Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Jalan Masih Gelap


Karya Anton Chakov





MASIH gelap, kecuali cahaya yang memancar dari beberapa jendela disana-sini serta bulan pucat yang terbit di balik barak di ujung jalan nundi kejauhan. Laptev duduk di sebuah bangku di luar rumahnya, menantidoa malam di Gereja Petrus dan Paulus itu selesai. Yulia Sergeyevna akan lewat di depan rumahnya dalam perjalanan pulang dari gereja nanti, begitu dia berharap, dan ia akan bicara dengan gadis itu dan barangkali malah akan bersama-sama dengannya sampai jauh malam.

Ia telah menunggu selama lebih dari sejam dan pikirannya kembali melayang ke apartemennya di Moskow, teman-temannya di kota besar itu, pelayannya di Pyotr, serta meja kamar studinya. Ia menatap ke arah pohon-pohon yang kelam dan tidak bergerak itu, sambil merenungkan betapa aneh bahwa ia tidak menyewa sebuah rumah istirahat di Sokolniki, tetapi malah memilih tinggal di sebuah kota pedalaman, tempat ternak lewat mengepulkan debu tebal menurutkan suara terompet setiap pagi dan sore. Pikirannya melayang kembali ke pertengkarannya dengan teman-temannya di Moskow tentang hidup yang mungkin saja dijalani tanpa cinta, tentang bahwa cinta itu semacam penyakit jiwa, dan akhirnya tentang bahwa sebenarnya tidak adalah yang disebut sebagai cinta itu, yang ada hanya daya tarik seks saja, dan tentang entah apa lagi. Dan dengan sedih ia berpikir bahwa seandainya saat ini ada yang menanyakan padanya tentang cinta, ia tidak akan tahu apa jawabnya.

Upacara di gereja itu selesai sudah, dan orang-orang pun berdesakan ke luar gereja. Laptev menembus gelap menatap ke arah sosok-sosok tubuh yang bergerak berjalan sepanjang jalan. Uskup sudah lewat naik kendaraannya dan suara lonceng sudah berhenti, dan lampu-lampu merah dan hijau yang di menara lonceng -yang menyemarakkan pesta gereja- sudah padam satu demi satu, tetapi jalanan masih penuh orang yang berjalan atau berhenti untuk bercakap-cakap di bawah jendela-jendela rumah. Akhirnya Laptev mendengar suara yang sudah sangat dikenalnya dan jantungnya berdebar. Tetapi Yulia Sergeyevna ternyata tidak sendiri, ia ditemani oleh dua orang perempuan.
"Oh, oh!" katanya dalam bisik putus asa. "Celaka!"
Di pojok jalan Yulia berhenti dan berpamitan dengan teman-temannya, dan ketika memandang ke depan ia melihat Laptev.

"Aku bermaksud menemui ayahmu," kata pemuda itu. "Beliau di rumah?"
"Kukira ya," jawab gadis itu. "Tentunya ia belum pergi ke perkumpulannya pada jam begini."

Jalan itu dipagari oleh tanaman, dan pada malam terang bulan deretan pagar dan pintu-pintunya tampak remang dalam bayangan pohon-pohon jeruk yang tinggi yang tumbuh sepanjang pagar itu; dari keremangan itu terdengar suara-suara serta tawa lemah para perempuan serta bunyi petikan balalaika. Suara-suara ini serta bau bunga jeruk serta jerami telah mengusik perasaannya; ia ingin merangkul gadis itu, menciumi wajah, tangan dan pundaknya, berjongkok di depannya sambil mengatakan betapa lama ia telah menantinya. Ada semacam bau setanggi di sekeliling gadis itu, mengingatkan Laptev pada saat ketika ia pun percaya kepada Tuhan dan ikut doa malam serta merindukan cinta murni yang puitis. Dan karena ia tahu bahwa gadis itu tidak mencintainya ia merasa bahwa kebahagiaan yang ia impikan itu tidak akan kesampaian.

Gadis itu berbicara dengan penuh simpati tentang sakit saudara perempuan Laptev, Nina Fyodorovna. Dua bulan sebelumnya Nina menjalani operasi kanker dan kini diperkirakan akan kambuh lagi.

"Pagi tadi aku menjenguknya," kata Yulia Sergeyevna. "Aku rasa saudaramu itu tampak lain -tidak lebih kurus dari minggu lalu, tetapi agak lebih pucat."
"Ya," kata Laptev. "Penyakitnya sebenarnya tidak kambuh lagi, tetapi kulihat ia semakin lemah saja setiap hari, tampak semakin layu. Aku tidak tahu ada apa dengannya."

"Bayangkan saja; ia yang dulunya begitu sehat, pipinya kemerah-merahan dan bulat!" kata Yulia Sergeyevna setelah diam sejenak. "Gadis Moskow," demikian sebutan orang-orang untuknya. Dan betapa dulu ia tertawa! Dan waktu hari-hari libur ia suka mengenakan pakaian petani yang sangat cocok dengannya!"
Sergei Borisych, dokter itu, ada di rumah. Ia gendut, berwajah kemerah-merahan, mengenakan jas panjang sampai ke lutut sehingga kakinya tampak pendek; ia sedang berjalan mondar-mandir di kamar studinya, kedua tangannya dimasukkan ke saku, sambil menggumamkan seperti biasanya nada-nada "Ru-ru-ru-ru!" Jambangnya yang keputih-putihan itu tidak disisir, rambutnya morat-marit seperti baru bangun tidur. Kamar studinya, dengan bantal di sofa, tumpukan kertas-kertas tua di sudut dan anjing pudel tua sakit-sakitan yang di bawah meja itu, tampak sama tidak teraturnya dengan dokter itu sendiri.
"Tuan Laptev ingin menemui ayah," kata Yulia kepadanya ketika gadis itu memasuki kamar studi tersebut.
"Ru-ru-ru-ru," gumam sang dokter sambil menuju ke kamar tamu. "Hai, apa kabar?" katanya sambil menjabat tangan Laptev.
Kamar tamu itu gelap. Laptev berdiri, tangannya menggenggam topi dan, setelah minta maaf karena telah mengganggu, bertanya apa yang bisa dikerjakan untuk menolong saudaranya perempuan agar bisa tidur kalau malam dan kenapa gadis itu semakin kurus saja, dan ketika mengucapkan kata-kata itu Laptev merasa kurang tenteram sebab kata-kata itu pulalah yang ia ucapkan ketika si dokter pagi tadi menengok saudaranya yang sakit itu.
"Barangkali kita harus mengundang seorang spesialis dari Moskow," katanya. "Bagaimana pendapat dokter?"
Dokter itu menarik nafas, mengangkat bahunya dan merentangkan dua belah tangannya.
Ia jelas merasa tersinggung. Ia memang seorang yang sangat mudah tersinggung, senantiasa membayangkan dirinya tidak dipercayai, tidak dihargai sepatutnya dan tidak dihormati; ia merasa pasien-pasiennya memeras tenaganya saja dan kawan-kawannya bersikap buruk terhadapnya. Ia suka tertawa pahit terhadap dirinya sendiri, sambil mengatakan bahwa orang-orang tolol macam dirinya itu memang diciptakan untuk diejek-ejek.
Yulia Sergeyevna menyalakan lampu. Laptev melihat bahwa gadis itu tampak pucat dan lesu dan gerak-geriknya tidak bersemangat, tentunya letih sehabis upacara di gereja tadi, dan tentunya tidak ingin diganggu. Gadis itu duduk di sofa, kedua tangannya di atas pangkuan, sambil merenung. Laptev menyadari bahwa dirinya tidak tampan, dan kini ia hampir yakin tentang kenyataan tersebut. Ia agak pendek dan kecil, pipinya merah muda dan rambutnya mulai menipis di bagian atas sehingga kalau hawa dingin ia mulai merasakannya di kulit kepala.

WAJAHNYA tidak memiliki daya tarik yang paling sederhana sekalipun; yang bisa membuat wajah tidak tampak tampak menyenangkan; kepada perempuan ia bersikap kaku, terlalu banyak omong dan suka asyik dengan dirinya sendiri. Kini ia hampir menghina dirinya sendiri karena hal-hal tersebut. Ia tahu bahwa ia harus memulai percakapan agar Yulia Sergeyevna tidak merasa bosan bersamanya. Tetapi apa yang mau dipercakapkannya? Tentang sakit saudara perempuannya itu lagi?
Ia mulai bercakap tentang obat-obatan, mengatakan segala hal yang biasa-biasa, menyinggung masalah kesehatan, dan menyatakan bahwa ia telah lama merencanakan membuka sebuah rumah sewa di Moskow dan bahwa rencana biayanya sudah diperkirakan. Pekerja yang tinggal di rumah sewanya itu akan mendapatkan sepiring penuh sop panas dengan kol dan roti, tempat tidur yang bersih dan hangat lengkap dengan selimut dan tempat untuk mengeringkan pakaian dan sepatu -untuk semua itu ia hanya harus membayar lima atau enam kopek.
Yulia Sergeyevna biasanya diam saja kalau sedang bersamanya, tetapi dengan cara yang agak aneh -barangkali saja dengan intuisi seorang yang dirundung cinta- ia menerka-nerka apa yang sedang dipikirkan dan akan dilakukan oleh gadis itu. Laptev kini juga berpikir bahwa karena ternyata Yulia tidak masuk ke kamar untuk berganti pakaian atau minum teh setelah doa malam, tentunya gadis itu bermaksud keluar lagi.
"Tetapi saya sama sekali tidak tergesa-gesa dengan rumah sewa itu," katanya dengan bersemangat kepada dokter itu yang menatapnya dengan pandangan kosong, tentunya tidak mengerti kenapa pemuda itu membawa-bawa masalah obat-obatan serta kesehatan. "Saya belum memerlukan perkiraan biaya itu untuk beberapa waktu lagi. Saya khawatir kalau-kalau rumah sewa itu nanti jatuh ke tangan para hipokrit yang sok suci atau para perempuan dermawan yang menghancurkan segala pemeliharaan yang baik itu."
Yulia Sergeyevna bangkit berdiri dan mengulurkan tangannya.
"Maaf," katanya, "Aku harus pergi. Sampaikan salamku kepada saudaramu."
"Ru-ru-ru-ru," gumam dokter itu. "Ru-ru-ru-ru."
Yulia Sergeyevna keluar, dan segera setelah itu ia pergi, Laptev permisi kepada dokter dan pulang. Segala pohon jeruk, bayangan, awan, dan semua keindahan alam yang acuh-tak-acuh itu pun tampak tidak berharga baginya kini, seperti biasanya kalau orang lagi merasa kecewa dan tidak bahagia. Bulan memancar tinggi-tinggi di langit dan awan-awan berkejaran cepat di bawahnya. "Betapa naifnya bulan perdusunan itu, betapa kasihan tampaknya awan yang berjejeran itu!" pikirnya. Ia merasa malu kepada dirinya sendiri bahwa tadi telah berbicara tentang obat-obatan serta rumah sewanya, dan ia merasa ngeri bahwa besok ia tidak akan mampu juga menahan keinginannya untuk bertemu dengan gadis itu dan berbicara dengannya, dan ia akan menjadi yakin juga bahwa gadis itu sama sekali tidak mempedulikannya. Dan hal yang sama pula akan terjadi lusa. Kapan dan bagaimana hal ini nanti berakhir?
Segera setelah sampai di rumah ia langsung masuk kamar saudaranya yang sakit itu.
Nina Fyodorovna masih tetap tampak sehat, dan orang tidak akan tahu bahwa ia sakit apabila tidak memperhatikan tubuhnya yang pucat itu yang menyebabkan wajahnya tampak bagai wajah orang mati ketika ia berbaring telentang, dengan kedua mata tertutup.
Sasha, puterinya yang tertua, berumur sepuluh tahun, duduk di sampingnya, membaca buku pelajaran keras-keras.
"Alexei sini," gumam perempuan sakit itu.
Berdasarkan persetujuan yang sudah lama, Sasha dan pamannya bergantian menjaga si sakit. Sasha menutup bukunya dan keluar kamar tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Laptev mengambil roman sejarah yang terletak di atas meja dandan itu, mencari-cari halaman, lalu mulai membaca keras-keras.
Nina Fyodorovna adalah warga kota Moskow. Ia bersama dua adiknya laki-laki telah melewatkan masa kanak-kanaknya di rumah ayah mereka yang menjadi pedagang di Jalan Pyatnitskaya. Masa kanak itu terasa lama dan menjemukan. Ayahnya teramat keras terhadapnya, dan pernah memukulnya sampai beberapa kali, dan ibunya meninggal dunia setelah menderita sakit sangat lama. Para pelayan di rumahnya selalu berpakaian seenaknya, bersikap kasar dan suka berpura-pura, dan para pendeta yang menjenguk ke rumahnya juga bersikap kasar dan suka berpura-pura; mereka itu makan dan minum sepuas-puasnya serta mengambil hati ayahnya yang sesungguhnya mereka anggap rendah. Adik-adiknya laki-laki beruntung bisa masuk sekolah, tetapi Nina tidak berpendidikan, hampir tidak pernah belajar menulis, dan tidak pernah membaca apa pun kecuali roman sejarah. Ketika usianya dua puluh dua -jadi sekitar tujuh belas tahun yang lalu- ia bertemu dengan suaminya yang sekarang ini, Panaurov; waktu itu musim panas di daerah Khimki, dan Nina jatuh cinta kepada pemuda itu, lalu langsung kawin secara diam-diam, di luar keinginan ayahnya. Orang tuanya menganggap pemuda pemilik tanah yang ganteng dan agak sombong itu, yang suka menyalakan rokoknya di nyala lampu patung suci, sebagai seorang lelaki yang sama sekali tolol; dan ketika menantunya itu mulai menulis surat-surat kepadanya menuntut mas kawin, orang tua itu menulis surat kepada puterinya bahwa ia mengirimkan jaket-jaket bulu, barang-barang perak dan lain-lainnya yang dulu menjadi milik ibu Nina, tambah uang sebanyak 30.000 rubel -tetapi ayah itu tidak mau memberikan berkahnya. Beberapa waktu kemudian dikirimkannya lagi uang sebanyak 20.000 rubel. Tidak lama setelah itu semua uang itu lenyap beserta mas kawinnya, rumah di pedalaman juga terjual, dan Paunarov bersama keluarganya pindak ke kota untuk bekerja sebagai pegawai administrasi di gubernuran. Di sanalah Paunarov kawin lagi, dan orang pun menyebarkan kabar angin tentang hal itu, dan ia sendiri ternyata tidak mencoba untuk menutup-nutupi kenyataan itu.
Nina Fyodorovna mengaguni suaminya. Dan kini, sambil mendengarkan pembacaan roman sejarah itu, ia merenungkan apa yang penah dialaminya tahun-tahun yang silam, dan membayangkan betapa sedih dan memilukannya seandainya kisah hidupnya itu dituliskan orang. Karena tumornya itu ditemukan di dada, ia yakin bahwa sakitnya itu disebabkan oleh cinta yang tidak menemukan kebahagiaan, bahwa air mata dan kecemburuan telah merampas kesehatannya.
Alexei Fyodorovich menutup buku yang dibacanya.
"Sudah selesai, kita panjatkan puji syukur kepada Tuhan," katanya. "Besok kita akan memulai membaca yang lain."
Nina Fyodorovich tertawa. Perempuan itu memang gampang tertawa, tetapi Laptev mulai melihat bahwa sakitnya mulai memengaruhi pikirannya, sebab kakaknya itu sudah mula tertawa akan hal-hal kecil dan malah sering tertawa tanpa alasan sama sekali.

"YULIA pagi tadi datang ke mari ketika kau pergi," kata si sakit. "Kupikir ia tidak begitu bersikap setia terhadap ayahnya. 'Biarkan saja ayah mengurusmu,' katanya, 'tetapi aku menganjurkanmu agar juga mengirim surat kepada orang suci supaya bersedia berdoa untukmu.' Kau tentunya tahu bahwa ada beberapa orang suci di kota. Yulia lupa membawa pulang payungnya, kau harus mengantarkannya besok," kata kakaknya setelah diam sejenak. "Tetapi kalau memang sudah saatnya, baik dokter maupun orang suci tidak akan bisa menolong."
"Nina, kenapa kau tidak tidur kalau malam?" tanya Laptev, agar pokok pembicraan berganti.
"Tak tahulah. Aku tidak bisa. Aku terjaga saja dan berpikir terus."
"Apa pula yang kaupikirkan?"
"Tentang anak-anak, tentang kau...tentang hidupku sendiri. Aku telah mengalami banyak hal, Alexei, dan kalau semua itu kembali terkenang -ya Allah!" Ia tertawa. "Aku telah melahirkan lima kali, aku telah menguburkan anakku tiga orang... Kadang aku merasa seperti mau melahirkan dan suamiku Gregory Nikolayevich tampak duduk bersama perempuan itu dan tidak ada orang yang mau memanggilkan bidan. Aku merasa seperti pergi ke ruang utama mencari pelayan dan yang ada ternyata hanya orang-orang Yahudi, pemilik toko serta lintah darat yang menunggu Gregory. Kepalaku serasa melayang... Ia ternyata tidak mencintaiku, meskipun hal itu tidak pernah dikatakannya. Kini aku tidak peduli apa pun, aku tidak merasa tersakiti lagi, tetapi aku begitu sengsara waktu masih muda, begitu pedih hidupku. Pernah sekali aku memergokinya sedang bersama seorang perempuan di sebuah taman -waktu itu kami tinggal di pedalaman. Aku membalikkan badan dan berjalan tidak tahu ke mana sampai akhirnya tiba di sebuah tangga gereja. Aku jatuh berlutut dan menjerit sejadinya, 'Bunda Suci!' Hari sudah mulai gelap, bulan bersinar..."
Perempuan itu berhenti bicara, napasnya tersengal; kemudian, setelah agak tenteram, ia memegang tangan saudaranya.
"Kau begitu baik hati, Alexei," katanya datar. "Begitu pandai, begitu baik!"
Laptev meninggalkan kamar saudaranya pada tengah malam; dibawanya payung Yulia Sergeyevna. Meskipun hari sudah tengah malam, para pelayan ternyata masih minum teh di ruang makan. Tak ada aturan di rumah ini, pikirnya. Anak-anak masih juga belum tidur, mereka juga ada di kamar makan. Mereka semua bercakap dengan suara yang rendah dan terasa gelisah, tidak menyadari bahwa lampu yang berkedip-kedip itu sudah hampir padam: baik orang dewasa maupun yang kanak-kanak di rumah itu akhir-akhir ini telah dikuasai oleh semacam pertanda buruk: cermin yang terletak di ruang utama pecah, setiap hari samover bersiul, dan sungguh malam ini pun ia bersiul; mereka bilang bahwa seekor tikus telah meloncat dari sepatu Nina Fyodorovna ketika mau dipakai. Bahkan kanak-kanak tahu akan kenyataan yang menakutkan dari pertanda buruk itu. Sasha, gadis yang tertua, seorang anak yang kurus dan berambut hitam, duduk tidak bergerak di meja memandang ke depan dengan rasa takut dan sedih, dan Lida yang pipinya bulat serta rambutnya indah, berumur tujuh tahun, berdiri di sampingnya, berkerut dahi menatap perapian.
Laptev turun ke apartemennya di lantai bawah, kamar-kamar yang penuh sesak dan berlangit-langit rendah serta berbau bunga geranium. Ia jumpai suami Nina di kamar duduknya sedang membaca surat kabar. Laptev mengangguk dan duduk di hadapannya. Tak ada yang bicara. Mereka berdua bisa duduk bersama seperti itu sepanjang malam tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Gadis-gadis kecil itu turun untuk mengucapkan selamat tidur. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun Paunarov membuat tanda silang di atas kepala anak-anaknya itu dan membiarkan mereka mencium tangannya. Mereka menekuk lutut memberi hormat lalu mendekati Laptev, yang kemudian juga membuat tanda silang dan membiarkan tangannya mereka cium. Upacara semacam ini diulang setiap malam.
Ketika gadis-gadis kecil itu sudah pergi, Paunarov meletakkan korannya dan berkata:
"Menjemukan sekali kota terkutuk ini! Terus terang saja," tambahnya dengan sedikit menarik napas, "aku turut merasa sangat bahagia bahwa akhirnya kau menemukan sesuatu untuk menghibur dirimu."
"Apa maksudmu?" tanya Laptev.
"Kemarin kulihat kau keluar dari rumah dokter Belavin. Aku yakin kau tidak ke rumah itu untuk menemui si ayah, bukan?"
"Tentu saja tidak," kata Laptev, mukanya merah.
"Tentu. Ya, ayah gadis itu seorang tua dungu. Tak terbayangkan betapa bodoh, dungu, dan kakunya orang itu! Kalian orang-orang kota hanya melihat hal-hal yang menarik saja di daerah, pemandangan alam dan Anton Goremyka -ya, begitulah- tetapi pantas kukatakan padamu bahwa sebenarnya sama sekali tidak ada yang menarik di sini. Yang ada hanya suasana barbar, hal-hal yang rendah dan kotor, dan tidak ada yang lain. Ambil saja contohnya mereka yang menguasai ilmu pengetahuan, kaum terpelajar. Ada dua puluh delapan dokter di kota kecil ini, semuanya telah berhasil mengumpulkan kekayaan dan memiliki rumah sendiri. Namun rakyat masih juga sengsara seperti dulu. Ketika Nina harus mengalami operasi, operasi yang biasa saja, kami harus mendatangkan ahli bedah dari Moskow -tidak ada seorang ahli bedah pun di daerah ini yang sanggup melakukannya! Bayangkan! Mereka itu tidak tahu apa-apa, tidak memahami apa-apa dan tidak berminat kepada apa pun. Coba saja tanyakan kepada mereka apa kanker itu, misalnya, macam penyakit apa, apa penyebabnya."
Panaurov kemudian melanjutkan bicaranya menjelaskan tentang apa kanker itu. Ia adalah seorang ahli dalam segala bidang ilmu pengetahuan dan selalu mampu menjelaskannya secara ilmiah meskipun penjelasan itu sama sekali merupakan karangannya sendiri. Ia memiliki teori sendiri tentang peredaran darah, ia punya ilmu kimia sendiri, punya ilmu astronomi sendiri. Ia bicara pelahan, dengan tenang dan lancar untuk mendapat perhatian, kedua matanya setengah tertutup, berseru, "Bayangkan saja!" dengan suara mendesah seolah memohon perhatian sambil menarik napas dan tersenyum sangat ramah. Ia jelas terpikat oleh dirinya sendiri, dan sama sekali tidak memikirkan bahwa usianya sudah lima puluh tahun.
"Aku lapar," kata Laptev. "Makan acar juga jadilah."
"O, itu gampang diatur."

SEJENAK kemudian Laptev dan iparnya sudah duduk di kamar makan di atas makan malam. Laptev minum segelas vodka lalu anggur. Panaurov tidak minum apa pun. Ia tidak pernah minum dan tidak suka berjudi, namun ia telah menggunakan kekayaannya sendiri serta harta istrinya sedemikian rupa sehingga ia terjerat dalam utang. Tidak dibutuhkan sifat jahat yang luar biasa sebagai semacam bakat untuk menghamburkan uang begitu banyak dalam waktu yang begitu singkat. Panaurov tidak bisa mengelakkan godaan makanan anak-anak, yang dihidangkan dengan cara elok, sambil mendengarkan musik indah waktu makan malam, pidato-pidato, pelayan-pelayan yang membungkuk yang kemudian ia lempari uang sepuluh kadang dua puluh lima rubel sebagai tip: ia menjadi anggota segala macam perkumpulan dan beli lotere, selalu mengirimkan bunga kepada teman-teman perempuannya pada hari pembaptisan mereka, membeli cangkir, tempat gelas, marset, dasi, tongkat, parfum, tempat rokok, pipa, anjing, bec, mainan tik-tok Jepang, dan segala macam barang aneh; ia hanya mau mengenakan kemeja malam yang terbuat dari sutera, tempat tidurnya terbuat dari kayu hitam dengan indung mutiara, gaun tidurnya asli Bokhara, dan lain-lain, dan segalanya menyebabkan ia selalu butuh "bergantang-gantang uang", untuk meminjam istilahnya sendiri.
Selama makan malam ini ia terdengar mengeluh dan menggelengkan kepalanya.
"Ya, segalanya ada akhirnya juga di dunia ini," katanya pelahan, matanya yang hitam itu menciut. "Kau akan jatuh cinta dan kemudian menderita, lalu kembali tersungkur dari cinta; ia akan tidak setia terhadapmu, sebab memang setiap perempuan tidak setia; kau akan menderita dan putus asa, dan akhirnya kau pun tidak setia kepadanya. Tetapi akhirnya semua itu hanya tinggal kenangan belaka dan kau akan membicarakannya dengan dingin dan menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak masuk akal layaknya."
Laptev, yang letih dan agak mabuk, menatap kepala Panaurov yang bagus bentuknya dengan jenggot yang hitam dan tercukur rapih itu, dan ia merasa paham kini kenapa para perempuan begitu suka kepada lelaki yang tampan, manja dan yakin akan dirinya sendiri itu.
Setelah makan malam Panaurov pergi ke apartemennya yang lain. Laptev menemaninya separo jalan. Panaurov adalah satu-satunya orang di kota itu yang mengenakan topi tinggi; dan di samping pagar-pagar kelabu, rumah-rumah kayu yang bobrok dan gerumbul-gerumbul jelatang, sosok tubuhnya yang pesolek dan topi tingginya serta sarung tangannya yang kuning itu tampak lucu dan agak merana.
Laptev mengucapkan selamat tidur kepadanya lalu berjalan pulang pelahan. Bulan bersinar terang sehingga setiap lembar daun rumput tampak jelas dan Laptev merasa bahwa cahaya bulan itu seolah-oleh mengelus kepalanya yang botak dengan sentuhan lembut bagai bulu.
"Aku jatuh cinta!" katanya keras-keras.
Ia ingin memburu Panaurov, memeluknya, memaafkan segala kesalahannya, menghadiahinya sejumlah uang dan kemudian lari entah ke ladang atau ke hutan tanpa menoleh ke belakang.
Ketika sampai di rumah ia melihat payung yang tertinggal oleh Yulia Sergeyevna, payung itu masih tergeletak di kursi. Ia menyambarnya lalu menekankannya ke bibir. Payung itu terbuat dari bahan sutera, sama sekali tidak baru lagi, diikat dengan karet gelang dan pegangannya terbuat dari tulang murahan. Laptev membukanya dan memegangnya di atas kepala dan ia menarik napas penuh kebahagiaan.
Ia duduk dengan enak di sebuh kursi dan, sambil memegang payung itu, mulai menulis surat kepada salah seorang sahabatnya di Moskow.
"Kostya yang baik: ada kabar bagus untukmu -aku jatuh cinta lagi! Kubilang lagi sebab sekitar enam tahun yang lalu aku pernah jatuh cinta kepada seorang aktris di Moskow yang tidak pernah berhasil aku temui, dan selama satu setengah tahun yang terakhir ini aku tinggal bersama perempuan yang sudah kau kenal- perempuan yang sama sekali tidak muda lagi dan tidak cantik. Sahabatku yang baik, ah, betapa malangnya aku bercinta! Aku tidak pernah sukses menghadapi perempuan dan hal ini kukatakan lagi, sebab terasa sangat pahit dan sakit untuk mengakui bahwa masa mudaku telah lewat tanpa cinta dan bahwa baru sekarang ketika umurku tiga puluh empat aku belajar tentang apa cinta itu. Dan biarlah hal itu terjadi lagi.
''Kalau saja kaukenal gadis ini! Kau tidak akan menyebutnya si cantik - tulang pipinya menonjol, dan tubuhnya sangat kurus, tetapi wajahnya memancarkan kebaikan yang luar biasa, dan senyumnya sejuk sekali! Dan suaranya bagai nyanyian. Ia tidak pernah bercakap denganku, tidak bisa kukatakan bahwa aku benar-benar mengenalnya, namun kalau aku ada di dekatnya terasa bahwa aku sedang berada di dekat makhluk yang luar biasa, yang maha bijaksana dan agung. ''Ia khusyuk beragama, dan tidak terbayangkan olehmu betapa hal itu bisa menggerakkan hatiku dan membuatnya sangat berharga di mataku. Dalam hal ini aku telah siap untuk berdebat denganmu. Taruhlah kau yang benar, miliki saja kebenaranmu itu, sedang aku merasa bahagia sekali kalau ia pergi berdoa ke gereja. Ia memang gadis kota kecil, namun ia dididik di Moskow dan ia mencintai Moskow kita, mengenakan pakaian mode Moskow, dan oleh sebab itu pula aku mencintainya, mencintainya, mencintainya. Kubayangkan kau berdiri, siap untuk memberikan kuliah panjang padaku tentang apa cinta itu dan siapa-siapa yang pantas kita cintai dan tidak pantas kita cintai dan lain-lain dan lain-lain. Tetapi sahabatku Kostya, sampai saat aku sendiri mengalami cinta itu, aku tahu persis apa cinta itu.
''Nina mengucapkan terima kasih atas salam yang kausampaikan. Ia sering ingat bagaimana ia membawa si kecil Kostya Kochevoi ke kelas persiapan, dan ia tetap memanggilmu 'Kostya yang malang' sebab baginya kau masih tetap seorang anak lelaki kecil yang yatim-piatu. Dan demikianlah sahabatku anak yatim-piatu, aku sedang dalam cinta! Selama ini masih menjadi rahasia, jangan mengatakan apa-apa kepada 'dia' itu. Aku yakin hal ini akan bisa diselesaikan dengan baik, atau, seperti apa yang dikatakan oleh bujang dalam novel Tolstoy itu: segalanya akan beres dengan sendirinya..."
Surat itu selesai ditulis, Laptev pun pergi tidur. Pelupuk matanya berat berbeban keletihan, namun karena suatu hal ia sulit tidur; ia pikir suara-suara di jalan itulah yang menyebabkannya tidak bisa tidur. Ia dengar ternak digiring lewat rumahnya, dan suara terompet tanduk, dan sebentar kemudian lonceng gereja berdentang untuk misa pagi. Kemudian terdengar kereta lewat, kemudian suara-suara perempuan petani pergi ke pasar. Dan burung gereja tidak henti-hentinya berkicau.

PAGI itu cerah dan riang. Kira-kira pukul sepuluh Nina Fyodorovna, yang mengenakan pakaian warna coklat dan rambutnya disisir rapih, dituntun ke kamar tamu. Ia sebentar berjalan sekeliling kamar dan berdiri dekat jendela, tersenyum lebar bagaikan kanak-kanak; kalau kita memandangnya kita ingat bahwa seorang pelukis daerah itu, yang suka mabuk-mabukan, pernah mengatakan bahwa wajah perempuan itu bagaikan gambar suci dan ingin menjadikannya model untuk gambar Masa Puasa Rusia. Pagi itu semua -anak-anak, para pelayan, saudaranya Alexei dan bahkan dia sendiri- tiba-tiba saja menjadi yakin bahwa ia akan sembuh. Gadis-gadis kecil itu berlarian mengejar pamannya, tertawa-tawa, dan rumah itu menjadi hidup kembali.
Orang-orang datang menanyakan kesehatannya, sambil membawa roti suci mengatakan bahwa hari itu ada upacara-upacara suci di hampir setiap gereja di kota itu. Nina memang terkenal karena kedermawanannya dan orang-orang senang padanya. Ia membagi-bagikan sedekahnya dengan senang, seperti juga saudaranya Alexei yang suka membagikan uangnya dengan gampang, tanpa mempertimbangkan apakah tindakannya itu bijaksana atau tidak. Nina Fyodorovna membayar uang sekolah bagi mereka yang memerlukannya, membagikan gula, teh, dan selai kepada perempuan-perempuan tua, memberikan perlengkapan kepada pengantin yang berkekurangan, dan kalau ada koran yang dibacanya maka hal pertama yang diperhatikannya adalah iklan minta bantuan.
Sekarang ini ia membawa catatan dari orang-orang melarat yang suka ngebon di warung makanan, dan warung itu menyerahkan daftar bon tersebut agar dibayar olehnya.
"Ya Allah, betapa banyak jumlah yang mereka bon! Apa mereka tak punya pikiran sama sekali?" katanya, hampir tidak mampu membaca catatan tulisan tangannya sendiri itu. "Pikirkan saja! Delapan puluh dua rubel! Delapan puluh dua rubel! Bagaimana kalau aku tidak membayarnya!"
"Aku akan membayarnya hari ini," kata Laptev.
"Jangan. Jangan, kau jangan membayarnya," kata Nina Fyodorovna gemetar. "Cukup bagiku menerima 250 darimu dan Fyodor. Tuhan memberkahi kalian berdua!" tambahnya pelahan agar para pelayan tidak mendengarnya.
"Tetapi aku sendiri menghabiskan uang dua ribu lima ratus sebulannya!" kata Laptev. "Sekali lagi kukatakan padamu, kau mempunyai hak yang sama seperti aku dan Fyodor dalam menggunakan uang. Ketahuilah itu. Kami bertiga, dan setiap kopek yang keluar dari kantung kami adalah milikmu."
Tetapi Nina Fyodorovna tidak bisa memahaminya, dan dari wajahnya tampak bahwa ia bingung seperti menghadapi sebuah soal matematika yang sulit. Ketidakmampuannya untuk mengerti barang sedikit pun tentang masalah uang ini telah lama menjadikan Laptev sedih. Laptev mengira bahwa saudaranya itu memendam utang yang tidak pernah dikatakannya karena malu, dan yang telah menyebabkannya tertekan.
Pada saat itu juga terdengar langkah kaki dan suara napas yang berat di tangga rumah. Itu sang dokter - tidak teratur pakaiannya seperti biasanya.
"Ru-ru-ru," gumamnya. "Ru-ru."
Untuk menghindari bertemu dengannya, Laptev menyelinap lewat kamar makan lalu turun ke apartemennya sendiri. Ia tidak pernah bisa dekat dengan dokter itu sehingga sulit baginya kalau harus menemuinya sering-sering. Di samping itu, ia memang tak tahan menghadapi "si tua dungu" itu, untuk meminjam istilah Panaurov. Oleh alasan itulah Laptev jarang sekali bertemu dengan Yulia Sergeyevna. Tiba-tiba saja ia berpikir: sekarang ini dokter ada di sini, jadi kalau ia pergi mengembalikan payung itu ke rumah Yulia Sergeyevna, maka pasti ditemuinya gadis itu sendirian saja - dan hatinya melonjak kegirangan. Ia harus buru-buru, cepat!
Ia mengambil payung itu dan, dengan gemetar, terbang dengan sayap-sayap cintanya. Di luar ternyata panas. Belasan kanak-kanak - anak-anak yang tinggal di tiga rumah tua yang tergabung pada rumah dokter itu, yang rencananya akan diperbaiki, tetapi yang sudah selama bertahun-tahun tertunda juga - bermain bola di antara jerami dan lumut di pekarangan rumah dokter yang luas itu; udara penuh dengan teriakan mereka. Di sudut sebelah sana pekarangan itu, di samping berandanya sendiri, berdirilah Yulia Sergeyevna memandang permainan itu dengan kedua belah tangannya di belakang.
"Selamat pagi," kata Laptev kepadanya.
Gadis itu membalikkan badannya, dan Laptev melihat wajah gadis yang biasanya dingin dan acuh-tak-acuh, atau letih seperti kemarin itu, kini tampak hidup dan bersemangat seperti anak-anak yang di sekelilingnya.
"Lihat, kau tidak akan pernah menyaksikan permainan yang segembira ini di Moskow," kata gadis itu, sambil berjalan menyambut Laptev. "Tetapi tentu saja pekarangan di sana jauh lebih sempit, tak ada tempat untuk berlari-lari. Papa baru saja pergi ke rumahmu," tambahnya, sambil membalikkan muka untuk melihat anak-anak itu bermain.
"Aku tahu. Aku datang untuk menemuimu, bukan beliau," kata Laptev, sambil mengagumi keremajaan yang baru saja disadarinya, serta lehernya yang jenjang putih dihiasi kalung emas itu. "Aku datang untuk menemuimu," katanya mengulangi. "Payungmu. Kakak memintaku agar aku mengembalikannya kepadamu. Kau lupa membawanya pulang kemarin."
Gadis itu mengulurkan tangannya menerima payung tersebut, tetapi Laptev tiba-tiba saja menekankannya ke dadanya.
"Biar kumiliki saja payung ini," kata lelaki itu dengan penuh gairah, dengan bersemangat mengalami kembali kegembiraan yang tadi malam ia alami ketika membuka payung itu di kamarnya. "Aku akan menyimpannya dalam kenanganku padamuÖ dalam persahabatan kita. Indah sekali!"
"Kau boleh menyimpannya," kata gadis itu, wajahnya memerah. "Tetapi sama sekali tidak ada yang indah dengan payung itu."
Lelaki itu menatapnya dalam kegembiraan tanpa kata-kata, dalam kegairahan yang kehilangan kata-kata.

"YA Allah, kenapa pula kubiarkan kau kena panas matahari!" kata gadis itu setelah sejenak diam, lalu tertawa. "Masuklah, mari."
"Apa aku tidak mengganggumu?"
Mereka masuk. Yulia Sergeyevna berlari ke ruang atas, gaunnya yang putih berbunga-bunga itu terdengar gemerisik.
"Tak mungkin bisa menggangguku," katanya, sambil berhenti di anak tangga. "Sebab aku tidak pernah mengerjakan apa pun. Bagiku, setiap hari adalah hari libur, dari pagi sampai malam."
"Itu tidak bisa aku pahami," kata Laptev sambil menyusulnya ke atas. "Aku dibesarkan di antara orang-orang yang tidak henti-hentinya bekerja setiap hari -kau tahu. Tak peduli perempuan atau laki-laki."
"Tetapi kalau memang tidak ada yang harus dikerjakan?" tanya gadis itu.
"Orang harus mengatur hidupnya sedemikian rupa sehingga bekerja menjadi suatu keperluan. Tanpa kerja, tidak mungkin didapat hidup yang murni dan gembira." Ia menekankan payung itu ke dadanya lagi dan ia agak terkejut juga mendengar dirinya berkata pelahan dengan suara yang hampir-hampir tidak dikenalnya sebagai miliknya sendiri:
"Kalau kau setuju menjadi istriku aku akan siap memberikan segalanya untukmu. Segalanya milikku... apa saja akan aku laksanakan dan korbankan untukmu."
Gadis itu terkejut dan menatapnya dengan rasa takut dan kaget.
"Oh, jangan!" kata gadis itu, mukanya memucat. "Itu tidak mungkin. Yakinlah. Maaf."
Gadis itu berlari cepat ke atas, gaunnya berdesik, dan menghilang di balik pintu.
Suasana jiwa Laptev tiba-tiba saja berubah seakan-akan cahaya hilang begitu saja dari jiwanya. Ia bergegas ke luar rumah, penuh rasa malu dan hina karena merasa bahwa dirinya telah kena sepak, bahwa ia tidak disukai, bahwa ia menjijikkan, memuakkan.
"Aku siap untuk memberikan segalanya untukmu," ejeknya kepada dirinya sendiri ketika ia pulang di bawah matahari yang menyilaukan panasnya, sambil mengingat setiap patah kata pengakuannya tadi. "Aku siap untuk memberikan -seperti saudagar saja! Seolah-olah semua orang mengharapkan pemberianmu!"
Segala yang ia ucapkan tadi bodoh dan menjijikkan adanya. Kenapa pula ia berbohong bahwa telah dibesarkan di tengah-tengah orang-orang yang senantiasa bekerja setiap hari! Kenapa ia tadi menyusun moral tentang hidup yang murni dan gembira? Itu semua bodoh, tidak menarik dan palsu -kata-kata manis yang palsu dari Moskow. Tetapi sedikit demi sedikit perasaannya berubah menjadi sama sekali tidak peduli, seperti seorang penjahat sehabis mendengarkan keputusan hakim atas kejahatannya, dan kini ia berterima kasih kepada Tuhan bahwa segalanya telah berlalu dan bahwa segala yang tidak pasti itu sudah tiada lagi. Kini segalanya jelas. Baginya tidak ada lagi kebahagiaan, tidak ada lagi harapan, tidak ada mimpi-mimpi, tidak ada damba; dan untuk menghindarkan kejemuan yang memuakkannya itu, ia akan mengisi dirinya dengan kebahagiaan yang dicecap oleh orang lain. Sebelum ia mengetahuinya, usia tua akan merampasnya dan tidak ada lagi yang perlu diributkan. Kini ia sama sekali tidak peduli apa pun dan malah mampu mempertimbangkan segalanya dengan dingin dan tenang. Namun begitu wajahnya, terutama sekali di bawah matanya, terasa sangat berat; dahinya terasa ketat bagai karet -seolah-olah air mata akan memancar keluar. Lemah dan lunglai, ia pun berbaring di tempat tidurnya dan dalam waktu lima menit sudah tidur nyenyak.
Bab III
Pinangan Laptev yang sama sekali tidak terduga itu menyebabkan Yulia Sergeyevna sangat sedih.
Ia boleh dikatakan belum mengenal lelaki itu, ia bertemu dengannya secara kebetulan saja. Lelaki itu seorang kaya, anggota dari firma Moskow yang terkenal, Fyodor Laptev & Keluarga; tampak selalu sungguh-sungguh sifatnya, pandai dan sangat memperhatikan kesehatan saudara perempuannya. Yulia Sergeyevna dulunya yakin bahwa lelaki itu pastilah tidak menganggap dirinya ada, dan gadis itu sendiri tidaklah begitu memperhatikannya - dan tiba-tiba saja ada pinangan di anak tangga itu, pandangan wajahnya yang memelas dan penuh haru...
Gadis itu merasa gelisah sebab semua itu terjadi begitu mendadak, sebab lelaki itu menggunakan kata istri dan sebab ia terpaksa menolak pinangan itu. Ia tidak ingat lagi apa yang dikatakannya waktu itu, tetapi perasaan tak senang yang telah menguasainya belum juga hilang. Ia memang tidak menyukai lelaki itu. Lelaki itu tampak bagai pedagang, sama sekali tidak menarik, dan tidak mungkin gadis itu menerimanya. Namun ia tetap merasa gelisah.
"Ya Allah -di tangga, bahkah tidak juga mau dalam kamar," katanya sendiri dalam putus asa, sambil membalikkan badan ke gambar suci kecil yang tergantung di atas tempat tidurnya. "Bahkan tanpa pacaran terlebih dahulu, dan dengan cara yang tidak terpuji semacam itu!"
Karena sendiri saja, kemarahannya semakin memuncak saja setiap saat sehingga ia merasa harus segera mengatakan hal itu kepada seseorang, harus bisa menjadi yakin bahwa apa yang dilakukannya benar adanya. Tetapi tidak ada orang yang bisa diajak bicara. Ibunya sudah lama meninggal dan ayahnya bukanlah orang yang bisa ia ajak bercakap dengan sungguh-sungguh. Tingkah laku, sikap yang mudah tersinggung dan gerak-gerik ayahnya itu mengganggunya saja; kecuali itu, setiap kali ia mencoba bercakap dengan ayahnya, akhirnya orang tua itu hanya bercakap dengan dirinya sendiri saja. Dan gadis itu pun tidak begitu jujur dalam doa-doanya, sebab dia tidak begitu tahu apa yang harus didoakannya.

SAMOVAR telah dibawa masuk. Yulia Sergeyevna, yang tampak sangat pucat serta bertampang letih, masuk kamar makan dan membuat teh -tugasnya sehari-hari- dan membuat segelas teh untuk ayahnya. Sergei Borisych yang mengenakan jas panjang sampai ke lutut, berwajah kemerahan, tidak bersisir, kedua tangannya masuk ke saku, berjalan mondar-mandir di kamar makan seperti binatang dalam kerangkeng. Kadang-kadang ia berhenti dekat meja untuk menyeruput minumnya sampai kedengaran bunyinya lalu kembali mondar-mandir lagi berjalan entah memikirkan apa.
"Tadi Laptev meminangku," kata Yulia Sergeyevna, mukanya memerah.
Dokter itu menatapnya sekilas; tampaknya ia tidak bisa memahaminya.
"Laptev?" tanyanya. "Saudara Panaurov itu?"
Orang tua itu menyayangi anaknya, dan ia menyadari bahwa pada suatu saat nanti gadis itu pasti akan kawin dan meninggalkannya sendirian saja, tetapi ia mencoba untuk tidak pernah memikirkan hal itu. Kenyataan bahwa nanti ia harus tinggal sendiri saja di rumah yang besar ini telah membuatnya kecut; diam-diam ia yakin bahwa kalau ka harus sendirian saja nanti, pasti lama-lama ia akan menderita penyakit pitam - tetapi ia tidak pernah membukakan kekhawatirannya itu.
"Sungguh, aku kembira, katanya, sambil mengangkat bahunya. "Ayah mengucapkan selamat padamu. Kini sudah tiba saatnya bagimu untuk meninggalkan aku. Dan kau memang benar. Hidup bersama ayah yang sudah tua, yang sakit-sakitan, yang setengah waras, tentulah terasa berat bagi seorang muda. Kau benar. Dan semakin cepat aku mengaduh, semakin cepat pula setan akan datang menjemputku, dan orang-orang akan semakin bahagian jadinya. Aku ucapkan selamat kepadamu, sayangku."
"Tapi aku telah menolaknya."
Sang dokter merasa lebih lega dengan pernyataan anaknya itu tetapi ia tidak mampu lagi menahan diri.
"Aku sering berpikir kenapa aku ini tidak dimasukkan saja ke rumah sakit jiwa," katanya melanjutkan. "Kenapa aku mengenakan jas panjang ini dan bukan jaket saja? Aku masih percaya pada kebenaran, kebaikan; aku adalah salah seorang idealis tolol itu, dan bukankah itu merupakan ketidakwarasan di zaman ini? Orang-orang hampir melemparkan batu ke arahku, dan mengambil keuntungan dariku. Bahkan kerabat dekatku mencoba untuk menunggangi leherku, yah karena sangat tololnya aku yang tua ini."
"Tidak mungkin rasanya bercakap denganmu, Ayah!" kata Yulia.
Gadis itu bangkit cepat-cepat dari meja dan masuk ke kamarnya sendiri, panas oleh amarah. Orang tua itu sering kali tidak bijaksana terhadapnya. Tetapi segera pula ia memaafkan ayahnya, dan ketika tiba saatnya orang tua itu pergi ke perkumpulannya, Yulia mengantarkannya ke bawah serta menutupkan pintu. Malam itu berangin dan resah. Pintu gemetar karena angin, dan di beranda angin begitu keras sehingga hampir saja lilinnya mati. Di lantai atas Yulia Sergeyevna memasuki semua kamarnya dan membuat tanda salib di semua pintu dan jendela. Angin tertiup kencang dan ia marasa seperti mendengar suara seorang berjalan di atas atap. Waktu merambat pelan sekali, dan ia tidak pernah merasa sesepi ini.
Dia bertanya kepada dirinya sendiri apakah sudah benar tindakannya menolak Laptev hanya karena ia tidak menyukai tampangnya. Benar bahwa ia tidak mencintai lelaki itu, dan kawin dengannya hanya berarti bahwa ia harus mengucapkan selamat tinggal kepada mimpi-mimpinya sebagai kebahagiaan hidup berumah tangga, tetapi akan dapatkah ia nanti menemukan lelaki yang diimpi-impikannya itu? Umurnya kini sudah dua puluh satu tahun. Di kota ini memang tidak ada pemuda yang pantas. Ia berpikir tentang semua lelaki yang dikenalnya - pegawai pemerintah, guru, opsir, dan ternyata sebagian mereka telah kawin dan hidup mereka teramat kosong dan menjemukan, yang sebagian lagi tidak menarik, hambar, bodoh, atau tidak bermoral. Bagaimanapun Laptev adalah lelaki Moskow, lulusan universitas dan bisa bicara bahasa Prancis; ia tinggal di ibu kota di mana tinggal juga banyak orang pandai dan terkemuka, di mana kehidupan cemerlang dan gembira, di mana terdapat banyak gedung teater yang bermacam-macam dan memikat, pertunjukan musik di malam hari, penjahit yang pandai dan toko roti... Injil mengatakan bahwa istri harus mencintai suami, dan novel-novel telah menceritakan terlampau banyak tentang hal itu, dan barangkali sudah keterlaluan dibuat-buat.
Apakah tak mungkin ada perkawinan tanpa cinta? Bukankah orang bilang bahwa cinta berlalu dan yang tinggal hanya kebiasaan saja, dan bahwa tujuan perkawinan bukanlah cinta, bukan kebahagiaan, tetapi kewajiban, misalnya saja mengasuh anak, memelihara rumah tangga, dan lain-lain. Bahkan cinta dalam pengertian Injil barangkali adalah rasa hormat, kesabaran serta kasih sayang kepada suami seperti kepada tetangga.
Sebelum pergi tidur Yulia Sergeyevna membaca doa malamnya dengan cermat, berlutut, menekankan tangan ke dada, dan menatap nyala lampu lilin di bawah gambar suci, ia pun memohon:
"Tolonglah hamba, Bunda Suci! Tolonglah hamba, Tuhan!"
Ia terkenang akan para perawan tua yang pernah dikenalnya, makhluk-makhluk tua yang malang yang merasa menyesal karena telah menolak cinta lelaki. Tidakkah hal yang sama akan terjadi juga atasnya? Barangkali ia harus pergi ke biara saja untuk menjadi biarawati?
Ia menanggalkan pakaian dan berbaring di tempat tidurnya, membuat tanda salib pada dirinya dan pada udara sekelilingnya. Pada saat itu juga terdengar bunyi bel sangat keras di pintu.
"Ya Allah!" katanya, merasakan getaran yang menyusup seluruh tubuhnya karena mendengar suara itu. Ia berbaring tenang, memikirkan betapa menjuemukannya hidup di kota kecil ini, dan juga terasa betapa menegangkan urat sarat. Kau senantiasa dibikin terkejut dan takut, atau naik pitam atau merasa berdosa karena berbuat sesuatu, dan akhirnya urat sarafmu menjadi begitu berantakan sehingga akhirnya aku berusaha berlindung di balik selimut.

SETENGAH jam kemudian bel terdengar lagi senyaring tadi. Para pelayan tentunya sudah tertidur dan tidak mendengarnya. Yulia Sergeyevna menyalakan lilin dan berpakaian tergesa-gesa, gemetar, amarah kepada para pelayan, tetapi ketika ia turun ke gang ternyata babu sudah menutupkan pintu.
"Saya pikir itu Tuan Dokter, tetapi ternyata orang yang mencari beliau," katanya.
Yulia Sergeyevna kembali ke kamarnya. Ia mengambil kartu dari laci mejanya dan mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa kalai ia mengocok kartu itu kemudian membanginya dua, dan kalau kartu yang di bawah adalah merah, itu berarti ya, yakni ia harus kawin dengan Laptev, tetapi kalau kartunya hitam, jawabnya adalah tidak. Karti yang di bawah kemudian ternyata sepuluh sekop.
Hal itu menenangkannya dan ia pun tertidur, tetapi keesokan harinya masalahnya menjadi ya atau tidak lagi. Kini kalau ia mau ia bisa mengubah seluruh hidupnya. Ia menjadi letih memikirkannya sehingga ia merasa hampir sakit. Tetapi pukul sebelas lebih sedikit ia berpakaian dengan maksud menengok Nina Fyodorovna. Ia ingin bertemu dengan Laptev. Barangkali kini lelaki itu tampak lebih tampan dari pada sebelumnya; barangkali ia telah salah pandang selama ini.
Gadis itu berjalan, melawan angin, memegang topinya erat-erat dengan kedua belah tangannya; debu beterbangan mengenai matanya.
Bab IV
KETIKA menjumpai Yulia Sergeyevna secara tidak terduga di kamar saudaranya itu, Laptev sekali lagi merasakan rasa hina yang dialaminya kemarin. Kalau sehabis yang terjadi kemarin itu ia dengan hati ringan datang menengok saudaranya dan mengambil risiko untuk bertemu muka dengan dirinya maka itu hanya bisa berarti bahwa gadis itu sama sekali tak memperhatikannya atau menganggapnya sama sekali tak pantas lagi diapa-apakan. Tetapi ketika ia menjabat tangan gadis itu diperhatikannya wajah gadis itu pucat dan ada debu di bawah matanya, dan dari pandangannya yang sedih dan tampak bersalah itu kentara bahwa gadis itu pun menderita.
Gadis itu tidak sehat. Setelah sejenak lamanya, tidak lebih sepuluh menit, ia berdiri dan mohon pamit.
"Maukah kau datang ke rumah menemuiku, Alexei Fyodorych?" katanya kepada Laptev ketika ia keluar.
Mereka berjalan tanpa suara, keduanya memegangi topi masing-masing, Laptev beberapa langkah agak di belakang, mencoba melindungi gadis itu dari angin kencang. Ketika mereka berjalan di pinggir jalan angin tidak terasa kencang dan mereka bisa berjalan berdampingan.
"Kemarin itu aku kasar, maafkan saja," kata gadis itu memulai, dan suaranya terdengar seakan mau menangis. "Oh, aku begitu sedih! Aku tidak bisa tidur semalamam."
"Sungguh! Aku malah tidur nyenyak," kata Laptev, tanpa memandang gadis itu. "Tetapi itu tidak berarti bahwa aku bahagia. Hidupku hancur sudah, dan sejak kemarin aku merasa seolah-olah aku kena racun. Yang terburuk telah terlewat kemarin itu, dan sekarang aku tak lagi merasa tertekan sehingga bisa bicara terbuka kepadamu. Aku mencintaimu lebih dari saudaraku, lebih dari ibukuÖ aku bisa hidup tanpa ibuku dan saudaraku, tetapi tanpa kau hidupku terasa tidak berarti, aku tidak bisa..."
Seperti biasanya Laptev menerka-nerka keinginan gadis itu. Ia tahu bahwa gadis itu mengundangnya ke rumah sebab ingin melanjutkan pembicaraan yang kemarin itu. Tetapi apa lagi yang bisa ditambahkannya pada penolakan itu? Apa yang dipikirkan gadis itu kini? Laptev merasa bahwa tatapan gadis itu, senyumnya, bahkan caranya mendongakkan kepala dan menegakkan bahu waktu berjalan di sampingnya kini membuktikan bahwa gadis itu masih tetap tidak mencintainya. Lalu, apa pula yang mau dikatakannya lagi?
Dokter Sertei Borisych ada di rumah.
"Masuklah, senang sekali kau datang, Fyodor Alexeich," kata orang tua itu, mengacaukan nama Laptev dan nama keluarganya. "Senang sekali aku menerimamu."
Sebelumnya belum pernah dokter itu begitu ramah dan Laptev mengambil kesimpulan bahwa tentunya ia sudah mengetahui tentang lamarannya kemarin itu; dan Laptev merasa kikuk karenanya. Ia duduk di kamar duduk dokter, sebuah kamar aneh dengan perabotan yang tak keruan dan tak sesuai serta lukisan-lukisan yang buruk; kalau kita tidak memperhatikan kerudung lampu serta kursi-kursinya, kamar itu lebih tampak sebagai sebuah gudang yang luas, kamar yang hanya mungkin dihuni dengan enak oleh orang macam dokter ini. Kamar sebelahnya, yang luasnya dua kali ruang duduk ini, disebut ruang utama dan tidak ada isinya apa pun kecuali kursi-kursi yang diatur di pinggir ruangan sehingga tampak seperti kelas untuk belajar dansa. Ketika kini ia bercakap dengan dokter tentang kesehatan saudaranya, Laptev diganggu oleh pikiran yang gelisah bahwa Yulia Sergeyevna telah menjenguk saudaranya serta membawanya ke mari hanya dengan maksud mengatakan padanya bahwa ia sekarang sudah mengubah pikirannya. Oh, betapa ngerinya, pikir lelaki itu. Tetapi yang lebih buruk lagi adalah kesadaran kenapa kecurigaan semacam itu bisa masuk pikirannya. Ia bayangkan ayah dan gadisnya semalam suntuk membicarakan masalah penting itu dengan sungguh-sungguh, bahkan berdebat tentang itu, dan akhirnya mereka berdua setuju bahwa tindakan Yulia yang telah menolak lelaki kaya raya itu tolol adanya. Laptev bahkan bisa membayangkan apa yang biasanya dikatakan para orang tua pada kesempatan serupa itu:
"Benar, kau tak mencintainya, tetapi pikirkan baik-baik keuntungan yang bakal kaudapatkan!"
Dokter berdiri untuk pregi menengok pasiennya. Laptev bermaksud untuk pergi juga, tetapi Yulis Sergeyevna berkata, "Kumohon, kau jangan pergi!"

GADIS itu sudah kehilangan perasaannya dan ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa menolak seorang lelaki yang terhormat dan baik hati, yang mencintainya, meskipun ia tak mencintai lelaki itu, adalah kebodohan. Apalagi kalau diingat bahwa perkawinan itu akan memberinya kesempatan mengubah hidupnya yang menjemukan, suram dan kosong; sedangkan masa mudanya terasa cepat berlalu dan ia tidak mempunyai masa depan yang cerah -dan menolak lamaran dalam keadaan seperti ini sungguh-sungguh merupakan tindakan yang gila, tolol dan tercela, dan Tuhan mungkin malah menghukumnya karena hal itu.
Ketika langkah-langkah dokter itu tidak kedengaran lagi, tiba-tiba saja gadis itu membalikkan badan ke arah Laptev, wajahnya tampak sangat pucat, dan berkata dengan nada yang pasti, "Aku telah merenung-renungkan lamaranmu itu cukup lama kemarin, Alexei Fyodorych... Dan aku telah memutuskan untuk menerimanya."
Laptev membungkukkan tubuh dan mencium tangan gadis itu, dan Yulia menekankan bibirnya yang dingin ke kepala Laptev. Laptev merasa bahwa pernyataan cinta itu tidak mengandung sesuatu yang terpenting -cinta Yulia, sedangkan ada yang terasa sangat berkelebihan, dan ia pun ingin berteriak, berlari, segera pergi ke Moskow, tetapi gadis itu berdiri begitu dekat dengannya sehingga nafsu tiba-tiba saja menguasainya, dan karena menyadari bahwa sudah terlambat untuk berpikir kini, ia pun menekankan gadis itu ke badannya, sambil menggumamkan kata-kata sayang serta mencium lehernya, kemudian pipinya dan rambutnya.
Gadis itu menuju ke jendela, terkejut oleh kemesraan serupa itu, dan keduanya merasa menyesal telah berkata-kata dan mereka pun masing-masing bertanya kepada diri sendiri, "Kenapa ini semua terjadi?"
"Kalau saja kau tahu betapa sengsaranya aku!" kata gadis itu, kedua telapak tangannya saling menekan.
"Tetapi kenapa?" tanya Laptev, sambil mendekatinya, juga kedua tangannya saling meremas. "Apa artinya ini semua, sayang; demi Tuhan, katakan yang sebenarnya, kumohon, yang sebenarnya saja!"
"Tidak apa-apa," kata gadis itu, memaksa diri tersenyum, "aku berjanji untuk menjadi istri yang setia untukmu. Datanglah ke mari malam nanti."
Kemudian, ketika ia membawakan novel sejarah untuk saudaranya, ia teringat akan apa yang terjadi dan ia merasa sakit hati waktu memikirkan bahwa perasaannya telah dijawab dengan cara yang begitu tak berharga: gadis itu tak mencintainya, namun mau menerima cintanya -tak ayal lagi tentu karena ia kaya, dan ternyata gadis itu memilih hal yang hampir tidak ada harganya di mata Laptev sendiri. Barangkali juga gadis itu tidak memikirkan uangnya, sebab ia seorang gadis suci yang percaya kepada Tuhan, tetapi bagaimanapun ia tidak mencintainya, ia tidak mencintainya, dan oleh karenanya ia pasti mempunyai alasan praktis -barangkali masih samar-samar dan tidak pasti, namun praktis - untuk menerima lamarannya. Kini ia merasa muak akan sifat pura-pura kelas menengah yang terasa di rumah dokter itu, ia pun muak akan dokter itu, yang rendah dan jorok, yang mengingatkannya pada tokoh Gaspar dalam Les Cloches de Corneville; bahkan nama Yulia kini terdengar kasar baginya. Mereka nanti akan ke altar sebagai sepasang orang asing yang saling tidak mengenal, masing-masing tidak memendam perasaan apa pun, persis seperti kalau perkawinan itu telah diatur oleh mak comblang; dan satu-satunya hal yang bisa menghibur dirinya adalah pikiran yang kasar, sekasar perkawinan itu sendiri, bahwa beribu-ribu orang juga melakukan hal yang sama, dan pada saatnya nanti kalau sudah mengenal suaminya lebih baik lagi, barangkali Yulia mulai belajar mencintainya.
"Romeo dan Yulia!" katanya, sambil menutup buku bacaannya dengan tawa. "Aku Romeo, Nina. Kau boleh memberi selamat padaku, tadi aku melamar Yulia Sergeyevna."
Nina Fyodorovna mengira saudaranya itu main-main saja, tetapi ketika dilihatnya lelaki itu sungguh-sungguh, Nina mulai menangis. Kabar itu mengganggunya.
"Kupikir memang aku harus memberimu ucapan selamat," katanya. "Tetapi apakah hal ini tidak terlalu mendadak?"
"Tidak, ini tidak mendadak. Semua ini telah berlangsung sejak bulan Maret, hanya saja kau tidak memperhatikan apa-apa. Aku jatuh cinta kepadanya bulan Maret itu ketika kebetulan bertemu dengannya di kamarmu ini."
"Kupikir dulunya kau mau mengawini seorang gadis Moskow," kata Nina Fyodorovna setelah berhenti sejenak. "Seorang gadis yang berasal dari lingkungan kita, hal itu akan lebih sederhana masalahnya. Tetapi yang penting adalah kebahagiaanmu, Alexei. Suamiku Gregory Nikolayevich tidak pernah mencintaiku, dan kau tahu sendiri bagaimana kami hidup. Tentu saja setiap perempuan bisa mencintaimu, kau baik hati dan pandai, tetapi Yulia ini seorang puteri, ia dididik di sebuah sekolah yang khusus, dan kebaikan hati serta kepandaianmu saja belumlah cukup. Ia masih muda, sedangkan kau tidak bisa disebut muda lagi, dan kau pun tidak tampan pula."
Untuk melembutkan kata-kaatnya yang terakhir itu ia mengelus pipi Laptev.
"Kau tidak tampan," katanya, 'tetapi kau sangat baik hati."
Perempuan itu begitu terkejut mendengar kabar tadi, sehingga kedua pipinya tampak memerah. Apakah pantas baginya untuk memberi berkat kepada Alyosha? Bagaimanapun juga ia adalah kakaknya dan menjadi pengganti ibunya yang sudah tiada. Ia mencoba membujuk adiknya yang sedang sedih itu agar menyelenggarakan pesta perkawinannya secara besar-besaran dan meriah sehingga ia mendapat nama baik.
Laptev mulai mengunjungi keluarga Belavin sebagai layaknya calon pengantin lelaki tiga atau empat kali setiap harinya, sehingga ia tidak mempunyai waktu lagi untuk mengasuh Sasha dan membacakan novel bagi ibu gadis kecil itu. Yulia selalu menjamu tamunya itu di kamar-kamarnya sendiri yang terletak di ujung rumah, jauh dari kamar tamu dan kantor ayahnya. Laptev menyukai kamar-kamar ini, senang melihat dinding-dindingnya yang berwarna kegelapan dan patung-patung suci yang di pojok-pojok dan suka mencium bau parfum yang mahal dan minyak lampu patung-patung suci itu.

TEMPAT tidur dan meja dandan Yulia tertutup gordin, pintu-pintu almari buku pinggirnya dilapisi dengan kain berwarna hijau, dan lantai kamar-kamar itu dilapisi babut tebal sehingga langkah-langkah kaki Yulia hampir tidak kedengaran -dan atas dasar itu semua Laptev berkesimpulan bahwa calon istrinya itu berwatak sabar dan bahwa yang dicarinya adalah hidup yang tenang, tenteram, dan menyendiri. Gadis itu masih diperlakukan sebagai anak remaja, ia tidak menyimpan uangnya sendiri, dan sering kalau sedang berjalan-jalan ia sedih ketika menyadari bahwa sama sekali tak membawa uang satu kopek pun. Ayahnya memberinya sedikit uang untuk membeli pakaian dan buku, tidak lebih dari seratus rubel setahunnya. Dokter itu sendiri jelas mengalami kesulitan dalam keuangan, meskipun praktiknya cukup laris. Ia selalu main kartu dalam perkumpulannya setiap malam, dan tidak pernah menang. Lebih-lebih lagi ia membeli beberapa rumah lewat Badan Pemberi Kredit dan kemudian menyewakan rumah-rumah tersebut, sedangkan para penyewa tidak teratur membayar uang sewa. Meskipun begitu ia berpendapat bahwa usahanya itu sangat menguntungkan. Rumah yang ia diami bersama anak gadisnya itu sudah tergadai dan uangnya untuk membeli tanah kosong yang di atasnya sudah mulai ia bangun rumah besar bertingkat dua yang rencananya akan ia gadaikan juga nanti.
Laptev kini hidup dalam kebingungan, seolah-olah dia itu bukan lagi dirinya sendiri tetapi orang lain, dan ia melakukan banyak hal yang dulunya tidak pernah terbayangkan untuk mengerjakannya. Ia tiga kali pergi bersama dokter itu ke perkumpulannya, makan malam bersamanya dan menawarkan uang kepadanya dalam rangka usahanya mendirikan gedung itu. Ia bahkan pernah menengok Panaurov di apartemennya yang lain. Pada suatu hari Panaurov mengundangnya untuk makan malam, dan Laptev menerima undangan itu tanpa berpikir panjang. Ia dijamu oleh seorang perempuan yang jangkung dan kurus yang berumur sekitar tiga puluh lima tahun berambut memutih dan beralis hitam, tampaknya ia bukan perempuan Rusia. Wajahnya tertutup oleh pupur putih, senyumnya bagai gula dan jabat tangannya menyentak sehingga gelang di tangannya terdengar gemerincing. Laptev beranggapan bahwa perempuan tersebut tersenyum seperti itu karena ia tidak bahagia dan ingin menyembunyikan kenyataan itu dari dirinya sendiri dan orang lain. Laptev juga melihat dua gadis kecil berumur lima dan tiga tahun yang wajahnya seperti Sasha. Makan malam terdiri atas sop susu, daging dingin dengan wortel dan makanan penutupnya coklat -semua itu terasa hambar dan dingin meskipun mejanya berkilat oleh garpu-garpu yang bersinar-sinar dan botol-botol saus dan lada yang bagus serta sebuah mangkuk yang luar biasa hiasannya dan sebuah tempat lada dari emas.
Baru setelah ia memakan sop susu itu Laptev menyadari bahwa kedatangannya ke apartemen itu sama sekali tidak bijaksana. Perempuan itu jelas tampak tidak senang, ia senantiasa senyum dan menunjukkan giginya, sementara Panaurov memberikan penjelasan ilmiah mengenai cinta dan sumbernya.
"Masalah pokoknya," katanya, yang ditujukannya kepada perempuan itu dalam bahasa Prancis, "adalah sepenuhnya gejala elektris. Kulit kita ini mengandung kelenjar-kelenjar mikroskopis yang menghasilkan aliran listrik. Kalau kau kebetulan bertemu dengan orang yang alirannya paralel dengan aliranmu maka hasilnya adalah cinta."
Ketika Laptev pulang dan kakaknya menanyakan ia tadi ke mana, ia merasa malu dan tidak menjawab apa-apa.
Selama minggu-minggu sebelum perkawinannya ia menyadari akan kepalsuan sikapnya. Hari demi hari cintanya terasa semakin bersemi, dan ia merasa bahwa Yulia adalah makhluk yang puitis dan mengagumkan, namun kenyataannya tetap saja: gadis itu tidak mengimbangi cintanya dan telah menjual dirinya kepada Laptev. Kadang-kadang pikirannya itu menyebabkan Laptev putus asa dan sering ia punya gagasan untuk membatalkan semuanya saja. Ia tidak lagi bisa tidur, dan sering terjaga semalaman, merenung. Apa yang akan dikatakan kepada perempuan Moskow yang dalam suratnya kepada temannya dulu itu ia sebut sebagai "dia", kalau nanti ia bertemu dengannya setelah perkawinan ini? Apa pula kata saudara dan ayahnya nanti tentang perkawinannya dan tentang Yulia, sedangkan kedua orang itu memang sulit didekati? Ia khawatir bahwa pertama kali bertemu nanti ayahnya akan bertindak kasar kepada Yulia. Sedangkan tentang saudaranya Fyodor, akhir-akhir ini ada sesuatu yang aneh terjadi atasnya. Ia menulis surat panjang tentang pentingnya kesehatan, pengaruh sakit pada pikiran, dan tentang hakikat agama - tetapi tidak sepatah pun tentang Moskow dan usaha dagangnya. Surat-surat itu mengganggu pikiran Laptev dan ia merasa bahwa sifat saudaranya berubah semakin buruk.
Perkawinan itu berlangsung bulan September pada misa Petrus dan Paulus, dan pada hari itu juga pasangan itu berangkat menuju Moskow. Ketika Laptev dan istrinya, yang kini tidak lagi tampak sebagai gadis muda yang suka mengenakan gaun hitam, mengucapkan selamat berpisah kepada Nina Fyodorovna, wajah perempuan yang sakit itu tampak pilu namun kedua matanya tetap kering.
"Kalau aku mati, asuhlah kedua gadis kecilku."
"Oh, tentu! Aku berjanji!" jawab Yulia Sergeyevna, dan bibir serta pelupuk matanya mulai menegang.
"Bulan Oktober nanti aku akan datang menengokmu," kata Laptev yang sangat terharu. "Segeralah sembuh, kakakku sayang."
Mereka berdua menyewa sebuah kamar pribadi dalam gerbong yang membawa mereka ke Moskow. Keduanya merasa tidak bahagia dan gelisah. Si istri duduk di sudut, masih mengenakan topi dan pura-pura tertidur, dan suaminya berbaring di depannya di sebuah sofa, kepalanya penuh dengan seribu satu pikiran yang mengganggu: tentang ayahnya, tentang "dia", tentang apakah Yulia suka tinggal di apartemennya di Moskow. Dan sambil memandang istrinya yang tidak mencintainya, ia berpikir murung, "Kenapa ini terjadi?"
Bab V
KELUARGA Laptev di Moskow mengusahakan perdagangan besar barang-barang pakaian, pita, perhiasan, kain tenun, kancing dan barang-barang semacamnya. Penjualan mereka mencapai dua juta rubel setahunnya; berapa jumlah keuntungan bersihnya tidak ada yang tahu kecuali si tua itu. Anak-anaknya dan para pegawainya memperkirakan sekitar tiga ratus ribu, dan jumlah itu bisa bertambah sekitar seratus rubel lagi seandainya si tua itu tidak suka "menghamburkan uang", istilah yang digunakan untuk kebiasaan memberikan kredit dengan gampang

SELAMA sepuluh tahun terakhir firma itu telah mengumpulkan tagihan yang berjumlah hampir satu jura rubel yang tidak ada harapan diuangkan, dan kalau masalah itu dipertanyakan maka dengan mengejapkan matanya si kepala kerani akan mengucapkan sesuatu yang terselubung:
"Konsekuensi psikologis abad ini."
Perdagangan utama dilakukan di gang kota yang beratap yang dikenal dengan nama gudang, yang bisa dicapai dengan melewati sebuah pekarangan yang kelam yang berbau karung serta bergema kalau ada langkah-langkah kuda. Sebuah pintu yang berhiaskan paku besi yang besar-besar menghubungkan pekarangan itu dengan sebuah kamar berjendela yang sempit dan berpaku-paku dengan dinding-dinding lembab yang penuh dengan coreng-moreng arang; di sebelah kiri ada juga sebuah kamar lagi, yakni kantor, yang lebih besar dan lebih bersih, dengan perapian besi dan dua meja, namun jendelanya sama saja - seperti jendela penjara. Dari kamar ini ada sebuah tangga batu yang sempit yang menuju ke lantai atas di mana terdapat ruang utama. Ruang ini memang agak luas, namun suasana kelam, dan langit-langit yang rendah, tumpukan-tumpukan keranjang dan karung, dan orang-orang yang bergegas mondar-mandir menjadikan ruang ini sama tidak menariknya dengan kedua kamar yang di lantai bawah. Barang-barang bertumpuk-tumpuk di rak-rak, dalam bungkusan dan kotak karton, dan seandainya tidak ada ujung kain atau pita yang terjulur ke luar kita tak akan tahu barang apa yang diperdagangkan di sini. Dan sulit untuk percaya bahwa mereka bisa jadi kaya lantaran bungkusan-bungkusan yang kusut serta kotak-kotak yang penyot itu, dan bahwa lima puluh orang - tak terhitung para langganan - selalu sibuk setiap harinya mengurus barang-barang itu.
Ketika Laptev datang ke mari siang hari setelah kedatangannya kembali di Moskow, para pekerja yang sedang membungkusi barang-barang itu begitu ributnya memukul-mukulkan palu mereka sehingga tak ada seorang pun di kamar lantai bawah maupun di kantor yang mendengar kedatangannya. Yang pertama menemuinya di lantai atas adalah Fyodor, saudaranya, yang wajahnya begitu mirip sehingga orang suka mengira mereka kembar. Kemiripan ini selalu mengingatkan Laptev akan tampangnya sendiri, dan kini ketika dilihatnya lelaki yang bertampang biasa dan botak, yang tubuhnya pendek, pipinya kemerahan dan rambutnya jarang dan pinggangnya sempit - ia pun bertanya kepada dirinya sendiri, "Apa benar seperti itu tampangku?"
"Aku gembira bertemu denganmu!" kata Fyodor, sambil mencium saudaranya dan meremas tangannya. "Aku telah menantimu setiap hari; aku selama ini menjadi ingin tahu saja sejak kau menyurat bahwa akan kawin. Dan aku pun telah rindu padamu - sudah setengah tahun lamanya sejak kita bertemu yang terakhir kali. Yah, apa kabar? Bagaimana keadaan Nina? Buruk? Sangat buruk?"
"Ya, sangat buruk."
"Sudah takdir Tuhan," kata Fyodor sambil menarik napas. "Nah, kini ceritakan tentang istrimu. Ia cantik, bukan? Belum-belum aku sudah merasa sayang padanya. Ia kini adikku juga. Akan kubantu kau memanjakannya."
Laptev melihat punggung ayahnya yang lebar dan bungkuk. Fyodor Stepanych, si tua itu, duduk di sebuah kursi tinggi di belakang meja kasir, berbicara dengan seorang langganan.
"Ayah, lihat apa yang dihadiahkan Tuhan kepada kita!" teriak Fyodor. "Alexei telah pulang!"
Fyodor Stepanych, seorang lelaki jangkung dengan sosok tubuh yang kukuh, tampak sehat meskipun umurnya sudah delapan puluh dan kulitnya kerut-merut. Kalau bicara suara yang keluar dari dadanya besar seperti bas, seperti suara yang keluar dari sebuah tong. Ia bercukur bersih, hanya kumis pendek bagai kumis prajurit menghiasi wajahnya; ia menghisap cerutu. Karena selalu merasa panas, ia mengenakan jaket kain saja sepanjang tahun. Baru-baru ini matanya dioperasi, dan karena penglihatannya sudah tidak baik ia tidak lagi menangani usahanya, kegiatannya hanya terbatas pada ngobrol dengan para langganan serta minum teh dengan selai.
Laptev membungkuk dan mencium tangan ayahnya, kemudian bibirnya.
"Sudah lama sekali kita tidak saling bertemu, anakku," kata si tua. "Lama sekali. Tentunya kau ingin aku mengucapkan selamat atas perkawinanmu itu. Baiklah, aku mengucapkan selamat padamu."
Orang tua itu mengangkat wajahnya dan Laptev membungkuk lagi menciumnya.
"Sudah kaubawa nyonya muda itu?" tanya orang tua itu, dan tanpa menunggu jawaban ia pun melanjutkan bicaranya, sambil membalik kepada langganannya: "Ayah tercinta, dengan ini saya memberitahu bahwa saya telah kawin dan seterusnya. Ya. Berkat serta pertimbangan orang tua sudah tidak diperlukanlagi. Mereka sudah begitu pandai sekarang ini. Waktu aku kawin umurku empat puluh tahun, meskipun begitu aku masih berlutut di depan ayah dan memohon pertimbangannya. Hal serupa itu tidak ada lagi sekarang."
Orang tua itu senang bertemu kembali dengan anaknya, tetapi ia merasa bahwa tidak pantaslah terlalu berlebihan menunjukkan perasaan gembiranya. Suara ayahnya, cara orang tua itu bicara dan istilah "nyonya muda" itu menyebabkan perasaan Laptev tertekan - perasaan yang biasanya memang timbul setiap kali ia menengok gudang itu dulu. Setiap hal di sini mengingatkannya akan masa-masa waktu dia dipukuli dan dipaksa hanya makan roti dan air saja; ia tahu bahwa anak laki-laki sekarang ini masih dipukuli di sini dan kalau mereka nanti dewasa mereka akan membalas dendam kepada orang lain. Dan waktu lima menit dalam gudang itu sudah cukup baginya untuk merasa bahwa setiap saat ada kemungkinan orang akan mengejeknya dan membuat telinganya pedas.
"Nah, Alyosha," kata Fyodor, sambil menepuk punggung langganan itu, "kuperkenalkan kau dengan kontraktor Tambov, Grigory Timofeich. Ia adalah contoh pemuda modern: sudah lewat lima puluh tahun dan anak-anaknya masih kecil-kecil."
Para kerani penjualan tertawa, dan si langganan, seorang tua kurus yang berwajah lesu, juga tertawa.
"Kekuasaan alam yang luar biasa," sela si kerani kepala di meja kasir. "Apa yang masuk memang harus keluar."

KERANI kepala, seorang lelaki jangkung sekitar lima puluh tahun, berjanggut hitam, mengenakan kaca mata dan menyelipkan pensil di atas telinganya, mempunyai kebiasaan untuk menyatakan pendapatnya dengan menggunakan istilah-istilah yang sulit ditangkap artinya serta perbandingan-perbandingan yang terlalu dicari-cari; ia tersenyum licik untuk memberi tekanan kepada kehalusan pernyataannya itu. Ia sangat gemar menyamar-nyamarkan maksudnya dengan menggunakan kalimat-kalimat dari buku yang ia interpretasikan dengan caranya sendiri. Ia bahkan sering menggunakan kata-kata biasa dalam pengertian yang lain dari biasanya, misalnya saja kata "lagi pula."
"Lagi pula" ia sering berkata, sambil menjulurkan tangan kanannya setiap kali membuat pernyataan yang pasti.
Yang mengagumkan adalah bahwa para kerani penjualan yang lain, dan juga para langganan, sepenuhnya bisa menangkap maksudnya. Ia disebut Pochatkin, dan ia berasal dari Kashira.
"Anda telah menunjukkan keberanian yang pantas diacungi jempol," katanya memberi selamat kepada Laptev, "oleh karena hati perempuan seperti Shamil."
Tokok penting lain di gudang itu adalah Makeichev, seorang lelaki yang gendut dengan rambut kemerah-merahan di sekeliling botak kepalanya serta cambang. Ia datang mendekati Laptev dan berkata dengan nada yang penuh hormat:
"Perkenankan saya, Tuan.... Tuhan telah mendengar doa-doa ayah Tuan yang terhormat. Tuhan Mahaagung, Tuan."
Setelah itu para kerani lain satu demi satu mendekat untuk memberikan ucapan keapda tuan muda itu. Mereka mengenakan pakaian dengan gaya kuno dan tampaknya sangat terhormat serta hidup berkecukupan. Mereka juga menggunakan aksen yang khas, dan karena pidato-pidato pendek mereka itu berhiaskan desis-desis untuk menunjukkan hormat maka ucapan selamat mereka itu terdengar bagaikan cambuk yang mendesau di udara.
Segera Laptev merasa jemu dan ingin pulang, tetapi demi basa-basi ia harus tinggal sekurang-kurangnya beberapa jam lamanya. Ia menjauhkan diri dari kasir untuk berbicara kepada Makeichev, bertanya apakah selama musim panas ini mereka mendapat banyak hasil; pertanyaan itu dijawab dengan sopan oleh Makeichev dengan mengarahkan pandangan ke arah lain. Seorang anak laki-laki bercukur pendek membawa teh tanpa cangkir untuk Laptev; sebentar kemudian tampak seorang anak laki-laki lain berjalan menubruk sebuah keranjang besar sampai hampir terjatuh, dan karenanya Makeichev yang tenang itu menatapnya dengan wajah seram, teriaknya lantang, "Pakai matamu!"
Para kerani muda merasa senang bahwa tuan muda itu kawin dan telah pulang kembali. Mereka melayangkan pandang ke arah Laptev dengan perasaan sayang dan yang kebetulan lewat dekat Laptev mencoba mengucapkan sesuatu yang menyenangkan dan penuh hormat. Tetapi Laptev yakin bahwa mereka itu sebenarnya tidak tulus dan hanya menjilatnya saja karena takut kepadanya. Ia tidak bisa melupakan peristiwa lima belas tahun yang lalu ketika salah seorang kerani menjadi kalap dan berlari-lari di jalanan mengenakan celana dalam saja ambil mengacung-acungkan tinjunya ke arah jendela rumah para majikannya serta mengutuk mereka. Ketika si malang itu sadar kembali, setiap pegawai merasa senang mengingatkannya bagaimana ia telah memaki-maki para majikannya dan menyebut mereka "pencangkok" dan bukan "penghisap." Cara perlakuan terhadap para pegawai keluarga Laptev itu telah lama menjadi bahan percakapan di daerah itu, dan yang paling celaka adalah bahwa ada terasa sesuatu yang berbau Asia dalam kebijaksanaan Fyodor Stepanych terhadap mereka. Pertama, tidak ada seorang pun yang tahu berapa si tua itu membayar pegawai kesayangannya Psochatkin dan Makeichev; mereka berdua itu menerima tidak lebih dari tiga ratus ribu setahun, tetapi ia sengaja menimbulkan anggapan bahwa membayar tujuh ratus; setiap tahunnya premi dibayarkan kepada semua kerani, tetapi secara sembunyi-sembunyi - dengan demikian setiap kerani merasa bangga mengatakan jumlah yang melebihi apa yang ia terima sesungguhnya; seorang magang tidak pernah tahu kapan ia akan diangkat menjadi seorang kerani, tidak peduli apakah majikan puas akan pekerjaannya atau tidak. Tak ada hal yang dengan jelas dilarang dan oleh karena itu tak jelas pula apa yang boleh dilakukan. Mereka itu dilarang kawin, tetapi mereka takut kawin karena khawatir kehilangan pekerjaan. Mereka diperkenankan menerima tamu teman atau menengok teman, tetapi pada jam sembilan gerbang menerima tamu teman atau menengok teman, tetapi pada pukul sembilan gerbang sudah ditutup, dan untuk meyakinkan bahwa tidak minum, setiap paginya mereka dipanggil satu demi satu oleh majikannya untuk diperiksa bau napasnya.
Pada setiap pesta gereja mereka diharuskan menghadiri misa pagi dan berdiri di gereja agar majikannya bisa melihat kehadiran mereka. Puasa juga diperiksa teliti sekali. Setiap hari ulang tahun majikan atau salah seorang aggota keluarganya serat pada kesemaptan pesta keluarga majikan, para kerani diharapkan untuk berkumpul dan menghadiahkan kue atau album. Mereka tingga di lantai bawah dan bagian samping rumah di Pyatnitskaya, tiga atau empat orang dalam satu kamar, dan makan kembul dari satu cawan besar, meskipun masing-masing punya piring. Kalau ada salah seorang di antara majikan yang datang waktu mereka sedang makan, mereka semua berdiri.
Laptev telah lama menyadari bahwa hanya mereka yang elah kena pengaruh pendidikan si tua itu yang bisa sungguh-sungguh menganggapnya sebagai pembuat amal, yang lain pasti menganggapnya sebagai musuh mereka. Dan setelah enam bulan lamanya meninggalkan tempat itu, Laptev tidak juga melihat adanya perubahan ke arah perbaikan; malah ada beberapa unsur baru yang tampaknya akan menambah buruk keadaan. Saudaranya Fyodor, yang dulunya tenang, bijaksana dan hati-hati, kini mondar-mandir sibuk ke sana ke mari dengan pensil di telinganya dan sikap yang penuh pikiran, sambil menepuk bahu para langganan dan memanggil para kerani "sobat." Jelas bahwa Fyodor bermain sandiwara dan Alexei hampir-hampir tidak bisa mengenalnya.
SUARA berat si tua terdengar tidak putus-putusnya. Karena tidak ada hal yang lebih baik yang bisa dilakukannya, ia menghibur dirinya dengan menguliahi para langganannya tentang bagaimana hidup dan bagaimana menyelesaikan persoalan-persoalan mereka, dengan dirinya sendiri sebagai contoh. Laptev telah mendengar nada sombong yang sangat berwibawa itu selama sepuluh, lima belas, dua puluh tahun. Orang tua itu mengagumi dirinya sendiri. Kalau mendengarkan apa yang diucapkannya, orang bisa mengira bahwa si tua itu telah membuat almarhum istrinya dan keluarganya sangat bahagia, telah memberi kepuasan kepada anak-anaknya dan beramal buat para pegawainya, dan telah menyebabkan orang-orang yang tinggal sepanjang jalan itu serta seluruh kenalannya berterima kasih kepadanya untuk selama-lamanya; apa pun yang selama ini dilaksanakannya baik-baik belaka, dan kalau ada orang yang mendapatkan kesulitan dalam usahanya hal itu semata-mata disebabkan karena tidak mau mendengarkan nasihat si tua; pendeknya tidak ada usaha yang bisa berhasil tanpa nasihatnya. Di gereja ia selalu berdiri di depan siapa pun dan bahkan berani menegur para pendeta kalau upacaranya tidak berkenan di hati, dan si tua itu yakin bahwa dengan demikian ia telah mengabdi kepada Tuhan sebab ia dalam lindungan berkah Tuhan.
Pukul dua siang semua orang dalam gudang itu tampak sibuk kecuali si tua, yang tidak henti-henti berbicara dengan suara besar. Laptev, karena tidak betah berdiri saja tanpa mengerjakan apa pun, menerima potongan-potongan dari salah seorang tukang jahit perempuan, kemudian menerima seorang langganan, seorang pedagang dari Vologda, dan membawanya ke salah seorang kerani penjualan.
"T, V, A!" terdengar gemar suara di seluruh gudang itu (huruf-huruf itu menunjukkan harga dan nomor barang-barang), R, I, T!"
Laptev hanya memohon pamit kepada Fyodor ketika ia pergi.
"Aku akan mengajak istriku ke Pyatnitskaya besok," katanya. "Tetapi kalau ayah sampai mengucapkan sepatah kata yang menyakitkannya aku akan pergi seketika itu juga!"
"Kau masih sama saja," keluh Fyodor. "Sudah kawin, tetapi tidak berubah. Kau harus agak menghibur orang tua itu, Alexei. Baiklah, besok sekitar pukul sebelas kami akan mengharap kedatanganmu. Datanglah langsung dari misa."
"Aku tidak pergi ke misa."
"Ya, tidak apalah. Pokoknya jangan lebih pukul sebelas supaya ada cukup waktu untuk berdoa dan makan siang. Sampaikan salamku kepada adik perempuanku itu dan katakan bahwa aku mencium tangannya. Aku yakin akan sayang padanya," tambah Fyodor, dengan perasaan tulus. "Aku iri hati padamu, Alexei!" teriaknya ketika Alexei menuruni tangga.
"Kenapa pula sikapnya berbelit-belit seperti itu, menutup-nutupi sesuatu dengan cara yang aneh, seolah ia telanjang?" pikir Laptev ketika berjalan sepanjang Jalan Nikolskaya, bingung oleh perubahan yang telah terjadi atas diri Fyodor. "Dan betapa kikuknya waktu dia mengatakan, 'saudaraku, saudaraku tercinta, Tuhan Maha Pemaaf, berdoalah kepada-Nya.' Persis seperti Yudas tokoh Shchedrin."
Bab VI
PUKUL sebelas pagi esoknya, yakni hari Minggu, Laptev dan istrinya naik kereta sepanjang Jalan Pyanitskaya. Ia tidak mengharap-harapkan kunjungan ini, sebab ia khawatir akan apa yang mungkin dilakukan oleh Fyodor Stepanych. Setelah dua malam tinggal di rumah suaminya, Yulia Sergeyevna sudah menganggap perkawinannya sebagai suatu kekeliruan, suatu bencana, dan seandainya ia diharuskan tinggal di kota lain dan bukan Moskow maka pasti dia tidak akan tahan menanggungnya. Moskow memikat hatinya; ia senang akan jalanan, rumah-rumah dan gereja-gerejanya, dan seandainya dia bisa naik salah satu kereta luncur yang indah yang ditarik oleh kuda-kuda bagus dari pagi sampai malam, sambil menghirup hawa musim gugur yang sejuk, barangkali saja ia tidak merasa begitu sedih.
Kusir menarik kendali kudanya di samping sebuah gedung putih bertingkat dua yang baru saja dilepa, lalu membelok ke kanan masuk sebuah pekarangan. Mereka jelas sudah dinanti-nantikan, sebab tampak dua orang polisi dan penjaga pintu yang mengenakan jaket baru, sepatu bot dan sepatu karet berdiri di pintu gerbang dan di pinggir jalan; pekarangan itu telah ditaburi dengan pasir sampai ke depan pintu. Penjaga pintu melepaskan topinya, para polisi itu memberi hormat. Fyodor menerima sepasang pengantin baru itu di pintu, wajahnya tampak genting.
"Bahagia sekali berjumpa denganmu, adikku," katanya sambil mencium tangan Yulia. "Selamat datang di rumah kita ini."
Ia membimbingnya menaiki tangga dan sepanjang gang yang penuh sesak. Gang yang menuju ke ruang utama juga penuh dengan orang dan bau setanggi.
"Kini keperkenalkan kau kepada ayah kami," bisik Fyodor di sela suasana sunyi yang syahdu itu. "Seorang tua yang sangat terhormat, seorang pater familias."
Di ruang besar, di samping meja yang dipersiapkan untuk upacara berdirilah Fyodor Stepanych, pendeta yang mengenakan topi dan pembantunya. Orang tua itu mengulurkan tangannya kepada Yulia tanpa sepatah kata pun. Semua diam dan Yulia merasa bertambah bingung.
Sang pendeta dan pembantunya mengenakan pakaian upacara. Pedupaan, yang memercikkan nyala arang dan berbau setanggi dan arang, dibawa masuk. Lilin-lilin dinyalakan. Para kerani memasuki ruangan besar itu berjingkat dan berdiri dalam dua deretan merapat dinding-dinding. Suasana sangat tenang, tidak terdengar suara apa pun, suara orang batuk pun tidak.
"Limpahkan berkat kepada kami, O Tuhan!"
Upacara diselenggarakan dengan penuh kekhusyukan, tidak ada yang terlewati dan dibacakan dua akatisti: satu untuk Yesus dan satu bagi Bunda Kudus. Para penyanyi koor menyanyikan lagu lembar demi lembar berkepanjangan.

LAPTEV mengetahui bahwa istrinya kebingungan, dan ketika akatisti sedang dibacakan dan koor bersuara tiga menyanyikan "Tuhan limpahkanlah ampunan kepada kami!" dalam berbagai nada, Laptev dengan tegang menanti, mengharapkan si tua itu tiba-tiba membalikkan badan dan membuat komentar, seperti misalnya, "Kau tidak becus bikin tanda salib." Kehadiran orang-orang ini, seluruh upacara dengan para pendeta dan penyanyi koor tidak menyenangkan hatinya. Semuanya terasa terlampau berat dan kuno. Tetapi ketika dilihatnya Yulia menundukkan kepalanya di bawah Injil bersama orang tua itu dan berlutut beberapa kali Laptev menyadari bahwa rupanya semua ini sesuai dengan istrinya, dan Laptev pun merasa agak senang.
Ketika upacara hampir berakhir dan lagu "Panjang Umur" dinyanyikan, sang pendeta membawakan salib untuk dicium oleh si tua dan Alexei, tetapi ketika Yulia Sergeyevna mendekat, salib itu ditutupinya dengan tangan dan ia memberi isyarat bahwa akan mengucapkan sesuatu. Ada yang memberi isyarat kepada koor untuk berhenti bernyanyi.
"Sang Rasul Samuel," kata pendeta itu memulai, "datang ke Bethlehem atas permintaan Gusti. Dan para sesepuh kota itu gemetar ketakutan karena kedatangan itu dan berkata: 'Damai; aku datang untuk mengorbankan diri kepada Gusti; sucikan dirimu dan datanglah bersamaku ke pengorbanan itu.' Yulia abdi Tuhan, apakah kedatanganmu di rumah ini dengan damai?"
Wajah Yulia memerah karena emosi. Ketika pidatonya selesai, pendeta itu mengulurkan salib kepada Yulia untuk diciumnya dan berkata dengan nada yang sama sekali lain:
"Dan kini saatnya Fyodor Fyodorych dikawinkan. Saat yang tepat."
Koor mulai lagi, kerumunan itu mulai bergerak dan di ruangan itu mulai ada suara-suara dan gerak-gerik orang. Orang tua itu, dengan linangan air mata, mencium Yulia tiga kali, membuat tanda salib di atas kepala menantunya itu dan berkata:
"Ini rumahmu. Aku sudah tua, aku tak butuh apa-apa."
ara kerani maju untuk mengucapkan selamat yang tak kedengaran karena lantangnya nyanyian koor. Makan siang terhidang dan tersedia pula sampanye. Yulia duduk di samping orang tua itu dan mertuanya itu mengatakan bahwa tidak baik tinggal secara terpisah-pisah, bahwa sebaiknya mereka semua itu tinggal dalam satu rumah saja, sebab pemisahan dan pertengkaran akan menyebabkan kebinasaan.
"Aku mencari uang, dan anak-anakku yang menggunakannya," katanya. "Kau harus tinggal di sini di rumah ini dan membantuku. Aku sudah tua. Sudah tiba saatnya bagiku untuk istirahat."
Fyodor, yang sangat mirip dengan suaminya tetapi yang lebih gugup dan malu-malu, selalu mendekatinya dan sering mencium tangannya.
"Kami ini orang-orang sederhana, adikku," katanya, dan muncullah warna kemerah-merahan di wajahnya. "Kami hidup sederhana, seperti orang-orang Rusia yang sederhana, seperti para Nasrani."
Dalam perjalanan pulang, Laptev, yang merasa ringan karena ternyata segalanya berjalan baik-baik saja, berkata kepada istrinya, "Kau boleh heran kenapa seorang lelaki yang gagah dan kukuh seperti ayahku itu mempunyai keturunan yang kecil-kecil seperti aku dan Fyodor. Tetapi penjelasannya sederhana saja! Ayah kawin dengan ibu ketika usianya empat puluh lima, sedang waktu itu ibu baru tujuh belas. Ibu sangat ngeri menghadapinya. Nina lahir ketika ibu boleh dikatakan masih sehat, dan itulah alasannya kenapa ia selalu lebih kuat dan sehat ketimbang kami berdua; Fyodor dan aku dikandung dan dilahirkan ketika ibu sudah loyo karena senantiasa kena teror. Aku ingat benar ketika ayah mulai mengajarku, atau tepatnya: memukulku, ketika umurku belum lima tahun. Ia memukulku, menjewer kupingku, memukul kepalaku - dan pikiran pertama yang ada di benakku setiap pagi adalah teka-teki apakah ayah memukulku atau tidak sehari nanti. Baik Fyodor maupun aku tidak diperbolehkan bermain-main atau berlari-larian; kami berdua harus pergi ke misa, mencium tangan para pendeta serta membaca akatisti di rumah. Kau beragama dan kau mencintainya, tetapi aku takut akan agama dan apabila aku melewati gereja aku jadi teringat masa kecilku dan ketakutan. Umurku baru delapan tahun ketika aku diajar bekerja di gudang sebagai seorang pesuruh biasa, yang akibatnya sangat buruk bagiku karena aku kena pukul hampir setiap hari. Kemudian, setelah aku dikirim ke sekolah, aku menerima pelajaran sampai waktu makan malam lalu menghabiskan sisa hari dalam gudang itu. Dan keadaan serupa itu berlangsung sampai umurku dua puluh dua, yakni ketika aku masuk universitas dan bertemu dengan Yartsev yang membujukku untuk minggat saja dari rumah. Si Yartsev itu telah banyak berbuat baik bagiku. Oleh karena itu," kata Laptev sambil tertawa kegirangan, "mari kita pergi menengoknya sekarang juga. Ia adalah salah seorang yang terbaik yang kukenal! Dan ia pasti senang bertemu dengan kita!"
Bab VII
PADA suatu hari Sabtu, bulan November, Anton Rubinstein memimpin satu konser simfoni. Gedung pertunjukan penuh sesak. Laptev berdiri di belakang tiang, dan istrinya serta Kostya Kochevoi duduk jauh di deret ketiga atau keempat. Waktu istirahat baru saja mulai, ketika Laptev tiba-tiba melihat "dia," Polina Nikolayevna Rassudina. Sejak perkawinannya ia takut setengah mati bertemu dengan perempuan itu. Dan kini, ketika dengan tajam dan tegas perempuan itu menatapnya, Laptev ingat bahwa ia tidak menulis surat penjelasan apa pun kepada perempuan ini, dan oleh karena itu ia kemerah-merahan karena malu. Perempuan itu menjabat tangannya dengan tegas dan bersemangat, bertanya,
"Kau sudah ketemu Yartsev?"
Dan sebelum ia sempat menjawab, perempuan itu berlalu dengan langkah-langkah lebar dan cepat, seolah-olah ada yang mendorongnya dari belakang.

"KERAJAANKU demi secangkir teh!" kata perempuan itu dengan suara yang dalam, sambil menutupi mulutnya dengan sarung tangan seolah agar tidak masuk angin. "Hari ini aku memberi lima kursus, terkutuklah mereka! Dan murid-murid tolol itu, yang kepala ayam itu, aku hampir mati karena kesal. Tidak tahulah kapan perbudakan ini akan berakhir. Segera setelah aku bisa menabung tiga ratus rubel, aku akan ke Krim. Aku akan membaringkan diri di pantai dan menghidup oksigen. Aku jatuh cinta kepada laut!"
"Kau tidak akan pergi ke mana pun," kata Laptev. "Pertama karena kau tidak akan bisa menabung dan kedua karena kau akan sayang membuang-buang uangmu. Maaf saja, tetapi terpaksa kukatakan lagi hal ini: apakah memang lebih pantas mengumpulkan uang tiga ratus kopek demi kopek dari orang-orang malas yang mengikuti kursusmu itu ketimbang meminjam uang sejumlah itu dari teman-temanmu?"
"Aku tak punya teman!" katanya marah. "Dan jangan ngomong yang bukan-bukan. Aku anggota kelas pekerja, dan kelas itu memiliki suatu hak istimewa: hak untuk tidak meminjam uang dari para saudagar celaka, hak untuk mengejek. Tidak, tuan, tuan tidak bisa membeli aku! Aku bukan Yulia!
Laptev tidak membayar kusir kereta itu, sebab tahu bahwa hal itu hanya akan mengibarkan kata-kata pedas yang sudah begitu sering ia dengan sebelumnya. Ia biarkan saja perempuan itu membayarnya.
Rassudina menyewa sebuah kamar sempit dan berlangganan makan dari nyonya pemilik flat itu. Piano Becker-nya yang besar itu dititipkannya pada rumah Yertsev di Jalan Boshaya Nikitskaya, dan ia pergi ke rumah itu setiap hari untuk latihan main piano. Kamarnya diisi dengan beberapa kursi yang bersarung, sebuah tempat tidur dengan sebuah seprei putih serta tumbuh-tumbuhan dalam pot milik si empunya flat; dinding-dindingnya digantungan gambar-gambar cetak, dan dalam kamar itu tidak ada tanda-tanda apa pun yang menunjukkan bahwa penghuninya adalah seorang perempuan, yang pernah menjadi mahasiswa pula. Tak ada meja rias, tak ada buku, bahkan meja pun tak ada. Jelas bahwa penghuninya langsung tidur segera setelah pulang kerja, dan berangkat kerja segera setelah bangun pagi.
Juru masak masuk membawa samovar. Polina Nikolayevna membuat teh, dan sambil gemetar - karena hawa dalam kamar itu dingin - mulai mengritik para penyanyi yang tadi mementaskan Simfoni Kesembilan. Pelupuk matanya memberat oleh keletihan. Ia meminum segelas teh, lalu segelas lagi, segelas lagi.
"Jadi kau kawin," katanya. "Tetapi jangan khawatir, aku tidak akan merana, aku akan mampu merobekmu dari hatiku. Meskipun begitu kau menyakitiku seperti halnya semua lelaki, yakni bahwa yang kaubutuhkan bukanlah apa yang ada dalam pikiran seorang perempuan, tetapi tubuhnya, kecantikannya, keremajaannyaÖ Keremajaan!" ia ulangi kata itu dengan suara sengau, seolah-olah menirukan seseorang, lalu tertawa. "Keremajaan! Kau menginginkan kemurnian, Reinheit! Itu dia, Reinheit!" dan kemudian ia tertawa, sambil mengayunkan tubuhnya ke belakang kursi. "Reinheit!"
Ketika ia berhenti tertawa, matanya penuh linangan air mata.
"Apa kau merasa bahagia?" tanya perempuan itu pula.
"Tidak."
"Apa ia mencintaimu?"
"Tidak."
Merasa sangat terganggu dan tidak senang, Laptev berdiri dan berjalan mondar-mandir di kamar.
"Tidak," ulangnya. "Kenyataannya memang aku merasa tidak berbahagia, Polina. Tetapi mau apa lagi? Aku telah membuat kesalahan besar, dan sekarang aku tidak bisa berbuat apa pun. Aku harus bersikap filosofis tentang hal itu. Yulia kawin tanpa cinta, suatu sikap tolol, ya, barangkali dengan maksud-maksud untuk mengeruk keuntungan, tetapi jelas tidak sepenuhnya benar - dan sekarang ia pun jelas menyadari bahwa ia telah berbuat keliru dan menderita. Aku tahu benar tentang itu. Kalau siang dia takut sendirian bersamaku bahkan hanya selama lima menit saja, dan oleh karena itu ia mencari hiburan, pergaulan. Denganku ia merasa ketakutan dan malu."
"Tetapi tidak malu mengambil uangmu?"
"Kau bodoh, Polina!" teriak Laptev. "Ia mengambil uangku karena baginya punya uang atau tidak sama saja. Ia seorang perempuan yang berpikiran bersih dan baik. Ia kawin denganku semata-mata karena ia ingin melepaskan diri dari ayahnya, itu saja."
"Apa kau yakin bahwa ia tetap akan mengawinimu seandainya kau tidak kaya?"
"Aku tak bisa yakin atas apa pun," kata Laptev sedih. "Tidak. Aku tidak mampu memahami apa pun. Demi Tuhan, Polina, kita hentikan di sini saja pembicaraan tentang masalah ini."
"Apa kau mencintainya?"
"Setengah mati!"
Keduanya diam lama. Rassudina meminum gelas tehnya yang keempat, sementara itu Laptev mondar-mandir dalam kamar memikirkan istrinya, yang kini barangkali sedang makan malam pada perkumpulan dokter.'
"Tetapi apakah mungkin mencintai seseorang tanpa mengetahui kenapa?" kata perempuan itu sambil mengangkat bahunya. "Ini tidak lain nafsu hewani! Kau dikuasai nafsu. Kau dibutakan oleh tubuh indah. Reinheit itu! Pergilah dariku, kau kotor! Pergilah kepadanya!"
Perempuan itu menunjuk ke pintu, kemudian mengambil topi Laptev dan melemparkannya kepadanya. Laptev mengenakan jasnya tanpa bicara dan keluar, tetapi perempuan itu memburunya dan merangkul bahunya seperti mau menangis.
"Jangan, Polina, jangan!" kata Laptev, mencoba mengendorkan rangkulan perempuan itu. "Tenangkan dirimu, tenangkan dirimu!"
Perempuan itu menutupkan matanya dan menjadi pucat, dan hidungnya yang panjang itu berubah menjadi seperti lilin persis seperti hidung orang mati, dan Laptev tidak bisa membukakan kepalan tangan si perempuan. Rassudina tidak sadarkan diri. Laptev mengangkat tubuhnya dengan hati-hati lalu membaringkannya di tempat tidur dan duduk di sampingnya selama kira-kira sepuluh menit sampai temannya itu menjadi sadar kembali. Tangannya dingin, denyut nadinya lemah dan tidak teratur.

"PULANGLAH kau," katanya sambil membukakan matanya. "Pulang sana, kalau tidak aku akan menjerit lagi. Aku harus menguasai diriku sendiri."
Laptev pulang dan tidak pergi ke perkumpulan dokter meskipun ia dinanti-nanti di sana. Sepanjang jalan pulang ia tidak habis-habisnya bertanya kepada dirinya sendiri kenapa ia tidak mengawini perempuan ini yang sungguh-sungguh mencintainya dan yang pernah menjadi sahabatnya dan tinggal bersama-sama. Rassudina adalah satu-satunya orang yang pernah dekat dengannya, dan di samping itu, bukankah suatu hal yang mulia kalau ia menyediakan kebahagiaan, rumah dan ketenangan hidup bagi makhluk cerdas, penuh kebanggaan dan suka bekerja keras itu? Siapa gerangan dirinya ini, tanyanya sendiri, dan apa pula haknya maka ia menuntut kecantikan, keremajaan, dan kebahagiaan yang semua itu berada di luar jangkauannya dan, sebagai hukuman atau ejekan baginya, yang selama tiga bulan terakhir ini telah menyebabkannya dirundung murung? Masa bulan madunya sudah lama lewat, dan konyol sekali bahwa sampai kini pun ia belum mengetahui watak istrinya itu. Yulia suka menulis surat-surat panjang kepada teman-teman sekolahnya dan kepada ayahnya, dan tampaknya ia punyak banyak bahan untuk diceritakan, tetapi kepada suaminya ia hanya bercakap tentang cuaca atau mengajaknya makan. Apabila Laptev memperhatikan istrinya mengucapkan doa sebelum tidur dan mencium salib kecil serta patung sucinya, Laptev tak bisa menahan jengkelnya, bertanya-tanya dalam hati, "Untuk apa pula ia berdoa?" Diam-diam ia mengejek istrinya dan dirinya sendiri dengan berpikir bahwa apabila ia pergi tidur bersama istrinya dan merangkulnya maka ia merangkul sesuatu yang telah dibelinya - tetapi pikiran itu terasa sangat mengerikan; seandainya istrinya itu sehat, berani dan penuh dosa, barangkali halnya akan menjadi lain - tetapi nyatanya ia seorang perempuan yang begitu muda, saleh dan lembut, dan ia memiliki sepasang mata yang begitu murni! Ketika masih pengantin baru kesalehan istrinya itu telah menyentuhnya, tetapi kini seperangkat gagasan dan keyakinan itu malah telah memisahkan dirinya dari kebenaran. Hidup Laptev sudah sama sekali dalam siksaan. Apabila istrinya duduk di sampingnya di gedung pertunjukan dan mengeluh atau tertawa sepuas-puasnya, Laptev merasa tersiksa menyaksikan istrinya itu bisa merasa senang tanpa membagi perasaannya itu dengannya. Dan hal yang sangat mencolok adalah bahwa istrinya bisa sesuai benar bergaul dengan teman-teman Laptev sendiri, mereka itu sudah mengenalnya dengan baik sekarang ini, tetapi ia sama sekali tidak bisa mengerti, ia hanya bisa merasa murung dan diam-diam menderita siksa kecemburuan.
Sampai di rumah, Laptev mengenakan jaket rumah dan sandal lalu duduk di kamar studinya membaca novel. Istrinya belum pulang. Tetapi kira-kira setengah jam kemudian bel berbunyi dan didengarnya Pyotr bergegas membukakan pintu. Yulia datang. Ia memasuki kamar studi masih mengenakan jaket bulunya, kedua pipinya kemerah-merahan karena hawa dingin.
"Ada kebakaran besar di Presnya," katanya tersendat. "Langit menyala merah. Aku pengin menonton ke sana dengan Kostya."
"Pergilah, kalau kau ingin."
Laptev merasa tenteram melihat wajah istrinya yang segar dan sepasang mata kekanak-kanakan yang ketakutan itu. Laptev melanjutkan membaca sampai setengah jam lalu pergi tidur.
Esok harinya Polina Nikolayevna mengirimkan ke gudang dua buah buku yang dulu dipinjamnya, semua surat dan potet Laptev. Terselip sebuah catatan yang terdiri atas satu kata saja: "Binatang!"
Bab VIII
PADA akhir Oktober keadaan Nina Fyodorovna secara pasti menjadi buruk. Berat badannya menurun dengan cepat dan dirinya mengalami perubahan. Meskipun rasa sakitnya tidak tertahankan lagi, ia membayangkan dirinya bisa sembuh, dan setiap pagi ia berdandan seolah-olah sehat walafiat, dan kemudian sepanjang hari berbaring dengan dandanannya itu. Ia suka tidur telentang sambil bercakap dengan suara rendah dan nafas tersengal-sengal sebab bersikeras juga bicara.
Malam itu terang bulan, orang-orang asyik mengendarai kereta luncur di atas salju yang segar dan suara dari jalanan itu terdengar sampai ke kamar. Nina Fyodorovna berbaring di tempat tidur, dan Sasha yang kini tidak pernah dimanjakan pamannya, duduk mengantuk di sampingnya.
"Aku tak ingat nama keluarganya," Nina Fyodorovna berbicara dengan suaranya yang pelahan. "Tetapi nama baptisnya adalah Ivan dan nama kecilnya Kochevoi. Ia seorang pegawai pemerintah, tetapi sangat miskin, dan seorang pemabuk yang mengerikan, semoga Tuhan menerima arwahnya. Ia biasa datang kepada kami secara teratur, dan setiap bulan kami memberinya satu pon gula dan sebungkus teh. Kadang-kadang juga uang. Kemudian sahabat kami Kochevoi itu minum terlalu banyak dan meninggal, terbakar vodka. Ia meninggalkan seorang anak laki-laki berumur kira-kira tujuh tahun. Anak yatim piatu yang malang. Kami mengambilnya dan menyembunyikannya di tempat tinggal para kerani penjualan dan setahun lamanya ayah tak mengetahui tentang itu. Dan ketika akhirnya ayah mengetahuinya juga, beliau tidak mengatakan apa pun. Ketika Kotya, si yatim piatu itu, berumur sembilan tahun - waktu itu aku sudah bertunangan - kubawa dia ke sekolah-sekolah dasar. Tetapi tak ada yang mau menerimanya sebagai murid. Dan anak yang malang itu pun menangis. "Apa yang kautangiskan, kau anak tolol?" kataku padanya. Kemudian aku membawanya ke sekolah dasar di Razgulai, dan berkat berkah Tuhan, ia pun diterima di sana. Dan setiap hari anak laki-laki itu harus berjalan dari Pyanitskaya ke Razgulai dan dari Razgulai ke Pyanitskaya. Alyosha yang membayar ongkos sekolahnya. Syukurlah, anak itu mau belajar keras dan mendapatkan nilai baik. Kini ia menjadi ahli hukum di Moskow, seorang sahabat Alyosha, dan sederajat dalam pendidikan dengannya. Memang ternyata ada gunanya kami memungut anak itu dan memberinya perlindungan dan tentunya kini ia selalu teringat akan kami dalam doa-doanya... Ya..."

SUARANYA menjadi semakin samar dan sering diam lama, kemudian setelah agak lama, ia tiba-tiba duduk.
"Aku merasa tak enak," katanya. "Semoga Tuhan mengampuniku! Aku tidak bisa bernapas."
Sasha tahu bahwa ibunya akan segera meninggal, dan ketika gadis kecil itu tahu betapa cekung pipi ibunya ia menerka bahwa akhir hayat ibunya sudah dekat, oleh karena itu ia menjadi ketakutan.
"Ibu, jangan!'' isaknya. "Jangan!"
"Cepat lari ke dapur, sayangku, dan katakan pada salah seorang untuk menjemput ayahmu. Aku merasa sakit sekali."
Sasha berlari memasuki kamar demi kamar mencari pelayan, tetapi tidak ada seorang pun yang yang di rumah kecuali Lida yang tertidur di atas kopor di kamar makan masih berpakaian lengkap dan tanpa bantal. Sasha, tanpa mengenakan jaket dan sepatu karet terlebih dahulu, menghambur ke pekarangan lalu ke jalan. Seorang perawatnya tampak duduk di bangku di luar pintu gerbang menonton orang-orang naik kereta luncur. Sebuah band militer memainkan lagu-lagu di sungai sebelah sana di mana terdapat lapangan untuk main sepatu luncur.
"Bibi, ibu mau mati!" teriak Sasha, terisak. "Ayah harus segera dipanggil!"
Perawat itu berlari ke lantai atas ke kamar tidur, memandang si sakit sekilas dan memberinya sebuah lilin menyala. Sasha berlari ke sana ke mari dalam ketakutan, berteriak-teriak agar ada yang mau memanggil ayahnya, kemudian ia memakai jaket dan syal lalu lari ke laur. Ia pernah mendengar para pelayan itu berkata bahwa ayahnya punya istri lagi dan dua anak gadis kecil-kecil dan tinggal di Jalan Bazarnaya. Sasha berlari ke jalan, sambil tersedu dan menghindar dari orang-orang lewat, terperosok ke dalam salju dan menggigil kedinginan.
Sebuah kereta tampak lewat tetapi gadis kecil itu tidak mau naik karena takut kalau dibawa ke luar kota dan dirampok dan dilemparkan ke kuburan (ia pernah mendengar peristiwa semacam itu dari para pelayannya ketika mereka minum teh). Ia terus saja berlari bergegas, sesak karena kepayahan, dan sambil terus juga terisak. Ketika ia sampai di Jalan Bazarnaya ia berhenti dan bertanya kepada seorang perempuan tempat tinggal Tuan Panaurov. Perempuan itu mencoba menjelaskan arah ke rumah itu, tetapi karena tahu bahwa gadis kecil tersebut rupanya tidak bisa menangkap penjelasannya, akhirnya dituntunnya Sasha ke sebuah rumah bertingkat satu. Pintu depan tidak dikunci. Sasha berlari lewat ruang masuk dan sepanjang gang dan akhirnya sampai di sebuah ruangan yang terang benderang, dan dilihatnya ayahnya duduk di samping sebuah samovar minum teh bersama seorang perempuan dan dua orang gadis kecil. Tetapi kini Sasha tidak mampu lagi berkata-kata, ia hanya bisa terisak. Segera saja Panaurov bisa menebak maksud kedatangan anaknya itu.
"Ibumu ya? Ibumu sakit keras?" tanyanya. "Katakan, apa ibumu sakit keras?"
Panaurov cepat berdiri dan memanggil kereta.
Ketika mereka berdua sampai, Nina Fyodorovna duduk di tempat tidurnya disangga bantal-bantal dan memegang sebatang lilin. Wajahnya kelam dan matanya sudah tertutup. Kamar tidur itu penuh orang - perawat, juru masak, babu, Prokofy, orang gajian, dan beberapa orang luar berkerumun di ambang pintu. Perawat membisikkan beberapa petunjuk, tetapi tidak seorang pun bisa memahami kehendaknya. Di samping jendela di ujung kamar berdirilah Lida, wajahnya pucat dan tampak belum sepenuhnya terjaga, menatap ibunya dengan pandangan keras.
Panaurov mengambil lilin dari tangan istrinya dan melemparkannya ke almari rak dengan sikap tak senang.
"Ini mengerikan!" katanya dan bahunya gemetar. "Nina, kau harus berbaring," katanya lembut. "Berbaringlah, sayang."
Perempuan itu memandangnya tetapi tak mengenalnya. Orang-orang itu membantunya untuk berbaring.
Ketika pendeta dan dokter Sergei Borisych tiba, para pelayan itu telah membuat tanda salib dan menggumamkan doa bagi arwah majikannya.
"Sungguh sedih," kata dokter itu seperti tidak sadar, sambil berjalan ke kamar tamu. "Ia masih muda. Belum empat puluh tahun."
Terdengar kedua gadis kecil itu terisak menyedihkan. Panaurov, wajahnya pucat dan matanya berlinang, mendekati dokter itu dan berkata dengan suara yang lemah, "Dokter, tolong tuliskan telegram ke Moskow. Saya letih sekali."
Dokter itu mengambil tinta dan menulis kepada putrinya: "Panaurova meninggal dunia jam delapan malam. Katakan rumah suami di Dvoryanskaya dijual untuk bayar utang, tambah sembilan. Lelang keduabelas. Jangan terlambat."
IX
LAPTEV tinggal di salah satu jalan kecil yang bermuara di Malaya Dmitrovka, tidak jauh dari Gereja tua Santo Pimen. Kecuali rumah besar, yang memangku jalan, Laptev juga menyewa rumah-samping yang berlantai dua di pekarangannya itu juga yang diperuntukkan bagi sahabatnya Kostya Kochevoi, seorang pengacara muda yang oleh keluarga Laptev biasa dipanggil Kostya saja sebab sejak kecil ia ikut mereka. Seorang keluarga Prancis yang terdiri atas suami, istri, dan lima anak gadis mereka tinggal di rumah-samping yang berhadapan dengan tempat tinggal Kostya.
Hari itu sangat dingin, dan jendela-jendela kusam oleh udara yang membeku. Kostya bangun pagi hari, minum lima belas tetes obat dengan wajah yang tampak khawatir, kemudian mengambil dambel dari rak buku dan mulai senam. Ia seorang lelaki jangkung dan sangat kurus dan berkumis lebat; tetapi yang paling menonjol padanya adalah sepasang kakinya yang luar biasa panjang itu.
Pyotr, seorang pelayan separo umur, yang mengenakan jaket dan celana katun yang diujungnya dimasukkan ke sepatu karet, masuk membawa samovar dan membuat teh.
"Hari cerah, tuan," katanya.
"Barangkali memang begitu, bung, tetapi bagi kita masalahnya adalah tidak ada yang membuat kita senang."
Pyotr menghela nafas dengan sopan.
"Bagaimana keadaan gadis-gadis kecil itu?" tanya Kostya.
"PENDETA belum datang. Alexei Fyodorych sendiri yang memberi pelajaran kepada mereka."
Kostya melihat ada bagian kaca jendela yang tidak kena udara beku lalu mencoba peneropong operanya mengintip jendela-jendela rumah tempat tinggal keluarga Prancis itu.
"Tak terlihat apa pun," katanya.
Sementara itu Alexei Fyodorych sedang memberikan pelajaran keapda Sasha dan Lida tentang Injil. Kini kedua gadis kecil itu telah tinggal di Moskow selama enam minggu, tinggal di lantai bawah rumah-samping itu bersama perawatnya. Seorang guru dari sekolah umum dan seorang pendeta datang tiga kali seminggu untuk mengajar mereka. Sasha mempelajari Perjanjian Baru dan Lida baru saja memulai Perjanjian Lama. Pada pelajaran terakhir Lida diberitahu untuk mempelajari teks sampai Abraham.
"Nah, Adam dan Hawa punya dua putra," kata Laptev. "Bagus. Coba sebutkan nama mereka? Kau ingat?"
Lida, yang seperti biasa berwajah murung, menatap saja, bibir-bibirnya bergerak; kakaknya memandangnya dengan harap-harap cemas.
"Kau tahu nama mereka. Jangan gugup," kata Laptev. "Ya, siapa nama putra Adam itu?"
"Abel dan Kabel," bisik Lida.
"Kain dan Abel," Laptev membenarkan.
Sebutir air mata meluncur dari pipi Lida dan jatuh di buku. Sasha, juga hampir menitikkan air mata, menundukkan matanya dan menjadi kemerah-merahan. Laptev tidak mampu berbicara apa pun karena kasihan. Ia bangkit lalu menyalakan rokok. Pada saat itu pulalah Kostya turun dari lantai atas membawa surat kabar. Kedua gadis kecil itu bangkit lalu menghormat melipat lutut tanpa memandangnya.
"Tolong, Kostya, beri pelajaran kepada mereka; tolong ya," Laptev meminta. "Aku khawatir ikut menangis pula, dan kecuali itu aku harus sudah berada di gudang sebelum makan malam."
"Baiklah."
Alexei Fyodorych keluar. Kostya, mengernyitkan dahi dan tampak sangat keras, duduk di meja dan menggeser Injil itu ke arahnya.
"Nah," katanya. "Tadi sampai mana?"
"Ia tahu tentang Air Bah itu," kata Sasha.
"Betul? Bagus; kita akan ngobrol tentang Air Bah. Ngomong tentang Air Bah."
Kostya melayangkan pandangnya pada penjelasan pendek tentang Air Bah yang di Kitab itu lalu berkata, "Harus kukatakan padamu bahwa sesungguhnya tidak ada air bah seperti apa yang dituliskan dalam Kitab ini. Dan juga tidak ada yang namanya Nuh. Beberapa ributahun sebelum kelahiran Kristus memang terjadi banjir, dan kalian bisa mencari keterangan tentang itu tidak hanya di Injil tetapi juga di kitab-kitab yang ditulis oleh orang-orang kuno seperti Yunani, Chaldean, dan Hindu. Tetapi betapapun besar banjir itu, tidak mungkin seluruh bumi ini tergenang air. Barangkali lembah-lembahnya, tetapi jelas gunung-gunungnya tidak. Tentu saja tidak ada bahayanya membaca kitab ini, tetapi kalian tidak perlu membercayai segala yang dikatakannya."
Air mata Lida mulai mengalir lagi, ia menengokkan wajahnya dan tiba-tiba tersedu-sedu keras sekali sehingga Kostya bangkit dari kursinya dalam putus asa.
"Aku ingin pulang," isaknya. "Kepada ayah dan bibi perawatku."
Sasha pun mulai menangis. Kostya ke lantai atas dan menelepon Yulia Sergeyevna, "Anak-anak ini menangis lagi, aku tak tahu mesti berbuat apa."
Yulia Sergeyevna datang bergegas dari rumah besarnya dengan mengenakan syal, agak menggigil kedinginan.
"Dengar kataku, dengar baik-baik," katanya sambil memegang tangan kedua gadis kecil itu. "Ayahmu akan datang hari ini, ia telah mengirim telegram. Memang sedih memikirkan ibu, dan hatiku nelangsa memikirkan kalian, tetapi mau apa lagi? Kita tidak bisa melawan kehendak Tuhan!"
Setelah mereka berhenti memangis, Yulia membungkus mereka dengan pakaian tebal lalu membawa keduanya berkeliling. Mereka naik kereta sepanjang Malaya Dmitrovka, kemudian lewat Strastnoi langsung ke Tverskaya. Di Gereja Iversky mereka masing-masing menaruh lilin di depan patung suci dan berlutut serta berdoa. Dalam perjalanan pulang mereka mampir ke toko Filippe dan membeli kue-kue.
Keluarga Laptev makan antara jam dua dan tiga. Pyotr menata meja. Pyotr mengerjalan segalanya: siang hari ia menjadi pesuruh ke kantor pos, ke gudang, ke pengadilan distrik melayani Kostya, dan menyediakan makan; dan malam hari ia melinting rokok, larut malam ia harus membukakan pintu kalau bel berbunyi, dan pada jam lima pagi ia harus sudah bangun menyalakan kompor-kompor. Tak seorang pun tahu kapan ia sempat tidur. Ia sangat suka membuka botol soda dan bisa melakukannya dengan trampil sekali, tanpa tumpah setetes pun.
"Ini dia," kata Kostya sambil minum segelas vodka sebelum makan sopnya.
Mula-mula Yulia Sergeyevna tidak menyukai Kostya; suaranya yang kasar, bicaranya yang tak halus seperti "tendang keluar dia," "ambles ke dalam cawan," "busuk," "memainkan samovar," kebiasaannya menyentuhkan gelas dan ngomong sehabis minum segelas anggur - semua itu bagi Yulia terasa kampungan sekali. Tetapi setelah ia mengenalnya lebih baik, Yulia merasa semakin senang bersama dia. Lelaki itu terbuka kepadanya, ia pun suka ngobrol dengan Yulia dengan tenang waktu sore hari dan bahkan mempersilakannya membaca novel-novelnya, yang masih tetap merupakan barang rahasia bagi teman-temannya yang paling dekat pun seperti Laptev dan Yartsev.

YULIA membaca novel-novel itu dan memujinya sekadar agar penulis tidak tersinggung, tetapi Kostya yakin bahwa dirinya nanti akan menjadi seorang penulis kenamaan. Ia menulis tentang para petani dan pemilik tanah, meskipun ia tinggal di perdusunan hanya kalau ia mengunjungi beberapa temannya dan selama hidup hanya sekali masuk rumah tuan tanah yakni ketika ia punya urusan hukum di Volokolamsk. Ia sengaja menghindarkan diri untuk menulis tentang cinta, seolah-olah masalah cinta terasa mengganggunya, tetapi ia sering menggambarkan alam, dengan cara pengungkapan yang lemah seperti "garis-garis fantastis perbukitan itu," "bentuk-bentuk buruk awan-gemawan," atau "suatu simfoni keselarasan yang tersembunyi." Novel-novelnya tidak pernah diterbitkan, dan oleh sebab itu ia menyalahkan badan sensor.
Ia suka menjadi pengacara, tetapi percaya bahwa pekerjaannya yang sesungguhnya adalah dalam sastra dan bukan dalam bidang hukum. Seni selalu menarik perhatiannya dan ia yakin bahwa bakat keseniannya tidak tanggung-tanggung. Ia tak bisa menyanyi adau main musik dan sama sekali tak bertelinga musik, tetapi ia selalu menghadiri semua konser philharmonik dan simfoni, mengurus segala macam pertunjukan amal, dan suka diperkenalkan kepada para musisi.
Selama makan banyak yang diobrolkan.
"Percaya atau tidak, tetapi Fyodor muncul dengan sesuatu yang mengejutkan lagi," kata Laptev. "Ia mengatakan bahwa kita harus mencari saat kapan firma kita ini berusia seratus tahun sehingga kita nanti berhak memohon agar diangkat sebagai bangsawan. Ia bersungguh-sungguh tentang hal ini. Aku tidak tahu mesti bagaimana. Terus terang saja, aku mulai khawatir."
Pembicaraan pun beralih kepada Fyodor dan kenyataan bahwa akhir-akhir ini orang suka memamerkan derajatnya. Misalnya saja, Fyodor mencoba untuk memainkan peranan seorang saudagar Rusia yang kaya, padahal ia tidak lagi seperti itu, dan ia pun suka berbicara dengan sikap mendongak kepada guru sekolah yang diberi bea siswa oleh si tua Laptev apabila guru tersebut datang mengambil gaji.
Setelah makan, tidak ada yang dikerjakan lagi, mereka pun ke kamar perpustakaan. Mereka bercakap-cakap tentang para dekaden, tentang "Gadis dari Orleans," dan Kostya membacakan sebuah monolog panjang petikan dari sebuah sandiwara yang dianggapnya sebagai tiruan persis sandiwara Yermolova. Setelah itu mereka main vint. Kedua gadis kecil itu tidak turun ke kamar mereka tetapi duduk berdampingan di sebuah kursi, semua pucat dan sedih, terkejut kalau terdengar suara kereta lewat -mengharap-harap kedatangan ayah mereka. Mereka merasa sangat sedih, terutama sekali pada waktu malam, meskipun lilin-lilin dinyalakan. Percakapan orang-orang di meja kartu, langkah-langkah kaki Pyotr dan suara kayu di perapian mengganggu mereka. Mereka terlalu sedih untuk memandang nyala api, mereka bahkan tak mampu menangis lagi, tetapi segalanya tampak mengerikan agi mereka dan hati mereka terasa sangat berat. Dan mereka tak bisa memahami kenapa mereka bisa tertawa dan ngobrol sedangkan ibu mereka meninggal dunia.
"Apa yang tampak lewat teropong sandiwaramu itu tadi?" tanya Yulia Sergeyevna kepada Kostya.
"Hari ini tidak tampak apa-apa, tetapi kemarin kulihat si tua Prancis itu lagi mandi."
Pada pukul tujuh Yulia Sergeyevna dan Kostya pergo nonton ke Teater Maly, Laptev tinggal di rumah bersama kedua gadis kecil itu.
"Seharusnya ayahmu sudah datang sekarang," katanya sambil sekilas melihat arlojinya. "Kereka api pasti terlambat."
Anak-anak itu duduk diam saja, berhimpitan di kursi bagaikan sepasang hewan kecil yang kedinginan, dan Laptev berjalan mondar-mandir di kamar sambil berulang kali melihat sekilas ke arlojinya. Rumah itu sangat tenang, tanpa suara. Kira-kira pukul sepuluh, bel pintu berdering. Pyotr membukakan pintu.
Ketika mendengar suara ayah mereka, kedua gadis kecil itu menjerit dan berlari menemuinya sambil terisak-isak sejadinya. Panaurov mengenakan jas bulu yang bagus sekali, janggut dan kumisnya kena serpih-serpih es.
"Jangan, jangan menangis," bisiknya kepada Sasha dan Lida yang sambil menangis dan tertawa mencium tangan, topi, jas ayahnya. Ia tampak gagah, letih dan manja -ditimangnya kedua anaknya itu sekaarnya saja, lalu langsung ke kamar studi dan berkata, sambil menggosok-gosokkan tangannya:
"Aku tak bisa tinggal lama-lama, anak-anak. Besok aku harus terus pergi ke Petersburg. Aku dijanjikan pekerjaan di kota lain."
Ia tadi mampir di restoran "Dresden".
Bab X
IVAN Gavrilych Yartsev sering sekali bertamu ke keluarga Laptev. Ia seorang lelaki yang kukuh, berambut panjang dan berwajah cerdas dan sedap dipandang. Kebanyakan orang menilainya gagah, tetapi akhir-akhir ini ia menjadi gemuk sehingga kegagahannya agak berkurang -apalagi karena rambutnya dipotong sangat pendek. Waktu masih mahasiswa badannya atletis dan ia mendapat sebutan "tukang lempar."
Ia lulus dari jurusan filologi bersama-sama dengan bersaudara Laptev, kemudian mengambil jurusan ilmu alam dan sekarang punya titel dalam ilmu kimia. Ia tidak mengharapkan mengajar ilmu kimia di Universitas dan bahkan tidak bekerja di laboratorium tetapi malah mengajar fisika dan sejarah ilmu alam di sebuah sekolah dagang dan dua buah sekolah dasar untuk gadis-gadis. Ia sangat memperhatikan murid-muridnya, terutama gadis-gadisnya, dan mengatakan bahwa generasi yang baru ini penuh harapan. Di samping ilmu kimia, ia juga belajar sendiri sosiologi dan sejarah Rusia dan sering mengirimkan karangan pendek ke koran dan majalah dengan nama singkatan Y. Apabila ia bicara tentang sejarah kita bisa mengiranya seorang ahli ilmu alam.

"OH, hanya sedikit kesalahpahaman dengan suamiku," kata Yulia sambil menatap sekilas topi lelaki itu.
"Ya, ia agak aneh. Memang semua anggota keluarga Laptev begitu. Suamimu tak seberapa, tetapi saudaranya si Fyodor itu -sungguh-sungguh tolol."
Panaurov menghela napas, kemudian mengajukan pertanyaan dengan sungguh-sungguh,
"Kau punya pacar gelap?"
Yulia menatap laki-laki itu dengan keheranan lalu tertawa.
"Ya Tuhan, kenapa terpikir pertanyaan macam itu?"
Kira-kira pukul sebelas mereka turun di sebuah stasiun besar dan makan bersama di restoran stasiun. Ketika mereka kembali lagi ke gerbong, Panaurov membuka jaket dan topinya lalu duduk di samping Yulia.
"Kau sangat manis, Yulia, terus terang saja," Panaurov mulai. "Maaf kalau boleh kubandingkan kau: kau mengingatkanku akan acar mentimun yang masih segar - bau mentimunnya masih, tetapi sudah terasa asin dan berbau sedap. Kau memiliki ciri-ciri seorang perempuan yang menarik dan cantik. Seandainya kita ini bepergian bersama-sama seperti ini lima tahun yang lalu," keluhnya, "aku pasti merasa terdorong untuk menjadi salah seorang pengagummu, tetapi sekarang ini, wah, aku sudah cacat."
Lelaki itu menunjukkan senyum yang sedih dan ramah sambil merangkulkan tangannya ke pinggang Yulia.
"Kau gila!" Yulia terkejut, wajahnya memerah dan ia hampir kaku karena ketakutan. "Jangan sentuh aku, Grigory Nikolayevich!"
"Apa yang kautakutkan, manis?" tanya lelaki itu dengan lembut. "Kenapa? Kau hanya belum biasa saja."
Apabila ada perempuan yang menolak rayuannya, Panaurov malah mengartikannya sebagai pertanda kemenangan dirinya. Sambil memeluk pinggang Yulia erat-erat ia mencium pipinya, lalu bibirnya, dengan penuh keyakinan bahwa ia memberi kenikmatan yang sebesar-besarnya kepada perempuan itu. Yulia, yang sudah terlepas dari ketakutan dan kekikukannya, mulai tertawa.
"Itu saja yang bisa kau harapkan dari seorang cacat," kata Panaurov sambil mencium Yulia sekali lagi dan mengenakan kembali topinya. "Zaman dahulu ada seorang Raja Turki, seorang lelaki tua yang baik, yang dihadiahi sekelompok harem, atau yang mendawat warisan harem - entah yang mana yang betul. Ketika para istrinya yang cantik-cantik itu berderet di hadapannya ia pun berjalan dari satu ujung ke ujung lain sambil mencium masing-masing istrinya itu dan berkata, 'Nah, hanya inilah yang bisa kuberikan padamu sekarang.' Inilah yang aku katakan juga."
Semua itu terasa aneh dan konyol bagi Yulia tetapi perempuan itu merasa senang. Ia merasa bersemangat untuk berbuat nakal. Ia pun naik ke tempat duduknya dan, sambil menggumamkan lagu pelahan, mengambil kotak gula-gula dari rak gerbong, lalu melemparkan coklat kepada Panaurov. "Tangkap!"
Panaurov menangkapnya. Yulia melemparkan sebuah lagi sambil tertawa gembira, kemudian melemparkan lagi, dan semua ditangkap Panaurov dan langsung dimasukkannya ke dalam mulutnya, sambil matanya menatap perempuan muda itu penuh cinta, dan ia merasa bahwa ada sesuatu yang lembut dan kekanak-kanakan pada wanah dan gerak-gerik lelalki itu. Dan ketika Yulia sudah duduk kembali dengan terengah-engah, lelaki itu menyentuh pipinya dengan dua ujung jari sambil berkata pura-pura jengkel, "Hei, kau anak nakal!"
"Ambil semua," kata Yulia sambil menyerahkan kotak permen itu. "Aku tak suka permen."
Panaurov memasukkan semua permen coklat itu ke dalam mulutnya dan menaruh kotaknya ke dalam kopor pakaian; ia suka sekali mengumpulkan kotak yang ada gambarnya.
"Sudah, sudah; jangan nakal-nakalan lagi," katanya. "Si cacat ini sudah saatnya tidur."
Ia mengeluarkan gaun tidur Bokhara dan bantalnya lalu berbaring menyelimuti dirinya dengan gaun itu.
"Selamat tidur, manis," bisiknya, dan menairk nafas dalam-dalam seolah-olah seluruh tubuhnya merasa sakit.
Ketika esoknya perempuan itu naik kereta pulang dari stasiun, jalanan kota kelahirannya tampak sepi, salju tampak kelabu dan rumah-rumah tampak kecil dan rata. Dalam perjalanan pulang itu ia berpapasan dengan iring-iringan jenazah, sebuah keranda terbuka di atas usungan dikelilingi oleh panji-panji gereja.
"Orang bilang kalau ketemu arak-arakan jenazah kita akan mendapat untung," pikirnya.
Ia melihat tulisan "Akan Disewakan" pada jendela rumah yang dulu dihuni oleh Nina Fyodorovna.
Dadanya berdebar keras ketika keretanya memasuki pekarangan rumahnya dan ketika ia menekan bel pintu. Pintu dibuka oleh pelayan baru, seorang gadis gendut bermata seperti mengantuk yang mengenakan jaket hangat. Ketika menaiki tangga yang kini kotor tak disapu, Yulia ingat bahwa di sinilah dulu Laptev meminangnya. Di lantai atas, di sepanjang gang yang tidak dihangatkan, para pasien ayahnya berderet berhimpitan menunggu giliran periksa, semuanya mengenakan jaket tebal. Karena sesuatu hal jantungnya terasa berdebar sangat keras dan anggota tubuhnya terasa sangat lemah.
Dokter itu, yang kini lebih gendut lagi, yang wajahnya memerah bata dan rambutnya tidak kena sisir, sedang minum teh. Ia tampak bahagian sekali menerima anaknya, bahkan tampak menangis sedikit. Yulia adalah satu-satunya kebahagiaan dalam kehidupan orang tua ini - dan dalam luapan perasaan anaknya itu memeluknya dan mengatakan bahwa ia pulang untuk tinggal lama sekali sampai Paskah. Setelah berganti pakaian, Yulia pergi ke kamar makan untuk minum teh, tetapi ayahnya mondar-mandir dalam kamar itu dengan kedua tangannya dimasukkan ke dalam kantung jaketnya sambil menggumamkan "Ru-ru-ru," suatu pertanda bahwa ia merasa tidak senang akan sesuatu hal.
"Kau hidup riang gembira di Moskow," katanya. "Aku merasa senang kau begitu.

Tetapi kebanyakan lukisan tampaknya serupa saja baginya, dan Yulia yakin bahwa satu-satunya tujuan seni rupa adalah menjadikan orang-orang dan benda-benda dalam lukisan itu tampak seperti sesungguhnya kalau kita menutupkan sebelah mata dan memandang lukisan itu lewat lubang kepalan tangan kita.
"Itu bukan Shishkin," suaminya menjelaskan kepadanya. "Tak ada lagi yang diungkapkannya kecuali itu. Lihat salju itu! Salju tak pernah ungu seperti itu Ö Dan tangan kiri anak itu lebih pendek dari tangan kanannya."
Ketika akhirnya mereka semua sudah puas dan letih dan Laptev pergi mencari Kostya mengajaknya pulang, Yulia berhenti di depan sebuah lukisan pemandangan dan menatapnya sambil lalu. Tampak gambar sebuah sungai kecil dengan sebuah jembatan kayu, dan jalan setapak di tepi sungai sebelah sana bermuara di sebuah padang rumput kelam yang bertepikan hutan di sebelah kanan. Tampak juga sebuah api unggun yang jelas dibuat oleh para gembala ternak, dan langit masih tampak agak bersinar di kaki langit.
Yulia membayangkan dirinya berjalan di jembatan itu dan menyusur jalan setapak terus saja berjalan dalam senja kala yang hampir padam bumi hampir tidur seperti api tampak menyala di kejauhan. Awan-awan itu, hutan itu dan padang itu tampak sudah dikenalnya dengan baik, seperti pernah berulang kali dilihatnya dulu, jauh waktu dulu, dan rasa sepi yang luar biasa tiba-tiba menguasainya, dan ia ingin sekali berjalan lewat jalan setapak itu dan terus berjalan ke arah matahari terbenam dan ke arah garis langit yang memendam rahasia.
Alangkah indahnya lukisan ini!" katanya kagum ketika dia sadar bahwa ternyata mampu memahami lukisan itu. "Lihat, Alexei, apa kau tidak merasakan kesunyian di dalamnya?"
Yulia Sergeyevna mencoba menjelaskan kenapa ia menyukai lukisan pemandangan itu, tetapi baik Kostya maupun suaminya bisa memahaminya. Ia menatap lukisan itu dengan tersenyum sedih, kecewa karena ternyata tidak ada yang bisa menemukan sesuatu yang istimewa pada lukisan itu. Ia kembali ke ruangan-ruangan pameran untuk menikmati lukisan-lukisan itu sekali lagi, dan kini ia tidak lagi menganggap semua lukisan itu serupa saja. Ketika dia sampai di rumah lukisan besar yang tergantung di atas piano di kamar tamu itu untuk pertama kalinya menarik perhatiannya.
"Kenapa pula orang ini memiliki lukisan-lukisan macam itu!" katanya dengan perasaan yang tiba-tiba berubah.
Sejak saat itu sudut-sudut langit-langit yang keemasan, cermin Venesia yang berpola bunga-bungaan, lukisan-lukisan seperti yang tergantung di atas piano dan bahkan percakapan tentang kesenian antara suaminya dan Kostya - semua itu menyebabkannya muak dan mengeluh, bahkan kadang-kadang benci.
Kehidupan berlangsung datar saja dari hari ke hari dan tidak ada yang diharap-harapkan. Musim teater telah lewat dan kini hari-hari menjadi hangat. Cuaca yang sangat bagus berlangsung cukup lama.
Pada suatu pagi keluarga Laptev pergi ke pengadilan distrik untuk mendengarkan Kostya melakukan pembelaan atas seorang prajurit yang dituduh melakukan perampokan. Mereka berangkat dari rumah agak terlambat dan ketika sampai di pengadilan para saksi sedang diperiksa. Banyak sekali saksi yang tampil, semuanya para perempuan tukang penatu; mereka menyatakan bahwa tertuduh sering berkunjung ke pemilik perusahaan penatu, majikan mereka itu. Pada malam menjelang hari Salib Suci ia muncul sudah jauh malam sehabis minum-minum, meminta uang untuk membeli minuman lagi tetapi tidak diberi. Sejam kemudian ia balik membawa bir dan biskuit pepermint untuk para perempuan tukang penatu itu. Mereka malam itu bersama-sama minum-minum dan nyanyi-nyanyi dan pagi harinya mereka mengetahui bahwa loteng telah dibobol dan bahwa tiga kemeja, sebuah rok dan dua helai seprai telah dicuri orang. Dengan tersenyum mengejek Kostya bertanya kepada tukang penatu itu seorang demi seorang apakah mereka ikut minum bir yang dibawa oleh tertuduh pada malam menjelang hari Salib Suci itu. Jelas bahwa Kostya ingin membuktikan bahwa yang mencuri barang-barang itu adalah para perempuan itu sendiri. Kostya mengucapkan pembelaannya tanpa emosi sama sekali, pandangan matanya tajam tertuju ke arah semua anggota juri.
Ia menjelaskan perbedaan antara pembongkaran dan pencurian biasa. Ia berbicara dengan sungguh-sungguh dan panjang lebar, menunjukkan bakatnya yang luar biasa untuk dengan sikap bersungguh-sungguh membicara suatu hal yang biasa saja. Namun terasa sulit memahami apa yang dijelaskannya. Satu-satunya kesimpulan yang mungkin ditarik oleh para anggota juri adalah bahwa telah terjadi pembongkaran tetapi tidak terjadi pencurian, sebab barang-barang yang dicuri itu telah digunakan untuk menyediakan bir yang diminum olehpara tukang penatu itu, dan kalaupun yang terjadi adalah pencurian maka halitu terjadi tanpa pembongkaran. Tetapi jelas bahwa itu memang sudah seharusnya, sebab nyatanya para juri maupun hadirin tampak begitu terkesan oleh pembelaannya yang sangat cemerlang itu. Ketika hakim memutuskan tertuduh tidak bersalah, Yulia menganggukkan kepala kepada Kostya dan setelah itu menjabat tangannya dengan hangat.
Pada bulan Mei keluarga Laptev pindah ke rumah mereka di daerah Sokolniki. Waktu itu Yulia sudah mengandung.
XIII
Lebih dari setahun sesudah itu, Yulia dan Yartsev sedang duduk-duduk di rumputan di Sokolniki, tidak jauh dari jalan kereta api Yaroslav. Kostya berbaring beberapa meter jauhnya dari mereka berdua, kepalanya bertumpu lengan-lengannya dan ia menata langit. Mereka semua letih sehabis berjalan-jalan dan kini sedang menanti lewatnya kereta api jam enam sebelum mereka pulang untuk minum teh.
"Para ibu selalu menganggap anak mereka istimewa, dan hal itu wajar saja," kata Yulia. "Mereka betah berjam-jam di samping ayunan bayinya, menatap sepasang telinga kecil, sepasang mata mungil dan hidungnya. Dan si ibu yakin bahwa setiap orang akan merasa bahagia kalau mencium bayinya.
Aku tahu kelemahan itu, dan aku berusaha untuk berhati-hati - tetapi Olga-ku mungil itu memang sungguh-sungguh istimewa. Wajahnya yang mungil itu betapa cerdas tampaknya, dan kalau ia menyusu - wah! Dan kalau tertawa! Ia baru delapan bulan tetapi aku belum pernah melihat anak berumur tiga tahun yang memiliki mata secerdas mata Olga!"
"Tetapi, coba katakan," Yartsev bertanya kepadanya. "Siapa yang lebih kaucintai, suamimu atau bayimu?"
Yulia mengangkat bahunya.
"Entahlah," katanya. "Aku tidak pernah mencintai suamiku setengah mati. Olga jelas kekasihku yang pertama. Kau tahu bahwa aku tidak mencintai Alexei ketika kami kawin. Aku memang tolol waktu itu, aku sangat menderita karena aku yakin bahwa telah menghancurkan hidupnya dan hidupku, tetapi kini aku menyadari bahwa cinta itu tidak merupakan inti, itu nonsens saja."
"Tetapi apa yang telah mengikatmu kepada suamimu kalau kau tidak mencintainya? Kenapa engkau tinggal bersamanya?"
"EntahlahÖ Kebiasaan saja, kukira. Aku menghormatinya, aku merindukannya kalau ia tidak ada di rumah sampai lama, tetapi itu bukan cinta. Ia seorang lelaki yang pandai dan jujur, dan hal itu sudah cukup bagiku untuk membuatku merasa bahagia. Ia sangat baik hati dan Ö"
"Alexei pandai, Alexei baik hati," kata Kostya pelahan sambil mengangkat kepalanya dengan malas, "tetapi, Yulia, orang harus pernah makan banyak garam bersamanya sebelum bisa mengatakan bahwa ia pandai dan baik hati dan menarik. Kecuali itu, apa makna kepandaian dan kebaikannya? Ia memberimu uang berapa saja yang kauinginkan, itu bisa dilaksanakannya, tetapi kalau ada sesuatu yang membutuhkan ketegasan, yakni kalau berhadapan dengan bajingan dan penjahat, ia pun surut ke bawah tempurungnya. Laki-laki seperti Alexei-mu itu memang orang-orang yang baik sekali, tetapi sebagai pejuang mereka itu tidak ada gunanya. Dan pada umumnya mereka itu tidak begitu banyak berguna bagi apa pun."
Akhirnya kereta api itu muncul. Asap kemerah-merahan terhembus dari cerobong dan terpencar ke hutan-hutan kecil, dan dua jendela pada gerbong terakhir memantulkan cahaya kemilau matahari sehingga menyakitkan mata kalau dipandang.
"Saat minum teh!" kata Yulia Sergeyevna sambil bangkit.
Akhir-akhir ini ia sudah bertambah gemuk dan kini ia berjalan dengan goyang seorang perempuan yang sudah matang.
"Dan sama saja, tanpa cinta juga tidak baik," kata Yartsev sambil berjalan di belakang Yulia. "Kita ini bicara begitu banyak dan membaca begitu banyak tentang cinta, tetapi kita sendiri hanya sedikit saja membagi cinta - dan itu tidak baik."
"Itu semua sampah," kata Yulia. "Itu bukan kebahagiaan."
Mereka minum tehnya di kebun kecil yang ditumbuhi bunga aneka warna, ada yang sedang mulai berkembang. Yartsev dan Kochevoi mengetahui dari wajah Yulia Sergeyevna bahwa perempuan itu berada dalam kepuasan yang nikmati, bahwa ia tidak mengharapkan lebih dari apa yang ia miliki, dan mereka berdua pun jadi merasa tenteram di dunia ini hanya karena memandang Yulia. Segala yang mereka ucapkan terasa segar dan kena. Pohon-pohon pinus tampak indah, bau damar lebih semerbak dari biasanya, susu terasa nyaman, dan Sasha tampak manis sekali.
Setelah minum teh, mereka masuk ke rumah dan Yartsev menyanyikan lagu cinta, mengiringi nyanyiannya sendiri dengan piano; kadang-kadang Yulia bangkit dan berjingkat pergi untuk menengok bayinya dan Lida yang telah dua hari lamanya kena demam dan tidak mau makan apa-apa.
"Cintaku, cintaku tersayang!" Yartsev menyanyi. "Tidak, sobat-sobat," katanya sambil menggelengkan kepala. "Katakan apa maumu, tetapi aku tidak bisa memahami kenapa kau menentang cinta! Seandainya aku tidak sibuk lima belas jam sehari aku tentu sudah jatuh cinta."
Makan malam sudah dihidangkan di teras. Malam itu tenang dan hangat, tetapi Yulia berselempang selimut dan mengeluh tentang lembabnya udara. Ketika malam sama sekali gelap, ia menjadi gelisah, terus saja menggigil dan meminta para tamunya untuk tinggal sejenak lagi. Ia memerintahkan para pelayannya untuk membawakan anggur dan, setelah makan nanti, cognac. Ia tidak ingin ditinggalkan sendirian bersama anak-anak dan para pelayan.
"Para tetangga dan aku merencanakan untuk mementaskan sebuah sandiwara bagi kanak-kanak di luar kota," katanya. "Kami sudah mempunya segala yang diperlukan - sebuah gedung teater, dan para pemain, yang belum ada hanyalah naskahnya. Kami telah menerima selusin atau dua lusin sandiwara berbagai macam tetapi tidak ada satu pun yang cocok. Kau suka teater dan kau juga tahu sejarah sebaik-baiknya," kata Yulia sambil memandang Yartsev, "apa kau bisa menuliskan sebuah sandiwara sejarah untuk kami?"
"Bolehlah."
Para tamu itu meminum habis cognac yang disuguhkan dan siap-siap mau pulang. Sudah lewat jam sepuluh, untuk ukuran kota kecil sudah larut malam.
"Gelap benar, aku tidak bisa melihat apa-apa!" kata Yulia ketika memandang kedua tamunya menuju pintu pagar. "Apa kalian bisa menemukan jalan pulang? Hu-uh, dingin benar malam ini!"
Yulia menyelimutkan syalnya lebih ketat lagi lalu balik ke rumah.
"Alexei-ku tentu sedang main kartu entah di mana," teriaknya kepada kedua tamunya yang menjauh itu. "Selamat tidur!"
Keluar dari kamar-kamar yang terang itu, Yartsev dan Kostya tidak bisa melihat apa pun. Mereka meraba-raba berjalan ke rel kereta api dan menyeberanginya.
"Tak bisa lihat kunyuk apa pun," gumam Kostya sambil berhenti untuk menatap langit. "Tetapi lihat bintang-bintang itu, seperti mata uang lima belasan kopek yang sama sekali baru!"
"APA?" terdengar suara Yartsev dari kegelapan.
"Kubilang gelap bagai gua. Kau di mana?"
Yartsev muncul sambil bersiul, lalu memegang lengannya.
"Nah itu orang-orang terhormat!" tiba-tiba Kostya berteriak sekuat tenaga. "Mereka telah menangkap seorang Sosialis!"
Ia selalu ribut kalau habis minum, suka teriak-teriak, suka mengajak bertengkar dengan polisi dan kusir kereta, menyanyi dan tertawa terbahak-bahak.
"Alam, setan telah menguasaimu!" teriaknya keras.
"Nah, nah," protes Yartsev. "Jangan teriak-teriak begitu, nanti mengganggu."
Mereka segera terbiasa dalam kegelapan itu dan bentuk-bentuk pohon pinus yang tinggi serta tiang listrik mulai tampak. Kadang-kadang terdengar peluit lokomotif di stasiun Moskow dan gumam kawat telegraf. Tetapi tidak terdengar suara dari pepohonan, dan ada sesuatu yang terasa angkuh, perkasa, dan penuh rahasia pada kelengangan itu, dan ujung-ujung cemara seperti menyentuh langit. Kedua sahabat itu akhirnya menemukan jalan mereka dan menyusurinya. Jalan itu gelap sekali dan mereka bisa mengetahui bahwa tidak tersesat hanya karena segaris langit berbintang yang di atas dan tanah keras yang di bawah kaki mereka. Mereka berjalan beriringan tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dan keduanya merasa seolah-oleh ada yang berjalan ke arah mereka dalam kegelapan itu. Pengaruh anggur itu mulai hilang. Yartsev berpikir barangkali saja pepohonan itu dirasuki oleh roh para tsar Moskow, para bangsawan dan pendeta, dan ia ingin mengatakan hal itu kepada Kostya, tetapi tidak jadi.
Waktu mereka mencapai pinggiran kota cahaya pertama subuh pagi sudah menyentuh langit. Mereka berjalan lewat rumah-rumah buruk, warung-warung, tumpukan-tumpukan kayu, di bawah jembatan kereta api di sana mereka merasakan udara lembab yang berbaur dengan aroma bunga jeruk, dan terus menyusur jalan lebar dan panjang yang sama sekali sepi dan gelapÖ Ketika mereka sampai di Kolam Merah matahari sudah terbit.
"Moskow masih harus mengalami berbagai penderitaan berat," kata Yartsev ketika mereka lewat di depan Biara Elexeyevsky.
"Kenapa kau punya pikiran begitu?"
"Oh, entahlah. Aku cinta kepada Moskow."
Yartsev dan Kostya keduanya dilahirkan di Moskow; mereka mencintai kota itu dan atas dasar beberapa hal mereka merasa tidak suka akan kota-kota lain. Mereka yakin bahwa Moskow adalah sebuah kota yang istimewa, dan Rusia sebuah negeri yang istimewa. Di Krim, di Kaukasia atau di luar negeri mereka merasa jemu dan tidak betah, dan mereka berpendapat bahwa tidak ada yang lebih sehat dan lebih menyenangkan dibandingkan dengan cuaca Moskow yang suram itu. Hari-hari ketika hujan dingin memukul-mukul jendela dan senja tergesa tiba serta dinding-dinding gereja dan rumah menjadi coklat suram dan orang tidak tahu harus mengenakan apa kalau keluar rumah - hari-hari semacam itu bagi mereka berdua terasa sangat menyenangkan.
Akhirnya mereka mencapai stasiun dan menyewa sebuah kereta.
"Bagaimana kalau aku sungguh-sungguh menulis sebuah sandiwara sejarah," kata Yartsev. "Tetapi tanpa keluarga Lyapunov dan Godunov; sesuatu yang masih segar dari zaman Yaroslav dan Monomach. Aku tidak suka semua sandiwara sejarah Rusia kecuali monolog Pimen. Sumber-sumber sejarah atau bahkan buku-buku sejarah Rusia membuat segala yang tentang Rusia tampak penuh bakat dan mengagumkan, tetapi kalau aku melihat sandiwara sejarah Rusia aku mulai merasa bahwa kehidupan Rusia itu sebenarnya bodoh,tidak sehat dan palsu."
Kedua sahabat itu berpisah dekat Dmotrovka dan Yartsev terus naik kereta ke tempatnya di Jalan Kinitskaya. Ia duduk mengantuk di kereta bergoyang ke kiri ke kanan dan memikirkan tentang sandiwara yang akan ia tulis. Tiba-tiba saja ia mendengar suara menakutkan, suara senjata dan teriakan-teriakan dalam bahasa yang tidak dikenalnya, barangkali bahasa Kalmuck; ia melihat sebuah desa yang terbakar, dan hutan-hutan yang mengelilinginya, yang penuh dengan debu yang beterbangan dari api, tampak begitu jelas sehingga setiap pohon cemara ramping kelihatan tegak berdiri terpisah dari yang lain. Ke dalam desa itu menghamburlah orang-orang buas menunggang kuda atau berlari - orang-orang dan kuda-kuda itu tampak mengerikan bagai langit.
"Kaum Polovtsi," pikir Yartsev.
Salah seorang di antara mereka, seorang tua yang berwajah menakutkan dan kejam, tubuhnya penuh luka-luka bakar, tampak mengikat seorang gadis muda berwajah Rusia putih di pelana kudanya. Si tua berteriak buas dan gadis itu menatap ke depan dengan pandangan sedih dan sarat pikiranÖ. Yartsev menggerakkan dirinya lalu terbangun.
"Cintaku, cintaku tersayang!" ia menyanyi kecil.
Ia membayar sais lalu berjalan ke lantai atas ke kamarnya tetapi ia tetap belum bisa mengibaskan mimpinya, dan ia melihat kobaran api menguasai desa itu, sementara terlihat hutan berasap dan bersuara hiruk-pikuk, dan seekor beruang buas dan besar, mengamuk karena ketakukan, berlari masuk desaÖ Dan gadis yang terikat pada pelana itu menontonnya.
Hari sudah terang berderang ketika ia memasuki kamarnya. Dua lilin sudah menyala hampir habis di atas meja di samping buku musik yang terbuka. Rassudina yang mengenakan gaun hitam, masih memegang keran, tertidur nyenyak di sofa. Jelas bahwa perempuan itu telah main musik lama sekali sambil menanti kedatangan Yartsev - lalu jatuh tertidur.
"Kasihan, dia tentu letih," pikirnya.
Dengan hati-hati ia mengambil koran dari tangan Rassudina, lalu menutupinya dengan selimut, dan akhirnya menghembus lilin-lilin itu dan pergi masuk kamarnya. Ia naik ke ranjang masih tetap memikirkan tentang sandiwara sejarahnya itu, dan "Cintaku, cintaku tersayang" terus saja berdering di telinganya.
Dua hari kemudian Laptev mampir selama dua menit untuk mengabarkan bahwa Lida terkena difteri dan bahwa Yulia dan bayinya tertular penyair itu; dan lima hari kemudian datang pula berita bahwa Lida dan Yulia sudah mulai sembuh tetapi bayinya meninggal, dan bahwa keluarga Laptev telah buru-buru kembali ke kota.
YULIA menyelimutkan syalnya lebih ketat lagi lalu balik ke rumah.
"Alexei-ku tentu sedang main kartu entah di mana," teriaknya kepada kedua tamunya yang menjauh itu. "Selamat tidur!"
Keluar dari kamar-kamar yang terang itu, Yartsev dan Kostya tidak bisa melihat apa pun. Mereka meraba-raba berjalan ke rel kereta api dan menyeberanginya.
"Tak bisa lihat kunyuk apa pun," gumam Kostya sambil berhenti untuk menatap langit. "Tetapi lihat bintang-bintang itu, seperti mata uang lima belasan kopek yang sama sekali baru!"
"Apa?" terdengar suara Yartsev dari kegelapan.
"Kubilang gelap bagai gua. Kau di mana?"
Yartsev muncul sambil bersiul, lalu memegang lengannya.
"Nah itu orang-orang terhormat!" tiba-tiba Kostya berteriak sekuat tenaga. "Mereka telah menangkap seorang Sosialis!"
Ia selalu ribut kalau habis minum, suka teriak-teriak, suka mengajak bertengkar dengan polisi dan kusir kereta, menyanyi dan tertawa terbahak-bahak.
"Alam, setan telah menguasaimu!" teriaknya keras.
"Nah, nah," protes Yartsev. "Jangan teriak-teriak begitu, nanti mengganggu."
Mereka segera terbiasa dalam kegelapan itu dan bentuk-bentuk pohon pinus yang tinggi serta tiang listrik mulai tampak. Kadang-kadang terdengar peluit lokomotif di stasiun Moskow dan gumam kawat telegraf. Tetapi tidak terdengar suara dari pepohonan, dan ada sesuatu yang terasa angkuh, perkasa, dan penuh rahasia pada kelengangan itu, dan ujung-ujung cemara seperti menyentuh langit. Kedua sahabat itu akhirnya menemukan jalan mereka dan menyusurinya. Jalan itu gelap sekali dan mereka bisa mengetahui bahwa tidak tersesat hanya karena segaris langit berbintang yang di atas dan tanah keras yang di bawah kaki mereka. Mereka berjalan beriringan tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dan keduanya merasa seolah-oleh ada yang berjalan ke arah mereka dalam kegelapan itu. Pengaruh anggur itu mulai hilang. Yartsev berpikir barangkali saja pepohonan itu dirasuki oleh roh para tsar Moskow, para bangsawan dan pendeta, dan ia ingin mengatakan hal itu kepada Kostya, tetapi tidak jadi.
Waktu mereka mencapai pinggiran kota cahaya pertama subuh pagi sudah menyentuh langit. Mereka berjalan lewat rumah-rumah buruk, warung-warung, tumpukan-tumpukan kayu, di bawah jembatan kereta api di sana mereka merasakan udara lembab yang berbaur dengan aroma bunga jeruk, dan terus menyusur jalan lebar dan panjang yang sama sekali sepi dan gelapÖ Ketika mereka sampai di Kolam Merah matahari sudah terbit.
"Moskow masih harus mengalami berbagai penderitaan berat," kata Yartsev ketika mereka lewat di depan Biara Elexeyevsky.
"Kenapa kau punya pikiran begitu?"
"Oh, entahlah. Aku cinta kepada Moskow."
Yartsev dan Kostya keduanya dilahirkan di Moskow; mereka mencintai kota itu dan atas dasar beberapa hal mereka merasa tidak suka akan kota-kota lain. Mereka yakin bahwa Moskow adalah sebuah kota yang istimewa, dan Rusia sebuah negeri yang istimewa. Di Krim, di Kaukasia atau di luar negeri mereka merasa jemu dan tidak betah, dan mereka berpendapat bahwa tidak ada yang lebih sehat dan lebih menyenangkan dibandingkan dengan cuaca Moskow yang suram itu. Hari-hari ketika hujan dingin memukul-mukul jendela dan senja tergesa tiba serta dinding-dinding gereja dan rumah menjadi coklat suram dan orang tidak tahu harus mengenakan apa kalau keluar rumah - hari-hari semacam itu bagi mereka berdua terasa sangat menyenangkan.
Akhirnya mereka mencapai stasiun dan menyewa sebuah kereta.
"Bagaimana kalau aku sungguh-sungguh menulis sebuah sandiwara sejarah," kata Yartsev. "Tetapi tanpa keluarga Lyapunov dan Godunov; sesuatu yang masih segar dari zaman Yaroslav dan Monomach. Aku tidak suka semua sandiwara sejarah Rusia kecuali monolog Pimen. Sumber-sumber sejarah atau bahkan buku-buku sejarah Rusia membuat segala yang tentang Rusia tampak penuh bakat dan mengagumkan, tetapi kalau aku melihat sandiwara sejarah Rusia aku mulai merasa bahwa kehidupan Rusia itu sebenarnya bodoh,tidak sehat dan palsu."
Kedua sahabat itu berpisah dekat Dmotrovka dan Yartsev terus naik kereta ke tempatnya di Jalan Kinitskaya. Ia duduk mengantuk di kereta bergoyang ke kiri ke kanan dan memikirkan tentang sandiwara yang akan ia tulis. Tiba-tiba saja ia mendengar suara menakutkan, suara senjata dan teriakan-teriakan dalam bahasa yang tidak dikenalnya, barangkali bahasa Kalmuck; ia melihat sebuah desa yang terbakar, dan hutan-hutan yang mengelilinginya, yang penuh dengan debu yang beterbangan dari api, tampak begitu jelas sehingga setiap pohon cemara ramping kelihatan tegak berdiri terpisah dari yang lain. Ke dalam desa itu menghamburlah orang-orang buas menunggang kuda atau berlari - orang-orang dan kuda-kuda itu tampak mengerikan bagai langit.
"Kaum Polovtsi," pikir Yartsev.
Salah seorang di antara mereka, seorang tua yang berwajah menakutkan dan kejam, tubuhnya penuh luka-luka bakar, tampak mengikat seorang gadis muda berwajah Rusia putih di pelana kudanya. Si tua berteriak buas dan gadis itu menatap ke depan dengan pandangan sedih dan sarat pikiranÖ. Yartsev menggerakkan dirinya lalu terbangun.
"Cintaku, cintaku tersayang!" ia menyanyi kecil.
Ia membayar sais lalu berjalan ke lantai atas ke kamarnya tetapi ia tetap belum bisa mengibaskan mimpinya, dan ia melihat kobaran api menguasai desa itu, sementara terlihat hutan berasap dan bersuara hiruk-pikuk, dan seekor beruang buas dan besar, mengamuk karena ketakukan, berlari masuk desaÖ Dan gadis yang terikat pada pelana itu menontonnya.
Hari sudah terang berderang ketika ia memasuki kamarnya. Dua lilin sudah menyala hampir habis di atas meja di samping buku musik yang terbuka. Rassudina yang mengenakan gaun hitam, masih memegang keran, tertidur nyenyak di sofa. Jelas bahwa perempuan itu telah main musik lama sekali sambil menanti kedatangan Yartsev - lalu jatuh tertidur.
"Kasihan, dia tentu letih," pikirnya.
Dengan hati-hati ia mengambil koran dari tangan Rassudina, lalu menutupinya dengan selimut, dan akhirnya menghembus lilin-lilin itu dan pergi masuk kamarnya. Ia naik ke ranjang masih tetap memikirkan tentang sandiwara sejarahnya itu, dan "Cintaku, cintaku tersayang" terus saja berdering di telinganya.
DUA hari kemudian Laptev mampir selama dua menit untuk mengabarkan bahwa Lida terkena difteri dan bahwa Yulia dan bayinya tertular penyair itu; dan lima hari kemudian datang pula berita bahwa Lida dan Yulia sudah mulai sembuh tetapi bayinya meninggal, dan bahwa keluarga Laptev telah buru-buru kembali ke kota.
Bab XII
Pada suatu hari di Pekan Paskah keluarga Laptev mengunjungi suatu pameran kesenian di Sekolah Kesenian. Sudah menjadi kebiasaan di Moskow bahwa dalam kesempatan serupa itu semua anggota keluarga ikut serta, termasuk dua gadis kecil kemenakan Laptev, perawat mereka dan Kostya.
Laptev mengenal semua nama seniman terkenal dan ia tidak pernah absen dari satu pameran pun. Ia sendiri kadang-kadang membuat sketsa pemandangan kalau sedang berlibur musim panas di perdusunan dan ia yakin bahwa dirinya memiliki cita rasa yang baik dan seandainya ia dulu belajar seni rupa kemungkinan besar ia sudah menjadi seorang seniman kenamaan kini. Kalau sedang berada di luar negeri ia suka mampir di toko-toko barang antik, memeriksa barang-barang di sana dengan sikap seorang ahli seni, menyatakan pendapatnya tentang barang-barang itu dan akhirnya membeli sesuatu yang harganya sama sekali ditentukan oleh pemilik toko, dan kemudian barang beliannya itu tetap saja terbungkus dalam kotak di kandang kereta sampai akhirnya barang itu lenyap begitu saja tak seorang pun tahu ke mana. Atau ia pergi ke toko ukiran, mengamati dengan cermat tembaga atau cetak, memberikan komentar tentang mutunya dan kemudian membeli ukiran-ukira kecil atau sekotak kertas bercetak yang seperti sampah rupanya. Semua lukisan di rumahnya berukuran besar namun rata-rata rendah mutunya; dan lukisan-lukisan yang baik digantungkan di tempat yang tak semestinya. Ia sering membeli lukisan-lukisan dengan harga tinggi tetapi akhirnya terbukti bahwa lukisan-lukisan itu jiplakan. Dan hal yang menarik adalah bahwa meskipun dalam banyak soal Laptev suka bersikap sangat hati-hati, dalam pameran lukisan ia selalu tampak yakin dan berani.
Yulia Sergeyevna mengikuti cara suaminya dalam mengamati lukisan-lukisan yang dipamerkan, yakni dengan menggunakan kaca pembesar atau lewat lubang kepalan tangannya dan kemudian terheran-heran melihat bahwa orang-orang dalam lukisan-lukisan tersebut tampak hidup dan pohon-pohonan seperti pohon-pohonan benar-benar. Tetapi kebanyakan lukisan tampaknya serupa saja baginya, dan Yulia yakin bahwa satu-satunya tujuan seni rupa adalah menjadikan orang-orang dan benda-benda dalam lukisan itu tampak seperti sesungguhnya kalau kita menutupkan sebelah mata dan memandang lukisan itu lewat lubang kepalan tangan kita.
"Itu bukan Shishkin," suaminya menjelaskan kepadanya. "Tak ada lagi yang diungkapkannya kecuali itu. Lihat salju itu! Salju tak pernah ungu seperti itu... Dan tangan kiri anak itu lebih pendek dari tangan kanannya."
Ketika akhirnya mereka semua sudah puas dan letih dan Laptev pergi mencari Kostya mengajaknya pulang, Yulia berhenti di depan sebuah lukisan pemandangan dan menatapnya sambil lalu. Tampak gambar sebuah sungai kecil dengan sebuah jembatan kayu, dan jalan setapak di tepi sungai sebelah sana bermuara di sebuah padang rumput kelam yang bertepikan hutan di sebelah kanan. Tampak juga sebuah api unggun yang jelas dibuat oleh para gembala ternak, dan langit masih tampak agak bersinar di kaki langit.
Yulia membayangkan dirinya berjalan di jembatan itu dan menyusur jalan setapak terus saja berjalan dalam senja kala yang hampir padam bumi hampir tidur seperti api tampak menyala di kejauhan. Awan-awan itu, hutan itu dan padang itu tampak sudah dikenalnya dengan baik, seperti pernah berulang kali dilihatnya dulu, jauh waktu dulu, dan rasa sepi yang luar biasa tiba-tiba menguasainya, dan ia ingin sekali berjalan lewat jalan setapak itu dan terus berjalan ke arah matahari terbenam dan ke arah garis langit yang memendam rahasia.
"Alangkah indahnya lukisan ini!" katanya kagum ketika dia sadar bahwa ternyata mampu memahami lukisan itu. "Lihat, Alexei, apa kau tidak merasakan kesunyian di dalamnya?"
Yulia Sergeyevna mencoba menjelaskan kenapa ia menyukai lukisan pemandangan itu, tetapi baik Kostya maupun suaminya bisa memahaminya. Ia menatap lukisan itu dengan tersenyum sedih, kecewa karena ternyata tidak ada yang bisa menemukan sesuatu yang istimewa pada lukisan itu. Ia kembali ke ruangan-ruangan pameran untuk menikmati lukisan-lukisan itu sekali lagi, dan kini ia tidak lagi menganggap semua lukisan itu serupa saja. Ketika dia sampai di rumah lukisan besar yang tergantung di atas piano di kamar tamu itu untuk pertama kalinya menarik perhatiannya.
"Kenapa pula orang ini memiliki lukisan-lukisan macam itu!" katanya dengan perasaan yang tiba-tiba berubah.
Sejak saat itu sudut-sudut langit-langit yang keemasan, cermin Venesia yang berpola bunga-bungaan, lukisan-lukisan seperti yang tergantung di atas piano dan bahkan percakapan tentang kesenian antara suaminya dan Kostya - semua itu menyebabkannya muak dan mengeluh, bahkan kadang-kadang benci.
Kehidupan berlangsung datar saja dari hari ke hari dan tidak ada yang diharap-harapkan. Musim teater telah lewat dan kini hari-hari menjadi hangat. Cuaca yang sangat bagus berlangsung cukup lama.
Pada suatu pagi keluarga Laptev pergi ke pengadilan distrik untuk mendengarkan Kostya melakukan pembelaan atas seorang prajurit yang dituduh melakukan perampokan. Mereka berangkat dari rumah agak terlambat dan ketika sampai di pengadilan para saksi sedang diperiksa. Banyak sekali saksi yang tampil, semuanya para perempuan tukang penatu; mereka menyatakan bahwa tertuduh sering berkunjung ke pemilik perusahaan penatu, majikan mereka itu. Pada malam menjelang hari Salib Suci ia muncul sudah jauh malam sehabis minum-minum, meminta uang untuk membeli minuman lagi tetapi tidak diberi. Sejam kemudian ia balik membawa bir dan biskuit pepermint untuk para perempuan tukang penatu itu.
MEREKA malam itu bersama-sama minum-minum dan nyanyi-nyanyi dan pagi harinya mereka mengetahui bahwa loteng telah dibobol dan bahwa tiga kemeja, sebuah rok dan dua helai seprai telah dicuri orang. Dengan tersenyum mengejek Kostya bertanya kepada tukang penatu itu seorang demi seorang apakah mereka ikut minum bir yang dibawa oleh tertuduh pada malam menjelang hari Salib Suci itu. Jelas bahwa Kostya ingin membuktikan bahwa yang mencuri barang-barang itu adalah para perempuan itu sendiri. Kostya mengucapkan pembelaannya tanpa emosi sama sekali, pandangan matanya tajam tertuju ke arah semua anggota juri.
Ia menjelaskan perbedaan antara pembongkaran dan pencurian biasa. Ia berbicara dengan sungguh-sungguh dan panjang lebar, menunjukkan bakatnya yang luar biasa untuk dengan sikap bersungguh-sungguh membicara suatu hal yang biasa saja. Namun terasa sulit memahami apa yang dijelaskannya. Satu-satunya kesimpulan yang mungkin ditarik oleh para anggota juri adalah bahwa telah terjadi pembongkaran tetapi tidak terjadi pencurian, sebab barang-barang yang dicuri itu telah digunakan untuk menyediakan bir yang diminum olehpara tukang penatu itu, dan kalaupun yang terjadi adalah pencurian maka halitu terjadi tanpa pembongkaran. Tetapi jelas bahwa itu memang sudah seharusnya, sebab nyatanya para juri maupun hadirin tampak begitu terkesan oleh pembelaannya yang sangat cemerlang itu. Ketika hakim memutuskan tertuduh tidak bersalah, Yulia menganggukkan kepala kepada Kostya dan setelah itu menjabat tangannya dengan hangat.
Pada bulan Mei keluarga Laptev pindah ke rumah mereka di daerah Sokolniki. Waktu itu Yulia sudah mengandung.
Bab XIII
LEBIH dari setahun sesudah itu, Yulia dan Yartsev sedang duduk-duduk di rumputan di Sokolniki, tidak jauh dari jalan kereta api Yaroslav. Kostya berbaring beberapa meter jauhnya dari mereka berdua, kepalanya bertumpu lengan-lengannya dan ia menata langit. Mereka semua letih sehabis berjalan-jalan dan kini sedang menanti lewatnya kereta api jam enam sebelum mereka pulang untuk minum teh.
"Para ibu selalu menganggap anak mereka istimewa, dan hal itu wajar saja," kata Yulia. "Mereka betah berjam-jam di samping ayunan bayinya, menatap sepasang telinga kecil, sepasang mata mungil dan hidungnya. Dan si ibu yakin bahwa setiap orang akan merasa bahagia kalau mencium bayinya. Aku tahu kelemahan itu, dan aku berusaha untuk berhati-hati - tetapi Olga-ku mungil itu memang sungguh-sungguh istimewa. Wajahnya yang mungil itu betapa cerdas tampaknya, dan kalau ia menyusu - wah! Dan kalau tertawa! Ia baru delapan bulan tetapi aku belum pernah melihat anak berumur tiga tahun yang memiliki mata secerdas mata Olga!"
"Tetapi, coba katakan," Yartsev bertanya kepadanya. "Siapa yang lebih kaucintai, suamimu atau bayimu?"
Yulia mengangkat bahunya.
"Entahlah," katanya. "Aku tidak pernah mencintai suamiku setengah mati. Olga jelas kekasihku yang pertama. Kau tahu bahwa aku tidak mencintai Alexei ketika kami kawin. Aku memang tolol waktu itu, aku sangat menderita karena aku yakin bahwa telah menghancurkan hidupnya dan hidupku, tetapi kini aku menyadari bahwa cinta itu tidak merupakan inti, itu nonsens saja."
"Tetapi apa yang telah mengikatmu kepada suamimu kalau kau tidak mencintainya? Kenapa engkau tinggal bersamanya?"
"Entahlah... Kebiasaan saja, kukira. Aku menghormatinya, aku merindukannya kalau ia tidak ada di rumah sampai lama, tetapi itu bukan cinta. Ia seorang lelaki yang pandai dan jujur, dan hal itu sudah cukup bagiku untuk membuatku merasa bahagia. Ia sangat baik hati dan..."
"Alexei pandai, Alexei baik hati," kata Kostya pelahan sambil mengangkat kepalanya dengan malas, "tetapi, Yulia, orang harus pernah makan banyak garam bersamanya sebelum bisa mengatakan bahwa ia pandai dan baik hati dan menarik. Kecuali itu, apa makna kepandaian dan kebaikannya? Ia memberimu uang berapa saja yang kauinginkan, itu bisa dilaksanakannya, tetapi kalau ada sesuatu yang membutuhkan ketegasan, yakni kalau berhadapan dengan bajingan dan penjahat, ia pun surut ke bawah tempurungnya. Laki-laki seperti Alexei-mu itu memang orang-orang yang baik sekali, tetapi sebagai pejuang mereka itu tidak ada gunanya. Dan pada umumnya mereka itu tidak begitu banyak berguna bagi apa pun."
Akhirnya kereta api itu muncul. Asap kemerah-merahan terhembus dari cerobong dan terpencar ke hutan-hutan kecil, dan dua jendela pada gerbong terakhir memantulkan cahaya kemilau matahari sehingga menyakitkan mata kalau dipandang.
"Saat minum teh!" kata Yulia Sergeyevna sambil bangkit.
Akhir-akhir ini ia sudah bertambah gemuk dan kini ia berjalan dengan goyang seorang perempuan yang sudah matang.
"Dan sama saja, tanpa cinta juga tidak baik," kata Yartsev sambil berjalan di belakang Yulia. "Kita ini bicara begitu banyak dan membaca begitu banyak tentang cinta, tetapi kita sendiri hanya sedikit saja membagi cinta - dan itu tidak baik."
"Itu semua sampah," kata Yulia. "Itu bukan kebahagiaan."
Mereka minum tehnya di kebun kecil yang ditumbuhi bunga aneka warna, ada yang sedang mulai berkembang. Yartsev dan Kochevoi mengetahui dari wajah Yulia Sergeyevna bahwa perempuan itu berada dalam kepuasan yang nikmati, bahwa ia tidak mengharapkan lebih dari apa yang ia miliki, dan mereka berdua pun jadi merasa tenteram di dunia ini hanya karena memandang Yulia. Segala yang mereka ucapkan terasa segar dan kena. Pohon-pohon pinus tampak indah, bau damar lebih semerbak dari biasanya, susu terasa nyaman, dan Sasha tampak manis sekali.
Setelah minum teh, mereka masuk ke rumah dan Yartsev menyanyikan lagu cinta, mengiringi nyanyiannya sendiri dengan piano; kadang-kadang Yulia bangkit dan berjingkat pergi untuk menengok bayinya dan Lida yang telah dua hari lamanya kena demam dan tidak mau makan apa-apa.
"CINTAKU, cintaku tersayang!" Yartsev menyanyi. "Tidak, sobat-sobat," katanya sambil menggelengkan kepala. "Katakan apa maumu, tetapi aku tidak bisa memahami kenapa kau menentang cinta! Seandainya aku tidak sibuk lima belas jam sehari aku tentu sudah jatuh cinta."
Makan malam sudah dihidangkan di teras. Malam itu tenang dan hangat, tetapi Yulia berselempang selimut dan mengeluh tentang lembabnya udara. Ketika malam sama sekali gelap, ia menjadi gelisah, terus saja menggigil dan meminta para tamunya untuk tinggal sejenak lagi. Ia memerintahkan para pelayannya untuk membawakan anggur dan, setelah makan nanti, cognac. Ia tidak ingin ditinggalkan sendirian bersama anak-anak dan para pelayan.
"Para tetangga dan aku merencanakan untuk mementaskan sebuah sandiwara bagi kanak-kanak di luar kota," katanya. "Kami sudah mempunya segala yang diperlukan -sebuah gedung teater, dan para pemain, yang belum ada hanyalah naskahnya. Kami telah menerima selusin atau dua lusin sandiwara berbagai macam tetapi tidak ada satu pun yang cocok. Kau suka teater dan kau juga tahu sejarah sebaik-baiknya," kata Yulia sambil memandang Yartsev, "apa kau bisa menuliskan sebuah sandiwara sejarah untuk kami?"
"Bolehlah."
Para tamu itu meminum habis cognac yang disuguhkan dan siap-siap mau pulang. Sudah lewat jam sepuluh, untuk ukuran kota kecil sudah larut malam.
"Gelap benar, aku tidak bisa melihat apa-apa!" kata Yulia ketika memandang kedua tamunya menuju pintu pagar. "Apa kalian bisa menemukan jalan pulang? Hu-uh, dingin benar malam ini!"
Yulia menyelimutkan syalnya lebih ketat lagi lalu balik ke rumah.
"Alexei-ku tentu sedang main kartu entah di mana," teriaknya kepada kedua tamunya yang menjauh itu. "Selamat tidur!"
Keluar dari kamar-kamar yang terang itu, Yartsev dan Kostya tidak bisa melihat apa pun. Mereka meraba-raba berjalan ke rel kereta api dan menyeberanginya.
"Tak bisa lihat kunyuk apa pun," gumam Kostya sambil berhenti untuk menatap langit. "Tetapi lihat bintang-bintang itu, seperti mata uang lima belasan kopek yang sama sekali baru!"
"Apa?" terdengar suara Yartsev dari kegelapan.
"Kubilang gelap bagai gua. Kau di mana?"
Yartsev muncul sambil bersiul, lalu memegang lengannya.
"Nah itu orang-orang terhormat!" tiba-tiba Kostya berteriak sekuat tenaga. "Mereka telah menangkap seorang Sosialis!"
Ia selalu ribut kalau habis minum, suka teriak-teriak, suka mengajak bertengkar dengan polisi dan kusir kereta, menyanyi dan tertawa terbahak-bahak.
"Alam, setan telah menguasaimu!" teriaknya keras.
"Nah, nah," protes Yartsev. "Jangan teriak-teriak begitu, nanti mengganggu."
Mereka segera terbiasa dalam kegelapan itu dan bentuk-bentuk pohon pinus yang tinggi serta tiang listrik mulai tampak. Kadang-kadang terdengar peluit lokomotif di stasiun Moskow dan gumam kawat telegraf. Tetapi tidak terdengar suara dari pepohonan, dan ada sesuatu yang terasa angkuh, perkasa, dan penuh rahasia pada kelengangan itu, dan ujung-ujung cemara seperti menyentuh langit. Kedua sahabat itu akhirnya menemukan jalan mereka dan menyusurinya. Jalan itu gelap sekali dan mereka bisa mengetahui bahwa tidak tersesat hanya karena segaris langit berbintang yang di atas dan tanah keras yang di bawah kaki mereka. Mereka berjalan beriringan tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dan keduanya merasa seolah-oleh ada yang berjalan ke arah mereka dalam kegelapan itu. Pengaruh anggur itu mulai hilang. Yartsev berpikir barangkali saja pepohonan itu dirasuki oleh roh para tsar Moskow, para bangsawan dan pendeta, dan ia ingin mengatakan hal itu kepada Kostya, tetapi tidak jadi.
Waktu mereka mencapai pinggiran kota cahaya pertama subuh pagi sudah menyentuh langit. Mereka berjalan lewat rumah-rumah buruk, warung-warung, tumpukan-tumpukan kayu, di bawah jembatan kereta api di sana mereka merasakan udara lembab yang berbaur dengan aroma bunga jeruk, dan terus menyusur jalan lebar dan panjang yang sama sekali sepi dan gelapÖ Ketika mereka sampai di Kolam Merah matahari sudah terbit.
"Moskow masih harus mengalami berbagai penderitaan berat," kata Yartsev ketika mereka lewat di depan Biara Elexeyevsky.
"Kenapa kau punya pikiran begitu?"
"Oh, entahlah. Aku cinta kepada Moskow."
Yartsev dan Kostya keduanya dilahirkan di Moskow; mereka mencintai kota itu dan atas dasar beberapa hal mereka merasa tidak suka akan kota-kota lain. Mereka yakin bahwa Moskow adalah sebuah kota yang istimewa, dan Rusia sebuah negeri yang istimewa. Di Krim, di Kaukasia atau di luar negeri mereka merasa jemu dan tidak betah, dan mereka berpendapat bahwa tidak ada yang lebih sehat dan lebih menyenangkan dibandingkan dengan cuaca Moskow yang suram itu. Hari-hari ketika hujan dingin memukul-mukul jendela dan senja tergesa tiba serta dinding-dinding gereja dan rumah menjadi coklat suram dan orang tidak tahu harus mengenakan apa kalau keluar rumah - hari-hari semacam itu bagi mereka berdua terasa sangat menyenangkan.
Akhirnya mereka mencapai stasiun dan menyewa sebuah kereta.
"Bagaimana kalau aku sungguh-sungguh menulis sebuah sandiwara sejarah," kata Yartsev. "Tetapi tanpa keluarga Lyapunov dan Godunov; sesuatu yang masih segar dari zaman Yaroslav dan Monomach. Aku tidak suka semua sandiwara sejarah Rusia kecuali monolog Pimen. Sumber-sumber sejarah atau bahkan buku-buku sejarah Rusia membuat segala yang tentang Rusia tampak penuh bakat dan mengagumkan, tetapi kalau aku melihat sandiwara sejarah Rusia aku mulai merasa bahwa kehidupan Rusia itu sebenarnya bodoh,tidak sehat dan palsu."
KEDUA sahabat itu berpisah dekat Dmotrovka dan Yartsev terus naik kereta ke tempatnya di Jalan Kinitskaya. Ia duduk mengantuk di kereta bergoyang ke kiri ke kanan dan memikirkan tentang sandiwara yang akan ia tulis. Tiba-tiba saja ia mendengar suara menakutkan, suara senjata dan teriakan-teriakan dalam bahasa yang tidak dikenalnya, barangkali bahasa Kalmuck; ia melihat sebuah desa yang terbakar, dan hutan-hutan yang mengelilinginya, yang penuh dengan debu yang beterbangan dari api, tampak begitu jelas sehingga setiap pohon cemara ramping kelihatan tegak berdiri terpisah dari yang lain. Ke dalam desa itu menghamburlah orang-orang buas menunggang kuda atau berlari -orang-orang dan kuda-kuda itu tampak mengerikan bagai langit.
"Kaum Polovtsi," pikir Yartsev.
Salah seorang di antara mereka, seorang tua yang berwajah menakutkan dan kejam, tubuhnya penuh luka-luka bakar, tampak mengikat seorang gadis muda berwajah Rusia putih di pelana kudanya. Si tua berteriak buas dan gadis itu menatap ke depan dengan pandangan sedih dan sarat pikiran.... Yartsev menggerakkan dirinya lalu terbangun.
"Cintaku, cintaku tersayang!" ia menyanyi kecil.
Ia membayar sais lalu berjalan ke lantai atas ke kamarnya tetapi ia tetap belum bisa mengibaskan mimpinya, dan ia melihat kobaran api menguasai desa itu, sementara terlihat hutan berasap dan bersuara hiruk-pikuk, dan seekor beruang buas dan besar, mengamuk karena ketakukan, berlari masuk desaÖ Dan gadis yang terikat pada pelana itu menontonnya.
Hari sudah terang berderang ketika ia memasuki kamarnya. Dua lilin sudah menyala hampir habis di atas meja di samping buku musik yang terbuka. Rassudina yang mengenakan gaun hitam, masih memegang keran, tertidur nyenyak di sofa. Jelas bahwa perempuan itu telah main musik lama sekali sambil menanti kedatangan Yartsev - lalu jatuh tertidur.
"Kasihan, dia tentu letih," pikirnya.
Dengan hati-hati ia mengambil koran dari tangan Rassudina, lalu menutupinya dengan selimut, dan akhirnya menghembus lilin-lilin itu dan pergi masuk kamarnya. Ia naik ke ranjang masih tetap memikirkan tentang sandiwara sejarahnya itu, dan "Cintaku, cintaku tersayang" terus saja berdering di telinganya.
Dua hari kemudian Laptev mampir selama dua menit untuk mengabarkan bahwa Lida terkena difteri dan bahwa Yulia dan bayinya tertular penyair itu; dan lima hari kemudian datang pula berita bahwa Lida dan Yulia sudah mulai sembuh tetapi bayinya meninggal, dan bahwa keluarga Laptev telah buru-buru kembali ke kota.
Bab XIII
LEBIH dari setahun sesudah itu, Yulia dan Yartsev sedang duduk-duduk di rumputan di Sokolniki, tidak jauh dari jalan kereta api Yaroslav. Kostya berbaring beberapa meter jauhnya dari mereka berdua, kepalanya bertumpu lengan-lengannya dan ia menata langit. Mereka semua letih sehabis berjalan-jalan dan kini sedang menanti lewatnya kereta api jam enam sebelum mereka pulang untuk minum teh.
"Para ibu selalu menganggap anak mereka istimewa, dan hal itu wajar saja," kata Yulia. "Mereka betah berjam-jam di samping ayunan bayinya, menatap sepasang telinga kecil, sepasang mata mungil dan hidungnya. Dan si ibu yakin bahwa setiap orang akan merasa bahagia kalau mencium bayinya. Aku tahu kelemahan itu, dan aku berusaha untuk berhati-hati - tetapi Olga-ku mungil itu memang sungguh-sungguh istimewa. Wajahnya yang mungil itu betapa cerdas tampaknya, dan kalau ia menyusu - wah! Dan kalau tertawa! Ia baru delapan bulan tetapi aku belum pernah melihat anak berumur tiga tahun yang memiliki mata secerdas mata Olga!"
"Tetapi, coba katakan," Yartsev bertanya kepadanya. "Siapa yang lebih kaucintai, suamimu atau bayimu?"
Yulia mengangkat bahunya.
"Entahlah," katanya. "Aku tidak pernah mencintai suamiku setengah mati. Olga jelas kekasihku yang pertama. Kau tahu bahwa aku tidak mencintai Alexei ketika kami kawin. Aku memang tolol waktu itu, aku sangat menderita karena aku yakin bahwa telah menghancurkan hidupnya dan hidupku, tetapi kini aku menyadari bahwa cinta itu tidak merupakan inti, itu nonsens saja."
"Tetapi apa yang telah mengikatmu kepada suamimu kalau kau tidak mencintainya? Kenapa engkau tinggal bersamanya?"
"Entahlah... Kebiasaan saja, kukira. Aku menghormatinya, aku merindukannya kalau ia tidak ada di rumah sampai lama, tetapi itu bukan cinta. Ia seorang lelaki yang pandai dan jujur, dan hal itu sudah cukup bagiku untuk membuatku merasa bahagia. Ia sangat baik hati dan..."
"Alexei pandai, Alexei baik hati," kata Kostya pelahan sambil mengangkat kepalanya dengan malas, "tetapi, Yulia, orang harus pernah makan banyak garam bersamanya sebelum bisa mengatakan bahwa ia pandai dan baik hati dan menarik. Kecuali itu, apa makna kepandaian dan kebaikannya? Ia memberimu uang berapa saja yang kauinginkan, itu bisa dilaksanakannya, tetapi kalau ada sesuatu yang membutuhkan ketegasan, yakni kalau berhadapan dengan bajingan dan penjahat, ia pun surut ke bawah tempurungnya. Laki-laki seperti Alexei-mu itu memang orang-orang yang baik sekali, tetapi sebagai pejuang mereka itu tidak ada gunanya. Dan pada umumnya mereka itu tidak begitu banyak berguna bagi apa pun."
Akhirnya kereta api itu muncul. Asap kemerah-merahan terhembus dari cerobong dan terpencar ke hutan-hutan kecil, dan dua jendela pada gerbong terakhir memantulkan cahaya kemilau matahari sehingga menyakitkan mata kalau dipandang.
"Saat minum teh!" kata Yulia Sergeyevna sambil bangkit.
Akhir-akhir ini ia sudah bertambah gemuk dan kini ia berjalan dengan goyang seorang perempuan yang sudah matang.
DAN sama saja, tanpa cinta juga tidak baik," kata Yartsev sambil berjalan di belakang Yulia. "Kita ini bicara begitu banyak dan membaca begitu banyak tentang cinta, tetapi kita sendiri hanya sedikit saja membagi cinta - dan itu tidak baik."
"Itu semua sampah," kata Yulia. "Itu bukan kebahagiaan."
Mereka minum tehnya di kebun kecil yang ditumbuhi bunga aneka warna, ada yang sedang mulai berkembang. Yartsev dan Kochevoi mengetahui dari wajah Yulia Sergeyevna bahwa perempuan itu berada dalam kepuasan yang nikmati, bahwa ia tidak mengharapkan lebih dari apa yang ia miliki, dan mereka berdua pun jadi merasa tenteram di dunia ini hanya karena memandang Yulia. Segala yang mereka ucapkan terasa segar dan kena. Pohon-pohon pinus tampak indah, bau damar lebih semerbak dari biasanya, susu terasa nyaman, dan Sasha tampak manis sekali.
Setelah minum teh, mereka masuk ke rumah dan Yartsev menyanyikan lagu cinta, mengiringi nyanyiannya sendiri dengan piano; kadang-kadang Yulia bangkit dan berjingkat pergi untuk menengok bayinya dan Lida yang telah dua hari lamanya kena demam dan tidak mau makan apa-apa.
"Cintaku, cintaku tersayang!" Yartsev menyanyi. "Tidak, sobat-sobat," katanya sambil menggelengkan kepala. "Katakan apa maumu, tetapi aku tidak bisa memahami kenapa kau menentang cinta! Seandainya aku tidak sibuk lima belas jam sehari aku tentu sudah jatuh cinta."
Makan malam sudah dihidangkan di teras. Malam itu tenang dan hangat, tetapi Yulia berselempang selimut dan mengeluh tentang lembabnya udara. Ketika malam sama sekali gelap, ia menjadi gelisah, terus saja menggigil dan meminta para tamunya untuk tinggal sejenak lagi. Ia memerintahkan para pelayannya untuk membawakan anggur dan, setelah makan nanti, cognac. Ia tidak ingin ditinggalkan sendirian bersama anak-anak dan para pelayan.
"Para tetangga dan aku merencanakan untuk mementaskan sebuah sandiwara bagi kanak-kanak di luar kota," katanya. "Kami sudah mempunya segala yang diperlukan - sebuah gedung teater, dan para pemain, yang belum ada hanyalah naskahnya. Kami telah menerima selusin atau dua lusin sandiwara berbagai macam tetapi tidak ada satu pun yang cocok. Kau suka teater dan kau juga tahu sejarah sebaik-baiknya," kata Yulia sambil memandang Yartsev, "apa kau bisa menuliskan sebuah sandiwara sejarah untuk kami?"
"Bolehlah."
Para tamu itu meminum habis cognac yang disuguhkan dan siap-siap mau pulang. Sudah lewat jam sepuluh, untuk ukuran kota kecil sudah larut malam.
"Gelap benar, aku tidak bisa melihat apa-apa!" kata Yulia ketika memandang kedua tamunya menuju pintu pagar. "Apa kalian bisa menemukan jalan pulang? Hu-uh, dingin benar malam ini!"
Yulia menyelimutkan syalnya lebih ketat lagi lalu balik ke rumah.
"Alexei-ku tentu sedang main kartu entah di mana," teriaknya kepada kedua tamunya yang menjauh itu. "Selamat tidur!"
Keluar dari kamar-kamar yang terang itu, Yartsev dan Kostya tidak bisa melihat apa pun. Mereka meraba-raba berjalan ke rel kereta api dan menyeberanginya.
"Tak bisa lihat kunyuk apa pun," gumam Kostya sambil berhenti untuk menatap langit. "Tetapi lihat bintang-bintang itu, seperti mata uang lima belasan kopek yang sama sekali baru!"
"Apa?" terdengar suara Yartsev dari kegelapan.
"Kubilang gelap bagai gua. Kau di mana?"
Yartsev muncul sambil bersiul, lalu memegang lengannya.
"Nah itu orang-orang terhormat!" tiba-tiba Kostya berteriak sekuat tenaga. "Mereka telah menangkap seorang Sosialis!"
Ia selalu ribut kalau habis minum, suka teriak-teriak, suka mengajak bertengkar dengan polisi dan kusir kereta, menyanyi dan tertawa terbahak-bahak.
"Alam, setan telah menguasaimu!" teriaknya keras.
"Nah, nah," protes Yartsev. "Jangan teriak-teriak begitu, nanti mengganggu."
Mereka segera terbiasa dalam kegelapan itu dan bentuk-bentuk pohon pinus yang tinggi serta tiang listrik mulai tampak. Kadang-kadang terdengar peluit lokomotif di stasiun Moskow dan gumam kawat telegraf. Tetapi tidak terdengar suara dari pepohonan, dan ada sesuatu yang terasa angkuh, perkasa, dan penuh rahasia pada kelengangan itu, dan ujung-ujung cemara seperti menyentuh langit. Kedua sahabat itu akhirnya menemukan jalan mereka dan menyusurinya. Jalan itu gelap sekali dan mereka bisa mengetahui bahwa tidak tersesat hanya karena segaris langit berbintang yang di atas dan tanah keras yang di bawah kaki mereka. Mereka berjalan beriringan tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dan keduanya merasa seolah-oleh ada yang berjalan ke arah mereka dalam kegelapan itu. Pengaruh anggur itu mulai hilang. Yartsev berpikir barangkali saja pepohonan itu dirasuki oleh roh para tsar Moskow, para bangsawan dan pendeta, dan ia ingin mengatakan hal itu kepada Kostya, tetapi tidak jadi.
Waktu mereka mencapai pinggiran kota cahaya pertama subuh pagi sudah menyentuh langit. Mereka berjalan lewat rumah-rumah buruk, warung-warung, tumpukan-tumpukan kayu, di bawah jembatan kereta api di sana mereka merasakan udara lembab yang berbaur dengan aroma bunga jeruk, dan terus menyusur jalan lebar dan panjang yang sama sekali sepi dan gelapÖ Ketika mereka sampai di Kolam Merah matahari sudah terbit.
"Moskow masih harus mengalami berbagai penderitaan berat," kata Yartsev ketika mereka lewat di depan Biara Elexeyevsky.
"Kenapa kau punya pikiran begitu?"
"Oh, entahlah. Aku cinta kepada Moskow."

YARSTSEV dan Kostya keduanya dilahirkan di Moskow; mereka mencintai kota itu dan atas dasar beberapa hal mereka merasa tidak suka akan kota-kota lain. Mereka yakin bahwa Moskow adalah sebuah kota yang istimewa, dan Rusia sebuah negeri yang istimewa. Di Krim, di Kaukasia atau di luar negeri mereka merasa jemu dan tidak betah, dan mereka berpendapat bahwa tidak ada yang lebih sehat dan lebih menyenangkan dibandingkan dengan cuaca Moskow yang suram itu. Hari-hari ketika hujan dingin memukul-mukul jendela dan senja tergesa tiba serta dinding-dinding gereja dan rumah menjadi coklat suram dan orang tidak tahu harus mengenakan apa kalau keluar rumah - hari-hari semacam itu bagi mereka berdua terasa sangat menyenangkan.
Akhirnya mereka mencapai stasiun dan menyewa sebuah kereta.
"Bagaimana kalau aku sungguh-sungguh menulis sebuah sandiwara sejarah," kata Yartsev. "Tetapi tanpa keluarga Lyapunov dan Godunov; sesuatu yang masih segar dari zaman Yaroslav dan Monomach. Aku tidak suka semua sandiwara sejarah Rusia kecuali monolog Pimen. Sumber-sumber sejarah atau bahkan buku-buku sejarah Rusia membuat segala yang tentang Rusia tampak penuh bakat dan mengagumkan, tetapi kalau aku melihat sandiwara sejarah Rusia aku mulai merasa bahwa kehidupan Rusia itu sebenarnya bodoh,tidak sehat dan palsu."
Kedua sahabat itu berpisah dekat Dmotrovka dan Yartsev terus naik kereta ke tempatnya di Jalan Kinitskaya. Ia duduk mengantuk di kereta bergoyang ke kiri ke kanan dan memikirkan tentang sandiwara yang akan ia tulis. Tiba-tiba saja ia mendengar suara menakutkan, suara senjata dan teriakan-teriakan dalam bahasa yang tidak dikenalnya, barangkali bahasa Kalmuck; ia melihat sebuah desa yang terbakar, dan hutan-hutan yang mengelilinginya, yang penuh dengan debu yang beterbangan dari api, tampak begitu jelas sehingga setiap pohon cemara ramping kelihatan tegak berdiri terpisah dari yang lain. Ke dalam desa itu menghamburlah orang-orang buas menunggang kuda atau berlari - orang-orang dan kuda-kuda itu tampak mengerikan bagai langit.
"Kaum Polovtsi," pikir Yartsev.
Salah seorang di antara mereka, seorang tua yang berwajah menakutkan dan kejam, tubuhnya penuh luka-luka bakar, tampak mengikat seorang gadis muda berwajah Rusia putih di pelana kudanya. Si tua berteriak buas dan gadis itu menatap ke depan dengan pandangan sedih dan sarat pikiranÖ. Yartsev menggerakkan dirinya lalu terbangun.
"Cintaku, cintaku tersayang!" ia menyanyi kecil.
Ia membayar sais lalu berjalan ke lantai atas ke kamarnya tetapi ia tetap belum bisa mengibaskan mimpinya, dan ia melihat kobaran api menguasai desa itu, sementara terlihat hutan berasap dan bersuara hiruk-pikuk, dan seekor beruang buas dan besar, mengamuk karena ketakukan, berlari masuk desaÖ Dan gadis yang terikat pada pelana itu menontonnya.
Hari sudah terang berderang ketika ia memasuki kamarnya. Dua lilin sudah menyala hampir habis di atas meja di samping buku musik yang terbuka. Rassudina yang mengenakan gaun hitam, masih memegang keran, tertidur nyenyak di sofa. Jelas bahwa perempuan itu telah main musik lama sekali sambil menanti kedatangan Yartsev - lalu jatuh tertidur.
"Kasihan, dia tentu letih," pikirnya.
Dengan hati-hati ia mengambil koran dari tangan Rassudina, lalu menutupinya dengan selimut, dan akhirnya menghembus lilin-lilin itu dan pergi masuk kamarnya. Ia naik ke ranjang masih tetap memikirkan tentang sandiwara sejarahnya itu, dan "Cintaku, cintaku tersayang" terus saja berdering di telinganya.
Dua hari kemudian Laptev mampir selama dua menit untuk mengabarkan bahwa Lida terkena difteri dan bahwa Yulia dan bayinya tertular penyair itu; dan lima hari kemudian datang pula berita bahwa Lida dan Yulia sudah mulai sembuh tetapi bayinya meninggal, dan bahwa keluarga Laptev telah buru-buru kembali ke kota.
Bab XIV
LAPTEV kini tidak tahan tinggal lama di rumah. Isterinya sering menyembunyikan diri di sebelah sana rumah dengan alasan memberikan pelajaran kepada kedua gadis kecil itu, tetapi Laptev tahu bahwa ia pergi ke sana untuk menangis di kamar Kostya. Pada hari kesembilan, hari keduapuluh dan hari keempatpuluh setelah kematian bayi itu mereka harus pergi ke Pekuburan Alexeyevsky untuk melakukan upacara, dan setelah itu datanglah hari-hari duka cita yang panjang bagi Laptev; ia tidak mampu memikirkan apa pun kecuali bayi yang malang itu dan mengucapkan segala macam basa-basi untuk menghibur istrinya. Ia jarang sekali mengunjungi gudang sekarang dan tertarik kepada filantropi, mencari berbagai macam kegiatan bagi dirinya sendiri dan dengan rela menghabiskan waktu sehari berkendara kereta untuk menghadiri suatu peristiwa yang tidak penting. Kini ia merencanakan untuk pergi ke luar negeri guna mempelajari cara penyelenggaraan penginapan untuk orang-orang miskin, dan saat itu ia sangat terarik kepada gagasan itu.
Waktu itu suatu hari musim gugur. Yulia baru saja pergi ke sebelah sana rumah untuk menangis, dan Laptev sedang berbaring-baring di sofa di kamar studinya berpikir-pikir mau pergi ke mana, ketika Pyotr masuk mengatakan bahwa ada tamu Rassudina. Laptev meloncat gembira dan bergegas menemui tamu yang tak diharap-harapnya itu. Kini ia tidak pernah lagi memikirkan bekas "pacar"nya itu. Ternyata perempuan itu masih tetap saja seperti ketika mereka berpisah untuk terakhir kali malam itu.
"Polina," katanya nyaring sambil mengulurkan tangannya ke perempuan itu. "Berabad-abad lamanya kita tidak bertemu! Kau tidak bisa membayangkan betapa gembira aku bertemu denganmu! Ayo masuk!"
Rassudina bersalaman dengan kaku dan singkat, terus langsung masuk kamar studi tanpa melepaskan jaket atau pun topinya lalu duduk.

AKU tidak akan mengganggumu lebih dari lima menit," katanya. "Aku tidak punya waktu untuk ngobrol denganmu. Kuharap kau duduk dan mendengarkan apa yang akan kukatakan. Aku sama sekali tak peduli apa kau senang atau tidak bertemu denganku sebab aku sama sekali tidak lagi menghargai kebaikan para lelaki. Aku datang ke mari sebab aku telah berkeliling ke lima tempat dan semua mereka itu menolakku, padalah masalahnya sangat mendesak. Dengarkan," katanya selanjutnya sambil menatap Laptev tepat di matanya. "Lima orang mahasiswa kenalanku, yang barangkali tolol dan pemboros, tetapi yang jelas sangat miskin, telah tak mampu membayar uang sekolah dan sekarang ini akan dikeluarkan. Kekayaanmu mewajibkanmu untuk segera pergi ke Universitas dan membayar uang kuliah mereka itu."
"Aku akan senang sekali berbuat itu, Polina."
"Nah, ini nama-nama mereka," kata Rassudina sambil memberikan selembar kertas. "Pergilah sekarang juga, kenikmatan keluargamu bisa kaurasakan lagi nanti saja."
Pada saat itu terdengar suara gemerisik di belakang pintu yang menuju ke kamar tamu - barangkali ada anjing yang menggaruk-garuk dirinya sendiri. Rassudina menjadi mereah dan meloncat bangkit.
"Istrimu doyan ngintip-dengar," kata perempuan itu. "Menjijikkan sekali!"
Laptev merasa sakit hati karena hinaan terhadap Yulia itu.
"Dia tidak di sini," katanya. "Dia sedang di sebelah sana. Dan jangan bicara tentangnya seperti itu. Anak kami baru saja meninggal dan di sangat sedih."
"Kau boleh menghiburnya," kata Rassudina dengan pedas sambil duduk kembali, "dia akan punya anak selusin lagi. Jelas bahwa orang tidak membutuhkan otak untuk melahirkan anak."
Laptev teringat pernah mendengar hal serupa itu dahulu, jauh dahulu, dan sejenak ia dikuasai oleh kenang-kenangan masa lalu, hari-hari yang bebas waktu ia masih perjaka ketika ia measa bahwa ia masih muda dan tidak ada hal yang tidak bisa dilakukannya, ketika belum ada cinta buat isteri - belum ada kenang-kenangan kepada anaknya.
"Mari bersama pergi," kata Laptev sambil menjulurkan tubuhnya.
Rassudina menunggu di luar Universitas sementara Laptev pergi ke kantor pembayaran uang kuliah.
"Kau sekarang mau ke sana?" tanya Laptev sekembali dari kantor itu sambil memberikan lima buah kwitansi kepada Rassudina.
"Ke rumah Yartsev."
"Aku ikut."
"Ia sedang kerja. Kau hanya akan mengganggunya saja."
"Tidak, aku janji tidak akan mengganggunya," katanya sambil memandang perempuan itu dengan sikap meminta.
Rassudina mengenakan sebuah topi hitam dengan pinggiran krep seolah-olah dia sedang berdukacita, dan jaketnya sangat pendek dengan kantong-kantong yang lubangnya menganga. Hidungnya tampak lebih panjang dari biasanya dan wajahnya sama sekali putih meskipun udara dingin. Laptev merasa gembira berjalan pelahan di belakangnya, menurut apa yang dikatakannya dan mendengarkan keluhan-keluhannya. Ia terus berjalan sambil membayang-bayangkan kekuatan batin perempuan ini yang meskipun tampangnya jelek, begitu kaku dan selalu gelisah, meskipun pakaiannya seenaknya saja, meskipun rambutnya tak pernah diatur dan wajahnya kaku, ia tetap memiliki semacam daya tarik juga.
Mereka memasuki flat Yartsev lewat pintu belakang yang langsung ke dapur tempat mereka bertemu dengan koki, seorang perempuan kecil yang rapi yang rambutnya keriting keabu-abuan, dan tampak gugup.
"Lewat sini," katanya dengan senyum bergula yang menyebabkan wajahnya yang kecil itu tampak bagai kue.
Yartsev ternyata tak di rumah. Rassudina duduk di piano dan memulai serangkaian latihan musik yang panjang, menjemukan dan sulit, memerintahkan Laptev agar tidak mengganggunya. Laptev sama sekali tidak berusaha untuk mengajaknya bercakap tetapi hanya duduk di sudut sambil membalik-balik halaman European Herald. Setelah latihan selama dua jam - yang dikerjakannya setiap hari - Rassudina dengan cepat makan di dapur dan pergi memberikan kursus. Laptev duduk membaca lanjutan sebuah novel, kemudian duduk saja tidak membaca apa pun, malah senang sebab sekarang sudah terlambat untuk pulang makan sore.
Suara nyaring "Ho-ho-ho!" Yartsev terdengar di ruang utama dan masuklah lelaki yang sehat, bersemangat, berpipi merah dan mengenakan sebuah jas baru yang berkancing kilau-kemilau. "Ho! Ho! Ho!"
Kedua sahabat itu makan bersama. Setelah makan Laptev menjulurkan badannya di sofa sementara Yartsev duduk di sampingnya dan menyalakan rokok. Senjakala turun.
"Aku merasa sudah semakin tua." kata Laptev. "Sejak kakakku Nina meninggal aku sering memikirkan tentang maut."
Mereka pun bercakap-cakap tentang maut, tentang keabadian jiwa, tentang betapa baiknya seandainya orang bisa hidup kembali dan terbang ke planit Mars di mana orang bisa hidup menuruti kehendak jiwa.
"Tetapi aku tetap belum ingin mati," kata Yartsev pelahan. "Tak ada filsafat yang bisa mendamaikanku terhadap pikiran tentang maut. Aku menganggap maut sebagai akhir segalanya. Aku ingin hidup."
"Kau mencintai kehidupan?"
"Ya."
"Kalau aku, aku sama sekali tidak bisa memahami diriku sendiri. Aku senantiasa terbelah antara putus asa yang kelam dan ketidakacuhan. Aku takut-takut, aku tak punya keyakinan terhadap diri sendiri, kata batin dalam diriku selalu ragu-ragu, dan aku sama sekali tak mampu untuk menyesuaikan diriku kepada kehidupan dan menjadi penguasa nasibku sendiri. Orang lain bicara yang bukan-bukan atau saling menipu dan mendapat kesenangan karena perbuatannya itu, sementara aku hanya merasa gelisah atau acuh tak acuh bahkan ketika aku secara sadar mencoba berbuat baik. Kukira ini semua disebabkan karena aku adalah budak, cucu seorang petani miskin. Banyak di antara kami yang jelata ini akan lenyap sebelum kami sendiri mampu menyelamatkan diri kami sendiri!
"ITU semua bagus, sobat," kata Yartsev dan mengeluh. "Hal itu hanya menunjukkan padaku sekali lagi bahwa kehidupan di Rusia ini kaya, banyak ragamnya. Betapa kaya! Hari demi hari aku menjadi semakin yakin bahwa kita ini hidup menjelang suatu kemenangan besar dan aku ingin hidup dan mengambil bagian di dalamnya. Percaya atau tidak, yang sekarang ini tumbuh adalah generasi yang istimewa. Apabila aku mengajar anak-anak, terutama sekali yang gadis-gadis, aku merasa sangat senang. Sungguh mengagumkan anak-anak itu!"
Yartsev pergi ke pianonya dan memukul suatu nada tertentu.
"Aku seorang ahli kimia, aku berpikir dalam pemikiran ilmu kimia, dan aku akan mati sebagai ahli kimia," katanya meneruskan. "Tetapi aku merasa tidak pernah puas, dan aku khawatir nanti sudah mati sebelum merasa puas; ilmu kimia belum cukup bagiku, aku harus belajar sejarah Rusia, sejarah kesenian, pedagogi, musikÖ Beberapa waktu yang lalu isterimu memintaku untuk menulis sebuah sandiwara sejarah, dan aku kini percaya bahwa mampu duduk tiga hari tiga malam tanpa beristirahat. Kepalaku kejang karena penuh ide yang sudah siap dilahirkan, dan bisa kurasakan denyutnya, aku tidak merencanakan sesuatu yang luar biasa, aku tidak mengharapkan menciptakan suatu karya besar, aku sekedar ingin hidup, dan bermimpi, dan berharap, dan mengalami apa sajaÖ Hidup ini, sobat, sangatlah singkat, dan kita harus melibatkan diri padanya sebaik-baiknya."
Sejak pembicaraan akrab yang berlangsung sampai jauh malam itu Laptev mulai mengunjungi Yartsev hampir setiap hari. Ia terpikat oleh temannya itu. Laptev biasanya sampai di rumah temannya itu menjelang malam, dan berbaring di sofa dengan sabar menunggu sampai temannya itu datang. Setelah makan sore, Yartsev biasanya terus bekerja di kamarnya, tetapi sejenak kemudian Laptev suka mengajukan beberapa pertanyaan. Dan itu pertanda percakapan mulai, Yartsev akan lupa akan pekerjaannya dan baru tengah malam keuda bersahabat itu mengucapkan salam pisah, masing-masing merasa sangat senang.
Tetapi hal ini tidak berlangsung lama. Suatu kali, ketika datang ke rumah Yartsev, Laptev berjumpa dengan Rassudina yang duduk berlatih main piano.
"Coba tolong katakan padaku kapan kunjungan-kunjungan semacam ini akan berhenti?" kata perempuan itu tanpa mengulurkan tangannya dan menatapnya dengan pandangan yang hampir merupakan kebencian.
"Apa maksudmu?" tanya Laptev kebingungan.
Kau datang ke mari setiap hari dan mengganggu kerja Yartsev. Yartsev bukan saudagar, ia seorang ilmuwan dan setiap menit sangatlah berharga. Kau mestinya menyadari hal itu dan bersikap dengan lebih banyak pengertia."
"Kalau kau memang beranggapan bahwa aku mengganggu," kata Laptev malu-malu dan terkejut, "aku tak akan datang ke mari lagi."
"Bagus. Nah, kini silakan pergi, kalau tidak nanti dia akan bertemu denganmu di sini."
Nada ucapan itu serta pandangan acuh tidak acuh Rassudina sungguh membuat Laptev sama sekali kalut. Jelas tampak bahwa perempuan itu sama sekali tidak berperasaan terhadapnya, ia hanya menginginkan agar Laptev pergi. Betapa berubah! Laptev berjalan keluar tanpa bersalaman terlebih dahulu, berharap agar perempuan itu memanggilnya kembali, tetapi ternyata Rassudina segera memulai latihannya lagi dan sementara berjalan pelahan menuruni tangga Laptev berpikir bahwa dirinya ternyata sudah menjadi orang asing bagi perempuan itu.
Tiga hari kemudian Yartsev berkunjung ke rumah Laptev untuk ngobrol sepanjang malam.
"Ada kabar bagimu," katanya dengan tertawa. "Polina Nikolayevna kini tinggal bersamaku." Tampak bahwa Yartsev agak kebingungan waktu ia melanjutkan kata-katanya itu dalam nada yang agak rendah. "Ya, ya. Memang kami tidak saling mencintai, tetapi kupikir hal itu bukan halangan. Aku senang bahwa bisa memberinya tempat tinggal, dan bisa memungkinkannya tidak kerja kalau ia jatuh sakit. Ia percaya bahwa hidupku akan lebih teratur kalau ia tinggal bersamaku dan bahwa kalau menuturkan apa petunjuknya aku akan menjadi seorang ilmuwan ulung. Itu pendapatnya. Biar saja berpendapat demikian. 'Seorang tolol itu menjadi lebih kaya karena pikiran-pikirannya,' kata orang-orang di daerah selatan. Ho! Ho!"
Laptev tidak mengucapkan apa pun. Yartsev mulai mondar-mandir di kamar, lalu berhenti untuk menatap lukisan yang sudah pernah ia saksikan berulang kali sebelumnya.
"Ya," katanya dengan mengeluh. "Aku tiga tahun lebih tua darimu, dan sudah terlambat bagiku kini untuk memikirkan tentang cinta sejati. Nyatanya memang seorang perempuan seperti Polina Nikolayevna itu merupakan anugerah Tuhan bagiku dan tidak ada keraguan lagi bahwa aku akan hidup tenteram bersamanya sampai usia tua. Tetapi tetap saja aku tak bisa menyingkirkan perasaan bahwa ada yang kurang, aku masih merindukan sesuatu, dan aku tetap membayangkan diriku 'terbaring di lembah Daghestan dan memimpikan suatu pesta besar.' Dengan kata lain, manusia memang tak pernah puas dengan apa yang dimilikinya."
Kemudian ia ke kamar tamu dan menyanyikan beberapa lagu cinta seolah-olah tidak terjadi apa pun dan Laptev duduk di kamar studinya, matanya terpejam mencoba mengerti kenapa Rassudina tinggal bersama Yartsev. Ia menjadi sedih memikirkan bahwa sesungguhnya tidak ada yang namanya "hubungan erat dan kekal" itu, dan ia marah kepada Polina karena telah ikut Yartsev, dan marah kepada dirinya sendiri karena ia tidak lagi mencintai isterinya seperti dulu.
LAPTEV membaca di kursi goyangnya, asyik sekali bergoyang-goyang. Yulia juga membaca. Sejak pagi mereka tidak mengucapkan sepatah kata pun; rasanya tidak ada yang perlu dibicarakan. "Apa pula bedanya seorang kawin demi cinta atau bukan?" pikir Laptev sambil sekali-kali melirik ke arah isterinya. Betapa jauhnya jari-hari ketika ia dulu merasa cemburuan, hari-hari yang penuh kecemasan dan penderitaan! Sejak itu ia suka melawat ke luar negeri dan kini sedang melepaskan lelah dari perjalanannya; ia suka negeri Inggris dan merencanakan untuk kembali berkunjung ke sana musim semi nanti.
Kini Yulia Sergeyevna sudah terbiasa dengan duka citanya, dan ia tidak lagi suka menyendiri untuk menangis. Musim dingin ini ia tidak pergi ke toko mode dan juga tidak menghadiri konser dan gedung pertunjukan. Karena dia tidak menyukai kamar yang luas, ia lebih sering menghabiskan waktunya di kamar studi suaminya atau di kamarnya sendiri di mana tersimpan patung-patung suci yang dulu merupakan sebagian mas kawinnya serta lukisan yang ia senangi ketika ia menonton pameran lukisan beberapa waktu yang lalu itu. Ia hampir tidak pernah mengeluarkan uang untuk dirinya sendiri - pendeknya tidak lebih dari jumlah yang dulu ia keluarkan ketika ia masih tinggal bersama ayahnya.
Musim dingin ini sangat membosankan. Setiap orang di Moskow main kartu pada musim ini, dan kalau mereka itu mencoba untuk menghibur diri sendiri dengan menyanyi, membaca atau melukis hasilnya malahan lebih menjemukan. Karena di Moskow hanya sedikit sekali orang-orang berbakat dan karena para penyanyi dan tukang ceramah yang itu-itu juga yang berkeliling ke mana-mana, maka bahkan kesenian menjadi memuakkan dan bagi sementara orang merupakan tugas yang menjemukan dan meletihkan.
Lebih-lebih lagi, setiap harinya keluarga Laptev dirundung kemalangan yang timpa-menimpa. Penglihatan Pak Tua Fyodor Stepanych sudah sangat buruk. Ia tidak lagi datang ke gudang dan dokter memperkirakan bahwa ia akan segera buta. Juga Fyodor karena suatu hal tidak pernah lagi ke gudang dan menghabiskan waktunya di rumah saja, menulis. Panaurov, yang telah berhasil dalam usahanya untuk dipindahkan ke kota lain dan dinaikkan pangkatnya menjadi penasehat negara, kini tinggal di hotel "Dresden" dan hampir setiap hari mendatangi Laptev untuk meminjam uang. Kish akhirnya berhasil juga lulus dari Universitas dan, sementara menunggu Laptev mencarikan kerja baginya, suka bertamu ke keluarga Laptev dan mengisahkan cerita-cerita yang sangat sulit dipahami. Segalanya ini mengganggu dan meletihkan Laptev dan menjadikan hidupnya sangat tidak menyenangkan.
Pyotr masuk kamar studi untuk memberitahu majikannya bahwa ada seorang perempuan ingin menemui Laptev. Pyotr menyerahkan sebuah kartu nama kepada Laptev bertuliskan: "Josephina Iosifovna Milan."
Yulia Sergeyevna bangkit tanpa semangat lalu pergi ke luar, agak pincang karena semutan. Seorang perempuan yang mengenakan serba hitam muncul di pintu; kurus, alisnya hitam menonjol di wajahnya yang pucat.
"Tuan Laptev, selamatkan anak-anak saya yang masih kecil-kecil!" katanya sambil menekankan tangan ke dada.
Laptev sudah pernah mengenal gelang-gelang yang gemerincing dan pupur yang tebal itu; dialah perempuan yang bertempat tinggal di sebuah flat tempat Laptev pernah makan malam yang tidak sepantasnya pada malam sebelum perkawinannya - dialah istri kedua Panaurov.
"Selamatkan anak-anak saya yang masih kecil-kecil!" katanya mengulang dan wajahnya menggigil dan mendadak tampak tua serta memelas ketika matanya menjadi merah. "Hanya Tuan yang bisa menolong kami. Sisa uang saya yang terakhir telah saya gunakan untuk pergi ke Moskow ini. Anak-anakku akan meninggal karena kelaparan."
Perempuan itu seolah-olah akan rubuh di depan Laptev, dan karena khawatir Laptev memegang tangannya.
"Silakan duduk, silakan duduk," kata Laptev seperti bergumam, sambil membimbing perempuan itu ke sebuah kursi. "Saya mohon nyonya duduk."
"Kami tidak punya uang sepeser pun, bahkan untuk membeli roti saja tidak ada," kata perempuan itu. "Gregory Nikolayevich telah pergi untuk menduduki jabatannya yang baru, tetapi ia tidak mau membawa saya dan anak-anak, dan uang yang Tuan kirimkan kepada kami itu dihabiskannya untuk dirinya sendiri. Apa yang bisa kami lakukan? Oh, anak-anakku yang sengsara dan miskin!"
"Tenanglah, Nyonya. Saya akan menyuruh para kerani saya untuk mengatur pengiriman uang langsung ke alamat Nyonya."
Perempuan itu menangis keras-keras, tetapi akhirnya ia tenang juga dan Laptev sempat memperhatikan bahwa air matanya telah membekas di wajah yang berbedak tebal itu dan bahwa ternyata perempuan itu berkumis tipis.
"Kebaikan hati tuan tidak ada batasnya, Tuan Laptev. Tetapi sudilah kiranya tuan menjadi malaikat penjaga kami dan mendesak Gregory Nikolayevich agar tidak meninggalkan saya. Katakan padanya agar ia membawa saya serta. Saya mencintainya, saya mencintainya setengah mati, ia adalah satu-satunya pelipur lara saya."
Laptev memberikan uang seratus rubel kepada perempuan itu dan berjanji untuk berbicara kepada Panaurov. Ia mengantarkan perempuan itu sampai ke pintu, terus-menerus ditekan ketakutan kalau-kalau perempuan itu menangis lagi atau rubuh lagi di depannya.
Setelah perempuan itu pergi, datanglah Kish. Kemudian Kostya datang juga, membawa kameranya. Akhir-akhir ini Kostya tertarik pada fotografi dan ia mengambil potret setiap orang di rumah itu beberapa kali sehari. Hobi barunya itu menyebabkan berbagai kesulitan baginya dan ia bahkan semakin kurus saja karenanya.
Beberapa saat sebelum saat minum teh Fyodor datang. Ia duduk di sudut kamar studi, membuka sebuah buku dan menatapnya lama sekali, jelas bahwa ia tidak membaca apa pun. Ia tinggal lama sekali untuk minum the sampai wajahnya memerah. Kehadirannya menyebabkan batin Laptev tertekan; bahkan sikapnya yang diam itu terasa tidak menyenangkan.
"Kau boleh memberi selamat kepada Rusia atas lahirnya seorang jurnalis baru," kata Fyodor. "Ngomong-ngomong, Alexei, aku berhasil menulis sebuah artikel, boleh dibilang coba-coba dengan pena, dan artikel itu kini kubawa untuk kuperlihatkan kepadamu. Nah, kaubaca saja, lalu katakan apa pendapatmu tentang tulisan itu. Tetapi aku ingin mendengarkan pendapatmu yang terbuka."
Fyodor mengeluakan sebuah buku catatan dari kantongnya dan memberikannya kepada saudaranya. Artikel itu berjudul "Jiwa Rusia"; ditulis dengan bahasa yang menjemukan dan datar yang biasa digunakan oleh orang-orang tidak berbakat yang diam-diam telah mengalami kegagalan, dan isi pokoknya adalah bahwa kaum intelektual memiliki hak untuk tidak mempercayai kekuatan gaib, tetapi mereka itu harus menyembunyikan ketidakpercayaan itu agar orang lain tidak tersesat dan tidak goyah keyakinannya; tanpa keyakinan tidak ada yang ideal, dan idealisme telah ditakdirkan untuk menyelamatkan Eropa dan membimbing manusia sepanjang jalan yang benar.
"Tetapi kau tidak mengatakan Eropa itu diselamatkan dari apa," kata Laptev.
"Itu sudah jelas."
"Sama sekali tidak," kata Laptev dan dia pun berdiri lalu mondar-mandir di kamar. "Juga tidak jelas kenapa kau menulis artikel itu. Namun, itu urusanmu."
"Aku bermaksud menerbitkannya sebagai pamflet."
"Terserah padamulah."
Untuk beberapa saat tidak ada yang bicara.
"Maaf bahwa ternyata kau dan aku memiliki pandangan yang berbeda. Ah, Alexei, Alexei saudaraku! Kau dan aku sama-sama orang Rusia, orang-orang yang berjiwa besar dan patuh kepada Tuhan; apa pula makna gagasan-gagasan para Yahudi dan Jerman busuk itu bagi kita? Bagaimanapun juga, kau dan aku ini bukan bangsanya bajingan, kita ini anggota keluarga saudagar yang terhormat."
"Keluarga terhormat apa?" ucap Laptev sambil menguasai amarahnya. "Keluarga terhormat, bah! Kakek kita dulu dicambuki oleh para tuan tanah dan setiap pegawai kecil yang sengsara itu biasa meludahi wajahnya. Kakek kemudian mencambuki ayah, dan ayah mencambuki kau dan aku. Apa pula yang diberikan oleh keluarga kita yang terhormat itu kepada kita ini? Perangai apa, darah apa yang kita warisi ini? Selama tiga tahun ini kau telah berkeliling ke mana-mana obral omong seperti pendeta, berbicara tentang hal yang bukan-bukan, dan kini kau menulis artikel iniÖ sampah budak ini! Dan aku sendiri? LihatlahÖ Sifatku kaku, aku penakut, aku tak berwatak kuat; aku merasa takut setiap kali melangkahkan kaki seolah-olah ada yang akan memukulku, aku gemetar di hadapan para tolol, goblok, dan babi yang mental dan moralnya jauh berada di bawahku; aku takut kepada siapa pun sebab aku dilahirkan oleh seorang perempuan yang kena teror dan karena sejak masa kanakku aku dipukuli dan diperlakukan dengan keliru! Kau dan aku ini sebaiknya tak usah punya anak saja. Aku mohon Tuhan agar mengakhiri keluarga saudagar terhormat ini sampai dengan kita saja!"
Yulia Sergeyevna masuk kamar dan duduk di kursi.
"Kalian sedang berdebat?" katanya. "Kuharap aku tidak mengganggu."
"Sama sekali tidak, Dik," jawab Fyodor. "Kami sedang memperbincangkan masalah prinsip. Nah, kau mengacaukan keluarga," lanjutnya sambil menoleh kepada Laptev. "Keluarga ini telah mengembangkan usaha yang berharga berjuta-juta. Jelas hal itu ada harganya!"
"Sungguh luar biasa hasil itu - suatu usaha yang berharga berjuta-juta! Seorang lelaki yang tidak memiliki kepandaian atau bakat istimewa kebetulan menjadi pemilik toko, kemudian menjadi kaya dan menjual barang-barangnya dari hari ke hari tanpa satu sistem atau tujuan apa pun, bahkan tanpa berusaha untuk menumpuk kekayaan, ia sekadar berjualan terus tanpa berpikir, dan uang pun masuk meskipun ia tidak berusaha keras. Ia melewatkan seluruh hidupnya dalam kerja itu hanya karena hal itu memberi kesempatan kepadanya untuk bersikap sewenang-wenang terhadap pegawainya untuk mengelabui para langganannya. Ia pun seorang tetua gereja karena pangkat itu memberinya kesempatan untuk menguasai koor dan oleh karenanya para penyanyi koor menuruti segala kehendaknya; ia menjadi pelindung sekolah karena ia senang membayangkan bahwa para guru itu adalah bawahannya. Bukannya usaha dagang itu yang dicintai sang saudagar tetapi kekuasaan yang diperolehnya untuk mengatur orang lain, dan gudangmu itu bukanlah firma dagang tetapi sebuah kandang! Ya, apa yang kalian butuhkan bagi usaha dagang semacam itu adalah apra kerani yang bisu dan selalu diliputi rasa takut, dan orang-orang semacam itulah yang kalian latih dengan cara memaksa mereka sejak kecil membungkuk hanya untuk mendapatkan remah-remah roti, dan sejak kecil mereka kalian ajari untuk menganggap kalian para dermawan. Kau tidak mau mengangkat seorang sarjana pun untuk bekerja dalam tokomu itu, tidak mungkin kau mau!"
"Sarjana tidak sesuai untuk bekerja dalam usaha kami ini."
"Itu keliru!" teriak Laptev. "Itu dusta!"
"Maafkan aku, tetapi kupikir kau ini telah merusak sarangmu sendiri," kata Fyodor dan ia pun berdiri. "Kau tidak menyukai usaha kami ini namun kau makan untungnya."
"Ha, itu justru pokok masalahnya!" kata Laptev lalu ia pun tertawa hampa, matanya bersinar-sinar. "Ya, seandainya aku tidak menjadi anggota keluargamu yang terhormat itu, seandainya aku memiliki sepicis keberanian dan kemauan tentulah sudah sejak lama kukesampingkan uang bagianku itu dan mencari nafkah sendiri. Tetapi dalam gudang itu kalian telah merampas keberanian dan kemauanku! Dan aku pun menjadi milik kalian!"
Fyodor melihat sekilas ke arah arlojinya lalu bergegas minta diri. Ia mencium tangan Yulia lalu keluar, tetapi ternyata tidak menuju ruang utama melainkan ke ruang tamu lalu terus ke kamar tidur.
"Aku tersesat," katanya kebingungan. "Aneh benar rumah ini. Aneh, bukan, rumah ini?"
Ia tampak sakit ketika mengenakan jasnya dan wajahnya kelihatan menahan kepedihan. Kemarahan Laptev sudah lenyap; kini dia merasa khawatir dan sekaligus kasihan kepada saudaranya, dan kasih sayangnya yang murni dan hangat bagi saudaranya itu, sesuatu yang selama tiga tahun ini dianggapnya telah padam, kini menyala kembali dalam dirinya dan ia didesak oleh suatu keinginan keras untuk menyatakan kasih sayang itu.
"Kau harus datang untuk makan bersama kita besok, Fyodor," katanya sambil mengelus pundak saudaranya. "Kau mau datang, bukan?"
"Ya, ya. Tapi, beri aku segelas air."
Laptev berlari ke kamar makan, menyambar benda yang paling mudah dicapainya - sebuah gelas bir - mengisinya dengan air dan memberikannya kepada saudaranya. Fyodor dengan kehausan meminumnya, tetapi tiba-tiba ia menggigit pinggiran gelas itu, terdengar suara gerinyit, kemudian suara isak. Air tumpah di jas dan jas panjangnya. Laptev, yang belum pernah menyaksikan seorang lelaki menangis, berdiri ketakutan dan kebingungan sementara Yulia dan pelayan perempuan melepaskan jas panjang Fyodor dan menuntunnya kembali ke kamar tamu. Laptev mengikuti di belakang, merasa salah.
Yulia membaringkan Fyodor di sofa lalu berlutut di sampingnya.
"Tidak apa-apa," katanya menenangkan. "Serangan saraf saja Ö"
"Aku sangat sengsara," kata Fyodor. "Aku sangat sedihÖ tetapi selama ini aku berusaha menyembunyikannya!"
Ia melingkarkan tangannya di leher Yulia dan berbisik di telinganya, "Aku bermimpi tentang kakakku Nina setiap malam. Ia datang dan duduk di kursi di samping tempat tidurkuÖ"
Sejam kemudian ia kembali mengenakan jasnya di ruang utama; kini ia tersenyum, dan merasa malu kepada babu. Laptev mengantarkannya pulang.
"Kau harus datang untuk makan bersama kami besok," katanya ketika mereka berkereta ke rumah Fyodor di Pyanitskaya. Dan Paskah nanti kita bersama bepergian ke luar negeri. Kau membutuhkan perubahan suasana, kau sudah terlampau loyo."
"Ya, ya. Aku bersedia pergi, yaÖ Dan kita akan mengajak adik kita juga."
Ketika sampai di rumah Laptev menemui isterinya dalam keadaan bingung dan gugup - sakit Fyodor tadi telah mengguncangkan jiwanya. Ia tidak menangis tetapi tampak sangat pucat dan ia berguling-guling di ranjang, jari-jarinya yang dingin menggenggam selimut, bantal, dan tangan suaminya. Kedua belah matanya bundar ketakutan.
"Jangan tinggalkan aku, jangan pergi," katanya meminta. "Katakan, Alexei, kenapa aku berhenti berdoa? Apa yang terjadi dengan imanku? Ah, kenapa kau telah ngomong begitu panjang lebar tentang agama di depanku! Kau telah membuatku bingung, kau dan kawan-kawanmu itu. Dan aku tidak sembahyang lagi."
Laptev mengompres dahi isterinya dengan air dingin, menggosok-gosok tangannya dan mengambilkan minum teh; dan isterinya tetap berpegangan padanya dalam ketakutan amat sangat.
Ketika hari hampir pagi Yulia tertidur karena kelelahan dan Laptev yang di sampingnya tetap memegangi tangannya. Ia sama sekali tak tidur selama itu, dan sepanjang hari esoknya ia merasa letih lahir-batin dan ia pun berjalan mondar-mandir saja dalam rumah, pikirannya beku.
Bab XVI
Para dokter mengatakan bahwa Fyodor agak terganggu jiwanya. Laptev tidak mengetahui apa yang terjadi di Pyanitskaya, dan toko kelam itu tanpa si tua dan Fyodor baginya tampak seperti kuburan. Kalau isterinya mengatakan bahwa seharusnya Laptev menengok toko dan rumah di Pyanitskaya, ia tidak menjawab atau malah mulai mengomel tentang masa-kanaknya, mengatakan bahwa ia tidak bisa memaafkan ayahnya atas kesalahannya di masa lalu itu, dan bahwa Pyanitskaya dan toko keduanya dibencinya, dan seterusnya dan seterusnya.
Pada sautu Minggu pagi Yulia sendiri naik kereta ke Pyanitskaya. Ia menjumpai Fyodor Stefanych yang tua di kamar tamu yang dulu digunakan untuk melangsungkan upacara penyambutan kedatangannya itu. Lelaki tua itu mengenakan jaket kain yang dulu juga, tidak mengenakan dasi, dan duduk tidak bergerak di kursi sambil memejam-mejamkan matanya yang buta.
"Ini saya, menantu Bapak," kata Yulia sambil mendekatinya. "Saya datang untuk menengok Bapak."
Lelaki itu mulai bernafas berat. Terharu menyaksikan penderitaan dan kesunyian lelaki itu Yulia mencium tangannya dan Fyodor tua meraba wajah dan kepala Yulia, seolah meyakinkan dirinya bahwa yang di hadapannya itu adalah menantunya, dan membuat tanda salib di atas kepalanya.
"Terima kasih, terima kasih," katanya. "Kau tahu aku kini hampir buta, hampir tidak bisa melihat apa punÖ aku masih bisa samar-samar melihat jendela dan perapian, tetapi orang dan benda lain sama sekali tidak tampak. Ya, aku akan jadi buta. Fyodor sakit, dan tidak adsa seorang pun yang bisa mengawasi apa-apa. Siapa yang akan menegur yang salah kalau ada yang tak beres? Para pekerja akan menjadi tak terkendalikan. Apa yang terjadi atas Fyodor? Apa ia demam? Aku sendiri tidak pernah sakit selama hidupku dan tidak pernah minum obat. Sama sekali tidak pernah berurusan dengan dokter."
Seperti biasanya, orang tua itu mulai ngomong macam-macam. Sementara itu pelayan tergesa-gesa menyiapkan meja beserta makanan dan minuman. Tersedia sepuluh botol, salah satu di antaranya mirip menara Eiffel. Sebuah piring besar kue yang masih panas berbau nasi dan ikan ditaruh di meja.
"Kau harus makan bersama aku, menantuku," kata si tua itu.
Yulia memegang lengannya dan menggandengnya ke meja makan lalu menuangkan vodka untuknya.
"Saya akan datang ke mari lagi besok," katanya, "dan mengajak cucu-cucu Bapak Sasha dan Lida. Mereka pasti senang melihat kakek mereka."
"Jangan. Jangan bawa mereka ke mari. Mereka anak jadah."
"Kenapa Bapak berkata begitu? Ayah dan ibu mereka kawin sah."
"Ya, tetapi tanpa izinku. Aku tidak memberikan berkah kepada mereka dan aku sama sekali tidak mau berurusan dengan mereka itu. Tuhan semoga bersama mereka."
"Aneh sekali ucapan bapak itu," kata Yulia setengah mengeluh.
"Injil mengatakan bahwa anak-anak harus menghormati orang tua mereka."
"Tidak begitu. Injil mengatakan bahwa kita harus memaafkan musuh-musuh kita."
"Tak ada yang namanya maaf dalam bidang usaha seperti punya kami ini. Kalau kau mulai suka memaafkan siapa pun, kau akan bangkrut dalam waktu tiga tahun saja."
"Tetapi memaafkan, mengucapkan kata-kata lembut bahkan kepada seseorang yang pernah berbuat jahat kepada kita adalah jauh lebih penting dari pada usaha dagang atau kekayaan!"
Yulia berharap dapat melembutkan hati orang tua itu, dapat membangkitkan rasa kasihan dan penyesalan dalam diri si tua itu, tetapi ia mendengarkan segala kata-kata Yulia itu seperti seorang dewasa yang mendengarkan omongan anak-anak.
"Fyodor Stepanych," kata Yulia tegas. "Bapak ini sudah tua dan Tuhan segera akan mengambil Bapak kembali; Ia tidak akan menanyakan perihal cara memimpin perusahaan atau tentang apakah usaha bapak maju atau tidak, Ia akan bertanya tentang apakah bapak baik hati terhadap orang lain: tentang apakah Bapak tidak suka bersikap kasar terhadap mereka yang lebih lemah, kepada para pelayan, misalnya, atau kepada para kerani penjualan."
"Aku senantiasa menjadi dermawan bagi para pekerjaku, dan mereka wajib selamanya berterima kasih karena mempunyai majikan seperti aku ini," kata si tua dengan yakin. Tetapi ia ternyata tersentuh juga oleh kesungguhan ucapan Yulia, dan untuk menyenangkan menantunya itu ia menambahkan, "Baiklah, kau boleh mengajak gadis-gadis itu ke mari besok. Aku akan perintahkan pembantu untuk menyediakan hadiah-hadiah bagi mereka."
Orang tua itu berpakaian tidak teratur dan tampak abu rokok melekat di dada dan lututnya; jelas bahwa tidak ada seorang pun yang berkehendak membersihkan sepatu atau menyikat pakaiannya. Nasi yang di dalam kue itu tidak dimasak dengan semestinya, taplak meja masih berbau sabun, dan si pelayan mondar-mandir saja. Orang tua itu serta seluruh Pyanitskaya tampak ditelantarkan dan Yulia merasa malu akan dirinya sendiri dan suaminya.
"Saya pasti datang ke mari besok, pasti," kata Yulia.
Ia pun pergi memeriksa kamar-kamar dan memerintahkan agar tempat tidur si tua itu dibereskan dan lampu patung sucinya dinyalakan. Fyodor tampak sedang duduk di kamarnya menatap buku terbuka dengan pandangan kosong. Yulia berbicara kepadanya dan memerintahkan para pelayan untuk membersihkan kamarnya. Kemudian ia turun ke tempat para kerani. Kamar tempat para kerani itu makan berlangit-langit rendah yang disangga oleh sebuah tiang kayu tak bercat; dinding-dindingnya dilapisi oleh kertas dinding murahan, dan dalam kamar itu tercium bau dapur yang menyesakkan. Hari itu Minggu dan semua kerani berada di rumah duduk-duduk di tempat tidur mereka sambil menunggu waktu makan sore. Ketika Yulia masuk mereka berloncatan berdiri dan menjawab pertanyaan-pertanyaan perempuan itu dengan malu-malu, bagaikan para tahanan menatapnya dengan loyo.
"Ya Allah, betapa joroknya tempat ini!" kata Yulia Sergeyevna sambil mengangkat tangannya. "Apa kalian tidak merasa berdesak-desak di sini?"
"Tak ada keluhan, Nyonya," kata Makeichev. "Kami sangat berterima kasih kepadamu dan berdoa agar Tuhan maha pemurah melimpahkan berkah padamu."
"Hubungan antara hidup dan ambisi pribadi," Pochatkin nyeletuk dengan kata-kata mutiaranya.
"Kami semua orang-orang sederhana dan kami hidup sesuai dengan kedudukan kami," kata Makeichev tergesa menjelaskan.
Yulia kemudian memeriksa kamar-kamar para magang dan dapur, bercakap-cakap dengan pengatur rumah tangga lalu meninggalkan rumah itu dengan perasaan sedih terhadap segala sesuatu yang telah dilihatnya.
"Kita harus segera pindah ke Pyanitskaya," katanya kepada suaminya setelah sampai di rumah, "dan kau harus pergi ke toko setiap hari."
Suami isteri itu duduk berdampingan di kamar studi beberapa waktu lamanya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Hati Laptev terasa berat; ia tidak ingin pergi ke Pyanitskaya maupun ke toko, tetapi ia menerka-nerka apa yang terkandung dalam pikiran isterinya dan Laptev tidak memiliki kekuatan untuk berkata tidak terhadapnya.
"Aku merasa seolah-olah hidup kita ini sudah lampau dan kini mulailah keadaan setengah hidup setengah mati bagi kita," katanya sambil mengelus pipi isterinya. "Ketika aku mengetahui bahwa Fyodor sakit berat, aku menangis. Kami melewatkan masa kanak dan masa remaja bersama-sama, aku dulu pernah menyayanginya, dan kini ia ditimpa malapetaka itu. Aku merasa bahwa aku sedang memutuskan hubungan dengan masa laluku untuk selama-lamanya. Dan kini setelah kau mengatakan agar segera pindah ke Pyanitskaya, ke penjara itu, aku mulai merasa bahwa masa depan itu pun bukan lagi milikku."
Ia bangkit dan pergi ke jendela.
"Bagus, tetapi perkenankan aku tidak menganggap diriku seorang dermawanmu," kata Laptev.
"Setiap orang harus ingat siapa dirinya dan tahu tempatnya. Dan kau, dengan berkah Tuhan, adalah bapa kami dan dermawan kami dan kami semua ini para budak."
"Huh, aku muak dan bosan terhadap semua ini!" teriak Laptev marah. "Barangkali kau bersedia menjadi dermawanku dan memberi tahu aku tentang keadaan perusahaan kita. Kalau kau tetap saja memperlakukanku sebagai kanak-kanan, akan kututp saja perusahaan itu besok. Ayahku buta, saudaraku di rumah sakit jiwa, dan para kemenakanku belum cukup umur; aku sama sekali benci kepada perusahaan ini, dan aku senang sekali kalau bisa membebaskan diri dari beban ini, tetapi kau tahu sendiri tidak ada yang bisa menggantikanku. Jadi ubahlah kebijakan kalian ini, demi kebaikan."
Mereka pun pergi ke toko dan mulai menghitung keuangan. Malam harinya mereka melanjutkan penghitungan itu di rumah, dengan mendapat bantuan dari si tua. Dari nadanya membimbing anaknya memasuki rahasia perusahaan itu timbul kesan bahwa yang dipimpinnya bukannya perdagangan tetapi ilmu sihir. Ternyata bahwa pendapatan tahunan telah meningkat hampir sepersepuluh dan bahwa kekayaan keluarga Laptev dalam bentuk tunai dan simpanan saja telah mencapai enam juta rubel.
Telah lewat tengah malam ketika Laptev keluar untuk menghirup hawa segar; ia masih saja dibayang-bayangi oleh angka-angka itu. Malam itu terang bulan yang sepi dan agak pengap; tembok-tembok putih rumah-rumah Moskow, gerbang-gerbang yang berpalang rapat, kesunyian dan bayang-bayang kelam semuanya memberikan kesan seperti sebua bentang; hanya saja tidak tampak serdadu yang bersenjata. Laptev menuju ke taman kecil dan duduk di sebuah bangkut dekat pagar yang memisahkan pekarangan rumahnya dengan pekarangan tetangga. Bunga ceri sedang berkembang, Laptev ingat pohon ini sejak masa kanaknya, tampaknya masih tetap saja seperti dulu, berbonggol dan tidak bertambah tinggi seinci pun. Setiap sudut taman dan pekarangan itu membangkitkan kembali kenangan masa lalunya yang jauh. Waktu itu, seperti malam ini, ia ingat cahaya bulan menyusup di sela-sela pepohonan, kemudian bayang-bayang kelam dan penuh rahasia dan seekor anjing hitam tiduran di tengah pekarangan dan jendela-jendela kamar para kerani terbuka lebar. Dan semua itu bukanlah kenang-kenangan yang menyenangkan.
Ia mendengar langkah-langkah ringan di pekarangan sebelah.
"Kasihku, sayangku," terdengar suara lelaki berbisik di balik pagar, begitu dekat dengan tempat duduk Laptev sehingga ia bisa mendengar engahan nafas mereka. Mereka terdengar berciuman.
Laptev yakin bahwa uang jutaan dan perusahaan yang ia benci setengah mati itu akan menghancurkan hidupnya dan memperbudaknya; ia melihat dirinya sendiri semakin terbiasa pada keadaannya, tahap demi tahap menganggap dirinya memerankan pemimpin perusahaan, semakin bertambah tua dan renta dan akhirnya mati seperti halnya orang-orang tidak berguna yang lain - dengan sengsara, menyedihkan dan menjadi beban orang-orang di sekelilingnya. Tetapi apa yang telah menahannya sehingga ia tidak meninggalkan perusahaannya dan pergiu dari taman dan pekarangan yang ia benci sejak masa kanak ini?
Bisik-bisik dan suara ciuman di baling pagar itu merangsangnya. Ia berjalan ke tengah pekarangan, melepaskan kancing leher bajunya dan berdiri menatap bulan. Dalam sedetik ia bisa saja menyuruh orang membukakan gerbang lalu pergi meninggalkan pekarangan itu untuk tidak kembali lagi; harinya melonjak ketika ia berpikir tentang kebebasan, ia tertawa keras-keras ketika membayangkan betapa gemilang, romantis dan mungkin suci hidup ini sesungguhnya Ö
Tetapi ia tidak bergerak dari tempatnya berdiri. "Apa yang telah menahanku di sini?" ia bertanya kepada dirinya sendiri. Dan ia pun mengejek dirinya sendiri dan anjing yang terbaring di batu saja dan tidak melarikan diri ke padang-padang dan hutan-hutan di mana ia mungkin bisa menghirup kebahagiaan dan kebebasan. Jelas bahwa ia dan anjing itu tidak bisa meninggalkan tempat itu karena alasan yang serupa: ikatan dan perbudakan telah menjadi kebiasaan.
Pada siang hari berikutnya ia pergi ke Butovo di mana keluarganya tinggal selama musim panas; diajaknya Yartsev untuk teman. Laptev telah lima hari tidak bertemu denga isterinya. Mereka naik kereta dari stasiun dan Yartsev sepanjang jalan menyanyi dan memuji-muji cuaca yang indah. Rumah itu terletak di tengah sebuah taman luas, dan mereka bertemu dengan Yulia yang sedang berada di bawah pohon poplar tua yang rindang di ujung jalan masuk dekat pagar. Yulia mengenakan sebuah gaun musin panas yang indah berwarna keputih-putihan dan berpinggirkan pita; ia memegang payungnya yang dulu juga. Yartsev mengucapkan salam lalu terus berjalan ke arah rumah di mana terdengar suara-suara Sasha dan Lida, sedangkan Laptev duduk untuk berbicara dengan isterinya.
"Kenapa kau pergi lama sekali?" tanya isterinya, masih tetap memegang tangan Laptev. "Aku berhari-hari ini duduk di sini menunggumu. Aku merasa sangat sepi tanpa kau!"
Yulia bangkit dan mengelus rambut suaminya, menatap wajahnya, pundaknya, topinya.
"Kau tahu," kata isterinya, "aku mencintaimu," dan wajah perempuan itu pun memerah. "Kau sangat baik padaku. Dan kini kau telah datang, aku bisa bersamamu dan aku merasa bahagia. Nah, kita ngobrol sekarang. Ceritakan sesuatu padaku."
Ketika Laptev mendengar isterinya menyatakan cinta, lelaki itu merasa bahwa mereka telah kawin selama sepuluh tahun, dan ia pun ingin makan. Yulia merangkul leher suaminya dan pita pakaiannnya mengelitik pipi suaminya; Laptev perlahan-lahan melepaskan dirinya, bangkit, dan menuju ke rumah. Gadis-gadis kecil itu berlarian keluar menyambutnya.
Mereka telah tambah besar!" pikir Laptev. "Dan betapa besar perubahan-perubahan yang telah terjadi selama tiga tahun ini. Dan ingat bahwa mungkin masih harus hidup untuk tiga belas, atau mungkin tiga puluh, tahun lagi. Dan siapa bisa mengatakan apa yang akan terjadi nanti. Ya, kita hanya bisa menunggu dan menjadi saksi."

Ia mendekap Sasha dan Lida yang bergantung di lehernya.
"Kakek mengirimkan salam sayangnya," kata Laptev. "Paman Fyodor sakit keras. Aku menerima surat dari Paman Kostya yang di Amerika, ia mengirimkan salam. Ia menulis bahwa ia jemu akan pameran-pameran dan akan segera pulang. Dan sekarang paman Alexei lapar."

Setelah itu ia duduk di teras dan memandang isterinya yang berjalan pelahan menuju rumah. Yulia tampaknya sedang memikirkan sesuatu, wajahnya kelihatan sedih dan manis, dan kedua matanya berkaca-kaca. Ia bukan lagi seorang gadis yang semampai, lembut dan berwajah pucat, tetapi seorang perempuan yang cantik, kuat, dan dewasa. Dan Laptev memperhatikan pantulan kecantikan isterinya itu pada wajah Yartsev yang gembira dan riang ketika ia menyambut perempuan itu - seolah-olah ia baru sekali ini bertemu dengan Yulia. Dan ketika mereka makan siang di teras, di bibir Yartsev tampak senyum malu-malu dan senang ketika ia duduk menatap Yulia, garis-garis lehernya yang indah. Seperti ada yang mendorong Laptev untuk memandang sahabatnya itu sambil berpikir tentang tiga belas atau mungkin tiga puluh tahun yang mungkin masih terhampar di hadapan. Begitu banyak hal bisa terjadi pada waktu itu nanti. Siapa mengetahui apa yang dalam kandungan masa depan?
"Kita akan menunggu dan menjadi saksi," pikirnya.

TAMAT

0 Response to "Jalan Masih Gelap"

Post a Comment