Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Cinta Dari Rumah Hijau


Cinta dari Rumah Hijau





Irvan melamun di bangkunya ketika pelajaran kosong. Dia tak berniat ke luar
untuk ke kantin atau ngobrol. Dia masih merasa asing dengan suasana yang baru
satu minggu dikenalnya itu.
Seseorang menepuk bahunya dan duduk di bangku di depannya.
“Melamun, eh? Bagaimana komentarmu tentang sekolah ini?” tegur Riki.
“Cewek kelas satu cakep-cakep, ya?” ujar Irvan meringis.
Riki tersenyum. “Jangan jauh-jauh. Kelas ini juga punya cewek cakep, lho,”
katanya. “Si Mirsa misalnya, yang duduk di ujung kiri depan itu. Atau Linda si kacamata
minus yang rambutnya bagus. Lalu Rita, Yanti … wah, banyaklah! Tapi rata-rata sudah
punya pasangan, Van.”
Irvan nyengir mendengar promosi itu. Lantas teringat olehnya sebuah nama.
“Ada yang namanya Ristania Vidyani di sekolah ini, Rik? Kelas dua seperti kita
juga kalau tidak salah.”
Riki menatap Irvan setengah heran. Saat itu seorang gadis masuk. Riki melirik,
lalu menyentuh lengan Irvan yang sedang mencorat-coret buku.
“Tuh yang kau cari!” bisiknya.
Irvan menoleh, mengamati gadis itu. Itukah Tania? Cowok itu menemukan sosok
tubuh sedikit kurus, jangkung dengan rambut pendek. Gayanya tak acuh. Irvan masih
menatap ketika gadis itu menoleh padanya. Wajahnya yang buram dan bermata tajam
membalas. Dahi itu berkerut tak senang. Lantas dia berbalik ke bangkunya, mengambil
sesuatu dan keluar tanpa menoleh lagi.
“Bagaimana?” tanya Riki menyadarkan Irvan. “Tidak cakep kan? Tapi menarik
dengan keangkuhannya itu. Dia selalu menghindari cowok-cowok yang jatuh cinta
padanya. Jadi kalau kau mau akrab dengannya, jangan sampai jatuh cinta …”
Irvan diam. Benaknya berputar-putar. Gadis itukah yang membuat Fadil jatuh
bangun karena mencintainya? Fadil, sepupunya yang tampan dan banyak di kagumi
cewek-cewek karena senyumnya yang memikat itu, jatuh cinta pada Tania? Aneh
rasanya. Tania tidak cantik, wajahnya dingin dan mungkin hatinya juga beku.
“Engkau belum mengenal dia, Van. Tania tidak cantik, tapi ada sesuatu pada
sikapnya yang menarik cowok-cowok. Dekati dia dan … kau akan tahu, bahwa apa yang
ku katakan benar,” ujar Riki seolah dapat membaca jalan pikiran Irvan.
Bel berbunyi. Riki meloncat turun dan duduk di sebelah Irvan. Anak-anak
berdesakan masuk kelas. Pelajaran kimia akan segera dimulai.
***
Irvan merobek sampul surat dari Fadil, sepupunya yang pindah ke Malang
semester kemarin.
…jadi kamu satu sekolah bahkan sekelas dengan Tania? Mudah-mudahan kamu
bisa cocok dan akrab dengannya, Van. Jangan sampai jatuh cinta pada Tania, lho.
Bukan apa-apa, Cuma supaya kamu tidak kecewa nanti, kayak aku. Dengan dia lebih
baik bersahabat saja. Dia baik, penuh perhatian. Sampai sekarang dia tidak tahu kalau
aku mencintainya. Aku takut dia berubah kalau tahu hal ini. Dia Cuma tahu aku
sahabatnya. Oke, Van. Salamku untuknya, ya?
Turun dari mobilnya, Irvan menangkap bayangan Tania melangkah ke pintu
gerbang sekolah sendirian. Cepat dia mengunci pintu mobil dan bergegas menjajari
langkah Tania.
“Hai, selamat pagi!”
Tania menoleh sekilas. “Pagi juga,” sahutnya. Keduanya beriringan memasuki
halaman sekolah.
“Ada salam dari Fadil,” kata Irvan setelah diam.
“Fadil?” dahi Tania berkerut. “Yang jangkung, rambut keriting?”
“Ya, Fadil Rianto.”
Gadis itu diam lalu, “Dia apamu?”
“Sepupu. Dia pindah ke Malang kan?”
“Oh. Dia tak pernah kirim surat, sms atau telpone padaku,” gumam Tania.
“Oya? Mungkin dia sibuk pacaran.”
“Ah?” ada nada kaget dalam suara Tania. “Sejak kapan dia pacaran?”
“Mmm … dua bulan mungkin,” Irvan menoleh dan bertemu mata dengan gadis
itu. Mata bundar itu seperti bersedih. Benarkah? Tapi mengapa?
“Kenapa?” tanya Irvan lagi.
Tania seperti baru sadar dan cepat memperbaiki sikap.
“Tidak apa-apa. Sampaikan salamku buat Fadil … dan gadisnya!”
***
Irvan sering melihat gadis itu lewat di muka kelasnya. Dan bila dia menenggok,
gadis itu tersenyum manis sekali. Kemudian beberapa temannya menyampaikan, ada
salam dari Meinar. Namanya Meinar. Meinar Mayasari, anak kelas tetangga II-IPA-3,
Meinar sicantik yang manja, yang gemar menarik perhatian Irvan, dan rupanya gadis itu
sudah berhasil merebut hati Irvan. Kemudian keduanya saling terlihat bersama-sama.
“Kamu pacaran sama Meinar, ya?” cetus Riki waktu pulang sama-sama. Irvan
tidak menyahut. Temannya melirik tajam, kemudian menarik nafas panjang pelan-pelan.
“Memang kenapa?” tanya Irvan curiga.
“Tidak apa-apa,” sahut Riki. Tapi Irvan tak percaya dan mendesaknya. Lantas
cowok itu bercerita bahwa Meinar punya hobby yang sudah terkenal, yaitu ganti-ganti
pasangan. Dia pembosan.
“Aku cuma sekedar kasih tahu, Van, sebagai teman. Mudah-mudahan kamu
pelabuhan terakhirnya,” kata Riki hati-hati.
“Jadi dia tidak berbeda dengan Taniamu kan? Tania juga banyak membuat cowok
patah hati,” ejek Irvan.
“Tidak sama, Van. Dan jangan sebut dia Taniaku.” Riki diam sejenak. “Meinar
membuat cowok-cowok patah hati setelah memberi mereka harapan dan kesempatan buat
menggapai hatinya. Tapi Tania tidak. Dia tidak memberi mereka harapan. Dia bahkan
menghindar jika ada yang mencoba menyentuh hatinya.”
“Kamu membelanya mati-matian, Rik. Kau menyukainya?”
“Tidak ada alas an buat membenci Tania, Van,” balas Riki diplomatis.
“Tentu ada, bagi mereka yang dijauhi Tania. Mereka tentu sakit hati.”
“Kurasa tidak perlu. Toh Tania belum menyalakan lampu hijau. Dan mungkin
mereka akan lebih sakit hati jika gadis itu nantinya Cuma main-main.” Riki menatap
kendaraan di depannya setengah melamun. “Terkadang, bersahabat itu lebih
menyenangkan daripada berpacaran,” tambahnya. Irvan mengiyakan dalam hati.
***
“Pulang sekolah aku praktikum, Van. Jemput, ya?” pinta Meinar manja waktu jam
istirahat.
“Hari ini, Mei? Biasanya kan hari Rabu? Aku … “
“Kenapa? Tidak bisa ya?” potong Meinar ketus.
“Ya. Soalnya aku ada janji mau mengantar Mama ke Sumedang, Mei.”
“Ah!” sentak Meinar kesal. “Kenapa bukan kakakmu saja ?”
“Doni ujian siang ini, Mei,” jawab Irvan sabar. “Sesekali ini saja, Mei. Tidak apaapa
kan?”
“Terserah! Masih banyak yang mau mengantar aku kok!” kata Meinar sengit.
“Kamu pacaran deh sana!”
“Mei!”
Tapi gadis yang sedang merajuk itu sudah berlari ke kelas. Irvan termangu. Gadis
itu cepat sekali tersinggung. Mereka baru dua bulan pacaran, tapi sudah seringkali
bertengkar. Seperti minggu lalu, Irvan terlambat apel karena Rika, adiknya, minta di antar
ke pesta ulang tahun temannya. Sialnya, rumah teman Rika bertolak belakang dengan
rumah Meinar. Akibatnya gadis itu merajuk dan diam seperti patung sampai Irvan
pulang.
Irvan menghela nafas. Dia sendiri tidak mengerti kenapa dia masih bertahan
dengan Meinar. Dia tahu Meinar egois, tidak mau mengalah, tidak mau mengerti orang
lain, tapi Irvan pun belum yakin, apakah dia mencintai Meinar atau tidak. Lalu apa yang
menahannya? Cowok itu tidak mengerti. Meinar tidak bisa berdiri sendiri. Tidak seperti
… Tania! Hah? Dia kaget sendiri.
Dan tiba-tiba makhluk yang baru mampir di benaknya itu muncul di depannya.
“Di mana alamat Fadil, Van?” tanyanya mengagetkan.
“Oh … eh, apa katamu?”
“Alamat Fadil di Malang. Dia sebentar lagi ulang tahun kan? Aku ingin kirim
kartu.”
“Engkau masih ingat tanggalnya?” tanya Irvan setelah menyebut alamat
sepupunya.
“Mungkin aku tidak bisa melupakannya,” cetus Tania tanpa sadar. Seketika
mukanya merah padam. Hal itu membuat Irvan bertanya dalam hati, apakah Tania jatuh
cinta pada Fadil.
Tania menggumamkan terima kasih lalu pergi. Malu rasanya sudah berkata tanpa
sadar tadi. Itu adalah rahasia hatinya yang disimpan rapat-rapat. Bagaimana kalau Irvan
bisa menebak? Mudah-mudahan Irvan tidak tahu. Mendadak saja dadanya terasa perih.
Menurut, Irvan Fadil sudah punya pacar. Apakah aku masih berani mengharapkannya?
Sedang dia tak pernah tertarik padaku. Tania mendesah seraya menaiki tangga menuju ke
kelasnya.
***
Irvan masuk ke mobilnya. Ke mana Meinar? Sudah beberapa kali gadis itu tidak
berhasil di jumpainya. Di sekolah pun dia menghindari pertemuan dengan Irvan. Apakah
… pikiran Irvan terbang pada ucapan Riki dulu. Dia punya hobby menaklukkan hati
cowok-cowok, Van. Dia pembosan. Dia … Irvan menggeram. Kenapa aku tiba-tiba
kecewa? Apakah aku mulai mencintainya?
Dijalankannya mobilnya tanpa tujuan yang pasti. Dia tiba di pusat perbelanjaan
yang selalu sibuk. Dan dadanya berdenyut ketika matanya menangkap bayangan Meinar
keluar dari Mall. Gadis itu tidak sendiri. Dia bergayut manja di lengan seorang cowok.
Irvan memejamkan matanya. Ah, itu kan Mark, si Indo jago basket, kakak kelas mereka.
Irvan tidak tahu apa yang menuntutnya untuk berhenti di depan teras rumah hijau
lumut itu. Pikirannya kusut. Dia tidak mengerti kenapa tiba-tiba dia merasa sakit hati.
Mark merebut Meinar! Tapi, benarkah dia merebut? Apakah bukan Meinar yang justru
tertarik pada Mark setelah bosan dengan dirinya?
Irvan turun dan memijit bel. Aku tidak merasa mencintai Meinar, tapi kenapa aku
terus memikirkannya? Lantas dia menganggkat bahu tak peduli. Pintu terbuka dan di
depannya berdiri Tania. Gadis itu nampak terkejut.
“Hei, tumben! Masuk, Van.”
“Aku tidak mengganggu kan?”
Tania menggeleng. Dia melihat mata Irvan yang murung. Dia ingin tahu
penyebabnya, tapi ditahannya mulutnya untuk bertanya. Kalau Irvan merasa perlu
bercerita, pasti nanti dikatakannya.
“Duduk, Van. Aku ambil minum dulu, ya.” Tania melangkah ke dalam. Irvan
menatapnya sampai lenyap.
Gadis itu muncul lagi dengan membawa baki berisi 2 gelas sirup dan satu toples
kue. Lantas dia duduk di seberang tamunya dan diam. Dia merasa Irvan sedang tak ingin
ngobrol, karena itu diraihnya majalah.
“Nia,” panggil Irvan setelah lama terdiam. “Kok diam terus seeh?”
“Soalnya kamu juga tidak ingin ngobrol kan?”
Irvan tersenyum kecut mendengar jawaban Tania.
“Tidak tanya sebabnya?”
“Kamu pasti cerita sendiri kalau merasa perlu.” Tania tersenyum samar.
“Kamu percaya kalau saat ini aku katakana sedang patah hati, Nia?” suaranya
pahit. Tapi dicobanya untuk tersenyum. Gadis itu mengamatinya dengan alis terangkat
sebelah.
“Meinar?” tebak gadis itu.
“Kok tahu?”
Tania tersenyum. “Kemarin-kemarin ini kupikir kamu tidak benar-benar naksir
dia. Ternyata?” gadis itu menggangkat bahu.
“Memang. Aku Cuma senang melihat manjanya.”
“Minummu, Van,” sela Tania. Irvan memandang heran. Dia merasa Tania tidak
senang topic pembicaraan itu.
“Bagaimana Fadil? Dia sudah membalas suratmu?” Irvan mencoba mengalihkan
pembicaraan.
“Oh, ya. Baru tadi siang tiba,” suara Tania tak acuh. Tapi Irvan menangkap sinar
ceria di mata yang biasa buram itu. Tiba-tiba dia ingin mengorek isi hati gadis itu.
“Tau tidak Nia, menurut Fadil, ceweknya itu mirip kamu,” pancing Irvan.
“Enak saja menyamakan orang!” sergah Tania tersipu. Dia menunduk
mempermainkan majalah di pangkuannya.
“Benar, Nia. Dan tahukah kau kenapa dia memilih yang persis dirimu?” Irvan
menatap mata gadis itu.
“Kenapa? Apakah … Tania nampak gelisah.
“Ya, karena dia menyenanggimu.”
Mata Tania membelalak. Lantas dia menggeleng dan bergumam lirih. “Tidak.
Tidak mungkin. Kenapa dia tidak pernah mengatakannya padaku?”
“Karena dia takut engkau menjahuinya.”
“Oh,” desis Tania sambil berpaling. “Salahku.”
Irvan menghela nafas panjang sambil menggigit bibir. Dia mencintai Fadil,
pikirnya sedih. Dan fadil juga mencintainya. Sayang mereka tidak tidak saling
memahami perasaan masing-masing sejak dulu.
Tania mengerjapkan matanya. Gadis itu sudah bisa menguasai diri. Dia menoleh
pada Irvan seraya menjangkau tutup stoples. “Kuenya dimakan dong, Van,” tawarnya.
“Aku tidak tahu,” sahutnya ragu-ragu. Dan Irvan tak ingin mendesak lagi. mereka
lalu mengalihkan pembicaraan ke masalah lain.
***
Irvan melirik arlojinya. Seperempat lagi bel pulang berbunyi. Diperiksanya sekali
lagi jawaban ulangan matematikanya sebelum bangkit, lalu ke luar setelah meletakkan
kertasnya di atas meja guru.
Melewati kelas III-IPA-3, dilihatnya kels itu kosong. Jam bebas rupanyaketika
sampai di anak tangga paling bawah, matanya menangkap bayangan Meinar yang sedang
berjalan sendiri. Dia bergegas menghampiri.
“Apa kabar, Mei?” tegurnya. “Kalau kau tak keberatan, aku ingin ngobrol.”
“Tentang apa?” tanya Meinar kaku.
“Kita,” sahut Irvan sembari menuntun gadis itu ke bangku semen di bawah pohon
nangka.
“Aku melihatmu kemarin dulu sama Mark,” cetus Irvan kalem.
Meinar terperanjat. Tapi kemudian dipandangnya cowok itu dengan mata
mengejek.
“Lantas, kenapa?” tantangnya sinis.
“Tidak apa-apa. Aku cuma heran, kenapa engkau tidak terus terang kalau kau
menyukai Mark. Aku tidak keberatan Mei. Aku cuma tidak senang karena engkau selalu
menghindariku,” lanjut Irvan.
Meinar menatapnya tak percaya. Tidak disangkanya Irvan akan berkata setenang
itu, tanpa nada sinis atau sakit hati. Matanya juga tetap biasa, tiada sinar dendam di sana.
Meinar sedikit kecewa, karena ternyata cowok itu tidak seperti mereka yang pernah
dikecewakannya.
“Engkau tidak mencintaiku rupanya,” ujar Meinar.
“Aku menyukaimu, Mei,” Irvan tersenyum. Diulurkan tangannya. “Kita tetap
bersahabat kan?”
Meinar balas tersenyum dan menyambut tangan itu.
“Terima kasih karena engkau tidak membenciku, Van.”
“Ayo ke luar, Mei. Mungkin Mark sudah menunggumu.”
***
Waktu berlalu demikian cepat. Libur semester sudah dimulai. Pada hari ketiga,
Fadil muncul dengan senyum khas serta ransel lusuh di tangan.
“Anybody home?” serunya ketika masuk ke rumah Irvan lewat garasi yang
terbuka.
Irvan menoleh dengan terkejut, tapi segera tersenyum lebar.
“Mengagetkan saja, kau! Naik apa, Fad?”
“KA. Kok sepi, sih?” Fadil menuju lemari es mencari minuman. Diambilnya
sebotoh teh botol.
“Semua pergi ke Jakarta. Tinggal aku dan Doni. Ayo makan, Fad!”
Fadil tak menolak. Dia segera menarik kursi makan di sebelah Irvan.
“Cewekmu kok tidak diajak, Fad?”
“Dia ada acara keluarga.” Fadil meneguk the botolnya. “Apa kabar, Tania?
Tambah manis?”
“Kamu masih mencintainya?”
“Dia cinta pertamaku, Van,” kata Fadil setelah diam beberapa saat. “Kamu tahu,
melupakan cinta pertama itu amat sukar, meskipun aku tidak berhasil meraihnya … “
Irvan hampir membuka mulutnya, mengatakan bahwa Tania juga menaruh hati
pada Fadil. Tapi tidak ada gunanya lagi. fadil sudah punya pacar, untuk apa menceritakan
hal itu? Dia tidak mau Fadil guncang dan berubah pikiran.
“Tapi aku sudah mendapatkan Nina, Van. Dia baik, dan kami saling
menyayanggi,” Fadil tersenyum bahagia. “Engkau harus bertemu dia, Van.”
Irvan menatapnya lega.
***
Ketika sedang putar-putar kota, tiba-tiba Irvan teringat Tania. Diajaknya Fadil ke
rumah gadis itu.
“Boleh saja. Aku juga kangen,” ujar Fadil.
Irvan menghentikan mobilnya di depan teras rumah hijau lumut itu. Seorang gadis
muncul membuka pintu setelah Irvan menekan bel. Wajahnya manis, dia menatap Irvan
sebentar, lalu beralih pada Fadil. Dia mengerutkan kening seolah mengingat-ingat.
“Lupa, Ray? Aku Fadil!” Fadil tersenyum mengulurkan tangan.
Gadis itu berseru senang. Disambutnya tangan Fadil.
“Tidak pernah main kesini lagi, Fad? Sombong, ya?”
“Aku kan pindah ke Malang. Hei, kenalkan tuh. Irvan, sepupuku. Van, ini adik
Tania, soraya.”
“Kupanggil Mbak Nia, ya. Dia pasti senang,” ujar Soraya setelah berjabatan
dengan Irvan.
“Eh Ra, jangan bilang ada aku, ya? Bilang saja ada Irvan,” pesan Fadil.
Soraya mengangguk dan menghambur ke dalam. Kedua cowok itu menanti di
teras
Tak berapa lama, seseorang muncul di pintu. Fadil dan Irvan menoleh. Tania
tegak di situ, matanya terpaku memandang Fadil.
“Fadil … “ desah Tania lirih. Matanya berbinar penuh rindu. “Apa kabar?”
“Baik, Nia. Kamu tambah kurus, lho,” Fadil tersenyum. “Aku kangen sama kamu,
Nia.”
“Aku juga,” wajah Tania memerah, seperti malu mengakui hal yang benar-benar
dirasakannya itu.
Irvan mengamati gadis itu sepenuh hati. Tania menyukai Fadil, pikirnya. Padahal
mereka sudah lama berpisah. Dan mendadak Irvan merasakan denyut-denyut asing di
dadanya. Sakit sekali. Aku cemburu. Cowok itu tersentak. Cemburu? Apakah aku
menyukai Tania? Benarkah?
“Melamunkan siapa, Van?” goda Tania ceria.
“Soraya mungkin,” sambar sepupunya. Irvan melotot.
“Benar? Aku panggil dia, ya?” Tania lalu masuk ke dalam.
“Sialan kamu, Fad. Seenaknya!” sungur Irvan.
Fadil terbahak. Akhirnya mereka ngobrol berempat. Dan Soraya rupanya cukup
menyenangkan. Gadis kelas 3 SMP itu lincah dan senang ngobrol.
***
Telepon berdering ketika Tania hendak mandi sore. Rumah sepi, karena itu dia
bergegas menuju meja telepon dan mengangkatnya.
“Halo … “
“Bisa bicara dengan Soraya?”
“Hmm … Sorayanya lagi pergi. Dari siapa?”
“Ini Tania, ya? Ini Irvan.”
“Oh. Raya lagi ke rumah temannya. Pukul tujuh baru pulang. Ada pesan, Van?”
tanya Tania dengan dada berdesir. Hmm … Irvan makin akrab dengan Soraya, pikirnya.
Kenapa aku begini resah?
“Tidak ada, Nia. Nanti saja aku telepon lagi. kamu sedang mengapa? Sudah lama
kita tidak ngobrol ya?”
“Mau mandi, Van. Ayo, ah!”
“Ayo!” Irvan termangu di seberang sana. Dia tidak mau ngobrol denganku. Dia
memang tidak pernah menyukaiku. Ah!
Tania meletakkan telepon dengan bingung. Kenapa aku jadi begini? Bukankah
aku menyukai Fadil? Tapi dia sudah punya pacar. Aku tidak mau mengganggunya. Lalu
Irvan? Yang tidak acuh, tapi punya mata bagai magnit itu? Dia simpatik. Tania
mengeluh, apakah aku tetarik padanya?
Malamnya, waktu mengerjakan PR Matematika, didengarnya telepon berdering.
Lalu suara langkah-langkah adiknya. Lalu suaranya yang ceria. Hati Tania mendadak
perih.
***
Hari ini Tania duduk sendiri. Susan sakit rupanya. Irvan mendekati gadis itu dan
tanpa permisi duduk di sampingnya. Tania tidak bisa protes karena guru sudah datang.
Dan percuma pula pindah duduk, karena saat ini sudah dua jam terakhir.
“Apa kabar, Nia?” tegur Irvan tersenyum.
Tapi Tania cuma mendengus. Diaduknya tas mencari jangka dan penggaris
panjang. Irvan ikut-ikutan mengeluarkan alat gambarnya.
“Kok jadi pendiam sih, Nia?” usik Irvan lagi.
“Dan kamu, kapan jadi cerewet eh?” tukas Nia ketus.
“Nia,” panggil Irvan seraya menyentuh lengan gadis itu. Tania mengelak, lantas
membelalak.
“Jangan usik aku kalau tidak ingin aku pindah duduk!” desisnya kasar. Irvan
memandangnya tak mengerti. Tania berpaling dari mata yang menarik itu.
“Ada apa sih denganmu, Nia?”
“Tidak ada apa-apa. Aku cuma ingin belajar,” sekejap diliriknya Irvan. Kemudian
dia kembali memandang papan tulis.
Bel pulang berdentang. Tania membereskan mejanya.
“Pulang sama-sama yuk, Nia? Mobilmu masuk bengkel kan?” ajak Irvan.
“Makasih, Van. Aku tidak ingin merepotkanmu,” sahut Tania sopan, tapi kaku.
Irvan melongo mendengarnya. Ketika gadis itu bangkit, Irvan menarik tangannya.
“Kenapa engkau jadi berubah, Nia? Aku tidak repot. Aku ingin ngobrol
denganmu.”
Tania menarik tangannya. “Maaf, Irvan. Aku sudah janji dengan Bram untuk
pulang sama-sama,” dia tersenyum manis sekali sebelum berlalu.
Irvan terpaku menatapnya. Tania? Dengan Bram?
***

Tania melangkah sendirian. Bram yang akhir-akhir ini pulang bersamanya sedang
rapat OSIS. Gadis itu asik melamun hingga tak menyadari sebuah mobil berhenti di
sampingnya.
“Nia.” Panggilan itu membuat dia menoleh. Ternyata Irvan.
“Aku antar yuk, Nia? Ayo! Atau aku harus minta izin dulu kepada Bram untuk
mengajakmu?”
Tania mengangkat alisnya sebelah.
“Bram? Ada apa dengan dia?” tanyanya heran. Lantas dia tersenyum. “Bagaimana
kalau harus?”
“Besok deh aku minta maaf padanya. Ayo Nia, aku ingin ngobrol sama kamu!”
Tania tak bisa menolak. Dia masuk ke dalam mobil dan duduk di sisi Irvan.
“Engkau berubah sekarang, Nia. Maukah kau menceritakan sebabnya padaku?”
“Sebab apa? Aku tak mengerti.”
“Engkau mengerti, Nia. Ayolah. Kenapa kamu menjauhiku?”
“Aku punya alasan sendiri,” kata Tania ketus.
“Katakan supaya aku tidak penasaran, Nia!” Irvan menatap gadis itu. Lantas dia
berpaling seraya menghela nafas. “Terkadang aku ingin bisa menyakitimu. Tapi tak
pernah berhasil. Engkaulah yang justru menyakitiku.”
“Bergembiralah karena engkau sudah berhasil menyakiti hatiku, Irvan!” sahut
Tania dingin. Ditatapnya jalan raya dengan nanar.
Irvan menghentikan mobilnya di tepi jalan menuju ke rumah hijau Tania.
“Tidak, Nia. Aku tidak sanggup menyakitimu karena aku … menyayanggimu,”
bisik Irvan tanpa menoleh. “Tapi kini engkau sudah punya Bram. Maafkan aku. Engkau
pasti membenciku kini.” Diraihnya kunci kontak. Tapi tangan Tania menahannya.
“Engkau belum bertanya padaku, bagaimana hatiku sebenarnya, Irvan,” desah
Tania lirih.
Irvan menoleh dan mata mereka bertemu. Di situ dia menemukan sinar kasih
sayang dan kebahagiaan.
“Benarkah engkau juga seperti aku, Nia?” bisik Irvan. Dia merasa bahagia ketika
kepala di depannya mengangguk.
“Dan aku ingin tahu, kenapa engkau begitu akrab dengan Raya, Van,” cetus Tania
ketika mereka sudah duduk di teras rumahnya.
“Engkau cemburu pada adikmu sendiri?” goda Irvan seraya tertawa. Tania
cemberut.
“Jangan kuatir, Nia. Bukankah aku harus mendekati Raya dulu bila ingin
mendapatkanmu?” Irvan melirik Tania yang tersipu. “Hei, bagaimana dengan Bram? Apa
yang harus aku katakana bila dia menuduhku mencuri gadisnya?”
“Ah, brengsek kamu!” Tania melempar korek api yang tergeletak di meja dengan
muka kesal. Tapi melihat senyum Irvan, dia pun tersenyum. Hati mereka sama-sama
bahagia.

Sekian.

0 Response to "Cinta Dari Rumah Hijau"

Post a Comment