Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Mahkota Cinta

Habiburrahman El-Shirazy

Satu






Mata pemuda itu memandang ke luar jendela. Lautanterhampar di depan mata. Ombak seolah menari-naririang. Sinar matahari emantul-mantul keperakan. Dari karcis yang ia pegang, ia tahu bahwa feri yang ia tumpangi bernama Lintas Samudera. Tujuan feri yang bertolak dari pelabuhan Batam itu adalah pelabuhan Johor Bahru.
Ia memejamkan mata seraya meneguhkan hatinya.
Ia meyakinkan dirinya harus kuat. Ya, sebagai lelaki ia harus kuat. Meskipun ia merasa kini tidak memiliki siapa- siapa lagi. Bagi seorang lelaki cukuplah keteguhan hati menjadi teman dan penenteram jiwa.
la kembali menegaskan niat, bahwa ia sedang melakukan pengembaraan untuk mengubah takdir.
Mengubah nasib. Seperti saran Pak Hasan, ia harus berani berhijrah dari satu takdir Allah ke takdir Allah lain yang lebih baik. Feri Lintas Samudera terus melaju ke depan.
Singapura semakin dekat di depan, dan Batam semakin jauh di belakang. Namun, Lintas Samudera tidak hendak menuju Singapura, tapi menuju pelabuhan Johor Bahru, Malaysia.
"Baru pertama ke Malaysia ya Dik?" tanya perempuan muda yang duduk di sampingnya. Perempuan itu memakai celana jin putih dan jaket ketat biru muda.
Rambutnya diikat kucir kuda. Ia menaksir usia perempuan itu sekitar tiga puluhan lebih.
"Iya Mbak. Mbak juga yang pertama?" jawabnya balik bertanya.
"Tidak. Saya sudah empat tahun di Malaysia."
"Berarti sejak tahun 2000 ya Mbak."
"Tidak. Sejak awal 2001."
"Kerja ya Mbak?"
"Iya Dik. Kalau adik, mau kerja? Atau mau sekolah?"
Ia berpikir sejenak. Ia tidak tahu pasti. Ke Malaysia mau bekerja atau mau sekolah. Sesungguhnya selama ini ia merantau dari satu daerah ke daerah lain, selain untuk bertahan hidup juga demi mencari takdir yang lebih baik.
"Kok malah bengong Dik."
"E... tidak, saya ke Malaysia mungkin untuk duaduanya. Ya untuk cari kerja dan untuk sekolah lagi."
"Baguslah. Sudah ada pandangan mau kerja di mana? Atau sudah ada agen yang mengurus semuanya."
"Belum sih Mbak. Nanti saya cari di sana saja. Mbak kerja di mana?"
"Saya kerja di sebuah kilang di kawasan Subang Jaya. Kalau adik mau, saya bisa bantu. Saya punya banyak teman yang bisa membantu. O ya kenalkan, nama saya Siti Martini. Biasa dipanggil Mar atau Mari."
Perempuan muda itu mengulurkan tangan kanannya.
Pemuda itu juga mengulurkan tangannya dan menjabat tangan perempuan muda itu.
"Terima kasih. Nama saya Ahmad Zul. Oleh temanteman saya selama ini saya biasa dipanggil Zul Einstein."
"Wah keren sekali. Memang namanya Zul Einstein?"
"Ya tidak Mbak. Saya diberi nama tambahan Einstein oleh teman-teman saya karena mereka melihat saya banyak melamun. Ya saya terima saja. Kalau tidak terima ya tetap akan dipanggil begitu. Jadi, panggil saja saya Zul Mbak."
"Ya baik. Saya panggil Dik Zul. Gitu ya," kata perempuan muda itu sambil melepaskan jabatan tangannya.
"Jadi Mbak kerja di kilang minyak ya Mbak?"
Perempuan muda itu malah tertawa kecil.
"Kamu memang masih asli Indonesia. Kilang itu artinya pabrik. Di Indonesia disebut pabrik. Sedangkan di Malaysia disebut kilang. Jadi bukan bermakna kilang minyak. Saya kerja di kilang kertas di kawasan Subang Jaya. Itu maknanya saya kerja di pabrik kertas."
"O, begituya."
"Rencananya nanti mau ke mana? Di Malaysia sudah ada tempat yang dituju?"
"Tempat yang dituju secara pasti tidak ada. Saya hanya membawa sebuah nama dan sebuah nomor telpon. Saya ingin sampai ke Kuala Lumpur dulu, baru setelah itu saya akan telpon orang itu."
"Ya syukurlah. Saya pun nanti lewat Kuala Lumpur.
Kalau mau kita bisa jalan bersama."
la diam saja. Tidak menjawab apa-apa.
Lintas Samudera terus melaju. Tidak terlalu cepat. Dan juga tidak terlalu lambat.
Setelah menempuh perjalanan selama dua jam, Lintas Samudera merapat di pelabuhan Johor Bahru.
Begitu pintu feri dibuka, para penumpang berebutan keluar. Zul keluar dengan membawa tas cangklong hitam dan tas jinjing besar biru tua. la mengiringi Mari yang berjalan di depannya. Perempuan itu menenteng tas cangklong putih dan koper kecil beroda warna hijau.
Mereka berjalan menuju gedung pelabuhan.
Petugas security pelabuhan sibuk memeriksa barang bawaan para penumpang. Tas dan koper Mari diperiksa. Setelah beberapa saat lamanya, Maridipersilakan langsung menuju imigrasi. Tas jinjing Zul juga diperiksa. Isinya hanyalah pakaian, beberapa makanan ringan, dan sebuah mushaf Al-Quran kecil pemberian Pak Hasan kala ia berpamitan, sebelum berangkat. Petugas security itu memerintahkannya
untuk terus jalan. Zul bergegas menuju imigrasi. Mari sedang serius mengisi formulir kedatangan untuk imigrasi.
"Harus diisi semua ya Mbak?" tanya Zul.
"Ya. Kecuali kolom yang khusus diisi petugas imigrasi," jawab Mari sambil tetap menulis. Sesekali ia mencocokkan apa yang ia tulis dengan paspornya.
"Ini kolom alamat selama di Malaysia juga harus diisi Mbak."
"Sebaiknya iya."
"Wah saya belum punya alamat Mbak."
"Pakai alamat saya juga tidak apa-apa."
"Di mana Mbak?"
"No. 8A, Jalan USJ 1/18, Taman Subang Permai,
Subang Jaya. Nanti kalau pihak imigrasi tanya untuk apa datang ke Malaysia, bilang saja untuk melancong dan mengunjungi saudara."
"Iya Mbak."
Keduanya lalu masuk konter imigrasi. Tak ada masalah berarti. Petugas imigrasi sama sekali tidak bertanya apapun kepada Mari. Sebab ia masih punya visa multientry. Sedangkan Zul hanya ditanya untuk apa datang ke Malaysia. Zul menjawab seperti yang disarankan oleh Mari. Begitu keluar dari gedung, puluhan sopir taksi menawarkan jasanya. Mari menjawab tegas bahwa ia sudah ada yang menjemput. Zul agak bingung
menentukan langkah. Beberapa sopir taksi menghampirinya.
Ia masih ragu harus ke mana. Ia menatap ke arah Mari yang melangkah dengan mantap. Mari menoleh ke arahnya dan melambaikan tangan agar ikut dengannya. Zul merasa tidak ada salahnya pergi ke Kuala Lumpur bersama Mari. Apalagi ia benar-benar asing di negeri Jiran ini.
"Kita tunggu bus di sini. Kita akan menuju ke Stesyen Larkin. Dari Larkin kita naik bus ke Purduraya KL." Jelas Mari.
Sepuluh menit kemudian bus datang. Mari, Zul dan puluhan penumpang berebutan naik. Bus itu mengantar mereka ke Stesyen Larkin. Dari Larkin Mari mengajak Zul ke loketbus Trans Nasional.
"Biar saya yang bayar Dik."
"Jangan begitu Mbak, saya jadi tidak enak."
"Anggap saja kita bersaudara. Jadi santai saja."
"Satu orangnya berapa Mbak?"
"Dua puluh empat ringgit. Kita pakai bus yang ada toiletnya. Biar nyaman di perjalanan. Yuk kita segera naik. Sepuluh menit lagi bus akan berangkat."
Mereka berdua naik bus Trans Nasional. Zul dan Mari duduk di kursi yang berdekatan. Selain wajah Indonesia, tampaklah wajah-wajah China, India dan Melayu menjadi penumpang bus cepat itu. Sopirnya berwajah Indonesia, dan tampaknya ia seorang Muslim, sebab sebelum menjalankan bus ia membaca basmalah. Bus berjalan keluar stesyen. Lalu melaju membelah kota Johor Bahru dengan kecepatan sedang. Setengah jam kemudian bus itu sudah meninggalkan Johor Bahru, dan mulai melaju dengan kecepatan tinggi. Bus itu membelah perkebunan kelapa sawit. Zul memandang ke kanan dan ke kiri yang tampak hanyalah rimbunan pohon kelapa sawit yang bagai berlarian ke belakang.
"Dari logat adik bicara, sepertinya adik orang Jawa."
Mari membuka pembicaraan sambil menaikkan resleting jaketnya sehingga benar-benar rapat sampai ke leher. Ia tampaknya agak kedinginan.
"Iya Mbak benar. Saya asli Demak Mbak. Kalau Mbak?"
"Saya juga Jawa Dik. Saya asli Sragen."
"Maaf, e... Mbak sudah berumah tangga?"
"Sudah."
"Sudah punya anak dong Mbak?"
"Belum. Bagaimana mau punya anak lha wong rumah tangga saya hanya berumur dua minggu."
"Cuma dua minggu?"
"Iya bisa dikatakan demikian."
"Suami Mbak meninggal?"
"Tidak. Saya minta cerai. Sejak itu saya trauma dan rasanya susah sekali untuk membina rumah tangga lagi."
"Maafkan saya Mbak, jadi mengingatkan pada halhal yang tidak Mbak sukai."
"Ah tidak apa-apa. Walau bagaimanapun kejadian itu telah menjadi bagian dalam sejarah hidup saya.
Memang menyakitkan jika diingat." Kata Mari sambil mengambil nafas dalam-dalam. Seperti ada yang menyesak dalam dadanya.
Zul diam saja. la merasa tidak saatnya ia bicara. la kuatir jika salah bicara justru akan memperburuk suasana.
"Mungkin ada baiknya juga ya saya cerita. Ya untuk sekadar melepas beban yang menyesak di dada. Dan daripada selama perjalan diam saja/' Mari kembali membuka percakapan. "Tidak apa-apa kan? Kau mau mendengarkan kan Dik?" lanjutnya sambil memandangi Zul. Zul jadi menoleh. Pandangan mereka bertemu.
Zul mengangguk pelan, lalu kembali memandang lurus ke depan. Mari mulai bercerita,
"Saat itu saya masih kuliah di UNS Solo. Saya berkenalan dengan orang yang kemudian jadi suami saya itu, ya saat kuliah itu. Sebut saja namanya W. Saya tidak mau mengingat nama lengkapnya. Saya sudah mengharamkan diri saya untuk menyebut namanya. Saya sangat membencinya hingga tujuh turunan.
"Baik saya lanjutkan ceritanya. Saat itu saya adalah gadis yang masih lugu. Sekaligus gadis desa yang mudah terpikat dengan gemerlap duniawi. Agaknya W mengerti benar karakter diri saya. Sehingga dia bisa begitu mudah masuk dalam kehidupan saya. Ia begitu lihai memikat dan menawan hati saya. Jika ke kampus dia selalu memakai mobil mengkilat. Orangtua W adalah saudagar kaya di Klewer dan Tanah Abang Jakarta. Dia sering datang ke kost saya. Dan sering menyenangkan hati saya dengan limpahan hadiahnya.
"Sampai akhirnya W mengatakan bahwa dia sangat mencintai saya. Dia ingin sekali menikahi saya. Saya seperti terbang di angkasa saat itu, karena sangat gembira. Saya benar-benar sudah tergila-gila padanya.
Ibu saya sebenarnya tidak setuju saya kawin dengan W, karena ibu saya ingin saya menikah dengan putra Pak Modin yang sedang kuliah di IAIN Walisongo Semarang.
Saya sama sekali tidak mempedulikan keberatan ibu saya itu. Itulah mungkin dosa besar saya pada ibu yang membuat saya menderita dan menanggung nestapa.
"Ringkas cerita, kami pun menikah. Kami menikah tahun 1998. Ia langsung memboyong saya ke Solo Baru. Ternyata ia sudah punya rumah cukup mewah di sana. Itu adalah hari yang sangat indah bagi saya. Seminggu setelah menikah, W pamit untuk pergi ke Jakarta. Dia bilang untuk urusan bisnis dengan temannya. Beberapa hari setelah itu kiamat seolah datang. Langit seperti runtuh menimpaku. W tertangkap polisi dalam keadaan over dosis dengan seorang pelacur Jakarta. Ia masuk bui.
Keluarganya tidak peduli.
"Kakak perempuannya bahkan terang-terangan mengatakan sangat membenci W. Dari kakak perempuannya itulah saya tahu bahwa W sesungguhnya lelaki yang sangat bejat. Bahkan lebih bejat daripada makhluk paling bejat sedunia sekalipun. Saya nyaris muntah ketika kakak perempuannya itu bercerita bahwa dirinya pernah diperkosa oleh W saat W sedang sakau.
Ia tidak berdaya karena W mengancam akan membunuhnya.
W itu tega memperkosa kakak kandungnya sendiri, apa tidak menjijikkan? Apa tidak melampaui batas? Seketika itu, tanpa bisa ditawar lagi saya langsung mengajukan gugatan cerai. Dan sejak itu saya benarbenar jijik dengan kaum lelaki dan saya bersumpah tidak akan menikah lagi!"
Ada nada amarah dalam kata-kata Mari. Ada kebencian yang luar biasa di sana. Zul merasa ngeri mendengarnya. Ia merasa bingung harus bersikap bagaimana. Bus terus melaju dengan kecepatan di atas seratus kilometer per jam. Mari diam tidak melanjutkan ceritanya. Pandangannya lurus ke depart. Jika diamati lebih seksama kedua mata itu sesungguhnya berkacakaca.
Sesaat lamanya keduanya dijaga oleh diam.
Akhirnya Zul memberanikan untuk membuka suara,
'Apa Mbak sampai sekarang masih jijik dengan kaum lelaki. Termasuk saya?"
Mari mengambil nafas dalam-dalam,
"Saat ini tidak lagi. Saya berusaha bersikap adil. Saya tidak boleh menimpakan dosa seorang W pada semua kaum lelaki. Tapi jujur saya perlu proses yang sangat panjang untuk bisa bersikap adil dan tidak jijik pada kaum lelaki. Dan disebabkan rasa jijik dan trauma pada lelaki saya pernah punya keinginan untuk hidup berumah tangga dengan kaum perempuan saja."
"Sampai seperti itu Mbak."
"Iya. Gila bukan? Tapi jangan takut. Saya katakan, saya pernah punya keinginan. Hanya pada taraf keinginan. Dan itu pun dulu. Sekarang sudah tidak lagi."
"Sejak kapan Mbak bisa kembali normal memandang dunia. Maaf, untuk mudahnya saya katakan kembali normal memandang dunia, termasuk kaum lelakinya. Sebab menurut saya sikap jijik dan trauma pada lelaki itu sikap tidak normal."
"Prosesnya sangat panjang. Sampai saya bertemu dengan seorang Ustadzah. Dia lulusan pesantren. Dia ikut suaminya yang sedang mengambil program doktor.
Ustadzah itu begitu sabar menyempatkan waktu untuk memberikan pencerahan kepada kami, para tenaga kerja wanita. Dan ia begitu sabar mendengarkan semua keluhan saya. Saya pernah diajak oleh Ustadzah itu tidur di rumahnya. Untuk melihat bagaimana keadaan rumah tangganya. Dan saya melihat sendiri betapa besar kasih sayang suami Ustadzah itu kepada keempat anaknya yang semuanya perempuan. Sejak itulah saya tahu bahwa ada juga lelaki baik di dunia ini."
"Bukankah Mbak memiliki seorang ayah?"
"Ya tentu saja punya. Namun ayah saya sudah tidak ada sejak saya berusia dua tahun. Jadi saya tidak ingat apa-apa tentang ayah. Dan ibu tidak menikah lagi. Kakak tertua saya lelaki. Tapi ia tidak begitu peduli pada saya."
Bus terus melaju. Sejauh mata memandang adalah rerimbunan kebun kelapa sawit yang tampak hijau tua.
"Bagaimana ceritanya Mbak bisa sampai ke Malaysia. Dan apa sebenarnya yang Mbak cari?"
"Kalau diceritakan semuanya panjang. Singkat saja ya. Setelah suami dipenjara dan saya tahu siapa dia sebenarnya, saya mengajukan gugatan cerai. Rumah di Solo Baru disita polisi karena ternyata suami punya piutang di beberapa bank yang cukup besar jumlahnya.
Saya tidak punya apa-apa. Ibu sudah renta. Saya anak ragil. Saudara-saudara saya sudah berkeluarga. Mereka juga hidup susah. Saya tidak berani meminta bantuan mereka.
"Saya nekat merantau ke Jakarta untuk mencari kerja. Kebetulan ada teman yang mengajak. Alhamdulillah sebelum menikah saya sudah selasai D.3 Akuntansi. Dan dengan berbekal ijazah D.3, saya diterima bekerja di sebuah supermarket di Jakarta Selatan.
Saya sudah cukup nyaman saat itu. Saya hidup damai kurang lebih dua tahun. Saya bahkan sempat nyambung kuliah, dan menyelesaikan S.l di sebuah Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi di Jakarta.
Tapi tiba-tiba entah bagaimana, mantan suami saya itu bisa tahu nomor telpon saya dan menelpon saya. Dia sudah keluar dari penjara dan meminta saya agar kembali kepadanya. Saya takut. Saya langsung pergi meninggalkan Jakarta hari itu juga. Saya bersembunyi ke Bandung. Di Bandung ada agen pengiriman tenaga kerja ke Malaysia. Saya ikut agen. Akhirnya saya mengadu nasib dan terbang ke malaysia. Sampai sekarang saudara-saudara saya tidak saya beritahu kalau saya di Malaysia. Terakhir saya nelpon mereka saat saya
masih di Bandung. Saya kuatir mantan suami saya itu akan mengejar saya."
"Kenapa mesti takut Mbak. Bukankah Mbak adalah perempuan yang merdeka. Dan Mbak akan dilindungi oleh hukum?"
'Ah kamu ini Dik. Apa selama ini kamu hanya hidup di dalam kamar dan tidur, sehingga membuka jendela pun tidak!? Dunia mantan suami saya adalah dunia mafia. Dan dunia mafia tidak mengenal hukum. Lebih baik saya di Malaysia dulu, baru kalau saya sudah mendengar si W itu telah mampus, saya akan balik ke Indonesia. Walau bagaimanapun saya punya saudara dan saya sangat rindu pada mereka. Saya pun ingin hidup berkeluarga dan tenang di hari tua. Saya tidak akan menyerah. Saya akan terus berusaha dan bertahan sampai Tuhan memutuskan takdir finalnya untuk saya.
Semenderita dan sesengsaranya saya, saya masih percaya bahwa Tuhan itu ada. Tuhan itu adil dan Dia juga Maha Penyayang. Saya masih percaya itu Dik."
Zul hanya diam mendengarnya. Ternyata tidak hanya dia yang menghadapi perjalanan hidup yang rumit dan sulit. Perempuan muda yang duduk di sampingnya bisa jadi sebenarnya menjalani hidup yang lebih rumit yang tidak sampai untuk dikisahkan kepada siapa pun.
"Kalau adik, bagaimana? Bagaimana bisa sampai harus ke negeri Jiran ini? Adakah cerita yang bisa dibagi dan didengar?" Mari balik bertanya. la merasa selama ini dia yang banyak bercerita. la ingin gantian mendengarkan cerita dari Zul.
"Perjalanan saya bisa sampai di dalam bus ini tak kalah berlikunya dari apa yang Mbak ceritakan. Hanya saja saya merasa tidak harus sekarang saya menceritakannya.
Saya janji saya akan gantian membagi cerita saya pada Mbak. Saya yakin kita masih bisa bertemu di negeri Jiran ini. Itu pun kalau Mbak benarbenar masih sudi menemui saya."
"Masak tidak sudi. Memang saya ini siapa?"
"Kuatir, Mbak masih menyisakan rasa jijik itu."
"Ah, kamu ini. Ya saya akan merasa jijik sama kamu jika kelakuan kamu ternyata tidak berbeda dengan si W, mantan suami saya itu."
"Mbak kok seolah yakin benar kalau kelakuan saya berbeda dengan mantan suami Mbak. Kenapa Mbak tidak waspada? Kenapa Mbak justru malah mengajak saya jalan bersama?"
Mari tersenyum, lalu menjawab, "Dengar ya Dik. Orang yang sudah pernah terluka seperti saya ini bisa membaca bahasa tubuh orang
brengsek seperti mantan suami saya dan yang sejenisnya.
Dari cara lelaki memandang dan menatap saja saya sudah tahu dia itu sebenarnya serigala atau tidak. Saya tahu mana mata yang jelalatan dan yang tidak jelalatan. Saya bisa meraba watak seseorang dari gerak dan binar matanya. Tidak hanya mata kaum lelaki. Bahkan mata kaum perempuan pun saya bisa membedakan mana mata pelacur dan bukan pelacur. Mana mata perempuan baik-baik dan perempuan tidak baik!"
"Jadi Mbak yakin saya ini orang baik?" sahutnya sambil melihat ke luar jendela.
"Sejauh ini saya yakin. Tidak tahu satu dua jam ke depan. Bisa jadi kepercayaan saya padamu berubah."
Jawab Mari tegas. Zul merasakan ketegasan itu. Kalimat dan intonasi perempuan itu seolah juga memberitahukan kepadanya agar ia jangan mencoba bersikap meremehkannya.
Dari ketegasan itu, Zul mengerti bahwa perempuan muda di sampingnya adalah perempuan yang memiliki karakter kuat. Dan tidak mau diremehkan.
Entah kenapa ia ingin memandang perempuan di sampingnya itu dengan lebih dalam. Keinginan itu tidak dapat dilawannya. Ia pun memalingkan wajahnya
perlahan dan memandang ke arah wajah Mari. Mari ternyata sedang memandang ke arahnya. Mata keduanya bertemu sesaat. Ada getaran halus masuk ke dalam hati Zul. Wajah Mari tampak kurus, tapi ada aura ketulusan yang memancar darinya. Dan ada pesona yang
mampu membuat hati Zul merasakan getaran halus yang masuk begitu saja.
"Apakah ada kilatan binar serigala dalam mataku Mbak?"
Mari tersenyum, dan menjawab,
"Jujur saja Dik ya hampir di semua mata lelaki ada binar liar serigala ketika melihat perempuan. Untuk itulah menurut saya kenapa kaum lelaki diminta oleh Tuhan untuk menjaga pandangan."
Mendengar jawaban Mari, Zul diam dan tidak berkata apa-apa. Ia mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Ia memandang rerimbunan pohon kelapa sawit yang seperti berlomba-lomba lari ke belakang. Dalam hati Zul membenarkan perkataan Mari. Sebab saat ia memandang wajah dan mata Mari dengan seksama, ia menemukan sihir yang mampu mengubah dirinya menjadi serigala. Tiba-tiba ia merasa menemukan kalimat untuk menjawab perkataan Mari,
"Dan hampir semua wajah dan mata perempuan itu memiliki sihir yang mampu mengubah lelaki jadi serigala.
Maka sebaiknya memang keduanya saling menjaga.
Agar tetap menjadi manusia yang mulia dan tidak berubah menjadi manusia serigala."
Mari tersenyum mendengarnya.

* * *


Menjelang Maghrib bus Trans Nasional memasuki kota Kuala Lumpur. Zul menikmati pemandangan senja di Kuala Lumpur dengan seksama. Jalan tol yang lebar dan melingkar. Gedung-gedung tinggi. Hutan kota yang masih terjaga. la harus mengakui, Kuala Lumpur jauh lebih rapi dari Jakarta. la mencari-cari gedung yang menjadi simbol Kuala Lumpur. la melongok-longok, mencari-cari Menara Kembar. la tidak melihatnya.
"Menara Kembarnya mana ya Mbak, kok tidak kelihatan?" tanyanya pada Mari.






















Dua






"Kamu jangan memandang ke arah situ. Pandanglah ke arah sana. Di sela gedung menjulang itu. Itulah Menara Kembar," jawab Mari sambil menunjuk ke arah Menara Kembar.
"Wah iya. Saya penasaran ingin lihat dari dekat."
"Jangan tergesa-gesa. Nanti kau akan punya waktu yang cukup untuk melihatnya. Kau bahkan bisa makan di sana. Kau juga bisa refreshing di sana. Di bawah menara itu ada tamannya yang rapi dan indah. Namanya taman KLCC. Taman itu terbuka untuk umum dan
gratis."
Zul langsung membayangkan nyamannya berjalanjalan di bawah Menara Kembar dan nyantai di taman KLCC. Tiba-tiba ia teringat Najibah. Gadis satu desa dengannya yang pernah menjadi tambatan hatinya.
Najibah pernah minta padanya untuk rekreasi ke Taman Kiai Langgeng. Dan ia berjanji pada gadis itu akan mengajaknya ke Taman Kiai Langgeng suatu kali.
Namun sampai saat ini ia tidak bisa memenuhi janji itu.
Dan tidak mungkin rasanya memenuhi janjinya itu.
Sebab, gadis yang punya lesung pipi indah itu, kini telah menikah dengan orang lain. Ah, seandainya ia kaya, tentulah ia bisa menikahi gadis itu dan mengajaknya jalan-jalan ke Taman Kiai Langgeng. Bahkan mengajaknya ke Kuala Lumpur dan berjalan-jalan di taman KLCC itu.
Karena kemiskinannyalah, akhirnya Najibah memutuskan menikah dengan orang lain setelah tiga kali.
Itu pun setelah Najibah memintanya untuk segera menikahinya dan ia merasa tidak mampu. Ia minta ditangguhkan beberapa tahun lagi. Ia tidak bisa memberi jawaban pasti. Dan Najibah merasa tidak bisa bergantung pada ketidakpastian.
"Maaf, Mas Zul, bukan saya tidak cinta sama Mas. Orang tua saya minta saya segera menikah. Tahun ini. Jika Mas mau ya tahun ini. Jika tidak ya anggap saja kita tidak berjodoh. Ini demi kebaikan saya dan Mas."
Itulah kata-kata Najibah yang masih ia ingat terus. Katakata yang tidak mungkin ia lupakan, karena saat itu ia tidak berdaya apa-apa sebagai seorang lelaki. Ia sama sekali tidak bisa memenuhi harapan orang yang dicintainya. Jangankan biaya untuk menikah, biaya untuk makan sehari-hari saja ia sering tidak punya. Ia benar-benar merasakan betapa susah jadi orang tidak punya. Sampai untuk menikahi orang yang dicintai saja tidak bisa. Ia benar-benar sedih dan menderita jika mengingatnya.
Sesungguhnya Najibah itu bukanlah gadis yang materialistis, ia tidak minta apa-apa, selain akad nikah. Namun akad nikah itu ada biayanya. Dan itu yang ia tidak punya saat itu. Ia benar-benar tidak punya. Ia merasa dirinya adalah orang paling miskin papa sedunia.
Ah, ia berusaha melupakan peristiwa itu. Namun belum juga bisa. Bahkan sampai ia sudah di Kuala Lumpur pun peristiwa itu masih saja teringat olehnya. Ia yang mengalami peristiwa yang tak setragis Mari saja masih dibayangi oleh peristiwa itu, apalagi Mari. Wajar jika perempuan muda itu sampai mengalami trauma. "Heh, melamun apa! Kita sudah sampai di Purduraya! Ayo siap-siap turun!" Zul kaget dan tersadar dari lamunannya.
"Kita sudah sampai Mbak?"
"Iya. Ayo turun. Itu orang-orang sudah pada turun."
Mereka berdua lalu turun dari bus. Lalu naik ke lantai dua. Tempat dimana para penumpang berkumpul menunggu bus. Tempat dimana penumpang datang dan pergi. Di lantai dualah puluhan waning penjual oleh-oleh dan makanan dibuka. Juga di lantai dualah puluhan agen
bus membuka konter.
"Mbak ini sudah Maghrib ya?" tanya Zul.
"Iya sudah. Gini saja. Kita shalat dulu gantian. Tempat shalat dan tandas ada di lantai tiga. Kita naik ke sana."
"Tandas itu apa Mbak."
"Toilet. Kalau bahasa orang Demak kakus."
"Wah kok nadanya agak menghina orang Demak thoMbak."
"Kamu ini lelaki kok sentimentil begitu. Ayo kita naik!"
Mereka berdua lalu naik ke lantai tiga. Mereka ke tandas dahulu, baru ke surau. Mereka shalat bergantian.
Selesai shalat Zul bingung. la baru sadar kalau ia tidak memiliki tujuan yang jelas. Mari hanyalah teman bertemu di perjalanan.
"Inilah Kuala Lumpur Dik Zul. Ya selamat datang di Kuala Lumpur. Semoga nasibmu berubah di sini. Berubah jadi baik. Tidak sebaliknya. O ya, jadi kau mau menginap di mana?"
"Wah jujur saja Mbak. Saya tidak tahu harus menginap di mana."
"Katanya kau mengantongi sebuah nama dan nomor telpon itu bagaimana?"
"Ya, saya coba telpon dulu Mbak."
"Pakai hp saya saja Dik, tak usah pakai telpon umum. Tuh telpon umum antrenya kayak gitu," Mari mengulurkan hand phone-nya..
Zul menerima hand phone itu dengan tangan kanannya. Sementara tangan kirinya merogoh saku celananya.
Ia mengeluarkan sobekan kertas. Lalu memanggil nomor yang tertulis di kertas itu. Beberapa saat ia menunggu tidak ada jawaban. Lalu ia ulangi lagi. Empat kali ia memanggil dan tidak ada yang mengangkat.
"Bagaimana Dik?"
"Tidak ada yang mengangkat Mbak."
"Mungkin sedang shalat. Kalau gitu ayo kita cari makan dulu. Saya lapar. Setelah makan ditelpon lagi."
"Boleh."
Mari berjalan di depan. Ia sangat hafal seluk beluk Terminal Purduraya. Dan bisa dipastikan bahwa pekerja Indonesia yang bekerja di sekitar Kuala Lumpur sangat akrab dengan terminal bus paling padat di Kuala Lumpur ini. Mari memilih makan di Kak Long Cafe. Sebuah cafe milik seorang Muslimah keturunan China.
"Bisa jadi kita nanti akan sulit bertemu. Bahkan mungkin akan tidak bertemu. Namun siapa tahu adik perlu bertemu dengan saya suatu hari nanti. Atau perlu bantuan saya. Saya akan kasih nomor telpon saya. Bisa ditulis?" kata Mari selesai makan.
"Bisa Mbak. Terima kasih ya atas segalanya. Berapa Mbak nomornya?" jawab Zul.
"0176767676. Bacanya mudah 01 terus tujuh enam empatkali."
"Wah mudah diingat Mbak."
"Coba orang yang kautuju itu dikontak lagi."
Zul langsung menelpon nomor yang ia telpon sebelumnya. Beberapa kali ia telpon tapi tidak juga berhasil.
"Tetap tidak ada yang mengangkat Mbak."
"Mmm...." gumam Mari sambil mengerutkan keningnya.
"Saya coba lagi Mbak."
Zul kembali melakukan panggilan. Tidak juga berhasil.
"Bagaimana, tidak berhasil juga?" tanyaMari.
"Iya."
"Kau di sini asing. Kalau tidak ada teman kasihan. Kalau kau mau kau bisa ikut saya menginap di tempat saya."
"Menginap di tempat Mbak?"
"Iya. Jangan berpikir yang tidak-tidak. Di tempat saya ada tiga kamar. Kau bisa menginap di salah satu kamarnya. Paling tidak untuk sekadar melepas lelah. Besok kau bisa mencari orang yang kautuju itu. Itu kalau kau mau."
Zul terdiam sesaat. Ia memang tidak kenal siapasiapa di Kuala Lumpur ini. Nama yang ada dalam sobekan kertasnya pun sebenarnya tidak kenal. Nama itu adalah nama kenalan Pak Hasan. Katanya ia adik kelas Pak Hasan sewaktu kuliah di Jogja yang sekarang bekerja di Kuala Lumpur. Dan jujur ia memang perlu istirahat. Perjalanan dari Batam sampai Kuala Lumpur cukup membuatnya lelah. Apalagi dua hari sebelum berangkat ia kerja lembur di sebuah bengkel.
"Bagaimana Dik? Kalau kau mau ayo kita berangkat. Mumpung belum terlalu malam. Atau kau mau tidur di bangku itu, ya tidak apa-apa. Tapi jangan kaget kalau nanti ada operasi polisi dan kau dianggap gelandangan. O ya bisa juga kau menginap di hotel Purduraya ini. Tinggal kau jalan ke atas. Tapi ongkosnya ya lumayan."
Mari menjelaskan beberapa pilihan untuk Zul.
Zul masih belum mantap menentukan salah satu pilihan. Hati kecilnya ingin menginap di hotel. Tapi uang yang ia miliki benar-benar pas-pasan. Ia sebisa mungkin harus menghemat.
"Sudahlah Dik ayo ikut saya saja. Besok kau bisa pergi ke mana kau suka. Ayo!" Kata Mari dengan tegas seraya bergegas ke luar terminal. Ketegasan kata-kata Mari membuat Zul seolah menemukan pilihan terbaik.
Ia pun mengikuti langkah Mari. Mereka keluar menyeberangi jalan raya. Mari berjalan dengan cepat meskipun ia harus menyeret tas kopornya. Zul berusaha mengimbangi di sampingnya.
"Kita mampir di supermarket sebentar. Lalu kita ke Terminal Pasar Seni cari bus Rapid KL yang ke Subang."
"Iya Mbak. O iya Mbak ini hand phone-nya nanti lupa."
"Ayo cepat.dikit."
Mereka berjalan menyusuri trotoar. Mari masuk sebuah supermarket dan belanja makanan, sikat gigi, odol, dan sabun mandi cair. Zul menunggu di depan supermarket. Tak lama kemudian mereka kembali berjalan. Sepuluh menit kemudian mereka sudah sampai di Pasar Seni. Mari langsung naik Rapid KL jurusan Subang. Zul ikut di belakangnya. Setelah membayar karcis mereka duduk. Bus berjalan perlahan.
"Jangan kaget, nanti kau akan tinggal di tengahtengah tenaga kerja wanita. Artinya penghuni rumah itu semuanya wanita. Saya salah satu di antaranya. Rumah saya dihuni enam orang. Ada tiga kamar. Satu kamar berdua. Kebetulan ada dua orang yang sedang pulang
ke Indonesia. Jadi saat ini dihuni empat orang. Kau nanti bisa tidur di kamar saya saja. Kebetulan di kamar saya ada kamar mandinya. Jadi kau tidak akan mengganggu teman-teman saya yang lain."
Mari menjelaskan kondisi rumahnya. Zul mendengarkan dengan seksama. la merasa sudah terlalu banyak berhutang budi pada perempuan muda yang baru dikenalnya itu.
"Mbak baik sekali. Entah bagaimana saya harus membalas budi Mbak. Saya malu pada Mbak."
"Jangan berpikir begitu. Kita ini sebagai manusia sudah semestinya saling tolong menolong. Iya tho. Manusia tidak bisa hidup sendirian. Iya tho Dik. Apalagi kita sama-sama orang Jawa, dan sama-sama orang Indonesia dan sama-sama orang Islam. Sudah jadi kewajibanku
membantu adik. Ya anggap saja aku ini kakakmu."
"Iya Mbak. Terima kasih Mbak."
Rapid KL membelah kota Kuala Lumpur. Karena kelelahan Zul tertidur. Cukup pulas. Mari mengamati dengan seksama, anak muda yang duduk di sampingnya itu. Wajah polos khas Jawa. Wajah yang tampak begitu muda. Ada guratan derita di sana. Namun ada juga gurat
keberanian dan kenekatan. Mari memperkirakan umur pemuda ini lima tahun lebih muda darinya. la telah masuk dua puluh tujuh. la perkirakan Zul tak lebih dari dua puluh dua.
Setelah satu jam berjalan akhirnya mereka sampai di Subang. Mari membangunkan Zul. Zul bangun dengan tergagap,
"Sudah sampai tho Mbak?"
"Sudah Dik."
Mari turun diikuti Zul.
"Kita perlu jalan kira-kira dua ratus meter baru tiba di rumah. Tak apa ya?"
"Tidak apa Mbak."
Mereka berjalan memasuki kawasan Taman Subang Permai. Selama dalam perjalanan Mari bercerita tentang teman-temannya.
"Rumah saya rumah teras. Rumah teras artinya ya rumah biasa seperti rumah-rumah di Indonesia yang ada terasnya. Bukan rumah apartemen. Saya menyewa bersama teman-teman dari orang China. Rumah itu ada tiga kamar. Kamar paling depan ditempati oleh Linda dan Sumiyati. Linda asli Sukabumi, ia lahir di Amsterdam. Linda ini belum bersuami dan cantik. Kau hati-hati jangan sampai ada apa-apa dengan dia ya. Jangan membuat masalah di negeri orang. Awas ya, kau harus jaga iman kalau berhadapan dengannya! Terus teman sekamarnya adalah Sumiyati, asli Blitar. Sumiyati juga sudah bersuami. Kamar tengah saya yang menempati. Saya sekamar dengan Iin. Kami memanggilnya Iin. Nama aslinya Mutmainah. la asli Pati. Iin sudah bersuami dan punya dua anak di Pati. Kamar yang paling belakang saat ini kosong. Yang tinggal di situ adalah Reni dan Watik. Keduanya sedang pulang kampung. Mereka berasal dari satu kampung di Kendal Jawa Tengah.
Sebetulnya kau bisa tidur di kamar Reni dan Watik yang kosong. Tapi di kamar itu tidak ada kamar mandinya. Lebih baik nanti kau tidur di kamar saya saja. Biar saya dan Iin yang tidur di kamar Reni."
"Iya Mbak."
"O ya jangan kaget ya. Jika nanti mereka itu banyak bicara. Mereka itu perempuan-perempuan yang paling suka ngobrol dan banyak cerita. Jika kau tidak ingin ngobrol kau nanti langsung saja tidur."
"Iya Mbak."
Lima belas menit berjalan akhirnya mereka sampai di sebuah rumah, yang tak jauh berbeda dengan perumahan di Indonesia. Hanya pintunya dirangkapi dengan pintu besi. Mari langsung membuka pintu. Dan begitu ia masuk ia langsung disambut histeris temantemannya.
"Oi, Mbak Mar pulang!" teriak seorang perempuan muda yang hanya mengenakan celana pendek dan kaos oblong.
"Hei kau bawa teman ya Mar?" tanya perempuan berdaster panjang.
"Iya. Ini, anggap saja adik saya. Namanya Zul. Dia mungkin numpang cuma semalam saja/' jelas Mari.
"Adik apa adik?" ledek perempuan bercelana pendek.
Mari hanya tersenyum kecut.
"Kenalkan saya Zul, dari Demak."
"Saya Sumiyati, dari Blitar." Sahut perempuan bercelana pendek.
"Aku Iin. Soko Pati Mas."1 Perempuan berdaster memperkenalkan diri denganbahasa Jawa. "Yo anggep
wae, iki ning ngomahe dewe. Anggep wae ning ngomahe keluargane dewe."2
"Inggih matur nuwun Mbak."3 Jawab Zul.
"Si Linda mana?" tanya Mari.
"Seperti biasa Mbak ke KL. Seperempat jam yang lalu ia dijemput sama si Chong Tong," jelas Sumiyati.
"Tak ada kapoknya anak itu!" sahut Mari dengan nada tidak suka.
"Yo mugo-mugo4 Gusti Allah membukakan jalan baginya untuk taubat," lirih Iin.
"Amin!"tukas Mari.
"E... Mas Zul kok berdiri di situ saja. Silakan duduk Mas. Monggo5 Mas." Sumiyati mempersilakan Zul untuk duduk di kursi.
"Ya Mbak terima kasih." Jawab Zul seraya duduk.
Sumiyati lalu bergegas ke dapur membuat minuman.
Sementara Mari dan Iin masuk ke kamar mereka. Mari meminta Iin membantu merapikan kamar dan tempat tidur. Dan menjelaskan sebaiknya Zul tidur di kamar yang ada kamar mandi di dalamnya. Iin sepakat. Dengan cepat mereka merapikan dan menyimpan pakaian dan perkakas milik kaum perempuan yang tidak sepatutnya dilihat kaum lelaki. Setelah mereka lihat rapi dan mereka teliti tidak ada yang tidak patut, mereka kembali ke ruang tamu dan mempersilakan Zul membawa tasnya ke kamar.Zul menurut. Ia membawa tasnya ke kamar. Ia masuk dan menutup pintu. Zul mencium bau wangi di kamar itu. Kamar yang bersih dan rapi. Jauh sekali bedanya dengan kamarnya dan teman-temannya saat bekerja di Batam. Zul mencopot jaketnya. Beberapa menit kemudian kamarnya diketuk.
Ternyata Mari. Membawa nampan berisi teh hangat dan satu piring roti donat yang tadi dibeli di supermarket.
"Istirahat saja. Ini minumnya. Di kamar mandi ada sikat gigi yang masih baru, juga sabun cair, bisa kamu pakai jika mau mandi. Handuknya sudah saya siapkan di kamar mandi." Jelas Mari sambil meletakkan nampan itu di atas meja rias.
"Terima kasih Mbak."
"Jika perlu apa-apa bisa mengetuk kamar belakang. Saya ada di sana."
"Iya Mbak."
"Baik. Selamat istirahat." Kata Mari dengan tersenyum.
Ia keluar dari kamar dan menutup pintu kamar dengan pelan.
Zul merebahkan tubuhnya di kasur yang empuk itu.
Terasa nyaman. Tapi ia merasa kulitnya seperti lengket dengan pakaiannya. Sangat tidak nyaman. Ia lalu beranjak ke kamar mandi dan mandi. Air yang mengguyur sekujur tubuhnya itu serasa meremajakan seluruh syaramya. Barulah setelah mandi iabisa istirahat dengan nyaman. Sesaat sebelum tidur kilatan senyum Mari yang tulus terbayang di mata. Ia tersenyum. Tibatiba ia teringat perkataan Mari tadi siang,
"Jujur saja Dik ya, hampir di semua mata lelaki ada binar liar serigala ketika melihat perempuan. Untuk itulah menurut saya kenapa kaum lelaki diminta oleh Tuhan untuk menjaga pandangan."
Ia kembali tersenyum. Lalu terlelap tidur.

***



































Tiga






setengah menggerutu. Tidak jelas kepada siapa kata-kata itu ia tujukan. Pada Sumiyati atau pada Iin, atau pada kedua-duanya.
"Maaf Dik, kami segan mau membangunkan. Kiblat ke arah jendela Dik." Jawab Iin kalem sambil memandang ke arah Zul yang masih jelas bekasnya dari tidur.
Zul kembali ke kamar dan shalat. Setelah itu ia kembali ke ruangan tamu. Ia tidak melihat Mari.
"Lha Mbak Mar ke mana? Apa masih tidur juga?"
"Ya tidak. Mbak Mar itu orang paling disiplin di rumah ini. Ia sudah bangun sejak jam empat tadi.
Biasanya shalat Tahajjud. Terus nyuci pakaian. Tadi setelah shalat Subuh ia langsung berangkat kerja." Jelas Sumiyati santai sambil mengambil kacang tanah yang ada di depannya. Lalu mengeluarkan isinya dan memasukkan ke dalam mulutnya.
"O ya sebelum berangkat tadi Mar nitip pesan. Kalau kamu sudah bisa menghubungi orang yang kamu tuju dan mau pergi pagi ini atau siang ini tidak apa-apa. Kalau masih betah dan mau menginap barang satu dua hari lagi ya tidak apa-apa. Hanya saja Mar minta kalau siang ini orang itu tidak juga bisa kauhubungi kau sebaiknya menginap semalam lagi. Siang ini dia akan mencoba mencarikan informasi tentang tempat yang lebih pas, sekaligus informasi tentang pekerjaan jika ada/' Iin menyahut.
"Sebaiknya, siang ini Mas istirahat saja dulu di sini. Kan baru datang. Sambil menunggu informasi dari Mbak Mar jika nanti ia kembali," sambung Sumiyati memberi saran.
"Saya mau keluar sebentar Mbak. Sekalian lihat-lihat lingkungan. Saya mau coba telpon orang yang harus saya hubungi itu sekali lagi," kata Zul.
"Ya, hati-hati Dik. Jangan lupa bawa paspor ya,"
tukas Iin
Zul keluar mencari telpon. Lima puluh meter dari rumah itu ia menemukan warung kelontong, namun di situ tertulis kedai runcit. Di warung itu ada wartelnya.
Dari wartel itu ia mencoba menelpon nomor yang ia catat dari Pak Hasan. Berulang-ulang ia menelpon, tapi tidak juga berhasil. Ia mencoba menelpon Pak Hasan yang ada di Batam juga tidak berhasil. Nomor Pak Hasan sedang tidak aktif. Ia kembali ke rumah dan mendapati dua perempuan itu telah rapi dan siap pergi.
"Dik kami harus berangkat kerja. Ini kunci rumah, siapa tahu kamu mau keluar. Jika nanti kamu mau pergi meninggalkan rumah, tolong rumah dikunci. Dan kuncinya letakkan saja di bawah pot bunga itu. Oh ya sarapannya sudah kami siapkan di dapur. Makan saja yang banyak. Maaf seadanya." Dengan lembut Iin menjelaskan.
"O ya Mas, kalau mau lihat film-film Malaysia.
Nyalakan saja DVD player itu. DVD-nya ada di rak biru itu," sahut Sumiyati.
"Kami pergi dulu ya. Yah demi mencari sesuap nasi Mas." Imbuhnya sambil membuka pintu. Mereka berdua lalu bergegas meninggalkan rumah. Ketika mereka sampai di halaman hendak membuka pintu gerbang, sebuah mobil sedan Proton Wira berhenti tepat di hadapan mereka. Seorang perempuan berpakaian sangat ketat keluar dari mobil itu. la melambaikan tangan pada pengendara mobil yang bermata sipit.
"Baru pulang Lin?" sapa Iin.
"Iya Mbak. Tadi ketiduran di hotel," jawab perempuan itu santai.
Zul melihat dari pintu yang masih terbuka.
"Kamu itu mbok ya ingat akhirat meskipun sedikitsedikitlah Lin? Ingatlah hari akhir kelak Lin!" Iin menasihati dengan suara lembut.
"Aduh Mbak, kalau mau ceramah di masjid saja. Saya sedang capek nih. Sory ya Mbak. Saya harus istirahat. Lha itu kok ada cowok di rumah kita. Siapa dial?" ketus Linda.
"Itu adik saya dari Demak," jawab Iin.
"Orangnya baik kok Lin. Namanya Zul. Jangan takut santai saja," timpal Sumiyati.
"Siapa yang takut. Saya tak pernah takut sama lelaki. Apalagi lelaki Indonesia kurus kaya gitu. Lelaki dari Amerika, Rusia bahkan Nigeria sekalipun saya tidak pernah takut! Kenapa kalian masih mematung saja di sini. Nanti kalian terlambat didamprat sama majikan baru tahu rasa!" sengit Linda.
"Ya udah kami berangkat dulu. Jaga rumah baikbaik ya Lin."
"Ya," jawab Linda singkat sambil beranjak masuk rumah.
Ketika masuk rumah dan melewati Zul yang berdiri di samping pintu Linda menyapa datar, "Halo Mas, baru datang dari Indonesia ya?"
"Iya," jawab Zul singkat.
Linda langsung masuk ke dalam kamarnya.
Sementara Zul masih berdiri di samping pintu memandang lurus ke depan, ke halaman dan jalan. la mendengar dengan jelas percakapan tiga perempuan itu. Dan ia bisa meraba, kira-kira apa pekerjaan perempuan muda bernama Linda yang baru saja menyapanya itu. Dan siang itu ia bisa jadi hanya akan berdua bersama Linda di rumah yang sepi itu. Ia berpikir apa yang akan ia kerjakan seharian di rumah itu. Apakah ia akan hanya tidur di kamar? Bagaimana kalau Linda mengajak berbincang-bincang? Apakah ia akan bersikap cuek saja terhadap Linda? Ataukah ia akan berpura-pura bersikap baik kepadanya. Sebab ia paling tidak suka dengan perempuan yang memiliki tanda-tanda sebagai perempuan tidak benar. Dari cara Linda berpakaian dan dari pembicaraan yang baru saja ia dengar, ia memiliki firasat kuat bahwa Linda adalah jenis perempuan tidak benar. Zul mengambil nafas panjang. Ia belum bisa memutuskan akan bersikap bagaimana.
"Mas pintunya ditutup saja. Di sini tidak lazim membuka pintu lama-lama." Seru Linda dari kamarnya yang hanya berjarak beberapa meter dari tempat Zul berdiri.
Secara reflek Zul menengok ke arah suara. Pintu kamar Linda terbuka lebar dan Linda merebahkan tubuhnya begitu saja di tempat tidurnya, dengan sepatu hak tingginya masih terpasang di kedua kakinya. Zul merasakan getaran dalam dadanya. Ia langsung menutup pintu dan bergegas masuk ke dalam kamarnya.
Sementara Iin dan Sumi masih berjalan ke arah hentian bus. Dalam hati Iin memanjatkan doa agar Linda kembali ke jalan yang benar. Ada yang meleleh dari kedua matanya yang berkaca-kaca. la sangat sayang pada gadis cantik—yang sudah tidak gadis lagi—itu. la ingat bagaimana awal perjumpaannya dengan Linda di pagi yang cerah di KBRI Kuala Lumpur. Linda yang berwajah Indo itu memperkenalkan diri sebagai karyawati sebuah kantor maskapai penerbangan di Kuala Lumpur. Pagi itu Linda ada sedikit urusan di bagian konsuler. la tidak menanyakan detil urusan Linda sebenarnya. la sendiri punya urusan yang membuatnya pusing, gajinya selama lima bulan tidak dibayar oleh majikan. la hendak melaporkan hal itu ke pihak KBRI.
Dari yang tak lebih dari dua puluh menit itu ia tahu Linda memiliki cita-cita yang tinggi. Linda bercerita tentang keinginannya melanjutkan kuliah sampai S.3 di negeri tempat ia dilahirkan, yaitu Belanda.
"Saya harus cari uang dulu. Ibu saya tidak mungkin membiayai saya kuliah. Ayah saya, saya tidak mengenalnya sejak kecil. Ibu hanya cerita ia orang Belanda dan sudah menikah lagi di sana. Sudah jadi orang penting di Belanda. Ibu saya tidak meridhai jika saya minta uang sepeser pun pada ayah saya. Kata ibu saya, saya boleh ke Belanda, tapi tidak boleh mengemis pada ayah saya, atau keluarga ayah saya. Ibu saya sangat dendam pada ayah saya, dan dendamnya itu telah diwariskan pada saya. Saya tidak akan menceritakan perihal dendam itu.
Pokoknya dendam yang sangat menyakitkan. Intinya ayah saya pernah memperlakukan ibu saya dengan sangat tidak manusiawi di Belanda. Dan itu saat mengandung saya.
"Ya alhamdulillah, berkat peluh dan keringat ibu saya, akhirnya saya bisa selesai kuliah di Jakarta dan langsung mendapat pekerjaan. Sekarang saya bisa kerja di Kuala Lumpur ini dengan gaji yang lumayan. Saya akan menabung. Kalau bisa saya akan lanjut kuliah S.2 di sini baru nanti S.3 di Belanda. Jika saya sudah sukses, kaya dan bermartabat, saya akan ajak ibu saya menemui ayah saya dengan kepala tegak. Bahkan saya bercitacita harus kaya hingga saya nanti bisa punya perusahaan besar di Belanda. Harus lebih kaya dari Mr. Van Braskamp.
"Van Braskamp itulah nama ayah saya. Dia seorang Belanda. Tapi saya sama sekali tidak kenal budaya Belanda. Saya sejak umur dua tahun sudah di Sunda. Hidup bersama kakek dan nenek saya. Ayah saya tidak meninggalkan apa-apa kepada saya kecuali warna kulitnya yang membuat saya lebih putih dari ibu saya. Itu saja. Tapi saya akan membuktikan pada ayah saya itu, suatu saat saya bisa lebih terhormat dari ayah saya di negeri ayah saya. Itulah cita-cita saya Mbak Iin. Kalau Mbak Iin punya cita-cita apa? Untuk apa kerja di Malaysia ini?"
Iin masih ingat saat itu ia hanya menggelengkan kepala lalu menjawab,
"Saya tidak punya cita-cita yang tinggi seperti Dik Linda. Saya hanya ingin dapat uang. Bisa membiayai suami saya yang sedang sakit dan bisa membiayai dua anak saya yang masih kecil-kecil yang sekarang diasuh oleh adik saya. Itu saja. Juga punya tabungan untuk buka warung di kampung. Itu saja Dik Linda."
Saat itu Linda tersenyum dan mengangkat kedua tangannya seraya berdoa, "Semoga cita-cita Mbak Iin dikabulkan oleh Allah. Amin."
Dalam hati ia ikut mengamini.
Di pertemuan yang singkat itu, ia sempat bertukar nomor hand phone dengan Linda. Linda yang memberi nomornya dulu.
"Mbak ini nomor hope saya. Siapa tahu Mbak atau teman Mbak ada yang ingin pulang liburan. Bisa pesan tiketkesaya."
Sejak itulah ia sering berkomunikasi dengan Linda.
Beberapa kali ia bertemu dengan Linda tanpa sengaja di Menara Kembar Petronas KLCC. Seringkali Linda mentraktirnya makan. Selesai makan biasanya mengajak shalat di surau yang ada di sana. Ia melihat Linda begitu agamis. Dan dalam balutan jilbab muka Indo itu bagai bidadari surga yang turun ke bumi. Ia sangat takjub pada keelokan dan kebaikan Linda. Dari rasa takjub itulah rasa sayangnya pada Linda terbit.
Sejak kenal dengan Linda, ia sering membayangkan alangkah enaknya bisa kerja seperti Linda. Duduk tenang di kantor yang ber-AC dengan bayaran yang tinggi.
Kerjanya cuma mengangkat telpon. Lihat layar komputer. Dan nulis nota. Tidak seperti dirinya yang harus kerja di Warung Runcit6 dengan majikan yang kasar dan pelit. Itulah yang ia pikirkan pada waktu itu. Dan ia merasa alangkah beruntungnya Linda. Cantik, pintar, masih sangat muda, dan berpenghasilan tinggi.
Tapi ia segera menyadari siapakah dirinya dan siapakah Linda. Dirinya tak lebih hanya lulusan MTs dengan penampilan sangat biasa, sementara Linda sudah sarjana dan cantik pula. Pekerjaan kantor sepertinya tidak boleh dikerjakan oleh orang desa—dengan wajah pas-pasan— yang hanya lulusan MTs seperti dirinya.
Tapi jika melihat kehidupan Linda saat ini, ia yang hanya orang desa dan cuma lulusan MTs seperti dirinya merasa lebih bahagia daripada Linda. Buat apa pandai, sarjana dan cantik jika hanya menjadi budak nafsu dan setan. Dan hidup dalam lembah kehinaan.
Baginya, sebagai wanita, kehormatan diri dan kesucian diri adalah harta paling berharga setelah iman kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Entah sudah berapa kali ia berusaha mengingatkan Linda, baik dengan cara yang paling halus maupun cara yang sangat terangterangan. Baik dengan sindiran maupun ancaman siksa neraka jahanam. Tapi ia melihat Linda sama sekali tidak ada perubahan. Bahkan shalat pun sudah ia tinggalkan.
Ia sudah jarang melihat wajah blesteran Sunda Belanda itu berbalut mukena putih. Ia merasa bidadari surga yang turun ke bumi itu telah hilang.
Jika menghayati apa yang terjadi pada Linda, hatinya sering miris dan merinding. Betapa berbedanya Linda yang dulu dengan sekarang. Alangkah mudahnya ketakwaan itu sirna dan iman itu hilang lenyap di akhir zaman seperti sekarang. Tidak sedikit orang yang dulu dikenal karena ketakwaannya tiba-tiba dalam waktu tak lama dikenal karena kedurhakaannya.
"Na'udzubillahi min dzalik. Ya Rabbi, jauhkanlah hamba dari itu semua. Jangan Kaubiarkan iman ini lepas dari hati hamba sedetik pun." Doanya dalam hati sambil mengusap airmatanya.
"Kenapa menangis Mbak Iin?" tanya Sumiyati.
"Tidak apa-apa. Aku hanya kasihan sama Linda.
Jauh-jauh merantau ke sini, siang malam hanya untuk menjual kehormatan dan bermaksiat. Kalau tidak mau bertaubat sungguh kasihan. Rugi di dunia, rugi di akhirat."
"Iya Mbak. Aku masih ingat awal-awal Linda hidup bersama kita, ia masih shalat dan masih mau membaca Yasin. Tapi sekarang sepertinya dia tidak memiliki Tuhan."
"Hus. Jangan bilang begitu Sum!" bentak Iin, "Semoga saja semaksiat-maksiatnya Linda, dia masih mengakui Allah sebagai Tuhannya," lanjutnya.
"Semoga saja Mbak. Hidup di perantauan seperti kita ini memang tidak mudah. Keimanan kita benar-benar dipertaruhkan. Mbak tolong doakan saya ya. Itu, si Karan kawan kerja saya di restoran sering menggoda saya. Saya takut tergoda Mbak."
"Kau harus kuat Sum. Imanmu harus terus kaupupuk. Kita harus sating menguatkan dan mengingatkan. Kita harus sating mengingatkan bahwa perzinahan itu termasuk dosa besar. Dan sekali orang berzina, orang itu akan sulit lepas dari belenggu dosa itu. Sangat memungkinkan ia akan melakukan yang kedua, ketiga dan seterusnya. Dan itulah yang dikehendaki setan. Jangan kita biarkan diri kita terperangkap oleh kesempatan melakukan dosa besar itu. Sebisa mungkin kesempatan itu jangan dibiarkan ada. Aku sendiri Sum, aku mengakui diriku tidak cantik. Tetapi aku juga mengalami apa yang kaualami. Banyak yang menggoda. Tapi aku berusaha untuk kuat dan berusaha menjaga agar jangan sampai setan menciptakan kesempatan melakukan perbuatan dosa besar itu. Sebab, jika kesempatan itu tercipta, aku kuatir imanku tidak kuat untuk mencegahnya. Di antara caraku menjaga diri adalah dengan tidak pernah meladeni segala bentuk keisengan mereka yang menggodaku. Termasuk SMS yang hanya iseng. Aku selalu berangkat tepat waktu dan begitu saatnya pulang aku langsung pulang. Tidak berlama-lama ngobrol di tempat kerja."
"Gitu Mbak ya?"
"Iya."
"Wah, untung Mbak kasih tahu. Si Karan itu inginnya ngajak ngobrol terus selesai kerja. Ia bahkan sering ngajak nonton film."
"Kalau ingin selamat, jangan kautanggapi sedikit pun."
"Iya Mbak."
"Linda pernah cerita, ia menjadi seperti sekarang ini bermula dari menanggapi SMS iseng teman kerjanya, seorang pria muda asal Singapura."
"Cerita detilnya bagaimana Mbak?"
"Aku juga tidak tahu Sum. Linda hanya pernah menyinggung bahwa semuanya bermula dari SMS iseng seorang teman kerja asal Singapura. Seorang pria muda yang menawan. Itu saja."
"Eh Mbak itu busnya datang. Ayo cepat!" teriak Sumiyati.
"Wah iya Sum, itu bus kita! Sahut Iin dengan mata berbinar.
Mereka berdua langsung mempercepat langkah. Bus Rapid KL semakin mendekat, merapat di halte, lalu menurunkan dan menaikkan penumpang. Kedua perempuan itu mengejar dengan setengah berlari, takut ketinggalan.

* * *


Zul tidur di kamarnya, yang tak lain adalah kamar Mari. Kedua matanya memandang langit-langit kamar yang berwarna putih bersih. Sementara pikirannya melayang ke mana-mana. Melayang ke perjalanan dari Batam hingga ketemu Mari. Dan sampai di rumah yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia masih juga berpikir apa yang harus ia lakukan siang itu.
Apakah tetap diam di rumah itu menunggu Mari pulang.
Sehingga ia bisa mendapat informasi dari Mari. Ataukah ia nekat saja pergi dari rumah itu. Kenapa ia mesti menunggu informasi dari Mari. Bukankah ia bisa nekat, sebagaimana selama ini ia selalu nekat. Dan bukankah sebenarnya ia pergi ke Malaysia juga berbekal nekat.
Kalau ia nekat pergi dari rumah itu, siang itu juga, lalu ia mau pergi ke mana? Ia tidak hafal Kuala Lumpur dan sekitarnya. Apa asal pergi saja. Yang penting jalan.
Seperti waktu ia dulu nekat ke Jakarta. Tapi ia nyaris mari di Jakarta karena dikeroyok berandalan jalanan. Apa ia akan mengulangi nasib yang sama. Dan jika ia nekat, berapa lama ia akan bisa bertahan? Uang yang ia bawa sangat pas-pasan. Tak lebih dari seratus lima puluh ringgit. Berapa lama ia bisa bertahan dengan seratus lima puluh ringgit?
Ia lalu berpikir realistis, apa salahnya menunggu Mari pulang. Ia bisa dapat informasi yang lebih jelas. Mungkin informasi ada pekerjaan yang membuatnya bisa bertahan bahkan bisa memperbaiki nasib. Apa salahnya menunggu sampai sore hari. Ia bisa tidur seharian di kamar itu dengan pintu terkunci. Toh di kamar
itu ada kamar mandi dan WC-nya. Ia tidak perlu keluar.
Juga, tidak baik rasanya meninggalkan rumah itu tanpa terlebih dulu pamitan pada Mari, yang begitu baik padanya. Ia akhirnya mantap untuk tetap di rumah itu siang itu, sampai Mari pulang. Jika Mari pulang dan ia telah mendapatkan informasi dan petunjuk yang mungkin sangat penting baginya, maka ia bisa pergi.
Zul mencoba berkonsentrasi memejamkan kedua matanya, ia ingin tidur lagi. Namun konsentrasinya buyar begitu telinga mendengar suara orang mandi. Ia langsung yakin yang mandi itu adalah Linda. Sejurus kemudian ia mendengar televisi dinyalakan. Ia lalu mendengar lagu-lagu India dibunyikan dengan sedikit keras. Ia benar-benar tidak bisa memejamkan kedua matanya.
Ia lalu bangkit dari kasur. Ia yakin tidak bisa tidur. Ia lalu melihat-melihat isi kamar itu, ia mencari sesuatu yang bisa dibacanya. Di samping meja rias ia melihat setumpuk majalah dan koran. Juga ada beberapa buku.
Ia lihat buku-buku itu. Buku-buku ekonomi berbahasa Inggris. Ia ambil satu. Judulnya International Monetary and Financial Economics. Ia buka buku itu. Di halaman paling depan ia menemukan nama pemilik buku itu tertulis dengan tinta biru. Liew Su Ying. Nama China.
Di bawah buku itu ada buku bersampul biru tua. Ia ambil. Terbitan Oxford University Press. Judulnya Game Theory with Applications to Economics. Ia menggelenggelengkan kepala. Orang yang bisa memahami buku seperti itu pastilah bahasa Inggrisnya mantap. Ia buka halaman depan. Nama pemilik buku dan tanda tangannya tertulis di situ. Laila Binti Abdul Majid, TTDI, Kuala Lumpur. Ia yakin itu nama perempuan Melayu.
Ia jadi bertanya-tanya, kenapa buku ekonomi seperti itu bisa ada di dalam kamar Mari dan Iin? Siapakah yang selama ini membaca buku itu? Mari kah? Atau Iin kah?
Apakah mungkin mereka berdua bisa memahami buku berbahasa Inggris? Tiba-tiba ia tersenyum, mengapa ia bisa sebodoh itu. Bisa jadi orang China yang namanya tertulis sebagai pemilik buku itu adalah orang yang memiliki rumah ini. Bukankah ini rumah sewa? Dan bukankah Mari mengatakan pemiliknya adalah orang China? Ia menduga pemiliknya adalah orang China yang menikah dengan perempuan Melayu.
Sangat mungkin, pemilik rumah itu tidak mengemasi bukunya dan membiarkan buku-bukunya tergeletak begitu saja di kamar itu. Lalu Mari dan Iin menatanya jadi satu dengan majalah dan koran di samping meja rias. Atau entahlah, yang jelas ia menafikan jika yang punya dan yang membaca buku-buku ekonomi berbahasa Inggris itu adalah Mari atau Iin. Melihat tampang dan penampilan mereka sangat meragukan, dan sangat tidak meyakinkan.
la lalu melihat-lihat beberapa majalah. Ada yang terbitan Indonesia, Malaysia, Singapura dan bahkan Hongkong. la mengambil yang terbitan Indonesia. la bawa ke kasur. la baca sambil tiduran. Tak berapa lama kemudian ia merasa mengantuk. Entah kenapa setiap kali ia membaca rasa kantuk itu menyerang dengan cepat. Saat ia berada di antara sadar dan tidak sadar karena mulai masuk ridur, sayup-sayup ia mendengar pintu kamarnya diketuk beberapa kali. Ia tidak jadi memejamkan mata.
"Mas! Mas! Halloo! Buka dong!"
Itu jelas suara Linda.
"Iya. Sebentar!" sahutnya sambil bangkit menuju pintu.
Begitu pintu ia buka, tampaklah wajah Linda yang sangat berbeda dengan wajah yang tadi ia lihat saat Linda baru datang. Wajah Linda yang ada di hadapannya tampak segar, dan menawan. Linda menyungging senyum yang membuat dadanya berdesir. Ia sepertinya belum pernah melihat pesona sesegar wajah Indo yang ada di hadapannya.
"Hallo Mas, maaf mengganggu. Tadi kita belum kenalan. Kenalkan namaku Linda. Lengkapnya Linda Van Braskamp. Aku kerja di sebuah hotel berbintang di Kuala Lumpur." Sapa Linda sambil mengacungkan tangan kanannya mengajak berjabat tangan. Zul langsung menjabat tangan itu sambil memperkenalkan dirinya,
"E... nama saya Ahmad Zul. Saya berasal dari Demak. Mbak Linda orang Belanda ya?"
"Ya. Ada darah Belanda. Tepatnya blesteran Sunda- Belanda. Tapi aku tetap merasa sebagai orang Indonesia. O ya kapan Mas Zul sampai?"
"Tadi malam."
"Berarti bareng Mbak Mar?"
"Ya."
"Tadi Mbak Iin cerita, Mas adiknya Mbak Iin, benar?"
Zul tersenyum mendengarnya, ia lalu menjawab,
"Dikatakan adiknya Mbak Iinjuga boleh."
"Lho kok gitu. Kok ada juga bolehnya. Jadi sebenarnya bukan adiknya Mbak Iin?"
"Ah itu tidak penting. Tadi baru pulang kerja ya?"
"Iya saat ini aku kena sif malam. Jadi manusia kelelawar. Malam jadwalnya kerja, siang jadwalnya istirahat."
"Jadi siang ini mau di rumah saja?"
"Lha iya lah. Kan harus istirahat. Tapi aku lapar sekali. Mau keluar cari makanan rasanya malas sekali. Aku tengok di dapur ada nasi goreng. Itu pasti disedikan untuk Mas Zul. Boleh saya minta sedikit Mas. Atau kita makan bareng. Bagaimana? Mas Zul belum sarapan kan?"
"Belum."
"Ayo kalau begitu kita makan bersama. Kita makan di ruang tamu saja. Sambil ngobrol. Oh ya Mas Zul mau minum apa? Aku bikinkan."
"Teh panas boleh."
"Baik. Mas Zul tunggu di ruang tamu saja ya, sambil nonton televisi."
"Baik."
Linda ke dapur membuat minuman dan mengambil makanan. Zul melangkah ke ruang tamu lalu duduk di sofa sambil membaca majalah yang tadi ia baca. Tak lama kemudian Linda muncul dengan membawa nampan berisi dua piring nasi goreng dan dua gelas teh manis. Zul mendongakkan muka dan melihat ke arah Linda yang datang. Barulah ia memperhatikan pakaian yang dipakai Linda, yang tadi tidak ia perhatikan. Linda memakai gaun yang hanya pantas dipakai di kamar tidurnya saja. Zul seperti terpaku dan terbelenggu di tempat duduknya. Tubuhnya terasa kaku.
Linda meletakkan nampan di meja dan langsung duduk di samping Zul. Bau wangi parfum Linda tercium jelas oleh hidung Zul. Zul tidak bisa konsentrasi makan, ia masih menata pikirannya yang ia rasakan mulai kacau.
"Kok bengong saja Mas. Ayo dimakan. Tadi nasinya sudah saya hangatkan. Kalau dingin tidak enak."
"E... iya Mbak."
Zul mengambil piring berisi nasi goreng dan mulai menyantapnya pelan-pelan. Ia masih terus berjuang menata kembali pikirannya.
"Rencana siang ini Mas Zul mau ke mana? Kalau tidak ada rencana, di rumah saja menemani aku. Aku bawa film Hollywood terbaru. Kita nonton berdua saja di rumah. Kalau nonton film sendirian rasanya tidak seru."

"Saya belum ada rencana. Tidak tahulah. Saya sebenarnya ingin jalan-jalan."
"Sebenarnya aku ingin sekali nemani jalan-jalan. Tapi kurasa, aku harus istirahat dan nyantai di rumah. Kalau Mas mau jalan-jalan sendiri tidak apa-apa. Kebetulan aku ada kunci dobel. Sebentar ya."
Linda menghentikan makannya dan beranjak ke kamarnya. Lalu keluar dengan membawa kunci.
"Ini bawa saja. Yang ini kunci gembok pintu besi dan yang ini kunci pintu. Kalau Mas keluar dan saat pulang aku sedang tidur tidak perlu membangunkan aku. Bawa saja kunci ini selama Mas di sini."
"Terima kasih."
"O ya ngomong-ngomong Mas mau kerja di mana?
Sudah ada agen yang mengatur?"
"Belum tahu. Masih mencari."
"O jadi belum dapat kerja. Begini Mas, ini kalau Mas mau. Bagaimana kalau kerja di hotel tempat aku kerja. Tapi kerjanya malam sih. Kalau mau, bisa aku coba hubungkan ke pihak personalia. Aku kenal baik dengan penanggung jawabnya. Gajinya lumayan kok. Bagaimana?"
"Nanti saya pikirkan."
"Sejak jumpa pertama kali tadi, kulihat Mas memang banyak berpikir dan merenung. Jangan terlalu dibuat serius hidup ini Mas, cepat tua nanti. Itu Mbak Mar, coba nanti kalau ketemu kauamati dia baik-baik, karena ia juga terlalu serius memikirkan hidup jadi kelihatan jauh lebih tua dari umurnya. Padahal ia hanya selisih satu tahun saja dariku."
"Benarkah?"
"Serius. Mbak Mar itu terlalu banyak mikir. Semuanya dia pikir. Mau makan saja dia mikir, ini halal tidak, haram tidak. Kalau aku sih selama enak kenapa tidak? Sekarang aku menemukan agama baru. "
"Agama baru?"
"Ya. Aku kasih nama agama enak. Pokoknya segala yang enak-enak itu jadi ajarannya. Itulah agamaku sekarang. Tuhannya adalah Tuhan yang maha membebaskan manusia untuk berenak-enak."
"Astaghfirullah. Meskipun yang kelihatannya enak itu dilarang agama."
"Agama yang mana? Kalau agamaku tadi ya jelas tidak melarang. Kalau agama Islam seperti agamamu, aku yakin kau Islam, ya aku tidak tahu."
"Wah itu namanya agama hawa nafsu."
"Terserah, aku tidak peduli. Yang jelas aku merasa enak, merasa bebas, merasa merdeka."
"Kalau di KTP apa agamamu?"
"Ya Islam."
"Lho kok Islam?"
"Ya untuk formalitas saja. Biar tidak membuat sedih banyak orang. Termasuk kakek dan nenek saya yang sangat fanatik dengan agama Islamnya."
"Itu berarti kamu munafik."
"Kalau munafik itu enak kenapa tidak?"
Zul jadi pusing memikirkan makhluk di hadapannya.
la tidak mengira akan pernah menjumpai manusia seperti itu dengan cara berpikir seperti itu.
"Baiklah Mas, saya akan cerita sedikit tentang pekerjaan saya. Daripada nanti Mas mendengar cerita yang sinis dari orang lain. Lebih baik Mas langsung mendengar dari saya. Lebih baik saya jujur daripada saya disebut munafik lagi. Sudah saya katakan agama saya adalah agama enak. Pokoknya yang enak-enak itulah inti ajarannya. Maka saya cari profesi adalah juga profesi yang menurut saya paling enak. Dalam ajaran agama saya, profesi saya tidaklah sebuah kejahatan. Tapi di agama lain bisa jadi profesi saya disebut sebuah kejahatan bahkan dosa besar. Aku tak peduli, aku punya agama sendiri.
"Profesi saya adalah menyenangkan orang-orang penting. Orang-orang yang memerlukan hiburan.
Pekerjaan saya adalah menghiburnya. Tapi orang-orang awam menyebut orang seperti saya ini sebagai pelacur. Ada juga yang menyebut sebagai perempuan sundal. Macammacamlah sebutannya. Tapi saya, berpegang pada keyakinan saya, maka saya menyebut diri saya adalah seniwati. Saya menjual jasa. Dan jasa saya adalah seni dan keindahan. Itulah saya Mas. Bagaimana menurut Mas?"
"Aku hanya merasa kasihan padamu?"
"Kasihan, kenapa kasihan?"
"Entahlah, hanya merasa kasihan saja. Aku ini orang awam juga. Tidak tahu apa-apa. Agama juga tidak tahu. Hanya mendengar apa yang kaukatakan nuraniku mengatakan orang seperti kamu ini sebenarnya bukan hidup enak dan hidup senang. Tapi hidup dalam keadaan sangat memprihatinkan. Dan perlu dikasihani."
"O ya?"
"Terserah. Cuma aku yakin, yang tadi bicara bukan nuranimu tapi nafsumu. Nanti suatu ketika saat engkau menderita sakit, coba aku ingin dengar apa yang akan kaukatakan dan kauucapkan?"
"Kau ini jahat. Masak berharap aku sakit dan menderita."
"Kau salah sangka. Sama sekali aku tidak berharap. Tapi manusia yang normal terkadang ada saatnya sakit juga. Saat sakit itulah manusia lebih banyak berbicara dengan nuraninya daripada dengan nafsunya. Lha saya ingin tahu apa yang akan kaukatakan saat kau dalam keadaan seperti itu. Apakah berarti saat kau sakit kau sudah tidak beragama lagi. Karena rasa enak itu sudah tidak ada lagi. Atau bagaimana?"
"Saya akan bertahan dengan agama saya. Saya yakin dengan temuan saya."
"Yah kalau begitu, bagimu agamamu dan bagiku
agamaku."

* * *





















Empat






Selesai makan Zul memutuskan untuk jalan-jalan ke pusat kota. la merasa imannya tidak kuat jika di rumah itu terus, dan berduaan dengan Linda. la menyadari dirinya hanyalah pemuda biasa yang masih lemah imannya. Yang masih sering kalah melawan hawa nafsunya sendiri. Tingkat ketakwaannya belumlah sampai pada tingkatan Nabi Yusuf yang mampu menepis godaan Zulaikha. la merasa setan yang ada dalam dirinya lebih kuat dari dirinya. Maka ia harus mengambil tindakan penyelamatan dan waspada. Ia tidak ingin membuat dirinya celaka. Ia baru sampai di negeri orang. Mau tinggal di mana saja belum jelas.
Pekerjaan juga belum jelas. Melangkahkan kaki mau ke mana saja belum jelas. Maka ia tidak mau terjebak dalam situasi yang mengakibatkan penyesalan. Ia teringat pesan Mar saat menyebut nama Linda pertama kalinya, "Linda ini belum bersuami dan cantik. Kau hati-hati jangan sampai ada apa-apa dengan dia ya. Jangan membuat masalah di negeri orang. Awas ya, kau harus jaga iman kalau berhadapan dengannya!"
Tak ada jalan lain baginya kecuali pergi dan menjauh dari sumber petaka. Api jika tidak bisa dilawan dan dipadamkan maka jalan selamat adalah lari menjauh dari api itu. Jika tidak maka api itu akan membakar dan menghancurkan.
"Maaf Mbak Linda, rasanya saya harus keluar jalanjalan. Saya ingin melihat-lihat suasana. Bosan di rumah terus. Nanti malam habis Maghrib mungkin saya datang lagi. Tas danbarang-barang saya masih di kamar," kata Zul pada Linda.
"O ya. Hati-hati di jalan. Sudah bawa paspornya?" sahut Linda
"Sudah. Kalau mau ke pusat kota Kuala Lumpur naik apa ya?"
"Tadi malam datang pakai apa?"
"Bus "
"Rapid KL ya?"
"Iya."
"Kalau begitu naik saja dari tempat kau tadi malam turun dan naik bus yang sama."
"Baik. Terima kasih. Salam buat Mbak Mar, Mbak Iin, dan Mbak Sumiyati."
"Baik. Kalau ada apa-apa bisa telpon kami ya. Sudah tahu nomor hp saya?"
"Belum."
"Kalau nomor Mbak Mar sudah tahu?"
"Sudah."
"Ya sudah. Itu cukup."
"Sekali lagi terima kasih. Saya pergi dulu."
"Ya, sekali lagi hati-hati di jalan. Jangan sampai tidur di bus ya," canda Linda.
Zul menjawab dengan senyum lalu beranjak meninggalkan Linda sendirian. Ia pergi hanya membawa tas cangklong hitam berisi map dokumen-dokumennya, sepotong sarung, dan kaos panjang. Itu saja. Ia merasa mantap. Jika ia bisa menaklukkan Jakarta dan Batam, maka ia sangat yakin ia pun bisa menaklukkan Kuala Lumpur. Sepintas ketika ia tiba di Purduraya, ia melihat suasana terminal bus paling padat di Kuala Lumpur itu tidak seganas Pulogadung dan Kampung Rambutan Jakarta. Ia pernah berkelahi dengan preman Pulogadung dan tetap bisa hidup. Ia juga pernah ditodong preman Kampung Rambutan dan bisa lolos. Jika ia terpaksa harus bertemu dengan preman Kuala Lumpur ia merasa tak perlu gentar. Orang Demak tidak boleh gentar berhadapan dengan situasi apapun juga.
Dari Subang Jaya ia naik bus Rapid KL ke terminal KL Sentral. Di KL Sentral ia sempat bingung mau ke mana. Ia berinisiatif untuk mencoba menghubungi lagi nama yang diberi oleh Pak Hasan sekali lagi. Setelah bertanya kepada seorang lelaki India ia menemukan telpon umum. Dari telpon umum ia menghubungi dan masuk. Ia sangat berbahagia seperti mendapatkan rejeki nomplok yang tiada terkira jumlahnya.
"Ini Pak Rusli ya?" tanyanya.
"Iya benar. Ini siape?"
"Saya Zul Pak. Saya mendapat nama dan nomor
Bapak dari Pak Hasan Batam."
"O ya ya. Pak Hasan sehat ya?"
"Alhamdulillah Pak. Bagaimana caranya saya bisa bertemu Bapak? Saya baru datang tadi malam dan tidak banyak tahu tentang Kuala Lumpur. Terus terang saya perlu sedikit bantuan Bapak."
"Sudah menjadi kewajiban saya untuk membantu Saudara. Adik sekarang di mana?"
"Di KL Sentral Pak."
"Begini saja Dik. Dari KL Sentra adik naik KTM ke Stesyen Mad Valley. Saya jemput di sana. Baru nanti kira bicarakan segalanya dengan lebih leluasa."
"Apa tadi Pak, KTM ya?"
"Ya KTM, atau kereta listrik. Ingat ke Mad Valley! Turun di Mad Valley. Saya memakai baju koko hijau lumut."
"Baik Pak. Terima kasih."
Tidak sulit baginya untuk naik KTM dan tidak sulit untuk mencapai Mad Valley. Siang itu, ia merasa bahagia, sebab disambut dengan hangat oleh Pak Rusli, yang tak lain adalah seorang murid Pak Hasan saat belajar di Padang. Pak Hasan pernah mengajar di sebuah pesantren di Padang sebelum berdakwah di Batam. Pak Rusli mengajaknya makan siang di restoran Saji Selera yang letaknya tak jauh dari Mad Valley Plaza.
"Jadi yang mendorong adik ke Kuala Lumpur ini Pak Hasan?"
"Iya Pak."
"Itu maknanya adik diminta untuk belajar. Menuntut ilmu. Saya tahu persis siapa Pak Hasan. Tapi adik tidak akan bisa melanjutkan studi di sini, kalau tidak dengan bekerja. Dari mana uang untuk membayar kuliah kalau tidak dicari dengan bekerja? Iya kan?"
"Iya Pak."
"Jangan kuatir. Di sini banyak kok mahasiswa yang kuliah sambil bekerja. Nanti kau akan aku temukan dengan mereka. Insya Allah mereka akan banyak membantu. Terutama berkenaan dengan urusan pendaftaran di kampus. O ya kaubawa ijazah kan?"
"Bawa Pak."
"Dulu kuliah di mana?"
"Di IKIP PGRI Semarang Pak."
"Jurusan apa?"
"Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia Pak."
"Ya ya ya. Gampang nanti bisa diatur untuk dicarikan jurusan yang pas. Yang penting kau serius lanjut kuliah kan?"
"Iya Pak."
"Bagus. Pak Hasan itu sebenarnya mendorongmu untuk memiliki modal paling mahal untuk sukses dan jaya."
"Apa itu Pak?"
"Ilmu. Hanya orang-orang berilmulah yang akan diangkat derajatnya oleh Allah. Banyak orang tidak berilmu kaya, namun derajatnya tidak diangkat oleh Allah. Tidak sedikit orang kaya yang jadi hina karena kekayaannya. Sebab ia tidak memiliki ilmu bagaimana menjadikan kekayaannya sebagai jalan beribadah dan menggapai kemuliaan. Setelah ini kau akan aku bawa ke rumah teman-teman mahasiswa. Agar kau kembali hidup dalam barakah lingkungan para penuntut ilmu."
"Iya Pak."
Berulang kali Zul hanya menjawab: Iya Pak, iya Pak.
Agaknya Pak Rusli memperhatikan jawaban Zul.
"Kamu ini dari tadi kok cuma bilang; Iya Pak, Iya Pak. Jawa betul kamu ini. Apa tidak ada kata-kata yang lain?"
"Mmm, aduh bagaimana Pak ya?"
"Sudah jangan dipikirkan. Ini hanya gurauan saja. Ayo kita jalan."
"Iya Pak."
"Lha diulang lagi kan!" Seru Pak Rusli sambil tersenyum lebar.
Zul langsung meringis. Ia jadi heran sendiri, kenapa terus mengulang-ulang kata-kata itu pada Pak Rusli. Namun suasana jadi sangat cair. Sikap Pak Rusli yang low profile membuatnya seolah sudah lama mengenal lelaki berumur empat puluhan itu. Padahal belum ada tiga jam ia bertemu dengannya.
Keluar dari Saji Selera, Pak Rusli membawanya masuk kampus Universiti Malaya. Zul terkagum-kagum dengan keindahan dan kerapian kampus perguruan tinggi tertua di Malaysia itu.
"Universiti ini masuk dalam jajaran 100 perguruan tinggi terbaik dunia. Kau harus tahu itu. Semoga saja kau nanti diterima lanjut S.2 di sini. Aku yakin orang seperti kau akan meraih kecemerlangan di masa yang akan datang." Ujar Pak Rusli menyemangati.
"Doanya Pak."
"Allah memberkati, insya Allah."
Setelah mengelilingi kampus Universiti Malaya, Pak Rusli mengajak Zul shalat Ashar di masjid Akademi Pengajian Islam. Setelah itu langsung memacu mobilnya ke kawasan Pantai Dalam. Setelah keluar dari kawasan kampus UM, di sepanjang perjalanan, tepatnya di samping kiri, Zul melihat rel KTM. Sesekali ia berpapasan dengan KTM yang melaju ke arah KL Sentral. Sepuluh menit kemudian Pak Rusli memperlambat laju mobilnya.
Mobil itu memasuki daerah yang terkesan agak kumuh. Setelah melewati jalan di bawah jembatan layang, mobil itu belok kanan. Di hadapan Zul tampak apartemen putih yang tinggi dan kusam.
"Inilah Pantai Dalam, banyak mahasiswa Indonesia di sini. Kita akan berkunjung ke rumah salah seorang di an tar a mereka."
Mereka berdua turun dari mobil dan bergegas ke arah apartemen. Di tengah jalan mereka bertemu dengan anak muda yang gayanya khas Indonesia.
"Assalamu'alaikum. Geng, mau ke mana?" sapa Pak Rusli
"Anu Pak mau beli minyak goreng," jawab anak muda itu.
"Geng, kenalkan ini namanya Zul. Dari Demak. la baru datang tadi malam," kata Pak Rusli memperkenalkan.
Anak muda itu langsung menyalami Zul sambil memperkenalkan diri,
"Saya Sugeng, dari Purworejo Jawa Tengah. Selamat datang di Kuala Lumpur Mas."
"Iya Mas. Terima kasih," jawab Zul.
"Namanya Zul ya? Zul siapa lengkapnya?" tanya Sugeng lagi.
"Aslinya Ahmad Zul. Tapi teman-teman di SMA sering memanggil Zul Einstein."
"Zul Einstein. Wah keren juga. Rencana mau masuk UM?"
"Jika Allah mengijinkan."
"Nanti saya bantu, insya Allah."
"Terima kasih Mas Sugeng."
"Pak Rusli saya jalan dulu ya. Saya cuma sebentar kok. Langsung ke rumah saja Pak. Di rumah ada si Arif sama si Yahya," terang Sugeng.
"Baik Geng. Jangan lupa beli yang segar-segar ya," tukas Pak Rusli renyah.
"Beres Pak. O ya Pak jangan lupa lagi. Lantai sepuluh Iho. Bukan lantai sembilan."
"O ya terima kasih. Namanya juga sudah tua sering lupa. Ayo Zul kita jalan."
Pak Rusli dan Zul berjalan melewati samping apartemen menuju apartemen berikutnya. Lalu masuk lift yang mengantarkan mereka berdua sampai lantai sepuluh. Keluar dari lift mereka berjalan ke arah kanan. Di pintu flat tempat tinggal Sugeng dan teman-temannya itu ada sriker bendera merah putih. Di bawahnya ada tulisan: "Rawe-rawe rantas, malang-malang putung!" Menandakan bahwa mayoritas penghuninya adalah orang Indonesia dari Jawa.
Pak Rusli mengetuk pintu dan dibukakan oleh seorang pemuda gempal berambut tipis. la hanya memakai sarung dan kaos putih. Pemuda itu menyambut dengan senyum
"O Pak Rusli. Silakan Pak."
Pak Rusli dan Zul masuk. Pemuda itu memperkenalkan diri pada Zul. Namanya Yahya. Ia berasal dari Malang.
"Tesisnya bagaimana, Ya. Sudah selesai?" tanya Pak Rusli.
"Alhamdulillah sudah Pak. Minggu depan submit, insya Allah," jawab Yahya dengan wajah cerah.
"Langsung lanjut Ph.D., Ya?"
"Insya Allah Pak, tapi saya mesti laporan ke pihak UIN Malang dulu. Semoga saja diijinkan untuk langsung lanjut Ph.D. Doanya."
"Allah memudahkan insya Allah."
Akhirnya Zul tahu bahwa Yahya dulu kuliah di Pakistan jurusan sejarah dan peradaban. Sepulang dari Pakistan ia diterima jadi dosen di UIN Malang. Lalu melanjutkan S.2 di UM, dan sebentar lagi selesai. Setelah itu akan langsung melanjutkan S.3.
la juga tahu flat itu terdiri atas tiga kamar. Dua kamar mandi. Dapur. Dan ruang tamu. Yang tinggal di situ lima orang; Sugeng, Yahya, Arif, Rizal, dan Pak Muslim. Yahya dan Pak Muslim sudah menikah.
Sedangkan yang lainnya masih bujang. Sewa flat itu enam ratus ringgit per bulan, atau sekitar satu juta enam ratus ribu per bulan. Baginya itu sangat mahal. Enam ratus ringgit ditanggung oleh penghuni rumah itu yang berjumlah lima. Sehingga masing-masing orang kena beban 120 ringgit per bulan. Jika berjumlah enam, maka masing-masing orang kena beban seratus ringgit.
Yahya juga bercerita, bahwa awal-awal di Kuala Lumpur ia sempat bekerja mencuci piring di restoran dengan gaji yang sangat mepet. Ia juga pernah kerja di sebuah kedai foto copy. Bahkan ia pernah bekerja sebagai tukang bersih-bersih WC di Gedung Putra World Trading Centre atau biasa disingkat PWTC.
"Apa saja saya lakukan untuk bisa hidup dan membayar uang kuliah. Meskipun diterima jadi dosen, tapi saya belajar ini tanpa beasiswa. Saya dulu sempat membawa isteri, tapi saya rasakan berat. Akhirnya sementara ini isteri tinggal di Malang dulu. Semoga saja nanti keadaan membaik. Dan saya bisa membawa isteri lagi kemari untuk menemani membuat disertasi Ph.D." jelas Yahya pada Zul.
"Intinya tidak boleh malu. Tidak boleh menyerah. Dan harus terus bergerak. Saya dulu awal-awal kuliah di sini juga sama seperti Yahya. Hidup prihatin. Kerja apa pun asal halal dan bisa membuat saya semakin kaya saya lakukan. Alhamdulillah sekarang saya bisa membuka usaha bekerjasama dengan orang Malaysia. Cukup untuk menghidupi anak dan isteri. Begitu selesai doktor saya langsung akan pulang ke Indonesia." Pak Rusli menambahi.
Tak lama kemudian Sugeng datang. Dan Arif yang tadi tidur, terbangun. Pertemuan itu jadi semakin hangat.
Semua memberi semangat pada Zul. Zul merasa menemukan orang-orang yang baik dan tulus. Yahya bahkan menawarkan agar Zul tinggal saja di flat itu dan bisa tinggal satu kamar dengannya.
"Tapi kamar saya agak sempit. Bagi saya tidak masalah dihuni dua orang. Jika hati dan jiwa kita lapang maka semua akan jadi lapang." Ucap Yahya dengan wajah cerah.
Tak ada keraguan bagi Zul untuk memutuskan tinggal di flat itu bersama Yahya, Sugeng dan temantemannya. Sore itu ia memutuskan untuk langsung menginap di situ dan tidak kembali ke Subang Jaya. Setelah mantap bahwa Zul tidak akan terlantar, Pak Rusli mohon diri. Sebelum keluar pintu ia masih sempat berkata pada Zul
"Saya akan coba mencari informasi. Jika ada lowongan nanti saya beritahukan. Yang jelas optimislah, bahwa Allah itu Mahakaya. Allah sudah mengatur jatah rejeki hamba-Nya. Tergantung bagaimana hamba-Nya itu memungutnya. Jika ada apa-apa. Perlu bantuan apaapa, telpon saya saja. Tak usah sungkan ya Zul."
"Iya Pak. Terima kasih atas segala kebaikannya."

* * *


Malam itu Zul bertemu dengan seluruh penghuni flat itu. la tidak merasa menjadi orang asing di rumah itu. Malam itu juga ia mendapatkan saran-saran yang sangat membantunya dalam menentukan langkah selanjutnya di Malaysia. Semua yang ada di rumah itu ingin memberikan bantuan semampunya.
Sugeng menawarkan diri untuk membantunya mengurus pendaftaran di UM. Karena Zul masuk ke Malaysia tanpa single entry maka urusan imigrasi pasti akan sedikit ada masalah. Rizal yang sudah punya pengalaman dalam masalah ini bersedia mendampingi Zul jika nanti harus berurusan dengan masalah visa. Yahya dan Arif akan membantu mencarikan informasi kerja. Dan Pak Muslim, yang paling tua di rumah itu, menawarkan sepeda motornya jika akan digunakan Zul. Pak Muslim akan mengadakan penelitian di Sabah selama tiga minggu. Berarti sepeda motornya bisa dipakai selama itu.
"Ini masih bulan April. Awal semester bulan Juli. Masih ada waktu sekitar tiga bulan. Sebaiknya Zul daf tar dulu saja. Selama tiga bulan bekerja sungguh-sungguh agar bisa membayar awal semester. Yang pasti jumlahnya agak lumayan. Besok kita lengkapi syarat-syaratnya. Dan lusa kita masukkan berkas ke IPS.7 Untuk uang pendaftaran yang 30 dollar itu biar saya talangi dulu. Jadi, dua hari kita targetkan berkas sudah masuk. Setelah itu baru konsentrasi cari kerja. Bagaimana?" Jelas Sugeng.
"Saya ikut saja." Lirih Zul.
"Coba lihat, mana ijazahmu? Kau bawa kan?"
7 IPS : Institute Postgraduate Studies.
Zul mengangguk dan mengambil tas hitamnya. la keluarkan map berisi berkas-berkas pribadinya dari tas itu. la berikan map itu pada Sugeng. Sugeng lalu membuka dan meneliti dengan seksama. Ijazah SD sampai S.l ada di situ. Sugeng lalu melihat ijazah S.l itu dengan kening berkerut.
"Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia ya?"
"Iya Mas." Jawab Zul pelan
"Pak Muslim, sini Pak!" Seru Sugeng pada Pak Muslim yang sedang asyik menulis di depan layar komputer di kamarnya. Pak Muslim langsung mendekat. "Iya ada apa Geng?" tanya Pak Muslim sambil membenarkan gagang kaca matanya.
"Zul ini, S.l-nya jurusan pendidikan bahasa Indonesia. Sebaiknya kalau masuk S.2 UM di fakultas apa, jurusan apa, Pak?"
Pak Muslim berpikir sejenak. Lalu berkata, "Lha Dik Zul sendiri ingin masuk fakultas apa?"
"Fakultas pendidikan, Pak." Jawab Zul seraya mendongakkan kepalanya ke arah Pak Muslim yang berdiri di samping Sugeng.
"Kalau gitu ya masuk fakultas pendidikan saja. Jurusannya, kalau saya boleh menyarankan sosiologi pendidikan saja." Sahut Pak Muslim.
"Bagaimana dengan saran Pak Muslim, Zul?" tanya Sugeng.
"Boleh. Saya sepakat."
Malam itu Zul merasa menemukan sctitik cahaya yang bisa dijadikan sedikit penerang bagi jalan masa depannya. la kembali mendapatkan gairah hidup yang baru. la merasakan kedamaian seperti rasa damainya saat dulu bisa melanjutkan pendidikan setelah lulus SD. la tetap bisa lanjut ke SMP meskipun harus dengan bekerja membantu Pakdenya di Pasar Sayung sepulang sekolah. la merasa bahagia saat itu, sebab banyak temantemannya yang putus sekolah karena tidak ada biaya.
Mereka selesai SD langsung bekerja di sawah atau kerja di pabrik-pabrik yang ada di Kawasan LIK Semarang.
Malam itu, untuk pertama kalinya ia tidur dalam keadaan lebih nyaman dan tenteram. Dadanya terisi cahaya optimisme dan semangat. Bertahun-tahun sebelumnya ia selalu tidur dalam bayang kekuatiran, rasa
takut dan ketidakpastian hidup. Ia mengalami itu sejak Pakdenya, orang yang merawatnya sejak kecil, meninggal saat ia masih di bangku kelas 3 SMA. Sejak itu ia seperti merasakan ketidakpastian hidup. Dengan berusaha tetap tegar ia akhirnya berhasil juga menyelesaikan SMA-nya bahkan bisa tetap kuliah. Dan selesai juga kuliahnya. Namun selesai kuliah ia belum juga mantap menapakkan kakinya. Hal itulah yang membuatnya merantau. Dari Semarang ke Jakarta. Lalu ke Batam. Dan akhirnya ke Malaysia. Dan malam itu, setelah ia bertemu dengan orangorang yang berpendidikan dan tulus, ia banyak mendapatkan pencerahan. Kisah hidup Yahya yang begitu rendah hati mau bekerja apa saja saat menuntut ilmu membuatnya kembali terlecut. Ia dulu, saat kuliah di Semarang, juga pernah mengalami apa yang Yahya alami. Saat kuliah ia pernah bekerja menjadi tukang becak, kuli panggul di Pasar Genuk, satpam di LIK, dan terakhir penjaga parkir di Pasar Johar.
Yang ia rasakan, bedanya Yahya dengan dirinya adalah Yahya begitu mantap dan bahagia dengan apa yang dilakukannya. Yahya menganggap hal itu bukan beban, tapi suatu kenikmatan. Yahya memasukkannya sebagai bagian dari ibadah dan pengabdian. Tapi dia selama ini bekerja, selalu saja menganggap sebagai beban. Dalam hatinya selalu saja masih ada rasa kuatir dan merasa tertekan. Dan malam itu ia mendapatkan pencerahan yang membuatnya merasa lebih tenang. Malam itu ia tidur dengan bibir menyungging senyum optimis. Ia optimis telah menemukan jalan untuk memperbaiki masa depan. Ia tidur dengan sama sekali tidak mengingat Mari, Iin, Sumiyati dan Linda di Subang Jaya.
Sementara di Subang Jaya sana, Mari berangkat tidur dengan perasaan kehilangan. Entah kenapa ia merasa ada yang hilang dari hatinya. Ia telah mendapatkaninformasi pekerjaan untuk Zul. Dan ia pulang dengan perasaan bahagia, sebab ia yakin Zul masih ada di rumahnya. Dan ia akan memberikan informasi pekerjaan itu pada pemuda itu. Ia akan melihat pemuda itu bahagia lalu mengucapkan terima kasih padanya. Namun ia kecewa saat ia dapati Zul tidak ada. Ia masih berharap, malam itu Zul akan kembali ke rumah itu.
Namun ia kembali kecewa. Sampai pukul satu malam ia menunggu Zul tidak juga muncul. Akhirnya ia tidur dengan perasaan masygul.

* * *
















































Lima






Dua hari pertama di Pantai Dalam Kuala Lumpur, Zul sibuk mengurus berkas-berkas pendaf tarannya ke Universiti Malaya. Dengan sabar Sugeng menemani dan mengantar ke sana kemari. Sugeng juga yang mengusahakan rekomendasi dari dua orang guru besar di Universiti Malaya (UM). Dan di hari ketiga berkas itu berhasil dimasukkan ke Institute Postgraduate Program (IPS). Zul mengambil program kerja kursus dan tesis di Fakultas Pendidikan Jurusan Sosiologi Pendidikan.
"Kita tinggal menunggu surat panggilan dari UM. Jika diterima nanti pihak IPS UM akan mengirim offer letter ke alamat kita. Dengan offer letter itulah nanti kamu mengurus registrasi dan lain sebagainya." Jelas Sugeng pada Zul setelah berhasil memasukkan berkas ke IPS.
"Berapa lama kita menunggu offer letter Mas?"
"Mungkin dua bulan lagi sudah kita terima. Sekarang yang paling penting kamu mempersiapkan biaya untuk registrasi jika diterima nanti. Jika ditotal paling tidak nanti kamu harus keluar uang tiga ribu ringgit lebih."
"Besar sekali ya Mas."
"Ini untuk pertama kali saja. Setelah itu tiap semester biaya SPP-nya terus turun. Kalau ditotal biaya kuliah di sini dengan di Indonesia kurang lebih sama. Namun jika kita bandingkan f asilitasnya, rasanya di sini lebih murah.
Hanya saja biaya hidupnya di sini cukup tinggi. Tetapi dengan menyempatkan diri sambil bekerja, semua biaya bisa ditutupi. Sekali lagi yang agak berat itu memang biaya masuk awalnya."
"Saya harus menyiapkan tiga ribu ringgit lebih ya Mas."
"Iya."
Zul mengerutkan keningnya. Dalam waktu sekitar tiga bulan ia harus mencari uang sebanyak itu. Ia agak gamang, apakah ia bisa.
"Jangan kuatir, yang penting Zul berusaha dulu. Jika nanti masih kurang, saya akan bantu mencarikan pinjaman dulu. Yang penting, Zul bisa mulai kuliah untuk sesi Juli yang akan datang."
"Iya Mas, terima kasih atas segalanya. Saya akan berusaha keras. Tadi pagi setelah shalat Subuh Mas Rizal mengajak saya untuk kerja lembur di restoran sebuah hotel nanti malam."
"Kalau begitu ayo kita pulang sekarang Zul. Kau perlu istirahat untuk persiapan nanti malam. Sementara nanti pukul dua saya ada jadwal mengajar budak-budak Malaysia di Damansara."
"Ayo Mas, berarti kita shalat Zuhur di surau di bawah flat kita."
"Iya."

* * *


Sore itu menjelang Maghrib, Zul telah siap-siap untuk mulai kerja pertama kalinya di negeri Jiran. Ia begitu bersemangat. Sebab ia punya tujuan yang jelas untuk apa bekerja. Rizal senang melihat Zul bersemangat. Ia senang, sebab malam itu ada yang menemaninya.
Selama ini ia biasanya sendirian saja.
"Kita harus sampai di Hotel Grand Season sebelum pukul setengah delapan. Pesta ulang tahun selebriti Malaysia ini akan berlangsung dari pukul delapan sampai pukul sebelas malam. Kita mungkin akan pulang sekitar pukul satu malam. Sebab selain kita bertugas menjadi pelayan yang menghidangkan makanan. Kita juga bertugas membersihkan peralatan setelah acara itu. Bagaimana kau siap Zul?"
"Siap Mas."
"Ayo kita berangkat."
Mereka berdua lalu turun dari flat. Lalu dengan sepeda Honda tua tahun tujuh puluhan mereka meluncur menyisiri jalan raya Kuala Lumpur.
"Kenapa tadi tidak memakai motornya Pak Muslim saja Mas? Lebih cepat." Kata Zul saat melihat Rizal berkali-kali melihat jam tangannya sambil mengendari sepeda motor tuanya.
"Memakai milik sendiri meskipun tua seperti ini rasanya lebih nyaman. Insya Allah tidak terlambat kok."
Jawab Rizal.
"Semoga Mas."
Mereka berdua akhirnya sampai di Hotel Grand Season yang berada di kawasan Chow Kit tepat pukul 19.15. Mereka langsung shalat Maghrib. Selesai shalat Maghrib mereka mendapat briefing dari penanggung jawab restoran. Dan malam itu Zul bekerja dengan penuh hati-hati dan dedikasi. Ia begitu semangat, seolah tidak terasa lelah.
Dalam acara yang serba mewah dan glamour itu ia bisa melihat dari dekat selebritis-selebritis papan Malaysia. Termasuk diva pop Malaysia yang sangat terkenal di Indonesia. Hanya saja ia tidak berani kenalan, minta tanda tangan atau minta foto bersama. Dalam hati kecil ada juga sebenarnya keinginan untuk sekadar menyapa bahkan minta tanda tangan. Ia hanya membayangkan jika bisa foto bersama artis paling populer di Malaysia dan Indonesia itu, lalu bisa memasang foto itu di kamarnya, atau mengirim foto itu pada teman-temannya
di Batam, pastilah ia akan merasa bahagia. Namun ia tak memiliki keberanian untuk melakukan itu semua. la juga merasa, sebagai pelayan, sangat tidak etis jika sampai berani melakukan hal itu.
Di akhir acara, ia sempat diajak bicara oleh seorang wartawati sebuah stasiun televisi Malaysia. Cantik. Ia sangat tersanjung. Wartawati itu, entah iseng entah serius menanyakan ia berasal dari mana? Lulusan apa? Dan apa motivasinya kerja di restoran hotel itu? Ia menjawab semuanya dengan jujur. Bahwa ia berasal dari Indonesia. Lulus S.l dari sebuah universitas di Semarang. Dan kerja di situ karena harus survive dan harus bisa membayar biaya SPP-nya di UM. Wartawati itu agak terkejut.
"Jadi awak sekarang sedang buat master di UM?"
"Iya."
"Dan awak ini bekerja untuk bayar studi awak?"
"Iya."
"Wah boleh. Awak boleh dikata seorang wira sejati. Saya takjub sama awak. Kalau boleh tahu ambil fakulti apa?"
"Fakulti Pendidikan, spesialisasi Sosiologi Pendidikan."
"Terima kasih. Saya sangat kagum dengan awak. Semoga berjaya. Ini kad nama saya. Suatu masa nanti kita lanjutkan pembualan kita ya? O ya lupa lagi, siapa nama awak tadi?"
"ZulHadi."
"Zul Hadi. Ada number yang bisa dikontak tidak?"
"Wah tak ada. Tapi saya ada alamat email mau?"
"A...boleh,boleh."
Zul lalu menyebutkan alamat emailnya. Wartawati itu mencatatnya di note book-nya. Lalu wartawati itu pergi sambil menganggukkan kepala dan melempar senyum kepadanya. Zul balas mengangguk dan tersenyum.
Pengalaman pertamanya kerja di Kuala Lumpur malam itu sangat mengesankan. Malam itu, ia pulang pukul setengah dua malam. Di tengah perjalanan hujan deras turun. Rizal nekat menerobos hujan itu. Dan malangnya, rantai sepeda motor tua itu putus. Jadilahmereka berdua jalan kaki sepanjang empat kilometer sambil menunrun motor. Mereka sampai di Pantai Dalampukul lima. Rizal minta maaf kepada Zul,
"Sorry Zul ya. Jika pakai sepeda Pak Muslim, mungkin kita tidak perlu jalan kaki sejauh itu."
"Tak apa-apa Mas. Malah jadi kenangan indah tak terlupakan."
"Ya. Nanti bisa kita ceritakan ini pada anak cucu kita hahaha."
"Hahaha."
Begitulah. Sejak itu Zul larut dalam dunia kerjanya.
Ia benar-benar mati-matian bekerja. Siang dan malam.
Demi bertahan hidup dan demi bisa membayar uang kuliahnya. Selain bekerja insidentil di hotel-hotel kalau ada acara-acara besar, secara rutin siang hari Zul bekerja di pom bensin selama enam jam. Rizal jugalah yang mencarikan kerja di pom bensin itu. Dan malam hari ia ikut Arif bekerja sebagai pelayan Jamaliah Cafe di daerah Taman Seputeh. Biasanya ia berangkat pukul tujuh malam dan pulang pukul tiga pagi. Nyaris ia hanya istirahat beberapa jam saja setiap hari. Karena kesibukannya itu, ia belum juga sempat mengambil barangbarangnya yang ia tinggal di rumah Mari, di Subang Jaya. Ia bahkan nyaris melupakannya.
Suatu hari ia hanya bisa mengirim SMS kepada Mari:
"Assalamu'alaikum Mbak Mari. Maaf ya, sy blm bs ke tmpt Mbak. Juga maaf pada wkt itu tdk smpt pamitan. Alhamdulillah sy sdh dpt kerja. Dan sdh dpt tmpt tnggl yg nyaman. Trs trng sy sdng sngt sibuk. Nnti jk sdh agak longgar sy k tmpt mbak untk ambil barang insya Allah. Terima kasih atas sgl kebaikannya ya. Dari adikmu: Zul."
Dalam SMS itu ia mengatakan sebagai adik Mari. Karena ia merasa Mari memang tepat dijadikan kakaknya. Dan saat bertemu untuk pertama kali ia merasakan Mari begitu baik. Dan seolah Mari menganggap dirinya sebagai adiknya.
Smsnya itu langsung dibalas oleh Mari,
"Wassalamu'alaikum wr wb. Alhdulillah kau ternyata masih hidup :) Aku smpat khwtir krn kau pergi dan dua bulan tdk ada kbrnya. Ya, smg sehat dan sukses. Barangbarangmu masih terjaga dgn baik di sini. Oh ya skdr informasi, jk nnti ke sini mngkn tak akan bertm Mbak Iin lagi. Dia sdh pulang ke Indonesia tiga hari yang lalu. Dan kemngkinan besar tidak akan kembali lagi ke sini. Terima kasih telah menganggapku sebagai kakak. Selamat bekerja. O ya apakah ini nomor hpmu? Salam sayang dari kakakmu: Mari."
Ia bahagia sekali membaca SMS itu. Ia merasakan bahwa Mari memang orang yang tulus. Menolong dirinya tanpa pamrih apapun. Terkadang terbersit dalam pikirannya andai saja Mari masih gadis dan umurnya lebih muda darinya. la merasa bisa jatuh cinta padanya.
Cepat-cepat ia menepis pikiran yang tidak-tidak itu. la lalu menjawab pertanyaan Mari,
"Mbak ini bukan nomor hp saya. Tapi nomor teman saya. Tapi saya punya alamat email. Jika ingin mengabarkan sesuatu kpd sy, ini alamatnya: zoel_guanteng@okaymail.com. Terima kasih."
Ia lalu menerima jawaban singkat dari Mari,
"Ya. Baik."

* * *

Zul terus berjuang dan bekerja. Suatu hari datanglah surat dari Universiti Malaya. Zul benar-benar diterima di perguruan tinggi tertua di Malaysia itu. Dan setelah mati-matian bekerja siang dan malam selama tiga bulan, ia bisa membayar registrasi pascasarjananya. Namun uangnya habis untuk registrasi dan mengurus student pass. Padahal ia harus segera aktif kuliah. Ia tidak bisa lagi kerja full time seperti dulu. Tapi pemasukannya harus tetap seperti dulu. Ia agak bingung menyikapi hal itu. Apalagi jika ia harus naik bus setiap hari dari Pantai Dalam ke UM. Ongkos hidupnya jadi semakin bertambah.
Apa yang ia hadapi itu ia sampaikan kepada Yahya, orang saat ini ia anggap paling dekat dengannya. Sebab Yahya tinggal satu kamar dengannya. Yahya menyimak apa yang disampaikan Zul dengan penuh perhatian. Ia menjadi pendengar yang baik. Setelah Zul menyampaikan masalahnya secara tuntas, Yahya menanggapi,
"Bisa disiasati. Sesungguhnya setiap kali Allah menghadapkan manusia pada satu masalah, sebenarnya Allah juga menyiapkan jalan keluarnya. Inna ma'al 'usriyusra. Sesungguhnya bersama kesukaran itu ada kemudahan.
Begitulah Al-Quran membahasakan. Apa yang kaualami sekarang ini pernah saya alami. Kau masih lebih beruntung Zul, sebab bisa bayar registrasi tanpa berhutang. Saya dulu sampai berhutang. Mari kita petakan apa yang kauhadapi satu per satu.
"Jika kau aktif kuliah artinya waktumu untuk bekerja di siang hari sangat sedikit. Tapi kau bisa bekerja Sabtu dan Minggu. Sebab masa aktif kuliah cuma lima hari.
Tapi saya sering lihat juga, bahwa untuk pascasarjana fakulti pendidikan sering masuk sore hari. Sebab mahasiswa dari pribumi Malaysia banyak yang dari kalangan guru. Pagi mereka mengajar, baru mereka bisa masuk kuliah sore hari. Yang paling penting, kau harus pastikan jadwal kuliah secepatnya. Baru bisa menata kapan dan di mana kau bisa kerja. Dan ada lagi yang juga sangat penting Zul, yaitu mulai sekarang kau harus memiliki sepeda motor sendiri. Selama ini kau bisa pinjam Rizal, Pak Muslim, atau siapa saja yang sepeda motornya nganggur. Tapi sekarang tidak bisa Zul. Kau sudah punya jadwal kuliah. Dan kau akan punya jadwal kerja sendiri, yang berbeda dengan Rizal sekalipun. Kalau kemarin kau bisa berangkat kerja bersama Rizal, sekarang belum tentu bisa.
"Menurut saya, sepeda motor sudah kebutuhan primer bagi mahasiswa UM. Tidak sekunder lagi. Bahkan kalau disuruh memilih penting mana sepeda motor sama komputer? Saya akan langsung jawab; penting sepeda motor. Kita tidak akan leluasa bergerak tanpa sepeda motor. Tapi kita masih bisa mengerjakan tugas dengan baik meskipun tidak memiliki komputer. Sebab di kampus fasilitas komputer sangat berlebih. Di mana-mana ada komputer dan internet. Itu yang bisa saya sarankan Zul."
Zul memikirkan dan merenungi saran Yahya benarbenar. Apa yang disarankan Yahya ia rasakan banyak benarnya. Ia harus punya sepeda motor meskipun tua dan butut. Akhirnya dengan memberanikan diri, ia meminjam uang pada Pak Muslim untuk membeli sepeda motor. Ia membeli sepeda motor yang murah, Suzuki tahun tujuh puluhan akhir.
"Yang penting bisa jalan dan mengantarkan sampai tujuan." Gumamnya dalam hati.
Setelah itu ia melihat jadwal kuliahnya. Dan menata jadwal kerjanya. Dengan terpaksa kerja di pom bensin ia tinggalkan. Sebab kerja di pom bensin itu banyak bertabrakan dengan jadwal kuliahnya. Sebagai gantinya ia kerja di warung runcit. Berangkat pukul delapan sampai pukul dua siang. Setiap hari. Jadwal kuliahnya banyak di sore hari. Mulai pukul tiga atau pukul empat.
Dan seringkali selesai pukul sembilan malam. Di atas pukul sembilan masih ia gunakan untuk bekerja di kedai Jamaliah Cafe. Hanya dua jam setengah saja. Dari pukul setengah sepuluh sampai pukul dua belas malam. Ia hanya punya waktu untuk belajar setelah shalat Subuh.
Dan itu ia gunakan sebaik-baiknya. Jika setelah Subuh ia tidak belajar itu artinya ia tidak punya waktu lagi untuk belajar. Maka baginya waktu setelah shalat Subuh sangat mahal. Ia merasa beruntung tinggal satu kamar bersama Yahya. Sebab Yahya punya kebiasaan belajar setelah shalat Subuh.
"Saya belajar setelah shalat Subuh ini sejak di SD.
Saya ini aneh, untuk buku-buku yang serius saya hanya bisa konsentrasi jika membacanya pada pagi hari. Ya setelah shalat Subuh itu. Biasanya kalau yang saya baca setelah shalat Subuh itu banyak melekatnya di otak." Kata Yahya pada Zul suatu ketika.
"Dan lagi setelah shalat Subuh itu waktu yang penuh barakah. Baginda Nabi sudah menjelaskan bahwa barakah untuk umatnya diturunkan pada waktu pagi. Jika kita ingin dapat banyak barakah ya berarti kita harus menghidupkan waktu pagi kita. Waktu Subuh dan setelah Subuh kita." Sambung Yahya.
"Wah cocok sekali apa yang Mas Yahya sampaikan dengan fenomena yang saya amati. Itu orang-orang China yang kaya-kaya. Baik di Indonesia atau di Malaysia, mereka itu selalu membuka toko dan dagangannya pagi-pagi sekali. Saya punya teman di Batam, dia pernah menjadi pembantunya orang China di Jakarta. Dia cerita, tuannya itu sudah bangun pagi sejak pukul empat pagi. Begitu bangun pagi langsung melihat siaran televisi dunia. Melihat indeks harga saham dunia. O jadi nyambung sama barakahnya waktu pagi."
"Iya Zul. Semestinya kita harus bangun lebih pagi dari orang China."
"Benar Mas."

* * *










Enam






Tak terasa Zul telah melewati satu semester. Selama itu ia seperti tidak mengenal siang dan malam. Hariharinya ia lewati dengan bekerja dan belajar. Bekerja dan belajar. Ia tampak lebih kurus dari hari pertama saat ia tiba di Malaysia. Hidup setengah tahun lebih bersama Yahya membuatnya lebih banyak tahu tentang ajar an agamanya. Ia yang selama ini tidak mendapat pengajaran agama secara mendalam, banyak mendapat masukan-masukan tentang keindahan Islam. Sedikit demi sedikit Yahya memberikan pencerahan, tanpa terasa.
Tidak ada waktu khusus mengaji pada Yahya. Cukuplah interaksi harian menjadi tempatnya menimba ilmu.
Malam itu Kuala Lumpur hujan deras. Zul bangun dan shalat Tahajjud. Di keheningan malam itu ia memuhasabahi dirinya sendiri. Ia merenungi perjalanan hidupnya selama ini. Banyak sekali tingkah lakunya yang jauh dari perilaku yang dibenarkan oleh agama. Ia jadi teringat masa SMA-nya dulu. Ia pernah pacaran dengan anak SMA tetangga desa. Ia pacaran diam-diam. Pakdenya, yang menjadi pengasuhnya, tidak pernah tahu. Ia pernah pergi dengan pacamya itu malam mingguan di Simpang Lima Semarang. Dan astaghfirullah ia bergandeng tangan dan duduk berpelukan mesra dengan pacarnya itu sambil nonton ramainya kawasan Simpang Lima. Ia putus dengan pacarnya, setelah lulus SMA. Pacarnya itu dikawinkan paksa oleh orangtuanya. Dan ia tidak memberitahukan hal itu kepadanya. Tahu-tahu ia mendapat kabar pacarnya sudah kawin dan hidup bersama suaminya di luar Jawa. Ia sempat sakit hati. Lalu saat kuliah di IKIP ia sempat pacaran lagi. Hanya bertahan dua bulan. Ia putuskan pacarnya itu setelah ia tahu pacarnya itu temyata punya pacar selain dia. Ia sakit hati.
Setelah itu ia tidak pernah pacaran lagi. Dua kali ia dikhianati perempuan, dan baginya itu cukup. Ia tak mau lagi.
Ia bersyukur kepada Allah yang menjaganya, hanya dua kali saja pacaran. Dan tidak sampai melakukan yang lebih dari sekadar bergandeng tangan dan berpelukan. Ia tidak bisa membayangkan jika Allah tidak menjaganya. Mungkin ia telah berbuat maksiat yang lebih besar lagi madharatnya.
Dari Yahya ia tahu bahwa tidak halal menyentuh tubuh perempuan yang bukan mahramnya. Tidak halal berasyik-masyuk dengan perempuan yang bukan isterinya. Pacaran adalah cara setan menggiring umat manusia agar jatuh pada perbuatan nista yang dikutuk semua agama, yaitu zina. Banyak orang melakukan pacaran yang—karena masih disayang Allah—diselamatkan oleh Allah dari dosa besar itu. Namun tidak terhitung jumlahnya manusia yang melakukan pacaran dan akhirnya jatuh ke lembah nista itu, yaitu melakukan perzinahan berulang-ulang kali.
Zul jadi merinding mengingat hal itu. Berulang-ulang kali ia mengucapkan istighfar. Ia membayangkan seperti apa besar dosanya. Berapa kali ia bermesraan danberpelukan dengan perempuan yang tidak halal baginya.
"Astaghfirullahal adhim. Ya Allah ampuni dosadosaku. Ampuni kebodohanku. Ampuni perbuatanperbuatan jahiliyahku."
Ia menangis bila mengingat yang terjadi pada teman satu kelasnya di SMA. Dua sejoli si Fulan dan si Fulanah. Mereka berpacaran dan kebablasan. Si Fulanah hamil.
Keduanya mengakui perbuatan keji itu pada pihak sekolah. Akhirnya keduanya dinikahkan oleh keluarga mereka. Dan tepat satu minggu sebelum ujian akhir keduanya dikeluarkan dari sekolah. Sebelum pergi ke Jakarta ia mendengar kabar keduanya cerai. Lebih menyedihkan lagi si Fulanah kabarnya bekerja di Sunan Kuning10 dan si Fulan dipenjara karena terlibat curanmor. 10 Sunan Kuning adalah nama sebuah lokalisasi di Kota Semarang, lebih dikenal dengan singkatan SK.
Jika Allah tidak mengasihinya, bisa jadi nasibnya lebih buruk dari si Fulan dan si Fulanah. Sebab saat ia pacaran ia nyaris pernah melakukan perbuatan yang dilarang itu dengan pacarnya. Zul kembali menangis mengingat hal itu,
"Ya Allah kalau tidak Kauselamatkan diriku. Akan jadi apakah diriku ini? Akan jadi budak setankah? Akan jadi makhluk yang durhaka kepada-Mu kah? Ya Allah,
terima kasih ya Allah telah menyelamatkan diriku. Ya Allah aku ingin hidup lurus di jalan-Mu. Ampunilah dosa-dosaku yang telah lalu. Limpahkanlah hidayah-Mu dan jagalah diriku dari perbuatan maksiat dengan penjagaan- Mu yang tidak pernah luput sekejap pun juga."
Di akhir muhasabahnya ia teringat kebersamaannya dengan Man dan teman-temannya. Juga perjumpaannya dengan Linda. Ia mohon ampun kepada Allah jika ada perbuatannya yang dosa, juga memintakan ampun kepada Allah untuk Mari, Iin, Sumi dan Linda. Walau bagaimanapun Mari telah memberikan pertolongan padanya.
Pagi harinya entah kenapa ia merasa ingin bersilaturrahmi ke rumah Mari di Subang Jaya. Beberapa kali ia menepis keinginan itu. Ia katakan pada dirinya bahwa besok-besok masih ada waktu untuk mengambil barangbarangnya.
Namun keinginannya untuk pergi ke rumah Mari entah kenapa terus mendesaknya.
Pada akhirnya ia tetap merasa harus bersilaturrahmi hari itu dan pagi itu juga. Ya, bersilaturrahmi sekadarnya saja. Sambil mengambil barang-barangnya yang masih tertinggal di sana. Ia belum mengucapkan terima kasih secara langsung pada Mari. Selain itu ia masih memegang kunci rumah itu. Ia benar-benar lupa kalau memegang kunci milik Linda. Ia harus mengembalikan kunci itu segera.
Pagi itu tepat jam delapan, setelah sarapan roti canai ia langsung ke stasiun KTM. Ia tidak membawa apa-apa.
Kecuali tas cangklong hitamnya. Ia bahkan tidak memakai sepatu, hanya memakai sandal jepit hitam. Dari stasiun Pantai Dalam ia ke KL Sentral. Lalu dari KL Sentral ia naik bus ke Subang Jaya. Di tengah perjalanan ketika bus baru keluar dari KL Sentral hujan turun dengan deras.
Bus tetap melaju dengan tenang. Zul menikmati indahnya kota Kuala Lumpur dalam siraman air hujan. Air mengalir dengan teratur ke selokan-selokan yang diatur rapi. Paru-paru kota yang ada di hampir setiap sudut kota menyerap air hujan dengan segera. Tak ada banjir tak ada air menggenang. Zul boleh salut pada tata kota Kuala Lumpur. Bus melaju dengan kecepatan sedang dan sampai di Subang Jaya pukul sepuluh siang.
Zul turun dari bus. Hujan masih turun rintik-rintik. Ia menutup kepalanya dengan tas hitamnya. Iaberjalan sambil mengingat-ingat jalan menuju rumah Mari. Sambil berjalan ia meraba saku celananya untuk meyakinkan bahwa kunci yang dulu dipinjamkan oleh Linda telah terbawa. Ia meraba dan menemukannya. Ia melangkah dengan cepat. Ia telah memasuki kawasan Taman Subang Permai. Ia ingat jalan depan belok kanan.
Rumah keempat dari ujung jalan itulah rumah Mari.
Tiba-tiba hatinya berdegup kencang. Ia teringat Linda. Yang ada di rumah itu pada waktu siang biasanya adalah Linda. Yang lain pergi kerja. Dan hujan-hujan begini ia akan mengetuk rumah itu dan bertemu Linda. Yang bisa jadi ia akan mengenakan pakaian yang tidak menjaga susila seperti dulu lagi. Ia jadi ragu. Antara meneruskan langkah atau pulang. Sementara rinai hujan masih terus turun. Akhirnya ia nekat tetap maju meneruskan langkah. Niatnya adalah mengembalikan kunci, mengambil barang-barangnya, dan menyampaikan rasa terima kasih. Bukan yang lain. Ia meniatkan diri untuk tidak lama di rumah itu. Mungkin cuma dua atau tiga menit saja. Ia bisa beralasan sibuk pada Linda. Sejurus kemudian Zul sudah sampai di depan rumah Mari. Ada mobil Proton Saga berwarna merah hati di depan gerbang. Pintu besi rumah itu terbuka. Namun pintu kayunya tertutup rapat. Artinya ada orang di dalam.
Tiba-tiba ia mendengar suara barang dibanting.
Seperti piring. Hujan kembali turun semakin lebat. Ia mempercepat langkah menuju teras. Bersama suara guntur yang menggelegar ia mendengar suara perempuan menjerit-jerit minta tolong dari dalam rumah. Ia kaget. Spontan ia lari ke pintu. Ia menggedor-gedor pintu. Pintu terkunci.
Ia ingat, bahwa ia membawa kunci rumah itu. Suara perempuan dari dalam rumah kembali menjerit-jerit minta tolong.
"Toloong, tolooong! Jangan! Jangan!"
Halilintar kembali menyambar. Ia menyangka suara itu adalah suara Linda yang mungkin hendak dianiaya oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Walaupun ia tidak suka dengan perbuatan dan cara berpikir Linda, tapi ia merasa perempuan itu tetap harus ditolong. la membuka pintu. Dan...
Alangkah terkejutnya ia. Di ruang tamu itu ia melihat Mari tengah bergelut melawan seorang lelaki gundul bertubuh besar yang hendak merogolnya.11 Mari merontaronta sekuat-kuatnya. Kedua kakinya menendangnendang.
Pakaiannya bagian atas tidak sempurna lagi menutupi tubuhnya. Ia melihat Mari mati-matian mempertahankan celana jeansnya yang hendak dilepas paksa. Melihat kemungkaran itu emosi Zul tidak tertahankan lagi. Darahnya mendidih. Ia langsung membentak dengan sekeras-kerasnya,
"Hai bajingan! Berhenti kau! Kurang ajar!"
Bersama dengan meluncurnya bentakan keras dari mulutnya ia langsung melompat menendang lelaki itu, tepat saat lelaki itu kaget dan menoleh ke arahnya.
Tendangan itu mengenai muka lelaki gundul itu. Tepat di hidungnya. Tak ayal tubuh lelaki gundul itu terpelanting dari atas tubuh Mari. Mari langsung bangkit dan lari ke pojok ruangan sambil mendekap tubuhnya yang gemetar ketakutan.
"Bangsat! Siapa kau berani mencampuri urusanku!"
Lelaki itu berdiri dengan amarah memuncak di ubunubunnya. Ia memegangi hidungnya yang terasa sakit. Zul tidak gentar. Ia pernah dikeroyok oleh preman Pulo Gadung dan tidak mat! meskipun saat itu tidak bisa dikatakan ia menang atau kalah. Yang jelas ia tidak mati. Zul balik menggertak,
"Justru seharusnya aku yang harus bertanya. Siapa kau bajingan berani kurang ajar sama kakakku!"
"Apa? Mari itu kakakmu! Dasar penjahat. Rupanya kau ya yang membawa lari Mari kemari. Ketahuilah aku adalah Warkum, suami Mari yang sah. Aku ingin membawa dia kembali ke rumahku!"
"Dasar bajingan iblis! Kau bukan suamiku lagi! Aku tidak sudi melihatmu apalagi kembali padamu!"
"Tutup mulutmu perempuan sundal! Mau tidak mau kau tetap isteriku! Dan kau kucing alas, jangan ikut campur urusan rumah tangga orang lain ya! Atau...."
"Atau apa? Aku sudah tahu semuanya. Kau dan Mari
tidak ada hubungan apa-apa lagi. Kau boleh bawa Mari ke mana saja asal bisa melangkahi mayatku!"
"Kurang ajar!"
Lelaki botak itu mengayunkan pukulan tangannya dengan sekuat tenaga. Jika pukulan itu mengenai dada Zul, bisa jadi dada yang tipis itu akan rontok. Tapi Zul yang sudah pernah belajar karate saat kuliah dan pernah berkelahi dengan preman dengan tenang mengelit sambil menyarangkan tendangan ke perut Warkum. Warkum terhuyung. Emosinya semakin menghebat.
"Setan alas!"
Ia langsung mengambil kursi plastik dan mengayunkan ke kepala Zul. Zul menghindar. Warkum terus memburu. Satu sabetan Warkum mengenai pelipis Zul.
Langsung berdarah.
Di pojok ruangan Mari menjerit histeris. Zul berusaha tetap tenang. Ia mencopot sandalnya yang ia rasa mengganggu gerakannya. Ia mencari peluang untuk menyarangkan serangan yang telak. Warkum terus memburunya dengan ganas. Melihat darah mengalir di pelipis Zul, semangat Warkum untuk membunuh semakin membara. Pada saat Warkum merasa bisa menghantam Zul dengan kursi plastiknya ia langsung mengerahkan segenap tenaganya.
Sabetan itu sangat keras. Pada saat menyabet kaki Warkum tidak kokoh menapak di bumi. Dengan gesit Zul mengelak dengan menjatuhkan diri ke lantai. Lalu ia melakukan tendangan memutar sekeras-kerasnya ke arah kemaluan Warkum. Tendangan itu sangat cepat dan keras. Tendangan itu yang tak lain adalah jurus buaya mengibaskan ekor yang pernah ia pelajari dari Mbah Tarmidi yang dikenal sebagai guru silat di desanya.
Kekuatan yang digunakan menyerang dalam tendangan itu adalah kekuatan putaran kaki dan senjata untuk melakukan serangan adalah kerasnya tumit kaki.
Tendangan Zul sangat akurat.
Akibatnya...
"Plakk!"
Tendangan Zul tepat mengenai sasaran. Tumitnya menghantam kemaluan Warkum dengan sekeraskerasnya.
Warkum langsung terjengkang dan mengerang kesakitan. Kursi plastik itu terlepas dari tangan Warkum. Zul tidak mau membuang kesempatan. Ia langsung menyarangkan tendangan keras ke rahang Warkum. Warkum kembali mengaduh.' Ia berusaha bangkit. Namun Zul langsung memukulnya dengan kursi kayu sekeras-kerasnya. Warkum mengerang sambil mengucapkan kata-kata kotor. Zul melihat televisi yang telah hancur. la angkat televisi itu dan ia tumpukkan ke muka Warkum. Muka itu langsung luka dan berdarah.
Seketika itu Warkum mengaum minta ampun.
"Sudan aku mengaku kalah! Aku tidak akan mengganggu kalian lagi. Tolong maafkan aku!" teriak Warkum sambil memegangi kemaluannya.
Zul melihat ke arah Mari.
"Mbak mau memaafkan dia?" tanya Zul.
Mari menggelengkan kepala.
Zul melangkah ke kamar Mari yang terduduk gemetar di pojok ruangan. Ia pernah melihat ada palu di bawah meja rias. Jika tidak dipindah palu itu pasti masih ada di sana. Dan benar palu itu masih ada di sana. Zul langsung memungutnya. Sementara Mari masih mematung di pojok ruang tamu. Warkum berusaha bangkit. Pada saat ia mau bangkit Zul telah kembali ke ruang itu dan langsung menendang kepala Warkum yang gundul itu sekeras-kerasnya. Warkum langsung mengaduh,
"Ampun tolong. Aku mengaku kalah! Biar aku pergi! Ampuni aku!"
Kini tangan kanan Zul memegang palu erat-erat.
"Bagaimana Mbak Mari, mau mengampuni penjahat ini?"
Mari menggelengkan kepala. Begitu melihat Mari menggelengkan kepala, Zul langsung memukulkan palu yang ada di tangan kanannya itu ke jari kaki kanan Warkum sekeraskerasnya. Zul memukulnya dengan cepat tiga kali berturut-turut. Warkum merasakan tulang jari kakinya remuk. Ia menjerit sekuat-kuatnya minta ampun.
"Bagaimana Mbak Mari mau memberi ampun?" tanya Zul.
Mari diam saja. Warkum memandang Zul yang saat itu berwajah sangat dingin. Ia berusaha menyeret tubuhnya ke belakang.
"Berhenti di tempat! Atau aku pukul gundulmu sampai pecah. Aku tahu kau bajingan dan punya anak buah banyak. Tapi kau harus tahu aku ini tahu bagaimana cara memecah dan meremuk tulang kepala seorang penjahat seperti kamu. Tahu!" Zul membentak,
Warkum seketika diam tak berani bergerak. Ia sudah benar-benar tidak berdaya.
"Bagaimana Mbak Mari, mau mengampuni penjahat ini?" Zul kembali bertanya pada Mari.
Mari kembali menggelengkan kepala. Zul langsung mendekati Warkum. Warkum mengaduh minta ampun. "Letakkan tangan kananmu di lantai!" Perintah Zul. Warkum malah menggenggam tangan kanannya dan tangan kirinya seolah-olah hendak melindunginya.
"Dengar, sekali lagi letakkan tangan kananmu di lantai atau aku akan menghancurkan kemaluanmu dan kau akan mampus saat ini juga!" Gertak Zul dengan muka merah padam. Warkum yang tak punya nyali itu dengan tubuh gemetar meletakkan tangan kanannya di lantai.
"Hmm itu ya tangan yang selama ini digunakan untuk menjahati dan menodai kaum perempuan. Baik nihrasakan!"
Zul memukulkan palunya ke jari-jari Warkum dengan keras beberapa kali. Warkum merasakan sakit luar biasa. Sampai ia tidak bisa lagi menjerit.
"Ini pertanyaan saya terakhir, Mbak Mari mau mengampuni penjahat ini? Jika tidak palu ini akan mengeluarkan otak penjahat ini dari batok kepalanya. Biar dia mampus di sini dan tidak akan mengganggu Mbak Mari lagi!"
Mendengar kata-kata itu Warkum kembali memohon ampun. Warkum melihat bahwa ancaman Zul bukan gertak sambal saja. Ia melihat pemuda kurus yang menghajarnya ini punya nyali yang luar biasa dan jika nekat matanya seolah buta.
"Mari, to... tolong maafkan aku! Aku tak ingin mari.
A... aku khilaf. A... aku janji tidak akan mengganggumu
lagi dan tidak akan menampakkan wajah di hadapanmu lagi!" Kata Warkum mengiba dengan suara terbata-bata. "Bagaimana Mbak Mari? Ini pertanyaan saya terakhir!" tanya Zul dengan wajah dingin.
Mari bangkit dan melangkah lalu meludahi Warkum.
"Saat ini aku belum bisa memaafkan dia Zul. Tapi biarkan dia pergi. Biarkan dia hidup. Jika kau bunuh dia nanti urusannya panjang!"
"Aku tahu dunia preman. Urusannya tidak akan panjang Mbak. Kalau mau biar kubereskan dia. Sampah seperti dia inilah yang merusak kesucian anak gadis di mana-mana. Dia tak pantas hidup!"
"Biarkan dia pergi Zul!"
"Baik Mbak."
Warkum langsung berkata,
"Te... terima kasih Mari!"
"Hei, cepat pergi. Sebelum aku berubah pikiran! Ingat, hari ini kau berhutang nyawa pada Mbak Mari. Sebab jika tidak karena dia menyuruh membiarkanmu pergi, gundulmu itu pasti sudah hancur! Cepat pergi!" Bentak Zul dengan mata dipelototkan.
Dengan susah payah Warkum bangkit. Zul mengambil kain penutup meja dan melempar ke muka Warkum.
"Hei, usap lukamu dengan ini!"
Warkum berdiri. Ia mengusap darah yang mengalir dimukanya. Juga darah yang keluar dari jari-jari tangan kanannya yang hancur. Dengan langkah pincang tertatihtatih ia berjalan keluar rumah. Di luar hujan tinggal menyisakan gerimis. Zul mengikuti sampai di pintu. Ia mengamati Warkum dengan pandangan dingin. Susah payah Warkum masuk ke dalam mobilnya. Ia lalu menghidupkan mesin mobilnya dan meninggalkan rumah itu. Begitu deru mobil itu tidak terdengar lagi Zul masuk dan langsung duduk di sofa.
Mari langsung menghambur bersimpuh menangis di kaki Zul. Mari menangis terisak-isak mengucapkan rasa terima kasih dengan terbata-bata. Zul terpana sesaat seakan hilang kesadaran. Ia mematung tak tahu harus berbuat apa menerima luapan keharuan Mari yang ditumpahkan sepenuhnya kepadanya. Beberapa saat kemudian kesadarannya pulih kembali.
"Mbak Mari sudahlah. Tolong Mbak bangkit ke kamar dan merapikan pakaian Mbak!" Ucap Zul pelan.
Mari menghentikan isakannya. la melihat tubuhnya sendiri. Barulah ia menyadari ada bagian tubuhnya yang seharusnya tertutupi tapi tidak tertutupi. Baju yang seharusnya menutupi aurat itu sobek. Dan penutup aurat di bawah baju telah putus dan tidak lagi menempel di badannya. Ia tidak menyadari hal itu sebelumnya karena ketegangan dan ketakutan luar biasa.
Begitu sadar muka dan perasaannya berubah seketika, dari haru menjadi malu. Mari langsung melindungi bagian itu dengan menutupkan bajunya yang sobek, lalu menyilangkan kedua tangannya ke dada. Kemudian ia bangkit dan bergegas ke kamarnya. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, menunjukkan bahwa ia malu luar biasa.
Zul menarik nafas dalam-dalam. Ia memejamkan kedua matanya. Punggungnya ia sandarkan sepenuhnya ke sofa. Ia tak membayangkan akan pernah berkelahi dengan penjahat yang hendak memperkosa seorang wanita seperti yang baru saja terjadi. Ia jadi teringat keinginannya yang sangat kuat untuk pergi ke rumah ini. Keinginan yang tidak bisa ditepisnya sama sekali.
Rupanya ia harus datang untuk membela orang yang pernah berbuat baik padanya.

* * *












Tujuh






Zul menarik nafas dalam-dalam. Ia masih memejamkan kedua matanya sambil menyandarkan punggungnya ke sofa. Inilah untuk kedua kalinya ia bertarung dengan penjahat. Dan kali ini ia menang. Ia merasa puas karena bisa memberi ganjaran setimpal pada penjahat berkepala gundul itu.
Mari masih berada di dalam kamarnya. Zul kembali menarik nafas. Tiba-tiba ia merasa ada yang mengalir di ujung mata kanan turun ke pipi. Ia raba. Darah. Darah itu mengalir dari pelipisnya yang luka. Namun ia yakin luka itu tidak parah. Paling hanya sobek beberapa senti saja. Ia merasa itu hanya luka kecil yang dalam beberapa hari akan sembuh.
Mari keluar dari kamarnya dengan wajah yang lebih cerah. Pakaiannya rapi. Blues merah muda lengan panjang dengan bawahan celana kulot merah marun. Jika diperhatikan dengan sedikit serius penampilannya tampak anggun. Ia menggelung rambutnya dengan sederhana. Sehingga tidak lagi awut-awutan. Tampaknya ia telah membasuh mukanya, dan telah berusaha menghapus bekas-bekas tangis dari wajahnya. Meskipun tidak benar-benar berhasil.
Zul masih memejamkan mata sehingga tidak menyadari ketika Mari keluar dari kamarnya dan memandangnya beberapa saat lamanya. Posisi Zul membelakangi pintu kamar Mari. Sehingga Mari tidak melihat Zul dari depan. Mari mendekat. Dan ketika melihat wajah Zul ia kaget.
"Zul, kau luka Zul! Kau berdarah Zul, ya Allah ya Rabbi!" Ucap Mari setengah berteriak.
Zul mengerjapkan matanya. Dan langsung menyahut,
"Ah tidak apa-apa kok Mbak. Cuma luka kecil saja."
"Tapi darahnya sampai mengalir ke dagu begitu. Harus segera diusap dan dibersihkan. Sebentar Zul."
Mari kembali ke kamarnya. Ia mengambil kapas dan obat merah.
"Sini Zul biar aku bersihkan dan aku obati!" Kata Mari lagi sambil membawa kapas dan obat merah.
"Tidak usah Mbak. Sini kapas dan obat merahnya biar aku obati sendiri. Sekalian aku mau ke kamar kecil."
Sergah Zul.
Mau tidak mau Mari menyerahkan kapas dan obat merah pada Zul. Saat itu Mari ingin sekali mengusapkan dan membersihkan darah orang yang telah membela kehormatannya. Ia rasanya ingin langsung membalas segala kebaikan Zul. Mari memandangi Zul yang melangkah ke kamar kecil dengan pandangan yang susah untuk diartikan. Pandangan merasa berhutang budi, sayang, kagum, kasihan, juga cinta.
Zul mengusap lukanya dengan kapas. Lalu membasuh dengan air. Darah dari lukanya mulai berhenti.
Setelah mengeringkan lukanya itu dengan kapas, ia mengobatinya dengan obat merah. Setelah itu ia keluar. Mari menunggunya di sofa. Ia duduk tak jauh dari Mari.
"Harus bagaimana aku berterima kasih padamu Zul?" Mari mengawali pembicaraan.
"Tak perlu berterima kasih pada saya Mbak. Saya hanya melakukan apa yang seharusnya saya lakukan. Itulah kewajiban manusia jika melihat kemungkaran."
Tiba-tiba Mari terisak-isak,
"Kau telah menyelamatkan kehormatanku Zul. Kalau tadi tidak ada kau, entah apa jadinya diriku saat ini. Mungkin aku telah bunuh diri Zul!"
"Berterima kasihlah pada Allah Mbak. Allahlah yang menggerakkan kedua kaki saya untuk bertandang ke sini pagi ini."
Mari sepertinya tidak mendengar kalimat yang diucapkan Zul. la menundukkan mata dan larut dalam tangisnya. Dadanya dipenuhi rasa haru dan rasa syukur yang membuncah-buncah. Beberapa saat lamanya hanya isak tangis Mari yang terdengar. Zul hanya bisa diam di tempatnya.
"Terima kasih Zul, kau telah menyelamatkan kehormatan dan kesucianku. Kehormatan yang selama ini aku jaga mati-matian. Tanpa kehormatan itu aku merasa akan hidup sia-sia. Aku sangat berhutang budi padamu."
Mari kembali mengucapkan rasa terima kasih dengan sepenuh jiwanya pada Zul. Zul bisa merasakan itu. la hanya bisa menjawab pelan,
"Ingatlah Allah Mbak. Berterima kasihlah pada Allah."
"Iya Zul, iya. Allah masih menyayangiku Zul. Allah masih menyayangiku."
"Iya Allah masih menyayangi Mbak. Dan semoga terus menyayangi Mbak."
"Allahlah yang mengatur kau datang tepat pada wakrunya."
"Iya Allahlah pengatur kehidupan ini Mbak."
"Aku tak pernah menyangka penjahat itu bisa datang ke rumah ini. Sungguh aku sama sekali tidak menyangka."
Guman Mari sambil mengangkat muka dan menghapus airmatanya.
"Bagaimana ceritanya, semua ini bisa terjadi Mbak.
Dan Mbak kok di rumah? Apa Mbak sedang libur?"
"Begini lho Zul ceritanya. Sebenarnya aku tidak libur. Pagi ini aku mencuci sampai jam delapan. Aku mau berangkat kerja jam sembilan. Teman-teman sudah berangkat pukul setengah delapan. Kira-kira jam sembilan kurang seperempat aku sudah siap untuk berangkat. Tiba-tiba hujan turun deras sekali. Aku mencari-cari payung tidak ada. Aku baru ingat kalau payungku dipinjam sama temanku yang tinggal di Kelana Jaya. Akhirnya aku telpon ke kantor tempat aku kerja untuk dijemput. Ternyata tidak ada mobil yang nganggur. Semuanya sedang dipakai. Tapi pihak kantor juga bilang, jika ada mobil nganggur akan segera "Karena hujan sangat deras, aku diminta tetap di rumah saja. Jika terpaksa tidak ada mobil, aku diberi ijin untuk datang setelah Zuhur. Bahkan boleh libur.
Akhirnya aku santai di ruang tamu ini dengan tetap memakai pakaian yang biasa aku gunakan kerja. Pukul sepuluh kurang sepuluh menit aku mendengar mobil menderu. Lalu orang mengetuk pintu. Aku tidak curiga sedikit pun. Kukira itu adalah orang kantor yang datang menjemputku.
"Tanpa curiga, aku langsung membuka pinta lebarlebar. Alangkah terkejutnya diriku ternyata yang datang adalah si Warkum. Aku hendak menutup pintu kembali, tapi sudah terlambat. la berhasil menerobos masuk bahkan langsung mengunci pintu itu. Lalu ia memintaku untuk menuruti keinginan nafsunya. Jelas aku menolak. Aku lebih baik mati daripada menyerahkan kehormatanku padanya. Ia kalap. Amarahnya memuncak. Pandanganya buas bagaikan serigala liar yang kelaparan. la berusaha memangsaku. Aku terus melawan sekuat tenaga. Aku berusaha mempertahankan kehormatanku sekuat tenaga. Prinsipku lebih baik mati daripada diperkosa.
"Aku terus melawan. Namun aku adalah seorang perempuan, tenagaku tak sebanding dengan tenaganya.
Kekuatanku tak mampu menandingi kekuatannya. Aku nyaris tidakberdaya karena kehabisan tenaga. Dan dia nyaris mendapatkan apa yang diinginkannya. Tiba-tiba kau datang.
"Kau datang dan membuat bajingan itu terpelanting. Awalnya aku kira kau adalah malaikat utusan Tuhan yang menyambar penjahat itu dengan cemeti mahasaktinya. Malaikat yang diturunkan Tuhan karena rintihan doaku di saat paling kritis. Malaikat dalam arti sebenarnya. Ternyata bukan, yang datang bukan malaikat tapi manusia. Mahakuasa Allah."
Mari kembali terisak-isak.
Zul diam mematung di tempatnya.
"Dik bagaimana ceritanya kok kau bisa kemari pagi ini dan bagaimana kau bisa membuka pintu itu? Dengan apa kau membukanya?"
Zul menarik nafas, lalu dengan tenang menceritakan kronologisnya bisa sampai di rumah itu. Tentang keinginannya untuk datang ke rumah itu. Keinginan yang muncul tiba-tiba pagi itu dan seolah tidak bisa ditolaknya. la juga bercerita tentang kunci Linda yang masih di tangannya. Mari mendengarkan cerita Zul dengan seksama dan dengan mata berkaca-kaca. la merasakan kasih sayang yang dicurahkan oleh Allah kepadanya.
"Siapakah yang menghadirkan keinginan untuk datang kemari itu kalau bukan Allah Mbak? Dan siapakah yang menghadirkan keberanian dalam dada ini untuk bertarung dengan penjahat itu kalau bukan Allah? Dan siapa yang menolong saya memenangkan pertarungan tadi kalau bukan Allah?"
Airmata Mari kembali meleleh.
Zul diam. Sesaat lamanya ruangan itu diselimuti kesunyian.
"Tetapi Zul, walau bagaimana pun aku sangat berhutang budi padamu Zul. Bagaimana aku harus membalasnya?" Lirih Mari seraya mengangkat muka memandang wajah Zul. Zul memandang ke arah Mari, lalu menarik pandangannya ke lantai.
"Sudahlah Mbak. Aku merasa tidak berbuat apa-apa selainmelakukan kewajibanku sebagai seorang manusia yang melihat kezaliman di depan mata. Mbak jangan mengatakan hal seperti itu lagi."
"Kau harus tahu sesuatu Zul. Agar kau tahu betapa aku sangat berhutang padamu."
"Sesuatu itu apa Mbak?"
"Si W tadi itu, ia datang mengatakan ingin meminta haknya sebagai seorang suami. Haknya yang katanya belum pernah aku berikan padanya setelah dia menikahi aku dan membayar mas kawin padaku."
"Aku tidak paham maksudnya Mbak."
"Maaf, biar aku perjelas. Pada hari aku menikah dengannya itu, aku sedang datang bulan. Jadi ia tidak menjamah kesucianku. Biasanya aku datang bulan lebih satu minggu. Lha seminggu kemudian, artinya seminggu setelah akad nikah ia pergi ke Jakarta, dan saat itu aku masih dalam kondisi datang bulan. Jadi ia sama sekali belum menjamah kesucianku.
"Seperti yang dulu pernah kuceritakan kepadamu. Kalau tidak salah aku pernah cerita padamu Zul. Dia pergi ke Jakarta dengan alasan bisnis. Ternyata beberapa hari kemudian ia tertangkap dalam kondisi over dosis di sebuah hotel. Ia masuk penjara. Dan aku kemudian tahu semua kejahatannya. Saat itu aku mengajukan gugatan cerai.
Tak bisa ditawar lagi, karena aku tidak mau punya suami seorang penjahat yang kejahatannya benar-benar telah melampaui batas. Jadi meskipun aku telah menikah sejatinya kesucianku belum pernah dijamah oleh suamiku. Dan sampai hari ini mahkota kesucianku belum tersentuh oleh siapapun. Statusku memang janda, tapi kesucianku masih utuh. Sumpah demi Allah, Zat Yang Mahatahu. "Kau harus tahu Zul, selama ini betapa mati-matian aku menjaga mahkota ini. Betapa mati-matian aku menjaga iman ini. Godaan, bujuk rayu datang setiap saat. Alhamdulillah aku kuat. Tiba-tiba si W itu datang mau merenggut mahkota itu. Dan mahkota kesucian yang lebih berharga dari nyawaku sendiri itu nyaris ternistakan, kalau saja kau tidak datang. Inilah Zul sesungguhnya yang aku alami. Inilah Zul yang kau harus tahu, kau telah menyelamatkan kesucianku, kegadisanku. Aku benar-benar berhutang padamu."
Mendengar cerita Mari, hati Zul bergetar. Tanpa ia sadari airmatanya meleleh. Ada rasa kebahagiaan yang sangat halus yang menyusup begitu saja ke dalam hatinya. Rasa bahagia sekaligus rasa bangga karena ia bisa menyelamatkan kesucian seorang wanita. Ia berharap apa yang dilakukannya itu dinilai ibadah oleh Allah. Dan apa yang dilakukannya itu bisa menghapuskan dosa-dosanya saat ia masih remaja dulu. Ia kembali teringat saat SMA, saat ia pacaran dengan gadis tetangga desa. Saat itu ia nyaris melakukan perbuatan yang menistakan kesucian gadis itu. Untunglah saat itu tidak terjadi, karena terhalang oleh keadaan yang tidak memungkinkan. Ia meneteskan airmata, bersyukur kepada Allah, bahwa kesucian dirinya pun masih belum ternista.
"Mintalah apa saja padaku Zul, selama itu tidak dosa dan aku mampu aku akan memenuhinya." Ucap Mari dengan suara jelas tanpa isak tangis.
'Aku tidak minta apa-apa Mbak. Cukuplah Mbak terus menjaga diri Mbak, kesucian Mbak, dan Mbak terus mendekatkan diri kepada Allah serta berusaha menjadi wanita salehah selamanya, itu akan membuat apa yang aku lakukan hari ini bermakna dan tidak sia-sia."
"Baik Zul, aku akan berusaha sebisanya. O ya sampai lupa, aku buatkan minuman ya? Mau minum apa Zul?"
"M...tidak usah repot-repot Mbak."
'Ah tidak repot kok Zul."
Zul melihat jam di dinding. Ia merasa sudah terlalu lama di rumah itu. Ia teringat bahwa ia harus ke kampus. Ada janji dengan seorang teman. la bangkit dan memanggil Mari yang sudah melangkah ke dapur.
"Mbak Mari!"
"Ya." Mari menghentikan langkah dan menoleh.
"Tak usah bikin minum Mbak. Saya harus pamitan. Saya ada janji dengan seorang teman habis Zuhur."
"Tidak bisa ditunda barang satu dua menit Zul."
"Maaf Mbak. Saya benar-benar harus pamit. O ya saya hampir lupa saya mau mengambil barang-barang saya. Dan ini kuncinya Linda."
"Ya sudah kalau begitu. Sebentar saya ambilkan barang-barangmu."
Mari masuk ke dalam dan mengeluarkan barangbarang milik Zul dari kamarnya.
"Ini kan Zul? Ada yang lain?"
"Tidak Mbak, itu saja."
Zul mengambil tas jinjing yang berisi kekayaan pribadinya yang sebenarnya jika dilihat tidaklah terlalu berharga. Hanya beberapa pakaian, handuk, dan mushaf kecil Al-Quran pemberian Pak Hasan.
"Aku tidak akan pernah melupakan jasamu ini Zul."
"Ah Mbak, kok bicara seperti itu lagi. Sudah lupakan saja Mbak, anggap saja saya tidak pernah berjasa apaapa pada Mbak. Baik, saya pamit dulu ya Mbak. Jaga diri baik-baik."
Zul melangkah keluar rumah. Mari mengikuti sampai pintu. Ketika Zul sampai di gerbang, Mari memanggil namanya.
"Zul!"
Zul menghentikan langkah dan menoleh ke bela kang. Mari memandanginya lekat-lekat. Zul meman dang Mari. Wajah Mari tampak pucat dan sayu. "Ya ada apa Mbak?"
Mari ingin mengatakan sesuatu tapi ia urungkan. la lalu pura-pura bertanya,
"M..m...kau ada nomor hp Zul?"
"Pakai nomor teman saya yang dulu saya gunakan SMS Mbak saja. Masih tersimpan kan?"
"Ya baik. Masih tersimpan."
"Ada yang lain Mbak?"
"Zul, aku takut."
"Takut apa? Takut kalau dia datang lagi?"
"Iya."
"Percayalah padaku Mbak, dia tidak akan berani datang lagi. Dia sudah kapok! Dia menganggap aku ini juga preman seperti dia. Jari-jari tangan kanan dan kaki kanannya sudah hancur! Kalau pun berniat datang mungkin satu bulan lagi, setelah ia sembuh dari lukanya."
"Tapi aku kuatir dia punya teman."
"Dan dia juga anggapan aku punya teman banyak. Mbak tidak usah kuatirlah. Kalau Mbak kuatir, kunci rumah baik-baik. Dan siapkan nomor telpon polisi. Atau Mbak pindah saja dulu ke rumah teman yang aman. Maaf Mbak ya saya buru-buru."
"Iya Zul, terima kasih ya."
"Ya. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Mari berdiri memandangi Zul sampai hilang dari pandangan. Setelah itu ia memandang ke arah langit yang mulai terang. Hujan telah reda. Gerimis pun sudah tiada. Mendung mulai pudar. Dan matahari seolah ingin menyibak awan. Mari berulang kali memuji kekuasaan Tuhan. Ia lalu masuk rumah. Menutup pintu dengan rapat. Sayup-sayup, dari surau lirih terdengar suara azan

* * *






















Delapan






Zul mondar-mandir di ruang tamu. Penghuni flat itu semua telah tidur. Namun Zul tidak bisa tidur. Malam itu setelah kejadian di rumah Mari, Zul selalu terbayang wajah Mari. Ia kembali merasakan apa yang dulu pernah ia rasakan saat remaja. Sejak pertama bertemu dengan Mari, ia sebetulnya telah terpikat oleh kehalusan tutur katanya. Juga perhatian, kepekaan dan jiwa sosialnya.
Namun itu semua tidak berpengaruh apa-apa dalam hatinya. Mari masih ia anggap sebagai perempuan biasa yang ia kenal di jalan. Tapi setelah kejadian siang itu.
Setelah apa yang ia alami, ia lihat dan ia ketahui rasa sayangnya pada Mari merasuk begitu saja ke dalam hatinya. Rasa sayang yang lebih dari biasa. Bahwa Mari begitu teguh menjaga kesuciannya itulah yang paling membekas di dalam hatinya. Ia sudah banyak mendengar cerita tentang tenaga kerja wanita Indonesia di Malaysia yang tidak lagi menjaga kehormatannya. Sudah menjadi rahasia umum bahwa tidak sedikit tenaga kerja wanita yang bekerja di kilangkilang12 juga berprofesi menjajakan tubuhnya selepas bekerja. Tapi Mari tetap menjaga kehormatan dan kesuciannya. Dengan label janda yang dilekatkan pada dirinya, dan parasnya yang tidak bisa dikatakan jelek, tentulah itu perjuangan yang luar biasa. Ia sangat yakin, bahkan haqqul yakin, kalau Mari tidaklah berkata dusta. Dalam kondisi shock seperti itu kejujuranlah yang lazim keluar dari diri anak manusia. Ia merasa Mari adalah perempuan yang berkarakter, dan sanggup menjadi perempuan yang luar biasa. Itulah yang membuat hatinya condong pada Mari.
Ia bingung harus berbuat apa? Ia sudah dewasa. Dan Mari juga sudah dewasa. Tidak mungkin lagi ia hanya mengutarakan bahwa hatinya condong pada Mari.
Mengutarakan itu artinya siap berumah tangga. Ia sudah tahu hukum bermain hati pada perempuan yang tidak halal dari Yahya. Itu dosa.
"Hati pun, kata Nabi, bisa berzina." Kata-kata Yahya itu seolah berdengung-dengung dalam pikirannya. Tapi bayangan Mari, juga suaranya, seolah terus menghampirinya. Sempat terbersit dalam pikirannya untuk berterus terang pada Mari dan mengajaknya menikah. Lalu hidup sederhana apa adanya di Kuala Lumpur sambil kuliah. Toh, banyak mahasiswa yang berkeluarga dan hidup apa adanya di Kuala Lumpur.
Tapi tiba-tiba ada semacam keraguan dalam hatinya.
Ia kuatir jika ia menikah akhirnya kuliahnya tidak selesai.
Ia jadi sibuk memikirkan hidup keluarga. Apalagi kalau nanti punya anak. Ia bisa hidup nekat. Makan sehari pun bisa, tapi anak yang masih bayi apa bisa? Sementara ia masih hidup sangat pas-pasan untuk makan, membayar sewa aparteman dan kuliah. Padahal jika berkeluarga ialah yang harus menanggung sepenuhnya sewa rumahnya. Sekarang ia yang menyewa bersama temantemannya
saja, masih terasa berat membayarnya.
Hutangnya pada Pak Muslim untuk membeli sepeda motor juga belum lunas.
Ia sempat berpikir bahwa Mari juga bekerja dan bisa meringankan beban. Ia langsung menjawab sendiri bahwa tugas memberi nafkah adalah tugas suami. Andai pun Mari bekerja ia tidak tahu berapa gajinya. Ia juga tidak tahu sanggupkah Mari tetap bekerja jika misalnya hamil. Ia sampai sudah begitu jauhnya memikirkan jika Mari hamil segala. Ia menegaskan pada dirinya jika ia menikahi Mari ia tidak bisa menggantungkan nasibnya pada Mari. Alangkah jahatnya dia jika menikahi Mari karena merasa aman, sebab Mari juga bekerja. Apakah itu namanya bukan eksploitasi? Mari nanti bekerja.
Mengerjakan pekerjaan rumah tangga lazimnya perempuan di Indonesia. Mengurus anak. Jika itu yang terjadi ia merasa tidak menjadi seorang suami yang benar.
Ia juga sempatberpikir untuk mengajak Mari pulang ke Indonesia dan hidup apa adanya di Indonesia. Buat apa hidup lama-lama di negeri orang. Tapi akal logikanya seolah mencercanya habis-habisan: "Buat apa susah payah datang ke negeri orang? Katanya mau mengubah takdir? Menyiapkan masa depan yang gemilang? Kalau kau pulang hanya dengan berhasil menikahi perempuan seperti Mari, tidak harus jauh-jauh ke Malaysia. Tidak harus berdarah-darah melewati pergulatan hidup di Semarang, Jakarta, Batam dan Kuala Lumpur. Perempuan seperti Mari di desamu juga banyak! Kalau kau pulang dengan belum meraih kegemilangan yang dicitakan, maka kelak kau akan ditertawakan oleh anak turunmu. Mereka akan mengingatmu dengan sinis; 'Kakek kita gagal menyelesaikan studinya karena tergoda oleh seorang tenaga kerja wanita di Malaysia. Inilah yang membuat kita tetap sengsara! Coba kalau kakek kita dulu orang yang teguh, tekun dan tidak mudah digoda wanita, mungkin kita akan bernasib lebih baik! "
Zul termenung. Dialog batinnya tidak membuat bayang-bayang Mari hilang. Wajah sayu yang memancarkan aura ketulusan itu, cerita hidupnya, ucapan terima kasih kepadanya yang diulang berkali-kali dari hati yang dalam. Itu semua sangat membekas di dalam hatinya.
Jarum jam dinding di ruang tamu menunjukkan pukul dua. Zul tidak tahan. Malam itu ia mem bangunkan Rizal, ingin meminjam hand phonenya. Ia ingin menelpon Mari. Ia tidak kuasa membendung bara cinta yang membuncah di dalam dadanya.
Rizal bangun sambil mengucek-ucek kedua matanya.
"Ada apa Zul?"
"Hand phone-mu mana? Aku mau pinjam?"
"Aduh Zul, hand phone-ku hilang tadi siang."
"Hilang?"
"Iya. Mungkin jatuh atau dicopet orang di Pur duraya. Pinjam Mas Yahya saja."
"Segan."
"Ya udah kalau begitu menelpon di wartel saja besok pagi."
"Iya dah."
Zul kecewa berat. Ia harus menunggu pagi untuk bisa menghubungi Mari. Malam itu ia hanya mondarmandir di ruang tamu. Sesekali membuka koran usang yang sudah berkali-kali ia baca. Atau membaca-baca Majalah I, majalah Islam terbitan Malaysia yang sudah lusuh, yang ia hampir hafal isinya. Itulah yang dilakukannya malam itu sampai Subuh tiba.

* * *


Setelah shalat Subuh Zul langsung mencari wartel yang buka. Semua masih tutup. Di flatnya selain Rizal dan Yahya, Pak Muslim juga punya hand phone. Tapi ia segan meminjamnya. Selama ini jika ia ingin nelpon ke mana saja ia selalu menggunakan wartel. Ia sudah merencanakan untuk membeli hand phone tapi belum juga kesampaian. Dengan langkah gontai Zul kembali ke flat. Wajahnya pucat. Auranya sayu. la tampak seperti orang yang sedang sakit. Yahya yang sangat peka bisa menangkap perubahan yang terjadi pada teman satu kamarnya. Dengan ketulusan seorang sahabat ia mengajak Zul bicara.
"Sepertinya kau sedang ada masalah atau kau sedang sakit Zul?"
"Tidak ada apa-apa kok Mas?"
"Kalau kau tidak menganggapku sebagai orang lain bicaralah padaku. Tapi kalau kau masih menganggapku orang lain, orang asing bagimu, ya berpura-puralah tidak ada masalah padaku." Yahya langsung terus terang.
Akhirnya Zul berterus terang bahwa ia sedang merasakan rasa rindu dan cinta pada seorang perempuan. "Siapa perempuan itu? Mahasiswi UM kah?"
"Namanya Mar. Siti Martini. Dia bukan mahasiswi tapi seorang karyawati sebuah perusahaan."
"TKW maksudmu?" Yahya berusaha memperjelas. Pertanyaan itu agak menyinggung Zul. Ia seperti tidak rela Mari dilabeli TKW. Tapi memang itu kenyataan yang ia tahu. Jadi ia tidak bisa berbuat apa-apa kecuali mengiyakan.
"Iya Mas."
"O, Siti Martini yang pernah kauceritakan dulu itu. Yang satu bus dari Larkin ke Purduraya itu?"
"IyaMas."
"Di sini mahasiswi banyak lho Zul, kenapa kaupilih TKW?"
Pertanyaan Yahya itu kembali menggores hatinya.
Ia ingin menjelaskan semuanya, tapi tidak sampai. Ia tidak bisa menjelaskan detil apa yang ia alami dengan Mari pada sahabatnya yang paling dekat itu. Ia tidak sampai hati untuk membuka kejadian kemarin siang di rumah Mari. Ia juga tidak bisa menjelaskan pesona dan aura yang dimiliki Mari. Ia akhirnya menjawab dengan jawaban yang klasik,
"Tidak tahu Mas. Namanya juga jatuh cinta. Aku melihat diabaik. Dan menurutku mahasiswi tidak secara otomatis lebih baik dari TKW. Banyak yang sekarang TKW, mungkin kelak jadi orang yang memberi penghidupan pada mahasiswa atau mahasiswi. Dan banyak mahasiswi yang akhirnya jadi TKW. Itu kan cuma label-label saja Mas."
Yahya tersenyum,
"Kau memang sedang jatuh cinta. Dari jawabanmu aku tahu kau sangat membela dia. Ya sah-sah saja kau mencintai dia. Siapapun dia. Asal menurutmu cocok dan baik ya sah-sah saja. Memang benar manusia tidak bisa dinilai dari label atau julukan yang disandangnya. Yang menentukan manusia itu ini lho. Ininya!" Kata Yahya sambil menunjuk dadanya.
"Iman dan takwanya. Agamanya." Lanjut Yahya.
"Itu tukang sapu di jalan yang setiap hari bergelut dengan sampah bisa jadi ia lebih baik di mata Allah daripada Guru Besar Tafsir jebolan universitas terkenal di Timur Tengah. Di mata Allah belum tentu. Keikhlasan seseorang hanya Allah yang tahu. Bisa jadi tukang sapu itu sangat tahu diri kedhaifan dirinya sebagai makhluk Allah maka tidak ada rasa sombong dalam hatinya. Dan Guru Besar Tafsir bisa jadi karena merasa hebat, ada satu zarrah rasa sombong dalam hatinya. Ketika ketemu tukang sapu Guru Besar itu merasa lebih terhormat dari tukang sapu. Itu kan sombong. Sebaliknya tukang sapu justru menghormati Guru Besar itu karena tahu dirinya tidak berilmu dan Guru Besar itu punya ilmu. Berarti tukang sapu itu tahu kadar dirinya. Tidak sombong. Jika seperti itu bisajadi tukang sapu lebih mulia di mata Allah daripada Guru Besar Tafsir itu." Terang Yahya panjang lebar.
"Jadi tidak salah saya jatuh cinta pada TKW itu Mas?"
"Jatuh cinta tidak salah. Kau mau memilih siapa pun tidak salah. Asalkan tetap menjaga diri di jalan yang diridhai Allah. Apa kau sudah benar-benar siap untuk menikah Zul?
Zul diam mendengar pertanyaan itu. la tidak bisa menjawab mantap. Akhirnya Zul menjelaskan kebimbangan hatinya. Antara mantap dan tidak mantap. Halhal yang berkelebat dalam hati dan pikirannya ia sampaikan kepada Yahya.
"Jadi kemarin kau ke rumah Siti Martini itu?"
"Iya, mengambil barang-barang saya yang masih tertinggal di sana?"
"Kau bertemu dia dan setelah itu kau merasa jatuh cinta?"
Zul mengangguk malu. Ia seperti sedang dihakimi. Yahya malah tersenyum.
"Kau sedang terkena sihir Zul."
"Terkena sihir apa Mas?"
"Kau sedang terkena sihir nafsu syahwatmu. Aku bisa memastikan kau agak berlama-lama berbicara dengan dia. Aku yakin itu."
"Benar."
"Wajar."
"Maksudnya wajar, wajar bagaimana?"
"Setan telah menghiasi perempuan itu sehingga tampak olehmu pesonanya, keindahannya, auranya, kebaikannya dan lain sebagainya yang membuatmu cenderung kepadanya. Tahukah kau Zul, saya pun bisa lebih parah darimu. Bahkan seseorang yang kuat imannya jika berduaan dengan perempuan yang ia tahu perempuan ia berpenyakit sekalipun bisa luntur imannya. Bahkan bisa melakukan perbuatan nista dengan perempuan itu. Karena apa? Karena perempuan itu dirias dan dihiasi oleh setan. Ditambah nafsu yang ada dalam diri lelaki itu. Maka terjadilah apa yang seharusnya tidak terjadi."
"Jadi apa yang aku rasakan ini nafsu syahwat?"
"Betul. Jujurlah pada dirimu. Kau pasti telah melihat hal yang semestinya tidak kau lihat pada perempuan itu, iya kan?"
Zul malu mengakuinya.
"Ingat Zul seluruh tubuh perempuan yang sudah akil balig itu aurat kecuali muka dan tepak tangannya. Jika ia perempuan yang cantik, yang kecantikannya itu menarik lawan jenisnya maka mukanya juga jadi aurat yang harus ditutupi. Artinya tidak boleh dilihat. Jikalau engkau mencintai wanita karena melihat yang seharusnya ditutupi maka berarti kau ada nafsu dengannya. Yang bergerak dalam aliran darahmu dan syaraf-syarafmu itu adalah nafsu dan syahwat. Jika seperti itu, kau tidak jauh berbeda dengan ayam jago yang langsung mengejar ayam betina setelah melihat keelokan ayam betina."
"Tapi bukankah manusia hampir semuanya begitu Mas?"
"Ya benar. Maka tidak berlebihan jika para filosof menyebut manusia sebagai hayawanun nathiqun. Binatang yang berbicara. Manusia itu binatang, hanya saja ia bisa bicara. Bisa berkata-kata. Itulah definisi manusia yang hanya mengutamakan nafsunya saja. Nafsu jadi panglimanya. Nafsu jadi timbangannya. Dan nafsu itu tidak hanya nafsu pada perempuan saja. Termasuk juga nafsu pada kemewahan dunia. Al-Quran menjuluki manusia yang seperti itu dengan kalimat:
'Mereka seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.'13 Orang-orang yang dikendalikan oleh nafsunya adalah orang yang lengah. Orang yang tidak memiliki rusyd, atau kesadaran penuh. Orang seperti itu yang akan rugi di mana pun dia berada. Ia akan mudah dicocok hidungnya oleh setan untuk dijerumuskan ke dalam jurang kebinasaan dan kenestapaan."
"Terus bagaimana cara mencintai lawan jenis yang benar menurut Sampeyan?"
"Mencintai dengan timbangan fithrah dan bashirah. Mencintai dengan kesucian dan mata hati. Fithrah dan bashirah yang jadi timbangannya. Yaitu, jika kau mencintai wanita bukan karena tertipu oleh kecantikan paras wajahnya dan keelokan benruk tubuhnya. Bukan karena tersihir oleh matanya yang berkilat-kilat indah seperti bintang kejora. Bukan pula terpikat karena bibirnya yang ranum segar seperti mawar merekah. Juga bukan karena keindahan suaranya yang susah dilupakan. Bukan karena hartanya yang melimpah ruah. Bukan karena kehormatannya, yang kau akan jadi ikut terhormat karena menikahinya. Jika bukan karena itu semua kau mencintainya. Tapi kau mencintai dengan memakai timbangan fitrahmu, dan matabatinmu. Kau mencintai dia karena merasakan kesucian jiwanya dan agamanya, dan mata batinmu condong karena kecantikan akhlak dan wataknya. Hatimu terpikat karena harumnya kalimat-kalimat yang keluar dari lidahnya. Saat itu kau telah mencintai lawan jenis dengan benar."
"Tapi sulit rasanya Mas aku memakai timbangan fithrah dan bashirah. Hati ini sepertinya telah tertawan dan terbelenggu oleh sihir Mari."
"Ya aku tahu. Memang sangat susah membebaskan diri dari belenggu cinta syahwati. Aku bukannya tidak pernah mengalaminya, aku pernah mengalaminya. Dan aku nyaris binasa karenanya. Jika bukan karena rahmat Allah aku mungkin saat ini sudah hancur berbaur tanah di kubur."
"Bagaimana ceritanya Mas. Mungkin bisa jadi cambuk bagiku."
"Malu aku mengingatnya."
"Apa Sampeyan tidak kasihan padaku. Apa Sampeyan ingin aku binasa Mas?"
"Singkat saja ya. Saat itu aku masih kelas tiga SMA Al Islam Batu, Malang. Ayahku seorang lurah. Tahun itu ada rombongan KKN dari Unibraw, berjumlah sepuluh orang. Empat mahasiswa, enam mahasiswi. Tiga mahasiswi menginap di rumahku. Tiga lain di tempat Pak Carik. Dan empat mahasiswa menginap di Balai Desa. Di antara tiga mahasiswi yang menginap di rumahku itu ada yang membuatku tergila-gila. Sebut saja namanya F Aku benar-benar jatuh cinta padanya. Aku coba tahan untuk menyimpannya dalam hati diam-diam. Aku tidak tahan. Akhirnya aku ungkapkan padanya. Ternyata dia menanggapi. Aku kirim surat cinta padanya. Dia membalasnya dengan surat cinta yang lebih romantis. Sebab dia sudah mahasiswi. Sudah jauh lebih berpengalaman.
Aku seperti buta. Aku sudah merasa dia adalah segalanya. Sampai tiba saat perpisahan, karena masa KKN-nya habis. Sebelum pergi ia berterus terang padaku, bahwa selama ini cuma main-main. Sebenarnya dia sudah punya tunangan di Surabaya. Hatiku seperti dibetot dan kepalaku seperti dihantam palu godam. Aku langsung jatuh sakit. Dua bulan aku dirawat di rumah sakit. Aku bahkan sempat mencoba bunuh diri. Orang- orang menganggap aku sakit terkena santet. Aku seperti orang gila Zul. Itulah ceritanya Zul."
"Terus sembuhnya bagaimana Mas?"
"Akhirnya orangtuaku tahu juga masalahnya. Saat orangtuaku tahu gadis itu sudah menikah dan bekerja di Jakarta. Kakak perempuankulah yang dengan sabar menemaniku dan menguatkan aku. Karena sakit itu aku tidak bisa ikut ujian akhir. Aku benar-benar sembuh setelah aku dibawa ke sebuah pesantren. Di pesantren itulah karena disibukkan dengan ibadah, zikir, olah raga dan lain sebagainya lambat laun, ingatanku akan F hilang. Dan sekarang aku baru menyesal, kenapa dulu aku bisa begitu bodoh dan tolol. Itulah Zul cinta yang semu sangat menyiksa dan menyakitkan."
Mendengar cerita Yahya, Zul merasa mendapat sedikit pencerahan. Namun cerita itu tidak juga bisa mengusir kuatnya pesona Mari yang menempel di dinding-dinding hatinya. Tapi dari pembicaraannya dengan Yahya ia memiliki seberkas cahaya yang menerangi gulitanya akal pikirannya karena diselimuti bayangan Mari.

***


Nun jauh di Subang Jaya sana. Mari merasakan hal yang tidak jauh berbeda dengan Zul. Bahkan lebih parah. Jika Zul didampingi Yahya, maka Mari tidak punya pendamping dan tempat untuk mengungkapkan gelisahnya. Teman-teman satu rumahnya sibuk bekerja dan ia pandang tidak bisa dijadikan tempat berbagi perasaan. Mari telah berulang kali menelpon nomor yang pemah diberikan oleh Zul kepadanya. Nomor itu adalah nomor Rizal. Karena hp Rizal hilang, maka usaha Mari menelpon Zul jadi sia-sia.
Mari hanya bisa berharap Zul datang lagi ke sana dan ia akan mengungkapkan perasaan cintanya kepada Zul. Ia sudah siap menerima apapun keputusan Zul. Menerimanya ataukah menolaknya. Jika Zul menerimanya, ia berjanji akan menjadi abdi bagi Zul selama hidupnya. Ia merasa hanya Zul-lah yang paling berhak mendapatkan pengabdiannya.
Mari selalu mengingat perkataan Zul saat menanggapi ucapannya, "Mintalah apa saja padaku Zul,
selama itu tidak dosa dan aku mampu memenuhinya."
Zul saat itu berkata, "Aku tidak minta apa-apa Mbak. Cukuplah Mbak terus menjaga diri Mbak, kesucian Mbak, dan Mbak terus mendekatkan diri kepada Allah serta berusaha menjadi wanita salehah selamanya, itu akan membuat apa yang aku lakukan hari ini bermakna dan tidak sia-sia."
Kata-kata Zul itu seolah ia jadikan pedoman hidup. Ia berjanji pada diri sendiri untuk terus mendekatkan diri kepada Allah dan menjadi wanita salehah yang sebenarnya. Ia mengawali dengan menutup rambutnya dengan jilbab. Jilbabnya modis. Cara berpakaiannya pun masih modis. Masih memakai celana jeans dan kaos ketat. Tapi ia terus berusaha. Ia rajin datang ke majelis taklim yang ia ketahui. Setiap ia mendapatkan tambahan ilmu agama, ia berusaha mengamalkan sebaik-baiknya. Berminggu-minggu setelah itu, ia masih terus berusaha menelpon nomor yang ia terima dari Zul, tapi tidak juga berhasil. Dan Zul tidak juga muncul, tidak pula menelpon. Ia tetap bertahan dan sabar. Ia tetap berusaha untuk sedekat mungkin dengan Allah. Sesuai dengan pesan Zul yang telah terpahat kuat dalam relung hatinya.

* * *

























Sembilan






Dua bulan berlalu sejak Yahya mengajak Zul berbicara dari hati ke hati. Yahya berharap Zul bisa menemukan kesadaran prima dan semangat membaranya kembali seperti ketika awal-awal tinggal di flat itu. Namun harapan Yahya belum menjadi kenyataan. Kenyataannya Zul tetap banyak murung dan melamun. Tidak gesit dan semangat dalam bekerja, berusaha, dan belajar.
Seringkali Yahya menemukan Zul hanya tidur di kamar satu siang penuh, padahal ia yakin Zul ada jadwal kuliah dan kerja. Yahya biasanya mengingatkannya dengan bahasa sehalus mungkin, namun Zul seperti tidak mendengar apa-apa. Yahya beberapa kali menyarankan pada Zul jika memang harus mendapatkan Mari, kenapa tidak secara jantan menemui dan mengajaknya menikah. Obat paling mujarab untuk orang yang sakit karena cinta adalah menikah. Tapi Zul gamang dengan dirinya sendiri. Keraguan mengambil langkah telah membuatnya seperti orang yang kehilangan cahaya kehidupan. Keadaan Zul yang sedang sakit karena cinta itu menjadi perhatian dan keprihatian semua penghuni flat itu.
Pak Muslim merasa kuatir keadaan Zul semakin parah. Jika parah, maka bisa berpengaruh pada suasana rumah. Sudah dua bulan Zul tidak membayar uang sewa rumah. la minta dipinjami dulu. Namun ia bekerja tidak seserius dulu. Seolah bekerja seingatnya saja. Jika ingat bekerja, jika tidak ya tidak bekerja. Pak Muslim juga kuatir Zul tidak bisa mengikuti ujian semester depan jika sering bolos kuliah. Suasana rumah terasa mulai tidak nyaman. Maka Pak Muslim sebagai yang paling tua berinisiatif mempertegas sikap Zul. Jika ingin serius kuliah maka ia harus segera bangkit dan merubah sikap. Jika sudah tidak ingin kuliah, ia melihat Zul sebaiknya mencari tempat yang lain. Sebab kemalasan Zul bisa merusak situasi rumah yang selama ini nyaman dan kondusif untuk belajar.
Pak Muslim tidak mau perkataan najis satu tetes merusak kesucian air satu gentong terjadi di rumah itu. Dan tidak ada najis yang paling merusak kesucian umat yang ingin berprestasi kecuali kemalasan. Ia tidak mau Zul jadi najis itu. Zul harus diselamatkan. Jika Zul tetap memilih jadi najis itu maka ia harus disingkirkan agar tidak merusak kesucian semangat orang satu rumah.
Pagi itu setelah shalat Subuh Pak Muslim membangunkan Zul yang masih mendengkur di kamarnya.
Berbeda sekali Zul yang dulu dengan Zul saat itu. Zul saat awal-awal datang dulu sudah bangun sebelum Subuh tiba dan selalu di shaf pertama. Tapi Zul saat itu adalah Zul yang harus berkali-kali diingatkan dan dibangunkan baru shalat Subuh dengan wajah malas tanpa cahaya.
Begitu Zul selesai shalat Pak Muslim langsung memanggil Zul ke kamarnya. Dengan menunduk Zul masuk ke kamar dosen Universitas Negeri Yogyakarta yang mengagumi pemikiran-pemikiran Muhammad Iqbal.
"Duduk sini Zul!" Pak Muslim mempersilakan Zul duduk di kursi yang ada tepat di depannya. Setelah Zul duduk, Pak Muslim langsung menutup pintu kamarnya.
"Zul, sudah tiga bulan ini aku lihat kamu sangat berbeda dengan saat kau pertama datang. Apa sebenarnya masalahmu Zul?"
"M...tidak ada masalah Pak. Saya biasa-biasa saja."
"Zul kau masih ingin kuliah?"
"Ya tentu Pak."
"Kau sadar dengan yang kauucapkan?"
"Tentu saja sadar Pak."
"Bagus. Jika kau ingin tetap lanjut kuliah kau harus bangkit dan mengembalikan semangatmu. Cukup tiga bulan saja kamu sakit. Ingat Zul, setiap detik kau berada di Kuala Lumpur ini ada harganya. Dan kau harus membayarnya. Flat ini kita menyewa. Air yang kaugunakan untuk membersihkan dirimu saat buang air juga harus dibayar. Kau makan tidak gratis. Kuliah tidak gratis. Semua ada tagihannya. Jika kau terus malas dan murung seperti itu kau tidak akan bertahan hidup. Kalau pun kau tetap hidup kau tak lebih bernilai dari sampah. Sampah masih bisa didaur ulang. Tapi manusia yang telah mati sebelum mati jauh merepotkan daripada sampah.
"Aku ingin melihatmu berjaya. Meraih prestasi yang gemilang Zul. Sungguh aku sangat menginginkan itu. Aku akan membantumu semampuku. Itu jika kamu mau. Jika kamu tidak mau aku tidak berhak memaksamu. Kau lebih berhak menentukan jalan hidupmu.
'Aku tahu kau masih sakit. Hatimu masih dijajah oleh rasa cintamu pada wanita yang kaucintai itu. Ketahuilah Zul, tak ada dokter yang bisa menyembuhkanmu kecuali kamu sendiri. Sebagai orang tua, aku hanya bisa memberikan beberapa saran untuk kebaikanmu dan kebaikan kita bersama.
"Saranku yang pertama Zul, jika kamu ingin sukses dan berhasil lupakan wanita itu. Jodoh itu tanpa dikejar, tanpa dibuat bersakit-sakit seperti kau sekarang ini jika tiba saatnya akan datang juga. Jodohmu sudah ditulis oleh Allah. Kalau jodohmu memang wanita bernama Siti Martini itu ya nanti Allah pasti akan mempertemukan kamu dengan dia. Tapi jika jodohmu bukan dia, sampai kau minta banruan seluruh jin di jagad raya ini untuk membantumu mendapatkan dia ya kamu tidak akan mendapatkannya.
"Sementara ilmu dan prestasi juga amal ibadah. Jika tidak kauusahakan dengan serius tidak akan kauraih. Ilmu tidak bisa kauraih dengan tiduran dan malasmalasan. Prestasi dan kesuksesan tidak akan kauraih kecuali dengan pengorbanan penuh pikiran, tenaga dan perasaan. Kalau perlu bahkan nyawa. Tak ada dalam catatan sejarah ada orang sukses hanya dengan melamun, tidur, dan banyak angan-angan seperti yang kaulakukan tiga bulan ini. Tak ada seorang juara di bidang apapun kecuali ia pasti seorang pejuang yang ulung. Kalau ingin mendapatkan ilmu yang cukup, berprestasi dan hidup sukses kau harus bangkit, bersemangat, memanfaatkan waktu sebaik-baiknya dan gigih berjuang. Itulah jalannya orang-orang yang sukses.
"Zul, godaan wanita adalah godaan utama orang mencari ilmu. Dan fitnah perempuan adalah salah satu fitnah yang sangat dikuatirkan oleh Nabi akan melumpuhkan umatnya. Bahkan saat Nabi berdakwah di Makkah, di antara hal yang ditawarkan orang-orang kafir Quraisy untuk membujuk Nabi agar menghentikan dakwahnya adalah dengan mengiming-imingi Nabi akan dinikahkan dengan wanita paling cantik di Arab. Tapi Nabi menolaknya.
"Zul, siapa pun yang kasmaran, siapa pun yang jatuh cinta seperti kamu saat ini. Maka akal, pikiran dan perasaannya akan terus terfokus untuk mendapatkan yang dicintainya. Jika keadaan seperti itu terus berlarut, maka kewajiban-kewajibannya, tugas-tugas utamanya akan segera terlupakan. Dan saat itu hanya tinggal menunggu datangnya kebinasaan.
"Sudah tidak terhitung lagi jumlahnya pelajar dan mahasiswa yang gagal karena skandal cinta. Tidak terhitung jumlahnya pemimpin besar dunia yang terpuruk karena skandal cinta. Apakah kau mau menambah panjang daftar itu dengan memasukkan namamu.
"Penuntut ilmu jika jatuh cinta pada lawan jenisnya, maka ilmu itu tidak akan bisa melekat pada akal, pikiran dan hatinya. Sebab akal, pikiran dan hatinya telah dikotori oleh bayangan semu kekasih hatinya. Ada pujangga Arab yang menulis sajak begini Zul, Jika aku sedang sibuk dengan gadisku Yang parasnya laksana cahaya pagi Maka aku enggan memikirkan yang lain "Maka, aku ulangi lagi saranku yang pertama, jika kamu ingin sukses dan berhasil lupakan wanita itu. Saat ini berkonsentrasilah sepenuhnya untuk menuntut ilmu. Jika ia jodohmu selesai S.2 aku doakan semoga bertemu. Dan bertemu dalam keadaan yang paling baik dan paling barakah. Jika dia tidak jodohmu, semoga kau dianugerai jodoh yang lebih baik dalam segalanya dari wanita itu."
Zul diam saja di tempatnya. Ia tidak membantah, juga tidak mengiyakan. Tapi ia mendengarkan dengan seksama. Pak Muslim jarang sekali bicara serius seperti ini. Jika Pak Muslim bicara seperti ini artinya masalah yang terjadi memang sudah parah.
Pak Muslim mengambil nafas sebentar lalu melanjutkan, "Saranku yang kedua Zul, jika kau tidak bisa mengikuti saranku yang pertama, aku sarankan kau untuk mendatangi wanita itu secara jantan. Dan nikahi dia. Luapkan seluruh cintamu padanya. Dan hiduplah dalam keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Menikah itu jauh lebih baik daripada kau hanya memikirkan dia siang malam sampai sayu seperti mayat hidup.
"Jika kau memilih saran yang kedua ini, aku akan membantumu semampuku. Aku akan meminjami modal untuk pernikahanmu semampuku. Aku bersedia mengantarmu menemui wanita itu, juga bersedia membantumu menemui keluarganya. Dan jika ini yang kauambil, aku minta kau jangan berhenti kuliah. Tetaplah lanjutkan kuliah. Hiduplah sehemat mungkin. Tetaplah bertahan sampai lulus. Kau harus lebih giatbekerja dan berusaha. Sebab kau tidak hanya menanggung beban hidup dirimu sendiri, tapi juga menanggung orang lain.
"Jika saranku yang kedua juga tidak bisa kauikuti, maka aku punya saran ketiga, yaitu ya terserah kamu. Hiduplah sesukamu. Terus seperti sekarang juga boleh. Tapi dengan memohon pengertiannya aku minta kau meninggalkan rumah ini. Bukan kami tidak sayang dan tidak menghargai kamu. Sama sekali tidak. Kami menghargai kamu, dan cara hidupmu. Tapi perlu kamu ketahui juga, cara hidupmu yang hanya malas-malasan, banyak melamun dan berangan-agan itu dapat meracuni kesehatan lingkungan rumah ini. Cara hidupmu yang mulai tidak memikirkan membayar flat adalah cara hidup orang yang tidak bertanggung jawab. Itu dapat merusak rasa saling percaya yang telah tercipta dengan indah di rumah ini. Jika kau pilih saran yang ketiga ini, kami akan membantumu mengangkatkan barangbarangmu, juga akan membantumu menemukan tempat yang kauanggap cocok bagi cara hidupmu. Kau masih boleh bermain ke sini, tapi tak bisa tinggal di rumah ini. "Itulah Zul, tiga saran yang bisa aku sampaikan kepadamu. Kau bisa memilih salah satunya. Dan kami tidak keberatan sama sekali yang mana yang kamu pilih.
Tapi jika boleh berharap saya pribadi berharap kaupilih yang pertama. Maafkan aku jika harus berlaku tegas padamu. Untuk sebuah kebaikan ketegasan tidak ada salahnya dilakukan. Dan ini pun terpaksa aku lakukan setelah melihat perkembanganmu yang tidak juga menunjukkan ada perbaikan."
Setelah menyampaikan tiga saran itu, bisa juga disebut tiga opsi untuk Zul, Pak Muslim diam menunggu reaksi Zul. Keheningan menyelimuti kamar itu sesaat lamanya. Zul tampak sedang mengolah saran Pak Muslim yang diseganinya itu. Pak Muslim yang selama ini sangat baik padanya. Bahkan, ia masih punya hutang beberapa ratus ringgit kepadanya untuk membeli sepeda motor butut, dan Pak Muslim tidak pernah menyinggungnyinggung hal itu sama sekali.
"Begini Pak," Suara Zul memecah keheningan. Pak Muslim langsung mengangkat mukanya dan menatap Zul penuh perhatian.
Zul merubah sedikit posisi duduknya lalu menyambung perkataannya,
"Saya minta maaf dan saya menyesal sekali jika kelakuan saya selama ini buruk. Dan itu membuat tidak nyaman rumah ini. Saya akui Pak, saya sedang tidak stabil. Saya berterima kasih sekali atas kesabaran Pak Muslim dan teman-teman selama ini. Saya juga berterima kasih atas saran-saran Pak Muslim. Saya telah menimbang ketiga saran itu. Terus terang saran yang pertama saya rasakan akan berat bagi saya. Saya kuatir saya akan semakin jatuh, semakin tidak bisa menahan perasaan yang mendera hati ini. Adapun saran yang ketiga, saya juga berat menerimanya, sebab saya masih tetap ingin menjadi orang baik dan sukses Pak. Saya bersyukur bertemu dengan orang seperti Bapak dan teman-teman yang masih mau mengingatkan dan menasihati. Jika saya pilih yang ketiga, saya rasa saya akan binasa. Dan jika saya terus begini, Bapak benar, saya akan binasa.
"Maka saya memilih saran yang kedua Pak. Lebih baik saya menikah saja dengan gadis itu. Dia masih gadis Pak. Dan baik hatinya."
Pak Muslim mengangguk-anggukkan kepala.
"Jadi kau benar-benar akan menikahi dia?"
"Iya Pak."
"Kau mantap?"
"Mantap Pak. Toh sudah saatnya saya menikah. Sekarang atau besok sama saja, saya harus menikah."
"Kau siap dengan segala risikonya?"
"Siap Pak. Mas Yahya sudah memberikan gambaran yang jelas. Bapak tadi juga menambahkan penjelasan. Saya harus bagaimana jika menikah?"
"Bagus! Itu baru lelaki! Kalau begitu kau harus semangat, kau akan menikah Zul! Kau akan jadi suami! Kau akan jadi kepala rumah tangga! Kau akan jadi ayah! Ayo semangat!"
"Iya Pak! Saya akan bangkit! Saya akan semangat!"
"Bagus! Kenapa tidak begird sejak dulu-dulu itu Zul, hah!?"
"Jadi Bapak benar-benar mendukung saya menikahi dia?"
"Menikah kan baik, kenapa tidak saya dukung. Sudahlah, kapan kau akan menemui dia, aku akan menemani kalau perlu. Dan kapan kau akan melamarnya?"
"Bagaimana kalau aku temui dia besok Pak?"
"Bagus semakin cepat semakin bagus! Sekarang kau harus melihat kembali jadwal-jadwalmu. Harus kautata. Jadwal kuliahmu. Jadwal kerjamu dan lain sebagainya."
"Iya Pak. Baik!"
"Besok ya berangkat menemui dia?"
"Iya Pak."
"Jam berapa Zul."
"Pagi-pagi saja Pak sebelum jam delapan. Dia biasa berangkat kerja jam delapan."
"Baik. O ya sebaiknya kau telpon dia dulu. Agar dia tidak pergi."
"Baik Pak."
Pak Muslim gembira melihat Zul kembali ceria. Orang jatuh cinta memang begitu. Jika harapan bertemu dengan yang ia cintai datang ia akan hidup pcnuh semangat dan harapan. Zul sendiri merasakan matahari kehidupannya yang selama ini redup kini kembali bersinar terang.
Zul langsung turun ke bawah mencari wartel. Satu wartel telah buka, ia langsung menghubungi nomor Mari. Berulang kali nomor itu ia hubungi namun tidak bisa nyambung. Ia agak kecewa. Ia kuatir Mari ganti nomor. Ia juga menyesal kenapa selama ini ia ragu-ragu dan
gamang setiap kali mau menghubungi nomor Mari. Tiga bulan lebih, sejak kejadian percobaan pemerkosaan di rumah Mari itu, ia tidak berhubungan dengan Mari. Ia kuatir Mari telah pindah rumah. Tapi ia yakin Mari akan mudah dicari. Jika pun pindah rumah, teman-teman Mari pasti masih ada yang tinggal di situ.
Sorenya Zul kembali mencoba mengontak nomor Mari, tapi tidak berhasil juga. Berkali-kali operator seluler menjelaskan nomor itu sedang tidak aktif. Zul kembali ke flat dengan hati kecewa. Namun Zul tetap bersemangat besok pagi berangkat ke Subang Jaya untuk
menemui Mari dan mengungkapkan isi hatinya. Temanteman satu rumahnya mendukung langkah yang akan diambil Zul. Rizal bahkan siap membantu mencarikan rumah yang harga sewanya murah untuk pasangan keluarga. Yahya menyemangati Zul untuk bangkit dan tidak kehilangan semangat.
Malam itu, untuk pertama kalinya Zul tidur dengan dada terasa lapang. Dan malam terasa segar dan ringan. Tidak seperti malam-malam sebelumnya yang ia rasakan terasa sumpek dan berat. Terbitnya harapan yang terang dalam hati membuat hidup terasa ringan dan menyenangkan.

* * *


Pagi itu ia telah bangun sebelum azan Subuh berkumandang. Mengetahui hal itu Pak Muslim sangat bahagia. Zul agaknya mulai mendapatkan kembali nyawanya. Selesai shalat Subuh Zul dan Pak Muslim langsung meluncur dengan KTM ke KL Sentral. Dari KL Sentral mereka naik bus Rapid KL ke Subang Jaya.
Jam tangan Pak Muslim menunjukkan pukul 07.25 ketika mereka turun dari bus dan memasuki kawasan perumahan Taman Subang Permai. Hati Zul berdegup kencang ketika ia merasa semakin dekat dengan rumah Mari.
Sepuluh menit kemudian mereka telah sampai di depan rumah Mari. Zul agak terkejut. Rumah itu sepi. Dan di pintu rumah serta di pagar gerbang rumah itu ada kain kuning yang terbentang bertuliskan: For Sale/For Rent. Dan ada nomor telpon di bawahnya.
"Ini rumahnya Zul?"
"Iya Pak."
"Kauyakin."
"Tak mungkin salah Pak. Itu nomornya 8A."
"Berarti mereka telah pindah. Dan mungkin telah lama. Kaubaca kan rumah itu ditawarkan untuk dijual atau disewa."
"Iya Pak, terus bagaimana ini Pak?" kata Zul murung.
"Kau masih bersemangat untuk mencarinya?"
"Tentu Pak. Sampai ke ujung dunia pun kalau perlu."
"Wah kau ini, jawabanmu itu kayak lakon di film saja."
"Tapi aku harus menemukan dia Pak?"
"Gampang. Coba kita tanya tetangga sebelah. Siapa tahu mereka tahu ke mana pindahnya Siti Martini dan teman-temannya."
"Iya Pak."
Mereka berdua lalu bertanya pada tetangga sebelah kanan rumah itu. Yang mereka tanya seorang wanita Melayu setengah baya yang sedang menggendong anak kecil. Ketika Pak Muslim menanyakan perihal Siti Martini dan teman-temannya yang pernah tinggal di rumah No. 8A, wanita itu menatap penuh curiga. Pak Muslim menangkap kecurigaan wanita itu. la menegaskan bahwa dirinya bermaksud baik, tidak ada maksud jahat.
Wanita itu malah masuk ke dalam rumah tanpa berkata apapun. Pak Muslim merasa ada yang tidak beres. Dua menit kemudian wanita itu keluar sambil membawa koran. la berikan koran itu pada Pak Muslim.
"Sila Encik bace berita itu baik-baik!" kata wanita itu. Pak Muslim membaca berita di koran yang ditunjukkan oleh wanita itu. Pak Muslim membaca dengan seksama dengan wajah dingin. Zul yang berdiri di sampingnya turut membaca. Baru membaca tiga baris Zul langsut berkata setengah teriak,
"Tidak mungkin! Tidak mungkin ini terjadi!"
Wanita itu memperhatikan Zul dengan wajah heran bercampur curiga.
Pak Muslim menuntaskan bacaannya sampai akhir.
"Tenang Zul, ini baca dulu sampai akhir baru kita pikir dengan jernih," kata Pak Muslim tenang.
Dan dengan mata berkaca-kaca Zul membaca berita yang membuat hatinya remuk redam. Dengan jelas ia membaca nama inisial Siti M yang turut ditangkap pihak polis. Selesai membaca berita di koran itu airmatanya meleleh. Dengan suara lirih tertahan ia berkata pada
dirinya sendiri,
"Sia-sia aku menolongnya. Sia-sia aku mencintainya."
Pak Muslim menukas pelan, "Tenang Zul. Sabar!"
"Seminggu yang lalu polis menangkap mereke. Mereke semua penghuni rumah itu. Mereke semua perempuan lacur. Mereke menjadikan rumah itu markas pelacuran. Sekarang mungkin sedang dibui. Kalau boleh tahu Encik berdua ini ada hubungan apa dengan mereke berdua ya?"
Pertanyaan wanita muda itu membuat Pak Muslim agak tergagap. Ia sempat bingung menjawabnya. Tapi spontan ia menjawab,
"Dia ini adiknya, salah satu kakaknya ada yang tinggal di rumah itu. Dia ingin mengetahui keadaan kakaknya."
"Aduh kasihan. Kakak awak sekarang di dalam bui. Ya tapi begitulah semestinya balasan untuk pelacur, perusak moral masyarakat."
Hati Zul semakin perih. Ia mengajak Pak Muslim segera pergi meninggalkan tempat itu. Matahari harapan yang sempat bersinar di dalam hatinya kini sama sekali padam. Pak Muslim mengerti dengan kesedihan Zul. Beliau membesarkan hati Zul dengan berkata,
"Ini skenario Allah yang terbaik Zul. Kau jangan malah lemah. Kau justru harus kuat. Sekarang fokuskan untuk belajar. Percayalah Allah akan memberimu ganti yang lebih baik. Percayalah!"
"Iya Pak, insya Allah ini jadi pelajaran sangat berharga bagi saya. Doakan saya ya Pak. Dan jangan bosan menasihati dan membimbing saya." Jawab Zul sambil menyeka airmatanya yang meleleh di pipinya.

* * *











Sepuluh






Sudah sepuluh jam Zul di Perpustakaan Akademi Pengajian Islam Universiti Malaya. Sejak jam delapan pagi sampai jam lima sore. Matanya terasa berat. Kepalanya seperti berdenyut. Inilah hari kelima ia memenjarakan diri di perpustakaan. Empat hari sebelumnya di Perpustakaan Fakulti Pendidikan.
Hari ini ia berada di Perpustakaan Akademi Pengajian Islam untuk mengoreksi kesalahan-kesalahan kecil penulisan ayat dan hadis. Ia menulis tentang pendidikan pesantren dan dampaknya terhadap kedewasaan berpikir masyarakat Indonesia. la menyempitkan wilayah kajiannya pada pesantren-pesantren di Pati. la sudah bertekad tesisnya harus selesai ia perbaiki dalam satu minggu. Para guru besar yang menilai tesisnya memberi catatan agar ia memperbaiki tesisnya dalam waktu satu bulan.
Perpustakaan Akademi Pengajian Islam itu telah sepi.
Di lantai dua hanya tinggal dirinya saja. Petugas perpustakaan telah mengumumkan dua puluh menit lagi perpustakaan tutup. Zul berdiri sejenak. Ia menggerakkan tubuhnya dengan memutar kedua tangan ke kiri dan ke kanan. Kepalanya ia jatuhkan ke kiri dan ke kanan. Setelah itu ia merapikan buku-buku yang baru
saja ia baca. Kertas-kertas berisi catatan-catatan penting untuk memperbaiki tesisnya ia periksa sesaat. Lalu ia masukkan ke dalam map plastiknya. Setelah merasa tidak ada yang ganjil ia turun ke bawah.
Di bawah, keadaan sudah sepi. Yang ada adalah petugas perpustakaan empat orang dan dua orang gadis melayu yang juga sedang berkemas dan siap pergi. Che Mazlan, petugas perpustakaan paling ramah menyapanya dengan tersenyum,
"Sudah ketemu semua yang dicari Ustadz?"
Karena memakai kopiah putih Zul dipanggil Ustadz. Ia hanya menjawab dengan senyum dan menganggukkan kepala dengan ramah. Kepalanya mulai terasa pening. Ia berjalan ke tempat meletakkan tas. Mengambil tasnya. Memasukkan map plastiknya ke dalam tas. Dan melangkah keluar. Ia lihat jam tangannya.
"Ashar baru mau masuk."
la merasa harus segera mengisi perutnya yang sejak pagi hanya terisi sepotong roti canai dan segelas air putih. Ia bergegas turun ke tempat parkir. Sepeda motor tuanya begitu setia menunggunya. la ambil helm. Dan beberapa jurus kemudian dengan pelan namun pasti Honda butut itu membawanya meluncur ke kanlin kolej 12. Sore itu kantin kolej 12 padat pengunjung. Kantin yang dikenal paling murah di seluruh kawasan Univesiti Malaya itu begitu hidup. Padat bergairah, namun tetap rapi dan bersih. Ada lima belas cafe dan kedai. Sore itu semua buka.
Bisa dipastikan sembilan puluh sembilan persen pengunjungnya adalah mahasiswa. Termasuk dirinya. la memilih SR Cafe, atau Sila Rasa Cafe. la ambil nasi, sayur kangkung, ayam goreng dan sambal. Seorang penjaga SR Cafe berkerudung coklat muda bertanya,
"Minum apa Dik?"
"Teh O14 panas Kak." Jawabnya sambil meletakkan piringnya yang penuh nasi dan lauk. la memang mengambil nasi dengan porsi banyak. Sebab ia merasa sangat lapar. Sepuluh jam duduk serius di perpustakaan telah membuat tenaganya terasa terkuras habis.
"Berapa Kak? Tambah minum Teh O panas," tanyanya pada kasir.
"Empat ringgit dua puluh sen."
Ia keluarkan lima ringgit. Lalu kasir berwajah bulat berkerudung putih itu memberinya uang kembali. Tiga keping uang logam. Lima puluh sen, dua puluh sen, dan sepuluh sen. Total delapan puluh sen.
Zul melangkah mencari tempat yang kosong. Ia lemparkan pandangan matanya ke segenap arah. Hampir semuanya terisi. Di pojok sebelah kanan tampak sepasang mahasiswa China meninggalkan tempatnya.
Ia segera bergegas ke sana. Ia melangkah cepat. Jika tidak ia kuatir akan didahului orang lain. Piring bekas makan mahasiswa China ia singkirkan dengan tangan kiri. Sementara tangan kanannya masih memegang piringnya. Seorang petugas kantin agaknya tahu ketidaknyamanannya. Petugas itu dengan sigap langsung membersihkan meja itu. Ia letakkan tasnya di atas meja, lalu piringnya. Meja berwarna putih itu dikelilingi empat kursi alumunium. Ketika hendak menyantap ia teringatbelum mengambil minumannya. Ia kembali ke SR Cafe dan mengambil Teh O-nya. Mejanya masih utuh, belum ada yang menempati.
Zul mulai makan dengan lahap. Ia merasakan kenikmatan luar biasa.
"Hmm benar kata pepatah China, rasa lapar adalah koki paling hebat di dunia." Lirihnya pada diri sendiri.
Sesekali ia melongokkan kepala memandang ke kiri dan ke kanan. Melemparkan pandangan kalau-kalau ada mahasiswa Indonesia yang ia kenal. Namun ia rasa agak aneh, sore itu dari sekian pengunjung tidak ada satu pun mahasiswa Indonesia yang ia kenal. Bahkan si Edy, si
Gugun, si Rizal dan si Emil yang biasanya ada di kantin Kolej 12 pada jam seperti itu pun tidak ada. Ia terus makan. Seorang mahasiswi berwajah India hendak minta ijin untuk duduk di depannya. Tampaknya mahasiswi itu agak ragu. Mahasiswi itu tidak jadi duduk satu meja dengannya. Mahasiswi itu memilih mencari tempat yang lain.
Sambil makan ia tenggelam dalam lamunannya. Ia melamun tentang masa depannya. Selesai master ia harus bagaimana? Langsung pulang ke Indonesia dan mencari peluang kerja atau usaha, ataukah langsung saja melanjutkan studi mengambil program doktor? Kalau pulang ke Indonesia, di mana ia akan pulang? Ke tempat siapa? Ia merasa sudah tidak memiliki siapa-siapa. Sejak kecil ia tidak melihat ayah dan ibunya.
Menurut cerita Pakdenya, ibunya yang bodoh adalah korban penipuan. Ibunya kerja di sebuah pabrik di Semarang. Di tempat kerjanya ia kenal dengan seorang lelaki. Lelaki itu mengaku dari Lampung. Ibunya terpikat oleh penampilan dan mulut manis lelaki itu. Ibunya ikut saja ketika lelaki itu mengajaknya menikah secara siri. Asal sah menurut syariat tapi belum dicatat secara resmi di KUA. Pakdenya sebagai wali satu-satunya tidak menyetujui. Pakdenya menginginkan kalau menikah ya menikah serius. Diumumkan terangterangan dan dicatat secara resmi di KUA. Namun lelaki itu beralasan, keluarga besarnya harus datang ke Demak jika nikah besar-besaran. Dan ia masih harus mengumpulkan biaya unruk itu. Nikah siri adalah solusi agar hubungan dua insan itu halal.
Ibunya yang sudah cinta mati pada lelaki itu mendukung nikah siri. Ibunya bahkan mengancam akan bunuh diri jika Pakdenya tidak merestui. Akhirnya Pakdenya terpaksa menikahkan ibunya dengan lelaki itu secara siri. Lelaki itu hidup satu rumah dengan ibunya selama dua bulan. Setelah itu ia pamit pergi ke Lampung untuk menjenguk keluarganya. Dan ternyata tidak kembali. Padahal saat itu ibunya tengah hamil. Pakdenya mencoba mencari lelaki itu di Lampung. Di alamat yang ada di KTP yang ditinggalkan di Lampung. Ternyata alamatnya fiktif. Ibunya stres. Kesehatannya menurun. Dan meninggal saat melahirkan dirinya.
Sejak itu ia ikut Pakdenya. Pakdenyalah yang ia sebut dengan panggilan ayah. Ia bahkan tidak tahu nama ayahnya. Ketika ia tanya sama Pakdenya nama ayahnya, Pakdenya memberikan KTP yang ditinggalkan ayahnya. Disitu tertulis sebuah nama. Tapi Pakdenya yakin nama
itu pun fiktif, alias samaran. Ia merasa tidak punya ayah. Namun ia merasa sedikit tenang bahwa ia terlahir dari hubungan yang halal. Dengan menikah. Meskipun ayahnya menikahi ibunya dengan menipu.
Dengan tidak mengenal ayahnya sejak kecil ia merasa bahagia karena tidak mendapatkan didikan untuk menipu. Sejak kecil ia dididik oleh Pakdenya untuk jujur dan bertanggung jawab.
Selama ini yang ia anggap sebagai keluarga ya Pakdenya. Tapi Pakde yang bertalian darah dengannya sudah meninggal. Pakde yang telah ia anggap sebagai ayahnya sendiri itu telah tiada. Sebenarnya ia telah menganggap Budenya adalah ibunya sendiri. Namun setelah Budenya itu menikah lagi, ia merasa menjadi asing dan tidak enak jika ke rumah Budenya. Apalagi Budenya sudah tidak lagi menempati rumah yang dulu, tapi kini telah pindah ke rumah suaminya yang baru. Pindah bersama seluruh anak-anaknya. Rumah Budenya yang lama, tempat di mana ia menghabiskan masa kecilnya ia dengar telah dijual.
Jika ia hendak pulang ke Indonesia ia mau pulang ke mana? Ia merasa tidak punya siapa-siapa.
Dan jika ia terus lanjut program Ph.D, apakah ia akan hidup dengan cara seperti ini terus. Hidup dengan cara sapi perah. Hidup di Kuala Lumpur dengan tanpa mengenal istirahat. Hidup untuk bekerja sambil belajar. Itu yang ia rasakan. Jujur saja. Bisa saja ia mengatakan
ia bekerja untuk hidup dan bekerja untuk belajar. Tapi ia merasa sepertinya telah diatur oleh waktu untuk bangun pagi, lari ke sana, lari ke sini. Bekerja di sana. Bekerja di sini. Waktu seolah telah memprogramnya begitu, agar ia bisa bertahan hidup. Seolah jika ia menyalahi program waktu itu, hidupnya terancam. Ia terancam tidak bisa membayar sewa rumah, terancam tidak bisa makan, terancam tidak bisa membayar uang kuliah, dan terancam tidak bisa menata hidup lebih layak di masa depan. Ia selalu berusaha menyembuhkan kelelahannya dengan menghibur diri: inilah proses merubah takdir. Kata-kata yang selalu ia gumamkan saat didera keletihan itulah yang menguatkannya. Ia merasa sejak kecil ditakdirkan untuk menderita. Namun ia merasa Allah tetap menyayanginya. Ia yakin Allah telah menyiapkan banyak jalan dan sebab untuk merubah takdir. Ia yakin dengan usaha yang gigih Allah akan merubah takdirnya. Itulah yang menguatkan dirinya.
Namun seringkali ia berpikir, apakah dirinya telah tepat mengambil jalan dan sebab dalam mengubah takdir. Sejak lulus SMA di Sayung Demak, ia telah berusaha keras. Merantau ke Semarang, membanting tulang di Semarang. Sambil bekerja apa saja di Semarang ia berusaha tetap kuliah. Akhirnya selesai juga S.l-nya. Ia meraih gelar S.Pd. dari IKIP PGRI. Namun meraih gelar S.Pd. ia rasakan belum juga merubah nasibnya. Ia tetap harus bekerja sebagai penjaga parkir di Pasar Johar jika ingin tetap bisa makan. Ia bekerja bersama mereka yang bahkan hanya lulus SD. Ia bahkan sering dijadikan bahan olok-olokan oleh teman-temannya,
"Kalau hanya jadi tukang parkir ngapain kuliah sampai sarjana."
Ya ia sarjana, tetapi bosnya hanyalah lulusan SD. Ia lalu berpikir untuk hijrah. Pindah. Mencoba peruntungan baru. Hijrah dari satu takdir ke takdir yang ia anggap lebih baik. Ia nekat ke Jakarta.Di Jakarta ia merasa tidak mendapatkan apa yang ia cari. Sama saja. Ia masih tetap menjadi buruh kasar. Ia merasa tak ada gunanya ia kuliah. Hanya empat bulan ia bertahan di Jakarta. Ia lalu nekat merantau ke Batam. Banyak yang bercerita Batam adalah cara cepat merubah nasib. Di Batam banyak pekerjaan dan banyak uang. Di Batam ia merasa menemukan takdir yang tak jauh berbeda. Namun ia merasa harus bersyukur, di Batam ia bertemu dengan seorang sosok yang tulus. Namanya Pak Hasan.
Dialah orang yang mengarahkannya merantau ke negeri Jiran ini dan menyemangatinya untuk menuntut ilmu yang lebih tinggi.
"Kamu masih muda, seberangilah lautan ini. Dan tuntutlah ilmu ke jenjang yang lebih tinggi di sana. Hanya dengan ilmulah seseorang akan lebih mudah memperbaiki nasibnya. Jangan kuatir, Allah akan membukakan pintu rahmat-Nya untukmu. Di sana, asal adik gigih dan terus ingat Allah, kamu akan tetap survive. Percayalah kamu akan sukses. Percayalah dengan ilmu derajatmu akan diangkat oleh Allah! Dan dalam setiap langkahmu, berpegangteguhlah kamu pada Al-Quran, niscaya kamu akan sukses!" Begit kata Pak Hasan padanya waktu itu, seraya memberikan mushaf kecil Al- Quran.
Ia merasa tak boleh berhenti untuk merubah nasib. Ia harus terus berusaha. Dan dengan modal seadanya, dengan nekat yang disertai sebuah tekad ia merantau ke negeri Jiran ini. Dengan berdarah-darah ia akhirnya bisa tetap hidup dan bisa kuliah pascasarjana. Dan kini ia sudah diambang pintu kelulusan. Tak lama lagi ia akan menyandang gelar M.Ed, atau Master of Education dalam bidang Sosiologi Pendidikan. Gelar yang keren.
Di desanya, ia mungkin satu-satunya orang yang meraih gelar M.Ed, dari sebuah universitas terkemuka di luar negeri. Menyadari kenyataan itu bukannya ia bangga, justru dadanya kini sesak.
Ia memang bahagia lantaran ia akan segera lulus S.2. Keseriusannya memfokuskan diri pada kuliah dan kerja—usai membaca berita tentang penangkapan Siti Martini dan kawan-kawannya—telah menampakkan hasil. Ia hanya perlu waktu empat semester saja untuk menyelesaikan S.2-nya. Satu bulan lagi, begitu tesisnya ia perbaiki bisa dikatakan ia telah berhasil meraih gelar master.
Namun ia merasa ada yang menyesak di dadanya. Ia merasa masih juga hidup dengan cara bertahan dengan kekuatan otot. Ilmu Sosiologi Pendidikannya ia rasakan belum juga bermanfaat baginya. Yang paling akrab dengannya masih juga kerja-kerja yang mengandalkan otot. Belum kerja profesional yang mengandalkan otak.
Jika ia hitung, rata-rata ia harus bekerja dua belas jam setiap hari. Dan ia harus menempuh jarak tak kurang dari dua puluh kilo setiap hari. Selesai kuliah setiap malam ia harus tiba di Jamaliah Cafe tepat jam sembilan malam dan pulang jam dua malam. Di antara sekian
pelayan restoran hanya dia seorang yang calon master. Rata-rata mereka hanya tamat SMA. Sedangkan sang pemilik restoran hanya lulusan D2 dari sebuah institut tidak terkenal di Shah Alam.
Ia bertanya pada diri sendiri, apakah jika ia melanjutkan Program Ph.D., ia juga akan tetap seperti ini. Bertahan dengan cara seperti ini. Bahkan ketika telah meraih gelar Ph.D. juga akan tetap bertahan hidup dengan cara seperti ini. Dan jika ia pulang ke Indonesia dengan gelar doktor, akankah ia tetap akan bekerja sebagai kuli panggul di pabrik atau kerja otot lainnya? Atau, ia justru akan masuk dalam daftar panjang para pengangguran yang hidup tak mau mati pun segan? Ia teringat kata-kata Doktor Nyatman, salah satu putra terbaik Indonesia yang kini bekerja di sebuah perusahaan farmasi di Selangor,
"Di Indonesia, doktor yang menganggur sudah mulai banyak. Bahkan doktor yang memiliki kualifikasi keilmuan yang hebat sekalipun. Banyak putera bangsa yang berprestasi, bisa menyelesaikan doktor dan memiliki prestasi gemilang bertaraf internasional tapi sama sekali tidak diapresiasi di Tanah Air. Saya punya kenalan seorang doktor lulusan Jepang yang cemerlang dan mendapat banyak penghargaan internasional atas riset-risetnya yang brilian, namun sama sekali tidak dihargai di Indonesia. la melamar ke pelbagai universitas negeri di Indonesia dan tak ada satu pun yang menerima. Di Indonesia penjilat dan penjahat lebih dihargai daripada ilmuwan dan pahlawan."
Ada nada marah dan pesimis dalam kata-kata Doktor Nyatman. la merasakan Doktor Nyatman seolah-olah menjaga jarak dari Indonesia. Bahkan seolah-olah sudah merasa bukan lagi orang Indonesia. la mengatakan orang Indonesia dengan sebutan "mereka", dan menyebut pemerintah Indonesia dengan sebutan "pemerintah mereka", bukan pemerintah kita. Karena ia hidup di Malaysia, apakah ia merasa lebih nyaman menjadi orang Malaysia dan tidak lagi merasa menjadi orang Indonesia?
Ataukah ia sudah malu menjadi orang Indonesia? Kenapa Doktor Nyatman menyampaikan itu semua kepadanya? Apakah supaya dirinya takut hidup di Indonesia? Ataukah supaya dirinya benar-benar siap menghadapi beratnya tantangan hidup di Indonesia? Atau bukan itu semua, tapi hanya sebuah ungkapan kejengkelan seorang putra bangsa yang disia-siakan oleh bangsanya sendiri, sampai ia harus mengais sesuap nasi di negeri orang. Padahal gelar doktor dari Jerman telah ia sandang.
Jawabnya: Allahu a'lam.
Yang jelas ia sedang berpikir keras, bagaimana takdir hidupnya segera cepat berubah. Ia merasa sudah terlalu lama ia bersabar mati-matian berproses untuk membuka lembaran hidup yang lebih baik. Yang ia pikirkan apakah ia salah mengambil sebab dan jalan yang disiapkan Tuhan? Kenapa ada orang yang hanya cukup bekerja empat jam saja, di dalam tempat yang nyaman pula, dan hajat hidupnya tercukupi semua. Bahkan berlebih dan bisa membantu dan menolong sesama. Bangun pagi tersenyum, siang tersenyum, malam tersenyum dan tidur pun tersenyum. Kenapa ada negara yang benar-benar mandiri, bisa memakmurkan rakyatnya dan menjaga kehormatan bangsanya di mata dunia? Negara itu kecil, tidak memiliki kekayaan alam apa-apa. Tapi ia bisa mengendalikan negara sekitarnya bahkan memanfaatkannya. Sementara itu di sisi lain, ia lihat sendiri—bahkan ia mengalami sendiri—ada orang yang nyaris hidupnya ia gunakan untuk bekerja. Ia bekerja nyaris dua puluh empat jam penuh, namun ia tetap juga sengsara. Hidupnya nyaris tak pernah bahagia. Padahal ia ulet luar biasa.
Ah, ia jadi teringat para petani di desanya. Ia teringat Kang Darsuki. Betapa luar biasa etos kerjanya. Ia selalu bangun jam tiga pagi, jauh sebelum Subuh. Membantu menyiapkan dagangan sang isteri untuk dijual ke pasar. Saat Subuh tiba ia dan isterinya telah berada di pasar. Ia shalat Subuh di pasar. Lalu bergegas pulang, sementara sang isteri berjualan hasil ladang di pasar. Setelah mengurus anaknya yang masih SD, ia langsung ke sawah. Ia biasanya bekerja di sawah sampai jam setengah lima sore. Malam harinya ia gunakan untuk bekerja membuat kursi. Selain sebagai petani ia juga dikenal sebagai seorang pembuat kursi. Namun sampai ia meninggal dunia karena penyakit typus akut, rumahnya masih berdinding bambu dan beratap seng bekas. Dan belum memiliki kamar mandi dan WC yang layak.
Di mana letak salahnya?
Kenapa petani Indonesia seolah harus terus miskin, sementara petani dari negeri Jiran saja bisa makmur dan menyekolahkan anaknya ke London? la lalu teringat pada dirinya sendiri. Kenapa ia yang sebentar lagi selesai master masih saja menggantungkan hidup dari mencuci piring di cafe dan restoran, sementara temannya dari Pahang yang juga calon master sudah memiliki dua perusahaan, dan satu kebun kelapa sawit seluas seribu hektar di Sumatera. Ya di Sumatera, Indonesia. Bukandi Melaka Malaysia.

* * *


"Maaf Bang, boleh saya duduk kat sini?" Suara seorang perempuan membuyarkan lamunannya. Ia memandang ke arah suara. Seorang gadis Melayu berdiri di depannya. Tangan kanannya memegang piring berisi makanan dan tangan kirinya memegang gelas berisi minuman berwarna cokelat. Bisa susu cokelat atau Milo. Bisa juga teh tarik.
"Em...silakan." Jawabnya sambil mengambil tasnya dari atas meja dan meletakkannya di atas kursi yang ada di samping kanannya.
Gadis itu langsung meletakkan piring dan gelasnya di atas meja. Gadis itu tidak membawa tas. Dengan gerakan yang lembut gadis itu duduk lalu makan. Gadis itu makan dengan menunduk. Ia tidak mempedulikan sama sekali gadis di hadapannya itu. Ia melanjutkan melahap nasi dan lauk yang masih tersisa di piringnya.
Setelah nasinya habis, ia meneguk teh O panasnya teguk demi teguk. Ia merasakan kehangatan menjalar ke seluruh tubuhnya. Kehangatan itu juga mengaliri syarafsyaraf kepalanya. Dan perlahan rasa peningnya memudar dan hilang.
Tanpa terelakkan ia sempat juga memperhatikan gadis di depannya, yang sedang lahap makan. Gadis itu memiliki tahi lalat di dagu sebelah kiri. Paras wajahnya memancarkan pesona khas gadis Melayu. Baju kebaya panjang berwarna biru muda membalut tubuhnya. Ia
tidak memakai jilbab. Rambutnya tergerai sebahu. Rambut itu hitam pekat dan berkilau indah.
Zul merasa ada yang janggal dengan cara makan gadis itu. Gadis itu makan dengan tangan kirinya. Sementara tangan kanannya ia gunakan untuk memegangi hand phone yang ia tempelkan ke telinga kanannya. Bahkan ketika sudah selesai bicara pun gadis itu tetap makan dengan tangan kiri dan tangan kanannya dibiarkannya tidak bekerja. Ia merasa harus meluruskan kejanggalan itu.
"Maaf Dik, boleh saya cakap sesuatu," katanya tegas pada gadis itu.
Gadis itu menghentikan makan dan memandang ke arahnya. Gadis itu menganggukkan kepala mengiyakan.
"Adik seorang Muslimah?"
Gadis itu kembali menganggukkan kepala.
"Maaf, ini hanya pelurusan kecil saja. Agar makan dan minum adik benar-benar barakah, sebaiknya adik makan dan minum memakai tangan kanan. Tidak memakai tangan kiri. Itu cara minum yang tidak disukai Rasulullah Saw. Maaf saya tidak bermaksud apa-apa kecuali kebaikan."
Muka gadis itu sedikit memerah.
"Terima kasih atas nasihatnya. Tapi kenapa Abang pedulikan saya? Apa Abang tidak punya urusan yang lebih penting?"
Agaknya gadis itu tersinggung.
"Sekali lagi maafkan saya Dik, jika ini mengganggu kenyamanan adik. Saya tidak bermaksud apa-apa. Hanya entah kenapa saya merasa hati ini tidak bisa diam setiap kali melihat ada sesuatu yang kurang pas. Sekali lagi maafkan saya, saya hanya ingin cara makan adik sesuai dengan sunnah Rasul. Itu saja. Tak ada maksud lain. Itu pun kalau adik berkenan."
Zul bangkit dari kursinya dan bergegas ke sepeda motornya yang terparkir tak jauh dari tempat makan. la sama sekali tidak mempedulikan reaksi gadis itu. Yang ada dalam benaknya adalah segera sampai rumah. Istirahat sebentar. Mandi. Menunggu Maghrib. Dan selepas shalat Maghrib kembali memperbaiki tesisnya.
Malam nanti ia akan kerja lembur untuk tesisnya. la telah ijin tidak kerja di Cafe Jamalia. Dengan tenang Zul menaiki motor bututnya, dan melenggang meninggalkan kantin kolej 12. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa gadis Melayu itu terus memperhatikan dirinya sampai ia hilang dari pandangan gadis itu.

* * *





















































Sebelas




Waktu terus berjalan, menghasilkan pergantian jam. Menghasilkan siang dan malam. Menghasilkan sejarah kehidupan dan kematian. Sejarah orang-orang yang gagal dan sejarah orang-orang yang berhasil. Sejarah orang-orang yang malang dan sejarah orang-orang yang beruntung. Waktu terus berjalan. Setiap detik selalu ada perubahan. Ya, waktu terus berjalan tanpa henti. Zul termenung di kamarnya memikirkan waktu yang ia lalui dan perubahan-perubahan yang ia alami.
Alangkah cepat waktu berjalan. Dan alangkah cepat umur berkurang. Ia merasa seperti baru kemarin ia lulus SD, terus SMP, terus SMA. Kenangan-kenangan saat di SMA terbayang di depan mata. Ia seolah ada di dalamnya.
Perubahan terasa sangat cepat. Ia menyadari bahwa ia ternyata sudah dua tahun lebih di Malaysia. Ia sudah selesai S.2.
Sepertinya baru kemarin ia masuk flat itu diantar oleh Pak Rusli. Lalu berkenalan dengan Sugeng, Yahya, Arif, Rizal dan Pak Muslim. Sekarang mereka sudah tidak ada lagi di flat itu bersamanya. Sugeng sudah selesai setengah tahun yang lalu dan kini mengajar di STAIN Kendari.
Yahya sedang menempuh program Ph.D., ia kini tinggal di Sigambut bersama isterinya. Arif sudah selesai masternya dan kini bekerja di sebuah Bank Syariah di Semarang. Rizal juga sudah selesai, ia mendirikan penerbitan di Bandung. Pak Muslim sudah menyelesaikan doktornya dan telah kembali mengajar di UNY.
Orang yang dulu satu rumah dengannya telah meninggalkannya. Kini ia tinggal bersama adik-adik yang lebih muda yang baru datang. Tak terasa. Ia sudah mulai merasa semakin tua. Umurnya sudah mendekati kepala tiga. Sugeng, Yahya, Arif dan Rizal semuanya sudah berkeluarga. Hanya dirinya yang belum. Semua sudah mengamalkan dan membagi ilmunya. Hanya ia seorang yang ia rasa belum. Ia masih saja seperti dulu.
Bekerja di cafe dan restoran. Ia masih memikirkan tentang nasibnya yang ia rasa belum mengalami perubahan. Ia gelisah. Akan ia bawa ke mana gelar M.Ed.nya?
Apakah hanya untuk memperpanjang namanya saja. Biar tampak ada gelar di belakangnya?
Hari itu jam tiga siang ia merasa harus silaturrahmi ke rumah Yahya. Ia ingin mendiskusikan kegelisahannya. Ia harus mengakui terkadang ia merasa sangat jauh dari dewasa. Ia merasa belum bisa berpikir tenang dan jauh ke depan seperti Yahya. Ia juga sering bertanya pada dirinya sendiri apakah kegelisahannya seperti itu termasuk tanda-tanda tidak menyukuri nikmat Tuhan?
Bukankah Tuhan telah banyak merubah dirinya. Dari orang jalanan yang terbuang dari kota ke kota menjadi orang yang hidup tenang. Dari orang yang pernah nyaris binasa karena dibelenggu oleh syahwat cinta menjadi orang yang merdeka.
Ketika ia sampai di rumah Yahya ia langsung menyampaikan kegelisahannya. Yahya menjawab, "Bersabar dan bersyukurlah Saudaraku. Jangan tergesa-gesa. Tetaplah sabar dan istiqamah dalam berusaha. Syukurilah apa pun karunia yang dilimpahkan oleh Allah. Jangan kau mendikte Allah. Jangan kau berprasangka buruk pada Allah. Allah-lah yang Mahatahu yang terbaik untuk kita. Apa yang menurut kita baik belum tentu baik menurut Allah. Dan apa yang menurut kita tidak baik belum tentu tidak baik menurut Allah. Apa yang kita sukai belum tentu itu baik bagi kita. Dan apa yang kita benci belum tentu tidak baik bagi kita.
"Bisa jadi, sampai saat ini kau masih bekerja di cafe, karena itu memang yang terbaik. Bisa jadi setelah itu akan ada hikmah yang luar biasa bagimu. Yang paling penting bersabar dan bersyukurlah. Optimislah. Dan berprasangka baiklah kepada Allah."
Zul merenungkan perkataan sahabatnya itu.
Yahya mempersilakannya untuk mencicipi agar-agar buatan isterinya. Zul mengambil satu dan memuji, "Agar-agarnya enak."
Spontan Yahya menjawab, "Makanya segera menikah, biar ada yang membuatkan agar-agar."
"Kalau kau ada calon untukku boleh Ya. Aku merasa sudah tiba saatnya. Orang satu rumah kita dulu sudah menikah semua. Hanya aku saja yang belum."
"Kau serius Zul."
"Serius."
"Kalau orang Malaysia bagaimana?"
"Kalau salehah kenapa tidak?"
"Ini serius lho Zul."
"Ya pasti seriuslah Ya. Masak aku main-main."
"Baik. Ini ada calon. Orangnya baik. Aku berani jamin. Dulu dia teman isteriku waktu kuliah di Birmingham. Dia Muslimah yang taat. Tidak pernah menanggalkan jilbab. Bagaimana?"
"Boleh saja. Cuma aku kuatir kalau aku mau dan dianya tidak mau."
"Bagaimana kalau sebaliknya. Ternyata dianya mau malah kau yang tidak mau."
"Kayaknya itu kemungkinan kecil Zul. Kalau kau sudah berani menjamin baik, masak sih aku tidak mau. Siapa namanya kalau boleh tahu?"
"Laila Abdurrahman."
"Kau mau ta'aruf serius dengannya Zul."
"Wualah tho Ya, Yahya. Berapa kali lagi kau akan tanya tentang keseriusanku. Baiklah, aku serius Ya."
"Kalau begitu kau besok datanglah ke masjid kampus UKM15 Bangi jam 3 sore. Kau akan aku temukan dengannya insya Allah."
"Baik."

* * *


Hari berikutnya Zul berangkat ke Bangi naik KTM dari Pantai Dalam sampai UKM lalu naik bus mini kuning ke masjid kampus UKM. Yahya ternyata sudah menunggu di masjid. Begitu ia sampai ia langsung diajak ke Fakulti Ekonomi. Ia dibawa ke auditorium. Di sana ada seminar membahas dua judul proposal disertasi doktor. Dua orang mahasiswa program doktor dari Malaysia mempresentasikan judul proposal disertasi mereka di hadapan dosen dan guru besar.
Zul dan Yahya duduk agak di belakang. Satu per satu kandidat doktor itu mempresentasikan kajiannya. Ada empat profesor yang menilai dan mengkritisi. Di antara empat profesor itu ada profesor madya perempuan yang tampak masih muda dan cantik. Dialah yang menjadi artis di ruangan itu. Zul diam-diam tersihir oleh keanggunan dan kecerdasan profesor itu. "Ya, perempuan Malaysia ada yang hebat juga ya. Itu yang di depan itu. Masih muda sudah profesor madya. Canggih betul."
" Kau tahu itu siapa?"
"Siapa Ya?"
"Itulah orang yang akan aku kenalkan denganmu." Zul kaget bagai disambar petir.
"Weh, yang benar Zul. Kau jangan bercanda Zul. Masak jauh-jauh datang kemari hanya untuk bercanda?"
"Aku tidak bercanda Zul. Aku serius. Dia itu namanya Prof. Madya Datin Laila Abdul Majid, Ph.D. Dia menyelesaikan S.2 dan S.3-nya di Birmingham. Satu kelas dengan isteriku saat S.2. Hanya saja isteriku pulang ke Indonesia setelah selesai S.2-nya, sedangkan dia langsung lanjut S.3. Kata isteriku, ketika di Birmingham dia termasuk mahasiswi yang disanjung banyak dosen karena kecerdasannya. Itulah kelebihan yang dia miliki. Bagaimana Zul, mau dilanjutkan apa tidak? Terus terang aku tidak bilang apa-apa padanya. Kalau mau nanti kita datangi dia dan kita ngobrol santai saja. Bagaimana?"
"Lanjut Ya."
"Okay, kau juga harus tahu kekurangannya, kalau ini dibilang kekurangan, dia itu sudah janda. Sudah pernah mau punya anak tapi keguguran. Dia janda karena suaminya meninggal dunia. Bagaimana Zul? Dilanjutkan apa tidak?"
Zul berpikir sejenak. Lalu menjawab,
"Dilanjutkan."
"Baik." Jawab Yahya sambil tersenyum.
Setelah seminar selesai Yahya bangkit. Isteri Yahya ternyata juga ada di ruangan itu. Isteri Yahya menyalami Prof. Datin Laila. Keduanya berangkulan mesra. Lalu Yahya menyapa seraya memperkenalkan Zul. Mereka berempat lalu berbincang-bincang sambil berdiri beberapa saat. Prof. Darin Laila sangat ramah dan murah senyum. Zul terpesona dengan aura kemelayuannya. Mereka berbincang tidak lama, sebab waktu shalat Ashar tiba. Prof. Datin Laila minta diri ke ruangannya. Yahya dan isterinya serta Zul bergegas ke masjid dengan mobil Yahya. Di perjalanan isteri Yahya menjelaskan bahwa Laila adalah teman akrabnya saat di Birmingham.
Beberapa bulan lalu Laila meminta padanya kalau punya calon yang sesuai untuknya. Orang Indonesia tidak apa-apa. Hari itu Zul seperti mimpi. la seperti tidak percaya kalau calon yang dikenalkan dengannya adalah seorang Datin Laila yang ia rasakan lebih dari seorang bidadari.
"Tapi Datin Laila belum tahu apa-apa. Dia tidak tahu kalau ada orang Indonesia yang melihatnya dan berniat ta'aruf dengannya. Besok baru aku akan jelaskan padanya. Apa kira-kira reaksi dan tanggapan dia. Semoga seperti yang kita harapkan. Kalau melihat suami dia dahulu juga dari kalangan orang biasa. Bukan dari kalanganbangsawan," kata isteri Yahya.
"Insya Allah, kalau ini jodohmu tidak akan lari ke mana-mana Zul." Sambung Yahya.
Zul mengamini dalam hari berharap semoga surga itu telah ia rasakan di dunia.
Setelah shalat Ashar mereka pulang meninggalkan kampus UKM. Yahya dan isterinya membawa mobil. Zul naik bus kuning. Yahya menawarkan padanya untuk satu mobil, tapi Zul ingin berkunjung ke rumah seorang kenalannya bernama Ardan di Hentian Kajang.
Zul naik bus mini kuning ke Hentian Kajang.
Ongkosnya cuma tujuh puluh sen. Sepuluh menit kemudian bus itu sudah sampai di Hentian Kajang. Zul berjalan ke kanan menuju tempat duduk para penumpang.
Ketika ia melewati tempat itu, sekonyong-konyong ada seorang wanita berjilbab yang memanggilnya dengan keras.
"Zul! Mas Zul!"
Ia menghentikan langkah dan menoleh ke arah suara. Seorang wanita berjilbab dengan wajah gembira melangkah ke arahnya. Ia mengamati dengan seksama, mencoba mengingat-ingat.
"Lupa ya sama saya? Pasti lupa?" kata wanita itu sambil tersenyum.
"Siapa ya? Agak lupa-lupa, ingat," jawab Zul.
"Sudah terlalu sibuk dan sudah lama sekali tidak bertemu jadi kau lupa. Sangat wajar. Apalagi penampilan saya dulu dengan sekarang berbeda. Pasti kau susah menerka."
"Aduh langsung saja. Siapa ya?" katanya sambil melihat jam. Ia memang tidak punya waktu terlalu Uziek Collections
longgar untuk hal yang kurang penting.
"Baik Mas. Saya Sumi Mas. Saya Sumiyati. Kita dulu ketemu di Subang Jaya. Ingat? Saya dulu tidak jilbaban seperti sekarang."
Seketika Zul terkaget dan langsung tersenyum bahagia.
"O Mbak Sumi. Ya Allah, saya benar-benar susah mengingat-ingat tadi. Saya sepertinya pernah bertemu. Tapi di mana saya tak ada bayangan. Iya Mbak benarbenar beda setelah pakai Jilbab. Tambah anggun."
Sumi tersenyum mendengar pujian.
"Alhamdulillah Mas. Saya bahagia berjalan dalam hidayah ini."
"O ya Mbak cerita teman-teman yang lain bagaimana ya? Saya pernah ke sana ternyata kalian sudah tidak di sana?" Zul pura-pura bertanya tidak tahu. la tidak bisa melupakan berita koran tentang penangkapan penghuni rumah itu.
"Mas belum tahu beritanya ya?"
"Berita yang mana?"
"Ah baiklah. Aku ceritakan biar nanti kalau suatu saat Mas dengar berita itu tidak salah faham. Begini Mas. Kami pergi tepatnya terusir dari rumah itu ada sebabnya. Sebabnya adalah ulah Linda dan Watik yang keterlaluan. Maksiatnya sudah terang-terangan. Aku yakin kau tahu apa pekerjaan Linda. Melacurkan diri. Biasanya ia dijemput dan berbuat maksiat itu di hotel. Kami mengingatkan tidak mempan. Mbak Mari sering bertengkar dengannya. Apalagi setelah kejadian Mbak Mari mau diperkosa sama mantan suaminya. Mbak Mari curiga Lindalah yang memberitahu keberadaan dirinya pada mantan suaminya. Linda semakin nekat seolah menantang penghuni rumah yang lain. Ia maksiat di kamarnya. Beberapa teman lelaki Linda datang ke rumah. Hal itu dicium oleh masyarakat. Akhirnya rumah itu digrebek. Kami semua dianggap pelacur semua. Padahal pelacurnya cuma Linda sama Watik. Kami diinterogasi habis-habisan. Kami difoto dan masuk koran. Yang paling sabar dan tabah menghadapi ujian ini adalah Mbak Mari. Mbak Mari berusaha sekuat tenaga berdialog dan menjelaskan bahwa tidak semua yang ditangkap adalah pelacur. Akhirnya Mbak Mari bisa menelpon seorang kenalannya. la anak seorang pejabat penting. Dengan jaminan temannya Mbak Mari, kami, selain Linda dan Watik dibebaskan. Sejak itu saya memakai jilbab. Saya ingin lebih berarti menjalani hidup ini. Begitu ceritanya Mas."
Zul mengucapkan syukur berkali-kali dalam hati mendengar penjelasan itu. la merasa berdosa telah berprasangka buruk pada semua penghuni rumah, termasuk pada Mari dan Sumi. Sekarang ia tahu Mari bersih. Ia jadi tidak sabar untuk menanyakan keberadaan Mari. Walau bagaimanapun nama itu pernah tertanam dalam hatinya.
"Lha Mbak Mari sekarang di mana?"
"Dia sudah di Indonesia."
"Ada alamatnya?"
"Sayang tidak ada. Buku catatanku yang ada alamat dan kontak Mbak Mari hilang di bus. Mungkin jatuh. Saya dengar dia sekarang hidup di Semarang."
"Mmm di Semarang. Dia sudah menikah?"
"Saya juga tidak tahu. Tapi dia pernah ngobrol dengan saya. Maaf lho Mas Zul ya kalau tidak berkenan. Ia pernah cerita kalau dia diam-diam suka sama Mas Zul."
Seperti ada setetes embun membasahi hatinya. Wajah Mari hadir dalam pikirannya. Kenangan lama perlahan muncul ke permukaan. Tapi cepat-cepat ia tepis kuatkuat. Ia tidak boleh menghadirkan kenangan itu. Ia telah siap berta'aruf dengan Datin Laila.
"Maaf Mas bus saya sudah datang, saya harus pergi.
Say a sekarang tinggal di sekitar sini. Mari Mas. Sukses ya." Sumi minta diri.
Zul terpaku di tempatnya beberapa saat lamanya.
Kemudian ia teringat hari sudah sore. Ia harus sudah ada di Pantai Dalam sebelum Maghrib. Keinginannya untuk menemui Ardan terpaksa ia urungkan. Ia langsung bergegas mencari bus ke KL Sentral. Dari KL Sentral ia akan nyambung dengan KTM.

* * *


Hari berikutnya, pagi-pagi sekali Yahya datang ke Pantai Dalam. Yahya menyampaikan hasil komunikasi antara isterinya dan Datin Laila. Zul tidak sabar menunggu berita gembira itu.
"Bagaimana, sesuai harapan?" tanya Zul.
"Pada dasarnya Datin Laila menerima dan tidak masalah...." jawab Yahya tenang.
"Alhamdulillah," potong Zul.
"E dengarkan dulu sampai aku selesai bicara!"
"O masih ada lanjutannya tho. Apa lanjutannya?"
"Ya pada dasarnya Datin Laila menerima dan tidak ada masalah. Yang jadi masalah adalah kakak sulungnya, yang sekarang jadi walinya telah membawa seorang calon untuknya. Datin Laila belum mengambil keputusan. Tapi agaknya Datin Laila merasa berat jika harus berseberangan dengan kakak sulungnya."
"Artinya ia cenderung mengiyakan calon dari kakaknya kan?"
"Begitulah.".
Zul menunduk kecewa.
"Kenapa dalam masalah seperti ini aku selalu menuai kecewa ya. Dulu mau serius menikahi Mari tak jadi. Apa ya dosaku ini?"
"Lha mulai berprasangka tidak baik pada Yang Mahakuasa! Sabarlah Zul. Selain membawa kabar menyedihkan itu aku juga membawa kabar menggembirakan untukmu."
'Apa itu Ya?"
"Aku kemarin dibel Pak Muslim. Di UNY ada lowongan dosen. Yang dicari S.2 jurusan Psikologi Pendidikan dan jurusan Sosiologi Pendidikan. Ini mungkin rejekimu. Coba kau masukkan lamaran ke sana."
"Wah boleh ini Ya." Zul semangat.
"Caranya bagaimana Ya?"
"Sebaiknya kau pulang ke Indonesia. Masukkan langsung lamaranmu ke UNY. Sekalian bersilaturrahmi ke rumah Pak Muslim. Siapa tahu Pak Muslim juga mencarikan jodoh untukmu. Mahasiswinya yang jilbaberjilbaber kan banyak."
"Wah saranmu brilian sekali Ya. Dunia ini sejatinya luas ya Ya. Wanita di dunia ini pun miliaran jumlahnya. Tidak cuma Mari atau Laila ya."
"Lha iya lah."
"Kenapa aku baru menyadarinya sekarang ya."
"Karena kamu selalu menyempitkan ruang berpikirmu selama ini Zul. Cobalah kau buka lebar-lebar.
Hidup ini akan terasa mudah, menyenangkan, dan menggairahkan."
"Ya sudah saatnya aku meluaskan ruang hati dan pikiran Ya."
"Di antara caranya adalah dengan selalu berprasangka baik kepada Allah."
"Terima kasih Ya. Bisa bantu aku lagi?"
"Apaitu?"
"Pinjami uang untuk beli tiket pesawat," kata Zul tersenyum.
"Tentu bisa."
"Kau memang sebaik-baik teman Ya."
"Kau juga Zul"
"Alhamdulillah."



* * *








































Dua Belas





Tiga hari kemudian, Zul terbang ke Yogyakarta. Di Bandara Adi Sucipto ia dijemput oleh Pak Muslim. Begitu bertemu mereka berangkulan erat sekali. Pak Muslim tampak bahagia sekali bertemu dengan Zul, begitu juga Zul. Kesahajaan dan kesederhanaan Pak Muslim sama sekali tidak berubah, meskipun ia telah menyandang gelar doktor. Ia berpakaian biasa, layaknya orang biasa.
Orang yang tidak mengenal Pak Muslim bisa jadi menyangka beliau adalah tukang ojek. Sebab saat itu beliau memakai batik warna tua yang tersembunyi dalam jaket cokelat yang tampak tua. Warnanya telah berubah karena terkena panas dan hujan.
Pak Muslim menjemput dengan mobil Katana tuanya. Beliau langsung membawa Zul ke rumahnya di sebuah perumahan di daerah Maguwoharjo.
"Rumah ini masih menyewa Zul," kata Pak Muslim begitu sampai di rumahnya. "Doakan tahun depan ada rejeki untuk membeli rumah. Meskipun dengan mengangsur," lanjutnya.
"Semoga Pak."
"Ayo masuk. Kita cuma berdua di rumah ini. Isteriku sedang tugas ke Semarang. Dua anakku sedang di rumah eyangnya di Solo."
Begitu masuk Pak Muslim langsung ke dapur membuatkan minuman.
"Adanya ini Zul." Kata Pak Muslim sambil membawa dua gelas berisi air sirup berwarna hijau.
"Nyaman hidup di Jogja Pak ya?" tanya Zul.
"Nyaman dan tidaknya hidup itu yang mengkondisikan adalah hati
dan pikiran kok Zul. Kalau aku di mana saja merasa nyaman. Aku tak pernah kuatir atau takut sebab aku yakin Allah mengasihiku."
"O ya Pak tentang lowongan itu. Ada berapa kursi? Kira-kira yang daftar banyak tidak?"
"Cuma enam kursi saja. Secara keseluruhan, yang daftar mungkin puluhan, ratusan, bahkan mungkin ribuan. Saya tidak tahu persis. Tentang peluangmu, ya yakin saja ini adalah rejekimu. Tapi untuk Sosiologi Pendidikan, saya lihat yang daftar sampai kemarin belum terlalu banyak, kira-kira baru belasan orang. Peluangmu mungkin bagus. Apalagi hanya kau yang meraih M.Ed, dari luar negeri."
"Doanya Pak."
"Semoga. Syarat-syarat sudah lengkap semua?"
"Yang belum foto Pak."
"Nanti foto kilat saja. Supaya besok berkas kamu bisa dimasukkan."
"Iya Pak."
"O iya Zul. Kamu tidak ada rencana nikah? Atau masih mengharap yang di Subang Jaya?"
"Aduh jadi malu. Jangan diingat-ingat Pak. Tapi penggerebekan di Subang Jaya seperti yang tertulis di koran itu ternyata tidak seperti itu lho Pak. Saya jadi merasa berdosa karena berburuk sangka pada semua isi rumah itu."
"Terus sebenarnya bagaimana?"
Zul lalu menceritakan pertemuannya dengan Sumi di Hentian Kajang. Dengan detil dan panjang lebar Zul menjelaskan apa yang ia dapat dari Sumi. Pak Muslim mengangguk-angguk.
"Hmm saya juga berburuk sangka lho Zul. Jika tidak kauberitahu mungkin selamanya dalam pikiran saya yang ada ya persepsi itu. Persepsi satu rumah itu pelacur semua. Kan kasihan mereka yang tidak berdosa. Ini jadi pelajaran penting bagiku Zul. Kabar apa pun saat ini, di akhir zaman ini harus dicek. Berita saat ini sepertinya kok lebih banyak bohongnya, lebih banyak munafiknya daripada jujurnya."
"Ya alhamdulillah, Allah mempertemukan saya dengan Sumi Pak."
"Terus tentang nikah. Jadi setelah tahu kabar itu apa masih mau mengejar si Siti Martini itu? Atau bagai mana?"
"Aduh Pak itu masa lalu. Sudah biarlah berlalu Pak. Dunia ini kan luas. Jumlah wanita di atas muka bumi ini miliaran Pak. Gadis Muslimah yang belum menikah jumlahnya jutaan Pak, kenapa saya mesti mempersusah diri."
"Wah kamu sudah berubah Zul. Tapi ada satu sifatmu yang aku sangat salut. Dan aku berharap sifat itu tidak pernah berubah apalagi hilang dari dirimu."
"Apa itu Pak?"
"Jujur dan tidak mengada-ada. Itu yang aku suka padamu. Jujur itulah sifat yang mutlak harus dimiliki seorang pendidik di negeri ini. Karena kejujuran sekarang ini jadi barang yang sangat langka Zul."
"Doakan saya bisa terus istiqamah Pak."
"Semoga Zul. O ya kembali tentang nikah. Muslimah seperti apa
yang sekarang kauinginkan. Mungkin aku bisa membantu. Tidak hanya membantumu tapi juga membantu kaum Muslimah yang ingin menikah tapi belum menemukan jodoh. Siapa tahu di antara mereka ada yang sesuai untukmu."
"Yang salehah dan jujur Pak. Ah Pak Muslim kan sudah pernah tinggal bersama saya lebih dari satu tahun. Pasti Pak Muslim tahu yang cocok buat saya."
"Ini Zul. Ada Muslimah baik sekali. Ini menurut isteri saya. Sebab Muslimah ini kenal baik dengan isteri saya. Pernah satu kampus di Bandung dulu. Dia sokarang kalau tidak salah dosen di Universitas Semarang. Baru menyelesaikan Master Ekonominya di UKM Malaysia."
"Umurnya berapa?"
"Ya seumuran isteri saya."
Uziek Collections
"Kalau seumuran isteri Bapak, berarti sudah tua dongPak."
"Ei jangan salah. Kau tahu berapa umur isteri Baya?"
"Berapa Pak?"
"Dua puluh delapan tahun. Kau umurmu berapa?"
"Tigapuluh."
"Berarti kira-kira dia lebih muda dua tahun darimu. Bagaimana?"
"Boleh Pak."
"Kalau boleh tahu. Dia berjilbab Pak?"
"Kamu ini Zul. Isteri saya ini aktivis dakwah, masak mau mencarikan kamu yang suka tabarruj. Ya pasti berjilbab rapat-lah Zul."
"Kalau begitu boleh Pak. Boleh tahu namanya Pak?"
"Namanya agak panjang Zul. Tapi seingat saya depannya Agustina. Isteri saya kalau memanggil dia\ Mbak Agustin begitu. Tapi nama penanya kalau dia nulis di koran Asma Maulida, M.Ec. Sebentar aku cari koran dulu. Ada beberapa tulisan dia yang bagus kok."
Pak Muslim beranjak menuju rak tempat majalah dan koran tertumpuk. la mengolak-alik beberapa koran sesaat lamanya.
"Lha ini dia." Seru Pak Muslim gembira.
"Ini Zul tulisan dia coba kaubaca." Pak Muslim menyodorkan koran itu pada Zul.
Zul membaca dengan seksama. Runtut, rapi dan argumentatif. Bahasanya enak dibaca.
"Baguskan?"
"lya Pak?"
"Rapi dan runtut kan?"
"Iya."
"Itulah cermin kepribadiannya. Saya pernah bertemu dengannya. Saya salut. Sangat berkarakter orangnya. Kira-kira bagaimana Zul?"
"Saya manut Pak Muslim saja."
"Baik. Mumpung isteri saya ada di Semarang. Biar dia urus sekalian. Saya telpon isteri saya sekarang saja."
Pak Muslim mengeluarkan hand phone-nya dan memanggil isterinya. Langsung nyambung.
Zul hanya mendengar suara Pak Muslim:
"O jadi malah sedang bincang-bincang sama dia?"
"Di mana Dik, di Warung Bentuman?"
"Dia belum ada calon kan?"
"Ini, temanku satu rumah yang pernah kuceritakan dulu itu lho Dik."
"Ya, sudah selesai M.Ed dari Universiti Malaya."
"Namanya Ahmad Zulhadi Jaelani. Tulis saja A.
Zulhadi Jaelani, M.Ed."
Lalu Pak Muslim menarik hand phone-nya dari telinga kanannya dan bertanya pada Zul.
"Zul, tanggal lahirmu berapa?"
"21 April 1977 Pak." Jawab Zul.
Pak Muslim lalu menyampaikan hal itu pada isterinya. Tak lama kemudian beliau menyudahi pembicaraannya. Lalu kembali berbicara pada Zul.
"Namanya juga ikhtiar. Ya semoga saja ini berhasil."
"Jadi Agustin itu masih belum punya calon Pak?"
"Ya kata isteri saya begitu. Dia berharap proses kali ini adalah prosesnya yang terakhir. Proses yang mengantarkannya memiliki rumah tangga yang mawaddah wa rahmah."
"Amin. O ya Pak, terus terang saja Pak ya. Bapak ada foto dia?"
"Wah sayang tidak punya Zul. Tapi jangan kuatir Zul. Kata isteri saya, biar prosesnya cepat. Artinya kalau iya ya biar segera diijab kalau tidak ya biar cepat ketahuan tidaknya, Agustin akan ikut isteri saya ke Jogja."
"Mau datang ke sini?"
"Iya. Biar bertemu kamu. Kamu juga biar tidak penasaran. Biar itu tadi cepat jelasnya kalau iya ya biar segera diijab kalau tidak ya biar cepatketahuan tidaknya. Kalau misalnya tidak jadi, karena kau tidak cocok kan sama-sama cepat tahunya. Dan bisa mencari yang lain yang cocok. Kalian kan sudah berumur. Tidak perlu ditunda-tunda atau proses yang rumit dan berbelit-belit tho?'
"Iya Pak sepakat."

* * *


Rumah Pak Muslim memiliki tiga kamar. Kamar utama, kamar tamu dan kamar anak. Zul ditempatkan di kamar tamu yang sekaligus merangkap sebagai perpustakaan. Kamar itu penuh buku. Kebanyakan buku-buku tentang pendidikan dan ekonomi. Pak Muslim adalah pakar manajemen pendidikan. Sementara isterinya adalah dosen mata kuliah ekonomi di sebuah Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi di Yogyakarta.
Siang itu setelah selesai memasukkan berkasnya ke UNY ia diantar Pak Muslim pulang. Ia memang harus istirahat. Sebab sebelumnya ia begadang bersama Pak Muslim di sebuah warung angkring sampai larut malam.
Pak Muslim sendiri juga istirahat di kamarnya. Ia telah diberi ijin oleh Pak Muslim kalau mau membaca-baca koleksi perpustakaan pribadinya.
Siang itu ia tidak langsung tidur. Tapi ia melihat-lihat buku yang ada di kamar itu. Banyak judul-judul baru terbitan Indonesia. Ia senang dengan perkembangan penerbitan buku di Indonesia yang semakin marak. Tibatiba kedua matanya tertuju pada warna sampul sebuah buku yang sepertinya pernah ia lihat. Ia ambil buku itu.Buku bersampul biru tua. Terbitan Oxford University Press. Judulnya Game Theory with Applications to Economics. Rasa-rasanya ia pernah memegang buku itu.
Ia mencoba mengetes ingatannya. Di mana ia pernah memegang buku seperti itu. Ia mengingat-ingat tempattempat ia bisa mengambil dan membaca buku. Akhirnya ia ingat di kamar Mari di Subang Jaya, saat ia pertama kali tiba di Malaysia. Ia tersenyum bahagia ingatannya masih tajam.
Ia buka buku itu. Halaman pertama. Dan ia bagai tersengat listrik. Nama pemilik buku itu dan tanda tangannya sama dengan yang ia baca di Subang Jaya: Laila Binti Abdul Majid, TTDL Kuala Lumpur. Pikirannya langsung nyambung ke Prof. Datin Laila Abdul Majid.
Diakah pemilik buku ini? Dan ia yakin buku yang ada di tangannya adalah buku yang beberapa tahun lalu ia pegang di Subang Jaya. Lalu bagaimana buku itu bisa sampai di rumah ini? Puluhan kemungkinan dan pertanyaan berkelebat dalam pikirannya. Ia tak mau pusing. Ia merasa lelah dan harus istirahat. Masalah buku itu bisa ia tanyakan pad a Pak Muslim nanti.
Lima belas menit sebelum azan Ashar berkumandang ia telah bangun. Pak Muslim telah duduk dengan pakaian rapi siap ke masjid di ruang tamu.
"Bagaimana istirahatnya? Enak?"
" Alhamdulillah. Sudah segar kembali Pak."
"Berarti sudah siap bertemu Agustin ya?"
"Jadi malam ini Pak?"
"Lhaiyalah?"
"Cepatsekali."
"Kenapa berlambat-lambat jika bisa cepat."
"Di mana akan ketemu Pak."
"Di sini. Nanti habis Maghrib aku akan jempul mereka di Pertigaan Janti. Mereka naik bus Ramayana.
Setelah shalat Isya kita ad akan majelis ta'aruf di sini."
Hati Zul bergetar hebat. Ia tidak pernah menyangka akan sangat cepat proses untuk bertemu dengan calon isterinya. Pak Muslim meneguk air putih yang ada di hadapannya. Zul kembali ke kamarnya untuk bersiap dan merapikan pakaiannya. la kembali keluar dari kamarnya sambil membawa buku bersampul biru tua itu.
"Dari mana dapat buku bagus ini Pak?" tanya Zul. Hatinya penasaran.
Pak Muslim mengulurkan tangannya. Zul memberikan buku itu pada Pak Muslim. Sesaat lamanya Pak Muslim mengamati buku itu.
"Isteri saya yang bawa."
"Dari mana dia dapat?"
"Saya tak tahu pasti Zul. Nanti malam saja kita tanyakan."
* * *


Usai shalat Maghrib Pak Muslim meluncur ke Pertigaan Janti dengan Katana tuanya. Zul memilih iktikaf di masjid sampai Isya. Sebelum azan Isya berkumandang Pak Muslim sudah tiba di masjid dan memberitahu Zul bahwa Agustin sudah ada di rumah.
"Jadi nanti pertemuannya alami saja Zul. Kita pulang dari shalat dan mereka sudah menunggu di ruang tamu. Kita langsung ngobrol dan bincang-bincang santai saja?"
"Saya cuma pakai sarung saja begini Pak?"
"Lha memangnya kenapa? Kalau pakai sarung apa terus hilang ketampananmu?"
"Nggak sih Pak. Nggak apa-apa."
"Agustin sekarang aku lihat agak berubah."
"Berubah bagaimana?"
"Jadi lebih muda dan segar. Dulu waktu pertama kali bertemu bersama isteri di Semarang, ia kurus, agak sayu dan tampak lebih tua dari umurnya."
"Kalau begitu bagus lah Pak."
"Ya, rejekimu Zul kalau kau punya isteri yang semakin tambah umur tapi wajahnya semakin tambah muda."
"Amin ya Rabb."
Azan Isya dikumandangkan. Jamaah berdatangan. Shalat sunnah didirikan. Lalu iqamat disuarakan. Shafshaf dirapikan. Dan sang Imam mengucapkan takbiratul ihram. Zul mengikuti takbir Imam dengan hati bergetar. Shalat jamaah didirikan dengan penuh kekhusyukan.
Dalam sujud Zul berdoa agar dilimpahi kebaikan dunia dan akhirat, serta diberi pasangan hidup yang menjadi penyejuk hati, teman sejati dalam mengarungi hidup beribadah kepada Allah Azza wa Jalla.
Selesai shalat Pak Muslim dan Zul melangkah pasti ke rumah. Semakin dekat dengan rumah hati Zul semakin bergetar hebat. Ia akan bertemu dengan Agustin. Yang dalam bayangannya akan menyejukkan hatinya. Zul sampai di halaman. Pak Muslim melangkah duluan. Dari halaman ia bisa melihat dari terawang sela-sela gorden, ada dua Muslimah berjilbab yang sedang berbincang di ruang tamu. Namun tidak jelas. Jantungnya semakin keras berdegup. Ia berusaha menguasai dirinya, dan menenangkan batinnya.
Pak Muslim sudah mengucapkan salam. Dua Muslimah itu menjawab bersamaan. Zul mencopot sandalnya. Pandangannya menunduk ke lantai. Pak Muslim masuk. la mengikuti di belakang. la memandang ke depan. Dan...
Pandangannya bertatapan dengan pandangan seorang perempuan berwajah bersih, wajah yang dibalut jilbab putih bersih. Wajah yang pernah ia kenal. Mata yang pernah ia kenal. Dan...
"Z...zul!" Dari bibir perempuan itu tersebut namanya Ia berdiri mematung di tempatnya. Hatinya sesak oleh keharuan luar biasa. Hawa dingin seolah menyebar ke seluruh syarafnya. Tak terasa airmatanya meleleh. Lidahnya kelu.
Perempuan berwajah bersih itu adalah Mari.
"Ja..j.adi ternyata kau Zul!"
Zul tidak bisa bersuara. Ia hanya mengangguk dengan airmata berderai.
"Yang dimaksud temannya Pak Muslim ini kau Zul?"
Zul kembali mengangguk.
"Ini tidak mimpi kan?!" seru Mari.
"Ti...tidak Mari. Tidak! Ini kenyataan!" Zul buka suara dengan tangis yang pecah. Begitu mendengar kalimat yang keluar dari mulut Zul, Pak Muslim langsung mengerti. Beliau meneteskan airmata. Hanya isteri Pak Muslim yang masih bingung.
"Jadi kalian sudah saling kenal?" tanya isteri Pak Muslim heran.
Zul dan Mari menjawab serentak:
"I ya!"
Pak Muslim menyuruh Zul duduk Mari tak kuasa membendung tangisnya. Isteri Pak Muslim belum mengerti apa yang terjadi. Pak Muslim lalu menceritakan apa yang terjadi pada Zul saat jatuh cinta pada Mari "Zul bilang namanya Siti Martini." kata Pak Muslim.
Mari menyela "Benar, nama saya memang Siti Martini. Itu nama kecil saya."
Pak Muslim lalu melanjutkan kisahnya Bagaimana Zul nyaris gila dan binasa. Sampai akhirnya ia memanggil Zul dan memberinya tiga saran atau tiga opsi.
Lalu Zul memilih opsi yang kedua, yaitu memilih menikahi Mari. Ia dan Zul pergi ke Subang Jaya dan mendapati rumah telah kosong. Seorang perempuan Melayu memberi tahu kalau Mari dan kawan-kawan digrebeg karena dianggap bertindak asusila.
"Saat itu aku lihat Zul sangat terpukul. Aku masih ingat bagaimana ia seolah tidak bisa percaya atas apa yang dibacanya. Ia berteriak histeris 'Tidak mungkin! Tidak mungkin ini terjadi!' Aku melihat bagaimana ia membaca lagi nama inisial Siti M di koran itu dengan hati hancur.
Dengar nada putus asa Zul saat itu mengatakan, 'Sia-sia aku menolongnya. Sia-sia aku mencintainya.''
Mendengar cerita Pak Muslim, tangis Mari menjadi-jadi. Perempuan berjilbab itu jadi tahu betapa Zul sebenarnya sangat mencintainya. Bahkan sampai sakit karena mencintainya. Dan sampai datang bersama Pak Muslim untuk mencintainya.
Mari lalu berbicara dengan suara terbata-bata. Menceritakan bagaimana dia sebenarnya sangat berharap Zul datang. Ia lalu menceritakan kejadian pemerkosaan atas dirinya dan bagaimana Zul menolongnya. Sejak itu ia merasa bahwa orang paling berhak menerima pengabdiannya adalah Zul. Mari juga mengakui ia berubah total cara hidupnya karena pesan Zul untuk terus mendekatkan diri kepada Allah. Pak Muslim dan isterinya, ikut terharu mendengar kisah mereka berdua.
"Subhanallah. Allah tidak mempertemukan di Subang Jaya Malaysia, tapi Allah mempertemukan di Indonesia dalam kondisi yang lebih baik, yang lebih barakah. Insya Allah." Kata Pak Muslim dengan berlinang airmata.
"Jadi tak perlu ada ta'aruf ini?" tanya isteri Pak Muslim.
Pertanyaan itu malah dijawab dengan derai airmata oleh Mari.
Semuanya kemudian diam. Masing-masing menyelami perasaan dan pikirannya sendiri-sendiri.
Keheningan tercipta sesaat lamanya. Zul teringatbuku bersampul biru tua. Ia beranjak ke kamar dan mengambilnya.
"Kalau boleh tahu bagaimana cerita buku ini. Buku ini rasanya pernah aku baca di Subang Jaya. Kok
sekarang ada di sini?" kata Zul.
Mari dan isteri Pak Muslim berpandangan. Mari merasa lebih berhak menjawab,
"Itu buku milik Prof. Datin Laila Abdul Majid. Dosen sekaligus sahabatku. Saat kaubaca di kamarku di Subang Jaya, saat itu aku masih kuliah semester tiga. Aku kuliah di UKM mengambil part time. Sambil kerja."
Zul mengangguk. la langsung bertanya,
"Kenapa waktu kenalan dulu kau tidak menyebutkan dirimu mahasiswi? Kenapa malah mengenalkan sebagai pekerja?"
Mari mendesah lalu menjawab,
"Untuk apa aku menonjol-nonjolkan kuliahku. Aku toh sama sekali tidak bohong. Aku memang bekerja. Dan terus terang karena aku beranggapan pada waktu itu sedang kenalan dengan orang yang mencari kerja. Dengan calon pekerja. Bukankah dulu yang kautanyakan padaku adalah informasi tentang pekerjaan. Dan kau juga, kenapa kau tidak pernah bercerita kalau kau adalah mahasiswa di UM?"
Zul diam sesaat, lalu ia berkata lirih, "Jawabannya kira-kira sama denganmu."
Pak Muslim dan isterinya tersenyum.
"Oh ya saya masih bingung. Namamu itu yang benar siapa tho? Zul memperkenalkan dengan nama Siti Martini. Dia biasa menyebut Mari. Tapi kau mengatakan pada isteriku dengan nama Agustina. Isteriku kalau memanggilmu Agustin. Di koran kau pakai nama Asma Maulida? Banyak nama samaran ya?"
Mari menata tempat duduknya dan menjawab,
"Baiklah saya jelaskan. Semuanya benar. Artinya semua itu memang nama saya. Saya lahir dengan nama Siti Martini, waktu kelas enam SD, ibu guru membolehkan mengganti nama yang dirasa kurang cantik untuk ditulis di ijazah. Ini agak lucu, tapi memang nyata.
Teman saya namanya Sungatemi, biasa dipanggil Ngat, atau Ngatmi ia ganti jadi Salsabila Ayu Ratnasari. la lalu minta dipanggil Ratna. Ada yang namanya Sukodor, ia ganti jadi Anang Febrian, karena lahir di bulan Februari.
Saya bingung. Nama saya Siti Martini, biasa dipanggil Mar. Saya ikut-ikutan teman-teman, saya minta ibu guru membuatkan nama saya yang cantik dan panjang. Ibu guru membuatkan nama Agustina Siti Mariana Maulida. Karena saya lahir di bulan Agustus. Untuk nama pena sekarang ini saya sering menggunakan nama Asma Maulida. Asma kepanjangan dari Agustina Siti Mariana. Kepada kolega saya sekarang lebih mantap mengenalkan sebagai Asma. Anggap saja Asma juga nama hijrah saya.
Tapi sebenarnya tetaplah nama asli saya. Kepada teman di Bandung saya memperkenalkan diri Agustin. Dan kepada para pekerja di Malaysia sama memperkenalkan diri sebagai Mar, Mari atau Siti Martini."
"O begitu. Jadi lengkapnya Agustina Siti Mariana Maulida, M.Ec?"
"Iya begitu."
Malam itu adalah malam yang sangat bersejarah dan membahagiakan bagi Zul dan Mari. Mereka sepakat untuk menikah secepatnya. Dan dua minggu setelah itu mereka mengikrarkan akad nikah di Sragen. Di desa kelahiran Mari. Selanjutnya mereka hidup bersama dalam kesucian. Dan beribadah bersama, saling mendukung dan menguatkan, sujud bersama dalam bingkai mahkota cinta yang terbangun indah di atas mahligai iman dan takwa.

* * *

0 Response to "Mahkota Cinta"

Post a Comment