Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Maryamah Karpov I

Mozaik 1
Dibungkus Tilam, di Atas Nampan Pualam
SEBAGAIMANA Kawan telah tahu. Aku ini, paling tidak menurutku sendiri,
adalah lelaki yang berikhtiar untuk berbuat baik, patuh pada petuah orangtua,
sejak dulu. Rupanya, begitu pula ayahku yang sederhana itu. Katanya, ia selalu
menempatkan setiap kata ayah-bundanya di atas nampan pualam,
membungkusnya dengan tilam.
Dan ternyata, Tuhan menerapkan dalil yang tetap untuk lelaki sepertiku
dan ayahku, yakni: lelaki seperti kami umumnya jarang diganjar dengan ujian
yang oleh orang Melayu Dalam sering disebut sebagai cobaan nan tak
tertanggungkan.
Oleh karena itu, seumpama di koran-koran tersiar berita tentang seorang
pria yang sedang bersepeda santai pada Minggu pagi yang cerah ceria, tra la la,
tri li li, sekonyong-konyong, tak tahu kenapa, sepedanya oleng dan ia
tertungging ke dalam sumur angker gelap gulita, tak dipakai lagi, dalamnya dua
belas meter, perigi sarang jin, bekas tentara Jepang mencemplungkan pribumi.
Lelaki periang itu pun berteriak-teriak panik minta tolong. Tak ada yang
mendengar jeritnya, selama empat hari empat malam. Habis suaranya.
Akhirnya ia minta tolong lewat kliningan sepedanya. Kring, kring, lemah
menyedihkan. Naudzubillah, tragedi semacam itu biasanya menimpa orang
lain, bukan menimpa pria sepertiku dan ayahku.
Atau, seandainya hujan lebat, petir menyambar tiang listrik, tiang listrik
roboh menimpa pohon sempret, pohon sempret tumbang menimpa pohon
mengkudu, pohon mengkudu terjungkal menabrak atap rumah, atap rumah
ambrol menimpa belandar, belandar ambruk menghantam televisi, televisi
meledak dan seorang lelaki yang tengah duduk manis menonton acara TVRI
'Aneka Ria Safari" kena sambar listrik televisi, televisi hitam putih lagi.
Rambut, kumis, dan alisnya hangus sehingga ia seperti pendekar Shaolin. Dapat
dipastikan, lelaki sial itu bukanlah aku, bukan pula ayahku.
Atau lagi, misalnya merebak berita soal seorang pria keriting yang
dilarikan ke rumah sakit, ambulans meraung-raung, tergopoh-gopoh menuju
ruang tanggap darurat, sebab pria itu ketika makan buah duku, tak tahu kenapa,
biji duku melenceng masuk ke lubang hidungnya, hingga ia tersengal-sengal
sampai nyaris lunas nyawanya. Pria itu bisa saja absurd dm keriting, tapi ia
bukan aku.
Satu-satunya berita yang pernah melanda ayahku hanyalah soal naik
pangkat. Aku kelas tiga SD waktu itu.
Bukan main senangnya Ayah waktu menerima surat dari Pak Nga
Djuasin bin Djamalludin Ansori, mandor kawat Meskapai' Timah, bahwa akan
ada promosi bagi kaum kuli tukang cedok pasir di wasrai. Wasrai dimelayu-kan
dari kata Belanda wasserijk, yang artinya 'bengkel pencucian timah'. Kuli yang
akan naik pangkat salah satunya Ayah. Surat itu, pagi tadi dibaca ibuku, sebab
Kawan juga tentu sudah mafhum betapa mengharukannya pengetahuan ayahku
soal huruf-huruf Latin.
Begitu mendengarnya, Ayah yang amat pendiam, seperti biasa, tak
berucap sepatah pun. Kutatap wajahnya yang melempar senyum ke luar jendela
dan membuang pandang ke pucuk pohon kenanga, dan kubaca dengan terang di
sana: syahdu seperti aktor India baru menyatakan cinta, dan bangga.
Selebihnya, tak dapat disembunyikan kesan raut wajah Ayah: tak
percayai !
Tak percaya, bahwa akhirnya setelah membanting tulang-belulang tiga
puluh satu tahun, ada juga orang yang membicarakan soal kedudukannya.
Selama tiga puluh satu tahun itu Ayah tak pernah naik pangkat, tak pernah,
sejak ia menjadi kuli meskapai dari usia belasan.
Tak percaya, bahwa kata pangkat bisa disangkutpaut-kan dengan
pekerjaannya yang tak ada hal lain berhubungan dengannya selain mandi
keringat.
Tak percaya, bahwa ada orang lain, selain anak-anaknya yang berkirim
surat padanya. Dengan amplop cokelat Maskapai. berkilat dan kaku seperti
kopiah, plus kop surat berlambang meskapai yang gagah: sebuah gerigi besar
dan palu lambang kerja keras pagi sampai petang.
Tak percaya, surat di tangan ibuku benar diteken oleh Mandor Kawat
Djuasin yang puluhan tahun menindasnya. Berkali-kali Ayah menerawang
tanda tangan itu, benar basah tinta pena biru, dari tangan yang dipertuan
mandor sendiri, adanya.
Tak percaya, lantaran Ayah merasa dirinya biasa naik pohon nira untuk
meniti/r air legen, biasa naik pohon medang untuk menyarap madu angin, biasa
naik pohon kelapa untuk membantu tugas beruk, tapi naik pangkat? Naik
pangkat tak masuk dalam perbendaharaan kata
Ayah yang tak punya selembar pun ijazah. Kata-kata itu asing dan ganjil
di telinganya. Bagi Ayah, naik pangkat adalah kata-kata ajaib milik orang
Jakarta. Ayah memalingkan senyumnya dari bingkai jendela padaku. Amboi!
Inilah yang kutunggu-tunggu dari tadi! Surat itu mengatakan bahwa beserta
surat keputusan pengangkatan yang akan diserahkan secara massal Sabtu esok,
akan dilampirkan pula amplop rapel gaji karena naik pangkat itu harusnya telahterjadi enam bulan silam. Aku tahu persis, senyum Ayah untukku hanya
bermakna satu hal: kue hok lo pan di atas loyang yang berasap-asap! Karya
agung orang Khek yang congkak itu: Lao Mi.
Senyum Ayah yang bernuansa amplop rapel enam bulan itu pun lalu
terurai-urai menjadi buku tulis indah bergaris tiga sampulnya gambar artis-artis
cilik dari Ibu Kota Jakarta pensil warna-warni seperti sering kulihat dibawa
anak-anak sekolah Meskapai Timah, penggaris segi tiga, jangka, papan halma,
dan tas sekolah yang seumur-umur tak pernah kupunya.
Ibu pun berdeham-deham sambil membetulkan peniti kebayanya. Kirakira
maksudnya: sudah tiga kali Lebaran kebaya encimnya itu-itu saja. Ayah
membalas semuanya dengan senyum nan menawan: beres, demikian arti
senyum terakhir yang mengesankan itu. Aku melonjak girang.
Ayah melangkah meninggalkan dapur. Aku mengikuti setiap langkah
bangganya. Aku tahu persis, rapel buruh itu hanyalah segepok uang receh.
Namun ayahku, Ayah juara satu seluruh dunia, arsitek kasih sayang yang tak
pernah bicara, selalu mampu menggubah hal-hal sederhana menjadi begitu
memesona.
Mozaik 2
Asap Hok Lo Pan Menguap
RITUAL rutin Ayah: sesudah shalat subuh dan mengaji, ia duduk di kursi
goyang sambil mendengar siaran radio Malaysia. Timbul-tenggelam lagu-lagu
semenanjung, keme-rosok. Sejak aku bisa mengingat, seingatku sudah begitu.
Kadang kala tombol tuning radio Philips kecil itu diputar Ayah menuju
Hilversum, Holland, atau menuju London. BBC samar-samar, sayup-sayup
sampai, naik-turun serupa gelombang sinus, mengabarkan berita dari tempattempat
asing yang tak kukenal. Aku tertegun di balik tirai, mengintip Ayah dan
terbuai musik-musik dari negeri yang jauh. Maka, meski aku orang kampung
dan kampungan, dari kecil telah kukenal Engelbert Humperdinck, Paul Anka,
Louis Armstrong, dan vokalis legendaris Nat King Cole. Suara mereka, saban
subuh, sahut-menyahut dari satu bubungan rumah panggung ke bubungan laini
Orang Melayu Dalam, gemar betul mendengar radio. Radio adalah elemen
penting budaya mereka.
Enam puluh menit, tak pernah lebih ritual Ayah bersama radio transistor
Philips. Lalu dibukanya tutup belakang radio itu, dikeluarkannya dua batu
baterai bergambar kucing hitam. Baterai itu diletakkannya di sebuah bangku
kecil khusus di pekarangan untuk dijemur cahaya matahari agar bertenaga lagi.
Pemandangan ini tampak di depan rumah orang Melayu, saban hari. Tapi pagi
ini Ayah agak cepat sedikit. Sebab beliau sibuk berdandan dengan pakaian
terbaiknya sepanjang masa: baju safari empat saku. Demi satu acara penting:
naik pangkat!
Aku pun mandi lebih pagi, lalu dinaikkan Ayah ke atas boncengan
sepeda. Diikatnya kakiku dengan saputangan biar tak celaka kena jari-jari ban.
Ayah akan naik pangkat, sungguh istimewa. Ayah akan mengambil amplop
rapel gajinya! Lalu pulangnya kami akan singgah di Pasar Jenggo. Ayah akan
membelikanku hok lo pan, tas sekolah yang tak pernah kupunya, dan kebaya
encim baru untuk Bou. Begitulah skenarionya. Naik pangkat, ternyata indah
bukan buatan.
Tersenyum. Aku, Ibu, dan Ayah tak berhenti tersenyum sejak subuh,
sejak semalam.
Sepeda meluncur deras melewati Pasar Jenggo, pagi dan ramai. Gerobak
hok lo pan si sombong Lao Mi sudah dikerumuni pembeli. Aromanya hanyut
sampai ke hulu Sungai Linggang.
Lao Mi, sudah kondang galaknya. Ia pembuat kue hok lo pan terbaik di
dunia. Tak ada duanya. Ia mewari- si ilmu kue loyang itu sepanjang empatgenerasi. Seperti kebanyakan orang yang telah mencapai tingkat maestro,
wajahnya tak peduli. Seakan para pelanggan menyusahkan saja. Pembeli yang
rewel minta ini-itu dihardiknya. Dalam hati aku berdoa, mudah-mudahan jika
kami kembali nanti, hok lo pan lezat itu belum habis, dan mudah-mudahan aku
tak dimarahi Lao Mi.
***********
Sampai di halaman luas gudang beras, ratusan kuli pencuci timah sudah
berbaris panjang, antre berdasarkan urut abjad nama. Semua riang gembira
karena akan naik pangkat dan terima rapel. Ayah bergegas memarkir sepeda
dan menyelinap di antara kuli-kuli yang bernama depan huruf S. Agak di
belakang tentunya.
Aku dan para keluarga kuli yang turut bersukacita, beratus-ratus pula
jumlahnya, duduk di semacam anjungan menyaksikan ayah, suami, mertua,
kekasih, sepupu, ipar, cucu, anak, atau menantu naik pangkat. Mereka bersoraksorai
setiap nama keluarganya dipanggil Mandor Djuasin. Ribut sekali sampai
panitia susah payah menertibkan lewat megafon.
Kuli yang dipanggil bergegas setengah berlari untuk mengambil surat
keputusan. Setelah menerimanya, sambil menyalami Mandor Djuasin seperti
menyalami presiden, ada yang melompat-lompat girang, ada yang membekap
surat itu di dadanya dan berlalu dengan kesan betapa baik hati Meskapai Timah
padanya dan keluarganya, ada yang menyembah, dan ada yang menangis haru,
sampai sesenggukan.
Akhirnya, sampailah panggilan ke urutan nama S. Aku berdiri dan
melambai-lambai pada Ayah seperti menyemangati kontingen PON. Satu per
satu nama berawalan S dikumandangkan lewat megafon. Para kuli yang
berawalan nama S berlarian sampai pada seseorang di depan Ayah, namanya
Serahi bin Mahmuddin Arsyad. Serahi berteriak sembari mengepalkan tinjunya
tinggi-tinggi karena gembira tak terkira.
Setelah Serahi, Ayah bersiap-siap seperti pelari mengambil ancangancang.
Namun, Ayah terkejut karena nama berikutnya yang dipanggil bukan
nama Ayah, melainkan nama seseorang persis di belakang Ayah. Ayah tertegun
dan kebingungan. Orang di belakang Ayah itu bersorak girang, menyaKp Ayah
dari samping dan berlari menuju podium. Lalu aku dan Ayah terkesiap karena
nama berikutnya yang dipanggil juga bukan nama Ayah, demikian pula
berikutnya. Ayah terpana menyaksikan satu per satu kawan-kawannya
melewatinya. Nama-nama terus dipanggil, sambung-menyambung, masih tak
terdengar nama ayah. Jika ada nama yang sama, unit kerjanya bukan unit ayah.
Ayah tertunduk. Sampai nama terakhir berawalan Z, tak seorang pun
memanggil Ayah.
Akhirnya, tinggallah ayahku berdiri sendirian di halaman gudang beras
yang luas. Ayah menoleh ke kiri dan kanan, menoleh gekeHling, tak ada siapasiapa
selain orang-orang yang berbisik-bisik di sudut-sudut lapangan sambil
Asap Hok Lo Pan Menguap - 11 memandanginya. Ayah yang lugu masih
berdiri menunggu kalau-kalau panitia terlewat memanggil namanya. Namun,
pengeras suara telah dipadamkan. Ayah berjalan menunduk sambil membetulbetulkan
kerah baju safari empat sakunya. Aku tahu perasaannya telah hancur,
dan aku luruh karena kasihan melihat ayahku. Dadaku sesak, jemariku bergetargetar
menahan air mata. Sungguh malang nasib Ayah, tak tertanggungkan
rasanya kejadian ini. Namun, Ayah tiba-tiba menegakkan tubuhnya. Sejurus
kemudian ia berjalan menuju kawan-kawannya. Ayah menyalami mereka satu
per satu untuk mengucapkan selamat. Begitu besar jiwanya. Mereka menepuknepuk
pundak Ayah, dan aku membeku di tempatku berdiri, jemariku dingin.
Malamnya, Mandor Djuasin datang ke rumah untuk minta maaf bahwa
telah terjadi kekeliruan administrasi. Karena begitu banyak kuli yang harus
diurus, belum termasuk begitu banyak Said sebagai nama belakang orang
Melayu. Sekaligus Mandor mengabarkan peraturan Meskapai yang menyebut
bahwa kuli yang tak berijazah memang tak kan pernah naik pangkat. Perlakuan
untuk Ayah, katanya, sama seperti perlakuan pada para kuli dari suku Sawang
yang bekerja sebagai buruh yuka atau penjahit karung timah. Buruh-buruh
paling kasar itu juga tak satu pun berijazah.
Ayah, dengan penuh takzim menerima penjelasan itu. Beliau bahkan
menyampaikan simpatinya akan betapa berat tugas Mandor Djuasin mengelola
ribuan kuli, dan betapa Ayah berterima kasih pada Mandor karena telah 12 -
Mayamah Kaipoo mengiriminya surat yang bagus berlambang meskapai nan
terhormat pula, serta menandatangani sendiri surat itu meski surat ku salah
alamat. Aku tak dapat menahan perasaanku. Air mataku beriinang-linang saat
mengintip Ayah mengucapkan semua itu, karena dari balik pintu aku tahu
makna ketulusan wajah ayahku. Sungguh bening hati lelaki pendiam itu, dan
detik itu aku berjanji pada cUriku sendiri, untuk menempatkan setiap kata
ayahku di atas nampan pualam, dan aku bersumpah, aku bersumpah akan
sekolah setinggi-tingginya, ke negeri mana pun, apa pun rintangannya, apa pun
yang terjadi, demi ayahku.Mozaik 3
Ruang Pucat Jilid 1
SETELAH kejadian naik pangkat itu, hidup keluarga kami damai-damai saja.
Dalil Tuhan untuk pria-pria sepertiku dan Ayah tetap berlaku. Tak ada lagi
cobaan nan tak tertanggungkan menempeleng kami. Hidup beriak-riak kecil,
berombak sesekali karena karma-karma adalah lumrah. Ayah kembali
membanting tulang sebagai kuli di wasrai, sering kulihat bahu-membahu
dengan buruh dari suku Sawang. Mereka bersekutu secara tidak resmi dalam
sebuah perkumpulan persaudaraan senasib bagi warga Republik tak berijazah.
Lao Mi, makin dibutuhkan, makin jadi lagaknya, tapi siapa sih yang
kuasa menolak hok lo pannya yang rasanya dapat membuat lupa akan mertua
itu? Ibu, dengan wajah sedikit menerawang, menisik robek-robek kecil
kemejaen-cimnya. Maka fashion beliau lebaran tahun ini kupastikan tak kan
begitu mengikuti trend di Jakarta untuk suasana hari raya. Menunduk, tekun,
tak banyak cincong. Aku melipat buku untuk dikantongi atau menyisipnyisipkannya
di celah celana di bawah punggung. Sampai di kelas, buku-buku
itu basah seperti kangkung karena keringat sebab Ayah tak jadi dapat rapel, aku
batal punya tas sekolah.
Kegiatan Ayah berikutnya ditandai lima hal saja: shalat, mengaji,
mendengarkan radio, mencukur rambut ke Pasar Jenggo, dan diam, diam tak
bersuara. Mandor Djuasin masih seperti Mandor Djuasin. Sementara orangorang
Melayu lain, bermain catur di warung kopi sambil membualkan rusa
sebesar kerbau bunting yang memutuskan jaring kawat berduri mereka
semalam di rimba Mem-balong Konon rusa asli Pulau Belitong tinggal lima
ekor. Makin langka jumlahnya, makin bernafsu mereka memburunya. Mandor
Djuasin adalah salah seorang dari sangat sedikit lelaki Melayu yang tak senang
bertandang ke warung kopi, dan satu dari yang jauh lebih sedikit yang tak suka
membual.
Alam pegang kuasa, hari pun berganti-ganti. Sebentar-sebentar sudah
Jumat lagi. Siang ditelan malam, malam ditelan siang Mandor Djuasin tetaplah
mandor meski presiden sudah berupa-rupa. Begitu juga kami, orang Melayu
Pedalaman, masih saja miskin. Keluarga kami belajar melupakan harapan
bahwa Ayah akan naik pangkat. Impian itu mesti dipendam dalam-dalam
seperti mengubur tembunek, sebutan orang Melayu untuk tali pusar orok. Lalu
kami belajar untuk mencari-cari kebahagiaan kami sendi- ri. Sebab di negeri
ini, mengharapkan pemerintah memberi kita kebahagiaan agak sedikit riskan.
Pemerintah sibuk dengan kebahagiaannya sendiri.
Di tengah kisah, malang pun tak dapat ditolak sebab dalam kemiskinan
yang mapan itu, Tuhan mengujiku. Apa yang dialami Ayah, cobaan nan tak
tertanggungkan itu, akhirnya menimpaku juga.
Tak pernah kusangka aku akan jadi korban kejahatan yang mengerikan.
Pun tak pernah kuduga, otak kejahatan itu, dan begundal-begundal suruhannya,
adalah kawan-kawanku sendiri. Di ruang pucat ini, teori bahwa kekejaman
sering dilakukan orang-orang terdekat, terbukti.
Darah bersimbah-simbah dari mulutku. Ia panik. Aku menangkisnangkis.
'Pegangi dia! Pegangi kuat-kuat!"
Lenganku direngkuh dua lelaki kasar. Aku terbelalak kesakitan,
menggeUnjang-gelinjang.
"Kamu! Ya, kamu, masuk! Tangkap kakinya!"
Seorang pria sangar menghambur. Ia memeluk kakiku. Kukais-kaiskan
tumit untuk menerjang. Seorang pria lain, tanpa diperintah, meloncat. Ia
menindihkan tubuh gempalnya di atas lututku, liat bermmyak-minyak. Aku tak
berkutik. Ngilu memuncak ke ubun-ubunku.
Ia memaksaku dengan metode yang tak dapat disebut terhormat. Hampir
dua jam aku teraniaya. Maka terbongkarlah siapa dia sebenarnya: perempuan
yang mampu menggerakkan orang untuk menuruti niatnya meski niat itu
mengerikan, fokus pada tujuan, sistematis, dan keras seperti kawat. Namun,
sekuat apa pun berusaha, ia belum mendapatkan secuil pun maunya.
Aku tersengal. Kutantang matanya, ia mengadu tatapku, berapi. Aku
telah mengalami banyak hal menyakitkan. Sejak kecil, sedap segi dalam
hidupku mesti diperjuangkan seperti perang. Menyerah adalah pilihan yang
menghinakan bagiku. Tak pernah aku takluk pada apa pun tanpa lebih dulu
berjibaku. Tapi aku juga kenal benar perempuan ini. Ia hanya mau berhenti
beraksi jika merasa menang Ego adalah gunung dalam dirinya, dan kini egonya
itu longsor. Tak ada opsi lain baginya selain membekukku. Karena apa yang
terjadi di sini adalah timbangan martabatnya, taruhan harga dirinya. Ia harus
membayar setiap sen ragu orang atas kuasa yang ditumpukan padanya, karena
pilihan nekat hidupnya. Maka semua ini pasti akan berakhir dengan buruk,
berantakan, berdarah-darah. Nanti akan kuceritakan kepadamu, Kawan, tentang
perempuan yang membuatku menanggung cobaan nan tak tertanggungkan itu.Mozaik 4
Calon Grend Master Catur Itu Merah Mukanya
BAGAIMANA aku sampai terperangkap dalam ruang pucat yang
menggiriskan itu adalah rangkaian cerita kelu yang kualami setelah hidup
berlinang-linang madu pada akhir masa studiku.
Semuanya berawal dari Ramadhan.
Tak ada yang lebih berat bagi umat Muhammad yang gemulai imannya
selain puasa di Eropa pada bulan September. Matahari sekejap menyulap gelap
lalu sekonyong-konyong memuntahkan siang.
Dan siang, Kawan, betah sekali berlama-lama. Tak kurang dari delapan
belas jam ia bercokol di langit Eastern Hemisphere. Pukul sepuluh malam
masih terang benderang.
Setelah sembilan jam puasa, aku mendongak keluar jendela, dan di sana
sinar kuning matahari masih terpantul riang di bangku-bangku batu taman.
Empat jam ku longok lagi, tak seberkas pun pudar. Para imam rupa-rupa
mazhab, para ketua Dewan Syuro, bolehlah bertengkar soal berapa jam seorang
muslim layaknya puasa. Ayahku sendiri mengajariku agar berbuka jika
matahari sudah sembunyi. Kupegang saja ajaran lama itu sambil keroncongan
dan mengutuki diri mengapa tak sahur semalam.
Ini gara-gara ketololanku sendiri. Setelah berbuka se-adanya dan
tarawih, aku belajar sampai larut lalu tertidur karena pening dan lelah. Aku
terbangun melangkahi subuh. Hangus sudah sahur yang penting itu. Sekarang
aku mendapati perutku seperti diaduk puting beliung. Pukul delapan malam,
kepalaku rasanya sebesar labu. Demikian implikasi hipotensi4 akutku jika
enam belas jam tak bertatap muka dengan nasi. Sementara puasa telah
menginjak minggu terakhir. Daya tahanku kian rontok dan ketika ia terjun ke
titik terendah, hari ini, pukul sembilan malam nanti, aku harus mengikuti
sidang akhir tesisku. Suasana masih terang benderang, waktu buka puasa baru
hinggap di Skandinavia, masih sangat jauh dari Prancis.
Sengsara sedikit sirna waktu aku mematut-matut dandananku. Baiklah,
mari kumulai dari dasi Hedva cokelat muda bergaris-garis, jas dengan bantalan
busa di bahu-bahunya, dan kardigan yang juga cokelat muda. Famke Somers,
tentu kawan masih ingat sobat lamaku itu, mengutarakan pandangannya:
"Percayalah nasihatku, warna cokelat muda itu akan membuatmu
tampak sedikit lebih pintar."
Aku tak ragu, seorang model Dolce and Gabbana tentu punya
wewenang ilmiah menakar busana. Tak ada alasan mendebatnya. Faktanya,
ketika setelan serbacokelat muda itu tersemat di tubuhku, tak pernah aku
merasa lebih kalis daripada itu, madu.
************
Ruang ujian sidang tesis itu sendiri terletak di ujung selasar dalam bangunan
yang terpisah semacam paviliun, tapi atapnya menjulang mancung mirip atap
gereja-gereja Ang-likan. Lumut tumbuh di tepi-tepi atap akibat air hujan yang
tergenang karena tersumbat daun busuk cecille oak yang tak rimbun tapi tua
dan tinggi. Lantainya, mozaik eksotis yang akan mengingatkan siapa saja pada
tempat-tempat seperti Iskandaria, Granada, atau Casablanca, atau kisah-kisah
tentang para pengembara di bawah langit Sahara, tentang perjuangan hamba
sahaya, dan asmara terlarang. Motif lantai atau kaca warna bernada serupa
selalu kutemui di lembaga-lembaga intelek Prancis, sebagai refleksi rasa
hormat mereka pada para cendekiawan masa lampau dari jazirah.
Lantai yang baru saja kusebut itu mengilap, memantulkan matahari
yang mencuri-curi masuk lewat celah jeruji berulir keparsi-parsian. Pantulan itu
ditangkap oleh lukisan wajah berewokan fisikawan gaek Prancis penemu
radioaktivitas Antoine Henri Becquerel pas di bawah dagunya yang tegas
sehingga ia tampak seperti seorang penyamun.
Selain Antoine, tak ada siapa-siapa sepanjang selasar yang lebih mirip
terowongan itu. Bangku kayu rasuk diletakkan menghadap frontal ke pintu
tinggi ruang sidang. Pintu itu dari kayu Ubmts glabra yang konon ratusan tahun
dijarah tentara Napoleon dari hutan-hutan Finlandia, hitam berwibawa dan
besar gerendelnya. Benda-benda itu selalu membuatku rajin belajar. Karena
mereka mengembuskan aroma bahwa tempatku akan disidang nanti bukanlah
tempat bersenda gurau seperti yang kulakukan dalam kebanyakan waktu
hidupku. Ini soal benar-benar, tidak main-main.
Jika dilihat dari satu sudut melalui sebuah beranda di bawah pohon
cecille oak tadi, dan jika dibayangkan apa yang akan terjadi dalam ruangan di
balik pintu hitam itu, jarak lima belas meter antara kursi r as tik dan sang pintu
itu bolehlah diumpamakan seperti green mile, yakni ruang bagi langkahlangkah
terakhir antara bui dan kursi listrik bagi seorang narapidana hukum
mati. Sebab dalam ruang sidang itulah para akademisi menarung nasib.
Aku duduk di bangku itu. Gugup dan lapar. Ninochka Stronovsky masih
di dalam. Samar kudengar calon grand master dari Georgia ku agak kurang
yakin dengan jawabannya. Seseorang memaki, "Is that the best you can do as a
master student?! Tell me more! Elaborated' Aku terperanjat. Itu tak lain lolongan LaPlagia, petinggi jurusan Economics Science yang kondang karena
temperamental.
Namun, aku tak gentar. Sama sekali bukan karena aku mahasiswa yang
pandai, melainkan aku telah menghabiskan seluruh musim gugur tiga bulan
penuh mempersiapkan sidang ini dengan belajar sampai mataku rasanya juling
Kuantisipasi bermacam kemungkinan akan kena gulung Aku ingin membuat
para profesor gaek itu manggut-mang-gut, kehabisan kata-kata cerdas untuk
menindasku.
Aku berjerih payah karena tak ingin mengecewakan Dr. Michaella
Woodward yang memberiku beasiswa Uni Eropa dulu, dan terutama karena tak
mau meraupkan abu ke muka profesor sepuh Hopkins Turnbull, supervisor
tesisku, yang kepada para koleganya sering menyebutku sebagai mahasiswa
terakhirnya.
Soal mahasiswa terakhir pernah kutanyakan kepada salah seorang
koleganya itu, seseorang yang kukenal dengan baik: Raina Chauduri Paksi.
"Ibu, dapatkah digambarkan padaku bagaimana wajah Prof Turnbull
waktu menceritakan kepada orang-orang itu bahwa aku mahasiswa bimbingan
terakhirnya?"
Maksud hatiku sesungguhnya: apakah Turnbull tampak sedikit senang?
Raina, dosen ekonometrik separuh baya, menatapku kosong dan lama, lalu ia
melengos dengan gerakan seperti nelayan paceklik buang sauh. Saat itulah aku
mafhum bahwa Turnbull tak terlalu bangga padaku.
Namun, aku tetap ingin Turnbull pensiun dengan satu kenangan yang
elok tentangku. Satu kenangan pamungkas nan manis untuk menutup empat
puluh satu tahun abdinya sebagai dosen, delapan belas tahun di antaranya
sebagai guru besar. Di balik pintu glabra menunggu Nochka selesai dibantai—
sudah hampir dua jam—aku merasa yakin,, tepatnya meyalun-yakinkan diri.
Lantas, lewat kalimat yang dapat diartikan sebagai mengusir, LaPlagia
mendepak Nochka. Ia belum puas.
"Rupanya kau hanya pintar main catur, ya? Lihatlah tesismu itu, tak
lebih dari hasil kerja asal-asalan!"
Waktu pintu terbuka, hardik wanita besi itu terlempar keluar.
"Disgrace! Totally disgrace!"
Tapi ia kembali untuk menvalamiku.
"Good luck," ucapnya lirih, bibirnya bergetar, mukanya merah.
Sebelumnya muka Bobby Cash, MVRC Manooj, dan Naomi Stansfield
juga telah dibuat LaPlagia seperti buah rukam ujung musim. Lebih dari
setengah teman sekelasku diperintahnya merevisi tesis, bahkan Arian Gonzales
harus mengulang seluruh risetnya.
***********
"NextT Pekik LaPlagia.
Kutekan dadaku dengan telapak tangan agar reda gemuruh di dalamnya.
Kulafal dalam hati, tiga kali, doa tolak bala yang pernah diajarkan ayahku. Aku
bangkit, melangkah di atas green mile.
Aku nervous.
Kuketuk pintu sehalus mungkin. Aku masuk dan menghampiri kursi.
Belum sampai aku ke kursi itu, LaPlagia meletup, "Woodward, pernahkah
kaubayangkan bidang kita ini akan dimasuki makhluk keriting model begini?"
Dalam keadaan lapar tak tertanggungkan, kalimat itu langsung menohok
ulu hatiku.
Dr. Antonia LaPlagia, empat puluh delapan tahun, berambut sikat
keriting hitam seperti palsu, beralis lebat, bermata gelap—tipikal perempuan
keras Sisilia—mengmtimi-dasiku persis di depan hidungnya. Aku tak tahu
lelaki mana yang pernah menelikungnya, tapi jelas ia benci pria keriting.
Tahun lalu aku membuktikan bisik-bisik mahasiswa senior bahwa
LaPlagia tak berperasaan. Saat itu Paris di puncak musim salju. LaPlagia
mengingatkan mahasiswa yang terlambat menyerahkan tugas.
"Pasti dapat E," ancamnya.
"Dan jangan harap bisa mengulang.
"Ia menempelkan nota di pintu ruangnya: deadline pukul sebelas malam
ini, serahkan di rumahku!
Semua orang tahu, saat itu tak mudah mendatangi rumah La Plagia nun
jauh di Poitiers di luar Paris. Sebagai mahasiswa Indonesia, yang umumnya
bertabiat menyerahkan tugas ketika deadline tinggal beberapa detik lagi, aku
termasuk yang harus ke rumah LaPlagia malam itu.
Aku termangu di bibir halaman rumah LaPlagia yang luas hampir
seperti lapangan bola. Halaman itu telah ditumpuki salju setinggi lutut. Dingin
begitu hebat sampai memecahkan botol soft drink di atas dashboard mobil.
Satu-satunya cara mendekati pintu rumah itu hanya dengan mengarungi salju
setinggi lutut tadi. Aku melangkah sambil menggigil. Jemariku kisut dan perih.
Jika tak teringat akan senyum ayah- ku pada Mandor Kawat Djuasin waktu itu,
aku tak kan sanggup melintasi padang salju itu. Sampai di pintu, perempuan Sisilia itu menyambutku tanpa bersimpati sedikit pun pada penderitaanku.
Barangkali ketika aku tiba tadi ia tengah merendam kakinya dalam baskom air
hangat. Ia bangkit, menyambar tugas di tanganku lalu membanting pintu.
**************
Sekarang, aku duduk mengantisipasi.
Woodward dan LaPlagia membolak-balik halaman tesisku. Belum apaapa
aku sudah demam panggung. Energi ofensif LaPlagia melunturkan tiga
bulan ilmu yang susah payah kulekat-lekatkan di kepalaku. LaPlagia
mengangkat wajahnya. Seringainya memancar sinyal: Anak muda, kau tak tahu
apa pun yang kaubicarakan dalam tesismu ini?
Gawat, nasibku akan tragis seperti Ninoch. Dua tahun belingsatan
belajar bisa binasa lewat satu dua kalimat saja dari wanita cerdas yang congkak
ini. Aku melonggar-long-garkan bajuku yang kini rasanya melilitku. LaPlagia
membaca situasiku. Ia tersenyum remeh. Sebelum membongkar model pricing
telekomunikasi yang kudesain sampai hampir senewen itu, ia merasa telah
menggenggamku. Tiba-tiba terdengar ketukan dan seseorang memutar gagang
pintu. Lalu ajaib, semuanya berubah. Air muka LaPlagia kendur. Profesor
Hopkins Turnbull masuk.
Mozaik 5
Fine By Me, Kins
PROFESOR Turnbull melangkah lambat, terantuk-antuk dengan tongkatnya.
Ia mengenakan sweter kashmir biru lembut, tipikal ilmuwan klasik Eropa.
Rambutnya putih berkilau dan wajahnya seteguh Sean Connery. Satu wajah
yang menyisakan garis tampan masa lampau. Pria Skotlandia ini adalah
ekonom yang amat dihormati. Kemudian silih berganti, LaPlagia dan
Woodward menanyakan kabar ia dan keluarganya.
Perbincangan pun dimulai, misalnya soal Patricia Turnbull, putri sulung
keluarga Turnbull, seorang wolf biologist yang akan menikah dengan seorang
pria Irlandia. Woodward bercerita tentang putra tunggalnya yang ber-keras
ingin kursus Jtim editing di Bristol padahal ia ingin agar anaknya ke Eton untuk
belajar psikologi. Sementara LaPlagia, yang tak pernah berkeluarga,
mengabarkan rencananya ke Tibet untuk belajar meditasi. Menenangkan diri?
Keputusannya yang bagus, dalam hatiku. Obrolan makin asik. Aku duduk tegak
di tengah pusaran kisah-kisah rumah tangga, hewan-hewan peliharaan, musim,
sakit pinggang, kebun di pekarangan, obat-obat encok dan asuransi.
Hampir saru jam aku diabaikan. Tak ada yang peduli pada beruntaiuntai
rumus dalam kepalaku. Tak seorang pun mengacuhkan setelanku yang
mendebarkan. Namun, aku paham apa yang terjadi. Di Yale aku pernah melihat
seorang profesor menerima pulpen kesayangan dari kolega-koleganya sebagai
pengakuan temuan ilmiahnya. Demikian ritual respek akademik sesama
mereka. Di ruang sidang ini, baik LaPlagia maupun Woodward, tak kan
berinisiatif menanyaiku sebelum Profesor Turnbull—senior mereka dan
supervisor tesisku—memulainya. Barangkali begini tradisi di universitas yang
telah berumur delapan ratus tahun ini.
akhirnya, di sela-sela keluhnya tentang sakit punggung, Turnbull
mengalihkan pandang padaku.
"Ehm ...young man, coba kaujelaskan dalam struktur industri
telekomunikasi macam apa panel-panel dalam modelmu ini valid? Jika. tidak,
jelaskan pada kami, mengapa? Harap jangan macam-macam, terangkan singkat
dengan grafik saja."
Aku berdiri, mengangguk hormat sedikit, mengancingkan dua biji
kancing jasku, ambil langkah menuju white board. Aku menjelaskan seperti
berkicau dan mereka hanya melirikku sekali-sekali karena LaPlagia sibuk
menyarankan pada Turnbull agar berobat pada seorang sinse kenalannya di
Amsterdam. Penjelasanku selesai. Turnbull berpaling malas pada grafikku, lalu pada Woodward, ia mendesah, "Bagaimana pendapatmu, Michaella?"
Woodward memiring-miringkan mukanya mengikuti garis-garis grafik,
berpikir sejenak, "Makes sense, well... bagiku cukup meyakinkan."
"Kalau kululuskan anak ini, adakah keberatan darimu, Mich?"
"Fine by me, Kins." Madu.
"Dan kau, Antonia?"
LaPlagia menatapku tajam, dasi Hedva itu mencekikku.
"Dangkal, terutama definisinya tentang dimensi waktu."
Aku tercekat.
"Teknologi informasi bergerak sangat cepat, revolusioner, artinya,
waktu seharusnya makin tidak relevan dalam analisis."
Kucoba mengelak sedikit, "Tapi menurut Don Tapscott…..”
"Siapa kau hilang?! Tapscott? Tapscott Harvard itu?!"
"Iya, menurut…..”
"Network economy, bukan?! Itu kan, maksudmu?! Yang dibualkan
Tapscot itu?!"
Punggungku dingin.
"Itulah masalah kalian! Meriset berdasarkan teori yang masih
spekulatif! Maka seluruh tesismu tak lebih dari pemikiran eksperimental!
Amatir!"
Aku stres. Turnbull dan Woodward mengangguk takzim. LaPlagia,
dalam waktu beberapa menit saja, dengan melirik scpintas-pintas sambil
mengisahkan sinar sialan itu, langsung tahu kelemahan modelku, dan argu.
mennya amat pintar. Aku bisa saja berdalih dengan alasan ini-ita, tapi di muka
majelis tinggi ini kata mesti dipelihara dengan teliti. Jika hanya berpendapat
sembarang tanpa pernah menguji, hanya akan menikam diri sendiri.
“Turunkan algoritmanya!"
Pada tahap ini aku hampir ambruk. Aku telah berpuasa selama delapan
belas jam. Asam menggerus dinding lambungku yang kosong, perih dan mual.
Aku diam seribu bahasa, mengutuki kesembronoanku. Nah, Kawan, lihatlah,
siapa yang kehabisan kata-kata cerdas sekarang. Riset dua tahun akan sia-sia
kena bantai perempuan Sisilia ini. Aku duduk tafakur. Bayang kegagalan
terkekeh-kekeh di depanku. Aku teringat akan susah payah sekolah, terkenang
akan ayahku, akan kampungku. Betapa meyedihkan. Namun, menurunkan
algoritma berarti memberiku peluang berargumentasi. Kuraih keyboard desktop
di dekatku yang tersambung pada proyektor. Kuderas berangkai-rangkai operasi
aritmatika. Aku demikian lapar sampai jemariku gemetar. Berkali-kali aku
meleset memencet tuts-tuts angka. Pandanganku berpendar-pendar. Simbol
theta dan barisan lambang integral kulihat seperti geliat cacing-cacing, lalu aku
terduduk pasrah. Diam dan kritis.
"Setujukah engkau, Antoniar tanya Turnbull.
LaPlagia tercenung menimbang Aku menunduk selayaknya seseorang
yang merasa dirinya akademisi berbakat, padahal tak lebih dari seorang
mahasiswa amatir.
"Deskripsi yang buruk, Kins. Tak lengkap. Anak mi masih harus banyak
belajar. Namun, secara umum, kupikir…… aku bisa menerima logika kalimatkalimat
matematika itu."
Aku melonjak, tak kupercaya apa yang baru saja kudengar!
"Begitukah, Antonia?"
"Dan asal ia tak tampak lagi di depanku dengan dandanan noraknya itu."
Turnbull tergelak kemudian bersabda dengan aksen kental
Skotlandianya, "Oraik, young man, kamu lulus, keluar sana…..”
Nah, begitu saja, ya, semudah itu saja nasibku ber-balik. Tuhan
menolong orang yang berpuasa! Aku lulus! Ah, madu, Kawan. Manis sekali
seperti madu.
Mozaik 6
Puisi Tahun Lalu
USAI ujian sidang, aku pulang sendirian ke apartemenku di La Rue Hector
Mallot. Tak naik kereta underground metro seperti biasa. Aku sengaja jalan
kaki, memutar.
Musim salju di pelupuk mata. Tanaman meranggas, mengalah pada
dingin yang keji. Aku melewati Boulevard de la Bastille. Anak-anak merpati
yang baru belajar terbang labuh, hinggap di bangunan satu-satunya yang tersisa
dari penjara ternama Bastille, yakni menaranya, yang tegak jadi muara di ujung
pertemuan paling tidak delapan boulevard.
Cepat nian waktu berlalu. Rasanya baru kemarin aku tiba di terminal
bus Gallieni bersama sepupuku Arai, terbata-bata membaca nama stasiun
metro, ke sana kemari membawa Pocket Reference French Dictionary,
mencocok-cocokkan beberapa kata Inggris padanan Prancis dengan penjual
kebab imigran Turki. Belajar tersendat-sendat menyengau- nyengaukan suara
agar orang Prancis paham. Ternganga di bawah kangkangan nyonya besar
Menara Eiffel, dan tahu-tahu sekarang, aku telah menyelesaikan studiku.
Di bawah Menara Bastille, aku melamun, lalu menarik garis perjalanan
dari titik mula aku beranjak, di sekolah dasar Laskar Pelangi yang sembarang
waktu bisa roboh di pinggir hutan di Pulau Belitong sana. Jauh tak terkira,
terpencil. Dari situlah asal muasalku, dari satu kaum terbelakang yang tak
percaya pada sekolah, yang kelaparan di lumbung harta gemah ripah timah.
Menggerus pohon karet, menjerang kopra, menyarai madu, menangguk ikan,
memunguti kerang mengais untuk makan. Dan di sini kini aku tertegun,
terkesima akan misteri kebesaran Babi. Sebab tak kutemukan satu pun
penjelasan bagaimana detik ini aku bisa berada di pusat peradaban Eropa: Paris,
dan meraih ijazah dari universitasnya.
Jika dulu aku tak pernah berani bermimpi sekolah ke Prancis, jika dulu
aku tak menegakkan sumpah untuk sekolah setinggi-tingginya demi martabat
ayahku, aku dapat melihat diriku dengan terang sore ini: sedang berdiri dengan
tubuh hitam kumal, yang kelihatan hanya mataku, memegang sekop
menghadapi gunungan timah, mengumpulkan napas, menghela tenaga,
mencedokinya dari pukul delapan pagi sampai magrib, menggantikan tugas
ayahku, yang dulu menggantikan tugas ayahnya, turun-temurun menjadi kuli
kasta terendah. Aku menolak semua itu! Aku menolak perlakuan buruk nasib
pada ayahku dan pada kaumku. Kini Tuhan telah memeluk mimpiku. Detik ini
di jantung Paris, di hadapan tonggak penjara Bastile, perlambang kebebasan ak
telah merdeka, tak goyah, tak pernah sedetik pun menyerah. Di sini, atas nama
harkat kaumku, martabat ayahku, kurasakan dalam aliran darahku saat nasib
membuktikan sifatnya yang hakiki bahwa ia akan memihak para pemberani.
Aku dilanda takjub. Telah kualami begitu banyak kejadian yang tak
terbayangkan sebelumnya. Lalu takjub itu terurai menjadi rindu. Aku rindu
pada Bu Muslimah, guruku yang pertama, rindu akan sahabatku para Laskar
Pelangi: Lintang, Mahar, Trapani, Harun, Syahdan, Flo, Samson, Kucai, A
Kiong, Sahara. Bagaimanakah nasib mereka sekarang? Bagaimanakah kabar
sekolah Laskar Pelangi itu? Orang-orang yang kucintai itu mengalir di depanku,
mengalir pelan menuju tempat yang mengenangkanku akan keindahan tak
terperi: Edensor. Aku ingin mengunjunginya lagi, sebelum pulang kampung.
Seminggu kemudian aku berangkat dari terminal bus Gallieni menuju
pesisir utara Prancis: Calais. Dari sana kuseberangi kanal Inggris naik feri ke
Dover. Dari Dover naik bus lagi menuju terminal "Victoria di London. Sore itu
hanya ada satu bus menuju Midland, yaitu National Express. Bus itu akan
berangkat ke Leeds, singgah di Nottingham dan Sheffield. Tiga jam kemudian
aku tiba di terminal bus Sheffield.
Sheffield, kota dengan lima puluh taman, dingin perti selalu. Esok
paginya, aku naik bus lagi menuju Edensor. Satu per satu penumpang naik bus
jurusan desa itu dan terbalaslah kerinduan lamaku akan para Midlander. Orangorang
saling bertukar senyum, dan akrab menyapa: alright, mate? Jika. ia
perempuan, tak sungkan ia mengucap: Hi, Lof. Midland memang dingin tapi
orang-orangnya lebih hangat daripada para Londoness. Sering aku berpikir,
jangan-jangan Midlander adalah orang Inggris yang paling Inggris. Nama-nama
mereka pun unik, selalu praktis: Tom Green, Peter Meyer, Nick Cowan.
Shelter demi shelter kulalui dan aku terpesona akan kekuatan ajaib yang
membawaku kembali ke pedalaman Inggris ini Semuanya hanya untuk
melintasi kembali segaris jejak rindu dalam kepalaku. Edensor, sejak kecil telah
kukenal melalui buku yang diberikan A Ling untukku. Sungguh ganjil,
perjalanan hidupku akhirnya membawaku dengan sendirinya ke sini. Aku
seperti terbimbing invisible hand, tangan yang tak tampak. Bagiku, Edensor
adalah bukti tentang sifat nasib yang melingkar, dan Edensor, dengan cara yang
aneh, telah membuat rindu yang menyiksa menjadi indah. Atau mungkin aku
telah mengidap sakit gila nomor enam belas, yang banyak memusingkan para
ahli di fakultas-fakultas yang mempelajari soal orang tak waras: yakni penyakit
manusia yang membuat dunia sendiri dalam kepalanya, mencintakan masalahmasalahnya
sendiri, terpuruk di dalamnya, lalu menyelesaikan masalah-masalah
ku, sambil tertawa-tawa, juga sendirian.
"Oh, Dear, long time no see."
Sapa ramah Lucy Booth, perempuan hampir tua pemilik Forgiven not
Forgotten, Bed and Breakfast, satu-satunya akomodasi di Edensor. Tak ada
tamu lain selain aku. Ia terkekeh di bawah kepala seekor bison berambu-rambu
yang dilekatkan di dinding. Ia gembira aku datang karena akan mendapatkan
sahabat untuk saling bertukar kisah. Perempuan itu—seperti kebanyakan orang
menjelang tua—senang ngobrol.
Dari kunjunganku dulu aku telah mengenal Lucy, tapi baru sekarang
kuceritakan padanya dari mana aku berasal, bagaimana aku mengenal Edensor,
dan mengapa aku kembali lagi. Lucy terpana.
"Amazing, Lof! Kupikir seseorang harus mementaskan ceritamu itu ke
dalam sebuah teater, bagaimana pendapat-mu?"
Edensor masih kutemukan seperti kutemukan desa ini dalam buku If
Only They Could Talk, yang diberikan A Ling padaku dulu. Sama, tak ada yang
berubah. Jauh sebelum aku mengunjungi Edensor tahun lalu, lewat kalimahkalimah
Herriot pengarangnya, aku telah melihat gereja Anglikan yang hitam
itu dalam kepalaku. Akulah yang melukis pohon-pohon pinus di pekarangan
gereja itu. Aku yang menghamparkan padang rumput hijau di belakang gudanggudang
jerami kosong itu. Aku yang menegakkan gerbang desa berhiaskan
ukiran logam ayam-ayam jantan itu. Aku pula yang mengembuskan angin yang
membelai pucuk-pucuk astuaria itu, semuanya dengan tenaga magis imajinasi.
Edensor adalah Taj Mahalku. Rasanya baru kemarin aku disuruh Bu
Muslimah membeli kapur di toko kelontong Sinar Harapan, lalu aku tersihir
oleh paras-paras kuku yang cantik, dan tiba-tiba aku terlempar di negeri asing
yang amat jauh ini.
Kini kusadari yang ada hanya aku, duduk sendiri di bangku uzur yang
tersandar pada jerejak kebun anggur. Aku menekan perasaan sehampa lembah
Yorkshire dan ladang-ladang Darrowby yang telantar, meredakan jerit hati
senyaring gemuang kumbang, meredam gemuruh rindu, membujuk diri, karena
siang mengatakan A Ling telah pergi dibawa malam, tak kan pernah kembali.
Ketika kumbang-kumbang itu diam, waktu lumpuh. Kusibakkan gulma yang
menutupi pagar batu penyekat ladang, masih jelas baris-baris puisi yang kuukir
di situ tahun lalu.
Tak tahu engkau di mana
Tapi, kulihat dirimu, di antara bayang pohon willow
Kudengar suaramu, dalam riak Sungai Darrow
Dan kucium dirimu, dalam angin yang berembus dari utara
Mozaik 7
Sinting Tapi Pinter
MENJELANG pulang ke tanah air, madu itu masih berlinang-linang.
Farewel party!
Undangan bertubi-tubi. Dan aku mulai berpikir, mungkin adat satu
bangsa dapat dinilai wataknya melalui farewel party.
Orang-orang dari daratan China memang sangat menghargai tamu, dan
persahabatan sungguh mulia bagi mereka. Acara perpisahan bagi yang telah
menyelesaikan studi tahun ini dipersiapkan dengan saksama. Panitia dibentuk.
Tak kurang tiga orang bertugas melulu hanya mengurusi undangan. Merekalah
Eugene Wong, Heidy Ling, dan Hawking Kong. Undangan dicetak dan diantar
secara pribadi.
"Andrea sahabatku, kami akan senang sekali jika kau bersedia datang,
datang ya, pasti menyenangkan," begitu kata Heidy Ling dengan kalimat
selembut terigu sembari menyerahkan undangan yang mewah itu.
Aku datang. Deborah, Oh, dan beberapa gadis muda dari universitas lain
yang tak kukenal—kuduga dari Shanghai sebab semlohai bukan maui—
rupanya telah bertindak selaku penerima tamu. Sangat anggun dan tampak betul
telah berdandan dengan serius sejak sore tadi. Pakaian mereka bergaya putri
China dalam film Dinasti H an, rapat membalut dari mata kaki sampai leher.
Hidangan juga tak sembarang, berupa-rupa resep aneh. Berhari-hari
mereka menyiapkannya. Acara berlangsung khidmat Setiap orang berdiri untuk
bercerita. Maka acara perpisahan mereka mirip dengan acara perkenalan waktu
kami baru berjumpa dulu, dan semuanya tertib, syahdu, sentimental. Mereka
bersyukur karena telah menyelesaikan sekolah. Semuanya menyatakan betapa
berartinya pengalaman persahabatan kami selama di Paris, sungguh berat akan
berpisah, dan semoga kita bisa bersaudara sampai ajal menjemput. Namun, tak
tampak mahasiswa Taiwan. Mereka punya farewel party sendiri. Selain sangat
menghargai tamu, orang-orang ini rupanya juga menghargai sejarah.
Berbeda dengan undangan The Yankees-, mahasiswa negeri Paman
Sara. Ditempel sekenanya di dinding pengumuman: Party! Party! Party!
Townsend's place, 10 PM till drop! Virginia Sue Town send menyambutku di
pintu apartemennya dan nyaris tak berpakaian. Acara berlangsung cepat dan tak
ada bersedih-sedih. Tak ada yang membicarakan soal berharganya persahabatan
atau soal ajal menjemput. Dalam farewel mereka, semua orang menjadi
pragmatis. Yang banyak terlompat hanya kata-kata girang sebab akan segera
minggat dari Paris.
"Aku bisa mati bosan di sini!" jerit Townsend.
Bobby Cash malah terang-terangan memaki Sorbon-ne karena profesorprofesor
di sana telah menindasnya habis-habisan. Lalu mereka sibuk
membicarakan rencana backpacking, bersukacita sejadi-jadinya sebelum nanti
terjerat lagi rutinitas dunia kerja.
Mahasiswa Jerman lebih sistematis. Undangan dikirim lewat e-mail dan
SMS. Sesuai nature-nya., mereka selalu efektif dan fokus pada tujuan, dan
tujuanfarewel party mereka hanya satu: mabuk. Acara belum mulai, beberapa
orang sudah mabuk. Christian Diedrich dan Marcus Holdvessel bahkan datang
sudah dalam keadaan sepertiga tak sadar. Rupanya mereka telah melakukan
semacam pemanasan sejak dari apartemen masing-masing.
The Brits, orang-orang Ingris itu, dan mahasiswa Belanda serupa. Tak
ada sendu-sendu. Musik berdentum-dentum. Jika orang-orang China
menekankan pada farewel maka The Brits dan Belanda menekankan pada party.
Acara perpisahan orang Indonesia, Amerika Latin, dan India serupa dan
amat dramatis. Acara belum dimulai, MVRC Manooj sudah meratap-ratap
seperti orang mati bini. Beberapa mahasiswa Indonesia berpisah dengan
mengadakan pengajian. Para senior pun tampil. Acara dimulai dengan ceramah
oleh para senior itu—biasanya ada orang tua yang didatangkan dari kantor
kedutaan—ngaji, lalu petuah, khotbah, nasihat, membaca deklamasi sambil
tersedak-sedak. ngaji lagi, dan ditutup dengan ceramah lagi, oleh senior lagi.
Tak jarang penceramah diterbangkan khusus dari Tanah Air. Tak lupa
kencleng5 untuk dana konsumsi pengajian bulan depan. Dalam farewel
Indonesia, setiap orang riba-riba menjadi filosofis. Sementara farewel party
mahasiswa Yahudi, dengan organisasi, sistem familia, dan fraternity mereka
yang sangat rapi itu, tak mengundang siapa pun selain orang Yahudi.
Usai berbagai farewel party, aku kembali mengunjungi karya arsitektur yang
paling kukagumi di Eropa: karya-karya An-thoni GaudL Hebat bukan buatan
pria itu, meski sinting tapi pintar. Dari Barcelona aku melenggang ke Alhambra
di selatan SpanyoL Aku kembali terpesona oleh bangunan-bangunan Masjid
bernuansa Parsi dengan selera Eropa. Kaligrafi dan relief nan indah. Bahkan
gereja-gereja kental dengan nuansa arsitektur Islam. Hari di Alhambra kuakhiri
dengan sebuah candle light dinner dengan beberapa sahabat: orang Spanyol.
Dari Barcelona aku naik bus Eurolines ke Holland. Ini adalah perjalanan
naik bus paling jauh yang pernah kutempuh. Hampir 23 jam karena melintasi
dua negara, Prancis dan Belgia. Di Rotterdam aku hinggap di sebuah
kafe dan mencicipi kue terigu berbedak-bedak gula halus. Kue kaum
menak Poppertjes, disuguhkan bersama teh Ouan Tim Special Edition berbau
daun salam—yang pada bungkusnya tertulis propaganda the delicate aroma will
linger gently in your tongue. Ritual teh yang amat civilized itu kunikmati pada
satu sore nan syahdu di kafe yang menghadap langsung ke Laut Utara. Burungburung
camar hinggap di tali-temali layar, menjerit-jerit manja diteriaki nelayan
sahabat mereka. Yacht berbaris rapi, terantuk-antuk malas menciumi bibir kanal
karena ditingkah ombak-ombak jinak. Warna bianglala memantul di atas
permukaan laut yang diuapkan matahari sore: marun, biru, dan Jingga. Angin
semilir, tak terperikan rasanya. Inilah hidup, Kawan, lembut sampai ke ujungujung
lidah, dan bukan main teh Quan Yim Special Edition, encok di
persendian sirna, perasaan jadi bahagia. Mereka yang selalu mengumpat life
sucks, pastilah belum pernah merasakan kue terigu Poppertjes dan teh Ouan
Tim Special Edition beraroma daun salam.
Dari Rotterdam aku ke Amsterdam, ingin melihat satu pemandangan
terakhir sebelum minggat dari Eropa, yaitu lukisan Mghtwatch karya
Rembrandt di Rijksmuscum. Beberapa kali aku telah berencana ke
Rijksmuseum, tapi baru kali ini terlaksana. Di depan Nightwatch yang sebesar
dinding sekolah, aku terpana. Lukisan itu mengisap dan melemparkanku ke
masa medieval. Begitu dahsyat manusia dapat mencapai kreativitas seni. Maka
pada momen itu, di haribaan Mghtwatch, setelah malang melintang di negeri
orang, setelah semua yang kualami dalam hidup ini, kudefinisikan kembali tiga
orang seniman kesayanganku: Anthoni Gaudi, Rembrandt, dan Rhoma Irama.
Dengan kereta yang serbanyaman, dilayani lembaga yang menjunjung
tinggi martabat manusia, dari Rijksmu-seum aku berangkat ke Bandara
Schiphol. Melalui jendela kereta aku melihat rumah-rumah tipikal warga urban
Belanda: rapi, teratur, berbentuk kotak dengan jendela kaca bening besar di
muka sehingga orang dari luar rumah dapat melihat seluruh tiving room—dan
apa yang terjadi dalamnya: orang bergurau, membuka pintu kulkas, atau duduk
nonton televisi. Ornamen-ornamen lucu didesakkan di antara pot-pot bunga
yang umumnya berwarna semarak di halaman yang sempit Lalu ada anjing,
beranda yang juga sempit, dan windchvne (kliningan angin). Aku teringat,
pemandangan inilah yang kali pertama terhunjam dalam benakku waktu kali
pertama kuinjakkan kaki di Eropa tiga tahun lalu. Waktu itu Famke Somers
yang menjemputku dan sepupuku Arai, rajin menjelaskan suasana kiri kanan
kereta. Sepintas saja melihat rumah-rumah itu, aku mafhum bahwa Eropa, bagi
orang kampung sepertiku, akan sangat menyenangkan, jika ditinggali tidak
terlalu lama.
Namun tak dapat dipungkiri, dari lingkungan sosial semacam itu, aku telah belajar banyak sekali, antara lain belajar toleransi. Di Eropa, untuk kali
pertama aku mendapati diriku terpojok di sudut peradaban sebagai minoritas
dan sungguh pahit keadaan ini. Sepanjang hidup di Tanah Air, demografiku
adalah representasi mayoritas. Aku seorang Islam, maka aku mayoritas.
Keluargaku keluarga miskin, karena itu aku juga mayoritas. Aku mayoritas
karena begitu banyak hal, misalnya aku orang Indonesia asli, berbadan pendek,
hetero, sering ditipu politisi, menyenangi lagu dangdut, dan berwajah orang
kebanyakan. Dengan mentalitas semacam itulah aku dibesarkan. Namun di
Eropa, aku terkejut melihat cara orang melihatku, dan yang pertama mereka
lihat adalah warna kulitku, lalu mereka memandangku, dan yang mereka
pandang adalah asal muasalku, caraku berbicara, apa yang kumakan, apa yang
kusembah, dan apa yang seolah akan kuambil dari mereka. Seluruh pandangan
padaku untuk satu tujuan: menilaiku.
Kereta meluncur deras. Sebagian kehidupan di Eropa akan kurindukan,
sebagian ingin kulupakan. Jika ada hal yang pahit tak ingin kubicarakan. Kereta
sampai. Aku mendongakkan kepala dari stasiun underground Schiphol, lalu
langsung check in untuk terbang.
Senin. Setelah hampir tujuh belas jam terbang dan transit di Changi,
Singapura, untuk kali kelima belas sejak pukul tujuh semalam, dengan wajah
sesegar kembang sepatu yang baru disiram, meski waktu itu pukul empat pagi
buta, pramugari nan bohai Anke Molenaar kembali menawariku.
"Some more coffee, Sir?"
Ia lalu meraih cangkirku lewat satu gerakan yang terpuji Teko ia
tunggingkan secara amat berwibawa dan terpuji pula. Ia membungkuk dalam
batas yang diizinkan oleh rok mininya, sekian sentimeternya, telah ia
perhitungkan dengan teliti. Aku menatap Anke lembut dan dengan sekuat
tenaga berusaha mengesankan diri sebagai orang berperadaban tinggi yang
sudah terbiasa menumpang pesawat ke luar negeri. Jambul kurapikan, air muka
kuatur. Kami pun beradu pandang, dan aku bertanya kepada Yang Mahatinggi:
berapa banyakkah Ia telah menurunkan perempuan peraga pelampung yang
berdaya kejut listrik voltase tinggi macam ini di muka bumi ini? Gadis Belanda
itu berialu meninggalkan senyum yang telah ia latih tiga bulan di Meskapai
KLM, senyum yang bermakna: dasar orang udik!
Saat pesawat hampir mendarat, aku melirik ke luar jendela pesawat.
Nun di bawah sana terhamparlah Jakarta: centang-perenang kelabu karena asap
polusi, tercecer-ce-cerke sana kemari, kalang kabut. Aku tersedak dan tersentak
sadar, kopi yang dituangkan Nona Molenaar nan bohai tadi adalah linangan
madu terakhir hidupku.
Mozaik 8
Sumbu Kompor dari Jakarta, Tahu!
KELUAR dari anjungan internasional Bandara Soekarno Hatta, aku ke
terminal pemberangkatan dalam negeri dan di sana beberapa pria sangar
menyongsongku dengan sikap ingin merebut tas-tasku. Beringas, bermata liar.
Sungguh berbeda dari tingkah laku Anke Molenaar. Manusia melimpah ruah.
Peak season, warga Tionghoa sibuk mudik untuk ritual tahunan sembahyang
kubur.
Aku gugup sewaktu didekati seorang pria yang tersenyum baik, bajunya
bersih, rapi, gaya rambut belah samping, dan lebih mirip guru Pendidikan
Moral Pancasila di sebuah SD Inpres—tapi aku tahu bahwa dia itu bajingan. Ia
menawariku tiket dengan harga empat kali lipat lebih mahal. Itu pun tinggal
satu tiket. Aku pasrah saja karena aku rindu ingin bertemu ibuku, Arai, dan
terutama, ayahku. Tapi ternyata aku harus mengalah pada Kim Lian, orang
Hokian. Katanya ia sudah tak sembahyang kubur dua tahun, karena itu,
menurutnya, usaha bekledingnya di Indramayu megap-megap. Aku tak sampai
hati.
"Terima kasih, Ikal," ujarnya terharu sembari ingin menyembahku.
“Jangan cemas, besok ada kapal berangkat."
*******
Pulang kampung dari Jawa bagi orang Melayu dari Pulau Belitung, bisa
berarti menjebak diri dalam satu situasi semacam fat accompli—yakni dipaksa
memilih pilihan yang runyam, pilihan yang sesungguhnya tak rela. Aku
membayangkan sengsara perjalanan, belasan jam terombang-ambing di kapal
yang sesak. Tapi aku harus segera pulang karena aku rindu pada ayahku.
Di Tanjung Priok kulihat manusia bergelombang-gelombang di depan
loket Seorang calo berpidato di depanku bahwa jika tak membeli tiket
darinya—dengan harga hampir delapan kali lipat lebih mahal—maka mustahil
dapat tiket dari loket resmi.
“Lihatlah antrean itu, tak kan berkurang sampai malam nanti."
Ia bersungut tak acuh dengan nada yang amat terlatih. Pria ini meramu
bujukan, simpati, sikap bersahabat, desakan, ancaman, sedikit tak butuh, dan
fait accompli menjadi satu komposisi yang membuatku terkagum-kagum.
Manusia yang dididik lingkungan keras untuk mengepulkan asap dapur akan
menjadi kawakan tiada banding Dipenuhi perasaan muak, aku bertransaksi dengannya, kelu.
Setelah ditunggu sejak pagi, tengah hari, melalui corong megafon,
penumpang diminta naik ke kapal. Kapal itu adalah kapal besar Lawit yang
berlayar ke Kalimantan tapi akan mampir di Pulau kecil Belitong. Di bawah
terik matahari ribuan manusia antre menaiki tangga kapal. Para petugas susah
payah mengatur antrean seperti menertibkan ternak. Kadang melengking
makian tak pantas dari petugas yang lelah.
Orang Melayu, luar biasa, jika bepergian, tradisi mereka adalah
membawa barang dalam jumlah tak kira-kira. Sehingga muncul istilah di antara
mereka sendiri: seberat bangkit. Akibatnya antrean makin repot. Setiap anggota
badan dipakai untuk menenteng, memikul, memanggul, menjunjung, atau
merengkuh sebanyak mungkin bawaan. Maka tak jarang seseorang ditambati
sampai lima kardus besar tak tahu berisi apa. Meskipun isi kardus itu hanya
sumbu kompor dan dengan mudah didapat di Belitong, kalau Kawan berani
memberi gambaran logis, mereka tak terima.
"Jangan sembarang bicara, ya, ini sumbu kompor dari Jakarta, tahu!"
Lepas dari pemeriksaan terakhir di pintu kapal, ratusan orang semburat
mencari tempat-tempat kosong. Sayangnya, para penumpang yang lebih dulu
masuk telah menjelma menjadi makhluk teritorial, mirip kawanan hyena di
Padang Masa Mara. Mereka mengklaim areanya sendiri. Dengan seringai tak
bersahabat, mereka menghalau siapa pun yang mendekat. Sebagian menyekat
zonanya dengan tumpukan kardus dan berupa-rupa penghalang Tikar digelar di
lokasi yang tak seharusnya untuk penumpang: di atas palka, seantero geladak,
di haluan, di dek-dek di jalur menuju sekoci, dan di bawah-bawah tangga.
Kursi-kursi panjang telah dikuasai sebagai tempat tidur atau tempat
menumpuk tas-tas besar. Ibu-ibu yang harus melindungi anak-anaknya dari
angin, bergelamparan di lorong-lorong pengap. Kaum ibu ini tak berdaya sebab
kurang cepat ketika tadi ribuan manusia dengan garang mencari tempat yang
nyaman. Mereka, ibu-ibu dan anak-anak kecil itu, telentang berjejer di depan
WC, seperti jemuran pedak, kusut masai bermandi keringat.
Pria-pria muda yang lebih dulu naik ke dipan-dipan barak asyik main
gaple, menghirup mi instan dari gelas plastik, dan main gitar. Jakarta telah
merabunkan nurani orang-orang kampung itu yang tahun lalu ketika baru tiba
dari udik masih sangat lugu. Cukup setahun, cukup setahun saja, Jakarta bisa
saja membuat orang jadi durjana. Mereka tak mengacuhkan ibu-ibu dan anakanaknya
yang menghirup bau pesing WC sampai seluruh isi perut mau
melompat, demi, semuanya demi, dua puluh empat jam kemudahan di atas
Kapal Lawit Sungguh dahsyat pengaruh ibu kota. Ibu-ibu dan anak-anaknya itu
lalu dilangkahi oleh para pedagang nasi bungkus hampir basi yang berteriakteriak
tak keruan melawan suara mesin diesel raksasa kapal, mengalahkan lagu
Teluk Bayur dari pengeras suara di sudut-sudut ruang, dan menyaingi lolong
tangis bayi-bayi yang tak berhenti dikipasi.
Aku mengurungkan niat mencari tempat kosong di dalam barak karena
memang tak ada celah lagi. Aku ber-susah payah melewati gerombolan orang,
akhirnya kulihat sedikit ruang dekat cerobong asap. Di atas lantai baja yang
panas aku duduk. Mataku berair menahan bau solar, bau asap pekat yang
bercampur dengan aroma parfum murah-an, dan aroma baju-baru norak yang
dibeli di kaki lima Cililitan yang dipakai gadis-gadis Melayu dan Tionghoa di
sekelilingku. Kepalaku berputar. Air liurku asin menahan muntah. Kapal belum
berangkat, aku sudah mabuk, kelu, kelu bukan buatan.

Mozaik 9
Shiet Lu, Rahan dan Gajah Menari-nari
SORE, Kapal Lawit merayap pergi. Aku menoleh ke bawah buritan. Turbin
menggerakkan bahng-baling raksasa, meluapkan ribuan kubik air, membuncah
menjadi gelembung-gelembung besar yang menggelinjang dari dasar laut.
Kapal menjauhi Tanjung Priok, gelembung-gelembung raksasa tadi berpendar
lalu menjelmalah buih: buih farewel party, buih Nightwatch Rembrandt, buih
candle light dinner di Alhambra, buih teh Quan Tim Special Edition beraroma
daun salam, dan buih Anke Molenaar. Buih kian lama kian kecil, lalu menjadi
riak-riak, lalu menguap. Seakan membalik tangan, demikian dramatis
perubahan hidupku. Sehari semalam lalu aku masih diliputi kemegahan Eropa,
kini kudapati diriku dikelilingi orang-orang Melayu berbaju norak berparfum
memeningkan kepala, di atas kapal besi besar bau minyak bak rongsokan
hanyut. Kawan, inilah aku, berpeluh-peluh di bawah cerobong asap, baru saja
ditinggalkan masa-masa jaya. Kelu.
Menit demi menit menjelang malam, penderitaan jenis baru ambil
bagian, yakni, gadis-gadis Melayu berbaju norak itu mulai muntah-muntah
karena alunan kapal mengocok perut mereka. Bau muntah, bau berbagai jenis
balsem dan ramuan tolak angin membuat ruang pangkal cerobong menjadi
ruang teror mental. Gadis-gadis semenanjung itu menahan rasa dengan
memejam mata. Kupikir inilah puncak derita perjalanan ini, tapi rupanya
belum, tanpa kusadari, kelu yang sebenarnya menungguku di depan sana, subuh
nanti.
************
Aku mencoba mengalihkan mual dengan membuka tasku dan membaca
lagi surat Arai yang ia kirimkan beberapa waktu sebelum aku pulang Surat
yang aneh, karena ada kalimat:
Cepatlah pulang, Tonto,
Kau diperlukan sekarang. Genting, kepala kampung sibuk bikin acara
sambutan....
Acara sambutan? Apa pula ini? Apa istimewanya aku ini hingga akan
disambut begitu rupa? Pastilah ini ulah Arai yang kepalanya selalu didesaki ideide
sinting. Tak kupedu-likan surat itu, tapi kubaca lagi satu-satunya surat yang
pernah dikirim ayahku ketika aku baru tiba di Prancis. Surat yang menyarankan
agar aku jadi ahli madya pupuk dan Arai jadi asisten apoteker itu.
Surat Ayah itu telah kubaca berulang-ulang, sampai tak terhitung,
sampai hafal. Setiap kali membacanya inilah yang kulakukan: kuhidupkan radio
saku dan sengaja kucari frekuensi bersuara kemerosok, siaran timbul-tenggelam.
Sayup sampai bunyi distorsi radio. Terdengar jauh dan sepi dari
pelosok-pelosok dunia diseling bahasa-bahasa asing antah-berantah dan musikmusik
yang unik. Lalu melayanglah pikiranku, terlempar ke satu masa saat aku
belum sekolah, aku mengintip Ayah sedang duduk di kursi goyangnya, pada
satu subuh yang senyap, termangu-mangu mendengarkan kemerosok radio dan
tembang-tembang Semenanjung. Kemudian perlahan, tak tertahankan air
mataku mengalir. Betapa aku merindukan lelaki pendiam itu. Bagaimana jika
nanti ia melihatku? Akankah ia bangga? Ayahku yang tak pernah sekolah, tak
paham segala teorema, segala algoritma, segala Sorbonne. Tapi aku tersenyum
sebab kutahu persis apa yang membuat Ayah bangga: baju seragam!
Seperti dulu pernah kuceritakan kepadamu, Kawan, Ayah selalu
terpesona pada orang-orang berbaju seragam. Baginya, orang-orang berbaju
seragam lebih pintar daripada orang kebanyakan. Bahkan para pelatih beruk
pemetik kepala di kampungku, yang berseragam, dikagumi Ayah. Maka jauhjauh
hari telah kusiapkan pertemuan dengan ayahku nanti dengan membawa
seragam door man, seragam yang dulu kupakai waktu kerja part time jadi
tukang buka laut put kan pintu restoran di Goncourt, Paris. Tentu istimewa
pertemuan kami nanti.
Menjelang dani hari sebuah pengumuman membahana, mengabarkan
agar penumpang yang akan turun di Pulau Belitong bersiap diri. Aku bangkit
bersusah payah, terhuyung-huyung menuju kamar mandi untuk mengganti
pakaianku dengan seragam door man itu. Seragam yang hebat, karena ia berupa
setelan jas hitam panjang sampai ke lutut dan rompi berlidah, jadi seperti
tukang sulap. Warnanya pun hebat: biru laut. Kutatap kaca, dan aku sumringah
di tengah kepungan bau pesing. Kan kubuat ayahku bangga sampai mau
meledak dadanya. Tak sabar rasanya ingin melihat reaksi wajahnya nanti.
Waktu aku kembali ke bawah cerobong asap lagi, gadis-gadis muda yang tadi
memejamkan mata menahan mual jadi terbelalak, melihatku mereka seperti
hendak muntah-muntah lagi.
Pengertian bahwa Kapal Lawit berangkat ke Kalimantan dan akan
mampir di Pulau Belitong, adalah harfiah. Sebab kapal itu amat besar hingga
diperlukan perairan pelabuhan yang dalam untuk merapat, sedang ia sampai di
Belitong dini hari saat laut surut, lagi pula Pantai Belitong terkenal dangkal.
Pilihan satu-satunya, kapal itu berhenti di tengah laut dan penumpang yang akan singgah di Belitong dijemput belasan perahu kecil nelayan.
Inilah yang kumaksud sebagai kelu yang sebenarnya, karena
penumpang diturunkan melalui tangga tali yang li- cin dan curam setinggi tiga
puluh meter dari kapal menuju ke perahu-perahu kecil yang menyambutnya
nun di bawah sana. Perahu-perahu itu terombang-ambing hebat karena angin
kencang dan gelombang besar sampai dua meter, bergemuruh menghajar
dinding kapal. Buih putih mem-buncah, terhambur pecah mengerikan. Tangga
tali bergoyang-goyang, sangat mencemaskan.
Satu per satu penumpang: laki-laki, perempuan, tua, muda, dan anakanak,
merambati anak-anak tangga tali sambil bergandengan dan menenteng
sandal. Mereka terpaksa menuruni tangga maut itu dalam kondisi tubuh
terlemah: pukul tiga pagi dan setelah semalaman mabuk di dalam kapal.
Penumpang wanita dan anak-anak menjerit-jerit ketakutan. Tak jarang tas,
kardus, dan sandalnya terjatuh lalu ditelan gelombang laut yang ganas, tak
mungkin bisa diselamatkan. Para petugas berteriak-teriak lewat megafon
menyuruh penumpang agar jangan menunduk melihat deburan ombak yang
menggila karena jika tak kuat mental tak kan bernyali melalui tangga tali itu.
Ada kalanya satu gelombang besar begitu dahsyat menampar dinding kapal
hingga seluruh penumpang yang berjuntai-juntai lemah di tangga tali basah
kuyub kena tampias air laut, dingin dan menggigil, sementara angin malam
Laut China Selatan mendesis-desis. Mencekam. Aku menggenggam tali sekuat
tenaga sambil menggeser-geser telapak kakiku pada setiap anak tangga yang
licin. Kedua sepatuku kukalungkan di leher. Bahu kanan menyandang tali koper
butut, bahu kiri digelayuti plastik-plastik
kresek. Kemegahan seragam door man menguap. Aku ciut melihat air
laut yang gelap menakutkan, bergulung-gulung dahsyat ingin menyambarku.
Jika terjatuh, pusaran arus bawah laut pasti akan menyusupkan tubuh ke bawah
lambung kapal. Pasti tewas. Aku gugup dan berkali-kali memejamkan mata
karena ngeri membayangkan jika terpeleset. Dalam keadaan kalut, bayangbayang
aneh bermunculan pada layar mataku selayaknya orang menjelang ajal.
Petugas menghardikku agar jangan memejamkan mata. Aku tersentak tapi
kembali terpejam karena takut dan bayang-bayang itu muncul lagi, bergantian
cepat: mayat terapung, orang memikul usungan jenazah, kain kafan, orangorang
menangis, seorang lelaki memukul-mukul dadanya sendiri—mungkin itu
ayahku—wajah adikku yang lugu itu, orang-orang tahlilan, Anke Molenaar,
wajah Ibu, batu nisan, Anke Molenaar lagi.
Akhirnya sampai juga aku ke perahu. Seorang nelayan menjulurkan
ujung tambang sebagai pegangan. Tambang ku melingkar-lingkar di atas perahu
kecil yang disesaki penumpang, setiap orang merengkuhnya dan tak seorang
pun bicara karena shock. Sesekali mereka melongok-longok, menghitung
anggota keluarga, takut ada yang tertinggal atau celaka.
Di tengah tambang pegangan kulihat Kalimut, lelaki dari suku Sawang
Amat pilu melihat pemuda kekar yang polos itu. Dulu ia kepala regu buruh
yuka di gudang beras Meskapai Timah. Ia kena PHK lalu merantau ke Jakarta.
Tasnya hanya satu, itulah tas yang ia bawa ke Jakarta dulu.Tas itu diapitnya
kuat-kuat. Sandalnya sudah tak tahu ke mana. Wajah legamnya makin kelam,
bibirnya bergetar. Jakarta pasti telah menghancurkan hatinya. Aku melungsurkan
minyak kayu putih pada Kalimut. Ia tak tersenyum, tak pula berterima
kasih, tapi menatapku dalam, seakan berusaha membenamkan wajahku dalam
ingatannya.
Di belakang Kalimut, tampak Asnawi bin Ba'i, mantan kuli timah
beserta istri dan tiga anaknya. Sejak timah gulung tikar, keluarga ini hijrah pula
ke Jakarta.' Asnawi bekerja serabutan di Kali Deres, mengumpulkan rupiah
demi rupiah agar dapat mudik ke Belitong dua tahun sekali naik kapal
bertangga maut itu. Anak bungsunya, Rahan, sepuluh tahun, pucat pasi
ketakutan. Ia memeluk erat pinggang ibunya. Di sebelah Keluarga Pak Long
Asnawi, beruntai-untai keluarga tetanggaku: Chung Fa, istrinya, dan empat
orang putrinya. Chung Fa membuka bengkel gulung sepul dinamo di Cileungsi,
pulang juga dua tahun sekali membawa sedikit uang untuk ibu-bapaknya di
Belitong. Keluarga Khek yang miskin ini terpojok di lantai palka. Putri
terkecilnya, Shiet Lu, seusia Rahan, pias mukanya. Tangan kanannya teguh
mencengkeram tambang, tangan kirinya gemetar memegang erat sandal
kelincinya yang tinggal sebelah. Pipinya basah, ia menangis ketakutan, tak
berbunyi.
Sungguh tak sampai hati aku memandang Rahan dan Shiet Lu. Kutatap
mata mereka dalam-dalam, tapi aneh, aku tak melihat mereka karena yang
kulihat adalah wajah bangsa ini, wajah-wajah para wakil rakyat dan pemimpin
negeri ini, wajah para koruptor yang tertawa-tawa di layar televisi. Ke manakah
orang-orang itu? Pagi ini pasti mereka tengah mengibas-ngibaskan koran pagi
sambil menyeruput teh hangat. Sayang mereka tak berada di sini untuk melihat
sebuah pertunjukan sirkus. Manusia turun tiga pmull meter melalui tangga tab"
titian serambut dibelah tujuh, di bawahnya menganga samudra ganas bergelora
seperti api neraka, dan anak-anak kecil menangis tak berbunyi. Jika mereka
berada di aras perahu ini, mereka akan menyaksikan Rahan dan Shiet Lu
menjelma menjadi gajah yang menari-nari di pelupuk mata mereka.

Mozaik 10
Gersang : Sedikit Sengau Tentu saja
PULAU Belitong cerah, pesisir Pelabuhan Pegantongan merekah, menyambut
perahu-perahu kecil nelayan yang membawa penumpang dari Kapal La wit.
Aku gembira melihat dermaga meski tahu tas-tasku akan ditarik-tarik lagi oleh
sopir bus reot yang berebut penumpang. Rahan dan Shiet Lu tertidur di
pangkuan ibunya masing-masing, lelah, setelah semalaman didera kejamnya
transportasi negeri ini. Kasihan, anak-anak sekecil itu.
Peristiwa tangga tali adalah puncak kelu yang terus menimpaku sejak
Anke Molenaar menuangkan kopinya yang terakhir ke dalam cangkirku, sejak
hari pertama kuinjakkan kaki di Tanah Air. Setelah ini, di Belitong, tentu
hidupku akan kembali berlinang madu. Perasaan sukacita meruap dalam
dadaku mengalahkan keluh kesah karena aku akan segera berjumpa dengan
Ayah. Tak dinyana, kelu yang paling ngilu, yang paling menusuk kalbu,
rupanya telah pula menungguku di dalam bus reot itu. Perahu merapat.
"Boi"
Ain, rindunya aku dengan panggilan khas untuk anak muda Melayu di
kampung kami itu. Beberapa tahun belakang ini selalu kudengar land lord-ka di
Paris sering memanggilku gargon, dibunyikan garsong. Sengau ujungnya
jangan lupa. Artinya, seperti Boi-lah kurang lebih.
"Naiklah bus Abang langsung ke kampung, pul musik!"
Masya Allah, suara siapakah yang memanggilku? Rasanya kukenal, aku
berbalik dan terperanjat.
"Bang Zaitun!"
Nah, Ingatkah dirimu, Kawan? Bukankah dia sobat lama kita. Bang
Zaitun, musisi kampung nan tenar, womanizer kelas wahid, guru cinta bagi
Arai, pimpinan orkes Melayu Pasar Ikan Belok Kiri, tak lain tak bukan!
Tanpa banyak cincong, Bang Zaitun membantuku mengangkat tas. Aku
terpana. Bagaimana pria flamboyan ini bisa menjadi seperti ini? Berakhir
sebagai sopir bus kampung?
Bang Zaitun membaca pikiranku. Sambil menunggu penumpang lain,
tanpa aku bertanya, ia langsung pidato. Sejak dulu, ramahnya tak luntur.
Ia berkisah bahwa orkesnya telah gulung tikar dan empat istrinya satu
per satu telah desersi padanya. Sebuah cerita yang memilukan.
"Beginilah permainan nasib, Boi," desahnya.
"Bukan main dangdut India
Biduan bergoyang, hatiku bimbang
Kemarin sore masih berjaya
Hari ini sehelai sepinggang"
Sehelai sepinggang, ungkapan orang Melayu untuk melarat, maksudnya
tinggal punya harta pakaian yang melekat di badan.
Bang Zaitun, orang Melayu tulen, meski hatinya remuk redam, masih
sempat-sempatnya ia melantun. Aku pun tercenung, rupanya segenggam cinta
yang setia tak kan habis untuk seorang kekasih sepanjang hidup, tapi segantang
cinta, tak kan pernah cukup dibagi-bagi. Namun, meski nelangsa....
"Hi... hi... hi Bang Zaitun tertawa renyah. Nah, Kawan tentu pula tak
lupa bahwa tawa Bang Zaitun tak ada hubungannya dengan suasana hatinya. Itu
adalah tawa spesialnya demi memamerkan dua bilah gigi palsu emas putih
kebanggaannya.
Bang Zaitun hilir mudik di depanku mengangkat tas-tas penumpang
lain. Aku memandanginya. Ia tak sedikit pun berubah. Dandanannya masih
norak seakan dirinya masih artis kampung. Hak sepatunya tinggi, celananya
ketat, kemejanya ungu terong berlengan panjang, juga ketat Kancing kemeja
dibuka sampai dekat pusar, dan kalungnya, ampun, tiga runtun bulir-bulir
sembarang kerang laut. Gelangnya kuningan. Jam tangannya Rado kodian,
palsu sepalsu-palsunya. Dibelinya jam itu di kaki lima depan kantor syah
bandar Tanjong Pandan. Jika penjualnya frustrasi karena tak laku, arloji-arloji
seperti punya Bang Zaitun itu pernah kulihat dijual per kilo. Jarum
penunjuknya berputar-putar sekehendaknya sendiri. Meski selalu memakai
arloji, jangan sekali-kali menanyakan waktu parja Bang Zaitun. Ia sendiri
sering bingung melihat ariojinya Namun, jambul Bang Zaitun tak lagi kalis
seperti dulu Langkahnya renta, wajahnya merana. Tak ada lagi yang dapat
dibanggakan dari dirinya kecuali dua bilah gigi palsunya itu. Bang Zaitun,
adalah bukti nyata akibat buruk poligami.

Mozaik 11
Denang Gembira Suka-suka
BUS Bang Zaitun adalah GMG6 besar serupa roti. Tempat duduk depan amat
panjang, jika didesak-desakkan bisa muat lima orang termasuk sopir. Kisahnya,
setelah melikuidasi alat-alat musik orkes Pasar Ikan Belok Kiri ditambah
dengan pinjam uang kiri-kanan, ikutlah Bang Zaitun dalam lelang mobil eks
Meskapai Timah yang telah tamat riwayatnya itu. Mobil itu dulu dipakai untuk
antar-jemput siswa-siswa sekolah Meskapai Timah.
Karena barang afkir, bus itu reotnya minta ampun. Kaca jendela
depannya tak ada dan kaca jendela satunya harus ditambat dengan tali rafia
agar berhenti gemeretak. Jika diibaratkan lampu depan mobil sebagai orang tua
dan lampu-lampu sein sebagai anak-anaknya. Maka anak-anak General Motori
Corporation, sebuah perusahaan otomotif Anwika itu telah yatim piatu sebab
kedua sangkar lampu utama sudah pecah dan tak tampak lagi bola lampunya.
Berarti mobil ini sama sekali tak bisa dipakai jika malam.
Wiper kaca depan tinggal sebatang kara dan yang tersisa satu-satunya
itu macet di tengah, tertegun, enggan ke mana-mana. Apabila ditarik ke bawah
agar tak menghalangi pandangan, wiper itu melawan dan kembali ke tempatnya
semula, semau-maunya sendiri.
Pintu, jangan dibilang, susah dibuka, tak bisa dikunci, dan jika ceroboh
membukanya, bisa-bisa menghantam jidat Lantai bus beriubang-lubang hingga
kelihatan jalan aspal Hidung bus pesek, dindingnya ringsek, buntutnya peyot,
dan bunyinya seperti mesin parut. Bangkunya sudah tak seragam. Sisa-sisa
bangku lama dilas sana sini karena patah, selebihnya adalah kursi-kursi plastik,
bangku panjang warung kopi, dan sofa murahan. Namun, gorden bus ku
istimewa. Satin mengilat berenda-renda. Pastilah gorden ku prakarya istri
keempat Bang Zaitun, perempuan bak buah mempelam mentah yang bergelora
itu. Seharusnya Bang Zaitun tak melepaskannya/ Dan aku melamun, lelaki
manakah yang beruntung sekarang?
Melihat sepintas saja, orang segera mafhum bahwa sang sopir pastilah
penggila musik, dan ia memakai musik untuk menarik penumpang Dua buah
speaker yang biasa dipakai untuk kampanye dipancang di belakang bus.
Meski bus itu serupa kaleng rombeng diberi roda, semangat Bang
Zaitun untuk membahagiakan penumpangnya berlimpah ruah. Ia menyebut
bagian depan bus, tempat duduk penumpang di bangku paling depan, sebagai
ruang tamu. Di badan bus, Bang Zaitun melukis nama busnya, melengkung
dekoratif di antara dua batang pohon kelapa: Dendang Gembira Suka-Suka.
Aku duduk di ruang tamu, paling pinggir dekat jendela, terjepit. Di
sampingku berjajar tiga pria penumpang lain, setelah itu Bang Zaitun sebagai
sopir. Di bawah, dekat tuas persneling tampak keranjang yang dirancang khusus
untuk menyimpan kaset dan di dalam wadah itu, astaga, bertumpuk-tumpuk
ratusan kaset.
"Masih ada lagi," ujar Bang Zaitun pamer sambil membuka dua laci
dashboard, dan di dalam laci itu, masya Allah, tersusun ratusan kaset lagi,
berdebu-debu.
"Yang di dalam ini agak jarang diputar, Pak Cik," jelasnya pada bapakbapak
di sampingnya.
"Hanya untuk tamu-tamu khusus saja."
Tamu? Aku mulai curiga.
Tanpa ditanya, Bang Zaitun bercerita kepada bapak-bapak itu yang
tampak jelas dari bersih wajahnya bahwa mereka bukan orang Belitong.
"Saya dulu pemimpin Orkes, Pak Cik, tapi sekarang orkes kami perai
dulu karena kalah sama organ tunggal. Organ tunggal hebat sekali, Pak Cik,
made in Jepang, tinggal pencet-pencet tombol saja, semua orkes ada di sana,
suara tamborin pun ada. Habislah nasib musik kampung."
Kasihan Bang Zaitun, ditinggalkan istri-istri, dikhianati teknologi
musik.
Seluruh penumpang sudah naik, penuh sesak. Bus Dendang Gembira
Suka-Suka meluncur meninggalkan Pelabuhan Pegantongan, bergerak ke
kampungku, seratus dua puluh kilometer menuju tepi paling timur Pulau
Belitong. Sering kupelaj ari peta buatan mana pun. Tak pernah kulihat nama
kampungku. Tak ada yang mau membicarakan kampung tak penting ku. Bus
berderak-derak melewati jalanan batu. Debu mengepul tapi musik belum juga
melantun.
"Bang, mana musiknya? Tadi Abang bilang pul musik."
Penumpang Bang Zaitun, yang sebagian besar ia kenal, menggodanya.
"Putar Heli guk guk guk, Bang, Ghicha Koeswoyo," request penumpang
dari bangku belakang.
"Hei, orang udik, apa kaupikir musik sembarang saja?! Maaf ya, mana
bisa kuli tambang macam kalian menghargai musik, apresiasi!. Begitu kata
orang Jakarta, pahamkah kau artinya ku? Apresiasi"
Tawa berderai-derai di dalam bus.
"Kalau begitu, Mainkan Boney M, Bang, Bahama Mama, musik
Amerika, disko-disko siku-hh, setuju, Kawan?"
“Aiiihh... Mustahaq Davidson-kah itu yang angkat bicara? Haq, jaga kahmahmu baik-baik, ya. Baru pulang dari Jakarta sudah kaupakai disko-disko.
Kauurus saja pelanduk peliharaanmu itu."
Mengapa namanya sampai antik begitu Mustahaq Davidson nanti
kukisahkan padamu, Kawan. Sementara dengarlah ku tawa berderai-derai di
dalam Bus Dendang Gembira Suka-Suka. Reda setelah Bang Zaitun
mengabarkan, "Harap maklum, Kawan, hari ini musik ku persembahkan hanya
untuk sahabatku di ruang tamu."
Kemudian, kembali tanpa ditanya, Bang Zaitun mengambil sebuah
kaset dari keranjang.
"Kaset ini kupesan khusus dari Palembang," tukasnya bangga.
Judul kaset itu Bambu Runcing. Rupanya Bang Zaitun sengaja
memesan kaset itu waktu ia dapat order mengantar rombongan pelancong
anggota Legiun Veteran yang ingin melihat pantai-pantai indah Belitong. Bang
Zaitun senang bukan main akan pilihan pas untuk tamunya.
"Para veteran bertepuk tangan dan berteriak merdeka\ Sepanjang jalan,"
kenangnya bangga. Lalu Bang Zaitun memperlihatkan sebuah kaset dari
penyanyi legendaris yang sering menyumpahi koruptor. Ia sengaja berlayar ke
Pulau Bangka, tujuh jam, demi membeli kaset itu di Pangkal Pinang. Minggu
depan Bang Zaitun akan mengantar rombongan pejabat dari Jakarta.
Begitulah Bang Zaitun. Musik, baginya, mulia, segala-galanya, seperti
darah dalam dirinya, barangkali lebih penting daripada istri-istrinya dulu.
Musik dalam pandangannya, lebih dari sekadar hiburan.
Mozaik 12
Seni Menikmati Seni
MAKA aku mafhum maksud Bang Zaitun waktu ia mulai ngobrol dengan pria
muda Tionghoa yang duduk persis di sampingnya. Ia pasti menggali informasi
untuk menaksir lagu yang representatif untuknya. Laki-laki itu berkaca mata
minus model segi empat kecil bergagang tipis warna perak, rambutnya pendek,
lurus rapi. Rautnya santun dan agak pendiam, bicaranya pelan, penuh sikap
hormat. Ini tipe gentleman yang selalu mendengar nasihat orang tua.
"Indra Gunawan, S.E., A.K.," begitu ia mengenalkan diri, baru lulus dari
jurusan akuntansi sebuah sekolah tinggi di Jakarta, lalu diterima bekerja sebagai
kepala pembukuan sebuah perkebunan kelapa sawit di Belitong.
"Mohon maaf, Pak Cik, apakah sudah pernah ke Belitong sebelum ini?"
Lelaki itu menggeleng sambil melongok-longokkan kepalanya keluar. Ia
takjub karena seumur hidupnya baru kak pertama melihat pantai berbatu granit
sebesar rumah. Ia terpana melihat dahan pohon melingkupi jalan raya hingga
jalan seperti gua. Wajahnya heran melihat rumah-rumah panggung berdinding
kulit kayu, padang ilalang seluas pandang, dan musang sesekali melintasi jalan.
Bang Zaitun mengangguk-angguk halus seperti berusaha memahami sesuatu,
lalu tersenyum penuh arti.
"Aku punya lagu untuk Pak Cik……”
Bang Zaitun mengambil sebuah kaset dalam keranjang,
memasukkannya ke dalam tape, pencet rewind dan fast forward sedikit, lalu
memencet play. Detik selanjurnya kami terperanjat karena dari tape itu
melantun lagu merdu yang sangat elite, Englishman in New YorkX Karya
Sting!
Sarjana Ekonomi Akuntansi itu tergelak hampir tak bisa menguasai
dirinya. Pasti ia amat jarang tergelak seperti itu. Englishman in New York,
pilihan ajaib di tengah hutan belantara ini Aku melirik kotak kaset itu, asli S
ting dari albumnya Nothing Like the Sun, 1987, sama sekali bukan cover
version atau hasil rekaman sendiri.
Mengingat sang akuntan amat asing di Belitong, bahkan mungkin ia
baru kali pertama menyeberangi laut, serupa Quentin Crisp yang digambarkan
Sting sebagai alien—orang asing-di New York—Bang Zaitun telah membuat
pilihan yang genius. Lebih dari itu, entakan stakato yang berjingkat-jingkat
sepanjang lagu itu seirama dengan pantulan bus di atas jalan aspal yang
berlubang-lubang, meniup-niup nuansa riang pada seluruh penumpang
Englishman in New York adalah lagu kelas satu dan liriknya filosofis.
A gentleman will walk but never run ...
It takes a man to suffer ignorance and smile
Be yourself no matter what they say ....
Indra Gunawan menggosok-gosok punggung musisi kampung itu
karena merasa amat dihargai. Lagu itu adalah representasi pas gengsi dirinya
sebagai gentleman modern dari Jakarta. Tentu berat bagi seorang muda
metropolitan untuk merintis hidup di pulau terpencil Belitong, tapi lagu itu
telah memberinya inspirasi. Bang Zaitun senang tak terkira karena tahu pilihan
lagunya telah berkenan di hati tamunya. Para penumpang di belakang bertepuk
tangan salut untuk Bang Zaitun. Bang Zaitun sampai menggeser-geser
duduknya karena salah tingkah.
Aku kagum pada Bang Zaitun sekaligus terharu. Aneh, dari seorang
lelaki yang setiap aspek hidupnya amat eksentrik, seorang musisi kampung
yang dilupakan zaman, yang orkesnya tergilas teknologi organ, hari ini kudapat
satu perspektif lain dari musik, sesuatu yang tak kudapat dari North Sea Jazz
Festival sekalipun. Bang Zaitun baru saja mengajariku sebuah pelajaran yang
amat berharga, yakni pelajaran seni menikmati seni.
Keikhlasan Bang Zaitun menghargai orang lewat sorot polos matanya,
senyumnya, dan gerak laku lugunya, membuat kami merasa urusan lagu ini
penting dan kami ingin merasakan sensasi seperti yang dirasakan lelaki
Tionghoa itu.
Lenguhan solo sax Branford Marsalis nan aduhai menghilang pelan
menyudahi Englishman in New York. Bang Zaitun memencet eject dengan air
muka yang memancarkan tiga kesan: pertama, bahwa jangan main-main
dengannya, ia tahu segala rupa musik Kedua, bangga, sebab telah dianggap
pintar oleh orang Jakarta. Ketiga, meski tak mendapat imbalan apa pun, ia
senang telah membuat orang lain senang. Ia gembira meninggikan orang lain.
Kualitas ketiga adalah yang paling kukagumi, karena aku tahu, agak jarang
orang Melayu bisa bersikap begitu.
********
Sekarang pria di samping laki-laki Tionghoa itu tegang, dan tampak
sedikit memohon persembahan lagu dari Bang Zaitun. Rupanya ia datang ke
Belitong dengan dada penuh letupan asmara. Ia adalah calon dokter sekaligus
calon mempelai. Seorang gadis Melayu, yang bekerja sebagai medical
representative telah menambat hatinya. Mereka berjumpa waktu mahasiswa
tingkat akhir itu magang di RSGM. Ia memperlihatkan foto belahan jiwanya:
montok, bulat, elok tak kurang dari Siti Nurhaliza, beruntung tak terkira!
Seperti umumnya calon dokter, pria kecil putih itu berwajah seperti
orangkebanyakan membaca buku. Kacamatanya lebih tebal daripada laki-laki
Tionghoa tadi, tapi sang calon dokter tampak lebih gelisah. Sebab Kawan, ilmu
kedokteran
selalu seperti tak selesai-selesai dipelajari. Maka tak jarang
dokter salah sangka penyakit orang. Belum jadi dokter, ia telah menanggung
beban tak terperikan itu.
Waktu ia memamerkan foto kekasihnya yang delaminating Bang Zaitun
berujar bahwa pria mungil itu amat perasa. Ia tak kan menyeberangi laut naik
Kapal Lawit, menyabung nyawa menuruni tangga tali, jika bukan seorang pria
yang romantis. Maka Bang Zaitun sudah tahu lagu yang pas untuknya. Tapi
masih perlu memastikan dulu.
"Pak Cik, apakah kunjungan ini sekadar perkenalan pada keluarga
ataukah sudah pada tahap melamar?"
Sebab Bang Zaitun punya koleksi lagu cinta yang lengkap. Bisa diputar
untuk keperluan mereka yang sedang merayu, sedang mabuk kepayang, sedang
merana, sedang benci setengah mati, sedang benci tapi rindu, sedang selingkuh,
sedang diselingkuhi, sedang dalam perjalanan menuju pengadilan agama untuk
menjatuhkan talak tiga, atau ingin rujuk, lengkap.
"Melamar, Bang," jawab calon dokter itu pasti sambil melirik
keluarganya di bangku belakang. Keluarganya, tampak bapak-ibunya,
neneknya, dan mungkin adik-adiknya, mengangguk-angguk riang.
"Baiklah, kalau begitu adanya ...."
Bang Zaitun segera menemukan satu kaset, memasukkannya ke dalam
tape, memencet play, dan mengalirlah dengan syahdu satu tembang berseni
tinggi dengan syair penuh harapan cinta dari Amerika: Always, Atlantic Star.
Girlyou are to me
All that a woman should be
And I dedicate my life to you always ....
Calon dokter serta-merta memejamkan mata, mendekap foto buluh
perindunya, bergoyang-goyang pelan mengikuti ayunan nada cinta.
Sekali lagi, persembahan Bang Zaitun sangat pas. Beban berat salah
diagnosis penyakit sekonyong-konyong menguap dari wajah calon dokter itu.
Lagu Always senyawa dengan suasana hatinya, sesuai dengan wajah halus
makmurnya, sepadan dengan profesi hebat dokternya. Lagu usai, calon dokter
menjulurkan tangannya, ia menyalami Bang Zaitun kuat-kuat Penumpang belakang bertepuk tangan riuh. Lebih riuh daripada lagu Sting tadi. Sebab
mereka turut merasakan kebahagiaan sang calon mempelai.
Tibalah giliran pria di sampingku.
Beliau paling senior di antara kami dan agak tambun. Dari wawancara
singkat Bang Zaitun terungkap bahwa Bapak ini pejabat yang baru pensiun dari
sebuah lembaga keuangan pemerintah. Kini keahliannya dipakai sebuah kantor
swasta untuk menilai aset secara independen sebelum aset itu dijual.
Maka ia adalah seorang penilai alias appraiser, begitu istilahnya. Waktu
Orde Baru berjaya, banyak pejabat tinggi membilas-bilas uang dengan
mengakuisisi aset di Belitong. Reformasi tiba, mereka terlindas, aset itu
terbengkalai, sebagian dijual lagi.
Bang Zaitun dengan tangkas mencerna situasi tamu penting pensiunan
ini. Ia meraih kaset dari salah satu seri evergreen. Dipencetnya eject, masukkan
kaset, pencet fast forward, dan play, dan meluncurlah sebuah lagu yang banyak
digemari para mantan petinggi terpelajar: My Way, Frank Sinatra.
Bapak yang tadi tampak lelah tiba-tiba langsung segar dan tersenyum
lebar. Pasti My Way mengingatkannya pada masa-masa manis dulu waktu ia
berkaraoke bersama para anggota dewan komisaris sebuah BUMN, di sebuah
hotel berbintang, tentu setelah sorenya memukul-mukul mesra bola golf.
Lagu legendaris itu hanyut diantar intro sebuah orkestra. Tiap suku kata
Sinatra seakan dipeluk-peluk oleh sang Bapak. Biola mengiring lembut, makin
berkelas kedengarannya, bahkan sang appraiser ikut bersenandung.
Seperti calon dokter tadi, sang appraiser sampai menggeser duduknya
untuk menyalami Bang Zaitun.
"Terima kasih banyak, Bang," ujarnya bersungguh-sungguh. Seluruh
penumpang bus bertepuk tengan, keras dan tak henti-henti, lebih keras daripada
tepuk tangan untuk persembahan Bang Zaitun kepada calon dokter tadi.
Sudah tiga kali Bang Zaitun menghidangkan lagu, semuanya pas
dengan kualitas tamu di ruang tamunya. Sekarang, giliranku.
Aku merasa amat beruntung telah bertemu dengan Bang Zaitun sebab
seribu kaca yang datar, yang cekung, yang cembung, dari samping, atas, atau
bawah tak pernah cukup untuk mengenali diri. Bukankah siapa pun selalu tak
yakin akan keadaan diri sendiri? Tak pernah ada gambaran utuh itu. Sebagian
karena fisika: yaitu terbatasnya informasi dari refleksi kaca dua dimensi.
Sebagian karena kecenderungan narsis memuji diri, dan sebagian lagi, bagian
terbesar, karena tak sanggup menerima kenyataan pahit bahwa kita ini tak
sebaik, tak setampan, sangka kita akan diri sendiri.
Orang seperti Bang Zaitun, yang tak ada sepercik pun pamrih dalam
dirinya, demikian ikhlas, tak bertendensi apa pun, dan mampu menilai orang
melalui lagu, adalah peluang terbaikku untuk mengenali diriku sendiri.
Sungguh aku penasaran, bagaimana sih pandangan orang sesungguhnya
tentangku?
Maka aku gugup waktu Bang Zaitun memencet eject, mengeluarkan My
Way yang anggun, dan siap mengisi tape dengan lagu yang akan mengungkap
terang benderang the absolute truth about me. siapa aku ini sebenar-benarnya.
Sungguh mendebarkan.
Namun aneh, tak seperti pada tiga sahabat baruku di ruang tamu itu,
Bang Zaitun tak sedikit pun menanyaiku. Tak ada wawancara pendahuluan
untuk menaksir lagu seperti apa yang representatif untukku, tak ada. Ia hanya
mengamati rambutku, wajahku, senyumku, dan langsung merasa pasti. Tapi tak
mengapa, bukankah ia telah mengenalku sejak aku kecil? Bang Zaitun
mengangguk-angguk takzim dan mulai mencari-cari kaset. Tapi kaset yang
dicarinya tidak dari keranjang di dekatnya seperti ketiga kaset sebelumnya,
melainkan di dalam laci dashboard yang sepertinya telah lama tidak ia buka.
Krasak-krosok Bang Zaitun mengaduk-aduk isi laci, tak ia temukan.
Aku tegang menunggu. Ia pasti sedang mencari album-album awal Genesis.
Kupikir, Phil Collins cukuplah me-wakiliku, atau Barry Manillow-lah paling
tidak, atau barangkali aku cukup pantas untuk George Michael. Intinya, aku tak
mau kalah gengsi dibanding ketiga pria keren di sampingku.
Akhirnya, setelah bersusah payah, dari buntut laci kedua yang berdebudebu,
Bang Zaitun menemukan apa yang dicarinya. Kaset itu sudah kumal. Ada
tulisan Ira Puspita Record di punggungnya. Bang Zaitun meniup-niup debunya
dan memukul-mukulkannya dengan keras di atas dashboard agar kaset lama itu
tak macet kalau diputar. Ia memasukkan kaset ke dalam tape dan memencet
play. Sejurus kemudian yang kurasakan adalah tubuhku makin terjepit ke
jendela karena Bapak tambun di sampingku menggigil-gigil tertawa, juga calon
dokter dan orang Tionghoa itu. Lalu mereka terbahak-bahak tak dapat menahan
diri. Puluhan penumpang di belakang bertepuk tangan, gegap gempita, bersuitsuit,
tepuk tangan mereka paling keras dibanding tiga persembahan Bang
Zaitun sebelumnya. Lagu yang dipersembahkan Bang Zaitun untukku itu
melolong-lolong nyaring Aku tak tahu siapa pengarang lagu itu dan siapa yang
memopulerkannya, tapi sering kudengar dilantunkan
dalam pengajian. Di antara gelak terbahak-bahak dari Sei bus kudengar
kerincing tamborin, gemendut gendang, J ruling bambu, dan lengkingan
kasidah dangdut Perdamaian, perdamaian...
Banyak yang cinta damai
Tapi perang semakin ramai
Banyak yang cinta damai
Tapi perang semakin ramai Bingung bingung ku memikirnya.
Mozaik 13
Lelaki Berwajah Dangdut
BUS Dendang Gembira Suka-Suka terbatuk-batuk mendaki Bukit Selumar.
Penumpang ruang tamunya memandang lurus ke depan, kaku, karena setiap
melihatku, mereka terkikik.
Aku sendiri, tersipu-sipu mengumpul-ngumpulkan percaya diri yang
remuk berserakan. Bang Zaitun memandangku prihatin, apa boleh buat, Boi,
itulah maknanya. Namun, aku menghargai jujurnya. Menyedihkan, rupanya
selama ini aku telah menilai diri terlalu tinggi, overvalued. Lelaki berwajah
dangdut, demikianlah kebenaran yang hakiki tentangku, tak lebih tak kurang.
Tak mengapa, aku kembali terhibur, sebab, sampai di puncak Bukit
Selumar bus menikung dan nun di bawah sana tersaji pemandangan
menakjubkan. Samar biru dikibar fatamorgana. Kampungku, tak terbilang
purnama aku telah meninggalkannya.
Bus turun perlahan. Awan gemawan mengapung rendah, seperti
singgasana yang rapuh. Kawanan angin mengejarku setelah menelisik daundaun
jarum cemara, bersiut-siut di atas jalanan yang didesaki ilalang, bersenda
gurau melintasi danau-danau bening laksana kemilau batu mulia the blue topaz.
Bus makin dekat melingkari kampung, lalu aku disambut barisan bakau,
seakan lengan-lengan peri yang ingin memelukku, berlapis-lapis di antara
pokok berang, berlomba tinggi di lika-liku jalan setapak yang tak pernah lagi
dilalui, yang kembali dikuasai gulma.
Dedaunan kecapi hijau rindang usai diguyur hujan Desember kemarin.
Di dalaninya gelap, di situ bersemayam arwah-arwah kaum lanun, mati
penasaran, menjadi hantu laut penunggu delta keramat. Di sela-sela akar pohon
teruntum, belibis-belibis genit berebutan tempat menyiangi rumpun purun,
untuk bercinta petang nanti dengan jantannya yang akan kembali dari palungpalung
Sungai Mirang.
Di dahan-dahan pohon berang itu, dulu kami bergelantungan, duduk
senyap, tersirap, tersihir suara sahabat kecilku Mahar yang berendam setinggi
bahu, melantunkan lagu Fatwa Pujangga. Nadanya melengking tinggi,
menyaingi merdu nyanyi kenari. Ia mendesahkan lagu jiwa nan bercahaya bak
galena, mengalir pelan berinia-rima, sayup-sayup sampai ke muara, ke
pelaminan anak-anak sungai purba, lalu pasrah dilebur samudra.
Lalu kami berperang dengan buah berang Menangkas pucuk-pucuk
mudanya, berteriak-teriak tarzan, sesum- Lelaki Berwajah Dangdut - 81 bar diri
anak Melayu paling perkasa, dan melompat dari lengan dahannya ke ermukaan Sungai Linggang. Bak sekeluarga lumba-lumba, kami beradu
berenang sampai ke ujung Semenanjung. Kawanku, tempat ini, bak miniatur
nirwana. Eksotika tropikana. Tanah Air kata para jelata, tanah tumpah darah
pekik para patriot, ibu pertiwi syair sajak pujangga, tanah akar ilalang bagiku.
Lihatlah aku, aku anak sungai, bumi, api, dan anginmu, pulang, pulang
untukmu.
Mozaik 14
Waktu Terperangkap dalam Stoples
BUS Bang Zaitun memasuki pasar kampung. Nyaris tak ada suara selain
tepukan sapu lidi orang-orang tua Khek di kas sabun untuk mengusir burung
dara yang rakus. Selebihnya adalah gerungan sesak napas Bus Dendang
Gembira Suka-Suka, kelelahan, tak sanggup lagi berguling lebih jauh. Bus
parkir untuk menurunkan penumpang.
Aku terpana melihat sekeliling. Tak ada siapa-siapa selain senyap.
Memang ada beberapa orang bersenda gurau di sudut sana, tapi rupanya mereka
hanya sekelompok pria dan wanita yang berdansa-dansi dalam spanduk reklame
rokok.
Lao Mi duduk malas dekat gerobak hok lo pan-nya. Ia menengokku
sebentar. Pasti ia masih ingat padaku, pasti la tak lupa dulu sering memarahiku
jika menerima bungkusan hok lo pan darinya dan melihat kukuku kotor. Tapi ia
yang congkak luar biasa itu, tak menyapaku. Gerobak hok lo pan sorenya
belum juga buka, tapi pelanggan telah rapi antre. Berani tak tertib, akan
disumpahi Lao Mi. Seperti dulu, masih seperti dulu.
Aku berdiri di depan sebuah toko kelontong yang telah diabaikan.
Kubuka kembali lembaran Collins Gem World Atlas. Halaman pertama, bumi
ditampilkan datar, dan seandainya kukembangkan payung raksasa dari pasar ini,
maka, puncak payung itu adalah Prancis, jari-jari payung pada sisi paling kanan
akan menggapai ujung barat Federasi Rusia di tapal batasnya dengan Mongolia.
Sisi terkirinya terbentang jauh ke Cote d'ivoire Ivory Coast alias Pantai Gading
di ujung paling timur Afrika. Itulah tempat-tempat yang telah kukelana. Sulit
dipercaya bahwa penjelajahan yang amat luas itu hanya demi cinta, cinta yang
menyengatku di toko kelontong Sinar Harapan, persis di depanku kini. Seperti
dulu, masih seperti dulu.
Kesepian tiba-tiba menusukku dari segala penjuru. Dadaku disesaki
sesuatu yang tak dapat kupahami. Kulihat sekeliling, tempat ini, pasar ini,
kampung ini, seperti stoples, waktu tersasar ke dalamnya dan terperangkap.
Tempayan-tempayan sedap malam di serambi toko, masih persis seperti
kutinggalkan dulu. Bangku-bangku pincang di bawah pohon kersen, juga masih
sama. Tanaman berbaju gynura masih saja tampak cemburu pada echeveria,
yang makin genit dirayu-rayu lebah madu. Kucing-kucing pasar masih
menguap malas di bibir jendela loteng, dan masih kudengarsuara A Ling
menyanyikan lagu sendu, berusaha memerdu-merdukan suara, seakan ingin
menenangkan riak-riak Sungai Linggang di bawah jendela rumahnya.
Nyanyinya pelan, kecil, dan sumbang. Kuingat lagunya itu: Rayuan Pulau
Kelapa. Tak satu hal pun berubah, tak juga perasaanku.
Aku segera sadar bahwa ke mana pun nasib telah membawaku,
semuanya bermula dari tempatku berdiri di depan Toko Sinar Harapan ini, dari
satu detik ketika A Ling tersenyum padaku di balik tirai keong-keong kecil di
ambang pintu itu. Air mataku menepi karena kehilangan nan tak
tertanggungkan. Senyum itu, satu detik keramat, saat cinta menyambarku untuk
kali pertama, dan kurasakan bahagia sampai rasanya malam hanya turun
untukku, sungai mengalir hanya demiku, dan purnama tak kan terbit kalau
bukan karenaku. Betapa dahsyat kejadian itu. Aku telah mengelana hampir
separuh dunia, demi cinta yang tak mungkin itu. Kini aku siuman di sini,
mendapati diriku tak lebih dari seorang anak kampung di sudut dunia yang tak
dipedulikan siapa pun, yang tak pernah tampak di peta mana pun. Tapi aku
tahu, cinta pertama itu masih akan membawaku ke tempat-tempat asing yang
tak pernah kubayangkan. Utara, selalu kurasakan A Ling memanggilku dari
utara, dan aku akan ke sana untuk mencarinya, karena meski berbelas-belas
tahun telah berlalu, aku masih melihat A Ling berdiri di ambang pintu toko itu,
tersenyum padaku.
Mozaik 15
Selamat Datang, Tonto!
SUDAH banyak kukenal orang. Baru kutemukan yang model Ketua Karmun:
saklek, humoris, tanpa tedeng aling-aling Hemat kata, Ketua Karmun adalah
pria yang dramatis. Tapi rakyatnya cinta setengah mati padanya. Karena di
balik sikap yang menjengkelkan itu, tulusnya tiada banding.
Tak seperti di Jawa barangkali, jadi kepala kampung di Melayu Dalam,
tak ada enak-enaknya, dan pasti lebih miskin daripada pemilik warung kopi.
Karena tak ada proyek bikin-bikin sumur, tak ada bantuan sapi, tak ada tanah
bengkok, dan tak ada kemungkinan punya istri banyak. Sebab tak ada tempat
untuk menyembunyikan gundik. Di kampung kami, Kawan, tiang bendera pun
bertelinga, karena sudah jadi tabiat orang Melayu untuk repot-repot mengurus
urusan orang lain, padahal urusannya sendiri kocar-kacir. Komunal, komunal
sekali.
Ketua Karmun, nama aslinya Karmun Azizi bin Sakti Syahran,
dipanggil Ketua Karmun sebab dia kepala kampung, berdiri tegak sebagai
martir, rela memanggul jabatan kemarau itu demi melayani orang Melayu,
Tionghoa, Sawang, dan orang-orang bersarung.
Dari simpang jalan, Ketua Karmun, yang jangkung, tampak olehku
lebih dulu. Dengan gaya terkengkeng ber-kacak pinggang ia bersandar di pagar
kayu saling-silang rumah ibuku. Aku gugup, tak berdusta rupanya surat Arai,
kepala kampung memang menyambutku. Apa urusannya? Toh biasa saja aku
ini. Sarjana di kampungku bukanlah hal yang terlalu istimewa dan sudah ada
sebelumnya. Pak Cik Makruf, Bc.J.E, tamatan akademi sipir di Bandung yang
khusus mempelajari ilmu pengetahuan untuk mengurusi penghuni bui, adalah
sarjana pertama kampung kami, dan kepala kampung tak menyambutnya waktu
ia pulang dulu.
Tapi aku tak ambil pusing soal penyambutan ini. Dalam pikiranku,
hanya ada ayahku. Aku mematut-matut seragam door man ku,
mengancingkannya, dan merapikan lipatan kerahnya.
*******
Aku tiba. Pertama-tama, kucium tangan Ibu. Meski tersenyum melepas
rindu, tampaknya beliau tak terlalu senang dengan penampilan baruku. Lelaki
berambut panjang, tak masuk dalam harinya.
"Bukan main, anak muda Melayu zaman sekarang, ya?" cetusnya.
Pandangannya penuh selidik, menakar-nakar, bagian mana dari akhlak anaknya yang telah dikorupsi Eropa.
Aku tahu, Ibu langsung ingin melayangkan kumplen. Namun, dengan
sukses serta-merta kualihkan pembicaraan dengan mengeluarkan oleh-oleh
istimewa untuknya: Al-Quran lengkap tiga puluh juz seukuran surat kabar. Iya,
Kawan, tak berlebihan, seukuran surat kabar. Lengkap dengan sebuah kaca
pembesar bertangkai. Aku tahu mata Ibu makin kurang awas saja beberapa
tahun terakhir ini sehingga susah membaca Al-Quran ukuran normal. Kitab suci
itu kubeli di kota kecil di Turki dekat Gunung Ararat. Di gunung inilah,
menurut temuan arkeologi terakhir, bahtera Nabi Nuh kandas. Ibu terbelalak
melihat Al-Quran raksasa itu.
"Bujang, coba kauteruskan cerita perahu yang kandas itu, soal kologikobgi
itu!"
Sukses bukan? Tak ada lagi lenguhnya soal rambutku yang seperti orang
edan. Kemudian kupahami bahwa rasa ingin tahuku yang obsesif, yang selalu
akhirnya menjebakku dalam situasi runyam, kuwarisi dari Ibu.
Dan, aih, lelaki kurus tinggi itu, di sebelah Ibu, tersenyum. Aku
terkesiap melihatnya. Daging tak simetris yang dulu bercokol di wajahnya
sebagai hidung, fungsional saja, hadir di tengah sana sebagai lubang napas, kini
terurai menjadi panjang senada wajahnya yang, tak tahu kena apa, sekarang j
adi'tirus mengesankan. Pangkal hidungnya berubah menjadi serupa lembah di
antara dua bola mata yang sorotnya secemeriang otaknya. Ia telah menjelma
menjadi pria muda yang tampan.
"Selamat datang, Tonto."
Ia memelukku, memelukku kuat sekali dan mengangkatku, seperti dulu
ia menjulangku di pundaknya, jika kami bermain mengejar kapuk yang
beterbangan di lapangan sekolah nasional. Kami berpelukan lama. Tak
tertahankan air mataku meleleh. Betapa aku merindukannya. Dia Kawan, dialah
Lone Ranger-ka, pahlawanku selalu: Arai.
Lalu ayahku, tersenyum-senyum kecil saja, tanpa kata, meski aku tahu
dadanya gemuruh melihatku. Aku juga memeluknya, kuat sekati. Teriepaslah
rindu itu.
*************
Ayah masih saja pendiam. Sering aku bertanya pada diri sendui mengapa
ayahku begitu pendiam? Apakah ia sedang menjalani semacam ujian? Adakah
sesuatu yang amat buruk pernah menimpanya? Ataukah ia sedang menebus satu
perasaan bersalah yang likat? Tak pernah kutemukan jawaban, misterius.
Aku ingat, selama kelas satu SMA dulu aku hanya mendapat tujuh
kalimat darinya. Kelas dua turun jadi lima, dan selama kelas tiga ada
peningkatan sedikit: delapan kalimat. Aku masih ingat setiap baris kalimatnya
itu.
Tapi yang Ayah ucapkan lewat ekspresinya, sebenarnya jauh lebih
artikulatif daripada suku-suku kata. Bertahun jadi anaknya aku telah terlatih
membaca wajah Ayah. Jika bibir rapat, alis bertemu, kedua telinga bergerakgerak,
itu berarti: jangan ribut saja Bujang, sana belajar. Jika kepala
menggeleng-geleng, berjalan hilir mudik tujuh langkah maju mundur,
maknanya: Bujang, kau nakal sekali, mau jadi apa kau itu? Kalau nakalku tak
bisa diredam, Ayah juga tetap diam, mendekatiku, lalu meniup ubun-ubunku
tiga kali.
Jika dahi Ayah mengernyit, alis sebelah kanan naik, wajah kaku, mulut
komat-kamit, maknanya: sudahkah kau mengaji? Dengan air muka yang sama,
tapi yang naik alis sebelah krri: sudahkah kau shalai? Kalau mulut Ayah sedikit
dimonyongkan, berjalan berputar kecil-kecil agak cepat, mata terpejam,
maksudnya: Bujang, jangan lupa kaututup pintu kandang bebek kita itu!
Jika wajah Ayah terang dan mata penuh bersinar: Ta\ Silakan, aku
setujui Sedang jika wajahnya datar, pandangan kosong, artinya: Tidak Bujang,
aku tidak setuju. Tapi tatapan kosong itu hampir tak pernah diperlihatkan Ayah
padaku. Karena apa pun yang kuminta, apa pun, sepanjang ia masih mampu, ia
tak kan mengatakan tidak. Kuingat dulu, waktu kecil, aku merengek ingin
mainan yoyo. Ayah berangkat naik sepeda malam hari, seratus kilometer ke
Tan-jong Pandan, hanya untuk membelikanku yoyo.
Tak dapat kutahan air mataku waktu memeluk Ayah. Ia kurindukan
sampai sesak dadaku. Dan sejurus kemudian aku girang tak kepalang. Sebab
sejak tiba tadi mulut Ayah beberapa kali terbuka bulat seperti ikan mas koki dan
bola matanya berlari-lari kian kemari. Sinyal itulah yang kutunggu-tunggu,
selalu kutunggu sepanjang hidupku, karena itu pertanda Ayah ingin mengatakan
sesuatu! Apa yang akan diucapkannya boleh jadi satu-satunya kalimat untukku
tahun ini.
Pasti Ayah ingin mengucapkan selamat padaku karena telah
menyelesaikan kuliah tepat waktu, atau menanyakan pengalamanku di Prancis.
Atau bertanya mengenai kehidupan orang Islam di Eropa, bagaimana
masjidnya, bagaimana orang muslim shalat Jumat di sana, siapa modin,
penghulu, muazin, atau punggawa masjidnya, atau soal teknologi di Eropa,
transportasi. Mungkin pula tentang teman-temanku, tentang salju, dan keju,
atau ingin melihat ijazahku dan betapa ia bangga. Namun, aku tahu Ayah taksampai berpikir kurang ajar, ingin agar para tamu penyambut cepat pulang saja,
karena aku tak sabar menunggu momen langka itu, saat ayahku bicara nanti.
Para tamu pun pulang Aku gugup mendekati Ayah, ingin kudengar
dengan jelas, dan akan kuingat baik-baik apa yang akan diucapkannya.
Bukankah aku pernah berjanji untuk menempatkan setiap katanya di atas
nampan pualam? Kalimat dari pria pendiam seperti orang gagu ini bak bulirbulir
mutiara bagiku. Ayah sumringah menatapku melangkah ke arahnya. Ia
tampak tak sabar menyampaikan apa yang telah ia siapkan sejak tadi, atau
mungkin selama tiga tahun aku merantau ke Eropa. Kata-kata seolah ingin
melompat dari mulutnya. Lalu aku berdiri tegak di depannya, tegang menunggu
kalimahnya, dan Ayah pun berbisik tegas.
"Bujang! Seragammukah itu? AUahu akbar, Mahabesar Allah! Luar
biasa, Bujang, hebat bukan buatan! Sampai berdebar-debar Ayah melmatnya."
Mozaik 16
Bulan Pecah, Malaikat Bertaburan
KETUA Karmun, sore itu datang ke rumah ibuku sama sekali bukan untuk
menyambutku, tapi ingin membicarakan sesuatu yang disebutnya sebagai:
sebuah kemajuan penting yang akan membebaskan kampung kami dari
zamanjahiliah.
Begitulah, Kawan, jika tidak dramatis tentu bukan Ketua Karmun
namanya. Ia, yang hanya beriajazah SMP, itu pun dari ujian persamaan Paket B,
sebenarnya tak pernah mendapat pendidikan formal tentang leadership.
Administrasi desa dikelolanya berdasarkan ilmu dari buku zaman lawas Tiga
Serampai Tata Usaha dan Pengendalian Kantor karya seorang guru SMEA di
Jawa Tengah, Hartono Muntasis, B.Sc., dan sedikit inspirasi dari buku-buku
Kho Ping Ho, terutama seri Kisah para Pendekar Pulau Es tiga puluh dua jilid.
Jika sedang bersemangat, Ketua Karmun suka berteriak: bintang kejora!
Jarinya menunjuk langit. Soal teriakan itu, Kawan, tak sepele sejarahnya.
Konon dulu, pada satu dini hari nan dingin dan kelam, Ketua Karmun
disuruh ibunya menimba air. Mendadak alam terang benderang, setiap benda di
muka bumi menjadi putih, berkilat menyilaukan. Karmun tertegun menatap
langit, miliaran meteor bintang sapu, kata orang Melayu melesat menuju Laut
China Selatan, melintas dahsyat di langit Pulau Belitong. Karmun kecil
terkesima.
"Subhanallah" kenangnya pada setiap orang.
"Itulah kejadian paling indah dalam hidupku. Bintang kejora meledak di
angkasa raya, bulan pecah berkeping-keping malaikat bertaburan."
Setiap menceritakannya, dada Ketua Karmun turun-naik, sering sampai
matanya berkaca-kaca.
"Kalau kalian melihatnya, kalian akan tahu betapa besar kuasa Allah,
kalian tak kan berani sekali pun meninggalkan shalat!"
Sejak itu, setiap menemukan hal yang membuatnya senang Ketua
Karmun berteriak bintang kejoral Untuk mengenang miliaran meteor itu, untuk
mengenang satu subuh yang megah saat Allah menghujaninya dengan hidayah.
*******
Menjelang aku pulang, rupanya sebulan sudah Ketua Karmun tak
nyaman tidur. Musababnya, selama lima belas tahun jadi kepala kampung
akhirnya ia berhasil mencetak prestasi paling gemilang, yaitu sukses membujuk
petinggi di Tanjong Pandan, setelah dibujuknya selama bertahun-tahun, agar memberi kampung kami seorang dokter.
Memang hebat prestasi itu. Karena puluhan tahun merdeka, untuk kali
pertamanya kampung kami akan punya dokter! Dokter! Bayangkan itu, seisi
kampung mendadak gembira. Kami seperti mendapat duren saat musim
mangga. Sejak Meskapai Timah gulung tikar, bertahun berselang, baru kali ini
kami mendengar kabar baik
"Dokter gigi Budi Ardiaz namanya! Kalau kalian ingin tahu!" kata
Minar.
Minar yang menor, hulu ledak gosip kampung kami itu. Ia girang
lantaran beritanya akan segera jadi topik hangat. Masterpiece bagi seorang
tukang gosip adalah breaking news. Desas-desus pun menyebar secepat kilat.
Bahkan, Ketua Karmun sendiri belum tahu nama dokter itu. Ia memang
pernah berkhotbah di muka karang taruna.
"Memang sudah saatnya kita punya dokter gigi, lihatlah, di mana-mana
orang sakit gigi. Gigi kita cepat keropos gara-gara phyrite dalam air minum
berkadar timah." Lagaknya seolah dirinya ahli.
"Persoalan gigi bukan perkara sederhana. Ini perkara serius, Boi!
Bagaimana kalian bisa bersaing dengan daerah lain pada masa pembangunan
ini kalau gigi-gigi kalian tonggos begitu!"
Apa kataku, saklek bukan?
Selama ini persoalan akut itu hanya ditangani oleh A Put, dukun gigi
Hokian itu.
"Ini zaman modern, Boi, tata cara perdukunan harus sudah
ditinggalkan! Yang paling kita perlukan adalah seorang dokter gigi!
Secepatnya! Bintang kejoral"
Ketua Karmun yang jangkung, makin melengkung karena kurus. Pening
kepalanya memikirkan kemaslahatan umat Keningnya menonjol dan matanya
cekung seakan diisap tengkoraknya. Hidungnya bengkok dan rambutnya kaku
acak-acakan. Giginya sendiri hitam runcing-runcing Karena potongan macam
itu, jika usai magrib aku melihatnya keluar dari Masjid Al-Hikmah, aku sering
teringat pada drakula. Tak jarang anjing-anjing warga Tionghoa melolong
panjang setiap melihat Ketua Karmun melintas dengan sepeda kumbang
reotnya.
******
"Aku tahu dari juru tulis kepala dinas di Tanjong Pandan."
Minar menjelaskan anatomi pergosipannya di pasar ikan.
"Kalau juru tulis itu bohong, berarti aku dusta pada kalian!" Ia
mengingatkan risiko jamak gosip pada orang-orang yang merubungnya.
"Siapa tadi namanya, Kak?" tanya Xian Lin penjual lobak asin.
"Pasang telinga lobakmu baik-baik, Iin, Dokter gigi Budi Ardiaz!
Amboi, Tak ada nama orang Melayu sehebat itu! Dapat kubayangkan laki-laki
itu dari namanya, paling tidak ia segagah W.D. Mochtar!"
"Memangnya kalau dokter selalu gagah, Kak?"
Satam, tukang minyak tanah, kumal, buta huruf, menyela seenaknya
sembari bertengger di atas jeriken. Minar sangat tak suka bicaranya dicela.
"Paling tidak dia bersih! Pandai membaca! Dan sering menggosok
gigi!" Tawa pun berderai-derai di pasar ikan.
Mozaik 17
Penyambutan nan Mengharukan
"IKAL, kau kuberi kehormatan menjadi ketua panitia penyambutan dokter
itu." Ketua Karmun lebih menunjukkan sikap memerintah daripada meminta.
"Kau baru pulang sekolah, ilmumu masih panas, jangan rendahkan
dirimu sendiri dengan menampik tugas mulia ini, mengerti!?"
Tak ada peluang berkelit.
"Tugasmu sederhana saja, buat penyambutan agar sejak hari pertama di
kampung kita, dokter itu langsung terkesan! Ia sudah mau datang ke pulau
terpencil ini saja kita sudah untung, jadi tak ada yang bisa kita lakukan selain
membuatnya kerasan, dan ingat, kesan pertama! Kesan pertama sangat penting,
Boi. Kalau sampai gagal, aku sendiri yang akan mencabuti gigimu!"
Aku tak berkutik.
Tanpa buang tempo aku dan Arai mulai bekerja. Kami membuat konsep
sambutan penuh kejutan. Kami melakukan semacam casting untuk memilih
siapa penari Serampang Dua Belas untuk-menyambut dokter gigi itu turun dari
mobil, siapa yang akan mengalungkan bunga, yang akan membaca deklamasi,
dan yang akan menjadi penyanyi dan musisi. Kami berkali-kali melakukan
gladi. Konon, hanya sekali kampung kami pernah melakukan penyambutan
semegah ini, yaitu waktu dulu menyambut wakil presiden, yang bertandang
untuk meresmikan motor lampu. Semuanya tampak sempurna.
Akhirnya, hari bersejarah itu datang. Sejak siang, seisi kampung sudah
tumplek di balai negeri. Balai negeri adalah gedung pertemuan kampung.
Tempat duduk yang disediakan panitia, penuh. Tak ada undangan yang tak
hadir. Mereka adalah para pejabat Pemda dan pemimpin berbagai instansi Hadir
pula para guru dan siswa dari semua sekolah. Para kepala dusun, perwakilan
pulau-pulau kecil, tokoh-tokoh masyarakat, seniman, pengusaha, dan para
dukun semua urusan: angin, api, hewan, laut, gunung, hutan, sawan, sungai,
gigi, hujan, tulang, petir, dan beranak. Meriah!
Masyarakat awam, yang tak kebagian tempat duduk, rjejal di serambi
balai, berderet-deret di luar pagar, dan panas-panas di halaman. Semuanya tak
sabar ingin lihat dokter gigi yang gagah dari Jakarta, dokter gigi dean kumis
baplang seganteng bintang film kawakan W.D. Mochtar. Di antara mereka,
tampak Minar dan gengnya. Bedaknya tebal seperti artis Kabuki. Ia sibuk
mengipas-ngipasi wajahnya.
Ketua Karmun, stand by, beserta istri dan empat anaknya di mulut
gerbang. Ini adalah hari besarnya. Ia siap menyongsong sang dokter. Putri
bungsunya sendiri yang akan mengalungkan bunga ke leher dokter ganteng itu
nanti. Ketua Karmun tak berhenti tersenyum sebab kedatangan dokter itu
merupakan puncak prestasinya.
Karena memperkirakan Dokter Budi Ardiaz adalah orang Jawa, maka
Ketua Karmun sekeluarga mengenakan batik, semuanya seragam. Orang
Melayu pakai batik, elok bukan kepalang. Ia selalu membanggakan batiknya
yang ia beli di Pangkal Pinang ketika mengikuti kursus pengelolaan penggali
kubur di kantor gubernur tempo hari.
Tiba juga saat yang sangat mendebarkan itu. Dari jauh tampak mobil
ambulans yang membawa sang dokter dari lapangan terbang perintis Tanjong
Pandan. Sirene meraung-raung karena membawa tamu penting. Aku memberi
aba-aba supaya para penari Serampang Dua Belas bersiap-siap. Arai
menyiapkan para musisi orkes Melayu. Rencananya, pijakan kaki pertama
dokter gagah itu di kampung kami akan disambut dengan satu mars yang
membahana. Putri bungsu Ketua Karmun sudah tak sabar dengan kalungan
bunganya. Beratus-ratus hadirin lekat menatap ambulans yang makin dekat.
Ambulans perlahan memasuki halaman balai negeri. Suasana sedikit
nervous, tampak rasa tegang tapi tegang yang menyenangkan pada setiap orang
Ambulans pun berhenti di lokasi yang terhormat yang memang telah disiapkan
sesuai protokol acara. Sekarang semua pandangan terhunjam pada kaca depan
ambulans yang gelap. Pintu mobil terbuka dan sekonyong-konyong,
mengejutkan, meloncatlah seorang gadis kecil nan lucu. Ia tersenyum lebar,
polos, dan sangat gembira. Rupanya dokter Budi Ardiaz membawa serta
putrinya. Kelas tiga SMP barangkali. Gadis kecil itu langsung mengingatkanku
pada O shin. Poninya seperti anak SD, rambut belakangnya kuncir dua diikat
pita merah muda. Ia menyandang ransel kecil kodok dari bahan wol, warnanya
pink. Bajunya kaus putih seputih kulitnya. Celananya katun hanya sampai lutut
Sepatunya kets, kaus kala semata kaki. Ia adalah gadis Tionghoa yang cantik
dan mungil.
"Selamat datang, Dik ...," sambut Ketua Karmun ramah.
Ia mengangguk, sopan sekali.
"Bapakmu masih di dalam mobil, ya ...?"
Kami mendekati ambulans. Tentulah Dokter Budi Ardiaz demikian
terharu melihat penyambutan besar-besaran sehingga ia tak sanggup keluar dari
mobil. Jangan-jangan ia sedang terisak karena merasa begitu dihargai. Atau
dokter yang gagah itu sangat pemalu menghadapi orang banyak maka kami
harus menjemputnya. Kami melongok ke dalam ambulans, tapi tak ada orang
selain Marsanip sopir. Belum hilang rasa heran kami, gadis mungil tadi mendekati kami dan mengulurkan tangannya menyalami Ketua Karmun.
"Saya Diaz ucapnya tegas, genggaman tangannya kuat, tangguh.
"Budi Ardiaz ...," sambungnya lagi.
"Dokter Gigi Budi Ardiaz Tanuwijaya."
*********
Aku memberi aba-aba kepada Arai yang bertindak selaku dirigen. Ia
menjentikkan tongkat kecilnya, para penyanyi koor mengambil tempat, dan
seluruh pengunjung serempak berdui. Sepuluh pemain biola mengantarkan
intro yang anggun, lalu lamat-lamat, lagu Indonesia Raya mengalir, syahdu tapi
bertenaga. Dokter Budi Ardiaz Tanuwijaya mengeluarkan jas dari tasnya dan
mengenakannya dengan bangga. Jas almamater biru itu berlambang trisula nan
keramat. Lalu, ia melangkah pelan tapi gagah. Dadaku bergemuruh dan aku
merinding menyaksikan perempuan muda itu berjalan diantarkan dua remaja
putri Melayu menuju podium diiringi bahana lagu Indonesia Raya dari seribu
siswa. Kini, dalam balutan jas almamater biru itu, kesan tentangnya sama sekali
berbeda. Ada sesuatu dalam dirinya, dalam caranya melangkah, dalam caranya
menatap, ada keberanian menantang, ada kekuatan dahsyat yang tak
terjelaskan. Ia menegakkan bahunya, wajahnya terharu tapi tegar.
Mozaik 18
Perempuan Itu Tak Menangis
SUDAH kuduga, Kawan, kau pasti ingin tahu kenapa dokter ini bisa menjadi
sangat istimewa. Ah, engkau memang selalu ingin tahu. Terpaksalah
kuceritakan kepadamu. Tapi, jangan tanya dari mana aku tahu karena kisah ini
sangat rahasia.
Lim Soe Nyam telah melihat naga dalam diri cucunya. Cucunya itu
putri bungsu dari anaknya, Hcndrawan Tanuwijaya.
"Tapi ia akan membuatmu bangga lebih dari harta dan anak-anakmu
yang lain," begitu pesan Lim waktu seluruh keluarga besar berkumpul karena
lim sedang di ujung tanduk nyawanya.
Tanuwijaya belum paham maksud papanya itu. Lim menarik satu napas
panjang yang tak pernah diembuskan lagi. Istri, anak, cucu, mantu, ipar, adik,
para sepupu, dan kongsi-kongsi bersimbah air mata meratapi Lim, kecuali putri
bungsu Tanuwijaya yang masih SD yang disebut-sebut kakeknya itu. Ia sedih,
tapi tak setitik pun air matanya luruh. Karena, ia adalah perempuan naga.
Lim dimakamkan, akhir kisah keluarga satu babak.
*******
Hendrawan Tanuwijaya kaya mendadak bukan karena ia seorang
politisi. Lagi pula ia tak suka politik.
"Susah jadi politisi," ujarnya selalu.
"Kalau kaya, disangka korupsi, kalau nyumbang, bangun-bangun
sekolah, disangka money laundry, cuci-cuci uang."
Ia kaya semata-mata karena ia pintar.
"Lebih baik punya kantor sendiri saja," katanya merendah. "Kecilkecilan,
dok apa-apa."
Sikap low profile itu dan bisnisnya yang bersifat state of the art,
canggih—tak mudah dipahami orang awam—menyebabkan ia tak terendus.
Tidak oleh masyarakat, televisi, tabloid gosip, aparat, tidak pula orang pajak,
bahwa Tanuwijaya sebenarnya salah seorang manusia terkaya di Indonesia.
Lagi pula bisnisnya berbasis di luar negeri. Tapi semuanya legal dan
Tanuwijaya terkenal jujur. Ia merencanakan usahanya sejak masih jadi
mahasiswa cemerlang di Fakultas Teknik Elektro sebuah universitas kondang di
Salemba, Jakarta.
Lulus kuliah, Tanuwijaya jadi trainee di AT&T (American Telephone
and Telegraph). Tanuwijaya yang pintar
dipercaya mentornya. Setelah mentornya itu pensiun dari AT&T, mereka
patungan menyewa transponder satelit. Awalnya mereka menggarap jaringan
data perbankan di Indonesia. Naluri bisnis Tanuwijaya, kecerdasannya,
digabung dengan pengalaman pakar telekomunikasi dari Amerika itu, dalam
waktu singkat membuat perusahaan mereka leading. Yang tak banyak orang
tahu, melalui dukungan koneksi yang kuat di Amerika, mereka mulai
menguasai jaringan data lembaga-lembaga keuangan internasional. Dari klien
mereka para penyedia jasa segala bentuk instrumen pembayaran yang
menggurita secara global, termasuk provider kartu-kartu kredit ternama
perusahaan Tanuwijaya meraup income dalam valuta asing. Jika dibayangkan
konversinya, mengingat nilai tukar uang republik ini yang makin lama makin
banci saja, Tanuwijaya jadi terkaya di Indonesia tak alang kepalang, tak ada
bandingnya.
Sekarang Tanuwijaya ongkang-ongkang. Bolak-balik ke New York
seperti orang Melayu ke jamban. Waktu lebih banyak ia habiskan di lapangan
golf atau tur mencicipi beragam rasa wine dari satu kebun anggur ke kebun
anggur lainnya di California.
mengurus holding yang meraksasa. Candra Tanuwijaya, putra kedua,
membangun perusahaan-perusahaan VSAT (Very Small Aperture Terminal).
Nature bisnisnya masih sama dengan papinya, berurusan dengan media
telekomunikasi paling mutakhir dan bisnis finance
tingkat tinggi. Sudah kubilang tadi, Kawan, ini persoalan canggih, tak
semua awam tahu. Usaha Eugene meraja lela sepanjang east coast Amerika dan
Eropa Timur. Eugene segera jadi Taipan dalam usia amat muda. Sementara
putra ketiga, William Tanuwijaya, masih sekolah bisnis di In-sead, Prancis. Jika
lulus, ia sudah digadang-gadang sang papi menjadi CEO salah satu perusahaan
paling prospektif dalam holding mereka.
Dalam semanggar kelapa, tak semuanya dapat menjadi cupat Itu
pepatah Melayu purba. Si bungsu, satu-satunya perempuan, membuat
Tanuwijaya gelisah sejak melihat raut dinginnya waktu kakek Lim meregang
nyawa dulu. Ada sesuatu yang tak terbayangkan—dan agak menakutkan—
dalam diri anak bungsu berlian keluarga itu.
Lulus SMA, si bungsu menolak diHrim ke Boston. Tadinya
direncanakan ia akan ikut program bridging untuk siap-siap mengincar Harvard
Business School. Kurang apa ia diimingi.
"Yang paling diperlukan sekarang," Tanuwijaya membujuk, "adalah
analis yang dapat menilai risiko-risiko bisnis Papi. Kamulah orangnya. Kamu
akan jadi direktur yang menangani soal itu. Kamu akan berkantor di San Fransisco,
akan jadi salah satu orang paling penting di holding."
Tapi, si bungsu tak secuil pun tertarik. Tanuwijaya tak habis pikir setan
apa yang merasuki putri kesayangannya itu.
Si bungsu ini, begitu terinspirasi pada petualangan, perlawanan, dan
pemberontakan-pemberontakan, amat paradoks dengan penampilannya yang
mungil dan lembut. Ia tak senang serba kecukupan. Ia terobsesi pada hidup
serbasusah penuh perjuangan untuk mandiri. Ia ingin membangun hidupnya
sendiri, tak mau dibantu siapa pun. Pahlawan bagi si bungsu adalah relawan
Medecins Sans Frontieres. Kamarnya ia tempeli gambar Nelson Mandela dan
Mahatma Gandhi.
Meski telah berkali-kali dipaksa ke Boston, si bungsu hanya mau
sekolah di Jakarta, di sebuah universitas, dengan satu alasan, universitas itu
melahirkan banyak orang hebat untuk negeri ini. Waktu memilih jurusan di
universitas, ia menolak jurusan-jurusan menjanjikan yang disarankan papinya,
yaitu International Business atau Financial Management. Sebaliknya, ia
memilih jurusan yang sama sekali berbeda dengan rencana besar keluarga,
bahkan jurusan ini mulai dianggap orang tak menarik untuk mencari uang
setelah lulus nanti. Cita-cita si bungsu memang unik dan membuat Tanuwijaya
bergidik. Namun, gadis kecil itu tak bisa dibelok-belokkan lagi maunya. Ia
bertekad mengabdi di daerah terpencil atau menjadi relawan red cross di garisgaris
depan perang. Sekarang Tanuwijaya mengerti maksud bapaknya, Lim,
bahwa dalam diri putri bungsunya, Dokter Budi Ardiaz Tanuwijaya, itu
memang tumbuh seekor naga.
Mozaik 19
Syzygium Fambos
SEPERTI pernah kubayangkan, meski berbeda bak itik dan merak dibanding
Paris, hidupku kembali berlinang madu di kampungku.
Aku sedang duduk di beranda siang itu waktu Ayah tersenyum padaku.
Senyumnya penuh arti. Gairahku meletup. Kucoba mengingat-ingat,
membongkar perbendaharaan berupa-rupa senyum Ayah.
Senyum ajakan mentandik-kah itu? Tapi ini masih April, masih kemarau
muda, masih jauh dari acara mentandik— ucapkan dengan ujung k yang tak
penuh, Kawan. Mentandik adalah acara seru bulan kering Agustus, yaitu
menjerat burung-burung berebak tempuruk—juga dengan "k" lemah—yang
kehausan hingga turun ke pinggir danau.
Ataukah senyum ngenjaring? Tak mungkin pula. Bulan sudah tua
begini, menjangan makin liar, susah dijaring. Pasti senyum ajakan menonton
muangjong! Tapi bukankah sudah lewat? Maret kemarin suku Sawang sudah
buang sial ke laut lewat ritual muangjong yang magis itu.
Senyum nulat juga pasti bukan, karena kulat—jamur tiong—sudah
busuk di ujung musim hujan. Senyum Ayah kian berbunga, dan teranglah
maknanya bagiku, itu tak lain senyum jambu mawar! Sejak kecil, Ayah selalu
mengajakku ke tempat-tempat istimewa. Setiap bulan sepanjang tahun, ada saja
rencananya. Kuingat semua, mulai dari menyarai madu Bulan Januari, berebut
jambu mawar dengan kawanan lutung pada bulan ApriL sampai menangguk
ikan mungil cempe-dik di puncak hujan bulan Desember. Semuanya asyik tak
terperi.
Ayah memompa ban sepeda Forever-nya. Aku bergegas mengambil
ambong7 dan galah. Ayah berdiri siaga, ingin memboncengku. Kuingatkan
bahwa aku sudah tak kecil lagi, aku sudah besar dan berat Wajahnya tegak,
menatap lurus. Itu artinya: Bujang, janganlah banyak komentarmu, aku sudah
tahu, naik saja. Nah, Kawan, ada jenis orangtua yang tak pernah menganggap
anaknya sudah besar, bagi mereka, anaknya tak lain si ingusan dulu yang suka
mengacau saja. Ayahku termasuk jenis itu.
*******
Jambu mawar alias Syzygiumjambos, tak paham aku mengapa dimasukkan
dalam familia jambu-jambuan myrtaceae. Barangkali karena bijinya serupa biji
jambu air saja. Maksudnya serupa adalah, jika tergigit, rasa panirnya sama,
lekat di punggung lidah selama dua belas menit. Atau karena bentuk daunnya
mirip daun jambu air.
Bagiku, jambu mawar adalah buah hutan biasa, seperti buah meranti,
atau buah tampui. Tabiatnya, tak ubah tabiat kenari dan delima, yaitu tak ada
orang yang pernah dengan sengaja membenamkan bijinya agar ia tumbuh.
Namun, tiba-tiba ia mencuat sendiri, dengan daun-daun kecil hijau yang sehat
berkilat-kilat, di ujung pagar, di pojok pekarangan, atau dekat-dekat sumur.
Lalu jika bahu-bahu dahannya mengembang, perlakuan man rumah padanya
mirip perlakuan pada kenari dan delima, yakni: tak seorang pun tega
menebangnya. Antara lain, karena pohon jambu mawar dengan murah hati
sering menjulurkan lengan rendahnya yang liat untuk digantungi ayunan.
Belum seberapa, jika nanti ia berbuah dan topi serupa mahkota ibu suri kerajaan
Britania Raya merekah di leher buahnya yang gendut itu, segeralah Syzygium
itu menjadi pohon kesayangan keluarga.
Malangnya, hampir seluruh hewan menggemari jambu mawar, bahkan
sejak bunganya bersemi. Burung kerucik—sepupu burung matahari—yang tak
tahu tata krama itu, sering sekali menggugurkan putiknya dan mengacak-acak
serabut bunganya. Tanpa merasa bersalah, burung mungil rakus bermoncong
tajam itu menikami
penampang bunga untuk mengecap manis nektar, sambil menjerit-jerit
histeris: krucik-krucik.
Yang selamat sampai putik, segera saja diijon oleh kumbang moncong
dan ulat-ulat buah. Hewan renik yang bergerak-gerak klemat-kkmut seperti
orang bergoyang dangdut itu, tak disangka tak dinyana siapa pun ternyata
berjiwa perampok sebab gerak-geriknya amat santun, pelan, lembut malu-malu.
Namun, kerusakan yang dibuatnya bukan main. Jika mulut imutnya yang suka
komat-kamit itu sudah menembus daging tipis jambu mawar, maka ia akan
menyeruduk tak berhenti sampai ke sisi balik buah-buah belia itu. Sungguh tak
berperasaan.
Lolos dari ulat buah, seumpama putik sempat membesar—tapi tetap
masih mentah—musang, tupai, tikus pohon, kelaras, dan hewan-hewan
pengerat kecil mengambil alih. Akhirnya, jika matang, jambu mawar akan
diperebutkan oleh makhluk-makhluk yang lebih besar: kera, lutung, dan
manusia.
Lutung, dengan bentakan teritorialnya yang menciutkan: cegoookcegoookl
Amat disiplin dan sistematis kerja timnya. Mereka memborong buah
ranum jambu mawar sebelum azan subuh. Jika mereka beraksi, hewan lain
menyingkir. Saat matahari naik, kawanan itu kabur Di hulu Sungai Sembuktk, dengan perut buncit, lu-tung-lutung itu
bergelantungan di dahan-dahan tinggi pohon perepat, berleha-leha
kekenyangan, mencari kutu, berebut istri, berasyik-masyuk, dan buang hajat
sesukanya. Biji bijian yg tak sempurna di cerna lambung mereka berasyikmasyuk,
dan buang hajat sesukanya.Biji bijian yg tak sempurna di cerna
lambung mereka berjatuhan ke tanah dan lambat-laun terciptalah kebun liar
jambu mawar sepanjang bantaran hulu. Ke sanalah Ayah mengajakku setiap
tahun, pada April, untuk memetik buah jambu mawar di kebun alam, dari putik
yang bersemi sejak Februari.
*******
Matahari masih terang ketika kami tiba, pukul tiga sore. Hutan jambu
mawar berbaris rapi mengikuti garis lengkung semenanjung. Ditiup angin
muara, seluruhnya condong ke utara. Buahnya bergelayutan, yang tua
berguguran, hanyut lamat-lamat di tepi sungai nan tenang Di sinilah dulu Ayah
mengajariku berenang, mengajariku membedakan bunyi gemeletar punggung
buaya mabuk cinta dan kecipak anak-anak ikan kemuring. Mendidikku
membedakan suara katak daun dan keciap ular manau, yang menyaru suara
katak untuk melahapnya. Sering aku dan Ayah menyelusupi celah-celah nifah,
menyelam di bawah gemeresik pelepahnya, saling menguji ketahanan tidak
bernapas. Aku memandang sekeliling dan sadar betapa aku merindukan
semuanya, merindukan saat-saat ajaib yang kulalui bersama Ayah di hutan,
delta, dan hulu-hulu sungai.
Tapi rupanya, kami terlambat. Kawanan besar lutung, dipimpin oleh
seekor pej antan alpha gemuk pendek, dan bermata seram, telah mengangkangi
dahan jambu mawar yang terlebat buahnya. Ia dikelilingi oleh lutung-lutung
lain—pasti betina-betinanya—yang mulutnya cerewet sekali menyuruh kami
menjauh. Aku ingin lari terbirit-birit ketika mendengar gembong para begundal
itu berteriak membahana: cegooook sembari memamerkan taring panjangnya.
Tapi Ayah bergeming, diam saja. Aku mengajak Ayah pergi untuk
menghindari serangan kawanan lutung yang marah. Kekuatan tak berimbang.
Lagi pula masih banyak pohon jambu mawar lain. Mengapa harus berebut
dengan primata ganas itu. Bukannya surut, Ayah malah maju. Aku lupa, ini
bukan lagi soal memetik jambu mawar, tapi soal seorang Ayah ingin menjadi
pahlawan di depan anak.
Gemetar aku melihat Ayah memanjat pohon jambu mawar yang telah
dikuasai kawanan itu. Selanjutnya, kulihat pemandangan yang menakutkan
sekaligus menggelikan ketika Ayah saling berebut dahan dengan kaum lutung.
Ayah sibuk mengisi ambong-nya dengan buah masak, pejan-tan alpha marahmarah.
Ia mengguncang-guncang dahan hingga Ayah beberapa kali hampir
jatuh, dan para betina lutung histeris, ngomel-ngomel melihat makan malam
mereka dirampok Ayah, sekaligus jengkel pada suami andalannya yang hanya
bisa menggertak-gertak saja.
Ambang terisi penuh, Ayah melompat turun. Ayah menghampiriku yang
masih gemetar. Beliau memilih buah jambu paling ranum, membersihkannya
dengan menggosokkan pada bajunya, dan memberikan padaku. Pejantan alpha
yang terluka harga dirinya ikut melompat ke tanah tapi hanya hilir mudik saja.
Betina-betinanya merepet-repet jengkel bersahut-sahutan. Jelas sekali mereka
kecewa pada suami poligamis yang tak becus itu.
Mozaik 20
Berahim Harap Tenang
USAI ritual jambu mawar itu, kami pulang dan berhenti di muka bioskop lama.
Ayah membelikanku tebu yang ditusuk tangkai-tangkai lidi, seperti selalu
dilakukannya dulu.
Aku terhenyak. Begitu banyak kenangan manis di bioskop ini.
Tak pudar kenanganku, dulu, waktu kelas lima SD, Ayah pernah berjanji
padaku.
"Bujang, minggu depan kita ke Manggar, nonton film." Demi Tuhan,
seminggu aku tak bisa tidur dibuat janji itu. Ini akan jadi pengalaman
pertamaku nonton film. Aku sering mendengar cerita orang tentang film dan
televisi. Namun, kedua benda itu tak pernah kulihat seumur hidupku.
Semua orang, mulai dari penjaga pintu air, Polsus Meskapai Timah,
kedi-kedi padang golf Meskapai Timah, sampai muazin Masjid Al-Hikrnah
kuberi tahu bahwa minggu depan aku akan diajak ayahku nonton film.
Minggu yang mendebarkan itu akhirnya tiba. Film baru akan diputar
pukul tiga sore, tapi aku telah siap dengan setelan menonton film mulai pukul
tujuh pagi.
Ayah memboncengkanku naik sepeda, tiga puluh kilometer ke Manggar.
Sampai di gedung bioskop, lagu pembukaan Garuda Pancasila karya
Sudharnoto bertalu-talu lewat speaker TOA. Tanda film segera main.
Aku gemetar. Begitu banyak manusia. Kulihat rombongan besar
keluarga suku Sawang dan anak-anak Tionghoa yang berbaju paling bagus
dibanding siapa pun. Orang-orang bersarung datang bersama anak-anaknya,
juga memakai baju-baju terbaik mereka, berwarna-warni, tapi tetap menutupi
kepalanya dengan sarung.
Yang paling banyak adalah keluarga Melayu. Semarak seperti Lebaran.
Suku ini memang penggemar pertunjukan, penikmat seni sejati. Ada seniman
bersembunyi dalam setiap diri orang Melayu. Semuanya gembira, lupa akan
nasib yang penat. Lalu seperti biasa, merekalah yang paling besar bicaranya.
Terutama Kamsir si Buta dari Gua Hantu yang ke mana-mana selalu menenteng
monyet persis pendekar Si Buta dari Gua Hantu.
Kuberi tahu, Kawan, bagaimana namanya bisa ajaib begitu. Karnsk,
bujang lapuk juru dempul perahu, tak pernah cukup jika belum menonton
film—yang sama—delapan kali. Dia terobsesi pada film, seperti sahabatku Jimbron
pada kuda.
Meski bioskop kosong, Kamsir pasti duduk paling depan. Suatu ketika
ia menonton film Si Buta dari Gua Hantu. Pulang dari bioskop dia jadi
senewen. Ibunya bingung melihat Kamsir tak mau makan, tak mau tidur,
gelisah, karena ingin berjumpa dengan Ratno Timoer pemeran pendekar buta
dari gua hantu, yang berjalan ke mana-mana dibimbing seekor monyet.
Stabilitas rumah tangga dua anak-be-ranak itu goyah gara-gara ulah Kamsir. Ia
menabung hasil mendempul dua belas perahu selama empat bulan, dan tak
seorang pun bisa mencegahnya berlayar ke Jakarta untuk menemui Ratno
Timoer. Kamsir dilanda sakit gila nomor sebelas: ingin jadi jagoan seperti
dalam film.
Sebulan kemudian Kamsir merapat kembali di Pelabuhan Olivir,
Belitong Timur. Penampilannya compang-camping seperti baru saja dikeroyok
sepuluh ekor gorila. Ia tak berhasil menjumpai Ratno Timoer karena alamat
yang ia tahu hanya Ratno Timoer tinggal di Jakarta. Dikiranya Jakarta luas
sedikit saja dari Tanjong Pandan. Sejak itu, ia menerima akibat kebiasaan buruk
orang Melayu yang gemar menjuluki orang, namanya yang indah Abdullah
Kamsir bin Azhari Rabani berubah jadi Kamsir si Buta dari Gua Hantu. Namun,
sakit gilanya berangsur sembuh sejak orang kampung menghadiahinya monyet,
dan orang-orang mengatakan itulah monyet pendekar gua hantu. Tak berjumpa
dengan Ratno Timoer tak mengapa, cukuplah berjumpa dengan monyetnya.
***********
Suara hiruk pikuk dalam bioskop sontak reda waktu lampu dimatikan.
Sejurus kemudian cahaya dan teks hitam putih menyambar-nyambar layar. Film
dimulai. Aku terpesona, tak mau duduk. Aku berdiri terkesima melihat layar
besar berwarna-warni, gambar-gambar bergerak cepat, suara musik dan orang
bicara bercampur-campur. Lalu, di layar muncullah para pemain film. Wajah
mereka tak seperti wajah orang Melayu, kulitnya bersih-bersih, bajunya bagusbagus,
dan bahasa Indonesianya lancar. Banyak kata yang tak kupahami.
Sungguh hebat film itu: Ira Maya Putri Cinderella, film terhebat yang
pernah kusaksikan seumur hidupku, yang memang baru sekali itu nonton film.
Sering aku bertanya pada Ayah arti beberapa kata berbahasa Indonesia,
misalnya waktu seorang lelaki muda berkata pada seorang gadis.
"Asmara... kubawakan bunga ini untukmu, cerminan rasa cintaku
padamu……."
“Ayah, apakah arti semua itu? Cerminan? Asmara? Apa maksudnya,
Ayah?"
Ayah yang juga baru kali pertama menonton film, ternganga mulutnya.
Beliau memandangku dan berpikir keras, tapi agaknya beliau tak begitu paham
arti kata cerminan.
"Tonton saja, Bujang, usahlah kaurisaukan, itu bahasa orang Jakarta!"
Sepertinya Ayah tak begitu tertarik dengan kisah film sebab dari tadi
kepalanya menoleh-noleh mengikuti sinar jingga, biru, merah, dan hijau seperti
pelangi yang ditembakkan proyektor ke layar, Ayah pasti heran bagaimana
orang-orangjakarta itu bisa berada di dalam layar. Baginya, teknologi bioskop
adalah sihir yang menggetarkan. Namun, aku cerewet sekali. Aku bertanya
setiap kudengar kata baru. Ayah mencabut potongan tebu segi empat kecil di
ujung lidi, memasukkan ke dalam mulutku, baru aku diam.
Aku masih berdiri sampai di layar tampak tulisan TAMAT. Lampu
dinyalakan lagi dan lagu Rayuan Pulau Kelapa berkumandang. Film yang
sangat mengesankan itu usai sudah. Berkali-kali aku menarik napas panjang.
***********
Penonton di bioskop itu pada umumnya hampir selalu terkesan akan
cerita, meskipun pernah terjadi pada pemutaran film sebelumnya, film yang
terdiri atas lima rol, dan jika berganti rol ada jeda sepuluh menit, telah salah
putar.
Berahim Harap Tenang, juru pancar film—ia dianugerahi julukan antik
itu sebab setiap ganti rol, ia memasang slide text HARAP TENANG di layar—
rupanya memutar rol kelima pada jeda ketiga. Maka ia tertukar, rol teiakhir
diputarnya jadi rol keempat. Ia keliru, akibatnya penjahat film itu yang tadinya
sudah mati jadi hidup lagi.
Selidik punya selidik, Berahim Harap Tenang rupanya sering
melakukan kesalahan yang sama. Desas-desus beredar, ia dicurigai sengaja
salah, terutama jika dalam rol kedua film jagoan atau penjahatnya mati. Ki
Chong, pemilik bioskop, tak dapat bertindak lantaran hanya Berahim satusatunya
umat Nabi Muhammad di Belitong Timur yang dapat mengoperasikan
proyektor film kuno yang banyak tuas, tombol, dan kabel-kabelnya itu. Maka
suka-suka Berahimlah. Ia meng-fait accompli Ki Chong dan menjadikan
dirinya sendiri sutradara dengan cara menukar-nukar rol film. Maka mati hidup
penjahat atau jagoan dalam film berada di tangannya. Berahim menderita sakit
gila nomor tiga puluh: merasa dirinya seperti Dewa Marduk pujaan kaum sesat
Babilonia, bisa menghidupkan orang mati.
Di luar bioskop, beberapa orang bersarung berdebat dengan orang
Tionghoa tentang penjahat yang mati lalu hidup lagi itu. Larengke marahmarah.
“Aku tonton pelem ini di Pangkal Pinang, penjahatnya itu dikasih mati
sama itu pendekar, mati! Tak pernah dia hidup lagi!"
Nyong Tet, keponakan Ki Chong, punya teori.
"Ke, dari dulu kudengar kabar, film-film di Pangkal Pinang memang tak
ada yang beres! Kalau mau cerita yang benar, di bioskop pamanku inilah."
"Mana mungkin! Pelem-nya. sama!"
"Mungkin saja! Semua bisa terjadi dalam pelem. Orang miskin bisa jadi
kaya, orang kaya jadi miskin! Laki-laki jadi perempuan, perempuan jadi setan,
bisa saja, Ke!"
"Tapi tak ada orang mati bisa hidup lagi!"
Pertengkaran memanas. Terpaksa mereka merubung Berahim Harap
Tenang Berahim sedang membuka gembok sepedanya waktu itu. Ia
memandang orang-orang yang bertengkar dengan takzim, dan menjawab secara
sangat filosofis, tanpa rasa bersalah.
"Tak usahlah kalian cemaskan. Jagoan atau penjahat yang mati dalam
pelem, semuanya masuk neraka!"
Lalu, ia ngeloyor. Di dalam diri Berahim, aku melihat bagaimana
seseorang nantinya akan berevolusi dari sakit saraf menjadi psikopat. Dari 44
macam sakit gila yang telah kudaftar, yang model Berahim ini adalah yang
paling berbahaya.
Maka tinggallah Kamsir Si Buta dari Gua Hantu yang bisa diharapkan
dapat memberi solusi bagi silang pendapat yang sengit itu. Tapi ketika ditanya,
Kamsir seperti orang bingung. Ia mengatakan bahwa ia belum begitu mengerti
jalan cerita film yang baru saja ditontonnya. Padahal Kawan, ia telah menonton
film itu lima kali. Ia bahkan sudah memesan karcis pada Ki Chong untuk
nonton lagi besok.
Kamsir tampak prihatin karena tidak bisa memenuhi harapan orangorangyangbertengkar
agar memberijawab-an tuntas. Ia berkali-kali menarik
napas panjang. Monyetnya pun tampak prihatin. Dari raut wajahnya tampak
betul Kamsir ingin membantu, tapi apa daya. Akhirnya Kamsir menjawab
dengan bijak, "Kawanku, mungkin nanti setelah kutonton barang tujuh atau
delapan kafi, baru aku bisa memberi sedikit penjelasan pada kalian, sabar, ya."
Sabar ya itu diucapkan Kamsir dengan khidmat sembari membekapkan
kedua tangannya di dada, seolah ia bersyukur tak terkira-kira akan kemurahan
Tuhan karena Tuhan telah menciptakan para pembuat film di muka bumi ini
sehingga ia bisa menonton, dan semoga ia diberi umur panjang agar dapat
menonton setiap film paling tidak dua belas kali.
Pulang nonton film Ira Maya Putri Cinderella, sepanjang perjalanan aku
masih terus bertanya ini-itu pada Ayah. Beliau diam saja. Aku terus bertanya
dan beliau tetap diam. Aku seperti bermonolog. Memang begitu komunikasiku
dengan Ayah, Sepihak saja. Maka jika dengan Ayah aku belajar bertanya dan
menjawab sendiri. Kadang kala aku mencip-takan semacam alter ego, manusia
bayangan yang menjawabiku.
Tapi jawaban dari Ayah sebenarnya tak penting bagiku. Caranya
menaikkanku ke sadel belakang sepeda, caranya mengikat kedua kakiku ke tuas
sepeda agar tak terjerat jari-jari ban, caranya mendengarkan dan tersenyum, dan
bau pandan baju safari empat sakunya adalah seribu jawaban bagiku. Ketika
aku bertanya mengapa di bioskop Ki Chong setiap film akan dimulai selalu
dimainkan lagu Garuda Pancasila, bukan lagu Begadang karya Kak Rhoma
Irama, Ayah menjawab, "Nanti, Bujang," katanya. "Kalau kau sudah tamat
SMA, Ayah ajak nonton film Rhoma Irama."
Aku berteriak-teriak girang, melonjak-lonjak, sampai limbung sepeda
Forever Ayah.
Dan di sinilah aku kini. Di depan bioskop Ki Chong ini. Kenangan akan
indahnya diajak Ayah nonton film Ira Maya Putri, Cinderella itu masih terasarasa
sampai aku dewasa kini. Aku tersenyum melihat poster terpal besar film.
Seorang pria berjenggot lebat dengan tatapan syahdu meradang, memegang
gitar seperti Rambo menenteng peluncur roket Jubahnya melayang-layang di
atas sederet tulisan judul film: Rhoma Irama Berkelana. Sungguh mendebarkan.
Kupeluk pundak Ayah. Beliau diam-diam telah memperhitungkan
semuanya. Kami singgah di sini tidak hanya untuk membeli tebu, tapi ayah
ingin memenuhi janjinya belasan tahun yang lalu. Janji yang diucapkannya
padaku waktu kami pulang menonton film Ira Maya Putri Cinderella dulu.
Bioskop Ki Chong, masih seperti dulu. Orang-orang bersarung, warga
Tionghoa, dan orang-orang Melayu berduyun-duyun. Kamsir Si Buta dari Gua
Hantu masih duduk di bangku paling depan. Ia sudah tua, tapi kecintaannya
pada film Indonesia tak luntur-luntur. Film Rhoma Irama Berkelana ini
kabarnya telah ditontonnya empat belas kali. Berahim Harap Tenang sudah
meninggal. Tugasnya sebagai pemutar film digantikan anaknya, namanya di
juluki orang Melayu persis nama ayahnya, dengan sedikit tambahan: Berahim
Harap Tenang Yunior.
Film usai, malam larut. Kami pulang melewati sabana terbuka. Purnama
penuh, bola api merah Jingga, bulat besar menyala seakan kami melintas tepi
dunia. Angin timur meliuk-liuk, sepeda sempoyongan. Ayah tetap teguh meski
letih, dan senyumnya mengembang. Ia senang karena telah memetikkanku buah
jambu mawar dan menebus janji lamanya mengajakku nonton film Rhoma
Irama.
Sepeda melewati hamparan seribu danau, dalam bias rembulan. Kulihat
wajah Ayah. Membelaku dengan konyol di depan kawanan lutung, berkeras
mengayuh sepeda meski kelelahan, tebu yang ditusuk tangkai-tangkai lidi itu,
dan janji yang disimpannya dengan teliti selama belasan tahun itu, itulah
melepas rindu baginya. Beginilah artiku baginya. Semuanya sangat sederhana
dan sangat diam, tapi indah, indah tak terperi. Rasanya aku tak mau turun dari
sepeda. Betapa beruntungnya aku, menjadi anak dari lelaki berhati emas ini.




0 Response to "Maryamah Karpov I"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified