Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

A Child Called 'It

"A Child Called 'It' adalah sebuah buku yang sangat
mengharukan dan menggugah hati. Buku ini merupakan
salah satu buku terpenting bagi kita dan "wajib dibaca"
setiap orang yang sedang mencari rahasia motivasi diri."

Vicky Binninger, Direktur eksekutif
Parent's Place
A California Child Abuse Prevention,
Intervention and Treatment Center

"Begitu buku ini ada di tangan saya, saya tak dapat
meletakkannya. Ini adalah buku terbaik mengenai
penyiksaan anak yang pernah saya baca. David mengajak
kita ikut mengalami rasa takutnya, rasa kekalahannya,
rasa kesendiriannya, rasa sakitnya, dan rasa marahnya
sampai pada harapannya yang terakhir. Dengan masuk ke
dalam alur itu, menjadi jelas bagi kita betapa
menyakitkannya dunia gelap yang diderita anakanak
korban child abuse. Bahkan secara lebih detil, kita bisa
merasakan tangisan anak-anak itu melalui, mata, telinga,
dan tubuh David Pelzer. A Child Called 'It' membuat saya
ingin merengkuh keluarga lebih dekat ke hati saya dan
lebih menghargai cinta kasih kami."
Valerie Bivens, Pekerja Sosial
Child Protective Services
The State of California
"Pengalaman masa kecil Pelzer merupakan kesaksian dari
kemenangan atas semangat kemanusiaan. Buku ini
bercerita secara hidup tentang penyiksaan yang
dideritanya melalui tangan ibunya dan ketidakpedulian
orang lain (yang sulit dipercaya) akan penderitaanya.
Keteguhan hati dan kebulatan tekad Pelzer akan sangat
bermanfaat untuk menolong jutaan anak di Amerika yang
sering menderita setiap hari tapi tak berani
mengungkapkannya."
Mark Riley Child Welfare League of America
A Child Called It - Page 3 of 144



Buku ini dipersembahkan bagi anakku, Stephen,
yang berkat kemurahan Allah telah membukakan mataku
terhadap buah cinta clan kebahagiaan
melalui mata seorang anak.
Buku ini juga dipersembahkan bagi
Para guru dan staf Thomas Edison Elementary School,
di antaranya:
Steven E. Ziegler
Athena Konstan
Peter Hansen
Joyce Woodworth
Janice Woods
Betty Howell
dan Perawat Sekolah
Juga bagi Anda, berkat keberanian
mempertaruhkan karier Anda
pada hari yang mengubah nasibku,
5 Maret 1973.
Anda semua telah menyelamatkan hidupku.
A Child Called It - Page 7 of 144



UCAPAN TERIMA KASIH
Setelah tahun-tahun yang penuh kerja keras,
pengorbanan, frustrasi, rasa tak berdaya untuk menerima
sesuatu apa adanya, akhirnya buku ini terbit juga dan bisa
diperoleh di tokotoko buku di mana pun. Maka,
sepantasnyalah saya mengucapkan rasa terima kasih
mendalam bagi mereka yang mempercayai perjuangan
saya ini.
Kepada Jack Canfield—penulis buku serial Chicken Soup for
the Soul yang best seller sekaligus fenomenal—atas
kebaikan hatinya yang begitu mendalam serta perannya
dalam membuka lebar wawasan. Jack sungguh insan yang
tanpa pamrih mampu membimbing banyak orang
sekaligus—sesuatu yang kebanyakan dari kita tak mampu
melakukannya. Terima kasih banyak, Jack.
Kepada Nancy Mitchell dan Kim Wiele di Canfield Group
atas semangat serta tuntunan mereka. Thank you ladies.
Kepada Peter Vegso di Health Communications, Inc., juga
kepada Christine Belleris, Matthew Diener, Kim Weiss, dan
seluruh staf HCI yang ramah-bersahabat atas sikap terus
terang, profesional, serta keseharian yang tulus yang
menciptakan suasana menyenangkan dalam menerbitkan
buku ini. Kudos galore kepada Irene Xanthos dan Lori
Golden atas usahanya yang tak kenal lelah. Dan terima
kasih sebesar-besamya kepada Bagian Seni untuk semua
keras keras dan dedikasi Anda semua.
Secara khusus saya ucapkan terima kasih kepada Marsha
Donohoe, editor yang cemerlang, atas waktunya yang
amat panjang untuk mengedit dan mengedit ulang dan
mengedit ulang lagi sampai menghasilkan suatu urutan
kisah yang jelas dan wajar dari sudut pandang seorang
anak kecil. Bagi Marsha, segala kerja kerasnya itu sematamata
"kesabaran seorang petani".
Kepada Patti Breitman dari Breitman Publishing Projects,
A Child Called It - Page 8 of 144
atas peran awalnya mengatur penggunaan dana secara
baik.
Kepada Cindy Adams atas keyakinannya yang selalu
membuahkan kejemihan pada saat-saat saya paling
membutuhkannya.
Secara khusus rasa terima kasih juga saya ucapkan kepada
Ric & Don di Rio Villa Resort—yang kemudian menjadi
rumah saya untuk menyepi—atas upaya mereka
menyediakan "tempat berlindung" yang sempuma bagi
saya selama proses menyelesaikan penulisan buku ini.
Akhimya, kepada Phyllis Colleen. Saya berdoa semoga
Anda bahagia. Saya berdoa semoga Anda mengalami
kedamaian.

CATAN PENULIS
Sejumlah nama dalam buku ini sengaja diganti agar tidak
mengganggu perasaan orang lain.
Buku yang pertama dari rangkaian tiga-buku atau trilogi —
ini menggambarkan perkembangan penggunaan bahasa
dari sudut pandang seorang anak kecil. Irama bicara dan
kosakatanya mencerminkan usia serta pengetahuan anak
tersebut pada masa itu.
Buku ini ditulis berdasarkan kehidupan si anak pada umur
4 sampai 12 tahun.
Buku kedua dari trilogi ini, The Lost Boy, ditulis
berdasarkan kehidupan si anak pada umur 12 sampai 18
tahun.


TERSELAMATKAN

5 Maret 1973, Daly City, California—Aku terlambat. Aku
harus menyelesaikan pekerjaan mencuci peralatan makan
secepatnya, kalau tidak aku tidak dapat jatah sarapan; dan
karena semalam aku tidak makan, jadi sekarang aku harus
makan sesuatu. Ibu mondar-mandir sambil berteriak
kepada saudara-saudara lelakiku. Aku bisa mendengar
langkahlangkahnya yang berat menuju dapur. Cepat-cepat
aku membilas lagi. Tapi terlambat. Ibu menarikku dengan
kasar.
Plak! Ibu memukul mukaku, dan aku terjatuh. Aku tahu
lebih baik aku menjatuhkan diri daripada tetap berdiri dan
dipukul lagi. Kalau aku tetap berdiri, Ibu akan menganggap
itu sebagai sikap membantah, dan itu artinya beberapa
pukulan lagi atau, yang paling kutakutkan, tidak diberi
makan. Baru kemudian aku berdiri pelan-pelan sambil
memiringkan mukaku agar tidak menatapnya, sementara
Ibu berteriak di telingaku.
Aku menunjukkan sikap ketakutan, sambil terus-menerus
mengangguk seakan memahami arti ancaman-ancaman
yang keluar dari mulutnya. "Ya, ya," kataku dalam hati,
"asalkan aku boleh makan. Pukul aku lagi, asalkan aku
dapat makanan karena aku harus makan." Satu pukulan
lagi menyentakkan kepalaku hingga membentur pinggiran
dinding. Aku meneteskan air mata sebagai tanda tak tahan
menerima cemoohan Ibu.
Ibu lalu keluar dari dapur, tampaknya ia puas akan
perlakuannya terhadapku. Aku menghitung langkahlangkahnya
untuk memastikan bahwa ia benar-benar
sudah jauh dari dapur, dan aku pun menarik napas lega.
Sandiwaraku berhasil. Ibu boleh memukuliku sesuka
hatinya, tapi aku tak membiarkannya mengalahkan
tekadku untuk bertahan hidup.
Kuselesaikan mencuci peralatan makan, yang menjadi
salah satu tugasku sehari-hari. Sebagai upahnya, aku
mendapat sarapan sisa-sisa yang ada di mangkuk sereal
salah satu kakakku. Pagi ini sereal Lucky Charms. Cuma
ada sedikit sisa sereal dan susu di mangkuk itu, tapi aku
harus cepat-cepat menghabiskannya sebelum Ibu berubah
pikiran. Itu pernah terjadi. Ibu senang sekali menggunakan
makanan Sebagai senjata. Dia senang cepat-cepat
membuang sisa makanan ke dalam keranjang sampah,
sebab dia tahu aku akan mengais-ngaisnya untuk dimakan.
Ibu tahu hampir semua siasatku.
Tak lama kemudian aku sudah berada di dalam station
wagon tua kami. Karena banyak sekali tugas rumah yang
harus kuselesaikan, aku jadi terburu-buru berangkat
sekolah. Biasanya aku lari ke sekolah, dan sampai di sana
persis pelajaran dimulai sehingga aku tak sempat mencuri
makanan dari bekal makan siang anak-anak lain.
Sampai di depan sekolah, Ibu membiarkan kakak sulungku
langsung masuk ke sekolah, tapi aku ditahannya dulu
untuk mendengarkan rencananya besok. Dia mau
mengirim aku ke rumah kakaknya. Dia bilang Paman Dan
akan "mengasuhku". Itu ancaman, jadi aku pura-pura
takut. Aku tahu betul pamanku itu tidak akan
memperlakukan aku seperti Ibu memperlakukan aku,
meskipun pamanku itu memang galak.
Station wagon belum betul-betul berhenti, tapi aku sudah
menghambur keluar. Ibu berteriak, memanggilku kembali.
Aku lupa membawa kotak kusam tempat bekal makan
siangku, yang sudah tiga tahun ini menunya itu-itu juga,
dua tangkup roti isi selai kacang ditambah beberapa
potong wortel. Aku ingin langsung berlari lagi, tapi Ibu
berkata, "Bilang pada mereka... Bilang pada mereka kau
terantuk pintu" . Lalu ia mengatakan sesuatu yang amat
jarang ia katakan padaku, "Semoga harimu
menyenangkan". Kulihat kedua matanya yang merah. Ia
masih agak mabuk, sisa semalam. Dulu matanya bagus,
rambutnya sekarang acak-acakan tak terurus. Ia tidak
memakai riasan wajah, seperti biasanya. Ia tahu ia gemuk.
Ya, begitulah penampilan Ibu.
Karena terlambat banyak, aku harus melapor ke ruang
tata-usaha. Ibu sekretaris di ruang itu menyambutku
dengan senyuman. Tak lama kemudian, perawat sekolah
muncul dan mengajakku masuk ke ruang kerjanya, lalu
kami melakukan hal-hal yang sudah biasa kami lakukan.
Pertama, ia memeriksa muka dan lenganku.
"Bagian atas matamu kenapa?" ia bertanya.
Agak canggung, aku menunduk sambil menjawab, "Oh, itu
terbentur pintu... Tidak sengaja".
Perawat sekolah itu tersenyum lagi, lalu mengambil
clipboard dari atas lemari arsip. Ia membalik selembar atau
dua lembar kertas, lalu menunduk dan menunjukkan
padaku tulisan di halaman kertas itu. "Coba lihat ini",
katanya. "Kau mengatakan hal yang sama hari Senin
kemarin. Kau ingat?"
Cepat-cepat aku ganti ceritaku, "Aku sedang main bisbol,
lalu pemukulnya mengenai aku. Tidak sengaja, kok". Tak
sengaja. Aku harus selalu berkata begitu. Tapi perawat
sekolah itu rupanya lebih tahu. Dengan caranya, ia selalu
berhasil membuatku mengatakan kejadian sebenarnya.
Pada akhirnya aku selalu mengaku sambil terisak,
meskipun aku selalu merasa harus melindungi Ibu.
Perawat sekolah itu berkata bahwa aku akan baik-baik
saja, lalu menyuruhku membuka baju. Ini sudah kami
lakukan sejak tahun lalu, jadi sekarang aku menurut saja.
Lubang-lubang di baju lengan panjangku lebih banyak
daripada lubang-lubang di keju Swis. Selama dua tahun ini
itulah satu-satunya baju yang kupakai. Ibu menyuruhku
memakai baju itu setiap hari. Begitulah caranya menghina
aku. Celana yang kupakai sama jeleknya. Sepatuku
berlubang di bagian ujung depan, sampai-sampai aku bisa
mengeluarkan dan menggerak-gerakkan jempol kakiku
dari salah satu lubang-lubang itu. Lalu aku berdiri hanya
dengan mengenakan pakaian dalam, sementara perawat
sekolah mencatat luka dan memar di sekujur tubuhku pada
clipboard-nya. Ia menghitung sejumlah tanda seperti garis
miring di wajahku dengan saksama, jangan-jangan ada
yang terlewat dan belum ia catat. Ia teliti betul.
Selanjutnya, perawat itu membuka mulutku untuk
memeriksa gigi-gigiku yang patah atau copot akibat
terbentur pinggiran bak pencuci piring. Ia menuliskan
beberapa catatan lagi di kertas clipboard-nya. Kemudian ia
memeriksa lagi seluruh tubuhku, lalu berhenti di luka
sobek yang sudah lama di bagian perutku. "Yang itu,"
katanya dengan nada suara agak tertahan, "luka akibat
tusukan oleh ibumu, bukan?"
"Ya, Bu", jawabku. "Astaga!" aku tersentak dalam hati,
"aku melakukan kesalahan... lagi" .
Perawat itu tentulah menangkap kekhawatiran melalui
sorot mataku. Ia meletakkan clipboard-nya, lalu
memelukku.
"Aduh nyamannya," kataku dalam hati, "Ia begitu hangat".
Aku tak mau melepaskannya. Aku mau seterusnya dipeluk
begini. Kupejamkan mataku kuat-kuat. Rasanya begitu
aman, tak terjadi apa pun. Ia mengusap kepalaku. Aku
tersentak oleh rasa sakit pada luka bengkak akibat pukulan
ibuku pagi tadi. Perawat itu melepaskan pelukannya dan
keluar dari ruangan. Cepat-cepat aku mengenakan kembali
pakaianku. Perawat itu tidak tahu bagaimana cepatnya aku
mengenakan pakaian, dan aku memang selalu harus
mengerjakan segala sesuatu secepat mungkin.
Tak lama kemudian perawat itu masuk kembali ke ruangan
bersama kepala sekolah, Mr. Hansen, dan dua orang
guruku, Miss Woods serta Mr. Ziegler. Mr. Hansen tahu
siapa aku. Akulah murid di sekolah ini yang paling sering
dipanggil menghadapnya. Ia mencermati kertas laporan,
sementara perawat itu melaporkan secara lisan semua
temuan barunya. Mr. Hansen menyentuh daguku,
membuatku menengadah langsung padanya.
Aku takut melihat langsung ke matanya, itulah
kebiasaanku setiap kali berhadapan dengan Ibu. Selain itu,
aku pun tidak mau memberitahukan apa-apa kepadanya.
Pemah sekali, kalau tidak salah tahun lalu, Mr. Hansen
memanggil Ibu untuk minta penjelasannya tentang lukaluka
memar di sekujur tubuhku. Waktu itu Mr. Hansen
belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. la hanya tahu
bahwa aku anak bermasalah yang sering mencuri
makanan. Esok harinya, saat aku masuk sekolah, Mr.
Hansen melihat sendiri akibat pukulan-pukulan Ibu. Ia
tidak pernah lagi memanggil Ibu ke sekolah.
Dengan suara agak keras Mr. Hansen berkata bahwa ia
tidak bisa lagi menerima perlakuan Ibu terhadapku. Takut
setengah mati aku mendengar ucapannya itu. "Dia mau
memanggil Ibu lagi!", aku menjerit tanpa mengeluarkan
suara. Aku terduduk ke lantai dan menangis. Badanku
gemetar dan menggeliat-geliat tak karuan, aku mengoceh
seperti bayi, memohon supaya Mr. Hansen tidak
menelepon Ibu. Aku seperti anjing yang melolong sedih
bercampur takut,
"Ampun. Jangan, jangan hari ini! Ini kan hari Jumat. Ibu
akan memukuli aku terus sampai Senin pagi dan tidak
memberiku makan..."
Mr. Hansen berjanji tidak akan memanggil Ibu, lalu ia
menyuruhku masuk kelas. Sudah terlambat untuk
melaporkan kehadiran dan mengisi daftar hadir di sekolah,
jadi aku cepat-cepat ke kelas bahasa Inggris Mrs.
Woodworth. Hari ini ada tes spelling serentak di semua
negara bagian dan ibu kotanya. Aku tidak siap. Dulu aku
murid pandai, tapi sejak beberapa bulan belakangan ini
aku menyerah, aku merasa tidak punya alasan lagi untuk
melakukan sesuatu dalam hidup ini, termasuk mengalihkan
kesedihanku pada tugas-tugas sekolah.
Begitu masuk kelas, semua murid menutup hidung dan
serentak mengeluarkan suara seperti mendesah. Guru
pengganti, seorang perempuan yang lebih muda daripada
Mrs. Woodworth, mengibaskan tangan di depan wajahnya.
Ia belum terbiasa dengan bau badanku. Ia memberikan
kertas tesku sambil menjaga jarak supaya tidak terlalu
dekat denganku. Belum lagi aku duduk di tempat dudukku
di belakang, dekat jendela yang terbuka, aku dipanggil
kembali ke ruang kepala sekolah. Semua murid di kelas itu
serentak berseru "Huuuu..." ke arahku, penolakan oleh
murid-murid kelas lima.
Aku lari, dan dalam sekejap sampai di ruang tata-usaha.
Tenggorokanku perih akibat "permainan" yang kemarin
dimainkan Ibu terhadapku. Sekretaris di ruang tata-usaha
mengajakku ke ruang guru. Begitu ia membuka pintu
ruang guru, sejenak aku heran akan apa yang kulihat. Di
ruangan itu duduk di sekeliling sebuah meja Mr. Ziegler—
yang setiap hari melakukan absensi murid, lalu Miss Moss,
guru matematika, lalu perawat sekolah, Mr. Hansen, dan
seorang polisi. Rasanya, kakiku tak mau digerakkan. Aku
bingung, mau lari atau menunggu sampai langit-langit di
ruangan itu ambruk. Mr. Hansen melambaikan tangannya,
menyuruhku masuk, sementara sekretaris tadi menutup
pintu. Aku duduk di ujung meja dan langsung menjelaskan
bahwa aku tidak mencuri apa-apa... hari ini. Semua yang
ada di ruangan itu, yang tadinya terlihat tegang, langsung
tersenyum mendengar perkataanku. Sama sekali aku tak
tahu bahwa mereka akan mempertaruhkan pekerjaan
mereka demi menyelamatkan diriku.
Pak polisi di ruangan itu memberitahuku mengapa Mr.
Hansen memanggilnya. Rasanya badanku mengerut di
kursi yang kududuki. Pak polisi meminta aku menceritakan
tentang Ibu. Aku menggeleng, tidak mau. Sudah terlalu
banyak orang tahu rahasia tentang Ibu, dan aku yakin Ibu
pasti akan tahu itu. Ada suara lembut yang membuatku
nyaman. Rasanya itu suara Miss Moss. la menghiburku.
Tidak apa-apa, katanya.
Aku menarik napas panjang. Sambil meremas-remas
jemari tanganku sendiri, dengan agak segan kuceritakan
juga apa saja yang pernah terjadi antara aku dan Ibu.
Perawat sekolah menyuruhku berdiri, lalu memperlihatkan
luka memanjang di bagian dadaku kepada Pak Polisi.
Cepat-cepat kutambahkan bahwa itu tidak disengaja, Ibu
tidak pernah sengaja menusukku. Aku menangis.
Kukeluarkan apa yang selama ini kupendam, bahwa Ibu
menghukumku karena aku nakal. Rasanya kemudian aku
ingin sendirian. Aku tak mau orang-orang itu ada di
sekelilingku. Aku merasa begitu lemah. Setelah bertahuntahun
begini, aku tahu tak seorang pun bisa melakukan
sesuatu yang dapat mengubah keadaanku.
Beberapa menit kemudian aku diperbolehkan duduk di luar
ruang guru. Semua orang dewasa yang ada di ruangan di
luar ruang guru menumdangiku dan bersikap ramah. Aku
resah di tempat dudukku, karena melihat sekretaris
mengetik berlembar-lembar kertas. Rasanya sangat lama,
sampai akhirnya Mr. Hansen memanggilku masuk kembali
ke ruang guru.
Miss Woods dan Mr. Ziegler meninggalkan ruang guru.
Mereka terlihat gembira bercampur khawatir. Miss Woods
berlutut di depanku dan mendekapku, seakan-akan aku
terbungkus dalam dekapannya. Rasanya tak mungkin aku
bisa melupakan bau wangi rambutnya. Ia melepaskan
dekapannya, langsung pergi, karena ia tak ingin aku
melihatnya menangis. Aku malah jadi betul-betul khawatir.
Mr. Hansen memberiku nampan berisi makan siang dari
kantin. "Astaga! Sudah waktunya makan siang lagi?",
kataku dalam hati.
Kulahap makan siang itu begitu cepatnya sampai-sampai
aku hampir tidak tahu rasanya. Kecepatan makanku pasti
masuk rekor. Tak lama setelah itu, kepala sekolah masuk
lagi ke ruangan, membawa sekotak kue. Ia mengingatkan
supaya aku makan pelan-pelan saja. Aku tak tahu sedang
ada apa ini. Salah satu dugaanku adalah ayahku, yang
sudah berpisah dari Ibu, datang untuk mengambilku. Aku
berkhayal. Aku tahu ayahku tak mungkin datang.
Pak Polisi menanyakan alamat dan nomor telepon
rumahku. "Apa kataku, aku berkata dalam hati. "Masuk
neraka lagi! Aku akan mendapat hukuman lagi dari Ibu!"
Pak Polisi masih menambahkan sesuatu pada catatannya,
sementara Mr. Hansen dan perawat sekolah
memperhatikan yang ditulis Pak Polisi. Tak lama kemudian
Pak Polisi menutup buku catatannya dan berkata pada Mr.
Hansen bahwa informasi yang ia butuhkan sudah cukup.
Aku menengadah, memandang kepala sekolahku.
Wajahnya berkeringat. Aku merasakan perutku mulai
mulas. Aku mau ke kamar mandi, mau muntah.
Mr. Hansen membuka pintu, lalu aku melihat guru-guru
yang sedang istirahat makan siang memandangiku. Malu
sekali rasanya. "Mereka tahu," kataku pada diri sendiri.
"Mereka tahu yang sebenamya mengenai Ibu; yang
sebenar-benamya." Mereka perlu tahu bahwa aku bukan
anak nakal. Aku kepingin sekali disukai orang, dicintai. Aku
tidak mau ke aula. Mr. Ziegler menggandeng Miss Woods.
Miss Woods sedang menangis. Aku mendengarnya ia
terisak. Sekali lagi ia memelukku, lalu cepat-cepat
melepaskannya. Mr. Ziegler menjabat tanganku. "Jadilah
anak baik", katanya.
"Ya, Pak. Saya coba", cuma itu jawabanku.
Perawat sekolah berdiri diam di samping Mr. Hansen.
Mereka semua mengucapkan selamat tinggal kepadaku.
Aku tahu sekarang, aku akan dimasukkan ke dalam
penjara. "Baguslah", kataku dalam hati. "Paling tidak, Ibu
tidak bisa memukuliku kalau aku di penjara" .
Aku dan Pak Polisi berjalan ke luar gedung, melewati
kantin. Aku melihat beberapa teman sekelasku sedang
bermain bola. Beberapa di antara mereka berhenti
bermain, lalu berteriak-teriak, "David ditangkap! David
ditangkap Pak Polisi mengusap pundakku sambil berkata
padaku supaya tenang-tenang saja. Saat mobil Pak Polisi
membawaku pergi meninggalkan Thomas Edison
Elementary School, aku sempat melihat beberapa murid
yang terbengong-bengong memandang kepergianku.
Sebelum pergi tadi, Mr. Ziegler berkata padaku bahwa ia
pasti memberitahu murid-murid lain tentang yang
sebenarnya yang sebenar-benarnya. Aku rela berkorban
apa pun untuk berada di kelas lagi pada saat mereka tahu
bahwa aku tidak seburuk dugaan orang.
Beberapa menit kemudian kami sampai di kantor polisi
Daly City. Aku merasa seakan-akan Ibu ada di situ. Aku
tidak mau turun dari mobil. Pak Polisi membukakan pintu
dan dengan lembut menggandeng lenganku, berjalan
menuju gedung kantor. Aku tidak melihat orang lain di
ruang kantor itu. Pak Polisi duduk di sebuah kursi, di pojok
ruangan, lalu di situ ia mengetik ! Ada beberapa lembar
kertas. Aku mengawasi Pak Polisi itu terus-menerus sambil
memakan kueku pelan-pelan. Kue-kue itu kumakan pelanpelan
supaya aku bisa berlama-lama menikmatinya. Aku
tidak tahu kapan aku bisa makan lagi.
Jam satu siang lewat. Pak Polisi sudah selesai mengerjakan
ketikannya. Sekali lagi ia menanyakan nomor telepon
rumahku.
"Kenapa?" aku bertanya dengan sedih campur khawatir.
"Aku harus menelepon ibumu, David," jawabnya lembut.
"Jangan!" kataku tegas. "Kembalikan aku ke sekolah.
Seharusnya Bapak tahu ibuku tidak boleh tahu apa yang
telah kukatakan!"
Dengan beberapa kue, Pak Polisi bisa menenangkan diriku
lagi, lalu memutar nomor telepon 7-5-6-2-4-6-0. Aku
memperhatikan lingkaran angka-angka di telepon itu
berputar. Aku berdiri dari kursiku, berjalan mendekati Pak
Polisi yang sedang memutar nomor telepon, badanku
tegang ketika mencoba mendengar dering telepon di ujung
sana. Ibu menjawab telepon itu. Suaranya membuatku
takut. Dengan lambaian tangan, Pak Polisi menyuruhku
menjauh.
Ia mengambil napas dalam sebelum berkata, "Mrs. Pelzer,
saya Opsir Smith dari kantor polisi Daly City. Anak Anda,
David, tidak akan pulang ke rumah hari ini.
Ia berada dalam perlindungan San Mateo Juvenile
Department. Kalau ada yang ingin Anda tanyakan, silakan
hubungi departemen tersebut".
Pak Polisi meletakkan gagang telepon, lalu tersenyum.
"Tidak sulit, bukan?" katanya padaku. Tapi dari raut
wajahnya aku bisa bilang bahwa Pak Polisi itu sendirilah
yang lebih membutuhkan kata yang menenangkan itu,
bukan aku.
Beberapa kilometer kemudian, kami sudah berada di jalan
raya 280, menuju batas wilayah Daly City. Aku menengok
ke arah sebelah kananku dan melihat sebuah papan besar
bertuliskan "THE MOST BEAUTIFUL HIGHWAY IN THE
WORLD". Pak Polisi tersenyum dan merasa lega saat kami
melewati batas kota. "David Pelzer", katanya, "kau bebas".
"Apa?" tanyaku, sambil menggenggam erat satu-satunya
simpanan makananku. "Aku tidak mengerti. Bukankah Pak
Polisi mau memasukkan aku ke penjara?"
Ia tersenyum lagi, lalu dengan lembut meremas bahuku.
"Tidak, David. Kau tidak usah khawatir sama sekali,
percayalah. Ibumu takkan pernah menyakitimu lagi."
Aku bersandar ke kursi mobil. Pantulan sinar matahari
mengenai mataku. Aku memalingkan wajahku dari sinar
itu, dan pada saat itu air mata mengalir di pipiku.
"Aku bebas?"
********




MASA-MASA BAHAGIA

Tahun-tahun sebelum aku mengalami perlakuan buruk,
keluargaku adalah keluarga kulit putih ideal, layaknya
kisah keluarga Brady Bunch di tahun 1960-an. Aku dan
kedua saudara lelakiku dikaruniai orangtua yang sempuma.
Segala kebutuhan kami selalu terpenuhi dengan rasa cinta
dan perhatian.
Kami tinggal di sebuah rumah yang biasa-biasa saja,
dengan dua kamar tidur, di sebuah kawasan hunian yang
"baik" di Daly City. Aku ingat setiap kali memandang ke
luar dari bay window, jendela tiga sisi yang dibuat agak
menjorok keluar dari dinding rumah, ruang keluarga pada
saat cuaca cerah, akan terlihat jelas tiang-tiang jembatan
Golden Gate berwama orange dan skyline San Francisco
yang cantik.
Ayahku, Stephen Joseph, adalah petugas pemadam
kebakaran. Kantomya di jantung kota San Francisco. Tinggi
badannya hampir 1,8 meter, beratnya sekitar 86 kilogram.
bahunya lebar dan lengannya besar, bentuk badan idaman
pria pada umumnya. Alis matanya yang hitam tebal
sepadan dengan rambutnya. Aku merasa jadi anak
istimewa ketika ia memandangiku dengan bangga dan
memanggilku "Tiger".
lbuku, Catherine Roerva, berperawakan dan berpenampilan
biasa-biasa saja. Aku tidak bisa mengingat wama mata
atau rambutnya, tapi Ibu adalah perempuan yang sangat
mencintai anak-anaknya. Daya hidupnya yang terbesar
adalah tekadnya yang keras. Ibu selalu punya banyak
gagasan, dan dialah yang selalu mengarahkan sekaligus
memutuskan segala urusan keluarga. Pemah, ketika
umurku empat atau lima tahun, Ibu berkata bahwa ia
sakit, dan aku ingat pada saat itu aku punya perasaan
bahwa Ibu kelihatannya bukan dirinya sendiri. Hari itu
Ayah sedang pergi kerja. Setelah menyiapkan makan
malam, tiba-tiba Ibu meninggalkan ruang makan dan
dengan tergesa-gesa mengecat anak tangga menuju
garasi. Ia batuk-batuk saat ia dengan paniknya
mengoleskan cat merah pada setiap anak tangga. Belum
lagi cat itu kering, Ibu sudah memasangkan karpet karet
pada anak tangga. Karpet karet dan tubuh Ibu jadi
berlepotan cat merah. Setelah selesai dengan kegiatannya
itu, Ibu masuk ke rumah dan langsung rebah di sofa. Aku
ingat, ketika itu aku bertanya pada Ibu mengapa ia
memasangkan karpet karet pada anak tangga padahal
catnya belum kering. Ibu tersenyum dan menjawab, "Aku
cuma ingin membuat kejutan buat Ayahmu."
Dalam urusan berbenah rumah, Ibu adalah biangnya
kebersihan. Setiap kali selesai sarapan bersama kedua
saudaraku, Ronald dan Stan, serta aku, Ibu selalu
melancarkan segala bentuk aksi pembersihan, menebahnebah
untuk membersihkan debu, menyedot debu dengan
vakum, mengelap, termasuk membersihkan kuman dengan
disinfektan. Tak satu pun ruang di rumah kami bebas dari
aksinya itu. Ketika anak-anaknya bertambah besar, Ibu tak
pernah lupa mengajak kami dalam aksi pembersihan itu
dengan mengingatkan kami untuk menjaga kebersihan
serta kerapian kamar kami.
Di halaman luar, Ibu punya kebun bunga kecil yang
membuat para tetangga iri sebab Ibu merawatnya dengan
sangat telaten. Rasanya, apa pun yang disentuh Ibu akan
berubah jadi emas. Ia tak percaya akan keberhasilan yang
dicapai dengan bekerja setengah-setengah. Berkali-kali Ibu
menasehati kami agar kami selalu melakukan yang terbaik,
apa pun yang sedang kami kerjakan.
Ibu sungguh berbakat memasak. Menurutku, menciptakan
menu masakan yang baru dan eksotis adalah hal yang
paling ia nikmati di antara sekian banyak hal yang ia
lakukan bagi keluarga. Apalagi setiap Ayah ada di rumah,
Ibu pasti membuktikan bakat memasaknya itu, ia
menggunakan waktunya yang paling pas untuk memasak
menu ciptaannya yang lezat. Pada hari-hari ketika Ayah
bertugas, biasanya Ibu mengajak kami berjalan-jalan
menikmati keramaian kota. Pada suatu hari ia mengajak
kami ke Chinatown di San Francisco. Sambil berkendaraan
berkeliling wilayah itu, Ibu bercerita mengenai kebiasaan
serta sejarah orang-orang Cina. Sesampai di rumah, Ibu
memutar musik berirama Cina yang indah. Lalu ia
menciptakan suasana berbau Cina di ruang makan, antara
lain dengan memasang beberapa Lampion. Malam hari itu
ia mengenakan kimono dan menyajikan masakan yang
bagi kami kelihatannya agak aneh namun ternyata lezat
rasanya. Di akhir makan malam hari itu Ibu memberi kami
kue keberuntungan dan membacakan tulisan yang ada di
bungkus kue itu. Waktu itu aku merasa bahwa pesan yang
ada di kue-kue itu pasti menuntunku ke masa depanku.
Beberapa tahun kemudian, ketika aku pandai membaca
dan mengerti yang aku baca, aku menemukan salah satu
bungkus kue yang dulu tulisannya dibacakan Ibu untukku.
Tulisan itu berbunyi, "Cintai dan hormati Ibumu, sebab
dialah buah yang memberimu kehidupan".
Dulu kami punya banyak binatang peliharaan, ada kucing,
anjing, ikan di dalam akuarium, dan seekor kura-kura
bernama "Thor". Aku paling ingat kura-kura itu sebab Ibu
membolehkanku untuk memberinya nama. Aku merasa
bangga sebab kedua saudaraku sudah dibolehkan memberi
nama kepada binatang-binatang peliharaan kami yang lain,
dan aku pun mendapat giliran untuk memberi nama. Nama
Thor aku ambil dari nama tokoh kartun kesukaanku.
Beberapa akuarium dengan ukuran berbeda ada di hampir
semua ruangan rumah kami. Di ruang keluarga saja paling
tidak ada dua, lalu satu lagi yang berisi ikan gupi ditaruh di
kamar kami. Ibu sungguh kreatif. Ia menghiasi semua
akuarium dengan batu-batuan warna-warni, sehingga
akuarium itu tampak seperti rumah ikan sungguhan.
Sering kami duduk di sekeliling akuarium sambil
mendengarkan Ibu menjelaskan berbagai jenis ikan.
Pelajaran paling mengagumkan yang diberikan oleh Ibu
terjadi pada suatu hari Minggu sore. Salah satu kucing
kami bertingkah aneh waktu itu. Ibu menyuruh kami duduk
di dekat kucing itu, sementara ia menjelaskan proses
melahirkan. Setelah semua anak kucing dilahirkan dengan
selamat, Ibu lalu menjelaskan dengan sangat teliti betapa
ajaibnya kehidupan ini. Dalam suasana keluarga yang
bagaimanapun, Ibu, dengan caranya sendiri, memberi
kami pelajaran yang sangat berguna, sekalipun kami
hampir tidak pernah menyadari bahwa kami sedang diberi
pengetahuan.
Selama masa bahagia itu, keluarga kami selalu memulai
musim liburan sejak Halloween. Pada suatu malam musim
gugur di bulan Oktober, saat bulan pumama, Ibu cepatcepat
mengajak kami keluar rumah untuk mengamati
"Buah Labu Raksasa" di langit. Ketika kami kembali naik ke
tempat tidur, Ibu menyuruh kami mengintip ke bawah
bantal kami masing-masing, dan situ kami menemukan
mobil balap mainan Matchbox. Aku dan saudara lelakiku
serentak bersorak girang, sementara wajah Ibu
menampakkan rasa puas.
Sehari setelah Thanks-giving, Ibu selalu masuk ke ruangan
bawah, lalu naik lagi dengan membawa sejumlah kardus
besar berisi beragam hiasan Natal. Dengan bantuan
tangga, Ibu menggantungkan untaian-untaian hiasan pada
kayu-kayu di langit-langit rumah. Setelah Ibu selesai
dengan kesibukannya itu, setiap ruang di rumah kami
menjadi penuh dengan suasana liburan. Di ruang makan
Ibu menata letak lilin-lilin merah berbagai ukuran. Butiranbutiran
salju jatuh dan menumpuk, membentuk berbagai
pola yang menambah cantik setiap jendela di ruang
keluarga dan ruang makan. Untaian lampu-lampu Natal
ikut menghiasi jendela-jendela kamar tidur kami. Setiap
malam aku jatuh tertidur saat memandangi warna-warni
lampu Natal yang berkelap-kelip lembut.
Tinggi pohon Natal kami tidak pemah kurang dari dua
setengah meter, dan semua anggota keluarga meluangkan
waktu seharian untuk menghiasinya. Setiap tahun, salah
satu di antara kami memperoleh kehormatan menaruh
hiasan malaikat di puncak pohon Natal itu, sementara Ayah
mengangkat badan kami dengan tangannya yang kuat.
Setelah selesai menghias pohon Natal dan makan malam,
kami masuk ke station wagon kami dan duduk berdesakdesakan
dengan riang gembira, lalu berkeliling di sekitar
perumahan untuk melihat-lihat dekorasi Natal yang
menghiasi rumah-rumah tetangga kami. Pada saat seperti
itu Ibu berulang kali mengucapkan keinginannya untuk
memiliki segala sesuatu yang lebih besar dan lebih bagus
pada Natal tahun berikutnya, sekalipun kedua kakakku dan
aku yakin bahwa hiasan Natal di rumah kami selalu yang
paling bagus. Sampai di rumah kembali, Ibu mendudukkan
kami dekat perapian untuk menikmati egg nog.
Selama ia menceritakan kepada kami beberapa kisah,
stereo set di rumah kami memutar lagu "White Christmas"
yang dinyanyikan Bing Crosby. Aku begitu gembira selama
musim liburan sehingga rasanya tidak mau tidur. Kadang
kala Ibu menggendong aku agar tidur. Sebelum terlelap,
suara yang kudengar hanyalah kayu yang meretih terbakar
di perapian.
Hari Natal semakin dekat. Aku dan kedua saudaraku
semakin riang gembira. Tumpukan hadiah di bawah pohon
Natal semakin hari semakin tinggi. Ketika hari Natal tiba,
kami masing-masing mendapat banyak hadiah.
Pada malam Natal, setelah menyantap makan malam yang
istimewa dan menyanyikan beberapa lagu Natal, kami
diizinkan membuka satu saja hadiah yang kami terima.
Setelah itu kami disuruh tidur. Di tempat tidur, aku selalu
memasang telinga dengan harapan bisa mendengar suara
bel-bel kereta es Santa. Tetapi aku selalu terlelap sebelum
sempat mendengar suara rusa kutub penarik kereta es
Santa mendarat di atap rumah.
Sebelum fajar, Ibu berjingkat-jingkat masuk kamar dan
membangunkan kami sambil berbisik, "Bangun, Santa
datang!" Pemah pada suatu Natal, Ibu memberi kami
masing-masing sebuah topi plastik Tonka berwama kuning,
lalu menyuruh kami berbaris menuju ruang keluarga. Kami
tak sabar menyobeki kertas warna-warni agar bisa
membuka kotak untuk akhimya menemukan bermacammacam
mainan baru.
Setelah itu Ibu menyuruh kami, yang sudah mengenakan
jubah kamar yang baru, ke halaman belakang untuk
memandangi pohon Natal kami yang tampak besar dari
balik jendela. Tahun itu, saat berdiri di halaman belakang
itu, aku ingat melihat Ibu menangis. Aku bertanya pada
Ibu, mengapa ia bersedih. Ibu menjawab bahwa ia
menangis karena ia merasa begitu bahagia memiliki
keluarga yang sesungguhnya.
Karena pekerjaan Ayah sering menuntutnya untuk bekerja
24 jam, Ibu sering mengajak kami seharian berkeliling ke
tempat-tempat yang tidak jauh seperti Golden Gate Park di
San Francisco. Saat berkeliling taman itu, Ibu menjelaskan
mengapa daerah-daerah itu sedemikian berbeda dengan
daerah-daerah lain, dan sering juga Ibu mengungkapkan
keinginannya untuk memiliki bunga-bunga yang cantik di
situ.
Taman Steinhart Aquarium selalu kami kunjungi paling
akhir. Aku dan kedua saudaraku senang sekali menaiki
anak-anak tangga yang ada di situ dan mendorong sekuat
tenaga pintu-pintunya yang berat. Kami merasa amat
gembira saat sampai di bagian atas, lalu bersandar pada
pagar penyangga dari kuningan yang dibuat berbentuk
kuda laut, dan jauh di bawah sana kami bisa melihat kolam
dengan air terjun kecil yang dijadikan tempat tinggal bagi
beberapa aligator dan kura-kura besar.
Sebagai anak kecil, inilah tempat yang paling kusukai di
taman ini. Pemah aku merasa takut karena aku berandaiA
andai terlolos dari pagar penyangga itu lalu jatuh ke
kolam. Walaupun tidak berkata apa-apa, aku yakin Ibu
merasakan ketakutanku itu. Ia melihat padaku, lalu
menggenggam tanganku dengan lembut, dan itu
membuatku merasa aman.
Bagi kami, musim semi berarti piknik. Malam hari
menjelang piknik esok harinya, Ibu selalu menyiapkan
bekal makanan istimewa yang terdiri dari ayam goreng,
salad, roti isi, dan makanan penutup. Pagi-pagi sekali kami
sekeluarga berangkat ke Junipero Serra Pak. Sesampai di
sana aku dan kedua kakakku berlarian dengan amat
girang, sebebas-bebasnya, di hamparan rumput yang luas.
Lalu kami bermain ayunan, berayun-ayun setinggi
mungkin. Kadang kala kami mengambil risiko memasuki
tempat-tempat yang belum pemah kami jelajahi di taman
itu. Kalau kami sudah bermain-main seperti itu, Ibu selalu
kesulitan mencari-cari serta menggiring kami untuk makan
siang. Sambil bermain, aku memperhatikan orangtuaku
yang tampak bahagia. Mereka berbaring bersisian di atas
tikar, meneguk anggur merah, sambil memperhatikan kami
bermain.
Liburan keluarga setiap musim panas selalu membuatku
tegang karena rasa girang. Ibulah yang selalu menentukan
semua acara yang akan kami lakukan pada setiap liburan
musim panas. Segala sesuatunya ia rencanakan dengan
matang, dan ia selalu puas karena semua acara yang ia
rancang sukses. Yang biasa menjadi tempat tujuan liburan
musim panas kami adalah Portola atau Memorial Park. Di
sana kami berkemah sekitar satu minggu. Kemah kami
sangat besar dan berwarna hijau. Di seluruh dunia, tempat
yang paling aku senangi adalah Russian River, setiap kali
Ayah mengajak kami bermobil ke arah utara,
menyeberangi jembatan Golden Gate, aku tahu kami
sedang menuju tempat favoritku itu.
Perjalanan ke sungai itu yang paling mengesankan bagiku
terjadi saat aku masih di taman kanak-kanak. Pada hari
terakhir sekolah menjelang liburan, Ibu meminta kepala
sekolah untuk mengizinkan aku pulang lebih awal. Begitu
kudengar bunyi klakson mobil ayahku, aku berlari sangat
kencang mendaki sebuah bukit kecil, lalu turun menuju
mobil kami yang sudah menunggu di situ. Aku gembira
sekali sebab aku tahu tujuan kami ke mana. Dalam
perjalanan itu aku sangat takjub melihat hamparan ladang
anggur yang seakan tak habis-habisnya. Saat kendaraan
kami memasuki kota Guerneville yang sunyi, kuturunkan
kaca jendela agar aku bisa menghirup udara yang dipenuhi
aroma pepohonan redwood yang tumbuh di sana.
Setiap hari adalah petualangan baru. Sepanjang hari, kami
bertiga mengenakan sepatu bot khusus untuk memanjat
sisa sebatang pohon tua besar yang mati karena terbakar,
atau berenang di sungai di Johnson's Beach. Biasanya kami
meninggalkan kabin pukul sembilan pagi, dan kembali
setelah jam tiga sore. Ibu mengajar kami berenang di
ceruk kecil di sungai itu. Pada liburan musim panas itu Ibu
mengajariku berenang gaya punggung. Ketika aku
menunjukkan bahwa aku bisa melakukannya, Ibu tampak
sangat senang.
Selama liburan itu setiap hari rasanya menakjubkan. Suatu
hari, setelah makan malam, Ibu dan Ayah mengajak kami
bertiga menikmati saat-saat matahari terbenam. Kami
berlima bergandengan tangan saat melewati kabin Mr.
Parker, menuju ke sungai. Air sungai itu yang berwarna
hijau tampak selicin kaca. Kawanan burung bluejay, sejenis
gagak, beterbangan angin kepakan sayap-sayap mereka
terasa di rambutku.
Tanpa berkata-kata, kami berdiri menyaksikan matahari
yang bagaikan bola api sedikit demi sedikit tenggelam di
balik pepohonan yang tinggi, meninggalkan alur-alur tipis
berwarna biru terang bercampur jingga tua di langit.
Terasa ada yang merangkul bahuku. Aku mengira itu
ayahku. Aku menoleh, lalu diam-diam merasa bangga,
ternyata Ibulah yang merangkulku dengan eratnya. Aku
bisa merasakan detak jantungnya. Itulah satu-satunya saat
dalam hidupku ketika aku merasa begitu aman dan begitu
hangat, di Russian River.
********





ANAK NAKAL

Hubunganku dengan Ibu berubah drastis, dari tempaan
disiplin menjadi hukuman yang semakin membabi-buta.
Kadangkala hukuman itu sedemikian menyakitkan sampaisampai
aku harus merangkak untuk menghindarinya,
bahkan aku bisa menyebutnya sebagai menyelamatkan
hidupku.
Sebagai anak kecil, suaraku mungkin terdengar lebih keras
dibandingkan anak-anak kecil lainnya. Tampaknya aku
juga selalu bemasib sial, selalu ketahuan bersikap nakal,
sekalipun aku dan kedua saudaraku sering sama-sama
mengaku melakukan "kejahatan" yang sama.
Pada awalnya, aku disuruh berdiri atau jongkok di pojok
kamar tidur kami. Pada saat itulah aku mulai takut
terhadap Ibu. Sangat takut. Aku pemah aku meminta Ibu
agar aku boleh keluar kamar. Aku akan diam dalam posisi
dan tempat yang sama, menunggu sampai salah seorang
saudaraku masuk ke kamar tidur kami dan bertanya pada
Ibu apakah David sudah boleh keluar dan ikut main
bersama.
Mulai saat itulah sikap Ibu berubah drastis. Kadang kala,
saat Ayah sedang bekerja, Ibu menghabiskan waktunya
seharian tiduran di kursi menonton acara televisi, masih
mengenakan jubah mandi. la hanya akan beranjak dari
kursi kalau mau ke kamar mandi, menambah minumannya
lagi, atau memanaskan sisa makanan. Saat berteriak
kepada kami, suaranya berubah dari suara seorang Ibu
yang lembut menjadi suara seorang perempuan penyihir
yang jahat. Dalam waktu singkat suara Ibu menjadi suara
yang sangat menakutkan bagiku. Bahkan kalau Ibu
berteriak memarahi salah seorang saudaraku, aku akan
berlari ke kamar untuk bersembunyi, sambil berharap Ibu
cepat-cepat kembali lagi ke kursinya, ke minumannya, dan
ke acara televisinya. Sejenak, aku bisa tahu apa yang
bakal aku alami pada suatu hari dari pakaian yang Ibu
kenakan. Aku bisa bemapas lega pada hari ketika kulihat
Ibu keluar dari kamarnya mengenakan pakaian yang
menawan dan mengenakan make up. Pada hari-hari
demikian, Ibu akan tersenyum sepanjang hari.
Ketika Ibu memutuskan bahwa "hukuman pojok kamar"
tidak lagi mempan, "hukuman cermin" lalu dikenakan pada
diriku. Mulanya, wajahku ditempelkan dan ditekan pada
kaca cermin, lalu wajahku yang basah oleh air mata
digesek-gesekkan pada permukaan kaca cermin yang licin
dan memantulkan wajahku. Kemudian Ibu memaksaku
untuk berkata, "Aku anak nakal! Aku anak nakal! Aku anak
nakal!" berulang-ulang.
Kemudian aku dipaksa berdiri, disuruh melihat ke cermin.
Aku berdiri tegang, dengan kedua tangan masing-masing
di setiap sisi. Berulang kali aku mencuri pandang ke luar
kamar, menanti dengan sangat ketakutan saat siaran iklan
kedua ditayangkan di televisi. Aku tahu persis, bahwa pada
saat itulah akan kudengar langkah-langkah kaki Ibu yang
bergegas menuju kamar untuk memeriksa apakah aku
masih memandang ke arah cermin, lalu ia akan berkata
padaku betapa aku adalah anak yang memuakkan. Setiap
kali saudara-saudaraku masuk ke kamar saat aku
mendapat "hukuman cermin", mereka memandang ke
arahku, mengangkat bahu sedikit, lalu meneruskan
permainan mereka seolah-olah aku tidak di situ. Mulanya
sikap mereka itu membuatku iri, namun aku segera paham
bahwa itu mereka lakukan semata-mata demi
menyelamatkan diri mereka sendiri.
Ketika Ayah di tempat kerja, Ibu sering berteriak-teriak
memaksa aku dan kedua saudaraku mencari di seluruh
pelosok rumah sesuatu miliknya yang hilang. Biasanya
pencarian seperti itu dimulai pagi hari, sampai berjam-jam
kemudian. Tidak lama setelah pencarian dimulai, biasanya
aku disuruh melakukan pencarian di garasi, sebuah
ruangan di bagian hawah rumah, semacam basement. Saat
berada di ruang bawah pun, aku tetap ketakutan setiap
kali mendengar Ibu herteriak ke salah satu saudaraku.
Demikianlah selama berbulan-bulan, pencarian seperti
berlanjut, sampai akhimya cuma aku sendirilah yang disuruh
mencari barangnya yang hilang, barang apa saja.
Pernah, aku lupa barang apa yang mesti aku cari. Ketika
dengan amat ketakutan aku bertanya pada Ibu barang apa
yang harus aku cari, wajahku malah dipukul. Itu dilakukan
Ibu sambil tetap rebahan di kursi, bahkan ia tidak
mengalihkan perhatiannya dari acara televisi. Darah
mengalir dari hidungku, dan aku mulai menangis. Ibu
menyambar serbet dari meja, menyobeknya, lalu
menggosok-gosokkannya ke hidungku.
"Kau tahu persis apa yang harus kau cari!" bentaknya.
"Cari! Sekarang!"
Tergopoh-gopoh aku turun kembali ke basement,
membuat suara cukup keras untuk meyakinkan Ibu bahwa
aku betul-betul mematuhi perintahnya sesegera mungkin.
Ketika perintah Ibu "cari ini, cari itu" menjadi semakin
biasa terjadi, aku mulai berkhayal bahwa aku telah
menemukan barang Ibu yang hilang. Aku berkhayal,
dengan dada membusung aku muncul dari basement
sementara kedua tanganku membawa barang berharga
yang begitu dicari-cari, lalu Ibu menyambutku dengan
pelukan serta ciuman. Bukan cuma itu. Aku juga berkhayal
keluarga kami hidup bahagia setelah itu. Kenyataannya,
aku tak pernah menemukan satu pun barang Ibu yang
hilang, dan ia membuatku takkan pernah lupa bahwa aku
adalah anak gagal yang tak bisa apa-apa.
Sebagai anak kecil, aku menyadari sikap Ibu bisa sangat
berlawanan, seperti siang dan malam, saat Ayah ada di
rumah. Kalau Ibu menata rambutnya dan mengenakan
pakaian bagus, ia kelihatan lebih santai. Aku menyukai hal
itu saat Ayah di rumah. Itu berarti tidak ada pukulan,
hukuman cermin, atau pencarian barang-barang Ibu yang
hilang selama berjam-jam. Ayah menjadi pelindungku.
Kapan pun Ayah pergi ke garasi untuk melakukan apa saja
yang ingin ia kerjakan, aku mengikutinya. Saat ia duduk di
kursi kesukaannya untuk membaca koran, aku berada di
dekatnya. Sehabis makan malam, setelah piring dan gelas
disingkirkan dari meja makan, Ayah akan mencucinya, aku
yang mengeringkannya. Aku tahu selama aku berada di
dekatnya tak akan ada yang menyakitiku.
Suatu hari, sebelum Ayah berangkat kerja, aku menerima
kejutan yang menakutkan. Setelah mengucapkan selamat
tinggal kepada Ron dan Stan, Ayah berlutut, memegang
erat bahuku dan berpesan padaku agar aku menjadi "anak
baik". Ibu berdiri di belakangnya, berlipat tangan, dan di
wajahnya ada senyuman tipis. Aku memandang mata Ayah
dan langsung tahu bahwa aku adalah "anak nakal". Ada
rasa menggigil tiba-tiba menjalari seluruh tubuhku. Ingin
rasanya aku menahan Ayah agar tidak pergi ke manamana
selamanya. Namun sebelum aku sempat
memeluknya, Ayah berdiri, berbalik dan keluar, tanpa
berkata apa-apa lagi.
Selama waktu yang singkat sejak peringatan Ayah itu,
suasana antara aku dan Ibu tampaknya tenang-tenang
saja. Kalau Ayah sedang di rumah, aku dan kedua
saudaraku bermain di kamar kami atau di pekarangan,
sampai sekitar jam tiga sore. Pada jam itu biasanya Ibu
menyetel televisi sehingga kami bisa nonton film kartun.
Bagi orangtuaku, jam tiga sore berarti "Happy Hour". Di
meja dapur Ayah menaruh berbotol-botol minuman
beralkohol beserta gelas-gelasnya yang cantik. la
memotong lemon dan lime, menaruhnya di beberapa
mangkuk kecil di samping mangkuk yang berisi buah-buah
cherry. Sering kali orangtuaku minum-minum sejak sore
menjelang matahari terbenam sampai aku dan kedua
kakakku naik ke tempat tidur. Aku ingat memperhatikan
mereka berdansa di dapur diiringi musik dari radio-mereka
berpelukan, tampaknya begitu bahagia. Aku mengira aku
bisa membuang masa sengsaraku. Aku keliru. Masa
sengsaraku itu baru awal dari sesuatu yang lebih hebat
lagi.
Satu atau dua bulan kemudian, pada hari Minggu, saat
Ayah sedang bekerja, aku dan kedua kakakku sedang
bermain di kamar kami ketika kami mendengar langkahlangkah
Ibu yang berat dan tergesa-gesa, dan berteriak
kepada kami ber-tiga. Ron dan Stan langsung berlari
menyelamatkan diri ke ruang keluarga, sedangkan aku
langsung duduk di kursiku.
Dengan kedua tangannya terentang dan terangkat, Ibu
langsung mendatangiku. Ibu semakin dekat dan semakin
dekat, sementara aku memundurkan kursiku sampai
mepet ke tembok, sehingga kepalaku menempel di
tembok. Mata Ibu berkilat dan merah, napasnya berbau
minuman keras. Aku menutup mataku begitu pukulan Ibu
bertubi-tubi menghantamku dari kiri kanan. Kucoba
menggunakan tangan untuk melindungi wajahku, tapi Ibu
dengan mudah menyingkirkannya. Pukulannya kurasakan
seakan tak akan pernah berhenti. Akhirnya kulingkarkan
lengan kiriku untuk menutupi wajahku.
Saat Ibu berusaha menarik lenganku, ia kehilangan
keseimbangan dan terhuyung ke belakang, sementara
tangannya masih mencengkeram lengan kiriku. Ibu
berusaha agar tidak jatuh sehingga lengan kiriku tertarik
keras.
Saat itulah kudengar suara gemeretak, lalu aku merasa
sangat kesakitan pada bahu dan lenganku. Ibu tampak
tertegun, dan dari raut wajahnya aku tahu bahwa ia pun
mendengar bunyi yang kudengar.
Namun, ia begitu saja melepaskan cengkeramannya dari
lengan kiriku, berbalik, lalu pergi begitu saja seakan tidak
terjadi apa-apa. Perlahan-lahan kucoba menggerakkan
lengan kiriku. Rasa sakitnya tak tertahankan. Belum
sempat aku tahu persis apa yang terjadi dengan lengan
kiriku, Ibu sudah memanggil untuk makan malam.
Langkahku terasa berat, berpegangan pada rak TV,
mencoba untuk makan. Ketika mau mengambil gelas susu,
lengan kiriku tak bisa digerakkan sama sekali. Tanpa
diperintah, jemariku bergerak-gerak sendiri, sementara
lenganku lunglai seakan mati. Aku memandang Ibu,
mencoba meminta perhatiannya melalui mataku. Ia
mengabaikanku.
Aku tahu ada sesuatu yang betul-betul tidak beres, tapi
aku terlalu takut untuk mengeluarkan suara. Jadi, aku
duduk saja di situ, memandangi makananku. Akhirnya Ibu
membolehkan aku mundur dari meja makan dan
menyuruhku tidur lebih awal, sekaligus menyuruhku untuk
tidur di kasur atas. Itu di luar kebiasaan karena biasanya
aku tidur di kasur bawah. Menjelang pagi baru aku bisa
tidur, dengan tangan kananku "menjagai" lengan kiriku
yang sakit.
Belum lagi lama tidurku, Ibu membangunkan aku, lalu
menjelaskan bahwa aku tidur terlalu ke pinggir sehingga
jatuh dari kasur atas di malam hari. Kelihatannya ia begitu
prihatin akan keadaanku, sebab ia membawaku ke rumah
sakit. Ketika Ibu menceritakan peristiwa jatuhnya aku dari
kasur atas kepada dokter yang memeriksaku, dari
pandangan mata sang dokter aku berpendapat dokter itu
tahu bahwa sakitku itu bukan karena kecelakaan. Dan aku
lagi-lagi tidak berani berkata apa-apa.
Di rumah, ketika menceritakan peristiwa itu kepada Ayah,
bualan Ibu semakin hebat. Dalam bualannya yang semakin
hebat itu, Ibu menambahkan usahanya untuk menangkap
badanku sebelum menyentuh lantai. Saat aku duduk di
pangkuan Ibu sambil mendengarkan ia menceritakan
bualannya yang semakin hebat itu kepada Ayah, aku
berkesimpulan bahwa ibuku "sakit". Rasa takut dalam
dirikulah yang menjadikan peristiwa yang sebenamya tetap
rahasia di antara Ibu dan aku. Aku tahu kalau kuceritakan
rahasia itu kepada orang lain, "kecelakaan" berikutnya
pasti lebih parah.
Bagiku, sekolah adalah kesempatanku untuk bersenang
senang. Aku bersuka-cita bisa berada jauh dari Ibu. Saat
istirahat, aku bagai orang liar. Sekencang mungkin aku
berlari ke tempat bermain, mencari-cari permainan baru
yang menantang. Aku mudah bergaul, betapa senangnya
aku di sekolah. Suatu hari di akhir musim semi, saat aku
pulang dari sekolah, Ibu menyeretku ke kamar tidumya.
Dengan berteriak ia berkata padaku bahwa aku harus
tinggal kelas karena aku anak nakal. Aku tak mengerti.
Hasil ulanganku selalu lebih bagus daripada teman-teman
lain sekelas. Aku menurut pada ibu guru dan aku merasa ia
menyukaiku. Tetapi Ibu tetap berkeras bahwa aku telah
mempermalukan keluarga dan harus dihukum berat. Ibu
melarang aku menonton televisi selamanya. Aku tidak
diberi makan malam dan harus mengerjakan pekerjaan
apa pun yang muncul di kepala Ibu. Setelah menerima
pukulan-pukulan sebagai hukuman, aku disuruh turun ke
garasi, berdiri di sana sampai Ibu memanggil untuk tidur.
Pada musim panas tahun itu, dalam perjalanan menuju
tempat berkemah, tanpa tanda-tanda sebelumnya, aku
ditinggal di rumah Bibi Josie. Tak seorang pun
memberitahuku mengenai hal itu, dan aku pun tak tahu
alasannya. Saat menyaksikan station wagon kami pergi
meninggalkanku, aku merasa sendirian dan terusir. Aku
sedih dan merasa hampa. Aku berusaha lari dari rumah
bibiku. Aku ingin mencari keluargaku, dan, karena alasan
yang agak ganjil, aku ingin bersama Ibu. Usahaku
melarikan diri gagal, dan laporan mengenai usahaku itu
disampaikan oleh Bibi kepada Ibu. Saat Ayah mendapat
giliran kerja, aku harus membayar dosaku itu. Ibu
menampar, menonjok, dan menendangku sampai aku
merangkak di lantai. Aku mencoba mengatakan kepada Ibu
bahwa aku melarikan diri karena aku ingin bersamanya
dan keluarga. Aku mencoba mengatakan padanya bahwa
aku merindukannya, tapi Ibu tidak mengizinkan aku
berbicara. Aku mencoba mengatakannya sekali lagi, tapi
Ibu bergegas ke kamar mandi, mengambil sebatang sabun,
lalu menjejalkannya ke mulutku. Setelah itu, aku tidak lagi
boleh berbicara kecuali disuruh untuk berbicara.
Masuk kembali ke kelas satu sungguh menyenangkan. Aku
menguasai semua pelajarannya, sehingga dengan cepat
aku dikenal sebagai murid yang pandai. Karena kelasku
diturunkan, Stan dan aku setingkat. Saat istirahat, aku
menghampiri Stan di kelasnya, lalu mengajaknya bermain.
Di sekolah, kami berdua adalah sahabat; tetapi di rumah,
kami berdua tahu bahwa aku harus dianggap tidak ada.
Suatu hari aku bergegas masuk rumah untuk
memamerkan hasil ulanganku. Ibu malah menyeretku
masuk kamarnya, sambil membentak-bentak tentang
sebuah surat yang ia terima dari Kutub Utara. Katanya,
surat itu menyebutkan bahwa aku adalah "anak nakal" dan
Santa tidak akan memberiku hadiah pada hari Natal.
Terus-menerus Ibu mengomel, katanya aku lagi-lagi
membuat malu keluarga. Aku berdiri dalam kebingungan,
sementara Ibu tak henti-hentinya menuding-nudingku.
Rasanya aku hidup dalam mimpi buruk yang diciptakan
Ibu, dan aku berdoa agar Ibu terbangun. Sehari sebelum
Natal tahun itu hanya ada dua bungkus hadiah untukku di
bawah pohon Natal, dari saudara jauh. Pagi hari Natal Stan
memberanikan diri bertanya pada Ibu mengapa Santa
hanya membawa dua bungkus hadiah mainan
menggambar untukku. Dengan gaya seorang guru, Ibu
menjelaskan kepada Stan bahwa "Santa hanya membawa
hadiah bagi anak-anak lelaki dan perempuan yang baik".
Aku mencuri pandang ke arah Stan. Matanya menunjukkan
rasa sedih, dan aku yakin bahwa ia tahu akal-akalan Ibu
yang ganjil. Karena masih harus menjalani hukuman, pada
hari Natal aku tetap diharuskan mengerjakan bermacammacam
pekerjaan rumah dengan pakaian yang biasa
kupakai kerja. Sewaktu membersihkan kamar mandi, aku
mendengar Ibu dan Ayah bertengkar. Ibu marah kepada
Ayah karena Ayah "diam-diam tanpa sepengetahuan Ibu"
membelikan mainan untukku. Ibu berkata kepada Ayah
bahwa dialah yang berwenang mendisiplinkan "anak itu",
dan bahwa Ayah telah menggerogoti kekuasaan Ibu
dengan membelikan hadiah untukku. Semakin panjang
Ayah menjelaskan maksudnya, semakin marah Ibu. Aku
yakin Ayah kalah, maka aku pun semakin sendirian.
Beberapa bulan kemudian Ibu ditunjuk menjadi
pembimbing Pramuka Siaga. Setiap kali anak-anak
Pramuka Siaga datang ke rumah kami, Ibu
memperlakukan mereka seperti raja. Beberapa dari anakanak
itu berkata padaku betapa inginnya mereka punya
Ibu seperti Ibuku. Aku tak pernah menanggapinya. Aku
hanya bertanya-tanya dalam hati apa kira-kira pendapat
mereka bila mengetahui yang sebenarnya tentang Ibu.
Hanya beberapa bulan saja Ibu menjabat sebagai
pembimbing. Betapa lega aku ketika Ibu menyerahkan
jabatan itu, sebab itu berarti aku bisa datang ke rumah
anak-anak lain dalam rapat setiap hari Rabu.
Pada suatu hari Rabu sepulang sekolah, aku mengganti
pakaianku dengan seragam Pramuka. Pada saat itu hanya
Anak Nakal • 39
Ibu dan aku yang ada di rumah, dan dari raut wajahnya
aku tahu Ibu sedang "kumat". Setelah membenturkan
wajahku ke cermin di kamar, Ibu mencengkeram lenganku
dan menyeretku ke mobil. Dalam perjalanan ke rumah ibu
pembimbing pramuka, Ibu memberitahuku apa yang akan
ia lakukan terhadapku sesampai kami di rumah. Saking
takutnya, aku menjauhkan diriku dari Ibu ke pojok kursi
depan mobil, tapi sia-sia. Ibu menggapaikan tangannya
lalu menyentakkan daguku, mengangkat kepalaku sampai
wajahku menghadap wajahnya. Matanya merah dan
suaranya mirip suara orang kerasukan. Ketika kami sampai
di rumah ibu pembimbing pramuka, aku berlari ke pintu
rumahnya sambil menangis. Sambil tersedu aku berkata
kepada ibu itu bahwa aku telah berlaku nakal sehingga
tidak diizinkan mengikuti pertemuan Pramuka hari itu. Ibu
pembimbing itu tersenyum ramah, sambil berkata bahwa ia
berharap aku bisa datang ke pertemuan Rabu berikutnya.
Dan itulah terakhir kali aku bertemu dengannya.
Begitu sampai di rumah Ibu langsung menyuruhku
membuka baju dan berdiri di dekat kompor di dapur. Aku
menggeleng karena rasa takut bercampur malu. Kemudian
Ibu membuka "kejahatan" yang telah kulakukan. Ibu
berkata bahwa sering kali ia merasa terdorong pergi ke
sekolah untuk menyaksikan aku dan saudara-saudaraku
bermain pada jam istirahat makan siang. Ibu mengaku
melihat aku pada hari itu bermain di rumput, dan itu
dilarang keras oleh peraturan yang ia buat. Cepat-cepat
aku menjawab bahwa aku tidak pemah bermain di rumput.
Bagaimanapun aku tahu bahwa Ibu keliru. Sebagai imbalan
atas pelanggaran yang kulakukan terhadap peraturannya
dan mengatakan yang sesungguhnya adalah sebuah
pukulan keras di wajahku.
Kemudian Ibu menyalakan api kompor, sambil berkata
bahwa ia pernah membaca sebuah artikel tentang seorang
ibu yang menaruh anak lelakinya di atas kompor yang
menyala. Aku langsung merasa ngeri. Otakku tak bekerja,
aku merasa limbung. Ingin rasanya aku menghilang.
Kupejamkan mataku, sambil berharap Ibu pergi. Otakku
sama sekali mampet ketika aku merasakan tangan Ibu
memiting lenganku, sebuah cengkeraman yang amat kuat.
"Kau membuat hidupku seperti di neraka!" katanya
mencemooh. "Kini saatnya kutunjukkan padamu apa itu
neraka!"
Dengan mencengkeram kuat lenganku, Ibu meletakkannya
di atas api yang berwarna biru-jingga. Akibat panasnya
api, aku merasa kulitku merekah. Tercium olehku bulubulu
lenganku yang terbakar. Sehebat apa pun perlawanan
yang kuberikan, aku tak mampu melepaskan lenganku dari
cengkeraman Ibu. Akhirnya aku jatuh ke lantai, di atas
tangan dan lututku, sambil mencoba meniupkan udara
dingin ke lenganku yang terbakar.
"Sayang sekali ayahmu yang pemabuk itu tidak di rumah
sehingga tidak bisa menyelamatkanmu", desisnya.
Kemudian Ibu menyuruhku naik ke atas kompor dan
berbaring di atas api sehingga ia bisa menyaksikan
tubuhku terbakar. Aku menolak, sambil menangis dan
mengiba-iba. Aku begitu ketakutan sampai-sampai
kuentak-entakkan kakiku sebagai tanda protes. Tetapi Ibu
tetap memaksaku untuk naik ke atas kompor. Kutatap api
kompor, sambil berdoa agar api itu mati karena kehabisan
gas.
Tiba-tiba aku sadar bahwa semakin lama aku bisa
mengelakkan paksaan untuk berbaring di atas api kompor,
semakin besar peluangku untuk tetap hidup. Aku tahu
sebentar lagi kakakku, Ron, pulang dari pertemuan
Pramuka, dan aku tahu Ibu tidak akan pemah berlaku
ganjil seperti ini kalau ada orang lain di rumah. Aku harus
memperpanjang waktu agar bisa bertahan hidup. Kulirik
jam pada dinding dapur di belakangku. Jarum panjangnya
terasa bergerak lamban sekali. Agar perhatian Ibu
terpecah, aku mulai bertanya secara lembut. Kelakuanku
itu membuat Ibu bertambah murka, dan ia mulai
menghujani pukulan ke kepala serta dadaku. Semakin
membabi-buta Ibu memukuliku, semakin aku sadar bahwa
aku menang! Apa pun boleh, asal jangan dibakar di atas
kompor.
Akhimya kudengar pintu depan dibuka orang. Ron pulang.
Betapa lega aku. Darah yang menjalari urat-urat wajah Ibu
menyurut. Ia tahu ia kalah. Untuk sejenak, Ibu berdiri
kaku. Kumanfaatkan saat yang sempit itu untuk
menyambar bajuku lalu berlari cepat ke basement di situ
aku cepat-cepat mengenakan kembali bajuku. Aku berdiri
bersandar ke dinding. Aku terisak, namun segera kusadari
bahwa aku telah mengalahkan Ibu. Aku telah berhasil
mengulur waktu yang sangat berharga. Aku telah
menggunakan otakku untuk bertahan hidup. Untuk
pertama kalinya aku menang!
Saat berdiri sendirian di basement yang gelap dan lembab
itu, untuk pertama kalinya kusadari bahwa aku mampu
bertahan hidup. Sejak saat itu kuputuskan untuk
menggunakan taktik apa pun yang sempat terlintas dalam
pikiran untuk mengalahkan Ibu atau menunda obsesinya
yang liar.
Aku sadar bila aku ingin tetap hidup, aku harus berpikir ke
de-pan. Tak mungkin lagi aku menangis seperti bayi yang
tak berdaya. Agar tetap hidup, aku tak pernah boleh
menyerah. Hari itu aku bersumpah pada diriku sendiri
bahwa aku tak akan pemah lagi satu kali pun memberi
perempuan jahat itu kepuasan menikmati suaraku yang
memohonnya untuk berhenti memukuliku.
Dalam suasana dingin di basement itu, seluruh tubuhku
menggigil karena rasa marah sekaligus karena rasa takut
yang amat sangat. Kujilati luka bakarku agar rasa sakit di
lenganku berkurang. Ingin rasanya aku berteriak, tapi aku
berkeras hati untuk tidak memberi Ibu kenikmatan
mendengarkan tangisku. Aku berdiri tegar. Bisa kudengar
Ibu berkata kepada Ron bahwa betapa bangganya ia
terhadap Ron, dan betapa ia tidak perlu khawatir sama
sekali bahwa Ron akan menjadi seperti David, si anak
nakal.




PERJUANGAN UNTUK BISA MAKAN

Pada musim panas, setelah peristiwa "dibakar di kompor",
sekolah menjadi satu-satunya harapanku untuk melarikan
diri. Kecuali pada suatu saat ketika kami pergi memancing,
kejadian antara aku dan Ibu tidak menentu, atau smash
and dash—Ibu menyerangku, lalu aku terbirit-birit ke
tempat terkucilku di basement. Bulan September kegiatan
sekolah mulai lagi dan itu menggembirakan. Aku mendapat
baju baru, juga wadah bekal makan siang baru yang masih
mengkilat. Tetapi karena Ibu menyuruhku mengenakan
pakaian yang sama setiap hari sekolah, pada awal Oktober
pakaianku sudah jadi kumal, sobek di beberapa bagian,
dan berbau tak sedap. Ibu pun seakan tak peduli dengan
memar-memar dan luka-luka pada wajah serta lenganku.
Kalau ada orang bertanya tentang memar dan luka itu, aku
harus memberi orang itu jawaban-jawaban yang sudah
ditentukan oleh Ibu.
Sejak saat itu Ibu sudah "lupa" memberiku makan malam.
Sarapan pun nyaris aku tak dapat. Kalau sedang bernasib
baik, aku diizinkan menghabiskan sereal yang tersisa dari
sarapan kedua saudara laki-lakiku—itu pun dengan syarat
semua tugas rumah tangga sudah kuselesaikan sebelum
berangkat ke sekolah.
Pada malam hari aku begitu lapar sampai-sampai aku bisa
mendengar perutku berkeriuk-keriuk. Aku tidak bisa tidur
dengan perut yang amat lapar di malam hari. Aku bergolek
saja, mataku nyalang, satu-satunya yang kupikirkan cuma
makanan. "Mungkin besok aku dapat jatah makan malam",
aku berkata pada diriku sendiri. Berjam-jam kemudian
baru aku merasa setengah tertidur, khayalanku melulu
pada makanan. Paling sering aku memimpikan hamburger
yang besar dengan aneka isinya. Anganku sering kali
begini: dengan bangga kuraih hamburger yang besar itu,
lalu melahapnya. Dalam anganku, hamburger itu
sedemikian nyata—dagingnya yang tebal berminyak, juga
irisan kejunya yang tebal, semuanya begitu padat. Saus
bumbunya melimpah, meleleh keluar karena tergencet
daun selada dan tomat. Hamburger itu serasa sudah dekat
sekali, maka kubuka mulutku, siap melahapnya. Tak
terjadi apa-apa. Berkali-kali kucoba lagi dan lagi bahkan
dengan segenap perasaan, tetap tak kurasakan secuil pun
hamburger khayalanku yang lezat itu. Aku selalu menyerah
dan terbangun. Perutku terasa semakin kosong dan
bolong. Bahkan dalam mimpi pun, tak bisa kupuaskan rasa
laparku.
Sejak bermimpi makan enak, aku mulai mencuri makanan
di sekolah. Mencuri makanan berarti aku harus secepat
mungkin menelan makanan yang kucuri agar tidak
ketahuan—campuran perasaan itulah yang membuat perut
kosongku seperti dipilin-pilin. Biasanya, aku mencuri
makanan sebelum pelajaran dimulai, saat teman-teman
sekelasku sedang ber-main di halaman sekolah. Biasanya
aku berjalan mepet tembok luar ruang absensi murid, lalu
sengaja kujatuhkan wadah bekal makanku di sebelah
wadah bekal makan temanku, lalu aku berlutut sedemikian
rupa sehingga tak seorang pun Perjuangan untuk bisa tahu
bahwa aku sedang menguras isi dari wadah bekal makan
siang itu.
Pada awalnya beberapa kali usahaku mencuri berhasil
mulus. Namun beberapa hari kemudian beberapa murid
sadar bahwa isi wadah bekal makanan mereka hilang. Lalu
dalam waktu singkat semua teman sekelasku membenci
aku. Guruku melaporkan ulahku kepada kepala sekolah,
yang kemudian meneruskan laporan itu kepada Ibu. Begitu
seterusnya. Kepala sekolah melaporkan ulahku kepada Ibu,
lalu Ibu menambah jumlah pukulannya untukku sekaligus
mengurangi jatah makanku di rumah.
Setiap akhir minggu, sebagai hukuman atas perbuatanku
mencuri makanan, Ibu tidak memberiku makan. Pada hari
Minggu malam mulutku selalu berair setiap kali
merencanakan usaha pencurian yang tidak mungkin
ketahuan. Salah satu rencana itu adalah mencuri dari
wadah bekal makan murid-murid kelas lain, karena mereka
tidak begitu kenal aku. Setiap Senin pagi aku menghambur
keluar dari mobil Ibu, langsung menuju salah satu ruang
kelas satu yang bukan ruang kelasku untuk mencuri
makanan dari wadah makanan murid-murid kelas itu.
Sama seperti sebelumnya, usaha-usaha awal berhasil
mulus. Dan sama seperti sebelumnya, dalam waktu singkat
pun kepala sekolah tahu siapa pelaku pencurian-pencurian
itu.
Di rumah, hukuman ganda—kelaparan karena tidak diberi
makan dan pukulan bertubi-tubi karena mencuri makanan
terus berlanjut.
Sejak saat itu, aku bukan lagi anggota keluarga, aku tidak
diizinkan menggunakan semua fasilitas yang digunakan
keluarga. Aku tinggal di rumah itu, tetapi aku dianggap
bukan apa-apa. Ibu bahkan tidak lagi menggunakan
namaku; ia menggunakan sebutan "anak itu". Aku tidak
diizinkan makan bersama keluarga, tidak diizinkan bermain
dengan saudara-saudaraku, tidak diizinkan nonton televisi.
Aku dilarang masuk rumah kecuali disuruh. Aku tidak boleh
memandang atau berbicara dengan siapa pun.
Sepulang dari sekolah aku harus selalu mengerjakan
segala ma-cam pekerjaan rumah tangga atas perintah Ibu.
Ketika segala macam pekerjaan rumah tangga itu selesai,
aku langsung turun ke basement—di situ aku berdiri, siap
sedia setiap saat dipanggil untuk membereskan meja
makan setelah keluargaku selesai makan malam serta
mencuci semua piring dan gelas kotor. Aku sudah
diperingatkan dengan tegas bahwa kalau aku ketahuan
duduk atau berbaring di basement, maka aku akan
dihukum berat. Aku menjadi budak Ibu.
Tinggal Ayah satu-satunya harapanku, dan ia berusaha
sedapat mungkin menyelundupkan sisa-sisa makanan
untukku. Ayah mencoba membuat Ibu mabuk, dengan
harapan minuman beralkohol itu membuat suasana hati
Ibu senang. Ayah meminta Ibu untuk tetap memberiku
makan. Ayah bahkan berusaha membuat kesepakatan
dengan Ibu, bahwa ia akan memberi Ibu apa pun asalkan
Ibu mau bersepakat. Segala bentuk usaha Ayah sia-sia.
Ibu tetap bergeming. Kalaupun ada perubahan, itulah
keadaan mabuk, yang membuat Ibu semakin ganas. Ibu
jadi mirip monster.
Aku tahu segala usaha Ayah untuk menolongku itu
mengakibatkan ketegangan antara dirinya dan Ibu. Cekcok
tengah malam mulai terjadi di antara mereka. Dari tempat
tidur, aku bisa mendengar mereka bicara semakin cepat
dengan nada semakin tinggi. Pasti mereka berdua samasama
mabuk, dan aku bisa mendengar dari mulut Ibu
teriakan kata-kata yang tak sepantasnya diucapkan. Apa
pun masalah yang memicu pertengkaran di antara Ayah
dan Ibu, pada akhimya akulah yang mereka
pertengkarkan.
Aku tahu Ayah mencoba menolong, namun tetap saja aku
ketakutan. Aku tahu Ayah pasti kalah, dan itu selalu
membuatku lebih menderita keesokan harinya. Saat
pertama kali orangtuaku cekcok, Ibu akan masuk mobil
dan mengemudinya dengan gila-gilaan. Lalu, tidak sampai
satu jam, ia sudah kembali ke rumah. Esok harinya mereka
berdua bersikap seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.
Aku selalu merasa amat berterima kasih setiap kali Ayah
bisa menemukan alasan untuk pergi ke basement dan
menyelundupkan sepotong roti untukku. Ia selalu berjanji
padaku untuk selalu berusaha.
Sikap Ayah berubah ketika cekcok antara dirinya dan Ibu
semakin sering. Setiap kali habis cekcok di tengah malam,
Ayah mengemas pakaiannya, lalu pergi ke tempat kerja,
dan tidak pulang selama beberapa hari. Setelah Ayah
pergi, Ibu dengan kasar menarikku dari tempat tidur,
menyeretku ke dapur. Sementara aku berdiri dengan
ketakutan dan masih mengenakan piyama, Ibu
memukuliku bertubi-tubi. Salah satu caraku untuk
bertahan adalah menjatuhkan diri ke lantai seolah-olah aku
tidak lagi kuat berdiri. Cara itu berhasil, tapi tidak lama.
Ibu selalu menarik kedua kupingku agar aku berdiri, lalu
berteriak di wajahku selama beberapa menit. Selalu begitu,
dan setiap kali napasnya berbau bourbon. Pada malammalam
tersebut, masalahnya selalu sama: Aku merupakan
alasan yang menyebabkan Ibu dan Ayah bertengkar.
Kadang aku merasa begitu letih, sehingga kaki-kakiku
terasa gemetaran. Pelarianku hanya menatap lantai dan
berharap Ibu akan segera mengakhiri penyiksaannya.
Ketika aku naik ke kelas dua, Ibu mengandung anaknya
yang keempat. Guruku, Miss Moss, semakin hari semakin
menaruh perhatian khusus atas diriku. Awalnya Miss Moss
bertanya mengapa aku kurang memperhatikan pelajaran di
kelas. Aku berbohong. Aku mengatakan kalau aku nonton
televisi sampai larut malam. Kebohonganku kurang
meyakinkan. Guruku terus bertanya mengapa aku sering
mengantuk di kelas, bahkan menanyakan juga soal kondisi
bajuku dan luka-luka serta memar-memar di sekujur
tubuhku. Ibu sudah mengajari aku bagaimana harus
menjawab pertanyaan seperti itu, maka aku tinggal
mengatakan apa yang diajarkan Ibu itu kepada guruku.
Beberapa bulan kemudian perhatian Miss Moss terhadap
diriku justru semakin besar. Akhirnya pada suatu hari ia
memutuskan untuk melaporkan keprihatinannya atas diriku
kepada kepala sekolah. Pak kepala sekolah tahu bahwa
akulah si pencuri makanan, maka ia memanggil Ibu.
Sesampainya aku di rumah hari itu, situasinya bagiku
bagai ada orang yang baru saja menjatuhkan bom atom di
situ. Ibu jadi lebih kejam lagi. Dalam kemarahannya yang
meledak, Ibu berkata bahwa ada seorang guru "Hippie"
yang menuduhnya menyiksa anak sendiri. Ibu berkata
bahwa esok harinya ia bermaksud bertemu Pak kepala
sekolah untuk menjelaskan tuduhan-tuduhan yang keliru
atas dirinya itu. Pada hari itu, ketika Ibu selesai dengan
luapan kemarahannya, hidungku dua kali berdarah dan
satu gigiku tanggal.
Siang keesokan harinya, sepulang sekolah, aku lihat Ibu
tersenyum-senyum, seolah-olah ia menang undian. Ibu
bercerita padaku bagaimana ia berdandan rapi untuk
bertemu Pak kepala sekolah, dan ia menggendong bayi
Russell pada saat pertemuan itu. Ibu menceritakan
penjelasannya kepada Pak kepala sekolah bahwa David
adalah anak yang daya khayalnya sangat besar,
bagaimana David sering kali melukai dirinya sendiri untuk
menarik perhatian orang sejak adiknya yang bemama
Russell lahir.
Bisa kubayangkan bagaimana Ibu memperlihatkan sikap
lemah lembut dan penuh kasih sayang terhadap Russell
untuk merebut hati Pak kepala sekolah. Di akhir pertemuan
tersebut, Ibu berkata kepada Pak kepala sekolah bahwa ia
sangat senang bisa bekerja sama dengan pihak sekolah.
Ibu juga menambahkan bahwa pihak sekolah bisa
meneleponnya kapan saja setiap kali David berulah. Ibu
berkata bahwa staf sekolah pun sudah diberitahu untuk
tidak menggubris ceritaku yang ngawur tentang anak yang
sering dipukuli oleh ibunya dan tidak diberi makan. Berdiri
di pojok dapur pada hari itu, mendengarkan bualan Ibu
kepada Pak kepala sekolah membuat diriku merasa hancur
dan merana.
Dari sikapnya saat menceritakan pertemuannya dengan
Pak kepala sekolah, aku bisa merasakan betapa rasa
percaya diri Ibu semakin besar, dan itu kurasakan sebagai
ancaman bagi hidupku. Ingin rasanya aku bisa menghilang,
dan pergi untuk selamanya. Ingin rasanya aku tidak lagi
pernah berhadapan dengan manusia.
Pada musim panas tahun itu, keluarga kami berlibur ke
Russian River. Sekalipun hubunganku dengan Ibu baik-baik
saja pada saat liburan itu, perasaan takjub sekaligus
hormat kepada Ibu yang dulu selalu muncul dalam diriku
setiap kali berlibur, hilang sudah. Bermobil keliling tempat
liburan dengan riang gembira bersama keluarga,
menikmati sosis frankfurter panggang, dan mendongeng,
semua itu tinggal kenangan. Kami lebih sering tinggal
dalam cabin. Bahkan kami jadi jarang sekali menikmati
Johnson's Beach, padahal dulu itu kami lakukan setiap hari
pada saat berlibur.
Ayah mencoba membuat suasana liburan itu lebih
menyenangkan dengan mengajak kami bertiga ke tempat
bermain prosotan yang baru di situ. Russell, yang ketika
itu baru belajar berjalan, tinggal di cabin bersama Ibu.
Pada suatu hari, ketika Ron, Stan, dan aku sedang bermain
di cabin tetangga, Ibu datang ke halaman depan cabin
tetangga itu, lalu berteriak memanggil kami untuk segera
kembali ke cabin kami. Begitu sampai di cabin kami, aku
dimarahi Ibu karena, katanya, suaraku berisik sekali ketika
bermain. Sebagai hukuman, aku tidak diizinkan ikut
bersama Ayah dan kedua saudara laki-lakiku bermain di
tempat prosotan. Aku duduk di sebuah kursi di pojok
dalam cabin. Aku gemetar karena takut, dan dalam hati
aku berharap terjadi sesuatu yang membuat Ayah dan
kedua saudara laki-lakiku tidak jadi pergi ke mana-mana.
Aku tahu Ibu diam-diam punya suatu rencana. Begitu Ayah
dan kedua saudaraku berangkat bermain, Ibu
mengeluarkan sebuah popok yang sudah kotor oleh
kotoran serta air kencing Russell. Ibu mengusapkan popok
kotor itu ke wajahku. Aku ber-usaha tetap duduk diam,
sebab aku tahu kalau aku bergerak, aku akan mendapat
perlakuan yang lebih buruk lagi. Wajahku tetap
kutundukkan. Aku tidak bisa melihat Ibu yang berdiri di
depanku, tetapi aku bisa mendengar desah napasnya yang
berat.
Setelah memperlakukan aku seperti itu—yang bagiku
rasanya lama sekali—Ibu berlutut di sebelah kursi
tempatku duduk, lalu dengan suara pelan ia berkata,
"Makan ini".
Aku terkejut. Kutegakkan kepalaku, tapi tak kupandang
mata Ibuku. "Tidak mau!" kataku dalam hati. Seperti
semua kejadian sebelumnya, menolak perintah Ibu berarti
kesalahan besar. Ibu menempelengi aku. Dengan erat
kupegang kursi tempatku duduk, berusaha untuk tidak
jatuh, sebab bila aku jatuh aku takut Ibu akan
menginjakku.
"Kubilang makan ini!"' bentaknya dengan suara tertahan.
Taktik kuubah: aku mulai menangis. "Bikin dia
mengendur", pikirku. Aku mulai menghitung dalam hati,
mencoba berkonsentrasi. Waktu adalah satu-satunya
kawanku. Tangisanku ditanggapi Ibu dengan pukulanpukulannya
ke wajahku, dan ia baru berhenti memukulku
saat ia mendengar Russell menangis.
Aku merasa senang meskipun wajahku berlepotan kotoran.
Kupikir, aku bisa menang. Kubersihkan kotoran di wajahku
dengan tangan, lalu mengibaskannya sehingga berceceran
di lantai kayu. Kudengar Ibu bernyanyi lembut untuk
menenangkan Russell, dan aku membayangkan adikku itu
ditimang-timang dalam pelukan Ibu. Aku berdoa supaya
adikku itu tidak tertidur lagi. Sebentar kemudian nasib
baikku lenyap.
Masih dengan wajah tersenyum, Ibu kembali menghampiri
lawannya yang sudah kalah. Ia mencekal kerah belakang
bajuku, lalu menyeretku ke dapur. Di atas meja dapur
kulihat satu lagi popok yang penuh kotoran. Baunya
membuat perutku mual. "Nah, sekarang kau harus
memakannya!" kata Ibu. Pada saat itu sorot mata Ibu
sama dengan sorot matanya dulu ketika ia mau
membakarku di atas kompor gas di rumah. Tanpa
menggerakkan kepala, mataku mencari-cari jam dinding
sebab setahuku ada jam di dinding dapur itu. Tak berapa
lama, aku tahu letak jam dinding itu. Tanpa jam itu, aku
merasa tak berdaya. Aku tahu bahwa aku harus
memusatkan perhatianku pada sesuatu agar
bagaimanapun juga aku bisa menguasai situasi. Sebelum
mataku menemukan jam dinding itu, tangan Ibu
mencengkeram tengkukku.
Sekali lagi ia berkata, "Makan ini!" Kutahan napasku. Bau
sekali kotoran itu. Aku mencoba memusatkan perhatianku
ke bagian atas popok yang ada di hadapanku. Rasanya
lama sekali waktu berlalu. Ibu pasti bisa menebak
rencanaku. Ibu menekan tengkukku sehingga wajahku
jatuh di atas popok kotor itu. Ibu menggesek-gesekkan
kepalaku ke kiri ke kanan di atas popok kotor itu.
Aku sudah bersiap diri. Ketika kepalaku ditekan ke bawah,
kututup mataku erat-erat, dan kututup mulutku erat-erat.
Hidungku yang terlebih dulu menyentuh popok kotor itu.
Aku merasakan sesuatu yang hangat mengalir dari
hidungku. Kucoba menahan darah yang mengalir dari
hidungku dengan menarik napas. Ketika itu kulakukan, ada
kotoran yang ikut masuk ke hidung bersama darah dan
napas yang kutarik. Kucoba menahan dorongan Ibu
dengan menekankan tanganku ke pinggiran meja dan
meronta ke kiri ke kanan. Tapi Ibu terlalu kuat bagiku.
Tiba-tiba saja Ibu melepaskan aku.
"Mereka pulang! Mereka pulang!" katanya terkesiap. Ibu
menyambar kain lap, dan melemparkannya kepadaku.
"Bersihkan wajahmu", Ibu memerintah dengan suara
pelan, sambil mengelap kotoran berwama cokelat dari
meja.
Kubersihkan wajahku sebersih mungkin tapi tidak bisa
segera mengeluarkan kotoran yang masuk ke hidungku.
Tak lama kemudian Ibu menutup hidungku yang berdarah
dengan serbet dan menyuruhku duduk di pojok ruangan.
Aku duduk terus di situ sepanjang sore dan malam itu.
Masih tercium olehku bau kotoran yang masuk ke
hidungku. Keluarga ini tak pernah lagi ke Russian River.
Pada bulan September aku masuk sekolah lagi dengan
pakaian yang kukenakan sepanjang tahun lalu dan wadah
bekal makan siang berwama hijau yang sudah rombeng.
Aku adalah anak yang sungguh memalukan. Setiap hari
Ibu membekali aku menu makan siang yang itu-itu juga:
dua tangkup roti isi selai kacang dan beberapa potong
wortel. Karena bukan lagi anggota keluarga ini, aku tidak
diizinkan ikut station wagon keluarga ke sekolah. Ibu
menyuruhku berlari ke sekolah. Ia tahu bahwa aku jadi
tidak punya waktu untuk mencuri makanan milik temanteman
sekelasku.
Di sekolah tak seorang murid pun mau berteman atau
berurusan denganku. Di saat istirahat makan siang, ketika
aku memakan roti isi selai kacang bekalku, kudengar
teman-temanku menyanyikan lagu-lagu ejekan. Yang
paling sering aku dengar begini: "David the Food Thier
David si Pencuri Makanan, dan "Pelzer-Smellzer"—Pelzer si
Bau. Tak seorang murid pun mau ngobrol atau bermain
bersamaku. Aku merasa sendirian.
Di rumah, sambil berdiri berjam-jam di basement, waktuku
habis untuk mencari-cari cara mendapat makanan. Kadang
kala Ayah mencoba menyelundupkan sisa-sisa makanan
untukku, tapi itu jarang berhasil. Aku jadi yakin bahwa
kalau mau bisa hidup terus aku harus mengandalkan diriku
sendiri. Habis-habisan sudah aku mencoba segala cara
untuk mendapat makanan di sekolah. Semua murid
menyembunyikan wadah bekal makan siang mereka, atau
menguncinya di dalam lemari kelas. Semua guru dan Pak
kepala sekolah tahu siapa aku, dan mereka mengawasi aku
dengan ketat. Boleh dibilang tak ada lagi kesempatan
bagiku untuk mencuri makanan di sekolah.
Akhimya aku merancang suatu cara yang mungkin akan
berhasil. Semua murid tidak diizinkan meninggalkan
tempat bermain pada saat istirahat makan siang. Itu
berarti tidak seorang murid pun akan mengira bahwa aku
akan pergi dari situ. Rencanaku begini: aku pergi diamdiam
dari tempat bermain, lalu lari ke toko penjual
makanan dekat sekolah, lalu di toko itu aku akan mencuri
kue, roti, chips, atau apa saja yang bisa kucuri. Dalam
angan-anganku, rencana itu sudah aku pertimbangkan
masak-masak. Esok paginya, kuhitung jumlah langkahku
ketika berlari dari rumah ke sekolah supaya nanti bisa
kujadikan hitungan pada saat berlari ke toko yang kutuju.
Beberapa minggu kemudian, aku sudah mendapat semua
hal yang perlu kuperhitungkan. Satu-satunya hal yang
rasanya belum aku miliki adalah keberanian untuk
mencoba melakukan rencana itu. Aku tahu aku butuh
waktu lebih banyak untuk menempuh jarak dari sekolah ke
toko yang kutuju karena jalannya menanjak, jadi aku
menyediakan waktu 15 menit. Perjalanan sebaliknya—dari
toko ke sekolah—lebih gampang, jadi aku menyediakan
waktu 10 menit. Semua itu berarti aku cuma punya waktu
10 menit di toko itu.
Setiap hari, saat berlari ke sekolah dan pulang dari
sekolah, aku selalu berusaha berlari lebih cepat dan lebih
cepat lagi, memompakan tenaga ke setiap langkahku
seolah-olah aku ini pelari maraton. Hari-hari berlalu dan
rencanaku semakin bulat, rasa laparku pun berubah
menjadi mimpi di siang bolong. Khayalanku muncul setiap
kali aku mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Sambil
menggosok lantai kamar mandi, aku mengkhayalkan diriku
sebagai pangeran dalam kisah The Prince and the Pauper.
Sebagai pangeran, aku tahu aku bisa menghentikan
peranku yang mirip pembantu rumah tangga kapan pun
aku mau. Di basement aku berdiri tegak dengan mata
tertutup, membayangkan diriku adalah pahlawan dalam
cerita komik. Tetapi khayalanku selalu terputus oleh rasa
amat lapar yang tiba-tiba menyerang, dan pikiranku
kembali lagi kepada rencana mencuri makanan.
Sekalipun yakin bahwa rencanaku tak akan ketahuan, aku
takut sekali melakukannya. Selama beberapa kali istirahat
makan siang kucoba mengumpulkan keberanian untuk
melaksanakan rencanaku, tetapi selalu gagal. Selalu saja
ada yang berkata dalam diriku bahwa aku pasti tertangkap
atau perhitungan waktuku tidak tepat. Setiap kali terjadi
kebimbangan seperti itu dalam diriku, perutku berkeriukkeriuk
terus, seakan-akan mengatai aku "pengecut".
Akhimya, setelah beberapa hari lagi aku tidak juga diberi
makan malam dan perutku hanya terisi oleh sedikit saja
sisa sarapan, aku memutuskan untuk melaksanakan
rencanaku. Beberapa saat setelah bel istirahat makan
siang berbunyi, aku lari secepat kilat sepanjang jalan
menuju toko—jantungku berdebar cepat, paru-paruku
serasa pecah karena kekurangan udara. Temyata waktu
yang kuperlukan untuk sampai ke toko itu hanya setengah
dari waktu yang kuperhitungkan. Waktu aku berjalan di
antara rak-rak di toko itu, rasanya semua orang
memandangi aku. Dalam pikiranku, orang-orang itu
sedang membicarakan seorang anak yang bau dan
penampilannya kumuh. Saat itulah aku langsung sadar
bahwa niatku mencuri di toko itu pasti gagal sebab aku
tidak memperhitungkan penampilanku. Semakin aku
mencemaskan penampilanku, semakin perutku serasa
terpilin oleh rasa takut. Sikapku malah jadi kaku, tak tahu
apa yang harus kulakukan. Aku tak lagi bisa memusatkan
perhatian pada waktu. Yang aku pikirkan cuma saat-saat
ketika aku kelaparan. Mendadak, tanpa berpikir apa pun,
kusambar barang pertama yang kulihat di rak di dekatku,
dan langsung berlari keluar toko, berlari sekencang
mungkin ke sekolah. Di tanganku ada sekotak graham
crackers, yang kugenggam erat-erat.
Sambil berjalan melalui halaman sekolah, kusembunyikan
sebungkus kue itu di balik bajuku, di bagian yang tidak ada
lubangnya. Kemudian kue itu kupindahkan ke keranjang
sampah di dekat kamar kecil, kusembunyikan di situ, di
bawah tumpukan sampah. Setelah agak sore aku minta
izin kepada guruku untuk pergi ke kamar kecil. Niatku
adalah menikmati kue yang tadi aku curi. Hampir tak tahan
aku untuk langsung menikmatinya. Temyata keranjang
sampah itu sudah kosong penjaga kebersihan sekolah
sudah mengosongkan tempat sampah itu. Sia-sia sudah
kerja kerasku selama ini.
Hari itu aku gagal, tetapi beberapa kali usahaku di
kemudian hari berhasil. Sampai pada suatu hari,
kusembunyikan hasil kerja kerasku di sebuah meja di
ruang absensi, dan keesokan harinya aku dipindahkan ke
sekolah lain.
Dipindahkan ke sekolah lain tidak membuatku kecewa,
tetapi kehilangan makanan yang berhasil kucuri
membuatku merana. Pindah sekolah berarti kesempatan
baru untuk bisa mencuri makanan dari bekal teman-teman
sekelasku yang baru. Bukan cuma itu, kegiatan mencuri
makanan di toko tetap bisa kulakukan seminggu sekali.
Ketika berada dalam toko, kalau suasananya membuat
perasaanku tidak enak, aku tidak mencuri apa pun.
Bagaimanapun, seperti biasanya, pada akhirnya aku toh
tertangkap basah juga. Pemilik toko memanggil Ibu. Di
rumah, aku dipukuli habis-habisan. Ibu, juga Ayah, tahu
mengapa aku mencuri makanan, tetapi Ibu tetap tidak
memberiku makan. Semakin besar doronganku untuk
makan, semakin keras usahaku untuk mencuri makanan
dengan rencana yang lebih matang lagi.
Sehabis makan malam, Ibu biasa membuang sisa-sisa
makanan ke dalam sebuah tempat sampah kecil. Kemudian
ia memanggilku ke atas—selama keluarga ini makan
malam, aku berdiri di basement, menunggu dipanggil
untuk mencuci piring gelas dan membersihkan ruang
makan. Sambil mencuci piring gelas, aku bisa mencium
bau sisa-sisa makan malam di tempat sampah kecil itu.
Ketika ide itu muncul untuk pertama kalinya, aku merasa
mual. Tetapi semakin lama kupikirkan, sepertinya tidak
apa-apa juga kalau kulakukan. Cuma itulah satu-satunya
harapanku untuk mendapat makanan. Kuselesaikan tugas
mencuci piring gelas itu secepat mungkin, lalu membuang
sampah ke tong sampah di depan garasi. Saat melihat sisa
makanan di tempat sampah kecil itu, mulutku berliur.
Sambil membuang sobekan kertas atau puntung dan abu
rokok, dengan hati-hati kupungut sisa makanan yang
kelihatannya masih bagus, lalu kulahap dengan cepat.
Seperti biasanya, rencana baruku untuk mencuri makanan
kandas karena Ibu selalu bisa mengetahuinya. Selama
beberapa minggu, aku tidak memakan sisa-sisa makanan
yang sudah dibuang di tempat sampah. Tetapi ketika
perutku terasa amat sakit karena kelaparan, aku pun mulai
lagi mengais-ngais sisa makanan di tempat sampah itu.
Pemah aku melahap sisa daging dari tempat sampah itu.
Beberapa jam kemudian aku terbungkuk-bungkuk karena
perutku sakit sekali.
Selama seminggu aku terserang diare. Waktu aku sakit itu,
Ibu memberitahu aku bahwa ia sengaja menyimpan daging
itu selama dua minggu di lemari es, bukan di freezer,
sehingga daging itu membusuk. Ibu lalu membuangnya ke
tempat sampah, karena ia tahu persis aku pasti akan
memungutnya. Untuk selanjutnya, Ibu selalu menyuruhku
membawa tempat sampah itu kepadanya.
Sambil tiduran di sofa, Ibu memeriksa tempat sampah itu
sebelum aku membuang isinya. Ibu tidak pemah tahu
bahwa sisa-sisa makanan sudah aku bungkus dengan
kertas sedemikan rupa dan aku benamkan ke bawah
tumpukan sampah.
Aku yakin Ibu tak akan sudi jari-jari tangannya jadi kotor
karena harus mengaisngais sampah sampai ke tumpukan
bawah. Maka, untuk beberapa waktu lamanya usahaku itu
berhasil. Tampaknya Ibu tahu bahwa dengan cara tertentu
aku bisa memperoleh makanan, maka ia menyiramkan
amonia ke dalam keranjang sampah. Setelah itu aku tidak
lagi mengais sisa makanan dari keranjang sampah rumah,
dan mulai memikirkan cara baru untuk memperoleh
makanan di sekolah. Setelah ketahuan mencuri makanan
dari wadah bekal makan siang murid-murid lain, ideku
selanjutnya adalah mencuri makan siang beku di kantin.
Aku mengatur waktu sedemikian rupa, sehingga sesaat
setelah mobil pengantar persediaan makan siang yang
dibekukan selesai menurunkan antarannya di kantin, pada
saat itulah aku minta izin guruku untuk buang air kecil.
Aku mengendap-endap menuju kantin, menyambar
beberapa bungkus makanan beku, lalu secepat kilat masuk
ke kamar kecil. Aku sendirian di situ. Kulahap makanan
dingin yang kudapat dengan begitu tergesa-gesa, sehingga
nyaris aku tersedak. Setelah perutku terisi, aku kembali ke
kelas dengan perasaan bangga: aku bisa memberi makan
diriku sendiri.
Saat berlari pulang, satu-satunya yang kupikirkan adalah
mencuri makanan dari kantin esok harinya. Beberapa
menit kemudian, Ibu mengubah niatku itu. Ia menarikku
ke kamar mandi lalu meninju perutku begitu kerasnya
sampai-sampai aku terbungkuk. Sambil menyeretku dan
menghadapkan wajahku ke toilet, Ibu menyuruhku
menyodokkan jariku ke tenggorokanku. Aku meronta.
Kucoba siasatku, yakni mulai menghitung, ketika wajahku
mengarah ke lubang toilet, "Satu... dua..." Tidak sampai
tiga. Ibu memasukkan jari-jari tangannya ke mulutku,
seolah-olah ia mau menarik perutku keluar dari
tenggorokanku. Aku meronta-ronta tak karuan. Akhimya
Ibu melepaskan aku, tetapi dengan satu-satunya syarat:
aku mau memuntahkan isi perutku di hadapannya.
Aku tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Kupejamkan
mata ketika gumpalan-gumpalan daging berwama merah
meluncur dari tenggorokanku ke toilet. Ibu cuma berdiri di
belakangku, berkacak pinggang, dan berkata, "Sudah
kuduga. Ayahmu harus tahu ini!" Badanku menegang,
bersiap-siap menerima pukulan-pukulan Ibu yang pasti
datang, tetapi temyata tidak terjadi apa-apa. Beberapa
detik kemudian, aku berpaling. Ibu sudah tidak ada di situ.
Tapi aku tahu, semua ini belum selesai. Tak berapa lama
kemudian Ibu masuk lagi ke kamar mandi, membawa
sebuah mangkuk kecil, lalu menyuruhku memungut
makanan yang baru sempat tercerna sebagian, yang tadi
kumuntahkan ke dalam toilet, untuk ditaruh di mangkuk
yang ia bawa. Karena ketika peristiwa itu terjadi Ayah
sedang pergi keluar rumah untuk suatu keperluan, Ibu
merasa perlu mengumpulkan bukti untuk diperlihatkan
kepada Ayah ketika ia sampai di rumah nanti.
Pada malam itu juga, setelah aku selesai mengerjakan
semua pekerjaan rumah tangga, Ibu menyuruhku berdiri
dekat meja dapur sementara ia dan Ayah berbicara di
kamar tidur. Mangkuk berisi sisa-sisa hot dog yang tadi
kumuntahkan ke toilet ditaruh di depanku. Aku tak tahan
melihatnya, jadi kupejamkan mataku dan berusaha
membayangkan diriku tidak di rumah ini. Tidak lama
kemudian Ibu dan Ayah bergegas ke dapur. "Lihat ini,
Steve", kata Ibu dengan nada tinggi, sambil menunjuk ke
mangkuk di depanku. "Kau mengira anak ini sudah
berhenti mencuri, bukan?"
Dari raut wajah Ayah, aku bisa bilang bahwa ia sudah tidak
tahan lagi dengan laporan "Lihat apa yang dilakukan anak
ini sekarang" yang tak habis-habisnya. Sambil memandang
ke arahku, Ayah menggeleng tak setuju dan seperti
kehabisan akal ia berkata, "Roerva, kalau begitu kau
tinggal memberi anak ini sesuatu yang bisa dimakan,
bukan?"
Cekcok kata-kata yang semakin meninggi berlangsung di
depanku dan, seperti biasa, Ibu menang. "MAKAN? Kau
ingin anak ini makan, Stephen? Boleh, anak ini akan
MAKAN! Dia bisa makan ini!" Ibu mengatakan itu dengan
berteriak sambil menunjuk ke mangkuk di depanku, lalu
bergegas ke kamar tidur.
Lalu dapur menjadi sepi sekali, sampai-sampai aku bisa
mendengar napas Ayah yang tertahan. Dengan lembut
dipegangnya bahuku dan berkata, "Tunggu di sini, Tiger.
Aku akan coba membantumu". Beberapa menit kemudian
ia kembali ke dapur, setelah mencoba membujuk Ibu untuk
membatalkan tuntutannya. Wajah Ayah tampak semakin
muram, dan aku langsung tahu siapa yang menang.
Aku duduk di kursi. Lalu, dengan tangan, kuambil
muntahan "hot dog" dari mangkuk itu. Tetesan kental
ludah jatuh dari antara jari-jari tanganku ketika aku
menyuapkan muntahan hot dog itu ke mulutku. Sewaktu
mencoba menelan muntahan itu, aku menangis lirih. Aku
berpaling pada Ayah, yang berdiri sambil memandangiku
dan memegang segelas minuman. Ia menganggukkan
kepalanya, menyuruhku menghabiskan isi mangkuk itu.
Aku tidak percaya Ayah berdiri saja di situ sementara aku
memakan isi mangkuk yang menjijikkan itu. Saat itulah
aku menyadari hubungan aku dan Ayah yang semakin
lama semakin jauh.
Aku mencoba menelan muntahan itu tanpa merasakannya.
Tiba-tiba sebuah tangan mencengkeram tengkukku.
"Kunyah!" Ibu memerintah sambil menggeram. "Makan!
Habiskan semua!" katanya sambil menunjuk ke ludah
kental di mangkuk dan tanganku. Badanku semakin
mengerut di kursi yang kududuki. Air mata mengalir deras
ke pipiku. Setelah semua isi mangkuk itu masuk ke
mulutku, aku berusaha keras untuk menelannya. Lalu aku
masih harus berusaha sekuat-kuatnya untuk menahan
agar apa yang sudah kutelan tidak lagi keluar dari
tenggorokanku. Tak sekejap pun kubuka mataku sampai
aku benar-benar yakin bahwa perutku tidak menolak
"makanan kantin" itu. Ketika aku benar-benar membuka
mataku, kupandangi lagi Ayah. Orang yang dulu
membantuku, kini cuma berdiri mematung sambil melihat
anaknya makan sesuatu yang anjingpun tak sudi
memakannya.
Setelah kujalani hukuman menghabiskan muntahan hot
dog itu, Ibu, yang mengenakan jubah tidur, masuk lagi ke
dapur dan melemparkan setumpuk koran bekas kepadaku.
Ia memberitahu aku bahwa koran-koran bekas itu adalah
selimut tidurku, dan lantai di bawah meja dapur adalah
tempat tidurku mulai malam itu. Lagi, kupandang Ayah
sepintas—ia bersikap seolah-olah aku tidak ada di situ. Aku
merangkak ke bawah meja dapur, tidur meringkuk dengan
pakaian yang kupakai sekolah, menyelimuti badanku
dengan koran bekas rasanya aku ini tikus dalam kurungan.
Kupaksakan diriku untuk tidak menangis di hadapan Ibu
dan Ayah.
Berbulan-bulan aku tidur di bawah meja, di sebelah tempat
tidur kucing peliharaan keluarga ini. Temyata koran-koran
bekas itu berguna juga sebagai selimut sebab kertasnya
menahan panas tubuhku, sehingga aku merasa tetap
hangat. Sampai akhimya Ibu berkata padaku bahwa aku
tidak lagi pantas tidur di dalam rumah, maka aku disuruh
pergi ke basement. Tempat tidurku ganti lagi—sebuah
dipan lipat berkain tua yang biasa dipakai tentara. Supaya
tetap hangat, aku mencoba mendekatkan kepalaku ke gas
heater. Namun setelah kedinginan beberapa malam,
temyata menjaga tubuh agar tetap hangat adalah
berbaring meringkuk, dengan telapak tangan diselipkan di
bawah ketiak dan melipat kaki sehingga telapak kaki
menempel ke pantat. Kadang kala aku terbangun di tengah
malam, lalu mencoba membayangkan bahwa aku ini
benar-benar manusia yang sedang tidur dengan selimut
elektrik yang hangat dan yakin bahwa aku baik-baik saja
karena ada orang yang mencintai aku. Angan-anganku itu
berhasil, tapi hanya untuk waktu sebentar saja, sebab
malam yang begitu dingin selalu membawaku kembali
kepada kenyataan. Aku tahu tak seorang pun bisa
membantuku guru-guruku tidak, saudara-saudara
kandungku tidak, bahkan Ayah pun tidak. Aku sendirian,
dan setiap malam aku berdoa memohon Tuhan
menganugerahi aku kekuatan lahir batin. Di basement
yang gelap pekat, aku berbaring di dipan lipat berkain tua,
menggigil kedinginan sampai akhimya jatuh ke dalam tidur
yang melelahkan.
Suatu ketika, dalam angan-anganku di tengah malam itu,
muncul gagasan untuk mengemis makanan dalam
perjalanan ke sekolah. Sekalipun Ibu terus memintaku
"untuk muntah" setiap sore sepulangku dari sekolah, aku
pikir makanan yang kutelan pada pagi hari tentunya sudah
tercema dengan baik. Maka, begitu mulai berlari ke
sekolah, aku berlari lebih cepat lagi daripada biasanya
supaya aku punya waktu lebih untuk "mengemis
makanan".
Rute perjalananku ke sekolah berubah, karena aku harus
memilih rumah atau tempat yang menurutku bisa kumintai
sedekah makanan. Biasanya aku akan bertanya kepada
setiap wanita yang membuka pintu rumahnya apakah
mereka kebetulan melihat atau menemukan wadah bekal
makan siang di dekat situ. Kebanyakan usahaku itu
berhasil. Dari cara para wanita itu memperhatikanku, aku
bisa bilang bahwa mereka merasa kasihan padaku. Demi
menjaga agar orang-orang yang kumintai sedekah tidak
tahu siapa diriku sebenamya, aku memakai nama palsu.
Selama beberapa minggu usahaku berhasil, sampai pada
suatu hari aku mendatangi sebuah rumah yang pemiliknya
temyata kenalan Ibu. Bualanku, "Aku kehilangan bekal
makan siangku. Maukah ibu memberiku penggantinya?",
yang selama ini selalu terbukti ampuh, hancur berantakan.
Bahkan sebelum meninggalkan pekarangan rumahnya, aku
tahu ia akan menelepon Ibu.
Pada hari itu di sekolah aku berdoa agar dunia ini hancur.
Di kelas, dalam kegelisahan karena rasa takut, aku tahu
Ibu sedang berbaring di sofa, nonton televisi, dan semakin
mabuk, sambil memikirkan sebuah tindakan yang akan
dijatuhkannya atas diriku begitu aku sampai di rumah-nya
dari sekolah. Saat berlari pulang dari sekolah sore itu,
kedua kakiku terasa berat, seperti diikat pada bongkahan
semen beton. Dalam setiap langkah, aku berdoa agar
kenalan Ibu tadi pagi tidak menelepon Ibu, atau ragu-ragu
bahwa yang ia lihat tadi pagi bisa jadi anak lain yang mirip
aku. Langit di atas kepalaku biru, dan aku bisa merasakan
hangatnya sinar matahari di punggungku. Begitu sampai di
rumah Ibu, aku menengadah lagi untuk melihat matahari,
sambil bertanya-tanya dalam hati apakah aku masih bisa
melihatnya lagi kapan-kapan.
Perlahan-lahan kubuka pintu depan, melongok ke dalam,
baru masuk, dan langsung menuruni tangga ke basement.
Aku sudah membayangkan Ibu bergegas ke basement, lalu
memukuliku di situ. Tapi Ibu tidak muncul. Setelah
mengganti pakaian sekolah dengan pakaian kerja, pelanpelan
aku naik ke dapur, lalu mencuci semua peralatan
makan yang kotor. Karena tidak tahu di mana kira-kira Ibu
berada, telingaku dengan sendirinya berfungsi sebagai
antene radar yang mencoba menemukan keberadaan Ibu.
Selama mencuci peralatan yang kotor itu, bulu kudukku
berdiri. Tanganku gemetar. Aku tidak bisa berkonsentrasi
pada pekerjaanku. Akhimya kudengar juga Ibu keluar dari
kamamya, berjalan melalui ruang tengah, menuju dapur.
Kualihkan pandanganku ke luar jendela, sepintas saja. Bisa
kudengar tawa dan jeritan senang anak-anak yang sedang
bermain. Kupejamkan mata sekejap sambil berkhayal aku
sedang bermain bersama anakanak itu. Muncul rasa
hangat dalam diriku. Aku tersenyum.
Jantungku serasa berhenti mendadak ketika kurasakan
napas Ibu di tengkukku. Piring yang sedang kupegang
terlepas, tapi aku sempat menangkapnya sebelum
menyentuh lantai. "Gesit juga kau ya?" desisnya. "Kau bisa
berlari cepat sehingga sempat mengemis makanan. Jadi...
kita akan lihat nanti segesit apa kau sebenarnya."
Dengan sendirinya aku menegangkan badanku, bersiap
menerima pukulan Ibu. Ternyata Ibu tidak memukul. Jadi
kupikir ia akan pergi dan nonton televisi lagi, tetapi
ternyata tidak juga. Ibu tetap berdiri amat dekat di
belakangku, memperhatikan setiap tindakanku. Bisa
kulihat sosok Ibu dari pantulan kaca jendela. Ternyata Ibu
juga melihat ke arah arah yang sama, dan pantulannya
memperlihatkan ia tersenyum padaku. Hampir saja aku
kencing di celana.
Selesai mencuci peralatan makan yang kotor, aku
membersihkan kamar mandi. Ibu duduk di tepi toilet,
sementara aku membersihkan bak mandi. Saat aku
menggosok lantai kamar mandi sambil merangkak, pelanpelan
Ibu berdiri di belakangku. Aku mengira ia akan
berjalan ke arah depan lalu menendang wajahku. Temyata
tidak. Selama mengerjakan tugasku, rasa penasaranku
semakin besar. Aku tahu Ibu pasti memukulku, tapi aku
tidak tahu bagaimana ia akan memukul, kapan, di mana.
Lama sekali rasanya membersihkan kamar mandi itu
sampai selesai. Ketika akhimya selesai juga tugas itu,
kedua kaki dan tanganku gemetar karena takut Ibu
menyerang secara tiba-tiba. Satu-satunya yang kupikirkan
saat itu hanya Ibu. Setiap saat punya keberanian, aku
berusaha melihat Ibu, yang membalas pandanganku
dengan senyum, dan berkata, "Lebih cepat lagi, young
man. Nanti kau harus bisa bergerak jauh lebih cepat lagi".
Sampai saat makan malam, tenagaku habis karena
menahan rasa takut. Hampir saja aku tertidur sambil
menunggu perintah Ibu untuk membereskan meja makan
dan mencuci peralatan makan yang kotor. Berdiri sendirian
di basement, perutku terasa tak karuan. Ingin sekali aku
berlari ke atas, mau memakai kamar mandi. Tapi tanpa
perintah Ibu, aku tak diizinkan melakukan apa pun—aku
seorang tahanan. "Mungkin begitulah rencana Ibu
untukku", begitu pikirku. "Mungkin Ibu ingin agar aku
meminum air kencingku sendiri". Pada mulanya, pikiran
seperti itu kurasakan kasar sekali.
Bagaimanapun, aku harus bersiap-siap menerima apa pun
yang akan diperbuat Ibu terhadapku. Semakin keras aku
menduga-duga apa yang bakal Ibu lakukan terhadapku,
semakin habis tenagaku. Tiba-tiba terbersit sesuatu di
otakku: aku tahu kenapa tadi Ibu mengikutiku terus. la
ingin aku terus-menerus merasa tertekan, dengan
membuat aku tidak bisa memperkirakan kapan atau di
mana ia akan menyerangku. Belum sempat aku
memikirkan suatu cara untuk mengalahkannya, Ibu
berteriak memanggilku ke atas. Di dapur Ibu berkata
padaku bahwa hanya kecepatan cahayalah yang bisa
menyelamatkan diriku, maka ia menyarankan agar aku
menyelesaikan tugasku mencuci peralatan makan yang
kotor secepat kilat. "Yang jelas," katanya mendesis, "tak
perlu kukatakan lagi padamu bahwa kau tak akan
mendapat makan malam, tapi jangan khawatir sebab aku
punya sesuatu untuk mengobati rasa laparmu".
Setelah tugasku malam itu selesai, Ibu menyuruhku
menunggu di basement. Aku berdiri dengan menempelkan
punggungku ke dinding yang keras, sambil mencoba
menerka rencana yang akan Ibu lakukan terhadapku. Aku
tak tahu. Keringat dingin membasahi tubuhku, seakanakan
merembes keluar dari tulang-tulangku. Aku merasa
begitu lelah, sampaisampai aku tertidur sambil berdiri.
Ketika kurasakan kepalaku lunglai ke depan, aku langsung
menegakkannya lagi, aku pun terbangun. Sekeras apa pun
usahaku untuk tidak tertidur, aku tak mampu menahan
kepalaku yang berayun-ayun naik turun seperti gabus di
air. Waktu itu aku merasakan jiwaku meninggalkan
badanku, dan aku merasa seperti melayang. Aku merasa
seringan kapas, sampai tiba-tiba kepalaku terjatuh lagi ke
depan, membuatku bangun. Lebih baik begitu daripada aku
terlelap. Karena kalau ketahuan aku tertidur bisa
mengakibatkan sesuatu yang mengerikan, maka kualihkan
perhatian dengan mendengarkan suara mobil yang lewat di
de-pan rumah atau melihat melalui jendela lampu merah
berkelap kelip dari pesawat terbang yang melintas di
langit. Dari lubuk hatiku, aku berharap seandainya saja
aku dapat terbang lepas.
Beberapa jam kemudian, setelah Ron dan Stan tidur, Ibu
menyuruhku ke atas. Aku melangkah dengan rasa takut.
Aku tahu saatnya telah tiba. Ibu membuatku lelah lahir
batin. Aku tak tahu rencananya. Aku berharap Ibu
memukuliku sampai mati.
Begitu pintu kubuka, ada rasa tenang dalam batinku.
Rumah dalam keadaan gelap, kecuali sebuah lampu saja
yang menyala di dapur. Aku bisa melihat Ibu duduk di
dekat meja makan. Aku berdiri terpaku. Ibu tersenyum.
Dari bahunya yang tampak merosot, aku tahu Ibu mabuk.
Anehnya, aku bisa tahu bahwa ia tidak akan memukuliku.
Aku tak bisa berpikir. Namun aku kembali gemetar ketika
Ibu berdiri dan berjalan ke arah bak cuci piring. Ia berlutut,
membuka lemari kecil di bawah bak cuci piring, lalu
mengeluarkan sebotol amonia. Aku tidak tahu apa yang
akan ia lakukan. Ia mengambil sendok makan, lalu
menuangkan cairan amonia ke sendok itu. Aku sedemikian
panik sampai tidak bisa berpikir—semakin keras usahaku
untuk berpikir, semakin buntu otakku terasa.
Dengan sendok berisi cairan amonia di tangannya, Ibu
berjalan mendekati aku. Ada sedikit cairan amonia yang
tumpah dari sendok, jatuh ke lantai. Aku mundur perlahan,
sampai kepalaku membentur pinggiran kompor. Dalam
hati, aku nyaris tertawa. "Cuma segitu? Cuma segitu itu?
Dia Cuma ingin aku meminum cairan itu?" aku berkata
dalam hati.
Aku tidak merasa takut. Aku sudah capai sekali. Aku cu-ma
bisa berpikir, "Ayolah kita mulai. Ayo kita mulai saja biar
lekas selesai". Ibu membungkuk, lalu sekali lagi ia berkata
bahwa hanya kecepatan yang dapat menyelamatkan aku.
Kucoba menebak teka-tekinya, tapi otakku serasa buntu.
Langsung kubuka mulutku, dan Ibu menyodokkan sendok
tadi jauh ke dalam mulutku. Sekali lagi aku berkata pada
diriku sendiri bahwa semua ini tidak seberapa. Tetapi tak
lama kemudian aku tidak bisa bernapas. Tenggorokanku
tercekik. Aku terhuyung-huyung di hadapan Ibu. Mataku
seperti mau copot dari tengkorakku. Aku jatuh ke lantai
dalam posisi merangkak. "Bubble!" otakku menjerit.
Kuentak-entakkan tanganku ke lantai sekuat tenaga,
mencoba menelan dan mencoba berkonsentrasi pada
gelembung udara yang menyekat batang kerongkonganku.
Aku jadi begitu ketakutan. Aku menangis karena panik.
Tak lama kemudian kurasakan kekuatan pukulan kepalan
tanganku melemah. Aku mencakar-cakar lantai. Mataku
membelalak ke lantai. Berbagai wama tampak berjalanjalan
bersamaan. Aku mulai merasa terapung-apung. Aku
tahu aku akan mati.
Aku tersadar kembali. Kurasakan Ibu menepuk-nepuk
keras punggungku. Tepukan Ibu yang begitu keras
membuat aku bersendawa, lalu aku pun bisa bemapas lagi.
Aku menarik napas panjang-panjang, mengisi lagi paruparuku
dengan udara. Ibu mengambil gelas minumannya.
Ia menenggak banyak-banyak minumannya,
memandangku yang masih di lantai, lalu mengembuskan
udara ke arahku. "Tidak terlalu berat, bukan?" kata Ibu,
sambil menghabiskan isi gelasnya, lalu menyuruhku turun
ke basement, ke dipan lipatku.
Pagi harinya, aku menerima perlakuan serupa. Bedanya,
itu dilakukan di depan Ayah. Ibu mengumbar kata-kata,
"Ini akan membuat jera anak ini sehingga tidak mencuri
lagi!" Aku tahu, itu dilakukan Ibu demi memuaskan
nafsunya yang sinting dan menyimpang. Ayah berdiri saja,
tak berdaya, ketika Ibu mencekoki aku lagi dengan
amonia. Tetapi kali itu aku melawan. Ibu harus bersusah
payah membuka mulutku. Dengan keras kugelengkan
kepalaku ke kiri ke kanan, sehingga aku berhasil
menumpahkan sebagian besar cairan pembersih yang ada
di sendok itu ke lantai. Tetapi temyata tidak cukup banyak.
Sekali lagi aku jatuh ke lantai dalam posisi merangkak,
lantai kutinju berkali-kali. Aku menengadah kepada Ayah,
mencoba memanggilnya. Aku bisa berpikir jemih, namun
tak sedikit pun suara keluar dari mulutku. Ayah cuma
berdiri saja, tanpa emosi, padahal aku meninju-ninju lantai
di dekat kakinya. Dengan posisi tubuh seolah-olah sedang
memberi makan seekor anjing peliharaannya, Ibu
memukul keras punggungku beberapa kali, dan aku pun
pingsan.
Pagi harinya, saat membersihkan kamar mandi, dengan
bantuan cermin aku memeriksa lidahku yang melepuh. Ada
bagian yang terkelupas, sedangkan sisanya merah dan
lecet. Aku merasa bersyukur masih hidup.
Sekalipun Ibu tidak lagi mencekoki aku amonia, beberapa
kali ia mencekoki aku Clorox—semacam cairan penghancur
kotoran. Tetapi rupanya Ibu paling senang mencekoki aku
sabun cair pencuci piring. Ia memaksaku menelan sabun
pencuci piring cair berwama pink itu dengan langsung
menuangkannya dari botolnya, lalu menyuruhku berdiri di
basement. Mulutku terasa kering sekali, sampai-sampai
aku meminum air banyak-banyak dari selang keran di situ.
Tak lama kemudian aku sadar telah membuat kesalahan
besar. Perutku jadi sakit sekali. Aku berteriak kepada Ibu,
mohon diizinkan menggunakan toilet di atas. Ia tidak
mengizinkan. Aku berdiri saja di basement, takut bergerak
sebab kotoran cair mengalir keluar dari celana dalamku,
terus mengalir sepanjang kakiku, lalu ke lantai.
Aku merasa hina sekali aku menangis seperti bayi. Aku
merasa tidak lagi punya harga diri. Aku masih ingin ke
kamar mandi, tapi aku takut sekali bergerak. Karena
perutku amat sakit dan seperti terpilin, dengan sekeras
hati kulakukan sesuatu untuk menyelamatkan harga diriku.
Dengan susah payah aku berjalan setengah berjongkok,
seperti bebek, menuju tempat cucian di garasi. Kuraih
sebuah ember, lalu aku jongkok di atas ember itu untuk
mengeluarkan sisa kotoran. Kupejamkan mata sambil
berpikir bagaimana caranya membersihkan badan dan
pakaianku.
Pada saat itulah tiba-tiba pintu garasi di belakangku
terbuka. Aku menoleh. Kulihat Ayah berdiri di situ dengan
wajah tanpa perasaan, sementara anaknya mengiba
padanya bersamaan dengan mengalimya kotoran berwama
cokelat ke ember. Aku merasa lebih rendah daripada
anjing.
Ibu tidak selalu menang. Pemah terjadi, ketika aku tidak
diperbolehkan masuk sekolah, Ibu mengucurkan sabun cair
pencuci piring ke mulutku langsung dari botolnya, lalu
menyuruhku membersihkan dapur. Ibu tidak tahu apa
yang kulakukan dengan sabun cair di mulutku, pokoknya
aku tak sudi menelannya. Bermenit-menit kemudian,
mulutku penuh dengan campuran sabun cair dan air ludah.
Aku tidak mengizinkan diriku untuk menelannya. Ketika
tugas membersihkan dapur selesai, aku bergegas ke turun
untuk membuang sampah. Aku tersenyum lebar. Begitu
pintu kututup, kuludahkan sabun cair berwama pink itu
dari mulutku. Kemudian aku mengambil tisu bekas dari
dalam salah satu tempat sampah di dekat pintu garasi.
Kugunakan tisu bekas itu untuk membersihkan lidah clan
mulutku dari sisa-sisa sabun cair. Setelah semua itu
selesai, aku merasa bagai pemenang Olympic Marathon.
Aku bangga bisa mengalahkan Ibu dalam permainan yang
sangat ia kuasai.
Meskipun Ibu tahu sebagian besar usahaku untuk
mendapat makanan, ia tidak tahu semuanya. Setelah
berbulan-bulan dikurung di basement selama beberapa jam
setiap kalinya, keberanianku muncul, lalu aku mencuri
makanan beku dari freezer yang ada di dekat garasi.
Sepenuhnya aku sadar bahwa setiap saat bisa saja aku
ketahuan dan harus membayar tindakan kriminalku itu.
Maka, kunikmati setiap gigitan, seolah-olah itulah makanan
terakhir yang bisa kunikmati.
Dalam kegelapan basement aku memejamkan mata. Aku
berkhayal sebagai seorang raja yang mengenakan jubah
paling indah, yang sedang menyantap hidangan paling
lezat yang bisa ditawarkan manusia. Sambil memegang
pumpkin pie atau taco sheel, aku-lah sang raja, dan seperti
layaknya seorang raja yang duduk di atas singgasana, aku
menatap hidanganku yang lezat dan tersenyum.

********




KECELAKAAN

Musim panas tahun 1971 menandai akhir dari masa
kehidupanku bersama Ibu. Umurku belum genap 11
tahun, namun secara umum aku tahu seperti apa hukuman
yang bakal aku terima dari Ibu. Melanggar batas waktu
yang ditentukan Ibu untuk menyelesaikan macam-macam
pekerjaan rumah tangga, aku diganjar hukuman tidak
makan—sekalipun hanya satu saja dari pekerjaan itu yang
kulanggar batas waktunya, sementara semua pekerjaan
lainnya kuselesaikan tepat waktu, tetap tak ada makan
untukku.
Kalau aku memandang Ibu atau salah satu dari anakanaknya
tanpa seizinnya, aku diganjar hukuman
tempelengan. Kalau aku ketahuan mencuri makanan, aku
tahu Ibu akan mengulangi hukuman-hukuman yang pemah
ia lakukan atau merancang sebuah bentuk hukuman baru
yang cuma dia yang tahu. Bisa dikatakan Ibu tahu apa
yang sedang dilakukannya, sementara aku pun bisa
mempersiapkan diri terhadap kemungkinan tindakan yang
akan diambil Ibu selanjutnya. Bagaimanapun, aku siaga
setiap saat dan mempersiapkan seluruh badanku setiap
kali Ibu berurusan denganku.
Memasuki awal bulan Juli semangat hidupku meredup.
Makanan nyaris menjadi khayalan. Bahkan sisa-sisa
sarapan pagi pun aku jarang mendapatkannya. Sekeras
apa pun aku bekerja menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan
rumah tangga, tidak pernah ada makan siang yang
kudapat. Aku memperoleh sedikit makan malam tiga hari
sekali.
Pada suatu hari di bulan Juli, segala sesuatu berawal
seperti hari-hari lainnya. Pada waktu itu aku sudah tiga
hari tidak makan. Sekolah sedang liburan musim panas,
jadi kesempatan mencuri dan mendapat makanan tidak
ada. Setiap saat makan malam, seperti biasa aku duduk di
bawah tangga, dengan posisi tangan di bawah pantat,
sambil mendengarkan suara suasana "keluarga ini" yang
sedang makan malam. Saat itu Ibu mengharuskan aku
duduk di atas tanganku dengan kepala mendongak, seperti
posisi "tawanan perang". Untuk kali itu aku biarkan
kepalaku tertunduk, sambil setengah bermimpi aku adalah
salah satu dari mereka—salah satu anggota "keluarga ini".
Aku pasti tertidur waktu itu, sebab tiba-tiba aku terbangun
oleh suara geram Ibu, "Bangun! Cepat naik!"
Deretan kata pertama dari perintah Ibu langsung membuat
kepalaku tegak, aku berdiri, lalu bergegas naik. Aku berdoa
agar malam itu aku mendapat sesuatu, apa saja, yang bisa
mengganjal perutku yang kelaparan.
Baru saja aku mulai menyingkirkan peralatan makan dari
meja makan dengan secepat kilat, Ibu sudah menyuruhku
ke dapur. Kutundukkan kepala ketika ia menyerocos
tentang batas waktu yang tidak boleh kulanggar.
"Kau punya waktu 20 menit! Terlambat satu menit, satu
detik, maka kau akan kelaparan lagi! Mengerti?"
"Ya, Bu."
"Lihat aku kalau aku sedang bicara padamu!" bentaknya.
Kuturuti perintahnya, pelan-pelan kudongakkan kepalaku.
Kecelakaan • 79
Saat kepalaku tegak, kulihat Russell sedang berayun-ayun
di kaki kiri Ibu. Tampaknya ia sama sekali tidak terganggu
oleh suara Ibu yang keras dan tajam. la memandangiku
dengan sorot mata yang dingin. Sekalipun pada waktu itu
usianya baru empat atau lima tahun, Russell sudah
menjadi "Nazi kecil" bagi Ibu, yang mengawasi setiap
tindakanku, memastikan bahwa aku tidak mencuri
makanan sedikit pun. Kadang kala ia mengarang cerita
yang kemudian dipercayai Ibu, dan dengan demikian ia
bisa melihat aku dihukum. Tentu saja semua itu bukan
salah Russell. Aku tahu Ibu sudah menanamkan kesan
buruk mengenai diriku di kepalanya. Bagaimanapun, aku
mulai tidak menganggap dirinya sekaligus membencinya.
"Kau dengar aku?" teriak Ibu. "Lihat aku kalau aku sedang
bicara padamu!" Waktu kulihat, Ibu baru saja menyambar
pisau daging dari rak dan berteriak, "Kalau kau tidak
menyelesaikan tugas-tugasmu tepat waktu, kubunuh kau!"
Ancamannya tidak mempengaruhi aku. Sudah hampir
seminggu ini Ibu terus-menerus mengeluarkan ancaman
yang sama. Bahkan Russell pun tidak terpengaruh
mendengamya terus saja ia berayun-ayun di kaki Ibu
seakan-akan sedang naik kuda poni yang gemuk.
Tampaknya Ibu tidak puas dengan taktik barunya itu sebab
ia terus saja menyerocos, sementara jarum jam bergerak
terus, menghabiskan batas waktuku. Aku berharap Ibu
menutup mulutnya dan membiarkan aku terus bekerja.
Mati-matian aku berusaha menepati batas waktu yang
ditetapkan Ibu. Begitu besar keinginanku untuk mendapat
sesuatu yang bisa dimakan. Aku tak tahan kalau harus
tidur satu malam lagi tanpa makan.
Kelihatannya ada sesuatu yang tidak beres. Betul-betul
tidak beres! Sepenuhnya kupusatkan pandanganku ke arah
Ibu. Ia mulai mengayun-ayunkan pisau daging di tangan
kanannya. Aku juga tidak terlalu takut dengan sikap Ibu
ini, sebab ia pemah juga bersikap seperti itu. "Mata",
kataku pada diri sendiri. "Lihat matanya". Maka kulihat
matanya, yang tampak seperti biasanya juga. Tetapi
naluriku mengatakan ada sesuatu yang tidak beres.
Menurutku ia tidak akan memukulku, tapi toh tubuhku
mulai menegang. Ketika kurasakan diriku semakin tegang
itulah, aku tahu apa yang tidak beres itu. Karena gerakan
berayun-ayun yang dilakukan Russell di kaki Ibu, juga
karena gerakan lengan serta tangan Ibu yang
menggenggam pisau, tubuh Ibu semakin keras bergoyang
ke depan dan ke belakang. Sempat terpikir olehku bahwa
Ibu akan jatuh.
Ibu berusaha menyeimbangkan posisinya dengan menarik
Russell dari kakinya, sementara ia terus saja membentakbentakku.
Saat itulah badan Ibu bagian atas limbung,
seperti kursi goyang yang berayun tak terkendali. Saat
selanjutnya, aku tak lagi memperhatikan ancamanancaman
Ibu tetapi aku mulai membayangkan perempuan
yang mabuk itu bakal jatuh dengan wajahnya lebih dulu
membentur lantai. Kuperhatikan wajah Ibu dengan
sungguh-sungguh. Dari sudut mataku, samar-samar
kulihat sebuah benda melayang dari tangannya. Tiba-tiba
ada rasa sakit yang perih tepat di bagian atas perutku. Aku
berusaha tetap berdiri, tetapi kedua kakiku tak mampu
tegak, dan semuanya jadi gelap.
Saat sadar kembali, ada rasa hangat yang mengalir dari
dadaku. Beberapa saat kemudian baru aku tahu di mana
aku berada. Aku didudukkan di atas toilet. Aku menoleh ke
arah Russell yang mulai bernyanyi, "David's going to die.
The Boy's going to die". Kualihkan pandanganku ke arah
perutku. Sambil berlutut, Ibu tampak tergesa-gesa
menempelkan kain perban kasa tebal pada suatu tempat di
bagian perutku yang mengeluarkan darah berwarna merah
gelap. Aku mencoba mengatakan sesuatu. Aku tahu semua
ini adalah kecelakaan. Aku ingin memberitahu Ibu bahwa
aku memaafkannya, tapi aku merasa sangat pusing
sehingga tak mampu berkata-kata. Berkali-kali kepalaku
lunglai ke depan, dan aku selalu mencoba menegakkannya
kembali. Aku kehilangan pedoman waktu, lalu kembali tak
sadarkan diri.
Saat aku sadar, Ibu masih berlutut, membalutkan kain ke
sekeliling dadaku agak ke bawah. la terampil dalam bidang
ini. Dulu, ketika Ron, Stan, dan aku masih kecil-kecil, Ibu
sering berkata bahwa ia tadinya bercita-cita menjadi
perawat, sampai akhirnya ia bertemu Ayah. Setiap kali ada
kecelakaan di rumah, Ibulah yang paling menguasai
keadaan. Sedikit pun tak pernah kuragukan kecakapan Ibu
dalam hal merawat. Aku tinggal menunggu dibawa Ibu ke
rumah sakit dengan mobil. Aku yakin ia akan melakukan
itu. Tunggu saja. Aku merasakan kelegaan yang ganjil. Aku
yakin bahwa semua hukuman yang selama ini kuterima
berakhir sudah. Hidup bagai seorang budak tentulah keliru,
dan semua itu sekarang sudah berakhir. Bahkan Ibu tidak
bisa menyangkal hal itu. Aku merasa kecelakaan itu telah
membebaskanku.
Ibu membutuhkan waktu hampir setengah jam untuk
mengobati dan membalut lukaku. Dalam sorot mata Ibu
tidak tampak rasa sesal telah melukai anaknya dengan
pisau.
Menurutku mungkin Ibu menunjukkan rasa sesal itu
dengan mencoba menenangkan diriku, bahkan caranya
berbicara denganku terasa tenang. Sambil memandangku
tanpa emosi, Ibu berdiri, mencuci tangannya, lalu berkata
padaku bahwa aku diberi waktu 30 menit untuk
menyelesaikan tugas mencuci perkakas makan. Aku
menggeleng, sambil mencoba memahami apa yang
barusan dikatakannya. Beberapa saat kemudian, sikap Ibu
menjadi jelas. Sama seperti kejadian yang menyebabkan
tulang lenganku patah beberapa tahun sebelumnya, Ibu
tak akan mengakui kejadian tersebut pernah terjadi.
Aku tak sempat mengasihani diri sendiri. Waktu terus
berjalan. Aku berdiri, terhuyung beberapa saat, lalu
berjalan ke dapur. Pada setiap langkah, rasa sakit menjalar
dari bagian rusukku, darah merembesi T-shirtku yang
lusuh. Begitu sampai di bak cuci piring, aku menyandarkan
tubuh dan terengah-engah seperti anjing tua.
Dari dapur aku bisa tahu bahwa Ayah ada di ruang
keluarga, membaca koran. Aku menarik napas panjang,
sakit sekali rasanya. Aku berharap bisa pergi dari dapur
dan berjalan ke tempat Ayah berada. Dalam keadaan
seperti ini, rupanya aku menarik napas terlalu dalam
sehingga aku terjatuh. Baru kusadari bahwa aku harus
menarik napas pendek-pendek. Lalu aku berjalan ke ruang
keluarga dengan susah payah. Di ujung kursi panjang di
ruangan itu duduklah Ayah, pahlawanku. Aku yakin Ayah
akan menegur Ibu, lalu membawaku ke rumah sakit. Aku
berdiri di depan Ayah, menunggunya membalik koran dan
melihatku. Dan ketika akhirnya ia membalik korannya,
dengan susah payah aku berkata, "Ayah... I... I... Ibu
menusukku".
Ayah bahkan tidak mengangkat alis matanya, apalagi
menoleh. "Kenapa?" tanyanya.
"Dia bilang, kalau aku tidak menyelesaikan tugas mencuci
perkakas tepat pada waktunya, dia... dia akan
membunuhku".
Waktu seakan berhenti. Dari balik koran aku bisa
mendengar napas Ayah yang jadi berat. Ia menelan ludah,
lalu berkata, "Ya... kau ah... kau lebih baik kembali ke
dapur dan menyelesaikan tugasmu mencuci piring."
Kujulurkan kepala ke depan, seolah-olah ingin mendengar
lebih jelas ucapannya. Aku tak percaya apa yang baru saja
kudengar. Ayah pasti menangkap kebingunganku sebab ia
lalu melipat korannya, dan kudengar suaranya meninggi,
"Astaga! Apakah Ibu tahu bahwa kau sekarang di sini
sedang bicara dengan aku? Kau lebih baik kembali ke
dapur dan selesaikan cucian piringmu. Astaga. Kita tidak
perlu melakukan apa-apa yang bisa membuatnya lebih
marah lagi! Aku tak mau bertengkar malam ini..." Ayah
berhenti bicara sebentar, mengambil napas panjang, lalu
berbisik, "Begini: kembalilah ke dapur dan selesaikan
tugasmu mencuci piring. Aku bahkan tidak mau dia tahu
bahwa aku menyuruhmu, mengerti? Ini rahasia kita
berdua. Kembalilah ke dapur, dan selesaikan tugasmu
mencuci piring. Ayo. Lekaslah, sebelum dia memergoki kita
berdua. Sana!"
Aku kecewa berat. Ayah bahkan tidak melihat ke arahku.
Menurutku paling tidak ia bisa menurunkan korannya untuk
melihat sorot mataku, maka ia pasti tahu ia pasti akan bisa
merasakan sakitku, merasakan betapa aku membutuhkan
pertolongannya. Tetapi, seperti biasanya, aku tahu Ibu
mengendalikan Ayah dan mengendalikan semua persoalan
yang terjadi di dalam rumah ini. Aku dan Ayah sama-sama
tahu aturan main "keluarga ini" – kalau kami tidak
mengakui sebuah persoalan, persoalan itu memang tidak
pernah ada. Waktu aku berdiri termangu di depan Ayah itu,
kulihat tetesan darahku menodai karpet keluarga ini. Aku
mendambakan gendongan Ayah, yang kemudian
membawaku pergi dari situ. Aku bahkan membayangkan
Ayah membuka kemejanya untuk memperlihatkan siapa
dia sesungguhnya, lalu terbang ke angkasa—seperti
Superman.
Aku meninggalkan ruangan itu. Rasa hormatku terhadap
Ayah hancur sudah. Gambaran Ayah sebagai juru selamat
ternyata palsu. Rasa marahku terhadap Ayah lebih besar
daripada terhadap Ibu. Aku ingin bisa terbang, tetapi rasa
sakit yang kurasakan mengembalikan aku pada kenyataan.
Kucuci peralatan makan secepat mungkin, tergantung
kondisi tubuhku saat itu. Kalau kugerakkan lengan
bawahku, bagian atas perutku terasa amat sakit. Kalau aku
melangkah ke samping, sekujur tubuhku terasa sakit.
Betapa lemahnya aku, tenagaku nyaris hilang semua.
Begitu batas waktu yang ditetapkan Ibu lewat, lewat juga
peluangku mendapat makanan.
Saat itu yang kuinginkan cuma berbaring dan menyerah
saja, tetapi janji terhadap diriku sendiri yang kubuat
beberapa tahun sebelumnya menahanku. Ingin
kutunjukkan kepada "Perempuan Jahat Itu" ia bisa
mengalahkan aku hanya bila aku mati, dan aku telah
berketetapan-hati untuk tidak menyerah—menyerah pada
kematian pun tidak. Sambil mencuci peralatan makan itu
aku belajar sesuatu mengenai keadaanku—kalau aku
berdiri berjinjit dan menyandarkan pelan-pelan badan
bagian atasku ke pinggiran tembok cucian piring, rasa sakit
di bagian bawah dadaku agak berkurang; aku tidak seringsering
bergerak ke kiri ke kanan tapi beberapa peralatan
makan kucuci sekaligus, setelah itu baru aku membilasnya
sekaligus juga. Setelah semua perkakas itu kukeringkan,
sampailah pada tahap yang mencemaskan—semua
perkakas itu harus kutaruh di lemari dapur, padahal letak
lemari dapur itu di atas kepalaku. Rasa sakit yang sangat
pasti akan timbul kalau aku mencoba meraih lemari itu.
Sambil memegang sebuah piring kecil di satu tangan,
kujinjitkan kakiku setinggi mungkin dan tanganku
berusaha mencapai lemari itu untuk menaruh piring kecil
tadi. Hampir saja berhasil. Tapi rasa sakit yang ditimbulkan
oleh usahaku itu sedemikian hebat, sehingga aku ambruk.
Pada saat itu baju yang kukenakan sudah penuh darah.
Waktu aku berusaha berdiri, aku merasakan tangan Ayah
yang kuat membantuku. Aku menepiskannya. "Berikan
piring itu kepadaku", katanya. "Biar aku yang
membereskannya. Lebih baik kau ganti baju saja".
Kutinggalkan dapur tanpa sepatah kata pun. Kulirik jam di
dinding—hampir satu setengah jam waktu yang kugunakan
untuk menyelesaikan tugasku itu. Waktu tertatih-tatih
menuruni tangga menuju basement, tanganku
mencengkeram erat pegangan tangga. Bisa kulihat dengan
jelas darah merembesi baju yang kukenakan, bersama
setiap langkahku.
Ibu menyusulku turun. Di bawah tangga ia menyobek
bajuku. Ia melakukan itu selembut mungkin, tetapi selain
itu ia tetap bersikap dingin. Bagi Ibu, yang saat itu ia
lakukan bagiku semata-mata "tugas" yang harus ia
kerjakan.
Dulu, aku pemah melihat Ibu merawat binatang dengan
sikap yang jauh lebih hangat daripada sikapnya terhadapku
saat itu.
Karena badanku lemah, aku rebah ke badan Ibu saat ia
mengenakan aku T-shirt tua dan longgar. Bagaimanapun
aku tetap mengira lbu pasti memukulku. Temyata tidak. Ia
malah membiarkan aku beristirahat sejenak di pundaknya.
Setelah itu Ibu mengatur posisiku di bawah tangga itu, lalu
meninggalkan aku. Tak lama kemudian ia kembali,
membawakan aku segelas air. Cepat-cepat kuteguk air itu.
Setelah kuhabiskan air di gelas itu, Ibu berkata bahwa ia
belum bisa memberi aku makan saat itu juga. Ia akan
memberiku makan beberapa jam lagi, setelah keadaanku
membaik. Sekali lagi, Ibu mengucapkan semua itu secara
monoton, sama sekali tanpa emosi.
Kulihat sekilas langit California beranjak malam. Ibu
berkata aku boleh bermain di luar, di depan garasi,
bersama kedua saudaraku. Pikiranku sedang tidak jemih.
Perlu waktu agak lama bagiku untuk memahami apa yang
baru saja dikatakan Ibu.
"Ayo, David. Ikutlah bermain bersama mereka", desaknya.
Dengan bantuan Ibu, aku berjalan tertatih-tatih ke
halaman luar di depan garasi.
Kedua saudaraku memandang ke arahku, tetapi mereka
lebih tertarik dengan kembang api yang mereka nyalakan
untuk memperingati Fourth of July, hari kemerdekaan
Amerika. Beberapa saat kemudian kurasakan sikap Ibu
terhadapku semakin lembut. Ia memegang bahuku,
sementara kami melihat kedua saudaraku sedang
membentuk angka delapan dengan kembang api mereka.
"Kau mau kembang api juga?" tanya Ibu. Aku
mengangguk: ya. Ia memegang tanganku sambil berlutut
untuk menyalakan kembang api yang kupegang. Sejenak
sempat aku mengingat wangi parfum yang dulu dipakai
Ibu. Tetapi Ibu sudah lama juga tidak lagi memakai parfum
atau mengenakan make up.
Meskipun sedang bermain bersama kedua saudaraku, aku
tak bisa menepis pertanyaan yang muncul dalam benakku
tentang Ibu.
"Mengapa sikapnya terhadapku berubah?"
"Apakah ia mencoba berbaikan denganku?"
"Apakah hari-hariku di basement sudah berakhir?"
"Apakah aku sudah boleh bergabung lagi sebagai keluarga
ini?"
Aku tak peduli. Kedua saudaraku menerima kehadiranku,
dan ada rasa persahabatan serta kehangatan bersama
mereka—suatu perasaan yang kukira sudah hilang
selamanya.
Kembang apiku mati. Kualihkan pandanganku ke matahari
musim panas yang semakin terbenam. Lama sekali
rasanya aku tidak melihat matahari terbenam. Kupejamkan
mataku. Kucoba menikmati dan menyerap kehangatan
sinarnya sepuas mungkin. Untuk sesaat rasa sakit, rasa
lapar, dan rasa sedih menjalani kehidupan yang pahit
hilang. Aku merasa begitu hangat. Aku merasa hidup.
Kubuka mataku. Aku berharap bisa mengecap seluruh
keindahan saat itu, di situ, yang tak mungkin kualami dua
kali.
Sebelum tidur, Ibu memberiku minum dan menyuapi aku
makan. Aku merasa seperti hewan lumpuh yang sedang
dirawat agar sembuh. Tapi aku tak peduli.
Di basement aku berbaring di dipan tuaku. Aku mencoba
tidak memikirkan rasa sakitku. Tidak bisa. Rasa sakit itu
menjalari seluruh tubuhku. Akhirnya, rasa amat lelah
mengalahkan rasa sakit. Aku tertidur juga. Beberapa kali
aku bermimpi malam itu. Aku terbangun, berkeringat
dingin. Kudengar suara yang menakutkan di belakangku.
Itu Ibu. Ia membungkuk, mengompres dahiku dengan
secarik kain dingin. Ia berkata bahwa aku demam tinggi.
Aku tidak menanggapi perkataannya karena aku merasa
lelah dan lemah sekali. Yang terpikirkan olehku cuma rasa
sakitku. Ibu kemudian masuk ke kamar tidur saudarasaudaraku
yang berada di bawah, letaknya dekat
basement. Aku merasa aman karena aku tahu Ibu di
dekatku, menjagai aku.
Aku tertidur lagi. Bersama tidur yang melelahkan itu
muncul mimpi yang menakutkan. Turun hujan lebat yang
aimya panas dan berwama merah. Aku basah kuyup oleh
hujan itu. Kucoba membersihkan darah dari badanku,
tetapi dengan cepat badanku jadi merah lagi oleh darah.
Paginya, saat terbangun, kulihat tanganku berlepotan
darah kering. Kaus yang kukenakan menjadi merah di
bagian dada. Di beberapa bagian wajahku kurasakan juga
ada darah kering menempel. Lalu kudengar pintu kamar
tidur di belakangku terbuka. Aku menoleh, kulihat Ibu
berjalan ke arahku. Aku berharap mendapat simpati dari
Ibu seperti yang kurasakan semalam. Tetapi harapanku itu
kosong belaka. Ibu tak memberiku apa-apa. Dengan nada
suara datar, Ibu menyuruhku untuk membersihkan diri dan
mulai melakukan semua pekerjaan rumah tangga yang
biasa kulakukan. Saat kudengar langkah-langkahnya
menapaki tangga, aku sadar tak ada yang berubah. Aku
tetap anak badung di keluarga ini.
Tiga hari setelah "kecelakaan" itu badanku masih saja
demam. Bahkan minta sebutir aspirin kepada Ibu pun aku
takut, apalagi Ayah sedang di tempat kerjanya. Aku tahu,
Ibu sudah kembali ke dirinya yang sebenarnya. Aku
menduga demamku itu karena luka yang kuderita. Waktu
itu luka terbuka di bagian atas perutku semakin lebar
dibandingkan keadaannya di malam kejadian. Agar tidak
ketahuan Ibu, pelan-pelan aku pergi ke tempat cucian di
garasi. Kuambil kain paling bersih dari tumpukan pakaian
rombengku. Kain itu kubasahi secukupnya dengan air dari
keran di situ. Kemudian aku duduk. Kemejaku yang merah,
basah, dan lengket karena darah kugulung ke atas.
Perlahan kuraba lukaku, dan aku tersentak ke belakang
karena kesakitan. Kutarik napas panjang, lalu pelan-pelan
sekali kupencet luka terbuka itu. Sakit sekali rasanya,
sampai-sampai aku terjatuh ke belakang, hampir pingsan.
Ketika kuperhatikan lagi lukaku, ada bagiannya yang
berwama kuning-keputihan. Aku tidak tahu banyak
mengenai hal-hal seperti itu, tetapi aku tahu bahwa lukaku
mengalami infeksi. Aku berdiri, bermaksud naik ke atas
untuk minta tolong Ibu membersihkan lukaku. Ketika
sudah setengah berdiri, aku berhenti. "Tidak!" kataku pada
diri sendiri. "Aku tidak butuh pertolongan perempuan jahat
itu". Pengetahuanku lumayan soal pertolongan pertama
untuk membersihkan luka, jadi aku merasa percaya diri
untuk melakukannya sendiri. Aku mau jadi penguasa atas
diriku sendiri. Aku tak mau mengandalkan Ibu atau
memberinya peluang lebih besar lagi untuk menguami
diriku.
Kubasahi lagi kain yang tadi kupakai lalu kudekatkan ke
lukaku. Aku berhenti sejenak sebelum menyentuhnya,
ragu-ragu. Tanganku gemetar karena takut
membayangkan rasa sakit yang bakal kurasakan. Aku
menangis. Aku merasa seperti bayi, dan aku tidak suka
bersikap seperti bayi. Lalu aku berkata pada diriku sendiri,
"Menangis berarti mati. Nah, rawat lukamu sendiri". Aku
tahu lukaku tidak akan membuatku mati, jadi kupaksa
diriku untuk mengalahkan rasa sakitnya.
Aku cepat-cepat bertindak sebelum niatku lenyap.
Kusambar selembar kain lagi, menggulungnya, dan
menggigitnya. Perhatianku kuarahkan sepenuhnya ke
jempol dan telunjuk tangan kiriku yang kugunakan untuk
memencet serta membuka lukaku. Lalu kubersihkan nanah
dengan kain di tangan kananku. Proses itu kuulangi
beberapa kali sampai sebagian besar nanah bersih dari
luka itu dan darah mengalir deras. Aku tak kuat menahan
rasa sakitnya. Karena mulutku sudah kusumbat kain,
jeritanku jadi teredam. Aku merasa seolah-olah sedang
bergelantungan pada sebuah tebing. Saat semuanya
selesai, air mata mengalir deras sampai membasahi kerah
bajuku.
Aku khawatir Ibu memergoki aku tidak duduk di bawah
tangga seperti perintahnya, maka kubereskan segala
sesuatunya, lalu berjalan tertatih-tatih sambil sesekali
merangkak ke kaki tangga—ke tempat di mana seharusnya
aku berada. Sebelum mengambil posisi duduk di atas
tangan, kuperiksa bajuku; cuma sedikit darah yang
menodai kain rombeng pembalut lukaku. Aku meniatkan
diri untuk menyembuhkan luka itu. Entah bagaimana, aku
merasa yakin luka itu pasti sembuh. Sungguh bangga aku
terhadap diriku sendiri. Kubayangkan diriku seperti jagoan
dalam cerita komik, yang berhasil mengatasi banyak
situasi yang tidak masuk akal dan tetap hidup. Beberapa
saat kemudian, sambil duduk di atas tangan, kepalaku
lunglai ke depan—aku tertidur. Aku bermimpi terbang
menggantang udara. Mimpi itu berwama indah dan
sedemikian hidup. Aku mengenakan mantel tak berlengan
berwama merah... akulah Superman.
********



SAAT AYAH TIDAK DI RUMAH

Setelah kejadian dengan pisau itu, Ayah semakin jarang di
rumah, dia lebih sering di tempat kerjanya. Banyak alasan
diutarakan Ayah untuk menjelaskan kesibukannya itu,
tetapi aku tidak mempercayainya. Sambil duduk di
basement sering aku menggigil ketakutan. Aku berharap
ada alasan cukup kuat yang bisa menahan kepergian Ayah.
Bagaimanapun, berbagai peristiwa yang telah terjadi sama
sekali tidak mematikan perasaanku bahwa Ayah adalah
pelindungku. Kalau Ayah di rumah, Ibu cuma melakukan
separo saja perlakuannya terhadapku dibandingkan kalau
Ayah sedang tidak di rumah.
Saat di rumah, Ayah punya kebiasaan membantuku
mencuci peralatan makan malam. Ayah mencuci, aku
mengeringkan. Sambil bekerja, kami ngobrol pelan-pelan
supaya tidak kedengaran siapa pun di rumah itu. Kadang
kala untuk beberapa waktu kami tak bicara apa-apa. Kami
ingin keadaan betul-betul aman.
Selalu Ayah yang memulai pembicaraan.
"Bagaimana kabarmu, Tiger?" begitu biasanya ia memulai.
Aku selalu tersenyum setiap kali Ayah menyapaku dengan
sebutan yang sering ia gunakan ketika aku masih kecil.
"Aku baik-baik saja", begitu biasanya aku menjawab.
Ayah sering juga bertanya,
"Kau sudah makan sesuatu hari ini?".
Pertanyaan itu lebih sering kujawab dengan gelengan
kepala.
"Jangan khawatir", katanya. "Suatu hari kita berdua harus
pergi dari rumah gila ini".
Aku tahu Ayah tidak betah tinggal di rumah, dan itu karena
salahku. Aku berjanji padanya bahwa aku akan jadi anak
baik dan tidak akan mencuri makanan lagi. Aku juga
berjanji padanya akan berusaha lebih keras lagi dan
menyelesaikan semua pekerjaan rumah tangga dengan
lebih baik lagi. Setiap kali aku mengatakan semua itu Ayah
selalu tersenyum dan berusaha meyakinkan diriku bahwa
semua itu bukan salahku.
Kadang kala, sambil mengeringkan piring, aku merasakan
harapan baru timbul. Aku tahu Ayah boleh dikatakan tidak
akan menentang Ibu dalam bentuk apa pun, namun aku
tetap merasa aman setiap kali berdiri di sampingnya.
Semua hal baik yang terjadi padaku tidak berlangsung
lama. Ibu melarang Ayah membantuku mencuci piring. Ia
bersikeras bahwa anak itu tidak butuh bantuan. Ia berkata
bahwa Ayah memberikan perhatian berlebihan kepadaku
dibandingkan kepada orang-orang lain dalam keluarga itu.
Ayah mengalah begitu saja. Maka, Ibu mengendalikan
semua orang yang ada di rumah itu.
Tak lama setelah keluar larangan Ibu itu, Ayah semakin
jarang lagi ada di rumah, bahkan ketika ia sedang tidak
bekerja sekalipun. Hanya beberapa menit Ayah ada di
rumah. Setelah bertemu saudara-saudaraku, ia akan
mencariku di mana pun aku sedang mengerjakan tugasku,
mengatakan beberapa kalimat kepadaku, lalu
meninggalkan rumah. Tidak lebih dari sepuluh menit Ayah
di rumah, sesudah itu ia kembali ke tempatnya
menyendiri—biasanya di bar. Saat bercakap-cakap
sebentar denganku, Ayah mengatakan bahwa ia sedang
merancang cara bagi kami berdua agar bisa pergi dari
rumah itu. Aku selalu tersenyum mendengarkan ucapan
Ayah itu. Namun dalam hati aku tahu itu khayalan belaka.
Pada suatu hari Ayah berlutut di depanku, dan mengatakan
penyesalannya. Kuperhatikan wajahnya. Perubahan yang
kulihat di situ membuatku takut. Ada lingkaran di sekeliling
kedua matanya. Wajah dan lehernya merah-merah.
Bahunya yang dulu tegap kini tampak lunglai. Uban
merusak wama rambutnya yang dulu hitam pekat.
Sebelum Ayah meninggalkan rumah hari itu, kupeluk
pinggangnya. Tak tahu kapan aku bisa bertemu dengannya
lagi.
Hari itu, setelah menyelesaikan semua tugas, aku bergegas
ke basement. Aku disuruh mencuci pakaian rombengku
dan setumpuk lagi pakaian rombeng yang bau. Kepergian
Ayah hari itu membuatku sangat sedih. Aku menangis di
atas tumpukan pakaian kotor, memohon Ayah tidak pergi
dan mengajak aku bersamanya. Beberapa menit kemudian
setelah menenangkan diri, aku tegar kembali, lalu mulai
mengucek pakaian-pakaianku yang mirip "keju Swis". Aku
mengucek sedemikian rupa sampai buku-buku jariku
berdarah. Aku tak peduli lagi apakah aku dianggap ada
atau tidak ada. Rumah Ibu jadi tempat yang mengerikan.
Aku berharap, entah bagaimana caranya, suatu saat bisa
melarikan diri dari rumah yang sejak saat itu kusebut
"rumah gila".
Pernah pada suatu masa ketika Ayah tidak di rumah, Ibu
tidak memberiku makan sekitar sepuluh hari berturutturut.
Bagaimanapun kerasnya aku berusaha memenuhi
batas waktu yang ditetapkan Ibu untuk menyelesaikan
semua pekerjaanku, aku tetap tak mampu memenuhinya.
Dan itu berarti tidak makan. Ibu sangat cermat dalam
memastikan bahwa aku tidak punya kemungkinan sedikit
pun untuk mencuri makanan. Ia sendiri yang
membereskan meja makan, membuang sisa makanan ke
tempat sampah. Setiap hari ia memeriksa untuk
memastikan tidak ada sisa makanan di tempat sampah,
sebelum aku membuangnya ke bawah. Freezer di dekat
garasi ia kunci, dan kuncinya ia simpan. Aku sudah
terbiasa tidak makan tiga hari beruturut-turut, namun
tidak makan lebih dari tiga hari seperti kali ini sungguh tak
tertahankan. Air menjadi satu-satunya penyambung hidup.
Setiap kali mengisi cetakan es batu dari lemari es, aku
biasa meminum aimya yang dingin dari pinggiran cetakan
itu. Aku juga biasa merangkak ke bawah keran di dekat
garasi, membuka keran pelan-pelan agar Ibu tidak
mendengamya, kemudian memasukkan mulut keran ke
dalam mulutku, dan meminum air keran sebanyak
mungkin sampai perutku terasa akan meletus.
Pada hari keenam tubuhku terasa amat lemah. Aku hampir
tak bisa bangun dari dipan tuaku. Kukerjakan tugastugasku
dengan amat lambat. Aku mati rasa. Kerja otakku
pun jadi lamban. Aku merasa perlu waktu cukup lama
untuk memahami kalimat-kalimat yang diteriakkan Ibu
kepadaku. Ketika kutegakkan kepalaku perlahan-lahan
untuk memandang Ibu, aku tahu Ibu menganggap semua
ini permainan—sebuah permainan yang sangat ia nikmati.
"Oh, anak kecilku yang malang", kata Ibu sambil
bertingkah laku yang dibuat-buat. Lalu ia bertanya apa
yang kurasakan, dan ia tertawa ketika aku minta makanan.
Di akhir hari keenam itu, dan hari-hari sesudahnya, aku
betul-betul berharap Ibu memberiku sesuatu yang bisa
kumakan, apa pun itu aku tak peduli.
Pada suatu malam, menjelang akhir "permainan"-nya,
setelah aku menyelesaikan semua tugasku, Ibu
membanting sepiring makanan di hadapanku. Sisa
makanan dingin di piring itu tampak begitu mewah bagiku.
Tetapi aku ragu-ragu; rasanya itu tidak mungkin terjadi.
"Dua menit!" teriak Ibu. "Kau cuma punya waktu dua
menit untuk menghabiskannya". Secepat kilat kusambar
garpu, tapi belum lagi sisa makanan itu sampai ke
mulutku, Ibu sudah menyambar piringnya lalu membuang
isinya ke tempat sampah. "Terlambat!" desisnya.
Aku berdiri saja di depan Ibu, bengong. Tak tahu aku harus
bagaimana atau mengatakan apa. Yang sempat terpikir
olehku cuma "Kenapa?" Aku tak mengerti mengapa ia
memperlakukan aku seperti itu. Sisa makanan itu begitu
dekat sampai-sampai aku bisa mencium baunya. Aku tahu
ia berharap aku akan mengais-ngais tempat sampah itu,
tetapi aku berdiri tegak sambil menahan diri untuk tidak
menangis.
Sendirian lagi di basement, aku merasa tidak punya apaapa
lagi. Aku sangat menginginkan makanan. Aku
menginginkan ayahku. Tetapi yang paling kuinginkan
adalah sedikit saja rasa hormat; sedikit saja harga diri.
Sambil duduk di atas tanganku, aku bisa mendengar
saudara-saudaraku membuka lemari es untuk mengambil
hidangan penutup makan, dan aku membenci semua itu.
Kupandangi diriku sendiri. Wama kulitku pucat kekuningan,
otot-ototku kecil seperti serabut. Setiap kali kudengar
salah seorang saudaraku menertawai adegan acara televisi
yang ia tonton, aku menyumpahi namanya. "Dasar
kampret bernasib baik! Mengapa Ibu tidak menggilir
mereka dan sekali-sekali memukuli salah satu dari
mereka?" Dengan berteriak kuungkapkan segala perasaan
benciku itu, dalam hati.
Sudah hampir sepuluh hari aku tidak makan. Baru saja aku
menyelesaikan tugas mencuci piring makan malam ketika
Ibu mengulangi permainannya: "kau punya dua menit
untuk makan". Kali itu hanya sedikit sisa makanan yang
ada di pi-ring yang ditawarkannya. Aku menduga ia akan
menyambar lagi piringnya seperti yang terjadi sebelumnya,
jadi kuubah gerakanku. Tak kuberi Ibu kesempatan untuk
menyambar piringnya seperti yang terjadi tiga malam
sebelumnya. Lang-sung kurebut piringnya dan cepat-cepat
menelan sisa makanan yang ada di piring itu, tanpa
mengunyahnya. Hanya dalam hitungan detik kuhabiskan
semua yang ada di piring itu, lalu menjilatinya hingga
tandas. "Kau makan seperti babi!" kata Ibu dengan rasa
marah yang tertahan. Kutundukkan kepalaku, seakan-akan
aku peduli. Tetapi, di dalam hati, aku menertawainya
sambil berkata, "Rasain lu! Yang penting kan gua makan!"
Ibu juga punya permainan lain untuk aku yang menjadi
kegemarannya pada saat Ayah tidak di rumah. Ia
menyuruhku membersihkan kamar mandi dengan batas
waktu seperti biasanya. Tetapi kali itu ia membawa sebuah
ember berisi campuran amonia dan Clorox. Di kamar
mandi ada aku dan ember tadi, pintu kamar mandi ditutup.
Saat pertama kali permainan itu dilakukannya, Ibu berkata
bahwa ia tahu permainan seperti itu dari koran, dan ia
ingin mencoba. Aku bersikap pura-pura ketakutan, padahal
tidak sama sekali.
Aku tak peduli apa yang akan terjadi selanjutnya. Ketika
Ibu menutup pintu kamar mandi dan melarang aku
membukanya, barulah aku mulai cemas. Karena pintu
ditutup, udara di dalam kamar mandi cepat berubah. Aku
merangkak ke pojok kamar mandi untuk melihat isi ember
tadi. Uap tipis berwama abu-abu melayang ke langit-langit
kamar mandi. Ketika kuhirup udara di dekat situ, aku
merasa pusing dan mual. Tenggorokanku terasa seperti
terbakar. Beberapa menit kemudian tenggorokanku
menjadi sangat sakit. Gas yang dihasilkan oleh campuran
amonia dan Clorox membuat mataku berair. Aku jadi
panik, jangan-jangan aku tidak bisa memenuhi batas
waktu yang ditetapkan Ibu untuk membersihkan kamar
mandi.
Beberapa menit kemudian aku mulai merasakan mual,
seperti mau muntah. Aku tahu Ibu tidak akan
menghentikan permainannya di tengah jalan, lalu
membuka pintu kamar mandi. Aku harus berpikir agar
selamat dari permainan barunya. Aku berbaring di lantai
kamar mandi, kuregangkan badanku, lalu dengan kaki
kugeser ember itu sampai ke dekat pintu kamar mandi. Itu
kulakukan dengan dua alasan: aku mau menyingkirkan
ember itu sejauh mungkin dari diriku, dan aku berharap
kalau Ibu masuk ke kamar mandi dia sendiri akan
menghirup uap ciptaannya sendiri. Aku berguling ke sisi
lain kamar mandi sambil menutupi mulut, hidung, dan
mataku dengan kain lap. Sebelum kupakai untuk menutupi
wajahku, kain lap itu kubasahi dulu dengan air dari toilet.
Aku tidak berani menggelontorkan air sebab takut Ibu bisa
mendengamya. Dari kain lap yang menutupi wajahku
kuintip uap dari ember itu sedikit demi sedikit melayang ke
bawah, ke arah lantai. Rasanya aku sedang berada di
kamar gas. Lalu aku ingat ada ventilasi kecil untuk
menyalurkan udara panas ke kamar mandi di dekat kakiku.
Aku tahu alat pemanasnya bekerja mati dan menyala silih
berganti secara teratur setiap beberapa menit. Kudekatkan
wajahku ke ventilasi itu lalu menghirup udara sebanyak
mungkin. Setelah setengah jam, Ibu membuka pintu
kamar mandi dan menyuruhku membuang cairan di ember
itu ke saluran air di garasi sebelum aku memenuhi rumahnya
dengan uap di ember itu. Di bawah, selama lebih dari
satu jam, aku batuk-batuk darah. Dari semua bentuk
hukuman Ibu, permainan kamar gas paling aku benci.
Sampai menjelang akhir musim panas tahun itu tampaknya
Ibu sudah bosan dengan cara-cara penyiksaannya
terhadap diriku yang selama itu dilakukan di sekitar
rumah.
Pada suatu hari, setelah aku menyelesaikan semua
tugasku di pagi hari, ia menyuruhku bekerja memotong
rumput di rumah tetangga. Sebetulnya itu bukan pertama
kalinya Ibu menyuruhku memotong rumput. Pada musim
semi tahun sebelumnya, ketika sekolah libur merayakan
Paskah, Ibu juga menyuruhku bekerja memotong rumput.
Ia menetapkan target sejumlah uang yang harus
kubayarkan kepadanya dari hasil kerjaku. Tentu saja target
yang ditetapkan Ibu tidak mungkin bisa kupenuhi. Maka,
karena putus asa, pemah aku mencuri sembilan dolar dari
celengan seorang anak tetangga. Beberapa jam kemudian,
ayah anak itu mendatangi rumah Ibu. Sudah pasti Ibu
mengembalikan uangnya dan berkata kepada ayah anak
itu bahwa itu memang salahku. Setelah orang itu pergi,
Ibu menghajarku habis-habisan. Aku mencuri uang itu
semata-mata untuk memenuhi target yang ia tetapkan.
Bagiku, rencana untuk bekerja memotong rumput pada
musim panas tahun itu ternyata tidak lebih baik daripada
pada liburan Paskah sebelumnya. Aku menawarkan jasa
memotong rumput dari rumah yang satu ke rumah yang
lain. Tidak ada yang mau. Pakaianku yang rombeng dan
tanganku yang kurus pasti menjadi pemandangan yang
menyedihkan. Karena kasihan, seorang ibu memberiku
makanan dalam kantong cokelat agar bisa kumakan di
jalan. Setengah blok berjalan dari situ sepasang suami istri
menerima tawaranku untuk memotong rumputnya. Setelah
selesai, aku berlari pulang ke rumah Ibu, sambil membawa
kantong cokelat berisi makanan tadi. Maksudku, kantong
itu nanti akan kusembunyikan begitu aku berbelok ke arah
rumah Ibu. Tapi itu tak sempat kulakukan. Aku berpapasan
dengan Ibu yang sedang bermobil. Ibu berhenti, bergegas
keluar dari mobil, dan menangkapku bersama kantong
cokelat tadi. Sebelum Ibu menghentikan station wagon-nya
dengan mendadak sehingga bannya berdecit-decit, aku
sudah mengangkat tanganku tinggi-tinggi, persis seperti
yang dilakukan penjahat. Aku ingat, pada saat itu aku
berharap nasib baik dengan seorang ibu yang memberiku
makan tidak meninggalkan aku sekali itu saja.
Ibu bergegas turun dari mobil. Dengan tangannya yang
satu ia menyambar kantong cokelat dan dengan tangannya
yang lain ia memukulku. Ia mendorongku masuk mobil,
lalu menjalankan mobilnya menuju rumah ibu baik hati
yang tadi memberiku makan siang dalam kantung cokelat.
Ibu tadi sedang tidak di rumah. Ibu yakin bahwa aku
menyelinap masuk rumah itu lalu mencuri makan siang.
Aku tahu memiliki makanan merupakan tindakan kriminal
berat. Dalam hati aku berteriak kepada diri sendiri karena
tidak sejak awal menghabiskan atau menyembunyikan
atau membuang makanan itu.
Begitu sampai di rumah, hukuman Ibu membuatku
terkapar di lantai. Kemudian Ibu menyuruhku duduk di
halaman belakang, sementara ia mengajak "anak-anak
lelakinya" ke kebun binatang. Aku diharuskan duduk di
atas batu-batu kecil yang tajam dengan posisi duduk
seperti "tawanan perang". Peredaran ke seluruh tubuhku
terganggu. Aku tak bisa lagi mengharapkan pertolongan
Tuhan. Menurutku, Tuhan pasti membenciku. Adakah
cukup alasan yang membuat hidupku seperti ini? Segala
usahaku untuk sekadar bertahan hidup tampaknya sia-sia.
Semua usahaku untuk mengalahkan Ibu, untuk
menghindarinya, gagal. Tampaknya bayangan hitam selalu
mengikutiku.
Matahari pun tampaknya menghindari aku, dengan
bersembunyi di balik awan tebal yang melayang di atas
kepalaku. Aku melemaskan pundakku, mencoba menikmati
kesendirian dalam khayalan-khayalanku. Aku tak
memperhatikan waktu, namun akhirnya bisa kudengar
suara station wagon Ibu memasuki garasi. Hukuman duduk
di atas kerikil tajam sebentar lagi selesai. Aku mencoba
menduga rencana Ibu selanjutnya untukku. Semoga bukan
hukuman kamar gas. Dari garasi Ibu berteriak menyuruhku
mengikutinya ke atas. Ia menyuruhku ke kamar mandi.
Aku takut. Aku merasa terkutuk. Menarik napas panjangpanjang
mulai kulakukan, sebab pasti aku akan butuh
udara segar sebanyak mungkin.
Sama sekali di luar dugaanku, tak ada satu ember atau
botol pun di kamar mandi. "Apakah aku sudah lepas dari
ujung tanduk?" Begitu saja? Takut-takut, kuperhatikan Ibu
sewaktu ia membuka lebar-lebar keran air dingin di bak
mandi. Kupikir aneh juga Ibu sampai lupa membuka keran
air panas. Ketika air dingin di bak mandi hampir penuh, Ibu
membuka paksa pakaianku, lalu menyuruhku masuk ke
bak mandi. Aku menurut, dan berbaring di dalamnya.
Badanku menggigil ketakutan.
"Lebih masuk lagi!" bentak Ibu. "Taruh mukamu di air
seperti ini!"
Ia membungkuk, mencekal tengkuk dan leherku dengan
kedua tangannya, menenggelamkan kepalaku. Dengan
sendirinya aku meronta, sekuat tenaga berusaha menjaga
kepalaku tetap di atas permukaan air agar bisa bemapas.
Cengkeraman Ibu kuat sekali. Di dalam air kubuka mataku.
Bisa kulihat gelembung-gelembung udara keluar dari
mulutku dan naik ke permukaan air ketika aku mencoba
berteriak. Kugerakkan keras-keras kepalaku ke kiri ke
kanan ketika kulihat gelembung-gelembung udaranya
semakin kecil. Aku mulai merasa lemah. Dalam kepanikan,
aku menggapai tanganku ke atas dan kucengkeram bahu
Ibu. Jari-jari tanganku pasti mencengkeram bahunya
sedemikian kuat sehingga Ibu melepaskan aku. Ia
memandang ke bawah ke arahku sambil terengah-engah.
"Sekarang tenggelamkan kepalamu di bawah air, atau
nanti aku memaksamu lebih lama lagi begitu!"
Kutenggelamkan kepalaku, tetapi kuusahakan hidungku
tetap berada di atas permukaan air. Aku merasa seperti
buaya di rawa. Sewaktu Ibu keluar dari kamar mandi, aku
semakin tahu rencananya. Saat berendam seperti itu,
airnya kurasakan sangat dingin, seakan-akan aku ada di
dalam lemari es. Aku takut sekali terhadap Ibu, maka
kutenggelamkan kepalaku seperti yang ia perintahkan, dan
tak bergerak.
Berjam-jam kemudian kulitku jadi berkeriput. Aku tidak
berani menyentuh badanku sendiri untuk membuat:nya
agak hangat. Tetapi kepalaku kuangkat sehingga cukup
bagiku untuk bisa mendengar suara-suara. Setiap kali
kudengar ada yang berjalan di dekat kamar mandi, pelanpelan
kutenggelamkan kembali kepalaku ke air yang dingin
itu.
Yang kudengar biasanya langkah-langkah saudara
saudaraku yang berjalan ke kamar tidurnya. Kadang kala
salah seorang di antara mereka masuk ke kamar mandi
untuk memakai toilet. Mereka cuma melihat sepintas ke
arahku, menolehkan kepala, lalu pergi. Kucoba
membayangkan diriku berada di tempat lain, tetapi aku
tidak bisa merasa rileks supaya bisa berkhayal.
Sebelum keluarga ini duduk untuk makan malam, Ibu
masuk ke kamar mandi. Dengan berteriak, ia menyuruhku
keluar dari bak mandi dan memakai kembali pakaianku.
Aku langsung melaksanakan perintahnya, dan menyambar
handuk untuk mengeringkan badanku. "Eh, jangan!"
bentaknya. "Pakai pakaianmu begitu saja!" Perintah yang
ini juga langsung kuturuti. Pakaianku basah kuyup saat
aku mengenakannya sambil berlari kembali ke halaman
belakang sesuai perintah Ibu. Aku harus duduk lagi di situ.
Matahari mulai terbenam, tetapi separo halaman masih
terkena sinarnya langsung. Aku duduk di bagian yang
masih terkena sinar matahari, tetapi Ibu menyuruhku
duduk di tempat yang terlindung. Di pojok halaman
belakang itu, sambil duduk seperti tawanan perang, aku
menggigil kedinginan. Aku kepingin sebentar saja kena
panas, tetap keinginanku untuk mengeringkan badan itu
semakin lama semakin tidak mungkin. Dari jendela ruang
makan di atas kepalaku terdengar suara "keluarga ini"
sedang saling mengoper piring yang penuh makanan.
Sesekali terdengar juga tawa. Karena Ayah sedang di
rumah, aku tahu masakan apa pun yang dibuat Ibu pasti
lezat. Ingin rasanya aku mendongakkan kepala dan
melihat mereka makan, tapi aku tidak berani. Aku hidup di
dunia lain. Sepintas melihat kepada kehidupan yang baik
pun aku tak pantas.
Hukuman di bak mandi dan di halaman belakang lalu biasa
dilakukan Ibu terhadapku. Kadang kala, ketika aku
direndam di bak mandi, saudara-saudaraku mengajak
teman-temannya untuk menonton saudara mereka yang
telanjang bulat. Sering kali mereka mencemoohkan aku.
"Apa yang ia lakukan kali ini?" mereka bertanya. Biasanya
saudara-saudaraku menjawab pertanyaan itu dengan
"Nggak tau".
Bersamaan dengan kegiatan sekolah di musim gugur,
muncul harapan untuk sesekali keluar dari hidupku yang
menyedihkan. Selama dua minggu pertama itu kelas
tempat kami murid-murid kelas empat melaporkan
kehadiran kami setiap harinya memiliki seorang ibu guru
pengganti. Menurut berita yang kudengar, guru kami yang
biasanya sedang sakit. Ibu guru pengganti ini lebih muda
dibandingkan dengan kebanyakan guru di sekolah itu, dan
tampaknya ia lebih lembut. Di akhir minggu pertama, ia
memberi hadiah es krim kepada murid-murid yang selama
satu minggu itu berkelakuan baik. Saat itu aku tidak
mendapat hadiah.
Aku berusaha lebih keras lagi untuk berkelakuan baik, dan
akhimya kuperoleh juga hadiahku pada akhir minggu
kedua. Ibu guru baru itu memutar sebuah lagu, dan
bemyanyi bersama semua murid di kelas itu. Kami sangat
menyukai ibu guru baru itu. Pada hari Jumat sore itu aku
tidak mau pulang. Setelah semua murid meninggalkan
kelas, ia membungkuk ke arahku dan berkata kepadaku
bahwa aku harus pulang. Ia tahu aku anak bermasalah.
Kukatakan padanya, aku mau bersamanya saja. Ia
memegangku sebentar, lalu berdiri dan memutarkan lagu
yang paling kusukai. Setelah itu baru aku pulang. Karena
terlambat pulang, aku berlari sekencang mungkin, lalu
langsung mengerjakan tugas-tugasku. Setelah semua
tugas kuselesaikan, Ibu menyuruhku duduk di halaman
belakang, di atas lantai semen yang dingin.
Pada hari Jumat itu kulihat kabut menutupi matahari di
langit, dan aku menangis dalam hati. Ibu guru pengganti
itu baik sekali terhadapku. Ia memperlakukan diriku seperti
manusia pada umumnya. Ia tidak menganggapku seperti
kotoran di comberan. Sambil duduk di luar merasakan
kesedihan, aku mencoba membayangkan sedang berada di
mana ibu guru yang baik itu, dan apa yang kira-kira
sedang ia lakukan. Pada saat itu aku tak mampu
memahami perasaanku, tetapi aku mengaguminya.
Aku tahu aku tidak akan mendapat makan malam itu atau
malam berikutnya. Karena Ayah tidak di rumah, aku pasti
mengalami akhir minggu yang buruk. Duduk di halaman
belakang pada anak tangga semen yang dingin, di udara
terbuka yang dingin, aku bisa mendengar suara Ibu sedang
makan bersama saudara-saudaraku. Aku tak peduli.
Kupejamkan mata. Aku bisa melihat wajah ibu guru baruku
yang penuh senyum. Malam itu, ketika aku duduk di luar
dan menggigil kedinginan, kecantikan serta kelembutannya
membuatku merasa hangat.
Memasuki bulan Oktober, hidupku yang tak wajar itu betulbetul
habis-habisan. Di sekolah jarang ada makanan. Aku
sering dijadikan mangsa empuk oleh murid-murid nakal
yang badannya jauh lebih besar daripada badanku—
mereka memukuli aku setiap saat, sesuka mereka. Begitu
sekolah usai, aku harus berlari ke rumah dan harus
memuntahkan isi perutku untuk diperiksa oleh Ibu. Kadang
kala ia langsung menyuruhku mengerjakan semua
tugasku. Kadang kala ia mengisi bak mandi dengan air.
Kalau sedang betul-betul dalam suasana hati yang enak, ia
mencampur kedua bahan kimia itu untuk kuhirup
campuran gasnya di kamar mandi. Kalau ia tidak ingin aku
berada di rumahnya, ia menyuruhku bekerja memotong
rumput di rumah tetangga yang menginginkannya—itu pun
sesudah ia memukuli aku.
Beberapa kali ia mencambukku dengan rantai anjing.
Kugertakkan saja gigiku untuk menahan rasa sakit yang
sangat, dan menerima semua itu. Yang paling sakit adalah
akibat pukulan dengan tangkai sapu lidi ke bagian
belakang kaki. Kadang kala pukulan-pukulan dengan
gagang sapu lidi ke bagian itu membuatku terkapar di
lantai, nyaris tak bisa bergerak. Lebih dari satu kali aku
berjalan terpincang-pincang sambil mendorong alat
pemotong rumput berkeliling rumah tetangga, herusaha
mencari uang yang harus kuserahkan kepada-nya.
Akhirnya tiba juga saat ketika keberadaan Ayah di rumah
pun tidak mampu meringankan penderitaanku, sebab Ibu
melarangnya bertemu denganku. Harapanku pupus, dan
aku mulai yakin bahwa hidupku tak akan pernah berubah.
Aku pikir aku akan tetap menjadi budak Ibu selama
hidupku. Hari demi hari semangat hidupku semakin lemah.
Aku tidak lagi mengkhayalkan Superman atau seorang
pahlawan atau jagoan yang akan datang menyelamatkan
diriku. Aku tahu, janji Ayah untuk mengajakku pergi dari
rumah itu sekadar janji belaka. Aku tidak lagi berdoa. Aku
hanya ingin hidup sehari itu saja, pada hari itu, dan begitu
seterusnya.
Pada suatu pagi di sekolah, aku disuruh menghadap
perawat sekolah. Wanita perawat itu menanyai aku soal
pakaianku dan berbagai luka maupun memar yang
kelihatan di sepanjang permukaan kedua lenganku. Pada
mulanya jawabanku kepadanya adalah jawaban buatan Ibu
yang harus kukatakan kepada perawat itu. Tetapi aku
semakin menaruh kepercayaan pada perawat itu, maka
kuceritakan kepadanya semakin banyak hal mengenai Ibu.
Ia membuat catatan mengenai apa saja yang kukatakan,
dan berpesan padaku untuk datang menghadapnya kapan
saja aku membutuhkan seseorang untuk mengobrol. Baru
kemudian aku tahu bahwa perawat itu menjadi tertarik
akan diriku berdasarkan sejumlah laporan yang ia terima
dari ibu guru pengganti, dulu pada awal tahun kegiatan
sekolah.
Selama minggu terakhir di bulan Oktober berlangsung
tradisi di rumah Ibu bagi anak-anak lelaki membuat ukiran
pada buah labu. Hak istimewa itu sudah tidak aku lakukan
sejak umurku tujuh atau delapan tahun. Saat malam untuk
membuat ukiran itu tiba, Ibu mengisi bak mandi begitu aku
selesai mengerjakan tugas-tugasku. Seperti biasanya, ia
mengancam aku untuk tetap membenamkan kepalaku di
bawah permukaan air. Sebagai tanda bahwa ia tidak mainmain
dengan ancamannya itu, dicekalnya leherku, lalu
membenamkan kepalaku. Kemudian ia bergegas keluar
dari kamar mandi dan mematikan lampunya. Aku menoleh
ke kiri. Dari kaca jendela kecil di kamar mandi aku bisa
melihat malam mulai turun. Aku mengisi waktu dengan
menghitung angka dalam hati. Aku mulai dari angka satu
dan berhenti di angka seribu. Kemudian kuulangi hitungan
itu. Begitu seterusnya. Jam demi jam berlalu, sampai
kurasakan air di bak mandi itu menyusut. Semakin air itu
menyusut, semakin kedinginan aku. Kujepitkan kedua
tanganku di antara kakiku dan menempelkan tubuhku ke
sisi kanan bak mandi. Bisa kudengar kaset Halloween yang
dibeli Ibu untuk Stan beberapa tahun sebelumnya. Hantuhantu
dan setan-setan mengeluarkan suara yang
menakutkan, sementara pintu-pintu berderit terbuka
sendiri.
Setelah anak-anak lelaki itu selesai mengukir buah-buah
labu mereka, kudengar Ibu dengan suaranya yang lembut
mulai menceritakan cerita yang menakutkan. Semakin
kudengarkan cerita itu, semakin aku membenci mereka.
Sungguh tidak enak menunggu seperti anjing yang duduk
di atas batu-batu kerikil di halaman belakang sementara
mereka menikmati makan malam, tetapi berbaring di bak
mandi yang dingin dan menggigil karena berusaha tetap
hangat sementara mereka menikmati popcorn sambil
mendengarkan cerita Ibu membuat aku mau berteriak
saja.
Nada suara Ibu malam itu mengingatkan aku pada Mommy
yang sangat aku cintai bertahun-tahun sebelumnya. Tetapi
sekarang, semua anak lelaki itu bahkan tidak mengakui
keberadaanku di rumah itu. Bagi mereka, aku tidak lebih
berarti dibandingkan dengan hantu-hantu bersuara
menakutkan di kaset milik Stan itu. Setelah semua anak
lelaki itu naik ke tempat tidur, Ibu masuk ke kamar mandi.
Ia tampak tertegun sejenak melihat aku masih berbaring di
bak mandi. "Kau kedinginan?" desisnya. Aku menggigil
sambil menganggukkan kepala, menunjukkan bahwa aku
betul-betul kedinginan. "Nah, mengapa anak lelaki
kesayanganku tidak keluar dari bak mandi dan
menghangatkan badannya yang telanjang di ranjang
ayahnya?"
Agak terhuyung, aku keluar dari bak mandi, mengenakan
pakaian dalamku, lalu naik ke ranjang Ayah yang jadi
basah karena badanku basah. Apa pun alasannya, aku tak
mengerti mengapa Ibu menyuruh aku tidur di kamar tidur
utama, tanpa peduli apakah Ayah sedang di rumah atau
tidak. Ibu sendiri tidur di kamar atas bersama saudarasaudara
lelakiku. Aku tak memedulikannya sama sekali,
asalkan aku tidak tidur di dipan kain tua di basement yang
dingin. Malam itu Ayah pulang, tetapi sebelum aku sempat
mengatakan sesuatu kepadanya, aku sudah terlelap.
Menjelang Natal, semangat hidupku terkuras. Aku tidak
diajak berlibur selama dua minggu. Aku jadi tidak sabar
menunggu saat masuk sekolah lagi. Pada hari Natal aku
memperoleh roller skate. Aku selalu senang mendapat
hadiah Natal. Tetapi hadiah roller skate itu temyata tidak
diberikan dalam semangat Natal. Hadiah itu justru menjadi
alat lain bagi Ibu untuk memaksa aku berada di luar rumah
dan membuat aku menderita. Pada setiap akhir minggu Ibu
menyuruhku bermain roller skate di luar rumah, padahal
anak-anak lain justru berdiam di dalam rumah karena
udara di luar sangat dingin.
Dengan roller skate itu aku berputar-putar di sekitar
wilayah tempat tinggalku, tanpa jaket untuk menahan
dingin. Aku satu-satunya anak di wilayah itu yang bermain
di luar rumah. Lebih dari sekali, Tony, salah seorang
tetangga kami, keluar rumah untuk mengambil koran
sorenya, dan melihat aku bermain skating. Ia tersenyum
lebar kepadaku, lalu cepat-cepat masuk kembali ke dalam
rumah untuk menghindari dinginnya udara di luar. Sebagai
usaha agar badanku tetap hangat, aku meluncur
sekencang-kencangnya. Bisa kulihat asap mengepul dari
cerobong asap di rumah-rumah yang memiliki perapian.
Aku ingin sekali berada di dalam rumah, duduk-duduk
dekat perapian. Biasanya Ibu menyuruhku ber-main
skating selama berjam-jam. Ia memanggil aku hanya jika
ia menginginkan aku menyelesaikan beberapa tugas rumah
tangga.
Pada akhir bulan Maret tahun itu, ketika kami berada di
rumah karena liburan Paskah, Ibu melahirkan. Ketika Ayah
mengantar Ibu ke sebuah rumah sakit di San Francisco,
aku berdoa agar semua itu nyata, bukan berita bohong.
Aku ingin sekali Ibu tidak ada di rumah. Aku tahu kalau Ibu
tidak di rumah, Ayah akan memberiku makan. Selain itu,
aku juga senang karena terbebas dari pukulan-pukulan.
Ketika Ibu sedang di rumah sakit, Ayah membolehkan aku
bermain bersama saudara-saudaraku. Aku langsung saja
diterima kembali oleh mereka. Kami bermain "Star Trek",
dan Ron memberiku kehormatan untuk memerankan tokoh
Kapten Kirk. Hari pertama Ibu di rumah sakit, Ayah
menyajikan roti lapis isi, dan ia mengizinkan aku memakan
roti isi yang kedua.
Saat Ayah menjenguk Ibu di rumah sakit, kami berempat
bermain di rumah tetangga di seberang jalan. Nama
tetangga itu Shirley. la baik terhadap kami semua dan
memperlakukan kami layaknya anak-anaknya sendiri. Ia
terus-menerus mengajak kami bermain, misalnya ber-main
ping-pong, atau sekadar membiarkan kami bermain sepuas
mungkin di halaman luar. Dalam beberapa hal, Shirley
mengingatkan aku pada Ibu yang dulu, sebelum ia mulai
memukuli aku.
Setelah beberapa hari di rumah sakit, Ibu pulang. Ia
melahirkan seorang bayi laki-laki yang diberi nama Kevin.
Beberapa minggu kemudian suasana rumah normal
kembali. Ayah jarang sekali ada di rumah, sedangkan aku
sendiri kembali menjadi pelampiasan segala rasa frustrasi
Ibu.
Ibu jarang sekali bertetangga, maka aneh juga ketika ia
berteman dekat dengan Shirley. Setiap hari mereka sating
mengunjungi. Kalau Shirley berkunjung ke rumah, Ibu
memainkan peran orangtua yang mencintai dan
memperhatikan keluarganya—persis seperti ketika ia
menjadi ibu pembimbing Pramuka Siaga.
Setelah persahabatan Ibu dan Shirley berjalan beberapa
bulan, Shirley bertanya kepada Ibu mengapa David tidak
boleh main bersama saudara-saudara yang lain atau
adiknya. Shirley juga penasaran mengapa David sering
sekali dihukum. Banyak alasan yang dikemukakan Ibu—
David sedang terserang flu-lah, David sedang mengerjakan
tugas khusus dari sekolah-lah, dan sebagainya. Tapi pada
akhimya, Ibu berkata kepada Shirley bahwa David adalah
anak nakal, sehingga ia pantas dihukum untuk waktu yang
lama.
Lalu datanglah saat ketika persahabatan antara Ibu dan
Shirley renggang. Pada suatu hari, tanpa alasan yang jelas,
Ibu memutuskan segala bentuk hubungannya dengan
Shirley. Anak lelaki Shirley dilarang Ibu bermain dengan
anak-anak lelakinya, dan Ibu berlari-lari sekeliling rumah
sambil berseru-seru menyebut Shirley "perempuan jalang".
Sekalipun aku dilarang bermain dengan semua anak lelaki
itu, aku merasa lebih aman kalau Shirley dan Ibu
berteman.
Pada suatu hari Minggu dalam bulan terakhir di musim
panas, Ibu masuk ke ruang tidur utama. Aku sudah ada
ruang tidur itu, sebab sebelumnya Ibu sudah menyuruhku
masuk ke situ. Seperti biasa, aku duduk dalam posisi
tawanan perang. Ibu menyuruh aku berdiri dan duduk
pojok tempat tidur. Kemudian ia berkata kepadaku bahwa
ia sudah lelah menjalani hubungan seperti yang terjadi
antara dia dan aku. Ibu juga berkata bahwa ia menyesal
dan berniat membayar saat-saat yang hilang bersamaku.
Aku tersenyum lebar dan langsung memeluknya erat-erat.
Aku menangis ketika ia mulai mengusap-usap rambutku.
Ibu juga menangis. Pada saat itu aku mulai merasa bahwa
masa sengsaraku selesai. Kulepaskan pelukanku, lalu
kutatap mata Ibu. Aku merasa perlu meyakinkan diri. Aku
merasa perlu mendengar Ibu mengulangi ucapannya.
"Benar-benar sudah selesai?" tanyaku takut-takut.
"Sudah selesai, Sayang. Sejak saat ini aku berharap kau
sama sekali melupakan bahwa pemah terjadi hubungan
yang buruk di antara kita. Kau mau mencoba menjadi anak
baik, bukan?"
Aku mengangguk.
"Kalau begitu, aku akan mencoba jadi ibu yang baik."
Setelah berbaikan, Ibu membolehkan aku mandi air hangat
dan memakai pakaian baru yang kuperoleh sebagai hadiah
Natal tahun sebelumnya. Tadinya aku tidak boleh memakai
pakaian itu. Setelah itu Ibu mengajak aku dan saudarasaudaraku
bermain boling, sementara Ayah di rumah
menunggui Kevin. Dalam perjalanan pulang sehabis main
boling, Ibu mampir ke sebuah toko kelontong dan
membelikan kami masing-masing sebuah mainan. Sampai
di rumah, Ibu berkata bahwa aku boleh main di luar
bersama anak-anak lainnya, tapi pada waktu itu aku lebih
suka bermain sendiri, maka kubawa mainanku ke tempat
tidur utama dan bermain sendirian di situ.
Untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun ini, kecuali
pada hari-hari libur ketika rumah kami kedatangan tamu,
aku makan bersama keluarga di meja makan. Sepertinya
keadaan begitu bertolak belakang, terlalu cepat berubah,
dan entah mengapa sulit bagiku untuk menerima semua ini
begitu saja too good to be true. Betapapun senangnya rasa
hatiku, aku tetap merasa seakan-akan berjalan di atas kulit
telur. Aku mencoba meyakinkan diri bahwa sebentar lagi
Ibu akan terbangun dan kembali kepada jati dirinya.
Temyata tidak. Malam itu aku makan sekenyangku. Aku
pun diizinkan nonton acara televisi bersama saudarasaudaraku
sebelum kami berangkat tidur. Yang juga ganjil
adalah bahwa aku didesak untuk tetap tidur bersama Ayah.
Ibu sendiri berkata bahwa ia ingin tidur bersama bayinya.
Pada siang esok harinya, saat Ayah sedang di tempat
kerjanya, seorang wanita dari dinas sosial datang ke
rumah. Ibu menyuruhku bermain di luar bersama saudarasaudaraku,
sementara ia bercakap-cakap dengan wanita
tadi. Mereka berdua bercakap-cakap lebih dari satu jam
lamanya. Sebelum wanita itu pulang, Ibu memanggilku
masuk rumah. Wanita itu ingin ngobrol sebentar denganku.
Wanita itu ingin tahu apakah aku bahagia. Kujawab ya. Ia
ingin tahu apakah hubunganku dengan Ibu baik-baik saja.
Kujawab ya. Akhimya ia bertanya apakah Ibu pernah
memukul aku. Sebelum menjawab pertanyaan itu, aku
memandang Ibu, yang memperlihatkan senyum ramah.
Rasanya seperti ada bom yang meledak dalam sekali di
perutku. Rasanya seperti mau muntah. Tiba-tiba aku
tersadar mengapa Ibu kembali sikap seratus delapan puluh
derajat terhadapku sehari sebelumnya—secara tiba-tiba ia
jadi begitu baik terhadapku. Aku merasa seperti orang
dungu karena aku mudah terkelabui oleh sikap baiknya itu.
Aku sangat mendambakan cinta, sampai-sampai kutelan
begitu saja perubahan sikapnya.
Sentuhan tangan Ibu pada bahuku mengembalikan aku
pada kenyataan. "Ayo, Sayang, jawab pertanyaannya",
kata Ibu, lagi-lagi sambil tersenyum. "Katakan padanya
aku tidak memberimu makan dan memukulimu seperti
anjing", kata Ibu dengan suara pelan, dan dengan sikapnya
itu Ibu juga berharap wanita itu ikut tertawa.
Kupandang wanita itu. Kurasakan wajahku memerah, dan
bisa kurasakan keringat mulai keluar di keningku. Tidak
berani aku mengatakan yang sebenamya kepada wanita
itu. "Tidak, sama sekali tidak seperti itu", kataku.
"Ibu memperlakukan aku sangat baik".
"Jadi, ia tidak pernah memukulimu?" tanya wanita itu.
"Tidak... emm... maksudku, hanya ketika aku dihukum...
ketika aku jadi anak nakal", kataku, mencoba menutupi
yang sebenamya. Dari raut wajah Ibu ketika ia mendengar
jawabanku, aku tahu bahwa jawabanku itu salah.
Bertahun-tahun ia "mencuci otakku" untuk mengatakan
apa yang harus kukatakan, dan pada saat itu aku
melakukannya dengan buruk sekali. Di lain pihak, aku juga
tahu bahwa wanita itu berhasil menangkap sesuatu dari
komunikasi antara Ibu dan aku.
"Baiklah", kata wanita itu. "Saya cuma mampir dan ingin
tahu keadaan di sini."
Setelah mengucapkan selamat tinggal, Ibu mengantar
tamunya keluar. Ketika wanita itu benar-benar sudah
pergi, Ibu menutup pintu dengan murka.
"Anak sialan!" teriaknya. Begitu Ibu mengangkat dan
mengayunkan tangannya, aku langsung melindungi
wajahku. Ibu memukuliku beberapa kali, lalu mengusir aku
ke basement. Setelah memberi makan anak-anaknya, Ibu
memanggilku ke atas untuk mengerjakan tugas-tugasku
siang itu. Saat mencuci peralatan makan, aku merasakan
perlakuan Ibu kali itu belum seberapa.
Aku jadi tahu bahwa perlakuan baik Ibu terhadapku sekitar
dua hari sebelumnya bukan karena alasan dia mencintaiku
melainkan karena alasan lain. Seharusnya aku tahu itu,
sebab setiap kali ada yang berkunjung ke rumah ini pada
musim liburan, Nenek misalnya, sikap Ibu terhadapku jadi
baik. Bagaimanapun, aku sudah menikmati dua hari yang
menyenangkan. Sudah bertahun-tahun aku tidak
menikmati saat menyenangkan selama dua hari berturutA
turut, jadi aku pantas menikmatinya. Aku kembali
menjalani segala sesuatu yang biasanya kujalani, dan
mengandalkan diriku sendiri untuk bertahan hidup. Paling
tidak, aku tidak lagi harus merasa seperti berjalan di atas
telur yang sewaktu-waktu kulitnya yang tipis amblas
terinjak. Segala sesuatu kembali normal. Aku berfungsi
sebagai pembantu rumah tangga untuk keluarga ini.
Sekalipun mulai bisa menerima nasibku, aku tak pemah
merasa benar-benar sendirian seperti pada beberapa pagi
hari saat Ayah berangkat ke tempat kerja. Pada hari kerja,
Ayah bangun jam lima pagi. Ia pasti tak menyadari bahwa
aku pun terbangun pada saat itu. Aku mendengar Ayah
berjalan ke kamar mandi dan bercukur di sana. Aku
mendengar Ayah berjalan ke dapur untuk mencari
makanan. Aku tahu kalau Ayah sudah memakai sepatunya,
itu berarti ia sudah siap meninggalkan rumah. Ada kalanya
aku membalikkan badanku persis pada saat Ayah
mengangkat tas biru tuanya yang bertuliskan Pan Am dan
berisi pakaian untuk menginap. Ayah pasti mencium
keningku, lalu berbisik, "Berusahalah membuat Ibu senang
dan tak usahlah menghalanginya".
Aku pasti menangis, walaupun sudah berusaha untuk tidak
menangis. Aku tak ingin Ayah pergi. Itu tak pemah
kukatakan padanya, tetapi aku yakin ia tahu. Setelah
kudengar Ayah menutup pintu depan, kuhitung langkahnya
dan aku tahu sampai hitungan ke berapa ia akan sampai
ke trotoar. Aku masih bisa mendengar langkah-langkahnya
yang semakin jauh. Dalam anganku, aku melihat Ayah
berbelok ke kiri, lalu menunggu bus yang akan
membawanya ke San Francisco. Ada kalanya, kalau sedang
merasa cukup berani, aku turun cepat-cepat dari tempat
tidur, berlari ke jendela kamar, dan dari kaca jendela aku
masih sempat melihat sosok Ayah. Tapi biasanya aku
berbaring saja di tempat tidur, berguling ke bagian yang
ditiduri Ayah yang masih terasa hangat. Aku
membayangkan masih bisa mendengar suara Ayah
meskipun ia sudah lama pergi. Dan ketika aku menyadari
Ayah benar-benar sudah pergi, aku mulai
kedinginan, terasa ada kekosongan dalam jiwaku. Aku
sangat mencintai Ayah. Aku ingin bersama dia selamanya,
dan aku menangis dalam hati sebab aku tak pemah tahu
kapan aku akan bertemu Ayah lagi.
********



"...DAN BEBASKANLAH
AKU DARI YANG JAHAT"

Kira-kira satu bulan sebelum aku masuk ke kelas lima, aku
semakin yakin, bahwa bagiku Tuhan tak ada.
Saat sedang duduk sendirian di basement atau membaca
sendirian dengan bantuan cahaya matahari sore di tempat
tidur orangtuaku, aku semakin yakin bahwa hidupku tidak
akan berubah sampai aku mati. Tak ada Tuhan yang adil
yang membiarkan aku hidup seperti ini. Aku percaya
bahwa aku sendirian dalam perjuanganku dan bahwa
perjuanganku adalah perjuangan mempertahankan hidup.
Ketika aku meyakini bahwa Tuhan tidak ada, rasa sakit
fisik tidak kurasakan. Setiap kali Ibu menghantamku,
rasanya seakan-akan ia sedang melampiaskan rasa
berangnya pada sebuah boneka rombeng. Di dalam,
emosiku berpusar antara rasa takut dan rasa marah yang
amat sangat. Di luar, aku adalah robot yang jarang
mengungkapkan emosi kecuali kalau itu akan
menyenangkan Si Perempuan Jalang dan menguntungkan
diriku. Aku menahan air mata, tak sudi aku menangis
sebab aku tak ingin memberi dia kepuasan karena aku
kalah.
Pada malam hari, aku tidak lagi bermimpi. Pada siang hari,
aku tak membiarkan diriku berangan-angan. Khayalan
khayalanku menjadi Superman yang dulu begitu hidup,
sekarang tak ada lagi. Saat tertidur, jiwaku bagai masuk
ke sebuah lubang hitam. Pada pagi hari aku tak lagi
terbangun dalam keadaan segar; aku selalu merasa lelah
dan berkata pada diri sendiri bahwa hidupku di dunia ini
berkurang satu hari lagi.
Kuselesaikan tugasku yang satu, kemudian mengerjakan
yang lainnya, lalu mengerjakan yang lainnya lagi, selalu
dengan perasaan takut, setiap hari. Tanpa satu pun mimpi,
kata-kata seperti harapan dan iman bagiku hanya
rangkaian huruf yang tersusun begitu saja menjadi sesuatu
yang tak punya artikata-kata seperti itu cuma ada dalam
dongeng.
Saat mendapat makanan, aku seperti sedang berpesta.
Kulahap makanan itu seperti seekor anjing yang tak punya
tuan—menggeram, siap menerkam, bersamaan dengan
perintah Ibu. Tak lagi aku peduli bahwa Ibu melihat
sikapku itu sebagai hal yang memuaskan dirinya—yang
penting bagiku adalah melahap secepat kilat makanan
yang diberikan kepadaku sampai tandas. Tak ada lagi yang
lebih rendah daripada diriku.
Pada suatu hari Sabtu, saat aku sedang mencuci peralatan
sarapan, kulihat Ibu menaruh sisa-sisa pancake dari
sebuah piring ke tempat makan anjing peliharaannya.
Binatang peliharaannya yang terawat baik itu memakan
sisa-sisa pancake tadi sampai puas, lalu pergi mencari
tempat untuk tidur. Masih ada sisa pancake di tempat
makan anjing itu. Beberapa saat kemudian, setelah
menaruh teko dan panci di laci bawah, aku merangkak
menuju tempat makan anjing tadi, lalu memakan sisa
pancake yang tersisa di tempat makan itu. Saat
mengunyah, aku bisa mencium bau anjing pada pancake
itu, tapi tetap kumakan juga. Aku tak peduli. Aku
menyadari betul kalau perempuan jalang itu memergoki
aku memakan makanan yang menjadi hak anjingnya, aku
harus menanggung risikonya. Bagaimanapun, mendapat
makanan—entah bagaimana caranya—adalah satu-satunya
cara bertahan hidup bagiku.
Jiwaku menjadi sangat dingin. Aku membenci segala
sesuatu. Bahkan matahari kucemooh dengan marah, sebab
aku tahu aku tak bakal bisa bermain pada saat sinamya
memancar hangat. Aku diselimuti oleh kemarahan setiap
kali mendengar tawa riang anak-anak lain yang sedang
bermain di halaman luar. Setiap saat mencium bau
makanan yang akan dihidangkan kepada orang lain,
perutku serasa dipilin karena aku tahu makanan itu pasti
bukan untukku. Setiap kali dipanggil untuk menjalankan
fungsi budak bagi keluarga ini, aku selalu ingin
melampiaskan kemarahan dengan menghantam apa saja.
Ibulah yang paling kubenci. Aku berharap dia mati saja.
Tetapi sebelum dia mati, aku ingin dia merasakan berlipat
kali rasa sakit dan kesepian yang kurasakan selama
bertahun-tahun. Ketika aku masih biasa berdoa kepada
Tuhan, hanya sekali doaku dikabulkan. Pada suatu hari,
ketika usiaku lima atau enam tahun, Ibu memukuliku di
mana pun aku berada di rumah itu. Malam harinya,
sebelum tidur, aku berlutut dan berdoa. Aku meminta
Tuhan untuk membuat Ibu sakit supaya dia tidak
memukuliku lagi. Aku berdoa dengan sangat khusyuk dan
lama sekali, sampai-sampai kepalaku pening.
Esok paginya aku sangat terkejut karena Ibu benar-benar
sakit. Seharian dia berbaring saja di kursi panjang, hampir
tidak bergerak-gerak. Karena Ayah di tempat kerjanya,
aku dan saudara-saudaraku merawat Ibu seakan-akan dia
pasien kami.
Seiring berlalunya tahun dan hukuman-hukuman Ibu yang
semakin intens, aku mulai berpikir tentang usia Ibu kirakira
pada umur berapa dia akan mati. Aku mendambakan
saat ketika jiwa-nya diambil dan dibuang ke neraka yang
paling dalam, dan baru pada saat itulah aku bisa terbebas
darinya.
Aku juga membenci Ayah. Ia tahu persis bahwa aku hidup
dalam neraka, tetapi ia tak punya cukup keberanian untuk
membebaskan aku dari neraka itu seperti yang berkali-kali
ia janjikan pada tahun-tahun sebelumnya. Kalau aku
pikirkan hubunganku dengan Ayah, aku sampai pada
kesimpulan bahwa ia menganggap aku sebagai bagian dari
masalah. Aku yakin Ayah menganggap aku bersikap
membangkang. Hampir pada setiap percekcokan antara
Ibu dan Ayah, perempuan jalang itu melibatkan diriku. Ibu
akan menyeretku dari mana pun aku sedang berada, lalu
menyuruh aku mengulangi setiap perkataan kasar yang
pernah dilontarkan Ayah dalam banyak cekcok mereka
sebelumnya.
Aku tahu persis tujuan permainan Ibu, tetapi ketika aku
harus memilih siapa yang harus kuturuti dalam keadaan
seperti itu tidaklah sulit. Kemurkaan Ibu jauh lebih buruk
bagiku. Maka, aku selalu mengangguk sambil dengan
takut-takut mengucapkan kata yang Ibu ingin dengar. Di
depan Ayah, Ibu meneriakkan kata-kata kasar yang pernah
aku ucapkan di depan Ibu, padahal kata-kata itu aku
ucapkan atas perintah Ibu.
Sering kali aku lupa kata-kata yang harus kuucapkan, dan
pada saat-saat seperti itu Ibu memaksaku untuk mencaricari
kata lain. Situasi seperti itu membuat aku merasa
sangat tidak enak, sebab itu berarti aku menghindari
pukulan-pukulan dengan cara menggigit tangan yang
selama masa itu paling sering memberiku makanan.
Mulanya aku mencoba menjelaskan kepada Ayah mengapa
aku berbohong dan memusuhinya. Waktu itu Ayah
mengaku bahwa ia mempercayai aku, namun akhimya aku
tahu bahwa ia tidak lagi bisa mempercayai aku. Sikapnya
itu bukannya membuat aku menyesal atau sedih. Aku
malah semakin membenci ayah.
Anak-anak lelaki yang tinggal di lantai atas itu bukan lagi
saudara-saudara kandungku. Pada awal-awal
penderitaanku mereka memang pernah sesekali mencoba
menguatkan diriku. Tetapi pada musim panas tahun 1972
mereka mulai bergantian memukuli aku dan tampaknya
senang sekali memerintah aku untuk melakukan sesuatu
bagi mereka. Jelas bahwa mereka merasa lebih berkuasa
dibandingkan seorang budak di keluarga itu. Setiap kali
mereka mendekati aku, hatiku mengeras seperti batu, dan
aku tahu persis mereka bisa melihat rasa benci yang
tergambar pada raut wajahku. Sekalipun amat jarang dan
selalu dengan perasaan kosong, aku pemah merasa
menang terhadap mereka. Pada saat seperti itu, dengan
geram dan suara tertahan supaya tidak terdengar oleh
mereka, kulontarkan kata "asshole". Aku pun jadi
membenci para tetangga, para saudara, dan siapa pun
yang mengenal aku dan tahu apa yang kualami. Rasa
benci, tinggal itulah satu-satunya yang kumiliki.
Tetapi yang paling aku benci sebetulnya adalah diriku
sendiri. Semakin hari aku semakin percaya bahwa segala
sesuatu yang menimpa diriku atau terjadi di sekitarku
adalah akibat kesalahanku sendiri karena aku membiarkan
semua itu berlangsung sekian lama. Aku menginginkan apa
yang dimiliki orang lain, tetapi aku tak bisa memilikinya,
maka aku membenci semua orang yang memiliki apa saja
yang tak bisa kumiliki.
Aku ingin menjadi kuat, tetapi dalam hati aku tahu aku
orang yang rapuh. Aku tak pemah punya keberanian untuk
melawan perempuan jalang itu, maka aku tahu
sepantasnyalah aku menerima segala sesuatu yang
menimpa diriku. Bertahun-tahun Ibu mencuci otakku
dengan menyuruhku berteriak sekeras-kerasnya, "Aku
benci diriku! Aku benci diriku!" Usahanya itu berhasil.
Beberapa minggu sebelum aku masuk ke kelas lima, aku
merasa sangat membenci diriku sendiri sampai-sampai aku
merasa ingin mati saja.
Bagiku, sekolah tidak lagi menarik seperti tahun-tahun
sebelumnya. Aku berjuang keras memusatkan perhatian
pada pelajaran, tetapi rasa marah yang kupendam sering
kali menggelegak di saat-saat yang tidak tepat.
Pada suatu hari Jumat siang di musim dingin tahun 1973,
tanpa alasan yang jelas, aku menghambur keluar kelas,
berteriak kepada siapa pun yang berpapasan denganku.
Pintu kelas kubanting keras-keras sampai-sampai aku
sempat berpikir kacanya pasti pecah berantakan. Aku
berlari ke kamar kecil, dan seperti kesetanan kuhantam
dinding berkeramik di kamar kecil itu berkali-kali dengan
tinjuku yang kecil sampai tenagaku terkuras. Sesudah itu
aku terkapar, berdoa memohon ada mukjizat. Dan
mukjizat itu tidak pemah datang.
Bagaimanapun, waktu-waktu di luar ruang kelas masih
lebih mendingan daripada di dalam "rumah neraka" Ibu.
Karena aku ini murid yang dikucilkan oleh semua murid
lain, teman-teman sekelasku sering menggantikan peran
Ibu memukuli aku. Salah seorang dari mereka bernama
Clifford. Clifford senang berkelahi di sekolah, dan pada
waktu-waktu tertentu ia menghadangku pada saat aku
sedang berlari pulang dari sekolah. Dengan memukuli aku,
Clifford ingin menunjukkan kehebatannya di hadapan
teman-temannya. Kalau sudah begitu, paling-paling aku
menjatuhkan diri ke tanah sambil melindungi kepalaku,
sementara Clifford dan gengnya menendang aku silih
berganti.
Lain lagi dengan Aggie. Teman perempuan sekelasku ini
sama-sama sering "menyiksa" aku, tetapi caranya
berbeda. Ia selalu bisa menemukan cara baru untuk
mengatakan betapa ia menginginkan aku "mati mendadak"
dan lenyap begitu saja. Aggie selalu berpamer diri. Ia
selalu ingin memperlihatkan dirinya sebagai pemimpin
sekelompok kecil teman-teman perempuannya. Selain
mencemooh dan menyakiti aku, Aggie dan kelompoknya
terlihat puas memamerkan pakaian mereka yang bagusbagus.
Aku sendiri tahu bahwa sejak semula Aggie tidak pemah
menyukaiku, namun aku tidak tahu sampai sejauh apa ia
tidak menyukai aku. Dan aku mengetahui hal itu baru pada
hari terakhir kami di kelas empat. Ibu Aggie mengajar aku
di kelas pagi, dan pada hari terakhirku di kelas empat itu
Aggie masuk kelas, bergaya seperti orang mau muntah,
sambil berkata,
"David Pelzer Smellzer tahun depan akan menjadi muridku
di kelas ini".
Tiada hari yang ia lewati tanpa mengeluarkan cemoohan
terhadap diriku di hadapan teman-temannya. Aku tidak
terlalu memedulikan Aggie, sampai ketika kami muridmurid
kelas lima melakukan studi wisata ke salah satu
Clipper Ship di San Francisco. Ketika aku sedang sendirian
berdiri di bagian lambung kapal memandangi air laut,
Aggie mendekati aku dengan senyumnya yang licik dan
berkata dengan suara pelan, "Loncat!" Ia membuatku
terkejut. Kuperhatikan raut wajahnya, mencoba
memahami apa yang ia inginkan. Sekali lagi ia berkata,
pelan dan tenang,
"Aku bilang, jangan ragu-ragu, ayo meloncatlah. Aku tahu
segala sesuatu mengenai dirimu, Pelzer, dan meloncat ke
laut adalah satu-satunya cara bagimu untuk keluar dari
masalahmu".
Terdengar suara lain dari belakang Aggie, "Ya, betul itu".
Itu suara John, teman kelasku juga, salah satu "pengawal"
Aggie yang bertubuh kekar. Kualihkan pandanganku dari
mereka ke air laut berwama hijau yang mengempas-empas
lambung kayu kapal. Sejenak kubayangkan diriku terjun ke
air laut, dan aku tahu aku pasti tenggelam. Nyaman sekali
rasanya punya pikiran seperti itu, sebab kalau aku mati
tenggelam berarti aku terbebas dari Aggie, temantemannya,
dan semua saja yang kubenci di dunia ini.
Tetapi aku tersadar kembali, lalu aku menengadah dan
kutatap langsung mata John. Kucoba untuk tidak
mengalihkan tatapanku pada John. Beberapa saat
kemudian, John pasti bisa merasakan kemarahanku sebab
ia beranjak pergi sambil mengajak Aggie.
Pada awal tahun ajaran kelas lima, Mr. Ziegler, guruku di
kelas pagi, tidak mengerti mengapa aku menjadi murid
yang bermasalah. Baru kemudian perawat sekolah
memberitahu Mr. Ziegler mengapa aku mencuri makanan
dan mengapa pakaian yang kukenakan begitu lusuh.
Berdasarkan informasi itu, Mr. Ziegler berusaha keras
memperlakukan aku sebagaimana murid normal lainnya.
Salah satu tugas Mr. Ziegler sebagai sponsor koran sekolah
adalah membentuk sebuah komite yang terdiri dari muridmurid
sekolah untuk mencari sebuah nama bagi koran
sekolah itu. Aku mengajukan usul sebuah nama yang
menarik, dan seminggu kemudian usulanku itu masuk
dalam daftar usulan yang akan dipilih melalui pemilihan
yang diikuti seluruh murid dan staf sekolah. Usulan nama
yang kuajukan menang telak. Beberapa jam setelah
pemilihan itu selesai, Mr. Ziegler memanggilku dan
mengatakan betapa bangganya ia bahwa nama yang
kuusulkan memenangkan pemilihan.
Aku menikmati pujian itu seperti busa kering menyerap air.
Nyaris aku menangis karena sudah sedemikian lama tak
ada yang mengatakan sesuatu yang positif mengenai
diriku. Usai sekolah pada hari itu, setelah menjamin bahwa
aku tak akan mendapat masalah, Mr. Ziegler memberiku
surat yang harus kuserahkan kepada Ibu.
Dengan perasaan bangga bercampur gembira, aku berlari
kencang penuh semangat pulang ke rumah Ibu.
Seharusnya aku sudah bisa menduga bahwa
kegembiraanku tak akan berumur panjang.
Perempuan jalang itu dengan kasar membuka surat yang
kuberikan, membacanya cepat-cepat, dan berkata dengan
sikap mencemooh,
"Jadi, Mr. Ziegler berkata bahwa aku sepantasnya bangga
terhadapmu karena kau berhasil memberi nama yang
paling menarik untuk koran sekolah. Ia juga menyatakan
bahwa kau adalah salah satu murid terpandai di kelasnya.
Wah, bukankah itu berarti kau istimewa?"
Tiba-tiba suaranya berubah jadi sedingin es dan ia
menuding-nudingkan telunjuknya ke wajahku dan berkata
tajam,
"Terus terang kukatakan padamu, bangsat kecil! Kau tak
bisa melakukan apa pun yang membuat aku terkesan!
Paham? Kau bukan siapa-siapa, nobody! Kau adalah
sesuatu, it! Kau tak pernah ada! Kau anak brengsek! Aku
membencimu dan aku berharap kau mati! Mati! Kau
dengar? Mati!"
Setelah merobek-robek surat itu menjadi potongan
potongan amat kecil, Ibu meninggalkan aku, kembali asyik
menikmati acara televisi. Aku berdiri tak bergerak,
memandangi surat yang terserak menjadi potonganpotongan
kecil seperti butiran salju di kakiku. Sekalipun
aku sudah berkali-kali mendengar semua perkataan yang
tadi diucapkan Ibu, kali ini kata "It" membuat diriku
tertegun tidak seperti biasanya. Ibu telah menghilangkan
seluruh keberadaanku. Segala sesuatu telah kulakukan
sebaik mungkin untuk mendapat pengakuan dari-nya.
Tetapi, sekali lagi, aku gagal. Hatiku semakin kecil dan
kecil. Ibu mengatakan semua itu bukan karena sedang
mabuk; semua perkataan itu keluar dari hatinya.
Aku berlutut, mencoba menyatukan kembali surat yang
sudah menjadi potongan-potongan kecil itu. Tidak
mungkin. Kubuang potongan-potongan surat itu ke tempat
sampah, sambil berharap hidupku cepat berakhir saja.
Pada saat itu aku yakin bahwa bagiku kematian akan lebih
baik daripada kemungkinan memperoleh kebahagiaan. Aku
bukan siapasiapa, bukan apa-apa. Aku sekadar "sesuatu",
"It".
Semangat hidupku menjadi sedemikian rendah, sampai
sampai aku berharap Ibu benar-benar membunuhku, dan
kupikir pada akhirnya itu akan ia lakukan juga. Menurut
perkiraanku semua itu sekadar menunggu saat kapan ia
mau melakukannya. Maka aku pun mulai sengaja
bertingkah yang membuatnya marah, dengan harapan ia
akan terpancing untuk segera mengakhiri kesengsaraanku.
Aku mulai sembarangan mengerjakan tugas-tugasku. Aku
sengaja "lupa" tidak menyikat lantai kamar mandi, dengan
harapan Ibu atau salah satu pangeran kecilnya terpeleset
dan jatuh, kesakitan karena membentur lantai yang keras.
Aku sengaja membiarkan peralatan makan malam yang
kucuci sedikit kotor. Aku berharap perempuan jalang itu
tahu bahwa aku tak lagi peduli akan apa pun.
Sikapku berubah, aku jadi semakin memberontak. Sebuah
peristiwa terjadi di sebuah toko swalayan pada suatu hari.
Biasanya, setiap kali berbelanja di toko itu, aku disuruh
tinggal di mobil. Tetapi pada hari itu, tanpa alasan yang
jelas, lbu memutuskan mengajak aku masuk ke toko. la
menyuruhku meletakkan salah satu tanganku pada kereta
belanja dan menundukkan kepala ke arah lantai. Dengan
terang-terangan aku menolak semua perintahnya. Aku
tahu ia tidak akan menarik perhatian pembeli lain di toko
itu, maka aku berjalan tidak terlalu jauh di depan kereta
belanja. Kalau saudara-saudaraku menegur kelakuanku,
aku balik membentak mereka. Aku sekadar mau
mengatakan pada diriku sendiri bahwa aku tak lagi sudi
menjadi budak orang lain.
Ibu tahu bahwa pembeli lain di toko itu sedang
memperhatikan kami dan bisa mendengar keributan yang
kami buat, maka beberapa kali ia memegang tanganku dan
berkata padaku dengan suara lembut agar aku tenang. Aku
merasa sangat senang berada di atas angin selama berada
di toko itu, tetapi aku juga sadar bahwa begitu kami
berada di luar toko, aku harus membayar risikonya.
Persis seperti dugaanku, Ibu membentak-bentak aku
bahkan sebelum kami masuk mobil. Begitu kami masuk
mobil, Ibu menyuruh anak-anak lelakinya untuk
menginjak-injak aku. Kemudian begitu kami masuk rumah,
Ibu langsung membuatkan aku campuran amoniak dan
Clorox. Ia pasti bisa menduga bahwa aku menggunaka
kain lap untuk menutupi hidung dan wajahku sebab ia
menceburkan kain lap itu ke dalam ember. Begitu ia
menutup pintu kamar mandi, aku langsung ke ventilasi
tempat keluar masuk udara dari mesin pemanas.
Mesinnya tidak menyala. Tak udara segar yang masuk dari
ventilasi itu. Aku pasti sudah berada di kamar mandi lebih
dari satu jam, sebab uap berwama abu-abu sudah
memenuhi ruangan sampai ke lantai. Mataku berair
banyak, yang tampaknya menambah daya kerja uap
beracun itu. Aku mengeluarkan ingus dan megap-megap
sampai rasanya mau pingsan. Begitu Ibu akhimya
membuka pintu kamar mandi, aku langsung menghambur
ke luar, tetapi tangannya mencengkeram leherku. la
mendorong wajahku ke ember, tapi aku melawan. Ibu
gagal melakukan kehendaknya.
Rencanaku untuk bersikap memberontak pun gagal.
Setelah kejadian di "kamar gas" yang memakan waktu
lebih lama daripada biasanya itu, aku kembali menjadi
pribadi yang rapuh. Tetapi jauh dalam jiwaku aku masih
bisa merasakan dorongan naik yang semakin menguat
seperti sebuah gunung berapi yang menunggu saatnya
untuk meletus.
Satu-satunya yang membuat aku tetap waras adalah
adikku yang masih bayi, Kevin. Ia adalah bayi yang manis
dan aku mencintainya. Sekitar tiga setengah bulan
sebelum ia dilahirkan, Ibu mengizinkan aku menonton
acara kartun spesial Natal. Setelah acara itu selesai, tanpa
alasan yang jelas bagiku, Ibu menyuruh aku duduk di
kamar saudaraku. Beberapa menit kemudian ia masuk ke
kamar itu dengan begitu tiba-tiba, memiting leherku
dengan tangannya, dan mencekik aku. Aku meronta tak
karuan, mencoba membebaskan diri dari pitingannya. Pada
saat aku merasa ingin pingsan, kudepakkan kakiku tanpa
arah yang jelas, yang temyata tepat mengenai bagian
tubuh di antara kedua kakinya, dan itu membuatnya
melepaskan pitingannya. Di kemudian hari, aku menyesali
kejadian itu.
Sekitar satu bulan setelah kejadian Ibu berusaha mencekik
aku itu, ia berkata padaku bahwa aku menendang
perutnya keras sekali yang bisa-bisa menyebabkan bayi
dalam kandungannya menderita cacat lahir permanen. Aku
merasa seperti seorang pembunuh. Tidak cuma kepadaku
Ibu menceritakan kejadian itu. Ia punya beberapa versi
mengenai kejadian itu, yang ia ceritakan kepada siapa saja
yang mendengarkan omongannya. Ibu bilang, ia mencoba
memeluk aku, tetapi aku berkali-kali menendang dan
memukul perutnya. Kata Ibu, itu aku lakukan karena aku
iri terhadap bayi yang akan ia lahirkan. Ibu bilang, aku
takut bayi itu kelak mendapat perhatian yang lebih besar
dari Ibu.
Aku betul-betul mencintai Kevin, tetapi karena aku tak
diizinkan bahkan untuk melihat-nya atau melihat saudarasaudaraku
yang lain, aku tak punya kesempatan untuk
menunjukkan perasaanku. Aku ingat betul akan suatu hari
Sabtu, ketika Ibu mengajak anak-anak lelakinya yang lain
nonton baseball di Oakland, sementara Ayah tinggal di
rumah untuk mengasuh Kevin, sedangkan aku sendiri
mengerjakan tugas-tugasku.
Setelah kuselesaikan semua tugasku, Ayah mengeluarkan
Kevin dari tempat tidur bayinya. Aku senang
memperhatikan dia merangkak berputar-putar dalam
pakaiannya yang membuat dia makin menggemaskan.
Menurutku, dia manis. Kalau Kevin mengangkat kepalanya
dan tersenyum padaku, hatiku luluh. Ia bisa membuatku
melupakan segala penderitaanku untuk sementara waktu.
Kepolosannya seakan-akan menghipnotis aku, sebab aku
mengikutinya terus ke mana pun ia merangkak; aku
membersihkan liur yang membasahi sekitar mulutnya dan
selalu berada dekat dengannya untuk menjagainya.
Sebelum Ibu pulang, aku sempat bermain kue pastel
dengan Kevin. Tawa Kevin membuat hatiku hangat. Sejak
saat itu, setiap kali aku merasa tertekan, aku ingat Kevin.
Jiwaku tersenyum setiap kali kudengar Kevin berteriak
atau tertawa gembira.
Perasaan hangat karena pertemuan singkatku dengan
Kevin tidak bertahan lama, sebab rasa benci dalam hatiku
muncul kembali. Aku berusaha keras memendam
perasaanku itu, tapi tak bisa. Aku tahu aku tidak pernah
ditakdirkan untuk dicintai. Aku tahu aku tak pemah
menikmati kehidupan seperti yang dinikmati saudarasaudara
lelakiku. Yang paling buruk, aku tahu bahwa pada
saatnya nanti Kevin juga akan membenciku, seperti
saudara-saudara kandungku yang lain.
Menjelang akhir musim gugur tahun itu, Ibu mulai
melampiaskan rasa frustrasinya ke lebih banyak lagi
sasaran. Ia sangat membenciku seperti dulu, namun ia
mulai memusuhi teman-temannya, suaminya, saudara
kandungnya, ibunya.
Sekalipun masih anak kecil, aku bisa merasakan bahwa
hubungan Ibu dengan keluarganya tidak sehat. Ibu merasa
semua orang berusaha menasihatinya. Ibu tidak pemah
merasa nyaman, apalagi bersama ibunya sendiri yang juga
berkepribadian kuat. Biasanya Nenek mengajak Ibu
membeli baju baru atau pergi ke salon kecantikan. Ibu
tidak sekadar menolak semua tawaran itu. Ia berteriakteriak
dan menjerit-jerit kepada Nenek, sampai akhimya
Nenek meninggalkan rumah-nya.
Kadang kala Nenek mencoba membantuku, tetapi itu
malah membuat keadaan lebih buruk lagi. Ibu menegaskan
bahwa penampilannya dan caranya mengasuh keluarganya
"sama sekali bukan urusan orang lain". Setelah beberapa
kali cekcok seperti itu, Nenek jadi jarang berkunjung ke
rumah Ibu.
Mendekati musim liburan, Ibu dan Nenek semakin sering
bertengkar di telepon. Ia menyebut ibunya sendiri dengan
sejumlah nama jahat yang bisa ia bayangkan.
Pertengkaran antara Ibu dan Nenek berakibat buruk
bagiku, sebab di akhir pertengkaran itu aku sering jadi
sasaran kemarahan Ibu. Pemah aku dengar dari basement,
Ibu memanggil semua saudara kandungku ke dapur, lalu
berkata kepada mereka bahwa mereka tidak lagi punya
Nenek, tidak ada lagi Paman Dan.
Dalam hubungannya dengan Ayah pun, Ibu bersikap
kejam. Pada saat Ayah pulang, entah itu sekadar untuk
berkunjung atau bermalam satu hari, Ibu langsung
berteriak-teriak kepada Ayah padahal Ayah baru saja
masuk rumah. Akibatnya, Ayah sering pulang dalam
keadaan mabuk. Agar tidak berurusan dengan Ibu, Ayah
sering mengerjakan hal-hal yang ganjil di luar rumah.
Kemurkaan Ibu bahkan mengejar Ayah sampai ke tempat
kerjanya. Ibu sering menelepon Ayah ke tempat kerjanya
dan mengatainya dengan berbagai sebutan. "Orang yang
tidak berguna" dan "Pemabuk" adalah dua sebutan yang
paling sering digunakan Ibu untuk mengatai Ayah. Setelah
beberapa kali mendapat telepon seperti itu, seorang
anggota pemadam kebakaran teman sekerja Ayah yang
menerima telepon-telepon Ibu menggantungkan gagang
teleponnya begitu saja dan tidak memanggil Ayah. Itu
membuat Ibu murka dan, lagi-lagi, akulah sasaran
kemurkaannya itu.
Untuk sementara waktu Ibu melarang Ayah pulang. Kami
cuma bertemu dengannya saat pergi ke San Francisco
untuk mengambil bukti pembayaran gajinya. Suatu kali,
dalam perjalanan mengambil bukti pembayaran gaji Ayah,
kami melewati Golden Gate Park. Sekalipun diriku selalu
dipenuhi kemarahan, aku sempat terkenang akan hari-hari
bahagia saat taman itu memiliki arti besar bagi seluruh
keluarga ini. Ketika kami melewati taman itu dalam
perjalanan mengambil bukti pembayaran gaji Ayah, semua
saudaraku pun terdiam. Tampaknya kami semua
merasakan bahwa taman itu sudah kehilangan daya
tariknya, dan bahwa hari-hari bahagia kami di taman itu
tak akan pemah kembali lagi. Aku menduga saudarasaudara
kandungku pun merasa bahwa hari-hari bahagia
itu tidak akan pemah kembali bagi mereka juga.
Sikap Ibu terhadap Ayah berubah, tetapi untuk waktu yang
tidak lama. Pada suatu hari Minggu, Ibu menyuruh semua
anaknya naik ke mobil. Kami diajak masuk ke toko yang
satu ke toko yang lain untuk mencari rekaman lagu-lagu
Jerman. Ibu ingin menciptakan suasana istimewa untuk
Ayah pada saat ia pulang nanti. Sepanjang siang harinya
Ibu sibuk menyiapkan sebuah pesta, dengan gairah seperti
tahun-tahun sebelumnya. Berjam-jam ia membenahi
rambutnya dan mengenakan make-up. Ibu bahkan
mengenakan gaun yang mengingatkan orang akan pribadi
Ibu dulu. Aku yakin Tuhan mengabulkan doaku. Saat Ibu
sibuk menata ini itu di seluruh penjuru rumah, aku
memikirkan hidangan yang dimasak Ibu. Aku pikir
tentunya Ibu melunakkan hatinya untuk mengizinkan aku
makan bersama keluarga. Itu harapan kosong.
Waktu terus berlalu. Ayah diperkirakan sampai di rumah
jam satu siang. Setiap kali mendengar suara mobil
mendekati rumah, Ibu berlari ke pintu depan untuk
menyambut Ayah dengan hangat. Sekitar jam empat sore
Ayah sampai di rumah, sempoyongan, bersama seorang
teman kerjanya.
Suasana pesta di rumah membuatnya terkejut. Dari kamar
tidur aku bisa mendengar suara Ibu yang tertahan saat ia
berusaha keras untuk bersabar menghadapi Ayah.
Beberapa menit kemudian Ayah masuk kamar tidur, masih
sempoyongan. Aku memandanginya dengan heran. Belum
pemah kulihat Ayah semabuk itu. Bisa kucium bau
minuman keras, bahkan tanpa Ayah perlu membuka
mulutnya. Sorot matanya lebih memancarkan rasa putus
asa yang membuatnya tidak lagi mampu berdiri tegar.
Bahkan sebelum Ayah membuka pintu lemari pakaian, aku
sudah tahu apa yang akan ia lakukan. Aku tahu kenapa ia
pulang. Begitu ia menyiapkan tas biru gelap-nya, aku mulai
menangis dalam hati. Ingin rasanya tubuhku mengecil lalu
melompat masuk ke dalam tasnya itu, dan ikut pergi
bersamanya.
Setelah selesai berkemas, Ayah berlutut dan
menggumamkan sesuatu kepadaku. Semakin kuamati
Ayah, semakin kakiku terasa lemas. Otakku jadi buntu oleh
berbagai pertanyaan. Di manakah pahlawanku? Apa yang
terjadi padanya? Ketika Ayah membuka pintu untuk keluar
dari kamar tidur, teman kerjanya yang mabuk menabrak
Ayah, hampir membuat Ayah jatuh. Ayah menggelenggelengkan
kepalanya dan berkata dengan suara sedih,
"Aku tak sanggup lagi menanggung semua ini. Semuanya.
Ibumu, rumah ini, dirimu. Aku betul-betul tak sanggup
lagi".
Sebelum ia menutup pintu kamar, aku masih sempat
mendengar ia bergumam, "Ma... Ma... Maafkan aku".
Makan malam Thanksgiving tahun itu berantakan. Demi
menunjukkan sikap baik sebagai orang beriman, Ibu
mengizinkan aku makan di meja bersama keluarga. Aku
tenggelam di kursiku. Aku mencoba tenang, berusaha
keras untuk tidak mengatakan atau melakukan sesuatu
yang bisa membuat Ibu marah. Aku bisa merasakan
ketegangan di antara kedua orangtuaku. Mereka hampir
tidak berbicara sama sekali, sementara kakak-kakak dan
adikku mengunyah makanan mereka dengan diam. Hampir
saja makan malam itu berakhir ketika kata-kata kasar
mulai saling dilontarkan.
Setelah cekcok itu selesai, Ayah pergi. Ibu mengambil
botol minumannya, lalu duduk sendirian di sofa, dan
menikmati gelas demi gelas minuman ber-alkoholnya. Aku
membereskan meja makan dan mencuci semua
peralatannya. Pada saat itu aku berpikir bahwa kelakuan
Ibu pada malam itu tidak hanya mempengaruhi diriku.
Tampaknya saudara-saudara kandungku pun merasakan
rasa takut yang sama seperti yang selama bertahun-tahun
ini kurasakan.
Selama beberapa waktu, Ibu dan Ayah sama-sama
berusaha menahan diri. Namun menjelang Natal, kedua
orangtuaku itu merasa sudah tidak bisa lagi
mempertahankan sikap di antara mereka. Menahan diri,
mencoba bersikap baik satu sama lain tak lagi bisa mereka
pertahankan. Saat duduk di anak tangga atas, sementara
saudara-saudara kandungku membukai bungkusanbungkusan
hadiah Natal mereka, bisa kudengar Ibu dan
Ayah cekcok lagi. Aku berdoa, memohon agar mereka
berbaikan, meskipun untuk satu hari yang istimewa itu
saja. Pada pagi Hari Natal itu aku sadar bahwa kalau Tuhan
menginginkan Ibu dan Ayah bahagia, maka aku harus
mati.
Beberapa hari kemudian, Ibu mengepak semua pakaian
Ayah ke dalam beberapa kardus, lalu bermobil bersama
semua anaknya, termasuk aku, menuju suatu tempat
beberapa blok setelah tempat kerja Ayah. Di sana, di
depan sebuah motel yang kumuh, Ayah berdiri menunggu
kami. Raut wajahnya memperlihatkan rasa lega. Hatiku
menciut. Setelah bertahun-tahun berdoa tanpa hasil,
akhimya aku tahu bahwa hal itu terjadi juga—kedua
orangtuaku berpisah.
Kukepalkan tanganku kuat-kuat, sampai aku merasa
seakan-akan jari-jariku akan merobek telapak tanganku.
Pada saat Ibu dan saudara-saudara kandungku masuk ke
kamar Ayah di motel itu, aku duduk saja di mobil sambil
mengutuki Ayah berulang kali. Aku benci sekali padanya
karena melarikan diri dari keluarganya. Tetapi mungkin
juga bukan rasa benci. Mungkin aku lebih merasa iri pada
Ayah karena ia berhasil menyelamatkan diri, sedangkan
aku tidak. Aku masih harus hidup bersama Ibu. Sebelum
Ibu menjalankan mobilnya, Ayah membungkukkan
badannya pada jendela yang terbuka di samping tempatku
duduk, kemudian ia memberiku sebuah bungkusan.
Katanya, bungkusan itu berisi informasi yang ia janjikan
kepadaku, untuk bahan pembuatan laporan yang sedang
kukerjakan di sekolah. Aku tahu Ayah lega bisa
melepaskan diri dari Ibu, tetapi sekaligus bisa kulihat
kesedihan pada sorot matanya ketika mobil Ibu beranjak
pergi.
Perjalanan pulang ke Daly City hening. Kalau saudara
saudaraku berbicara, mereka melakukan itu dengan suara
setengah berbisik dan seadanya saja, supaya tidak
membuat Ibu marah. Ketika sampai di batas kota, Ibu
mencoba membuat suasana riang dengan mentraktir anakanaknya
makan di McDonald's.
Seperti biasa, aku duduk menunggu di mobil sementara
mereka masuk ke dalam rumah makan itu. Kupandangi
langit melalui kaca jendela mobil yang terbuka. Selimut
awan abu-abu rata menutupi seluruh permukaan langit,
dan bisa kurasakan titik-titik kecil air dingin dari kabut
jatuh ke wajahku. Kuamati kabut itu, dan aku merasa
takut. Aku tahu, tidak ada lagi yang bisa menahan Ibu.
Sedikit harapan yang pemah kumiliki, pergi sudah. Tak lagi
aku punya kemauan untuk melanjutkan hidupku. Aku
merasa seperti terhukum yang menanti saat hukuman
mati, entah kapan itu akan terjadi.
Rasanya ingin aku melarikan diri dari mobil itu, namun
untuk bergerak sedikit saja aku takut. Aku membenci
diriku sendiri karena kelemahan itu. Bukannya melarikan
diri, aku malah mendekap bungkusan yang diberikan Ayah
kepadaku sambil berusaha mencium cologne yang dipakai
Ayah.
Tak ada sedikit pun aroma Ayah yang bisa kucium pada
bungkusan itu, maka aku pun terisak pelan. Pada saat itu,
Tuhanlah yang paling aku benci dari segala sesuatu yang
ada di dunia ini maupun di dunia lain. Tuhan tahu segala
perjuanganku selama bertahun-tahun, namun Ia berdiam
diri saja, membiarkan keadaan berubah semakin buruk. Ia
bahkan tidak memberiku sedikit pun aroma Old Spice After
Shave yang biasa dipakai Ayah. Tuhan merampas satusatunya
harapan terbesarku. Dalam hati, aku mengutuk
nama-Nya, dan berharap aku tak pemah dilahirkan.
Di luar, bisa kudengar suara Ibu dan anak-anak lelakinya
berjalan mendekati mobil. Cepat-cepat kuhapus air mataku
dan kembali kepada kekerasan hatiku yang membuat aku
merasa terlindung. Sambil menjalankan mobilnya keluar
dari pelataran parkir McDonald's, Ibu menoleh sebentar ke
belakang, ke arahku, dan berkata,
"Sekarang kau sepenuhnya jadi milikku. Sayang sekali
ayahmu tidak bisa melindungimu."
Aku tahu, segala pertahananku akan sia-sia. Aku tak
mungkin bertahan hidup. Aku tahu Ibu akan membunuhku,
kalau bukan hari ini, besok. Bila saat itu tiba, aku berharap
Ibu mengasihani aku, dan membunuhku secepat mungkin.
Sementara kakak-kakak dan adikku menikmati hamburger
mereka, tanpa mereka sadari aku mengatupkan kedua
tanganku, kutundukkan kepalaku, kupejamkan mataku,
dan aku berdoa dengan sepenuh hatiku. Ketika station
wagon Ibu masuk pekarangan rumah, aku merasa waktuku
sudah tiba. Sebelum kubuka pintu mobil, kutundukkan
kepalaku lebih dalam lagi, dan dengan perasaan damai
dalam hatiku, aku berbisik,
"...dan Bebaskanlah aku dari yang jahat".
"Amin."
********





EPILOG
SONOMA COUNTY,
CALIFORNIA
Aku merasa begitu hidup.
Aku berdiri, berhadapan dengan keindahan Lautan Pasifik
yang membentang tanpa batas. Udara sejuk sore hari
berembus dari perbukitan di belakangku. Selalu hari yang
indah. Matahari semakin turun. Sebuah pesona akan
segera mulai. Langit mulai berubah warna jadi semburat
terang, dari biru lembut menjadi jingga tua terang. Ke arah
barat, aku memandang dengan takjub kedahsyatan
ombak. Sebuah gulungan ombak semakin membesar, lalu
menghantam pantai dengan suara berdebur. Udara basah
yang tak terlihat mengusap wajahku, beberapa saat
sebelum air berbuih putih nyaris membenam seluruh
bagian kakiku. Riak putihnya dengan cepat surut kembali.
Tiba-tiba sepotong kayu yang terapung mendarat di pasir
pantai. Bentuknya berpilin aneh. Potongan kayu itu
berlubang, halus, dan warnanya kusam akibat lama
terpapar sinar matahari. Aku membungkuk untuk
memungutnya. Sebelum jariku sempat menyentuhnya,
lidah air lebih dulu menangkap potongan kayu itu dan
menariknya kembali ke laut. Selama beberapa saat,
potongan kayu itu tampaknya berusaha keras untuk tetap
bisa berada di pantai. Ia meninggalkan bekas-bekasnya di
pasir pantai, sebelum akhirnya masuk kembali ke air, di
mana ia terombang-ambing hebat untuk kemudian
menyerah pada kekuatan laut.
Pandanganku terpaku pada potongan kayu itu—betapa
kayu itu mengingatkan aku pada kehidupanku sebelumnya.
Awal kehidupanku sedemikian kejam, penuh dengan
tarikan dan dorongan ke segala arah. Semakin menyiksa
situasi yang kualami, semakin kurasakan seakan-akan ada
kekuatan sedemikian besar yang menarikku masuk ke
pusaran arus bawah air. Aku berjuang membebaskan diri
sekuat tenaga, namun putaran itu rasanya tak pernah
berakhir. Lalu, secara tiba-tiba saja tanpa peringatan lebih
dulu, aku terbebas.
Aku merasa sangat beruntung. Masa laluku yang hitam
sudah kutinggalkan. Seburuk apa pun masa laluku itu, aku
jadi tahu bahwa hidupku sepenuhnya terserah padaku.
Dulu aku berjanji pada diriku sendiri bahwa bila aku bisa
keluar hidup-hidup dari situasi yang menimpaku, aku harus
berhasil melakukan sesuatu. Aku harus menjadi yang
terbaik sesuai kemampuanku. Begitulah aku hari ini. Aku
memastikan bahwa masa laluku sudah kulepaskan, dengan
menerima fakta bahwa bagian dari kehidupanku itu
hanyalah sebagian kecil saja dari seluruh kehidupanku. Aku
sadar bahwa lubang hitam itu ada di sana, senantiasa
menunggu untuk mengisap aku dan mengendalikan
nasibku selamanya—tetapi itu kalau aku membiarkannya.
Aku melakukan kontrol positif atas hidupku.
Aku merasa diberi anugerah. Segala tantangan yang biasa
kuhadapi di masa lalu membentuk kekuatan yang sangat
besar di dalam diriku. Aku beradaptasi dengan cepat,
dengan belajar bagaimana bertahan hidup di dalam situasi
yang buruk. Aku tahu bagaimana membangun motivasi di
dalam diri sendiri. Pengalamanku memberi aku
kemampuan untuk melihat hidup ini secara berbeda, yang
mungkin tidak dilihat oleh orang pada umumnya. Aku
memiliki penghargaan yang sangat besar terhadap
berbagai hal yang mungkin oleh orang lain dianggap biasa
saja.
Tentu saja aku membuat beberapa kesalahan, tetapi
untunglah aku menjadi semakin baik lagi setelah kukoreksi
kesalahan itu. Aku tidak berdiam di masa lalu, tetapi aku
mempertahankan fokus yang sama yang kuajarkan pada
diriku sendiri bertahun-tahun sebelumnya ketika aku hidup
di basement, bahwa Allah yang baik selalu melindungi,
diam-diam memberiku keberanian dan kekuatan pada
saat-saat aku paling membutuhkannya.
A Child Called It - Page 126 of 144
Herman Adriansyah Private Collection
126
Anugerah yang kuterima termasuk pertemuanku dengan
begitu banyak orang yang memiliki pengaruh positif
terhadap hidupku. Begitu banyak wajah yang mendorong
aku, mengajari aku untuk membuat pilihan-pilihan yang
benar, serta membantu aku dalam usahaku mengejar
keberhasilan. Mereka mendukung niatku untuk
mengembangkan diri.
Dalam usahaku memperkaya wawasan, aku mendaftarkan
diri ke United States Air Force. Di situ aku menemukan
nilai-nilai historis dan menanamkan dalam diriku rasa
bangga dan rasa memiliki yang baru pada saat itulah aku
menyadarinya. Setelah berjuang bertahun-tahun lamanya,
tujuanku semakin nyata di situ; di atas segalanya, aku
menyadari bahwa Amerika benar-benar menjadi tempat di
mana seseorang dengan bekal awal yang sangat minim
dapat menjadi pemenang berkat dirinya sendiri.
Terpaan tiba-tiba riak ombak membuyarkan lamunanku.
Potongan kayu yang sejak tadi kuperhatikan, tenggelam
ditelan gerakan air laut. Aku berbalik, dan segera menuju
mobilku. Beberapa saat kemudian aku sudah memacu truk
Toyota-ku melalui banyak tikungan berkelok-kelok seperti
tubuh ular.
Aku bergegas menuju tempat idamanku yang selama ini
tak kuberitahukan kepada siapa pun. Bertahun-tahun yang
lalu, ketika aku hidup dalam kegelapan, aku selalu
mendambakan tempat rahasia itu. Kini, setiap kali ada
kesempatan, aku selalu mengunjungi sungai itu. Setelah
berhenti untuk mengambil bawaanku yang tak temilai
harganya di Rio Villa, dekat Monte Rio, aku kembali
memacu kendaraanku. Bagiku, aku berpacu dengan waktu,
karena matahari hampir terbenam dan salah satu impian
seumur hidupku tak lama lagi menjadi kenyataan.
Begitu memasuki kota Guerneville yang tenang, aku harus
menjalankan Toyota-ku perlahan-lahan. Sampai pada
sebuah persimpangan, aku berbelok ke kanan, menapaki
jalan menuju Riverside. Dari jendela mobil yang kacanya
kuturunkan, kuhirup dalam-dalam udara beraroma manis
dan bersih dari pepohonan redwood, yang daunnya
melambai-lambai.
Kuhentikan mobil di depan rumah yang sama, yang dulu
sekali dipakai kami sekeluarga menginap selama liburan
musim panas-17426 Riverside Drive. Sama seperti banyak
hal lainnya, rumah itu pun sudah berubah. Bertahun-tahun
yang lalu, dua kamar tidur kecil ada di belakang perapian.
Terlihat ada bekas upaya yang asal-asalan untuk
melebarkan dapur yang sempit sebelum terjadi banjir pada
tahun 1986. Bahkan pohon besar dan kokoh, yang
bertahun-tahun lalu kami, aku dan saudara-saudaraku—
panjati selama berjam-jam, kini membusuk. Yang tak
berubah tinggal langit-langit cabin dari kayu pohon cedar
berwarna gelap dan perapian yang terbuat dari batu kali.
Ada rasa sedih muncul dalam diriku ketika aku hendak
menapaki jalan setapak berpasir dan berkerikil. Kemudian,
sambil berusaha untuk tidak mengganggu siapa pun di
situ, ku-tuntun anak lelakiku, Stephen, melalui jalan
sempit di samping rumah yang sama. Di jalan itulah dulu,
bertahun-tahun yang lalu, orangtuaku menuntun aku dan
saudara-saudaraku. Aku kenal pemiliknya, dan aku yakin ia
tidak keberatan aku dan anakku lewat situ. Tanpa sepatah
kata pun, aku dan anakku memandang ke arah barat.
Russian River tak pernah berubah, hijau gelap dan selicin
kaca, airnya tiada henti mengalir lembut ke Samudra
Pasifik yang maha besar. Burung-burung blue jay
bersahut-sahutan saat mereka menari di udara, untuk
kemudian menghilang di antara pepohonan redwood.
Langit di atas kami sudah bermandikan alur-alur warna
jingga tua dan biru. Sekali lagi kuhirup napas panjang dan
kupejamkan mata, sepuas mungkin kunikmati saat-saat itu
seperti dulu, bertahun-tahun yang lalu.
Setetes air mata mengalir di pipiku ketika aku membuka
mataku. Aku berlutut, kurengkuh Stephen ke dalam
pelukanku. Ia memberiku ciuman.
"Aku menyayangimu, Ayah."
"Aku juga menyayangimu," jawabku.
Anak lelakiku menengadah, memandangi langit yang
beranjak gelap. Matanya membelalak saat ia tersentak oleh
pesona pemandangan yang mengiringi terbenamnya
matahari.
"Inilah tempat yang paling kusukai di seluruh dunia!"
Stephen berkata mantap.
Tenggorokanku tercekat. Air mata mengambang di pelupuk
mataku.
"Aku juga," jawabku.
"Aku juga."
Stephen masih dalam usia seorang anak kecil yang polos,
namun sifat bijaksananya melampaui usianya. Bahkan saat
itu, ketika air mata yang asin membasahi wajahku,
Stephen tersenyum, memberiku kesempatan untuk
mempertahankan harga diriku. Dan ia tahu mengapa aku
menangis. Stephen tahu air mataku adalah air mata
bahagia.
"Aku menyayangimu, Ayah."
"Aku juga menyayangimu, Nak."
Aku bebas.



CHILD ABUSE
BEBERAPA SUDUT PANDANG
DAVE PELZER
KORBAN SELAMAT

Sebagai anak yang hidup dalam kegelapan, saya merasa
takut seumur hidup dan saya kira hanya saya seorang diri
yang hidup seperti itu. Kini, setelah dewasa, saya tahu
bahwa saya bukan satu-satunya anak yang mengalami
kehidupan seperti itu, ada ribuan anak lain korban
penyiksaan.
Ada beragam sumber informasi, tetapi diperkirakan satu
dari lima anak mengalami penyiksaan fisik, emosional, dan
seksual di negara kami (Amerika Serikat). Sayangnya,
sebagian masyarakat yang tidak memperoleh cukup
informasi beranggapan bahwa kebanyakan tindakan
penyiksaan tidak lebih daripada sekadar tindakan agak
berlebihan orangtua dalam menjalankan "hak" mereka
untuk mendisiplinkan anak-anaknya. Boleh jadi mereka
juga beranggapan bahwa penegakan disiplin yang
berlebihan pada masa kanak-kanak tidak mempengaruhi
sikap mereka setelah dewasa. Informasi seperti itu sangat
menyesatkan, bahkan bisa berakibat tragis.
Pada setiap saat, seorang dewasa yang pernah menjadi
korban penyiksaan di masa kecilnya mungkin saja
melampiaskan rasa frustrasinya kepada lingkungan sosialnya
atau kepada orang-orang yang ia cintai. Menyangkut
kasus-kasus yang luar biasa, masyarakat luas biasanya
cepat mengetahuinya. Peristiwa-peristiwa yang
menghebohkan menjadi santapan media, yang pada
gilirannya menaikkan peringkat media bersangkutan. Kita
mendengar kejadian tentang seorang ayah yang pengacara
yang meninju anaknya sampai pingsan lalu meninggalkan
si anak tergeletak begitu saja di lantai, sementara ia
sendiri kemudian pergi tidur. Kita mendengar kejadian
tentang seorang ayah yang membenamkan kepala
anaknya yang masih kecil ke toilet. Kedua anak itu tewas.
Bahkan ada kasus yang lebih menghebohkan lagi, yakni
ibu dan ayah masing-masing membunuh seorang anaknya
lalu menyembunyikan mayat kedua anak itu selama empat
tahun. Ada kisah-kisah lain yang juga menggemparkan,
seperti seorang anak korban penyiksaan yang tumbuh
menjadi seorang pria pembantai dengan menembaki
orang-orang tak berdaya di McDonald's, sehingga polisi
terpaksa menembaknya mati.
Yang lebih umum terjadi adalah anak-anak yang tak
dikenal yang menghilang begitu saja, seperti anak
tunawisma yang tinggal di bawah jembatan layang dan
menggunakan kardus sebagai rumahnya. Setiap tahun
ribuan anak perempuan korban penyiksaan kabur dari
rumah mereka lalu menjual diri untuk bertahan hidup. Ada
juga mereka yang memberontak, lalu menjadi anggota
geng-geng dan sepenuhnya melibatkan diri dalam tindakan
kejam serta merusak.
Banyak anak korban penyiksaan menyembunyikan masa
lalu mereka dalam-dalam di dalam dirinya, sedemikian
dalam sampai-sampai kemungkinan mereka sendiri
menjadi orang dewasa penyiksa sangat tak terduga.
Mereka hidup normal, menjadi suami atau istri,
membangun rumah-tangga, dan membangun karier.
Namun persoalan sehari-hari sering memaksa mereka yang
dulunya adalah anak korban penyiksaan bertingkah laku
seperti tingkah laku yang mereka terima saat kanakkanak.
Pasangan dan anak-anaknya sendiri kemudian
menjadi sasaran rasa frustrasinya, dan tanpa disadari
terbentuklah suatu lingkaran kemarahan yang sempuma,
tak ada habisnya.
Beberapa anak korban penyiksaan berdiam diri dalam
tempurung mereka, tak berbuat apa-apa. Mereka melihat
ke arah lain, karena mereka percaya bahwa dengan tidak
mengakui masa lalu mereka maka semua peristiwa masa
lalu itu akan hilang dengan sendirinya. Tampaknya mereka
percaya bahwa yang terpenting adalah menjaga Kotak
Pandora tetap tertutup rapat.
Di Amerika Serikat, setiap tahun jutaan dolar
disumbangkan kepada badan-badan perlindungan anak.
Seluruh dana tersebut disalurkan ke berbagai fasilitas
seperti asrama yatim piatu (foster homes) dan
penampungan remaja (juvenile halls). Ada juga dana yang
disalurkan ke ribuan badan swasta yang mempunyai misi
antara lain upaya pencegahan dini penyiksaan terhadap
anak, konseling bagi orangtua yang abusive dan anak-anak
mereka yang menjadi korbannya. Setiap tahun jumlah
kasus penyiksaan anak terus meningkat. Pada tahun 1990,
di Amerika Serikat, ada 2,5 juta kasus penyiksaan anak
yang dilaporkan. Pada tahun 1991 angka itu meningkat
jadi lebih dari 2,7 juta kasus. Dan ketika artikel ini saya
tulis, angka itu sudah melebihi 3 juta kasus.
Mengapa? Apa yang menyebabkan tragedi penyiksaan
anak terjadi? Apakah kasusnya seburuk yang dilaporkan?
Dapatkah tragedi itu dihentikan? Dan mungkin pertanyaan
yang paling penting diajukan adalah, seperti apakah
penyiksaan itu dari sudut pandang anak kecil?
Yang baru saja selesai Anda baca adalah kisah tentang
sebuah keluarga biasa yang menjadi berantakan akibat
rahasia yang tersembunyi di antara mereka. Kisah itu
dipaparkan dengan dua tujuan: pertama, memberikan
informasi kepada pembacanya bagaimana orangtua yang
penuh cinta dan penuh perhatian bisa berubah menjadi
monster tanpa belas kasihan dan abusive, yang
melampiaskan segala rasa frustrasi kepada seorang anak
kecil yang tak berdaya; kedua, menunjukkan keberhasilan
untuk tetap bertahan hidup serta kemenangan semangat
hidup manusia dalam mengalahkan berbagai perlakuan
ganjil yang seakan-akan tak terkalahkan.
Ada pembaca yang akan merasakan bahwa kisah ini tidak
nyata dan membuat perasaan tidak nyaman, tetapi
penyiksaan terhadap anak-anak atau child abuse adalah
sebuah gejala yang memang menimbulkan rasa tidak
nyaman dan itu sungguh terjadi di masyarakat kita.
Penyiksaan anak memiliki efek domino, saling terkait, yang
menyentuh semua pihak yang berhubungan dengan
keluarga bersangkutan. Yang menanggung penderitaan
terbesar adalah si anak sendiri, baru kemudian terbagi di
antara para anggota keluarga langsung sampai pasangan
hidup, yang sering kali merasa tercabik dalam memihak
antara si anak dan pasangan hidupnya. Dari situ,
penderitaan menyebar kepada anak-anak lain dalam
keluarga bersangkutan yang tidak tahu-menahu tetapi juga
merasakan ketakutan yang diakibatkannya. Yang juga
terlibat dalam efek domino itu adalah para tetangga yang
mendengar teriakan atau jeritan namun tidak berbuat apaapa,
para guru yang melihat luka-luka atau memar-memar
dan harus berurusan dengan murid yang mengalami
kesulitan menangkap pelajaran, lalu para sanak keluarga
yang berniat membantu namun tidak ingin kehilangan tali
persaudaraan.
Kisah ini lebih daripada sebuah kisah mempertahankan
kelangsungan hidup. Kisah ini merupakan sebuah cerita
kemenangan. Bahkan dalam saat-saat yang paling kelam
pun, kemauan hiduplah yang berusaha tak kunjung padam.
Perjuangan fisik mempertahankan kelangsungan hidup
memang penting, tetapi yang lebih penting dan bermakna
lagi adalah mempertahankan semangat agar tetap hidup.
Kisah ini merupakan kisah hidup saya dan saya sendirilah
yang mengalaminya. Selama bertahun-tahun saya
dikurung dalam kegelapan, dikucilkan dari pikiran dan
perasaan saya sendiri, merasa sendirian, serta menjadi
anak yang selalu dikalahkan. Pada mulanya saya sekadar
ingin menjadi seperti orang-orang lain pada umumnya,
namun motivasi saya berkembang terus. Saya ingin
menjadi "pemenang". Selama lebih dari 13 tahun saya
mengabdikan diri bagi negara sebagai anggota militer.
Sekarang saya mengabdi negara dengan cara memberikan
berbagai seminar dan workshop kepada mereka yang
membutuhkan, untuk membantu mereka memutuskan
mata rantai yang mengekang mereka. Sebagai salah satu
korban child abuse yang mampu bertahan, saya membawa
pesan bagi anak-anak yang mengalami penyiksaan dan
bagi mereka yang mendampinginya. Saya membawa
sebuah perspektif yang saya peroleh melalui kenyataan
brutal sebagai korban dan berharap bahwa perspektif itu
memupuk harapan bagi masa depan yang lebih baik. Yang
lebih penting lagi, saya berhasil memutus lingkaran setan
kemarahan dan menjadi seorang ayah yang membuat
satu-satunya kesalahan, yaitu memberikan terlalu banyak
kasih sayang dan dukungan bagi anak lelakinya.
Dewasa ini di Amerika Serikat terdapat jutaan orang yang
sangat membutuhkan bantuan. Menjadi tugas saya
mendampingi mereka yang membutuhkan bantuan itu.
Saya yakin kita perlu tahu bahwa apa pun yang pernah kita
alami di masa lalu, kita pasti mampu mengalahkan sisi
gelapnya dan menuju dunia yang lebih terang. Memang
kedengaran seperti sebuah paradoks bahwa tanpa
pengalaman sebagai anak yang mengalami penyiksaan,
saya mungkin tidak pernah menjadi diri saya sekarang ini.
Masa gelap yang saya alami ketika masih kanak-kanak
memberi saya kemampuan yang sangat baik untuk
menghargai hidup. Saya beruntung memiliki kemampuan
mengubah tragedi menjadi sebuah kemenangan. Itulah
kisah saya.
Mungkin belum pernah terjadi dalam sejarah Amerika
sebuah keluarga mengalami tekanan seperti saat ini.
Berbagai perubahan di bidang ekonomi dan sosial telah
mendesak keluarga sampai ke batasnya, dan situasi itu
membuat penyiksaan terhadap anak lebih mungkin terjadi.
Jika masyarakat memiliki pengaruh langsung terhadap
persoalan child abuse, itu harus diungkapkan. Dan jika
berhasil diungkapkan, berbagai penyebab terjadinya child
abuse dapat dipahami dan barulah dukungan benar-benar
bisa diberikan. Masa kanak-kanak seharusnya penuh
keceriaan, bermain dalam terang sinar matahari; bukannya
hidup dalam mimpi menakutkan yang bersumber dalam
kegelapan jiwa.


STEVEN E. ZIEGLER

GURU

Bulan September 1992 bagi saya adalah bulan dimulainya
lagi kegiatan belajar di sekolah. Dengan pengalaman 22
tahun mengajar sampai pada tahun itu, saya selalu bisa
merasakan suasana hiruk-pikuk yang melelahkan dan
sedikit kebingungan yang menjadi wama khas saat-saat
seperti itu. Ada hampir 200 siswa baru yang namanamanya
dan catatan-catatan mengenai diri mereka harus
saya pelajari; belum lagi beberapa anggota staf pengajar
baru yang harus diperkenalkan pada segala sesuatu yang
harus mereka ketahui. Saat itu juga berarti selamat tinggal
liburan musim panas, selamat datang tambahan beban
tugas yang harus dikerjakan, dan berbagai laporan dari
Sacramento menyangkut dana bagi sekolah-sekolah.
Tampaknya tidak ada yang berbeda pada setiap awal
dimulainya kegiatan sekolah, sampai akhimya saya
menerima sebuah pesan telepon tanggal 21 September,
yang membuat saya merasakan kembali rasa sedih 20
tahun sebelumnya:
"Seseorang bemama David Pelzer berharap Anda sudi
menghubungi agennya untuk membicarakan laporan
mengenai child abuse yang pemah Anda tangani 20 tahun
yang lalu". Masa lalu berputar balik terlalu cepat.
Ya, saya tidak akan lupa David Pelzer. Waktu itu saya baru
lulus perguruan tinggi, menjadi guru baru, dan kalau saya
tengok ke belakang, sebetulnya tidak banyak yang saya
ketahui tentang kenyataan sesungguhnya dari karier yang
saya pilih itu. Dan di situlah, hal yang paling tidak saya
ketahui adalah mengenai child abuse.
Pada awal tahun 1970-an saya tidak tahu bahwa child
abuse sungguh-sungguh terjadi. Dan kalaupun itu benarbenar
terjadi, semuanya akan tersimpan di dalam "lemari
pakaian" seperti halnya gaya hidup atau kelakuan
masyarakat kita pada saat itu. Banyak yang sudah kita
ketahui, tetapi baru sedikit yang kita perbuat.
Kenangan saya kembali ke Thomas Edison School di Daly
City, California, pada bulan September 1972. David Pelzer
adalah salah satu murid saya di kelas lima. Temyata, dulu
itu saya memang naif.
Bagaimanapun, tampaknya saya dianugerahi kepekaan
yang membisiki saya bahwa ada yang sangat tidak beres
dalam hidup David. Makanan yang hilang dari bekal
makan siang murid-murid lain bila ditelusuri mengarah
pada anak yang kurus dan berwajah sedih itu. Luka-luka
dan memar-memar yang mengundang tanda tanya tampak
jelas pada beberapa bagian anggota tubuhnya yang tak
tertutup pakaian. Semua itu menjadi jelas mengarah pada
satu hal: anak ini dipukuli dan dihukum sedemikian rupa,
jauh melampaui batas praktek pengasuhan anak oleh
orangtua.
Baru beberapa tahun kemudian saya tahu bahwa yang
saya saksikan di kelas saya sebelumnya itu adalah kasus
child abuse nomor tiga terparah yang tercatat di seluruh
negara bagian California.
Saya sama sekali tidak punya hak untuk memaparkan
kembali rincian data mengenai apa yang kami lihat dengan
mata kepala sendiri, yang kemudian saya susun bersama
sejumlah guru lain sebagai laporan yang kami serahkan
kepada pihak berwenang bertahun-tahun yang lalu. Bagian
itu akan tetap menjadi hak istimewa David dan peluang
baginya untuk ditulis dalam buku ini. Sungguh menjadi
peluang yang tak temilai bahwa orang muda ini berani
tampil dan memaparkan kisahnya kepada kita sehingga
masyarakat dapat mencegah penderitaan yang tidak
semestinya bagi anak-anak lain. Saya sungguh mengagumi
keberaniannya melakukan itu.
Saya selalu mengharapkan yang terbaik bagimu, David.
Tak ada sedikit pun keraguan dalam diri saya bahwa kau
sungguh menjadi yang terbaik.
********



VALERIE BIVENS

PEKERJA SOSIAL

Sebagai anggota Social Worker for Child Protective
Services, California, dengan sendirinya saya memantau
frekuensi dan situasi yang mengenaskan akibat tindak
kriminal terhadap anak-anak. Buku ini merupakan laporan
tertulis mengenai kisah penyiksaan di luar batas yang
menimpa diri seorang anak. Kita bisa mengetahui persepsi
si anak selama ia berada dalam situasi menakutkan yang
terus-menerus, dari kehidupan di sebuah keluarga ideal
menjadi seorang "tawanan perang" di rumahnya sendiri.
Kisah ini dipaparkan kepada pembacanya oleh seorang
survivor, korban yang selamat, dari penyiksaan oleh ibu
kandungnya sendiri, berkat keberanian serta keteguhan
hati yang luar biasa.
Sayang sekali bahwa masyarakat pada umumnya tidak
menyadari luasnya pengaruh child abuse ini. Sangat jarang
anak-anak korban tindakan kriminal berani menceritakan
kisahnya atau melawan mereka yang menyiksanya. Rasa
marah dan sakit yang diderita anak-anak ini dan yang tidak
berani mereka ungkapkan, pada akhirnya merugikan diri
mereka sendiri atau orang-orang lain yang dekat dengan
mereka. Maka, lingkaran kemarahan yang menciptakan
peluang bagi terjadinya child abuse terus berlanjut dan
berulang.
Dewasa ini semakin sering kita mendengar peristiwa child
abuse. Film-film dan artikel-artikel di majalah-majalah
yang mengupas persoalan itu semakin banyak beredar,
namun kasus-kasus di situ sering dipaparkan secara
sensasional sehingga kita semakin tidak paham apa dan
bagaimana sesungguhnya child abuse itu, apa yang
sesungguhnya dialami dan diderita oleh anak yang menjadi
korbannya.
Buku ini membuka wawasan kita, mencerahkan, dan
mendidik. David mengajak kita ikut mengalami rasa
takutnya, rasa kekalahannya, rasa kesendiriannya, rasa
sakitnya, dan rasa marahnya, sampai pada harapan
terakhimya. Dengan masuk ke dalam alur itu, menjadi
jelas bagi kita betapa menyakitkannya dunia gelap yang
diderita anak-anak korban child abuse. Bahkan secara lebih
detil, kita bisa merasakan tangisan anak-anak itu melalui
mata, telinga, dan badan David Pelzer. Juga dengan
membaca buku ini kita bahkan bisa merasakan keteguhan
hati David untuk keluar dari siksaan yang tak kunjung
henti menuju kemenangan.
********



GLENN A. GOLDBERG
MANTAN EXECUTIVE DIRECTOR OF THE
CALIFORNIA CONSORTIUM FOR THE
PREVENTION OF CHILD ABUSE

Pengalaman David Pelzer pantas diungkapkan agar kita
dapat menggerakkan rakyat Amerika untuk menciptakan
sebuah negara yang tidak akan menyakiti anak-anak kecil.
Jutaan anak-anak kita, sumber daya alam kita yang paling
berharga, menjadi korban wabah child abuse dan
penolakan orangtua yang tragis dan sulit diterima akal
sehat. Baik tingkat maupun intensitas pola pengasuhan
anak secara keliru meningkat tajam dalam kurun sepuluh
tahun terakhir.
Kisah David Pelzer dapat membantu siapa saja untuk
memahami bahwa krisis child abuse menjalar sedemikian
cepat dan sudah jauh melampaui batasnya. Setiap tahun
ratusan ribu anak yang tak berdaya diperlakukan kasar dan
mengalami penyiksaan fisik, emosional, dan seksual.
Setiap tindakan penyiksaan anak berpengaruh jauh sampai
ke masa yang akan datang; kalau seorang anak menderita,
holeh jadi kita semua akan menanggung akibatnya. David
Pelzer adalah korban yang mampu membebaskan diri dari
perlakuan kasar yang ia terima ketika masih kanak-kanak,
dan kisahnya menjadi inspirasi bagi kita semua.
Bagaimanapun, kita tidak pemah boleh melupakan puluhan
ribu anak lain yang tidak mampu bertahan mengalami
perlakuan buruk, dan jutaan anak lainnya yang sampai
saat ini masih menderita. Satu-satunya obat bagi wabah
child abuse ini adalah mencegahnya agar tidak terjadi.
Maka, menjadi harapan besar bagi saya bahwa buku ini
bisa membantu mengarahkan prakarsa yang dilakukan
oleh semakin banyak pihak untuk mencegah terjadinya
segala bentuk child abuse.




Tak Pernah Kutahu
Tak pernah kutahu seburuk apa;
Tapi kudengar itu ada.
Kelakuan kriminal yang membuatku ngeri dan marah
Karena merampas perkembangan
Pada bagiannya yang paling bemas.
Tak pernah kutahu seberapa sakit;
Memar dan luka tak tampak.
Dan mengapa di situ titik pada garis kehidupan,
Penyiksaan brutal harus kau tanggung
Tak pernah kutahu seperti apa perasaanmu;
Kau seperti tak punya kehendak.
Yang kutahu kau tak ke mana-mana,
Tak pernah sempat kau ungkapkan perasaanmu.
Tak pemah kutahu sesuatu yang bisa kulakukan; Yang
mungkin bisa membantu barang sedikit. Sebab yang
kaubutuhkan cuma seorang sahabat;
Siapa pun yang mau menjadikanmu sahabat.
Tetapi sekarang aku tahu
Bahwa aku bisa berbuat sesuatu;
Bahkan membuat sesuatu jadi lain.
Aku akan tegak bersamamu;
Aku akan berteriak bersamamu,
Maka orang-orang lain tak mungkin lagi berkata.
"Tak pemah kutahu."

Cindy M. Adams

0 Response to "A Child Called 'It"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified