB, aku KB.

tewig suruh aku mandi dua kol sehari, kufurufi mau Ntwng. N&Wg. suruh aku membuat WC agar keluargaku f ak buang hajat ol hirf-an, kukerjakan sepenuh hafi

Nku pa+uh tekan paaa sepUuh PeOomc* PKK seperti mau Nbang.

^ mulut mern^VU

perempuan Jakarta rf-u rwoaohkan +~ 1

|f|f|^^«.eabutwalaupun ^

Terf-anOa,

T^apbinsJ^

Leher Ketua Karmun seperti kejang membaca surat yang bernada putus asa itu. Sungguh sebuah surat yang dramatis ungkapan jiwa Tancap nan terdalam. Situasi ini amat dilematis bagi Ketua Karmun. Terpaksa ia sendiri yang menjemput Tancap untuk mengantarkannya pada tabib yang paling ia percaya: A Put. Ia memboncengkan Tancap dengan sepeda reotnya, berhujan-hujan di malam halilintar ini. Sepanjang jalan ia menggerutu karena malu pada masyarakat, terutama pada Dokter Diaz. Ia menyumpah-nyumpahi Tancap yang meringis memegangi pipinya di sadel belakang sekaligus sayang pada rakyat jelatanya itu. Kawan, setujukah kalau kukatakan bahwa kita memerlukan lebih banyak pemimpin republik semacam Ketua Karmun ini?

Mozaik 28

JIKA kuceritakan pada siapa pun, mereka pasti sulit percaya. Ibuku sering kali menyisipkan rima-rima pantun bahkan ketika memarahiku, misalnya karena pulang sudah dekat magrib atau karena lupa menutup kandang bebek.

Orang Melayu amat asosiatif dan metaforik, penuh perlambang dan perumpamaan. Hal itu terefleksi pada hobi mereka berpantun dan menjuluki orang. Meski Islam jelas melarang panggilan-panggilan yang buruk, mereka nekad saja. Gelar-gelar aneh itu umumnya ditujukan untuk menghina. Karena itu, setiap orang berusaha menghindarinya. Namun, julukan dalam masyarakat kami seumpama penyakit cacar. Bisa menimpa siapa saja sembarang waktu. Ia agaknya telah menjadi bagian dari nasib orang Melayu. Julukan dapat berangkat dari hal yang amat sederhana, misalnya ciri-ciri fisik, atau lebih kompleks, dari pro-fesi, kebiasaan, obsesi, atau kejadian.

Muas yang berkulit gelap digelari Muas Petang 30. Sebagaimana pernah kukisahkan padamu, Kawan, petang 30 adalah istilah orang Melayu untuk menyebut malam yang paling pekat saban tanggal 30 almanak, sebab tanggal itu bulan tengah tiarap di belahan bumi yang lain. Maka, malam gelap tak terperi. Aku dipanggil si Ikal, lantaran rambutku Ikal. Mereka tak pernah tahu nama asliku, tak mau tahu lebih tepatnya, dan mereka tak paham bahwa nama asliku itu tidak main-main. Nama itu diambil dari nama orang Italia, meski orang Italia itu sinting.

Rustam yang bekerja di koperasi Meskapai Timah dijuluki Rustam Simpan Pinjam. Munawir mengemban amanah majelis tinggi BKM (Badan Kemakmuran Masjid) AI-Hjkmah selaku tukang mengumumkan jika umat meninggal dunia. Suaranya lantang bertalu-talu seantero kampung lewat speaker TOA yang mencorong di atas menara masjid ke empat penjuru angin, mengabarkan siapa bin siapa yang wafat, usia berapa, dan alamatnya. Karena jabatan menakHmatkan kematian itu, Munawir dijuluki Munawir Berita Buruk

Dalam kelompok julukan berdasarkan profesinya ini, Kawan, tentu telah pula berkenalan dengan Mandor Dju-asin, Marsamp Sopir Ambulans, dan Mahadip Sheriff. Pak Tua Manyur Ismail yang bertindak selaku modin, penghulu, dan penasihat perkawinan mendapat nama unik Modinan di Bandung itu belakangan dijuluki orang Makruf Bui, Bc.I.P.

Dari kelompok kebiasaan, muncullah Berahim Harap Tenang dan Berahim Harap Tenang Yunior. Munaf yang jika bicara senang memakai kata katakanlah, sematlah nama Munaf Katakanlah padanya. Jika film diputar di MPB (Markas Pertemuan Buruh), orang-orang kampung tak mau memarkir sepedanya dekat sepeda Mahmuddin. Karena tak hanya sekali dua Mahmuddin keliru membawa pulang sepeda orang. Kebiasaan pelupa Mahmuddin memang sudah keterlaluan. Sering ia membonceng istrinya ke pasar, lalu pulang sendirian. Ia lupa bahwa tadi ia mengantar istrinya.

Mahmuddin adalah kakak kelasku di sekolah Laskar Pelangi. Gejala pelupa akurnya kali pertama ditemukan kepala sekolah Pak Harfan Efendy Noor. Waktu itu Mahmuddin diikutkan lomba membaca deklamasi. Di tengah pertunjukannya ia tertegun seperti orang menahan kencing Wajahnya tegang tapi menunduk, kakinya ia geser-geser, rupanya ia lupa ayat-ayat deklamasinya. Ketua dewan juri yang bijak mempersilakan Mahmuddin membaca saja deklamasi itu. Mahmuddin mencari-cari kertas dalam saku baju dan celananya. Tak ada. Ia turun panggung dan mengatakan pada Pak Harfan bahwa kertas catatan deklamasinya terlupa di rumah. Dewan juri dengan sabar menyuruh Mahmuddin pulang untuk mengambil catatan itu sebab Mahmuddin adalah pembaca deklamasi yang berbakat, «a van o- melewatkan penampilannya.

Diperlukan waktu lama menemukan sepeda Mahmuddin karena ia lupa parkir di mana. Ia pulang dan tak menemukan catatannya karena ia lupa di mana meletakkannya. Ia kembali ke gedung pertunjukan, melaporkan semuanya pada Pak Harfan.

"Kalau begitu, baca langsung dari bukunya."

Mahmuddin mengerutkan dahinya

"Buku yang mana, Ayahanda Guru?"

"Buku Risalah Deklamasi yang kupinjamkan padamu."

Mahmuddin seperti bingung.

"Mungkin Ayahanda lupa, aku tak pernah dipmjami buku oleh Ayahanda."

Juri tak lagi punya toleransi. Mahmuddin gugur secara konyol karena tak ingat seluruh deklamasi yang sebenarnya ringkas saja dan telah susah payah dilatih berming-gu-minggu oleh Pak Harfan. Bahkan kali ini ia berpuuh mata8 untuk juara harapan tiga langganannya. Sungguh memalukan. Kulihat Pak Harfan sudah mempersiapkan satu bentuk tangan untuk menyerut jambul Mahmuddin, tapi beliau agaknya mafhum bahwa lupa bagi Mahmuddin bukan soal kebiasaan, tapi soal penyakit.

Usai masa sekolah, yang hanya sampai SD, Mahmuddin harus berganti-ganti pekerjaan gara-gara soal lupa. Ia pernah diangkat Ketua Karmun menjaga pintu air. Akibatnya fatal, kampung berkali-kali banjir gara-gara Mahmuddin lupa. Pernah pula ia jadi TLH (Tenaga Lepas Harian) yang disewa tuan pos pada musim sibuk Lebaran. Kantong pos untuk Tanjong Pandan dilabelinya Tanjung Pinang. Terpaksa warga Tanjong Pandan menerima kartu Lebaran Idul Fitri pada saat Lebaran Idul Adha. Berbagai kartu ucapan selamat, berduka, dan undangan menjadi basi. Padahal jarak kampung ini dengan Tanjong Pandan hanya seratus kilometer, sebaliknya Tanjung Pinang harus menyeberang pulau, nun jauh di Riau sana. Luar biasa kiranya karunia daya ingat yang diberikan Tuhan untuk manusia. Sebab jika bidang itu tak beres, kacau-balaulah semuanya. Sejak kejadian yang menghebohkan itu, Mahmuddin dijuluki Mahmuddin Pelupa. Kemudian, ia menganggur lama. Tak ada yang mau menerimanya bekerja.

Akhirnya, Ketua Karmun menemukan pekerjaan untuk Mahmuddin, yakni bekerja membuat jalan. Tugasnya memasak aspal, memikul tongnya, dan mencurahkannya di jalan yang sedang dibuat. Ini pekerjaan kuli yang paling kuli, tapi inilah pekerjaan yang paling cocok untuk Mahmuddin. Karena pekerjaan ini tak memerlukan daya ingat, sekaligus daya pikir.

Lain pula kisah Marhaban. Ia yang selalu bertugas sebagai komandan pasukan baris-berbaris pada acara tujuh belas Agustus digelari Marhaban Hormat Grak. Waktu ia meninggal namanya di batu nisan tetaplah Marhaban Hormat Grak. Semua orang tak kenal bahwa nama aslinya Marhaban Fadillah Ansyari bin Hasan Muslim Ansyari. Bahkan sering terjadi, pemilik nama yang telah puluhan

tahun dipanggil dengan nama julukan, lupa akan nama aslinya sendiri. Marhaban punya anak yang tengah beranjak dewasa, dan orang-orang kampung mulai memanggilnya Marhaban Hormat Grak II.

Pengamatanku akan tradisi julukan mengungkap fakta baru tentang orang Melayu kampung, yakni mereka cenderung obsesif. Indikasinya tampak dari sebagian besar gelar dilekatkan pada seseorang yang senewen meng-inginkan sesuatu, dan sesuatu itu biasanya sangat absurd. Rofi'i tergila-gila ingin jadi Bruce Lee. Pakaiannya seperti Bruce Lee. Sering, tanpa alasan jelas ia menepis hidungnya sendiri, dan ke mana-mana membawa senjata double stick khas Bruce Lee meski hanya dipakai untuk menakut-nakuti anjing orang-orang Khek, akhirnya dijulukilah ia Rofi'i Bruce Lee. Muslimat selalu sok jago dan sering mengikat kepalanya dengan bandana, jadilah dia Muslimat Rambo. Daud ingin jadi penyanyi terkenal Malaysia E Ramlee, maka ia dipanggil Daud Biduan. Ramlah punya obsesi yang sama, meski jika menyanyi sumbangnya minta ampun, ia senang dipanggil Ramlah Biduanita.

Sementara Mustahaq mati-matian berusaha memodifikasi sepeda motor rongsokan Honda V80-nya agar tampak seperti Hariey. Maka ia dianugerahi gelar kehormatan Mustahaq Davidson. Reza Pahlawan Dirgantara bin Seli-man, pendulang timah penderita sakit gigi itu, disebabkan kegilaannya pada layar tancap, di mana pun ia datangi, walau hanya siaran propaganda keluarga berencana, akhirnya dipanggil Tancap bin Seliman. Aku yakin, haggulyakm,

nama Tancap itu akan menancap padanya sampai akhir hayat. Orang Melayu tak ragu menulis di tunggul nisannya nanti: Tancap bin Seliman. Hal ini sudah terbukti pada Marhaban Hormat Grak.

Metaforiknya orang Melayu dapat pula dilihat dari julukan pada kelompok obsesif. Mursyiddin selalu terob-sesi pada jemuran orang Jemuran yang melambai-lambai ditiup angin ia maknai sebagai sedang memanggil dirinya. Alhasil dianugerahilah, dengan penuh kehormatan dan rasa sayang persahabatan, padanya nama Mursyiddin 363. Sebuah nama yang terinspirasi oleh KUHP 363, soal hukum percolongan benda remeh-temeh.

Berbeda dengan Jumiadi. Ia lelaki lemah lembut nan sering bermuram durja. Hobinya melamun sendiri. Berlama-lama duduk di lengan jembatan Linggang. Meski penampilannya gagah seperti penyanyi lama Dudi Damhudi. Kumisnya baplang dan jambangnya panjang lebar, bahunya kukuh, dadanya bidang, tapi hatinya gemulai. Ini bukan soal disorientasi seksual. Tak ada hubungannya dengan kecenderungan ini-itu. Jumiadi tak lain buruh kasar, pejantan tulen, lelaki tegak lurus, hanya saja, ia, singkat kata ringkas cerita: lelaki pendulang timah yang mclanko-lik. Jumiadi bisa menangis tersedu-sedu hanya karena di TVRI melihat PSSI kena gulung Malaysia. Ia berhari-hari tak mau makan, sampai menyusahkan ibunya, lantaran burung tekukur peliharaannya mati. Baginya, sungguh tak adil kaum tekukur hanya diberi Tuhan umur paling tua sepuluh tahun. Saban hari Jumiadi mengunjungi pusara burungnya, untuk menaburkan bunga. Jika mendengar lagu Padamu Negeri, bisa dipastikan Jumiadi meleleh-leleh air matanya. Hati lelaki kuli itu amat perasa, dan anehnya, Jumiadi tak pernah menyembunyikan isaknya. Ia tanpa ragu menangis di depan orang banyak jika hatinya sedang pilu, di tengah warung kopi, di pinggir lapangan bola, di dalam bioskop, Jumiadi tersedak-sedak sekehendak hatinya. Karena semua itu, dijulukilah Jumiadi sebagai Setengah Tiang Inspirasinya dari bendera setengah tiang: perlambang duka lara. Kamsir si Buta dari Gua Hantu serupa dengan Jumiadi. Bukan hanya mereka mendapat anugerah julukan lantaran uniknya sepadan, melainkan ini temuanku yang lain, bahwa di kampungku, orang-orang aneh sering kali bujang lapuk yang tinggal dengan ibunya. Begitulah Mursyiddin dan Kamsir.

Kalau orang lain sering tak rela dijuluki, Mustajab bin Ba'irinjelimat, kuli panggul jeriken minyak tanah—kolega Satam Minyak, karena sama-sama tukang minyak tanah— malah sebaliknya. Ia sangat ingin namanya seperti nama orang Barat yang ia dengar dari film Amerika di bioskop Ki Chong Lalu, ia menemukan sendiri gelar untuknya: Mustajab Charles Martin Smith. Saban hari ia mendesak orang-orang agar memanggilnya dengan nama itu. Zainul Helikopter juga termasuk orang yang diam-diam sebenarnya girang tak kepalang dijuluki. Sebab, julukan itu akan mengingatkan siapa pun akan kehebatannya mendaratkan helikopter tempur Puma TNI AU dengan gusinya.

Julukan karena kejadian telah menimpa Sema'un Barbara dan San Thong Pompa gara-gara perkara kambing sembelit tempo hari. Mereka sebenarnya ngomel-ngomel karena julukan itu. Tapi apa boleh buat, telanjur tersemat dan melekat. Dengan cara serupa, Nur, yang pernah disambar petir, tapi selamat dan meninggalkan bekas sebelah kepalanya seperti hangus, dijuluki Nur Gundala Putra Petir.

Julukan rupanya juga mengenal evolusi, dan adaptif sesuai situasi paling mutakhir. A Liong yang baru saja jadi mualaf, baru masuk Islam, dikhitan. Mungkin karena telah lewat usia, khitan itu lama sembuhnya. Julukan A liong Sunat pun meruap.

Tak tahu kenapa, A Liong tak jua kunjung sembuh. Akhirnya, mantri membuat semacam koteka untuk melindungi properti A Liong. Namanya berganti menjadi A Liong Koteka. Dalam pertandingan catur, di papan pengumuman lawan tanding nama A Liong sering chtulis sebagai: A Liong Koteka d/h A Liong Sunat. Hikmah utama yang dapat ditarik dari peristiwa ini terangkum dalam pelajaran moral nomor delapan belas, yakni jangan sekali-kali memperlihatkan benda apa pun dalam celanamu, di depan orang Melayu.

Namun, dalam kelompok julukan berdasarkan kejadian, tak ada yang lebih sial daripada Muharam. Ia seperti kena kutukan gelar. Semula tak ada yang mengutak-atik namanya yang agung Muharam Bilalludin bin Abidin Muchlasin. Tak kurang dari nama besar agama Islam, bulan yang baik, dan seorang muazin kesayangan Rasulullah: Bilal, terkandung dalam nama megahnya itu. Nama itu.

demikian syahdu sampai suatu hari ia ikut-ikutan lomba panjat pinang. Agar tak rusak teriempar dan agar tertib, panitia tidak memajang hadiah di pucuk pohon pinang tapi menggantinya dengan karton kecil yang ditulisi jenis hadiah. Setiap peserta boleh mengambil lima karton, artinya lima hadiah.

Muharam dihilang paling atas. Setelah disokong berjam-jam, naik seperempat tiang melorot, melorot lagi, dan melorot lagi. Naik setengah tiang juga ambrol. Naik lagi, hampir sampai ke puncak tapi kembali longsor. Begitu berulang-ulang, jumpalitan bersusah payah. Keringat mereka lengket karena lelah. Kerongkongan kering, tenaga lunas. Sungguh menderita demi mendapat hadiah. Namun, meski tenaga tinggal sisa-sisa, mereka tak menyerah, sebab hadiah di pucuk sangat menggiurkan. Setelah hampir putus asa, pada percobaan yang kesekian puluh kali, akhirnya mereka sukses menaklukkan pohon pinang berlumur gemuk mesin itu. Bertenggerlah Muharam dengan senyum puas mengembang di pucuk pohon pinang. Ia melambai-lambai pada para penonton yang riuh bertepuk tangan untuknya.

Selanjurnya, kawan-kawan Muharam yang tadi berjuang mati-matian menyokongnya berteriak-teriak agar Muharam merenggut karton bertulisan sepeda motor, televisi, radio, kasur busa, dan kompor. Itulah lima hadiah tertinggi nilainya. Tapi Muharam termangu-mangu saja memandangi puluhan potong karton yang berjuntai-juntai dalam jangkauannya. Ia tak dapat mengambil keputusan. Ribuan penonton bersorak-sorak agar ia menangkas karton hadiah paling berharga sepeda motor itu. Muharam tetap saja termangu persis raja lutung yang mabuk jengkol. Teriakan gegap gempita dan kian menjadi-jadi ketika ribuan penonton mulai sadar bahwa Muharam tak bisa membaca tulisan di karton karena dia buta huruf. Sebagian penonton gemas melihat Muharam, sebagian tertawa sampai berguling-guling di lapangan, sebagian berteriak mengarah-arahkan Muharam pada karton tertentu. Namun, susah sebab karton itu bentuknya sama, hanya tulisannya berbeda, dan tulisan itu tak bermakna apa pun di mata Muharam. Rangkaian huruf adalah misteri baginya. Sementara rekan-rekan Muharam melolong-lolong histeris dan mengutuki diri mengapa tadi menjulang Muharam di posisi paling atas. Mereka meratap dan memukuli kepala mereka sendiri. Akhirnya Muharam menyambar sekenanya dan ia turun membawa karton bertulisan: pompa sepeda, taplak meja, kapur barus, kaus kaki, dan buku gambar. Sejak kejadian itu, nama Muharam berubah jadi Muharam Buku Gambar.

Muharam tak rela, tak terima. Hidupnya nan tenteram selama puluhan tahun sebagai tukang las aluminium dandang bocor—dan berbagai peralatan dapur sehingga ia adalah kesayangan ibu-ibu—terusik gara-gara gelar nan hina itu. Anak-anaknya protes karena sering diejek teman-temannya di sekolah. Muharam sendiri jengkel lantaran nama itu selalu mengingatkannya pada peristiwa tragis panjat pinang dulu, dan ia malu sebab seisi kampung kini tahu ia buta huruf. Julukan Muharam Buku Gambar telah membunuh karakternya.

Maka, ketika ada program Paket A untuk membasmi buta huruf untuk warga republik usia berapa pun, Muharam kontan mendaftar, demi harga dirinya, demi martabat anak-anaknya.

Muharam mulai tergagap-gagap belajar membaca. Ia sangat tekun. Tak pernah absen masuk kelas. Buku Terampil Mengenal Huruf Latin dari kantor dinas pendidikan tak pernah jauh darinya. Ke mana pun pergi selalu terlipat di saku belakang celananya. Setelah berbulan-bulan menekun buku itu, akhirnya ia bisa mengenali huruf dan merangkai-rangkai bunyinya.

Malam Kamis, adalah hari gajian buruh yuka penjahit karung timah dan hari bayaran para pendulang oleh juragan mereka. Warung kopi penuh sesak. Inilah momen pembalasan dendam yang telah ditunggu Muharam hampir setahun. Ia akan membuktikan siapa dirinya malam ini sekaligus mendesak orang-orang kampung agar berhenti memanggilnya Muharam Buku Gambar sebab ia sudah tidak buta huruf lagi. Dengan langkah gagah, Muharam menyeruak ke tengah khalayak sambil membawa buku Terampil Mengenal Huruf Latin itu. Ia mengangkat buku itu seperti Pak Karno akan membaca proklamasi, lalu ia membaca keras-keras. Sangat meyakinkan meski terbata-bata. Hadirin terperangah. Nyata terbukti bahwa Muharam memang tak lagi buta huruf. Para hadirin mengakui kehebatan Muharam. Mereka bertepuk tangan dan bergiliran menyalami Muharam Esoknya Muharam dapat julukan baru: Muharam Ini Budi.

Mozaik 29

BADANKU panas dingin. Ada yang tak beres dalam mulutku, di belakang, sebelah kiri. Ketika meludah, merah. Gigi yang tak diundang, tumbuh di situ. Betapa murah hati Tuhan, dalam usia dewasa ini, aku masih diberi gigi. Sayangnya, dapat dikatakan, berdasarkan pendapat awamku, tak ada lagi tempat di gusiku untuk kelebihan gigi itu. Tapi ia ngotot, menyeruak, menabrak gusi yang rapat menudungi-nya. Tak ada masalah dengan geraham yang gagah perkasa itu, tapi gusinya luka.

Ini gawat. Sebagai orang yang selalu belajar untuk logis, aku menilai posisiku kurang menguntungkan. Maka, dengan beragam metode, kusogok Arai agar jangan ribut-ribut soal gigiku ini. Kalau Ketua Karmun sampai tahu, nasibku akan tragis macam Tancap bin Seliman.

Sedikit berbeda dengan Tancap, aku menghindari dokter sama sekali bukan karena alasan kultural. Tak masalah bagiku membuka mulut di depan orang asing. Tapi aku punya alasanku sendiri, dan Kawan, sebenarnya agak malu kuceritakan padamu. Tapi karena engkau selalu ingin tahu, baiklah.

Ini kisah lama.

Menjelang Ramadhan, setiap anak lelaki Melayu usia sepuluh tahun harus memasrahkan harkatnya pada dukun sunat. Tong-tong berisi air dingin digelar di depan masjid dan dua atau tiga anak dimasukkan ke dalam tong itu sejak pukul dua dini hari. Mereka menggigil kedinginan dan jika ditanya apakah, saking dinginnya, mereka tak merasakan ada benda apa pun di bawah perutnya, mereka diangkat, lalu mata pisau raut nan berkilat-kilat akan menobatkan mereka menjadi laki-laki Muslim.

Beruntung, aku tak perlu mengalami cara pembaalan9 purba yang mengerikan itu. Karena, ketika angkatanku, dikenalkan cara khitan modern di rumah sakit di Kota Mang-gar, tiga puluh kilometer dari kampungku.

Ketika teknik baru potong lelaki itu dikenalkan, ayahku pucat dan membekap bahuku kuat-kuat "Jangan cemas, Bujang," begitu makna wajahnya, lalu dua alisnya naik-turun, tiga kali, diseling satu senyum rahasia. Aku girang karena air muka begitu berarti: "nanti Ayah belikan hadiah yang paling istimewa!"

Sungguh istimewa hadiah itu: sebuah radio transistor Philips dua band! Bisa menangkap siaran musik pelepas lelah dari RPM Malaysia!

Namaku dipanggil lewat pengeras suara. Karena berawal A, jadilah aku pasien pertama sistem sunat modern di Belitong Timur, sebuah sejarah, tumbal lebih tepatnya.

Aku memasuki ruang serbaputih. Untuk kali pertamanya aku ke rumah sakit. Bau-bau aneh yang belum pernah kucium, lantai yang mengilap, bersih berlebihan, lampu terang benderang, siang-siang asing yang dikalungkan orang, dan alat-alat tajam baja berkilauan, membuatku benar-benar gugup.

Aku dibaringkan di sebuah meja beroda. Ayah mengikutiku, meski berkali-kali dilarang oleh seorang ibu bertopi putih. Ayah cemas dan menghampiriku. Kali ini ia terlalu khawatir untuk berisyarat, kata yang selalu ia hemat sampai-sampai terucap darinya, "Kau akan baik-baik saja, Bujang. Pokoknya, pusatkan perhatianmu pada radio itu!"

Sekonyong-konyong, sesuatu menyengat pantatku. Tanpa peringatan apa pun, aku kena suntik! Kurang ajar betul! Tak kuna kemudian, kurasakan bagian tengah tubuhku lenyap. Dalam kesadaran timbul-tenggelam, pria muda tak tahu adat yang tadi menyuntikku tanpa permisi itu, bergelombang-gelombang di depanku. Ia membawa benda-benda tajam di tangannya, lalu gelap. Namun sebentar saja, karena tiba-tiba aku disadarkan oleh rasa sakit yang memuncak. Mataku terbelalak. Laki-laki muda tadi muncul lagi di layar mataku, tapi kini ia panik. Ia berteriak pada rekannya bahwa ada yang tak beres dengan pembiusan. Sempat mereka beradu pendapat bahwa takaran bius sudah tepat dan memang ada keanehan dalam diriku di luar jangkauan pengetahuan mereka. Aku, barangkah agak sedikit antibius.

Aku mengadiih-aduh kesakitan, kulihat di luar, diperlukan tiga Satpam untuk memiting Ayah agar beliau tak turut campur urusan gawat ini Para perawat tadi menenangkanku dan bertengkar apakah sebaiknya aku disuntik lagi. Sebagian melarang Sementara itu sakit yang kurasakan luar biasa, menjalar dari selangkangku, menohok ulu hati, lalu mengikat perih sampai ke ubun-ubun. Aku bangkit, dan kulihat pemandangan mengerikan, darah berserakan di antara kedua kakiku. Aku terhempas lagi, semaput karena ketakutan.

Yang kutahu selanjutnya, aku siuman di atas pangkuan Ayah, dibelai-beiai beliau dan dibuai-buai lagu Patah Kemudi dari radio transistor yang beliau dekatkan ke telingaku. Lalu beliau membantuku berdiri, memasangkan sarung, mengikatnya dengan akar banar seputar pinggangku, dan menyelipkan kulit keras kelapa yang berbentuk seperti sampan nelayan Hong Kong, pas di atas pusarku. Ayah mengangkatku dan memasukkanku ke dalam keranjang pempang di belakang sepeda Forever-nya.

Waktu sepeda meninggalkan rumah sakit, Ayah memandangku sedih dan berpaling ke ruang sunat itu dengan perasaan tidak senang

"Bujang, lain waktu kalau kau harus disunat lagi, kita pakai tong saja!"

Sejak kejadian di Rumah Sakit Manggar itu, jika melihat orang berbaju serbaputih, aku secara ganjil diserang gugup sampai berkeringat dingin. Bahkan, sering hanya karena melihat mobil ambulans melintas, ulu hatiku sakit. Maka kalau bukan karena satu hal yang amat terpaksa, aku, dengan segenap hatiku, tak sudi lagi bertandang ke rumah sakit. Dan sakit gigiku ini, sama sekali kuanggap bukan hal yang amat terpaksa.

Celakanya, Ketua Karmun akhirnya tahu juga soal sakit gigiku. Kata Saderi Karbon, juru tik kantor desa, waktu mendengar berita itu, Ketua Karmun, bukannya prihatin akan penderitaanku, malah girang tak kepalang seperti bisulnya baru saja pecah: "Bintang kejora! Bintang kejora!" ia bersorak-sorai. Karena itu, jika mendengar anjing melolong-lolong dekat rumah, aku gemetar, kalau-kalau Ketua Karmun datang,

Mozaik 30

SABAN sore, usai asar, setelah melatih ekspresi kesetiaan empat puluh tahunnya, Arai bertandang ke rumah Zakiah.

Aku sering mengantarnya dengan memboncengnya naik sepeda. Wangi Tancho hijau merebak dan Arai bersiul-siul sepanjang jalan. Siulan victorious irama-irama cip-taannya sendiri. Riuh rendah dan sumbang, tapi penuh sukacita. Kami melewati Toko Sinar Harapan. Arai ber-kicau-kicau menyindirku. Suaranya mirip jerit burung kerudk yang dicabuti bulunya. Ingin aku tertawa meUhat tingkahnya, tapi hatiku sesungguhnya menangis apalagi sakit di bagian gusiku mulai terasa kuatnya. Sesuatu kembali menyesaki dadaku. Aku ingin mengayuh sepeda kencang» kencang melewati toko itu, tapi aku tak mampu berajak. u terendam air mata rindu, sungguh rindu, sampai

rasanya aku membeku. Ke mana lagi aku harus mencari A Ling? Semua tempat telah kutempuh, semua orang telah kutanya, tak ada kabar beritanya, tak tahu rimbanya.

Sampai di pekarangan rumah Zakiah aku tak langsung pergi. Kulihat dari jauh. Zakiah membuka pintu dan Arai menampilkan gerak-gerik seperti pangeran yang baru saja berubah dari kodok. Senyum manis tak berhenti mengembang di mulut sepupu jauhku itu. Aku bahagia untuknya. Lalu Zakiah masuk dan hadirlah bapaknya, kali ini gerak-gerik Arai seperti ajudan Bupati.

Seumur hidupku, tak pernah kulihat Arai sebahagia sekarang Lihatlah pria itu. Pipinya sehat merona. Ia telah menaklukkan sakit napas akut Asthma Bronchiale yang nyaris merenggut nyawanya di Paris dan membuatnya terpelecat dari Sorbonne.

Nasib baik, memang sedang tersenyum pada Arai. Hari ini ia mendapat sepucuk surat dari Liaison Officerkami. Kawan tentu masih ingat Mau rent LeBlanch, yang namanya mesti diucapkan dengan nada sengau nan berkelas itu: Morong Leblang. Surat itu berisi tak lebih dari serangkaian berita semanis madu. Maurent berkata, jika kondisi Arai sudah baik, silakan kembali ke Sorbonne untuk menyelesaikan tesisnya dan ikut ujian komprehensif sebelum winter September nanti. Maurent juga bilang bahwa ia bersedia merekomendasikan Arai untuk studi pada tingkat Ph.D. Tawaran ini tentu saja karena materi riset master Arai amat menjanjikan.

"Ada satu lowongan Ph.D. riset di Universitas Essex di

Colchester, Inggris, beasiswa penuh," tulisnya.

Aku tahu tempat itu, Colchester, kota inteletek yang amat bergengsi, kira-kira satu jam saja naik bus dari terminal Victoria, London. Beruntungnya Arai.

"Kolegaku di sana bilang, sebaiknya riset mastermu dilanjutkan. Itu sama saja artinya lowongan itu akan diberikan padamu, jika engkau berminat, tentu saja."

Di bagian akhir surat, Maurent merayu.

"Bioteknologi seyogianya dikejar sampai tingkat Doktor. Bidang ini rumit, memerlukan pengalaman riset yang panjang. Tingkat master saja kurang dapat banyak. Saranku, ambillah kesempatan ini."

Tawaran itu malah membuat Arai gelisah. Ia mendekap surat Maurent. Ia pasti amat menginginkan kesempatan itu. Universitas Essex sudah kondang reputasinya untuk riset-riset bioteknologi. Namun, keputusan itu akan membawa konsekuensi paling berat baginya, yaitu kembali meninggalkan Zakiah, justru pada saat perempuan tambatan hatinya itu mulai membuka diri untuknya. Pilihan yang sulit, benar-benar simalakama.

"Ambil kesempatan Ph.D. itu, dan ambil kesempatan Zakiah," saranku ringan. Arai hilir mudik. Napasnya men-dengus-dengus cepat, dadanya naik-1 u run. Tiba-tiba ia melompati pagar serambi dan menyambar sepeda.

"Bait, Boi," perintahnya.

Aku membonceng, Arai ngebut menuju rumah Zakiah, pontang-panting.

Sampai di pekarangan rumah Zakiah, sepeda dicampakkan Arai padaku. Ia bergegas menemui Zakiah di beranda. Zakiah menerima surat Maurent. Kulihat mereka berbincang serius. Aku cemas, kalau-kalau sesuatu yang buruk akan menimpa sepupu jauhku itu. Aku tahu, Arai tak kan sanggup kehilangan Zakiah.

Tapi, tampaknya semua berjalan dengan baik. Dari pekarangan, kulihat Arai tersenyum-senyum. Ia kembali menuju sepeda, memandangku seolah aku orang yang tak becus melakukan pekerjaan apa pun. Dikibas-kibaskannya surat itu pada stang sepeda sambil berkicau-kicau.

"Wsiauf! Boi, apa kataku selalu, inisiatif!"

Mozaik 31

/6 ^y/ui

SEKONYONG-konyong aku sadar bahwa musim hujan telah lewat. Bulan Mei mengambang. Kemarau naik diarak gumpalan-gumpalan awan yang enggan beranjak. Angin pun raib, sesekali berembus malas, bahkan tak mampu menggerakkan daun jarum cemara. Gerah.

Lalu, semuanya berlangsung begitu cepat. Yang selanjurnya harus dilakukan Arai adalah meminta restu ayahku. Karena, meski cinta Arai sedahsyat terjangan topan sekalipun, meski Zakiah dan keluarganya sudah setuju, jika ayahku tak berkenan, semuanya jadi tak mungkin. Tentu karena Arai adalah simpai keramat, anak sebatang kara, yang dipungut keluarga kami, maka ia berada di bawah Pengampuan ayahku. Tapi bukan semata karena itu, semata karena kami dari waktu ke waktu belajar untuk menghormati keputusan Ayah.

Arai menunggu saat yang tepat untuk menyampaikan maksudnya pada Ayah. Saat yang tepat itu adalah satu waktu khusus yang selalu disediakan beliau saban subuh ketika mendengarkan radio. Arai mencium tangan ayahku dan mengutarakan maksudnya dengan takzim bahwa ia ingin menikahi Zakiah dan memboyong perempuan itu ke Inggris. Aku dan ibuku menyaksikan semuanya lewat tirai ambang pintu. Seminggu penuh aku berdoa kepada Yang Mahaadil semoga Ayah mengatakan ya dalam diamnya. Ayah sedikit terperanjat, dan serta-merta mengecilkan volume radio. Beliau menatap Arai lama, Arai gemetar. Jika Ayah memberikan isyarat tidak maka khatamlah dunianya. Aku pun gugup menunggu reaksi Ayah. Namun, sejurus kemudian kutangkap satu sinyal yang amat kukenal: wajah Ayah terang dan matanya penuh bersinar. Semua berarti sangat terang: "Ya, aku setuju."

Aku melonjak sejadi-jadinya. Aku dirasuki pikiran aneh, meski bukan aku yang akan meminang tapi rasanya aku menjadi orang yang paling bahagia di dunia ini. Karena aku tahu, sejak Arai mengenal Zakiah kelas satu SMA dulu, dan jatuh cinta untuk kali pertamanya, sedetik pun ia tak pernah berpaling pada perempuan lain. Sepanjang waktu itu, belasan tahun, ia telah mengalami berupa-rupa cobaan paling pahit, bertubi-tubi, dari kemungkinan seorang lelaki ditolak. Arai tak setapak pun mundur.

Kuingat, malam tanggal 16 Mei itu. Malam yang tak kan kulupa. Arai menikahi Zakiah di rumah kami. Usai mengucapkan ijab kabul, ia mengaji Al-Quran, seperti

dulu ketika kami masih kecil setiap habis magrib. Dan tak berubah, masih seperti dulu, jika ia mengaji, semua orang tercenung, diam terpaku, apa pun yang sedang dikerjakan terhenti, yang dipegang dilepaskan. Karena setiap lekuk tajwid yang dilantunkan Arai adalah jerit getir kerinduan nan tak tertahankan pada ayah-ibunya. Suara Arai mengalun pelan, menyelusupi lika-liku jalan setapak, merayap menuju pondok panggung di tengah ladang tebu, beratapkan daun, bermding kulit lelak kayu meranti. Tak kan pernah hilang dalam ingatku, anak kecil delapan tahun sebatang kara itu, menepi air mata cemas di pelupuk matanya, menunggu aku dan ayahku menjemputnya. Bajunya seperti perca, timpang dan berkancing tak lengkap, buku-buku kumal tak bersampul diapit lengan-lengannya.

Ia mengaji menyayat hati, dalam bahagia yang perih, sesak dadanya ingin mengabarkan pada ayah-ibunya bahwa ia telah menemukan belahan hatinya, telah memutus simpai keramatnya. Suaranya pilu menusuk-nusuk malam, air matanya bercucuran,

Mozaiix

SAKIT gigiku kian parah. Rasanya ingin aku menghambur ke rumah A Put. Tapi, lewat Mahip, Ketua Karmun mengancam akan menyandera KTP-ku kalau aku berani berdukun. Kawan, aku perlu KTP itu jika nanti merantau lagi ke Jawa, untuk membuat kartu kuning di Depnaker, untuk mencari kerja.

Malam itu anjing kampung melolong-lolong. Tahu-tahu Ketua Karmun sudah menyeringai seram di ambang pintu. Wajahnya sumringah. Tapi segera berubah menjadi ungu bak buah rukam lampau musim.

"Apa katamu barusan!? Kau tak mau ke klinik itu!? Apa telingaku ini salah dengar!?"

Aku climarahinya habis-habisan. Takut aku melihat wajahnya.

"Ikal! Kuanggap kau adalah orang yang berpendidikan! Mana tanggung jawab ilmiahmu!"

Aku menunduk. Seisi kampung mafhum, kalau Ketua Karmun bicara jangan coba-coba dipotong. Aku hanya berani menjawab dalam hati, Apa hubunganrrya dengan ibruah-ibm-ah? Huh! Karbol perban, darah, obat bius, jarum suntik, tak sudi aku!

"Tahukah engkau! Kau bisa membebaskan kampung ini dari zaman jahiliah perdukunan gigi!"

Apa peduliku soal zaman jahiliah segala? Jarum suntik itu selak diarahkan ke tempat-tempat yang tak santun, maaf-maaf ya....

Aku tahu, Ketua Karmun membaca pikiranku. Ia mengaduk-aduk rambutnya. Pusing tujuh keliling kepalanya. Ia bergegas keluar, dibantingnya pintu.

Malam-malam berikutnya hal serupa terulang. Aku tetap berkeras. Karena sejak kejadian khitan dulu, aku telah berjanji pada diriku sendiri dan pada alam semesta raya, apa pun yang terjadi, aku tak mau ke rumah sakit. Dalam bahasa modern, Kawan, keadaan ini disebut trauma.

Ketua Karmun menerapkan beragam muslihat untuk menggiringku ke klinik. Sering ia marah menggunakan kata-kata yang biasa dipakai orang di geladak kapal. Ia mengancam, berkhotbah, merayu, menyogok, berteori, pura-pura bijak, pura-pura lembut, pura-pura ilmiah, semuanya tak mempan. Ia habis akal melihatku menggeleng dengan mantap. Kadang kala bujukannya konyol.

"Tahukah engkau, Boi, jika sakit gigi berkepanjangan tak diobati, orang bisa jadi gila!" Aku menggeleng, atau....

"Teriambat sedikit saja kau menghadap dokter, whuup! Sarafmu langsung korslet! Kalau itu sampai terjadi, kau

akan teleng seumur hidup!"

Lalu Ketua Karmun berjalan timpang dengan wajah menceng-menceng, atau ....

"Ikal, sakit gigi sesungguhnya dekat sekali dengan

nyawa!"

Aku menggeleng.

"Bagaimana kalau kau kucarikan istri perempuan-perempuan Membalong yang salehah, tamatan pesantren, pintar menyulam, dan pandai membaca? Asoy, kan?"

Aku menggeleng.

Habis akal, Ketua Karmun membuka bajunya, memperlihatkan bekas luka panjang waktu dulu diseruduk babi hutan.

"Lihatlah, Ikal, ini adalah luka yang hebat, disuntik?

Tak ada rasanya, hanya nyit saja." Aku menggeleng lagi.

Malam berikutnya Ketua Karmun datang lagi dengan pengucapan bahasa Inggris tak keruan.

"To make a difference. Membuat perbedaan," ujarnya canggung dan sok tahu.

Mulailah Ketua Karmun berkisah.

Mulanya ia menegaskan makna kata perbedaan. Bahwa salah satu manfaat pendidikan adalah agar orang dapat membedakan.

"Itu adalah kalimah yang biasa dipakai orang-orang USA, dan lihatlah majunya peri kehidupan mereka."

Ketua Karmun berusaha melembut-lembutkan di< nva dalam gemuruh dada yang dongkol padaku. Aku menggeleng.

"Makna kalimah ku tak lain, kau berada dalam po^ yang dapat membuat perbedaan di kampung ini."

Perbedaan? Perbedaan yang nyata adalah pantatku yang akan kena suntik, bukan pantatnya. Tak usah ya.

"Yaitu perbedaan antara yang salah dan yang benar. Yang benar adalah penyakit diobati oleh dokter, bukan oleh dukun!" nada Ketua Karmun mulai tinggi.

"Ini momentum yang harus kita rebut! Maukah engkau ke klinik itu?!" sifat aslinya muncul. Aku, lagi-lagi, menggeleng

"Jadi kau sudah tak bisa lagi membedakan yang baik dan buruk! apa yang kaudapat dari pendidikanmu itu!!"

Malam keenam. Ketua Karmun datang dengan strategi baru.

Ia mengimingiku jabatan-jabatan empuk. "Carik Desa, Ikal, bukan main, carik desa! Perempuan-perempuan kampung pasti bertekuk lutut padamu!" Aku tak peduli.

"Atau, maukah kau jadi petugas pos desa. Amtenaar, Kal, sahabat orang kecil, pengemban amanah, mulia sekali."

Aku tak menunjukkan minat.

"Dapat motor! Kal, warnanya oranye. Suara klaksonnya gagah. Seragamnya, tak kalah dengan seragam tra^dor kawat meskapai, berlambang burung merpati. Ayahmu

^^memalingkan muka. Akhirnya, Ketua Karmun menawarkan jabatan yang sangat penting Tampaknya ta tak rela. Ia berbisik.

"Maukah kau jadi penjaga pintu air? Sudah lama aku ingin menggeser Tamim sialan itu! Gara-gara dia ketidur-an, dua kali kita kebanjiran. Pekerjaan menjaga pintu air sangat menyenangkan, Boi!"

Sambil meringis menahan sakit gigi, aku menggeleng "Coba bayangkan. Ini satu-satunya pekerjaan di dunia ini yang dapat dilakukan sambil berleha-leha mancing seharian. Itu satu segi dari pekerjaan penjaga pintu air yang tak pernah diperhitungkan orang. Tak ada, Boi, tak ada pekerjaan lain seenak menjadi penjaga pintu air. Hanya menjadi anggota Dewan yang dapat menyainginya." a

MALAM ketujuh Ketua Karmun tak datang. Bukan karena aku sudah terbujuk, tapi seisi kampung tumpah ke dermaga. Ada berita menggemparkan. Maskur yang baru pulang melaut, bukannya membawa ikan tapi membawa jenazah. Dan Maskur datang dengan berita yang mendirikan bulu kuduk, katanya masih ada satu jenazah lagi di laut. Jenazah itu kini menuju dermaga dibawa orang-orang bersarung.

Mayat yang dibawa Maskur dibaringkan di pelataran, sudah tak keruan bentuknya, ditutupi tikar ala kadarnya. Benar kata orang. Bau mayat manusia sungguh tak tertahankan. Suatu bau busuk yang pahit dan menusuk. Ketua Karmun meminta orang kampung yang kuat perutnya untuk maju mengenalinya. Namun, sungguh malang jenazah itu. Aku trenyuh. Ia tak mungkin lagi dikenali.

Bahkan, tak

dapat diketahui apakah ia lelaki atau perempuan. Ia pasti telah berhari-hari terapung di laut

jenazah lain yang disebut Maskur tadi kemudian tiba. Keadaannya sama mengenaskan dengan mayat pertama tadi. Ia adalah lelaki berambut panjang dengan wajah yang telah rusak. Siapa pun yang mendekat menggelengkan kepala karena tak dapat mengenali apa pun. Mereka gelisah mernildrkan keluarganya yang tengah melaut karena tak jelas apakah dua jenazah korban musibah atau dibunuh.

Aku tak berani mendekat karena tak mampu menahan bau menyengat, sampai berair mataku. Dokter Diaz dan para petugas Puskesmas membalik-balik jenazah ka-lau-kalau ada tanda tubuh tertentu yang dapat dikenali sanak famili. Dan ketika petugas membalikkan jenazah lelaki berambut panjang itu, aku terkesiap. Di atas lengan kanan pria itu tampak samar rajah yang rasanya kukenal.

Aku takut sekaligus ingin tahu. Dadaku berdebar-debar mendekati mayat ku. Aku kalut dan berdoa dengan keras dalam hati agar penglihatanku keliru, sekaligus berharap agar penglihatanku benar. Aku tertegun di samping

?T^^Panjangitu. Kakiku seperti terpaku ke bumi. Siapakah lelaki ™? tv

bertemuder^a ?*!v v *» ^

karena pikka^p^ T* ^ ^ kurasakan

btmyi dalam lapkan dagirL * ?f Samar'tersem-arnati denganteMrajahita *? yatlg kelupas. Ku-berdetak-detak. Aku ingfo b^.terbelalak dan jantungku Aku kenal rajah kupu-W,^.^ mulu^u terkunci.

ltu adalah tato trah

Seorang perempuan pernah memperlihatkan ^dakftato bergambar kupu-kupu itu di atas lengannya. T buhku gemetar. Mayat lelaki berambut panjang dengan aah hancur di depanku ini mungkin petunjuk dari orang "ang telah kucari seumur hidupku: A Ling, a

Mozaik M

WAKTU orang-orang bersarung mengatakan bahwa

salah satu perahu saudara mereka menemukan seorang Melayu yang masih hidup di antara mayat-mayat terapung itu, dan langsung putar kemudi ke Manggar, karena rumah sakit ada di sana, aku tak buang tempo. Malam itu juga aku

ke Manggar.

Aku mengayuh sepeda ayahku seperti orang kesurupan. Aku tak peduli meski hujan lebat dan tak sempat lagi memikirkan pelindung. Basah kuyup, dingin, dan angin kencang tak terasa menghalangiku. Aku berharap orang yang selamat itu masih tetap hidup sampai di rumah sakit.

Sepanjang jalan dadaku gemuruh. Meski masih amat rabun, intuisi memantik-mantik dalam hatiku, lelaki itu pasti sedikit banyak tahu di mana A Ling berada. Masih kuingat dulu, A Ling membatalkan janji kami bertemu, ia demam lantaran tinta china yang dirajahkan pamannya di lengannya. Esoknya, di halaman sekolah nasional ia memperlihatkan rajah itu padaku, bergambar kupu-kupu dan sebaris kecil aksara Tionghoa yang tak kupahami. "Asal ibuku," katanya menjelaskan aksara itu. "Semua keluarga Ibu, punya tanda ini." Jadi, mayat pria berambut panjang di dermaga itu pasti bertalian darah dengan A Ling

Sampai di rumah sakit, pria Melayu itu terkapar di ruang gawat darurat. Ia meregang nyawa. Para perawat merubungnya, menekan-nekan dadanya, menyuntikkan beberapa kali cairan berwarna kuning Aku tak berhenti berdoa agar ia selamat Aku sedih melihatnya dan dialah satu-satunya harapanku. Pria itu meronta-ronta sebentar, makin lama makin lemah, lalu diam. Para perawat putus asa dan aku terduduk lemas. Pria itu meninggal dunia. Aku dan beberapa orang lain mendekatinya, tak seorang pun mengenalnya.

Di antara kerumunan orang, di rumah sakit itulah kali pertama kudengar namanya. Bahwa korban-korban yang bergelimpangan di laut mungkin telah diserang dan dibunuh oleh lelaki bernama Tambok. Nama itu tersamar dalam bisik-bisik ketakutan. Waktu aku bertanya, orang-orang itu tak mau berpanjang cerita. Siapakah Tambok? Mengapa ia membunuhi orang-orang ini?

Aku pulang, lunglai mengayuh sepeda, dan bertanya padaku sendiri: mengapa setiap ada harapan makin dekat dengan A Ling, harapan itu selalu patah? Orang-orang bersarung mengaku melihat mayat lain dilamun ombak, tak dapat mereka jangkau. Jika semua ini untuk mengujiku, ingin kuteriakkan di tengah sabana di malam buta ini: aku tidak akan mundur setapak pun! Tidak akan! Namun, aku gundah: apakah sesuatu yang buruk telah menimpa A Ling? Apa yang telah terjadi di tengah laut sana? Apakah ia bagian dari rombongan jenazah yang malang itu?

Malam-malam selanjutnya aku tak dapat tidur. Pikiranku merayang-rayang. Berbagai kisah menakutkan beredar di kampung. Ada yang mengatakan jenazah-jenazah itu adalah orang perahu dari Vietnam yang dibunuh perompak di Tanjungjabung. Diduga begitu lantaran tak seorang pun kenal mereka. Tak ada pengetahuan atau catatan termasuk dari syah bandar tentang pelayaran mereka. Ada yang bilang mereka penduduk pulau terpencil yang celaka ketika berlayar untuk meminang. Ada pula yang menduga mereka penyelundup timah yang kena musibah.

Semuanya tak masuk akalku. Jika mereka celaka di Tanjung Jabung, harusnya, pada musim selatan Juni begini, mereka tak terdampar di perairan Belitong. Arus akan melemparkan mereka ke arah lawan, yakni ke Selat Berhala atau Tembilahan. Penduduk pulau terpencil juga tak mungkin. Bagaimana dengan rajah itu? Bukan kebiasaan orang Tionghoa Melayu tinggal di pulau terpencil. Penyelundup timah? Mustahil musim selatan begini. Kaum begundal itu selalu menyelundup pada musim barat yang paling ganas. Peluang mereka keluar perairan Indonesia adalah beradu berani dengan patroli polisi air. Mesin mereka di atas empat puluh PK dan ABK-nya sedikit. Sedang jenazah-jenazah itu, tak tampak seperti penyelundup. Mereka lebih seperti sekeluarga kena bantai.

Aku berpikir keras. Malam-malam aku ke dermaga mengamati bintang, dan terkenang akan Weh. Ah, seandainya masih hidup, pasti ia dapat memecahkan misteri ini. Ia pernah mengajariku tentang sifat-sifat musim selatan.

' jika bulan September, melautlah ke Karimunjawa karena Pulau Belitong akan mehndungimu dari angin Barat."

Tak kan kulupa pelajaran itu.

"Tapi jangan sampai lewati Salembu Besar, badainya jahat," Weh menunjuk langit.

"Jika Selatan berlaku, putar haluanmu ke Mempawah. Pesisir Kalimantan lautnya berkawan, teduh, jalur anak-anak angin menuju Negeri Jiran."

"Negeri Jiran, Weh?"

"Negeri Jiran, Bujang, lewat Kepulauan Batuan, tempat bertukar emas dengan tanah harapan, nyawa dengan kebebasan. Jangan pernah ke sana, Bujang, di sana hanya untuk jin-jin laut."

Aku tak mau berpanjang tanya waktu Weh menyebut jin laut Itulah kata sandi untuk kaum lanun, bajak laut, perompak-perompak Selat Malaka yang keganasannya telah melegenda seantero jagat Gugus Kepulauan Batuan dikuasai mereka, tempat mereka sembunyi dari kejaran aparat patroli Republik dan Tentara Maritim Diraja Malaysia. Di Batuan, tanah tak berhukum itu, lanun berkuasa,

Mozaik 35

SERING kudengar berita burung dari nelayan-nelayan veteran soal Batuan. Tak ada kabar baik dari sana selain ketakutan dan darah. Namun, Negeri Jiran? Negeri Jiran? Astaga! Mungkinkah? Tiba-tiba aku tersentak. Oh, jangan-jangan? Jantungku terpacu, otakku berputar: Kari-mata, Kertamulia, Mempawah, Singkawang, tempat-tempat dalam satu garis lurus ke selatan dari Pulau Belitong.

Kesimpulan demi kesimpulan menggumpal dalam kepalaku, seperti segenggam benang kusut yang kucoba tarik satu ujungnya, untuk mengurainya. Malam itu, tak sepicing pun aku tidur.

Pagi sekali aku pontang-panting ke rumah La 'ani, dukun laut orang-orang bersarung. Setengah berteriak kutanyakan padanya.

"Kawan, di mana anak-anak buahmu menemukan mayat-mayat itu?"

Aku melonjak waktu La'ani menyebut Karimata. Ia bingung Firasatku mengandung kebenaran. Namun, pada derik yang sama aku ketakutan. Aku bergegas ke pinggir sungai, memandang jauh ke muara. Aku menyulam fakta demi fakta temuan mayat dengan serpih-serpih cerita Weh dulu tentang jalur anak-anak angin, dan aku merinding, karena semua serpih-an itu membulatkan satu kesimpulan yang sangat mengerikan, kesimpulan yang paling kutakutkan sejak semalam, yaitu bahwa orang-orang yang mati di laut itu sesungguhnya sedang menuju Batuan. Mereka adalah para pelintas batas. Pendapat-ku adalah dari Belitong mereka naik vertikal ke Karimata, lalu melintasi jalur anak-anak angin menuju Mempawah, dan Mempawah mereka bermaksud berlayar horizontal menuju Batuan. Batuan adalah persinggahan sementara, bukan tujuan mereka sebenarnya, hanya semacam batu loncatan. Tujuan akhir rombongan itu sesungguhnya adalah tempat yang disebut tanah harapan oleh Weh, tak lain: Singapura.

Di Batuan, para perompak akan mengatur mereka memasuki Selat Singapura setelah mereka menukar harta benda, atau apa pun yang melekat di badan sesuai dengan tuntutan kaum lanun. Cara ini telah ditempuh orang Khek, Hokian, Ho Pho, dan Melayu sejak Singapura dikuasai Inggris dulu. Jalur yang jauh memutar melewati Mempawah selalu sukses sebab jalur Kepulauan Riau atau Bengkalis terjaga rapat Angkatan Laut

Semuanya gara-gara masyarakat Melayu Dalam terlalu menggantungkan hidup pada tambang timah. Ketika meskapai lumpuh, sendi-sendi kehidupan runtuh. Seluruh angkatan kerja mendadak menganggur. Usaha-usaha dagang orang Tionghoa Melayu bangkrut karena tak ada pembeli. Perekonomian padam, pulau kecil itu yang semula kaya raya itu mendadak melarat. Sebagian, seperti keluarga Asnawi bin Ba'i, keluarga Chung Fa, dan Kalimut orang Sawang yang dulu kutemui di Kapal Lawit, merantau untuk mengadu nasib ke Jakarta. Sebagian lain, yang tak berjiwa perantau, kembali ke hutan dan sungai, untuk berburu, berladang, berpindah-pindah demi mencari makan. Sisanya, para penantang nasib. Manusia-manusia yang tumbuh Marco Polo dalam dirinya, para pemberani, melintasi samudra, eksodus menuju Singapura, Malaysia, bahkan Pulau Christmas di perairan Australia, menjadi pendatang haram. Terutama karena diimingi kerabat yang telah hidup enak di negeri-negeri jiran itu. n

GAMBARAN dalam kepalaku makin jelas dan justru membuatku makin cemas. Penemuan mayat-mayat itu hanya berarti dua hal: mereka celaka di laut karena ombak atau tak sampai kata sepakat dengan lanun, mereka dibunuh, perahunya dikaramkan. Tapi mungkinkah A Ling berada dalam rombongan yang nekat itu? Apa mungkin perempuan Hokian semuda itu berani menempuh pelayaran penuh bahaya dan berurusan dengan bajak laut yang tega membunuh sekadar untuk kesenangan?

Kuingat kembali sorot mata A Ling. Sorot mata yang mengandung kekuatan warisan leluhurnya, para perantau Hokian gagah berani yang telah merambah tanah-tanah Melayu sejak enam ratus tahun lampau. Maka sangat mungkin, sangat mungkin ia bagian dari rombongan itu. Kini tak jelas nasibnya. Ia bisa saja berada di Semenanjung Mer-

sing, Malaysia, di Batuan, di Teluk Kumai, di Mempawah,

di Singkawang, sudah eh* Singapura, atau mungkin di Pulau Christmas di Karimata, atau bisa saja ia tengah terapung-apung di laut, berjuang untuk hidup, atau telah menjadi jenazah. Dadaku sesak. Aku akan mendatangi semua tempat itu. Kan kucari A Ling dan kan kutemukan dia, apa pun yang harus kuhadapi, apa pun yang akan terjadi, karena aku telah mencarinya separuh dunia. Aku ingin menemukannya, walau keadaannya akan menghancurkan hatiku.

Sejak penemuan mayat-mayat itu, tiap hari aku ke dermaga. Kian hari, kian yakin aku akan teoriku. Aku mencari-cari cara, bagaimana agar dapat ke Batuan. Aku gelisah tapi terfokus pada satu tujuan: mencari A Ling, tak ada hal lain. Aku bahkan telah lupa akan sakit gigiku.

Masalahnya, setiap kafi aku menyebut Batuan, nelayan Melayu atau orang-orang bersarung, langsung mengalihkan pandangan, tukar topik bicara. Karena aku terus mendesak, La"ani jengkel.

"Baik, kuterangkan padamu, Kal, sudah ini, jangan kautanya-tanya lagi. Batuan bukan tempat mencari ikan. Tak ada nelayan ke sana. Kau bisa saja ikut aku, paling jauh sampai Mempawah. Lalu dari sana, kau mau num-pang apa? Dan jangan sekali-kali kaucoba, nanti yang pulang tinggal namamu."

Aku terlatih membaca wajah ayahku, maka aku dapat membaca seluruh kesan di wajah La'ani, bahwa ia terpak-

sa membahas Batuan, bahwa banyak nelayan yang ditimpa pengalaman buruk di pulau tak bertuan itu.

"Batuan itu, Kal, seperti karcis sekali jalan ke liang kubur. Sudah ke sana jangan kauharap bisa pulang Tak ada yang selamat. Lautnya berkarang, anginnya kencang, ombaknya besar, kalau tak dibunuh lanun, karam, perahu kena hantam kanon marinir. Wilayah itu wilayah perbatasan, berbahaya! Hanya pernah ada satu orang selamat ... ah!"

La'ani pucat, dan seperti orang salah bicara, la menyesal. Orang yang selamat itu, otomatis, adalah harapanku.

"Siapa dia, Ni?"

"Sudahlah, Kal, lupakan, pulang sana." La'ani menarik jangkar, mendayung, menjauh. Ia menghindari pertanyaanku. Aku berteriak.

"Ni! Siapa?"

Ia tak peduli. Ia seakan tersumpah menjaga rahasia.

"Ni!!

"Pulanglah."

"Ni, ini penting, Ni." Aku berlari-lari di pelataran dermaga mengikuti laju perahunya.

"Orang itu lebih bahaya daripada lanun, Kal, ia penguasa Selat Karimata, pulanglah!"

"Ni! Siapakah dia? Ayolah, sudah lama kita berkawan, dari kecil."

Aku memohon. La'ani berhenti mendayung. Ia jengkel tapi tak tega. Ia, dan orang-orang bersarung umumnya, memang berwatak setia kawan. Sering kali karena setia kawan yang buta, mereka sampai terpaksa masuk penjara. Ia mendayung berbalik ke arahku. Lewat isyarat, ia memintaku melompat ke perahunya. Aku dmiarahinya.

"Kau itu, Kal! Hanya karena cinta, kau mau ke Batuan?"

Aku diam, tetap menuntut jawaban. Apa boleh buat, M.

"Dari dulu kau selalu keras kepala!"

La'ani berusaha mengurungkan niatku. Tapi aku menunjukkan sikap membatu.

"Kau rela mati untuk cinta? Pahamkah kau? Betapa sintingnya kau itu?"

"Aku tak kan memberi tahumu siapa orang itu! Bahaya!"

"Siapa, Ni? Mengapa kau takut begitu?"

"Kau tahu, Ikal. Bisa jadi mayat-mayat dulu itu tidak tewas di Batuan, tapi orang itu sendiri yang membantainya! Aku ini dukun, tapi tak ada seujung kukunya. Ia dapat menyuruh ombak membawa kabar padanya! Bisa menyuruh angin untuk membunuh orang! Aku bermulut panjang, dia tak senang, bisa-bisa aku yang kena nanti!"

Aku tetap berkeras.

"Dan kalau kau celaka, aku tak kan menangisi mayatmu. Matilah kau, Kal, mati meragan9 di tengah laut, dan jangan kau lupa, berbusa-busa mulutku sudah melarangmu!"

"Sebutkan namanya, Ni" »~~ Ungkapan kematian yang sengsara bagi orang Melayu.

"Jangan sampai kautahu, Kal, pulanglah. Ia satu-satunya dukun di muka bumi ini yang tenungnya tak bisa ditangkal laut."

Bulu kudukku berdiri. Sihir dari dukun mana pun, tak kan mampu menyeberangi laut. Adakah orang sesakti itu? Inikah alasan La'ani takut? Seharusnya aku pulang saja seperti sarannya, melupakan Batuan, melupakan A Ling

"Siapa orang itu, Ni?"

La'ani menatapku nanar. Lama berkawan denganku ia mafhum, jika sesuatu sudah kuikrarkan, tak dapat dibengkokkan. Ia takluk. Ia mendekatiku dengan waswas, lalu membisikkan dengan waswas nama yang dulu pernah kukenal, nama seorang siluman.

"Tuk Bayan Tula, Kal."

Aku tertegun. Setahuku Tuk Bayan Tula sudah tewas. Tak kan mungkin orang bisa selamat dari tsunami di pulau sekecil Pulau Lanun di tengah laut sana. Pulau itu sendiri sudah tenggelam. Namun, belakangan kudengar rumor. Dini hari orang sesekali melihat seorang pria berjubah hitam panjang, melingkar cemeti ekor pari di pinggangnya, burung hantu bertengger di palang haluan. Ia berdiri di sampan sambil berdayung, membelah permukaan Sungai Mirang yang tenang, lalu menghilang ditelan halimun. Ia bertutup kepala semacam payung hitam, meski tidak hujan, berpayung! Orang-orang percaya, pria itu tak lain Tuk Bayan Tula.

Kenyataan bahwa Tuk Bayan Tula terlibat dengan urusan mayat-mayat itu, telah mengubah seluruh moral rencanaku. Aku sadar, ekspedisiku ke Batuan ternyata tak sesederhana yang kubayangkan. Batuan akan menjadi ekspedisiku yang paling berbahaya. Jauh lebih maut daripada ekspedisi nekadku dan Arai mengelana Eropa dan Afrika dulu. Di Eropa atau Afrika, bagaimanapun berisiko, masih selalu bisa diramalkan, yaitu: kelaparan, dirampok di Eropa Timur yang miskin atau di pedalaman Afrika, terjebak dalam perkelahian para imigran gelap, atau ditangkap polisi karena urusan surat-menyurat. Namun, Tuk Bayan Tula dan laut adalah hal yang sama sekali berbeda. Kematian yang pahit, menunggu di laut. Begitu pepatah Melayu kuno. Sifat-sifat laut dan perangai orang-orang yang berperikehidupan di sana, sama sekali tak dapat diduga.

Di laut, orang bisa celaka, hanya karena dijungkalkan dari perahu. Tak ada seorang pun akan membantu. Jerit minta tolong lindap ditelan gemuruh ombak, tenggelam, dan almarhum dalam waktu kurang dari dua menit. Atau jika bernasib sedikit baik, bukan baik tapi sial sesungguhnya, terapung sambil memeluk buah kelapa, tak ada satu benda pun sejauh mata memandang, laut, hanya laut yang mencekam, dimakani teritip, dikepung hiu, tersengal-sengal berhari-hari, antara sekarat, hidup, dan mati.

Di rumah sakit dulu kudengar tentang seorang kejam yang mungkin telah membunuh korban-korban di laut tempo hari, dan sekarang ada pula Tuk Bayan Tula. Maka aku Irian gamang. Aku jera berurusan dengan manusia setengah hantu itu. Cukup sudah pengalamanku bersama Mahar dan Societeit de Limpai yang konyol itu di Pulau Lanun tempo hari. Lagi pula, jika ibuku sampai tahu aku berurusan dengan dunia syirik perdukunan, bisa-bisa aku kena rajam.

Tapi apa daya, Selat Karimata berkeliling berada di bawah kuasa Tuk, dan selat itu adalah jalur sam-satunya ke Batuan. Lagi pula, Batuan masih serbagelap bagiku. Maka Tuk-lah satu-satunya sumber informasiku. Tak ada jalan lain menuju Batuan selain menghadapi Tuk. Seandainya lelaki Melayu di rumah salat Manggar dulu rak terburu-buru tercabut nyawanya, atau seandainya masih ada Arai, semuanya pasti lebih mudah bagiku. Kini semuanya harus kuatasi sendiri.

Kesimpulanku, Tuk-lah satu-satunya peluangku. Bagaimanapun dia dulu adalah gembong bajak laut Selat Malaka yang paling ditakuti. Jangan-jangan aku tak perlu ke Batuan, cukup berunding dengannya, aku dapat menukar A Ling. Seketika aku miris, membayangkan tuntutan Tuk dalam transaksi itu. Misalnya ia minta tumbal orang-orang yang kusayangi: ayahku, ibuku, atau nyawaku sendiri. Tapi, setelah kutimbang-timbang, tahukah, Kawan? Aku bersedia menukar nyawaku, asal dapat melihat A Ling sekali saja. °

MozaiK m

SORE itu, bakda asar aku tak pulang ke rumah. Aku naik ke menara Masjid Al-Hikmah. Seluruh kampung tampak dari atas sana sampai ke garis tepinya di serambi Laut China Selatan. Aku menciut menyadari betapa kecilnya Pulau Belitongku ini, dan aku termenung menilai situasiku. Analisis, Kawan! Itulah yang kulakukan.

Sekarang, gumpalan besar benang kusut itu paling tidak mulai tampak ujungnya. Ujung-ujungnya adalah A Ling, Batuan, dan Tuk Bayan Tula. Aku paham, jika salah menariknya maka gumpalan kusut itu makin kalut, makin kental, hingga tak dapat diurai, atau akan melilit leherku sendiri.

Sementara, kupusatkan perhatianku pada Batuan. Yang jelas, tak ada kendaraan lain ke sana selain perahu. Yang terang, tak dapat ke sana menumpang nelayan karena Batuan bukan jalur mencari ikan. Yang pasti, aku harus

mengusahakan semuanya sencliri sebab orang lain takut berurusan dengan Tuk Bayan Tula.

Maka pilihan yang tersisa untukku hanya menyewa perahu, atau memiliki peraku sendiri dan berlayar sendiri. Ketiga hal itu adalah mustahil. Sebab, untuk menyewa perahu sangat mahal pun jika tahu tujuanku Batuan, tak kan ada orang-orang bersarung yang mau menyewakan perahunya padaku. Mereka tak mau perahunya karam dan pecah oleh ombak enam meter, dirampas atau dibakar bajak laut, atau dimeriam marinir.

Membeli perahu, lebih mahal lagi. Harganya hampir seratus juta rupiah. Belum termasuk peralatan, misalnya layar dan motor tempel paling tidak 40 PK, serta logistik: beras, obat-obatan, bahan bakar, bahan makanan untuk berlayar berminggu-minggu ke Batuan. Sementara statusku adalah pengangguran tak berpenghasilan.

Berlayar sendiri ke Batuan juga tak mungkin. Aku bukanlah nakhoda dan hanya punya sedikit pengalaman berlayar dengan Weh dulu. Meskipun aku sering dipercaya jadi nakhoda tapi selalu ada Weh di perahu. Aku belum pernah melaut sendirian. Kenyataan ini adalah gumpalan-gumpalan benang kusut baru.

Satu per satu saja dulu. Aku harus mampu membeli perahu. Sayangnya, tak ada pekerjaan untuk seorang sarjana teori ekonomi di kampungku. Dan aku tak mungkin meninggalkan Belitong untuk mencari kerja ke Jakarta. Meski berijazah, tak ada satu hal pun yang dapat menjamin bahwa aku akan segera dapat kerja.

Sementara semuanya harus cepat. Aku gamang membayangkan, mungkin sekarang A Ling atau orang-orang Melayu, Khek, Hokian yang masih tersisa di Batuan tengah putus asa menunggu diselamatkan. Persiapan perahu, layar, motor tempel harus sudah selesai sebelum orang-orang bersarung turun melaut lagi, artinya segera setelah usai musim barat tahun ini. Musim selatan, awal Maret . nanti, aku harus sudah berlayar ke Batuan. Jika terlambat, dan musim barat hinggap lagi, laut tak mungkin dilayari paling tidak lima bulan karena badai dapat mengamuk sembarang waktu. Pilihanku amat sulit.

Tiba-tiba aku teringat akan pelajaran yang dulu pernah diajarkan Ibu Muslimah di sekolah Laskar Pelangi, yaitu yang kali pertama harus dilakukan dalam menghadapi situasi pelik adalah membuat rencana Al

Rencana A bagiku jelas: aku harus mencari uang di Belitong sesegera dan sebanyak mungkin, sekarang juga, bagaimanapun caranya. Dan aku tahu cara cepat mendapatkan uang. Aku bergegas turun dari menara masjid untuk menghadap Bang Bidin, juragan para pendulang timah, untuk melamar kerja.

"Apa dunia ini sudah mau kiamat, Kal? Mana mungkin orang sekolahan macam kau mendulang timah?" "Apa boleh buat, Bang, tak ada pekerjaan lain." "Lihatlah kau itu!? Putih, halus, mulus, keriting tak ubahnya laksaiQt lebih cocok jadi juru taksir pegadaian."

Kuh'-lculi kasar yang potongannya seperti gorila di sekitar situ tertawa meremehkanku sampai berair matanya.

"Kaulihat pompa itu, beratnya seratus dua puluh kilo, harus dipikul dua orang saja. Pipa-pipa paralon itu, paling tidak tujuh puluh kilo, mampu kau memikulnya.'? Apa kau-kira gampang mendulang timah?" "Kucoba, Bang."

Satu hal yang tak dihitung oleh Bang Bidin adalah tenaga ajaib orang yang kasmaran. Memang hari pertama dan kedua aku sampai muntah-muntah kelelahan, kehabisan napas, berkunang-kunang mataku. Berkali-kali aku terpental ditendang terjangan pompa semprot. Pekerjaan mendulang timah luar biasa kasar. Berendam di danau lumpur setinggi pinggang sampai berjam-jam di bawah terik matahari Jemari kaku menciut karena dingin. Telapak tanganku melepuh, berdarah-darah, dan perih luar biasa ketika butiran pasir gelas masuk ke dalam daging yang terkelupas. Jika malam tiba, tubuhku remuk redam. Persendian seperti terlepas-lepas.

Tapi setelah lepas minggu pertama, aku telah menjadi kuli yang disayangi Bang Bidin karena paling rajin dan banyak menghasilkan timah. Ia sampai terheran-heran melihatku kerja seperti orang kesetanan. Soal timah memang kau banyak tahu, Bang, tapi soal cinta? Kau tak tahu apa-apa/

Minggu ketiga, aku juga telah seperti gorila. Hitam legam kulitku, seperti arnplas telapak tanganku. Urat-urat

bertimbulan, berkejaran di lengan-lenganku. Badanku tegap dan liat, semangatku seperti kawat dibakar.

Sabtu dan Minggu, jika Bang Bidin tak menyewa alat berat dan tambang kami libur, aku meminjam sepeda motor sepupuku, Honda antik besar CB-100 dan aku berae. Be-rae adalah cara mencari uang yang asyik. Dalam keranjang pempangyang besar, aku membawa ikan, beras, gula, terasi, mainan anak-anak, daster kadang-kadang, dan barang-barang kelontong lainnya, bergelantungan seantero sepeda motor, untuk dijual di pelosok-pelosok kampung. Pulangnya membawa duren, pete, rambutan, madu pahit, jamur, umbi-umbian, pelanduk, burung puyuh, Uenggiling, atau hasil hutan untuk dijual di kota. Cara berdagang yang seru itu disebut berae.

Namun sepeda motor kuno CB-100 itu bututnya sudah keterlaluan. Suara knalpomya berdentum-dentum sampai terdengar ke tiga desa. Tak ada lagi kap depan belakangnya. Maka jika hujan, tak jarang air dari jalan langsung menyemprot ke wajahku. Sadelnya dibuat sendiri dari bantal kapuk. Tangkinya harus diikat ke chassis-nya, dan tak berlampu. Jika pulang malam, aku terpaksa harus mengikatkan senter di helm sebagai penerang jalan.

Kadang kala aku sangat lelah. Namun, jika teringat akan A Ling yang tersenyum ketika melihatku, di balik tirai keong kecil di Toko Sinar Harapan dulu, jalanan aspal yang lurus dan sepi sejauh mata memandang tiba-tiba berubah menjadi karpet merah. Bunga-bunga putih meranti yang menudungi jalan menjelma menjadi kuncup mawar

merah, berjatuhan menghujamku. Pada sepeda motor butut CB-100 yang berdentum-dentum itu, tiba-tiba tumbuh sayap di ktri-kanannya, dan aku meluncur, melayang-layang syahdu bak di atas permadani terbang. Semuanya dalam gerakan lambat yang memukau.

Rupiah demi rupiah kukumpulkan dari kerja rodi tak kenal waktu, tak kenal lelah itu. Sayangnya, meski aku telah mencari uang seperti membabi buta, hasil mendulang timah dan berae, rupanya jauh dari memadai untuk membeli perahu.

Aku memutar otak kembali. Aku menyurati Liaison of-ficer-hi dulu, Maurent LeBlanch, bertanya padanya, mungkinkah jika aku mengirimkan artikel-artikel ilmiah ke buletin kampus untuk mendapatkan sedikit honor? Ia tidak hanya gembira, tapi malah menawariku pekerjaan tambahan untuk mengedit artikel-artikel ekonomi telekomunikasi dari mahasiswa-mahasiwa baru yang bertumpuk-tumpuk di mejanya. Maka siang hari aku menjadi kuli mentah pendulang timah, berendam dalam lumpur setinggi pinggang seharian, dan berpakaian seperti tarzan, malam hari menjadi editor majalah ilmiah Universitas Sorbonne, suatu paduan yang menarik hati.

Intinya, aku melakukan, apa pun, apa saja, agar dapat membeli perahu, agar dapat berlayar ke Batuan, untuk menjemput A Ling. Tiga bulan sudah aku jungkir balik, sempoyongan, bekerja sepera berang-berang ingin mem-

bendung sungai. Uang itu tak kunjung berarti jumlahnya. Sungguh susah mencari uang di negeri ini. Sore tadi, aku berangkat ke Tanjong Pandan. Jam tangan, tape recorder, scientific calculator, koleksi uang kuno dan prangko, jas almamater Sorbonne, baju, celana, sepatu, dan plakat penghargaan akademik dari Sheffield yang bergambar elang dari emas—kucongkel emasnya—semuanya amblas di meja tukang loak.

Tapi uang yang terkumpul tak juga memadai untuk membeli perahu. Sementara waktu kian mendesak sebab telah masuk ke musim barat tahun ini. Perahuku harus sudah siap berlayar usai musim barat ini.

Malam pulang dari Tanjong Pandan itu, aku terbaring sendirian di dermaga, aku memandangi bintang gemin-tang. Aku telah melakukan semuanya, sampai batas akhir tenagaku, sampai tandas napasku, sampai tumpas harta bendaku. Pontang-panting siang-malam cari uang. Tak tahu lagi apa yang harus kulakukan. Aku lelah, aku hampir putus asa. Dan aku merindukan A Ling, aku ingin melihatnya, melihatnya meski hanya sekali. Aku merindukannya sampai aku tak bisa bernapas. Malam kian larut Kupandangi gugusan bintang kemudian ajaib. Lambat laun, gugusan gemintang itu menjelma menjadi seperti lukisan. Seluruh langit menjelma menjadi lukisan terang benderang. Aku terpana. Dalam lukisan itu miliaran bintang berdebur menjadi ombak yang bergulung-gulung, awan gemawan bergelora, meluap-luap menjadi buih samudra, berlapis-lapis melonjak-lonjak silih berganti, ganas, ber-

limr^-lirnpah. Lalu menyeruak megah sebuah bahtera, terombang-ambing digempur gulungan ombak bintang gemintang. Seorang nakhoda memerintahkan pada anak buahnya menaikkan layar. Ia berian ke haluan, menghunus pedang ingin menangkis petir. Matanya menyala, suaranya memecah laut, melengking menantang badai berkelahi. Rambumya yang panjang berkilat-kilat dibias sambaran petir yang menjilati ombak. Perasaan ganjil yang dahsyat menghantam dadaku. Aku seakan terangkat dan melonjak. Aku beriari ke bibir dermaga dan berteriak lantang.

"Aku akan membuat perahu!! Kaudengarkan itu?! Aku akan membuat perahu, dengan tanganku sendiri!!"

Mozaik 38

PISANG -pisang kipas bernyawa, tiang-tiang bendera bertelinga. Tak tahu dari siapa, berita aku akan membuat perahu menyebar ke mana-mana, dan aku dituduh sakit

jiwa.

Sampai-sampai aku tak berani melintas di pasar karena tak tahan berhari-hari dicela.

"Kudengar kau mau membuat perahu demi cinta, Kal, mau berlayar ke Batuan!?" Cemooh Sema'un Barbara. Kumpulan cecunguk di warung kopi tertawa. Aku jadi bulan-bulanan.

Aku salah memilih warung kopi di belakang pasar ikan ini. Ini warung kopi orang-orang Melayu tengik. Harusnya tadi aku ke warung kopi dok kapal, markas besar suku Sawang. Sangar-sangar penampilannya tapi sejuk bicaranya. Tak pernah mau tahu urusan orang.

"Katakanlah dari segi penampilan, kau itu tak ada potongan pembuat perahu, Kal," Munaf Katakanlah ambil bagian.

"Beriayariah kau ke selat, rasakan olehmu diikat Tambok ke jangkar, cUtenggelamkannya ke dasar laut kau nanti. Kau tengok mayat di lapangan nasional tempo hari?" ujar Satam Minyak.

Orang-orang menyeringai takut, sambil nanar menatap Satam dan sekeliling. Seakan tak pantas nama itu dibicarakan, seakan seseorang di antara orang banyak, adalah sekutu Tambok dan akan menyampaikan siapa yang mengumbar namanya. Marsanip Sopir Ambulans memecah ketegangan.

"Begitulah kawan-kawan, sekolah zaman sekarang, tak lagi bikin orang pintar, tapi bikin orang sakit ingatan," tawa meledak-ledak. Aku diam saja.

"Membuat perahu? Ha! membetulkan rantai sepeda lepas saja kau tak becus!" Eksyen berputar mengambil satu posisi di samping kananku dan menyalak. Ia tak lain gembong kaum tengik itu. Tawa ejekan sambung-menyambung. Aku menekuri cangkir kopiku. Tak acuh. Tak seorang pun rnembelaku. Zainul Helikopter yang juga anggota komplotan Eksyen ada di situ. Kulihat wajahnya seperti ingin menyambung cela tapi melihatku, ia buang muka. Tak berani dia angkat bicara.

"Ayahmu, keluargamu itu, turun-temurun kuli tambang, mana bisa kalian bikin perahu."

Eksyen, empat puluh tujuh tahun, laki-laki paling menjengkelkan di kampung kami. Potongannya jangkung melengkung. Seringainya licik sarkastik, dan istrinya tiga. jika ada julukan yang merendahkan martabat, pasti dia yang mengarang dan memulainya. Berahim Harap Tenang, Tancap bin Seliman, Muharam Buku Gambar sekaligus Muharam Ini Budi, Marhaban Hormat Grak, Mursyiddin 363, semuanya ciptaan Eksyen.

Eksyen adalah orang yang dalam dirinya dijejali hasrat untuk menghina. Wajahnya selalu seperti orang ingin menyindir. Tak terbilang banyaknya gadis Melayu yang enggan keluar rumah karena tak tahan akan julukan-julukan merendahkan yang dilekat-lekatkan Eksyen pada mereka: Fatimah Petai Cina, misalnya, hanya karena perempuan itu lebih jangkung daripada perempuan Melayu kebanyakan. Tinggi seperti pohon petai cina, kata Eksyen. Midah dihina jadi Midah Sesak Napas, lantaran bentuk hidung perempuan itu memang mengharukan. Maka Eskyen tak lain adalah seorang pembunuh karakter.

Nama asli Eksyen sendiri Masridin bin Yakoeb Oe-mar. Dulu, cita-citanya jadi bintang film, tak kesampaian, akhirnya ia harus menanggung julukan action alias eksyen sepanjang sisa hidupnya. Bukti, melontarkan satu sikap jahat, sama saja menepuk air didulang. Hukum karma pasti berlaku.

Tapi obsesi Eksyen tak pernah lindap, maka lagaknya tak terkira. Ia merasa dirinya selalu diikuti kamera. Apa pun yang ia lakukan, di mana pun ia berada, ia memilih gerakan,

cara bicara, berdandan, posisi duduk, diam, atau berdiri, seolah kamera sedang menyorotnya, sehingga ia akan tampak di layar kaca dari angel yang tepat Jika bicara dengannya kadang kala ia miring-miring tak keruan, demi kamera imajiner dalam otaknya yang sakit saraf itu. Padahal, tak pernah ada seorang pun memnlmkannya. Inilah salat gila nomor tiga puluh tiga, yaitu senewen ingin masuk TV

Namun, Eksyen amat disegani. Anak buahnya banyak. Tak lain karena ia pemimpin persatuan pecatur yang amat ternama: Kesatria Timur, sebuah klub yang di dalamnya bercokol pecatur-pecatur kelas satu tiada banding.

Para Kesatria Timur selalu berkumpul di Warung Kopi Usah Kau Kenang Lagi ini. Di sinilah markas besar mereka, di warung kopi terbesar di kampung kami. Tak kira-Itira, rata-rata tujuh ratus lima puluh gelas kopi setiap pagi, dan berpuluh-puluh papan catur digelar dari sore hingga sore lagi. Di warung kopi ini nongkrong ratusan lelaki Melayu pernalas yang menyingsingkan lengan baju untuk makan dan berkeringat karena kenyang. Di antara mereka, terkadang tampak pula Mak Cik Maryamah yang sering kali mengajari orang langkah-langkah catur Karpov.

Mendengar rencanaku membuat perahu yang mereka anggap konyol, merebaklah taruhan antara anggota Kesatria Timur, Ada yang bertaruh uang, bertaruh ayam jago, bertaruh merpati aduan, bertaruh pelanduk peliharaan.

Mahmuddin Pelupa bertaruh dengan Mustajab Charles Martin Smith. Jika aku berhasil membuat perahu itu, ia bersedia membayari kopi Mustajab selama seminggu.

Mustajab Charles Martin Smith sendiri menaruh Munawir Berita Buruk dan Saderi Karbon, juru tik kantor desa itu, dengan nilai taruhan yang sama. Mustajab Charles Martin Smith memang mustajab. Ia dengan jeli telah menghitung skenario taruhannya yang lihai itu.

"Ujungnya kelak, aku akan tetap menang seminggu kopi gratis, tengoklah!"

Mustahaq Davidson terang-terangan mengejekku dengan bertaruh, jika aku bisa membuat perahu itu, ia berani ngebut naik motornya melintasi pasar sambil menutup matanya dengan kain hitam dan mengendarai motornya berbalik badan. Meledaklah tawa pengunjung warung kopi dibuatnya.

Orang-orang Ho Pho yang sering gila-gilaan itu bertaruh sesama mereka. A Ngong menantang A Tong. Kalau aku bisa membuat perahu itu, A Ngong berani menelan bulat-bulat tiga koin lima rupiah dan ia akan membayar A Tong. Tapi jika perahu tak selesai, A Tong ditantangnya membayarnya dua kali lipat dan harus bermalam di kuburan yang paling angker di pemakaman orang Ho Pho lama. Kuburan juragan tembakau di sana sungguh seram. Di kuburan itu ada foto sang juragan di dalam bidang segi empat ditutupi kaca. Wajahnya dingin dan serius. Namun, pada malam-malam tertentu, foto itu bisa tersenyum. Sungguh menakutkan. Aku tahu, bagi orang-orang Ho Pho itu, perkara aku bisa membuat perahu atau tidak, mungkin tak penting. Tapi pertaruhan edan itu sendiri yang menarik minat mereka. A Ngong dan A Tong saling

memegang daun telinga. Berbeda dengan taruhan Eksyen dan gerombolannya, mereka bertaruh semata-mata untuk menjatuhkan mentalku.

Eksyen kembali memutar posisinya, kali ini ia pasang aksi di belakangku, dekat jendela, dan melenggoklah pantun sindirnya.

"Simak ini benar-benar, Boi....

Buah kabal bukan mengkudu

Rupanya kisut, rasanya hambar

Kalau si Ikal bisa membuat perahu

Air laut menjadi tawar

Ratusan lelaki pengunjung warung kopi terpingkal-pingkal mendengarnya, kian menggelegar tawa mereka melihat Eksyen berjalan pengkor mengangkang-ngang-kang memperagakan orang menarik perahu dari hangar ke pangkalan. Ulu hariku tertohok tak terperikan. Aku membayar kopiku, menyandang tas karung kecampangku, dan berlalu. Namun, tak kan kulupa taruhan setiap orang, n

Mozaik 39

PEMBUAT PAPAN MENARI

SAMPAI jauh kukayuh sepeda masih kudengar orang terbahak-bahak. Yang paling keras tentu saja tawa Eksyen.

Kejadian di warung kopi itu telah menjadikan semuanya jadi makin tak mudah bagiku. Empat macam bentuk cemas melandaku. Pertama, aku sangsi karena sama sekali tak berpengalaman membuat perahu. Kedua, aku bertekad membuktikan kepada Eksyen dan orang-orang sekampung bahwa aku bisa membangun perahu, dan aku lelah karena tekad konyol itu. Ketiga soal Tambok. Begitu sedikit informasi soal orang ini. Tambok, terkesan begitu kejam, ditakuti setengah mati, tabu, dan misterius. Mengapa ia begitu ditakuti? Mengapa lebih banyak orang mencegahku berlayar ke Selat Malaka bukan karena ombaknya yang ganas, melainkan karena Tambok?

Cemas terakhir, aku merasa seperti orang terkutuk, terkutuk akan hal-hal yang tak mungkin. Yakni, perahu itu harus ada, karena aku harus ke Batuan, dan setelah berikhtiar sampai habis akal, tak ada pilihan lain, kecuali membuat sendiri perahu itu.

Kutukan itu lalu menciptakan gambar dalam kepalaku setiap kali aku berusaha memejamkan mata untuk tidur gambar perahuku, layarnya, palkanya, haluannya, buritannya, kemudinya, kamar mesinnya, jangkarnya, lampu badainya, tali-temalinya. Perahu itu berlayar hilir mudik dalam fantasiku, menyiksaku tanpa ampun sepanjang malam.

Membuat perahu ini otomatis menjadi rencana B yang mengamandemen rencana A-ku tempo hari. Senewen memang. Sungguh mustahil aku dapat membuat perahu. Aku, Ikal, anak seorang kuli tambang, hanya sedikit terampil dalam urusan sekolah, bukan membuat perahu. Tak ada darah pembuat perahu dalam keluarga kami. Tak ter-bayangkan siapa pun akan ada seorang pembuat perahu dalam klan besar kami. Buruh timah turun-temurun, itulah kami, ada benarnya ucapan Eksyen. Tapi, bukankah aku tak pernah menyerahkan mimpiku begitu saja? Dan aku selalu memegang teguh kepercayaan ini: dengan mimpi yang term kutiupkan napas di dalamnya, jangankan perahu, bahkan aku kan mampu membuat bahtera seagung bahtera Nabi Nuh.

Sebagai langkah awal rencana B, aku mengunjungi Ma-pangi, orang bersarung tukang perahu di bantaran Sungai Linggang. Ia tak ada ketika aku tiba dan aku masuk saja ke ruangan besar semacam hangar tempat ia membuat perahu.

Tak ada yang terjadi kemudian selain aku terperangah tak terkira melihat sebuah perahu buatan Mapangi. Subhanallak, perahu itu sangat besar, seperti sebuah kelas sekolah dasar. Hampir empat meter bukaan tengah perutnya. Tegap dan ganteng bukan main di atas dudukannya. Meskipun belum rampung, perahu ini telah diberi nama yang indah pula: Cahaya Intan.

Cahaya Intan sangat megah, bergaya klasik Bulu-kumba nan tahan gempuran ombak. Sungguh sebuah mahakarya yang hebat dari si tua Mapangi. Tak tampak sebatang pun paku, semuanya disatukan dengan pasak kayu. Dindingnya masih berongga karena belum didempul. Lambung kiri-kanan masih telanjang karena belum dipernis.

Perahu, sering kulihat, sering kutumpangi. Bahkan, sejak aku belum pandai bicara, ayahku sering menjulangku di pundaknya untuk melihat-lihat perahu di dermaga Oli-vir. Namun, tak pernah aku melongok ke bawah palka dan melihat tuang-tulang rusuk perahu saat sedang dikerjakan seperti kulihat sekarang.

Tak pernah kusadari demikian kompleks rancang bangun perahu. Lihadah runyamnya bagaimana siku demi siku saling menguat. Betapa anggunnya ujung haluan seperti simpul selendang menggenggam pucuk-pucuk papan,

membentuknya menjadi segiriga tajam nan elegan untuk menusuk ombak, betapa rupawan bentuk elips haluan, betapa gagah buritan seperti sepasang bahu kubus nan simetris, memeluk, merengkuh dengan lengan-lengan kukuhnya barisan rapat papan yang melengkung di bagian belakang, lalu lentik di depan laksana telinga hewan buas membentuk daya tahan perahu, kerampingannya menembus arus, dan kelincahannya meluncur di atas air.

Aku berdecak-decak kagum sendirian. Melihat Cahaya Intan, dapat kurasakan dalam kalbuku, satu perasaan yang indah tentang perahu tradisional, ia seumpama musik: papan-papan lambung komposisinya, hidrodinamika harmoninya, dan tali-temali melodinya.

Kuamari detail pekerjaan Mapangi. Sepintas saja aku langsung dapat memperkirakan tingkat kesulitan membuat perahu. Yakni lempeng kayu medang batu hitam seliat baja sepanjang paling tidak dua belas meter itu hanya bisa meliuk melalui tangan seorang tukang kayu setingkat sufi. Rusuk-rusuk yang diikat ke tulang punggung perahu dengan lembar besi merupakan hasil tempaan pandai besi kawakan. Memasang papan medang batu tadi ke dalam balok ikat buritan—sekaligus haluan—harus secara simultan. Diperlukan tenaga paling tidak empat orang untuk keperluan itu. Merancang tekukan papan yang siku-menyiku itu agar tidak saling melawan sehingga tak bingkas jika susut karena dingin, memuai karena panas, atau lekang karena

" Jerit kucing iar berukuran gedang, mempunyai ekor pendek, dan biasanya dengan sejumput bulu hitam pada ujung telinganya.

waktu, diperlukan intuisi dari pengalaman puluhan tahun. Mengikuti bagan perahu yang dinamis di atas permukaan laut, kencang menuruti angin, tahan bantingan gelombang, sekaligus indah memesona sebagai sebuah karya seni, diperlukan sentuhan, perasaan, mata, dan jiwa seorang maestro.

Maka pembuat perahu adalah pembuat papan menari. Papan di tangan pembuat perahu, ibarat daun muda nyiur bagi pembuat ketupat. Pembuat perahu haruslah seorang tukang kayu, pandai besi, ahli tali-temali, penyabar, seniman, dan matematikawan sekaligus. Pembuat perahu adalah pahlawan diam-diam yang tak pernah dibuatkan lagu. Dialah Mapangi dan keempat putranya, orang-orang bersarung yang tak pernah melaut, bertubuh tegap seperti Conan dari Simeria, mengabadikan segenap hidup seperti leluhurnya, sebagai pembuat bahtera.

Sementara aku? Mungkin aku telah menaklukkan ke-suKtan-kesuhtan terbesar dalam hidupku, melakukan hal-hal yang dianggap orang tak mungkin. Namun, perahu? Perahu adalah sesuatu yang sama sekali berbeda, sesuatu yang adiluhung, jauh di luar daya jangkau kemampuanku. Perahu dan laut, selalu mengandung kesan yang tak dapat kugapai. Perahu, tempat tambatan nyawa nun di tengah samudra, satu-satunya andalan melawan hujan dan badai. Jalinan kayu medang batu sepanjang 15 meter dengan bobot mati 35 ton, dua tiang layar masing-masing setinggi 6 meter, bentang luas layar 12 meter, tancang kemudi, lambung, geladak, palka, haluan, buritan, sistem kamar mesin, beribu-ribu pasak kayu, beruntai-untai tali-temali,

bagaimana aku akan menyatukan semuanya? Aku bahkan tak tahu dari mana harus memulainya. Jangankan membuatnya mampu berlayar, membuatnya mengapung saja, tak terbayangkan olehku. Pada tahap ini, bagiku, membuat perahu bak menegakkan benang basah.

Pelan-pelan kubekapkan kedua telapak tanganku ke lambung Cahaya Intan. Aku terpesona. Kuusap ia dari buritan sampai ke haluannya sembari menatap tiang layarnya yang congkak Tumbuh hormatku pada perahu ini. Aroma medang batu menusuk-nusuk hidungku, menciutkan nyaliku. Perahu Bulukumba ini memiliki aura yang menaklukkan. Untuk kali pertamanya dalam hidupku, aku dilanda bimbang akan mimpiku. Aku tak kan sanggup membuat karya semegah ini, tak sanggup.

Kekagumanku pada Cahaya. Intan dan pemahamanku akan tingkat kesulitan membuatnya, lalu beranak menjadi benda-benda tajam yang menusuk-nusuk dadaku, yakni tikaman perasaan pesimis bahwa aku akan mampu membuat perahu.

Perahu adalah fantasi terliarku, yang berlayar dalam kepalaku nan penuh khayal pada malam-malam panjang aku tak bisa tidur, dan kini perahu itu karam sudah. Akan ku kemanakan mukaku di kampung? Aku akan dicela habis-habisan oleh Eksyen dan komplotan tengiknya. Dan yang lebih mengerikan, aku tak bisa ke Batuan untuk mencari A ling. Aku dilanda kehampaan yang menyakitkan

lalu disesaki perasaan gagal yang menyiksa. Ujian kali ini benar-benar memojokkanku pada pilihan yang memilukan. Pilihan itu adalah kenyataan yang paling kutakutkan selama ini bahwa aku harus mulai belajar melupakan A Ling, meski, setiap tarikan napasku, setiap denyut pembuluh darahku, menolak melakukan itu.

Getir. Aku menutup wajahku dengan tangan. Perahu Mapangi telah menekukku hingga aku lumpuh. Aku telah dekat sekali dengan perasaan putus asa. Tiba-tiba, tak tahu dari mana, kudengar suara yang riang gembira. "Ikal! Kau bisa membuatnya, percayalah Aku terperanjat, menoleh kiri-kanan, tak ada siapa-siapa.

"Bukankah kau selalu bisa membuat apa pun, Boi...?"

Lembut, senang, membesarkan hati. Tapi tak tampak siapa pun bicara.

'Apa susahnya membuat perahu? Geometri terapan, ilmu ukur dasar-dasar saja."

Aku berkeliling mencari-cari sumber suara yang masih bersembunyi.

'Ada sedikit fisika, biar laju perahunya, tidak susah hitungannya, gampang saja

Hatiku mengembang. Suara siapakah itu? Aku penasaran. Sekonyong-konyong satu sosok meloncat ke atas tumpukan balok di depanku. Ia menggigit ilalang. Rambutnya kuning keriting, wajahnya ceria seperti selalu, mata cerdasnya berkilauan, dan aku berteriak.

"Lintang!!" P

MozaiK 40

PERAHU ASTEROID

KUPELUK Lintang kuat-kuat, kuangkat tubuhnya sambil berputar-putar. Kawan sekolahku sebangku, betapa aku rindu padanya. Ia telah tumbuh menjadi pria yang sepenuhnya dewasa. Rambutnya masih kuning keriting dan sinar matanya tetap riang, memancarkan inteligensia yang menyilaukan. Badannya kurus, tapi liat seperti mendiang ayahnya, lelaki cemara angin itu. Lengan-lengannya kuat seperti kayu, dengan sulur-sulur urat yang bertimbul-an karena sering mengangkat beban.

Masih seperti dulu, tatapan mata yang sama saat kami berjumpa, hari pertama kelas satu di SD Laskar Pelangi: secepat apa engkau berian, Kawan? Begitu selalu makna cahaya dari matanya.

"Kita akan membuat perahu lebih hebat daripada

perahu ini, Boil!"

Ah, dengarlah bunga pilea itu! Butiran air jatuh di atas daunnya, dan ia melontarkan tepung sari ke seluruh hangar perahu, ke seluruh jagat alam. Semuanya tiba-tiba berubah menjadi bergairah! Satu kalimat saja darinya mampu melambungkan semangatku setinggi langit. "Benarkah?"

"Kita akan membuat perahu asteroid, Kal!" pekiknya bersemangat sambil meloncat ke atas palka perahu Mapangi.

Ah, apa pula peraku asteroid itu?!

Aku memandanginya berjalan hilir mudik dari buritan ke haluan. Ia seakan tengah memikirkan satu formula ajaib. Lintang Samudera Basara, sahabatku sebangku, lahir di pesisir, besar di pantai, putra tertua Syahbani Maulana Basara, tak lain seorang nelayan tangguh. Maka kuanggap Lintang tahu apa yang sedang ia bicarakan, dan dadaku ingin meledak mendengar ide ajaib tentang perahu asteroid.

'Terahu macam apakah itu, Boi?"

"Sedikit lebih pendek daripada perahu ini, sebelas meter saja. Harus ganjil. Lebih ramping dan lebih ringan, dari kayu serut"

Seruk empat belas meter?

"Dari mana mendapat seruk? Siapa yang akan membantuku memikulnya dari hutan?"

"Dia!" jawab lintang terkekeh sambil menunjuk seorang pria yang besar seperti pintu yang diam-diam telah berdiri di sampingku. Orang itu berdeham, rendah dan berat seperti beruang grizzly, aku terkejut, Samson telah

berdiri disitu.belum hilang terkejutku,samson berkata Kau tak sendiri, Boi."

Aku tak mengerti maksud Samson, tapi kemudian aku terharu tak tertahankan melihat mereka masuk satu per satu dari pintu belakang hangar. Mereka adalah pahlawan-pahlawanku, para pemangku sumpah setia persahabatan para Laskar Pelangi: A Kiong, Syahdan, Sahara, Kucai, Flo, Trapani, dan Harun.

Aku menghampiri mereka. Kami bersalaman erat dan berpelukan. Para Laskar Pelangi, sahabat-sahabat sejati yang tak lekang oleh waktu. Namun, ke manakah gerangan sang ajaib Mahar? Tiba-tiba masuk seseorang berambut panjang, pakaiannya serbahitam. Matahari menimpa punggungnya sehingga wajahnya tak jelas. Ia menoleh, tertangkap kilasan wajah dan sinar matanya. Lelaki itu tak lain Mahar. Ia mendekatiku.

"Jangan cemaskan soal Tuk Bayan Tula, Boi," bujuknya ringan saja.

A Kiong, pengikut setia Mahar sejak dulu, langsung mengambil posisi di samping majikannya itu. 'Akan ku-bantu kau menemukan saudara sepupuku, Deal," ujarnya bersimpati.

Kemudian sosok-sosok lain masuk ke dalam hanggar. Kilau cahaya matahari menyamarkan mereka. Kudekati satu per satu dan aku terkesiap, mereka adalah Mujis penyemprot nyamuk, pegawai kantor cabang BRI, ahli elektronik drop out universitas, pemain organ tunggal, dan pensiun an syah bandar. Merekalah Societeit de Limpai, kelompok

manusia aneh petualang dunia gaib pimpinan Mahar, hadi

dalam formasi lengkapi Semua bersikap penuh semangat mengemban misi petualangan baru untuk membantuku


Selanjutnya akan di posting kembali...

0 Response to "Maryamah Karpov II"

Post a Comment