Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Kapas-Kapas Di Langit

Bab 1





Tokyo, awal musim semi yang lembut dan hangat. Suara-suara keras dan kehebohan itu muncul dari lantai bawah tempat tinggalnya. Sebuah asrama putri
di kawasan kampus Universitas Tokyo yang terkenal karena tradisi dan historisnya. Ugh, apa yang terjadi? Rasanya baru beberapa menit aku tertidur.
Hampir sepanjang malam ia berkutat di depan komputer dengan programnya. Perlahan gadis itu menggeliat malas, berharap dirinya hanya terpengaruh mimpi. Tapi ketika keributan di bawahnya bukan menghilang, sebaliknya bahkan terdengar semakin parah, pertanda sesuatu yang luar biasa tengah terjadi. Berarti bukan ilusi, bukan pengaruh mimpi. Yap!
Ia tersentak bangun dan melemparkan selimutnya dengan sebal.
Sepasang matanya reflek melirik jam wekker di atas meja belajarnya. Baru pukul enam, biasanya saat begini para penghuninya masih bergulung dalam selimut tebalnya masing-masing. Dilihatnya ranjang di sebelahnya sudah kosong.
Bahkan Haliza, dara Malaysia yang kutu buku itu pun sudah beraktivitas?
Gadis yang melintas di pikirannya tiba-tiba muncul dari kamar mandi.
Terdengar senandungnya yang merdu. Ia masih mengenakan jubah mandi dengan rambut terbalut handuk setelah keramas. Wajahnya segar dan berseriseri, pertanda ia merasakan kebahagiaan dan kenyamanan hatinya. Tanpa tekanan sama sekali!
"Mmh… segaar! Oyaho gozaimasu1, Garsini-san," ujarnya mengajak bercanda dalam nada riang tak dibuat-buat. Garsini mengucak-ucak matanya yang masih berat lalu memandanginya keheranan. Ya, heran dengan semangat dan gerak-geriknya yang tampak lebih lincah dari biasanya. Ia masih ingat saat pertama kali mereka bertemu beberapa bulan yang lalu di daigaku2.
Haliza, saudara seiman berbusana Muslimah seperti dirinya, tampak agak gelisah berdiri canggung di antara para gakusei3 baru. Mereka sedang diterima oleh panitia daigaku, khusus bagi para gakusei asing penerima beasiswa pemerintah Jepang.
"Subhanallah!" seru dara jelita itu tertahan, kala Garsini menghampirinya dan langsung berusaha berkomunikasi dengannya. Sementara rombongan kecil itu mulai bergerak, dibimbing senior berkeliling sekitar fakultas, menunjukkan berbagai fasilitas yang dapat mereka manfaatkan.
"Namaku Siti Haliza binti Haji Tun Abdul Razak dari Selangor," bisik Haliza kini dapat berjalan tegak di sebelah Garsini, menjejeri para gakusei asing lainnya.
"Saya Garsini Siregar dari Depok, eeh… itu dekat Jakarta," sahut Garsini.
Haliza mengaku terus terang, tak mengira bisa secepat itu bertemu sesama Muslimah di Negeri Sakura. Dalam bilangan menit keduanya telah akrab, perbedaan istilah antara bahasa Melayu dengan bahasa Indonesia taklah menjadi masalah. Acapkali keduanya malah tertawa geli karenanya.
Sejak hari pertama berkenalan keduanya menjadi karib dan senantiasa saling mengingatkan, menguatkan dalam setiap kesempatan. Sering rekan-rekan sealmamater keheranan melihat kedekatan kedua gadis berjilbab itu. Apa itu ukhuwah? Tentu saja para gakusei Jepang, juga mereka dari negara-negara non islam itu tak pernah mengerti maknanya.
"Lekaslah shalat subuh tu!" sepasang alisnya yang indah terangkat.
"Sudah, tadi tidur lagi," Garsini masih memandanginya, semakin terheranheran.
Haliza membuka balutan handuk, kemudian mengeringkan rambutnya yang panjang bergelombang dengan hairdryer. Ini baru mahkota wanita terindah yang pernah dilihat Garsini. Mengalahkan rambut para gadis shampo yang bertaburan di layar kaca Indonesia.
"Mau bepergian rupanya, hemm?" Garsini baru menyadari keberadaan ransel yang telah dikemas apik di sudut kamar mereka.
Haliza masih asyik dengan kesibukan pengeringan rambutnya. Mahasiswi kedokteran yang mengaku takkan menikah dengan siapapun selain Mahathir Rashid itu kemudian menyahut.
"Famili di Yokohama, mengundangku libur di rumah peristirahatannya…"
"Libur panjang!" tukas Garsini menyentak, membuat Haliza menoleh ke arahnya. "Masya Allah, kok aku baru ingat ya?" Sesaat ia tampak bagai linglung.
Sementara Haliza menatapnya dengan cemas dan bimbang.

***


Rasanya belum lama mereka memasuki aktivitas perkuliahan di Universitas Tokyo. Setelah sebelumnya pun ada hari-hari libur selama beberapa pekan. Ia sempat sangat jenuh tanpa kegiatan sebelum memulai perkuliahan itu.
Haekal yang ambil spesialisasi di Universitas Waseda mengunjunginya dan memberinya alternatif, agar ia tinggal di minshuku. Yaitu penginapan milik keluarga. Sehingga ia bisa memanfaatkannya untuk belajar mengenal adat kebiasaan orang Jepang. Sekaligus pula melancarkan bahasa Jepangnya yang memang amat parah.
Garsini tahu, Haekal juga melakukan hal yang serupa, tapi sengaja mengambil lokasi yang berbeda. Sehingga mereka tak bisa setiap saat bertemu, hanya berkomunikasi melalui telepon dan internet. Ternyata medium itulah yang kemudian menjadi alternatif komunikasi mereka di hari-hari selanjutnya. Dalam beberapa bulan ini mereka bertemu bisa dihitung dengan jari.
"Aa Haekal mengambil spesialisasi haematologi. Dia akan mengawasimu selama di Negeri Sakura." Selly, adik Haekal dulu berkata demikian. Tapi itu rasanya tak mungkin terwujudkan, sebab jadwal padat dan tekanan luar biasa yang harus mereka hadapi dalam keseharian. Sesuatu yang jauh dari perkiraan mereka di masa lalu.
Sekarang Aa Haekal juga takkan sempat mampir ke sini, gumam Garsini. Itulah agaknya yang terbaik bagi keduanya.
"Gusti Allah amat mengasihi kalian, Anakku. Sebab kasih-Nya kepada kalian, Dia tak membiarkan kalian bisa selalu dekat berduaan. Kebersamaan kalian kan bisa mendatangkan fitnah, godaan nafsu." Mama kerap berkata begitu di telepon, menyemangatinya senantiasa dan mendoakannya tentu saja.
Tempo hari pemuda itu menelepon Garsini, memberi tahu tentang rencana libur panjangnya. "Aku dan beberapa rekan akan melakukan kerja bakti di pulau Pusan. Kami akan jihad di leprosium," katanya riang seperti biasa.
"Di mana pulau Pusan dan apa itu leprosium?" tanya Garsini ingin tahu.
"Pulau Pusan wilayah Korea…"
"Korea… jadi Aa mo ke luar negeri?" Sayup nama Haekal terdengar sudah dipanggil-panggil oleh kelompok baksos-nya. Telepon pun memperdengarkan suara klik. Bagaimana rasanya menghabiskan liburan di pulau yang dihuni oleh para penderita kusta, ya? Suara dokter muda itu
terdengar begitu bersemangat. Berbahagialah dia yang selalu merasa terpanggil untuk bakti kemanusiaan.

***


Haliza mendadak berhenti, meletakkan alat pengering rambut di atas dipannya dan menghampiri Garsini. Dipandanginya wajah Muslimah Indonesia itu dengan cemas.
"Jangan katakan kau tak punya rencana bepergian… Pasti sudah punya rencana khusus, ya kan? Mau ke mana? Kyoto atau Saporo? Ooh, suasana kuil Budha di Nara musim semi begini…"
Apa Haliza lupa, kalau aku bukan anak orang berduit? Memang ada uang saku yang kuterima per bulannya, tapi itu harus dimanfaatkan sebaik-baiknya demi kelancaran perkuliahan. Sementara gaya hidup di Jepang sangat mahal!
"Tidak, aku tidak tahu mau ke mana!" pintas Garsini terdengar agak mengeluh dan balik menatapnya, kali ini disertai sedikit harapan. "Aku sama sekali tak punya rencana ke mana-mana…"
"Bagaimana kamu bisa…" Haliza terheran-heran menatapnya.
"Oh, Haliza bagaimana kalau… ajak aku, ya, please?" pintanya terdengar mengiba. Sungguh amat kontras dengan karakternya yang Srikandi!
Haliza terperangah dalam rasa bersalah. Garsini sesaat mengguncangguncang lengannya, masih menatapnya dalam harapan. Tapi manakala dilihatnya wajah cantik itu dikabuti rasa bersalah, sadarlah dirinya bahwa harapannya hanya akan menyulitkan Haliza. Perlahan dilepaskannya tangan gadis itu dan otaknya mulai sibuk menemukan gagasan.
Apa masih berlaku tawaran dari Nakajima-san sebagai relawan MeSci, museum sains itu, ya? Lelaki tua itu mengingatkan Garsini kepada mendiang kakeknya. Musim semi ini ia bermaksud mengunjungi keluarganya di Saporo. Ia mencari relawan untuk menggantikannya, sementara dirinya bepergian ke luar kota selama beberapa hari.
Mayumi-san, mahasiswi jurusan sastra yang menyampaikannya kepada Garsini. Sahabat Jepun-nya itu relawan musiman di museum sains terbesar di Jepang.
"Afwan, ya Garsini… Tentu mereka sudah merencanakan ini sejak lama.
Tak mungkin kan kalau tiba-tiba…" Suara Haliza terdengar terpatah-patah, minta pengertiannya yang dalam.
"Tak apa, sudahlah… Jangan khawatir, Haliza," tukas Garsini gegas merangkul bahunya dan memeluknya erat. Ia kemudian bangkit dan berusaha mengubah kemuraman wajahnya. Berjalan menghampiri ransel berukuran sedang yang sudah siap menunggu pemiliknya membawanya kembara itu, ia bertanya keheranan. "Hanya ini bawaanmu, hm…?"
"Mereka beramanat agar aku tak banyak bawaan. Semuanya sudah disediakan, kata Mak Tuo tu… Ngng, masih famili Abang Rashid," jelas dara Malaysia itu dengan wajah memerah.
Garsini tersenyum paham. Ia tentu saja tak ingin mengganggu sebuah keluarga yang hendak mempererat tali silaturakhim. Mereka keluarga calon suami Haliza dan khusus mengundangnya. Tentu bukan sekadar undangan biasa. Ada maksud lebih jauh di luar sekadar menampung seorang mahasiswi yang ingin menikmati libur panjang.
"Sungguh kau tak apa-apa?" Haliza telah siap berangkat. Masih diliputiperasaan bersalah, tapi ia pun tak mungkin membuyarkan rencananya. Garsini telah menyegarkan diri, tampaknya siap pula hendak bepergian. Wajahnya berseri-seri dan sarat percaya diri seperti biasa. Ia menggelengkan kepalanya.
"Aku baru ingat, sepupuku dari Holland akan libur di Tokyo. Sebaiknya aku jalan saja, melihat-lihat hotel yang pantas untuknya." Dalihnya tak dibuatbuat, itu memang benar dan ia baru mengingatnya lagi kini.
Keduanya meninggalkan kamar, jalan bergandengan menyusuri koridor yang telah lengang. Setelah beberapa saat lalu para gakusei yang kebelet menikmati liburan musim semi, bertemperasan hampir secara serempak.
Ditunggu oleh taksi-taksi yang telah mereka panggil, dan secara serempak pula mengklakson mereka tanpa ampun, hingga seolah balik menteror.
Mungkin karena sepagi itu mereka telah dipanggil. Padahal saat awal libur musim semi begini nikmatnya berkumpul bersama anak dan istri di rumah, atau merencanakan wisata ke tempat rekreasi yang sejak lama diidamkan.

***


Garsini tahu, pria dan wanita Jepang lebih suka menenggelamkan diri dengan pekerjaannya. Fenomena work-cholic dari saat ke saat kian merata, menyerbu seluruh lapisan masyarakat dan usia bangsa ini. Ada beberapa pengalaman mulai dari yang lucu, aneh dan geli mengenai hal ini, dialami Garsini selama mukim di Jepang.
Suatu hari Garsini melihat seorang nenek renta tengah sibuk mengumpulkan sampah di pelataran eki, stasion kereta. Ia tengah jalan bareng rekan-rekan kuliahnya dari berbagai bangsa, sebagian besar telah lama mukim di sini. Jadi, ia paling yunior di antara lima gadis dan tiga pemuda yang baru jalan-jalan di Shinjuku. Bermaksud balik ke Chofu dengan keiosen, kereta.
"What the matter with you, Miss Garusiniii…?" ledek Clarissa, gadis Austria ikut merandek demi melihat Garsini menghentikan langkahnya. Miss Garusini, demikian rekan-rekan Jepun kadang menyebutnya.
Garsini tertegun-tegun memperhatikan Abaasan, nenek renta yang tengah mengumpulkan sampah. Ada karung besar teronggok tak jauh dari sang nenek.
Sementara ia begitu seksama dan cermat memperhatikan suasana sekitarnya.
Sang Pembersih, pikir Garsini sambil mengagumi gerak-geriknya yang amat cekatan dan terampil. Dalam bilangan menit, ia telah memunguti lusinan bekas softdrink di sekitarnya.
Mana ada pemandangan macam ini bisa ditemuinya di Jakarta atau Depok. Coba bayangkan, orang Jepang yang terkenal sebagai turis pelit dikawasan wisata Indonesia. Para pengusaha elektronik, para eksekutif arogan di Jakarta. Menghuni apartemen canggih yang harga sewa per bulannya ribuan dolar, berseliweran dengan mobil-mobil mutakhir keluaran pabrik negerinya…
Menuju gedung-gedung pencakar langit, tempatnya bekerja!
"Garsini, jangan norak dong, malu-maluin bangsa Indonesia aja!" Tasya si Manado dari kejauhan memperingatkan Garsini."Baru lihat orang Jepang kerja, ya? Ups, tukang sampah nich yeee…!" cemoohnya dan bibirnya yang sensual manyun.
Gadis ini hanya selang satu semester tingkatannya dari Garsini. Tapi, ia sering merasa dirinya paling tahu, bahkan melebihi para seniornya. Sementara kala itu, Garsini untuk ke sekian kalinya jalan bareng rekan-rekannya. Baru satu dua kali jalan seorang diri.
"Ssst, hati-hati kalau ngomong. Ini di negeri mereka," bisik Garsini ketika akhirnya Tasya jadi tertarik, balik menghampirinya dan menjejerinya.
Clarissa sudah bisa menebak apa yang ada dalam pikiran kedua gadis Indonesia itu. Diam-diam ia kembali gabung dengan rekan-rekannya, melanjutkan perjalanan. Sementara Abaasan semakin sibuk memunguti sampah, bekas minuman dan kotak makanan. Karung di atas troli yang dijadikannya tong sampah itu isinya sudah padat, tapi terus juga dipenuhinya dengan sampah yang berhasil dipungutinya.
"Kasihan juga, ya…?" bisik Tasya menatap iba ke arah Abaasan yang kini kelihatan susah payah mendorong trolinya. Tapi ia sama sekali tak berniat turun tangan kecuali ada hal darurat yang bisa merubah keputusannya.
"Kita bantu, biar kerjaannya cepat selesai?" cetus Garsini merasa tak tahan lagi.
"Ngng…" Tasya menyadari mereka sudah tertinggal jauh dari rombongannya. Bagaimana kalau kesasar, berdua Garsini si pendatang di tempat asing begini? Memang sih ia lebih dulu mukim di Negeri Sakura. Namun, ia tak punya nyali untuk jalan seorang diri, selalu jalan bareng rombongan. Tasya sungguh kaget saat diketahuinya kemudian Garsini sudah berani jalan seorang diri. Bagaimana mungkin dirinya yang lebih senior bisa dilangkahi si anak bawang, pikirnya terheran-heran.
Ketika Tasya mempertanyakannya, apakah Garsini tidak merasa takut jalan sendirian di negeri asing? Garsini hanya tersenyum manis, bila terus didesaknya barulah ia memberi jawaban yang ajaib di telinga Tasya.
"Kenapa mesti takut? Karena ada Allah Sang Maha Penunjuk, Dialah yang senantiasa mengarahkan kaki-kakiku ini hingga tak nyasar…"
Ugh, dia kira aku tak punya Allah, pikir Tasya. Tapi Bapa dan anak Allahku itu sudah lama tak pernah kutengok di gereja. Mungkin sejak keluarganya pindah dari Manado ke Jakarta. Sejak Mami cerai dengan Papi, anak-anak kemudian bertemperasan dititipkan ke sanak famili di pelosok Tanah Air. Lindungi kami, anak-anak korban perceraian ortu, Bapa!
Garsini telah melesat ikut turun tangan, menjejeri nenek tua itu mendorong trolinya. Tasya tak berhasil menemukan rombongannya lagi, jadi terpaksa mengikuti jejak Garsini. Mereka pun asyik membantu sang Abaasan.
Sesekali berhenti, memunguti sampah yang sesungguhnya hanya satu-dua saja tampak di sekitar mereka.
"Ahaaa… asyik juga bisa bantu orang Jepun itu, ya? Tanpa pamrih begini, ada pahalanya, iya kan?" Tasya terengah-engah saat menghambur ke dalam keiosen, kereta dari Shinjuku ke Chofu.
Garsini hanya tersenyum lega, bisa bergabung lagi dengan rombongannya dalam satu gerbong, setelah hampir setengah jam membantu Abaasan di pelataran eki. Rekan-rekannya hanya senyum-senyum kecil melihat kelakuan kedua gadis belia itu, usia mereka masih tergolong teeneger, di bawah duapuluh.
"Lihat, mereka mengucapkan terima kasih kepada kalian," Clarissa nyeletuk sambil menuding-nuding keluar jendela. Garsini melongokkan kepalanya melalui jendela kaca di sampingnya. Tampaklah Abaasan dan beberapa kakek yang tahu-tahu sudah bergabung dengan mereka, memunguti sampah itu. Kini barisan lansia itu tersenyum senang dan melambai-lambaikan tangan ke arah dirinya dan Tasya.
"Sayonara, ja mata…!" seru mereka bak dikomando saja.
"Apa katanya?" tanya Garsini bingung. Mulai mencium keanehan.
"Selamat tinggal, sampai jumpa lagi…" jawab Maria Linares, gadis Manila.
"Lain kali kalian harus lebih rajin mengumpulkan sampah bersama mereka, ya?" sahut Clarisa sambil ngakak.
Geeerrr… rekan-rekan lainnya seketika tertawa terbahak-bahak.
Sepanjang sisa perjalanan itu, Tasya lebih banyak bersungut-sungut menyesali kelakuan mereka. Sementara Garsini hanya mesem-mesem tulus. Ia baru tahu, ada kebiasaan para lansia Jepang melakukan bakti sosial, antara lain memunguti sampah pada hari libur atau saat-saat tertentu.
Jadi, Abaasan itu bukan tukang sampahlah, bo!

***

Kehebohan luar biasa itulah yang telah membangunkan Garsini dari tidurnya di pagi buta. Sekarang asrama putri ini terasa lengang, senyap. Mungkin tinggal mereka berdua yang belum angkat kaki dari tempat ini. Setidaknya dari lantai dua, tempat tinggal sekitar seratus mahasiswa asing dari berbagai warganegara.
"Sepupumu, ya?" Haliza melirik gadis itu, ingin tahu. Ada kebekuan mengapung di tengah mereka. Garsini tak menyukainya. Ia cepat ingin mengubah suasana hati mereka kembali. Dalam keriangan, semangat dan keikhlasan seperti biasanya mereka rasakan selama ini.
"Iya, Peter, putra Tante Arnie yang mukim di Holland. Rasanya aku pernah mengungkitnya kepadamu… Dia pernah berencana melanjutkan studi di Jepang. Tapi entah mengapa urung. Ee, tahu-tahu kabarnya dia kini telah menjadi seorang tentara Kerajaan Belanda," katanya riang dan tulus.
Haliza tersenyum lega mendengar keriangan suara sohibnya.
"Baiklah, hati-hatilah dengan sepupumu itu," bisik gadis Malaysia itu saat akan berpisah di teras asrama. Semangat dan keriangan telah kembali mewarnai wajahnya.
Sebuah taksi telah menantikan Haliza. Hanya pada kesempatan istimewa saja para gakusei memanggil taksi, mengingat tarifnya tinggi. Takkan terjangkau oleh uang saku yang mereka peroleh dari pemerintah Jepang melalui beasiswa. Hari ini memang pengecualian. Mereka berhak bersenang-senang setelah menjalani jadwal aktivitas yang begitu padat, sarat tekanan luar biasa. Hanya kawula muda pilihan saja yang sanggup menjalani hari-hari "neraka" macam itu.
"Kaulah yang mesti hati-hati dengan keluarga Raja di Raja Malaysia tu, Haliza," balas Garsini dan ia sungguh mulai mencemaskan hasil kunjungan sahabatnya kelak. Ia tak ingin melihat sohib tercinta terluka. "Dan kuharap kau takkan… mmh, seandainya nanti…"
"Yeah… tolong restui aku, ya, Garsini?" tukas Haliza terdengar menghiba.
Keduanya berangkulan dan berpelukan erat. Seolah mereka takkan pernah bersua kembali.
"Lekaslah masuk!" Garsini mendorongnya masuk taksi dan melemparkan ranselnya ke jok belakang.
"Assalamualaikum," ujar gadis Malaysia itu tertawa.
"Waalaikumussalam," balas Garsini. Sebuah salam yang kerap keduanya perdengarkan kala bertemu atau berpisah, dan membuat rekan mereka sering keheranan atau hanya tersenyum maklum.
***





Bab 2





Bandara Narita, suatu petang yang sejuk. Pesawat KLM beberapa saat lalu telah mendarat mulus di landas pacu bandara yang terkenal dengan teknologi canggih se-Asia itu. Para penumpang mengalir keluar dari pintu kedatangan. Petugas memeriksa bawaan mereka dengan ketat. Belakangan suasana bandara di seluruh dunia dicekam ketakutan dan kengerian luar biasa Ini diakibatkan oleh sejumlah peristiwa pemboman hebat di berbagai belahan dunia.
Peter, seorang pemuda berseragam militer antri dengan sabar di antara para penumpang yang baru tiba dari Holland. Sekilas ia melayangkan pandangannya ke kejauhan. Adakah anak bawel itu di antara para penjemput?
Aku bukan anak bawel lagi, Peter. Aku sudah dewasa, sudah jadi akhwat…
Ketika itu Garsini mahasiswi di Universitas Indonesia. Begitu bangga dia menceritakan tentang rekan-rekan apa itu, kawatnya? Seperti apa rupanya sekarang anak bawel itu? Masih tomboykah dia, rambut cepak dan celana jeans belel bolong-bolong?
"Yokoso Nihon e irasshaimasen…4" seorang pramugari yang melintas di sebelahnya, iseng menyapa pemuda itu. Tentara Kerajaan Belanda. Ganteng sekali dia. Harum jantan meruap dari tubuhnya, hmm!
"What?" Peter celingukan. Ia telah selesai melalui pemeriksaan, keluar berdampingan dengan pramugari yang memiliki wajah mirip boneka Jepang koleksi ibunya itu. "Exuse me… Anda bicara apa?" susulnya dalam bahasa Inggris.
"Anata no o-namae wa nan desu ka? Ryoko wa tanoshikatta desu ka?"5a
Gadis Jepang itu semakin tergairah menggodanya. Ia tahu gerak-geriknya tengah diperhatikan oleh rekan-rekannya dari kejauhan.
Namun, tiba-tiba sebuah bayangan berkelebat ringkas di hadapannya.
"Hai, Broer Peter!" Garsini tersenyum ramah kepada sang pramugari.
"Domo arigato5b… Dia sepupu saya dari Holland," katanya dalam bahasa Jepang yang lumayan, membungkuk hormat.
"Dia tak bisa bicara Nippon, shitsurei desu ga6…"
"Sayonara, sayonara… Sampai jumpa!" balas sang pramugari tersipu malu dan menatap wajah keduanya sekilas.
Mirip apanya, ya? Sepupu dari Holland, dia sendiri dari mana? Tampang kalian mirip orang Jepang. Apalagi si tentara itu, mirip sekali Takeshi Kaneshiro… Long Vacation!
Gadis Jepang itu gegas-gegas berlalu, menuju beberapa rekannya yang masih memperhatikan pagelarannya sambil cekikikan. Peter masih berdiri rikuh memandangi makhluk jelita, enerjik dan terus-menerus tersenyum bandel ke arahnya. Ooo, pasti ini dia si bawel Garsini Siregar, pekiknya dalam hati.
Sekejap Peter sudah memeluk gadis itu. "Huss, jangan begini!" Garsini merenggangkan pelukan sepupunya.
"Kamu adikku!" Peter mejawil hidungnya seperti kebiasaan saat mereka kecil dahulu.
"Tidak juga, kamu yang adikku. Sebab Mamaku kakak Mamimu," balas Garsini mulai memperlihatkan keras kepalanya.
Peter tertawa lebar, kemudian tiba-tiba teringat sesuatu. "Hei, tadi itu apa sih? Kamu bicara apa dengan pramugari itu?" Seketika ia memprotes dalam bahasa Indonesia yang lumayan bagus. Tentu saja mengingat dia telah meninggalkan Indonesia sejak umur lima tahun. Tante Arnie pasti telah berusaha keras mewariskan kepadanya, bahasa pemersatu bangsanya itu.
"Dia mengucapkan selamat datang di negerinya, menanyakan nama juga tentang perjalananmu," Garsini sambil melirik arlojinya.
"Kamu sama sekali tak beri kesempatan, ya? Coba bilang dari tadi, aku akan berikan kartunama yang bagus untuknya." Garsini tak bisa lama-lama di sini, harus mencari tempat untuk shalat maghrib. Karena ia tahu, jika mengantar Peter ke hotel yang telah dipesannya akan memerlukan waktu yang cukup panjang.
"Ada apa?" tanya Peter cemas dan menangkap kegelisahannya.
Garsini berusaha tetap tersenyum riang. "Tak ada apa-apa, tapi aku harus shalat maghrib dulu. Mmh, begini saja kita ke kafetaria itu dulu, ya? Sementara aku shalat kau bisa menikmati…"
"Sake! Ya, aku mau sake Jepang!" kata Peter menukas cepat.
"Huss!" Garsini tertawa geli melihat semangat sepupunya yang super tinggi itu. Tapi diantarnya juga sepupunya ke sebuah coffee house. Matanya telah menangkap suatu sudut yang lumayan sepi di sekitar situ.
Ketika Garsini menunaikan shalat maghribnya di sudut sepi itu, mata Peter tak lepas-lepas mengawasi kelakuannya. Apa yang terjadi dengan anak itu? Begitu taatnya dia menjalankan syariat agamanya. Di tengah kesibukan tibatiba harus shalat. Apa dia tak menemukan kesulitan hidup seperti itu, di tengah bangsa asing begini?
Peter teringat ibunya yang masih mengaku orang Islam, tapi belangbentong menunaikan shalat lima waktunya. Seketika pemuda itu merasa penasaran sekali. Begitu Garsini kembali menghampirinya, ia langsung menohoknya dengan pertanyaan, "Apa menjadi Muslimah itu sulit, Garsini?"
"Insya Allah tidak!" sahut Garsini mantap membuat Peter terperangah.
***
Setelah satu malam tinggal di hotel bergaya Barat, Peter memutuskan menerima saran sepupunya, pindah ke ryokan7 ala Jepang. Ia sangat mengandalkan sepupunya, terutama berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya. Ketika Garsini menunjukkan sebuah penginapan tradisional, wajah Peter langsung ditekuk lucu.
"Bagaimana kalau kamu nggak ada nanti? Bisa bicara apa aku di sini?"
tanyanya seperti bocah ketakutan, hingga Garsini tertawa geli.
"Nanti kuberikan kamus praktis bahasa Jepang. Dulu pertama datang aku juga memanfaatkannya. Itu akan sangat membantumu," Garsini menenangkan, seketika dipandanginya penampilan sepupunya lekat-lekat.
"Kamu seorang serdadu, Broer.8 Hmm... Kalau Opa masih hidup apa
komentarnya soal profesi yang kamu pilih ini, ya?" Garsini menjawil pet hijau yang bertengger di kepala sepupunya.
"Opa akan menangis darah," gumam Peter terdengar menyesal. Mereka telah hafal betul kisah heroik Opa tercinta. Di zaman revolusi 1945, kakek mereka berjuang dengan jiwa raga, darah dan air mata melawan penjajah. Di negerinya kolonialis itu identik dengan Belanda, Jepang dan Portugis. Tapi sekarang, cucunya justru menjadi abdi Kerajaan Belanda. Ironisnya hidup ini!
Peter kelihatan masih merasa menyesal, tapi tak bisa berbuat apa-apa.
Garsini menepuk tangannya dan berkata riang,"Jangan khawatir, Opa nggak bilang apa-apa tuh waktu terakhir aku menziarahinya di Cikutra. Jangan merasa bersalah, ini jalan kita…"
"Bercanda kamu… It's funy!" Peter seketika tergelak geli. Siapa pernah mengira sepupunya yang sejak kecil bercita-cita studi teknik informatika di Jepang, malah menjadi seorang militer? Siapa mengira pula kalau ia yang sejak lama ingin menjadi dokter, bahkan kemudian berusaha keras mendapatkan beasiswa teknik kedokteran… Tapi sekali lagi, inilah jalan-Nya!
"Kenapa kamu nyasar ke teknik informatika, Garsini?" tanya Peter.
Siang itu mereka berjalan kaki menuju sebuah penginapan. Untuk pertama kalinya Garsini melihat sepupunya melepas seragam militer, dan menggantinya dengan pakaian santai. Celana jeans hitam dengan t-shirt berlengan sportif. Sekilas Peter tampak mirip dengan para pemuda Jepang lainnya yang berlalu-lalang di sekitar mereka. Ayah Peter adalah etnis Manado, mereka bercerai dan ibunya menikah lagi dengan pria Belanda.
"Sejak SMP kutahu kamu sudah bercita-cita menjadi dokter, kan?"

***


Garsini tak ingin mengenang saat-saat tak mengenakkan pada minggu pertama keberadaannya di Tokyo. Ada kesalahpahaman, kesalahan teknis dan entah apalagi. Nama lain masih berasal dari Indonesia, ujug-ujug menyerobot posisinya di teknik kedokteran. Sementara namanya terdaftar sebagai mahasiswa teknik informatika.
Hari-hari itulah ia bertemu Mayumi, mahasiswi sastra yang banyak membantunya. Dara Jepun itu memberi banyak informasi yang memang sangat dibutuhkannya kala itu. Ia sampai rela mengorbankan waktu liburnya sendiri, menemani Garsini ke beberapa tempat. Melepas rasa frustasi yang sekejap membelenggu diri gadis itu, kala menemukan kenyataan yang tak sesuai dengan harapannya.
Pihak daigaku merasa tak bersalah cenderung langsung angkat tangan, menyilakannya untuk mengurus kesalahkaprahan ini ke Kedubes RI. Mungkin juga ke pihak panitia pemberi beasiswa di Jakarta. Sungguh sangat melelahkan, hanya menimbulkan rasa frustasi dan putus asa saja.
Kadang Haekal ikut serta bersamanya dalam melacak kekeliruan itu, tapi kemudian mereka menyadari hanya menemukan jalan buntu. Sementara masa perkuliahan sudah akan dimulai. Lagi pula Haekal tak bisa terus-menerus mendampinginya, karena ia pun harus menyelesaikan urusannya sendiri.
Kembali hanya berdua Mayumi, ia menuntaskan permasalahannya.
Sehingga akhirnya mereka mendapatkan jalan keluarnya. Aku harus menerima kenyataan ini. Ya, lebih baik kuterima saja daripada harus kembali ke tanah air!
Tak bisa terbayangkan oleh Garsini, bagaimana hancurnya seluruh bangga ayahnya jika ia kembali sebagai seorang pecundang!
"Pasti dia anak orang penting dari Indonesia, heh?" komentar Peter.
"Dia… siapa?" Garsini tersentak. Mereka sudah sampai di depan meja resepsionis ryokan. Tak ada siapapun di situ. Keduanya menunggu beberapa saat dengan sabar.
"Orang yang sudah menyerobot posisimu itu!" sergah Peter. Wajah Garsini sekilas tampak memerah. Pikirannya sesaat melayang ke pulau Pusan.
"Naah, kamu melamunkan siapa?" ejek Peter. "Ayo katakan kepadaku, kamu sudah punya pacar kan?"
"Ah, kamu! Tak ada pacaran di kamus hidupku…" elak Garsini cepat.
"Oya, aku pernah bertemu cewek itu." Garsini tersipu malu seolah telah dipergoki. Peter tersenyum menang.
"Jadi seorang cewek, heh, cantikkah?"
"Tentu saja, dia sangat cantik dan glamour…" Garsini tertawa kecut.
"Pasti nggak pantas jadi anak teknik kedokteran, ya?"
"Ngng… lihat saja nanti!" Peter menggeram. "Apa dia tahu kamulah orangnya?" Garsini menggeleng ragu. Dia takkan lupa bagaimana gerak-gerik memikat, bak burung merak sedang pamer keindahahan. Cewek itu angkuh dan sangat mengetahui persis apa yang diinginkannya.
Dalam tempo relatif singkat dia telah menjadi bintang kecil di fakultasnya, terutama sebagai biang pesta dan mengencani banyak mahasiswa asing.
Begitulah gosip yang beredar di kalangan rekannya di asrama. Dia sendiri tidak tinggal di asrama, kabarnya di sebuah apartemen indah di kawasan elit.
Saat secara kebetulan di syokudo, aula besar di kampus, berhadapan langsung dengannya, ia sempat berpikir sambil menahan kegeraman hatinya.
Bagaimana nurani dan moral gadis ini, ya? Hanya karena dia anak orang penting, maka dengan mudah merampok keberuntungan anak lain? Tapi bisakah dia disalahkan atas semua ini? Bagaimana kalau dia hanya korban dari ambisi orang tuanya? Kasihan sekali kalau begitu!

***


Seorang wanita paro baya mengenakan kimono bagus menyambut kedatangan mereka. Ia tersenyum ramah dan membungkukkan tubuhnya dengan santun. "Konnichiwa gakusei-san… irasshaimasen,"9 katanya ramah.
"Konnichiwa Okusan, domo arigato gozaimasu10," balas Garsini tak kalah santun, membungkukkan badannya dengan baik sekali.
9 "Selamat siang… Selamat datang di Jepang."
10 "Selamat siang Nyonya, terima kasih."
Woo, cara membungkuk ala Jepang ini telah ia pelajari secara khusus dari Mayumi. Pemilik ryokan tampak terpesona, menatap wajah Garsini sambil tetap tersenyum ramah. Sepasang matanya menyiratkan penghormatan dan kekaguman seorang ibu terhadap anaknya.
"Kamu gakusei-san, dari Universitas Tokyo, ya?" ujarnya langsung menebak. Ia mengerutkan keningnya, mengira busana yang dikenakan gadis itu adalah mode mutakhir anak-anak muda.
"Iya… Bagaimana Nyonya tahu?" Garsini menatapnya terheran-heran.
Sesungguhnya mudah saja bagi Okusan untuk menebak asal mahasiswa yang datang ke penginapannya. Kebanyakan mahasiswa Universitas Tokyo sangat khas, memiliki sorot mata cerdas, percaya diri dan tahu tatakrama tradisional Jepang.
Tapi mata Garsini sama sekali tidak sipit. Ia memiliki sepasang mata lebar yang bagus sekali. Dan busana yang dikenakannya, sunguh menarik, pikir wanita itu."Gakusei-san mahasiswa asing, ya kan?" tanyanya ramah sekali.
Garsini mengangguk. "Begitulah, Okusan…"
"Tapi bahasa Jepangmu sudah lumayan," pujinya tulus.
"Domo arigato gozaimasu…" Garsini sudah terbiasa dengan tatapan aneh begitu. Mereka memandang heran ke arah busana yang dikenakannya. Itu tak membuatnya tersinggung apalagi rendah diri.
Di kampusnya Garsini dikenal sebagai mahasiswi teeneger, enerjik, sangat cerdas dan taqwa menjalankan syariat agamanya. Kebanyakan mereka mengagumi tata cara pelaksanaan ibadahnya yang amat disiplin. Mereka kerap mendapatinya shalat, tepekur membilang tasbih atau shaum pada hari-hari tertentu. Sejauh ini, Garsini tak mengalami banyak hambatan.
Rekan-rekannya menghargai keberadaannya sebagaimana mestinya. Ya, selain tatapan aneh, selebihnya Garsini merasa hepi-hepi saja menikmati masa perkuliahannya. Empat tahun kesempatan emas yang diberikan mereka kepadanya, ia selalu berharap mampu menjalaninya lebih singkat.
Tiba-tiba Okusan balik menoleh ke arah Peter dengan tatapan sinis, kecewa dan marah. "Kamu sangat beruntung bisa menggaet gadis cantik dan kelihatannya tahu adat ini. Tapi ingat, kami tak suka kalau kamu hanya memanfaatkannya!" cerocosnya tajam dan ketus sekali.
"Mentang-mentang tampangmu mirip Takeshi Kaneshiro, hah! Sungguh menjijikkan, memalukan nama bangsa saja…" gerutunya pula saat melihat Peter masih tersenyum-senyum.
Peter mendadak terdiam dan celingukan, bingung, kenapa tiba-tiba ia diperlakukan galak dan ketus oleh wanita itu. Bahkan sepertinya dimarahi?
Untuk sesaat Garsini pun terkesima, perlahan wajahnya merah padam. Namun kemudian ia segera menyadari kesalahpahaman. Ia cepat memutuskan untuk meluruskannya, sebelum situasinya semakin parah bahkan bisa berakibat fatal.
Berabe, apa kata rekan-rekannya di daigaku nanti!
"Kami bersaudara, Okusan. Percayalah, dia sepupu saya," Garsini bicara serius dengan wanita itu. Menjelaskan bahwa ia telah salah paham menganggap Peter pemuda Jepang yang telah menggaet gakusei asing.
Sementara Peter semakin bingung. Begitu Garsini selesai bicara, Okusan balik menghadapi Peter kali ini dengan sikap santun yang sangat berlebihan.
"Sumimasen… Koko ga machigatte iru to omoimasu… I'm verry sorry,"11a katanya dalam sikap amat malu dan merasa sangat bersalah.
Okusan dengan serius sekali masih akan melanjutkan acara bungkukmembungkuknya, jika Garsini tak segera mencairkan suasananya. Membisikkan sesuatu ke telinga Peter, hingga pemuda itu tertawa ditahan.
"Tidak apa-apa, Madame," ujar Peter ramah dalam bahasa Inggris.
"Tampang saya memang mirip orang Jepang. Sudah sering saya alami hal seperti ini di Holland. Bahkan di negeri leluhurku sendiri, Indonesia… Aha, ternyata Okusan paham bahasa Inggris!" pujinya pula tulus.
"Ooh, Indonesu… saya tahu itu di Bali?" komentarnya sok tahu.
Beres urusan pesan tempat, keduanya melihat kamar yang telah dipesan.
Ditemani oleh seorang putri Okusan yang mendekati mereka dengan sikap amat pendiam, serba canggung, rikuh dan gerak-gerik lamban. Sehingga sepintas lalu 11a "Maafkan… Saya kira ada kekeliruan di sini… maafkan saya,"
pun Peter sudah bisa menarik kesimpulan, gadis itu seorang terbelakang mental.
Itu langsung disampaikannya kepada Garsini.
"Psst, sok tahu kamu!" tegur Garsini menatap iba ke arah gadis bertubuh gemuk pendek itu. Dalam hati ia terpaksa mesti membenarkan kesimpulan kilat sepupunya. Hebat, pikirnya, seorang militer muda dan punya pengetahuan atau bakat psikolog juga.
Sementara Okusan harus melayani para tamu yang mulai berdatangan.
Kebanyakan tamunya adalah turis asing yang berminat merasakan nuansa tradisional Jepang. Biasanya mereka menginap satu-dua malam sebagai transit, kemudian akan melanjutkan perjalanan ke lokasi-lokasi wisata lainnya.
Tampaknya Peter merasa puas dan menyetujui untuk tinggal di situ selama beberapa hari. Ketika keduanya kembali ke depan, Okusan telah menanti mereka dengan wajah harap-harap cemas.
"Jangan khawatir, Okusan," Garsini tersenyum lembut kepadanya. "Dia setuju untuk menginap di sini beberapa hari…"
"Haik, kami sangat beruntung, domo arigato," Okusan tampak lega sekali.
"Nihon-go wa wakarimasen… sumimasen!"11 tiba-tiba Peter menyela, pamer hasil studi kilatnya dari kamus praktis pemberian Garsini.
Okusan dan Garsini menoleh ke arahnya, menatap Peter dengan surprise. Peter acuh tak acuh melanjutkan hasil pembelajaran praktisnya selama di dalam kamar, ketika Garsini tengah memperhatikan segala sesuatu di sekitarnya sambil berusaha keras mengajak berkomunikasi putri Okusan. Usaha yang sia-sia, gadis itu hanya menyahut dengan mengiyakan atau mengangguk.
"Ei-go de hanashite kudasai… yeah, yukkuri... Wakarimasu ka?"12
"Haik, wakarimasu!"13 sahut Okusan sambil lagi-lagi membungkukkan tubuhnya, masih dalam perasaan bersalah.
"Okusan, eh, apa itu ya, Garsini? Yeah, beautiful to!" Peter mengerling nakal. Wajah Okusan merona tapi ia kembali membungkuk. "Haik!" katanya.
Garsini menahan tawa, merasa iba juga kepada Okusan. Disambarnya lengan sepupunya dan berkata, "Sudah, jangan bercanda lagi. Kita cari makan di luar, hayoo!"
"Haik! Haik! Sayonara, Okusan!" Peter sambil tertawa bandel ke arah pemilik ryokan.
"Kami pergi dulu, Okusan…" kata Garsini pamitan.
Ups, hampir saja ia mengucap salam lekum-nya.
"Sayonara, gakusei-san, ja mata. Sampai jumpa!" balas Etsuko-san, lagilagi mengantar kepergian mereka dengan membungkuk takzim.
"Lebih hormat daripada orang Jawa, ya?" Peter tertawa lepas dan geleng kepala sesampai mereka di luar. Ia pernah tiga kali mengunjungi Indonesia, pergi ke Yogyakarta dan Bali. Mereka berjalan kaki menuju restoran yang tak jauh dari penginapan.
"Kamu mau mencicipi sushi atau kujira?" tanya Garsini ketika sudah sampai di sebuah restoran kecil.
"Aku mau makan semuanya, semuanya saja!"
Garsini menatapnya keheranan. Apakah dia selalu begitu antusias?
"Semuanya, sungguh semuanya?" tanya Garsini minta ketegasan.
"Tentu saja, jangan sia-siakan kesempatan selama di Negeri Ninja ini.
Semuanya, yap!" Peter amat bernafsu, kemudian cepat sekali memesan kepada seorang pelayan. "Aku mau yang ini, ini dan ini juga ya…"
Ia menunjuk contoh makanan yang dipajang di rak, replika makanan itu selalu tampak menggiurkan dan mengundang selera siapapun yang melihatnya. Garsini menatap daftar menunya dengan cemas, tapi membiarkannya saja.
Beberapa menit kemudian, Garsini melihatnya kepayahan terhuyunghuyung menuju kloset. Ketika ia kembali wajahnya tampak pucat pasi, masih terengah-engah tentara Kerajaan Belanda itu menunjukkan protesnya.
"Kamu kelewatan, Garsini," keluhnya. "Jangan pernah lagi ajak aku ke restoran Jepang itu, terutama sushi14 dan kujira15-nya. Mereka betul-betul mau meracuni perutku, hehhh, aduuuhhh…"
14 potongan kecil makanan mentah hasil laut di atas nasi Garsini menatapnya terkejut dan iba sekali, tak menyangka keadaan sepupunya ternyata jauh lebih parah daripada dirinya, ketika pertama kali datang dan "dijebak" begitu oleh Tasya. Kedua jenis makanan khas Jepang itu memang sungguh-sungguh... nggak cocok dengan perut mereka!

***

Nakajima-san sudah tampak di depan gedung MeSci, Nasional Museum of Emerging Science and Innovation. Ia memang tinggal di kawasan itu. Lelaki berumur tujuhpuluhan itu menyambut kemunculan Garsini dengan wajah berseriseri.
Tampaknya ia sudah siap bepergian, mengenakan pantalon warna coklat tua dan kaos berleher di balik jas wol santainya.
Ekor mata Garsini melihat tas berukuran sedang, dan sebuah bingkisan dikemas dengan kertas bagus teronggok di sebelah lelaki tua itu. Mungkin bingkisan spesial untuk cucunya, pikirnya.
"Ohayo gozaimasu16, Nakajima-san," sapa Garsini memberi salam.
"Gozaimasu domo arigato," katanya balas membungkukkan tubuhnya.
Waah… anatawa kirei desu ne!"
"Terima kasih, terima kasih," paras Garsini merona dadu. Meskipun ia mulai menyadari, betapa mudahnya orang Jepang memuji. Kalimat seperti itu, wah kamu cantik sekali. Atau, wah, sutekina fuku desu ne… bajunya bagus ya?
Ia sangat sering mendengarnya. Dari rekan-rekan Nippon di kampusnya, bahkan dari nenek-nenek, orang tak dikenal yang ditemuinya di gerbong kereta. Tapi pujian dari Nakajima-san terdengar tulus di kuping Garsini.
"Akhirnya kamu mau datang juga, Garsini-san. Aku sempat mengira kamu menolak tawaranku melalui Mayumi-san tempo hari."
"Tentu saja saya datang," suara Garsini agak tercekat. Setiap kali bertemu Nakajima-san, ia selalu terkenang akan mendiang kakeknya. Usia mereka sebaya kalau Opa masih ada. Opa pergi terlalu cepat, bahkan sebelum berhasil menerbitkan memoar yang sedang disusunnya.

***





Bab 3






"Jangan khawatir, aku takkan pergi lama. Hanya beberapa hari, mungkin tiga-empat hari saja," janji Nakajima-san sungguh-sungguh. Rasa tanggung jawabnya yang tinggi, sungguh membuat hati Garsini terharu sekali.
"Saya ada banyak waktu musim libur ini," tukas Garsini menenangkannya.
Tapi sesaat kemudian, ia baru teringat lagi kepada sepupunya. Peter memintanya ikut dengan rombongan tur keliling Jepang. Mereka turis remaja Belanda yang dikenal Peter di hotel, tempat menginap sebelumnya.
"Yah, setidaknya sampai Anda kembali akhir pekan…" tambah Garsini.
"Ini sungguh tidak akan lama," janji Nakajima-san. "Yang penting bisa bertemu Aiko, cucuku semata wayang… Kau tahu, putraku Kurasawa seorang eksekutif penting yang sangat sibuk. Selama ini mereka tinggal di Korea, begitu bisa liburan ke Jepang langsung menuju Saporo, tempat keluarga menantuku."
Garsini mengangguk simpati. Ia bisa merasakan kesepian dan kesunyian hari-hari sang kakek. Mayumi banyak cerita tentang Nakajima-san, yang kerap diakuinya sudah seperti kakeknya sendiri. Di Tokyo lelaki tua itu tak memiliki keluarga lain sejak istrinya meninggal sepuluh tahun yang silam.
Di masa mudanya Nakajima telah membaktikan hidup dan ilmunya sebagai staf pengajar di Universitas Tokyo. Ketika pensiun ia memutuskan untuk menjadi staf museum sains terbesar di Tokyo ini.
Garsini pernah berhutang budi, berkat rekomendasi Nakajima-san beberapa urusannya di daigaku mendapat kemudahan; memanfaatkan fasilitas terknologi terkini di fakultasnya sebelum perkuliahan dimulai. Rekan-rekannya belakangan baru bisa mengikuti jejaknya. Seperti halnya dengan Mayumi, sahabat Jepun-nya itu. Sehingga rekan mereka kerap menyindir keduanya sebagai cucu Nakajima. Tiba-tiba kakek itu menyerahkan sebuah amplop kepada Garsini.
16 "Selamat pagi, Pak Nakajima."
"Di sini kutuliskan daftar yang harus kamu pelajari, juga ada uang saku untukmu," jelasnya tersenyum hangat.
"Oh, tapi Pak Nakajima…"
"Jangan ditolak, aku berterima kasih kepadamu. Kamu mau gantikan aku, itu sungguh membantu mengingat ini musim libur. Teman-teman sebayamu ribut melancong…"
"Saya memang tidak punya rencana pergi, Pak…" Garsini seketika merindukan mendiang kakeknya, tanah airnya dan rumahnya di Depok. Ini baru beberapa bulan, bagaimana kususuri hari-hariku mendatang selama empat tahun? Mungkin ditambah dua tahun lagi untuk program S2 kalau mereka masih memberiku beasiswa. Ya Allah, kuatkanlah hatiku untuk bertahan di negeri orang ini.
"Kakek, Uji, panggil begitu, ya?" tukas Nakajima-san meminta dengan nada tulus, seolah bisa menangkap kerinduan gadis itu.
Mata Garsini terasa menghangat. "Uji-san…"
"Bagiku ini kesempatan sangat baik bertemu anak-menantu dan cucu.
Mereka keluargaku. Mungkin aku takkan punya kesempatan lain."
Ada yang mengapung dari sepasang mata Uji-san, seperti kapas-kapas berarak di langit musim semi. Ia bergulung-gulung dan sebentar lagi bisa jadi akan berubah menggumpal menjadi awan. Aaah, ada apa ini? Garsini seketika merasakan dingin. Ada sesuatu yang tak beres, menanti, pikirnya was-was.
Mayumi datang berlari-lari menghampiri mereka. "Taksinya sudah menanti di seberang," katanya terengah-engah.
Ia sudah janji untuk mengantar Nakajima ke bandara. Wajahnya yang putih tampak memerah segar. Begitu sudah ada di hadapan mereka, ia membungkuk cepat. Roknya yang pendek berkibar diterpa angin nakal musim semi.
Mayumi prototipe gadis Jepang modern, selalu tergila-gila akan segala sesuatu berbau Barat dan serba modern. Perbedaan pembawaan yang sangat kontras di antara Garsini dengan Mayumi, tak membuat goyah tali persahabatan mereka. Garsini mengagumi bakti gadis itu terhadap ibunya dan seorang kakak lelakinya.
Sebaliknya Mayumi juga amat mengagumi kemandirian dan rasa percaya diri Garsini. Dan keteguhan gadis Indonesia itu dalam menjalankan syariat agamanya. Islam, sesuatu yang kadang menggugah rasa ingin tahunya. Tapi baru sebatas ingin tahu lain tidak.
"Oyaho gozaimasu, Mayumi-san…" nadanya terdengar menegur, hingga Mayumi tersipu-sipu, jengah. Seharusnya ia yang lebih dahulu menyapanya bukan sebaliknya.
"Sumimasen… maafkan terlambat, tadi saya harus meyakinkan Okusan agar pergi ke dokter," Mayumi berusaha tersenyum riang.
"Bagaimana keadaan Okusan?" tanya Pak Nakajima kali ini terdengar khawatir. "Belum baik jugakah?"
"Okusan keras kepala, tapi tadi sudah janji akan menemui dokter Ikeda di klinik perusahaannya." Ada kemuraman membersit di wajah porselinnya.
"Masih batuk-batuk juga, ya Mayumi?" Garsini pernah mampir beberapa kali ke rumah sahabatnya. Menemukan Mayuko-san sering batuk hingga tampak kewalahan.
"Yah," sahutnya agak muram, tapi ditatapnya Garsini dengan hangat.
"Terima kasih, ya, mau merangkap tugasku dan tugas Pak Nakajima. Baikbaikkah?"
"Semuanya baik-baik saja, silakan kalian berangkat," ujar Garsini.
"Nanti aku mampir tengah hari. Kita akan punya waktu leluasa mereguk ilmu pengetahuan sepuasnya di sini, oke?!" janji Mayumi.
Gadis itu bersikeras ingin mengantar Pak Nakajima sampai bandara Narita. Janjinya telah dibuktikan dengan bangun di pagi buta, gegas meninggalkan rumahnya di Tokyo, lalu seperti Garsini harus menempuh perjalanan dengan taksi dan boat.
Nakajima sekali lagi memberi petunjuk singkat kepada Garsini, mengenai teknik pelaksanaan sebagai relawan di museum kesayangannya. Jarang sekali museumnya menerima relawan berusia muda, kebanyakan para pensiunan dari berbagai instansi. Kali ini memang pengecualian. Musim libur dan mereka sangat kekurangan relawan.
Garsini agak merasa bersalah, kenapa bukan kemarin ia mendatanginya, agar lebih leluasa berkeliling museum didampingi Nakajima-san. Tentu akan berbeda rasanya bila dilakukan lain orang. Nakajima-san pakar di bidangnya, pengetahuannya sangat luas sebagai insinyur teknik mesin.
Mayumi sudah mewantinya sejak dua minggu lalu. Tapi sepanjang hari kemarin ia menjadi guide Peter. Mereka berkeliling museum kepolisian, gedung kekaisaran, taman Ueno dan berakhir di restoran Indonesia, milik seorang artis Indonesia yang menikah dengan pebisnis Amerika.
"Haik, sudah siap berangkat sekarang, anak-anak?" tanya Nakajima.
"Sayonara, ja mata… Selamat jalan, sampai jumpa lagi," Garsini membalas penghormatan keduanya.
Garsini menangkap mata indah Mayumi mengerling ke arahnya sambil tersenyum lucu. Mungkin Pak Nakajima tak bisa melihatnya, karena daya penglihatannya telah berkurang.
Mayumi kerap mengeluh soal tradisi yang dikatakannya hanya basa-basi tak berguna belaka. Kontras sekali, pikir Garsini, mengingat di rumahnya Mayumi begitu santun dan kasih kepada ibu serta kakak lelakinya. Begitu ada kesempatan mengekpresikannya di luar rumah, ia bagai terbang melayanglayang,
merengkuh semua yang mampu diraihnya. Mayumi mengenakan topeng untuk satu alasan, hanya dirinya yang mengetahuinya.
Garsini jadi teringat akan dirinya semasa di Indonesia. Ia pun sempat mengenakan topeng kepura-puraan, tapi masih dalam bingkai positif. Akhirnya Garsini melepas kepergian dua sosok dari lain generasi itu, sambil tetap merasaada sesuatu yang tak beres. Entahlah, untuk mengenyahkan dari kalbunya pun serasa tak mungkin. Sebab ia sendiri tak bisa merinci apa ketakberesan itu.
Maka, diam-diam dengan ikhlas ia mengucap doa selamat untuk Pak Nakajima.

***


Di Jepang ada sekitar hampir lima ribu museum, menurut data statistik terakhir yang diketahui Garsini. Bangsa ini agaknya sangat apik dan telaten dalam menata dan merekam alur peradabannya. Semangat masyarakat Jepang untuk merawat secuil rekaman peradaban sangat tinggi. Makanya, tak heran bila setiap aspek kehidupan di negeri Ninja, istilah sepupunya, ada museumnya.
Garsini jadi teringat akan penatalaksanaan rekaman peradaban di tanah airnya. Sangat payah, hingga banyak mata rantai sejarah yang terputus. Contoh terakhir yang paling diingat dan amat disesalkannya, terutama ketika sering diskusi sejarah dengan kakeknya dulu; naskah asli Supersemar.
Entah di mana naskah aslinya itu, tak ketahuan rimbanya. Jangankan untuk generasi mendatang, baru sampai generasi para pelaku sejarahnya pun sudah raib.
Kemarin siang ia bersama Peter menyelusuri gedung Tokyo Metropolitan Police Departemen, di 5-1, Koyabashi 2-chome, Chuoku, berseberangan dengan gerbang selatan kekaisaran. Kini untuk beberapa waktu ia khusus memusatkan perhatiannya berkeliling MeSci. Beberapa lama Pak Tom Noda, bawahan Pak Nakajima dengan senang hati mendampinginya. Ia bicara terus-menerus dalam bahasa Jepang, menerangkan ini-itu, tak peduli pendengarnya bisa memahaminya atau tidak.
"Sekarang lebih baik kubiarkan kamu mengamatinya sendirian. Kamu terlalu cerdas untukku," katanya sebelum meninggalkan Garsini leluasa berkeliling, mengamati segala sesuatunya dengan seksama. Mereguk tak habishabisnya segala pengetahuan di sekitarnya dan menyerapnya sepuasnya.
"Haah!" ejek seorang rekan Tom Noda yang menyongsongnya di ujung koridor. "Kewalahan juga kau dengan rasa penasaran gadis aneh itu, ya? Apa dia menggigitmu, Noda-san?" sambungnya sambil mengekeh.
"Jangan melecehkan, ya! Dia sama sekali tak aneh. Menurut Nakajimasan tadi saat diperkenalkannya kepadaku, begitulah pakaian wanita Islam. Sudah, jangan ganggu anak jenius kita itu!" tegurnya dalam nada keras.
"Anak jenius apa jenius…" kakek itu masih juga terkekeh-kekeh.
Garsini tersenyum kecil menguping percakapan kakek-kakek itu. Ia merasa sangat beruntung mendapat kesempatan menjadi relawan di museum ini. Merangkap, seharusnya banyak tugas, nyatanya masih santai-santai saja.
Bahkan ia bisa menambah wawasannya di tengah peradaban teknologi Jepang dari masa ke masa ini. Ditambah uang saku pula, alhamdulillah…
Ia menyentuh saku gamisnya, amplop pemberian Nakajima-san cukup tebal. Selain berisi daftar tugas ada juga sejumlah uang. Begitu murah hati Pak Nakajima, pikirnya. Bila ditambahkan dengan sisa uang saku bulan ini, ia bisa bepergian ke beberapa lokasi wisata di luar Tokyo.
Tapi tidak akan, gumamnya, setidaknya sampai Pak Nakajima kembali.
Lagi pula Garsini tak termasuk orang yang suka bepergian. Ia orang rumah, tukang cuci, masak, bersih-bersih, jaga adik-adik dan hanya pergi ke sekolah.
Selama di Negeri Sakura pun ia lebih banyak hilir-mudik "asrama, daigaku dan perpustakaan".
Ada saat-saat menjadi "liar" di luar, tinggal di rumah singgah, gaul dengan Asep, Bang Tompel, Pok Rinah. Al-Munawaroh, hasil baksos binaan Selly dan kawan-kawan, mengamen di KRL, itulah saat-saat tak terlupakan yang mewarnai masa remajanya.
Semuanya masih nyata tercetak di memori otaknya. Adakalanya muncul sebagai mimpi indah, ketika dirinya sangat lelah dari serbuan aktivitas perkuliahan. Ia menikmatinya beberapa jenak sebagai penghiburan agar tidak terjebak hilang asa.
Namun, kemudian ia tahu itu lebih baik tersimpan apik di sudut kalbunya, sebagai bagian sejarah kehidupannya. Akhirnya ia pun menyadarinya, itu takkan pernah kembali seperti hari-harinya yang tertinggal jauh di belakang.
"Cepat, sekarang sudah banyak pengunjungnya!" seru Pak Tom Noda membuyarkan seluruh angan Garsini.
"Nah, buktikan kemampuanmu, gakusei-san!" kakek yang satu itu, entah siapa namanya, menyindirnya tajam. Tapi gadis berjilbab biru laut itu sama sekali tak memperlihatkan dirinya tersinggung. Garsini cepat mengingatkan dirinya agar meluangkan waktu khusus, untuk melakukan pendekatan dengan Tuan Nyinyir.
Ia merasa kakek itu hanya caper, karena belum sempat ditegur sapa secara pribadi oleh dirinya.
"Baik," sahut Garsini membungkuk sopan dan bergegas ke depan, menyambut rombongan demi rombongan yang mengalir bak air bah. Agaknya mereka lebih suka datang setelah makan siang. Mungkin juga setelah berkeliling museum lain di sekitar Tokyo, menjadikan MeSci sebagai persinggahan terakhir wisata museum mereka. Karena letaknya lumayan terpencil di pulau kecil Teluk Tokyo, Odaiba.
Dari asramanya ia harus menempuh perjalanan selama beberapa jam dengan kereta api. Tapi pagi sekali, Peter sudah menyambanginya ke asrama yang lengang ditinggal hampir semua penghuni. Akhirnya ia ditraktir taksi oleh Peter yang urung melancong bersamanya. Disambung dengan boat yang memang sudah tersedia untuk para pengunjung MeSci.

***
Awalnya Garsini hanya ingin membuktikan bahwa gadis muslimah pun mampu meraih banyak prestasi. Di lingkungannya di Indonesia, hal itu serasa merupakan sesuatu yang musykil. Sebab ada banyak contoh nyata, hanya para gadis nonmuslim yang menduduki jabatan terhormat dan prestasi menakjubkan itu. Terpampang indah pula di novel-novel karya penulis perempuan nonmuslim, Marga T dan Marianne Katopo.
Kini ia dengan lincah dan cekatan memandu para pengunjung MeSci. Ia bicara dalam bahasa Inggris yang baik, diseling bahasa Jepang yang cukup lancar dan mudah dipahami. Suaranya yang jernih dan lantang seolah menggema ke seluruh penjuru ruang demi ruang museum itu.
Para pengunjung tampak senang dan puas, tapi ada juga yang usil menggodanya. Atau terang-terangan mengaguminya, secara to the point menyatakan keheranan dengan busana Muslimah yang dikenakannya.Tapi Garsini cepat merespon dengan cerdas serta percaya diri tinggi, untuk mengalihkan perhatian para pengagumnya. Sehingga mereka menjadi jengah sendiri, kemudian menghargai kerja keras, semakin mengagumi dan menghormatinya.
"Kakak sudah lama kerja di sini, ya? Bahasa Inggris dan Jepang Kakak bagus sekali," cetus seorang ABG putra, mengenakan kaos merek yang tak asing lagi bagi Garsini. Bahasa Inggrisnya lumayan juga. Mungkin anak orang kaya yang lagi libur, khusus untuk practising English. Garsini meliriknya sekilas dagadu nih. Apa di Indonesia sekarang musim liburan juga, ya? Ucok bilang via email-nya, sekarang sekolahnya memakai sistem semesteran. Kalau begitu saat ini mereka sedang midtest.
"Apa pedulinya libur tak libur untuk anak orang kaya? Bahkan lulus atau tak lulus pun sekolahnya, toh perusahaan dan bisnis warisan sudah menanti,"
demikian Haliza pernah melampiaskan uneg-uneg hatinya. Haliza, belum mengabarinya sejak kepergiannya tiga hari yang lalu.
"Kakak…" tegur anak ABG itu lagi, seperti memprotesnya.
"Oh, ya!" Garsini tertawa. "Hanya relawan, menggantikan seorang teman,"
sahutnya riang sambil menunjukkan sudut teknologi mutakhir Jepang.
"Baiklah, Saudara-saudara… Produk-produk digital memang sangat mendominasi koleksi museum ini. Anda sekalian bisa lihat di sekitar kita ini, tampilan mesin deteksi kode genetik, robot penghibur, penginderaan jarak jauh, kendaraan imajiner. Menjadi wakil peradaban di masa depan melalui miniaturnya yang ditampilkan di museum ini…" Garsini berhenti karena ditempel terus oleh si ABG yang pakai kaos dagadu itu.
"Kakak pasti orang Indonesia, ya kan? Aslinya dari mana siiih?" tanyanya berbisik penasaran, dibarengi dua rekannya.
"Iya, kami lagi taruhan nih, Kak," sambar rekannya.
"Pasti dari Jakarta! Soalnya kelihatan sangat modern, tapi…" cetus teman satunya pula, malu-malu dalam bahasa Inggris parah yang pernah Garsini dengar. Matanya seolah-olah ingin melanjutkan, "Kenapa sih mesti pake baju dan jilbab kayak gitu? Noraaak!"
"Gamping Kidul," Garsini menahan geli kala melihat mata ketiganya membelalak tak percaya. Pasti itu desa orang tuamu, ya Dik? Ia jadi ingat seorang teman sastrawan ibunya, Joni Ariadinata.
Belum lama Mama menceritakan melalui email, katanya tampil bareng Joni Ariadinata, Putu Wijaya dan Sutarji Calzoum Bachri di sebuah SMU berasrama. Agaknya kini Mama sudah diizinkan beraktivitas penuh sebagai penulis oleh Papa. Alhamdulillah…
***
"Apa katamu tadi, hemm?" Peter, entah dari mana kok sudah muncul di belakangnya."Rasanya berbau Yogyakarta tuh…" Ketiga anak baru gede itu seketika menyingkir, jeri juga rupanya melihat Peter yang tegap dan kekar bak bodyguard. Kini menjejeri Garsini dengan gagahnya bak Gatotkaca tanding laga.
"Bukan apa-apa," Garsini kembali memusatkan pikiran untuk kepuasan para pengunjung. Bagaimana dia bisa sampai di sini, ya, pikirnya keheranan.
"Museum ini dirintis oleh astronout kebangsaan Jepang, Mamoru Mohri. Kami senantiasa terbuka untuk memamerkan inovasi-inovasi mutakhir dari masyarakat Jepang…"
"Kalau dari negara kami, boleh juga kan?" ada yang nyeletuk lantang.
Seorang gadis muda kulit putih berambut pirang, bermata hijau bak mata si Empus. Itu tuh kucing Butet, adik bungsu Garsini di Depok.
"Tentu saja boleh, hanya masalahnya…" Garsini mengambangkan suaranya yang lembut, tapi jelas sekali terdengar oleh semua anggota rombongan itu. Mereka mendadak berhenti memperhatikannya.
"What's wrong, what's problem?!" cecar Nona Mata Hijau penasaran, sikapnya sinis bahkan cenderung melecehkan.
Kebanyakan orang Barat cenderung mudah curiga terhadap warga Muslim, di mana pun berada. Syukurlah, di Jepang ia tak merasakan kesulitan kaitan dengan status dan busananya. Karena kami juga tak begitu suka Amerika, mereka yang mempelopori membom kami dulu, kata Mayumi.
"Urang Amerika sigana mah, sombong kitu, euy!"17 gerutu Peter perlahan.
"What do you say?" sergah gadis bule itu memelototi Peter. "Dasar
kampungan! Kamu tak bisa bicara bahasa orang-orang beradab, heh…?!"
Peter naik pitam dengan wajah merah padam, langsung membalasnya memaki dalam bahasa Belanda, Jerman, Perancis, Spanyol bahkan Sunda, tapi sama sekali tak mencomot istilah bahasa Inggris sepatah kata pun. Beberapa detik suasananya terasa mendadak tegang dan gerah. Kedua anak muda itu tahu-tahu sudah berhadapan secara frontal. Garsini cepat menyelinap di antara sepupunya dengan bule yang semakin sarat amarah.
Kelihatannya orang-orang sudah bisa merasakan, si pirang telah dipermalukan secara telak oleh pemuda berwajah Japanesse tapi mahir berbahasa dunia itu. Buktinya gadis bule terlongong kaget dengan mulut menganga lebar. Tak sanggup membalas makian Peter, apalagi dalam bahasa dunia yang ditawarkannya.
"Makanya jadi orang jangan arogan begitu. Kalau begini jadi terbalik,
siapa yang kampungan dan tak beradab itu, bukan?" ejek seorang lelaki paro baya dalam bahasa Inggris yang betul-betul bagus, menyemprot si pirang.
"Iya, mentang-mentang dari negeri adidaya…"
"Hmm, sok menjadi hakim dunia saja!"
"Dikiranya cuma dia sendiri yang pintar!"
"Peace, peace, please, yeah?" seru Garsini menghimbau semua orang.
"Yeaaah! Peace! Peace…!" sambut orang-orang sambil tertawa dan kembali menikmati suasana sekitarnya. Kemudian mereka kembali bergerak mengamati ruangan demi ruangan, sudut demi sudut yang memang banyak barang teknologi inovasinya.
Diam-diam si pirang masih geram sendiri. Tak jelas lagi kepada siapa amuknya ingin diarahkan, pemuda yang merepet bicara dalam mega bahasa dunia? Atau gadis belia nan jelita berbusana Muslimah yang selalu tampak sabar, sarat percaya diri dan sangat cerdas menjawab setiap pertanyaan itu? Mungkin dia marah kepada dirinya sendiri. Sebagai gadis Amerika yang bersikeras melancong ke Asia, meskipun sudah diwanti-wanti keluarga dan teman-temannya, agar dia mengurungkan niatnya melancong tahun ini. Asia, ada banyak teroris!
"Apa masalahnya?" cecar si pirang masih merasa penasaran, mengejar Garsini.
"Masalahnya sepele saja," sahut Garsini kalem. "Apa Anda sekarang membawa contoh teknologi inovatif untuk dipajang di sini?"
Gerrr, seketika rombongan kembali tertawa riang. Mungkin amat simpati melihat usaha keras Garsini dalam mencairkan ketegangan, yang memang semakin terasa memanas.
Si pirang akhirnya bungkam seribu basa dan diam-diam menyisihkan diri dari rombongan. Sampai selesai memandu, Garsini tak pernah melihat sosok pirang itu kembali.

***


"You look so… great!" lelaki paro baya kulit putih itu mengangguk hormat kepada Garsini saat akan berpisah. "Kalau di negeriku kamu sudah pasti akan mendapatkan banyak fasilitas pendidikan, Miss…" Garsini hanya tersenyum samar, tak terjebak untuk meladeni tawaran kencan siapapun. Bahkan tawaran untuk mengetahui namanya.
"Dia Miss Indonesia!" seru Peter terdengar nyungkun dari kejauhan. Lelaki itu tak mempedulikannya, tetap tersenyum hangat kepada Garsini.
"Terima kasih banyak, ya, sampai jumpa di negeri kami," pria sebaya ayahnya itu segera bersikap bijak, kebapakan. Ia memaksa agar Garsini menerima tips dan kartunamanya.
"Insya Allah, terima kasih… tapi maaf, ini bukan hak saya," balas Garsini cepat dikembalikannya tipsnya dengan santun. Sehingga orang itu tak tersinggung, malah tertawa simpati.
"Kamu memang mengagumkan," pujinya tulus memberi penghormatan terakhir sebelum berlalu. Ia berhasil menyelipkan kartunamanya ke tangan Garsini dengan sangat santun.
"Kalau-kalau suatu hari kamu membutuhkan bantuan negaraku, Miss Indonesse…" ujarnya dengan tatapan semakin mengagumi.
Sekilas mata Garsini membaca kartunama bagus di tangannya. Profesor Charles del Pierro, guru besar sejarah dan filsafat dari Universitas Sorbone, Perancis. Saya sedang menjadi dosen luar biasa selama satu semester di Universitas Keio, tulisnya di belakang kartunama itu.
Apa peduliku, pikir Garsini dan apa maksudnya ini? Tapi entah mengapa ia kemudian menyimpan benda itu di saku gamisnya.

***
















































Bab 4





"Kamu… ugh, terlalu baik hati!" gerutu Peter dengan mimik tidak senang.
"Kamu tahu, mereka orang Barat dan Amerika!"
"Apa salahnya dengan orang Barat dan Amerika?" Garsini agak tak enak mendengar sikap Peter yang terasa sinis. Ha, apa dia pikir dirinya bukan orang Eropa, ya? Padahal belasan tahun mukim di Holland bahkan kini sudah menjadi warganegara Belanda.
"Mereka sungguh arogan, memuakkan!" sungutnya geram dan ia balik menatap Garsini. "He, kenapa kamu memiliki hati bak pualam begitu, adikku?"
"Mau tahu jawabannya?" Garsini melangkah kembali ke dalam, menuju lantai dua. Jadwal tugasnya hampir usai, seharusnya Mayumi segera kembali sesuai janjinya. Tapi gadis Jepang itu seperti sudah terbiasa suka terlambat setiap kali mereka janjian.
"Apa itu?" Peter mengejarnya.
"Iman dalam Islamku menghalangi diri ini agar tidak membenci siapapun."
"Ah!" sungutnya geleng kepala. "Nonsens, apa itu iman, apa itu agama?"
Astaghfirulahal adziiim, gumam Garsini sambil menatap wajah sepupunya dengan amat iba dan prihatin. Apa yang telah kau dapatkan selama hidup di Eropa, Broer? Apa kabar Tante Arnie?
Seketika Garsini merasa Peter bukan sekadar berlibur datang ke Negeri Sakura ini. Ada sesuatu yang ingin dicari oleh anak muda itu. Entah apa!
Bayangan Mayumi berkelebat dari lantai bawah, langsung menghampiri Garsini dan meminta maaf. "Sumimasen, ada sedikit masalah. Nakajima-san urung naik pesawat, tak kebagian tiket…" lapornya tersengal-sengal.
"Jadi?" Garsini menatapnya khawatir. Terbayang wajah Nakajima-san yang begitu merindukan keluarganya.
"Terpaksa pakai kereta di Tokyo Eki… Nah, baiklah kau bisa istirahat sekarang," sahut Mayumi dengan wajah merah bak buah tomat. Garsini belum sempat memperkenalkan sepupunya kepada gadis itu. Sebab Mayumi keburu tertegun dengan mata terbelalak, surprise.
"Kamu… Kenapa sendirian di sini?" desisnya memandangi wajah Peter lekat-lekat. "Pantas mereka histeris begitu…" Garsini mengerutkan kening tak paham maksud sahabatnya. Tiba-tiba sayup kupingnya mendengar keributan dari bawah. Mereka tengah berada di lantai dua terhalangi oleh kaca pembatas balkon. Rombongan turis sudah bubar di luar, diantarkan oleh beberapa staf museum mengucapkan rasa terima kasih dan salam perpisahan.
Garsini penasaran dan melongok ke balkon melalui kaca jendela.
Dibarengi oleh Peter yang mendadak seperti gelisah, tak paham dan bingung.
"Ada apa sih di bawah sana?" gumamnya bingung. Ia merandek urung mengamati suasana di bawah, tertarik untuk memperhatikan sepupunya. "Kamu ini kenapa mendadak aneh begitu?"
"Ugh, anak-anak Nippon itu sudah sinting!" Peter tiba-tiba bagai baru teringat kembali, setengah berseru dan mengeluh menepuk jidatnya.
"Psst… kalo ngomong hati-hati dong! Ini kita lagi di Jepang, Broer!" tegur Garsini mengingatkan. Peter tampak masih menahan kesal, bersembunyi di belakang punggung sepupunya. Ia tak mempedulikan tatapan takjub dari Mayumi. Garsini balik heran dengan gerak-gerik Mayumi yang juga aneh, terusmenerus memandang kagum ke arah sepupunya.
"Hei, ada apa denganmu, Mayumi-san?" sergahnya.
"Sejak kapan kamu kenal selebritis?" balik Mayumi bertanya.
Garsini geleng kepala kian penasaran, matanya kini dilayangkan keluar jendela balkon. Ups, apa yang terjadi di bawah sana? Dari mana datangnya rombongan kawula muda itu? Para remaja dan pelajar telah berkerumun dan menjerit-jerit histeris. Mereka mengacung-acungkan pamflet, spanduk sambil terus meneriakkan yel-yel.
"Kami mau Takeshiii! Mau Takeshiii!"
"Takeshiiii, come oooon, joint us!"
"Jangan biarkan mereka menggantungku, Garsini, please…" Suara Peter setengah memohon. Kepala Garsini mulai pening. Dipandanginya Mayumi yang masih mengamati sepupunya dengan begitu cermat. Hingga tiba-tiba bibirnya menyunggingkan senyum simpul.
"Siapa kamu?" tudingnya tiba-tiba kepada Peter mendadak berubah ketus dan galak. "Kamu penyusup, ya? Kamu peniru bintang idola kami, Takeshi Kaneshiro…!" cerocosnya pula dalam bahasa leluhurnya yang kental.
"Nei, nei! He, ngomong apa cewek ini, Garsini? Kenapa dia begitu aneh kelakuannya? Bantu aku, Garsini!" seru Peter dengan wajah merah padam.
"Sebentar, sebentar… kamu sudah salah paham, Mayumi-san!"
"Bagaimana sudah salah paham? Aku tahu persis lelaki macam begini. Bergaya bintang film untuk menipu gadis-gadis lugu, para mahasiswi asing seperti kamu!" cerocos Mayumi semakin sengit.
Peter membelalak, ia mulai memahami duduk persoalannya berkat tudingan Mayumi dalam bahasa Inggris. Cepat-cepat dijelaskannya kepada Garsini, mulai dari pengalamannya sebelum sampai di tempat itu. Ia terpisah dari rombongan turis Belanda yang diikutinya.
Ketika celingukan itulah, mendadak ada serombongan remaja yang mengejar-ngejarnya sambil meneriakkan yel-yel. Rombongan itu kian bertambah dari saat ke saat hingga ia nyasar ke museum MeSci. Beberapa saat Garsini terpingkal geli, membayangkan Peter dikejar-kejar dan merasa dirinya seperti maling di negeri asing. Tentara Kerajaan Belanda berpangkat Sersan, aha!
"Bukannya menolongku malah menertawakan… Ugh, nggak ada yang lucu, tahu!" gerutu Peter sambil menggaruk-garuk kepalanya yang cepak. Peter baru saja melepas topinya, hingga Mayumi kini semakin jelas bahwa dia bukan orang yang dimaksud.

***

"Sorry, I'm verry verry sorry…" ucap Mayumi sambil membungkukkan badan berkali-kali.
"Euleuh-euleuh, boro-boro hayang seuri siah!"18 sungut Peter lucu membuat Garsini kembali terpingkal geli. Sekaligus senang, ternyata Tante Arnie 18 "Aduh-aduh, boro-boro kepingin ketawa lo!"
tak lupa mengajari putranya bahasa karuhun19 mereka. Ah, tapi kenapa Tante Arnie lupa mengajarinya agama?
Keributan di luar akhirnya bisa diselesaikan dengan baik. Para staf menjelaskan kepada kawula muda itu, bahwa yang mereka lihat bukan orang yang dimaksud. Dalam hitungan menit kerumunan di bawah pun bubar bertemperasan.
Apalagi ketika terdengar suara sirine mobil kepolisian yang sempat dipanggil pihak keamanan museum. Dalam sekejap sudah tak tampak lagi orang berkerumun di areal yang sama. Di Jepang orang masih sangat menghargai arti keamanan, ketertiban dan disiplin untuk mematuhi peraturan, undang-undang.
Satu pelajaran berharga yang bisa segera dipetik Garsini begitu sampai di Negeri Sakura ini.
"Huuu… memangnya siapa sih si Takeshi itu?" berungut Peter.
"Bintang film Jepang yang lagi diidolakan para remaja," jelas Mayumi.
"Kok kamu nggak tahu itu, Garsini?" tanya Peter menatap sepupunya keheranan.
"Karena aku bukan anak gaul," sahut gadis itu singkat. Hari itu mereka kembali ke Tokyo bertiga. Mayumi memaksa untuk mentraktir makan malam sebagai ucapan rasa terima kasih dan penyesalannya.
"Kamu bisa menginap di rumah kami selama liburan, Garsini," kata Mayumi. "Aku sudah bicarakan ini dengan ibuku dan dia setuju."
"Bagus!" sambut Peter senang. "Di asrama kamu cuma sendirian, nanti ada orang jahat menyerobot, lho!"

***
"Kalau begini, aku betul-betul akan pensiun dua kali," keluh Matsua-san, kakek ceriwis itu, sementara rekan-rekannya tak henti melontarkan pengaguman dan pujian kepada Garsini.
Mereka sedang istirahat setelah menyelesaikan tugas hari itu. berkemaskemas untuk pulang. Ini hari kelima Garsini bekerja sebagai relawan menggantikan Nakajima-san. Ternyata Mayumi hanya pada hari pertama saja bisa menemaninya. Selebihnya Garsini berjalan sendiri menunaikan tugastugasnya di museum ini.
"Saya akan kembali hari Senin. Setidaknya sampai Nakajima-san pulang dari Saporo," ujar Garsini kepada mereka sebelum berpisah. Tinggal dua orang stafnya, Tom Noda-san dan Matsua-san. Lainnya sudah bubar sejak beberapa menit berselang. Kedua kakek ini tinggal di kawasan museum sedang lainnya harus menyeberang dengan boat ke kota.
"Dia tidak akan pulang besok. Kudengar ada taifun di Selatan," kata Tom Noda sambil berjalan ke luar. "Apa kamu tidak baca koran hari ini, Garsini-san?"
"Hah! Mana sempat dia baca koran? Kerjanya cuma mengotak-atik teknologi inovasi di ruang milik Nakajima-san itu. Jangan-jangan sebentar lagi si Robocop bakal lenyap dari MeSci," celetuk Matsua-san, seperti biasanya nyinyir dan sinis.
Tubuh kecil Matsua berusaha mengimbangi kesigapan jalan rekannya.
Garsini membiarkan kedua sepuh itu berjalan di depannya. Si Lidah tak bertulang yang tak punya kerja lain kecuali menikam anak-anak muda, kata Mayumi bila sudah jengkel sekali dengan perkataan tajamnya.
Tom Noda-san memelototinya.
"Jangan begitu!" tegurnya dan tersenyum
minta maaf kepada Garsini."Sudah, biarkan saja, jangan dengarkan dia ya, ak…"
Garsini tersenyum lembut dan ikhlas.
"Tidak apa-apa," katanya kalem."Pak Matsua sungguh benar. Saya sangat tertarik dengan penemuan-penemuan baru di ruangan itu. Terutama Robocop-nya, kalau tak ingat itu kesayangan Pak Matsua, tentu sudah lama saya gondol ke negeri saya…"
"Di mana negerimu yang aneh itu?" Matsua-san kali ini tertarik. "Indonesia, termasuk wilayah Asia Tenggara. Kalian pernah menjajah kami selama tiga setengah tahun, ingat?"
"Oooh…!" Ada yang terbanting dari atas kepala bulat yang sering terangkat angkuh itu. Garsini sudah tahu sedikit ikhwal Matsua dari Tom Noda.
Matsua mantan veteran perang yang telah banyak kehilangan. Keluarganya tak tersisa lagi satu pun, akibat keganasan bom yang dijatuhkan Sekutu di kampungnya Hiroshima. Padahal ketika itu Matsua sedang berjuang keras mempertahankan jajahannya di negeri seberang. Ironis memang!
"Sumimasen… aku tidak tahu kau gadis Indonesia," suaranya sesaat terdengar rapuh dan sarat permintaan maaf, kenangan dan kepedihan.
Detik itulah ada ikatan yang menghubungkan mereka, Garsini dengan Matsua-san. Awal persahabatan yang terjalin dengan cara unik. Sebab mengaitkan sejarah kelam kedua bangsa; bekas penjajah dan bekas jajahannya.
Di atas semua kepedihan dan sejarah kelam itu, di kemudian hari ternyata masih ada yang tersisa dan tumbuh dengan baiknya, persahabatan nan indah.

***


"Aku harus cari tambahan uang saku untuk bantu keluarga," kata Mayumi.
"Aku kan tak bisa mendapatkan beasiswa seperti dirimu…"
"Jadi kamu sekarang bekerja, ya?"
"Begitulah."
"Di mana?"
"Blue Diamond."
"Di mana, dan tempat apa itu?" cecarnya ingin tahu.
"Klab malam para eksekutif di kawasan Ginza."
"Apaa?!" Garsini kaget.
"Jangan bilang ini kepada ibuku, please…" pintanya memohon.
"Tapi kenapa mesti kerja di tempat seperti itu, Mayumi?" gugat Garsini.
"Kamu takkan mengerti kesulitanku, sudahlah, kumohon jangan bicarakan ini lagi, please, please…" Kerap ada nada getir di sana. Garsini bahkan sempat menangkap rasa iri gadis itu akan keberuntungannya sebagai mahasiswa asing,

yang datang atas beasiswa pemerintah Jepang. Bukan salahmu, hiburnya sendiri, kalau mampu tentu Mayumi juga bisa mendapatkan beasiswa itu.
"Tidak bisa. Sebenarnya aku enggan melanjutkan kuliah. Tapi demi ibuku yang mengharapkanku jadi sarjana, yah, kujalani juga dengan susah payah."
"Kurasa kamu terlalu rendah hati…"
Mayumi dengan murung menggeleng. "Aku tidak sepandai kamu, Garsinisan. Makanya jurusan yang kuambil pun hanya sastra, itu tak dihargai mereka. Ya, seandainya saja aku memiliki otak sejenius kamu…"
Kalau sudah sampai di situ percakapan mereka, terasa ada jurang yang dalam di tengah keduanya. Untuk beberapa saat kebekuan menyelip dan itu sungguh tak mengenakkan. Akira, kakak semata wayangnya pulang kemarin.
Mahasiswa ekonomi sebuah universitas swasta itu menyambut keberadaan Garsini dengan mulut tajam.
"Buat apa kau bawa gadis asing, perampok hak kita ke rumah ini, Mayumi?" sergahnya begitu mengetahui status Garsini di daigaku Tokyo.
Garsini sampai gemetar mendengar keketusannya, terutama sorot matanya yang bak mata elang itu. Seolah-olah sarat nafsu dan hasrat, mengancamnya, siap menerkamnya kapan saja.
"Tidak, kakakku bukan orang seperti itu. Dia hanya lagi kumat iridengkinya saja, tenanglah. Kau tetap tidur bersamaku, Garsini," hibur Mayumi.
Namun, sejak kedatangan Akira ke rumah keluarga kecil itu, Garsini merasa tidak nyaman. Ia mulai mencari akal agar bisa keluar dari rumah sahabatnya dengan baik-baik, tanpa menyinggung nyonya rumah.
Sebaliknya Mayuko-san, perempuan sebaya ibu Garsini, menerima kehadirannya dengan senang hati. Ia bahkan lebih menganggap Garsini sebagai teman curah hati daripada sekadar tamu putrinya. Mengingat perilaku Garsini yang bijak dan tegar, serta mau bersabar menjadi pendengar yang baik. Mayumi memang selalu santun dan menghormatinya. Namun, belakangan ia semakin sulit diajak berbicara.
"Mayumi, entah apa yang dikerjakannya di luar sana. Selalu repot saja rasanya," keluh Mayuko pagi itu ketika sarapan. Mayumi telah berlalu dan tak mempedulikan gerutuan ibunya lagi.
"Mungkin ada tugas penting, Okusan," penghiburan yang disampaikan dengan lembut dan tulus itu membuatnya tersenyum kembali. Aduh, betapa tak enak mendustai seorang ibu yang amat mempercayai kedua anaknya secara meyakinkan ini.
"Sarapan apa kali ini, Okusan?" Akira baru muncul dari kamar, belum cuci muka dan gosok gigi langsung bergabung untuk sarapan. Hingga Garsini bisa membaui hawa tak sedap meruap dari tubuhnya yang tinggi kurus.
Sebelum dijawab Akira mengamati hidangan di depannya. "Huuu, selalu ini ke ini saja. Apa tidak ada makanan lainnya?" tanyanya ketus tanpa sopan santun sama sekali.
"Tenang, ada sesuatu yang spesial kusiapkan untukmu, Nak…" Okusan tergopoh-gopoh mengambil makanan lain untuk putranya tercinta. Putra yang selalu dibangga-banggakannya kepada siapapun, termasuk kepada Garsini bila mereka berbincang. Hingga kerap Garsini merasa tak enak hati, di mana nama putrinya tersimpan di hati Mayuko?
Pilih kasih yang selalu mengingatkan Garsini akan traumatisnya sendiri di masa kecil hidupnya. Bahkan hingga saat-saat terakhir keberangkatannya ke Jepang. Masih ada gamang di hatinya, sungguh telah tuluskah Papa mengasihi diriku?
"Kapan kamu pergi dari rumah kami, hemm?" tanya pemuda itu tiba-tiba.
Garsini tersedak dengan wajah pucat pasi. "Sumimasen… Apa Kakak mengusirku?" tanyanya sesaat secara kilat mereguk minumannya, reflek pula menyingkirkan mangkok makanannya.
"Oh, jangan bicara begitu, Anakku," Okusan kembali bergabung dan meletakkan sepinggan makanan kesukaan putranya. "Kami senang Garsini-san tinggal di rumah ini…" Naaah kan, di mana penganan itu disembunyikan saat Mayumi hendak makan tadi? Pantaslah Mayumi kian suka bepergian, secepatnya meninggalkan rumah sejak kedatangan kakaknya.
"Apa Okusan sudah bosan dengan kami berdua?" tukas Akira ketus sekali dan terasa sangat menusuk hati. "Mentang-mentang dari universitas terkenal tuh, maunya jadi anak Okusan juga," ejeknya diarahkan kepada Garsini.
"Akira," tegur Mayuko lembut sambil tersenyum minta pengertian Garsini."Jangan bicara begitu di depan tamu kita, Anakku…"
"Sudah, jangan ganggu, aku mau makan sendirian di sini!" usir Akira tanpa perasaan.
Okusan sesaat merasa bingung, malu dan iba kepada Garsini. Tapi ia
sungguh tak berdaya, bahkan sekadar membela gadis itu. Garsini yang paham
suasananya, cepat menyingkir tanpa bicara sepatah kata pun.
"Maafkan dia, ya Nak, sejak datang uring-uringan terus. Mungkin karena kami belum bisa membekalinya sejumlah uang yang diminta," kata Okusan ketika mengantar Garsini berangkat. Garsini mengangguk maklum, kemudian disentuhnya pergelangan tangan Okusan.
"Nanti malam saya ada acara dengan sepupu. Jadi kemungkinan tak pulang ke sini, Okusan, boleh ya?" katanya santun. Ia menyelipkan sejumlah uang ke tangan wanita itu. Okusan kali ini tidak menolaknya, tak seperti saat pertama kali Garsini melakukan serupa.
"Baiklah, ini untuk belanja besok," ujarnya malu-malu dan cepat menyembunyikan uang itu ke saku gaun rumahnya. Diantarnya Garsini sampai teras.
"Nah, ini Tokyo, Nak, selalu waspada, ya?" kata perempuan yang pernah bekerja menjadi geisha di masa mudanya itu. Kini ia buruh sebuah pabrik elektronik di luar kota.
Detik ini betapa ingin Garsini memeluknya erat. Wajah Okusan yang bingung, tak berdaya dan tampak ringkih itu, aduuuh, sungguh! Mengingatkan Garsini kepada Mamanya sendiri. Di mana sesungguhnya pria yang seharusnya bertanggung jawab akan segala kesulitan keluarga itu?
"Dia seorang pejabat tinggi, tapi Okusan tak pernah mau bilang di mana keberadaannya kini. Aku hanya mengenalnya dari potretnya. Dia lelaki tak bertanggung jawab, hanya menginginkan Okusan ketika masih cantik dan segar," gerutu Mayumi suatu kali.
"Kalian tak pernah bertemu?"
"Aku masih bayi ketika dia pergi. Kak Akira lumayan sudah tujuh tahun, jadi masih ingat wajahnya… Bahkan suatu saat dia bertekad untuk menyambanginya ke istananya!" Lelaki itu sudah memiliki istri dan anak ketika bertemu dengan Mayuko. Kisah selingkuhan begini selalu mendatangkan banyak kerugian di berbagai pihak. Terutama anak-anak dan… argh!
Tiba-tiba Garsini teringat kembali affair ayahnya dengan Sintia. Tubuhnya seketika terasa dingin. Bagaimana seandainya hubungan itu berbuah dan Sintia mesti menanggung aib itu, seorang diri? Pikiran itu membuatnya gelisah dan ia cepat menghentikan sebuah taksi yang melintas di depannya.
"Sendai made itte kudasai…"20 katanya sambil menghenyakkan tubuhnya yang letih di jok belakang.

***





































Bab 5





Malam mengapung di musim semi Negeri Sakura, terasa senyap. Taksi berhenti di depan asrama putri daigaku Tokyo. Sopirnya seorang lelaki tua dan mengerling khawatir ke arah Garsini. Gadis ini telah memintanya diantar ke Sendai, berhenti sebentar di suatu tempat, kembali mencarternya dan minta diantarkan ke lain arah. Suatu pemborosan sia-sia hanya dilakukan orang yang sedang bingung.
"Sungguh mau turun di sini, Nona?" tanyanya seperti meragukan permintaannya.
"Iya, di sinilah saya tinggal, Pak. Tolong, berapa harus saya bayar?"
Terdorong rasa iba agaknya, sopir itu menyebutkan separuh harga dari tarif resmi. Garsini menyodorkan ongkosnya dan mengucapkan terima kasih.
"Tapi gakusei-san…!" serunya masih menanti kalau-kalau gadis berbusana aneh itu mengubah keputusan. "Apa tidak takut sendirian di situ? Bagaimana kalau ada orang jahat menyerobot ke dalam kamarmu?"
Garsini melambai mengisyaratkan agar tidak perlu mengkhawatirkannya.
Ini bukan kali pertama dirinya tinggal di asrama sendirian. Meskipun rekanrekannya sudah sering kali mengingatkannya tentang kemungkinan itu.
Kenekatan para kriminal yang menyasar ke kawasan asramanya.
Bukankah ada satpam, Ojira-san yang baik hati di sini?
"Tidak, sampai hari Senin Ojira-san takkan bertugas jaga malam di sini," kata seorang rekannya, menyambut Garsini dan membukakan pintu untuknya.
Beberapa detik jantung Garsini seakan berdegup kencang. Ia melihat ke sekitarnya, uuuh, begitu senyap dan lengang. Hanya dirinya dan lelaki muda itu yang tinggal di sini.
"Jangan khawatir, saya ada bersama seorang teman gantikan tugas Ojirasan," katanya seperti bisa membaca pikirannya.
"Dan kami tahu, Nona mahir sekali taekwondo…" tiba-tiba seorang rekannya muncul, entah dari mana. Degh!
Garsini ingat kepada lelaki bertubuh kerempeng ini. Dia kan lelaki yangsuatu hari pernah mencoba melecehkan Haliza dengan mencolek pipinya.
Garsini yang berada di samping gadis Malaysia itu, langsung menggebraknya dengan satu jurus taekwondo andalannya. Sejak saat itu seluruh penghuni asrama mengetahui, dirinya seorang taekwondoin handal dari Indonesia.
"Sungguh, percayalah kepada kami," kata pemuda yang pertama muncul.
"Kami selalu hormat kepada gadis yang mahir ilmu beladiri. Begitu kan, Yoshirosan?"
"Yentu saja begitu, Sagura-san. Baiklah, konbanwa Miss Indonesu…"
Garsini hanya tersenyum samar, membalas salam selamat malam keduanya dengan santun, meskipun dalam hati mendadak ada bimbang. Bagaimana kalau kedua lelaki ini mengcincarnya, karena merasa dipermalukan dan ingin balas dendam? Seharusnya ia lebih berbaik hati, ah, tapi… sudahlah!
Telanjur, sosok tegap bertato di lengan yang tampak kekar itu telah lenyap di kegelapan. Berdua berpelukan sambil terkekeh-kekeh, terdengar misterius di telinga Garsini. Begitu pula taksi yang mengantarnya tadi, entah sudah sampai di mana saat ini.
Garsini seketika merasa telah terjebak di dunia asing. Seorang diri, oh, tidak, pekiknya dalam hati. Allah, Allah, senantiasa ada cahaya Ilahi di mana pun dirinya berada. Demikian selalu kata Mama dan ia sangat meyakininya.
Benar saja. Satu malam pun telah berlalu dengan sempurna. Tak ada kejadian apa-apa selain sekitar dua jam ia tak bisa memejamkan mata, tapi akhirnya tertidur juga setelah melakoni shalat lail.

***


Garsini terbangun oleh dering weker yang distel tepat waktunya untuk shalat subuh. Alhamdulillah, sungguh Maha Pengasih Engkau, bisiknya kala bersujud mencium sejadahnya. Begitu banyak nikmat-Mu yang telah Engkau curahkan kepada hamba.
Air matanya berlinangan menyambut awal pagi yang baru, masih di musim semi yang memberi banyak semangat dan harapan kepada dirinya.
Nikmat-Nya mana lagi yang tak tercurahkan kepada dirinya? Bahkan baru saja Sagura-san mampir, menanyakan keadaannya dan mengantar titipan penganan dari istri Ojira-san untuknya.
Ini sungguh membuat Garsini tertegun dan semakin mensyukuri nikmat Allah. Inikah buah iman sebab shalat duha yang telah kulakoni beberapa menit lalu, Ya Robb?
Kriiing…! Garsini tergopoh-gopoh menghampiri telepon di ruang depan. Ia tidak memiliki HP sampai saat itu. Meskipun seluruh temannya hampir tak ada yang tidak memegang HP. Ia bisa saja membeli benda itu kalau mau, tapi begitu hemat dirinya. Hanya karena ingin mengirim sedikit dari sisa uang saku per bulannya untuk kedua adiknya di tanah air.
"Lagi apa kamu dan ada di mana?!" seru suara cemas di telepon.
"Baru sarapan di kamarku di asrama…" Garsini menelan sisa bubur ayam lezat bikinan istri Ojira-san di mulutnya. Ia harus mampir ke rumah keluarga yang baik hati itu nanti.
"Aduuh! Sendirian ya? Kamu ini sungguh menantang bahaya!" umpat Mayumi.
"Be calm please, aku masih segar bugar, alhamdulillah…"
"Apa itu, hei? Kamu tahu, sepanjang malam sepupumu menelepon ke sini, menanyakan dirimu. Aku tak sempat berpikir kalau kamu berani tidur di asrama malam tadi. Kupikir kamu jadi menginap di rumah, siapa itu temanmu gadis Arab?"
Ayyesha yang dimaksud Mayumi, bukan gadis Arab melainkan Muslimah Palestina. Garsini baru mengenalnya beberapa hari yang lalu. Mereka langsung menjadi akrab berkat simpul kasih Islam. Ayyesha mengajaknya bergabung dengan kelompok kajiannya, untuk lebih menguatkan lagi ukhuwah mereka.
Garsini merasa surprise dan senang sekali bisa memiliki kelompok kajian, seperti komunitas Rohisnya di F-Mipa UI dulu. Sayang sekali ia terpaksa harus menangguhkan kunjungannya, sebab belum punya waktu untuk mampir ke apartemennya.
Kemarin petang Garsini datang terlambat satu jam. Ayyesha sudah berangkat lebih dulu bersama kelompok kajiannya ke Okinawa. Mereka hendak melakukan baksos di suatu tempat di Okinawa, menyambut kedatangan rombongan para pengungsi Palestina.
"Peter, di mana dia sekarang?" Garsini baru teringat lagi akan sepupunya yang melancong bersama rombongan turis Belanda. Mereka keliling Jepang dengan kereta peluru
"Katanya terpisah dari rombongan turisnya, baik sebentar kusambungkan kalian. Sorry, ya Garsini-san, kurasa sepupumu itu aneh. Eeh, kedengarannya dia ada kesulitan dan butuh bantuanmu, hmm, sebentar…"
Garsini menanti dengan berdebar. "Moshi-moshi…"21 Peter, rasanya kamu jadi kebiasaan terpisah dari rombongan, ya? Sejurus kemudian terdengar suara Peter yang gugup, bingung dan takut. Sehingga hati Garsini tercekat dan jantungnya berdebur keras. Bagaimana kalau terjadi sesuatu atas diri sepupunya itu? Putra semata wayang Tante Arnie, menurut Mama adalah pelita hati wanita super enerjik di suatu hal, tapi rapuh di beberapa hal lainnya itu.
"Datanglah ke sini, Garsini, please…" pintanya memohon.
"Iya, tapi tenang, tolong ceritakan apa yang terjadi denganmu?"
"Aduuh, Garsini, aku merasa demam tinggi. Parah sekali, rasanya aku mau mati saja… cepatlah ke mari, Garsini, please, please… Demi Tuhanmu Yang Maha Pengasih, dan katamu selalu mencurahimu berkah dan hidayah-Nya itu!" erang Peter bergetar bak tengah terserang gigilan hebat.
"Baik, insya Allah aku akan berusaha membantumu. Kumohon kamu harus tenang, tabah, ya Broer," bujuk Garsini jadi ikut gentar. Peter menyebutkan
sebuah alamat hotel kecil di Hiroshima.

***


Setelah sepanjang siang itu bersama Mayumi berusaha keras mendapatkan kartu pas kereta peluru, Garsini hampir menyerah. Rencananya ia 21 "Hallo, hallo…"
akan menuju Hiroshima dengan kereta peluru itu agar cepat sampai. Kalau pakai pesawat uangnya tak mencukupi.
Jadi, ia menemani Mayumi untuk menemui beberapa orang penting.
Mereka kenalan Okusan dulu, kata Mayumi, tapi ternyata tak ada seorang pun yang mau mempercayai ucapannya. Beberapa malah sempat melecehkan kedua gadis itu, melalui ucapan yang miris di kalbu.
"Sudah, jangan teruskan!" kesah Garsini begitu keluar dari pintu terakhir yang mereka singgahi. "Lelaki-lelaki di dalam itu… aduuuh! Beraninya kamu mengajakku ke situ, Mayumi!"
"Sumimasen… Aku juga tak mengira begitu kejadiannya. Brengsek sekali tua bangka itu, ya!" Mayumi menyatakan rasa penyesalannya yang dalam. Mentari musim semi terasa tak hangat lagi. Gerah, menggigit ubun-ubun.
Arakan kapas di langit masih berwarna putih, tapi sudah bersemu kelabu. Garsini masih melihat ekor mata sahabatnya menatap geram ke belakang.
Itukah rumah geisha, tempat dulu Mayuko-san bergelimang nista?
"Ayo, pulang saja!" Garsini menarik lengan Mayumi menuju stasiun terdekat. Ia tak ingin Mayumi larut dalam rasa malu mengingat aib masa lalu ibunya.
Mayumi seperti bisa menebak pikirannya, tertawa sarkastis kemudian
berkata tajam, "Ibuku pasti senang kalau lihat kemunculan kita yang tiba-tiba macam tadi. Kenapa tidak sekalian ditawarkan saja kepada para lelaki hidung belang itu…?"
"Mayumiii! Itu sama sekali tak lucu!" sergah Garsini dengan wajah mengeras. Teringat ibu Mayumi, saat-saat begini tentu saja sedang bekerja keras di pabrik. Polusi apakah yang ada di pabrik itu, hingga Mayuko-san semakin parah batuknya?
Kedua gadis itu sudah menaiki kereta kembali ke Tokyo Eki, karena tanpa mereka sadari telah berjalan amat jauh. Sehingga baru mereka sadari lagi kala sudah berada di luar kota. Untuk beberapa lama tak ada yang bicara. Secuil pengalaman tak nyaman itu, betapapun telah membekaskan luka di hati keduanya. Luka hati mereka mengenang para wanita, kaumnya yang pernah terjebak di rumah geisha itu.
Keduanya masih terbilang remaja belia, Garsini belum delapan belas sedang Mayumi sembilanbelas. Mereka masih amatlah lugu dalam hal perikehidupan. Sekalipun Mayumi selalu gembar-gembor tentang kebebasan yang ingin diraihnya, tapi baru sebatas di mulut.
Otak Garsini mendadak dipenuhi macam-macam pikiran. Namun, seribu pikiran segera raib tersilih oleh satu titik persoalan. Kartu pas itu, keluhnya, rasanya hanya benda itu yang bisa membawanya ke sisi sepupunya.
Secepatnya.
Ia baru mengetahui sekarang, betapa sulit mendapatkan kartu pas agar bisa naik kereta peluru. Ternyata kartu pas itu hanya diberikan kepada para tamu penting, turis asing dan diperoleh dari negara asal mereka.
"Kenapa kamu baru tahu sekarang?" Mayumi buka suara kembali.
Garsini menangkap rasa jengkel dalam nada suara sahabatnya. Namun, ia tak melihat apa-apa selain gurat kecewa di wajah bak porselin itu.
"Yah, entahlah…" Garsini angkat bahu mulai jenuh dan lelah.

***


Suasana di kereta sedang jam-jam sibuk. Padat sekali oleh penumpang.
Apa bedanya dengan saat menaiki KRL Depok-Kota, pikirnya. Rasanya sama saja kalau urusan padat pepatnya. Kalaupun ada perbedaan mencolok adalah perihal perilaku kebanyakan para penumpangnya. Di mana-mana orang Jepang memegang koran, buku, majalah, pendeknya bacaan. Itulah yang jarang dilihat Garsini di KRL Depok-Kota.
"Apa tak ada yang beri informasi kepadamu dulu?" cecar Mayumi.
Garsini menggeleng. Ia bahkan hampir tak ingat lagi hal-hal tetek bengek saat keberangkatannya. Terlalu banyak masalah melibat hari-hari terakhirnya di Indonesia. Keluarga, Sintia, Papa, Mama, Selly. Gilang… semuanya di luar kepentingan pribadinya. Dan begitulah agaknya dirinya tercipta!
"Bagaimana dengan orang Jepang sendiri untuk mendapatkannya?" tanya Garsini jadi penasaran juga dengan kartu pas itu.
"Hanya orang-orang tertentu yang memilikinya, para pejabat tinggi, eksekutif, pebisnis… Orang awam macam kami ini, yaaah!"
"Ooh…" Bibir Garsini membentuk bulatan. Mayumi mengangkat bahu.
Garsini tetap tak paham dengan sistem begini. Adakah hal begini di negerinya?
Selain KKN, megakorup yang telah dicapkan kepada Indonesia oleh pers dunia?
Suasana di dalam kereta baru terasakan nikmatnya ketika sudah agak lowong. Ini kereta full AC yang amat bersih dan terawat. Mirip kereta eksekutif jurusan Kota-Bogor. Garsini menghirup kenikmatan itu sepuas-puasnya, seolah ingin mengisi seluruh ruang pepat dan jenuh di paru-parunya.
Seketika ada keharuan yang menyungkupi hatinya. Ia sangat terharu bisa menikmati anugerah-Nya ini, menikmati segala macam kecanggihan dan fasilitas teknologi tinggi yang dimiliki Negeri Sakura. Hampir semuanya serba gratis…
Subhanallah!
"Ada apa?" Mayumi menanyainya heran.
"Kereta kalian, maksudku yang kalian hibahkan kepada Indonesia, hampir tak pernah kunikmati," ucap Garsini asal bicara.
"Kereta apa? Hibah apa? Aha, otakmu mulai tak beres agaknya ya?"
Mayumi cekikikan.
"Psst… siapa bilang?" Garsini berlagak marah dengan membelalakkan matanya yang bagus. "Malah kamu yang tak peduli, berapa banyak jumlah kereta yang dihibahkan pemerintah Jepang kepada Indonesia. Ayoooo, kalau tahu bilang ya!"
Mayumi semakin tergelak geli. Beberapa penumpang pria menoleh ke arah keduanya. Paras Garsini memerah dadu, ia menundukkan wajahnya tersipu malu. Keberadaan mereka, perilaku mereka telah memikat perhatian beberapa orang. Dalam hati, cepat-cepat ia mengucap istigfar, mohon ampunan-Nya.
"Segala kereta kamu pedulikan… hihihi!"
"Sudahlah, aku telah menduganya. Kamu memang tak pernah peduli halhal seperti itu," Garsini menukas sambil memperbaiki posisi duduknya, menyandar santai lalu menutup wajahnya dengan ujung jilbabnya. Sungguh lelah. Mayumi terdiam, mengira kelakuannya telah menyinggung hati sahabatnya. Maka, diam-diam ia memejamkan matanya. Kereta pun tiba di Tokyo Eki. Mereka keluar stasiun berjalan tanpa arah dan tujuan, semakin lelah dan bosan.
"Sumimasen, aku harus berangkat kerja sekarang," Mayumi terpaksa mengucapkan salam perpisahan. "Tapi aku janji nanti akan kuusahakan lagi.
Mungkin di tempat kerjaku tahu-tahu ada yang memiliki benda menggemaskan itu, ya Garsini?" Gadis Sakura itu tertawa, janjinya terdengar tulus sekali.
Garsini amat terharu mendengarnya. "Kamu sahabatku yang terbaik, Mayumi-san," bisiknya tersekat di tenggorokan. Ia menyesali tudingannya di atas kereta kepada gadis itu.
Tentu saja Mayumi seorang gadis yang memiliki empati tinggi, kepedulian yang mengagumkan. Setidaknya terhadap keluarga dan para sahabatnya.
Buktinya ia bahkan menanyakan alasan, mengapa Garsini tak bisa menaiki kereta hibahan Jepang itu.
"Kereta-kereta itu sangat bagus, jadi dinyatakan sebagai kelas eksekutif dengan harga yang tak terjangkau oleh saku kempesku," jelas Garsini tertawa sumbang.
"Kasihan kamu," Mayumi prihatin."Tentu bukan itulah tujuan pemerintah kami…"
"Tentu saja," sahut Garsini cepat-cepat. "Sudahlah, lupakan itu! Tak seharusnya hal seperti itu kupikirkan lagi. Karena selama di sini aku bisa sepuasnya naik kereta macam itu. Bahkan kalau mungkin kereta peluru!"
Kali ini Garsini sambil tertawa riang seolah ingin menghapus segala ironi perikehidupan di masyarakatnya, rakyat miskin kota yang pernah digaulinya di Jabotabek dulu. Juga rasa kangen yang seketika menerjang kisi kalbunya.
Kangennya terhadap Oneng, Ucik, Asep dan para penghuni rumah singgah pinggir kereta itu melebihi rasa kangennya terhadap keluarganya.
Menurut pikirannya kala itu, mereka lebih tak mungkin untuk meraih kesempatan yang dimilikinya saat ini. Bukannya bermaksud menduakan kehendak Ilahi, tapi ia hanya melihat kenyatan di depan mata. Orang-orang yang terpinggirkan itu, Allah… lindungi mereka!
Mata Garsini seketika memanas. Detik inilah ia diingatkan kembali untuk mensyukuri nikmat-Nya. Hingga dirinya kini bisa menikmati segala fasilitas super modern, melalui anugerah Ilahi dalam bentuk beasiswa itu. Oh, Allah, ampuni khilafku, jeritnya dalam hati.
Mayumi malah mengira Garsini menangis karena kecewa atas kegagalan mereka mendapatkan kartu pas. Sehingga ia tak bisa secepatnya mendampingi sepupunya, membantunya.
"Allahmu akan selalu memberi kejutan untukmu, kan begitu Garsini-san?" hibur Mayumi sambil menyentuh ujung jilbab Garsini.
"Bagaimana?" Garsini terheran-heran menatapnya dan cepat menghapus air matanya.
"Aku hampir meyakini bahwa kamu adalah gadis suci, gadis pilihan Tuhan…"
"Pssst… Terlalu berlebihan, ah!" Wajah Garsini seketika bersemu merah. "Jadi, kamu tidak apa!" Mayumi tertawa kembali dan tampak lega.
"Sudahlah, kukira sebaiknya Peter harus bertahan menunggu sampai hari Senin. Karena baru besok aku bisa naik bus jurusan Hiroshima… kereta api bawah tanah dan bus umum kan?" sahutnya pula pasrah.
Sementara Mayumi menuju tempat kerjanya di kawasan Ginza. Garsini pulang ke asrama sambil terus mencari akal, jalan keluar untuk memenuhi janjinya kepada Peter.

***

Garsini tak bisa melenyapkan kekhawatiran perihal Peter dari bilik kalbunya. Ke mana pun dirinya melangkah, apapun yang dikerjakannya, otaknya terus-menerus mengait kepada sepupunya itu. Ada yang sungguh membuatnya prihatin dan cemas. Getar suara sarat kesepian dan ketakutan di telepon itu, addduuuh!
Nuansa ketakutan, kesepian serupa itulah yang sering melanda rekanrekan generasinya di Jepang. Seorang rekannya pernah bercerita tentang adiknya yang melakukan harakiri, penyebabnya hanya karena merasa ketakutan dan kesepian hidup di Tokyo. Tragedi macam itu bukan hanya sekali-dua didengarnya, tetapi sering dan itu sungguh amat menakutkannya.
Tidak, saudaraku tak boleh dibiarkan sendirian bahkan untuk beberapa jam sekalipun, pekiknya dalam hati. Kamu sumber harapan hidup ibumu. Tante Arnie, apa yang sanggup dilakukannya tanpa dirimu? Bingung dara itu menghentikan semua pekerjaannya, program inovatifnya yang teranyar. Ia meninggalkan laptop pinjaman dari Haliza. Beberapa saat mondar-mandir di sekitar kamarnya yang senyap.
Ia membuka tirai jendela kamarnya di lantai dua. Matanya menyergap nuansa malam musim semi menjelang musim panas. Arakan mega putih bak hamparan kapas lembut, pucat, lugas dan sungguh polos. Ia seolah menantang untuk dilukis. Ya, dilukis, kreasi, harapan dan impian… masa depan!
Ugh, aku tak melihat apa-apa selain wajahmu, Peter, erangnya. Gadis itu meninggalkan nuansa malam di luar asrama, berbalik menuju pintu hendak mengambil tambahan aqua dari koridor. Mereka selalu menyediakan galon aqua di sudut-sudut koridor setiap lantai. Lengang dan senyap saat matanya mengapung ke sekitar koridor.
Bulu romanya mendadak meremang. Membayangkan film-film horor dalam nuansa sama. Seorang gadis sendirian disergap kriminal, diperkosa dan dibunuh… Astagfirullahal adziim!
Begitu berhasil mengisi botolnya, tergopoh-gopoh ia berbalik menuju kamarnya, cepat pula dikuncinya rapat-rapat pintunya. Di sudut kamarnya dekat kantong sampah, seketika matanya bersirobok dengan kantung plastik besar khusus untuk menampung baju-baju kotor.
Oh, ia bahkan baru teringat lagi belum sempat membawanya ke tempat cuci umum. Suatu hal yang hampir tak pernah dilakukannya, meskipun ia sedang sesibuk apapun. Kebersihan kan sebagian dari iman. Ia sudah terdisiplin memelihara kesehatan dan kebersihan sejak kecil.
Kakinya seketika tergerak iseng mengutak-atik kantung itu hingga terbuka. Matanya berhenti di ujung gamis biru muda yang pernah dikenakannya pada hari pertama kerja di museum. Ia teringat sesuatu dan membungkuk untuk merogo-rogo saku gamisnya.
"Naaah, ini mungkin bisa menolong kita, Broer!" pekiknya girang sekali.
Dalam hitungan menit ia telah berada di luar asrama, menanti dengan tak sabar taksi yang dipanggilnya via telepon.
"Imperial Palace made itte kudasai,"22 katanya kepada sopir taksi. Gadis itu menghenyakkan tubuhnya yang baru terasa sangat letih. Kapan terakhir kali ia bisa makan lengkap? Mungkin saat makan roti bersama Mayumi di luar kota siang itu.
Semangat yang menyala-nyala dalam dadanya seolah mengirimkan suatu kekuatan baru ke sekujur tubuhnya. Seluruh kengerian dan ketakutan yang sempat menyergap di sepanjang koridor, seolah raib entah ke mana.
"Betul gakusei-san ingin pergi ke tempat seperti itu?" Suara itu! Garsini mengenalnya dan segera mengamati sopir di depannya melalui kaca spion. Ya, ternyata sopir tua yang kemarin dicarternya sejak di perbatasan Odaiba menuju Sendai hingga ke asramanya.
"Ah, Pak Mitszui!" sapanya santun. Lelaki paro baya itu menoleh ke jok belakang, merasa senang karena Garsini masih mengenalinya bahkan ingat akan namanya. Ia menghargai kesantunan dan penghormatan generasi muda. Gadis ini jelas bukan gadis sembarangan, pikirnya sejak pertama kali melihatnya dalam busana eklusif.
"Menemui seseorang?" tanyanya menyelidik.
"Ya, Pak, seorang guru besar Perancis yang baik hati…" Semoga demikian adanya, jeritnya mendoakan dalam hati. Garsini hanya ingin menghilangkan kesan curiga yang kentara jelas di wajah Mitszui-san.
"Hati-hati, ya gakusei-san. Kalau ada apa-apa cepat panggil saya!" pesannya ketika mereka berpisah di depan Imperial Palace.
***





Bab 6




Mungkin ada banyak kriminal berkeliaran di sekitarnya, tetapi beruntunglah dirinya. Karena sampai saat itu, ternyata masih ada lebih banyak orang yang baik dan tulus di sekitar dirinya. Demikian yang terekam di kalbu Garsini begitu meninggalkan Imperial Palace. Dalam keadaan selamat tentu saja, tetap segar bugar. Tanpa tergores secuil pun. Gadis itu sungguh keluar dari sana bak porselin cantik yang masih utuh dan indah, cemerlang.
Profesor Charles del Pierro tampaknya amat terkesan dengan perilaku Garsini. Terutama atas semangat dan ketulusannya dalam membantu saudaranya yang terjebak di Hiroshima, entah dalam situasi segawat apa.
Semua kejujuran itu terpancar jelas melalui sorot matanya yang bening.
"Sungguh? Orang asing itu mau membantumu begitu saja?" Mitszui-san yang tak mau beranjak di pelataran parkir, setia menanti Garsini muncul selamat dari Imperial Palace, bertanya agak sangsi.
Garsini tersenyum riang. "Bapak bisa lihat sendiri kan, saya masih Garsini, gakusei Indonesia…" ucapnya tanpa bermaksud riya.
"Haik, saya percayalah!" sambut Mitszui terbawa emosinya ikut sukacita.
Secuil sangsi telah raib bersama kekalahan para iblis dari dasar neraka.
"Seorang Muslimah yang tetap terpelihara kehormatan dirinya." Sedetik Garsini segera menyadari dirinya bisa terjerumus riya. Maka segera terucapkan istigfar dalam hatinya.
"Ya, ya… saya kira Nona memang begitulah adanya, lugu dan murni," puji Mitszui-san terdengar tulus. Garsini merasakan wajahnya memanas. Ia seetika menundukkan kepalanya dalam-dalam, beberapa saat terdiam. Hingga sopi
paro baya itu menoleh lagi ke belakang.
"Nona tidak apa-apa kan?" tanyanya agak cemas.
"Sumimasen, saya tidak apa-apa, Pak," keluh gadis berkerudung itu bagai meralat. "Tentu saja, semua ini berkat kemurahan Allah semata yang senantiasa memelihara kesucian, kehormatan dan iman Islam saya…"
"Amiiiin!" sambut lelaki paro baya itu mengaminkan penjelasan yang dianggapnya sebagai doa panjang nan indah. Lain kali kalau ada kesempatan lebih baik dari saat ini, ia akan menanyakan apa arti "iman Islam" yang dimaksud.
Garsini merasa bahagia sekali malam itu. Ia langsung mensyukuri nikmat- Nya dengan membilang tasbih dalam hatinya. Mayumi tentu takkan percaya jika ia menceritakan pengalaman "viveri veri coloso" malam ini. Bagaimana guru besar Perancis itu bersedia membantunya, memberikan kartu pas kereta peluru miliknya kepada Garsini tanpa imbalan apapun.
"Kebetulan, saya malah bingung mau diapakan benda ini. Sekarang saya jadi senang sekali sebab mengetahui ini sangat bermanfaat buatmu… Hei, gadis Muslimah dari Indonesia, ini ambillah dan jangan pernah dikembalikan!" katanya sambil tertawa riang. Ketulusan dan keikhlasan terpancar dari suaranya.
Giliran Garsini yang merasa tahu diri. "Ngng… mungkin ada yang bisa saya kerjakan selama Anda menetap di Tokyo? Yah, umpamanya menambahkan referensi Anda, sejarah bangsa-bangsa Asia kan?"
Profesor Charles del Pierro geleng-geleng kepala, diantarnya gadis itu sampai lobi dengan gayanya yang amat kebapakan dan bijak. Tentu ia tak ingin memberi kesan negatif atas keberadaan Garsini di tempatnya saat itu.
"Baiklah, menurutmu apa yang bisa kamu lakukan, hei kandidat pakar teknik informatika?" candanya.
"Sudah saya bilang, saya seorang yang haus ilmu. Nilai sejarah saya juga selalu bagus lho, Prof…"
"Tapi saya akan keliling Jepang selama musim panas nanti. Jadwal saya sungguh padat, luar biasa… Bahkan mulai besok saya sudah tak ada di Tokyo lagi."
"Oh, lalu kartu pas ini?" Garsini kian tak enak hati, bimbang.
"Sudah kubilang, tak ada gunanya buatku. Mereka sudah menyediakan berbagai fasilitas mewah. Itu termasuk tiket pesawat eksekutif ke mana-mana, berikut hotel bintang lima, suite-room… Sudah, untukmu sajalah, jangan pikir apa-apa lagi. Okey?"
Ini sungguh rezeki dari Allah yang dikirimkan melalui tangan sang Profesor, seru Garsini dalam hati. Memang tak perlu jadi tak enak hati lagi, patutnya disyukuri saja.
"Mungkin kamu mau menemani Charlotte… Dia itu putriku semata wayang yang akan datang akhir bulan ini. Kamu bisa mengajaknya jalan-jalan ke Ginza… atau ke mana saja kalian suka?" katanya di akhir pertemuan mereka.
"Oh, ya, tentu saja saya bersedia!" janji Garsini dengan amat lega. Sebab ia tak pernah menginginkan belas kasihan orang. Ada jasa selalu ada imbalan, begitu menurut ayahnya. Meskipun pernah ditentangnya, tapi dalam beberapa hal terkadang menegakkan harga dirinya.
Dan apapun yang pernah terjadi, kepedihan yang disebabkan oleh ketak harmonis antara dirinya dengan ayahnya, Garsini telah melupakannya. Ia selalu menghormati ayahnya sebagaimana seharusnya.

***


Pemilik hotel kecil di luar kota Hiroshima itu mengeluh tentang kelakuan Peter yang dianggapnya terlalu berisik, terlalu memancing perhatian orang-orang di sekitarnya. Sehingga ia mendapat sejumlah komplain dari para tamunya, dan itu hanya menambah rasa marahnya terhadap pemuda bernama Peter van Moorsel.
Mungkin lagi patah hati dan sebentar lagi dipastikan bakal harakiri, sungutnya pula kian sebal dan uring-uringan. Kadang ia menumpahkannya kepada istrinya yang berusaha menenangkannya. Ia telah sering menemukan hal begini dalam sepuluh tahun terakhir. Itu sungguh membuat hatinya angkara sekaligus kecewa berat.
"Apa dunia ini sudah mau kiamat? Apa mereka… teman-temanmu itu, sudah tak punya rasa hormat lagi sedikit pun untuk perjuangan para leluhur?
Mereka yang telah berjuang keras membangun negeri Jepang, dari keterpurukan akibat kekalahan memalukan pada perang dunia silang, hingga seperti sekarang…"
Garsini hampir tak mendengar penjelasannya yang tampak sekali masih akan berlarat-larat, mengungkap keburukan sepupunya. Hatinya menjadi kebatkebit dan jantungnya berdebur keras.
"Tolong, tunjukkan saja kamar saudaraku itu, kumohoon…" Sepasang mata pria Jepang paro baya itu membelalak lebar seolah akan menelannya hidup-hidup. Ugh, makhluk apa gerangan si jelita bertampang pucat ini?
"Aku tidak tahu siapa dirimu," dengusnya. "Kamu kelihatannya sangat… aneh!" diserahkannya juga kunci duplikat kamar Peter kepada gadis itu.
"Terima kasih…" Garsini menyambar kunci itu dari tangannya.
"Ya, bukalah sendiri," katanya kemudian masih meneriaki Garsini di belakangnya.

***


Garsini terpaksa menahan rasa kesal atas sambutan sinisnya itu. Hanya satu yang segera ingi diketahuinya saat ini, bagaimana keadaan Peter? Di koridor menuju kamar Peter, ia berpapasan dengan seorang perempuan berwajah manis dan ramah menyapanya. Agaknya ia istri pemilik hotel.
"Boleh kutanya, baju apa yang kamu kenakan itu, Nona? Adakah itu tren mode mutakhir? Rasanya sangat baik, serba tertutup dan amat apik…" ia menatap wajah Garsini lekat-lekat dalam sikap santun, keibuan. Garsini merandek, berusaha tersenyum manis dan menjawab santun pula."Ini busana Muslimah, Nyonya…"
"Muslimah… apa itu?"
"Oh!" bibir Garsini tulus menyungging senyum. "Pakaian untuk wanita pemeluk Islam…" Nah, bukankah ini juga secuil syiar?
"Oooh, indah sekali, sungguh saya suka melihatnya," kata wanita itu tersenyum hormat.
"Terima kasih, Nyonya, domo arigato gozaimasu…"
"Kudengar Nona hendak ke kamar ujung itu, ya?"
"Ya, boleh kan Nyonya?"
"Hati-hatilah, semalam dia mengamuk, Nona," katanya mengingatkan.
"Saya adiknya, percayalah, semuanya tak seburuk yang Anda kira. Saya mengenal dia dengan cukup baik kok…"
"Mau-maunya gadis itu dipanggil…" seorang tamu melongok dari sebuah kamar yang dilewati Garsini.
"Iya, bagaimana kalau dia dihabisi di dalam sana," cetus rekannya.
Garsini merandek sesaat, betapa ingin ia menepis segala prasangka dan fitnah yang mungkin telah menyebar di seluruh hotel kecil itu. Tapi hanya itu yang masih bisa terucapkan dari bibirnya. Lidahnya mulai kelu.
"Baiklah, kamu memang kulihat sangat enerjik dan eksentrik," komentar istri pemilik hotel pula tentang jawaban Garsini, kala ia menanyakan asal kedatangannya.

***


Tokyo, tentu saja anak-anak metropolitan yang sangat ekspresif dan serba modern. Lelaki paro baya itu masih berpikir-pikir tentang Garsini dan Peter. Namun, ketika dalam bilangan tak lebih dari limabelas menit anak muda itu telah minta rekening kepadanya dengan wajah sumringah, dia merasa sangat surprise.
"Diakah kekasihmu yang sudah membuatmu nyaris harakiri, heemmm?"
Peter kontan naik pitam dan hendak meninju wajah lelaki sebaya ayahnya itu. Mujur, Garsini berhasil menyejukkan suasana tepat pada waktunya. Seperti kemunculannya yang tiba-tiba bagai kilat pada pagi buta, ia pun segera lenyap dalam tempo relatif singkat.
"Makanya, Pak, jangan gampang naik pitam dan selalu sinis terhadap generasi putra kita," tegur istrinya. "Lihatlah, gadis itu lain sekali… Kau tahu, rombongan turis yang baru masuk ke hotel kita tadi? Mereka mengatakan satu kereta dengan gadis itu. Mereka sangat mengaguminya dan menghormatinya…"
"Kau ingin bilang, anak itu sudah membawa berkah ke sini?"
"Bahkan lebih dari itu!" sergah istrinya kesal. "Aku merasa bisa memetik pelajaran yang sangat berharga hari ini…"
"Jangan berlarat-larat, to teh point saja apa yang ingin kamu katakan?"
"Sudah saatnya kamu mengubah penilaian serba negatif terhadap generasi putramu. Buktinya gadis itu sangat mandiri, berani. Dia kan hanya anak perempuan, sementara putramu itu…"
"Alaah, aku tahu sekarang!" tukas pemilik hotel. "Ujung-ujungnya kamu mau kita segera memanggil putra kita dari Korea, bukan? Bertele-tele segala…"
Perempuan itu terdiam. Ia merasa tak keliru kini, menangkap sorot rindu
menyembul dari sepasang mata tua di depannya. Putra mereka semata wayang telah bertahun-tahun pergi ke Korea. Membawa serta istri dan anak-anaknya, hanya karena pernikahannya tak direstui mereka.
Di Jepang begitu banyak manusia terjebak dalam dunianya yang senyap,
menakutkan, hingga mendorongnya melakukan perbuatan nekad. Penyebabnya konon karena modernisasi yang terlalu melejit nyaris tak seimbang dengan peradaban lama, yang keukeuh ingin dipertahankan oleh generasi sebelumnya.
Di antara tarik ulur itulah generasi muda Jepang terlahir, hidup dan berkembang tanpa arah yang pasti. Agama lama yang masih dipegang pun bahkan tak bisa menjawab kebingungan mereka. Contoh kecilnya adalah perseteruan yang seharusnya tak ada antara pemilik hotel kecil di Hiroshima itu dengan putranya semata wayang. Ada riak-riak rindu yang membinar di mata lelaki paro baya saat memandangi punggung Peter, yang berjalan tegak di samping gadis berbusana eklusif itu.
Hmm, mungkin juga anak-anak muda itu membawa berkah, pikirnya membenarkan penilaian istrinya. Terutama semangat dan keyakinan yang dimiliki gadis berbusana eklusif itu. Ia mendengar rombongan turis Belanda yang baru tiba di penginapannya, terus-menerus mempercakapkannya. Ketulusan, kebaikan dan keanggunan masih dipadu dengan kemandirian dan kesalehan. Aha, siapapun gadis itu sesungguhnya, ia tak perlu membahasnya lagi.
Namun, satu hal yang pasti kemunculannya telah menggetarkan simpul ikatan kasih yang sejak lama terputus. Ternyata generasi putraku tak separah seperti yang kubayangkan selama ini, katanya memutuskan. Ya, itu buktinya, pasangan anak muda itu. Demi menolong sepupunya, anak itu berani melakukan perjalanan seorang diri dari Tokyo. Di matanya yang kolot itu adalah suatu hal yang sangat luar biasa.
"Okusaaan! Berapa nomer telepon putraku itu? Biar aku telepon dia sekarang juga, supaya secepatnya bawa menantu dan cucu-cucu kita pulang ke sini…"

***


Apakah itu berkah atau kebetulan-kebetulan yang menguntungkan saja, rasanya tak usah dibahas, elak Garsini setiap Peter ingin mengetahui asal-usul kepemilikan kartu pasnya. Begitu pula perihal secara kebetulan Garsini bertemu rombongan turis Belanda, lalu bersama mereka menumpang kereta peluru sepanjang malam itu.
Padahal, sebelumnya Peter sudah lelah melacak jejak mereka. Hingga ia nekad berangkat sendiri, kemudian terdampar di Hiroshima. Di tengah perjalanan seketika ia merasa dirinya mulai sakit. Jadi, ia terpaksa menghentikan perjalanannya, turun entah di mana, naik taksi… Tahu-tahu mendapatkan dirinya di hotel kecil itu!
"Wuiih, petualangan yang mencekam tuh!" katanya mulai bisa tertawa lagi, bisa fokus dan berpikir jernih kembali. Mereka memesan roti segar dan kuekue basah khas Jepang yang lezat di sebuah kedai yang bersih. Peter menyantap penganan yang terhidang dengan sangat lahap. Seolah-olah ia tak pernah makan dalam dua hari itu.
"Itu benar, hanya air yang bisa masuk ke tenggorokanku, bergalon-galon aqua kupesan," aku Peter.
"Karena itu pemilik hotel mengira kamu orang nyentrik," tebak Garsini.
"Bukan cuma mengira nyentrik… Dia memergokiku lagi menceracau, jadi ditudingnya aku sinting. Malah sempat dipanggilkannya seorang dokter. Dalam demam tinggi itu, rasanya aku melempari mereka dengan galon-galon aqua yang sudah kosong…"
Kini Peter mulai bisa mengenang tiga malamnya yang terburuk itu dari sudut pandang orang sehat. Wajahnya berseri-seri sehat dan bugar. Selera makannya sungguh telah kembali. Malah membuat Garsini yang menyaksikan kelakuannya jadi khawatir sekali.
"Apa kamu nggak takut seperti kejadian di Tokyo tempo hari?" tanya Garsini mengingatkan.
"Aha… ini soal lain, Non. Orang Sunda bilang mah mamayu!"
"Mamayu itu kan kalau sakitnya lama, begitu sembuh langsung doyan makan apapun," sahut Garsini sekenanya.
"Iiih, pokoknya mamayu we naha?" Peter keukeuh. Giliran Garsini yang tampak pucat kurang tidur. Perjalanan naik kereta peluru beserta upaya dalam mendapatkan kartu pasnya, sungguh suatu tualang melelahkan.
Jadi Garsini membiarkan Peter bicara dengan mata yang berat oleh kantuk. Kepalanya berayun-ayun, ditingkahi angin musim semi yang menerobos melalui tirai jendela kedai dari arah pegunungan. Otaknya bagai berhenti seketika, bahkan ia tak peduli akan keunikan cuaca di antara musim semi dengan musim panas yang terjadi di kawasan Jepang.
Samar-samar kupingnya masih menangkap dua orang lelaki di sebelahnya bicara perihal cuaca buruk, taifun yang melanda beberapa bagian Negeri Sakura. Sesungguhnya Garsini baru menyadari kebiasaan orang Jepang yang amat menyukai bicara perihal cuaca. Sepanjang perjalanan ia menemukan orang-orang di mana-mana bicara perihal cuaca.
Ini satu pengetahuaan baru lagi. Ia ingin mengabarkannya kepada Mayumi. Tentu Mayumi akan senang bila sahabatnya ini terus bertambah wawasannya mengenai masyarakat Jepang. Namun, apa pedulinya saat ini?
"Kau sudah dengar, transportasi ke arah selatan Hokkaido mengalami macet total…"
"Dilanda taifun dahsyat, ya?"
"Ya, mengerikan sekali!"
"Untung aku tak punya kenalan atau famili di kawasan sana." Tapi aku punya kenalan yang sedang melakukan perjalanan ke arah Hokkaido, Saporo, Nakajima-san, bisik hati Garsini.
Namun, kepalanya sungguh bagai mengalami kemacetan total. Memori otaknya tak mampu menggerakkan isyarat untuk melakukan ini dan itu. Bahkan sekadar untuk mengatakan keadaannya itu pun kepada Peter, ia sungguh tak sanggup lagi. Akhirnya Garsini merasa tak tahan lagi, terkalahkan oleh jurig tunduh. Bruuukk…!
"Hei, ada apa Garsini? Kamu… yaah, kok malah tidur di sini sih?" Dua lelaki yang duduk di sebelah mereka tersentak dan bangkit menghampiri pasangan muda itu.
"Apa yang terjadi dengan nona ini?" tanya seorang di antara mereka.
"Apa dia sakit?" cecar rekannya mencemaskan.
"Tidak, dia hanya ketiduran saja kurasa…" Peter tertawa. Sedetik Peter masih mengira Garsini hanya ketiduran, malah mungkin hanya ingin menggodanya saja. Tapi manakala orang-orang mengerumuni mereka, bahkan ada yang mengkhawatirkan keadaan Garsini… Ia mulai panik.
"Waah, kenapa gadis ini, ya?"
"Wajahnya pucat pasi seperti mayat…"
"Jangan-jangan dia terserang penyakit… epilepsi?" Dan kebetulan yang terakhir bicara itu justru orang bule dalam bahasa internasional, hingga Peter memahaminya. Meskipun ia tak yakin bila sepupunya punya indikasi epilepsi, tapi mana tahu kan? Lagi pula ia masih trauma dengan demam malaria yang baru saja menyerbu dirinya sendiri.
"Taksi, takesu, yaap, takesu kudasaaaai, haaaiik!" seru Peter dengan panik sekali. "Help, please, heeelp…!" serunya pula kepada si bule yang pertama dilihatnya di kedai itu. Beruntunglah, kali ini Peter sukses menerangkan keinginannya melalui bahasa tarzan dan isyarat. Sehingga dalam bilangan menit sebuah taksi tiba di kedai itu.

***


Garsini telah menyerahkan segalanya kepada kebijaksanaan sang De Broer. Ia tak ingat segalanya sampai beberapa jam lamanya. Hanya ingatan yang timbul tenggelam, bayangan-bayangan asing yang sibuk di sekitar dirinya, wajah sepupunya yang mencemaskannya….
Seorang wanita paro baya baru selesai mengelapkan handuk kecil ke wajahnya, air hangat masih terasa membekas. Oh, siapa orang ini? Garsini berusaha bangkit, tapi sekujur tubuhnya masih letih bahkan kaku untuk digerakkan. Ia hanya memandangi wajah di depannya, manis dan lembut mengingatkannya kepada ibu Mayumi. Wanita Jepang itu menyadari keheranannya, maka ia menghampirinya lebih dekat lagi dan tersenyum ramah.
"Hai… Nona sudah betul-betul bangun ya kan?" sapanya.
"Ngng… di mana ini, siapa Ibu?" tanya Garsini. Ibu itu duduk di sebelahnya dan menyentuh tangan Garsini.
"Kamu berada di hotel terbaik di kota ini," sahut Okusan sambil tersenyum hangat. "Seperti kata dokter Sumitsu-san di depan sana, kamu hanya kelelahan saja, tidak apa-apa…" Kuping Garsini sayup-sayup mendengar orang bercakapcakap, matanya juga menangkap bayangan-bayangan di depan pintu kamarnya. Peter bercakap-cakap dengan seorang pria kulit putih.
"Thank's, ya Smith, kamu baik sekali mau meluangkan waktu mampir…"
"Yeah, setidaknya hanya itu yang bisa kulakukan sebelum ikut rombongan melanjutkan perjalanan. Jadi, bagaimana keadaan adikmu itu sekarang?" tanyanya seperti penasaran sekali.
"Sekarang sudah baik, di dalam lagi ditemani Okusan," sahut Peter. "Siapa?" orang itu terdengar tertawa.
"Istri pemilik kedai di seberang…"
"Kau sudah mirip sekali dengan orang Jepang, Peter," sindir suara wanita. Beberapa saat terdengar tawa riang. "Sayang sekali, kalian harus istirahat dulu di sini, ya?" entah siapa tapi itu suara seorang wanita yang berbeda.
"Yah, selamat mendaki gununglah," kata Peter terdengar ikhlas.
"Kalau kalian ikut tentu akan lebih semarak. Adikmu itu baik sekali… eeh, kakiku yang terkilir di kereta sudah sembuh berkat dia. Sampaikan rasa terima kasihku kepadanya, ya Peter…" suara wanita yang tak asing lagi.
"Ya, ya, tentu saja akan kusampaikan…"
"Kalau begitu kami pamit saja, daaag Peter!"
"Daaag…" balas Peter mengantar dua pasang anak muda itu dari depan pintu kamar. Garsini ingat lagi, gadis Belanda itu tentu saja Beatrice. Gadis yang tiba-tiba terkilir saat dia pamer kemahirannya bersalsa, hingga rekan-rekannya mendadak heboh. Segala canda ria berhenti total, merubung-rubungi si Beatrice yang mengerang-erang kesakitan.
Garsini yang duduk di gerbong sama dan semula agak terganggu dengan keributan rombongan bule itu, seketika tergerak untuk mengulurkan bantuan. Mula-mula reaksi mereka adalah memandanginya dengan terheran-heran. Sebelumnya pun mereka sempat melecehkan caranya berpakaian, mencurigai gerak-geriknya yang dianggap aneh…
Padahal, Garsini tengah berusaha keras untuk khusuk shalat isya malam itu. Memejamkan matanya dan membilang zikir dengan jari-jemarinya. Sedang para bule itu terus-menerus berisik, tanpa peduli terhadap orang-orang di sekitar mereka. Anehnya, tak seorang pun berani komplain terhadap keributan yang ditimbulkan mereka.
"Biarkan saya membantu Nona ini, please…" kata Garsini. Ketika Garsini berhasil memberikan sebagian ilmu yang diperolehnya dari dojo, dalam hal urutmengurut, betapa terheran-herannya mereka. Dari rasa heran campur malu, akhirnya mereka sama mengakui keunikan dan kehebatan gadis berbusana eklusif itu.
Sejak itu mereka menaruh hormat dan kekaguman tersendiri kepada Garsini. Meskipun Garsini menyambutnya biasa saja, bahkan cenderung tak menggubris tingkah laku mereka selama sisa perjalanan malam itu.
Sebagaimana sikapnya sebelum peristiwa itu terjadi.
Smith, pasangan Beatrice ternyata seorang dokter. Ia memberikan pertolongan yang amat diperlukan Peter, saat menghadapi sepupunya yang mendadak colaps. Kalau begitu, impaslah sudah!

***








Bab 7




"Bagaimana malariamu sekarang?" Peter tak segera menyahut, malah menatapnya lekat-lekat dengan rasa kagum dan sayang seorang saudara sedarah. Garsini masih belum paham sepenuhnya. Sekilas diliriknya wajah De Broer-nya, sama sekali tak memperlihatkan pertanda orang baru sembuh dari sakit parah. Sebaliknya penampilannya tentu amat menyedihkan. Menurut Okusan tadi, tampangnya masih pucat pasi, kisruh… Di mana jilbabnya selama ini disampirkan?
Dengan gugup dan jengah, Garsini berusaha menutupi mahkota indahnya dari pandangan sepupunya. Meskipun itu sia-sia, karena toh ia tak tahu apa yang terjadi selama sehari semalam itu. Peter seperti memahami keinginannya, disambarnya kerudung Garsini yang tersampir di kapstok dan diberikannya kepada gadis itu. Garsini menerimanya tanpa bicara, cepat-cepat menutupi rambutnya yang tergerai panjang.
"Biasanya juga hanya dua-tiga hari menyerang. Itu sudah lewat, ugh, mimpi-mimpi buruk… mengerikan sekali! Apa aku seperti sosok psikopat yang siap membunuh, seorang schizoprenia akut di mata pemilik hotel itu, ya?"
Peter tertawa sumbang, seketika Garsini bisa menangkap kepedihan yang dalam di mata anak muda itu. Kepedihan di masa silam, saat kanak-kanak di awal kedatangannya berdua ibunya di negeri Kincir Angin belasan tahun lalu.
Kepedihan mengental itu telah menyilih kebingungan yang semula menyelimuti hati Garsini. Tidak mengapa, tak terjadi hal buruk, pikirnya. Garsini percaya, Peter telah merawatnya dengan sangat baik sekali, tak kurang suatu apapun…
Garsini baru mengetahuinya kini, seketika ikut merasa gemetar dan menggigil sepanjang menyimak kisah yang dituturkan Peter. Mereka sempat disekap oleh seorang lelaki Belanda, interniran militer, yang dikenal Arnie melalui biro jodoh di dunia cyber.
"Aku masih kecil, lima tahun ketika itu tapi masih kuingat saat-saat mengerikan itu… Orang itu memukuliku, menyekapku di kloset. Sedang di luar kudengar suara Mami mengerang, memohon-mohon agar si Monster itu membebaskanku… Mami rela berbuat apapun demi kebebasanku, oooh, sungguh mengerikan! Entah apa saja yang telah diperbuat si jahanam itu terhadap Mami, hiks, hiks…"
Peter menangis tersedu-sedu di hadapan Garsini yang ikut memburaikan air mata. Pengalaman itu sangat membekas dalam ingatan Peter kecil. Bahkan menjadi mimpi-mimpi buruknya untuk beberapa lama. Sehingga ia sempat menjadi pasien psikiater sepanjang tahun, menjadi paranoid dan kleptomania! Semua itu konon sebagai dampak traumatis jiwanya di masa kecil.
"Musim dingin, salju pertama yang kami lihat di negeri Kincir Angin ketika itu…" Peter melanjutkan kepedihan masa silam yang tak pernah terungkap hingga bertemu Garsini.
Akhirnya, suatu siang yang penuh salju kesempatan itu datang. Tante Arnie nekad turun dari lantai tiga apartemen si George, susah payah menurunkan putranya, hingga kakinya terkilir. Mereka kemudian menyusuri salju tak tentu arah dalam baju tipis, nyaris mati kelaparan dan kedinginan.
Sebuah bangunan yang ternyata adalah kapel tampak oleh mata mereka. Ke situlah akhirnya Tante Arnie berlabuh, menggapai kasih sayang mereka dan memperoleh perlindungan serta kehangatan. Pendetanya sangat baik, Van Moorsel, memiliki seorang putra yang masih lajang. Asalnya mungkin hanya sekadar balas budi, Tante Arnie kemudian menerima lamaran Paul van Moorsel.
"Kukira sekarang Mami sudah bisa mencintai ayah tiriku yang baik hati itu.
Papi sangat mendukungnya, bahkan menyemangati Mami agar melanjutkan sekolahnya. Bertahun-tahun Mami sekolah di mana-mana malah sampai London segala…"
Sekarang Tante Arnie telah menjadi seorang perancang busana yang sukses. Memiliki rumah mode sendiri di Huizen. Peter memutuskan bergabung dengan militer Kerajaan Belanda, sebab tak ingin lebih banyak menyusahkan orang tua dalam hal finansial. Meskipun ayah tirinya tak pernah mengeluh perihal biaya pendidikannya. Agaknya Peter amat tahu diri akan hal itu.
Siapa mengira elegi kelam itu pernah mereka alami? Di dalam keluarga ibunya, Garsini lebih sering mendengar pujian dan kekaguman terlontar atas keberhasilan Tante Arnie di negeri orang. Mereka tak pernah tahu arti di balik kabar sukses itu, curahan transfer uang dan bingkisan dari Tante Arnie untuk saudara-saudara di Cimahi… Oma Aliet, pasti akan kumat jantungnya kalau mendengar kisah ini!
Tiba-tiba Peter meraih kedua tangan sepupunya dan menggenggamnya erat. Dipandanginya wajah Garsini lekat-lekat.
"Tolong, demi kasih sayang sebagai saudara sedarah," bisiknya serius sekali."Ini hanya menjadi rahasia kita, ya… Jangan pernah ungkapkan kepada siapapun, please…?" Ada untaian kristal gemerlap di sudut-sudut mata itu. Maka Garsini pun mengangguk ikhlas.
"Ya, tentu saja ini hanya kisahmu, masa lalu yang tak perlu kita ungkap… Tak perlu kita kenang lagi," janji Garsini.
Garsini berpikir, sejak saat itu sikapnya terhadap Peter akan berubah total. Lebih erat, semakin mengasihi dan menghormatinya. Meskipun ada sebersit niat yang dibawanya sejak keberangkatannya dulu, yakni untuk mempengaruhi sepupunya dalam hal keyakinan…
Tapi hidayah itu bukankah sesuatu yang hanya timbul dari kedalaman kalbu seseorang? Ia hanya bisa mempengaruhi, sebagai pemicunya, toh segalanya terpulang kepada takdir-Nya.

***


Peter meminta kesediaan Garsini agar menemaninya melanjutkan
perjalanan wisatanya. Garsini agak bimbang. Maka ia meminjam handphone Peter, supaya bisa menghubungi Tokyo. Ia meminta pertimbangan dan kabar baru mengenai Nakajima-san kepada Mayumi. Setelah sabar menanti sinyal selama setengah hari, akhirnya ia berhasil juga mengontak sahabatnya itu.
"Moshi-moshi, apa kabar Tokyo…?" sapa Garsini riang. Dari kejauhan Peter mengawasi gerak-geriknya sambil mesem-mesem. Kadang dia mirip sekali dengan bocah! Pas diberi kesempatan pegang benda itu, dia langsung mengotak-atiknya. Lucuuu deh kaamuu!
"Jangan pernah lewatkan kesempatan emasmu itu, Garsini-san!" seru Mayumi penuh semangat seperti biasa. "Tak perlu pertimbangkan apa-apa lagi,
di sini semuanya sehat dan serahkan saja soal MeSci itu kepada yang berhak…"
"Ada kabar dari Pak Nakajima?" tukas Garsini penasaran. Kalau tak diingatkan, Mayumi suka celoteh ke mana-mana. "Ini sambungan jauh, Non, cepatlah… lagi pula ada taifun di mana-mana!"
Terdengar tawa renyah dari seberang."Kamu suka dikejar-kejar setan begitu selamanya, ya?" sindirnya. "Pak Nakajima sudah telepon, katanya lagi bersenang-ria bersama keluarganya di Saporo. Terpaksa pulangnya ditunda sampai akhir bulan…"
"Waaah, jadi bagaimana tugas para sesepuh di museum itu?"
"Tenanglah, aku sudah berhasil merekrut beberapa adik kelas yang mau kerja sambilan di MeSci. Sudah kubilang, tak ada masalah apa-apa di Tokyo yang perlu kamu khawatirkan. Sudahlah, selamat bersenang-ria, Garsini-san.
Oya, sampaikan salamku buat abangmu, siapapun namanya dia… okey?!"
Kliiik! Telepon betul-betul diputus oleh Mayumi, bukan sebagai dampak taifun yang melanda seluruh negeri Jepang saat itu. Ini cuaca yang sangat unik, pikir Garsini lesu mengembalikan handphone ke tempatnya semula di atas meja.
Sementara di satu sisi sedang musim semi menuju musim panas, terjadi hujan dan taifun khas Jepang di sisi lainnya. Rangkaian angin badai atau taifun itu, diberitakan frekuensinya lebih besar daripada taifun di bagian dunia manapun.
"Ibarat sang Monster, sifatnya mirip dengan angin-angin topan yang kerap memporak-porandakan pantai timur Amerika Serikat. Keduanya merupakan hasil hubungan umum yang sama antara daratan dengan air pada garis-garis lintang yang sama pula…" Peter membaca pelan koran lokal di tangannya.
Garsini menyimaknya dengan seksama dan penuh perhatian.
Sebagaimana Peter membaca korannya dengan mimik serius, takjub sekaligus keheranan.
"Namun, sang Monster ini menggasak Jepang begitu hebatnya hingga menimbulkan kehancuran, ribuan korban jiwa dan harta yang tak terhingga.
Sementara bagian terbesar penduduk Jepang terpusat di pantai-pantai laut sebelah barat daya, justru di situlah tempat taifun pertama-tama mendarat…" Garsini hampir tak tahan lagi membayangkan ribuan korban jiwa yang tak berdosa berjatuhan. Digasak sang Monster!
"Tak bisa terbayangkan akan berapa juta lagi korban jiwa yang bakal berjatuhan. Mereka, penduduk yang tak berdosa, mungkin sudah miskin sekali, tak memiliki rumah yang layak huni. Anak-anak, wanita hamil, kakek, nenek lanjut usia…" lanjut Peter masih asyik membaca.
"Ya Allah, bagaimana kehancuran dan kepedihan yang maha ini, sanggup Engkau timpakan begitu saja kepada makhluk, yang konon paling mulia di antara seluruh makhluk ciptaan-Mu itu…?" suara pilu Garsini tersekat di tenggorokan.
Ia merasakan tubuhnya seketika dingin. Persis seperti saat ia menyadari dirinya berada di Hiroshima. Sebuah kota yang pernah dijatuhi bom atom oleh sekutu di masa perang dunia.
Penderitaan, kehancuran anak manusia. Hiroshima, taifun, sang Monster… Seolah-olah satu kesatuan jahat yang siap menghancurkan seluruh rakyat Jepang. Mengapa harus negeri ini? Mengapa tidak negeri lainnya?
Mengapa, Tuhanku, mengapaaa?
"Apa yang kamu katakan barusan, Garsini?" tanya Peter membahana di antara gumpalan awan yang berarak dari arah selatan pegunungan. Itu cukup berhasil, mengejutkan Garsini pada kenyataan kembali.
"Ya, mengapa, Peter?" ujar Garsini menatapnya pilu, tapi berhasil menarik pulang sebagian jiwanya yang sempat mengapung dalam samudera kepedihan anak manusia. "Tadi aku sempat mempertanyakan kepada Sang Khalik. Mengapa, mengapa taifun itu selalu datang dan menghancurkan Jepang…?"
"Ditambah bencana gempa secara berkala dan setiap saat," tukas Peter tanpa ampun menohok ulu hati gadis itu.
Wajah pilu itu kini memucat. "Ya, aku pernah mengalaminya. Mengejutkan saat pertama kali, tapi kemudian aku mulai terbiasa. Apakah itu akan selalu terjadi, kapan, di mana dan seberapa parahkah?"
"Setiap saat, kapan saja, di mana pun kamu berada di seluruh pelosok negeri ini…"
"Ya Allah!" seru Garsini menutup wajahnya ngeri. Terbayang bagaimana dirinya suatu saat bakal menjadi salah satu korban bencana itu. Terasing, seorang diri, jauh dari orang tua, sanak saudara. Entah terkubur begitu saja, atau masih sempat ditemukan oleh regu penyelamat. Sang Maut, kematian itu merenggutnya dengan telak. Apakah kala itu masih dalam iman Islam atau sebaliknya, sebagai penggugat-Nya? Mati dalam kekufuran nikmat-Nya, begitukah?
Peter malah terus saja membacakan sekilas ulasan bencana yang pernah melanda Jepang di masa silam. Tahun 1783, Asama, menghancurkan ratusan mil persegi kawasan Honshu bagian tengah. Tahun 1923, 1 September gempagempa dahsyat berulang kali menghantam Tokyo dan kota pelabuhan Yokohama. Semuanya disamaratakan dengan tanah, mengamuk pada tengah hari bolong...
"Wooow, bayangkan saja, Garsini!" serunya masih belum melepaskan korannya. "Korbannya konon lebih dari 130 ribuan tewas seketika. Ini tragedi kemanusiaan yang tak terampunkan. Mengerikan, demi Tuhan, Garsini… Ini sungguh mengerikaaan!" serunya histeris.
Peter melemparkan koran di tangannya begitu saja. Napasnya tersengalsengal, sesak sekali. Untuk beberapa jenak tak ada yang bicara lagi. Keduanya duduk terpaku di atas tatami. Pintu yang terbuka meniupkan hawa segar angin musim semi dari pegunungan di belakang penginapan itu.
Hening mengapung di sekitar mereka bak mata pisau yang menikam telak jantung masing-masing. Susah payah Garsini menembus samudera ketakutan itu, menyelaminya, merenanginya, menyeberanginya… Ups!
"Astaghfirullahal adziiim," gumamnya lirih. Garsini tersadar dalam sepenggal nostalgi bersama ibunya, suatu hari ketika ibunya baru saja babak belur dipukuli suami. Mengapa Mama diam saja, tidak balik melawan Papa, geramnya menggugat. Jadilah manusia yang istiqomah terhadap Allah, anakku, kata wanita tegar itu.
Peter pun menoleh ke sebelahnya, seolah baru kembali dari kembara yang amat menyedihkan itu. "Apa artinya itu?" Begitu pula tanyanya kala itu. tepatnya, istiqomah itu apa, Ma?
Mama pun berkata lugas, "Orang yang istiqomah terhadap Allah memiliki empat sifat gunung," diraihnya tubuh Garsini kecil dan mendekapnya ke dalam dadanya. "Tidak lebur oleh terik mentari. Tidak beku oleh cuaca dingin. Tidak goyah oleh hempasan angin. Tidak bergeser oleh arus air…"
Peter menyimak perkataan gadis itu dengan seksama, penuh perhatian dan pengaguman diam-diam. Saat itulah ia baru menyadari akan kemandirian sepupunya. Garsini tak sama dengan para remaja bule yang pernah dikenalnya di Holland. Bayangannya tak ada di antara para pemuja dunia gemerlap, selebriti dan hal-hal bersifat semu, kenikmatan sesaat… Dia begitu unik, langka!
"Ayo, kita jalan-jalan mumpung cuacanya cerah!" ajak Peter ingin menghilangkan rasa ngeri yang sempat membelenggu hati mereka.
"Baiklah, tapi kapan kita akan kembali ke Tokyo?"
"Sore juga bisa, naik taksi ke kota dari sana dilanjutkan dengan kereta. Asyik kan bisa naik kereta malam-malam lagi?" Peter tertawa riang.
Kelihatannya rencana yang bagus dan takkan ada hambatan apa-apa, pikir Garsini. Ia sama sekali tak pernah mengira bahwa cuaca cerah di Jepang bisa mendadak berubah… mengerikan!

***


Sepanjang hari itu mereka menghabiskan waktu untuk keluyuran di kota yang pernah dibom atom sekutu. Sesungguhnya Garsini merasa agak tak enak hati juga, mengingat mereka jalan bareng dan selalu tampil berduaan. Bagaimana dengan prasangka dan fitnah? Adakah mereka percaya kalau keduanya bukan pasangan roman, pasangan bebas? Seperti pasangan lain, para turis asing yang berseliweran di sekitar mereka itu…
"Kita kembali saja ke hotel, Peter," ajak Garsini tak tahan lagi dengan tatapan selidik, tak mengenakkan hati itu.
"Tapi kita belum ke mana-mana," protes Peter. Saat bersitegang itulah mereka bertemu kembali dengan rombongan Smith yang urung naik gunung Fujiyama. Beatrice berseru memanggil Garsini dengan suaranya yang lantang.
Garsini tersenyum menyambut empat muda warganegara Belanda itu.
Mereka mampir di kafe yang agak sepi di sudut kota untuk makan siang.
"Cuacanya sangat buruk. Kami disarankan untuk membatalkan perjalanan tamasya ke arah sana," keluh dokter muda itu dengan raut kecewa sekali.
"Mana yang lainnya?" tanya Peter.
"Para manusia nekad itu memaksa pergi juga dengan pemandu yang tak kalah nekadnya. Menyewa mereka dengan harga lipat-lipat," jelas Hendrick yang selalu digelendoti manja oleh gadis bernama Marlene van de Kaplan. Dialah satu-satunya yang memperkenalkan diri kepada Garsini dengan nama lengkap.
Konon, karena dia seorang turunan aristokrat Kerajaan Oranye.
"Aku malah bersyukur, sebab tak begitu suka hiking. Lagi pula, kalau kalian pergi aku terpaksa harus tinggal di sini sendirian atau balik ke Tokyo juga sendirian." celetuk Beatrice tertawa riang.
"Karena kakimu belum begitu sehat, Sayang," bujuk Smith menatap mesra dan mengecup sekilas pipinya. Garsini melengos dan berpikir, gadis yang satu ini mudah sekali merespon segala sesuatu dengan tawanya yang riang.
"Tidak juga, ah," elak gadis Belanda itu menanggapi komentar Garsini selang kemudian. "Waktu terkilir tempo hari di kereta peluru itu…"
"Dia sama sekali tak tertawa malah menjerit histeris kesakitan," ejek Smith."Bikin semuanya panik dan ketakutan…"
"Kamu tidak berguna sebagai seorang kandidat Doktor!" ejek Marlene van de Kaplan yang wajahnya mengingatkan Garsini kepada Sophia Latjuba.
"Jangan kejam begitu, Marlene van de Kaplan," tukas Beatrice masih juga tertawa riang. "Tentu saja, itu bukan salahnya. Sepenuhnya kesalahanku, terlalu genit memamerkan salsaku dan… Begitulah akibatnya!"
"Beruntunglah ada Angel, sang Penyelamat, Miss Indonesia ini. Sekali lagi, kami haturkan beribu terima kasih atas pertolonganmu waktu itu," Smith bersopan-sopan secara demonstratif,
Garsini merasa tak enak hati dan sesaat hanya menunduk dengan wajah merona.Tiba-tiba Hendrick berkata seraya memandangi Peter dengan agak mengiri, "Berbahagialah kamu, Broer, menggaet gadis secantik dan sepandai dia…" Marlene menambahkan dengan nada sok tahu.
"Kapan kalian meresmikannya?" Garsini tersentak bagai tersengat listrik. Ia melirik ke arah Peter dengan mata memelas. Peter maklum akan ketaknyamanan hatinya.
"Kami ini bersaudara, dia sepupuku dari Indonesia yang sedang belajar di Jepang sini," jelas Peter tegas.
"Waah, kalau begitu kamu anak orang kaya, hemm?" Marlene menatap Garsini dalam sorot mengiri.
"Tidak juga," sahut Garsini semakin tak nyaman berada di tengah orang yang bukan golongannya. "Saya bisa kuliah di Universitas Tokyo itu dengan beasiswa dari pemerintah Jepang…"
Suasana yang sempat kaku itu segera dicairkan oleh ajakan riang Beatrice. "Sudahlah, kalian ini… Mari kita bersulang untuk persahabatan antar warga dunia, okeeey?"
Ketika tangan-tangan para muda itu terulur dengan mengacungkan gelasgelas kristal, Garsini semakin mengkerut hatinya. Mereka sungguh bukan golonganku, aku sama sekali tak pantas berada di sini!
Namun, ternyata kemudian betapa sulit Garsini melepaskan diri dari rombongan itu, teman-teman barunya yang beraneka ragam karakter dan kelakuannya itu. Kalaupun ada yang agak melegakan Garsini adalah mereka tidak tinggal satu hotel. Rombongan Smith masih menginap di hotel kecil tempat mereka sebelumnya. Garsini tak dapat membayangkan seandainya mereka satu hotel. Apakah ia dan Peter bisa menolak ajakan mereka untuk bergabung? Dan akan beberapa kali lagi mereka harus bersulang? Toast, toast…!
Dan bunyi gelas beradu pun berdentingan, membarengi tawa genit, suara lantang dan perilaku yang mbarat sekaaalee… Budaya Barat telah merebak di sekitarmu, Garsini!

***

















Bab 8





"Hari ini juga kita kembali ke Tokyo!" cetus Garsini keesokan harinya menegaskan tanpa bisa ditawar-tawar lagi. Sepanjang malam ia merasa sangat tersiksa dengan situasi yang mereka hadapi, dan sama sekali tak pernah dibayangkannya. Peter tidur di atas tatami, bergelung kedinginan dan bisa dipastikan sulit tidur juga.
Beberapa kali Garsini memergoki Peter terbangun, kemudian bangkit untuk minum teh, gelisah jalan mondar-mandir. Mujur, dia bukan seorang perokok. Tapi melihatnya gelisah begitu, Garsini jadi lebih gelisah lagi.
"Tapi angin badai begitu dahsyat di luar. Kita tak bisa ke mana-mana…"
"Baik," kata Garsini sesaat wajahnya tampak serius sekali.
"Ada apa denganmu?" Peter bertanya cemas. Garsini menggeleng, tapi ia sudah memutuskan sikap.
"Kalau begitu, pesankan kamar satu untukku. Jangan khawatir, kamar itu nanti akan kubayar sendiri."
Peter terperangah. "Kamu ini mulai aneh-aneh saja," sungutnya. Garsini mengangkat bahu dengan tampang disetel serius sekali. Terpaksa Peter keluar untuk menuruti permintaannya, mendatangi pemilik hotel. Beberapa saat kemudian Peter kembali dengan tangan hampa, sebab hotel telah dipadati tamu yang terjebak angin badai di kawasan itu. Garsini ternyata telah siap mengantisipasi kemungkinan macam ini.
"Siapa dia?" Peter terheran-heran menatap seorang gadis asing di kamar mereka. Usianya sekitar dua-tiga tahun lebih muda dari Garsini.
"Ini Kagume, putri pemilik kedai seberang itu," jelas Garsini. Kagume membungkuk takzim ke arah Peter, ekor matanya mengerling kagum. Garsini harus mengakui, penampilan sepupunya itu memang selalu memikat. Charming,
gentle dan berwibawa. Dia sama sekali tak mirip selebriti yang arogan, siapa namanya itu yang suka dikejar-kejar para fansnya?
"Maksudku, apa urusannya dia di sini?" Peter menggiring Garsini agak menjauhi Kagume yang berlagak sibuk menyiapkan teh untuk mereka.
"Sejak saat ini sampai kita bisa melanjutkan perjalanan, Kagume akan menemaniku," jelas Garsini. "Ibunya tadi mampir, menanyakan keadaanku. Kami ngobrol sebentar dan ia mengeluh perihal putrinya semata wayang. Agaknya dia lagi pusing dengan tingkah Kagume… Yaah, dinilainya suka mengundang perhatian turis asing di kedainya…"
"Jadi, kau meminta ibunya untuk membawa putrinya ke sini?"
"Bukan begitu, Ibu Kagume hanya meminta kesediaanku agar menemani putrinya beberapa hari. Tak ada gadis sebayanya lagi di sekitar sini, katanya…"
"Apa urusan kita dengan semuanya itu?"
"Ini hanya kebetuan yang amat baik buat banyak pihak. Buat kita juga buat ibu dan anak yang sudah tak punya ayah itu."
"Aduuh, kenapa kamu jadi sok pahlawan begitu sih, Garsini?"
"Bukankah itu lebih baik buat kita berdua? Supaya tak ada prasangka orang lagi?" Garsini bersikeras.
"Aku tak mau berdebat lagi… bagus menurutmu, ya Garsini?" suara Peter melunak.
"Yaah, setidaknya kita sudah berusaha untuk menunjukkan kepada mereka. Bahwa kita bukan pasangan roman, bisa ditanyakan kepada seorang saksi mata…" cerocos Garsini antusias. Peter manggut-manggut dan memahami tujuannya.
"Baiklah kalau itu bagus menurutmu. Aku setuju-setuju saja. Jangan pikirkan lagi untuk bayar macam-macam perihal tamasya ini. Oke?" suara Peter kini terdengar tulus dan sarat pengertian. Tak ada tanda-tanda lagi kesal, gelisah apalagi kecewa di wajah gantengnya.
"Oceee, Bosss…!" Keduanya sesaat tertawa riang. Kagume tersipu malumalu sambil mencuri pandang ke arah mereka.
"Baiklah, kembali ke pekerjaan masing-masing," ajak Garsini yang segera diiyakan oleh Peter. Ini kegiatan kecilnya bersama Kagume. Beruntunglah, Kagume bisa bahasa Inggris. Jadi komunikasi mereka bisa berjalan lancar.
Sementara Peter diam-diam kembali ke sudutnya, mengotak-atik laptopnya yang mendadak macet. Garsini menjelaskan tentang beberapa hal yang dipertanyakan remaja putri itu.
Dalam beberapa menit saja, Garsini sudah bisa menebak kegelisahan Kagume. Agaknya Kagume sedang mengalami masa-masa transisi, sebuah peralihan dari seorang kanak-kanak ke masa remaja. Ia ingin mempertanyakan beberapa hal yang tak dipahaminya, seperti menstruasi, perubahan bentuk tubuh dan kegelisahan yang melanda hatinya secara tiba-tiba.
Garsini jadi terkenang lagi saat-saat dirinya pada posisi serupa. Mama, meskipun dilanda begitu banyak kemelut rumah tangga, selalu berusaha memuaskan kepenasaran putri sulungnya. Hingga Garsini tak pernah sungkan untuk menumpahkan kegelisahannya, curah hatinya kepada wanita itu.
"Terima kasih, Kakak, saya lega sekarang. Artinya, saya normal kan?
Tidak gila, ya Kak?" seru Kagume sampai juga ke telinga Peter yang belum berhasil memperbaiki laptop-nya.
"Apa yang kalian bicarakan?" teriak Peter dari sudut favoritnya.
"Tidak, ini urusan perempuan. Ya kan begitu, Kagume-san?"
"Ya, ya, memang ini soal perempuan!" sambut Kagume dan tertawa kecil.
Peter baru saja memutuskan, laptop-nya akan diberikan kepada sepupunya. Eee, malah mendadak macet. Padahal, ia belum lama membelinya di Amsterdam. Tahu begini, buat apa jauh-jauh dibawa dari rumah keluarganya di Blaricum, Holland. Mending beli saja di Jepang, tak perlu pusing-pusing.
"Ya, sudah, tinggalkan saja benda rongsok itu," saran Garsini tersenyum.
"Buat Kagume saja, ya Broer Peter?" pinta Kagume mulai terbiasa dengan keduanya. Bahkan bisa bersikap terbuka dan manja.
"Uugh, enak saja!" gerutu Peter. "Ini jauh-jauh kubawa buat Garsini… Ah, apa sebaiknya kubelikan saja untukmu nanti di Tokyo, ya?"
"Jangan repot-repot begitu, Broer…"
"Ya, sebaiknya ini buat Kagume sajalah," Peter malah seperti tertantang.
Garsini angkat bahu, percuma bersitegang dengan sepupunya perihal kebendaan. Peter dinilai begitu boros. Tapi itu haknya karena memang ia telah menyiapkan liburan ini sedemikian rupa sejak lama.
Peter bercerita tentang perjuangannya sebagai loper koran. Menyusuri salju dengan kereta luncur, melempar-lemparkan koran ke rumah para langganannya, di tengah udara dingin yang menggigit tulang sumsum.
Perjuangan keras yang hanya saggup dilakukan oleh seorang anak berpribadi mandiri. Bukan anak korban traumatis jiwa. Peter tentu saja telah berhasil melewati kritis kejiwaannya itu dengan baik sekali. Dan itu tanpa agama, hanya karena aku berhasil menutup memori itu, luka itu dalam-dalam, katanya dalam nada bangga. Apa itu agama, bulshit, nonsens!
Kalau sudah sampai ke arah pembicaraan spiritual, Peter selalu berhasil menepis segala upaya Garsini dalam mempengaruhi pikirannya. Mereka akan terlibat dalam perdebatan seru, berlarat-larat dan sangat melelahkan. Ini hampir dua minggu kebersamaan mereka, tapi rasanya tak ada pengaruh apapun, pikir Garsini. Ia bahkan nyaris membiarkan takdir-Nya bicara langsung atas diri sepupunya. Tak perlu ada ikut campur siapapun termasuk dirinya. Bila Allah menghendaki… kun fa ya kun! Jihad itu, syiar dakwah itu ternyata sangat-sangat-sangat sulit!
"He, cuaca di luar mulai cerah," kata Kagume. "Bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan? Kalian belum sempat tamasya ke Miyajima, bukan?"
Peter menoleh kepada remaja itu dengan penuh minat "Apa itu?" Garsini jengah dan membuang pandangnya ke luar jendela. Sesaat ia berpikir keras, bagaimana caranya yang bijak agar ia bisa berdiri pada posisi penengah. Gerakgerik Kagume, keluguan dan kemurnian remajanya kadang terasa berlebihan.
"Kita pergi saja ke sana, nanti baru bisa terasa indah tamasyanya. Setuju?" ajak Kagume sudah terdengar seperti memaksa.
Sia-sia Garsini berusaha menghindar, apalagi karena sepupunya telah bersemangat sekali menyambutnya.
"Baik, ayo, kita pergi berdua saja kalau Garsini enggan…"
"Tentu saja aku akan iku!" tukas Garsini cepat.

***


Awan berarak-arak menghiasi langit Sakura. Tampak putih dan seolah menantang untuk dilukis oleh tangan-tangan terampil yang memiliki citarasa tinggi dan luhur.
Di mata Garsini, gerombolan awan itu selalu mirip arakan kapas nan lembut menjanjikan selaksa keindahan dan kenyamanan. Simbul sejuta harapan selaksa impian, masa depan cemerlang yang menanti dan melambai-lambai kepadanya untuk segera dijumput. Sebab di balik arakan kapas itu ada ribuan bintang gemintang, menantinya pula untuk dipetik oleh jari-jemarinya.
Tentu saja dia akan terbang melayang, menggapai awan hingga lapisan langit ke tujuh sana. Kemudian ia akan menjumputnya, meraihnya dan mendekapnya erat-erat ke dadanya. Sebab ia tak ingin menjadi orang yang kalah, pecundang atau pengecut yang tak sanggup mengambil keputusan. Ia akan menggambari lapis demi lapis langit nun di sana, dengan macam ragam lukisan nan indah dan bermakna. Sehingga ia berhasil menembus selaksa tantangan itu, dan dihadiahi bintang-gemintang yang akan disematkan ke dadanya.
Manakala kembali ke Indonesia, dia akan menghaturkan bintang paling cemerlang dan indah berikut selaksa lukisan nan bermakna itu; kepada Mama, Papa, adik-adik dan keluarga besar mereka. Baik yang ada di Cimahi maupun di Tapanuli dan Jakarta…. Tanah air dan agamanya!
Garsini menikmati khayalnya terindah itu hingga matanya terasa membasah. Apakah ia akan sanggup mewujudkan selaksa mimpi dan angannya kelak? Hanya waktu yang mampu menjawabnya dan kemurahan Allah, yang kepada Dia selalu dirinya menghadap setiap kali merasa disergap rindu dendam, resah pasah.
Ya, jeritnya merambah langit. Monster mengerikan itu sesungguhnya bernama rindu. Garsini terbetot kembali dari alam khayalnya, angannya dan bayang-bayang masa depannya. Bila boleh memilih, sesungguhnya ia lebih suka kembali ke pangkuan orang-orang yang dikasihinya… bahkan walau tanpa sebutir bintang sekalipun!
"Hai, apa kabar, saudariku yang enerjik? Kenapa mendadak pendiam?"
tegur Peter di antara keriangannya menikmati nuansa indah di sekitar mereka.
Garsini tak berkata-kata. Ia tepekur menikmati pemandangan yang…
subhanallaaah!
Inilah Nihon sankei, Miyajima pulau kuil di Inland Sea tamasya terindah dan terdekat dari Hisroshima. Kagume penuh semangat dan suaranya renyah memikat, berusaha memuaskan kedua turis yang dipandunya dengan uraian penjelasan yang lugas.
"Di Jepang selain Fujiyama yang tiada bandingannya," ujar Kagume berulang kali mengagungkan keindahan alam gunung yang memang sangat terkenal itu. "Sesungguhnya ada tiga tamasya Jepang yang masyhur antara lain Miyajima, inilah yang sedang kita kunjungi dan nikmati pemandangannya…"
"Dua lagi apa?" tanya Peter dengan rasa ingin tahu yang tinggi. Garsini merasa harus membentangkan tirai itu di antara sepupunya dengan Kagume.
Apalagi mengingat ibu Kagume telah amat mempercayainya. Sehingga meminta Garsini agar mengajari putrinya semata wayang, beberapa hal yang dirasakannya tak sanggup dia berikan sendiri.
Padahal, apalah dirinya? Sehingga ia mendapat kehormatan dan kepercayaan yang begitu tinggi dari seorang ibu lugu, janda malang yang sudah lama ditinggal kawin lagi oleh suami. Namun, demikianlah adanya, penghargaan tak ternilai itu begitu saja disandangkan ibu Kagume ke bahu-bahu Garsini.
Hanya karena perempuan sebaya Mama itu telanjur jatuh hati, terpikat oleh kemurniannya dalam bertutur kata, bersikap dan berperilaku. Itulah karunia Ilahi untuk Garsini, mengingat kebersamaanya dengan ibu Kagume baru tiga hari.
"Boleh aku yang menjawabkannya, Kagume-san?" ujarnya lembut. Garsini berusaha dengan bijak tanpa menyinggung hati Kagume, menawarkan jasanya. Ia cemas akan kedekatan mereka. Terutama perilaku manja Kagume terhadap sepupunya, sungguh membuat hatinya kebat-kebit. Ia bisa memahami ketunaan gadis belia itu, toh Kagume bukan seorang Muslimah.
Apa artinya muhrim dan non muhrim buat gadis belia itu, bukan?
"Memangnya Kakak tahu?" tantang Kagume tertawa kecil. Garsini menyelipkan tubuhnya di antara kedua makhluk itu. "Biar pun baru kubaca referensinya dari buku, aku merasa bisa menjelaskannya," sahutnya.
"Wah, wah, nggak mau kalah jadi pemandu wisata nih?" sindir Peter.
Garsini tak mempedulikan sindirannya. "Ama-no-hashidate…"
Kagume berseru takjub tanpa merasa tersisihkan. "Waah, Kakak sungguh fasih menyebutnya!"
Garsini tersenyum hangat. "Artinya Jembatan Nirwana, ya kan Kagume?"
"Ya, tepat sekali!" Kagume kian mengagumi pengetahuannya.
"Itu adalah tanjung pasir yang ditumbuhi cemara di pantai Laut Jepang sebelah utara Kyoto," kata Garsini lagi. "Dan Matsushima, yaitu sekelompok pulau indah yang diliputi pohon cemara di sebuah teluk dekat kota Sendai di bagian utara Jepang… Ugh, tolong bantu aku melanjutkannya, Kagume-san!"
Dengan senang hati remaja itu menyambutnya."Baiklah," katanya kini hampir tak mempedulikan keberadaan Peter, tapi lebih memusatkan pikiran untuk mengutarakan betapa indah dan agungnya negerinya tercinta.
"Kebanyakan tempat di Jepang memiliki tiga atau delapan tamasyanya sendiri, terdapat ribuan tempat indah yang lain juga tempat peristirahatan dengan sumber air panas. Demikian pula tak terbilang tempat-tempat indah yang kurang terkenal, itu tetap memikat para turis mancanegara…"
"Berbeda dengan kehebatan Barat gaya Amerika," sambung Garsini manakala Kagume terdiam, seperti mulai kehabisan kata-kata. "Ukuran keindahan alam Jepang sebagian besar mungil dan mesra. Orang Jepang berusaha keras untuk mengabadikan dan melindungi alamnya…"
"Hanya sayang sekali," tukas Kagume prihatin."Sudah sejak generasi kakekku, dari hari ke hari semakin banyak pencemaran dilakukan orang-orang tak bertanggung jawab. Bukit-bukit hijau nan indah dibabat habis untuk membangun pabrik-pabrik, pemukiman penduduk. Menimbuni daratan yang diambil dari laut, demi jalan-jalan lintas udara dan subway, demi menampung turis-turis kota…"
"Dan gunung-gunung nan indah telah lenyap di belakang kabut asap industri. Penyakit kota pun kian gencar menggerayangi banyak kawasan pedalaman, pertanian…"
"Ironis sekali, bukan?" keluh Kagume terdengar mengerang sakit.
"Ya, ironis sekali," keluh Peter bareng Garsini, ikut mengerang pilu. Untuk beberapa jenak ketiga anak muda itu terdiam dalam alam cemasnya masingmasing. Bayu dari arah kumpulan kuil semilir hampa menerpa wajah ketiganya. Sampai Garsini kembali memberi harapan dan pencerahan.
"Tapi yakinlah, Allah takkan pernah diam!" cetusnya. "Seperti Allah telah membuktikan hal itu atas kehancuran-kehancuran yang terjadi di masa lampau. Dan untuk Jepang khususnya, seberapa parah pun orang berusaha merusak alamnya, kalian akan tetap memiliki keunikan tersendiri. Pesona indah nan agung…"
"Begitukah?" Kagume terdengar agak meragukannya.
"Ya, seperti berkat guncangan gempa dan bencana alam maha dahsyat yang acapkali melanda negerimu. Semuanya itu ada hikmahnya. Buktinya, kalian terkenal sebagai bangsa kuat, paling ulet, tahan bantingan di mana pun kalian berada…" Garsini berhenti dan merasa lelah bicara seorang diri. Padahal, ia baru saja menemukan jawaban atas sejuta tanya ikhwal bencana taifun, yang pernah didiskusikannya bersama Peter tadi malam.
"Banzaaaai!" Peter tiba-tiba usil menjatuhkan bom simpanannya.
Suaranya yang lantang seolah menggema ke pelosok Inland Sea. Kagume dan Garsini tersentak kaget sekali. Keduanya sesaat berpandangan lalu perlahan sama tersenyum maklum. Garsini sekonyong menggaet tangan sepupunya di sebelah kanan dan meraih tangan Kagume di sebelah lainnya.
Kemudian seketika itu pula, ia mengangkat tangannya ke udara sambil berseru lantang; "Banzaaaai!"
"Banzaaaai!" sahut Kagume dan Peter kompak.
Diam-diam jauh di lubuk hatinya, Garsini membarengi pula dengan selarik takbir."Allahu Akbaaar…!"
Ia tak pernah mengira bahwa kebersamaan itu telah mengikatkan tali ukhuwah. Suatu persahabatan yang terikat oleh simpul kasih Islamiyah nan indah dan agung. Bahwa sebagian dampak dari persahabatan itu kemudian membuahkan banyak hikmah dan berkah.
Sesuatu yang tak pernah terlintas di benak Garsini. Terutama terhadap Kagume, remaja imut-imut yang kala pertama ditemuinya sedang dalam pencarian jatidiri. Segala gerak-gerik, perilaku dan perkataan Garsini kala itu ternyata telah amat membekas terhadap perkembangan jiwa Kagume selanjutnya.
Di luar rasa kagum dan hormat, sebab ada satu hal lain yang lebih utama, lebih mulia pula maknanya. Hidayah itu agaknya mulai bersemayam di hati Kagume. Memang baru persemaian, hanya sekadar pemicu, tapi kelak itu akan menjadi tonggak pertamanya yang tangguh bagi kelahiran jiwa islam seorang insan, Kagume Itsuwa…

***


Petang itu mereka kembali ke hotel dengan penuh keriangan.
"Apa yang Kakak lakukan barusan?" tanya Kagume tatkala melihat Garsini usai mendirikan shalat isya. Sebelumnya Kagume meluangkan waktu pulang dulu ke rumahnya, membawa peralatan kerajinan tangan yang ingin diajarkannya kepada Garsini.
"Shalat, itu sembahyangnya pemeluk Islam, Kagume…" Kemudian Garsini menjelaskan beberapa hal perihal Islam, seperti yang dituntut oleh gadis belia itu. Rukun Islam, rukun Iman, perihal tata cara ibadahnya bahkan pandangan keyakinan yang dipeluknya itu tentang pacaran.
Kagume tampak sekali terkesan dengan berbagai uraiannya. "Agama yang sungguh baru bagiku," katanya. "Sebab di lingkungan kami hampir tak ada pemeluk Islam. Kota ini begitu terpencil, jauh ke mana-mana, maklumlah…"
"Aku mengerti," kata Garsini. "Tapi di Tokyo pemeluk Islamnya cukup banyak. Bahkan menurut data statistik dari saat ke saat perkembangannya semakin meningkat pesat."
"Pasti bukan untuk anak muda sepertimu, ya kan?"
Garsini menggeleng. "Islam di Jepang justru kebanyakan memikat hati generasi kita…"
"Oooh…?" Kagume terkesan takjub. Sekilas Garsini cerita juga tentang persahabatannya dengan Ayesha, gadis Palestina yang telah berulang kali mengajaknya bergabung dengan komunitas kajian Islamnya itu.
"Aku memang pernah mendengarnya dari koran dan televisi, tentang Islam. Tapi kenapa mereka suka menyangkutkannya dengan teroris?"
Garsini dengan sabar dan bijak terus berusaha menjelaskan perihal kesalahkaprahan itu. Ketakutan Barat terhadap kebangkitan Islam di berbagai belahan dunia. Tentang perjuangan, jihad para mujahid di berbagai belahan dunia. Mereka yang terpojokkan, terjajah dan didzalimi…
"Tentang perjuangan bangsa Palestina yang selalu diteror zionis Israel itu," akhirnya Garsini melihat Kagume cukup puas.
Mata remaja itu tampak sayu dan kepalanya terkantuk-kantuk, bersandar ke dinding di belakangnya. Ia sendiri merasa letih setelah sepanjang siang hingga sore tamasya ke Nihon sankei, Miyajima. Disodorkannya bantal khas Jepang kepada Kagume,"Ini untukmu saja, ayo, sekarang tidurlah," bisiknya,
Garsini berpikir, remaja ini mengingatkannya kepada adik laki-lakinya.
Meskipun adakalanya sikap dan pembawaan Kagume lebih dewasa daripada usia sebenarnya. Mereka paling bertaut dua-tiga tahun saja, seperti usia dirinya dengan Kagume. Dan Ucok akan banyak bertanyakah, perihal jatidirinya saat ini? Kepada siapa adik lelaki itu melabuhkan curah hatinya? Seketika terbit rasa rindunya yang mendalam kepada si Ucok, si Butet juga Mama dan Papa…
Kalian, keluargaku nun di sana, rindukah juga kepadaku? Garsini cepat mengenyahkan rasa pilu yang hendak menyergap kalbunya, dipandanginya wajah Kagume. Ah, tentu saja dia takkan mendengar apapun lagi. Sebab remaja itu memang telah tertidur tanpa disadarinya. Garsini menghela napas dalamdalam. Diperbaikinya dengan lembut dan apik selimut yang menutupi tubuh sohib kecilnya itu.

***





















Bab 9




Peter di sudutnya, masih belibet dengan laptop-nya. Garsini gelenggeleng kepala menyadari akan sikap keras kepala sepupunya itu. Entah ada apa dengan laptop itu, gumamnya membatin dalam ketakmengertian. Beberapa kali mereka sempat mendiskusikan khusus perihal keberadaannya.
Kadang Peter pasrah, ingin meninggalkannya begitu saja di Hiroshima, bahkan membuangnya ke tong sampah. Namun, kali berikutnya ia bersikeras memperbaikinya, memperjuangkannya sedemikian rupa agar benda itu bisa dimanfaatkan kembali. Kalau bisa akan dibawanya kembali ke Holland… Iiih, aneh-aneh saja anak kitu!
"Belum menyerah juga, ya Broer?" Garsini bangkit dan menghampirinya. "Ini benda elektronik pertama yang sanggup kubeli dengan jerih payahku sendiri," sahut Peter terdengar penuh nostalgi. "Kamu tahu, sejak duduk di kelas dua aku sudah berjuang cari nafkah sendiri. Uangnya sebagian kuserahkan kepada Mami, sebagian lagi kutabung untuk memenuhi kebutuhanku sendiri…"
"Baik, jadi kapan sesungguhnya kamu beli laptop kesayanganmu itu?"
"Hmm, sekitar lima-enam tahun yang lalu," sesaat Peter menghentikan kesibukannya, menerawang ke langit-langit kamar."Kukira saat aku kelas tujuh, Itu setara dengan kelas tiga SMP kalian, Non. Ha, kenapa kamu mesem-mesem begitu? Jangan mengejekku, ya…?"
Garsini tak menyahut, cepat-cepat berlagak sibuk dengan Al-Quran mungilnya. Dalam hati ia sempat bertanya-tanya, adakah Peter menyadari bahwa benda itu sesungguhnya telah usang, rongsokan? Dan itu justru ingin dihadiahkannya kepada sepupu kesayangan, katanya? Bahkan untuk Kagume saja, Garsini akan menyesalinya. Baginya, memberikan sesuatu kepada orang haruslah yang terbaik yang kita miliki. Ah, tapi mana paham Peter, seorang yang tak mempercayai agama perihal ini?
Melihat Garsini tak bereaksi, bahkan asyik membaca kitab sucinya, Peter jadi ge-er. Tiba-tiba ia sungguh menghentikan kegiatannya.
"Baiklah, aku akan membuang benda rongsokan ini, Garsini!" sentaknya mengagetkan gadis yang begitu teguh mengenakan kerudungnya itu. Garsini meliriknya sekilas dengan gerakan acuh tak acuh dan seulas senyum bijak di sudut bibirnya. Kepalanya mengangguk perlahan, kemudian ia kembali dengan mushaf pemberian Oom Ady itu.
Peter memandanginya dengan gemas. "Mungkin kamu berpikir, alangkah pelitnya aku, mirip Yahudi saja, ya begitu kan?" cetusnya.
"Hmm…"
"Dengar, aku tak sepelit yang kamu duga! Ini hanya soal benda kesayanganku yang pernah susah payah kubeli dari jerih payahku sendiri…"
"Sudah kudengar ratusan kali tuh!" usil bibir Garsini meningkahi."Jadi, ini soal benda yang menyimpan banyak kenangan untukmu, ya kan?"
"Dengar, Garsini," suara Peter seketika mengeras dan dingin. "Kamu takkan pernah memahami bagaimana perjuanganku di masa kanak-kanak.
Bahkan hingga saat ini, statusku, penampilanku yang ngeslank di mata orangorang Belanda. diskriminasi, dipinggirkan. Bahkan oleh ayah kandungku sendiri, dengar itu Garsini, kamu dengaaaar…?!"
Garsini meletakkan mushafnya dengan sangat menyesal dan kecewa. Ia tak ingin mendengar keluh kesahnya lagi. Karena otaknya sudah pepat oleh segala keluh-kesah sepanjang kebersamaan mereka. Seberapapun dia menghiburnya, rasanya Peter tetap takkan pernah puas untuk selalu mengeluh. Masa kanak-kanak yang pedih! Mengapa itu saja yang selalu dijadikan tamengnya? Seakan-akan hanya dirinya yang paling menderita di jagat raya ini.
Betapa ingin Garsini meneriaki kuping sepupunya itu. Tentang penderitaan orang lain, derita anak-anak para pengsungsi di Aceh, Ambon, Sampit. Anak-anak para TKW yang tak pernah mengetahui siapa ayahnya. Bahkan tentang derita dirinya, sempat tak diakui ayah dan diragukan eksistensinya.
"Kamu egois, Broer, kamu selalu merasa hanya dirimu yang pernah punya masa kelam saat kanak-kanak. Sadarlah, Broer, eliiing!" Garsini merasa sesak dadanya. "Cobalah meningkatkan empatimu terhadap orang-orang di sekitarmu, jangan hanya menengadah ke langit-langit. Tengoklah juga ke bawah, aduuuh, bagaimana kujelaskan semuanya ini kepadamu?" Beberapa detik keduanya berhadapan secara frontal, saling menatap. Ada amarah dan geram di mata Peter. Ada kecewa mendalam di mata Garsini.
"Intinya, bukan hanya kamu yang pernah menderita, memiliki traumatis jiwa, Peter. Ada banyak derita anak-anak di dunia ini, ribuan, jutaan, tak terhingga…"
Garsini bangkit karena merasa tak tahan lagi Dadanya kian sesak dan kepalanya mulai berdenyar-denyar. Ia tak mempedulikan sorot amarah yang masih tersisa di mata sepupunya. Ia pun mengabaikan akan kemungkinan percakapan mereka bisa saja membangunkan Kagume.
"Astaghfirullah adziim, ampunilah hamba-Mu yang daif ini, Allah,"
gumamnya sambil terhuyung-huyung menggapai kamar mandi.
Lama ia hanya diam seribu basa di dalam kamar mandi itu. Mengherani kelakuan sepupunya yang ternyata amat kompleks dan sulit ditebak. Kadang tampak riang, mandiri dan mudah ketawa-ketiwi. Namun, adakalanya muram, banyak ketakpuasan, keluh-kesah dan menyimpan kepedihan masa silam.
Ia tersentak kembali manakala mengingat tujuan keberadaan Kagume di kamar mereka. Ketika dengan tergopoh-gopoh Garsini keluar, didapatinya Kagume tetap tertidur lelap. Sementara sepupunya entah pergi ke mana.
Mungkin mencari hawa segar di luar. Baru disadari Garsini, hal itu mulai menjadi kebiasaan Peter, terutama bila dirinya gelisah dan sulit tidur.
Itulah malam terakhir kebersamaan mereka di sebuah kamar hotel terbaik di Hiroshima. Esok paginya ketika cuaca mendadak cerah, Peter berhasil
mendapatkan transportasi eklusif bersama rombongan turis Belanda. Mereka pun terbang dengan pesawat carteran kembali ke Tokyo.

***


Begitu sampai di asrama, Garsini mendapat kabar tentang Nakajima dari seorang rekannya. Anjeli, gadis India yang menggantikan posisinya sebagai relawan di museum, menyodorkan sebuah koran hari itu.
"Pesawat yang membawa penumpang menuju Korea meledak…" berkata Anjeli dengan mengeja. Tapi Aa Haekal bukan terbang ke Korea melainkan sebaliknya, seharusnya sudah kembali ke Tokyo.
"Ada orang yang kau kenal?" Garsini menatap wajah gadis Hindustan itu.
"Bahkan kamu pun mengenalnya!" seru Anjeli separuh mengisak. "Anakmenantu, cucu Pak Nakajima…"
Ya Allah… innalilahi wa inna ilaihi rojiuun, jerit Garsini dalam hati.
Seketika ia merasakan kesedihan tak terkira. Apalagi ketika selang kemudian Mayumi sengaja menjemputnya untuk urusan ini.
"Sekarang Pak Nakajima mungkin sudah mengetahui berita ini di apartemennya," kata Mayumi.
"Kasihan sekali dia," Garsini kini berderaian air mata. Ketiganya memutuskan untuk pergi ke rumah lelaki tua yang malang itu. Namun, apartemennya tertutup rapat. Bahkan beberapa tetangga dan kenalan Nakajima yang sudah berdatangan sebelum mereka, tak dapat masuk, berseliweran di depan pintu apartemennya.
"Nakajima-san! Nakajima-san, bukalah pintunyaaa!"
"Iya, Pak Nakajima, kami ada bersamamuuu!"
"Tolong, bukalah pintunya, Paaak, Paaak…!"
Tak ada sahutan, tak ada reaksi. Hingga beberapa jam lamanya demikian, orang-orang mulai bosan dan putus asa. Mereka terpaksa bubar, meninggalkan tempat itu tanpa bisa mengetahui keadaan Pak Nakajima. Anjeli dan Mayumi pun harus bekerja. Mereka tak bisa mencegah Garsini yang masih ingin bertahan.
Menjelang sore Mayumi dan Anjeli kembali ke tempat itu, menemukan Garsini seorang diri masih tinggal di depan pintu apartemen Nakajima. Wajahnya sama sekali tak memperlihatkan gurat-gurat kelelahan. Kelihatannya sedikit pucat, mungkin basah oleh bekas air mata campur keringat, tebak Anjeli iba.
"Ya ampuun, kamu masih di sini, Garsini-san?" seru Mayumi terheranheran.
"Kenapa dengan wajahmu… basah sekali?" Anjeli penasaran agaknya.
"Aku baru ambil wudhu mau shalat maghrib sebentar lagi. Tenanglah, kalian tak usah mengkhawatirkan Pak Nakajima lagi," tergagap Garsini berusaha menyembunyikan perasaan pilu dan harunya sepanjang siang itu.
"Ada siapa di dalam sana?" tanya Anjeli pula ingin tahu.
"Beberapa kenalan Pak Nakajima… kenapa dengan kakimu itu, Anjeli?"
Anjeli menjinjit-jinjitkan kakinya, padahal perawakannya yang tinggi langsing dengan mudah bisa melihat segalanya di depannya. Mayumi terkikik melihat kelakuan Anjeli, sekaligus geli akan keluguan Garsini. Teras itu agak tinggi menghalangi apartemen seberang yang dibatasi jalan raya.
"Pssst… jangan tertawa genit begitu. Maluu!" sergah Anjeli menegurnya. "Habiiis… Matamu jelalatan! Pasti lagi cari tahu kabar si Sarukh Khan yang tinggal di apartemen seberang sana, ya kan?" sindir Mayumi. Anjeli tersipu dan meninju perut Mayumi perlahan.
"Kamu juga kaaan, si Sarukh Khan itu memang macho nian…!"

***


Sementara kedua gadis itu ngerumpi-ria soal cowok-cowok penghuni apartemen seberang, Garsini diam-diam menyingkir dengan hati kecewa. Ia sempat berpikir, mereka ke sini bukan semata ingin mengetahui keadaan Nakajima-san. Melainkan untuk mengintip aktivitas para pemuda India, tetangga yang sejak tadi secara atraktif menyiulinya, menggodanya. Ugh! Astagfirullah… kenapa mesti berprasangka, pikirnya kemudian. Dan ia segera meleburkan diri dalam rakaat-rakaatnya yang khusuk di sudut balkon itu. Kematian, kesakitan, penderitaan masihkah belum cukup untuk mengingatkan manusia akan kepapaannya?
Garsini semakin tak mengerti sekaligus kecewa, manakala sejurus kemudian Mayumi dan Anjeli sudah tak ada lagi. Sayup-sayup terdengar tawa genit keduanya dari arah seberang. Mereka sudah bergabung dengan para penghuni apartemen itu, entah bagaimana kronologis ceritanya.
Pesona si Sarukh Khan dan kawan-kawan agaknya sudah mencuri empati kedua gadis itu terhadap sesamanya. Belakangan Garsini semakin kecewa lagi dengan perilaku kedua sahabatnya itu. Ia baru menyadari bahwa keduanya termasuk penganut aliran gaul bebas. Untuk beberapa waktu lamanya, ia sering menghindari Mayumi sebagai ungapan rasa ketaksetujuannya.
Sampai Mayumi suatu hari mendatanginya dengan wajah kusut masai.
"Anjeli itu keterlaluan sekali!" adu Mayumi."Masak aku dimintanya menjalin hubungan lebih serius lagi dengan si Jay Bachan, Garsini…"
"Bukankah itu lebih baik bagimu daripada keluyuran ke sana ke mari tanpa ikatan apapun, Mayumi?" jengek Garsini mulai sebal mendengar keluhkesahnya perihal cowok.
"Menikah maksudmu? Aha, itu sama sekali tak masuk agendaku, Nona…" Mayumi tertawa sumbang.
"Begitu, ya? Menikah tak mau, tapi jalan bareng dan macam-macam sudah sering?" sindir Garsini kian sebal dan kecewa.
Mayumi terdiam sambil sibuk menyalakan rokoknya. Sejak kapan dia pandai merokok, desah Garsini membatin. Rasanya baru beberapa bulan lalu mereka jalan bareng, mencari-cari kartu pas kereta peluru itu. Kala itu Mayumi masih tampak sebagai gadis polos, ketakutan dan malu persis seperti Garsini, kala mereka berlari keluar rumah geisha di sudut kota itu.
Namun, kini Mayumi sudah melesat meninggalkan Garsini. Kemodernan, kebebasan beserta segala janji kenikmatan yang melambai-lambai kepadanya telah digapainya. Tapi semakin berhasil digapai, segala nikmat semu itu semakin tak terpuaskan pemenuhannya.
Dunia semu, nikmat semu, Garsini baru menyadarinya kini. Hal itu betapa takkan pernah memuaskan bagi orang yang mengejarnya, Sebab semakin dikejar, maka semakin bertambah pula kesenangan duniawi, nikmat semu itu yang melambai-lambai. Menuntut untuk dikejar, diraih, kemudian dimiliki dan saat berhasil meraih, memilikinya… Ketakpuasan justru kian menikam lebih dari saat-saat sebelumnya!
"Jadi, sekarang kamu tidak tinggal bersama Okusan lagi?"
Mayumi menggeleng."Biarlah ibuku tenang dengan dunia khayalnya,"
desisnya sambil mengisap rokoknya dalam-dalam.
Garsini cepat-cepat membuka jendela apartemen agar asap rokok tidak menyesaki kamarnya. Haliza dengan penciumannya yang luar biasa itu, pasti akan mengetahui kalau kamar mereka sempat terkontaminasi polusi rokok. Sudah pernah terjadi sebelumnya kala Garsini kedatangan Anjeli. Garsini tak bisa mengelak lagi. Haliza menemukan puntung rokok dan sisa-sisa bau asap yang masih menempel di sudut kamar mereka.
"Kalau begitu, jangan bersahabat lagi dengan Miss India itu!" kata Haliza tegas."Gadis yang suka merokok sungguh tak baik. Mereka membawa pengaruh buruk kepada kita," sungutnya yang akan dilanjutkan dengan wejangan berlaratlarat.
Garsini tersenyum kecil mengingat kebiasaan dara dari negeri jiran itu. Kebiasaan yang baik, memberi wejangan gratis kepada orang-orang sekitarnya. Sayang, tak semua orang bisa menerima apalagi menyukai hal itu. Beberapa di antara mereka menjadi balik tak suka. Mengejek Haliza
sebagai gadis kolot, membosankan. Meskipun demikian, buat orang-orang tertentu menganggap Haliza sebagai orang yang bisa diajak bertukar pikiran perihal spiritual. Bahkan lebih dari sekadar penasehat melainkan pengaguman berlebihan. Biasanya yang datang adalah gadis-gadis dari belahan dunia Afrika.
Jadi, di asrama putri ini Haliza dikenal sebagai penasehat spiritual. Garsini menduduki urutan kedua ikhwal ini. Di mata rekan-rekan seasramanya, Garsini dipandang lebih enerjik, moderat dan dinamis daripada Miss Malaysia itu. Meskipun dalam hal keanggunan dan kecerdasan keduanya dianggap seimbang, menonjol dibanding gadis-gadis moderat lainnya.
"Ah, itu kan reka-reka kalian saja," kilah Garsini kini kala Mayumi menyinggung perihal ini. "Kami merasa biasa-biasa saja, tak ada yang istimewa."
"Tidak, kalian memang istimewa, unik, pendeknya tak sama dengan kami."
"Sudahlah, jangan terlalu menyanjung…"
Garsini bermaksud melanjutkan pekerjaan rumahnya yang tertunda. Tibatiba pintu didorong tanpa pemberitahuan, sosok berkerudung muncul diikuti tiga gadis Afrika.
Barbina, Zeena dan Gweeny, tiga gadis berkulit hitam yang amat kompak karena ke mana-mana sering tampak jalan bareng. Seolah-olah jalan bareng merupakan tradisi ketat untuk ketiganya. Orang sampai menyebutnya itu sebagai ritual gaya persahabatan mereka.
Untuk sesaat para pendatang itu terkejut melihat keberadaan Garsini dan Mayumi. Mata Haliza langsung membelalak lebar melihat Mayumi tengah asyik menyedot sigaretnya. Garsini terlonjak menghampirinya dalam rasa bersalah.
"Maaf… kukira kamu takkan pulang sore ini?" gagap Garsini.
"Tidak apa, lanjutkan saja, maaf juga kami sudah ganggu!" suara Haliza terdengar sumbang dan matanya mengerling dingin ke arah Mayumi.
"Tadi kamu bilang takkan ada siapa-siapa," sesal Gweeny.
"Pssst… ayo, kita cari tempat lain saja!" Barbina menghela tangan kedua rekannya. Haliza tertegun tak enak dan sedikit bingung, wajahnya merona.
"Kalau kalian mau diskusi, bisa pakai kamarku saja, silakaaan!" tiba-tiba Cristal, gadis Swedia menyelamatkan suasana.
Haliza mengenal Cristal dengan baik. Beberapa kali menumpang di mobil orang yang diperkenalkan Cristal sebagai pamannya. Pria paro baya yang selalu berpenampilan keren itu suka menjemput Cristal tiap akhir pekan. Mereka akan jalan bareng menuju Kyoto. Haliza menuju rumah peristirahatan salah seorang famili Rashid. Sementara Cristal ke rumah kediaman pria macho itu.
"Baiklah, semuanya sudah aman kembali, okey?" Cristal terkikik manakala Haliza dan ketiga African-look itu sudah masuk ke kamarnya di ujung koridor lantai dua. Giliran Garsini yang masih merasa tak enak.
"Sebentar… kira-kira apa yang akan mereka lakukan di kamarmu sana, Cris?" tanyanya ingin tahu, menatap gadis Swedia yang dikenal hobi nonton film horor, dan percaya akan hal-hal berbau mistik itu.
Mayumi sambil menyambar tas tangannya menimpali."Kalian ini memang aneh. Bersahabat sangat erat, tapi…"
"Sungguh kamu tak tahu apa yang mereka lakukan?" selidik Cristal bimbang menatapnya. Garsini mendengus dan menggeleng.
"Yaah…!" Cristal angkat bahu. Mayumi mesem-mesem penuh arti.
Garsini jadi kian penasaran."Kalian ini bicara apa sebenarnya, hemm? Mayumi, hei, mau ke mana, tunggu…!"
"Aku sudah telat nih, teman-teman… sayonaraa!" Mayumi melenggang meninggalkan kamarnya, tanpa menoleh lagi kepada kedua gadis itu. Mayumi semakin liar saja dalam dunia gaul bebasnya. Garsini tak pernah berhasil melembutkan hatinya. Apalagi membujuknya agar pulang ke rumah keluarganya.
Kasihan Mayuko-san, ada beberapa kali khusus mendatangi Garsini. Memintanya agar membujuk putrinya untuk pulang.
Sebegitu parahkah luka pilih kasih yang dibekaskan ibunya kepada Mayumi?
"Cristal, kamu bisa jelaskan?" tuntut Garsini.
Cristal menatap iba kepadanya."Ternyata kalian bukan sahabat yang solid seperti yang kami duga," ujar Cristal tajam.
"Cristal, please…" Garsini memohon.
"Kalau mau tahu, lihat saja sendiri ke sana. Tapi jangan bilang dariku, ya… bye!" Cristal pun melenggok bak supermodel kelas dunia.
Selang kemudian, Garsini sudah mengintip aktivitas yang terjadi di kamar Cristal. Ia tertegun di balik pintu yang terbuka sedikit, tubuhnya seketika terasa lemas sekali. Betapa tidak, sayup-sayup terdengar suara Haliza.
"… nah, jadi kalian sudah paham sekarang kan?" sergah Haliza seperti menyimpan amarah."Obat itu memang sangat kuat hingga bisa menghancurkan janin di dalam rahim Gweeny!"
Terbawa emosi, Garsini ceroboh dan mengakibatkan bunyi berisik di depan pintu kamar itu. Seketika trio African-girls tersentak, mereka serempak bubar meninggalkan Haliza yang terbengong-bengong. Sedetik Garsini masih menangkap gurat sesal dan kecewa di wajah pucat Haliza. Namun, detik berikutnya sesal dan amarah campur kecewa itu telah menyergap kalbunya. Prasangka buruk, suuzon pun seketika menikam ulu hati Garsini.
Parahnya lagi, masalahnya tak diselesaikan seketika itu juga. Sehingga prasangka buruk terus menggayuti keduanya sampai beberapa waktu.
Merenggangkan hubungan mereka, persahabatan yang kental menjadi renggang.

***


Mengenang saat-saat liburan musim semi yang pertama kali dialami Garsini sepanjang mukim di Negeri Sakura, acapkali menimbulkan semangat baru manakala dirinya terperangkap dalam kejenuhan rutinitas. Ya, ada semangat di sana.
Semangat libur musim semi, menurut istilah Mayumi. Apapun namanya,
kenangan itu kerap mengukuhkan kembali cita-cita dan seluruh harapan dari orang-orang yang dikasihi dan mengasihi dirinya. Terutama manakala dirinya terjebak dalam rasa jenuh, kesepian yang menyengat dan mengharu biru kalbunya. Musim demi musim pun berganti. Musim semi disilih musim panas, kemudian tiba musim gugur, musim dingin. Seperti masa-masa perkuliahan yang semakin padat, sarat tantangan dan tekanan… Semuanya harus dilewati tanpa ampun!
"Selamat, ya Garsini," kata Haliza begitu Garsini muncul di kamar mereka petang itu. "Kudengar dari Andreas, temanku yang orang Papua itu, kamu berhasil menyabet predikat the best gakusei…?"
Garsini hanya tersenyum tipis. "Terima kasih, Haliza, alhamdulillah." Hatinya sungguh sedang digayuti rindu dendam tak berkesudahan.
Beberapa kejadian belakangan ini, dukacita yang melanda Nakajima-san, berakhir dengan ketragisan lelaki malang itu; ditemukan dalam keadaan sudah tak bernyawa di apartemennya di pagi musim dingin yang dahsyat.
Sungguh membuat hati Garsini tertusuk hingga ke tulang sumsum.
Melebihi rasa dingin, gigilan hebat yang menyergapnya dari menit ke menit pada musim dingin yang pertama kali dialaminya di Negeri Sakura.
Belum lagi usai persoalan antara dirinya dengan Mayumi, Haliza dan terakhir kecemburuan Haekal yang membuta. Semuanya saling belit-membelit,
seolah takkan sanggup teruraikan. Sungguh menyakitkan!

***

0 Response to "Kapas-Kapas Di Langit"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified