Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Namaku Izrail !


Namaku Izrail !
Risalah Mawas Diri
Atmonadi


Prakata

Bismillahirrahmaannirraahiim

Segala puji dan syukur sepatutnya hanya ditujukan untuk Allah SWT, Sang Maha Pencipta yang menebarkan kasih sayang untuk semua makhluk-Nya, yang maujud dalam bentuk materi fisik maupun yang diselimuti kegaiban-Nya dan yang menggenggam kehidupan semua makhluk-Nya. Al-Iradah-Nya adalah kehendak dan keinginan-Nya yang tak terbantahkan, al-Qudrah-Nya adalah Arasy Kemahakuasaan-Nya yang menopang semua alam yang ada beserta isinya, yang menghendaki Keserbarahasian-Nya terungkap dari Perbendaharaan-Nya yang tersembunyi dalam maujud al-Haba (gelombang gravitasi) dan Nur Muhammad (gelombang elektromagnetik) dengan perintah “Kun Fa Yakuun”.
Shalawat dan salam kusampaikan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai maujud Af’al, Asma-asma dan Sifat-sifat-Nya yang paripurna, Adimanusia, Insan Kamil dan Gurujati semua manusia, keluarga dan kerabatnya, para sahabatnya, para aulia dan para pewaris serta penyampai ilmunya, yang meneruskan rahmatnya kepada seluruh alam dan penghuninya, yang merentang menembus batas-batas ruang-waktu : dulu, kini dan nanti.
Kematian pastilah akan datang, kepada semua makhluk yang bernyawa, dimanapun ia berada, dan dalam keadaan apapun. Maka dalam banyak kesempatan, Nabi Muhammad SAW selalu mengingatkan kepada umatnya untuk mewaspadai setiap saat gerak-geriknya. Bahkan, ia yang menjadi Habib Allah (Kekasih Allah) penutup para Nabi dan Rasul pun tidak luput dari datangnya ajal, lengkap dengan segala rasa takut , kengerian, dan penderitaannya. Kematian yang dialami oleh Nabi SAW adalah suatu hikmah dan pelajaran bagi kita semua, bahwa Allah SWT Maha Berkehendak, sehingga dahsyatnya sakratul maut dan datangnya Malaikat Maut tak akan dapat dielakkan oleh semua makhluk-Nya.
Dalam literatur Islam, malaikat maut dikenal dengan nama Izrail, dialah yang merupakan salah satu malaikat utama Allah yang bertugas mencabut nyawa semua makhluk yang bernyawa. Izrail yang akan datang setiap saat kepada manusia, adalah suatu peringatan yang nyata, bahwa manusia semestinya lebih mawas diri atas segala perilakunya sendiri selama ia hidup di dunia. Risalah tentang Izrail ini, yang saya beri judul “Akulah Izrail!”, kurang lebih dimaksudkan untuk mengingatkan saya dan kita semua, bahwa Izrail pasti akan datang. Ia adalah pelaksana kiamat kecil yang nampaknya saat ini banyak tidak disadari oleh kita semua. Sehingga, seringkali kita alpa dan lalai untuk mengingat mati. Risalah ini memang risalah mawas diri tentang kematian, tentang berakhirnya semua peluang kita untuk mengumpulkan bekal guna kembali kepada-Nya. Apakah kita kembali dengan meniti Shiraatal Mustaqim atau terpelanting dari jembatan itu, maka sudah menjadi kewajiban kita untuk mengingat kematian.
Tak ada bekal yang dapat kita bawa saat kematian kita, kecuali amal shaleh sebagai orang yang beriman kepada-Nya dan kain kafan, tidak harta benda, intan, emas, permata, tidak juga istri yang kita cinta, ataupun anak-anak kita, kecuali amal shaleh yang diridhai oleh-Nya. Maka ingatlah kematian, dan bersiap-siaplah dengan bekal yang dapat Anda bawa.
Akhir kata, semoga risalah tentang kematian ini dapat menjadi pelajaran bagi kita semua.
Wassalammu’alaikum Wr. Wb
Lebak Bulus, 27 November 2004
Atmonadi

Prolog

"Namaku Izrail"
.
Tiba-tiba saja ia berdiri dihadapanku. Memperkenalkan diri entah dari mana. Terus terang, aku melongo ketika orang atau lebih tepatnya mahluk itu ada dihadapanku. Entah kenapa, aku tidak terlalu kaget. Hanya saja, memang muncul rasa heran dan takut. Tubuhku yang sedang berbaring setengah terangkat. Aku menatap bengong melihatnya berdiri di hadapanku. Meski rasa takut menyergapku, aku seakan-akan tidak merasa asing dengan sosok ini. Kayanya pernah kenal, tapi dimana gitu. Dalam beberapa saat aku seperti pikun. Lupa. Tepatnya nggak tau apakah pernah bertemu dengannya atau tidak. Sepertinya aku mengalami dejavu, pikirku.
Cukup lama ia memandangku dengan diam, setelah dia menyebutkan namanya begitu saja. Padahal aku nggak minta diperkenalkan. Boro-boro perkenalan, dia begitu saja mengada, makanya siapa diapun aku nggak ngeh. Izrail katanya. Siapa ya? Rasanya nama itu pernah kudengar dengan baik. Tapi aku lagi-lagi tidak mampu menggali memori dari otakku yang tiba-tiba menjadi beku.
Ia nampaknya termasuk mahluk yang tak mau tau. Tepatnya super cuek. Apakah aku mau atau tidak, nampaknya ia memang tak peduli. Bilamana ia mau, ia akan memperkenalkan diri. Bila tidak, ya sudah lewat begitu saja. Tak peduli orang yang disapanya mau atau tidak. Apakah yang di datanginya jantungan atau tidak. Baginya itu nampaknya tidak menjadi soal benar. Apalagi kemunculannya yang tiba-tiba begitu. Seperti menyergap dari ketiadaan, muncul begitu saja. Bagi yang penakut, mungkin kemunculannya bisa membuat semaput. Dia seperti hantu. Untungnya aku termasuk bukan manusia yang kagetan. Sehingga kemunculannya yang tiba-tiba itu tidak terlalu membuatku semaput. Tapi yang jelas memang otakku jadi beku. Seperti sekarang ini. Memandang dengan bodoh kesosok yang luar biasa ganteng ini.
Kupikir-pikir, memang aku belum pernah melihat wajah seperti dia ini. Wajahnya lebih mirip manekin yang dipajang ditoko-toko ketimbang manusia. Halus, berkulit bersih, bahkan seperti menimbulkan pendar sinar. Meskipun, kebersihan kulitnya agak sedikit
tidak lazim dengan warna bersih yang memerah dadu seperti pipi bayi itu. Dia senyam-senyum dikulum, seperti seorang teman lama yang sedang menggoda. Wah, pikirku, ni orang kalau ikut kontes Indonesian Idol atau AFI1 barangkali langsung menang, yang lainnya langsung bertumbangan.
"Sudah tau siapa aku?", lanjutnya memecahkan kebingunganku.
"Eh..emmmm yyyaa...siapa ya", dengan sedikit gemetaran dan tergagap-gagap aku menjadi grogi, tapi lagi-lagi aku masih belum ngeh siapa dia, padahal dia sudah menyebutkan namanya. Nama itu memang terdengar tidak asing. Cuma, aku lagi-lagi lupa dimana pernah mendengar nama itu.
Dia tersenyum simpul. Swear, senyumnya termasuk kategori senyum manis bagi makhluk berjenis kelamin laki-laki (terus terang saja gender ini perlu saya buat dengan font italyc karena saya sendiri bingung ni orang laki-laki atau perempuan).
Kemudian dengan perlahan ia berkata" Aku diminta menjemputmu...".
"Siapa?", tanyaku masih setengah bingung.
"Dia...", katanya pendek.
"Dia siapa ya?", tanyaku lagi, otakku masih beku, tak bisa menduga dan tak tahu dengan yang ia maksud.
"Kkkamu sendiri siapa?", tanyaku dengan sedikit gagap tetapi lebih mantap.
Keberanianku muncul begitu saja. Nampaknya, ia tidak kaget dengan reaksiku yang nampaknya masih belum begitu jelas. Aku sendiri masih mencoba mengingat –ingat. Tapi, rasanya memang sel-sel kelabu otakku jadi tumpul tak bisa berpikir. Entah kenapa, kemampuan berpikirku jadi mandeg. Daya ingatku seperti berputar-putar tak menentu, tak bisa mengatur alur logis yang benar. Melompat-lompat dan terputus-putus begitu saja seperti komputer yang perangkat lunaknya error karena kerusakan prosesornya . Kira-kira pernah kenal dimana dengan sosok aneh ini. Tanpa
ba bi bu lagi nongol dan langsung memperkenalkan diri. Kucoba mengingat-ingat sekiranya aku pernah bertemu dengannya. Disuatu tempat, di suatu waktu.
Disela-sela kepikunannku, aku mencoba mengingat-ingat. Apakah teman sekolahku dulu pikirku. Ah, kelihatannya bukan. Tapi tetap tak bisa kuingat, siapakah pemilik sosok ganjil dihadapanku ini. Lagi pula kami masih sering kumpul-kumpul satu sama lain, meskipun sudah hampir 10 tahun angkatan kami habis alias pada lulus dari bangku kuliah. Ah, nampaknya bukan. Pelan-pelan kuhimpun daya ingatku, sedikit demi sedikit aku merasakan otakku melumer.
Tak ada dari temanku yang penampilannya mirip dia ini. Meskipun dari lain jurusan, aku masih ingat satu persatu beberapa temanku semasa kuliah dulu. Frame demi frame aku mencoba memutar kembali wajah-wajah temanku. Si Bambang yang pernah dipenjara dulu karena aksi bakar ban di kampus. Atau si Nirwan yang jadi budayawan. Walaupun aku cuma satu dua kali ketemu dengan dia toh aku masih mengingat wajahnya. Bahkan beberapa teman satu kampus yang cuma kenal muka pun aku masih rada-rada ingat. Lha yang ada didepanku ini benar-benar asing banget. Walaupun samar-samar wajah itu seperti familiar dengan ku.
Wajah sesosok wanita melintas sekilas, Ah tapi bukan dia, bukan dia, dia sudah lama pergi. Aku tepiskan bayangan yang melintas dari masa lalu itu. Entah kapan ketemunya akupun tidak tau. Tapi memang ada satu wajah yang sempat melintas dikepalaku, tapi tidak mungkin dia, soalnya dia memang cewek. Tapi, yah yang berdiri di hadapanku ini memang susah kujelaskan apakah cewek atau cowok. Ahhh, mungkin kawan se SMA dulu pikirku. Mencoba tidak menyerah, untuk mengingat dia yang tiba-tiba berdiri didepanku. Ingatanku pun melayang ke SMA dulu untuk mencari-cari dan mencocokkan siapa gerakan teman SMA yang mirip-mirip dia ini. Lagi-lagi aku tidak menemukan sesorang pun yang mirip dia. Kemudian kujelajahi kenangan SMP dan sekolah dasar.
Blank...
Benar-benar blank nih pikirku, persis komputer yang tidak ada BIOS-nya. Siapa dia ini ya. Aku membatin, sambil menatap sosoknya. Mereka-reka, mencoba mengingat dan menggali dari sel-sel kelabu diotakku. Uhh..., rasanya...nggak ada ingatan sama sekali tentang sosok yang satu ini.
"Ngomong-ngomong sebenarnya kamu ini siapa...", kegugupan dan kebengonganku sudah hampir lenyap. Ganti keingintahuanku muncul tentang dia sendiri.
Sejenak ia menatapku lekat-lekat, kemudian "Ehm..aku sebenarnya pernah kamu kenal duluuuuu sekali". Ia malah menjadi sedikit grogi. Ia mencoba memberi penekanan pada kata dulu. Jadinya terdengar sedikit aneh. Dan terus terang, senyum dikulumnya itu membuat beberapa bulu-bulu halus ditekukku mulai meremang.
"Dddulu kapan yyya?" lanjutku setengah gemetar menuntaskan keingintahuanku.
"Ya dulu, sewaktu kamu baru mau disinari oleh Dia".
Ha....apa maksudnya "disinari". Disinari apaan ya.
(Sepotong ayat tiba-tiba melintas, membuka suatu kenangan asosiatif masa yang telah lama sekali berlalu, Alif Laam Mim Raa,(QS 13:1).
Lagi pula, kok ucapannya sangat takzim sewaktu ia ucapkan "Dia". Bahkan setengah takut-takut.
"Aku diminta segera menjemputmu", katanya sedikit lebih takzim kepadaku.
"Haaa".
Aku melongo antara bingung, heran, takut, dan takjub menjadi satu .
Entah kenapa beberapa hari ini aku agak lemes. Ya bener lemes banget. Padahal aku nggak merasa lelah lho. Santai-santai aja malah. Beberapa kawanku dikantor malah melihatku sedikit lebih tenang.
"Kok tumben lu rada alim sekarang", ujar Andi yang biasanya memulai obrolan dengan ledekan dulu. Cengar-cengir aku menanggapinya dengan malas-malasan.
"Iya Nih. Gue juga nggak tau beberapa hari ini gue kayanya lebih tenang. Santai BGT. Ndak risau apapun. Walaupun proyek bejibun gini...". Kuhisap Djisamsoe-ku lalu kuhembuskan asapnya kemukanya. Dia batuk-batuk.
“Brengsek lu...!”, umpatnya. Aku nyengir jahil.
Mulanya aku sendiri tidak terlalu menyadari kediamanku ini. Dirumah pun aku cenderung berdiam diri atau melakukan aktivitas yang jarang-jarang kulakukan dengan rutin. Beberes buku lah, merapikan lemari lah, menyapu kolong lah. Atau jalan-jalan seputar kampung sambil sesekali menyapa tetangga yang lama tak ketemu. Padahal biasanya aku rada cuek juga. Keluarpun kalau bukan untuk makan, ke kantor, ya kalau ada keperluan lain seperti ke warnet atau ke toserba. Selain itu, belakangan ini kata si Bibi aku kok kaya orang dapet rejeki. Menghamburkan uang dengan murah hatinya.
“Hehehe...tumben nih dapet rejeki nomplok ya”, kata bi Ida cengengesan sewaktu aku memberikan tip 50 ribu dengan tiba-tiba. Padahal aku nggak minta tolong apa-apa kepadanya. Terus sewaktu ada pengamen atau tukang minta-minta, akupun merogoh kocek dengan enteng. Bukan 500 atau 1000 perak seperti biasanya kalau memberi. Namun 10 ribu, 5 ribu. Bi Ida cuma bisa melongo saja melihat kemurah hatianku yang mendadak itu. Ngiri juga kali. 10 ribu buat dia akan berarti juga. Biasanya dia cuma akan berkata, "Lumayan, untuk jajan anak-anak", katanya setiap kali aku beri 10 ribu perak karena mau membelikan makanan untukku atau sekedar mengambilkan cucian jasku di binatu.
Aku sendiri sejauh ini merasa biasa-biasa saja, walaupun orang lain melihatnya sedikit bingung. Yang kupikir-pikir agak aneh malah aku melihat segala benda menjadi tanpa makna, tanpa arti. Koleksi bukuku yang kubiarkan bertumpuk akhir-akhir ini, kok kelihatannya seperti onggokan sampah yang menggunung. Isinya kok kayanya sampah dan salah tulis semua. Demikian juga tumpukan baju dan jasku, aku melihatnya seperti gombal biasa saja. Padahal jangan salah lho, aku ini termasuk orang yang cukup berselera juga kalau membeli buku atau pakaian. Bukan nyombong. Cuma memang aku ini termasuk selektif dalam memilih buku, baju, kaos atau celana panjang. Pokoknya kalau nggak pas benar dengan seleraku, nggak bakal kubeli, walaupun murah banget. Begitu juga kalau pun itu berharga cukup mahal, tapi kalau sudah pas seleraku pasti kubeli. Berapapun harganya. Meskipun aku harus menggesekkan duit plastikku yang tagihannya masih lumayan banyak. Tapi begitulah, namanya juga selera. Apapun akan dilakukan walau nantinya aku mesti sedikit berhemat dengan uang gajiku.
Selain itu, pulsa hp-ku pun belakangan ini cepat habis. Baru dua minggu sebenarnya aku mengisi hp-ku dengan sejuta pulsa.Ya satu juta padahal biasanya cuma 100 ribu. Biasanya sih ini cukup untuk satu setengah bulan. Tapi seminggu ini aku getol banget menelpon kawan-kawan yang nomernya ada di hp. Bahkan yang tak pernah ku telpon pun iseng-iseng kutelpon juga. Ber-haha-hihi-hehe atau cuma sekedar nanya keluarganya.
Apalagi ke Mimi2 di Cirebon, hampir tiap hari pagi, siang, sore atau malam kutelpon menanyakan kabarnya. Mimiku yang di Cirebon cuma terbengong-bengong saja melihat ulahku yang seperti Miss Ring-ring3. SMS apalagi, entah berapa ratus SMS belakangan ini dengan gencar kukirimkan ke semua orang. Ada saja yang kukirim. Kalau bukan SMS lucu, SMS cinta, SMS iseng ya SMS hikmah. O iya, SMS Hikmah, aku jadi ingat kok ini SMS yang paling sering kukirimkan ke teman-teman. Ke mantan cewekku dan teman-teman cewekku pun begitu. Aku tiba-tiba saja rajin ber-SMS dan bertelpon ria menanyakan kabarnya. Mantan cewekku baru saja dua bulan kuputuskan jadi mantan. Kami berpisah dengan baik-baik sih sebenarnya. Soalnya dia ragu dan aku jadi ragu setelah kali ketiga ia masih bimbang sewaktu kuajak menikah
tahun ini. Ahhh..., secara teknis belakangan ini memang aku lagi patah hati walaupun tidak terlalu menyakitkan. “Mungkin memang bukan jodoh”, ujar mamanya sewaktu aku informasikan bahwa kami memutuskan untuk berpisah. Akupun cuma bisa mengiyakan. Pasrah.
Juga baru sebulan yang lalu aku mengunjungi pernikahan orang yang pernah begitu lekat di pikiranku. Mengucapkan selamat dan menyerahkan kado yang ia inginkan. Gelang emas 22 karat berukir "Dariku, Untukmu". Well, semuanya itu seperti mimpi, begitu saja berlalu. Tanpa sesal ataupun kehilangan yang terlalu mendalam. Mungkin, beda sekali kalau kejadian yang terlihat seeprti "menyedihkan" ini terjadi beberapa bulan yang lalu. Barangkali aku akan kelimpungan layaknya lelaki kehilangan cinta. Tapi belakangan ini kok aku nampaknya cuek-cuek saja tuh.
Swear, aku merasa tidak kehilangan apapun.
Khususnya dua minggu terakhir ini.
"Ya Allah", ujarku setengah tak percaya.
"Engkau...engkau...Izrail malaikat?", tanyaku.
Ia mengangguk.
Baru kusadari ia yang berdiri dihadapanku ini memang berkulit sangat bersih. Bahkan bisa kubilang bersinar. Persis seperti gambaran buku-buku tentang orang-orang yang ahli ibadah. Halus, nyaris tanpa otot dan bulu. Ya mirip kulit bayilah.Ya bulu, sama sekali tidak ada bulu dikulitnya. Wajahnya ganteng, bahkan nyaris cantik. Mungkin kenyal-kenyal dikit kalau dipegang-pegang seperti bunyi iklan sabun mandi “Dove”, pikirku. Aku yakin, ia bisa menjadi Casanova nomor wahid kalau ia mau. Atau kalau mau jadi iklan sabun mandi, mungkin cocok untuk sabun mandi apapun. Dalam arti sabun mandi kecantikan atau kegantengan. Soalnya memang sampai saat ini, kalau saja ia tidak bersuara, sulit sekali membedakan antara laki-laki atau wanita. Rambutnya teratur rapi tidak panjang dan tidak terlalu pendek, lurus tergerai. Sedang-sedang saja, tidak seperti orang yang habis bercukur maupun tidak bercukur lama. Malah nampaknya tidak pernah ditumbuhi kumis. Alisnya nyaris bertemu diatas hidungnya yang bangir. Dengan sorot mata yang lembut namun dingin. Bibirnya seolah terus-menerus tersenyum simpul, setengah meledek melihat kebingungan dan sekarang kekagetanku. Bahkan, sebenarnya lebih mirip bibir joker musuh bebuyutannya tokoh komik Batman dan Robin atau salah satu bintang film yang menjadi ikon sabun mandi terkenal. Walah..., senyumnya memang mirip Tamara Blezinky.
Tidak ada yang aneh sebenarnya kalau saja orang tidak berada dalam jarak dekat dengannya. Aku yang cuma beberapa puluh senti darinya bisa melihat keganjilan sosok yang jangkung dan tampan ini. Bau harum yang tak pernah kucium dari bunga atau pewangi manapun dihirup hidungku. Rasanya bau harum, manis, dan menenangkan. Kok ya, si Izrail ini pake minyak wangi darimana pikirku. Bisa membuat aroma terapi seperti itu. Mungkin efek wewangian ini juga yang menenangkan diriku, Entahlah, aku sendiri masing dipengaruhi kebengongan dan kebingungan.
Aku masih membanding-bandingkan sosoknya dengan beberapa public figure yang sering kulihat di bioskop dan televisi. Seingatku tidak ada peragawan ataupun bintang film yang mirip dengan dia ini. Leonardo Di Caprio yang tampan imut-imut pun tidak seperti dia, atau Pau Min Che yang aktor F4 pun jauh banget. Entah suku apa si Izrail ini. Dari melongo, kaget, bingung sekarang ada yang merambat pelan-pelan disekujur tubuhku. Bulu-bulu kudukku berdiri serentak, meremang diantara keringatku yang mulai merembes dan terasa dingin disekujur tubuhku. Aku mendadak disergap rasa takut amat sangat.
Namun itu tak berlangsung lama. Entah darimana datangnya, perasaanku yang campur aduk itu menemukan titik keseimbangannya manakala mencermati sosok yang berdiri dihadapanku ini. Wah, memang efek wewangian ini yang membuatku tenang pikirku. Tubuhku sudah kembali ke posisi rebahan di pembaringan. Tanpa daya. Kuamati lagi sosok Izrail yang ada di hadapanku. Tepatnya bukan dihadapanku. Tapi diujung ranjangku.
Ya, saat itu aku sebenarnya lagi terbaring lemes dipembaringanku. Bukan sakit atau pun meriang. Cuma seperti kurang gairah. Waktu itu sudah menjelang tengah malam. Jadi sebenarnya aku sudah bersiap-siap mau rebahan untuk tidur setelah membolak-balik beberapa lembar surat dari Al Qur'an versi H.B. Jassin yang diberi judul “Bacaan Mulia”4. Namun kedatangannya yang tiba-tiba membuyarkan kantukku. Tak ada yang bisa kukatakan saat itu. Pelan-pelan, karena kulihat ia juga cuma berdiri disitu, aku mulai mencoba menenangkan diri. Menatapnya dengan tolol. Lalu kuberanikan diri membuka dialog lagi setelah beberapa detik kebisuan melanda kami berdua. Aku mulai menyadari datangnya sesuatu.
"Sudah waktunyakah aku", tanyaku pelan.
Sangat pelan sekali. Kupikir ia tak mendengar ucapanku.
"Ya, sudah saatnya menghadap Dia", katanya.
Beberapa jenak aku pun cuma bisa menatapnya lagi. Tanpa komentar dan rasa apapun. Hambar. Lalu entah bagaimana tiba-tiba saja aku nyeletuk tenang. Lagi-lagi, kurasakan ketenanganku karena pengaruh wewangiannya.
" Boleh aku meminta sesuatu sebelum engkau mengambilku...", harapku.
Ia tidak kelihatan bimbang, malah sepertinya sudah tau kalau aku akan sedikit rewel.
Ia cuma mengangguk. Lalu, entah ide darimana, lidahku fasih bertanya.
"Ceritakan tentang kamu...".
Begitu saja.
Ketika Ia Berkehendak melimpahkan rahmat dan kasih sayang-Nya,
maka aku mengada seperti yang lainnya dari jenisku.
Tercipta begitu saja dari al-Haba dan Nur Muhammad,
berkas-berkas debu dan cahaya yang memanifestasikan Kun Fa Yakuun.
Aku adalah satu diantara yang tak terhitung,
yang Dia ciptakan untuk menjaga kelangsungan Kun Fa Yakuun.
Aku adalah bagian dari Kehendak dan Kemahakuasaan-Nya.
Ada milyaran proses yang menyertai Kuasa-Nya.
Sejumlah itulah kami ada.
Baik yang nyata maupun yang kasat mata.
Baik yang terasa maupun tidak terasa.
Baik di dalam maupun di tapal batas semesta.
Masing-masing dari kami mempunyai tugas-tugas yang spesifik.
Aku adalah salah satunya yang bertugas setiap saat,
bersiap sedia bilamana semua makhluk sudah tiba untuk dikembalikan kepadaNya.
Karena aku dari jenis makhluk yang mengikuti kepatuhan-Nya,
maka aku sebenarnya tidak pernah terikat oleh ruang dan waktu,
kendati aku selalu mengikuti arus Sang Waktu,
seperti layaknya mahluk lain yang berada dalam kisaran tersebut.
Jadi pendeknya aku tak pernah mati,
sebelum yang lainnya kumatikan atas kehendak-Nya.
Atau makhluk semacam itulah;
Yang bertasbih tanpa kenal lelah, tak kenal waktu
ataupun pengertian-pengertian relativistik seperti yang dinisbahkan kepada kaummu.
Tugasku ya seperti yang kamu rasakan ini, mengembalikan serpihan-serpihan cahaya kembali ke asalnya, ke awal mula penyaksian-Nya, ketika kalian bersaksi “Ya, Kami bersaksi!”5.
5 QS 7:172 “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka
Aku biasanya cuma sekedar menerima catatan dari Lauh Mahfuzh, siapa-siapa yang harus kujemput saat itu. Hanya saja, karena aku tak pernah mengenal waktu, aku bisa berada dimana saja, kapan saja, tapi bukan Coca Cola lho.
O ya, ngomong-nomong soal debu & cahaya.
Memang aku terbuat dari serpihan-serpihan debu & cahaya yang menjaga proses Kun Fa yakuun.
Sebenarnya, aku dan yang lainnya ada karena Dia mempunyai Kehendak dan Keinginan Yang Tak Terbantahkan;
Dia ada karena Kekekalan diri-Nya,
kemandirian-Nya,
sehingga bagi selain-Nya,
maka Dia adalah Perbendaharaan Tersembunyi.
Aku ada, makhluk lainnya juga ada, semata-mata karena limpahan rahmat dan kasih sayang-Nya, sehingga ketika Dia mendeklarasikan Kekekalan-Nya dan Kemandirian-Nya yang Absolut maka Dia berkata:
“Kuntu kanzan makhfiyyan fa ahbabtu an u'rafa fa khalaqtu
al-khalqa fabi 'arafu-ni
--Aku pada mulanya adalah harta yang tersembunyi,
kemudian Aku ingin dikenal,
Kuciptakanlah makhluk
maka melalui Aku mereka kenal Aku.
Dia ucapkan Basmalah sebagai Rahmat dan Kasih Sayang yang Dia limpahkan, sebagai bagian dari Perbendaharaan-Nya yang tak akan ternilai oleh semua makhluk-Nya, tak akan terbalaskan kecuali oleh rahmat dan hidayah-Nya sendiri.
Maka, dalam pemeliharaan Asma Ar-Rahmaan dan ar-Rahiim, Dia firmankan kehendak-Nya “Jadilah!” dan muncullah cahaya kemegahan-Nya sebagai Nur
menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)"
Muhammad, sebagai citra awal mula-Nya yang sempurna; kemudian aku mengetahui bahwa melaluinya aku akan mengenal-Nya.
Dalam pusaran wawu,
yang berputar melawan detak Sang Waktu,
Nur Muhammad adalah cahaya-Nya yang tidak tercitrakan di alam nyata;
kecuali bagi mereka yang memiliki qolbu Mukminin dan mereka yang menempatkan dirinya sebagai bagian darinya.
Ketika Nur Muhammad menyinari zarah tanpa massa,
yang kelak ditakdirkan menjadi al-Haba,
maka dalam kuatnya pusaran wawu,
Thaasin adala firman-Nya yang mamujudkan kekuasaan-Nya,
terciptalah minyak zaitun yang diberkahi,
yang kilau kemilaunya mampu menerangi, kendati tanpa disentuh api6;
Simetri Kegaiban Mutlak-Nya pecah mandiri
karena kehendak-Nya semata;
Maka dari Kegaiban Mutlak-Nya,
melimpah dengan Rahmat dan Kasih Sayang-Nya,
al-Iradah-Nya goncangkan kegaiban sehingga
gelombang al-Qudrah-Nya maujud mencapai batas-batas
untuk segera munculkan al-Haba sebagai debu awal mula dan
semburat cahaya Nur Muhammad meneranginya,
hingga “Jadilah!” lelehan minyak zaitun itu seperti minyak tak tembus cahaya,
lantas kehendak-Nya terkonfirmasikan sebagai plasma awal mula
yang meledak-ledak dengan sendirinya,
ciptakan gelombang Dentuman Awal Mula (Big-Bang),
yang lontarkan al-Haba sebagai debu-debu materi pemula,
yang luaskan ruang awal-mula dalam ketakberhinggaan Sang Waktu yang mengada
6 QS 24:35 Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
menjadi fondasi alam nyata;
darinya muncul salah satu kaumku yang mampu menjangkau setiap
sudut-sudut semesta; membangun superspace7 awal mula;
Dari Nur Muhammad,
maujud salah satu kaumku mengikat semua maujud al-Haba menjadi semua makhluk,
baik sendiri-sendiri sebagai gelembung-gelembung kuantum,
maupun sintesa dari banyak zarah menjadi citarasa-citarasa8,
inti-inti, atom-atom,
molekul-molekul, sel-sel, jaringan-jaringan,
organ-organ, obyek-obyek,
menjadi galaksi-galaksi,
menjadi bintang-bintang,
menjadi planet-planet, batuan, pegunungan, lautan, tumbuhan, binatang, manusia,
dan menjadi dirimu.
Kaum mu, tercipta dari proses setelah milyaran tahun Kun Fa Yakuun berjalan. Itulah tanah lempung dari seluruh penjuru bumi, yang pernah kuambil dulu. Lantas kemudian Dia tiupkan Ruh dari cahaya-Nya. Dia berfirman ketika itu,
Alif Laam Ra, (Qs 2:1)
Alif Laam Mim Ra (Qs 13:1)
Cahayamu Dia ciptakan dengan penuh rahmat, kasih sayang dan kemuliaan-Nya. Maka “Jadilah!” kaummu yang mengemban semua amanat kesempurnaan citra-Nya; Amanat yang tak sanggup diemban kaumku, amanat yang tak sanggup diemban oleh semua makhluk kecuali kaummu. Adam yang diciptakan sebagai manusia sempurna pertama, adalah moyangmu, yang memahami asmaa-a-kullahaa, yang menjadi khalifah pertama mengemban amanat itu.
Kamu mungkin heran, kalau aku sendiri sebenarnya mahluk yang sangat tak kasat mata. Serpihan al-Haba dan Nur Muhammad adalah bahan bakuku, yang terhalus ciptakan diriku. Disaat tertentu kaumku jadi sangat nyata dan bisa berbentuk apa saja.
Persis seperti cahaya yang memantul atau bayang-bayang yang timbul dari setiap makhluk dibawah cahaya. Karena aku dekat dengan esensi dirimu, maka penampakkanku sebenarnya sangat tergantung pada apapun yang menggerakkan tindakanmu, motivasimu, dan niat-niatmu. Bagi kaum sejenis ku, bentuk tak berarti apa-apa.
Selama milyaran tahun, Dia telah menetapkan masing-masing dari kami dengan urusan-urusan yang spesifik. Dia telah berfirman,
Thaahaa (QS 20:1)
Untuk menyingkapkan segala sesuatu, dari Asma-asma-Nya yang menjadi ketentuannya. Yang kelak engkau kenal sebagai,
Alif, Ba, Jim, Da (ABJAD)l
1,2,3,4 (desimal)
10101010....(biner)
Kami adalah kaum spesialis, dengan perintah-perintah-Nya, yang tak bisa kami bantah. Kami menyertai setiap gerak-gerik segala makhluk selain kaum kami. Karena tugas kami memang begitu. Kami awasi segala perilaku dan tindak tanduk kaummu, kesesatanmu, kemuliaanmu.
Kami bukan memata-matai, tetapi sekedar mencatat atau tugas-tugas khusus lainnya.
Semuanya kami catat sesuai dengan yang kami ketahui. Tapi lebih tepatnya menjadi saksi atas proses kesempurnaanmu, dengan rahmat, anugerah, kasih sayang, hikmah, keadilan dan kebijaksaan-Nya. Dia telah berfirman dengan kelembutan sebelum semuanya ditampilkan dengan Basmalah,
Kaf ha ya Ain Shaad (Qs 19:1)
Kelembutan itu adalah “yatalaththaf” (Qs 18:19) yang memunculkan Rahmat dan Kasih Sayangnya ketika Kun fa Yakuun (Qs 36:82) dicetuskan sebagai perintah penciptaan dengan ketentuan yang pasti terjadi (QS 69:1) .
Tugas yang kuemban entah sampai kapan, aku sendiri tidak pernah diberi tahu. Seperti aku misalnya. Tugasku sangat spesifik untuk mengembalikan ruh segala mahluk kembali kepada-Nya. Setelah itu, ya sudah, petugas yang lain dari jenisku akan meneruskan proses itu. Begitu saja setiap saat dari waktu ke waktu. Monoton memang. Tapi entah kenapa aku senang-senang saja menjalankan titah-Nya itu. Bagiku menjalankan perintah-Nya bukan sekedar tugas atau perintah. Tapi menggairahkan unsur-unsur pembentukanku.
Entah sudah berapa banyak aku mengembalikan ruh setiap mahluk di semesta ini. Dari kaum apa saja, dari ras apa saja. Yang baik-baik ataupun yang durhaka. Yang sedang sekarat ataupun yang sehat-sehat saja. Pokoknya, yang berdiam disetiap sudut semesta, yang mengikuti proses sejak Kun Fa yakuun difirmankan.
Aku sendiri, tentu saja menjadi bagian dari proses itu. Tapi karena kuasa-Nya, tugas kami memang cuma menjaga agar proses itu berjalan seperti yang Ia Kehendaki. Kehendak-Nya adalah Kemutlakkan-Nya. Maka kaum kami seringkali merupakan bagian dari apa yang disebut sunnatullah. Aturan dan ketetapan-ketetapan yang menyertai kun fa yakuun, baik yang pasti atau tidak pasti.
Kenapa Aku?
Kenapa aku yang ditugasi begitu?
Ini ada sejarahnya.
Kan tadi sudah kukatakan, bahwa aku dulu pernah mengambil debu dari bumi. Ketika Dia hendak menciptakan Adam, moyangmu itu, Dia mengutus satu malaikat yang sebenarnya tugasnya memikul 'Arsy untuk membawa debu dari bumi.
Ketika dia ngotot ingin mengambil debu dari bumi, Bumi berkata "Aku memintamu demi Zat Yang telah mengutusnya agar engkau tidak mengambil apa pun dariku
sekarang yang neraka memiliki bagian darinya". Malaikat pemikul Arsy terkejut, maka dia pun batal mengambil debu bumi.
Ketika ia melaporkan kepada-Nya, Dia berfirman "Apa yang mencegahmu untuk membawa apa yang telah aku perintahkan kepadamu?".
Dia menjawab, "Bumi telah meminta kepadaku demi keagungan-Mu, sehingga aku merasa berat untuk menolak sesuatu yang meminta demi Keagungan-Mu". Maka Allah kemudian mengutus malaikat lainnya kepada bumi, tetapi bumi mengatakan alasan yang persis sama seperti sebelumnya.
Demikian sampai entah berapa milyar tahun dalam ukuranmu sampai Allah mengutus semuanya.
Akhirnya Allah mengutusku untuk mengambil debu. Bumi pun mengatakan seperti sebelumnya. Tapi, sudah menjadi kehendak-Nya kalau segala sesuatu yang berhubungan dengan debu dan tanah liat akan ditugaskan kepadaku.
Aku berkata kepada bumi,"Sesungguhnya Dia yang mengutusku lebih berhak untuk ditaati daripada kamu".
Bumipun bungkam seribu bahasa dan pasrah atas kehendak-Nya. Akupun mengambil dari permukaan bumi seluruh tanah yang baik dan buruk, semua unsur yang ada di Bumi yang mengandung Carbon, Hidrogen dan Oksigen, dan membawanya kepada-Nya. Lalu Dia mengucurkan air surga kekumpulan debu bumi itu sehingga menjadi lumpur hitam yang diberi bentuk yaitu minthiin (Qs 23:12), dan darinya Ia menciptakan Adam." 9 Itulah sebabnya kenapa aku ditugaskan untuk mengambil ruh manusia dan mengembalikannya ke Yang Berhak Menentukan Nasib.
Aku tak mengenal belas kasihan. Dulu, aku pernah berbelas kasih kepada manusia yang hendak kucabut nyawanya. Namun, kehendak Allah mengandung rahasia-rahasia yang tersembunyi, sehingga akupun malu melakukan penentangan
Kehendak-Nya. Suatu hari, aku diperintahkan mencabut nyawa seorang perempuan di padang pasir yang panas. Ketika kudatangi, dia baru saja melahirkan anak laki-laki. Aku menaruh belas kasihan kepada perempuan itu karena keterpencilannya, dan juga kasihan terhadap anak laki-laki perempuan itu karena masih bayi namun tidak terawat di tengah padang pasir yang buas. Namun fatal akibatnya, karena anak kecil dimana
aku menaruh belas kasih itu ternyata adalah penguasa lalim dan tiran yang tak ada duanya di bumi. Dari situ, aku memahami bahwa “Mahasuci Dia yang memperlihatkan kebaikan kepada yang dikehendaki-Nya!”. Ketika aku berbelas kasihan, maka aku tidak mencabut nyawa bayi itu, tapi aku kemudian menyesalinya karena apa yang kuanggap kebaikan ternyata benih kejahatan yang kubiarkan tumbuh karena aku salah menafsirkan kehendak Tuhan.
Izrail terdiam sejenak. Agaknya ia masih mengenang apa yang dilakukannya dulu.
Kemudian ia melanjutkan.
Jangan tanya siapakah ibu bapakku, seperti layaknya makhluk lainnya yang beribu bapak. Katakan saja, aku manifestasi Kehendak Yang Kuasa. Manifestasi al-Qudrah setelah Ia memfirmankan “kun!”. Seperti saya bilang tadi, kaum sejenisku tercipta begitu saja karena Ia Berkehendak. Kalau kamu bertanya berapakah banyak tugas yang telah kulakukan? Aku sendiri tidak tahu. Benar-benar tidak tahu. Karena pengetahuan tentang itu tidak kami miliki.
Ada yang lain dari jenisku yang melakukan hitung menghitung. Itu bukan tugasku. Aku jadinya memang mahluk yang sangat spesifik. Sebenarnya kalau soal spesialisasi begini, kami tidak ada apa-apanya dibanding kalian manusia. Soalnya, hanya kaum kalianlah yang diberi kehendak bebas untuk berpikir, memilah dan memilih dengan bertanggung jawab. Kaum kami tak sanggup memikulnya, karena kami telah melihat dampak-dampaknya yang mengerikan.
Dia pun menghendaki kami bertasbih dan sujud dihadapan Nenek Moyangmu. Pernah kami protes begini-begitu sewaktu kami diberitahu bahwa Dia Berkehendak menciptakan mahluk manusia. Namun, Dia Maha Mengetahui atas apapun yang terjadi sejak Awal dan Akhir.
Kami sebenarnya terikat Sang Waktu seperti kaummu. Sang Waktu adalah kaum sejenisku. Ialah yang memungkinkan perubahan. Kami sebenarnya pun tau kalau manusia akan selalu begini begitu di semesta yang Dia ciptakan dengan rahmat dan kasih Sayang-Nya yang tak terbalaskan. Yang tidak kami miliki ada pada makhluk yang satu ini. Keinginan, akal, dan atribut lain yang kami tau bakal jadi masalah nanti.
Kami memang sedikit iri, sampai Dia menunjukkan kuasaNya atas semua makhluk manusia. Kalian sebenarnya lebih tahu dari kami atas segala mahluk yang pernah Ia ciptakan.
Kami pun lalu sujud dihadapan nenek moyangmu, Adam. Cuma satu makhluk yang tak mau sujud. Ialah Iblis yang kemudian akan selalu mendampingi kalian dalam proses Kun Fa yakuun. Maka, iapun terkutuk. Allah berfirman :
“Keluarlah engkau dari padanya, karena sesungguhnya engkau terkutuk, dan sesungguhnya laknat atasmu sampai hari kemudian.”10
Begitulah, Iblispun menjadi musuh abadimu dan musuhmu yang sejati. Ia menyusup di kumpulan-kumpulan debu al-Haba yang sekarang maujud menjadi semua bentuk, karena keinginan, karena hasrat, karena syahwat, karena ketamakan, kerakusan, kesombongan, dan penyakit-penyakit Sang Iblis lainnya. Aku tak kuasa mengusirnya dari sekitarmu, soalnya memang bukan tugasku. Kan tadi sudah kubilang kaumku adalah kaum spesialis. Begitulah aku.
Izrail mengakhiri kisahnya. Aku terdiam. Kemudian, karena tugas-tugasnya itu aku bertanya tentang cara dia mengakhiri kehidupan seseorang, cara dia mengambil ruh makhluk bernyawa.
“Proses pengambilan ruh? “, dia mengangkat alisnya.
Sebenarnya bagaimana caraku mengambil ruhmu itu tergantung dari banyak hal. Dan semuanya ada didiri kamu sendiri. Ada yang mungkin menurutmu kelihatan mudah, ada juga yang sulit. Ada yang berkesan ada juga yang tidak menyimpan kesan
apa-apa. Aku sendiri tidak tau kenapa bisa tidak berkesan sama sekali. Ia maunya begitu kok.
Cara mengambilnya pun macam-macam. Kan sudah kubilang kalau bahan dasarku adalah cahaya. Penampakanku sebenarnya tergantung dari kamu sendiri. Ada banyak hal yang mempengaruhi penampakan ku. Tapi, yang utama memang segala gerak gerik dan tingkah laku yang pernah kamu lakukan di semesta ini, akan mempengaruhi wujud penampakkanku. Demikian juga cara mengambil ruh kehidupan yang bersemayam di wujud fisikmu, tergantung pada kebandelan dan kepatuhanmu. Memang kaum mu ini termasuk makhluk yang diistimewakan-Nya. Sangat disayang, sangat sempurna dibanding makhluk lainnya. Hanya, seringkali kaum kamu itu ngeyel.
Kalau tidak, malah bisa dibilang pin-pinbo alias pintar pintar bodoh.
Dan yang paling menjengkelkan, kalau kaum kamu ini sudah dikuasai oleh penyakitnya Sang Iblis yang terusir. Walah, susahnya minta ampun. Padahal pengambilan ini sebenarnya proses yang biasa-biasa saja. Kamu sendiri kan tahu tiap saat ada saja yang kuambil. Dengan baik-baik atau dengan paksa, dengan sendiri-sendiri atau berkelompok, dengan senang atau dengan ketakutan.
Memang sih aku sering datang tiba-tiba. Maklum namanya cuma makhluk yang cuma menjalankan perintah. Aku sendiri tidak tahu kapan harus segera menemuimu. Itu rahasia Dia Yang Penuh Rahasia.
Kaum kamipun, yang bisa dibilang 100 % patuh dan selalu beribadah kepada-Nya, tak tau apa-apa kalau menyangkut urusan takdir makhluk. Sungguh, tugas kaum kami cuma memenuhi perintah Dia. Memang sih seringkali ada delay sewaktu kami menjalankan tugas. Biasanya kalau ada delay, kehadiran kami akan didahului aura yang mempengaruhi kelakukan mahluk yang akan kami ambil. Mungkin kamu sendiri tidak menyadari hal itu.
Tapi begitulah. Kaum kamu sebenarnya ada di dalam genggaman-Nya dengan ketat. Ada yang digenggam erat-erat. Ada yang direnggangkan, sampai kesombongan menyergapnya. Dan mengira, dirinya sangat hebat dan berkuasa, sampai-sampai diapun menafikan peran Tuhannya. Padahal, semua malapetaka, semua kehinaan,
semua hal yang buruk-buruk dapat terhindar dari dia semata-mata karena Dia sangat menyayanginya. Akhirnya, kesombongan itu menjerumuskan dirinya dalam banyak kesesatan dan kebodohan. Benar, sombong, bodoh dan sesat itu sebenarnya hampir beriringan, karena itulah karakter Azazil, sang Iblis yang mengira dirinya pantas disujudi karena ilusi kesuciannya. Banyak kaummu yang terkena ilusi palsu itu. Maka berhati-hatilah, sebenarnya semua manusia mempunyai peluang untuk tergelincir ke dalam perangkap tipu daya Sang Durjana yang dikutuk oleh-Nya.
Kami yang mempunyai tugas mengambil sebenarnya cuma satu. Berhubung kami tidak terikat dalam proses yang kalian jalani, tidak oleh ruang maupun waktu, sepintas kami kelihatan ada banyak. Memang begitulah kejadiannya. Dalam satu waktu ukuran kalian, kami bisa serentak mengambil banyak ruh dengan berbagai cara, dimana saja.
Sudah tak terbilang, berapa milyar ruh yang kuputuskan
dari semua harapan dan impiannya,
dari semua angan-angan dan cita-citanya,
dari semua keasyikannya,
dari semua kesenangannya,
hartanya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya,
rumah-rumahnya,
mobil-mobilnya,
perusahaan-perusahaannya,
jabatan-jabatannya,
pacar-pacar gelapnya, dan lain-lainnya.
Tapi, itu tak cukup untuk mengingatkan manusia.
Hingga iapun seperti keledai dipenggilingan masa,
terperosok di lubang yang sama dari masa ke masa.
Kelalaian manusia dari mengingat kedatanganku nampaknya sudah menjadi penyakit zaman. Dari waktu ke waktu melakukan tugasku, kelalaian mereka terhadap kedatanganku menimbulkan rasa sombong dan berpanjang angan-angan. Entah sudah berapa banyak aku menghanguskan “business plan” mereka. Kaummu semestinya mengingat syair yang dibuat oleh seorang arif ini,
Kita lalai dari mati di pagi dan sore hari
Seperti penghuni dunia yang lalai
Dari kematian di sore dan pagi hari
Seseorang berjalan di suatu hari seperti tubuh tanpa ruh
Didepan mataku, setiap yang hidup adalah isyarat kematian
Merintihlah jiwamu wahai orang miskin, bila engkau merintih
Sungguh, kau akan mati meski kau berumur seperti Nuh.[17]
Aku rasanya sudah kebal dengan semua keadaan ruh yang kutarik dalam keadaan apapun. Pembantu-pembantuku sejumlah mahluk berruh yang ada di semesta ini. Jadi, setiap saat sebenarnya aku mengintip semua makhluk, mengincar semua makhluk. Begitu sinyal terakhir diisyaratkan Allah SWT maka akupun akan beraksi memadamkan semua kepongahan dan harapan manusia.
Ketahuilah, sesungguhnya ruh dalam keadaan telanjang dalam tubuh seorang hamba, ia akan diambil apabila dikehendaki dan dilepaskan apabila dikehendaki oleh-Nya. Maka [17],
Bersiaplah untuk mati wahai jiwa dan berusahalah untuk selamat,
orang bijak yang siap meyakini bahwa
tak ada keabadian bagi kehidupan dan tak ada tempat pelarian dari kematian.
Engkau hanya peminjam apa yang mesti dikembalikan.
Kita bukanlah pemilik kehidupan ini, juga bukan pemilik tempat hidup ini.
Kita tak berharta, tak berkeluarga, tidak juga anak-anak kita miliki.
Semuanya orang-orang telanjang
Jiwa kita menuju masa yang dekat,
Yang Meminjamkan akan mengambil yang dipinjamkan.
Sebenarnya aku juga ditugaskan untuk mematikan malaikat, setan, iblis, pohon, binatang, dan makhluk bernyawa lainnya. Maka ia yang bernyawa, pastilah akan gemetar melihat kedatanganku.
Sebenarnya, ada banyak cara aku menarik ruh dari tubuh atau jasad mahluk bernyawa. Hal itu sebenarnya tergantung dari segala hal yang membentuk kamu, amal-amal kamu, dan kelakukan kamu. Mau tau bagaimana aku menarik ruh dari tubuh manusia? Aku menariknya langsung dari jasad yang hidup melalui ubun-ubun kepala.
Kamu seringkan menyedot minuman dari dalam botol? Persis! Seperti itulah aku menarik ruh manusia dari tubuhnya. Saat itu kulakukan, seluruh sel-sel genetis tubuhmu mulai dari ujung kaki, sedikit demi sedikit akan mati. Maka, jemari kakilah yang akan mengalami kematian pertama kali, baru kemudian bergerak ke telapak kaki, tungkai, kemudian ke betis, lalu paha dan seterusnya. Pada keadaan ruh kutarik, ujung-ujung kaki akan mengejang, kaku. Dengan cara yang sama setiap bagian tubuh pelan-pelan akan kesakitan amat sangat dan kemudian mati rasa, bertanda ruh sudah melalui bagian itu. Maka, berpisahnya tubuh dengan ruh akan terjadi setelah ruh dan tubuh merasakan sakit yang sangat dahsyat.
Bagaimana rasanya. Susah kugambarkan, karena aku cuma melihat saja, kan aku yang mencabut nyawa. Aku cuma melihat saja bagaimana manusia yang kucabut nyawanya berkelojotan dengan berbagai ekspresi rasa sakit yang dia rasakan saat itu. Jadi aku sendiri ndak tahu bagaimana rasanya ketika ruh kutarik dari jasad manusia.
Tapi, baiklah, dari pengalamanku mungkin gambarannya bisa kusimpulkan demikian : Rasanya seperti disayat-sayat karena ruh kehidupanmu11, yang menempel disetiap atom tubuhmu, sel-sel genetismu yang menjadi jaringan syaraf, otot, pembuluh darah, persendian, rambut, kulit kepala, kulit yang membungkus tubuhmu, dan semua bagian tubuhmu kutarik-tarik, kubetot-betot dengan keras. Bayangkan saja jika ruhmu enggan meninggalkan dunia, maka semakin enggan, semakin sakitlah rasanya. Kalau ndak percaya, coba saja kamu cubit kulitmu keras-keras. Sakit kan!
Kamu pernah kan mengalami luka disayat. Perih! Begitulah teriakan sebagian dari mereka yang kucabut ruhnya. Tapi luka tersayat yang sering dialami manusia tidak seberapa dibandingkan dengan tercabutnya ruh dari jasadmu dengan paksa. Kalau
sayatan luka kan cuma terjadi di sekitar luka saja, itupun sakitnya sudah luar biasa dan terasa di bagian tubuh lainnya. Bisa dibayangkan bagaimana kalau seluruh sel tubuh terasa disayat-sayat. Jangan heran kalau manusia akan berkeringat, menjerit, melolong-lolong, meraung-raung, dan menggeliat-geliat berkelojotan ketika ruh ditarik keluar dari kepompong tubuhnya. Manusia akan terkuras tenaganya, akibat kelelahannya, ia bahkan tak lagi dapat bernafas, ia akan merasakan seperti tertimpa beban berat kesombongan, kedengkian, ketamakan, kemaksiatan, dan kejahilan lainnya. Namun demikian, apabila tubuh kuat, suara yang dikeluarkan ketika bernafas akan berbeda-beda. Ada yang dengan susah payah, ada yang mudah. Sesuai dengan amal yang pernah dilakukan tubuhnya.
Rasa sakit yang tak terkira muncul karena ruh yang lembut menjadi jinak dan menyatu setelah berhubungan dengan tubuh. Keduanya kemudian bercampur dan saling merasuki satu sama lain, sehingga keduanya seperti menjadi sesuatu yang satu. Ruh dan jasad menjadi melekat. Keduanya tak akan terpisahkan, kecuali dengan suatu upaya penarikan yang kuat, sehingga manusia merasakannya sebagai suatu kepayahan yang amat sangat dan sakit yang luar biasa.
Ketahuilah, kesukaanmu akan syahwat, nafsu dan materi serta keduniawian cenderung akan semakin melekatkan ruhmu dalam jasadmu. Kenapa demikian, ini karena atom-atom tubuhmu semakin memiliki energi yang tinggi, sehingga ikatan-ikatan atomis dalam tubuhmu akan semakin kuat. Dikatakan bahwa tubuhmu menyimpan energi dalam yang berlebihan, sehingga seringkali energi berlebihan ini melonjak-lonjak dengan liar dan menumbuhkan berbagai syahwat dan nafsu. Kromosom-kromosommu akan terganggu, kode-kodenya yang asli akan jungkir balik, bahkan akibat langsungnya akan muncul menjadi berbagai penyakit yang payah seperti kanker, jantung, atau pikun. Itulah yang akan mencelakakanmu, akan menyiksamu. Jadi semakin lekat ruh dalam jasad maka semakin sakitlah engkau rasakan ketika aku menarik-nariknya karena keengganan ruhmu meninggalkan jasadmu. Setelah rasa sakit tak terkira dan kekuatan jasad menurun, suara akan berangsur hilang, dan setiap bagian tubuh perlahan-lahan akan menjadi kaku.
Sakitnya penarikan ruh memang menggentarkan siapapun juga. Jangankan manusia biasa, para nabi dan rasul pun menggigil ketakutan manakala aku datang. Karena
alasan itulah, seorang nabi yang paling dimuliakan diantara nabi-nabi dan rasul-rasul, Muhammad SAW, memohon kepada Allah SWT agar membebaskan beliau dari penderitaan dan kepedihan kematian. Beliaupun sudah mengingatkan, “Perbanyaklah mengingat sesuatu yang menghancurkan kelezatan, yakni kematian.”12 Banyak orang arif dan ulama yang membuat syair tentang hilangnya kelezatan ketika aku datang. Kata mereka,
Ingatlah kematian yang menghancurkan kelezatan
Dan bersiaplah untuk kematian yang akan datang
Wahai yang hatinya lalai dari mengingat kematian
Ingatlah tempatmu sebelum tiba saat perjumpaan
Bertobatlah kepada Allah dari kelalaian dan segala yang lezat
Sesungguhnya kematian sangatlah dekat
Ingatlah musibah hari-hari dan saat-saat yang terlewat
Jangan merasa tenang dengan dunia dan perhiasannya yang melekat [17].
Dalam Al Qur’an, Allah menggambarkan kesakitan saat penarikan ruh dalam firman dengan gambaran berikut “Dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan) (QS 75:29)”, yang banyak ditafsirkan oleh ulama sebagai berhimpunnya rasa sakit sakratul maut dengan kerugian karena melepaskan ridha Allah. Allah menyebut keadaan tersebut dengan “sakrah”, karena sakitnya kematian disertai dengan keburukan yang dihimpun akan membuat semaput pemiliknya, sehingga biasanya kesadarannya hilang. Allah berfirman, “Dan datanglah sakratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya (QS 50:19)”[17].
Bagaimana gambaran yang jelas mengenai rasa sakit dan penderitaan kematian memang bermacam-macam. Sehingga terdapat gambaran yang tidak persis sama, namun intinya serupa yaitu suatu rasa sakit yang tak terkirakan. Kamu mungkin dapat menyimak dari beberapa kisah tentang kematian berikut ini. Hasan bin Ali pernah mendengar sabda Nabimu yang mulia yang mengatakan padanya bahwa “pedihnya kematian setara dengan luka-luka tiga ratus tusukan pedang”. Ali Bin Abu Thalib kwj
12 HR Tirmidzi no 2307, dikutip dari ref 17
bahkan menyebutkan setara dengan seribu pukulan pedang. Bisa kamu bayangkan bukan bagaimana sakitnya. Jangankan dipukul pedang, lha luka tergores silet saja bisa membuat manusia mengaduh-aduh nggak karuan, apalagi dipukul-pukul seribu kali dengan pedang. Gambaran lain menyebutkan, kalau pedihnya kematian itu lebih tajam dari gigi gergaji, lebih tajam dari mata gunting, lebih menyakitkan daripada dipanggang diatas kawah panas gunung berapi. Makanya ada pepatah yang mengatakan bahwa “maut lebih menyakitkan daripada tusukan pedang, gergaji, atau sayatan gunting”.
Para nabi dan rasulpun mempunyai gambaran yang menakutkan betapa pedihnya ketika aku datang. Dikisahkan ketika Nabi Musa meninggal dunia dan ditanya Allah bagaimana rasa sakitnya kematian yang ia rasakan, ia menjawab bahwa kejadian itu seperti seekor burung yang dipanggang hidup-hidup, tapi nyawanya tidak juga lepas
dan ia tidak menemukan cara untuk melepaskan diri. Musa juga menggambarkan peristiwa itu seperti kambing hidup yang sedang dikuliti.
Bukankah Aisyah r.a pernah juga mengatakan bahwa ketika Nabi SAW akan meninggalkan dunia fana ini, ada secangkir air penuh tergeletak didekat beliau. Beliau mencelupkan tangannya kedalam cangkir berulang-ulang dan membasahi dan membasuh wajahnya. Beliau berdoa kepada Allah supaya dibebaskan dari sakratul maut.
Demikian juga, khalifah kedua Umar bin Khatab r.a. meminta Ka'ab menggambarkan keadaan ketika seseorang dalam sakratul maut . Dia menjawab "Pencabutan nyawa dari badan dapat dibandingkan dengan pencabutan duri-duri dari tubuh manusia sedemikian rupa sehingga seluruh tubuh merasakan cengkeraman rasa sakit yang amat sangat."
Itulah sekelumit gambaran bagaimana kami melakukan tugas pencabutan ruh dari tubuh manusia dan rasa sakit yang dirasakannya. Perlu kamu ketahui juga, kalau pengaruh pencabutan ruh, atau kematian itu tidak cuma sekedar ketika ruh dicabut dari jasadmu. Namun pengaruhnya akan terus-menerus dirasakan sampai keliang lahat.
Akan kuceritakan sebuah riwayat lama yang menginformasikan hal ini. Pernah sekelompok orang datang kekuburan dan berdoa kepada Allah untuk menghidupkan seseorang yang telah meninggal. Maksud mereka adalah ingin mengetahui bagaimana penderitaan yang dialami si mati pada saat aku beraksi. Atas idzin Allah , si mati yang kebetulan seorang yang bertakwa pun hidup kembali. Ia berkata, "Aku meninggal 50 tahun yang lalu, namun hingga kini rasa pedihnya belum hilang dari hatiku!”. Bayangkan! Rasa sakit yang dialami ruh si mati yang nampaknya tidak hilang begitu saja, namun terasakan hingga puluhan tahun.
Aura kedatanganku yang menguat biasanya kalian sebut sebagai Sakratul Maut. Dalam keadaan sakratul maut, setiap saat sekarat demi sekarat akan manusia lalui, penderitaan demi penderitaan akan dirasakan, sakit demi sakit akan mengingatkan manusia pada semua perbuatannya, dan hal itu terus akan terjadi sampai ruhnya mencapai kerongkongannya.
Pada titik kritis ini, berhentilah perhatian manusia kepada dunia dan semua yang ada di dalamnya. Berhentilah semua harapan-harapan dan angan-angan mereka. Saat itu, simetri kegaiban pun terkuak dihadapannya, pemandangan alam akhirat pun muncul begitu saja. Pintu tobatpun ditutup dan manusia pun diliputi oleh kesedihan dan penyesalan. Ia mungkin akan teringat sabda Rasulullah SAW “Tobat seorang manusia tetap diterima selama dia belum sampai pada kondisi sakratul maut (yaitu sampainya nyawa di kerongkongan) 13”. Maka semakin menyesallah ia. Tapi semua itu terlambat dan ketika aku menampakkan diriku semakin nyata, maka saat itu jangan pernah bertanya tentang pahit getirnya kematian ketika sakratul maut tiba. Pendek kata karena kengerian tentang kedatanganku maka rasulullah SAW pernah bersabda tentang aku, dengan sabdanya beliau sebenarnya hanya ingin mengingatkan manusia, katanya:
“Kalau kalian melihat ajal dan perjalanannya,
pastilah kalian akan membenci angan-angan dan tipu dayanya.
Tak seorangpun penghuni rumah kecuali ada Malaikat Maut
yang memperhatikan mereka dua kali sehari.
Orang yang didapati ajalnya telah habis, maka dia cabut nyawanya.
Bila keluarganya menangis sedih, dia bertanya ‘Mengapa kalian menangis?’
Dan mengapa kalian bersedih?
Demi Allah, Aku tidak mengurangi umur kalian,
tidak pula mengekang rezeki kalian,
dan akupun tidak berdosa.
Sesungguhnya aku benar-benar akan kembali
kepada kalian (yang masih hidup saat itu),
kemudian kembali,
dan kemudian kembali,
sehingga aku tidak menyisakan seorangpun dari kalian.’ ”14
Demikianlah, aku akan datang tanpa diundang dan pergi tanpa diantar. Ia yang saatnya sudah ditentukan, maka ia akan menghadapi aku sesuai dengan keadaannya, rasa sakitnya, dan kengeriannya.
Banyak ungkapan yang menggambarkan bagaimana rasa sakit ketika aku mencabut nyawa manusia. Namun, percayalah itu semua tidaklah lengkap benar karena keluarbiasaan sakratul maut tidak dapat diketahui dengan pasti, kecuali oleh orang yang merasakannya sendiri. Tahukah kamu, bahwa pencabutan nyawa termasuk kondisi spiritual yang cuma bisa dirasakan oleh orang yang kucabut nyawanya. Jadi, orang lain mungkin menggambarkan dengan ungkapan yang berbeda-beda. Tapi, begitulah kematian, ia hanya bisa dirasakan oleh yang meregang nyawanya sendirian.
Karena kematian termasuk keadaan ruhani, maka menjadi jelas bahwa keadaan ruhanimu sangat mempengaruhi bagaimana rasanya mati. Orang lain cuma bisa mengira-ngira saja dengan menganalogikannya dengan rasa sakit yang benar-benar pernah dialaminya, atau dengan cara mengamati orang lain yang sedang meregang nyawa. Lewat analogi pula akan diketahui bahwa setiap anggota badan yang tidak bernyawa, tidak bisa lagi merasakan rasa sakit.
Akan kuperjelas lagi bagaimana rasa sakitnya kematian. Gambarkan saja satu bagian dirimu terbakar api, maka rasa sakit yang dialami akan menjalar keseluruh tubuh dan jiwa. Dan sesuai dengan kadar yang menjalar ke jiwa, maka sebesar itu pula kadar yang dialami oleh seseorang. Akan tetapi, rasa sakit yang dirasakan selama sakratul maut menghunjam jiwa dan menyebar keseluruh tubuh. Sehingga bagi yang sedang sekarat, maka ia merasakan dirinya ditarik-tarik, dibetot, dan dicerabut dari setiap sel, urat nadi, syaraf, persendian, dari setiap akar rambut yang tumbuh dibadannya dan kulit kepala, hingga kaki. Jadi, jangan Anda tanyakan lagi bagaimana derita dan rasa sakit yang tengah dialami oleh mereka yang dijemput olehku!
Maka, perhatikanlah sekiranya kamu mengalami suatu peristiwa yang berhubungan dengan kematian, apakah itu kematian salah satu keluargamu, tetanggamu, atau teman-temanmu. Perhatikan bagaimanakah keadaannya! Gunakan pengalamanmu dalam mengiringi kematian sebagai pelajaran dan peringatan bagimu, bahwa tak ada yang abadi, semua pasti akan mati!
“Pengalamanku? Wah kan sudah kukatakan banyakkk sekali. Aku tak bisa menghitungnya.”, Izrail masih tersenyum ditepi ranjangku ketika kutanyakan pengalamannya. Kemudian dia melanjutkan.
“Memang banyak peristiwa yang bisa kuingat sewaktu aku menjalankan tugasku. Dari banyak ragam manusia. Mulai dari yang gila, sehat, sakit, yang soleh, yang bejat dan durjana, yang menjadi wali, nabi, dan rasul. Pokoknya sebanyak jenis manusia yang pernah ada di muka bumi ini, pernah aku alami. Nah apa pengalaman yang bagaimana yang ingin kau ketahui?” Dia balik bertanya kepadaku.
Sejenak aku merenung, menghimpun daftar pengalaman Izrail yang ingin kuketahui.
Seringkali, saat menuju kantor atau sekedar jalan-jalan, aku melihat banyak sekali orang-orang yang gila baik secara fisik dan psikologis, ataupun yang nampak sebagai orang gila beneran maupun secara tersamar, aku melihat aspek-aspek tekanan psikologis yang menuju kegilaan pada beberapa orang yang kutemui. Psst.., asal tahu saja, salah satu keahlianku memang membaca karakter seseorang baik dari perilaku, gaya bertutur, wajah, maupun berbagai aspek perilaku lainnya. Jadi, analisaku pada orang-orang yang sering kutemui seringkali tidak meleset jauh dari kesimpulan umum yang kuambil, kendati baru sekali bertemu.
Salah satu yang menarik adalah kegilaan ini. Khususnya orang yang gila secara total : psikis dan fisiologis, sehingga ia sama sekali tidak sadar akan kemanusiaannya, kemudian menggelandang di jalanan dalam keadaan yang menyedihkan; maupun kegilaan jenis lain seperti gila wanita, gila harta, gila kehormatan, gila jabatan, gila uang, gila kekuasaan, gila karena syarafnya error, gila karena Allah, dan kegilaan lainnya.
Gila dunia sudah jelas menjadi penyakit kronis dari sebagian orang yang gelagapan diterjang derasnya gelombang peradaban. Mereka belum siap menghadapi ganasnya dan kuatnya peradaban yang datang menggelombang berupa kemajuan, kekayaan, kebudayaan, pemikiran, dan lain sebagainya sehingga akal dan pikirannya menjadi
gelap gulita. Akhirnya dalam kegelapan akal pikirannya itu, maka kegilaan duniawilah yang muncul karena akal pikirannya tidak sanggup merespon gelombang yang datang dengan wajar.
Gila karena Allah adalah yang nampak pada orang-orang tertentu sebagai kegilaan spiritual yaitu orang yang gila karena cintanya kepada Allah SWT. Gila yang demikian memang sedikit tidak masuk akal bagi orang-orang yang ada di setiap zaman, kendati dari mulutnya meluncur kata-kata bijak penuh hikmah. Nah, ini saja kali yang akan kutanyakan pertama kali. Akupun kemudian bertanya, ”Bagaimana sebenarnya kamu mencabut nyawa orang yang gila beneran dan gila karena Allah?”
Izrail sekilas mengernyitkan alisnya yang rapih kemudian bertutur dengan cueknya. Orang gila sebenarnya terbebas dari beban syariat Allah. Kalau kegilaannya itu karena kerusakan fisik seperti syaraf yang rusak, maka syariatnya hanya sebatas dia waras saja. Sedangkan orang yang gila karena dunia maka dia tetap menanggung semua amal perbuatan karena kegilaan yang condong kepada keduniawian itu. Maka hati-hatilah, karena kegilaan yang disebabkan hasrat keduniawian yang tak terkendalikan sangat membahayakan. Inilah kegilaan si Iblis yang akhirnya terjebak dalam kebutaan hati, ia menjadi takabur, sombong, dan membangun ilusi dengan kesucian diri, merasa paling patut untuk dihormati, sehingga iapun akhirnya menentang perintah Allah untuk menghormati nenek moyangmu. Bagi dia yang gila karena mencintai Allah, maka Allah akan menggenggam kehidupannya. Ia kekal dalam genggaman cinta-Nya. Maka iapun tidak pernah menoleh kembali kepada dunia.
Kegilaan sebenarnya memang identik dengan mereka yang tertutup akal pikiran dan kesehatan kejiwaannya. Gila secara fisis dan psikologis dapat disebabkan berbagai hal. Seperti kamu sebutkan tadi, ada gila harta, gila wanita, gila hormat, penyakit syaraf, dan yang lainnya. Disini, kamu harus melihat bagaimana Allah sebenarnya menciptakan semua makhluk dengan awal mula yang sempurna. Ketika makhluk ditempatkan dalam ruang waktu, maka makhluk sebenarnya diharuskan untuk selaras dengan semua Kehendak Allah SWT, baik yang berupa perintah-perintah, larangan-larangan, hukum-hukum alam, maupun berbagai petunjuk yang diungkapkan oleh para Nabi dan Rasul.
Tapi, gudang alpa adalah manusia, kendati semua itu sudah terhampar dalam dirinya dan di alam semesta, tetap saja manusia tergelincir. Ketika manusia mengabaikan semua petunjuk-petunjuk itu, maka berbagai ketentuan Allah pun terabaikan. Pengabaian inilah yang menyebabkan potensi manusia berubah tidak sesuai dengan aslinya. Percayalah ini semua proses dalam ruang-waktu, semua makhluk bila tidak selaras dengan Kehendak Allah akan menerima konsekuensi, baik dirasakannya di dunia maupun di akhirat; baik saat itu juga ataupun nanti.
Ketika seseorang terlahir dengan wujud fisik yang tidak sempurna, katakanlah cacat mental, maka ruh yang ditiupkan Allah SWT yang memiliki kesempurnaan ditiupkan ke dalam jasad. Ketika jasad terintegrasi dengan ruh, maka keseimbangan yang gaib dan yang nyata terjadi. Ia yang terlahir cacat fisik, mungkin tidak akan memiliki keseimbangan yang optimum. Boleh jadi dalam pandangan manusia, ia disebut cacat mental atau bahkan tidak waras.
Tapi, kenapa bisa tidak waras, bukankah Allah selalu menciptakan dengan kesempurnaan?
Itulah makna penting dari keselarasan dengan Kehendak Allah. Jasad biologis adalah produk ikhtiar manusia. Dalam arti, kendati Allah melakukan intervensi langsung dalam proses penciptaan, maka manusia sebenarnya berperan dalam penciptaan keturunannya. Maka seringkali Allah menyebutkan diri-Nya sebagai “Kami” di dalam Al Qur’an untuk menjelaskan adanya peran makhluk di dalam penciptaan itu. Ketika manusia lalai atas kenyataan ini, dan kemudian ia tidak mematuhi perintah Allah, maka boleh jadi apa yang menjadi salah satu ciri alamiahnya di dunia, meneruskan keturunan akan mengikuti alur yang tidak menyenangkan.
Ketika engkau diperintahkan untuk tidak berzinah, tapi engkau membangkang, maka potensi-potensi biologismu akan berubah. Boleh jadi dari dirimu akan lahir makhluk-makhluk yang tidak sempurna, baik dari segi jasmani maupun ruhani. Ketahuilah, kendati manusia pada akhirnya memiliki berbagai bentuk fisik yang biasanya kalian sebut sempurna dan tidak sempurna, Allah sebenarnya
menginformasikan bahwa pembawaan fisik manusia tidak berpengaruh pada jatidirimu yang halus dan lembut (lathifah15, yaitu qolbu). Allah berfirman bahwa ”Lalu
kami jadikan ia makhluk yang lain (QS 23:14)” berarti memanusiakan dirimu dari jasad yang hanya terdiri dari daging dan urat-urat syaraf dengan susunan unsur-unsur dan
tabiat, keadaan, dan kecenderungan tubuh yang paduannya menyebabkan pengaruh pada kesehatan seseorang , baik lahir maupun batin [22]. Maka ketika ruh ditiupkan kedalam jasad difirmankan oleh Allah bahwa “Dia membentukmu, lalu menyeimbangkanmu (QS 82:7)”. Jadi, dalam firman ini Allah menginformasikan bahwa asal muasalmu yang diciptakan dari min thiin menjadi segumpal darah (QS 23:12) dalam naik-turunnya tahapan-tahapan perkembangan manusia (QS 23:14); dan ketika ruh ditiupkan maka terjadilah sinkronisasi antara unsur material dan immaterial manusia sehingga dari integrasi dan sintesis kedua unsur pembentuk manusia tersebut muncullah apa yang disebut sebagai watak atau tabiat manusia, yang pada akhirnya mempengaruhi akhlak dan perilakunya. Apakah itu berakhir dengan sempurna atau tidak sempurna, maka faktor-faktor yang mempengaruhi manusia secara utuhlah yang lebih banyak mempengaruhinya. Sehingga dikatakan oleh sabda Nabi SAW bahwa manusia terlahir dengan fitrah yang suci, namun lingkunganlah (ibu bapaknya, pengasuhnya, teman-temannya, dll.) akhirnya yang akan membentuknya menjadi ini atau itu. Jadi, perhatikanlah bahwa aspek-aspek biologis dan psikis manusia pada akhirnya tergantung dari keselarasannya dengan sunnatullah, baik dalam pembentukannya maupun dalam pendidikannya setelah dilahirkan ke dunia, jadi akhlak manusia dipengaruhi aspek genetis dan lingkungannya.
Kebolehjadian adalah manifestasi dari Kehendak Allah yang nyata terekam dalam sel-sel genetis (gnome) manusia. Karena disitu tersimpan sejarah tentang nenk moyangmu, kehidupanmu, takdirmu, dan qadā dan qadar anak cucumu. Ketika anakmu cacat mental atau fisik, maka boleh jadi ada sesuatu yang salah dalam dirimu, ayahmu, kakekmu atau moyangmu. Ini bukan dosa turunan, karena fitrah asal manusia sebagai ruh yang ditiupkan didalam jasad adalah tersucikan dari dosa. Boleh jadi ini karena aktivitas fisikmu di dunia, jasad biologismu yang mengendalikan dirimu,
sehingga segala nafsu syahwat merajalela. Ketika keturunanmu cacat fisik, cacat mental, ada apakah ini? Kenapakah demikian? Apakah Allah tidak adil? Maka, sebelum melontarkan pertanyaaan ini, lihatlah ke dirimu sendiri? Apa yang salah dengan diriku, kehidupanku, apa yang aku makan dan minum, cara aku memperoleh makanan dan minuman, cara aku menyikapi kehidupan?
Renungkanlah dengan pikiran yang terbuka, bukan dengan pikiran yang terbelenggu oleh nafsu. Karena pikiran yang terbelenggu hawa nafsu adalah manifestasi Iblis yang bersemayam dalam jiwa dan ragamu. Ia akan membisikkan dirimu dengan buruk sangka dan berkata “Tuhanmu tidak adil maka ikutlah aku (Iblis)”. Ketika engkau ikuti bisikan Sang Durjana itu, maka engkau menjadi budaknya, yang menepiskan realitas hakiki akan Tuhanmu yang menciptakan semua makhluk dengan limpahan rahmat dan kasih sayang-Nya.
Ketika kegilaan fisis-biologis menimpa seseorang, tekanan mental yang dahsyat muncul karena potensi jasad dan ruhanimu tidak terolah dengan benar, sehingga semua fakta yang tercerap inderawi menjadi suatu beban yang tidak tertahankan. Ibarat cangkir, maka cangkirmu terlalu kecil sehingga tidak mampu menampung semua limpahan rahmat dan kasih sayang Allah yang terus menerus, baik berupa kemajuan-kemajuan zaman, peradaban, keduniawian, maupun limpahan-limpahan ruhaniah. Maka pecahlah cangkir itu. Ia yang kemudian menjadi gila secara fisis biologis, adalah ia yang terenggut dalam genggaman Allah dan mati sebelum dimatikan.
Aku biasanya tidak terlalu dipusingkan dengan keadaan lahir seseorang ketika mencabut nyawanya. Hanya saja, dampak-dampak perilaku yang menyebabkan kegilaannya seringkali membuatku terpaku, maka si gila yang meregang maut adalah
ia yang meregang dalam genggaman Allah. Hanya Dialah yang tahu bagaimana si gila akan diperlakukan, kecuali kegilaannya itu jelas sebagai kegilaan si Iblis yang terhalusinasi akan kesucian diri dan kesombongannya.
tingkat yang lebih mendekati dan sesuai dengan diri manusia di satu sisi , yaitu jasadnya, akan tetapi tetap sesuai dengan ruh di sisi lain, catatan kaki raf 22 hal 34
Si gila karena cintanya kepada Allah adalah si gila yang menjadi tenggelam dalam genggaman Allah. Entah kenapa, Allah sepertinya membiarkan kegilaan kepada-Nya bagaikan memberikan contoh kepada manusia bagaimana kegilaan makhluk yang ter-baqa-kan dalam diri-Nya. Ia yang majnun16 dalam genggaman Allah kurenggut dengan citarasa kegilaan karena cinta-Nya. Maka seringkali akan engkau temui syair-syair penuh kerinduan kepada-Nya dan mayat-mayat yang menggeletak di sembarang tempat dengan senyum keabadian Sang Pecinta yang terlampiaskan kerinduannya.
Sejenak aku masih menatap Izrail menyelesaikan kisah tentang si gila. Pikiranku masih mengambang tanpa memikirkan apa-apa kecuali cerapan rasa takut yang makin meliputi diriku. Kemudian terlintas seorang teman yang telah mendahuluiku. Ia meninggal dalam keadaan yang biasa-biasa saja. Tanpa tanda-tanda ataupun firasat-firasat, baik kesehatan maupun yang sifatnya spiritual. Entah kalau ia sendiri mengalaminya. Aku tidak tahu. Yang jelas, ia sedang berolah raga kegemarannya ketika Sang Maut menjemput dengan tiba-tiba di usianya yang masih muda. Lalu, tercetus pertanyaanku, ”Bagaimanakah untuk orang sehat walafiat yang mendadak meninggal?”
“Haa, kamu teringat temanmu ya, atau dirimu sendiri yang merasakan kedatanganku yang tiba-tiba”, ia melihat kepadaku dan tersenyum dikulum. Aku menganguk perlahan. “Oke, akan aku ceritakan bagaimana aku mencabut yang sehat”, ujarnya.
Banyak orang yang masih mengira bahwa kesehatan yang baik akan membawa umur panjang. Pendapat ini , kalau ditinjau dari sisi manusia, memang benar adanya. Setidaknya, ia yang menjaga kesehatannya berupaya untuk selaras dengan sunnatullah. Tetapi, ketahuilah bahwa masalah “hidup dan mati” adalah kehendak Allah yang penuh ketidakpastian dan keserbamungkinan. Aku sendiri tidak tahu kapan si A, si B, atau si C mati. Akan tetapi, yang jelas aku pasti mendatangi setiap makhluk kalau sudah diinginkan-Nya, karena kematian adalah suatu kepastian. Namun, kapan aku akan datang, itu tergantung kehendak-Nya semata.
Tetapi, sadarilah!
Aku selalu mengikuti setiap makhluk dalam setiap detik sang waktu berjalan. Percayalah, Sang Waktu dan aku sebenarnya selalu beriringan, sehingga dalam setiap saat “hidup dan mati” sebenarnya sekedar anugerah Allah semata. Ketika Dia perintahkan aku untuk beraksi, maka saat itu juga aku beraksi. Maka manusia sebenarnya harus berhati-hati, karena setiap saat aku selalu mengincar dirinya. Ketika
Dia berkehendak padaku untuk mengambil si A atau si B saat itu, aku tinggal mengiyakan dan saat itu juga dia yang dikehendaki-Nya mati akan mati.
Jadi, ingatlah selalu bahwa posisi semua makhluk sebenarnya sangat kritis sekali. Bagi yang bertasbih setiap saat maka tasbihnya adalah penghambaannya yang mutlak, seperti kaumku yang selalu bertasbih kepada-Nya. Bagi manusia maka bertasbihlah setiap saat dengan selalu “mengingat-Nya”, lakukan dzikir. Tanpa itu maka boleh jadi engkau akan mati dalam keadaan “bermaksiat kepada-Nya”. “Na udzu billah min dzalik”. Sekiranya semua manusia menyadari hal ini, aku yakin bahwa bumi ini akan sepi dari semua aktivitas karena rasa takut akan kedatanganku. Karena itu dalam keadaan sehat, selalu ingatlah kepada-Nya, bertasbihlah selalu dengan dzikir-dzikir qolbu yang ikhlas dan ridha bahwa kehidupan dan kesehatanmu sebenarnya sekedar anugerah-Nya semata. Ia yang kucabut dalam keadaan sehatnya, akan mati sesuai dengan kondisinya saat itu. Aku sekedar melempangkan perintah dan kehendak-Nya, sehingga seringkali dia yang kucabut nyawanya tidak merasakan kedatanganku.
Seringkali, aku beraksi ketika ia sedang duduk minum kopi, membaca koran, di bis kota, di jalanan, ketika manusia sedang giat-giatnya berolah raga, sedang bermaksiat, dan sebagainya. Makanya, seringkali kamu akan temui nasihat-nasihat dari si bijak untuk berhati-hati dalam setiap tindak tandukmu. Namun, hal ini rupanya tidak disadari oleh banyak manusia bahwa “hidup dan matinya” tak lebih sekedar Kehendak-Nya semata. Maka waspadalah dan ingatlah sabda Nabi berikut “Kematian yang tiba-tiba adalah rahmat bagi orang yang beriman, dan nestapa bagi pendosa (HR Abu Daud)[11]”.
“Dia yang selalu mengingat Allah SWT, menyadari dirinya adalah hamba-Nya semata, maka iapun menjalankan kesolehan seperti yang dijelaskan oleh para nabi, rasul, wali, dan para pewaris ilmu Nabi. Ikutilah kesolehannya, berkumpullah dengan mereka baik dalam keadaan senang maupun susah. Ia yang soleh sebenarnya dititipi cahaya ilahiah sehingga dalam setiap langkahnya adalah ibadahnya.” Ujar Izrail, kemudian dia menyitir salah satu firman Tuhan,”Dan sembahlah Tuhanmu sehingga datang kepadamu yang diyakini (ajal) (QS 15:99)”. Semua bulan, tahun, malam dan siang hari
merupakan ketentuan ajal dan waktu untuk beramal. Semua akan berakhir dan berlalu dengan cepat. Maka, dalam setiap detik waktu yang berjalan, sesungguhnya bagi mereka yang beriman terdapat amal-amal ketaatan yang ditetapkan oleh Allah. Maka, jangan sia-siakan waktumu!
Aku belum sempat bertanya lagi ketika Izrail bertutur meneruskan ceritanya tanpa kuminta. Kemudian ia melanjutkan kisahnya tentang bagaimana ia seringkali merasa malu kalau mendatangi orang yang soleh, oleh karena kesolehannya.
Dia yang mematuhi semua perintah Allah, dalam keadaan apapun, sebenarnya contoh yang indah bagaimana aku dengan kelembutan mengantarkan dirinya memasuki keabadian. Kesolehannya akan menjadi penerang dirinya di alam barzakh yang luas. Disana, ia akan menanti keputusan, bahkan sebenarnya tidak menanti, sebab penantiannya tidak memiliki makna temporal yang berarti baginya. Sehari serasa seribu tahun17. Dan ia merasakan kebahagiaan yang hakiki ketika berkumpul dengan orang-orang yang soleh juga. Mereka bergerombol dalam kesolehannya. Sekali-sekali, iapun bisa berkomunikasi dengan karib kerabatnya yang masih ada di dunia, melalui mimpi, melalui getaran-getaran qolbu mukminin yang soleh, yang mampu menembus batas-batas kegaiban alam barzakh. Semuanya terjadi atas kehendak-Nya semata, karena semua hasrat dan keinginan dirinya telah terbaqakan dengan Kehendak-Nya semata.
Aku mendatangi mereka yang soleh dengan kesantunan yang sebisa mungkin tidak mengagetkan dirinya. Bahkan aura kedatanganku sebenarnya sudah ia cium
jauh-jauh hari sebelum aku dikehendaki oleh-Nya untuk melakukan penarikan ruhnya yang tercerahkan.
Ahhh, seringkali aku merasakan kerinduan-kerinduan mereka kepada-Nya. Biasanya auraku yang mendatanginya akan menyebabkan dirinya tergerak dengan Kehendak-Nya semata. Ia berbuat sesuai dengan Kehendak Allah. Ia menjadi asing atas perbuatan dirinya, kalau ia sadari hal itu. Namun, biasanya mereka sendiri tidak
sadar bahwa semua gerak-geriknya sudah bukan lagi gerak-gerik yang disebabkan keinginan dirinya. Bisa dikatakan, bahwa si soleh yang menjelang kematiannya sudah terfanakan dan terbaqakan dalam semua Kehendak-Nya.
Bagi yang matahatinya awas, boleh jadi gerak geriknya akan terpahami sebagai bukan gerak gerik dirinya. Bagi yang tidak memahami, keasingan dirinya baru akan tersadari setelah kematiannya. Tidak disadari oleh semua orang kalau gerak-geriknya adalah kehendak Allah semata. Ketika aku datang, maka aku biasanya datang diam-diam supaya tidak mengagetkannya. Maka kucabut ia dalam sujud shalat lima waktunya, dalam shalat malamnya, dalam tafakkurnya, dalam tidurnya, dalam sakitnya, dalam sehatnya, dan dalam keadaan apapun ia berada saat itu. Kewaspadaannya akan kedatanganku, menyebabkan ia tidak lalai mengingat Allah, ia tidak alpa untuk waspada terhadap kedatanganku yang mendadak. Hal ini menyebabkan aku malu menemuinya langsung. Maka akupun datang diam-diam dalam setiap keadaan dirinya. Maka iapun akan kucabut dengan keselamatan akhirat yang selalu melingkupinya.
Boleh jadi kematian bagi mereka yang soleh akan dirasakan sangat ringan dan juga sangat berat. Bagi yang berat maka boleh jadi ia masih mempunyai hajat untuk mencapai derajat tertentu, yang belum berhasil dicapainya melalui amal perbuatannya, maka kematian baginya sangat menyakitkan karena lepasnya peluang untuk mencapai derajatnya di surga.
Bagi yang kurang iman, katakanlah si kafir, terjadi sebaliknya khususnya bagi si kafir yang mempunyai amal baik yang belum memperoleh balasan. Maka ia akan dimudahkan dalam kematian sebagai balas jasa kebaikannya dan nanti ia akan langsung mendapatkan tempatnya di neraka. Jadi, jangan merasa selamat kalau ada amal kebaikan yang belum terbalas. Karena boleh jadi balasan itu hanya akan
diterimanya sebatas saat kematiannya saja. Setelah itu, semua amal akan dihisab sesuai kadarnya masing-masing.
“Tapi, kesolehan bukanlah mutlak keselamatan dariku. Maka engkau harus hati-hati.” Tiba-tiba ia berkata begitu. Kemudian ia terus menuturkan.
Yang soleh sekalipun sebenarnya masih rentan terhadap dua jenis keadaan menentukan yang berujung pada “akhir yang buruk”. Salah satunya yang berbahaya adalah “pada saat sekarat dan mengalami kengerian maut, hatinya mungkin diliputi oleh keraguan atau pun kekufuran, hingga ketika ruhnya dicabut, dia masih berada dalam keadaan seperti itu”, Yang kedua adalah, “pada saat kematian, kecintaan pada materi atau kesenangan duniawi mungkin telah menguasai hatinya....maka diapun akan menghadapkan wajahnya ke dunia, dan sebanding dengan kecondongan seseorang kepada dunia, itu semua akan menyebabkan tabir, yang menyebabkan turunnya siksa”.
Aku menggigil mengingat Izrail berkata seperti itu. Lha..., yang soleh saja belum tentu selamat dalam menghadapi kematian, bagaimana dengan yang setengah hati solehnya, atau yang sama sekali keblinger?
“O ya, aku akan perdengarkan untaian nasihat dari sufi generasi terdahulu”. Katanya tiba-tiba saja ia menjadi romantis. Judulnya “Delapan Nasihat Hatim”18. Izrail pun pun bersenandung [21].
Cintailah amal saleh,
ia dapat memutuskan rantai kepemilikanmu kepada dunia,
ia akan menjadi penerang kuburmu,
pendampingmu disana dan
tidak meninggalkanmu sendirian.
Taatilah perintah Allah dengan ridha,
18karena dengan keridhaan pada ketaatan-Nya maka
keinginan hawa nafsumu akan terbelenggu (QS 79:40).
Sedekahkanlah bagian duniamu kepada Allah Ta'ala,
karena apa yang ada disisimu semua akan lenyap,
sedekah adalah tabunganmu disisi Allah,
dan apa yang ada disisi-Nya adalah kekal (QS 16:96)
Bertaqwalah kepada Allah SWT,
karena disitu tersimpan Kemuliaan dan Keagunganmu (QS 49:13)
sebagai suatu anugerah ketaqwaanmu kepada-Nya.
Ridhalah kepada semua ketentuan Allah SWT,
karena pembagian dari Allah sudah ditentukan sejak azali (Qs 43:32).
Tanpa keridhaan pada semua ketentuan Ilahi,
maka engkau akan dihinggapi hasud,
penyakit Iblis yang timbulkan iri dan dengki
karena harta, kedudukan, dan ilmu
yang akan timbulkan saling cela dan gunjing diantaramu.
Musuhilah syeitan, ia adalah musuh yang sangat nyata bagimu (QS 35:6).
Ia mewujud dari semua hasrat , keinginan, penguasaan, dan kepemilikanmu;
Ia muncul menjadi berbagai bentuk nafsu dan syahwat,
yang akan mengikatkanmu kepada materi, duniawi, dan segala maksiat.
Putuskan semua harapanmu dari selain Allah,
jangan terpedaya dengan rasa takut akan rezekimu,
Dia yang maha Pemberi telah menjamin dan menanggung
semua rezeki makhluk-Nya (Qs 11:6), tanpa kecuali.
Karena itu, perhatikan pencarian kehidupanmu
dari syubhat,
dari halal dan haram,
dari yang menghinakan dirimu,
dari yang merendahkan kedudukanmu.
Bertawakkalah kepada Allah SWT semata (QS 65:3).
Dialah yang akan menjaminmu, mencukupkan keperluanmu,
dimanapun kamu berada, dalam keadaan apapun.
Jangan gantungkan dirimu pada tali gantungan syeitan
yaitu uang, kekayaan, kekuasaan, kerajaan, pekerjaan,
dan bergantung kepada makhluk lainnya.
Gantungkan dirimu hanya pada Kehendak Allah SWT semata.
Izrail tersenyum, alunan suara dan makna-makna yang terkandung dalam puisi “Delapan Nasihat Hatim” itu benar-benar semakin menggigilkan diriku, seolah mengingatkan bahwa aku masih jauh dari gambaran yang disampaikan Hatim.
Aku masih tercenung di hadapan Izrail yang kulihat menatapku dengan lebih lembut seolah menenangkan diriku. Lantas, aku teringat Malin Kundang si anak durhaka. Bagaimanakah orang-orang seperti itu menghadapi sakratul maut sedangkan yang soleh saja masih bisa dikatakan belum tentu bisa selamat melaluinya. Aku beratnya, ”Pernahkah engkau mendengar kisah Malin Kundang?” , kataku kepada Izrail. Ia menjawab, “Ya, aku mengetahuinya. Bahkan di banyak belahan dunia, di setiap zaman, kisah-kisah si anak durhaka semacam itu cukup dikenal”.
Izrail melanjutkan bagaimana ia menghadapi anak durhaka semacam itu, baik yang terhitung soleh maupun tidak.
Banyak kisah yang mengerikan bagi manusia yang durjana. Namun, barangkali tidak ada yang paling mengerikan bagi ia yang durhaka kepada orang tuanya sendiri. Silaturahim adalah kaitan fundamental yang membangun suatu masyarakat dan peradaban yang sebenarnya aktualisasi dari Rahmaatan Lil Aalamin. Bila silaturahim ini rusak maka bisa diprediksikan bahwa semua tatanan masyarakat cepat atau lambat akan mengalami kerusakan. Dan keluarga adalah tatanan masyarakat terkecil yang melibatkan lebih dari satu orang. Maka pemutusan silaturahim, apalagi kalau hal itu melibatkan keluarga antara anak dan orang tua, maka bayang-bayang malapetaka
seperti menaungi kehidupan seseorang. Maka hati-hatilah dalam menjaga hubungan demikian. Tanpa alasan yang pasti, bahwa silaturahim itu mesti terputus karena Allah semata, maka hati-hatilah karena pemutusan itu akan menyebabkan terputusnya barokah Allah kepadamu.
Bukankah dongeng klasik dari negerimu tentang si Malin Kundang yang membatu berhubungan dengan kedurhakaan karena menyia-nyiakan ibundanya. Ingat sajalah cerita-cerita kearifan bagaimana sakit hati orang tua akan mencegah si anak memasuki kematian dengan wajar. Ada ancaman Allah disana, karena ridha ibunda adalah ridha Allah. Hati-hatilah dengan hal ini. Seburuk apapun hubunganmu dengan
ibumu, Nabi SAW menyebutkannya sebanyak tiga kali berurutan ketika seseorang bertanya tentang keutamaan bakti anak terhadap orang tua, khususnya ibundanya.
Dalam banyak kesempatan, hubungan keluarga memang sangat fundamental untuk membangun masyarakat dan peradaban. Namun, tanpa pijakan akan kebenaran, maka mempertahankan silaturahim yang membuta akan membahayakan karena yang lahir adalah fanatisme yang dungu maujud niat busuk Iblis yang menelusup kedalam dada manusia yang tidak waspada. Oleh karena itu, bila memang diperlukan, silaturahim dapat diputuskan karena Allah semata. Dalam era awal Islam, Nabi SAW menyadari hal ini sehingga ketika keputusan untuk berperang ditetapkan, maka sebagian dari pengikut Nabi SAW (bahkan Nabi sendiri) mengalami dilema ini, yaitu terputusnya tali silaturahim. Namun, kehendak Allah sudah demikian jelas bahwa bila putusnya silaturahim itu karena mempertahankan akidah yang benar, maka belalah Allah SWT. Allah memang patut dibela, oleh karena keberadaan dirimu di dunia sebenarnya bagian dari proses yang memaujudkan Kehendak-Nya. Dan ketika satu keluarga berselisih mempertahankan akidah kebenaran dari Yang Maha Benar, maka pilihlah jalan Allah.
Ketahuilah bahwa kekafiran atau kesesatan seseorang adalah pilihannya sendiri, karena ia telah menutup dirinya dari Kebenaran Mutlak (al-Haqq). Namun, ingatlah juga, keimanan dan kesolehan seseorang semata-mata adalah hidayah dan anugerah-Nya. Manusia tidak mampu memberikan hidayah dan anugerah, sehingga ketika engkau sudah menyampaikan apa yang benar dari Allah, maka suatu kewajiban
untuk mempertahankannya meskipun hal itu akan memutuskan semua ikatan-ikatan silaturahim. Tetapi sekali lagi bila memang itu diperlukan dan tidak bisa dihindari.
Ingat saja kisah Nabi Nuh yang tidak mampu menyelamatkan istri dan anaknya ketika banjir tiba, kendati mereka istri dan anak seorang Nabi, namun tanpa hidayah Allah maka tidaklah akan hadir keimanan meskipun sekecil zarah atom. Ingat juga kisah anak-anak Nabi Yaqub yang menipu orang tuanya sehingga nabi Yusuf, yang nota bene adiknya saudara sekandungnya sendiri, mereka celakakan sampai Allah menetapkan keputusan bahwa mereka akan dihadirkan kehadapan Yusuf dalam kehinaan karena kelaparan. Namun, Yusuf Yang Nabi maha pemaaf sehingga mereka yang menghianati dirinya dimaafkannya. Ingat juga paman Nabi SAW, Abu Thalib, kendati ia begitu sayang dan mati-matian melindungi Nabi, namun tanpa hidayah Allah SWT, Nabi SAW pun tidak dapat berbuat banyak untuk mengislamkannya.
Akan tetapi, sekali lagi, perlu kehati-hatian dalam menjaga hubungan silaturahim, kendati orang tuamu sesat dan sangat tersesat, maka nasihatilah dengan perkataan yang baik-baik. Setelah itu, berserah dirilah kepada Allah SWT, karena hanya Allah lah yang berhak memberikan hidayah dan anugerah kepada orang tuamu berupa keimanan yang benar kepada-Nya.
Hindarilah kedurhakaan kepada orang tua yang berkepanjangan, apalagi kalau orang tuamu adalah orang tua yang solehah dan penuh kasih sayang kepadamu. Maka celakalah anak yang mendurhakai orang tua yang solehah. Tidak saja berdosa secara harfiah sebagai orang yang mendurhakai orang tua, tetapi kutukan Tuhan akan melingkupi dirinya dalam setiap kehidupannya. Tanpa ridha orang tua, maka semua perbuatannya akan sia-sia, shalatnya tidak bermakna, puasanya tidak berguna, semua amaliahnya musnah tanpa guna. Sesoleh apapun kamu kelihatannya, ketika engkau sakiti orang tuamu yang seiman, yang selalu berdoa dan memohon ampunan dari Tuhan, maka semua ibadahmu sia-sia. Jadi, berupayalah dengan kesabaran dan kerelaan ketika engkau berselisih dengan kedua orang tuamu. Jangan tanggapi perselisihan itu dengan percikan-percikan api syeitan sehingga ia akan menjerumuskan dirimu dalam penyesalan yang tidak berkesudahan.
Akan kuceritakan sebuah kisah lama sebagai rujukan untuk manusia. Kisah ini memang bisa dibilang contoh umum bagaimana seseorang yang durhaka kepada orang tuanya akan mengalami kesulitan ketika aku menjemputnya. Diceritakan bahwa suatu hari seseorang mendatangi Nabi SAW dan memberitahu seseorang bahwa seorang pemuda membutuhkan bantuan untuk dituntun mengucapkan kalimat tayyibah19 menjelang kematiannya. Nabi mengatakan apakah anak muda tersebut sudah terbiasa mengucapkan kalimat tayyibah selama ia hidup sehat. Orang-orang kemudian menjawab bahwa si pemuda sudah terbiasa mengucapkan kalimat tayyibah.
Nabi keheranan karena orang tersebut terbiasa mengucapkan kalimat tayyibah, tetapi mengalami kesulitan untuk mengucapkannya menjelang detik terakhir kehidupannya. Nabi kemudian mendatangi pemuda tersebut dan memandunya untuk mengucapkan kalimat tayyibah, namun dia tetap tidak mampu mengucapkannya. Nabi kemudian berkata kenapa dia seperti itu. Anak muda itu memberitahukan bahwa hal itu terjadi karena dia tidak patuh kepada ibunya karena dipengaruhi istrinya. Nabi bertanya apakah ibunya masih hidup. Dia membenarkan. Nabi kemudian meminta orang-orang
untuk memanggil ibu pemuda tersebut. Ketika perempuan itu datang, beliau bertanya kepadanya, apakah pemuda itu anaknya. Dia membenarkan. Kemudian bertanya apa yang akan dia lakukan jika anaknya itu dibakar hidup-hidup di dalam api yang menyala-nyala. Perempuan itu menangis. Ia memahami maksud Nabi SAW untuk memaafkan anaknya. Ia lalu menjawab bahwa ia akan memaafkan anaknya itu. Perempuan itu lalu melakukannya. Kemudian Nabi memerintahkan pemuda itu mengucapkan kalimat tayyibah. Dengan mudah, pemuda itu melakukannya. Nabi merasa senang dan berkata bahwa Tuhan telah menyelamatkan pemuda itu dari hukuman neraka20.
Begitulah bagaimana hubungan anak dan orang tuanya sangat berperan untuk memperoleh ridha Allah dalam setiap keadaan. Bukan saja ketika masih hidup, namun menjelang kematian pun, hubungan anak dan orang tua yang kurang harmonis akan berakibat fatal. Kesusahan yang muncul ketika nyawa di ujung kehidupan sebenarnya bukan keenggananku untuk mencabut nyawa pemuda itu. Tetapi semata-mata hanya
kasih sayang Allah SWT kepada pemuda tersebut, mengingat kesolehannya di dunia. Namun, ketika ia menyakiti orang tuanya, yaitu ibunya, maka semua amalnya seolah tanpa guna, sehingga Allah masih memberikan suatu peluang terakhir kepada dirinya agar ibunya mau memaafkannya. Kalau tidak, maka sia-sialah semua upaya amal pemuda itu selama ia hidup di dunia. Sesoleh apapun pemuda itu, tanpa maaf orang tua maka akupun akan sejenak menunggu sampai ibunya memaafkannya. Apakah hal ini adzab atau kemurahan Allah? Maka jelaslah hal ini merupakan kemurahan Allah untuk memberikan kesempatan bagi ibu pemuda tersebut untuk memberikan maafnya. Kendati si anak berdosa, sebagai orang tua, maka diapun memiliki tanggung jawab untuk memaafkannya. Orang tua bagaimanapun juga memiliki tanggung jawab kenapa seorang anak bisa begini atau begitu. Karena, sebagai orang tua yang bertanggung jawab, ia sebenarnya menjadi bagian kenapa si anak menjadi tersesat, atau terhalang amalnya. Yang dibutuhkan sebenarnya adalah ridha orang tua sebagai orang tua, dan menyadari bahwa orang tualah yang berperan dalam menentukan apakah seorang anak dikemudian hari menjadi majusi, nasrani, atau yang lainnya.
Aku masih meresapi cerita Izrail tentang hubungan anak dan orangtua, serta akibat-akibatnya di kemudian hari. Bayang-bayang keretakan dalam keluarga yang makin hari makin sering kudengar atau kulihat sendiri menjadi jelas, bahwa dalam keadaan apapun, silaturahim harus tetap dijaga. Dalam skala yang luas, retaknya silaturahim adalah retaknya suatu jalinan sosial. Maka, bila silaturahim sudah terjadi dalam skala yang luas, ancaman keretakan akan terlihat dipermukaan sebagai jatuhnya masyarakat ke dalam cengkeraman ketimpangan sosial dan ketidakadilan. Ketimpangan sosial dan ketidakadilan adalah sumber dari segala angkara murka, sumber dari iri dan dengki, sumber permusuhan yang memperlebar jurang antara yang kaya dan yang miskin, yang berpangkat dan yang tidak berpangkat, sehingga yang nampak hanyalah kesombongan-kesombongan yang dikenakan untuk menutupi kekurangan-kekurangan; yang kaya akan mengenakan kekayaannya untuk menutupi kekurangannya; yang miskin akan menutupi kemiskinannya dengan kesombongan sebagai si miskin untuk menutupi kekurangannya. Banyak masalah sosial yang terjadi di negeri ini dan di zaman ini muncul karena ketidakadilan, ketika yang satu mengabaikan yang lainnya, yang satu menelantarkan hak-hak hidup yang lainnya, maka jangan heran bila selalu akan terjadi pergesekan-pergesekan sosial yang menghancurkan tali-tali silaturahim.
Ketidakadilan adalah juga ketidakseimbangan. Maka ketika hal itu terjadi juga kepada alam lingkungan dimana manusia hidup, maka ketidakadilan itu akan menimbulkan ketidakselarasan dengan hukum-hukum alam (sunnatullah) sebagai suatu kehendak Allah. Maka hati-hatilah, ketika ketidakadilan bersinggungan dengan alam lingkungan yang kadarnya tidak mungkin diubah manusia, maka bencana-bencana alam akan mengintai sebagai gempa bumi, kehancuran fisik, longsor, banjir, kebakaran, kabut asap, penyakit, dan bencana-bencana alam lainnya. Ketika bencana alam itu mengharubirukan semua manusia di muka Bumi, maka jangan salahkan keadilan Tuhan. Dia Maha Adil dan Bijaksana sesuai dengan apa yang sudah Dia firmankan dalam kitab wahyu Al Qur’an. Tinjaulah alam semesta dan dirimu sendiri dan selaraslah dengan kehendak Allah dengan ridha, sehingga sebuah bencana ataupun malapetaka yang memutuskan semua harapan dan angan-angan-mu, yang membangkitkan semua rasa takutmu akan adzab yang menimpa suatu kaum, tak lebih dari suatu peringatan atas kelalaian dan kebodohanmu karena mengabaikan keadilan yang sudah ditetapkan sebagai hukum-hukum alam yang mestinya dipahami oleh manusia.
Tiba-tiba Izrail menyela lamunanku. Ia sepertinya memang bisa membaca apa yang kupikirkan.
Ada kalanya aku mencabut nyawa orang yang disesatkan Allah SWT dalam keadaan yang mengerikan. Seolah adzab neraka disegerakan terhadap orang-orang yang sesat dan murtad. Mereka termasuk golongan yang disesatkan Iblis semata-mata karena kesombongan dirinya. Biasanya orang yang demikian, menurut tolok ukuran kamu dianggap sukses dan pandai, padahal itulah manusia yang paling bodoh yang termanifestasikan dari kebodohan dan kesombongan Iblis. Kebodohan dan Kesombongan adalah dua sisi mata uang yang sama, yaitu mata uang Iblis Sang pendurhaka. Orang yang demikian dikatakan sebagai orang yang benar-benar sakit jiwa dan terpenjara dalam rumah sakit jiwa yang disebut dunia. Ia sakit jiwa karena terbelenggu oleh akalnya. Sementara, dirinya terbelenggu akalnya, nafsu nya pun membentengi dirinya sehingga iapun mengisolasi diri, jauh dari fitrah asal dan mengira akalnya adalah tuhannya.
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (QS 45:23)”
Hati-hatilah dengan orang yang seperti itu, karena mereka biasanya menebar bau busuknya neraka dalam kehidupan kamu. Mereka tidak segan untuk bermanis muka, namun menikammu dari belakang, memfitnah, dan menebarkan kejahatan dalam kehidupan kamu. Kendati akalnya seperti berjalan, ia sebenarnya makhluk bodoh seperti robot yang hanya digerakkan oleh nafsu syahwatnya, yang sudah menjadi tuhannya. Ia termasuk manusia yang menjadi syeitan karena menuhankan nafsu dan syahwatnya, merobohkan sendi-sendi agama, dan tidak segan untuk berdusta. Ia dapat berada disekitar kehidupanmu sebagai kawan, sebagai boss-mu, teman mainmu, sebagai lawan, sebagai pejabat, sebagai guru, sebagai kiai, sebagai ustad, sebagai pengusaha, sebagai pengacara, sebagai dukun, sebagai artis, sebagai penyiar, sebagai pedagang, sebagai petani, sebagai pengemis, sebagai maling, sebagai polisi, sebagai tentara, dan banyak lagi yang lainnya.
Aku mencabut mereka sesuai dengan keadaanya. Maka ia yang kucabut dalam kesesatan dan kemurtadan adalah ia yang merasakan hawa panas dan busuknya api
neraka. Akan sering kautemui bagaimana mereka akhirnya. Mata melotot, tubuh disana-sini meregang kaku, bau yang busuk, kadang disertai keganjilan, mayat yang
sangat berat karena jasadnya menyimpan beban perbuatannya, dan keadaan-keadaan lainnya yang mengerikan. Kalau saja engkau mampu mendengar dan melihat sesuai dengan keadaan mereka, maka akan kau lihat kengerian paling mengerikan yang dihadapi mereka ketika aku temui dengan tanpa basa-basi. Lantas, kuhempaskan dia dalam kubur dengan kerelaan bumi ataupun tidak. Disana, ia akan menghadapi siksa kubur yang tak pernah berhenti sampai kiamat tiba. Dalam barzakh
yang sempit, maka penantiannya sampai kiamat tiba adalah kengerian abadi yang akan disesalinya.
Ketahuilah, ketika aku mencabut mereka yang sesat dan murtad, aku mewujud sesuai dengan perbuatan mereka yang bodoh. Manusia yang paling kuat dan beranipun tak akan akan sanggup melihat wujudku ketika aku mencabut orang yang penuh dosa. Dulu, Nabi Ibrahim a.s pernah juga ingin mengetahui rupa asliku ketika aku mencabut nyawa si pendosa. Kendati aku memperingatkannya bahwa dia tidak akan sanggup melihat wujudku, namun ia memaksaku. Akhirnya akupun menampakkan wujudku kepadanya dalam bentuk seorang yang berkulit hitam legam, dengan rambut berdiri, berbau busuk, dengan pakaian berwarna hitam. Dari mulut dan lubang hidungku keluar jilatan api . Melihat wujudku yang mengerikan itu, Nabi Ibrahim a.s. pun klenger21. Ketika sadar kembali, ia kemudian berkata, “Wahai Izrail, seandainya seorang pelaku kejahatan pada saat kematiannya tidak menghadapi sesuatu yang lain kecuali wajahmu, niscaya cukuplah itu sebagai hukuman atas dirinya.”
Itu baru melihat rupa asliku untuk si pendosa. Ketika aku mencabut ruh si pendosa, kamu tidak akan bisa membayangkan bagaimana siksaku ketika sakratul maut sebelum aku cabut nyawanya, siksa kubur yang akan diembannya, dan siksa neraka yang akan dialaminya.
Tubuhku bergetar membayangkan kengerian dari mereka yang sesat dan murtad ketika Izrail mendatanginya. Aku masih menggigil ketika kulihat wajah Izrail tampak seperti udang direbus, kemerahan menahan gejolak saat-saat ia mencabut manusia
yang sesat dan murtad. Kemudian, dia menoleh kepadaku dan berkata “apalagikah yang ingin kau tanyakan”, katanya.
Aku masih berfikir, kira-kira apalagikah yang ingin kuketahui. Selama ini, apa yang selalu kukhawatirkan di dunia adalah menyusupnya hal-hal yang diharamkan dalam kehidupanku. Salah satunya adalah melalui profesi yang kugeluti. Menurutku, profesi yang sebenarnya ideal untuk mendapatkan rezeki halal adalah berdagang. Karena dengan berdagang orang sebenarnya dapat menentukan sendiri tingkat kehalalan yang ia jual belikan. Tentunya dengan norma-norma yang sesuai dengan ajaran Islam. Namun, anehnya, banyak pedagang kulihat tidak mau tahu dengan hal ini, sehingga
dalam banyak aspek, apa yang semestinya halal menjadi haram karena praktek perdagangannya yang tidak jujur dan tidak wajar. Seolah hanya keuntunganlah yang dipikirkan sehingga tega-teganya ia menaikkan harga komoditas dan barang ketika bulan Ramadhan, lalu kemudian ia turunkan lagi setelah lebaran usai, kemudian ia naikkan lagi. Ah demikian bodohnya para pedagang itu sehingga tanpa sadar ia meracuni dirinya dan keluarganya dengan hal-hal yang semestinya dijauhi dan dihindari. Nah aku mau menanyakan hal ini sajalah. “Bagaimana dengan pedagang yang curang? “, lanjutku.
Yang mati dengan mengerikan salah satunya adalah mereka yang curang dalam berdagang. Aku akan ceritakan sebuah kisah bagaimana aku mencabut nyawa pedagang yang menggunakan dua timbangan, yaitu timbangan saat menjual dan saat membeli. Ini juga berlaku untuk mereka yang berdagang dengan keuntungan yang semena-mena yang sering terjadi di zamanmu. Contohnya ketika gaji pegawai pemerintah naik, pedagang dengan seenaknya menaikkan harga bahan pokok. Tanpa pernah turun lagi. Ketika Ramadhan atau Lebaran tiba, harga-harga komoditas yang
dibutuhkan masyarakat naik tanpa kompromi. Demikian juga, ini berlaku bagi mereka yang menipu dalam berdagang, menimbun barang sehingga harga melonjak, menggoreng saham, calo-calo yang menaikkan harga seenaknya, menjual komoditas yang jelas-jelas haram, menimbun minyak, atau aktivitas perdagangan yang curang lainnya. Bagi pedagang yang demikian, maka segala perbuatannya itu akan tampak sebagai dua gunung api dari neraka yang sangat panas dan menyala-nyala, sehingga akan membuat yang melihatnya menggigil ketakutan. Pedagang yang sekarat akan disuruh untuk mendaki kedua gunung itu. Setelah itu barulah aku mencabut nyawanya tanpa ampun.
Membayangkan dua gunung api yang menyala-nyala memang mengerikan. Lha wong kita sering melihat tukang sulap berjalan di atas bara-bara api saja membuat kita meringis, maka membayangkan kondisi seperti berjalan di atas gunung api sebelum nyawa dicabut Izrail benar-benar tidak habis pikir bagaimana rasanya. Mungkin panas
yang tidak berkesudahan, badan yang kelojotan menahan panas seperti ikan dipanggang, lidah yang mengelu, hidung seperti tersumbat asap yang tidak bisa keluar, persis ketika kita flu burung dan hidung kita tersumbat, betapa tersiksanya. Entah berapa lama siksaan itu akan berlangsung. Mungkin dalam bentuk sakit yang tidak
berkesudahan, yang tidak tersembuhkan bahkan dengan dokter termahal maupun dukun tersakti sekalipun. Aku tidak bisa membayangkan lebih jauh kondisi mereka yang curang dalam berdagang ini ketika Izrail mulai mengincarnya.
“Mungkin kamu pernah mendengar cerita bagaimana susahnya orang dalam sakratul maut mengucapkan syahadat”, Izrail meneruskan ceritanya tanpa kuminta. Aku masih tetap mendengarkannya dengan takjub.
Ya, mereka yang kelu lidah saat aku akan mencabut nyawanya umumnya dikarenakan sifat mereka selama ini yang suka bergunjing, memfitnah, iri dan pemabuk. Berkali-kali sebenarnya kitab-kitab suci mengingatkan penyakit-penyakit iblis yang satu ini. Tapi, entahlah, barangkali kaummu memang susah dibilangin. Kegiatan yang merupakan warisan penyakit Iblis itu malah akhir-akhir ini menjadi semacam profesi saja. Wartawan, tukang gunjing di radio, televisi, di pasar dan di rumah, malah disukai. Padahal aktivitas itu sangat berpotensi untuk menggelincirkan manusia kedalam dosa seperti di atas.
Dulu pernah ada seorang murid alim ulama terkenal yaitu Imam Fudhail Bin Iyad yang sedang menghadapi sakaratul maut. Terdorong oleh rasa sayang dan tanggung jawabnya, Sang Guru mengunjungi muridnya yang nampak sedang kepayahan tersebut. Iapun kemudian membacakan surah Yasin. Tapi bukannya bacaan itu menentramkannya malah bacaan surah Yasin itu membuat si murid menjadi gelisah dan susah meninggal dengan tenang. Fudhail pun kebingungan. Kemudian si guru pun membacakan syahadat. Namun, bacaan tauhid tersebut tetap tidak bisa menolongnya.
Begitulah, telinga terasa budeg, lidah kelu dan mata membuta ketika aku mulai bertugas. Setelah dengan susah payah, akhirnya aku pun mencabut nyawanya dan menyerahkannya ke pada malaikat yang bertanggung jawab dalam penghisaban di kuburan. Sang Guru menangis tersedu-sedu karena muridnya ternyata telah kehilangan keimanannya karena suka memfitnah, bergunjing, iri dan minum arak.
Aku masih menatapnya dalam diam sambil melayangkan imajinasi pada berbagai infotainment yang sepertinya sudah menjadi komoditas hiburan. Membuang waktu
dengan membicarakan aib orang lain. Wah, repot juga. Padahal, hampir sebagian besar acara televisi yang disukai tidak lepas dari membicarakan orang lain. Apakah itu suatu kebenaran, atau cuma sekedar bumbu penyedap untuk mendongkrak rating sebuah acara yang membuat orang lain naik pitam. Namun, dilain pihak mungkin akan membuat orang lain meraih kekayaan, hidup makmur diatas penderitaan orang lain atau dengan mempermainkan hidup orang lain. Aku menggigil ngeri.
Ah, betapa lalainya manusia kalau sudah menyinggung yang satu ini. Kekayaan. Sehingga iapun lupa bahwa kekayaan yang diraihnya dari membicarakan orang lain seperti orang yang memakan bangkai saudaranya sendiri. Hmm, aku masih memikirkan mereka yang meraih kekayaan dengan cara-cara yang tidak etis seperti itu. Di negeri ini, menjadi kaya memang jadi impian banyak orang. Sehingga seringkali tidak peduli lagi bagaimana kekayaannya itu ia kumpulkan, ia raih, dan kemudian menjerumuskan dirinya sendiri.
Aku menatap Izrail sekali lagi, seolah masih tidak percaya bahwa aku dapat bercengkerama dengannya seperti ini. Kemudian aku bertanya, “Wahai Izrail bagaimanakah engkau mencabut nyawa orang yang kaya raya?”
“Orang kaya?”, Izrail sedikit mengernyitkan keningnya. Alisnya terangkat sedikit, amboi indahnya alis itu.
Yah orang kaya tidak beda sebenarnya dengan makhluk Allah lainnya. Saat kematian menjemput, maka kekayaannya tidak akan berarti apa-apa. Sebab, kekayaan yang akan dinilai oleh-Nya adalah amaliah yang muncul dari dasar hatinya. Kekayaan duniawi hanya berguna untuk anak cucu dan jandanya (dudanya) saja.
“Yang paling menyebalkan adalah kalau aku mencabut nyawa orang yang kaya karena menggadaikan kemanusiaannya”, Izrail menegaskan. Kelihatan benar dia geregetan dan gemas.
Itulah kekayaan yang diraih dari jalan yang diharamkan Allah. Mereka yang korupsi, menipu, merampas harta anak yatim, membohongi publik, pura-pura membangun
yayasan, karena riba, dan cara-cara lain pengambilan kekayaan yang tidak sah. Mereka sebenarnya sebodoh-bodohnya manusia. Mereka bisa dikatakan terkelabui.
Mungkin kaummu sering mengucapkan pepatah “Muda Foya-foya, Tua Kaya Raya, Mati masuk Surga”. Itulah peribahasa kaum hedonis yang mengira dengan tipu muslihatnya bisa menipu Allah SWT. Mereka lupa bahwa dari mulai bapak-ibunya bertemu sampai ajal menjemput, Allah menggenggam kehidupan mereka, baik digenggam dalam Kebaikan-Nya maupun Kemurkaan-nya. Bodohlah manusia yang mengira kekayaaan yang diperoleh dengan jalan haram, bisa ditebus dengan aktivitas amal-amal lahir, apakah itu dengan berzakat , berumroh dan berhaji, mendirikan rumah yatim piatu, atau mendirikan masjid-masjid dengan tiang-tiang yang besar. Selama kesyirikan dan riya masih menempel dalam lubuk hati mereka yang terdalam, meskipun sebesar zarah atom sekalipun (QS 99:7-8), kesyirikannya dan kekurang ajarannya dengan menyogok Allah akan berdampak mengerikan. Orang yang kaya seperti ini, seakan membawa kesombongannya selama di dunia dengan menganggap Allah pun bisa disogok. Padahal Kesombongan adalah Selendang-Nya.
Karena itu, akupun tidak sungkan untuk menampakkan diri dalam bentuk yang paling mengerikan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Aku akan cabut nyawa mereka sesuai dengan tindakan-tindakan mereka. Aku akan menyeret roh mereka dari dalam tubuhnya yang membusuk secara perlahan-lahan. Agar ia bisa mencium sendiri kebusukannya itu sebelum sakratul maut tuntas menunaikan tugasnya. Rohnya akan kuseret seperti diseretnya tubuh melalui dinding bergerigi, yang sakit dan sangat menyakitkan. Banyak yang tidak kuat melalui fase ini, dan menangis meraung-raung, tidak saja dalam wujud jasadnya yang membusuk. Namun, juga ruhnya akan meraung dan bersedih, sekaligus juga tidak rela meninggalkan kekayaannya yang tersisa yang tidak sempat dinikmatinya.
Keringat dingin meleleh didahiku, ketakutanku muncul. Lalu terbata-bata aku berkata, ”Tttapi kan tidak semua orang kaya diperoleh dari tipu menipu dan kejahatan,” protesku.
“O, ya jelas. Ada juga orang kaya yang tidak seperti itu. Tapi kebanyakan, kekayaan telah membutakan matahati seseorang sehingga alpa dari menelusuri dan menggunakan kekayaannya.” Ujar Izrail menjelaskan.
Dia melanjutkan,” Hanya sedikit orang kaya yang menyadari apa arti kekayaannya itu.”. “Dari yang sedikit itu, lebih sedikit lagi yang lolos dengan mulus”, tegasnya.
“Kekayaan cenderung menghalangi tugas-tugasku.” Ucap Izrail sedikit iba.
Pernah suatu ketika aku mendatangi orang kaya raya. Karena ia tahu kedatanganku, maka ia pun gemetar dan memerintahkan semua harta bendanya untuk dikumpulkan dihadapanku. Setelah semua hartanya berada didepan matanya, dia berkata mencaci maki harta bendanya ”Semoga Allah mengutukmu sebab engkau telah memalingkan aku dari beribadah kepada Tuhanku dan menghalang-halangi aku dari pengabdian kepada-Nya”.
Allah kemudian membuat harta bendanya berbicara,
”Mengapa engkau menghinaku, sedangkan karena akulah engkau bisa diterima oleh presiden, para pejabat, pengusaha, selebritis, kalangan jet-set, dan golongan yang mengandalkan kekayaan dunia lainnya, padahal orang-orang yang bertakwa kepada Allah malah diusir dari pintu rumahmu?
Karena akulah engkau bisa mengawini wanita-wanita lacur, duduk bersama raja-raja, pelesiran ke tempat-tempat yang hina, dan membelanjakan aku di
jalan keburukan. Namun, aku tidak pernah membantah.
Seandainya saja engkau membelanjakan aku di jalan kebajikan, niscaya aku akan memberi manfaat kepadamu. Engkau dan semua anak Adam diciptakan dari tanah, kemudian sebagian dari mereka memberikan sedekah, sedang yang lain berbuat keji seperti dirimu yang bodoh dan terkelabui oleh gemerlap diriku.”
Aku pun tanpa basa-basi lagi mencabut orang kaya yang bodoh itu, maka robohlah ia ke tanah dengan penyesalan yang mendalam.
“Lalu bagaimana dengan orang yang miskin secara duniawi, secara materi?”, lanjutku menanyakan.
“Ketahuilah, dimata Rabb-mu, kekayaan dan kemiskinan tidak dapat dijadikan alasan dari lalai terhadap-Nya”, Izrail berkata sebelum melanjutkan ceritanya.
Orang miskin, sebenarnya memiliki peluang besar untuk merasakan nikmatnya kasih sayang Allah. Tapi, kemiskinan tidak jarang juga menyebabkan kekufuran. Di zamanmu ini, kemiskinan sudah seperti kekayaan, mereka yang merasa miskin kebanyakan jatuh ke dalam kekufuran karena kemiskinannya tidak identik dengan kezuhudan dan kejujuran, tidak identik dengan ridha terhadap semua ketentuan Allah SWT.
Bila kekufuran menimpa si miskin, maka ini tak ubahnya si orang kaya yang mencari kekayaan dengan cara-cara yang tidak halal. Disinilah pentingnya mereka yang miskin mengetahui. Jangan sampai sudah miskin di dunia, di akhirat jauh lebih miskin lagi. Nabi Muhammad Yang Ummi mengatakannya sebagai “orang yang bangkrut total”. Ini ibarat merubuhkan rumah di dunia dan rumah diakhirat. Dunia tak dapat, akhirat tak selamat. Sangat merugi, sangat merugi, benar-benar sangat merugi.
Maka, jangan jadikan kemiskinan menjadi alasan dan tameng kekufuran dan kemungkaran. Ia yang miskin dan terikat dengan kemiskinannya, akan cenderung tergelincir dalam jerat-jerat nafsu si bodoh Iblis. Jadi, gunakankah kemiskinamu pada
materi untuk memupuk kekayaanmu disisi-Nya. Engkau boleh jadi si fakir dunia, tapi disisi-Nya semua itu tidak berarti apa-apa. Maka dekatilah Dia dengan kehambaanmu,
jangan dekati Dia dengan kesombonganmu atau keluh kesahmu. Jangan jadikan kemiskinan menjadikan dirimu lalai atas semua perintah Allah, larangan-larangan-Nya, sunnatullah-Nya, dan petunjuk dari Nabi Muhammad SAW.
Jangan dikira bahwa kemiskinan manusia itu menjadi belenggu sehingga ia harus bertahan hidup dengan melupakan Allah. Jangan dikira bahwa kemiskinan menjadi alasan yang bagus untuk menghadapi murka Allah. Percayalah, kalau mau dibandingkan dengan kehidupan Nabi SAW dan sebagian sahabat yang berbaju bulu
domba, yang hidup di emperan masjid Nabi dahulu (Asy Shufa), menggelandang di padang pasir nan panas, maka kemiskinan yang dialami oleh masyarakat di zamanmu saat ini tidak seberapa. Galilah hikmah dari kehidupan Nabi SAW yang bersahaja. Ia yang pernah mengganjal perutnya dengan batu selama tiga hari dua malam, tidak pernah mengeluh atas kelaparannya. Lha, manusia di zaman ini memang aneh. Kendati peradaban mampu memberikan kemudahan-kemudahan, namun seringkali ini malah menjadi godaan kesenangan. Maunya serba instan, sehingga ketika Allah uji dengan kepapaan, kemiskinan, kemelaratan, dan kekurangan lainnya, sebagian besar manusia semakin jatuh ke dalam kemiskinan dan kekufuran. Sebagian lagi malah benar-benar jadi seperti binatang, menghalalkan segala cara, demi isi perut belaka. Sungguh ini sangat bodoh, seolah hidup sekedar untuk makan saja. Padahal, kalimat bijak sering mampir di telinga bahwa makanlah secukupnya hanya untuk menegakkan tubuh dan meneruskan kehidupan.
Aku yang mencabut nyawa si miskin, kadangkala tidak habis mengerti. Kenapa manusia bisa begitu bodoh. Padahal, kemampuannya melebihi kemampuan kaumku (malaikat). Yah, akhirnya sering sekali aku mencabut nyawa si miskin dalam kebusukan dunia dan kebusukan akhirat. Benar-benar orang yang merugi.
Izrail mengakhiri cerita bagaimana mengurus si kaya dan si miskin yang terkelabui oleh bedak-bedak duniawi. Ia sekarang sudah duduk disampingku, menatap dengan kelembutan malaikatnya. Pertanyaan selanjutnya bergulir begitu saja menyambung dari kekayaan, kemiskinan, dan kekuasaan. Ketiganya dapat menjadi berkah bagi manusia, namun dapat juga dapat menjadi pembawa bencana. “Bagaimana penguasa yang meninggal?”, lanjutku, meneruskan pertanyaan.
Penguasa sebenarnya diberi mandat oleh Allah untuk membawa rakyatnya ke jalan yang diridhai-Nya. Ia yang mampu menjalankan kekuasaanya di bawah naungan Cahaya Ilahi, maka ia sebenarnya khalifah Allah.
Akan tetapi, kalau penguasa lupa diri, cenderung memperkaya diri, lebih mementingkan keluarganya, kelompoknya daripada kepentingan rakyat banyak, maka Allah sebenarnya menyiapkan adzab yang menyengsarakan sebelum aku mencabut rezekinya yang terakhir baginya dan seluruh rakyatnya. Itulah saat kematian.
Penguasa yang lalim, akan tersiksa oleh kelalimannya yang maujud dalam bentuk rasa takut mati, kepikunan yang berlarut-larut, sakit yang menahun, sampai tubuhnya yang tak lebih dari bangkai membusuk yang menunggu tebasan pedang waktu. Saat itulah, akupun harus menutup hidung ketika ruhnya kucabut degan paksa. Dan dikembalikan kepada-Nya, lantas dihempaskan-nya ke dalam adzab akhirat yang kekal.
Ketahuilah, aku berjalan bersama Sang Waktu, melihat banyak kerusakan di muka bumi karena penguasa yang lupa diri. Dahulu, sepeninggal nabi yang Ummi, kepongahan jahiliyah muncul kembali dalam bentuk ketamakan atas kekuasaan, kesombongan atas kesukuan, dan kejahilan jahiliyah yang sebenarnya ingin di hapuskan oleh Nabi Muhammad SAW. Maka, kehancuran Umat Islam pun kemudian dimulai ketika sebagian mencela sebagian lainnya, sebagian merasa diri paling benar, sebagian sangat buta mata hati sehingga tidak mampu berfikir jernih tentang kebenaran yang sudah di ajarkan Nabi Muhammad SAW.
Sudah banyak zaman kulalui, maka keruntuhan peradaban karena lemahnya penguasa sering aku lihat. Dan selama itu pula berbagai jenis penguasa yang lalai dan lupa diri sering kucabut nyawanya dalam penderitaan dirinya. Lucunya, banyak juga yang masih buta matahati, kendati kucabut nyawanya dalam kesesatannya, anak cucunya makin terjebak ilusi dengan membangun istana-istana kesia-siaan. Mereka bangun kuburan-kuburan yang megah untuknya, mereka kira kemegahan kuburan itu dapat menyelamatkan si mati. Tidak tahukah mereka bahwa hanya amal salehlah yang dapat menerangi ruh simati di alam kubur sana? Dungu, sungguh dungu perilaku penguasa yang lupa diri itu. Ia kira bisa menyogok Ilahi dengan membangun tiang-tiang besar di kuburannya.
Izrail kemudian bercerita tentang tugasnya mencabut penguasa lalim Bani Israil.
Ketika itu Sang Tiran sedang duduk-duduk seorang diri di istananya tanpa ditemani oleh salah seorang istrinya. Aku kemudian masuk melalui istananya dengan tiba-tiba. Penguasa Tiran itu marah dan berkata dengan pongah, ”Siapakah Engkau? Siapa yang mengizinkanmu masuk kedalam istanaku?”
Aku menjawab,
”Yang mengizinkanku masuk kedalam rumah ini adalah pemilik istana ini.
Sedangkan aku adalah yang tak bisa dihalangi oleh seorang pengawalpun
dan tidak butuh izin apapun untuk masuk kesini.
Bahkan terhadap raja-raja sekalipun,
aku tak perlu izin apapun,
tidak pernah takut pada kekuatan raja-raja yang perkasa,
dan tidak pernah diusir oleh penguasa tiran yang keras kepala
atau setan pembangkang sekalipun.”
Mendengar seruanku, penguasa lalim itu menutup mukanya. Agaknya ia sadar siapa yang dihadapinya. Dia pun jatuh tersungkur. Kemudian bangkit dengan memelas dan mengiba-iba.
”Jadi Engkau adalah Malaikat Maut?” , katanya.
Aku menjawab “Ya”.
Kemudian dia menawar dengan cengeng, ”Sudikah engkau memberiku kesempatan agar aku bisa memperbaiki kelakukanku?”.
Aku menjawab, ”Alangkah bodohnya engkau ini; waktumu telah habis; nafas dan masa hidupmu telah berakhir; tidak ada jalan lagi untuk memperoleh penangguhan.”
Penguasa tiran itu menangis tersedu-sedu, lalu ia bertanya,”kemana engkau akan membawaku?”
Aku menjawab, “Kepada amal-amalmu yang telah engkau kerjakan sebelumnya dan juga ke tempat tinggal yang telah engkau dirikan sebelumnya.”
Sang tiran menjawab bingung, “Bagaimana mungkin? Aku belum pernah mempersiapkan amal baik dan rumah baik apapun juga.”
Aku menjawab, ”Kalau begitu, ke neraka, yang menggigit hingga ke pinggir-pinggir tulang kamu akan ditempatkan.”
Akupun kemudian mencabut nyawa penguasa tiran itu yang jatuh mati ditengah-tengah keluarganya dengan mata melotot penuh penyesalan, di tengah-tengah mereka yang kemudian meratap-ratap dan menjerit-jerit. Andai saja
mereka mengetahui bagaimana buruknya neraka bagi si lalim itu, mungkin mereka akan menangis lebih keras lagi.
Keringat dingin tanpa terasa makin menderas, membasahi dahi dan leherku. Izrail kulihat masih berdiam diri seolah tahu aku masih mempunyai beberapa pertanyaan lain yang menggelayut di pikiranku.
“Ketika engkau mencabut nyawa seseorang, baik dalam waktu yang berlainan maupun bersamaan, engkau nampaknya tidak memiliki kesukaran apapun juga. Bagaimanakah dengan kematian di medan perang dimana terdapat puluhan bahkan mungkin puluhan ribu nyawa yang secara bersamaan melayang?”, pertanyaanku meluncur begitu saja. Izrailpun nampaknya masih tenang-tenang saja dan tidak terburu-buru. Ia merapikan rambutnya yang berkilauan, setelah melontarkan senyumnya, ia kembali bercerita.
Peperangan adalah bagian dari sunnatullah Tuhan. Bagian dari keseimbangan alamiah karena kaummu seringkali overdosis dalam banyak hal. Itulah senyatanya kejelekan manusia yang utama karena dicengkeram ketidakadilan dan keangkaramurkaan.
Peperangan, meskipun kamu seringkali tidak terima akan adanya peperangan, tapi Tuhan punya timbangan sendiri, yang semestinya diperhatikan oleh umat manusia. Namun, sudah menjadi ketentuan sejak awal penciptaan bahwa manusia pada akhirnya terbelenggu dengan berbagai persoalan karena ketidakmampuannya mengenal dirinya sendiri. Belenggu kepemilikan, penguasaan, keserakahan, dan nafsu ingin menguasai lainnya akhirnya akan menyeret umat manusia ke dalam peperangan demi peperangan.
Peperangan jangan ditangisi. Kalau timbangan sunnatullah sudah bergeser ke titik yang tak dapat balik, maka setekun apapun doa-doamu, sunnatullah tetap terjadi. Ambil saja contoh di Afghanistan, Irak, Palestina, atau di belahan dunia lainnya. Kendati di situ banyak Umat Islam, namun sunnatullah tidak pernah bisa dikelabui, ia akan berjalan apa adanya, sesuai ketentuan-ketentuan yang sudah ditetapkannya. Ketika umat lalai akan arti pentingnya peradaban, ukhuwah, ilmu pengetahuan,
keadilan, lupa arti pentingnya kesatuan, maka peperangan dapat menjadi guru untuk mengingatkan manusia, bahwa itulah akibat kalau umat menjadi bodoh dan bercerai berai. Mereka seperti buih-buih yang akan mudah menjadi bulan-bulanan gelombang zaman yang tidak menentu. Apakah engkau lupa kalau dulupun adzab peperangan menimpa Umat Islam ketika Jenghis Khan dan tentara Mongolnya mengamuk di kawasan Jazirah Arab, menghancurleburkan negeri-negeri Islam dari India sampai Baghdad karena kelemahan umat? Manusia mungkin berkewajiban meminimalisir dampak-dampak perang, itu perbuatan mulia. Tapi apakah perang lantas berhenti, serahkan saja kepada-Nya. Karena justru dengan peperangan manusia semestinya akan mengerti bagaimana dampak-dampak perbuatannya, kebodohannya, keangkaramurkaan, dan kesombongannya. Namun, manusia itu seringkali mirip keledai. Meskipun, perang demi perang dilalui. Toh tetap saja terjadi dan celakanya dianggap sebagai solusi.
Dalam peperangan, manusia itu seperti onggokan kacang yang dimasukkan ke dalam kuali. Aku lebih mudah melakukan tugas saat itu, karena sekali sentil dengan kedua jariku maka ribuan orang akan mati. Persis kacang dalam kuali, dengan sekali pukul puluhan kacang dalam kuali remuk redam. Wujud pukulanku bermacam-macam. Seringkali peluru, meriam, roket, rudal, bahkan pernah juga bom Atom.
Tapi, peperangan zaman sekarang lebih kejam dari dahulu. Dahulu, sekali tebas badan terbelah atau leher terputus mempercepat kematian. Memang bagi manusia terlihat kejam. Tapi manusia sudah mengembangkan kekejaman dalam beberapa format yang terlihat halus, berbudi, namun sebenarnya lebih kejam dan mengerikan. Lha sekarang, peperangan di satu tempat memberikan dampak di tempat lain dimana orang tidak tahu menahu masalah yang terjadi. Belum lagi penderitaan rakyat tak berdosa. Apalagi kalau para spekulan ekonomi mulai bermain mata, seperti menggoreng saham, melambungkan harga bahan pangan, minyak, menjual senjata, dan lain sebagainya. Maka penderitaan peperanganpun akan menjalar ke seluruh dunia.
Nyawa yang kucabut saat perang di masa kamu tidak seberapa dibandingkan peperangan jaman dulu. Tapi nyawa yang meregang-regang di telan penderitaan akibat dampak perang dan pasca perang seperti keracunan, kelaparan, kemiskinan,
penyakit, cacat, sakit mental, dan lain-lainnya malah tumbuh subur, memperpanjang usia penderitaan banyak orang.
Perang sekarang sudah menjadi komoditas. Alasan perang pun kebanyakan tak lagi berhubungan dengan kebenaran di Jalan Allah. Tapi sekedar memenuhi kebutuhan ekonomi semata. Jadi sebenarnya tidak jauh-jauh dari urusan perut. Bahkan tidak jarang perang muncul karena kedunguan manusia, hingga perangpun berkecamuk karena adu domba dan fitnah. Urusan perut yang sederhana bisa menjadi bencana perang yang membuat merana.
Maka, sudah jarang sebenarnya prajurit-prajurit yang berperang dijalan Tuhan. Padahal, ada kemuliaan bagi mereka yang murni berjihad di jalan Tuhan. Meski mereka disebut mati, tetapi mereka sebenarnya hidup dan sudah memilih kehidupan yang lain.
Aku pun seringkali trenyuh, penderitaan manusia semakin memanjang dari satu nasib ke nasib lainnya. Dari takdir buruk yang satu ke takdir buruk lainnya. Seolah keledai di penggilingan masa. Tapi, semua itu adalah takdir dan sunnatullah.
Dan semua itu bukan lagi menjadi tugasku, karena sebenarnya itu adalah karena kebodohan kaummu sendiri. Tuhan cuma sekedar menetapkan hukum-hukumNya. Manusia menjalaninya, kalau mereka berbuat kebaikan, selaras dengan ruang dan waktunya, dalam arti selaras dengan kehendak Allah, maka hasilnya pun baik dan semata-mata karena anugerah-Nya. Tapi ketika kalian berbuat tanpa keselarasan, menolak harmoni dalam kedinamisan alam semesta, dirinya dan dengan Tuhannya, maka itulah akibat ulah kalian sendiri. Sama halnya dengan mereka yang tidak mempercayai akhirat setelah aku datang. Mereka memang pastas dijuluki “penjudi yang bodoh”, yang berspekulasi dapat menciptakan kesejahteraan dengan peperangan demi isi perut sendiri.
Aku setengah terpana mendengar uraiannya tentang peperangan. Sebagai pencabut nyawa, aku sendiri tidak pernah mengira bahwa Izrail dapat menangkap banyak makna-makna tersembunyi di balik peperangan, mulai dari keseimbangan alam, sebagai suatu contoh buat manusia, maupun sebagai suatu pengajaran bagi manusia
untuk menarik hikmah tentang kehidupan. Yah, peperangan memang sepertinya sudah menjadi bagian dari peradaban manusia sejak dahulu kala, apapun alasannya, peperangan sepertinya sudah menjadi bagian solusi manusia. Aku membatin.
Seberapa berharga sebenarnya manusia menghargai kehidupannya, memang suatu misteri. Di satu sisi ada yang mati-matian tidak menyerah dengan kehidupannya, bahkan dengan jalan peperangan sekalipun, namun ada juga sebenarnya yang malah menyia-nyiakan kehidupannya. Seolah dirinya sudah menjadi Tuhan untuk menentukan nasib sendiri. Sehingga dalam titik yang ekstrim, maka bunuh diri kadangkala menjadi suatu solusi. “Bagaimanakah engkau mencabut nyawa orang yang bunuh diri?”, setengah nyeletuk aku kembali bertanya kepada Izrail.
Bunuh diri sangat dicela oleh Tuhan. Karena tidak saja mengabaikan tugas dan amanat, tetapi selemah-lemahnya manusia. Bahkan binatang yang tak berakal pun jauh lebih mulia dari mereka yang mengambil jalan pintas untuk bunuh diri. Tidak ada
ampun untuk mereka yang bunuh diri dengan semena-mena. Kenapa begitu? Karena Tuhan tidak menginginkan ruh manusia yang bunuh diri. Senyatanya, bunuh diri adalah perbuatan Setan dan Iblis. Oleh karena itu, sebenarnya aku tidak segan-segan
mengambilnya, dan mencampakkannya kedalam jahanam yang kekal. Tetapi karena kebodohan manusia saja maka ia melakukan bunuh diri. Aku cuma instrumen yang digerakkan oleh kehendak Allah. Ruh yang bunuh diri tidak akan pernah menjadi ruh penasaran, tapi ia akan ditempatkan di alam barzakh yang sempit dan gelap. Itulah alam kegaiban tempatnya semua arwah yang melupakan Tuhan. Orang yang bunuh diri adalah mereka yang tidak saja menyalahi amanat Ilahi. Tetapi, menjadi sangat dimurkai Allah SWT. Bunuh diri ibarat kebodohan dan pembangkangan Iblis yang menolak perintah-Nya untuk bersujud kepada Adam. Dalam konteks demikian kemurkaan Allah SWT begitu besar sehingga Ia tidak lagi menerima arwah atau roh ditempat semestinya. Ketahuilah, Allah telah berfirman tentang mereka yang bunuh diri, “Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu (QS 4:29)”.
“Aku tidak dapat bercerita banyak tentang orang bunuh diri”, Ujar Izrail setengah bersedih. Ia kemudian melanjutkan.
Karena sudah bukan lagi menjadi tanggung jawabku sejak ia memutuskan untuk mematikan diri sendiri. Yang patut kamu ketahui adalah, bunuh diri adalah buah dari kesesatan manusia yang sesesatnya. Amal ibadah dan kebaikannya akan musnah seperti debu-debu beterbangan. Persis seperti musnahnya amal dan ibadah Iblis yang sudah mengabdi kepada-Nya selama ribuan tahun.
Bagi yang bunuh diri, maka di akhirat ia akan mengalami siklus bunuh diri yang terus menerus tanpa henti sebagai wujud siksaannya di akhirat. Ia yang minum racun akan terus menerus minum racun, ia yang bunuh diri dengan belati akan disiksa sesuai dengan cara bagaimana ia bunuh diri. Akibatnya, siklus penyiksaan dengan cara bunuh dirinya akan terus menerus dialami sebagai siksa yang tidak pernah berhenti.
Ia yang bunuh diri, akan abadi dengan siklus bunuh dirinya di akhirat, namun dengan siksa yang lebih berat.
Izrail mengakhiri penjelasan tentang orang yang bunuh diri dengan sedikit masgul, kemudian ia mengatakan, ”Aku akan meneruskan bagaimana aku mencabut nyawa mereka yang dibunuh, baik dalam kesesatannya, mempertahankan kehormatannya, maupun dalam keadaan yang tidak diinginkannya.”
Pembunuhan tanpa alasan yang jelas merupakan tindakan manusia yang dimurkai oleh Allah. Dimurkai dalam arti bukan saja menghilangkan nyawa manusia tetapi dalam arti merusak makhluk ciptaan-Nya yang merupakan citra diri-Nya yang sempurna. Pembunuhan di luar arena peperangan sangat diharamkan, bahkan Allah mengatakan harus menebusnya dengan taubatan nasuha.
Bila si pembunuh sadar. Ia harus menebusnya dengan penghambaan kepada-Nya sepanjang hidupnya. Bila ia semakin tersesat, menganggap nyawa manusia seperti miliknya sendiri, maka ia akan dihempaskan kedalam kenestapaan neraka dunia. Ia akan semakin diselimuti nafsu ammarah yang sudah menjelma menjadi Iblis sang Durjana. Yang menafikan semua perintah-Nya, yang membangkang karena kesombongan dirinya. Ia pun sudah menjadi budak si Iblis.
Mereka yang dibunuh akan mati dalam banyak keadaan. Ada yang dibunuh karena kesesatannya, dan ini merupakan hukuman Allah yang disegerakan. Ada yang
dibunuh karena kesewenang-wenangan, ada yang dibunuh karena membela kehormatan, ada pula yang dibunuh karena membela keluarganya, atau agamanya bukan dalam peperangan. Mereka yang dibunuh dalam rangka membela agama, keluarga, kehormatannya, tanah air, dan dibunuh karena memegang keyakinan di jalan Allah akan menjadi syahid. Dia akan hidup disisi Allah.
Demikian juga, hati-hatilah dalam bersikap. Sebenarnya makhluk lain tidak berhak untuk menentukan hidup makhluk lainnya. Temasuk disini meminta kematian atas makhluk lainnya. Di zamanmu, keinginan untuk meminta kematian22 terlihat seperti sesuatu yang wajar, lumrah dan manusiawi. Tapi hati-hatilah, kematian yang dipaksakan tanpa alasan tidaklah dibenarkan oleh Islam. Semenderita apapun engkau rasakan suatu penderitaan, tanpa kesadaran diri bahwa itu semua adalah ujian dari-Nya, maka celakalah bagi mereka yang meminta kematian baik untuk dirinya maupun orang lain. Ketahuilah bahwa Allah tidak akan melewati batas dalam menguji semua manusia (QS 2:286). Dia sudah menentukan suatu keadaan yang optimum bahwa penderitaan yang ditanggung oleh seseorang adalah ujian yang masih dalam batas-batas kemampuannya. Ketika kamu menyerah, dengan alasan tidak sanggup lagi, maka ketahuilah bahwa apa yang muncul di pikiranmu senyatanya bisikan-bisikian syeitan yang akan membawamu kepada penyangkalan atas kebijaksanaan Tuhan Yang Maha Bijaksana. Ketika engkau menyerah dengan alasan tidak sanggup menanggung derita yang engkau alami, maka waspadailah atas keputusan yang akan membawa penyesalan di kemudian hari. Sesungguhnya apa yang engkau sebut penderitaan adalah suatu ujian. Ketika engkau menyadari hal ini, dan lolos dari ujian yang berupa penderitaan, maka engkau sebenarnya telah melewati suatu fase kritis dalam kehidupanmu, yaitu fase bertambahnya keimananan dirimu akan Keadilan dan Kebijaksaaan Tuhan, Rahmat, dan Kasih Sayang-Nya.
Ingatlah penderitaan seorang anak manusia bernama “Ahad”23, seorang anak berkulit hitam yang hidup di Amerika sana, yang kehilangan setengah dari otaknya karena letusan Magnum kaliber 3,2. Setengah dari batok kepala sebelah kanannya hancur karena letusan peluru. Namun, semangatnya untuk hidup tak pernah padam. Bahkan
semangat hidupnya tidak pernah padam kendati para dokter ahli yang merawatnya memperkirakan harapan hidupnya sangat kecil. Pernahkah engkau bayangkan seorang manusia dapat hidup tanpa otak kanannya dengan sebelah batok kepalanya menganga lebar-lebar. Namun, itulah buah dari mentalitas tahan ujian seorang anak manusia. Kendati tanpa tanpa otak kanan, yang menyebabkan tubuh sebelah kirinya lumpuh, ia berhasil melalui suatu fase krisis dalam kehidupannya. Ia mampu menjalani semua itu dengan ketabahan seorang manusia yang berakal, yang mampu menyelaraskan diri dengan sunnatullah, mampu memahami pengetahuan, dengan dukungan tim-medis pemerintahnya yang menghargai kehidupan, dengan bantuan kasih sayang orang tua dan kerabatnya yang tak pernah padam. Maka Ahad yang malang pun menjalani kehidupan kembali dengan normal, dengan kepala yang setengah darinya telah digantikan dengan batok kepala buatan. Ia, keluarganya, dan mereka yang bertangguh jawab terhadap kesehatan masyarakatnya, menghargai kehidupan yang telah dianugerahkan Allah kepadanya, sehingga dengan ikhtiar dan keyakinan dirinya akan kasih sayang Tuhan yang melimpah tanpa batas, Ahad dapat menjalani kehidupan seperti manusia normal umumnya. Aku saat itu, terus terang saja, bersiap-siap untuk menjemputnya. Tetapi, Allah berkehendak lain, maka Ahad pun tetap menjalani kehidupannya dengan hikmah yang lebih mendalam tentang arti rahmat dan kasih sayang Tuhan.
Ingat juga penderitaan seseorang yang berada dalam keadaan antara hidup dan mati, yang koma selama berbulan-bulan. Namun, dengan ketabahan seseorang yang menyadari arti upaya manusia dan kasih sayang Tuhan. Hanya keridhaanlah yang akhirnya mengakhiri kehidupan seorang anak manusia dalam rengkuhan kasih sayang Tuhan. Jadi, jangan cengeng menyikapi semua penderitaanmu. Engkau dan kaummu yang sudah dianugerahi akal dan pikiran, semestinya dapat memahami hikmah-hikmah kehidupan. Bukannya menyerah dan meminta kematian, sedangkan Dia yang memberikan dan memiliki kehidupan belum menetapkan kematian pada mereka yang mengalami penderitaan seberat apapun menurut ukuran kamu. Jangan pernah merasa bahwa keinginan untuk mematikan adalah suatu jalan terbaik. Selama Dia belum menetapkan, maka keinginanmu tidak lebih dari putusnya harapanmu atas rahmat dan anugerah-Nya. Ketika engkau menginginkan kematian untuk dirimu atau pun orang lain, maka ketahuilah bahwa engkau tak lebih dari pengecut yang lari dan lalai bahwa rahmat dan anugerah-Nya melimpah tanpa batas.
Ada banyak hikmah ketika seseorang mesti mati dalam peristiwa-peristiwa yang disebut manusia sebagai tragedi. Banyak hikmah yang tersembunyi disana. Aku tidak mengetahui apakah hikmah yang dirahasiakan Allah dariku. Itu adalah hak prerogatif-Nya yang cuma Dialah yang mengetahuinya. Ada kematian tragis di usia muda, di usia remaja, di usia paruh baya, dalam sakit yang tak terkira, sampai di usia tua, atau kematian masal karena bencana-bencana alam atau keteledoran manusia. Aku sekedar menjalankan perintah-Nya sehingga aku pun tak tahu kenapa si A mati muda, mati remaja, kenapa seseorang harus koma, atau kematian lainnya. Bagiku semuanya sama saja, karena tugasku sekedar mencabut nyawa.
“Pernahkah engkau dapati mereka yang ingin kau habisi berusaha bersembunyi”, tanyaku. Izrail, mengernyitkan alisnya yang rapih. Lucu juga melihat wajahnya dalam posisi itu. Persis tokoh-tokoh game animasi Jepang “Final Fantasy”.
“Hmm, ya rasanya pernah juga tuh. Dulu sekali sewaktu aku mengunjungi Nabi Sulaiman setiap hari”, ujarnya kalem. Dia sekarang sudah duduk disamping ranjangku, seperti seorang Bapak mendongeng disamping tempat tidur anaknya.
Ya dulu aku setiap hari diperintahkan oleh Allah untuk mengunjungi Sulaiman. Setiap hari, aku tanyakan kepadanya apakah ada yang bisa kubantu sekedar ini atau itu. Kalau dia bilang “ya”, maka aku menyelesaikan perintahnya dengan tuntas. Kalau “tidak”, ya aku cuma celingukan saja jalan-jalan di istananya yang indah. Terus balik kembali ketempatku. Begitu saja setiap hari.
Suatu hari, seperti biasanya aku mengunjungi dia. Di balairung, ia sedang bercengkerama dengan rakyatnya. Tiba-tiba pandanganku tertuju kepada seseorang
yang hadir di balairung itu. Lama sekali kuperhatikan orang itu. Orang itu pun menoleh kepadaku, dan terlihat makin lama dia semakin tegang dan ketakutan. Akupun kemudian mengalihkan perhatian darinya, supaya dia tidak terlalu tegang. Setelah seharian di istana Sulaiman, aku kemudian berpamitan.
Esoknya, aku pun kembali ke kerajaan Sulaiman, dan melihat pada keramaian di balairung seperti kemarin. Aku mencari-cari orang yang kemarin kutatap itu, namun tidak ketemu juga. Setelah pertemuan usai, kutemui Nabi Sulaiman a.s.
“Wahai Nabi Allah, siapakah orang yang kemarin kulihat ada di balairung”.
“Ohh si Polan yang kamu pelototin itu...”, ujar Nabi Sulaiman.
“Ya benar, si Polan kemanakah dia perginya?”.
“Lho memang kenapa kamu tanyakan orang itu.”, ujar Nabi Sulaiman tidak menjawab pertanyaanku.
“Lusa kemarin, aku diperintahkan oleh Allah untuk mengambilnya hari ini, tapi kok aneh dia kemarin masih disini.”, aku bertanya sedikit bingung.
“Ya, memang dia ketakutan melihatmu dan menanyakan kamu.” Nabi menjawab.
“Lalu, ketika kuberitahu bahwa kamu adalah malaikat pencabut nyawa, dia memohon kepadaku untuk dikirimkan ke India.”
“Maka dengan ilmuku, kukirimlah dia ke suatu tempat di India sesuai dengan permintaannya.” Nabi Sulaiman menjelaskan.
“O, ya benar India, aku memang heran kemarin itu. Karena Allah memerintahkan aku
untuk mencabut nyawa si Polan itu di India hari ini”, kemudian akupun segera berpamitan kepada Nabi Sulaiman a.s. Dalam sekejap aku berada di India. Kulihat si Polan sedang sekarat menggelepar-gelepar di suatu dataran tinggi di India. Lantas akupun mencabut nyawanya. Begitulah, kalau ajal sudah mendekat, tak ada tempat untuk sembunyi.
“Bagaimana dengan wali Allah?” Aku kembali bertanya padanya. Ia melihat kepadaku. Tersenyum.
“Seorang wali mempunyai kedudukan yang istimewa di mata Allah”, ia mengawali ceritanya.
Setelah Nabi Muhammad SAW menutup era para Nabi dan rasul. Tidak ada lagi nabi-nabi dan rasul-rasul lainnya, maka akupun sudah tidak pernah lagi mencabut nyawa dengan kebahagiaan seperti saat mengantarkan ruh para nabi kepada-Nya. Kecuali para kekasih Allah yang gugur dan berjihad di jalan-Nya dan yang menjadi guru manusia dengan keikhlasan tanpa batas. Itulah para Wali Allah yang jumlahnya dalam setiap zaman beribu-ribu. Kadang ada yang kaya, yang miskin, yang jadi
penguasa, yang jadi karyawan, yang jadi tukang sapu, yang jadi gembel, yang jadi prajurit, yang jadi tukang sol sepatu, yang jadi pemelihara makhluk-Nya yang disia-siakan manusia, yang diperkenalkan kepada umum, yang tersembunyi, dan lain sebagainya.
Merekalah yang menegakkan warisan Nabi terakhir Muhammad SAW. Meneruskan rahmatnya kepada semua makhluk. Biasanya aku dititipin sesuatu oleh yang Maha Kuasa kalau aku menerima daftar wali-wali-Nya yang harus kucabut nyawanya. Allah biasanya menitipkan salam seperti ini,
”Salam kesejahteraan bagimu, wahai wali Allah.
Berdiri dan keluarlah dari rumahmu yang engkau robohkan
menuju rumahmu yang engkau makmurkan!”
Biasanya para wali itu bergegas-gegas kalau aku sudah berteriak-teriak di halaman rumahnya seperti itu. Dan begitulah, akupun kemudian masuk dengan senyum sumringah Wali Allah. Seringkali, aku mencabut nyawa Sang Wali dalam berbagai keadaan. Ada kalanya aku mencabut dalam kegilaannya kepada Allah. Seringkali juga
ada yang kucabut dalam kefakirannya terhadap dunia, menggelandang di emper-emper toko atau masjid. Ada pula yang telanjang bulat dan tanpa pakaian, kecuali cintanya kepada Allah yang membuatnya menjadi majnun. Ada juga yang sedang enak-enaknya membaca ayat-ayat suci kucabut. Juga ada yang sedang istirahat dengan tenang sambil duduk-duduk minum kopi seusai subuh. Ada juga yang
melalui sakit menahun yang dinikmatinya karena semata-mata ridhanya atas semua ketentuan Allah SWT.
Demikian juga dalam peperangan. Wali yang langsung kuraih dengan lemparan peluru atau dentuman meriam sang maut. Badannya hancur lebur, tapi ruhnya terbang bersamaku dengan kegembiraan tak terkira.
Yang sadispun ada. Seperti terpotong-potong tubuhnya di tiang gantungan karena sudah tidak merasakan lagi segala macam kesakitan yang menimpanya. Itulah si Mansyur al-Hallaj yang gelagapan di telan kebaqaan-Nya. Darah yang muncrat
berceceran dari tubuh Wali Allah kadangkala, dengan kehendak-Nya, seperti menjadi saksi dan menuliskan lafaz Allah ..Allah..Allah...
Mencekam memang, tapi begitulah keadaan wali-wali yang sering kutemui saat Allah sudah menghendakinya kembali kepada-Nya. Bagiku, mencabut nyawa Sang Wali seperti mendapat kehormatan dan barokah Allah, karena dari situ aku bisa merasakan gairah cintanya pada Allah SWT.
Hamba Allah yang diridhai Allah mengalami kondisi yang menakjubkan. Seperti pernah disabdakan oleh Nabi SAW ketika menceritakan bagaimana hamba Allah yang diridahi Allah menjelang kematiannya. “Jika Allah SWT ridha terhadap hamba-Nya, maka Dia kan berfirman, ’Wahai Malaikat Maut, pergilah kepada si Anu dan bawalah kepadaku ruhnya untuk kuanugerahi kebahagiaan. Amalnya kupandang sudah mencukupi: Aku telah mengujinya dan mendapatinya seperti yang kuinginkan.’” Kalau Allah sudah menghendaki begitu, maka akupun turun dengan limaribu malaikat lain. Semuanya membawa tongkat yang terbuat dari kayu manis dan akar-akar tanaman safron, setiap malaikat itu menyampaikan pesan dari Tuhannya. Kemudian, para malaikat itu membentuk dua barisan untuk mempersiapkan keberangkatan ruhnya. Ketika setan melihat mereka, dia meletakkan tangannya di atas kepala mereka dan menjerit keras-keras. Para bala tentaranya bertanya, “Ada apa Tuanku?” Setan menjawab, “Tidakkah kamu melihat kehormatan yang telah diberikan manusia ini?”. Mereka menjawab, ”Kami telah berusaha sekeras-kerasnya terhadapnya, tapi dia tak bisa dipengaruhi.”
Ketahuilah, ketika aku hendak mengambil nyawa orang arif, maka Allah Ta’ala menampakkan pada telapak tanganku “Bismillahirrrahmaanirrahiim”, dengan tulisan dari cahaya yang berpendar dan bersinar, lalu Dia memerintahkan aku untuk membentangkan tanganku kepada orang arif itu, sehingga iapun melihat tulisan itu. Bila ruh orang arif itu melihatnya, tulisan itu terbang kepadanya lebih cepat dari kejapan mata. Itulah tanda Rahmat dan Kasih Sayang Allah kepadanya. Al Hasan berkata,
Tidak ada yang kebahagiaan bagi mereka yang beriman
kecuali perjumpaan dengan Allah, dan barangsiapa dianugerahi perjumpaan tersebut,
maka hari kematiannya adalah
hari kegembiraannya,
kebahagiaannya,
keterpesonaannya,
keagungannya,
dan kehormatannya
Itulah sekelumit kemuliaan yang diperoleh para Wali Allah yang bisa kuceritakan. Ada banyak kemuliaan disana, baik yang dapat kamu tangkap dengan tanda-tanda lahiriah, maupun batiniah, gaib maupun nyata.
Sedangkan bagi yang bukan wali, atau mengaku-ngaku wali, akupun akan berteriak kepadanya,
”Berdiri! Keluarlah dari rumahmu yang engkau makmurkan
menuju rumahmu yang engkau robohkan!”
Kalau sudah kuteriakkan begitu, maka mereka yang mengaku wali, atau ulama yang lupa diri, akan menggigil, gemetaran dan pucat pasi di ranjangnya. Tapi aku tak peduli dan aku akan menampakkan diri sesuai dengan apa yang telah dilakukannya, yaitu menipu manusia atas nama Tuhan.
Kendati para wali dan kaum arifin merasakan kengerian juga menjelang ajal tiba, namun bagi mereka saat kematian merupakan undangan yang ditunggu-tunggu, sehingga banyak diantara mereka malah membuat syair-syair yang syahdu tentang aku.
Izrail nampak terlihat sumringah. Senyum di wajahnya yang halus dan luar biasa terlihat mengembang. Sesekali ia mengerlingkan matanya keatas, kemudian ia menatapku dan bersyair dengan untaian syair kaum arifin :
Kerinduan hati para arifin adalah kepada zikir,
dan zikir mereka ada dalam kesunyian munajat.
Cangkir takdir diedarkan diantara mereka,
dan mereka berpaling dari dunia bagai orang mabuk.
Rasa rindu mereka berkeliling di perkemahan,
Jika ada pecinta Tuhan yang bersinar bagai bintang gemilang.
Jasad mereka terbujur karena cinta-Nya,
dan ruh ruh mereka yang tertabir,
pergi di malam hari menuju keagungan.
Perhentian mereka hanyalah disisi Sang Kekasih;
Dan mereka tak lagi disimpangkan kesengsaraan atau bahaya
(Abu Said al-Kharraz)
Demi kebenaranMu, tak akan kupandang selain Engkau
dengan mata cinta
Hingga aku bertemu denganMu
Aku melihat-Mu sebagai Penyiksaku,
Yang melemahkan penglihatanku,
Dan membuat pipiku merah karena rasa malu pada-Mu.
(Abu Ali Al-Rudzbari)
Rumah yang kau tempati, tak lagi perlu lentera.
Wajah-Mu yang kami harap jadi bukti
Di hari ketika manusia memerlukan bukti.
Semoga Tuhan tidk memberikan kebahagiaan kepadaku
Jika baru hari ini aku bersimpuh memohon.
(Al-Syibli)
Ketika hatiku mengeras dan jalanku menyempit,
Kujadikan harapan-harapanku sebagai titian menuju ampunan-Mu
Dosaku begitu besar, namun, kubandingkan dengan ampunan-Mu,
Ternyata ampunan-Mu lebih besar.
Engkau selalu mengampuni dosa,
Dan Engkau selalu bermurah hati
dan pemaaf karena sifat-Mu yang Pemurah.
Tetapi, seandainya bukan karena Engkau,
Tak seorangpun yang akan digoda Iblis;
Maka bagaimana,
sedangkan dia telah menggoda insan pilihan-Mu,
Adam?
(Al-Syafii)
Lucu juga melihat malaikat bersyair, ia terbang mengelilingi kamarku, meliuk-liuk dan menari-nari dengan gemulai seolah alunan nada syair itu mengombak dan menggelombang seirama dengan gerakan tubuhnya. Pakaiannya yang putih kemilau dibawah sinar lampu kamarku semakin cemerlang dengan diikuti percikan bintang-bintang.
Aku tersenyum-senyum bahagia terbawa arus syair yang ia lantunkan. Beberapa jenak kemudian, ia sudah kembali disampingku, sambil memegang tanganku yang lemas seperti tanpa tenaga.
“Kalau para Nabi bagaimana?”, tanyaku sedikit merajuk seperti masa kanak-kanak dulu aku merajuk minta dongengan pada ibundaku dulu.
“Para Nabi mempunyai kisah yang berbeda-beda”, tuturnya melanjutkan seolah ingin memuaskan rasa ingin tahuku yang tak pernah berhenti.
Nabi Musa misalnya, galaknya minta ampun. Dulu aku mendatangi manusia terang-terangan. Aku mendatangi Musa waktu itu. Aku kira Allah sudah menginformasikan Musa akan kudatangi. Tidak tahunya, dia menempeleng dan mencungkil mataku.
Akupun lalu kembali dan mengadu kepada-Nya, ”Wahai Tuhanku, Musa telah mencungkil mataku. Kalau bukan kemuliaan atas-Mu, pastilah aku akan menyusahkannya.”
Allah kemudian berfirman, ”Pergilah kepada hamba-Ku (Musa) dan katakan padanya agar meletakkan tangannya di atas kulit sapi, maka setiap rambut yang disentuh tangannya umurnya akan bertambah selama setahun”.
Akupun kemudian kembali dan menyampaikan firman Allah itu kepada Musa.
Lalu Musa bertanya,”Lalu apakah setelah itu?”.
Aku menjawab , “Kematian”.
Musa kemudian tergesa-gesa berkata, ”Kalau begitu, sekarang saja.”
Lalu aku menciumnya dan mencabut nyawanya. Allah pun kemudian mengembalikan mataku. Setelah kejadian itu, aku pun kemudian mendatangi manusia secara diam-diam. Maka akupun menyamar jadi bermacam-macam hal. Ada wabah penyakit, kecelakaan, peperangan, kegembiraan, kesedihan, dan lain sebagainya. Disetiap kesempatan, di setiap waktu, aku bisa saja membuka penyamaranku, dan mencabut nyawa setiap makhluk.
Nabi Ibrahim a.s juga mempunyai jalinan kisah yang menarik ketika aku mendatanginya. Aku datang kepada Ibrahim a.s. dengan mengatakan kepadanya bahwa Tuhan sudah memerintahkan diriku untuk mencabut nyawanya dengan cara yang paling ringan, seperti ketika aku mencabut nyawa seorang Mukmin.
Ibrahim kemudian menjawab,”Sesungguhnya aku memintamu dengan hak Yang Mengutusmu untuk memohon pertimbangan kepada-Nya tentang penundaan kematianku”.
Mendengar ia berkata begitu, akupun kembali menghadap Allah SWT dan berkata pada-Nya, “Sesungguhnya kekasih-Mu meminta agar aku meminta pertimbangan kepada-Mu tentang menunda kematiannya.”
Allah kemudian berfirman, “Datangilah dia dan katakan padanya, ‘Sesungguhnya Sang Kekasih sangat ingin bertemu dengan kekasih-Nya’.”
Aku kemudian kembali kepada Ibrahim a.s. dan menyampaikan firman Allah tersebut. Ibrahim a.s kemudian berkata, ”Laksanakanlah apa yang diperintahkan-Nya!”.
Aku juga kemudian bertanya padanya, ”Wahai Ibrahim, pernahkah engkau minum minuman keras?”
Dia menjawab, ”Belum pernah sama sekali”.
Aku kemudian menciumkan bau wanginya arak dari surga dan mencabut nyawa Ibrahim Khalil Allah dalam keadaan seperti itu. Mabuk oleh harumnya bau wangi arak surgawi. 24
“Adakah saat-saat yang mengesankan ketika engkau menunaikan perintah-Nya?”, aku masih melanjutkan pertanyaan tentang caranya mengambil ruh para nabi.
Yang paling berkesan? Wah apa ya yang paling berkesan. Barangkali kalau kuingat - ingat ada tiga peristiwa pengambilan yang paling berkesan sepanjang karirku. Yang pertama mungkin sewaktu aku mengambil nenek moyangmu, Adam.
Ya, aku ingat saat itu.
Itulah tugas resmiku yang pertama kali dilakukan saat mencabut manusia sempurna yang pertama. Adam yang malang, kelalaianya menyebabkan Dia mengusirnya dari Alam Surgawi yang tak terkira indahnya. Padahal, dulu kami pernah bersama-sama disana. Aku pernah melihatnya ketika awal mula, sejenak setelah materi pembentuknya selesai dibuat oleh-Nya.
Ia diajar langsung oleh-Nya, dari perbendaharaan-Nya yang tersembunyi. Tentang nama-nama, hukum-hukum alam, dan tentang manusia itu sendiri. Itulah asmaa-a-kulahaa yang ia pelajari dari Dia Yang Memiliki Perbendaharaan Tersembunyi. Dan dengan pengetahuan-Nya itu, Adam mengalahkan semua pengetahuan kami.
Ketika kami protes pada-Nya, dan kamipun harus tahu diri dengan keluasan pengetahuannya, kami pun mengerti, Dia lebih tahu segalanya. Karena kami sesungguhnya tidak tahu apa-apa atas keluasan Ilmu-Nya. Itupun lebih banyak disebabkan karena kadar yang sudah kami terima sebagai penyampai pengetahuan belaka atau sebagai spesialis untuk tugas-tugas tertentu. Kami tidak memiliki memori yang mampu dikembangkan lebih jauh. Menthok! Cuma sebatas kadar saya sebagai malaikat semata – sebagai pencabut nyawa. Lebih dari itu, cuma Adamlah yang
24 Diriwayatkan oleh Abu Asy Syaikh dari ref 10, hal. 62
memilikinya, namun karena itu pula Adam dan anak cucunya memerlukan ruang-waktu. Tanpa ruang waktu, Adam tak bedanya dengan kami. Sebab itulah Adam yang merupakan tajali-Nya yang sempurna, harus menanggung beban karena ilmu dan kelemahannya. Dan lalai, rupanya bakal menjadi sifat anak cucunya di dunia. Itulah tugasku yang terberat, sekaligus menjadi kewajibanku.
Oh terkutuklah si Iblis yang membangkang. Ia jerumuskan Adam dan Hawa untuk menanggung beban di dunia. Ketika ilusi kesombongannya mencuat, Iblis berkata: "Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah"(QS 38:76). Allah pun mengusirnya dari surga, Allah berfirman: "Maka keluarlah kamu dari surga; sesungguhnya kamu adalah orang yang
terkutuk, sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan" (QS 38:77-78). Iblis yang ngeyel putus asa, karena ia tahu kutukan-Nya adalah tak terbantahkan, maka Iblis kembali berkata: "Ya Tuhanku, beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan" (QS 38:79). Allah yang Maha Bijaksana kemudian berfirman: "Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya (hari kiamat)" (QS 38:80-81). Iblis menjawab: "Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka. (QS 38:82-83). Allah Yang Maha Benar berfirman: "Maka yang benar (adalah sumpah-Ku) dan hanya kebenaran itulah yang Ku-katakan". (QS 38:84). Sesungguhnya Aku pasti akan memenuhi neraka Jahanam dengan jenis kamu dan dengan orang-orang yang mengikuti kamu di antara mereka kesemuanya (QS 38:85). Begitulah, Iblis pun terusir dari surga dengan mengancam anak cucu Adam sampai kiamat, katanya "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari
belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)” (QS 7:16-17)
Tapi, Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang, pemberi rahmat bagi semua makhluknya, kemudian membukakan pintu-pintu ampunan-Nya setiap saat25, walaupun kemudian banyak manusia-manusia bodoh yang mengabaikannya. Padahal
pintu itu selalu Dia buka, dan terus terbuka, sampai aku diperintahkan-Nya untuk menutupnya. Itu terjadi kalau ruh manusia sudah berada dalam genggamanku, dikerongkongannya, dimana ia meregang nyawa, mempertahankan nafas terakhirnya. Maka pintu tobat itupun akan menutup, menghapus semua harapan.
Manusia paling bodoh sajalah yang menyia-nyiakan hidayah Dia Yang Maha Memberi. Hingga senjata pamungkas untuk melawan tipu daya Iblis pun di sia-siakannya. Malang benar nasib anak cucu Adam, dan Adam pun seringkali menangis manakala ia menengok kesebelah kirinya. Ia melihat milyaran manusia menjadi arang bara Jahanam. Tapi itulah jalan ceritanya, yang akupun tak sanggup mencerna Kebijaksaan-Nya. Hanya mereka yang ingat jalan kembalilah yang akan mengetahui rahasia-rahasia penciptaan makhluk-Nya.
Diusianya yang keseribu, aku kemudian diperintahkan-Nya untuk mencabut nyawa manusia sempurna yang pertama. Itulah Adam. Moyang semua manusia.
Ia yang kudatangi saat itu, sudah tua renta. Guratan nasib menghiasi wajahnya. Disitu aku melihat guratan kesedihan seorang makhluk, yang karena kelalainya terpaksa menjalani kehidupan di ruang terbatas yang ilutif. Disitu aku lihat jejak kesedihan tragedi Qabil dan Habil, yang menjadi drama pembunuhan pertama, yang terekam dalam ingatan sejarah manusia yang pelupa, yang menghitamkan bulu-bulu si gagak,
manakala ia menjadi saksi muncratnya darah anak Adam yang pertama, oleh sudaranya sendiri. Si gagak adalah Utusan Allah yang menjadi saksi melihat kengerian pertama kalinya, dari makhluk yang membuas bernama manusia. Ia pun seperti memperoleh kutukan, untuk mengikuti setiap langkahku, ketika nyawa harus dicabutkan dari tubuh anak cucu Adam.
Di wajah Adam, aku melihat guratan-guratan nasib anak cucunya dimasa depan, seolah Dia telah mewaskitakan kepadanya, bahwa milenium demi milenium akan terlewati dengan simbahan darah. Persis seperti apa yang pernah kami lihat dan kami khawatirkan sebelumnya. Kami melihat ke masa depan dan kemasa lalu tak ada bedanya, makanya bagi kami apa yang akan terjadi pada manusia cuma sekedar sekelebatan saja. Kami telah melihat simbahan darah manusia di muka bumi sebelum bumi itu sendiri terbentuk menjadi planet kehidupan. Abad demi abad, anak cucunya
mandi darah dengan peperangan, dengan penyakit, dengan khayal dan angan-angan akal, dengan kesombongan Iblis dan kebodohan-kebodohannya sendiri. Iblis yang telah bersumpah menyesatkan anak cucunya dari depan, belakang, kiri, dan kanannya berpesta pora. Ketika kesuksesan demi kesuksesan diraihnya. Menjerumuskan anak cucu Adam dan Hawa. Virus kesombongan yang ia buat pertama kali, akhirnya menyebar menjadi benih-benih penyakit hati, yang mengendap ke banyak dada manusia; yang menumbuhkan rantai kepemilikan, kesombongan, kedengkian, keserakahan, kemaksiatan, diseluruh penjuru dada anak cucunya.
Tapi, diantara anak cucunya pula muncul pahlawan-pahlawan kemanusiaan, yang menjadi petunjuk jalan, menjadi guru manusia, untuk kembali mengingatkan bahwa asal dari manusia adalah dari Kehendak-Nya dan akan kembali kepada-Nya. Hanya ia yang berpikir dan berakal sesuai fitrahnya saja yang kemudian akan tersadar akan dirinya; ia yang membukakan matahatinya dihening malam, memikirkan penciptaan dirinya, memikirkan penciptaan alam semesta, memikirkan Tuhannya, akan menemukan jalan kembali kepada-Nya, dengan ridha dan ridha-Nya.
Adam masih tercenung ketika aku hadir dihadapannya. Sekilas, aku melihat air mata kesedihan meleleh di pipinya. Nenek moyang manusia itu menangis. Rupanya ia sudah mendapat waskita, kalau kemanusiaanya dibatasi oleh sangkar ruang-waktu.
Ia tak lagi bisa abadi di dunia. Ia harus kembali.
Takdir-Nya akan berjalan sesuai dengan ketetapan-Nya. Ketika aku memperkenalkan diri kepadanya, ia pelan-pelan menganggukkan kepalanya, kemudian ia berkata “innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun (Sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kami kembali) (QS 2:156 )”
Akupun mengiringi ruhnya untuk kembali kepada-Nya. Di surga sana, Adam tinggal di langit pertama, sebagai pintu gerbang menuju keabadian al-malakut.
Setelah Adam, tinggalah Hawa yang dicekam kesedihan. Ia yang selama ini dibimbing oleh Adam menjadi pemurung. Hari demi hari ia lalui dengan merenungkan perjalanan kehidupannya. Adam yang ia cinta, yang ia jadikan pendampingnya, yang
membimbingnya, yang memperkenalkannya tentang ini dan itu, telah kembali kepada-Nya. Air matanya perlahan jatuh meleleh. Sunyi dan sepi alam ini tanpanya.
Ia yang sudah menjadi Ibu dari puluhan anak-anak zaman, mengingat kembali masa-masa awalnya dulu. Disana, di suatu taman yang tertutup, yang keindahannya tidaklah ia bisa lupakan begitu saja.
Kesedihan Hawa berimbas kelingkungannya, angin seolah enggan berhembus mengiringi kesendiriannya, pohon enggan berbisik, daun-daunnya diam, kuda, lembu, rusa, kodok, kadal, ular, kalajengking enggan beringsut seolah ingin meresapi kesedihan alam atas kembalinya Bapak Para Manusia Adam. Ia terawangkan kembali kebodohannya dulu, kemanjaannya dan bujuk rayunya dulu yang memaksa Adam untuk melahap buah yang terlarang, karena bujuk rayu, khayal dan angan-angan kekekalan, tapi itulah yang ciptakan kesengsaraan.
Ohhh, menyesalnya dia. Ular yang terkutuk desisnya. Iblis dajal pendengki, yang telah menjerumuskan aku. Ia membujuk dengan kemalaikatan dan kekekalan. Ia pun mengaku-ngaku sebagai penasehat buat kami. “Sesungguhnya aku ini adalah penasehat bagi kamu bedua (QS 2:21)”, begitu bujuknya. Dan akupun termakan tipu dayanya. Sang penipu itu telah lari begitu dahan buah terlarang ia sentuh. Seolah takut diciprati getah dahan pohon terlarang, yang sudah terlanjur ia petik. Begitulah perilakunya di setiap zaman, menjadi ciri dari setiap tipu daya yang ia ciptakan. Bagai kutukan, Iblis dan sekutunya selalu akan berkata :
"Ya Tuhan kami, mereka inilah orang-orang yang kami sesatkan itu;
kami telah menyesatkan mereka sebagaimana kami (sendiri) sesat,
kami menyatakan berlepas diri (dari mereka) kepada Engkau,
mereka sekali-kali tidak menyembah kami". (QS 28:63)
(Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) setan
ketika dia berkata kepada manusia: "Kafirlah kamu",
maka tatkala manusia itu telah kafir ia berkata:
"Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu karena sesungguhnya aku takut kepada Allah Tuhan semesta alam". (QS 56:19)
...setan itu balik ke belakang seraya berkata:
“Sesungguhnya saya berlepas diri daripada kamu; sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat; sesungguhnya saya takut kepada Allah.” Dan Allah sangat keras siksa-Nya. (QS 8:48)
Itulah yang mereka katakan setelah berhasil menyesatkan manusia. Maka hati-hatilah manusia terhadap siapa dan kepada siapa kamu bertaklid dengan membuta. Waspadalah!
Ohh, benih kesombongan dan kedengkian itu, merasuk begitu dalam, begitu dahsyat, menggoncangkan keseimbangan jagat. Disetiap waktu, di setiap tempat. Manusia yang tidak waspada akan masuk ke dalam perangkap Iblis dan sekutunya.
Hawa yang malang, kesedihannya adalah kesedihan dari keindahan. Keindahan yang seringkali begitu gampang memurukkan dan melupakan. Hawa yang malang, ia mengingat kembali serbuk-serbuk buah terlarang yang kadangkala diam-diam masih ia gunakan. Menjadi bedak, menjadi permata, menjadi perhiasan dunia lainnya. Ia terawangkan matanya menembus ke masa depan. Disana, ia melihat anak cucu dari kaum sejenisnya masih menyukai pahitnya buah terlarang.
Ia melihat pemandangan yang membuatnya makin bersedih. Ia lihat melihat Cleopatra, Matahari, Marylin Monroe, Madonna, Britney Spear, dan lain-lainnya yang masih melekatkan serbuk-serbuk buah terlarang ketubuhnya. Ia melihat kaumnya mengikuti, mencintai, menyukai, bahkan sampai-sampai menggadaikan kemanusiaannya, akidahnya, berlomba-lomba mengecap pahitnya sisa-sisa racun buah terlarang. Ilusi tentang keabadian.
“Ohhh, kaumku yang malang”, Hawa mengeluh iba. Iblis yang terusir, telah membuat tipu daya dengan memulas pahitnya buah terlarang itu dengan ilusi kemewahan. Yang berubah wujud menjadi kesenangan, kemaksiatan, keangkuhan, kesombongan, bahkan dengan kecantikan. Ia melihat anak cucunya semakin tertutup bedak-bedak pohon terlarang, ia melihat pantat bergoyang, ia melihat aurat tergelar dimana-mana, di televisi, di jalanan, di bioskop, di mall-mall, diwarung-warung, diremang-remang
malam; bahkan ia melihat di rumah-rumah, bahkan di rumah-rumah Tuhanpun, kaumnya masih suka berbedak pohon terlarang.
Hawa menangis. Disela tangisnya ia kadang tersenyum dan tertawa ketika melihat
Siti Khadijah, Aisyah, Fatimah Az Zahra, Rabiah, Joan D’Arc, Kartini, Bunda Teresa, dan yang lainnya. Lalu ia kembali hanyut dalam kesedihannya.
Sedih, siapa lagikah yang akan membimbingku? Kepergianmu bagaikan lenyapnya separoh dari hatiku. Hawa menangis kembali dan terus menangis.
Aku masih berdiri dihadapan Hawa. Melihatnya menangis, melihatnya bersedih, melihatnya ketakutan, dicekam kengerian, akan kesendiriannya di dunia ini. Setelah tangis dan kesedihan itu kulihat mereda, kuhampiri Ibu semua manusia itu.
“Wahai Hawa, Aku akan membawamu juga”, sapaku dengan lembut.
Hawa menoleh, matanya yang menua masih memperlihatkan pesonanya yang menundukkan Adam sehingga ia pun petik buah terlarang untuknya.
“Engkaukah Izrail?”, tanyanya.
“Ya.”, aku menjawab pendek.
Senyumnya mengembang. Seketika itu, ia meraih tanganku.
“Bawalah aku pergi.”, mohonnya.
Akupun mengangguk. Lalu kubawalah Hawa pergi.
Kembali ke Sang Kekasih, kepada Adam di alam tinggi sana.
Bumi serasa berhenti berputar kala itu. Anak-anak dan cucu-cucunya meraung, getarkan semua dahan dan ranting tumbuhan di muka bumi, sebagian menangis sedih, sebagian lagi marah, sebagian lagi bergembira, karena lepas sudah kekang terakhir atas tingkah lakunya, Ibunda Semua Manusia.
Aku termenung, melihat kepada Izrail yang juga termenung mengenang pengalamannya membawa Adam dan Hawa kepada sang Khaliq. Kemudian, ia memecahkan keheningan :
“Sekali waktu, aku ditugaskan untuk mengambil ruh paling mulia, yang sebenarnya menyebabkan aku dan alam semesta ada. Dialah benih kun yang sebenarnya,
Muhammad SAW – Utusan Allah, yang cahayanya sudah ditakdirkan mengguncangkan kelahiran semesta sejak awal mula”. Izrail meneruskan seolah-olah mencabut pertanyaan yang masih menggantung di kepalaku.
Pemimpin orang-orang yang baik itu diperintahkan untuk mengakhiri usianya dengan kebaikan. Kulihat ia dikelilingi sahabat dan keluarganya. Makhluk yang sempurna itupun terbujur menanti diriku. Di pembaringan, sekilas ia masih terlihat ragu dan melihat kesekelilingnya. Seakan, ia khawatir akan umat yang ditinggalkannya. “Umatku...umatku..umatku..”, sesekali ia seperti ngeri melihat umatnya di masa depan.
Ketahuilah, bahkan Nabi Muhammad pun menghadapi kematian sebagai manusia biasa, dengan kegelisahan, rasa takut, dan kengerian. Allah seperti hendak menunjukkan kepada manusia bahwa bahkan seorang Nabi Yang Paling Sempurna diantara semua Nabi pun kematian menjadi suatu hal yang memang sepantasnya ditakuti. Apalagi bagi manusia biasa. Maka sungguh lalai bila manusia mengabaikan hal ini. Ketahuilah bahwa dalam kematian Nabi Muhammad SAW terdapat suri tauladan tentang kehidupan dan kematian, tentang perkataan dan perbuatan. Tidak ada manusiapun yang lebih mulia dibandingkan dengan Nabi Muhammad SAW yang
menjadi Habib Allah (Kekasih Allah), sehingga pada kematiannya tidak ada keistimewaan tertentu kecuali dari keagungannya yang ditangisi oleh seluruh alam dan seisinya.
Allah menugaskan malaikat-malaikat yang mulia untuk menjemput ruh beliau yang suci dan membawanya keridhaan-Nya, puncak kebaikan, kesempurnaan, kepada Singhasana Kebenaran di Hadirat Yang Pengasih. Namun, bersamaan dengan itu penderitaan yang dirasakan beliau saat sakratul maut sangatlah berat. Apa yang dia
rasakan saat itu, penderitaan yang dia alami sangat terdengar jelas bagi semua yang melihatnya. Kegelisahannya memuncak dan suaranya mengeras ketika mengerang. Menahan rasa takut dan sakit, yang tak seorangpun boleh menanggungnya kecuali dirinya sendiri, sebagai suatu pelajaran bahwa kematian dan sakratul maut tak boleh diabaikan. Warna kulitnya berubah, dahinya basah oleh keringat dan tarikan maupun hembusan nafasnya mengguncangkan tulang-tulang rusuk kiri dan kanannya,
sehingga siapapun yang hadir ketika itu menangis menyaksikan beliau berjuang menahan rasa sakit [11].
Perhatikanlah, bahwa jabatan kenabian tidak mengecualikan beliau dari ketentuan Ilahi, dari dahsyatnya sakratul maut menjelang kematian. Semua yang dirasakannya, tidak mendorongnya untuk memohon kekecualian dari Allah SWT karena beliau adalah penolong Kebenaran dan pembawa kabar gembira dan peringatan kepada umat manusia. Beliau melaksanakan yang telah diperintahkan dan mengikuti yang tertulis pada Lauh Mahfuzh. Demikianlah keadaan Nabi SAW ketika menjelang kematiannya, meskipun beliau memiliki tempat terpuji – Al-Maqam al-Mahmūd (QS 17:79) - di sisi Allah, dan telaga kemuliaan yang tak pernah surut - Al-Haudh al-Maurūd. Maka ketahuilah bahwa apa yang dialami Nabi SAW saat-saat menjelang meninggalkan kefanaan dunia adalah suatu pelajaran bagi semua manusia, bahwa semua amaliah kita tidak menjamin keistimewaan tertentu saat-saat maut mendekat. Jadi cermatilah, mawas dirilah atas apa yang telah dilakukan di dunia, sadarilah bahwa betapa sulitnya perjalanan menuju Surga Abadi.
Tapi Sang Kekasih sudah lama menunggu. Akupun turun kebumi saat itu. Langit yang cerah mendadak sepi dan hening, awan berhenti berarak, semesta seakan berhenti bernafas, dengusnya yang biasanya kudengar menderu-deru, saat itu terlihat diam terhenyak. Hari ini aku ditugaskan mencabut nyawa makhluk pembawa rahmat bagi
seluruh alam. Bahkan dari semua jenis makhluk yang hidup di semua alam, rahmatnya itu tak akan pernah berhenti sepanjang waktu, sepanjang zaman.
Muhammad Utusan Allah, hamba Allah yang Insan Kamil, Maujud sempurna dari semua penampakkan Af’al, Asma-asma dan Sifat-sifatNya, Harus kembali juga kepada-Nya. Tak ada yang perlu ditangisi, apalagi keagungannya disalahgunakan dengan mengkultuskannya. Ia tetaplah manusia. Hanya dalam format kesempurnaan,
menjadi Insan Kamil, menjadi Adimanusia, menjadi Logos, menjadi Gurujati.
Ia menjadi hamba Allah sejati, menjadi guru semua manusia, menjadi khalifah semua makhluk; Ia adalah maujud tentang segala sesuatu yang terjadi di semesta. Yang mengikutinya akan selamat sampai akhirat. Karena ia sebenarnya menjadi petunjuk dalam membangun titian kehidupan yang setipis rambut dibelah tujuh. Titian Shiraat
al Mustaqiim. Jalan yang lurus, jalan Ilahiah, jalan para Nabi dan Rasul yang berserah diri, jalan yang diridhai oleh-Nya. Siapa yang mengabaikan fakta-fakta ini, maka ia akan menyia-nyiakan suatu peluang untuk menemukan jalan kehidupan yang sebenarnya.
Izrail terdiam sejenak seperti mengenang apa yang sudah ia laksanakan. Kemudian ia melanjutkan.
Ketika aku akan menjemputnya, di hari-hari akhirnya di dunia, aku mendatanginya. Cukup lama aku bercakap-cakap dengannya. Akupun mengatakan kepadanya bahwa Allah telah mengutusku dan kukatakan bahwa aku diperintahkan oleh-Nya agar tidak masuk ke rumahnya tanpa seizinnya. Jika beliau tidak mengizinkan maka aku akan kembali, tetapi jika dia mengizinkan maka aku akan masuk. Allah juga memerintahkanku untuk tidak mencabut nyawanya bila beliau tidak berkenan. Jadi aku tanyakan saja apa yang dia inginkan sekarang. Kemudian Nabi SAW berkata untuk menunggu kedatangan Jibril, karena di waktu itulah dia biasanya datang mengunjunginya.
Saat itu, tak seorangpun sanak saudara Rasulullah SAW yang berbicara karena peliknya persoalan itu dan rasa takut yang hinggap dihati mereka. Kemudian Jibril datang dan menyampaikan salam Allah kepada-Nya serta menanyakan keadaannya. Apa yang dirasakan Rasulullah saat itu kemudian dijelaskan Jibril bahwa keadaannya itu adalah suatu kehormatan baginya karena derajatnya berada jauh di atas semua makhluk lainnya, agar beliau menjadi suri tauladan bagi umatnya. Nabi merasakan kesakitan. Lantas, dijelaskan oleh Jibril bahwa beliau harus bergembira karena Allah
telah berkehendak untuk membawanya kepada yang telah dipersiapkan-Nya.
Beliau kemudian menceritakan kedatanganku kepada Jibril. Kemudian Jibril berkata, ”Wahai Muhammad! Tuhanmu merindukanmu! Apakah dia tidak memberitahukan maksud-Nya kepadamu? Sesungguhnya Izrail (Malaikat Maut) sama sekali belum pernah meminta izin dari siapapun kalau hendak melaksanakan tugasnya. Hal itu semata-mata karena Tuhanmu berkehendak menyempurnakan kehormatanmu dan ia merindukanmu”.
Lalu Nabi SAW berkata supaya Jibril jangan meninggalkannya sampai aku datang kembali kepadanya. Setelah Nabi SAW memberikan izin kepada sanak saudaranya masuk dan bercakap-cakap beberapa waktu lamanya, akupun datang kepadanya dengan mengucapkan salam dan meminta izin untuk masuk. Beliau mengizinkannya, dan akupun masuk kemudian bertanya kepadanya sekiranya beliau menginginkan sesuatu. “Bawalah aku sekarang kepada Tuhanku”, katanya kepadaku. “Ya”, jawabku singkat.
Kemudian aku berkata kepadanya, ”Hari ini, sungguh Tuhan Anda rindu kepadamu. Belum pernah Dia memperhatikan seorang manusia seperti ia memperhatikan Anda. Belum pernah pula Dia melarang saya masuk tanpa izin untuk menemui siapapun yang lain. Tapi sekarang, saat kematian Anda berada di depan Anda.” Kemudian aku keluar lagi dari kamarnya. Lalu Jibril kembali masuk, dia berkata, ”Assalamualaikum, wahai Rasulullah! Ini adalah kali yang terakhir saya turun ke dunia. Wahyu telah ditutup, dunia telah dilipat, dan saya tidak punya urusan lagi selain dengan Anda. Saya tidak punya tujuan apa-apa kecuali hadir di dekat Anda. Setelah itu saya akan tetap berada di tempat saya. Tidak! Demi Dia yang telah mengutus Muhammad dengan kebenaran, tak seorangpun di dalam rumah ini yang dapat mengubah satu katapun dari yang telah saya sampaikan. Dia tidak akan pernah diutus kembali kepada umatnya betapapun pentingnya berita yang akan disampaikannya dan meskipun dengan adanya kasih sayang maupun simpati kami.”
Saat itu aku dapat melihat bagaimana manusia yang disempurnakan oleh-Nya itu akhirnya pingsan di dada Aisyah. Dari keningnya keringat mengucur dengan deras. Bau harum keringatnya semerbak memenuhi kamarnya. Ketika beliau sadar kembali,
dia berkata kepada Aisyah, ”Wahai Aisyah, ruh orang beriman keluar bersama keringatnya, sedangkan ruh orang kafir keluar melalui kedua rahangnya seperti nyawa keledai”.
Mendengar itu Aisyah takut dan memanggil keluarganya. Namun sebelum semuanya berdatangan, aku melakukan tugasku. Ketahuilah, Rasulullah wafat sebelum kedatangan siapapun kecuali Aisyah karena Tuhan telah menahan mereka dari beliau dan telah menyerahkan beliau ke tangan Jibril dan Mikail. Sebelum pingsan, masih kuingat beliau selalu mengatakan,”Bahkan, sahabat tertinggi!”, seolah-olah pilihan
telah dijatuhkan kepada-Nya. Dan ketika beliau mampu berbicara kembali, beliau mengatakan “Shalat!shalat!Kalian semua akan bersatu jika kalian senantiasa shalat bersama-sama”. “Shalat! Shalat! ”, beliau terus berpesan mengenai hal itu hingga ruhnya kucabut dalam keadaan mengatakan “Shalat!Shalat!”[11].
Maka menjelang tengah hari, pada hari Senin, tanggal 12 Rabi’ul Awwal 1 H, dengan usia enam puluh tiga tahun lebih empat hari, kubawalah Muhammad SAW pergi kembali kepada Sang Kekasih Yang Maha Tinggi. Kulihat, ia sekilas melihat kedatanganku. Kemudian ia tersenyum.
Kematian Nabi Yang Ummi, yang membawa rahmat bagi seluruh alam memang menggoncangkan Umat Islam saat itu. Sehingga umat saat itupun kebingungan dan meratap kehilangan. Sampai kedatangan Al-Khidhr a.s dan Alyasa (Elias) a.s yang kemudian berkata [11]:
“Assalammualaikum, wahai Ahli Bait!26.
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.
Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu.
Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga,
maka sungguh ia telah beruntung.
Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan
yang memperdayakan.(QS 3:185).
Sesungguhnya Allah menyediakan pengganti bagi setiap orang,
pencapaian setiap keinginan,
dan keterbebasan dari setiap rasa takut.
Oleh karena itu, pautkanlah harapanmu
dan sikap tawakalmu kepada Allah.”
“Wahai Ahli Bait! Ingatlah kepada Allah
dan pujilah Dia dalam setiap keadaan.
Oleh karena itu, taatilah Allah.
Bekerjalah atas dasar perintah-Nya.”
“Demikilanlah ceritaku ketika aku menjemput Nabi Muhammad SAW”, Izrail mengakhiri ceritanya.
Aku masih termangu-mangu mendengar semua kisahnya. Kematian, betapapun juga pada akhirnya memang akan menghampiri semua makhluk. Secara tabiat, manusia memang membenci bahkan takut dengan kematian. Saking takutnya maka manusiapun kemudian berangan-angan bahwa akhirat itu tidak ada. Merekapun kemudian menjadi ateis. Mereka berangan-angan kosong dan mengira Tuhan tidak ada. Sungguh bodoh sekali manusia seperti itu. Bahkan, saking bodohnya manusia yang menafikan akhirat dan ateis, Sayyidina Ali bin Abu Thalib pernah berkata bahwa “Jika apa yang Anda katakan tentang tidak adanya akhirat itu benar, maka Anda akan selamat begitu pula kami. Tetapi jika yang kami katakan bahwa akhirat itu benar adanya, maka kami akan selamat, sedangkan Anda akan binasa.” Mereka memang seperti penjudi yang bodoh. Disebut demikian karena mereka berani bertaruh “untuk tidak mendapatkan apa-apa” atau “doing for nothing” atau untuk kesia-siaan. Padahal, keimanan sekecil apapun akan tetap diakui sebagai tanda pengakuan atas keberadaan Realitas Absolut yaitu Tuhan Yang Maha Esa[21].
Kematian memang sudah ketentuan Allah. Seperti pernah diriwayatkan oleh Nabi SAW melalui Abu Hurairah bahwa Allah berfirman : “Aku tidak pernah ragu dalam sesuatu yang Kukerjakan, seperti halnya ketika mencabut jiwa hamba-hamba-Ku yang beriman yang membenci kematian dan Aku benci untuk menyakitinya. Tetapi hal itu meskti kulakukan.” Sehingga kematian adalah suatu realitas sebenarnya bagi semua orang, baik dia nabi, rasul, wali, dan manusia lainnya. Kematian adalah kiamat sebenarnya bagi manusia yang sadar akan hal ini. Kiamat yang pasti datang dalam waktu yang sangat dekat. Berapa lamakah usia manusia? 1,5,10, 20, 63, 75, 80, ataupun seribu tahun, Izrail pastilah akan datang. Maka risaukanlah kedatangan Izrail. Ucapku membatin, mengenang peran dan tugas malaikat Izrail yang seringkali dilupakan banyak orang.
Aneh, pikirku, seringkali kulihat manusia ketakutan pada datangnya kiamat besar yang juga pasti datang. Namun entah kapan. Namun, manusia seringkali lupa pada kiamat kecil yang nyata sekali pasti datang setiap saat kalau memang sudah diinginkan Allah.
Kematian. Jadi sungguh aneh bila manusia makin lama kok makin tidak takut mati, lupa diri, seolah dirinya akan hidup selamanya. Padahal, sudah jelas bahwa semua orang diperingatkan tentang dekatnya ajalnya oleh uban dan keriputnya kulit disekujur tubuhnya, itulah tanda-tanda perubahan masa karena akan datangnya kematian.
Cukuplah, ajal yang mendekat ditunjukkan dengan hilangnya masa muda
dan bertambahnya uban di kepala, juga berubahnya masa
Dan apakah setelahnya, orang-orang yang berakal menghendaki kekekalan
Ketika kebeliaan terus berubah dan keadaan hidup terus berputar [17].
Makin anehlah aku kalau melihat manusia yang dengan kesombongan dan kepongahan Iblis berbuat semena-mena dengan mengabaikan apa yang sudah begitu jelas menjadi petunjuk kepada jalan keselamatan : mengabaikan perintah Allah, melanggar larangan-larangan-Nya, melanggar sunnatullah, mengabaikan apa yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah berupa akhlak yang mulia. Manusia tidak segan-segan melakukan berbagai kemaksiatan dan tidak malu-malu pula mempertontonkannya tanpa takut mati, seolah dirinya akan selamat dari sergapan dan siksa sakratul maut dan sergapan Izrail Sang Maut. Aku menghela nafasku yang kurasakan semakin berat. Keringat dinginku sudah membasahi bajuku. Semilir hembusan angin malam yang masuk ke kamarku menyebabkan tubuhku semakin mendingin.
Lantas aku memberanikan diri untuk bertanya “Bagaimanakan kamu mati?”
“Semua makhluk pastilah akan binasa, karena hanya Allah lah yang kekal. Akupun demikian pula, akan binasa ketika waktunya tiba. Aku termasuk makhluk paling akhir yang akan dibinasakan oleh-Nya”, ujar Izrail mengawali cerita bagaimana iapun akan binasa.
Aku (Izrail), Jibril, Mikail, dan Israfil adalah makhluk-makhluk Allah yang pertama kali diciptakan-Nya, terakhir kali dimatikan-Nya, dan pertama kali dihidupkan-Nya kembali.
Karena kamilah yang membagi-bagi segala urusan. Kami termasuk kelompok malaikat yang dimuliakan Allah. Jibril adalah pengurus peperangan dan para rasul
Mikail adalah pengurus setiap tetesan hujan dan daun yang tumbuh dan jatuh, yang membawa rezeki kepada semua makhluk-Nya di dunia. Israfil adalah malaikat kepercayaan Allah antara-Nya dan para malaikat lainnya, sedangkan aku ditugasi mencabut nyawa setiap hamba, di manapun ia berada27.
Sesuai dengan tugas yang kuemban, maka aku akan ada di setiap saat Sang Waktu lewat, mengintip setiap rumah kalau-kalau ada seseorang yang harus kucabut nyawanya. Tugasku memang berat, kadang-kadang akupun merasa menzalimi semua yang bernyawa. Namun apa daya, aku hanya makhluk yang tidak menzalimi , tidak bisa menangguhkan ajal, tidak mempercepat takdir, dan kamipun tidak berdosa dalam mencabut nyawa semua yang mesti kucabut ketika saatnya tiba. Bahkan untuk mencabut nyawa seekor nyamukpun aku sebenarnya tidak kuasa sebelum Allah memberi izin mencabutnya. Ketahuilah, aku sendiri sebenarnya tidak mengetahui siapa-siapa yang akan kucabut. Aku hanya diberi sebuah buku catatan yang di dalamnya ada beberapa nama.
Izrail kemudian mengeluarkan sebuah lembaran dimana disitu kulihat daftar nama-nama yang akan dihampirinya. Kemudian ia melanjutkan.
Aku biasanya menerima lembaran kematian pada pertengahan bulan Sya’ban, Allah mewahyukan kepadaku untuk mencabut setiap nyawa manusia yang diinginkan-Nya pada tahun itu28. Maka jangan heran kalau Nabi Muhammad SAW seringkali berpuasa di bulan itu.
Setelah semua makhluk mati, termasuk semua malaikat pun dimusnahkan, maka akulah yang akan terakhir dimatikan langsung oleh Allah SWT. Dalam arti yang harfiah, maka semua yang mewujud di alam semesta, yang masih memerlukan intervensi kaumku akan dimusnahkan. Setelah itu, adalah hal yang menentukan bagaimana semua makhluk akan kembali dalam penghisaban. Ketika saat kematianku tiba, maka
Dia berkata “Wahai Malaikat Maut, matilah engkau!” Akupun berteriak keras, yang bila penghuni langit penghuni langit dan bumi mendengarnya, pastilah mereka akan mati ketakutan. Akupun kemudian matilah. Kematian yang menimpa diriku bisa dikatakan sebagai kematian terdahsyat dari kematian semua makhluk.



Epilog
Kami berdua terdiam. Mungkin cuma sejenak, tapi keheningan yang mencekam seperti keheningan berhentinya detik sang waktu. Khususnya bagi diriku yang tergolek tanpa daya dihadapannya. Akhirnya nuansa keheningan itu seperti tanpa makna, kekosongan yang maha luas dan hamparan tak bertepi seperti menyelimuti diriku. Kehampaanku terhadap dunia makin terasa. Tanpa sadar aku berguman pelan, ”Bawalah aku..”, lalu syahadat meluncur begitu saja “La iIlaaha Illaa Allaah, Muhammadurrasulullah”.
Sesaat aku cuma merasakan betotan dahsyat yang diceritakannya tentang kematian, lalu tidak kurasakan lagi aksi dan reaksi dari ujung kakiku. Aku seperti buntung tanpa kaki, kemudian tanpa paha, kemudian tanpa tubuh, kemudian tanpa tangan, kemudian tanpa leher, dan akhirnya semua kesadaran tentang ruang-waktu lenyap sama sekali.
Kulihat berkas-berkas cahaya melesat dan meluas dalam sekejap, kemudian padam dan memasuki zona tanpa batas-batas yang jelas, apakah aku berada dalam suatu ruang, aku tidak tahu. Sejenak kesadaran yang kurasakan kembali tanpa nuansa duniawi menggugah diriku, aku masih celingukan mencari Izrail. Kudengar lagi suaranya tanpa rupa “Aku cuma mengantarmu sampai disini, selamat jalan, temuilah Rabb-Mu yang mengasihimu”. Sayup-sayup masih kudengar suaranya bersenandung
Akulah Izrail Sang Elmaut,
datang tanpa diundang,
pulang tanpa diantar.
Aku jemput siapa pun yang harus kujemput.
Aku antar siapa pun yang harus kuantar.
Dengan kelembutan-Nya.
ataupun dengan Kemurkaan-nya.
Hanya ia yang berjalan di jalan-Nya
saja akan selamat dari kedahsyatanku,
rasa takutnya akan hadir menjadi rindunya
karena hanya si perindu saja yang akan
menganggap diriku berkah keabadian dalam rengkuhan keabadian cinta-Nya.
Dia yang menyia-nyiakan waktunya didunia,
terlena dalam ilusi dan kesombongan Sang Durjana,
akan merana dalam keabadian Murka-Nya.
Sebelum ia lenyap dari kesadaranku, aku sempat meneriakkan pertanyaan terakhir kepadanya, “kamu mau kemana setelah aku?”. Suaraku langsung lenyap dalam gaung yang menjauh senyap. Sayup-sayup masih kudengar suara Izrail menjawab, “Menemui salah satu pembaca risalahmu ini”.
“innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun (QS 2:156)”
Cintailah siapa saja yang ingin engkau cintai,
namun ingatlah bahwa pasti engkau akan berpisah dengannya;
hiduplah dengan gaya kehidupan yang engkau inginkan,
namun ingatlah bahwa engkau akan mati;
dan berbuatlah apa saja yang engkau kehendaki,
namun ingatlah bahwa engkau pasti dibalas
[Sabda rasullullah SAW; HR Hakim, Thabrani]


Atmonadi, atmoon.geo@yahoo.com
Lebak Bulus, 27 November 2004




Referensi :

1. Al Qur’an Terjemahan Departemen Agama, 1984
2. Al Qur’an Terjemah Indonesia, PT Sari Agung, Cetakan ke-13, 1999
3. HB Yassin, “Al Qur’an Bacaan Mulia”, Yalco Jaya, Cetakan ke-4, 2002
4. Choiruddin Hadhiri SP, “Klasifikasi Kandungan Al Qur’an”, Gema Insani Press, 1999
5. Syaikh Hamami Zadah, “Menyelami Lubuk Al Qur’an: Tafsir Surah Yasiin”, Penerbit IIMAN & Penerbit Hikmah, Februari 2003.
6. M. Quraish Shihab, “Tafsir Al Mishbah”, Jilid 1 & 11, Lentera Hati, 2003
7. Imam Az-Zabidi, “Ringkasan Shahih Al-Bukhari”, Mizan, Cetakan ke-4, 2000
8. Rachmat Taufik Hidayat et al, ”Almanak Alam Islami”, Pustaka Jaya, 2000
9. Faruq Sherif, “Al Quran Menurut Al; Quran”, Serambi, November, 2001
10. Imam Jalaludin as-Suyuthi, “Menjelajah Alam Malaikat”, Pustaka Hidayah, Januari 2003
11. Al Ghazali, “Metode Menjemput Maut”, Mizan, 2001
12. Ahmad Barizi, “Malaikat Diantara Kita”, Hikmah, Januari 2004
13. Khawaja Muhammad Islam, “Mati Itu Spektakuler”, Serambi, April, 2001
14. Al-Harits bin Assad al-Muhasibi, “Menuju Hadirat Ilahi”, Al bayan-Mizan, 2003
15. Al-Harits bin Assad al-Muhasibi, “Menjelajah Alam Akhirat”, Arasy-Mizan, Mei, 2003
16. Ibnu Qayyim Al jauziyah,”Roh”, Pustaka Al Kautsar, 1999
17. Ibnu Rajab Al Hanbali, “Setahun Bersama Nabi”, Pustaka Hidayah, 2002
18. Yunasril Ali, “Ruh dan Jenjang-jenjang Ruhani”, Serambi, 2003
19. Salim Said Bawazier, “Memahami Hakikat Takdir”, Iqra Insan Press, 2003
20. M. Quraish Shihab, “Yang Tersembunyi : Jin, Iblis, Setan dan Malaikat”, Lentera Hati, 1999
21. Atmonadi, “Kun fa Yakuun: Mengenal Diri, Mengenal Ilahi”, Kunfayakuun Publishing, e-Book Release 3, Oktober, 2004
22. Ibnu Arabi, “Menghampiri Sang Mahakudus”, Mizan, Maret 2002
23. Fariduddin Al-Attar, “Warisan Para Awliya”, Penerbit Pustaka, Cetakan ke III, 2000 M

Riwayat Hidup Penulis

Atmonadi, sehari-hari biasa dipanggil “Atmo” atau nickname di Internet “Atmoon”, di situs myquran memperkenalkan diri sebagai "myQadmin" karena memang yang membuat dan menggagasnya pada pertengahan 1999. Dilahirkan kurang lebih 4 dasawarsa yang lalu di sebuah kota yang dulu dikenal sebagai Kota Udang, pada tanggal sebelas bulan lima di tahun yang kemudian menjadi tahun duka cita bagi Bangsa Indonesia, tahun dimana disebut oleh seorang sineas asing menjadi “The Years Living Dangerously”, 1965. Saat ini, berprofesi sebagai konsultan Teknologi Informasi dan Internet independen.
Dalam segmen-segmen kehidupan yang dilalui, menulis memang bukan sesuatu yang asing. Pengalaman menulis yang intensif sebenarnya terjadi selama periode menjadi mahasiswa pada sekitar tahun 1988 sampai 1992, sebagai penulis lepas untuk bidang teknologi penerbangan dan militer. Selama periode tersebut, tulisan yang dibuat umumnya berhubungan dengan desain pesawat udara penumpang, pesawat tempur siluman, pesawat mata-mata tanpa awak, sistem radar, telekomunikasi, dan sistem persenjataan yang dimuat di rubrik iptek pada beberapa harian nasional seperti Kompas, Bisnis Indonesia, Pikiran Rakyat, majalah Teknologi, dan majalah Teknologi & Strategi Militer (TSM). Dalam urusan tulis menulis, pernah mendapatkan penghargaan karya tulis dari PT Telkom Indonesia dengan judul “Menuju Perusahaan Adaptif Menjadi Urat Nadi Globalisasi” (1990). Kemudian, bersama salah satu rekan kuliahnya, menulis artikel iptek populer dan tulisannya meraih penghargaan karya tulis populer Ristek (1991) yang membahas masalah pesawat N-250. Setelah bosan menjadi mahasiswa, ia menyelesaikan kuliahnya dan meraih gelar kesarjanaan dari jurusan Teknik Aeronautika ITB (1992); setengah tahun kemudian (1993) bekerja di Sempati Air sebagai Engineer; tiga tahun kemudian (1995) ia memutuskan beralih profesi menjadi software development supervisor di perusahaan yang sama.
Tahun 1996 internet mulai marak di Tanah Air. Terpesona dengan kemampuan hyperlink jejaring global tersebut, iapun memutuskan mengundurkan diri dari Sempati Air dan bekerja sebagai web developer di sebuah perusahaan yang dibangun oleh kenalannya di Internet yaitu Bubu Internet. Akhir dasawarsa sembilan puluhan,
Internet semakin populer dan bisnis dot.com booming, komunitas gaul di internet bermunculan, namun sayangnya belum ada komunitas gaul yang khusus untuk remaja Islam, maka ia pun nekat membangun Komunitas Islam Online myQuran.com (1999, http://www.myquran.com) dan kemudian setidaknya mampu menggugah banyak orang bahwa Umat Islam perlu memanfaatkan Internet baik untuk tujuan pergaulan maupun dakwah. Setelah beberapa tahun mengelola situs independen myQuran, dibantu dengan pengunjung yang rajin menulis artikel, puisi ataupun sekedar numpang nulis, iapun kemudian menjadi tidak terlalu aktif mengelola myquran karena kesibukkannya. Sebagai gantinya, pengelolaan myQuran diserahkan ke salah satu anggota dan fans beratnya Hasanudin.
Pada tahun 2000 ia mengundurkan diri dari Bubu Internet dan bekerja di beberapa proyek perusahaan sebagai Technology Advisor, menjadi nara sumber tetap di radio MSTRI FM Jakarta (2000-2002), radio Ramako Jakarta, dan Metro TV untuk acara yang berhubungan dengan teknologi informasi dan internet. Akhir tahun 2001 kembali bekerja di Bubu untuk menangani Production & Development, kemudian mengundurkan diri pada akhir tahun 2003 dan awal 2004 mendirikan Getwo Advanced sebuah biro konsultan teknologi informasi, internet dan multimedia.
Sejak akhir tahun 2002 sampai sekarang ikut aktif dalam majelis pengajian tasawuf Al-Hikam tarekat Syadziliyah Jakarta dengan ustad Bapak M. Luqman Hakiem dan Guru mursyid almarhum Syeik KH Abdul Djalil Mustaqiim dan Syeikh Hadlir Shalahuddin Al Ayyubi Pengasuh Pondok Pesatren Thariqot Agung (Peta) Tulungagung Jawa Timur. Dalam perjalanannya kemudian menulis risalah "Kun Fa Yakuun" sebagai sebuah perenungan panjang tentang diri, perjalanan kehidupan, alam semesta, dan Penciptanya. Risalah “Kun!” kemudian menjadi sebuah Risalah Mawas Diri bagi seorang hamba dan juga sebuah risalah yang dimaksudkan untuk semua Umat Islam (tentunya bagi yang mau membacanya), khususnya yang menjadi bagian dari Bangsa Indonesia yang memang masih perlu banyak belajar dan istiqamah (konsisten dan teguh) di jalan yang lurus, atau Shiraat al-Mustaqiim, agar tidak mudah “Digoda” oleh goyangan ke kiri dan ke kanan yang memabukkan, yang dapat menyelewengkannya dari jalan lurus yang di ridhai Ilahi. Setelah itu tulisan-tulisan lainnya meluncur begitu saja yang baru berani didistribusikan kepada teman-temannya saja karena berbagai masalah yang dibahas terhitung sangat pelik.
Risalah yang beredar di kalangan terbatas antara lain “Prima Kausa: Al Qur’an sebagai Kosmos Islam”, “Superunifikasi (Kajian tentang huruf-huruf hijaiah dan makna simbolis geometrisnya)”, “Komposisi Dan Kodefikasi Al Qur’an”, dan beberapa risalah lainnya yang umumnya bercorak tasawuf dengan perpektif perkembangan ilmu pengetahuan manusia saat ini, khususnya berkaitan dengan perkembangan Abad Dijital yang dianggapnya sebagai Abad Pemurnian Tauhid karena basis dijital sejatinya basis dari Pengetahuan Tauhid yaitu kaidah Biner atau huruf Ba alias 1001 (seribu satu malam).
“Namaku Izrail” adalah tulisan singkat yang bercorak populer yang menggambarkan pertemuan imajiner dengan Malaikat Elmaut yang ditakuti yaitu Izrail, berdialog dengannya dengan merujuk pada gambaran tentang malaikat Izrail dari berbagai bacaan yang menjadi sumber-sumber inspirasinya. “Namaku Izrail” bukan dimaksudkan untuk menakut-nakuti pembacanya, namun lebih tepat dikatakan sebagai suatu mawas diri akan keterbatasan manusia terhadap takdirnya yang pasti terjadi yaitu “kematian”, sebagai kehidupan yang sebenarnya. Dengan mengulas gambaran malaikat Izrail yang mengambil debu bumi untuk kemudian dengan tanah lempung Allah menciptakan makhluk yang hidup di sistem tatasurya, gambaran yang ditampilkan bukan sekedar kisah tentang Izrail Sang Malaikat sebagai Pencabut Nyawa yang menyeramkan, namun gambaran yang lebih utuh tentang akibat dari semua akhlak dan perilaku manusia ketika ia hidup sampai akhirnya kematian dapat datang menjemput tanpa diduga, dimana saja, dan kapan saja. Kemudian kondisi demikian diproyeksikan kepada diri sendiri, sudah siapkah kita menghadapinya untuk kemudian mempertanggungjawabkan semua perbutan kita di dunia?
Namaku Izrail!______________________________________________________101

0 Response to "Namaku Izrail !"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified