Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Pelarian II

11

“Alviorita,” kata Nathan lirih.

Gadis itu hanya memandang bingung wajah Nathan.

“Alviorita, apa yang kaulakukan?” kata Nathan, “Bagaimana kalau engkau terjatuh?”

Gadis itu hanya diam saja. Ia kebingungan melihat Nathan dan kata-kata yang diucapkan pria itu.

Melihat gadis itu hanya diam saja sambil memandang kebingungan dirinya, Nathan mulai merasakan kejanggalan.

Nathan tidak mungkin salah mengenali gadis yang telah dicintainya sejak ia berusia sepuluh tahun itu. Walaupun selama lima belas tahun ia hanya membayangkan gadis yang dicintainya tetapi ia tidak mungkin salah. Ia yakin gadis itu adalah Alviorita.

Gadis itu terus memandang bingung wajah Nathan.

Nathan terkejut melihat gadis itu tiba-tiba melompat. Ia berusaha menangkap gadis itu dari atas kudanya.

“Apa yang kaulakukan, Alviorita?” tanya Nathan geram sambil meletakkan gadis itu di depannya, “Aku tahu engkau memang suka menantang bahaya tetapi tindakanmu ini benar-benar berbahaya. Apakah engkau tidak tahu engkau bisa saja jatuh kalau aku tidak menangkapmu?”

“Aku yakin engkau akan menangkapku.”

Nathan menatap wajah gadis di pelukannya itu. Mata Alviorita tetap tajam dan menantang tetapi ada sedikit kebigungan di sana saat memandangnya. Mendengar kata-kata tajam itu, Nathan semakin yakin gadis itu adalah Alviorita.

Selama lebih dari empat bulan bertengkar dengan Alviorita. Nathan mengenal baik suara tajam dan tidak pernah mau kalah itu.

Gadis itu berusaha mengenali pria itu. Ia tidak mengenal pria itu tetapi wajah pria itu mirip dengan wajah teman bermainnya yang selalu muncul dalam mimpinya.

“Apa yang kaulakukan di sini, Alviorita? Apakah engkau tidak tahu kami semua mencarimu ke mana-mana?”

“Alviorita?” tanya gadis itu kebingungan.

“Permainan apa lagi yang sedang kaulakukan, Alviorita?” tanya Nathan tajam, “Jangan membohongiku lagi. Aku akan segera membawamu kembali jadi jangan bermain-main denganku lagi.”

“Alviorita? Siapa dia?” tanya gadis itu kebingungan, “Engkau mengenalku?”

Nathan kebingungan mendengar kata-kata itu. Tatapan gadis itu sedikitpun tidak menunjukkan kebohongan.

“Apa yang kaukatakan, Alviorita?” tanya Nathan kebingungan, “Bukankah engkau adalah Alviorita. Jangan mempermainkan aku.”

“Aku tidak mempermainkan engkau. Untuk apa aku mempermainkanmu?” kata gadis tajam, “Aku hanya ingin tahu apakah engkau mengenalku? Setiap pagi saat aku terbangun, aku selalu merasa ini bukan tempatku. Aku selalu bertanya-tanya siapakah aku. Walaupun semua orang di sekitarku mengatakan aku adalah Fleecya tetapi aku tidak merasa demikian.”

Nathan kebingungan mendengar kata-kata tajam yang bercampur kesedihan itu. “Engkau adalah Alviorita. Aku tahu engkau adalah Alviorita,” kata Nathan lembut.

“Karena itu aku bertanya apakah engkau mengenalku?” sahut gadis itu, “Engkau mirip dengan teman bermainku semasa kanak-kanak.”

“Teman bermain?”

“Setiap malam aku selalu bermimpi bermain dengan seorang pemuda yang mirip denganmu dan ia juga selalu memanggilku ‘Alviorita’,” kata gadis itu sedih, “Tetapi aku tidak dapat mengingat namanya.”

Nathan terkejut mendengar pengakuan gadis itu.

Sekarang ia tahu mengapa gadis itu tidak mengenalnya. Gadis itu kehilangan ingatannya dan kali ini bukan suatu kebohongan. Gadis itu benar-benar tidak dapat mengingat apapun.

Nathan senang dapat menemukan Alviorita dan ia ingin segera membawa pulang gadis itu. Tetapi ia juga bingung dalam keadaan hilang ingatan seperti ini apakah gadis itu akan mempercayainya bila ia mengajaknya kembali ke Istana Urza.

“Aku mirip teman bermainmu?” tanya Nathan.

“Ya, engkau sangat mirip dengannya. Walau pemuda di mimpiku itu masih kecil tetapi engkau mirip sekali dengannya,” kata gadis itu, “Engkau seperti pemuda itu di saat ia dewasa.”

Nathan tahu apa yang sedang dikatakan Alviorita. Saat Alviorita masih kecil memang ialah satu-satunya teman bermain Alviorita di luar Istana.

“Nama pemuda itu adalah Nathan dan aku adalah dia,” kata Nathan lembut, “Dan engkau memang Alviorita. Aku tidak mungkin salah karena aku selalu bersamamu setiap kali engkau bermain ke Castil Q`arde.”

“Castil Q`arde?” tanya gadis itu semakin tidak mengerti.

Gadis yang sejak tadi hanya diam saja tiba-tiba berkata cemas, “Tuan, turunkan Nona.”

Nathan mengalihkan perhatiannya kepada gadis berbaju pelayan itu. “Apakah benar ia adalah nonamu?”

“Iya,” kata gadis itu, “Ia adalah putri majikan saya, Fleecya.”

“Apakah engkau yakin? Gadis ini mengatakan kepadaku kalau ia bukan Fleecya.”

Pelayan itu tampak ragu-ragu.

Nathan memanfaatkan keragu-raguan pelayan itu. “Kalau ia benar adalah Fleecya, engkau tentu tahu mengapa ia berkata seperti itu kepadaku.”

Pelayan itu kebingungan. Ia tidak tahu harus mengatakan apa.

Sekali lagi Nathan memanfaatkan kebingungan pelayan itu, “Katakan yang sejujurnya padaku. Aku yakin engkau tidak mengenalnya sebelum ini.”

“Ia adalah Fleecya,” kata gadis itu, “Ia bukan seperti yang Tuan katakan.”

“Jangan berbohong kepadaku,” kata Nathan tajam, “Aku tahu ia bukan Fleecya. Ia sendiri yang mengatakan kepadaku ia tidak mengingat masa lalunya.”

“Yoland, katakan kepadaku. Apakah benar aku adalah Fleecya?” kata gadis di pelukan Nathan, “Aku selalu merasa aku bukan dia.”

Nathan terkejut mendengar kata-kata Alviorita. Ia tidak mengerti mengapa gadis itu berkata seperti ia tidak pernah tahu apa yang menimpanya dan ia hanya tahu ia telah menjadi Fleecya.

Gadis itu memang tidak tahu apa yang telah terjadi pada dirinya. Gadis itu ingat di suatu hari saat ia membuka matanya, ia tidak dapat mengingat apapun.

Seorang pria tua yang kurus yang berada di dekatnya terkejut mendengar pengakuannya.

Bukan hanya pria itu yang terkejut. Istrinya juga terkejut. Wanita itulah yang mengatakan kepadanya ia adalah putri mereka, Fleecya.

Walaupun semua orang di sekitarnya mengatakan ia adalah Fleecya tetapi ia selalu merasa tempat ini bukan tempatnya.

“Kumohon, Yoland. Selama ini aku tidak tahu apa yang telah terjadi padaku. Aku hanya tahu aku telah menjadi Fleecya tetapi aku tidak pernah merasa aku adalah gadis itu.”

Mendengar permohonan yang tulus itu, pelayan itu akhirnya berkata, “Maafkan saya, Nona. Nyonya Besar tidak mengijinkan kepada siapapun untuk mengatakan Anda bukan putri mereka bahkan kepada orang yang telah mengenal keluarga Rpiayh, kami disuruh mengatakan Anda adalah putri mereka yang telah lama mereka titipkan pada keluarga jauh mereka. Kami semua tidak tahu siapa Anda. Anda datang kemari dalam keadaan tidak sadarkan diri dan ketika Anda sadar, Anda kehilangan ingatan.”

“Mengapa Nyonya Besarmu tidak mengijinkan seorangpun mengatakan Alviorita bukan putri mereka bahkan kepada Alviorita sendiri?” tanya Nathan geram.

Gadis itu segera memegang lengan Nathan. Ia khawatir kemarahan Nathan akan membuat pelayan yang selama ini selalu bersamanya, ketakutan.

Gadis itu tidak mengerti mengapa ia tahu kemarahan Nathan dapat membuat takut siapa saja kecuali dirinya. Gadis itu merasa terbiasa dengan kemarahan pria itu dan ia tahu seperti apa bila kemarahan itu berubah menjadi kemurkaaan.

Nathan menyadari kekhawatiran Alviorita. Ia memegang tangan Alviorita dan menepuknya untuk menenangkan kekhawatiran gadis itu.

“Semua orang tahu sejak dulu Nyonya Besar ingin mempunyai anak,” kata Yoland, “Mungkin karena itu ia menganggap Nona Fleecya sebagai anaknya dan ia tidak ingin seorangpun tahu Nona Fleecya bukan putri kandungnya.”

Melihat pria itu akan mengatakan sesuatu, gadis itu segera mengetatkan pegangannya pada lengan Nathan. Gadis itu merasa pria itu akan marah.

Nathan yang semula ingin marah segera menggenggam tangan Alviorita. Tanpa mengalihkan perhatiannya dari Alviorita, Nathan berkata lembut, “Dapatkah engkau membawaku ke rumah orang tua angkatmu.”

“Engkau yakin mereka bukan orang tua kandungku?” tanya gadis itu tidak percaya.

“Sejak dulu engkau memang tidak berubah,” kata Nathan sambil tersenyum, “Aku sangat yakin engkau adalah Alviorita. Aku telah mengenalmu sejak kecil jadi aku tidak mungkin salah.”

Gadis itu tersenyum juga.

Nathan terkejut melihat senyum itu. Selama ini Alviorita hanya tersenyum mengejek padanya atau tersenyum puas. Nathan tidak pernah melihat Alviorita tersenyum manis seperti ini.

“Apa apa?” tanya gadis itu cemas melihat wajah terkejut Nathan.

“Tidak ada apa-apa,” kata Nathan, “Sebaiknya sekarang kita segera menuju rumahmu.”

Gadis itu melepaskan diri dari tangan Nathan yang mengurungnya.

Nathan menahan gadis itu. “Apa yang akan kaulakukan?” tanyanya tajam.

“Mengantarmu,” jawab Alviorita tenang.

“Engkau tidak perlu turun. Aku khawatir engkau akan berlari ke sana.”

“Apa yang membuatmu berpikir seperti itu?” tanya gadis itu tajam.

“Selama engkau berada di Castil Q`arde, engkau selalu berusaha menghindariku. Sekarang aku tidak mau mengambil resiko apapun.”

“Aku tidak akan lari. Aku hanya ingin menemani Yoland.”

Nathan tersenyum melihat kata-kata tajam Alviorita. Walaupun ia gadis itu kehilangan ingatannya tetapi ia tetap berkata-kata tajam bila berhadapan dengannya dan pandangan matanya tetap liar.

“Aku mengerti, Little Pussycat,” kata Nathan lembut.

“Little Pussycat?” tanya gadis itu kebingungan.

“Itu musuhnya the Devil Dog.”

“The Devil Dog?” gadis itu semakin kebingungan.

“Aku akan menceritakannya kepadamu suatu hari kelak. Sekarang antarkan aku ke rumah orang tua angkatmu,” kemudian Nathan menambahkan dengan tegas, “Engkau tetap di sini. Kurasa Yoland tidak akan keberatan ia harus berjalan sendiri. Bukankah demikian, Yoland?”

Yoland yang sejak tadi melihat pertengkaran mereka tersenyum. “Tidak sama sekali,” katanya. Melihat keakraban yang tampak melalui pertengkaran kedua orang itu, Yoland mempercayai semua yang dikatakan Nathan kepada gadis yang dikenalnya sebagai Fleecya.

Pria itu tidak bohong ketika ia mengatakan ia mengenal baik Fleecya.

Sejak keberadaannya di Synghz, kelakukan Fleecya memang sulit diatur. Tidak ada seorangpun yang mampu menahan keinginan gadis itu dan tidak seorangpun yang berani menentang keinginan putri pemilik ranch yang kaya itu.

Melihat pria itu dapat mengatasi sikap liar Fleecya, Yoland yakin pria itu memang mengenal Fleecya bahkan ia menduga pria itu memiliki hubungan dengan Fleecya.

Hubungan apakah itu? Hanya pria itu yang dapat menjawabnya. Tetapi melihat tatapan tajam mereka berdua yang tampak akrab, Yoland menduga hubungan mereka berdua sangat dekat.

Sambil berjalan, Yoland memikirkan reaksi Hellebre setelah mengetahui putrinya diminta kembali oleh keluarganya.

Sejak Golbert pulang dengan membawa seorang gadis yang pingsan, Hellebre sangat senang. Ia selalu menjaga gadis itu siang malam dan selalu berharap gadis cantik itu adalah putrinya.

Ketika mengetahui gadis itu kehilangan ingatannya, hanya Hellebre saja yang senang. Wanita itu juga yang memberi larangan kepada setiap orang untuk mengatakan kepada orang lain bahkan gadis itu sendiri bahwa ia bukan putri kandung mereka.

Sejak sadar, gadis itu hanya tahu ia adalah putri kandung suami istri Rpiayh yang bernama Fleecya dan tidak pernah mengetahui bahwa sesungguhnya sedikitpun ia tidak memiliki hubungan darah dengan keluarga Synghz.

Walaupun Golbert tidak setuju pada sikap istrinya yang terus menginginkan Fleecya, tetapi pria itu tetap tidak berkata apa-apa.

Semua orang di Synghz tahu Golbert tidak berani melawan kehendak istrinya. Baik di dalam keluarga Rpiayh sendiri maupun di luar, Hellebre selalu lebih berkuasa daripada suaminya.

Hellebre sangat menyayangi Fleecya. Setiap hari Hellebre selalu memperhatikan Fleecya dan berusaha setiap saat berada di sisi Fleecya. Namun tingkah laku Fleecya yang tidak dapat diatur bahkan senang memanjat pohon, membuat wanita yang tidak mempunyai anak itu kesulitan selalu berada di sisi Fleecya.

Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, Hellebre memerintahkan kepada Yoland yang seusia dengan Fleecya untuk selalu menemani gadis itu kemanapun ia pergi.

Walaupun Yoland sejak kecil hidup di Synghz yang merupakan daerah pedesaan yang subur tetapi ia tidak dapat mengimbangi kelakuan Fleecya. Walaupun ia mengalami kesulitan setiap kali Fleecya memanjat pohon tetapi ia tidak berani mengatakannya kepada Hellebre.

Semua orang di Synghz lebih takut kepada Hellebre daripada Golbert. Dan hanya gadis itu saja yang tidak takut menghadapi Hellebre.

Hellebre tidak marah dengan sikap menantang gadis itu bahkan ia menyukainya. Ia senang menghadapi Fleecya yang tidak mau tunduk pada peraturan apapun.

Semua orang di Synghz mengatakan gadis itu bagaikan burung yang terbang bebas di angkasa dan tidak pernah terikat apapun.

Sekarang muncul seorang pria yang mengatakan ia mengenal baik gadis itu di masa lalunya.

Yoland tidak tahu apa yang akan terjadi. Melihat sikap Hellebre yang tidak mau dengan mudah melepaskan Fleecya serta sikap tidak mudah menyerah yang telah ditunjukkan pria itu, Yoland tahu akan terjadi suatu pertentangan yang seru antara Hellebre dan pria itu.

Ketika mereka tiba di rumah yang paling besar di Synghz, Nathan membiarkan Alviorita melompat turun dari kuda.

Nathan juga segera melompat dari punggung kudanya dan menambatkan tali kendalinya pada sebatang pohon.

Gadis itu dan pelayannya menanti Nathan.

“Anda mengenal pria itu, Nona?” tanya Yoland.

“Tidak, tetapi perasaanku mengatakan aku mengenalnya. Dalam setiap mimpiku aku melihat seorang pemuda yang mirip pria itu. Aku tahu pria itu tidak bohong kepadaku ketika ia mengatakan ia mengenalku.”

“Apakah itu artinya Anda akan ikut pria itu kembali ke keluarga Anda?”

Fleecya tersenyum mendengar kesedihan dalam suara Yoland. “Setiap hari aku terbangun dengan satu pikiran, siapakah aku. Aku ingin memulihkan ingatanku. Aku ingin tahu siapakah diriku ini.”

“Bagaimana dengan Nyonya Besar?” tanya Yoland, “Sejak kedatangan Anda, ia sangat memperhatikan Anda bahkan ia menyayangi Anda seperti menyayangi putrinya sendiri.”

“Aku tidak tahu, Yoland. Tetapi aku yakin ia akan mengerti bila aku mengatakan aku ingin memulihkan ingatanku.”

“Tampaknya Anda sangat mempercayai pria itu,” kata Yoland, “Apakah Anda tidak khawatir pria itu membohongi Anda?”

“Aku yakin pria itu jujur. Perasaanku mengatakan aku mengenal pria itu. Ketika engkau ketakutan melihat kemarahannya, aku justru merasa sebaliknya. Aku merasa terbiasa dengan kemarahannya bahkan aku merasa aku tahu bagaimana mengendalikan kemarahan pria itu.”

“Kemarahan pria itu benar-benar membuat saya takut. Tadi saya sampai khawatir pria itu akan melakukan sesuatu kepada Anda yang ada di pelukannya.”

“Engkau tahu, Yoland?” kata Fleecya, “Sebelum aku melompat tadi, aku sangat yakin pria itu akan menangkapku. Dan ternyata memang demikian. Aku juga merasa aman dalam pelukannya, aku merasa seperti menemukan diriku sendiri yang hilang.”

“Mungkin Anda dan dia mempunyai hubungan khusus.”

“Aku tidak tahu, Yoland. Aku tidak dapat mengingat masa laluku.”

“Percayalah kepada saya, Nona,” kata Yoland meyakinkan, “Kepada setiap pria, Anda selalu menjauhi tetapi Anda tidak sedikitpun tampak ingin menjauhi pria itu. Malahan saya melihat Anda senang berada di pelukan pria itu. Tetapi harus saya akui, Nona, pria itu tampan sekali. Anda dan dia adalah pasangan yang serasi.”

“Yoland,” kata Fleecya malu mendengar kalimat terakhir Yoland yang diucapkan dengan nada menggoda itu.

“Pria itu mendekati kita, Nona,” kata Yoland, “Saya rasa ia juga senang terus-menerus memeluk Anda. Saya melihat tadi ia tidak ingin melepaskan Anda ketika Anda melompat dari punggung kudanya.”

Gadis itu hanya tersipu-sipu mendengar kata-kata Yoland.

Melihat pria itu semakin mendekat, tidak seorangpun di antara mereka yang berbicara.

“Sebaiknya saya memberitahu Nyonya Besar dulu,” kata Yoland. Pelayan itu segera pergi sebelum seorangpun dari mereka mencegahnya.

Fleecya ingin mencegah kepergian Yoland tetapi pelayannya sudah berlalu.

“Siapa dia?” tanya Nathan.

Fleecya terkejut. Sesaat ia menatap kebingungan wajah Nathan. Ia merasa bukan hanya kali ini ia dikejutkan suaranya yang lantang itu.

“Sejak aku ada di sini, ialah yang paling sering menemaniku. Walaupun ia selalu mengatakan ia adalah pelayanku sejak dulu tetapi aku tidak pernah merasa demikian,” kata Fleecya, “Kalau benar dulu aku pernah tinggal di sini, pasti kenangan yang terus berada dalam benakku walau aku kehilangan ingatan seperti ini. Tetapi aku tidak pernah merasa aku pernah berada di sini sebelumnya.”

“Aku tidak pernah tahu apa saja kegiatanmu tetapi aku yakin engkau juga tidak pernah ke sini,” kata Nathan, “Yang kuketahui adalah sebelum ini engkau tidak pernah tinggal di sini.”

Perkataan yang baru saja diucapkan pria itu membuat Fleecya curiga. “Apakah engkau benar-benar mengenalku?”

“Ya, ampun, Alviorita. Untuk apa aku membohongimu?” kata Nathan kesal, “Aku sangat mengenalmu bahkan aku yakin aku lebih mengenalmu dari siapa saja walaupun kita sering bertengkar.”

Fleecya tertegun. “Kita sering bertengkar?”

“Ya, kita selalu bertengkar setiap kali kita bertemu dan sekarang aku sedang tidak ingin bertengkar denganmu. Saat ini aku ingin menemui kedua orang tua angkatmu itu,” kata Nathan tegas.

Fleecya masih tertegun mendengar kata-kata pria itu. Di dalam mimpinya ia tidak pernah bertengkar dengan pria itu. Ia dan pria itu tampak akrab. Fleecya tahu apa yang dikatakan pria itu mungkin saja. Mungkin saja saat dewasa mereka yang dulunya akrab berubah menjadi sering bertengkar.

“Apa lagi yang engkau tunggu, Alviorita?” kata Nathan sambil menarik tangan Alviorita, “Sekarang jadilah nona rumah yang baik dan antarkan aku menemui orang tua angkatmu.”

Seperti yang diinginkan pria itu, Fleecya segera membawanya menemui kedua orang tua angkatnya.

Fleecya yakin orang tuanya kini telah menanti kedatangannya bersama Nathan. Yoland tadi mengatakan akan memberitahu mereka lebih dulu.

Nathan tidak tertarik untuk melihat setiap bagian dari rumah itu yang mereka lalui. Nathan ingin segera menemui suami istri Rpiayh dan meminta mereka untuk menyerahkan kembali Alviorita kepada dirinya.

Bila mengingat apa yang dikatakan Yoland kepada dirinya, Nathan yakin ia tidak akan dapat dengan mudah membuat keluarga Rpiayh melepaskan Alviorita.

Fleecya tersenyum melihat Hellebre dan Golbert sedang menantinya di Ruang Tamu. Fleecya segera mendekati Hellebre.

“Ke mana saja engkau seharian ini, Fleecya?” tanya Hellebre sambil memeluk Fleecya, “Tampaknya hari ini engkau senang sekali.”

Golbert melihat Nathan yang berdiri di ambang pintu, “Masuklah. Aku yakin engkau pria yang dimaksud Yoland.”

“Selamat siang. Maaf saya menganggu Anda semua.”

“Tidak, engkau tidak menganggu kami,” kata Golbert, “Adakah yang dapat saya lakukan untuk Anda?”

Fleecya mendekati Nathan. “Ini adalah Nathan. Nathan, mereka adalah orang tuaku, Hellebre dan Golbert,” kata Fleecya memperkenalkan Nathan kepada orang tuanya, “Ia datang kemari karena ingin berbicara dengan kalian.”

Nathan tidak ingin Alviorita mendengar semua yang akan dibicarakannya dengan Hellebre dan Golbert. Walaupun Nathan percaya Alviorita kehilangan ingatannya tetapi Nathan khawatir bila gadis itu akan kabur lagi bila gadis itu mengetahui ia adalah tunangannya. Nathan tidak mau mengambil resiko apapun.

“Dapatkah kita berbicara tanpa gadis ini?” kemudian Nathan berkata lembut pada Alviorita, “Maafkan aku tetapi aku hanya ingin berbicara kepada mereka.”

Fleecya cemberut. “Tetapi…”

“Aku berjanji akan menceritakannya kepadamu,” sela Nathan sebelum Alviorita menyelesaikan kalimatnya.

“Baiklah,” kata Fleecya, “Selamat siang semuanya.”

Fleecya segera meninggalkan Ruang Tamu seperti yang diinginkan Nathan.

Baik Hellebre maupun Golbert terkejut melihat Fleecya yang biasanya tidak mau diatur siapapun itu menuruti keinginan pria asing itu.

“Duduklah,” kata Golbert.

“Terima kasih. Tetapi saya lebih suka berdiri. Lagipula waktu saya tidak banyak.”

“Adakah yang dapat kami bantu?” tanya Hellebre.

“Saya kemari hanya ingin berbicara mengenai putri Anda.”

“Putri kami?” tanya Hellebre terkejut, “Apakah ia melakukan sesuatu terhadap Anda? Bila itu benar, kami minta maaf. Kami bersedia mengganti kerugian Anda.”

“Tidak, ia tidak melakukan apa-apa terhadap saya justru sayalah yang ingin melakukan sesuatu untuknya,” kata Nathan.

“Untuk Fleecya?” tanya Hellebre curiga.

“Apakah benar gadis itu adalah putri kandung Anda?” tanya Nathan. Melihat wajah Hellebre berubah, Nathan cepat-cepat berkata, “Maafkan atas pertanyaan Anda tetapi saya benar-benar ingin mengetahuinya.”

“Tentu saja ia adalah putriku,” kata Hellebre meyakinkan, “Aku adalah ibunya.”

“Anda hanya ibu yang merawatnya selama beberapa minggu ini,” kata Nathan tidak mau memperpanjang masalah, “Anda bukan ibu kandung gadis ini karena ibunya telah meninggal saat ia baru berusia tiga tahun.”

“Beraninya engkau berkata seperti itu?” kata Hellebre marah, “Fleecya adalah putriku dan sampai kapanpun ia tetap putriku.”

“Bila Anda memang ibu kandungnya tentu Anda tahu kapan dia lahir.”

Kebenaran yang diucapkan dengan tenang namun berbahaya itu membuat Hellebre terdiam untuk sesaat. Namun wanita itu masih tidak mau mengalah.

“Tentu saja aku tahu,” kata Hellebre penuh percaya diri.

“Kapan gadis itu lahir?”

Pertanyaan yang tak terduga itu membuat Hellebre terdiam. Hellebre bukan ibu kandung Fleecya tak mungkin ia mengetahui kapan gadis itu lahir.

“Lebih baik Anda mengakui semuanya,” kata Nathan mencoba tetap bersikap tenang, “Anda bukan ibu kandungnya.”

Keadaannya yang terpojok serta keinginannya untuk tetap memiliki Fleecya membuat kemarahan wanita itu semakin besar. “Siapa yang mengatakan aku tidak mengetahui kapan gadis itu lahir?”

“Mengapa Anda masih saja bersikeras?” kata Nathan menahan amarahnya, “Entah sadar atau tidak Anda telah mengatakan Anda bukan ibu kandung gadis itu. Bila Anda berdua adalah orang tuanya, Anda pasti mirip dengannya tetapi nyatanya Anda berdua sama sekali tidak mirip dengannya.”

Hellebre terdiam tetapi ia segera berkata, “Apakah setiap anak harus mirip dengan orang tuanya?”

Nathan merasa marah melihat wanita itu bersikeras tidak mau mengakui kebenaran yang telah terbukti. Sejak tadi ia mencoba berbicara dengan tenang tetapi sepertinya Hellebre tidak mau diajak berbicara dengan tenang.

Teringat keluarga inilah yang telah merawat dan memberi perlindungan kepada gadis yang dicintainya selama lebih dari dua bulan, Nathan berusaha tetap bersikap sabar.

“Semua anak selalu mirip dengan orang tua kandungnya,” kata Nathan memberitahu.

“Anggaplah ini adalah sesuatu yang langka,” kata Hellebre tajam, “Anda telah mendapatkan jawabannya dari kami. Fleecya adalah putri kami. Sekarang Anda boleh meninggalkan rumah ini.”

“Belum. Memang sejak tadi Anda telah mengatakan ia adalah putri Anda tetapi Anda belum mengatakan yang sebenarnya. Dan saya membutuhkan kebenaran bukan kebohongan,” kata Nathan tajam.

“Kami telah mengatakan yang sebenarnya. Ia adalah putri kami.”

Suara tegas bercampur kemarahan Hellebre membuat Nathan semakin yakin ia tidak mau segera melepaskan Alviorita.

“Bila Anda memang ibu kandung gadis itu, Anda tentu dapat memberitahu saya kapan gadis itu lahir,” kata Nathan sopan.

Kesopanan Nathan membuat Hellebre semakin kebingungan. Ia tidak tahu kapan Fleecya lahir. Tetapi ia tidak mau dengan mudah menyerah kepada Nathan. “Mengapa Anda ingin mengetahuinya?” balas Hellebre sopan.

“Karena saya tahu Anda tidak mengetahuinya,” kata Nathan tenang.

“Lalu apakah Anda sendiri mengetahuinya,” balas Hellebre.

Kesabaran Nathan telah habis. Sejak tadi ia berusaha berbicara dengan tenang untuk membujuk keluarga Rpiayh terutama Hellebre mengembalikan Alviorita kepadanya. Tetapi wanita itu tetap bersikeras mengakui bahwa Alviorita adalah putri kandungnya bahkan ia tidak mempercayai dirinya. Nathan telah bertekad akan membawa pulang Alviorita. Ia tidak ingin gadis itu menghilang tanpa jejak lagi seperti ditelan bumi. Hellebre salah bila ia menganggap Nathan akan bersikap lembut padanya. Bukan hanya sekali ini saja Nathan bertengkar dengan wanita. Wanita pertama dan yang paling sering bertengkar dengannya adalah Alviorita.

Mulai dari pertama kali mereka bertengkar hingga kapanpun, Nathan tetap menganggap pertengkarannya dengan Alviorita adalah pertengkaran yang paling seru yang pernah dihadapinya sekaligus paling sulit.

Alviorita bukan gadis yang mau menyerah begitu saja.

Bukan hanya Nathan yang mengetahuinya. Seluruh penduduk Kerajaan Lyvion telah mengetahui Putri Mahkota mereka tidak mudah menyerah. Sesulit apapun tugas yang dibebankan Raja Phyllips padanya, ia selalu berusaha melakukan yang terbaik.

Alviorita adalah Putri Mahkota yang paling tidak mudah menyerah, paling suka menantang, dan paling liar yang pernah dikenal Nathan.

Nathan yakin kedua sifat yang terakhir Alviorita itu tidak diketahui orang lain selain dirinya. Karena itu ia berani mengatakan dirinyalah yang paling mengenal Alviorita.

Sejak kecil ia sering bersama Alviorita dan ketika mereka dewasa, ia juga sering bersama Alviorita ketika gadis itu kabur dari Istana Urza dan tinggal di Castil Q`arde, walaupun dalam setiap pertemuan mereka, mereka selalu bertengkar.

Melalui pertengkaran-pertengkaran mereka itulah mereka lebih saling mengenal, demikianlah keyakinan Nathan.

“Tentu saja,” kata Nathan, “Saya lebih mengenal gadis itu daripada Anda.”

“Sungguh? Seberapa jauhkah Anda mengenalnya?”

“Saya sangat mengenalnya,” kata Nathan tenang menghadapi suara berbahaya Hellebre.

Nathan tahu ia pasti berhasil. Hellebre tidak tahu siapakah Nathan dan apa hubungan dia dengan Fleecya di masa lalu bahkan wanita itu tidak mengenal gadis itu sebaik Nathan.

Nathan tahu demi mempertahankan Alviorita, wanita itu akan memberinya sejumlah pertanyaan. Nathan tidak memberi kesempatan kepada Hellebre untuk melakukannya.

“Saya sangat mengenalnya melebihi apa yang Anda ketahui tentang gadis itu. Bahkan saya mengetahui Anda menemukan gadis itu dalam keadaan pingsan.”

“Kami tidak menemukannya. Ia adalah putri kandung kami,” kata Hellebre keras kepala.

“Saya tahu Anda menemukan gadis itu. Saya tahu apa saja yang dibawa gadis itu saat Anda menemukannya.”

“Kami tidak menemukannya.”

Perkataan Hellebre segera dipotong Nathan. Nathan tidak mau terlalu lama menahan apa yang diketahuinya.

Sejak tadi Nathan tahu ia pasti berhasil membuat Hellebre menyerahkan kembali Alviorita kepadanya karena itu ia memberi kesempatan kepada wanita itu untuk mengutarakan semua kebohongannya.

Walaupun wanita itu tampak sama se ke ras kepalanya dengan Alviorita, tetapi wanita itu salah bila ia menganggap Nathan tidak akan menang melawannya.

Dibandingkan dengan Alviorita, Nathan yakin lebih mudah menghadapi wanita ini. Nathan telah sering bertengkar dengan Alviorita dan setiap saat pula ia tidak tahu bagaimana menghentikan kemarahan gadis itu. Nathan hanya tahu kemarahannya selalu mudah bangkit bila sudah berhadapan dengan gadis liar itu.

Setiap menghadapi masalah yang berhubungan dengan Alviorita, Nathan yang terkenal tetap berkepala dingin menghadapi segala masalah itu berubah menjadi seorang pria yang tidak dapat menahan kemarahannya.

Seperti kali ini Nathan tidak mau mencoba bersikap ramah kepada keluarga Rpiayh yang telah merawat Alviorita selama dua bulan lebih.

“Saya tahu ketika Anda menemukannya, gadis itu mengenakan gaun putih. Dan barang yang dibawanya dalam sebuah bingkisan adalah dua buah gaun putih dan sebuah leontin perak lonjong yang sangat indah.”

Nathan tahu ia tidak mungkin salah. Innane telah memberitahunya apa saja yang dibawa Alviorita saat ia datang dari Istana Urza dan pergi lagi.

Mengenai leontin perak itu, Nathan menambahinya sendiri. Nathan tahu Alviorita sangat menyayangi benda pemberian ibunya itu dan Nathan yakin Alviorita tidak pernah meninggalkan leontin ibunya itu apalagi setelah ibunya meninggal.

Alviorita pernah menunjukkan benda itu padanya ketika ia mendapatkannya dari Ratu. Alviorita sangat senang hingga ia tidak memperhatikan Nathan.

Nathan sangat jengkel dibuatnya hingga ia balas mengacuhkan Alviorita.

Alviorita sangat sedih hingga hampir menangis ketika melihat Nathan mengacuhkannya bahkan meninggalkannya sendirian dan tidak mau bermain dengannya.

Melihat wajah sedih gadis kecil itu, Nathan segera menghiburnya. Nathan menyadari sikapnya salah.

Seharusnya ia mengerti gadis itu masih terlalu kecil untuk mengetahui perasaan orang lain. Gadis kecil itu terlalu senang menerima sesuatu yang sangat indah dari ibu yang paling disayanginya hingga melupakan yang lainnya.

“Tidak, ia tidak membawa itu,” kata Hellebre menyangkal.

“Anda tidak dapat membohongi saya. Saya yakin saya benar terutama mengenai leontin perak itu,” kata Nathan tajam, “Leontin itu pemberian ibu gadis itu yang telah meninggal karena itu saya yakin gadis itu akan selalu membawanya ke manapun ia pergi.”

“Tidak. Gadis itu adalah putri kami dan kami tidak menemukannya.”

Mata Nathan menyipit berbahaya seperti suaranya, “Lalu mengapa ia dapat hilang ingatan?”

Golbert yang sejak tadi hanya diam saja melihat istrinya terus menyangkal kebenaran yang diucapkan Nathan, segera menghentikan istrinya yang ingin menyangkal.

“Sudahlah. Sebaiknya kita mengaku saja,” kata Golbert.

Sebelum Hellebre sempat mengatakan apa-apa, Golbert segera berkata, “Anda benar. Gadis itu bukan putri kandung kami. Tetapi Anda salah ketika Anda mengatakan kami menemukan gadis itu. Yang benar adalah saya menabrak gadis itu dengan kereta kuda saya dan membuat gadis itu hilang ingatan.”

Nathan tertegun.

Dulu Alviorita bisa sampai ke Castil Q`arde karena tertabrak kereta kuda. Kemudian gadis itu mengaku ia hilang ingatan. Kini gadis itu bisa sampai di Synghz yang terletak di perbatasan Kerajaan Lyvion juga karena tertabrak kereta kuda. Tetapi kali ini gadis itu benar-benar hilang ingatan.

Andaikata situasi saat ini bukan situasi yang tegang, pasti Nathan dapat tersenyum geli.

“Di mana Anda menabraknya? Saya yakin Anda menabrak gadis itu di dekat Castil Q`arde.”

Golbert terkejut. “Bagaimana Anda mengetahuinya?”

“Saya telah mengatakan kepada Anda semua bahwa saya mengenal gadis itu melebihi Anda,” kata Nathan tenang.

“Ya, saya ingat sekarang. Anda telah mengatakannya. Mengapa saya jadi pelupa seperti ini. Semakin tua semakin pelupa,” keluh Golbert.

Nathan mengabaikan keluhan pria tua itu. Saat ini Nathan hanya ingin tahu di manakah pria tua itu menabrak Alviorita. “Di manakah tepatnya Anda menabrak gadis itu? Apakah di sekitar Castil Q`arde?” tanyanya.

“Saya menabrak gadis itu bukan di sekitar Castil Q`arde tetapi masih dekat dari Castil Q`arde. Entah apa nama tempat itu, saya lupa.”

Golbert tidak dapat mengingat nama daerah yang untuk pertama kalinya ia lalui itu. Walaupun Golbert sering ke Vximour, daerah sekitar Istana yang lebih cepat dicapai bila melalui jalan itu daripada melalui Quadra, tetapi ia tidak pernah melalui jalan satunya yang lebih dekat itu.

Golbert senang melalui kota Quadra dulu sebelum ke Vximour. Hari itu karena terburu-buru kemabli ke Synghz, Golbert terpaksa melewati jalan terdekat.

Tidak berapa jauh setelah melewati Castil Q`arde, ia menabrak gadis itu. Karena ia memacu kereta kudanya sangat kencang dan karena gadis itu juga tampaknya terburu-buru, kecelakaan itu tidak dapat dihindari lagi.

Saat itu Golbert bingung. Ia tidak tahu harus melakukan apa terhadap gadis yang pingsan itu. Ia tidak tega melihat gadis itu tergeletak di jalan tetapi ia juga harus buru-buru pulang karena di Synghz tiba-tiba ada masalah dengan ranch yang dimilikinya. Karena tidak tahu apa lagi yang harus dilakukannya, Golbert membawa gadis itu ke Synghz.

Nathan tahu daerah yang dilalui Golbert tetapi ia ingin suatu kepastian. “Apakah daerah itu bernama Chymnt?”

“Ya, itu namanya.”

Nathan tertegun. Ia menduga kecelakaan itu terjadi tak lama setelah Alviorita meninggalkan Castil Q`arde. Karena itulah ia tidak dapat menemukan Alviorita di sekeliling Castil Q`arde bahkan di Chymnt.

“Apakah Anda benar-benar mengenal gadis itu seperti yang Anda katakan?” tanya Golbert cemas.

“Ya, saya sangat mengenalnya. Percayalah saya sangat mengenalnya,” Nathan meyakinkan Golbert.

“Syukurlah, saya khawatir Anda hanya membohongi kami,” kata Golbert senang.

Kemarahan Nathan reda. Sekarang pria itu mengerti mengapa Hellebre bersikeras mengatakan Alviorita adalah putri kandung mereka. Suami istri Rpiayh sangat menyayangi Alviorita.

“Jangan khawatir. Saya tidak akan membohongi Anda.”

“Sebenarnya siapakah gadis itu?” tanya Golbert.

Nathan memandang keluar jendela yang terbuka. Dari jendela itu ia dapat melihat Alviorita tengah berlari dan yang mengejar dibelakangnya adalah Yoland.

Nathan mendekati jendela dan tanpa memalingkan perhatiannya dari Alviorita, ia bertanya, “Menurut Anda siapakah dia?”

“Saya tidak dapat menebaknya secara tepat,” kata Golbert, “Gadis itu lincah, periang namun sangat sulit diatur. Ia tidak mau tunduk terhadap siapapun. Menurut saya gadis itu liar.”

“Fleecya tidak liar,” bantah Hellebre, “Buktinya ketika ia kuajak ke setiap perjamuan, ia terlihat pendiam. Fleecya hanya duduk di tepi sambil mengawasi setiap orang bahkan ia tampak paling anggun di antara semua tamu.”

Golbert mengabaikan pembelaan Hellebre terhadap Fleecya bahkan ia menggunakannya untuk menerangkan kebingungannya.

“Hal itu membuat saya tidak dapat menebak dengan tepat diri gadis itu,” kata Golbert, “Menurut saya sebenarnya ia adalah gadis yang liar tetapi ia terpaksa bertingkah anggun.”

“Tidak, Fleecya adalah gadis yang anggun. Ia gadis paling cantik dan paling anggun yang pernah kutemui,” bantah Hellebre.

Nathan terus memandang Alviorita yang bermain bersama Yoland di halaman rumah keluarga Rpiayh.

“Anda semua benar,” kata Nathan tenang.

“Kami semua benar?” tanya Hellebre tidak mengerti, “Apa maksud Anda?”

“Gadis itu banyak dikagumi orang karena keanggunan serta keangkuhannya. Tetapi sebenarnya ia adalah gadis yang menyukai kebebasan.”

Golbert dan Hellebre terdiam. Mereka juga memandang keluar jendela seperti Nathan.

Nathan tidak tahu apa yang dipikirkan kedua orang tua itu. Nathan ingin segera mengutarakan maksud kedatangannya, “Saya datang kemari dengan tujuan membawa kembali gadis itu.”

“Tidak,” sahut Hellebre, “Aku tidak akan mengijinkanmu membawanya.”

Nathan memalingkan kepalanya dari jendela dan berkata dingin, “Mengapa?”

“Karena aku tidak mengijinkannya,” jawab Hellebre sama dinginnya dengan Nathan.

“Apakah Anda tidak mengerti? Keluarga gadis itu sangat mengkhawatirkan gadis itu dan mereka sibuk mencarinya.”

“Aku tidak yakin engkau adalah keluarga gadis itu,” kata Hellebre, “Engkau sama sekali tidak mirip dengannya. Lagipula kalau benar keluarga gadis itu sibuk mencarinya, pasti ada berita tentang itu.”

“Mengapa Anda tidak mempercayai saya?” tanya Nathan tajam, “Untuk apa saya membohongi Anda?”

“Mengapa tidak?” sahut Hellebre, “Aku khawatir engkau hanya ingin menjual Fleecya. Aku tidak akan mengijinkan engkau membawanya kecuali engkau dapat membuktikan engkau adalah keluarga gadis itu.”

Nathan mengerti Hellebre sangat menyayangi Alviorita. Wanita itu tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada Alviorita, karena itu Nathan menahan kemarahannya yang bangkit kembali setelah reda untuk beberapa saat.

“Saya memang bukan keluarga gadis itu tetapi saya tidak mungkin melakukan apa yang Anda katakan. Saya benar-benar ingin membawa gadis itu kembali kepada keluarganya.”

“Kami tidak akan menyerahkan Fleecya kepada Anda yang bukan keluarganya. Kami hanya akan mengembalikannya kepada keluarganya. Tetapi saya rasa keluarganya tidak akan mencarinya karena hingga saat ini saya tidak mendengar berita hilangnya seorang gadis.”

“Anda salah bila Anda mengatakan keluarga gadis itu tidak mencarinya. Bahkan sejak awal menghilangnya gadis itu, keluarganya telah melakukan pencarian besar-besaran hingga membuat seluruh Kerajaan Lyvion bergejolak.”

“Sungguhkan itu? Hingga saat ini hanya berita menghilangnya Putri Alviorita saja yang membuat seluruh Kerajaan Lyvion bergejolak.”

Nathan tidak dapat menahan amarahnya lagi. Ia sangat senang dapat bertemu kembali dengan Alviorita tetapi untuk mendapatkan kembali gadis itu, ia harus berusaha keras. Dan Hellebre tidak ingin mengembalikan Alviorita padanya. Kesenangan yang terhambat itu membuat Nathan semakin tidak dapat menguasai amarahnya lagi.

“Itu artinya Anda tidak mau menyerahkan gadis itu kepada saya?” tanya Nathan berbahaya.

“Apakah saya perlu menegaskan saya khawatir Anda menjual gadis itu karena itu saya hanya akan menyerahkan gadis itu kepada Anda bila Anda dapat membuktikan Anda adalah keluarganya.”

“Ya, ampun. Untuk apa saya melakukan itu?” kata Nathan tajam, “Bila Anda memang menginginkan keluarga gadis itu sendiri yang memintanya, baik. Saya akan meminta Raja Phyllips datang sendiri kemari.”

“Raja Phyllips?” tanya mereka terkejut.

Sejak tadi Nathan tidak menyebut nama Alviorita. Ia hanya mengatakan ‘gadis itu’ karena ia tidak ingin keluarga Rpiayh tahu gadis yang mereka panggil Fleecya adalah Putri Mahkota Kerajaan Lyvion, Putri Alviorita. Nathan juga yakin Alviorita tidak akan senang bila ia mengetahui keluarga Rpiayh tahu ia adalah sang Putri Mahkota. Tetapi kini semuanya telah terlambat. Nathan tanpa sengaja telah mengikutsertakan nama ayah Alviorita. Nathan tahu ia harus menjelaskannya untuk menghilangkan kebingungan suami istri Rpiayh sekaligus membuat mereka menyerahkan Alviorita kepadanya.

“Baiklah, saya akan memberitahu siapa gadis itu sebenarnya. Sejak tadi saya memang tidak mau memberitahu Anda siapa gadis itu tetapi sepertinya saya harus melakukannya untuk bisa membawa kembali gadis itu kembali ke keluarganya.”

Kemarahan Nathan membuat suami istri itu terdiam ketakutan.

Nathan tidak berniat memberi kesempatan kepada kedua orang itu untuk mengatakan sesuatu.

“Nama gadis itu adalah Alviorita, Putri Mahkota Kerajaan Lyvion. Raja Phyllips sangat mengkhawatirkan hilangnya Alviorita sejak awal menghilangnya gadis itu karena itu saya berharap Anda mau mengembalikan gadis itu kepada saya.”

Suami istri Rpiayh terpana dengan pengakuan singkat itu.

“Apakah itu benar?” tanya Hellebre.

“Untuk apa saya membohongi Anda apalagi ini menyangkut Istana Urza? Apakah Anda benar-benar ingin Raja Phyllips sendiri yang datang kemari untuk menjemput putrinya?” kata Nathan geram.

“Bukan, bukan itu maksud kami,” kata Golbert sambil menggerak-gerakkan tangannya untuk meyakinkan Nathan, “Kami hanya ingin tahu mengapa Putri Alviorita kabur dari Istana dan apakah hubungan Anda hingga Anda begitu bersikeras mengambil Putri Alviorita dari kami?”

Ketakutan Golbert serta Hellebre membuat Nathan menahan amarahnya. Dengan tenang ia berkata, “Saya adalah putra Duke of Kryntz, Nathan. Seperti yang Anda ketahui keluarga saya dan keluarga Raja Phyllips telah bersahabat lama.”

“Anda tunangan Putri Alviorita?” tanya Golbert.

Nathan melirik Alviorita dan mengangguk.

“Sekarang kami mengerti,” kata Golbert, “Anda boleh membawa Putri Alviorita. Saya yakin Paduka Raja sangat mengkhawatirkan Putri Alviorita.”

“Bila Anda tidak keberatan, kami ingin mengucapkan selamat jalan dulu pada Tuan Puteri,” kata Hellebre hati-hati.

“Tentu saja tidak,” kata Nathan, “Tetapi saya ingin Anda berjanji untuk tidak mengatakan kepada Alviorita bahwa ia adalah seorang Putri Mahkota dan bahwa saya adalah tunangannya.”

Kedua suami istri Rpiayh tidak mengerti.

Melihat kebingungan mereka, Nathan merasa ia perlu menjelaskan sesuatu lagi, “Saya tidak ingin ia merasa terbebani oleh kedudukan yang sangat penting itu sebelum ingatannya pulih.”

“Mengapa demikian? Bukankah ingatan gadis itu akan semakin cepat pulih bila ia mengetahui segalanya?” tanya Hellebre tak mengerti.

Nathan memutuskan untuk tidak menutupi yang sebenarnya, “Sebenarnya, Alviorita melarikan diri dari Istana Urza juga karena ia ingin melarikan diri dari kedudukannya itu di samping ia ingin melarikan diri dari pertunangannya. Walau ia sekarang tidak dapat mengingat apapun, saya tidak akan mengatakannya. Saya tidak ingin mengambil resiko apapun.”

Permintaan Nathan membuat kedua orang itu kembali ragu-ragu.

Melihat keragu-raguan itu akhirnya Nathan memutuskan sesuatu yang tidak pernah dipikirkannya sebelumnya. “Saya mengerti Anda masih tidak mempercayai saya. Untuk meyakinkan Anda, sepertinya saya harus membiarkan Anda berdua mengikuti saya sampai saya mengantarkan Alviorita ke Istana Urza. Saya yakin dengan demikian Anda tidak perlu khawatir.”

“Dapatkah itu?” tanya Hellebre berharap.

“Tentu saja. Saya yakin Alviorita akan senang sekali. Raja Phyllips juga tidak akan keberatan bila ia harus bertemu Anda, Raja Phyllips akan sangat senang dapat bertemu Anda.”

Hellebre tersenyum senang.

“Lebih baik Anda segera bersiap-siap. Saya akan memanggil Alviorita.”

“Tentu,” kata Golbert.

Nathan segera mengundurkan diri dari ruangan itu dan mencari Alviorita di halaman.

Untuk sesaat Nathan kebingungan ketika melihat Alviorita tidak ada di halaman. Tetapi ketika melihat Yoland tengah menengadah ke atas pohon pinus, ia tersenyum dan mendekati gadis itu.

Alviorita melihat kedatangan Nathan tetapi ia tidak berusaha turun. Alviorita tersenyum sambil memandang Nathan yang terus mendekati pohon tempatnya duduk.

“Nona, turunlah. Lihatlah Tuan Muda itu mencarimu,” kata Yoland yang juga melihat Nathan mendekati mereka.

“Biarkan aku di sini, Yoland. Aku masih ingin duduk di sini.”

“Nona, turunlah. Apa yang harus saya katakan pada Tuan Besar dan Nyonya Besar bila Anda jatuh?”

Nathan tersenyum mendengar teriakan gadis pelayan itu. Nathan menengadahkan kepalanya dan berkata, “Turunlah, Alviorita. Kita akan pulang.”

“Pulang?” tanya Alviorita tak percaya.

“Benar, engkau dan aku akan pulang ke tempat engkau berasal. Sekarang turunlah,” kata Nathan sambil mengulurkan tangannya ke atas.

Alviorita tidak berpikir panjang. Ia segera melompat ke tangan yang mengulur padanya itu.

Nathan segera menangkap gadis itu dengan kedua tangannya. “Engkau memang suka menantang bahaya,” kata Nathan sambil menatap tajam wajah Alviorita di gendongannya, “Untung pohon ini tidak terlalu tinggi.”

“Engkau sendiri yang menyuruhku melompat,” kata Alviorita tidak kalah tajam.

“Kapan aku menyuruhmu?”

“Waktu engkau mengulurkan tanganmu ke atas.”

“Bagaimana kalau aku tidak menangkapmu?”

“Itu tidak mungkin kecuali kalau engkau benar-benar ingin aku jatuh.”

Nathan tersenyum. “Engkau memang the Little Pussycat.”

“Engkau mengatakan akan memberitahuku tentang itu,” kata Alviorita mengingatkan.

“Aku akan memberitahumu nanti,” kata Nathan sambil berjalan.

“Turunkan aku, Nathan. Aku bisa berjalan sendiri,” tuntut Alviorita.

“Tidak,” sahut Nathan, “Aku khawatir engkau akan menggunakan kedua kakimu yang lincah ini untuk memanjat pohon lagi. Untuk menghindari itu, aku akan membopongmu hingga ke dalam rumah.”

“Tidak akan. Aku janji aku tidak akan memanjat lagi,” kaa Alviorita berjanji.

“Aku ragu kucing liar sepertimu tidak akan melakukannya.”

“Dan untuk itu diperlukan the Devil Dog untuk menjaganya?” kata Alviorita tajam.

Nathan tersenyum. “Tepat sekali.”

“Ayolah, Nathan, turunkan aku. Aku benar-benar berjanji tidak melakukannya,” bujuk Alviorita.

“Engkau dulu juga berjanji seperti ini kepadaku sebelum engkau meninggalkanku, Alviorita. Sekarang aku tidak akan mengambil resiko apapun,” kata Nathan tegas.

“Alviorita? Itukah namaku?”

“Benar, engkau adalah Alviorita bukan Fleecya dan selamanya engkau adalah Alviorita. Engkau harus terbiasa dengan nama itu, Alviorita,” kemudian Nathan menambahkan dengan tegas, “Dan Alviorita adalah seekor kucing liar yang harus dijaga baik-baik olehku.”

Alviorita hanya memasang muka cemberut. Gadis itu tahu ia tidak akan dapat membuat Nathan menurunkannya dari gendongannya, maka Alviorita melingkarkan tangannya di sekeliling leher pria itu.

Dari balik tubuh Nathan, Alviorita melihat pelayannya tersenyum melihat mereka yang baru bertengkar tetapi tetap tampak mesra.

Melihat senyum penuh arti itu, wajah Alviorita memerah.

Alviorita tahu pelayannya itu benar. Ia selalu menghindari semua pria yang mendekatinya tetapi ia tidak berusaha menjauh dari Nathan walaupun mereka sering bertengkar.

Alviorita ingin mengetahui siapakah pria itu. Perasaannya mengatakan pria itu sangat dekat dengannya dan ia pernah menjumpai pria itu di suatu tempat.

Tempat yang sangat indah dan penuh kenangan.

Kenangan yang mungkin mengembalikan ingatannya.

12

Karena Nathan tidak membawa kuda lain dan ia hanya sendirian mencari Alviorita di Synghz, maka keluarga Rpiayh memutuskan untuk menaiki kereta kuda yang mereka miliki.

“Aku ingin berkuda seperti Nathan,” kata Alviorita ketika melihat suami istri Rpiayh ingin mengajaknya naik kereta.

“Anda tidak boleh melakukannya. Perjalanan ini membutuhkan waktu yang lama,” kata Golbert.

Alviorita terdiam mendengar kata-kata sopan Golbert. Sejak berada di Synghz, Alvioritalah yang bersikap sopan kepada mereka tetapi sejak kedatangan Nathan, kedua orang itulah yang kini bersikap sopan terhadapnya.

Alviorita tidak mengerti mengapa mereka berubah sedemikian cepatnya.

“Sebenarnya siapakah saya sehingga kalian bersikap sangat sopan kepadaku?” tanya Alviorita curiga, “Bukankah saya yang harus bersikap sopan kepada kalian? Mengapa kini yang terjadi justru sebaliknya?”

Golbert dan Hellebre kebingungan melihat kecurigaan Alviorita. Mereka telah berjanji kepada Nathan untuk tidak mengatakan apa-apa tentang kedudukan gadis itu.

Nathan segera bertindak. “Karena engkau adalah gadis yang patut dihormati,” kemudian Nathan menambahkan dengan nada menyesal, “Walaupun engkau sangat liar seperti kucing.”

“Apakah engkau sendiri tidak nakal, The Devil Dog?” tanya Alviorita dingin.

“Tidak, aku lebih penurut daripada engkau.”

Melihat Alviorita ingin mengatakan sesuatu, Nathan cepat-cepat berkata, “Sekarang kita tunda dulu pertengkaran kita karena aku harus membawamu pulang pada mereka yang mengkhawatirkanmu sesegera mungkin.”

Yoland yang tidak mengetahui diri Alviorita yang sebenarnya berkata, “Sebaiknya Anda lekas-lekas masuk ke kereta, Nona.”

“Aku ingin berkuda,” kata Alviorita bersikeras.

“Tidak, Alviorita. Perjalanan ini membutuhkan waktu kurang lebih dua hari dan aku tidak ingin engkau sakit selama perjalanan.”

Alviorita tidak mau menyerah. “Aku janji aku tidak akan jatuh sakit.”

Nathan yang telah mengenal sikap tidak mau menyerah Alviorita, berusaha membujuk gadis itu dengan lembut.

“Aku juga yakin engkau tidak akan sakit, Alviorita. Tetapi ada baiknya kita menghindari kemungkinan itu. Aku tidak ingin membawamu kembali ke keluargamu dalam keadaan sakit. Aku khawatir mereka akan menyalahkan aku.”

“Tidak akan. Aku tidak akan membiarkan mereka menyalahkanmu,” kata Alviorita bersikeras, “Aku ingin naik kuda sepertimu.”

Alviorita tidak mau menyerah. Ia benar-benar ingin berkuda sendiri hingga Vximour. Alviorita tidak ingin menikmati setiap daerah yang mereka lalui hanya dari jendela kereta. Ia ingin melihat semua daerah yang mereka lalui tanpa halangan.

Mengingat gadis itu hanya disibukkan oleh urusan kerajaan selama lima belas tahun dan tidak pernah bersantai, Nathan mengerti keinginan Alviorita. Nathan ingin membuat Alviorita bahagia.

“Baiklah, engkau boleh naik kuda.”

Alviorita senang sekali mendengarnya. “Bolehkan saya meminjam kuda kalian?” tanya Alviorita penuh harap pada Golbert dan Hellebre.

“Tentu saja, Anda boleh meminjamnya,” kata Golbert, “Tanpa Anda mintapun, kami bersedia memberikan kuda kami pada Anda.”

Alviorita buru-buru menyahut, “Tidak, saya tidak memintanya. Saya hanya ingin meminjamnya.”

“Tidak, Alviorita. Engkau tidak akan memintanya juga tidak akan meminjamnya. Engkau akan naik kudaku.”

“Lalu engkau?” tanya Alviorita curiga.

“Jangan mengkhawatirkan aku, aku juga akan berkuda sebab aku harus mengawasimu.”

“Engkau membawa kuda lain?”

“Aku tidak perlu membawa kuda lain untuk membiarkan engkau tidak naik kereta,” kata Nathan sambil mendekati Alviorita.

Alviorita tidak mengerti apa yang dikatakan Nathan. “Engkau akan naik kereta?”

Nathan tersenyum sambil mendekati Alviorita yang kebingungan. Tanpa memberi kesempatan kepada gadis itu untuk menghindar, ia segera mengangkat tubuh Alviorita.

“Apa yang kaulakukan?” Alviorita terkejut.

“Membantumu naik kuda,” jawan Nathan tenang.

“Berkuda dengan gaun ini? Engkau jangan bercanda, Nathan, dengan gaun ini aku terlalu sulit untuk duduk di atas kuda sambil mengendalikannya,” kata Alviorita.

“Dulu engkau tidak kesulitan, sekarangpun tidak akan. Lagipula bukan engkau yang akan mengendalikan kudanya.”

“Apa maksudmu?”

Kecurigaan Alviorita membuat Nathan tersenyum. Nathan membiarkan Alviorita terus kebingungan tanpa mencoba mengurangi kecurigaan gadis itu.

Melihat Nathan membopong Alviorita ke kudanya, Hellebre segera berkata, “Yoland, lekas ambilkan mantel tebal untuk gadis itu.”

“Mungkin sebaiknya ia juga ikut. Aku rasa Yoland akan dibutuhkan Tuan Puteri selama perjalanan nanti,” tambah Golbert.

Hellebre menatap suaminya. “Engkau yakin?” kemudian ia berkata kepada Yoland, “Lekaslah bersiap-siap, Yoland. Kita akan segera berangkat.”

Yoland segera berlari ke dalam.

Sementara itu Alviorita telah didudukkan Nathan di depan pelana kudanya.

Akhirnya Alviorita mengerti semua kata-kata Nathan. “Mengapa engkau mendudukanku di sini?”

“Karena engkau akan duduk di depanku selama kita berkuda,” kata Nathan sambil menaikkan tubuhnya ke atas pelana kudanya.

Alviorita memalingkan kepalanya kepada Nathan yang berada di belakangnya dan merujuk. “Penipu! Katamu aku boleh naik kuda.”

Nathan tersenyum mendengar suara kecewa bercampur marah itu, “Aku memang mengijinkanmu tetapi aku tidak berkata engkau bisa berkuda sendiri.”

“Aku bisa berkuda,” sahut Alviorita.

“Aku tahu, Little Pussycat, tetapi aku tidak akan mengambil resiko. Aku khawatir engkau mengarahkan kudamu ke arah lain.”

“Aku tidak akan melakukannya. Lagipula engkau ada di sampingku dan menjagaku.”

“Aku lebih yakin engkau aman dalam keadaan seperti ini,” kata Nathan sambil melingkarkan sebelah tangannya ke pinggang Alviorita.

Alviorita jengkel tetapi ia mempunyai cara sendiri. Walaupun Nathan tidak mengijinkan dia naik kuda sendiri bukan berarti dia tidak dapat mengendalikan kuda.

Nathan telah menduga apa yang akan dilakukan gadis itu. Ia segera meraih tali kendali kudanya sebelum gadis itu memegangnya.

“Engkau benar-benar menyebalkan! Aku membencimu,” kata Alviorita jengkel sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya.

Nathan tersenyum. Nathan memang tidak tahu bagaimana perasaan Alviorita kepadanya tetapi ia tahu apa yang baru diucapkan Alviorita bukan perasaannya yang sesungguhnya. Gadis itu sedang marah kepadanya. Nathan menyadari itu. Tetapi ia tetap tidak melepaskan gadis itu. Nathan ingin menyenangkan Alviorita sekaligus menjaganya.

Untuk menjaga gadis liar seperti Alviorita, Nathan hanya punya satu keyakinan yaitu ia tidak boleh jauh dari Alviorita. Ia harus selalu berada di sisi Alviorita.

Alviorita semakin jengkel melihat senyum itu. Alviorita memalingkan kepalanya ke jalan dengan jengkel.

Saat memalingkan kepala, Alviorita melihat Yoland datang dengan tergesa-gesa.

“Nyonya Besar menyuruh saya memberikan mantel ini kepada Anda, Nona. Nyonya Besar ingin Anda mengenakannya untuk menghindari angin.”

Nathan mengulurkan tangannya, “Terima kasih.”

Alviorita melihat gadis itu membawa tas kecil. “Engkau ikut?”

“Tuan Besar dan Nyonya Besar menyuruh saya ikut, Nona. Kata mereka Anda akan membutuhkan saya selama perjalanan nanti.”

“Aku senang engkau ikut, Yoland. Aku akan mempunyai teman selama perjalanan nanti,” kata Alviorita senang.

“Saya juga senang dapat menemani Anda, Nona.”

“Sebaiknya engkau segera naik ke kereta, Yoland. Kita akan segera berangkat,” kata Nathan, “Aku khawatir kita akan kemalaman di tengah jalan nanti. Hari sudah semakin siang.”

“Saya permisi dulu, Nona.”

Alviorita mengawasi kepergian Yoland. Alviorita terus mengawasi pelayannya itu hingga gadis itu naik kereta.

Nathan mengenakan mantel itu di pundak Alviorita.

“Mengapa aku harus mengenakannya? Matahari semakin tinggi dan hari semakin panas.”

“Untuk menghindari engkau jatuh sakit, sebaiknya engkau menurut,” Nathan menangkap tangan Alviorita yang ingin melepaskan mantel itu, “Engkau harus mengenakannya, Alviorita.”

“Aku heran mengapa engkau senang sekali memberi banyak aturan kepadaku. Aku tidak menyukai semua itu.”

“Selama lima belas tahun engkau terpaksa mengikuti semua aturan yang mengikatmu. Sekarang saat engkau terbebas dari aturan-aturan itu, engkau tidak mau diatur lagi. Aku mengerti itu. Tetapi aku harus melakukannya untuk kebaikanmu sendiri.”

Alviorita memandang lekat-lekat wajah Nathan. “Mengapa engkau sangat memperhatikan aku? Aku yakin engkau bukan saudaraku.”

Nathan tersenyum. Ia tidak tahu bagaimana reaksi Alviorita bila ia mengatakan kelak mau tidak mau mereka akan mengikat hubungan yang lebih dekat daripada hubungan saudara.

“Sebagai teman masa kecil yang menyayangimu, aku ingin membuatmu senang sekaligus melindungimu.”

“Sejauh apakah perjalanan kita ini sehingga engkau tidak mengijinkan aku berkuda sendiri?”

“Sangat jauh, Alviorita. Dengan berkuda, kita membutuhkan waktu lebih dari satu hari bahkan bisa mencapai satu minggu kalau kita berkuda sangat lambat.”

“Kita akan berjalan lambat?” tanya Alviorita penuh harap.

“Tidak, Alviorita.”

Melihat muka kecewa Alviorita, Nathan segera berkata, “Aku mengerti engkau ingin kita berjalan lambat tetapi aku ingin segera membawamu kembali ke keluargamu. Aku berjanji akan membawamu berjalan-jalan setelah kita sampai di rumahmu. Aku berharap engkau mau mempercayaiku dan menuruti segala kata-kataku.”

Alviorita kesal Nathan tidak menuruti permintaannya tetapi Nathan meminta ia selalu menuruti segala perintahnya. “Mengapa engkau bersikeras menyuruhku menurutimu?”

Melihat Alviorita ingin memulai pertengkaran lagi, Nathan segera bertindak.

Nathan telah berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak bertengkar lagi dengan Alviorita. Tetapi setiap kali mereka bertemu selalu ada di antara mereka yang memulai pertengkaran.

Walaupun demikian, Nathan merasa pertengkaran mereka semakin berkurang. Alviorita sudah tidak selalu berkata tajam kepadanya. Saat ini gadis itu mulai sering berkata sangat manis bahkan terkesan manja hingga membuat Nathan ingin menciumnya. Tetapi Nathan tidak pernah melakukannya. Bukan karena ia takut Alviorita akan menamparnya lagi tetapi karena ia tidak ingin membuat Alviorita semakin curiga kepadanya. Untuk saat ini Nathan merasa cukup memberi pengertian kepada Alviorita bahwa ia adalah teman masa kecilnya.

Saat ini Nathan tidak mau memikirkan yang lain. Nathan hanya tahu satu-satunya cara untuk membuat Alviorita terdiam adalah dengan menciumnya.

Alviorita sangat terkejut ketika Nathan menundukkan kepalanya dan menciumnya, hingga ia tidak dapat berbuat apa-apa. Alviorita merasa pria itu pernah menciumnya tetapi ia tidak ingat kapan.

Nathan tersenyum lembut melihat wajah Alviorita yang memerah.

Jantung Alviorita berdebar semakin kencang ketika tangan kanan Nathan semakin erat memeluk pinggangnya. Alviorita mengerti apa yang diharapkan Nathan darinya. Alviorita segera menyandarkan punggungnya di dada Nathan dan memegang lengan Nathan yang melingkar tubuhnya.

Melihat Alviorita telah menuruti segala perkataannya, Nathan segera memimpin rombongan kecil itu ke Vximour.

Mulanya Nathan memang senang Alviorita menurutinya tetapi lama kelamaan Nathan merasa kecewa. Sejak awal mereka berjalan hingga mereka telah meninggalkan Synghz, Alviorita hanya diam saja.

Nathan mengerti Alviorita marah kepadanya tetapi ia tidak ingin gadis itu terus diam saja seperti patung. Gadis itu sama sekali tidak mau berbicara walaupun ia telah berusaha mengajaknya berbicara.

Akhirnya Nathan menyerah pada Alviorita yang keras kepala, “Baiklah kalau engkau tidak mau berbicara, aku juga tidak akan berbicara.”

Alviorita tetap diam. Ia terus memperhatikan setiap tempat yang mereka lewati sambil berusaha mengacuhkan Nathan.

Nathan berharap Alviorita akan merasa bosan karena tidak ada yang mengajaknya berbicara tetapi ia salah. Alviorita terus diam walaupun tidak seorangpun yang mengajaknya berbicara. Nathan kecewa karenanya.

“Engkau marah kepadaku?” bisik Nathan.

Tidak ada jawaban.

“Aku mengerti mengapa engkau marah kepadaku. Aku ingin kita berjalan lambat tetapi mengertilah, Alviorita, keluargamu mengkhawatirkanmu. Kalau engkau benar-benar ingin melihat-lihat tempat ini, aku janji akan membawamu ke sini lagi bahkan ke semua tempat yang ingin kaudatangi. Tetapi setelah engkau pulang kepada keluargamu.”

“Aku merasa bila aku pulang, aku tidak akan ke mana-mana lagi bahkan untuk memintamu mengantarkan aku ke setiap tempat yang kuinginkan.”

Akhirnya Alviorita berbicara dan membuat Nathan senang. Nathan menahan perasaan senangnya mendengar kata-kata sedih itu.

Walaupun tidak dapat mengingat masa lalunya, Alviorita tetap ingat ia tidak dapat berbuat bebas bila ia telah berada di sisi keluarganya. Nathan dapat merasakan kesedihan gadis itu.

“Aku tidak akan membiarkan mereka mengurungmu,” kata Nathan berjanji, “Aku tetap akan membawamu berjalan-jalan walaupun mereka melarangmu. Kalau perlu aku akan menculikmu.”

Alviorita tersenyum geli. “Engkau menculikku? Apakah engkau yakin engkau dapat menculikku dari keluargaku?”

“Aku pasti akan melakukan apa saja untuk membahagiakanmu, Tuan Puteri.”

Alviorita memalingkan kepalanya mendengar kesungguhan Nathan. “Engkau berjanji?”

“Aku janji, Alviorita. Aku sangat ingin membuatmu yang selama ini tidak pernah membahagiakan diri sendiri, menjadi gadis yang paling bahagia di dunia ini.”

“Tidak pernah membahagiakan diri? Menjadi gadis yang paling bahagia di dunia?”

Nathan tersenyum mendengar kebingungan Alviorita. “Aku akan melakukannya untukmu dan hanya untukmu seorang, Alviorita,” katanya kemudian ia menundukkan kepalanya.

Wajah Alviorita kembali memerah ketika Nathan menciumnya. Alviorita melihat Nathan tersenyum padanya.

“Engkau menciumku lagi.”

“Aku akan menciummu lagi kalau engkau tidak segera memalingkan kepalamu ke jalan,” kata Nathan bergurau.

Wajah Alviorita semakin merah. Gadis itu segera memalingkan kepalanya dan kembali memperhatikan sekitarnya. Tetapi perhatian Alviorita tidak dapat kembali lagi ke sana. Jantung Alviorita yang kembali berdetak kencang membuat pikiran gadis itu tidak dapat terlepas dari pria yang kini memeluknya.

Seperti pikiran dan perasaannya, Alvioritapun tidak pernah jauh dari sisi Nathan. Walaupun setiap kali mereka berhenti, Alviorita selalu mendekati suami istri Rpiayh tetapi Nathan tetap berada di sisi gadis itu. Baik Nathan maupun Alviorita tampaknya tidak ingin jauh walaupun pertengkaran tetap ada di antara mereka.

Setiap hari bahkan setiap saat Alviorita memiliki kesempatan untuk naik kereta tetapi gadis itu tidak pernah melakukannya. Alviorita tetap memilih Nathan daripada keluarga Rpiayh.

Suami istri Rpiayh serta Yoland juga kusir kuda mereka sering merasa geli melihat hubungan Nathan dengan Alviorita. Mereka sering bertengkar tetapi mereka tetap selalu bersama.

Pernah dalam perjalanan mereka berhenti di suatu penginapan dan Nathan serta Alviorita kembali bertengkar. Alviorita tidak ingin tidur sedangkan Nathan ingin gadis itu beristirahat agar dapat meneruskan perjalanan tanpa kelelahan.

“Mereka bertengkar lagi,” kata Yoland.

Hellebre memperhatikan Nathan dan Alviorita yang sama-sama tidak mau mengalah. “Aku heran. Walaupun mereka selalu bertengkar tetapi aku tetap merasa mereka tampak akrab.”

“Mereka tampak semakin akrab dengan pertengkaran mereka itu,” kata Golbert.

“Aku ingin tahu bagaimana reaksi Tuan Puteri bila ia menyadari Tuan Muda Nathan adalah tunangan yang dihindarinya.”

“Aku tidak tahu, Hellebre. Saat ini Tuan Puteri tidak ingat masa lalunya.”

Walaupun telah beberapa hari melakukan perjalanan dengan kereta yang sama dengan keluarga Rpiayh tetapi Yoland tetap tidak mengetahui Alviorita yang sebenarnya dan hubungannya dengan Nathan. Percakapan yang baru saja terjadi juga tidak memberitahu banyak kepadanya. Kini Yoland mengerti Alviorita dan Nathan adalah tunangan dan Alviorita tidak menyukai pertunangan mereka.

Bukan hanya Yoland yang tidak tahu siapa Alviorita. Alviorita sendiri juga tidak tahu siapa dirinya. Walaupun ia telah mengetahui nama aslinya dari Nathan tetapi Alviorita tetap merasa pria itu tetap tidak mengatakan seluruhnya. Masih ada yang disembunyikan Nathan.

Melihat sikap suami istri Rpiayh yang sangat sopan bahkan seperti menyanjungnya, Alviorita semakin yakin ada yang disembunyikan Nathan darinya.

Alviorita pernah mengatakan kecurigaannya itu kepada Nathan tetapi pria itu tetap tidak berusaha mengurangi kecurigaannya. Alviorita tahu keluarga Rpiayh telah mengetahui segala sesuatu tentang dirinya di masa lalu tetapi keluarga itu juga tidak akan memberi tahu apa-apa kepadanya. Alviorita yakin Nathan meminta suami istri Rpiayh untuk tidak mengatakan apa-apa kepada dirinya.

Kecurigaan Alviorita semakin besar ketika mereka semakin menjauhi Synghz.

Sejak meninggalkan Synghz, Alviorita tidak tahu ke mana mereka akan pergi. Tidak seorangpun yang memberi tahunya. Alviorita juga tidak dapat menebak ke mana mereka pergi.

Walaupun Alviorita merasa ia mengenal setiap seluk beluk Kerajaan Lyvion tetapi ia tetap tidak dapat mengetahui jalan yang mereka lalui akan membawa dirinya ke mana.

Nathan telah menduga perasaan tajam Alviorita sebagai Putri Mahkota tidak dapat ditipu. Alviorita akan merasa curiga kepadanya yang seperti berusaha menyembunyikan asal usul gadis itu. Nathan tidak ingin menipu Alviorita karena itu ia tidak berusaha mengurangi kecurigaan Alviorita.

Kecurigaan Alviorita benar. Dan kecurigaan itu dibiarkan Nathan tetap ada di hati gadis itu hingga hari terakhir perjalanan mereka.

Ketika mereka semakin mendekati Vximour, Nathan semakin gelisah.

Alviorita menyadarinya. “Akhir-akhir ini engkau terlihat gelisah dan semakin hari semakin gelisah. Apa yang terjadi, Nathan?”

Nathan tidak dapat memberi tahu Alviorita kegelisahannya. Walaupun Alviorita tidak dapat mengingat masa lalunya tetapi perasaan terkurung gadis itu masih ada. Selama perjalanan, Nathan dapat merasakan perasaan terkurung Alviorita. Lima belas tahun hidup dalam dunia yang tidak disukainya, membuat perasaan terkurung Alviorita melekat di dasar hati gadis itu.

Sambil berusaha memulihkan ingatan Alviorita, Nathan ingin menghilangkan perasaan terkurung itu. Nathan ingin Alviorita tahu walaupun ia seorang Putri Mahkota, ia tetap dapat merasakan kebahagiaan. Tidak seluruh waktunya dibutuhkan oleh urusan kerajaan. Masih ada waktu terluang baginya untuk bermain.

Duchess benar. Karena Alviorita dipaksa untuk meninggalkan semua masa kanak-kanaknya sejak gadis itu masih tiga tahun, dalam diri gadis itu tumbuh satu keyakinan yang sangat kuat.

Ia adalah Putri Mahkota dan sebagai Putri Mahkota ia tidak boleh menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang. Seorang Putri Mahkota tidak mempunyai waktu untuk bersenang-senang, semua waktunya hanya untuk kerajaannya.

Nathan tidak ingin Alviorita merasakan perasaan itu lagi bahkan ketika ia kehilangan ingatannya. Nathan tahu bila ia membawa Alviorita ke Istana Urza, ingatan gadis itu akan semakin cepat pulih. Tetapi pulih dalam keadaan terkurung. Dan Nathan tidak ingin itu terjadi.

Yang diinginkan Nathan adalah ingatan Alviorita pulih dalam keadaan bebas. Ingatan gadis itu harus pulih saat ia tidak merasakan tugas-tugas kerajaan yang berat yang membebaninya. Tetapi itu berarti Nathan tidak boleh membawa Alviorita ke Istana Urza.

Satu-satunya jalan yang terbaik adalah tidak membawa Alviorita kembali ke Istana Urza melainkan ke Castil Q`arde dan Raja Phyllips harus menerima keputusan Nathan ini. Nathan tidak peduli apakah Raja Phyllips mau menerima keputusannya ini. Nathan hanya menginginkan kebahagian Alviorita.

“Tidak ada apa-apa, Alviorita,” kata Nathan meyakinkan Alviorita.

“Aku tahu engkau gelisah, Nathan. Katakanlah kepadaku,” kata Alviorita memohon.

“Mungkin karena kita semakin dekat dengan tempat keluargamu, aku tampak gelisah seperti ini.”

Alviorita memandang lekat-lekat wajah Nathan. Melihat kesungguhan di wajah itu, Alviorita tahu ia tidak dapat membuat Nathan mengatakan yang sebenarnya. Alviorita kembali memperhatikan jalan.

Semakin mendekati Vximour, Alviorita semakin merasa ia mengenal tempat ini. Melihat puncak menara Istana Urza yang tampak menjulang di tengah-tengah kota Vximour, Alviorita merasa ia pernah tinggal di tempat ini.

Perasaannya yang mengatakan bahwa ia telah pulang ke rumahnya membuat gadis itu yakin ia pernah tinggal di Vximour.

Semula Alviorita menduga Nathan akan membawanya ke Vximour tetapi ternyata pria itu membawa rombongan mereka menjauhi Vximour.

Walaupun tidak mengerti mengapa Nathan tiba-tiba mengubah arah mereka, Golbert tetap tidak memerintahkan kusir kudanya ke Vximour. Golbert tetap membiarkan kusir kudanya mengikuti Nathan. Golbert yakin Nathan mempunyai tujuan tertentu sedangkan Hellebre tampak gelisah.

“Bukankah kita akan ke Vximour? Mengapa Tuan Muda Nathan mengubah arah? Apakah pria itu tidak membohongi kita?”

“Tenanglah, Hellebre,” kata Golbert, “Aku percaya Tuan Muda Nathan mempunyai tujuan tertentu. Lihatlah kita berjalan ke utara Vximour, mungkin kita akan menuju ke Chymnt.”

“Bukankah kita telah melalui Chymnt?” tanya Hellebre tidak mengerti.

“Belum. Tuan Muda Nathan membawa kita melalui Quadra. Nathan tidak melalui Chymnt,” kata Golbert tenang.

Yoland tidak mengerti apa yang dibicarakan kedua majikannya itu.

Melihat mereka semakin menjauhi Vximour, Alviorita semakin khawatir. “Kita akan ke mana?”

“Jangan khawatir, Alviorita. Aku akan membawamu ke tempat yang ada dalam mimpimu,” kata Nathan lembut.

Alviorita memalingkan kepala. “Tempat itu benar-benar ada?”

“Ya, dan sekarang kita menuju ke sana.”

“Kita akan berjalan-jalan di hutan itu?”

“Hutan?” tanya Nathan tak mengerti.

“Aku selalu melihat pemuda itu di hutan. Kami selalu bermain di hutan yang hijau dan lapangan rumput yang luas.”

Nathan tahu ia tidak salah membawa Alviorita ke Castil Q`arde. Gadis itu masih ingat hutan tempat mereka bermain di Chymnt dan tempat itu mungkin dapat membantu Alviorita mengingat semua masa lalunya.

“Aku akan membawamu ke sana nanti.”

“Nanti? Bukankah kita akan ke sana sekarang?” tanya Alviorita curiga, “Apakah engkau ingin aku beristirahat lagi? Aku yakin engkau akan menyuruhku tidur sebelum membawaku ke sana.”

“Tepat sekali,” kata Nathan, “Engkau semakin pandai menebak.”

“Aku tidak menebak. Setelah mengenalmu sekian lama, aku semakin tahu apa yang ada di pikiranmu.”

“Apa yang sekarang ada di pikiranku?” tantang Nathan.

“Yang pasti adalah aku harus tidur sebelum engkau membawaku ke hutan itu,” kata Alviorita kesal.

“Walaupun engkau adalah kucing liar, engkau tetaplah seorang gadis. Engkau pasti merasa lelah setelah beberapa hari berkuda bersamaku, Alviorita.”

“Aku tidak lelah,” bantah Alviorita.

“Aku meragukannya, Alviorita. Tidak mungkin engkau tidak lelah terus duduk sepanjang hari selama tiga hari. Aku sendiri lelah terus menerus memelukmu seperti ini.”

“Mengapa engkau melakukannya?”

“Karena aku ingin membuatmu senang sekaligus menjagamu,” kata Nathan, “Tetapi engkau harus beristirahat dulu sebelum aku membawamu ke sana.”

Alviorita terdiam. “Engkau benar, Nathan. Kalau hari ini aku ke hutan itu, aku tidak dapat bermain sepuas hatiku. Hari semakin siang dan sebentar lagi gelap. Aku takut gelap. Kalau kita pergi besok pagi-pagi, aku dapat bermain di sana sepanjang hari.”

“Setiap hari aku akan membawamu ke sana.”

“Engkau akan melakukannya?” tanya Alviorita senang.

Nathan tersenyum. “Aku telah berjanji kepadamu juga kepada diriku sendiri untuk membahagiakanmu. Sekarang aku ingin sekarang engkau memalingkan kepalamu ke jalan lagi. Engkau membuatku sulit mengendalikan kuda ini.”

Alviorita tersenyum manis kepada Nathan sebelum melakukan apa yang diinginkan pria itu. Alviorita tahu Nathan tidak bersungguh-sungguh dengan kalimat terakhirnya itu. Selama perjalanan menuju Vximour, Alviorita yang duduk di depan Nathan sering memalingkan kepalanya bahkan bergerak karena mantelnya tertiup angin tetapi pria itu tetap dapat mengendalikan kudanya dengan baik.

Alviorita sama sekali tidak takut walaupun Nathan tetap melarikan kudanya dengan kencang. Alviorita tahu Nathan akan berhati-hati sehingga ia tidak jatuh.

Diam-diam Alviorita mengagumi Nathan. Pria itu tidak lelah sepanjang hari duduk di atas kudanya sambil memeluknya. Pria itu tidak pernah mengeluh bahkan terlihat senang melakukannya. Alviorita yakin tidak ada pria lain yang sanggup melakukan hal ini selain Nathan.

Alviorita kembali memperhatikan jalan. Alviorita mengenal daerah yang sekarang mereka lewati ini. Dalam mimpinya ia melihat tempat ini di dekat hutan.

“Tempat ini…”

Suara lirih itu membuat Nathan cemas. “Ada apa, Alviorita?”

“Aku ingat tempat ini. Dalam mimpiku aku sering melihat tempat ini di dekat hutan tempatku bermain. Pemuda itu selalu membawaku ke hutan melewati tempat ini.”

Nathan tersenyum senang. Dalam mimpinya Alviorita teringat tempat ini yang berarti kemungkinan kembalinya ingatan Alviorita lebih besar bila ia berada di Castil Q`arde daripada di Istana Urza.

“Hanya tempat ini satu-satunya jalan menuju hutan itu dari Castil Q`arde,” kata Nathan memberitahu.

“Kita akan ke Castil Q`arde? Castil itu milik keluargamu?”

“Engkau akan tinggal di sana sampai ingatanmu pulih.”

Alviorita menatap Nathan lagi. “Baru kali ini aku menyukai keputusanmu. Aku sangat senang, Nathan. Kalau tinggal di Castil Q`arde yang dekat Chymnt, aku dapat dengan mudah mencapai hutan itu daripada Vximour.”

Nathan merasa ia belum mengatakan apa-apa tentang Vximour kepada Alviorita. “Vximour? Mengapa engkau berpikir akan tinggal di sana?”

“Karena ketika melewati tempat itu, aku merasa aku pernah tinggal di sana terutama setelah melihat menara Istana Urza yang tinggi.”

Nathan terkejut. Ini suatu kemajuan Alviorita dapat merasa ia pernah tinggal di Vximour apalagi setelah melihat menara istananya sendiri. Nathan percaya ingatan Alviorita cepat pulih.

“Engkau tidak akan tinggal di sana, Alviorita. Engkau akan tinggal di Castil Q`arde,” ulang Nathan.

“Aku mempercayaimu, Nathan. Walaupun kadang engkau menyebalkan tetapi aku tetap mempercayaimu,” kata Alviorita sebelum kembali memperhatikan jalan.

Nathan tersenyum senang dan mempererat tangannya yang melingkari pinggang Alviorita sebelum memacu kudanya lebih kencang.

Setelah banyak mendengar mimpi Alviorita dari gadis itu sendiri, Nathan ingin segera membuat ingatan Alviorita pulih. Nathan yakin saat ingatan Alviorita pulih nanti, gadis itu juga akan ingat kenangan masa kecilnya yang terlupakan karena demam tingginya saat Ratu meninggal. Gadis itu akan mengingat setiap kenangan masa kecilnya bersama Ratu di Castil Q`arde dan segala yang berhubungan dengan Nathan.

Nathan sangat senang hingga ia melupakan kereta yang mengikutinya. Selama perjalanan mereka, walaupun Nathan tidak pernah melepaskan perhatiannya dari Alviorita tetapi pria itu masih berusaha menjaga agar kereta itu tetap di belakangnya.

Kali ini Nathan benar-benar melupakan kereta itu. Nathan hampir meninggalkan kereta itu bila Alviorita tidak berkata, “Nathan, engkau terlalu bersemangat. Lihatlah kereta keluarga Rpiayh telah tertinggal di belakang.”

“Aku terlalu senang dapat membawamu kembali, Alviorita.”

“Berhentilah sebentar, Nathan. Kita tunggu sampai mereka semakin dekat baru kita melanjutkan perjalanan,” perintah Alviorita.

Nathan tersenyum, “Baik, Tuan Puteri.”

Alviorita mencari kereta kuda keluarga Rpiayh dari balik tubuh Nathan.

Melihat Alviorita membalikkan badannya, Nathan segera memeluk erat-erat gadis itu, “Hati-hati, Alviorita. Aku tidak ingin engkau jatuh.”

Alviorita kembali ke posisinya semula. “Aku mencari mereka, Nathan. Aku khawatir mereka tersesat.”

“Mereka tidak akan tersesat, Alviorita. Golbert pernah ke tempat ini. Dia menabrakmu di sini,” kata Nathan.

“Menabrakku?” tanya Alviorita tak mengerti.

“Mungkin sekarang saatnya aku memberitahumu, Alviorita. Sambil menanti mereka aku akan mengatakan yang sebenarnya.”

“Kebenaran yang selama ini kausembunyikan dariku?”

“Seperti yang telah engkau ketahui suami istri Rpiayh bukan orang tuamu. Ibumu telah meninggal saat engkau berusia tiga tahun dan leontin perakmu itu adalah milik ibumu. Selama lima belas tahun engkau lebih banyak bersama pengasuhmu daripada ayahmu. Ayahmu terlalu sibuk sehingga ia jarang bersamamu,” kata Nathan, “Golbert menabrakmu dengan kereta kudanya di sekitar tempat ini hingga engkau pingsan. Kemudian ia membawamu ke Synghz.”

“Dan di sana aku tinggal selama dua bulan sebagai gadis yang hilang ingatan,” kata Alviorita mengakhiri cerita Nathan.

“Engkau marah kepada keluarga Rpiayh?” selidik Nathan.

“Tidak, aku menyayangi mereka. Tanpa mereka aku tidak tahu bagaimanakah aku saat ini. Mereka telah menganggapku sebagai putri mereka walaupun mereka tidak tahu siapakah aku.”

“Kata-kata yang bijaksana,” puji Nathan, “Mereka pasti senang bila mendengar kata-katamu ini.”

Alviorita malu mendengar pujian itu. “Dapatkah kita berjalan lagi, Nathan? Aku sudah melihat kereta mereka.”

Nathan memalingkan kepala ke jalanan di belakang mereka. Melihat sebuah kereta semakin mendekati mereka, Nathan mulai memacu kudanya. Kali ini Nathan berusaha menjaga jarak dengan kereta itu. Nathan berusaha agar kereta itu tetap di belakangnya selama mereka semakin mendekati Castil Q`arde.

Melihat menara Castil Q`arde yang tampak di sela-sela pepohonan yang tinggi, Alviorita merasa senang. Castil yang terbuat dari batu abu-abu itu tampak kokoh dan semakin lama tampak semakin besar.

Semakin mereka mendekati Castil itu, bentuk Castil yang megah itu tampak semakin jelas. Menara-menaranya yang berujung runcing tampak seperti menyanggah langit di atasnya.

Pintu gerbang yang juga berwarna abu-abu mengelilingi Castil itu. Di ujung pintu gerbang yang semakin meruncing di tengah itu, tampak tombak-tombak kecil yang menakutkan. Tetapi halaman yang dilindungi pintu gerbang itu tampak indah. Bunga-bunga musim panas masih bermekaran dengan indahnya walau saat ini telah memasuki musim gugur. Warnanya yang berwarna-warni membuat suasana di sekitar Castil Q`arde tidak tampak menakutkan sebaliknya tampak indah.

Alviorita masih memperhatikan taman itu ketika mereka memasuki pintu gerbang yang terbuka.

Nathan ingin tahu bagaimanakan perasaan Alviorita. Gadis itu telah tinggal di Castil Q`arde selama kurang lebih empat bulan sebelum ia menghilang lagi.

Nathan menghentikan kudanya tepat di depan pintu masuk Castil Q`arde. Dengan hati-hati ia turun dari kudanya kemudian membantu Alviorita.

Dari kereta yang mengikuti mereka, muncul keluarga Rpiayh serta Yoland.

Golbert terpesona melihat Castil Q`arde yang megah sedangkan istrinya tampak jengkel. Hellebre segera mendekati Nathan dan Alviorita. Tetapi sebelum Hellebre mendekati mereka, Nathan telah membuka pintu dan membawa Alviorita masuk.

Alviorita melepas tudung kepalanya dan melepaskan ikatan mantelnya.

Seorang pelayan yang muncul dari dalam, segera mengambil mantel itu.

“Di mana orang tuaku?” tanya Nathan.

“Mereka…”

Pelayan itu belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika dari dalam muncul Duchess of Kryntz.

Duchess terkejut melihat Alviorita berdiri di samping Nathan. “Nathan, engkau berhasil menemukannya. Aku percaya engkau akan menemukannya,” seru Duchess senang.

Alviorita tidak mengerti apa yang dikatakan wanita asing itu.

Nathan segera mendekati Duchess. “Mama, kuminta sekarang kita biarkan mereka beristirahat dulu sebelum aku menceritakan segalanya.”

“Engkau benar, Nathan. Aku yakin kalian telah menempuh perjalanan yang panjang,” kemudian Duchess berkata kepada pelayan yang masih berdiri di sana, “Siapkan kamar untuk mereka.”

Pelayan itu segera pergi mengerjakan perintah Duchess.

“Sambil menanti pelayan mempersiapkan kamar untuk Anda, lebih baik kita duduk di Ruang Duduk sambil bercakap-cakap,” ajak Duchess.

“Aku akan membawa Alviorita ke kamarnya, Mama. Alviorita tampak lelah dan ia harus segera beristirahat.”

“Aku tidak lelah,” bantah Alviorita.

“Engkau lelah, Alviorita, tetapi engkau tidak mau mengakuinya,” kata Nathan, “Engkau jalan sendiri atau aku harus membopongmu?”

“Aku jalan sendiri,” sahut Alviorita, “Lewat mana?”

Duchess terkejut mendengar pertanyaan Alviorita. Duchess tidak tahu mengapa Alviorita yang pernah tinggal di Castil Q`arde tidak tahu jalan ke kamar yang dulu pernah ditempatinya.

“Aku akan memberitahumu.”

“Saya permisi dulu,” kata Alviorita sopan.

Duchess semakin bingung melihat gadis itu tidak mengenali dirinya.

Nathan segera membawa Alviorita ke kamarnya. Pelayan gadis itu, Yoland tanpa menanti perintah segera mengikuti mereka.

“Apa yang terjadi pada gadis itu?” tanya Duchess pada tamu-tamunya.

“Lebih baik Tuan Muda Nathan saja yang menceritakan kepada Anda, Duchess. Tuan Muda lebih tahu daripada kami,” kata Golbert.

“Kalian benar, saya tidak dapat menahan kalian di sini untuk menceritakan hal itu. Sebaiknya saya mengantar Anda ke kamar Anda sekarang agar Anda dapat segera beristirahat.”

Duchess segera mengantar tamu-tamunya ke kamar tamu yang berada di bawah lantai kamar Alviorita.

Mulanya kamar Alviorita juga berada di lantai dua yang terdiri dari deretan kamar tamu. Tetapi karena Jeffreye dan Alviorita selalu bermain hingga larut malam, Duchess menyuruh gadis itu pindah ke kamar yang terletak dekat dengan Ruang Kanak-Kanak. Yang berarti dekat dengan kamar anggota keluarga Kryntz.

Walaupun Alviorita meninggalkan Castil Q`arde, kamar itu masih dibiarkan apa adanya. Almari yang berisi gaun Alviorita yang dibelikan Duchess masih dibiarkan di tempatnya. Tidak ada yang berubah di kamar itu tetapi Alviorita tetap merasa asing di dalam ruangan itu.

Setelah membawa Alviorita ke kamarnya, Nathan segera meninggalkan gadis itu bersama pelayannya. Sebelumnya, Nathan telah berpesan kepada Yoland untuk menjaga Alviorita hingga gadis itu benar-benar tidur.

Nathan tidak mempunyai waktu untuk menjaga Alviorita hinggga gadis itu benar-benar tertidur. Ada suatu urusan penting yang harus diselesaikan Nathan.

Mula-mula Nathan harus memberitahu orang tuanya mengenai keadaan gadis itu kemudian ia harus ke Istana Urza untuk memberitahu Raja Phyllips serta memintanya membiarkan Alviorita tinggal di Castil Q`arde hingga ia sadar kembali.

Untuk menyelesaikan tugas pertamanya, Nathan segera menuju Ruang Keluarga tempat orang tuanya biasa duduk di siang hari menjelang tengah hari seperti saat ini.

Seperti yang diharapkan Nathan, kedua orang tuanya juga adiknya, Trent berada di sana.

Duchess segera menyambut kedatangannya dengan sejumlah pertanyaan, “Apa yang terjadi pada gadis itu? Mengapa ia tampaknya tidak mengenali tempat ini lagi bahkan tidak mengenali aku?”

“Ia memang tidak mengenali kita lagi, Mama,” jawab Nathan, “Kali ini ia benar-benar hilang ingatan.”

Duchess terpekik terkejut.

Duke menangkap keganjilan dalam kalimat Nathan. “Apa maksudmu? Bukankah sejak awal ia memang kehilangan ingatannya?”

“Tidak, Papa. Aku yakin gadis itu hanya pura-pura hilang ingatan ketika ia berada di sini tetapi kali ini ia benar-benar tidak dapat mengingat masa lalunya.”

“Kalau gadis itu tidak kehilangan ingatannya, mengapa ia berada di sini? Bukankah ia melarikan diri dari Istana Urza karena ingin menghindari pertunangannya denganmu?”

“Aku sendiri juga tidak mengerti, Papa. Hanya Alviorita yang dapat menjelaskannya tetapi saat ini ia tidak dapat melakukannya.”

“Apa yang membuat Putri kehilangan ingatannya? Siapakah orang yang kubawa itu? Di mana engkau bertemu Putri?” tanya Trent ingin tahu.

“Sebelum aku menceritakannya, aku ingin meminta sesuatu dari kalian,” kata Nathan tegas, “Aku tidak ingin seorangpun dari kita mengatakan kepada Alviorita kalau ia adalah seorang Putri. Aku ingin Alviorita tetap mengira dirinya adalah gadis biasa sampai ingatannya pulih.”

“Mengapa engkau melakukan itu, Nathan? Bukankah ingatan Putri akan lebih cepat pulih bila ia mengetahui semua itu?” tanya Trent.

“Alviorita tidak menyukai kedudukannya itu dan aku khawatir gadis itu akan kabur lagi bila mengetahui kedudukannya yang penting itu.”

“Engkau benar, Nathan. Putri Alviorita akan merasa terbebani bila ia mengetahuinya sedangkan saat ini ia tidak boleh merasa terbebani apapun agar ingatannya cepat pulih,” kata Duchess, “Tetapi apa yang harus kita katakan kepada Raja Phyllips? Kita tidak dapat menyembunyikan Putri dari mereka.”

“Aku yang akan menanganinya. Setelah aku menceritakan segalanya kepada kalian, aku akan segera ke Istana Urza.”

“Engkau yakin dapat melakukannya?” tanya Duchess cemas, “Raja Phyllips memang seorang Raja yang bijaksana tetapi ia juga sukar dibujuk terutama yang menyangkut Putri Alviorita.”

“Mama tidak mempercayaiku?”

“Bukan seperti itu maksudku. Aku tahu engkau pandai berunding. Hanya saja kali ini aku khawatir engkau tidak dapat membujuk Raja Phyllips,” kata Duchess cemas.

“Dulu sewaktu Raja Phyllips memaksa Putri Alviorita memasuki dunia politik, tidak seorangpun yang dapat membujuknya untuk menunda keinginannya itu. Banyak orang mengatakan Putri Alviorita masih terlalu kecil untuk memasuki dunia politik tetapi Raja tetap melaksanakan keinginannya yang terhalang ketika Ratu masih hidup.”

Duchess cepat-cepat menambahkan, “Aku tidak berniat menakutimu, Nathan. Mama hanya ingin engkau memikirkannya sekali lagi.”

“Aku telah berulang kali memikirkannya, Mama. Dan aku tetap memutuskan untuk membujuk Raja Phyllips.”

“Aku percaya kepadamu, Nathan,” kata Duke, “Engkau adalah tunangan Putri Alviorita. Engkau juga mencintai gadis itu. Aku yakin engkau akan melakukan yang terbaik untuknya. Seperti aku yang selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk ibumu walaupun banyak orang yang mengatakan kami adalah pasangan yang aneh.”

“Jangan kaudengarkan Papamu, Nathan,” kata Duchess, “Yang paling penting adalah perasaan cinta kalian bukan apa yang dikatakan orang lain tentang kalian.”

“Tetapi kalian memang pasangan yang serasi,” kemudian Duke menambahkan dengan tersenyum, “Walaupun kadang-kadang bertengkar.”

“Walaupun begitu kalian tetap terlihat serasi. Menurutku, kalian tampak lebih serasi kalau sedang bertengkar. Kalian sama-sama keras kepala dan sulit diatur,” kata Duchess sambil tersenyum.

Nathan diam saja mendengar kedua orang tuanya menggodanya.

Trent yang tidak menyukai pertunangan kakaknya dengan gadis yang dicintainya, merasa jengkel mendengar orang tuanya memuji kakaknya dengan Alviorita. “Sudahlah. Bukankah kita berada di sini untuk mendengarkan cerita Nathan?”

Duchess merasa bersalah mendengar kata-kata jengkel itu. Baik Duke maupun Duchess telah melupakan perasaan putranya yang untuk kedua kalinya patah hati.

“Maafkan aku, Trent.”

Trent diam saja.

Melihat suasana buruk yang mulai timbul di antara mereka, Nathan segera bertindak. “Aku akan menceritakan mulai dari aku bertemu Alviorita di Synghz.”

“Synghz?” tanya Duke tak percaya, “Bagaimana Putri Alviorita bisa sampai di sana?”

Karena ingin segera menemui Raja Phyllips, Nathan tidak menceritakan semuanya kepada keluarganya, “Aku bertemu Alviorita di Synghz. Ketika melihat gadis itu tidak mengenaliku bahkan tidak mengenali namanya sendiri, aku memutuskan untuk ke tempat gadis itu tinggal. Di sanalah aku bertemu keluarga Rpiayh.”

“Keluarga itu mengatakan kepadaku mereka telah menabrak Alviorita dan membuat gadis itu kehilangan ingatan. Suami istri itu tidak mempunyai anak karena itu mereka menganggap Alviorita sebagai putri mereka. Karena sangat menyayangi Alviorita, mereka tidak dengan mudah membiarkan aku membawa pulang gadis itu. Aku menceritakan semua tentang Alviorita kepada mereka. Melihat mereka masih tidak mempercayaiku setelah aku menceritakan semuanya, aku meminta mereka mengikutiku sampai ke sini.”

“Jadi mereka yang datang denganmu itu adalah suami istri Rpiayh,” kata Duchess.

Nathan mengangguk. “Dan pelayan muda yang tadi mengikuti aku dan Alviorita adalah pelayan Alviorita sewaktu ia tinggal di Synghz.”

“Di mana gadis itu?” tanya Duke, “Dari tadi aku tidak melihatnya.”

“Aku menyuruhnya beristirahat, Papa. Aku yakin saat ini gadis itu telah tidur. Kalian tidak perlu mengkhawatirkannya, aku telah menyuruh pelayan itu menjaganya.”

Melihat matahari semakin tinggi, Duchess berkata, “Sebaiknya engkau pergi ke Istana Urza sekarang, Nathan. Hari semakin siang dan aku khawatir Raja Phyllips sedang beristirahat saat engkau tiba di sana.”

“Aku juga ingin segera menemui Raja Phyllips, Mama.”

“Engkau yakin dapat membujuk Raja Phyllips?” tanya Trent.

“Aku tidak hanya yakin, Trent, tetapi aku sangat yakin.”

“Sebaiknya engkau segera berangkat, Nathan. Hari semakin siang,” kata Duke.

“Sebelum aku berangkat, aku ingin kalian berjanji tidak mengatakan kepada Alviorita kalau dirinya seorang Putri apalagi Putri Mahkota Kerajaan Lyvion. Kalian juga tidak boleh memanggilnya Putri Alviorita. Kalian harus memanggilnya Alviorita.”

Duke dan Duchess tersenyum mendengar perintah putra sulung mereka.

“Kami berjanji padamu, Nathan. Kami juga akan memberitahu semua orang di Castil ini yang mengetahui asal usul Alviorita, untuk tidak menyebut gadis itu Putri Alviorita,” kata Duke.

“Lekaslah pergi, Nathan,” kata Duchess.

“Aku pergi dulu, Mama Papa.”

“Kudoakan engkau berhasil, Nathan,” kata Duchess sebelum Nathan berlalu dari ruangan itu.

Trent jengkel dengan semua ini. Ia juga akan senang bila Alviorita boleh tinggal di Castil Q`arde tetapi ia juga akan semakin merasa patah hati. Trent tahu kakaknya pasti tidak akan pernah jauh dari sisi Alviorita walaupun Jeffreye telah kembali ke Druqent. Trent jengkel membayangkan itu.

“Aku yakin Nathan tidak akan pernah beranjak dari sisi Putri Alviorita,” katanya jengkel.

“Tentu saja, Trent. Sejak kecil kakakmu hanya mencintai Putri Alviorita,” kata Duchess.

“Aku heran mengapa pria yang suka merebut kekasih adiknya seperti Nathan banyak disukai wanita.”

“Kakakmu tidak pernah merebut siapapun darimu, Nathan. Juga Putri Alviorita. Sejak awal mereka telah bertunangan. Engkau tidak mengetahuinya ketika engkau jatuh cinta pada Putri karena itu Mama tidak menyalahkanmu bila engkau menuduh kakakmu telah merebut Putri Alviorita.”

“Tetapi ia telah merebut Elly dariku, Mama,” bantah Trent.

Duke mulai bosan mendengar keluhan Trent. “Dengarkan, Trent. Kakakmu tidak merebut Elly darimu. Wanita itu berbohong ketika ia mengatakan ia adalah kekasih kakakmu. Kalau engkau tidak percaya, tanyailah Putri Alviorita.”

“Putri Alviorita?” tanya Trent tidak mengerti.

“Ya, Putri Alvioritalah yang meminta Elly mengatakan semua kebenaran tentang hubungannya dengan kakakmu, kepada semua orang.”

“Saat ini engkau tidak dapat melakukannya, Trent. Putri Alviorita kehilangan ingatannya tetapi Mama yakin bila ingatan Putri Alviorita telah pulih, ia tidak keberatan mengatakan segalanya kepadamu,” tambah Duchess.

Walaupun orang tuanya telah meyakinkannya tetapi Trent tetap tidak percaya. Trent tetap merasa jengkel kepada kakaknya. Dan Trent semakin membenci kakaknya bila membayangkan kakaknya berhasil membujuk Raja Phyllips. Trent yakin kakaknya tidak berhasil membujuk Raja Phyllips.

Tetapi siapa yang tahu apa yang telah direncanakan Takdir?

13

Beberapa minggu telah berlalu sejak Alviorita tinggal di Castil Q`arde, tetapi Nathan tidak dapat berhasil mengembalikan ingatan gadis itu. Alviorita tetap tidak dapat mengingat apapun walaupun hanya sedikit.

Keberhasilan Nathan hanya satu yaitu membujuk Raja Phyllips. Usahanya untuk membujuk Raja Phyllips ternyata tidak sesulit yang diduganya.

Seperti halnya keluarga Kryntz, Raja Phyllips juga sangat senang mendengar kabar baik dari Nathan.

“Aku percaya engkau akan menemukannya, Nathan,” kata Raja Phyllips senang, “Di mana ia sekarang? Aku ingin menemuinya.”

“Saat ini Alviorita berada di Castil Q`arde. Saya rasa saat ini ia tertidur.”

“Ya, Alviorita pasti lelah setelah perjalanan jauh dari Synghz. Aku akan menemuinya nanti bila ia sudah bangun.”

“Saya mempunyai permintaan, Paduka.”

“Katakan saja.”

“Saat ini Alviorita kehilangan ingatannya.”

“Apa katamu?” potong Raja.

“Alviorita tidak dapat mengingat segala masa lalunya. Dan saya ingin Alviorita tinggal di Castil Q`arde sampai ingatannya pulih. Dan sampai saat itu tiba, saya tidak ingin seorangpun mengatakan kepada Alviorita kalau ia adalah Putri Mahkota.”

“Apa?” tanya Raja Phyllips terkejut.

“Saya rasa permintaan saya sudah jelas, Paduka.”

“Bagaimana mungkin engkau memutuskan hal itu?” tanya Raja Phyllips, “Aku tidak menyetujuinya.”

“Bila Anda ingin ingatan Alviorita lekas pulih, Anda harus melakukannya, Paduka,” kata Nathan tenang.

“Tidak, Nathan. Aku tidak akan menyutujuinya. Alviorita harus kembali ke sini tidak peduli apakah ia hilang ingatan atau tidak. Aku ingin Alviorita kembali melaksanakan tugasnya.”

“Itulah yang ingin saya hindari, Paduka.”

“Apa maksudmu?” potong Raja Phyllips.

“Menurut saya, ingatan Alviorita akan semakin cepat pulih tidak ada beban lain di hati maupun pikirannya.”

“Apakah itu berarti engkau ingin mengatakan tugas kerajaan adalah beban bagi Alviorita?”

Kemurkaan Raja Phyllips yang mulai muncul, tidak membuat Nathan takut. “Seperti itulah yang saya maksudkan.”

“Engkau mengatakan tugas kerajaan adalah beban bagi Alviorita. Bagaimana mungkin engkau mengatakan itu? Alviorita adalah Putri Mahkota dan tugas-tugas itu adalah kewajibannya bukan beban baginya.”

“Tidak, Paduka. Tugas-tugas kerajaan yang setiap hari terus menumpuk itu menjadi beban bagi Alviorita. Sedangkan saat ini Alviorita tidak boleh terbebani apapun walaupun itu adalah kewajiban dari kedudukannya.”

“Beraninya engkau mengatakan semua itu adalah beban bagi Alviorita,” kata Raja Phyllips geram.

“Maafkan saya, Paduka. Tetapi dari yang saya lihat selama ini, Alviorita tampak terbebani oleh tugas-tugasnya itu.”

“Apa yang membuatmu berkata seperti itu?” selidik Raja Phyllips.

“Tingkah laku Alviorita selama ia tinggal di Castil Q`arde juga di Synghz,” kata Nathan tetap tenang, “Alviorita tampak lebih bebas dan lebih ceria saat ia berada di luar Istana dengan segala kesibukannya.”

“Apakah itu berarti engkau mengatakan Alviorita tidak senang tinggal di sini?”

“Saya tidak mengatakan seperti itu, Paduka. Saya hanya melihat Alviorita tampak lebih ceria saat ia berada di Castil Q`arde juga di Synghz. Bila Anda tidak mempercayainya, Anda dapat melihat Alviorita di Castil Q`arde.”

“Aku tidak akan menyetujui usulmu itu, Nathan. Aku ingin Alviorita tinggal di sini dan menyelesaikan apa yang telah ditelantarkannya selama ia pergi dari Istana,” kata Raja tegas.

Kesabaran Nathan benar-benar hilang. Ia telah mencoba menahan amarahnya dan terus memberikan pengertian kepada Raja Phyllips tetapi Raja tetap tidak mengabulkan permintaannya.

“Bila Anda memang ingin Alviorita segera menyelesaikan apa yang telah ditelantarkannya, Paduka, Anda harus membiarkan Alviorita tinggal di Castil Q`arde,” kata Nathan dingin.

“Alviorita tetap harus kembali ke sini. Aku yakin ingatan Alviorita lebih cepat pulih bila ia berada di sini.”

“Saya meragukannya, Paduka. Alviorita tidak teringat apapun yang ada di Istana ini. Alviorita hanya mengingat Chymnt.”

“Walaupun Alviorita tidak dapat mengingat Istana ini, aku yakin ia akan teringat semuanya bila ia melihat segala sesuatu di Istana ini. Alviorita lebih lama tinggal di sini daripada di Castil Q`arde,” kata Raja Phyllips tegas, “Aku tidak akan pernah mengijinkannya, Nathan.”

“Walaupun Anda tidak mengijinkannya, saya tetap akan menahan Alviorita tinggal di Castil Q`arde sampai gadis itu pulih,” kata Nathan dingin.

“Apa hakmu melakukan itu, Nathan?” tanya Raja Phyllips marah, “Aku adalah ayah Alviorita.”

“Dan saya tunangan Alviorita,” kata Nathan tajam.

Raja terdiam. Ia memandang lekat-lekat wajah Nathan.

Semula Nathan mengira Raja akan marah tetapi ternyata Raja tertawa terbahak-bahak hingga membuat Nathan kebingungan.

“Engkau benar, Valensia. Mereka benar-benar serasi.”

Nathan kebingungan mendengar Raja menyebut nama Ratu sambil menatap geli kepadanya.

“Engkau benar-benar mirip Alviorita, Nathan.”

“Maksud Anda, Paduka?” tanya Nathan tidak mengerti melihat perubahan sikap Raja.

“Engkau dan Alviorita sama-sama keras kepala dan tidak takut melihat kemarahanku. Engkau benar-benar seperti dia yang selalu membantah setiap kata-kataku,” kata Raja Phyllips sambil tersenyum geli.

Nathan tidak menduga Alviorita yang terlihat penurut sebagai Putri Mahkota itu ternyata selalu membantah Raja. Nathan mengerti satu hal. Bagi semua orang, Alviorita adalah Putri yang penurut tetapi tidak bagi ayahnya.

Raja tetap tersenyum geli ketika ia berkata, “Karena Valensia sangat mempercayaimu hingga ia menyerahkan Alviorita kepadamu sejak kalian masih kecil, maka aku juga menyerahkan Alviorita kepadamu.”

Nathan senang mendengar keputusan itu. “Terima kasih, Paduka.”

“Sudahlah, Nathan. Istriku sangat mempercayaimu karena itu aku yakin engkau dapat menjaga Alviorita dengan baik,” kata Raja, “Aku juga mempunyai permintaan, Nathan.”

“Apakah itu, Paduka?”

“Aku ingin engkau membawa serta wanita tua yang selalu mengganggu kerjaku itu.”

Nathan tidak mengerti. Di dalam Istana banyak orang baik tua maupun muda. “Wanita tua yang mana, Paduka?”

“Siapa lagi selain pengasuh Alviorita, Nathan? Hampir setiap saat wanita tua itu menggangguku hanya untuk menayakan hal yang sama kepadaku, ‘Apakah Tuan Puteri sudah ditemukan?’. Maryam akan sangat senang mendengar kabar ini.”

“Baik, Paduka. Saya akan membawa serta wanita itu ke Castil Q`arde sehingga ia tidak perlu mengkhawatirkan Alviorita lagi.”

“Jangan jauhkan wanita itu dari Alviorita, Nathan,” pesan Raja, “Atau ia akan selalu mengganggu pekerjaanmu seperti ia menggangguku.”

“Saya mengerti, Paduka.”

“Aku akan memanggil wanita itu,” kata Raja sambil menarik tali yang berwarna keemasan yang berada tepat di dinding belakang kursinya.

Tak lama setelah itu muncul seorang pelayan yang datang tergesa-gesa.

“Panggil Maryam ke sini,” kata Raja.

Raja menatap dalam-dalam wajah Nathan seperti sedang mencari sesuatu. “Katakan kepadaku, Nathan, mengapa engkau tadi berani mengatakan kepadaku, ‘Aku adalah tunangan Alviorita’.”

“Karena pada kenyataannya saya memang tunangan Alviorita.”

“Engkau tidak khawatir aku membatalkan pertunanganmu itu dengan Alviorita?”

“Kalau Anda memang berniat membatalkannya, Anda tentu sudah melakukannya saat Alviorita kabur dari Istana. Saya tahu seperti orang tua saya, Anda ingin mewujudkan keinginan Ratu.”

“Ya, aku memang tidak akan pernah membatalkan pertunangan ini. Aku tidak tahu apa yang akan dilakukan Valensia bila ia melihat Alviorita menolak pertunangan ini.”

Sampai saat ini Nathan tidak pernah memikirkan apa yang akan dilakukan Ratu bila melihat mereka yang ditunangkan olehnya, selalu bertengkar. Apa yang akan dilakukan Ratu melihat Alviorita kabur dari Istana Urza hanya untuk menghindari pertunangannya ini? Nathan dapat memastikan Ratu akan sangat sedih.

Nathan masih ingat Ratu selalu tersenyum senang melihat ia dan Alviorita bermain bersama. Melihat Nathan mendekati Alviorita, Ratu segera menyerahkan Alviorita kepada Nathan. Ratu tidak pernah melarang Alviorita bermain dengan Nathan walaupun mereka bermain di Chymnt. Ratu sangat mempercayai Nathan.

“Aku sedang berpikir, Nathan. Engkau tahu Alviorita tidak menyukai pertunangan ini lalu mengapa engkau berusaha melakukan apa saja demi Alviorita?”

“Saya merasa sebagai orang yang dipercayai baik oleh Ratu maupun Anda, saya harus memberikan yang terbaik bagi Alviorita,” kata Nathan tanpa mengatakan perasaannya yang sesungguhnya.

Tiba-tiba terdengar suaru ketukan di pintu.

“Masuk,” sahut Raja.

Seperti yang pernah dilihat Nathan, Maryam tampak penuh wibawa. Wanita itu membungkuk hormat sebelum berkata, “Anda memanggil saya, Paduka?”

“Aku mempunyai kabar gembira untukmu, Maryam. Sekarang Alviorita berada di Castil Q`arde.”

Maryam terkejut. “Tuan Puteri telah ditemukan,” ulangnya senang.

Melihat air mata membasahi mata Maryam, Nathan tahu Maryam sangat menyayangi Alviorita.

“Tetapi Alviorita kehilangan ingatannya,” Raja melanjutkan.

Sekali lagi Maryam terkejut. “Saya ingin menemui Tuan Puteri,” katanya.

“Jangan khawatir, Maryam. Engkau tidak akan hanya bertemu dengan Alviorita tetapi engkau juga akan tinggal bersama Alviorita di Castil Q`arde.”

“Tuan Puteri tidak tinggal di sini?” tanya Maryam tidak mengerti.

“Tidak, Maryam. Tunangan Alviorita telah memaksaku untuk membiarkan Alviorita tinggal di Castil Q`arde sampai ingatannya pulih,” kata Raja sambil menatap Nathan.

“Saya ingin Anda melakukan sesuatu selama ingatan Alviorita belum pulih,” kata Nathan, “Saya tidak ingin Anda atau siapapun mengatakan kepada Alviorita tentang kedudukannya. Saya ingin sampai ingatannya pulih, Alviorita tetap menduga ia adalah gadis biasa.”

“Mengapa Anda melakukan itu, Tuan Muda?” tanya Maryam tak mengerti.

“Sebaiknya engkau menurutinya, Maryam. Aku telah memberikan wewenang kepadanya untuk menentukan segala yang terbaik bagi Alviorita dan siapapun harus menurutinya,” kata Raja.

“Baik, Paduka. Saya akan melakukannya bila ini memang untuk kebaikan Tuan Puteri.”

“Ini semua memang untuk kebaikan Alviorita, Maryam. Juga demi pulihnya ingatan Alviorita,” kata Nathan.

Raja merasa Maryam akan memberikan banyak pertanyaan dan ia sudah bosan mendengar segala kekhawatiran wanita itu. “Kurasa sebaiknya aku tidak menahanmu terlalu lama di sini, Nathan. Engkau harus segera membawa Maryam ke sisi Alviorita.”

“Baik, Paduka.”

“Nathan, engkau mengijinkan aku menemui putriku, bukan?”

Nathan tersenyum, “Tentu saja, Paduka. Anda adalah ayah Alviorita. Tetapi saya ingin Anda tidak mengenakan mahkota Anda bila Anda menemui Alviorita juga tidak mengatakan apapun kepada Alviorita tentang kedudukannya.”

Raja Phyllips tersenyum. “Tentu, Nathan. Aku telah menyerahkan putriku kepadamu dan itu berarti setiap orang harus menuruti segala keputusanmu yang menyangkut Alviorita tidak terkecuali aku.”

Dengan ijin yang diberikan Raja Phyllips, keluarga Kryntz tidak perlu mengkhawatirkan keberadaan Alviorita di Castil. Nathan memang berniat mempertahankan Alviorita di Castil Q`arde walaupun Raja tidak memberi ijin. Tetapi keluarganya mencemaskan yang akan dilakukan Raja bila ia mengetahui Nathan menculik sang Putri Mahkota yang merupakan tunangan Nathan sendiri.

Kini Nathan dapat membawa Alviorita ke manapun gadis itu inginkan, seperti janjinya, tanpa perlu mengkhawatirkan pasukan Istana yang mungkin mengejar mereka.

Satu-satunya yang perlu dikhawatirkan Nathan adalah Maryam. Walaupun Nathan percaya Maryam tidak akan melanggar janjinya, Nathan tetap tidak ingin Maryam terlalu lama bersama Alviorita. Pengasuh Alviorita sejak Ratu meninggal itu tidak ingin jauh dari Alviorita. Akibatnya, Nathan bukan hanya kesulitan mengajak Alviorita berjalan-jalan tetapi juga khawatir. Nathan khawatir pengasuh Istana yang berwibawa dan tampak ketat itu memberikan peraturan Istana yang berat yang justru dijauhkan Nathan dari Alviorita, kepada gadis itu.

Karena ketika kecil Alviorita sering menghindari pengasuhnya termasuk penghuni Istana lainnya bila ia melarikan diri dari kegiatan rutinnya, Nathan tidak terlalu mengalami kesulitan membawa gadis itu kabur dari sisi Maryam.

Maryam tidak pernah marah bahkan tidak mengatakan apa-apa bila mereka berdua pergi diam-diam tanpa sepengetahuannya. Maryam hanya tersenyum bila keduanya kembali bersama-sama.

Semua orang di Castil Q`arde kecuali Trent tidak ada yang melarang Nathan selalu bersama Alviorita. Mereka juga membiarkan Nathan dan Alviorita pergi ke manapun walau mereka hanya berdua.

Keluarga Kryntz juga Raja telah mempercayakan keselamatan gadis terpenting di Kerajaan Lyvion itu kepada Nathan. Dan Nathan tidak mau membuat semua orang kecewa. Nathan selalu berusaha melakukan yang terbaik bagi gadis itu.

Apapun yang terjadi Nathan selalu menepati janjinya kepada Alviorita juga kepada semua orang. Seperti hari ini, pagi-pagi sekali Alviorita mengajak Nathan ke lapangan rumput. Walaupun masih lelah karena kemarin malam mengantar Alviorita berkeliling Chymnt, Nathan mengantar gadis itu juga.

Nathan heran melihat Alviorita yang tetap tampak riang. Gadis itu sama sekali tidak tampak lelah walaupun sepanjang hari kemarin mereka berjalan-jalan mulai dari pagi sampai sore.

Melihat Alviorita kembali mempermainkan rerumputan, Nathan berbaring di dekat gadis itu sambil terus mengawasinya.

Alviorita membiarkan Nathan. Ia terus memperhatikan sekitarnya. Walaupun setiap hari ia ke lapangan ini, Alviorita tidak pernah merasa bosan. Ada sesuatu di lapangan ini yang membuat Alviorita ingin terus datang ke tempat ini.

Walaupun sampai sekarang tidak ada sedikitpun kemajuan mengenai ingatannya, Alviorita tidak merasa sedih. Alviorita juga tidak merasa tinggal di tempat yang bukan tempat asalnya. Di sini, di Chymnt, Alviorita merasa berada di rumahnya sendiri. Alviorita tidak pernah menduga kalau ia saat ini tidak berada di rumahnya sendiri melainkan di Castil tunangannya.

Keluarga Rpiayh yang telah mengetahui segalanya dari Nathan, merasa curiga ketika sehari setelah kedatangan mereka, Alviorita tetap berada di Castil Q`arde.

Kecurigaan mereka berubah menjadi keheranan melihat ketika Raja datang ke Castil Q`arde bukan Putri Alviorita yang kembali ke Istana Urza. Yang semakin mengherankan adalah Raja datang tanpa banyak pengawal hanya ada dua orang pengawal yang besertanya.

Sebelum menemui Alviorita, Raja berbicara dulu dengan keluarga Chymnt. Dari perbincangan itulah Golbert mengetahui Raja telah memutuskan Putri Alviorita tinggal di Castil Q`arde sampai ingatannya pulih.

Hellebre yang sejak awal mencurigai Nathan, akhirnya mempercayai pria itu. Tidak seorangpun yang menyalahkan kecurigaan itu. Karena semuanya untuk menjaga keselamatan Alviorita.

Melihat Alviorita telah kembali ke keluarganya dan benar-benar dalam keadaan aman, Golbert dan Hellebre memutuskan untuk kembali ke Synghz.

Alviorita sedih mendengar keputusan itu, tetapi ia tahu ia tidak boleh menahan mereka di Chymnt terlalu lama. Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan Golbert di Synghz. Masih banyak urusan yang harus mereka selesaikan.

Menjelang kepulangan suami-istri Rpiayh, timbul suatu masalah, yaitu Yoland. Mulanya keluarga Rpiayh ingin membiarkan Yoland yang akrab dengan Alviorita selama mereka berada di Synghz, tetap tinggal di Castil Q`arde untuk melayani Alviorita.

“Biarlah Yoland tinggal di sini, Tuan Puteri,” kata Hellebre.

“Tidak, aku tidak dapat berbuat seperti itu. Aku tahu Yoland telah lama bekerja kepada kalian dan aku tidak dapat dengan seenaknya mengambil Yoland dari kalian.”

“Tidak apa-apa, Tuan Puteri. Selama berada di Synghz, Anda dan Yoland tampak akrab, tentunya Anda merasa sedih bila berpisah dengannya.”

“Aku juga merasa sedih berpisah dengan kalian. Selama ini kalian telah menyayangiku,” kata Alviorita.

“Maafkan kami, Tuan Puteri tetapi kami tidak dapat tinggal lebih lama di sini seperti keinginan Anda,” kata Golbert.

“Aku mengerti. Kalian masih mempunyai banyak urusan di Synghz,” kata Alviorita, “Lalu mengenai Yoland. Biarlah ia ikut dengan kalian.”

“Tidak, Tuan Puteri. Biarkan Yoland tetap di sini dan melayani Anda,” sahut Hellebre.

Alviorita memperhatikan Yoland yang tengah mendekat dengan membawa barangnya. “Sebaiknya Yoland sendiri yang memutuskannya.”

Yoland yang tidak tahu apa-apa, kebingungan mendengar kalimat itu.

“Yoland, engkau akan kembali ke Synghz atau tetap tinggal di sini?”

Sesaat Yoland kebingunan. “Saya juga ingin tinggal di sini dan terus melayani Anda, Nona. Tetapi keluarga saya masih ada di Synghz.”

“Aku mengerti, Yoland. Chymnt memang jauh dari Synghz.”

“Sebaiknya kalian segera berangkat sekarang sebelum hari semakin siang,” kata Nathan.

“Aku tidak akan menahan kalian lebih lama lagi. Perjalanan dari sini ke Synghz memang jauh. Bila kalian tidak segera berangkat, aku khawatir kalian kemalaman di jalan nanti.”

“Selamat tinggal, Tuan Puteri.”

“Aku pasti akan mengunjungi kalian,” janji Alviorita sebelum keluarga Rpiayh dan Yoland berangkat.

Namun sampai sekarang janji itu belum terpenuhi. Alviorita masih tidak ingin meninggalkan lapangan rumput di Chymnt. Setiap hari yang diinginkan gadis itu adalah berada di sana.

Walaupun Nathan juga senang dapat menemani Alviorita di hutan tempat mereka bermain dulu, tetapi ia merasa heran mengapa Alviorita tidak bosan setiap hari berada di hutan itu.

Nathan mengakui hutan itu memang indah.

Dedaunannya yang rimbun seperti atap. Sinar matahari yang terus berusaha menembus kerimbunan dedaunan tampak berkilau seperti permata putih kekuning-kuningan. Di antara hijaunya semak-semak muncul bunga yang berwarna-warni. Belum lagi keindahan lapangan rumput kesukaan Alviorita ini. Dari rerumputan yang tinggi tampak dandelion yang bulat putih. Dandelion yang berterbangan tertiup angin tampak terus naik ke atas seperti hendak mencapai langit biru yang indah.

Udara yang sejuk itu membuat hati terasa damai. Segala masalah menjadi terlupakan dan kadang membuat Nathan mengantuk.

Alviorita tersenyum nakal melihat Nathan tertidur di sampingnya. Alviorita mengerti Nathan lelah setelah seharian mengantarnya pergi. Namun ide nakal yang muncul tiba-tiba itu, membuat Alviorita tidak dapat menahan dirinya untuk tidak menggoda Nathan.

Mula-mula Alviorita mencoba membangunkan Nathan dengan rumput panjang. Ujung rumput yang seperti bulu itu diputar-putar Alviorita di wajah Nathan. Melihat Nathan terus tertidur, Alviorita tersenyum senang. Alviorita kembali melakukan kebiasaannya semasa kecil.

Nathan terkejut ketika ia merasa sesuatu disiramkan ke wajahnya seperti air yang mengalir. Nathan membuka matanya dan melihat Alviorita tersenyum nakal sambil terus menyiramkan rumput ke wajahnya.

Alviorita tidak berhenti walaupun Nathan telah bangun.

Kesal karena Alviorita telah menganggu tidurnya, Nathan segera menangkap lengan gadis itu sebelum gadis itu menjauhinya.

“Engkau nakal sekali,” kata Nathan pura-pura marah.

“Engkau yang nakal. Engkau tidur sementara aku duduk di sisimu,” kata Alviorita sambil tersenyum nakal, “Bahkan sekarang engkau tetap tidak mau bangkit.”

“Justru karena aku tahu engkau ada di sisiku, aku merasa tenang dan dapat tidur dengan tenang pula.”

Alviorita terkejut ketika Nathan tiba-tiba menarik tangannya hingga ia terjatuh di sisi pria itu. “Apa yang kaulakukan?”

Nathan tersenyum nakal melihat keterkejutan Alviorita. “Daripada engkau marah hanya karena aku tidak mau bangkit, lebih baik engkau yang ikut berbaring di sini.”

“Engkau beruntung aku tidak meninggalkanmu sendirian di sini,” kata Alviorita cemberut.

“Kalau engkau berani melakukannya, aku akan menghukummu,” kata Nathan memperingati.

“Hukuman apa?” tantang Alviorita.

Nathan tersenyum penuh misteri seperti sinar matanya. “Hukuman yang paling manis.”

“Hukuman yang paling manis?” kata Alviorita tidak mengerti, “Apakah ada hukuman yang manis?”

“Alviorita, walaupun bagi semua orang engkau adalah gadis dewasa yang anggun tetapi bagiku engkau tetap gadis kecil yang lugu dan polos.”

Alviorita semakin kebingungan melihat senyum geli Nathan yang bertentangan dengan sinar matanya.

Nathan menatap dalam-dalam kebingungan di mata Alviorita. Setelah bertemu kembali dengan Alviorita yang telah menjadi Putri Mahkota, Nathan hanya mempunyai satu pandangan terhadap gadis itu.

Alviorita adalah Putri Mahkota yang anggun, angkuh dan dewasa dalam segala hal.

Setelah mendengarkan cerita orang tuanya tentang Alviorita, pandangan Nathan runtuh dalam satu waktu. Dan setelah lebih dekat lagi dengan Alviorita walaupun pertengkaran mereka masih ada, Nathan semakin mengenal gadis itu.

Walaupun Alviorita tampak anggun di mata semua orang dan tampak dewasa, tetapi gadis itu tetaplah seorang gadis bukan wanita dewasa. Kepolosan serta keluguan masa kanak-kanak masih ada pada diri gadis itu walaupun selama lima belas tahun dikubur dengan paksa.

Walaupun sampai sekarang tidak ada kemajuan dengan ingatan Alviorita, Nathan tahu ia tidak salah membiarkan Alviorita tinggal di Castil Q`arde. Seperti yang dikatakan Nathan kepada Raja, Alviorita tampak lebih bebas dan lebih ceria dibandingkan saat ia berada di Istana.

Maryam yang biasanya selalu disiplin akhirnya menyerah juga ketika ia melihat Alviorita yang tampak ceria itu. Walaupun selama ini Maryam yang mendukung keinginan Raja agar Alviorita menjadi Putri Mahkota yang baik, tetapi wanita tua itu tetap bahagia melihat keceriaan Alviorita hingga tidak berani merusaknya.

Hanya Nathan saja yang mengetahui dalam diri Putri Alviorita yang anggun tersembunyi sosok masa kecilnya yang terkubur bersamaan dengan kesibukannya. Nathan tahu sosok yang tersembunyi selama lima belas tahun itu hanya tampak saat gadis itu bersamanya.

Nathan terus menatap Alviorita yang kebingungan. Melihat mata hijau yang tajam itu kebingungan, Nathan ingin sekali mengutarakan segala perasaannya kepada gadis itu.

Setiap kali melihat wajah cantik yang penuh tantangan itu, Nathan ingin sekali mengungkapkan cintanya tetapi Nathan tidak pernah melakukannya. Nathan khawatir Alviorita terlalu terkejut dengan pernyataannya hingga ia kabur lagi. Nathan tidak ingin itu terjadi.

Selama ini Nathan memang berhasil menahan dirinya untuk tidak mengatakannya tetapi ia tidak tahu hingga kapankah ia akan bertahan.

Alviorita menatap langit biru. “Engkau benar, Nathan.”

Nathan mengubah posisinya. Ia berbaring ke arah Alviorita. Telapak tangannya menopang kepalanya yang terus mengarah ke wajah Alviorita. “Benar?” tanyanya.

Alviorita tahu Nathan tengah menatapnya tetapi ia tidak mengalihkan perhatiannya dari langit biru yang menjadi halaman bermain awan-awan putih.

“Aku merasa aku sangat polos dan lugu bila aku bersamamu. Aku juga merasa aku menjadi semakin kekanak-kanakan dan manja. Aku tahu itu tidak boleh tetapi aku tidak dapat menahannya.”

Mata Nathan menyipit. “Siapa yang mengatakannya?”

Alviorita mengalihkan perhatiannya dari langit biru. “Entahlah, Nathan. Seseorang dalam diriku mengatakan semua orang tidak ingin aku kekanak-kanakan seperti itu. Mereka ingin aku menjadi gadis yang anggun.”

Nathan tersenyum lembut hingga membuat jantung Alviorita berdebar-debar.

“Semua itu salah, Alviorita. Engkau memang gadis yang anggun tetapi tidak seorangpun yang memaksamu bersikap seperti itu. Bagiku dan bagi semua orang di Castil Q`arde, engkau adalah gadis yang anggun.”

“Engkau yang salah, Nathan,” kata Alviorita sedih, “Walaupun aku tidak dapat mengingat masa laluku, aku tetap mengetahui satu hal. Aku harus menjadi gadis yang anggun.”

“Percayalah kepadaku, Alviorita. Hingga kapanpun engkau adalah gadis yang anggun.”

“Dalam ingatanku, aku mendengar seseorang mengatakan aku harus bersikap dewasa agar dapat menjadi gadis yang anggun.”

Nathan turut sedih mendengarnya. Walaupun Nathan telah berusaha membuat Alviorita melupakan semua perasaannya selama berada di Istana Urza, tetapi perasaan itu telah melekat erat dalam diri gadis itu.

Nathan tidak ingin melihat Putri Mahkota yang angkuh dalam diri Alviorita. Yang ingin dilihatnya adalah Alviorita yang sesungguhnya, Alviorita yang anggun tetapi liar dan suka menantang dengan kata-katanya yang tajam seperti matanya.

Hingga ingatannya pulih, Nathan ingin Alviorita merasa bebas seperti yang diinginkan gadis itu sejak Ratu meninggal. Tetapi perasaan terkurung yang melekat dalam diri Alviorita terlalu erat. Perasaan itu tetap ada walaupun Alviorita tidak dapat mengingat dirinya sebagai Putri Mahkota.

“Aku tidak melarangmu bersikap manja dan kekanak-kanakan kepadaku. Justru aku akan merasa marah sekali kepadamu bila engkau berusaha menutupinya di depanku,” kata Nathan memperingati, “Aku senang melihat engkau bersikap manja kepadaku dan aku ingin engkau tetap melakukannya.”

Alviorita tersenyum manis. “Aku mengerti, Nathan. Aku juga senang dapat bermanja-manja padamu.”

Wajah cantik Alviorita yang tampak semakin cantik dengan senyum manisnya, membuat Nathan tidak dapat menahan diri lagi. Nathan menundukkan kepalanya dan mencium perlahan bibir Alviorita yang masih membentuk senyum manis itu.

Senyum manis Alviorita menghilang ketika bibir mereka bertemu. Rona merah menggantikan senyum manis di wajah Alviorita.

Nathan berbaring kembali di tepat sisi Alviorita. Nathan merasa bersalah melihat pipi Alviorita yang memerah. “Maafkan aku, Alviorita. Engkau selalu membuatku melupakan segalanya kecuali satu yaitu menciummu. Engkau membuat aku melupakan pekerjaanku.”

Suara bersalah itu membuat Alviorita merasa sedih. “Jangan berkata seperti itu, Nathan. Aku tidak marah karena engkau menciumku. Aku… aku…,” wajah Alviorita semakin memerah, “Aku hanya merasa malu karenanya.”

Nathan tersenyum, “Itu berarti engkau tidak biasa dicium laki-laki.”

Alviorita membalas senyuman Nathan, “Mungkin engkau benar, Nathan.”

Nathan tahu ia benar. Ia telah menjadi pria pertama yang mencium Alviorita hingga gadis itu menangis sedih.

Melihat kesedihan dan perasaan bersalah di wajah Nathan, Alviorita berkata, “Jangan sedih, Nathan.”

Alviorita meletakkan tangannya di wajah Nathan. “Mungkin ini akan membuatmu merasa senang. Engkau juga selalu membuatku bersikap manja. Hanya engkau, Nathan.”

“Aku tahu itu, Alviorita. Bahkan sebelum engkau mengatakannya aku sudah tahu,” kata Nathan, “Sekarang apa yang akan kita lakukan?”

“Memandang langit,” jawab Alviorita singkat.

“Kalau engkau bersikap seperti ini, engkau seperti Jeffreye.”

Alviorita mengalihkan perhatiannya dari langit. “Jeffreye?”

“Ia adalah kemenakanku. Engkau sangat menyayanginya dan iapun juga menyayangimu. Ia senang memandang langit sepertimu saat ini. Setiap kali aku menemaninya bermain di sini, ia selalu berbaring sambil memandang langit bahkan hingga tertidur.”

“Di mana dia?” tanya Alviorita ingin tahu.

“Ia telah kembali ke Druqent. Ketika engkau tinggal di sini, ia membujuk setiap orang di keluarganya untuk menunda kepulangannya dan ketika engkau menghilang, ia terpaksa pulang.”

“Kasihan dia,” kata Alviorita, “Bisakah kita menjemputnya?”

Nathan bangkit. “Mengapa tidak? Itu adalah ide yang bagus.”

Alviorita terkejut melihat Nathan cepat-cepat bangkit dan mengulurkan tangannya untuk membantunya bangkit.

“Kita akan pergi ke Druqent siang ini juga, Alviorita. Kita akan menjemput Jeffreye.”

Alviorita tersenyum senang, “Jeffreye pasti senang sekali.”

“Tentu saja, ia sangat menyayangimu,” kata Nathan, “Mari kita kembali ke Castil Q`arde.”

Alviorita menurut ketika Nathan menarik tangannya ke Castil Q`arde. Melihat Nathan tidak seperti biasanya, Alviorita mengerti pria itu benar-benar ingin ke Druqent siang ini juga.

Nathan yang biasanya berjalan lambat di sisi Alviorita kini berjalan sangat cepat sambil menarik tangan Alviorita.

Walaupun ia harus berusaha keras menyesuaikan langkah kakinya dengan langkah kaki Nathan, Alviorita tidak merasa khawatir akan jatuh. Alviorita tahu Nathan selalu menjaganya dengan hati-hati.

Rupanya Nathan menyadari kesulitan Alviorita karena pria itu tiba-tiba berhenti.

“Ada apa, Nathan?” tanya Alviorita khawatir.

“Seperti kataku, bersamamu membuatku melupakan segalanya,” jawab Nathan, “Aku lupa engkau akan kesulitan menyamakan langkahmu denganku.”

“Tidak apa-apa, Nathan.”

“Gaunmu dapat membuatmu terjatuh kalau engkau berjalan cepat sepertiku,” kata Nathan memperingati.

“Aku tidak khawatir akan jatuh. Aku tahu engkau akan menjagaku,” kata Alviorita sambil tersenyum.

“Aku memang akan selalu menjagamu, Alviorita. Karena itu sekarang aku tidak akan berjalan cepat lagi,” kata Nathan sambil menarik Alviorita mendekat, “Kita akan berjalan pelan-pelan ke Castil Q`arde, hari masih pagi. Aku tidak perlu khawatir kita kesiangan.”

Alviorita tertawa. “Engkau lucu, Nathan. Bagaimana mungkin kita akan kesiangan kalau Castil Q`arde telah berada di dekat kita. Di depan kita saja sudah tampak menara Castil yang menjulang.”

“Engkau benar, Alviorita. Aku terlalu bersemangat hingga aku melupakannya.”

“Kadang-kadang aku merasa engkau kekanak-kanakan juga, Nathan.”

“Kita akan menjadi pasangan yang paling kekanak-kanakan, Alviorita. Aku yakin itu apalagi bila mengingat semua pertengkaran kita yang seperti anak kecil yang sama-sama tidak mau mengalah.”

Nathan sadar ia telah melakukan kesalahan. Nathan tidak ingin Alviorita memulai pertengkaran lagi setelah sekian lama mereka tidak bertengkar.

Alviorita tersenyum, “Aku juga merasa demikian. Aku senang akhir-akhir ini kita jarang bertengkar.”

Kata-kata Alviorita yang berlawanan dengan yang diduga Nathan itu sempat membuat Nathan terkejut. Rupanya tidak hanya Nathan yang tidak ingin bertengkar, Alviorita juga tidak ingin.

Suasana akrab yang ada di antara mereka sejak mereka tiba di Castil Q`arde, membuat Alviorita merasa senang. Alviorita senang tinggal di antara keluarga Kryntz yang ramah kepadanya walaupun ada Trent yang tidak disukainya.

Tidak seperti dulu, kini Alviorita benar-benar tidak menghiraukan Trent. Setiap kali melihat pria itu mendekatinya, Alviorita segera mencari perlindungan dari Nathan. Alviorita benar-benar tidak suka melihat Trent yang selalu mengikutinya hanya karena ingin menunjukkan kepandaian memujinya.

Nathan benar-benar menjaga dan melidungi Alviorita dari apapun bahkan dari adiknya sendiri. Nathan tahu sejak kecil Alviorita tidak menyukai Trent dan ia selalu berusaha menjauhkan gadis itu dari Trent. Sering mereka memanjat pohon hanya untuk menghindari Trent.

Walaupun Maryam juga tinggal di Castil Q`arde, wanita tua itu tetap tidak mengetahui apa saja yang dilakukan Alviorita bersama Nathan.

Tetapi Maryam yang biasanya selalu mengetahui tindakan Alviorita itu tidak pernah merasa kecewa. Ia sudah cukup senang bertemu kembali dengan Alviorita yang telah menghilang darinya selama setengah tahun lebih. Dan wanita itu akan menjadi lebih senang lagi bila ingatan Alviorita pulih.

Melihat waktu terus mengalir seperti sungai tetapi ingatan Alviorita tidak pulih, Maryam merasa cemas. Maryam tidak dapat membiarkan keadaan seperti ini terus berlangsung. Alviorita adalah Putri Mahkota, banyak tugas yang harus dilakukannya.

Maryam semakin tidak sabar melihat usaha Nathan untuk mengembalikan ingatan Alviorita. Sampai saat ini Nathan tidak pernah mengatakan apa-apa tentang usahanya bahkan kemajuan ingatan Alviorita.

Tidak seorangpun di Castil Q`arde yang mengetahui apakah ingatan Alviorita telah pulih bahkan Maryam yang biasanya selalu berada di sisi Alviorita juga tidak mengetahuinya. Sejak berada di Castil Q`arde, Maryam jarang berada di sisi Alviorita. Maryam juga tidak sedekat dulu lagi dengan Alviorita.

Seluruh waktu dan perhatian Alviorita telah direbut Nathan dari Maryam. Setiap hari Nathan ‘menculik’ Alviorita dari pengasuhnya itu. Maryam tidak menganggapnya sebagai masalah besar.

Yang menjadi masalah besar baginya adalah ingatan Alviorita. Alviorita adalah satu-satunya penerus Raja Phyllips. Bagaimana gadis itu dapat menjadi Ratu yang diinginkan setiap orang bila ingatannya tidak pulih. Maryam telah berjanji untuk tidak mengatakan apa-apa tentang kedudukan Alviorita yang penting itu dan Maryam tidak ingin mengingkarinya.

Tetapi Maryam tidak dapat membiarkan keadaan ini terus berlangsung. Maryam merasa ingatan harus segera pulih demi masa depan Kerajaan Lyvion yang berada di tangan Alviorita. Maryam telah membuat rencana untuk Alviorita dan Maryam yakin Nathan akan menyetujuinya.

Maryam tahu bila Alviorita telah pergi bersama Nathan, gadis itu tidak akan kembali sebelum petang. Maryam memang tidak tahu apa yang dilakukan mereka hingga petang tetapi ia mempercayai mereka terutama Nathan.

Mulanya Maryam khawatir ia harus menanti hingga petang sebelum ia menyampaikan rencananya kepada Nathan tetapi ketika ia melihat mereka berdua mendekati Castil Q`arde, ia merasa lega karena tidak perlu menanti lebih lama dari dugaannya semula.

Maryam segera menyambut kedatangan mereka.

Nathan terkejut ketika pintu terbuka tepat pada saat ia akan membukanya. “Engkau membuatku terkejut, Maryam.”

“Apa yang terjadi, Maryam? Engkau seperti dikejar hantu saja,” kata Alviorita sambil tersenyum geli melihat pengasuhnya terengah-engah.

“Tidak ada apa-apa, Tuan Puteri. Saya hanya ingin berbicara dengan Tuan Muda.”

“Kita akan membicarakannya di dalam, Maryam. Sekarang biarkanlah kami masuk.”

“Tentu, Tuan Muda.” Maryam segera membuka pintu lebar-lebar dan membiarkan mereka masuk.

Alviorita mengawasi wajah Maryam. “Katakanlah kepadaku apa yang terjadi, Maryam. Engkau tampak tegang seperti telah terjadi sesuatu yang serius.”

“Tidak ada apa-apa, Tuan Puteri,” kata Maryam meyakinkan Alviorita, “Sungguh, tidak terjadi apa-apa. Saya ingin berbicara hanya dengan Tuan Muda.”

Melihat kecemasan Alviorita, Nathan berkata, “Kalau memang tidak ada masalah yang serius, kurasa engkau dapat mengatakannya sekarang.”

Maryam menatap cemas wajah Alviorita.

Melihat kecemasan Maryam, Nathan mengerti apa yang akan dibicarakan Maryam. Maryam benar Alviorita tidak boleh tahu pembicaraan mereka ini.

“Lebih baik engkau bersiap-siap sekarang, Alviorita. Engkau dapat bersiap-siap sendiri, bukan? Atau engkau membutuhkan bantuan Maryam?”

Alviorita mengerti Nathan tidak ingin ia mengetahui pembicaraan mereka. “Jangan khawatir, Nathan. Aku bisa melakukannya. Kalau nanti aku membutuhkan bantuan, aku akan memanggil pelayan yang lain.”

“Bagus, sekarang pergilah. Nanti kalau engkau belum selesai, aku akan menantimu di sini,” kata Nathan.

Alviorita segera menuju ke kamarnya.

Begitu Alviorita menghilang di tangga, Maryam berkata, “Anda dan Tuan Puteri akan pergi?”

“Benar, Maryam. Aku dan Alviorita berencana ke Druqent siang ini.” Nathan mengawasi sekelilingnya, “Lebih baik kita tidak berbicara di sini, Maryam. Di sini pembicaraan kita terlalu mudah didengar orang.”

“Tentu, Tuan Muda. Seperti saya, keluarga Anda juga telah menanti Anda sejak tadi.”

“Apakah urusan yang akan kaubicarakan ini sangat penting, Maryam, hingga keluargaku ikut campur tangan juga.”

Nathan membiarkan Maryam membawanya ke Ruang Duduk.

Seperti yang dikatakan Maryam, orang tua Nathan juga berada di sana.

“Aku senang engkau sudah ada di sini, Nathan. Aku khawatir engkau akan pergi hingga sore.”

“Tidak, Papa. Aku dan Alviorita ingin menjemput Jeffreye siang ini.”

“Tidak dapatkah Anda menundanya, Tuan Muda?”

“Aku dapat menundanya, Maryam, tetapi hal itu akan membuat Alviorita sedih,” kata Nathan, “Katakan saja apa yang terjadi, Maryam. Aku yakin Alviorita akan mengerti bila ia tahu ia terpaksa menunda perjalanan ini.”

“Tidak terjadi apa-apa, Tuan Muda. Saya hanya ingin membawa Tuan Puteri ke Istana Urza.”

“Istana Urza? Untuk apa, Maryam? Raja telah membiarkan Alviorita tinggal di sini sampai ingatannya pulih.”

“Itulah sebabnya, Tuan Muda. Sampai saat ini saya belum melihat ingatan Tuan Puteri telah mengalami kemajuan. Sejak tiba di sini hingga saat ini, saya merasa Tuan Puteri tetap tidak mengingat apapun.”

“Engkau salah, Maryam. Walaupun ingatan Alviorita belum pulih tetapi ada beberapa hal yang mulai diingatnya.”

“Saya merasa ingatan Tuan Puteri akan cepat pulih bila ia pergi ke Istana Urza. Tuan Puteri tinggal di sana lebih lama dibandingkan di sini. Maafkan saya, Tuan Muda, tetapi itulah kenyataannya.”

“Aku mengerti, Maryam. Alviorita memang lebih lama tinggal di Istana Urza daripada di sini tetapi yang diingat Alviorita adalah kenangan masa kecilnya di sini. Alviorita tidak dapat mengingat apapun tentang Istana.”

“Kita harus mencobanya, Nathan. Kita harus membawa Tuan Puteri ke Istana,” bujuk Duchess.

Nathan menatap wajah Maryam. “Apakah kalian mengerti, mengapa aku berusaha agar Alviorita tinggal di sini bukannya di Istana?”

“Saya mengerti, Tuan Muda. Anda tidak ingin Tuan Puteri terbebani apapun selama masa penyembuhannya ini,” kata Maryam, “Tetapi, Tuan Muda. Bagaimana dengan nasib Kerajaan ini? Tuan Puteri adalah satu-satunya penerus Raja Phyllips. Bagaimana bila ingatannya tidak segera pulih?”

“Kekhawatiran Maryam beralasan, Nathan. Engkau harus mengikuti sarannya,” kata Duke.

“Aku telah memikirkannya. Walaupun lama tetapi aku yakin ingatan Alviorita akan pulih.”

“Kita harus mencobanya, Tuan Muda. Kita harus membawa Tuan Puteri ke Istana,” kata Maryam bersikeras.

Nathan menatap wajah keriput Maryam sambil berpikir. Nathan tahu Maryam benar, ingatan Alviorita mungkin akan pulih bila ia berada di Istana tetapi Nathan juga tahu itu tidak mungkin. Alviorita tidak menyukai kedudukannya yang dapat berarti pula bahwa ia tidak senang tinggal di Istana dan kemungkinan Alviorita melupakan Istana sangat besar.

Nathan yang terbiasa memanfaatkan kesempatan sekecil apapun, akhirnya memutuskan menuruti keinginan Maryam.

Mengenai rencana yang dibuatnya bersama Alviorita, Nathan tidak akan membatalkannya tetapi akan mengubahnya. Tidak harus mereka yang pergi ke Druqent untuk menjemput Jeffreye.

Baru saja Nathan akan mengatakan keputusannya ketika Duke berkata, “Tidak harus engkau yang menjemput Jeffreye.”

“Benar, engkau dapat menyuruh orang lain menjemput Jeffreye sementara kita pergi ke Istana Urza,” sahut Duchess.

“Aku baru saja memikirkan hal itu. Aku memutuskan menyuruh Trent menjemput Jeffreye sementara kita membawa Alviorita ke Istana Urza.”

“Benar, Nathan. Lebih baik kita menyuruh Trent menjemput Jeffreye daripada orang lain,” kata Duchess.

“Selama kita dan Alviorita berada di Istana Urza nanti, aku minta kita semua tidak mengatakan apa-apa.”

“Tentu saja, Nathan. Takkan ada seorangpun dari kita yang mengatakan tentang gelar Alviorita kepada Alviorita.”

“Bukan hanya itu maksudku, Papa. Aku tidak ingin seorangpun mengatakan tempat yang kita datangi itu adalah Istana.”

“Lalu apa yang harus kita katakan kalau gadis itu bertanya mengapa tempat yang kita datangi itu ramai. Engkau tahu bukan Istana selalu ramai,” kata Duke.

“Apa pula yang harus kita katakan kalau gadis itu melihat lukisan dirinya di sana?” tambah Duchess.

“Saya tidak ingin Tuan Puteri tidak melihat lukisan-lukisan dirinya. Saya ingin Tuan Puteri melihat segala sesuatu yang ada di dalam Istana yang berhubungan dengan dirinya,” kata Maryam.

Ketiga orang yang terus memberikan pertanyaan dan pernyataan kepada Nathan, tidak membuat pria yang sedang itu terganggu. “Kita akan mengatakan tempat itu adalah rumahnya dan tempat itu ramai karena orang-orang yang berada di sana memiliki urusan dagang dengan Raja.”

“Saat ini Raja tidak berada di Istana, Nathan. Saat ini Raja berada di luar Kerajaan,” kata Duke mengingatkan.

“Aku tahu, Papa. Bila melihat sikap acuh Alviorita setiap kali Raja datang ke sini, aku yakin gadis itu tidak akan mencari Raja. Lagipula saat ini Istana pasti tidak seramai saat Raja ada di Istana.”

“Anda benar, Tuan Muda. Tuan Puteri tidak pernah akrab dengan Paduka. Walaupun telah lama mereka tidak bertemu, Tuan Puteri tidak pernah tampak rindu pada Paduka.”

“Maksudmu, selain di sini, di Istanapun Tuan Puteri selalu tidak mempedulikan keberadaan Raja,” kata Duchess heran.

Sejak kedatangan Raja yang pertama yaitu sehari setelah ia tiba di Chymnt, Raja memang jarang datang ke Castil Q`arde tetapi Alviorita tidak pernah tampak khawatir ataupun rindu.

Bahkan pertemuan pada pertama mereka setelah Alviorita kabur dari Istana Urza, Alviorita bersikap sangat dingin kepada ayahnya. Walaupun tahu pria itu adalah ayahnya dan ayahnya senang dapat bertemu lagi dengannya, Alviorita tidak berusaha bersikap ramah kepada Raja Phyllips.

Hal itu sangat mengherankan semua orang di Castil Q`arde kecuali Maryam yang telah terbiasa dengan keadaan seperti ini dan Nathan. Semua orang semakin heran ketika melihat Alviorita segera pergi setelah melihat ayahnya.

Nathan tahu mengapa Alviorita bersikap seperti itu. Bahkan sebelum mereka bertemu, Nathan telah mengetahui keadaan inilah yang akan terjadi, Alviorita akan segera menghindari ayahnya begitu melihat ayahnya datang.

Dulu Alviorita kabur dari Istana Urza karena ayahnya dan karena ayahnya pula ia terpaksa meninggalkan masa kecilnya. Walaupun tahu Raja mencemaskannya, Alviorita tetap tidak mau kembali ke Istana Urza hingga ia kabur lagi dari Castil Q`arde dan akhirnya sekarang ia kehilangan ingatannya.

“Tuan Puteri memang selalu begitu.”

“Aku heran, mengapa Tuan Puteri bersikap seperti itu. Bukankah seharusnya ia lebih akrab dengan ayahnya setelah kematian ibunya,” gumam Duchess.

“Kurasa saat ini bukan saatnya kita membicarakan itu, Mama. Aku akan memanggil Alviorita,” kata Nathan, “Lalu mengenai Trent, tolong Mama yang mengatakannya. Aku yakin ia akan semakin membenciku bila aku yang mengatakan hal ini.”

Duchess tersenyum pengertian, “Mama mengerti, Nathan. Mama akan mengatakannya kepada Trent tanpa menyebut namamu ataupun Tuan Puteri.”

Sebelum membuka pintu, Nathan membalikkan badannya dan berkata, “Maryam, kurasa engkau tidak perlu membantu Alviorita. Aku yakin saat ini gadis itu telah siap.”

“Baik, Tuan Muda. Saya akan mengurus kereta yang akan membawa kita ke Istana Urza,” kata Maryam.

“Terima kasih, Maryam” kata Nathan sambil membuka pintu.

Nathan tahu Alviorita akan sedih dengan rencana baru ini tetapi gadis itu pasti mengerti setelah mendengar penjelasannya.

Baru saja Nathan memikirkan apa yang harus dikatakanya kepada Alviorita ketika ia melihat gadis itu berada di ujung tangga pertama yang harus ia lalui.

Alviorita yang berdiri di dekat jendela yang terbuka lebar, tampak sangat cantik. Sinar matahari yang memasuki lorong membuat gadis itu bermandikan sinar matahari dan membuatnya tampak seperti bidadari dengan gaunnya yang putih itu.

Seulas senyum manis yang menghias wajahnya membuat Nathan ingin segera mendekati gadis itu dan memeluknya erat-erat sebelum gadis itu menghilang.

Alviorita tersenyum senang ketika melihat Nathan. Alviorita diam menanti Nathan tiba di sisinya.

“Kita akan berangkat sekarang?” tanyanya.

Nathan meraih tangan Alviorita dan menciumnya, “Tentu, Tuan Puteri. Kalau kita tidak berangkat sekarang, aku khawatir kecantikanmu akan pudar.”

Wajah Alviorita memerah mendengar pujian itu. Alviorita tahu ia tidak pernah menyukai pujian setiap pria yang ditujukan pada dirinya tetapi ia selalu menyukai pujian Nathan. Bagi Alviorita, pujian Nathan benar-benar tulus bukan karena memiliki tujuan lain.

“Walaupun engkau adalah seorang gadis liar, tetapi engkau sangat manis, Alviorita. Apalagi pipimu yang memerah seperti mawar merah ini,” katanya kemudian Nathan mencium pipi Alviorita. “Dan membuatku ingin menciumnya,” tambah Nathan sambil tersenyum.

“Engkau tidak mengganti bajumu?”

“Tidak, Alviorita.”

“Kita tidak jadi pergi?”

Nathan menatap lekat-lekat wajah Alviorita dan membuat gadis itu kebingungan melihat wajahnya yang serius. “Kita tetap akan pergi, Alviorita, tetapi kita tidak ke Druqent. Aku tahu engkau sedih, tetapi dengarkanlah penjelasanku ini dulu.”

“Aku akan mendengarkannya, Nathan.”

“Kita akan ke rumahmu untuk mencoba mengembalikan ingatanmu. Kita tidak dapat menunda kepulanganmu ini, Alviorita.”

“Apakah aku akan meninggalkan tempat ini?” tanya Alviorita cemas.

“Tidak, Alviorita. Aku tidak akan membiarkanmu meninggalkan Castil ini sebelum ingatanmu pulih.”

“Bagaimana setelah ingatanku pulih?”

Nathan terdiam. Hingga saat ini Nathan belum tahu apa yang akan terjadi setelah ingatan Alviorita pulih. Selama gadis itu kehilangan ingatannya, mereka semakin dekat. Nathan tidak pernah memikirkan apa yang terjadi bila ingatan gadis itu pulih bahkan tidak dapat menebaknya.

Andaikata Nathan tahu bagaimana perasaan Alviorita kepadanya, mungkin ia dapat menebaknya. Tetapi Nathan tidak tahu dan ia tidak pernah menanyakannya kepada Alviorita walaupun ia selalu ingin bertanya.

Hingga ingatan Alviorita pulih, Nathan tidak ingin membuat Alviorita curiga kepada dirinya.

“Aku belum memikirkannya, Alviorita,” kata Nathan jujur, “Lupakan saja masalah itu. Aku janji akan memikirkan hal ini. Saat ini yang penting adalah memulihkan ingatanmu.”

“Nathan, bila kita tidak jadi ke Druqent hari ini, apakah kita akan ke sana besok?”

“Tidak, Alviorita. Aku telah meminta Trent menjemput Jeffreye hari ini juga. Aku tahu engkau ingin menjemput sendiri Jeffreye, Alviorita, tetapi engkau pasti lelah setelah seharian berkeliling untuk memulihkan ingatanmu.”

“Jangan kaulakukan itu, Nathan. Aku tidak akan lelah,” kata Alviorita membujuk.

“Aku mengerti engkau kecewa, Alviorita, tetapi jangan membujukku. Aku tahu apa yang terbaik bagimu,” kata Nathan, “Saat ini yang terbaik bagimu adalah ikut aku ke rumahmu.”

“Nathan, aku ingin menjemput Jeffreye. Kalau engkau tidak mengijinkan aku pergi ke Druqent besok, kita dapat pergi lusa atau esoknya lagi,” kata Alviorita manja.

“Alviorita, biarkan Trent yang menjemput Jeffreye. Kita akan melakukan banyak hal yang penting sambil menanti mereka seperti menyiapkan pesta penyambutan kedatangan Jeffreye.”

“Aku tidak suka pesta, Nathan.”

“Mengapa?”

“Karena itu hanya menghabiskan waktuku sedangkan aku tidak mempunyai banyak waktu.”

“Engkau mempunyai waktu yang banyak, Alviorita. Tetapi saat ini engkau tidak mempunyai waktu lagi. Kita harus segera ke rumahmu sebelum hari semakin siang. Aku tidak ingin engkau terbakar sinar matahari.”

“Nathan…”

Sebelum Alviorita membujuknya, Nathan segera menyela, “Kalau engkau tidak mau mengikutiku, Alviorita, aku akan membopongmu”

Nathan diam memandang Alviorita. Gadis itu tampak masih tidak mau meninggalkan tempat itu. Tangan gadis itu masih memainkan topi putih yang dibawanya.

“Kurasa lebih baik aku membopongmu,” gumam Nathan sambil mengangkat tubuh Alviorita.

“Nathan, turunkan aku.”

“Setiap kali aku membopongmu, engkau selalu minta diturunkan. Engkau tidak senang kubopong?” kata Nathan merujuk.

“Bukan begitu. Hanya saja apa yang akan dikatakan orang tuamu bila melihat kita?”

Nathan tersenyum. “Mereka tidak akan mengatakan apa-apa. Mereka akan tersenyum senang. Kalau engkau tidak mempercayaiku, lihat saja mereka yang sekarang berdiri di pintu.”

Alviorita melihat pintu depan Castil Q`arde. Di sana Duke dan Duchess berdiri sambil tersenyum menatap mereka.

Melihat Duke dan Duchess yang tampak menanti seseorang, Alviorita berkata, “Mereka akan ikut juga?”

“Tidak hanya mereka. Maryam juga akan ikut.”

“Engkau juga,” tambah Alviorita.

“Tanpa perlu dikatakanpun semua orang tahu aku akan ikut.”

“Engkau selalu berada di sisiku sejak kita bertemu di Synghz. Walaupun engkau lelah, engkau tetap mau menemaniku ke manapun.”

“Aku telah berjanji kepadamu, Alviorita. Dan aku selalu berusaha menepatinya. Apapun yang terjadi, aku akan selalu mengantarmu ke setiap tempat yang ingin kaudatangi. Tetapi untuk saat ini engkau harus menuruti aku.”

Melihat kereta kuda keluarga mereka telah tiba di depan Castil, Duke dan Duchess segera keluar.

Maryam yang muncul dari pintu setelah Duke dan Duchess keluar, segera mendekati Nathan yang masih berjalan sambil membopong Alviorita.

“Kereta kuda telah siap, Tuan Muda,” kata Maryam melaporkan.

“Terima kasih, Maryam.”

“Topi Anda, Tuan Puteri,” kata Maryam sambil mengulurkan tangannya.

Alviorita segera menyerahkan topi itu kepada Maryam yang segera menepi setelah menerimanya.

Nathan masih tidak menurunkan Alviorita walau mereka telah berada di halaman Castil Q`arde. Nathan baru menurunkan gadis itu ketika mereka tiba di pintu kereta yang terbuka. Pria itu membantu Alviorita dan Maryam sebelum ia naik.

Setelah semua orang naik, kusir kereta mulai menjalankan keretanya ke Vximour.

Tidak seorangpun yang berbicara selama perjalanan itu dan itu memberi kebebasan bagi Alviorita untuk mengamati setiap tempat yang mereka lalui.

Alviorita terkejut ketika ia menyadari ia mengenal Vximour walaupun ini pertama kalinya ia memasuki Vximour setelah tiba dari Synghz.

Melihat setiap tempat di Vximour yang mereka lalui, Alviorita merasa ia mengenal baik tempat-tempat itu. Bahkan Alviorita yakin mengetahui setiap sudut Vximour. Tidak ada suatu tempatpun di Vximour yang tidak diketahui Alviorita.

Tetapi Alviorita tidak tahu tempat yang mereka tuju saat ini adalah Istana Urza. Bahkan ketika mereka telah memasuki halaman Istana yang luas, Alviorita tidak menyadarinya. Tidak juga saat ia berada di depan pintu masuk Istana.

Sepasang prajurit membukakan pintu depan Istana untuk mereka ketika melihat kedatangan mereka. Kedua prajurit itu tampak terkejut sekaligus heran melihat kedatangan mereka yang mendadak ini.

Sebelum Alviorita curiga, Nathan segera mendekati kedua prajurit itu dan mengatakan sesuatu. Setelah itu ia mendekati Alviorita.

“Benarkah ini rumahku, Nathan?” tanya Alviorita lirih, “Rumah ini besar sekali.”

Nathan tidak menjawab pertanyaan itu. Ia hanya tersenyum sambil membawa Alviorita memasuki Istana.

Begitu mereka menginjakkan kaki di dalam Istana, Maryam segera mengambil alih tugas Nathan.

Seperti janjinya, Maryam tidak akan mengatakan apa-apa tentang gelar Alviorita. Dan untuk itu Maryam tahu ia tidak boleh membawa Alviorita berkeliling tingkat pertama dan kedua Istana yang menjadi pusat kegiatan Istana.

Maryam menggandeng Alviorita ke kamarnya yang juga berada di tingkat dua tetapi wanita itu tidak mengatakan apa-apa tentang setiap ruangan yang mereka lalui.

Alviorita heran. Bila benar tempat ini adalah rumahnya, tentunya ia masih dapat mengingat setiap sudutnya walaupun hanya sedikit. Tetapi Alviorita tidak dapat mengingat apapun. Setiap jalan yang dilaluinya bersama Maryam, terasa asing baginya. Dan itu membuat Alviorita semakin heran. Tidak mungkin Nathan membohonginya. Tidak mungkin pula Maryam yang selalu setia kepadanya, membohonginya.

Alviorita tidak dapat menjawab kebingungannya. Ia hanya membiarkan Maryam membawanya ke tempat yang diinginkan wanita itu.

Maryam berhenti di depan pintu kayu jati yang berukiran aneka binatang hutan yang bersembunyi di balik rimbunnya semak-semak.

Alviorita terlalu bingung untuk memperhatikan ukiran indah yang berbingkai perak itu.

“Ini adalah kamar Anda, Tuan Puteri,” kata Maryam sambil membuka pintu.

Walaupun Maryam mengatakan ruangan itu adalah kamarnya, Alviorita tetap tidak mengenali ruangan itu.

Ruangan luas yang berpermadani merah cerah itu tampak indah. Meja rias, almari, kursi yang berada di ruangan itu terbuat dari kayu jati yang berukiran binatang. Tempat tidurnya yang besar juga berukiran binatang.

Tirai kuning cerah pintu kaca yang menuju serambi, melambai-lambai seakan-akan ingin menyambut kedatangan Alviorita.

Alviorita menatap wajah Nathan.

Melihat pandangan yang penu kebingungan itu, Nathan berkata, “Ini adalah kamarmu, kalau engkau tidak percaya, lihatlah lukisan itu.”

Nathan mengantar Alviorita ke tempat yang dimaksudkannya.

Alviorita mengamati sebuah lukisan tergantung di atas perapian. Melihat wajahnya yang ada di dalam lukisan itu, Alviorita percaya tempat ini adalah rumahnya.

Tetapi mengapa ia tidak dapat mengingatnya, Alviorita tidak tahu.

“Aku tidak ingat aku pernah di sini,” kata Alviorita lirih, “Bahkan aku merasa asing berada di sini.”

“Tidak apa-apa, Alviorita. Kami tidak memaksamu mengingat semuanya hari ini. Kami hanya ingin menunjukkan padamu tempat ini.”

“Mengapa aku tidak dapat mengingat rumahku ini?”

“Karena engkau hilang ingatan, Alviorita.”

“Kalau aku pernah tinggal di sini, seharusnya aku dapat mengingatnya.”

Nathan sudah tahu harus mengatakan apa tetapi ia tidak dapat mengatakannya. Mengatakannya berarti membuat Alviorita curiga. Dan itulah yang paling tidak diinginkan Nathan.

Nathan meletakkan tangannya di pundak Alviorita dan berkata, “Jangan sedih, Alviorita. Kalau kita kehilangan ingatan kita, kita dapat melupakan segalanya bahkan tempat tinggal kita dan orang-orang yang kita sayangi.”

Duke dan Duchess yang juga berada di ruangan itu, telah menduga hal ini. Setelah mengetahui keinginan Alviorita untuk melepaskan diri dari kedudukannya juga pertunangannya, mereka yakin ingatan gadis itu tidak akan pulih secepat yang mereka inginkan.

Berlainan dengan Maryam. Maryam tetap tidak mau menyerah. Wanita itu membawa mereka ke Ruang Kanak-Kanak.

Segala yang ada di Ruang Kanak-Kanak tidak membuat Alviorita mengingat apapun. Gadis itu hanya senang melihat mainan-mainan yang tertata rapi di ruangan itu.

“Jeffreye pasti senang bila ia melihat mainan-mainan ini,” kata Alviorita.

“Aku setuju denganmu, Alviorita.”

Melihat Alviorita yang tampak seperti memasuki ruangan yang belum pernah dimasukinya, Maryam tetap tidak mau menyerah.

Duke dan Duchess hanya tersenyum melihat semangat wanita itu untuk mengembalikan ingatan Alviorita dengan segala sesuatu yang ada di dalam Istana.

Usaha Maryam tidak berhasil.

Setiap ruangan yang tidak berhubungan dengan kegiatan Kerajaan, telah ditunjukkan Maryam kepada Alviorita tetapi gadis itu tetap tidak dapat mengingat apapun. Seluruh bagian Istana yang luas ini tidak ada yang terlewatkan, tetapi Alviorita tetap tidak dapat mengingat apapun.

Di antara mereka, Maryamlah yang yang paling bersemangat mengelilingi Istana yang luas untuk berusaha mengembalikan ingatan Alviorita. Mereka sampai dibuat lelah oleh semangat Maryam. Semangat wanita itu pula yang membuat mereka sepanjang hari itu berada di Istana untuk mengelilingi Istana.

Mengelilingi Istana yang luas dengan cepat saja membutuhkan waktu yang cukup lama, apalagi bila pelan-pelan.

Selelah apapun mereka, tidak seorangpun dari mereka yang berhenti berusaha. Mereka tetap mengikuti Maryam ke manapun wanita itu membawa mereka.

14

Kemarin hingga malam, mereka berada di Istana tetapi Alviorita tetap tidak dapat merasa apalagi mengingat kalau ia pernah tinggal di sana.

Maryam menyarankan mereka menginap di Istana Urza tetapi Nathan menolaknya. Pria itu tetap berniat membawa kembali Alviorita ke Castil Q`arde walaupun hari telah larut malam dan mereka semua lelah.

Mendengarnya, Maryam hanya dapat menurut. Wanita itu tidak mengatakan apa-apa lagi karena ia sendiri sudah lelah sekaligus kecewa karena usahanya tidak membawa hasil.

Malam itu juga mereka semua kembali ke Castil Q`arde.

Kelelahan yang mereka rasakan, tidak membuat mereka kecuali Alviorita tidak merundingkan hasil usaha mereka.

Alviorita langsung tertidur setelah menyentuh bantal sehingga pagi ini ia dapat bangun pagi seperti biasanya. Dari antara mereka yang pergi ke Istana Urza, hanya gadis itulah yang sanggup bangun seperti biasanya pada pagi ini.

Kemarin malam setelah mengantarkan Alviorita ke kamarnya, Nathan segera menemui orang tuanya yang ingin merundingkan kegiatan mereka sepanjang hari tadi. Dan mereka berunding sampai larut malam. Akibatnya, Nathan tidak dapat bangun pagi seperti biasanya dan ia tidak dapat pula mengantar Alviorita ke lapangan rumput di Chymnt seperti biasanya.

Alviorita mengerti kelelahan Nathan juga Duke dan Duchess serta pengasuhnya, maka ia tidak mencoba membangungkan mereka.

Karena telah berjanji pada Nathan untuk tidak meninggalkan Castil Q`arde sendirian, Alviorita tetap diam di Castil walaupun ia merasa bosan.

Untuk menghabiskan waktunya sambil menanti Nathan bangun, Alviorita pergi ke Ruang Perpustakaan dan memilih beberapa buku.

Gadis itu membaca buku-buku itu di tempat kesukaannya, di dahan pohon.

Langit biru yang cerah dan rumah-rumah penduduk yang menyembul di antara rimbunnya dedaunan, membuat Alviorita merasa senang.

Alviorita kembali teringat saat Maryam membawanya ke Ruang Belajar di rumahnya.

Di antara semua ruangan yang kemarin mereka datangi, hanya ruang itu saja yang menimbulkan perasaan di hati Alviorita.

Begitu melihat meja belajar dan buku-buku yang bertumpukan di atasnya, Alviorita merasa bosan. Entah apa yang memaksa Alviorita tetap berada di sana, Alviorita tidak dapat mengetahuinya. Alviorita hanya tahu ia ingin meninggalkan ruangan itu tetapi ia tidak pernah dapat melakukannya.

Pucuk pohon yang dekat dengan serambi Ruang Belajar yang melambai-lambai tertiup angin, membuat Alviorita merasa pohon itu memanggilnya. Memanggilnya untuk menghibur diri, untuk pergi dan menghilang dari semua orang.

Alviorita merasa ia akrab dengan pohon itu. Tetapi ia tidak tetap dapat mengingat apapun. Semuanya masih terasa pekat bagi Alviorita.

Ketika berada di Istana Urza Alviorita sama sekali tidak tertarik melihat setiap ruangan yang mewah dan indah, tidak juga kepada perabotannya yang unik. Semua yang ada di Istana Urza terasa biasa bagi Alviorita tetapi tidak bagi keluarga Kryntz yang bersertanya.

Setiap sudut Istana Urza yang lembut dan indah tampak kuat dengan ukiran-ukiran binatang hutan. Ukiran yang saling melengkapi dengan ukiran yang ada di Castil Q`arde.

Binatang hutan di Istana dan tumbuhan lebat di Castil.

Kedua ukiran itu seperti melukiskan hubungan di antara kedua keluarga yang telah lama terjalin. Dan untuk menggabungkan kedua ‘ukiran’ itu diperlukan ‘korban’.

Membandingkan kedua ukiran itu, membuat Alviorita merasa ada sesuatu yang sangat penting yang terlupakan olehnya.

Sekeras apapun Alviorita mencoba, ia tidak dapat mengingatnya. Suatu keinginan yang sangat besar menghalangi usahanya. Keinginan itu seakan-akan mengatakan bila Alviorita mengingat semuanya, ia akan hancur.

Alviorita menekuni buku yang dibawanya dari Ruang Perpustakaan.

Judul pada buku bersampul merah itu ditulis dengan indah dengan warna keemasan. Alviorita tertarik melihat judul itu ketika ia melihatnya dan tanpa berpikir panjang, Alviorita segera mengambilnya dari rak.

Setelah membaca beberapa lembar, Alviorita tertarik pada buku itu. Alviorita senang membaca buku itu dan melupakan sekitarnya.

“Sudah kuduga engkau ada di sini.”

Nathan segera memeluk Alviorita dan menangkap buku Alviorita sebelum buku itu jatuh.

“Lagi-lagi aku membuatmu terkejut hingga engkau dan bukumu hampir jatuh,” kata Nathan menyesal.

Alviorita curiga. “Sebelum ini pernahkah kejadian ini terjadi?”

“Sebelum ini?”

“Benar, sebelum aku ada di sini. Sebelum aku datang dari Synghz,” ulang Alviorita.

Nathan bingung. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Sebenarnya dengan mudah ia dapat mengatakan segalanya tetapi Nathan tidak ingin Alviorita tahu sebelum ini yaitu ketika ia kabur untuk pertama kalinya, ia pernah tinggal di Castil Q`arde.

Alviorita masih menanti jawaban.

“Ketika kita masih kecil, kita sering bermain bersama, bukan?” kata Nathan.

“Ya, aku ingat itu tetapi aku yakin yang kau katakan ini bukan saat aku masih kecil. Selain itu aku baru saja merasa kejadian ini pernah terjadi. Bukan saat aku masih kecil tetapi ketika aku sudah dewasa.”

“Sudahlah, Alviorita. Jangan kaupikirkan itu. Hari ini kita akan ke mana?”

Alviorita memperhatikan wajah Nathan.

“Ada apa, Alviorita?” tanya Nathan was-was melihat sikap menyelidik itu.

Alviorita masih diam tanpa melepaskan matanya dari wajah Nathan.

“Aku heran, Nathan. Semua orang terutama Maryam mengharapkan ingatanku cepat pulih tetapi engkau sama sekali tidak kelihatan ingin ingatanku cepat pulih,” kata Alviorita pada akhirnya, “Sepertinya engkau menyembunyikan sesuatu dariku. Sesuatu yang sangat penting.”

Nathan mengagumi kecurigaan Alviorita. Bila ia menyembunyikan sesuatu, tidak seorangpun yang mengetahuinya bahkan keluarganya sendiri. Tetapi tunangannya, si Putri Mahkota ini memang sulit ditipu.

Walaupun sang tunangan kelihatan tenang bahkan kadang-kadang terasa dingin namun ternyata memiliki kepekaan yang tinggi juga terutama bila mengenai dirinya sendiri.

Bila Alviorita tidak mempunyai perasaan yang tajam, dulu Alviorita tentu tidak akan segera campur tangan dalam masalah yang dibuat Elly. Alviorita tidak akan menyelamatkan Nathan dari masalah itu. Karena ketajaman perasaannya itu juga, Alviorita dengan cepat menangkap suasana penuh kebohongan di sekitarnya yang sengaja dibuat oleh Nathan.

“Aku bukannya tidak ingin ingatanmu segera pulih. Hanya saja aku percaya ingatanmu akan pulih suatu hari nanti.”

“Kata-katamu seperti tidak menginginkan ingatanku segera pulih,” kata Alviorita curiga.

Nathan terdiam. Mungkin Alviorita benar. Nathan tidak ingin ingatan gadis itu segera pulih. Nathan khawatir keakraban ini akan hilang bila Alviorita mengingat kembali semuanya yang berarti mengetahui juga kebohongannya. Kebencian Alviorita yang bertumpuk hanya akan membuat Nathan yang mencintai gadis itu menjadi menderita.

Di atas semua kebohongannya Nathan memang berkeyakinan kesibukan seorang Putri Mahkota tidak sesibuk yang Alviorita bayangkan. Dan Nathan berjanji pada dirinya sendiri untuk mempertahankan kebebasan Alviorita ini bila gadis itu telah mengingat kembali semuanya.

Walaupun tahu usahanya itu akan mengalami kesulitan terutama dari Raja Phyllips, Nathan akan mencobanya. Nathan yakin Raja Phyllips akan mengerti seperti ia mengerti permintaannya dulu.

Dulu Raja Phyllips mengijinkan Alviorita tinggal di Castil Q`arde selama ingatan gadis itu belum pulih dan meninggalkan semua tugas kerajaannya, mengapa kali ini tidak?

“Sudahlah, Alviorita. Lupakan saja masalah itu. Sekarang kita akan ke lapangan lagi atau tidak?”

“Tentu saja kita akan ke sana,” sahut Alviorita.

“Walaupun hari telah siang?”

“Walaupun hari telah malam.”

“Sepertinya engkau benar-benar senang pergi ke lapangan itu.”

“Ya, tempat itulah satu-satunya yang kuingat. Semakin kulihat, tempat itu semakin mengingatkanku pada masa laluku.”

“Engkau ingin ingatanmu segera pulih?” selidik Nathan.

“Entahlah, Nathan. Aku merasa ingatanku harus segera pulih demi sesuatu yang sangat penting tetapi ada sesuatu dalam diriku yang sangat besar yang menghalangi pulihnya ingatanku itu.”

Nathan tahu apa yang membuat Alviorita merasa seperti itu. Sebagai Putri Mahkota, Alviorita selalu mengerjakan tugasnya dengan baik tetapi sebagai gadis biasa, Alviorita selalu mencari kebebasan.

Kebebasan yang dipendam selama lima belas tahun terus menumpuk dan akhirnya menghalangi gadis itu mengingat kembali masa lalunya.

Nathan tidak ingin Alviorita mengingat juga merasakan kembali perasaannya selama ia tinggal di Istana Urza. Saat ini Alviorita tinggal di Castil Q`arde bukan di Istana Urza dan ia bukan seorang Putri Mahkota melainkan seorang gadis yang bebas.

“Kalau engkau benar-benar senang ke lapangan rumput itu, mengapa engkau tidak membangunkanku?”

“Karena aku tahu engkau lelah.”

“Engkau sendiri tidak lelah setelah seharian kita dibawa Maryam berkeliling rumahmu?”

“Aku juga lelah. Tetapi aku tahu engkau tidak segera tidur setelah kita tiba dan aku tidak ingin menganggu tidurmu. Aku yakin engkau masih membicarakan hal yang kausembunyikan dariku itu dengan orang tuamu mungkin juga dengan Maryam sebelum engkau tidur. Entah apa yang kalian bicarakan, aku tidak tahu, tetapi aku tahu kalian tidak segera tidur setelah kita tiba.”

Nathan terkejut mendengar kecurigaan Alviorita yang tepat itu. Tetapi Nathan tidak dapat mengakuinya. Mengakuinya berarti membongkar sendiri kebohongannya.

“Aku benar, bukan?” kata Alviorita senang.

Nathan tersenyum nakal. “Siapa yang mengatakannya?”

“Wajahmu yang terkejut itu.”

“Aku terkejut karena engkau mencurigaiku seperti itu.”

“Engkau benar-benar nakal, the Devil Dog. Engkau tahu aku benar tetapi tidak mau mengakuinya,” kata Alviorita jengkel.

Nathan tersenyum melihat sikap Alviorita yang kekanak-kanakkan itu. “Ayolah, Alviorita, jangan marah. Aku khawatir kita tidak jadi ke lapangan rumput. Sepanjang hari ini kita akan duduk di sini sambil bercakap-cakap.”

“Tidak apa-apa. Aku senang duduk di sini. Aku juga senang berbicara denganmu.”

“Aku tahu, Alviorita. Apakah engkau tidak bosan setiap kali duduk di pohon ini?”

“Setiap kali? Bukankah ini pertama kalinya aku duduk di atas pohon sejak aku datang dari Synghz? Selama ini kita hanya pergi ke lapangan rumput atau sekitar Chymnt saja.”

Nathan terkejut menyadari ia telah melakukan kesalahan lagi. Nathan telah mengungkit saat Alviorita yang tidak diundang tinggal Castil Q`arde. Nathan tidak ingin kecurigaan Alviorita bertambah besar karena itu ia berkata, “Maksudku engkau tidak bosan duduk di pohon ini sepanjang hari?”

“Tidak.”

“Engkau tidak lelah terus duduk di sini?”

“Tidak, aku senang duduk di sini sambil melihat pemandangan.”

“Kalau engkau ingin melihat pemandangan, engkau tidak perlu memanjat seperti ini. Engkau dapat melihatnya melalui menara. Engkau tahu bukan sangat berbahaya bagimu memanjat pohon dengan gaunmu itu?”

“Aku tahu, Nathan. Tetapi aku lebih senang duduk di sini sambil melihat pemandangan alam. Dari sini aku dapat melihat seluruh keindahan alam yang tanpa batas. Sedangkan dari puncak menara, aku hanya dapat melihat melalui jendela. Aku tidak dapat melihat pemandangan yang ada di sampingku juga di belakangku.”

“Benar, dari sini kita memang dapat melihat seluruh pemandangan baik yang ada di depan, samping maupun di belakang kita. Dari menara kita hanya dapat melihat apa yang ada di hadapan kita. Aku yakin tadi engkau bangun pagi seperti biasanya dan aku tidak ingin engkau lelah lalu tertidur di sini.”

“Aku tidak akan tertidur, Nathan. Aku membawa buku,” bujuk Alviorita.

“Justru itulah yang kukhawatirkan, Alviorita. Aku khawatir buku ini akan membuatmu semakin mengantuk,” kata Nathan sambil melambai-lambaikan buku di tangannya itu.

“Tidak akan, Nathan. Buku itu sangat menarik.”

Nathan memperhatikan buku itu. “Sejak kapan engkau menyukai Mesir Kuno?”

“Tadi aku hanya tertarik melihat judulnya dan setelah membacanya, aku tahu buku itu sangat menarik.”

“Mesir Kuno memang sama menarik. Sama menariknya dengan Yunani Kuno.”

“Kalau Yunani Kuno, aku sedikit tahu tetapi tentang Mesir, aku sama sekali tidak tahu.”

“Setelah membaca buku ini, engkau tentunya mengetahui segala tentang Mesir Kuno.”

“Ya, aku senang membaca cerita Firaun-Firaun itu. D

i sini ditulis ada tujuh Ratu yang pernah memerintah Mesir Kuno. Di antara mereka, aku paling tidak menyukai Cleopatra VII.”

“Mengapa? Kukira semua Ratu Mesir itu menarik untuk diketahui.”

“Engkau benar, Nathan. Sebenarnya aku juga menyukai Cleopatra VII itu. Ia dapat memerintah Mesir karena dukungan dari pendukung saudara laki-lakinya. Dan karena bantuan Kaisar Romawi yang jatuh cinta padanya, Julius Caesar pula ia dapat menjadi Ratu.”

“Bukankah itu pertanda tidak hanya kerajaan kita saja yang tidak membedakan wanita dan pria. Wanita maupun pria dapat menjadi Putra Mahkota. Yang penting adalah anak sulung Raja adalah Putra Mahkota.”

“Ya, aku setuju denganmu. Aku tidak menyukai seluruh kisah Cleopatra VII ini karena ia merebut suami orang lain. Entah mengapa ia merebut suami adik Octavian hanya dalam tiga tahun setelah suaminya, Julius Caesar, mati dibunuh.”

Nathan tersenyum melihat kejengkelan di wajah Alviorita saat gadis itu bercerita. “Tampaknya engkau tidak menyukai Cleopatra.”

“Aku menyukai kemampuannya memerintah Mesir Kuno dan aku tidak menyukai sikapnya yang merebut suami adik Octavian.”

Walaupun telah mengetahui jawabannya, Nathan bertanya, “Engkau ingin menjadi Ratu?”

“Tidak,” jawab Alviorita tegas.

“Lalu mengapa engkau bersemangat sekali menceritakan Cleopatra itu?”

“Karena aku tidak menyukai sikapnya yang merusak kebahagiaan orang lain itu. Dari semua sikap buruk manusia, aku paling tidak menyukai sikap satu itu. Aku juga tidak menyukai Mark Antony yang meninggalkan istrinya hanya untuk hidup dengan Cleopatra.”

Nathan pernah membaca buku itu.

Cleopatra VII memang terkenal cantik. Karena itu tidaklah mengherankan bila Kaisar Romawi yang terkenal akan perubahan yang ia lakukan pada Romawi dari Republik menjadi kekaisaran dengan dia sebagai pemimpinnya, Julius Caesar, jatuh cinta padanya dan akhirnya membawanya ke Roma setelah membantu Cleopatra menjadi Ratu.

Cleopatra dan Julius Caesar merupakan sepasang orang yang terkenal dari jaman kerajaan kuno. Namun sayang kematian keduanya tidak sebagus keberhasilan mereka.

Julius Caesar mampu memperluas Romawi hingga Prancis bahkan pada tahun 55 SM, ia berhasil menyeberangi Selat Channel dan menguasai Inggris. Walaupun demikian, masih banyak orang yang tidak menyukai tindakannya pada Romawi yaitu mengubah Republik menjadi Kekaisaran dengan dia sebagai Kaisar pertamanya.

Tahun 44 SM, sekelompok orang membunuh Julius Caesar pada ‘Ides of March’, tanggal lima belas bulan itu, di Roman Forum.

Kematian Julius Caesar, membuat Cleopatra yang masih muda kembali ke Mesir. Dan tiga tahun kemudian ia bertemu dengan Mark Antony.

Cleopatra masih berusia tujuh belas tahun saat ia menjadi Ratu dan ikut Julius Caesar ke Romawi, karena itu tidak mengherankan bila Antony jatuh cinta juga pada Cleopatra yang cantik.

Antony meninggalkan istrinya, saudara Octavian, untuk hidup bersama Cleopatra.

Octavian dan Antony semula memerintah Kekaisaran Romawi bersama-sama dengan Agustinus, namun dengan adanya peristiwa itu, Octavian menjadi marah.

Octavian memulai peperangan dengan Cleopatra dan Antony. Akhirnya pada tahun 32 SM, mereka kalah yaitu dalam peperangan di Actium, Yunani.

Kemudian Cleopatra dan Antony dibawa ke Alexandria. Saat itulah Cleopatra mulai menyadari ia tidak akan pernah dapat mengalahkan Romawi. Cleopatra dan Antony memutuskan untuk bunuh diri bersama.

Mula-mula Antony menghunuskan pedang pada dirinya sendiri dan meninggal di lengan Cleopatra. Kemudian Cleopatra menyusul dengan menggigitkan ular beracun pada dirinya sendiri.

“Mungkin karena Cleopatra lebih cantik dari istrinya, Antony meninggalkan istrinya.”

“Walaupun Cleopatra cantik, Antony tidak boleh meninggalkan istrinya.”

“Jangan kaupermasalahkan hal ini lagi, Alviorita. Bagi orang jaman dulu terutama sebelum Masehi, wajar bila seorang pria mempunyai lebih dari satu istri.”

“Sejak tadi engkau hanya membela Antony, apakah engkau juga akan seperti Antony yang meninggalkan istrinya hanya untuk wanita lain?” tanya Alviorita menyelidik.

Nathan tahu ia tidak akan bersikap seperti Antony. Sejak kecil hati Nathan telah terpikat oleh Alviorita dan ia selalu mencintai gadis itu. Kapanpun dan di manapun, hanya Alviorita yang dicintainya.

“Tidak,” kata Nathan, “Aku tidak akan bersikap seperti itu. Bagiku cukup satu gadis yang kucintai.”

Alviorita tak percaya akan apa yang didengarnya terutama setelah mendengar kata-kata Nathan yang membela Antony.

Nathan mengerti apa yang dipikirkan Alviorita. “Aku sungguh-sungguh, Alviorita. Yang kukatakan tadi bukan untuk diriku tetapi untukmu. Aku tidak ingin engkau memikirkan yang lain selain ingatanmu. Apalagi mengenai Ratu yang telah meninggal lebih dari seribu lima ratus tahun yang lalu.”

“Aku tidak senang pada orang yang mengkhianati cintanya sendiri.”

“Andaikata saat ini masih wajar bagi seorang pria untuk memiliki lebih dari satu istri, aku tetap tidak merubah pendirianku,” kata Nathan meyakinkan Alviorita.

“Aku masih kurang mempercayainya, Nathan. Tetapi melihat kesungguhanmu, aku tahu engkau tidak akan seperti Antony.”

Nathan menatap lekat-lekat wajah Alviorita dan ia tersenyum geli ketika menyadari sesuatu. “Setiap kali kita bertemu, selalu saja ada yang kita bicarakan sampai kadang-kadang kita bertengkar karenanya.”

“Pembicaraan kita selalu panjang seperti tidak ada habisnya,” kata Alviorita menyetujui.

“Karena itulah aku khawatir kalau kita tidak segera turun, hari ini kita tidak akan ke lapangan,” kata Nathan.

“Bagaimana kalau aku tidak ingin ke lapangan?”

“Engkau tahu aku tidak setuju engkau duduk di sini dalam keadaan lelah seperti ini. Walaupun engkau menyangkalnya, aku tahu engkau lelah setelah kemarin dibawa Maryam berjalan lama di rumahmu. Besok kalau engkau tidak lelah, aku akan menemanimu duduk di sini.”

“Baiklah, Nathan. Aku setuju lagipula sejak tadi pagi aku menanti saat engkau tersadar dari mimpimu dan sesegera mungkin pergi ke lapangan.”

“Sebenarnya aku tidak ingin segera tersadar dari mimpiku tetapi aku ingat ada engkau di sini, maka aku segera bangun,” goda Nathan.

“Engkau bermimpi apa, Nathan, sehingga engkau ingin tidur terus? Memimpikan kekasihmu?” selidik Alviorita.

Nathan tersenyum mendengar suara Alviorita. Entah gadis itu sadar atau tidak kalau ia telah berbicara dengan suara seperti orang yang cemburu.

“Rahasia.”

“Ayolah, Nathan, beritahu aku.”

“Aku akan memberitahumu kalau engkau menjadi gadis yang manis. Untuk itu pertama-tama engkau harus segera turun dari pohon ini dan kita akan segera pergi ke lapangan rumput. Di sana engkau boleh membaca sepuasmu sampai tertidur.”

“Baiklah, the Devil Dog.”

“Aku akan turun dulu untuk berjaga-jaga kalau engkau jatuh.”

Nathan telah menuruni pohon sebelum Alviorita sempat berkata apa-apa. Tanpa banyak berbicara gadis itu mengikuti Nathan.

Melihat dirinya telah dekat dengan tanah, Alviorita ingin melompat tetapi Nathan berkata lain. Sebelum Alviorita sempat berbuat apa-apa, pria itu telah memegang pinggang Alviorita dan menurunkan gadis itu tepat di hadapannya.

“Sebelum kita pergi, kita harus berpamitan dulu. Aku tidak ingin mereka mengkhawatirkan kita.”

“Tentu,” kata Alviorita.

Nathan menyelipkan tangan Alviorita di lengannya dan mengajaknya masuk.

Melihat senyum di wajah Alviorita, Nathan merasa curiga, “Ada apa?”

“Tidak ada apa-apa, aku hanya merasa lucu. Kita sering bertengkar tetapi kita tidak pernah jauh. Kita selalu berdua bahkan kadang-kadang aku merasa kita tampak seperti sepasang kekasih padahal bukan. Aku dan engkau adalah sahabat sejak kecil.”

“Tidak hanya engkau yang merasakannya. Semua orang juga berkata seperti itu,” kata Nathan.

“Sekarang orang tuamu berada di mana?”

“Aku tidak tahu. Saat aku bangun tadi, mereka masih belum bangun.”

“Aku merasa bersalah kepada mereka juga kepadamu. Karena menemaniku, kalian terlalu lelah.”

“Jangan berkata seperti itu, Alviorita. Engkau sama sekali tidak bersalah. Mereka sendiri yang ingin ikut demikian pula aku.”

“Andaikata ingatanku sudah pulih, Maryam tidak akan membawaku pulang ke rumah dan tidak akan membuat kalian lelah.”

“Sudahlah, Alviorita, jangan berkata seperti itu. Lihatlah Maryam berada di dekat kita. Kalau ia mendengar kata-katamu itu, ia akan sangat sedih. Ia sangat mencintaimu.”

“Tampaknya ia sedang mencari kita,” kata Alviorita.

“Lebih baik kita segera mendekatinya.”

Nathan mengajak Alviorita segera mendekati Maryam yang kebingungan mencari mereka di halaman Castil Q`arde.

“Engkau mencari kami, Maryam?” tanya Alviorita.

Maryam terkejut. Ia membalikkan badannya. “Anda membuat saya terkejut, Tuan Puteri.”

“Engkau tidak perlu mencari kami lagi karena kami sudah ada di sini,” kata Alviorita sambil tersenyum.

“Kau tahu di mana orang tuaku?”

“Mereka ada di Ruang Tamu, Tuan Muda.”

“Kita tidak dapat mengganggu mereka, Nathan. Aku yakin mereka mendapat tamu.”

“Jangan khawatir, Alviorita. Kita akan mengatakannya kepada Maryam.”

“Anda akan pergi lagi?”

“Ya, Maryam. Kami ingin pergi ke hutan lagi.”

“Saya khawatir, Anda tidak dapat melakukannya.”

“Mengapa, Maryam? Apakah Duke dan Duchess tidak mengijinkan kami pergi?” tanya Alviorita cemas.

“Jangan khawatir, Tuan Puter. Mereka tidak akan berbuat seperti itu. Mereka telah mempercayakan keselamatan Anda pada Tuan Muda dan mereka tidak pernah melarang setiap keputusan yang Tuan Muda buat untuk Anda.”

“Lalu apakah yang membuat kami harus menunda kepergian kami?”

“Ada tamu untuk Tuan Puteri, Tuan Muda.”

“Tamu? Siapakah dia?”

“Saya belum berjumpa dengannya, Tuan Puteri. Saya baru saja hendak mencari Anda ketika Duchess meminta saya memanggil Anda.”

“Kami akan segera menemui mereka, Maryam,” kata Nathan, “Ayo, Alviorita, kita lihat siapa yang menjadi tamumu setelah sekian lama engkau tinggal di sini tidak ada orang yang mencarimu.”

“Maryam, tolong kaukembalikan buku ini ke Ruang Perpustakaan,” kata Alviorita.

Maryam menerima buku itu sambil berkata, “Baik, Tuan Puteri.”

Alviorita memperhatikan Maryam yang membungkuk ketika mereka melaluinya. Alviorita heran menyadari dirinya terbiasa dengan sikap Maryam yang sangat sopan kepadanya itu walaupun ia jauh lebih muda dari wanita itu.

“Sejak tinggal di sini, aku merasa menjadi orang penting,” kata Alviorita sambil tersenyum, “Sikap semua orang di sini sangat berbeda dengan sikap orang-orang di Synghz.

“Apa yang berbeda? Kurasa tidak ada yang berbeda.”

“Tidak, Nathan. Semua orang di sini bersikap lebih sopan kepadaku daripada mereka yang di Synghz. Aku tidak tahu apa yang kausembunyikan dariku tetapi aku yakin itu mengenai diriku yang sangat penting.”

“Engkau memang patut dihormati, Alviorita, karena itu semua orang bersikap sopan kepadamu.”

“Aku tidak tahu siapa aku tetapi mungkin saja aku adalah putri bangsawan sehingga Raja Phyllips juga Golbert bersikap lebih sopan kepadaku sejak kedatanganmu. Tetapi rasanya itu tidak mungkin, ayahku jarang mengunjungiku di sini, ia terlalu sering ke luar kota seperti pedagang.”

Tiba-tiba Nathan berhenti.

“Alviorita,” kata Nathan lembut.

“Ada apa, Nathan?”

Nathan memegang pundak Alviorita dan menatap wajah gadis itu lekat-lekat sambil berkata,

“Kalau engkau tidak berhenti menduga-duga seperti ini, aku akan menghukummu. Sudah berulang kali kukatakan jangan memikirkan itu. Semakin sering engkau memikirkannya, engkau akan semakin sulit memulihkan ingatanmu. Untuk memulihkan ingatanmu, engkau tidak boleh memiliki beban apapun baik perasaan maupun pikiran.”

Suara lembut namun tajam itu membuat Alviorita tersenyum, “Aku mengerti, Nathan. Aku janji tidak akan melakukannya lagi.”

“Bagus. Sekarang kita akan menemui mereka.”

Seperti yang dijanjikan Alviorita, gadis itu tidak lagi membicarakan hal itu lagi. Gadis itu mengalihkan pembicaraan mereka pada buku yang baru saja dibacanya.

Alviorita senang berbicara dengan Nathan. Pria itu selalu dapat memahami setiap hal yang Alviorita bicarakan. Seperti yang mereka katakan, pembicaraan mereka tidak pernah berakhir.

Berakhirnya pembicaraan kali ini adalah karena mereka telah tiba di depan Ruang Tamu.

“Sepertinya kita telah sampai di Ruang Tamu,” kata Nathan sambil membuka pintu, “Dan kita akan segera mengetahui siapa tamumu itu.”

Alviorita tidak terkejut ketika ia melihat Duke dan Duchess of Kryntz berada di Ruang Tamu bersama seorang gadis yang sebaya dengannya.

Berlainan dengan Nathan yang terpana melihat gadis itu di antara kedua orang tuanya.

Walaupun Nathan dapat dikatakan hampir tidak pernah bertemu Elly, tetapi dengan sekali melihat saja, Nathan tahu gadis itu adalah Elly.

Wajah Elly yang kekanak-kanakan memudahkan Nathan untuk mengenalinya.

Nathan tidak mengerti mengapa Elly tiba-tiba datang ke Castil Q`arde. Ini adalah pertama kalinya wanita itu ke Castil Q`arde setelah hubungannya dengan Trent putus.

Melihat Elly memeluk Alviorita, Nathan baru mengerti.

Elly datang untuk Alviorita bukan yang lain. Elly adalah kawan yang dikatakan semua orang, paling dekat dengan Alviorita.

Alviorita terkejut ketika gadis itu tiba-tiba mendekatinya dan memeluknya erat-erat sambil berkata,

“Aku senang sekali dapat bertemu denganmu lagi, Putri.”

Alviorita kebingungan. Ia tidak mengerti mengapa gadis yang baginya asing itu memanggilnya Putri sedangkan orang lain tidak ada yang memanggilnya seperti itu.

Nathan terkejut mendengar gadis itu memanggil Alviorita dengan gelarnya.

Sebelumnya Nathan memang tidak memperhitungkan kalau tamu Alviorita adalah gadis yang terkenal akrab dengan Alviorita, tetapi Nathan yakin orang tuanya telah melarang gadis itu untuk menyebut gelar Alviorita kepada gadis itu.

Mengerti Alviorita yang kebingungan menatapnya, Nathan berkata, “Ia adalah Elly, teman baikmu. Dan ia biasa memanggilmu Putri.”

“Elly?” tanya Alviorita tak mengerti.

“Engkau tidak mengenaliku, Putri?” tanya Elly, “Ini aku, Elly. Engkau selalu mengatakan aku seperti anak kecil karena itu engkau memanggilku Lily.”

Alviorita menatap lekat-lekat wajah Elly sambil berusaha mengenali wajah itu sebelum berkata, “Maaf saya tidak mengenali Anda.”

Sebelum Elly mengatakan sesuatu mengenai apa yang selama ini disembunyikan Nathan dari Alviorita, Nathan segera berkata, “Saya kira orang tua saya telah memberitahu Anda kalau Alviorita lupa ingatan. Ia tidak lagi mengenali apapun di masa lalunya.”

Elly terkejut melihat mendengar suara Nathan seakan-akan baru menyadari keberadaan Nathan di ruangan itu.

“Maaf saya lupa,” kata Elly.

Alviorita tersenyum geli melihat sikap Elly tampak malu-malu seperti anak kecil.

Melihat cara Elly menatap Nathan, Alviorita tahu wanita itu menyukai Nathan tetapi anehnya, ia sama sekali tidak terkejut. Alviorita malah merasa Elly merasa sangat senang dapat bertemu Nathan.

Alviorita mulai menduga kedatangan Elly ini bukan karena untuk menemui dirinya tetapi untuk bertemu Nathan.

Sepertinya bukan hanya Alviorita yang tahu apa yang dirasakan Elly. Semua yang ada di ruangan itu juga tahu bagaimana perasaan Elly setelah sekian lama tidak berjumpa dengan pria yang dicintainya.

Nathan tidak memperhatikan Elly yang terus menatap lekat-lekat dirinya. Nathan ingin menayakan sesuatu yang penting kepada orang tuanya.

“Sebaiknya kami pergi. Aku yakin kalian ingin berbicara berdua setelah sekian lama tidak berjumpa.”

Duke dan Duchess mengerti apa yang diinginkan putra sulung mereka.

“Kami tidak akan menganggu kalian. Silakan kalian berbicara berdua,” kata Duke.

Alviorita mengangguk sambil tersenyum.

Nathan salah bila ia menduga Alviorita tidak tahu apa yang diinginkannya. Alviorita tahu pria itu ingin membicarakan sesuatu yang penting dengan orang tuanya dan itu menyangkut masa lalunya yang disembunyikan dari Alviorita.

Kecurigaan Alviorita semakin bertambah besar tetapi sesuatu yang menahannya membuat ia sama sekali tidak berusaha bahkan tidak ingin mengetahui rahasia apa yang disembunyikan Nathan darinya.

Sesuatu yang sangat kuat melarang Alviorita untuk mengetahuinya bahkan untuk memikirkan masa lalunya yang diselimuti kegelapan.

Setelah mereka meninggalkan ruangan itu, Elly berkata, “Aku merindukanmu, Putri.”

“Putri?”

Elly terlalu sibuk dengan perasaannya sendiri hingga mengabaikan pertanyaan itu, “Sejak engkau pergi dulu hingga saat ini, aku selalu mencemaskanmu. Hanya engkau satu-satunya temanku yang paling baik. Aku sangat sedih ketika engkau pergi diam-diam. Mengapa engkau tidak mau menceritakan masalahmu kepadaku dan pergi diam-diam?”

Alviorita sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakan Elly. Alviorita hanya dapat menatap wajah Elly dengan sorot kebingungan.

“Aku selalu menceritakan segala masalahku kepadamu tetapi mengapa engkau tidak mau menceritakan masalahmu kepadaku dan memilih kabur hingga membuatku sangat cemas?” ulang Elly.

Suara Elly yang merujuk seperti anak kecil membuat Alviorita tersenyum geli. Alviorita merasa sering mendengar rujukan seperti ini bahkan terlalu sering, namun Alviorita selalu tersenyum geli mendengarnya.

Elly cemberut seperti anak kecil melihat senyum geli Alviorita. “Engkau menertawakan aku lagi padahal aku sangat mencemaskanmu.”

Elly duduk di sofa sambil menyilangkan tangan di depan dadanya. Wajahnya masih menampakkan kejengkelannya.

Sikap Elly yang semakin mirip anak kecil yang sedang marah itu, membuat Alviorita semakin tersenyum geli.

Alviorita yang sering menghadapi sikap Elly yang kekanak-kanakan, tahu harus berbuat apa.

Alviorita mendekati Elly dan berlutut tepat di hadapan wanita itu. Alviorita meletakkan tangannya di wajah Elly dan berkata lembut, “Sudah, jangan marah lagi. Aku tidak menertawakanmu.”

“Engkau selalu seperti ini. Selalu menertawakanku lalu berkata seperti ini.”

“Kalau engkau marah terus, aku tidak dapat mendengar keluhan-keluhanmu. Kalau engkau tidak mengatakan keluhanmu itu, engkau sendiri yang akan rugi bukan aku,” kata Alviorita lembut.

“Engkau selalu saja seperti ini. Selalu menganggapku seperti anak kecil padahal aku empat tahun lebih tua darimu,” kata Elly jengkel.

Lelah mendengar rujukan ‘gadis kecil’ itu, Alviorita berdiri. “Baiklah, aku tidak akan mengatakan apa-apa lagi. Kalau engkau memang tidak mau mengatakan apa-apa, aku tidak akan memaksa.”

“Maafkan aku. Aku tidak bermaksud seperti itu.”

Penyesalan yang tulus itu membuat Alviorita tersenyum.

“Katakan kepadaku mengapa engkau baru menemuiku hari ini kalau engkau memang merindukanku?”

“Sebenarnya aku juga ingin segera menemuimu setelah berita kembalinya dirimu tersebar di seluruh penjuru Kerajaan, tetapi engkau terus bersembunyi walaupun telah kembali. Karenanya aku tidak dapat menemuimu,” kata Elly jengkel.

Kalimat pertama Elly membuat Alviorita kebingungan.

Cara berbicara Elly kepadanya memang santai seperti seseorang dengan sahabatnya tetapi wanita itu tetap berusaha bersikap sopan kepadanya. Dan itu membuat Alviorita semakin merasa dirinya adalah orang yang penting.

Kata ‘berita kembalinya dirimu tersebar di seluruh penjuru Kerajaan’ yang diucapkan Elly membuat Alviorita semakin bertanya-tanya tentang masa lalunya.

Hanya ada satu orang yang dapat menjelaskan semua ini tetapi Alviorita sama sekali tidak ingin membuat orang itu mengatakan segalanya. Sesuatu dalam diri Alviorita hanya mengijinkan gadis itu mencurigai pria itu tanpa berusaha menyingkap rahasia itu. Lagipula seandainya Alviorita ingin mengetahui semuanya, belum tentu Nathan akan mengatakannya.

“Kedatanganmu ke Istana kemarin setelah sekian lama engkau bersembunyi di sini, membuat setiap orang di Istana termasuk ayahku yang semula tidak mengetahui keberadaanmu menjadi tahu. Dari ayahlah aku mengetahui keberadaanmu dan hari ini aku datang untuk menemuimu.”

“Berhenti,” perintah Alviorita sebelum Elly melanjutkan kata-katanya.

“Ada apa?” tanya Elly, “Apa aku mengucapkan sesuatu yang salah?”

“Terangkan kepadaku apa maksudnya semua ini. Kemarin Nathan mengajakku ke rumahku bukan ke Istana dan mengapa engkau memanggilku ‘Putri’?”

Alviorita ingin mengetahui siapakah yang berbohong kepadanya. Nathan atau Elly. Saat mengajaknya pergi, Nathan mengatakan mereka pergi ke rumah Alviorita tetapi Elly mengatakan ia pergi ke Istana.

“Karena engkau memang seorang Putri,” jawab Elly, “Dan rumahmu adalah Istana.”

Alviorita memandang tajam wajah Elly seakan-akan ingin mencari kesalahan di wajah yang kekanak-kanakkan itu.

“Apakah engkau melupakan kata-kataku, Alviorita? Elly selalu memanggilmu ‘Putri’ dan rumah seorang Putri adalah Istana.”

Alviorita terkejut melihat Nathan telah berdiri di belakangnya. “Kapan engkau datang? Mengapa aku tidak mendengarmu?”

“Kalian terlalu asyik berbicara hingga tidak menyadari kedatanganku.”

Kedua wanita itu sibuk berbicara ketika Nathan datang. Melihat kesibukan mereka, Nathan memutuskan untuk tidak segera menganggu mereka. Tetapi kata-kata Elly yang semakin memasuki ‘wilayah berbahaya’, membuat Nathan cepat bertindak.

Dari orang tuanya, Nathan tahu wanita itu telah diminta untuk tidak mengatakan apa-apa tentang gelar gadis itu tetapi wanita itu melanggarnya.

Sebelum Alviorita mengetahui lebih banyak lagi, Nathan berkata, “Alviorita, Mama ingin berbicara denganmu. Ia menantimu di Ruang Perpustakaan.”

Alviorita mengawasi Nathan dengan curiga kemudian beralih ke Elly.

Tatapan tajam Nathan yang bertemu dengan tatapan girang Elly, membuat Alviorita tahu ia harus mengundurkan diri dari ruangan itu sesegera mungkin. Ada yang harus diselesaikan di antara mereka berdua dan keberadaannya hanya menganggu.

Walaupun curiga serta jengkel membayangkan masalah yang akan dibicarakan Nathan dengan Elly, Alviorita tetap berkata, “Aku mengerti. Aku akan segera menemui Duchess.”

Alviorita tidak ingin meninggalkan mereka berdua. Alviorita tidak ingin Nathan berduaan bersama Elly apalagi melihat cara Elly menatap Nathan.

Merasa yakin Alviorita telah jauh dari Ruang Tamu, Nathan berkata, “Aku ingin meminta sekali lagi kepadamu untuk tidak mengatakan apa-apa kepada Alviorita.”

“Apa maksudmu?”

“Kurasa orang tuaku telah mengatakan engkau tidak boleh mengatakan apapun kepada Alviorita tentang masa lalunya apalagi yang berhubungan dengan Istana bahkan tidak boleh memanggilnya Putri.”

“Mengapa aku tidak boleh melakukannya?”

“Karena aku yang memintanya dan aku melarang engkau melakukannya,” kata Nathan tegas.

“Aku mengerti,” kata Elly, “Aku ingin tahu mengapa engkau bersikeras menyembunyikan segalanya dari Putri?”

Nathan menatap tajam wajah Elly, “Engkau tidak perlu tahu. Yang perlu kauketahui saat ini adalah engkau harus dapat menjaga kata-katamu. Jangan sampai engkau melakukan kesalahan lagi. Apa yang telah kaukatakan biarlah demikian agar tidak membuat Alviorita curiga.”

“Seharusnya Putri mengetahui segalanya agar ingatannya lekas pulih,” kata Elly.

“Dengar, Elly, aku memperingatimu untuk tidak melakukannya. Engkau harus ingat engkau tidak boleh lagi menyinggung Istana.”

“Sepertinya engkau sangat memperhatikan Putri. Apakah engkau sedikitpun tidak pernah memperhatikan diriku?”

“Aku tidak ingin membicarakan itu. Saat ini yang ada di pikiranku hanya Alviorita.”

“Putri berhasil membuatmu berubah.”

“Terserah engkau akan mengatakan apa tetapi memang itulah kenyataannya. Aku mengingatkanmu, Elly, jangan mengulangi juga membuat kesalahan lagi.”

Nathan tidak ingin berlama-lama dengan Elly. Sikap Elly yang kekanak-kanakan dan cara Elly memandang dirinya membuatnya semakin ingin segera pergi dari sisi wanita itu.

Saat ini bukan saatnya bagi Elly untuk membuat masalah baru. Nathan sendiri memang tidak khawatir bila Elly kembali membuat kebohongan dengan mengatakan ia dan dirinya mempunyai hubungan. Yang lebih dikhawatirkan Nathan adalah sikap Alviorita.

Andaikan Nathan tahu bagaimana perasaan Alviorita kepada dirinya, mungkin ia tahu harus berbuat apabila Elly kembali menimbulkan masalah bagi dirinya. Tetapi Nathan sama sekali tidak tahu bagaimana perasaan gadis itu kepadanya. Tidak dapat diduga bahkan dibayangkan bagaimana sikap Alviorita bila semua itu terjadi.

Dengan sikap Alviorita yang liar, mungkin saja gadis itu marah. Tetapi sikap anggun Alviorita yang dingin, mungkin akan membuat Alviorita menjadi dingin kepadanya.

Melihat Nathan membuka pintu, Elly berkata, “Engkau akan ke mana?”

“Memanggil Alviorita,” jawab Nathan singkat.

Elly cemberut.

“Engkau datang ke sini untuk menemui Alviorita bukan?” kata Nathan jengkel melihat sikap kekanak-kanakan itu.

Nathan sudah berlalu dari ruangan itu sebelum Elly sempat mengatakan apapun. Tanpa menanti apapun, Nathan segera menuju Ruang Perpustakaan.

Alviorita yang baru saja meninggalkan Ruang Perpustakaan, berhenti dan menanti Nathan mendekat.

“Apakah benar dulu Trent dan Elly adalah sepasang kekasih?” tanya Alviorita.

“Dari siapa engkau mengetahuinya?”

“Dari Duchess. Ia memintaku untuk menjauhkan Elly dari Trent. Ia khawatir melihat Elly, Trent akan semakin terluka.”

“Memang itu hal terbaik yang harus kaulakukan,” kata Nathan.

“Tetapi bukankah Trent saat ini masih belum kembali?”

Nathan tersenyum, “Mama berpesan kepadamu bukan hanya untuk hari ini, Alviorita, tetapi juga untuk kedatangan Elly yang berikutnya.”

“Nathan, apakah Elly benar teman baikku?”

“Benar,” jawab Nathan, “Ada masalah apa, Alviorita?”

“Tidak ada masalah apa-apa. Aku hanya merasa jenuh terus bersama wanita yang kekanak-kanakkan itu. Andaikata ia masih kecil, aku akan senang sekali tetapi ia bukan anak kecil. Ia mengatakan kepadaku kalau ia lebih tua empat tahun dariku.”

“Aku sendiri juga jenuh terus berada di dekatnya. Sikapnya sama sekali tidak berbeda dengan sikap Jeffreye ketika anak itu marah.”

Teringat Jeffreye, Alviorita bertanya, “Kapan Jeffreye tiba?”

“Kalau tidak ada halangan, besok mereka tiba,” jawab Nathan.

“Aku ingin segera berjumpa dengan Jeffreye.”

“Ia pasti juga ingin segera bertemu denganmu, Alviorita. Jeffreye sangat menyayangimu melebihi rasa sayangnya kepadaku.”

“Aku telah merebut Jeffreye darimu?” tanya Alviorita cemas.

Nathan tersenyum. “Tidak. Sama sekali tidak. Aku malah senang ia jauh lebih menyayangimu daripada aku.”

“Mengapa?” tanya Alviorita ingin tahu.

“Karena dibandingkan aku, engkau lebih mengerti dia. Ketika Jeffreye berada di sini, engkau selalu menentang segala keputusan yang kubuat untuknya. Engkau membuat anak itu bahagia tinggal di sini hingga ia tidak mau pulang ketika tiba baginya saat untuk pulang. Kepergianmu yang tiba-tiba membuat Jeffreye terpaksa pulang, ia sangat sedih waktu itu.”

“Kalau semua itu memang benar, berarti aku telah bersalah kepadanya?” gumam Alviorita.

“Semua yang kukatakan memang benar. Engkau tidak hanya bersalah kepadanya tetapi juga kepadaku.”

“Kepadamu?”

“Sebelum engkau pergi, engkau telah berjanji untuk menantiku tetapi ternyata engkau menghilang.”

“Nathan, aku tidak mengerti apa yang kaukatakan. Aku bahkan tidak dapat mengingat kejadian itu.”

“Tidak apa-apa, Alviorita. Perlahan-lahan ingatanmu akan pulih. Sekarang lebih baik engkau menemui Elly sebelum wanita itu menangis sedih.”

“Nathan, temani aku. Aku tidak ingin terus mendengarkan cerita wanita itu yang panjang lebar seperti tidak ada habisnya. Sikap kekanak-kanakkannya benar-benar membuatku jenuh.”

“Engkau sendiri juga kekanak-kanakkan,” kata Nathan sambil melingkarkan tangannya di pundak Alviorita.

“Katamu, engkau lebih suka melihat aku yang kekanak-kanakan seperti ini,” kata Alviorita cemberut.

“Benar. Aku lebih senang melihatmu yang kekanak-kanakan daripada Elly. Engkau tampak semakin manis kalau engkau bersikap seperti anak kecil.”

“Daripada liar seperti kucing,” tambah Alviorita.

Nathan tersenyum. “Tepat sekali.”

“Dan untuk menjaga si kucing liar, diperlukan the Devil Dog.”

“Engkau semakin pandai, Alviorita. Engkau sudah mengerti.”

“Tentu saja. Rasanya hampir setiap hari aku mendengarmu mengatakan itu, bagaimana mungkin aku tidak ingat?”

Nathan tertawa.

“Jangan tertawa. Kalau Elly mendengarnya, ia akan menduga kita menertawakannya,” tegur Alviorita.

Giliran Nathan yang cemberut. “Engkau membuatku kesulitan, Alviorita. Aku ingin tertawa tetapi engkau melarangku.”

“Kalau ingin tertawa nanti saja. Sekarang kita harus menemui Elly. Aku yakin wanita itu tidak akan lama berada di sini.”

Dugaan Alviorita meleset jauh.

Elly tidak segera pulang seperti yang diharapkan Alviorita juga Nathan. Wanita itu bahkan tampak enggan pulang. Elly selalu berusaha berada di dekat Alviorita bahkan ia telah melupakan tujuan kedatangannya. Ke manapun Nathan pergi, Elly selalu mengikutinya. Elly benar-benar melupakan Alviorita.

Alviorita menyesal mengajak Nathan menemaninya menemui Elly. Bukan karena ia diacuhkan Elly tetapi karena Elly yang terus berada di dekat Nathan.

Duchess memang tidak mengatakan sebab Trent berpisah dengan Elly tetapi Alviorita dapat menebaknya apalagi setelah melihat Elly yang tidak mau jauh dari Nathan.

Elly tidak dapat disalahkan bila pada akhirnya cintanya beralih kepada Nathan. Dibandingkan Trent, Nathan memang jauh lebih tampan. Dan tidak dapat disalahkan pula bila saat ini Elly selalu berada di sisi Nathan.

Tidak ada yang dapat dilakukan Alviorita selain diam. Alviorita tidak dapat meninggalkan Nathan. Alviorita lebih tidak ingin Nathan berduaan dengan Elly daripada melanggar janjinya.

Alviorita dan Nathan telah bersepakat untuk bersama-sama menghadapi Elly yang kekanak-kanakan itu.

Bila hingga saat kepulangan Elly, Alviorita terus berada di antara mereka, itu bukan karena janji itu. Tetapi dikarenakan perasaan Alviorita yang menyuruh gadis itu tidak jauh dari Nathan.

15

Kejengkelan yang disebabkan Elly masih belum hilang ketika pagi ini Alviorita kembali melihat kereta kuda di depan Castil Q`arde.

Setelah kedatangan Elly yang pertama, Alviorita tidak berharap wanita itu datang lagi. Tetapi rupanya dugaan Alviorita benar. Sekali bertemu Nathan, Elly akan terus menemui Nathan. Alviorita tidak ingin Nathan bertemu Elly. Ia juga tidak ingin bertemu wanita itu.

Elly benar-benar menguras seluruh tenaga Alviorita. Selama berada di antara Elly dan Nathan, Alviorita harus menahan kemarahannya yang ingin meledak. Sedetikpun Elly tidak mau jauh dari Nathan walaupun Nathan mengacuhkan keberadaannya.

Tingkah Elly membuat Alviorita bersikap dingin baik kepada Nathan maupun kepada Elly. Hanya itu satu-satunya cara yang dapat dilakukan Alviorita untuk menghentikan perasaan konyolnya. Pura-pura tidak tahu juga tidak melihat keberadaan mereka berdua di sekitarnya tanpa meninggalkan mereka.

Elly yang mulanya terus berada di samping Nathan yang terus menghiraukannya akhirnya jengkel.

“Mengapa Nathan mengacuhkanku?” tanyanya pada Alviorita.

“Aku tidak tahu. Tanya saja kepadanya,” jawab Alviorita acuh.

Elly menuruti saran Alviorita. “Nathan, mengapa engkau mengacuhkanku?”

“Engkau datang ke tempat ini untuk menemui Alviorita, bukan?” kata Nathan, “Aku tidak ingin engkau melupakan tujuan kedatanganmu tetapi sepertinya engkau telah melupakannya. Sejak tadi engkau hanya mengikutiku, mengapa engkau tidak berbicara dengan Alviorita yang kaucari?”

“Aku tidak melupakan tujuan kedatanganku ini. Tetapi aku ingin bersamamu.”

“Lalu bagaimana dengan Alviorita?” kata Nathan tajam sambil mengawasi Alviorita yang sejak tadi hanya duduk diam.

Walaupun Nathan mengucapkannya dengan keras, Alviorita tetap diam. Gadis itu pura-pura tidak mendengar pertanyaan itu.

Elly juga menatap Alviorita yang tampak dingin. “Putri pasti mengerti kalau aku ingin bersamamu.”

Kata-kata yang diucapkan Elly seperti Alviorita tidak ada di tempat itu, akhirnya membuat Alviorita berkata, “Putri siapapun yang kaumaksud pasti akan merasa jengkel bila tamunya mengabaikannya.”

Elly terkejut. “Maafkan saya, Putri. Saya tidak tahu Anda akan merasa jengkel seperti itu.”

Alviorita tersenyum geli mendengar suara Elly yang seperti anak kecil yang merasa bersalah. “Engkau tidak akan pernah mengerti perasaan orang lain, Lily. Sejak dulu aku telah mengatakan kepadamu engkau terlalu kekanak-kanakan untuk mengerti semua ini.”

Kata ‘sejak dulu’ yang diucapkan Alviorita membuat Nathan was-was. Nathan khawatir Elly telah mengatakan segalanya dan membuat ingatan Alviorita pulih.

Sebaliknya Elly merasa senang mendengar kata ‘sejak dulu’ itu. “Anda telah mengingat kembali semuanya, Putri?”

Pertanyaan yang diucapkan dengan senang itu membuat Alviorita tertegun. “Ingat?” katanya, “Tidak. Hingga detik inipun aku tidak ingat siapa aku.”

“Tetapi Anda baru saja mengatakan…”

“Sudahlah, Elly,” sela Nathan, “Jangan kaupaksa Alviorita. Biarkan ingatannya kembali dengan sendirinya walaupun membutuhkan waktu yang lama.”

“Nathan benar, Lily. Tidak ada gunanya engkau memaksaku mengingat semuanya karena aku sendiripun tidak dapat melakukannya.”

“Tetapi, Putri…”

“Cukup, Lily,” potong Alviorita tegas, “Jangan seperti anak kecil yang keras kepala. Aku telah mengatakan kepadamu untuk tidak memaksaku.”

“Baiklah, Putri. Saya minta maaf.”

Alviorita tersenyum mendengar suara ketakutan Elly. “Tidak apa-apa, Lily. Justru akulah yang harus minta maaf kepadamu.”

Elly membalas senyuman Alviorita dan kembali sibuk dengan Nathan. Alviorita tahu wanita itu akan terus seperti itu. Apapun yang dikatakan orang lain serta apapun yang terjadi, ia akan tetap berusaha menarik perhatian Nathan.

Karena itulah Alviorita yakin hari ini wanita itu akan datang lagi. Untuk menghindari pertemuan dengan Elly, hari ini Alviorita dan Nathan berniat untuk pergi ke lapangan pagi-pagi sekali untuk menghindari Elly.

Tetapi kemarin malam Alviorita tidak dapat tidur. Alviorita terus memikirkan perasaannya sepanjang hari itu dan berusaha menghubungkannya dengan masa lalunya serta sikap Nathan yang seperti berusaha menghalangi pulihnya ingatannya. Hingga larut malam Alviorita terus memikirkannya hingga pagi ini ia tidak dapat bangun pagi seperti yang diharapkannya.

Ketika bangun tadi, matahari telah mucul dari balik gunung pertanda siang semakin dekat.

Memang tidak ada yang menyalahkan keterlambatan Alviorita itu tetapi Alviorita menyalahkan dirinya sendiri.

Karena kesalahannya, ia dan Nathan tidak dapat pergi ke lapangan lebih pagi dari biasanya. Dan karena kesalahannya pula, saat ini ia melihat kereta di depan Castil Q`arde.

Tanpa berusaha mengenali kereta itu, Alviorita bergegas mencari Nathan.

Alviorita tahu Nathan selalu menyibukkan diri di Ruang Kerjanya sambil menanti dirinya.

Langkah kaki Alviorita terhenti ketika ia tiba di depan pintu Ruang Kerja. Samar-samar dari balik pintu yang tertutup itu terdengar suara yang saling membentak.

Sebentar terdengar suara lantang yang dikenal baik oleh Alviorita. Kemudian disusul bentakan yang Alviorita rasa akrab dengannya tetapi tidak dapat diingatnya.

Bila orang lain yang mendengar suara yang saling membantah ini, mereka akan takut tetapi tidak bagi Alviorita. Alviorita merasa ia telah terbiasa mendengar bentakan-bentakan seperti ini.

Walaupun telah terbiasa, Alviorita tidak berniat mendengar pembicaraan itu maupun melihat siapakah yang sedang berbantah dengan Nathan.

Yang pasti bukan Duke maupun Duchess karena orang tua Nathan itu sangat sabar. Kalaupun mereka marah, mereka tidak pernah sampai berkata-kata dengan lantang seperti ini seperti orang berteriak.

Alviorita membalikkan badannya.

“Bagaimanapun juga Alviorita harus kembali ke Istana hari ini.”

Kata-kata yang diucapkan dengan lantang dan tegas itu membuat Alviorita segera menghentikan langkahnya.

Alviorita tertegun.

“Saya tidak akan menyerahkan Alviorita kepada Anda. Anda telah berjanji membiarkan Alviorita tinggal di sini sampai ingatannya pulih. Dalam perjanjian kita tidak dikatakan Alviorita tinggal di Istana Urza walaupun ingatannya berlum pulih.”

Untuk kedua kalinya sejak ia tinggal di Castil Q`arde, ia mendengar kata ‘Istana’ yang dihubungkan dengan dirinya.

Kemarin Alviorita dapat menerima penjelasan dari Nathan ketika Elly menghubungkan ‘Istana’ dengan dirinya. Tetapi kali ini lain. Dengan sahutan dari Nathan itu, kata ‘Elly selalu memanggilmu ‘Putri’ dan rumah seorang Putri adalah Istana’ sudah tidak berlaku lagi.

Alviorita yang semula tidak berniat mendengar pembicaraan itu menjadi tertarik. Keingintahuannya lebih besar dari perasaan yang selalu menghalangi dirinya mengingat semua masa lalunya.

“Kini semuanya tidak berlaku lagi. Alviorita harus kembali ke Istana.”

“Saya tidak akan mengijinkan siapapun membawa Alviorita meninggalkan Castil ini sebelum ingatannya pulih,” kata Nathan tegas.

“Apakah engkau tidak mengerti sebanyak apa tugas yang telah dilalaikannya?”

“Saya mengerti banyaknya tugas yang telah terabaikan selama Alviorita tinggal di sini. Tetapi Anda jangan lupa, Paduka, Anda sendiri yang mengijinkan Alviorita tinggal di sini sampai ingatannya pulih.”

Kata ‘Paduka’ yang diucapkan Nathan kembali membuat Alviorita bertanya-tanya.

Apakah hubungan dirinya dengan kata ‘Paduka’ itu serta ‘Istana’?

Alviorita terus mendengarkan baik-baik percakapan di balik pintu itu.

“Aku memang telah mengijinkannya tetapi kali ini masalahnya lain. Terlalu banyak yang ditelantarkan Alviorita selama ia tinggal di sini. Dan cukup lama ia tinggal di sini tetapi sampai sekarang ingatannya belum pulih.”

“Saya akui Alviorita telah lama tinggal di sini. Saya juga mengakui sampai sekarang ingatan Alviorita belum ada kemajuan yang berarti.”

“Karena itulah aku harus membawanya kembali ke Istana,” kata Raja Phyllips lembut.

“Tidak, saya tidak mengijinkannya.”

Suasana yang mulai mereda kembali menjadi panas dan kemarahan kedua orang itu siap meledak sewaktu-waktu.

“Aku akan tetap membawanya, Nathan. Engkau tahu engkau tidak dapat mencegahku. Terlalu lama Alviorita tinggal di sini. Terlalu lama Alviorita menelantarkan tugas-tugas kerajaannya.”

“Saya mengakui bahwa hingga saat ini ingatan Alviorita belum pulih. Dan kami semua telah berusaha.”

“Apa yang kudengar dari Maryam tidak seperti itu. Kata Maryam engkau seperti tidak menghendaki ingatan Alviorita segera pulih.”

Nathan kembali membantah Raja. “Bila saya tidak menghendaki pulihnya ingatan Alviorita, saya tidak akan mengijinkan Maryam membawa Alviorita ke Istana.”

Raja tidak percaya mendengar pengakuan itu. “Engkau telah membawa Alviorita ke Istana?”

“Benar. Saya menyetujui usul Maryam untuk membawa Alviorita ke Istana. Tetapi tetap saja Alviorita tidak dapat mengingat apapun. Alviorita sendiri yang mengatakan kepada saya.”

“Itu artinya usaha kalian kurang berhasil. Aku yakin bila aku yang mencobanya, pasti lebih berhasil,” ejek Raja.

Nathan tahu apa yang akan dilakukan Raja. “Dengan tugas-tugas kerajaan?”

Raja tersenyum senang. “Benar. Tugas-tugas itu pasti akan dapat membuat Alviorita teringat akan kedudukannya serta tanggung jawab yang menjadi bebannya.”

Nathan tidak ragu-ragu untuk mengatakan apa yang ada di benaknya.

“Saya yakin cara Anda juga tidak akan berhasil. Justru saya merasa cara Anda itu akan membuat Alviorita semakin tidak mau mengingat semua masa lalunya.”

Kemurkaan Raja kembali muncul. “Apa maksudmu?”

“Alviorita berkata kepada saya kalau ada sesuatu dalam dirinya yang menghalangi usahanya memulihkan ingatannya. Dan bila Anda melakukan itu, saya yakin perasaan yang menghalangi Alviorita itu semakin besar dan semakin kuat.”

“Perasaan apapun itu, itu bukan masalah bagiku. Kini yang menjadi masalah bagiku adalah pulihnya ingatan Alviorita.”

“Bila Anda memang memasalahkan pulihnya ingatan Alviorita itu, Anda juga harus memikirkan perasaan yang menghalangi pulihnya ingatan Alviorita itu.”

“Perasaan apakah itu?” tanya Raja Phyllips ingin tahu.

“Kebebasan,” jawab Nathan tegas.

“Kebebasan?” ulang Raja, “Apa yang kaukatakan itu? Apakah engkau pikir selama ini aku memenjarakan Alviorita?”

“Memenjarakan dalam arti sesungguhnya tidak,” kata Nathan dingin.

“Jelaskan apa maksudmu menuduhku seperti itu?” kata Raja geram.

“Anda terlalu memaksa Alviorita untuk belajar dan melakukan semua tugas kerajaan sejak ia masih kecil. Paksaan Anda itu memang berhasil membuat Alviorita menjadi seorang Putri yang dikagumi banyak orang.”

Tanpa menanti pendapat Raja, Nathan meneruskan,

“Paksaan itu juga membuat Alviorita semakin menginginkan kebebasan. Sekarang saat ingatan Alviorita hilang, keinginan itu semakin kuat dan menghalangi pulihnya ingatan Alviorita. Bawah sadar Alviorita tahu bila ingatannya pulih, semua kebebasan yang selama ini ia rasakan akan hilang.”

“Kebebasan? Paksaan?” kata Raja, “Engkau benar-benar membuatku ingin tertawa. Bagaimana mungkin Alviorita merasa seperti itu? Selama ini ia berkelimpahan kemewahan di Istana bukan berkelimpahan penderitaan di penjara.”

“Semua tugas-tugas kerajaan yang membelenggunya membuatnya merasa hidup di dalam penjara yaitu sangkar emas yang Anda buat sejak kematian Ratu.”

“Tugas-tugas kerajaan itu bukan penjara baginya tetapi suatu kewajiban yang menjadi tugas Alviorita sejak ia lahir.”

“Cara Anda menyuruh Alviorita melakukannya membuat semua itu terasa penjara baginya.”

“Atas dasar apa engkau mengatakan itu?” kata Raja geram.

“Kalau Alviorita memang tidak merasa seperti itu, tidak mungkin Alviorita tidak pernah memanfaatkan waktu luangnya untuk bersenang-senang sewaktu ia masih tinggal di Istana.”

“Alviorita memang seorang Putri yang baik. Ia tidak membuang waktunya untuk bersenang-senang,” kata Raja bangga.

“Bukan,” sahut Nathan, “Alviorita tidak pernah bersenang-senang karena ia selalu merasa ia tidak mempunyai waktu untuk bersenang-senang. Anda telah memaksa Alviorita meninggalkan masa kanak-kanaknya sejak ia masih kecil dan karena itu pula dalam hati Alviorita telah tertanam kepercayaan itu.”

Kemudian Nathan menambahkan, “Juga tidak mungkin ia bersikap seperti orang yang baru bebas dari sangkar emas selama ia tinggal di sini.”

“Ia tidak mungkin bersikap seperti orang yang baru bebas dari penjara selama ia tinggal di sini. Itu hanya perasaanmu saja,” bantah Raja.

“Bukan hanya saya saja yang berkata seperti itu. Orang tua saya juga semua orang di sini mengatakannya.”

“Itu masalah kalian. Tidak mungkin kalian lebih mengenal Alviorita daripada aku. Aku tahu putriku itu selalu merasa puas dengan apa yang selama ini dijalaninya.”

“Kami memang tidak mengenal Alviorita sebaik Anda tetapi saya tahu apa yang dirasakan Alviorita. Saya berani mengatakan saya lebih mengenal Alviorita daripada siapapun termasuk Anda.”

“Jangan lupa, Nathan. Aku adalah ayah Alviorita.”

“Anda juga jangan lupa, Paduka. Saya adalah tunangan Alviorita.”

Alviorita yang terus mendengar percakapan itu dari balik pintu, terkejut. Ia tidak menduga selama ini Nathan yang dianggapnya sebagai kawan masa kecil tak lain adalah tunangannya sendiri.

Alviorita menginginkan penjelasan dari Nathan saat ini juga. Ia tidak dapat menanti lagi. Dengan tangan gemetar menahan perasaan, Alviorita membuka pintu.

Dua pria yang sejak tadi saling membantah dan membentak itu tidak menyadari pintu yang dibuka perlahan-lahan oleh Alviorita itu.

“Engkau juga harus ingat Alviorita itu seorang Putri Mahkota.”

Mata Alviorita tidak lepas dari kedua pria yang berdiri berhadapan di depannya itu apalagi setelah kata terakhir yang diucapkan ayahnya.

Kata ‘Putri Mahkota’ itu membuat ribuan bayangan muncul dalam benak Alviorita.

Setumpuk tugas.

Sejumlah pengawal.

Sejumlah pelayan.

Dan yang seperti dikatakan Nathan, sangkar emas.

Alviorita tidak mau mempercayai semua itu dan berharap semua itu salah. Tetapi Nathan berkata,

“Alviorita memang satu-satunya Putri Mahkota Kerajaan ini tetapi apa yang dapat ia lakukan tanpa ingatannya?”

Alviorita masih belum dapat menguasai perasaannya setelah mendengar kata ‘Putri Mahkota’ itu untuk kedua kalinya, ketika Raja berkata tajam,

“Bagus, engkau telah mengerti Alviorita satu-satunya penerusku. Jadi sekarang engkau harus membiarkan aku membawa Alviorita kembali ke Istana.”

Bayangkan kembali ke Istana yang menjadi sangkar emasnya membuat Alviorita berkata lirih, “Tidak…”

Kedua pria itu terkejut dan memalingkan kepala kepada Alviorita yang berdiri terpaku di ambang pintu.

Wajah Nathan memucat melihat Alviorita sedangkan Raja tampak tenang.

“Bagus, engkau telah mendengar semuanya. Kini engkau harus ikut aku kembali ke Istana.”

“TIDAK!!!” teriak Alviorita.

Nathan cemas melihat Alviorita. Ia tidak dapat membayangkan apa yang akan dilakukan gadis itu. Jelas Alviorita tidak dapat kabur dari kenyataan yang telah terbuka ini.

“Alviorita…,” kata Nathan cemas sambil mendekati Alviorita dengan tangan terulur.

Sebelum Nathan mendekat, Alviorita berteriak, “Tidak!”

Nathan mengulurkan tangannya tetapi Alviorita menepiskannya dan berlari menjauh.

“Alviorita ! ” seru Nathan.

Alviorita terus berlari sambil menutup telinganya dengan kedua tangannya.

Alviorita tidak ingin mendengar apapun. Alviorita tidak ingin mendengar suara Nathan yang telah membohonginya.

Nathan tidak tahu apa yang dirasakan Alviorita tetapi ia dapat menduga gadis itu merasa dikhianati olehnya sekaligus terkejut dengan semua kenyataan ini.

Kenyataan ini bagi orang lain mungkin terasa menyenangkan terutama yang hanya memikirkan uang. Tetapi tidak bagi Alviorita.

Alviorita sudah tidak ingin tinggal di ‘sangkar emas’ Istana yang bergelimangan kemewahan.

Telah lama tinggal bersama Alviorita serta bermain-main bersama gadis itu membuat Nathan tahu ia tidak akan dapat mengejar gadis itu. Alviorita selalu berlari cepat dan secepat apapun ia mengejar, ia selalu tidak dapat menangkap gadis itu.

Selain dapat berlari cepat, Alviorita juga pandai menghindar. Karena itu walaupun Nathan dapat mengimbangi langkah kaki gadis itu, ia tetap tidak dapat menangkap gadis itu.

Kali inipun Nathan tidak dapat menangkap Alviorita. Nathan hanya berharap Alviorita segera berhenti sebelum gadis itu terjatuh.

Harapan Nathan tidak terkabul. Alviorita terus berlari sepanjang lorong menuju Ruang Besar dan tanpa menghiraukan pelayan-pelayan yang terkejut melihat mereka, ia terus berlari ke halaman Castil Q`arde.

Tidak seorangpun yang membantu Nathan walaupun mereka melihat Nathan mengejar Alviorita dengan panik.

Semua orang di Castil Q`arde tahu Nathan dan Alviorita selalu bersama. Mereka juga sering melihat Alviorita bercanda dengan Nathan hingga mereka berkejar-kejaran seperti ini. Semua menganggap Nathan dan Alviorita tengah bermain.

Nathan sendiri terlalu sibuk memusatkan perhatiannya pada Alviorita daripada meminta bantuan orang lain.

Raja yang mengetahui apa yang tengah terjadi segera mengikuti Nathan mengejar Alviorita sambil berteriak, “Cepat kejar Alviorita. Jangan biarkan ia pergi lagi.”

Semua orang hanya termangu tanpa mengerti apa yang terjadi.

“Cepat!” seru Raja melihat tidak seorangpun yang bergerak, “Apa yang kalian tunggu? Alviorita kabur lagi?”

Duke yang mendengar keributan di luar Ruang Duduk tempatnya berada, keluar. Duke terkejut melihat Alviorita berlari dan Nathan mengikutinya dengan panik sementara Raja berteriak-teriak cemas.

Tanpa menanti apa-apa lagi, Duke segera berlari menyusul Nathan. Melihat kecemasan Raja serta kepanikan Nathan, Duke mengerti Alviorita benar-benar harus dihentikan.

Semua orang yang mendengar keributan di lantai dasar Castil Q`arde segera muncul untuk mengetahui apa yang terjadi.

Demikian pula Duchess. Duchess hanya dapat berdiri termangu di tangga melihat semua orang kepanikan karena teriakan Raja.

Keributan yang terjadi itu terdengar hingga ke lantai tiga tempat Maryam berada. Maryam yang sibuk di kamar Alviorita, tertarik mendengar keributan itu dan segera ke bawah.

Walaupun tahu ia telah menimbulkan keributan, Alviorita tetap tidak mempedulikan orang-orang yang panik. Alviorita hanya tahu ia harus berlari sejauh mungkin dari kenyataan ini sebelum ia terperangkap di dalamnya.

Perasaan Alviorita campur aduk. Alviorita tidak mau menerima kenyataan yang telah didengarnya itu tetapi hati kecilnya tahu semua itu benar dan tidak dapat dihindari olehnya sekalipun ia berusaha melarikan diri darinya.

Perasaan marahnya kepada Nathan yang selama ini dipercayainya membuat Alviorita menangis.

Tanpa disadari Alviorita, ia telah menyayangi Nathan melebihi sebelumnya. Melebihi perasaan sayangnya saat ia melihat masa kecilnya dalam mimpinya. Alviorita menyayangi Nathan bukan hanya sebagai teman tetapi sebagai kakak yang sangat dekat dengannya.

Alviorita sangat mempercayai Nathan. Walaupun tahu Nathan menyembunyikan sesuatu darinya, Alviorita tetap mempercayai pria itu. Alviorita yakin Nathan sengaja menyembunyikannya untuk kebaikannya tetapi kini semuanya terasa lain.

Alviorita tidak dapat mempercayai Nathan telah membohonginya sejauh itu. Nathan telah menyembunyikan jati dirinya yang sebenarnya bahkan berbohong ketika mengatakan mereka adalah teman.

Sekarang semuanya telah jelas. Hubungannya dengan Nathan bukan sekadar teman tetapi tunangan.

Sejak memasuki Castil Q`arde, Alviorita hanya mengerti ia diterima dengan baik di keluarga Kryntz karena ia adalah anak sahabat keluarga mereka. Sekarang pengertian Alviorita telah berubah.

Semua orang sangat menghormatinya karena ia adalah Putri Mahkota dan semua orang di Castil Q`arde menerimanya dengan baik selain karena ia seorang Putri juga karena ia adalah tunangan Nathan.

“Alviorita, jangan berlari lagi,” seru Nathan cemas, “Berhentilah. Aku tahu apa yang kaurasakan. Aku akan menjelaskan semuanya.”

Alviorita tetap menutup telinganya tanpa berhenti.

Di belakang Nathan terdengar suara orang yang juga berteriak-teriak memanggil namanya tetapi Alviorita tetap tidak mau berhenti.

Alviorita berlari semakin cepat ketika ia melihat pintu gerbang Castil Q`arde seolah-olah pintu itu merupakan pintu gerbang kebebasannya.

Sebuah kereta yang melaju cepat, tiba-tiba memasuki gerbang.

Kusir kuda itu terkejut melihat Alviorita dan segera menghentikan keretanya.

Seperti kusir kuda itu, Alviorita juga terkejut. Alviorita berdiri terpaku melihat kuda yang menarik kereta itu meringkik keras ketika kusir kuda menarik tali kekangnya kuat-kuat.

Bersamaan dengan itu, pelayan yang juga mengejar Nathan berteriak cemas bercampur ketakutan melihat jarak kuda itu yang sangat dekat dengan Alviorita. Sementara para pelayan itu berdiri ketakutan membayangkan apa yang akan terjadi, Nathan mempercepat langkahnya.

Perasaan terkejut bercampur marah dan sedih ketika mengetahui kenyataan yang selama ini disembunyikan darinya, belum pulih ketika ia menerima kejutan yang lain. Alviorita yang belum siap menghadapi perasaan terkejut ini segera jatuh pingsan.

Nathan yang telah menduga apa yang akan terjadi segera menangkap tubuh Alviorita sebelum gadis itu menyentuh tanah.

Nathan tahu Alviorita masih terlalu terkejut untuk menerima kejutan yang lain. Gadis itu tidak akan mampu menerima kejutan yang lain saat kereta kuda milik keluarga Kryntz tiba-tiba muncul di depannya.

Kusir kuda segera turun. “Ia baik-baik saja? Saya minta maaf. Saya tidak menduga ia akan muncul tiba-tiba.”

“Tidak apa-apa. Alviorita tidak tertabrak apapun. Ia hanya terkejut,” kata Nathan tanpa melepaskan pandangannya dari wajah Alviorita yang memucat.

Nathan sudah berdiri dengan Alviorita dalam gendongannya sebelum kusir kuda itu menawarkan bantuannya.

Seorang pria yang diikuti seorang anak kecil muncul dari dalam kereta. Bersamaan dengan itu, Duke mendekat.

“Apa yang terjadi?” tanya Trent.

“Tidak ada apa-apa,” jawab Nathan.

Jeffreye menengadahkan kepalanya dan berusaha melihat wajah gadis yang dibopong pamannya.

“Apa yang terjadi padanya?” tanya Trent lagi.

“Ia hanya terkejut karena kereta kuda yang melaju cepat,” kata Nathan.

“Jangan kausalahkan aku,” kata Trent, “Jeffreye yang meminta kereta melaju cepat. Katanya agar lekas sampai.”

“Sudah, kalian jangan bertengkar,” kata Duke yang mendengar percakapan mereka, “Nathan, sebaiknya engkau membawa Alviorita ke kamarnya.”

“Aku memang bermaksud membawa Alviorita kembali ke kamarnya agar ia dapat berisitirahat.”

Tanpa menghiraukan Trent yang jengkel karena Duke membelanya, Nathan segera membawa Alviorita kembali ke Castil Q`arde.

Melihat Nathan mendekat, Maryam segera menghampiri mereka. “Bagaimana keadaan Tuan Puteri? Ia tidak terkena apapun?”

Melihat Nathan mendekat, Maryam segera menghampiri mereka. “Bagaimana keadaan Tuan Puteri? Ia tidak terkena apapun?”

“Jangan khawatir. Kereta kuda telah berhenti sebelum mereka bertabrakan. Alviorita jatuh pingsan karena ia terlalu terkejut.”

“Apa yang dapat saya lakukan?” tanya Maryam kebingungan.

“Sebaiknya engkau menyiapkan tempat tidur Alviorita agar aku dapat segera membaringkan dia,” kata Nathan.

“Baik, Tuan Muda.”

Tak lama setelah Maryam berlalu, Duchess menghampiri.

Duchess berjalan di samping Nathan tanpa melepaskan pandangannya kepada wajah pucat Alviorita. “Mama akan memanggil dokter.”

“Kurasa tidak perlu, Mama. Alviorita hanya terkejut,” kata Nathan.

“Tetapi wajahnya pucat, Nathan.”

“Wajahnya pucat karena ia terlalu terkejut.”

“Sebenarnya apa yang telah terjadi sehingga Alviorita…?”

Nathan diam saja. Ia tidak ingin memberitahu ibunya mengenai pertengkarannya dengan Raja yang membuat Alviorita mengetahui apa yang selama ini disembunyikannya dari gadis itu. Duchess akan sangat sedih bila ia mengetahuinya.

“Mama tidak memaksamu, Nathan. Kalau engkau memang tidak mau mengatakannya tidak apa-apa,” kata Duchess, “Sebaiknya engkau segera membawa Alviorita ke kamarnya.”

Tidak perlu disuruh dua kali, Nathan telah membawa Alviorita ke kamarnya.

Ketika membaringkan Alviorita di tempat tidur, Nathan melihat wajah gadis itu tampak seperti sedang tersenyum bahagia.

Kening Nathan berkerut melihat wajah bahagia Alviorita. Nathan tidak mengerti mengapa gadis itu tampak bahagia saat ia baru saja mengetahui semua yang selama ini disembunyikan darinya yang membuatnya sangat sedih.

Nathan tidak tahu apa yang dimimpikan gadis itu tetapi ia tahu Alviorita memimpikan sesuatu yang sangat menyenangkan.

Saat itu Alviorita memang sedang bermimpi indah yang sangat menyenangkan hatinya.

Alviorita melihat Ratu bersamanya dan mengajak dirinya yang masih kecil bermain bersama. Bermain bersama Ratu membuat Alviorita merasa senang.

Ratu mengajak Alviorita bermain segala macam permainan. Ratu juga membawa Alviorita mengunjungi tempat-tempat yang indah.

Senakal apapun Alviorita, Ratu tetap bersikap sabar kepadanya. Ratu juga tidak pernah memarahinya walaupun Alviorita sering melanggar larangannya. Ratu hanya tersenyum dan menasehatinya dengan sabar bila Alviorita melakukan kesalahan.

Alviorita sangat menyayangi Ratu Valensia yang sangat sabar itu. Bersama Maryam, Ratu menjaga Alviorita bermain baik di dalam maupun di luar Istana.

Ratu menunjukkan banyak tempat indah kepada Alviorita. Hutan yang hijau, sungai yang jernih, pantai yang berkilauan, semua ditunjukkan Ratu kepada Alviorita.

Alviorita kecil hanya tahu bermain tanpa mengetahi usaha ibunya menjauhkah dirinya dari keinginan Raja.

Raja sangat menginginkan Alviorita menjadi Putri Mahkota yang baik bagi Kerajaan Lyvion dan untuk itu Raja ingin Alviorita rajin belajar sejak kecil.

Keinginan Raja yang bertentangan dengan keinginan Ratu ini tidak membuat mereka bertengkar. Dengan berbagai bujukan, Ratu berhasil membuat Raja menunda keinginannya itu. Dan sementara itu Alviorita tetap bermain sambil belajar bersama Ratu dan Maryam.

Alviorita kecil tidak menyadari kalau ia tidak hanya bermain dan bersenang-senang saja. Ratu memang kelihatannya hanya mengajak Alviorita bersenang-senang saja sepanjang hari. Namun sesungguhnya sambil bermain dan berjalan-jalan itulah Ratu mengajari Alviorita.

Tanpa disadari Alviorita, Ratu memberikan banyak pelajaran kepadanya. Alviorita kecil tidak pernah menyadari ia telah belajar banyak hal dari Ratu.

Tetapi kebahagiaan Alviorita itu tidak bertahan lama. Saat Alviorita dan Ratu sedang bercanda bersama, Ratu tiba-tiba berkata, “Waktuku sudah habis. Aku harus segera pergi. Jagalah dirimu baik-baik, Alviorita dan turuti semua kata-kata ayahmu serta Maryam.”

Setelah berpesan pada Alviorita, dari punggung Ratu muncul sepasang sayap putih seperti bulu burung dan Ratu Valensia perlahan-lahan naik ke angkasa.

“Mama… Mama…, jangan pergi. Jangan tinggalkan Alviorita,” teriak Alviorita panik.

Ratu tersenyum, “Mama tidak akan meninggalkanmu, Alviorita. Mama akan terus di sampingmu dan menjagamu.”

“Mama! Mama!”

Sekeras apapun Alviorita berteriak, Ratu tetap menjauh.

Alviorita tidak menyerah. Ia terus memanggil ibunya sampai ibunya tidak tampak lagi. Saat itulah Alviorita samar-samar mendengar pesan ibunya yang terakhir.

“Jadilah Putri yang baik.”

“Mama! Mama!” teriak Alviorita memanggil Ratu yang terus menjauh.

Alviorita menggapaikan tangannya berusaha menyentuh Ratu Valensia tetap tangan Alviorita tidak cukup panjang untuk meraih Ratu yang terus naik ke angkasa yang biru.

Sebagai gantinya, seseorang memeluk Alviorita erat-erat sambil berusaha menenangkan tangisnya.

“Tenanglah, Alviorita. Jangan menangis.”

Alviorita terus menangis sambil memanggil Ratu dalam pelukan orang itu.

Nathan kebingungan. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya untuk menenangkan Alviorita.

Saat Alviorita tiba-tiba berteriak memanggil Ratu sambil menangis, Nathan tahu gadis itu memimpikan kepergian Ratu. Dulu saat Ratu meninggal, tidak seorangpun yang dapat menenangkan tangis Alviorita kecil. Kini Nathan ragu apakah dirinya mampu menenangkan Alviorita.

“Mama… jangan pergi…”

“Jangan menangis, Alviorita. Ratu tidak akan meninggalkanmu,” kata Nathan lembut.

“Mama…,” kata Alviorita sedih.

“Ratu tidak akan meninggalkanmu, Alviorita. Walaupun Ratu tidak ada di sisimu, ia terus menjagamu. Ratu terus menjagamu dari tempatnya berada,” kata Nathan.

Alviorita mengangkat kepalanya dari dada Nathan. Sesaat Alviorita merasa silau oleh sinar matahari yang memenuhi ruangan tempatnya berada. Di antara sinar matahari yang menyilaukan itu, Alviorita berusaha mengenali wajah yang memandangnya.

Wajah Nathan yang dihiasi senyum lembut membuat Alviorita kebingungan.

Nathan menyeka air mata yang membasahi wajah Alviorita sambil meyakinkan gadis itu, “Di manapun Ratu berada, ia terus menjagamu.”

Alviorita terus memandang kebingungan wajah Nathan. Alviorita merasa ada yang salah tetapi kesedihan yang memenuhi pikiran Alviorita membuat gadis itu berpikir lambat.

Ketika Alviorita menyadarinya, ia berkata heran, “Mengapa engkau ada di sini?”

Alviorita yang merasa dirinya berada di Istana Urza merasa heran melihat Nathan di kamarnya. Sambil terus melihat Nathan, Alviorita bertanya-tanya sendiri.

Nathan tidak mengijinkan Alviorita berpikir lebih jauh lagi. Nathan membaringkan kembali tubuh Alviorita di atas tempat tidur.

“Sebaiknya engkau berisitrahat lagi. Engkau masih terlihat lemah.”

Melihat mata hijau itu tetap keheranan memandang dirinya, Nathan berkata, “Tidurlah, Alviorita. Engkau tidak akan mengerti kalau engkau tidak tidur.”

Nathan mengawasi Alviorita yang memandang sekelilingnya dengan kebingungan.

“Ruangan ini terlalu terang untukmu?” tanya Nathan, “Aku akan menutup tirainya.”

Nathan beranjak dari sisi Alviorita untuk menutup tirai. Ruangan itu masih terlihat terang walaupun tirai telah tertutup rapat.

“Ruangan ini tidak dapat lebih gelap lagi dari ini, Alviorita. Saat tengah hari seperti ini, sinar matahari memang sangat kuat tetapi aku yakin engkau dapat tidur nyenyak.”

Alviorita masih memandang kebingungan sekelilingnya.

Melihatnya, Nathan berkata, “Ayolah, Alviorita jangan nakal. Tutuplah matamu dan tidurlah lagi. Engkau masih lemah dan membutuhkan banyak istrirahat.”

Nathan mendekati Alviorita dan melihat kecemasan bercampur kesedihan di mata gadis itu. Nathan meraih tangan Alviorita dan berkata lembut, “Jangan khawatir, aku akan terus menjagamu di sini. Engkau tidak akan bermimpi buruk lagi selama aku ada di sisimu.”

Nathan membungkuk dan mencium dahi Alviorita. Nathan tersenyum melihat wajah terkejut Alviorita. “Selamat tidur.”

Alviorita membalas senyuman Nathan kem u dian memejamkan matanya.

Nathan tersenyum melihat Alviorita kembali tertidur dengan senyum manis menghiasi wajahnya.

Sikap Alviorita sesaat lalu yang tampak lain dari biasanya membuat Nathan heran.

Kesedihan yang meliputi perasaan dan juga pikiran Alviorita dapat membuat sikap gadis itu berubah total. Gadis yang biasanya selalu cepat menanggapi segala sesuatu jadi tampak pendiam dengan segala kebingungannya.

Kesedihan Alviorita membuat Nathan tahu apa yang dimimpikan gadis itu. Nathan kembali duduk di kursi yang telah diletakkannya di samping tempat tidur Alviorita. Nathan membiarkan Alviorita kembali bertemu Ratu di alam mimpinya.

“Apa yang terjadi?”

Nathan yang tengah memandangi wajah Alviorita terkejut mendengar pertanyaan itu. Nathan masih terkejut ketika ia memalingkan kepalanya. “Alviorita hanya bermimpi buruk, Paduka.”

“Untunglah. Mendengar teriakannya tadi, kukira sesuatu telah terjadi,” kata Raja lega.

“Jangan khawatir, Paduka. Selama saya berada di sini, Alviorita akan baik-baik saja.”

“Aku percaya kepadamu, Nathan, seperti Valensia mempercayaimu.”

Raja Phyllips menarik kursi ke samping tempat tidur Alviorita. “Engkau tidak keberatan aku menemanimu, bukan?”

“Sama sekali tidak,” sahut Nathan.

“Mengapa Alviorita tadi berteriak seperti itu dan mengejutkan semua orang yang mendengarnya?” tanya Raja.

“Saya menduga Alviorita bermimpi bertemu Ratu tetapi Ratu kemudian meninggalkannya.”

“Ya, aku mengerti. Alviorita sangat mencintai Valensia. Dulu waktu Valensia meninggal Alviorita terus menangis sepanjang hari tanpa ada yang dapat menghentikannya hingga ia jatuh sakit,” Raja Phyllips menatap Nathan sambil menghela napas.

“Seharusnya dulu aku memanggilmu untuk menenangkannya seperti engkau menenangkannya saat ini, sehingga ia tidak sampai jatuh sakit. Tetapi waktu itu aku sendiri terlalu sedih untuk memikirkannya.”

“Jangan Anda pikirkan, Paduka. Saat itupun saya tidak yakin akan mampu menghibur Alviorita. Alviorita sangat sulit dijauhkan dari Ratu. Walaupun saya yang mengajaknya, Alviorita tidak mau meninggalkan Ratu kecuali Ratu yang menyuruhnya.”

“Alviorita sangat mencintai Ratu bahkan kata Maryam hingga kini ia masih mengingat wajah Ratu dengan baik.”

Raja memperhatikan wajah Alviorita yang tampak tenang dalam tidurnya.

Seperti halnya Nathan, Raja ingin mengetahui apa yang sedang dimimpikan gadis itu. Gadis itu tampak begitu tenang dengan seulas senyum yang menghiasi wajah cantiknya.

Tidak lama setelah Alviorita memasuki dunia mimpinya, Alviorita melihat Raja menghampirinya dan memaksanya memasuki ruangan yang sebelumnya belum pernah dimasukinya.

Di ruangan itu, Alviorita merasa dikurung dengan guru privat yang senantiasa mengawasinya dengan ketat. Setiap hari setumpuk pelajaran disodorkan kepadanya.

Alviorita membenci semuanya. Alviorita juga membenci Maryam yang semula selalu menemaninya bermain kini tidak pernah mau diajak bermain oleh Alviorita. Maryam hanya ingin Alviorita belajar, belajar dan belajar seperti keinginan Raja.

Sejak kepergian Ratu, dunia Alviorita berubah dari dunia yang penuh kegembiraan menjadi dunia yang penuh keseriusan.

Hanya demi pesan ibunya, Alviorita menjalani apa yang diinginkan Raja terhadapnya. Bertahun-tahun dilewati Alviorita dengan penuh kejenuhan dan keinginan untuk bebas.

Alviorita terus menekan keinginannya sendiri hingga saat Raja memberitahu sebuah kenyataan yang sangat mengejutkan Alviorita.

Bahwa dia mempunyai tunangan sejak kecil, Alviorita tidak pernah tahu bahkan tidak pernah menduganya.

Kenyataan itu sangat bertentangan dengan apa yang diinginkan Alviorita.

Sejak kecil Alviorita berangan-angan menikah dengan seorang Pangeran. Keinginannya ini disebabkan oleh dongeng-dongeng yang sering diceritakan Ratu kepada Alviorita.

Kepada Ratu, Alviorita kecil pernah berkata, “Aku ingin menikah dengan seorang Pangeran agar dapat menjadi Putri.”

Ratu Valensia tersenyum geli. “Engkau lupa, Alviorita? Engkau seorang Putri. Pangeran mana yang akan menjadikan engkau seorang Putri?”

Menyadari apa yang dikatakan Ratu benar, Alviorita sedih.

“Jangan sedih, Alviorita,” hibur Ratu, “Engkau akan menemukan Pangeranmu. Mama yakin ada Pangeran untukmu di dunia ini.”

“Sungguh?” tanya Alviorita senang, “Di mana? Aku ingin menemuinya.”

“Jangan terburu-buru, Alviorita. Pangeranmu pasti ada di suatu tempat dan suatu hari nanti engkau akan menemukannya.”

Apa yang dikatakan Ratu tetap menjadi keyakinan Alviorita selama bertahun-tahun walaupun semakin hari Alviorita menyadari mimpinya itu tidak akan pernah terwujud.

Alviorita tidak pernah berusaha menghapus keyakinan itu dari benaknya. Alviorita terus membiarkan keyakinan itu ada di dalam dirinya dan menjadi secercah harapan di antara kenyataan yang ada.

Dan saat Raja mengatakan kepadanya tentang keberadaan tunangannya itu, secercah harapan itu mulai menghilang.

Alviorita tidak mengijinkan hal itu terjadi.

Dengan segala keteguhan hatinya yang menginginkan kebebasan, Alviorita memilih meninggalkan Istana. Walaupun tahu orang-orang di Istana mencemaskannya, Alviorita tetap tidak mau memberitahukan keadaannya kepada Istana Urza.

Alviorita membiarkan kecemasan itu terus ada di hati orang-orang di sekitarnya sementara ia terus melangkahkan kaki menuju sinar lain yang muncul.

Sinar menuju kebebasan yang selama ini dicarinya. Bebas dari belajar, dari pengawal dan yang terutama bebas dari tunangannya.

Alviorita terus berjalan ke dalam sinar yang seakan tak berujung di depannya.

Alviorita membuka matanya. Samar-samar ia mendengar seseorang berkata, “Ia bangun.”

Alviorita memalingkan kepalanya ke arah datangnya suara itu.

Sesaat Alviorita tidak dapat mengenali wajah itu. Ketika Alviorita mengenali wajah itu, berbagai ingatannya muncul kembali. Alviorita ingat ia kini berada di Castil tunangannya dan wajah di hadapannya itu adalah wajah sang tunangan, Nathan.

Ketika melihat wajah Nathan yang tersenyum senang melihatnya, kemarahan Alviorita sebelum ia jatuh pingsan muncul lagi.

Nathan terkejut melihat sinar mata Alviorita yang berubah menjadi penuh kemarahan.

“Mengapa engkau membohongiku?” tanya Alviorita tajam.

“Membohongimu?” tanya Nathan tak mengerti.

“Jangan membohongiku lagi, Nathan. Aku tahu engkau membawaku ke sini dari Synghz dan sejak itu engkau membohongiku.”

Nathan mengerti apa yang dikatakan Alviorita dan ia mencoba memberi pengertian. “Aku tidak pernah membohongimu, Alviorita.”

“Engkau menipuku, Nathan,” kata Alviorita tajam bercampur sedih, “Engkau menyembunyikan semua kenyataan dariku. Engkau membuat aku mempercayai segala yang engkau katakan dan aku dengan begitu bodohnya mempercayai segala yang kaukatakan.”

“Aku tidak bermaksud menyembunyikannya darimu,” kata Nathan menyesal.

“Kalau engkau memang tidak bermaksud seperti itu, mengapa engkau tidak mengatakan yang sebenarnya kepadaku? Mengapa engkau menyembunyikan kenyataan kalau engkau adalah tunanganku?”

Kemarahan bercampur kesedihan karena telah ditipu oleh orang yang dipercayai, membuat Alviorita ingin menangis.

“Aku memang bersalah, Alviorita. Tetapi sebelum engkau marah, dengarkan dulu penjelasanku.”

“Penjelasan apa?” tanya Alviorita tajam, “Apa yang dapat dijelaskan oleh pembohong sepertimu!?”

Seperti biasanya, Nathan tidak dapat terus berkepala dingin menghadapi Alviorita. “Dengarkan apa yang akan kukatakan, Alviorita!”

“Apa yang dapat dikatakan oleh pembohong sepertimu selain kebohongan,” kata Alviorita tajam.

Nathan yang ingin membantah Alviorita, terpana melihat air mata Alviorita yang tiba-tiba mengalir.

“Engkau tidak mengerti apa yang kurasakan, Nathan. Aku sangat mempercayaimu tetapi engkau telah menyembunyikan kebenaran itu dariku. Engkau membuatku sangat marah sekaligus sedih kepada diriku yang telah mempercayaimu dan kepada dirimu yang telah menyalahgunakan kepercayaanku.”

“Maafkan aku, Alviorita,” kata Nathan menyesal sambil meraih tubuh Alviorita.

Alviorita menepis tangan Nathan. “Jangan menyentuhku, Nathan. Aku tidak ingin disentuh oleh pembohong sepertimu.”

Nathan menarik tubuh Alviorita dan mengabaikan usaha gadis itu untuk melepaskan diri dari pelukannya. “Dengarkan aku, Alviorita. Aku tidak pernah merasa senang atas perbuatanku itu. Aku tahu aku tidak boleh menyembunyikan kenyataan ini darimu tetapi aku harus melakukannya.”

Alviorita meronta-ronta dalam pelukan Nathan. Kedua tangannya yang mengepal terus memukul dada Nathan. “Aku membencimu,” katanya di sela-sela air matanya yang terus mengalir.

Nathan mengabaikan tingkah Alviorita. “Diamlah, Alviorita, dan dengarkan apa yang akan kukatakan,” kata Nathan sambil mempererat pelukannya.

Kedua tangan Nathan yang semakin erat memeluknya, membuat Alviorita semakin sulit melepaskan diri. Tetapi gadis itu tetap meronta-ronta berusaha melepaskan diri dari pelukan Nathan.

“Aku membencimu,” kata Alviorita terisak-isak sambil terus memukuli dada Nathan.

Mendengar kalimat yang diucapkan berulang-ulang itu, Nathan tahu ia tidak akan dapat membuat Alviorita diam, maka ia memutuskan untuk mengatakannya sekarang tanpa menanti Alviorita diam.

“Aku terpaksa melakukannya, Alviorita. Aku terpaksa menyembunyikan kenyataan ini darimu,” kata Nathan.

Tanpa menghentikan perlawanannya, Alviorita bertanya tajam, “Terpaksa? Jangan membohongiku, Alviorita. Aku tahu tidak ada yang dapat memaksamu.”

“Ada, Alviorita. Ada yang dapat memaksaku melakukan apa yang tidak ingin kulakukan. Dan orang itu adalah kau.”

Kalimat terakhir itu membuat Alviorita terpana.

“Aku?” tanya Alviorita setelah terdiam cukup lama.

“Ya, engkau satu-satunya orang yang mampu memaksaku,” ulang Nathan tegas.

“Mengapa?” tanya Alviorita tak mengerti, “Mengapa aku membuatmu terpaksa membohongiku?”

“Apakah engkau akan percaya kalau saat itu aku mengatakan aku adalah tunanganmu? Apakah engkau mau ikut denganku bila aku mengatakan hal itu? A pakah keluarga Rpiayh akan mempercayaiku bila aku mengatakannya? Siapa yang saat itu akan mempercayaiku?”

Alviorita semakin terdiam mendengar kata-kata tajam itu.

“Aku yang tidak dikenal tiba-tiba muncul dan mengaku sebagai tunanganmu yang saat itu kehilangan ingatan. Tidak akan ada yang mempercayaiku. Mereka hanya akan menduga aku berbohong untuk mendapatkanmu, si cantik yang misterius.”

Alviorita memikirkan kata demi kata yang diucapkan Nathan dengan tajam itu.

Alviorita tahu Nathan benar. Bila saat itu Nathan tiba-tiba muncul dan mengaku sebagai tunangannya, ia pasti tidak akan mempercayainya. Demikian pula keluarga Rpiayh. Lebih mudah menganggap Nathan sebagai seorang penipu daripada mempercayai kata-katanya.

“Maafkan aku,” kata Alviorita lirih.

“Semuanya bukan salahmu, Alviorita,” kata Nathan lembut, “Aku terpaksa membohongimu juga karena aku tidak ingin engkau terbebani oleh pertunangan yang tidak kausukai ini selama engkau dalam masa penyembuhan.”

“Maafkan aku, Nathan. Aku telah menuduhmu sekejam itu,” kata Alviorita sedih.

“Jangan sedih, Alviorita. Aku memang kejam. Aku telah menipumu yang telah mempercayaiku.”

“Tetapi engkau melakukannya untuk kebaikanku,” sahut Alviorita.

“Tidak apa-apa, Alviorita. Engkau tidak tahu apa-apa saat itu. Sekarang setelah engkau mengetahui alasanku menyembunyikan kebenaran ini darimu, engkau tidak boleh menuduhku lagi.”

“Tapi…”

Nathan meletakkan jarinya di mulut Alviorita. “Sudahlah, Alviorita. Engkau tahu kita mudah bertengkar hanya karena masalah kecil seperti ini. Daripada kita bertengkar lebih baik kita lupakan saja masalah ini. Dan sekarang kita pikirkan dirimu.”

“Aku?” tanya Alviorita tak mengerti.

Nathan tersenyum. “Engkau tahu, Alviorita, engkau telah tidur sepanjang hari. Engkau pasti haus sekarang apalagi setelah mengeluarkan air mata.”

Dengan satu tangannya, Nathan meraih segelas air di meja di samping tempat tidur. “Untung tadi Maryam meletakkan segelas air di sini,” kata Nathan, “Sekarang minumlah.”

Nathan menyodorkan mulut gelas itu di bibir Alviorita.

“Sekarang engkau harus beristirahat,” kata Nathan setelah meletakkan kembali gelas itu di meja.

“Tidur lagi?” tanya Alviorita manja.

Nathan tersenyum lembut. “Benar. Engkau pasti sangat lelah setelah mendapat banyak kejutan hari ini.”

“Aku tidak lelah, Nathan.”

“Tubuhmu memang tidak lelah, Alviorita tetapi jiwamu lelah. Engkau mendapat banyak kejutan hari ini, Alviorita, dan saat ini yang terbaik untukmu adalah tidur,” kata Nathan. “Jangan membantah,” tambahnya.

Alviorita menurut.

Nathan membungkukkan badannya dan mencium dahi Alviorita. “Selamat tidur.”

“Engkau akan ke mana?” tanya Alviorita ketika melihat Nathan menjauhinya.

“Menemui ayahmu,” jawab Nathan, “Aku yakin ia kesal kepadaku yang telah merebut perhatianmu darinya sehingga ia meninggalkan ruangan ini.”

“Tadi Papa ada di sini?” tanya Alviorita tak percaya.

“Tadi engkau tidak melihat ayahmu? Ayahmu duduk di sampingmu seperti aku.”

“Tidak, aku tidak melihatnya. Aku hanya melihatmu.”

“Pantas saja ayahmu meninggalkan kita,” gumam Nathan, “Aku senang engkau hanya memperhatikan aku.”

“Apa?”

“Tidak apa-apa,” jawab Nathan, “Aku akan menemui ayahmu sekarang.”

Alviorita bertanya manja, “Lalu aku?”

Nathan tersenyum geli. “Rupanya kucing liar ini benar-benar menjadi manja. Aku akan segera menemanimu, Little Pussycat.”

“Aku telah menemukan sifat manja kucing, the Devil Dog,” kata Alviorita sambil tersenyum, “Aku menunggumu.”

Tanpa menanti Alviorita tertidur, Nathan segera mencari Raja.

Nathan segera menuju Ruang Kerja. Nathan tahu ia akan menemukan Raja di sana. Di Ruang Kerja itulah tadi Raja berbincang dengan orang tuanya.

Ketika menuruni tangga, Nathan bertemu Maryam. Untuk meyakinkan dirinya, Nathan bertanya, “Di mana Paduka berada?”

“Saya melihat Paduka berjalan ke Ruang Kerja beberapa saat yang lalu,” jawab Maryam.

“Terima kasih, Maryam.”

“Tuan Muda,” panggil Maryam.

Nathan yang hendak melanjutkan perjalanannya berhenti dan membalikkan badan ke Maryam yang terlihat cemas.

“Bagaimana keadaan Tuan Puteri? Apakah ia baik-baik saja?” tanya Maryam cemas.

“Jangan khawatir, Maryam. Alviorita baik-baik saja. Sekarang ia sedang tertidur,” jawab Nathan.

Nathan tahu wanita tua itu mengkhawatirkan teriakan Alviorita tadi. “Jangan khawatir. Alviorita tadi hanya bermimpi buruk. Sekarang ia dapat tidur nyenyak lagi.”

“Apakah saya boleh melihat Tuan Puteri?”

“Tentu saja, Maryam. Mengapa aku harus melarangmu?” jawab Nathan, “Aku senang sekali engkau mau menjaga Alviorita sementara aku berbicara dengan Raja.”

“Terima kasih, Tuan Muda,” kata Maryam senang.

“Aku juga berterima kasih kepadamu, Maryam,” kata Nathan, “Sekarang segera temui Alviorita dan aku akan segera menemui Raja.”

Maryam membungkukan badannya kemudian bergegas ke kamar Alviorita.

Nathan tersenyum geli melihat wanita tua itu berlari-lari kecil menuju kamar Alviorita. Wanita itu seperti takut tidak dapat bertemu Alviorita.

16

Nathan kembali melanjutkan perjalanannya ke Ruang Kerja sambil berpikir apa yang akan dikatakannya kepada Raja. Nathan tahu mula-mula ia harus meminta maaf pada Raja Phyllips atas kejadian yang baru saja terjadi setelah itu ia dapat menceritakan apa yang ada di benaknya sejak ia menenangkan Alviorita yang menangis karena mimpi buruk.

Sejak awal Nathan tahu apa yang dikatakan Raja memang benar. Alviorita sangat mencintai Ratu Valensia bahkan lebih mencintainya daripada Raja Phyllips.

Nathan masih ingat Alviorita sangat senang berada di sisi Ratu. Bila ia telah berada di sisi Ratu, sulit sekali menyuruhnya pergi dari sisi Ratu kecuali Ratu sendiri yang menyuruhnya.

Dalam tiap kunjungannya ke Castil Q`arde, Ratu selalu menyuruh Nathan mengajak Alviorita bermain bersama. Nathan sangat menyenangi permintaan Ratu itu tetapi Alviorita sendiri sukar dipisahkan dari Ratu sehingga akhirnya Ratu ganti menyuruh Alviorita mengajak Nathan bermain bersama. Bila sudah demikian, Alviorita mau berpisah dengan Ratu.

Hanya perkataan Ratu yang dituruti Alviorita.

Anehnya, bila Alviorita sudah bersama Nathan entah itu bermain ataupun berjalan-jalan, Alviorita menurut saja walaupun mereka baru bertemu Ratu pada malam hari. Sepanjang hari Alviorita juga tidak merengek minta bertemu Ratu.

Alviorita selalu menyukai kepergiannya bersama Nathan. Selain Ratu, orang yang selalu membuat Alviorita senang adalah Nathan. Nathan mengajak Alviorita berjalan-jalan ke berbagai tempat. Di antara tempat-tempat itu hanya satu yang disukai Alviorita, yaitu lapangan rumput di Chymnt. Di lapangan itu, Alviorita bermain bersama Nathan dan di sana pula Nathan mengajari Alviorita memanjat pohon untuk menghindari Trent.

Sebenarnya Ratu juga menyuruh Alviorita bermain bersama Trent, tetapi Alviorita sendiri yang tidak mau bermain bersama Trent. Sejak awal perkenalan mereka, Alviorita sudah tidak menyukai Trent yang menurutnya sombong dan keras kepala itu.

Ratu mengetahui ketidaksenangan Alviorita terhadap Trent dan ia telah berulang kali menasehati Alviorita. Walaupun biasanya Alviorita selalu menuruti Ratu, kali ini gadis itu tidak menurut. Alviorita tetap tidak menyukai Trent. Tiap kali melihat Trent, Alviorita selalu menghindar dulu sebelum mereka bertemu.

Lain halnya dengan Trent yang menyukai Alviorita sejak berkenalan dengan gadis manis itu. Trent tidak berputus asa walaupun Alviorita selalu menghindarinya. Sebisa mungkin Trent berusaha selalu berada di dekat Alviorita seperti kakaknya.

Melihat kakaknya, Nathan selalu bersama Alviorita, Trent merasa iri. Kakaknya yang biasanya selalu sibuk belajar, dengan mudahnya membuat Alviorita menyukainya bahkan sampai membuat Alviorita mau berpisah dengan Ratu sepanjang hari hanya untuk bermain bersamanya.

Bersama Nathan pula Alviorita selalu menghindari Trent. Biasanya mereka dapat menghindari Trent dengan cepat dan mudah namun pada hari itu, di mana Nathan mengajari Alviorita cara memanjat pohon, mereka tidak dapat menghindari Trent dengan cepat, mudah dan aman.

Trent tiba-tiba muncul dari balik pohon. Alviorita yang sibuk bermain dengan rerumputan, tidak menyadari kedatangan Trent. Demikian pula Nathan yang bersandar pada sebatang pohon sambil mengawasi Alviorita.

Ketika Nathan menyadari kedatangan Trent, jarak mereka sudah sangat dekat. Nathan tahu ia dapat menyuruh Trent pergi, tetapi itu hanya akan menimbulkan pertengkaran di antara mereka selain itu Alviorita tidak pernah mau berdekatan dengan Trent apalagi berbicara dengannya.

Hanya satu yang ada di pikiran Nathan saat itu yaitu memanjat pohon yang berada tepat di belakangnya. Hanya itu yang dapat dilakukan. Trent tidak dapat memanjat pohon dan ia juga tidak tahu kalau kakaknya dapat melakukannya.

Sementara Trent yang berada di belakang Alviorita terus mendekat, Nathan mencoba mengajak gadis itu tanpa membuatnya panik.

“Alviorita!” panggil Nathan.

Alviorita menengadahkan kepalanya dari rerumputan.

Nathan mendekati Alviorita. Dengan memunggungi Trent, ia menarik tubuh Alviorita hingga gadis kecil itu berdiri sambil berkata, “Aku ingin menunjukkan sesuatu kepadamu.”

“Di mana?” tanya Alviorita.

“Ikutlah denganku,” ajak Nathan.

Alviorita terua mencoba menebak benda yang ingin ditunjukkan Nathan kepadanya sambil memperhatikan sekelilingnya. Dan ketika mereka di bawah pohon, Alviorita bertanya, “Di mana?”

“Di atas pohon ini,” jawab Nathan.

Alviorita menengadahkan kepalanya ke puncak pohon yang tinggi lalu bertanya, “Bagaimana kita bisa tiba di sana?”

“Kita harus memanjat pohon ini.”

“Aku tidak bisa memanjat.”

Nathan terkejut. Ia baru menyadari ia lupa memperhitungkan hal ini. Sejak tadi yang dipikirkannya hanya bagaimana menghindari Trent tanpa membuat Alviorita tahu kedatangan pemuda itu. Sekarangpun sudah terlalu terlambat untuk mundur.

Akhirnya Nathan mengajari Alviorita memanjat pohon.

Alviorita cepat mengerti. Dan tanpa banyak menyusahkan Nathan, gadis kecil itu cepat belajar bagaimana memanjat selincah Nathan.

Trent tentu saja jengkel sekaligus terkejut melihatnya. Ia tidak pernah menduga hal ini. Ia juga terlalu jengkel untuk mengatakan hal ini kepada orang tuanya maupun Ratu.

Tidak seorangpun menduga Nathan yang rajin belajar ternyata dapat berbuat seperti itu. tidak ada yang tahu dari mana Nathan belajar memanjat. Hanya Nathan sendiri yang tahu ia belajar sendiri.

Melihat rasa sayang Alviorita yang sangat besar kepada Ratu, Nathan menduga Alviorita tetap bertahan dengan kedudukannya serta kesibukannya sebagai Putri Mahkota karena permintaan Ratu.

Tapi kesabaran manusia ada batasnya. Demikian pula Alviorita.

Ketika Raja Phyllips mengatakan pertunangannya dengan Nathan itulah, kesabaran Alviorita habis. Alviorita memilih lebih baik meninggalkan Istana daripada menikah dengan pria pilihan orang tuanya.

Kejadian yang baru saja terjadi di kamar Alviorita, membuat Nathan mengetahui apa yang selama ini tidak pernah terpikirkan olehnya. Nathan selalu menganggap Alviorita sudah tidak tahan lagi terus terkurung dalam Istana sehingga ia kabur dan pertunangan itu merupakan alasannya untuk kabur.

Tidak pernah terpikirkan olehnya Alviorita lebih tidak menyukai pertunangannya dengan dirinya daripada kedudukannya sebagai Putri Mahkota.

Duchess memang benar. Alviorita adalah putri yang hebat. Walaupun hatinya terus memberontak, tetapi Alviorita tetap bertahan di Istana dengan segala kesibukannya. Alviorita tahu semua yang dilakukan ayahnya adalah untuk dirinya dan kelak untuk Kerajaan Lyvion.

Menyakitkan memang mengetahui Alviorita tidak menyukai pertunangan ini bahkan setelah semua yang telah terjadi sejak ia kabur dari Istana Urza. Tpi Nathan adalah bodoh bila ia tidak tahu apa yang paling diinginkan gadis yang dicintainya itu.

Mengenai pertunangan ini, Raja Phyllips mungkin masih dapat mengambil kebijaksanaan. Tapi tidak demikian halnya dengan kedudukan Alviorita. Gelar Putri Mahkota itu tidak akan dapat dihilangkan dari Alviorita. Hanya gadis itulah satu-satunya penerus Raja.

Raja memang dapat menunjuk orang lain yang masih mempunyai hubungan saudara dengannya untuk menggantikannya. Tapi seluruh penduduk Kerajaan Lyvion tidak akan menerimanya.

Sejak kerajaan ini berdiri hingga sekarang, penerus Raja yang berkuasa tidak pernah berasal dari keluarga selain keturunannya sendiri. Walaupun tidak ada peraturan yang melarang Raja memilih penerus di luar keturunannya, penduduk Kerajaan Lyvion pasti akan menolak hal yang tidak pernah terjadi itu.

Bagi rakyat Kerajaan Lyvion, apa yang pernah terjadi di masa lalu khususnya mengenai pewarisan Tahta, adalah peraturan.

Tidak ada pemecahan dalam masalah ini. papun yang terjadi Alviorita tetap seorang Putri Mahkota. Mau tidak mau Alviorita harus belajar memerintah negeri yang luas ini.

Alviorita selama ini telah menerima situasinya tanpa pernah mengeluh. Nathan tahu gadis itu akan tetap begitu demi Kerajaan Lyvion walaupun hatinya selalu memberontak.

Namun segalanya tidak berjalan seperti harapan Nathan. Raja sudah tidak ada di Ruang Kerja ketika Nathan tiba. Yang ada di sana hanya Duchess dan Trent.

“Di mana Raja Phyllips?” tanya Nathan.

“Ia baru saja pergi ke Ruang Duduk bersama ayahmu,” jawab Duchess.

“Hati-hati, Nathan,” Trent memperingati, “Tampaknya Raja marah kepadamu. Entah apa yang kaulakukan pada Alviorita sehingga Raja marah. Yang pasti tindakanmu itu dapat membahayakan keluarga kita sedangkan aku tidak mau terkena akibat perbuatanmu itu.”

“Trent!” sela Duchess menghentikan peringatan bernada mengejek Trent, “Jangan kaudengarkan adikmu, Nathan.”

“Jangan khawatir, Mama. Aku tidak akan melakukannya,” kata Nathan, “Sekarang aku akan menemui Paduka Raja.”

Melihat Nathan bergegas pergi, Duchess cepat-cepat berseru, “Nathan!”

Nathan membalikkan badannya dan bertanya bingung, “Ada apa, Mama?”

“Sebenarnya apa yang telah terjadi? Mengapa Paduka tampak seperti orang bingung?” tanya Duchess, “Tidak terjadi sesuatu yang buruk pada Putri, bukan?”

Nathan mendekati Duchess yang duduk di depan meja. “Jangan khawatir, Mama. Alviorita baik-bik saja. Ia sudah bangun tapi aku menyuruhnya tidur lagi. Aku khawatir ia masih terlalu terkejut.”

“Aku yakin Putri sangat terkejut dengan kejadian yang baru saja menimpanya,” kata Duchess menyetujui.

“Mungkin karena terkejut itulah, ingatan Alviorita pulih.”

“Sungguh?” tanya Duchess tak percaya.

Sesaat Nathan tampak ragu-ragu. “Aku tidak tahu pasti, Mama. Tapi aku yakin Alviorita telah mengingat semuanya.”

Duchess memandang lekat-lekat wajah Nathan. “Kuharap engkau benar, Nathan.”

“Sekarang temuilah Paduka dan selesaikan masalah kalian,” kata Duchess, “Aku tidak tahu apa yang membuat Paduka tampak bingung tapi aku tahu engkau dapat menyelesaikannya.”

“Aku pasti akan melakukannya, Mama,” kata Nathan dengan pasti, “Aku akan.”

Nathan bergegas meninggalkan Ruang Kerja diiringi senyum bangga Duchess.

Duchess tahu putra tertuanya akan menyelesaikan masalahnya dengan Raja. Duchess tahu Nathan bisa. Sejak kecil Nathan pandai menghadapai masalah apapun mulai dari yang mudah sampai yang paling sulit sekalipun dapat ia tangani. Dibandingkan adiknya, Trent, Nathan lebih dapat diandalkan.

Dengan adanya dukungan dari ibunya, Nathan semakin yakin ia dapat membuat Raja memikirkan kembali pertunangan yang tidak disukai Alviorita ini. Mengenai cintanya pada Alviorita, Nathan tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Kejadian selama ini cukup menjelaskan Alviorita tidak memiliki perasaan apapun terhadap Nathan. Bahkan mungkin Alviorita benar-benar membenci dirinya seperti yang baru saja dikatakannya.

Apa yang harus dilakukan Nathan saat ini bukan mempertahankan posisinya sebagai tunangan gadis itu melainkan melepaskan posisi itu agar gadis yang dicintainya bahagia.

Saat ini kebahagiaan Alvioritalah yang paling penting bagi Nathan.

Sebelum menghadapi Raja Phyllips yang telah dikenal Nathan sebagai seorang Raja yang keras kepala dan pemarah, Nathan mempersiapkan dirinya matang-matang.

Nathan tidak ingin terjadi pertengkaran seru seperti pagi tadi. Kali ini semuanya harus dilakukan dengan kepala dingin agar hasilnya seperti yang diharapkan Nathan.

“Akhirnya engkau muncul juga,” kata Raja ketika melihat Nathan muncul dari balik pintu.

“Saya…”

“Aku tahu apa yang akan kaubicarakan,” potong Raja Phyllips, “Aku dan ayahmu telah membicarakannya. Sejak tadi aku juga telah memikirkannya.”

“Paduka, saya minta maaf atas kejadian tadi. Saya sama sekali tidak bermaksud merebut perhatian Alviorita dari Anda sehingga Anda meninggalkan kami.” Nathan cepat-cepat menyelesaikan kalimatnya sebelum Raja memotong perkataannya lagi.

“Jangan khawatir, Nathan. Aku mengerti,” kata Raja, “Alviorita lebih menunjukkan kemarahannya atas pertunangan ini kepadamu daripada kepadaku. Ia terlalu marah kepadaku hingga ia tidak sanggup lagi menunjukkan kemarahannya kepadaku.”

Raja tampak termenung.

Baik Duke maupun Nathan tidak ada yang berani mengusik ketermenungan Raja itu. Mereka membiarkan Raja sibuk dengan pikirannya sendiri.

“Aku adalah Raja yang bodoh bila aku tidak membatalkan pertunangan ini,” kata Raja pada akhirnya, “Aku tahu engkau akan sedih, Valensia, tapi apalagi yang dapat kulakukan. Bila setelah semua yang terjadi akhir-akhir ini, aku masih memaksa Alviorita menikah dengan Nathan, aku benar-benar Raja yang bodoh.”

“Maksud Anda, Paduka?” tanya Nathan tak mempercayai apa yang didengarnya.

“Aku tahu kalian berdua tidak menyukai pertunangan ini dan aku memutuskan unutk menghapus pertunangan kalian, Nathan,” kata Raja tegas. “Walaupun dengan terpaksa,” tambahnya pula.

Nathan tidak percaya mendengarnya. Tadinya ia menduga pembicaraannya dengan Raja akan berjalan dengan sulit tetapi ternyata dugaannya meleset jauh dari kenyataan. Bahkan sebelum ia mengutarakan keinginannya, Raja telah mengatakan keputusannya.

Nathan merasa lega sekaligus sedih.

Di saat Nathan merasa seperti ini, Alviorita sedang kebingungan menghadapi perasaannya yang campur aduk.

Alviorita tahu saat Maryam datang tadi tetapi ia tidak berminat berbicara dengan wanita itu. Alviorita membiarkan wanita tua itu menduga dirinya sedang tertidur.

Sekarang Alviorita benar-benar bingung dengan perasaannya sendiri.

Alviorita tahu seharusnya ia merasa khawatir menghadapi ‘peperangan’ yang tak lama lagi akan terjadi dengan ayahnya ini. Alviorita tahu ‘perisai’nya masih belum cukup untuk menghadapi ‘pedang’ ayahnya tetapi ia sama sekali tidak merasa khawatir.

Sebaliknya ia merasa tenang seakan-akan ‘peperangan’ memperebutkan kebebasan Alviorita dalam kehidupan pribadinya itu tidak akan pernah muncul. Padahal ‘pertempuran’ itu dapat dikatakan sudah berada di depan mata. Dan beberapa saat lagi akan meledak dengan serunya.

‘Peperangan’ yang semula direncanakan Alviorita berlangsung di Istana Urza mungkin terpaksa dilangsungkan di tempat ini sesegera mungkin.

Dengan ‘perisai’nya yang masih belum cukup banyak dan cukup kuat untuk menghadapi ‘pedang’ ayahnya, Alviorita harus menghadapi ‘pertempuran’ ini.

Seharusnya Alviorita mencemaskan kemungkinan menangnya dalam ‘pertempuran’ ini. Tetapi kenyataan berkata lain.

Alviorita sama sekali tidak peduli dengan ‘pertempuran’ bahkan kemarahannya kepada ayahnya seakan-akan berkurang seiring dengan membesarnya kemarahannya kepada Nathan.

Alviorita merasa dirinya jauh lebih jengkel kepada Nathan daripada ayahnya walaupun kesalahan ayahnya kepada dirinya jauh lebih besar daripada kesalahan Nathan. Bahkan Alviorita sudah tidak lagi memikirkan kejengkelannya kepada Raja.

Saat ini yang menjadi pikiran Alviorita adalah: mengapa ia dapat semarah itu kepada Nathan yang tidak melakukan kesalahan besar kepadanya?

Satu-satunya kesalahan yang diperbuat Nathan terhadapnya adalah menyembunyikan kenyataan yang sebenarnya tentang dirinya juga hubungan antara dirinya dengan Nathan selama ia kehilangan ingatan.

Dibandingkan apa yang telah dilakukan Raja kepadanya, memaksanya belajar juga memaksanya menikah dengan Nathan, kesalahan Nathan lebih kecil. Tapi kemarahan Alviorita kepada Nathan lebih besar dibandingkan kepada Raja.

“Mengapa aku dapat sedemikian marah kepada Nathan hanya karena kebohongannya?” tanya Alviorita berulang-ulang kepada dirinya.

Alviorita mencoba menemukan jawabannya dengan mengingat kembali kejadian sebelum ia jatuh pingsan. Alviorita ingat ia sangat kecewa sekaligus sedih ketika mengetahui Nathan telah membohonginya. Saat itu pula ia menyadari ia telah menyayangi Nathan lebih dari teman.

Tanpa disadari Alviorita, ia semakin hari semakin menyayangi Nathan. Walaupun mereka sering bertengkar tetapi Alviorita tidak pernah merasa bosan berada di dekat pria itu. Bahkan Alviorita menyukai setiap pertengkaran mereka.

Bagi Alviorita, Nathan adalah pria yang sangat menyenangkan untuk diajak bertengkar. Mereka senantiasa bertengkar bersama tetapi juga saling menggoda.

Entah dari mana munculnya kesadaran itu tetapi tiba-tiba saja Alviorita menyadari suatu hal. Akhir-akhir ini ia semakin manja kepada Nathan dan ingin pria itu selalu menemaninya.

Bagi Alviorita yang belum pernah mengenal kata ‘jatuh cinta’, semua ini sangat membingungkan. Alviorita tidak tahu apakah ia benar-benar mencintai Nathan atau hanya sekedar menyayanginya sebagai kakak.

Sejak Alviorita mengingat kenangan masa kecilnya bersama Ratu di Castil Q`arde, Alviorita menyadari Nathan adalah sosok seorang kakak yang baik.

Nathan selalu menjaganya dengan baik seperti seorang kakak yang sangat menyayangi adiknya walaupun mereka tidak mempunyai hubungan darah. Sebagai kakak pula Nathan selalu menemaninya bermain.

Bahkan saat mereka bertemu kembali setelah sekian tahu tidak berjumpa, Nathan tetap menunjukkan sosoknya sebagai seorang kakak yang penuh perhatian.

Nathan memang mencurigai Alviorita saat gadis itu pertama kali tiba di Castil Q`arde tetapi Nathan tetap menunjukkan perhatiannya kepada gadis itu. Di balik semua pertengkaran mereka, Nathan masih memperhatikan Alviorita.

Alviorita tidak tahu apakah ia benar-benar jatuh cinta kepada Nathan atau sekadar sangat mencintainya sebagai seorang kakak yang penuh perhatian.

Kedua-duanya sangat mungkin. Tidak ada yang melebihi kemungkinan yang lain. Kedua-duanya sama-sama kuat.

Perasaannya yang membingungkan ditambah perasaan terkejutnya yang masih belum pulih benar, membuat Alviorita merasa pusing.

Semakin Alviorita mencoba menjawab pertanyaan yang terus muncul di hatinya, semakin pusing pula kepalanya.

Kesal dengan keadaannya yang masih lemah seperti perkataan Nathan, Alviorita memutuskan untuk berisitirahat.

Alviorita beruntung perasaannya yang kacau balau tidak membuatnya kesulitan tidur. Dalam waktu singkat, Alviorita telah tertidur nyenyak.

Ketika membuka matanya kembali, Alviorita mendapati dirinya tengah berada di ruang yang gelap.

Perasaan takut menyelimuti dirinya. Alviorita merasa ruangan yang gelap itu ingin menerkamnya. Di tengah-tengah ketakutannya itu Alviorita berharap Nathan berada di sisinya dan menjaganya seperti yang selalu dilakukannya.

Mungkin karena sang Takdir mendengar harapan Alviorita, sesaat kemudian terdengar suara pintu dibuka perlahan.

Alviorita tidak tahu siapa itu tetapi hatinya merasa yakin orang yang datang itu adalah Nathan.

“Nathan,” panggil Alviorita perlahan.

Menyadari Alviorita telah bangun, pria itu cepat-cepat mendekat.

“Jangan takut, Alviorita. Aku ada di sini,” kata Nathan sambil meraih Alviorita dalam pelukannya.

Alviorita tersenyum lega merasakan rasa aman yang yang diberikan Nathan kepadanya. “Aku sudah tidak takut lagi. Aku tahu engkau akan datang dan menjagaku.”

“Aku tidak menduga engkau akan bangun secepat ini,” gumam Nathan, “Kalau aku tahu, aku pasti akan segera datang dan menemanimu.”

“Kegelapan ini membuat aku merasa seperti tertelan ke dalamnya.”

“Jangan takut lagi, Alviorita. Aku sudah ada di sini,” kata Nathan sambiil mempererat pelukannya untuk meyakinkan Alviorita, “Aku tidak akan membiarkan mereka menelanmu.”

“Aku tahu, Nathan,” Alviorita menyandarkan kepalanya di dada Nathan, “Sebelum engkau datang tadi, aku berharap engkau ada di sisiku.”

Nathan tahu Alviorita masih merasakan sisa-sisa ketakutannya sebelum ia datang. Untuk membuat gadis itu melupakan ketakutannya, ia berkata, “Kucing satu ini memang aneh. Biasanya kucing tidak kenal takut berada di ruang gelap tapi kucing satu ini takut berada di ruang gelap.”

“Nathan!”

Nathan tersenyum melihat mata hijau Alviorita kembali bersinar marah. Mata hijau itu benar-benar seperti mata kucing yang bersinar dalam kegelapan.

Alviorita tidak dapat melihat jelas wajah Nathan di kegelapan seperti ini tetapi ia dapat merasakan senyum Nathan. Alviorita tersenyum, “Bukankah engkau sebagai the Devil Dog yang selalu ingin menjaga dan mengawasiku, harus menjagaku dari kegelapan?”

“Tentu saja. Aku harus menjagamu dari segala hal yang dapat membuat keselamatanmu terancam juga dari segala hal yang dapat melukaimu,” kata Nathan, “Karena itu sekarang juga aku akan mencari lilin untuk menerangi ruangan ini.”

“Nathan,” kata Alviorita cemas.

Nathan turut cemas mendengarnya. “Ada apa, Alviorita?”

“Jangan tinggalkan aku,” kata Alviorita manja, “Aku takut.”

Nathan berusaha meyakinkan Alviorita. “Jangan takut, Alviorita. Aku tidak akan lama. Aku hanya akan mengambil lilin kemudian segera kembali ke sisimu.”

“Nathan,” rengek Alviorita sambil menarik tangan Nathan yang beranjak dari tubuhnya.

Nathan yang baru saja beranjak dari tepi tempat tidur Alviorita, kembali duduk. Nathan membiarkan Alviorita menyandarkan kepalanya di dadanya.

“Kalau aku tidak mengambil sesuatu untuk menerangi ruangan ini, Alviorita, engkau akan terus ketakutan.”

“Selama engkau ada di sini, aku tidak akan takut,” kata Alviorita meyakinkan Nathan.

“Jangan manja, Alviorita,” kata Nathan lembut, “Aku hanya akan pergi sebentar. Aku janji aku tidak akan lama.”

“Tapi…”

Untuk kesekian kalinya Nathan meyakinkan Alviorita. “Jangan manja, Alviorita. Aku tidak akan lama.”

“Kalau aku jadi engkau, Nathan, aku tidak akan melarangnya.”

Keduanya terkejut mendengar suara Raja yang tiba-tiba itu. Bersamaan dengan munculnya Raja, tampak sinar terang.

“Aku iri mendengar Alviorita berkata sedemikian manjanya kepadamu, Nathan,” kata Raja, “Ia tidak pernah bermanja-manja kepadaku walau hanya sekali.”

Alviorita diam saja melihat kedatangan ayahnya yang tidak terduga itu. Alviorita tiba-tiba merasa saat perang antara dirinya dengan ayahnya telah tiba.

Raja terkejut melihat Nathan dan Alviorita saling berpelukan. “Aku tidak menganggu kalian, bukan?”

Suara cemas Raja membuat Nathan menyadari tangannya yang memeluk erat pundak Alviorita. Walaupun begitu baik Alviorita maupun Nathan tidak berniat melepaskan diri.

“Tidak,” Nathan cepat-cepat berkata, “Anda sama sekali tidak menganggu kami.”

“Untunglah,” kata Raja lega, “Tadinya aku berpikir aku telah menganggu kalian.”

Alviorita sudah tidak peduli apapun. Bagi Alviorita bila memang sekarang saatnya perang itu pecah, biarlah itu terjadi. Walaupun ‘perang’ itu terjadi di hadapan Nathan, Alviorita sudah tidak peduli lagi.

Sejak tadi siang Alviorita tahu saat ini akan tiba.

“Sudahkah engkau memberitahu Alviorita, Nathan?”

Alviorita tidak tahu apa yang dimaksudkan ayahnya. Dari nada bicara ayahnya, Alviorita dapat merasakah hal itu sangat penting. Pikiran itu membuat Alviorita menduga ayahnya telah membuat keputusan mengenai pertunangan antara dirinya dengan Nathan.

“Belum.”

“Mengapa engkau tidak memberitahunya, Nathan? Bukankah hal ini yang paling kalian harapankan?” kata Raja tidak mengerti, “Baiklah, aku yang akan mengatakannya.”

Alviorita mempersiapkan dirinya menghadapi perang yang telah dipersiapkannya sejak lama ini setelah ayahnya mengumumkan keputusannya.

“Sekarang engkau tidak perlu kabur lagi, Alviorita. Aku telah memutuskan untuk membatalkan pertunangan ini.”

Alviorita sangat terkejut mendengar keputusan yang meleset jauh dari dugaannya itu.

“Mengapa, Alviorita?” tanya Raja bingung, “Mengapa engkau terkejut seperti itu? Bukankah ini yang paling kauinginkan ketika engkau meninggalkan Istana?”

Tiba-tiba saja perasaan sedih memenuhi hati Alviorita dan membuat Alviorita bingung. Alviorita tahu ayahnya benar. Sejak awal kepergiannya dari Istana, ia menginginkan hal ini. Tapi saat keinginannya terkabul, hatinya bukannya merasa senang tetapi merasa sedih.

Perasaan sedih membayangkan hubungannya dengan Nathan yang kembali menjadi teman, membuat Alviorita menyadari hal yang lain.

Alviorita tahu ia tidak akan sesedih ini bila ia tidak benar-benar jatuh cinta pada Nathan. Bila ia hanya menyayangi Nathan sebatas kakak, ia tidak akan sedih membayangkan dirinya dan Nathan kini bukan tunangan lagi melainkan teman. Sedangkan Alviorita tahu Nathan hanya mencintainya sebatas adik.

Selama ini Nathan selalu menjaganya dengan penuh perhatian seperti ketika mereka masih kecil. Dan ketika masih kecil, Nathan pernah mengatakan kepada Alviorita bahwa ia akan menjadi kakak bagi gadis yang tidak mempunyai kakak maupun adik itu.

Nathan dapat merasakan tubuh Alviorita yang tiba-tiba menjadi tegang setelah mendengar keputusan ayahnya. Nathan tahu Alviorita bukan tegang karena terkejut tetapi karena sebab lain.

Nathan tidak pasti apa sebabnya tetapi ia tahu hanya inilah satu-satunya kesempatan yang dimilikinya bila ia ingin mendapatkan Alviorita.

Tubuh Alviorita yang tiba-tiba menegang kemudian sedikit bergetar ini sudah cukup memberikan bukti kepada Nathan bahwa gadis itu memiliki perasaan yang lebih kepadanya. Walaupun Nathan yakin akan hal itu, Nathan tidak berani meyakinkan dirinya bahwa itu adalah cinta.

Dengan berbekal keyakinannya itu, Nathan berkata, “Sekarang setelah pertunangan yang tidak kita sukai ini dihapus, aku ingin bertanya kepadamu, Alviorita. Maukah engkau menjadi istriku?”

Baik Raja maupun Alviorita sama-sama terkejut.

Raja tidak mengerti mengapa Nathan, yang kata Duke, sangat tidak menyukai pertunangannya dengan Alviorita, malah melamar Alviorita.

Alviorita menatap lekat-lekat wajah Nathan.

Nathan tersenyum dan mengulangi pertanyaannya, “Maukah engkau menjadi istriku?”

Alviorita merasa sangat bahagia mendengar pertanyaan itu hingga tidak tahu harus berbuat apa untuk menyatakan jawabannya.

Senyum bahagia di wajah Alviorita sudah memberikan jawaban kepada Nathan. Nathan memeluk Alviorita erat-erat sebagai balasannya. “Aku mencintaimu, Alviorita. Aku sangat mencintaimu hingga aku rela memutuskan pertunangan yang tidak kausukai ini.”

“Mengapa engkau tiba-tiba melamarku setelah Papa mengatakan ia memutuskan pertunangan kita?” tanya Alviorita ingin tahu.

“Karena tiba-tiba saja aku merasa yakin engkau juga tidak senang pertunangan kita putus.”

“Bagaimana kalau aku tidak mau menerima lamaranmu?” tanya Alviorita manja.

“Aku tahu engkau pasti akan menerimanya.”

“Tapi aku belum menjawabnya.”

“Jangan memulai pertengkaran lagi, Alviorita,” keluh Nathan, “Katakan saja jawabanmu yang kuterima dari wajahmu yang berseri-seri itu.”

Alviorita tersenyum bahagia, “Aku mencintaimu, Nathan. Dan aku bersedia menjadi istrimu. Aku akan selalu berada di sisimu.”

Sebagai balasannya, Nathan mencium Alviorita dengan sangat mesra.

Melihat kedua orang itu kembali sibuk dengan urusan mereka sendiri, Raja Phyllips mengundurkan diri dari ruangan itu dengan seribu satu pertanyaan. Dengan segala kebingungan yang memenuhi pikirannya, Raja menemui keluarga Kryntz untuk menyampaikan berita yang menggembirakan ini.

Raja tahu selain Duke dan Duchess of Kryntz, Ratu yang berada di surga pun juga akan merasa bahagia.

“Aku benar-benar tidak mengerti apa yang diinginkan kedua anak ini,” keluh Raja saat mereka semua duduk di Ruang Duduk setelah makan malam.

Nathan dan Alviorita hanya tersenyum melihat kejengkelan Raja Phyllips.

“Pertama mereka ingin pertunangan mereka dihapus lalu kini mereka ingin segera menikah,” tambah Raja.

“Sebenarnya apa yang kalian inginkan? Kalian benar-benar membuatku bingung. Kalau pada akhirnya kalian akan menikah juga, mengapa sejak awal kalian menolak pertunangan ini? Bukankah akhirnya juga sama saja?”

“Mungkin mereka berdua tidak ingin menikah karena rencana orang tuanya, Paduka,” kata Duchess.

“Kisah cinta mereka ini benar-benar unik, jauh lebih unik dari kisah kita sendiri, Ellena,” kata Duke.

Kembali Nathan dan Alviorita tersenyum mendengar komentar orang tua mereka. Hanya mereka berdua yang tahu mengapa kisah cinta mereka ini begitu unik.

Mereka berdua telah saling mengejar dan saling menemukan dan kini setelah mereka benar-benar bersatu, mereka tidak akan terpisah lagi. Mereka masing-masing telah menemukan kembali orang yang paling mereka cintai di dunia ini. Dan dalam dunia mereka hanya ada cinta mereka yang begitu indah dan uniknya.

Alviorita tidak perlu kabur lagi untuk menemukan Pangerannya sebab Pangerannya itu telah berada di sisinya dan akan selalu berada di sisinya.

tamat

0 Response to "Pelarian II"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified