Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Dia Dalam Mimpi-Mimpi Rani

Penulis: Asma Nadia

Ia bermimpi laki-laki itu lagi. Seperti yang sudah-sudah,
mereka berhadapan, dan Rani bisa melihat garis wajahnya
dengan jelas. sangat jelas. Seperti dalam mimpi-mimpi
sebelumnya, sosok dengan rahang keras itu terlihat sedih dan
berduka.
Mereka cuma bersitatap, tanpa kata-kata. Tapi itu lebih dari
cukup, untuk membuat Rani bangun keesokan harinya,
dengan perasaan bersalah yang pekat.
Ia tak pernah memimpikan lelaki manapun sebelumnya. Baik
dalam masa-masa kuliah hingga menikah. Hidup perempuan
beranak satu itu mengalir mulus. Lulus kuliah, menikah, dan
tanpa menunggu terlalu lama, memperoleh momongan.
Namun empat tahun terakhir ini, Rani dikejar mimpi-mimpi
yang aneh. Mimpi yang sama dan berulang, pada sosok yang
itu juga, dengan ekspresi yang tak pernah berubah. Lelaki
dengan wajah murung, menatapnya tanpa bicara.
Laki-laki itu, ia mengenalnya. Dulu sekali.
Ia mengenal sosok Cepy, ketika mereka masih anak-anak.
Rani masih kelas empat sekolah dasar, sementara Cepy dua
tahun lebih tua. Keduanya bertemu pertama kali dalam acara
Jambore Nasional Pramuka.
Ketika itu seluruh peserta Jambore sedang sibuk memburu
sebanyak-banyaknya data dan tanda tangan dari sesama
peserta, ketika sebuah celetuk keras ditujukan padanya,
“Rani… Rani…”
Lalu gelak tawa lima anak lelaki berseragam penggalang
terdengar. Rani menoleh, tapi cepat melengoskan wajah. Ia
tak yakin mengenal gerombolan yang barusan menyebut
namanya. Lagipula mungkin saja kan panggilan itu diarahkan
ke Rani-Rani yang lain? Lebih dari seribu pramuka berkumpul
di sini. Lumrah.
Rani tak mau terpengaruh. Panggilan itu kemungkinan besar
memang bukan untuknya, jadi gadis berambut panjang yang
dikepang dua itu masih menunggu dengan sabar kertas di
tangannya ditandatangani beberapa anak dalam balutan
seragam coklat, sambil tangannya bergerak cepat
menandatangani kertas-kertas yang disodorkan kepadanya,
“Rani!” Suara itu kini terdengar lebih dekat. Mau tak mau
gadis berkulit hitam manis itu menoleh. Seorang anak lelaki
bertubuh kurus, dengan rambut lurus dibelah pinggir
tersenyum menatapnya. Matanya bersinar menyenangkan.
Mengingatkan Rani pada kerlip bintang-bintang di langit.
Cerah.
Tahu-tahu Rani sudah membalas senyum anak lelaki yang
berdiri di sampingnya, bahkan tanpa bertanya lagi meraih
pulpen pilot yang disodorkan, lalu menuliskan nama, tanggal
lahir, alamat dan terakhir tandatangan di atas kertas kerja si
mata bintang. Anak lelaki itu tersenyum. Hidungnya mancung,
kulitnya kuning langsat.
“Ganteng!” bisik Susan, teman satu kelompok. Sementara
sorak sorai di belakang, menyambut si mata bintang. Lalu
celutukan keras yang membuat Rani mengernyitkan dahi.
“Gila, si Ceppy dapat lima dari Rani!”
Lima? Lima tandatangannya? Kok bisa?
“Dari tadi kan kita udah ketemu sama dia, Ran berkali-kali.
Kamu aja nggak sadar!” Penjelasan Susan melahirkan rona
merah jambu di pipi Rani, yang untungnya sedikit tersembunyi
karena suasana langit yang menggelap.
Pertemuan hari itu terulang berkali-kali selama Jambore.
Setiap mereka berpapasan, ketika mengambil air, mengikuti
halang rintang, bahkan menjelang upacara Bendera.
Dari jauh Rani memperhatikan anak lelaki kurus jangkung itu
terampil melakukan tugas-tugas yang diberikan kakak
pramuka. Tali temali, tandu, smaphore, bermain dengan
morse, pun ketika mengibarkan bendera. Cekatan!
“Dia ketua regu, Ran!” Lapor Susan sebelum acara Jambore
Nasional ditutup.
Ketika meninggalkan bumi perkemahan Cibubur, Rani
melepaskan pandang terakhir kali ke belakang, berharap bisa
melihat bayangan si mata bintang sebelum truk mereka
bergerak. Sia-sia. Saat itu Rani mengira tak akan bertemu lagi
dengan Cepy dan gerombolan yang dipimpinnya.
Sebetulnya perasaan Rani biasa saja. Hanya kakaknya, lalu
Susan, Ninuk dan Erna, teman satu regu yang lain senang
sekali meledeknya.
“Patah hati ya?”
Ia masih kecil. Mana boleh patah hati!
“Tapi Cepy memang ganteng,” komentar kakaknya yang
duduk di kelas enam, dan satu regu waktu jambore.
Rani menggelengkan kepala. Pipinya kembali bersemu. Dia
masih kecil!
Tapi sepekan setelah acara kemping, Rani mendapatkan
kejutan. Salah satu teman Cepy datang ke rumah
menyodorkan sesuatu, yang dibungkus kertas kado,
“Selamat Ulang Tahun!”
Rani terlengak. Bagaimana dia tahu?
Anak lelaki itu lalu memperkenalkan namanya, ternyata pula
dia tak datang sendiri. Ada Budi, Leo, dan Ardhi. Keempatnya
bersepeda. Cepy turun paling akhir dari sadel sepedanya.
Di rumah Rani tak ada apa-apa. Ulang tahunnya jarang
dirayakan. Maklum keluarga Rani memang sangat sederhana.
Empat belas tahun Papa merantau ke Jakarta , dan mereka
baru sanggup mengontrak rumah mungil. Sesorean itu mereka
ngobrol dan saling ledek. Teman-teman Cepy berebut bicara,
sementara ketua regu itu hanya sesekali menimpali. Ketika
mereka pulang, Rani punya pengetahuan baru tentang
gerombolan yang dulu dikiranya tak punya nama. Kelima anak
cowok itu punya kelompok kecil yang disebut Pandawa Lima,
dan memberi gelar satu-satu kepada anggotanya. Mereka
menyebut Cepy, Yudistira.
Sebetulnya Rani kecil ingin protes. Di mata bocah perempuan
pintar itu, harusnya nama Pandawa cukup. Tak perlu pakai
embel-embel angka di belakangnya. Tapi protes itu tak pernah
ia ucapkan.
Dentang jam berbunyi tiga kali. Rani terjaga dari tidurnya.
Mata beningnya menyapu sosok suaminya yang meringkuk
pulas, dengan mata terkatup rapat. Tengah malam. Rani
melenguh, mereguk segelas air putih di atas meja di sisi
tempat tidur. Barusan, ia pastilah bermimpi lagi. Laki-laki itu
menatapnya lama, dengan mata perih yang sukar dilukiskan.
Mengingatkan Rani pada luka di mata Anindya anaknya, jika
keinginannya tak dikabulkan. Tapi kenapa? Sejam lebih
perempuan dengan kulit sawo matang itu mengingat-ingat.
Percuma. Otaknya tak juga mengerti.
Setelah serbuan di hari ulang tahunnya, yang terbentang bagi
Rani adalah hari-hari persahabatan yang indah. Rani
menyebutnya begitu, meski kakaknya meledek, begitupun
teman-teman pramuka yang lain.
Tapi memang begitu adanya. Hubungan Rani dan si mata
bintang terjalin baik. Cepy sering datang ke rumah, meski
nyaris tak pernah sendiri. Selalu disertai anggota Pandawa
Lima yang lain. Kadang kala mereka naik sepeda keliling
Kemayoran, melewati Sumur Batu dan Kali Sunter. Beberapa
kali dia dibonceng Cepy di atas jalu, logam tempat kakinya
menjejak ketika berdiri, dan berpegangan pada bahu kurus
Cepy.
Selama itu Cepy selalu bersikap baik, teramat baik malah.
Apa saja permintaan Rani tak pernah ditolaknya. Ketika
mereka berkumpul di halaman rumah, dan teman-temannya
membawa gitar, Cepy yang kini sudah duduk di kelas dua SMP
akan memainkan lagu apa saja yang diminta Rani.
Saat Rani menginjak bangku SMP, dan memerlukan ini itu,
dengan senang hati Cepy akan membawakannya ke rumah
Rani yang berjarak setengah jam dari rumahnya.
Ketika Rani yang sering merasa bosan butuh teman main
catur, Cepy akan datang dan mereka bermain catur bersama.
Dengan baik hati pula cowok itu selalu berpura-pura kalah,
hanya supaya Rani merasa senang. Dan Rani yang mulai
tumbuh remaja, tertawa setiap kali berhasil mengurung Raja.
Skak mat!
Tak peduli kakaknya menggerutu. “Cep, jangan ngalah terus
sama Rani dong!”
Cepy hanya tersenyum sopan seperti biasa.
Ketika Rani sedih, karena kejadian di sekolah. Atau bad
mood, atau butuh ditemani, maka gadis itu hanya memerlukan
uang logam seratus rupiah di telepon umum, untuk membuat
Cepy datang, lengkap dengan gitarnya supaya Rani terhibur.
Cowok bermata bintang itu memang jago memetik gitar.
Suaranya pun boleh. Boleh didengarkan boleh tidak, hehehe.
Dan Rani yang suka nyanyi, dengan cepat akan melupakan
kesedihannya. Ikut menyumbangkan suara tanpa diminta.
Begitulah, entah berapa banyak malam-malam yang
meresahkan bagi rumah-rumah lain di sekitar Rani, karena
nyanyian sekelompok anak muda. Cepy lagi-lagi, nyaris tak
pernah datang sendiri. Selalu saja ditemani Arjuna, Nakula
atau Sadewa, atau Bima.
Semakin hari Rani kian mengagumi sosok si mata bintang.
Cepy yang sederhana meskipun lahir sebagai anak orang
kaya, Cepy yang terlalu sopan, Cepy yang tak pernah
mengantarnya pulang dari acara ulang tahun temannya lewat
dari jam sembilan, Cepy yang ganteng, yang baik dan selalu
siap menolong.
Ketika Rani dihimpit tugas-tugas sekolah, bingung mencari
keperluan prakarya, harus ke sana ke mari dan tak ada yang
menemani? Gadis itu tak perlu waktu lama untuk bingung.
Uang logam seratus rupiah, dan Cepy akan berdiri di depan
rumah. Siap membantunya. Mencarikan apapun untuk Rani.
“Itu namanya manfaatin temen!” Kakaknya mengomel.
“Jangan kebanyakan ngerepotin orang kenapa sih, dek?”
Tapi Cepy nggak keberatan, kok.
“Orang kan punya acara lain, kebutuhan lain, memangnya
merhatiin kamu terus!”
Ia nggak pernah maksa Cepy
“Kamu memang nggak pernah maksa, tapi tau sendiri kan
tampangmu melas gitu, dek! Belum kalau lagi sedih, mewek.
Ihh, siapa yang tega?”
Rani tersenyum, rambutnya yang panjang bergoyang ke kiri
dan kanan ketika gadis remaja itu bangkit dan bersiap pergi.
“Kemana?”
“Valentinan di rumah Dian.”
“Tumben sendiri?”
“Habis ngajak siapa?”
“Pasti punya ongkos. Buktinya tukang ojeknya nggak diajak!”
Ihh, jahat banget!
Rani mencibir ke arah kakaknya yang berdiri di pintu
melepas kepergian adiknya yang super manja.
Malam itu Rani memang ketua pelaksana malam Valentine’s
di rumah Dian, teman satu SMP-nya. Lampu warna-warni.
Musik ngebeat terdengar. Beberapa teman sekelas mengobrol
di sudut-sudut ruang, atau turun berjoget. Sebagian besar
bersama pasangannya. Tak banyak yang sendiri seperti Rani.
Acara malam itu berlangsung sukses. Semua mengacungkan
dua jempol, bahkan empat buat Rani. Ketika semua tamutamu
pulang, selesai Rani membantu tuan rumah memberesi
piring dan gelas-gelas yang kotor, baru gadis itu tepekur. Di
kantong celana jinsnya hanya ada uang dua ratus perak. Ia
pasti lupa menghitung ketika dengan ringannya tadi membeli
kacang garing, permen dan cemilan lain.
“Kenapa, Ran?” Dian menatapnya bingung.
Rani yang tak ingin merusak kebahagiaan Dian, hanya
menyunggingkan senyum tipis sebelum berpamitan. Di sudut
jalan yang lampunya suram, dekat telepon umum yang tak
terawat. Rani memasukkan uang logam sambil memandang ke
sekeliling cemas. Satu suara lembut dan sopan terdengar di
ujung telepon. Melahirkan perasaan aman seketika. Suara
Rani terdengar mengibakan ketika gadis itu berkata setengah
memohon,
“Cep, jemput gue, ya?”
Membuat Cepy seperti yang sudah-sudah, tak sanggup
berkata tidak.
*****
“Ran, kok melamun?”
Rani memaksakan senyumnya, menghapus pandangan
menyelidik Mas Ari. Barusan pasti pemandangan langka bagi
lelaki itu melihat istrinya yang biasanya tak berhenti
berceloteh, dan aktif melakukan ini itu, tiba-tiba termangu
lama. Ahh, perempuan itu membatin, apa komentar suaminya
jika tahu istrinya terus menerus memimpikan lelaki lain? “Ada
masalah di kantor?”
Rani menggeleng. Profesinya sebagai editor dan penulis buku
anak-anak cukup menyenangkan. Masalahnya justru muncul di
rumah ini, di atas tempat tidur, pada detik Rani memejamkan
mata.
“Aku pergi dulu, Ran. Sori kita nggak jadi jalan-jalan. Sun
untuk Anindya, dia masih tidur siang, kan?”
Rani mengangguk. Lalu bangkit dan mengiringi langkah Mas
Ari hingga ke pintu. Memberi suaminya sun jauh sebelum
menutup pintu, dan menguncinya.
Sekitarnya sunyi. Rani memang tak terlalu senang
keramaian. Otaknya lebih cepat keruh dalam hingar bingar. Di
rumah, dalam waktu-waktu senggang, jemarinya bisa bekerja
lebih cepat. Lima belas buku cerita anak sudah lahir dari
rumah itu.
Bukan banyaknya jumlah yang membuat Rani bangga. Dia
berbesar hati karena buku-buku yang ditulisnya ternyata
disukai Anindya. Sejak tahu ibunya adalah pengarang buku
cerita anak, Anindya tidak henti-hentinya membicarakan
ibunya di sekolah, kepada guru-guru dan teman sekelas. Bagi
Rani itu jauh lebih berarti.
Tapi mimpi-mimpi yang hadir lebih sering belakangan ini,
menyiksa Rani, dan membuatnya tidak produktif. Mimpi itu,
kenapa? Ia memang sudah lama sekali tidak tahu apa-apa
tentang Cepy. Berita terakhir yang diketahuinya, teman masa
kecilnya itu sempat kuliah di kedokteran, sekarang pasti sudah
selesai.
Apakah Cepy sakit?
Tapi mereka kini bukan siapa-siapa, sejak dulupun tak ada
ikatan yang jelas. Kenapa harus Rani yang mendapat pertanda
itu?
Atau ini bentuk santet?
Pikiran konyol. Tapi siapa tahu? Mungkin balasan akibat sakit
hati karena perbuatan Rani, setelah begitu banyak kebaikan
yang dilakukan cowok itu. Ya. Rani memang punya salah. Tapi
mereka pun tak memiliki ikatan yang jelas. hubungan macam
apa. Meski begitu Rani tak memungkiri, kelakuannya sungguh
buruk!
Tapi kenapa baru sekarang?
Lagipula Cepy adalah orang paling logis, dan sedikit dari
lelaki baik yang tersisa di muka bumi. Rani sendiri bisa
dibilang tak percaya fenomena mistis begitu.
Seiring bergulirnya waktu, usia Rani dan Cepy pun
bertambah. Masa-masa bersepeda sudah lewat, diganti masamasa
naik motor, kini masa-masa naik motor berlalu, sebab
Cepy sudah mahir membawa kendaraan roda empat. Perlahan
Cepy mulai berani datang sendiri ke rumah, tak lagi
membawa-bawa teman.
Tapi kebersamaan mereka masih sama, tak jauh dari catur
dan gitar. Beberapa kali cowok itu membantu Rani melatih
teman-teman vokal groupnya. Terutama pengiring yang
memainkan gitar. Waktu tidak membuat Cepy berubah. Dia
tak pernah beranjak dari sisi Rani. Apapun yang Rani minta,
apapun yang Rani perlukan,
“Ada yang bisa gue bantu?”
“Mau diantar kemana?”
“Dijemput di mana? Lihat tanda-tanda, dekat gedung apa?”
atau… “Mau titip dibelikan apa?”
Adalah sederet kalimat manis dan baik yang selalu lahir dari
mulut Cepy. Tapi tak pernah ada kata-kata mesra. Tidak
pernah terucap suka, sayang, apalagi cinta. Semua mengalir
begitu saja.
Rani yang manja dan Cepy yang memanjakan, Rani yang
merepotkan dan Cepy yang sudi direpotkan, Rani yang sering
nyasar tak ingat jalan dan Cepy yang selalu bisa menemukan
dan membawa Rani pulang. Apa pun untuk Rani.
Lama kelamaan Rani mulai merasa bosan. Ia tidak lagi
tersentuh dengan kebaikan dan ketulusan Cepy. Di matanya
Cepy semakin terkesan antik dan kuno.
Ia mulai membandingkan Cepy dengan teman-teman cowok
di sekolahnya, dan dengan cepat menemukan nilai minus
berderet bagi si mata bintang. Tidak ada teman-teman
cowoknya di sekolah yang mengenakan sepatu fantovel ke
mana-mana. Cuma Cepy.
Tidak ada teman-teman cowoknya yang bicara dengan gadis
mereka hanya saling bertatapan dan bertukar senyum. Cuma
Cepy.
Tidak ada cowok yang berboncengan naik motor tanpa
meminta gadis mereka melingkarkan tangan di pinggang, atau
memberikan ucapan selamat ulang tahun kepada gadis
mereka, hanya dengan mengulurkan tangan dan berjabatan
seperti layaknya karyawan kepada bos, atau memburu-buru
gadisnya pulang ketika pesta meriah bahkan belum lagi
mencapai puncak!
Harusnya cowok itu lahir tahun enam puluhan, batin Rani
berontak.
Ketika orang-orang pacaran sambil bertatapan mesra berdua
menuntun sepeda mereka, ketika celana jins mungkin belum
ditemukan, ketika televisi masih hitam putih, dan film layar
lebar belum lagi bersuara. Sosok Cepy yang tidak funky itu
jauh lebih cocok berada di sana.
Atau karena cowok bermata bintang itu memang tak pernah
menganggap Rani spesial?
Rani menggigit bibir. Ditutupnya kedua telinga kuat-kuat
agar lagu Donna yang sering dimainkan Cepy dengan
gitarnya, tak terdengar menghantui telinga. Tak boleh ada
kenangan, mereka harus putus! Tekad itu menyala sekejap,
sebelum kemudian meredup. Rani menundukkan kepada
lemas. Tidak bisa. Tidak bisa putus, sebab mereka tidak
pernah pacaran!
Maka Rani secara sadar mulai menjauh, tak lagi kemanamana
mengantongi uang logam seratus berkeping-keping, tak
lagi minta bantuan, tak lagi minta diantar atau dijemput. Ia
harus meluaskan pergaulan! Rani pun melebarkan sayap. Dia
tersenyum lebih ramah kepada banyak orang. Menebarkan
pesona lewat matanya yang bening, dan wajah ovalnya yang
manis. Rani bahkan mengambil keputusan drastis. Memotong
rambut panjangnya pendek-pendek.
Kak Hamid, cowok ganteng satu gang meledeknya mirip
satpam. Kakaknya di rumah tertawa terbahak-bahak, karena
rambutnya yang mirip tikus kecebur got, sementara kedua
orang tua Rani hanya melongo melihat perubahan anak gadis
mereka.
Tapi Cepy yang kebetulan main ke rumah, malam minggu itu
tak mencela sedikitpun. Cowok itu hanya tersenyum dan
bertanya kenapa Rani memotong rambutnya.
Prek! Pikir Rani ketus. Apa pedulinya cowok itu?
Tapi anehnya tak ada satu kata judes pun bisa gadis itu
lontarkan di depan Cepy, mungkin karena cowok itu terlalu
baik untuk disakiti.
“Dek, kamu sebetulnya senang sama siapa sih? Bobby?
Farhan? Andre? Mas Cepy? Yang terakhir adalah pemuda
berusia dua puluh empat tahun, anak pak camat yang
dikenalkan seorang kakak pembina teater kepada Rani, dan
kebetulan bernama sama dengan Cepy.
Rani mengangkat bahu.
“Kasihan Cepy!” Katanya kakaknya lagi.
Kenapa semua memihak Cepy? Rani tak mengerti. Betul
cowok itu baik juga pintar hingga bisa diterima di SMA favorit.
Tapi…Cepy nggak fun!
Lalu Rani bertemu Ryan. Ryan juga pendiam, tapi matanya
sering menatap Rani hangat, tak perlu kata-kata. Atau karena
dia jatuh cinta? Dengan Ryan, Rani merasa diperlakukan
sebagai seorang gadis, dan bukan sebatas adik.
Rani terjerembab. Tapi perasaannya runtuh total, sewaktu
mereka naik bajaj berdua dan cowok itu mendadak
mendekatkan wajah, berusaha menciumnya. Rani marah!
Tangannya mendarat di pipi Ryan. Membekaskan rona merah
di wajah putih cowok itu.
Peristiwa itu membuat otak matematis Rani serta merta
membandingkan. Beda betul Ryan jika dibandingkan dengan
Cepy yang pintar, ganteng, dan selalu sopan.
Maka ketika satu sore, Cepy yang tak pernah
meninggalkannya, akhirnya mengungkapkan juga
perasaannya, diantara daun-daun bougenville merah muda
yang gugur dan berserak di halaman rumahnya, Rani
menerimanya tanpa berpikir dua kali.
Sampai kapanpun ia akan ingat bagaimana cowok itu
bersender di tembok rumah sebelah, dan menatap Rani yang
duduk di hadapannya. Kalimat cowok itu simple, sederhana,
tanpa basa-basi. Rani tak akan lupa,
“Gue sebetulnya sayang sama kamu, Ran,”
Rani mengangguk. Setelah lima tahun, mereka akhirnya
jadian. Sungguh melegakan! Sayang Cuma sehari.
Rani memandang angka-angka di telepon. Hatinya maju
mundur. Bimbang, antara keinginan dan kekhawatiran.
Ia tahu Cepy telah menikah, meski lelaki itu tak pernah
mengundangnya dan ia harus tahu berita itu dari seorang
teman. Rani tidak ingin mengganggu. Itu sebabnya selama ini
ia tidak pernah berusaha menyambung silaturahim mereka.
Hingga sekarang...
Pempuan itu berusaha keras mengingat-ingat kembali nomor
telepon rumah Cepy dulu. Apakah lelaki itu baik-baik saja?
Sebab sejak mimpinya terakhir, Rani diserang rasa khawatir.
Ia bahkan berpikir hal yang terburuk. Apa ... Cepy masih
hidup?
Mimpi-mimpi itu, mungkin beralasan. Mungkin ada sesuatu.
Dan lucunya pula, orang-orang sering mengatakan betapa
kecilnya dunia, sebab begitu mudah bagi mereka untuk
bersinggungan dengan teman-teman dari masa lalu. Begitu
kebetulan. Tapi Rani tak pernah lagi bertemu Cepy. Bukan
karena ia memutuskan Cepy lewat telepon sehari setelah
cowok itu mengungkapkan perasaannya, setelah lima tahun
pertemanan yang indah.
“Ada orang lain?” Ia ingat pertanyaan cowok itu di telepon.
Rani diam.
“Kalau begitu kenapa?”
Hembusan napas gadis itu yang begitu keras pastilah
terdengar di seberang sana, Memutuskan hubungan ternyata
memang tidak mudah. Pikir Rani.Tapi ia hanya tak ingin
terikat.
Uniknya, kejadian itu tidak mengubah segala. Semua masih
mengalir seperti biasa. Rani minta tolong ini itu, Cepy
menolong ini itu, Rani nyasar entah di mana, seperti biasa
gadis itu memang tidak cepat menandai jalan, dan Cepy
menjemput. Seperti bertahun sebelumnya, Rani hanya perlu
uang logam seratus rupiah. Dan Cepy datang. Tak pernah
tidak!
Hingga satu hari Rani memutuskan untuk membuat satu titik
balik dalam kehidupannya, berjilbab. Cepy tidak keberatan.
Dia suka melihat wajah Rani dalam balutan kerudung. Tak masalah.
Tapi Rani menginginkan sesuatu yang lebih. Ia ingin
menjaga diri, ia ingin menghapus kenangan orang-orang
sekitarnya, meskipun sulit, tentang dirinya dulu. Ia ingin
mandiri. Sendiri.
Rani menjauh.
Cepy yang terluka pun menjauh.
Waktu terentang lama, keduanya tak lagi bertemu.
Seperti memenuhi sebuah janji, mereka pun bertemu di
sebuah rumah makan bernuansa Sunda. Masih terlalu pagi
untuk berharap melihat banyak pengunjung yang datang.
Sekitar sepi. Keduanya bertatapan. Tapi tak lama, sebab Rani
segera mengalihkan pandang. Namun meski sekilas, lewat
matanya Rani bisa melihat Cepy yang tak banyak berubah.
Perawakannya masih sekurus dulu. Hanya wajahnya yang
tampak jauh lebih dewasa.
Mereka tak lagi kanak-kanak. Rani melirik arloji mungil yang
melingkar di tangannya. Sudah sepuluh menit, belum satupun
yang terdengar. Di awal bertemu tadi, mereka hanya
melempar senyum. Perempuan yang mengenakan tunik biru
itu berusaha tak salah tingkah. Tapi beberapa kali matanya
pun menangkap gerakan dada lelaki itu naik turun tak tenang.
Sementara wajahnya terlihat lebih murung dari biasa.
Percakapan harus dimulai. Pikir Rani. Begitu banyak yang
ingin ia sampaikan. Rasa terima kasih yang tak pernah
diungkapkan, padahal lelaki itu telah menjaga masa remaja
Rani dengan sangat baik. Juga hal lain. Ia misalnya ingin tahu
apakah Cepy baik-baik saja. Apa yang mungkin membuat
Cepy begitu sedih. Adakah yang bisa ia lakukan?
Rani ingin lelaki itu menceritakan alasan mendatanginya
selama ini, ingin memohon supaya Cepy bicara.
Tapi bibir perempuan itu tak mampu mengucapkan apa-apa.
Sorot mata penuh luka dari lelaki di depannya, terasa
menusuk-nusuk dan membuat hati Rani terkoyak pedih.
Padahal Cepy hanya menatap.
Cep, bicaralah! Teriak perempuan itu dalam hati.
Tapi seperti yang sudah-sudah, Cepy hanya mematung. Mata
bintangnya memandangi Rani lama. Murung.
Mimpi itu datang lagi!

Sekian

0 Response to "Dia Dalam Mimpi-Mimpi Rani"

Post a Comment