Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Kumpulan Cerpen Islami II

Dari Mata Turun Ke Hati

Oleh : SoldiersOfAllah


Hudzaifah.org - Matahari telah tergelincir. Seorang lelaki terlihat bersegera menuju masjid ketika adzan zuhur dikumandangkan dari sebuah masjid kampus. Lelaki itu berwudhu dan menunaikan shalat nawafil. Lalu ia menjadi makmum di shaff terdepan. Shalat wajib ia laksanakan dengan ruku’ dan sujud yang sempurna. Setelah shalat tak lupa ia memuji nama Tuhannya dan memanjatkan doa untuk dirinya, ibu, ayahnya dan untuk ummat Muhammad saw yang sedang berjihad fii sabilillah.

Sebelum menuju kelas untuk kuliah, lelaki itu menyempatkan diri bersalam-salaman dengan beberapa jamaah lain. Dengan raut wajah yang bersahaja, ia sedekahkan senyum terhadap semua orang yang ditemuinya. Ucapan salam pun ditujukannya kepada para akhwat yang ditemuinya di depan masjid.

Lelaki yang bernama Ali itu kemudian segera memasuki ruang kelasnya. Ia duduk di bangkunya dan mengeluarkan buku berjudul “Langitpun Terguncang’. Buku berisi tentang hari akhir itu dibacanya dengan tekun. Sesekali ia mengerutkan dahi dan dan sesekali ia tersenyum simpul.

Ali sangat suka membaca dan meyukai ilmu Allah yang berhubungan dengan hari akhir karena dengan demikian ia dapat membangkitkan rasa cinta akan kampung akhirat dan tidak terlalu cinta pada dunia. Prinsipnya adalah “Bekerja untuk dunia seakan hidup selamanya dan beribadah untuk akhirat seakan mati esok.”

Sejak setahun belakangan ini, Ali selalu berusaha mencintai akhirat. Sunnah Rasululah saw ia gigit kuat dengan gigi gerahamnya agar tak terjerumus kepada bid’ah. Ali selalu menyibukkan diri dengan segala Islam. Ia sangat membenci sekularisme karena menurutnya, sekulerisme itu tidak masuk akal. Bukankah ummat Islam mengetahui bahwa yang menciptakan adalah Allah swt, lalu mengapa mengganti hukum Tuhannya dengan hukum ciptaan dan pandangan manusia? Bukankah yang menciptakan lebih mengetahui keadaan fitrah ciptaannya?

Allah swt yang menciptakan, maka sudah barang tentu segala sesuatunya tak dapat dipisahkan dari hukum Allah. Katakan yang halal itu halal dan yang haram itu haram, karena pengetahuan yang demikian datangnya dari sisi Allah.

Sementara Ali membaca bukunya dengan tekun, dua mahasiswi yang duduk tak jauh dari Ali bercakap-cakap membicarakan Ali. Mereka menyayangkan sekali, Ali yang demikian tampan dan juga pintar, namun belum mempunyai pacar, padahal banyak mahassiwi cantik di kampus ini yang suka padanya. Tapi tampaknya Ali tidak ambil peduli. Sikapnya itu membuat para wanita menjadi penasaran dan justru banyak yang ber-tabarruj di hadapannya. Kedua wanita itu terus bercakap-cakap hingga lupa bahwa mereka telah sampai kepada tahap ghibah.

Ali memang tak mau ambil pusing tentang urusan wanita karena ia yakin jodoh di tangan Allah swt. Namun tampaknya iman Ali kali ini benar-benar diuji oleh Allah SWT.

Ali menutup bukunya ketika dosen telah masuk kelas. Tampaknya sang dosen tak sendirian, di belakangnya ada seorang mahasiswi yang kelihatan malu-malu memasuki ruang kelas dan segera duduk di sebelah Ali. Ali merasa belum pernah melihat gadis ini sebelumnya. Saat dosen mengabsen satu persatu, tahulah Ali bahwa gadis itu bernama Nisa.

Tanpa sengaja Ali memandang Nisa. Jantungnya berdegup keras. Bukan lantaran suka, tapi karena Ali selalu menundukkan pandangan pada semua wanita, sesuai perintah Allah SWT dalam Al Qur’an dan Rasulullah saw dalam hadits. “Astaghfirullah…!”, Ali beristighfar.
Pandangan pertama adalah anugerah atau lampu hijau. Pandangan kedua adalah lampu kuning. Ketiga adalah lampu merah. Ali sangat khawatir bila dari mata turun ke hati karena pandangan mata adalah panah-panah iblis.

***

Pada pertemuan kuliah selanjutnya, Nisa yang sering duduk di sebelah Ali, kian merasa aneh karena Ali tak pernah menatapnya kala berbicara. Ia lalu menanyakan hal itu kepada Utsman, teman dekat Ali. Mendengar penjelasan Utsman, tumbuh rasa kagum Nisa pada Ali.

“Aku akan tundukkan pandangan seperti Ali”, tekad Nisa dalam hati.

Hari demi hari Nisa mendekati Ali. Ia banyak bertanya tentang ilmu agama kepada Ali.

Karena menganggap Nisa adalah ladang da’wah yang potensial, Ali menanggapi dengan senang hati.

Hari berlalu… tanpa sengaja Ali memandang Nisa. Ada bisikan yang berkata, “Sudahlah pandang saja, toh Nisa itu tidak terlau cantik.. Jadi mana mungkin kamu jatuh hati pada gadis seperti itu” Namun bisikan yang lain muncul, “Tundukkan pandanganmu. Ingat Allah! Cantik atau tidak, dia tetaplah wanita.” Ali gundah. “Kurasa, jika memandang Nisa, tak akan membangkitkan syahwat, jadi mana mungkin mata, pikiran dan hatiku ini berzina.”

Sejak itu, Ali terus menjawab pertanyaan-pertanyaan Nisa tentang agama, tanpa ghadhul bashar karena Ali menganggap Nisa sudah seperti adik… , hanya adik.

Ali dan Nisa kian dekat. Banyak hal yang mereka diskusikan. Masalah ummat maupun masalah agama. Bahkan terlalu dekat…

Hampir setiap hari, Ali dapat dengan bebas memandang Nisa. Hari demi hari, minggu demi minggu, tanpa disadarinya, ia hanya memandang satu wanita, NISA! Kala Nisa tak ada, terasa ada yang hilang. Tak ada teman diskusi agama…, tak ada teman berbicara dengan tawa yang renyah.., tak ada…wanita. DEG!!! Jantung Ali berdebar keras, bukan karena takut melanggar perintah Allah, namun karena ada yang berdesir di dalam hati…karena ia… mencintai Nisa.

Bisikan-bisikan itu datang kembali… “Jangan biarkan perasaan ini tumbuh berkembang. Cegahlah sebisamu! Jangan sampai kamu terjerumus zina hati…! Cintamu bukan karena Allah, tapi karena syahwat semata.”
Tapi bisikan lain berkata, “Cinta ini indah bukan? Memang indah! Sayang lho jika masa muda dilewatkan dengan ibadah saja. Kapan lagi kamu dapat melewati masa kampus dengan manis. Lagipula jika kamu pacaran kan secara sehat, secara Islami.. ‘Tul nggak!”

Ali mengangguk-anggukkan kepalanya. “Manalah ada pacaran Islami, bahkan hatimu akan berzina dengan hubungan itu. Matamu juga berzina karena memandangnya dengan syahwat. Hubungan yang halal hanyalah pernikahan. Lain itu tidak!!! Bukankah salah satu tujuan pernikahan adalah untuk mengubur zina?”, bisikan yang pertama terdengar lagi.

Terdengar lagi bisikan yang lain, “Terlalu banyak aturan! Begini zina, begitu zina. Jika langsung menikah, bagaimana bila tidak cocok? Bukankah harus ada penjajakan dulu agar saling mengenal! Apatah lagi kamu baru kuliah tingkat satu. Nikah susah!”

Terdengar bantahan, “Benci karena Allah, cinta karena Allah. Jika pernikahanmu karena Allah, Insya Allah, Dia akan ridho padamu, dan akan sakinah keluargamu. Percayalah pada Tuhan penciptamu! Allah telah tentukan jodohmu. Contohlah Rasululah SAW, hubungan beliau dengan wanita hanya pernikahan.”

Bisikan lain berkata. “Bla.., bla.., Ali,… masa muda.., masa muda…, jangan sampai dilewatkan, sayang lho!”

Ali berpikir keras. Kali ini imannya benar-benar dilanda godaan hebat. Syetan telah berhasil membujuknya dengan perangkapnya yang selalu sukses sepanjang zaman, yaitu wanita.

Ali mengangkat gagang telepon. Jari-jarinya bergetar menekan nomor telepon Nisa. “Aah.., aku tidak berani.” Ali menutup telepon.
Bisikan itu datang lagi, “Menyatakannya, lewat surat saja, supaya romantis…!” “Aha! Benar! “ Ali mengambil selembar kertas dan menuliskan isi hatinya. Ia berencana akan menitipkannya pada teman dekat Nisa. Jantung Ali berdebar ketika dari kejauhan ia melihat Nisa terlihat menerima surat dari temannya dan membaca surat itu.

***

Esoknya, Utsman mengantarkan surat balasan dari Nisa untuk Ali, sembari berkata, “Nisa hari ini sudah pakai jilbab, dia jadi cantik lho. Sudah jadi akhwat!”

Ali terkejut mendengarnya, namun rasa penasarannya membuatnya lebih memilih untuk membaca surat itu terlebih dahulu daripada merenungi ucapan Ustman tadi. Ali membaca surat itu dengan sungguh-sungguh. Ia benar-benar tak menyangka akan penolakan yang bersahaja namun cukup membuatnya merasa ditampar keras. Nisa menuliskan beberapa ayat dari Al Qur’an, isinya :

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman : Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. An Nuur : 30)

“Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.”(QS. Al Mu’minuun : 19).

Ali menghela nafas panjang… Astaghfirullah… Astaghfirullah… Hanya ucapan istighfar yang keluar dari bibirnya. Pandangan khianatku sungguh terlarang. Memandang wanita yang bukan muhrim. Ya Allah… kami dengar dan kami taat. Astaghfirullah… [SOA]

Pacaran

Cinta itu membuat sesuatu tampak lebih indah. Kenyataannya tidak selamanya,

setidak-tidaknya yang terjadi pada diriku sekali ini. Cinta malah membuatku

menjadi gusar, marah, sedih .. ah, yang pahit-pahit, lah ! Segala sesuatu

yang seharusnya tampak berbunga-bunga, kini malahan menjadi kelabu.

Ini terjadi semenjak aku menganal seorang gadis teman kuliahku. Orangnya

sederhana saja. Hanya saja, dari pengamatanku selama ini, aku melihat ia

memiliki keistimewaan dan nilai lebih dibandingkan wanita lain yang pernah

kutemui. Wajahnya yang teduh, cara berbicara yang lembut dan berwibawa,

serta kepribadiannya yang menawan membuat aku terpana. Aku benar-benar

mengaguminya dan kurasa aku telah jatuh cinta padanya.

Pernah sekali kucoba untuk berbicara serius dengan wanita idamanku itu. Tapi,

setiap kali aku ingin menyusun kata-kata, di situ pula pikiranku menjadi

buntu. Dan tampaknya ia memahami kesulitanku tadi. Akh ... entahlah, aku tak

tahu apa yang harus kuperbuat. Terkadang kucoba untuk melupakannya, namun

semakin kucoba melupakannya aku malah semakin mengingatnya.

Sebenarnya bukan jatuh cinta yang membuatku jadi begitu. Sudah berulangkali

aku mengalaminya dan tak satu pun yang membuatku gelisah. Tapi semuanya

disebabkan oleh prinsip-prinsip yang selama ini aku pegang. Cinta tak

selamanya harus memiliki. Cinta itu memberi tanpa harap menerima. Cinta itu

hanya dapat dirasakan dan tak dapat dinyatakan. Semua itu adalah sebagian

prinsip yang selama ini aku tegakkan setiap kali orang frustasi bertanya

kepadaku tentang cinta. Tapi, ketika aku frustasi kini, tak satupum

prinsip-prinsip itu dapat aku terima untuk mengobati hatiku yang malang ini.

Aku ingin menyatakan cintaku. Aku ingin memilihnya sebagai orang yang selalu

mendampingiku di setiap suka dan duka.

"Pacaran itu dosa, lho!" ujar seorang teman yang kupercayai kredibilitas

keagamaanya. Ucapan itu membuatku semakin gundah. Di satu sisi aku ingin

memprotesnya, tapi di sisi lain aku sangat cinta kepada Islam yang selama ini

aku perjuangkan, "Bukankah Allah-lah yang sepatutnya kita cintai ?" ujar

temanku itu mengulangi perkataan yang dulu pernah aku lontarkan di setiap

diskusi tentang iman. Itu membuatku malu pada diriku sendiri dan benci pada

cinta ini.

Tak ada pilihan lain. Aku harus menemui Pak Kiai untuk menemukan jawaban yang

tak kunjung kudapat. Masalah ini tak boleh dibiarkan berlarut-larut.

Kualngkahkan kakiku melintasi jalan setapak yang telah setahun tak pernah

kuinjak. Sunyinya jalan itu membuat aku terus memikirkan yang telah terjadi.

Setiap belokan membuatku mendesah seraya menyesali diri. Tak adakah hal lain

yang dapat kupikirkan selain cinta dan cinta ?

Sebenarnya aku sangat ngeri meminta nasihat dari Pak Kiai yang setiap

perkataannya selalu membuat telingaku memerah. Kata-katanya tak pernah lembut,

seringkali kasar dan tidak sopan. Tak peduli apakah yang datang kepadanya

seorang pejabat, bandit, atau orang yang sedang susah. Ia selalu memuntahkan

kata-kata dengan intonasi, kosakata, volume suara, dan koefisien kekasaran

yang tak berbeda. Baginya semua manusia sama. Dia pun tak sungkan untuk

diprotes meski oleh orang bergelimang dosa sekalipun. Mungkin hal itulah yang

menyebabkan aku selalu menaruh kepercayaan yang besar akan keikhlasannya

membimbing umat. Apalagi setiap kali aku berbicara kepadanya, selalu ada saja

hal-hal baru yang dapat aku bawa pulang.

"Mau apa kau ke sini ?" tanya Pak Kiai memulai kebiasaanya: kasar.

"Aku sedang jatuh cinta, Pak Kiai!" jawabku langsung ke pokok permasalahan

sebab aku tahu Pak Kiai tak suka basa-basi.

"Baguslah kalau begitu. Itu tandanya kau masih manusia."

"Tapi, Pak Kiai, aku jatuh cinta pada seorang wanita. Bagaimana itu Pak?

Apa yang harus kulakukan?"

"Bayangkanlah kalau kau jatuh cinta pada seorang pria. Kenapa kau merasa

gelisah sekali dengan mencintai seorang wanita? Apakah ia wanita yang nggak

beres?"

"Oh, tidak! Dia wanita baik-baik. Baiiik sekali. Dia menjalankan agamanya

dengan sepenuh hati. Dia cukup membatasi pergaulannya dengan setiap lelaki.

Yah, itulah yang mungkin menjadi masalah padaku. Coba kalau dia itu wanita

yang nggak beres, tentu masalahnya tak serumit ini."

"Kau bodoh. Seharusnya kau bahagia mencintai wanita seperti itu. Coba

bayangkan kalau kau mencintai wanita slebor. Hatimu akan terus sibuk

memikirkan setiap tingkah lakunya. Kau akan merasakan cemburu, sakit hati,

membenci, dendam, bisa-bisa kau gila. Pikiranmu akan terus tersita dengan

wanita seperti itu. Kapan lagi kau mau ingat Allah? Bukankah mencintai

wanita

yang sholeh membuatmu sadar untuk bertindak seperti orang yang kau cintai?"

"Benar, Pak! Lalu, apakah aku boleh berpacaran dengannya? Aku merasa tidak

puas hanya dengan berteman dengannya. Perlu Pak Kiai ketahui bahwa banyak

orang mengatakan bahwa pacaran itu haram karena dengan pacaran hati kita akan

sibuk mengingat kekasih kita sehingga kita lalai dari mengingat Allah.

Bagaimana pula kalau dengan pacaran malah mebuat kita semakin ingat dengan

Allah?"

Pak Kiai diam sejenak. Dahinya yang hitam mengkerut seolah memikirkan sesuatu

yang sangat berat. Matanya sesekali memandang ke arahku dengan tajam.

"Maaf Nak! Aku sudah tua. Banyak sekali hal-hal yang sudah aku lupakan.

Tolong kau jelaskan kepadaku apa yang kau maksud dengan pacaran. Setahuku,

kata itu belum pernah aku jumpai di kitab fikih manapun sehingga dapat

ditentukan halal haramnya. Sudah kuingat-ingat pula segala ilmu tasawuf,

juga kata itu tak kutemukan di sana. Berikanlah gambaran kepadaku tentang

pacaran agar aku dapat menentukan hukumnya!"

"Begini, Pak! Pacaran itu diawali dengan suatu perjanjian untuk saling

mengenal satu sama lainnya, terus dari kenalan tadi diharapkan masing-masing

pihak dapat saling memahami pasangannya, terus ...", tiba-tiba saja aku

merasa buntu. Aku coba mencari penjelasan yang tepat tentang pacaran, tapi

aku tak tahu. Ternyata, pacaran yang selama ini aku inginkan tak pernah

kutahu apa maknanya.

Melihat yang ditanya kebingungan, Pak Kiai coba membantu, "Apa saja yang

dilakukan orang ketika pacaran?"

"Banyak, Pak! Ada yang ngobrol-ngobrol kadang tak tentu arah, sering-sering

menelpon pacarnya, ada yang suka pergi berdua-duaan dan ... yah begitulah.

Pak Kiai saya kira juga tahu. Tapi, tunggu dulu Pak Kiai, yang akan kulakukan

bukan seperti itu. Aku akan membicarakan dengannya masalah agama, saling

menjaga diri dengan saling mengingatkan bila berbuat khilaf, pokoknya yang

Islami-lah Pak," sahutku.

"Ooh, begitu. Lalu apa bedanya dengan berteman? Kau kira kau tidak punya

kewajiban seperti itu terhadap seorang teman? Kau kira kepada teman kau boleh

berlaku tak Islami?"

"Coba aku tanyakan kepadamu, apakah kekuatan perjanjian itu sehingga tak dapat

memisahkan pemilikan satu dengan lainnya? Apakah kau mengatasnamakan Allah

dalam perjanjian tadi? Mengapa tak sekalian nikah saja? Khan dengan nikah kau

bahkan lebih leluasa lagi. Tak seorang laki-laki pun berhak memiliki seorang

wanita tanpa melalui nikah. Bahkan ayahnya sendiri yang membesarkan dan

memberi makan serta pendidikan kepadanya. Sampai-sampai si ayah pun tak

berhak memaksa anak wanitanya menikahi pria yang bukan pilihan sang anak.

Itulah yang Islami!"" ucap Pak Kiai dengan cepat bagai rentetan peluru.

"Lalu apa yang sudah kau berikan padanya sampai-sampai kau ingin memilikinya?

Lebih baik kau tunjukkan rasa cintamu dengan tanggung jawab sebagai seorang

sahabat yang Islami. Biarkan cinta bersemi dalam hatimu karena itu anugerah

Allah yang harus kau syukuri, bukan ingkari. Cinta itu amanat Allah, maka

jangan kau khianati. Pacaran yang kau maksud sebenarnya hanya kata tanpa

makna yang akan menjerumuskan orang pada penghalalan zina dalam dirinya. Kau

mungkin sakit hati mendengar perkataanku ini, tapi apa artinya menyenangkan

hatimu kalau yang kusampaikan itu akan menjerumuskanmu dan membuatmu

menyesal kelak."

Aku terdiam tak tahu harus berkata apa. Kurasakan lidahku kelu untuk

mengucapkan sesuatu.

"Sudahlah, kalau kau ingin pacaran juga, silakan saja, aku tak berhak memaksa.

Aku hanya ingin kau berpikiran dewasa dan tidak menghabiskan waktumu untuk

sesuatu yang kau sendiri tak tahu manfaatnya."

*---*

*Yudi.A, yudi198@puspa.cs.ui.ac.id*

"Mintalah fatwa pada hatimu. Kebaikan adalah yang membuat hatimu

tenang, sedangkan keburukan adalah yang membuat hatimu gelisah."

SANDAL JEPIT ISTERIKU

Selera makanku mendadak punah. Hanya ada rasa kesal dan jengkel yang

memenuhi kepala ini. Duh... betapa tidak gemas, dalam keadaan lapar

memuncak seperti ini makanan yang tersedia tak ada yang memuaskan

lidah.

Sayur sop ini rasanya manis bak kolak pisang, sedang perkedelnya asin

nggak

ketulungan.

"Ummi... Ummi, kapan kau dapat memasak dengan benar...? Selalu saja,

kalau

tak keasinan...kemanisan, kalau tak keaseman... ya kepedesan!" Ya, aku

tak

bisa menahan emosi untuk tak menggerutu.

"Sabar bi..., Rasulullah juga sabar terhadap masakan Aisyah dan

Khodijah.

Katanya mau kayak Rasul...? " ucap isteriku kalem. "Iya... tapi abi

kan

manusia biasa. Abi belum bisa sabar seperti Rasul. Abi tak tahan

kalau

makan terus menerus seperti ini...!"

Jawabku dengan nada tinggi. Mendengar ucapanku yang bernada emosi,

kulihat

isteriku menundukkan kepala dalam-dalam. Kalau sudah begitu, aku yakin

pasti air matanya sudah merebak.

***

Sepekan sudah aku ke luar kota. Dan tentu, ketika pulang benak ini

penuh

dengan jumput-jumput harapan untuk menemukan 'baiti jannati' di

rumahku.

Namun apa yang terjadi...? Ternyata kenyataan tak sesuai dengan apa

yang

kuimpikan. Sesampainya di rumah, kepalaku malah mumet tujuh keliling.

Bayangkan saja, rumah kontrakanku tak ubahnya laksana kapal burak

(pecah).

Pakaian bersih yang belum disetrika menggunung di sana sini.

Piring-piring

kotor berpesta pora di dapur, dan cucian... ouw... berember-ember.

Ditambah lagi aroma bau busuknya yang menyengat, karena berhari-hari

direndam dengan detergen tapi tak juga dicuci. Melihat keadaan seperti

ini

aku cuma bisa beristigfar sambil mengurut dada.

"Ummi...ummi, bagaimana abi tak selalu kesal kalau keadaan terus

menerus

begini...?" ucapku sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Ummi...

isteri

sholihat itu tak hanya pandai ngisi pengajian, tapi dia juga harus

pandai

dalam mengatur tetek bengek urusan rumah tangga. Harus bias masak,

nyetrika, nyuci, jahit baju, beresin rumah...?" Belum sempat

kata-kataku

habis sudah terdengar ledakan tangis isteriku yang kelihatan begitu

pilu.

"Ah...wanita gampang sekali untuk menangis...," batinku berkata dalam

hati.

"Sudah diam Mi, tak boleh cengeng. Katanya mau jadi isteri

shalihat...?

Isteri shalihat itu tidak cengeng," bujukku hati-hati setelah melihat

air

matanya menganak sungai dipipinya.

"Gimana nggak nangis! Baru juga pulang sudah ngomel-ngomel terus.

Rumah

ini berantakan karena memang ummi tak bisa mengerjakan apa-apa.

Jangankan untuk kerja untuk jalan saja susah. Ummi kan muntah-muntah

terus,

ini badan rasanya tak bertenaga sama sekali," ucap isteriku diselingi

isak

tangis. "Abi nggak ngerasain sih bagaimana maboknya orang yang hamil

muda..." Ucap isteriku lagi, sementara air matanya kulihat tetap

merebak.

***

Bi..., siang nanti antar Ummi ngaji ya...?" pinta isteriku.

"Aduh, Mi... abi kan sibuk sekali hari ini. Berangkat sendiri saja

ya?"

ucapku. "Ya sudah, kalau abi sibuk, Ummi naik bis umum saja,

mudah-mudahan

nggak pingsan di jalan," jawab isteriku. "Lho, kok bilang gitu...?"

selaku.

"Iya, dalam kondisi muntah-muntah seperti ini kepala Ummi gampang

pusing

kalau mencium bau bensin. Apalagi ditambah berdesak-desakan dalam bus

dengan suasana panas menyengat. Tapi mudah-mudahan sih nggak

kenapa-kenapa," ucap isteriku lagi. "Ya sudah, kalau begitu naik bajaj

saja," jawabku ringan.

Pertemuan hari ini ternyata diundur pekan depan. Kesempatan waktu

luang ini

kugunakan untuk menjemput isteriku. Entah kenapa hati ini tiba-tiba

saja

menjadi rindu padanya. Motorku sudah sampai di tempat isteriku

mengaji. Di

depan pintu kulihat masih banyak sepatu berjajar, ini pertanda acara

belum

selesai. Kuperhatikan sepatu yang berjumlah delapan pasang itu satu

persatu. Ah, semuanya indah-indah dan kelihatan harganya begitu mahal.

"Wanita, memang suka yang indah-indah, sampai bentuk sepatu pun

lucu-lucu,"

aku membathin sendiri. Mataku tiba-tiba terantuk pandang pada sebuah

sendal

jepit yang diapit sepasang sepatu indah. Dug! Hati ini menjadi luruh.

"Oh....bukankah ini sandal jepit isteriku?" tanya hatiku. Lalu segera

kuambil sandal jepit kumal yang tertindih sepatu indah itu. Tes!

Air mataku jatuh tanpa terasa. Perih nian rasanya hati ini, kenapa

baru

sekarang sadar bahwa aku tak pernah memperhatikan isteriku.

Sampai-sampai

kemana ia pergi harus bersandal jepit kumal. Sementara teman-temannnya

bersepatu bagus. "Maafkan aku Maryam," pinta hatiku.

"Krek...," suara pintu terdengar dibuka. Aku terlonjak, lantas

menyelinap

ke tembok samping. Kulihat dua ukhti berjalan melintas sambil

menggendong

bocah mungil yang berjilbab indah dan cerah, secerah warna baju dan

jilbab

umminya. Beberapa menit setelah kepergian dua ukhti itu, kembali

melintas

ukhti-ukhti yang lain. Namun, belum juga kutemukan Maryamku.

Aku menghitung sudah delapan orang keluar dari rumah itu, tapi isteriku

belum juga keluar. Penantianku berakhir ketika sesosok tubuh berbaya

gelap

dan berjilbab hitam melintas. "Ini dia mujahidahku!" pekik hatiku. Ia

beda

dengan yang lain, ia begitu bersahaja.

Kalau yang lain memakai baju berbunga cerah indah, ia hanya memakai

baju

warna gelap yang sudah lusuh pula warnanya. Diam-diam hatiku kembali

dirayapi perasaan berdosa karena selama ini kurang memperhatikan

isteri.

Ya, aku baru sadar, bahwa semenjak menikah belum pernah membelikan

sepotong

baju pun untuknya. Aku terlalu sibuk memperhatikan

kekurangan-kekurangan

isteriku, padahal di balik semua itu begitu banyak kelebihanmu, wahai

Maryamku.

Aku benar-benar menjadi malu pada Allah dan Rasul-Nya. Selama ini aku

terlalu sibuk mengurus orang lain, sedang isteriku tak pernah kuurusi.

Padahal Rasul telah berkata: "Yang terbaik di antara kamu adalah yang

paling

baik terhadap keluarganya." Sedang aku..? Ah, kenapa pula aku lupa

bahwa

Allah menyuruh para suami agar menggauli isterinya dengan baik. Sedang

aku...? terlalu sering ngomel dan menuntut isteri dengan sesuatu yang

ia

tak dapat melakukannya.

Aku benar-benar merasa menjadi suami terdzalim!!! "Maryam...!"

panggilku,

ketika tubuh berbaya gelap itu melintas.

Tubuh itu lantas berbalik ke arahku, pandangan matanya menunjukkan

ketidakpercayaan atas kehadiranku di tempat ini. Namun, kemudian

terlihat

perlahan bibirnya mengembangkan senyum. Senyum bahagia. "Abi...!"

bisiknya

pelan dan girang. Sungguh, aku baru melihat isteriku segirang ini.

"Ah,

kenapa tidak dari dulu kulakukan menjemput isteri?" sesal hatiku.

***

Esoknya aku membeli sepasang sepatu untuk isteriku. Ketika tahu hal

itu,

senyum bahagia kembali mengembang dari bibirnya.

"Alhamdulillah, jazakallahu...,"ucapnya dengan suara tulus. Ah,

Maryam,

lagi-lagi hatiku terenyuh melihat polahmu. Lagi-lagi sesal menyerbu

hatiku.

Kenapa baru sekarang aku bisa bersyukur memperoleh isteri zuhud dan

'iffah

sepertimu? Kenapa baru sekarang pula kutahu betapa nikmatnya

menyaksikan

matamu yang berbinar-binar karena perhatianku...? Semoga berguna bagi

kita

semua....amin ya rabbal alamien

Wassalam

Hamba Allah

0 Response to "Kumpulan Cerpen Islami II"

Post a Comment