Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

BIDADARI BIDADARI SURGA

BIDADARI BIDADARI SURGA
TERE LIYE



EMPAT PENJURU

"PULANGLAH. Sakit kakak kalian semakin parah. Dokter bilang mungkin minggu depan,
mungkin besok pagi, boleh jadi pula nanti malam. Benar-benar tidak ada waktu lagi. Anak
anakku, sebelum semuanya terlambat, pulanglah...."
Wajah keriput nan tua itu menghela nafas.
Sekali. Dua kali. Lebih panjang. Lebih berat. Membaca pesan itu entah untuk berapa kali
lagi. Pelan menyeka pipinya yang berlinang, juga lembut menyeka dahi putri sulungnya,
wanita berwajah pucat yang terbaring lemah di hadapannya. Mengangguk. Berbisik lembut:
"Ijinkan, Mamak mengirimkannya, Lais.... Mamak mohon...."
Pagi indah datang di lembah itu.
Cahaya matahari mengambang di antara kabut.
Embun menggelayut di dedaunan strawberry. Buahnya yang beranjak ranum nan
memerah. Hamparan perkebunan strawberry terlihat indah terbungkus selimut putih sejauh
mata memandang.
Satu bilur air mata akhirnya ikut menetes dari wanita berwajah redup yang terbaring tak
berdaya di atas tempat tidur. Mereka berdua bersitatap satu sama lain, lamat-lamat. Lima
belas detik senyap. Hanya desau angin lembah menelisik daun jendela. Ya Allah, sungguh
sejak kecil ia menyimpan semuanya sendirian. Sungguh. Demi adik-adiknya. Demi
kehidupan mereka yang lebih baik. Ia rela melakukannya. Tapi, sepertinya semua sudah usai.
Waktunya sudah selesai. Tidak lama lagi.
Sudah saatnya mereka tahu. Sudah saatnya....
Perempuan berwajah pucat di atas ranjang berusaha tersenyum, dengan sisa-sisa tenaga.
Sedikit terbatuk, bercak darah merah mengalir dari sela bibir bersama dahak. Bernafas sesak.
Semakin kesakitan. Namun sekarang muka tirusnya mengembang oleh sebuah penerimaan. Ia
perlahan mengangguk.
Tangan tua itu demi melihat anggukan putri sulungnya, tanpa menunggu lagi gemetar
menekan tombol ok. Message transmitted.
Maka! Dalam hitungan seperjuta kedipan mata.
Melesat Berpilin. Berputar.
Seketika saat tombol ok itu ditekan, jika mata bisa melihatnya, bak komet, bagai anak
panah, macam rudal berkecepatan tinggi, 203 karakter SMS itu berubah menjadi data binari
0-1-0-1! Menderu tak-tertahankan menuju tower BTS (base transmitter station) terdekat.
Sepersekian detik lagi lantas dilontarkan sekuat tenaga menuju satelit Palapa C-2 ratusan
kilometer di atas sana, berputar dalam sistem pembagian wilayah yang rumit, bergabung
dengan jutaan pesan, suara, streaming gambar, dan data lainnya dari berbagai sudut muka
bumi (yang hebatnya tak satupun tertukar-tukar), lantas sebelum mata sempat berkedip lagi,
pesan tersebut sudah dilontarkan kembali ke muka bumi! Pecah menjadi empat.
Bagai meteor yang terbelah, pecahan itu berpendar-pendar sejuta warna menghujam ke
empat penjuru dunia.
Empat nomor telepon genggam!
Tak peduli di manapun itu berada. Tak peduli sedang apapun pemiliknya. Kabar itu
segera terkirimkan. Melesat mencari empat nomor telepon genggam yang dituju.
Pulanglah anak-anakku! Untuk pertama dan sekaligus untuk terakhir kalinya, kakak
kalian membutuhkan kalian —



BULAN YANG TERBELAH

"HADIRIN yang kami hormati, tiba saatnya kita mengundang ke atas panggung, seseorang
yang sudah kita tunggu-tunggu sejak tadi. Seseorang yang seolah-olah akan —maaf —
membuat lima profesor sebelumnya terasa membosankan dan membuat mengantuk—"
Tertawa. Ruangan besar itu buncah oleh tawa.
".... Banyak sekali catatan hebat yang dimilikinya, tapi anehnya, meski banyak, sekarang kita
sama sekali tak perlu menyebut satupun. Ah, bukan karena akan merepotkan membaca daftar
super-panjang itu, tapi buat apa lagi, semua sudah hafal, bukan? Jadi buat siapapun di
ruangan besar ini, siapapun di antara lima ratus peserta Simposium Fisika Intemasional ini
yang tidak mengenal sosoknya. Yang, oh, betapa malangnya peserta itu—" Tertawa lagi.
"Buat peserta malang itu, saya akan memperkenalkan pembicara utama simposium kita hanya
dengan memperlihatkan cover sebuah majalah: Science!" Dengan sedikit dramatis, moderator
simposium fisika itu sengaja mengangkat tinggi-tinggi majatah yang dimaksud.
"Inilah jurnal ilmu-pengetahuan terkemuka di dunia. Yang memiliki reputasi paling hebat di
antara sejenisnya. Lihatlah edisi bulan ini, edisi terbaru! Terpaksa menurunkan laporan tidak
lazim, utuh sebanyak 49 halaman, hmm, itu bisa dibilang hampir seperempat tebal majalah
ini.... Kenapa saya sebut tidak lazim? Karena laporan ini sungguh tak biasa bagi banyak ahli
fisika yang kebanyakan sekuler. Apalagi untuk konsumsi publik di negara-negara Barat sana.
Judul penelitiannya adalah: 'Pembuktian Tak Terbantahkan Bulan Yang Pernah Terbelah'.
Kepala-kepala menyeruak. Berebut ingin melihat lebih jelas.
"Penelitian yang amat mengesankan, mengingat hari ini, ketika kehidupan sudah begitu tidakpedulinya
dengan fakta-fakta dalam agama, pembicara utama kita siang ini justru datang
dengan sepuluh bukti bahwa bulan memang pernah terbelah 1.400 tahun silam dalam hasil
penelitian mutakhirnya. Bukan main. Lengkap tak terbantahkan, sebagai salah satu mukjijat
Nabi penutup jaman. Benar-benar terbelah dua seperti kalian sedang membelah semangka,
bukan penampakan sihir, apalagi ilusi mata seperti yang dituduhkan dan dipahami banyak
orang sejak dulu. Lantas setelah dibelah, dua potongan bulan tersebut disatukan kembali,
seperti bulan yang biasa kita lihat sekarang. Itu benar-benar pernah terjadi!" Moderator itu
berhenti sejenak. Membiarkan ruangan besar dipenuhi sensasi yang diinginkannya.
Terpesona. Ingin tahu. Rasa kagum Sejenis itulah.
"Well, meski kalau dipikir-pikir sebenarnya pembuktian hebat atas bulan yang pernah
terbelah itu tidak terlalu mengejutkan kita, bukan? Hanya soal waktu dia akan
membuktikannya. Mengingat profesor muda kita adalah orang pertama di negeri ini yang
berkali-kali menulis di jurnal paling prestisius dunia itu. Mendapat pengakuan dari berbagai
institusi penelitian dunia, dan selalu konsisten berusaha membuktikan berbagai transkripsi
dan sejarah religius dari sisi ilmiahnya...."
Muka-muka yang memadati ruang konvensi besar itu terlihat semakin bercahaya oleh
antusiasme. Seperti anak kecil yang dijanjikan mainan baru. Atau seperti anak kecil yang
melihat penuh rasa ingin tahu toples penuh gula-gula. Menunggu tak sabaran moderator yang
terus ngoceh tentang fakta yang sebenamya mereka sudah tahu semua. Termasuk jurnal itu.
Tadi pagi dibagikan gratis ke seluruh peserta.
".... Namanya terdaftar dalam 100 peneliti fisika paling berbakat di dunia. Dan tidak
berlebihan jika mantan koleganya di Princenton University berandai-andai dia akan menjadi
salah-satu kandidat kuat penerima nobel fisika beberapa tahun ke depan. Jadi buat peserta
yang tidak sempat mengenalnya secara langsung, hari ini setelah enam bulan berusaha
menculiknya dari jadwal laboratorium yang tidak masuk-akal, dari berbagai penelitian yang
serius, sistematis dan kaku... hari ini dengan bangga kami hadirkan sosok yang sebaliknya
memiliki wajah dan kepribadian santun menyenangkan ini...." Gadis moderator itu tersenyum
lebar, terlihat amat senang membuat seluruh peserta simposium menunggu tak sabaran
kalimat-kalimat perkenalannya. Menikmati posisinya sebagai 'penguasa' jadwal acara.
"Ah-ya, soal wajah dan kepribadian yang santun menyenangkan? Kalian tahu, yang menarik
ternyata bukan hanya wajah profesor ini yang terlihat santun menyenangkan. Well, di tengah
kesibukannya sebagai peneliti, pakar, dan apalah namanya yang serba serius dan menuntut
banyak waktu itu, profesor muda kita tetap hidup dengan segala romantisme bersama
keluarga kecilnya. Lihatlah, hari ini dia datang dengan istrinya yang terlihat cantik, selamat
siang Nyonya!" Muka-muka tertoleh. Penuh rasa ingin tahu. Mereka belum pernah melihat
istri sang Profesor, meski dengan begitu banyak publisitas selama ini. Tersenyum. Wanita
cantik berkerudung yang duduk di sebelah sang Profesor, baris kedua dari depan itu ikut
balas tersenyum, layar LCD raksasa di depan plenary hall menayangkan paras cantiknya.
Mengangguk anggun. Sedikit bersemu merah.
"Ada yang berminat mendengar kisah indah pertemuan mereka?" Moderator menyeringai
lebar.
Hampir seluruh peserta simposium meski tertarik, menggdeng. Mereka jauh-jauh datang
dari berbagai universitas ternama ke ruangan besar itu jelas-jelas ingin mendengarkan
paparan mutakhir temuan fisika, bukan celoteh moderator.
"Baiklah karena kalian memaksa, maka dengan senang hati saya akan menceritakan bagian
tersebut..."
Wajah-wajah terlipat. Gumam keberatan.
"Keluarga yang hebat meski tidak menyukai publisitas...."
"Masa kecil yang penuh perjuangan... kalian tahu, Profesor kita sudah membuat kincir air
setinggi lima meter saat ia masih kanak-kanak...."
".... Perkenalan di kontes fisika, terpesona oleh kecantikan remaja... Profesor kita mengejar
hingga ke Bandara, haha...."
Lima menit berlalu, peserta simposium mulai jengkel
".... Perkebunan strawberry yang indah...."
".... Masa kecil yang begitu mengesankan...."
Satu-dua peserta sengaja mulai berdehem (lebih keras).
".... Baik, baik." Akhirnya gadis di podium menyadari ruangan mulai gerah, tersenyum lebar
tidak-sensitif, "Karena saya pikir kalian sedikit mulai tak-sabaran mendengar perkenalan
yang sebenarnya amat penting dari saya, baiklah, hadirin, berikan sambutan yang paling
meriah, inilah salah-satu profesor fisika termuda, ternama, yang pernah ada di negeri ini,
profesor kebanggaan kita, Profesor Da-li-mun-te!"
Tepuk-tangan bak dikomando menggema bagai dengung lebah.
Pemuda berumur 37 tahun itu tersenyum lebar.
Melepas genggaman mesra, berbisik lembut ke istrinya. Berdiri. Lantas melangkah sigap
menuju podium. Dengan langkah panjang-panjang. Rambutnya tersisir rapi mengkilat.
Matanya tajam memandang, Rahangnya kokoh. Eskpresi wajahnya meski santun
menyenangkan seperti yang dibilang moderator cerewet itu, sebenamya terlihat keras
mengiris, sisa gurat masa kecil yang tidak selalu beruntung.
Hari ini Profesor Dalimunte mengenakan kemeja krem. Rapi seperti biasa. Meski 'gelang
karet' gaya anak muda di tangan kanan membuatnya terlihat lebih kasual, untuk tidak bilang
sebenarnya sedikit tidak matching dengan busana rapinya. Gelang itu macam gelang karet
yang bertulisan 'solidarity forever', 'united for all', 'long live friendship', yang sedang trend di
anak muda.
Itu gelang pemberian Intan, putri sulungnya yang berumur sembilan tahun. Bertuliskan,
'Safe The Planet!' Minggu-minggu ini, Intan menjadi ketua panitia 'Earth Day' di sekolah.
Memaksa siapa saja mengenakan gelang itu. Satu gelang bernilai sumbangan 5.000 perak.
Nanti uangnya buatbeli tong sampah yang bakal dikirim ke daerah-daerah korban bencana
alam. Makanya Intan sibuk benar berpromosi. Termasuk ke Eyang Lainuri (malah seminggu
lalu mengirimkan selusin gelang ke perkebunan strawberry buat tukang-tukang kebun); buat
apa coba di pedalaman indah nan sederhana itu penduduknya pakai gelang? Ah, Intan
memang keras kepala soal proyek "Safe The Planet" -nya, lihatlah satu gelang juga terpasang
rapi di leher hamster belang miliknya, meski yang bayar lima ribu perak, ya Ummi.
Profesor Dalimunte memperbaiki speaker di atas podium. Pelan mengetuk-ngetuknya.
Berdehem. Tepukan mereda. Peserta konvensi perlahan duduk kembali. Menatap antusias ke
depan.
"Baik, pertama-tama, terima-kasih atas perkenalan yang hebat, panjang, dan
superlengkapnya. Meski saya pikir kau agak berlebihan dengan menceritakan bagian
romantisme pertemuan itu, Anne!"
Dalimunte menganggukan kepala kepada moderator, tersenyum,
"Tapi terima kasih atas sentuhan keluarganya: profesor muda kita tetap hidup dengan segala
romantisme bersama keluarga kecilnya.... Anne, setidaknya dengan kalimat terakhir itu, kau
membuatku terlihat sedikit lebih manusiawi. Bukan seperti daftar penelitian yang kulakukan
sepanjang tahun: sistematis, serius, dan kaku. Ya, profesor fisika juga manusia biasa,
bukan—"
Tertawa.
Ruangan besar itu ramai oleh tawa.
"Hadirin, sebelumnya maafkan saya untuk dua hal...." Profesor Dalimunte mengusap
wajahnya yang sedikit berkeringat,
"Pertama karena saya hanya punya waktu lima belas menit untuk memenuhi segala
keingintahuan kalian. Saya harap itu cukup setelah hampir enam bulan kalian menunggu
kesempatan ini. Kalian tahu, ada banyak pekerjaan di laboratorium, belum lagi dengan segala
tenggat waktunya. Di samping itu, kalian tahu persis, saya tidak terlalu menikmati dikelilingi
puluhan wartawan dengan kameranya. Semua popularitas ini.... Jadi ijinkanlah saya untuk
memulai langsung topik kita hari ini—"
Wajah-wajah terlihat semakin antusias. Tangan-tangan wibuk menggenggam pulpen
bersiap mencatat. Takut benar ada fakta terucap yang terselip di ingatan dan lalai di catat
takut benar terlihat sebagai orang paling bodoh dalam ruangan simposium fisika internasional
tersebut. Ini lima belas menit yang penting.
".... Seperti yang telah kalian baca di jurnal tersebut bulan dibelah dua sudah menjadi fakta
religius ratusan tahun silam. Salah-satu mukjijat Nabi penutup jaman. Ada banyak
perdebatan, ada banyak penelitian yang justru mencoba membuktikan kalau itu semua keliru.
Ternyata tidak. Keajaiban itu memang pernah terjadi! — Bagaimana mungkin ada satu
potongan translasi religius yang keliru? Kitab suci keliru? Hadist yang salah? Sungguh
lelucon yang tidak lucu. Itu tidak mungkin terjadi!"
Profesor Dalimunte dengan muka serius menunjuk slide gambar bulan terbelah dua di
layar LCD raksasa depan ruangan.
"Tapi seperti yang saya bilang tadi, untuk kedua kalinya maafkan saya, karena hari ini saya
memutuskan untuk tidak membicarakan penelitian yang sudah dimuat dengan baik oleh
jurnal populer yang selama ini sekuler dan diskriminatif, 'Science'. Kalian bisa membaca
sendiri seluruh buktinya di majalah tersebut, dan jika masih ada pertanyaan, kolega dan staf
saya di laboratorium dengan senang hati membalas e-mail pertanyaan, pesan, ajakan diskusi,
atau apapun dari kalian....Hari ini sesuai kesepakatan dengan panitia simposium lima menit
setiba saya di sini, saya akan menyajikan pembuktian fakta religius penting lainnya. Bukan
tentang bulan, tapi isu yang lebih besar. Lebih mendesak untuk disampaikan. Perubahan topik
ini sebenarnya kabar baik bagi kalian, karena kalian akan menjadi orang pertama yang
mendengarkan progress penelitian terbaru kami: Badai Ekktromagnetik Antar Galaksi
menjelang hari kiamat...."
Slide bergerak cepat. Sekarang memunculkan sebuah translasi kitab suci. Wajah-wajah
dalam ruang besar nampaknya tidak terlalu keberatan dengan perubahan topik yang
mendadak tersebut. Buru-buru mencoret judul catatan di atas kertas.
Profesor Dalimunte tersenyum lebar menatap sekitar dengan rileks. Lima ratus undangan.
Lima ratus ahli fisika dari berbagai penjuru dunia. Meski tidak terlalu menyukai publisitas,
dia amat terlatih untuk urusan mengendalikan massa seperti ini. Dulu dia belajar dari guru
terbaiknya.
"Pernahkah dari kita bertanya tentang detail kabar tanda-tanda hari akhir? Hari kiamat?
Membacanya? Mendengamya? Pasti pernah. Dan setidaknya bagi siapapun yang masih
mempercayai janji hari akhir tersebut, maka tidak peduli dari kitab suci agama manapun,
berita-berita tersebut boleh dibilang mirip satu sama lain... Ahya, maaf, saya tidak akan
membahas soal mirip tidaknya, itu urusan pakar, ahli agama yang relevan. Biar mereka yang
menjelaskan kalau sebenarnya kabar tersebut bersumber dari satu muasal. Penelitian fisika
terbaru kami hanya bertujuan memaparkan fakta ilmiahnya—"
"Salah satu berita yang membuat kita tercengang adalah kabar peperangan besar, yang
dikenal beberapa agama lain dengan sebutan Armageddon. Pertempuran hebat. Penyerbuan.
Penguasaan wilayah.... Menarik. Amat menarik. Karena salah satu diantara kita mungkin
pernah melipat dahi, bagaimana mungkin begitu banyak sumber dalam berbagai riwayat
sahih terpercaya justru menyebutkan peperangan besar itu akan dilakukan dengan pedang,
dengan tangan? Jika kalian berkesempatan membaca, maka akan menemukan berbagai
translasi religius menulis begitu. Pertempuran satu lawan satu.... Nah, pertanyaan bodohnya
adalah: lantas di mana teknologi nuklir hari ini? Di mana senjata pemusnah massal? Satelit?
Senjata kimia? Bioteknologi?
"Bagi semua yang pemah mendengar cerita tentang tanda-tanda akhir jaman, bukankah
seolah-olah masa itu kembali ke masa-masa pertempuran konvensional? Berita tentang ulatulat
yang dikirimkan dari langit? Keluarnya dua pasukan jahat yang menghabiskan seluruh
air sungai yang mereka lewati? Pepohonan yang menyembunyikan bangsa Yahudi— maaf
jika ini terlalu detail—"
Dalimunte tersenyum, tapi heberapa peserta simposium yang datang dari sekutu negara
bersangkutan tidak terlalu berkeberatan dengan kalimat itu, lebih asyik melihat layar LCD
raksasa di depan.
"Kita semua tahu, translasi itu sama sekali tidak menyinggung soal senjata-senjata pemusnah
massal. Nuklir misalnya! Ingat kasus Nagasaki dan Hiroshima, perang dunia ke-2. Dua kali
tembak, selesai sudah! Bagaimana mungkin di akhir jaman nanti orang-orang seolah lupa
menggunakan teknologi hebat itu? Apalagi hari kiamat mungkin baru terjadi ratusan tahun,
atau ribuan tahun lagi. Kita tidak bisa membayangkan akan secanggih apa teknologi senjata
saat itu? Jadi jika benar-benar terjadi Armageddon, apa susahnya melepas dua tiga rudal
berhulu nuklir jutaan kiloton ke daerah musuh? Selesai sudah. Atau jangan-jangan dua tiga
ratus tahun ke depan manusia malah sudah bisa membuat koloni pertama di Mars! Janganjangan
maksud peperangan tersebut adalah peperangan antar planet. Jangan-jangan Ya'juj dan
Ma'juj yang dikurung di suatu tempat oleh Dzulkarnen itu, yang hingga hari ini kita tidak
tahu di mana lokasi tembok penjaranya justru datang dari planet lain. Masuk akal bukan—"
"Tetapi ternyata tidak. Terlepas dari bagaimana menafsirkan berbagai translasi religius ini,
sepertinya kemungkinan-kemungkinan yang saya sebutkan tadi amat berlebihan, sejauh ini
belum ada buktinya. Kabar peperangan besar tersebut sepertinya memang akan sesederhana
itu. Benar-benar sesederhana itu. Saya menyimpulkan demikian: sesederhana itu... Maka,
pertanyaannya jika semua teknologi senjata tadi tidak digunakan saat pertempuran akhir
jaman, lantas ke manakah ilmu pengetahuan yang telah diakumulasi beratus-ratus tahun oleh
manusia? Apakah seolah-olah kemajuan ilmu pengetahuan seperti siklus naik turun? Apakah
ketika hari kiamat tiba, peradaban manusia justru sedang kembali ke titik apaadanya?"
Dalimunte diam sejenak. Menatap seluruh ruangan.
Mengesankan melihatnya membanjiri peserta simposium dengan berbagai pertanyaan,
entah lima ratus peserta itu mengerti atau tidak. Terus menyajikan dengan cepat berbagai
slide, termasuk pertanda dari berbagai kitab suci lainnya. Beberapa peserta simposium yang
tidak terlalu mengerti transkripsi religius yang terpampang di layar raksasa LCD menandai
besar-besar catatannya (berjanji dalam hati: nanti akan dicari tahu penjelasannya). Sama
seperti dengan beberapa peserta yang tidak tahu, lupa, atau malah sama sekali tidak mengerti
tentang mukjijat bulan terbelah oleh Nabi penutup jaman di majalah 'Science' sebelumnya.
Ruangan besar simposium fisika itu lengang, hanya suara pulpen menggores kertas yang
terdengar.
"Apakah seolah-olah kemajuan ilmu pengetahuan seperti siklus naik turun? Hadirin,
jawabannya adalah: Ya! Jika kita ibaratkan, maka peradaban manusia persis seperti roda.
Terus berrputar. Naik turun. Mengikuti siklusnya. Ada suatu masa, ketika kemajuan ilmu
pengetahuan mencapai puncaknya, manusia menguasai teknologi-teknologi hebat, lantas
entah oleh apa, mungkin karena peperangan, bencana alam, atau karena entahlah, di masamasa
berikutnya kembali meluncur ke titik terendahnya.... Jika kita ingin berpikir sejenak,
siapa bilang ribuan tahun silam manusia masih primitif? Masih boddoh? Tidak mengenal
teknologi telepon selular? Internet? Penerbangan ke bulan, dan sebagainya?
"Ingat, disadari atau tidak, ada fakta religius yang tertulis indah di kitab suci: Salah seorang
sahabat Nabi Sulaiman, maksud saya Solomon buat hadirin yang mengenalnya dengan nama
itu. Saya garis bawahi, saat itu, seorang manusia, pernah bisa memindahkan dalam sekejap
sepotong kursi dari satu titik ke titik lainnya yang berjarak ratusan kilometer sebelum mata
sempat berkedip! Seorang manusia. Spektakuler! Anda tidak akan pernah menemukan
kemampuan teknologi sehebat itu hari ini! Belum. Kita yang amat bangga dengan kemajuan
peradaban, bahkan tidak bisa memindahkan fisik sebutir telur dengan apapun itu wahana dan
caranya, kecuali di film-film, yang aktornya lantas seolah-olah ketinggalan kaki, tangan, atau
telinga—" Dalimunte menyeringai.
Ruangan itu sejenak ramai oleh tawa.
".... Kita sejauh ini hanya bisa bangga dengan kode binari. Transfer data. Jaringan
telekomunikasi. Internet dan sebagainya, Tapi tidak untuk teknologi memindahkan fisik
sebuah benda. Lantas, bagaimana mungkin kita tidak mewarisi teknologi hebat sahabat Nabi
Sulaiman tersebut setelah ribuan tahun berlalu? Bagaimana mungkin tidak ada penjelasannya
dan kita sekadar mempercayai kalau itu kondisi luar biasa. Karomah. Keajaiban. Bukankah
kepercayaan itu sebuah rasionalitas ilmiah? Seperti halnya bulan yang terbelah. Tentu saja
ada penjelasan masuk akal atas transfer fisik kursi tersebut, harus ada penjelasan ilmiahnya,
kita saja yang belum tahu. Atau mungkin tidak akan pemah tahu. Nah, masalahnya kenapa
kita tidak mewarisi penjelasan penting tersebut? Jawabannya, mungkin saja karena
peradaban, kemajuan teknologi itu persis seperti siklus naik turun. Masa-masa silam, masamasa
itu, manusia pernah menguasai berbagai teknologi hebat tersebut, malah mungkin
pernah memiliki rumus sederhana seperti rumus phytagoras untuk menjelaskan bagaimana
memindahkan kursi ke tempat lain. A kuadrat sama dengan B kuadrat plus C kuadrat. Tapi
entah oleh apa ilmu pengetahuan itu kemudian musnah. Seperti roda yang berputar,
peradaban manusia kembali lagi ke titik terendahnya....Analog dengan hal itu, dan akan
dibuktikan dengan serangkaian penelitian ilmiah kami, jadi sama sekali tidak mengherankan
jika saat dunia menjelang masa senjanya, kita juga akan kehilangan senjata-senjata hebat
yang ada sekarang dalam pertempuran besar itu. Dan dunia kembali ke peperangan dengan
tangan, dengan pedang. Peperangan konvensional. Itu benar-benar masuk akal. Itu sesuai
dengan kabar dari berbagai translasi religius ini....Maka pertanyaan pentingnya sekarang
adalah: oleh apa? Oleh apa kita akan kehilangan ilmu pengetahuan dan berbagai teknologi
canggih tersebut? Kemana menguapnya akumulasi ilmu pengetahuan yang hebat itu? Inilah
poin terpenting penelitian Badai Etektromagnetik Antar Galaksi yang akan menghantam
planet ini sebelum hari kiamat. Yang membuat berbagai peralatan elektronik, listrik, dan
kemajuan teknologi lainnya seolah 'membeku', tidak berfungsi lagi. Mati—"
Dalimunte sengaja berhenti mendadak. Sejenak. Tersenyum. Meraih gelas besar di
hadapannya. Meminum seteguk - dua teguk. Membasahi kerongkongannya. Membiarkan rasa
haus ingin tahu menggantung di langit-langit ruangan.
Tapi entah kenapa, saat semua peserta bersiap menunggu gagasan hebat, jawaban atas
pertanyaan itu, menunggu penjelasan apa yang akan disampaikan profesor muda di depan
mereka. Saat Dalimunte telah meletakkan kembali gelasnya. Kembali menunjuk slide yang
terpampang di layar LCD raksasa. Bersiap menjelaskan progress penelitiannya. Dalimunte
malah mendadak terdiam. Pelan menurunkan kembali tangannya yang memegang pointer
layar LCD.
Telepon genggam di saku celananya mendadak bergetar.
"Maaf, sebentar—"
Dalimunte tersenyum tanggung ke peserta simposium. Siapa? Menelan ludah. Ini ganjil
sekali. Dia punya dua telepon genggam. Satu untuk urusan kampus, lab dan lain-lain, yang
lazimnya dinonaktifkan dalam situasi simposium seperti ini. Satu lagi untuk urusan keluarga,
yang selalu stand-by apapun alasannya. Hanya ada enam orang yang tahu nomor telepon
genggam urusan keluarganya. Siapa?
Keliru. Bukan dari siapa tepatnya pertanyaan Dalimunte barusan. Namun: ada apa? Apa
yang sedang terjadi? Wajah Dalimunte seketika mengeras, cemas.
Sedikit terburu-buru meraih telepon genggam. SMS. Kenapa harus dengan SMS? Jika
penting bukankah bisa langsung menelepon? Itu berarti Mamak Lainuri yang mengirimkan.
Mamak tak pandai benar berbicara lewat HP, selalu merasa aneh. Setetah terdiam sejenak
menatap layar HP, Dalimunte gemetar menekan tombol open. SMS itu terbuka. Gagap
membaca kalimatnya. Menggigit bibir. Menyeka dahi yang berkeringat. Terdiam lagi satu
detik. Dua detik. Lima detik. Lantas dengan suara amat lemah berkata pendek di depan
speaker.
"Maaf. Cukup sampai di sini— "
Kalimat yang membuat seluruh ruangan simposium itu riuh.
Seketika.
Gaduh. Seruan-seruan kecewa. Dalimunte sudah turun dari podium. Tidak peduli kalau
Anne, si moderator yang cerewet buru-buru bangkit dari kursinya, mendekat, coba bertanya
apa yang sedang terjadi. Tidak peduli beberapa koleganya juga ikut mendekat, ingin tahu.
Tidak peduli dengung suara lebah. Apalagi kilau blitz kamera wartawan yang sejak tadi rakus
membungkus tubuhnya. Tidak peduli. Dalam hitungan detik Dalimunte sudah menggenggam
tangan istrinya yang berkerudung biru. Berbisik dengan suara bergetar. Lantas melangkah
keluar dari ruangan. Bergegas.
Meninggalkan berlarik tanya dari lima ratus peserta simposium internasional fisika itu.
Bagaimana dengan gelombang elektromagnetik tadi?



TITIPAN KAOS BOLA

PESAWAT AIRBUS 3320 milik maskapai penerbangan Italiano Sky itu melesat membelah
pesisir Eropa. Malam hari. Pukul 19.30 di sini. Speaker di pesawat memperdengarkan suara
merdu sang pramugari yang lembut menyapa penumpang:
"... Signore e signori, Vaereo atterera tra 5 minuti all'aeroporto di Roma. Si prega di
allaciare di cinture di skurezza... Informiamo i signori pesseggeri che e tra Giacarta e Roma
vi sono sette ore di differenza. Senior & Seniorita, pesawat akan segera mendarat di Bandara
Roma lima menit lagi. Harap kenakan sabuk pengaman Anda.... Perbedaan waktu Jakarta dan
Roma—"
"Bangun, Ikanuri!" Wibisana menyikut lengan adiknya.
Ikanuri menguap, menggosok matanya, "Sudah sampai?"
Wibisana mengangguk.
Wajah mereka berdua mirip sekali. Rambut. Matanya. Ekspresi wajah. Bahkan bekas luka
kecil di dahi. Bedanya, yang satu baretnya di sebelah kanan, yang satu di sebelah kiri. Selain
itu, nyaris 99,99% mirip, termasuk tinggi, lebar dan bentuk perawakan tubuh. Jadi seperti
sepasang kembar kalau mereka berdiri berjajar. Padahal mereka sedikit pun tidak kembar,
apalagi kembar identik. Mereka berdua hanya lahir di tahun yang sama, terpisahkan sebelas
bulan. Yang satu beramur 34 tahun (Wibisana), yang satunya (Ikanuri) 33 tahun. Menariknya,
meski Ikanuri lebih muda, dia lebih dominan dalam urusan apapun dibanding Wibisana.
Makanya orang-orang justru berpikir Ikanuri-lah yang menjadi kakak.
"Kau mimpi apa?" Wibisana tertawa melihat wajah Ikanuri yang mengernyit, berusaha
mengusap-usap matanya yang sedikit merah.
"Biasa! Mimpi dikejar-kejar Kak Lais pakai sapu lidi! Sialan, kali ini ia berhasil memukul
pantatku! Sakit sekali — "
Ikanuri menjawab seadanya, nyengir. Pura-pura mengusap punggungnya. Ikut tertawa.
Demi mendengar celetukan adiknya, Wibisana tertawa lebih lebar. Bagian itu kenangan
masa kecil favorit mereka, olok-olok masa lalu yang menyenangkan untuk diingat, meski
telah berkali-kali diingatnya. Nyengir lebar. Sementara Ikanuri sudah sibuk merapikan
kemeja biru yang dikenakannya. Membungkuk memasang tali sepatu. Tadi sengaja dilepas,
agar bisa rileks tidur di kursi penerbangan kelas ekonomi, yang tempat duduknya ekstra
sempit buat penerbangan jarak jauh.
"Ini apa?" Wibisana mendorong pelan laptop di atas tatakan meja, ikut membungkuk,
mengambil kertas yang tidak sengaja jatuh dari saku kemeja Ikanuri saat memasang tali
sepatu.
"Oo itu —, biasa titipan Juwita! Kau bacalah!"
"Papa, questi sono i miei desideri.. 1. Pizza, 2. Spagheti, 3. Miniatur Colloseum, 4. Miniatur
Menara Miring, 5. Kaos bola Del Piero, 6. Kaos bola Totti, 7, Kaos bola Materazzi, 8. Kaos
bola Zidane,"
Wibisana tertawa kecil lagi, menghentikan membaca daftar panjang di kertas tergulung itu,
"Haha, bagaimana mungkin 'sigung kecil' itu tidak tahu kalau Zidane sudah tidak main bola
lagi di Juventus? Lagipula Zidane sudah lama pindah ke liga Spanyol, bukan? Sudah pensiun
pula sejak piala dunia. Tidak adalah kaosnya di sini—"
"Mana pula anak itu akan peduli," Ikanuri menerima kertas pesanan tersebut dari Wibisana,
melipatnya.
"Kau tahu, Juwita seminggu terakhir sengaja benar membuka buku pintarnya tentang Italia.
Mendaftar semua pesanan ini. Entahlah, sempat atau tidak membeli semuanya, apalagi kaos -
kaos bola ini. Buat apa coba Juwita titip kaos bola, jelas-jelas ia anak perempuan, kan?
Titipannya kali ini benar-benar akan merepotkan. Mungkin tidak semua akan bisa
kubelikan..."
"Kalau begitu, bersiap-siaplah melihat wajah sok merajuknya saat kau nanti pulang!"
Wibisana nyengir lebar,
"Anak itu memang pintar membuat orang lain susah.... Pandai menipu. Jago pura-pura
merajuk. Haha, mirip benar dengan tabiat buruk ayahnya waktu kecil."
Ikanuri mengusap rambut. Ikutan nyengir. Bergumam dalam hati, Wibisana pasti juga
mengantongi daftar puluhan pesanan yang sama dari Delima, anaknya. Bukankah kemarin
Juwita bilang, ia mengirimkan daftar pesanannya ke Delima lewat email. Anak-anak mereka
yang berumur enam tahun itu mirip benar ayahnya masing-masing. Kompak urusan beginian,
meski sering sekali justru sibuk bertengkar saat sedang bermain bersama. Sebenarnya
perangai Delima-Juwita memang copy-paste perangai ayah-ayah mereka berdua waktu kecil
dulu.
Pesawat Boeing kapasitas dua ratus penumpang itu bersiap meluncur ke landasan
bandara. Gemerlap lampu kota Roma terlihat indah dari bingkai jendela. Menawan. Wibisana
melipat laptopnya.
"Kau sudah selesaikan revisi presentasinya?"
Wibisana mengangguk mantap,
"Kali ini, petinggi pabrik itu tidak akan menolak.... Kita akan memberikan lebih banyak
keuntungan dibandingkan perusahaan dari China itu!"
Ikanuri mengangguk kecil. Memasukkan kertas pesanan gadis kecilnya ke saku.
Menepuk-nepuk saku kemeja. Ini perjalanan bisnis yang penting. Pembicaraan besok pagi di
salah satu kedai kopi elit dekat Piazza de Palozzo akan menentukan rencana ekspansi pabrik
kecil milik mereka. Sebenarnya dibandingkan pesaing raksasa industri China itu mereka tidak
ada apa-apanya. Pabrik butut itu tak lebih dari bengkel modifikasi mobil. Mereka hanya
punya modal nekad. Keberangkatan ini juga pakai acara pinjam uang Mamak Lainuri segala.
Ah, sejak kecil memang inilah yang mereka miliki. Nekad. Bandel. Keras kepala. Di samping
tentang teriakan 'kerja-keras', 'kerja-keras', 'kerja-keras' yang selalu diocehkan Kak Laisa saat
galak melotot sambil memegang sapu lidi, memarahi mereka.
Sejak kecil Ikanuri dan Wibisana sudah kompak. Kakak-beradik yang selalu bisa saling
mengandalkan. Hari ini mereka berangkat ke Roma bersama-sama. Menyelesikan tender hak
pembuatan sasis salah-satu mobil balap tersohor produksi Italia. Seperti biasa, pesaing
mereka (juga pesaing pengusaha-pengusaha lokal lainnya), datang dari negeri Panda, China.
Mereka sejak kecil selalu berdua. Tidak terpisahkan. Sekarang saja rumah mereka
berseberangan jalan. Dengan istri dan satu gadis kecil usia enam tahun masing-masing.
Delima dan Juwita. Bahkan, percaya atau tidak, Ikanuri dan Wibisana menikah di hari,
tempat, dan penghulu yang sama. Delima dan Juwita juga lahir di hari yang sama. Jadi meski
tidak kembar secara biologis, Ikanuri dan Wibisana lebih dari 'kembar'.
Lima menit berlalu, burung besi berukuran jumbo itu mendarat dengan mulus di landasan.
Penumpang yang seratus persen sudah terjaga bergegas menurunkan tas-tas dari bagasi.
Bersiap turun setelah penerbangan belasan jam. Menggerak-gerakkan badan. Berusaha
mengusir pegal.
"Biar aku saja yang menghubungi mereka!" Ikanuri yang melihat Wibisana mengeluarkan
HP-nya, ikut mengeluarkan dua telepon genggam miliknya. Satu untuk urusan bisnis. Satu
untuk urusan keluarga. Dua-duanya dikeluarkan. Perlahan menekan tombol ON.
Menyalakannya. Tadi saat keberangkatan, galak sekali pramugari pesawat menyuruh
penumpang mematikan HP. Yeah, penumpang dari Indonesia memang bebal bin bandel soal
beginian. Mereka lupa, maskapai yang mereka naiki bukan maskapai domestik kelas
kampung yang cuek dengan standar internasional keamanan penerbangan.
"Mereka berjanji menjemput di bandara, bukan?" Wibisana duduk kembali, membiarkan
penumpang lain bergegas turun duluan.
"Yap, tenang saja, Italiano Silsilia itu pasti akan menjemput kita. Kalau tidak, paling sial kita
nyasar lagi di negeri orang, haha,"
Ikanuri tertawa, menunggu dua telepon genggamnya booting. Dua detik berlalu. Lantas
menekan phonebook.
Tetapi sebelum dia melakukannya, HP untuk urusan keluarganya keburu bergetar duluan.
SMS. Juga bergetar di saat bersamaan HP milik Wibisana. Itu juga HP urusan keluarga.
Siapa? Ikanuri dan Wibisana menelan ludah. Saling bersitatap satu sama lain. Siapa yang
mengirimkan SMS? Hanya ada enam orang yang tahu nomor itu, dan mereka berdua
diantaranya.
Keliru. Bukan dari siapa pertanyaan tepatnya Ikanuri dan Wibisana barusan. Tapi lebih
tepat: ada apa? Apa yang terjadi? Wajah mereka berdua mendadak mengeras, cemas, SMS?
Ini pasti Mamak Lainuri. Yang lain pasti selalu menelepon jika ada urusan penting.
Bukankah seumur-umur Mamak tidak pernah mengirimkan SMS. Menggunakan HP-nya
saja, Mamak tak mahir benar. Jika Mamak yang kirim, ini pasti penting sekali.
Tangan Ikanuri dan Wibisana sedikit terburu-buru menekan tombol open. Gagap
membaca kalimat-kalimatnya. Menggigit bibir. Terdiam. Lantas bersitatap lemah satu sama
lain lagi. Satu detik. Dua detik. Lima detik. Senyap. Berdiri diam di antara sibuknya gerakan
198 penumpang beranjak turun. Dan seperti sontak diperintahkan, mereka berbarengan
melangkah mendekati pramugari. Mendorong-dorong penumpang lain. Bersikutan. Lupa
sudah dengan koper-koper. Lupa sudah dengan janji pertemuan bisnis yang penting, besok
pagi. Lupa dengan segalanya.
Ikanuri terbata berkata: "Il Volo.. per Jakarta.. C'e un volo per Jakarta questa sera?"
Apa ada…penerbangan kembali ke Jakarta... malam ini juga?



PENGUASA ANGKASA

DUA PULUH RIBU kilometer dari langit malam kota Roma yang cemerlang oleh cahaya. Di
sini, pagi justru sedang beranjak meninggi. Pukul 06.00. Udara berkabut. Putih membungkus
puncak Semeru. Pemandangan luas menghampar begitu memesona. Tebaran halimun yang
indah. Empat gunung di sekitarnya terlihat menjulang tinggi, mengesankan melihatnya.
Berbaris. Gunung Bromo. Tengger. Merbabu. Seperti serdadu. Uap mengepul dari kawah
Semeru. Angin mendesing lembut. Samudera Indonesia memperelok landsekap, terlihat
terbentang nun jauh di sana. Membiru. Sungguh pemandangan yang hebat.
Tangan yang memegang teropong binokuler berkekuatan zoom 25 kali itu sedikit
gemetar. Brrr.... Dingin. Suhu menjejak 4 derajat celcius di atas sini, ketinggian 3150 meter
dpl (di atas permukaan laut). Jaket tebal yang membungkus, topi lebar, slayer besar tak
membantu banyak. Hanya karena terbiasa dan antusiasme tak terbilanglah yang membuat
gadis berumur 34 tahun itu tetap bertahan dari tadi shubuh persis di tubir kawah Semeru.
Mukanya seolah tidak peduli dengan dinginnya pagi, malah menyeringai oleh senyum
senang. Mata hitam indahnya bercahaya. Wajah cantik itu amat bersemangat. Rambut
panjangnya menjuntai, mengelepak pelan oleh deru angin pagi....
Ia sudah lama menunggu kesempatan ini. Dingin dan sukarnya trek terjal pegunungan
bukan masalah. Ia menguasai medan sulit seperti ini sejak kedl. Dulu, sejak ingusan, ia
belajar langsung dari jagonya.
"Arah pukul dua belas! Arah pukul dua belas!" Gadis itu tiba-tiba berseru tertahan.
"Mana? Di mana?"
"Lima belas meter dari bibir kawah. Dinding dekat batu cokelat! Batu cokelat, bukan yang
hitam." Gadis itu berbisik antusias ke teman-teman di belakangnya, berusaha mengendalikan
volume suaranya.
"Mana? Di mana?" Dua rekannya, cowok-cewek, dengan usia tidak beda, dengan pakaian
sama tebalnya bertanya lagi sambil beringsut mendekat. Mengarahkan binokuler masingmasing
ke arah yang ditunjuk gadis satunya barusan.
"Batu besar arah jam dua belas! Batu besar cokelat—"
"Batu besar? Cokelat?"
"PKAAAK!" Lenguh suara nyaring itu sempurna sudah memecah hening puncak Semeru.
Bagai menguak kabut. Bagai membelah halimun. Membuat wajah-wajah sontak tertoleh,
mendongak.
"PKAAAK!" Sekali lagi membuncah pagi.
"Terbang! Ada yang terbang."
"Di mana? Di mana?"
"Arah pukul delapan. Di atas. Di atas, sebelah kiri!"
Gadis yang duduk paling depan, yang membungkuk di tubir kawah Semeru itu berseru
semakin tertahan. Wajahnya semakin antusias. Berbinar-binar senang. Binokuler ditangannya
bergerak gesit. Rambut panjangnya bergerak anggun. Zoom in. Teropong model canggih itu
berdesing oleh perintah auto focus.
Persis di atas mereka, seekor burung alap-alap kawah gunung, dengan bentang sayap
berukuran 45 cm, bagai pesawat falcon, mungkin juga F-14 menderu melesat. Bukan main.
Sempurna seperti sedang menyibak gumpalan putih kabut. Bicara soal kecepatan dan
manuver terbang, sumpah tidak ada yang mengalahkan Peregrin, inilah sang penguasa kawah
gunung. Bukan elang. Bukan garuda. Bukan pula Rajawali. Tapi alap-alap (kawah).
Merekalah penguasa langit sejati. Burung yang hidup di tempat tertinggi di dunia. Di tempat
paling eksotis di seluruh muka bumi. Yang mampu terbang hingga ke ketinggian pesawat
terbang.
"PKAAAK!" Alap-alap kawah itu terbang melesat seolah hendak menghujam ke dinding
dekat gumpalan batu cokelat. Sarangnya!
Tiga orang yang mengawasi dari sisi lereng seberangnya melotot melalui binokuler.
Sungguh, pemandangan yang menakjubkan.
Gerakan tubuh alap-alap kawah itu persis bagai pesawat tempur yang menyerbu. Dan
sedetik sebelum tubuhnya seakan-akan hendak menghantam dinding kawah, sayapnya terlipat
ke belakang. Begitu anggun, begitu mulus, kecepatannya berkurang dalam hitungan
sepersekian detik. Lantas bagai seorang ballerina sejati, sekejap, sudah mendarat sempurna.
Perfecto!
Gadis yang duduk di depan menggigit bibir. Terpesona. Menghela nafas. Sungguh
pertunjukan atraksi alam yang spektakuler. Binokulernya mendesing. Mode: full zoom in.
Sekarang ia bisa melihat bulu leher Peregrin yang kemerah-merahan seperti menatapnya dari
jarak sedepa saja.
Kuku-kuku kaki tajam induk alap-alap kawah itu menggenggam mangsa yang baru
didapatnya pagi ini. Tiga ekor anaknya menyembul dari dalam sarang. Ber-pkak, pkak lemah,
meski riang. Paruh yang terjulur. Warna emas itu. Positif! Tidak salah lagi!
"Ya Allah! Itu jelas-jelas Peregrin varian baru! Jenis baru.... Ini, ini berarti Gold Level untuk
bantuan penelitian kita. Thanks, God! Akhirnya. Akhirnya! Seratus ribu dollar Amerika
untuk konservasi mereka...."
Gadis yang duduk paling depan itu tertawa lebar, melepas teropong binokuler dari wajahnya.
Terlihat amat senang. Lega. Menghempaskan pantatnya ke bebatuan. Dua temannya ikut
mengangguk-angguk beberapa detik kemudian. Sepakat soal varian baru tersebut setelah
melihatnya lebih jelas dengan binokuler masing-masing. Ikut tertawa lega.
Yashinta nama gadis itu. Team leader kelompok penelitian kecil burung dan mamalia
endemik. Selain peneliti dari lembaga penelitian dan konservasi nasional di Bogor, ia juga
koresponden foto National Geographic. Mengumpulkan foto-foto alam yang indah dan
insightfull untuk majalah itu. Pagi ini, setelah berkutat seminggu di puncak Semeru, mereka
akhirnya berhasil menemukan sarang burung langka tersebut. Awal yang baik dari riset
berbulan-bulan ke depan untuk memetakan perangai dan tingkah-laku alap-alap kawah varian
baru. Proyek konservasi jangka panjang.
Yashinta meraih kamera SLR di tas pinggangnya. Senyum riang itu tak kunjung lepas
dari wajah memerahnya. Ini akan jadi foto yang hebat, desisnya senang. Bisa jadi photo cover
majalah. Membuka lensa kamera. Bersiap mengambil foto induk Peregrin yang sedang
memberi sarapan tiga anaknya. Saat itulah, saat Yashinta sibuk mengarahkan lensa 600/6.4
mm, lensa dengan kemampuan merekam tahi lalat di pipi soseorang dari jarak seratus meter,
telepon genggam satelit yang ada disaku celana gunungnya mendadak berdengking-dengking.
Kedua temannya menoleh.
"Ssst!" Menyeringai mengingatkan. Mana boleh bersuara saat mereka mengamati burung.
Lihatlah, meski jarak mereka nyaris lima puluh meter dengan sarang alap-alap kawah, induk
burung itu mendadak menoleh. Terganggu.
Yashinta nyengir, maaf, buru-buru meraih HP-nya.
Yang berdengking adalah HP satelit urusan keluarga, yang selalu ia bawa kemanapun
pergi. Tiba-tiba jantung gadis itu berdetak lebih kencang. Dari siapa? Ah-bukan, bukan itu
pertanyaan tepatnya, tapi ada apa? Apa yang terjadi? S-M-S? Itu pasti Mamak. Bukankah
Mamak tidak pernah menggunakan HP-nya? Tidak pernah terbiasa? Yang lain pasti
selalu menelepon. Kenapa pagi ini tiba-tiba Mamak mengirimkan SMS? Sedikit terburu-buru
Yashinta menekan tombol oke.
Terbata membaca pesan 203 karakter tersebut.
Seketika, hilang sudah senyum riang itu. Seketika hilang sudah wajah menggemaskan
kemerahan terbakar cahaya matahari pagi di puncak Semeru itu. Yashinta dengan tangan
bergetar menurunkan kamera canggih SLR-nya. Menelan ludah, menyeka dahi, lantas
berbisik lemah,
"Aku harus pulang! Aku harus pulang!"
Senyap. Gumpalan kabut yang membungkus puncak Semeru mendadak membungkus
sepi. Yashinta sudah bergegas turun dari tubir kawah. Sambil jalan, sembarangan
memasukkan peralatan ke dalam ransel. Tidak peduli tatapan terperangah dua temannya.
Tidak peduli dua ekor Peregrin lainnya dengan anggun terbang mendekat ke sarang di batu
cokelat. Tidak peduli. Apalagi pemandangan hebat dari puncak gunung tertinggi di Pulau
Jawa itu. Yashinta berlarian menuruni lereng terjal. Pulang.
Ia harus segera pulang!
Itu pasti Kak Laisa! Itu pasti Kak Laisa! Yashinta menyeka matanya yang mendadak
basah, sambil terisak menangis, meluncur menuruni cadas bebatuan secepat kakinya bisa.
Bergegas....



AKU HARUS PULANG, SEKARANG!

"ADUH, Intan lagi sibuk, Mi!" Gadis kecil itu menyeringai sebal. Merasa terganggu.
"Intan harus pulang, sayang...."
"Kan bisa tunggu bentar, lagi tanggung, Bentar lagi juga bel!"
"Sekarang, Intan! Tadi Ummi sudah bicara sama Headmaster Miss Elly! Intan boleh ijin
selama diperlukan— "
"Yee, Ummi, Intan kan lagi ngurus Safe The Planet! Mana lagi seru-serunya. Besok kan Intan
mau keliling bawa-bawa gelang karet ke Pasar Induk bareng teman-teman.... Mana boleh
Intan ijin sekolah...."
Gadis kecil yang gigi atasnya sedang tanggal satu itu malas memberesi tas, penggaris, crayon,
kertas gambar, buku-buku, pensil di atas mejanya. Sengaja melakukannya pelan-pelan.
Teman-teman kelasnya sibuk menoleh, menonton.
Dalimunte yang berdiri di belakang, tersenyum mengangguk. Berusaha membuat nyaman
teman-teman Intan, meski apa daya ekspresi mukanya jadi terlihat aneh. Mereka baru saja
tiba di sekolah alam itu. Menjemput putri mereka persis di tengah pelajaran melukis—favorit
Intan. Rusuh sejenak bicara dengan kepala sekolah. Menjelaskan. Headmaster Miss Elly yang
apa daya nge-fans berat sama Profesor Dalimunte, jangankan soal sepenting ini, soal Intan
pilek sedikit saja langsung boleh ijin tiga hari, mengangguk. Tidak masalah.
"Memangnya kita mau kemana sih, Mi? Mendadak benar!"
Gadis kecil berumur sembilan tahun itu memasukkan crayon biru terakhirnya ke dalam
tas. Menoleh ke wajah Ummi yang seperti tidak sabaran ikut membantu berberes-beres.
Padahal sejak setahun terakhir mana pernah coba Ummi bantu-bantu beres kamarnya, Intan
kan sudah besar, bisa sendiri.
"Perkebunan strawberry!" Dalimunte yang menjawab, pendek.
"EYANG LAINURI?" Mata hitam gadis kecil itu membulat.
Dalimunte mengangguk, mengusap lehernya.
"HORE!!" Intan mendadak malah semangat menyeret tas sekolahnya yang berat itu. Wajah
malasnya tadi langsung sirna. Ia malah tidak perlu ditunggu lagi, langsung maju ke depan.
Membawa kanvas lukisnya. Pamitan ke Miss Ani, guru kelas 5-nya (dua tahun terakhir Intan
loncat kelas dua kali). Lantas, tanpa diminta memimpin berjalan di depan Dalimunte dan
Ummi sambil melambaikan tangan ke teman-temannya.
"Eh, sebentar-"
"Apa sayang?" Langkah Ummi ikut terhenti.
"Gelang karetnya kelupaan! Intan kan mesti bawa gelang karet buat Eyang! Biar pamanpaman
yang ngurus kebun bisa pake gelang, biar mereka pakai dua gelang setiap tangannya!"
Ia nyengir, tertawa kecil, senang atas idenya.
Berhenti sejenak.
Mendekati teman-temannya yang masih sibuk menonton.
Dalimunte untuk ke sekian kalinya melirik jam di pergelangan tangan. Mendesah.
Semoga belum terlambat.
"Come on, why nan avete due posti per noi? Any flight, questo e molto importante!"
Wajah Ikanuri terlihat memelas.
Dulu Ikanuri jagonya soal menipu orang lain dengan wajah sok memelas. Kak Laisa yang
suka mengejar-ngejarnya dengan sapu lidi, berkali-kali tertipu soal ini. Sok memelas sakit
(malas sekolah). Sok memelas sakit (malas bantu Mamak Lainuri). Sok memelas sakit (malas
ngurus kebun). Sakitnya si bisa macam-macam. Sakit kaki-lah. Sakit tangan. Bisul. Bahkan
panu pun bisa jadi alasan Ikanuri.
"Mi displace, tutti i voli dall'italia sono pieni da una settimana fa! Questa settimana c'e la
finale di Champions League!. Maaf, penerbangan kemanapun dari Italia sudah penuh sejak
seminggu lalu! Minggu ini final Liga Champion, Senior! Seluruh jadwal penerbangan penuh
dari Roma!"
"Ayolah! Bagaimana mungkin kalian tidak punya dua kursi untuk kami? Di kelas apapun.
Penerbangan apapun. Ini penting sekali! Dua tiket saja!"
"Senior tidak mengeri. Ini final Liga Champion—"
"Solo due biglietti?"
"Questa e la finale di Calcio—"
"Sepak bola sialan! Kenapa pula semua orang sibuk menonton 22 orang berebut satu bola!
Kenapa mereka tidak dikasih 22 bola juga saja!"
Ikanuri memotong kalimat gadis itu, meremas rambutnya. Memaki. Teringat kaos bola
titipan putrinya.
Ini juga gaya favorit Ikanuri waktu kecil dulu kalau menipu guru di kelas (ketahuan
bolos). Atau ketahuan mencuri uang di kelpeh plastik Mamak Lainuri. Sok bego tidak
mengerti. Ah, tapi sekarang ekspresi itu benar-benar jujur. Lagipula sejak puluhan tahun
silam, Ikanuri sudah insyaf. Kapok. Mengerti benar maksud Kak Laisa yang suka berteriak,
'kerja keras!', 'kerja keras!', 'kerja keras!'
"Bisa tolong cek jadwal penerbangan maskapai lainnya, please?"
Wibisana yang berdiri agak dibelakang Ikanuri menyibak maju ke depan. Berusaha
tersenyum ke gadis penjaga loket biro perjalanan di Bandara Roma yang sejak tadi berkalikali
tersenyum tanggung menghadapi seruan-seruan Ikanuri.
"Percuma, Senior, Benar-benar full. Anda lihat rombongan di sana! Rombongan kedutaan
negara Anda. Mereka hari ini juga ingin ke Jakarta. Tidak ada lagi tiket tersisa. Tidak buat
mereka. Juga tidak buat, Senior. Maaf—" Gadis penjaga itu mencoba ikut bersimpati.
Menunjuk lima orang yang bergerombol diruang tunggu. Wibisana dan Ikanuri menelan
ludah.
"Jadi apa yang harus kami lakukan?" Ikanuri bertanya putus-asa.
Gadis itu diam sejenak. Mengetikkan sesuatu.
"Kalau Senior mau, saya bisa melakukan reservasi penerbangan dari bandara lain...."
Menekan-nekan keyboard komputernya.
Wajah Ikanuri sedikit cerah oleh kemungkinan baik tersebut.
"Dari mana? Verona? Milan? Tidak masalah. Asal hari ini juga—"
"Maaf, bukan dari Italia, Senior. Tadi sudah saya bilang, malam ini digelar pertandingan final
Liga Champion di Roma, ditambah pula ini musim kunjungan ke Vatikan, Sakramen Agung.
Jadi seluruh penerbangan ke kota-kota di Italia penuh. Juga negara-negara di sekitar. Vienna,
Austria juga penuh. Hm.... Paling dekat.... Ergh, dari Paris, Perancis! Mau??"
Perancis?
Rona kabar baik itu seketika padam.
6
BERANG – BERANG YANG LUCU
"YASH! BERHENTI SEBENTAR, YASH!!"
Dua rekan Yashinta patah-patah menuruni bebatuan gunung ketinggian 3000 meter dpl.
Yashinta tidak menoleh. Mata, tangan, kakinya konsentrasi penuh menjejak trek yang
sempit dan berbahaya.
"YASH, TUNGGU — " Terus menuruni bebatuan.
"Yash, kan tidak semua orang seatletis kamu naik-turun gunung! Kalau keseleo. Benar-benar
celaka, tahu!"
Tersengal-sengal.
Yashinta, gadis berambut panjang itu demi mendengar seruan dengan intonasi setengah
memohon, setengah sebal itu, akhimya menahan langkahnya, menoleh. Berpegangan ke salah
satu batu besar. Jurang terjal, menganga di kiri kanan mereka. Bukan hanya soal keseleo, tapi
lalai sedetik saja, mahal sekali harganya. Bagi kebanyakan orang yang mengerti, sebenarnya
turun dari gunung jauh lebih berbahaya dibandingkan naiknya— apalagi dengan stamina
yang terkuras habis waktu mendakinya.
"Ada apa, sih?"
Teman cowoknya bertanya setelah berhasil mendekat. Satu kata, satu tarikan nafas. Hosh,
Hosh, Hosh. Uap mengepul dari mulut. Kedua rekannya membungkuk memegangi perut.
Capai. Gila, mereka lima belas menit meluncur dengan kecepatan tinggi non-stop dari puncak
Semeru.
"Aku harus pulang!"
"Iya, kami tahu kau harus pulang, tapi ada apa?"
Yashinta tidak menjawab, ia malah menurunkan ranselnya. Mengeluarkan botol 500 mili
minuman berion, pengganti keringat. Melemparkannya ke dua rekannya yang masih
tersengal.
"Trims, Yash." Masih tersengal.
Lengang sejenak. Yashinta (yang sedikitpun tidak tersengal) memperbaiki posisi
peralatan di ransel berukuran semi carrier-nya. Mengencangkan syal di leher. Angin pagi
bertiup pelan. Terasa begitu menyenangkan. Membelai anak rambut. Menelisik di sela-sela
kuping. Yashinta mengusap dahinya. Menatap langit pagi yang membiru. Gumpalan halimun.
Ya Allah, ini sama persis seperti di lembah itu. Sama persis.
Lembah itu....
Rasa haru itu menelisik lagi hatinya. Mengiris membusai perih di mata. Yashinta
mengusap ujung-ujung matanya, Ya Allah, apa yang sebenarnya terjadi? Berpilin. Berputar.
Terlemparkan. Dua puluh lima tahun silam.
Kenangan-kenangan itu kembali sudah.
Di sini juga angin selalu bertiup menyenangkan. Tidak pagi. Tidak siang. Tidak juga
malam. Tapi sepanjang hari, sepanjang malam. Angin selalu berhembus lembut membelai
anak-anak rambut.
"Masih jauh, Kak?"
Kaki-kaki kecil itu menjejak air anak Mingai setinggi mata-kaki. Kecipak-kecipak. Sungai
yang jernih. Di tengah hutan ini ada puluhan cabang anak sungai kecil seperti ini.
"Masih—" Tubuh gendut dan gempal yang lima belas senti lebih tinggi dibandingkan anak
kecil di belakangnya menjawab pendek. Burung-burung berhamburan dengan suara ramai
saat dua anak itu membelah jalanan setapak rimba.
"Seberapa jauh lagi? Lima menit? Sepuluh menit?"
kecipak-kecipak. Bebatuan licin menyembul dari permukaan sungai.
"Masih jauh! Dan kau jangan sampai terpeleset, YASH!"
Suara nyanyian puluhan burung memenuhi langit-langit hutan. Cahaya pagi menerobos
sela dedaunan, menerabas sela-sela putihnya kabut. Membuatnya seperti mengambang.
Bahkan seolah-olah kalian bisa menangkap berkas cahaya itu. Mereka sejak setengah jam
lalu menelusuri hutan. Tangkas yang satunya, yang berjalan di depan, berjalan sambil
menebas ujung-ujung semak belukar yang menjuntai ke batang sungai, menghalangi mereka.
Kedua anak perempuan itu sebenarnya berbeda umur cukup jauh. Yang besar sudah sekitar
enam belas tahun, yang kecil baru enam tahun. Tapi karena perawakan yang lebih besar
sepertinya tidak akan tumbuh normal, sebaliknya yang lebih kecil tumbuh lebih cepat, maka
mereka seperti berbeda umur dua-tiga tahun saja.
Mereka lahir disebuah lembah indah yang sempurna dikepung hutan belantara. Terpencil
dari manapun. Dua jam perjalanan dari kota kecamatan terdekat. Namanya, Lembah
Lahambay. Persis di tengah-tengah bukit barisan yang membentang membelah pulau.
Deretan gunung-gunung kecil. Ada sebelas puncak gunung setinggi 1.500-2.000 meter dpl di
kawasan lembah itu.
Terselip disana-sini, ada sekitar empat perkampungan radius sepuluh kilo di Lembah
Lahambay. Berjauhan satu sama lain. Paling dekat terpisah satu kilometer. Satu
perkampungan paling banyak terdiri dari 30-40 rumah panggung. Perkampungan mereka
terletak paling tepi, paling bawah, berbatasan langsung dengan hutan rimba. Tapi meski
disekitar kampung banyak terdapat sungai, celakanya posisi kampung itu tetap lebih tinggi
dari manapun. Sungai besar yang ada di bawah kampung terpisah oleh dinding cadas setinggi
lima meter, yang membuat kampung itu seperti sempurna terpisah dari rimba.
Untuk menuruni dinding cadasnya saja sudah sulit bukan main. Maka tidak seperti desadesa
yang lazimnya dekat dengan hutan (yang otomatis berarti dekat dengan sungai), disini
penduduk menanam sawah tadah hujan, bukan bercocok-tanam dengan sawah irigasi. Mereka
hanya berharap pada siklus kebaikan langit. Selebihnya bekerja mencari rotan, damar,
kumbang hutan, hingga belakangan menjual burung, kukang, jangkrik, dan apa saja yang laku
di kota kecamatan.
"Masih jauh, Kak? Lima menit? Sepuluh menit?" Gadis kecil yang berumur enam tahun
bertanya lagi sambil melepas daun yang tersangkut di rambut.
" Masih!"
Laisa nama kakaknya, kali ini menjawab dengan nada sebal. Itu pertanyaan yang ke dua
puluh sepanjang perjalanan mereka. Adiknya selalu saja suka bertanya. Berulangkali, Tidak
bosan-bosannya. Malah pakai "menit-menitan" segala. Bisa sabar dikit kenapa!
Lembah Lahambay selalu terbungkus kabut di pagi hari, ketika kehidupan di rumahrumah
mulai menyeruak sejak kumandang adzan shubuh dari surau. Asap putih mengepul
dari dapur. Melukis langit-langit lembah. Pertanda kehidupan sudah dimulai.
Satu-satunya akses dari kota kecamatan ke lembah itu hanyalah jalan bebatuan selebar
tiga meter. Di desa atas, satu kilometer dari kampung mereka, yang penduduknya lebih maju
dan lebih berada, ada dua mobil starwagoon tua yang sering bolak-balik ke kota kecamatan.
Terkentut-kentut membawa hasil kebun, hutan, atau apa saja penduduk lembah tersebut,
melewati jalanan buruk. Naik turun. Di desa atas juga ada sekolah dasar, meski seadanya.
Bagaimana tidak seadanya? Hanya ada satu guru untuk semua kelas. Kelas? Itu bahasa yang
lebih halus untuk menyebut bangunan jelek beratap seng karatan, berdinding anyaman
bambu, berlantai semen pecah-pecah.
Mereka terbiasa dengan semua keterbatasan. Terbiasa dengan kehidupan terpencil. Jadi
wajar sajalah melihat dua anak perempuan merambah hutan di pagi buta. Pemandangan
lumrah di lembah ini! Anak-anaknya tumbuh dan akrab dengan kehidupan sekitar. Tadi
selepas shalat shubuh jamaah, persis saat perkampungan masih gelap, selepas belajar mengaji
Juz'amma dengan Mamak, Kak Laisa akhirnya bilang akan menemani Yashinta pergi melihat
berang-berang. Kabar yang membuat Yashinta langsung berseru riang tak henti selama lima
menit. Bergegas melepas mukena kumalnya.
Sebulan lalu saat Kak Laisa membantu Mamak mengumpulkan damar jauh di tengah
hutan. Kak Laisa tidak sengaja menemukan tebat (bendungan) yang dibuat berang-berang.
Hebatnya di sana ada lima ekor anak berang-berang yang sedang berenang. Lucu sekali
melihatnya. Meski kemudian Kak Laisa benar-benar menyesal menceritakan apa yang
dilihatnya kepada Yashinta, apalagi dengan menambahinya dengan kalimat: lucu sekali
melihatnya.
Menceritakan itu ke Yashinta sama saja dengan mengundang masalah. Maka tak kunjung
henti setiap malam Yashinta merajuk ingin ke sana. Menarik-narik baju gombyor Kak Laisa.
Jengkel. Atau mungkin pula akhirnya lelah dengan bujukan adiknya, pagi ini Laisa
memutuskan mengajak Yashinta untuk melihat langsung. Waktu paling baik melihat berangberang
adalah pagi hari. Semakin pagi semakin baik.
"Hati-hati, Lais! Jaga adikmu!"
Mamak Lainuri berkata tajam dari bingkai pintu. Itu pesan Mamak tadi sebelum berangkat.
"Yash, kan sudah besar, Mak! Tidak perlu dijaga!"
Yashinta yang justru menjawab, sambil nyengir. Memasang sepatu bot butut miliknya. Juga
caping anyaman di kepala.
"Apa sih serunya lihat berang-berang? Gitu-gitu saja! Mana ada coba lucunya"
Satu kepala anak lelaki menyembul dari belakang Mamak. Mukanya terlihat jahil.
"Iya, apa coba lucunya!"
Satu lagi kepala anak lelaki menyusul. Wajah mereka berdua mirip benar. Kompak seperti
biasa, menyeringai nakal ke arah Yashinta.
"Biarin! Pokoknya lucu!"
Yashinta cemberut, tidak mempedulikan kedua kakaknya.
"Yang keren tuh lihat Harimau. Kemarin aku dan Ikanuri sempat lihat satu di atas Gunung
Kendeng—"
"Ah-ya, harimau. Benar. Itu baru lucu. Malah anak-anknya ada enam, Yash. Lebih banyak.
Lucu-lucu banget— "
"Iya, Kak? Harimau beneran?"
Gerakan tangan Yashinta yang sedang mengenakan tas kecilnya terhenti. Matanya membulat.
Bertanya ingin-tahu.
" Wibisana! Ikanuri!"
Mamak Lainuri mendesis. Menyuruh dua sigung nakal itu diam.
Kedua anak lelaki itu kompak tertawa. Nyengir. Jangan pernah cerita sesuatu ke
Yashinta. Adik terkecil mereka benar-benar tipikal anak yang suka penasaran. Ingin tahu
segalanya. Tentu saja mereka tadi hanya bergurau. Seperti biasa mudah sekali menggoda
Yashinta. Tapi Mamak Lainuri tidak suka gurauan mereka. Tidak pantas menjadikan
'harimau' sebagai bahan bergurau.
"Lais berangkat, Mak. Assalammualaikum—"
"Waalaikumsalam. Jaga adikmu. Dan pulang segera, Lais. Hari ini banyak pekerjaan di
ladang!"
Gadis tanggung berumur enam belas tahun itu mengangguk. Sigap melangkah menuruni
anak tangga. Yushinta langsung ngintil mengikuti. Lihatlah, meski baru enam tahun,
Yashinta benar, ia sudah cukup besar untuk urusan ini. Tangkas menjejak rumput yang masih
berbilur kristal embun. Tubuhnya meski terlihat kecil dan ringkih, tidak kalah atletisnya
dibanding Kak Laisa yang gendut dan gempal.
Hutan, semakin lama semakin lebat.
Hiruk-pikuk burung memenuhi atas kepala semakin ramai. Seperti orkestra. Ada yang
berdengking, berkicau, bernyanyi, bahkan ada yang seperti ngoceh tanpa henti. Itu burung si
penggosip. Sibuk bicara, meski tidak penting. Dengking uwa (semacam monyet) dari
kejauhan menimpali. Kuak suara ayam hutan. Nyamuk besar-besar berdesing di atas kepala.
Sarang laba-laba. Mereka sudah berjalan hampir satu jam. Menyusuri jalan setapak yang
kadang ada, kadang hilang di tengah hutan.
"Masih jauh, Kak?"
Kak Laisa tidak menjawab.
"Masih jauh, Kak?"
"Ssst—" Kak Laisa menghentikan langkahnya.
Yashinta yang sedikit kaget karena Kak Laisa berhenti mendadak, memegang lengan Kak
Laisa dari belakang. Ingin tahu. Menyeruak ke depan. Tapi Kak Laisa malah menahan
kepalanya. Mendelik menyuruhnya tetap di belakang. Dan tentu saja memberi kode: jangan
berisik. Mereka sejak lima belas menit tadi sudah turun dari jalan setapak, menyusuri sungai
kecil berbatu-batu itu.
Kak Laisa melanjutkan langkahnya pelan-pelan. Yashinta mengerti, tidak perlu dijelaskan
dua kali, ikut melakukannya. Menghilangkan suara kecipak kaki di atas air. Lima belas
meter. Kak Laisa melangkah mengendap-endap menaiki tepi sungai. Yashinta tanpa banyak
bicara ikut. Kalau sudah begini, berang-berang itu pasti sudah dekat, deh. Yashinta nyengir
lebar. Juga ikut mendekam di balik sebatang pohon besar, di belakang Kak Laisa.
"Di depan sana—" Kak Laisa berbisik.
Wajah Yashinta sudah merah saking antusiasnya. Ia melapas caping anyamannya
(kepalanya gerah) lantas merangkak mengintip dari balik batang besar itu. Mana? Mana?
Mana? Suara getas ranting patah terdengar. Kak Laisa meucubit lengannya.
"Jangan berisik!" Mendesis.
Yashinta manyun sebentar. Kan tidak sengaja. Merangkak lebih hati-hati. Memperhatikan
tempat yang ditunjuk Kak Laisa. Memang ada bendungan tiga-lima meter di depan mereka.
Bendungan dari batang roboh yang persis melintang di tengah sungai. Yang sekarang
dipenuhi dedaunan, ranting-ranting, dan tanah liat.
Mana anak berang-berangnya? Yang ada hanya dua ekor burung Meninting. Sibuk
bercengkerama di atas bebatuan. Loncat-loncat. Mengembangkan sayap indah hitam
bergaris-garis putih milik mereka. Saling menggoda.
Saat Yashinta siap mengeluh ke Kak Laisa sekali lagi. Bertanya man-na anak berangberangnya.
Pelan terdengar suara kecipak dari pohon roboh di tengah-tengah bendungan.
Splash—
Aih! Mata Yashinta langsung melotot. Membesar.
Splash. Splash. Splash—
Yashinta berseru tertahan. Sekali lagi dicubit Kak Laisa.
Untung seruan itu tidak terlalu keras. Jadi tidak ada yang terganggu. Gadis kecil itu
mendekap sendiri mulutnya. Menyeringai cemberut, menoleh ke arah Kak Laisa yang
nyengir galak.
Splash—
Itu suara berang-berang ke lima yang meluncur ke dalam kolam bendungan buatan
mereka. Bukan main, lima anak berang-berang itu meluncur anggun. Naik turun. Kepalanya
celap-celup. Satu-dua jahil mengejar ikan-ikan kecil yang banyak berkeliaran di sela-sela
mereka. Celap-celup. Sungai itu jernih. Jadi Yashinta bisa melihat hingga ke bebatuan
dasarnya. Dua ekor kepiting yang tadi nangkring di pinggir kolam sungai segera menyingkir.
Juga menyingkir sekumpulan udang yang sedang berjemur di bonggol kayu. Menyisakan
burung Meninting yang terus cuek berloncatan da atas batu, tidak peduli dengan lima anak
berang-berang. Mulut Yashinta terbuka. Terpesona.
Kak Ikanuri dan Kak Wibisana salah seratus persen, deh! Kata siapa anak berang-berang
tidak lucu? Yashinta sekarang saking gemasnya malah sudah merangkak keluar dari balik
batang, ingin melihat lebih dekat. Laisa hendak menarik tasnya, mencegah. Tapi demi
melihat ekspresi muka Yashinta yang begitu sumringah, urung. Ia tidak ingin menganggu
kesenangan adiknya. Akhirnya hanya tersenyum tipis, membiarkan. Itu sungguh senyum
pertamanya sepanjang pagi ini, atau juga sepanjang minggu ini sejak Yashinta menyebalkan
selalu merajuk minta diantar.
Ah, Kak Laisa memang jarang tersenyum.
Berang-berang itu terus berkejaran di beningnya air kolam. Uap mengepul dari inang
sungai. Suara lenguh uwa terdengar dari kejauhan. Kicau ramai burung-burung, Matahari
pagi semakin terik. Permainan cahayanya dari sela dedaunan yang memantul di beningnya air
bendungan terlihat memesona. Pagi yang indah. Benar-benar pagi yang indah di Lembah
Lahambay. Menyaksikan sendiri lima anak berang-berang berenang, saling bercengkerama,
persis dari bibir kolam bendungannya. Menyaksikannya dari jarak sepelemparan batu saja.
Itu sungguh hanya ada dalam mimpi berjuta orang....
Ada apa?
Yashinta menyeka matanya yang basah. Menatap datar kedua temannya yang nafasnya
sudah kembali normal. Dingin angin pagi menyergap lereng Gunung Semeru. Cahaya yang
menembus kabut terlihat menawan. Yashinta menarik nafas pelan. Ia tidak tahu apa yang
telah terjadi. Tepatnya belum. Yang ia tahu, ia harus pulang segera. SMS itu amat
mencemaskan.
Terlebih tiba-tiba semuanya terasa ganjil. Sesak. Kenangan itu kembali bagai tontonan
audio-visual dari layar teve LCD sejuta pixels. Begitu nyata. Begitu dekat. Seolah ia bisa
menyentuhnya. Menyentuh wajah Kak Laisa yang pagi itu tersenyum tipis....
"Ada apa, Yash?" Teman ceweknya bertanya lagi.
"Aku harus pulang!" Yashinta menjawab pendek, menaikkan kembali ransel ke pundaknya.
Meneruskan langkah.
Bergegas.



ITU BENAR-BENAR JAUH LEBIH PENTING

"RIO... RIO...." Intan, gadis kecil berumur sembilan tahun itu berseru-seru. Sibuk. Naik turun
tangga. Melongok ke balik kursi, meja, ranjang, lemari, apa saja. Lari keluar, mencari di
halaman.
"Rio... Rio.... Aduh, kemana, sih?" Intan balik lagi ke dalam rumah. Berlarian menaiki tangga
lagi. Kuncir rambutnya yang berpita biru bergoyang.
Dalimunte mengusap wajah. Melirik jam di pergelangan tabgan untuk ke sekian kali. Satu
jam lagi, pesawat yang sudah dipesan staf lab-nya, take-off. Kalau mereka terlambat, maka
baru besok ada penerbangan yang sama. Tidak banyak jadwal penerbangan ke kota provinsi
itu. Kota itu terhitung terpencil jika dilihat dari sisi jumlah penumpang angkutan udara.
Maskapai itu saja harus disubsidi pemerintah daerah setempat agar bisa terus beroperasi.
Ummi, juga sama seperti Intan, ikut sibuk membantu. Mencari hamster belang putrinya.
"Ditinggal saja ya, sayang—" Ummi membujuk.
"Yee, mana boleh. Wak Laisa kan suka banget sama hamster belang Intan, nanti pasti ditanya
kalau nggak dibawa!"
Dalimunte menelan ludah mendengar nama Kak Laisa.
"Ditinggal saja ya, Wak Laisa tidak akan nanya, kok—"
"Nggak bisa. Lagian kalau ditinggal yang kasih makan belang siapa, Mi? Rio.... Rio....
Sembunyi di mana, sih?"
Intan terus berseru-seru sambil menarik selimut tempat tidurnya. Biasanya si belang suka
tiduran di bawah ranjang.
Tidak ada.
Menyeringai. Eh, bukankah tadi ia juga sudah periksa tempat ini.
"Nanti Ummi titip tetangga sebelah buat ngurus, ya?"
"Nggak mau!"
Intan melotot. Keras kepala. Demi melihat ekspresi itu, Ummi menghela nafas, kehabisan
kalimat berikutnya.
Beruntung sebelum seisi rumah diobrak-abrik Intan, hamster belang itu dengan cueknya
nongol di dapur. Berlenggak-lenggok bak model. Sibuk menyeka-nyeka mulutnya. Tanpa
ampun, langsung disambar Intan. Gadis keril itu berlarian berteriak,
"UMMI, ABI, HAMSTER-NYA SUDAH DAPAT!"
Mobil sport keluaran terbaru itu melesat keluar dari gerbang rumah setelah Intan duduk
manis di kursi belakang. Dalimunte mencengkeram setirnya erat-erat. Sayang, baru tiba di
tikungan depan komplek perumahan, Ummi berseru tertahan,
"Tas Ummi! Tas tangan Ummi tertinggal!" Dalimunte mendesis sebal.
"Ada kartu ATM, credit card, kartu identitas, semuanya di sana! Harus diambil, Bi!"
Ummi setengah membujuk, setengah memaksa. Mobil sport itu berbalik arah lagi. Rusuh
sejenak mencari tas tangan Ummi (yang sebenarnya tergeletak di meja ruang depan).
Lima belas menit, mobil sport itu kembali meluncur keluar. Baru tiba di jalan besar,
giliran Intan yang berseru panik,
"Tas sekolah Intan, tas sekolah Intan ketinggalan, Bi!"
Dalimunte benar-benar mendesis sebal.
"Harus diambil, Bi! Kan di tas ada gelang karet 'Safe The Plane' Intan, please….please...."
Mobil sport itu berbalik arah lagi. Kali ini tidak sulit menemukannya, karena kaki Intan
tersangkut tas sekolahnya sendiri persis mau masuk rumah.
Sepuluh menit, mobil sport itu kembali meluncur keluar. Dan kali ini Dalimunte benar -
benar mendesis mengkal. Saat tiba di gerbang tol, dia baru menyadari laptop miliknya
tertinggal. Seluruh hidupnya ada di situ, hasil penelitian, nomor kontak, agenda, bahkan
catatan kesehariannya. Dengan muka mengeras, dia terpaksa memutar kembali setir. Maka
setengah jam kemudian saat mobil sport itu benar-benar berada di atas jalan tol menuju
bandara, yang tersisa hanya wajah merah bin bete Dalimunte.
"Bi, janga marah, ya! Kan yang terakhir tertinggal laptop Abi...."
Intan nyengir sambil memeluk hamster belangnya. Menahan tawa. Ummi menyeringai kecil,
tersenyum tanggung melihat ekspresi wajah putrinya. Dalimunte hanya berdehem tanggung.
"Abi, sih, pakai terburu-buru berangkatnya.... Lihat, tuh, sandal Abi malah ketukar-tukar."
Intan mendekap mulut. Ummi yang justru tidak kuasa menahan tawa melihat kaki suaminya
yang menginjak pedal gas dan kopling. Intan benar. Warna-warni (mana suaminya masih
pake kaos kaki segala).
Dalimunte akhirnya ikutan nyengir. Manyun. Tertawa kecil. Meski sekejap kemudian
melirik lagi jam di pergelangan tangannya.
Lima belas menit lagi pesawat itu take-off.
"Si, si.. What? NO! Assolutamente no! like i told you, siamo arivati a Roma half hour fa,
Albertino... saya mendengar suara Anda, Albertino... APA? Tidak! Tentu saja tidak. Sesuai
janji kami sudah tiba di Roma setengah jam lalu, Albertino—"
"Teng-tong-teng-tong....I passeggeri del treno Eurostar (diretto a Paris dslle ore 10.00) sono
pregati di recarsi velocemente al binario 9...."
Roma Termini (stasiun kereta api pusat) itu meski terhitung sepi, karena orang-orang
sibuk menonton pertandingan final sepak bola, tapi tetap berisik oleh suara teng-tong-teng
speaker pengumuman.
"Tidak. Tidak bisa, Albertino. Tidak bisa. Kami harus segera kembali ke Jakarta. Sekarang
juga. Pagi ini juga. Ya! Ya! Pertemuan itu batal —Hallo? Kau mendengarnya, Albertino?
BATAL!" Belepotan Ikanuri menjelaskan lewat telepon genggamnya. Satu karena dia
bersama Wibisana sedang terburu-buru membawa ranselnya mencari peron nomor 9. Dua
karena bahasa Italianya jauh dari lancar, campur-campur. Campur Inggris, malah kadang
campur bahasa Indonesia.
"Albertino, Anda tidak mengerti. Saya harus kembali sekarang juga ke Jakarta. Kau masih
menunggu di bandara? BANDARA? Tidak. Kami sekarang di stasiun kereta Roma! Apa?
Bukan bandara, kami sekarang ada di stasiun kereta! Roma Termini. Tidak. Ya Allah, tentu
saja kami tidak naik kereta dari Jakarta, Albertino. Bagaimana mungkin?—"
"Teng-tong-teng-tong.... Panggilan terakhir untuk penumpang Kereta Lokal Chievo3000.
Harap segera menuju peron nomor 7...."
"Kau dengar? Tidak usah ditunggu. Kami harus pulang malam ini juga ke Jakarta, kau
dengar? Ya? Ya? Albertino, pertemuan besok batal! Batal! BATAL! Kau dengar? Apa? Ah,
sialan—" Ikanuri memaki.
Wibisana yang berlari-lari kecil di sampingnya menoleh.
"Sinyalnya terputus—" Ikanuri menelan ludah.
"Tung-tong-teng-tong.... Kereta ekspres menuju Swiss Benin nomor 12 dibatalkan karena
alasan cuaca buruk. Badan metereologi meramalkan akan turun hujan lebat di selatan Swis.
Kemungkinan longsor. Penumpang bisa melapor ke loket penjualan tiket kami untuk fullrefund,
atau meminta klaim kamar hotel jika memutuskan untuk menunggu kereta besok
pagi. Seluruh staf dan manajemen Trenitalia, dengan rendah hati meminta maaf..."
"Ini semua gara-gara sepak-bola sialan itu, bah!"
Ikanuri bersungut-sungut. Menyeret kopernya.
"Andaikata Kak Laisa ada di sini, kau pasti sudah dipukulnya dengan sapu lidi berkali-kali!"
Wibisana menarik nafas pendek, memperlamban langkah kaki, papan elektronik yang
bertuliskan angka 9 (peron tujuan Paris, Perancis lewat Pegunungan Alpen, Swiss) sudah di
depan mereka. Mencoba untuk lebih rileks. Ada gunanya juga setelah setengah jam terakhir
terburu-buru, mereka tidak terlalu terlambat, masih ada waktu lima menit lagi.
Tadi keluar dari Bandara Roma amat terburu-buru. Meneriaki taksi terburu-buru.
Memaksa sopir taksi (yang keturunan India itu) untuk terburu-buru, ngebut menuju stasiun
kereta. Beruntung jalanan lengang. Persis setengah jam lagi Final Piala Champion di Stadion
Olimpico, penduduk kota Roma sudah dari tadi duduk manis di stadion atau depan teve
masing-masing. Sialnya, meski lengang, di mana-mana ada konsentrasi massa yang bersiap
nonton bareng lewat layar teve raksasa. Mending nontonnya di lapangan, ini justru digelar
persis di tengah-tengah perempatan jalan.
Benarlah adigum itu, bagi penduduk Roma, sepak bola sudah jadi agama. Jadi, terpaksa
taksi berputar-putar mencari jalan yang perempatannya tidak vorbodden. Itu sama saja
menyisir seperempat kota Roma dengan kecepatan tak kurang 70 mil per-jam.
"Aca, aca, ini lewat mana, hei?"
Sopir India itu juga ikutan panik dengan teriakan-teriakan Ikanuri.
Setelah berpikir lima belas detik di depan gadis penunggu counter biro perjalanan,
Wibisana akhirnya memutuskan untuk segera ke Paris. Itulah pilihan terbaik yang ada.
Memutuskan ke Paris dengan menumpang kereta ekspres lintas negara, Eurostar. Soal
perjalanan menggunakan kereta api, benua Eropa nomor satu. Di sini, untuk mengililingi
Eropa, kalian cukup menumpang kereta lintas negara. Kabin kereta yang nyaman, bisa
sekalian jadi hotel tempat beristirahat. Semuanya amat memadai. Tanpa perlu repot melewati
pemeriksaan paspor dan visa setiap kali melintasi perbatasan. Ke sanalah, Ikanuri dan
Wibisana terburu-buru. Mengejar kereta malam.
"Dipukul Kak Laisa berkali-kali? Maksudmu?"
Ikanuri balik bertanya, sedikit bingung dengan kalimat kakaknya barusan. Wajahnya masih
tegang sejak dari bandara tadi.
Wibisana tertawa kecil, berusaha lebih santai,
"Kau sudah tiga kali memaki setengah jam terakhir, bukan? Kalau sampai Kak Laisa tahu, itu
berarti sembilan kali pukulan sapu lidi —" Ikanuri nyengir. Mengerti kalau Wibisana sedang
bergurau soal masa kecil dulu. Terus melangkah. Mereka akhirnya tiba di depan pintu
gerbong kereta. Lampu peron berpendar-pendar menawan.
"Tiketnya, Senior—"
Wibisana menyerahkan tiket ke penjaga.
"Paspor dan Visanya, Senior—"
Ikanuri menarik travel-binder. Tidak banyak cakap menyerahkan dokumen perjalanan,
meski tadi sebenarnya di pintu gerbang stasiun juga sudah diperlihatkan kepada petugas
imigrasi.
"Indonesia, Senior? Ah, saya tahu Pulau Bali. Cantik, bukan?"
Wibisana dan Ikanuri mengangguk. Malas bicara.
"Jika sempat suatu saat saya hendak ke sana, berlibur, menghabiskan masa pensiun.... Wah,
kalian jauh-jauh dari Indonesia, tapi tidak untuk menyaksikan pertandingan final Liga
Champion Juventus-Manchester United, Senior?" Penjaga itu berbasa-basi.
Ikanuri kali ini benar-benar menggeleng tidak peduli.
"Ah saya mengerti, tim sepakbola negara Anda tidak terlalu bagus, tidak menarik untuk
ditonton, tapi di sini beda, senior...."
Ikanuri mendesis sebal; buruan periksa tiketnya.
"Selamat menikmati Eurostar, Senior. Semoga nyaman. Asal kalian tahu, gara-gara final itu,
malam ini kami hanya punya tujuh penumpang…. Kecuali jadwal kereta setelah selesai
pertandingan; nah yang itu baru full-booked!" Penjaga itu tertawa lebar, mengembalikan tiket
ke Wibisana.
Pintu otomatis kereta berdesis terbuka nyaris tanpa suara.
Ikanuri dan Wibisana tak terlalu mendengarkan tawa riang penjaga itu, sudah membawa
koper masuk. Melangkah di sepanjang lorong. Mencari nomor kabin mereka. Melihat interior
kereta, mereka segera menyadari, setidaknya kereta ini lebih dari cukup untuk beristirahat
setelah penerbangan belasan jam. Menurut gadis penjaga counter tadi, butuh waktu
setidaknya dua belas jam untuk tiba di Paris, Perancis. Melewati setidaknya dua ibukota
negara-negara eksotis Eropa. Andai saja situasinya lebih baik, mungkin ini bisa jadi
perjalanan hebat, bisa menjadi trip perayaan atas suksesnya kesepakatan bisnis dengan
produsen mobil balap itu.
Ikanuri menghela nafas, teringat telepon yang terputus barusan, pelan melemparkan
kopernya ke kursi. Wibisana menutup pintu kabin. Juga memikirkan hal yang sama. Tapi
lupakan! Lupakan soal pertemuan di Piaza de Palozzo besok pagi. Lupakan soal kesepakatan
bisnis itu, meski mereka butuh bertahun-tahun untuk mendapatkan kesempatan tersebut. Itu
bisa diurus nanti-nanti, jika masih sempat. Jika produsen itu belum keburu memilih partner
bisnis dari China. Pulang segera ke Lembah Lahambay jauh lebih penting.
Itu benar-benar jauh lebih penting.



KAU ANAK LELAKI

ANAK KECIL berumur dua belas tahun itu sedang sibuk menyusun balok-balok bambu di
pinggir sungai yang mengalir deras. Mukanya serius. Mulutnya sedikit terbuka. Kepalanya
terus berpikir. Sekali, dua kali, tiga kali, berkali-kali, dia menyusun ulang balok-balok itu.
Jatuh, disusun kembali. Gesit. Terampil tangannya mengikatkan tali rotan. Memukul ujung
bambu dengan batu agar melesak lebih dalam ke tepi sungai. Cahaya matahari pagi yang
meninggi menyinari Wajahnya.
Herhenti sejenak. Menyeka keringat. Lantas beranjak ke tepi sungai. Mengambil kincir
yang tersandar di cadas batu setinggi lima meter. Kincir dari batang bambu itu benar-benar
seadanya. Jauh dari kokoh. Tapi itulah usaha terbaiknya. Sudah seminggu terakhir dia
sembunyi-sembunyi membuatnya. Selepas pulang sekolah. Selepas membantu Mamak
Lainuri dan Kak Laisa di ladang. Kapan saja ada waktu luang. Dia akan berlari ke tubir cadas
sungai. Mengerjakan proyek rahasianya jadi bagaimanalah akan kokoh dan baik bentuknya.
Kakinya sedikit bergetar membawa kincir yang lumayan besar untuk anak dua belas
tahun seumurannya. Arus air sungai yang deras membuatnya semakin sulit melangkah. Hatihati
kincir itu diletakkan di atas susunan balok bambu. Anak itu menghela nafas lega. Tinggal
memperbaiki posisinya. Akhirnya satu kincir terpasang sudah. Celananya basah. Bajunya
juga basah. Sedikit belepotan tanah liat cadas sungai. Dia melangkah ke pinggir sungai.
Tersenyum senang melihat pekerjaannya. Kincir itu mulai bergerak pelan mengikuti arus air.
Dan bumbung kosong bambu yang dibuat sedemikian rupa mulai berputar, mengalirkan air
sungai ke atas. Tumpah saat tiba di putaran tertingginya. Berhasil! Anak kecil itu
menyeringai lebar. Masih perlu setidaknya empat kincir lagi hingga akhirnya tiba di atas
cadas sana, pagi ini dia harus menyelesaikan dua di antaranya. Dengan demikian, setidaknya
dia bisa membuktikan air-air ini bisa dibawa ke atas dengan lima kincir bersambung. Bukan
dengan kincir raksasa yang selama ini selalu dianggap solusi terbaiknya. Dia beranjak
memasang pondasi balok-balok bambu berikutnya di dinding cadas.
Kali ini jauh lebih sulit. Cadas itu keras untuk dihantam meski dengan ujung bambu
runcing sekalipun. Berkali-kali ujung bambunya penyok. Terpaksa dipampas lagi dengan
golok. Setengah jam berlalu, pondasi sederhana di dinding cadas sungai itu akhirnya jadi.
Kali ini benar-benar lebih sulit memasangkan kincir kedua yang tersandar di dinding cadas.
Berat. Tidak mudah mengangkatnya. Tidak kehabisan akal, anak kecil itu mengambil tali
rotan yang telah disiapkannya. Menyangkutkan ujung-ujungnya di salah satu pohon besar
lima meter di atas cadas. Lantas pelan-pelan menarik kincir itu ke atas.
Matahari sudah benar-benar tinggi ketika ia berhasil meletakkan kincir itu di pondasi
dinding cadas. Bajunya penuh oleh licak lumpur. Berhenti sejenak. Sekali lagi tersenyum
riang melihat pekerjaannya. Lantas melangkah ke sungai yang mengalir jernih. Berusaha
membersihkan muka dan tubuh yang kotor. Saat itulah, saat dia sekalian menyelam di sungai
sedalam pinggang itu, saat asyik menikmati sejuknya arus deras sungai, terdengar gemerisik
dedaunan diinjak dari jalan setapak mulut rimba. Mengangkat kepala.
"DALIMUNTE! APA YANG KAU KERJAKAN DI SINI?"
Tanpa tedeng aling-aling teriakan itu meluncur, menyergap.
Dalimunte, nama anak kecil berumur dua belas tahun itu seketika gagap. Kak Laisa
bersama Yashinta, muncul dari gerbang jalan setapak hutan belantara, turun ke anak sungai
yang mengalir deras.
"BUKANNYA kau seharusnya ada di sekolah, Dali? Apa yang kau lakukan di sini?"
Kak Laisa mendesis galak, melangkah mendekat. Seram benar melihat tampangnya. Bahkan
Yashinta yang sepanjang perjalanan pulang tadi hatinya berbunga-bunga, ikut-ikutan takut
mendengar seruan Kuk Laisa. Berdiri mengkerut di belakang Kak Laisa.
"Ee,ee, Dalimunte sakit, Kak!" Anak lelaki itu menyeringai, terdesak, sembarang mengarang.
Meniru kelakuan dua adik lelakinya yang memang jago ngarang kalau sudah ketahuan salah
begini.
"BOHONG! Sakit apa?" Kak Laisa melotot. Semakin dekat.
"Errgh, pilek...."
"Bagus sekali! Pilek, pilek tapi kau main air!"
Kak Laisa menukas tajam, tangkas menyambar ranting yang kebetulan hanyut di dekat kakikaki
mereka, dan tentu saja ranting itu gunanya buat menunjuk-nunjuk dada Dalimunte.
"Sejak kapan kau berani bolos sekolah, hah?"
Kak Laisa menghardik.
Dalimunte mencicit Aduh, dia pikir Kak Laisa dan Yashinta bakal lama lihat berangberangnya.
Dia pikir akan cukup waktu mengerjakan kincir-kincir ini sebelum Kak Laisa
kembali. Ternyata perhitungannya keliru. Dia memang sudah tak sabar menunggu waktu
senggang menyelesaikan pekerjaan yang sudah direncanakan dan dikerjakannya berbulanbulan.
Mumpung Kak Laisa pagi ini tidak ada di rumah untuk mengawasi. Makanya
memutuskan bolos sekolah. Selama ini sedikitpun tidak tersedia waktu yang cukup untuk
menyelesaikan kincir-kincirnya. Lepas sekolah dia langsung keladang. Hari ahad juga begitu,
sepanjang hari harus ke ladang. Padahal pertemuan di Balai Desa dilakukan besok pagi.
"Kalau kau bolos, berarti Ikanuri dan Wibisana juga bolos!"
Kak Laisa bertanya menyelidik, menusuk dadanya lebih keras.
Dalimunte meringis. Soal itu tidak usah ditanya lagi, meski ada Kak Laisa sekalipun
Ikanuri dan Wibisana rajin bolos, apalagi jika Kak Laisa tidak ada. Lebih berani melawan.
Tadi pagi sih mereka bertiga pamitan ke Mamak, memakai seragam, menuju sekolah di desa
atas. Tapi baru tiba di pertigaan jalan bebatuan selebar tiga meter itu, Ikanuri dan Wibisana
sudah kabur duluan, naik starwagoon tua yang kebetulan lewat ke kota kecamatan. Dalimunte
sebenamya jauh lebih nurut. Dia meski terkadang bosan sekolah, tapi tidak pernah membolos.
Tadi pagi saja, butuh waktu sepuluh menit di pertigaan itu hingga akhirnya dia berani
memutuskan untuk ikut membolos. Menyelesaikan kincir airnya.
"Apa yang kau kerjakan di sini? JAWAB!"
Kak Laisa menghardik lagi. Lebih kencang. Mengkal karena yang diteriaki sejak tadi malah
menunduk bengong.
Dalimunte hanya diam. Menelan ludah. Tetap menunduk.
"APA YANG KAU KERJAKAN DI SINI?"
Dalimunte membisu.
"KAU ANAK LELAKI DALIMUNTE! Anak lelaki harus sekolah. Akan jadi apa kau jika
tidak sekolah? Pencari kumbang di hutan sana seperti orang lain di kampung ini? Penyadap
damar? Kau mau menghabiskan seluruh masa depanmu di kampung ini? Setiap tahun
berladang dan berharap hujan turun teratur? Setiap tahun berladang hanya untuk cukup
makan! Kau mau setiap tahun hanya makan ubi gadung setiap kali hama belalang menyerang
ladang? Hah, mau jadi apa kau, Dalimunte?"
Yashinta yang berdiri di belakang Kak Laisa ikut tertunduk. Hilang sudah semua
kesenangannya setelah melihat anak berang-berang. Yashinta memainkan caping
anyamannya pelan-pelan. Menggigit bibir. Kalau Kak Ikanuri dan Kak Wibisana yang
dimarahi, Yashinta tidak terlalu sedih. Mereka memang bandel. Tapi kalau Kak Dalimunte
yang dimarahi? Kan, Kak Dalimunte selalu baik. Membantu Mamak. Membantu Kak Laisa.
Suka membuatkan Yashinta mainan. Yashinta ingin menyela, membujuk Kak Laisa agar
berhenti, tapi melihat muka Kak Laisa yang merah padam macam kumbang membuat niatnya
urung.
"Kau tahu! Mamak setiap hari ke ladang! Setiap sore ke hutan mencari damar!
Mengumpulkan uang sepeser demi sepeser agar kalian bisa sekolah! Lantas apa yang kau
berikan sebagai rasa terima kasih? BOLOS SEKOLAH!! BERMAIN AIR??"
Dalimunte tertunduk dalam-dalam. Menyeka matanya yang tiba-tiba panas, berair. Dali
tidak sedang bermain air, Kak Lais. Sungguh —
"KAU BENAR-BENAR TIDAK TAHU MALU! MAU JADI APA KAU KALAU BESAR
NANTI??"
Tidak. Kak Lais keliru. Dali mengerti benar. Mamak sudah bekerja keras demi mereka.
Mengerti benar Kak Laisa mengorbankan seluruh masa kanak-kanak dan remajanya agar bisa
membantu Mamak setiap hari tanpa lelah demi adik-adiknya sekolah. Dalimunte menyeka
matanya. Menangis, rusukan ranting Kak Laisa di dada terasa sakit sekali, tapi hatinya lebih
sakit lagi. Sungguh dia tidak bolos demi sesuatu yang percuma. Dia tidak sedang main air.
Tapi dia tidak bisa menjelaskannya.
"KAU DENGAR KATAKU?!" Dalimunte terisak, mengangguk.
"PULANG! PULANG SANA!!" Kak Laisa keras memukul lengan Dalimunte dengan
ranting. Yang dipukul menyeka hidungnya yang kedat. Sakit. Tangannya terasa pedas, perih.
Tapi hatinya tertusuk lebih sakit. Dia tahu. Tentu saja dia tahu, Dalimunte melangkah pelan,
menyusuri inang sungai.
Kak Laisa sekarang menatap tajam Yashinta. Tanpa perlu di teriaki dua kali, Yashinta
buru-buru melangkah, mengikuti Dalimunte dari belakang. Menuju tepi sungai. Menaiki
tangga dari kayu setinggi lima meter itu. Kampung mereka terpisah dari hutan oleh cadas
setinggi lima meter itu. Tiba di hamparan semak belukar, berjalan tiga ratus meter lagi baru
akan tiba di perkampungan. Atap seng yang sudah karatan dari rumah-rumaah panggung
penduduk terlihat berbaris. Seadanya. Yang paling ujung, yang paling tua, dan yang paling
kecil, itulah rumah mereka.
"Sakit, Kak?"
Yashinta yang berjalan dibelakang Dalimunte berbisik pelan, berusaha mensejajari langkah
kakaknya. Kak Laisa berjalan sepuluh meter di belakang mereka. Masih mengawasi galak.
Dalimunte hanya mengangguk. Matahari semakin terik. Dikejauhan suara elang mengitari
rimba terdengar gagah. Satu bunga rumput terbang, hinggap di dahi Yashinta—
"Nanti Yashinta kasih minyak urut—"
Yashinta berbisik pelan, mengambil bunga rumput di dahinya. Dalimunte mengangguk lagi.
Senyap. Angin lembah membuat ujung-ujung semak bergoyang. Terasa menyenangkan.
Caping anyaman Yashinta bergerak-gerak.
"Anak berang-berangnya ketemu?"
Dalimunte bertanya pelan.
Giliran Yashinta yang mengangguk.
"Lucu?"
Yashinta mengangkat dua jempolnya,
"Top banget, deh!"
Dalimunte tersenyum tipis, meski kemudian meringis lagi, lengannya yang tadi dipukul
terasa perih. Mereka terus berjalan menyusuri jalan setapak, tanpa bercakap-cakap lagi. Kak
lisa terus melotot di belakang.
Matahari hampir tiba di puncaknya. Terik membakar lembah.
Ah, meski belum satupun yang menyadarinya, hari ini garis kehidupan masa depan
mereka yang cemerlang sudah dimulai. Hari ini, garis kehidupan sederhana dan apa adanya
milik mereka mulai menjejak masa-masa depan yang gemilang. Anak-anak terbaik dari
Lembah Lahambay. Anak-anak yang mengukir indahnya perjuangan hidup, Yashinta dengan
berang-berangnya, Dalimunte dengan kincr airnya. Ikanuri dan Wibisana, entah dengan
apanya. Dan Kak Laisa dengan segala pengorbanannya.
Lihatlah, meski Dalimunte tidak sempat menyaksikannya sendiri, kincir airnya ternyata
sempurna bekerja. Air itu perlahan bergerak naik. Dari kincir pertama. Naik terus ke atas,
berputar seiring arus air sungai memutarnya. Tumpah. Langsung disambar kincir air yang
kedua. Kincir air yang kedua itu lantas bergerak pelan. Berkereketan. Pondasinya bergetar.
Tapi pelan mulai berputar, air itu naik lagi, berputar terus.
Tumpah....
Masih butuh tiga kincir air lainnya di cadas itu.
"Bi, kenapa Abi tiba-tiba jadi pendiam?" Intan menarik ujung kemeja Dalimunte,
"Sakit gigi, yee?" Nyengir lebar.
Dalimunte mengusap wajahnya. Tersadarkan dari kenangan. Menatap keluar jendela
pesawat. Hamparan awan menggumpal putih nremenuhi sekeliling. Mereka berada di
ketinggian 30.000 kaki.
"Abi masib marah gara-gara hamster Intan, ya?"
Dalimunte perlahan menggeleng, lembut mengusap kuncir rambut putrinya. Tersenyum.
Tentu saja tidak. Hamster belang itu sekarang pasti mendekam gelisah di ruang kargo
pesawat. Dulu, putrinya suka sekali menyelundupkan hamster dalam saku bajunya. Lolos di
pintu pemeriksaan. Maka hebohlah pesawat itu saat hamster belangnya ternyata menyelinap
turun, lantas masuk ke salah satu kotak makanan yang dibawa pramugari untuk penumpang.
Loncat. Berlarian di dalam pesawat yang sedang terbang persis di atas lautan.
"Kamu sekarang bawa gelang karetnya, sayang?"
Dalimunte merubah posisi duduknya, bertanya lembut. Ah, seharusnya dia bisa lebih rileks
sekarang, mereka sudah duduk nyaman di atas pesawat.
"Bawa. Memangnya kenapa, Bi?"
"Abi minta satu lagi—"
Intan tertawa, mengambil tas sekolah di bawah kakinya, mengeluarkan satu gelang.
Menjulurkan gelang itu. Dalimunte hendak mengambil dari tangan putrinya. Tapi Intan tidak
melepaskan gelangnya.
"Abi bayar dulu lima ribu!"
Dalimunte tertawa kecil, mengeduk saku celananya, kosong.
"Minta sama, Ummi!"
Ummi ikut tertawa, mengeluarkan tas tangannya.
Seharusnya perjalanan ini menyenangkan. Mereka hampir setiap dua bulan sekali
berkunjung ke perkebunan strawberry Mamak Lainuri. Dan itu selalu menjadi perjalanan
yang menyenangkan. Berkumpul bersama yang lain. Apalagi Intan, menikmati benar menjadi
kakak-kakak bagi Juwita dan Delima (maksudnya menikmati merintah-merintah mereka).
Menikmati masakan Wak Laisa. Berjalan keliling kebun bersama Eyang Lainuri, atau yang
lebih seru Iagi, ikut Tante Yashinta melihat berang-berang di pagi buta.
Tadi mereka amat terlambat datang di bandara. Seharusnya pesawat itu sudah take-off
lima belas menit lalu. Tapi kolega peneliti Dalimunte yang mengerti situasinya berbaik hati
menelepon kantor pusat maskapai penerbangan tersebut dari lab. Hari ini, pakar fisika ngetop
seperti Profesor Dalimunte sudah seperti selebritis saja, apalagi salah satu petinggi maskapai
itu sama persis dengan Headmaster Miss Elly, fans berat Profesor Dalimunte, maka mereka
berbaik hati menunda penerbangan. Toh, penumpang lain tidak berkeberatan setelah tahu
yang naik ke pesawat terakhir adalah Profesor Dalimunte.
"Eh, Ummi sudah telepon Eyang Lainuri kalau kita mau datang? Biar Eyang masak yang
banyak. Masakan kesukaan Intan: rebung bakar!"
Intan nyengir.
Teringat sesuatu.
Ummi tersenyum simpul, bagi putrinya kunjungan ini mungkin tidak jauh berbeda dengan
kunjungan-kunjungan sebelumnya. Mengangguk.
"Tapi mengapa mendadak benar, Mi?"
"Mendadak apanya?"
"Kita pulang! Kenapa mendadak benar? Orang kalau mau hujan saja ada gunturgeledeknya..."
"Wak Laisa sakit, sayang—"
Dalimunte yang menjawab, setelah menghela nafas. Cepat atau lambat Intan akan tahu.
"Sakit? Mana bisa Wak Laisa sakit?"
Mata Intan membesar, sedikit pun tidak percaya. Kan, Wak Laisa tuh terlihat tambun. Gemuk
meski gempal. Mana bisa sakit? Lah, Abi saja tidak kuat gendong Intan naik tangga kayu
cadas sungai. Hanya Wak Laisa yang kuat gendong. Jadi mana bisa sakit?
"Bukannya sebulan lalu Wak Laisa sehat walafiat, Bi?"
Intan menggaruk rambutnya. Sok berpikir. Gayanya sudah seperti orang dewasa saja.
Dalimunte menatap datar wajah putrinya yang amat ingin tahu. Itulah yang Abi juga tidak
mengerti, sayang. Sebulan lalu Wak Laisa memang terlihat sehat. Hanya sedikit pucat. Soal
pucat, sudah sejak dulu Kak Laisa memang sedikit pucat. Tapi ia masih sibuk bekerja. Sibuk
dengan keseharian. Tidak pernah mengeluh, bahkan sejak mereka masih kecil dulu. Tidak
pernah sakit. Kak Laisa selalu sigap dan disiplin menghadapi rutinitasnya. Jadi mana
mungkin Kak Laisa sakit? Tapi SMS dari Mamak Lainuri pasti serius. Benar-benar serius.
Dalimunte menelan ludah, mengusap lembut rambut putrinya.
Dokter bilang mungkin minggu depan, mungkin besok pagi, boleh jadi pula nanti
malam....
Bagaimana mungkin kalimat itu tidak serius?



CRAYON 12 WARNA

ANGIN MALAM bertiup lembut.
Menyelisik sela-sela dinding anyaman bambu.
Malam beranjak datang. Rumah panggung kecil itu akhirnya lengang, setelah sejak
maghrib tadi terdengar riuh oleh hardikan-hardikan. Hanya suara burung hantu dari kejauhan
yang menghias malam, ditingkahi derik jangkrik bernyanyi. Langit terlihat cerah. Gemintang
menunjukkan berjuta formasinya. Di sana ada Taurus, ada Pisces, ada Leo, Gemini, dan lebih
banyak lagi rasi yang tidak memiliki nama.
Tadi siang, hingga sore benar-benar ribut.
Kak Laisa setiba di rumah panggung langsung menyiapkan bekal makanan seadanya,
kemudian menyusul Mamak Lainuri di ladang bersama Dalimunte —yang tetap lebih banyak
berdiam diri setelah dimarahi di sungai tadi, menunggu rumah. Ia belum pernah diajak-ajak
ke ladang… Kata Mamak ia masih terlalu kecil. Ladang itu tidak jauh hanya satu kilo dari
kampung. Seperti tetangga lainnya, Mamak bertanam padi. Musim ini kabar baik, hujan
datang teratur. Maksudnya, saat nugal (masa tanam) hujan turun, saat akan panen seperti
sekarang, hujan justru berkurang. Kalau sebaliknya, bisa celaka. Bisa urung tanam, atau gagal
panen karena busuk.
Menjelang ashar Mamak Lainuri, Kak Laisa dan Kak Dalimunte pulang. Biasanya
Mamak langsung ke hutan, menghabiskan dua jam sebelum maghrib mencari damar, rotan,
atau apalah. Tapi hari ini tidak. Mamak sudah mendapatkan laporan Kak Laisa soal kejadian
tadi siang, jadi wajah Mamak terlihat marah sepanjang sore. Mamak sebenarnya tidak suka
marah. Lebih banyak berdiam diri. Melotot, dan anak-anaknya langsung mengerti.
Bagaimanalah Mamak akan sempat marah? Mamak sudah terlanjur lelah dengan jadwal
harian. Bangun jam empat shubuh, menanak nasi, membuat gula aren, menyiapkan keperluan
ladang. Lantas berangkat ke ladang. Nanti, baru lepas isya, setelah anak-anaknya tidur baru
bisa istirahat. Itupun setelah menyelesaikan anyaman, rajutan atau apalah.
Tapi sore ini Mamak tidak dapat menahan marah. Bukan karena Dalimunte, Ikanuri, dan
Wibisana sekaligus bolos sekolah, kasus bolos itu sudah biasa. Sudah bebal dua sigung itu
diceramahi Tetapi lebih karena baru selepas maghrib Ikanuri dan Wibisana pulang ke rumah.
Selama ini, meski suka bolos, Ikanuri dan Wibisana paling hanya bermain-main ke manalah.
Pulang sebelum lembah gelap. Tapi apa yang dilakukan mereka seharian ini? Mereka baru
pulang setelah yang lain selesai shalat maghrib. Ikanuri dan Wibisana, berani sekali ikut
menumpang mobil starwagoon tua ke kota kecamatan, membantu tauke desa atas menjual
sayur-mayur di sana.
Mereka pulang sambil tersenyum lebar membawa bungkusan dari kota, upah kerja
seharian, tapi Mamak tidak peduli. Terlanjur marah. Maka kena omellah Ikanuri dan
Wibisana. Tentang mau jadi apa mereka? Sekolah! Sekolah jauh lebih penting daripada
bekerja. Kalian tidak akan jadi apa-apa kalau bodoh sepertiMamak! Kalian pikir hidup susah
itu menyenangkan? Hanya karena menyadari adzan isya akan segera berkumandang dari
suraulah omelan Mamak akhirnya terhenti. Menyuruh mereka ambil wudhu. Shalat maghrib!
lantas makan bersama di hamparan tikar. Lebih banyak berdiam diri. Padahal Kak Laisa
masak ikan asap. Menu yang terhitung istimewa buat keluarga miskin mereka. Tapi itu tidak
cukup membantu suasana.
Lepas isya, setelah Dalimunte mengajak Ikanuri dan Wibisana shalat di surau; dan kali ini
dua sigung nakal itu menurut barulah ruang tengah rumah panggung itu terasa lebih lega.
Lampu canting besar di dinding kerlap-kerlip. Ikanuri dan Wibisana belajar di atas tikar
pandan. Membaca, entah benaran membaca atau hanya pura-pura agar tidak kena marah lagi.
Mereka sekali dua saling berbisik pelan,
"...iya, itu katanya jalan pintas menuju kota kecamatan..."
"...aku dengar dari pemburu harimau di kota kecamatan tadi...".
Terdiam saat Mamak menoleh.
"...lewat jalan itu lebih cepat..."
Yashinta asyik menggambar berang-berangnya tadi pagi. Dalimunte entah mengerjakan
apa dengan kertas-kertas besar diujung tikar satunya. Kak Laisa dan Mamak duduk di sebelah
Yashinta, menganyam topi pesanan.
Malam beranjak matang.
"Eh, Kak Lais, Yashinta nanti boleh sekolah, kan?"
Yashinta mendadak menghentikan gerakan tangannya, menoleh ke Kak Laisa. Ia teringat
kata-kata Kak Laisa tadi siang di sungai bawah cadas.
"Apa?" Kak Laisa yang sibuk dengan anyaman bertanya balik,
"Eh, nanti Yashinta boleh sekolah, kan?"
Yashinta bertanya sekali lagi, ragu-ragu. Ah, kalau ia sekolah, Mamak dan Kak Laisa pasti
lebih repot lagi mencari uangnya.
"Sekolah! Lepas panen ladang musim ini Yashinta masuk sekolah!"
Mamak Lainuri yang menjawab.
Beneran? Yashinta menyeringai. Matanya membulat. Mamak mengangguk selintas, tetap
konsentrasi menganyam. Yashinta sudah tersenyum riang. Tadi kan, Kak Laisa bilang anak
lelaki harus sekolah. Kalau anak perempuan? Lihat, Kak Laisa kan anak perempuan.
Makanya ia tidak sekolah. Yashinta berpikiran pendek. Jadi dipikirkan sepanjang hari. Ia
tidak tahu kalau sebenarnya Kak Laisa yang memutuskan mengalah untuk tidak sekolah agar
adik-adiknya bisa sekolah.
Asyik, asyik, ternyata ia juga akan sekolah.
Biasanya, kalau bicara soal sekolah begini, Ikanuri dan Wibisana otomatis akan nyeletuk
sama seperti tadi pagi,
"Memangnya asyik sekolah?"
Tapi karena mereka berdua malam ini lagi alim, mereka hanya sibuk belajar, berbisik-bisik.
Meneruskan membaca buku.
"Kak Laisa, lihat gambar berang-berangnya, deh! Bagus, kan?"
Yashinta menghentikan gerakan tangannya lagi. Menyeringai sambil menyodorkan kertas
gambarnya,
Kak Laisa menoleh, menyimak. Tersenyum. Mengangguk. Yashinta menyeringai senang,
kan jarang-jarang Kak Laisa tersenyum. Mamak Lainuri juga beranjak mendekat melihat
gambar Yashinta. Ikut tersenyum. Yashinta memang berbakat melukis. Meski hanya dengan
pensil, gambarnya tetap bagus. Lima berang-berang itu terlihat begitu nyata. Andai saja ia
bisa membelikan putri bungsunya crayon warna. Mamak menghela nafas pelan, meneruskan
menganyam. Sejak dulu Yashinta sudah minta dibelikan.
Ikanuri dan Wibisana juga melirik selintas, meski lantas sok serius kembali lagi ke buku.
Dalimunte masih sibuk dengan kertas-kertasnya. Entah membuat apa.
Sejurus, Yashinta menguap. Beranjak membereskan pensil dan kertas gambar. Sudah
hampir pukul 21.00. Saatnya tidur. Hanya ada satu kamar di rumah panggung itu. Mamak,
Kak Laisa dan ia tidur di kamar, beralaskan kasur butut. Sementara, Dalimunte, Wibisana dan
Ikanuri tidur di ruang tengah. Pakai tikar pandan dan sarung.
"Ah-iya, Ikanuri lupa —"
Entah kenapa Ikanuri tiba-tiba bangkit dari belajarnya. Semua menoleh. Langkah Yashinta
tertahan.
Ikanuri mengambil bungkusan kecil dari kota kecamatan tadi. Lantas menyerahkannya ke
Yashinta.
"Buat, Yashinta!"
" Apa-an?" Yashinta bertanya sambil menguap.
"Buka saja—"
Ikanuri nyengir.
Yashinta tanpa perlu diperintah dua kali, membuka ikatan kantung plastik kecil. Sekejap
terdiam memegang kotak berwarna itu. Seperti tidak percaya. Satu detik. Dua detik. Lantas
berseru senang sekali.
"CRAYON 12 WARNA—"
Yashinta tertawa lebar. Ikanuri ikut tertawa. Mengusap jidatnya.
"TERIMAKASIH, KAK!"
Ah, malam itu, di tengah sejuknya angin malam menilisik lubang.-lubang dinding. Di
tengah gemerlap sejuta bintang di angkasa sana. Malam itu, Mamak Lainuri setelah seharian
bekerja, setelah sepanjang malam mengkal melihat ulah anak lelakinya, akhirnya bisa
tersenyum lebar. Juga Kak Laisa....
"Abi, Tante Yashinta juga pulang, kan?"
Dalimunte yang mendorong koper sepanjang lorong garbarata pesawat mengangguk
pelan. Ummi berjalan di belakang.
Asyik. Asyik. Kalau begitu ia bisa lihat-lihat kamera keren Tante Yashinta. Lihat-lihat
foto yang indah. Dulu waktu Intan masih kecil, Tante Yashinta yang suka ngajarin melukis.
Makanya Intan suka dengan pelajaran itu di sekolah.
"Oom Ikanuri? Oom Wibisana juga pulang, Bi?"
Dalimunte mengangguk lagi. Teringat sesuatu. Urusan ini benar-benar membuatnya tak
sempat berpikir panjang. Bagaimana mungkin dia belum menghubungi mereka satu pun?
Sejak menerima SMS di konferensi fisika. Itu berarti tiga jam berlalu, dan dia belum tahu apa
yang sedang dilakukan adik-adiknya. Juga kabar Kak Laisa dan Mamak Lainuri di
perkebunan strawberry. Dalimunte mengeluarkan HP dari sakunya. Antrian penumpang
keluar dari pintu garbarata membuat langkah terhenti. Menyalakan telepon genggam.
"Kalau begitu Delima dan Juwita juga datang.... Horee!"
Intan tertawa lebar. Meraba tasnya. Ia bisa memaksa mereka berdua memakai empat gelang
karet "Safe The Planet". Meski sedikit nyengir ketika kemudian membayangkan Oom Ikanuri
dan Oom Wibisana. Pasti mereka lagi-lagi suka jahil ngerjain Intan.
Dulu pernah hamster belang Intan disembunyikan di tong belakang perkebunan. Untung
ada Wak Laisa yang belain. Perasaan Oom Ikanuri dan Oom Wibisana nurutnya hanya sama
Wak Laisa, deh, Sekarang? Kata Abi tadi kan Wak Laisa lagi sakit. Jadi tidak ada yang belain
Intan kalau lagi dikerjain Oom Ikanuri dan Oom Wibisana. Ah, Wak Laisa paling sakit perut
atau mencret-mencret, tidak bakal serius ini. Masih bisa menemani Intan jalan-jalan di kebun
strawberry. Intan sibuk mikir sambil memperhatikan Abi yang menunggu nada sambung.
Orang dewasa tuh rumit, ya? Kenapa pula coba tampang Abi tegang begini sejak tadi dari
sekolah. Cemas karena Wak Laisa sakit? Lah? Kan dikasih oralit, mencret Wak Laisa paling
juga sudah sembuh. Intan jago kok bikin minuman itu.



PERTEMUAN DI BALAI KAMPUNG

PAGI BERIKUTNYA datang lagi.
Wak Burhan mengumandangkan adzan shubuh. Meski sudah sepuh, suara Wak Burhan
yang tanpa speaker dari surau terdengar menggema di perkampungan bawah Lembah
Lahambay. Dalimunte terkantuk-kantuk menarik sarung adik-adiknya. Kerlip lampu canting
semakin lemah, minyak tanahnya hampir habis.
"Bangun Ikanuri! Wibisana!"
Yang dibangunkan hanya menggeliat sebal. Menarik bantal. Lantas menutupkannya ke
kepala. Dalimunte menggosok-gosok mata, sedikit terhuyung berdiri. Pagi ini penting
baginya. Sebenarnya juga bagi seluruh penduduk kampung. Seperti kesepakatan minggu
lalu, bakal ada pertemuan rutin tahunan di balai kampung. Membicarakan soal panen
ladang-ladang mereka, perbaikan jalan bebatuan selebar tiga meter itu, perselisihan antar
tetangga (jika ada), perambah hutan dari luar lembah yang semakin sering masuk, hal-hal
kecil. Dulu, waktu Babak masih ada, Babak-lah jadi wakil di pertemuan, mereka bersamasama
datang ke balai kampung. Asyik menyimak pembicaraan.
Dalimunte menguap sekali lagi, melangkah mengambil kopiah. Mamak sejak jam empat
tadi sudah sibuk di dapur, masak air enau, Ditemani Kak Laisa. Brr... dingin. Musim
kemarau, dinginnya semakin terasa menusuk tulang. Tapi Dalimunte semangat shalat di
surau. Teringat ada hal penting yang harus dikerjakannya hari ini. Itulah kenapa kemarin dia
nekad bolos, dia ingin melakukannya sendiri sebelum pertemuan kampung dilakukan.
Suara kokok ayam hutan terdengar dari kejauhan. Juga lenguh pagi uwa. Beberapa
tetangga membawa obor bambu menuju surau. Jalanan kampung masih gelap. Obor itu
sekalian juga penerangan di surau. Tidak banyak peserta shalat shubuh, paling berbilang
enam-tujuh orang. Dan satu-satunya peserta anak kecil, ya, Dalimunte.
Sekembali dari surau, Ikanuri dan Wibisana masih tertidur, saling membelakangi
punggung, dengan kaki-kaki menyilang. Dalimunte nyengir melihat posisi aneh itu, malas
membangunkan lagi; menuju kertas-kertasnya yang ditumpuk di atas meja.
Siapapun di lembah itu tahu persis, di sekolah Dalimunte dikenal sebagai anak yang
paling pintar, meski sekolah ini benar-benar seadanya. Dan satu bakat besar milik Dalimunte
(meski untuk yang ini tidak semua penduduk lembah tahu), dia suka sekali mengutak-atik
sesuatu. Diam-diam melakukannya di sela-sela membantu Mamak di ladang, Apa saja.
Menciptakan alat-alat yang aneh. Seperti keranjang aneh penangkap udang, alat panjang
penyadap damar, dan sebagainya.
Ahad pagi, hari ini sekolah libur. Selepas Kak Laisa meneriaki Ikanuri dan Wibisana
bangun agar shalat shubuh, sesudah sarapan nasi goreng, benar-benar hanya nasi yang
digoreng plus potongan cabai dan bawang merah, mereka beramai-ramai berangkat ke balai
kampung. Pertemuan rutin warga kampung.
"Kakak bawa apa, sih?"
Yashinta bertanya, melihat kertas-kertas yang dipegang Dalimunte.
"Biasa, penemu. Paling juga bawa peta harta karun—"
Ikanuri dan Wibisana nyengir. Tertawa menggoda. Mereka berdua selama ini juga suka jahil
merusak kertas-kertas atau apa saja yang dikerjakan Dalimunte.
Dalimunte tidak mempedulikan.
Balai kampung itu sudah ramai saat mereka tiba. Pertemuan sengaja dilakukan sepagi
mungkin, biar selepas acara, mereka masih sempat bekerja di ladang. Kursi-kursi bambu
berjejer rapi. Sudah disiapkan sejak semalam oleh pemuda kampung.
Wak Burhan, sesepuh kampung berdehem, setelah memastikan semua warga hadir,
mengetukkan palu dari bonggol bambu, segera memulai pertemuan. Warga kampung diam
memperhatikan. Pertama, mereka membicarakan soal kesepakatan lumbung kampung.
Berapa kaleng yang harus disetorkan setiap rumah untuk cadangan padi kampung. Per-kepala
atau per-hasil panen. Lima belas menit penuh seruan-seruan. Usul-usul. Kalimat-kalimat
keberatan. Usul-usul lagi. Satu dua kalimat tidak penting. Satu dua usul lagi. Setuju. Beres.
Mamak Lainuri menyeka dahi. Meski lima kaleng itu benar-benar akan mengurangi
penghasilan ladang mereka yang tidak luas, cadangan padi selalu penting. Dua tahun silam
saat ladang mereka terkena hama belalang, lumbung kampung memastikan perut anakanaknya
tetap kenyang. Setidaknya panen kali ini semoga masih ada sisa buat membeli
seragam sekolah buat Yashinta.
Lebih banyak lagi waktu dihabiskan untuk membahas soal perambah hutan dari daerah
lain, Seruan-seruan marah makin ramai. Memaki. Mengancam. Wak Burhan, yang masih
terhitung saudara Mamak Lainuri (dan juga warga kampung lainnya) menengahi. Sepakat
melaporkan soal itu ke polisi hutan kota kecamatan. Separuh dari hutan di Lembah Lahambay
itu adalah kawasan taman nasional. Daerah konservasi. Hanya lokasi-lokasi tertentu yang
dibolehkan diolah, meski penduduk setempat sendiri kadang juga melanggarnya dengan
menangkapi uwa, kukang, atau binatang dilindungi lainnya. Tapi perlakuan perambah hutan
itu memang mencemaskan, mereka tega membawa senso (gergaji mesin) besar, dan tanpa
ampun mulai menebangi pohon-pohon raksasa.
Perbaikan jalan bebatuan tiga meter itu diputuskan hanya dalam hitungan menit.
Keputusannya adalah: Menunggu. Menunggu pemerintah kota berbaik hati sajalah. Mereka
sudah terlalu repot dengan kehidupan sehari-hari untuk ditambahi memperbaiki jalan
sepanjang duapuluh kilometer itu. Lagipula desa-desa sekitar mereka juga menolak
memperbaikinya, agar perambah hutan tidak semakin sembarangan masuk membawa truktruk
yang akan mengangkuti kayu gelondongan hasil jarahan.
Membicarakan perselisihan batas ladang, sepakat memberikan tanda baru untuk setiap
batas kebun. Jadwal pengajian mingguan. Gotong-royong perbaikan tangga kayu di cadas
setinggi lima meter sungai. Sumbangan rutin buat acara besar (Maulid, Isra Mi'raj). Dan
beberapa masalah kecil lainnya.
"Masih ada yang ingin dibicarakan?"
Dua jam berlalu sejak tadi pagi, Wak Burhan sekarang menatap seluruh balai kampung.
Lengang sejenak.
"Masih ada?"
Wak Burhan bertanya sekali lagi.
Sepertinya sudah selesai. Tidak ada lagi yang hendak melaporkan sesuatu. Wak Burhan
tersenyum, meraih pentungan dari bongkol bambu, bersiap menutup pertemuan. Saat itulah,
saat penduduk kampung menggeliat santai karena pertemuan sudah selesai, saat mereka
beranjak merapikan baju yang terlipat, tiba-tiba Dalimunte mengangkat tangannya. Awalnya
ragu-ragu, tapi karena sudah kadung, sudah sejak seminggu lalu meniatkan diri, maka sambil
menggigit bibir, Dalimunte menaikkan tangannya lebih tinggi,
Muka-muka tertoleh.
Muka-muka bingung. Bukannya sudah selesai?
Mamak Lainuri mengernyitkan dahi. Kak Laisa yang merasa ganjil, menyikut bahu
Dalimunte yang duduk di sebelahnya. Ikanuri dan Wibisana yang sejak tadi hanya jahil
tertawa-tawa saling berbisik menganggu dan sibuk berkomentar terhenti cengirannya. Hanya
mata Yashinta yang membesar penuh rasa ingin tahu.
"Ya, kau ingin menyampaikan sesuatu Dalimunte?"
Wak Burhan meletakkan palu bonggol kayunya. Tersenyum tipis. Itu janggal sekali,
pertemuan tahunan itu meski diikuti oleh seluruh penduduk kampung, hanya pria dewasalah
yang bicara. Sisanya menonton.
"Ergh, eee, iya Wak...."
Dalimunte menelan ludah, amat gugup dengan tatapan penduduk lainnya.
"Baik. Apa yang ingin kau sampaikan, Dalimunte?"
Wak Burhan tersenyum lebih lebar, mengeluarkan sirih dari mulut. Dia mengenal sekali anak
Lainuri yang satu ini. Rajin shalat berjamaah di surau. Masih anak-anak. Tapi siapa bilang
dia masih anak ingusan umur dua belas tahun. Sejak Babak mereka meninggal, anak-anak
Lainuri tumbuh berbeda dengan yang lain, tumbuh menjadi anak-anak yang bisa diandalkan.
"Ergh, sebentar—"
Dalimunte dengan tangan sedikit bergetar membawa kertas-kertasnya ke depan. Saking
gugupnya, beberapa kertas berjatuhan. Dalimunte patah-patah mengumpulkannya.
Mamak Lainuri masih mengernyitkan dahi. Kak Laisa menatap lebih bingung. Buat apa
kertas-kertas itu? Penduduk lain menunggu.
"Ee, maaf kalau, maaf kalau—"
Dalimunte mengusap dahinya.
"Kau tidak perlu gugup begini, Dalimunte. Katakan sajalah. Kami akan mendengarkan!"
Wak Burhan mengangguk mantap padanya.
Dalimunte menelan ludah. Menatap Kak Laisa, menatap Mamak Lainuri. Menatap
Yashinta. Lantas sedikit tersenyum tanggung demi melihat wajah adiknya. Lihatlah, adiknya
dengan bola mata membulat penuh rasa ingin tahu balas menatapnya. Ekspresi yang sama
seperti setiap kali Yashinta diajak melihat anggrek hutan raksasa. Atau melihat pohon salak
hutan. Atau melihat sigung berkejaran. Tidak. Yashinta sedikitpun tidak merasa ganjil dengan
Dalimunte yang tiba-tiba berdiri di tengah balai kampung. Yashinta hanya ingin tahu.
Baiklah, Dalimunte menekuk ibu jari kakinya, ini semua mudah. Tersenyum penuh
penghargaan sekali lagi ke arah Yashinta.
Maka meluncurlah penjelasan itu—
"HALLO! HALLO! PROFESOR—"
Ikanuri terdengar berteriak di seberang sana. Meningkahi berisiknya suara krsk telepon
genggam.
"Kau kemana saja, Dalimunte? Aku sejak sejam lalu berusaha menelepon. Hallo? Hallo? Ya,
kau dengar? Aku sejak tadi menelepon kau. Tidak ada sinyal, Dali. Sama sekali tidak ada.
Akhirnya justru kau yang menghubungi sekarang. Bah, sejak kapan kau memattkan HP
urusan keluarga?"
"Tadi di pesawat—"
"Apa? Hallo? Oo, pesawat—
Kau sudah di mana?"
Sinyal sambungan langsung internasional itu payah, putus-putus. Dengan jeda waktu
bicara lama pula. Jadi kalian bicara sekarang, baru tiga detik kemudian terdengar di seberang
sana. Juga sebaliknya.
"Kami persis di pegunungan Alpen, Swiss. Ya ampun, ini benar-benar sialan semua urusan
ini—
Ada longsor yang menimbun jalan kereta! SWISS. Kami di SWISS, bukan ITALIA,
PROFESOR. Hallo? Hallo? Tidak. Kami tidak berangkat dari Roma. Sepakbola sialan ini
membuat semua penerbangan dari kota-kota di Italia penuh hingga dua hari ke depan.
Terpaksa berangkat dari Paris. PARIS, bukan SWISS—"
Suara gemuruh hujan terdengar dari latar suara Ikanuri.
"Tidak. Tidak. Kami akan terbang dari Paris, Dalimunte. Dengan penerbangan besok pagi,
jika semua tanah sialan ini berhasil dibersihkan. Di sini sedang hujan deras. Ada tebing yang
longsor. Tanahnya memenuhi jalanan kereta. Apa? Sialan. SUARANYA PUTUS-PUTUS,
DALIMUNTE! APA? Oo-Juwita, Delima, dan Ummi mereka sudah dalam perjalanan ke
sana. Seharusnya dua-tiga jam lagi tiba di bandara. Kau sudah dijemput di bandara?"
Ikanuri entah untuk ke berapa kalinya memaki.
Sementara di sini, sambil menelepon, Dalimunte melangkah cepat menuju lobi depan
bandara. Mobil jemputan perkebunan strawberry sudah menunggu sejak tiga jam lalu.
Perjalanan Jakarta menuju ibukota provinsi ini hanya butuh satu jam. Tujuh jam berikutnya
dihabiskan dengan perjalanan darat menuju Lembah Lahambay. Dulu itu menjadi perjalanan
yang menantang. Terpaksa tiga kali ganti kendaraan. Satu kali menumpang bus ke kota
kabupaten. Satu kali lagi menumpang angkutan pedesaan terbuka menuju kota kecamatan.
Terakhir naik starwagoon tua itu menuju perkampungan. Sekarang tidak lagi, sejak
perkebunan strawberry punya cabang pabrik pengalengan di kota provinsi, akses ke sana jauh
lebih mudah.
"Apa? Hallo? YASHINTA? Aku tidak tahu, Dalimunte!"
Ikanuri berteriak, suara hujan semakin deras,
"Aku sudah hampir sepuluh kali menghubungi telepon genggam satelit Yashinta. Tidak ada
sinyal. APA? HALLO? TIDAK TAHU! Aku tidak tahu! Tentu saja ia baik-baik saja,
Dalimunte—"
Kedua kakak-beradik itu (satu di Italia, satu di sini) mengernyit berbarengan. Dalimunte
melipat dahinya lebih lebal, terlihat amat cemas. Dia juga sudah tiga kali mengontak HP
Yashinta tadi. Sama. Sama sekali tidak ada sinyal.
"Mematikan HP? Tidak mungkin ia sudah di pesawat, bukan? Apa? Oo Terakhir aku
ditelepon Yashinta tadi malam. Ia menginap di punggung lereng Semeru. Apa? Tentu tidak,
Dalimunte. Kenapa pula kau persis seperti Mamak, mencemaskan hal-hal kecil. Anak itu dua
kali lebih atletis dibandingkan Kak Laisa, apalagi dibandingkan kau! DIA AKAN BAIKBAIK
SAJA, DALIMUNTE!"
Pembicaraan itu terdiam sejenak. Kelu.
Dalimunte menelan ludah mendengar nama Kak Laisa disebut Ikanuri.
"Kau sudah menelepon Mamak di kampung?"
Ikanuri setelah ikut terdiam sebentar, bertanya. Dengan intonasi sedikit berbeda. Juga ikutan
merasa ganjil setelah menyebut nama Kak Laisa.
"Baik. Baik. Jika kau tiba tujuh jam lagi bilang Mamak, aku dan Wibisana akan berusaha
segera tiba di sana, Dalimunte. Ya ampun, apa yang sering kubilang dulu? Kau seharusnya
sudah menemukan alat agar kami bisa pindah kemana saja dalam sekejap, Profesor. Bukan
hanya mengurus soal bulan yang terbelah, itu kan sudah jelas pasti benar, Mamak dulu juga
sudah bilang itu benar dalam cerita-ceritanya lepas Shubuh, tak perlu kau buktikan—"
Ikanuri mencoba bergurau, sebelum menutup sambungan internasional.
Lengang. Dalimunte mengusap wajahnya sekali lagi. Terdiam. Bukan karena gurauan
Ikanuri soal penelitiannya. Wibisana dan Ikanuri berdua memang sejak kecil kompak sudah
suka mengganggu 'penelitian-penelitiannya'. Menyembunyikan alat-alatnya. Dalimunte
terdiam karena memikirkan sesuatu. Cemas.
"Abi, jadi naik nggak?"
Intan berseru memanggil dari dalam mobil. Putrinya sudah duduk rapi memeluk si belang.
Sopir perkebunan strawberry juga sejak dari tadi menunggu.
Dalimunte menghela nafas. Ya Allah, bertambah satu lagi hal mencemaskan. Yashinta!
Kemana pula adik bungsunya itu? Ganjil sekali HP satelitnya tidak ada sinyal. Apa dia harus
cek GPS (global positioning system) agar tahu posisi Yashinta? Tapi kalau HP satelitnya saja
mati, apalagi GPS-nya. Itu satu paket dengan gagdet canggih Yashinta. Dalimunte setelah
menghela nafas untuk kesekian kalinya, beranjak menghempaskan pantat di jok mobil.
Mengangguk, memberikan kode jalan ke sopir.



LIMA KINCIR ANGIN

"MAKSUDMU, kita bisa mengangkat air sungai itu dengan kincir-kincir itu, Dali?"
Salah seorang pemuda bertanya, memecah lengang setelah Dalimunte selesai menunjukkan
gambar-gambarnya.
Dalimunte mengangguk mantap.
"Lantas membuatnya mengairi ladang-ladang kita?"
Bertanya lagi. Sedikit terpesona, lebih banyak sangsinya.
Dalimunte mengangguk sekali lagi. Bahkan kincir-kincir itu bisa sekalian digunakan
sebagai pembangkit listrik.
"Itu lima meter tingginya, Dalimunte! Sebesar apa kincir yang harus kita buat agar bisa
mengangkat air dari sungai bawah cadas? Kau harusnya tahu itu."
Pemuda itu berseru sedikit putus-asa.
"Tidak besar. Tidak besar!" Dalimunte menjawab cepat. Setelah lima menit menjelaskan
kertas-kertasnya dengan terbata-bata, meski masih gugup, dia jauh lebih tenang sekarang,
"Tapi kita akan membuat lima kincir air, membuatnya bertingkat! Tidak besar!"
"Mustahil! Itu tidak mudah dilakukan—"
Pemuda yang lainnya menimpali, memotong,
"Bagaimana kau akan memastikan kincir-kincir itu bisa bergerak bersamaan? Menyusunnya
agar bisa sesuai satu sama lain? Memasangnya di cadas batu?"
"Ergh, dengan, dengan disusun secara tepat...."
"Secara tepat? Bah, secara tepat menurutmu itu apa. Kau tahu tidak ada yang sekolah hingga
kelas enam di sini selain kau...."
Tertawa, beberapa penduduk menyeringai.
"Lantas bagaimana pula kau akan memastikan air itu bisa dialirkan sejauh satu kilometer ke
ladang-ladang kita?" Yang lain berseru. Bertanya.
"Dengan pipa-pipa—"
"Pipa-pipa? Itu pasti mahal membuatnya, Dalimunte! Belum lagi kayu-kayu. Pasak besi, Rel
pemutar! Mana cukup uang kas kampung...."
Mengeluh.
"Tidak! Tidak mahal, hanya dengan pipa bambu—"
"Bambu? Omong-kosong! Kincir air itu tidak akan cukup kuat. Babak-babak kita dulu pernah
membuatnya,"
Seruan-seruan sangsi terdengar. Balai kampung itu ramai kembali oleh seruan-seruan.
"Ergh, aku sudah membuat dua kemarin.... Sudah ada di sungai bawah cadas—"
Dalimunte mencoba meningkahi keramaian setelah terdiam sebentar, dia tidak menyangka
akan ada banyak pertanyaan, seruan ragu-ragu semacam ini. Sepanjang pagi tadi dia hanya
memikirkan hanya bilang soat idenya. Sisanya terserah Wak Burhan. Ternyata —
"Kau sudah buat dua? Lantas apa kincirnya bekerja?"
Pemuda yang lain mendesak. Ingin tahu.
Mata-mata serempak memandang ingin tahu. Dalimunte seketika terdiam. Dia tidak tahu
itu. Mana sempat lihatnya, keburu disuruh pulang Kak Laisa. Jangan-jangan kincirnya malah
roboh duluan tidak cukup kokoh dihantam arus deras sungai. Dalimunte mulai ragu dengan
idenya. Menatap sekitar mencari dukungan. Wak Burhan hanya diam. Seruan-seruan semakin
ramai terdengar.
Dalimunte menelan ludah. Tertunduk. Sia-sia. Idenya akan mubazir. Tidak ada yang
menanggapinya serius. Persis seperti selama ini, penduduk kampung seolah sudah pasrah
dengan takdir cadas lima meter itu. Mereka toh dulu sudah berkali-kali membuat kincir air
raksasa, dan tidak ada hasilnya. Dalimunte perlahan mengumpulkan kertas-kertas, tertunduk,
menelan ludah.
"Tentu saja kincir-kincir itu bekerja!"
Seseorang tiba-tiba berseru. Berseru dengan suara lantang sekali. Membuat dengung lebah
terdiam. Seketika.
Dalimunte menoleh. Gerakan tangannya terhenti. Dia kenal sekali intonasi suara itu.
Kak Laisa! Kak Laisa sudah berdiri dari duduknya.
"Kita bisa melakukannya. Apa susahnya membuat kincir-kincir itu. Jika Dalimunte bisa
membuat dua dengan bambu seadanya, kita bisa membuatnya yang lebih bagus, lebih
kokoh."
Kak Laisa berseru, melangkah ke depan.
Mata-mata sekarang memandang Kak Laisa. Gadis tanggung berumur enam belas tahun
itu dengan berani justru 'galak' membalas tatapan penduduk lainnya yang jelas-jelas lebih tua
dan lebih besar darinya. Kak Laisa terlihat begitu yakin dengan setiap kalimatnya. Sama
sekali tidak terlihat gugup.
"Itu akan membuang-buang tenaga, Lais— "
Pemuda yang tadi menyahut, berusaha menurunkan intonasi suaranya.
"Tidak ada yang akan membuang-buang tenaga, Tidak ada, Jogar—"
Kak Laisa menukas cepat. Lebih galak.
"Siapa yang akan memastikannya akan berhasil, Lais? Kita dulu pernah membuat kincir besar
itu. Dan percuma saja, terlalu besar, air sungai tidak cukup kuat untuk memutarnya, cadas itu
terlalu tinggi!"
Salah satu orang tua memotong. Berusaha menjelaskan.
"Kalian tidak mendengarkan dengan baik kalau begitu. LIMA KINCIR AIR. Dalimunte
bilang lima kincir air! Bukan kincir raksasa—"
"Apa bedanya? Siapa yang akan menjamin itu berhasil?"
"Tidak ada. Tidak ada yang menjamin itu akan berhasil. Benar! Itu akan membuang-buang
tenaga jika gagal! Tapi jika berhasil? Kita sudah bertahun-tahun hanya menggantungkan
nasib ladang kita, hidup kita, kampung kita, dari kebaikan hujan. Sudah saatnya kita
membuat irigasi sendiri untuk ladang-ladang itu. Berpuluh-puluh tahun sejak kincir raksasa
itu gagal dibuat tidak ada lagi yang memikirkan bagaimana caranya mengangkat air sungai
dari bawah cadas. Tidak ada salahnya mencoba kincir-kincir air itu. Lima kincir bertingkat.
Itu masuk akal. Semasuk akalnya seperti kita berharap benih di ladang tumbuh saat musim
penghujan! —"
Kak Laisa berkata lantang dan cepat. Amat meyakinkan.
Seruan-seruan terdengar lagi dibalai kampung. Lebih ramai dibanding saat membicarakan
perambah hutan tadi. Seruan-seruan ragu-ragu, seruan-seruan sangsi, meski sekarang
anggukan-anggukan kecil mulai bermunculan.
"Tidak ada salahnya, bukan?"
Laisa menatap sekitar.
"Sampai kapan kita harus mengalah atas cadas lima meter itu! Sampai kapan?"
Penduduk justru saling bersitatap.
"Baik. Sekarang siapa yang setuju dengan usul Dalimunte?"
Kak Laisa berseru dari tengah-tengah balai kampung, menghentikan dengung lebah untuk
kedua kalinya. Menatap tajam.
Muka-muka masih saling bersitatap satu-sama-lain. Sedetik. Dua detik. Dalimunte
menggigit bibir. Sia-sia. Urusan ini tidak selancar yang dibayangkannya. Ide lima kincir air
itu percuma. Lihatlah, tidak ada yang hendak mengacungkan tengan, meski Kak Laisa terlihat
amat yakin dengan idenya.
"Siapa yang setuju dengan usul Dalimunte?"
Kak Laisa bertanya tegas. Sekali lagi.
Tiga puluh detik berlalu. Tetap lengang.
Yashinta yang pertama kali mengangkat tangannya, takut-takut (entah ia mengerti atau
tidak urusan itu). Muka gadis kecil enam tahun itu menyeringai menggemaskan seperti biasa.
Orang-orang menoleh. Wak Burhan menyusul, ikut megangkat tangan dengan mantap,
sambil tersenyum ke arah Yashinta. Lantas Mamak Lainuri, Ikanuri, Wibisana, terus ibu-ibu
kampung lainnya, hingga orang tua, dan akhirnya pemuda-pemuda itu.
Kak Laisa tertawa lebar. Menyikut bahu Dalimunte yang berdiri di sampingnya.
Anggukan dan seruan 'kenapa tidak' sekarang ramai keluar dari mulut penduduk. Mereka
akan mencobanya. Sekali lagi! Tertawa lebar dengan ide lima kincir air itu.
Dalimunte mengigit bibir. Menghela nafas, lega.
Hari itulah saat Dalimunte menyadari sesuatu. Memang dia yang memulai ide lima kincir
air tersebut, tapi semua orang tahu, karena Kak Laisa-lah ide itu akhirnya dikerjakan. Hari
itulah, Dalimunte belajar satu hal: bagaimana bicara yang baik di hadapan orang banyak.
Belajar langsung dari Kak Laisa yang entah bagaimana caranya menguasai benar hal
tersebut. Begitu yakin. Begitu tenang.
Dalimunte mungkin tidak akan pernah tahu. Tidak pernah! Kak Laisa sama gugupnya
seperti dia, sama gentarnya bicara di tengah-tengah balai kampung itu. Tetapi Kak Laisa
tidak akan pernah membiarkan adik-adiknya kecewa. Tidak akan pernah membiarkan
adiknya merasa malu. Jika harus ada yang kecewa dan malu, itu adalah ia. Bukan adikadiknya.
Bagi Laisa, sejak babak pergi, hidupnya amat sederhana. Adik-adiknya berhak atas
masa depan yang lebih baik dibandingkan dirinya. Lagipula Laisa akhirnya mengerti kenapa
Dalimunte bolos sekolah kemarin. Maka demi rasa sesal telah memukul lengan Dalimunte,
keberanian itu muncul begitu saja. Memberikan energi yang luar biasa. Begitu yakin. Begitu
tenang. Dan tidak hanya hari itu Laisa melakukannya. Sungguh tidak. Ia melakukannya
berkali-kali sepanjang umurnya.
Demi keempat adik-adiknya.



BAGI MEREKA URUSAN INI SEDERHANA

"DALIMUNTE sudah di mana?"
"Sudah naik mobil jemputan perkebunan strawberry, bersama Kak Cie Hui dan Intan."
Ikanuri memasukkan telepon genggam ke saku. Merapatkan jaket hujan yang dikenakan.
Kereta ekspres itu berhenti persis di tengah hutan.
Di depan Sana belasan lampu sorot berkekuatan ribuan watt menerangi lokasi longsoran
tebing. Hanya butuh setengah jam sejak longsoran itu terjadi, tim tanggap darurat kepolisian
dan pasukan militer Swiss dari kota terdekat tiba di lokasi. Membawa alat-alat berat untuk
membersihkan tanah liat yang menumpuk sepanjang lima belas meter. Mereka terbilang
taktis dan gesit. Ada sekitar dua peleton pasukan di sana. Tapi hujan yang turun semakin
deras, membuat pekerjaan semakin sulit. Apalagi, baru saja bersih lima meter, tebing itu
longsor lagi. Lebih banyak.
"Signori, siete pregati di rientrare nelle carrozze, per favore? Senior, sebaiknya kalian segera
masuk kembali ke gerbong, please?"
Gadis berambut pirang, petugas berseragam yang melayani penumpang kabin kereta (macam
pramugari di pesawat terbang) berteriak dari pintu gerbong dengan toa.
Ikanuri menoleh, mendesis sebal.
"epiu confortevole dentro— "
Gadis itu membujuk lagi.
"Sebentar Lagi—"
Ikanuri yang bete sejak tadi, menjawab mengkal seruan itu ( dengan bahasa Indonesia pula).
Gadis itu mengernyit, tidak mengerti.
Mereka baru tiga jam dari Roma. Kereta beranjak melintasi perbatasan Swiss. Tidak bisa
tidur, meski kabin itu amat lega dan nyaman. Saat sedang berusaha menelepon Yashinta,
Mamak Lainuri, dan Dalimunte kereta tiba-tiba berhenti. Aneh. Kereta itu kereta express,
mana boleh berhenti sembarangan macam kereta di Indonesia. Ada apa? Ikanuri dan
Wibisana beranjak keluar dari kabin. Segera mencari tahu. Dan segera pula menyumpahnyumpah
(Ikanuri) saat tahu masalahnya.
Karena sebal, Ikanuri dan Wibisana memutuskan turun dari kereta, ingin melihat
langsung pekerjaan pembersihan rel. Masinis berbaik hati meminjami dua jaket hujan besar.
Malam ini, kereta hanya berpenumpang tujuh orang. Penumpang yang lain sibuk tidur di
kabin masing-masing. Tidak peduli. Siapa pula yang mau hujan-hujanan di luar dengan suhu
nyaris nol derajat celcius. Masinis itu malah santai menonton siaran live sepak bola Juventus-
Manchester United dari teve mungilnya. Kejadian ini berkah baginya, dia jelas tidak boleh
menonton saat menjalankan kereta.
"Kau sudah telepon Yashinta lagi? Tersambung?"
Wibisana mengangguk, sudah. Terus menggeleng, tidak tersambung.
"Kenapa pula di situasi sepenting ini HP anak itu dimatikan?"
Ikanuri mendengus jengkel. Menatap putus asa puluhan petugas kepolisian dan pasukan
militer yang seliweran membersihkan rel kereta. Lihatlah, dinding tebing itu longsor lagi
setelah mereka berhasil memindahkan separuh tumpukan lumpur di atas rel.
Bisa tidak sih mereka berpikir jenius seperti Dalimunte! sepuluh persen saja dari otak
hebat Dalimunte. Dinding tebing itu harusnya di tahan dulu. Diberikan konstruksi penahan,
atau entahlah yang penting bisa mencegah longsoran baru. Baru dibersihkan rel keretanya.
Kalau begini urusannya, masih butuh berjam-jam lagi kereta ini bergerak. Bah! Percuma juga
mereka taktis dan gesit kalau melakukannya dengan bodoh.
"Juwita dan Sekar sudah tiba di mana?"
Ikanuri bertanya.
"Lima menit lalu mereka bilang sudah di bandara, menunggu jadwal penerbangan dua
jam lagi." Wibisana menjawab.
"Semoga kita bukan yang terakhir tiba."
"Tentu tidak, Ikanuri—"
"Semoga kita tidak datang terlambat."
Ikanuri mengeluh sekali lagi. Itu benar-benar keluhan tertahan.
Wibisana menepuk-nepuk bahu Ikanuri. Tersenyum. Berbisik,
"Tidak akan terjadi apa-apa, Ikanuri. Kita akan tiba tepat waktu. Berdoalah, Kak Laisa akan
baik-baik saja...."
Hujan turun semakin deras. Badai semakin kencang.
Empat jam setelah Dalimunte dan keluarganya mendarat di bandara kota provinsi, giliran
Jasmine, istri Ikanuri, Wulan, istri Wibisana, beserta anak-anak mereka, Juwita dan Delima
tiba di sana. Repot sekali Juwita dan Delima mendorong sepeda BMX mereka keluar dari
lobi kedatangan bandara.
Tadi meski Ummi mereka berdua memaksa buruan, kedua anak nakal usia enam tahun itu
justru kompak memaksa membawa sepeda BMX spesialis trek gunung masing-masing,
"NGGAK MAU! Juwita harus bawa sepeda! Kan, asyik buat keliling kebun strawberry
bareng Eyang Lainuri dan Wawak Laisa!"
Karena rumah mereka berseberangan halaman, maka jika yang satu membawa sepeda,
otomatis yang lainnya juga ikutan bawa. Tidak mau kalah.
Juwita dan Delima memutuskan untuk tidak banyak berdebat lagi. Membiarkan saja putriputri
tunggal mereka membawanya. Jadi terlihat sedikit mencolok saat dua anak perempuan
berumur enam tahun itu mendorong sepedanya dari counter pengambilan bagasi bandara.
"Mi, Kak Intan sudah sampai, belum?" Delima bertanya,
"Masih di perjalanan, di mobil jemputan perkebunan—"
Wulan, Ummi Delima memasukkan telepon genggamnya ke tas tangan. Barusan menelepon
Cie Hui, Ummi Intan.
"Eh, Mi, Kak Intan bawa sepeda juga, nggak?"
Juwita yang bertanya ke Umminya.
"Tidak tahu, sayang. Yang Ummi tahu Kak Intan pasti bawa gelang 'Safe The Planet'-nya"
Jasmine, Ummi Juwita tertawa kecil. Membantu memotong tali rafia. Perkebun strawberry
mengirimkan jemputan kijang kapsul, jadi dua sepeda itu terpaksa diikat diatas mobil.
Dua gadis kecil itu menyeringai, bersitatap satu sama lain, idih, pasti Kak Intan maksamaksa
lagi makai gelang itu. Perasaan baru dua minggu lalu mereka dikirimi satu kotak.
Disuruh-suruh jual ke teman-teman di sekolah. Ditanyain tiap hari lewat telepon dan email.
Orang mereka berharapnya kak Intan juga bawa sepeda, kan asyik bisa bertiga keliling kebun
strawberry bareng Eyang atau Wawak. Siapa pula yang mau dipaksa-paksa pakai gelang
karet norak itu.
"Mi, Tante Yashinta sudah di mana?"
"Nggak tahu, sayang—"
"Tante Yashinta juga pulang, kan?"
"Nggak tahu. Harusnya iya—"
"Abi kapan tibanya dari Itali, Mi?"
"Ummi nggak tahu, Delima. Keretanya masih terjebak badai—"
"Eh, Wak Laisa emang sakitnya apaan sih, Mi?"
"Nggak tahu, Delima—"
Ummi melotot, ia sibuk membantu sopir mengikat sepeda, Delima justru sibuk bertanya.
"Terus yang Ummi tahu apaan, dong? Payah nih!"
Delima nyengir, sedikitpun merasa tidak berdosa dengan celetukannya.
Imbalannya lengan Delima dicubit. Meringis. Dua gadis kecil itu benar-benar menyerupai
Ikanuri dan Wibisana waktu kecil. Bedanya, mereka lebih jago bicaranya, ngeles. Terlatih.
Lah, mereka belajar dari guru terbaiknya: Abi-nya yang sering kasih contoh di rumah.
Setengah jam berlalu, mobil kedua melesat menuju perkampungan Lembah Lahambay.
Melewati hampir tiga ratus kilo perjalanan. Kota-kota kabupaten. Kota-kota kecamatan.
Pedesaan. Hutan-hutan lebat. Semak-belukar. Pohon bambu. Perkebunan kelapa sawit.
Perkebunan karet. Padang rumput meranggas. Naik turun lembah. Melingkari bukit barisan.
Sungai-sungai yang meliuk. Persawahan. Menyaksikan monyet yang berani bergelantungan
di tepi-tepi hutan. Satu-dua babi liar yang nekad menyeberangi jalan aspal.
Itu semua sebenarnya pemandangan yang menarik, sayang tidak untuk situasi saat ini.
Juwita dan Delima pun sejak separuh perjalanan akhirnya lebih banyak tertidur. Lelah
bertengkar di atas mobil. Bertengkar soal siapa yang akan duduk di tengah-tengah Eyang dan
Wawak Laisa pas makan malam, padahal percuma juga mereka rebutan sekarang, toh Kak
Intan biasanya ngusir mereka dari kursi strategis itu.
Juwita dan Delima tertidur dengan wajah polos. Saling memegangi jidat.
Bagi mereka, urusan ini sederhana.



KAU BUKAN KAKAK KAMI

OMELAN MAMAK LAINURI malam itu hanya mempan seminggu. Ikanuri dan Wibisana
memang rajin sekolah, sok rajin belajar, shalat di surau, lancar ngajinya, tidak banyak
bertingkah, patuh dengan Kak Laisa selama seminggu terakhir. Namun lepas satu pekan,
tabiat lama mereka kembali lagi. Lebih parah malah.
Ahad berikutnya, seperti kesepakatan pekan lalu, penduduk kampung bergotong-royong
membuat lima kincir air di pinggir cadas sungai. Melaksanakan ide Dalimunte.
Lelaki dewasa, mulai dari orang tua hingga pemuda tanggung, setengah hari
menghabiskan waktu di hutan, menebang belasan batang bambu besar-besar, setidaknya tak
kurang satu jengkal diameternya. Setengah hari lagi dihabiskan untuk memotong-motong,
mengikatnya dengan tali rotan, memakunya dengan pasak besi. Wak Burhan dua hari lalu
juga memutuskan menggunakan uang kas warga kampung, membelinya di kota kecamatan,
beserta semen dan keperluan pondasi lainnya.
Sementara ibu-ibu dan gadis tanggung membantu meyiapkan kue-kue kecil macam
serabi, putri salju, juga teh panas. Beserta pula makan siang. Meski seadanya, hanya dengan
sayur terong dan sambal terasi, tapi setelah lelah bergotong-royong seperti ini, makan
sepiring nasi yang masih mengepul terasa nikmat nian walau tanpa lauk. Apalagi mereka
mengerjakan kincir air itu langsung di pinggir sungai bawah cadas. Asyik benar duduk di atas
bebatuan sambil menyantap makan siang.
Jika sudah sampai sejauh ini, maka tak ada lagi yang sibuk bertanya apa semuanya akan
berhasil. Apa salahnya mencoba (lagi). Maka sesiang itu, Dalimunte sibuk membentangkan
kertas-kertas miliknya, sibuk menjelaskan bagan konstruksi yang telah dibuatnya.
Sebenarnya ganjil sekali melihatnya, lihatlah, tubuh kecil Dalimunte terselip di antara belasan
lelaki dewasa lainnya. Wajah-wajah yang mengangguk-angguk mendengarkan
penjelasannya, tidak banyak bicara.
Ahad ini seluruh penduduk kampung 30-40 atap rumah itu berkumpul di pinggir sungai.
Semua bekerja, membantu. Tak terkecuali Yashinta, ia membantu mengangkut bebatuan
dengan keranjang rotan, bakal pondasi kincir. Anak-anak kecil lainnya juga sibuk
mengumpulkan pasir. Yang sedikit besaran, terampil melubangi ruas bambu. Membuat 'pipapipa'.
Jika pun tidak ikut bekerja, anak-anak kecil lainnya sibuk 'menonton' di pinggir sungai
sambil bermain-main. Membuat sekitar ramai oleh teriakan (juga tangisan setelah satu sama
lain bertengkar).
"Lais, kau lihat Ikanuri dan Wibisana?" Mamak bertanya pelan.
"Ee.. bukannya tadi ada di sana, Mak?" Laisa menoleh, menyeka dahinya, melepas gagang
pelepah nyiur, uap mengepul dari dandang besar penanak nasi, menunjuk kelompok anak
lelaki tanggung yang asyik membuat pipa-pipa.
"Tidak ada, Lais"
"Ee, tadi ada di sana, Mak...."
"Benar-benar sigung bebal! Kemana pula mereka pergi ketika semua sedang sibuk bekerja.
Bikin malu keluarga saja!"
Mamak Lainuri mendesis sebal. Memperbaiki bebat kain di kepala.
Laisa menelan ludah. Mengangguk dalam hati. Kemana pula Ikanuri dan Wibisana
sekarang. Lihatlah, semua penduduk kampung berkumpul di sini, bergotong-royong, dan
mereka berdua entah kabur kemana. Menatap sekitar. Berkeliling. Tidak ada. Di dekat cadas
Yashinta sedang tertawa bersama teman sepantarannya, ada satu yang terpeleset di air saat
membawa keranjang pasir, basah kuyup. Di sisi lain, Dalimunte masih sibuk menunjuknunjuk
kincir air yang mulai berbentuk. Tidak ada Ikanuri dan Wibisana. Juga tidak ada di
antara anak-anak lainnya.
"Apa perlu Lais cari, Mak?"
Mamak Lainuri berpikir cepat,
"Nanti. Lepas dzuhur kalau tidak kelihatan juga ekornya, kau cari mereka. Dasar tak tahu
malu. Tidak pernah ada di keluarga kita yang berpangku tangan saat orang lain sibuk
bekerja—" Mamak mengomel tertahan.
"Jangan-jangan mereka ikut starwagoon ke kota lagi, Mak!"
Muka Mamak mendadak memerah. Sebal. Kemungkinan itu benar-benar membuat
Mamak marah. Apa tidak kapok juga keduanya setelah diomelin minggu lalu.
"Ee, atau hanya pulang sebentar ke rumah disuruh Dali ambil sesuatu—"
Laisa menelan ludah. Menyesal kemungkinan soal starwagoon itu. Mencoba membuat
Mamak lebih nyaman. Percuma. Kalimat itu keliru, kalau dengan Laisa saja mereka berdua
enggan menurut, apalagi dengan Dalimunte. Mana mau mereka disuruh-suruh begitu. Dan
jelas Laisa keliru kalau membayangkan urusan kali ini sesederhana itu.
Menjelang dzuhur, dua kincir air selesai. Dengan pasak besi, bebatan batang rotan, kincir
bambu itu terlihat kokoh. Disandarkan di dinding cadas sungai. Dalimunte tersenyum senang,
juga yang lain. Sejauh ini rancangan Dalimunte hanya keliru satu hal, jumlah potongan
bambu yang dibutuhkan. Beberapa lelaki dewasa terpaksa masuk lagi ke hutan, mengambil
belasan bambu berikutnya.
"Mak, Ikanuri dan Wibisana belum kelihatan juga—"
Laisa berbisik ke Mamak.
Muka Mamak yang sedang membawa piring-piring plastik kentara sekali jengkel.
Sementara penduduk kampung berkumpul di pinggir sungai, duduk membuat kelompokkelompok
di atas bebatuan. Wak Burhan menyuruh mereka makan siang. Istirahat hingga
satu jam ke depan. Beberapa selepas makan beranjak ke surau. Shalat dzhuhur.
"Kau cari sekarang, Lais. Bila perlu seret saja dua sigung bebal itu kemari—"
Mamak menahan marah. Bagaimana pula ia tak marah, tadi salah satu tetangga sebelah
rumah sempat bertanya di mana Ikanuri dan Wibisana. Pertanyaan itu tidak serius, hanya
bertanya apa kedua anak itu sakit? Pulang? Tidak enak badan? Mamak hanya tersenyum tipis,
mengangguk. Bagi Mamak urusan ini sensitif sekali.
Laisa tidak perlu diperintah dua kali, segera bergegas meletakkan ceret air yang
digunakannya untuk mengisi gelas-gelas. Melepas kain celemek butut. Lantas beranjak
menyeberangi sungai. Ia sama sekali tidak punya ide di mana Ikanuri dan Wibisana berada.
Meski begitu, tempat yang pertama kali harus diperiksa adalah rumah. Siapa tahu mereka
berdua sedang tidur mendengkur di bale bambu.
Tidak ada. Laisa tidak menemukan Ikanuri dan Wibisana saat tiba di rumah sepuluh
menit kemudian. Mungkin mereka bermain-main di desa atas. Laisa menyeka keringat di
leher. Matahari siang, terik membakar lembah. Dari surau, Wak Burhan mengumandangkan
adzan. Baiklah. Mamak menyuruhnya mencari. Itu artinya cari sampai dapat. Tidak ada kata
kembali ke pinggir sungai itu tanpa Ikanuri dan Wibisana. Maka tubuh gemuk dan gempal
Laisa beranjak menuruni anak tangga rumah panggung.
Percuma. Satu jam berlalu. Ikanuri dan Wibisana tidak ada di desa atas. Starwagoon tua
itu juga terparkir rapi di halaman rumah pemiliknya. Laisa menyeka keringat yang mengucur
semakin deras, satu kilo berjalan, sia-sia. Memutuskan untuk memeriksa tempat kedua anak
itu suka bermain-main. Tidak ada. Mereka tidak ada di Curug Cuak (air terjun). Tidak ada
juga di jembatan gantung desa satunya lagi. Tidak ada di tempat biasa mereka mancing.
Tidak ada.
Laisa menelan ludah. Matahari sudah tergelincir dari puncaknya. Sudah pukul tiga. Laisa
dan penduduk kampung terlatih sekali membaca jam dari gerakan matahari dan bayangan
pepohonan. Di pinggir sungai, penduduk kampung sudah sejak tadi meneruskan pekerjaan.
Jangan-jangan dua sigung itu sudah kembali ke pinggir sungai? Laisa mendesis jengkel. Baik,
ia akan kembali ke sana sambil menyelusuri jalan yang berbeda dari berangkatnya tadi.
Melewari kebun-kebun penduduk. Siapa tahu dua anak itu tiduran di pondok rumbia ladang
padi mereka.
Angin lembah bertiup lembut, Laisa menghela nafas sedikit lega, itu membantu banyak di
tengah terik matahari awal musim kemarau. Kebun penduduk terlihat menguning. Batang
padi merekah oleh bilur-bilur buahnya yang montok. Sebulan lagi mereka panen bersama.
Penduduk kampung lembah itu umumnya berladang. Jika sudah dua-tiga kali mereka
menanam padi, biasanya diganti dengan kopi atau lada. Atau diseling dengan jagung dan
sejenisnya. Apa saja yang hasilnya bisa dijual di kota kecamatan.
Setengah jam lagi berlalu. Ikanuri dan Wibisana tidak ada di pondok rumbia ladang
mereka. Laisa mendengus sebal. Meneruskan langkah kaki. Harapan satu-satunya, dua anak
nakal itu sudah kembali ke pinggir sungai setelah berpuas diri bermain. Saat itulah, saat Laisa
mulai putus asa, tanpa sengaja sudut matanya yang terlatih menangkap gerakan dedaunan
pohon mangga kebun Wak Burhan, di kejauhan lembah. Tidak lazim. Angin tidak akan
membuat cabangnya bergoyang sedemikian rupa. Dan tidak ada uwa atau monyet yang
sampai di sini, sungai dengan cadas lima meter itu bagai "tembok besar" membuat kampung
mereka seolah terpisah dari hutan rimba.
Laisa mendekat. Menyelidik. Menatap tajam pohon mangga yang sedang ranumranumnya
berbuah. Daunnya yang rimbun seperti dipenuhi benjol-benjol buah yang besarbesar.
Dahan pohon itu bergoyang-goyang lagi. Laisa melangkah semakin cepat. Tinggal
sepelemparan batu, tinggal lima belas meter, akhirnya ia bisa melihat bayangan yang
membuat pohon itu bergerak.
"Cepat, Ikanuri—" Berbisik tertahan.
"Sebentar." Suara itu ikut tertahan.
"Kak Laisa! Ada Kak Laisa! Cepat turun..."
"Sebentar, celanaku tersangkut—"
GEDEBUK!
Ikanuri yang bergegas turun dari pohon mangga malah terjatuh, kehilangan keseimbang
saat buru-buru, menimpa Wibisana yang sudah turun duluan. Tidak tinggi benar, hanya satu
meter, karena mereka sudah tiba di dahan terendah. Tapi itu membuat pelarian mereka gagal
total. Ikanuri yang sibuk mengaduh selama lima detik, memberikan waktu yang cukup bagi
Laisa untuk mengenali siapa.
"IKANURI! WIBISANA!"
Persis seperti radio yang tiba-tiba disetel kencang-kencang. Laisa berseru galak. Berlari
mendekat.
Ikanuri dan Wibisana tersedak. Menatap jerih Kak Laisa yang mendekat. Berusaha
menyembunyikan bukti kejahatan
"APA YANG KALIAN LAKUKAN DI SINI?"
"Ergh, ee, kita sedang memeriksa pohon mangga Wak Burhan, benar begitu kan, Wibi?—"
Ikanuri menjawab cepat, khas Ikanuri, seadanya bin ngarang, dengan wajah sama sekali
merasa tidak berdosa. Wibisana tidak kalah begonya ikut mengangguk,
"Ya, Kak. Kita lagi menghitung jumlah buahnya. Ada berapa gitu—"
"DIAM!!"
"Err, bener Kak. Ada seratus sembilan puluh—"
"DIAM!! Kalian benar-benar tak tahu malu! Semua orang bekerja di cadas sungai, kalian
justru di sini. MENCURI MANGGA!"
Kak Laisa semakin galak, semakin dekat, tangannya cepat mematahkan salah satu ujung
dahan semak belukar.
Ikanuri dan Wibisana tahu persis apa yang akan terjadi. Mereka beringsut mundur. Laisa
semakin dekat. Tertahan, gerakan Ikanuri dan Wibisana tertahan pohon mangga di
belakangnya. Ujung dahan di tangan Laisa sudah terarah sempurna ke dada mereka berdua.
"Katakan apa ini? Apa yang kau lihat?"
Kak Laisa menunjuk dua-tiga buah mangga hampir ranum yang tergeletak di ujung kaki
mereka. Terjatuh dari saku celana.
"Eee, aku tidak melihat apa-apa, ya kan Wibi?"
"Ya, ya, kami tidak melihat apa-apa. Memangnya ada apaan—"
Kak Laisa benar-benar jengkel.
"Berani sekali kalian mencurinya. BERANI SEKALI Tidak ada di keluarga kita yang
menjadi pencuri meski hidup kita susah, TIDAK ADA."
Kak Laisa berseru marah. Menusuk nusukkan ujung dahan itu ke dada Ikanuri.
Mereka berdua terdiam. Ikanuri meringis. Tidak sakit, hanya berpura-pura saja. Dia sudah
kebal dipukul Kak Laisa.
"Apa yang kalian lakukan sepanjang siang? Main-main di Curug Cuak? Lantas pulang
mencuri mangga Wak Burhan Tidak tahu malu. Apa yang akan dibilang Wak Burhan kalau
dia tahu! APA COBA!?"
Diam, Ikanuri dan Wibisana bungkam.
"Kalian tidak pernah jera. Tidak pernah! Mau jadi apa kalian, hah? MAU JADI APA??" Kak
Laisa mendesis.
"Kalau Mamak tahu kalian mencuri lagi, kalian pasti dihukum tidak boleh masuk rumah
malam ini. Kalau Mama tahu...."
Kak Laisa menelan ludah, berusaha mengendalikan diri. Kalau Mamak tahu Ikanuri dan
Wibisana ternyata justru sedang mencuri saat orang lain sibuk bekerja? Itu benar-benar akan
jadi marah besar.
"Pulang. Kalian ikut denganku ke pinggir sungai, sekarang—"
Laisa melotot, menatap galak. Memberikan perintah.
Ikanuri dan Wibisana tetap bungkam seribu bahasa.
"AYO, PULANG!"
Tusukan ujung dahan itu semakin kencang, Ikanuri meringis, tapi dia tetap tidak beranjak
berdiri.
"PULANG KATAKU! SEKARANG!!"
"TIDAK MAU!"
Ikanuri entah apa yang sedang ada di kepalanya, tiba-tiba berteriak tidak kalah kencangnya.
Melawan. Menepis kasar ujung dahan di dadanya.
"APA KAU BILANG? AYO, PULANG!"
"TIDAK MAU!" Ikanuri melotot.
Dua ekor burung pipit terbang rendah di bawah pohon mangga itu. Mendesing menjauh
mendengar keributan.
"Kami tidak mau pulang. Tidak mau. Kau bukan Kakak kami, kenapa pula kami harus
menurut!"
Ikanuri mendesis tak kalah galak. Wajah anak berumur sepuluh tahun itu mengeras.
Kalimat itu benar-benar membungkam waktu. Selaksa senyap di bawah pohon mangga.
Seekor elang melenguh di atas sana, suaranya seperti dibatukan udara. Terdiam. Laisa
sempurna membeku.
"A-pa.... A-pa yang kau katakan?"
"Kau bukan Kakak kami! Kenapa pula kami harus nurut"
Ikanuri mengatakannya sekali lagi. Lebih lantang. Lebih kencang. Beranjak berdiri, malah.
Melawan semakin berani.
"LIHAT! Kulit kau hitam. Tidak seperti kami, yang putih. Rambut kau gimbal, tidak seperti
kami, lurus. Kau tidak seperti kami, tidak seperti Dalimunte dan Yashinta. KAU BUKAN
KAKAK KAMI. Kau pendek! Pendek! Pendek!"
Kali ini kalimat Ikanuri benar-benar bak roket yang ditembakkan tiga kali di lubang yang
sama. Berdebum. Membuat lubang besar itu menganga lebar-lebar, hitam pekat. Laisa
terperangah. Sesak. Nafasnya sesak seketika. Ya Allah, apa yang barusan dikatakan adiknya.
Apa ia sungguh tak salah dengar? Laisa gemetar. Tangannya yang mencengkeram ranting
bergetar, terlepas.
"Kenapa? Kenapa kau diam? Kau marah kami mengatakan itu, hah?"
Ikanuri tanpa rasa iba bertanya bengis.
Laisa menelan ludah.Matanyat iba-tiba berair. Ya Allah, aku mohon, jangan pernah,
jangan pernah buat aku menangis di depan adik-adikku. jangan pernah! Itu akan membuat
mereka kehilangan teladan. Laisa meremas pahanya kencang-kencang. Berusaha
mengalihkan rasa sakit di hati ke rasa sakit di tubuhnya.
"Kami tidak akan lagi menurut... Kau bukan Kakak kami. Bukan! Bukan! BUKAN!"
Ikanuri berseru amat puas. Berkali-kali.
"Hentikan Ikanuri. Hentikan...." Laisa berseru, terbata.
"Kau bukan kakak kami!"
"Hentikan Ikanuri, atau kau kuadukan pada Mamak, dan kalian akan dihukum tidak boleh
masuk rumah selama seminggu,"
Laisa berkata dengan suara bergetar. Menahan tangis.
"Kau jelek! Jelek! JELEK!"
"Hentikan Ikanuri—"
"Pendek! Pendek!"
"Hentikan, Ikanuri. Aku mohon — "
"Jelek! Jelek! Pendek! Pendek!"
Ikanuri tertawa lepas. Lantas beranjak melangkah dari bawah pohon mangga dengan seringai
penuh kemenangan, disusul oleh Wibisana (yang tertunduk dalam-dalam, sedikit merasa
ganjil dengan teriakan kasar Ikanuri).
Laisa sudah jatuh terduduk. Sempurna jatuh terduduk. Menatap punggung adik-adiknya
yang menghilang dari balik semak belukar.
Seekor jangkrik di batang pohon mangga berderik.
Pelan. Meningkahi isak tertahan.Gadis tanggung berumur enam belas tahun itu mendekap
wajahnya. Ia tak kuasa lagi menahan sedih di hati. Bukan karena Ikanuri melawannya, karena
toh selama ini Ikanuri selalu berani melawan. Tapi karena itu benar! Ya Allah, apa yang
dikatakan adiknya benar sekali. Ia bukan siapa-siapa bagi mereka. Ia bukan Kakak mereka.
Seluruh penduduk lembah itu juga tahu. Ia bukan kakak mereka.
Senyap. Hanya tangis tertahan yang terdengar.
Senyap. Juga hanya tangis tertahan yang terdengar di sini.
Kereta ekspress Eurostar melesat membelah perbatasan Swiss-Perancis. Kecepatan super
tinggi. Maximum speed. Masinisnya berusaha membayar dua jam waktu yang terbuang di
pegunungan Alpen. Setelah untuk ketiga kalinya tebing itu longsor lagi saat dibersihkan,
beberapa insinyur dari dewan terdekat akhirnya tiba di lokasi dengan helikopter, mereka
memberikan saran konstruksi darurat untuk menahan laju longsoran berikutnya. Satu jam
berlalu, sejak dinding seadanya dipasang, kereta ekspress itu bisa kembali melesat menuju
Paris. Menjejak batangan baja relnya.
Hujan sejak lima belas menit lalu juga sudah berhenti.
Jalan kereta yang meliuk melangkahi pegunungan sudah lama digantikan oleh hamparan
tanah luas. Perkebunan anggur. Hamparan padang rumput. Pohon cemara tinggi-tinggi sudah
tertinggal di belakang, Sepuluh menit lagi Eurostar akan tiba di perbatasan tanah bekas
kekuasaan Kaisar Louis, Perancis. Wibisana memutuskan tidur. Lelah. Membiarkan Ikanuri
yang sejak kereta berjalan lagi tadi tetap terjaga. Pukul 03.30 dini hari di sini. Di luar terlihat
gelap. Hanya sesekali cahaya lampu yang berasal dari rumah pedesaan kecil pedalaman
Swiss terlihat. Seperti kerlip kunang-kunang dari kejauhan. Indah.
Mengembalikan semua kenangan.
Wibisana menggeliat, merubah posisi tidurnya. Kabin itu luas. Lazimnya diisi berempat,
karena mereka hanya berdua, jadi nyaman tidur di kursi panjang berhadapannya. Tapi Ikanuri
tidak tidur, ia tidak bisa tidur sejak kereta jalan lagi, ia justru sedang sibuk menyeka ujungujung
matanya.
Ikanuri terisak pelan. Tertahan.
Menatap kosong keluar melewati jendela kereta.
Kunang-kunang—
Ya Allah, dia jahat sekali. Jahat! Dua puluh lima tahun silam. Seperempat abad lalu.
Kejadian itu tidak akan pernah terlupakan. Tidak akan. Wajah Kak Laisa yang menangis saat
itu. Wajah Kak Laisa yang seperti tak percaya mendengar dia mengatakan kalimat-kalimat
menusuk itu. Ikanuri tersedan. Lihatlah, wajah Kak Laisa sekarang seperti mengukir
sempurna di bayangan jendela kereta. Wajahnya yang tersenyum, wajahnya yang selalu
melindungi mereka, adik-adiknya yang bebal. Semua pengorbanan itu. Semua....
Ikanuri tersungkur. Tergugu. Dia benar-benar tidak tahan lagi Menangis terisak. Ya
Allah, jika ada yang bertanya siapa yang paling penting dalam hidupnya.... Jika ada yang
bertanya: Siapa? Maka itu sungguh adalah Kak Laisa.



PENGUASA GUNUNG KENDENG

CELAKA. Benar-benar celaka. Kesibukan penduduk Lembah Lahambay hari itu ternyata
tidak berhenti saat senja tiba. Tapi benar-benar hingga malam hari, 24 jam.
Menjelang maghrib setelah dipotong istirahat shalat ashar, lima kincir air itu sudah
berderet rapi di dinding cadas sungai. Lubang-lubang pondasi sudah dituangi cor semen.
Belum terpasang. Meski pondasinya sudah siap, lima kincir itu baru akan dipasang minggu
depan, jadwal gotong-royong berikutnya. Pondasinya dibiarkan dulu kering.
Wak Burhan, para orang tua, pemuda dewasa, menyeringai lega melihat pekerjaan
mereka. Lembah mulai remang, Wak Burhan menghentikan gotong-royong. Cukup untuk
ahad ini. Kesibukan di pinggir sungai itu memang berhenti ketika mereka beramai-ramai
beranjak pulang. Mandi. Berganti pakaian. Siap menjemput malam, beristirahat.
Tetapi kesibukan lainnya mendadak menyusul. Lebih ramai dari sebelum-sebelumnya.
Laisa setelah hampir setengah jam menangis di bawah pohon mangga beranjak kembali
ke pinggir sungai. Menyeka luruh sisa-sisa tangis. Berusaha senormal mungkin saat bilang ke
Mamak kalau Ikanuri dan Wibisana tidak mau nurut. Mereka bermain-main di ladang, dan
justru lari menghindar saat disuruh pulang. Mamak mengomel, berjanji dalam hati akan
menghukum dua sigung itu nanti malam. Meneruskan pekerjaan memberesi peralatan masak.
Senja mulai turun, jingga membungkus lembah. Sementara Yashinta sejak tadi hanya dudukduduk
saja di pinggir sungai selepas asyik mengejar capung air bersama teman-temannya.
Tetapi keliru. Laisa yang berpikir Ikanuri dan Wibisana setelah pergi meninggalkan
dirinya akan kembali ke rumah itu keliru. Juga Mamak yang sudah berencana membuat
aturan main baru di rumah saat mengomel nanti malam. Keliru, Ikanuri dan Wibisana
ternyata tidak pulang-pulang. Juga saat mereka sudah bersiap-siap shalat berjamaah. Dua
sigung itu tetap tidak kelihatan batang hidungnya.
Lepas maghrib, saat orang-orang pulang dari surau, denting kecemasan itu mulai tumbuh.
Mamak Lainuri menatap cemas dari bingkai jendela depan yang masih terbuka. Kemana pula
dua anak nakalnya pergi?
Adzan isya. Lepas shalat isya. Lembah sempurna gelap. Dan sedikit pun tidak kelihatan
tanda-tanda batang hidung Ikanuri dan Wibisana. Mamak semakin cemas. Menatap siluet
hutan rimba dengan nafas bergetar.
Pukul 19.30. Tegang sekali.
Pukul 20.00, Mamak Lainuri akhirnya menyererah.
Sejengkel apapun ia dengan Ikanuri dan Wibisana, dawai kecemasannya sudah
berdenting terlalu tinggi. Ia menyambar obor di depan pintu. Melangkah cepat ke rumah Wak
Burhan. Kak Laisa, yang meski hatinya masih bagai buah tersayat-sayat sejak kejadian tadi
sore ikut ke rumah Wak Burhan. Mamak hendak melapor. Dua anaknya belum pulang.
"Belum pulang bagaimana, Lainuri?"
"Belum pulang, Bang! Ikanuri dan Wibisana belum pulang ke rumah!"
Mamak mengusap wajahnya, tegang, cemas.
"Sejak kapan?" Wak Burhan menyemburkan sirihnya.
"Sejak tadi siang—"
"Ada yang tahu tadi siang anak itu kemana?"
Wak Burhan menyambar obor di depan pintunya, memotong kalimat Mamak.
"Ee, tadi siang, tadi siang mereka bermain-main di ladang—"
Laisa menjawab patah-patah. Serba salah. Ia tidak ingin menceritakan pertengkaran itu. Tidak
ingin orang tahu kalau Ikanuri mengatakan kalimat kasar itu.
"Dan belum pulang?" Wak Burhan memotong lagi. Cemas.
"Belum, Wak—"
"Sekarang sudah hampir setengah sembilan,"
Wak Burhan menyimak gerakan bulan malam ketiga belas di atas sana,
"Ya Allah, Lainuri. Ini benar-benar mencemaskan."
Mamak menelan ludah, wajahnya mengeras, amat tegang.
"Apa yang harus kulakukan, Bang?"
Wak Burhan bergumam. Seperti membaca mantra sajalah. Berhitung dengan cepat.
Lantas berseru cepat.
"LAIS, BUNYIKAN BEDUK DI SURAU! Panggil seluruh pemuda kampung, suruh kumpul
di balai, SEKARANG!" Wak Burhan menyemburkan ludah sirinya.
"Dan kau Lainuri, ikut denganku ke balai pertemuan!"
Ini serius. Serius sekali. Semua orang juga tahu, kampung mereka berada di dekat hutan
rimba. Di seberang cadas sungai, di hutan rimba sana, malam-malam begini ada sejuta mara
bahaya mengintai. Pemuda dewasa saja berpikir dua kali kalau harus mencari kumbang
masuk jauh-jauh ke dalam sana. Mereka biasanya hanya merambah dekat-dekat dengan cadas
sungai. Itupun harus berombongan.
Dua anak kecil?
Laisa tidak perlu diteriaki dua kali. Dengan tangan gemetar, ikut merasakan ketegangan
yang segera meninggi, langsung berlari menuruni anak tangga. Semoga adik-adiknya tidak
kenapa-napa. Semoga mereka hanya bermain di desa atas, memutuskan untuk tidak mau
pulang. Atau entah pergi ke manalah. Semoga mereka... Ya Allah, kenangan masa lalu itu
serentak menyergapnya. Ya Allah! Wajah robek tak berbentuk. Tubuh tercabik-cabik
bersimbah darah. Laisa menggigil. Ketakutan. Kakinya yang berlari terasa berat sekali.
Bangkai korban sang siluman memenuhi pelupuk matanya.
Hanya dalam waktu lima belas detik. Beduk masjid melenguh kencang. Kentongan
bambu telah di pukul ramai-ramai. Sahut-menyahut. Bertalu-talu. Semua penduduk kampung
keluar. Hilang sudah lelah tadi siang. Disingkirkan jauh-jauh. Benar-benar rusuh. Mereka
mengenali ramai bunyi kentongan itu. Terakhir terdengar dipukul delapan tahun silam.
Mereka berkumpul di balai kampung. Membawa obor. Membawa golok. Membawa tombak.
Apa saja senjata yang bisa dibawa. Wajah-wajah cemas. Tegang. Balai kampung ramai
kembali.
Wak Burhan berdiri di tengah-tengah balai kampung, Kerlip cahaya obor membasuh
wajah tuanya. Umur Wak Burhan sudah berbilang tujuh puluh, tapi dia masih gagah. Masih
tegap sekali. Dalam situasi serius seperti ini, kedut wajahnya terlihat amat mengesankan.
Kumis melintang. Rahang kokoh. Mata yang tajam. Makanya penduduk kampung amat segan
padanya.
"Dua orang mencari ke desa atas. Dua orang mencari ke desa seberang. Kau dan temantemanmu
ke Curug Cuak.... yang lain ikut aku...."
Wak Burhan membagi kelompok-kelompok dengan cepat.
"Satu jam dari sekarang, saat bulan berada persis di atas gunung Kendeng, semua kembali ke
sini... Jika Ikanuri dan Wibisana tidak ditemukan juga, seluruh rombongan akan dipecah dua,
kita harus menyusuri hutan rimba. Kita harus melakukannya—"
Kepala-kepala mengangguk. Seruan-seruan kecil setuju.
Sekejap. Pencarian itu dimulai. Mamak Lainuri sudah sejak tadi hanya terduduk di kursi
bambu. Dipegangi oleh ibu-ibu lainnya. Mamak semaput. Wajahnya pucat oleh perasaan
gentar. Ya Allah, ia seperti bisa melihat kejadian delapan tahun silam. Seperti tergambar jelas
di depannya. Wak Burhan yang waktu itu lebih muda, juga dengan cepat memberikan
perintah. Orang-orang yang membawa obor. Tombak. Golok. Pencarian hingga dinihari. Dan
hasilnya?
Mamak Lainuri jatuh pingsan lagi.
Laisa berusaha menyeka keringat di wajah Mamak.
Dalimunte yang terlalu kecil untuk ikut rombongan pencari duduk tertunduk di dekatnya,
gentar. Yashinta memeluk lutut. Bahkan ia masih terlalu kecil untuk ingat banyak kejadian.
Masih terlalu kecil untuk mengerti apa yang sedang terjadi.
"Kak, apa Ikanuri dan Wibisana baik-baik saja?"
Laisa mengangguk pelan ke arah Dalimunte.
Cahaya obor rombongan pencari yang bergerak terlihat mulai menjauh. Ada yang
menaiki lembah, ke desa atas. Menyeberangi ladang-ladang. Ke kiri. Ke kanan. Kerlapkerlip.
Meski nyaris separuh penduduk kampung mencari Ikanuri dan Wibisana, balai
kampung tetap ramai. Seluruh penduduk membawa anggota keluarganya ke sini. Tidak ada
yang ingin meninggalkan anak-anaknya di rumah setelah mengerti maksud bunyi kentongan
tadi. Mereka bermalam di balai kampung bersama-sama. Di atas kursi-kursi bambu Saling
bersitatap ketakutan.
Laisa menggigit bibir. Mengusap wajahnya berkali-kali. Gelisah melihat sekitar. Ia
sungguh cemas. Ini pasti gara-gara ia tadi siang mengancam adik-adiknya. Ya Allah… Ini
semua salahnya. Mereka pasti enggan pulang gara-gara dibilang akan dihukum tidak boleh
masuk rumah, harus tidur di bale bambu, bawah rumah. Apakah ia harus menceritakan
pertengkarannya ke Mamak? Tidak. Itu tidak perlu, dan jelas tidak bisa dilakukannya. Tapi
kalau terjadi kenapa-napa dengan Ikanuri dan Wibisana? Ya Allah, semoga tidak. Semoga
mereka hanya bermalam di desa atas.
Gemerlap bintang di atas entah kenapa pelan mulai diselimuti gumpalan awan hitam.
Seperti menambah tinggi tingkat kecemasan. Hening. Mencekam. Sudah pukul 22.00.
Lembah itu mulai hening. Suara jangkrik berderik pelan mereda. Uhu burung hantu.
melemah. Suara uwa menghilang. Malam beranjak matang. Satu jam berlalu.
Rombongan pencari satu per satu kembali. Melapor.
Hasilnya kosong—
Maka benar-benar tegang sudah balai kampung itu.
"Hati-hati... Tetap dalam rombongan, jangan ada satupun yang terpisah—"
Wak Burhan berkata dengan intonasi suara tegas tanpa kompromi. Kelompak lelaki dewasa
yang sudah terbagi menjadi dua rombongan tersebut, mengangguk
"Saat pijar matahari pagi terlihat di kejauhan, saat merah terlihat menyemburat membungkus
lembah, kita berkumpul lagi di sini.... Sebelum itu, cari sampai dapat. Periksa seluruh semak
belukar, jangan sampai ada yang tertinggal. Pastikan kalian mengenali bercak darah...."
Mamak Lainuri yang sudah siuman mengeluh tertahan. Kalimat Wak Burhan, kalimat
terakhir Wak Burhan bukan lagi perintah mencari orang yang masih hidup. Bercak darah….
"Hati-hati, jangan sampai ada yang terpisah dari rombongan. Sang siluman mungkin masih
mencari korban berikutnya...."
Balai kampung itu terdiam. Seruan-seruan terhenti. Menelan ludah. Nama itu akhirnya
tersebutkan sudah. Sang Siluman. Laisa sudah menggigil ketakutan. Wak Burhan
memberikan instruksi dua-tiga kalimat lagi. Lantas dua rombongan bergerak meninggalkan
bangunan. Rombongan membawa obor itu menghilang di tengah gelapnya hutan rimba
seberang cadas lima belas menit kemudian. Menyisakan ketegangan yang meninggi.
"Kak, apa Ikanuri dan Wibisana baik-baik saja?"
Dalimunte bertanya mencicit. Cemas. Dari tadi ia tidak bisa memejamkan mata. Tegang.
Sementara Yashinta di sebelahnya sudah jatuh tertidur. Meringkuk di atas kursi bambu balai
kampung.
Kali ini Laisa hanya diam membeku. Tak kuasa mengangguk.
Delapan tahun... delapan tahun silam.
Ia menyaksikan sendiri dengan mata-kepalanya. Babak mereka dibawa pulang dari hutan
persis saat semburat jingga pagi tiba. Setelah pencarian enam jam tanpa henti. Setelah hutan
rimba. Muka yang robek tak berbentuk. Tubuh yang tercabik-cabik itu dibawa pulang. Sudah
tak bernafas. Babak diterkam penguasa rimba, sang siluman, itulah nama seram menakutkan
harimau Gunung Kendeng. Waktu itu umurnya baru delapan, Dalimunte empat, Ikanuri dan
Wibisana dua tahun. Yashinta masih di kandungan.
Hari itu, babak mereka pergi —
Malam itu yang mereka tahu Babak hanya bilang hendak mencari kumbang bersama dua
temannya ke hutan rimba seberang cadas, tidak jauh. Tapi entah apa pasalnya, rombongan
mereka terpisah. Dua temannya panik. Pulang, segera melapor. Tidak ada yang mengerti,
bagaimana mungkin mayat Babak justru ditemukan jauh sekali dari cadas sungai. Masuk ke
dalam hutan rimba. Bukankah Babak seperti penduduk lainnya amat hafal dengan hutan itu?
Bagaimana mungkin babak malah tersasar jauh ke sana?
Seruan-seruan ganjil terdengar,
Semua orang tahu tentang pemikat sang siluman, penguasa Gunung Kendeng. Membuat
siapa saja yang berani merambah wilayahnya di malam hari akan tersesat di dalam hutan.
Hanya berputar-putar saja di satu titik, lantas tanpa disadarinya sudah masuk ke dalam
perangkap sang siluman.
Sudah delapan tahun berlalu kejadian mengenaskan itu tidak terjadi lagi di lembah
mereka. Dulu, waktu Laisa masih kecil, ia dua kali melihat kejadian serupa. Salah satu
penduduk kampung yang tidak pulang-pulang hingga malam hari, besoknya ditemukan sudah
dengan tubuh tercabik-cabik. Orang dewasa di kampung itu mengerti benar, kalau Ikamuri
dan Wibisana sampai berani masuk ke dalam hutan rimba, pencarian mereka malam ini akan
berakhir sama—
Juga Wak Burhan. Siapa yang akan lupa lima belas tahun silam saat anak tunggal Wak
Burhan yang berumur dua puluh empat tahun ditemukan keesokan paginya, hanyut di sungai
deras dengan wajah berbilur cakaran. Yang membuat Wak Burhan tinggal sendirian hingga
hari ini, karena istrinya sudah kapan tahun meninggal.
"Kak, apa Ikanuri dan Wibisana baik-baik saja—"
Dalimunte pelan menyentuh lengan Laisa, bertanya cemas ke sekian kalinya.
Laisa menoleh. Menggigit bibir. Entah menjawab apa. Ia sama sekali tidak mendengarkan
pertanyaan Dalimunte. Kenangan buruk itu membungkus kepalanya. Kemana adik-.adiknya
malam ini? Kemana Ikanuri dan Wibisana? Kemana, ya Allah....
Dan entah mengapa akhirnya kesadaran itu ditanamkan di kepalanya. Laisa mendadak
ingat sesuatu. Ia ingat pernah mendengar pembicaraan Ikanuri dan Wibisana beberapa hari
lalu setelah kejadian starwagoon tua itu. Ia tahu. Laisa tahu di mana harus mencari adiknya.
Mukanya menyeringai oleh buncah cemas tak tertahankan. Berdiri. Bergegas.
"Kak Lais, hendak kemana?" Dalimunte memotong. Tercekat. Hendak kemana?
Pertanyaan Dalimunte barusan menyadarkan Laisa tujuan sebenarnya Ikanuri dan
Wibisana. Ya Allah, Laisa gemetar seketika saat benar-benar baru menyadari adiknya dulu.
"Jalan pintas terdekat menuju kota kecamatan sebenarnya melalui Gunung Kaideng. Hanya
delapan kilo jika melewati gunung itu...."
Ikanuri dan Wibisana langsung menuju ke jantung sarang Siluman, entah apakah dua sigung
nakal itu menyadarinya atau tidak.
"Aku ikut—"
"TIDAK!! Kau tetap di sini, menjaga Mamak dan Yashinta—"
"Aku ikut!"
Dalimunte menjawab tegas. Cepat berlari ke dalam rumah. Suara kakinya membuat lantai
rumah panggung mereka berderak. Sejurus, dia sudah keluar lagi, membawa tombak panjang
peninggalan Babak.
"Aku ikut kemana pun Kak Laisa pergi malam ini—"
Tegas sekali Dalimunte berkata. Wajahnya dipenuhi ekspresi penghargaan. Keberanian?
Tentu saja dia takut, dia tahu kakaknya akan pergi ke Gunung Kendeng. Tapi, sumpah, Dali
tidak takut mesti harus memasuki daerah terlarang itu. Lihatlah wajah Kak Lais, wajah yang
selalu berani dalam hidupnya, demi adik-adik mereka. Wajah yang selalu melindungi.
Melihat wajah itu, Dali tidak akan pernah takut lagi.
Laisa menelan ludah. Wajah tegang itu dibasuh cahaya obor yang dibawanya. Kerlapkerlip.
Menatap adiknya sejenak. Berpikir cepat. Lantas mengangguk. Tak apalah. Tak apalah
adiknya ikut. Ya Allah, sekali ini tolong baiklah dengan kami, tolong.... Laisa menggigit
bibir. Lantas melangkah menuruni anak tangga. Diikuti langkah Dalimunte.
Lima menit lalu Laisa memutuskan juga mencari adiknya. Ia tahu di mana adiknya berada
malam ini. Mereka berdua pasti memutuskan kabur dari rumah, pergi ke kota kecamatan.
Jalan pintas. Ia tahu, hanya Ikanuri dan Wibisani yang menganggap wanti-wanti tentang
harimau Gunung Kendeng itu lelucon. Ingatlah dua minggu lalu mereka malah memperolokolok
Yashinta soal berang-berang yang lucu. Bagi mereka harimau-lah yang lucu.
Dalimunte demi melihat kakaknya berdiri, dengan ikut berdiri. Melihat kakaknya berlari
pulang ke rumah mengambil obor dan golok, dengan cepat mengikuti. Mamak Lainuri yang
masih semaput tidak bisa bicara hanya menatap kosong mereka berdua. Tidak ada warga di
balai kampung yang bisa mencegah. Terlalu penat setelah kerja seharian. Penat dengan
segenap kecemasan. Tidak ada. Hanya membiarkan. Maka bergeraklah dua obor itu menuruni
cadas sungai. Menyeberangi sungai.
Masuk ke gerbang hutan rimba.
Pukul 02.00. Empat jam berlalu. Rombongan lelaki penduduk kampung terus menyisir
rimba belantara. Karena mereka harus memastikan setiap semak-belukar bersih ditelusuri,
pergerakan mereka lamban. Berteriak-teriak memanggil. Suara itu membuat diam binatang
hutan. Kosong. Sejauh ini kosong. Tidak ada selain babi hutan yang melintas, berlari dengan
anak- anaknya. Tidak ada selain desau burung malam yang terbang berderak, terganggu.
Langit semakin kelam.
Gerakan Laisa dan Dalimunte jauh lebih cepat. Karena mereka langsung menuju satu
titik. Gunung Kendeng. Semakin masuk ke dalam hutan, pepohonan semakin lebat. Golok di
tangan Laisa tangkas memotong semak belukar yang menghalangi langkah. Sudah sejak dua
jam lalu jalan setapak yang biasa digunakan penduduk mencari damar, rotan, menghilang.
Mereka harus menerabos semak belukar, belalai rotan, dan tumbuhan berduri lainnya. Jarang
sekali ada penduduk yang merambah hingga ke atas gunung. Jalan setapak hanya ada di
tempat-tempat biasa merek menyadap damar, mencari rotan, menangkap kumbang, dan
sebagainya.
Pukul 02.30, Laisa berhenti sejenak. Memperhatikan semak di depannya. Jantungnya
berdetak amat kencang. Seketika.
"Ada apa, Kak?" Dalimunte mendekat, ikut melihat ke depan.
Laisa menelan ludah, mendekatkan obor ke ujung dahan salah satu pohon kecil. Patah.
Khas sekali. Itu bukan karena uwa, bukan karena binatang liar. Tapi dipatahkan oleh
manusia. Benar. Ya Allah, ia benar, Ikanuri dan Wibisana baru saja melewati gunung ini....
Laisa menggigit bibir. Cepat! Ia harus buru-buru. Meski harapan itu kecil, meski janji itu
bagai embun yang segera sirna oleh cahaya matahari pagi, ia harus buru-buru. Menyusul
Ikanuri dan Wibisana. Semoga belum terlambat. Semoga adik-adiknya belum kenapa-napa.
Semoga belum.... Golok di tangan Laisa galak membabat ujung-ujung semak di depan yang
menghalanginya. Laisa kalap, tangannya gemetar, kakinya apalagi. Tapi rasa cinta yang besar
itu membungkus segenap ketakutan. Adik-adiknya, dimanapun saat ini dua sigung nakal itu
berada.... mereka membutuhkan dia, kakaknya.
Laisa terus maju dengan kecepatan tinggi.



KAKAK TIDAK AKAN TERLAMBAT

GERBANG perbatasan Perancis.
Juga Melesat. Eurostar melesat dengan kecepatan tinggi
" Apa yang sedang kau pikirkan, Ikanuri?"
"Tidak. Tidak apa-apa...."
Senyap sejenak.
Hanya deru roda kereta menghujam batangan baja.
"Kau barusan menangis?"
"Tidak!"
"Kau menangis — "
"TIDAK. Aku tidak menangis—" Jawaban itu serak.
Hening lagi. Desau suara pendingin kabin terdengar pelan.
Cahaya lampu rumah-rumah pinggiran Perancis terlihat. Lebih banyak lagi perkebunan
anggur. Di luar Sana masih gelap. Wibisana menatap datar wajah adiknya.
"Aku hanya takut. Takut terlambat tiba—"
Ikanuri berkata pelan. Tertunduk menatap keluar jendela. Berusaha menyeka matanya.
Wibisana menelan ludah. Menepuk lembut bahu Ikanuri.
"Kita tidak akan terlambat, Ikanuri, tidak akan...."
Ikanuri hanya diam. Berusaha mengendalikan dirinya.
"Kau tahu, kenapa?" Wibisana tersenyum getir.
Ikanuri menoleh. Susah sekali menyembunyikan perasaan hati. Susah. Sejak tadi, sejak
seluruh kenangan itu buncah kembali memenuhi memori kepalanya, semua terasa sesak.
Matanya berkaca-kaca lagi. Sejak tadi dia menangis, malah tanpa sengaja membuat Wibisana
terbangun dari tidurnya. Dia tidak bisa berpura-pura lagi. Mengenang semua itu membuatnya
benar- benar tersentuh. Biarlah. Biarlah Wibisana melihatnya menangis. Maka Ikanuri
tergugu menyeka pipinya.
Wibisana menelan ludah, terdiam sejenak... Menatap wajah sendu Ikanuri lamat-lamat,
lantas mengulang pertanyaan itu dengan segenap perasaan,
"Kita tidak akan terlambat, Ikanuri.... Kau tahu, kenapa?"
Ikanuri menggeleng, pelan.
"Ka-re-na.... Karena Kak Laisa tidak pernah datang terlambat untuk kita. Tidak pernah. Kak
Laisa tidak pernah sedetik pun datang terlambat dalam hidupnya untuk kita... Kak Laisa tidak
pernah mengingkari janji-janjinya, demi kita adik-adiknya... Ya Allah...."
Suara Wibisana terputus.
Menggantung di langit-langit kabin. Hilang ditelan suaranya sendiri yang bergetar, Wibisana
ikut tertunduk.
Ikanuri menyeka matanya. Terisak lebih kencang.
Kereta ekspress Eurostar itu terus melesat menuju Paris!
Itu benar sekali. Kak Laisa tidak akan pernah terlambat.
Karena malam itu sempuma sudah Laisa menunaikan janjinya. Tepat waktu. Tak
terlambat sedetik pun. Selepas dari pohon mangga Wak Burhan, usai bertengkar dengan Kak
Laisa, Ikanuri dan Wibisana memang akhirnya memutuskan untuk kabur dari rumah. Mereka
berpikir pendek: Kak Laisa pasti mengadu ke Mamak tentang mencuri mangga. Kak Laisa
pasti juga mengadu kalau mereka sudah menghinanya soal bukan kakak kami itu. Jadi
mereka pasti disuruh tidur di bale bambu bawah rumah. Bisa jadi dihukum selama seminggu.
Tidur di luar selama seminggu itu sama saje dengan mengusir mereka. Sekalian, kalau begitu
lebih baik mereka kabur saja.
Mereka tidak ingin kabur ke desa atas. Pasti segera ketahuan. Setelah berdebat sebentar,
Ikanuri dan Wibisana memutuskan kabur ke kota kecamatan. Ada dua puluh kilo jika mereka
harus berjalan lewat jalan batu lebar tiga meter itu. Artinya mungkin baru besok siang tiba di
sana. Terlalu lambat, masih bisa disusul oleh starwgoon yang berangkat pagi-pagi buta, dan
pelarian mereka diketahui. Maka tanpa berpikir panjang, Ikanuri dan Wibisana mengambil
jalan pintas. Gunung Kendeng. Mereka tahu jalan pintas itu dari percakapan orang-orang,
pemburu, di kota kecamatan dua minggu lalu.
Berangkatlah dua kakak-adik nakal itu. Agak sedikit lambat, memutari desa, karena tidak
mungkin melewati pinggiran sungai tempat orang-orang sedang bekerja membuat kincir.
Pukul 20.00, saat pertama kali Mamak berlari ke rumah Wak Burhan, mereka berdua baru
setengah jam perjalanan dari gerbang masuk ke dalam hutan rimba. Melangkah pasti.
Bintang-gemintang dan bulan malam tiga-belas membuat perjalanan mereka mudah
dilakukan, meski tanpa bantuan obor dan golok.
Pukul 22.00 saat rombongan pencari mulai masuk ke hutan rimba, masalah mereka mulai
serius. Awan mendung yang menutupi langit membuat rimba gelap seketika. Hanya kerlip
kunang-kunang, tapi itu tidak membantu banyak. Apalagi tidak ada lagi jalan setapak. Tanpa
golok, mereka hanya menyibak dan mematahkan semak-belukar dengan tangan untuk
memudahkan langkah. Sekali dua beristirahat. Bersitatap satu sama lain. Semakin masuk ke
dalam, mereka berdua semakin menyadari ini semua keliru. Benar-benar keliru. Mereka
terlalu menganggap sepele banyak hal. Menggampangkan masalah. Salah perhitungan.
Pukul 24.00 saat Laisa dan Dalimunte menyusul, Ikanuri dan Wibisana benar-benar
dalam masalah. Mereka masih jauh dari kota kecamatan, jangankan kota kecamatan, puncak
Gunung Kendeng pun belum terlihat. Mereka tertahan di punggung Gunung Kendeng.
Ikanuri dan Wibisana tersesat. Dua anak kecil yang meski amat ringan menganggap semua
perkataan orang, jelas-jelas masih anak kecil, mulai mengkerut ketakutan saat menyadari
setiap lima belas menit mereka berjalan, mereka sempurna kembali lagi ke titik semula.
Berputar-putar.
Begitu-begitu saja.
Ikanuri mulai mengeluh. Wibisana mengusap dahinya yang berkeringat. Ini semua
menakutkan.... Dan, hei, bukankah mereka pernah (sebenarnya sering) mendengar kisah
tentang harimau Gunung Kendeng yang dulu setiap tahun mencari tumbal? Hei, bukankah
Babak juga salah satu dari tumbal itu. Cemas. Ikanuri dan Wibisana tersengal. Berjalan
semakin cepat. Percuma. Kembali lagi ke titik semula. Hei, bukankah ini pertanda sang
siluman mengeluarkan jerat pamungkasnya?
Pukul 02.00, sempurna sudah keduanya mengkerut takut. Setelah hampir dua jam hanya
bolak-balik di tempat yang sama, mereka memutuskan untuk bertahan di Sana. Menunggu
besok, ketika cahaya matahari memudahkan menentukan arah. Wajah mereka pucat oleh
perasaan gentar, cemas. Tubuh mereka mulai gemetar. Sedikit saja suara gerakan di sekitar,
cukup sudah untak membuat jantung mereka berdetak lebih kencang. Ikanuri dan Wibisana
berdiri saling membelakangi punggung. Mematahkan batang semak belukar yang besar,
berusaha mempersenjatai diri.
Saat itu, Laisa dan Dalimunte sudah dekat sekali.
Tetapi pukul 02.30 mendadak hutan di sekitar mereka lengang. SEMPURNA
LENGANG. Seperti ada yang jahil menekan mati tombol volume derik jangkrik dan
serangga lainnya.
Ikanuri dan Wibisana saling menoleh. Bersitatap dengan cahaya mata redup. Ganjil
sekali. Suasana hutan yang mendadak lengang terasa amat ganjil. Bahkan angin pun seolah
takut berdesau. Langit gelap, pekat. Awan hitam menutupi berjuta bintang dan bulan. Hanya
nafas cepat mereka yang menderu.
Apa yang sedang terjadi? Ada apa?
Wahai, kalian seharusnya lima kali lebih takut saat di sekitar kalian mendadak senyap,
hening. Bukan takut saat mendadak ada suara teriakan atau cekikikan. Wahai, senyap yang
datang tiba-tiba, itu berarti pertanda ada maut besar yang mengintai. Pertanda kehadiran
kekuasaan besar yang mengendalikan sebuah tempat. Dan itu benar.
Saat itulah, lima belas detik kemudian, suara gerung pelan itu terdengar menggantung di
langit-langit hutan rimba. Awalnya pelan, semakin lama semakin mengeras. Gerungan maut
sang siluman.
"RRRRR-"
Ikanuri dan Wibisana seperti sudah mati rasa. Berdiri kaku. Terkencing-kencing.
"RRRRR-"
Mata-mata itu terlihat menakutkan dari balik semak. Cemerlang.
Mengerikan. Semakin mendekat. Semak belukar itu pelan bergoyang, lantas tersibak.
Tiga harimau dewasa sebesar anak sapi mendekat. Berkilauan kuning legam dengan loreng
hitam. Ikanuri dan Wibisana membeku sudah. Tidak bisa menggerakkan tubuh lagi.
Menggigil.
Satu detik. Satu meter lebih dekat.
"RRRRR-"
Lima detik. Tinggal lima meter.
Sepuluh detik. Tiga ekor harimau itu berhitung dengan situasi, mengukur bagaimana cara
terbaik menerkam Ikanuri dan Wibisana. Waktu benar-benar berjalan lambat, untuk tidak
bilang seperti terhenti. Aroma kematian menggantung pekat di langit-langit hutan.
Hanya soal kapan—
Hanya soal detik—
Saat Ikanuri dan Wibisana hampir jatuh pingsan, ketakutan. Saat harimau terbesar yang
berada paling dekat bersiap meloncat. Saat itulah Kak Laisa menunaikan janjinya.
"TIDAK! TIDAK BOLEH!" Terhenti. Gerakan tubuh harimau terbesar itu terhenti.
"TIDAK! PUYANG TIDAK BOLEH MEMAKAN MEREKA!"
Kak Laisa, entah apa yang ada di kepalanya, yang sedetik baru tiba di sana, sedetik terpana
menyaksikan pemandangan di depannya, tanpa berpikir panjang, seperseribu detik langsung
loncat dari balik semak, menerobos ke tengah kerumunan. Mukanya terlihat begitu tegang. Ia
sungguh gentar. Ia sungguh ketakutan. Siapa pula yang tidak akan jerih melihat tiga ekor
harimau dari jarak dua meter tanpa penghalang? Tapi perasaan itu, perasaan melindungi adikadiknya
membuat Laisa menyeruak, nekad masuk ke kematian.
Mengacung-acungkan obornya ke depan.
Tiga harimau itu mundur satu langkah. Menahan terkaman. Sedikit jerih melihat obor
Laisa. Ekor mereka bergerak. Berhitung dengan situasi baru.
"RRRRR-"
Harimau -harimau itu menggerung lagi. Amat menakutkan. Tubuh mereka yang hampir
sebesar anak sapi itu terlihat lebih jelas, tertimpa cahaya obor Kak Laisa. Kerlap-kelip. Kulit
yang tebal, mengkilat. Wajah, taring, cambang, sungguh menakutkan.
"Puyang tidak boleh memakan mereka... Laisa mohon. tidak boleh—"
Kak Laisa mencicit, berkali-kali mengibas-ngibaskan obornya.
"RRRR-"
"Pergilah Ikanuri, Wibisana. Pergi dari sini! PERGI!"
Kak Laisa mendorong Ikanuri dan Wibisana yang pucat pasi di belakangnya. Sementara
wajah Kak Laisa terus bersitatap dengan harimau-harimau itu. Menjaga segala kemungkinan.
Gerungan terdengar semakin keras. Tiga harimau itu mengambil posisi baru. Tidak
masalah. Empat mangsa lebih baik dari dua.
"Dali, bawa adik-adikmu lari.... LARI!!"
Kak Laisa berseru panik. Situasinya semakin mencekam. Harimau-harimau kembali bersiap.
Dalimunte yang menatap ketakutan dari balik semak mendecit.
"Dali, CEPAT! Bawa adik-adikmu lari!"
Kak Laisa membentak. Suaranya parau. Panik. Mereka tidak punya waktu lagi.
Gemetar Dalimunte masuk ke dalam lingkaran, patah-patah menarik tubuh membeku
Ikanuri dan Wibisana ke luar. Laisa terus menatap tiga ekor harimau itu. Menelan ludah.
Mencoba menahan mereka dengan obor yang teracung.
"RRRRR-"
"Dali, bilang Mamak, bilang Mamak, Lais pergi—
"RRRRR-"
"Dali, bilang Mamak, maafkan Lais—"
Kak Laisa berkata dengan suara semakin serak. Ia tahu, malam ini harimau-harimau ini
membutuhkan mangsa. Tumbal. Maka biarlah ia yang menggantikan adik-adiknya.... Ia tahu,
waktunya sudah selesai. Biarlah begitu. Biar ia yang menahan mereka sementara adikadiknya
berlari....
Suara gerungan itu tiba di puncaknya.
Kepala-kepala menakutkan itu terangkat siap menerkam.
Laisa dengan mata bercahaya, buncah oleh air mata menatap ke depan. Menunggu.
Bersiap. Sementara Dalimunte yang sedikit pun tidak mengerti apa yang sedang dilakukan
Kak Laisa, tunggang langgang menarik tubuh Ikanuri yang sempat terjatuh, mereka harus
kabur sesegera mungkin dari situ.
Seperseribu detik berlalu. Ekor harimau yang paling besar, yang paling menakutkan, yang
bersitatap dengan mata Laisa, tiba-tiba bergoyang. Harimau itu menggerung keras. Laisa
menggigit bibir. Seluruh tubuhnya gemetar. Ia sudah pasrah. Ia sudah siap.
Tapi hei, kenapa? Kenapa belum ada satu pun harimau yang menerkamnya? Dua detik.
Tetap begitu. Tiga detik? Tidak ada yang bergerak. Wahai, apa yang telah terjadi?
Keajaiban itu! Hanya kuasa Allah yang tahu apa yang sesungguhnya sedang terjadi
malam itu, sang siluman entah oleh kekuatan apa mendadak mengurungkan niatnya
menerkam tubuh pasrah Laisa. Lima detik berlalu, harimau terbesar setelah sekali lagi
menggerung lebih keras, perlahan melangkah mundur. Memberikan perintah, memutar
tuhuhnya.
Pergi. Dua harimau lainnya mengikuti.
Dalimunte yang terjerambab di semak belukar setelah berlari sepuluh langkah bersama
adik-adiknya menatap kosong tiga harimau yang melewati mereka, melangkah di atas tubuhtubuh
mereka yang terjerambab.
Begitu saja—
Lima detik. Lima belas detik.
Senyap. Hening.



SEJUTA KUNANG-KUNANG

BAGI penduduk di lembah itu, legenda tentang harimau Gunung Kendeng selalu diwariskan
dari satu generasi ke generasi berikutnya. Mungkin dulu sengaja dibuat begitu agar penduduk
kampung tidak berani merambah wilayah berbahaya tersebut. Cerita itu juga dikisahkan ke
anak-anak agar mereka tidak sejahil dan segampang Ikanuri dan Wibisana yang bebal justru
melintasi sarang harimau. Atau setidaknya membuat anak-anak yang susah disuruh tidur dan
banyak merengek segera beranjak naik ke atas dipan.
Alkisah, di lembah dan gunung itu, ratusan tahun silam bangsa harimau dan manusia
hidup damai berdampingan. Penduduk lembah tidak mengganggu mereka, harimau juga
sebaliknya. Itu perjanjian tak tertulis para leluhur. Hingga pada suatu ketika, masa-masa
berdamai itu berakhir oleh sebuah kejadian. Salah seorang penduduk kampung yang berburu
di dalam hutan tidak sengaja masuk ke wilayah terlarang. Entah apa pasal, pemburu itu malah
menombak seekor anak harimau. Maka rusaklah perjanjian tersebut. Kelompok harimau
meminta ganti rugi. Nyawa ditukar nyawa. Tapi penduduk kampung menolak. Mereka
menolak menyerahkan pemuda yang melakukan kesalahan tersebut.
Kelompok harimau gunung memutuskan balas dendam. Maka terjadilah pertikaian. Lebih
banyak lagi harimau yang mati terbunuh. Suatu malam, sekelompok harimau yang tersisa
mengambil belasan anak-anak kecil dari kampung secara diam-diam sebagai ganti-rugi.
Bertahun-tahun tidak ada yang tahu ke mana anak-anak itu menghilang. Sebagian bilang
mereka berubah jadi harimau. Sebagian yang lain bilang dijadikan tumbal. Yang pasti sejak
hari itu, manusia dan harimau di lembah dan gunung terus saling menyerang.
Atas kejadian itu, harimau kemudian disebut sang siluman, karena mencuri sembunyisembunyi
anak kecil. Sejak hari itu juga, kata-kata puyang (atau kakek) disematkan kepada
harimau. Karena legenda itu mewariskan pemahaman bahwa harimau yang ada di puncak
gunung sekarang tidak lain adalah kakek-kakek (anak-anak) mereka dulu yang dicuri.
Sejak delapan tahun silam, populasi harimau di Gunung Kendeng sebenamya semakin
terdesak. Perambah hutan membuat mereka mulai tersingkir. Belum lagi harga kulit dan
taring mereka yang mahal. Harimau Gunung Kendeng, diburu oleh kelompok-kelompok
pemburu profesional dari kota provinsi. Dengan bedil. Perangkap besi. Legenda itu tinggal
cerita belaka. Tinggal sebutan, nama-nama. Tidak ada penduduk yang menganggapnya
serius. Masih disampaikan kepada anak-anak hanya agar mereka mengerti kalau gunung itu
berbahaya. Tapi meskipun begitu, semua penduduk mengerti benar berapa pun jumlahnya
sekarang harimau tetaplah binatang berbahaya.
Setengah jam berlalu dari kejadian hebat itu....
Setelah sepotong lereng gunung tempat tiga harimau tadi bersiap menerkam Ikanuri dan
Wibisana kembali ramai oleh derik jangkrik, ramai kembali oleh serangga malam, Laisa
menuntun adik-adiknya, pulang. Obor sudah padam. Tidak sengaja padam saat kejadian seru
tadi. Tombak Dalimunte juga entah tercecer di mana. Terjatuh. Tidak ada yang sempat
memikirkannya. Mereka berjalan pelan. Beriringan. Ikanuri dan Wibisana yang mulai bisa
bernafas normal melangkah tertunduk di depan. Sementara masih banyak sekali pertanyaan
yang menyesaki kepala Dalimunte.
Laisa tidak banyak bicara. Ujung tangannya masih berkedut sekali dua. Kakinya masih
sering gemetar menopang tubuh. Sisa perasaan gentarnya tadi saat tiga harimau itu bersiap
menerkam. Tapi karena ia ingin buru-buru pulang, agar Mamak tak terlalu lama menunggu,
tak terlalu lama menanggung cemas, Laisa meneguhkan hati, membujuk kakinya agar
berjalan senormal mungkin.
Menjelang larik jingga muncul di ufuk sana, menjelang matahari pagi akhirnya terbit, saat
Wak Burhan dan penduduk kampung masih sibuk dan mulai putus asa mencari Ikanuri dan
Wibisana, mereka tiba di gerbang hutan seberang dinding
Kerlip kunang-kunang lebih ramai di sini.
Terbang berkelompok. Beranjak pulang ke sarang.
Langkah Laisa terhenti. Menatap cahaya mereka yang indah.
"Ikanuri, Wibisana, Dalimunte...."
Berkata pelan. Langkah adik-adiknya di depan ikut terhenti.
"Lihatlah! Kunang-kunang yang indah—" Ikanuri dan Wibisana mengangkat kepalanya.
"Suatu hari nanti...." Kak Laisa terdiam sebentar, ia tersenyum amat tulus sambil menatap
wajah adik-adiknya di remang semburat merah langit, wajahnya sungguh kontras dengan
mereka, ia berkulit hitam, sementara adik-adiknya putih, ia berambut gimbal, sementara adikadiknya
lurus,
"Suatu hari nanti, sungguh kalian akan melihat berjuta kerlip cahaya lampu yang jauh lebih
indah di luar sana, di luar lembah kita...
Satu kunang-kunang berdesing di depan mereka.
Kepala Dalimunte tertunduk.
"Ikanuri, Wibisana, suatu saat nanti kalian akan melihat betapa hebatnya kehidupan ini....
Betapa indahnya kehidupan di luar sana. Kalian akan memiliki kesempatan itu, yakinlah....
Kakak berjanji akan melakukan apapun demi membuat semua ini terwujud...."
Dalimunte menyeka ingusnya.
"Tapi sebelum hari itu tiba, sebelum masanya datang, dengarkan Kakak, kalian harus rajin
sekolah, rajin belajar, dan bekerja keras. Bukan karena hanya demi Mamak yang sepanjang
hari terbakar matahari di ladang. Bukan karena itu. Tapi Ikanuri, Wibisana, Dalimunte, kalian
harus selalu bekerja keras, bekerja keras, bekerja keras, karena dengan itulah janji kehidupan
yang lebih baik akan berbaik hati datang menjemput...."
Dalimunte sudah menangis pelan.
"Kelak kalian akan melihat kerlip cahaya yang lebih indah...."
Dalimunte sudah terisak.
Dia mengerti. Amat mengerti segalanya—
Juga di sini Ikanuri juga benar-benar menangis.
Lihatlah! Menara Eiffel terlihat cemerlang. Penghujung tahun begini.
Menara Eiffel bagai pohon natal raksasa. Kerlip berjuta lampu kota Paris yang tersaput
selimut salju putih tak mau kalah, terlihat begitu mempesona. Seperti sejuta kunang-kunang.
Menyeruak berpendar-pendar.
Ikanuri mendekap wajahnya. Umurnya sekarang tiga puluh enam. Wibisana tiga puluh
tujuh. Kejadian itu lebih seperempat abad silam berlalu. Ya Allah, Kak Laisa, Kak Laisa
tidak pernah datang terlambat untuk mereka. Tidak sedikit pun. Seperti kalimat Kak Laisa
pagi itu, Kak Laisa menunaikan seluruh janjinya. Tidak ingkar sekalipun. Tidak pernah....
Kereta eskpress Eurostar itu melesat membelah indahnya kota Paris. Semburat merah
muncul di angkasa. Pagi datang menjelang. Membuat gemeriap lampu kota yang belum
dimatikan terlihat begitu menawan. Kabut pagi menambahinya. Syahdu.
"Sudahlah, Ikanuri—" Wibisana mendekap bahu adiknya.
"Kau tahu.... Kau tahu, waktu itu aku mengatakan Kak Laisa bukan kakak kita. Kau tahu itu!"
Ikanuri tersedak. Mendekap wajahnya. Dia tidak bisa menahan lagi perasaan itu. Dan
melihatnya tertunduk menangis sungguh menyedihkan. Wahai, kalian akan lebih terharu saat
melihat seseorang yang selama dikenal nakal, tukang jahil, bebal, atau apalah tiba-tiba
menangis.
Sungguh.
"Kak Laisa tidak pernah marah dengan itu, Ikanuri."
Wibisana mengusap bahu adiknya.
Ikanuri justru tersedan lebih keras. Itu benar sekali. Kak Laisa tidak pernah marah soal itu
sedikitpun. Tidak pernah. Bahkan Kak Laisa tidak pernah mengungkit-ungkitnya lagi. Ya
Allah, karena itulah dia merasa bersalah sekali. Menyesalinya sepanjang hidup. Dua puluh
lima tahun berlalu, ketika takdir kehidupan yang lebih baik menjemput keluarga sederhana
mereka di Lembah Lahambay, bahkan dia tidak pernah meminta maaf soal itu. Meski Kak
Laisa sebenarnya sudah memaafkan detik itu juga di bawah pohon mangga tersebut. Tapi dia
selama ini tidak pernah merasa harus meminta maaf. Bagainiana jika mereka terlambat dan
tidak ada waktu lagi?
"Tolong.... Tolong sambungkan sekali Iagi ke Mamak—"
Ikanuri menyeka matanya. Berusaha mengendalikan diri.
Wibisana mengerti. Mengambil HP di saku. Pelan menekan nomor HP Mamak Lainuri.
Tadi berkali-kali mereka menelepon ke perkebunan strawberry, kata Mamak, Kak Laisa
masih tertidur (atau begitulah yang dokter bilang). Mereka tidak ingin membangunkan Kak
Laisa. Biarlah mereka akan menelepon lagi.
Suara tunggu itu bernyanyi satu kali. Dua kali.
"Assalammualaikum...." Suara renta Mamak terdengar.
"Waalaikumussalam..."
Wibisana menelan ludah suaranya bergetar, berusaha tersenyum. Tangannya yang satu lagi
masih mendekap bahu Ikanuri, menenangkan.
"Kak Lais sudah bangun, Mak?—"
"Sudah. Sebentar, anakku — "
Senyap. Suara Mamak yang bertanya pada dokter terdengar samar-samar. Handsfree.
Dokter mengaktifkan handsfree, agar Kak Laisa bisa bicara meski sambil terbaring,
"Silahkan, Pak Wibisana, Pak Ikanuri, kalian bisa bicara sekarang, tapi jangan lama-lama, Ibu
Laisa masih dalam kondisi kritis. Silahkan,—" Dokter berkata dari seberang.
Ikanuri dan Wibisana justru terdiam. Menelan ludah.
"Kak Lais—" Bergetar.
"I-ka-nu-ri?" Terbatuk.
"Itu kau di sana, Ikanuri?—" Samar suara Kak Lais terdengar dari speaker telepon genggam.
Ikanuri seketika kehabisan kata-katanya, kecuali tangis.
Benar-benar kecuali tangis.
Satu minggu berlalu. Hari ini seluruh kampung bersuka-cita. Sejak shubuh mereka sudah
berkumpul di pinggir cadas. Beramai-ramai, bergotong-royong memasang kincir-kincir di
atas pondasinya. Benar, Perhitungan Dalimunte sejauh ini tepat. Saat ikatannya dilepas,
kincir pertama yang terbenam di air sungai berderak mulai berputar mengikuti arus, sambil
membawa air di ujung-ujung bumbungnya. Naik. Terus naik. Lantas tumpah persis di puncak
kincir. Mengisi bumbung bambu kincir kedua. Kincir kedua pelan, mulai ikut berputar.
"NAIK! NAIK! NAIK!" Penduduk kampung berseru-seru. Wajah mereka tegang. Meski
seringai yakin mulai terpancar di sana-sini. Kincir mereka kokoh, pondasinya kuat. Tidak
akan ada yang salah. Susunannya tepat, konstruksinya baik. Percuma mereka punya jagoan
pintar macam Dalimunte.
Kincir air kedua sedikit bergetar membawa air terus berputar. Naik ke atas. Tumpah.
Mengisi bumbung kincir ketiga.
"NAIK! NAIK! NAIK!" Seruan penduduk kampung semakin meriah. Satu-dua anak kecil
malah bertepuk-tangan. Macam nonton kumedi putar di kota kecamatan. Wak Burhan yang
berdiri di depan kerumunan melepas topi anyaman rotan. Menyeka keringat di dahi,
pertanyaan terbesarnya adalah apa cukup kekuatan air-air yang terus mengalir ke atas itu
untuk memutar lima kincir air? Dulu saat mereka membuat kincir raksasa, masalah
terbesamya air deras sungai tidak cukup kuat memutarnya.
Tapi kincir air yang ketiga justru berputar lebih cepat. Dalimunte sudah menghitung
kemungkinan itu. Membuat kincir-kincir tersebut proporsional mengecil hingga ke atas.
Menyusunnya dengan posisi lebih condong, lebih mudah digerakkan. Dia juga membuat
klahar bantalan pemutarnya jauh lebih licin dengan gemuk yang dibeli Wak Burhan dari kota
kecamatan.
"NAIK! NAIK! NAIK!"
Kincir keempat bergerak meyakinkan.
"NAIK! NAIK! NAIK!"
Seruan semakin ramai. Yang membuat penduduk semakin yakin, sejauh ini air itu sudah naik
empat meter, tinggal satu meter lagi. Tinggal satu kincir lagi.
Kincir kelima berderak sebentar. Pondasinya di dinding cadas bergetar. Membuat nafas
tertahan. Bumbung bambu pertamanya menerima tumpahan air dari kincir keempat. Penuh.
Lantas pelan, mulai ikut berputar.
Dan akhirnya, air dari bumbungnya tumpah persis di atas cadas setinggi lima meter.
Pinggir sungai itu buncah sudah oleh tawa-gembira. Seruan-seruan senang. Tepuk-tangan
"Bah! Apa kubilang! Kita pasti berhasil!" Beberapa pemuda saling memukul lengan, tertawa.
"Benar! Kita pasti berhasil!"
"Bukan main, kau hebat Dali!"
Yang lain mengangkat tubuh kecil Dalimunte. Mengaraknya ke tengah sungai. Tertawa lebih
keras.
"CBYUR!"Terjatuh.Terpeleset bebatuan.Pemuda-pemuda itu basah kuyup. Juga Dalimunte.
Tertawa lebih lebar.
Wak Burhan menghembuskan nafas lega. Engkau sungguh baik ya, Rabb. Menatap wajah
Dalimunte yang tertawa-tawa, bangkit dari air sungai sedalam pinggang. Menatap wajah
Lainuri yang berdiri bersama ibu-ibu kampung lainnya. Wajah Lainuri yang tersenyum lebar.
Menatap wajah Laisa yang tersenyum lebih lebar. Wajah Yashinta yang berdiri dengan
teman-teman sepantarannya. Ikut berteriak-teriak riang meski mereka tidak mengerti benar.
Menatap wajah Ikanuri dan Wibisana. Dua sigung bebal itu bersama anak-anak tanggung
lainnya ikut melompat ke inang sungai, ikut menyirami Dalimunte dengan air. Tertawa-tawa.
Benar-benar melupakan kejadian heboh seminggu lalu. Pagi ini, kabar baik memenuhi langitlangit
lembah. Engkau sungguh pemurah, Rabb. Wak Burhan memasang topinya. Berteriak
menyuruh mereka mulai bekerja. Hari ini mereka harus menyelesaikan sambungan pipa-pipa
bambu sepanjang satu kilo. Dengan begitu, ladang-ladang mereka mulai bisa diairi. Dengan
begitu, lepas panen bulan depan, mereka langsung bisa mengolah tanah lagi. Tidak perlu
menunggu musim penghujan, Sekarang, nasib mereka berada di tangan mereka sendiri.
Tujuh puluh tahun tinggal di kampung itu, tidak pernah Wak Burhan merasakan
antusiasme hidup yang begitu hebat. Meski baru seminggu lalu dia seperti kembali melihat
hantu masa lalunya. Tapi itu tidak terjadi. Kecemasan kembali terulangnya kejadian delapan
tahun silam tidak terbukti. Saat mereka benar-benar putus-asa, mulai berangsur pulang
setelah lelah menelusuri hutan rimba, saat bersiap melaporkan kejadian itu ke polisi di kota
kecamatan, saat tiba di balai kampung, Ikanuri dan Wibisana justru ditemukan sudah
berbaring kelelahan, dikelilingi ibu-ibu yang berusaha memberikan minum.
Laisa dan Dalimunte terbata menceritakan apa yang terjadi. Satu patah, dua kali helaan
nafas. Mereka juga lelah. Naik turun Gunung Kendeng bukan urusan mudah, apalagi dalam
situasi buruk seperti itu. Maka cerita mereka hingga kapanpun, mungkin tak akan pernah
terlupakan. Mungkin berpuluh-puluh tahun ke depan tetap dikenang penduduk kampung.
Tidak ada yang tahu apa yang terjadi, kenapa tiga harimau itu urung menerkam Laisa. Satu
dua bilang mungkin harimau itu sudah kenyang, habis memangsa babi liar. Satu dua bilang
harimau itu mungkin takut dengan obor api. Satu dua berseru, mungkin harimau itu lagi sakit
gigi. Semakin dibicarakan, semakin ngaco seruan-seruan penduduk.
Malah ada yang menduga mungkin karena Laisa mewarisi Jurus Pesirah, ilmu silat
mengendalikan harimau yang konon dulu pernah dikuasai leluhur mereka. Atau mungkin
pula harimau itu takut melihat mata melotot Laisa, bukankah minggu lalu saat Laisa galak
berseru-seru soal ide lima kincir di balai, pemuda kampung saja jerih melihatnya, nah,
apalagi harimau itu. Entahlah. Laisa tidak banyak berkomentar, ia hanya bilang ia juga takut
malam itu, tapi apalagi yang harus dilakukannya? Ia tidak punya pilihan selain melindungi
adik adiknya. Tidak sempat berpikir panjang.
Hanya Dalimunte yang bisa memberikan penjelasan lebih masuk akal. Itu pun setelah
Dalimunte sudah sekolah di kota provinsi, mulai tenggelam dengan kecintaannya atas bukubuku.
Kata Dalimunte pada suatu kesempatan saat mereka berkumpul, berdasarkan bukubuku
yang dibacanya, binatang meski tidak memiliki akal-pikiran tapi mereka memiliki
insting, naluri. Perasaan. Mereka bisa menyayangi anak-anaknya, melindungi sarangnya, tahu
kerabatnya sedang dalam bahaya, sakit, dan sebagainya. Sehingga mereka, meski tidak
seintens manusia dalam menerjemahkan perasaannya, dalam kondisi tertentu, bisa mengerti
binatang lain, bisa mengerti komunikasi perasaan dengan mahkluk yang tidak sejenis
dengannya.
Itulah yang terjadi malam itu. Harimau yang paling besar, yang paling menakutkan,
meski selintas, meski sekejap, dari tatapan matanya ke Kak Laisa, ia akhirnya tahu betapa
Kak Laisa mencintai adik-adiknya. Betapa Kak Laisa siap mengorbankan hidupnya demi
adik-adiknya. Harimau itu mengerti. Lantas memutuskan pergi. Itu penjelasan Dalimunte
kepada Intan yang beranjak sekolah dan sibuk bertanya saat mereka berkumpul bersama
mengenang kejadian itu di perkebunan strawberry. Dan itu lebih dari cukup untuk membuat
Intan, Juwita, dan Delima terdiam, lantas menatap terpesona pada Wak Laisa.
Menjelang senja, saat matahari bersiap menghujam di balik puncak Gunung Kendeng,
pipa-pipa bambu sudah tersambung rapi. Diperlukan 76 batang bambu untuk mencapai
ladang. Seperti tarian ular, air bening yang mengalir melewati pipa bambu membasahi
ladang-ladang mereka. Bukan main, ini semua benar-benar kabar baik.
Wak Burhan setelah puas menatap air tumpah membanjiri ladang-ladang mereka,
beranjak mengajak penduduk kampung pulang. Lembah mulai remang. Saatnya beristirahat.
Esok masih panjang, masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Dan malam ini,
perjalanan panjang itu telah dimulai dengan perasaan lega. Menyenangkan. Hanya Ikanuri
dan Wibisana yang merasa ganjil selepas pulang dari ladang. Karena tadi siang Wak Burhan
menyuruh mereka memetik habis buah mangga di ladangnya. Membagi-bagikannya ke
penduduk kampung yang sedang gotong-royong.
"Sayang, yang besar-besar minggu lalu rontok dimakan kelelawar harusnya itu jatah
Yashinta—" Wak Burhan tersenyum memberikan sekantong buah mangga ke Yashinta.
Ikanuri dan Wibisana hanya saling lirik, merasa bersalah—



YASIN YANG DIBACAKAN

MOBIL KIJANG itu pelan masuk ke halaman rumah.
Rumput yang terpotong rapi menghampar bagai beludru. Pohon duku, jeruk, durian, dan
kakao yang dibonsai berbaris rapi. Minggu-minggu ini buahnya masih terlalu muda untuk
dipetik, tapi melihatnya sudah cukup menyenangkan. Rumah panggung itu terlihat terang.
Belasan lampu neon bersinar lembut. Ramai. Beberapa penduduk terlihat duduk berkerumun
di kursi bambu yang tersusun di depannya. Juga di teras. Mereka serempak berdiri saat mobil
jemputan kebun strawberry itu mulai memasuki halaman rumah.
Tidak. Tentu saja itu bukan rumah panggung paling kecil, paling reot, paling jelek di
ujung lembah. Itu masih rumah yang lama, masih di lokasi yang sama, tapi sekarang sudah
bertambah tiga kali lipat ukurannya, sudah berdiri kokoh, beratap genteng. Meski masih sama
dinding kayunya, sudah berdiri asri. Halamannya yang sejak dari dulu sudah luas, sekarang
dipenuhi bebungaan dan pohon-pohon bonsai. Rumah panggung itu juga terlihat modern
dengan instalasi listrik dan rangkaian ornamen kaca warna-warni.
Kampung itu sejak dua puluh tahun silam pelan tapi pasti memang berubah jadi lebih
baik. Lebih maju. Hari ini, seluruh rumah-rumah di Lembah Lahambay berjejer rapi, dengan
sanitasi dan halaman yang rapi. Jika kalian sempat datang ke sana, kalian seperti melihat
deretan bangunan villa-villa dari kayu di lembah yang amat indah. Itu tentu termasuk rumah
tua Mamak Lainuri.
Tidak ada lagi hamparan semak belukar. Juga ladang-ladang padi tadah hujan di sekitar
kampung. Apalagi kebun mangga Wak Burhan. Yang ada, sejak memasuki lembah radius
dua kilo meter, hanya perkebunan strawberry yang membentang luas. Hijau sepanjang mata
memandang. Buah merah yang beranjak ranum terlihat mengundang, bergelantungan, meski
senja yang beranjak malam membuat remang sekitar. Kebun-kebun itu separuhnya milik
penduduk kampung, yang bentuk dan susunannya dibuat sedemikian rupa agar sama seperti
separuh lainnya, milik Kak Laisa.
Berbaris. Polybag pohon strawberry terlihat seperti lajur-lajur tentara yang berbaris rapi.
Jalan setapak yang sudah diaspal melingkari kebun-kebun. Memudahkan untuk
mengangkut buah strawberry saat panen tiba. Juga menjadi trek mengasyikkan, naik turun
lembah mengelilingi perkebunan. Satu bangunan besar terlihat di tengah hamparan hijau
perkebunan. Itu gua penyimpanan sementara sebelum buah strawbeery dibawa ke kota
provinsi. Lampu-lampu bangunannya bersinar redup. Malam ini, lima truk milik gudang
berjejer, besok pagi-truk itu berangkat ke pusat pengalengan.
Orang-orang yang tadi duduk di kursi bambu beranjak mendekat. Mengerubungi mobil
jemputan perkebunan. Dalimunte membuka pintu mobil. Melangkah turun.
"Akhirnya kau tiba, Dali —" Orang-orang berseru, memeluknya.
Dalimunte menelan ludah. Menatap wajah-wajah bersimpati itu. Balas memeluk. Dia
mengenalinya. Amat mengenal. Mereka adalah tetangga-tetangga kampung. Satu dua
terhitung teman sepermainan masa kecil. Mereka seperti sedang bersiap. Bukan. Bukan
bersiap menyambutnya. Bersiap untuk urusan lain. Dalimunte sekali lagi menelan ludah
"Ayo, kalian jangan menghalangi Dali, biarkan dia masuk—"
Seorang lelaki setengah baya berkata tegas, menyeringai, menyuruh kerumunan menyingkir.
Itu Bang Jogar, pemuda yang paling banyak bertanya soal urusan lima kincir air dulu di balai
kampung. Umurnya sekarang lima puluh. Kepala kampung (jika lembah indah itu masih
layak disebut kampung). Wak Burhan sudah meninggal sepuluh tahun silam. Bang Jogar
dipilih dengan suara bulat oleh penduduk menjadi penerus. Kerumunan tetangga menyibak.
Memberikan jalan.
"Ayo, Dali. Mamak Lainuri sudah menunggu kau dari tadi—" Dalimunte mengangguk,
"Apa Kak Laisa baik-baik-baik saja?"
"Aku tidak tahu, Dali. Dokter lebih tahu urusan itu kan tahu, abang-abangmu ini di kampung
mana pernah sekolah hingga kelas enam kecuali kau dan anak-anak kami sekarang," Bang
Jogar tertawa, bergurau, mencoba menghibur Dalimunte yang cemas.
"Tapi terakhir kali aku atas, lima menit lalu, Laisa sudah siuman. Kata Mamak Lainuri, Laisa
sempat bicara dengan Ikanuri dan Wibisana lewat telepun, Hei! Kalian bantulah koper-koper
Dalimunte dari mobil. Jangan macam anak uwa, sibuk menonton saja. Atau seperti kubilang
tadi, ikut mengaji yasin di surau sana!—"
Bang Jogar meneriaki pemuda-pemuda tanggung di kursi bambu,
Cie Hui, istri Daiimunte membantu Intan, yang baru bangun tidur, turun dari mobil. Intan
menggendong ransel sekolahnya, menyeka anak rambut dari kening. Tadi sempat tertidur di
mobil. Dibangunkan Abi persis masuk areal perkebunan strawberry. Si belang sudah loncat
saat pintu mobil dibuka. Hamster itu amat familiar dengan areal perkebunan. Setiap dua
bulan mereka pulang, si belang selalu ikut. Malah menurut Oom Ikanuri, si belang punya
pacar hamster liar lembah. Ah, pasti Oom Ikanuri ngibul, kan Oom Ikanuri memang suka
bohong. Dalimunte beranjak menaiki anak tangga, diikuti Cie Hui dan Intan (yang masih
menguap).
Menghela nafas tertahan, masuk ke ruang depan. Ruangan yang dulu menjadi tempat dia,
Ikanuri dan Wibisana tidur bertiga. Dengan sarung beralaskan tikar pandan, bersama angin
malam yang menembus dinding berlubang. Dalimunte menatap sekitar, beberapa ibu-ibu dan
anak gadis tetangga berkerudung rapi, duduk di tepi-tepi ruangan, melingkar membaca yasin
bersama-sama. Kebiasaan setempat jika ada urusan seperti ini. Di surau kampung yang
sekarang berubah menjadi masjid kecil tapi megah, lelaki dewasa juga bersama-sama
membaca yasin. Suara mereka terdengar hingga sini.
Dalimunte menelan ludah untuk kesekian kalinya. Jika sudah sampai membaca yasin agar
yang sakit dimudahkan urusannya, berarti sakit Kak Laisa serius sekali. Menghela nafas
pelan. Terus melangkah menuju kamar Kak Laisa. Wajah-wajah terangkat, melihat
rombongan. Tersenyum kepada Intan yang menoleh ke sana ke mari. Intan hanya nyengir
membalas tatapan itu, berpikir pendek, ramai betul lagi ada kendurian, ya?
Apa yang sebenamya terjadi? Dalimunte mengusap wajah.
Bagaimana mungkin semua tiba-tiba jadi terlihat sendu seperti ini?
Bukankah satu bulan lalu saat mereka pulang bersama, jadwal berkumpul rutin mereka,
Kak Laisa terlihat sehat-sehat? Tertawa-tawa menggendong Intan, Juwita dan Delima
bergiliran menuruni dinding cadas sungai. Berkeliling kebun strawberry dengan sepeda
BMX. Mengawasi gudang penyimpanan. Bahkan Kak Laisa masih sempat-sempatnya
mencari sendiri umbut (ujung rotan) di hutan untuk membuat masakan surprise bagi mereka.
Menu favorit Yashinta, Ikanuri dan Wibisana, dan juga ponakannya.
Kak Laisa tak sedikitpun terlihat sakit. Riang meladeni Intan, Juwita dan Delima yang
bertengkar memperebutkan foto Tante Yashinta. Galak meneriaki Ikanuri dan Wibisana yang
selalu saja jahil entah melakukan apa kepada anak-anak. Meladeni Ikanuri dan Wibisana
yang masih saja suka mengganggu Kak Laisa dengan celetukan-celetukan. Tertawa. Bermain
kembang api bersama anak-anak kampung. Membuat langit lembah bercahaya oleh gemerlap
nyala kembang api. Membakar jagung di halaman rumah bersama tetangga-tetangga.
Kak Laisa tidak berubah sedikit pun, persis seperti melihat foto masa lalunya, hanya saja
sekarang piguranya terlihat kecokelatan. Umurnya sekarang empat puluh tiga. Tapi ia masih
sama disiplinnya, terus bekerja keras mengurus kebun, mengurus Mamak, mengurus pabrik
pengalengan, mengurus sekolah di lembah, mengurus apa-saja. Melakukan banyak hal. Masih
sama atletisnya, masih dengan tubuh gemuk tapi gempalnya. Padahal kalau Kak Laisa ingin
duduk-duduk santai, tidak masalah. Pabrik itu punya belasan pekerja. Warga dari kampung
atas dan seberang. Juga turut bekerja di perkebunan beberapa insinyur pertanian lulusan
institut pertanian kota provinsi.
Sekarang? Ya Allah, bagaimana mungkin seluruh rumah terlihat seperti sedang bersiap
melepas kepergian seseorang. Yasin yang dibacakan? Warga yang berkumpul? Dalimunte
menggigit bibir, sakit apa sebenarnya Kak Laisa?
Dalimunte tidak tahan lagi, bergegas masuk ke kamar Kak Laisa.
Terhenti. Langkahnya terhenti seketika persis di bawah bingkai pintu.
Lihatlah! Ya Allah, apa maksud semua ini?
Kamar Kak Laisa penuh dengan peralatan medis. Selang infus, belalai-belalai plastik.
Layar bertuliskan garis-garis hijau. Alai-alat bantu lainnya. Tabung oksigen. Masker. Kaki
Dalimunte bergetar. Matanya mencari di sela-sela peralatan medis yang pasti didatangkan
dari rumah-sakit kota provinsi. Mata Dalimunte akhirnya menemukan sosok itu. Menatap
nanar tubuh besar (tapi pendek) itu. Yang terbaring lemah di atas ranjang. Mamak Lainuri
duduk di sebelahnya, menoleh karena mendengar seruan-seruan dari luar.
Mamak bertanya lirih. Siapa yang telah tiba? Dalimunte—
Dalimunte justru sudah terpaku bersitatap dengan mata redup Kak Laisa.



MEYIMPANNYA SENDIRIAN

YASHINTA mematut-matut di depan cermin.
Menyeringai sendiri. Tersenyum amat lebar. Lihat. Ayo lihat, Yash pagi ini mengenakan
seragam merah-putih. Mamak membelikan dari kota kecamatan. Sebenarnya baju itu dibeli di
pasar loak, baju bekas, tapi itu tidak penting. Yash juga tahu, kok. Hatinya sedang senang.
Semalam berkali-kali terbangun. Pukul sepuluh, sebelas, dua belas, satu, dua, tiga, sampai
Kak Laisa mendengus jengkel, karena setiap kali Yashinta terbangun, ia menarik-narik baju
gombyor Kak Laisa, berisik bertanya jam berapa sekarang.
Menunggu pagi seperti menunggu waktu seribu bulan, tak sabaran. Maka saat akhirnya
kokok ayam hutan akhimya terdengar dari kejauhan, Yashinta semangat langsung mandi di
sungai. Ini hari pertama sekolahnya. Bukan main. Rasanya susah dijelaskan. Lihatlah muka
imut Yashinta bersenandung riang. Memasukkan buku tipis ke dalam tas, pensil yang sudah
diraut, penggaris bambu. Crayon 12 warna dari Kak Ikanuri dan Kak Wibisana. Lantas sudah
duduk rapi di meja makan. Siap untuk sarapan.
Ikanuri dan Wibisana hanya nyengir melihat kelakuan Yashinta. Bagi mereka tingkah
Yashinta mirip sekali dengan mahkluk planet lain. Mana ada coba penduduk bumi yang
semangat seperti adiknya berangkat sekolah. Tapi Dalimunte tidak, dia tersenyum lebar,
menyeringai membesarkan hati Yashinta, yang justru saat sudah siap berangkat bersamasama
malah gugup, mendadak sakit perut.
Panen bersama sebulan lalu sukses besar, Mamak Lainuri tak kurang dapat empat puluh
kaleng padi. Setelah dipotong zakat, juga padi cadangan untuk lumbung kampung, juga
delapan belas kaleng untuk persediaan beras mereka selama setahun, sisanya masih lumayan,
yang seluruhnya dijual ke kota kecamatan. Ditambah tabungan Mamak dari menjual damar,
rotan, gula aren, dan anyaman rotan selama ini, uangnya cukup sudah untuk membayar biaya
sekolah Yashinta, Ikanuri, Wibisana dan Dalimunte. Tahun ini, Dalimunte duduk di kelas
enam. Sementara Ikanuri dan Wibisana kelas empat. Itu berarti setahun lagi Mamak harus
memikirkan kelanjutan sekolah Dalimunte. Sekolah lanjutan di kota kecamatan. Yang berarti
akan lebih banyak lagi uang yang diperlukan.
Mamak meski terlihat biasa-biasa saja, tapi soal itu benar-benar penting baginya. Lepas
panen, Mamak langsung menggarap lagi ladang mereka. Tidak ada istilah berleha-leha.
Menanaminya dengan jagung. Lebih keras bekerja. Lebih lama menyadap damar di hutan.
Begitu juga dengan Kak Laisa, tubuh gendut tapi gempalnya terlihat semakin hitam. Terlalu
lama terpanggang terik matahari. Beruntung kehidupan di kampung jauh lebih baik sejak
irigasi lima kincir air dibuat. Beruntung pula perangai Ikanuri dan Wibisana juga ikutan
membaik sejak kasus itu. Meski masih sering membantah, masih sering melawan, masih
sering kabur disuruh mengerjakan sesuatu, mereka jauh lebih menurut.
Ikanuri dan Wibisana mulai mengerti arti tanggung jawab. Tidak percuma Kak Laisa
saban hari mengejar-ngejar mereka dengan sapu lidi teracung dan berteriak-teriak
"Kerja keras!" "Kerja keras!" "Kerja keras!" Dua sigung nakal itu sudah jarang bolos sekolah.
Sudah rajin membantu Mamak di Ladang. Sekali dua malah tanpa disuruh pergi ke hutan
mengumpulkan kayu bakar dan rotan. Kejadian di puncak Gunung Kendeng sedikit banyak
membuat mereka sungkan dengan Kak Laisa. Lah, harimau saja ngeri lihat Kak Laisa
melotot, apalagi mereka, kan? Ihhh.
Siang itu panas membakar lembah. Musim kemarau tiba di minggu-minggu puncaknya.
Yashinta menyeka keringat di dahi tidak hanya sekali. Berjalan pelan-pelan mengiringi
Ikanuri dan Wibisana. Daun pisang yang tadi diambilkan Dalimunte percuma, perjalanan
pulang dari kampung atas tetap menyiksa wajah. Ini bulan ketiga sekolahnya. Sejauh ini
ponten pelajarannya bagus-bagus. Yashinta jelas mewarisi ketekunan dan kecerdasan
Dalimunte, bukan tabiat iseng bin kenakalan Ikanuri dan Wibisana.
Tiba di rumah panggung mereka menghabiskan makan siang yang telah disiapkan Kak
Laisa sebelum berangkat ke ladang tadi pagi. Shalat dzhuhur (Dalimunte yang jadi imam),
kemudian Dalimunte meneriaki Ikanuri dan Wibisana agar buruan menyusul Mamak.
Yashinta sudah boleh ikut ke ladang sekarang. Meski kerjaannya di sana hanya belajar di
bawah pondok, belajar membuat anyaman bambu, mengerjakan PR, apa saja.
"HUUUU! HUUUU!!"
"HUUUU!" Mamak membalas teriakan Dalimunte. Kempat adik-kakak itu menuruni lereng
landai kebun. Di Lembah Lahambay, teriakan seperti itu lazim. Untuk saling memberitahu
posisi. Dengan suara seperti pekikan burung.
Mamak melambaikan tangan dari kejauhan. Kak Laisa dan Mamak sedang membersihkan
gulma di pojokan ladang. Batang jagung sudah setinggi kepala. Subur, dengan air yang terus
mengalir. Mereka berempat berbelok, Mendekat
"Mak, tadi ada guru baru di sekolah, Yash—"
Yashinta yang pertama kali melapor. Menurunkan daun pisang di atas kepalanya.
"Siapa?" Mamak bertanya pendek, tanpa menoleh, tangannya tetap gesit menyiangi rumput di
sela-sela batang jagung.
"Eh, siapa, Kak?" Yashinta nyengir, justru bertanya padii Ikanuri.
"Tahu, siapa—" Ikanuri melangkah tidak peduli, maksudnya dia memang tidak peduli dengan
siapa guru baru tadi, bukan tidak peduli dengan pertanyaan Yashinta. Mengambil arit yang
tergeletak di dekat Kak Laisa, ikut membantu.
"Ada yang KKN-"
"Eh, iya, KKN, Mak. Gurunya dari KKN." Yashinta, memotong kalimat Dalimunte,
"KKN itu dari mana ya, Kak?"
Yashinta duduk menjeplak di sekitaran mereka. Teduh di bawah batang jagung, jadi ia
tidak perlu sendirian di pondok yang terletak di tengah-tengah ladang. Menyeka keringat
yang mengucur tambah deras. Gerah. Tubuhnya terlihat lekat. Mamak mengangguk, ia
mengerti. Seminggu lalu Wak Burhan juga bilang soal itu. Katanya ada rombongan
mahasiswa dari kota provinsi. Posko mahasiswa itu ada di kampung atas, tapi beberapa dari
mereka juga akan melakukan beberapa proyek KKN di kampung bawah. Jarang-jarang ada
pendatang dari kota di lembah itu. Dulu pernah ada Mahasiswa yang juga KKN, tapi program
mereka kebanyakan hanya penyuluhan dan ceramah.
Dulu-dulunya juga pernah ada pejabat entah dari mana yang datang ke Lembah. Lebih tak
jelas lagi apa gunanya mereka, hanya nanya-nanya, membawa kertas, entahlah. Tanpa
sesuatu yang benar-benar bermanfaat bagi penduduk kampung.
"Ikanuri, Wibisana, menebas rumputnya yang benar!"
Kak Laisa mendelik, menatap tajam Ikanuri dan Wibisana.
"Sudah benar, kan?"
Ikanuri nyengir. Sejak tadi dia dan Wibisana tidak medengarkan percakapan. Asyik bermainmain
dengan arit.
Kak Laisa melotot, benar apanya, kedua sigung nakal itu seperti membuat lajur-lajur di atas
gulma. Sengaja membuat huruf nama-nama mereka, seperti bonsai berbentuk huruf di tamantaman.
Membuat tulisan: Ika-Wibi Keren.
"Lagian biar nyeni, Kak! Artistik—" Wibisana tertawa.
Kak Laisa melotot, mengancam. Ikanuri dan Wibisana menelan ludah. Yaah, kan hanya
bergurau, nanti-nanti bakal dipangkas juga semuanya. Nanti-nanti maksudnya minggu depan,
atau setelah panen jagung. Dengan enggan dua sigung nakal itu membersihkan huruf-huruf
nama mereka.
Yashinta asyik meneruskan anyaman rotannya. Ia sudah lancar.Sekali dua terdengar
batuk. Keringat mengucur semakin deras dari dahinya. Musim kemarau ini entah sampai
kapan. Biasanya tidak selama ini. Seminggu dua minggu, lazimnya diseling hujan deras yang
sedikit mendinginkan lembah. Dua hari terakhir kenapa pula badannya terasa tidak enak.
Tetapi Yashinta terlanjur asyik meneruskan anyamannya. Sambil sesekali memperhatikan
Kak Laisa yang tangkas membersihkan gulma. Lihat, satu jam berlalu, luas gulma yang
berhasil dibersihkan Kak Laisa, masih lebih banyak dibandingkan luas Kak Ikanuri dan Kak
Wibisana dijumlahkan, dikalikan dua pula.
Matahari mulai tenggelam di balik Gunung Kendeng, Mamak menyuruh Dalimunte
memberesi perlengkapan. Menyimpannya di pondok. Saatnya pulang. Kak Laisa membantu
berbenah-benah. Menggendong keranjang berisikan sayur-mayur. Mereka berjalan
beriringan. Lembah itu hening. Langit terlihat merah. Angin bertiup pelan, menyenangkan.
Rombongan burung layang-layang terbang pulang ke sarang. Kelelawar mengepakngepakkan
sayap bersiap memulai ritual malamnya.
Yashinta berkali-kali batuk lagi.
"Kau baik-baik saja, Yash?" Kak Laisa bertanya.
Yashinta mengangguk, sambil berusaha mensejajari langkah Kak Laisa.
"Kenapa Kak Lais tidak bilang?" Dalimunte menangis, tersendat, jemari tangannya gemetar
mengusap bibir perempuan umur empat puluh tiga tahun yang terbaring lemah di atas
ranjang. Ada bercak darah di sana. Keluar bersama dahak,
"Tidak. Tidak boleh ada yang menangis, Dali...." Kak Laisa berkata pelan, nafasnya sedikit
tersengal,
"Kau anak lelaki. Di keluarga ini anak lelaki tidak boleh menangis"
"Tapi kenapa Kak Lais menyimpannya sendirian.... Kenapa Kak Laisa tidak bilang kalau
selama ini sakit? Ya Allah, selama itu. Bahkan Kak Lais menyimpan semuanya sendirian
selama ini.... Sejak kami kecil, sejak kami masih nakal suka membantah—"
Dalimunte tergugu.
Mamak ikut menyeka sudut matanya. Cie hui, mendekap Intan yang entah mengapa juga ikut
tertunduk. Intan menggigit bibir. Bingung. Cemas. Ia keliru, ternyata Wak Laisa sakitnya
tidak sekadar mencret-mencret. Aduh, kalau kelihatannya sudah begini itu artinya serius
sekali. Lihat, Wak Laisa batuk lagi, terus ada darah pula keluar dari bibirnya.
"Ingat kata Kakak dulu saat kau berangkat sekolah di kota provinsi, tidak ada yang boleh
menangis, kau akan menemukan tempat-tempat baru, teman-teman baru, kau akan belajar
banyak.... Hei, tidak ada yang boleh menangis dengan semua kabar baik itu. Juga hari ini....
Lihatlah, kau amat membanggakan Kakak—"
Kak Laisa terbatuk pelan. Dahak sekali lagi keluar bersama darah.
Dalimunte menyeka darah itu dengan jemarinnya. Semakin tergugu. Bagaimana mungkin
dia tidak akan menangis? Lihatlah, seseorang yang amat dihargai sepanjang hidupnya
berbaring lemah di hadapannya, tetap sama seperti dulu. Memberikan perlindungan.
Memberikan janji-janji yang selalu ditunaikan. Mengubur cita-citanya sendiri demi adikadiknya.
Bahkan hingga saat ini, ketika tubuhnya terlihat amat lemah, Kak Laisa tetap
berusaha tersenyum menyuruhnya tidakk menangis.
"Kak Lais selalu menyimpannya sendirian, demi kami.... Kak Lais selalu mengalah, demi
kami—" Kalimat Dalimunte terhenti, dia tak kuasa melanjutkan hanya bisa mencium jemari
tangan yang terkulai lemah itu. Berbagai kenangan masa lalu berdesing memenuhi kepalanya.
"Kak Lais bekerja sepanjang hari membantu Mamak demi kami, Kak Lais mempermalukan
diri demi kami, Kak Lais bahkan menerobos hujan deras, tidak peduli dingin, jemari tangan
menggigil demi kami..."
Dalimunte tidak bisa menahan lagi perasaannya. Dulu saja, waktu kecil ia sudah mengerti.
"Dali…, tidak ada yang boleh menangis—"
"Ta-pi, tapi Dali tidak tahan lagi. Dali tidak tahan—"
"Kemarilah, anakku...."
Mamak berbisik lirih dari belakang.
Dalimunte memeluk pinggang Mamak.
Senyap. Hanya tangis tertahan di ruangan itu. Dokter perkebunan yang sejak sebulan lalu
merawat Kak Laisa menatap dengan mata berkaca-kaca. Intan ikutan menyeka pipinya. Ia
tidak tahu kenapa ikut menangis. Ia sedih, sedih sekali melihat Wak Laisa yang kuat
menggendongnya naik turun cadas sungai, sekarang pucat pasi, bergerak saja susah di atas
ranjang. Mamak mengusap rambut Dalimunte, berbisik menenangkan. Wajah keriput
berumur enam puluh tahun itu terlihat amat sendu. Ia-lah yang paling tahu urusan ini. Sejak
tiga puluh tahun silam. Sejak Laisa mulai mengerti arti tanggung-jawab.
Umur Laisa saat itu sebelas tahun. Kelas empat Umur Dalimunte tujuh tahun. Sudah
setahun Dalimunte tertunda sekolah karena Mamak tidak punya uang. Mamak ingat sekali.
Hari itu. Pagi itu. Laisa mendekatinya dari belakang. Pukul empat shubuh. Saat Mamak sibuk
memasak gula enau. Saat yang lain masih tertidur lelap.
"Biar. Biar Lais yang berhenti sekolah, Mak..."
Putri sulungnya tersenyum tulus, menatap dengan mata bercahaya.
"Kau harus terus sekolah, Lais!"
Mamak menatap tajam Laisa.
Menggeleng, "Lais tahu Mamak tidak punya cukup uang untuk membeli seragam baru Dali.
Biar Lais yang berhenti sekolah. Lagipula Lais anak perempuan. Buat apa Lais sekolah
tinggi-tinggi. Biarlah Dalimunte yang sekolah. Lais membantu Mamak mencari uang saja.
Dengan begitu nanti Ikanuri dan Wibisana juga bisa sekolah.... Juga Yashinta...."
Putri sulungnya menyentuh lengannya. Menatap dengan yakin dan mengerti benar apa yang
telah dikatakannya.
Mulai shubuh itu, Mamak tahu persis satu hal. Laisa yang bersumpah membuat adikadiknya
sekolah menjadikan sumpah itu seperti prasasti di hatinya. Tidak. Laisa tidak pernah
menyesali keputusannya. Tidak mengeluh. Ia melakukannya dengan tulus. Sepanjang hari
terpanggang terik matahari di ladang. Bangun jam empat membantu memasak gula aren.
Menganyam rotan hingga larut malam. Tidak henti, sepanjang tahun. Mengajari adikadiknya
tentang disiplin. Mandiri. Kerja keras. Sejak kematian Babak diterkam harimau,
Mamak sungguh tidak akan kuasa membesarkan anak-anaknya tanpa bantuan putri
sulungnya, Laisa. Semua kesulitan hidup masa kecil itu. Laisa membantunya melaluinya
dengan wajah bergeming. Wajah yang tidak banyak mengeluh.
Wajah yang sekarang terlihat amat lelah....
Terbaring lemah karena kanker paru-paru stadium IV. Penyakit yang disimpannya sendiri
sejak sepuluh tahun silam. Karena ia tidak ingin merepotkan adik-adiknya. Bagi Laisa, yang
berhak merepotkan itu adik-adiknya, bukan dia. Setiap kali kunjungan dua bulanan, Laisa
tetap riang menyambut anak-anak. Tertawa mengajak mereka melakukan banyak hal. Itu pula
yang membuatnya bisa bertahan selama ini. Sepuluh tahun kanker itu seolah tak kuasa
menggerogoti fisiknya.
Sayangnya, satu bulan yang lalu, seluruh energi dari penerimaan jiwa atas pilihan hidup
yang hebat itu berakhir sudah. Kalah. Fisiknya tidak kuasa lagi, kanker itu sudah menjalar ke
mana-mana. Meski semangat hidupnya masih tinggi, meski dengan semua spirit itu, tubuhnya
tidak kuasa lagi bertahan. Maka didatangkanlah dokter dari kota provinsi (yang juga sepuluh
tahun terakhir diam-diam merawatnya, hanya Mamak yang tahu). Juga peralatan medis, juga
perawat-perawat Kak Laisa satu bulan terakhir bertahan tidak memberitahu adik-adiknya
hingga tadi pagi. Satu bulan terbaring tidak berdaya. Setelah Mamak membujuknya.
Akhirnya pesan 203 karakter itu terkirimkan. Ketika ia merasa waktunya sudah tiba.
Tugasnya hampir usai.
Wajah yang sekarang terlihat amat lelah.
Meski tetapberusaha tersenyum didepan adiknya. Wajah yang menatap Dalimunte yang
sedang memeluk pinggang Mamak, Dalimunte yang menangis—



BIARKAN KAKAK SENDIRIAN

DUA HARI selepas Yashinta pulang batuk-batuk dari ladang, balai kampung ramai dipenuhi
oleh penduduk. Sejak lepas shalat isya. Ada pertemuan di balai. Rombongan mahasiswa
KKN dari kampung atas datang. Tapi yang pergi ke balai hanya Laisa, Dalimunte, Ikanuri
dan Wibisana. Mamak menjagai Yashinta yang gering. Batuk-batuk Yashinta dua hari lalu di
ladang ternyata serius. Yashinta malah sudah tidak masuk sekolah dua hari. Tubuhnya panas.
Hari pertama sakit, gadis kecil itu tetap memaksa berangkat, percuma, tiba di desa atas
kakinya yang gemetar tidak bisa diajak melangkah, jatuh pingsan. Dalimunte terpaksa
menggendongnya pulang.
Dua hari berlalu, sakit Yashinta semakin parah. Bergantian mereka menunggui.
Mengompres. Membuat ramuan dedaunan. Rebusan. Apa saja yang lazim dilakukan
penduduk lembah unruk meredakan panas dan batuk. Malam ini, Mamak yang menunggui
Yashinta.
Udara lembah terasa dingin. Sejak sore tadi awan hitam berarak memenuhi langit.
Akhirnya setelah dua bulan kemarau menggantang lembah, hujan nampaknya akan turun.
Angin malam menderu kencang, pertanda bakal turun hujan lebat
"Mamak kau tidak datang, Lais?" Wak Burhan bertanya.
"Yash masih wakit, Wak—"
Laisa menjawab pendek. Mengambil tempat duduk bersama adik-adiknya. Balai kampung itu
sudah ramai. Obor-obor membuat ruangan terang-benderang. Angin yang menerobos
membuat cahaya obor bergoyang, kerlap-kerlip.
Di depan sana berjejer enam orang mahasiswa yang dua hari ini sibuk disebut-sebut
warga kampung. Laisa menatapnya lamat-lamat. Mengesankan melihat kakak-kakak
mahasiswa itu. Mengenakan jaket kuning. Mahasiswa Universitas kota besar dari seberang
pulau. Yang wanita terlihat cantik dan cerdas. Yang lelaki terlihat gagah dan pintar.
Tersenyum lebar, percaya diri menatap sekitar. Mengangguk. Laisa menelan ludah. Dulu ia
pernah bermimpi menjadi seperti ini. Bermimpi melihat dunia luar yang lebih luas.
Kesempatan yang lebih lapang, yang lebih besar dibanding Lembah Lahambay ini. Ah, itu
mimpinya enam tahun silam. Usianya sudah tujuh belas sekarang, sudah amat terlambat
untuk melanjutkan sekolah kelas empatnya. Ia sudah mengubur cita-cita itu dalam-dalam.
Lagipula jika ia sekolah, siapa yang akan membantu Mamak mencari uang buat adikadiknya?
Wak Burhan mengetukkan palu bonggol bambu, pertemuan dimulai. Enam mahasiswa ini
berbicara lantang. Tegas. Meyakinkan. Salah satu dari tiga mahasiswa lelaki bicara soal
konstruksi kincir air. Memuji-muji penduduk kampung yang telah membuatnya, lantas sama
seperti Dalimunte dulu, dia juga membawa kertas-kertas. Membentangkannya lebar-lebar.
Bicara tentang listrik. Lampu-lampu. Kincir air itu bisa dijadikan generator listrik. Dalimunte
menjadi orang yang paling tertarik atas rancangan itu. Mengangkat tangannya berkali-kali,
bertanya. Penduduk kampung juga terpesona. Apalagi dijanjikan ada bantuan soal dinamo,
kabel-kabel, peralatan instalasi, dan lainnya dari universitas. Wak Burhan tak butuh waktu
semenit untuk mengetukkan palunya. Proyek KKN listrik kincir air itu disetujui. Minggu
depan mereka mulai bergotong-royong,
Dua mahasiswa lainnya, cowok-cewek, mungkin berasal dari fakultas pertanian, bicara
soal ladang-ladang mereka. Bibit yang digunakan. Pengolahan tanah. Rotasi tumbuhan.
Lantas ujung-ujungnya: jadwal penyuluhan. Penduduk Lembah mengangguk-angguk. Wak
Burhan mengetuk palu; dengan demikian setiap malam Kamis dan Sabtu ada penyuluhan
pertanian di balai kampung. Meski program KKN yang satu ini tidak sekongkret listrik, tapi
penduduk kampung bisa menerimanya. Setidaknya janji ada penganan kecil dan sekoteng
hangat setiap jadwal penyuluhan sudah lebih dari cukup untuk membuat mereka hadir.
Dua mahasiswa berikutnya menjelaskan tentang kemandirian ekonomi. Nah, yang ini
benar-benar membuat penduduk kampung pusing. Koperasi. Simpan-pinjam. Kesempatan
kredit. Akses modal. Bahkan Dalimunte saja yang sejak tadi antusias mendengarnya,
menguap lebar-lebar. Juga ada jadwal penyuluhan. Wak Burhan bilang cukup seminggu
sekali, malam Selasa. Jadwal mereka sudah penuh. Sebenarnya sih, Wak Burhan kalau bisa
malas memberikan jadwal untuk penyuluhan yang satu ini.
Dua mahasiswa itu berunding. Lantas mengangguk.
Malam beranjak matang. Pukul 22.00, sudah larut untuk ukuran penduduk lembah.
Mereka biasanya beranjak tidur pukul sembilan. Jadi mahasiswa terakhir, demi melihat
penduduk kampung sudah tidak terlalu memperhatikan, hanya sempat bicara lima belas
menit. Bicara soal sanitasi. Kebersihan. Posyandu. Pemeriksaan kesehatan. Bilang ada posko
kesehatan di kampung atas. Yang bisa dimanfaatkan warga setempat untuk berobat. Lima
belas menit tepat, penjelasannya selesai. Kabar baik, ternyata tidak ada jadwal penyuluhan
untuk yang satu ini. Wak Burhan mengetuk palu.
Pertemuan usai.
Lepas pertemuan, Laisa berusaha mendekati mahasiswa wanita yang bicara terakhir, ingin
minta tolong periksa Yashinta yang sedang sakit. Tapi karena di luar guntur berkali-kali
menyalak, petir berkali-kali menyambar, enam mahasiswa KKN itu sudah terlanjur bergegas
kembali ke kampung atas, mengenakan jas hujan besar dan payung. Lagipula Ikanuri dan
Wibisana memaksa pulang buruan. Sudah mengantuk. Maka di tengah deru angin yang
semakin menggila, mereka juga bergegas kembali ke rumah panggung.
"Ternyata mereka tidak hanya melakukan penyuluhan-penyuluhan seperti yang KKN dulu,
Mak." Laisa melapor setiba di rumah. Mengibas-ngibaskan rambut. Hujan deras turun persis
mereka tiba di halaman.
Mamak hanya mengangguk selintas.Terkantuk menunggui Yashinta yang tidur sambil
mengerang. Panas. Kompres kain yang membungkus dahi Yashinta seperti sia-sia. Suhu
badannya tidak turun-turun. Di luar hujan deras terdengar membuncah atap seng. Gemuruh.
Satu da tampias. Menetes di dalam rumah. Laisa buru-buru mengambil baskom dan kain.
Menampung tetesan air.
Ikanuri dan Wibisana sudah beradu punggung di ruang depan. Bergelung. Tidur. Hanya
Dalimunte yang berdiri di depan pintu kamar. Memperhatikan Yashinta dengan wajah sedikit
cemas.
"Masih panas, Mak?"
Mamak mengangguk. Terlihat amat lelah.
"Mamak sebaiknya tidur, biar Lais yang jaga sekarang."
Kak Laisa mengambil posisi di sebelah Yashinta. Mengganti air kompres.
Mencelupkan kain. Memerasnya. Meletakkannya di dahi Yashinta lagi.
"Kau juga tidur, Dali!" Laisa menyuruh Dalimunte.
Dalimunte menelan ludah, beringsut ke ruangan depan. Dia tidak tega melihat Yashinta yang
terus mengerang, lantas sekali dua batuk, terdengar kesakitan. Mamak bersandar di dindig,
berusaha memejamkan mata. Hujan turun semakin deras.
Pukul 24.00, persis tengah malam, saat Dalimunte sudah lelap tertidur. Mamak juga
sudah tertidur. Kak Laisa mendadak berseru-seru. Panik. Terbangun. Mamak langsung
terbangun juga Dalimunte, yang setengah terkantuk, setengah terjaga mendekat. Lihatlah,
tubuh Yashinta menggelinjang. Kejang. Matanya mendelik, menyisakan putih.
Kak Laisa berteriak tambah panik.
"Yashinta, Mak! YASHINTA!"
Mamak Lainuri berusaha memegangi tubuh Yashinta. Ikut tegang. Panik.
Meski lebih banyak bingungnya. Apa yang harus ia lakukan? Tidak ada dokter di sini. Tidak
ada. Mamak berusaha menyeka keringat yang mengalir deras dari leher Yashinta. Berusaha
memberikan ramuan. Mengompres. Apa saja yang terpikirkan olehnya. Percuma, mata
Yashinta semakin mendelik.
Dalimunte mencicit melihatnya. Jantungnya berdetak kencang, takut. Ya Allah, apa yang
sedang terjadi. Ada apa dengan Yashinta. Berusaha mendekat, tapi setelah mendekat malah
menjauh lagi, tidak mengerti harus melakukan apa.
Saat Mamak semakin bingung, saat Ikanuri dan Wibisana yang terjaga ikut mendekat dan
bergumam jerih, saat tubuh Yashinta semakin tidak terkendali, Kak Laisa mendadak berlari
ke ruangan depan, Kak Laisa menendang pintu depan. Berdebam. Lantas diikuti oleh tatapan
bingung Mamak, entah apa yang akan dilakukannya, Kak Laisa sudah berlari menghambur ke
tengah derasnya hujan. Angin menderu kencang, masuk ke dalam rumah, mengirimkan bilurbilur
air, membuat perabotan berderak.
Kak Laisa berlari sekuat kakinya ke kampung atas. Tidak peduli tetes air hujan bagai
kerikil batu yang ditembakkan dari atas. Tidak peduli tubuhnya basah-kuyup. Tidak peduli
malam yang gelap gulita. Dingin membungkus hingga ujung kaki. Musim kemarau begini, di
malam hari, suhu Lembah Lahambay bisa mencapai delapan derajat celcius. Kak Laisa
berlarian menaiki lembah. Terpeselet. Sekali. Dua kali. Tidak peduli. Petir menyalak. Guntur
menggelegar. Ia ingat. Ia ingat kakak-kakak mahasiswa tadi menyebut-nyebut soal obat dan
dokter. Mereka pasti bisa membantu.
Ia harus segera. Waktunya terbatas.
Dalimunte sudah bisa duduk lebih tenang. Duduk tertunduk.
"Kemari, sayang...." Laisa memanggil pelan Intan. Intan melangkah mendekat
"Wawak sakit, ya?"
Laisa menggeleng, tersenyum. Wawak baik-baik saja. Intan menelan ludah. Memasang wajah
tidak percaya. Wawak pasti bohong.
Laisa pelan mengangkat lengannya. Memperlihatkan dua gelang karet, "Safe The Planet".
Intan menyeringai, akhirnya ikut tersenyum. Tuh, kan, hanya Wak Laisa yang mau (dan
benar-benar niat) pakai dua gelang. Abi saja ogah, hanya beli doang. Intan menyentuh lembut
lengan Wak Laisa. Tidak panas. Menyentuh dahi Wak Laisa, juga tidak panas. Kalau tidak
panas, kenapa tubuh Wak Laisa dipenuhi infus?
"Yang sakit apanya?" Intan bertanya macam dokter saja.
Wak Laisa tersenyum lagi, batuk.
Intan meraih kotak tissue, meniru Eyang. Ikut membersihkan darah dari pipi Wak Laisa.
Dalimunte menatap wajah lelah itu. Mendongak. Cahaya lampu neon bersinar lembut.
Dia tahu banyak urusan ini, meski dia baru menyadarinya belasan tahun kemudian. Kak Laisa
yang tidak pernah menangis di depan adik-adiknya. Tidak pernah. Sesakit apapun, sesesak
apapun rasanya. Kak Laisa yang selalu berusaha terlihat semua baik-baik saja. Dia ingat
sekali kejadian malam itu. Ingat. Bagai bisa melihatnya kebali dari pendaran cahaya Lampu
neon. Melihat kembali tetes air dari tubuh Kak Laisa yang membuat ruangan depan
tergenang. Wajahnya yang kesakitan....
"Si belang mana, sayang?"
Intan menoleh ke Ummi, tuh kan, Wak Laisa pasti nanya,
"Eh, tadi langsung loncat dari mobil. Pasti nyari pacarnya yang dibilang Oom Ikanuri —"
Tertawa kecil. Laisa berusaha tertawa mendengar celetukan Intan.
Mahal sekali harganya, tubuh tambun tapi gempal itu bergerak-gerak tertahan. Membuat
garis hijau di layar peralatan medis terputus-putus. Berdengking. Yang membuat Intan ikutan
pias. Takut. Kenapa Wak Laisa jadi semaput? Kan, hanya tertawa?
Dokter melangkah, mendekat, memeriksa peralatan, Cemas, lantas berkata ragu-ragu,
"Eh, maaf Pak Dalimunte, sepertinya Ibu Laisa harus ditinggal istirahat, jangan banyak bicara
dulu—"
Laisa yang perlahan kembali terkendali menggeleng, memberikan kode gerakan tangan ke
dokter. Biar. Biarlah mereka berada di kamar ini. Ia ingin terus terjaga menunggu adikadiknya
pulang satu per satu. Ia ingin menatap wajati mereka satu persatu. Ia ingin bicara,
ingin mendengar Intan bercerita. Ia ingin Intan tahu kalau Wawak-nya baik-baik saja. Dokter
menelan ludah, berhitung sejenak. Berdiskusi sebentar dengan Mamak dan Dalimunte.
Baiklah. Tidak banyak yang bisa dilakukannya lagi.
Tidak ada salahnya.
Malam itu, Laisa untuk kesekian kalinya tiba tepat waktu.
Menggedor pintu rumah kepala kampung atas. Terbata-bata bilang tentang sakit Yashinta.
Mahasiswa itu mengangguk, ia mengenali Laisa. Salah satu dari penduduk kampung bawah
yang tadi dua tiga kali bertanya. Tanpa pikir panjang langsung menyambar jas hujan, sepatu
bot, dan peralatan medis. Kepala kampung atas yang ikut terbangun berbaik hati
meminjamkan starwagoon tuanya. Mobil itu segera meluncur.
Hujan turun semakin deras. Mobil hanya bisa dipakai hingga batas ladang-ladang.
Terpaksa berjalan lima ratus meter. Kakak-kakak mahasiswa itu berbaik hati menerobos
hujan. Laisa mengikuti dari belakang. Tubuhnya yang tanpa pelindung apapun menggigil.
Tadi hampir satu jam ia mendaki lembah untuk tiba di kampung atas. Normalnya hanya
setengah jam, tapi di tengah jalan tadi, kakinya menghantam tunggul Batang kayu yang
sudah mati. Sakit sekali. Memar malah (esok lusa baru tahu kalau tulang mata kakinya
bergeser). Seperti ditusuk seratus sembilu saat berusaha dijejakkan ke tanah. Tapi Laisa
menggigit bibirnya kencang-kencang, terus mendaki lembah. Memaksa kakinya melupakan
rasa sakit. Rasa sakit yang sebenarnya membuat Laisa menitikkan air mata. Ia
mencengkeram pahanya. Mengusir rasa sakit di kaki. Yashinta menunggu pertolongan di
rumah. Ia harus maju terus. Maka sama sulitnya saat ia berlari- lari kecil mengikuti langkah
kakak-kakak mahasiswa didepannya menuruni lembah.
Mereka datang tepat waktu, kakak-kakak mahasiswa tahun terakhir di fakultas
kedokteran itu segera mengurus Yashinta. Membuka peralatan medisnya. Memeriksa
Yashinta dengan cepat. Lantas menyuntikkan sesuatu. Lepas lima menit, Yashinta mulai
lebih terkendali.
Sementara hujan deras terus membuncah atap seng.
Guntur menggelegar di luar sana.
Dalimunte menatap lamat-lamat Kak Laisa.
Kak Laisa yang duduk di dapur, dekat pintu belakang sejak tiba. Kak Laisa yang
meringkuk memegangi kakinya. Bengkak. Mata kaki itu terlihat merah. Wajah Kak Laisa
meringis, menahan rasa sakit yang teramat sangat. Bahkan jika tidak tersamarkan oleh air
yang masih menetes dari rambutnya, dia sungguh bisa melihat Kak Laisa mengeluarkan air
mata. Jika tidak tersamarkan oleh gigilan kedinginan, dia bisa melihat Kak Laisa yang
gemetar menahan rasa nyilu di kakinya yang dipaksa terus berjalan menuruni lembah.
Dalimunte menelan ludah. Air hujan dari tubuh Kak Laisa tergenang di sekitarnya.
Membasahi lantai papan. Badan itu kuyup. Basah. Kedinginan. Kesakitan. Tapi Kak Laisa
tidak pernah mengeluh. Tidak pernah.
Laisa menyadari Dalimunte yang memperhatikannya. Ia menyeringai galak, menyuruh
Dalimunte kembali ke ruang depan. Tinggalkan aku. Aku baik-baik saja.
Dalimunte mengigit bibir, perlahan membalik badannya. Malam itu Dalimunte akhirnya
mengerti satu hal: Kak Laisa tidak akan pernah menangis di depan adik-adiknya. Tidak akan
pernah.



KAU HARUS TETAP SEKOLAH!

"DALIMUNTE baru saja tiba di perkebunan strawberry..."
Wibisana memasukkan telepon genggamnya ke saku. Ikanuri mengangguk. Terbatuk pelan.
Kerongkongannya sedikit sakit. Ini mungkin gara-gara kehujanan di Pegunungan Alpen,
Swiss semalam. Atau karena kelelahan, kurang tidur, setelah belasan jam tanpa jeda
melanglang buana. Atau juga karena dia terlalu banyak sesak mengenang masa kecil itu.
"Jasmine dan Wulan juga sudah tiba di kota kabupaten. Lancar. Perjalanan mereka tidak
banyak masalah. Kata Jasmine; Juwita dan Delima tertidur di mobil."
Wibisana menghela nafas. Jelas perjalanan akan lebih lancar jika kedua putri mereka
sudah tertidur. Biasanya mereka berdua sibuk minta berhenti setiap kali melihat apalah. Sibuk
berteriak-teriak, bertengkar. Pernah Juwita dan Delima membuat rombongan dari kota
provinsi terhenti total hanya gara-gara mereka melihat ada burung kwao yang melintas di
depan mobil, lantas hinggap di pohon. Memaksa Abi mereka menangkap burung itu, tidak
mau mendengarkan penjelasan kalau tinggi pohonnya saja hampir dua puluh meter.
Ikanuri mengusap wajah lelahnya.
Layar raksasa penunjuk jadwal dan status penerbangan di langit-langit gedung ultramodern
Paris International Airport memamerkan kecanggihannya. Tidak kurang tiga puluh
baris jadwal penerbangan terpampang otomatis di layar tersebut. Merah. Hijau. Kuning.
Display yang mengagumkan.
Moskow, Departure 07.30. California, Departure 07.35. Riyadh, Arrive 07.40. Singapore,
Departure 07.40. Hongkong, Delay 07.45. Jakarta, Departure 07.45.
Ikanuri melirik jam di pergelangan tangan, masih satu setengah jam lagi jadwal
penerbangan mereka. Mengusap wajah sekali lagi. Masih lama, seharusnya mereka masih
punya waktu untuk sarapan. Menikmati sepotong donut dan segelas kopi gaya Perancis. Tapi
perutnya tidak lapar. Dia penat itu benar, lelah tentu saja. Tapi dia tidak mengantuk atau
lapar. Tadi kereta Eurostar tiba di stasiun Gare de Nord, Paris pukul 05.30 (hanya terlambat
setengah jam, meski terhenti oleh longsoran itu selama dua jam). Mereka shalat shubuh di
kabin kereta. Lantas langsung meluncur menuju bandara. Menumpang subway Paris-
Bandara. Segera check-in.
"Kau sudah menelepon Yashinta, lagi?" Ikanuri bertanya. Wibisana mengangguk,
"Tetapi, tetap tidak ada nada sambungnya…." menelan ludah.
Ikanuri menghela nafas panjang. Nah, setelah nyaris sepuluh jam tidak berhasil
menghubungi Yashinta, dia akhirnya ikut cemas. Tidak ada nada sambung? Selama itu kah?
Kemana pula anak itu di waktu sepenting dan semendesak ini? Apa masih di puncak Semeru?
Mengamati alap-alap kawah? Tidak mungkin sinyal telepon genggam satelitnya tidak
menjangkau daerah tersebut. Lantas kemana anak ini hingga telepon genggamnya tidak aktif?
Kehabisan baterai? Tidak mungkin. Yashinta pendaki gunung profesional. Ia selalu
membawa baterai cadangan.
"Kau sudah telepon Goughsky?" Ikanuri teringat
Wibisana seperti tersadarkan. Kenapa tidak terpikirkan sejak tadi? Semua kepanikan ini
membuat kepala mereka tumpul. Ya! Goughsky. WNI keturunan Uzbekistan itu kolega
Yashinta di lembaga konservasi, Bogor. Tiga tahun terakhir, di mana ada Yashinta, di situ
juga ada Goughsky. Dan sebaliknya. Mereka kompak tidak hanya urusan konservasi. Lebih
dari itu.... Meski sayangnya enam bulan terakhir hubungan mereka berantakan. Bermasalah.
Ah, Goughsky pasti tahu di mana Yashinta. Kalau pun tidak, anak itu rela menukarkan nyawa
untuk memastikan di mana Yashinta sekarang
Wibisana buru-buru menarik HP dari saku celana.
Sebenarnya inilah urusan paling pelik dari hubungan kakak-adik yang mengesankan
tersebut. Saat kehidupan lebih baik datang menjemput, janji-janji kesempatan lebih besar di
luar Lembah Lahambay tiba, saat itulah mereka menyadari jika Kak Laisa semakin
'tertinggal' dibelakang. Bukan. Bukan soal pendidikan, toh, meski tidak sekolah Kak Laisa
tetap seperti tahu segalanya. Bukan pula soal kesempatan melakukan hal-hal besar, toh meski
tetap di lembah, Kak Laisa sungguh tetap bisa melakukan hal-hal besar, Kak Laisa bahkan
berhasil merubah wajah seluruh lembah. Kesejahteraan penduduk, pendidikan anak-anak,
akses atas kesempatan. Dan tentu saja juga bukan soal materi dan sebagainya, karena jelas
Kak Laisa boleh menguasai seluruh Lembah Lahambay dengan perkebunan strawberry-nya.
Dua bulan setelah kejadian sakit Yashinta, instalasi listrik pertama akhirnya terpasang di
rumah-rumah kayu. Mahasiswa KKN itu membuktikan kalau bantuan dari kampus tidak
omong-kosong. Maka terang-benderanglah lembah tersebut. Bukan main. Anak-anak yang
selama ini hanya terbiasa dengan lampu canting dan ribuan larik kunang-kunang mengerjapngerjap
menatap bohlam lampu belasan watt. Berpendar-pendar. Seperti melihat pesawat
UFO mendarat, dengan mahkluk angkasa di dalamnya (ini celetukan Ikanuri yang asal
ngarang saat pertama kali melihat bohlam lampu di surau). Kincir air itu berfungsi ganda,
dengan generator yang terpasang, sekarang sekaligus menjadi pembangkit tenaga listrik.
Dalimunte belajar banyak dari kakak-kakak mahasiswa Semakin menyukai membuat sesuatu.
Sesuatu yang berguna.
Tapi lebih banyak lagi yang dipelajari Kak Laisa.
Selepas mahasiswa KKN itu pulang ke kota provinsi, Laisa membujuk Mamak untuk
mulai menanam strawberry di kebun mereka. Laisa nyaris menghabiskan satu minggu untuk
membujuk Mamak.
"Aku tidak akan membiarkan Dalimunte, Ikanuri, Wibisana, dan Yashinta putus sekolah
karena mengganti tanaman di kebun, Mak. Aku tahu, kalau aku gagal, mereka bisa putus
sekolah kehabisan bayaran, tapi sungguh aku tidak ingin itu terjadi.... Aku ingin
melakukannya, karena justru dengan beginilah kita akhirnya berkesempatan memiliki uang
yang cukup buat sekolah Dali di kota kecamatan tahun depan.... Lais mohon, ijinkan Lais
menanam buah itu."
Kak Lais, menyeka wajahnya yang berkeringat, menggenggam lengan Mamak. Meyakinkan.
"Kita tidak pernah menanamnya, Lais...." Mamak menatap lamat-lamat wajah sulungnya.
Menghela nafas pelan. Ia selalu yakin dengan Laisa.
Tetapi menanam strawberry di lembah ini? Bahkan Mamak baru kali itu mendengar ada buah
yang bernama strawberry.
"Laisa sudah mencatatnya, lihat, Mak! Kakak-kakak itu bilang banyak hal. Lihat. Laisa
bahkan menggambar banyak petunjuk dari kakak-kakak mahasiswa..."
Laisa memperlihatkan buku tulis butut sisa sekolahnya tujuh tahun silam.
Tulisan-tulisan yang jelek dan kecil. Ilustrasi-ilustrasi seadanya.
Tidak susah menyiapkan polybag, bibit-bibit, hingga menjualnya ke kota kecamatan.
Kata kakak-kakak itu, buah strawberry mahal sekali di supermarket kota provinsi, harus
didatangkan dari negara lain pula. Lembah mereka cocok untuk menanam strawberry.
Iklimnya tepat. Suhunya tepat. Ketinggiannya baik. Dan tanahnya subur. Laisa berbinar-binar
memperllihatkan angka-angka. Perhitungan keuntungan yang lebih besar dibanding menanam
jagung, atau padi. Tubuh Laisa yang hanya setinggi dada Mamak terlihat bergerak-gerak
antusias.
Maka, karena Mamak tak kuasa melarang Laisa, separuh kebun akhirnya ditanami dengan
strawberry setelah panen jagung berikutnya. Keputusan besar. Dan amat beresiko. Dalimunte
tidak banyak berkomentar. Ikanuri dan Wibisana nyengir, sepertinya lebih mudah mengurus
polybag-polybag ini daripada menyiangi gulma setiap hari, bukan? Hanya Yashinta yang
berseru-seru riang, melihat gambar-gambar buah strawberry sepertinya buah merah ranum
mereka akan lucu-lucu.
Tetapi Laisa keliru. Tidak mudah. Sungguh tidak mudah.
Meski ia memiliki pengetahuan bagaimana menanam strawberry, namun mengurus
ratusan polybag bukan pekerjaan gampang. Delapan bulan berlalu, kebun strawberry itu
gagal total. Separuh batangnya mati oleh musim penghujan, terendam. Separuh lagi buahnya
busuk saat diangkut ke kota kecamatan untuk dibawa ke kota provinsi. Itu terjadi saat
Dalimunte menjelang ujian akhir. Kabut buram menggantung di mata Kak Laisa.
Bagaimanalah? Aduh, situasi jadi amat muram. Meski Mamak sekalipun tidak
menyalahkannya, Kak Laisa belakangan lebih banyak menghabiskan waktu memandangi
separuh kebun yang dipenuhi polybag hitam. Kosong dengan batang strawberry yang layu.
Panen jagung sisa setengah lahan mereka juga ternyata buruk.
Gerimis membasuh lembah. Laisa berdiri mematung. Sendirian di tepi ladang. Tubuh
gempal dan pendek itu basah. Senja membungkus ladang. Langit mulai gelap, lembayung
jingga tenggelam di balik Gunung Kendeng. Satu dua burung layang-layang terbang
menerobos bilur air hujan. Melenguh. yang justru menambah senyap suasana.
"Mamak menyuruh Kakak pulang."
Laisa menoleh. Dalimunte melangkah mendekat. Amat pelan. Tertunduk.
Lantas sedikit ragu-ragu menyerahknn daun pisang. Laisa menggeleng.
Sudah basah. Biarkan saja.
Dari tadi siang ia di kebun. Menatap kegagalannya. Sengaja belum pulang meski adzan
maghrib sebentar lagi terdengar. Ia amat enggan pulang. Hari ini Dalimunte menerima hasil
ujian sekolahnya. Mamak minggu lalu sudah bilang, mereka hanya punya uang buat Yashinta
yang mulai masuk kelas dua, dan Ikanuri serta Wibisana yang menginjak kelas lima. Tapi
tidak untuk Dalimunte yang akan melanjutkan sekolah di kecamatan.
Senyap.
Dalimunte ikut melepas daun pisang dikepalanya. Membiarkan tubuhnya basah seperti
Kak Laisa. Berdiri di sebelah Kak Laisa, ikut menatap kebun mereka. Onggokan kantongkantong
plastik hitam. Seekor elang melintas rendah. Begitu anggun di garis horizon lembah.
Lengang tiga menit.
Hanya gerimis yang terus membasuh dinginnya tanah.
"Kata Mamak, kakak bisa mencobanya lagi tahun depan...."
Dalimunte berkata pelan, antara terdengar dan tidak. Menunduk, menggigit bibirnya.
Laisa menoleh. Dalimunte sudah lebih tinggi darinya sekarang. Setahun berlalu sejak
kincir air dibuat, bahkan Ikanuri dan Wibisana sudah lebih tinggi dari Laisa.
Mereka berdiam diri lagi.
"Sebenamya... sebenarnya, Dali juga tidak senang sekolah. Sungguh — "
Dalimunte berkata serak. Dia membuang ingus. Dari lima bersaudara, Dalimunte-lah yang
paling mudah terharu.
"Kakak tahu, Dali bahkan lebih suka bekerja di kebun membantu Mamak, membantu Kakak.
Dali tidak suka sekolah. Jadi Kakak tidak usah sedih...."
Laisa menelan ludah. Menggigit bibirnya.
"Dali kan bisa belajar dari mana saja. Pinjam buku. Tidak mesti sekolah. Dali tidak harus
membuat Kakak susah—"
"kau bicara apa, Dali!" Laisa memotong suara adiknya.
"Dali tidak ingin sekolah. Dali tidak ingin membuat Kak Lais sedih. Tak ingin lihat Mamak
kerja keras dipanggang matahari. Dali tidak ingin sekolah—"
"kau harus tetap sekolah!" Laisa memotong sekali lagi kalimat adiknya, berkata dengan suara
serak. Tapi kalimat itu terdengar hambar, tidak setegas seperti biasanya. Bagaimanalah?
Untuk membayar uang pangkal saja tidak ada. Apalagi ongkos Dalimunte bolak-balik ke kota
kecamatan. Bagaimana mungkin ia bisa menjanjikan itu?
"Dali tidak ingin sekolah. SUNGGUH—"
"DIAM!" Suara Kak Laisa bergetar.
"Kau tetap sekolah Dali!"
Dalimunte terisak, mengusap matanya. Tertunduk dalam-dalam. Lihatlah, gara-gara dia
harus sekolah Kak Laisa harus bekerja sepanjang hari di ladang. Kenapa hanya Kak Laisa
yang bekerja keras. Dali juga bisa. Dali juga mau, agar Ikanuri, Wibisana, dan Yashinta terus
sekolah.
Rinai air hujan tumpah bersama rinai kesedihan di hati Dalimunte.
"Tidak tahun ini, tidak sekarang.... Tapi kau harus terus sekolah, Dali...."
Laisa berbisik pelan memecah sedan.
"Jika Mamak tidak punya uang tahun ini, maka Mamak akan punya tahun depan... paling
lambat tahun depan kau harus kembali sekolah... Kau dengar kakak... kau dengar kakak,
Dali? Kakak, kakak berjanji akan melakukannya Sungguh—"
Laisa mengenggam lengan adiknya. Berusaha menahan serak di kerongkongan. Ia tidak ingin
menangis di depan Dalimunte.
Lihattah, sebenarnya kalau kalian tidak terbiasa dengan pemandangan ini, maka kalian
akan menduga, justru Laisa lah yang menjadi adik dari Dalimunte. Padahal mereka hanya
berjarak enam tahun satu sama lain. Tubuh Laisa tidak akan tumbuh lagi.
Dalimunte membuang ingusnya.
"Ayo, kita pulang—"
Kak Laisa pelan menarik tangan Dalimunte, tersenyum tulus. Tadi sepanjang hari ia benarbenar
bersalah atas keputusannya mengganti tanaman di ladang delapan bulan silam.
Seharian Laisa pergi ke kebun karena tidak kuasa menunggu Dalimunte di rumah membawa
kabar kelulusannya seperti Mamak dan yang lain. Tetapi gerimis ini menumbuhkan satu
pemahaman baru baginya. Pembicaran senja ini menanamkan semangat baru.
Tidak. Tentu saja urusan ini berbeda dengan dirinya dulu. Dalimunte selalu memiliki
kesempatan untuk kembali sekolah. Tidak sekarang, tahun depan dia akan kembali
melanjutkan sekolah di kota kecamatan. Sepanjang ia terus bekerja keras demi adik-adiknya.
Kesempatan itu pasti akan datang.
"Berapa nilai rata-rata ujian akhirmu?"
Laisa bertanya, samil berjalan menyusuri jalan setapak yang sekarang licak oleh lumpur.
Dalimunte pelan menyebutkan angka, berusaha mengimbangi langkah gesit kakaknya di
depan. Ujung-ujung semak bergoyang terkena gerakan mereka. Memercikkan bulir air yang
menggelayut di ujung-ujung daunnya. Benang sari bunga belukar luruh, menerpa anak
rambut. Laisa tersenyum lebar mendengarnya. Jika ada yang bertanya siapa paling pintar di
dunia ini, siapa paling pandai, maka ia akan menjawabnya dengan bangga itulah Dalimunte,
adiknya.



PERKEBUNAN STRAWBERRY

SEBENARNYA dengan segala keterbatasan Mamak, ada solusi yang lebih baik agar
Dalimunte tetap bisa melanjutkan sekolah di kota kecamatan. Ikanuri dan Wibisana yang
memang malas sekolah dengan sukarela menawarkan diri berhenti. Tapi demi mendengar
kalimat itu, Kak Laisa langsung melotot galak. Sekali dua sigung nakal itu berhenti sekolah,
maka mereka tidak akan pemah kembali lagi. Ikanuri dan Wibisana ber-yaa kecewa. Yashinta
yang masih kecil, malam itu juga menawarkan diri berhenti, berkata pelan sambil memainkan
crayon 12 warnanya,
"Biar Kak Dali saja yang sekolahh, anak laki kan harus sekolah. Yash, kan... Yash kan anak
perempuan. Biar Yash yang berhenti...."
Membuat ruang depan rumah kayu butut itu lengang. Mamak pelan mengusap wajahnya.
Kak Laisa menelan ludah. Senyap. Tidak. Solusi terbaik, tetap Dalimunte yang menunda
sebentar sekolahnya.
Mamak membiarkan Laisa kembali menanami ladang mereka dengan strawberry, kali
ini malah membiarkan seluruhnya ditanami.
"Belajar dari kesalahan, Mak. Laisa tahu apa yang harus Laisa lakukan sekarang."
Mamak tidak kuasa mencegah niat bulat sulungnya, apalagi Dalimunte ikut mendukung. Jadi
kepalang tanggung, sukses atau gagal seluruhnya. Kak Laisa menanami kembali seluruh
kebun mereka dengan strawberry.
Wak Burhan yang mencoba menasehati Laisa juga mengalah. Laisa tetap keukeuh
memesan bibit strawberry ke universitas tempat kakak-kakak KKN dulu. Kebun mereka
terlihat amat berbeda dibandingkan yang lain. Satu dua tetangga menatap ganjil. Ikut prihatin,
bagaimana mungkin lembah ini ditanami stober? Stowber? Beri-beri? Ah, menyebut
namanya saja mereka susah.
Laisa benar, ia belajar banyak dari kesalahannya.
Empat bulan berlalu, setelah hari-hari terpanggang matahari saat menyiapkan polybagpolybag
baru; mengejar-ngejar Ikanuri dan Wibisana yang masih saja bandel bolos sekolah;
memasukkan pupuk kandang ke dalam polybag, meneriaki Ikanuri dan Wibisana yang sibuk
mencuri mangga, membersihkan gulma dan hama, (dan lagi-lagi mengejar-ngejar Ikanuri
dan Wibisana yang tidak kapok-kapoknya bolos sekolah) lepas musim penghujan yang dulu
menggenangi polybag, kabar baik itu akhirnya tiba. Empat ratus pohon strawberry merekah
subur dari kantong-kantong plastik hitam. Bukan main. Empat bulan berlalu lagi, hari-hari
dihabiskan dengan kerja keras, pagi-sore di kebun, bahkan Kak Laisa baru pulang saat adzan
magrhib terdengar, telaten merawat satu demi satu batangnya. Mencurahkan seluruh
perhatian ke kebun satu hektar itu.
Dan Mamak akhirnya tersenyum lebar, buah-buah merah ranum mulai bermunculan dari
batang-batangnya. Membuat seluruh penduduk kampung tercengang. Belum pernah mereka
melihat buah seindah itu. Yashinta yang paling girang. Menghabiskan sore selepas sekolah
dengan menghitungi satu demi satu buahnya. Malah membawa-bawa kertas. Dicatat satu
persatu perpohon. Ikanuri dan Wibisana? Standarlah, mereka juga sibuk mencuri buah-buah
strawberry yang mulai matang...
Dalimunte yang sekarang punya waktu lebih banyak membantu Mamak dan Kak Laisa,
mengambil perannya saat buah merah ranum strawberry siap dipanen. Ia menyiapkan
teknologi pengalengan sederhana. Dengan gentong-gentong besar dari tanah yang banyak
dijual di kota kecamatan. Jadi tak ada lagi buah yang busuk ketika tiba di kota provinsi.
Sukses besar.
Meski Ikanuri dan Wibisana mencuri buah-buah itu hingga sepuluh kilo setiap hari
selama dua tahun, tetap tidak akan habis saking bagusnya panen kebun mereka. Kakak-kakak
dari kota provinsi berbaik hati mengirimkan truk pengangkut, seminggu setelah menerima
surat dari Laisa.
Kabar baik itu akhirnya tiba di Lembah Lahambay.
Satu tahun berlalu. Usia Kak Laisa sekarang sudah menjelang dua puluh tahun.
Dalimunte empat belas, Ikanuri sebelas (hampir dua belas), Wibisana sebelas (baru lewat
sepuluh), dan Yashinta sembilan tahun. Satu tahun penuh kerja keras, kerja keras, kerja keras,
dan pengharapan. Senja itu, gerimis kembali membasuh lembah indah tersebut.
"Mamak menyuruh Kakak pulang."
Laisa menoleh, tersenyum lebar melihat Dalimunte melangkah mendekat. Adiknya
mengulurkan payung. Ikut tersenyum. Seekor elang terbang berputar di tengah larik bulir
hujan. Langit mulai gelap. Batang-batang strawberry bergoyang lembut oleh hujan. Satu dua
buah sisa panen seminggu lalu masih menggelantung. Terlihat merah ranum. Kemilau kristal
air menambahi kesan indahnya.
"Kau sudah pulang dari kota kecamatan?" Dalimunte mengangguk mantap. Tadi dia dan
Mamak mendaftar sekolah. Sekalian membeli banyak barang keperluan. Seragam baru buat
Yashinta. Sepatu baru buat Ikanuri dan Wibisana. Juga baju baru buat Mamak dan Kak Laisa.
Sudah lama sekali Mamak tidak punya baju baru. Kak Laisa juga, selama ini membeli barang
loakan, yang selalu gombyor, kebesaran buatnya.
"Kalau Dali sekolah minggu depan, berarti Dali tidak bisa bantu Mamak dan Kak Lais
lagi...." Dali menunduk, berdiri di sebelah Kak Laisa, berpegangan ke pagar kebun.
"Kau tetap bisa membantu." Kak Laisa berkata ringan.
"Tapi, Dali setiap shubuh harus menumpang starwagoon, baru pulang lepas magrhib.
Bagaimanalah Dali bisa membantu?"
"Kau tetap bisa membantu, Dali. Dengan belajar sungguh-sungguh. Dengan nilai-nilai yang
baik. Kau akan membantu banyak Mamak dengan semua itu."
Kak Laisa menggenggam lengan adiknya. Menatap wajah Dalimunte yang sekarang lima
belas senti lebih tinggi darinya. Dalimunte terdiam, menggigit bibir.
"Berjanjilah—"
Dalimunte mengangguk. Mengusap ujung-ujung matanya.
"Kemarilah, Dali.... Kemari...." Kak Laisa berkata lirih.
Mamak melepas dekapan kepala Dalimunte.
Dalimunte beranjak mendekat ke ranjang Kak Laisa.
"Kau, kau sungguh adik yang amat membanggakan...."
Kak Laisa menatap Dalimunte lamat-lamat. Tersenyum. Bercak darah mengalir lagi. Intan
lembut menghapusnya.
"Lihatlah.... Siapa yang paling pandai di keluarga kita? Siapa yang paling pintar? Kau,
Dalimunte. Babak pasti bangga padamu. Dan kau, kau selalu menepati janjimu.... Belajar,
bekerja keras, bersungguh-sungguh." Kak Laisa mengenggam lengan
"Kau punya istri yang cantik. Anak yang manis dan juga pandai seperti ayahnya. Semua itu.
Semua itu seharusnya membuat kau tersenyum, Dali. Bukan menangis seperti ini— "
Kak Laisa tertawa kecil, lantas terbatuk.
"....Itu semua karena Kakak... itu semua sungguh karena kakak." Dalimunte mengusap ujungujung
matanya.
Kak Laisa tersenyum tulus. Terus menggenggam lengan Dalimunte dengan sisa-sisa tenaga,
"Maukah kau menceritakan penelitian terbarumu pada Kakak? Biar Kakak mendengarkan...
Yang tentang apa?—"
Kak Laisa terbatuk.
Bersitatap satu sama lain. Lima belas detik.
Dalimunte mengangguk perlahan. Pelan menarik nafas. Berusaha mengendalikan emosi.
Bahkan dalam kondisi yang menyedihkan, Kak Laisa tetap tidak berubah. Selalu ingin
mendengar apa yang sedang dikerjakannya. Apa yang sedang dilakukannya. Cie Hui,
membantu Mamak kembali duduk di kursi. Intan beringsut naik ke atas ranjang besar. Biar
lebih leluasa membersihkan setiap kali bercak darah keluar dari bibir.
Meski Kak Laisa tidak mengerti, karena semakin ke sini apa yang dikerjakan Dalimunte
semakin rumit baginya. Meski Kak Laisa tidak paham sedikitpun, tapi ia selalu ingin
mendengar apa yang sedang dilakukan Dalimunte. Menatap wajah Dalimunte yang selalu
antusias menjelaskan penelitiannya. Penuh penghargaan.
Tetap sama seperti dua puluh tahun silam.
Masa-masa ketika akhirnya Dalimunte menyadari satu hal.
Kak Laisa yang semakin tertinggal di belakang.



GADIS TUA

TIGA TAHUN berlalu sejak panen pertama kebun strawberry yang sukses besar. Luas kebun
itu mekar menjadi lima kali lipat. Mamak dan Kak Laisa dengan keleluasaan uang yang ada
mulai membeli lahan-lahan di dekat kebun mereka. Mulai memperkerjakan remaja tanggung
tetangga rumah untuk merawat batang-batang strwaberry. Wak Burhan dan tetangga lainnya,
satu dua juga mulai menanami kebun mereka dengan strawberry, mencoba peruntungan, tapi
mereka tidak setelaten Kak Laisa.
Tiga tahun berlalu sejak panen pertama. Usia Kak Laisa dua puluh tiga tahun. Dalimunte
tujuh belas, menjelang ujian akhir di sekolah lanjutan pertamanya. Beranjak melewati masamasa
remaja tanggung. Dan seperti halnya remaja tanggung, Dalimunte mulai mengenal kata
cinta dan romantisme. Serba tanggung. Ikanuri dan Wibisana juga beranjak remaja, sudah
sekolah di kota kecamatan. Kelas satu. Umur mereka empat belas. Prospek sekolah di kota
kecamatan benar-benar membuat perangai Ikanuri dan Wibisana berubah banyak. Itu artinya
mereka bisa naik starwagoon setiap hari tanpa perlu diteriaki Mamak lagi. Dan yang lebih
penting, tidak perlu disuruh-suruh kerja di kebun karena mereka baru pulang saat starwagoon
itu kembali ke lembah menjelang senja.
Sementara Yashinta sudah menjejak kelas enam sekolah dasar.
Tubuhnya bongsor, sekarang lebih tinggi dibandingkan Kak Laisa. Yashinta tumbuh
menjadi gadis kecil yang amat manis. Rambut panjangnya dikuncir rapi. Kulitnya kuning
langsat. Ia terlihat amat berbeda di rumah panggung yang mulai diperbaiki di sana sini.
Sementara Mamak rambutnya sudah mulai beruban. Kulit Mamak legam seperti Kak Laisa,
karena terpanggang matahari saat mengurus kebun strawberry.
Tiga tahun berlalu, hari itu Mamak, Kak Laisa bersama-sama yang lain berangkat ke kota
provinsi. Melihat Dalimunte mengikuti lomba karya ilmiah. Gedung serba guna universitas
kota provinsi itu ramai oleh pengunjung. Dipadati oleh berbagai peralatan hasil rakitan.
Ikanuri dan Wibisana entah dari tadi pagi menghilang kemanalah. Yashinta menggandeng
Mamak, beserta Kak Laisa berjalan mengelilingi gedung. Melihat satu demi satu stand yang
dipenuhi peralatan peserta lomba.
Mereka berdiri lama di depan rakitan Dalimunte. Kak Laisa mengerjap-ngerjap terpesona,
"Bisakah kau menjelaskan ini sebenarnya apa, Dali?"
Dalimunte tersenyum, Kak Laisa selalu peduli dengan apa yang dikerjakannya. Selalu
bertanya. Ingin tahu, meski kadang tidak terlalu mengerti apa yang sebenarnya Dalimunte
jelaskan. Yashinta dan Mamak berdiri mendekat. Ikut mendengarkan. Tapi sebelum Dali
sempat menjelaskannya, Ikanuri dan Wibisana mendadak masuk ke dalam stand. Berseru
sambil menarik kuncir rambut Yashinta. Tangan Yashinta yang berusaha memukul tangan
jahil Ikanuri malah menghantam rakitan Dalimunte. Pyar! Rakitan alat fermentasi buah
strawberry itu roboh seketika. Berserakan.
"IKANURI, WIBISANA, bisa nggak sih kalian sehari saja tidak nakal?"
Kak Laisa mendesis marah.
Wajah-wajah pengunjung lainnya tertoleh. Ingin tahu keributan yang sedang terjadi.
Dalimunte pias melihat rakitannya roboh. Berusaha membenahi. Dibantu Yashinta setelah
mengaduh kaget dan menimpuk Ikanuri dan Wibisana dengan gumpalan tisu.
Seorang gadis remaja tanggung dari kerumunan pengunjung ikut jongkok. Ikut membantu
membenahi serakan logam dan kayu. Seketika muka Dalimunte yang pias memerah. Amat
merah.
"Cie Hui? Kau... kau juga datang?" Berkata terbata.
Gadis tanggung berbilang enam belas tahun itu tersenyum manis. Wajah keturunannya
juga merekah merah, tersipu, mengangguk. Dan Dalimunte sontak kehabisan kata. Cie Hui
teman sekelasnya di kota kecamatan. Lihatlah, Dalimunte seperti anak-anak lain, tidak peduli
sepintar apapun dia, tetap tumbuh menjadi remaja tanggung dengan segala dunianya. Setahun
terakhir, Dalimunte mulai merasakan cinta monyet itu. Dengan segala perasaan-perasaan itu.
Kerusakan akibat kenakalan Ikanuri dan Wibisana tidak berakibat fatal. Rakitan
Dalimunte toh sudah selesai dinilai. Ia kalah sebelas poin dari juara ketiga (yang berasal dari
sekolah lanjutan atas). Tapi sepanjang perjalanan pulang, Ikanuri dan Wibisana yang jahil
terus menggodanya soal Cie Hui. Dasar Dalimunte, semakin digoda, semakin terbukalah
semuanya. Mukanya merah padam. Berkali-kali berusaha menghindar. Percuma. Bahkan
Yashinta yang selama ini tidak pernah jahil, ikut-ikutan nyeletuk,
"Emangnya kakak sudah boleh pacaran, ya?" Membuat Mamak ikut tertawa.
"Apa kau menyukainya?" Kak Laisa bertanya saat mereko berdua di kebun strawberry
beberapa hari kemudian.
Muka Dalimunte langsung merah padam.
"Kakak hanya memastikan, kau tidak perlu menjawabnya" Kak Laisa tersenyum simpul.
Meneruskan memotong ranting-ranting batang strawberry yang menguning.
Hari-hari itu Dalimunte menyadari sesuatu. Dia memang menyukai Cie Hui sejak pertama
kali mengenalnya. Cinta pertamanya. Tapi kesadaran itu mendatangkan pemahaman yang
lebih besar, lebih penting: Kak Laisa.
Apakah Kak Laisa pernah jatuh-cinta sepertinya?
Kesadaran itu mencungkil berbagai potongan dialog yang dulu dianggap Dalimunte
biasa-biasa saja. Berbagai percakapan tetangga. Amat tidak lazim, Kak Laisa yang sekarang
sudah berumur dua puluh tiga tahun tapi belum menikah. Di lembah itu, rata-rata anak gadis
menikah di usia delapan belas. Mamak dulu juga menikah di umur segitu. Tetapi Kak Laisa
sudah dua puluh tiga, dan nampaknya belum ada tanda-tanda akan segara menikah.
Gadis tua. Itu istilah yang disematkan ke perempuan yang lepas dua puluh belum juga
menikah di Lembah Lahambay. Dalimunte menatap lamat-lamat punggung Kak Laisa.
Hamparan kebun strawberry itu lengang. Beberapa pekerja sibuk mengurus batang-batang
strawberry Beberapa menyusun polybag baru. Memasukkan pupuk kandang. Menyiapkan
bibit. Gadis tua. Itulah isi percakapan tetangga selama ini. Dalimunte menelan ludah. Apakah
Kak Laisa pernah jatuh cinta sepertinya? Apakah Kak Laisa tidak terganggu dengan bisikbisik
itu?
Inilah sebenarnya urusan paling pelik yang menyergap hubungan mengesankan kakakadik
di lembah indah itu. Gadis tua.



JANGAN HINA KAKAKU

"KAK LAIS bilang aku bisa sekolah di mana saja. Aku tidak mau sekolah di sini. TIDAK
MAU!" Yashinta merajuk. Matanya melotot.
Laisa mencengkeram lengannya. Bersitatap satu sama
"YASH TIDAK MAU SEKOLAH DI SINI!"
Laisa tidak mengendurkan cengkeramarmya.
"Yash tidak mau sekolah di sini... Yash mohon, jangan paksa Yash..."
Yashinta mulai menangis. Tertunduk.
Laisa menelan ludah. Lembut menatap wajah adiknya.
Ia baru saja mengantar Yashinta mendaftar sekolah di kota kecamatan. Setahun lagi
berlalu. Sekarang giliran Yashinta. Tadi semangat sekali berangkat menumpang truk
angkutan strawberry. Semangat melihat hamparan luas halaman sekolah lanjutan pertama itu.
Di sini pula Ikanuri dan Wibisana sekolah. Kelas tiga. Sedangkan Dalimunte sudah
melanjutkan sekolah di kota provinsi. Meski tidak juara, lomba karya ilmiah, itu memberikan
kesempatan meneruskan sekolah di sekolah lanjutan atas terbaik kota provinsi. Beasiswa.
"Yashinta marah dengan orang di dalam tadi?" Yashinta diam, Menggigit bibimya.
"Yash marah?"
Yashinta mengangguk. Pelan. Bagaimanalah ia tidak akan marah. Ketika formulir
pendaftarannya akan ditandatangani Kak Laisa, petugas itu kasar menegur,
"Harus orang tua atau wali murid yang menandatangani, bukan pembantu yang mengantar—"
"Ia kakakku—" Yashinta yang menjawab.
"Bagaimana mungkin ia kakakmu?" Petugas itu menatap keheranan.
Lihatlah, Yashinta yang bongsor sejengkal lebih tinggi dibanding Kak Laisa. Apalagi wajah
Yashinta yang amat manis. Dibandingkan dengan adiknya, Kak Laisa memang lebih mirip
seseorang yang disuruh mengantar.
"Ia kakakku—" Yashinta menjawab ketus, tersinggung dengan tatapan petugas. Meski
umurnya baru dua belas tahun, Yashinta mengerti benar soal beginian. Soal tatapan mata
seperti ini. Kalimat-kalimat seperti ini. Ia berkali-kali mengalaminya.
"Kakakmu? Kalian sungguh berbeda. Ia lebih pend... Baiklah-"
Maka Yashinta merajuk, berlari ke luar ruangan pendaftaran. Melempar formulir
pendaftarannya. Tidak. Tidak ada yang boleh menghina kakaknya. Ia tidak akan sekolah di
sini. la bisa sekolah di mana saja ia mau, tapi bukan di sini.
"Yash seharusnya tidak marah. Yash seharusnya terbiasa" Kak Laisa duduk di sebelah. Ikut
bersandarkan kursi panjang. Menghela nafas.
Mendekap bahu adiknya.
Yashinta hanya diam. Meletakkan tas barunya.
Minggu lalu, dan juga minggu-minggu lalunya, waktu ia bermain-main bersama anak
tetangga di lembah, beberapa remaja tanggung juga seringkali menunjuk-nunjuknya.
Berbisik. Tertawa. Yash tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Mereka pasti senang
membanding-bandingkan ia dengan Kak Laisa. Maka marahlah Yashinta. Melempar mereka
dengan butiran tanah. Berteriak-teriak. Membuat Wak Burhan yang kebetulan lewat terpaksa
turun tangan.
"Mereka menghina Kak Lais, Wak!" Yashinta mengadu marah.
Wak Burhan mengusap rambut panjang Yashinta. Tersenyum bijak. Sejak dulu, anak-anak
kampung memang suka memperolok-olok Laisa. Hanya saja karena Yashinta masih terlalu
kecil sajalah, hingga Yashinta tidak menyadarinya. Remaja-remaja tanggung itu sedang
senang-senangnya rumpi. Mengolok-olok. Laisa yang berbeda dengan anak-anak Mamak
Lainuri lainnya. Laisa yang berbeda dengan penduduk kampung lainnya. Bahkan sekali-dua
meski dengan intonasi berbeda orang dewasa di lembah itu juga suka membicarakan Laisa
yang belum menikah-menikah juga, Wak Burhan malah juga pernah berkunjung, berbicara
dengan Mamak Lainuri soal kenapa Laisa belum menikah.
"Yash seharusnya terbiasa. Lihat, Ikanuri dan Wibisana terbiasa. Dalimunte juga terbiasa—"
"Tapi mereka menghina Kak Lais!" Yashinta memotong.
" Mereka hanya merasa heran—"
"Mereka menghina. Yash tidak suka. Pokoknya Yash tidak suka. Yash tidak mau sekolah di
sini!" Yashinta menjawab ketus.
Laisa tersenyum.
Suka atau tidak, mau atau tidak, Yashinta harus membiasakan diri. Seperti Ikanuri dan
Wibisana yang tidak peduli dengan olok-olok itu. Atau seperti Dalimunte yang memang tidak
pernah mendengarkan sedikitpun olok-olok tersebut. Karena tidak ada gunanya.
Tidak ada manfaatnya.
Adiknya Yashinta harus (segera) terbiasa....



PERNIKAHAN SEPUH

MALAM ITU, rumah panggung mereka ramai.
Kak Laisa baru saja menyelesaikan renovasi rumah. Sekarang rumah panggung reot
seadanya itu berubah menjadi bak villa indah. Masih berlapis kayu, tapi sekarang tanpa
lubang-lubang. Atapnya digantikan genteng, sudah tak tampias lagi. Hamparan halaman
ditanami beludru rumput dan bonsai pepohonan. Perkebunan strawberry mereka sekarang
sudah puluhan hektar, memenuhi separuh lembah hingga cadas lima meter sungai. Tidak ada
lagi lima kincir bambu di sana. Sekarang digantikan dua pasang kincir bertingkat-tingkat dari
batangan aluminium dan pondasi beton yang lebih kokoh. Ada banyak hal besar yang
dikerjakan Kak Laisa tiga tahun terakhir. Seiring majunya perkebunan strawberry, Kak Laisa
juga merenovasi sekolah seadanya di kampung atas. Jalanan selebar tiga meter itu juga sudah
di aspal tipis. Memudahkan truk-truk pengangkut buah strawberry berlalu-lalang.
Malam itu, Dalimunte yang sudah kuliah di institut teknologi ternama luar pulau, mudik.
Kejutan. Benar-benar kejutann, Dalimunte pulang bersam Cie Hui. Gadis keturunan yang
dulu mereka lihat di kota provinsi. Umur Dalimunte sudah dua puluh satu tahun, sudah bukan
remaja tanggung lagi. Ikanuri dan Wibisana beranjak delapan belas, sudah di tahun terakhir
sekolah lanjutan atas kota kabupaten. Mereka masih suka menggoda Dalimunte soal Cie Hui,
tapi konteksnya jauh berbeda. Bukan lagi gurauan remaja tanggung atau anak-anak. Lagipula
Ikanuri dan Wibisana lebih asyik menghabiskan waktu di bengkel. Mereka memang
menyukai mengotak-atik mesin. Cinta sekali dengan mobil. Beruntung Kak Laisa berbaik
hati membelikan starwagoon tua, dengan janji mereka tetap akan meneruskan kuliah di kota
provinsi tahun depan.
Yashinta tumbuh menawan. Gadis kecil itu sekarang sudah lima belas. Setahun lagi harus
melanjutkan sekolah di kota kabupaten. Ia tetap sekolah di kota kecamatan yang dulu pernah
dibencinya. Meski tidak kunjung terbiasa, Yashinta mengalah. Bisik-bisik tetangga soal fisik
Laisa juga sebenarnya jauh berkurang karena meski dengan segala keterbatasannya, fakta
Laisa melakukan banyak hal untuk lembah, anak-anak yang bersekolah, bantuan menanam
strawberry di kebun-kebun, membuat kehidupan lembah jauh lebih baik.
Jadi penduduk kampung walau tetap membicarakan Laisa yang hingga usia dua puluh
tujuh tahun tetap belum menikah, intonasinya lebih karena prihatin. Ingin membantu mencari
jalan keluar.
"Cepat atau lambat juga akan datang, Mak!" Itu jawaban ringan Kak Laisa setiap kali Mamak
mengajak membicarakannya (atau jika ada tetangga yang berbaik hati bertanya).
"Lihat, Wak Burhan besok akan menikah untuk kedua kalinya. Padahal umurnya sudah
delapan puluh! Cepat atau lambat giliran Laisa pasti akan tiba pula, bukan?"
Kak Laisa tertawa.
Itu benar, besok Wak Burhan akan menikah dengan janda tua dari desa atas. Umur calon
istri Wak Burhan berbilang enam puluh tahun, sudah bercucu sebelas. Malam itu, mereka
ramai-ramai berkumpul di rumah untuk menyiapkan keperluan acara besok. Wak Burhan
masih terhitung kakak sepupu Mamak. Jadi rumah panggung mereka jadi tempat 'mempelai
perempuan' bersiap-siap.
Yashinta ditemani Cie Hui memasang hiasan-hiasan janur. Penduduk kampung itu sibuk.
Minggu-minggu selepas lebaran, memang waktu yang tepat melangsungkan hajat besar.
Pernikahan. Mamak dan ibu-ibu lainnya menyiapkan hidangan besok. Dalimunte dan pemuda
lainnya menyiapkan panggung acara. Kak Laisa ikut mengerjakan banyak hal. Jelas ia sudah
terbiasa menangani tatapan ingin tahu. Menanggapi ibu-ibu tetangga yang menggodanya,
"Jadi kapan Lais akan menyusul?" Laisa hanya tersenyum simpul.
Setiap kali ada pernikahan di lembah itu, Laisa selalu membantu mengerjakan banyak hal.
Terbiasa dengan kalimat prihatin, gurauan, bahkan bisik-bisik tetangga. Menjawab dengan
senyuman, kalimat ringan, atau ikut tertawa. Tapi apakah Laisa seringan itu menghadapi
fakta bahwa ia belum menikah-menikah juga? Dalimunte tahu persis jawabannya. Seperti
malam itu, saat semua jatuh tertidur kelelahan lepas menyiapkan keperluan acara besok.
Larut malam. Bintang Indah bertebaran di angkasa. Cerah. Lembah itu berpendar-pendar oleh
cahaya bohlam lampu di bawah dan cahaya bintang di langit.
"Kak Lais belum tidur?"
Laisa menoleh, tersenyum. Dalimunte melangkah, mendekat. Laisa berdiri di depan bingkai
jendela yang dibuka lebar-lebar.
"Bulan yang indah, bukan?" Kak Lais menunjuk ke atas.
Dalimunte mengangguk. Menelan ludah. Dia tahu, Kak Laisa tidak menghabiskan waktu
setengah jam dini hari seperti ini hanya untuk menikmati menatap rembulan. Bersenyap
seorang diri pukul dua pagi. Tentu ada banyak hal yang sedang dipikirkannya. Kalimatkalimat
tetatngga. Usianya yang sebentar lagi tiga puluh. Entahlah. Tapi Kak Laisa selalu
ingin terlihat semua baik-baik saja di depan adik-adiknya. Sejak setahun lalu, Dalimunte
ingin sekali menanyakan hal tersebut.
"Apakah kau menyukai Cie Hui?" Kak Laisa justru yang mendahuluinya bertanya.
Muka Dalimunte memerah. Tersipu.
"Ergh, maksud Kak Lais?"
"Kata Yashinta tadi, Cie Hui bilang kalian tidak pacaran. Hanya teman dekat—"
Kak Laisa tertawa kecil.
"Aneh, bukan? Bagaimana mungkin gadis itu mau bermalam di sini tanpa hubungan penting
di antara kalian?"
Dalimunte nyengir, mengusap wajahnya yang semakin memerah. Benar. Mereka belum
sekalipun bilang soal perasaan itu. Mereka amat dekat, itu benar. Tapi ikrar saling suka itu
belum terucap. Bagaimana dia akan melakukannya jika Kak Laisa belum?
"Cie Hui gadis yang cantik. Ia juga baik. Ia mudah sekali akrab dengan Mamak dan
Yashinta." Kak Laisa bergumam, menatap wajah Dalimunte yang salah-tingkah,
"Dali, kau seharusnya tidak membuat Cie Hui menunggu lama—"



KAU TIDAK HARUS MENUNGGU

TETAPI DALIMUNTE kali ini memutuskan untuk bebal.
Dalimunte tidak mendengarkan kata-kata Kak Laisa. Dalimunte benar-benar membuat
Cie Hui menunggu lama, terlalu lama malah. Tujuh tahun berlalu. Dan dia belum juga
mengatakan perasaan itu. Meski hampir setiap pulang ke Lembah Lahambay, Cie Hui ikut
serta. Bahkan gadis keturunan yang sekarang sudah berkerudung itu sudah dianggap Mamak
menjadi anggota keluarga.
Lulus dari institut teknologi ternama itu, Dalimunte melanjutkan sekolah di universitas
terbaik di Amerika. Mendapatkan beasiswa selama tiga tahun untuk menyelesaikan jenjang
doktor ilmu fisikanya. Masa-masa itu bahkan Cie Hui lebih banyak lagi menghabiskan waktu
di perkebunan strawberry. Menginap lama di sana. Ikut membantu Kak Laisa dan Mamak
mengurus kebun. Dua tahun sejak pulang dari Amerika, dan memutuskan bekerja di
laboratorium institut teknologi ternama, Dalimunte tetap tak kunjung mengatakan
perasaannya. Cie Hui hanya bilang,
"Kami hanya teman biasa, Mak!" setiap kali Mamak atau Yashinta bertanya kapan.
"Apa sebenarnya yang kau tunggu, Dali?"
Itu juga pertanyaan berkali-kali yang disampaikan Kak Laisa setiap dua bulan jadwal
Dalimunte dan yang lain pulang ke lembah. Dan Dalimunte hanya diam, tidak menjawab.
Tentu saja Dalimunte amat menyukai Cie Hui. Cinta pertamanya. Tetapi urusan ini tidak
mudah. Pelik. Dia sungguh tidak akan pernah bisa mengambil keputusan sepenting itu
sebelum Kak Laisa menikah. Tabu sekali di lembah itu jika ada adik yang mendahului
kakaknya menikah. Melintas. Akan menjadi gunjingan seumur hidup.
"Kau tidak harus menunggu aku, Dali!"
Laisa menggenggam erat lengan Dalimunte. Malam itu, malam yang kesekian mereka berdiri
di lereng lembah, menatap bintang-gemintang. Di antara ribuan polybag strawberry. Malam
itu, umur Kak Laisa sudah tiga puluh tiga tahun, Dalimunte dua puluh tujuh. Janji kehidupan
yang lebih baik di luar lembah sudah sepenuhnya tiba. Dan kehidupan di lembah sendiri
sudah jauh lebih baik dibandingkan masa kanak-kanak mereka.
Mereka selepas isya tadi, habis melakukan syukuran besar di rumah. Lulusnya Ikanuri
dan Wibisana. Akhirnya, dua sigung nakal itu menyelesaikan kuliahnya. Warga kampung
berkumpul. Tidak ada lagi wajah-wajah suram habis bekerja seharian, pakaian seadanya, dan
semacam itu seperti mereka sering berkumpul di balai kampung dulu. Kehidupan di lembah
jauh lebih baik sekarang.
"Kami lulus sarjana saja itu sudah menjadi keajaiban dunia ke delapan dan ke sembilan. Jadi
jangan paksa kami untuk ambil S2 seperti Dalimunte — "
Ikanuri tertawa saat Kak Laisa menyuruh mereka melanjutkan sekolah lagi. Dan itu benar,
beberapa minggu kemudian dari kelulusan universitas kota provinsi, dua sigung itu lebih
memilih sibuk dengan hobi kecil mereka dulu. Membongkar-bongkar mesin mobil. Mereka
sekarang punya bengkel besar di kota provinsi. Kak Laisa yang memberikan modal.
Sementara Yashinta benar-benar tumbuh menjadi gadis yang menawan. Cantik luar biasa.
Umurnya sekarang dua puluh. Tahun kedua di jurusan Biologi universitas ibukota. Malam ini
ia jug a pulang. Lihatlah, Yashinta, dengan rambut tergerai panjang, mata hitam indah dan
tubuh tinggi semampai, terlihat seperti bidadari di rumah panggung itu. Amat kontras dengan
Kak Laisa. Gadis itu juga tumbuh dengan pemahaman yang baik atas hidup. Mencintai
kehidupan sekitar.Menghabiskan waktu dengan kegiatan mendaki gunung, menyelami lautan,
konservasi alam. Setiap kali ia pulang, itu saja dengan berhari-hari menghabiskan waktu di
hutan rimba dekat lembah. Menginventarisir satwa di dalamnya. Hasil jepretan kameranya
sudah ribuan lembar. Yashinta amat atletis untuk urusan ini. Ia bahkan dua kali lebih atletis
dibanding Kak Laisa.
"Kau tidak harus menunggu aku, Dali—"
Kak Laisa menghela nafas panjang. Mengulang kalimatnya. Memecah lenyap. Mendekap
pinggang Dalimunte yang tiga jengkal lebih tinggi darinya.
Dalimunte hanya menunduk, menelan ludah. Bagaimanalah? Dulu Kak Laisa bahkan tega
mempermalukan diri sendiri agar adik-adiknya tidak mendapat malu. Kak Laisa bekerjakeras
di masa kecilnya demi adik-adiknya. Bagaimanalah dia sekarang sampai hati
mendahului Kak Laisa? Justru mempermalukan Kak Laisa? Itu akan jadi aib besar di lembah.
Belum menikah di usia tiga puluh tiga tahun saja cukup sudah membuat tetangga banyak
bertanya, apalagi jika adik-adiknya melintas.
"Kau sudah cukup umur Dali. Punya pekerjaan hebat di ibukota. Cie Hui amat menyukaimu.
Kau tahu, selama ini ia bahkan lebih banyak menghabiskan waktu di sini dibandingkan di
rumah orang tuanya di kota kecamatan, bukan?" Tertawa.
Dalimunte ikut tertawa kecil. Semerbak wangi perkebunan di malam hari menyergap
ujung hidung. Malam sudah amat larut. Pukul dua pagi. Dia selalu menemani Kak Laisa
menghabiskan malam setiap kali pulang ke lembah. Menatap pemandangan lembah yang
indah. Dulu waktu mereka kecil, Kak Laisa juga suka melakukannya. Dan Dalimunte tahu
persis itu.
Dulu Kak Laisa menghabiskan malam dengan berpikir tentang sekolah adik-adiknya.
Bagaimana mencari uang agar adik-adiknya tidak putus sekolah. Membantu Mamak yang
setiap hari terpanggang matahari di ladang. Sekarang? Dalimunte menghela nafas pelan, Kak
Laisa tidak pernah sekalipun mendapat bagian untuk merasakan bahagia dalam hidupnya.
Apa yang sekarang Kak Laisa pikirkan? Usianya? Kesendiriannya?
"Berjanjilah kau tidak akan membuat Cie Hui menunggu lebih lama lagi. Berjanjilah, Dali—"
Suara Kak Laisa kembali memecah sepi.Dalimunte hanya menatap senyap hamparan kebun
strawberry. Urung menanyakan hal penting tersebut.
Mobil jemputan kedua tiba di Lembah Lahambay. Juwita dan Delima berteriak-teriak
ribut saat turun. Bertengkar soal sepeda BMX mereka. Ummi mereka berdua menghela
nafas, berusaha melerai. Kehabisan akal. Gara-garanya sepele, mereka bertengkar soal sepeda
siapa yang duluan harus diturunkan. Tetangga yang sedang berkumpul di beranda rumah
panggung berkerumun, ikut bingung mencari solusinya.
"Lihat, lihat, Bak Wo Jogar turunkan dua-duanya serempak. Satu-dua-tiga-..."
Bang Jogar tertawa, tangan kekarnya mengangkat kedua sepeda itu sekaligus dari atas mobil,
ikut berseru meningkahi seruan kedua sigung kecil tersebut. "Nah, adil, kan?"
Juwita dan Delima hanya nyengir. Bilang terima kasih (setelah dicubit Ummi masingmasing).
Mendorong masuk sepeda mereka ke garasi, sebelah rumah.
Mereka lagi-lagi berisik saat naik ke rumah panggung. Ribut soal siapa yang duluan
salaman dengan Eyang Lainuri dan Wawak Laisa. Saling dorong saat masuk kamar. Tidak
mempedulikan tatapan tetangga yang sedang mengaji yasin. Tetapi dua sigung kecil itu
seketika terdiam saat melihat ke dalam kamar. Melihat infus, belalai, dan peralatan medis
lainnya.
Menelan ludah. Benar-benar terdiam.
Juwita dan Delima malah takut-takut melangkah masuk. Menatap sekitar penuh tandatanya.
Aduh, kenapa jadi begini? Kalau begini mana ada coba acara keliling perkebunan
pakai sepeda BMX. Balapan dengan Wawak Laisa? Lupa dengan pertengkaran mereka
barusan. Siapa yang lebih dulu menyalami Wak Laisa?
Wak Laisa sedang tidur.
Jatuh tertidur saat Dalimunte menceritakan penelitian Elektromagnetik Antar Galaksi satu
jam lalu. Ia awalnya berusaha mendengarkan dengan sungguh-sungguh, berusaha untuk
mengerti apa yang sedang dijelaskan Dalimunte, tapi fisiknya semakin lemah, konsentrasinya
menghilang, Laisa akhirnya jatuh tertidur.
Sementara Cie Hui memijat kaki Mamak yang juga rebahan di kursi panjang dekat
ranjang. Mamak juga lelah setelah hampir seminggu senantiasa terjaga menemani Kak Laisa.
Intan masih duduk di atas ranjang, sebelah Wak Laisa. Menatap wajah wawak-nya yang
meski pucat pasi, begitu tenang dalam tidumya.
Dalimunte menyalami Jasmine dan Wulan. Menyilahkan mereka mendekat ke ranjang
besar tersebut. Bang Jogar menyuruh beberapa pemuda tanggung membawa plastik
tambahan masuk. Dokter memeriksa ulang panel panel peralatan. Suster menyiapkan
beberapa suntikan dan obat.
"Apakah Kak Lais akan baik-baik saja?" Wulan sambll mendekap kepala Juwita (yang
mendadak alim) bertanya lirih.
"Aku tidak tahu—" Dalimunte menelan ludah.
"Apakah Kak Lais akan baik-baik saja?" Jasmine mengulang pertanyaan serupa. Lebih lirih.
Menggigit bibir.
Dalimunte menggeleng.
Hening sejenak.
"Ikanuri dan Wibisana sudah di Paris, tadi sempat telepon—"
Dalimunte mengangguk. Memberikan kursi.
Sementara Intan pelan melambaikan tangannya ke Juwita dan Delima agar mendekat,
duduk bertiga di atas ranjang besar Wak Laisa. Ketiga gadis kecil itu, malam ini untuk
pertama kalinya rukun. Mana pernah coba Intan mau memberikan posisi duduk ke adikadiknya,
selama ini yang ada juga Intan galak mengusir mereka jauh-jauh!



MELINTAS

WAKTU BERLALU. Dan urusan Dalimunte-Cie Hui berubah serius sekali. Jika Dalimunte
bisa keukeuh bertahan menunggu Kak Laisa menikah bertahun-tahun lagi, tapi ada yang tidak
bisa. Cie Hui.
Enam bulan selepas syukuran syukuran Ikanuri dan Wibisana, Cie Hui datang ke
perkebunan strawberry sambil menangis. Bersimpuh di pangkuan Mamak dan Kak Laisa.
Perjodohan. Keluarga Cie Hui di kota kecamatan memutuskan untuk menjodohkan Cie Hui
dengan kerabat mereka di China.
Benar-benar rusuh perkebunan itu.
"Aku sudah bilang, Kak Lais.... Aku sudah bilang ke Dalimunte. Tapi, tapi ia tetap tidak
bisa mengambil keputusan...."
Gadis manis berkerudung lembut itu menangis di pangkuan Kak Laisa.
"Ayah memaksaku menikah segera. Kak Lais tahu, di keluarga kami tidak ada anak gadis
yang belum menikah hingga usiaku. Ayah memaksaku memilih.... Jika Dalimunte tidak ingin
menikah denganku.... Jika Dalimunte tidak—" Cie Hui terisak mengadu.
Siang itu juga Kak Laisa menyuruh Dalimunte pulang ke Lembah Lahambay.
Meneleponnya langsungke laboratorium,
"Kau naik pesawat pertama dari sana, DALI! Malam ini juga kau sudah harus tiba di
perkebunan strawberry! KAU DENGAR?"
Sudah lama Kak Laisa tidak berkata setegas itu di hadapan adik-adiknya. Apalagi kepada
Dalimunte yang sejak kecil menurut. Perintah itu juga menyebar ke yang lain. Karena Cie
Hui sudah dianggap seperti anggota keluarga di rumah panggung itu, Yashinta juga ikut
pulang dari kota provinsi. Juga Ikanuri dan Wibisana. Semua berkumpul.
Ruang depan yang dulunya dipakai Dalimunte, Ikanuri dan Wibisana tidur beralaskan
tikar pandan itu senyap. Malam itu, hujan gerimis membasuh lembah. Dalimunte yang
terakhir tiba di rumah, dan langsung diajak bicara. Yang lain sudah menunggu sejak sore tadi.
Cie Hui masih menenangkan diri di kamar. Tadi sore, utusan keluarganya dari kota
kecamatan memaksa pulang. Hanya karena Kak Laisa bilang,
"Semua akan baik-baik saja! Bilang ke Kokoh, tunggu hingga malam ini berakhir." Kerabat
Cie Hui mengalah.
Mereka tertunduk. Pelan menghela nafas. Kak Laisa menatap wajah adik-adiknya satu
persatu. Lamat-lamat.
"Kakak tidak pernah meminta kalian menunggu. Tidak pernah,"
Kak Laisa memecah senyap. Ini kali pertama mereka membicarakan masalah yang supersensitif
tersebut bersama-sama.
"Dalimunte, kau sudah dua puluh delapan. Wibisana hampir duapuluh enam, Ikanuri dua
puluh lima, dan Yashinta dua puluh dua. Kalian sudah tumbuh begitu dewasa. Tampan dan
cantik. Seperti yang Kakak impi-impikan, kalian tumbuh dan memiliki kesempatan lebih
besar dibandingkan lembah ini. Tidak menghabiskan hidup hanya menjadi pencari kumbang
dan damar di rimba"
Suara Kak Laisa bergetar, membuat yang lain semakin tertunduk.
Di luar gerimis mulai menderas. Suara bilur air hujan membasuh rumput, genteng,
bebatuan terdengar sakral menyenangkan.
" Kalian sudah cukup umur untuk mengambil kesempatan berikutnya. Sudah lebih dari cukup
umur untuk menikah. Apa lagi yang kalian tunggu? Dali, bahkan Kakak sudah bilang enam
tahun lalu agar kau tidak membuat Cie Hui menunggu terlalu lama—"
Dalimunte menelan ludah.
"Kau tidak perlu menunggu Kakak.... Sungguh. Sama sekali tidak perlu. Kelahiran, kematian,
jodoh semua sudah ditentukan. Masing-masing memiliki jadwal. Giliran—"
"Aku tidak akan menikah sebelum Kakak menikah."
Dalimunte memotong, dengan suara pelan tertahan.
"Kau tidak perlu menunggu Kakak Dali!"
Kak Laisa Berkata tegas. Menatap tajam Dalimunte.
"Aku tidak akan menikah—"
"Dengarkan Kakak bicara, Dali!" Kak Laisa menatap tajam.
Dalimunte tertunduk dalam-dalam. Ikanuri dan Wibisana mengusap wajahnya. Yashinta
memeluk Mamak, matanya mulai berair.
"Buat apa kau memikirkan apa yang dipikirkan orang atas pernikahan kau. Buat apa kau
memikirkan apa yang dipikirkan orang atas Kakak-mu. Buat apa kau memikirkan
kekhawatiran, rasa cemas, yang sejatinya mungkin tidak pernah ada. Hanya perasanperasaan.
Lihatlah, Kakak baik-baik saja."
Dalimunte menyeka ujung-ujung mata. Itulah masalahnya, semua terlihat baik-baik saja.
Bahkan sejak kecil dulu Kak Laisa selalu berusaha terlihat baik-baik saja di hadapan adikadiknya.
Memutuskan berhenti sekolah demi mereka sekolah. Bekerja keras. Dan semuanya
tetap baik-baik saja.
"Jangan paksa Dali menikah.... Jangan paksa Dali...."
"Tidak ada yang memaksamu! TIDAK ADA! Tapi jika kau tetap keras kepala, kau akan
kehilangan Cie Hui selamanya. Kau mencintainya, Cie Hui juga amat mencintai kau dan
keluarga kita! Kau akan membuat semuanya binasa dengan segala kekeras-kepalaan dan
omong-kosong melintas itu..." Kak Laisa berkata serak.
"Dali tidak akan menikah sebelum —"
"Kau jangan membantah kakak, DALI!"
Suara Laisa yang meninggi tersedak diujungnya. Bergetar. Tubuhnya menggigil menahan
sesak perasaan. Ya Allah, ia sungguh tidak pernah sampai hati membentak adik-adiknya,...
Yashinta sudah menangis sambil memeluk Mamak.
Malam itu pembicaraan tersebut berakhir sia-sia.
Dalimunte tetap tak kuasa mengambil keputusan. Dia terlalu menghargai Kak Laisa.
Mengalahkan akal sehat atas pendidikan hebat yang diterimanya selama ini Kak Laisa sudah
melakukan banyak hal untuk mereka, jadi amat tidak adil jika dia mempermalukan Kak Laisa
dengan melintas. Malam itu, saat hujan menderas, Cie Hui menangis menuruni anak tangga.
Keluar dari kamamya. Berlari menerabas hujan. Amat mengharukan melihatnya. Sementara
Dalimunte hanya tertunduk diam seribu bahasa. Ikanuri dan Wibisana mengantar Cie Hui
pulang ke kota kecamatan. Tidak ada. Harapan itu benar-benar sirna. Perjodohan itu akan
terjadi. Malam itu, di antara suara guntur menggelegar, Cie Hui kembali ke kota kecamatan
membawa pusara hatinya. Menyisakan senyap di ruang depan rumah panggung.
Mamak akhirnya tak kuasa menahan tangis. Itu tangisan pertama sejak Babak dulu
meninggal. Memeluk Kak Laisa dan Yashinta erat-erat. Mamak tahu. Tahu betapa Kak Laisa
menanggung separuh beban keluarga ini sejak kecil. Menciumi wajah Kak Laisa (yang
matanya juga berkaca-kaca).



SESEDERHANA ITU

PUKUL EMPAT dini hari. Laisa sendirian berdiri di lereng kebun strawberry.
Menatap gemerlap cahaya bintang dan bulan separuh. Akhirnya setelah nyaris enam jam
hujan deras itu terhenti. Awan hitam menggumpalnya habis sudah menumpahkan air. Yang
lain sudah jatuh tertidur di kamar. Ikanuri dan Wibisana tidak bicara banyak selepas pulang
dari kota kecamatan. Kalau dua sigung nakal itu saja ikut tersentuh secara emosional dalam
urusan ini, apalagi yang lain, Yashinta, enam jam lalu di ruang tengah rumah, malah berseru
tertahan soal betapa keras kepalanya Dalimunte. Betapa Dalimunte tega membuat Mamak
dan Kak Laisa menangis. Lantas lari masuk kamar. Membanting pintu keras-keras.
"Boleh aku bergabung—"
Laisa menoleh. Menatap datar Dalimunte yang mendekat. Sejenak diam. Lantas tersenyum.
Mengangguk.
Dua kakak adik itu berdiri bersisian. Tubuh gempal Laisa hanya sedada tinggi Dalimunte.
Menatap hamparan pohon strowberry yang sedang berbuah. Merah ranum. Minggu-minggu
ini panen besar.
"Maafkan Dali yang keras kepala—" Dalimunte berkata pelan.
Laisa menoleh. Mengangguk. Tidak. Ia tidak ingin membicarakan keributan enam jam lalu.
Ia tidak bisa memaksa Dalimunte. Mereka bukan kanak-kanak lagi seperti dulu.
"Apakah Kak Laisa marah?"
Laisa menggeleng. Menggenggam erat lengan Dalimunte.
"Aku tidak akan memukulmu dengan rotan, Dali—"
Tertawa kecil.
Senyap sejenak.
"Boleh. Bolehkah Dali bertanya sesuatu?"
Laisa mengangguk.
"Apa... apa yang sebenarnya Kak Lais pikirkan setiap kali berdiri di sini menatap langit dan
lembah?" Dalimunte bertanya pelan.
Laisa tersenyum, "Banyak hal—"
"Banyak?"
"Ya, tentang masa lalu kita. Tentang hari ini, Tentang masa depan kita. Kau tahu, kalian sejak
kecil dulu sudah amat membanggakan Mamak dan Kakak. Lihat, kincir air itu, Dali yang
buat. Tanpa itu, tidak akan ada perkebunan strowberry sekarang. Tidak akan ada lampulampu....
kehidupan warga kampung yang lebih baik... Kakak juga mengenang Ikanuri dan
Wibisana yang suka bolos. Kabur naik starwagoon tua, Yashinta yang selalu memaksa minta
diantar melihat sesuatu di hutan. Ladang jagung kita. Semua kejadian-kejadian itu. Tiga
harimau itu. Masa lalu yang indah— Kakak juga memikirkan tentang hari ini. Perkebunan
strowberry Mamak. Penduduk lembah yang semakin makmur. Fasilitas sekolah yang semakin
baik. Pengalengan buah di kota provinsi. Kau yang sudah jadi peneliti fisika hebat di Ibukota.
Ikanuri dan Wibisana yang ambisius sekali dengan bengkel mobilnya. Yashinta yang amat
mencintai lingkungandan konservasi entahlah. Dan Mamak yang terlihat bahagia
menghabiskan waktu di kebun kita. Mamak yang tidak pernah mrmbayangkan kehidupan kita
akan sebaik ini..... Kakak juga memikirkan tentang masa depan.... Ah, kalau kau menikah,
maka rumah panggung ini akan segera ramai, Dali. Anak-anak yang pintar. Ayahnya pintar,
pasti anaknya jauh lebih pintar.... Kau tahu, aku tidak bisa membayangkan akan seperti apa
anak-anak Ikanuri dan Wibisana nanti.... Kalau Yashinta itu jelas sudah. Anak-anaknya akan
tampan dan cantik... Ia saja sekarang pasti telah membuat puluhan teman mahasiswanyajatuh
hati.... Kalau kalian satu persatu mulai berkeluarga, perkebunan ini akan ramai oleh celoteh
anak-anak—"
Hening lagi sejenak.
"Apakah, apakah Kak Lais tidak pernah memikirkan yentang itu saat berdiri sendirian di
sini?" Dalimunte menelan ludah.
"Memikirkan apa?"
"Umur Kak Lais? Pemikahan? Kesendirian? Pernahkah Kak Lais memikirkan diri sendiri...."
Laisa tertawa, melambaikan tangannya,
"Dali, tentu saja sekali dua datang. Sebenarnya dulu lebih sering datang. Tapi buat apa Kakak
membuang-buang waktu memikirkan tersebut. Hidup Kakak sudah amat indah tanpa perlu
memikirkan hal-hal itu. Melihat kalian tumbuh dewasa. Dengan segala kesempatan hebat. Itu
sudah amat membahagiakan Kakak. Melihat anak-anak lembah berkesempatan sekolah.
Kehidupan mereka yang lebih baik dengan perkebunan strawberry ini. Itu sudah lebih dari
cukup.
"Kau tahu, seperti yang Kakak bilang dulu, jodoh ada di tangan Allah. Mungkin dalam
urusan ini, Kakak tidak seberuntung dibandingkan dengan memiliki adik-adik yang hebat
seperti kalian.... Dulu memang mengganggu sekali mendengar pertanyaan tetangga, tatapan
mata itu, tetapi mereka melakukannya karena mereka peduli dengan kita. Satu dua
menyampaikan rasa peduli itu dengan cara yang tidak baik, namun itu bukan masalah. Kakak
tidak pernah merasa kesepian, Dali. Bagaimana mungkin Kakak akan kesepian dengan
kehidupan seindah ini.... Kau benar, aku juga sering memikirkan umur. Sekarang usiaku tiga
puluh empat tahun. Tapi apa yang Kakak harus lakukan? Itu semua ada di tangan Allah.
Yang lebih penting aku pikirkan, dengan sisa waktu yang mungkin tidak sedikit lagi, apakah
masih berkesempatan melakukan banyak hal di lembah ini, berkesempatan melihat kalian
melakukan hal-hal hebat di luar sana. Berkesempatan membuat Mamak dengan keseharian di
perkebunan...,"
Kak Laisa tersenyum tulus.
"Hanya itu? Sesederhana itu?" Dalimunte menelan ludah.
Kak Laisa tertawa,
"Apalagi yang harus aku pikirkan, Dali? Bukankah kehidupan di lembah ini hanya
sesederhana itu?"
Dalimunte terdiam. Mengusap wajahnya. Dia keliru. Sungguh keliru.
Bahkan Kak Laisa sedikitpun tidak pernah memikirkan dirinya sendiri. Apalagi
memikirkan tentang sebutan gadis tua yang disandangnya, pernikahan. Ya Allah, Kak Laisa
memang seringan itu menanggapi segala keterbatasan hidupnya. Bagi Kak Laisa, adikadiknya
jauh lebih penting.
Pertanyaan itu, pertanyaan yang selalu dia ingin sampaikan, ternyata sederhana sekali
jawabannya. Kak Laisa tidak pernah sekalipun berkeberatan dengan takdir kehidupannya.



ROMANTISME STRAWBERRY

PEMBICARAAN dini hari itu membuat perubahan besar.
Akhirnya setelah menatap begitu lama wajah Kak Laisa yang tersenyum amat tulus,
Dalimunte memutuskan untuk menikah. Maka rusuhlah perkebunan sepagi itu. "Keluarga Cie
Hui sudah berangkat ke kota provinsi. Mereka berangkat ke China hari ini juga —"
Itu jawaban dari seberang telepon saat Dalimunte bertanya ke kediaman Cie Hui di kota
kecamatan. Panik sudah.
Ikanuri dan Wibisana yang masih menguap diteriaki agar segera menyiapkan mobil.
Yashinta bergegas menyiapkan segala sesuatu. Mereka harus segera menyusul. Hari itu,
teknologi telepon genggam belum ada. Jadi tidak ada cara untuk mengontak Cie Hui yang
sedang menuju bandara. Celaka. Urusan ini benar-benar celaka, jika sampai Cie Hui menaiki
pesawat yang membawanya ke ibukota, lantas terus menuju ke China, maka berakhirlah
semuanya. Pusara yang sama juga akan tertanam dalam- dalam di hati Dalimunte.
Yashinta berteriak-teriak menyuruh Ikanuri lebih cepat lagi.
"Cepat, Kak. Lebih cepat. Katanya nih mobil sudah dimodifikasi macam mobil balap. Ini
mah siput saja lebih cepat!"
Mereka sudah tertinggal empat jam di belakang. Ikanuri yang sialnya masih mengenakan
sarung mengeluarkan gumam tak jelas. Tersinggung dengan teriakan Yashinta. Berlima
mereka memadati mobil modifikasi bengkel Ikanuri dan Wibisana tersebut. Mamak
menunggu di rumah.
Rumah keluarga Cie Hui di kota kecamatan kosong.
"Maaf, Nak Dali, justru Nona Cie Hui yang memaksa agar perjodohan itu segera
dilangsungkan. Memaksa mereka berangkat segera dini hari tadi...."
Pembantu rumah Cie Hui menjelaskan terbata-bata, ikut merasa sedih. Dalimunte mengeluh
tertahan. Dia sungguh telah membuat kesalahan besar. Rasa putus asa yang besar karena
menunggu bertahun-tahun itu berubah menjadi kebencian sekarang,
Sekarang Wibisana yang mengemudikan mobil. Dari tadi Ikanuri gatal menjitak kepala
Yashinta yang berisik protes. Melesat menuju kota provinsi. Melewati hampir tiga ratus kilo
perjalanan. Kota-kota kabupaten. Kota-kota kecamatan Pedesaan. Hutan-hutan lebat. Semakbelukar.
Pohon bambu. Perkebunan kelapa sawit. Perkebunan karet. Padang rumput
meranggas. Naik turun lembah. Melingkari bukit barisan, Sungai-sungai yang meliuk.
Persawahan. Menyaksikan monyet yang berani bergelantungan di tepi-tepi hutan. Satu dua
babi liar yang nekad menyeberangi jalan aspal.
Itu semua sebenarnya pemandangan yang menarik, sayang tidak untuk situasi saat ini.
Kak Laisa yang duduk di belakang, di tengah-tengah Yashinta dan Ikanuri malah sepanjang
jalan sibuk memisahkan tangan-tangan mereka (yang sibuk bertengkar). Dalimunte
mengusap wajahnya berkali-kali. Tegang.
Sial, dua puluh kilometer menjelang kota provinsi, ban mobil meletus.
"Ya ampun, bagaimana mungkin Kak Ikanuri dan Wibisana bisa bikin mobil balap kalau
hasil modifikasinya hanya begini?" Yashinta mengeluh setengah kecewa, setengah sebal.
Ikanuri sekarang benar-benar menjitak kepala Yashinta. Terpaksalah perjalanan itu terhenti
hampir setengah jam tintuk mengganti ban.
Dan saat mereka akhirnya tiba di bandara, mereka benar-benar terlambat. Bertanya rusuh
tentang jadwal penerbangan. Memaksa masuk pintu check-in. Dua petugas yang menjaga
pintu pemeriksaan terlihat bingung menghadapi seruan-seruan memaksa Yashinta. Wajah
mengeras Ikanuri dan Wibisana. Wajah tegang memohon Dalimunte. Berhasil. Kak Laisa
seperti biasa dengan tatapan mata, akhirnya berhasil mcmbujuk petugas. Berlarian menuju
ruang tunggu bandara.
Tapi mereka tiba di bandara sudah amat terlambat. Dalimunte masih sempat melihat Cie
Hui bersama Koh Acan dan istrinya berjalan di balik kaca tebal menuju garbarata prsawat.
Berteriak memanggil. Percuma. Kaca itu kedap suara. Memukul-mukulnya. Sia-sia. Cie Hui
sudah masuk kedalam garbarata. Kali ini Kak Laisa tidak berhasil memaksa petugas pintu
boarding mengijinkan mereka menerobos masuk ke landasan pacu bandara. Itu prosedur yang
tidak bisa dilanggar dengan alasan apapun.
Dalimunte menatap kosong pesawat yang mulai berputar menuju runaway. Bersiap
berangkat. Lima menit, Pesawat itu menderu lepas landas. Menuju langit yang membiru.
Menyisakan lengang di balik kaca tebal ruang tunggu. Yashinta tertunduk, menyeka ujungujung
matanya. Ikanuri dan Wibisana bergumam kecewa. Kak Laisa mendekap sedih
pinggang Dalimunte.
Lima belas menit hening. Dalimunte tetap menatap kosong langit. Mereka tidak akan bisa
mengejar Cie Hui lagi. Jadwal penerbangan ke ibukota hanya ada satu kali dalam sehari. Dia
juga tidak tahu nomor telepon ke sana. Memberitahukan kalau dia sudah bisa mengambil
keputusan. Memberitahukan kalau dia bersedia menikah. Urusan ini ternyata berakhir
menyedihkan.
Kak Laisa membimbing Dalimunte. Beranjak pulang. Semua ini terasa menyakitkan.
Sesak. Mereka berjalan beriringan melewati pintu masuk menuju ruang tunggu. Kembali ke
perkebunan strawberry.... Sungguh sesak rasanya. Mata Dalimunte berkaca-kaca....
"Da-li—" Suara itu memanggil tertahan.
Dalimunte mengangkat kepalanya. Kak Laisa ikut menoleh.
"Da-li—" Itu suara Cie Hui.
Gadis keturunan itu berlari keluar dari garbarata. Dalam gerakan lambat sepersejuta detik
yang amat mengharukan.
Cie Hui berseru. Menangis. Melompat memeluk Dalimunte.
"Cie—" Dali seketika kehabisan kata-kata.
"Ia amat menyukaimu, Nak" Koh Acan, ayah Cie Hui ikut melangkah mendekat, melepas
topi putih kupluk di kepalanya. Muslim keturunan itu menghela nafas panjang, "Kau tahu,
meski tadi pagi ia sendiri yang meminta perjodohan itu dipercepat, tapi ta tidak kuasa untuk
melangkahkan kakinya ke dalam pesawat. Tidak kuasa.... Hanya berbisik berkali-kali di
dalam garbarata, 'Dali akan menyusul, Dali akan menyusul, Papa'.... Berdiri mematung di
depan pintu pesawat.... Tidak bisa melakukannya. Ia sungguh amat menyukaimu, Nak!"
Dalimunte dan Cie Hui sudah berpelukan, seolah dunia milik berdua. Tidak peduli
sekitar. Menangis. Kak Laisa tersenyum lebar.
Inilah romantisme yang (selalu) diceritakan moderator cerewet di konvensi internasional
itu, juga konvensi-konvensi lainnya. Di majalah-majalah. Di koran-koran yang banyak
menulis tentang Profesor Dalimunte.
Inilah romantisme Strawberry cinta Dalimunte dan Cie Hui.



PERNIKAHAN PERTAMA

PERNIKAHAN Dalimunte - Cie Hui berlangsung satu bulan kemudian.
Pernikahan yang meriah. Halaman luas rerumputan itu dipasang dua tenda besar.
Penduduk empat desa di Lembah Lihambay ramai memenuhi kursi-kursi. Tidak terhitung
kolega Dalimunte darii bukota. Saat itu dia belum mendapatkan gelar profesor, tapi berbagai
penelitian yang dilakukannya telah membuat Dalimunte terkenal. Juga tamu-tamu dari kota
kecamatan, kota kabupaten, hingga kota provinsi, kenalan Kak Laisa dalam bisnis
perkebunan strawberry. Di salah satu kursi undangan bahkan duduk rapi Bupati setempat.
Tetapi ada yang sedikit berbeda dibandingkan dengan banyak pernikahan di lembah
tersebut sebelumnya. Wak Burhan beberapa hari sebelum acara berlangsung meminta
penduduk kampung untuk tidak membicarakan soal melintas. Tidak sibuk menggoda Kak
Laisa soal kapan ia akan menikah juga. Urusan ini tidak pantas dibicarakan. Tidak buat Laisa
yang telah melakukan banyak hal untuk lembah mereka. Jadi pernikahan itu berlangsung
'sebagai mana mestinya'.
Dalimunte dan Cie Hui terlihat amat bahagia, meski saat selesai ijab-kabul, Dalimunte
dan Cie Hui menangis lama memeluk Kak Laisa, berbisik ribuan kata maaf (lebih lama
dibanding saat bersimpuh di pangkuan Mamak). Membuat yang lain terdiam. Menghela
nafas. Meski tidak ada yang jahil membicarakannya, setnua orang tahu, melintas macam ini
sungguh di luar kebiasaan kampung.
Dalimunte dan Cie Hui menghabiskan masa-masa bulan madu di perkebunan strawberry,
baru lepas satu bulan kemudian mereka kembali ke ibukota, memulai kemball kesibukan di
laboratorium. Ikanuri dan Wibisana kembali ke kota provinsi seminggu setelah pernikahan,
mereka semakin sibuk dengan bengkel modifikasi mobil. Berencana membangun pabrik kecil
di luar pulau, di kota yang lebih besar. Mengejar ambisi besar mereka: pembuat spare-part
mobil balap. Yashinta juga segera kembali ke kota provinsi, minggu-minggu depan ia mulai
menyiapkan ujian tugas akhir kuliahnya.
Meninggalkan Kak Laisa dan Mamak Lainuri di perkebunan strawberry. Seperti selama
ini. Bedanya, di keluarga itu sudah terjadi pernikahan pertama. Entahlah apa yang sejatinya
dipikirkan Kak Laisa, tapi kenyataan ia sudah dilintas Dalimunte tetap fakta hidup yang harus
diterimanya. Dan seperti biasa, semuanya terlihat baik-baik saja. Kak Laisa juga kembali
menyibukkan diri dengan pembangunan pusat pengalengan baru di kota provinsi. Sering
berpergian, bolak-balik. Mengurus perkebunan yang semakin luas. Mulai melibatkan
penduduk kampung atas dan kampung-kampung lainnya. Menjadikan mereka petani cluster
dari bisnis tersebut.
Kak Laisa dan Mamak Lainuri mungkin tidak akan pernah kesepian, karena meski jadwal
pulang bersama yang lain hanya dua bulan sekali, perkebunan itu tetap ramai oleh pekerja,
anak-anak tetangga, juga remaja tanggung lainnya yang sibuk membantu selepas pulang
sekolah. Ramai bermain-main di hamparan rumput rumah. Kak Laisa juga sering kali
menghabiskan malam dengan bermain kembang api bersama mereka. Mendirikan taman
bacaan. Dan memberikan berbagai kesempatan bagi anak-anak lembah lainnya untuk belajar
dan bermain yang tidak pernah ia dapatkan waktu kecil. Tapi di luar seluruh kegiatan hebat
tersebut, tetap tidak ada yang tahu seberapa sepi hidup Kak Laisa.
Lepas pernikahan Dalimunte, penduduk setempat juga sudah jauh berkurang menggoda
Laisa. Mereka sekarang lebih banyak prihatin, sebagian besar malah mulai terbiasa. Hanya
Wak Burhan yang masih terus sibuk mencarikan Laisa Jodoh. Percuma. Semua itu seperti
menjadi kesia-siaan besar.
Dalimunte selepas pulang ke ibukota juga sibuk mencarikan jodoh buat kakaknya. Kali
ini dia melakukannya dengan sungguh-sungguh, sekali dua malah mengorbankan jadwal di
laboratorium. Dalimunte memutuskan untuk melibatkan diri seperti Wak Burhan. Di tengah
amat keterlaluannya warga ibukota dalam menilai tampilan fisik dan materi, kesempatan Kak
Laisa untuk mendapatkan jodoh tetap lebih besar di sini. Mungkin jodoh Kak Laisa terselip di
sini. Harus dijemput dengan baik.
Enam bulan berlalu, di jadwal pulang dua bulanan mereka, Dalimunte mengajak salah
satu temannya. Tepatnya kakak kelas waktu dia kuliah di institut teknologi ternama dulu.
Usianya sepantaran dengan Kak Laisa, tiga puluh lima tahun. Dalimunte sudah mengenalnya
sejak masih tingkat pertama kuliah dulu. Kakak mentor. Aktivis masjid kampus. Fasih benar
bicara soal mencari jodoh bukan dilihat dari wajah dan kecantikan pasangan, tapi dari
"kecantikan hati". Sekarang calon jodoh Kak Laisa tersebut malah lebih dikenal sebagai
salah-satu penceramah agama terkenal di ibukota. Statusnya duda. Istri kenalan Dalimunte
tersebut meninggal tanpa anak tiga tahun lalu, dan sekarang memutuskan untuk menikah lagi.
Karena Daiimunte amat yakin bahwa kakak kelasnya itu tidak akan menilai seseorang
dari tampilan wajah dan fisik, sambil tersenyum lebar dan penuh penghargaan, Dalimunte
menyebutkan Kak Laisa sebagai salah satu pilihan yang baik. Cepat sekali proses itu terjadi,
bahkan kakak kelasnya merasa tidak perlu melihat foto-foto Kak Laisa. Hanya mendengar
apa yang dilakukan Kak Laisa, tentang Lembah Lahambay, dan segalanya, dia merasa sudah
menemukan pengganti mendiang istrinya yang tepat.
"Kakakmu pasti secantik yang ia lakukan selama ini. Lihat, adiknya saja gagah seperti kau!"
Itu jawaban yang hebat, Benar-benar kabar baik. Dalimunte tertawa riang.
Tetapi Dalimunte sungguh keliru, ketika malam itu akhirnya mereka tiba di rumah
panggung, ketika untuk pertama kali mantan kakak kelasnya di institut teknologi itu melihat
Kak Laisa, respon yang diharapkannya sungguh jauh dari baik. Sebenamya respon yang ada
tidak jauh beda dengan jodoh-jodoh yang dibawa Wak Burhan selama ini tetapi mengingat
latar belakang pemahaman agama kakak kelasnya... Malam itu ruangan depan rumah
panggung entah mengapa terasa gerah, meski lembah sedang menjelang musim penghujan.
"Bukankah Kak Laisa 'cantik' seperti yang kau sebutkan selama ini dalam ceramahceramahmu.
Apalagi yang kurang!" Dalimunte sedikit tersinggung, berkata ketus esok pagi
saat menyuruh salah satu sopir perkebunan mengantar kenalannya tersebut kembali lebih dini
ke kota provinsi.
"Tapi maksudku, setidaknya cantik adalah menarik hati"
Dalimunte sudah terlanjur membanting pintu mobil. Dia tidak membenci kenalannya
tersebut secara personal. Tapi Dalimunte lebih membenci kenyataan bahwa: terkadang betapa
munafiknya manusia dalam urusan ini. Lihatlah, kenapa pula temannya tersebut mesti
berpura-pura ada jadwal acara mendadak, ceramah di manalah hari ini. Dalimunte membenci
ukuran-ukuran relatif yang ada di kepala orang ketika mencari jodoh. Sungguh jika ada yang
ingin menilai secara objektif, Kak Laisa masuk tiga dari empat kriteria utama yang
disebutkan Nabi dalam memilih jodoh.
Jelas Kak Laisa salehah. Saleh dalam hubungan dengan Allah, juga saleh dalam
hubungan dengan manusia. Kak Laisa selalu pandai mensyukuri nikmat Allah dalam bentuk
yang lengkap. Ritus ibadah yang baik dan ihklas, juga kesalehan memperbaiki kehidupan
lembah.
Dari sisi materi. Jelas Kak Laisa lebih baik dari gadis lain. Perkebunan strawberry Kak
Laisa membentang nyaris dua ribu hektar. Meski Kak Laisa selalu bilang ini perkebunan
Mamak, semua orang tahu, semuanya berkat kerja keras Kak Laisa.
Dan dari sisi keturunan, Kak Laisa memang bukan turunan raja atau bangsawan ternama,
tapi keluarga mereka terhormat, pekerja keras, tidak pernah meminta-minta, berdusta, atau
melakukan hal buruk lainnya. Sejak dulu Babak mengajarkan tentang harga diri keluarga,
mengajarkan tentang menjaga nama baik keluarga lebih penting dibandingkan soal kalian
turunan siapa. Menjadi keluarga yang jujur meski keadaan sulit. Berbuat baik dengan
tetangga sekitar, dan sebagainya. Jadi kenapa harus mempersoalkan kecantikan? Bukankah
itu hanya ada di urutan keempat?
"Keluarga yang baik hanya dapat terjadi ketika suami merasa senang menatap istrinya, Dali.
Merasa tenteram —"
Kak Laisa berkata pelan, menatap gumpalan awan tipis yang menutupi bintang-gemintang
dan purnama.
Dalimunte hanya diam. Seperti biasa mereka menghabiskan sepertiga malam terakhir
dengan berdiri di lereng perkebunan strawberry. Kak Laisa tidak banyak berkomentar atas
kejadian semalam dan tadi pagi. Seperti biasa, menganggapnya kejadian lazim berikut.
Bukankah selama ini juga perjodohan yang dilakukan Wak Burhan bernasib sama. Yang
dijodohkan mundur teratur setelah melihatnya (satu dua malah kasar segera pergi dari
rumah). Dalimunte saja yang terlalu naif berharap banyak atas kenalannya tersebut, tidak
proporsional, tertipu tampilan mutut. Kesalehan mulut.
"Kau tahu, jika suami merasa tersiksa melihat wajah dan fisik istrinya, dan juga sebaliknya,
mereka tidak akan pernah menjadi keluarga yang baik. Bukankah kau juga tahu kisah tentang
sahabat Nabi, yang meminta bercerai karena fisik dan wajah pasangannya tidak
menenteramkan hatinya—" Laisa tetap berkata ringan.
Dalimunte menelan ludah, menatap lamat-lamat wajah Kak Laisa. Tahun-tahun itu,
Dalimunte sudah mulai sibuk dengan berbagai penelitian tentang transkripsi religius, jadi
bagaimana mungkin dia tidak tahu berbagai kisah tersebut. Dia tahu. Dia juga tahu persis
kalimat bijak kalau: ketika salah satnnya justru memutuskan untuk bersabar atas pasangan
yang tidak beruntung dari tampilan wajah dan fisik tersebut, maka surga menjadi balasan
buatnya. Tidakkah hari ini, ada yang mengerti hakikat kisah tersebut.
"Kakak tidak sakit hati?" Dalimunte berusaha melepas senyap di hatinya.
"Kenapa harus sakit hati, Dali?" Kak Laisa melambaikan tangan.
Dalimunte menunduk. Mengusir rasa sesalnya atas kejadian ini.
"Tetapi yang membuat Kakak bingung, kenapa kenalanmu itu tetap datang meski telah
melihat foto-foto, Kakak?" Kak Laisa tersenyum, mengenggam lengan Dalimunte.
Dalimunte hanya diam.
Itu salahnya!



PERJODOHAN – PERJODOHAN

"INTAN, ajak adik-adikmu!" Cie Hui berkata pelan.
Intan tak perlu disuruh dua kali, menggamit tangan Juwita dan Delima. Turun dari tempat
tidur. Itu kamar mereka bertiga. Kamar terluas di rumah panggung perkebunan strawberry,
lantai dua. Ada tiga tempat tidur yang berjejer di dalamnya. Dulu hanya satu ranjang besar,
tapi karena Intan, Juwita dan Delima sibuk bertengkar saat tidur, sibuk saling memukul
guling, Wawak Laisa menggantinya dengan tiga ranjang kecil. Masing-masing satu (yang
tetap saja percuma, masih tetap sibuk saling melempar bantal sebelum tidur )
Shubuh sekali lagi datang di Lembah Lahambay. Semburat jingga tipis menghias garis
horizon lembah. Semalam, lepas satu jam menunggui Wawak Laisa yang tertidur, Cie Hui
menyuruh mereka beranjak tidur. Satu dua tetangga juga mulai pamit. Malam beranjak
semakin tinggi. Pengajian Yasin di ruang depan dan surau dihentikan, besok disambung lagi.
Penduduk kampung yang duduk-duduk di kursi halaman bertahan beberapa jam lagi. Bang
Jogar menyuruh mereka pulang saat menjelang tengah malam.
Dalimunte menunggui Wak Laisa di kamar. Tertidur di kursi sebelah ranjang. Eyang
Lainuri dibimbing Wulan dan Jasmine beranjak ke kamar. Tidur. Eyang Lainuri terlalu lelah.
Sudah seminggu terakhir kurang tidur menunggui Kak Laisa bersama dokter dan perawat.
Malam ini ia bisa tidur lebih baik. Dalimunte yang menggantikan berjaga. Kata dokter
selepas memeriksa seluruh status peralatan pukul sepuluh malam, Wak Laisa baik-baik saja.
Semua fungsi tubuhnyn terkendali. Intan hanya menguap sok mengerti, sementara Juwita dan
Delima sudah jatuh tertidur. Digendong Ummi masing-masing ke kamar besar di lantai dua.
Cie Hui menyerahkan tiga mukena kecil. Ketiga gadis kecil itu sudah kembali dari kamar
mandi. Wudhu. Biasanya setiap jadwal pulang, paling susah membangunkan Juwita dan
Delima. Mereka selalu saja pura-pura tidur, menaruh bantal di kepala, bergelung dibalik
selimut, dan trik macam Abi nya dulu. Tapi pagi ini mereka bangun tepat waktu seperti yang
lain. Menurut saat diajak Intan ke kamar mandi. Dan tidak banyak bicara saat mengenakan
mukena (tidak jahil saling tarik, berisik). Wajah-wajah basah. Shalat shubuh. Dalimunte,
Mamak Lainuri, dan yang lain sudah duduk menunggu.
Shubuh yang menyenangkan. Udara pagi terasa sejuk. Di surau entahlah siapa yang
sedang mengumandangkan adzan. Tidak ada lagi suara keras Wak Burhan. Sudah sejak lama
pula penduduk kampung dan anak-anak tidak perlu lagi membawa obor ke surau.
"Ummi, Wak Laisa shalatnya gimana?"
Juwita bertanya pelan sambil melipat mukena, selesai shalat. Kan, biasanya Wak Laisa ikut
mereka, berjejer di sebelah Eyang. Biasanya juga selepas shalat Wak Laisa suka bercerita
tentang sahabat-sahabat Nabi. Bercerita apa saja. Sekarang Wak Laisa kan sakit parah?
Shalatnya pasti susah.
"Wak Laisa shalat sambil berbaring, sayang."
" Emangnya boleh, ya?"
Juwita melipat dahi. Jasmine mengangguk. Meski kemudian pelan menghela nafas. Tentu
Juwita sedikit kesulitan bagaimana membayangkan shalat seperti itu. Dan akan lebih susah
lagi membayangkan bagaimana sulitnya Kak Laisa shalat dengan kondisi tubuh yang amat
menyedihkan. Dibalut infus dan belasan belalai plastik.
Tetapi mereka benar-benar terkejut, saat beranjak ke kamar perawatan Wak Laisa.
Lihatlah, Wak Laisa ternyata shalat sambil duduk. Bersandarkan bantal-bantal. Wajah itu
pucat, terlihat lemah, dan sedikit gemetar, tapi matanya. Matanya terlihat begitu damai.
Wak Laisa shalat shubuh sambil duduk.
Selepas kejadian malam itu, Dalimunte tidak patah arang meski perjodohan dengan kakak
kelasnya gagal total. Kak Laisa meski sekali dua bilang, Dali tidak perlu memaksakan diri
mencarikan jodoh buatnya, mengalah. Membiarkan Dalimuinte yang justru semakin hari
semakin terlihat semangat,
"Kakak sendiri yang bilang jodoh itu di tangan tangan Alloh. Hanya soal waktu. Jadi biarkan
Dali terus berusaha. Semoga akhimya jodoh kakak datang." Kak Laisa hanya mengangguk.
Namun sepertinya semua upaya Dalimunte akan sia-sia. Kali ini Dalimunte memutuskan
untuk tidak mengajak yang bersangkutan ke Lembah Lahambay sebelum memastikan banyak
hal. Dalimunte memulainya dengan mencari seseorang yang dia pikir cukup baik dan
memadai untut Kak Laisa. Menjelaskan Kak Laisa dengan baik dan lengkap Memperlihaikan
foto. Terhenti. Proses itu diulang lagi. Mencari seseorang yang dia pikir cukup baik dan
memadai untuk Kak Laisa. Menjelaskan siapa sebenarnya Kak Laisa dengan baik dan
lengkap. Memperlihatkan foto. Terhenti. Mencari seseorang yang dia pikir cukup baik dan
memadai untuk Kak Laisa...
Enam bulan berlalu. Tetap sia-sia. Belum ada hasil Proses itu selalu terhenti.
Enam bulan berlalu lagi.
Sekarang giliran Yashinta yang lulus dari kuliah S1-nya. Kabar baik berikutnya di lembah
indah mereka. Siang itu Mamak Lainuri, Dalimunte, Cie Hui, Ikanuri, dan Wibisana duduk di
kursi baris terdepan. Berjejer. Menatap bangga Yashinta yang begitu cantik dengan toga
wisudanya. Hari itu resmi sudah menjadi harinya Yashinta. Ia lulus dengan predikat
cumlaude, terbaik. Menjadi wakil wisudawan saat memberikan sambutan.
"Untuk Mamak, yang setiap malam berdoa buat Yash dan kami.... Yang doanya mungkin saja
telah membuat langit diaduk-aduk...." Gadis cantik itu mulai tersendat, ia tiba di penghujung
sambutannya,
"Untuk Kak Dalimunte yang selalu menjadi teladan, mengajarkan proses belajar, mengajar,
mengajarkan tentang ketekunan.... Untuk Kak Ikanuri dan Kak Wibisana yang meski nakal,
selalu dimarahi Mamak, namun memberikan pemahaman ke Yash tentang menjalani hidup
dengan rileks dengan indah" Gadis itu tertawa, menyeka matanya.
"Dan... dan..." Yashinta terdiam. Tersendat
Dalimunte yang tahu kalimat apa yang akan disampaikan Yashinta sekarang, menggenggam
tangan Kak Laisa yang duduk di sebelahnya. Menatap wajah Kak Laisa yang juga menangis
tertahan melihat Yashinta berdiri di panggung Wisuda.
"Dan untuk Kak Laisa...." Yashinta terbata, "Untuk Kak Laisa yang telah mengorbankan
seluruh hidupnya demi kami... Yang selalu mengajarkan makna kata bekerja keras, bekerja
keras.... Yang demi Yash, demi Kak Dalimunte, demi kami semua... dulu memutuskan
berhenti sekolah.... Untuk Kak Laisa yang selalu menepati janji... tidak perah datang
terlambat buat kami.... Kami, kami tidak akan pernah melihat Kak Laisa berdiri di sini, tapi
bagi kami, Kak Laisa-lah yang selalu berdiri di sini...."
Aula besar itu lengang. Tidak ada yang tahu siapa sesungguhnya Kak Laisa. Apa
perannya datam cerita yang disebutkan Yashinta. Tapi ucapan itu amat tulus, dari hati yang
menjadi saksi langsung atas masa lalu tersebut. Maka sempurna sudah kalimat Yashinta
membuat yang lain tersentuh. Menggantung di langit-langit ruang wisuda. Kak Laisa
mengusap pipinya yang basah.
"Terima kasih.... Terima kasih karena Kak Lais dulu telah mengajak Yash melihat lima anak
berang-berang itu.... Sungguh...." Dan Yashinta tidak kuasa lagi melanjutkan kalimatnya.
Melangkah turun. Sedikit berlari menuju kursi Mamak dan Kak Laisa. Memeluk Kak Laisa
dan Mamak erat-erat. Menciumi rambut gimbal Kak Lais.
Berang-berang itu selalu penting baginya. Enam bulan kenudian, Yashinta akan
melanjutkan studi S2-nya di Eropa. Ia mendapatkan beasiswa penelitian konservasi ekologi,
bahkan beasiswa itu ditawarkan saat Yashinta masih menulis tugas akhir kuliah Sl-nya.
Kecintaannya atas alam tumbuh subur sejak melihat anak berang-berang tersebut. Dan sejak
kecil Yashinta sudah belajar dari guru terbaiknya soal mengenal alam.
"Kalau dulu kita yang mengajak Yash ngelihat anak harimau di Gunung Kendeng, pasti tadi
juga disebut-sebut, Ikanuri nyengir, tertawa kecil melihat Yashinta yang masih mememeluk
Kak Laisa.
"Yap! Bisa jadi lebih lebih mengharu biru dari ini kalimat-kalimatnya. Harimau ini, kan.
Lebih keren dibanding berang-berang."
Wibisana menimpali, dengan wajah sok serius Mengangguk-anguk.
Dalimunte menyikut dua sigung yang tidak kecil lagi itu. Tapi Mamak dan Kak Laisa ikut
tertawa.
Benar-benar terlupakan masa-masa delapan belas tahun silam. Hari ini, Yashinta bukan
gadis kecil berkepang umur enam tahun lagi. Saat ini umurnya sudah dua puluh empat, dan
Yashim tumbuh menjadi gadis yang cantik menawan. Lihatlah, lepas prosesi wisuda itu, ada
banyak sekali teman lelaki Yashin yang pura-pura mengajak foto bersama,
"Buat kenangan terakhir, Yash!" atau seruan ragu-ragu dari wajah merah mereka,
"Ah-ya, boleh aku minta nomor teleponmu?" Yashinta hanya melotot.
Saat itu tidak ada yang tahu, kalau bertahun-tahun terakhir Yashinta amat membenci
kelakuan teman lelakinya sibuk mencari perhatian. Apakah mereka akan tetap sibuk mencari
perhatian jika wajah dan fisiknya seperti Kak Laisa? Omong-kosong. Mereka tidak benarbenar
menyukai dirinya.
Menyukai apa-adanya. Mereka hanya menyukai tampilan fisik dan wajah. Seperti seekor
lebah tertarik atas indahnya kelopak bunga. Seperti seekor rubah yang tertarik pasangannya
karena bau tubuhnya. Maka hewan-lah sejatinya perangai mereka. Beruntung, tidak ada yang
terlalu memperhatikan tatapan benci Yashinta.
Perkebunan strawberry malam itu terang benderang.
Kak Laisa sama seperti saat kelulusan Dalimunte, Ikanuri dan Wibisana, merayakan
kelulusan Yashinta di hamparan halaman rumah pangung. Mengundang tetangga. Semua
berkumpul. Meriah. Meja-meja panjang tersusun rapi. Kursi-kursi dipenuhi wajah riang.
Makanan terhampar.... Hingga pukul sembilan ketika anak-anak mulai lelah berlarian, ketika
malam beranjak matang, keramaian mulai berkurang. Tetangga satu persatu beranjak pulang.
Menatap Mamak dan Kak Laisa dengan tatapan kagum dan hormat. Lihatlah, anak-anak di
keluarga ini berhasil menyelesaikan sekolah tingginya.Sarjana, Dalimunte malah lulusan S3,
doktor, sekolah luar negeri. Tidak pernah terbayangkan, anak-anak yatim, yang sejak kecil
ditinggal Babak karena mati diterkam harimau sekarang sudah besar-besar, berpendidikan.
Wak Burhan yang terlihat paling bahagia. Menebar senyum. Menepuk bahu Dalimunte
berkali-kali, berkata lebar,
" Aku sudah menduga. Aku sudah menduganya dari dulu!"



ISTRI KEDUA

"HALLO PROFESSOR, kami sudah di Singapore. Ya. Transit sebentar. Lima belas menit
lagi langsung ke Jakarta. Apa? Oh, ?sudah! Tiketnya sudah diurus staf pabrik.... Kami
berangkat ke Ibukota provinsi sore ini juga.... Jika tidak ada delay, bilang Mamak kami akan
tiba nanti malam, mungkin menjelang tengah malam. Apa? Jemputan? Tidak usah, aku akan
pakai mobil modifikasi bengkel di sana saja. Itu lebih cepat. Ya? Lebih cepat, Professor—"
Ikanuri tetap saja harus berteriak-teriak, meski tidak ada lagi badai seperti di Pegunungan
Alpen Swiss, semalam. Ruang tunggu bandara internasional Singapore itu ramai. Bising lalulalang
penumpang sudah macam deru hujan deras saja, belum lagi teng-tong-teng
pengumuman.
Mereka ahirnya tiba setelah penerbangan non-stop dua belas jam: Perancis-Singapore.
Sudah siang. Matahari tiba di garis tertingginya. Setelah hampir sehari semalam tidak
menyentuh makanan, Wibisana memaksakan diri mampir ke salah satu kedai fast-food
bandara. Sambil menunggu pesawat berikutnya. Wajah mereka kuyu, kurang istirahat. bit lag
pula. Bolak-balik melangkahi perbedaan waktu hampir belasan jam membuat pusing kepala.
Merusak bio-ritme. Rambut semrawut. Kemeja berantakan. Malah salah satu kaki celana
panjang Ikanuri tergulung sembarangan. Habis shalat dhuzhur, lupa dirapikan. Meletakkan
tas laptop dan barang bawaan sembarang di sekitar meja makan.
"Tidak. Aku tidak tahu.... BELUM! Apa? Aku sudah puluhan kali menelepon HP satelit
Yashinta. Dasar sialan. Kemana pula anak ini sekarang.... Jangan. Jangan bilang Kak Laisa
kalau HP Yashinta tidak bisa dihubungi. Ya Allah, itu akan membuatnya berpikiran yang
tidak-tidak. Kau tidak boleh bilang.... Tentu saja aku sekarang ikut cemas, Profesor! Ikanuri
mengusap dahi. Sedikit sebal dengan intonasi suara Dalimunte.
Pelayan mengantarkan kue donut besar-besar. Wibisana yang sedang menatap adiknya
bicara via telepon genggam dengan Dalimunte di perkebunan strawberry mengalihkan
tatapan. Aroma kue itu cukup mengundang, meski mereka tetap tidak berselera makan.
Menelan ludah. Kalau saja ada Juwita, Delima, dan Intan, ketiga anak-anak nakal itu pasti
bisa menghabiskan menu ini dalam sekejap, satu menit. Itu bahkan sudah termasuk waktu
yang dibutuhkan untuk bertengkar. Berebutan.
"Tadi aku sudah menelepon Goughsky. Dia juga kebetulan sedang di sekitar Semeru. Biar dia
yang mencari kemana anak itu. Apa? Semoga tidak.... Semoga tidak, Dali. Yashinta pasti
baik-baik saja. Kau berlebihan. ANAK ITU SUDAH MENDAKI 27 GUNUNG DI
SELURUH DUNIA .... SEMUA BAIK-BAIK SAJA! Baiklah, bilang Mamak dan Kak Laisa
kami paling telat akan tiba malam ini...."
Ikanuri meletakkan telepon genggam di atas meja. Meski wajahnya terlihat kusut dan cemas,
sedetik kemudian dia akhimya bisa tersenyum.
"Apa kata Dali?" Wibisana bertanya.
"Kak Laisa sudah membaik. Pagi tadi sudah bisa shalat Shubuh sambil duduk. Dokter bilang,
ada sedikit kemajuan." Wibisana ikut tersenyum, lega,
"Apa kubilang, Kak Laisa akan baik-baik saja. la akan baik-baik saja—"
"Tapi kata dokter, kanker paru-parunya sudah stadium IV ,"
Ikanuri menelan ludah. Senyumnya terhapus.Stadium IV? Itu berarti tak ada lagi
kemungkinan untuk operasi. Terdiam. Wibisana melepaskan kue donut yang dipegangnya.
Bagaimana mungkin mereka selama ini tidak tahu?
Umur Laisa hampir empat puluh (tepatnya tiga puluh tujuh tahun) ketika akhirnya
kesempatan baik itu datang. Kesempatan baik?
" Kau sungguh-sungguh?" Dalimunte bertanya sekali lagi.
"Tentu saja, Dali. Istriku juga sudah melihat foto dan bio-data Laisa. Itu akan jadi pilihan
yang baik dalam urusan ini—" Tersenyum. Kolega riset Dalimunte di laboratorium itu
tersenyum tulus.
Istriku? Nah inilah yang sedikit menjadi masalah. Kolega Dalimunte tersebut, calon jodoh
Kak Laisa kali ini, sudah beristri. Umurnya juga sudah empat puluh. Mereka sudah menikah
lima belas tahun, dan kabar buruknya hingga hari ini belum mendapatkan anak juga.
Istrinya, yang memiliki masalah dengan rahim dan kesuburan, memberikan kesempatan
kepada suaminya untuk menikah lagi.
Dalimunte tahu persis kalau rekan kerjanya tersebut sedang mencari istri kedua. Tapi
butuh tiga bulan untuk meyakinkan, hingga akhimya menyebutkan nama Kak Laisa ke rekan
kerjanya tersebut. Kak Laisa menjadi istri kedua? Sungguh awalnya Dalimunte tidak bisa
membayangkan. Tetapi lihatlah, mungkin itu jalan keluar yang baik semua urusan ini. Setelah
berbicara banyak dengan Cie Hui, diam-diam juga bicara dengan Wak Burhan dan Mamak
saat jadwal rutin pulang dua bulan sekali. Keputusan itu diambil.
"Sudah menjadi kodrat manusia hidup berkeluarga, Dali. Menjadi istri kedua, ketiga atau
keempat tidak selalu pilihan yang buruk seperti yang dibayangkan banyak orang ini. Jika ada
alasan yang baik, penjelasan yang baik, itu bisa menjadi jalan keluar yang bijak, bukan?
Allah membolehkan seorang lelaki memiliki empat istri dalam waktu bersamaan jika dia bisa
berlaku adil, tentu karena ada alasan baiknya Allah menyimpan banyak sekali rahasia dalam
sebuah pernikahan...." Wak Burhan menghela nafas.
"Kalau Kakakmu tidak berkeberatan, Mamak hanya bisa bilang ya,"
Mamak memperbaiki tudung kepala (setelah terdiam lama),
"Kau bicarakan dulu baik-baik dengan Laisa. Sampaikan dengan baik-baik...."
Maka Dalimunte segera kembali ke ibukota. Dia berfikir lebih baik berbicara dengan
kolega risetnya lebih dulu. Jika semuanya baik, memastikan kolega risetnya
tidakberkeberatan dulu dengan tampilan wajah dan fisik Kak Laisa, maka lebih mudah
membicarakannya lebih lanjut dengati Laisa. Dan kabar baik itu benar-benar tiba. Rekan
kerjanya 100% tidak keberatan meski telah melihat foto Kak Laisa. Istri pertamanya juga
tidak keberatan.
"Kau tahu, justru istrikulah yang menyarankan aku menikah lagi."
Rekan kerja Dalimunte menatap lamat-lamat wajah istrinya yang duduk di sebelahnya. Itu
kunjungan ketiga Dalimunte ke rumah mereka yang asri, sepelemparan batu dari rumah
Dalimunte dan Cie Hui.
"Aku mencintai isteriku. Amat mencintainya. Jika saja ia bisa melahirkan anak-anak kami....
Aku sungguh tidak pernah bisa membayangkan harus menikah lagi—"
Pasangan itu saling menggenggam tangan. Dalimunte tersenyum menatapnya. Ini
mungkin jalan keluar yang baik. Menyelesaikan masalah keluarga mereka, sekaligus
menyelesaikan masalah Kak Laisa. Wak Burhan benar, jika ada alasan yang baik, tidak selalu
poligami itu buruk.
"Aku akan mencintai Laisa dengan baik, Dali. Akan menjadi suami yang adil. Meski amat
susah membayangkan harus membagi cintaku.... Semoga ia tidak keberatan menjadi istri
kedua.... Semoga ia memberi kesempatan padaku untuk belajar dalam proses sulit ini. Ia
sungguh pilihan yang baik. Isttriku menyetujuinya, dan aku sudah berjanji kepada istriku,
akan membuat pernikahan-pernikahan kami bahagia.... Bilang kepada Mamak dan Laisa,
kami akan datang memperkenalkan diri minggu depan. Kami akan melamar Laisa."
Maka Dalimunte, demi mendengar kalimat hebat tersebut, segera kembali ke perkebunan
strawberry. Sekarang menyelesaikan bagian penting berikutnya. Menjelaskan kepada Kak
Laisa tentang: posisi istri kedua.
Hamster belang itu mengangkat-angkat kepalanya. Berjinjit. Kedua kaki depannya
memegang erat-erat buah strawberry matang. Menggigit. Menjilat. Lucu sekali melihatnya
sibuk menaklukkan buah merah tersebut. Intan duduk di sebelah Wak Laisa, tertawa. Juga
juwita dan Delima. Ranjang besar itu besar, menyisakan ruang yang cukup buat berempat.
"Wawak sudah mendingan?"
Sejenak Juwita menolehkan kepala, menatap Wak Laisa yang ikut tersenyum. Menonton
kelakuan Rio, hamster belang Intan.
Laisa mengangguk. Pagi ini ia merasa lebih kuat (seperti dulu, meski fisiknya sakit,
semangat yang tinggi selalu memberikan kekuatan, kehadiran tiga sigung kecil ini juga
membuat Kak Laisa kembali merasa kuat, meski entah hingga kapan). Bosan jadi pusat
perhatian, dan sebal karena buah strawberry tidak mudah digigit, hamster itu melempar buah
strawberry sembarangan, lantas dengan cuek loncat turun dari tempat tidur,
"Wawak haus? Intan ambilin minum buat Wawak, ya?"
Wak Laisa mengangguk. Gadis kecil sembilan tahuti ini turun, melangkah keluar
ruangan. Eyang Lainuri duduk di kursi tengah ruangan, juga Dalimunte. Cie Hui, Wulan dan
Jasmine ada di ruang belakang, mengurus dapur dan sebagainya. Tetangga masih berkumpul.
Cemas menunggu kabar sakitnya Laisa. Mereka belum mengaji yasin lagi. Kabar
membaiknya Laisa membuat situasi rumah sedikit riang> Cie Hui memutuskan membuat
makan besar. Dibantu anak gadis tetangga lainnya. Tetangga sekitar yang berkumpul sejak
dua hari lalu pasti tidak sempat masak di rumah. Mereka bahkan menghentikan aktivitas
sehari-hari.
"Yee, Kak Intan ngapain pula bawa gelang-gelang ini? Juwita dan Delima hampir berseru
berbarengan saat Intan kembali sambil membawa nampan air minum ( dengan beberapa
gelang "Safe The Planet"-nya).
"Nih, buat kalian—" Intan melotot, menyerahkan dua gelang.
"Mending gratis."
Mulut Juwita kumur-kumur protes. Orang dibayar lima ribu saja mereka tetap tidak mau
pakai. Lah, ini justru disuruh bayar lima ribu. Delima ikut-ikutan malas menerimanya. Tapi
daripada nanti Kak Intan marah-marah, terus nyubit perut. Mending ngalah. Nanti kan
sembunyi-sembunyi bisa dilepas.
Kak Laisa yang berbaring bersandarkan bantal tertawa kecil. Juwita dan Delima benarbenar
mirip kedua ayahnya. Dulu meski bandel, melihat kelakuan Ikanuri dan Wibisana
sungguh memberikan semangat hidup baginya. Meski keras kepala, selalu membantah, kedua
sigung kecil itu membuat masa kecil dan remajanya yang sulit dan penuh kerja keras,
menjadi berwarna dan berisik sepanjang hari.
Mereka sejak dulu, selalu menjadi adik-adik yang baik. Hanya soal bagaimana mereka
menunjukkannya saja yang sedikit berbeda dengan anak-anak lain. Mereka hanya menuntut
perhatian. Sayangnya, Mamak setiap hari sibuk bekerja. Juga dirinya. Kebersamaan di rumah
hanya ada lepas maghrib, itupun dengan wajah-wajah lelah. Maka dua sigung kecil itu juga
sibuk mencari perhatian. Nakal.
Ikanuri dan Wibisana sejak dulu memang beda, dan sekarang tabiat jahil mereka
sempurna diwarisi oleh Juwita dan Delima.



KODRAT MANUSIA

"JIKA ada seseorang yang tidak mempermasalahkan usia, dan apapun dari Kakak.... Jika ada
seseorang yang tetap bersedia menikah walau telah melihat foto-foto Kakak.... Namun,
namun...."
"Katakan saja, Dali. Langsung ke pokok permasalahan."
Kak Laisa memotong lembut, menatap wajah adiknya lamat-lamat. Bukan sekali dua ini
mereka membicarakan urusan perjodohan. Bukan pula sekali dua ini mereka melakukan
pembicaraan di lereng perkebunan strawbery saat malam tiba di penghujungnya. Ia amat
mengenal intonasi, mimik muka, bahkan helaan nafas Dalimunte saat bicara. Jadi kenapa
adiknya harus merasa amat sungkan.
"Katakan saja, Dali. Namun kenapa?"
Kak Laisa bertanya sekali lagi, memegang lengan adiknya. Tingginya hanya sedada
Dalimunte. Hamparan buah strawberry terlihat remang di bawah cahaya rembulan. Jadwal
pulang dua bulanan mereka. Semuanya berkumpul, kecuali Yashinta, yang masih kuliah di
Belanda. Hanya menelepon saat mereka ramai duduk di beranda rumah panggung.
"Dali yakin dia pilihan yang baik. Jodoh yang baik.... Dia teman riset Dali di lab. Umurnya
empat puluh. Saleh. Berakhlak baik. Dari keluarga yang baik. Namun..."
Dalimunte menelan ludah. Deskripsi yang penuh informasi dalam satu tarikan nafas itu
terhenti.
Kak Laisa tersenyum, namun apa?
"Dia sudah menikah.... Maksud Dali, mereka sudah lima belas tahun menikah, dan istrinya
tidak bisa mengandung. Istrinya yang meminta dia menikah lagi.... Maksud Dali, mereka
sudah melihat foto dan bio-data Kakak. Istrinya juga sudah setuju.... Mereka benar-benar
keluarga yang menyenangkan, keluarga yang bahagia.... Dia berjanji akan mencintai Kak
Laisa dengan baik, istrinya juga berjanji akan menerima Kak Laisa dengan baik...."
Dalimunte menghela nafas. Terhenti sejenak. Setelah tertahan, penjelasan itu akhirnya
meluncur bagai bebat air yang jebol,
Lengang,
Hanya terdengar suara burung hantu di kejauhan.
"Dia sudah menikah.... Maksud Dali, apakah Kak Laisa bersedia jadi istri kedua?" Dalimunte
bertanya ragu-ragu. Meski dengan intonasi suara yang lebih baik. Lebih jelas.
Sekali lagi hanya lengang.
Dan sungguh tidak ada keputusan malam itu.
Kak Laisa hanya tepekur. Tertunduk menatap ribuan polybag strawberry yang
membentang luas memenuhi lereng lembah. Entahlah apa yang dipikirkan Kak Laisa. Entah
apa yang sedang berkecamuk di kepalanya. Dalimunte ikutan terdiam. Tidak bertanya lagi.
Urusan ini tentu saja tidak mudah. Istri kedua? Apakah ada wanita di dunia ini yang dengan
mudah memutuskan menjadi istri kedua? Meski dengan banyak alasan bijak. Apakah harga
diri Kak Laisa terganggu dengan pertanyaan itu? Setelah sekian lama tidak mendapatkan

jodoh, setelah sekian lama ditolak baik secara halus atau kasar sekalian, pilihan yang tersedia
baginya ternyata hanya istri kedua? Ya Allah?
Hanya lengang. Tidak ada keputusan malam itu.
Dan juga tidak malam-malam berikutnya saat jadwal pulang.
Mamak tak kuasa membantu Dalimunte memberikan penjelasan kepada Kak Laisa. Wak
Burhan juga meski dulu amat yakin bahwa solusi yang baik bagi Laisa dalam urusan ini
adalah menjadi istri kedua juga tidak bisa membantu banyak. Ikanuri dan Wibisana yang
akhirnya tahu masalah itu dari Dalimunte juga diam. Menelan ludah. Dalimunte sengaja tidak
memberitahu Yashinta, karena pasti adik terkecil mereka akan menolak mentah-mentah
pilihan tersebut.
Empat bulan berlalu, Dalimunte terpaksa berbohong kepada rekan risetnya saat dia
mulai meminta jawaban,
"Kak Laisa membutuhkan waktu lama untuk memutuskan. Aku tidak tahu berapa lama
lagi...."
Kabar baiknya, rekan riset Dalimunte tidak terlalu mendesak,
"Tak masalah, Dali. Laisa memang harus memikirkannya matang-matang. Tidak hanya
persiapan dirinya sendiri, tapi ia juga harus mempersiapkan diri bagaimana tetangga sekitar
akan menilainya... Kau tahu, untuk tiba di keputusan menikah lagi, kami berdua memerlukan
waktu hampir lima tahun. Jadi aku bisa menunggu kabar baik dari Kak Laisa beberapa bulan
lagi,"
Tersenyum. Itu kunjungan ke sekian kali Dalimunte ke keluarga itu. Kali ini bersama Cie
Hui. Bagaimana tetangga sekitar akan menilainya? Dalimunte terdiam lama, menelan ludah.
Urusan ini jelas-jelas tidak lazim di Lembah Lahambay. Gadis tua saja sudah menjadi aib.
Dilintas adiknya menikah pula. Dan sekarang satu lagi status baru Kak Laisa: istri kedua. Itu
benar-benar tidak lazim.
Meski bukan jadwal rutin seharusnya, Dalimunte, Ikanuri dan Wibisana pulang lagi ke
lembah satu minggu kemudian. Wak Burhan meninggal. Di usia 88 tahun. Proses kematian
yang indah. Tanpa sakit. Tanpa proses. Wak Burhan meninggal saat sujud shalat shubuh di
surau. Membuat jamaah bingung karena imam mereka tidak kunjung bangkit untuk duduk
tasyahud akhir. Ternyata Wak Burhan yang suara kerasnya selalu menghias Lembah
Lahambay sudah meninggal. Yashinta yang sejak kecil dulu amat dekat dengan Wak Burhan
(karena sering mengadu soal Kak Laisa) ingin memaksakan diri pulang. Tapi Dalimunte
melarang, Yashinta sedang melakukan riset S2-nya.
"Kata Mamak tadi sebenarnya tidak ada yang tahu berapa persis umur Wak Burhan.... Nisan
itu hanya sembarang menulis tahun lahir.... Mamak pun tidak tahu."
Kak Laisa memecah sunyi lereng perkebunan. Jadwal bicara mereka penghujung malam.
"Bagaimana Mamak akan tahu? Mamak saja tidak tahu kapan tahun lahirnya sendiri? Juga
tanggal lahir kita, bukan? " Dalimunte tertawa kecil. Bergurau. Itu benar, waktu mereka
mendaftar sekolah dulu, mereka mengisi sembarang kolom tanggal lahir. Mamak dan
kebiasaan penduduk lembah, selalulalai untuk mencatat tanggal lahir. Mereka hanya ingat si
anu lahir saat musim tanam tahun kapan. Musim penghujan tahun kapan, musim paceklik,
dan seterusnya. Tidak ada yang mencatat detail hingga hari dan bulan.
"Wak Burhan terlihat senang sekali tahun-tahun terakhir meski hidup sendiri.... Dia bangga
sekali dengan penghidupan pang baik di lembah. Dia juga bangga sekali denganmu,
Dalimunte. Berkali-kali bilang ke anak-anak yang belajar ngaji di surau soal pentingnya
sekolah, 'Biar kalian bisa jadi Oom Dalimunte yang hebat. Sering masuk tipi' — "
Kak Laisa tersenyum, menatap langit cerah, mengenang masa-masa lalu itu.
Semua penduduk lembah tahu, Wak Burhan meski menikah dua kali, hampir
menghabiskan hidupnya sendiri. Istri muda (istri kedua) Wak Burhan yang dulu menikah di
usia tujuh puluhan sudah meninggal lima tahun silam. Anak satu-satunya dari istri pertama
juga meninggal di usia muda. Diterkam penguasaGunung Kendeng.
"Aku ingat sekali kata-katanya, yang selalu diucapkan setiap kali bertandang ke rumah,
bercakap-cakap dengan Mamak, 'Meski terlahir sendiri, sudah menjadi kodrat manusia untuk
berketuarga, memiliki tempat untuk berbagi, memiliki teman hidup'..."
Kak Laisa mendadak terhenti.
Menghela nafas.
Dalimunte yang berdiri di sebelahnya menoleh. Dia juga pernah mendengar kalimat itu
dari Wak Burhan. Sudah hampir lima bulan mereka tidak membicarakan perjodohan itu.
Sungkan. Dalimunte takut menyinggung perasaan Kak Laisa. Malam ini? Dalimunte ikut
menghela nafas panjang. Malam ini mungkin tidak membicarakan hal itu setelah kematian
Wak Burhan.
"Apakah, ergh, apakah Kak Laisa enggan dengan sebutan istri kedua? Maksud Dali, apakah
Kak Laisa khawatir dengan penilaian tetangga sekitar?" Setelah berdiam diri satu sama lain,
Dalimunte akhirnya memutuskan untuk membicarakan hal tersebut. Mungkin ini saat yang
tepat.
Kak Laisa menoleh. Menatap wajah Dalimunte lamat-lamat,
"Tentu tidak, Dali. Bukankah dulu Kakak pernah bilang: buat apa kau memikirkan apa yang
dipikirkan orang lain, buat apa kau mencemaskan apa yang akan dinilai orang lain... Tentu
saja bukan itu masalahnya."
"Lantas, maksud Dali, mengapa Kak Laisa tidak kunjung mengambil keputusan? Setidaknya
untuk bilang ya atau tidak.... Wak Burhan dulu pernah bilang, jika ada alasan baiknya,
menjadi istri kedua tidaklah selalu buruk. Dia pilihan yang baik buat Kak Laisa. Istrinya juga
mengijinkan.... Dan Dali yakin sekali, mereka juga akan menjadi bagian yang tepat bagi
keluarga kita...."
Kak Laisa diam sejenak.
Membiarkan angin pagi menelislk rambut gimbalnya.
Dingin.
"Setiap kali menatap hamparan perkebunan strawberry ini, aku selalu merasa, Allah amat
baik kepada kita.... Kau tahu Dali, setiap kali mendengar kabar kalian. Mendengar apa yang
telah kalian lakukan. Aku merasa, Allah benar-benar baik kepada kita. Kakak sungguh
merasa cukup dengan semua ini.... Umurku hampir empat puluh tahun, Dali. Setelah sekian
lama jodoh itu tidak pernah datang, aku pikir itu bukan masalah besar lagi.... Mungkin benar
sudah menjadi kodrat manusia untuk menikah, berkeluarga. Mungkin Wak Burhan benar.
Tapi itu tidak pernah menjadi sebuah kewajiban, kan.... Sejak lama aku sudah bisa menerima
kenyataan jika memang menjadi takdirku hidup sendiri, jika memang tak ada lelaki yang
menyukai tampilan wajah dan fisik. Keterbatasan ini
"Ah, Allah sudah amat baik dengan memberikan kalian, adik-adik yang hebat. Keluarga kita.
Perkebunan ini, Kakak sungguh sudah merasa cukup dengan semua itu...."
Kak Laisa menghela nafas, terdiam lagi.
"Apakah Kakak tetap menginginkan menikah? Tentu saja, Dali. Namun jika perjodohan itu
harus datang, Kakak tidak ingin proses itu justru mengganggu kebahagiaan yang sudah ada.
Bukan karena sebutan istri kedua itu, Dali, Bukan pula karena cemas apa yang akan
dipikirkan tetangga. Tetapi Kakak tidak mau pernikahan itu menganggu kebahagiaan yang
telah ada...."
Malam itu setelah bicara hingga shubuh. Saat adzan terdengar dari surau (entahlah siapa
yang mengumandangkan adzan tersebut sekarang). Akhirnya keputusan itu diambil.
Dalimunte akhirnya mengerti mengapa begitu lama keputusan itu terbelengkalai, Kak Laisa
enggan menyakiti perasaan istri pertama calon perjodohan ini. Butuh berkali-kali
menyakinkan Kak Laisa kalau pernikahan itu justru karena permintaan istri pertama.
Sungguh tak akan ada yang tersakiti. Tentu saja, di hati paling dalam istri pertama proses ini
mungkin akan menyakitinya karena ia tetap manusia yang memiliki perasaan, tapi kasus ini
amat berbeda. Mungkin inilah solusi terbaik buat dua masalah yang bersisian.
Shubuh itu akhirnya keputusan penting itu berhasil diambil.



AKU AMAT MENCINTAINYA

KAK LAISA terlihat gugup sepanjang pagi (bahkan sebenarnya sejak semalam). Meski ia
berusaha menyembunyikannya dengan menyibukkan diri, memastikan semua baik-baik saja,
wajahnya yang memerah tak bisa menyembunyikan perasaan
Dua minggu sejak kematian Wak Burhan. Selepas pembicaraari penting shubuh itu,
Dalimunte menyerahkan foto - f oto dan profile rekan risetnya. Juga foto istri pertamanya.
Menceritakan banyak hal. Menjawab banyak pertanyaan. Lantas Laisa mengangguk,
mempersilahkan mereka segera datang untuk saling berkenalan.
Siang ini rombongan dari ibukota akan tiba.
Yang lain juga pulang, Hari ini penting bagi keluarga mereka. Ikanuri dan Wibisana lebih
dulu pulang. Mereka sekarang sudah memiliki bengkel besar di kota seberang pulau, bengkel
yang di kota provinsi diurus orang kepercayaan Mereka. Yashinta tetap tidak bisa pulang,
semakin sibuk dengan penelitian tahun terakhir S2-nya. Tapi ia menyempatkan menelepon
berkali-kali. Telepon pertama penuh dengan rajuk keberatan. Bagaimanalah Kak Laisa akan
menjadi istri kedua? Ya Allah, apakah Kak Laisa harus melemparkan harga dirinya?
Merendahkan martabatnya menjadi istri kedua? Dalimunte bahkan sampai marah
menjelaskan banyak alasan. Telepon kedua, ketiga dan berikutnya lebih banyak diam (meski
tetap merajuk). Dan akhirnya menangis tersedu saat Kak Laisa sendiri yang menjelaskan
keputusan itu. "Kalau Yash tidak suka, Kakak akan membatalkannya, sayang. Sungguh, kalau
Yash tidak setuju — "
Yashinta yang menelepon dari apartemennya di Belanda menyeka pipi.
Ia tidak akan pernah membantah Kak Lais, Dulu tidak, apalagi sekarang.
Menjelang dzhuhur, dua kijang kapsul jemputan pengalengan buah strawberry itu tiba.
Kak Laisa berkali-kali memperbaiki kerudungnya. Berkali-kali merapikan pakaian. Ia amat
gugup. Mamak hanya tersenyum simpul. Mengenggam jemari Laisa. Menenangkan. Berbisik,
semua akan baik-baik saja, Lais.
Dan urusan sepanjang siang itu berjaian lancar, tidak sesulit yang dicemaskan Laisa.
Rekan riset Dalimunte hanya datang seorang diri. Istrinya sakit, sudah dua hari mual dan
muntah. Terlalu lemah untuk melakukan perjalanan jauh. Rekan Dalimunte pandai
menempatkan diri dalam urusan tersebut. Melontarkan humor dan pujian yang baik.
"Aku akhirnya mengerti bagaimana Dalimunte bisa menjadi ahli fisika yang hebat.... Tapi
kau tidak lagi masih dipukul Laisa dengan rotan, bukan?"
Tertawa. Membuat suasana tegang mencair dengan cepat. Cie Hui juga membantu banyak
Kak Laisa. Pertemuan itu tidak semenakutkan yang dipikirkan Laisa. Justru berjalan
menyenangkan.
Mereka shalat dzhuhur sebelum melakukan pembicaraan. Menghabiskan makan siang.
Mengelilingi perkebunan strawberry. Dalimunte benar, inilah kesempatan terbaik Kak Laisa.
Rekan risetnya pilihan yang tepat. Dia sama sekali tidak mempersalahkan tampilan wajah dan
fisik Kak Laisa.
"Bagiku kau secantik apa yang kau kerjakan untuk lembah ini, Lais!"
Menatap penuh penghargaan. Ah, dalam banyak kasus, kesalehan seseorang memang tidak
bisa diukur dari tampilan mulut, tulisan dan apalagi pakaian. Dan kebersamaan sepanjang
siang (bersama-sama dengan yang lain) itu sudah menjadi proses perkenalan yang baik.
Memahami visi dan misi berkeluarga masing-masing. Memahami cara berpikir masing
masing. Maka memang tidak perlu lagi pembicaraan formal. Semuanya berjalan santai.
Mengalir.
Apa adanya.
Sekali dua, Kak Laisa memberanikan diri melirik rekan kerja Dalimunte. Memerah
mukanya. Bersitatap satu sama lain. Lebih tersipu lagi. Ikanuri dan Wibisana, kabar baiknya
sedang alim, mereka tidak sibuk menggoda Kak Laisa yang tersipu. Dalimunte hanya
tersenyum lega, Kak Laisa akhirnya berkesempatan merasakan romantisme perasaan itu.
Selepas shalat isya, lepas menghabiskan makan malam di depan, sambil memandang
hamparan perkebunan strawberry yang remang oleh cahaya lampu, rekan riset Dalimunte
akhirnya menyampaikan maksud dan tujuannya dengan serius. Menatap wajah Kak Laisa
sambil tersenyum,
"Laisa mungkin sudah mendengar beberapa hal tentang aku, sudah tahu beberapa tabiat,
perangai.... Hari ini aku datang memperkenalkan diri secara langsung, sekaligus ingin
mengenal secara langsung. Terus terang, aku merasa amat diterima di keluarga ini.... Kalau
saja istriku bisa datang, ia pasti akan lebih senang dariku...."
Rekan kerja Dalimunte memberikan hadiah dari istrinya untuk Laisa. Seperangkat kain
bordiran. Kak Laisa tersenyum malu.
"Aku amat mencintai istriku, tidak pernah sekalipun terlintas untuk menikah lagi, tapi aku
berjanji, jika urusan ini berjalan sesuai yang direncanakan, aku akan belajar banyak
bagaimana membagi cinta dengan adil.... Dan aku berharap Laisa bisa memberikan
kesempatan untuk melakukannya, menjalani prosesnya dengan indah dan baik.... Aku
sungguh ingin meneruskan proses ini...."
Malam itu sepertinya urusan benar-benar akan berjalan sesuai yang direncanakan. Meski
berusaha untuk tetap terkendali seperti selama ini, muka tersipu dan memerah tidak bisa
menyembunyikan perasaan Kak Laisa. Mamak Lainuri juga tersenyum bahagia. Malam itu
sepertinya kabar baik itu benar-benar tiba.
Tetapi Allah ternyata memiliki rencana lain.
Yang sungguh membuat semua kebahagiaan sesaat itu lenyap tak berbekas. Malam itu,
Kak Laisa untuk pertama kalinya tidak menghabiskan penghujung malam dengan berdiri di
hamparan perkebunan. Ia tertidur lelap di kamarnya. Juga yang lain. Tapi kesunyian lembah
mendadak robek oleh telepon dini hari. Dari rumah sakit ibukota.
Istri rekan kerja Dalimunte yang sudah dua hari terbaring lemah dilarikan ke rumah sakit
dua jam lalu. Kondisinyn memburuk. Tapi bukan soal sakitnya yang merusak rencana. Kata
dokter ia hanya lelah dan terlampau banyak pikiran. Anemia, penyakit kebanyakan ibu-ibu
lainnya. Hanya perlu istrirahat total selama sebulan. Yang membuat semuanya mendadak
berubah haluan seratus delapan puluh derajat adalah saat dokter memeriksa secara
menyeluruh, ternyata istri rekan riset Dalimunte sedang hamil muda.
Gugup rekan kerja Dalimunte mendengar berita itu. Rasa senang. Rasa cemas. Entahlah.
Buncah jadi satu. Kabar bahagia yang mereka tunggu selama lima belas tahun akhirnya tiba.
Gugup membangunkan Dalimunte. Memutuskan pulang segera ke ibukota. Gugup
menjelaskan kabar bahagia tersebut ke Mamak dan Kak Laisa. Awalnya tidak ada yang
memikirkan kalau kabar bahagia itu akan memiliki banyak implikasi penting. Tidak ada.
Ikanuri dan Wibisana menawarkan diri segera mengantar ke kota provinsi, agar bisa naik
pesawat siang ini yang menuju ibukota.
Tidak ada yang berpikir tidak-tidak.
Hanya Kak Laisa yang berdiri di daun pintu, menatap kosong mobil yang dikemudikan
Ikanuri membelah lengangnya shubuh Lembah Lahambay. Cahaya lampunya menghilang di
tikungan Sana, seiring dengan menghilangnya cahaya mata Kak Laisa yang merekah bahagia
dua puluh empat jam terakhir.
Kabar baik itu, ternyata bagai pisau bermata dua.
"Sungguh maafkan, Dali—" Dalimunte tertunduk lama sekali.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan—"
Kak Laisa menggenggam erat lengan Dalimunte, menenangkan. Meski suara itu sebenarnya
sedikit berbeda dari biasanya. Serak. Bergetar.
Malam ini, satu bulan sejak kunjungan rekan kerja Dalimunte ke perkebunan strawberry.
Satu bulan yang berjalan menyedihkan. Apa yang dibilang berkali-kali oleh rekan kerja
Dalimunte? Ia amat mencintai istrinya. Jika saja istrinya bisa mengandung anak-anaknya,
maka ia tidak akan menikah lagi. Ini semua bukan salahnya. Dan jelas bukan maunya kenapa
kabar baik tentang kehamilan tersebut justru tiba persis saat dia di titik serius untuk menikah
lagi (dengan Kak Laisa). Rekan kerja Dalimunte amat menyesal. Meminta maaf sungguhsungguh
saat tadi siang kembali berkunjung. Mencium jemari Mamak. Menatap Kak Laisa
penuh rasa sesal. Dengan hamilnya istrinya, dia tidak akan pernah tega untuk menikah lagi.
Meski isterinya mendesak untuk tetap meneruskan rencana tersebut, menenggang perasaan
Kak Laisa, tapi dia sungguh tidak bisa melakukannya.
"Apakah Kak Laisa kecewa?" Dalimunte tertunduk.
"Mungkin tidak," Laisa menjawab pelan, menggeleng,
"Kakak sudah terbiasa, Dali.... Esok lusa, kesibukan dan waktu akan membuatnya terlupakan.
Mungkin yang kali ini butuh waktu cukup lama. Membersihkan harapan-harapan yang
terlanjur datang."
Dalimunte menggigit bibir. Dia sama sekali tidak menyangka akan seperti ini jalan
ceritanya. Kesempatan baik itu? Dalimunte mengusap wajah kebasnya. Perjodohan yang
urung itu merubah banyak hal. Rekan kerjanya memutuskan berhenti dari lab. Mereka juga
pindah dari perumahan asri yang hanya sepelemparan batu dari rumah Dalimunte
"Aku merasa amat bersalah, Dali. Jadi biarkan aku pergi. Sekali lagi bilang Laisa, maafkan
aku. Maafkan bila proses ini telah menyakiti hatinya."
Itu kalimat terakhir saat rekan kerjanya pulang tadi sore. Diantar sopir perkebunan,
Bulan sabit tergantung elok di antara bintang-gemintang. Minggu-minggu ini panen besar
strawberry. Minggu-minggu ini harusnya menjadi saat yang menyenangkan bagi seluruh
warga kampung. Menjadi hari berpesta bagi Lembah Lahambay. Entahlah apa yang persisnya
ada di kepala Kak Laisa sekarang. Entahlah apa yang sedang berkecamuk di kepalanya.
Ternyata kesempatan terbaiknya itu juga berakhir menyedihkan.



ANGGOTA BARU KELUARGA

LAISA BENAR, waktu dan kesibukan perlahan akan mempu membuatnya melupakan
harapan-harapan yang terlanjur tumbuh. Setahun berlalu. Usianya sekarang menjejak 39,
Dalimunte 33, Wibisana hampir 31, Ikanuri 30, dan Yashinta 27. Mamak? Entahlah, tidak
ada yang tahu persis berapa usia Mamak Lainuri sekarang. Mamak hanya ingat, lahir pas
masa-masa pemberontakan revolusioner.
Setahun berlalu, di antara berbagai proses perjodohan Kak Laisa yang berjalan
menyakitkan, kabar baik tetap datang silih berganti. Cie Hui mengandung. Itu menjadi berita
besar Lembah mereka. Membuat rumah panggung itu buncah oleh kebahagiaan. Sekarang
sudah sembilan bulan. Dalimunte dan Cie Hui memutuskan untuk melahirkan di Lembah
Lahambay,
"Biar ia menjadi anak lembah ini. Biar ia bisa mencium segarnya udara lembah.... Biar ia bisa
menjejakkan kakinya di embun rerumputan...."
Begitu kata Cie Hui riang. Maka sudah seminggu ini mereka pulang ke perkebunan.
Menunggu hari H. Sejenak melupakan berbagai riset mutakhir Dalimunte di laboratorium.
Kabar baik kedua adalah: Yashinta akhirnya menyelesaikan pendidikan masternya.
Cumlaude. Lulusan terbaik. Ia jelas-jelas mewarisi kecerdasan Dalimunte, meski juga
mewarisi tabiat keras-kepala Ikanuri dan Wibisana. Hari ini tiba di kota provinsi setelah
penerbangan transit (Hongkong, Singapore dan Jakarta) dari Belanda. Benar-benar kebetulan
yang menyenangkan. Mamak dan Dalimunte menjemput di bandara. Sementara Kak Laisa
menemani Cie Hui di perkebunan.
Lihatlah, gadis itu terlihat begitu cantik saat keluar dari pintu kedatangan. Wajahnya
sedikit memerah di terpa matahari terik. Mengenakan sweater hijau. Dengan syal sewarna
Yashinta mirip sudah dengan putri-putri negeri bersalju. Kuncir rambut panjangnya
bergoyang-goyang. Sedikit berlari menghambur ke Mamak, berpelukan. Menangis. Dua
tahun lebih Yashinta tidak pulang. Hanya telepon. Jadi setelah sekian lama rasa rindu itu
menggumpal, pertemuan ini amat mengharukan, Dalimunte mengacak-acak rambut adiknya.
Tertawa (sebenarnya menahan rasa harunya).
Mereka tidak langsung berangkat meski Yashinta sudah tiba. Masih menunggu setengah
jam lagi. Pesawat dari kota seberang pulau, yang membawa Ikanuri dan Wibisana. Dua
sigung nakal itu juga pulang. Kejutan. Benar-benar kejutan saat dua sigung tersebut keluar
dari pintu kedatangan. Karena mereka tidak datang hanya berdua.
Ikanuri dan Wibisana sudah punya bengkel besar di kota seberang pulau. Malah menurut
Ikanuri beberapa waktu lalu, mereka merencanakan untuk mulai membuat pabrik spare-part,
suku cadang. Bisnis dan kehidupan mereka sudah amat matang. Beberapa tahun terakhir, Kak
Laisa juga sudah sering bertanya kapan mereka akan menikah. Sama seperti saat menasehati
Dalimunte dulu,
"Kalian tidak perlu menunggu kakak, tidak perlu— "
Berbeda dengan Dalimunte yang kisah cintanya diketahui massal satu keluarga (juga satu
lembah), Ikanuri dan Wibisana amat tertutup soal ini. Saat itu tidak ada yang tahu, dua sigung
nakal itu bahkan telah membuat calon pasangan masing-masing menunggu lebih lama
dibandingkan Cie Hui. Tanpa kepastian. Bahkan tanpa kesempatan sedikitpun untuk
mengenal keluarga di perkebunan strawberry.
Tidak ada yang pernah menyangka, dua sigung yang dulu amat bebal, keras kepala, dan
selalu melawan Kak Laisa, bertahun-tahun terakhir berkutat dengan masalah: tidak akan
menikah sebelum Kak Laisa menikah. Bagaimana mungkin Kak Laisa akan dilintas untuk
yang kedua dan ketiga kalinya? Itu benar-benar akan menyakiti perasaan Kak Laisa. Maka
mereka membuat calon pasangannya menunggu selama tujuh tahun terakhir ini. Dikenalkan
pun tidak. Lebih lama dibandingkan Dalimunte dan Cie Hui.
Namun sejak kejadian perjodohan yang urung itu. Calon pasangan mereka yang mulai
serius memaksa. Bahkan orang tua masing-masing juga ikutan meminta kepastian, hari ini,
benar-benar kejutan. Lihatlah, Ikanuri dan Wibisana datang bersama Wulan dan Jasmine.
Berjalan bersisian di pintu kedatangan bandara, mendekat. Membuat Dalimunte,Mamak, dan
Yashinta tercengang. Dua sigung itu akhirnya memutuskan memperkenalkan Wulan dan
Jasmine.
Maka lebih tercengang lagi saat ikanuri dan Wibisana bilang mereka sudah saling
mengenal sejak masih kuliah.
"Kalian tidak memberitahu kami soal hubungan kalian sudah selama itu?"
Dahi Dalimunte terlipat, menggelengkan kepala.
"Waktu Kak Ikanuri dan Kak Wibisana wisuda dulu, kenapa Yash tidak dikenalkan
sekalian?" Yashinta menyela.
Wibisana hanya mengangkat bahu. Ikanuri memegang stir mobil modifikasi hanya tertawa
kecil.Maka perjalanan enam jam menuju perkebunan benar-benar menjadi tidak terasa.
Banyak sekali potongan romantisme Dalimunte dan Cie Hui. Wulan dan Jasmin tipikal gadis
yang menyenangkan. Cantik. Berpendidikan. Dari keluarga yang terhormat. Mereka berdua
masih sepupu satu sama lain. Ikanuri dan Wibisana meski bukan saudara kembar, tapi
kesamaan diantara mereka melebihi kembar identik. Bukan hanya soal wajah dan tampilan
fisik yang sama (hanya dibedakan bekas luka di pelipis), cerita asmara mereka juga mirip.
Mengenal Wulan dan Jasmine di hari yang sama. Menyampaikan perasaan di hari yang sama.
Menghabiskan waktu bersama di hari yang sama. Di kejar orang tua Wulan dan Jasmine di
hari yang sama (karena mereka jahil bergaya pemuda benua amerika latin, bermain gitar,
bernyanyi keras-keras di depan pintu rumah Wulan dan Jasmine saat menyatakan perasaan).
Dan berbagai kesamaan lainnya.
Cerita-cerita itu membuat perjalanan menuju perkebunan strawberry ramai. Ramai oleh
celetukan Yashinta.
"Dulunya Yash pikir, tidak akan ada wanita di dunia ini yang menyukai Kak Ikanuri dan Kak
Wibisana. Ternyata masih ada ya—"
Yashinta nyengir, menggoda. Dan seperti biasa, tangan Ikanuri terangkat, bersiap menjitak.
Senja tiba, langit jingga, mobil balap modifikasi itu pelan memasuki hamparan perkebunan
strawberry.
Satu minggu berjalan meriah. Penuh seruan jahil nan menggoda Yashinta. Seruan Kak
Laisa yang senang melihat Wulan dan Jasmine. Penjelasan-penjelasan. Meski di sana-sini
bercampur dengan ketegangan. Cemas. Dan Rusuh. Cie Hui melahirkan di hari kelima
mereka berkumpul. Lebih cepat lima hari dari jadwal.
"Ini pasti gara-gara Yash terlalu banyak tertawa, anaknya jadi tak sabaran ingin keluar."
Ikanuri berlarian menghidupkan mobil, Dalimunte terhuyung menggendong Cie Hui. Dibantu
Wibisana.
Mereka sedang makan malam, seperti biasa ramai, jadi benar-benar terperanjat saat Cie
Hui merintih kesakitan. Ikanuri meneriaki Wulan dan Jasmine untuk menyiapkan peralatan
bayi (yang sudah disiapkan Kak Laisa beberapa hari lalu). Dalimunte berseru jengkel,
lupakan soal popok dan sebagainya itu, Cie Hui sudah amat kesakitan, bayi itu menendangnendang
kuat, meronta. Buat apa pula coba popok bayi saat ini?
Maka malam itu juga mobil balap modifikasi Ikanuri dan Wibisana melesat keluar dari
halaman rumah panggung. Tidak seperti waktu Yashinta dulu sakit parah, lereng itu sekarang
mudah saja didaki. Dan jelas tidak seperti wakru Yashinta sakit dulu, di kampung atas (jika
masih layak disebut kampung), sudah ada puskesmas, lengkap dengan dokter dan bidan.
Kesanalah mereka bergegas membawa Cie Hui.
Intan. Itu nama pemberian Kak Laisa. Sejak kecil Intan memang sudah terlihat bakatnya.
Tidak sabaran. Keras kepala. berisik. Suka mencari perhatian. Meski cerdas dan banyak akal.
Lahir setelah keras kepala tidak mau keluar-keluar juga. Setelah dua jam berkutat dengan
bukaan tujuh. Hampir saja Bidan menyerah. Hampir saja menyarankan untuk dibawa ke
rumah sakit di kota kabupaten untuk operasi caesar, bayi perempuan itu akhirnya nongol
begitu saja. Seperti sengaja membuat yang lain bete. Panik. Langsung menangis kencang.
Membuat cair seluruh ketegangan.
Dalimunte tidak pernah melihat Mamak sebahagia ini. Gemas, menciumi wajah merah
cucu tersayang, Intanl. Tersenyum riang sambil memperbaiki tudung kepala. Rambut Mamak
sudah memutih. Tapi lihatlah, wajahnya seperti lebih muda sepuluh tahun. Intan benar-benar
menguasai perhatian seluruh anggota keluarga. Dalimunte menghela nafas dalam. Kak Laisa
benar, dulu dia tidak seharusnya menunggu begitu lama untuk menikah. Mamak meski tidak
pernah bilang, selalu merindukan menimang cucu-cucunya. Intan membuat rumah panggung
itu lebih ramai. Lebih hidup. Teriakannya setiap pagi (atau setiap minta susu) membuat rusuh
yang lain.
Berebutan menggendong.
Maka seperti sudah mengerti saja, kalau lagi dicuekin, bayi kecil itu akan mulai sibuk
menangis keras-keras. Sengaja benar.



PERNIKAHAN KEDUA DAN KETIGA

SAYANGNYA, meski dengan semua pemahaman tersebut, dengan melihat sendiri semua
kenyataan itu (menyaksikan kebahagiaan Mamak saat menggendong Intan), Ikanuri dan
Wibisana sempurna mengulang kejadian sebelumnya. Mereka berdua membuat Wulan dan
Jasmine menunggu lebih lama lagi. Tetap tidak ada kepastian. Padahal setiap jadwal pulang
dua bulanan, Wulan dan Jasmine sekarang juga ikut pulang. Ikut menghabiskan hari di
perkebunan strawberry. Menjadi bagian anggota keluarga.
Enam bulanberlalu. Tetap tidak ada tanda-tanda hubungan mereka akan melangkah ke
tahapan yang lebih serius. Kak Laisa tidak hanya sekali mengajak bicara Ikanuri dan
Wibisana, soal melintas, tentang tidak usah menunggu. Sudah berkali-kiili. Tetapi kedua
sigung itu hanya mengangguk. Nyengir, lantas berkata ringan,
"Siapa pula yang akan menunggu Kak Lais? Kita hanya belum siap saja, kok. Kak Lais sok
ditunggu sih!!"
"Usia kalian sudah lebih dari tiga puluh tahun. Sudah memiliki pekerjaan yang baik.
Memiliki rumah. Sudah matang. Apa lagi yang kalian harus siapkan?" Kak Laisa ikut
tertawa, kembali bertanya serius. Ikanuri dan Wibisana lagi-lagi hanya menimpali sambil
bergurau. Yang justru sebenarnya malah menutupi masalah besar mereka berdua.
Dulu waktu kasus Dalimunte, mereka berdua sebenarnya tidak habis pikir bagaimana
mungkin Dalimunte harus menunggu begitu lama hingga akhirnya mengambil keputusan.
Mereka juga dulu begitu sebal saat harus mengantar malam-malam Cie Hui yang menangis
pulang ke kota kecamatan. Tidak bisa mengerti mengapa Dalimunte yang jenius dan amat
rasional bisa jadi sekeras kepala itu? Seolah-olah melemparkan seluruh akal sehat yang
dimilikinya. Begitu sulitkah untuk mengambil keputusan melintas Kak Laisa?
Sekarang mereka sesungguhnya paham ternyata urusan itu memang tidak mudah. Setiap
pulang dua bulanan, menyaksikan Kak Laisa yang tersenyum riang menggendong Intan.
Membawa Intan mengelilingi perkebunan strawberry. Mengenalkannya dengan tetangga lain.
Makan malam, meriah. Penuh tawa. Tapi di penghujung shubuh, menyasikan sendiri Kak
Laisa yang berdiri di lereng lembah. Sendirian. Senyap. Melihat paradoks tersebut. Membuat
mereka tidak pernah memiliki gambaran masalah yang utuh. Apa yang selama ini dirasakan
Kak Laisa?
Apakah yang sesungguhnya Kak Laisa rasakan?
Ikanuri dan Wibisana tidak seberuntung Dalimunte dalam urusan ini. Mereka tidak
memiliki mekanisme berbicara serius dengan Kak Laisa, seperti Dalimunte yang suka
menemani berdiri di lereng perkebunan. Jadi enam bulan berlalu, yang terjadi hanya
percakapan penuh gurauan, jawaban-jawaban ngarang, dan sebagainya. Tanpa kemajuan
yang berarti.
Enam bulan lagi berlalu. Dua sigung nakal itu tetap tidak bisa mengambil keputusan.
Justru sibuk mengingat-ingat masa lalu. Segala kebaikan Kak Laisa kepada mereka. Segala
keburukan mereka kepada Kak Laisa, maka dua sigung itu makin ringkih dengan keputusan.
Bagaimanalah mereka ekan membuat Kak Laisa dilintas untuk yang kedua dan ketiga kalinya
sekaligus? Ya Allah, meski Kak Laisa terlihat baik-baik saja, meski Kak Laisa bilang ia
memang baik-baik saja tapi mereka tidak akan tega melakukannya. Tidak setelah menyadari
Kak Laisa mengorbankan seluruh masa kecil dan renajanya untuk mereka.
Dalimunte akhirnya melibatkan diri dalam urusan tersebut. Memberikan banyak
penjelasan. Menjawab banyak pertanyaan, tapi tetap tidak ada hasilnya. Yashinta dalam satu
dua pembicaraan di ruang depan, juga ikut mendesak.
"Susah amat sih? Semakin lama tidak ada kepastian, nanti semakin banyak dosanya, tahu!"
Nyengir. Ikanuri dan Wibisana hanya menatap datar Yashinta. Adik mereka belum
merasakan sendiri betapa semua ini tidak mudah.
"Atau menunggu Kak Wulan dan Kak Jasmine dijodohkan seperti Kak Cie Hui dulu? Hatihati
loh, sekarang saja Kak Wulan dan Kak Jasmine sudah tidak bisa ikut ke perkebunan,
bukan?"
Tertawa. Mamak dan Cie Hui juga ikut tertawa mendengar gurauan Yashinta. Ikanuri melotot
sebal, tangannya seperti biasa terangkat. Malam itu Wulan dan Jasmine memang tidak bisa
ikut pulang ke perkebunan. Ada acara keluarga.
"Eh, eh, lihat, lihat!" Yashinta berseru. Menunjuk Intan yang sejak tadi duduk menatap
sekitar. Perlahan mulai berdiri. Perhatian di beranda berpindah. Menoleh.
" Aduh mau belajar jalan ya? Sini sayang, sini sama Tante Yash....
Kaki-kaki kecil Intan sedikit bergetar menopang tubuhnya.
Muka menggemaskan itu menyeringai. Mulutnya terbuka. Mata besar beningnya menatap
sekeliling. Usia Intan hamir setahun, masanya belajar berjalan.
"Ayo, ayo..., Tang-ting-tung! Intan manis, ayo jalan.." Yashinta tertawa, berseru memberikan
semangat Yang lain ikut tertawa.
Kaki Intan bersiap melangkah. Membuat percakapan soal Ikanuri dan Wibisana
terlupakan. Wajah Mamak berseri-seri. Apalagi Kak Laisa. Ikutan duduk jongkok di sebelah
Yashinta. Memberikan semangat.
Mata hitam besar Intan mengerjap-ngerjap. Sejenak. Dan seperti mengerti benar kalau ia
sedang menjadi pusat perhatian, bayi kecil itu mendadak duduk kembali begitu saja. Nyengir
lebar. Seolah-olah hendak berjalannya tadi hanya tepu-tepu. Membuat yang lain terdiam,
'kecewa' (meski kemudian tertawa). Sejak kecil Intan memang sudah begitu. Sok-jadi pusat
perhatian.
Intan sudah benar-benar bisa berjalan ketika akhirnya Ikanuri dan Wibisana berhasil
mengambil keputusan penting tersebut. Saat usia Ikanuri dan Wibisana hampir tiga puluh
lima tahun. Bukan. Tentu saja bukan karena Wulan dan Jasmine akan dijodohkan orang tua
mereka masing-masing,
Siang itu, Kak Laisa terbata menelepon adik-adiknya. Teknologi telepon genggam sudah
tiba di lembah mereka. Dan mereka sudah memiliki enam nomor penting untuk keluarga.
Waktu itu, Dalimunte terpaksa bergegas meninggalkan konvensi fisika di Kuala Lumpur,
melupakan kalau presentasinya penting sekali untuk karir penelitiannya (dia baru saja
mendapatkan gelar profesor). Bergegas terbang langsung ke Jakarta, Transit sebentar
menjemput Cie Hui dan Intan, yang sudah pandai berlari.
Ikanuri dan Wibisana juga segera meninggalkan pekerjaan di bengkel mereka. Pulang.
Kabar dari Kak Laisa mengkhawatirkan. Lupakan soal tender suku cadang salah satu
perusahaan otomatif lokal. Nanti-nanti bisa diurus. Mereka harus segera pulang.
Yashinta yang sedang menyelam di Kepulauan Kaimana, Papua juga pulang. Membuat
sebal kolega penelitiannya dari Inggris. Karena secara teknis, Yashinta yang menjadi guide
riset tentang konservasi terumbu karang. Jadi kalau guide-nya pulang, siapa yang akan
memandu mereka?
"Mamak sakit keras.... Pulang.... Kalian harus segera pulang.... Berangkat dengan pesawat
pertama."
Hanya itu kalimat terbata Kak Laisa. Lebih banyak seruan tertahan, dan denting kecemasan.
Maka mereka tidak perlu menunggu dua kali. Segera pulang. Bagaimanalah? Bukankah
Mamak tidak pernah sakit selama ini? Mamak yang terlihat selalu kuat. Selalu sehat. Paling
juga dulu-dulu hanya demam biasa. Sehari dua sudah membaik dengan sendirinya. Tetap
mengerjakan banyak hal. Memasak gula aren. Menganyam anyaman rotan. Ke kebun.
Membersihkan gulma. Hanya perlu di kerok dan berbekam. Sembuh. Bagaimanalah Mamak
sekarang sakit keras? Itu enar-benar mencemaskan.
Mereka tiba di bandara kota provinsi hampir bersamaan. Ikanuri langsung mengemudikan
mobil balap modifikasi yang diantar karyawan bengkelnya. Menuju rumah sakit kota
provinsi dengan kecepatan tinggi. Mamak dirawat di sana. Berlarian sepanjang koridor.
Sejenak tidak mempedulikan Intan (yang teganya) malah puf di saat-saat penting tersebut
Membuat bau tidak sedap dalam mobil balap Ikanuri.l Menerobos pintu paviliun.
Dan langkah-langkah mereka terhenti. Berdiri terdiam, berusaha mengendalikan nafas, di
depan pintu ruang rawat Mamak. Lihatlah, Mamak terbaring lemah di atas ranjang. Pucat.
Kak Laisa yang duduk menunggui berdiri melihat adik-adiknya datang.
Yashinta yang pertama kali menghambur. Memeluk Kak Laisa, bertanya cemas, berseru
cemas, gemetar mendekat. Menatap wajah Mamak yang sedang tertidur. Dua belalai plastik
membalut lengan. Peralatan medis yang berdesis pelan. Dalimunte ikut mendekat, menelan
ludah. Ikanuri dan Wibisana kehilangan kata-kata. Hanya Cie Hui yang sibuk mengendalikan
Intan (yang seperti biasa berseru-seru senang setiap kali melihat Wak Laisa dan Eyang
Lainurinya, tidak peduli apakah yang dilihatnya lagi sehat atau lagi sakit)
"A-pa, a-pa.... Mamak baik-baik saja?"
Yashinta bertanya gugup. Gemetar berusaha meraih jemari Mamak.
Kak Laisa tersenyum, menenangkan, membimbing adiknya duduk di kursi. Mengangguk,
"Masa kritis Mamak sudah lewat....Kata dokter Mamak sudah terkendali, sudah mulai
membaik—"
Terlihat sekali bagaimana ekspresi wajah empat kakak beradik itu berubah. Dalimunte
langsung mendekap Ikanuri dan Wibisana. Menghela nafas panjang. Tersenyum lega.
Yashinta malah menangis. Tersedu. Wahai, rasa lega dan kebahagiaan itu dekat sekali dengan
tangis. Kalian akan menangis karena perasaan lega yang luar biasa. Bagaimana tidak?
Yashinta harus menanggung rasa cemas sejak dua belas jam lalu. Penerbangan langsung dari
Sorong. Transit sebentar di Jakarta. Wajah Mamak dengan rambut berubannya terus
terbayang di jendela pesawat, saat menatap biru lautan. Membuatnya mengaduh berkali-kali
dalam perjalanan.
Yashinta menyeka pipinya. Menatap wajah Mamak yang tertidur pulas. Wajah itu masih
pucat, tapi Kak Laisa benar, hela nafas Mamak sudah terkendali. Rona muka Mamak
tenteram. Yashinta menciumi jemari Mamak. Mendekapnya ke pipi. Seperti tidak pernah
bertemu bertahun-tahun lamanya, padahal mereka baru saja pulang sebulan yang lalu. Dan
Yashinta menangis lagi. Ia tadinya sungguh takut. Takut kehilangan. Dalimunte mendekap
kepala adiknya. Menenangkan. Ikanuri dan Wibisana ikut menyeka matanya yang berkacakaca.
Belum pernah mereka merasa begitu dekat dalam keluarga. Begitu mencintai satu sama
lain. Dan begitu takut kehilangan satu sama lain.
Ya Allah, mereka sungguh saling mencintai karena Engkau.
Intan mendadak menangis kencang-kencang. Terlupakan. Gadis kecil itu sibuk protes.
Menggerak-gerakkan pantatnya. Apalagi kalau bukan untuk membuat bau tak sedap itu
menguar di ruangan rawat Eyangnya. Sibuk mencari perhatian.
Satu jam berlalu, Cie Hui membawa Intan ke pengalengan strawberry di kota provinsi.
Ada penginapan karyawan di sana. Mengganti popok Intan yang super bau. Beristirahat.
Yashinta meski tidak mau meninggalkan Mamak, meski memaksa tetap menunggui,
menjelang malam ikut menyusul, ia terlampau lelah dengan perjalanan jarak jauh. Dan Kak
Laisa menyuruhnya istirahat, "Mamak akan baik-baik saja Yash.... Kalau kau juga jatuh sakit,
kau hanya akan menambah masalah—"
Sejak dulu Yashinta selalu menurut dengan Kak Laisa.
Menyisakan Laisa, Dalimunte, Ikanuri dan Wibisana di ruang rawat Mamak. Duduk di
kursi plastik yang diberikan perawat. Dokter yang merawat Mamak ternyata mengenali
Profesor Dalimunte, tertawa lebar, bahkan menawarkan ruang rawat terbaik di rumah sakit itu
saat melakukan pemeriksaan jam sembilan tadi.
Senyap.
Ruangan rawat inap itu hening. Hanya menyisakan desis suara pendingin ruangan. Meski
lelah, Dalimunte tidak bisa tidur. Juga Ikanuri dan Wibisana. Kak Laisa perlahan
memperbaiki selimut Mamak. Lantas menatap wajah-wajah kusut adiknya. Tersenyum.
Menarik kursinya mendekati Ikanuri dan Wibisana.
Dua sigung yang tidak kecil lagi itu mengangkat kepala. Menatap Kak Laisa yang
sekarang persis duduk di depannya.
"Ikanuri, Wibisana..." Kak Laisa berkata lembut menyentuh lengan adik-adiknya,
"Kita memang tidak akan pernah tahu.... Tidak pernah bisa menebak, menduga. Tetapi
suatu hari nanti, salah-satu dari anggota kelarga yang amat kita dntai pasti akan pergi. Siap
atau tidak, suka atau tidak...."
Dalimunte mengusap wajahnya.
Menatap Kak Laisa. Tidak mengerti apa yang sebenarnya hendak disampaikan Kak Laisa.
"Lihatlah.... Mamak sekarang tertidur nyenyak.... Begitu damai, begitu tenang, begitu
babagia. Karena Mamak sudah amat bahagia dengan hidupnya. Memiliki kalian, sebagai
anak-anaknya, adalah kebahagiaan terbesar yang tidak pernah dibayangkan Mamak. Mamak
tahun-tahun terakhir amat bahagia nienghabiskan masa tuanya di perkebunan strawberry..."
Ikanuri dan Dalimunte menahan nafas. Tertunduk. Mereka juga tidak mengerti apa yang
hendak dikatakan Kak Laisa. Tapi kalimat-kalimat itu menusuk. Kepergian dari anggota
keluarga yang kita cintai?
"Ikanuri, Wibisana.... Kakak berkali-kali bilang, tidak baik membuat Wulan dan Jasmine
menunggu terlalu lama.... Kalian tidak seharusnya menunggu Kakak. Karena kita tidak
pernah tahu apa yang akan terjadi besok lusa.... Kalau kalian ingin pernikahan kalian masih
sempat dilihat langsung Mamak, sempat disaksikan oleh Mamak, segeralah menikah...
Dengan kebaikan Allah, tentu saja Mamak akan segera sembuh. Esok lusa Mamak akan tetap
bersama kita. Menghabiskan hari tuanya di perkebunan strawberry. Tetapi kalau kalian
tetapkeras kepala menunggu sesuatu yang mungkin tidak akan pernah terjadi...." Kak Laisa
terdiam sejenak. Menatap tulus wajah adik-adiknya.
Ruangan itu hening lagi.
"Kalau kalian tetap keras kepala menunggu Kakak, maka kalian mungkin akan kehilangan
kesempatan membuat Mamak semakin bahagia di masa tuanya. Apa yang dulu sering Kakak
katakan? Pernikahan kalian akan membuat rumah panggung kita lebih ramai. Anak-anak
kalian sungguh akan membuat suasana terlihat berbeda. Lihatlah, Intan, meski tadi membuat
suster ngomel-ngomel, tetap saja wajah imutnya menggemaskan, bukan...."
Kak Laisa tertawa Mengingat kejadian saat Intan nangis kencang-kencang tadi.
Ikanuri dan Wibisana ikut tersenyum.
Malam itu, keputusan penting tersebut akhirnya diambil
Pernikahan kedua dan ketiga di keluarga itu terjadi sebulan kemudian. Mamak pulang
dari rumah sakit setelah dirawat empat hari lagi. Meski masih lemah, tapi wajah Mamak
sudah segar saat kembali. Sakit radang hatinya membaik dengan cepat
"Bagaimana mungkin Mamak sakit? Sakit hati pula. Bukankah selama ini Mamak selalu
bahagia, meski kami bandel dan nakal? Ada-ada saja." Ikanuri bergurau. Membuat yang lain
tertawa.
Ikanuri dan Wibisana kembali ke kota seberang pulau seminggu kemudian. Langsung
meminang Wulan dan Jasmine. Mereka lagi-lagi melakukannya di saat yang bersamaan.
Dengan cara yang sama pula, sama-sama hiperbolik (meski menyentuh), "Ayah, Ibu, aku
tidak bisa menjanjikan banyak hal buat putri kalian. Aku tidak memiliki gunung harta seperti
Kak Laisa dengan ribuan hektar kebun strawberry-nya. Aku juga tidak sepintar Profesor
Dalimunte yang terkenal itu. Tetapi aku punya hati. Hati yang terlanjur mencintai Wulan
(jasmine; saat Wibisana yang bicara dengan calon mertuanya).... Terima kasih banyak telah
membesarkan putri kalian hingga menjadi begitu cantik, begitu menawan. Dengan segenap
rasa. Ayah, Ibu, ijinkanlah aku meminangnya...." Membuat orang tua Wulan dan Jasmine
berkaca-kaca (rumah mereka hanya berjarak dua blok). Meski besoknya saat keluarga mereka
saling bercerita, terpaksa manyun satu sama lain karena baru tahu kalimat indah calon
menantu mereka fotokopi satu sama l.iin.
Urung saling menyombong.
Ikanuri dan Wibisana memutuskan untuk menikah di hari yang sama. Di Lembah
Lahambay, lembah indah mereka.



SAKIT PERTAMA

KALAU saja ada yang memperhatikan. Itulah gejala pertama sakitnya Kak Laisa yang paling
terlihat. Tapi kebahagiaan yang melingkupi rumah panggung atas pernikahan 'kembar'
Ikanuri dan Wibisana membuatnya seperti kejadian biasa-hiasa saja.
Bang Jogar, yang setahun terakhir sudah menjadi kepala kampung, sibuk meneriaki anak
muda yang sedang mendirikan tenda-tenda. Sibuk membuat gerbang janur kuning. Batang
pisang disusun rapi. Bertingkat. Menyusun pot-pot bonsai, Malah Bang Jogar yang meski
tampangnya serius, sempat- sempatnya menyuruh mereka membuat tiga patung harimau dari
janur di depan gerbang halaman rumput. Membuat yang lain tertawa. Bang Jogar sengaja
hendak mengenang masa lalu itu.
Pagi-pagi di tengah semua kesibukan, Dalimunte sempat berpapasan dengan Kak Laisa di
beranda rumah. Menyelak ibu-ibu dan anak gadis tetangga yang sedang duduk berbaris,
menyiapkan makanan buat acara besok. Mengiris buncis. Memarut kelapa. Muka Kak Laisa
terlihat pucat sekali, Dalimunte sebenarnya sudah hendak menegur, bertanya, tapi urung, ada
rombongan pembawa panci di belakangnya, ingin lewat. Gulai opor mengepul. Membuat
terlupakan.
Ikanuri dan Wibisana siangnya juga mencari Kak Laisa, bertanya tentang siapa saksi
pernikahan mereka besok Tidak ada, Kak Laisa tidak ada di rumah. Di cari di bawah
panggung tidak ada. Di tenda-tenda juga tidak ada. Mamak yang akhirnya menjawab, dengan
suara berbeda, suara yang bergetar,
"Kakak kalian sedang ke kota kabupaten, membeli kekurangan bumbu dapur, ayam, dan
perlengkapan lainnya — "
Ikanuri dan Wibisana hanya mengangguk, itu biasa terjadi. Selalu Kak Laisa yang belanja,
menyiapkan keperluan pernak-pernik acara. Dalimunte akhirnya menunjuk Bang Jogar
menjadi saksi.
Sore harinya, saat matahari tumbang di barat sana, senja membungkus lembah, Kak Laisa
baru pulang dari kota kabupaten. Tidak ada bungkusan belanjaan, tidak ada barang-barang
bawaan, mukanya pucat,
"Biar, biar aku berjalan sendiri—" Berbisik lemah pada sopir pengalengan strawberry.
Melangkah masuk ke halaman, tetap tersenyum menyapa (dan disapa yang lain). Bahkan
Dalimunte yang sedang bicara soal detail acara besok lalai untuk mengenali ada yang ganjil.
Kebahagiaan dan kesibukan sepanjang hari membuat semuanya terbungkus kabut.
Tidak ada yang tahu kalau Kak Laisa tadi pagi terbatuk berkali-kali di kamar mandi.
Bercak darah keluar bersama dahak. Tubuhnya melemah. Gemetar memanggil Mamak itulah
gejala pertama sakitnya Kak Laisa yang paling terlihat. Mamak hendak memanggil
Dalimunte.
"Tidak, Mak.... Jangan beritahu mereka. Jangan. Ini akan mengganggu kebahagiaan Ikanuri
dan Wibisana.... Bagaimana mungkin mereka harus melihat aku sakit di hari sepenting ini—"
Kak Laisa tersenggal menarik nafas.
Mamak menatap sulungnya lamat-lamat. Menggenggam tangan Laisa erat-erat. Mata
Mamak yang keriput berdenting air mata. Ia tahu persis. Sejak sulungnya masih belasan
tahun. Sejak sulungnya bersumpah untuk selalu terlihat baik-baik saja di hadapan adikadiknya,
maka Laisa bersungguh-sungguh dengan sumpahnya. Mamak tertunduk, menyeka
bercak darah di baju Laisa. Urung memanggil Dalimunte.
"Tapi kau harus segera ke dokter, Lais—"
"Tidak usah, Mak. Tidak sekarang.... Mereka akan bertanya-tanya kalau aku tidak ada di
rumah...."
Laisa menggeleng. Dan bukankah ia selalu ada ketika adik-adiknya perlu selama ini?
"Kau harus ke dokter, Lais.... Lihatlah darah ini...." Mamak menelan ludah, menatap getir
bercak darah di baju Laisa.
Pagi itu Laisa mengalah, akhirnya diam-diam berangkat ke kota kabupaten. Diantar sopir
pengalengan strawberry. Ke rumah sakit. Sempat pingsan di ruang ICU, karena ia terlalu
lemah. Membuat sopir pabrik pengalengan yang mengantar bingung tujuh keliling, gugup,
gemetar hendak menelepon Dalimunte, tapi pesan Laisa di mobil sebelum mereka turun
membuat dia takut melakukannya. Dua jam dirawat di ruang Gawat darurat, dengan semangat
sembuh yang sungguh mengagumkan, memaksa seluruh bagian tubuhnya menurut, Laisa
mulai membaik,
"Aku harus pulang, Dok. Tidak ada pilihan lain. Besok Ikanuri dan Wibisana menikah,
bagaimana mungkin aku tidak di sana?" Laisa menggeleng tegas saat Dokter memaksanya
untuk dirawat inap. Laisa benar-benar memaksa tubuhnya menurut. Ia pulang sore itu juga.
Dengan muka masih pucat. Dengan tubuh masih lemah. Menggunakan sisa-sisa tenaganya.
Berseru lirih di senyapnya mobil membelah jalanan menuju perkebunan,
"Ya Allah, aku mohon, meski hamba begitu jauh dari wanita-wanita mulia pilihanmu, hamba
mohon kokohkanlah kaki Laisa seperti kaki Bunda Hajra saat berlarian dari Safa- Marwa....
Kuatkanlah kaki Laisa seperti kaki Bunda Hajra demi anaknya Ismail.... Mereka tidak boleh
melihat aku sakit..."
Satu titik air mata mengalir di pipinya.
Itu juga doa Laisa ketika menerobos hujan badai saat Yashinta sakil, ke kampung atas, ketika
kakinya bengkak menghantam tungul kayu. Ketika sendi mata kakinya bergeser. Itu juga
doanyna di Gunung Kendeng. Itulah doa yang paling disukai Laisa. Doa-doa itu mengukir
langit.
Energi pengorbanan itu sungguh luar biasa (untuk tidak mengharukan), jika kalian bisa
melihatnya seperti nyala api, maka mungkin energi itu bisa membuat terang benderang
seluruh Lembah Lahambay. Malam itu Kak Laisa sudah kembali riang bersama yang lain.
Duduk di beranda depan, membuat kue kecil-kecil bersama tetangga. Intan duduk manis di
pangkuannya. Satu kue untuk Intan, Satu kue masuk toples. Kak Laisa tertawa lebar.
Mengusir fakta kanker paru-paru stadium satu.
Ikanuri dan Wibisana menghabiskan masa bulan madu mereka di perkebunan strawberry.
Baru selepas itu kembali ke kota seberang pulau. Mengurus bengkel. Kak Laisa memberikan
modal tambahan untuk mulai membangun pabrik suku cadang mereka. Berpesan agar mereka
tidak terlalu sibuk dengan bengkelnya, hingga mengurangi perhatian ke istri masing-masing.
Dalimunte kembali ke ibukota lepas satu minggu dari acara pernikahan. Intan
menyeringai riang, melambaikan tangan ke Wawak dan Eyangnya,
"Da-da-" Dan kemudian menangis kencang-kencang di mobil. Ia sih tidak mengerti kalau dada
itu maksudnya lambaian perpisahan. Dikiranya hanya da-da doang. Memaksa balik
kembali ke perkebunan strawberry. Tapi Dalimunte dan Cie Hui hanya tertawa. Sejak kecil
Intan selalu paling semangat pulang ke lembah. Di sana ia benar-benar menikmati memiliki
Wawak dan Eyang yang baik hati. Yang selalu membelanya, meski ia nakal minta ampun.
Yashinta pulang dua hari kemudian. Ia sudah bekerja di lembaga konservasi, Bogor.
Mulai melibatkan diri di berbagai riset, program perlindungan, dan sebagainya tentang alam
sekitar. Ia juga sudah menjadi koresponden foto majalah National Geographic. Sudah punya
berbagai gagdet canggih, termasuk telepon genggam satelit dan kamera dengan lensa super
zoom-nya..
Hari-hari itu, usia Kak Laisa sudah 43, Dalimunte 37, Ikanuri menjelang 35, Wibisana 34,
dan Yashinta 31 tahun. Sebenarnya kekhawatiran Ikanuri dan Wibisana soal melintas
berlebihan. Tidak ada lagi tetangga yang sibuk bertanya kapan Kak Laisa akan menikah saat
pernikahan kembar itu berlangsung. Mereka sudah terbiasa. Juga tidak ada lagi yang menilai
Kak Laisa dilintas untuk kedua dan ketiga kalinya sekaligus merupakan aib besar. Tetangga
kampung sudah menerima kenyataan itu. Tidak sibuk bisik-bisik. Jadi meski tak ada Wak
Burhan yang mengingatkan, pernikahan kembar itu berjalan normal.
Setelah yang lain kembali sibuk dengan aktivitas masing-masing, rumah panggung itu
kembali sepi (dalam artian yang berbeda). Menyisakan Kak Laisa dan Mamak. Entahlah apa
yang sesungguhnya berkecamuk di kepala Kak Laisa di tengali sepinya malam. Di tengah
senyapnya lereng perkebunan strawberry. Tidak ada yang tahu. Dengan berita kanker paruparu
stadium satu yang ia tutup rapat-rapat kecuali dengan Mamak, maka benar-benar tidak
ada yang tahu apa yang selalu Laisa pikirkan saat menatap tangit penghujung malam.
Menatap bulan dan gemintang di Lembah Lahambay. Apakah memang sesederhana yang
selalu ia sampaikan kepada Dalimunte: Ia sudah terbiasa dengan kesendiriannya.
Dalimunte tetap berusaha mencarikan jodoh buat Kak Laisa. Tapi tiga tahun terakhir
intensitasnya tidak setinggi sebelumnya. Kak Laisa belakangan sepertinya tidak lagi terlalu
bersemangat menanggapi pembicaraan tersebut. Hanya tersenyum. Tidak berkomentar. Dan
celakanya, meski dengan konteks berbeda, lagi-lagi kejadian menyakitkan itu terulang.
Perjodohan yang gagal lagi.
Setahun selepas pernikahan Ikanuri dan Wibisana, Kak Laisa didekati seseorang.
Seseorang yang terlihat begitu baik, warga baru lembah, mengaku pensiunan dini tentara,
pindah untuk mencari ketenangan di lembah. Tinggal di kampung mereka, lantas setelah
enam bulan berinteraksi dengan penduduk lembah, bilang merasa tertarik dengan Kak Laisa.
Usianya sudah 55 tahun, berbeda sebelas tahun dengan Kak Laisa, penuh perhatian, seolaholah
bisa menerima keterbatasan Kak Laisa apa adanya.
Dalimunte awalnya sudah tidak suka dengan orang itu. Apalagi Mamak (yang
mengingatkannya pada masa lalu). Juga yang lain. Yashinta malah terus terang kasar
menyatakan keberatannya di depan orang tersebut. Semua terlihat terlalu sempurna. Terlalu
banyak kebetulan. Dan terlalu lainnya. Tapi mereka tidak bisa mencegah proses itu. Apalagi
meski Kak Laisa tidak terlalu bersemangat menanggapinya, proses itu terus mengalir seperti
air. Semakin hari semakin dekat. Mulai mengajak bicara Mamak. Dan pelan tapi pasti
rencana pernikahan itu mulai serius.
Beruntung. Kedok orang tersebut terbuka sebelum semuanya terlanjur kadung. Polisi dari
kota provinsi menangkapnya. Dia penipu. Buronan. Sudah dua kali menipu di tempat lain.
Menikah hanya untuk menguras harta istrinya. Pura-pura tertarik dengan Kak Laisa hanya
untuk menguasai perkebunan strawberry.
Entahlah apa ending seperti ini kabar baik atau kabar buruk bagi Kak Laisa. Yang pasti
sejak kejadian tersebut, Kak Laisa mulai enggan menanggapi pembicaraan perjodohan
dengan Dalimunte. Ia seperti sudah mengubur dalam-dalam keinginan untuk menikah.
Melupakannya. Kak Laisa seolah sudah bersiap menerima kalau ia memang ditakdirkan
hidup sendirian selamanya.
Mungkin saja Kak Laisa sudah benar-benar terbiasa.



KAU ADIK TERSAYANG

"ABI, Tante Yash ikut pulang, kan?" Intan yang duduk di ranjang besar menoleh, bertanya
pada Dalimunte.
Dalimunte yang sedang berbicara dengan dokter tentang kondisi terakhir Kak Laisa
mengangguk seadanya.
"Sudah sampai di mana, sih? Kok nggak ada kabar-kabarnya seperti Oom Ikanuri dan Oom
Wibisana?" Intan bertanya lagi. Lebih serius, ingin tahu.
Dalimunte kali ini benar-benar menoleh ke putrinya. Terdiam. Sudah sampai di mana?
Menelan ludah. Malam tiba untuk ke sekian kalinya di lembah itu. Hujan gerimis turun sejak
maghrib. Mereka sudah shalat berjamaah (kecuali Juwita dan Delima yang memaksa ikut
shalat gaya duduk Wawak Laisa). Sudah makan malam, meski makannya di kamar Wak
Laisa. Menghampar sembarang di lantai. Yang penting tetap bersama.
Kondisi Wak Laisa tidak memburuk, juga tidak membaik. Ia sepanjang pagi bisa duduk
bersandarkan bantal, tapi setelah siang, karena lelah, kembali tiduran. Batuknya masih. Juga
bercak darah yang ikut keluar. Intan telaten membersihkan dengan tissue. Juwita dan Delima
sih dari tadi ingin ikut-ikutan, tapi Kak Intan melotot. Menyuruh mereka menyingkir. Siang
itu Bang Jogar menghentikan membaca yasin di surau dan beranda rumah. Mereka masih
berkumpul di bawah panggung, tapi satu dua menjelang malam kembali ke rumah masingmasing.
Semoga Laisa terus membaik.... Begitu masing-masing berdoa dalam hati.
"Yeee, Abi kok malah melamun?" Intan berseru, nyengir.
Dalimunte mengusap wajahnya. Menelan ludah sekali lagi.
"Tante Yash masih di jalan, sayang —"
Kak Laisa yang justru menjawab. Suaranya sedikit serak. Matanya yang tadi terpejam,
perlahan terbuka.
Tersengal. Menatap Intan lamat-lamat.
Dalimunte yang masih berdiri di depan dokter terdiam. Apa yang hendak dikatakan Kak
Laisa? Apa maksud kalimat Kak Laisa baru saja. Dia tahu persis, Kak Laisa sengaja menahan
diri sejak kemarin untuk bertanya di mana Yashinta sekarang. Setelah lebih sehari semalam,
tanpa kabar pasti di mana posisinya, orang yang paling ingin tahu di mana Yashinta sekarang
jelas adalah Kak Laisa.
"Emangnya Wak Laisa tahu? Kan Wawak sejak tadi tidur;'"
Intan menyeringai. Beringsut mendekat.
Laisa berusaha mengangguk.
Tersenyum.
Tentu saja ia tahu. Kedekatan adik-kakak itu sungguh menembus batas-batas akal sehat.
Tentu saja Laisa tahu.... Itulah kenapa dia tidak bertanya ke Dalimunte di mana Yashinta,
adik terkecilnya, berada sekarang.
Karena Laisa tahu persis di mana Yashinta saat ini.
Bagaimana tidak? Lima belas jam ]alu, tepatnya saat ia shalat shubuh sambil duduk tadi
pagi, ia baru saja membangunkan adiknya. Membelai lembut dahi Yashinta yang cemerlang.
"Ia bukan kakak kita!" Ikanuri berbisik kasar. Mukanya terlihat sekali sebal,
"Kenapa ia harus sibuk melarang-larang. Bah!"
Wibisana yang berdiri di sebelahnya hanya diam. Tidak cakap apapun. Hanya tertunduk.
Malam itu Ikanuri dan Wibisana dihukum tidur di bale bambu bawah rumah panggung.
Malam beberapa bulan setelah kejadian di Gunung Kendeng itu. Dua sigung nakal itu lagilagi
bolos sekolah, padahal Mamak, Kak Laisa, dan Dalimunte sibuk mengurus kebun
strawberry. Tidak hanya sibuk, tapi cemas apakah kali ini mereka akan berhasil atau gagal
total. Dua sigung bebal itu malah asyik bermain ke kota kecamatan.
"Kenapa sih ia harus sibuk lapor Mamak.... Sok ngatur. Lihat, dua tiga tahun lagi, pastilah
kita lebih tinggi dibanding tubuh pendeknya...."
Ikanuri bergelung, terus ngomel. Gerimis membasuh lembah. Deru angin lembah membawa
rinai air. Membasahi tubuh mereka yang sejak tadi sore berusaha tidur.
"Pendek! Hitam! Jelek!" Puas sekali Ikanuri mendesis.
Desisan yang membuat langkah Yashinta terhenti.
Yashinta saat itu sembunyi-sembunyi hendak mengantarkan selimut buat kakaknya, biar
tidak kedinginan di luar. Desisan yang membuat Yashinta membeku. Saat itu usia Yashinta
delapan tahun, sudah bisa mengerti banyak hal. Malam itu Yashinta akhirtiya tahu satu fakta
yang akan ia simpan seumur hidupnya. Gemetar Yashinta kembali menaiki anak tangga, ke
atas. Urung memberikan selimut. Nafasnya tersengal. Kak Ikanuri jahat. Jahat sekali.
Menghina Kak Laisa seperti itu. Ingin rasanya Yashinta berteriak. Menimpuk Kak Ikanuri
dengan bongkahan tanah. Tapi ada hal lain yang membuatnya lebih sesak: Ia bukan kakak
kita. Ia pendek. Hitam. jelek. Yashinta berlari masuk ke dalam kamar.
Malam itu ingin sekali Yashinta langsung bertanya pada Mamak, bertanya pada Kak
Dalimunte, apa maksud kata-kata Kak Ikanuri barusan. Apa benar Kak Laisa bukan kakak
mereka. Tapi mulutnya bungkam. Yashinta tidak pernah kuasa bertanya. Malam itu saat yang
lain sudah jatuh tertidur (termasuk dua sigung nakal di bawah rumah), Yashinta masih
terjaga. Ia merangkak mendekati Kak Laisa.
Lembut jemari Yashinta mengusap wajah Kak Laisa. Rambut gimbalnya. Wajah dengan
kulit hitam. Hidung pesek. Mulut Kak Laisa yang sedikit terbuka, memperlihatkan gigi-gigi
besar, tidak proporsional. Yashinta menelan ludah, Membandingkan wajah itu dengan
wajahnya melalui cermin peraut pensil. Kak Laisa sungguh berbeda.... Tapi bagaimann
mungkin Kak Laisa bukan kakaknya?
Dan Yashinta entah oleh kekuatan apa, tidak pernah kuasa menanyakan soal itu kepada
yang lain. Tidak pada Mamak. Tidak pada Kak Dalimunte. Tidak pada dua kakaknya yang
nakal itu. Pernah ia hampir terlepaskan bertanya pada Wak Burhan, tapi segera menutup
mulutnya. Bagaimanalah kalau itu semua benar? Bagaimanalah kalau Kak Laisa memang
bukan kakaknya? Yashinta, sejak sekecil itu sudah amat menghargai Kak Laisa.
Ketakutannya atas kemungkinan jawaban tersebut, membuatnya bungkam selama puluhan
tahun.Bahkan memutuskan untuk tidak akan pernah bertanya.Tidak akan ada bedanya.
Apapun jawabannya, Kak Laisa tetap menjadi kakaknya.
"Tapi Tante Yash sekarang sudah di mana, Wak? Kok nggak nyampe-nyampe, sih?" Intan
bertanya ingin rahu.
Yang ditanya tidak menjawab. Mata Wak Laisa sudah kembali terpejam.
Tertidur.
Di manakah Yashinta?
Seekor peregrin melenguh.
Melintas kabut yang menutupi lereng terjal Semeru. Kepakan sayapnya terlihat elok.
Bagai pesawat tempur F-16. Menderu membelah senyap. Menerabas pucuk-pucuk pohon.
Lantas bagai ballerina sejati, berhenti tepat sebelum menghantam salah satu dahan, anggun
mendarat. Perfecto, Peregrin itu melenguh lagi. Kemudian loncat menuruni dahan kayu satu
demi satu. Hingga tiba di semak-semak. Satu meter dari tanah basah lereng Semeru.
Kepalanya bergoyang-goyaitg. Ekornya bergerak-gerak. Suaranya mendesis, tapi sekarang
terdengar seperti cicitan iba, menatap ke bawah. Menatap ke tubuh yang terbanting, tidak
sadarkan diri di atas belukar. Tubuh yang tidak sadarkan diri selama dua puluh jam terakhir.
Di sekitar tubuh itu, dua ekor bajing juga ikut mendekat.
Kepala mereka naik turun. Mendesis. Berlari kesana-kemari.
Berhenti. Berlari lagi kesana-kemari.
Berhenti. Ikut menatap tubuh yang tergolek lemah itu. Dan, ya Allah, siapa bilang tidak
ada lagi harimau jawa di Gunung Semeru? Penelitian itu, yang menyimpulkan spesies langka
itu sudah punah di rimba Semeru seperti sebuah kesia-siaan besar. Lihatlah, seekor harimau
jawa, yang lebih besar dibandingkan penguasa Gunung Kendeng, berjalan memutari belukar
itu. Berhenti sejenak. Mendengkur.
RRR.
Tapi itu bukan dengkuran bahaya. Itu dengkuran penuh rasa iba. Seperti induk melihat
anaknya terluka. Menatap tubuh yang tergolek lemah. Lantas berpulang lagi. Seperti seekor
penjaga. Begitu saja yang dilakukan harimau besar itu dua puluh jam terakhir. Ya Allah,
hanya Wak Burhan yang pernah tahu sejatinya apakah penduduk Lembah Lahambay pernah
memiliki kemampuan mengendalikan binatang liar. Ilmu Pesirah itu.
Tubuh itu adalah Yashinta. Gadis manis, 34 tahun. Yang dua puluh jam lalu bergegas
menuruni lereng terjal Semeru demi mendengar kabar Kak Laisa sakit keras.
Nahas, setetah rekor mendaki 27 gunung di seluruh dunia dengan seluruh stamina fisik
yang luar biasa, dua puluh jam lalu, kakinya terperosok ke batuan ringkih. Batu itu merekah.
Yashinta kehilangan keseimbangan. Lantas tubuhnya mental. Bagai burung tanpa sayap,
menghujam masuk ke dalam lembah menganga. Sekali. Dua kali. Berkali-kali tubuhnya
menghantam dahan-dahan kayu. Terus jatuh berdebam Semakin dalam. Sangkut-menyangkut
di ranting pohon, Jatuh lagi. Sangkut di semak belukar. Jatuh lagi. Terjepit. Lantas meluncur
ke dasar lembah. Menghantam rerumputan dangkal.
Seketika tak sadarkan diri.
Telepon genggam satelit itu sudah sejak lima belas detik lalu jatuh menghajar bebatuan.
Pecah berhamburan. Dan gadis cantik itu tergolek tak berdaya di atas rumput. Sempurna
terputus dari hingar-bingar dunia. Tidak ada yang tahu. Dua rekan penelitinya tertinggal dua
ratus meter di belakang. Tidak melihat saat Yashinta jatuh. Dua rekan penelitinya terus saja
turun sambil mengomel soal betapa cepatnya kaki Yashinta. Lupa memperhatikan dahan
kayu yang patah. Lupa memperhatikan jejak kaki Yashinta sudah tidak ada lagi di jalan
setapak.
Yashinta dengan muka luka, kaki patah, tergolek tak berdaya. Dua puluh jam lamanya,
hingga keajaiban itu terjadi. Hingga kecintaan pada saudara karena Allah, rasa berserah diri
yang tinggi kepada kuasa langit, ritual ibadah yang penuh pemaknaan, kebaikan dengan
sesama, proses bersyukur yang indah, mampu membuat manusia menembus batas-batas akal
sehat itu.
Ya! Kak Laisa-lah yang membangunkan Yashinta dari pingsannya.
Yashinta kecil berangsur-angsur sembuh.
Pertolongan mahasiwa kedokteran yang sedang KKN itu tepat waktu. Panasnya mereda.
Batuknya berkurang. Muka pucatnya kembali memerah. Satu minggu kemudian gadis kecil
itu malah sudah bisa kembali sekolah. Tetapi Kak Laisa belum. Mata kakinya yang bergeser
setelah menghajar tunggul kayu di lereng lembah, membuatnya tersiksa hampir sebulan.
Diurut berkali-kali oleh Wak Burhan. Benar-benar ngeri melihat Kak Laisa diurut.
Bagaimanalah? Persendian itu dipaksa kembali ke tempat semula. Kak Laisa menggigit
gumpalan baju. Matanya berair. Tubuhnya mengejang. Tapi ia tidak berteriak.
Dua sigung kecil itu saja yang selama ini tidak peduli dengan Kak Laisa ikut jerih
melihatnya. Dalimunte hanya diam. Yashinta menangis. Ia tahu kalau kaki Kak Laisa begitu
karena memaksakan diri malam-malam menjemput mahasiswa KKN di kampung atas. Tapi
Kak Laisa tidak mau membicarakan kejadian malam-malam di tengah hujan Itu ia sudah
kembali sibuk. Meski kakinya belum sembuh benar, Kak Laisa tetap memaksakan diri
bekerja di kebun. Makanya butuh waktu sebulan untuk sembuh total, karena lagi-lagi
persendian itu bergeser.
Pagi datang menjelang di Lembah Lahambay.
Burung berkicau bagai orkestra. Kabut putih mengambang. Ditembus sinar matahari.
Berlarik-larik seperti lukisan, elok melihatnya. Uwa di kejauhan sibuk berteriak. Meningkahi
desis jangkrik dan ribuan serangga lainnya.
"Kau benar kuat mengangkat segitu, Yash?"
"He-eh."
Yashinta mengangguk, merengkuh dua belas batang umbut rotan (ujung rotan yang masih
muda). Di potong potong sepanjang enam jengkal. Bisa disayur. Bisa juga dijual ke kota
kecamatan. Harganya lumayan mahal.
Kak Laisa pagi ini mengajak Yashinta mencari umbut rotan di pinggir hutan. Sekalian
melihat lima anak berang-berang itu lagi.
Sebenarnya Yashinta tidak terlalu yakin apa ia cukup kuat mengangkat dua belas potong
umbut rotan itu. Kak Laisa kakinya kan masih sakit, masih dibebat kain, jadi ia memutuskan
mengangkut segitu. Biar beban Kak Laisa banyak.
Terhuyung. Tubuh kedl Yashinta terhuyung.
"Kau benaran kuat, Yash?"
"He-eh."
Yashinta mengangguk lagi. Berpegangan kokoh ke ranting semak belukar. Menggigit bibir.
Lantas mulai melangkah. Sebentar lagi ia juga terbiasa kok dengan berat ini. Awalnya
bergetar, tapi perlahan kakinya mulai mantap menyusuri jalan setapak. Tuh kan, Yashinta
kuat kok. Nyengir. Kak Laisa yang berjalan di belakangnya tersenyum.
Suara burung semakin ramai menjemput pagi. Saling sahut. Dua ekor bajing berlarian di
dahan-dahan tinggi. Kecipak suara air mengalir di sungai kecil terdengar menyenangkan,
Yashinta mulai ikut bersenandung. Tadi seru sekali melihat kembali berang-berangnya.
"Kau minggu depan mau ikut Kakak lagi ambil umbut rotan?"
"He-eh."
Yashinta langsung menjawab. Tertawa. Kak Laisa ikut tertawa.
Mereka tiba di anak sungai yang lebih lebar. Harus meniti jembatan kayu kecil untuk
menyeberanginya. Yashinta kembali bersenandung. Semakin lama, dua belas potong umbut
rotan di pundaknya semakin terasa ringan.
Sayang, seekor kodok yang sedang mematung di jembatan kayu itu tiba-tiba loncat.
Yashinta berseru kaget. Kodok itu cueknya justru loncat ke perut Yashinta. Gadis kecil itu
reflek menghindar. Celaka! Kakinya kehilangan keseimbangan. Berdebum. Tubuhnya yang
melintir terjatuh dari atas jembatan.
"YASH!" Kak Laisa berseru tertahan.
Tinggi jembatan itu hanya satu meter. Masalahnya air sungai di bawah dangkal, hanya
sejengkal. Dipenuhi bebatuan pula. Dan kesanalah tubuh kecil itu terhujam. Dua belas potong
umbut rotan itu berhamburan. Dan dalam gerakan lambat yang mengerikan, kepala Yashinta
menghantam bebatuan.
"YASH! YA ALLAH!" Kak Laisa pias sudah.
Tersadarkan dari pemandangan itu. Melempar bawaan di pundaknya.
Gemetar menuruni jembatan. Gemetar meraih tubuh adiknya yang basah.
"YASH.... YASH!"
Tubuh adiknya, ya Allah, pelipis adiknya berdarah. Luka. Cairan merah itu menggenangi
sungai. Membuat garis panjang. Kak Laisa pias. Sungguh pias. Tangannya patah-patah
merengkuh Yashinta. Menggendong ke tepi sungai Tidak peduli persendian mata kakinya
bergeser lagi. Tidak peduli rasanya amat sakit. Kak Laisa benar-benar takut. Lihatlah.
Adiknya seketika pingsan.
"Yash.... Yash, bangun—"
Gemetar Kak Laisa memeriksa seluruh tubuh Yashinta. Tidak ada yang luka, hanya pelipis.
Tapi lukanya besar. Robek.
Melepas bebat kain di kepala. Mengelap darah. Percuma. Darah kembali mengucur deras.
Aduh, Kak Laisa semakin gugup.
"Yash.... Kakak mohon, bangunlah..." Kak Laisa menangis.
Ketakutan itu tiba-tiba mencengkeram jantungnya. Ia sungguh lebih takut
dibandingkan saat kejadian di Gunung Kendeng lalu. Ini semua salahnya. Tidak
seharusnya mengajak Yashinta yang baru sembuh dari sakit ikut mencari umbut rotan
sekalian melihat anak berang-berang. Tidak seharusnya ia membiarkan Yashinta
menggendong lebih banyak potongan umbut rotan.
Tubuh Yashinta mulai dingin.
"Yash...." Kak Laisa panik menciumi pipi adiknya. Suaranya mencicit. Ya Allah,
bagaimanalah ini? Apa yang harus ia lakukan? Menggendong Yashinta pulang? Ya Allah,
kenapa jemari adiknya semakin dingin. Apa yang akan ia bilang ke Mamak? Lais jaga
adikmu. Mamak selalu berpesan begitu, bahkan meski untuk urusan sepele saat mengajak
Yashinta mandi di sungai cadas.
Tubuh Laisa ciut oleh perasaan takut. Amat gentar.
Darah semakin banyak keluar. Tubuh itu semakin dingin.
"Yash.... Ya Allah..."Kak Laisa tersungkur sudah, suaranya mendecit penuh permohonan,
"Lais mohon.... Ya Allah, jangan ambil adik Lais — "
Kak Laisa kalap memeluk tubuh adiknya. Menciumi rambut basah adiknya.
"Lais mohon, ya Allah... Jika Engkau menginginkannya, biarkan Lais saja, biarkan Lais
saja...."
Kalimat itu begitu ihklas terucap. Oleh rasa sayang yang tak terhingga.
Harimau besar itu menghentikan putarannya.
Ekornya berkibas pelan. RRR. Menggerung pelan. Lantas terdiam.
Menatap tubuh Yashinta yang tergolek di atas belukar. Semburat cahaya matahari pagi
yang menerobos dedaunan menyinari tubuh itu. Kabut mengambang. Tadi malam berjaganya
harimau itu membuat seekor beruang gunung mengurungkan niat mencabik-cabik tubuh tak
berdaya Yashinta. Harimau itu sekarang mematung, seperti bisa menatap siluet indah yang
sedang mengungkung tubuh Yashinta.
Dua bajing yang juga mengawasi tempat itu ikut terdiam Naik turun, celingak-celinguk
kepalanya terhenti, Menatap siluet indah yang sedang mendekat. Mengambang turun.
Burung peregrin itu melenguh lemah. Kemudian senyap.
Cahaya indah itu menguar di atas tubuh Yashinta.
Seperti parade yang turun membelah kabut. Kemilau tiada tara.
"Ya Allah, Lais mohon, jangan ambil adik Lais...."
Siluet cahaya itu membungkuk, mencium kening Yashinta lembut
Senyap. Lereng Gunung Semeru hening.
"Bangunlah adikku, Kakak menunggu di rumah...."
Lantas sekejap kemudian sirna.
Menghilang.
Tubuh yang sudah dua puluh jam pingsan itu pelan membuka mata. Mengerjap-ngerjap.
Yashinta berseru terbata "Kak Lais...?"



MAAFKAN KAMI

TENGAH malam kedua di lembah sejak SMS dari Mamak.
Dalimunte masih terjaga. Juga Mamak dan yang lain. Kak Laisa jatuh tertidur, kondisinya
tetap status quo. Kata dokter, tidak membaik, juga tidak memburuk. Juwita dan Delima meski
tadi ngotot bilang ingin menunggu Abi-Abi mereka (Ikanuri dan Wibisana) tiba, tapi tubuh
kanak-kanak mereka terlanjur lelah. Digendong Ummi masing-masing masuk kamar besar,
lantai dua. Intan yang terakhir digendong masuk kamar.
Telepon genggam Dalimunte berdengking. Buru-buru diangkat, siapa pula yang tengah
malam begini menghubunginya. Tidak mungkin Ikanuri dan Wibisana, karena mereka lima
belas menit lalu baru saja lapor sudah tiba di kota kecamatan. Sekarang sedang ngebut
secepat mobil balap itu bisa melaju ke perkebunan strawberry. Berusaha menepati janji, tiba
sebelum tengah malam. Apakah Yashinta yang telepon?
Goughsky. Ternyata yang menelepon WNI keturunan Uzbekistan itu.
"Yashinta sudah ditemukan, Kak Dali—"
Pelan saja Goughsky melapor. Langsung ke pokok pembicaraan. Tapi meski pelan, membuat
Dalimunte berseru tertahan.
"Kami menyebar belasan orang mencarinya. Menyusuri jalan setapak, memeriksa lembah,
sia-sia... Saat kami mulai putus-asa, ia sendiri yang datang ke posko pendakian, dengan kaki
patah. Ya Allah, andaikata Kak Dali bisa melihat energi sebesar itu. Yashinta memaksa
kakinya berjalan delapan kilometer, dengan tubuh terluka, pelipis berdarah...."
Dalimunte sudah tidak mendengarkan detail lagi. Kabar adiknya ditemukan selamat
membuatnya lega bukan main. Sejak Ikanuri dan Wibisana mengontak Goughsky tiga puluh
enam jam lalu dari Paris, kecemasan atas nasib Yashinta meninggi. Apalagi dua rekan
Yashinta justru bingung saat tahu Yashinta belum tiba di posko awal pendakian Gunung
Semeru. Tim SAR setempat diturunkan, Goughsky yang sama hafalnya dengan Yashinta
jalur pendakian Semeru memimpin pencarian. Siang malam. Menyusuri semua kemungkinan.
Dua puluh empat jam berlalu, mereka akhirnya menemukan telepon genggam satelit Yashinta
yang remuk, tapi tidak ada tubuh Yashinta di atas belukar itu. Hanya seekor peregrin dan dua
ekor bajing yang sibuk memperhatikan.
Dan lima menit yang lalu, betapa terkejutnya Tim SAR yang berjaga di posko awal
pendakian, Yashinta datang sendiri dengan tubuh luka, tertatih dengan tongkat seadanya di
tangan. Langsung jatuh pingsan. Goughsky segera meluncur turun. Menghentikan pencarian.
Menelepon Dalimunte. Melaporkan kondisi terakhir.
"Yashinta baik-baik saja.... Hanya lelah, terlalu lelah.... Ya Allah, saya tidak tahu apa yang
sebenarnya terjadi.... Dia bertahan hidup selama tiga puluh enam jam tanpa air minum
sekalipun..."
Dalimunte menelan ludahnya. Ketegangan itu mencair. Mamak menatapnya. Ingin tahu
apa yang membuat wajah Dalimunte berubah sedemikian rupa. Juga Cie Hui, Wulan dan
Jasmine.
"Aku akan segera membawa Yashinta pulang ke perkebunan. Sebentar lagi helikopter milik
Mr dan Mrs Yoko tiba.... Langsung setelah mendapatkan perawatan, Yashinta akan segera
pulang, Mr dan Mrs Yoko mengijinkan helikopternya dibawa ke Lembah Lahambay—"
Goughsky herjanji.
Menutup pembicaraan.
Dalimunte menghembuskan nafas lega.
"Ada apa?" Cie Hui bertanya, memegang lengan suaminya.
"Yashinta, Yashinta sudah ditemukan — "
Dalimunte berbisik pelan. Ditemukan? Cie Hui melipat dahi. Tidak mengerti. Beruntung
Mamak tidak mendengarkan. Kalau tidak akan timbul banyak sekali pertanyaan. Karena
Dalimunte selalu bilang Yashinta masih di perjalanan. Terlambat saat turun dari Gunung
Semeru. Hujan deras disana. Penerbangan juga banyak di cancel. Menutupi fakta kalau sudah
36 jam tdepon genggam satelit Yashinta putus kontak.
Beruntung pula, sebelum Mamak benar-benar ingin bertanya, mendadak terdengar suara
derum mobil di luar.
Pintu-pintu yang dibanting. Seruan Bang Jogar.
Langkah kaki yang berderak menaiki anak tangga kayu.
Dan sekejap, Ikanuri dan Wibisana sudah masuk ke dalam ruangan. Setengah berlari.
Dengan wajah cemas
Ikanuri bahkan tidak mempedulikan Dalimunte yang berdiri di depan kamar. Melewati
Cie Hui, Jasmine, Wulan, bahkan Mamak. Ikanuri langsung menghambur ke ranjang Kak
Laisa. Matanya berkaca-kaca. Sungguh ia sesak menahan kalimat itu. Kalimat yang tertahan
seperempat abad lebih, 25 tahun. Sungguh sejak di kereta ekspress Eurostar dia takut tak
sempat lagi mengatakannya.
Ikanuri langsung bersimpuh, gemetar menciumi tangan Kak Laisa, Wajahnya buncah
sudah oleh rasa sesal. Dan dia seketika menangis—
"Maafkan Ikanuri.... Sungguh maafkan Ikanuri, Kak Lais.... Maafkan Ikanuri yang dulu selalu
bilang Kak Laisa bukan kakak kami— ?" Dan Ikanuri tersungkur sudah. Tersedu.
Padahal saat itu Kak Laisa masih tertidur.



BAYI YANG DITINGGAL PERGI

TERUS-TERANG, mengungkit masa lalu Laisa bukanlah bagian yang menyenangkan.
Tetapi tidak adil jika kalian tidak tahu ceritanya. Apalagi untuk mengerti utuh semua kisah
ini. Mengerti betapa Kak Laisa tulus melakukan semuanya. Maka, dengan melanggar janjiku
kepada keluarga mereka, ijinkanlah aku menceritakannya.
Ikanuri benar. Kak Laisa bukan kakak mereka. Sedikitpun tidak memiliki hubungan darah
dengan keluarga mereka.
Mamak Lainuri sebenamya menikah dua kali. Pernikahan pertama, dengan lelaki
pendatang di kampung atas. Saat umurnya baru enam belas tahun. Lelaki itu 24, duda dengan
seorang bayi berusia enam bulan. Si kecil Laisa.
Wak Burhan, satu-satunya kerabat Mamak (karena Mamak Lainuri yatim piatu sejak usia
sebelas tahun), amat berkeberatan dengan pernikahan itu. Pernikahan yang keliru, Mereka
tidak mengenal baik pemuda tersebut. Tidak mengenal keluarganya. Hanya wajahnya saja
yang terlihat tampan menyenangkan. Tapi itu 180 derajat kontras dengan kelakuannya.
Kecemasan Wak Burhan benar, duda dengan bayi mungil itu memperlakukan Mamak sama
seperti memperlakukan istri pertamanya. Kasar. Suka memukul Berteriak. Dan kerjanya
hanya mabuk di kota kecamatan Berjudi di lapak-lapak pasar. Menurut bisik-bisik tetanga
konon istri pertamanya dulu meninggal juga karena ulahnya. Tapi tidak ada yang bisa
mencegah pernikahan tersebut. Dan tidak ada juga yang kuasa memperbaiki keputusan yang
terlanjur dibuat. Entahlah mengapa Mamak amat menyukai pemuda itu (duda dengan bayi
enam bulan pula).
Mamak sebenarnya mewarisi tanah cukup luas dan banyak perabotan dari orang-tuanya
yang meninggal saat banjir bandang di sungai cadas lima meter. Tapi semuanya tergadai satu
persatu oleh tabiat judi suaminya. Dan yang paling menderita atas tabiat buruk tersebut
adalah Laisa. Bayi berumur enam bulan tersebut pernah jatuh ke dalam baskom air saat
berumur sembilan bulan. Terendam. Mamak yang pulang dari kebun amat terkejut melihat
Laisa sudah membiru. Sedangkan yang bertugas menjaga justru tertidur dengan mulut bau
minuman keras di samping ranjang.
Maka rusuhlah kampung mereka. Amat cemas Mamak melakukan apa saja untuk
menyelamatkan bayi mungil itu. Seolah bayi itu darah dagingnya sendiri. Melakukan apa
saja. Dan ajaib, Laisa terselamatkan. Meski bayi montok dan lucu itu harus membayar mahal
sekali. Karena sejak saat itu pertumbuhan Laisa mulai tidak normal. Saraf bicara, mendengar,
kemampuan berpikir, dan sebagainya memang tumbuh normal. Tapi badan Laisa tumbuh
lebih pendek dibanding teman seusianya. Wajahnya juga terlihat sedikil tidak proporsional.
Soal rambut gimbal dan kulit hitam, itu mewarisi ayahnya. Ayah yang saat Laisa berumur
dua tahun justru tega pergi begitu saja dari lembah tersebut. Tidak ada yang tahu kemana. Dia
menghilang begitu saja setelah Mamak jatuh miskin, kehilangan tanah dan perabotan.
Menyedihkan sekali melihat bayi kecil itu ditinggal pergi. Membuat nestapa Mamak jadi
sempurna. Sudah kehilangan suami. Mesti merawat bayi yang bukan darah dagingnya pula.
Tapi Mamak menyayangi bayi kecil itu seperti anaknya sendiri. Lagi pula keputusan menikah
dulu juga keputusannya sendiri. Maka dengan kehidupan yang semakin susah di lembah,
Mamak memutuskan bertahan hidup.
Tiga tahun hidup sesak, kabar baik itu tiba.Mamak menikah untuk kedua kalinya dengan
pemuda kampung atas. Babak mereka sekarang. Pemuda yang dulu amat patah hati melihat
Mamak menikah dengan orang lain. Sekarang mendapatkan kembali cinta terpendamnya.
Babak bisa menerima Mamak apa adanya. Janda miskin. Juga bisa menerima si kecil Laisa
dengan baik.
Meski hidup mereka tidak berubah, tetap susah, tapi kehidupan berkeluarga mereka
berjalan normal, bahkan dalam banyak waktu terlihat cukup bahagia. Saat Laisa berumur
enam tahun, lahirlah Dalimunte. Dua tahun kemudian Wibisana, menyusul Ikanuri dengan
jarak hanya sebelas bulan, dan terakhir ditutup dengan lahirnya si bungsu yang manis;
Yashinta. Anak-anak yang lucu. Menggemaskan. Sayang, masa-masa bahagia itu terputus
saat Yashinta masih dalam kandungan. Ikanuri dan Wibisana juga masih terlalu kecil untuk
mengerti. Babak mereka diterkam sang penguasa Gunung Kendeng. Maka yatimlah anakanak
tersebut.
Semua penduduk Lembah Lahambay tahu persis kisah ini. ini kalau Laisa bukanlah siapasiapa
di rumah panggung tersebut. Hanya bayi yang ditinggal pergi. Dalimunte yang beranjak
besar tahu fakta tersebut dari bisik-bisik tetangga. Ikanuri dan Wibisana. Bedanya,
Dalimunte tidak ambil pusing. Sedangkan dua sigung nakal tersebut menjadikan itu alasan
untuk membantah, tidak menurut. Yashinta saja yang terlalu takut bertanya yang tidak pernah
tahu detailnya. Meski saat ia mulai sekolah di kota provinsi, Yashinta jelas bisa mengambil
kesimpulan sendiri kalau Kak Laisa memang bukan kakak mereka. Mereka terlalu berbeda.
Mamak tidak pernah mengungkit-ungkit kisah suram tersebut. Memutuskan untuk tidak
menceritakan kejadian jatuhnya Laisa ke dalam baskom air. Yang membuatnya tumbuh
cacat. Mamak tidak pernah menganggap Laisa orang lain, baginya sulung di keluarga itu
adalah Laisa. Juga Babak mereka semasa hidup. Malam sebelum kejadian Babak diterkam
harimau. Babak sempat mengusap rambut Laisa yang saat itu baru berumur sepuluh tahun.
Tersenyum,
"Lais, kau bantu Mamakmu menjaga adik-adik hingga Babak pulang dari mencari
kumbang—"
Laisa kecil mengangguk mantap sekali.
Anggukan yang menjadi janji sejati. Karena Babak ternyata tidak pernah pulang-pulang. Janji
seorang kakak.
"Maafkan Ikanuri.... Sungguh maafkan Ikanuri, Kak Lais... Maafkan Ikanuri yang dulu
selalu bilang Kak Lais bukan kakak kami — "
Ikanuri masih tersungkur.
Kak Laisa membuka matanya. Mengerjap-ngerjap. Tadi ia baru saja bermimpi saling
berkejaran dengan adik-adiknya di hamparan kebun strawberry. Ia yang berusia enam belas
tahun, Dalimunte dua belas, Wibisana hampir sembilan, Ikanuri delapan, dan Yashinta enam
tahun. Berlarian di sela-sela buah merah-ranum menggoda. Mamak yang berdiri meneriaki di
lereng atas. Langit membiru. Seekor elang melenguh di garis cakrawala Gunung Kendeng.
Amat menyenangkan.
Kak Laisa membuka matanya. Kepalanya sedikit terangkat. Perlahan mengerti apa yang
sedang terjadi. Ikanuri dan Wibisana sudah tiba. Lihatlah, adiknya yang paling nakal, adiknya
yang paling keras kepala, sedang tersungkur menciumi tangannya. Menangis penuh rasa
sesal.
Kak Laisa terbatuk. Bercak darah itu mengalir. Cie Hui buru-buru mendekat, meraih
tissue, membersihkan. Mamak sudah menangis di pelukan Dalimunte. Mamak yang jarang
sekali menangis, tersedu. Tudung kepalanya lepas. Rambut putihnya terlihat. Bahunya naik
turun menahan rasa sesak. Dan Wibisana menambah senyap suasana. Wibisana ikut
bersimpuh di samping Ikanuri. Ikut menangis.
"Sungguh, maafkan Wibisana...."
Dan kamar Kak Laisa sempurna sudah menyisakan desau sepotong kisah suram masa lalu
itu. Bagi Mamak, melihat semua ini seperti mengembalikan seluruh kenangan hidupnya.
Masa-masa keliru. Masa-masa yang seharusnya ia isi dengan penjelasan. Tidak seharusnya ia
menutupi kenyataan itu.
Bagi Dalimunte, melihat adik-adiknya bersimpuh penuh penyesalan, mengembalikan
seluruh kejadian di sungai cadas lima meter. Dia yang melihat Kak Laisa bekerja keras
terpanggang matahari di kebun jagung demi mereka. Kak Laisa yang berjanji akan
membuatnya terus sekolah. Yang boleh malu dan sakit itu Kak Laisa, bukan adik-adiknya....
Bagaimana mungkin Kak Laisa bukan kakak mereka dengan: semua itu? Dalimunte tahu
persis kalau adik-adiknya suka bilang kalimat menyakitkan itu, tapi dia tidak pernah kuasa
untuk menegur. Lagipula, Ikanuri dan Wibisana belum mengerti. Lihatlah, bertahun-tahun
saat sudah sekolah di kota provinsi, saat adik-adiknya mengerti, mereka amat menghargai
Kak Laisa. Lebih dari siapapun.
Bagi Ikanuri dan Wibisana, jelas-jelas semua ini mengembalikan kenangan masa kecil
mereka. Perlakuan buruk mereka kepada Kak Laisa. Dan perlakuan sebaliknya Kak Laisa
kepada mereka. Janji sejuta kunang-kunang. Janji kesempatan yang lebih besar di luar
lembah. Kak Laisa yang tidak pernah datang terlambat. Malam di lereng Gunung Kendeng....
Kamar itu menyisakan isak tertahan.
Tangan Kak Laisa gemetar mengangkat kepala adiknya. Mata itu menatap begitu tulus.
Tersenyum,
"Kakak selalu memaafkan kalian.... Kakak selalu memaafkan kalian.... Ya Allah, meski dunia
bersaksi untuk menyangkalnya, meski seluruh dunia bersumpah membantahnya, tapi mereka,
mereka selalu menjadi adik-adik yang baik bagi Laisa.... Adik-adik yang membanggakan...."
Kak Laisa ikut menangis. Terbatuk. Bercak darah itu mengalir.
Dan kamar itu menyisakan tangis dua sigung nakal yang mengeras. Semua masa lalu itu,
tidak akan pernah bisa dipisahkan dari kehidupan mereka, tidak peduli seberapa baik
kehidupan mereka sekarang.



PRIA UZBEK

"SEMUA VIRUS, bakteri, dan sumber penyakit jahat lainnya selalu datang dari hewan liar,
Miss Headstone — "
Pria tinggi, kekar, dan tampan itu menyeringai. Mengangkat tangannya.
"Kau tahu, virus flu pertama kali yang menyerang dunia tahun 1918, yang menewaskan 100
juta orang, itu jelas mutasi virus flu dari hewan liar.... Sebagai ahli biologi, konservasi dan
sebagainya aku pikir kau pernah diajarkan soal itu di bangku kuliah."
"Aku tahu itu—" Yashinta menukas, tersinggung
"Juga Ebola, HIV/AIDS yang berasal dari kera hutan pedalaman Afrika. Dan berarus-ratus
penyakit mematikan lainnya.... Kau tahu, tahun 1960 virus flu bermutasi lagi, mematikan
jutaan orang di seluruh dunia. Aku berani bertaruh, dengan siklus penyakit flu empat puluh
tahunan tersebut, awal abad 21 nanti, mungkin 2008, 2010, empat puluh, lima puluh tahun
dari 1960-an, juga akan terjadi mutasi flu dari hewan liar lainnya, dan itu kemungkinan besar
dari unggas.... Membawa virus flu yang lebih mematikan, dan bisa jadi mengulang tragedi
tahun 1918, ratusan juta meninggal. Jadi bagaimana mungkin kau akan membuktikan bahwa
virus, bakteri, dan semua penyakit jahat itu tidak berasal dari hewan liar."
Goughsky nama pemuda itu, terlihat begitu menikmati perdebatan tersebut.
Mereka sedang berdiri di ramainya gala dinner yang diadakan institusi donor (pemberi
dana) konservasi alam terbesar dunia. Di convention center salah satu hotel mewah London.
Sejak bekerja menjadi peneliti lingkungan hidup, Yashinta sering terlibat dalam acara seperti
ini. Mencari pendanaan untuk proyek konservasi dan penelitian flora-fauna langka di
Indonesia. Termasuk minggu-minggu ini saat menghadiri pertemuan aktivis di London.
Awalnya hanya Yashinta yang berbicara dengan Mr dan Mrs Yoko, salah-satu pendiri
institusi donor raksasa itu, membicarakan tentang konservasi elang jawa. Entah mengapa,
pemuda sialan ini, tiba-tiba ikut mendekat, ikut berbicara. Dan entah apa pasalnya mereka
sudah berdebat soal mutasi genetik virus penyakit mematikan dari hewan liar ke manusia.
"Aku tahu kalau semua penyakit itu dari hewan liar, tapi bukan berarti mereka penjahatnya!"
Yashinta mendesis sebal. Siapa pula pemuda ini yang mengganggu rencananya. Ia sejak
kemarin merencanakan memberikan proposal konservasi elang jawa itu secara personal ke
Mr dan Mrs Yoko. Mencari waktu yang tepat. Dan pemuda sialan ini tiba-tiba ikut masuk
dalam pembicaraan.
"Well, aku kan tidak bilang mereka penjahatnya. Hanya bilang fakta kalau semua virus itu
berawal dari hewan liar.. Come on, kau saja yang terlalu mencintai hewan-hewan itu, keras
kepala, tidak mau mendengarkan kalimat orang lain dengan baik—"
Goughsky mengangkat bahunya. Tersenyum lebar ke arah Mr dan Mrs Yoko.
Dasar penjilat, pemuda ini pasti juga berkepentingan dengan dana dari Mr dan Mrs Yoko,
mungkin untuk membiayai proyek sialan miliknya. Mencari perhatian di depan pasangan ini.
Yashinta mengatupkan rahang. Wajah cantiknya memerah.
"Goughsky benar, my darlingl" Mr Yoko tertawa kecil, menengahi,
"Kau memang terlalu mencintai hewan-hewan itu, sehingga selalu otomatis bilang tidak
untuk fakta yang menjelek-jelekkan mereka. Kau tahu, terlalu mencintai terkadang membuat
kita berpikir tidak rasional, tidak fair, my dear-"
"Bukan itu maksudku," Yashinta menjawab cepat berusaha mengendalikan diri,
"Aku setuju kalau virus dan bakteri itu berasal dari mereka, tapi manusialah yang
mengganggu keseimbangan alam, mengintervensi mekanisme mutasi virus tersebut dengan
polusi produk kimia, industri yang berlebihan, perubahan iklim, kerusakan hutan, kapitalisme
dan sebagainya.... Jadi jelas, bukan hewan-hewan liar itu penjahatnya!"
"Well, bukankah dari tadi di sini memang tidak ada yang bilang hewan-hewan itu
penjahatnya?" Goughsky nyengir lebar sekali.
Mrs Yoko yang sudah beruban tertawa, melambaikan tangan
"Sudah! Sudah, Goughsky, Jangan diperpanjang lagi. Kau jangan membuat Yashinta marah,
Goughsky.... Hush! Mari, Yash sayang, kita mengambil sesuatu untuk mengganjal perut. Biar
perdebatan menyebalkan seperti ini dilanjutkan para pria."
Yashinta mendelik ke arah pemuda sialan itu. Berusaha tetap sopan menggandeng Mrs
Yoko. Melangkah menuju meja hidangan.
"Kau mungkin lupa namanya, pemuda itu Goughsky, ayahnya Uzbekistan, ibunya dari
negaramu, Indonesia.... Haha, dia memang terkadang menjengkelkan seperti itu...."
"Kalian? Kalian sudah mengenalnya?" Yashinta mengambilkan piring buat Mrs Yoko.
"Tentu saja my sweetheart, kemarin kami baru saja menyetujui salah satu proyek
penelitiannya. Seratus ribu dollar. Penelitian yang hebat."
"Kalian? Kalian sudah memutuskan? Sudah memberikan dana itu ke orang lain?" Yashinta
menelan ludah. Apa yang ia cemaskan tadi terbukti, kan? Pemuda sialan itu akan mengambil
dana penelitiannya.
"Kau tetap akan mendapatkan dana konservasimu, sayang. Kami tahun ini memutuskan untuk
mendanai dua proyek penelitian ekologi sekaligus.
Mendanai peneliti yang penuh semangat seperti kalian." Mrs Yoko tertawa, melambaikan
tangan.
Yashinta ikut tertawa, meski tawanya sedikit kebas. Lega. Bercampur sisa-sisa perasaan
sebal. Dan entahlah. Bercampur jadi satu.
Itu pertemuan pertama Yashinta dengan Goughsky. Pertemuan pertama yang jauh dari
mengesankan. Malah bagi Yashinta amat menyebalkan. Yang sialnya, entah mengapa
ternyata diikuti dengan pertemuan-pertemuan lebih menyebalkan berikutnya.
Bukankah pernah dibilang sebelumnya, Yashinta tidak terlalu suka bergaul dengan
teman-teman lelakinya. Gadis cantik itu dalam kasus tertentu malah membenci kolega lelaki.
Benci melihat kelakuan mereka yang sibuk mencari perhatian. Apakah mereka akan tetap
sibuk mencari perhatian jika wajah dan fisiknya seperti Kak Laisa? Bah! Mereka hipokrit
sejati. Nah, ditambah tingkah Goughsky yang suka mentertawakan, menyeringai kepadanya
seperti sedang menghadapi anak kecil yang bandel dan keras kepala, kebencian Yashinta
bertumpuk-tumpuk sudah.
Celakanya, Mr dan Mrs Yoko sengaja memberikan dana konservasi buat mereka berdua
karena proyek mereka bersisian, saling melengkapi: tentang pemetaan dan konservasi elang
jawa. Maka Yashinta benar-benar meledak saat tahu hal tersebut. Yashinta diberitahu saat
sedang makan malam di rumah Mr dan Mrs Yoko. Tahu kalau Goughsky ikut diundang saja
sudah membuat Yashinta mengkal, apalagi saat Goughsky dengan ringannya bilang,
"Miss Headstone ini akan jadi sekretaris proyek yang baik. Ia akan selalu melaporkan
kemajuan program kepadaku, Mr Yoko."
Yashinta tidak ingin bekerja satu tim dengan pemuda Uzbek sialan ini. Apalagi di bawah
supervisinya. Tapi di meja makan itu seperti tak ada yang memperhatikan raut merah padam
keberatan Yashinta.
"Kalau tidak salah, Goughsky kakak kelasmu di Belanda, bukan? Terpisah tiga tahun? Jadi
aku pikir dia lebih pantas menjadi leader proyek ini, sayang—" Mrs Yoko mengangguk
setuju.
Memangnya kenapa? Yashinta mendesis sebal dalam hati. Memangnya kenapa kalau dia
lebih senior dibandingkan dirinya. Ia bisa mengurus proyek risetnya sendirian. Tidak perlu
digabungkan dengan pemuda sok pintar dihadapannya! Tapi hingga makan malam itu usai,
Yashinta masih bisa mengendalikan diri. Berusaha terus tersenyum. Mengangguk. Menurut.
Meski ia kesal sekali melihat gaya Goughsky didepannya. Menyeringai, seolah-olah
menganggap dirinya peneliti kemarin sore, yang harus belajar lebih banyak.
Maka setahun terasa bagai seabad bagi Yashinta. Proyek itu dimulai segera sekembalinya
mereka dari pertemuan di London. Basecamp konservasi dibangun di Taman Nasional
Gunung Gede. Berbagai peralatan didatangkan. Mereka didukung oleh sebelas peneliti lokal,
dari berbagai universitas sekitar. Juga petugas Taman Nasional, institusi terkait, dan
penduduk setempat.
Andaikata proyek ini tidak penting. Andaikata Mr dan Mrs Yoko bukan orang penting.
Andaikata.... Sudah dari dulu Yashinta ingin menimpuk pemuda setengah bule setengah
melayu itu dengan gumpalan tanah (sama seperti ia menimpuk anak-anak nakal dulu).
Mereka selalu bertengkar di basecamp Selalu berdebat. Dan karena Yashinta di bawah
komando Goughsky, maka suka atau tidak suka, ia lebih banyak makan hati.
"Tahu nggak sih, temanku juga begini nih dulu. Bertengkar mulu tiap hari, eh belakangan
malah jadi suami istri." Rekan peneliti lokal yang cewek seringkali menggoda Yashinta.
"Lu gila ya, ganteng gini setiap hari malah diajak ribut Yash. Harusnya disayang-sayang...."
Tertawa.
Itulah masalahnya. Yashinta sejak kecil Sudah keras kepala. Dan penyakit orang keras
kepala adalah jika sejak awal ia tidak suka, maka seterusnya ia akan memaksa diri untuk
tidak suka. Tidak rasional. Seringkali perdebatan (pertengkaran) mereka sebenarnya karena
kesalahan Yashinta. Hal-hal kecil. Bahkan dalam banyak kasus Yashinta sendiri yang
mencari-cari masalah. Ingin menunjukkan ketidak sukaannya.
Jadi tidak aneh jika Yashinta banyak melupakan detail yang lebih besar. Seperti betapa
tampannya Goughsky, ergh, maksudnya bukan itu. Yashinta bahkan tidak menyadari kalau
Goughsky berbeda sekali dengan tipikal teman lelaki yang dikenalnya selama ini. Tidak
sibuk mencari perhatian. Bahkan sedikit marah jika rekan peneliti lokal cewek lainnya
bergenit-genit ria dengannya.
Goughsky juga tipikal pemuda yang menyenangkan. Dekat dengan penduduk setempat
lokasi basecamp, suka bergurau, dan yang pasti amat sabar. Kalau saja Yashinta mau
menghitung perdebatan mereka, hanya Goughsky yang bisa sabar dengannya. Yang lain
sudah mengkal sejak tadi. Pemuda Uzbek itu juga alim. Dia yang selalu meneriaki rekan
kerjanya untuk shalat. Terkadang meneriaki Yashinta, yang dijawab teriakan pula. Membuat
Yashinta mengomel dalam hati, sejak kecil Yash sudah terbiasa shalat malam bersama Kak
Lais dan Mamak, tidak perlu diteriaki, mentang-mentang muslim Uzbek, sok alim.
Maka jadilah setiap dua bulan sekali, saat jadwal pulang ke lembah, Yashinta selalu
mengeluhkan siapa lagi kalau bukan Goughsky. Goughsky. Dan Goughsky.
"Ia bahkan hingga sekarang tetap memanggilku, Miss Headstone.... Miss Headstone—"
Yashinta berseru sebal, menirukan intonasi suara Goughsky dengan jijik.
Kak Laisa yang melihatnya tertawa. Juga Cie Hui, Wulan, dan Jasmine yang duduk
melingkar di ruang depan rumah panggung.
"Dan bule sialan itu selalu bilang, 'Memangnya kau tidak diajarkan itu di bangku kuliah?
Memangnya dosenmu tidak pernah bilang itu? Memangnya....' Bah! Bukan dia saja yang
lulus cumlaude di Belanda. Sok paling pintar!"
Intan yang sekarang sudah tiga tahun cuek berlenggak-lenggok di depan tantenya yang
sedang bete. Memegang kedua pipi tantenya, Sengaja menekan-nekannya. Meniru ulah
tantenya kalau lagi gemas dan mencubit pipi tembamnya. Yang lain tertawa. Lihatlah, Intan
persis meniru kelakuan Yashinta. Berseru,
"Iiihhh!" Sok mengerti apa itu gemas. Mencubit pipi tantenya.
"Hush, kalian jangan banyak tertawa, nanti bayinya keluar mendadak seperti Kak Cie"
Ikanuri yang baru bergabung duduk di ruang tengah rumah panggung pura-pura marah.
Menyuruh istrinya diam. Wulan dan Jasmine sedang hamil tua. Sama seperti Cie Hui, Wulan
dan Jasmine juga ingin anak-anak mereka di lahirkan di perkebunan. Menghirup udara segar
lembah untuk pertama kalinya. Merasakan sejuknya. Menginjak rerumputan yang berembun.
Tertawa lagi menatap wajah Ikanuri yang serius sekali saat mengatakan itu. Ruang tengah
itu dipenuhi banyak energi bahagia. Jadi siapa pula yang peduli dengan suara mengkal
Yashinta? Toh yang lain menganggap keluhan Yashinta tidaklah seserius itu. Bagaimana
akan serius? Yashinta meski wajahnya sebal, tapi setiap pulang selalu saja sibuk dan merasa
berkepentingan untuk menceritakan kelakuan Goughsky, Goughsky. Dan Goughsky.
Masa yang begitu dibilang benci?



MASA - MASA BERBAIKAN

"BAGAIMANA kabar bayi-bayinya?" Goughsky bertanya, suaranya pelan. Sengaja, biar
tidak mengganggu pengamatan. Berdua berdiri di atas menara intai setinggi dua belas meter.
Ada sepuluh menara seperti itu di Taman Nasional Gunung Gede, masing-masing berjarak
seratus meter. Menyeruak di tengah-tengah rimba, di atas kanopi pepohonan. Dibangun
dengan dana dari Mr dan Mrs Yoko. Tempat yang paling tepat untuk mengintai elang jawa.
"Apa?" Yashinta menoleh. Meski suaranya juga pelan, tapi intonasinya tetap ketus. Ia sebal
sekali, setelah cuti dua minggu yang menyenangkan di perkebunan, saat kembali ke
basecamp, siang ini, di jadwal pembagian tugas mengintai mereka tertulis: Goughsky &
Yashinta, menara 9. Itu pasti kerjaan rekan peneliti lokal yang bertugas menyusun jadwal.
Sengaja benar. Lihatlah, dari beberapa menara di kejauhan, beberapa kolega peneliti
melambai-lambaikan tangan. Tersenyum. Mengacungkan jempol. Terlihat jelas wajah puas
mereka dari teropong.
"Apa kabar bayi-bayinya?" Goughsky tersenyum, mengulang pertanyaan.
"Baik!" Yashinta menjawab pendek. Menyeringai. Sejak kapan mahkluk setengah bule
setengah melayu ini bertanya soal pribadi? Sambil tersenyum pula? Yashinta mendesis sebal
dalam hati. Itulah tabiat keras kepala, jelas-jelas sejak dulu Goughsky selalu peduli dengan
anggota timnya, dan selalu tersenyum saat bicara.
"Pasti salah satu nama anak itu Delima, bukan?"
"Bagaimana kau tahu?" Yashinta melipat dahinya.
Goughsky tertawa pelan, mengangkat bahu,
"Yang memberikan nama pasti Laisa, kan? Anak Profesor Dalimunte kalau tidak salah, Intan.
Jadi mudah ditebak, Laisa sejak awal sengaja memberikan nama-nama batu permata ke
mereka!"
"Kau tahu dari rnana anak Kak Dali bernama Intan?" Yashinta benar-benar melipat dahinya.
"Ssst!" Goughsky menyuruhnya diam. Dari kejauhan terlihat seekor burung terbang rendah.
Teropong-teropong terangkat. Juga milik peneliti di menara lainnya. Bukan. Itu bukan elang
jawa.
"Dari mana kau tahu Kak Laisa? Kak Dali? Intan?"
Yashinta melepas teropongnya. Bertanya sekali lagi. Menyelidik.
"Loh, bukannya kau sendiri yang sering menceritakan mereka? Keluarga di lembah indah itu?
Sibuk bercerita saat makan malam, makan siang, sarapan. Di mana saja. Membuat yang lain
pekak mendengarnya. Tentu saja aku tahu—"
"Tapi, tapi aku tidak bercerita untukmu." Yashinta memotong, seperti biasa ngotot.
Goughsky hanya tertawa, menatap Yashinta lamat-lamat. Yang bagi Yashinta tatapan itu
sama saja seperti kemarin-kemarin: merendahkan, menilainya anak kecil yang keras kepala.
"Yash, aku tidak tahu mengapa kau sebenci itu kepadaku.... Aku tadi kan hanya bertanya
baik-baik, apa kabar bayi Ikanuri dan Wibisana? Kau tidak perlu ketus, bukan?"
"Siapa pula yang ketus?" Yashinta menyergah.
Goughsky menghela nafas. Sudahlah. Memasang teropongnya. Kembali menyapu langit
hutan Gunung Gede. Penelitian mereka sudah separuh jalan. Sudah berhasil menginventarisir
jumlah populasi elang langka tersebut. Bulan depan sudah mulai masuk ke fase lebih penting.
Menyiapkan system perlindungan. Mulai dari pemetaan area konservasi, sosialisasi kepada
penduduk setempat, hingga kemungkinan mengembang biakkan burung itu di luar ekosistem
hutan ini. Membawa beberapa pasangan ke kebun binatang yang lebih maju misalnya.
Hingga sore, tidak ada satupun elang jawa yang teramati dari menara 9. Nihil. Bagaimana
akan dapat? Jika Yashinta hanya sibuk menyumpah-nyumpah dalam hati. Yashinta ingat
sekali, pertama kali menara itu didirikan, Goughsky memberikan latihan tentang insting,
bagaimana menemukan elang-elang itu:
"Kita tidak menemukan mereka.... Merekalah yang akan menemukan kita.... Berlatihlah
mengenali objek dengan baik. Mengenali ciri-ciri fisik elang jawa dengan sempurna.
Kesempatan melihat mereka terbang di langit hanya beberapa detik, dan kita tidak mau
menjadi orang paling tolol karena ragu-ragu apakah itu elang jawa atau bukan. Kecuali kalian
bisa menyuruh elang itu untuk pose di langit sana, lantas kalian mencocokkannya dengan
gambar di buku—"
Yang lain sih tertawa, asyik mendengarkan Goughsky dengan tatapan terpesona. Yashinta
hanya menatap sebal. Ia tidak perlu diajari soal itu. Sejak kecil ia terlatih di hutan. Belajar
langsung dari ahlinya. Tahu apa coba mahkluk setengah bule ini soal rimba?
"Tentu saja aku tahu, aku dibesarkan di hutan salju Uzbekistan. Sendirian. Yatim piatu.
Menghadapi kerasnya belantara. Umur dua belas tahun aku harus berkelahi dengan beruang
salju raksasa. Memitingnya dengan tangan ini."
Goughsky tertawa menjelaskan, sambil menunjukkan lengannya yang kekar. Saat itu mereka
sedang menemukan jejak beruang di lereng Gunung Gede. Menjawab pertanyaan kolega
peneliti lokal yang bertanya itu jejak apa.
Yang lain lagi-lagi terpesona. Dan Yashinta lagi-lagi menatap sebal. Itu pasti bohong.
Bule sialan ini sengaja memancing-mancing emosinya, karena semalam di basecamp,
Yashinta menceritakan kejadian Kak Laisa dan tiga harimau di Gunung Kendeng. Mahkluk
setengah-setengah ini pasti tidak mau kalah dengannya. Mengarang cerita-cerita
menyebalkan itu.
"Hati-hati, Yash! Itu sarang landak, biasanya ada sisa durinya."
Goughsky sigap menarik lengan Yashinta.
"Aku tahu!" Yashinta yang melamun, menjawab pendek. Menarik kakinya yang terlanjur
melangkah.
Senja membungkus lereng Gunung Gede. Garis horizon terlihat merah. Kabut turun
melingkupi. Dingin. Mereka beriringan berjalan menuju basecamp. Kembali dari menara 9.
Yashinta memperbaiki syal di leher. Menyibak belukar di sebelahnya. Menghindari sarang
landak itu. Berdiam diri sepanjang jalan. Diam-diam berpikir. Yang itu sebenarnya ia tidak
tahu. Bahkan Yashinta tidak yakin apakah Kak Laisa bisa mengenali sarang landak hanya
dengan melihat selintas di tengah remang senja seperti ini? Melirik ke belakang Goughsky
terlihat melangkah santai. Mata birunya terlihat indah di remang senja.
Yashinta buru-buru menoleh ke depan lagi.
Kemajuan proyek konservasi elang jawa mereka sejauh ini menggembirakan. Mr dan Mrs
Yoko datang di bulan ke sembilan. Kunjungan selama seminggu. Langsung membawa
helikopter pribadi mereka. Pasangan itu terlihat senang memperhatikan foto-foto, peta area
konservasi, rencana program sosialisasi, dan sebagainya.
"Kemajuan yang baik, very well.... Awalnya aku cemas kalian akan lebih sering bertengkar
dibandingkan mengerjakan proyek ini, my dear." Mrs Yoko menyentuh lembut lengan
Yashinta.
"Tidak. Tentu saja kami tidak sibuk bertengkar. Kalian tahu, Yash ternyata bisa diandalkan....
Ia bisa menjadi sekretaris proyek yang baik. Ia pandai sekali kalau urusan catat-mencatat."
Goughsky yang menjawab. Sambil tertawa.
Yashinta ikut tertawa.
Dua bulan terakhir, meski ia masih sering bertengkar dengan Goughsky, sering menjawab
ketus, tapi ia mulai terbiasa. Seperti batu yang terkena tetesan air, keras kepalanya mulai bisa
berlubang dengan sabaaaarnya Goughsky. Jadi ia hanya ikut tertawa dengan gurauan pemuda
Uzbek itu. Tidak sibuk mendesis sebal dalam hati.
Dan itu bermula dua bulan lalu, saat jadwal pulang rutin dua bulanan Yashinta ke
perkebunan strawberry, bule itu berbaik hati mengantarnya ke bandara. Menyerahkan dua
ukiran kayu sebelum ia melangkah menuju pintu keberangkatan.
"Aku membuatnya sendiri—"
"Tidak mungkin!" Yashinta memotong. Bagaimana mungkin mahkluk setengah-setengah ini
bisa mengukir kayu seindah ini. Dengan masing-masing bergambar beruang salju sedang
bermain. Pohon-pohon cemara. Bukankah ia tidak pernah melihat Goughsky melakukan
kerajinan tangan itu selama di basecamp.
"Aku membuatnya saat kalian masih sibuk mendengkur tidur shubuh-shubuh. Terserah Yash
sajalah. Percaya atau tidak," Goughsky tertawa, mengangkat bahu,
"Berikan ke Delima dan Juwita, hadiah dariku. Dari paman setengah-setengahnya.... Kalau
kau tidak keberatan, bisikkan ke telinga-telinga kecil mereka, selamat datang di dunia yang
indah."
Sejak saat itu, Yashinta sedikit banyak menyadari beberapa hal. Cerita-cerita hebat masa
kecil Goughsky benar. Ayahnya yang bekerja di Siberia, salah-satu teknisi pengeboran
ladang minyak di sana. Sebelumnya, ayah Goughsky pemah kerja di pengilangan minyak
Arun, Aceh, makanya menikah dengan wanita Indonesia. Sayang, tragedi badai salju
menghabisi komplek ladang minyak di Siberia. Meninggalkan Goughsky yang baru berumur
enam tahun. Yatim piatu. Dibesarkan kerabat di pinggiran hutan salju. Makanya pemuda
Uzbek iiu jauh lebih tangguh dan tahu lebih banyak tentang kehidupan liar dibandingkan
Yashinta. Cerita soal memiting beruang salju raksasa itu benar adanya.
Fase sosialisasi proyek kepada penduduk lokal juga membuat Yashinta menyadari sisi
lain Goughsky. Pemuda bule itu memang tidak sok akrab, sok alim, dan sok sebagainya.
Penduduk yang suka sekali menangkapi elang jawa itu jauh lebih menyukai Goughsky
dibandingkan peneliti lokal lainnya. Mereka lebih menurut dengan kalimat-kalimat pemuda
Uzbek itu. Yang meski saat memberikan penyuluhan, intonasi melayunya masih terdengar
agak ganjil.
Dan yang lebih penting lagi, tentu saja Yashinta mulai menyadari kalau mahkluk
setengah-setengahnya itu cukup tampan. Menatap mata birunya....
Jadi sejak itu, Yashinta dan Goughsky mulai terlihat rukun, membuat rekan peneliti lokal
lainnya lebih sering menggoda,
"Kalian sejak kapan pacaran?" Maka Yashinta akan melotot marah.
"Apa kubilang dulu? Bertengkar sekarang, bersenang-senang kemudian!" Kalau yang ini,
Goughsky ikutan melempar spidol. Membuat yang lain semakin semangat menggoda.
Seminggu berlalu, Mr dan Mrs Yoko kembali ke London dengan setumpuk progress
report, Yashinta baru tahu, saat Goughsky kuliah di Belanda, Mr dan Mrs Yoko-lah yang
menjadi sponsor, sekaligus menjadi anak angkat pasangan tersebut. Jadi tidak mungkin
Goughsky sibuk mencari perhatian untuk mendapatkan dana penelitian kepada keluarga kaya
itu. Justru sebenarnya, Goughsky lah yang merekomendasikan keluarga Yoko untuk
mendanai penelitiannya,
Memasuki bulan-bulan terakhir proyek konservasi mereka, kedekatan Yashinta dan
Goughsky sudah sedemikian rupa berubah. Tidak ada lagi seruan-seruan sebal. Teriakanteriakan
marah. Jawaban-jawaban ketus. Bagaimana tidak? Saat Goughsky harus presentasi
ke London, Yashinta justru uring-uringan di basecamp, Bosan. Tidak seru. Tidak ada yang
jahil dan mengajaknya bertengkar. Selama dua minggu tidak ada yang menatapnya seperti
anak kecil keras kepala. Tidak ada yang mentertawakannya.
Benar-benar tidak ada. Terasa sepi.
Ah, si bungsu keluarga Lembah Lahambay, yang dulu muka imut menggemaskan
miliknya begitu riang menatap berang-berang mandi di sungai, yang suka sekali berlarian di
lereng lembah, akhimya jatuh cinta. Maka tersipu malulah Yashinta saat kolega peneliti lokal
bilang,
"Gough, selama kau pergi dua minggu.... Kau tahu, ada yang selalu berdiri di menara 9
malam-malam, menatap bulan lamat-lamat, berharap menemukan wajahmu."
Yashinta menimpuk rekan kerjanya dengan sepatu.



BIDADARI - BIDADARI SURGA

"KAU ada di Four Seasons Hotel, Miss Headstone. Kamar suite terbaik yang kami miliki.
Aku manajer hotel ini, ada yang bisa kubantu?"
Goughsky nyengir, menatap wajah lebam Yashinta. Wajah yang mulai sadar. Matanya
mengerjap-ngerjap. Menatap sekitar. Ingin tahu. Di mana ia sekarang? Seperti biasa, Si Mata
Biru nya yang duduk di sebelah lebih dulu mengendalikan situasi. Menjelaskan sambil
bergurau.
Yashinta berusaha duduk. Sakit. Semua bagian tubuhnya terasa sakit. Tapi ia bisa
beranjak duduk. Kaki kirinya di gips. Tulangnya ternyata hanya retak, tidak patah. Luka di
badannya sudah dikeringkan. Menyisakan gurat lebam membiru hampir di sekujur tubuh.
Kepalanya di bebat kain, ada dua luka di sana. Jadi rambut panjangnya yang indah tertutupi.
Lima belas menit Goughsky tiba di posko awal, helikopter milik Mr dan Mrs Yoko, yang
sedang ada urusan bisnis di Indonesia juga tiba. Pasangan paruh baya itu kebetulan sedang
berada di sekitar Gunung Semeru. Berbaik hati mengirimkan helikopter. Jadi tubuh pingsan
Yashinta bisa segera dilarikan ke rumah sakit kota provinsi terdekat. Mendapatkan
pertolongan pertama.
"Kau sama sekali tidak terllhat cantik lagi, Miss Headstone." Goughsky nyengir amat lebar.
Bahkan tertawa. Membantu Yashinta duduk bersandarkan bantal-bantal.
Yashinta tidak menjawab.Tubuhnya masih mengumpulkan tenaga. Kalau sedikit sehat, ia
otomatis akan mendelik, menyahut ketus, pura-pura marah. Ia sedang membiasakan diri
menatap ruang rawatnya yang terang benderang. Matanya silau setelah pingsan dua puluh
jam. Berjalan menyeret kakinya selama dua belas jam. Kemudian pingsan lagi enam jam. Di
luar sana semburat merah mulai terlihat, Pagi datang menjelang.
"Jam berapa sekarang?"
"05.30, masih sempat untuk shalat shubuh—"
Yashinta memejamkan mata. Mengangguk. Kepalanya masih terasa nyeri. Berusaha
mengingat kejadian dua hari terakhir. SMS dari Mamak. Bergegas turun dari puncak Semeru.
Kakinya yang menginjak batuan getas. Jatuh, Menghajar dahan-dahan. Entahlah.... ia lupa.
Yang Yashinta ingat ia justru sedang bermimpi setelah itu. Duduk seharian melihat anak
berang-berang bermain di sungai. Celap-celup. Puas sekali. Membuatnya lupa waktu. Hingga
Kak Laisa menepuk bahunya. Mengajak pulang. Cahaya-cahaya itu. Ia yang siuman.
Tubuhnya yang terasa sakit. Kakinya yang patah. Mengigit bibir, berjuang untuk keluar dari
lembah tempat ia jatuh. Melangkah tertatih dengan bantuan dua tongkat kayu di tangan.
Turun. Ia harus bergegas. Kak Laisa menunggu di perkebunan mereka. Kak Laisa?
"Kak Lais?" Yashinta menoleh ke Goughsky.
"Baik.... Kak Lais baik-baik saja. Lima belas menit lalu Profesor Dalimunte menelepon, Kak
Laisa baik-baik saja, Kau tahu, saat Profesor Dalimunte menelepon, tiga monster sibuk
menyela, sibuk berteriak kapan kau tiba. Mereka seperti lupa kalau Wawak mereka sedang
sakit keras."
Yashinta tertunduk, menghela nafas, sedih. Bagaimanalah? Dengan gips di kaki, dengan
tubuh lemah seperti ini, bagaimanalah ia bisa segera pulang. Kak Laisa pasti menunggunya....
Kak Laisa yang selalu ada ketika ia butuh. Sekarang? Saat Kak Laisa sakit keras dan
membutuhkan adik-adiknya? Tubuh Yashinta bergetar menahan sesak. Ia menangis tertahan.
"Kau jangan menangis, Yash." Goughsky menelan ludah. Meski dia tipikal pemuda yang
suka bergurau, Goughsky amat perasa. Tak tahan melihat orang lain menangis. Mengingatkan
ia dengan masa-masa yatimpiatu. Apalagi yang menangis, Miss Headstone tersayangnya ini.
"Aku harus pulang, Gough. Harus segera pulang.... Tapi kaki ini.... Ya Allah—"
"Kau akan segera pulang, Yash. Pagi ini juga. Aku berjanji, paling lambat kita tiba di
Lembah Lahambay sebelum siang berakhir" Goughsky berkata mantap.
"Bagaimana? Bagaimana caranya?"
"Kalau Wawak sakit gini, nggak asyik! Kemarin nggak ada yang nemenin kita keliling
perkebunan. Padahal Delima sudah bawa sepeda BMX!"
Delima, gadis kecil enam tahun itu mengurut kaki kanan Wak Laisa. Mengeluh.
"Iya, Juwita juga sudah bawa sepeda." Juwita, 'saudara kembar'-nya (mereka lahir dihari yang
sama) menimpali. Mengurut kaki kiri Wak Laisa.
"Wawak sakit apa sih? Sudah dua hari kok nggak sembuh-sembuh?" Delima bertanya,
menghentikan gerakan tangannya.
Laisa tersenyum. Berusaha memperbaiki duduknya. Cie Hui membantu, sekalian
membenahi posisi infus dan belalai plastik.
"Kalian jangan banyak tanya, napa. Kata dokter tadi, Wak Laisa nggak boleh banyak bicara
dulu." Intan yang duduk di samping Wak Laisa dengan tissue di tangan menyergah.
Menyuruh adik-adiknya diam. Sok mengerti apa yang dokter bilang.
"Yeee.,.. Orang nanya gitu doang. Emang nggak boleh!" Delima mendesis sebal dalam hati.
Persis sekali ulah Ikanuri dulu waktu kecil. Bersungut-sungut. Meneruskan mengurut kaki
Wak Laisa.
Mereka baru saja selesai shalat shubuh. Duduk berkeliling memenuhi kamar Kak Laisa.
Di luar semburat merah semakin terang. Embun menggantung di buah strawberry yang
memerah, ranum. Ikanuri dan Wibisana sudah jauh lebih tenang. Menatap anak-anak mereka
yang sejak tadi sibuk protes.
"Kan kalau Wawak sehat, harusnya Wak Laisa bisa ngelanjutin cerita sebulan lalu." Itu
keluhan pertama Delima. Ia menunggu cerita-cerita itu.
"Kan setelah cerita, Wak Laisa nemenin kita jalan-jalan di lereng, mengambil embun dengan
tangkai rumput. Membuat kristal-kristal di telapak tangan." Itu keluhan kedua Delima.
Tidak mengerti soal kristal-kristal itu? Begini, kalian mencari tangkai rumput yang
lembut, gagang rumput teki misalnya. Lantas pelan-pelan mengambil embun menggelayut di
daun. Jangan sampai pecah. Kemudian diletakkan di telapak tangan. Membuat lukisan
dengan kristal embun. Berkilau diterpa cahaya matahai pagi. Saling sombong telapak tangan
siapa yang paling indah.
Nah, karena sudah terlanjur menjelaskan bagian yang ini, kalian juga berhak tahu
jawaban bagaimana sebenamya Mamak mendidik anak-anaknya hingga menjadi begitu
cerdas dan membanggakan. Tumbuh dengan karakter yang kuat. Ahklak yang baik.
Tentu saja semua itu hasil dari proses yang baik. Tidak ada anak-anak di dunia yang
instant tumbuh seketika menjadi baik. Masa kanak-kanak adalah masa 'peniru'. Mereka
memperhatikan, menilai, lantas mengambil kesimpulan. Lingkungan, keluarga, dan sekitar
akan membentuk watak mereka. Celakalah, kalau proses 'meniru' itu keliru. Contoh yang
keliru. Teladan yang salah. Dengan segala keterbatasan lembah dan kehidupan miskin, anakanak
yang keliru meniru justru bisa tumbuh tidak terkendali.
Saat aku berkesempatan mampir di lembah indah mereka, saat bicara dengan Mamak
yang usianya hari itu sudah tujuh puluh tahun (meski masih terlihat gagah), aku mengerti satu
hal: bercerita. Mamak tidak bisa memberikan mekanisme pendidikan canggih selain
bercerita. Keluhan Delima pagi ini tentang kelanjutan cerita dari Wawaknya adalah warisan
mekanisme belajar Mamak tersebut.
Selepas shubuh, meski penat karena dua jam memasak gula aren di dapur, seusai shalat
bersama, mengaji bersama, Mamak akan menyempatkan diri lima belas menit hingga
setengah jam bercerita. Tentang Nabi-Nabi, sahabat Rasul, tentang keteladanan manusia,
tentang keteladanan hewan dan alam liar (dongeng-dongeng), negeri-negeri ajaib, dan
sebagainya. Dari situlah imajinasi mereka terbentuk. Tidak ada gambar-gambar, karena
Mamak tidak bisa membelikan mereka buku cerita. Juga tidak ada televisi. Mereka bisa
melihatnya langsung di alam sekitar. Lembah mereka.
Dan proses bercerita itu dilengkapi secara utuh dengan teladan. Kerja keras. Berdisiplin.
Laisa sejak umur dua belas tahun, terbiasa bangun jam tiga shubuh. Shalat malam bersama
Mamak, lantas membantu di dapur. Sejak kecil Mamak mengajarkan ritus agama yang indah
kepada mereka. Shalat maiam salah satunya.
"Lais, seandainya kita bisa mengukurnya seperti timbangan beras, shalat malam yang baik
seharga seluruh dunia dan seisinya."
Dengan teladan yang ada di depan mata, maka Yashinta kecil saat usianya menjejak
belasan tahun, tidak perlu disuruh-suruh untuk shalat malam, gadis kecil itu melihat Mamak
dan Kakak-kakaknya, maka otomatis ia ikut. Kebiasaan yang terus ada hingga mereka
tumbuh besar. Saat perkebunan strawberry memberikan janji kehidupan yang lebih baik,
Mamak dan Kak Lais tentu saja tak perlu lagi memasak gula aren selepas shalat malam.
Waktu itulah yang sering digunakan Kak Laisa untuk berdiri di lereng lembah. Menatap
hamparan perkebunan, menghabiskan penghujung malam ditemani Dalimunte Bersyukur atas
kehidupan mereka.
Apakah dengan cerita dan teladan itu maka kelakuan ansk-anak bisa dikendalikan? Belum
tentu. Lihatlah Ikanuri dan Wibisana, dua sigung itu tetap saja nakal tapi pemberontakan
masa kecil mereka memang khas ulah anak kecil yang butuh proses untuk mengerti. Saat
cerita-cerita, teladan, berbagai kejadian itu berhasil memberi sekali saja pengertian, maka
mereka akan berubah. Seperti pagi ini, jika ada Ikanuri, maka yang menjadi imam shalat
bukan Dalimunte. Ikanuri jauh lebih pandai mengaji. Suara dan tartil-nya lebih baik. Meski
dialah yang paling bandel belajar mengaji dulu.
"Pagi ini biar Eyang yang cerita...." Suara Eyang memutus wajah-wajah cemberut Delima
dan Juwita.
Anak-anak menoleh. Eyang tersenyum mendekat. Memperbaiki tudung rambutnya. Naik
ke atas ranjang besar Wak Laisa.
"Horee!" Delima berseru senang. Eyang sama jagonya dengan Wak Laisa kalau bercerita.
Jangan dibandingkan Abi mereka. Tidak seru. Kalau Abi yang cerita, kebanyakan
ngarangnya.
Pagi itu, saat semburat matahari mulai menerabas jendela kamar Kak Laisa yang dibuka
lebar-lebar. Menimpa wajah anak-anak. Menimpa wajah Mamak. Menimpa wajah Kak Laisa
yang terlihat begitu damai. Ikut mendengarkan cerita. Pagi itu, saat kabut masih mengambang
di atas hamparan merah ranum buah strawberry, Mamak bercerita tentang: bidadari-bidadari
surga. Melanjutkan cerita Laisa ke anak-anak sebulan yang lalu. Andaikata di sini ada
Yashinta, ia akan senang sekali, itu cerita favoritnya waktu kecil.
Dan sungguh di surga ada bidadari-bidadari bermata jeli (Al Waqiah: 22). Pelupuk mata
bidadari-bidadari itu selalu berkedip-kedip bagaikan sayap burung indah. Mereka baik lagi
cantik jelita. (Ar Rahman: 70). "Eyang, cantikan mana, bidadari atau Delima?" Delima
menyela. Membuat Kak Laisa tertawa, meski kemudian tersengai. Intan meraih tissue,
membersihkan bercak darah. Dulu Yashinta dengan pedenya akan menyela Mamak,
"Hm.... Pasti tetap lebih cantik Yash, kan?"
Andaikata ada seorang wanita penghuni surga mengintip ke bumi, niscaya dia menerangi
ruang antara bumi dan langit. Dan niscaya aromanya memenuhi ruang antara keduanya. Dan
sesungguhnya kerudung di atas kepalanya lebih baik daripada dunia seisinya (Hadits Al
Bukhari).
"Wuih? Keren. Memangnya wangi bidadari itu seperti apa, Eyang?" Delima sibuk menyela
lagi.
"Berisik. Diam saja napa, biar Eyang terus cerita." Intan mendelik galak. Kak Laisa sekali
lagi tertawa kecil. Dulu Yashinta juga suka sekali memotong cerita.
"Bidadari itu kan untuk perempuan? Kalau untuk anak laki nyebutnya apa, Mak?" Dan
biasanya Ikanuri yang kesal cerita Mamak dipotong terus menjawab asal,
"Nyebutnya bidadara.... Bidadara-Bidadara Surgi!"
Tidak dulu. Tidak sekarang. Kanak-kanak selalu memberikan respon yang sama atas
mekanisme ini. Membuat imajinasi mereka terbang, dan tanpa mereka sadari, ada
pemahaman arti berbagi, berbuat baik, dan selalu bersyukur yang bisa diselipkan.
Pagi semakin tinggi. Eyang terus bercerita hingga lima belas menit ke depan. Kak Laisa
memejamkan matanya. Ia pagi ini benar-benar merasa lelah. Tiga monster kecil ini
memberikan energi tambahan untuk bertahan lebih dari 48 jam. Tetapi waktunya tinggal
sedikit lagi. Hanya menunggu Yash, adiknya tersayang.
Suara Mamak berkata lembut terngiang di telinganya: bidadari-bidadari surga, seolaholah
adalah telur yang tersimpan dengan baik (Ash-Shaffat: 49)....
Kak Laisa jatuh tertidur, dengan sungging senyum dan satu kalimat doa: Ya Allah,
jadikan Lais salah satu bidadari-bidadari surga....
Sementara ratusan kilometer dari arah barat. Helikopter itu melesat dengan cepat.
Sebelum matahari tenggelam. Sebelum semuanya benar-benar terlambat. Yashinta harus
tiba di perkebunan strawberry.



ROMANTISME MATA BIRU

"ADA yang berubah darimu, Yash!" Kak Laisa memainkan matanya. Menahan tawa.
"Apanya?"
"Kau tidak sibuk lagi — " Muka Kak Laisa terlihat jahil.
Yashinta menyeringai, sejak kapan cqba Kak Laisa macam Kak Ikanuri. Ikutan
menggodanya. Mereka sedang duduk di ruang depan rumah panggung. Beramai-ramai.
Delima dan Juwita yang baru enam bulan tertidur lelap di ayunan. Wulan dan Jasmine
sebenarnya membawa box bayi. Tapi Mamak sudah memasang dua ayunan dari kain,
disambung dengan tali. Menjuntai dari atap ruang depan. Di dalamnya diberikan bantalbantal
lembut. Kata Mamak, bayi lebih senang tidur di ayunan kain, dibandingkan kotak.
Lagipula di lembah, cara-cara pedesaan lebih menyenangkan.
"Sibuk apanya?" Yash yang sedang memangku Intan bingung. Mengangkat bahu. Bukannya
semua terlihat biasa-biasa saja.
"Sudah sehari kau pulang, tapi kau tidak sibuk Lagi bilang Goughsky yang menyebalkan.
Goughsky yang sok tahu. Goughsky yang sok pintar." Kak Laisa tertawa. Menggoda.
Cepat sekali muka Yashinta memerah. Seperti lembayung senja. Membuat Cie Hui,
Wulan, dan Jasmine ikut tertawa.
"Dia tetap menyebalkan, kok. Tetap sok tahu."
Yashinta menukas cepat. Berusaha mengalihkan perhatian dan muka merah padam dengan
memainkan tangan Intan.
"Tetap memanggilmu, 'Miss Headstone'? 'Miss Headstone'!" Kak Laisa menirukan intonasi
Yashinta selama ini saat mengulang kata-kata ini. Bahkan Mamak ikut tertawa.
"Ada apa ini? Ada sesuatu yang kami tidak tahu?" Ikanuri yang baru melangkah masuk dari
pintu depan bertanya. Diiringi Wibisana dan Dalimunte. Mereka baru pulang dari acara
syukuran kecil di rumah Bang Jogar. Kebetulan lagi di lembah.
"Tidak ada apa-apa, kok!" Yashinta menjawab sebelum yang lain membuka mulut. Melotot
kepada Kak Laisa.
"Ya, tidak ada apa-apa.... Hanya bertanya kabar rekan kerja Yash di Gunung Gede. Mahkhluk
setengah-setengah itu, kan Yash?"
Malam itu menyenangkan menggoda Yashinta. Melihat Yash salah tingkah. Berkali-kali
menghindar. Mengancam Kak Laisa dan yang lain agar berhenti bertanya. Tapi semakin ia
rnembantah dan menghindar, semakin ia menunjukkan perasaannya. Membuat ruang depan
rumah panggung dipenuhi tawa. Baru terhenti saat Delima yang tidur di ayunan merengek.
"Tuh, kan, Pada berisik, sih." Yashinta buru-buru melangkah mendekati ayunan. Tangisan
Delima menyelamatkannya.
Esok hari, saat berjalan bersisian dengan Kak Laisa menemani Intan mengelilingi lereng
perkebunan. Berdiri membiarkan Intan yang sudah empat tahun berjalan sendiri tidak tahu
arah. Memetik buah-buah strawberry. Memenuhi kantong-kantongnya. Kak Laisa memegang
lengan Yashinta lembut.
"Kau menyukainya?"
"Menyukai apaan sih, Kak?" Yashinta yang segera tahu kemana arah bicara pura-pura tidak
mengerti.
"Kau menyukai Goughsky?"
Muka Yashinta langsung tersipu. Wajah cantik itu kebas, meski matanya terlihat sekali
bercahaya, ditimpa cahaya matahari pagi,
"Kalau begitu, apalagi yang kau tunggu? Umurmu sudah 33 tahun, Bahkan di bagian dunia
manapun, kau sudah terhitung 'gadis tua' seperti Kakak!"
Kak Laisa tersenyum.
Yashinta tidak menjawab. Wajahnya yang menjawab. Semakin tersipu. Berusaha
menunduk.
"Akan menyenangkan sekali jika Kakak, Mamak, dan kami semua bisa berkenalan langsung
dengan mahkluk setengah-setengah itu. Ajaklah dia ke lembah ini. Kakak ingin melihat mata
birunya. Apakah itu seindah yang sering kau ceritakan!"
Yashinta terbatuk pelan. Entah hendak bilang apa. Beruntung Intan mendekati mereka,
berseru, memutus pembicaraan,
"Tante, Tante, buahnya besal-besal... Kantong Intan sudah penuh semua.... Tante dan Wawak
pegang sepaluh, deh!"
Enam bulan kemudian, akhirnya Goughsky ikut pulang ke Lembah Lahambay. Si mata
biru itu menyetujui ide Kak Laisa. Jadi saat Yashinta malu-malu mengajaknya, malu-malu
menyampaikan undangan itu, Goughsky mengangguk mantap.
Kabar ikut pulangnya Goughsky ke perkebunan membuat basecamp ramai oleh seruan,
"Wah, ada yang mau ketemu dengan calon mertua!" Goughsky ikut tertawa lebar. Yashinta
masih saja tersipu malu. Urusan mereka sama seperti Dalimunte dan Cie Hui, atau Ikanuri-
Wibisana dengan Wulan-Jasmine. Mereka tidak saling mengungkapkan perasaan secara
langsung. Tapi bukankah perasaan itu tidak selalu harus dikatakan? Cara menatap, cara
bertutur sungguh cermin dari isi hati. Lagipula sama seperti kakak-kakaknya, Yashinta tidak
mengenal proses pacaran. Mereka tahu batas-batasnya.
Jadilah itu kunjungan pertama Goughsky, kunjungan yang ditunggu-tunggu Kak Laisa.
Yang celakanya, ternyata justru sekaligus menjadi kunjungan terakhir Goughsky.
Pria Uzbek itu seperti biasa cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Menjawab
gurauan Kak Laisa dengan baik. Membantu Yashinta lebih santai, yang mukanya sepanjang
hari memerah. Mengerti benar menempatkan diri di hadapan Mamak, akrab dengan Ikanuri
dan Wibisana. Dan cepat nyambung bicara dengan Dalimunte,
"Tentu saja aku tahu, Yash.... Aku sudah mengenal Profesor Dalimunte ketika kuliah di
Belanda. Membaca banyak penelitiannya.... Yang aku tidak tahu dan benar-benar tidak
menduga selama ini, ternyata Profesor punya adik sekeras kepala kau!"
Tertawa. Dan sebelum senja tiba, Goughsky sudah menjadi 'paman' yang hebat buat Intan.
Hanya satu yang keliru. Yang membuat kunjungan itu menjadi kacau-balau. Saat berjalan
dengan Kak Laisa, menggendong Intan di bahu, melewati jalur-jalur batangstrawberry. Saat
Kak Laisa bilang tentang: apalagi yang kalian tunggu. Goughsky mengangguk. Dia sudah
mengenal dengan baik keluarga ini dari cerita-cerita Yashinta di basecamp. Dan keluarga itu
juga sudah mengenal baik dirinya juga melalui cerita-cerita Yashinta di perkebunan setiap
pulang. Dia menyukai Yashinta, bahkan sejak pandangan pertama di London.
Goughsky menyetujui ide Kak Laisa, apalagi yang mereka tunggu?
Maka malam itu Goughsky melakukan kesalahan fatal. Karena dia amat yakin Yashinta
juga menyukainya. Mereka sudah lebih dari dewasa. Sudah lebih dari siap untuk berkeluarga.
Tanpa bicara terlebih dahulu dengan Yashinta, ketika mereka berkumpul di ruang depan
rumah panggung, sambil menyentuh takjim lengan Mamak, Goughsky meminang Yashinta.
Saat Goughsky mengatakan kalimat,
"Umurku enam tahun saat Ayah-Ibu pergi ditelan badai salju.... Bertahun-tahun hidup tanpa
keluarga.... Sesak atas kerinduan memiliki ayah, ibu, kakak, adik, sebuah keluarga... Baru
sehari di sini, tidak pernah kubayangkan, seperti menemukan kembali makna keluarga yang
utuh.... Mamak, aku sejak kecil tidak pemah belajar dengan baik arti kasih sayang keluarga....
Malam ini, ijinkan aku belajar kata-kata itu, ijinkan aku menjadi bagian dari keluarga ini....
Ijinkan... ijinkan aku memperistri Yashinta. Aku sungguh mencintainya...."
Ruang depan itu senyap. Bahkan Intan yang tadi sibuk merengek minta dibuatkan ukiran
beruang salju juga diam. Mamak menatap wajahGoughsky lamat-lamat. Lantas menoleh ke
arah Yashinta. Kak Laisa menyeka pelupuk matanya, terharu. Cie Hui menggenggam jemari
Dalimunte.Tersenyum. Ikanuri dan Wibisana sih nyengir lebar, lumayan, tapi masih saktian
kalimat mereka dulu waktu melamar Wulan dan Jasmine.
Mamak menunggu anggukan dari Yashinta. Menatap Yashinta yang entah mengapa justru
diam seribu bahasa. Sejak dulu, bagi Mamak, urusan perjodohan tergantung anak-anaknya. Ia
tidak melarang, tapi juga tidak menyuruh. Sepanjang calon pasangan mereka berakhlak baik,
bertanggung-jawab, pandai membawa diri, dan saling menyukai, itu sudah cukup. Sisanya
bisa dicari saat menjalani pernikahan.
Lima belas detik senyap. Sekarang semua menoleh ke arah Yashinta. Dan celakanya,
gadis itu mendadak berdiri. Melangkah keluar, melewati pintu depan. Menuruni anak tangga.
Berlarian menuju lereng perkebunan.
"YASH!" Goughsky terkesiap, bangkit berdiri, hendak mengejar. Bingung. Tidak mengerti.
Bagaimanalah jalan cerita berubah jadi seperti ini? Ada apa dengan Miss Headstone-nya?
"Biar.... Biar aku yang menyusulnya!" Kak Laisa menahan lengan Goughsky. Tentu saja Kak
Laisa tahu permasalahannya. Biar ia yang mengajak bicara Yashinta. Goughsky yang tidak
terlalu paham masalahnya justru akan membuat semuanya menjadi puing tidak
terselamatkan. Membuat rasa suka itu menjadi kebencian.
Yashinta keras kepala. Gadis itu sejak kecil amat keras kepala. Sekali ia mengambil
keputusan, maka butuh waktu lama melunakkannya. Kak Laisa tahu betul itu. Urusan ini
benar-benar tidak akan mudah seperti Dalimunte, seperti dua sigung nakal itu.
"Kau menyukainya?" Kak Laisa bertanya tegas. Memegang lengan Yashinta yang duduk
menjeplak di lembabnya tanah.
Bulan sabit seperti digelantungkan menghias langit. Bintang-gemintang.
Wangi semerbak perkebunan menyergap hidung.Yashinta hanya diam.
Menyeka matanya yang basah.
"Kau menyukainya atau tidak?" Kak Laisa mendesak.Yashinta tetap diam seribu bahasa.
"Kakak tahu sekali apa yang kau pikirkan, Yash.... Tahu sekali.... Apa yang dulu Kakak
sering bilang? Kau tidak usah menunggu Kakak.... Menunggu sesuatu yang mungkin tidak
akan—"
"Tapi harusnya Goughsky bilang ke aku.... Bilang sebelum menyampaikannya ke Mamak!"
Yashinta memotong.
"Apa bedanya, Yash? Kau jelas menyukai Goughsky. Bukan itu masalahnya, kan? Bukan
soal bilang dulu masalahnya hingga kau lari begitu saja dari ruang depan?"
Yashinta diam kembali. Menyeka pipinya.
"Kalau kau marah Goughsky tidak bilang dulu, kau sepatutnya marah pada Kakak... Karena
Kakak lah yang memintanya melakukannya segera."
Kak Laisa mendekap lembut bahu adiknya.Menatap hamparan perkebunan. Senyap.
Menyisakan kerlip lampu gudang pengalengan. Ada tiga truk di sana. Berjejer.
"Kau sudah 33 tahun, Yash.... Sudah saatnya menikah—"
"Aku tidak akan menikah sebelum Kak Lais menikah!" Yashinta memotong. Suaranya serak.
"Kau tidak perlu menunggu Kakak? Ya Allah, berapa kali lagi Kakak harus bilang hingga
kau akhirnya mengerti?"
"Yash tidak akan menikah...." Gadis itu memotong keras kepala.
"Tidak ada yang tahu kapan Kakak akan menikah, Yash. Tidak ada yang tahu.... Bahkan
mungkin Kakak ditakdirkan tidak akan pernah menikah.... Kau harusnya tahu persis itu."
Suara Kak Laisa serak. Menatap wajah adiknya lamat-lamat. Adiknya yang sekarang mulai
terisak.
Membuat Kak Laisa tertunduk dalam. Menggigit bibir, pelan mendesah ke langit-langit,
" Ya Allah, setelah Dalimunte, Ikanuri dan Wibisana, apa aku harus selalu menanggung
penjelasan ini kepada mereka.... Ya Allah, apa aku harus selalu menjadi penghalang
pernikahan adik-adikku.... Lais sungguh ihklas dengan semua keterbatasan ini, Ya Allah.
Sungguh,... Biarlah seluruh bukit dan seisinya menjadi saksi, Lais sungguh ihklas dengan
tegala takdirMu.... Tapi setiap kali harus mengalami ini, menjadi penghalang kebahagiaan
mereka...." Suara Kak Laisa menghilang di ujungnya. Getir.
Dan Yashinta seketika menangis tertahan. Memeluk Kak Laisa erat-erat. Untuk pertama
kalinya, kalimat seperti itu meluncur dari mulut Kak Laisa. Kalimat penjelasan. Sepenuh
hatinya. Semua ini memang benar-benar sederhana baginya. Kesendirian. Rasa sepi.
Kerinduan. Semua itu benar-benar sederhana baginya. Ia merasa cukup dengan segalanya....
Lihatlah, malam itu ia justru hanya mengeluh telah menjadi penghalang jalan kebaikan adikadiknya....
Tetapi pembicaraan di lereng perkebunan itu tidak berguna. Meski tahu secara
utuh apa yang ada di kepala Kak Laisa, tidak membuat Yashinta berubah pikiran sedikitpun.
Keras kepala. Apa yang dulu dibilang Ikanuri benar. Yashinta belum mengalami sendiri
betapa susahnya memutuskan untuk menikah, melintas Kak Laisa. Apalagi dengan fakta
menikahnya Yashinta, maka sempurna sudah Kak Laisa dilintas oleh seluruh adik-adiknya.
Itu sungguh bukan keputusan mudah. Dengan semua yang telah dilakukan Kak Laisa demi
mereka. Kak Laisa yang selalu menganggap Yashinta sebagai adik tersayangnya.
Besok pagi, Goughsky yang mendapatkan penjelasan dari Kak Laisa dan Dalimunte
pulang lebih dulu. Rekan-rekan peneliti di basecamp urung menggodanya saat tiba. Wajah
lelah dan kusut Goughsky menjelaskan banyak hal, Yashinta tiba tiga hari kemudian.
Langsung mengemasi barang-barang. Memutuskan keluar dari proyek konservasi. Lebih
banyak diam. Matanya sembab. Mereka berdua sempat bicara sebentar di malam sebelum
kepulangan Yashinta ke Bogor.
"Maafkan aku yang tidak mengajakmu bicara lebih dulu." Goughsky menatap bulan yang
mulai penuh.
Yashinta hanya diam. Merapatkan syal di leher. Mengusir rasa dingin di kulit. Juga dingin
di hati. Ia dari tadi ingin sekali menatap wajah si mata birunya. Tapi mati-matian menahan
diri.
"Maafkan aku yang tidak mengerti situasinya.... Meski mungkin aku tidak akan pernah
mengerti, tapi penjelasan Profesor Dalimunte membantu banyak.... Kau mungkin benar, tidak
pantas mendahului Kak Laisa menikah.... Tidak pantas...."
Yashinta tetap diam.
"Yash, aku akan tetap menunggu.... Aku sungguh mencintaimu, entah bagaimana aku harus
melukiskan perasaan tersebut karena teramat besarnya cinta ini.... "
Yashinta menggigit bibir. Bagaimanalah? Kalau saja ia tidak menahan diri, dari tadi ia
sudah menghambur di pelukan mahkluk setengah-setengahnya. Bilang betapa ia juga amat
mencintainya. Tapi ia tidak akan pernah bisa melintas Kak Laisa. Hubungan ini tidak akan
berhasil. Jika mereka tidak bisa bergerak ke fase komitmen, pernikahan, maka lebih baik ia
mundur. Lebih baik mereka saling menjauh. Menunggu. Menunggu hingga kapanpun,
Yashinta tertunduk. Bagaimanalah ia akan melintas? Setelah begitu banyak kebaikan Kak
Laisa?
Kenangan-kenangan itu melintas di kepalanya. Kak Laisa yang menggendongnya pulang
dari jembatan kayu. Tersuruk-suruk sambil menangis, cemas. Kak Laisa yang berteriak-teriak
memanggil Mamak. Gemetar meletakkannya di bale bambu. Berbisik.
"Kakak mohon, bangunlah Yash" Kak Laisa yang bahkan tulus menukar nyawanya demi
kesalamatan adik-adiknya.
Kak Laisa yang mengajarinya tentang alam,
"Itu kukang, Yash!" Tertawa melihatnya ketakutan saat seekor kukang melompat.
"Kau tahu? Saat ada ular pemangsa yang mengancam sarangnya, saat ada hewan buas lain
yang mengincar anak-anaknya, induk kukang akan habis-habisan mempertahankan sarang.
Sampai mati. Dan ketika ia mati, sekarat, induk kukang akan mengambil cairan di ketiak kiri
dan kanannya, menjadikannya satu, mengusapkannya ke seluruh tubuh. Jika dua cairan ketiak
kukang digabungkan, itu menjadi racun mematikan. Yang akan membunuh ular atau
pemangsa lain saat memakan tubuhnya.... Kau tahu apa gunanya pengorbanan itu? Agar
anak-anaknya tetap selamat. Induk kukang mati bersama dengan pemangsanya!"
Saat itu Yashinta kecil hanya tertawa. Apalagi saat Kak Laisa bilang soal cairan di ketiak.
Tapi saat kuliah di Belanda, bahkan prof esor biologi di sana tidak tahu fakta tentang kukang
tersebut. Juga beberapa reporter senior National Geographic. Hanya orang seperti Kak Laisa,
yang mewarisi kebijakan alam Lembah Lahambay yang tahu. Belajar langsung dari alam liar.
Dan mungkin kebijakan seperti itulah yang dimiliki Kak Laisa, mengorbankan seluruh
hidupnya demi adik-adiknya. Yashinta menelan ludah.
"Kaubawa ini, Yash!" Goughsky yang berdiri di sebelahnya mengulurkan sesuatu. Seuntai
kalung, berhiaskan delima.
"Itu milik Ibu-ku. Satu-satunya yang tersisa di rumah kami saat badai salju itu pergi.... Aku
akan selalu menunggumu... Hingga kapanpun..."
Dan Yashinta sudah menangis terisak. Itu pembicaraan mereka enam bulan lalu.
Enam bulan sebelum SMS Mamak terkirimkan. Yashinta memutuskan untuk memulai
proyek sendiri. Konservasi alap-alap kawah. Peregrin. Pergi ke Gunung Semeru. Goughsky
juga berhenti dari proyek konservasi elang mereka. Tidak kuasa melihat jejak Yashinta di
mana-mana. Membuat Mr dan Mrs Yoko berteriak-teriak tidak mengerti. Kabar baiknya
proyek mereka sudah selesai di bulan kedua belas. Hanya tinggal masa transisi sebelum
diserahkan kepada petugas Taman Nasional Gunung Gede.
Kak Laisa sejak pembicaraan di lereng itu tidak banyak lagi membujuk Yashinta. Dia
sudah amat lelah. Kalimat terakhir yang diucapkarmya di lereng waktu itu menjelaskan
betapa lelahnya Kak Laisa. Kanker paru-paru nya sudah stadium III. Semakin ganas. Susah
payah Kak Laisa menyembunyikan penyakit itu di hadapan adik-adiknya. Meminum obat
berkali-lipat dosis normal menjelang jadwal pulang dua bulanan mereka. Ia selalu tngin
terlihat baik-baik saja. Tidak ada yang tahu kalau Kak Laisa bolak-balik ke rumah sakit kota
provinsi.
Tetapi energi yang hebat itu, kecintaan atas adik-adiknya, rasa cukup dan syukur atas
hidup dan kehidupan, akhirnya tidak kuasa mengalahkan fisik yang semakin lemah. Sebulan
yang lalu, ia terjatuh di lereng perkebunan. Di tandu pulang. Kak Laisa menolak dirawat di
rumah sakit, jadi peralatan, dokter, dan suster yang didatangkan dari sana.
Dua hari lalu, setelah bertahan selama seminggu dengan infus dan belalai plastik, SMS itu
terkirimkan.
"Pulanglah. Sakit kakak kalian semakin parah. Dokter bilang mungkin minggu depan,
mungkin besok pagi, boleh jadi pula nanti malam. Benar-benar tidak ada waktu lagi. Anakanakku
sebelum semuanya terlambat, pulanglah...."




PERNIKAHAN TERAKHIR

SENJA datang untuk ke sekian kalinya di lembah indah itu.
Lantas apa peranku dalam cerita ini? Aku hanya saksi hidup.
Aku yang menerima SMS dari Mamak Lainuri dua hari lalu, di senja itu akhirnya tiba
(sesungguhnya ada lima sms yang terkirimkan; satu untukku). Berdiri sejenak di atas bukit
tertinggi Lembah Lahambay. Memarkir motor besarku di jalanan. Jalan selebar tiga meter
yang sekarang beraspal mulus. Tentu saja, bagianku tidak terlalu penting di keluarga ini.
Hanya turis yang pernah mampir. Pertama kali singgah, begitu terpesona melihat kehidupan
mereka. Begitu terpesona melihat lembah mereka. Begitu terpesona melihat apa yang telah
dilakukan keluarga ini demi kehidupan yang lebih baik bagi penduduk lembah. Bermalam di
rumah Mamak Lainuri. Dan menjadi sahabat baik keluarga itu.
Turis yang selalu singgah dengan ransel besar di punggung.
Lihatlah, sore ini sempurna merah. Langit terlihat merah. Awan-awan putih terlihat
memerah. Dari atas bukit ini kalian bisa melihat kanopi pepohonan. Hamparan perkebunan
strawberry sejauh mata memandang. Di batasi oleh sungai besar dengan cadas setinggi lima
meter itu. Di batasi kawasan hutan konservasi, yang lebat mengelilingi lembah. Seekor elang
melenguh di kejauhan, aku tersenyum, melambaikan tangan. Membalas salam hangatnya,
Dari atas bukit ini, empat desa yang terdapat di lembah itu terlihat berjejer rapi. Rumahrumah
semi permanen yang asri. Seperti villa-villa indah. Satu dua lampu rumah mereka
mulai menyala. Bersamaan dengan lampu jalanan. Kerlip kuning yang menawan. Suara orang
mengaji di surau terdengar. Menunggu saat adzan maghrib setengah jam lagi. Ayat-ayat itu
terdengar menyenangkan. Seperti mengalir bersama angin lembah yang segar.
Buah strawberry terlihat merah di seluruh tepian perkebunan, ranum menggoda. Aku
lembut memetiknya satu. Menciumnya lekat-lekat. Buah yang besar. Tersenyum.
Memasukkan buah itu ke saku jaket. Nanti akan bilang ke Mamak Lainuri, aku baru saja
memetik satu buah strawberry mereka. Belum halal di makan kalau belum bilang. Dan
Mamak sambil tersenyum akan bilang,
"Kau aneh sekali, Tere.... Selalu hanya memakan satu butir buah strawberry setiap kali datang
ke sini.... Dan selalu saja merasa wajib untuk bilang sudah memetiknya.... Kau bagian dari
keluarga ini, anakku..."
Keluarga yang menyenangkan. Meski mungkin sore ini, suka atau tidak suka, siap atau
tidak, waktu yang berputar akan mengambil seseorang, akan mengakhiri kisah hidupnya.
Sungguh begitulah hidup ini. Datang. Pergi. Senang. Susah. Tidak peduli meski seseorang itu
anggota keluarga yang amat kita cintai. Tidak peduli. Aku menghela nafas panjang. Kembali
menaiki motor besarku. Menghidupkan mesin. Menderu. Meski derumnya lembut, tapi amat
bertenaga.
Tapi ada yang lebih menderu lagi. Lebih bising. Aku menolehkan kepala ke garis
cakrawala, helikopter itu mendekat. Terbang rendah dengan kecepatan penuh. Membawa
anggota terakhir keluarga mereka. Si bungsu dari Lima bersaudara,
Aku tersenyum lebar, lantas menekan pedal gas, meluncur menuju rumah panggung itu.
Menjadi saksi urusan ini. Mungkin pula jika mereka mengijinkan, menuliskan kembali kisahkisah
masa kecil mereka yang indah.
Satu jam lalu, saat Intan, Juwita dan Delima duduk melingkar di ranjang besar Wak
Laisa. Menunggui bersama yang lain, sibuk bercerita tentang sekolah masing-masing (Wak
Laisa yang meminta mereka bercerita). Sibuk melaporkan ponten masing-masing. Sibuk
melaporkan soal 'Safe The Earth'. Hamster belang Intan tiba-tiba ikut loncat ke ranjang.
Mengagetkan yang lain. Tertawa. Tapi bagi Laisa yang sudah lelah, kaget sekecil itu
membuatnya tersengal. Peralatan medis berdengking. Grafik hijau itu putus-putus.
Dokter segera mengambil alih urusan.
"RIO JAHAT!" Intan berteriak sambil menangis. Mencengkeram hamstemya, bersiap
melemparkannya lewat jendela.
"Jangan, sayang.... Jangan dilempar—" Cie Hui berusaha membujuk, berusaha menarik
tangan putrinya,
"Rio Jahat, Ummi! Rio bikin Wawak pingsan! Intan benci!" Gadis itu tidak mendengarkan.
Maka rusuh dokter mengembalikan kesadaran Laisa, rusuh pula yang lain membujuk Intan
agar diam, membujuk agar ia meletakkan kembali hamster belangnya.
Setengah jam berlalu, situasi berangsur-angsur terkendali, meski tetap tak sadarkan diri,
nafas Kak Laisa kembali normal. Hamster belang itu juga urung dilempar, terlanjur loncat
dan kabur duluan saat Intan masih bersikukuh hendak menghukumnya. Juwita dan Delima
sekarang duduk di pojok kamar. Takut-takut Mereka amat gentar melihat Wak Laisa-nya
yang mendadak kejang-kejang. Melihat Dalimunte yang berteriak cemas. Abi mereka yang
berlarian mendekat. Mereka bahkan menangis bingung.
Intan ikut bergabung duduk di pojok kamar. Menyeka pipinya yang basah. Masih merasa
amat bersalah. Semua ini gara-gara hamster belang miliknya. Berjanji dalam hati akan
menghukumnya besok lusa.
Eyang Lainuri duduk di sebelah ranjang, membelai lembut jemari Kak Laisa yang mulai
membiru. Menatap wajah sulungnya lamat-lamat. Wajah yang tetap tak sadarkan diri. Usia
Mamak saat itu sudah tujuh puluh sekian, Mamak mengerti hanya keajaiban yang bisa
menyelamatkan Laisa.
Saat itulah, helikopter itu tiba. Suara baling-balingnya sampai lebih dulu. Menderu.
Lantas mendarat di halaman gudang pengalengan. Empat ratus meter dari rumah panggung.
Membuat Mamak menoleh. Siapa? Itu suara apa? Juga Cie Hui, Wulan, dan Jasmine yang
tidak tahu apa kabar Yashinta selama 48 jam terakhir.
"Itu Yashinta — "
Dalimunte berkata pelan. Menelan ludah. Menghela nafas lega. Akhirnya adik bungsu
mereka tiba.
Ikanuri dan Wibisana menuruni anak tangga. Menghidupkan mobil modifikasi mereka.
Meluncur menjemput ke gudang pengalengan. Sama seperti Dalimunte, mereka sudah tahu
Yashinta akan datang dengan helikopter, diantar Goughsky.
Maka tidak seperti yang lain, yang datang terburu-buru. Bergegas belarian di atas anak
tangga. Menyibak daun pintu. Menerobos kamar. Yashinta datang dengan digendong Ikanuri
dan Wibisana. Tertatih-tatih. Berkali-kali terhenti. Goughsky melipat kursi dorongnya.
Membawanya menaiki anak tangga. Membukanya lagi di beranda depan. Yashinta
didudukkan kembali di kursi roda. Mata gadis itu sembab, sejak dari rumah sakit ia
menangis. Tidak sabaran dengan kecepatan maksimal helikopter. Mendesah berkali-kali.
Tidak bisakah helikopter ini terbang lebih cepat. Menatap resah hamparan biru lautan, wajah
Kak Laisa yang terukir di gumpalan awan. Cemas. Takut. Yashinta amat takut.
Kursi dorong itu tiba di daun pintu kamar.
Mamak bangkit dari duduknya. Tidak sempat bertanya kenapa Yashinta datang dengan
kaki mengenakan gips. Tidak sempat melihat seksama tubuh putri bungsunya yang lebam.
Mamak langsung mendekap Yashinta erat-erat. Menangis. Apalagi Yashinta. Terisak sudah.
Menyisakan senyap di kamar Kak Laisa
Mamak membimbing kursi roda Yashinta mendekati ranjang Kak Laisa.
Dan entah dengan kekuatan apa, Kak Laisa yang pingsan selama satu jam terakhir, pelan
membuka matanya saat Yashinta menyenruh lembut jemari kakaknya,
"Kak Lais—" Serak Yashinta memanggil kakaknya.
"Yash? ...."
"Kak Lais-"
"Yash... Itu Yash? Kau sudah tiba, Yash? Kau ti-ba?" Percuma, meski membuka mata, Kak
Laisa sudah tidak bisa melihat lagi. Kesadarannya sudah habis. Matanya hanya melihat
gelap.
"Kak Lais—" Yashinta berseru tertahan. Gemetar menciumi jemari kakaknya yang pendekpendek.
Tidak normal. Jemari yang dulu setiap hari membersihkan gulma, membantu Mamak
memasak gula aren, merawat satu persatu batang strawberry. Menciumi tangan yang legam,
yang dulu sering terpanggang matahari.
"Mendekat, Yash.... Mendekat kemari...."
Kak Laisa berbisik. Suaranya antara terdengar dan tidak. Dokter ingin bilang ke Dalimunte
agar Kak Laisa dibiarkan sendiri dulu. Tapi urung. Dia tahu, tidak akan ada lagi keajaiban itu.
Biarlah Laisa sempurna di kelilingi orang-orang yang amat dicintainya dan mencintainya di
penghujung waktunya.
Yashinta mendekatkan mukanya. Membiarkan Kak Laisa meraba. Merasakan pipi
adiknya yang berlinang air mata. Mengusap kepala adiknya yang terbungkus perban. Melihnt
wajah adiknya dengan ujung-ujung jari.
"Dali.... Di mana Dali—" Kak Laisa lemah memanggil Dalimunte. Ia ingin mereka semua
ada di sampingnya sekarang.
"Saya di sini, Kak." Suara Dalimunte parau. Menyaksikan Yashinta menangis sudah
membuatnya sesak, apalagi saat Kak Laisa memanggilnya pelan. Dalimunte mendekat, duduk
di sebelah Yashinta.
"Dali di sini, Kak." Meraih tangan Kak Laisa, menyentuhkannya ke wajah.
Kak Laisa tersenyum. Meraba wajah Dalimunte.
"Ikanuri.... Wibisana.... Di mana dua sigung itu?" Kak Laisa berusaha tertawa kecil, meski itu
sama saja dengan keluarnya bercak darah yang lebih banyak. Mamak mengelapnya dengan
lembut, tangannya bergetar.
"Ikanuri di sini, Kak." Ikanuri menghambur. Duduk di sebelah Dalimunte. Menciumi tangan
Kak Laisa sambil menangis.
"Ini, ini Wibisana.... Wibisana di sini—" Wibisana ikut duduk di sebelahnya. Menyentuh
jemari Kak Laisa.
"Intan.... Juwita.... Delima...."
Intan menarik tangan adik-adiknya mendekat. Intan menyeka matanya yang basah. Naik ke
atas ranjang.
Tangan Kak Laisa mengusap wajah tiga monster kecil itu. Juwita dan Delima masih
takut-takut. Tapi pemahaman itu datang dengan cepat. Mereka menatap amat sedih wajah
Wawak yang meski matanya terbuka, tapi tidak bisa melihat apa-apa lagi.
"Mamak...." Kak Laisa menciumi tangan Mamak.
Tersenyum. Mamak sudah kehilangan kata-kata. Memperbaiki tudung rambutnya.
"Ya Allah, terima kasih atas segalanya.... Terima kasih...." Kak Laisa mendesah pelan....
"Ya Allah, Lais sungguh ihklas dengan segala keterbatasan ini, dengan segala takdirmu....
Karena, karena kau menggantinya dengan adik-adik yang baik...."
Nafas Kak Laisa tersengal. Satu dua.
"Yash-"
"Yash di sini, Kak."
Yashinta memegang lembut tangan Kak Laisa.
"Kau pulang bersama si mata biru mu?"
Yashinta mengangguk. Menjawab pelan. Tangisnya mengeras.
"Menikahlah, Yash.... Sekarang—" Kak Laisa tersengal. Nafasnya benar-benar tidak
terkendali lagi.
"Biar, biar Kak Laisa masih sempat melihat betapa bahagianya kau.... Biar, biar Kak Laisa
masih sempat menyaksikan betapa cantiknya mempelai wanita."
Yashinta tersedu. Menciumi jemari kakaknya.
Bagaimanalah ini? Bagaimanalah?
Yashinta patah-patah menoleh ke Mamak. Mamak mengangguk pelan. Menoleh ke
Dalimunte. Dalimunte mengangguk, menyeka hidung. Menoleh ke Ikanuri dan Wibisana, dua
sigung itu tidak memperhatikan, lebih sibuk mengendalikan perasaan. Lebih emosional
dibandingkan yang lain. Dua sigung itu tertunduk menatap wajah Kak Laisa. Terisak.
Menoleh ke arah Goughsky. Pemuda Uzbek itu mengusap wajahnya. Menggigit bibir
menahan rasa sesak menyaksikan semua ini sejak masuk kamar tadi. Goughsky menyeka
matanya. Lantas melangkah mantap, mendekat. Menyibak adik-kakak yang duduk berjejer.
Duduk di sebelah Yashinta.
"Aku akan selalu mencintaimu, Yash." Berbisik, meyakinkan.
Yashinta tertunduk. Menggigit bibir.
"Menikahlah, Yash—" Kak Laisa tersenyum. Dan Yashinta gemetar mengangguk.
Cahaya matahari senja menerabas indah bingkai jendela kamar.
Berpendar-pendar jingga. Sungguh senja itu wajah Kak Laisa terlihat begitu bahagia.
Mungkin seperti itulah wajah bidadari surga.
Lima menit kemudian pernikahan itu dilangsungkan. Dalimunte yang menjadi wali
pernikahan. Bang Jogar dan salah satu penduduk kampung lainnya menjadi saksi.
Pernikahan terakhir di lembah indah mereka.
Seusai Goughsky mengucap ijab-kabul. Saat Yashinta menangis tersedu. Ketika Mamak
menciumi kening bungsunya memberikan kecupan selamat. Saat yang lain buncah oleh
perasaan entahlah. Semua perasaan ini.... Saat itulah cahaya indah memesona itu turun
membungkus lembah. Sekali lagi. Seperti sejuta pelangi jika kalian bisa melihatnya. Di
sambut lenguhan penguasa Gunung Kendeng yang terdengar di kejauhan. Kelepak elang
yang melengking sedih.
Bagai parade sejuta kupu-kupu bersayap kaca.
Menerobos atap rumah, turun dari langit-langit kamar, lantas mengambang di atas
ranjang.
Lembut menjemput.
Kak Laisa tersenyum untuk selamanya. Kembali.
Senja itu, seorang bidadari sudah kembali di tempat terbaiknya
Bergabung dengan bidadari-bidadari surga lainnya.
Dan sungguh di surga ada bidadari-bidadari bermata jeli (Al Waqiah: 22). Pelupuk mata
bidadari-bidadari itu selalu berkedip-kedip bagaikan sayap burung indah. Mereka baik lagi
cantik jelita. (Ar Rahman: 70). Suara Mamak berkata lembut saat kisah itu diceritakan
pertama kali terngiang di langit-langit ruangan: bidadari-bidadari surga, seolah-olah
adalah telur yang tersimpan dengan baik (Ash-Shaffat: 49)....

0 Response to "BIDADARI BIDADARI SURGA"

Post a Comment