Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Kumpulan Cerpen Cinta


Mantan

Melody Muchransyah


Ical langsung melotot, “Lebih baik gue dibantai dosen daripada ngerelain cewek gue dibantai sama lo!”


Pernah nggak kamu cemburu tanpa alasan yang jelas sama mantannya cowok kamu? Bukannya parno, cuma... kok rasanya aneh aja ya, Ical mau jadian sama gue setelah putus dari Ratih? Padahal, Ratih itu perfect abis! Putih, mulus, tinggi, langsing... Wah, pokoknya tanpa cacat, deh! Duh, perasaan gue jadi gak enak. Jangan-jangan gue cuma dijadiin pelariannya Ical? Jangan-jangan Ical sebenernya masih sayang sama Ratih? Jangan-jangan...
***

”Kamu gila, Manda!” Faisal berteriak geram,”Aku sama Ratih tuh udah nggak ada hubungan apa-apa lagi. Kami sudah putus! End of story!”
Manda memasang tampang cemberut. Tapi, ia tak berani berkata-kata. Ia tau, perbuatannya memang agak melewati batas. Tapi, cemburu kan bukan dosa besar? Malahan, Ical harusnya senang, donk, karena Manda punya rasa cemburu. Berarti, Manda kan bener-bener sayang sama Ical!?
”Manda, aku kan udah bilang berkali-kali sama kamu, kamu tuh nggak perlu cemburu sama Ratih. Ratih is my history, Sayang...” Faisal meneruskan kata-katanya, seakan dapat membaca pikiran Manda.
Manda masih cemberut. Huh, menyebalkan, pikirnya. Kalau memang Ical gak ada apa-apa lagi dengan Ratih, seharusnya dia fine-fine aja, dong kalau Manda ngecek e-mail-e-mail yang Ratih kirim ke Ical? Atau, jangan-jangan memang masih ada sesuatu di antara mereka berdua? Ah, Manda harus cari tau. Pokoknya, Manda ngak rela kalau Ical masih sayang sama Ratih!.
Minggu siang, di kamarnya, Manda berkutat di depan komputer. Ia nampak sibuk meneliti satu per satu e-mail yang ada di inbox Ical. Hah! Ada dua e-mail baru dari Ratih. Duh, dasar ganjen, udah putus tetep aja cari perhatian!, Manda menggerutu di dalam hati.
E-mail pertama. Nggak istimewa. Sebuah undangan reuni SMP. Manda teringat, Ical dan Ratih memang teman satu SMP. Tapi mereka baru jadian setelah lulus SMA. Itu pun karena mereka sama-sama satu kampus di Depok dan harus pulang balik Depok-Bogor setiap hari naik kereta. Karena itu, mereka dekat dan akhirnya jadian. Basi, cibir Manda. Gak elit. Jadian kok gara-gara kereta!
E-mail kedua. Sebuah surat berantai. Isinya membuat Manda naik pitam. Judulnya sederhana: Juz wanna remind u that I luv u! Manda benar-benar ngamuk. Ia pun segera menelepon Ical.
***
”Manda, honey, kamu masih di sana, kan? Halo...” suara Faisal di telepon membuyarkan lamunan Manda.
”Iya!” Manda menjawab, masih sambil merengut.
”Kamu coba baca isinya dulu deh, Sayang... Paling-paling itu cuma surat berantai mengenai friendship. Kamu gak usah cemburu, oke?”
***

Manda menatap bayangannya di cermin sambil tersenyum. Sempurna. Kemeja pink yang manis dipadu dengan rok kotak-kotak berwarna ungu betul-betul membuat penampilan Manda terlihat cute.
Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan mama menengok ke dalam kamar. ”Man, Ical udah dateng, tuh!”.
Manda cepat-cepat memakai selop pink yang baru saja dibelinya minggu lalu, menyambar tas selempangnya dan mencium tangan mama. “Aku pergi dulu ya, Ma!”
“Ati-ati, ya, sayang.”
Manda melangkah ke arah teras. Dia melihat Volvo hitam Ical sudah menunggunya di sana. Manda pun masuk dan duduk di samping Ical yang sudah siap di belakang kemudi.
“Kami pergi dulu, Tante,” Ical melambai ke arah mama Manda. Setelah itu, ia melirik Manda. “Tuan putri cantik banget hari ini.”
Manda tersenyum ditahan. Sambil pura-pura cemberut, ia berkata, “Jadi, cantiknya cuma hari ini? Kemarin-kemarin gak cantik, gitu?”
Ical tertawa. Setelah memindahkan perseneling, ia memandang Manda, “Kamu tuh yang paling cantik, sayang.”
“Gombal!” maki Manda. Namun dalam hatinya, ia senang sekali mendapat pujian seperti itu.
Mobil Ical melaju di jalan tol yang mulus, menuju Depok. Hari ini Ical sebenarnya tak ada kuliah, namun ia harus mengumpulkan tugas. Kebetulan Manda, yang sedang libur karena guru-gurunya sedang rapat, mau menemani Ical ke kampus. Sekalian jalan-jalan.
Satu jam kemudian, Ical memarkir mobilnya di parkiran Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.
“Ikut turun?” ia bertanya pada Manda yang mengangguk penuh semangat.
Ical pun berjalan ke arah Taman Akademos sambil membawa map berisi tugas di tangan sebelah kiri, sementara tangan kanannya digenggam mesra oleh Manda.
“Kampus kamu besar, ya?” Manda memperhatikan sekeliling.
Ical hanya tersenyum sambil terus menggandeng tangan Manda.
Mereka pun tiba di Taman Akademos, taman kebanggaan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Tempat itu, selain sebagai meeting-point, juga merupakan tempat nongkrong para mahasiswa.
“Suit... suit...” seorang mahasiswa menggoda Ical dan Manda saat mereka lewat, “Ical gandeng-gandengan sama siapa nih?”
Ical menepuk pelan punggung mahasiswa tadi dengan map di tangan kirinya sambil tersenyum, “Di, lo udah ngumpulin tugas?”
Mahasiswa bernama Adi tadi mengangguk bangga, “Oh, udah, donk!” Kemudian, dengan tampang jahil, ia melirik Manda, “Siapa tuh?”
“Ini Manda, cewek gue,” jawab Ical, “Manda, kenalin nih temenku, Adi.”
Adi dan Manda berkenalan sambil menyebutkan nama masing-masing.
“Udah ya, gue mau ke ruangan dosen dulu,” Ical berpamitan sambil menarik Manda yang masih digandengnya.
“Eh, entar dulu,” cegah Adi. “Lo mau ke tempat dosen bawa-bawa cewek? Bisa dibantai lo! Mendingan cewek lo tinggal di sini aja, sama gue.”
“Enak aja!” Ical langsung melotot, “Lebih baik gue dibantai dosen daripada ngerelain cewek gue dibantai sama lo!”
Ical segera mengajak Manda pergi secepatnya, meninggalkan Adi yang cemberut.
Manda hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum geli.
***

“Mau pesen apa, sayang?”
Saat itu Ical mengajak Manda makan siang di Takor alias Taman Korea, areal kantin FISIP yang tersohor yang letaknya dekat dengan Fakultas Psikologi.
“Hmm... Nasi alo tuh apa sih, say?” tanya Manda sambil membaca menu yang tertempel di salah satu stand makanan.
“Seperti nasi goreng tapi nggak pakai kecap,” jawab Ical, “Di atasnya dicampur ayak telor dan baso, plus sambel ulek yang enak banget! Coba, deh!”
Setelah memesan menu dan membayar di kasir, mereka membawa makanan mereka ke lantai atas untuk mencari tempat duduk, sebab lantai bawah sudah penuh sesak oleh lautan mahasiswa.
Namun, saat Manda sedang mencari tempat duduk di lantai atas, matanya menangkap sosok itu. Dengan kemeja putih polos, celana jeans, kalung manik yang oriental, dan tatanan rambut yang diikat tinggi dengan poni menyamping, ia duduk dengan begitu sempurnanya.
Ratih.
***

“Pokoknya, aku minta putus!”
Manda mengamuk. Apalagi setelah ia melihat Ratih berdiri dan menghampiri Ical di Takor tadi. Lengkap dengan bonus cupika-cupiki tanpa memperdulikan Manda sama sekali.
“Aku sayang kamu,” Ical bersikeras, “Aku nggak akan lepaskan kamu!”
“Kamu harus putusin aku!” kata Manda ngotot.
“Kenapa?” Ical tak mengerti.
“Biar fair. Kamu punya mantan, sedangkan aku nggak. Kalau kamu putusin aku, aku bakal cari cowok lain dan mutusin dia dalam waktu singkat. Setelah itu, kedudukan kita fair! Kamu bisa ngerasain cemburu yang aku rasain ke Ratih!”
“Kamu gila, Manda!” Ical terdengar frustasi, sebelum akhirnya berkata, “Oke, fine. Kita putus!”
***.
Seminggu kemudian...
Ical memasang muka memelas, “Aku mau kamu balik lagi sama aku, Manda. Aku nggak bisa terus-terusan menderita karena rasa rindu yang gak terobati ini.”
“Kamu tuh bodoh banget, sih, Cal?” Manda terlihat tak percaya, “Ratih, si wanita sempurna itu, masih sayang banget sama kamu! Kamu tau nggak?”
“Nggak!” Ical menjawab cepat, “Aku nggak tau dan aku nggak mau tau apa-apa mengenai Ratih.” Ical menatap mata Manda dalam-dalam dan berbisik lembut, “Aku cuma tau bahwa aku sayang kamu!”
Seketika, Manda terdiam. Ia melihat kesungguhan di mata Ical.
“Oke, aku mau balik sama kamu” jawab Manda sambil tersenyum. Sambil mengedipkan sebelah matanya ia berkata, “Setidaknya aku udah pernah ngerasain rasanya punya mantan!”
“Hah?” Ical langsung membelalak cemburu, “Jadi selama seminggu kamu putus sama aku, kamu udah bisa punya mantan lagi?”
Manda tergelak, “Iya.”
“Siapa?”
Manda terdiam dan memandang mata Ical sambil tersenyum simpul, “Kamu...”

Tamat






Cinta Diantara Mega

Olga


Sejak obrolannya dengan Anya yang tidak tuntas itu, Ren jadi penasaran. Menghitung ketidaksetiaan Lufi tentu saja mustahil. Lufi rajin apel malam minggu. Mereka juga sering ketemu di sanggar lukis. Jadi mana mungkin Lufi sibuk lagi dengan ‘yang lain’ kecuali di kampus?

Segala maha karya Ilahi terbentang dalam penglihatan Ren dari jendela pesawat yang lima belas menit lalu lepas landas dari bandara Sepinggan. Awan putih berlapis-lapis, langit biru terkuak di sela-selanya, laut hijau membiru di bawah sana. Dengan buih-buih ombak yang saling berbenturan. Kapal-kapal lintas pulau, tongkang-tongkang pengangkut batu bara atau rig-rig perusahaan minyak asing semakin mengecil dan mulai menghilang. Menyisakan titik-titik hitam saat pesawat terus mendaki menuju ribuan kaki di atas permukaan laut.
Sayangnya segala keindahan yang terhampar itu, yang biasanya menggoda Ren untuk menghasilkan coretan-coretan draft lukisnya, kali ini tak mampu mengubah hati Ren yang tengah muram. Rasanya malas sekali untuk kembali ke Jakarta setelah berlibur dengan luka hati. Huhhh, mengingat kembali apa yang terjadi tiga minggu lalu membuat Ren kembali terpuruk, merasa kerdil, dan konyol.
Lufi jalan dengan cewek, itu biasa. Ia tidak mungkin mengubah sifat Lufi yang friendly-easy going-helpful seperti membalikkan telapak tangan. Justru itulah sifat-sifat Lufi yang membuatnya tertarik dulu. Tak mungkin mengerangkeng Lufi untuk patuh mengikut ke mana pun Ren pergi atau meminta Lufi untuk tidak menengok kiri kanan jika sedang jalan bersamanya. Ah, setelah kejadian itu, masihkah ia menganggap Lufi sebagai pacar? Setelah kebebasan demi kebebasan yang ia berikan untuk Lufi, apa balasan yang diterima Ren?
“Baru kali ini gue nemuin cewek yang berjiwa besar seperti kamu, Ren. Cowokmu wara-wiri kesana kemari dengan WIL-WIL didiemin aja.”
“Apa maksudmu, Anya? Burung selalu punya insting untuk kembali ke kandang. Kenapa harus kuatir? Cinta Lufi hanya untuk gue. Sudah terbukti setahun ini bukan?” ujar Ren pada Anya, teman satu kosnya.
“Kalo maksudmu itu si Lufi. Gue no comment-lah. Lufi kan bukan burung!”
“Nya, itu perumpamaan tau! Lufi itu udah bosen pacar-pacaran gak karuan. Ia sudah sepakat untuk serius denganku kali ini."
“Jaman gene, kamu masih percaya sama janji gombal? Yang tahunan married aja bisa cerai apalagi yang… whatever-lah. Yang ngejalanin kan kamu, gue gak bisa terlalu ikut campur, soalnya….” Anya hanya menggantung jawabannya sambil keluar kamar.
Sejak obrolannya dengan Anya yang tidak tuntas itu, Ren jadi penasaran. Menghitung ketidaksetiaan Lufi tentu saja mustahil. Lufi rajin apel malam minggu. Mereka juga sering ketemu di sanggar lukis. Jadi mana mungkin Lufi sibuk lagi dengan ‘yang lain’ kecuali di kampus? Rasanya tidak juga. Bukankah sesekali mereka pun sering makan bareng di kantin.
“Aku nih udah bosen plarak-plirik cewek, Ren. Yang kucari sekarang calon istri, bukan cem-ceman. Cem-ceman itu cuma bisanya bikin bangkrut doang. Beda sama calon istri yang pasti lebih care sama urusan perduitan. Ya gak?”
“Jangan gombal di siang bolong ah,” cetus Ren, waktu itu.
“Terserah kamu mau bilang apa. Ini bukan gombal, tapi ungkapan rasa yang sebenarnya.”
Nah, itulah deret kalimat Lufi yang makin membuat Ren yakin kalau Lufi tidak bakal aneh-aneh saat melangkah bersamanya.
Kini…
Mega putih di luar laksana kanvas yang siap dilukis. Oh, bahkan tak perlu sibuk lagi untuk melukis karena kanvas itu tidak lagi kosong. Dengan jelas terpampang pemandangan Lufi yang tengah berpelukan dengan Diandra.
Ren merasa matanya basah. Untunglah dua penumpang di sampingnya tengah tidur pulas. Para pramugari juga sudah selesai membagikan air mineral dan roti barusan.
Setengah mati Ren merasa tubuhnya kejang dan aliran darahnya seperti berhenti mengalir. Kelas kosong dengan puluhan kursi dan dinding bercat krem itu seakan menjadi saksi bisu akan adanya sebuah dusta. Kebohongan yang pada akhirnya terkuak karena keadaan, bukan karena berita yang terbesit selalu di telinganya. Tiga jiwa seolah saling kait dan berkontroversi dalam diam mereka. Ren shock. Diandra Pias terlihat. Ren merasa jiwanya kering. Cinta yang selalu disiramnya dengan doa dan harapan tulus untuk selalu setia bersama Lufi perlahan menguap. Menciptakan serpihan kabut yang menghilang karena terik matahari.
Lufi? Cowok itu masih sempat tersenyum dan melambaikan tangan. Inikah Lufi-nya yang selalu care? Masihkan ada perasaan malu, bersalah atau sadar telah melukai hati Ren? Ren tidak melihat itu ada pada diri Lufi saat itu.
“Hai, Ren. Diandra ultah hari ini jadi aku….”
Ren tidak sempat mendengarkan kelanjutan omongan cowok itu. Ia sudah kadung melesat keluar kelas Lufi. Sepasang kaki yang letih membawanya ke taman untuk merenung dan introspeksi. Seharusnya ia tidak perlu datang mencari Lufi ke kelasnya hanya untuk sekedar memberi kejutan.
Seharusnya Lufi tidak perlu memeluk Diandra sedemikian mesra di kelas yang kosong kalau cuma ingin mengucapkan selamat ulang tahun.
Seharusnya mereka tidak perlu sampai setahun menapaki hari-hari yang katanya penuh cinta.
Seharusnya ia percaya pada Anya yang selalu memberinya peringatan. Sebongkah bual yang amat besar terkuak!
Diremasnya kado yang terbungkus kertas bergambar hati. Isinya puisi. Tentang keteguhan cintanya untuk Lufi meskipun banyak selentingan miring yang terdengar. Pphuuh. Goblok sekali!
Untunglah Ren bisa segera melarikan diri pulang kampung. Rumah Bundanya di Balikpapan terasa amat nyaman ketimbang kemarin-kemarin. Ia bisa tidur sampai puas untuk melupakan hatinya yang retak-retak.
“Patah hati itu biasa, Ren. Percaya sama Bunda, dua tiga minggu lagi, kamu lupa sama Lufi. Apalagi kalau nanti kamu sibuk sama urusan kuliah dan lukis. Justru kalau kamu sudah pernah ngalami patah hati, kamu jadi lebih selektif memilih cowok. Jangan cuma lihat gantengnya saja. Lihat sikap sifatnya, hatinya. Tapi juga jangan jelek-jelek amat ya, Ren. Ha ha ha….”
“Ah, Bunda ini…”
“Lho, iya. Manusia itu diciptakan untuk berpasangan. Berarti sebenarnya jodoh kamu itu sudah ada, cuma siapa…? Itu yang kita belum tahu.”
Cara Bunda mengupas masalahnya membuat Ren sedikit terobati. Paling tidak selama menenangkan diri di sini, ia bisa kembali menikmati jalan-jalan ke pantai Melawai. Makan coto makassar di Pandansari atau menikmati sup singkong makanan khas disini. Sesekali ia mengunjungi teman-teman lamanya yang memilih kuliah di Samarinda. Not bad. Paling tidak saat ia pulang nanti, hatinya sudah lumayan pulih dari sebelumnya.
Lagipula Balikpapan cukup ramah kali ini, matahari beberapa kali tersembunyi di balik naungan awan sehingga tidak menyengat bila bepergian.
Hujan pun turun beberapa hari belakangan ini, menciptakan suasana yang teduh. Dan dalam dua minggu itu Ren merasa ia lebih kuat. Apalagi ia sempat berjumpa Gema di mal. Saling kangen dalam jabat tangan yang erat.
Gema.
Mantan pacarnya sewaktu SMU.
“Kok ndak nunggu sampai selesai semesteran baru pulang, Ren? Mentang-mentang tiket Jakarta-Balikpapan sudah murah ya?” goda Gema.
“Murah mahal kan relatif, Gem. Kan ada yang sponsorin.”
“Lantas, dalam rangka apa kamu pulang kampung?”
“Aku lagi patah hati nih.” Dan entah mengapa, begitu mudahnya ia melontarkan segala uneg-unegnya pada Gema di food court. Seakan ia menemukan tempat yang paling tepat untuk memuntahkan segala kekecewaannya. Gema mengelus pundaknya. Lalu tangannya. Berusaha memberikan spirit yang memang amat diperlukan oleh Ren.
“Huh, aku kok jadi curhat begini sama kamu, Gem. Belum tentu kamu suka jadi konsultan orang frustasi kan?”
Gema memamerkan deretan gigi putihnya. Tawanya masih sama seperti dulu. “Seandainya saja kamu percaya sama hubungan jarak jauh, Ren….”
“Maksudmu?” Alis mata Ren bertaut dan tanpa diminta, ada rasa geletar tipis yang menyentuh permukaan hatinya.
“Yaahh… Kita putus karena lulus sekolah kan. Kamu berkeras hijrah ke Jakarta, sementara aku lebih milih Malang untuk meneruskan kuliah. Kalaupun itu terjadi, paling kita hanya bisa jumpa di libur semester.”
Kembali Ren merasa geletar tadi. Sulit dihalau karena kali ini lebih terasa. Apalagi Gema berbicara sambil menatap matanya. Tatap tulus itu tidak pernah bisa ditolaknya. Ya, mereka putus tanpa sebab apa-apa. Semua dikomunikasikan dengan baik. Hanya saja, pilihan Bunda yang realistis, membuat Ren bertekad untuk kuliah di ibu kota. Mereka putus karena Ren tidak menghendaki hubungan cinta jarak jauh yang banyak resikonya. Tapi… luka ini….
Dua hari bersama Gema sebelum kepulangannya ke Jakarta membuat hidup Ren lebih berwarna. Paling tidak, ia mulai bisa menghitung ulang segala kebaikan Gema yang masih belum berubah sampai sekarang. Gema memang tidak mengulang ucapan cintanya seperti dulu, namun dari genggaman tangannya, Ren tahu kalau Gema ingin menguatkannya untuk menghadapi hari esok di Jakarta. Ren biarkan itu mengalir seperti apa adanya.
“Ren, ini nomer hp-ku di Malang. Aku ndak tau apakah setelah kau sampai di Jakarta nanti kau akan ingat untuk mengontakku. Tapi siapa tahu, kau butuh teman untuk curhat? Aku setia untuk mendengarnya lho.”
Ren membaca tulisan tangan Gema sekarang. Tidak pernah rapi, sama seperti dulu. Tapi Ren sudah teramat hafal dengan lekuk-lekuknya.
Ia mengalihkan pandang ke luar jendela kembali. Mega-mega masih berarak. Masih berlapis-lapis tipis tebal. Namun kali ini Ren melihatnya dengan tatap yang berbeda. Kumpulan mega itu seakan mencetak wajah Gema dengan ketulusan hatinya. Semangat Gema seakan menular kepadanya. Ren tidak mau berharap terlalu muluk, meskipun ia mulai berdoa, semoga masih ada cinta di sana.
Dua puluh menit lagi, pesawat yang ditumpangi Ren akan mendarat di Bandara Soekarno-Hatta. Ia lebih mantap untuk melangkah sekarang. Malah kalau boleh, Ren ingin cepat-cepat landing agar bisa segera mengaktifkan ponselnya. Mungkin Gema sudah siap untuk mendengar kisruh hatinya kali ini. Bukan. Bukan karena Lufi. Tetapi karena Gema sendiri.

Tamat











Sweet Revenge

Donatus A Nugroho



De menjerit senang. Terbayang hadiah uang sebesar dua juta rupiah dan trofi serta piagam. Terbayang kebanggaan yang disandangnya, lalu pujian dari semua orang.

“KOK kamu tega gitu sih, De?”
De cuma mencibir, tak acuh.
“Kenapa nggak bilang terus-terang aja? Kamu udah nyakitin hatinya.”
“Salah siapa,” dengus De, masih tetap cuwek. “Mustinya dia udah bisa ngebaca situasi. Aku cuma ingin berteman sama dia, nggak lebih. Dia aja yang maunya lebih.”
“Artinya ...” Anggi berhenti sebentar, lalu: “Kamu cuma mau manfaatin dia aja?”
“Bukan!” Suara De meninggi. Mungkin mulai tersinggung. “Dia aja yang selalu nyodor-nyodorin jasa baik. Biasa, cowok selalu berbaik-baik dan sok jadi pahlawan kalo ada maunya.”
“Dan kamu memanfaatkannya,” tandas Anggi.
Anggi tahu jalan cerita di antara keduanya. Antara De dengan Reno. Reno naksir De dan Reno mencoba mendapatkan si Cantik Manis itu dengan berbagai cara. Tapi De mengaku hatinya tak bergeming. Sampai detik ini ia menganggap Reno bukan apa-apa.
Hanya teman, bukan kekasih yang telah meluluhkan hatinya.
“Kasihan Reno ...” desis Anggi.
Anggi sudah menceritakan pada De betapa kecewanya Reno.
Tiga hari yang lalu Reno datang menjumpai Anggi dengan wajah berseri-seri. Bilang bahwa akhirnya De mau diajak nge-date. De setuju diajak makan malam.
“Kamu tahu nggak?” tanya Anggi. “Reno udah nyiapin semuanya untuk kencan kalian itu.”
“O ya?” De tetap asyik dengan komiknya.
“Reno bela-belain beli baju baru, celana baru. Dia nggak mau setengah-setengah. Nggak mau terlihat culun. Dia ingin tampil keren abis buat kencan kalian itu.”
“Ya, aku tahu.” De menyembunyikan tawa di balik komiknya.
De masih ingat betapa pucatnya wajah itu. Tapi Reno tidak bilang apa-apa. Ia hanya mengangguk, seolah paham dan bisa menerima. Setelah itu Reno pulang. Tanpa protes, tanpa marah-marah. De bilang bahwa acara makan malam di Shake ‘n Shake batal. De bilang bahwa mendadak mama mengajaknya pergi ke rumah tante Erni. Alasan sederhana yang tidak diprotes oleh Reno.
“Kamu bisa bayangin betapa kesalnya Reno? Mungkin ia juga malu. Merasa sia-sia. Bisakah kamu ngebayangin betapa repotnya dia? Sejam untuk sampai ke rumahmu, mengatur rencana dan sebagainya. Dua hari dia memikirkannya.
Bisa jadi dia juga sengaja mengambil tabungannya demi menyenangkan hati kamu.”
“Lalu?” De terlihat mulai tertarik. “Apa kata Reno?”
“Tadi dia bilang bahwa dia amat kecewa dengan cara kamu. Andai kamu memang nggak mau, kenapa nggak bilang dari dulu? Kalo kamu mendadak punya acara lain dan ngebatalin kencan itu, kenapa nggak ngasih tahu? Bukankah sebenarnya kamu bisa nge-SMS dia? Supaya dia nggak repot jauh-jauh datang cuma untuk mendengar pembatalan kamu. Apa sih susahnya untuk kirim SMS atau nelpon dia? Sebenarnya ... kamu emang sengaja, kan?”
De menghela nafas berat. “Aku nggak ada feeling sama Reno, Nggi. Aku nggak bisa. Aku nggak bisa membohongi perasaanku. Reno bukan cowok tipeku.”
“Kenapa nggak bilang aja? Kenapa kamu tetap menerima kedatangannya? Kenapa selama ini kamu tetap menerima kebaikannya?”
De terdiam.
DE lari ke meja telepon dan menyambar telepon itu dari tangan bibik.
“Saudari Candra Dewanti?” Terdengar suara pria di seberang sana. Suaranya agak aneh, seperti mulutnya tengah mengulum sesuatu.
“Yup!” jawab De riang.
“Saya Sony Hutapea dari Yayasan Cendikia Muda.”
“Oh, ya?” Mendengar nama yang disebut itu dada De langsung berdebar-debar.
“Saya salah satu panitia dari lomba karya tulis yang diselenggarakan oleh Yayasan Cendikia Muda.
Saudari telah mengirim karya yang berjudul Menguak Potensi Kaum Muda Lewat Seni?”
“Betul, saya yang menulis dan ...” De makin berdebar.
“Selamat, ya! Saudari telah memenangkan lomba itu. Saudari meraih juara pertama dan berhak atas sejumlah hadiah dan penghargaan dari kami.”
“Tapi,” De menukas. “Bukankah pengumumannya masih besok? Tanggal enambelas, kan?”
“Betul, tapi sejak kemarin kami telah menentukan siapa-siapa pemenangnya dan baru besok diumumkan melalui surat kabar.”
De menjerit senang. Terbayang hadiah uang sebesar dua juta rupiah dan trofi serta piagam. Terbayang kebanggaan yang disandangnya, lalu pujian dari semua orang.
“Hari ini juga saudari Candra Dewanti kami undang datang ke kantor kami untuk ...”
“Menerima hadiah?” potong De tak sabar.
“Bukan, eh belum! Sore ini ada beberapa wartawan yang akan mewawancarai saudari Dewanti. Kita adakan jumpa pers, besok pengumuman itu akan berdampingan dengan profil Candra Dewanti yang meraih juara pertama.”
De paham. Oh, ia makin melambung. Belum-belum sudah ada wawancara, lalu besok foto dan kisahnya akan menghiasi halaman beberapa surat kabar.
“Kami tunggu kedatangan Candra Dewanti di kantor kami jam lima sore. Jangan sampai terlambat, ya!”
Ketika telepon telah ditutup De benar-benar melompat.
Ia menjerit-jerit dan bergulung-gulung di lantai karena gembira. Ia segera menelpon mama, kemudian menelpon papa pula. Ia mengabarkan keberhasilannya.
Seketika De ingat Reno pula. Haruskah ia mengkabarkan berita bahagia ini ke Reno? Reno pasti ikut gembira. Ya, Reno sangat berjasa. Ia yang telah membantu merevisi tulisannya. Ia pula yang telah memberikan andil cukup besar sehingga tulisannya jauh lebih berisi. Reno yang mencarikan beberapa buku untuk referensi menyusun karya tulis itu. Bahkan, Reno pulalah yang membelikan perangko untuk mengirim karya itu ke panitia lomba.
De sudah tergelitik untuk menghubungi Reno, tapi hati kecilnya melarang. Ah, nanti dia ge-er lagi. Nanti dia makin berpikir yang bukan-bukan. Nanti harapannya tumbuh lagi dan itu ... merepotkan!
De melirik jam dinding. Waktunya sudah mepet untuk segera hadir di kantor Yayasan Cendekia Muda.
JAM 16.40, De sudah tiba di kantor itu.
“Bisa bertemu dengan Pak Sony Hutapea?” tanya De dengan santun pada mbak cantik di belakang meja penerima tamu itu.
“Sony siapa?”
“Sony Hutapea,” ulang De.
“Maaf, disini nggak ada yang namanya Sony Hutapea. Ada perlu apa?” tanya mbak resepsionis itu cukup ramah.
De agak salah tingkah. “Tadi saya ditelpon. Pemberitahuan bahwa saya memenangkan lomba karya tulis itu.”
“Oh, lomba itu. Tapi? Bukankah pengumumannya baru besok? Lihat aja di koran.”
“Tapi saya juaranya. Tadi saya di telpon.”
Mbak itu membuka lacinya dan membuka-buka beberapa map. “Hasilnya memang sudah ditentukan dalam rapat kemarin, tapi baru diumumkan besok. Sebenarnya ... kami belum bisa memberitahukannya sekarang. Tapi ...” Dia meneliti selembar kertas yang ada di tangannya. “Nama kamu siapa, dik?”
“Candra Dewanti.” De makin cemas.
“Pemenangnya Ramayana, anak SMA satu. Disini nggak ada nama Candra ... siapa? Candra Dewanti, ya?” Mbak cantik itu menatap iba ke arah De. “Sori ... nggak ada nama kamu.”
Lima menit kemudian Candra keluar dari kantor itu. Matanya berair. Ia malu, kesal, marah sekaligus putus asa. Seseorang telah mempermainkannya!
De melangkah gontai. Ia membayangkan dengan cara apa ia menjelaskan semua ini pada papa dan mama. Lalu siapa manusia iseng yang telah mempermainkannya?
Reno?
Seraut wajah hadir di pelupuk mata De yang basah. De mengatupkan bibirnya. Wajahnya mengeras. De benar-benar marah. Inikah balasan atas semua perlakuannya terhadap Reno? Pantaskah?

Tamat





Puisi Untuk Icha

Igoy El Fitra

“Ah,apalah arti sebuah nama, yang penting isi hatinya dong!”

Matahari sangat menyengat hari ini.Tidak seperti biasanya. Mungkin karena aku pulang agak cepat dan merasakan keadaan ini. Panasnya sinar matahari itu menusuk kulit sampai ke dalam dagingku,dan terus menghujaniku dengan cahaya UV-nya yang merusak. Sementara itu, aku mencari tempat sejuk untuk melepaskan lelah. Tapi ternyata, lautan sinar itu telah menjajah tempat ini. Terpaksa aku harus berpanas-panasan ria.
Aku duduk termenung sambil meletakkan telapak tangan di atas kepala,mencegah cahaya yang mulai mendidihkan otak. Sekalian menunggu teman-teman tongkronganku yang belum datang.Tiba-tiba seorang gadis cantik berdiri tepat di hadapanku dan sekaligus menghalangi panas yang menyengat itu. Aku berharap agar dia tetap di sana.
“Asyik, nih jadi adem deh dunia,” kataku sambil menggoda, karena ia kebetulan satu sekolah denganku.
“Eh,sorry,ngalangin, ya?”
“Ah, enggak malahan kamu nolongin.”
“Bohong,ah! Jelas-jelas kamu lagi lihat cewek di seberang jalan itu!” Sambil menunjuk ke cewek yang ada di seberang jalan, menyangka kalau aku benar- benar terhalangi olehnya. Padahal aku pun tak tahu bahwa ada gadis lain di seberang jalan itu.
“Yah, nggak percaya! Kamu membendung panas matahari yang mengenaiku ini, makanya aku bilang kalau kamu itu nolongin aku.”
“Ooo... kalau begitu, aku minta maaf sekali lagi!” Gadis itu menyodorkan tangan kecilnya padaku.
“Nggak usah begitu, dong, memangnya kamu salah apaan?”
Aku menolak permintaan maafnya, karena memang ia tidak bersalah. Tapi mendadak, paras wajahnya berubah.
“Kenalan dong!”
“Kenalan sama siapa?”
“Ya kenalan sama kamu, masak sama sopir angkot
“Jangan marah begitu, dong. Namaku Marissa, panggil saja Icha.” Sambil tersenyum kecil ia menyebut namanya . Senyumannya membuatku mabuk.
“Icha? Kayaknya aku pernah denger! Kamu kelas tiga kan?” tanyaku penasaran.
“Iya , memangnya kenapa?” Nada suaranya meninggi. “kalau kamu satu sekolah denganku, baru kamu bingung.”
“Makanya aku mau kenalan sama kamu, kalau nggak satu sekolah, buat apa aku tanya-tanya terus!”
“Ooo... Jadi kamu anak SMU 100 juga! Tapi kenapa aku nggak pernah kenal denganmu?”
“Aku kan anak baru. Baru pindah dari tempat nan jauh di mata.”
“Pantas saja aku nggak kenal sama kamu, ternyata anak baru, ya. Nama kamu siapa?”
“Namku, Eross Sahputra, panggil saja Eross.”
“Eross? Kayak pemain gitar Sheila on setan, eh salah, , maksudku Sheila On Seven!”
“Ah, apalah arti sebuah nama, yang penting isi hatinya dong!”
“Gombal! Kalau begitu, aku pulang dulu ya, Ross! Sudah hampir sore, nih.” Ia memberi tangan pada mobil angkot yang kebetulan lewat depannya.
“Buru-buru banget, sih, matahari saja belum berselang dengan rembulan , tapi kamu sudah mau pulang.”
“Dasar, kamu, anak bahasa! Simpan saja deh syair-syairmu, nanti kehabisan lagi. Aku pulang dulu, ya!” Ia melambaikan tangannya untukku. Aku mabuk lagi.
“Dadah, Icha....” Aku membalas lambaiannya, waktu tak bisa diajak kompromi.
Tinggallah aku yang kembali sendiri lagi, duduk mereka-reka nasib.
Tak terasa cahaya matahari yang tebal itu telah minggat dari daerahku, namun aku heran, dari tadi teman-temanku yang lain tak jua tiba. Ke mana, ya mereka?
Kala pikiran ini kian terbang, teriakan yang tak asing lagi memekak di telingaku.
“Eross....!! Kau mau pulang bareng nggak?” Ternyata si Anton, teman karib yang juga tetanggaku. Ia mengajak pulang bersama motornya yang tinggal kerangka itu. Kata Anton, teman-teman yang lain ada tanding sepak bola di sekolah. Kami disuruh pulang duluan. Kami pun melesat pergi meluncur ke istana masing-masing.
Senja telah tiba, mulai menggoda malam yang telah leleh menunggu. Dan pagi pun menjemput sang malam yang indah itu. Akhirnya aku kembali harus menunaikan tugasku sebagai seorang pelajar yang terpelajar. Pergi ke sekolah membosankan. Tapi kini dalam kebosanan itu ada secercah kebahagiaan yang hinggap.
Hal ini terus terjadi padaku, yaitu menunggu angkot yang selalu sesak dengan penumpang. Saking banyaknya orang-orang yang ingin menaiki angkot, aku mesti rela berlari-lari mengejar mobilku. Berjayalah wahai sopir angkot.
Di sekolah, seperti biasanya hanya kesendirian yang bisa membuatku bahagia, bukannya aku membenci keramaian, tetapi keramaian itu sendiri yang akan membenciku jika aku harus terhanyut di dalamnya.
“Eross!! Coba ulangi lagi penjelasan ibu tadi di papan tulis !”
Sial, ibu guru menangkap basah aku yang sedang melamun. Bisa berabe, nih.
“Penjelasan apaan, Bu?”
“Huuuu, dasar , bengong melulu sih !” teriak teman-teman sekelas mengejekku.
“Iya tuh bu, suruh nyanyi saja bu!” cuapan temanku yang lain bersahutan.
“”Kalau kamu nggak bisa, ayo nyanyi didepan ,Ross!” tandas ibu guru tergoda ayuan ‘iblis-iblis’ itu.
“Enggak mau ah bu!” jawabku dengan kesal.
“Kamu ngantuk ya? Kalau begitu cuci muka dulu sana!”
Sial teramat sial hari ini. Pagi-pagi sudah kena dampratan guru. Apalagi ‘tangga’yang akan menimpaku? Huff, aku melangkah meninggalkan kamar mandi menuju kelas, setelah sempat cuci muka.Baru selangkah berjalan, terdengar suara hentakan sepatu yang begitu cepat dan sekejap melewatiku seperti angin.
“Permisi..., eh Eross?”
“Eh, kirain angin ribut dari mana. Icha mau kemana?”
“Mau ke perpustakaan. Lagi pelajaran apa Ross?”
“Lagi pelajaran membosankan.”
“Memangnya pelajaran apa?”
“Sssst, jangan keras-keras ngomongnya, ini kan di depan kelasku! Nanti aku kena marah lagi sama guru bahasa itu.”
“O..., pelajaran bahasa ya. Tapi kenapa kamu nggak masuk?”
“Tadi dari toilet, cuci muka, soalnya tadi kena marah sama ibu guru gara-gara ngantuk.”
“Kamu sih pakai acara ngantuk segala. Oh iya,kamu nanti ada waktu nggak pas jam istirahat?”
“Yah aku nanti mau terusin bacaan di perpustakaan.”
“Kebetulan, aku mau minta tolong bikinin puisi.Buatnya nanti di perpustakaan saja bisa kan?”
“ Bisa, tapi buat apaan...” belum sempet kuteruskan pertanyaanku tiba-tiba pundakku ditepuk oleh guru bahasa itu.
“Mau jadi pilot Bu....!! serentak teman-teman didalam kelas berteriak.
Aku tertunduk kuyu. Kulihat Icha berlari kecil menuju kelasnya senyumnya menusuk hati. Ada kencankah nanti?
Bel istirahat memekik ke seluruh penjuru sekolah. Mengiringi langkahku ke tempat favorit: perpustakaan. Saat sedang asyik membaca buku teusan kemaren, sosok wangi itu kembali di hadapanku
“Cieileh,bacanya serius banget,sih. Sampai nggak tau kalau aku ada disini dari tadi.
“Eh, Icha ya, maaf, aku tadi lagi konsen.O iya tadi kamu bilang mau bikin puisi buat apa?
“Mhh... buat tugas bahasa Indonesia, kok” Tampaknya ia ragu mengatakannya.
“Tentang apa?
“Tentang cinta... kalau nggak keberatan.”
“Ah nggak aku tak keberatan sama sekali.”
Ya tak keberatan, tapi aku bingung apa iya tugas bahasa Indonesia disuruh buat puisi cinta. Ah... aku tak peduli mau buat apa yang penting hatiku telah jatuh cinta padanya.
“Nih, puisinya, Cha. Jangan diejek ya kalau kata-katanya jelek.”
“Ya ampun segini bagusnya dibilang jelek?? Jangan merendah gitu dong, Ross, ini kan puisi romantis.” katanya dengan gaya manja. Padahal puisi itu kubuat khusus untuknya. Aku terpesona “ ya sudah, terima kasih ya Ross. Aku mau berikan tugas ini dulu, dadah....”
Tersenyum dan terus tersenyum saat ia mengakhiri pertemuannya denganku. Ia berselisih jalan dengan Anton, Tampaknya Anton heran ketika aku melambaikan tangan pada Icha.
“Kau ada hubungan apa dengan anak IPS itu?
Kayaknya dari tadi lama sekali kau bicara dengan dia,” tanya Anton sambil mengambil koran otomotif di sampingnya.
“Nggak ada apa-apa kok, aku baru kenal sama dia”
“Aku dengar-dengar anak itu baru PDKT sama anak IPA hati-hati saja kau Ross,! Jangan sampai dipermainkan sama tuh cewek!
Ups, mendengar kata Anton tadi, aku tambah curiga, barangkali puisi untuk Icha tadi bukan tugas? Barangkali untuk yang lain....
Pulang sekolah, sebelum masuk rumah, Anton kembali menemuiku bersama seseorang yang tak aku kenal.
“Ross!!! Tunggu, woi!” melihatku yang tergesa-gesa, Anton berteriak dan berlari.
“Lho tumben nggak bawa motor, memang kemana motormu, Nton?”
“Lagi di bengkel. Biasalah penyakit kambuhan. Oiya aku ada perlu denganmu Ross.”
“Ada apa? Penting banget? siapa yang meninggal?”
“Busyet, nggak ada yang meninggal!! Sembarangan saja kau! Begini, ini ada yang mencarimu namanya Gyo, kelas IPA tiga.”
“Ooo, terus?”
“Si Gyo ini bertanya padaku, katanya siapa anak bahasa yang jago buat puisi.Siapa lagi kalau bukan kau, Eross sang Pujangga. ”Puji Anton cengegesan.”
“Hmmmm... mau dibuatkan puisi? kalau boleh tahu buat siapa ya Gyo?”
“Iya ,Ross aku mau minta tolong dibuatkan puisi buat temanku namanya Icha. Soalnya tadi pagi dia kasih puisi untukku, isinya Romantis banget, aku nggak sanggup balasnya, sayang kalo nggak dibalas,orangnya kan cantik, kalau aku jadian sama dia, kalian berdua aku traktir,deh!”Jawab Gyo panjang lebar.
Dan jantung ini pun tidak berdebar,barangkali sudah berhenti.

Tamat





Jaket

Donatus A Nugroho

“Jadi akhirnya kamu rela memberikan jaket ini buatku?” tanya Bun dengan amat bernapsu.

“Kita bertukar kado.”
Kesepakatan telah diambil. Di hari Valentine nanti mereka akan saling memberikan kado. Tentu saja kado yang spesial.
“Aku nggak mau terima puisi cinta dari kamu. Udah kuno!” canda Vanda.
Desta menyeringai. Tentu saja ia tidak akan memberikan puisi atau surat cinta buat Vanda. Bukan soal sudah kuno atau norak, tapi rasanya kata-kata cinta memang sudah tak perlu diobral lagi. Usia pacaran sudah setahun lebih, masing-masing tak perlu lagi meragukan perasaan sang kekasih.
Kini Valentine’s Day makin dekat. Desta mulai pusing. Kado itulah yang bikin Desta mumet. Desta yakin, Vanda akan memberinya sesuatu yang amat berharga, setidaknya menurut Vanda. Ia sendiri sudah mengincar sesuatu untuk dihadiahkan buat Valda. Sesuatu yang menurutnya amat pas dihadiahkan pada Hari Kasih Sayang. Yang jadi masalah adalah: darimana ia mendapatkan uang untuk membeli barang tersebut?
Sebuah kotak musik berfungsi sebagai tempat perhiasan. Desta sudah menelitinya di Funny Toys lebih dari sekali. Kotak berwarna merah jambu yang ketika dibuka akan memperdengarkan lagu Love Story yang klasik. Dengan kotak itu Valda bisa menyimpan blink-blink dan semua perhiasan yang dimilikinya.
Sebuah hadiah Valentine’s Day yang amat pas.
Tapi darimana Desta memperoleh dua ratus ribu rupiah untuk membeli kotak tersebut? Dua ratus ribu bukanlah jumlah yang sedikit bagi Desta. Papa dan mamanya mungkin tidak terlalu berat untuk memberikan sejumlah itu buat Desta. Jika uang itu hendak digunakan untuk membeli buku atau peralatan sekolah. Tapi untuk membeli kado Valentine? Desta tak yakin. Desta lebih yakin bahwa ia akan menerima teguran dan berondongan kalimat kurang sedap. Di masa sulit begini amatlah mengada-ada jika mengeluarkan sejumlah uang cukup besar hanya untuk sesuatu yang tidak penting. Desta yakin, bagi kedua orang tuanya, membeli hadiah Valentine bukanlah sesuatu yang penting apalagi sebuah keharusan.
Tak ada jalan lain kecuali harus mendapatkan sendiri sejumlah dua ratus ribu rupiah itu.
Tapi darimana?
Bekerja? Siapa yang mau mempekerjakan seorang anak pelajar kelas 2 SMA yang tidak punya ketrampilan apa-apa?
Mengumpulkan seluruh uang saku memang mungkin. Tapi waktunya kurang dari sepekan lagi. Dan perkalian antara jumlah uang saku dengan jumlah hari yang tersisa masih sangat jauh dari angka dua ratus ribu!
Meminjam uang teman memang bisa. Tapi Desta menghadapi resiko yang tidak kecil jika nantinya papa atau mama mengetahuinya.
Orang tuanya mengharamkan berhutang.
Desta benar-benar pusing.
Ketika semua jalan sudah buntu, harapan Desta tinggal tertumpu pada Bun.
“Kamu masih suka pada jaketku?” Desta melepas jaketnya dan melemparkannya pada Bun.
Bun menerima jaket itu dengan sigap dan melonjak senang.
“Jadi akhirnya kamu rela memberikan jaket ini buatku?” tanya Bun dengan amat bernafsu langsung mengenakan jaket itu.
“Aku terpaksa melepasnya jika kamu mau membelinya.”
Wajah yang semula cerah itu meredup. Bun melepas jaket itu dan melemparkannya ke sandaran kursi.
“Cuma dua ratus ribu, Bun.”
“Cuma dua ratus ribu? Untuk jaket bluwek ini?!” Bun melotot.
“Ah, kamu nggak perlu mengejek! Kamu tahu sendiri, nggak seorang anak pun disini punya jaket seperti ini. Kamu tahu sejarahnya, kan?”
Bun tentu saja amat tahu. Jaket itu kiriman dari Ferdi, abang Desta yang hingga saat ini masih tinggal dan sekolah di Boston. Jaket Amerika! Sebuah jaket jins dengan kerah dan manset kulit. Paduan jins dan kulit yang amat kasual.
“Tapi jaket ini udah belel. Kamu memakainya hampir setiap hari selama setahun, kan?”
“Justru belel-nya itu yang bikin makin unik,” kilah Desta.
“Tapi dua ratus ribu untuk jaket rombeng sungguh nggak masuk akal!”
“Ketika kuterima, labelnya masih utuh, Bun. Bang Ferdi membelinya seratus dolar.
Belum lagi ongkos kirimnya yang pasti juga mahal.” Desta meraih jaketnya dan bermaksud mengenakannya kembali, tapi Bun lebih cepat merebut jaket itu.
“Seratus lima puluh?”
“Dua ratus atau nggak sama sekali. Cepatlah, sebelum aku berubah pikiran. Kamu tahu? Selain kamu masih banyak yang berniat memiliki jaket ini.”
“Kamu perlu uang untuk apa? Kamu mengincar sesuatu?” Bun menatap curiga.
“Kamu nggak perlu tahu! Kamu bayar dan jangan berpikir macam-macam. Mau aku apakan uang itu, itu hak aku.”
Bun mengeluarkan dompetnya dan menghitung sejumlah dua ratus ribu rupiah dan menyerahkannya ke Desta.
“Makasih, Bun. Dua ratusmu ini menyelamatkan hidupku.”
Bun memandang Desta dengan tatapan amat ingin tahu, tapi Desta segera berlalu.

14 Februari.
Desta tiba di rumah Vanda menjelang pukul tujuh. Tak ada acara khusus untuk melewati Valentine’s Day. Desta dan Vanda tak ingin datang ke pesta, meski beberapa teman menawarkan undangan. Tak pula ada rencana untuk pergi jalan-jalan lalu kemudian pergi ke restoran dan memilih sudut yang romantis.
Desta dan Vanda sudah sepakat untuk berdua di rumah saja. Duduk di teras rumah yang tidak hiruk-pikuk. Bertukar hadiah adalah rencana sederhana yang telah disepakati.
“Hai!” Vanda menyapa riang. Ia tidak berdandan, tidak pula mengenakan gaun ajaib yang mewakili dunia cinta.
Tapi nampaknya pita merah jambu yang lucu di rambutnya sengaja dikenakan untuk menampilkan nuansa Valentine.
“Hai, sayang!” Desta langsung suka pada pita merah jambu itu. Membuat Vanda nampak makin imut dan menggemaskan.
Keduanya duduk di teras, saling berhadapan. Lalu sama-sama tersenyum kaku.
“Valentine’s Day, ya?”
“Iya,” jawab Desta.
“Lalu kenapa?”
Desta tertawa. “Nggak tahu!”
Vanda juga tertawa kecil. Ia lalu menyorongkan pipinya. Desta mencium pipi Vanda.
“Aku sayang kamu, Van. Tetaplah jadi Valentine-ku.”
“Aku juga sayang kamu ...” bisik Vanda yang pipinya kian bersemu merah jambu, warna Valentine.
Semenit keduanya saling berdiam diri. Saling menatap dengan mesra. Tangan keduanya masih saling berpegangan.
“Itu kadomu?” Vanda memecah kebisuan. Diliriknya bungkusan berbentuk kotak berpita merah jambu yang ada di samping Desta.
Desta meraih kadonya dan menyerahkannya pada Vanda.
“Boleh kubuka sekarang?”
Tanpa menunggu anggukan kepala Desta, Vanda segera membuka bungkus kado itu dengan amat hati-hati. Ia tak ingin merobekkan kertas pembungkusnya.
Vanda menjerit senang demi mengetahui hadiah dari Desta. Kotak musik itu dibukanya dan seketika mengalunlah lagu Love Story yang lembut. “Kamu manis sekali, Des.
Oooh, aku akan mendengarkannya setiap kali menjelang tidur, membayangkan kamu membisikkannya di telingaku.”
Desta tersenyum lega. Semua seperti yang ia harapkan. Vanda amat puas dengan hadiahnya.
“Tunggu sebentar!” Vanda beranjak dari duduknya dan berlari ke dalam rumah.
Vanda muncul lagi dengan bungkusan kertas merah jambu yang cukup besar ukurannya.
“Kado kasih sayangku buatmu...” Vanda menyerahkannya pada Desta.
“Boleh aku membukanya sekarang?”
Vanda mengangguk.
Desta membuka kado itu dengan cepat. Membuka kardus di balik bungkusan itu dengan cepat pula. Desta menjerit tertahan ketika benda itu sudah ada di tangannya.
“Kuharap itu benda yang paling pas buatmu. Aku tahu kamu amat memerlukannya sekarang. Udah lama aku ingin kamu membuang punyamu yang itu. Kubilang juga apa? Jaket itu udah bluwek banget, tapi kamu mengaku amat menyukainya. Kamu bilang itu jaket jaket unik dan langka karena kiriman bang Ferdi dari Amrik. Syukurlah, akhirnya kamu memberikan jaket itu pada Bun, karena kulihat siang tadi, kemarin dan kemarinnya lagi, Bun memakai jaket itu pas pulang sekolah. Kamu memberikannya pada Bun, kan?”
Desta masih terpaku pada benda di tangannya itu. Sebuah jaket berwarna gelap. Jaket J-rock yang saat ini tengah nge-tren.
Desta masih terpaku. Ia masih bingung harus berkata apa.

Tamat

0 Response to "Kumpulan Cerpen Cinta"

Post a Comment